<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386</atom:id><lastBuildDate>Tue, 06 Dec 2011 13:52:19 +0000</lastBuildDate><category>Kajian Bebas</category><category>Review Karya</category><category>Cerita Pendek banget</category><category>Lomba-Lomba</category><category>Buku Gratis</category><category>grafis</category><category>Buletin</category><category>Info</category><category>Resensi Film</category><category>Diari</category><category>Untaian</category><category>Resensi</category><category>Terjemah Lagu</category><category>Cita Rasa</category><title>musthafaamin</title><description>Habis Gelap Mengepullah Kopi.</description><link>http://avaproletar.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>57</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/ZxYS" /><feedburner:info uri="blogspot/zxys" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-3110986074199607871</guid><pubDate>Tue, 26 Oct 2010 08:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-10-26T01:22:16.185-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Fonetik dan Fonologi Bahasa Inggris: Sebuah Tinjauan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.mercadolibre.com.ar/jm/img?s=MLA&amp;amp;f=84622185_9229.jpg&amp;amp;v=O"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 250px;" src="http://www.mercadolibre.com.ar/jm/img?s=MLA&amp;amp;f=84622185_9229.jpg&amp;amp;v=O" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;English Phonetics and Phonology&lt;br /&gt;Peter Roach&lt;br /&gt;Cambridge University Press&lt;br /&gt;1998&lt;br /&gt;262 Halaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh: Musthafa Amin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah ungkapan menarik dicetuskan oleh April Mc Mahon dalam pendahuluan buku Introduction of English Phonology, bahwa seyogyanya manusia lebih pantas disebut dengan istilah homo loquens (makhluk yang berbicara) daripada nama ilmiah homo sapiens (makhluk yang berfikir) yang sudah populer. Hal ini dikarenakan karena banyak spesies memiliki sistem isyarat berlandaskan bunyi atau suara dan dapat berkomunikasi dengan anggota lainnya semisal isyarat bunyi tentang bahaya dan makanan. Manusia sendiri juga menggunakan bunyi sebagai isyarat linguistik dan kemampuannya jauh lebih berkembang. Struktur organ suara manusia sanggup menghasilkan beragam bunyi dengan cara yang beragam pula. Salah satu keunikannya yang bisa dilihat adalah antarbahasa memiliki sejumlah bunyi yang berbeda dan ada kecenderungan untuk lebih banyak atau lebih sedikit dari bahasa lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bidang kajian bahasa yang mengeksplorasi sistem bunyi ini disebut fonetik-fonologi. Pertanyaan yang sering diajukan dan menjadi topik besar dalam kajian fonologis dan fonetik, setidaknya sejak esai Joshue Steele, The Melody and Measure of Speech (dalam April McMahon: 2002) adalah bagaimana varian titi nada (pitch) yang dihasilkan manusia dikaji dalam ilmu bahasa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiap bahasa memiliki sistem bunyi dan stuktur silabel yang berbeda dengan kerumitan yang beragam. Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang memiliki ejaan yang cukup rumit dan memiliki beberapa silabel-silabel yang sangat kompleks sehingga sangat perlu mempelajari pengucapan kata-kata bahasa Inggris dalam kaitan fonem daripada huruf-huruf alfabetnya. Buku English Phonetics and Phonology karya Peter Roach, seorang profesor emeretus Fonetik di Universitas Reading mencoba menawarkan sebuah penjelasan dalam memahami fonetik-fonologi, terutama dalam bahasa Inggris.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara umum, sistematika pembahasan dalam uraian buku ini dibagi dalam 20 bagian pembahasan. Secara sistematis bab satu–tujuh mengenalkan konsonan dan vokal dengan teori fonetik dan fonemik yang cukup relevan. Bab delapan dan sembilan membahas silabel beserta pembagiannya menjadi silabel kuat dan silabel lemah yang seringkali menyebabkan kesulitan bagi penutur asing. Bab 10 dan 11 membahas stressing (tekanan) dalam simple words dan complex words berserta afiks infleksional dan derivasional. Bab 12 lebih fokus terhadap tingkatan rima dan aksen/stress kalimat dengan bentuk-betuk lemahnya. Bab 13 mengkaji sejumlah problematika dalam analisis fonemik dan mengenalkan fitur-fitur distingtif fonologi bahasa Inggris. Bab 14–19 membahas sejumlah aspek suprasegmental khususnya intonasi. Bab terakhir membahas beberapa area studi dalam fonetik dan fonologi dan studi tentang dialek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kompleksitas bahasa Inggris adalah triftong (triphthong). Ia lebih sulit diucapkan dan sulit untuk dikenali. Berbeda dengan diftong yang berbunyi dua rangkap untuk satu silabel, triftong adalah luncuran satu vokal menuju vokal kedua dan ketiga, dan diucapkan secara cepat (hlm. 23). Sebagai contoh, pengucapan kata hour kualitas vokal mirip ɑ: yang meluncur melalui area vokal belakang bundar (salah satu simbol yang digunakan adalah ʊ), kemudian diakhiri dengan vokal tengah/mid-central (ə). Simbol [aʊə] digunakan dalam pengucapakan hour.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesulitan bagi penutur asing terhadap bahasa Inggris modern adalah pergerakan vokal yang sangat kecil, kecuali dalam pengucapan yang hati-hati. Karena itulah, vokal tengah dalam tiga vola triftong sulit didengar dan suara yang dihasilkan sulit dibedakan dari beberapa diftong dan vokal panjang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembahasan menarik yang diperbincangkan oleh Roach adalah problematika dalam analisis fonetis bahasa Inggris (bab. 13). Pandangan umum bahwa tuturan tersusun dari fonem dan di manapun bunyi diproduksi sangat dimungkinkan untuk mengenali fonemnya memang sepenuhnya benar namun terdapat problematika teoritis yang patut dipertimbangkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Roach ada dua problem teoritis yang terjadi, yakni dari perspektif analisis dan assignment (penempatan). Fonem merupakan satuan unit paling dasar dari bahasa namun ada beberapa kesulitan untuk menentukan fonem yang tepat dalam bahasa tersebut, utamanya bahasa Inggris. Akibatnya adalah beberapa penulis menghasilkan analisis sistem fonemik yang berbeda. Analisis fonemik tidak begitu rigid dan sederhana sebagaimana mempelajari huruf-huruf alfabet. Sebagai contoh adalah simbol ʧ dan ʤ dalam kosa kata church dan judge. Keduanya adalah bunyi letup (plosive) yang diikuti afrikatif. ada dua analisis yang muncul di sini yakni keduanya merupakan fonem konsonan tunggal dan analisis lainnya menganggap bahwa keduanya adalah dua fonem konsonan yang indipenden (t+ʃ dan d+ʒ). Hal ini akan menimbulkan kerancuan pemahaman meski tidak berujung pada perbedaan makna. Apalagi, masih menurut Roach, penutur asing yang awan bahasa Inggris menganggap keduanya merupakan satu bunyi, senada dengan analisis pertama. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari problematika assigment, Roach mencoba menampilkan salah satu contoh dalam uraian silabel kuat dan lemah (bab sembilan). Bunyi ɪ dan i, dalam beberapa konteks, jelas berbeda, namun di konteks lainnya terdapat kesulitan menentukan bunyi. Dalam Menentukan ɪ dan i dalam kata beat dan bit masih lebih mudah daripada menentukan bunyi silabel kedua dari kata easy dan busy dalam salah satu dialek bahasa Inggris, dialek Wales. Ada dua kemungkian penentuan fonem dalam kosa kata tersebut, yakni easy = /i:zi/+/i:zɪ/ dan busy = /bɪzi/+/bɪzɪ/. Hal ini juga terjadi dalam penentuan bunyi fonem u dan ʊ. Bilamana  dalam penentuan bunyi untuk kata to, dalam kalimat good to eat dan food to eat, diucapkan dengan vokal ʊ sebagaimana fonem untuk good dan vokal u: sebagaimana fonem untuk food, maka penentuan vokal apakah untuk kata ‘to’ dalam kata I want to? &lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski buku ini dibuat sebagai bahan ajar bagi penutur asing agar mempermudah komunikasi dengan penutur asli Inggris, buku ini seyogyanya dapat menjadi memperkaya kajian dalam khazanah Linguistik dan berguna bagi linguis. Buku ini menyediakan penjelasan yang bernas tentang fonologi bahasa Inggris dengan cakupan teorinya. Diagram-diagram ilustratif untuk varian bunyi juga sangat membantu. Jika butuh membandingkan deskripsi sejumlah fenomena bahasa tertentu dengan bahasa Inggris, buku ini merupakan rujukan yang dapat diandalkan. Bagian asimilasi tingkatan kalimat sangat membantu untuk menunjukkan pentingnya menulis secara morfofonemik daripada menuliskannya secara fonetis. Di samping itu juga terdapat contoh-contoh yang gampang dicerna dalam prosesnya seperti asimilasi, elisi dan lain-lain dari bahasa Inggris. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-3110986074199607871?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/8PvJAUetvo4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/8PvJAUetvo4/fonetik-dan-fonologi-bahasa-inggris.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2010/10/fonetik-dan-fonologi-bahasa-inggris.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-7384655274817293952</guid><pubDate>Sat, 03 Oct 2009 17:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-03T11:02:43.842-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Sekolah (Bukan) Sebagai Komoditas</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SseRD2haeYI/AAAAAAAAAX4/LOhcj9_zmS0/s1600-h/Sekolah+Bukan+Pasar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 152px; height: 227px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SseRD2haeYI/AAAAAAAAAX4/LOhcj9_zmS0/s320/Sekolah+Bukan+Pasar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388434974533384578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)&lt;br /&gt;Penulis : St. Kartono&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan Ke-1 : 2009&lt;br /&gt;Tebal : 221 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH (BUKAN) SEBAGAI KOMODITAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah elemen penting dalam membentuk manusia yang intelek dan berkualitas. Dari sinilah asal muasal seorang pemimpin yang nanti akan memimpin negara ke depan. Menilik sistem pendidikan Indonesia, sebenarnya sejak dahulu ia menjadi concern pemerintah. Salah satunya adalah alokasi APBN sebesar 20 persen, yang bila dilaksanakan dengan baik dan benar, pendidikan Indonesia dinilai dapat berkembang dengan pesat dan semua lapisan masyarakat dapat mengenyam pendidikan dengan biaya murah bahkan gratis. Namun secara faktual, pendidikan di tanah air hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sekolah acapkali dijadikan ajang bisnis, lahan mencari keuntungan dengan beragam cara dan motif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semisal pada proses penerimaan siswa baru, sudah menjadi rahasia umum adanya upaya-upaya “jual jasa” dari beberapa oknum lembaga pendidikan. Lain pula, bila ditilik dari segi biaya-biaya pendidikan yang semakin bervariasi dan pasti mahal menyisakan kegelisahan bahwa ukuran sekolah yang baik dan berkualitas harus mahal, di samping masih ada pungutan-pungutan liar mengatasnamakan kebijakan sekolah-sekolah. Dan juga bukan rahasia lagi, bila di dalam kebobrokan sistem tersebut, pendidik dan birokrasi memiliki andil dalam melanggengkan peralihan fungsi sekolah dari lembaga pendidikan menjadi lembaga jual beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, sistem “pasar” ini mengakibatkan terjadinya klasifikasi pendidikan ala ideologi pasar kapitalis. Si  kaya akan mengenyam pendidikan berkualitas dan si miskin mengenyam pendidikan seadanya atau tidak sama sekali alias putus sekolah. Seumpama barang mahal, hanya kaum kaya yang mampu membeli. Hal ini tentu telah mengesampingkan hak rakyat atas pendidikan dan kewajiban negara sebagai penyedia pendidikan yang layak bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru) karya ST. Kartono ini merupakan salah bentuk otokritik dan perlawanan terhadap sistem pendidikan ala pasar dan perilaku aparat pendidikan di dalamnya. Penulis dengan bernas mengurai permasalahan-permasalahan yang menimpa dunia pendidikan di tanah air. Beliau menyajikan gagasan-gagasan konstruktif dan detail dalam mengkritisi dunia pendidikan Indonesia kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan bunga rampai artikel-artikel ST. Kartono di salah satu media massa nasional. Secara garis besar, pokok pikiran beliau dapat dirumuskan pada kesalahan sistem pendidikan yang bermuara pada money interest. Kepentingan yang bersifat pragmatis ini mulai menyelimuti seluruh sistem pendidikan. Yang terlibat di dalamnya pun beragam dan terpola sistematis dan terorganisir, mulai dari birokrat pendidikan dan pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh tulisan dalam buku ini dipetakan dalam tiga bagian dengan konteks pendidikan yang beragam. Bab pertama, Sekolah di Zaman Kini, penulis mengulas persoalan-persoalan yang selalu menggelantungi pendidikan dewasa ini terutama terkait alih fungsi sekolah menjadi pasar. Mulai dari perihal mahalnya biaya buku, sekolah sebagai proyek dan lain sebagainya. Bab kedua adalah Tergantung pada Guru yang menjelaskan bagaimana peran sesungguhnya seorang guru beserta problematika guru kekinian semisal terjerat dalam masalah kelayakan gaji. Dan bab yang terakhir adalah Mengajarkan Keutamaan. Pada bab terakhir ini, rumusan tulisan lebih dibentuk untuk menafsiri efek pendidikan pasar terhadap objek pendidikan yakni para siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel-artikel penulis di dalam buku ini ditulis dari kurun tahun 1996 hingga 2008 sebagai upaya kajian perilaku pendidikan di tanah air secara berturut-turut. Bisa dibayangkan bahwa problematika pendidikan pasar ini sudah mengakar sejak 8 tahun sebelumnya atau bahkan mulai tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, persoalan-persoalan yang dihadapi dunia pendidikan masih cukup seragam: pendidikan adalah komoditas. Bila itu semua tidak dapat teratasi, sekolah sebagai ladang pasar dan pengeruk keuntungan akan semakin langgeng dan tujuan dasarnya akan tergerus oleh perilaku oknum yang tidak mendidik. Sudah saatnya sekolah dibebaskan dari suasana bisnis yang dilakukan oleh siapa pun, baik oleh birokrat pendidikan nasional, kepala sekolah atau bahkan guru sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai praktisi pendidikan, sekumpulan artikel penulis yang telah mendedikasikan diri sebagai guru selama puluhan tahun ini, menyiratkan objektifitas tentang perilaku negatif dunia pendidikan di tanah air. Tanpa tedeng aling-aling, penulis menggali dan menyodorkan banyak fakta. Fakta-fakta yang bermunculan mengarah pada oknum yang banyak berasal dari para guru sendiri. Meskipun penulis sendiri adalah guru, tanpa keraguan sedikitpun penulis membeberkan persoalan-persoalan sekolah sebagai ajang jual beli. Karena bagi penulis, terdapat banyak ruang yang perlu dikritisi dari dunia pendidikan dan ini harus dilakukan guna memperbaiki dan meningkatkan sistem pendidikan nasional yang lebih baik dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku ini tentunya diharapkan mampu menjadi otokritik dan perlawanan atas silang sengkarut dunia pendidikan saat ini di Indonesia, terutama dalam kondisi seperti sekarang ini di mana kebebasan berpendapat mulai dihormati. Buku ini layak dibaca dan menjadi rujukan oleh semua orang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan, terutama bagi pengamat pendidikan, guru, birokrat pendidikan dan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-7384655274817293952?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/q79tVtg1wcQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/q79tVtg1wcQ/sekolah-bukan-sebagai-komoditas.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SseRD2haeYI/AAAAAAAAAX4/LOhcj9_zmS0/s72-c/Sekolah+Bukan+Pasar.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/10/sekolah-bukan-sebagai-komoditas.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-5202209408582798151</guid><pubDate>Wed, 29 Jul 2009 13:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-12T02:31:17.594-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Pendek banget</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Diari</category><title>Identitas Sebuah Cerita</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SoKLwiQji7I/AAAAAAAAAXw/Vo8C_tCi1FE/s1600-h/SL373089.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 147px; height: 268px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SoKLwiQji7I/AAAAAAAAAXw/Vo8C_tCi1FE/s320/SL373089.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369007371725278130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semua orang punya cerita. Tetapi tidak semuanya dituliskan. Ada untuk konsumsi pribadi ada juga untuk konsumsi khalayak. Saya hanya sekedar menunaikan titah Pram. Dia bilang,"Semua harus ditulis. Apa pun.... Jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna." (Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1, 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah cerita, kisah tentang pengalaman studi. Mungkin tidak menarik bagi anda kendati hal ini masih menyisakan gelak tawa dan senyuman, minimal untuk diri saya. Ini cerita tentang sakralnya sebuah simbol. Ini adalah kisah saya dengan Samuel Huet, dosen native saat semester 4 (kalau tidak salah) Di UIN malang. Kala itu dia mengampu mata kuliah Writing III (Alhamdulillah saya mendapat E, dan saya merasa pantas, untuk kekhilafan saya di masa itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Are You Fascist?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari di Joyosuko, matahari memang sudah terbit namun belum menyengat. Malah menusuk dingin, menghembuskan hawa penuh rasa ingin tidur kembali. Aku harus bangun, dosen kali ini lumayan tangguh. Tidak ada kata telat. Telat, pertanda engkau akan dipandanginya. Kalau dipandangi mahasiswa masih lumayan, sebab pandangannya dilapisi senyum. Mengejek tentunya. Sementara dosen tangguh ini tatapannya lain. Tatap penuh pengertian dan penuh kata. Memberikan pengertian padaku dan berujar,”sebaiknya anda jangan masuk, sebaiknya anda pulang.”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sial, aku lupa. Mesin air mati. Sumur pun kering. Sudah satu hari kamar mandi bau pesing. Mau sholat saja harus ke Musholla bapak Padil di tengah sawah. Terpaksa, ku turut teman satu kontrakan menuju tempat pemandian. Namanya sungai Metro, tempat pemandian tanpa sekat, tanpa dinding pembatas. Kelebihannya, airnya sangat jernih. Jauh berbeda dari air-air di wilayah Sumbersari dan Kerto, yang pekat, kuning dan penuh zat besi. Saran saya jangan telanjang bila mandi di tempat ini, dijamin anda aman dari bahaya intip-mengintip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi-lagi sial. Selesai mandi dan telah sampai di pintu kamar. Aku sadar, baju-bajuku belum kering. Hanya tinggal sepotong kaos dan jaket hitam agak lusuh. Sementara jam sudah menunjukkan enam lewat seperempat pagi. Terpaksa, itu saja yang kupakai, dengan bercelana tentunya. Oh…sepertinya ku bakal berlari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja, di gedung B lantai dua, dari jauh kulihat teman-temanku masih bergerombol di luar kelas. Pertanda yang sangat baik untukku. Sebuah doa bodoh muncul di otakku, “tuhan, semoga dia tidak masuk saja.” Kuperlambat langkahku. Lumayan, untuk mengeringkan keringatku yang sedikit muncul di pori-pori. Sayang, doaku tidak dikabulkan. Malah dosen tangguh itu muncul dari arah yang berlawanan dan lebih dekat dengan kelas. Aduh…duh…lari lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas dimulai. Dosen tangguh ini emang benar-benar hebat dalam mengajar. Rencana pembelajarannya matang, materi-materinya menarik, gak bikin bosen dan seringkali diselingi dengan joke-joke. Toh, meski begitu, tidak ada jaminan mahasiswa bakal tertarik juga mendengarkan. Repot mau menyalahkan siapakah yang sebenarnya bermasalah saat sistem pengajaran tidak berlaku baik. Mahasiswa cenderung menyalahkan dosen, sebaliknya dosen menganggap mahasiswanya kurang semangat. Hanya segelintir mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya bermasalah sebab tidak memperhatikan, tidak mengerjakan tugas-tugas yang ada dan lainnya. Dan sedikit dosen juga yang mau peduli kenapa mahasiswanya seperti itu, kebanyakan menganggap tugas saya sebatas jam kerja saja. Meski lagi-lagi ini praduga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah telah selesai, meski sudah sejak seperempat jam sebelumnya bukuku sudah kumasukkan dalam tas. Sudah terbayang, mau memasak apa di kontrakan. Pecek terong apa sayur asem. Atau hanya mie kuah diselingi dengan tempe menjes ala warung mas Andik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Samuel Huet, si dosen tangguh itu sudah mempersilahkan mahasiswanya pulang. Semuanya kompak merapikan tas dan bergegas keluar kelas. Saat hendak mendekati pintu, tiba-tiba Bapak Samuel Huet memanggilku. Sontak saja aku kaget dan langsung beralih ke mejanya. “Why do you put that symbol in your jacket?” Tanya beliau penuh penasaran. Karuan saja, aku kebingungan dan langsung melihat jaketku. Di bahuku, ya jaketku memiliki beberapa jahitan bordiran berbentuk logo. Di bahu kanan berupa bendera jerman. Di bahu kiri berupa lambang swastika, symbol NAZI di era Hitler. Barangkali dia penasaran kenapa ada lambang NAZI di jaketku. “Is there something wrong sir?” kubalik bertanya. Sebab sejauh jaket ini ini kubuat sejak semester satu, tidak ada yang mempertanyakan, kenapa harus kuberi lambang NAZI dan bendera Jerman. Yang sering malah dipinjam oleh anak-anak kontrakan (Sholeh, Idil) dan kawan-kawan di Komisariat (Idris, Miftah, Faruq dll). Bahkan, sampai ada yang menanyakan jaket ini milik kelompok apa, kok sering dipakai banyak orang. Aku hanya tergelak dan berujar dalam hati, “yang ada bukan kumpulan atau grup tapi satu jaket dipakai banyak orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen Samuel tidak menjawab malah bertanya lagi. Pertanyaan dijawab pertanyaan, bukanlah hal yang asing dalam komunikasi meski dapat mengasingkan pikiran jernih. “Are you fascist?”, pertanyaannya menyentakku dan menyadarkanku bahwa symbol semacam ini masih begitu berarti bagi sebagian orang. Symbol yang kita pakai adalah bagian diri kita, bukan untuk bergaya, bukan untuk gagah-gagahan di depan orang. Ini adalah salah satu bentuk dentitas kita yang membedakan diri kita dengan orang lain. Sementara banyak orang di luar sana, memakai symbol untuk menegaskan eksistensinya, saya adalah ini atau saya adalah itu. Namun hanya sebatas kulit luar tak sampai mengenal lebih dalam atau malah menjadi bagian. Hal ini seperti orang yang memakai kaus Che Guevara dan dengan serius mengatakan dia bersaudara dengan Bob Marley dan Mbah Surip. Saya sadar, seketika itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“No sir, it’s just a symbol. It’s not my ideology,” jawabku sekenanya. Tanpa penjelasan lebih lanjut, aku pamit keluar. Bayangan menanak nasi bersama teman-teman kontrakan masih cukup kuat. Hal itu tidak menggangguku. Barangkali dosen Samuel masih terbayang-bayang apakah aku keturunan fasis yang katanya pelaku holocaust itu. Entah kenapa beliau mempertanyakannya. Apakah bagi orang luar negeri, symbol tersebut masih begitu sakral hingga hanya orang dengan ideology tersebut yang berani memakainya, atau barangkali benih-benih ideology semacam itu masih berkembang di beberapa Negara seperti kaum skinhead di Inggris yang begitu benci orang imigran. Ah, untung saja ku tak memakai logo palu arit, bisa-bisa ku dilaporkan ke BIN (Badan Intelejen Negara) untuk suksesi penguatan basis komunisme. Ah, lagi-lagi pikiranku terlalu kemana-mana. Hari itu kemudian berjalan seperti biasa. Penuh dengan kegiatan-kegiatan rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, jaket itu telat lusuh, sebagian kancingnya telah lepas. Kini kupajang dia di lemari pakaian bersama toga. Ada banyak kenangan di sana berkumpul dengan keringat kawan-kawan yang membekas di jaket itu. Kuanggap keringat itu masih ada meski sudah kucuci berulang-ulang. Keringat yang menandakan kita sempat memiliki identitas yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kraksaan Probolinggo, 12 Juli 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;NB: percakapan bahasa inggris tersebut hanya rekaan, yang inti pembicaraannya semacam itu. Sudah terlalu lama untuk ingat detailnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-5202209408582798151?