<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>KomerinG</title><description>Memperkenalkan Rumah Kami Sebagai Bagian Dari Keunikan Indonesia</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><pubDate>Tue, 5 Nov 2024 19:10:22 -0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://komering-rantau.blogspot.com/</link><language>en-us</language><item><title>Duku Komering…. (Riwayatmu Kini)</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/09/duku-komering-riwayatmu-kini.html</link><category>Artikel</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 7 Sep 2011 03:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-6141236357142416543</guid><description>&lt;div  style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja_xcVD9Uf86Zf4pVW9bV_35X5FPmvhycPQ24oE8dZvMoxZ6Cj-G5sQyO0sxKg3akrqvbcAft9AnFL30BsHAgpd1gYsMnC4ZFVfN8qZA_jYVbYUeIzT9QTYvtHRH-pokUe0mxuqYRw5obg/s1600/duku.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja_xcVD9Uf86Zf4pVW9bV_35X5FPmvhycPQ24oE8dZvMoxZ6Cj-G5sQyO0sxKg3akrqvbcAft9AnFL30BsHAgpd1gYsMnC4ZFVfN8qZA_jYVbYUeIzT9QTYvtHRH-pokUe0mxuqYRw5obg/s320/duku.jpg" border="0" height="320" width="313" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Nyoba Nulis Lagi… Pernah ngga sobat-sobat makan duku ,dukupalembang, hmmmm di beberapa daerah di sumatra selatan sendiri banyak daerah penghasil duku, salah satu yang paling terkenal adalah duku komering…bila sobat jalan-jalan kepalembang nanti disaat musim duku di hampir setiap jalan-jalan utama palembang akan terdapat banyak orang berjualan duku bertuliskan duku komering, dan bila sobat dari luar palembang atau luar pulau mungkin akan mengenal nya dengan nama duku palembang….&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Tulisan ini berdasarkan apa yang penulis dengar dan mencoba menarik kesimpulan dari berbagai sumber termasuk orang tua penulis sendiri…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Tahun 70-an sampai awal tahun 2000-an bisa dikatakan tahun emas bagi daerah komering sebagai salah satu daerah yang “mampu” memberikan sumbangan pendapatan bagi sumatra selatan, karena daerah komering yang memiliki karakteristik tanah yang subur, sehingga persawahan dapat menghasilkan panen yang melimpah termasuk juga perkebunan, ada beberapa hasil yang bisa “ditawarkan” keluar sumatra selatan, seperti pisang, durian, manggis, mangga serta duku, walaupun sepanjang daerah komering berbeda-beda waktu panen buah tersebut tapi dari hasil panen tersebut dapat sedikit banyak meningkatkan pendapatan keluarga-keluarga yang ada di daerah komering.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Mengapa penulis menyebut tahun-tahun tersebut sebagai “&lt;i&gt;masa keemasan&lt;/i&gt;”, karena sesuai dengan karakteristik awal masyarakat komering yang sejak dahulu (sejak zaman penjajahan) sebagai masyarakat bertani dan berkebun terbukti dari usia-usia pohon duku dan durian didaerah sana yang hampir setua kakek nenek bahkan lebih tua dari mereka. Inilah salah satu sebab positif mengapa duku komering memiliki perbedaan dari duku daerah lain. Subur nya tanah yang ada disana dijadikan modal utama pendapatan keluarga yang secara otomatis membawa perubahan kehidupan bagi pemilik tanah dan perkebunan buah di sana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Tahun-tahun yang sulit bagi pemilik perkebunan di komering bisa dikatakan saat iklim berubah drastis seperti sekarang ini, diawal-awal isu global warming sangat mempengaruhi hasil panen duku, yang mengalami penurunan drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Mata pencaharian keluargapun mulai berubah dengan perdagangan dan yang lainnya termasuk merantau…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Bila dulu orang ingin membangun rumah atau memiliki kendaraan baru bisa dikatakan itu adalah hasil dari panen termasuk panen duku, Kondisi tersebut ikut diperparah dengan “&lt;i&gt;perluasan lahan kelapa sawit&lt;/i&gt;” dari berbagai sumber didaerah hulu-an komering ada beberapa lokasi sudah berubah fungsi yang dulunya perkebunan duku dan durian sekarang menjadi perkebunan kelapa sawit, hal ini bisa berakibat meluas dan duku komering hanya akan tinggal cerita bagi anak dan cucu kita nantinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Peran lembaga adatpun tidak bisa berbuat  banyak, mengingat kepemilikan perkebunan tersebut secara individu, sehingga segala keputusan pun tergantung pemilik, tetapi bila ini hanya dijadikan “tontonan” sedangkan tidak adanya upaya resmi yang mengikat dan melindungi tidak menutup kemungkinan akan selesai juga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Peran lembaga pemerintah daerah pun tidak terlalu signifikan, padahal bila ada, hal seperti ini tidak perlu terjadi dan bisa saja turun tangannya pemerintah daerah sebagai sarana penyediaan lapangan kerja bagi penduduk didaerah tersebut dengan adanya “BackUp” untuk para pemilik perkebunan untuk memberikan perlindungan maupun sarana yang berfungsi sebagai reward n funishment sehingga apapun yang menjadi ciri khas daerah tidak hilang dan juga sebagai upaya pemerintah melestarikan ciri khas daerahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Bayangkan bila peran Pemerintah Daerah dan Lembaga Adat yang ada dapat secara langsung memberikan kontribusi kepada daerahnya masing-masing, tidak menutup kemingkinan adanya keberhasilan dalam segala sektor pembangunan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Tulisan ini tidak memiliki unsur politik apapun hanya goresan keprihatinan yang mendalam akan kondisi yang menjadi sorotan berbagai pihak disana tapi mungkin luput dari pandangan maupun tindakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" &gt;Semoga tulisan dalam blog ini dapat menjadi acuan bagi siapapun termasuk penulis bahwa identitas suatu daerah tidak selamanya akan kekal bila tidak kita sendiri yang menjaga dan melestarikannya..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEja_xcVD9Uf86Zf4pVW9bV_35X5FPmvhycPQ24oE8dZvMoxZ6Cj-G5sQyO0sxKg3akrqvbcAft9AnFL30BsHAgpd1gYsMnC4ZFVfN8qZA_jYVbYUeIzT9QTYvtHRH-pokUe0mxuqYRw5obg/s72-c/duku.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Juluk………  Pengakuan terhadap...</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/gelar-sebuah-identitas-pengakuan.html</link><category>Artikel II</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 25 Aug 2011 20:58:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-2553481226881659691</guid><description>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-family: lucida grande;" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp_msyL3j1qLa-ImRk4LXS0ekDZDMKJ5IBBd92nZGKpF5ClLnFG9FFiZ3rLST6VK5yK5Kks20okOP1YAZEArMgeiPiU5b8nojsfC-xkIBBVZTHAON_tyNIdgWhUsLNN-YXhQQrqEqZdU0J/s1600/Peta+insert+Kab+OKI+01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp_msyL3j1qLa-ImRk4LXS0ekDZDMKJ5IBBd92nZGKpF5ClLnFG9FFiZ3rLST6VK5yK5Kks20okOP1YAZEArMgeiPiU5b8nojsfC-xkIBBVZTHAON_tyNIdgWhUsLNN-YXhQQrqEqZdU0J/s320/Peta+insert+Kab+OKI+01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650336879379630610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tulisan berikut ini akan komering angkat dengan judul "Juluk/Gelar …sebuah identitas pengakuan……." Di tulisan ini akan coba komering angkat apa itu gelar, kapan diberikan dan fungsi serta manfaat yang diberikan pada "Gelar" tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam masyarakat komering ada beberapa macam tingkatan yang dapat dibedakan dalam pemberian gelar tapi komering tak akan membahas tingkatan tersebut. Disini komering akan membahas tentang gelar dan fungsinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Gelar dalam masyarakat komering berhubungan dengan status yang ada dalam dirinya yaitu ketika seorang laki-laki komering menikah dia akan mendapat gelar atau sebutan, gelar ini dapat diberikan saat silelaki tersebut menikah ataupun pada waktu-waktu mendatang (beberapa waktu setelah menikah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pemberian gelar ini sangat penting dalam masyarakat komering sehingga adat ini masih dipegang kuat dalam masyarakat komering dari zaman ke zaman, pemberian gelar ataupun biasa disebut juluk ataupun Golar…… tergantung pada gelar yang di dapat dari orang tua &lt;i&gt;misalkan&lt;/i&gt; gelar yang didapat ayah dari lelaki komering adalah prabu maka biasanya gelar sang anak yang telah menikah akan turun menjadi prabu, dan diikuti nama juluk atau nama gelar nya anak tersebut yang diberikan oleh ketua adat dengan persetujuan orang tua, bila orang tuanya ber-gelar-raden maka anak laki-laki yang telah menikah tersebut akan mendapat gelar Raden dan dikuti dengan nama juluk nya, begitu pula bila nama orang tuanya bergelar ratu dan seterusnya hingga proses pemberian gelar tersebut terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Biasanya pemberian gelar tersebut dibarengi dengan berbagai Ritual yang bercampur dengan ritual keagamaan (&lt;i&gt;Islam&lt;/i&gt;) yang berisi doa dan pengharapan orang tua maupun keluarga serta masyarakat agar dengan gelar yang diberikan si lelaki tersebut dapat menjadi orang yang akan memimpin dalam kebaikan baik memimpin diri, keluarga dan lebih-lebih masyarakat luas nantinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Setelah sedikit banyak mengulas tentang siapa yang berhak menerima gelar tersebut mungkin diantara pembaca ada yang bertanya mengapa bercerita tentang lelaki yang telah berkeluarga.bukan pada setiap lelaki komering. Inilah salah satu fungsi utama mengapa pemberian gelar tersebut diberikan pada lelaki yang telah menikah yaitu sebagai pembeda penyebutan nama karena biasanya penyebutan nama (memanggil) seseorang dilakukan dengan menyebut nama yang telah diberikan oleh orang tua ataupun keluarga sejak lahir, tetapi bila dia telah menikah dia akan di berikan Gelar yang nantinya ketika penyebutan nama nya (memanggil) orang tersebut dia akan dipanggil dengan gelar yang telah didapat ketika telah menikah. Penyebutan tersebut berlaku pada siapapun yang memanggil termasuk orang tua dari lelaki yang telah menikah jadi ketika contohnya bila dia sedang berkumpul dengan kerabat yang lebih muda (belum menikah) dia akan mendapat perbedaan status di depan orang banyak, dengan adat pemberian gelar inilah dapat diketahui status seseorang walaupun orang lain tidak mengetahui status yang telah didapatkannya (menikah atau belum).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mungkin banyak pembaca yang bertanya bagaimana dengan gelar yang jatuh pada istrinya, gelar tersebut diberikan oleh ketua adat untuk seorang yang telah menikah dengan secara otomatis mengikutkan penyebutan (memanggil) sang istrinya sama dengan gelar yang diterima sang suami &lt;i&gt;contoh&lt;/i&gt; bila sang suami mendapat gelar raden makan sang istri akan di sebut nyiraden atau niai raden dan seterusnya yang berlaku pada gelar yang diberikan pada sang suami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Demikianlah salah satu adat yang masih bertahan di masyarakat komering yang masih tetap bangga kami pegang dan kami pelihara semoga tulisan ini akan membuka wacana baru tentang adat dan istiadat masyarakat komering……..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjp_msyL3j1qLa-ImRk4LXS0ekDZDMKJ5IBBd92nZGKpF5ClLnFG9FFiZ3rLST6VK5yK5Kks20okOP1YAZEArMgeiPiU5b8nojsfC-xkIBBVZTHAON_tyNIdgWhUsLNN-YXhQQrqEqZdU0J/s72-c/Peta+insert+Kab+OKI+01.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KOMERING</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2010/08/komering.html</link><category>Two Times</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 15 Aug 2011 18:24:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-4045167035163917696</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt; &lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKgFL4QwOvTfjgp7dNIDK4U33t9Tuvg7eayGhDyrysG0jLYmpZ8n6CGKlLXfzi5OR3Ocf_MV-mc9uxrSGfXt-LzrbRmbwv9WFeBiwc-gHxSyuAnFU3zDSFltarPg7UKFe_hQm8i9-Hxj0v/s1600/sungai_musi_kala_senja-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKgFL4QwOvTfjgp7dNIDK4U33t9Tuvg7eayGhDyrysG0jLYmpZ8n6CGKlLXfzi5OR3Ocf_MV-mc9uxrSGfXt-LzrbRmbwv9WFeBiwc-gHxSyuAnFU3zDSFltarPg7UKFe_hQm8i9-Hxj0v/s320/sungai_musi_kala_senja-1.jpg" border="0" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Bicara mengenai Komering, akan tak terpisahkan dari suku Lampung karena ia merupakan bagian etnis Lampung seperti halnya Ranau, Cikoneng, yang terletak di luar batas administratif Provinsi Lampung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Tak terelakkan lagi, banyak orang komering yang keluar dari daerah asal mereka di sepanjang aliran Way Komering untuk mencari penghidupan baru pindah ke wilayah yang dihuni etnis Lampung lain. Mereka membuka umbul maupun kampung (tiuh). Perpindahan kali pertama mungkin oleh marga Bunga Mayang yang kelak kemudian hari menjadi Lampung Sungkai/Bunga Mayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Seperti diutarakan Suntan Baginda Dulu (Lampung Ragom, 1997): "Kelompok Lampung Sungkai asal nenek moyang mereka adalah orang komering di tahun 1800 M. pindah dari Komering Bunga Mayang menyusur Way Sungkai lalu minta bagian tanah permukiman kepada tetua Abung Buway Nunyai pada tahun 1818 s.d. 1834 M kenyataan kemudian hari mereka maju. Mampu begawi menyembelih kerbau 64 ekor dan dibagi ke seluruh kebuayan Abung."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Oleh Abung, Sungkai dinyatakan sebagai Lampung pepadun dan tanah yang sudah diserahkan Buay Nunyai mutlak menjadi milik mereka. Kemungkinan daerah sungkai yang pertama kali adalah Negara Tulang Bawang membawa nama kampung/marga Negeri Tulang Bawang asal mereka di Komering.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Dari sini kemudian menyebar ke Sungkai Utara, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya dsb. Di daerah Sungkai Utara, seperti diceritakan Tjik Agus (64) pernah menjabat kacabdin di daerah ini, banyak penduduk yang berasal dari Komering Kotanegara. mereka adalah generasi keempat sampai kelima yang sudah menetap di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Perpindahan berikutnya, yang dilakukan Kebuayan Semendaway, khususnya Minanga. Menyebar ke Kasui, Bukit Kemuning, Napal Belah/Pulau Panggung, Bunglai, Cempaka (Sungkai Jaya) di Lampung Utara. Ke Sukadana Lampung Timur dekat Negeri Tuho. Juga masuk ke Pagelaran, Tanggamus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Dua Kampung Komering di Lampung Tengah (Komering Agung/Putih), menurut pengakuan mereka, berasal dari Komering. Nenek Moyang mereka berbaur dengan etnis Abung di Lampung-Tengah. Akan tetapi, mereka kurang mengetahui asal kebuayan nenek moyangnya (mungkin orang yang penulis temui kebanyakan usia muda &amp;lt; 50 tahun). Mereka menyebut Komering yang di Palembang "nyapah" (terendam).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Kemungkinan mereka juga berasal dari Minanga. Karena kampong ini yang paling sering terendam air. Daerah Suka Banjar (Tiuh Gedung Komering. Negeri Sakti) Gedongtataan seperti diceritakan Herry Asnawi (56) dan Komaruzaman (70) (pensiunan BPN).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Penduduk di sana mengakui mereka berasal dari Komering (Dumanis) walaupun dialek mereka sudah tercampur dengan dialek Pubian. Tidak menutup kemungkinan dari daerah lain di komering seperti Betung dsb., yang turut menyebar masuk daerah Lampung lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Melihat perjalanan dan penyebaran yang cukup panjang, peran dalam menyumbang etnis Lampung (Sungkai), serta menambah kebuayan Abung (Buay Nyerupa), tak ada salahnya kita mengetahui tentang dialek, tulisan, marga, maupun kepuhyangan yang ada di daerah Komering.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Bahasa Komering oleh sementara pengamat dikatakan banyak kesamaannya dengan bahasa Batak. Juga logatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Ada cerita rakyat yang mengatakan Batak dan Komering berasal dari dua bersaudara. Antara kedua suku ini sering terdapat senda gurau untuk menyatakan masing-masing nenek moyang merekalah yang tertua (dalam Adat Perkawinan Komering Ulu, Hatta/Arlan Ismail).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Bahasa Komering dalam banyak literatur bahasa Lampung termasuk dialek "a". Sedangkan dialek bahasa Komering, menurut Abu Kosim Sindapati (1970), terbagi menjadi dialek Bengkulah, dialek Tanjung Baru, dialek Semendaway, dan dialek Buay Madang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Kemudin Zainal Abidi Gaffar (1981) membagi menjadi dialek Martapura Simpang dan Buay Madang-Cempaka-Belitang. Perbedaan utama kedua dialek ini bahwa dialek Martapura Simpang memiliki fonem /e/ dan /?/ sedangkan Buay Madang-Cempaka-Belitang tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Bahasa Komering juga memiliki tulisan yang disebut Ka-Ga-Nga. Akan tetapi, orang Komering sering pula menyebutnya tulisan Ulu/Unggak. Tulisan ini dipakai orang tua pada zaman dahulu. Sekarang tulisan ini hampir tidak pernah dipakai lagi dan generasi muda tidak seberapa mengenalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Adapun marga yang terdapat di Komering Ulu, di antaranya marga Semendawai suku I/II/III dengan wilayah Minanga, Betung, Gunung Batu, Cempaka, dan sekitarnya. Marga Madang Suku I/II, Marga Buay Pemuka Bangsa Raja dengan wilayahnya Rasuan, Kotanegara, Muncak Kabau, Marga Belitang I/II/III dengan wilayah Gumawang, Sumber Jaya, Kota Sari, Marga Buay Pemaca, Marga Lengkayap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKgFL4QwOvTfjgp7dNIDK4U33t9Tuvg7eayGhDyrysG0jLYmpZ8n6CGKlLXfzi5OR3Ocf_MV-mc9uxrSGfXt-LzrbRmbwv9WFeBiwc-gHxSyuAnFU3zDSFltarPg7UKFe_hQm8i9-Hxj0v/s72-c/sungai_musi_kala_senja-1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Tanpa Judul</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/tanpa-judul.html</link><category>Dinding Kamar</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 2 Aug 2011 04:22:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-6132704163928811454</guid><description>&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAaEgHddgeXNjoV3tCaZdk2VStDl4nMGxJdxoNUhZAJ6X1jJz2mgYfkAsaIT6eIUK2J0HZQSoBkNW2ILXOpGPl9h09XD7TEg_JQi2oaiT61tixztZh5OYg5QiSdM9zPljICaUxcTI1E9G7/s1600/love1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="201" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAaEgHddgeXNjoV3tCaZdk2VStDl4nMGxJdxoNUhZAJ6X1jJz2mgYfkAsaIT6eIUK2J0HZQSoBkNW2ILXOpGPl9h09XD7TEg_JQi2oaiT61tixztZh5OYg5QiSdM9zPljICaUxcTI1E9G7/s320/love1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYCACXtT8WZb6dd44-7651jg9AXZpykHvcqmVjlglFHNe90p2oWrz9EPY0P-UF31hN43kj-rfx0Dk9_P89WBxghwA3gTEFvILF_C6hXysZei-_3sl6m5fnfodsObTgE39_0XezeZ24fo7M/s1600/love1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;diantara kesenangan dan kesedihan kau goretkan asa&lt;br /&gt;
