<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1911443891191992950</id><updated>2026-03-29T23:58:47.907-07:00</updated><category term="Terjemahan"/><category term="Berita Medika"/><category term="Penyakit Dalam"/><category term="saraf"/><category term="Ilmu Penyakit Mata"/><category term="Psikiatri"/><category term="Selayang Pandang"/><category term="Ilmu Kesehatan Anak"/><category term="English Please"/><category term="Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi"/><category term="Telinga Hidung Tenggorokan"/><category term="Forensik Medikolegal"/><category term="Kasus Foto"/><category term="Kesehatan Reproduksi"/><category term="Kulit dan Kelamin"/><category term="Obstetric-Gynecology"/><category term="Bedah"/><category term="Goodies"/><category term="Personal"/><category term="Problem Based Learning"/><category term="Histologi"/><category term="IKM"/><category term="Pendahuluan"/><category term="Sastra Medik"/><category term="Tips Sehat"/><title type='text'>Pustaka Medika Indo</title><subtitle type='html'>Blog dengan bahan kedokteran berupa makalah, artikel, referat , dan terjemahan textbook/situs kedokteran ternama.Tersedia E-book yang dapat didownload, dan berita kedokteran terkini</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cetrione.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default?max-results=5&amp;redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cetrione.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default?start-index=6&amp;max-results=5&amp;redirect=false'/><author><name>Husnul Mubarak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13572144200003689020</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOhnb8XN2bYh-uv9ZhMVqekili4kxnI-ISIyvQB3Hf8sqSpggET3KilkeFgV_m_5jqV-5ygUdmhm2dTb9t0mXuozxAoeHiq0x0ycFyjxWxE6LRa5HRDJ0w2pwubMvITQ/s220/Foto007.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>112</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>5</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1911443891191992950.post-5757126650194987046</id><published>2013-05-18T08:47:00.002-07:00</published><updated>2013-05-18T19:56:17.390-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="saraf"/><title type='text'>Regenerasi Saraf Perifer</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Regenerasi Saraf Perifer&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Regenerasi  merupakan suatu kemampuan dari neuron untuk memperbaiki dirinya sendiri, termasuk pembentukan kembali koneksi yang masih fungsional. Segera setelah suatu axon terputus, ujung proximal dari axon akan terbentuk pembengkakan atau suatu kerucut pertumbuhan (Thompson, 2006). Kerucut ini membentuk suatu psudopodia yang menyerupai kerucut pertumbuhan pada perkembangan saraf normal. Setiap kerucut pertumbuhan axon dapat membentuk banyak cabang dan tumbuh menjauhi dari lokasi potongan axon. Ketika cabang ini dapat melewati jaringan parut dan masuk pada ujung distal potongan saraf, maka regenerasi dengan pemulihan fungsi dapat terjadi.(Zochodne, 2008)&amp;nbsp;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses perkembangan pertumbuhan saraf dan regenerasi saraf sepertinya serupa, akan tetapi terdapat perbedaan yang bermakna. Sel saraf embrionik dituntun oleh suatu faktor neurotropik, yang digunakan axon untuk inisiasi pertumbuhan kemudian mencapai targetnya. Sumber dari substansi neurotropik ini, yang dapat menstimulasi atau menginhibisi sinaps, termasuk kerucut pertumbuhan axon, dan matriks jaringan konektid atau sel stroma seperti sel glial dan fibroblast. Kemungkinan suatu axon tidak mencapai target perifer sangat dibatasi selama perkembangannya, dan hal ini diatur oleh pola genetik yang memberikan arah spesifik dari pertumbuhannya. (Thompson, 2006; Geuna, 2009)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&amp;nbsp;Regenerasi, lebih terbatas pada inisiasi pertumbuhannya dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Tidak seperti sel satelit pada otot, fibroblast pada kulit, dan hepatosit pada liver, saraf tidak memiliki cadangan sel untuk regenerasi. Sel Schwann yang mengalami degenerasi pada perifer dan faktor kemotaktik lainnya memberi sinyal adanya kerusakan axon pada motor neuron melalui transport retrograde dalam medulla spinal. Terdapat beberapa teori yang menjelaskan inisiasi regenerasi. Teori yang paling umum adalah adanya NGF dan komponen kemotaktik lainnya yang terdapat pada target perifer dan didalam selubung yang meliputi sel Schwann berkontribusi terhadap inisiasi dan keberlangsungan regenerasi saraf.(Zochodne, 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Proses regenerasi idealnya mencakup beberapa tahapan penting yaitu sprouting awal, elongasi axon, pertumbuhan kaliber axon, remyelinasi dari kaliber axon, pemulihan saraf dengan axon yang matang dan kontak dengan jaringan target. Selama regenerasi axon mendapatkan kembali properti elektrofisiologisnya yang telah rusak sebelumnya. Pada akhirnya penting untuk diketahui bahwa telah terjadi pemulihan total dari saraf dengan melihat respon fungsional dari jaringan target.(Zochodne, 2008)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;b&gt;Dasar Seluler dan Biomolekuler Proses Regenerasi Saraf&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;
Terdapat beberapa interaksi seluler yang menandai tahap dini regenerasi saraf setelah terjadi cedera saraf perifer. Elemen utama yang tejadi adalah pembentukan membran baru untuk sprouting, ekspresi gen yang berubah pada seluruh neuron, sintesis axonal, pergerakan konus pertumbuhan, dan perubahan fenotip pada sel Schwann yang memfasilitasi dan menuntun pertumbuhan axon baru. Semua elemen ini harus terkoordinasi untuk terjadinya regenerasi yang bermakna. (Zochodne, 2008)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Segera setelah cedera saraf, akan terjadi perubahan patofisiologis yang kompleks mencakup perubahan morfologi dan metabolik pada lokasi cedera. Perubahan ini juga terjadi pada sel tubuh saraf, segmen proksimal dan distal dari lokasi cedera, dan pada ujung distal dari muscle end plate atau reseptor sensorik. Perubahan pada lokasi cedera terjadi paling pertama. Organel dan metabolit berakumulasi pada bagian proksimal dan distal ujung saraf yang rusak, menyebabkan terjadinya pembengkakan saraf. (Jaweed, 2001)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Seluruh segmen distal lesi perlahan mengalami degenerasi. Dalam 6 jam setelah cedera, sel tubuh neuronal mengalami perubahan, tubuh Nissle dan neurofilamen terurai, akhirnya nukleus berpindah lokasi dari tengah sel menuju ke perifer sel untuk persiapan perubahan metabolik dari sintesis neurotransmitter menjadi produksi materi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan elongasi axon. Sel harus mensintesis mRNA, lipid, dan protein terutama protein sitoskeletal seperti tubulin dan actin, neurofilamen, dan protein gap-associated. (Zochodne, 2008)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Sel Schwann yang berespon terhadap perubahan degenerasi axon dan myelin terlepas dari axon dan mulai bermultiplikasi, sehingga meningkatkan sintesis protein dalam selubung basal lamina. Proses ini disebut dengan degenerasi wallerian, sehingga menyebabkan axon mengalami degenerasi dibawah lesi. (Thompson, 2006)  Sel Schwann berperan dalam memberi pola dan mendukung terjadinya regenerasi pada saraf perifer. Penelitian tekini mengindikasikan bahwa sel ini memiliki peran krusial dalam mempertahankan perkembangan axon. Ketergantungan motor axon terhadap keberadaan sel Schwann terlihat pada hewan dewasa, ketika terjadi sel Schwann patologis maka akan terjadi axon patologis, pada akhirnya menyebabkan kematian saraf. Penelitian lain menyebutkan bahwa pertumbuhan axon sebenarnya terjadi pada lamina basalis sel Schwann bukan pada permukaan sel Schwann. Tidak seperti kecepatan pertumbuhan yang normal, yakni 2-3 mm perhari, regenerasi axon yang tumbuh pada daerah luka lebih lambat yaitu sekitar 0,25 mm per hari. (Jaweed, 2001; Zochodne, 2008)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pentingnya regenerasi axonal pada selubung sel Schwann yang liputi oleh basal lamina pada potongan distal menunjukkan terdapat beberapa tingkat regenerasi yang terlihat setelah saraf terperas dibandingkan transeksi saraf. Setelah cedera perasan, axon berada dalam keadaan parah, namun sel Schwann, lamina basalis sekitar, dan perineurium mempertahankan kontinuitas dalam lesi, sehingga dapat memfasilitasi regenerasi axon yang cedera. Berbeda ketika saraf terputus, maka kontinuitas dari mekanisme ini akan terganggu. (Jaweed, 2001)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXRhmXRRPCKfN8c_38ci54RyQ6b-aF-1Jtj9_hvx33AAo7_9RJS8IcNizoCuAzci1NvwEq6mVf79WJfI_vxM2Ekha0CyOCImXeiR6JX31N6WkGfYJN-Au9C7PwlVKFLRrOoAIki31v3ew/s1600/regenerasi1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXRhmXRRPCKfN8c_38ci54RyQ6b-aF-1Jtj9_hvx33AAo7_9RJS8IcNizoCuAzci1NvwEq6mVf79WJfI_vxM2Ekha0CyOCImXeiR6JX31N6WkGfYJN-Au9C7PwlVKFLRrOoAIki31v3ew/s320/regenerasi1.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Gambar 1. Gambaran peranan sel Schwan dalam reiinervasi neuromuscular junction&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&amp;nbsp;dijelaskan bahwa ketika terjadi degenerasi pada saraf maka akan terjadi perselubungan pada bagian distal lesi, degenerasi ini diikuti oleh aktivasi dan proliferasi sel Schwann pada bagian potongan distal. Lebih lanjut lagi, ”selubung endoneurial” yang terbentuk dari basal lamina disusun oleh sel Schwann dan perineurium yang meliputi fasikel axon tetap bertahan. Perselubungan ini tetap berada pada bagian distal dari saraf yang cedera dan menjadi saluran dimana axon akan tumbuh kembali setelah melewati lokasi lesi. Pentingnya selaput saraf yang tua dalam mengarahkan pertumbuhan axon telah dijelaskan dalam penelitian Nguyen et al. Pada penelitian ini terlihat pada saraf otot tikus yang telah dirusak, nampak axon yang terputus melacak jalur saraf lama untuk menuju ke otot dan kemudian berakhir pada serat otot yang sama sebelum saraf tersebut dirusak. Peranan dari selubung endoneurial dalam mengarahkan regenerasi axon pada lokasi sinaptik dalam otot telah disimpulkan dari beberapa eksperimen pencitraan sebelumnya (Jaweed, 2001)
Pertumbuhan axon didahului oleh pembentukan kerucut pertumbuhan pada ujung potongan proksimal. Kerucut pertumbuhan ini disebut sebagai “tangan penjelajah” axon yang berregenerasi. Memiliki pengaruh terutama bagaimana regenerasi akan terjadi. Kerucut pertumbuhan terdiri dari filopodia berupa jari motil yang meliputi aktin filamen yang berasal dari lamellipodium yang memanjang dari area pusat dimana mikrotubul dan axoplasma berakhir. Komponen ini kaya akan retikulum endoplasmik, mikrotubulus, mikrofilamen, mitokondria yang besar, lisosom, dan struktur vakuola yang belum diketahui fungsinya. (Zochodne, 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyBkIkcQA-L8fIoWcIAJo3F8aSFPLjfenfrKsAYvSuR-xbg5Ce5eFq6s0NPrelA4-SVB6_uIuM24WBMrn8fZsQknRgkQOLQ8DXUGJeVxe5XlQMjtg2-usSJr9Pam-PHDwg13QQacB2Nv4/s1600/regenerasi2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyBkIkcQA-L8fIoWcIAJo3F8aSFPLjfenfrKsAYvSuR-xbg5Ce5eFq6s0NPrelA4-SVB6_uIuM24WBMrn8fZsQknRgkQOLQ8DXUGJeVxe5XlQMjtg2-usSJr9Pam-PHDwg13QQacB2Nv4/s320/regenerasi2.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Gambar 2. Struktur dari kerucut pertumbuhan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Telah disimpulkan bahwa sebelum axon yang beregenerasi memanjang dari potongan proksimal, ujung dari kerucut pertumbuhan melekat pada kolagen yang meliputi potongan distal yang degeneratif. Filopodia pada kerucut pertumbuhan memanjang menuju potongan distal saraf setelah adanya peningkatan sitoskeletal protein yaitu aktin dan myosin pada tubuh sel.  Kebanyakan kerucut pertumbuhan mencari ujung dari sel Schwann. Pergerakannya mendekati tempat dimana terdapat prekursor sel Schwann sehingga akhirnya kerucut pertumbuhan mendekati potongan distal dari saraf yang rusak. Dalam perjalanannya, dikatakan bahwa prekursor sel Schwann meliputi sekitar 80% dari permukaan kerucut pertumbuhan  (Zochodne, 2008)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Percabangan regeneratif (sprout) dapat terbentuk baik pada ujung distal axon atau pada bagian proksimal. Beberapa jam setelah cedera, axon pada segmen proximal menghasilkan sprouting yang bertumbuh ke arah distal melalui selubung di dalam basal lamina. Gelombang sprouting pertama diikuti oleh gelombang berikutnya dalam 2 hari pertama. Sprouting awal dapat mengalami degenerasi sebelum fase sprouting definitif terjadi. Selang waktu hingga sprouting definitif terjadi disebut “initial delay“. Terdapat beberapa jenis sprouting yang diamati terjadi pada saraf sciatic tikus percobaan.  Sprouting dapat berupa proyeksi langsung yaitu axon tunggal melewati celah antar segmen distal proksimal, dan proyeksi kolateral dimana axon tunggal membentuk percabangan secara paralel menuju potongan segmen lainnya. Karena saraf yang dikultur mengalami cedera pada saat pengambilan spesimen, maka mekanisme collateral sprouting sulit diamati in vitro. Hal ini disayangkan karena proses ini diperlukan untuk memahami pemulihan lesi saraf pada manusia. (Zochodne, 2008; Thompson, 2006 )