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/MMp6J72vokQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/MMp6J72vokQ/identitas-sebuah-cerita.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SoKLwiQji7I/AAAAAAAAAXw/Vo8C_tCi1FE/s72-c/SL373089.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/07/identitas-sebuah-cerita.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-5957447004288824317</guid><pubDate>Sun, 14 Jun 2009 14:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-12T02:58:38.772-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lomba-Lomba</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Info</category><title>Lomba Cerpen Science Fiction (SIFIC)</title><description>&lt;em&gt;Fiksi ilmiah akan memungkinkan kita semua untuk mengupas realitas dan menemukan kebenaran di dalamnya.” &lt;/em&gt;(Arthur C. Clarke)  &lt;p&gt;Fiksi ilmiah adalah suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual. Di dunia sastra Indonesia, genre yang satu ini agak jarang disentuh. Tetapi di dunia sastra internasional, genre ini adalah genre yang sudah ada sejak pertengahan Abad 19. Jules Verne, yang kerap disebut-sebut sebagai Bapak Fiksi Sains menerbangkan balon udara dalam cerita mengelilingi dunia dengan balon selama delapan belas hari, sebelum Zeppelin menemukan balon udara; membantu NASA meluncurkan Apollo 11 dalam novelnya &lt;em&gt;From The Earth to the Moon&lt;/em&gt;. Verne tidak menganggap novel-novelnya hanyalah khayalan. Dia yakin ada ilmuwan yang dapat mewujudkan imajinasi-imajinasi nya itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di situlah letak keindahan sebuah fiksi-sains, bercerita melebihi jamannya. Yang patut digaris bawahi adalah pandangan pengarang tentang masa depan tidak hanya berpijak pada sudut pandang imajinasi semata, melainkan juga dari kaca mata ilmu pengetahuan. Berdasarkan kalkulasi akurat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan dimasa sekarang, pengarang menciptakan sebuah imaji masa depan tentang keadaan masyarakat atau makhluk lain yang berada di luar khayalan manusia di abadnya. Kemudian timbul pula pertanyaan, mengapa di Indonesia masih sedikit penulis fiksi ilmiah? Apakah karena para ilmuwan kita tidak memiliki bakat mengarang dan para pengarang kita tidak punya latar belakang sains.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menjawab pertanyaan ini maka Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFIS) Universitas Brawijaya, Malang akan mengadakan acara Science Fiction dengan tema:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Leading our future with imagination&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span id="more-351"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan Sub Tema Sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bagaimana sains merubah masa depan Indonesia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mitologi Indonesia dalam Bingkai Sains&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Indonesia tahun 2030&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Peserta : Umum Pengumpulan : 4 Mei – 4 Juni 2009 Persyaratan cerpen yang dilombakan :&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;&lt;li&gt;cerpen harus karya asli penulis/pengarang; bukan terjemahan atau saduran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cerpen mengandung unsur sains, pendidikan, tidak bermuatan pornografi dan SARA.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa, dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cerpen diketik dengan komputer dalam kertas A4 margin 4-3-3-3 spasi 1,5. Panjang 4 - 8 halaman; Times New Roman 12.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 judul cerpen sesuai dengan tema&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendaftaran Rp. 20.000 / Cerpen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karya dikirim dalam bentuk hard copy dan HARUS disertai soft copy (dalam CD), formulir pendaftaran yang bisa di download pada web &lt;a href="http://mywritingblogs.com/sastra/2009/05/12/lomba-cerpen-science-fiction-sific/www.himafis.brawijaya.ac.id/sific2009"&gt;www.himafis. brawijaya. ac.id/sific2009&lt;/a&gt;. html dan fotokopi pengenal (KTP/KTM/SIM/ Paspor), dan bukti pembayaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah dikirim ke Panitia Science Fiction (SIFIC) Kesekretariatan Himpunan Mahasiswa Fisika Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Jl. Veteran no 1 Malang 65145&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas terakhir pengiriman naskah 4 Juni 2009 (Cap Pos)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semua naskah cerpen yang masuk sudah menjadi hak milik panitia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dipilih 30 nominator yang cerpennya akan diterbitkan oleh Bisnis2030 Online Publisher (Internet Business Provider) Webstore: www.bookoopedia. com&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Aspek- Aspek yang dinilai adalah :&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Base on Science (30%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kesesuaian dengan tema (25%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Unsur-unsur Instrinsik (plot, setting, penokohan dll) (25%)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pesan moral (20%)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;Dewan juri:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ir. D.J Djoko. H.S M.Phil.,Ph.D&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Evi Widiarti (Perwakilan dari Bisnis2030)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;Pengumuman pemenang Juara I, II, III dan nominator akan diumumkan pada acara seminar kepenulisan “Fiksi Ilmiah dalam Sastra Indonesia” pada tanggal 13 juni 2009 atau bisa langsung dilihat web HIMAFIS : &lt;strong&gt;www.himafis. brawijaya. ac.id&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;berita ini dilansir dari &lt;a href="http://mywritingblogs.com/sastra/2009/05/12/lomba-cerpen-science-fiction-sific/"&gt;mywritingblogs.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-5957447004288824317?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/H1cP_T6zjHc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/H1cP_T6zjHc/lomba-cerpen-science-fiction-sific.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/06/lomba-cerpen-science-fiction-sific.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-1262340333723477223</guid><pubDate>Sun, 14 Jun 2009 14:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-14T07:21:48.207-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lomba-Lomba</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Info</category><title>Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2009</title><description>&lt;p&gt;PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali menyelenggarakan: &lt;strong&gt;LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2009) Memperebutkan: LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Total Hadiah Senilai Rp 80 Juta Peserta: Terdiri dari 3 (tiga) kategori : Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Syarat-Syarat Lomba:&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Lomba terbuka untuk Pelajar SLTP (Kategori A), Pelajar SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia atau yang sedang studi/dinas di luar negeri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lomba dibuka tanggal 10 Mei 2009 dan ditutup tanggal 3 Oktober 2009&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tema cerita: Dunia remaja dan segala aspeknya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, penderitaan, maupun kekecewaan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Judul bebas, tetapi mengacu pada Butir 3&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) judul&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang benar, indah (literer) dan komunikatif serta bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5 spasi, font 12 (huruf Times New Roman), margin kiri kanan rata (justified) maksimal 5Cm &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Panjang naskah antara 6 – 10 halaman, disertai: sinopsis, biodata dan foto pengarang, foto copy indentitas (pilih salah satu: KTP/Paspor/SIM/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa) yang masih berlaku&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah yang dilombakan dicetak/diprint-out masing-masing judul 3 (tiga) rangkap disertai file dalam bentuk CD&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah yang dilombakan per judul dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis apa saja atau 1 (satu) segel pengaman SELSUN.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah yang dilombakan beserta lampirannya (perhatikan ketentuian Butir 7b, 7c dan 7d) dimasukkan ke dalam amplop tertutup/dilem, cantumkan Kategori Peserta pada kanan ataspermukaan amplop dan dikirimkan ke &lt;strong&gt;Panitia LMCR-2009 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hasil lomba diumumkan 31 Oktober 2009 melalui website www.rayakultura.net dan www.rohto.co.id&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah yang dilombakan menjadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadiah untuk Pemenang Karya Favorit (jika ada) memperoleh Piagam LIP ICE-SELSUN&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Semua pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2009&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak hadiah para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Informasi lebih lanjut e-mail ke: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;lmcr.2009@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;berita ini dilansir dari &lt;a href="http://mywritingblogs.com/sastra/2009/05/22/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-2009/"&gt;mywritingblogs.com&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-1262340333723477223?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/0EI9pZDz63s" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/0EI9pZDz63s/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-2009.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/06/lomba-menulis-cerpen-remaja-lmcr-2009.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-2634497311409475150</guid><pubDate>Sun, 14 Jun 2009 14:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-14T07:08:58.236-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lomba-Lomba</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Info</category><title>Lomba Menulis Cerpen “Girlie Zone” Piala MENPORA</title><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketentuan Umum&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Peserta tak terbatas, boleh warga Indonesia atau luar negeri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usia dan jenis kelamin bebas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tema tentang dunia remaja, lebih disukai yang mengandung nilai-nilai motivasi berprestasi, pencerahan atau nilai-nilai kemanusiaan, persahabatan dan persaudaraan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketentuan Khusus&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Naskah diketik komputer (atau ditulis tangan dengan jelas; spasi 1,5; font 12; sepanjang 5-12 halaman kuarto.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah dikirimkan rangkap 3.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dilampiri dengan formulir pendaftaran lomba yang didapatkan di majalah Girliezone edisi 3 hingga 7 (nggak boleh foto kopi, harus asli).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Disertai kartu identitas yang masih berlaku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu cerpen, masing-masing cerpen 1 formulir pendaftaran asli.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah ditunggu selambat-lambatnya 12 September 2009 (cap pos)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Naskah dikirim ke redaksi Girlie Zone (Indiva Media Kreasi). Jl Apel II/No 30, Jajar, Laweyan, Surakarta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengumuman juara akan dimuat di majalah Girlien Zone edisi 9&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nama penulis tidak boleh dicantumkan dalam naskah cerpen atau dilampirkan dalam kertas tersendiri beserta biodata lengkap&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Content/isi naskah tidak boleh mengandung unsur pornografi ataupun sara&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hadiah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Juara 1: Rp 1.000.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi Juara 2: Rp    750.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi Juara 3: Rp    500.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Naskah yang tidak menjadi juara namun memenuhi kriteria akan dimuat di majalah Girliezone dengan honor seperti biasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;berita ini dilansir dari &lt;a href="http://mywritingblogs.com/sastra/2009/05/22/lomba-menulis-cerpen-girlie-zone-piala-menpora/"&gt;mywritingblogs.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-2634497311409475150?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/Gr1MO0yDx-E" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/Gr1MO0yDx-E/lomba-menulis-cerpen-girlie-zone-piala.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/06/lomba-menulis-cerpen-girlie-zone-piala.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-4199894467766275274</guid><pubDate>Wed, 15 Apr 2009 22:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-15T16:02:14.989-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lomba-Lomba</category><title>Lomba Penulisan Cerpen BUMIPUTERA</title><description>&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Informasi ini saya peroleh dari catatannya mas &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=71496509181"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Kurnia Effendi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt; di Facebook. Saya ingin membaginya dengan kawan-kawan...&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;br /&gt;Memperingati 97 Tahun Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), kami mengundang masyarakat umum, terutama para pecinta sastra, untuk mengikuti “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai asuransi tertua dan terbesar di Indonesia, Bumiputera dikenal peduli terhadap pengembangan kreativitas masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan lomba penulisan setiap tahunnya, termasuk menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Sedangkan PaSar MaLam dikenal dengan kegiatannya seperti Sastra Reboan yang digulirkan secara rutin setiap hari Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;br /&gt;Topik : “Sosial, Human Interest”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Peserta :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masyarakat umum, warga negara Indonesia.&lt;br /&gt;2. Peserta boleh menggunakan nama samaran (namun nama asli tetap dicantumkan di daftar riwayat hidup).&lt;br /&gt;3. Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).&lt;br /&gt;4. Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Lomba :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang asuransi;&lt;br /&gt;2. Cerpen tidak mengandung SARA.&lt;br /&gt;3. Bentuk tulisan dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan tidak dalam bentuk makalah ilmiah.&lt;br /&gt;4. Setiap karya wajib menyebutkan kata “asuransi” dan “AJB Bumiputera 1912” sedikitnya satu kali.&lt;br /&gt;5. Panjang cerpen maksimum 15.000 karakter, disajikan dalam teks Times New Romans, 1,5 spasi, dengan font 12.&lt;br /&gt;6. Cerpen harus asli, bukan saduran atau terjemahan;&lt;br /&gt;7. Cerpen belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun;&lt;br /&gt;8. Cerpen ditunggu paling lambat tanggal &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;30 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt; pukul 24:00 (untuk email) dan berdasarkan cap pos untuk pengiriman melalui pos.&lt;br /&gt;9. Cerpen yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah “bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);&lt;br /&gt;10. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.&lt;br /&gt;11. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.bumiputera.com/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;http://www.bumiputera.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;, website panitia di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.bumiputeramenulis.%20com/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;http://www.bumiputeramenulis. com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.reboan.com/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;http://www.reboan.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;.&lt;br /&gt;12. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Cara Pengiriman Cerpen :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu cerpen;&lt;br /&gt;2. Cerpen dikirim melalui email ke komunikasi@bumipute ra.com atau bila dalam bentuk hardcopy melalui pos ke alamat: Departemen Komunikasi Perusahaan, AJB Bumiputera 1912, Wisma Bumiputera Lantai 19, Jl. Jend. Sudirman Kav 75, Jakarta 12910&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lebih lanjut hubungi Bumiputera :&lt;br /&gt;Telp. 021-5224565;&lt;br /&gt;Faks. 021-5224566&lt;br /&gt;Email : komunikasi@bumipute ra.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadiah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Juara I : Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.&lt;br /&gt;2. Juara II : Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan.&lt;br /&gt;3. Juara III : Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan.&lt;br /&gt;4. Juara Harapan sebanyak 5 orang masing-masing sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu juta rupiah).&lt;br /&gt;5. Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-4199894467766275274?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/gGh_m9cwo3c" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/gGh_m9cwo3c/lomba-penulisan-cerpen-bumiputera.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/04/lomba-penulisan-cerpen-bumiputera.