<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>My Hope</title><description>Pengharapan selalu memberi daya juang tinggi bagi kita di tengah tantangan hidup yang semakin kompleks</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><pubDate>Fri, 25 Oct 2024 02:59:18 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">135</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://mtribute.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Blog Pengetahuan Memberi Inspirasi, Motivasi dan Pencerahan</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Christianity"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><title>Hamba Tuhan Yesus Kristus</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/hamba-tuhan-yesus-kristus.html</link><category>Hamba Tuhan Yesus</category><category>Kemuliaan bagi Tuhan Yesus</category><category>Melayani Tuhan dan Jemaat</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 26 Nov 2011 09:40:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-1648063801188437284</guid><description>&lt;b&gt;Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan (Lukas 17:10).
&lt;/b&gt;
Seseorang yang bekerja di lembaga Kristen ketika ditanya mereka hamba siapa, pada umumnya akan menjawab bahwa mereka bekerja untuk Tuhan karena mereka hamba Tuhan. Itu pula yang saya temui sewaktu memberi pelatihan kepada salah satu lembaga Kristiani. Namun, saat ditanya seperti apakah tuntutan hamba Kristus di tempat kerja, jawaban mereka beragam.

Kita perlu waspada dengan jebakan kebenaran diri sendiri. Ketika kita menyebut diri kita hamba Kristus jangan sampai itu hanya klaim pribadi yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Tak pandang di mana kita bekerja atau melayani, seorang hamba Kristus akan menyadari esensinya sebagai seorang hamba.

&lt;b&gt;1. Memprioritaskan kepentingan Tuhan&lt;/b&gt;
Ia menyadari bahwa ia adalah seorang hamba yang membawa nama baik Tuannya di manapun ia berada. Karena itu, ia melakukan segala sesuatu berdasar pertimbangan apakah itu memuliakan nama Tuhan atau justru sebaliknya, ia mengutamakan kepentingan pribadi atau golongan tanpa mengindahkan kemulian-Nya.

&lt;b&gt;2. Tidak mengharapkan pujian&lt;/b&gt;
Semua orang suka dengan pujian. Bahkan orang yang terkesan tidak suka dipuji pun sebenarnya juga suka. Hanya saja dia tidak mengekspresikannya. Dipuji memang tidak salah, yang salah adalah saat kita mengharapkan pujian. Seorang hamba tidak seharusnya mengharapkan pujian. Karena apa yang ia lakukan itu memang adalah tugasnya.

&lt;b&gt;3. Bukan seorang complainer&lt;/b&gt;
Seorang hamba hanya melakukan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya. Kata-kata dalam firman Tuhan di atas menyiratkan kerelaan dan kesediaan seorang hamba untuk melakukan tugasnya dengan tidak bersungut-sungut. Ia tahu apa yang menjadi tugasnya dan bertanggung jawab melakukannya.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lawatan Tuhan</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/lawatan-tuhan.html</link><category>Pergerakan Tuhan</category><category>Program gereja</category><category>Sejarah pertumbuhan gereja</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 26 Nov 2011 09:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-4414422821893500010</guid><description>Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa (Kisah Para Rasul 2:41).

Banyak pemimpin jemaat yang frustrasi untuk menumbuh kembangkan gerejanya. Memang ada beberapa salah kaprah dalam hal ini. Pertumbuhan gereja sering hanya diukur dari hal-hal yang terlihat saja. Berapa banyak jumlah jemaatnya, berapa luas gedung gerejanya, seberapa mewah fasilitasnya, seberapa bagus dan meriah ibadah yang diadakan. Semuanya itu hanya salah satu indikasi saja. Namun bukan menjadi ukuran mutlak maju tidaknya sebuah gereja.

Lalu mengapa banyak pemimpin jemaat yang frustrasi dalam melayani Tuhan? Sering kita terjebak dengan banyak program, merancang acara yang menarik, menyibukkan jemaat dengan berbagai macam acara gereja, namun pada kenyataannya hal tersebut tidak memberi dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan gereja. Hal-hal itu yang kerap membuat kita merasa frustrasi dalam pelayanan.

Ingatlah bahwa yang menentukan laju kita bukanlah seberapa cepat dan seberapa kuat kita mendayung, namun seberapa kuat arus yang ada di bawah perahu kita! Hal inilah yang sering kita lupa. Membuat program dan acara yang menarik dalam gereja tentu sah-sah saja dan itu adalah hal yang sangat positif, namun ingatlah bahwa yang membuat gereja kita mengalami ledakan atau terobosan bukanlah hal itu, namun "arus atau pergerakan Tuhan" di dalam gereja kita.

Sejarah pertumbuhan gereja mencatat bahwa ledakan pertumbuhan gereja tidak pernah lahir dari sebuah program gereja ataupun acara gereja, melainkan dari pergerakan atau lawatan Tuhan. Masih ingatkah kita lawatan Tuhan yang terjadi di Toronto dan beberapa daerah di Kanada tahun 90an yang lalu? Arus pergerakan Tuhan atau lawatan Tuhan itulah yang membuat gereja bertumbuh. Sekali lagi saya bukan hendak meremehkan program gereja maupun persiapan acara gereja yang bagus. Itu perlu, tapi bukan yang utama. Yang utama adalah meminta hati Tuhan agar melawat umat-Nya.

Sumber: Spirit Penuai</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lead Like Jesus Christ</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/lead-like-jesus-christ_25.html</link><category>Christian Leadership</category><category>Leadership of Jesus Christ</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 18:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-6698324804577124390</guid><description>Leading Like Jesus Christ confirms the leadership of Jesus Christ the great principles that apply universally applicable with tremendous advantages. Leading Like Jesus Christ: the Par-ekselens Leadership is an invention of the Bible Scriptures of "the leadership of Jesus Christ" was incredible, which has proven him to be very effective and efficient.

Truth of Jesus Christ Leadership greatness is revealed by Kenneth Blanchard asserts, "Christians have more in Jesus than just a great spiritual leader; We have a practical and effective leadership model for all Organizations, for all people, for all Situations" (The Christian has extraordinary things in Jesus is more than just a great spiritual leader; we have a practical and effective leadership model for all organizations, for all people, and for all situations).
His leadership evidence par-ekselens are recorded in the Gospel, which describes about how THEY think, behave and act as a leader, who fought his leadership consistently until the end with a resounding, when HE finally confirmed at the Cross, "It is finished" (John 19:30).

Leadership of Jesus Christ who par-ekselens explores the core principles of his leadership embodied by "Leading from the heart; lead based on love, and goodness leads with the power of truth," by which IA prove the superiority of his leadership. The idea of ​​leadership is very rich in Jesus Christ discussed in this paper are limited. However, this paper will be a basic reference that is still open to be developed based on the truth of the Gospel of John, "There are many other things more to be done by Jesus Christ, but if all these things must be written one by one, I suppose that this world can not contain the books that would be written. "Happy wandering with Jesus Christ in his leadership of the par-ekselens.
 
Dr. Yakob Tomatala</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lead Like Jesus Christ</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/lead-like-jesus-christ.html</link><category>Christiant Leadership</category><category>Jesus Christ</category><category>Leadership of Jesus Christ</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 18:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-7693037044716715476</guid><description>Leading Like Jesus Christ confirms the leadership of Jesus Christ the great principles that apply universally applicable with tremendous advantages. Leading Like Jesus Christ: the Par-ekselens Leadership is an invention of the Bible Scriptures of "the leadership of Jesus Christ" was incredible, which has proven him to be very effective and efficient.

Truth of Jesus Christ Leadership greatness is revealed by Kenneth Blanchard asserts, "Christians have more in Jesus than just a great spiritual leader; We have a practical and effective leadership model for all Organizations, for all people, for all Situations" (The Christian has extraordinary things in Jesus is more than just a great spiritual leader; we have a practical and effective leadership model for all organizations, for all people, and for all situations).

His leadership evidence par-ekselens are recorded in the Gospel, which describes about how THEY think, behave and act as a leader, who fought his leadership consistently until the end with a resounding, when HE finally confirmed at the Cross, "It is finished" (John 19:30).

Leadership of Jesus Christ who par-ekselens explores the core principles of his leadership embodied by "Leading from the heart; lead based on love, and goodness leads with the power of truth," by which IA prove the superiority of his leadership. The idea of ​​leadership is very rich in Jesus Christ discussed in this paper are limited. However, this paper will be a basic reference that is still open to be developed based on the truth of the Gospel of John, "There are many other things more to be done by Jesus Christ, but if all these things must be written one by one, I suppose that this world can not contain the books that would be written. "Happy wandering with Jesus Christ in his leadership of the par-ekselens.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Visionary Leader to BE Self Affirming 2</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/visionary-leader-to-be-self-affirming-2.html</link><category>Digging Vision</category><category>Faith and vision</category><category>Vision and changes</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 18:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-5298151565427648125</guid><description>Digging VISION

After to fight and recognize the signs of vision is now another question arises, how to dig, discover, and develop a vision (pure desire) is written by God in your mind that? in an effort to explore the vision, the first thing that must be made from a Christian perspective is to pray, where you specifically declare to GOD about longing to find his handwriting inside. Prayer means holding introspective contemplation before God to find answers to questions about the desirability of the sacred (vision) that have written him in mind. There are several steps that must be taken to see signs of praxis as below:

Start by accurate deepest desire is pure desire. "The desire of this holy desire to be distinguished from the ordinary, which is on most people. Remember that these holy desires are special and are always associated with basic needs that feels. [18] To distinguish them from ordinary desires, Observe the values for that desire and pointed with latent potential within you. [19]
"To pass on holy desire by sentence weighted with the sentence. Example for weighted sentence meant can be seen by comparing the following statement: 'I want a lot of money, live happy,' and 'I want to enrich others'. "[20] If you have sentence vision then you're moving from an idea to the concept. This concept is as a symbol of the fact, that with it will come true in real terms the fact that coveted later. For example, you can encapsulate the vision statement as follows: "... ... ... .... exists to glorify God by making many rich. "Consider this," ... ... .. there "refers to the substantive subjects, whose existence is to glorify God. "Glorifying God" refers to Utopia; and "enrich the people," pointing to the personal goals of the operation would work in an organization's leadership.
As a basis to move to make "a strategic plan" to implement your vision is, then you create a portrait of how you are doing and experience the fulfillment of (reaching) the vision meant "(now in a foreseeable future) as the fulfillment of your vision that step. [21] Making portrait of the future begins with the making of future scenarios as a basis for building a strategic planning (strategic planning). [22] With this strategic planning, you can know with any certainty the vision, mission, core business focus and leadership describes the tasks to be done to achieve the goals proclaimed in the organization you lead.

VISION AND FAITH

Faith is necessary in order to establish and implement the VISION. Faith here is a measure of the validity of the vision and decisive implementation. Now the question arises, what exactly Faith was, and what to do with VISION? In the Christian perspective, gambling Scripture asserts, "Faith is the evidence of things not seen" (Hebrews 11:1). Here describes the vision of faith as something that has evidentiary basis. Formulating this relationship further, we can say that FAITH is a VISION, which is "Seeing things we want to accomplish, long before it exists" (JC Bowling). Some important elements of relationships and VISION OF FAITH (Faith and Vision) can be explained as follows:

FAITH is the basis for VISION, which is the foundation for the achievement of the picture "dream future" is desirable. [23] It could be argued that the faith to make the vision a reality, and faith to ensure that the vision is true.

FAITH VISION affirming, and acting as PROOF that the vision based on faith that is real (real), is feasible and can be achieved. In this connection, the vision became inevitable as surely as faith in the Lord, and there are real things to be done to achieve more tangible things in the future too uncertain.

VISION is built on faith to explain the organization's goals and affirm to go forward to achieve it. With the vision, then the individual (the leader) can see a clear goal ahead, and can know what it is worth doing untu achieve the intended purpose.

FAITH VISION and strengthen leadership, so that leaders can lead others to begin by sharing a vision. With the vision (leadership), the leader by itself has the power to lead, because the vision meant he could make something happen. With the same vision, he can move others (subordinates) to act synergistically with a shared vision meant. By sharing the vision, leaders can ensure that the effort to lead it (leadership Attempt) will definitely be done.

VISION OF FAITH ensure the future and aims, affirming hope to achieve, because the VISION and FAITH is "FAITH LEAP." [24] With the aim of this vision, the individual (the leader) can see the path to the future that gives strength and brave to jump into the opportunities (jump into deep water), creating a bright future.

FAITH VISION and encouraged to build high motivation and support to tackle common challenges to progress consistently. [25]

SUBDIVISION VISION

It has been said before that VISION has powerful strength to lift and carry a person up and forward. In particular it can be said that, VISION authorize the execution of leadership, therefore, it should be divided LEADERSHIP VISION. In this connection, the vision should be seen as a fire that warms ray strength. Bill Newman said: "A vision is like a bonfire in the camp, where people would gather around him, because there was no light, energy, warmth and togetherness." The vision that has the power as described here explains that the vision can be shared, so belong to all people. Now how the VISION can you share? Vision can be divided by considering the following important steps.

Use the vision to see an end with a clear picture, as a basis for involving others. Aristotle said, "The soul can not think without a picture." In this connection, the vision provides the ability to create and share picture vision, leaders can make the future of visualization profile and ready to share it with others.
Consider the changes that will occur with the final image or picture of the future profile of this vision, and what benefits it can achieve, as well as a compelling reason to achieve it. With an overview of this end, a leader can know with certainty about what can and should do to reach that vision.