berlalu dalam gelap laksana sinar penuh harap...&lt;br /&gt;
hader mu membawa cercah dalam dahaga ini....&lt;br /&gt;
kau kumiliki dengan sepenuh jiwa....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat terjatuh.....jauh ..jauh dari angan ini..&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
kau datang, membangun mimpi dengan senyum....&lt;br /&gt;
tau kah kau...?&lt;br /&gt;
ku patah, ku hilang dan ku mati dalam mimpiku....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;keangkuhan hati ini terbentur asa...&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
terhalang oleh karang yang menjulang...&lt;br /&gt;
kasih....ku sebut namamu dengan air mata....&lt;br /&gt;
maaf bila ku harus pergi dari mimpi kita....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
teruntuk matahari yang merona &lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
merekah merah laksana mawar ditaman...&lt;br /&gt;
maaf....kasih...kini ku hilang bersama awan...&lt;br /&gt;
hilang dalam harap nan jauh didalam hening...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;salah satu tulisan tangan komering di detikforum &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAaEgHddgeXNjoV3tCaZdk2VStDl4nMGxJdxoNUhZAJ6X1jJz2mgYfkAsaIT6eIUK2J0HZQSoBkNW2ILXOpGPl9h09XD7TEg_JQi2oaiT61tixztZh5OYg5QiSdM9zPljICaUxcTI1E9G7/s72-c/love1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tentang Saya</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/photo-our-baby-blm-update.html</link><category>Tentang Saya</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 11 Jul 2011 04:04:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-8046434324231496787</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggsTONrxFKbhwsIm8Hhk5erCSGR_SiHc8h2hWHGIrT9Ovof7dfvG-DAn2f55xf2t42ojKoqWXJHOXaCPQDatrUedC09uVHmhSzkC7M8RZww_wOcC5wbBwyVhlsEp3PURAShhJ-m76rRZJd/s1600/daffa1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggsTONrxFKbhwsIm8Hhk5erCSGR_SiHc8h2hWHGIrT9Ovof7dfvG-DAn2f55xf2t42ojKoqWXJHOXaCPQDatrUedC09uVHmhSzkC7M8RZww_wOcC5wbBwyVhlsEp3PURAShhJ-m76rRZJd/s320/daffa1.jpg" width="257" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Photo Our Komering's Baby =&amp;gt; Daffa Raihan Naafi&lt;br /&gt;blm update....</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggsTONrxFKbhwsIm8Hhk5erCSGR_SiHc8h2hWHGIrT9Ovof7dfvG-DAn2f55xf2t42ojKoqWXJHOXaCPQDatrUedC09uVHmhSzkC7M8RZww_wOcC5wbBwyVhlsEp3PURAShhJ-m76rRZJd/s72-c/daffa1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title/><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/tutorial-komputerdownloadsoftwareblogse.html</link><category>link exchange</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 14 Jun 2011 02:39:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-336377352716535433</guid><description>&lt;center style="color: orange;"&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Take My Banner&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center style="color: red;"&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;and I Will Put Your's In My Blog&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;    &lt;br /&gt;
&lt;a href="http://komering-rantau.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="KomeringBlog" border="0" src="http://i1192.photobucket.com/albums/aa339/nyokap/logo.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;textarea name="textarea" readonly="true" rows="5" style="width: 300px;"&gt;&amp;lt;br /&amp;gt; &amp;lt;a href="http://komering-rantau.blogspot.com" target="_blank"&amp;gt;&amp;lt;img src="http://i1192.photobucket.com/albums/aa339/nyokap/th_logo.gif" border="0" alt="KomeringBlog" &amp;gt;&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt; &lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;h3&gt;Banner Sahabat &lt;/h3&gt;&lt;table border="1" style="width: 200px;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt; &lt;marquee direction="up" height="170" onmouseout="this.start()" onmouseover="this.stop()" scrollamount="3" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://blog-indonesia.com/"&gt;&lt;img alt="blog-indonesia.com" border="0" src="http://blog-indonesia.com/image/11.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://artikel69.blogspot.com/"&gt; &lt;img alt="artikel69.blogspot.com" border="0" src="http://i1081.photobucket.com/albums/j350/bungiwan/banner.gif" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://ismanpunggul.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Isman Punggul" border="0" src="http://i1091.photobucket.com/albums/i387/deandenaneernurtaman/IPMenjadiguruprofesional.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://free-7.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://i51.tinypic.com/jsnlmo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://belajarkomputer77.blogspot.com/"&gt;&lt;img height="129" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBi0Qkk01Uv2KfIsGRgzxuOW5HUv9I3sFy6IQewD5aIVJaVxxsYT1x2BfOkwpyzRpWJK0QIJA4OGeY9pI8fkUQJAy_LLQn7LL1bPHnUmxBuN4Tfx5tmVaBQBsVsgGx_xKYZmy6TDqJFY4/s144/banner.jpg" width="144" /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://rumah-blogger.com/" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img border="2" src="http://i648.photobucket.com/albums/uu204/puter4/logoanimasirumahbloggeracc.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/marquee&gt; &lt;/center&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;h3&gt;Link Sahabat &lt;/h3&gt;&lt;table border="1" style="width: 200px;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align="center"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt; &lt;marquee direction="up" height="170" onmouseout="this.start()" onmouseover="this.stop()" scrollamount="3" width="100%"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://product-details.org/" target="new"&gt;SeenOnTv&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com/" target="new"&gt;Kang Rohman&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.letseatsomegoodfood.blogspot.com/"&gt;Good Food&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://pempekolshopku.blogspot.com/" target="new"&gt;Pempek Ol Shop&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.o-om.com/" target="new"&gt;O-om.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://edisoho.blogspot.com/" target="new"&gt;Edisoho&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asrizalwahdanwilsa.blogspot.com/" target="new"&gt;Kang Ichal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/marquee&gt;&lt;/center&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/center&gt;&lt;/center&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://i51.tinypic.com/jsnlmo_th.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>My Store</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/05/my-store.html</link><category>My Store</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 12 May 2011 01:54:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-5181698811286394220</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;center style="color: red; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Klontong&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.smallparts.com/dp/B000M9MK0M/ref=as_li_tf_il?_encoding=UTF8&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;linkCode=as2&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373&amp;amp;creativeASIN=B000M9MK0M"&gt;&lt;img border="0" src="http://ws.assoc-amazon.com/widgets/q?_encoding=UTF8&amp;amp;Format=_SL110_&amp;amp;ASIN=B000M9MK0M&amp;amp;MarketPlace=US&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;ServiceVersion=20070822" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=komeringtheun-20&amp;amp;l=as2&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B000M9MK0M&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt; &lt;a href="http://www.amazon.com/gp/product/B0007QCSF2/ref=as_li_tf_il?ie=UTF8&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;linkCode=as2&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373&amp;amp;creativeASIN=B0007QCSF2"&gt;&lt;img border="0" src="http://ws.assoc-amazon.com/widgets/q?_encoding=UTF8&amp;amp;Format=_SL110_&amp;amp;ASIN=B0007QCSF2&amp;amp;MarketPlace=US&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;ServiceVersion=20070822" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=komeringtheun-20&amp;amp;l=as2&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B0007QCSF2&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;  &lt;a href="http://www.amazonwireless.com/dp/B004KZP4BQ/ref=as_li_tf_il?_encoding=UTF8&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;linkCode=as2&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373&amp;amp;creativeASIN=B004KZP4BQ"&gt;&lt;img border="0" src="http://ws.assoc-amazon.com/widgets/q?_encoding=UTF8&amp;amp;Format=_SL110_&amp;amp;ASIN=B004KZP4BQ&amp;amp;MarketPlace=US&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;ServiceVersion=20070822" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=komeringtheun-20&amp;amp;l=as2&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B004KZP4BQ&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;   &lt;a href="http://www.endless.com/dp/B004JIFLBC/ref=as_li_tf_il?_encoding=UTF8&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;linkCode=as2&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373&amp;amp;creativeASIN=B004JIFLBC"&gt;&lt;img border="0" src="http://ws.assoc-amazon.com/widgets/q?_encoding=UTF8&amp;amp;Format=_SL110_&amp;amp;ASIN=B004JIFLBC&amp;amp;MarketPlace=US&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;ServiceVersion=20070822" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=komeringtheun-20&amp;amp;l=as2&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B004JIFLBC&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;a href="http://www.endless.com/dp/B0014BYKI2/ref=as_li_tf_il?_encoding=UTF8&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;linkCode=as2&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373&amp;amp;creativeASIN=B0014BYKI2"&gt;&lt;img border="0" src="http://ws.assoc-amazon.com/widgets/q?_encoding=UTF8&amp;amp;Format=_SL110_&amp;amp;ASIN=B0014BYKI2&amp;amp;MarketPlace=US&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;tag=komeringtheun-20&amp;amp;ServiceVersion=20070822" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=komeringtheun-20&amp;amp;l=as2&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B0014BYKI2&amp;amp;camp=217145&amp;amp;creative=399373" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;iframe border="0" frameborder="0" height="250" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=komeringtheun-20&amp;amp;o=1&amp;amp;p=12&amp;amp;l=ur1&amp;amp;category=myhabit&amp;amp;m=myhabit&amp;amp;f=ifr" style="border: medium none;" width="300"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/center&gt;&lt;a href="http://www.clixsense.com/?3676390"&gt;&lt;img border="0" src="http://static.clixsense.com/banners/clixsense468x60a.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.5in5now.com/user/subscribe.php?r=nyokap.tersayang@gmail.com"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.5in5now.com/images/refer/468x60.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Free Sign Up</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/berbagai-bisnis-online-yang-tersedia.html</link><category>Gratis Daftar</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 10 May 2011 19:53:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-7578721576661276867</guid><description>&lt;div style="color: red; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: center;"&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bagi Yang Ingin Mencoba Keberuntungan untuk mendapatkan Penghasilan Tambahan...&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; font-size: large;"&gt;No SPAM...!!! semua Gratis...!!!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.clixsense.com/?3676390"&gt;&lt;img border="0" src="http://static.clixsense.com/banners/clixsense125x125a.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.sponsoredreviews.com/?aid=109713"&gt;&lt;img alt="Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com" border="0px" src="http://www.srwww1.com/images/SR/Affiliate/3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.jaringiklanku.com/?id=ningsih"&gt;&lt;img src="http://www.jaringiklanku.com/images/banner.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://kumpulblogger.com/signup.php?refid=243548" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://i55.tinypic.com/4j12cm.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://kumpulblogger.com/signup.php?refid=243548" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://i55.tinypic.com/2qk1cic.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;iframe border="0" frameborder="0" height="90" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=komeringtheun-20&amp;amp;o=1&amp;amp;p=20&amp;amp;l=ur1&amp;amp;category=harrypotter&amp;amp;banner=0QBKQY11P91PAXPSF6R2&amp;amp;f=ifr" style="border: medium none;" width="120"&gt;&lt;/iframe&gt; &lt;iframe border="0" frameborder="0" height="60" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=komeringtheun-20&amp;amp;o=1&amp;amp;p=40&amp;amp;l=ur1&amp;amp;category=wireless&amp;amp;banner=15KB2ZFAC8XPKT3M5JR2&amp;amp;f=ifr" style="border: medium none;" width="120"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;a href="http://duitbux.com/?r=ningsih" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://i56.tinypic.com/2rc5oif.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="https://www.paypal.com/id/mrb/pal=73YALWXAAH8QG" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" src="http://i55.tinypic.com/2zob2iw.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;iframe border="0" frameborder="0" height="60" marginwidth="0" scrolling="no" src="http://rcm.amazon.com/e/cm?t=komeringtheun-20&amp;amp;o=1&amp;amp;p=26&amp;amp;l=ur1&amp;amp;category=computers_accesories&amp;amp;banner=1SKRXV416ZYVKCEGXQR2&amp;amp;f=ifr" style="border: medium none;" width="468"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.cashnhits.com/index.php?ref=nyokap"&gt;&lt;img border="0" src="http://cnh.cashnhits.net/banners/banner4.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.neobux.com/?r=nyokap"&gt;&lt;img height="60" src="http://images.neobux.com/imagens/banner9/?u=nyokap&amp;amp;u3=8658158&amp;amp;rcv=1" width="468" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.clixsense.com/?3676390"&gt;&lt;img border="0" src="http://static.clixsense.com/banners/clixsense468x60g.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://i55.tinypic.com/4j12cm_th.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>''Komering'' Mengapa...?