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-741305608991262163</guid><pubDate>Sun, 12 Apr 2009 18:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-12T12:53:11.966-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lomba-Lomba</category><title>Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SeJFo1uWSLI/AAAAAAAAAXM/qZTNaovpeU8/s1600-h/DKJ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 196px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SeJFo1uWSLI/AAAAAAAAAXM/qZTNaovpeU8/s320/DKJ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323894277423909042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Kesenian Jakarta sedang punya gawe. Buat kawan-kawan yang hobi menela'ah sastra, sekarang waktunya untuk unjuk gigi. Tadi saya dapat email langganan dari DKJ yang memberitahukan tentang Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009. Gambar di samping adalah attachment yang dikirim.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelas bisa dilihat di situs &lt;a href="http://www.dkj.or.id/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DKJ&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; atau di &lt;a href="http://www.dkj.or.id/?opt=pages&amp;amp;cidsub=8&amp;amp;pages_id=430&amp;amp;submenu=agenda"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SINI&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-741305608991262163?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/ptguCZZC9I0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/ptguCZZC9I0/sayembara-telaah-sastra-dkj-2009.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SeJFo1uWSLI/AAAAAAAAAXM/qZTNaovpeU8/s72-c/DKJ.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/04/sayembara-telaah-sastra-dkj-2009.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-7703233459860722870</guid><pubDate>Sun, 12 Apr 2009 16:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-20T12:22:15.400-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buku Gratis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Review Karya</category><title>Mengunduh Novel Q &amp; A Vikas Swarup</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SeIdAw9LmTI/AAAAAAAAAW0/Jr78PHJi89M/s1600-h/Q.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SeIdAw9LmTI/AAAAAAAAAW0/Jr78PHJi89M/s320/Q.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323849608484067634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai novel, Q &amp;amp; A (2005) karya Vikas Swarup ini tidak semonumental film &lt;a href="http://www.theimproper.com/Template_Article.aspx?IssueId=10&amp;amp;ArticleId=3029"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Slumdog Millionaire&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang merebut penghargaan Oscar. Tidak seperti film adaptasi lainnya di Indonesia—sebagai perbandingan saja—yang novelnya meraih sukses lebih dulu kemudian difilmkan, semisal Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi, Novel Question &amp;amp; Answer ini malah dicari-cari orang banyak paska pemutaran filmya. Novel ini bahkan diterbitkan ulang dan judulnya menjadi Slumdog Millionaire serupa judulnya filmnya. Memang, meski dari luar film ini terkesan Bollywood (dengan tokoh pencinta yang selalu menang dan romantisme berbalut nyanyian dan tari-tarian India), namun nuansa garapan Hollywood sudah bisa dipastikan mulai dari scriptwriter (&lt;a href="http://www.screenonline.org.uk/people/id/841348/"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Simon Beaufoy&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;) hingga produser (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Danny_Boyle"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Danny Boyle&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;). Apalagi acara WWM (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who Wants to be a Millionaire?&lt;/span&gt;) adalah acara produk Amerika, di mana akan menjadi makanan empuk para pengkaji budaya pop.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti film adaptasi karya sastra lainnya, ada perombakan-perombakan dalam menvisualisasikan novel dalam bentuk percakapan dan gerak untuk membuatnya “lebih diterima” di dunia perfilman, terutamanya Hollywood. Mulai dari tokoh Jamal Malik (agar berkesan Muslim) yang dalam novelnya bernama Ram Muhammad Thomas (tiga nama berbeda yang identik dengan tiga agama), tokoh Salim bukan saudaranya, hanya teman akrab sesama pengemis yang nantinya menjadi aktor Bollywood, tidak mati seperti di filmnya, dan acara WWM yang sebenarnya dalam novelnya adalah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Who Will Win a Billion?&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overall, Saya tidak akan terlalu jauh mengomentari adaptasi novel ini menjadi film, karena niatan awal mem-posting ini adalah memberikan fasilitas men-download novel Q &amp;amp; A (berbahasa inggris) ini. Barangkali anda seperti teman saya Mashuri, mahasiswa Bahasa &amp;amp; Sastra Inggris konsentrasi Sastra UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang menjadikan novel ini sebagai bahan analisis skripsinya. Mungkin berguna…itu saja.  Data novel Q &amp;amp; A ini, saya download di salah satu situs saat Googling (saya lupa URL-nya) akhir Maret kemarin menggunakan fasilitas Torrent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuk Men-download Novelnya klik di &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4844601/2005QA.pdf.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-7703233459860722870?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/GVlqNruO1_c" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/GVlqNruO1_c/mengunduh-novel-q-vikas-swarup.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SeIdAw9LmTI/AAAAAAAAAW0/Jr78PHJi89M/s72-c/Q.png" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/04/mengunduh-novel-q-vikas-swarup.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-6213886583801365331</guid><pubDate>Tue, 07 Apr 2009 17:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-09T10:11:13.043-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi Film</category><title>Antara Dusta dan Cinta</title><description>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;The lies come from love can devastate as much as those come from false&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.lamarsmoviepalace.com/resurrectingthechamp.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 161px; height: 240px;" src="http://www.lamarsmoviepalace.com/resurrectingthechamp.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pernahkah anda tidak berbohong dalam kehidupan anda sehari-hari? Saya bisa meyakini, jawabannya akan bermuara pada kata “tidak” karena lagi-lagi saya meyakini, sebagian besar kita pernah berbohong pada siapa pun. Ada banyak macam kebohongan, kebohongan karena rasa takut, kebohongan karena rasa jengkel, rasa benci, dan yang begitu problematis adalah berbohong demi cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran agama saya memerintahkan saya agar tidak berbohong, kepada siapapun. Meski diberikan beberapa keringanan demi tujuan tertentu. Semisal bila saya dipaksa untuk berpindah agama, dengan ancaman dibunuh, saya diperbolehkan untuk berkata “ya” alias berpindah dengan syarat iman saya tidak akan berpaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebohongan di satu sisi bertemali dengan rasa takut. Sebab kenapa harus berbohong, bila kebenaran itu sangat mulia, begitu menggoda dan mendapat pahala? Ada kala, takut tidak dipuji, takut tidak dihargai, takut dianggap begini, begitu atau yang lainnya adalah alasannya. Padahal konsekuensi logis jika kebohongan kita terungkap, balasannya setimpal dengan apa yang kita takutkan pada awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, saya masih tersenyum bila mengingat ucapan Ibu Ajeng di film Mereka Bilang Saya Monyet, sebuah film gubahan dari dua cerpen Djenar Mahesa Ayu, orang yang berbohong itu bukan karena takut, tetapi berani, berani untuk bertanggung jawab atas kebohongan yang dia sampaikan, apapun konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitukah? Ironiskah? Laiknya menghadiri pemakaman seseorang, bukan duka yang sebenarnya hendak kita berikan, namun kita diberi kesadaran akan keniscayaan kematian bagi manusia termasuk kita sendiri. Ada yang harus kita berikan, ada pula yang kita dapatkan dan renungkan. Begitu pula dengan kebohongan. Apakah dibenarkan berbohong demi tujuan cinta yang tulus? Agar kita dianggap sosok pahlawan bagi seseorang yang kita sayangi?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu secara sederhana, bisa anda temukan pada film ini. Resurrecting the Champ, begitulah judulnya. Makna kebangkitan kembali (resurrection) ini seolah mengarahkan pada pemahaman tentang seseorang yang bangkit dari kematian. Kematian di sini dimaknai dengan keterpurukan, kejatuhan dan kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resurrecting the Champs, adalah kisah fiksi tentang seorang jurnalis The Denver Times, Erik Kernan Jr (Josh Harnett) yang meliput kisah seorang gelandangan (Samuel L. Jackson) yang mengaku-ngaku sebagai Bob Satterfield, seorang Petinju tahun 50-an. Bob Satterfield sendiri adalah petinju kelas berat yang cukup dikenal di ring dunia. Bahkan di Majalah The Ring, yang nota bene adalah majalah olahraga terkenal tentang olahraga adu pukul ini, dia termaktub nomor 58 dalam jajaran 100 petinju terbaik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erik Kernan Jr., adalah sosok jurnalis olahraga. Namanya cukup dikenal lantaran nama ayahnya Erik Kernan, adalah broadcaster olahraga paling digemari pada zamannya. Alih-alih karir jurnalistiknya mulus, karirnya saat itu berada sedang di simpang jalan. Pergantian manajer baru, Meltz membuatnya kerja setengah mati demi tulisannya dimuat. Padahal dengan manajer sebelumnya, Kirby, Erik selalu menghasilkan banyak tulisan. Di lain sisi, Erik tertuntut menjadi sosok ayah sempurna bagi anaknya, Teddy (Dakota Goyo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuannya dengan gelandangan berjuluk Champ, yang mengaku Bob Satterfield, petinju kawakan, berawal ketika dia selesai meliput pertandingan tinju kelas bulu. Dia menolong sang juara itu dari gangguan anak-anak nakal. Selang beberapa hari, tekanan dari karir jurnalisnya di redaksi surat kabar kian membesar. Tawaran dari dewan pimpinan membuatnya gelap mata, apalagi ketika dia menawarkan untuk meliput sang mantan juara dunia Satterfield, mereka langsung mengiyakan. Hal tersebut membuatnya tanpa sadar langsung memercayai bahwa gelandangan yang dia temui sebelumnya adalah Bob Satterfield sebenarnya. Tanpa ada uji kebenaran terlebih dahulu, dia pun langsung melakukan reportase karena desakan mengangkat karirnya, apalagi niatnya ini diamini oleh manajer umum surat kabar, sebab Bob Satterfield termasuk petinju legenda, tentunya tanpa sepengetahuan Meltz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama penerbitan features-nya cukup mengesankan. Tidak dia sangka, Bob Satterfield adalah sosok petinju yang digemari banyak orang, bahkan tak segan mereka merogoh koceknya untuk membantu petinju melarat itu keluar dari keadaannya itu setelah membaca kisahnya yang mengharukan. Karir Erik pun melonjak tinggi, bahkan dia diundang acara Showtime, salah satu program olahraga yang memiliki rating tinggi di Amerika. Bukan karirnya yang begitu meledak dahsyat, yang begitu membahagiakan dia adalah puteranya yang dia lihat semakin bangga padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik yang sedari awal terbangun tertatih-tatih memuncak saat selang beberapa hari Kernan muncul di Showtime. Banyak teman sejawat dan seangkatan Bob Satterfield yang bermunculan menyangsikan bahwa dia masih hidup. Bahkan sang anak sempat datang ke kantor Denver Times, mencoba menuntut atas pemberitaan yang dilakukan Erik Kernan pada ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, film ini menggambarkan tentang kebohongan yang didasari rasa cinta. Cinta kepada orang yang dikasihi di mana film ini menjembatani kecintaan Erik kepada puteranya. Dari keterpurukan, melalui kebohongan, Erik bisa bangkit dan meraih popularitas baik di dalam dunia jurnalisme maupun puteranya. Tapi apa hendak dikata, semua itu hancur saat kebohongan terkuak. Tidak hanya kerjanya yang terancam, kekecewaan anaknya menjadi palu godam yang menghantam tubuhnya. Dia tersungkur, malu dan meringkuk dalam penyesalan. Setimpal dengan apa yang dia takutkan saat terpuruk dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak ada yang lebih manis daripada berkata jujur. Seperti kacang mete, saat dimakan dengan kulitnya, terasa pahit dan gatal, namun bila dengan sabar mengupas kulitnya, rasa gurih dan garing yang dapat dinikmati. Film ini memiliki ending yang bahagia. Semua akhirnya dapat memaklumi kebohongan Erik meski hal itu dia dapatkan setelah mengungkapkan hal yang sebenarnya. Sosok Superman itu dia dapatkan saat dia jujur tentang keadaan sebenarnya. Kebohongan memang sulit dibenarkan dengan alasan apapun. Kesuksesan yang akan diperoleh akan hancur tidak tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan feature-nya tentang Bob Satterfiled:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;The writer like a boxer must stand alone. Having your words published, like entering the ring which your talent is on display and there is nowhere to hide. I never intended to write the story about myself…my son or about love, or the lies that could sometimes come from the love. I would tell you this about the man called champ whom everybody called the champ. He was, against all of reason, my friend and he was also a liar. But was it because he tried to make himself better than who he, or was it because one the force more powerful than son wants the abbreviation from his father or the father wants get abbreviation from his son sometimes we need help of  imagination to reach that status. It is no easy task being strongest wisest more beloved man in life. And what is shattered on that moment when our children discovered the real we’re not superman we’ve created or rather Herman Mellvile once wrote, “a man drained of valley”. The lies come from love can devastate as much as those come from false. Champ like; I guess is inspiration for the truth and beauty thing can emerged from that. A beauty of children that admirer us conditionally, love us in conditionally like as I love my son. Mucho Grande. &lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-6213886583801365331?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/85yJahI0_is" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/85yJahI0_is/antara-dusta-dan-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/04/antara-dusta-dan-cinta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-834744777367566052</guid><pubDate>Sat, 17 Jan 2009 16:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-05T09:13:38.796-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Merayakan Kehancuran Kapitalisme?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SXIG-V4tu1I/AAAAAAAAAU4/ZVcgYO8t2aU/s1600-h/Kapitalisne+-+Robert+Lekachman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 126px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SXIG-V4tu1I/AAAAAAAAAU4/ZVcgYO8t2aU/s320/Kapitalisne+-+Robert+Lekachman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292300180210432850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Judul           : Kapitalisme; Teori dan Sejarah Perkembangannya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Penulis     : Robert Lekachman &amp;amp; Borin van Loon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Penerbit   : Resist Book&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Cetakan    : I, Agustus 2008 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Tebal           : 177 Halaman&lt;br /&gt;Resenso    : Musthafa Amin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;Hampir seabad berlalu Karl Mark meramalkan bahwa Kapitalisme akan mengalami kehancuran. Dalam bukunya Das Kapital, Marx menguraikan tentang keniscayaan pergolakan dalam tubuh kapitalisme dan saat sentralisasi alat-alat produksi dan sosialisme buruh menuju satu titik puncak, maka tandon bernama kapitalisme ini akan meledak berantakan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;Pada prinsipnya, kapitalisme berdasarkan pada eksploitasi besar-besar terhadap segenap perlengkapan modal dan alat-alat produksi demi keuntungan pribadi dan pula kapitalisme selalu bergantung pada sistem pasar. Hingga kini, perlawanan terhadap kapitalisme masih terus dikumandangkan meski tidak melulu berasal dari lisan sosialisme. Optimisme Marx dan para pengikutnya barangkali tinggal rasa harap belaka. Perjuangan sosialisme untuk menghapus kapitalisme, sementara ini menjelma menjadi kesadaran utopis—untuk tidak mengatakannya gagal. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;Adalah sangat sulit melawan Kapitalisme, setidaknya bila tidak mengkaji dan mengamati kapitalisme itu sendiri. Sebenarnya kapitalisme bukannya tidak mengalami pasang surut, namun keberhasilan sistem kapitalisme mengatasi segala krisis yang terjadi semakin menguatkan bahwa kapitalisme adalah sistem kuat tanpa celah sedikit pun. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow,sans-serif;"&gt;Barangkali hal inilah yang hendak dikaji oleh Robert Leachman dalam Bukunya &lt;i&gt;Kapitalisme; Teori dan Sejarah Perkembangannya&lt;/i&gt;. Dalam buku setebal 177 halaman tersebut, dipaparkan sejarah perkembangan kapitalisme yang sarat krisis beserta pemikiran teoritisi terkenal tentang kapitalisme seperti Adam Smith, Karl Marx, JM.Keynes dan Milton Friedman. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Secara historis, fase menuju konsep kapitalisme telah ada sejak abad ke-14 dan abad ke-16 jauh sebelum Adam Smith menerbitkan buku The Wealth of Nation pada tahun 1776. Fase ini dikenal  dengan fase borjuis disusul dengan fase kapitalisme secara bertahap pada awal abad ke-16.  di Perancis kemudian muncul aliran naturalisme pada pertengahan abad ke-18 yang melahirkan kaum naturalis (lesphisiocrates). Salah satu tokoh naturalis yang terkenal adalah John Locke (1632-1704) yang meramu teori naturalisme liberal. Tentang hak milik ia berkata, "Hak milik pribadi adalah salah satu hak alam dan insting yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia. Karena itu tak ada seorangpun yang mengingkari insting ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme modern industrial dijelaskan dalam buku ini bermula dalam ideologi merkantilis, tepatnya dimulai di inggris abad ke-18. Figur utama merkantilis adalah penguasa monarki otoriter. Negara merkantilis bertujuan untuk memperbesar kekuasaan nasional, bukan pemenuhan aspirasi-aspirasi individual yang berhubungan dengan kemajuan  material. Dampak negatifnya adalah Negara merkantilis berada dalam pertaruhan besar, permainan berani mati terutama setelah emas dan perak dari Dunia Baru habis. Dalam permainan antarbangsa, Inggris bisa makmur hanya jika Perancis atau Spanyol dikorbankan atau sebaliknya. Sampai saat itu, Eropa telah mengeksploitasi penduduk pribumi Peru dan Meksiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tingkat tekhnologi rendah di masa merkantilis, cara memperoleh keuntungan maksimum dari para buruh adalah memperpanjang hari kerja dan masa kerja mulai dari kanak-kanak, dan juga menekan upah hingga di bawah tingkat subsistensi. Upah rendah ini didasarkan pada kemungkinan barang-barang inggris bisa bersaing di pasar-pasar asing dan agar para buruh tidak tertarik membeli barang-barang mewah asing seperti the, gula, dan kain katun (hlm. 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangannya, Kapitalisme sangat membutuhkan sistem pasar bebas di mana pihak bisa bersaing tanpa campur tangan pemerintah dan pasar-pasar buruh. Adalah Adam Smith yang di dalam bukunya The Wealth Nation menyediakan rasa aman bagi para kapitalis baru. Dengan perdagangan bebas di dalam dan luar negeri, tulis Smith, pengejaran keuntungan pribadi yang egois dan tanpa batas akan meningkatkan kesejahteraan bersama. Ia pula merumuskan sebuah tatanan di mana peran pemerintah sangat minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit membayangkan bagaimana kepentingan pribadi yang tanpa batas bisa mengarah pada kebaikan bersama. Salah satu efek negatif yang dipaparkan buku ini, adalah bentuk dorongan untuk meraup laba cepat yang ternyata menafikan kelayakan produk yang dipasarkan. Pernah ada perusahaan farmasi terkenal di Inggris yang memasarkan thalidomide, suatu obat yang belum teruji diperuntukkan bagi wanita hamil. Akhirnya, banyak lusinan bayi cacat lahir menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekslploitasi dan Kesenjangan ekonomi yang terjadi antara pemilik modal dan pekerja adalah sebuah paradoks kapitalisme. Para kapitalis berdalih, dalam buku ini, bahwa orang miskin dan tidak beruntung bisa memperoleh yang dinginkan di pasar bebas sementara di satu sisi ketidaksetaraan dalam gaji adalah wajib demi efisiensi ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari buku ini adalah tentang bagaimana kapitalisme mampu memperbaharui diri ketika diterjang krisis. Setiap kali sistem kapitalistik mengalami krisis, kapitalisme mampu bangkit dan tetap merajai dinasti perekonomian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu adalah masa Depresi Besar, yang berlangsung 1929-1939. Negara penganut Kapitalisme seperti Inggris, Jerman dan Amerika Serikat mengalami krisis berkepanjangan sehingga diprediksi sistem kapitalisme sedang berada di titik nadir. Yang paling parah tentu Amerika Serikat. GNP jatuh drastis dari 104 milyar dolar di tahun 1929 menjadi 56 milyar dolar di tahun 1933. angka pengangguran dari 1.5 milyar menjadi 12,8 milyar, satu di antara empat buruh kehilangan pekerjaan. Sembilan juta rekening tabungan hilang karena bank-bank runtuh. 