You can share that vision by providing a clear picture of the future. With a clear picture of the future is you have a tool to portray the future. where you can also build confidence and spirit of all the people you are leading that vision can be achieved collectively referred.

VISION The key to sharing the Christian perspective has distinctive strengths. This is the typical strength as claimed by Larry Crabb, that "A shared vision is pleased with how someone is and can be then, has the power when the Holy Spirit has spoken to his soul." [26] Here we see clearly that the Holy Spirit himself who affirm the vision in the soul of a leader. On top of this vision that a leader can build a picture of the future can be expressed dynamically by the Holy Spirit.

The Truth about sharing the vision that has a strong driving force is confirmed by Burt Nanus by saying, "There is no engine driving an organization toward excellence and long-term success of the divide in the area of a vision of an attractive, useful, and can be implemented to achieve the future. "[27] From the description Burt Nanus it can be said unequivocally that the vision must be formulated in an attractive, pragmatic and applicable by which leaders can share them with people they lead. Sharing a vision like this that causes the driving force that organization to mobilize all of the components involved in leadership performance.

VISION AND CHANGES

It has been dealt before that vision is the desire to give the ability to understand the holy will of God and look forward to what will happen. This condition can be referred to as "change." Changes can be described as a dynamic state that continues to move toward a new form to the front. These changes can take the form of internal change or external changes, relating to changes in essence, form, meaning, function and role that can occur in full or half, change, modification, and so on. Linking the change is a vision, then Rick Warren says, "Traffic's vision is to assess the exact changes that occur today and benefit from these changes." 

Looking at what was described by Rick Warren This can be said that by holy desire a gift from God (vision), leaders can learn to see the rapid changes that occur and adjust strategies and actions to move the new challenges of change by initiating changes in the future. In this regard, leaders need to be sensitive to changing conditions in the true sense. This is what Rick Warren said that "vision is sensitive to the feelings of every opportunity" [28] Faced with changing conditions in question, there are two things to be done simultaneously, namely:
Develop sensitivity to the future attitude. In an effort to develop a sensitivity to the future then there are several steps that need to be on the look. These steps are include:

First, build a constructive approach in an attempt to identify the nature, form, and content changes that are happening.

Second, defining the change by looking at the symptoms and make isolation of the nature, form and meaning of real change.

Third, Anticipating the conflict as a result of any changes and provide a boundary bulkhead to him so do not bring negative consequences.

Fourth, the firm Giving direction to control the directional changes seseuai with existing vision to create a future that craved.

Creating future scenarios answer the demands of change. [29] Menagani change is happening, the leader is responsible for creating scenarios for the future that have been implemented. Future scenarios that can be done by taking the following steps:

First, Reaffirming the vision that has been established to set a clear direction to the future.

Second, Digging info from past experience on issues related to the vision to study the trends that will be caused by the changes.

Third, find an indicator of what had happened to find answers to what might happen later.

Fifth, Establish strategic steps to be taken forward to bring change, so you are not crushed by the change.

SUMMARY.

Here has been discussed about the VISION VISION by questioning what exactly it is, what are the characteristics and signs of his faith and relationship with, and how to dig and divide in the middle of real change. Principles referred to has been described in detail so it is expected that every aspect of the vision has become clear to you. Presumably you can understand, own and membatinkannya in life, which became the foundation for you to carry it out. 

It has been confirmed that the vision can be rather like a small fire that could burn the jungle with the result that dahyat. With the power of vision, an individual (the leader) can see God's plan, he can mamahami past that provide certainty about the truth of the vision of the present to step forward. With the vision of an individual (leader) can see the future clearly, and he will be able to invite others to walk into it together. How does one leader can invite others to participate along with him toward the future? It is important that a leader needs to be done to involve the people they lead with the vision of leadership that the Lord gave him, is:

First, Pray diligently for what you need to know from the Lord God was pleased with the vision that it provides.

Secondly, Think clear as possible to seek a spiritual introspective with high sensitivity.

Third, Think of (think big) and width (think deep) as possible to understand, to see clearly through a complete mental picture.

Fourth, Develop the vision referred through a mental picture by doing a 'brain storming' for a complete understanding.

Fifth, Pair with your values to define a personal vision statement or leadership.
 
Now you have to have a vision statement, by which you can share and invite others to understand it and follow you into the future.

Regards prayer,
Dr. Yakob Tomatala</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Visionary Leader to Be Self Affirming 1</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/visionary-leader-to-be-self-affirming-1.html</link><category>Leader</category><category>Leadership</category><category>Vision</category><category>Visionary</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 18:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-789956363055938129</guid><description>"In the year ... ... .... I saw the Lord sitting on a throne high and exalted, and the corner of his robe to meet the temple "(Isaiah 6:1).

Introduction

What is the real vision? Whether the vision is the monopoly of those who called it visionary? There is a saying that visionary leaders alone have the vision, the vision sedangkang not exist in ordinary people. What exactly is happening? Almost to be expected that people who like this tend to say that he did not have a vision for several reasons. First, people often find it difficult to know as well as vision because they basically do not understand it very well. Secondly, From another perspective, people also often do not understand what and where the source of that vision, a vision of where it came, how to know it and what a way to explore and develop it within ourselves? Third, the vision is often equated with a dream, so people find it difficult. [1] In discussing the subject about VISION, then there are seven basic conversations that will be discussed in this chapter. The principal conversation was seventh among others: 1. VISION What exactly is it? 2. Characteristics of VISION., 3. Signs of VISION., 4. Digging VISION., 5. VISION and FAITH., 6. Dividing VISION. and 7. Vision and Change. [2]

WHAT IS THE REAL VISION?

You certainly have to know that there are many definitions and understanding of the VISION in the literature. The term comes from the word VISION VISION (English), which is rooted from the word visoum (Middle Classic), and vision (Old France) derived from the Latin visio, vision, videre, which is essentially meaning "to see or look." Meaning More of this vision is "the act or power of seeing with the eyes; or intuitive abilities to see." 
&lt;span class="fullpost"&gt;Vision can also mean "the ability to see more than the normal state, which is a mental ability to mengimajinasi; and the ability to see and understand things that are invisible to ordinary people , and so on. 'vision as described above explains about the power of ourselves to see as the vision is to see. [3] 

Now the question arises, namely, the sense of vision like this, is there clarity about what exactly the substance of that vision? Perhaps this question can be simplified, ie, "if the vision means to look, what is really seen?" Which means to see this vision does not explain what is actually seen it, so the notion of vision itself needs to be clarified. From a substantive perspective, VISION can be defined as follows: "VISION is the ability to see the desire scriptures written by the Creator in the mind (in order to answer the need) are closely related to the fulfillment of one's life or any individual for any self-organization would lead. "[4] definition vision presented above refers to God as the source and giver of vision [5] which he did by writing them in the mind of every person. [6] The vision also explains the ability to see what has been written by God in the mind of each person. 

The vision given by God has a definite goal for the fulfillment of life, nor the lives of individuals, households want any group and leadership. Understanding of the definition of such a vision can be connected with the opinion of George Barna as saying that "Vision is a clear and precise mental portrait of preferable future, imparted by God to His chosen servants, based on accurate understanding of God, self and circumstances." [7] understanding of vision as confirmed by this exclusive Christian Barna, who also put God as the source of that vision. On the other hand there is the emphasis given to the leader, who has the ability to see clearly defined vision, where eventually he can know with certainty what God revealed about the future that will be entered later. 

In regard to the sense of vision as described above and connected with the leadership, then it can be said that, "the leader's vision of leadership is the ability to see and understand the desire scriptures written by God in his mind for the organization and its leadership." The meaning of this vision as clear refers to God as the source of vision, which by his sovereignty he wrote that holy desire in the mind of each leader for the organization and leadership. Here can be found in the vision that there is a special will of God for the leadership of a leader. On the other hand, the vision is also described as the leader's ability to see clearly what was written by God in his mind to do. 

In this regard, God often gives written confirmation of his vision through a variety of ways. He can express that vision to be seen by the leader through dreams [8] (Joseph, Daniel, Paul, etc.) or intuitive revelation directly or through crucial events such as the Nehemiah with news of the destruction of Jerusalem or Esther with the news of death threats for his people. Vision can also be expressed through the dynamic interaction in a group of people [9] are involved in a leadership that seeks to find answers together to answer any question "why do they exist as an organization." 

The truth about the VISION is confirmed by Andy Stanley, saying: "Vision- vision born in the soul of a man or woman who presented to the suspense of what is actually there and what can happen. "[10] The things that can be considered in the explanation above is Stanley: Vision began to appear with the need was faced with conditions is not satisfactory. From here Vision starts to assert itself. The need was mentioned refers to vision as a basis to give her the answer. Felt needs and unsatisfactory conditions are then developed into a clear mental picture of "what can happen from what is there." Revelation is increasingly becoming clear vision with a strong conviction for what might have happened than what there was. [ 11] With the revelation of this vision that the leaders can then understand the vision that is written by God in his mind.

CHARACTERISTICS OF VISION

In an attempt to answer what exactly VISION it, reflected on the question of "What are the basic characteristics of the VISION that?" Questions about the characteristics of this vision can be answered by listening to the following explanation:

Vision Divine nature, originating from God, who wrote the holy desire in the mind of each invidu. Rick Warren says, "You only exist Because God Wills That you exist. You were made by God and for God - and until you understand that, life will never make sense. "[12] In this connection, the Bible provides a clear example of the call of Jeremiah, where God himself who confirmed to him to understand the desire of this sacred ( Appeal: Jeremiah 1:4-10., Colossians 1:16 b, etc.). [13]

VISION explain about 'why you were THERE' (Esse), and what the PURPOSE (purpose) your presence, as well as' which way '(life objective) of your life focused' (dealing with welfare bene Esse or coveted). Vision in this sense describes the specific purpose of sustainability there's any individual who provides a sense of purpose and a clear focus on him. Thus, when he found a sense of purpose and focus of this, it then can be different to achieve the goal of life for themselves like any organization he leads. In this connection, you must consider the factors mentioned here when formulating the vision. [14]

VISION To be first (life root), now (now) and tomorrow (future)., For that you need to explore, dream, and see it clearly and take it as a basis for life and your leadership.

VISION is pleased with the basic necessities of life, associated with the interests of "personal and leadership in an organization." The truth is asserted that the true vision will be objective, profitable and pragmatic for many people, the vision must always take the good and benefit to many parties, because the true vision has an altruistic element. [15]

VISION opened my eyes to see the current strengths and the things that might be achieved in the future, and encouraged to jump into deep water. True Vision will help everyone to understand that he has the strength within themselves to act forward into the future.
 
SIGNS OF VISION

After studying the characteristics of vision as has been described, now you can merpindah to see signs of vision. [16] There are several signs that can help to identify the vision. The signs are as follows:

VISION usually yelling loudly (in mind) but can not be uttered, because closely related to the fundamental needs that will bring benefit to themselves and others. [17] The first sign explains that the so-called vision that has the power to greatly influence the mind of each individual . The strength of this vision is to make individuals aware that it has something to strive for it, even if at first it was difficult to share it with others.

VISION it will continue to excite the mind with the higher frequencies. True Vision will always provide the dynamics for the individual (leader), where he will continue to light up and become dynamic by the vision.

VISION is single as the basis for the sole focus in life and leadership. Beausay William II said, "One is the strong numbers." A man may have some vision for themselves, households want any job or career and leadership, but any vision should be referred to a single, so he can be understood and done in a focused way.
VISION encouraged to establish attention that leads to one direction (goals)., Which explains the existence of the 'sense of purpose.' In this respect gives focus vision so that it encourages leaders to understand the purpose for which the vision was given.

VISION encourage instinct of thinking that continues to make sense to find a way out to the focus (which is burning in the mind and mind) to answer any related needs.

VISION To be in harmony with the real potential that exist in a person. Real potential is often not realized now, but there are clear signs. In other words, vision can be called a true vision for harmony with the real potential within the individual (leader).&lt;/span&gt;
 
Sumber: Pdt. DR. Yakob Tomatala</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hottest Bridesmaid Dresses for the Wedding</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/hottest-bridesmaid-dresses-for-wedding.html</link><category>and formal colors</category><category>They are in dark</category><category>Your choice for elegant</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 17:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-671699860380367510</guid><description>Bridesmaids dress uk can be found anywhere from online stores. As we all know, bridesmaid dresses are not as fashionable as prom dress and wedding dress, but they are still trendy. With modern wedding popular, more and more young people start to choose bridesmaid dresses in fashionable designs. Let us take a look at trendy dress for bridesmaid dress.

For academic weddings, maid of honor dresses are more traditional and formal. What are the features for formal gowns? Gowns can suggest you to portray the abstraction of breeding and sophistication. The hairstyles are formal. Shoes and flowers are also formal.

The breadth dresses can be ok for academic weddings. They are in dark, and formal colors. Bridesmaid dress for an academic marriage can be with any length, ranging from floor-length, knee-length to cocktail lengths.
&lt;span class="fullpost"&gt;Generally, black and purple dress for bridesmaids is usually used. There are some expectations such as shades of argent and gold.

With time going, dress is designed with more details over the dress, especially around the waistline, neckline and the hem. As for waistline, a floral detail often sits around the natural waistline, and ruffled designs are around the neckline.