.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Degenerasi Wallerian pada potongan distal menyebabkan akumulasi material kolagenosa sekitar axon yang berdegenerasi. Sekitar 28 – 35 hari setelah cedera, kolagen endoneurial terkumpul pada bagian distal, semakin memberi tekanan pada axon yang beregenerasi sehingga mengecilkan diameter dan meningkatkan jumlah sel Schwann untuk tiap panjang axon yang mengalami regenerasi. Axon baru memiliki panjang internodal yang lebih pendek dan suplai vaskularisasi yang lebih sedikit dibanding sebelum mengalami kerusakan, bahkan tetap seperti itu hingga remyelinasi. Penelitian terkini mengindikasikan bahwa asetilkolin dan adenosine triphosphat (ATP) dilepaskan dari axon yang tumbuh dan bekerja melalui reseptor untuk merubah sel Schwann dari pertumbuhan myelin menjadi bermyelin. Neuregulin berperan penting untuk remyelinisasi axon yang berregenerasi. (Zochodne, 2008)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Tujuan akhir dari regenerasi saraf adalah untuk menciptakan kembali sinaps dengan organ target. Ujung saraf motorik tersambung dengan saraf di neuromuscular junction, dimana efek neurotropik bekerja pada otot.  Ketika saraf motorik rusak, maka axon berregenerasi dan menciptakan sinaps lainnya, dapat pada lokasi sebelum cedera atau sekitarnya. Dalam waktu 2-3 minggu setelah denervasi, neuromuscular junction akan tercipta kembali dan konduksi saraf juga kembali normal.. (Zochodne, 2008)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;b&gt;Faktor Penentu Regenerasi Saraf&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pada saat terjadi degenerasi saraf perifer maka akan terjadi suatu lingkungan yang mendukung terjadinya regenerasi dan pertumbuhan kembali axon yang cedera. Faktor neurotrophik mendukung bertahannya neuron tertentu. Faktor neurotrophik yang dimaksud adalah neurotrophin (NGF, NPF, dan neurotrophin-4/5), insuline-like growth factor, ciliary neurotrophic factor, dan glial-cell derived growth factor  (Zochodne, 2008).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Perubahan molekul yang terjadi pada bagian distal potongan saraf termasuk regulasi neurotrophin, adhesi molekul sel neural, sitokin, dan faktor lainnya beserta reseptornya. Kecepatan pertumbuhan axonal dan restorasi koneksi perifer diregulasi oleh beberapa faktor biokimia dan biofisik tertentu. Sebagai contoh, regenerasi sangat terkait dengan integritas selubung endoneurial. Ketika endoneurium tidak mengalami kerusakan, maka regenerasi axon berlangsung lebih mulus, bertumbuh dengan selubung yang utuh, dan pada akhirnya menemukan targetnya. Sebaliknya, jika endoneurial dalam keadaan rusak parah, maka perjalanan regenerasi akan lambat. Maka dari itu, pemulihan yang fungsional, yang berarti konduksi saraf dapat terjadi hingga ke organ target, kemungkinan lebih cepat terjadi pada cedera kompresi axon dibandingkan cedera traumatik atau transeksi. (Jaweed, 2001)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Neuron Growth Factor (NGF) disintesis pada jaringan target yang diinnervasi oleh neuron simpatetik atau sensorik dan mengalami transpor retrograde menuju ke neuron. NGF mempengaruhi navigasi neurite, morfologi kerucut pertumbuhan, dan elongasi axonal. Pemahaman mengenai biokimia dan faal NGF pada saraf perifer penting diketahui sebelum mengerti peranannya dalam mendukung terjadinya regenerasi saraf sensorik. NPF memiliki karakter yang serupa dengan NGF dimana mengikat pada substrat polikationik dalam kultur saraf dan pada lamina basalis dari sel Schwaan in vivo. Fibronectin, menyebabkan pemanjangan dari neurite pada kultur jaringan sehingga meningkatkan adhesi substrat atau matriks.(Geuna, 2009)
Estrogen, testosteron, insulin, hormon adrenal dan thyroid, diketahui memiliki pengaruh terhadap regenerasi saraf dengan cara yang bervariasi. Sebagai contoh, estrogen dan insulin memfasilitasi pertumbuhan neurites pada kultur jaringan, dimana testosteron dan thyroid menstimulasi regenerasi nervus sciatic. Inhibitor protease seperti glial derive protease inhibitor dan leupeptin menghambat meluasnya degenerasi axon bagian distal, sehingga mempercepat terjadinya regenerasi. Fibroblast growth factor, nampaknya meningkatkan jumlah serat bermyelin pada tikus dan meningkatkan pertumbuhan neurite pada kultur sel PC-12. Efek FGF in vivo terkait dengan aktivasi sel Schwann dan memperkaya vaskularisasi. Inhibisi radikal bebas seperti catalase, rupanya mempercepat regenerasi karena mencegah terjadinya cedera oksidatif pada neuron yang rusak. (Jaweed, 2001)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Komponen lain yang memiliki efek positif adalah gangliosida cerebral. Glikolipid ini merupakan komponen dari membran plasma neuronal, disintesis pada neural soma, dan ditransport menuju perifer oleh transpor axonal yang cepat.  Gangliosida yang diberikan pada hewan, menunjukkan peningkatan pembentukan sprouting saraf dan neuromuskular junction, sehingga menyempurnakan reinnervasi otot. (Geuna, 2009)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Regenerasi saraf perifer juga terkait oleh interaksi kompleks antara sel tubuh saraf, potongan proximal dan distal axon, dan faktor neurotrophic. Segera setelah cedera saraf, tubuh sel neuron pada medulla spinalis membengkak dan tubuh Nissl mulai mengalami degenerasi, dan nukleus bergerak menuju perifer untuk persiapan perubahan metabolisme dari sintesis neurotransmitter menjadi produksi materi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pemanjangan axon (Geuna, 2009).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Sel harus dapat mensintesis mRNA, lipid, dan protein yang baru, terutama protein sitoskeletal seperti tubulin, aktin, neurofilamen, dan protein gap-associated. Barrier antara darah dan saraf juga terbuka sepanjang saraf sehingga menyababkan invasi makrofag kemudian fagositosis aktif terjadi oleh sel ini. Faktor inhibisi terkait dengan myelin, dibuang dan sel Schwann secara progresif memanjang dan menyesuaikan basal lamina dari fibronektin dan laminin, sehingga terjadi lingkungan yang mendukung untuk axon yang berregenerasi dari potongan saraf bagian proksimal. (Zochodne, 2008)

&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Baca Selengkapnya&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cetrione.blogspot.com/feeds/5757126650194987046/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1911443891191992950/5757126650194987046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/5757126650194987046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/5757126650194987046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cetrione.blogspot.com/2013/05/regenerasi-saraf-perifer-regenerasi.html' title='Regenerasi Saraf Perifer'/><author><name>Husnul Mubarak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13572144200003689020</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOhnb8XN2bYh-uv9ZhMVqekili4kxnI-ISIyvQB3Hf8sqSpggET3KilkeFgV_m_5jqV-5ygUdmhm2dTb9t0mXuozxAoeHiq0x0ycFyjxWxE6LRa5HRDJ0w2pwubMvITQ/s220/Foto007.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXRhmXRRPCKfN8c_38ci54RyQ6b-aF-1Jtj9_hvx33AAo7_9RJS8IcNizoCuAzci1NvwEq6mVf79WJfI_vxM2Ekha0CyOCImXeiR6JX31N6WkGfYJN-Au9C7PwlVKFLRrOoAIki31v3ew/s72-c/regenerasi1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1911443891191992950.post-332321406363418402</id><published>2013-05-18T08:25:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T19:56:51.888-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi"/><title type='text'>FROZEN SHOULDER</title><content type='html'>&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;FROZEN SHOULDER&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Frozen shoulder, atau Adhesive capsulitis, merupakan gangguan pada sendi bahu yang menimbulkan nyeri dan keterbatasan luas gerak sendi baik secara aktif maupun pasif yang disebabkan adanya perlekatan pada kapsul sendi bahu. Frozen shoulder menyebabkan kapsul sekitar sendi bahu mengalami pembentukan jaringan fibrotik. (Calliet, 1993)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Frozen shoulder dapat terjadi secara tiba-tiba, dapat pula disebabkan oleh cedera ringan pada bahu. Keadaan ini biasanya melalui tiga fase, dimulai dengan nyeri, lalu keterbatasan luas gerak sendi, dan fase resolusi pada saat nyeri meringan dan pergerakan kembali normal. Proses ini dapat terjadi dalam waktu yang lama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Penanganan frozen shoulder dapat mencakup farmakoterapi, rehabilitasi, dan operasi. Antiinflamasi seperti aspirin dan ibuprofen dapat membantu meringankan nyeri dan radang terkait dengan Frozen shoulder. &amp;nbsp;Injeksi steroid intra-articular dapat meringankan nyeri dalam jangka waktu yang lebih panjang dibanding pemberian oral. Penatalaksanaan rehabilitasi medik bertujuan untuk mengembalikan fleksibilitas sendi bahu.sehingga mencapai luas gerak sendi aktif dan pasif yang normal. Pada kasus frozen shoulder yang berat maka diperlukan operasi untuk membuang jaringan parut dan perlekatan pada sendi bahu&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Etiologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Etiologi dari Frozen shoulder masih belum diketahui dengan pasti. Adapun fakor predisposisinya antara lain periode immobilisasi yang lama, akibat trauma, over use, cedera atau operasi pada sendi, hyperthyroidisme, penyakit kardiovaskuler, clinical depression dan Parkinson. &amp;nbsp;Penggunaan bahu dalam periode yang intensif dapat pula menyebabkan inflamasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Cyriax menyebutkan bahwa adanya riwayat trauma, seperti jatuh dengan bahu atau lengan yang teregang berlebihan dapat memicu onset capsulitis dalam waktu 6 bulan, namun banyak pasien tidak mengingat adanya cedera seperti itu, kemungkinan karena derajat trauma yang sangat ringan (Tanner, 2001). Kebanyakan penulis menganggap bahwa onsetnya terjadi tiba-tiba. Biasanya terjadi pada populasi diatas 40 tahun, mengenai kedua jenis kelamin. Kejadian Adhesive capsulitis lebih sering didapatkan pada pasien hemiparesis, penyakit jantung iskemik, penyakit thyroid, tuberculosis paru, bronkitis kronik, dan diabetes.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Patomekanisme&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pada dasarnya, adhesive capsulitis merupakan penyakit self-limiting, dengan rerata waktu pemulihan sekitar 2 tahun, akan tetapi beragam dari 1 hingga 4 tahun. Kebanyakan pasien akan mengalami pemulihan fungsi total, namun beberapa lainnya mengalami defisit fungsional ringan. Pasien biasanya akan membutuhkan intervensi medis pada fase nyeri, yang berlangsung sekitar 2 hingga 9 bulan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Reeves (1975) menjelaskan dari temuan klinis terdapat 3 fase frozen shoulder yaitu : nyeri, kekakuan, dan pemulihan. &amp;nbsp;Nyeri mulai sejak onset dan berlangsung 2 hingga 6 bulan, dimana pada saat itu kapsul mulai membentuk jaringan fibrotik. Kekakuan sendi akan terjadi selama 4 hingga 12 bulan. Fase akhir perjalanan penyakit adalah pemulihan spontan yang berlangsung selama 5 hingga 26 bulan, pada fase ini terdapat pemulihan berangsur dari luas gerak sendi bahu, terutama pemulihan gerakan abduksi dan rotasi interna.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Rotator cuff terletak di bawah arkus korakoakromial, yang terbentuk dari prosesus korakoideus, ligamen korakoakromial, dan akromion. Variasi anatomi dan fisiologi dapat mempersempit ruang antara tuberositas kaput humeri, rotator cuff, &amp;nbsp;dan arkus korakoakromial sehingga dapat berakibat pada otot-otot rotator cuff. Robekan &amp;nbsp;rotator cuff paling sering terjadi pada tendon supraspinatus yang diakibatkan oleh disfungsi skapular yang terjadi akibat penyempitan ataupun disfungsi rotator cuff yang terjadi karena pergerakan eksesif dari kaput humerus. (Braddom, 2011)&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Neer membuat klasifikasi cedera rotator cuff menjadi 3 stadium, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
- Stadium I&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;: Cedera ulangan mikroskopik/repetitive microtrauma dengan terbentuknya edema dan peradangan rotator cuff&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
- Stadium II&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;: Terjadi pembentukan fibrosis dan tendinitis akibat cedera rotator cuff&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
- Stadium III&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;: Terjadi robekan rotator cuff baik sebagian atau komplet&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Diagnosa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;Anamnesa&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Keluhan utama yang paling sering dirasakan oleh pasien frozen shoulder adalah nyeri pada bahu. Keluhan ini disertai keterbatasan luas gerak sendi / kekakuan baik aktif maupun pasif, terutama pada malam hari. Nyeri akan bertambah bila lengan pada bahu yang sakit digerakkan. Kesulitan berbaring miring ke arah sisi &amp;nbsp;bahu yang sakit, memakai BH, menyisir rambut, mengambil dompet di saku belakang, atau mengangkat sesuatu dengan tangan yang sakit. Dan jika kondisinya lebih berat, nyeri akan dirasakan menjalar ke lengan bawah, cervical, scapula, dan nyeri ketika istirahat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;Pemeriksaan Fisik&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Inspeksi : Pada fase akut dan nyeri, bahu pasien akan tampak adduksi dan internal rotasi, dapat pula tampak disuse atrophi pada deltoid dan supraspinatus. Kadang-kadang bahu yang sakit terlihat terelevasi akibat pemendekan otot trapezius dan levator scapulae. Adanya kemerahan dan pembengkakan menunjukkan keadaan peradangan akut pada jaringan lunak daerah sendi bahu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Palpasi : Pasien merasakan nyeri pada saat palpasi bahu yang merata di daerah sendi glenohumeral dan dapat meluas sampai uppertrapezius dan interscapular.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Special test : Terdapat beberapa pemeriksaan klinis khusus yang dilakukan untuk mendiagnosis frozen shoulder dan mengeliminasi kemungkinan diagnosis banding lainnya. Pada frozen shoulder terdapat limitasi pada semua arah gerakan baik aktif maupun pasif, namun biasanya gerakan external rotasi yang paling sulit dilakukan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pemeriksaan luas gerak sendi secara cepat bisa dilakukakan dengan Appley’s Scratch Test.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pasien diminta untuk menyentuh scapula sisi kontralateral dengan telunjuk. Nyeri akan terjadi ketika terdapat keterbatasan exorotasi dan abduksi. Hasil ini menandakan adanya kelainan rotator cuff.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pemeriksaan Drop Arm Test dilakukan untuk mendeteksi adanya defek pada supraspinatus, pada pemeriksaan ini pasien mengabduksikan lengannya hingga 1200 lalu diminta menurunkan dengan perlahan. Pemeriksaan positif ketika lengan pasien jatuh dengan cepat, dengan atau tanpa nyeri. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dapat dilakukan pula Coracoid Pain Test sebagai salah satu tanda patogmonis dari frozen shoulder. ( Carbone 2010 ).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Special test juga bisa dilakukan untuk menyingkirkan gejala nyeri bahu karena penyakit lainnya, misalnya : Compression, Distraction, TOS I,II,III , Yergason Test, Painfull Arch, Drop Arm Test, Empty Can Test, Hawkins dan Neer Impingement Test.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dapat pula dilakukan pemeriksaan yang sifatnya invasif yaitu dengan injeksi anestesi lokal (10 ml lidokain 1%) ke dalam ruang subakromial. Bila terjadi peningkatan luas gerak sendi setelah injeksi maka menunjukkan bahwa kekakuan yang terjadi berhubungan dengan nyeri dan bukan karena restriksi dari kapsul sendi ataupun kontraktur dari soft tissue di sekitarnya. ( Buckup, 2004 ; Dias, 2005 ; Magee, 2008 )&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;Pemeriksaan Penunjang&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