30 juta dolar aset finansial hilang saat pasar bursa ambruk. Satu dari lima sekolah di Detroit secara resmi tercatat sebagai murid kurang gizi pada tahun 1932.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah peristiwa besar dan sebuah teori baru menyelamatkan kapitalisme dunia dan memberinya nafas baru kehidupan. Peristiwa itu adalah Perang Dunia II. Di masa sebelum era nuklir, sebuah perang besar memberi jaminan buruhan penuh baik di angkatan senjata atau industri perang lainnya, lagipula, kehancuran yang yang disebabkan pengeboman memberi jaminan ledakan buruhan rekonstruksi begitu perang berakhir. Teori baru yang muncul adalah hasil pemikiran J.M. Keynes tentang makroekonomi yang berfokus kepada pendapatan nasional, investasi bisnis dan volume lapangan kerja bukan kepada pada harga dan pasar individual yang menjadi titik tolak kapitalisme sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan buku ini berlanjut pada penolakan sejumlah teorisi terhadap teori Keynesian ini. Setelah sekian lama kemakmuran ekonomi identik dengan pemerintahan bergaya Keynesian, ternyata masih ada borok kelemahan yang selalu menghantui sistem Keynesian ini yakni inflasi dan penganguran yang berjalan simultan. Milton Friedman adalah tokoh ekonom yang mengajukan antitesis teori Keynesian dengan menawarkan sistem monetarisme, sebuah sistem ekonomi baru yang fokus pada penyediaan uang sebagai npenjelasan baik tentang inflasi dan ringkat efektifitas ekonomi yang tidak dituju oleh teori Keynesian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Robert Lekachman dalam buku ini, monetarisme tidak lebih adalah model lawas kapitalisme dengan nama baru. Karena ide monetarisme tentang inflasi yang berasal dari ekspansi yang berlebihan dari suplai uang pemerintah, telah lama dipegang para ahli ekonomi konservatif dan sifat monetarisme yang retrogresif berbalik arah ke ekonmi Adam Smith. Begitu pula teori Keynesian, menurut Lekachman, tidak memnutus hubungan dengan akar-akar ini sehingga kebersinambungan ini masih tetap dalam mode manajemen kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini seolah menyiratkan bahwa Kapitalisme yang dianut oleh negara-negara maju mulai menuju ambang kehancuran. Negara besar semacam Amerika AS memasuki resesi terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930. Angka pengangguran di AS diprediksi sebesar 8-8,5 persen pada akhir tahun 2008. Lima sektor penting seperti finansial, otomotif, pemerintahan/organisasi nirlaba, transportasi, dan ritel mengalami PHK besar-besaran. Belanja konsumen juga terus terpuruk. Namun pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah krisis ini adalah awal kehancuran kapitalisme atau langkah awal lahirnya kapitalisme anyar yang lebih kuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, memang kita harus jeli bahwa kapitalisme memang akan selalu mencari pembenaran atas upayanya untuk melakukan konsentrasi produksi. Dalam dunia yang sudah dicengkeram oleh beragam model kapitalisme, kebutuhan akan diskusi-diskusi lebih lanjut mengenai berbagai manifestasi kapitalisme tidak dapat dielakkan. Karena itu buku ini adalah referensi penting untuk mewujudkan rasa perlawanan terhadap kapitalisme yang eksploitatif tapi berasa wajar dan alamiah agar kematian kapitalisme benar-benar bisa dirayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-834744777367566052?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/J1nRA89F3JI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/J1nRA89F3JI/merayakan-kehancuran-kapitalisme.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SXIG-V4tu1I/AAAAAAAAAU4/ZVcgYO8t2aU/s72-c/Kapitalisne+-+Robert+Lekachman.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2009/01/merayakan-kehancuran-kapitalisme.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-8349277205611753789</guid><pubDate>Tue, 04 Nov 2008 18:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-04T11:12:52.140-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">grafis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Review Karya</category><title>In Design n Photo</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCbcdrzPGI/AAAAAAAAAUI/qyBCBOJQVCg/s1600-h/CIMG4233+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 230px; height: 271px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCbcdrzPGI/AAAAAAAAAUI/qyBCBOJQVCg/s320/CIMG4233+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264878877703093346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kucingku yang Begitu Rajin Membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCcIn2TLoI/AAAAAAAAAUQ/a-XKuH7KbgA/s1600-h/biner.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCcIn2TLoI/AAAAAAAAAUQ/a-XKuH7KbgA/s320/biner.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264879636345728642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oposisi Biner...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCc85-VP9I/AAAAAAAAAUY/KQ6ZuT9HKz8/s1600-h/7_800x600+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCc85-VP9I/AAAAAAAAAUY/KQ6ZuT9HKz8/s320/7_800x600+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264880534564454354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Untukmu Kawan. Met Wisuda, Jadi Bintang Film...Wakaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCduKl8mSI/AAAAAAAAAUg/3gXnpO8_eNs/s1600-h/hitler_head_0710.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCduKl8mSI/AAAAAAAAAUg/3gXnpO8_eNs/s320/hitler_head_0710.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264881380839168290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketakutan Hitler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-8349277205611753789?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/yqIuPpZsnNg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/yqIuPpZsnNg/in-design-n-photo.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SRCbcdrzPGI/AAAAAAAAAUI/qyBCBOJQVCg/s72-c/CIMG4233+copy.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/11/in-design-n-photo.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-132472554119018840</guid><pubDate>Wed, 29 Oct 2008 14:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-05T09:40:53.542-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Memahami Agama dengan Pengalaman</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SQh4KtFjruI/AAAAAAAAAUA/57Oc4DvHLFQ/s1600-h/Pergulatan+Iman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 186px; height: 280px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SQh4KtFjruI/AAAAAAAAAUA/57Oc4DvHLFQ/s320/Pergulatan+Iman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262588289879355106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul        : Pergulatan Iman&lt;br /&gt;Penyunting    : Nong Harol Mahmada&lt;br /&gt;Penerbit     : Penerbit Nalar Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan     : Juni, 2008&lt;br /&gt;Tebal         : xxiv + 216 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan mengenai agama sejauh ini selalu mengandung perdebatan. Argumen empiris tentang hal-hal metafisis, misalnya keberadaan Tuhan, ketika ditransformasikan menjadi argumen rasional dengan rancak menyuburkan pemikiran-pemikiran spekulatif yang berujung klaim kebenaran. Hal inilah yang kemudian menjadi concern kajian tokoh-tokoh filsafat sekaliber Sigmund Freud (1856-1939) dan William James (1842-1910). Mereka beranggapan, selama akal pikiran masih diberikan ruang untuk mendiskusikan hal-hal yang noumena (realitas yang tidak bisa dipersepsi), maka tidak ada kata ujung untuk menyudahi perdebatan semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, mereka lebih suka menjelaskan fenomena keagamaan apa adanya, seperti yang mereka lihat. Bilamana Freud lebih memandang agama adalah respon manusia terhadap situasi ketakberdayaan mereka dalam menghadapi dunia yang tak dapat mereka kontrol hingga membentuk figur bapak utama (primal father) yang dianggap pelindung, James melihat gejala kejiwaan keagaamaan secara positif. Pengalaman spiritual setiap pemeluk agama, bagi James adalah keniscayaan absolut pada semua individu dan karena itu ia lebih penting dan bermakna ketimbang klaim-klaim mereka tentang identitas formal agama yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian filsafat, sikap semacam ini disebut Fideisme (fideism), berasal dari bahasa Latin, fides yang berarti “iman”. Seorang fideis (sebutan bagi penganut aliran ini) tidak terlalu perduli apakah imannya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, karena baginya, akal sama sekali tak relevan ketika seseorang berbicara tentang iman. Iman bagi mereka berada di atas akal. Sisi-sisi metafisika pada agama mustahil untuk dinalar tetapi dapat diyakini dengan pengalaman spiritual yang dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, meski pengalaman spiritual dan atau pengalaman personal keagamaan bisa kita jumpai pada siapa saja, perbincangan tersebut masih identik dibicarakan dan didedah oleh tokoh-tokoh agama semisal Kyai, Ulama’, Pastur, Pendeta, Biksu dan lain sebagainya. Sehingga seolah-olah pengalaman spiritual personal yang tidak berasal dari kalangan tersebut dipinggirkan—untuk tidak mengatakan disalahkan—karena hanya pengalaman mereka lah yang pantas dikumandangkan jika membincang keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Buku Pergulatan Iman yang mencoba mengangkat tema tersebut dengan pendekatan berbeda. Sebagai Buku hasil rekaman wawancara tentang pergumulan Iman sekumpulan individu, ia memilah audiennya dari latar belakang yang beragam yang nota bene bukan ahli agama atau mungkin sosok yang kadung dikenal masyarakat sebagai ahli di bidang lain. Ada sutradara, artis, novelis, penulis, politisi, aktivis sosial, budayawan, akademisi dan lain sebagainya. Dengan terbuka, mereka mengungkapkan bagaimana mereka meretas dimensi keagamaan di dalam perjalanan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tulisan wawancara dalam buku ini menghadirkan dinamika keagaaman yang pernah mereka alami di dalam hidupnya dan jalan yang mereka tempuh sebagai jalan keluar. Sikap yang mereka tempuh di dalam dinamika tersebut antara lain adalah sebagai langkah penyelamatan iman agar lepas dari tekanan lingkungan konservatif dan mengekang, sebagai upaya penegasan keimanan universal agar terbebas dari ikatan-ikatan formal agama yang sempit, sebagai respon atas modernisme karena agama-agama formal mereka anggap kesulitan mengantisipasi perubahan di era modern ini dan juga sebagai bentuk protes pada pemahaman konvensional beberapa ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gambaran tersebut, Almarhum Munir, misalnya dalam sub judul “Islam Harus Berpihak pada yang Tertindas”, ternyata pernah bersikap sangat radikal dalam urusan agama. Lahir di lingkungan yang ketat, dia mengakui pernah terpengaruhi doktrin-doktrin Islam sebagai agama paling benar sehingga, dalam satu waktu dalam hidupnya dia selalu membawa senjata tajam sebagai persiapan jika terlibat konflik dengan pemeluk agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini dianutnya kurang lebih lima tahun hingga ia kemudian berkenalan dengan versi Islam yang lebih moderat. Setelah perkenalalnnya tersebut, Munir meninggalkan masa lalunya yang suram. Ia kemudian mengakui bahwa agama yang ditafsirkan secara radikal akan menghancurkan tatanan kehidupan. Sebagaimana diakuinya, “Ekstremitas beragama itu bisa menghancurkan peradaban manusia. Intoleransi, apapun bentuknya akan menghancurkan peradaban. Banyak orang beranggapan bahwa mereka sedang membangun. Akan tetapi yang mereka bangun justru simbol-simbol yang menghancurkan peradaban.” (hlm. 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan para tokoh itu “memberontak”, sebenarnya bukan karena mereka tidak mengakui peran agama (baik Islam, Katolik, Protestan, maupun Buddha) dalam kehidupan mereka. Malah sebaliknya, mereka semua mengakui besarnya peran agama dan kuatnya pengalaman keberagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Agama yang seharusnya bersifat universal, dirasa gagal dalam mewadahi dan mengakomodir pemikiran mereka yang terus berkembang. Doktrin-doktrin keagamaan yang ada seakan stagnan dan tidak berubah, sementara para tokoh itu terus mendapatkan pengetahuan baru di luar. Sehingga fungsi agama sebagai sistem moral gagal memberikan dampak positif bagi tatanan sosial. Sikap semacam ini bisa kita baca dengan jelas pada wawancara dengan tokoh-tokoh seperti Lies Marcos-Natsir, Wardah Hafidz (Islam), Ayu Utami (Katolik) dan Dee Lestari (Protestan kemudian Buddha) yang direpresentasikan sebagai aktivis perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rangkuman seluruh pengakuan pengalaman mereka yang disajikan, buku ini mengungkapkan adanya kecenderungan fideisme pada sebagian para tokoh dan aktifis di Indonesia. Mereka menganggap pengalaman spiritual personal jauh lebih penting ketimbang identitas formal agama dan doktrin-doktrin kaku keagamaan. Dari pengalaman tersebut, menunjukkan betapa agama formal tidak mampu menampung aspirasi keberagamaan para pemeluknya. Agama formal dalam bentuknya yang mekanistis (dalam pengertian adanya aturan-aturan yang baku, kewajiban-kewajiban, dan sanksi-sanksi) terlalu sistematis dan kaku sehingga sulit baginya mengakomodir hal-hal di luar dunia pembuktian. Padahal iman bukanlah soal pembuktian, karena tidak bisa diuraikan secara rasional, iman adalah pengalaman individu yang hanya bisa dirasakan namun tak bisa diuraikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pemilihan tokoh-tokoh yang menjadi sumber wawancara dalam buku ini bisa disimpulkan ke mana arah pemikiran yang hendak disampaikan oleh buku ini. Semua wawancara di buku ini merupakan transkrip talk show salah satu program kegiatan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dilakukan sepanjang tahun 2002 sampai 2005. Wawancara ini juga dimuat di beberapa media massa dan disiarkan di beberapa stasiun radio yang juga merupakan program sindikasi media JIL. Karena itu, nuansa moderat dan liberal sangat kental menghiasi setiap pembicaraan setiap tokoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, hadirnya buku ini jelas membuat pemahaman kita akan keimanan semakin terbuka. Tentang begitu pentingnya pengalaman spiritual sebagai penguat keimanan kita. Ragam pendapat dalam persoalan agama adalah lumrah, namun bagaimana perbedaan tanpa masalah bisa diolah. Walaupun pengalaman tersebut cenderung subjektif karena tidak lepas dari pelbagai unsur dalam diri individu setidaknya kita dapat mengambil pelajaran dari buku ini, yakni—sebagaimana disampaikan Gunawan Muhammad dalam epilog buku ini—tentang bagaimana menerjemahkan Iman bukan sekedar suatu akhir proses intelektual, melainkan peleburan diri ke dalam suatu proses yang sepenuhnya berlangsung dalam hidup, dengan segala gejolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-132472554119018840?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/d0Msj5C08zQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/d0Msj5C08zQ/memahami-agama-dengan-pengalaman.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SQh4KtFjruI/AAAAAAAAAUA/57Oc4DvHLFQ/s72-c/Pergulatan+Iman.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/10/memahami-agama-dengan-pengalaman.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-1927149688701221921</guid><pubDate>Fri, 19 Sep 2008 19:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-05T09:17:15.977-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cita Rasa</category><title>Koleksi Buku atau Baca Buku; Hasil Memandangi Rak Buku</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SNQFIPJjrKI/AAAAAAAAAOg/vwTAlgIJdr0/s1600-h/buku2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SNQFIPJjrKI/AAAAAAAAAOg/vwTAlgIJdr0/s320/buku2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247825104857181346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#009900;"&gt;[Anjuran; Jangan Dibaca bila tidak Ingin Kecewa]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam [Al-‘Alaq: 1-4].&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Petikan ayat di atas memiliki makna dan tujuan tertentu. Sebagai serangkaian ayat yang diturunkan pertama kali pada Muhammad tentu beragam alasan/hikmah dapat kita tafsirkan. Makna yang mampu saya tafsirkan adalah tentang kebutuhan kita untuk membaca. Membaca, bagi saya, menduduki posisi tertinggi kesekian di samping kebutuhan pokok seperti makan, minum, ‘merokok’ dan lain sebagainya. Tujuan membaca adalah sebagai proses pembekalan kita dalam menuju cita-cita luhur manusia sebagai ‘khalifah fil ‘ardh. Jika makan dan minum adalah nutrisi tubuh agar bisa lebih kuat, maka membaca adalah nutrisi otak agar memiliki lebih banyak ilmu pengetahuan di saat nanti membenamkan diri dalam pengalaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dimensi sosial, membaca adalah sebuah proses penting sebelum menuangkan gagasan dalam tulisan. Karena dengan tulisan, kita bisa mengenalkan gagasan kepada banyak kalangan. Tanpa menafikan fungsi lisan, tulisan sama pentingnya seperti penyampaian ilmu pengetahuan melalui lisan. Bahkan di saat-saat tertentu, saat jasad tidak lagi bergerak, tulisan masih leluasa melanglang di dalam pikiran orang-orang. Pelembagaan ilmu pengetahuan lebih abadi ketimbang lisan yang mengandalkan keaktifan fungsi akal dan hafalan. Tentu saja bila, Khalifah Abu Bakar sampai kelabakan sewaktu banyak penghafal Al-Qur’an meninggal di waktu perang sehingga beliau berijtihad untuk mengumpulkan al-Qu’an dalam tulisan hingga bisa disempurnakan oleh Khalifah Utsman bin Affan meski kental gejolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua paragraph di atas sebenarnya hanya pengantar. Saya latah untuk mengutip beberapa ayat al-Qur’an karena sekarang masih dalam semarak Nuzulul Qur’an meski sebenarnya ada hal yang ingin saya utarakan berkenaan Buku dan Bulan Suci Ramadlan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Quraish Shihab (2003) dalam bukunya Lentera Hati, Puasa dimaknai puasa sebagai sebuah ritus keagamaan yang mencoba meniru sifat Tuhan (Allah) yakni tidak makan, minum, tidak beranak dan diperanakkan. Kata Shaum diartikan sebagai ‘menahan’ dari segala hawa nafsu kemanusiaan. Tetapi ada semacam rasa penasaran yang menghinggapi saya. Bagi seorang kutu buku yang menganggap membaca adalah basic needs layaknya makan dan minum atau berhubungan seksual (yang jelas bukan saya), bagaimana ia menjalankan ibadah puasa? Apakah dia harus juga menahan hawa nafsunya untuk membaca? Dan hanya bisa membaca di saat sudah buka puasa? J&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah…sebenarnya saya bingung mau menulis apa. Sebenarnya tidak ada hal yang penting untuk saya utarakan. Saya hanya tertegun memandangi koleksi buku saya. Koleksi tersebut sudah mulai berkurang meski setiap bulan saya selalu menyisihkan uang saku untuk menambah koleksi buku. Banyak kawan-kawan yang seringkali pinjam tanpa izin hingga rak koleksi buku saya berangsur-angsur menjadi longgar. Sudah menjadi komitmen saya pribadi, mengoleksi buku adalah sebuah kebutuhan. Minimal dalam satu bulan, ada satu buku yang akan menambahi rak buku saya. Hal tersebut adalah perkara wajib. Tetapi, ada kebiasaan buruk yang sering saya lakukan, yang jangan sampai dilakukan oleh kolektor buku yang seyogyanya juga harus berstatus kutu buku. Saya sangat jarang membaca tuntas buku yang baru saya beli sehingga sempat saya dicemooh seorang teman, “Ngapain juga beli buku banyak-banyak tapi tidak dibaca.” Tetapi saya tidak terlalu menanggapi hal tersebut karena bagi saya ini adalah komitmen diri saya karena saya yakin koleksi ini akan berguna dan kelak akan saya baca.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya mampu membaca tuntas sebuah buku jika isi buku tersebut menarik bagi saya walaupun hingga kini saya masih belum bisa menyimpulkan makna ‘menarik’ tersebut. Mood saya bisa &lt;/span&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SNQFe5MemSI/AAAAAAAAAOo/tLxkPn0gOR0/s320/Hui.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247825494100842786" /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dibilang gampang berubah dan wacana-wacana yang terdapat dalam buku datang silih bergantian hingga saya sering berganti-ganti buku tanpa menunggu membaca tuntas. Seringkali saya dihadapkan kenyataan bahwa saya akan rajin baca buku jika ada tuntutan seperti tugas perkuliahan, diskusi rutinan dan selebihnya saya memuseumkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak apalah, karena saya yakin sepenuhnya kelak keinginan untuk tuntas membaca koleksi saya akan kesampaian. Biarlah komitmen mengoleksi buku terus berjalan karena hal tersebut yang bisa saya andalkan saat ini. Bila sampai waktuku, akan kubaca semua tanpa melewatkan pun satu buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbersari, 17 September 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-1927149688701221921?