One of the most well-known bridal stores, in slash seasons, offers a wide range of cheap bridesmaid dresses which are for pregnant women. With top quality and elegant design, they are comfortable to wear, and showcase the elegance of women as soon-to-be mother.

Other stores offer cheap bridesmaid dresses in fashionable styles. where can you find those cheap dresses for bridesmaids？Online stores are the best where to go. It is not difficult to understand that online stores offer bridesmaid gowns in lower prices than dresses that are sold in real stores, since online website do not need to hire sales, to pay for electricity, and more importantly, its business can reach out to the customers over the world. Its customers spread all over the world, so this means its income from people all over the world. Because of those factors, bridesmaids dresses uk can come to lower prices. So, more people come to purchase dress for bridesmaids from online website. Another big advantage is that you get your dress without paying for shipping fee.

Dress for bridesmaid in fashion and trend will become more and more popular. Your wedding will be perfect and elegant, if you purchase fashionable bridesmaid dress for your bridesmaids. Purple bridesmaid dress will be your choice for elegant weddings.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Measuring the Validity of Self as A Spiritual Leader</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/measuring-validity-of-self-as-spiritual.html</link><category>BUILDING LEADERSHIP IN THE DISCRETION OF GOD.</category><category>LEADERSHIP AS A LEADER WITH GREAT SPIRITUAL MOTIVATION</category><category>LEADERSHIP BY STRIVING TO PROVE THAT BIG THING INCLUSIVE</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 12:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-3788691046684814077</guid><description>"... You are spiritual, must lead the people ... to the right path in the spirit of meekness ..." (Galatians 6:1 b).

INTRODUCTION

A real leader, knew who he was, why he was there, where he was, where he will go, and what will be achieved. This confirms that the real truth, a leader must know what is causing it to exist and was and why he was there as a leader. This explains about some important questions, among others., First, what is the basis for the legitimacy of his leadership that gives him the authority and confidence to become leaders. The foundation of legitimacy which gives this authority as well as providing an indicator of the runway, the dynamics and direction of leadership of the organization he leads. Second, what is the motivation that led to his being in a place where he is now as a leader. This question is questioned about the value of role models who provide encouragement to the leader to realize its existence. Third, what is vision and mission of leadership that provides direction and tasks to be done to reach ideaslisme leadership. Affirm the truth of this leadership, a true pemipin must ensure that prime factors is the dynamic for its existence as a leader. Answering strands aspect that brings a person into a leader like this, La Rochefoucauld said: "The greatness of great men should always be measured from the way they use to achieve such greatness."
&lt;span class="fullpost"&gt;This statement confirms that the achievement of a legitimate leadership and is a great value when built on the truth of the underlying motives, traits, attitudes word, deed and the means used to be a leader. From a Christian perspective, a leader who is the spiritual leader must answer important questions such as: "Is its existence as a leader in tune with the will of God is true; Is leadership achieved with noble motivations as a true spiritual leader, and, What is preached in order to fight for his leadership of the great things for the interests of many people, which in essence is proving itself as a great leader. In an attempt to answer these questions in the future, then there are three things that will be dealt, among other things: 1. Build leadership on the will of God; 2. Strengthen leadership with great motivation as a spiritual leader, and 3. Proving leadership to fight for an inclusive big thing., Which will end with a reflection.
 
1. BUILDING LEADERSHIP IN THE DISCRETION OF GOD. The basis for proving the validity of himself a leader is to understand what is really God's will for self, household, and leadership. It is not easy to ensure and confirm what is called the will of God. For example, someone could be in the name of "God's will" impose its will over others, or act sneaky in order to achieve the objective to justify a variety of ways. In this connection it must be understood, that the will of God it is as certain as the nature of his sovereign, which can be said that if the Lord God wills something, then his will would have happened. Behold a statement like this is quite interesting to observe. First, we must learn to distinguish God's will and the will or human effort. The will of God that is in tune, and as surely as the same as His essence is, certainly, and should be the same with his peculiar nature, the righteous, all-holy, infinite justice, infinite wisdom, all-good, all-right, omniscient, omnipresent, all- wise, the real from His Word and His proven in action. Here can be asserted that because the will of God is perfect, then it must also be perfect fulfillment. Second, we also see from the other side, who relate to believe something as God's will and mematutkannya with human responsibility. Important questions to be answered is, the extent to which something called the will of God that can be distinguished from the attitude of let anything happen. Or to believe that something is the will of God then we are compelled to do what is believed to be the will of God, in the case, the big question arising is whether the true will of God that is in Him that in line with my actions? Even if I say that it is consistent, then the next question is, whether it is consistent, and what is the criterion? Because, lest I obtrude myself and take refuge behind the "will of God." Third, we also need to ensure what is called the will of God that the truth of the Word, the voice of conscience, legal factors, socio-economic justice, the noble social and cultural rights of individuals, households, community rights and the right organization. All this should be a consideration, because it involves other people and a lot of people who are human beings created by God, where we all have a moral responsibility inherent in the nature and image of ourselves as the noble Lord creation. Here we can say that the sovereign will of God must have done, but the important question to ask is, how it relates to me personally to respond? Do I believe that this is really the will of God? Does the Holy Spirit was to be in it? Do all this in harmony with the truth of the Word? Does my inner voice in harmony with the will of God, or because of a desire for power, keingian dominate, desire respected, the desire to be above others, I "twist the will of God"? Fourth, we need to ensure what is called the will of God, and the consequences that will be caused by what is termed as an action on behalf of the will of God itself. It is not easy to answer all these questions, because an action that is considered true by a person, not necessarily assumed to be true by others, so the action on behalf of the will of God even if God has not necessarily true. Fifth, we also have to distinguish what is real will of God is with decisions based system of democracy, legal system or legal system prifat positive or an act that is formal, which is often seen as an endorsement will of God. This point is very necessary to be listened to carefully by those who had good intentions, meant true and noble act with the will to let God's will occur in a responsible manner. In applying this truth about God's will, we are asked to respond wisely, both from the attitude of the heart, in mind, traits, attitudes and words and actions, so that we say the will of the Lord is truly His will is in harmony with His plan eternal. In this case, we need to hear the advice of Confucius (Confucius) who said, "Knowing what is good but not doing it is the worst cowardice." More than that, the Word of God asserted, "... .. anyone researching the perfect law, the law of liberty, and he persevered in it, so instead of just listening to forget, but really do it, he will be blessed by his deeds "(James 2:25). All of this should we sikapi with humility and a willingness to be obedient to the Lord God by remembering His firm asserts, "The things that are hidden to the Lord, our God, but the things revealed is for us and our children forever, so we do all the words that Turat law "(Deuteronomy 29:29). Well, the will of the Lord God remains an eternal mystery!
 
1. Confirm LEADERSHIP AS A LEADER WITH GREAT SPIRITUAL MOTIVATION. In an effort to confirm that I am and you are in the will of God is true, we must affirm our position as spiritual leader. Spiritual leader, is he who realizes that the Lord God for His mercy has called him to salvation. Spiritual leaders who are called by the Lord God will always try to put the will of God. Putting God's will is to be real in the hearts, minds, attitudes, words and actions with respect to the following truth., First, an effort to strengthen our attitude, then we need to listen to the Word of the Lord Jesus asserts, "If you continue in my word, you truly my disciples and you shall know the truth, and truth will set you free "(John 8:31 b-32). Here the thing to understand is that a spiritual leader, must prove itself as a leader who put God's Word (Psalm 1; 119:105). State of the heart, mind, traits, attitudes, words and actions should be characterized by "the truth of the Word of God." He would always ask, is my heart, my mind, my character, my attitude, my words and my actions in harmony with the Word of God ? All that is in harmony with the Word of God means that we are in truth without sin. Truth is without sin this is the truth that should not be dikompormikan with sin. For example, "My motivation is to seize the leadership position, but I was enveloped with a sly attitude, bercicara sweet, and outsmart the law. Seen from a general perspective, this way can be proud of, and referred to the strategy, but in a spiritual perspective, this is a "fraud." Further, the truth is without sin this is proving a leader in the will of the Lord who gives strength to prove that the leader spiritual being put LORD his God, because he understands that the Word of God requires "Yes" is "Yes," and "No" is "No," which is contrary to this is a sin, such as the Lord GOD, ".... if someone knows how he should do good, but he did not do it, he sins "(James 4:17; 1:26; 3:2-11). Give priority to the will of God here means disregard the will itself, ignoring the will to win themselves, with the goal to let God's will done in righteousness, so that there will be glory to His name (Romans 11:36). Second, the spiritual leader who lives in harmony with the will of God will always be guided by the Holy Spirit. Guidance of the Holy Spirit is the essence of life affirming spiritual leader with the power to live like the Lord Jesus (I John 2:6). Leaders who live like Jesus his Lord will be met and guided the Holy Spirit (Matthew 3: 13-17; 4:1, Mark 1:12-13, Luke 4:1-13, Romans 8:14-16). Spiritual leader who led the Holy Spirit will reveal the character of excellence characterized by "love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness and self-control" (Galatians 6:22-23; Appeal I Samuel 24:6-8 ; 26:9-11). Third, In doing this, the leader's responsibility is to prove that he really put the will of the Lord by doing righteousness and goodness. Truth and goodness does it always lead to bring glory to the LORD, and profits for many people, which is not always bring benefits to themselves. Greatest example of this truth can be seen from the stance and the Lord Jesus' prayer in Gethsemane (Matthew 26:36-46, Mark 14:32-42, Luke 22:39-46), where IA letting GOD His Father's will accomplished the marked with the heart, mind, nature, his attitudes and actions that put the will of His Father with alacrity to bear the risk of the will of the Lord that done it. Fourth, the spiritual leader who lives in the truth that characterizes the hearts, minds, traits, attitudes and actions will always be motivated to put the truth to live in truth. Living in the truth will be indicated by doing righteousness, justice, sincerity, honesty is apparent from the heart, mind, traits, attitudes, words and actions that bring peace to one another (Isaiah 32:1-2, 8, 17). In this case, the leader will always try to lead people into the truth with a high willingness to lift and help others with all our hearts (Galatians 6:1-2). Fifth, the spiritual leader who lives in truth and in favor of the will of God, will be lifted to prove the integrity of the self as a servant of the LORD. Evidence that the spiritual leader is the spiritual leader of integrity is that he understands the will of God which is characterized by the heart, mind, nature, attitude and life as well as a righteous act, so he became a blessing to many people in leadership and, more broadly (Ephesians 5:15 -21; I Kings 3:16-28).
 
1. LEADERSHIP BY STRIVING TO PROVE THAT BIG THING INCLUSIVE. Spiritual leader who put the will of the Lord God by living in truth and goodness, will always fight for great things. Fighting for a big thing here is to free ourselves from the attitude of egoism which tends to push the effort to self-assertion, and the group as well as the tendency to fight for its own sake. Spiritual leader will always be aware of some important truths that must be addressed and lived in a concrete, among other things., First, the spiritual leader is fully alive to the realization that being a leader it is the grace of God (Romans 12:1-2,7; II Corinthians 4 : 1). Leadership for him is the noble work that must be addressed with respect and high responsibility (I Timothy 3:1-7). In this connection, the leader must lead by "voluntary in accordance with the will of God, put the devotion and not for profit, and always lead by example" (I Peter 5:2-3, Hebrews 13:7, 17). Second, these leaders realize that he has a responsibility to always seek the interests of others (Philippians 2:3-4). Put the interests of others means being altruist who always try to lift and strengthen others. Third, spiritual Pemipin who put the interests of others, is part of an effort to fight the great things that bring benefit to many people. State of the heart, mind, traits, attitudes, words and actions of this spiritual leader is the basis for proving the integrity of the self, motivation, willpower and achievements that are recognized by the widest range (Philippians 4:5). Such leaders will prove that "People who live in the truth, that speak honestly, who refused to profit result of extortion, which shook his hand, so do not take bribes, which covered her ears, so do not listen to the blood shedding plan, which closes his eyes, lest see the crime, he is like the people who live safely in high places, is kubuh fortress on a hill a stone; bread supplied drinking water is assured "(Isaiah 33:15-16). Leader who fought the great things really understand the word of Christ her Lord, that "Everything that you want so that people do to you, so do thou also unto them" (Matthew 7:12). Leaders who want to be great, will live to fight for great things for the sake of greater interest. This is the spiritual leader who understands the will of God, faithful to prove themselves by continuing to be a blessing. "

REFLECTION:
 
In general, efforts to measure and prove yourself as a spiritual leader will only work if every leader sets out to put the truth of the following:
First, the spiritual leader will be sensitive to continue to put the will of the LORD his God. Putting the will of the Lord here is not as easy as turning the palm of the hand, which he must submit himself to the Holy Spirit to ask His guidance. Pemimin will always try to put forward the truth of the Word of God above the will of her own. Proof that someone was putting the will of God is that the Lord Jesus Christ will continue to be glorified in the life and leadership; even if the leader merungi, loss and undefeated in his decision put the will of God.
Second, the spiritual leader will always try to prove its commitment to enhancing the integrity of himself as a spiritual leader. This proof is based on his willingness to live in harmony Degnan God's Word, the Holy Spirit guided and prove themselves to live like Jesus Lord of his life with majesty signify Christ in and through the heart, mind, nature, attitude words and actions, so there is a recognition that he is pemipin true spiritual.
Third, the spiritual leader to live and devote himself to fight for big things for the glory of his Lord, the good people of his leadership, as well as the environment in which he served. Here, the leader must continue to live in truth, freeing himself by the power of truth from the selfish, and maintain altruistic attitude that brings benefits as well as kindness to as many people it serves. Such leaders are the leaders of thanks, which will continue to bless and enjoy the blessings of life and devotion, leadership was adopting. Congratulations to measure the validity of self as a spiritual leader who lives, devotion, and his death is to bless.&lt;/span&gt;
 