</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/02/komering-apakah-sebuah-identitas-tabu.html</link><category>Artikel II</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 19 Feb 2011 21:44:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-7526613703697075477</guid><description>&lt;div class="separator"  style="clear: both; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGkIbiqUnvNev9Z2mBuC9wTQ5Vq_8VO8Xwm9GqLkSnzI-CY4r8r_oUP-2N_DJNg4DGbGmSEEFuiC5rUvyPT-9_sR2uEcUJAlC1rbc-SCE5dADs8rYYJNRsqGKFaQpnpUTsgsoBxq4H7Lhr/s1600/mengapa_750x500.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGkIbiqUnvNev9Z2mBuC9wTQ5Vq_8VO8Xwm9GqLkSnzI-CY4r8r_oUP-2N_DJNg4DGbGmSEEFuiC5rUvyPT-9_sR2uEcUJAlC1rbc-SCE5dADs8rYYJNRsqGKFaQpnpUTsgsoBxq4H7Lhr/s320/mengapa_750x500.jpg" border="0" height="212" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:130%;"&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent val="1440"&gt;&lt;m:intlim val="subSup"&gt;&lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;Tulisan ini coba komering angkat agar adanya pengertian yang selaras akan identitas masyarakat komering,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;sebuah identitas yang mungkin paling banyak di sangkal dari beraneka ragamnya suku-suku yang ada di sumatera selatan maupun kemungkinan indonesia karena adanya &lt;a href="http://komering-rantau.blogspot.com/2010/05/masyarakat-komering-dihantui-stigma.html"&gt;anggapan pada masyarakat komering&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;, dibalik stigma negatif yang ada dimasyarakat luar tentang komering, masyarakat komering dikenal sangat tekun akan beribadah, pandai berdagang dan negosiasi berkebun adalah mayoritas yang dikerjakan masyarakat komering selain bertani.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dan bila diluar (masyarakat komering rantauan) akan berupaya menyembunyikan identitas komeringnya hal ini pernah komering alami sendiri selagi komering kuliah di yogya sampai suatu ketika komering harus mengingkari identitas komering sebagai orang palembang, sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan bahkan pernah suatu saat komering pulang kampung komering pergi ke lemabang (palembang) ke rumah teman yang asli pagar alam untuk mengajak pergi ke kampung komering walau dengan berat hati orang tuanya mengizinkan dengan alasan keamanan dan ke khawatiran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Itulah sepenggal pengalaman pribadi komering apakah masyarakat komering hanya dikenal sebagai masyarakat yang kenal akan kekerasan dan brutal sehingga hal sepelepun masyarakat luar komering mengingkari akan keberhasilan masyarakat komering ironis memang masyarakat luar komering hanya tahu duku palembang bukan duku komering.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagi masyarakat komering sendiri suatu kebanggaan lahir ditanah komering walau entah berasal dari mana dan sejak kapan stigma tersebut melekat pada masyarakat komering, bila dirunut dan ditelusuri sedikit hal ini berkaitan akan kebiasaan masyarakat Sumatera Selatan khususnya masyarakat komering yang gemar membawa lading garpu (sejenis pisau) dipinggang dalam bepergian keluar rumah dan dengan kemajuan akan teknologi dan pola fikir masyarakatnya lambat laun kebiasaan yang sejak lama tersebut mulai ditinggalkan walau tetap memegang prinsip “&lt;i&gt;&lt;b&gt;dang mulai mona dang lijung aman ko tiboli&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;'” sebuah prinsip yang masih akan tetap terpegang oleh masyarakat komering dimanapun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dari berbagai cerita dan tulisan yang beredar tentang masyarakat, keseharian dan adat istiadat komering banyak pula yang berisi tentang hujatan dan prasangka tanpa mengetahui latar belakang masyarakat dan sifat pada umunya. Sebuah identitas yang seakan tabu untuk diakui oleh orang komering sendiri karena stigma yang selalu mengikat kami yang muncul entah kapan dan entah sampai kapan. Masyarakat komering hanya berharap dapat memberikan kontribusi nyata pada pembangunan dan pada masyarakat komering sendiri pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Semoga masyarakat komering tidak menjadikan identitasnya sendiri seolah tabu untuk diakui walau sulit dan butuh waktu yang lama setidaknya masyarakat komering memiliki kesamaan dengan masyarakat lain di sumatera selatan dan di indonesia bahkan di dunia manapun masyarakat komering tidak pernah menutup diri akan kemajuan dan perubahan waktu demi waktu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; font-family:lucida grande;font-size:130%;"  &gt;Sebuah aneka ragaman budaya yang selalu mewarnai kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGkIbiqUnvNev9Z2mBuC9wTQ5Vq_8VO8Xwm9GqLkSnzI-CY4r8r_oUP-2N_DJNg4DGbGmSEEFuiC5rUvyPT-9_sR2uEcUJAlC1rbc-SCE5dADs8rYYJNRsqGKFaQpnpUTsgsoBxq4H7Lhr/s72-c/mengapa_750x500.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>Tanya Ku (Penguasa Negeri)</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2010/08/tanya-ku-penguasa-negeri.html</link><category>Dinding Rumah</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 28 Aug 2010 21:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-7067922209200308171</guid><description>&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYfCFoUPeJWI9R91WiqbU_VN0tDeu3HaMJqneZaSsxDVC1i-1vWBW5ztwvB__gSbSmOY9IKLBV_99nVgl1rwyu2QJ7LTflvdW9LKQhETiX2fkNLpQcdPEXWQdHDp1Xb4esCt7LF4MxtoP-/s1600/ind.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="119" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYfCFoUPeJWI9R91WiqbU_VN0tDeu3HaMJqneZaSsxDVC1i-1vWBW5ztwvB__gSbSmOY9IKLBV_99nVgl1rwyu2QJ7LTflvdW9LKQhETiX2fkNLpQcdPEXWQdHDp1Xb4esCt7LF4MxtoP-/s320/ind.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix" style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Benar memang....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;kakek kami adalah pejuang, berlari dengan bedil memburu penjajah.......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;kadang pula menghindar ke dalam hutan......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;dengan jiwa mudanya menentang penindasan negeri ini....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;dengan semangat berkobarnya rela mati untuk ibu pertiwi......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;sekarang.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;benar memang...beliau telah tiada.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;dipanggil yang kuasa karena usia....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;tapi...! kami masih tetap ingat....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;saat kami duduk, dia bercerita akan perjuangannya bagi negeri.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;wahai penguasa negeri ......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;lihatlah kami anak-anak bangsa ini.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Meringis nangis melihat bangsa ini di hina....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;coba tanya para ibu kami.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;mereka akan menjawab dengan linang air mata...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;air mata bahagia...karena kami rela mati untuk negeri...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;ibu pasti akan memberi doa bagi kami......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ayah..... coba tanya ayah kami.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;ayah pun akan menjawab bahagia, karena memiliki kami.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;kakek kami pun bangga memeiliki cucu seperti kami,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;jawab ayah kami pasti.......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penguasa....dengar restu ibu pertiwi.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengar Genderang semangat dari Ayah-ayah kami.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;bagi negeri kami berdiri....Bagi Negeri kami siap mati.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;'tuk bela tanah leluhur dari penghinaan kedaulatan kami....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Tulisan Ini Dibuat ketika lagi gencar-gencarnya konfrontasi dengan Malaysia&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYfCFoUPeJWI9R91WiqbU_VN0tDeu3HaMJqneZaSsxDVC1i-1vWBW5ztwvB__gSbSmOY9IKLBV_99nVgl1rwyu2QJ7LTflvdW9LKQhETiX2fkNLpQcdPEXWQdHDp1Xb4esCt7LF4MxtoP-/s72-c/ind.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lagu Komering</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/lagu-komering.html</link><category>My Video</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 10 Aug 2010 18:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-6920045541231391109</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;iframe allowfullscreen='allowfullscreen' webkitallowfullscreen='webkitallowfullscreen' mozallowfullscreen='mozallowfullscreen' width='320' height='266' src='https://www.youtube.com/embed/QQmtbYd6iUU?feature=player_embedded' frameborder='0'&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Salah Satu Lagu Yang Penulis Upload ke &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=QQmtbYd6iUU&amp;amp;feature=player_embedded" target="_blank"&gt;youtube....&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Dinyanyikan Oleh &lt;a href="http://www.facebook.com/faisal.javadangdut"&gt;Faisal Java Dangdut&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/center&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bahasa</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/bahasa.html</link><category>Three Times</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 9 Aug 2010 18:42:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-1039051378447954811</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUfHeTva4Ja-GtnCGqXZiPMPOe8Qr-sJkUIK4erQ1QW4b2MKTG_pvJTA4dOOS6BPrN7BjkaGVxN0XV1DxyU_Gg_thuY7RC9f-f3T-a7g8Q4hVpV97A38mbN96ju8RH1KRciiH2OxXFzGn7/s1600/songket-palembang.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 270px; height: 202px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUfHeTva4Ja-GtnCGqXZiPMPOe8Qr-sJkUIK4erQ1QW4b2MKTG_pvJTA4dOOS6BPrN7BjkaGVxN0XV1DxyU_Gg_thuY7RC9f-f3T-a7g8Q4hVpV97A38mbN96ju8RH1KRciiH2OxXFzGn7/s320/songket-palembang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650338539954971970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Bahasa Ogan&lt;/b&gt; adalah bahasa yang dituturkan sebagian besar masyarakat yang terdapat di Kabupaten Ogan Ilir (Tanjungraja, Inderalaya, Pemulutan, Muara Kuang), Ogan Komering Ilir (Pampangan, Tulung Selapan), dan Ogan Komering Ulu (Baturaja).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bahasa Ogan yang dituturkan oleh sebagian masyarakat yang tinggal di pesisir atau tepian Sungai Ogan. Sungai Ogan berasal dari beberapa aliran kecil mata air dari Bukit Nanti bersatu menjadi satu aliran besar Sungai Ogan, yang pada akhirnya bermuara di sungai Musi Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Bahasa Ogan yang digunakan oleh masyarakat di tepian sungai Ogan dikenal salah satu suku dari rumpun Melayu yaitu suku Ogan. Batasan Suku Ogan dikenal adanya istilah, Ulu Ogan (daerah Kelumpang), Ogan Ulu (daerah kecamatan Pengandonan), Ogan Baturaja (Kota Baturaja), dan Ogan Ilir (daerah Lubuk Batang dan Muara Kuang).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagi orang yang telah mengenal bahasa Ogan, mereka akan mengatakan bahwa bahasa Ogan mirip bahasa orang Malaysia walau tidak sama persis. Contoh logatnya "Nak kemane?", yang artinya "Anda hendak ke mana?".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Semakin ke hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) Ogan, maka logat bahasa Ogan Akan terdengar keras, makin ke hilir makin halus dan agak terdengar berlagu. Hal ini senada dengan filosofi "daerah hulu sungai Ogan, tepian sungai Ogan agak kecil arus airnya deras berbatu dan berbukit, sedangkan daerah hilir tepian sungai Ogan lebar dan arus air tenang tidak berbatu."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Bahasa Komering&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;bahasa Kumoring&lt;/b&gt; adalah bahasa yang digunakan suku Komering dan Kayu Agung[1]. Penutur bahasa Komering tersebar di sepanjang sungai Komering, dari danau Ranau hingga dekat Palembang. Bahasa ini memiliki kemiripan dengan dialek Kalianda dan Sungkai dalam bahasa Lampung Api. (sumber : wikipedia)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pakaian Adat Suku Komering&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Marga Kiti dengan wilayah Simpang Tanjung, Gedung Pakuan, Marga Paku Sengkunyit. Marga Bunga Mayang. Marga Buay Pemuka Peliung dengan wilayah Martapura, Kambang Mas, Banton. Marga-marga tersebut kemungkinan tidak sesuai lagi dengan daerahnya karena adanya pemekaran wilayah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sementara itu, di daerah ilir, bahasa Komering dipakai di daerah Tanjung Lubuk, Pulau Gemantung, dan sebagainya. Sedangkan daerah Kayu Agung merupakan sebuah marga di Kecamatan Kayu Agung. Di daerah Kayu Agung terdapat dua bahasa, yaitu bahasa Kayu Agung (BKA) dan bahasa Ogan dialek /e/. Ada variasi dialek dalam BKA. Variasi dialek yang terdapat di dusun marga Kayu Agung dianggap sebagai variasi asli, yang merupakan suatu dialek mirip dengan bahasa Komering.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Adapun asal kepuhyangan/buay/marga yang ada di daerah Komering, seperti yang diuraikan dalam Adat Perkawinan Komering Ulu oleh Hatta/Arlan, Ismail. 2002: Riwayat etnis komering yang menyebar mendirikan tujuh kepuhyangan di sepanjang aliran sungai yang kini dinamakan Komering, ringkasnya sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi Gunung Pesagi, Lampung Barat menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri/mengikuti dalam dialek komering lama adalah samanda. Kelompok pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar. Mencari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini kemudian dikenal dengan nama Minanga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun Sakala Bhra ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut Madang. Yang kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama kepuhyangan mereka menjadi "Pemuka Peliung". Dari kepuhyangan ini kelak kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari, inilah cikal bakal Lampung Sungkai).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan nama Bhu-Way (buway).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Sakala Bhra Baru generasi Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini dinamakan "Komering". Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang. Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas yang disepakati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung tanjung (Gunung Batu).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="Times,&amp;quot;" color="#666666" style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Yang patut kita tiru akan rasa solidaritas yang tinggi di antara mereka mengingat akan asal-usul mereka berasal dari kelompok yang sama. Semoga tulisan ini bermanfaat dalam melengkapi tentang marga etnis komering seperti yang telah dilakukan Unila dalam memetakan marga serta wilayah suku Lampung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUfHeTva4Ja-GtnCGqXZiPMPOe8Qr-sJkUIK4erQ1QW4b2MKTG_pvJTA4dOOS6BPrN7BjkaGVxN0XV1DxyU_Gg_thuY7RC9f-f3T-a7g8Q4hVpV97A38mbN96ju8RH1KRciiH2OxXFzGn7/s72-c/songket-palembang.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Goresanku untuk kehidupan</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/goresanku-untuk-kehidupan.html</link><category>Dinding Kamar</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 10 Jul 2010 21:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-4350786845596740445</guid><description>&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVNsI0e4zFvJAdwHe3-XArJvYNC9WZR12CL3cK-c4-kHFSlKd86HW6eSd6oeE8KSJL5O0bSwkPpo_o5YEfpJ1TonLdUJycNOjhSHYmja16MudnlHbKjQ2fAgGtq61TkF7eDPw9-8PgQigf/s1600/12121.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVNsI0e4zFvJAdwHe3-XArJvYNC9WZR12CL3cK-c4-kHFSlKd86HW6eSd6oeE8KSJL5O0bSwkPpo_o5YEfpJ1TonLdUJycNOjhSHYmja16MudnlHbKjQ2fAgGtq61TkF7eDPw9-8PgQigf/s1600/12121.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bila waktu telah sampai jua....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bila detak itu terhenti juga.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;jgn kau hilangkan diriku...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;peluk erat rindu ini istriku...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bila telah tiba jua waktuku.