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/sb11k9rYTzY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/sb11k9rYTzY/koleksi-buku-atau-baca-buku-hasil.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_Nhh5vZ3wks8/SNQFIPJjrKI/AAAAAAAAAOg/vwTAlgIJdr0/s72-c/buku2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/09/koleksi-buku-atau-baca-buku-hasil.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-7031213598826483745</guid><pubDate>Fri, 19 Sep 2008 19:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-19T12:56:46.245-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Untaian</category><title>Puisi; Kembang Kempis</title><description>&lt;P&gt;&lt;STRONG&gt;Kembang Kempis&lt;/STRONG&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembang kempis menepis kelakar&lt;br /&gt;Dari sorot matanya sepertinya dia akan melayu&lt;br /&gt;Beriringan dengan kematian pucuk-pucuk &lt;br /&gt;Tergores panas memuai aroma ganja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik mekar mahkota&lt;br /&gt;Tersimpan racun-racun jingga&lt;br /&gt;Tak tercium, tapi bereaksi jika dihirup&lt;br /&gt;Kekosongan itu yang menyerap duri-duri&lt;br /&gt;Dia mematikan walau kelihatan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bakal tahu&lt;br /&gt;Jika romansa keindahan itu tak dapat dipuja&lt;br /&gt;Hanya bisa dirasa dan diraba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;/P&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;FONT class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Type rest of the post here&lt;br /&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-7031213598826483745?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/uL2mAbQijTc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/uL2mAbQijTc/puisi-kembang-kempis.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/09/puisi-kembang-kempis.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-2672798499234768074</guid><pubDate>Sun, 03 Aug 2008 16:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-03T09:35:33.787-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Mendedah Perilaku Kuasa atas Media</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SJXdsnT3l6I/AAAAAAAAAOQ/AEnmg5u1bbU/s1600-h/Membongkar+Kuasa+Media.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SJXdsnT3l6I/AAAAAAAAAOQ/AEnmg5u1bbU/s320/Membongkar+Kuasa+Media.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230330300796999586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Membongkar Kuasa Media&lt;br /&gt;Penulis  : Ziauddin Sardar&lt;br /&gt;Penerbit  : Resist Book&lt;br /&gt;Cetakan  : I, Juli 2008&lt;br /&gt;Penerjemah : Dina Septi Utami&lt;br /&gt;Tebal   : 178 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun bisa lepas dari jeratan media. Rata-rata kita menghabiskan lebih dari 15 tahun dalam kehidupan kita untuk menonton televisi, film, video, membaca surat kabar dan majalah, mendengarkan radio dan surfing internet. Artinya kita membenamkan diri dalam media. Kemampuan kita berbicara, berfikir, berinteraksi dengan orang lain, bahkan mimpi dan kesadaran akan identitas kita sendiri dibentuk oleh media. Dalam arti sesungguhnya, memelajari media adalah memelajari diri kita sendiri sebagai makhluk sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya studi kritik yang dilancarkan terhadap media bukanlah adalah hal yang langgam dan kerap diulas, tapi selalu saja melahirkan gagasan-gagasan baru yang diperluas dan merambah ke segala wilayah. Salah satunya adalah studi relasi media dengan kekuasaan. Sebagai suatu institusi informasi, media dapat dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya politik dengan tujuan membentuk opini publik. Tumpah ruah berita yang disajikan oleh media ternyata seringkali dimediasi untuk mendukung suatu golongan atau bahkan menindasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noam Chomsky adalah salah satu tokoh sosial yang intens menyoal media yang tidak bebas nilai dan erat bertemali dengan politik kepentingan. Setidaknya ada dua kepentingan utama, menurut Chomsky, yang selalu menjerat media. Yaitu kepentingan ekonomi (economical interest) dan kepentingan kekuasaan (power interest). Sehingga bagi Chomsky, informasi di media merupakan sebuah rekonstruksi. Rekonstruksi yang tertulis atas suatu realitas yang ada di masyarakat. Sehingga batasan-batasan yang ada semakin kabur (Chomsky, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kondisi media yang sedemikian rupa, buku berjudul Membongkar Kuasa Media yang ditulis oleh Ziauddin Sardar ini hadir dan memperkaya diskursus dan pemikiran tentang studi media. Buku ini melacak relasi yang kompleks antara media, ideologi, pengetahuan, dan kekuasaan. Dengan kata lain buku ini menela’ah secara kritis fungsi media sebagai sarana menyampaikan berita, penilaian dan gambaran umum tentang banyak hal yang menurut Sardar, sudah demikian jauh bergeser. Sardar mengulas sejarah media, industri media dan riset-riset media dengan begitu apik dan juga menguraikan sejauh mana pendekatan-pendekatan dilakukan oleh studi media untuk membongkar kungkungan kekuasaan terhadap media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi media dengan kekuasaan, sebagaimana dipaparkan oleh buku ini, selalu mengalami perkembangan dengan beragam pendekatan sehingga menjadi varian-varian utama studi media. Salah satunya adalah studi insitutisional. Studi ini menekankan pada faktor-faktor yang mengatur hubungan-hubungan di dalam organisasi dan menjaga keseluruhan struktur yaitu tentang bagaimana proses interaksi di antara berbagai anggota organisasi, tentang proses target dan tujuan diartikulasikan, serta tentang bagaimana kerangka kebijakan itu dikembangkan dengan baik. Hal tersebut karena seringkali professional media mengklaim bahwa mereka objektif dan imparsial sehingga mereka mengupayakan otonomi bagi industri mereka. Para editor seolah memiliki otoritas dalam memilah berita yang diliput oleh reporter sementara surat kabar ataupun media lainnya mengikuti garis politik tertentu dan mempromosikan ideologi politik tertentu—jadi mereka mengubah atau mengabaikan fakta-fakta yang bisa merusak posisi politik mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selanjutnya adalah studi struktural yang berlandaskan pada semiotika dan dekontruksi. Gagasan mendasar pada studi ini adalah pada sistem-sistem dan proses-proses signifikansi dan representasi makna. Studi ini pada awalnya merujuk pada salah satu pemikiran filosof Marxis berkebangsaan Prancis, Louis Althusser. Media hubungannya dengan kekuasaan, tulis Althusser, menempati proses strategis karena mampu menjadi sarana legitiminasi. Di dalam konteks pemerintahan Negara pun demikian, media adalah bagian alat kekuasaan Negara yang bekerja secara ideologis membangun kepatuhan khalayak pada kelompok yang berkuasa. Sehingga beralasan sekiranya jika menurut Karl Deutsh media adalah urat nadi pemerintah (the nerves of government).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pendekatan alternatif yang merupakan kritik terhadap studi struktural adalah pendekatan ekonomi politik. Pendekatan ini melihat hubungan antara kepemilikan dengan kekuasaan politik sebagai area pertarungan dalam struktur dan hasil produk media. Pendekatan memandang studi struktural lebih menekankan elemen ideologis secara berlebihan. Padahal isi media dan makna dari setiap pesan ditentukan oleh basisi ekonomi organisasi di mana pesan-pesan itu diproduksi. Contohnya adalah lembaga media komersial, seperti NBC DI Amerika Serikat, ITV dan ABC di Australia, yang disetir oleh iklan dan kebutuhan untuk memproduksi program acara yang menghasilkan rating tinggi dan mereka bergerak untuk mendekati konsensus dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah studi kaum kulturalis. Studi ini berada pada posisi ambigu atau abu-abu karena berada di antara konsep teoritis strukturalisme dengan konsep ekonomi politik. penekanannya terletak kepada kerangka yang berbeda dari pengetahuan yang meng-enkode dan men-dekode sebuah program acara di media. Pendekatan ini dikenalkan oleh Stuart Huall, salah satu pelopor studi Budaya, dalam buku Policing The Crisis (1978). Dia lebih mengutamakan peran ideologis media (The Ideological Role of the Media) daripada pengaruh langsungnya, dia juga menekankan aspek strukturasi kebahsaan dan ideology  serta melihat konsep aktif audiens terhadap pembacaan isi media dan terhadap hubungan antara bagaimana pesan media dibuat, suasana yang diproduksi dan variasi audiens mendekoding pesan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan audiens terhadap distribusi kuasa yang simetris mengarah kepada tiga tipe pembacaan yang berbeda, diantaranya adalah pembacaan dominan yang fokus kepada wilayah mana makna sentral teks ditekankan, kemudian bagaimana makna utama teks dinegosiasikan diterima oleh audiens dan selanjutnya membaca teks dengan cara berlawanan sampai pada makna yang diinginkan, berdasarkan pada bagaimana teks tersebut dienskripsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian analisis yang digunakan oleh para kritikus media—sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, sepatutnya ada yang perlu dipertegas perihal siapakah yang menguasai media karena kesulitan mendasar yang ditemui dalam analisis media adalah ketika mencoba menunjuk “siapa sebenarnya yang berperan sebagai subjek berkuasa” di mana hal ini merujuk pada dua kategori yaitu para pekerja media, atau pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari hal tersebut, paparan data yang ada dan rangkaian pendekatan yang dilakukan studi media dalam buku ini, seolah telah membuktikan tentang kondisi media yang tidak lagi netral dan tidak bisa lepas dari kekuasaan dan cenderung memiliki relasi timbal balik (mutualistik) antara pekerja media dan pemilik modal. Dan persoalan-persoalan tersebut, oleh Ziauddin Sardar, dibahas dengan sangat baik, sistematis dan begitu kritis dalam buku ini yang disertai dengan ilustrasi-ilustrasi menghibur. Selain itu, buku ini juga membedah teknik analisa film secara kritis, dan dekontruksi iklan kaitannya dengan pembentukan opini publik sehingga cukup berbeda dengan buku-buku lain yang bertema serupa. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang memiliki perhatian terhadap praktek kekuasaan yang memengaruhi pemberitaan di media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-2672798499234768074?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/odJ_P17YPfg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/odJ_P17YPfg/mendedah-perilaku-kuasa-atas-media.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SJXdsnT3l6I/AAAAAAAAAOQ/AEnmg5u1bbU/s72-c/Membongkar+Kuasa+Media.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/08/mendedah-perilaku-kuasa-atas-media.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-1878848940440867519</guid><pubDate>Sun, 03 Aug 2008 16:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-03T09:24:38.698-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Kesenian Indonesia Tanpa Nilai Tawar?</title><description>&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SJXbDcb9L5I/AAAAAAAAANk/W_Fb7mJXj5c/s1600-h/Dalam+Sebotol+Coklat+Cair.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp1.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SJXbDcb9L5I/AAAAAAAAANk/W_Fb7mJXj5c/s320/Dalam+Sebotol+Coklat+Cair.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230327394480238482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Dalam Sebotol Coklat Cair; dan sejumlah esei seni&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Penulis  :  Radhar Panca Dahana&lt;br /&gt;Penerbit  : Penerbit KOEKOESAN, Depok&lt;br /&gt;Cetakan  : I, Februari 2008&lt;br /&gt;Tebal   : xxiii + 179 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh : Musthafa Amin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu diragukan bahwa seni memiliki kekuatan untuk melakukan tafsir pada kehidupan melalui satu cara pandang atau mekanisme yang berbeda dari disiplin-disiplin yang lain. Cara pandang yang berbeda inilah yang memperkaya kehidupan, karena dia akan memberikan pemahaman sendiri tentang hidup dan manusia itu. Karena seni itu selalu berbicara tentang hidup dan manusia. Dus, membincang karya seni, kita tidak akan lepas dari sosok pengarang. Karena dari kejeniusan sang author itulah lahirlah beberapa karya seni yang inspiratif dengan artikulasi estetisnya yang menjadi pijakan masyarakat untuk mengenal kehidupan. Sebutlah misalnya Romeo dan Juliet karya William Shakespeare yang tragedi cintanya menjadi karya arketip masa romantisme bahkan sepanjang masa. Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer yang menggebrak tatanan kehidupan kolonial dengan sosok Minke sehingga sosok Pram dibui bertahun-tahun atas “kesalahan”nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melepas sosok Romeo dan Juliet dari Shakespeare, dan Minke dari Pram adalah hal yang mustahil. Sebab mereka adalah bayangan dari karya yang mereka hasilkan. Bahkan ketika ada gagasan the death of the author yang didengung-dengungkan oleh Roland Barthes dan tokoh strukturalis yang lain, kita sangat sulit untuk mengabaikan posisi dan kedudukan pengarang berkaitan dengan karya teksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kemudian yang disebut Michel Foucault sebagai individualisasi ide sehingga sang pengarang memungkinkan menemukan authenticity (keaslian) nya. Authenticity, tulis Foucaut, lebih menekankan kepada peluang sang pengarang untuk mengartikulasikan nilai-nilai otentik kehidupan dan kondisi manusia pada zamannya yang bisa menjadi refleksi bersama. Jadi bukan kepada kepada korelasi pengarang dengan nilai estetis yang dia ciptakan dalam kayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat ironis jika individualisasi ide tersebut mulai bergeser dari nilai-nilai ideal yang diciptakan. Ruang kerja kreatif kesenian yang sepatutnya berkorelasi dengan realitas objektif kehidupan akan menjadi sangat personal dan kadang tidak perduli dengan orde komunal. Hal ini menyebabkan pribadi melonjak harganya dan mengakibatkan proses tawar-menawar dalam seni kian rumit dan kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itulah yang menjadi keprihatinan dan kekecewaan seorang Radhar Panca Dahana dalam buku kumpulan esai keseniannya, Dalam Sebotol Coklat Cair ketika memandang Indonesia dalam bingkai kesenian. Seni yang menurutnya berbunyi sangat lantang hingga dengan dengung yang sangat lembut, ternyata tidak pernah berhasil menawarkan isunya sendiri pada masyarakat luas. Padahal ia tidak lain adalah tawaran yang disodorkan oleh kreatornya pada masyarakat luas sehingga karyanya acapkali menjadi ajang negosiasi dalam arti material maupun immaterial. Seni akan menjadi sebuah karya yang dihargai dan diapresiasi jika ia dapat menerima pengakuan banyak orang. Karena seni yang baik, menurut beliau, adalah yang mendalami hidup dan kehidupannya, yang mampu melahirkan isunya sendiri. Bukan untuk ‘art pour l’art atau just for the art sake, bukan untuk kepuasan diri, tapi juga untuk kepentingan publik. Dengan demikian, publik menerima seni sebagai jalan kontemplatif dimensi sosialnya, yang alternatif, unik dan artistik dan seni tidak menjadi propaganda atau pamflet politik, barang dagangan atau papan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat yang relatif tradisional, dalam arti masih terpengaruhi oleh etika atau adab yang cukup sederhana, kegiatan ekspresional semacam seni tak memiliki banyak konflik dalam pemosisian sosialnya. Berkesenian pada masyarakat ini, yang relasi antara proses-subyektif dan proses-obyektifasinya masih sangat erat, adalah sebuah praktek keseharian dan alamiah, sebagaimana kegiatan-kegiatan hidup lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi akhirnya hadir tradisi lain, yakni tradisi modern yang berasal dari Barat yang mengarahkan seni pada individuasi karya kreatif sehingga pribadi melonjak harganya dan mengakibatkan proses tawar-menawar dalam seni kian rumit dan kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang berisi tawar menawar kesenian ini terbagi menjadi tiga bab. Pada bab pertama, Menawar Seni, pembacaan beliau atas fenomena kesenian Indonesia belakangan ini menghasilkan beberapa kesangsian-kesangsian, kekecewaan dan kritikan. Perilaku kesenian Indonesia akhir-akhir ini, menurut beliau seperti larut dengan momen-momen insidentil dan sering tenggelam dalam satu isu yang tengah panas. Seni yang seharusnya eksploratif dipandangnya menjadi reaktif dan eksploitatif. Peristiwa sakit dan kematian Soeharto, apresiasi terhadap sastrawan legendaris semacam Chairil Anwar dan Taufiq Ismail atau yang peristiwa bencana di Negara sendiri, seperti Tsunami Aceh atau Bom Bali, maupun kasus-kasus sosial yang terjadi pada Palestina, Bosnia, Irak, Reformasi dan lain sebagainya seperti menjadi tema yang laris manis dieksploitasi oleh seni. Fenomena-fenomena yang ada menjadi medium bagi sebagian orang yang ingin menjadi seniman, sebagian menjadi penguat identitas seninya, sebagian mengekor dan selebihnya prihatin. Perilaku kesenian semacam ini harus ditindaklanjuti oleh insan yang bergelut dalam kesenian, agar seni tidak menjadi perangkat yang berduyun-duyun di pesta-pesta bencana, mimbar politik, agama, demo mahasiswa, hingga tema-tema kritis di galeri atau balai seni (hal.10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esai-esai pada bab kedua, Seni Menawar, memperlihatkan kerisauan Radhar atas perlakuan insan kesenian pada seni di Indonesia. Menurut Ketua Federasi Teater ini, nuansa kesenian kita akhir-akhir ini melakhirkan apa yang disebut dengan antagonisme kesenian yang mana dunia subyektif dan obyektif menjadi terbelah. Relasi seniman pun belakangan ini, tulis Radhar, lebih mencurahkan hal-hal yang non artistik dan non estetik seperti soal politik, finansial dan sebagainya. Ironisnya, hal tersebut menyeret seniman-seniman hijau yang masih tumbuh dan belum menampilkan kredonya masing-masing ke arah belenggu narsisme kekuasaan di luar jejaring estetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun begitu, semakin banyak kalangan akademis yang keluar dari disiplin ilmu mereka masing-masing dan beralih profesi menjadi seniman. Sebut saja banyak praktisi pendidikan, politikus, agamawan dan lain sebagainya yang pada awalnya tidak berkecimpung dalam dunia kesenian, mulai berlomba-lomba menciptakan karya seni semacam karya sastra, seni lukis dan musik. Parahnya masyarakat pun begitu mengamini perilaku tersebut. Mereka tidak melihat karya dari kualifikasi atau dari prestasi seorang pengarang namun lebih kepada prestise seseorang. Sehingga banyak karya seni seseorang yang dikenal sebagai seniman yang kalah laku dengan karya seni yang dihasilkan oleh seorang selebrits, politikus dan pemimpin pemerintahan yang nota bene lebih dimengerti oleh masyarakat. Ditambah lagi parlemen seksi kebudayaan yang diisi oleh selebritis, hampir tanpa pemikir kebudayaan di dalamnya. Hal-hal tersebut semakin memperparah “borok” kesenian Indonesia (hlm. 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada bab terakhir, Menawar Seni Tawar, lembaga kesenian tidak luput dari perhatian Radhar dalam mengkritisi kinerja dan perilaku untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian di indonesia. Salah satunya adalah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang dulu dianggap berseberangan Pemerintah Kota Jakarta, menjamurnya beberapa lembaga kesenian serti YKJ (Yayasan Kesenian Jakarta), AJ (Akademi Jakarta), PKJ-TIM (Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki) sehingga membikin carut marut dalam pembagian wilayah kerja. Ketua Bale Sastra Kecapi ini menganggap konflik-konflik yang pernah ada seharusnya tidak perlu terjadi karena yang mereka ributkan bukanlah persoalan kesenian yang esensial dan krusial (hlm. 128). Yang perlu dikaji adalah niat dan ambisi pembentukan lembaga dan konsekuensi yang kemudian diakibatkannya. Di dunia perfilman, Radhar juga menghimbau agar forum dan lembaga—formal dan informal—harus digalakkan agar orang dapat melakukan prosedur analisis korektif yang independen agar mutu perfilman di indonesia semakin berkembang (hlm.152).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini layaknya membaca guratan diari seseorang yang penuh gundah akan nasib kesenian Indonesia. Radhar mencoba menerapkan kembali slogan seni untuk seni dan seni untuk masyarakat yang nilai mulai memudar di pasar kesenian Indonesia. Kesenian yang ada cenderung latah dan tidak ada bedanya dengan pamflet politik, barang dagangan atau papan iklan. Buku ini penuh kritikan-kritikan kritis dan menohok sehingga buku ini cocok bagi kalangan seniman dan juga masyarakat umum untuk lebih memahami kesenian secara kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-1878848940440867519?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/l0ZSUqEplzc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/l0ZSUqEplzc/kesenian-indonesia-tanpa-nilai-tawar.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp1.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SJXbDcb9L5I/AAAAAAAAANk/W_Fb7mJXj5c/s72-c/Dalam+Sebotol+Coklat+Cair.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/08/kesenian-indonesia-tanpa-nilai-tawar.