Regards prayer,
Dr. Yakob Tomatala</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Preach the Gospel Do not Fear</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/preach-gospel-do-not-fear.html</link><category>Holy Spirit</category><category>Preach Gospel</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 25 Nov 2011 12:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-6504152983764101371</guid><description>The Lord Jesus has said that a person can come to Jesus when the Father draws people (John 6 :44-45 "No one can come to Me, if he was not drawn by the Father who sent me and He will raise at the end of time . It is written in the prophets. and they will all be taught by God. and everyone, who has heard and received instruction from the Father, cometh unto me "). 
&lt;span class="fullpost"&gt;Because it is our duty as followers of Christ, Introduce Jesus Christ to everyone we meet, because the Father is with us forever (Matthew 28:19-20 "Therefore go and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and the Son and holy spirit. And teaching them to observe all things whatsoever I have commanded thee, And know I am with you always, to the end of time "). Even the Lord Jesus has promised us to send his holy Spirit to be a helper for us (John 7:8 "But I tell you this is true; is more useful to you, if I go. For if I do not go entertainers it will not come unto , but if I depart, I will send him unto you. and when he comes. He will reprove the world of sin, righteousness, and Judgement "). Therefore we need not fear to proclaim salvation because we do not work on our own capabilities. God had promised in John 60:61 "The Spirit of the Lord God is upon me, because God has anointed me: he has sent me to preach the gospel to the people's passion, and caring for people who are despondent, to notify exemption for people the prisoners, and to those who confined release from prison ". So let us go for the truth, because we do not own but God is with us. Amen!&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Beritakan Injil Jangan Takut</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/beritakan-injil-jangan-takut.html</link><category>Amanat agung dan amanat budaya</category><category>Kabar Baik</category><category>Kabarkan Injil</category><category>Misi Orang Percaya</category><category>Tugas Gereja</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 18 Nov 2011 13:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-1528315868982133126</guid><description>Tuhan Yesus sudah berfirman bahwa seseorang dapat datang kepada Yesus jika Bapa menarik orang tersebut ( Yoh 6 :44-45 “ Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-KU, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku dan Ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi. Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku”). 

Karena itu tugas kita sebagai pengikut Kristus, perkenalkanlah Yesus Kristus kepada siapa saja yang kita temui, karena Bapa menyertai kita selamanya (Mat 28:19-20 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu, yang telah Kuperintahkan kepadamu, Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampaikepada akhir zaman”). 
&lt;span class="fullpost"&gt;Bahkan Tuhan Yesus sudah berjanji kepada kita akan mengirimkan Roh kudusnya untuk menjadi penolong bagi kita ( Yoh 7:8 “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu; Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jika aku tidak pergi penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang. 

Ia akan menginsafkan dunia akan dosa,kebenaran, dan penghakiman”). Oleh karena itu kita tidak perlu takut untuk memberitakan keselamatan itu karena kita tidak bekerja berdasarkan kemampuan kita sendiri. Allah sudah berjanji dalam Yohanes 60:61 “Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karna Tuhan telah mengurapi aku ; ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik untuk orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitahukan pembebasan bagi orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara”. Jadi marilah kita maju untuk kebenaran, karena kita tidak sendiri melainkan Allah beserta kita. Amin!&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Modal Seorang Pemimpin</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/modal-seorang-pemimpin.html</link><category>Artikel Kepemimpinan</category><category>Leadership</category><category>Pemimpin dan Kepemimpinan</category><category>Pengaruh Pemimpin</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 18 Nov 2011 12:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-7778207896650740352</guid><description>Kepemimpinan bukanlah sebuah klub ekslusif bagi mereka yang terlahir dengan jiwa kepemimpinanâ. Karakteristiknya yaitu bahan-bahan mentah kepemimpinan, dapat diperoleh dan dipelajari. Gabungkanlah bahan-bahan mentah itu dengan niat dan tidak ada yang dapat merintangi anda untuk menjadi seorang pemimpin.

Menurut John C. Maxwell, kepemimpinan itu dikembangkan, bukan ditemukan. Orang yang terlahir sebagai pemimpinâ sejati akan selalu menonjol, tetapi untuk tetap berada di atas, karakteristik kepemimpinan alamiah haruslah dikembangkan. 

Ada beberapa tingkat kepemimpinan yang harus anda ketahui jika anda ingin menjadi pemimpin. Yaitu: Pertama, pemimpin yang MEMIMPIN. Potret seorang pemimpin seperti ini dilahirkan dengan mutu kepemimpinan. Melihat kepemimpinan yang diteladani selama hidupnya kemudian mempelajari kepemimpinan tambahan lewat latihan dan dia memiliki disiplin diri untuk menjadi pemimpin yang hebat di kemudian hari. Kedua, Pemimpin lewat PENGAJARAN. Potret pemimpin yang kedua ini, melihat kepemimpinan yang diteladani dalam sebagian besar hidup, mempelajari kepemimpinan lewat latihan, memiliki disiplin diri untuk menjadi pemimpin yang hebat. Ketiga, Pemimpin yang TAK KENTARA, pada potret pemimpin yang ketiga, anda akan mendapati belum lama melihat kepemimpinan yang diteladani karena dia sedang belajar untuk menjadi seorang pemimpin lewat latihan dan berusaha menerapkan kedisiplinan diri untuk menjadi pemimpin yang baik. Keempat, Pemimpin yang TERBATAS yaitu sedikit atau sama sekali tidak terlihat memiliki bakat sebagai pemimpin, kurang atau tidak suka mengkuti pelatihan kepemimpinan namun dia memiliki keinginan untuk menjadi seorang pemimpin.
&lt;span class="fullpost"&gt;Kepemimpinan adalah pengaruh, dan pengaruh adalah suatu keterampilan yang dapat dikembangkan. Dengan meningkatkan pengaruh berarti kita sedang mengoptimalkan potensi kepemimpinan.

Ada segitiga kekuatan yang dapat membantu para pemimpin untuk maju. Ia berkata, tiga komponen dalam segitiga ini adalah komunikasi, pengakuan dan pengaruh. Pada saat anda mulai berkomunikasi secara efektif, anda akan mendapatkan pengakuan, dan kemudian mengarah pada pengaruh.

Lalu bekal apakah yang perlu anda siapkan agar sukses menjadi pemimpin?

Menjadi pemimpin itu mungkin mudah tapi yang paling sulit dan rumit adalah kalau seseorang ingin menjadi pemimpin yang sejati, pemimpin yang positif dan pemimpin yang mengajak ke jalan yang benar. Syarat dan bekal minimal seorang pemimpin yang baik menjadi sangat mutlak untuk dimiliki yakni: 

&lt;b&gt;Pertama,&lt;/b&gt; ada rasa karisma. Ada beberapa karakteristik para pemimpin yang berkarisma yaitu memiliki perilaku terpuji, jujur dan dapat dipercaya, memegang komitmen, memiliki prinsip hidup yang kuat, konsisten dengan ucapannya dan memiliki ilmu agama yang memadai. Seorang pemimpin adalah selalu mereka yang memiliki kemampuan di atas masyarakat pada umumnya. 

&lt;b&gt;Kedua,&lt;/b&gt; memiliki keberanian. Berani membela yang benar, berpegang teguh pada pendirian yang benar, tidak takut gagal, berani mengambil resiko dan berani beratanggung jawab. Dan keberanian harus ditunjukkan dengan komitmen untuk membela yang benar. Berani tanpa adil belum dapat dikatakan berani. Karena pemimpin yang berani tidak akan mudah goyah pendiriannnya. Ia akan memegang kuat-kuat apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Karakteristik menonjol seperti berani mengambil resiko dari seorang pemimpin merupakan sebagai sebuah upaya menuju proses penyempurnaan menuju kepemimpinan sejati. 

&lt;b&gt;Ketiga,&lt;/b&gt; mampu berpidato atau berkomunikasi dengan baik. Artinya anda haruslah mampu berkomunikasi dengan baik dan mahir merangkai kata-kata, mampu menyederhanakan masalah, berbicara yang menarik perhatian, memiliki penjelasan sederhana yang dapat dipahami, mampu menyentuh nurani dan mengetahui kondisi dan keadaan sekitar. 

&lt;b&gt;Keempat, &lt;/b&gt;mampu mempengaruhi orang lain. Dalam mempengaruhi orang lain sebenarnya erat kaitannya dengan upaya melakukan hubungan yang harmonis dengan bawahan. Diantara karakteristiknya adalah membuat orang lain selalu merasa penting, membantu kesulitan orang lain, mengemukakan wawasan dengan cara pandang yang positif, tidak merendahkan orang lain, siap menjadi sukarelawan dan memiliki keahlian dan kelebihan yang menonjol dibandingkan dengan yang lainnya. 

&lt;b&gt;Kelima,&lt;/b&gt; mampu membuat strategi. Seorang pemimpin semestinya secara inherenidentik dengan seorang ahli strategis. Maju mundurnya sebuah perusahaan, sukses dan gagalnya pekerjaan di kantor sangat ditentukan oleh strategis seorang pemimpin atau manager sebuah perusahaan. Kriteria seorang pemimpin yang mampu membuat strategi adalah menguasai medan, memiliki wawasan yang luas, berpikir cerdas, kreatif dan inovatif, mampu melihat masalah secara komprehensif, mampu menyusun skala prioritas dan mampu memprediksi masa depan. 

&lt;b&gt;Keenam,&lt;/b&gt; memiliki moral yang tinggi. Moralitas merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin yang berkualitas. Seorang pemimpin adalah figur secara moral dapat dipertanggung-jawabkan. Dan karakteristik pemimpin yang bermoral adalah tidak menyakiti orang lain, mampu menghargai orang lain dengan berbagai jenis karakter dan perbedaan, bersikap santun dengan perkataannya yang terkendali.

&lt;b&gt;Ketujuh,&lt;/b&gt; Anda haruslah memiliki rasa humor. Seorang pemimpin harus memiliki rasa humor. Pemimpin adalah gudangnya humor, tetapi bukan rasa humor yang diobral murah. Karakteristik pemimpin yang memiliki rasa humor adalah murah senyum, mampu memecahkan kebekuan suasana, mampu menciptakan kalimat yang menyegarkan, setiap masalah dihadapi dengan wajah ceria, kaya akan cerita dan kisah-kisah lucu dan mampu menempatkan rasa humor pada situasi yang tepat.

&lt;b&gt;Kedelapan,&lt;/b&gt; mampu menjadi mediator. Karena pemimpin harus mampu bertindak adil dan obyektif, maka dua hal tersebut akan menunjang tugasnya sebagai seorang mediator yang baik. dan karakteristik pemimpin yang mampu menjadi mediator secara optimal adalah berfikir secara pisitif, setiap ada masalah mampu berada di tengah, memiliki kemampuan masalah melobi, mampu mendudukkan masalah secara profesional, dan mampu membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

&lt;b&gt;Kesembilan,&lt;/b&gt; mampu menjadi motivator. Hubungan seorang pemimpin dengan motivasi sangat erat. Seorang pemimpin adalah sekaligus seorang motivator. Tugas ini merupakan keniscayaan sebagai pucuk pimpinan yang bertugas membangun motivasi kerja bagi para anak buahnya. Pemimpin adalah titik sentral dan titik awal sebuah langkah akan dimulai. Motivasi akan lahir jika punuk pimpinan menyadari fungsinya sebagai motivator. Tugas tersebut tidak dapat diabaikan karena dia motivasi merupakan sarana vital dalam membangun semangat kerja di kalangan karyawan. Adapun tanda-tanda seorang pemimpin yang menyadari fungsinya sebagai seorang motivator adalah memeliki kepedulian terhadap orang lain, mampu menjadi pendengar yang baik, mengajak kepada kebaikan, mampu meyakinkan orang lain, berusaha mengerti keinginan orang lain dan mampu berdiri di muka serta di tengah dan di belakang.

&lt;b&gt;Kesepuluh,&lt;/b&gt; Anda mampu mengendalikan diri.

Bekal seorang pemimpin terkait dengan kecerdasannya, ada tiga; kecerdasan intelektual, emosional dan kecerdasan spiritual. Seorang pemimpin seharusnya dapat membekali dirinya dengan ke tiga kecerdasan tersebut karena ketiga-tiganya menjadi penentu suksesnya sebagai seorang pemimpin yang baik. Dan ketiganya selalu terwujud dalam perilaku yang terjaga dan memiliki karakteristik diantaranya adalah: menjadikan hati nurani sebagai pelita, mampu membedakan antara yang haq dan yang batil, mampu mengendalikan emosi, tidak serakah, tidak takabur.

Pada dasarnya manusia tidak melawan perubahan; mereka melawan untuk diubah. Tetapi bila manusia itu tidak berubah, tidak ada perubahan yang akan terjadi. 