X-Ray Bahu : Foto polos X-Ray bahu hanya memindai jaringan tulang, maka sering kali terlihat normal, namun dapat terlihat periarticuler osteopenia akibat efek disuse. ( Dias, 2005 )&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
USG : Mampu mendeteksi robekan pada otot rotator cuff, seringkali pada m.supraspinatus, dapat pula tampak gambaran adanya soft tissue yang hypoechoic pada tendon long head biceps dan hyperechoic pada joint fluid &amp;nbsp;serta peningkatan vaskularisasi disekitar rotator cuff pada pasien frozen shoulder ( Lee, 2005 ).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
MRI : Adanya jaringan parut fibrovascular pada rotator cuff dapat dipakai sebagai tanda yang reliable untuk frozen shoulder. Bisa juga tampak adanya penebalan ringan dari kapsul sendi dan ligamen coracohumeral. ( Dias, 2005; Lee, 2005 )&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Arthrography : &amp;nbsp;Tampak volume kapsul sendi yang berkurang secara signifikan. &amp;nbsp;( Dias, 2005 )&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Arthroscopy : &amp;nbsp;Merupakan gold standard untuk pemeriksaan frozen shoulder dimana terlihat kapsul sendi berwarna merah dan terjadi inflamasi sinovium.( Lee, 2005 )&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Diagnosa Banding&lt;/b&gt; (Cailliet, 1993; DeLisa, 2005).&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
a.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Rotator cuff disease&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
b.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Osteoartritis glenohumeral&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
c.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Referred pain&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
d.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Subluksasi sendi glenohumeral&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
e.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Neoplasma&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Penatalaksanaan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pencegahan merupakan terapi yang utama pada frozen shoulder. Menghindari immobilisasi bahu yang lama setelah trauma atau nyeri bahu adalah kuncinya. Meskipun frozen shoulder dinyatakan sebagai self limited disease, namun penyembuhan secara sempurna tanpa adanya disabilitas sangatlah jarang. Sehingga diperlukan terapi yang tepat untuk menanganinya, dengan dua proses yaitu terapi langsung ke bahu yang sakit dan terapi keseluruhan terhadap kondisi pasien.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Tujuan dari terapi adalah&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Menghilangkan nyeri&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Mengembalikan luas gerak sendi&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Mengembalikan fungsi bahu&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Mengidentifikasi fase frozen shoulder dari pasien adalah penting untuk menentukan jenis terapi yang akan diberikan ( Cailliet, 1993 ).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;Non Operatif&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Latihan&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pada fase akut atau awal, dapat diberikan latihan luas gerak sendi sesuai dengan toleransi pasien atau pain-free zone, mulai dari yang pasif sampai aktif. Latihan yang biasa diberikan adalah Codman’s pendulum exercise, over head pulley, dan finger ladder exercise. Koreksi postur untuk mengurangi postur kifosis dan posisi humerus kedepan juga perlu dilakukan. (Cailliet 1993; DeLisa, 2010; Braddom, 2011).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Setelah itu dapat diberikan stretching aktif dan pasif dengan tujuan untuk meningkatkan luas gerak sendi. Jika luas gerak sendi fungsional tercapai dan nyeri bahu menurun, dapat dimulai latihan penguatan untuk mengembalikan keseimbangan antara shoulder, scapula, dan spine (Harrast &amp;amp; Rao, 2004).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Medikamentosa&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Analgesik seperti NSAIDS, umum digunakan untuk mengurangi nyeri dan inflamasi pada keluhan nyeri bahu. Menurut Buchbinder dan review Cochrane, steroid oral juga dapat dipakai sebagai manajemen nyeri, luas gerak sendi dan fungsi bahu pada frozen shoulder, namun efeknya tidak dapat dipertahankan jika pemberiannya lebih dari 6 minggu. (DeLisa, 2010; Braddom, 2011).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Injeksi&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Umumnya digunakan kortikosteroid intraartikular, untuk mengurangi nyeri dan inflamasi pada fase awal (Cailliet, 1993; Braddom, 2011).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Pada sebuah penelitian terbaru, botulinum toxin dipakai secara intraartikular untuk mengatasi nyeri (inhibition of neurotransmitter release), inflamasi (inhibition of C-fiber nociceptive transmission), dan fibrosis (inhibition of IL-1 &amp;amp; fibroblast growth) pada frozen shoulder &amp;nbsp;(Chen et al. 2011).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Modalitas&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Icing digunakan pada fase akut untuk mengurangi nyeri dan inflamasi. TENS sangat efektif untuk mengurangi nyeri akut &amp;nbsp;pada frozen shoulder, digunakan pada fase 1 dan 3. USD dipakai untuk mengatasi nyeri dan &amp;nbsp;memfasilitasi stretch pada frozen shoulder. Terapi panas dalam lainnya juga dapat digunakan, misalnya SWD. Efek panas dapat memberikan efek analgetik, merelaksasikan otot dan meningkatkan kapasitas sirkulasi darah. (Khan, 1987 ; Harras &amp;amp; Rao, 2004; DeLisa 2011).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt; Closed Manipulation Under Anesthesia&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Terapi ini sebenarnya tidak disarankan namun bisa diberikan bila terapi nonoperatif tidak berhasil. Indikasinya adalah adanya gejala yang memburuk setelah paling sedikit 4 bulan menjalani terapi nonoperatif secara benar dan teratur &amp;nbsp;atau tidak ada perbaikan setelah 6 bulan terapi nonoperatif.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Setelah dilakukan manipulasi, dilanjutkan dengan terapi latihan dan kontrol nyeri (Cailliet, 1993; Harras &amp;amp; Rao, 2004; Braddom,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;u&gt;Operatif&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Jika tidak ada perbaikan setelah 6 bulan terapi dapat dipikirkan untuk tindakan atau terapi yang lebih agresif.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Arthroscopic Capsular Releases&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Penggunaan terapi ini mempunyai peran besar pada tindakan operatif frozen shoulder. Aplikasi awal bersamaan dengan &amp;nbsp;manipulasi mempunyai keuntungan yaitu secara akurat menilai kelainan intra-articular lainnya. &amp;nbsp;Kelebihan lainnya dapat meningkatkan pergerakan dari unit muskulotendinosus tanpa mengganggu integritasnya, nyeri post operatif dan teknik invasi yang minimal, dan dapat segera diberikan terapi latihan (Harras &amp;amp; Rao, 2004).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
•&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Open Surgical Capsular Releases&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Jika closed manipulation gagal, biasanya ahli bedah menyarankan tindakan ini. Keuntungannya adalah bisa melihat dengan jelas pergerakan humeroscapular, melakukan pemanjangan otot subscapular, eksisi bone spurs, dan bisa melihat dengan jelas struktur yang mengalami adhesi dan kontraktur (Harrast &amp;amp; Rao, 2004)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Baca Selengkapnya&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cetrione.blogspot.com/feeds/332321406363418402/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1911443891191992950/332321406363418402' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/332321406363418402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/332321406363418402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cetrione.blogspot.com/2013/05/frozen-shoulder-frozen-shoulder-atau.html' title='FROZEN SHOULDER'/><author><name>Husnul Mubarak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13572144200003689020</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOhnb8XN2bYh-uv9ZhMVqekili4kxnI-ISIyvQB3Hf8sqSpggET3KilkeFgV_m_5jqV-5ygUdmhm2dTb9t0mXuozxAoeHiq0x0ycFyjxWxE6LRa5HRDJ0w2pwubMvITQ/s220/Foto007.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1911443891191992950.post-6518726701010966913</id><published>2009-10-20T16:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T16:58:10.350-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Obstetric-Gynecology"/><title type='text'>Preeklampsia</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Preeklampsia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preeklampsia merupakan salah satu bentuk hipertensi yang hanya terjadi pada wanita hamil. Preeklampsia dapat bermanifestasi sebagai sindrom maternal (hipertensi dan proteinuri dengan atau tanpa abnormalitas multisistem lainnya) dan gangguan pada janin (pertumbuhan janin terhambat, berkurangnya cairan amnion, dan oksigenasi yang abnormal). Preeklampsia merupakan suatu keadaan heterogen dimana patogenesisnya dapat berbeda-beda bergantung faktor resiko yang dimiliki. Patogenesis preeklampsia pada wanita nulipara kemungkinan berbeda dengan wanita yang memiliki penyakit vaskuler sebelumnya, pada wanita diabetes, atau riwayat preeklampsia sebelumnya. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preeklampsia terjadi pada 5-7% dari seluruh kehamilan. Trias diagnostiknya mencakuup hipertensi, proteinuri, dan edema. National High Blood Pressure Education Working Group baru saja merekomendasikan untuk meniadakan edema sebagai kriteria diagnostik karena kejadiannya seringkali ditemukan pada kehamilan normal. Frekuensi kejadian preeklampsia meningkat pada wanita muda dan nullipara. Akan tetapi distribusi frekuensinya berdasar usia bersifat bimodal, dengan peningkatan berikutnya pada wanita multipara dengan usia diatas 35 tahun. Pada wanita yang memiliki ibu dengan riwayat preeklampsia, resiko preeklampsia lebih besar dibandingkan dengan populasi wanita pada umumnya. Faktor predisposisi preeklampsia adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Usia &gt; 35 tahun       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nullipara       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kehamilan Kembar       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mola hidatiformis       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diabetes mellitus       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyakit thyroid       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hipertensi kronik       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gangguan ginjal       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyakit vaskuler kolagen       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sindroma Antiphospholipid        &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Riwayat keluarga dengan preeklampsia&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);&quot;&gt;Etiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab pasti dari preeklampsia belum diketahui. Banyak teori yang telah dikemukakan, akan tetapi kebanyakan tidak teruji dengan waktu. Penyebab yang paling sering diketahui adalah adanya gangguan pada perubahan vaskulatur uterus. Placenta mendapatkan suplai darah dari beberapa arteri uteroplacenta yang terbentuk akibat migrasi endovaskuler trophoblas pada dinding dari arteriol spiral. Hal ini merubah arteri uteroplacenta menjadi sistem dengan tahanan dan tekanan rendah dengan aliran yang tinggi. Konversi arteriol spiral pada uterus nongravid menjadi arteri arteri uteroplacenta diketahui sebagai perubahan fisiologis. Pada kehamilan normal, perubahan vaskularisasi yang diakibatkan oleh trophoblas ini meluas mulai dari ruang intervilli hingga ujung arteriol spiral pada arteri radialis di sepertiga bagian dalam dari myometrium. Dikatakan bahwa perubahan vaskularisasi ini dipengaruhi di dua stadium: konversi dari segmen desidua dari arteriol spiral oleh suatu gelombang migrasi endovaskuler pada trimester pertama dan segmen myometrium oleh gelombang berikutnya pada trimester kedua.&quot;. Proses ini dilaporkan terkait dengan pembentukan jaringan ikat yang luas dan degenerasi dari lapisan muskuler dari dinding arteri. Perubahan vaskuler ini mengakibatkan konversi dari sekitar 100 hingga 150 arteriol spiral menjadi pembuluh darah yang lebar, berkelok-kelok, dan berbentuk corong yang terhubung dengan ruang intervili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pada wanita dengan preeklampsia atau dengan pertumbuhan janin terhambat menunjukkan adanya respon maternal yang tidak adekuat terhadap pembentukan placenta. Pada kehamilan ini, perubahan vaskuler yang dijelaskan diatas biasanya hanya ditemukan pada segmen desidua dari arteri uteroplasenta. Akibatnya, segmen myometrium dari arteri spiral tetap memiliki struktur yang muskuloelastik sehingga menyebabkannya sangat responsif terhadap pengaruh hormonal. Sebagai tambahan, jumlah arteriol yang berkembang dengan baik lebih sedikit dibandingkan pada wanita hamil normotensif. Kong et al telah mempostulasi bahwa kerusakan vaskuler ini terjadi akibat adanya gangguan dari gelombang migrasi endovaskuler trofoblas yang normalnya terjadi sekitar usia kehamilan 16 minggu. Perubahan patologis ini akan membatasi peningkatan suplai darah yang dibutuhkan oleh unit fetoplasenta pada usia kehamilan lanjut, dan terkait dengan penurunan aliran darah uteroplasenta.  