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-2121426655766610162</guid><pubDate>Thu, 26 Jun 2008 19:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-26T12:21:25.703-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Review Karya</category><title>Mashuri, Wayang and The Present</title><description>Name  : Musthafa Amin&lt;br /&gt;ID  : 04320081&lt;br /&gt;Class  : Translation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MASHURI, WAYANG, AND THE PRESENT &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wednesday, 14 March 2007 | 04:34 PM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interactive, Jakarta: ...I’m your son. You gave me tha name Wisranama and I were titled as Danapati also-known-as Danaraja when ruled Praja Lokapala to displace you. I still didn’t understand as far as your love to me. My memory still headed for living tragedy you ever created and burn all of myself and my hopes. Unfortunately, everything has so glorious beginning…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Thus, this is the preface of novel Hubbu by Mashuri, age 31, that won novel competition which was held by Jakarta Artistry Council (well-known as DKJ) 2006. His work outdone other 248 manuscripts and he entitled to gain prominent prize as big as 20 millions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The novel, as the author/writer thought, mixed together the element of Wayang with the present time. “The element which is mixed together is interesting,” said Mashuri that delighted to integrate surrealism, Sufism, and language efficiency in his poem and roman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubbu was originated from Arabic that mean love. This novel told about the journey of Jarot’s life, the pseudonym of character namely Abdulah Sattar. This is story about the background of his family life, love story with his obsession, and inner conflict of his adolescent that made him more contemptible in the world. Then, he left his past and came up from being buried.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mashuri early admitted to entitle his novel Mahabbah. “But it was adhered with Rabiah Adawiyah, female Sufi from Basra, Iraq. I looked for the root, Hubbu because this novel intended to discover the relationship of love, affection and sexual desire,” said Mashuri who go through postgraduate title.  The narration of this novel was gone through over all sorts of point of views and various narrative styles from figurative narration upon Jarot, completed with its perspective.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How do you deliver this novel? Mashuri metaphorically allegorized the creative process of this work resembled to someone pregnant with. He didn’t prepare this work specifically for the competition. “I just look for another shapes of disclosure or expression to compose literature,” said him that admired Sapardi Djoko Damono and Goenawan Moehammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prose and poem was considered to have overbalance and weakness in accommodating inspirations. Poem also coloured this novel. “This is because I go off from poem/because I am originally poet,” said him who’s his singular poetic anthology, Jawadwipa 3003 was read in Faculty of Letters of Airlangga University with theatrical performance, musical instruments and discussion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many Mashuri’s companions considered the novel as Mashuri’s biography because there was a story of student of Indonesian literature of Airlangga University and it had a background of pesantren/Islamic cottage. “I try to avoid the identification that can destruct the wealth of interpretation. This is a fiction though it has a place to stand on,” said alumni of Salafiyah Islamic Cottage Raudlatul Muta’allimin and Islamic Cottage of Ta’sisut Taqwa Galang Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before writing a novel, Mashuri was productive in writing poems, essay, and few short stories that was publicized in some mass media and anthology books. He was also active to write such poems in Javanese (guritan). Now, he is arranging an ambitious novel, Reinterpreting Centini. For Mashuri, writing was an activity that he believed that it made him become accustomed to play with such words and sentences. “I make poem everyday as testimony of life and livelihood,” said Mashuri that acknowledged borrowing this term from senior poet, Herry from Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He did the work of composing literary among his job as newspaper journalist of Memorandum, Surabaya. “Writing is to fill up the life while being journalist is to continue the life,” said ex-caretaker of column Ngaji Sastra in daily newspaper Duta Masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From all of woks he ever made such as poems or novels, the topic that he paid attention was always about sex, love, tradition, and flashback of the past and the present day. “Inside it there is betrayal, secret, and taboo.”&lt;br /&gt;EVIETA FADJAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teks Asli dari Tempo Interaktif&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MASHURI, WAYANG, DAN KEKINIAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 14 Maret 2007 | 16:34 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta: ...Aku putramu, yang kau beri nama Wisrawana dan bergelar Danapati alias Danaraja ketika memerintah Praja Lokapala menggantikanmu, tak juga mengerti, sampai di mana kasihmu kepadaku. Ingatanku masih terpatri pada tragedi hidup yang pernah kau sulut dan membakar seluruh diri dan harapanku. Sayang, segalanya bermula begitu indah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kalimat pendahuluan dari novel Hubbu karya Mashuri, 31 tahun, yang memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Karya itu mengungguli 248 naskah lain dan berhak memperoleh hadiah utama Rp 20 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel itu, menurut penulisnya, mencampur unsur wayang dengan kekinian. "Unsur yang dicampur aduk itu menarik," ungkap Mashuri, yang gemar memadukan surealis, sufi, dan pendayagunaan bahasa dalam karya puisi dan romannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubbu berasal dari bahasa Arab, yang berarti cinta. Novel ini berkisah tentang perjalanan hidup Jarot, nama panggilan tokoh Abdullah Sattar. Ini kisah tentang latar belakang keluarga, kisah cinta dengan obsesi-obsesinya, dan konflik batin masa remaja sehingga membuatnya merasa paling hina di dunia. Lalu ia memenggal masa lalu dan bangkit dari keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mashuri mengaku awalnya ia ingin memberi judul Mahabbah. "Tapi kata itu lekat pada sosok Rabiah Adawiyah, sufi perempuan dari Basra, Irak. Saya mencari akar katanya, Hubbu. Sebab, novel ini hendak menggali hubungan cinta, kasih, dan berahi," ucap Mashuri, yang sedang menempuh pascasarjana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengisahan novel ditempuh dalam berbagai sudut pandang dan gaya penceritaan beragam dari penuturan tokoh terhadap Jarot, lengkap dengan perspektifnya. Bagaimana melahirkan novel ini? Dengan kiasan, Mashuri mengibaratkan proses kreatif karya ini mirip orang mengandung. Ia tidak mempersiapkan karya ini khusus untuk sayembara. "Saya hanya mencari bentuk lain pengungkapan atau ekspresi bersastra," ujar pengagum Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosa dan puisi dianggap punya kelebihan dan kelemahan dalam menampung aspirasi. Puisi juga mewarnai novel ini. "Karena saya berangkat dari puisi," kata pria yang antologi puisi tunggalnya, Jawadwipa 3003, dibacakan di Fakultas Sastra Universitas Airlangga dengan teatrikalisasi, musikalisasi, dan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak rekan Mashuri menganggap novel itu adalah biografi Mashuri. Sebab, ada kisah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga dan berlatar belakang pesantren. "Saya berusaha menghindari identifikasi yang bisa membunuh kekayaan tafsir tersebut. Ini fiksi kendati ada pijakannya," kata jebolan pondok pesantren Salafiyah Raudlatul Muta’allimin dan pondok pesantren Ta'sisut Taqwa Galang, Lamongan, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menulis novel, Mashuri sangat produktif menulis puisi, esai, dan sedikit cerpen, yang dipublikasikan di berbagai media cetak dan buku antologi. Ia juga aktif menulis puisi dalam bahasa Jawa (guritan). Kini ia sedang menyusun novel ambisius, Menafsir ulang Centini. Bagi Mashuri, menulis adalah aktivitas yang diyakini membuatnya terbiasa berselancar di atas kata dan kalimat. "Setiap hari saya bikin puisi. Sebagai kesaksian atas hidup dan kehidupan," kata Mashuri, yang mengakui meminjam istilah ini dari penyair senior Herry Lamongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan bersastra itu dilakukan di sela-sela pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar Memorandum, Surabaya. "Menulis untuk mengisi hidup, sedangkan menjadi wartawan untuk menyambung hidup," ujar mantan pengasuh rubrik Ngaji Sastra harian Duta Masyarakat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua karya yang pernah dia buat, seperti puisi atau novel, tema yang memancing perhatiannya selalu berkisar soal seks, cinta, tradisi, dan kilas balik masa lalu dan kini. "Di dalamnya ada pengkhianatan, rahasia, dan tabu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVIETA FADJAR &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-2121426655766610162?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/reoFncyMhZw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/reoFncyMhZw/mashuri-wayang-and-present.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/06/mashuri-wayang-and-present.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-6242344387405758631</guid><pubDate>Thu, 26 Jun 2008 19:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-26T12:13:23.992-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Review Karya</category><title>Dosa Sang Ayah: Romeo dan Juliet, Sebuah Kisah Pengorbanan Manusia</title><description>Oleh: Clifford Stetner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih Bahasa: Musthafa Amin (04320081)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romeo dan Juliet merupakan contoh kisah cinta yang sempurna di kebudayaan barat. Bagaimanapun, dari pandangan yang cukup berbeda, kisah ini menjadi cerita inspiratif tentang dampak dari kebanggaan, kebencian dan peperangan. Kematian dua anak muda yang saling mencintai menampilkan keduanya sebagai hukuman dan pengorbanan—camkan setting tanah suci dan adanya tanda salib dan darah, seperti halnya masa muda si korban—yang menebus dosa ayah-ayah mereka. Kekuatan tragis pengorbanan yang sangat berharga ini mengalahkan perseteruan keluarga yang membenci satu sama lain dan paling tidak mempertimbangkan genjatan senjata sementara. Jika kita mengangkat topik tentang perang saudara, dan bukan potret tentang cinta ideal yang menjadi tema sentral Shakespeare, maka Montague dan Capulet adalah tokoh protagonis. Permusuhan mereka menentukan tahapan munculnya kejadian fatal yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka. (Permusuhan mereka menjelma menjadi wajah bengis yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebencian antar tokoh senior Verona ditampilkan tanpa menjelaskan asal muasalnya dan langsung ditampilkan tanpa masuk akal (absurd) oleh istri-istri mereka dengan melarang mereka membunuh sesamanya, Lady Capulet yang mencegah suaminya, ‘Kruk, kruk (kayu penyangga)! Kenapa kamu meminta pedang?’ (1,i, 83). Hal ini juga ditampilkan serius oleh pangeran yang menetapkan hukuman mati karena berkelahi di jalanan Verona.  Hal tersebut adalah kecongkakan ayah-ayah mereka yang keras kepala dan penolakan mereka untuk menyampingkan perbedaan mereka, bahkan kemudian penyebab perselisihan seperti dilupakan yang akhirnya berimbas kematian dua kekasih itu. Kesalahan karakter menjadi milik generasi paling tua, seperti halnya dalam tragedi puncak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perilaku ayah Romeo dan Juliet berkenaan dengan setiap perbedaan mereka secara jelas dibandingkan dengan perangai mereka pada keturunannya. Meski pengawasan Capulet pada puterinya menjadi sangat sering dalam satu adegan (3,v,142ff), kesungguhan cintanya pada sang puteri terus berlanjut. Ketulusan dan pengendalian dalam ucapannya, ketika mendapati puterinya meninggal di kamarnya menandakan kedalaman kasih sayang Capulet pada anaknya. (4,v,25ff).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut hanyalah bentuk ketulusan cinta seorang Capulet dan Montague pada anak-anaknya yang memanusiakan mereka dan menghindarkan mereka menjadi tokoh jenaka. Meskipun  hanya perawat yang menceritakan kisah sentimentil penyapihan Juliet dan penurunannya sebagai seorang anak kecil (1,iii,11), gambaran ini memperkuat persepsi audiens tentang karakternya sebagai objek anak muda atas kasih sayang orang tua. Dalam segala hal, di samping kesungguhan cintanya pada Romeo, dia hanyalah seorang anak kecil dan anak yang tinggal dengan orang tuanya (1,ii,14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Paris kali pertama meminta kesediaan Juliet, sangat jelas bahwa ayahnya—seperti pada banyak kasus tentang/yang sering terjadi pada anak perempuan di Eropa pertengahan (dan juga dalam periode romantisme kesusasteraan)—tidak melihat dia hanya sebagai upaya kemajuan sosial. Dia bahkan dia menyatakan bahwa dia lebih cenderung memberikan pilihan pada anak perempuannya yang berusia tiga belas tahun tentang masalah suami. Satu-satunya alasan dia pada kesungguhan sikap liberalnya ini dikarenakan kasih sayangnya pada puterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian Montague pada kegundahan puteranya di permulaan babak (drama) pertama pun menunjukkan kelembutan yang tulus dari pihak ayah yang dia pertahankan sepenuhnya. Dengan membandingkan puteranya seperti ‘tunas yang digerogoti cacing yang cemburu/Kelak dia dapat menyebarkan dedaunannya yang indah ke udara,’ dia membela Benvolio muda, ‘Masih bisakah kita belajar dari mana duka citanya timbul/Kita akan dengan dengan sepenuh hati memberikan penyembuh yang kita ketahui’ (1,I,157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Montague adalah sosok ayah yang melewati standar modern tentang sensitifitas orang tua. Tanggapan dia pada kerusuhan remaja puteranya mungkin berbeda dengan hubungan Henry IV dengan pangeran Hal. Bagian Pertama drama Henry IV dibuka dengan pangeran yang tengah mengalami tahap asusila yang parah. Keluhannya jauh berbeda dari Romeo, tetapi hal tersebut bukan karena kurangnya kedewasaan (sekalipun Hal mungkin lebih tua dari Romeo). Bagaimanapun, ayahnya melakukan pendekatan hubungan orang tua masa Elizabethan yang lebih konvensional, mengingatkan Hal akan tugas filialnya (sebagai seorang anak) dan memintanya dengan tegas agar dia berbuat baik dan berlaku benar (3,ii,4ff).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali masalah tanggung jawab masih sangat relevan/terkait bagi seorang ahli waris singgasana kerajaan daripada pasangan pemuda-pemuda Italia, dan hal ini sebagai alasan bahwa Raja fokus kepada serangan Hal pada dirinya dan reputasinya sendiri. Sementara Montague hanya prihatin terhadap kebahagian puteranya. Setidaknya, hal tersebut adalah tampaknya rasa kasih sayang Montague pada/hal tersebut adalah bukti seorang Montague begitu memanjakan Romeo yang membuat tragedi kematian Romeo lebih sebagai tragedi Montague daripada Romeo. Betapapun, simpulan sempurna seperti apakah yang bisa diharapkan seseorang dari cinta yang sempurna daripada untuk mengagungkan keabadian di sisi sesama? Hal tersebut adalah orang tua mereka yang hancur ditinggalkan dengan hilangnya segala tempat harapan mereka. (1,ii,14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Shakespeare, di balik perang saudara antara Montague dan Capulet, berniat menyajikannya sebagai latar belakang atas gambarannya tentang perjalanan tragis sebuah cinta yang ideal. Atau mungkin dia, di balik kematian dua anak muda, berniat menunjukkannya sebagai konsekuensi tragis dari kebencian yang tak kunjung usai. Dia sendiri adalah kedua pecinta tersebut yang menulis soneta, sekaligus seorang ayah dari anak muda dan dia mampu memaparkan kedukaan setiap tragedi. Barangkali dia paham tema lakon akan berubah ketika kita, sang audiens, bertambah dewasa, ketika kita menjadi kurang yakin bahwa gairah masa muda adalah akhir segalanya dan seluruh eksistensi (keberadaan), ketika kita tidak rela memaafkan Friar Lawrence yang melakukan penipuan pada orang tua Juliet.(4,v,33) Tetapi hal ini akan mengasumsikan bahwa dia menulis demi anak cucu daripada terpenuhinya persyaratan/kebutuhan tahapan Elizabethan. Hal ini ada kemungkinan bahwa dia telah memandang drama sebagai keutuhan organik, dengan tanpa kebencian orang tua pada orang tua, cinta orang tua pada sang anak, maupun cinta sang anak pada anak sebagai hal yang paling utama/tidak ada yang terdepan, baik itu kebencian antar orang tua, cinta orang tua pada sang anak maupun cinta antar sang anak. Seagung-agungnya emosi manusia, ia tidak pernah berlaku di ruang hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shakespeare, William.  ‘Romeo and Juliet.’  Five Tragedies.  Ed. C.H. Hereford. Arden Shakespeare.  London:  D.C. Heath, 1916.  v-235.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks ini adalah salah satu tugas kuliah Translation. Daripada nganggur ku-posting aja, semoga bermanfaat. jika ada terjemahan yang kurang mengena, silahkan dan saya harap koreksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Aslinya di: http://phoenixandturtle.net/papers.html &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-6242344387405758631?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/6M9IIUMnHhQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/6M9IIUMnHhQ/dosa-sang-ayah-romeo-dan-juliet-sebuah.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/06/dosa-sang-ayah-romeo-dan-juliet-sebuah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-7644680654119895794</guid><pubDate>Thu, 26 Jun 2008 17:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-26T10:47:45.471-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Learning History by Fiction</title><description>&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SGPU9XtqvDI/AAAAAAAAANc/NgQctF-acbA/s1600-h/02.JPG"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SGPU9XtqvDI/AAAAAAAAANc/NgQctF-acbA/s320/02.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216246944227834930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Title   : Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC)&lt;br /&gt;Writer    : E. S. Ito&lt;br /&gt;Editor   : Hikmah&lt;br /&gt;Publisher  :  I, Oktober 2007&lt;br /&gt;Number of Pages  : 675 Pages&lt;br /&gt;Language   :  Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the recent fiction world (likely novel, short story and poem), many authors indulged readers’ imagination to ask and to guess. But several author that was skilled to relate his story with glorious famous concept. For example, Dan Brown, the author of popular literary work The Da Vinci Code, was skilled to consugate his construction of story with the life of famous artist, Leonardo Da Vinci. Likewise, Matthew Pearl also wrote his work in relationship with the poet, Dante Alighieri (1265-1321), until he succeed his novel, The Dante Club as famous literary work in the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A novel, Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC), by Es Ito was also based on what Dan Brown and Matthew Pearl had done their works. He presented his novel plot by way of history of trading cartel of Dutch, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) from its beginning, its wealth and its bankruptcy, year 1799. The point of story in this novel told about the hunt of VOC treasure that was began by the arrival of mysterious man to hotel where Indonesian delegations lodged to attend the Round Table Conference (well-known as KMB) of 1949 in Den Haag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Further, Indonesian negotiators had been confronted to difficult choices. Dutch presented section about the diversion of Dutch debt in the amount of 4, 3 billion gulden to Indonesia. Hatta, as one of Indonesian negotiator had compromised with kind of solutions, but other negotiators had no deal at all. Then, there was stranger gave a sheet of worn-out paper to one of delegation. “Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen!” (Accept the negotiation! Indonesia would not lose out!), spoke him confidentially.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;It might be true what he said that Indonesia wouldn’t lose out anything because what stranger gave is secret document that contained the location of gold storage belonging to VOC. Unfortunately, the document was passed away, and it couldn’t be found in documental case of KMB that Indonesian delegation brought.