Nah, uraian di atas kiranya dapat menjadi bahan renungan untuk anda. Dan sebaiknya bagi anda yang memilih untuk menjadi pemimpin di masyarakat, hendaklah menyempurnakan kembali kekurangan-kekurangan anda sebagai sosok pemimpin yang akan dicintai masyarakat. Dan karena pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin, maka hendaklah kita melengkapi diri dengan karakter-karakter di atas, sehingga kita dapat memimpin diri dan masyarakat menuju kesuksesan sejati.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Refleksi Akhir Tahun</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/refleksi-akhir-tahun.html</link><category>Renungan Akhir Tahun</category><category>Suara Hati Nurani</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 17 Nov 2011 18:06:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-1385532111155750334</guid><description>tahun baruSeorang pejabat keluar dari sebuah hotel mewah. Ia baru saja menyelenggarakan seminar dan malam amal untuk mencari dana bagi anak-anak miskin yang berkeliaran di jalan. Ketika akan masuk ke mobil mewahnya, seorang anak jalanan mendekatinya dan merengek, ”Pak, minta uang sekadarnya. Sudah dua hari saya tidak makan.” Pejabat itu terkejut dan melompat menjauhi anak itu. ”Dasar anak keparat yang tak tahu diri!” teriaknya. ”Tak tahukah kamu bahwa sepanjang hari saya sudah bekerja sangat keras untukmu?

Pembaca yang budiman, kalau Anda ingin melakukan renungan di penghujung tahun ini, saya anjurkan Anda untuk merenungkan satu hal saja: ”Seberapa besar tingkat kepedulian Anda kepada sesama?” Dari skala 1 (sangat buruk) sampai dengan 5 (sangat baik), dimanakah posisi Anda? Jawabannya tak perlu Anda kemukakan, tapi cukup disimpan untuk diri Anda sendiri.
&lt;span class="fullpost"&gt;Mengapa saya menganjurkan Anda melakukan hal ini? Ini tak lain untuk kepentingan diri Anda sendiri. Selama Anda masih berkutat dengan diri sendiri, selama itu pula jiwa Anda tak akan pernah tumbuh. Kita hanya akan mengalami transformasi yang luar biasa begitu kita mulai memikirkan orang lain. Seorang pengarang, Joseph Campbell, mengatakan, ”Pada saat kita berhenti berpikir tentang diri kita sendiri, kita sebenarnya tengah mengalami perubahan hati nurani yang sungguh heroik.”

Hal ini mudah diucapkan tetapi amat sulit dilakukan. Para politisi kita amat royal melontarkan kata-kata ”demi kepentingan rakyat.” Seorang pejabat yang mengaku paling dekat dengan wong cilik kenyataannya malah menyakiti hati rakyat dengan tanpa malu-malu menghadiahkan dirinya sendiri rumah senilai 20 miliar. Para politisi lain juga tanpa malu -malu berlomba-lomba meluncurkan buku biografi politik yang dipenuhi kata-kata ”demi kepentingan rakyat.” Buku-buku biografi semacam ini sebenarnya merupakan ”pelecehan intelektual” belaka. Kenyataannya, amat sulit bagi kita menemukan kontribusi mereka bagi orang banyak.

Memikirkan orang lain memang sangat sulit dilakukan, apalagi di zaman sekarang. Setiap hari kita disibukkan dengan pekerjaan yang tak habis-habisnya. Namun sekadar memperhatikan diri Anda sendiri akan menghasilkan kesulitan yang cukup serius dalam jangka panjang. Anda akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan spiritual Anda. Banyak orang yang beranggapan bahwa hal ini adalah kewajiban. Mereka salah besar! Memperhatikan orang lain adalah kebutuhan Anda untuk menikmati hidup yang penuh makna. Memperhatikan orang lain adalah cara terbaik untuk mencapai hakikat kemanusiaan yang sejati.

Seorang filsuf terkemuka pernah mengatakan, ”Manusia dilahirkan dalam kondisi telanjang, dan ketika meninggal ia dibungkus kain kafan. Apakah hanya itu keuntungan yang ia dapatkan sepanjang hidupnya?” Sayangnya dunia kita sekarang telah begitu materialistisnya, sehingga banyak orang beranggapan bahwa perhatian tersebut bisa digantikan dengan uang. Padahal walaupun uang memang penting, ia tak akan pernah dapat menggantikan perhatian, pengertian, kehadiran dan kasih sayang.

Betapa banyak contoh yang bisa kita ambil dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak anak yang tumbuh tanpa perhatian yang semestinya dari orang tua mereka. Banyak orang tua yang berdalih bahwa quality time jauh lebih penting ketimbang quantity time. Padahal, kasih sayang dan pengertian hanya akan terbina melalui proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan banyak waktu. Betapa banyak para profesional yang cukup puas dengan memberikan sejumlah uang kepada orang tua mereka tanpa pernah mau tahu mengenai keadaan mereka yang sesungguhnya. Orang-orang seperti ini telah salah kaprah dalam memahami hidup seolah-olah segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang.

Kahlil Gibran pernah mengatakan, ”Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.” Memberi tidak harus bernuansa materi. Bahkan memberikan perhatian sebenarnya jauh lebih berarti ketimbang memberikan materi yang sifatnya amat terbatas.

Cara menunjukkan kepedulian kita adalah dengan mendengarkan. Seorang anak pernah mengungkapkannya dengan sangat baik, ”Di masa pertumbuhanku, ayahku selalu menghentikan apa yang sedang dia kerjakan dan mendengarkanku saat aku begitu bersemangat menceritakan apa yang telah aku alami seharian.” Mendengarkan dengan benar adalah melupakan diri sendiri dan memberikan perhatian lahir dan batin yang tulus. Dengan mendengarkan kita dapat menangkap bukan hanya apa yang dikatakan tetapi juga apa yang dirasakan.

Mendengarkan amat penting untuk bisa memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan orang lain, bahkan sekalipun mereka tidak mengatakannya. Kahlil Gibran pernah mengatakan, ”Adalah baik untuk memberi ketika diminta, tapi jauh lebih baik lagi jika memberi tanpa harus diminta.”&lt;/span&gt;

Sumber: Sebuah Renungan Akhir Tahun oleh Arvan Pradiansyah,
direktur pengelola Institute for Leadership &amp; Life Management (ILM) dan pengarang buku Life is Beautiful
Pencarian</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Model Pelayanan Yesus Kristus kepada Mereka yang Tersingkir</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/model-pelayanan-yesus-kristus-kepada.html</link><category>Gereja dan kaum marjinal</category><category>Hamba Tuhan dan pelayanannya</category><category>Model pelayanan gereja</category><category>Orang farisi dan pemungut cukai</category><category>Penyakit kusta</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 17 Nov 2011 09:51:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-5830254719965405614</guid><description>Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan berbagai model dan pendekatan pelayanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus kepada semua level manusia. Dan tidak ketinggalan model pelayanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus secara khusus bagi mereka yang tersingkir dari pergaulan sosialnya. 

Kita bersyukur bahwa Yesus Kristus meninggalkan model pelayanan itu bagi kita sekarang ini. Tentu tujuannya ialah supaya kita mengikuti dan menerapkannya dalam upaya kita melakukan pelayanan kepada mereka yang tersingkir dari kehidupan sesamanya. 

&lt;b&gt;Nah, siapa sajakah orang-orang yang tersingkir itu dan apa yang bisa kita teladani dari pelayanan Yesus Kristus terhadap mereka?&lt;/b&gt;

&lt;b&gt;1. Orang berpenyakit kusta.&lt;/b&gt; Orang berpenyakit kusta pada masa Yesus Kristus dianggap sampah dan pendosa. Mereka harus dikucilkan dari lingkungan keluarga dan sosialnya. Mereka diasingkan ke suatu tempat di mana hanya mereka saja yang ada. Begitu menyakitkan tentu yang mereka rasakan. Bukan saja sakit karena penyakit kusta, tetapi juga secara sosial dan psikologi mereka mengalami tekanan yang luar biasa.

Tetapi orang yang berpenyakit kusta ini mendapat kasih karunia dari Yesus Kristus. Ia mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan Yesus. Ia pun mewartakan kesembuhannya kepada orang-orang lain, sehingga semakin banyak orang yang datang kepada Yesus Kristus memohon kesembuhan.
&lt;span class="fullpost"&gt;Sebenarnya Yesus bukan saja menyembuhkan orang kusta ini secara lahiriah saja, tetapi juga kesembuhan rohani. Lebih dari itu, Yesus juga mengembalikan harkat dan martabatnya sebagai manusia di lingkungan sosialnya.

Sebagai pelayan Tuhan, kita diharapkan menjadi seorang pelindung dan pembimbing bagi mereka yang terpinggirkan dari lingkungannya. Kita juga harus bisa membantu untuk mengembalikan kepercayaan diri dan keberadaan orang-orang yang tersingkir dari lingkungannya sekitarnya.

&lt;b&gt;2. Orang Farisi dan Pemungut Cukai.&lt;/b&gt; Dalam suatu perumpamaan, Tuhan Yesus mengisahkan bahwa ada dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Satu orang Farisi dan satunya lagi Pemungut Cukai.

Orang Farisi bersyukur kepada Tuhan karena dia bukanlah pendosa. Dia merasa bahwa ia seorang yang suci yang menjalankan kewajiban agamanya dengan baik. Berbeda dengan Pemungut Cukai. Ia sadar bahwa ia seorang berdosa, yang tidak layak di hadapan Tuhan bahkan untuk menengadahkan kepalanya saja pun. Ia berdiri jauh-jauh dan mengakui semua dosa-dosanya di hadapan Tuhan dengan rendah hati. Tuhan memberi pengampunan kepadanya.

Sebagai pelayan Tuhan, kita juga harus memiliki sikap yang rendah hati. Menerima bahwa meskipun kita sebagai pelayan Tuhan, kita juga mungkin pernah melakukan kesalahan dan tidak selalu benar di mata Allah. Untuk itu, kita harus senantiasa mengintropeksi diri, tidak tinggi hati, dan tetap mengandalkan Kristus dalam setiap kebutuhan kita dalam pelayanan.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Strategi Melayani Kaum Marjinal</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/strategi-melayani-kaum-marjinal.html</link><category>Injil untuk semua orang.</category><category>Mengasihi kaum marjinal</category><category>Strategi melayani anak jalanan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 17 Nov 2011 09:06:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-1075279151594607412</guid><description>Banyak orang yang tersingkir dalam kehidupan bermasyarakat kita ini. Masyarakat acap kali tidak menganggap mereka ada. Mereka diabaikan begitu saja walaupun mereka berkeliaran di depan mata kita setiap hari. Kita tidak peduli dengan mereka. Malah kita menganggap mereka sebagai orang yang mengganggu kehidupan kita.

Siapakah yang Dikategorikan Kelompok Marjinal?

&lt;b&gt;1. Gelandangan.&lt;/b&gt; Kita dapat menemukan mereka setiap hari di lampu-lampu merah, tempat-tempat yang terdapat keramaian. Mereka ada dipusat-pusat perbelajaan kota, stasiun dan terminal. Mereka begitu gigih berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi demi melanjutkan hidupnya. Tidak peduli apa dan bagaimana pun situasinya. Yang penting bagi mereka ialah "saya bisa dapat makan hari ini." 

Dalam pandangan kita, para gelandangan dianggap sampah masyarakat, kita merendahkan mereka dan tidak jarang dari mulut kita keluar umpatan, cacian dan kata-kata negatif lainnya.
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;2. Pelacur.&lt;/b&gt; Kelompok ini adalah mereka yang secara ekonomi terhimpit alias tidak mampu. Mereka rela menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Profesi sebagai pelacur memberi label buruk bagi mereka secara sosial. Tidak sedikit dari mereka yang harus berurusan dengan aparat.

&lt;b&gt;3. Narapidana.&lt;/b&gt; Seorang narapidana dan keluarganya dipandang oleh masyarakat termasuk dalam daftar hitam dalam interaksi sosial. Mereka sering dikucilkan. Tidak sedikit yang mencela mereka sebagai penjahat. Mereka selalu tidak mendapat tempat yang sesuai dimasyarakat.

&lt;b&gt;4. Preman.&lt;/b&gt; Kelompok ini adalah orang-orang yang begitu ditakuti oleh masyarakat. Tidak sedikit dari mereka dipakai atau diperalat oleh institusi atau perusahaan atau lembaga untuk kepentingan bisnis atau usaha. Mereka bertindak keras dan tidak segan-segan menghabisi nyawa sesamanya.

&lt;b&gt;5. Anak Jalanan.&lt;/b&gt; Kelompok ini paling banyak kita jumpai di jalanan, stasiun kereta dan terminal, mall, pasar dan perempatan lalaulintas. Mereka bekerja dan berjuang untuk hidupnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka terpaksa melakukannya karena kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan.

&lt;b&gt;Bagaimana Strategi Melayani Kaum Marjinal Itu?&lt;/b&gt;

&lt;b&gt;1. Milikilah Visi.&lt;/b&gt; Mohonlah visi dari Tuhan, sehingga apapun yang kita lakukan untuk melayani kaum marjinal akan mengerucut kepada satu tujuan. Lalu percayailah dan tindak-lanjuti visi tersebut dalam pelayanan kita, sehingga visi itu dapat membumi.