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;hilang bersama angin malam ...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;kenang aku dalam senyummu....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ingat aku dalam hangatmu.....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;bila esok bukan waktuku....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;kenali aku dalamnafasmu....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;baluri aku dengan doa mu....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #666666; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;selimuti aku dengan senyum mu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVNsI0e4zFvJAdwHe3-XArJvYNC9WZR12CL3cK-c4-kHFSlKd86HW6eSd6oeE8KSJL5O0bSwkPpo_o5YEfpJ1TonLdUJycNOjhSHYmja16MudnlHbKjQ2fAgGtq61TkF7eDPw9-8PgQigf/s72-c/12121.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Komering Tentang Stigmanya</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2010/05/masyarakat-komering-dihantui-stigma.html</link><category>Artikel</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 17 May 2010 20:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-7598152197714544449</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTnlKGpBrvp9ncjQjkeKXkXOJ6onFFPgjeExpL-NcMVFB_ndKX9jiUAsKnUBo_7ucovxpPfHXK3DStyfU95giDtameNgDaDSrs-e8dzs6V3XME9D0ZFo3SPxuK9838cgsitQ3uVbhBAztI/s1600/peta.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTnlKGpBrvp9ncjQjkeKXkXOJ6onFFPgjeExpL-NcMVFB_ndKX9jiUAsKnUBo_7ucovxpPfHXK3DStyfU95giDtameNgDaDSrs-e8dzs6V3XME9D0ZFo3SPxuK9838cgsitQ3uVbhBAztI/s320/peta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650339145320066274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;DUA turis asing bertanya kepada sopir mobil sewaan, apakah ia seorang penakut. "Tentu tidak," kata si sopir dengan nada tinggi seraya membuka laci mobilnya. Sopir itu menunjukkan sebilah pisau besar yang ia bawa sebagai alat pertahanan diri. Akan tetapi, sopir itu bersikeras menolak ketika diminta untuk mengantarkan kedua turis itu melewati daerah hunian warga Komering.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;MENURUT sopir tadi, banyak kejadian yang sering menimpa kendaraan yang lewat di daerah yang dihuni masyarakat Komering. "Tiba-tiba ban kempes, lalu muncul beberapa orang yang merampok penumpang,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kisah tersebut tertayang di sebuah situs perjalanan berbahasa Inggris di internet. Tidak diceritakan, apakah akhirnya kedua wisatawan tadi nekat melanjutkan perjalanan melewati wilayah Komering atau mereka menuruti saran sopir untuk mengambil jalan lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Satu hal yang jelas, cerita itu merefleksikan kuatnya stigmatisasi terhadap masyarakat Komering sebagai masyarakat yang identik dengan kekerasan dan tindak kriminal. Stereotip itu bahkan sudah "mendunia", seperti yang terlihat dalam tulisan internet berbahasa Inggris di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SUKU Komering adalah salah satu suku yang ada di Sumatera Selatan. Mereka tinggal di daerah aliran Sungai Komering dan hidup dengan bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian utama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jumlah populasi orang Komering saat ini diperkirakan sekitar 140.000 jiwa. Mereka terutama bermukim di beberapa kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu/OKU (sebelum dimekarkan) dan Ogan Komering Ilir (OKI). Kecamatan Buay Madang, Buay Pemuka Peliung, Belitang, Cempaka, Simpang, Martapura, dan Tanjung Lubuk adalah daerah asli suku tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Masyarakat Komering banyak yang merasa keberatan dengan anggapan negatif terhadap mereka. Menurut mereka, ibarat sebuah institusi, kejelekan atau kejahatan tersebut dilakukan oleh oknum yang membawa nama Suku Komering.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Kejahatan muncul lebih karena alasan ekonomis, bukan karena adat kebiasaan. Toh, buktinya banyak figur orang Komering terdidik yang bisa sukses, termasuk Gubernur Sumatera Selatan (Syahrial Oesman- Red) sekarang,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam kesehariannya, masyarakat Komering adalah masyarakat yang taat menjalankan ajaran agama Islam. "Dalam masyarakat Komering, adat sangat dipegang. Orang tua sangat dihormati dan sifat gotong royong pun masih kental.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Akan tetapi, stigmatisasi kekerasan memang kerap menjadi ganjalan bagi warga Komering yang merantau. "Kami mengaku berasal dari Palembang saja. Masyarakat sudah menilai kami sebagai orang yang keras, apalagi jika ketahuan berasal dari Komering. Kesannya, kami ini jahat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Salah satu kebiasaan yang masih melekat hingga saat ini adalah terbiasa mengantongi pisau lipat ke mana pun pergi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagaimana asal-usulnya citra kekerasan itu bisa melekat pada suku Komering? "Orang Komering itu rasa kesukuannya sangat kuat dan akan makin tampak jika berhadapan dengan kelompok lain,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebenarnya, karakter yang keras juga dimiliki oleh mayoritas suku asli Sumatera Selatan lainnya. Akan tetapi, sikap keakuan yang kuat dalam kelompok-kelompok masyarakat Komering menumbuhkan pandangan "kelompok kami" (in group) dan "kelompok luar" (out group) yang kuat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Para anggota in group kerap bersikap antipati atau antagonis terhadap anggota out group yang menjadi lawannya. Perasaan ini dapat menjadi dasar terbentuknya suatu sikap yang disebut etnosentrisme. Soekanto (1990) menjabarkan bahwa anggota kelompok sosial tertentu cenderung menganggap kebiasaan yang dimiliki kelompoknya adalah sesuatu yang wajar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Akibat dari sikap etnosentris ini, masyarakat dalam kelompok itu sukar untuk mengubah kebiasaan mereka meskipun mereka menyadari sikapnya salah. "Dalam masyarakat Komering, sifat-sifat itu berkembang menjadi stereotip sebagai masyarakat yang keras, egois, dan tidak mau mengalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pada masyarakat Komering, sifat pengelompokan tersebut juga dipengaruhi sistem pemerintahan desa pada masa pemerintahan Belanda dan Kesultanan Palembang yang disebut dengan "marga". Marga terbentuk dari kesatuan dusun-dusun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Masyarakat penghuni dusun tersebut disatukan oleh ikatan keturunan yang kuat antarmereka dan rasa kepemilikan atas wilayah yang mereka diami. "Karena tidak semua wilayah marga itu subur, muncul kecemburuan terhadap warga dari marga lain meskipun sesama suku Komering.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sejarah perkembangan masyarakat untuk mempertahankan hidupnya, kerap diwarnai oleh kekerasan. Termasuk yang dilakukan oleh masyarakat Komering yang terbagi dalam marga-marga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Ditambah ada kecenderungan untuk cari gampangnya saja sehingga mendorong kejahatan oleh kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Namun, tingkat kesejahteraan lebih dominan untuk memicu terjadinya kriminalitas. "Marga yang wilayahnya gersang biasanya penghuninya lebih temperamental dan cenderung lebih berani melakukan kejahatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tekanan ekonomi memang bisa menjadi pemicu seorang individu melakukan tindakan ilegal. Jika ditelusuri, sejumlah daerah Komering yang tergolong rawan adalah daerah yang kalah makmur dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Daerah tersebut bahkan menjadi daerah yang ditakuti oleh masyarakat Komering sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebutlah ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Martapura dengan Kecamatan Cempaka atau ruas jalan dari Kecamatan Simpang menuju Lampung yang melewati daerah Kota Baru. Warga sekitar pun memilih untuk tidak melintasi jalan tersebut sendirian pada siang hari, terlebih lagi pada malam hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Justru siang bolong itu sering kejadian orang digerandong (dirampok), pengemudinya dianiaya, lalu motornya dirampas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Warga Belitang yang tergolong makmur karena memiliki sawah irigasi sehingga mampu panen tiga kali dalam setahun termasuk yang kerap menjadi sasaran empuk. Jangan heran jika petani di Desa Kurungan Nyawa, Belitang, yang cukup mampu pun memilih tidak memperlihatkan kesejahteraannya secara mencolok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dari segi ekonomi, stigma kerawanan daerah Komering tentu sangatlah merugikan, apalagi jika menimbang potensi pertanian, perkebunan, dan jasa angkutan. Sebagai ilustrasi, meskipun ruas jalan yang menghubungkan Palembang- Kayu Agung-Martapura lebih mulus dan jaraknya lebih pendek daripada ruas Palembang- Baturaja-Martapura, namun angkutan barang dan penumpang memilih untuk menghindari jalur tersebut. Lagi-lagi karena faktor keamanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Stigma kekerasan akan terus menempel dan justru akan mematikan daerah itu. Masyarakat akan cenderung menganggap orang yang lewat sebagai musuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jika tingkat kesejahteraan dan pendidikan diperbaiki, tentu akan ada perubahan sikap di masyarakat. Tanpa itu, masyarakat Komering akan terus dihantui oleh stigma,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Presented By &lt;b&gt;&lt;i&gt;KOMERING&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Copy Right 2007 (DOTY DAMAYANTI)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTnlKGpBrvp9ncjQjkeKXkXOJ6onFFPgjeExpL-NcMVFB_ndKX9jiUAsKnUBo_7ucovxpPfHXK3DStyfU95giDtameNgDaDSrs-e8dzs6V3XME9D0ZFo3SPxuK9838cgsitQ3uVbhBAztI/s72-c/peta.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Istiadat Dalam komering</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2010/05/komering-pun-beradat-istiadat.html</link><category>Artikel</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 13 May 2010 20:00:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-5026078965690186820</guid><description>&lt;div style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihcm8Suc54da8XcDSPgKPEL2fMU4XLwiR549y6yO1mZJIMsgryzMY8WpA8vhEvdtsx-_PobZcX1Krx_HHg0mbwClRkUPOfGJOB6pFv1Y8wrbJkyUuBTyweDdtMGc5YQ6BoatuBB_0JSeC9/s1600/palembang+peta%252C%252C%252C.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 161px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihcm8Suc54da8XcDSPgKPEL2fMU4XLwiR549y6yO1mZJIMsgryzMY8WpA8vhEvdtsx-_PobZcX1Krx_HHg0mbwClRkUPOfGJOB6pFv1Y8wrbJkyUuBTyweDdtMGc5YQ6BoatuBB_0JSeC9/s320/palembang+peta%252C%252C%252C.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650339528445754706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="IN"&gt;MELEWATI wilayah Komering, pengguna jalan memang harus hati-hati, terutama pada pekan-pekan setelah hari raya Lebaran. Bukan karena ancaman pemerasan atau perampokan, tetapi karena pekan-pekan tersebut banyak dilaksanakan acara pesta pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="IN"&gt;SALAH satu rangkaian ritualnya, yaitu mengarak calon pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan, selalu mengakibatkan kemacetan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bayangkan jika sepanjang ruas jalan Kayu Agung, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Martapura, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, ada lima keluarga saja yang mengadakan acara perkawinan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="IN"&gt;Barisan keluarga mempelai laki-laki dengan membawa berbagai macam hantaran berjalan kaki menuju rumah calon besannya. Tak ketinggalan para pemusik kelintang yang memainkan musik di sepanjang perjalanan, menjadikan prosesi arak-arakan tersebut sebagai tontonan yang menarik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="IN"&gt;Upacara perkawinan tersebut adalah bagian dari adat yang masih dipegang oleh masyarakat Komering. "Dalam kesehariannya, masyarakat Komering masih memegang baik adat maupun ajaran agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perkembangan zaman, telah mengikis sejumlah adat kebiasaan masyarakat Komering. Namun, sejumlah kebiasaan belum sepenuhnya hilang, termasuk hal yang sangat sederhana, yaitu kebiasaan memelihara rambut panjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Masyarakat Komering yang patrilineal sangat membatasi gerak kerabat perempuan mereka. Di dalam keluarga, laki-laki bertugas menjaga martabat saudara perempuan dan keluarganya. Posisi laki-laki tersebut banyak disimbolkan dalam acara-acara adat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Dalam rangkaian upacara perkawinan Komering dikenal ritual kandang ralang, yaitu pasangan pengantin diarak dalam kain putih yang panjangnya sampai 60 meter yang bagian tepinya dipegangi oleh sejumlah pemuda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;"Ritual tersebut menyimbolkan bahwa pengantin laki-laki akan menjamin keamanan dan kehormatan keluarga mertuanya.Kehormatan dan harga diri merupakan hal penting bagi seorang Komering. Akan tetapi, mereka sangat pantang mengakui kesalahan di depan orang banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;ASAL-usul masyarakat Komering memang tidak begitu jelas. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia yang diterbitkan LP3ES menyebutkan, seperti kebanyakan kelompok masyarakat di Sumatera Selatan, sistem kemasyarakatan Komering dipengaruhi adat Simbur Cahaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Simbur Cahaya adalah kumpulan hukum adat setempat yang diterapkan oleh Kesultanan Palembang. Hukum adat itu selain mengatur penguasaan kesultanan terhadap berbagai sumber daya, juga mengatur beragam aspek sosial, mulai dari perkara pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan, kegiatan ekonomi, masalah keamanan lingkungan, hingga politik dalam organisasi pemerintahan marga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Undang-undang (UU) tersebut juga mengatur wilayah kekuasaan sultan di tingkat marga. Pemimpin marga disebut pasirah. Bawahannya adalah para kepala dusun yang disebut kerio. Selain struktur pemerintahan marga, ada tingkatan-tingkatan keluarga raja adat yang masih keturunan Kesultanan Palembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Simbur Cahaya berlaku sebagai UU dengan menerapkan sanksi yang tegas. "Saat hukum adat masih dipegang, laki-laki yang mengganggu perempuan bisa dikenai denda atau sanksi,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;hukum adat berperan besar dalam menjaga ketertiban masyarakat Komering. "Tindak kriminalitas memang sudah ada sejak dulu, tetapi kontrol sosial melalui penerapan hukum adat pada masa lalu cukup kuat untuk mengurangi efeknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Kuatnya pengaruh hukum adat, tidak lepas dari peranan pemimpin marga. Para pasirah adalah tokoh yang benar-benar disegani karena kekuasaan mereka cukup besar. Mereka memegang fungsi yudikatif, eksekutif, dan kepolisian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;"Dulu, kejahatan-kejahatan kecil biasanya diselesaikan di tingkat marga. Para pihak-pihak yang terkait didamaikan, lalu diadakan sedekah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Peran hukum adat sebagai pranata sosial masyarakat mulai pupus menyusul dihapuskannya sistem marga oleh Pemerintah RI pada tahun 1983. "Sistem pemerintahan desa tidak punya ikatan yang kuat dengan masyarakat. Sejak itu berbagai masalah sosial pun makin sulit dikontrol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Meskipun sistem marga sudah tidak berlaku, secara fisik sejumlah peninggalannya masih ada. Di tengah Kota Martapura, kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten OKU Timur, tegak berdiri bangunan bergaya kolonial yang masih terawat baik. Pada masa Kesultanan Palembang maupun pemerintahan Hindia Belanda, gedung tersebut didiami oleh asisten demang, kepala pemerintahan yang membawahi sejumlah marga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Pada Zaman dahulu, karena pergaulan antarmuda-mudi sangat dibatasi, orang-orang tua menyelenggarakan pesta adat untuk memberi kesempatan pada kaum muda bertemu,dengan mengenakan kain sarung dan baju kurung, para muda-mudi duduk berhadap-hadapan, bercakap-cakap dengan diawasi orang-orang tua dari kejauhan. "Kalau ada yang ingin berkenalan, biasanya menulis pesan dalam secarik kertas, lalu disampaikan oleh anak-anak kecil yang mendapat imbalan gula-gula,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Kebiasaan menitip surat untuk berkenalan itu hingga saat ini masih lestari di pelosok-pelosok kampung yang didiami masyarakat asli Komering. Meski saat ini pergaulan muda-mudinya sudah jauh lebih longgar dibandingkan dulu, saat adat masih dipegang ketat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;Menimbang suasana kehidupan pada masa marga yang lebih tertib, ada keinginan untuk kembali menghidupkan lembaga tersebut. "Dengan kembali ke sistem pemerintahan marga, maka adat akan kembali hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51);font-size:130%;" &gt;MESKIPUN stigma sebagai masyarakat yang keras identik dengan masyarakat Komering, mereka cukup terbuka terhadap kehadiran orang luar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;presented by &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;KOMERING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size:130%;" &gt;&lt;span style=" line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Copyright (2007) DOTY DAMAYANTI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihcm8Suc54da8XcDSPgKPEL2fMU4XLwiR549y6yO1mZJIMsgryzMY8WpA8vhEvdtsx-_PobZcX1Krx_HHg0mbwClRkUPOfGJOB6pFv1Y8wrbJkyUuBTyweDdtMGc5YQ6BoatuBB_0JSeC9/s72-c/palembang+peta%252C%252C%252C.