Frusca et al mempelajari biopsi vaskularisasi plasenta yang diambil pada saat sectio sesar dari kehamilan normal (n=14), kehamilan dengan preeklampsia (n=24), dan kehamilan dengan hipertensi kronik (n=5). Biopsi dari kelompok preeklampsia menunjukkan adanya perubahan vaskuler yang abnormal pada setiap kasus, 18 diantaranya memiliki perubahan aterosklerotik akut.  Sebaliknya, 13 dari 14 biopsi darikehamilan normotensif memiliki perubahan vaskuler yang fisiologis. Penting diketahui bahwa gangguan vaskularisasi ini dapat pula terjadi pada kehamilan normotensif tetapi disertai dengan perkembangan janin terhambat. Menggunakan mikroskop elektron, Shanklin and Sibai mempelajari perubahan struktur vaskularisasi plasenta dan perbatasan uterus pada 33 kehamilan preeklampsia dan 12 kehamilan normotensif. Mereka menemukan adanya kerusakan endotel baik pada semua spesimen wanita preeklampsia, dimana tidak didapatkan pada semua biopsi wanita normotensif. Kerusakan ini sepertinya mempengaruhi mitokondria endotel,dimana menandakan kemungkinan adanya gangguan metabolisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);&quot;&gt;Patofisiologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;Otak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran patologis pada kerusakan serebral akibat preeklampsia mencakup nekrosis fibrinoid, thrombosis, mikroinfark, dan perdarahan peteki, terutama pada korteks serebral. Edema serebral juga dapat ditemukan. Pada CT-scan kepala dapat ditemukan hipodensitas fokal pada bagian hemisfer posterior serebral, lobus temporal, dan batang otak, kemungkinan menandakan adanya perdarahan peteki yang mengakibatkan edema lokal. MRI dapat memperlihatkan abnormalitas arteri serebral mayor pada bagian occiput dan parietal, begitu pula lesi pada batang otak dan ganglia basalis. Perdarahan subarachnoid dan intraventricular dapat terjadi pada beberapa kasus yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;Jantung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preeklampsia ditandai dengan ekspansi volume intravaskuler yang abnormal, penurunan volume darah yang bersirkulasi, dan buruknya resistensi terhadap vasopressor endogen, termasuk angiotensin II. Pengawasan hemodinamik invasif pada pasien preeklampsia dapat memberikan informasi tersebut. Bergantung dari tingkat keparahan penyakit, efek dari terapi sebelumnya, dan faktor lainnya, preeklampsia dapat mengakibatkan cardiac output yang tinggi dan resistensi vaskuler sistemik yang rendah, atau cardiac output yang rendah dan resistensi vaskuler sistemik yang meningkat, atau cardiac output yang tinggi dan resistensi vaskuler sistemik yang tinggi. Adanya perbedaan manifestasi ini menegaskan kembali kompleksitas dari penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;Paru-paru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan pada tekanan onkotik-koloid, integritas endotel kapiler, dan tekanan hidrostatik intravaskuler pada pasien preeklampsia meningkatkan resiko edema pulmoner nonkardiogenik. Pada wanita dengan preeklampsia superimposed dengan hipertensi kronik, keberadaan penyakit jantung hipertensif dapat memperburuk keadaan, edema pulmoner nonkardiogenik. Pada wanita dengan superimpose preeklampsia pada hipertensi kronis, penyakit jantung hipertensif yang telah ada sebelumnya dapat memperburuk keadaan. Pemberian cairan intravena yang berlebihan dapat meningkatkan resiko edema pulmoner. Pada eklampsia, jejas pulmoner dapat terjadi akibat aspirasi kandungan gaster, menyebabkan pneumonia, pneumonitis, atau sindroma distress pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;Hepar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lesi histologis pada hepar ditandai dengan adanya deposisis fibrin sinusoidal pada daerah periportal dengan perdarahan pada wilayah sekitar dan thrombi kapiler portal. Nekrosis sentrilobular dapat terjadi akibat perfusi yang menurun. Peradangan bukan karakteristik. Hematoma subkapsuler dapat terjadi. Pada kasus berat dengan adanya nekrosis hepatoseluler dan DIC, hematoma intrahepatik dapat berlanjut menjadi ruptur hepar. Nyeri pada kuadran atas atau nyeri epigastrik merupakan gejala klasik yang disebabkan oleh adanya regangan pada kapsula Gllison. Peningkatan serum transminase merupakan tanda adanya sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, and low platelets)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;Ginjal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan histologis dapat ditemukan pada ginjal seorang wanita dengan preeklampsia. Lesi ginjal dari preeklampsia adalah &quot;glomeruloendotheliosis&quot; yang ditandai oleh adanya pembengkakan dan pembesaran dari kapiler glomerulus, menyebabkan penyempitan lumen kapiler. Terdapat peningkatan sitoplasma yang mengandung vakuola terisi lemak. Sel Mesangial kemungkinan membengkak pula. Immunoglobulins, komplemen, fibrin, and produk degradasi fibrin kemungkinan ditemukan pada glomeruli, akan tetapi keberadaannya tidak ditemukan pada semua wanita dengan preeklampsia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);&quot;&gt;Penatalaksanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama penanganan preeklampsia adalah mencegah terjadinya preeklampsia berat dan eklampsia, melahirkan janin hidup, dan melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecil mungkin. Pada penanganan preeklampsia, dengan beberapa pengecualian, penyelamatan maternal paling baik dilakukan dengan pengakhiran kehamilan. Akan tetapi pendekatan ini kemungkinan kurang baik untuk janin. Pada kasus prematuritas ekstrim, janin dapat diselamatkan dengan pemberian kortikosteroid untuk mempercepat maturasi janin. Keputusan untuk mengakhiri kehamilan atau penanganan konvensional didasarkan oleh beberapa faktor yaitu keparahan penyakit, keadaan ibu dan serviks, maturitas dan keadaan janin. Indikasi untuk pengakhiran kehamilan ialah 1) preeklampsia ringan dengan kehamilan lebih dari cukup  bulan;  2) preeklampsia dengan hipertensi dan/atau proteinuria menetap selama 10-14 hari, dan janin sudah cukup matur; 3) preeklampsia berat; 4) eklampsia. Pada umumnya indikasi untuk merawat penderita pre-eklampsia di rumah sakit ialah: 1) tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan/atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih; 2) proteinuria 1+ atau lebih; 3) kenaikan berat badan 1,5 kg atau lebih dalam seminggu yang berulang; 4) penambahan edema berlebihan secara tiba-tiba. Perlu diperhatikan bahwa apabila hanya 1 tanda ditemukan, perawatan belum seberapa mendesak, akan tetapi pengawasan ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan penatalaksanaan preeklampsia sebaiknya diklasifikasikan menjadi preeklampsia ringan dan berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);&quot;&gt;Preeklampsia ringan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dengan preeklampsia ringan diopname untuk pemeriksaan lebih lanjut dan jika diindikasikan, terminasi kehamilan. Jika preeklampsia dikonfirmasi dan usia kehamilan 40 atau lebih maka diindikasikan untuk persalinan. Pada usia kehamilan 37-40 minggu, maka status servikal dinilai dan jika memungkinkan, induksi persalinan dilakukan. Jika keadaan serviks tidak mendukung, maka pemberian agen pematang serviks dapat digunakan secukupnya. Biasanya wanita dengan pemeriksaan serviks yang sangat tidak memungkinkan pada usia kehamilan 37 hingga 40 minggu dapat ditangani dengan istirahat ditempat tidur, pengawasan janin antepartum, dan pengawasan kondisi maternal yang ketat, termasuk tekanan darah setiap 4-6 jam dan penilaian harian refleks patella, berat badan, proteinuria, dan gejala subjektif. Darah lengkap dan kadar transaminase serum, laktat dehidrogenase, dan asam urat sebaiknya diperiksa setiap minggu atau dua kali seminggu. Persalinan diindikasikan jika keadaan serviks menjadi sangat mendukung, pemeriksaan antepartum abnormal, atau usia kehamilan diatas 40 minggu, atau adanya tanda preeklampsia yang memburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dengan preeklampsia ringan dengan usia kehamilan dibawah 37 minggu, sebaiknya dianjurkan untuk istirahat di tempat tidur, pemeriksaan antepartum dua kali seminggu, dan evaluasi maternal yang telah dijelaskan sebelumnya. Pemberian kortikosteroid dimulai jika usia kehamilan dibawah 34 minggu, amniosentesis dilakukan untuk menilai maturitas pulmoner janin. Ketika penanganan telah dilakukan, maka pertumbuhan janin dapat dinilai tiap 3-4 minggu. Kemungkinan, penanganan rawat jalan memungkinkan pada pasien asimptomatik dengan proteinuria minimal dan pemeriksaan laboratorium lainnya yang normal..Adanya tanda memburuknya preeklampsia merupakan indikasi rawat inap dan pertimbangan terminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ummnya pemberian diuretika dan antihipertensi pada preeklampsia ringan tidak dianjurkan karena obat-obat tersebut tidak menghentikan proses penyakit dan juga tidak memerbaiki prognosis janin. Selain itu, pemakaian obat-obat tersebut dapat menutupi tanda dan gejala preeklampsia berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;Penanganan Preeklampsia Berat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preeklampsia berat diharuskan untuk dirawat inap. Persalinan diindikasikan jika usia kehamilan diatas 34 minggu, status pulmoner janin yang matang, atau adanya tanda perburukan keadaan janin atau maternal. Pengendalian tekanan darah dapat diatasi dengan pemberian nifedipin, labetalol, atau hidralazine. Tujuan terapi antihipertensi adalah untuk mencapai tekanan darah sistolik &lt;&gt;30cc/jam) , refleks patella positif, kecepatan pernapasan lebih dari 16 per menit, dan ketersediaan antidotum kalsium glukonas. Ketika magnesium sulfat diberikan, maka keadaan janin harus dimonitor terus menerus, dan agen antihipertensi kemungkinan dibutuhkan untuk menjaga tekanan darah sistolik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;Penanganan Intrapartum untuk Preeklampsia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada wanita dengan preeklampsia tanpa kontraindikasi persalinan, maka persalinan per vaginam merupakan pendekatan yang dianjurkan. Agen pematangan serviks dan oxytocin dapat digunakan jika dibutuhkan. Selama persalinan, magnesium sulfat diberikan sebagai profilaksis kejang dengan loading dose IV 4-6g selama 20-60 menit, diikuti dengan maintenance dose 1-2 g/jam. Jumlah urin dan kadar kreatinin serum dimonitor. Refleks patella dan pernapasan sebaiknya sering dinilai. Kalsium glukonas sebaiknya selalu tersedia untuk mengantisipasi hipermagnesia. Untuk mencegah edema pulmoner, cairan intravena sebaiknya tidak lebih dari 100 mL/jam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Baca Selengkapnya&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cetrione.blogspot.com/feeds/6518726701010966913/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1911443891191992950/6518726701010966913' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/6518726701010966913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/6518726701010966913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cetrione.blogspot.com/2009/10/preeklampsia.html' title='Preeklampsia'/><author><name>Husnul Mubarak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13572144200003689020</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOhnb8XN2bYh-uv9ZhMVqekili4kxnI-ISIyvQB3Hf8sqSpggET3KilkeFgV_m_5jqV-5ygUdmhm2dTb9t0mXuozxAoeHiq0x0ycFyjxWxE6LRa5HRDJ0w2pwubMvITQ/s220/Foto007.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1911443891191992950.post-449858804817223025</id><published>2009-06-01T02:44:00.000-07:00</published><updated>2009-06-01T03:00:27.560-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Terjemahan"/><title type='text'>Anamnesis</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1Q1t7ZL9P66yFdPMPDI0WxqpsiyqGQCA_dIOIzV9FbaLjTYBZGapuKP2_tSaeqC4nvf7XAhzH9LuRTMUhuMmF4nqivAldP8rCKW5NijW0JSXwZSnE5BBLIvUiAdOr4Z2ZA2jhrNLZLcc/s1600-h/anamnesis+pemfis.jpg&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:x-large;&quot;&gt;ANAMNESIS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;Terjemahan dari&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; Bates&#39; Guide Physical Examination and History Taking Eight Editiom. Lippincott Williams and Wilkins &lt;/span&gt;oleh Husnul Mubarak,S.Ked&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;I. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anamnesis merupakan kumpulan informasi subjektif yang diperoleh dari apa yang dipaparkan oleh pasien terkait dengan keluhan utama yang menyebabkan pasien mengadakan kunjungan ke dokter. Anamnesis diperoleh dari komunikasi aktif antara dokter dan pasien atau keluarga pasien. Anamnesis yang baik untuk seorang dewasa mencakupi keluhan utama, informasi mengenai kelainan yang dialami sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat keluarga, dan informasi mengenai keadaan tiap sistem tubuh pasien. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai seorang dokter, anda akan membutuhkan keterampilan interpersonal yang dibutuhkan seriap hari dengan variasi yang unik dan beragam. Tidak seperti percakapan sosial, dimana anda memaparkan kebutuhan dan minat anda sendiri, anamnesis bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien. Komunikasi dan menjalin hubungan terapeutik dengan pasien merupakan suatu keterampilan yang sangat berharga dalam perawatan primer. Pada mulanya, anda akan berfokus untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan secara bersamaan, anda menggunakan teknik untuk mengembangkan kepercayaan pasien terhadap anda. Menciptakan interaksi supportif akan mempercepat pengumpulan informasi dan memicu pasien untuk memberikan penjelasan yang menyeluruh. Hal tersebut merupakan bagian terpenting dari proses terapeutik.