&lt;b&gt;2. Ikuti Prosesnya. &lt;/b&gt;Butuh waktu untuk merealisasikan visi kita dalam upaya melayani kaum marjinal. Ada proses yang harus kita jalani. Karena itu kita perlu bersabar dan bertekun. Ingatlah bahwa sekecil apapun yang kita usahakan itu adalah satu anak tangga yang pada akhirnya akan mengantar kita kepada tujuan akhir. Masalahnya ialah kita tidak pernah tahu berapa anak tangga yang harus kita tapaki untuk mencapai tujuan akhir. Itulah sebabnya kita harus rela untuk ikuti proses dengan penuh kesabaran, ketekuan, penuh iman dan doa kepada Tuhan.

&lt;b&gt;3. Rekrut temana pelayanan yang tepat.&lt;/b&gt; Untuk melayani kaum marjinal, kita tidak bisa melakukannya sendiri. Kita butuh rekan sepelayanan yang akan bersama kita untuk menjangkau dan melayani mereka yang terpinggirkan. Tidak perlu terburu-buru untuk mengajak orang untuk melayani kaum marjinal. Biarkan Tuhan yang menentukan siapa saja rekan yang cocok untuk bekerja bersama kita. Mohonkan kebutuhan ini dalam doa kepada Tuhan. Ia yang memanggil, Ia juga yang akan menyediakan segala keperluan kita untuk melayani mereka yang terpinggirkan.

&lt;b&gt;4. Tentukan sasaran yang tepat.&lt;/b&gt; Pilihlah ladang pelayanan yang kita pikir sangat membutuhkan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Sebagai awal, usahakan daerah yang akan kita layani dekat dengan rumah dan gereja di mana kita berjemaat dan melayani. Kedekatan jarak akan mempermudah usaha pelayanan yang dilakukan.

&lt;b&gt;5. Lakukan aksi sosial. &lt;/b&gt;Galanglah upaya bersama gereja atau institusi untuk melakukan kegiatan sosial bagi kaum marjinal. Misalnya memberi pakaian layak pakai, sembako, pelatihan keterampilan dan siapkan tempat untuk menampung mereka seperti rumah singgah. Yang tidak kalah penting ialah memberikan pendidikan gratis dan pengobatan cuma-cuma bagi mereka. Ini tentu butuh pengorbanan dan kerja keras. Bersama dengan Tuhan, kita pasti bisa melakukannya.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mujizat dalam Perkawinan</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/mujizat-dalam-perkawinan.html</link><category>Dua hati yang menjadi satu</category><category>Mujizat dalam pernikahan</category><category>Perkawinan yang harmonis</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 16 Nov 2011 12:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-1181351403426620099</guid><description>“Sesungguhnya keluarga kita adalah sebuah mujizat. Boleh dikatakan, keluarga adalah pemberian terindah dari semua yang kita miliki. Orangtua pemberi hidup, anak milik pusaka dan istri adalah kasih karunia.  Di dalamnya kita dilahirkan, dibesarkan dan mengenal kasih dan menikmati Anugerah” (JS)

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana Tuhan mempertemukan pria dan wanita, lantas menumbuhkan cinta di antara mereka? Pernahkah anda perhatikan Tiap pasangan memiliki cara masing-masing sehingga mereka akhirnya saling tertarik dan ingin selalu bersama seumur hidup.

&lt;b&gt;MUJIZAT&lt;/b&gt;
Perkawinan adalah mujizat Allah yang terdiri atas anugerah, pemberian, dan penghiburan Ilahi. Kehadiran Tuhan dalam pernikahan dan keluarga kita  membuat  hidup sungguh  bermakna.

Pernikahan yang berbahagia memiliki aspek pertumbuhan di dalamnya. Pria dan wanita yang berasal dari planet berbeda ini berusaha hidup bersama, saling memahami, belajar mengampuni, dan bertumbuh. Lewat suka dan duka, untung dan malang.  Bukankah itu semua tidak terjadi jika mereka tidak hidup bersama dalam ikatan perkawinan?

Anak-anak yang lahir dalam sebuah pernikahan juga  mujizat. Mereka tidak hadir secara kebetulan. Ada maksud Allah yang Mahatinggi dalam tiap keluarga.
Orangtua kita adalah suatu anugerah mujizat. Bahkan hidup dan dibesarkan dalam sebuah keluarga juga sebuah mujizat. Tidak ada yang kebetulan dari kelahiran kita.
&lt;span class="fullpost"&gt;Bayangkan, bagaimana sepasang ayah-ibu belajar mengandalkan Tuhan dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka! Alangkah tidak mudahnya mendidik anak di era ini. Betapa kita membutuhkan mujizat Allah agar anak-anak kita dapat mengerti rencana Allah dalam hidup mereka! Bergantung pada anugrahNya setiap hari.

&lt;b&gt;DINAMIS&lt;/b&gt;
Dinamika yang terjadi dalam sebuah perkawinan bukan saja mengubah sistem keluarga, tetapi yang terutama adalah menumbuhkan  orang-orang yang ada di dalam institusi itu. Seperti kesaksian seorang Istri tentang suami dan perkawinannya.
“Kamu mengenalkan aku pada apa yang dinamakan cinta,” kata seorang wanita tentang pasangan hidupnya.
“Sebelum bertemu kamu, aku tertarik pada beberapa pria, tetapi sulit mengatakan bahwa aku mencintai mereka seperti perasaan yang aku miliki terhadapmu. Cintaku  tumbuh diawali oleh adanya rasa aman waktu berjalan bersamamu. Aku suka humormu, sikap melindungi dan perasaan istimewa yang kau hadirkan. Denganmu, aku menjadi wanita.”  Perkawinan itu membangun rasa percaya dan menerima orang lain apa adanya.
“Perubahan berikutnya yang terjadi dalam diriku adalah aku belajar mempercayakan diri dan masa depanku pada seorang pria yang sebenarnya aku tidak terlalu kenal,” kata wanita itu setelah membiarkan angan-angannya sejenak berkelana.
“Aku rasa itu sebabnya banyak kerikil tajam dan batu besar yang kita hadapi pada awal mulanya. Kalau aku ingat sekarang, aku heran juga bagaimana kau mau hidup dengan seorang wanita yang bossy, hampir tidak betah di rumah, dan hanya sedikit punya keinginan mengurus rumah. Lagipula, belum tentu aku bisa memberimu anak, berhubung adanya pendapat dokter tentang kandunganku. Tetapi kamu tidak meninggalkan aku dan sedia menghadapi risiko itu. Denganmu, aku diterima apa adanya.”
Salah satu hal penting yang kita pelajari dari pernikahan adalah mendorong orang yang kita cintai ke sebuah perubahan yang lebih baik.
Si wanita itu bersaksi lagi:
“Suamiku  memang luar biasa. Dia tahu, istrinya  suka membaca dan menulis. Lama-lama suamiku menyadari bahwa hobi ini sekedar untuk menutupi rasa aman palsu, karena dengan demikian aku  tidak perlu menjalin hubungan dengan orang lain. Dia menerima aku apa adanya”. Dia melanjutkan: “Suamiku melihat bahwa istrinya  memiliki beberapa keistimewaan yang masih bisa berkembang. Suamiku memberi arti yang berbeda tentang hobiku. Dia menolong aku untuk menuliskan masalah yang kami  hadapi sehingga menjadi bahan pembelajaran bagi orang lain. Ini hal baru buatku karena untuk melakukannya aku harus berhubungan dengan manusia. Ternyata, rasa aman di zona nyamanku ini perlu kubagi dengan orang lain.”

&lt;b&gt;HARMONIS&lt;/b&gt;
Apakah artinya saling menghargai? Bagi beberapa orang istilah ini diartikan sebagai tidak melakukan kekerasan terhadap anak dan pasangan, saling menolong, tidak melecehkan. Tetapi pernikahan memberi arti baru pada kata saling menghargai dan hidup harmoni, yaitu siap menanggung kesalahan pasangan dan tidak membiarkan pasangannya merasa malu di depan orang lain. Ortu menjadi pembela anak. Tidak hanya peduli pada anak yang baik-penurut, tetapi juga pada “anak yang hilang”, yang menjengkelkan. Keluarga bisa menjadi Harmonis dengan cara menjalankan fungsi sebagai Ayah, Ibu, Anak, Suami dan istri dengan sebaik-baiknya. Seimbang antara menjalani kehidupan karir dan keluarga.

&lt;b&gt;KATARSIS&lt;/b&gt;
Keluarga juga tempat paling asyik kita bisa ngobrol apa saja, curhat pada orangtua saat ada masalah dari sekolah. Idealnya suami menjadi tempat curhat istri, saat ada sakit di hati. Istri tempat suami bercerita seelah seharian berjuang di kantor.
Dalam istilah Freud, keluarga menjadi tempat kita katarsis. Boleh ngomong atau curhat apa saja yang mengganggu emosi kita. Karena itu anggota keluarga yang baik, perlu belajar menjadi pendengar yang baik, bersedia menjadi “keranjang sampah” bagi yang lain. Jika tidak, jangan heran anak atau pasangan kita mencarinya di tempat lain.

&lt;b&gt;SUMBER RASA SYUKUR&lt;/b&gt;
Mengapa pernikahan itu anugerah istimewa yang selalu patut kita syukuri?

&lt;b&gt;Pertama,&lt;/b&gt; pernikahan adalah inisiatif Tuhan sendiri. Dia membentuk manusia pertama, Adam dan memberikan Hawa menjadi istrinya. Allah memberi mereka mandat budaya untuk mengelola bumi ini.

&lt;b&gt;Kedua, &lt;/b&gt; keluarga adalah tempat lahir dan dibesarkannya orang-orang besar dan berguna. Para tokoh, pejuang, pahlawan, pemimpin dan pelayan masyarakat juga lahir dari sebuah keluarga. Dalam anugerah-Nya Tuhan memilih. Kita boleh jadi orang biasa saja saat ini. Tapi  Kita belum tahu bagaimana kelak keadaan anak-cucu kita. Seratus, empat ratus tahun mendatang, bisa saja lahir orang yang Dia pakai memberkati bangsa ini dari keturunan kita.

&lt;b&gt;Ketiga,&lt;/b&gt;  perkawinan Itu   bersifat “trialog”. Tuhan hadir di dalam relasi suami-istri, Orangtua dan anak. Semua  melibatkan Tuhan dalam komunikasi mereka. Firman-Nya menjadi tolok ukur, standar nilai-nilai keluarga di tengah tantangan limpahnya media, internet dan sebagainya.

&lt;b&gt;Keempat, &lt;/b&gt; pasangan suami dan istri akan menjadi ayah dan ibu. Ini merupakan jabatan istimewa, posisi yang tak tergantikan.  Banyak orang dapat menggantikan tugas kita sebagai guru, pembicara, atau direktur perusahaan. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjadi ayah dan ibu bagi anak-anak kita, menggantikan posisi suami bagi istri kita atau menjadi istri bagi suami kita.

&lt;b&gt;Kelima,&lt;/b&gt;  beberapa penelitian membuktikan, bahwa perkawinan yang sehat dapat menjadi pemulihan hidup dari trauma masa lalu. Keluarga yang intim menjadi benteng stres kehidupan, menjadikan hidup orang yang menikmatinya, sehat serta produktif.
Keenam,   fungsi-fungsi dalam keluarga berdampak kekal. Kelak, di hari penghakiman-Nya kita semua berdiri dihadapan Tuhan Hakim yang Adil. termasuk anak dan pasangan kita. KIta perlu menyiapkan keluarga kita untuk menghadapi kekekalan. Semoga  kita tidak disibukkan hanya untuk kekinian, sampai lupa keluarga.

&lt;b&gt;PENUTUP&lt;/b&gt;
Boleh dikatakan, keluarga adalah pemberian terindah dari semua yang kita miliki. Orangtua pemberi hidup, anak milik pusaka dan istri adalah kasih karunia.  Di dalamnya kita dilahirkan, dibesarkan dan mengenal kasih dan menikmati Anugerah-Nya.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menjaga Hati sebagai Pemimpin</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/menjaga-hati-sebagai-pemimpin.html</link><category>Hati seorang pemimpin</category><category>Hati yang sombong</category><category>Perlengkapan senjata Allah</category><category>Seksualitas dan amoralitas</category><category>Tinggi Hati</category><category>Uraoan Roh Kudus</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 16 Nov 2011 12:29:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-6603956744718970137</guid><description>Secara Alkitabiah, seorang pemimpin memiliki setidaknya tiga alasan untuk menjaga hatinya.