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Asal usul II</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/asal-usul-3.html</link><category>Two Times</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 27 Sep 2009 18:17:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-4992804878456056934</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBelI71kPMZE25EyjGG7lFUXa2BMDg6Hhzs_9MwxDUF6XgEoUttk0Dy7gq_PEmmPQONGvloUXXWb9Zhdvq_xGtMRoZwOXwQ7tlZ78UrJBOXinG3AOVYFdrEF32__JAjp2TqGwte80XdeG8/s1600/sonket.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBelI71kPMZE25EyjGG7lFUXa2BMDg6Hhzs_9MwxDUF6XgEoUttk0Dy7gq_PEmmPQONGvloUXXWb9Zhdvq_xGtMRoZwOXwQ7tlZ78UrJBOXinG3AOVYFdrEF32__JAjp2TqGwte80XdeG8/s320/sonket.jpg" border="0" height="240" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Suku Komering adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian Sekala Brak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad &amp;amp; Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering: “Adat lembaga sai ti pakai sa buasal jak Belasa Kapampang, sajaman rik Tanoh Pagaruyung pemerintah Bunda Kandung, cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, sangon kok turun-temurun jak ninik puyang paija, cambai urai ti usung dilom adat pusako”. Terjemahannya berarti “Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan Ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Brak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya Marga Paku Sengkunyit, Marga Sosoh Buay Rayap, Marga Buay Pemuka Peliyung, Marga Buay Madang, Marga Semendawai (OKU) dan Marga Bengkulah (OKI). Di Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Sejak abad pertengahan, Suku Komering, sama halnya dengan rumpun Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan. Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tan Dipulau, yang menjadi tamu di daerah Marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan perahu menelusuri Sungai Komering.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Tan Dipulau berlabuh dan menetap di daerah Marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, Marga Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari Dusun Kuripan. Sedangkan untuk di Marga Bengkulah, pembawa dan penyiar Islam adalah Moyang Tuan Syarif Ali dan Tuan Murarob yang berasal dari Banten dan dibantu oleh Tuan Tanjung Idrus Salam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt; Tandipulau dalam Bahasa Komering berarti ‘Tuan di Pulau’. Makamnya, yang terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam tersebut. Mitos lain yang beredar dan merupakan sebuah kesalahan besar yang menyatakan bahwa asal-usul Suku Komering masih ada hubungannya dengan Suku Batak di Sumatera Utara, dimana dikatakan bahwa Suku Komering dengan Suku Batak Sumatera Utara dikisahkan masih bersaudara, kakak-beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang Suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi nenek moyang Suku Batak. Apa yang mendasari pendapat para penulis tersebut, apakah hanya sebatas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;dari sumber cerita rakyat yang tidak mempunyai bukti kongkrit dan kejelasan akan fakta tersebut. Bahkan cerita rakyat yang menyatakan mitos tersebut tidak diketahui secara menyeluruh oleh semua masyarakat Komering, dan hanya berkembang di daerah Ogan komering Ulu, itupun tidak menyebar secara luas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Karena jika dilihat dari segi Adat Istiadat, mulai dari rumah dan pakaian adat, makanan tradisional, hukum, tatacara adat serta kebiasaan masyarakat, sama sekali tidak ditemukan kemiripan yang identik yang dapat mendifinisikan bahwa adanya hubungan asal-usul antara Suku Komering dengan Suku batak di Sumatera Utara. Kemudian jika dilihat dari segi etnis atau ras, mulai dari bentuk wajah dan warna kulit, juga tidak ditemukan kemiripan yang identik, karena biasanya orang yang berasal dari Suku Batak memiliki rahang bawah yang lebih tegas dan cenderung membentuk segi dengan tulang alis dan tulang pipi yang sedikit lebih menonjol, berbeda dengan orang yang berasal dari Suku Komering yang memiliki ciri-ciri fisik yang lebih mirip dengan ras Melayu pada umumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Apa yang melatar belakangi pendapat tersebut? lagi-lagi pertanyaan ini sering terngiang pada pikiran kami, bahkan mungkin pada anda semua sebagai pembaca. Dilihat dari segi Bahasa, apakah hanya dikarenakan adanya beberapa kosa kata dari masyarakat Suku Komering ada kemiripannya dengan Suku Batak di Sumatera Utara, jika itu yang mendasari pendapat tersebut, seberapa banyak kemiripan kosa kata yang ada? Kalau hanya terdapat 10 atau 15 kosa kata itu bukan merupakan bukti kuat yang dapat membenarkan pendapat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Jika kita cermati dengan lebih rinci kemiripan kosa kata Bahasa Komering juga terdapat pada beberapa kosa kata bahasa sunda, diantaranya: jukut (Sunda) dengan jukuk (Komering) yang berarti rumput, mulang (Sunda dan kKomering) yang berarti pulang, sireum (Sunda) dengan sorom (Komering) yang berarti semut, gancang (Sunda dan Komering) yang berarti cepat, na sebuah imbuhan yang digunakan bahasa sunda yang sama fungsinya dengan imbuhan nya dalam bahasa Indonesia juga digunakan di dalam Bahasa Komering, jelma (Sunda) dengan jelma (Komering) yang berarti manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Tidak hanya dengan Suku Sunda, Bahasa Komering juga memiliki kesamaan kosa kata dengan Bahasa Melayu, baik itu Melayu Palembang maupun Melayu Piawai (Riau, Langkat, Serdang, Siak), Bahasa Aceh bahkan dengan Suku Jawa, diantara kesamaan kosa kata tersebut adalah: kawai (Melayu Piawai dan komering) yang berarti baju, sayu (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti sedih atau pikiran jauh, biduk (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti perahu, pinggan/pingan (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti piring. Kemiripan dengan bahasa Aceh diantaranya, Apui (Aceh dan Komering) yang berarti api, Kulat/Kulak (Aceh dan Komering) yang berarti jamur, Tanoh (Aceh dan Komering) yang berarti tanah, Asu (Jawa dan Komering) yang berarti anjing, Rawang/Lawang (Jawa dan Komering) yang berarti pintu, Sapa (Jawa) dengan Sopo (Komering) yang serarti siapa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Demikian beberapa fakta yang ada, dan sebenarnya mungkin masih terdapat banyak lagi kemiripan kosa kata lainnya, yang tentunya tidak dapat kita sajikan semuanya dalam artikel ini. Dengan beberapa kemiripan kosa kata yang ada antara bahasa komering dengan beberapa Suku di Indonesia tersebut, apakah asal-usul Suku Komering bisa dikatakan ada hubungannya dengan dengan beberapa suku tersebut? sampai saat ini tidak ada yang dapat menyatakan hal tersebut tersebut dengan tegas, karena memang semua itu memerlukan bukti yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Seperti yang kita ketahui bersama, di dalam Suku Komering itu sendiri terdapat paling tidak dua ragam intonasi suara dalam berbahasa (Dialek/Logat), Dialek Suku Komering Marga Bengkulah akan terdengar cenderung berintonasi lebih datar, halus serta tidak mendayu jika dibandingkan dengan Bahasa Komering Ulu (mendiami bagian hulu Sungai Komering) yang intonasinya akan cenderung lebih tegas, tinggi dan mendayu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Kemudian jika masalah intonasi suara (Dialek/Logat) antara Bahasa Komering pada umumnya (Komering OKU) dibandingkan dengan Bahasa Batak yang memiliki kemiripan, yaitu sama-sama berintonasi dialek/logat yang tinggi dan tegas (keras/lantang) menjadi latar belakang pendapat yang mengatakan bahwa asal usul Suku Komering masih ada hubungan yang erat dengan Suku Batak di Sumatera Utara. Lalu bagaimana dengan kemiripan intonasi antara Bahasa Komering dengan Bahasa Bugis Sulawesi dan suku-suku di Indonesia timur diantaranya Flores, Maluku serta Timor, Dengan fakta tersebut apakah suku Komering bisa dikatakan ada hubungan asal usul yang sangat erat dengan suku-suku tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Tentu saja, tidak dengan semudah itu kita dapat berargumentasi dan mengeluarkan pendapat, apalagi pendapat itu sangat terkait dengan sejarah dan asal-usul suatu suku bangsa, jangan bermain-main dengan sebuah argumentasi yang nantinya akan merusak paradigma berfikir bagi para penerus generasi sebuah suku bangsa. Dalam hal ini tentunya kami tidak bermaksud untuk menyudutkan suatu pendapat atau argumentasi seseorang, namun setidaknya hal ini kami jadikan sebagai momen untuk mencoba meluruskan sebuah pendapat yang selama ini mulai beredar di masyarakat khususnya masyarakat Komering Ulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBelI71kPMZE25EyjGG7lFUXa2BMDg6Hhzs_9MwxDUF6XgEoUttk0Dy7gq_PEmmPQONGvloUXXWb9Zhdvq_xGtMRoZwOXwQ7tlZ78UrJBOXinG3AOVYFdrEF32__JAjp2TqGwte80XdeG8/s72-c/sonket.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Alkisah II</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2009/08/alkisah-ii.html</link><category>One Time</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 19:30:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-4747450248186338291</guid><description>&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-zT_-N4NhArGiqMjhgfAmC4JZLPoO51wtCo_bxGgLhsRwTQvUABxE54T5w91QlbFYIxwoAfMgdJq9GXex8thk5Z_b5LIAswFsif8CcyyI-T3_Dj-godxwrr3u4VA4wA9oBz2TQawEboqK/s1600/2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-zT_-N4NhArGiqMjhgfAmC4JZLPoO51wtCo_bxGgLhsRwTQvUABxE54T5w91QlbFYIxwoAfMgdJq9GXex8thk5Z_b5LIAswFsif8CcyyI-T3_Dj-godxwrr3u4VA4wA9oBz2TQawEboqK/s320/2.jpg" border="0" height="320" width="277" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Diriwayatkan  di dalam Tambo empat orang Putera Raja Pagaruyung Maulana Umpu  Ngegalang Paksi tiba di Sekala Brak untuk menyebarkan agama Islam.  Kedatangan Keempat Umpu  sebagai awal  kemunduran dari Kerajaan Sekala  Brak Kuno atau Buay Tumi yang merupakan penganut Hindu Bairawa/Animisme  dan sekaligus merupakan tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Brak yang  berasaskan Islam. Keempat Putera Maulana Umpu Ngegalang Paksi masing  masing adalah: Umpu Bejalan Di Way , Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan  Umpu Pernong.  Umpu berasal dari kata Ampu seperti yang tertulis pada  batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah  sebutan Bagi anak Raja Raja Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Sekala  Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para  Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut  mendirikan Paksi Pak yang berarti  Empat Sepakat. Mereka menaklukkan   suku bangsa Tumi dan  mengembangkan  agama Islam di Sekala Brak.  Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu adalah seorang  wanita yang bernama Ratu Sekerumong yang pada akhirnya dapat ditaklukkan  oleh Paksi Pak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk agama Islam  melarikan diri ke Pesisir Krui dan terus menyeberang ke pulau Jawa dan  sebagian lagi ke daerah Palembang. Raja terakhir dari Buay Tumi Sekala  Brak adalah Kekuk Suik dengan wilayah kekuasaannya yang terakhir di  Pesisir Selatan Krui -Tanjung Cina.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Dataran  Sekala Brak akhirnya dikuasai oleh keempat Umpu yang disertai Si Bulan,  Maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Umpu dengan  menggunakan nama Paksi Pak Sekala Brak. Inilah cikal bakal Kepaksian  Sekala Brak.   Suku bangsa Tumi yang lari kedaerah Pesisir Krui  menempati marga marga Punggawa Lima yaitu Marga Pidada, Marga Bandar,  Marga Laai dan Marga Way Sindi namun kemudian dapat ditaklukkan oleh  Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan bantuan  lima orang punggawa dari Paksi Pak Sekala Brak. Dari kelima punggawa ini  nama daerah ini disebut dengan Punggawa Lima karena kelima punggawa ini  hidup menetap pada daerah yang telah ditaklukkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Sekitar  tahun 1550 suku bangsa Ranau ditaklukkan kesultanan Banten, yang  membutuhkan sekitar danau Ranau untuk penanaman merica sebagai komoditi   ekspor.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perpindahan  penduduk dari Sekala Brak ini sebagian  mengikuti aliran Wai Komring  yang dikepalai oleh Pangeran Tongkok Podang, untuk seterusnya beranak  pinak dan mendirikan Pekon atau Negeri. Kesatuan dari Pekon Pekon ini  kemudian menjadi Marga Atau Buay yang diperintah oleh seorang Saibatin  di daerah Komering-Palembang. Sebagian kelompok lagi pergi kearah Muara  Dua, kemudian menuju keselatan menyusuri aliran Wai Umpu hingga sampai  di Bumi Agung. Kelompok ini terus berkembang dan kemudian dikenal dengan  Lampung Daya atau Lampung Komring yang menempati daerah Marta Pura dan  Muara Dua di Komring Ulu, serta daerah Bengkulah di Komring Ilir.  Kelompok yang lain yang dipimpin oleh Puyang Rakian dan Puyang Nayan  Sakti menuju ke Pesisir Krui dan menempati Pesisir Krui mulai dari  Bandar Agung di selatan pesisir hingga Pugung Tampak dan Pulau Pisang di  utara. Kelompok yang dipimpin oleh Puyang Naga Berisang dan Ratu  Piekulun Siba menyusuri Way Kanan menuju ke Pakuan Ratu, Blambangan Umpu  dan Sungkai Bunga Mayang di barat laut Lampung untuk meneruskan jurai  dan keturunannya hingga meliputi sebagian utara dataran Lampung. Adipati  Raja Ngandum memimpin kelompok yang menuju ke Pesisir Selatan Lampung  Mengikuti aliran Wai Semangka hingga kehilirnnya di Kubang Brak. Dari  Kubang Brak sebagian rombongan ini terus menuju kearah Kota Agung,  Talang Padang, Wai Lima hingga ke selatan Lampung di Teluk Betung,  Kalianda dan Labuhan Maringgai. Daerah Pantai Banten yang merupakan  daerah Cikoneng Pak Pekon adalah wilayah yang diberikan sebagai hadiah  kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kenali -Buay Belunguh setelah menumpas  kerusuhan yang diakibatkan oleh Si Buyuh. Sebagian lagi yang dikepalai  oleh Menang Pemuka yang bergelar Ratu Di Puncak menyusuri sepanjang Way  Rarem, Wai Tulang Bawang dan Way Sekampung. Menang Pemuka atau Ratu Di  Puncak memiliki tiga orang istri, istri yang pertama. berputera Nunyai,  dari istri kedua memiliki dua orang anak yaitu seorang putera yang  diberi nama Unyi dan seorang puteri yang bernama Nuban, sedangkan dari  istri ketiga yang berasal dari Minangkabau memiliki seorang putera yang  bernama Bettan Subing. Jurai Ratu Di Puncak inilah yang menurunkan orang  Abung. Sedangkan Tulang Bawang adalah keturunan dari Indarwati yang  Bergelar Putri Si Buay Bulan yang pada awalnya bertahta di Cenggiring  Sekala Brak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Hirarki  Adat dalam Kepaksian Sekala Brak dari yang tertinggi sampai yang  terendah adalah dikenal dengan sebutan; Suntan, Raja, Batin, Radin,  Minak, Kemas, dan Mas. Petutughan atau panggilan untuk  kakak adalah Pun  dan Ghatu untuk Suntan, Atin untuk Raja, Udo Dang dan Cik Wo untuk  Batin, Udo dan Wo untuk Radin, Udo Ngah dan Cik Ngah untuk Minak, Abang  dan Ngah untuk Mas serta kakak untuk Kemas. Sedangkan panggilan untuk  orang tua adalah Akan dan Ina Dalom untuk Suntan, Aki dan Ina Batin  untuk Raja, Ayah dan Ina Batin untuk Batin sedangkan untuk Radin, Mas  dan Kimas menggunakan panggilan Mak dan Bak. Panggilan kepada setingkat  panggilan orang tua seperti paman dan bibi adalah; Pak Dalom dan Ina  Dalom untuk Suntan, Pak Batin dan Ina Batin untuk Raja, Tuan Tongah- dan  Cik Tongah untuk Batin, Pak Balak dan Ina Balak untuk Radin, Pak Ngah  dan Mak Ngah untuk Minak, Pak Lunik dan Ina Lunik untuk Mas serta Pak  Cik dan Mak Cik untuk Kemas. Panggilan untuk kakek-nenek adalah Tamong  Dalom dan Kajong Dalom untuk setingkat Suntan, Tamong Batin dan Kajong  Batin untuk setingkat Raja dan Batin sedangkan untuk Radin, Minak, Mas  dan Kemas menggunakan panggilan Tamong dan Kajong saja. Panggilan ini  kemudian berkembang secara berbeda di setiap marga. Gelaran atau Adok  -DALOM, SUNTAN, RAJA, RATU, panggilan seperti PUN dan SAIBATIN serta  nama LAMBAN GEDUNG hanya diperuntukkan bagi Saibatin dan keluarganya dan  dilarang dipakai oleh orang lain. Dalam garis dan peraturan adat tidak  terdapat kemungkinan untuk membeli Pangkat Adat, baik dengan Cakak  Pepadun atau dengan cara cara lainnya terutama di dataran Skala Brak  sebagai warisan kerajaan Paksi Pak Sekala Brak. Tentang kepangkatan  seseorang dalam adat tidaklah dapat dinilai dari materi dan kekuatan  yang dapat menaikkan kedudukan seseorang di dalam lingkungan adat,  melainkan ditentukan oleh asal, akhlak dan banyaknya pengikut seseorang  dalam lingkungan adat. Bilamana ketiganya terpenuhi maka kedudukan  seseorang di dalam adat tidak perlu dibeli dengan harta benda atau  diminta dan akan dianugerahkan dengan sendirinya. Kesempatan untuk  menaikkan kedudukan seseorang di dalam adat dapat pula dilaksanakan pada  acara Nayuh atau Pernikahan, Khitanan dan lain lain. Pengumuman untuk  Kenaikan Pangkat ini, dilaksanakan dengan upacara yang lazim menurut  adat di antara khalayak dengan penuh khidmat diiringi alunan bunyi  Canang disertai bahasa Perwatin yang halus dan memiliki arti yang dalam.  