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai dokter yang memfasilitasi wawancara pada pasien, anda akan menciptakan suatu rangkaian hipotesis mengenai penyebab timbulnya keluhan pasien. Anda kemudian akan membuat beragam dugaan dengan menyakan lebih banyak informasi yang lebih detail. Anda juga akan mengeksplorasi perasaan pasien dan kepercayaan mengenai masalahnya tersebut. Walaupun hanya sedikit yang dapat dilakukan terhadap keadaan pasien, mendiskusikan mengenai pengalaman pasien dengan penyakitnya tersebut dapat bersifat terapeutik. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Format anamnesis merupakan suatu kerangka terstruktur untuk mengorganisir informasi yang diperoleh dari pasien dalam bentuk tertulis maupun lisan: Format ini mengarahkan dokter pada informasi spesifik yang harus diperoleh dari pasien. Anamnesis yang dapat mengarahkan dokter pada informasi tersebut sebenarnya sangatlah bervariasi. Keterampilan dalam melakukan hal ini membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenai informasi tersebut, kemampuan dalam mendapatkan informasi yang akurat dan mendetail, dan keterampilan interpersonal yang dapat memudahkan anda merespon perasaan pasien.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jenis pertanyaan yang akan diajukan kepada pasien dalam anamnesis sangat beragam dan bergantung pada beberapa faktor. Cakupan dan banyaknya informasi dibutuhkan bergantung dari kebutuhan dan keluhan pasien, keadaan klinis yang ingin dicapai dokter,  dan keadaan klinis ( mis. Pasien rawat inap atau rawat jalan, jumlah waktu yang tersedia, praktek umum atau spesialisasi). Untuk pasien baru, anda membutuhkan suatu anamnesis kesehatan komprehensif. Untuk pasien lain dengan kunjungan klinik karena keluhan spesifik seperti batuk atau sakit pada saat kencing, membutuhkan anamnesis yang lebih spesifik berdasar pada keluhan pasien tersebut, anamnesis seperti ini biasa disebut anamnesis berorientasi dari masalah (problem-oriented history. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;I. Melakukan Anamnesis Komprehensif&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jenis pertanyaan yang akan diberikan dalam anamnesis sangat beragam menyesuaikan dengan beberapa faktor. Cakupan dan luas informasi yang ingin diperoleh berdasarkan keluhan utama pasien, tujuan klinis seorang dokter, dan kondisi klinis. Untuk pasien baru, anda perlu melakukan anamnesis komprehensif. Untuk pasien yang mencari penanganan spesifik untuk keluhan tertentu, seperti batuk, wawancara berpola terkait dengan keluhan tersebut diperlukan. Pada pusat kesehatan masyarakat, dokter seringkali menekankan upaya dalam promosi kesehatan, seperti berhenti merokok atau mencegah perilaku seks yang tidak sehat. Pada klinik spesialis, doter perlu melakukan anamnesis mendalam mengenai keluhan yang dialami pasien dan mengaitkannya dengan informasi yang diperlukan dalam cakupan spesialisasi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengetahui makna dan relevansi dari tiap komponen anamnesis komprehensif yang dijelaskan berikut ini, akan membantu anda untuk memilih jenis infomasi yang paling berguna untuk mencapai tujuan klinis dokter dan pasien. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;A. Komponen Anamnesis Komprehensif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komponen anamnesis komprehensif akan menyusun informasi yang diperoleh dari pasien menjadi lebih sistematis. Akan tetapi ulasan dibawah ini sebaiknya tidak mendikte rangkaian anamnesis yang akan anda lakukan diklinik, karena biasanya wawancara akan lebih bervariasi dan anamnesis harus lebih dinamis mengikuti kebutuhan pasien. Komponen anamnesis komprehensif mencakup :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Mencantumkan tanggal pengambilan anamnesis&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mencantumkan waktu pengambilan sangat penting dan pertama kali dilakukan pada saat mencatat hasil anamnesis yang dilakukan pada pasien, terutama dalam keadaan darurat atau pada rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Mengidentifikasi data pribadi pasien&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komponen ini mencakup nama, usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan pekerjaan. Sumber informasi dapat diperoleh dari pasien sendiri, anggota keluarga atau teman, atasan, konsultan, atau data rekam medis sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. Tingkat Reliabilitas (Dapat dipercaya atau tidak)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebaiknya dicatat jika dapat diketahui. Komponen ini penting untuk menentukan kualitas dari informasi yang diberikan oleh pasien dan biasanya ditentukan pada akhir anamnesis. Pasien yang ragu-ragu dalam menjelaskan gejala yang dialami dan tidak dapat menjelaskan secara detail apa yang dirasakan, mencerminkan bahwa informasi yang diperoleh dari anamnesis tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Sebaliknya, pasien dengan yang menjelaskan keluhan yang dirasakan secara rinci dan meyakinkan mencerminkan kualitas informasi yang dapat dipercaya. Kedua keadaan tersebut hanyalah contoh, masih banyak keadaan dari pasien yang dapat memperlihatkan tingkat reliabilitas informasi yang diberikan pada anamnesis. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4. Keluhan Utama&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keluhan utama merupakan salah satu dari beberapa keluhan lainnya yang paling dominan sehingga mengakibatkan pasien melakukan kujungan klinik. Usahakan untuk mendokumentasikan kata-kata asli yang dipaparkan oleh pasien, misalnya “sakit perut” atau “badan panas”. Terkadang pasien yang datang tidak memiliki keluhan yang jelas seperti pada pemeriksaan rutin berkala dan pemeriksaan kepegawaian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5. Anamnesis terpimpin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anamnesis terpimpin merupakan infomasi yang lengkap, jelas, detail, dan bersifat kronologik terkait dengan keluhan utama yang dialami pasien. Komponen ini harus mencakupi onset keluhan, keadaan yang memicu terjadinya keluhan, manifestasinya, dan pengobatan yang telah dilakukan. Gejala yang didapatkan harus memiliki karakteristik yang menjelaskan (1) lokasi; (2) kualitas; (3) kuantitas atau keparahan; (4) waktu yang mencakup onset, durasi, dan frekuensi; (5) keadaan yang memicu terjadinya keluhan; (6) faktor lain yang memperberat atau memperingan gejala; (7) gejala lain yang terkait dengan keluhan utama. Ketujuh poin tersebut sangat penting diperoleh untuk memahami seluruh gejala pasien. Penting pula untuk menelusuri keberadaan gejala lain yang akan dibahas pada ulasan tiap sistem tubuh. Keberadaan atau absennya suatu gejala dapat membantu memikirkan diagnosis differensial, yang merupakan beberapa diagnosis yang paling dapat menjelaskan keadaan pasien. Anamnesis terpimpin harus dapat mengungkap respon pasien terhadap gejala yang ia alami atau dampak yang ditimbulkan terhadap kehidupannya. Harus diingat, informasi mengalir secara spontan dari pasien, tetapi mengorganisir informasi tersebut merupakan tugas dokter.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengobatan yang telah dikonsumsi sebaiknya didokumentasi, termasuk nama obat, dosis, cara pemberian, dan frekuensi. Catat pula mengenai vitamin, mineral, atau suplemen herbal, dan obat KB. Meminta pasien membawa seluruh obat yang dikonsumsi merupakan ide yang baik agar anda dapat secara langsung melihat obat apa yang digunakan. Alergi, termasuk reaksi spesifik untuk suatu pengobatan seperti gatal atau mual, harus ditanyakan, begitupula alergi terhadap makanan, serangga, atau faktor lingkungan  lainnya. Tanyakan pula mengenai kebiasaan merokok, termasuk jumlah dan jenis rokok yang dikonsumsi. Jika ia telah atau pernah berhenti, tanyakan sejak kapan ia berhenti dan seberapa lama. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;6. Riwayat Penyakit Dahulu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penyakit pada masa kecil seperti cacar, rubella, mumps, polio, dll perlu ditanyakan dalam anamnesis. Termasuk penyakit kronis yang dialami sejak masa kecil. Selain itu, informasi mengenai riwayat penyakit pada masa dewasa perlu didapatkan dan mencakup empat hal yaitu sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;a. Riwayat medis, tanyakan mengenai adanya diabetes, hipertensi, asma, hepatitis, HIV, dan informasi riwayat opname. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;b. Riwayat operasi, tanyakan mengenai waktu, indikasi, dan jenis operasi yang dilakukan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;c. Riwayat ginekologis, tanyakan mengenai riwayat obstetrik, riwayat menstruasi, keluarga berencana, dan fungsi seksual&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;d. Riwayat Psikiatrik, tanyakan mengenai waktu, diagnosis, riwayat opname, dan pengobatan yang dijalani&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain keempat hal tersebut anda juga perlu memperoleh infomasi mengenai vaksinasi yang telah dilakukan, dan hasil pemeriksaan skrining yang pernah dijalani pasien.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;7. Riwayat Penyakit Pada Keluarga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam memperoleh informasi ini, tanyakan mengenai usia, penyebab kematian, atau penyakit yang dialami oleh keluarga terdekat pasien seperti orang tua, kakek-nenek, saudara, anak, atau cucu. Tanyakan mengenai keberadaan penyakit atau keadaan yang dicantumkan berikut: hipertensi, penyakit jantung koroner, dislipidemia, stroke, diabetes, gangguan thyroid atau ginjal, kanker, arthritis, tuberkulosis, asma atau penyakit paru lainnya, sakit kepala, kejang, gangguan mental, kecanduan obat-obatan, dan alergi, serta keluhan utama yang dilaporkan oleh pasien.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;8. Kepribadian dan Riwayat Sosial&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hal ini mencakup kepribadian pasien dan minat, sumber dukungan, cara mengatasi masalah, kekuatan, dan ketakutan. Sebaiknya ditanyakan mengenai: pekerjaan dan tingkat pendidikan; sumber stress, baik yang baru muncul atau yang telah kronik; pengalaman hidup penting; kegiatan pengisi waktu, dan aktivitas hidup sehari-hari (activities of daily living/ADL). Fungsi dasar minimal harus ditanyakan, terutama pada pasien lansia dan orang cacat. Kepribadian dan riwayat sosial juga melingkupi kebiasaan hidup yang sehat atau menciptakan resiko, seperti olahraga atau pola makan, tanyakan frekuensi olahraga, pola makan harian, suplemene, konsumsi kopi atau teh. Anda dapat pula menanyakan riwayat pengobatan alternatif yang pernah diikuti pasien. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;9. Ulasan Sistem Tubuh&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Memahami dan menggunakan pertanyaan untuk memperoleh informasi dari sistem tubuh pada mulanya sulit dilakukan. Pikirkan mengenai rangkaian pertanyaan dari kepala hingga ujung jari kaki (head to toe) Penting untuk memberitahu pasien bahwa anda akan menanyakan banyak pertanyaan dan hal ini anda butuhkan untuk membuat anamnesis anda menjadi lengkap. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mulailah dari pertanyaan umum yang dapat anda berikan untuk tiap sistem tubuh yang berbeda-beda. Hal ini memfokuskan perhatian pasien dan mempermudah anda untuk menanyakan hal yang lebih spesifik. Contoh pertanyaan permulaan : “ada keluhan pada telinga atau pendengaran anda?”, “bagaimana pernapasan anda?”, “Ada masalah dengan pencernaan?”, dsb. Perlu diketahui anda perlu menambahkan beberapa pertanyaan tergantung dari usia pasien, keluhan, keadaan umum, dan keputusan klinis anda. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertanyaan untuk setiap sistem tubuh dapat mengungkap permasalahan yang pasien tidak hiraukan, terutama daerah lain yang tidak terkait dengan keluhan utama. Kejadian medis penting seperti penyakit terdahulu yang bermakna atau kematian orang tua, membutuhkan eksplorasi penuh. Buat teknik pertanyaan anda menjadi lebih fleksibel. Mewawancarai pasien dengan beragam pertanyaan, penting bagi anda untuk mengorganisir menjadi format tertulis yang formal setelah anamnesis dan pemeriksaan diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa dokter juga melakukan anamnesis ini bersamaan dengan pemeriksaan fisik untuk tiap sistem. Jika pasien hanya memiliki sedikit gejala, kombinasi anamnesis dan pemeriksaan fisik mengefisiensikan waktu. Akan tetapi, jika terdapat banyak gejala, rangkaian pertanyaan dapat mengganggu pemeriksaaan dan pencatatan informasi akan kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dibawah ini merupakan daftar pertanyaan untuk tiap sistem. Jika anda telah berpengalaman, menanyakan hal-hal dibawah ini tidak memerlukan banyak waktu :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;a. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Keadaan umum&lt;/span&gt;, berat badan sebelum keluhan, perubahan berat badan. Kelemahan, kelelahan, demam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;b.  &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Kulit&lt;/span&gt;, gatal, bercak, benjolan, kering, perubahan warna, perubahan rambut dan kuku&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;c. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Telinga-Hidung-Tenggorok-Mata-Kepala, Kepala&lt;/span&gt;: Sakit kepala, cedera kepala, pusing, merasa kepala ringan; Mata: tajam pandangan, penggunaan kaca mata, pemeriksaan terakhir, nyeri, kemerahan, air mata berlebih, penglihatan ganda, penglihatan kabur, katarak, dll; Telinga: pendengaran, suara mendengung, vertigo, nyeri, infeksi, cairan keluar dari telinga; Hidung dan sinus: riwayat flu, sumbatan hidung, hingus, gatal, hidung berdarah, dan masalah sinus;Tenggorok (atau mulut dan faring): keadaan gigi, gusi, riwayat nyeri tenggorokan, sakit menelan, dan suara parau. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;d. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Leher&lt;/span&gt;, benjolan, pembesaran kelenjar, gondok, nyeri, atau kekakuan pada leher.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;e. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Payudara&lt;/span&gt;, benjolan, nyeri, cairan puting, riwayat pemeriksaan mandiri (Sadari)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;f. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Respiratorik&lt;/span&gt;, batuk, sputum, batuk darah, sesak napas, mengik. Anda dapat pula menanyakan ada tidaknya riwayat tuberkulosis, pneumonia, emphisema, asma, dan bronkhitis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;g. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Kardiovaskuler&lt;/span&gt;, permasalahan jantung, tekanan darah tinggi, demam rematik, nyeri dada atau rasa tidak nyaman, palpitasi, sesak pada saat baring, paroxismal nocturnal dispnea, edema, riwayat EKG atau pemeriksaan jantung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;h. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Gastrointestinal&lt;/span&gt;, sulit menelan, nyeri perut dan lokasinya, nafsu makan, mual, muntah, warna dan konsistensi feses, perdarahan anus, hemorrhoid, konstipasi, diare. Nyeri perut, intoleransi makanan, sendawa berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;i. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Urinarius, &lt;/span&gt;frekuensi berkemih, poliuria, nokturia, urgensi, nyeri pada saat berkemih, batu ginjal, inkontinensi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;j. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Genitalia&lt;/span&gt;, Pria: hernia, cairan dari penis, nyeri penis atau testis, riwayat penyakit menular seksual, kebiasaan seksual, kepuasan, metode KB, penggunaan kondom. Wanita: usia menarke; keteraturan, frekuensi dan durasi haid; jumlah darah, perdarahan diantara masa haid atau setelah berhubungan seksual; dismenore, gangguan pre-menstruasi; usia menopause, gejala menopause, perdarahan post-menapuse; sekret vagina, gatal, perih, benjolan, riwayat penyakit menular seksual dan pengobatannya; jumlah kehamilan dan kelahiran, metode KB, riwayat keguguran, komplikasi kehamilan; preferensi seksual, fungsi, kepuasan, permasalahan lain seperti dispareunia; terpapar dengan infeksi HIV.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;k. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Vaskuler perifer,&lt;/span&gt; klaudikasio intermitten, keram, varises.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;l. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Muskuloskeletal,&lt;/span&gt; nyeri otot dan sendi, kekakuan, arthritis, riwayat gout, dan nyeri punggung. Jika dirasakan, tanyakan lokasi dari otot atau sendi yang mengalaminya, ada tidaknya bengkak, kemerahan, nyeri, kekakuan, kelemahan, atau pergerakan yang terbatas; termasuk waktu gejala tersebut terjadi, durasi, dan riwayat trauma&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;m. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Neurologik,&lt;/span&gt; pingsan, kejang, kelemahan, paralisis, rasa baal, kesemutan, tremor atau pergerakan involunter lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;n. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Hematologik&lt;/span&gt;, anemia, gusi mudah berdarah, riwayat reaksi post transfusi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;o. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Endokrin&lt;/span&gt;, masalah thyroid, intoleransi panas dan dingin, keringat berlebih, haus dan lapar berlebih, poliuria, perubahan ukuran sepatu yang mendadak&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;p. &lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Psikiatrik,&lt;/span&gt; kecemasan, ketegangan, mood termasuk deresi, gangguan memori, percobaan bunuh diri jika ada. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;B. Persiapan Anamnesis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mewawancarai pasien untuk memperoleh infomasi kesehatan membutuhkan rencana. Anda sebaiknya mempertimbangkan beberapa poin penting dibawah ini sebelum menjalin hubungan yang baik dengan pasien, poin penting tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Luangkan waktu untuk introspeksi. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai seorang dokter, kita akan menghadapi beragam jenis orang, dan masing-masing memiliki keunikan. Mendirikan hubungan yang baik dengan keragaman usia, kelas sosial, ras, etnis, dan keadaan kesehatan atau penyakit merupakan kesempatan yang jarang dan suatu keistimewaan seorang dokter. Menjadi terbuka dan menghargai perbedaan merupakan suatu keterampilan yang cukup sulit. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Membaca Rekam Medis Pasien&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum bertemu pasien, bacalah rekam medisnya. Tujuan dari al tersebut untuk mengumpulkan informasi yang berharga untuk kemudian membantu kita mengembangkan pikiran mengenai apa yang perlu kita dapatkan dari pasien. Perhatikan data identitas, daftar keluhan, daftar medikasi, dan detil lainnya, seperti ada tidaknya alergi. Rekam medik seringkali memberikan informasi berharga mengenai diagnosis terdahulu dan penanganannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. Menetapkan Tujuan Anamnesis&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum memulai anamnesis, penting untuk mengklarfikasikan tujuan dalam wawancara. Sebagai seorang dokter, tujuan utama dapat mencakup hal yang sangat luas mulai untuk mengisi formulir yang dibutuhkan oleh fasilitas kesehatan hingga untuk membentuk hipotesis yang didasari oleh rekam medis yang telah dibaca sebelumnya. Dengan menggunakan sedikit waktu untuk menentukan tujuan anamnesis anda, anda akan merasa mudah untuk memunculkan pertanyaan yang akan megarahkan anda pada tujuan klinis anda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4. Memperhatikan Perilaku dan Penampilan Diri&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti anda memperhatikan pasien anda selama anamnesis, pasien akan memperhatikan anda pula. Secara sadar atau tidak, anda mengirim pesan melalui kata-kata anda dan perilaku anda. Postur tubuh, gestur, kontak mata, dan nada suara dapat mengekspresikan minat, perhatian, penerimaan, dan pemahaman. Seorang pewawancara yang handal terlihat tenang dan tidak terburu-buru, bahkan ketika waktu terbatas. Reaksi yang dapat menunjukkan ketidaksetujuan, memalukan, ketidaksabaran, dan kebosanan seringkali dokter rasakan, dokter harus dapat menyembunyikan reaksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penampilan anda juga mempengaruhi hubungan klinis anda. Dokter yang berpakaian rapi, bersih, konservatif, dan disertai papan nama dapat meyakinkan pasien. Pertimbangkanlah perspektif pasien. Ingat bahwa anda menginginkan pasien untuk mempercayai anda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5. Memperbaiki Lingkungan Klinik&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Buatlah klinik menjadi senyaman mungkin dan memberikan privasi pada pasien. Walaupun anda harus berbicara dengan pasien anda dalam keadaan yang menyulitkan, lingkungan yang memadai menunjang komunikasi. Jika terdapat tirai, tutuplah tirai tersebut sebelum memulai percakapan. Sebagai seorang “tuan rumah”, bagian dari pekerjaan anda adalah untuk mengatur lokasi “tamu” yang anda akan terima, dalam hal ini pasien yang mengunjungi anda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;6. Mempersiapkan catatan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai pemula anda mungkin membutuhkan catatan untuk menulis informasi yang anda temukan pada saat anamnesis. Walaupun seorang dokter yang berpengalaman dapat mengingat banyak informasi tanpa catatan, tidak ada seorang pun yan dapat mengingat seluruh detil informasi dari anamnesis komprehensif. Buatlah catatan yang ringkas, padat, dan mudah dipaham, jangan sampai perhatian anda dalam mewawancarai pasien terganggu dengan kesibukan anda dalam mencatat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;C. Proses Anamnesis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah anda menyediakan waktu mempersiapkan wawancara, anda siap untuk mendengarkan pasien, menemukan permasalahannya, dan mempelajari penyakit yang dialaminya. Pada umumnya, anamnesis memiliki beberapa tingkat. Selama proses ini, sebagai dokter, anda haru selalu memahami perasaan pasien, membantu pasien mengungkapkan masalahnya, berespon terhadap isi anamnesis, dan menemukan hal yang bermakna. Berikut ini merupakan rangkaian tahapan dalam anamnesis :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Menyalami pasien dan menciptakan hubungan yang bersahabat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Momen awal yang anda miliki bersama pasien merupakan fondasi dari hubungan dokter-pasien selanjutnya. Bagaimana anda menyapa pasien dan pengunjung lain di ruangan anda akan memberikan kenyamanan pasien, dan akan membentuk kesan pertama pasien terhadap anda. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anda memulai dengan menya pa pasien anda dengan namanya dan memeperkenalkan nama anda. Jika memungkinkan, berjabat tangan. Jika ini adalah pertemuan pertama, jelaskan peranan anda dan bagaimana anda akan terlibat dalam proses terapeutik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika ada pengantar pasien di dalam ruangan, pastikan anda menyadarinya dan menyapa mereka menanyakan siapa namanya dan apa hubungannya dengan pasien. Biarkan pasien memutuskan apakah pengantarnya berada dalam ruangan atau diluar ruangan dan minta izin pada pasien untuk menganamnesis didepan pengantar pasien.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penting untuk memperhatikan kenyamanan pasien. Lihat jika anda melihat tanda ketidaknyamanan seperti mengganti posisi duduk berulang kali atau ekspresi wajah yang menunjukkan perasaan kecemasan atau nyeri. Pikirkan mengenai tata ruang dan sejauh mana anda sebaiknya dengan pasien anda. Ingat bahwa latar belakang budaya dapat mempengaruhi jarak antar individu. Pilihlah jarak yang dapat memfasilitasi percakapan dan kontak mata yang baik. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jangan alihkan perhatian anda terhadap hal lain. Coba untuk tidak melihat ke bawah untuk mencatat atau membaca rekam medik, dan luangkan sedikit waktu untuk bercengkrama kepada pasien.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Mengundang Cerita Pasien&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah menciptakan hubungan yang bersahabat dengan pasien anda siap untuk mengejar alasan pasien untuk melakukan kunjungan klink, atau biasa disebut keluhan utama. Mulailah dengan pertanyaan terbuka yang membebaskan pasien untuk berespon. ”Keluhan apa yang membawa anda kesini hari ini, pak?” atau ”Ada yang bisa saya bantu,pak?”. Pertanyaan seperti diatas memacu pasien untuk mengungkapkan keluhannya dan tidak membatasi pasien pada jawaban yang terbatas dan tidak informatif seperti jawaban ”ya” atau ”tidak”. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penting bagi anda untuk berlatih mengikuti kemauan pasien. Teknik wawancara yang baik menggunakan petunjuk verbal dan non-verbal untuk mempersilahkan mereka berkeluh secara spontan. Sebaiknya anda terlihat mendengarkan secara aktif dengan menganggukkan kepala anda atau menggunakan kata seperti ”oh ya?”, ”terus?” dan ”oh begitu..”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa pasien mungkin hanya melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan tidak memiliki keluhan yang spesifik. Adapul pasien yang langsung menginginkan pemeriksaan fisik karena merasa tidak nyaman mengungkapkan keadaannya. Pada keadaan seperti ini, meminta pasien untuk mulai bercerita tetap penting dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. Menggunakan Waktu Seefektif Mungkin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dokter biasanya melakukan anamnesis dengan tujuan tertentu dalam pikiran mereka. Pasien juga memiliki pertanyaan dan permasalahan tertentu. Penting untuk mengidentifikasi seluruh permasalahan ini pada saat permulaan. Melakukan hal tersebut memudahkan anda untuk menggunakan waktu yang tersedia secara efektif. Untuk semua dokter, pengaturan waktu selalu penting dilakukan. Sebagai dokter, anda harus memfokuskan wawancara pada permasalahan yang paling mencolok.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4. Memperluas dan Mengklarifikasi Anamnesis&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anda dapat memandu pasien untuk menjelaskan beberapa informasi yang sepertinya paling penting. Bagi seorang dokter, setiap gejala memiliki atribut yang harus diklarifikasikan, termasuk konteks, keterkaitan, dan kronologis, terutama keluhan nyeri. Untuk seluruh gejala, sangat penting untuk memahami karakteristik utamanya. Tujuh atribut untuk tiap gejala harus senantiasa ditanyakan. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(0, 0, 238); &quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1Q1t7ZL9P66yFdPMPDI0WxqpsiyqGQCA_dIOIzV9FbaLjTYBZGapuKP2_tSaeqC4nvf7XAhzH9LuRTMUhuMmF4nqivAldP8rCKW5NijW0JSXwZSnE5BBLIvUiAdOr4Z2ZA2jhrNLZLcc/s320/anamnesis+pemfis.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5342293618256529746&quot; style=&quot;display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 202px; &quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika anda memulai mengeksplorasi atribut tersebut anda harus yakin bahwa anda menggunakan bahwasa yang sesuai dan dapat dimengerti oleh pasien. Bahasa yang teknis membingungkan pasien dan biasanya memperburuk komunikasi. Sedapat mungkin, gunakanlah kata-kata pasien dan pastikan anda mengklarifikasi apa yang diucapkannya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk mengisi detail tertentu, fasilitasi pasien dengan mengarahkan pasien dari pertanyaaan terbuka menuju pertanyaan tertutup dan kemudian kembali ke pertanyaan terbuka lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mendapatkan rangkaian waktu dan perjalanan gejala yang dialami pasien sangat penting. Anda dapat mengembangkan kronologis penyakit dengan memberi pertanyaan ”kemudian?” atau ”setelah itu, apa yang terjadi?”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Menciptakan dan Mengecek Hipotesis Diagnostik&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika anda mendengarkan permasalahan pasien, anda akan memulai ntuk menciptakan dan mengecek hipotesisi diagnostik mengenai proses penyakit apa yang sebenarnya menjadi penyebab. Mengidentifikasi beberapa atribut mengenai gejala pasien dan mengejar detil spesifik merupakan hal fundamental untuk mengetahui pola penyakit dan membedakan satu penyakit dengan penyakit lainnya. Ketika anda lebih mengetahui mengenai pola penyakit, mendengarkan pasien dan mengaitkan informasi dengan pola tersebut akan terasa menjadi lebih otomatis. Sebagai data tamahan yang akan bermanfaat bagi analisa anda gunakan pertanyaan yang relevan pada ulasan tiap sistem tubuh. Dengan cara ini anda akan menyusun bukti klinis dalam menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan diagnosis.