1. &lt;b&gt;Alasan pertama mengapa seorang pemimpin harus menjaga hatinya ialah bahwa hatinya merupakan sumber utama dari segala sikap hati dan tindakannya.&lt;/b&gt; Kita melihat hal ini berdasarkan Amsal 4:23, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Berdasarkan firman Tuhan tersebut, seorang pemimpin diperintahkan untuk menjaga hatinya sebagaimana seorang prajurit menjaga pintu gerbang kota. Seorang pemimpin harus menjaga kasihnya untuk mencegah masuknya nilai-nilai duniawi yang akan merusak bejana hatinya. Ia harus mempertahankan kewaspadaan dan kedisiplinan seperti seorang pengawal yang menjaga sebuah kamp atau puri untuk melindungi raja yang berada di dalam puri tersebut.
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;2. Alasan kedua mengapa seorang pemimpin harus menjaga hatinya adalah karena itulah sumber dari segala sesuatu yang ia layani atau katakan. &lt;/b&gt;Hal sesuai dengan yang tertulis di dalam Matius 12:34b-35, "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat." Setiap pemimpin adalah penjaga yang bertugas menjaga perbendaharaan dari hatinya sendiri, yang penuh berisi harta yang baik atau yang buruk. Dari dalam perbendaharaannyalah sang pemimpin megeluarkan kebaikan atau kejahatan kepada peti-peti harta yang terbuka dari umat Tuhan. Saat ini, seorang pemimpin rohani harus menyimpan di dalam hatinya firman Allah, sukacita Tuhan, urapan Roh Kudus, dan seluruh perlengkapan senjata Allah - Efesus 6:13-17. &lt;b&gt;3. Alasan ketiga mengapa seorang pemimpin harus menjaga hatinya adalah untuk mencegah hatinya melakukan tindakan kenajisan rohani dalam dirinya atau kepada umat Allah.&lt;/b&gt; Hal ini didasarkan kepada firman Tuhan di dalam Markus 7:14-23. Tuhan Yesus Kristus berkata bahwa hati seorang pemimpin yang tidak dijagai dapat menjadi sumber dari sederetan hal-hal buruk: pemikiran-pemikiran tercela dan jahat, amoralitas sekseual, pembunuhan, pencurian, iri hati, kejahatan yang berbahaya dan menghancurkan, tingkah laku yang tidak terkendali dan tidak senonoh, mata yang mencari kejahatan, mulut penuh kekerasan yang menghujat dan mengucapkan hal-hal yang jahat, hati yang terangkat dalam kesombongan terhadap Allah dan manusia, dan kasih yang sembrono.
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Belajar Hidup dalam Kerendahan Hati</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/belajar-hidup-dalam-kerendahan-hati.html</link><category>Jalan kerendahan hati</category><category>Rendah hati</category><category>Rendah hati kunci sukses</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 17:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-7098965242888156975</guid><description>Mat 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." 

Belum lama ini saya membaca sebuah buku tentang kerendahan hati karangan Adrew Murray, seorang hamba Tuhan besar di abad lalu. Winkie Pratney dalam kata sambutannya untuk buku itu mengatakan bahwa kerendahan hati masih merupakan salah satu kebutuhan terbesar dalam zaman kita.

Begitu banyak buku yang membahas tentang kunci hidup sukses dan diberkati, tapi hanya sedikit yang menempatkan kerendahan hati sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan sejati. Kerendahan hati seharusnya menjadi tujuan dan sasaran dalam hidup kekristenan kita sebab itulah kunci untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati.
&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata 'praios' ( terjemahan b.Ingris : meek ) yang mana berarti juga lemah lembut. Kata praios juga dipakai dalam salah satu tema kotbah Yesus di bukit ( beatitudes ) yaitu berbahagialah orang yang lemah lembut ( praios) , karena mereka akan memiliki bumi. Para teolog yang ahli bahasa aram ( bahasa yang Yesus gunakan ) memperkirakan maksud Yesus dengan lemah lembut ( meek ) di sini adalah seseorang yang menyerah kepada Allah. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan peyerahan dan ketergantungan total kepada Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan hati/kelemahlembutan ( praios, praiotes ). Jadi ternyata kerendahan hati juga merupakan salah satu bagian dari buah Roh. Salah satu tanda kedewasaan rohani adalah memiliki buah Roh termasuk salah satunya buah kerendahan hati/ kelemahlembutan.

Yesus merupakan tedadan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Oleh karena itu pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan hidup. Yesus datang dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dan menaklukkan kesombongan tersebut. Kesombongan hanya dapat dikalahkan oleh kerendahan hati.

Walaupun Yesus merupakan anak Raja dari segala Raja namun Ia memilih untuk lahir di kandang yang hina. Lalu Ia juga memilih untuk dilahirkan sebagai anak tukang kayu yang mana bukan pekerjaan terhormat. Selama 30 tahun, Ia juga bekerja sebagai tukang kayu walaupun sebenarnya Ia bisa saja melayani sejak remaja sebab kemampuan dan hikmatNya sudah memungkinkan untuk itu. Namun dengan sabar Yesus menunggu dalam kerendahan hati sampai waktunya (kairos) telah tiba bagi Dia untuk melayani sebagai anak Allah. Salah satu definisi dari kerendahan hati adalah kerelaan untuk mengalami hinaan dan tidak dikenal.

Pada masa-masa terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan diri. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan hati. Salah satu bentuk saling melayani tersebut adalah dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya ( I Ptr 5:6 ). Syarat untuk mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari Tuhan bukan dari manusia. Bila Tuhan sendiri yang mempromosikan kita maka tidak ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya.

Selain itu hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah ( Mzm 37:11). Walaupun bangsa kita sedang dirundung krisis yang sepertinya tiada berujung namun bila kita hidup dalam kerendahan hati maka kita akan mewarisi negeri ini dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya sebab Ia tidak bisa gagal.

Bill Gothard mengatakan setiap pagi ia membiasakan diri merendahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan. Setiap pagi ia mengakui kelemahan dan ketidaklayakannya kepada Tuhan. Bill berkata, "Bila Saya tidak merendahkan diri maka akan ada orang yang dengan senang hati akan merendahkan saya ". Daripada direndahkan lebih baik kita merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Segala sesutu yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan kita. Kebiasaan-kebiasaan dalam hidup kita itulah yang disebut karakter kita. Bila kita membiasakan diri untuk hidup dalam kerendahan hati maka lambat laun kita akan memiliki karakter kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah sebuah karunia Roh melainkan karakter yang harus terus dilatih.

Beberapa waktu belakangan ini saya mulai membiasakan diri merendahkan diri setiap pagi dihadapan Tuhan. Setiap pagi saya mengakui kepada Tuhan semua kelemahan dan ketidakberdayaan saya. Saya mengakui dalam doa betapa saya ini lemah dan rentan terhadap dosa karena masih tersusun dari darah dan daging. Saya memohon kasih karunia dan kekuatan kepada Tuhan agar sepanjang hari bisa hidup dalam kekudusan dan kebenaran. 

Setelah melakukan kebiasaan itu, saya merasakan adanya sebuah kemenangan dan lebih mudah untuk hidup dalam kekudusan sepanjang hari. Bukan berarti setelah itu tidak ada lagi pencobaan dan godaan tetapi tersedia anugerahNya yang memberikan kekuatan untuk mengatasi setiap pencobaan yang datang.

Kita semua sebenarnya layak binasa karena dosa namun oleh anugerahNya saja kita dibenarkan dan diselamatkan. Semuanya memang hanya karena anugerahNya bukan karena kuat kita. Marilah kita hidup dalam kerendahan hati seperti Tuhan kita, Yesus Kristus!&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Diberkati Orang yang Hidup Dijalan Tuhan</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/diberkati-orang-yang-hidup-dijalan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 11:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-9121785593403478644</guid><description>“TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut.” Ulangan 13.4.


Sejak manusia diciptakan, iblis berusaha untuk menipu manusia agar jatuh ke dalam dosa dan kehilangan berkat yang Tuhan sediakan. Hal itu berlangsung terus hingga sekarang, dan tidak akan berhenti hingga waktunya bagi si iblis telah habis. Iblis begitu berpengalaman dalam hal menipu manusia. Dia mempunyai pengalaman ribuan tahun, sehingga jika kita tidak berpegang teguh kepada FirmanNya, maka kita akan dengan mudah terperangkap oleh tipu muslihat si iblis.


Banyak sekali cara yang dapat digunakan oleh iblis untuk mengecoh kita, yaitu melalui kenikmatan harta yang berlimpah-limpah, kenyamanan atas posisi atau jabatan tertentu, pengakuan oleh orang banyak, dan masih banyak lagi tawaran-tawaran yang membuat kita berkompromi dengan dosa. Si iblis selalu menawarkan jalan pintas bagi kita untuk memperoleh semuanya itu, tetapi pada akhirnya kita akan terjerat dengan perangkapnya yang membawa kepada maut.
&lt;span class="fullpost"&gt;Tuhan Allah yang kita sembah bukanlah Tuhan yang tidak sanggup membuat kita diberkati dengan segala kelimpahan baik secara rohani maupun jasmani. Tetapi Tuhan kita Yesus Kristus, sanggup memberikan semua berkat sorgawi bagi kita yang setia kepadaNya.


Mungkin kita tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan. Tetapi Tuhan tidak berdiam begitu saja atas semua penderitaan yang kita alami. Dia akan memberikan jalan keluar bagi kita tepat pada waktunya. Dia telah merancang rencana yang indah bagi hidup kita.


Jika kita memilih untuk mencari jalan pintas atas masalah atau kemauan kita yang ingin cepat kaya, cepat dapat posisi atau jabatan, ingin cepat lepas dari kesusahan, dan kita menghalalkan cara-cara yang kotor di hadapan Tuhan; maka kita akan kehilangan rencana yang indah yang telah Tuhan sediakan bagi kita.
Sayang sekali jika kita mengorbankan semuanya itu hanya untuk kenikmatan sesaat, tetapi berujung kepada maut. Awalnya mungkin tidak kita sadari, tetapi itulah siasat iblis dalam menipu dan menjerat kita, sehingga pada akhirnya kita kehilangan berkat dari Tuhan.


Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak kehilangan rencana Tuhan yang indah?
&lt;b&gt;1. “TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia“&lt;/b&gt;

Dari awal kita harus menentukan sikap dan pilihan, bahwa kita memilih untuk mengikut Tuhan. Jika kita sudah menentukan sikap dari awal, maka iblis tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tentukan sikap kita, perkatakan bahwa kita mengikut Yesus, deklarasikan kepada si iblis bahwa kita memilih jalan Tuhan. Dan akui Yesus dengan hidup takut akan Dia. Jauhi dosa dan jangan kompromi dengan dosa. Tidak ada yang disebut kebohongan untuk kebaikan. Dosa kecil tetaplah dosa. Pilihan kita akan menentukan jalan hidup kita. Pilihan akan jalan Tuhan akan membawa kita kepada rancangan damai sejahtera.


&lt;b&gt;2. “Kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan“&lt;/b&gt;
Iblis tidak akan berhenti mempengaruhi pikiran kita dengan segala macam hal-hal yang negatif. Jika hidup kita tidak dipenuhi dengan Firman Tuhan, maka kita akan menjadi sasaran empuk bagi iblis. Penuhi hidup kita dengan FirmanNya. Baca dan renungkan Alkitab setiap hari. Dengar dan lakukan apa yang telah kita baca. Dengan begitu Firman Tuhan akan mendominasi hidup kita, sehingga segala tipu muslihat iblis dapat dipatahkan oleh kuasa Firman Tuhan.


&lt;b&gt;3. “Kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut“&lt;/b&gt;
Ibadah tidak terbatas kepada kebaktian yang diadakan di gereja saja. Ibadah yang sejati adalah pola kehidupan kita seutuhnya. Ketika kita menjalani hari-hari kita dengan langkah yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, kita mengandalkan Yesus dalam memutuskan suatu hal/tindakan, kita senantiasa mengasihi sesama kita, kita tidak kompromi dengan dosa, kita membawa Yesus dalam tiap langkah hidup kita, setiap saat, kapan saja dan di manapun kita berada, maka itulah yang disebut dengan ibadah yang sejati. Ketika kita senantiasa berpaut kepada Yesus, iblis tidak akan bisa menjerat kita, karena kita ada dalam perlindungan Tuhan.


Oleh karena itu, pilihlah jalan Tuhan sehingga kita akan menerima segala berkat kelimpahan yang telah disediakan bagi kita yang setia kepadaNya. “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar. TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu.
Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu–di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.

TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman. TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.”
Ulangan 28:1-14.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jangan Tawar Hati Walau Menderita</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/jangan-tawar-hati-walau-menderita.html</link><category>Bertumbuh dalam penderitaan</category><category>Menderita karena kebenaran</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 11:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-4359956666915641027</guid><description>“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” Amsal 24:10
Ketika kita sudah percaya kepada Yesus dan mengakuiNya sebagai Tuhan dan juruselamat hidupnya, ini bukan berarti bahwa kita tidak akan menghadapi masalah. Bukan berarti juga bahwa kita bebas dari masalah dan kita akan langsung diberkati secara berkelimpahan baik dalam keluarga, pekerjaan, bisnis, usaha, pendidikan, di lingkungan dan lainnya.


Justru pada saat kita memutuskan mengikut Yesus, iblis akan berusaha untuk menarik kita kembali agar jatuh ke dalam dosa, karena dia tidak suka dengan keputusan yang kita ambil.


Berbagai masalah juga tetap akan datang menerpa kehidupan kita tanpa habis-habisnya selama kita masih bernafas. Seringkali juga kita menyerah atas persoalan yang sedang menimpa kita. Kita berharap bahwa Tuhan segera menolong dan memberi jalan keluar atas masalah yang kita hadapi. Pada kenyataannya jawaban Tuhan tidak datang juga, sehingga kita menjadi tawar hati. Kita tidak tahu bahwa Tuhan sedang menguji dan memproses hidup kita agar kita dapat benar-benar percaya dan berserah kepada Tuhan dengan segenap hati kita.