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That was the fundamental problems of the story in this novel. But, the writer did not directly explain about the hunt of treasure that was buried during three centuries. Es Ito, in fact, exposed the story with chain murder cases that leaved some big questions. In more and less five months, there were five human corpses which were invented and they were identified as personages. They were Saleh Sukira (ulama) founded in Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (entrepreneur) murdered in Brussels, Nursinta Tegarwati (member of House of Representatives—DPR) murdered in Bangka, JP Surono (bureaucrat) murdered in Boven Digoel and Nono Didaktika (researcher) murdered in Banda Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Noah Gultom, the reporter of newspaper Indonesiaraya suspected that this was not an ordinary murder. It was occurring five times in the city that was preceded by letter B (Bukittinggi, Brussels, Bangka, Boven Digoel, and Banda Besar). The strange thing was the crime scene was the town that Bung Hatta ever visited, so that, this murder referred to the famous public figure in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As one mystery was not revealed yet, the reader would be surprised with another mystery. Batu was made confused by the kidnapping of Cathleen Zwinckel, the student of Leiden University that was doing research about the history of colonial economy in Jakarta. Before being kidnapped, Prof. Huygens, as the advisor of Cathleen, entrusted her in private research institution, Central Strategic Affair (CSA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The senior editor of Indonesiaraya, Parada Gultom, was also being nowhere. Batu almost confirmed that the power behind these incidents was a clandestine movement that was well-known as Anarki Nusantara (Archipelago Anarchy). Before these incidents happened, actually, the movement leaded by Attar Malaka was also chargeable to be the mastermind of armed attack and building destruction in northern Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By this work, Es Ito freely took the readers to situation of old Batavia during the leadership of Governor, Cornelis J Spellman (1682) and the activity of Monsterverbond (secret alliance that controlled VOC). He also unexpectedly uncovered the invention of underground tunnel (De Ondergrondse Stad) in Museum of History of Jakarta (Museum Fatahillah). The tunnel was predicted to end in the depository of secret document about treasure of VOC which was lost since 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apparently, Batu Noah Gultom was not only ordinary reporter; he was agent of secret military service that infiltrated to Indonesiaraya in order to trace the hiding place of Attar Malaka, who had worked there before being fugitive. When Batu saved Cathleen from kidnapping, he was undercover as police namely Roni, whereas he was Batu August Mendrofa, a military secret agent with code name, Lalat Merah (Red Fly).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actually, Batu already knew the man behind kidnapping of Parada Gultom. He was abducted by Darmoko, ex-military general that was the leader of Omega Operation intending to eliminate every henchman of Anarki Nusantara. Parada was being interrogated to dig up secret information about Attar Malaka’s involvement on armed attacking, destructing some building, chain murdering, and kidnapping Cathleen. So, we could find many conspiracies in the story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ES Ito succeeded to frame the story’s complexity with history of old Batavia in detail. But is it true that the novel could be categorized as historical novel?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though there was no clear definition about historical novel, according Damhuri Muhammad, at least this genre of novel (historical novel) could be identified as literary work that stood on past event. Then, the character, plot, and   the ideas could be traced by historiography. When Ito’s work was approached by this point of view, it was not quite enough to say that this novel was historical novel because the author presented the fact of history as supporting plot such as KMB and the condition of VOC but actually the journey to find treasure and also the treasure itself was difficult to trace it by historiography.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So that, to say the novel was kind of historical novel, likely what opinion in cover said that this was kind of historical thriller novel (novel thriller sejarah) is not appropriate, this was only kind of combination between fiction and supporting fact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on that the historical event as supporting thing, there were two choices for readers, story or history?  Perhaps, it’s admittedly easier for us to build history’s awareness from kind of fiction though the real fact of history in this novel was only being supporting environment. Learning history by fiction was one thing that we could do when learning history from textbook was considered by many people as tiresome memorizing work in education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Musthafa Amin.&lt;/strong&gt; Student of English and Letters Department of Faculty of Humanity and Culture of Islamic State University of Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-7644680654119895794?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/6j_iT37ZPnw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/6j_iT37ZPnw/learning-history-by-fiction.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SGPU9XtqvDI/AAAAAAAAANc/NgQctF-acbA/s72-c/02.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/06/learning-history-by-fiction.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-5411081237799405484</guid><pubDate>Sat, 03 May 2008 17:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-03T10:50:12.949-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Pendek banget</category><title>Zinah</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SByknxF3DWI/AAAAAAAAANU/vjCad2mOC6s/s1600-h/0000pleaseluvmee.jpg"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SByknxF3DWI/AAAAAAAAANU/vjCad2mOC6s/s320/0000pleaseluvmee.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196209073178479970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Gila, kau mau dirajam?!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Aku mengangguk pasti. Keputusanku sudah bulat. Alasanku bertanya pada Sahir, temanku dari Lamongan, hanya sebagai pemerkuat saja. Segala cerita keluh kesah yang aku sampaikan, hanya agar dia mengerti bahwa ia hanya sebagai pendengar setia. Aku tidak butuh dia menyarankan hal lain yang berseberangan denganku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;“Aku tidak tahan dengan ini, hir. Batinku melemah. Aku telah melanggar syariat. Sial!” gerutuku tak pasti. Menyesakkan, mengetahui bahwa aku melakukan zinah. Seumur-umur aku hidup, hanya dua perbuatan yang paling aku hindari dan tak ingin aku lakukan, mabuk dan zinah. Pengetahuan agamaku memang tidak begitu mendetail seperti kyai-kyai dan penceramah di televisi. Tetapi, bagi aku yang sejak kecil hingga lulus SMA hidup di lingkungan pedesaan, yang rimbun dengan kultur keagamaan, membuatku cukup mengerti mana hal yang halal dan haram, mana yang dosa kecil dan dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dari mana kamu tau kalau kamu benar-benar berzinah.” Lagi-lagi Sahir masih menyangsikan ceritaku. Ini kali ketiga Sahir menanyakan hal yang sama. Menurutku, sebenarnya ia ingin melarangku melaksanakan hukum rajam, tapi dia mengerti tabiatku. Jika seorang Hasanuddin sudah berucap dan menginginkan sesuatu, tak ada seorang pun sanggup menghalangi. Ucapan akan dibalas ucapan, bahkan meninggi. Tindakan pun dibalas tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kau tidak tau rasanya menjadi aku. Sumpah, erangannya masih jelas kudengar. Basah kulitnya masih licin kurasa. Perempuan itu seolah pasrah kunikmati malam itu. Aku sendiri heran, aku tidak kuasa menolak untuk menindihnya. Orang macam apa aku ini hir.”  Kurebahkan tubuhku di sofa. Mataku memejam. Ingin kutenggelamkan tubuhku dalam kelembutan sofa ini. Menghilangkan segalanya agar dosaku semakin tenggelam bersama keberadaan yang mengabur. Oh, sedimikian laknatkah aku di pandanganmu, Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat-ingat lagi San, siapa tahu itu bayanganmu saja. Kau khan sendiri cerita, pagi kau terbangun, tak ada seorang pun di ranjangmu, yo opo sih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih tidak percaya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan masalah percaya atau tidak. Di sini kota bung, meski kamu memang melakukannya, takkan ada yang mau merajammu. Paling banter, kamu akan disuruh tobat. Disuruh semakin mendekat pada Tuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi,” sangkalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mbok ya ada-ada aja San, maen rajam saja, bisa melepuh kulitmu. Atau kau bisa mati. Apa kata orang jika kamu mati dirajam. Bukannya dihormarti, tapi malah diejek, dicaci. Urusan sekecil itu kok pingin mati, begitu anggapan orang-orang nantinya sama kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam hir, kalau tidak mau membantu, gak usah berceramah di depanku. Berengsek kau!” Makiku kesal. Bukannya membantu, dia malah menganggap masalah ini kecil. Dia anggap apa Tuhan. Kalau hukuman zinah rajam, ya rajam. Tidak perlu diperkeruh dengan tawaran lain. Kubanting pintu rumahnya, sempat kudengar dia memaki-maki kotor ketika kumelangkah keluar. Ketakutanku pada azab zinah di akhirat membuatku enggan melayani umpatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejuk sore ini kurasakan gerah. Polusi kendaraan dan bau-bau menyengat di kota ini semakin memperkeruh pikiran. Aku ingin pulang ke kamar. Mencoba cara lain agar bisa dihukum rajam. Bagaimanapun, aku harus menebus dosaku ini. Jika tidak, kelak aku tidak bisa menikmati indah sorga, mencicipi manis madunya, yang dijanjikan nabi, bercanda dengan bidadari cantik nan rupawan dan kenikmatan lainnya, seperti yang diajarkan guru-guru agama di pengajian kampung. “Yah, besok aku akan pergi ke tokoh agama di sini, mau tidak mau, besok aku sudah harus dirajam. Purna sudah gelisahku jika begitu. Daging ini menjadi lembek seperti daging babi, kujilat-jilat seperti anjing. Tulang-tulang ini, yang syahdan menciptakan Hawa, kupandang najis dan jijik. Berkali-kali aku menelan ludah. Sanggupkah aku melewatkan dua puluh empat jam ke depan. Bagaimana jika Izrail datang. Sanggupkah aku menolak kehendaknya sementara aku masih kotor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kring…Kring…Kring…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon rumah berdering, mengagetkanku dalam tidur. “Ah, tengah malam seperti ini, gak ada kerjaan apa,”gerutuku. Segera kuangkat telepon itu dan kuserapahi dia karena menggangguku malam-malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, aku hamil”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamil…ini siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, jangan sok lupa begitu. Waktu di hotel dulu, masak kamu gak ingat. Aku khan sudah bilang, pakai kondom. Tapi kamu sendiri bilang, jika ada apa-apa kamu bakal tanggung jawab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ngaco kau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubanting telepon itu. Sialan, perempuan itu, tau dari mana nomorku. Seingatku, tak pernah kuberikan nomor rumahku pada siapapun, hanya pada teman kerja. Jangan sampai dia terus menghubungiku, apalagi menemuiku. Sial…urusan ini bukan privat lagi. Meski, aku dirajam percuma, dosaku masih melekat jika perempuan itu masih hidup dengan orok darahku. Segumpal awan hitam mengarak di kepalaku. Membenamkanku dalam gelisah. Tak bertuan, kemanusiaanku kini tiada arti. Di hadapan Tuhan, aku tidak berguna. Di muka manusia, wajahku mulai menyerupai anjing hitam kudisan. Dulu, aku begitu disayang, sebentar lagi akan dipandang najis dan jijik. Kepala-kepala orang yang tidak kukenal menyeruak awan gelap itu. Semuanya menertawakan kebodohanku. Semua wajahnya asing. Sebagian dengan anatomi wajah tak lengkap. Dengan ejek, seorang tanpa hidung dan telinga berseru, “San, kau itu goblok ya. Kenapa tidak kamu bilang iya, aku bertanggung jawab. Toh, dengan begitu pelacur itu akan bungkam. Perkara dia mencarimu, la wong dia tidak ngerti alamatmu. Goblok kamu. Hahaha,” beiringan wajah-wajah itu menertawai kebodohanku. Urusan dosa seperti ini, yang hanya dua belah pihak saja yang tahu, mengapa harus dihukum dan dipertontonkan di depan umum. Lebih baik meminta ampun saja. Tuhan khan maha pemaaf. Mereka menyerangku lewat makian dan cemoohan. Aku tak bisa mengelak. Aku kerdil. Waktu itu aku buntung, yang tersisa hanya kupingku, yang semakin memerah mendengar suara mereka. Ah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku bersimbah peluh, aku meringis dan beringsut dari tempat tidur. Untung hanya mimpi, meski sebenarnya bunga tidur ini begitu menyiksa laksana alam nyata. Bagaimana jika itu memang benar kenyataan: realitas yang kualami bersama kasur, bertelungkup bantal. Sial, mimpi itu ternyata masih mengejarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir subuh, pikirku setelah melihat jam dinding. Sela beberapa menit di kekalutanku di ranjang, suara adzan di musholla sebelah bergema nyaring. Heran, ajakannya aku rasakan ejekan. Lantunan pengakuan itu kudengar seperti menegaskan bahwa apa yang aku perbuat patut mendapatkan hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan janganlah kamu mendekati zina”&lt;br /&gt;“Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.&lt;br /&gt;“Dan suatu jalan yang buruk” 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arrghhhh….aku berteriak mendekati kematian. Aku ketakutan setengah mati. Dinding-dinding mulai bersuara. Awalnya sudut-sudutnya saling berbisik. Selanjutnya mereka semua tertawa, menyaksikan aku yang mulai kehilang kesadaran. Nyaring sekali mereka menertawakanku. Aku harus melakukannya sekarang, tegasku. Tidak ada waktu lagi sebelum aku gila. Waras saja aku kewalahan menunaikan tuntutan ini, apalagi gila. Aku harus…harus…melaksanakannya. Sekarang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumahan di sudut kota Malang, hari itu geger. Seorang pengusaha tewas mengenaskan di depan rumhanya. Tubuhnya tergeletak bersimbah darah di jalan kecil perumahan. Punggungnya penuh dengan deraan yang mirip dengan sayatan-sayatan pedang. Tangan kanannya menggenggam buku agama. Di depannya, batu-batu yang dia kumpulkan masih utuh, tidak berserakan. Sepertinya Hasanuddin baru sadar, dia belum menikah. Masih perawan sehingga dia tidak perlu melakukan rajam, cukup dengan lima puluh cambukan. Atau barangkali dia sudah tahu, sehingga dia ingin melakukan semuanya, dirajam, dicambuk dan dilihat banyak orang. Tidak ada yang tahu peristiwa itu dengan sebenarnya. Masyarakat hanya menduga, Hasanuddin kembali gila. Memang, jauh sebelum dia jadi pengusaha sukses, dia pernah gila. Sering mengamuk-ngamuk di lingkungannya. Kadang, dia melempari masyarakat yang sedang berjudi di perumahan itu. Memukuli orang-orang yang mabuk-mabukan di pinggir warung. Namun setelah dia dirawat di RSJ kota sebelah, dia berangsur-angsur pulih. Sekembalinya, dia mulai ramah kepada penduduk, selalu mengajak mereka melakukan hal-hal baik. Usahanya pun mulai berkembang dan menjadi salah satu pengusaha sukses dan terkenal. Bersama Sahir, seorang koleganya dan juga sahabat, keduanya berhasil meningkatkan perkembangan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada rintik hujan yang menemani kepergian Hasanuddin pagi itu. Di musin penghujan ini, di ceruk-ceruk jalan berlobang diperumahan tidak nampak kubangan-kubangan air hujan. Hanya di depan rumah Hasanuddin yang jalannya tergenang, dipenuhi darah yang merembes segar dari punggungnya. Darahnya bercecer dari dalam rumah. Warga banyak yang tahu kematiannya ketika diteriaki petugas musholla. Di balik adzan yang bertalu subuh tadi, hanya dialah yang menghuni musholla di pinggir rumah Hasanuddin. Mendengar teriakan dan raungan Hasanuddin, dia bergegas mencarinya. Dengan sekumpulan kerikil-kerikil tajam dibungkus plastik hitam dia berseru ke petugas musholla itu, “Rajam aku, rajam aku, bangunkan warga, bangunkan warga”. Setelah itu dia menggelepar laiknya ayam sembelihan. Petugas musholla itu hanya tercekat diam. Serentak kemudian dia berlari dan membangunkan semua warga. Kerumunan warga seketika mengitari Hasanuddin. Namun dia sudah tak bernyawa dan membujur kaku dengan buku agama yang masih dia genggam erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata zinah di media hari itu. Semuanya tertulis dengan jelas dengan menyatakan berita pengusaha yang bunuh diri karena gila. Kejadian yang sebenarnya, upaya penghukuman diri karena zinah tidak terbeber di paragraf demi paragraf. Rahasia itu terkunci rapat di permukaan jalan, lokasi kematian Hasanuddin. Warga pun demikian, cibiran dan kesinisan menyertai kepergian Hasanuddin ke alam lain. Seorang gila pantas mati agar tidak menularkan kegilaan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahir hanya termangu melihat tubuh sahabatnya yang ditutupi kain kafan. Dia turut menyertai penguburan Hasannudin yang hanya ditemani segelintir orang dan petugas musholla itu yang menjadi pembaca talqin. Pikirannya menerawang, mengembara ke masa lalu. Malam itu, di hotel dia menyaksikan sendiri ketika Hasanuddin menolak menerima pelacur yang disediakan panitia kongres pengusaha kala itu. Dia menolak mentah-mentah dan mengunci pintu kamarnya. Sementara Sahir menerima suka rela suguhan pelacur yang disediakan.  Ditambah pelacur untuk Hasanuddin yang dia gunakan juga. Di sela-sela kenikmatan tidak terkira, dia sempat dengarkan teriakan Hasanuddin yang bertempat di samping kamarnya. Teriakan yang jelas bercampur igauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit masih cerah dan awan-awan bearak beriringan. Harapan Sahir agar hujan membasahi pekarangan terakhir kandas seiring petugas musholla itu menyelesaikan talqin dan balutan tubuh Hasanuddin mulai tertutup tanah sejengkal demi jengkal. Sementara langit tidak pernah bergelayut mendung hingga petang. Kota malang memungkasi hari itu dengan taburan aroma kematian yang berbau sangit dan penuh kejanggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 18 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;Al-Qur’an Surat Al-Israa Ayat 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-5411081237799405484?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/WN4aO9Tv1Nc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/WN4aO9Tv1Nc/zinah.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SByknxF3DWI/AAAAAAAAANU/vjCad2mOC6s/s72-c/0000pleaseluvmee.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/05/zinah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-8324614535577228395</guid><pubDate>Sat, 12 Apr 2008 20:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-12T13:21:53.299-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Resensi</category><title>Warisan dari Guru Kehidupan</title><description>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img src="http://bp2.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SAEYgrqtkgI/AAAAAAAAANM/7x0pmC66a-Y/s320/0604kunt.