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;6.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Memiliki Pemahaman yang Sama Terhadap Masalah Pasien&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari beberapa literature terkini telah jelas bahwa memberikan fasilitas kesehatan yang baik membutuhkan pemahaman mendalam mengenai masalah yang ditimbulkan dari gejala yang dialami pasien. Tujuh atribut suatu gejala dapat memberikan detil yang bermanfaat dalam anamnesis pasien, selain itu dibutuhkan pemahaman mengenai perbedaan penyakit dan sakit sehingga dokter dapat memahami sepenuhnya apa yang perlu diketahui.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penyakit merupakan penjelasan yang dimunculkan seorang klinis dalam menjawab gejala yang dialami pasien. Hal ini berasal dari cara dokter mengolah informasi yang ditemukan dari pasien dan menerjemahkannya menjadi diagnosis klinis dan rencana penatalaksanaan. Sakit dapat didefinisikan sebagai pengalaman yang dialami oleh pasien terhadap suatu gejala. Banyak faktor yang dapat membentuk pengalaman ini, termasuk riwayat kesehatan pribadi atau keluarga, efek dari gejala terhadap keseharian, pandangan individual, dan harapan dari penananganan medis.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keluhan utama seperti nyeri tenggorokan dapat menggambarkan dua hal yang berbeda ini. Pasien kemungkinan paling memikirkan nyeri dan kesulitan menelan, pengalaman kerabatnya yang pernah diopname akibat tonsilitis, atau  tidak hadir di kantor. Dokter, kemungkinan hanya berpikir pada poin spesifik pada anamnesis yang membedakan antara faringitis streptococcus dengan etiologi lainnya. Untuk mengerti harapan pasien, dokter sebaiknya lebih memahami dari sekedar atribut suatu gejala. Mempelajari persepsi pasien terhadap sakit membutuhkan pertanyaan-pertanyaan yang menjawab poin dibawah ini :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;a.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Pemahaman pasien mengenai penyebab permasalahan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;b.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Perasaan pasien, terutama ketakutan akan permasalahn&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;c.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Hatapan pasien dari dokter dan penanganan &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;d.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Efek masalah terhadap kehidupan pasien&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;e.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Pengalaman serupa yang pernah dialami keluarga atau kerabat&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;f.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Respon terapeutik yang pernah pasien lakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pasien kemungkinan mengkhawatirkan bahwa suatu nyeri merupakan gejala dari penyakit yang serius dan ingin penanganan, di lain pihak, pasien mungkin kurang peduli dengan penyebab nyeri tersebut dan hanya ingin pereda nyeri. Anda harus mengerti apa yang diharapkan pasien dari anda&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;7.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Menentukan Rencana Selanjutnya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mempelajari penyakit dan mengkonseptualisasikan sakit memberikan anda dan pasien suatu kesempatan untuk menemukan gambaran permasalahan. Gambaran ini akan membentuk dasar dalam merencanakan pemeriksaan selanjutnya (pemeriksaan penunjang, pemeriksaan laboratorium, konsul, dll) dan merancang penatalaksanaan. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;8.&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space:pre&quot;&gt; &lt;/span&gt;Menjadwalkan Pertemuan Berikutnya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anda mungkin merasa mengakhiri suatu wawancara sulit dilakukan. Pasien kemungkinan memiliki banyak pertanyaan dan jika anda telah melakukan pekerjaan anda dengan baik, mereka akan nyaman berbicara terus dengan anda. Yakinkan bahwa pasien mengerti mengenai rencana yang telah anda kembangkan. Pada saat anda menutup pembicaraan, anda perlu menjelaskan kembali rencana ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pasien sebaiknya memiliki kesempatan untuk memberikan pertanyaan terakhir, akan tetapi hal tersebut dapat memakan waktu jika pasien membawa topik baru. Jika hal tersebut terjadi, maka yakinkan pasien anda bahwa anda akan menyelesaikan permasalahan tersebut pada waktu yang akan datang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Baca Selengkapnya&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cetrione.blogspot.com/feeds/449858804817223025/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1911443891191992950/449858804817223025' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/449858804817223025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/449858804817223025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cetrione.blogspot.com/2009/06/anamnesis.html' title='Anamnesis'/><author><name>Husnul Mubarak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13572144200003689020</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOhnb8XN2bYh-uv9ZhMVqekili4kxnI-ISIyvQB3Hf8sqSpggET3KilkeFgV_m_5jqV-5ygUdmhm2dTb9t0mXuozxAoeHiq0x0ycFyjxWxE6LRa5HRDJ0w2pwubMvITQ/s220/Foto007.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1Q1t7ZL9P66yFdPMPDI0WxqpsiyqGQCA_dIOIzV9FbaLjTYBZGapuKP2_tSaeqC4nvf7XAhzH9LuRTMUhuMmF4nqivAldP8rCKW5NijW0JSXwZSnE5BBLIvUiAdOr4Z2ZA2jhrNLZLcc/s72-c/anamnesis+pemfis.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1911443891191992950.post-7651965386500083161</id><published>2009-05-25T06:57:00.000-07:00</published><updated>2009-06-25T07:15:07.152-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikiatri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="saraf"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Terjemahan"/><title type='text'>Mencegah Gangguan Ingatan</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Mencegah Gangguan Ingatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Aaron P Nelson dalam  &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Harvard Medical School Guide To Achieving Optimal Memory&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Alih Bahasa oleh &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Husnul Mubarak, S.Ked&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tak peduli seberapa tua anda, tidak pernah terlambat untuk mengambil langkah untuk mencegah gangguan ingatan atau lupa. Pada bagian ini, Harvard membahas sembilanstrategi untuk menjaga dan mengoptimalkan ingatan. Beberapa dari tips ini merupakan kebiasaan menyehatkan yang dapat mengurangi resiko penyakit yang kemungkinan menggangu ingatan begitupula mengurangi kecenderungan anda untuk berobat akibat ingatan yang buruk. Terdapat pula strategi yang sepertinya menguatkan otak dan meningkatkan fungsi kognitif. Berita terbaiknya, strategi ini semuanya tidak mahal dan tidak sulit dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Lakukan Olahraga Rutin &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Didalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang kuat. Seseorang yang sering berolahraga dengan rutin cenderung memiliki ingatan yang tajam pada umur tujuh dan delapan puluhan tahun. Anda tidak perlu lari maraton atau mengerjakan hal-hal ekstrim lainnya, yang anda perlu lakukan adalah menjaga jantung tetap berdetak kencang dan mengeluarkan keringat. Suatu penelitian yang dilakukan oleh MacArthur Foundation Study of Aging di Amerika menyimpulkan bahwa peserta penelitian dengan fungsi kognitif yang kuat berolahraga hampir tiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan pada tahun 2000 dari Case Western Reserve University School of Medicine menyimpulkan bahwa berolahraga dengan jogging  atau terlibat dalam hobbi yang aktif secara fisik, seperti berkebun, memiliki resiko penyakit Alzheimer yang lebih rendah dibandingkan seseorang dengan gaya hidup bermalas-malasan. Mengapa olahraga fisik mempengaruhi kesehatan otak dan fungsi kognitif? Peneliti dari Universitas Illinois berpikir bahwa hubungannya melibatkan beberapa faktor, yang terkait dengan kemampuan olahraga untuk memaksimalkan plstisitas otak : meningkatkan pertumbuhan kapiler disekitar neuron, yang menyediakan oksigen dan gizi; meningkatkan kepadatan sinaptk, mempromosikan efek positif kolinergik. Peneliti mempublikasikan hasil dari dua penelitian ini  pada tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penelitian pertama, pada orang berusia empat puluh tahun keatas, ditemukan bahwa peserta dengan stamina kardiovaskuler yang lebih baik (sebagaimana yang digambarkan oleh uptake oksigen maksimal selama aktivitas aerobik) bekerja lebih baik pada tugas yang kompleks dan memperlihatkan aktivitas fMRI yang secara bermakna lebih tinggi pada regio otak yang berkaitan. Pada penelitian yang kedua, dua puluh sembilan orang dewasa, usia 58 hingga 77 tahun, secara acak dimasukkan dalam kelompok yang aktif berolahraga dan pada kelompok yang kurang beraktivitas. Setelah 6 bulan, kelompok aerobik yang memiliki peningkatan stamina kardiovaskuler dibandingkan kelompok kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas fisik juga dikaikan dengan resiko perkembangan demensia. Peneliti pada Hawaii menemukan bahwa seorang lansia yang berjalan dengan jarak yang paling dekat memiliki peningkatan resiko demensia sebesar dua kali lipat dibandingkan pria yang berjalan dengan jarak yang lebih jauh.  Peneliti dari Harvard melaporkan penemuan serupa dari Nurses’ Health Study, yang diikuti lebih dari 120.000 orang wanita Amerika sejak tahun 1976.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang sulit menemukan waktu untuk berolahraga karena jadwal kerja yang padat dan kewajiban terhadap keluarga. Jawaban penulis adalah, pasti suatu saat tidak ada waktu untuk berolahrga, kana tetapi jangan biarkan kata-kata “Saya sangat sibuk” menjadi pembelaan anda untuk bermalas-malasan. Inilah cara untuk mulai aktif secara fisik :&lt;br /&gt;-    Ketika memungkinkan,  pilih jalan kaki atau bersepeda, tidak menyetir atau naik motor.&lt;br /&gt;-    Berkeliling kompleks perumahan dengan berjalan tiap hari pada sore hari. Sebagai motivasi, minta pasangan atau teman anda untuk menemani anda berjalan.&lt;br /&gt;-    Gunakan tangga bukan lift jika ingin ke tempat kerja&lt;br /&gt;-    Berkebun&lt;br /&gt;-    Bergabung dengan kelompok senam&lt;br /&gt;-    Berenang secara rutin jika fasilitas memadai&lt;br /&gt;-    Lakukan olahraga yang membutuhkan tenaga seperti tenis, lari, atau bersepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tidak Merokok &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa perokok tidak memiliki daya ingat sebaik orang yang tidak merokok. Hal tersebut tidaklah mengejutkan jika anda berpikir bahwa merokok merupakan faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler dan penyakit lain yang berkontribusi secara langsung dan tidak langsung terhadap gangguan ingatan. Merokok juga merusak paru-paru dan menyempitkan pembuluh darah yang menuju ke otak, menurunkan suplai oksigen sehingga membahayakan neuron-neuron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti kesehatan masyarakat dari British telah mengikuti lebih dari lima ribu orang yang lahir pada tahun 1946, mensurvey kebiasaan merokok mereka dari waktu ke waktu. Pada tahun 1999, ketika subjek penelitian telah berusia 53 tahun, peneliti mengeksplorasi hubungan antara keaktifan merokok dan kemampuan dalam tes kognitif. Peneliti menemukan bahwa merokok berhubungan dengan penurunan yang lebih berat dalam hal kemampuan memori verbal dan kecepatan pengolahan visual dan yang terpenting, mereka menemukan bahwa kemampuan kognitif yang lebih baik pada seseorang yang berhenti merokok pada jangka waktu peneitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu penelitian besar di Eropa melaporkan hal yang serupa pada sampel lanjut usia. Perokok mengalami tingkat penurunan yang lebih besar dalam hal penilaian fungsi kognitif global dibandingkan yang tidak merokok. Penelitian ini mengatakan bahwa merokok dapat mempengaruhi fungsi kognitif dengan memicu cedera cerebrovaskuler akibat adanya atherosclerosis dan hipertensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Mengkonsumsi Vitamin &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianjurkan untuk mengkonsumsi vitamin C karena banyak penelitian yang melaporkan bahwa antioxidant mencegah gangguan ingatan akibat penuaan dan demensia, termasuk penyakit Alzheimer. Antioxidant melawan radikal bebas, suatu molekul yang normal berada pada tubuh tetapi merusak jaringan tubuh yang sehat, termasuk jaringan otak. Kita ketahui bahwa radikal bebas mempercepat proses penuaan, dan maka dari itu, beralasan jika dikatakan antioxidant dapat mempercepat gangguan ingatan yang terkait penuaan. Sepertinya pula radikal bebas berkontribusi terhadap perkembangan penyakit Alzheimer, karena kerusakan oksidatif yang ditemukan pada otopsi otak pasie Alzheimer. Suatu penelitian menyebutkan bahwa vitamin E dan C bermanfaat dalam penatalaksanaan gangguan ingatan terkait penuaan. Penelitian pada tahun 2002 mempublikasikan pada Archieves of Neurology menyatakan bahwa vitamin E, bukan antioxidant lainnya, dapat memperlambat penurunan mental terkait penuaan. Peneliti mensurvey 2889 individu (rerata usia 74 tahun) terkait mengenai intake gizi dan penggunaan suplemen vitamin dan mineral kemudian mengevaluasi perubahan dalam hal fungsi kognitif dalam jangka waktu sekitar tiga tahun. Orang yang mengkonsumsi vitamin E paling banyak mengalami penurunan fungsi kognitif 36% lebih sedikit dibandingkan mereka yang mengkonsumsi paling sedikit.