Bahasa Perwatin adalah ragam bahasa yang teratur, tersusun yang  berkaitan dengan indah dan senantiasa memiliki makna yang anggun, ragam  bahasa ini lazim digunakan dilingkungan adat dan terhadap orang yang  dituakan atau dihormati. Sedangkan  bahasa Merwatin adalah ragam bahasa  pasaran yang biasa digunakan sehari hari yang dalam perkembangannya  banyak dipengaruhi oleh bahasa bahasa lain. Prosesi kenaikan seseorang  di dalam adat dihadiri oleh Saibatin Suntan atau Perwakilan yang  ditunjuk beserta para Saibatin dan Pembesar lainnya. Dari rangkaian kata  kata dalam bentuk syair dapat disimak ungkapan “Canang Sai Pungguk  Ghayu Ya Mibogh Di Dunia Sapa Ngeliak Ya Nigham Sapa Nengis Ya Hila”  Terjemahannya bebasnya bermakna “Bunyi Gong Laksana Suara Pungguk Yang  Syahdu Merayu, Gemanya Terdengar Keseluruh Dunia, Siapa Yang Melihat Ia  Terkesima Dan Rindu, Siapa Yang Mendengarnya Ia Akan Terharu”. Ini  bermakna bahwa pengumuman kenaikan kedudukan seseorang di dalam adat  telah diresmikan. Pada zaman imperialis hal ini dimanfaatkan oleh kaum  imperialis dengan memecah belah sehingga perbedaan yang ada digunakan  sebagai alat memperuncing pertentangan. Belanda menggantikan kedudukan  Raja dengan kedudukan sebagai Pesirah. Bentuk pemerintahan yang tadinya  dijalankan dalam tatanan kemurnian dan keluhuran Adat perlahan diarahkan  untuk mengikuti kepentingan Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Suku  Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit,  marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang,  marga Semendawai (OKU) dan marga Bengkulah (OKI).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Suku  Komering menganut  Islam sebagai agama. Kedatangan Islam itu melahirkan  mitos mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten,  bernama Tan Dipulau, yang menjadi tamu di daerah marga Semendawai. Ia  datang menggunakan perahu menelusuri sungai Komering. Tan Dipulau  berlabuh dan menetap di daerah marga Semendawai, tepatnya di dusun  Kuripan. Keturunan Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai  atau seberang dusun Kuripan, yang disebut dusun Gunung Jati.  Selanjutnya, marga Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari dusun  Kuripan. Sedangkan untuk di marga Bengkulah, pembawa dan penyiar Islam  adalah Muyang Tuan Syarif Ali dan Tuan Murarob yang berasal dari Banten  dan dibantu oleh Tuan Tanjung Idrus Salam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sementara itu &lt;i&gt;W.V. Van Royen&lt;/i&gt; dalam bukunya  &lt;i&gt;DePalembang Sche Marga (1927&lt;/i&gt; ) menyebut orang komring dengan sebutan Jelama Daya  yang berarti orang  yang ulet.  &lt;i&gt;Van Der Tuc  (Belanda)&lt;/i&gt;menyebut orang Kembiring yang di artinya  manusia jejadian (orang yang dapat menghilang)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Sebagian warahan menyebutkan  nama sungai  Komering diambil dari nama seorang saudagar India yang bernama &lt;i&gt;Komring Singh&lt;/i&gt; ,  makamnya terdapat di hulu desa Muara Dua, sungai yang mengalir mulai  dari makam tersebut tepatnya mulai dari pertemuan Wai Selabung dengan  Wai Saka yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai  Komring.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Diyakini,   Jelama Daya adalah kelompok pertama yang turun dari gunung Seminung  melalui Danau Ranau menelusuri sungai Komring sampai di Gunung Batu  adalah kelompok Samanda Di Wai (Semendawai)  yang berarti mengikuti  aliran sungai . Kelompok ini kemudian berkembang dan berpencar membentuk  7 ( Tujuh ) Kepuhyangan ( kepuyangan) ; Kepuhyangan menempati pangkal  teluk yang agak membukit yang kini kita kenal dengan nama Gunung Batu,  kelompok ini di pimpin oleh Pu Hyang Ratu Sabibul . Kepuhyangan   menempati  dataran Maluwai di pimpin oleh Pu Hyang Kai Patih Kandil.  Kepuhyangan  menempati muara sungai yang kemudian dikenal dengan nama  Minanga , kelompok ini di pimpin oleh Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing.   Kepuhyangan Madang  menenpati wilayah Gunung Terang, kelompok ini di  pimpin oleh Puhyang Umpu Sipadang. Kepuhyangan  yang dipimpin  Pu Hyang  Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung yang kemudian di  jadikan nama kepuhyangan Pemuka Peliung. Dari  kepuhyangan ini  menunculkan  kepuhyangan  Kepuhyangan Banton di pimpin oleh Pu Hyang  Ratu Penghulu dan Kepuhyangan Pulau Negara yang di pimpin oleh Pu Hyang  Umpu Ratu.  Kepuhyangan Jati Kramat  yang dipercayai oleh penduduk  setempat istrinya  keluar dari Bunga Mayang Pinang sehingga memunculkan  nama kepuhyangan Bunga Mayang. Kepuhyangan  Sibalakuang menempati daerah  Mahangin yang memunculkan daerah Sandang, Rawan, Rujung, Kiti,  Lengkayap dan banyak lagi yang mengunakan nama Bhu Way.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;A'im Gantesa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-zT_-N4NhArGiqMjhgfAmC4JZLPoO51wtCo_bxGgLhsRwTQvUABxE54T5w91QlbFYIxwoAfMgdJq9GXex8thk5Z_b5LIAswFsif8CcyyI-T3_Dj-godxwrr3u4VA4wA9oBz2TQawEboqK/s72-c/2.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Alkisah</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2009/08/alkisah.html</link><category>One Time</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 13 Aug 2009 19:24:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-8857636727006748172</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgDMA4Ejg94sKQVjVsFvIq-Z380oLcEJohqhLDgdr38joZd2wytOenRzDkkrfdeu4jTUPdzncUeP-bij-EYGNfcc4uInvdtRhcqulLrAEkGjFZzorkfeN8jMltMZWM30d7ZaQQTg9PgV8o/s1600/1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgDMA4Ejg94sKQVjVsFvIq-Z380oLcEJohqhLDgdr38joZd2wytOenRzDkkrfdeu4jTUPdzncUeP-bij-EYGNfcc4uInvdtRhcqulLrAEkGjFZzorkfeN8jMltMZWM30d7ZaQQTg9PgV8o/s320/1.jpg" border="0" height="320" width="262" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent val="1440"&gt;&lt;m:intlim val="subSup"&gt;&lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Zaman bahula suku Proto Malayan,  orangnya ngak gaul, gak mau berhubungan dengan dunia luar. Mereka hanya berpesta di pegunungan.  Kemungkinan besar mereka ngak pernah piknik ke pantai Kuta, Ancol, palagi ke Palembang Square. Hehe.. Ini beda sekali dengan suku-suku Neo Malayan. Suku-suku Neo Malayan lebih suka tinggal di tanah datar. persis seperti Cut Tari, Luna Maya, Ifan Bachdim, dan yang lain konco-konconya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt; Kesenangan si suku Proto Malayan terusik,  karena sekitar 1000 taon SM, suku Mongol datang merangsek dan terpaksalah mereka mabur ke selatan, sepanjang sungai-sungai Irawady, Salween, serta Mekong.  Udah itu,, mereka juga didesak bangsa Syan dari Palae Mongoloid. Akibatnya mereka  terdesak sampai ke tepi laut di teluk Martaban (kacian nenek moyang ku).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Nah.. sekarang mereka udah bisa piknik ke pantai (ye)  Mereka berhubungan dengan orang asing, kebudayaan Proto Malayan  jadinya kecampur dengan budaya Hindu (bahasa kerennya terakulturasi), Ini juga mempengaruhi bahasanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt; Tapi emang dasar orang gunung, si  proto Malayan  kurang senang bertempat tinggal di tepi pantai. Terlalu banyak orang asing yang harus dijamu (bisa- abis kopi). Apalagi pantatnya sering digigit kepiting laut.  Dia  ngak tahan nanggung derita ini. Bahkan sampai ada yang coba bunuh diri dengan cara menusuk-nusukan capit kepiting ke ketek kirinya (sebab konon mereka percaya bahwa letak jantung ada di ketek kiri, hehe…). Lalu mereka memberanikan diri mengambil resiko, menyeberangi lautan mencari tempat tertutup. Suku-suku Proto Malayan pun akhirnya terpisah-pisah. Ada yang melancong dan menetap di Filipina. Di situ mereka membentuk komunitas baru dan buka bisnis togel (hehe.. gaklah). Ada juga yang ke Taiwan. Suku bangsa Tayal pergi ke puncak-puncak gunung di Taiwan sejak 3.000 tahun lalu sampai sekarang (Jangan-jangan mereka itu leluhur F4 yang serial meteor garden. ya) Mereka tidak ambil pusing bahwa tanah-tanah datar di tepi pantai Taiwan, silih berganti direbut Cina, Belanda, Jepang dan Cina lagi.   (Lo mau perang kek, mau ngapain kek. gw kagak peduli! terserah lo ajalah…)” teriak mereka dari gunung sambil menyaksikan tanah datar di tepi pantai diperebutkan. Suku bangsa Toraja mendarat di Sulawesi. Di situ mereka selama 3.000 tahun hingga sekarang kontra dengan suku-suku bangsa Bugis dan Makasar, yang berasal dari Neo Malayan. Mereka berantem melulu (untung waktu itu lum ada kapal selem dan bom buku). Agama Islam sekitar 400 tahun sudah diterima Bugis dan Makasar. Tetapi suku Toraja gak mau. Tapi pas abad XX suku bangsa Toraja mau menerima Protestan Calvinist dari pendeta-pendeta Belanda. Sementara suku Karen tetap bertahan di pegunungan Burma. Sampai sekarang juga berantem terus dengan suku bangsa Burma yang membentuk Republik Burma. Suku bangsa Karen tetap menolak agama Budha, yang dianut orang-orang Burma dan Siam. suku bangsa Karen sejak abad ke-XIX menerima agama Kristen/British Baptists dari pendeta-pendeta Inggris. Sedangkan suku bangsa Batak, tenang -tenang… ternyata mendarat di pantai Barat pulau Sumatera. Di situ suku bangsa Batak terpecah menjadi beberapa gelombang (bukan tsunami lho). Gelombang pertama mendarat di pulau-pulau Simular, Nias, Batu, Mentawai, Siberut sampai ke Enggano. Gelombang lain  mendarat di muara sungai Simpang, sekarang Singkil. Mereka bergerak sepanjang sungai Simpang Kiri dan menetap di Kutacane. Dari situ mereka menduduki seluruh pedalaman Aceh. Itulah yang menjadi orang-orang Gayo, dan Alas. Adalagi yang mendarat di muara Sungai Sorkam, antara Barus dan Siboga. Masuk utan Doloksanggul dan menetap di kaki Gunung Pusuk Buhit, di tepi danau Toba sebelah barat, sekarang di seberang Pangururan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt; Suku bangsa Sekala Brak (Sekala Baca: Sekala Bekhak)  muyangku  mendarat di pesisir Sumatera Barat terus  jalan kaki ke Anjak Lambung" yang berarti berasal dari ketinggian (Diandra Natakembahang: 2005) atau Lampung, lalu selama 2.500san taon berkurung di sekitar danau Ranau. Mereka mendirikan kerajaan yang bercirikan Hindu dan dikenal dengan Kerajaan Sekala Brak Hindu yang setelah kedatangan Empat Umpu dari Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam kemudian berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak, awalnya mereka menempati  kaki Gunung Pesagi yang letaknya di dataran  Belalau, sebelah selatan Danau Ranau (sekarang masuk administrative  Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah mereka menyebar ke segala  penjuru dengan mengikuti aliran wai komering, wai kanan, wai semangka, wai seputih, wai sekampung dan wai tulang bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten. Bukti tentang kemasyuran muyangku  didapat dari cerita turun temurun yang disebut warahan.  Warisan kebudayaan, adat istiadat, keahlian serta benda dan situs seperti tambo dan dalung seperti yang terdapat di Kenali, Batu Brak dan Sukau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Tafsiran  para ahli purbakala seperti &lt;i&gt;Groenevelt, L.C.Westernenk dan Hellfich&lt;/i&gt; menyimpulkan  bahwa Sekala Brak merupakan cikal bakal rumpun Lampung. Dalam buku &lt;i&gt;The History of Sumatra karya The Secretary to the President and the Council of Port Marlborough Bengkulu, William Marsdn, 1779&lt;/i&gt;, mengungkapkan &lt;i&gt;"If you ask the Lampoon people of these part, where originally comme from they answere, from the hills, and point out an island place near the great lake whence, the oey, their forefather emigrated…".&lt;/i&gt;   Apabila tuan-tuan menanyakan kepada  masyarakat Lampung tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk  ke arah gunung yang tinggi dan sebuah danau yang luas. Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh &lt;i&gt;Groenevelt&lt;/i&gt;kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan Kamboja. Prof. Wang Gungwu dalam majalah ilmiah&lt;i&gt;Journal of Malayan Branch of the Royal Asiatic Society &lt;/i&gt;dengan lebih spesifik menyebutkan bahwa pada tahun tahun 441, 455, 502, 518, 520, 560 dan 563 yang mulia Sapanalanlinda dari negeri Kendali mengirimkan utusannya ke Negeri Cina. Menurut L.C. Westenenk nama Kendali ini dapat kita hubungkan dengan Kenali Ibukota Kecamatan Belalau sekarang. Nama Sapalananlinda itu menurut kupasan dari beberapa ahli sejarah, dikarenakan berhubung lidah bangsa Tiongkok tidak fasih melafaskan kata Sribaginda, ini berarti Sapanalanlinda bukanlah suatu nama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Hal diatas membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak ini dihuni oleh Buay Tumi dengan Ibu Negeri Kenali dan Agama resminya adalah Hindu Bairawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya Batu Kepampang di Kenali yang fungsinya adalah sebagai alat untuk mengeksekusi Pemuda dan Pemudi yang tampan dan cantik sebagai tumbal dan persembahan untuk para Dewa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina. Prof. Olivier W. Wolters dari Universitas Cornell, dalam bukunya Early Indonesian Commerce, Cornell University Press, Ithaca, New York, 1967, hal. 160, mengatakan bahwa ada dua kerajaan di Asia Tenggara yang mengembangkan perdagangan dengan Cina pada abad 5 dan 6 yaitu Kendali di Andalas dan Ho-lo-tan di Jawa. Dalam catatan Dinasti Liang (502-556) disebutkan tentang letak Kerajaan Sekala Brak yang ada di Selatan Andalas dan menghadap kearah Samudra India, Adat Istiadatnya sama dengan Bangsa Kamboja dan Siam, Negeri ini menghasilkan pakaian yang berbunga, kapas, pinang, kapur barus dan damar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Dari Prasasti Hujung Langit (Hara Kuning) bertarikh 9 Margasira 919 Caka yang di temukan di Bunuk Tenuar Liwa terpahat nama raja di daerah Lampung yang pertama kali ditemukan pada prasasti. Prasasti ini terkait dengan Kerajaan Sekala Brak kuno yang masih dikuasai oleh Buay Tumi. Prof. Dr. Louis-Charles Damais dalam buku Epigrafi dan Sejarah Nusantara yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, halaman 26-45, diketahui nama Raja yang mengeluarkan prasasti ini tercantum pada baris ke-7, menurut pembacaan Prof. Damais namanya adalah Baginda Sri Haridewa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Lebih jauh lagi Sekala Brak Hindu adalah juga merupakan cikal bakal Sriwijaya, dimana saat persebaran awal dimulai dari dataran tinggi Pesagi dan Danau Ranau satu kelompok menuju keselatan menyusuri dataran Lampung dan kelompok yang lain menuju kearah utara menuju dataran palembang (Van Royen:1927). Bahkan seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah merupakan Pendiri dari Dinasti Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri Minanga Komering (Arlan Ismail:2003).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;Berdasarkan Warahan disusun di dalam Tambo, dataran Sekala Brak yang pada awalnya dihuni oleh suku bangsa Tumi ini mengagungkan sebuah pohon yang bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, yang satunya nangka dan satunya lagi adalah sebukau yaitu sejenis kayu yang bergetah. Keistimewaan Belasa Kepampang ini bila terkena cabang kayu  sebukau  akan dapat penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya, namun jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan. Karena keanehan inilah maka Belasa Kepampang ini diagungkan oleh suku bangsa Tumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande;font-size:130%;" &gt;&lt;i&gt;Bersambung.......