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188455195464274434" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Penjelasan Sejarah (Historical Explanation)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Penulis: Kuntowijoyo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Penerbit: Tiara Wacana Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="right"&gt;Cetakan: I, Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Tebal: 179 Halaman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sejarah sering diwarnai oleh persoalan bagaimana laiknya sejarah itu dibaca dan dipahami, termasuk pula pada persoalan data, perbedaan cara penafsiran, dan variasi metode dalam pengajaran sejarah. Tak heran bila di kalangan sejarawan Yunani Kuno, ada pepatah yang mengatakan "sejarah adalah guru kehidupan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh eksistensialis sekaliber Nietzsche pernah pula membincangkan signifikansi sejarah bagi kehidupan manusia. Kendati dengan mengkonsumsi sejarah terlalu banyak, tulis Nietzsche, bisa menyebabkan gejala historische krankheit (sakit sejarah). Nietzsche berusaha menyinambungkan sisi historis dan non-historis dalam kehidupan manusia. Ada dua kesadaran sejarah yang harus dilakukan untuk hidup yang lebih baik, kesadaran atas peristiwa masa silam dan kesadaran yang dibangun dengan melupakannya (Sunardi, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka atas dasar pemikiran itulah, dalam dunia disiplin sejarah, kita berutang budi kepada almarhum Kuntowijoyo (1943-2005). Dua buku mengenai sejarah karya beliau sebelumnya, Pengantar Ilmu Sejarah (1995) dan Metodologi Sejarah (1994), menempatkan beliau sebagai tokoh pengembang dalam pendekatan memahami sejarah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kini kembali hadir buku karya Kuntowijoyo. Buku ini terbit selang tiga tahun beliau meninggal. Bersama dua buku pendahulunya, buku Penjelasan Sejarah ini merupakan paripurna dan kesatuan karya, suatu trilogi penjelasan almarhum tentang ilmu sejarah. Buku ini pada dasarnya, merupakan pembahasan lebih lanjut dari buku Metodologi Sejarah. Jika pada buku Metodologi Sejarah Kuntowijoyo lebih menekankan pada segi pembicaraan yang berhubungan dengan kerangka berpikir konseptual, pendekatan, sumber-sumber sejarah, jenis kajian sejarah, maka di buku ini, pembahasan Kuntowijoyo lebih berpusat pada aspek teori sejarah, yaitu historical explanation theory (teori penjelasan sejarah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuntowijoyo melakukan review kritis atas karya sejarawan dunia. Terhitung ada kurang lebih 60 sumber bacaan, dari penulis dalam negeri dan luar negeri, yang dikaji guna menjelaskan delapan tema sub bab bahasan paska menguraikan hakikat sejarah di bab pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sembilan bab yang disusun oleh Kuntowijoyo di buku Pendekatan Sejarah, yaitu (1) Penjelasan Sejarah, (2) Periodisasi, (3) Kausalitas, (4) Analisis Struktural, (5) Paralelisme, (6) Generalisasi Sejarah, (7) Sejarah dan Teori Sosial, (8) Kuantifikasi, dan (9) Sejarah Naratif. Jika didasarkan pada jumlah sumber bacaan pada tiap bab, Kuntowijoyo setidaknya menggunakan paling banyak 11 sumber bacaan untuk satu tema (bab kausalitas) dan paling sedikit adalah bab kuantifikasi dan bab sejarah naratif dengan 5 sumber bacaan per bab (hal. vii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kecermatan Kuntowijoyo atas kekayaan data di buku ini, bisa dilihat dari tokoh-tokoh yang menjadi bahan review beliau untuk menjelaskan sejarah. Nama-nama sekaliber Clifford Geertz, Takashi Shiraishi, Benedict R OG Anderson, Sartono Kartodirdjo, Parakriti T Simbolon, dan Djoko Suryo menjadi sumber review untuk menjelaskan sejarah secara teoretis dan aplikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai review pada bermacam karya, Kuntowijoyo memaparkan dengan ajeg dimensi teoretis dan metodologis. Penyair, Sejarawan, dan Cerpenis ini menguraikan pokok-pokok sejarah dengan ciamik dan sederhana. Secara implisit, Kuntowijoyo sanggup meracik mesra hakikat penjelasan sejarah yang diperbincang-debatkan selama tiga dekade pada abad XX oleh kaum positivis dan kaum idealis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebuah penuntasan karya seorang Kuntowijoyo tentang sejarah. Peninggalan sejarah yang sangat bermakna untuk masa depan. [&lt;strong&gt;Musthafa Amin&lt;/strong&gt;, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat di Muat di Koran Suara Pembaruan edisi Minggu, 06 April 2008&lt;br /&gt;URL: &lt;a href="http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/06/Buku/buku02.htm"&gt;http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/06/Buku/buku02.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks untuk Mas&lt;a href="http://aliusman.wordpress.com/"&gt; Ali Usman&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-8324614535577228395?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/ReIlZIVY7co" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/ReIlZIVY7co/warisan-dari-guru-kehidupan.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp2.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/SAEYgrqtkgI/AAAAAAAAANM/7x0pmC66a-Y/s72-c/0604kunt.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/04/warisan-dari-guru-kehidupan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-3175359408504735125</guid><pubDate>Sat, 05 Apr 2008 17:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-05T10:08:29.203-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Pendek banget</category><title>Kisah Hamil Perempuan</title><description>Sore itu, tanpa mengeluh, perempuan bermata lembut itu memandang kandungannya dengan penuh kasih sayang. Dibelainya perut buncitnya dengan lembut. Matanya nanar melihat hamparan pasir yang menjulang luas di hadapannya. Debu bergulung-gulung, menjejaki pasir bagai timbunan-timbunan berombak. Kematian suaminya sewaktu berdagang ke Syiria, masih membuatnya trauma. Wajah suaminya yang rupawan masih membekas di pikirannya. Tiupan angin disertai lantunan pasir beterbangan masih segar memperlihatkan wajah sang suami ketika berpamitan. Kepergian itu menjadi tragedi. Dia sakit dan meninggal. Pupus sudah harapan mengasuh anaknya bersama. Mengajari buah hatinya beribadah kepada Latta dan Uzza dan menjadi abdi Ka'bah yang setia. Dengan sesunggukan, dia merasakan gerakan-gerakan dari cabang bayinya. “Ah, kau takkan merasakan kehangatan seorang ayah, anakku,” pikirnya miris. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perempuan bermata lentik masih terus memikirkan nasib anaknya, beban pikirannya semakin menumpuk. Bagaikan badai pasir, persoalan-persoalan itu muncul laiknya titik pasir yang bergerombol menyerang. Kabilah yang tiada kekuatan, tentu menjemput ajal dengan nafas pasir merendam. Kehilangan suami bukanlah satu-satunya masalah. Ia masih khawatir janin yang dia kandung berkelamin perempuan. Dia sendiri heran, kenapa dirinya masih selamat kala bayi dulu. Dia hanya beranggapan, sebagai keturunan langsung bani Zuhra yang menyelamatkan waktu itu atau barangkali kedua orang tuanya masih hidup saat melahirkannya. Entah. Hingga kini, kakak-kakak iparnya masih begitu taat dengan simbolisme tradisi itu. Wanita adalah aib, tidak berguna dan lemah. Melahirkan perempuan adalah melahirkan sampah. Ketimbang mengotori rumah, lebih baik dipenggal dan dikuburkan dalam-dalam di tanah. Kini, dia hanya mengharap anaknya adalah laki-laki, semoga bukan perempuan. Siapakah yang melindungiku jika ia berkelamin sama dengannya, sementara suaminya tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam itu entah semakin menghitam. Sedikit bintang bertebaran menjadi tenggelam dilahap kekuasaan gelap malam. Jibril baru saja pergi. Dengan sayap agungnya, sekali kepak, dia menghilang. Tak nampak di permukaan, seperti bersembunyi di balik bintang yang sesekali mengerdip. Perempuan itu masih tertegun. Dia masih belum percaya kejadian sepersekian menit itu. Percakapan dengan Jibril masih lekat di benaknya, “Sesungguhnya Allah telah memilihmu dan mensucikanmu dan memilih kamu melebihi perempuan-perempuan di dunia.(1)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Benarkah ini seperti yang Dia ucapkan. Amanah apa yang akan ditimpakan padaku, seorang putera?” Tanyanya dalam hati, tidak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tidakkah kau ingat kisah ayah angkatmu sendiri?” ucap Jibril. Wajahnya tanpa ekspresi. Tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Diam. Seketika kamar itu terbungkam. Suara-suara malam sejenak berhenti berhilir mudik di luar rumah. Ayah angkatnya, di saat umurnya mencapai satu abad, setelah menunggu lama, akhirnya memperoleh keturunan. Sungguh mengherankan dan tidak masuk akal. Di umur tua, saat sistem reproduksi mulai melemah, ibu angkatnya hamil dan memberikannya saudara angkat. Sekarang, dia akan dipinta melakukan hal yang sama. Namun, sungguh kali ini berbeda. Janin siapa yang akan kukandung? Memang, sungguh aku damba memiliki buah hati yang akan kujaga setiap hari. Melihatnya tumbuh besar. Bermain dengan kawanan kecilnya. Memandangnya menangis ketika tidak bisa memanjat pohon kurma dengan baik. Ah, tangisannya merupakan kebahagiaan tersendiri. Tetapi mungkinkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semakin lama, kandungannya semakin membesar. Tinggal menunggu hari hingga ketubannya pecah. Perempuan itu semakin gelisah. Khawatir, terjadi apa-apa dengan kandungannya. Bayangan-bayangan masa lampau dan keluarganya menekannya. Kadang-kadang, amanah ini begitu berat ia emban. Jikalau untuk dirinya sendiri, barangkali dia masih mampu bersabar. Namun faktor keluarga dan masyarakat sungguh memusingkan dia. Harapan dan kekhawatiran dibunuh masih memberatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di sela kebingungannya, dia pun mengambil keputusan. Malam itu, kala manusia lelap dalam hening kegelapan, dia menyingkir ke tempat yang jauh. Ia hanya ingin anaknya lahir dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa hari kemudian, di sisi batang pohon kurma, perempuan itu menjerit hebat. Suaranya ditelan kekosongan dan bersemai dengan gema. Rasa sakit menjulur hebat dari sekujur tubuh. Dia menggetar hebat, menggelinjang dengan peluh berurai. Sumbernya berasal dari perutnya, tetapi sakitnya terasa ke seluruh tubuh. Kaku. “Aduhai, sekiranya aku mati sebelum ini, jadilah aku barang yang dilupakan sama sekali (2),” pekiknya pelan. Keheningan malam itu kembali pecah. Namun bukan jeritan, namun tangisan bayi. Sang bayi bergerak-gerak di samping ibunya. Sang ibu tak kuasa berkata. Rasa syukur dia panjatkan lewat senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Laki-laki tampan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Benar, maha kasih tuhan, puteramu mirip dengan ayahmu. Nanti dia bakal menjadi pemuda tegap dan berparas tampan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku sepakat denganmu paman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di pinggir sandarannya, perempuan berbulu mata lentik itu menatap sang putera dengan penuh cinta. Habis sudah segala kekuatirannya. “Dia pria suamiku. Dia mirip denganmu. Hidung mancung, rambut hitam dan mata yang tajam menawan. Tentu khan banyak wanita tergoda. Coba kau masih di sini, menemaniku menimang dia.”Gegap gempita keluarga itu merayakan kelahiran seorang putera. Sang kakak ipar sendiri merayakannya dengan memotong beberapa ekor kambing. Penuh syukur dia mencium dahi sang anak dari saudaranya. Entah, apa yang akan dia lakukan dan semestinya dia rayakan jika saja keponakannya adalah perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kuberi nama engkau Isa, wahai calon pmimpin bangsa Israel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nama yang diberikan cukup mencengangkan khalayak. Karena nama tersebut belum lazim digunakan oleh bangsa arab apalagi di bani mereka. Sang kakek hanya tersenyum penuh harap ketika melihat cucunya. Pikirannya seperti menduga, dia mempunyai keturunan yang luar biasa dan akan dikenang sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keramaian pesta itu berpuluh-puluh tahun kemudian akan menjelma menjadi pertikaian. Keakraban itu beralih menjadi permusuhan saat keyakinan mulai berbeda. Sementara diamnya bayi malam itu karena jejak kaki ibunya yang memancarkan air kehidupan, sanggup menghempaskan dahaganya. Kelak, dia akan difitnah, dipancung, disalib dengan luka penuh simbol di balik wajah pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)Al-Qur’an Surat 03 Ayat 41.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Sepenggal ayat 22-23 Qur'an Surat 19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-3175359408504735125?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/Mp8WZaVDlcQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/Mp8WZaVDlcQ/kisah-hamil-perempuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/04/kisah-hamil-perempuan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-1661553764882160442</guid><pubDate>Sat, 08 Mar 2008 15:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-08T07:54:51.250-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cita Rasa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian Bebas</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Review Karya</category><title>JEJAK KELAS</title><description>&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;img src="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/R9K10TWX4iI/AAAAAAAAALg/eNVsgG9XeVM/s320/karl+marx+copy.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175398831954059810" /&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br/&gt;Dulu, Karl Marx berbicara tentang dualisme kaum Proletar dan Borjuis. Pertentangan yang hingga kini masih hangat diperbincangkan. Dua kubu kelas yang saling bertentangan tersebut saling bertarung merebut dominasi. Lumrahnya, Proletar selalu dikenal dengan sang Tertindas dan Borjuis adalah sang penindas, dengan bekal modalnya.&lt;br/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br/&gt;Marxisme mengalir. Membuncah di permukaan. Berlanjut kemudian, paham-paham baru bermunculan sebagai pelanjut, pemelihara, pengembang dan penolak tesis tokoh bercambang lebat tersebut. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jauh sebelum itu, dalam Buddhisme telah lama berkutat dengan jeda kelas bernama kasta. Empat kasta itu adalah representasi sosial masyarakat. Ujung-ujungnya sama, dominasi sang kelas atas. &lt;br/&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;Aforisme “Liar”, yang kuat yang menang, bagi kebanyakan orang selalu identik dengan perilaku binatang. Siapa yang mendominasi, menguasai hutan. Laiknya dunia binatang, manusia pun begitu. Penguasa selalu menindas meski dengan dalih berbeda, kebijakan, regulasi, perintah, hingga eksekusi. Walaupun aforisme itu merujuk pada binatang, toh pada kenyataannya, lebih sesuai dengan perangai manusia. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Singa adalah Raja Hutan. Dialah sang penguasa dunia liar itu. Tetapi ada yang mencurigakan. Mengapa bukan manusia yang disebut Raja Diraja Hutan, padahal jika manusia berada di sana, tentu dia lah yang paling berkuasa. Meskipun, tidak ada jaminan, kawasan yang ditinggali manusia adalah belantara hutan yang lebih luas, berbelukar, penuh duri dan jebakan alam. Ah, manusia memang pintar mencari alasan dan menggelarkannya di leher orang lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cukup tentang itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Soekarno, bereksperimen dengan Demokrasi Terpimpinnya. Beliau dengan keras menolak, teori pemerintahannya ini memindai asli eksperimen Lenin dan Stalin. Masyarakat Indonesia majemuk, dan tidak hanya bisa dikategorikan dengan dua kelas saja. Sehingga dia tetap bersikukuh model demokrasi yang dia rancang murni dan bersih dari nilai komunisme barat. Itu Soekarno, yang meracik bumbu komunismenya sendiri. Dia pun tidak melupakan ada kelas lain dalam Indonesia yang juga perlu dijadikan ancang-ancang peletakan konsep. Kaum agamis, itulah salah satu pondasi Soekarno. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;(Intermezo)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sayang. Kita begitu menyanjung kebebasan. Kita mengangungkan demokrasi. Tapi kita larut dalam serangan halus Kelas. Perbudakan, dominasi fisik, dominasi Jender, bisa disebut usang jika berkaca pada tumpukan referensi yang membukukan itu. Penolakan liberalisme, kapitalisme dan materialisme juga begitu, masih muncul dengan sinismenya yang telah berumur ribuan tahun.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dari kesemua hal tidak berguna yang aku kemukan, aku pikir aku terlalu jauh memikirkan hal itu. Aku hidup di kawasan feodal. Kawasan yang menurutku, lahan subur penindasan dan dominasi. Bagi sebagian orang, kehidupan pesantren tidak berguna. Perhormatan pada kyai itu omong kosong. Merendahkan sekali mencium tangan orang lain. &lt;br/&gt;Ah, itu kata orang yang tidak pernah merasakan kehangatan. Sisi feodalisme kyai dan pesantren itu hanya bumbu. Sebuah pelengkap dari kehidupan sebenarnya. Kenikmatan paling sempurna dari hidup adalah menikmati keadaan tertindas. Senang dalam dominasi. Tunduk pada jejak kaki di atas kepala kita. Menikmatinya bagi beberapa orang adalah pelecehan, perendahan martabat. Padahal hal ini lebih nikmat daripada tertindas tetapi tidak mengetahui. Bersipongah berkuasa padahal tunduk pada dominasi kasat mata.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Nikmati Hidup, itu saja!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Catatan Tak Berguna. Delete Saja!!!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-1661553764882160442?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/H8JnGK2f5yQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/H8JnGK2f5yQ/jejak-kelas.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/R9K10TWX4iI/AAAAAAAAALg/eNVsgG9XeVM/s72-c/karl+marx+copy.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/03/jejak-kelas.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6937467054665575386.post-5238618551607299084</guid><pubDate>Sun, 02 Mar 2008 18:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-02T10:49:45.232-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Untaian</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Review Karya</category><title>Sajak Sastrawan Jerman</title><description>&lt;DIV align="left"&gt;&lt;DIV align="left"&gt;&lt;A onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/R8r2NOnMQ1I/AAAAAAAAAKk/yPPAp8lG5_s/s1600-h/rilke_550.jpg"&gt;&lt;IMG src="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/R8r2NOnMQ1I/AAAAAAAAAKk/yPPAp8lG5_s/s320/rilke_550.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173217829109646162"&gt;&lt;/A&gt;&lt;br /&gt;&lt;DIV align="left"&gt;&lt;STRONG&gt;You who never arrived&lt;/STRONG&gt;&lt;br /&gt;&lt;/DIV&gt;&lt;br /&gt;You who never arrived&lt;br /&gt;in my arms, Beloved, who were lost&lt;br /&gt;from the start&lt;br /&gt;I don't even know what songs&lt;br /&gt;would please you. I have given up trying&lt;br /&gt;to recognize you in the surging wave of the next&lt;br /&gt;moment. All the immense&lt;br /&gt;images in me--the far-off, deeply-felt landscape,&lt;br /&gt;cities, towers, and bridges, and un-&lt;br /&gt;suspected turns in the path,&lt;br /&gt;and those powerful lands that were once&lt;br /&gt;pulsing with the life of the gods--&lt;br /&gt;all rise within me to mean&lt;br /&gt;you, who forever elude me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You, Beloved, who are all&lt;br /&gt;the gardens I have ever gazed at,&lt;br /&gt;longing. An open window&lt;br /&gt;in a country house--, and you almost&lt;br /&gt;stepped out, pensive, to meet me. Streets that I chanced upon,--&lt;br /&gt;you had just walked down them and vanished.&lt;br /&gt;And sometimes, in a shop, the mirrors&lt;br /&gt;were still dizzy with your presence and, startled, gave back&lt;br /&gt;my too-sudden image. Who knows? perhaps the same&lt;br /&gt;bird echoed through both of us&lt;br /&gt;yesterday, separate, in the evening...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;FONT&gt;&lt;STRONG&gt;Rainer Maria Rilke&lt;/STRONG&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Review seorang Cindira Montoya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;FONT class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;You who never arrived...a review on rilke's situation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;the mirror game,the seek for god or the other is a constant in rilke's work.Me the far off is also a synonym to God,and to Rodin too,whom rilke thought as his friend,his other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am the seeker,and there is no place to be found,to be passive in the sence of becoming someone else's object.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This who never arrived,could be the beloved,or the hidden being,the waiting that reminds me of myself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The passive voice in rilke is an imagination of the self in the place of his desire,and this what I am the far off that is also out of seek,is the one that departed,from the inner point,to a deeper inner point,to the space where everything is only a desire,a path to,the sign of an interseccion between what is and what is longed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He said,"they are like the wind that passes through the branches and say my tree."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;this sentence,in which rilke becomes god's friend,a,consolation for the being that is lost and sad in his omniscient existence,there,rilke places himself,and shares that isolation of the one who knows.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rilke too,passes by,and has no shelter but the mob that grieves,and this impossition of solitude is the reaction against the possibility of being found.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What other thing could one love,but the idea of someone that exists but is unseen,that does not appear and eventhough could be near,could be echoing btween the walls that surround us,or filling with steps the path that we walk down every day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not an abitious desire,but a close and intimate recognition that my situation is not beyond myself,but inside of what emerges from the near.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And desperation appears when this what is so near though sepparate,is given up and one surrenders to reality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cindira Montoya 1997-1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digobang dari situs: http://thecry.com/poetry/index.html&lt;br /&gt;&lt;/FONT&gt;&lt;/DIV&gt;&lt;/DIV&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.feedburner.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/powered_by_fb.gif" alt="Powered by FeedBurner" style="border:0"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6937467054665575386-5238618551607299084?l=avaproletar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ZxYS/~4/OSFqud4vw8A" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ZxYS/~3/OSFqud4vw8A/sajak-sastrawan-jerman.html</link><author>noreply@blogger.com (Musthafa Amin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp0.blogger.com/_Nhh5vZ3wks8/R8r2NOnMQ1I/AAAAAAAAAKk/yPPAp8lG5_s/s72-c/rilke_550.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://avaproletar.blogspot.com/2008/03/sajak-sastrawan-jerman.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