&lt;br /&gt;  Terdapat pula bukti bahwa vitamin C dan E, jika dikonsumsi bersamaan, akan mencegah demensia. Penelitian terhadap 3385 pria Amerika-Jepang usia 71 hingga 93 tahun, menyimpulkan bahwa konsumsi suplemen vitamin C dan E secara rutin memiliki insiden demensia 88% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi kedua suplemen tersebut. Tingkat demensia paling sedikit pada pria yang mengkonsumsi vitami C dan E paling lama, menyimpulkan bahwa konsumsi jangka panjang penting untuk menjaga fungsi kognitif.&lt;br /&gt;Terdapat bukti penelitian lain yang mempertanyakan kemampuan suplemen antioxidan dalam mencegah penyakit Alzheimer. Suatu penelitian pada tahun 2003 terhadap 980 orang, melaporkan tidak ada keterkaitan antara intake antioxidant dengan perkembangan penyakit Alzheimer. Akan tetapi, penelitian pada tahun 2004 yang lebih besar yang dipublikasikan oleh Archieves of Neurologi menemukan bahwa seseorang yang mengkonsumsi suplemen vitamin C dan E memiliki resiko yang lebih rendah untuk mengalami Alzheimer dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi suplemen antioxidant. Pada penelitian ini sebanyak 4740 orang umur 65 tahun keatas disurvey mengenai konsumsi vitamin dan tanda Alzheimer serta bentuk demensia lainnya dievaluasi. Prevalensi pasien dengan penyakit Alzheimer lebih rendah 78% pada populasi yang mengkonsumsi vitamin C dan E dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi. Insiden penyakit Alzheimer selama penelitian ini 64% lebih rendah pada kelompok pengkonsumsi vitamin C dan E. Jika anda mengalami masalah dengan pembekuan darah – sebagai contoh terkait dengan defisiensi vitamin K atau anda mengkonsumsi obat yang dapat mengencerkan darah- anda sebaiknya mengkonsultasikan dengan dokter anda mengenai konsumsi vitamin E karena dapat mengganggi pembekuan darah.&lt;br /&gt;  Vitamin B juga penting sebagai proteksi neuron serta menghancurkan homosistein, suatu asam amino pada darah yang dalam kadar yang tinggi menjadi faktor resiko utama terjadinya penyakit jantung, stroke, dan penyakit vaskuler perifer. Walaupun kadar vitamin B dapat disediakan oleh pola makan yang seimbang, defisiensi juga dapat dipengaruhi oleh usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Melibatkan diri Anda dengan Orang Lain (Bersosialisasi) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Tanpa perlu dikatakan, menjaga hubungan positif dengan keluarga dan sahabat secara emosional dan sosial merupakan suatu hadiah. Akan tetapi mungkin belum diketahui, bahwa hal tersebut baik pula untuk tubuh dan bermanfaat bagi otak anda. Penelitian yang dilakukan oleh MacArthur mengenai penuaan dan penelitian-penelitian lainnya menyatakan bahwa dukungan sosial yang baik dapat memperbaiki kemampuan ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian di Kanada yang dipublikasikan pada tahun 2003 mencoba mencari efek keterlibatan sosial terhadap fungsi kognitif pada kelompok lanjut usia dengan umur 65 tahun ke atas. Dalam kurun waktu empat tahun, peneliti menemukan bahwa ikatan sosial merupakan prediktor fugsi kognitif yang kuat. Dalam arti lain, probabilitas fungsi kognitif yang tetap kuat lebih tinggi pada lansia yang bersosialisasi lebih sering dan memiliki ikatan sosial yang baik, dan kecenderungan mengalami gangguan kognitif paling tinggi pada peserta penelitian yang secara sosial tidak terlibat. Peneliti menyimpulkan bahwa ikatan sosial dan aktivitas yang kurang merupakan faktor resiko terjadinya penurunan fungsi kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Terdapat beberapa alasan mengapa menjaga kehidupan sosial yang aktif dapat mencegah gangguan ingatan. Hubungan interpersonal dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk terlibat dalam aktivitas yang menstimulasi intelektual. Hubungan sosial juga mengurangi dampak dari peristiwa buruk dalam hidup sehingga mengurangi efek negatif stress terhadap otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Anda mungkin bertanya apakah semua hubungan sosial itu baik. Sebagai contoh, apakah sebaiknya anda berkawan dengan tetangga atau keluarga yang suka mengganggu karena anda berpikir hubungan tersebut akan bermanfaat bagi otak anda?Mungkin  tidak, kecuali anda beranggapan bahwa hubungan tersebut dapat membaik. Hubungan yang terbaik adalah mereka yang dapat menghargai anda, membuat anda merasa dilibatkan dan dapat mendukung anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Makan Makanan Bergizi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Makan banyak buah-buahan dan sayur-sayuran, disertai dengan gandum utuh; konsumsi lemak yang menyehatkan dari ikan dan kacang-kacangan. Makanan seperti ini menjaga kadar kolesterol anda dalam batas normal dan arteri tetap bersih. Manfaat ini kemudian menurunkan resiko terkena penyakit vaskuler dan stroke termasuk varian stroke yang ”tenang” yang dapat secara akumulatif merusak fungsi otak. Buah-buahan dan sayut-sayuran dapat bermanfaat dalam banyak hal; banyak yang menjadi sumber antioxidan yang baik, zat giiz yang mencegah efek buruk penuaan, begitu pula vitamin B-kompleks. Vitamin B juga ditemukan pada gandum utuh, nasi, kacang-kacangan, telur, daging, dan ikan. Kurangi mengonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh atau lemak trans, yang dapat memicu atherosklerosis. Deposit lemak ini didalam pembuluh darah akan mempersempit aliran darah dan dapat menyebabkan stroke jika terlepas akibat menyumbat total aliran darah pada arteri-arteri kecil di otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Makan dengan sehat berarti mencegah kalori berlebihan sehingga anda dapat menjaga berat badan normal. Dibandingkan dengan orang yang overweight, seseorang dengan berat badan ideal cenderung jarang mengalami penyakit akibat penuaan, seperti diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskuler dan demensia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tidur Malam yang Berkualitas &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsolidasi memori yang efektif bergantung pada kualitas tidur yang adekuat. Walaupun kebanyakan orang memiliki beragam durasi tidur yang dibutuhkan, seorang dewasa membutuhkan rerata durasi tidur sekitar tujuh setengah jam per malam. Peneliti menganjurkan enam jam tidur malam merupakan durasi minimal yang dibutuhkan kebanyakan orang untuk tetap awas pada hari berikutnya untuk menjaga memori tetap optimal. Kualitas tidur juga sama pentingnya dengan durasi tidur. Jika anda memeiliki permasalahan pernapasan pada saat anda tidur, seperti sleep apnea obstruktif, anda dapat tidur selama sepuluh jam semalam dan masih merasa tidak segar pada pagi hari. Jika anda menyadari anda mengalami hal tersebut (mungkin karena teman tidur anda mengeluh anda mendengkur), anda perlu segera mengunjungi dokter anda dan menangani permasalahan ini secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan dan mennjadi lebih sering seiiring penuaan. Sekitar satu dari tiga orang akan mengalami paling tidak satu fase insomnia dalam hidupnya. Kebiasaan  sebelum tidur dibawah ini direkomendasikan untuk mereka :&lt;br /&gt;• Menjaga dan konsisten dengan rutinitas jadwal tidur sehari-hari. Jika memungkinkan, pergilah tidur pada waktu yang sama tiap malam dan bangun pada waktu yang sama tiap pagi. Kebiasaan ini akan membantu seseorang untuk tidur dan bangun lebih mudah.&lt;br /&gt;• Rencanakan olahraga pada permulaan hari. Olahraga yang berat sebelum tidur dapat mengganggu tidur. Olahraga pada pagi hari, meningkatkan kewaspadaan dan membantu tidur yang lebih baik pada malam hari.&lt;br /&gt;• Mempernyaman tempat tidur anda. Atur suhu ruangan; kebanyakan orang lebih nyaman dengan suhu yang sejuk dibandingkan hangat. Atur pencahayaan-semakin gelap semakin baik. Remang-remang atau gelap total membantu banyak orang. Jika anda kesulitan tidur akibat adanya suara yang mengganggu, anda dapat membunyikan kipas angin dengan kecepatan rendah untuk menutupi suara tersebut.&lt;br /&gt;• Hindari kopi dan sumber kafein lainnya setelah sore hari.&lt;br /&gt;• Batasi konsumsi alkohol&lt;br /&gt;• Hindari atau batasi tidur siang. Tidur siang dapat mengganggu siklus alami tidur anda dan membuat anda tidak merasa ngantuk pada saat anda benar-benar membutuhkan tidur.&lt;br /&gt;• Minum sesuatu yang hangat sebelum tidur.&lt;br /&gt;• Jangan memaksakan diri untuk tidur jika anda belum mengantuk. Jika anda sudah diatas tempat tidur tapi tetap terjaga dalam waktu tiga puluh menit lakukan aktivitas yang tidak merangsang. Kembali ke tempat tidur jika anda telah merasa mengantuk.&lt;br /&gt;• Temukan cara anda untuk mendapatkan keadaan yang rileks.&lt;br /&gt;• Perhatikan obat yang anda sedang konsumsi. Beberapa obat mengandung stimulans yang dapat mengganggu tidur seperti obat yang mengandung kafein dan pseudoefedrin.&lt;br /&gt;  Jika masalah tidur anda menetap, hubungi dokter anda. Anda akan mendapatkan penanganan terhadap gangguan tidur anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Pelajari Sesuatu yang Baru &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peneitian Mac Arthur, karakteristik yang paling berhubungan dengan fungsi kognitif yang baik terkait dengan penuaan adalah tingkat pendidikan seseorang. Kita berpikir bahwa pendidikan dapat menjaga memori tetap kuat dengan kebiasaan seorang pelajar seumur hidup – sebagai contoh, membaca banyak, terlibat dalam proyek intelekrual, dan secara intensif mengeksplorasi topik tertentu. Yaakov Stern dan kawan dari Universitas Columbia yang dilaporkan pada tahun 1994 meyatakan bahwa tingkat pendidikan dan pekerjaan yang tinggi terkait dengan penurunan resiko penyakit Alzheimer. Mereka berpendapat bahwa pendidikan yang tinggi memiliki kuasa untuk menjaga fungsi kognitif.  Stern pula berhipotesis bahwa kuasa ini berdasar pada aktivasi jaringan otak yang lebih efisien atau kemampuan otak untuk memperbaiki jaringan jika dibutuhkan, misalnya pada trauma dan suatu penyakit. Beberapa pencitraan otak sepertinya membuktikan hipotesis ini. Pada pasien Alzheimer dengan tingkat keparahan penyakit yang sama, pencitraan fungsional dengan SPECT dan PET menunjukkan bahwa otak seseorang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memperlihatkan perfusi darah dan aktivitas metabolisme yang lebih rendah dibandingkan pada otak seseorang dengan tingkat pendidikan yang rendah. Hal tersebut menyimpulkan bahwa kelainan vaskularisasi dan metabolisme otak harus lebih berat pada mereka dengan pendidikan yang lebih tinggi untuk menghasilkan gejala yang sama dengan seseorang dengan pendidikan yang lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melihat tingkat pendidikan anda, anda juga dapat menjadi pelajar seumur hidup. Anda tidak perlu kembali sekolah (walaupun hal tersebut dapat sangat bermanfaat untuk memori anda). Usaha yang sedikit ambisius juga dapat bermanfaat seperti belajar memainkan alat musik atau melakukan hobby yang intelektual. Membaca secara rutin dan bermain game yang membutuhkan pemikiran strategis merupakan cara yang baik untuk melatih otak anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Memiiliki Semangat Hidup &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ambisi anda? Apakah hal yang anda sangat minati sehingga konsentrasi anda akan otomatis menjadi penuh untuk melakukan hal tersebut? Untuk beberapa orang, hal tersebut dapat berupa seni rupa, musik, atau teater. Dapat pula berupa pengabdian rohani atau keterlibatan dalam politik. Dapat berupa atletik atau scientifik, organisasi kemanusiaan atau kesejahteraan anak. Kemungkinannya sangat tidak terbatas. Hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang memberikan tujuan dalam hidup anda. Yang terbaik adalah bagaimana menemukan cara hal-hal tersebut dapat menjembatani anda untuk berhubungan dengan orang lain dalam keluarga anda, komunitas anda, atau dunia luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Bagaimana hal ini dapat mencegah gangguan ingatan?Banyak. Pertama, memiliki semangat memberikan anda motivasi untuk mengejar pengetahuan baru dan mempelajarinya, Hal tersebut juga dapat memicu anda untuk berhubungan dengan orang lain yang dapat membagi minatnya kepada anda. Memiliki sesuatu hal yang dapat membuat hidup anda bermanfaat akan membantu anda melawan depresi dan berperan sebagai sawar terhadap stress, dua penyebab yang dapat mengganggu memori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Mengatasi Stress&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sulit untuk berkonsentrasi ketika anda dalam stress berat dan perhatian yang buruk merupakan penghalang utama dalam merekam memori baru. Gambaran fisiologis dari respon flight-or-fight mempengaruhi tingkat konsentrasi. Hidup dengan stress kronik dapat mengganggu memori anda dalam jangka panjang; kadar kortisol yang tinggi, berbahaya untuk hippocampus. Anda tidak dapat mengendalikan semua peristiwa yang memicu stress, akan tetapi anda dapat mengendalikan reaksi anda terhadapnya. Tidak ada penurun stress yang ampuh untuk seluruh orang. Anda perlu menemukan aktivitas dan strategi menghadapi stress yang efektif untuk anda. Pada beberapa orang, jawabannya dapat berupa yoga atau mengelilingi alam, mendengar musik atau curhat dengan sahabat dekat. Olahraga merupakan metode yang terbukti menurunkan stress. Latihan aerobik seperti berlari, bersepeda, dan berenang, merupakan cara yang sempurna untuk membakar seluruh stress dan emosi negatif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Baca Selengkapnya&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cetrione.blogspot.com/feeds/7651965386500083161/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1911443891191992950/7651965386500083161' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/7651965386500083161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1911443891191992950/posts/default/7651965386500083161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cetrione.blogspot.com/2009/05/mencegah-gangguan-ingatan.html' title='Mencegah Gangguan Ingatan'/><author><name>Husnul Mubarak</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13572144200003689020</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOhnb8XN2bYh-uv9ZhMVqekili4kxnI-ISIyvQB3Hf8sqSpggET3KilkeFgV_m_5jqV-5ygUdmhm2dTb9t0mXuozxAoeHiq0x0ycFyjxWxE6LRa5HRDJ0w2pwubMvITQ/s220/Foto007.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry></feed>