&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgDMA4Ejg94sKQVjVsFvIq-Z380oLcEJohqhLDgdr38joZd2wytOenRzDkkrfdeu4jTUPdzncUeP-bij-EYGNfcc4uInvdtRhcqulLrAEkGjFZzorkfeN8jMltMZWM30d7ZaQQTg9PgV8o/s72-c/1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Asal-Usul Tujuh Kepuhyangan</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/asal-usul-tujuh-kepuhyangan.html</link><category>Two Times</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 23 Jul 2009 20:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-5421722157205079205</guid><description>&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim060lKlVzVL5rlpg04rtyxT74VkiEmuEarfvErWEb40Pwhyphenhyphen1Za7wUwOxdSVLH_9IFq7YJNvFCLpd-20Psz3rgtz-T2zS39VHO5yk0tf2yfMy2HgTIn5kGJRiJ1F9o56LOGpnKBd8A-_DY/s1600/aaaaa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim060lKlVzVL5rlpg04rtyxT74VkiEmuEarfvErWEb40Pwhyphenhyphen1Za7wUwOxdSVLH_9IFq7YJNvFCLpd-20Psz3rgtz-T2zS39VHO5yk0tf2yfMy2HgTIn5kGJRiJ1F9o56LOGpnKBd8A-_DY/s1600/aaaaa.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pada suatu ketika bergeraklah sekelompok besar turun dari dataran tinggi Gunung Pesagi menyusuri sungai dengan segala cara seperti dengan rakit bambu, dan lain-lain. Menyusuri Sungai Komering menuju muara. Menyusuri atau mengikuti dalam dialek komering lama adalah samanda. Kelompok pertama ini kita kenal kemudian dengan nama Samandaway dari kata Samanda-Di-Way berarti mengikuti atau menyusuri sungai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Pada artikel yang berjudul Kebesaran Sriwijaya yang Tak Tersisa - The Rise of Sriwijaya Empire (Komentar Agung Arlan), disebutkan bahwa Kepuhyangan Samandaway yang merupakan kepuhyangan tertua komering menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Sriwijaya dengan Pu Hyang Jaya Naga (Sri Jaya Naga) sebagai Raja Sriwijaya pertama yang berkedudukan di daerah dekat Gunung Seminung dan kemudian berpindah ke Minanga (Setelah itu Pusat Ibu Kota berpindah ke Palembang, dan yang terakhir ke Jambi pada beberapa kurun masa Kerajaan Sriwijaya).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kelompok ini akhirnya sampai di muara (Minanga) dan kemudian berpencar. Mereka menncari tempat-tempat strategis dan mendirikan tiga kepuhyangan. Kepuhyangan pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini dikenal dengan nama Gunung Batu. Mereka berada di bawah pimpinan Pu Hyang Ratu Sabibul. Kepuhyangan kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan Maluway di bawah pimpinan Pu Hyang Kaipatih Kandil. Kepuhyangan ketiga menempati muara dalam suatu teluk di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing. Di tempat ini kemudian dikenal dengan nama Minanga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Tak lama setelah rombongan pertama, timbul gerakan penyebaran rumpun Skala Brak ini. Menyusul pula gerakan penyebaran kedua yang seterusnya mendirikan kepuhyangan keempat. Kepuhyangan keempat menemukan suatu padang rumput yang luas kemudian menempatinya. Mereka di bawah pimpinan Pu Hyang Umpu Sipadang. Pekerjaan mereka membuka padang ini disebut Madang dan kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang. Tempat pertama yang mereka duduki dinamakan Gunung Terang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kepuhyangan kelima di bawah pimpinan Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung. Dari kegemarannya ini dinamakan pada nama kepuhyangan mereka menjadi "Pemuka Peliung". Dari kepuhyangan ini kelak kemudian hari setelah Perang Abung menyebar mendirikan kepuhyangan baru, yaitu Kepuhyangan Banton oleh Pu Hyang Ratu Penghulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kepuhyangan Pakuon oleh Puhyang itu dan Kepuhyangan Pulau Negara oleh Pu Hyang Umpu Ratu. Kepuhyangan Keenam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Keramat. Istrinya, menurut kepercayaan setempat, berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang. Kepercayaan ini membekas dan diabadikan pada nama kepuhyangan mereka, yaitu Bunga Mayang (kelak kemudian hari, inilah cikal bakal Lampung Sungkai).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Kepuhyangan ketujuh di bawah pimpinan Pu Hyang Sibalakuang. Mereka pada mulanya menempatkan diri di daerah Mahanggin. Ada yang mengatakan kepuhyangan daya (dinamis/ulet). Kelak kemudian hari kepuhyangan ini menyebar mendirikan cabang-cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap, dan lain-lain. Nama-nama marga atau kepuhyangan yang berasal dari rumpun kepuhyangan ini banyak menggunakan nama Bhu-Way (buway).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Nama kebhuwayan ini dibawa orang-orang dari Skala Brak baru generasi Paksi Pak. Ketujuh kepuhyangan yang mendiami lembah sungai yang kini dinamakan "Komering". Masing-masing pada mulanya berdiri sendiri dengan pemerintahan sendiri. Di bawah seorang sesepuh yang dipanggil pu hyang. Mereka menguasai tanah dan air yang mereka tempati dengan batas-batas yang disepakati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Ditinjau dari tujuan gerakan penyebaran (mempertahankan kelanjutan hidup kelompok untuk mencari tempat yang memberi jaminan kehidupan) serta cara mencari tempat yang strategis dalam mengikuti aliran sungai (samanda-diway), tampaknya Kepuhyangan Samandaway adalah yang pertama dan tertua. Orang-orang Samandaway menempati muara sampai di ujung tanjung (Gunung Batu).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div   style="color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:lucida grande;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;thank's to - A'im Gantesa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim060lKlVzVL5rlpg04rtyxT74VkiEmuEarfvErWEb40Pwhyphenhyphen1Za7wUwOxdSVLH_9IFq7YJNvFCLpd-20Psz3rgtz-T2zS39VHO5yk0tf2yfMy2HgTIn5kGJRiJ1F9o56LOGpnKBd8A-_DY/s72-c/aaaaa.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Asal Usul</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/asal-usul.html</link><category>One Time</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 9 Jul 2009 18:39:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-9222260432805529479</guid><description>&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXuF3jDASXl8pHGn3BX6f_Z02ZyeBl8QhTlFRtNNl7Hr_fRG5P7v_0YoG0xbksnYRfU2pk8QJt6cBcvV7gQLHMjP_ehXflU0rIzeIEkNCw-qKdtynrJfHgqw3Uhp_ok6dXpY4P06SPOTgp/s1600/map_sumsel.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img style="width: 320px; height: 142px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXuF3jDASXl8pHGn3BX6f_Z02ZyeBl8QhTlFRtNNl7Hr_fRG5P7v_0YoG0xbksnYRfU2pk8QJt6cBcvV7gQLHMjP_ehXflU0rIzeIEkNCw-qKdtynrJfHgqw3Uhp_ok6dXpY4P06SPOTgp/s320/map_sumsel.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sementara itu W.V. Van Royen menulis dalam bukunya “ DePalembang Sche Marga (1927 ) “ tidak menyebut orang komring tetapi “ Jelma Daya “ yang berarti kelompok masyarakat yang ulet dan dinamis, dan seorang sejarawan dari Belanda Van Der Tuc menyebut kelompok masyarakat ini dengan nama “ Kembiring “ yang di artikan sebagai manusia jadi-jadian ( orang yang dapat menghilang dan bisa berubah menjadi Harimau ).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Nama sungai Komring sendiri diambil dari nama seorang saudagar buah Pinang yang berasal dari India yang bernama Komring Singh , makam ( kuburan ) nya terdapat di sebelah hulu desa Muara Dua, sungai yang mengalir mulai dari makam tersebut tepatnya mulai dari pertemuan sungai Selabung dengan Wai Saka yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai Komring, tidak semua penduduk yang mendiami sungai komring di sebut orang komring, aliran sungai Komring sampai di Gunung Batu, penduduknya terbagi dalam 2 ( dua ) Kewedanaan Muara Dua dan Kewedanaan Martapura , sebagian penduduk kewedanaan Muara Dua di sebut Jelma Daya bukan Orang Komring walaupun mereka tinggal di pinggir sungai Komring sementara itu penduduk yang termasuk kewedanaan Martapura di sebut orang komring.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kelompok masyarakat ini awalnya berasal dari Gunung Seminung yang membawa Budaya Rumpun Seminung. Masyarakat Rumpun Seminung tergolong suku Melayu Kuno ( Proto Malayan Tribes ), bahasanya banyak terdiri dari bahasa Melayu Kuno , bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta , Kelompok masyarakat ini kemudian berkembang dan menyebar menjadi beberapa kelompok masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; - Yang pertama - Kelompok masyarakat yang mendiami sekitar daerah gunung seminung sampai ke Ranau kemudian terbentuk masyarakat Ranau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; - Yang kedua - Kelompok masyarakat yang turun dari Gunung Seminung kearah Lampung kemudian di kenal dengan kelompok masyarakat Lampung Peminggir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; - Yang ke tiga - Kelompok masyarakat yang turun dari Gunung Seminung menyusuri aliran sungai yang kemudian di kenal dengan kelompok Samanda Di Way yang sekarang menjadi masyarakat yang kita kenal dengan Orang Komring atau Jolma Daya..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Menurut  sejarah Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan ( 1979 ) Jelma  Daya adalah kelompok pertama yang turun dari gunung Seminung melalui  Danau Ranau kemudian seterusnya menelusuri sungai Komring sampai di  Gunung Batu adalah kelompok Semendawai. Semendawai berasal dari kata  Samanda Di Way yang berarti mengikuti aliran sungai . Kelompok  masyarakat ini kemudian berkembang dan berpencar membentuk 7 ( Tujuh )  Kepuhyangan ( kepuyangan) , antara lain :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; - Kepuhyangan Pertama menempati pangkal  teluk yang agak membukit yang kini kita kenal dengan nama GUNUNG BATU,  kelompok ini di pimpin oleh Pu Hyang Ratu Sabibul .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; - Kepuhyangan Kedua menempati suatu  dataran rendah yang kemudian dinamakan MALUWAY, kelompok ini di pimpin  oleh Pu Hyang Kai Patih Kandil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; - Kepuhyangan ke Tiga menempati muara  sungai di dalam teluk yang kemudian dikenal dengan nama MINANGA ,  kelompok ini di pimpin oleh Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; - Kepuhyangan ke Empat menemukan  padangan rumput yang luas kemudian menempatinya, pekerjaan mereka  membuka padangan ini yang di sebut Madang yang kemudian dijadikan nama  Kepuhyangan Madang, tempat pertama yang mereka duduki di namakan GUNUNG  TERANG, kelompok ini di pimpin oleh Puhyang Umpu Sipadang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; - Kepuhyangan ke Lima di Pimpin oleh Pu  Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung yang  kemudian di jadikan nama kepuhyangan Pemuka Peliung, dari kepuhyangan  inilah kelak di kemudian hari setelah terjadinya Perang Abung ( 1400 M )  antara dinasti Paksi Pak dari Sekala Berak dengan Orang Abung, kemudian  menyebar mendirikan kepuhyangan baru antara lain Kepuhyangan Banton di  pimpin oleh Pu Hyang Ratu Penghulu, Kepuhyangan Pulau Negara yang di  pimpin oleh Pu Hyang Umpu Ratu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; - Kepuhyangan ke Enam di bawah pimpinan  Pu Hyang Jati Kramat , yang dipercayai oleh penduduk setempat bahwa  istri beliau berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang sehingga  di abadikan pada nama kepuhyangan mereka , Kepuhyangan Bunga Mayang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; - Kepuhyangan ke Tujuh di pimpin oleh  Puhyang Sibalakuang, kelompok ini pada mulanya menempati daerah  MAHANGGIN yang kemudian setelah terjadinya perang Abung mendirikan  cabang – cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung,  Kiti, Lengkayap dan banyak kepuhyangan ini mengunakan nama Bhu Way.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;thank's to - &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;A'im Gantesa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXuF3jDASXl8pHGn3BX6f_Z02ZyeBl8QhTlFRtNNl7Hr_fRG5P7v_0YoG0xbksnYRfU2pk8QJt6cBcvV7gQLHMjP_ehXflU0rIzeIEkNCw-qKdtynrJfHgqw3Uhp_ok6dXpY4P06SPOTgp/s72-c/map_sumsel.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Beautiful III</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/komeringwhat-beautiful-place-3.html</link><category>Artikel I</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 20 Sep 2008 20:33:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-6640298427554557254</guid><description>&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQc-oLuDTTT7j_7umI1J4JtTc2rTPxUX21-Uy_-rR4AV9wKmT3oxK5RSOcPhhXAipraCM-AyAG0gknxfmH6wIsApsE08DB1gOAsY9NFEnNrAoQezhJ960BKHiy2B279q4VwhiBKHMOX4MY/s1600/_07sumsel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQc-oLuDTTT7j_7umI1J4JtTc2rTPxUX21-Uy_-rR4AV9wKmT3oxK5RSOcPhhXAipraCM-AyAG0gknxfmH6wIsApsE08DB1gOAsY9NFEnNrAoQezhJ960BKHiy2B279q4VwhiBKHMOX4MY/s320/_07sumsel.jpg" border="0" height="297" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent val="1440"&gt;&lt;m:intlim val="subSup"&gt;&lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;Pada tulisan ketiga ini akan komering uraikan &lt;i&gt;secara sangat singkat&lt;/i&gt; sesuai janji komering tentang tradisi memetik duku...banyak orang telah mengatakan duku komering adalah duku yang terbaik selain bentuk buah yang tergolong besar duku komering juga sangat terkenal akan rasa manis yang tidak dimiliki oleh duku-duku yang dihasilkan dari daerah alin di Indonesia...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Komering uraikan tentang tradisi memetik duku yang terjadi pada masa dahulu digunakan sebagai ajang untuk mencari jodoh, karena salah satu kebanggaan masyarakat komering adalah buah duku maka tulisan ini akan menggambarkan seni memetik buah duku dan perjodohan yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Buah duku komering sangat terkenal karena rasa yang manis hal ini dikarenakan selain daerah komering yang dikategorikan subur untuk menanam buah-buahan seperti durian,mangga pisang serta duku dan masih banyak jenis buah yang lain,duku komering juga dikenal manis karena faktor usia dari pohon tersebut, pada umumnya buah yang tergolong manis berasal dari pohon yang berusia minimal 20 sampai 25 tahun (&lt;i&gt;walau pada umur 5 tahun pohon duku telah menghasilkan buah&lt;/i&gt;), dari satu batang pohon bila pada musim Emas (&lt;i&gt;istilah yang dipakai orang komering karena limpahan panen&lt;/i&gt;) bisa mencapai 100 (&lt;i&gt;seratus&lt;/i&gt;) peti bahkan lebih yang masing-masing satu peti berkisar antara 15-17 kg dan apabila panen pada musim-musim normal berkisar antara 50-80 peti per pohon dapatlah dibayangkan bila harga 1 Kg berkisar Rp.1,500 (&lt;i&gt;pada masa panen biasa&lt;/i&gt;) atau Rp.500-Rp 1000 (&lt;i&gt;masa panen emas&lt;/i&gt;). Ada kategori atau kelas tertentu pada duku yang dapat mempengaruhi harga duku hanya dengan melihat proses pemetikan (&lt;i&gt;harga tersebut diatas adalah harga untuk duku yang paling bagus dan bayangkan bila harga duku yang dipetik tetapi pernah jatuh sampai tanah....hmmm bingung....:)&lt;/i&gt;) tapi pada tulisan ini tidak akan komering uraikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;(&lt;i&gt;komering ambil kasus buah duku untuk konsumsi sendiri&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Pemetikan buah duku umumnya berlangsung dari pagi hari berkisar antara pukul 08.00 sampai 16.00 pemetikan biasanya dilakukan oleh pihak laki-laki baik itu ayah dan anak laki-laki maupun saudara laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Pada proses pemetikan ini sang istri akan menyiapkan makan siang yang akan dimakan di kebun, (&lt;i&gt;contoh kasus laki-laki dan wanita belum mempunyai hubungan&lt;/i&gt;) yang biasanya meminta “bantuan”dari anak perempuan untuk memasak dan mengantarkan makanan ke kebun biasanya dalam tradisi memetik duku akan banyak yang hadir menolong untuk mengumpulkan buah duku yang jatuh, hal inilah yang digunakan oleh para pemuda maupun pemudi untuk mengenal satu sama lain, pada saat makan siang adalah waktu yang biasanya digunakan untuk mengenal satu sama lainnya, pada umumnya proses perkenalan ataupun pendekatan pemudi oleh pemuda dilakukan pada acara tertentu saja hal ini dikarenakan masih kentalnya pengaruh orang tua maupun saudara dari pihak wanita terhadap siwanita maupun keluarganya, sehingga setiap ada kesempatan besar seperti pernikahan, panen buah maupun saat silaturahmi pada bulan syawal sangatlah menjadi moment yang sangat berharga sehingga bila datang moment-moment tersebut merupakan ajang untuk mencari dan menentukan langkah menuju kejenjang kehidupan yang lebih panjang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" lang="IN" &gt;Komering sangat bahagia akan kunjungan teman-teman dari segala penjuru negri, komering ingin memperkenalkan satu suku yang mungkin asing, belum pernah bahkan aneh ditelinga sobat-semua ....segala kritikan dan saran akan komering ambil sebagai salah satu langkah kemajuan untuk komering pribadi dan masyarakat komering pada umumnya.Thank’s a lot&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQc-oLuDTTT7j_7umI1J4JtTc2rTPxUX21-Uy_-rR4AV9wKmT3oxK5RSOcPhhXAipraCM-AyAG0gknxfmH6wIsApsE08DB1gOAsY9NFEnNrAoQezhJ960BKHiy2B279q4VwhiBKHMOX4MY/s72-c/_07sumsel.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Beautiful II</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2008/07/komeringwhat-beautiful-place-2.html</link><category>Artikel I</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 13 Jul 2008 20:27:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-2172496218158717674</guid><description>&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWyXhsAGGK8_A_ha-EPg5NMwW_Tz0YCX-Jxktdn7SFCwKzjXUovyUePQ-w-lTSVg-us1mhanMtEv5X4QUVErpgiOX0neessw7IvJoqzmQqk4lJz-YqzJek5wBUIUKEiA43BwdCSoJANsuZ/s1600/basemap_prov_page_sumsel-585x413.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWyXhsAGGK8_A_ha-EPg5NMwW_Tz0YCX-Jxktdn7SFCwKzjXUovyUePQ-w-lTSVg-us1mhanMtEv5X4QUVErpgiOX0neessw7IvJoqzmQqk4lJz-YqzJek5wBUIUKEiA43BwdCSoJANsuZ/s320/basemap_prov_page_sumsel-585x413.jpg" border="0" height="224" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent val="1440"&gt;&lt;m:intlim val="subSup"&gt;&lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;Pada tulisan sebelumnya penulis memaparkan prosesi singkat pernikahan dan ajang pencarian jodoh pada masyarakat komering dan pada bagian ini akan sedikit panulis kupas tentang percintaan masyarakat komering hingga terjadinya pernikahan....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Pada waktu dahulu kehidupan percintaan yang terjadi pada masyarakat komering sangat komplek dan lebih diwarnai oleh adat dan kebiasaan serta nilai agama islam yang dianut, pada masa dulu perjodohan tidaklah terlalu diatur ketat oleh orang tua yang artinya tidak ada sisitem perjodohan yang mengharuskan seorang anak menikahi orang yang dipaksakan oleh orang tua mereka, perjodohan yang berlaku biasa karena perasaan suka antara pihak wanita dan laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Yang menarik dalam kisah percintaan orang komering yang sampai sekarang masih ada adalah proses pendekatan dan penentuan sipendamping hidup.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Hal ini yang akan penulis coba angkat sebagai salah satu warna dalam kehidupan bersuku dan berbangsa didalam keutuhan berbhineka tunggal ika.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Proses pengenalan yang terjalin setelah saling mengenal diantara wanita dan pria yang biasanya terjadi setelah acara pernikahan berlanjut pada proses pendekatan yang uniknya adalah biasanya dan umunya rumah orang komering adalah panggung pendekatanpun dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua si wanita biasanya tempat dan waktu yang sering menjadi ajang pertemuan adalah dapur......hmmmmm aneh khan......:) (keunikan ini terjadi pada kasus pria dan wanita satu dusun)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Karakter rumah orang komering yang panggung ini memungkinkan segala cara unik dilakukan oleh seorang lelaki hal itu berlaku juga pada lelaki manapun tidak terkecuali lelaki masyarakat komering dalam upaya merebut dan memberikan usaha sebagai bukti kesungguhan hati,salah satu cara yang biasa dan sering dilakukan pada malam hari pada saat bulan Ramadhan biasanya pertemuan siang dijadikan ajang untuk lebih berkenalan dan berbagi cerita dengan disela-sela perbincangan diselipkan pertanyaan oleh sang pria &lt;i&gt;dikebolah dipa kamarmu&lt;/i&gt; (sebelah mana kamarmu).setelah dirasa cukup perbincangan akan selesai dan tinggal menungggu malam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Biasanya setelah tengah malam pria akan pergi kerumah si gadis tersebut dengan berjalan mengendap-endap (ada kekhawatiran) menuju bawah kamar sigadis (karena rumah orang komering yang panggung) dan bila telah sampai akan memberikan kode biasanya sapu lidi yang ditusukkan ke arah kamar si gadis (lantai dan bangunan rumah komering terbuat dari kayu)dan bila sigadis tahu akan kode tersebut maka dia akan bangun menuju ke dapur (dapur rumah orang komering biasanya dibelakang bagian rumah)sambil membawa sisa piring kotor setelah berbuka puasa agar orang tua sigadis tidak curiga dan pria menemani sigadis didapur untuk berbincang-bincang tidak jarang sampai sahur tiba, dan tidak jarang pula pihak wanita “berbohong” kepada pria ketika ditanya untuk menunjukan arah kamar dengan memberikan denah yang menunjukkan arah kamar orang tua sigadis itu sendiri,karena ketatnya peranan adat yang berlaku pada masyarakat komering terbayang yang akan terjadiJ.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Proses pendekatan ini akan terus berlanjut dan akan terus meningkat hingga pada akhirnya nanti kedua pihak menentukan langkah mereka. Proses percintaan masyarakat komering melibatkan semua pihak karena bila telah memilih dan memastikan pendamping hidup pada pria nanti si pria akan berbicara pada orang tuanya mengenai rencana kedepan nanti, prosesi lamaran akan dilakukan tapi terlebih dahulu ada semacam MOU (&lt;i&gt;memorandum of understanding&lt;/i&gt;) yang akan diucapkan orang tua lelaki kepada orang tua pihak wanita tentang hubungan dan keberlanjutan dari hubungan mereka tersebut, tidak jarang hunbungan yang telah terjalin dan belum diketahui secara langsung oleh orang tua sigadis bisa gagal bahkan gagal sama sekali hal ini disebabkan ditolaknya &lt;i&gt;MOU&lt;/i&gt; dari pihak sigadis, bila hal ini terjadi sedangkan wanita dan pria tersebut telah memantapkan hati akan menggunakan cara yang sampai sekarang masih berlaku pada masyarakat komering (bukan kawin lari karena masyarakat komering patuh akan restu dari orang tua) yaitu penculikan baik secara paksa ataupun melauli kesepakatan ke dua insan tersebut, biasanya pemaksaan terjadi si wanita akan dipancing untuk datang ke rumah si pria atau bila mereka bertemu di tengah kampung dan ada pula dilakukan dengan masuk secara paksa kerumah sigadis dimana pihak pria telah mendapat restu dan dukungan dari orang tuanya dan dengan cara kedua yaitu melalui kesepakatan si wanita akan bersedia kerumah sipria dan diberitahu rencana dari keluarga sipria dan bila hal ini telah di sepakati pihak pria akan mengirim utusan ke rumah wanita bahwa gadis mereka telah diculik dan atau telah diambil.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="color: rgb(51, 51, 51);  text-align: justify;font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" lang="IN" &gt;Tidaklah mudah bagi keluarga pihak lelaki karena pihak wanita akan mempertahankan putrinya sampai darah penghabisan, karena bila diambil secara paksa atau bahkan walau dengan kesepakatan wanita dan pria orang tua sigadis akan melakukan apapun termasuk dengan perlawanan (yang terjadi bila tidak juga mendapatkan kata sepakat akan berlanjut pada pertumpahan darah) dengan pihak lelaki hal ini memungkinkan karena watak umumnya orang komering dan bila hal ini akan berlanjut maka biasanya akan turun tangan perangkat desa dan perangkat adat untuk mencari jalan keluar dan penyelesaian masalah, tidak jarang kesepakatan pun terjadi dan adapula kesepakatan yang tidak menemukan jalan keluar bila sudah begini maka biasanya pihak wanita akan memberikan syarat-syarat kepada pihak pria salah satu contoh untuk menunggu beberapa waktu lagi,untuk berkerja terlebih dahulu dan yang lainnya.biasanya persyaratan yang diajukan akan disetujui pihak pria demi kesungguhan niat baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bersambung............&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWyXhsAGGK8_A_ha-EPg5NMwW_Tz0YCX-Jxktdn7SFCwKzjXUovyUePQ-w-lTSVg-us1mhanMtEv5X4QUVErpgiOX0neessw7IvJoqzmQqk4lJz-YqzJek5wBUIUKEiA43BwdCSoJANsuZ/s72-c/basemap_prov_page_sumsel-585x413.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hi There</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2011/08/xxx.html</link><category>Say Hi</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 15 Jun 2008 02:38:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-4639115002109531472</guid><description>&lt;div style="color: orange; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Welcome To Komering's Blog&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;i style="color: orange;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Hope You'll Enjoyed &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdvvQaxu2GZjZYIfZjRe1DTECFUBrTBvgPwqwmaz2jm8ICfDTH9yVa97flSbi_N41RFEDsjj3kF8j8e428zc3mkPOACj-51VTRax33vgg0j0q42q2R8AiiX85pRYP0Vf-3Fz_fFEbXWjIe/s1600/jembatan-ampera1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdvvQaxu2GZjZYIfZjRe1DTECFUBrTBvgPwqwmaz2jm8ICfDTH9yVa97flSbi_N41RFEDsjj3kF8j8e428zc3mkPOACj-51VTRax33vgg0j0q42q2R8AiiX85pRYP0Vf-3Fz_fFEbXWjIe/s320/jembatan-ampera1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;This blog is the latest blog after the first address &lt;a href="http://komering79.blogspot.com/"&gt;Komering&lt;/a&gt; we deactivated .... but komering's blog will be active again with &lt;a href="http://komering-rantau.blogspot.com/"&gt;this new address ...&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;thank you for visiting and please give your comments on all posts ....&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Your input and constructive criticism we needed ...&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;thank you very much&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: blue; font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Komering&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdvvQaxu2GZjZYIfZjRe1DTECFUBrTBvgPwqwmaz2jm8ICfDTH9yVa97flSbi_N41RFEDsjj3kF8j8e428zc3mkPOACj-51VTRax33vgg0j0q42q2R8AiiX85pRYP0Vf-3Fz_fFEbXWjIe/s72-c/jembatan-ampera1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Beautiful I</title><link>http://komering-rantau.blogspot.com/2009/06/komeringwhat-beautiful-place-i.html</link><category>Artikel I</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 13 Jun 2008 20:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1063013721234942291.post-7245917404074373820</guid><description>&lt;div style="color: rgb(51, 51, 51); font-family: lucida grande; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi88RXN0Dw73HMBnZXDJFHizeCS9_c6zezhh1bVxiWTAzOaccPdEQvcpXtDEehxmg5xFew35Kx_le5zFFwK2HfA3VcnxAUrG_dg4RCbIBGWyZOzZ7H_n_SkRfOuYzuBpVraxCkHVkt0egZX/s1600/sumsel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img style="width: 169px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi88RXN0Dw73HMBnZXDJFHizeCS9_c6zezhh1bVxiWTAzOaccPdEQvcpXtDEehxmg5xFew35Kx_le5zFFwK2HfA3VcnxAUrG_dg4RCbIBGWyZOzZ7H_n_SkRfOuYzuBpVraxCkHVkt0egZX/s200/sumsel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Di sumatera selatan sendiri ada berbagai macam suku yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Suku Ogan, Suku Komering, Suku Ranau, Suku Kisam, Suku Daya, Suku Aji, Suku Musi, Suku Rawas, Suku Beliti, Suku Banyuasin, Suku Kikim, Suku Semendo, dan Wong Palembang (Taqwa, 1997:18). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Khusus untuk Wong Palembang yang berdiam di dalam kota Palembang, mereka adalah sisa-sisa kerabat bangsawan Kasultanan Palembang, di mana kerajaan ini telah lama dihapuskan oleh kolonialis Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Sedangkat suku komering berasal dari nama sebuah sungai yang membentang sepanjang wilayah yang dikenal dengan anama sungai atau wilayah komering, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Melalui sungai itulah aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi mudah dilakukan. Secara tradisi masyarakat mengidentifikasikan dirinya berdasar pola tempat tinggal mereka yang berada di sekitar aliran sungai. Masyarakat atau suku Komering adalah masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Sungai Komering. Begitu pula suku Ogan adalah masyarakat yang bermukim di pinggir Sungai Ogan, suku Musi bermukim di sekitar Sungai Musi, suku Rawas bermukim disekitar Sungai Rawas. Tradisi masyarakat ini kemudian mengalami perubahan sosial seiring masuknya perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam pertambangan atau perkebunan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;walaupun stigma yang selalu melekat pada masyarakat komering sangat kental akan watak dan perangai yang keras dan tempramental,hal ini banayak di jumpai dalam hampir setiap literatur dan ada dalam perbincangan baik secara forum yang resmi dan non formal,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Berbagai penelitian mengungkapkan banyak faktor yang mengakibatkan “STIGMA” itu terus berkembang dan menjadi momok tersendiri bagi masyarakat komering, sebagai contoh kadang kala orang komering sendiri akan menyangkal asal daerahnya ketika di tanya dari daerah mana dia berasal, entah karena kebetulan atau memang seperti itu “tanggapan”orang tentang eksistensi komering sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Dari berbagai pendapat yang keluar dan muncul dipermukaan sesungguhnya ada nilai yang sangat indah yang dimiliki komering,mulai dari cara hidup maupun keseharian serta adat kebiasaan yang selalu dipegang oleh orang komering.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Keunikan ini tercermin dalam pernikahan yang pada umumnya terjadi pada orang komering, ada 3 (tiga) bagian makan-makan (semacam resepsi) selain tamu yaitu pihak yang dituakan (khusus laki-laki), wanita (telah menikah biasanya yang mebantu gotong royong) dan yang ketiga adalah pemuda dan pemudi semua peralatan makan mulai dari piring hingga lauk pauk mulai dari setting meja hingga pembersihan alat-makan biasanya diprakarsai oleh pemuda dan pemudi sedangkan wanita (yang telah berkeluarga) pada umumnya memasak. Ajang makan bersama pemuda pemudi juga disebut sebagai ajang mencari jodoh karena pada saat itu ada acara yang dikhususkan bagi kaum muda dan mudi yaitu makan bersama dalam satu “nampan” besar yang biasanya satu nampan untuk 3-4 pemuda yang terpisah dari nampan pemudi tetapi tetap satu ruangan besar, yang tentunya setelah orang-orang yang dituakan makan terlebih dahulu,momen ini sangat ditunggu oleh kaum muda mudi komering,semacam telah menjadi kebiasaan pada masyarakat komering hal ini telah terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama, inilah yang selalu membuat orang komering merasa dekat dan memiliki tali persaudaraan yang kuat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:130%;"&gt;Selain hal unik yang terjadi pada saat pernikahan tersebut ada juga kebiasaan masyarakat komering yang masih ada sampai sekarang yaitu kebiasaan GORO (gotong royong) yang dilakukan dengan suka rela tanpa “diupah”, segala aktifitas dalam pernikahan dilakukan secara gotong royong mulai dari mempersiapkan dekorasi rumah pengantin sampai pada tahap pembersihan peralatan,dari GORO yang dilakukan biasanya disertai memasak makanan ringan seperti empek-empek, model,tekwan dan sebagainya yang akan dibagikan kepada orang yang ikut dalam GORO ini,baik makan ditempat maupun dibagikan kerumah-rumah sebagai ucapan terima kasih atas keikuut sertaannya,dan masakan yang akan digunakan untuk tuan rumah sebagai hidangan santap pada hari pernikahan, GORO juga dihadiri oleh pemuda dan pemudi dimana ajang ini juga disebut ajang mencari jodoh yang biasanya beberapa malam sebelum pernikahan berlangsung anak lelaki “menjemput”anak perempuan (dengan modal lampu petromaks keliling kampung) untuk diikut sertakan dalam kegiatan GORO yang tentunya harus meminta izin kedua orang tuanya, dan si perempuan hanya akan keluar bila mendapat izin dari orang tuanya biasanya sang ayah dan apabila goro pada malam hari itu telah selesai kewajiban pemuda untuk mengantarkan pemudi sampai bertemu dengan orang tua sipemudi tersebut didepan rumah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div   style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 51); text-align: justify;font-family:Times,&amp;quot;;color:#666666;"&gt;&lt;span style=" line-height: 115%;font-size:130%;" lang="IN" &gt;Keunikan yang selalu ada pada masyrakat komering akan selalu mewarnai dan menjadi bahan tulisan penulis.......bagaimana kisah percintaan orang komering, bagaimana asyiknya memetik duku yang pada waktu dahulu digunakan sebagai ajang pencari jodoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bersambung......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi88RXN0Dw73HMBnZXDJFHizeCS9_c6zezhh1bVxiWTAzOaccPdEQvcpXtDEehxmg5xFew35Kx_le5zFFwK2HfA3VcnxAUrG_dg4RCbIBGWyZOzZ7H_n_SkRfOuYzuBpVraxCkHVkt0egZX/s72-c/sumsel.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>