Rasa tawar hati sering diikuti dengan perasaan kecewa dengan kondisi hidup kita dan bahkan ada juga yang kecewa kepada Tuhan, hingga tidak pergi lagi ke gereja.
&lt;span class="fullpost"&gt;Kondisi ini akan membuat kita semakin lemah dan tidak mempunyai kekuatan untuk dapat melangkah maju menghadapi masalah yang ada.
“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4:16-17
Rasul Paulus dalam penderitaannya yang begitu banyak dia alami, juga tetap menjaga hatinya agar tidak tawar hati. Walaupun secara lahiriah dia semakin lemah, tetapi manusia rohaninya semakin kuat di dalam Tuhan. Dia tahu bahwa apa yang telah Tuhan sediakan bagi dia jauh lebih besar dari apa yang dia alami. Inilah kekuatan yang memampukan Rasul Paulus untuk tetap setia mengiring Tuhan sampai akhir hidupnya.
Tawar hati justru akan membuat kita semakin lemah dan membuat hidup kita tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk menjalani masalah yang ada. Kita membutuhkan pengharapan kepada Yesus untuk tetap dapat kuat menghadapi masalah yang ada.

Jangan biarkan rasa tawar hati itu datang atau bahkan berlarut-larut melingkupi hidup kita. Cari wajah Yesus, maka Dia akan memberikan pengharapan dan kekuatan baru bagi kita untuk menjalani langkah hidup kita.

&lt;b&gt;Doa:&lt;/b&gt;
Tuhan, berikanlah kami kekuatan agar sanggup menjalani hari-hari kami yang penuh dengan berbagai masalah. Biarlah terang FirmanMu yang menuntun jalan kami agar kami dapat tetap bersemangat di dalam kasih Tuhan, sehingga kami dapat menjadi pemenang dalam masalah yang kami hadapi.
&lt;b&gt;Langkah iman:&lt;/b&gt;
• Perkatakan Firman Tuhan dalam hidup kita, sehingga itu menjadi kekuatan bagi kita.
• Tolak segala rasa tawar hati maupun rasa kecewa yang ada.
• Percaya bahwa Tuhan telah menyediakan yang terbaik bagi kita tepat pada waktuNya.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Pandang yang Mendatangkan Berkat</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/cara-pandang-yang-mendatangkan-berkat.html</link><category>Bangkit dan menjadi pemenang</category><category>Cara pandang</category><category>Jangan putus asa</category><category>Mengatasi persoalan hidup</category><category>Perspektif baru</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 11:07:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-4475640300117562029</guid><description>“Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus’ ” Lukas 23:43

Yesus disalibkan di tempat yang bernama Tengkorak. Dalam bahasa Latin disebut Kalvari, kalau dalam bahasa Aram disebut Golgota. Bersama Yesus ada juga dua orang penjahat yang disalibkan, yaitu disebelah kiri dan di sebelah kanan Yesus. Kedua penjahat itu telah ikut menghujat Yesus bersama dengan banyak orang yang menonton penyaliban Yesus, yaitu imam-imam kepala, bersama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-ngolok Yesus. Perkataan yang mereka lontarkan pada Yesus, sungguh mengejek dan menghina.

Salah satu dari dua penjahat yang ikut disalibkan bersama dengan Yesus memperoleh berkat keselamatan dari Yesus. Banyak orang yang beranggapan bahwa berakhirlah sudah kehidupan Yesus di kayu salib itu. Yesus diangggap hina, dan tidak punya kuasa lagi. Namun salah satu dari penjahat itu memiliki cara pandang yang benar tentang penyaliban Yesus, sehingga ia memperoleh berkat anugerah keselamatan.
&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti apakah cara pandang yang benar untuk meraih berkat yang Tuhan sediakan?

1. Tidak ikut arus yang salah
Barangkali dalam menghadapi persoalan kehidupan ini, kita sudah tak berdaya lagi, karena dikuasai oleh persoalan yang sulit, mungkin dalam masalah pekerjaan, ekonomi, keluarga, sakit penyakit, fitnah atau akibat dari kesalahan/dosa yang kita perbuat. Persoalan itu terasa begitu berat, rumit dan mungkin telah menyiksa bathin dan jiwa kita. Dalam keadaan seperti ini rasanya semuanya telah hancur, tidak ada orang yang menolong, tidak ada harapan lagi untuk perbaikan, kesembuhan atau pemulihan, selain pasrah pada masalah, dengan susah dan sedih hati. 

“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu”, Amsal 23:10. 
Masalah boleh ada, persoalan boleh datang bertubi-tubi tapi milikilah cara pandang yang benar, sebab dengan cara pandang yang benar kita akan tetap menjadi kuat. Jangan pasrah pada keadaan, jangan menyerah begitu saja, jangan setuju dengan keadaan yang merugikan dan menyakitkan itu, jangan hanyut ikut arus masalah itu, lakukan suatu hal yaitu melawan masalah itu dengan sebuah cara pandang baru yang benar, bahwa diatas segala persoalan yang sulit itu ada Yesus yang sanggup menolong dan memulihkan. 

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”, Amsal 23:18.
Jangan pandangi masalah itu, yang dapat menekan dan menghimpit kita, sehingga ketika kita ikut larut di dalamnya maka membuat kita tidak berdaya dan menjadi lemah dan pasrah pada masalah. Alihkanlah perhatian kepada FirmanNya yang pasti digenapiNya bagi setiap orang percaya. Pandanglah kepada Yesus yang empunya segala kuasa itu. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah ialah Allah yang penuh kasih. Dia akan memberikan anugerahNya kepada setiap orang yang menaruh harapannya kepadaNya, dan penjahat itupun memperoleh berkat anugerah keselamatan dari Yesus.

2. Menanggalkan keegoisan dan mau bertobat
Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita, oleh karena kesalahan ataupun dosa yang telah kita perbuat yang tanpa kita sadari. Kita merasa benar, oleh sebab itu kita seringkali menyalahkan orang lain, atau keadaan yang ada, bahkan ada yang menyalahkan Tuhan, mengganggap Tuhan tidak adil. Sekalipun kita benar dan Tuhan ijinkan masalah datang, hadapilah itu sebagai sebuah ujian, pasti ada maksud Tuhan yang baik bagi kita, supaya kita belajar tentang kebenaran Tuhan.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”, Roma 8:28.

Jika kita ditegur oleh Firman Allah, terimalah dengan hati yang terbuka, akui saja dihadapan Tuhan, sebab tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Pakailah Firman Allah sebagai alat untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk mengevaluasi diri kita. Jangan keras hati, lawanlah keegoisan, sikap yang membenarkan diri, dengan merendahkan diri dihadapan Tuhan dan mengakui kesalahan. Tuhan tidak pernah membiarkan celaka orang yang mau merendahkan diri dihadapanNya. Tatkala penjahat itu mau merendahkan dirinya dan meninggikan Yesus, maka Yesuspun mengangkatnya dengan memberikan anugerah keselamatan kepadanya.

Anugerah adalah pemberian Allah dengan cuma-cuma, gratis, yang diberikan pada orang yang tidak layak menerimanya. Hidup kita dihadapan Tuhan adalah anugerah. Jangan bertahan pada keadaan yang dapat merugikan, jangan egois. Sekalipun kita telah berbuat salah, keliru, atau berdosa, asalkan mau bertobat, berbalik dari jalan-jalan hidup yang lama, datang merendahkan diri dihadapan Tuhan, maka akan dipulihkan oleh Tuhan, dan percayalah mujizat dan pertolongan Tuhan akan diperoleh.
Mungkin rasa bersalah yang terus mengikuti, cara untuk menghilangkannya adalah dengan mengakui kesalahan itu dengan jujur dihadapan Tuhan. Pelanggaran yang belum diampuni akan mendatangkan jurang pemisah antara kita dengan Allah. Suatu pengakuan yang jujur adalah langkah untuk berdamai dengan Tuhan dan manusia, sebab yang Tuhan tuntut hanyalah, “Hanya akuilah kesalahanmu”, ( Yeremia 3: 13). Pengampunan dan kemurahan Allah tersedia bagi semua orang yang datang kepadaNya dengan pertobatan yang sungguh-sungguh. Pemulihan selalu disediakan Tuhan.
“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi”, Amsal 28:13.

3. Tidak mengandalkan pikiran manusia
Akal sehat manusia bisa saja berkata “ Jika Yesus itu Tuhan, pasti Ia bisa selamatkan diriNya dari salib. Kenyataannya, Yesus tidak berdaya, dihina, disiksa, menderita dan disalibkan. Jelas, Ia bukan Tuhan, sebab Ia tidak berdaya, jadi mana mungkin aku menaruh kepercayaan kepadaNya?”. Itulah yang terjadi pada saat Yesus disalibkan, banyak orang beranggapan demikian, mengandalkan pikiran manusia, cara pandang mereka tentang Yesus adalah salah, sebab itu mereka menghujat Yesus. Yesus berkata: “Ya, Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, ayat 34a.  Jalan pikiran mereka bukanlah kebenaran.

Barangkali kita telah berdoa dan seolah-olah Tuhan tidak mampu menjawab doa-doa kita, Dia tidak dapat menolong kita, Dia tidak dapat mengerti keadaan kita, buktinya keadaan kita belum juga berubah. Cara pandang ini adalah salah. Penjahat itu tidak lagi mengandalkan pikiran manusia berdasarkan apa yang ia lihat sesuai kenyataan saat itu bahwa “Yesus tidak berdaya”. Penjahat itu tidak mau hanya melihat pada kenyataan Yesus yang disalibkan itu, tetapi ia melawan kenyataan itu dengan cara pandang yang benar yaitu melihat dengan hatinya yang beriman bahwa Yesus itu akan menang, yang akan datang sebagai Raja, penjahat itu mau melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata. Sebab itulah ia dengan berani dan percaya, berkata pada Yesus, agar Yesus kelak mengingat dirinya. Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”, ayat 43. 

Maksud dari pernyataan Yesus ini bukanlah segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia, tetapi memerlukan iman yang sungguh-sungguh percaya akan pekerjaan Tuhan yang sempurna.  Kenyataan yang susah, buruk, dan mencemaskan selalu kelihatan oleh mata jasmanai kita. Kenyataan yang dilihat mata itu memang sulit untuk disangkal dan itu selalu mengkhawatirkan hati. Untuk menghadapi kenyataan ini adalah melawannya dengan cara pandang yang benar, yaitu menggunakan Firman Allah.
Masalah boleh ada untuk melatih diri kita agar dapat melihat yang tidak kelihatan dengan memakai kebenaran Firman Allah. Kenyataannya ialah semua orang menolak Yesus, dan menghujat Yesus yang disalibkan. Penjahat itu mau melawan kenyataan yang dilihatnya, dengan cara pandangnya yang benar, ia tidak ikut arus lagi, ia menanggalkan keegoisannya dan bertobat, serta tidak mengandalkan pikiran manusia. Penjahat itu tidak lagi mau dikuasai oleh keadaan yang lihat oleh matanya, ia melawan kenyataan itu, percaya pada Yesus yang disalibkan itu adalah sebagai orang benar dan akan menang, kemudian datang sebagai Raja. Karena itu, iapun memperoleh kehidupan yang kekal, yaitu berkat keselamatan dari Yesus.

Kita akan berhasil ketika kita mau melawan kenyataan hidup yang pahit dan sulit itu, dengan cara pandang yang benar sesuai kebenaran Firman Allah. Kita harus terus belajar untuk menilai segala sesuatu dengan cara pandang yang benar, supaya kita dapat menerima berkat Tuhan. Percaya saja pada kemampuan Allah yang sanggup untuk menolong kita, maka kita pasti menerima berkat dan mujizatNya yang tidak terbatas itu. Tuhan memberkati saudara.

“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>4 Cara Mengatasi Rasa Bersalah</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/4-cara-mengatasi-rasa-bersalah.html</link><category>Berjalan dalam terang firman Tuhan</category><category>Lawanlah Iblis</category><category>Mengatasu kegagalan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 10:47:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-1666924416990567636</guid><description>Apakah saudara  merasa bersalah hari ini atau pada hari-hari yang sudah berlalu? Minggu ini saya merasa bersalah karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dapat saya lakukan, tidur  terlalu larut sehingga membuat kepala saya pusing, saya telah batal mengunjungi seseorang yang sedang berada di rumah sakit. Rasa bersalah itu dapat saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari karena kita tidak  melakukan sesuatu yang seharusnya, misalnya  telah berbicara menyinggung/menyakiti hati  orang lain, telah marah secara berlebihan, tidak mengendalikan lidah, terlalu curiga, terlalu khawatir, tidak terbuka, tidak jujur, telah mencemaskan sesuatu yang tidak terjadi, tidak belajar ketika akan menghadapi ujian sekolah dan lain-lain.

Apakah rasa bersalah itu ?

Rasa bersalah adalah sebuah perasaan yang tidak merasa bahagia,tidak merasa ada damai  dan tidak tentram. Perasaan yang buruk, salah, tidak berharga, merasa gagal, merasa malu dan kalah karena sesuatu perbuatan yang telah dilakukan. Para ahli psikologi berpendapat bahwa perasaan bersalah itu muncul karena kegagalan untuk mencapai standar-standar perilaku yang telah kita tetapkan sendiri. Misalnya ketika kita telah mengecewakan atau menyakiti hati seseorang, itu merupakan suatu perilaku yang buruk atau dosa.
&lt;span class="fullpost"&gt;Maka solusinya adalah kita belajar cara hidup yang  baik agar tidak merugikan oranglain atau siapapun. Jika ini kita lakukan tentunya kita tidak akan merasa bersalah. Pandangan seperti ini melihat bahwa dosa itu adalah masalah horizontal saja, yaitu hubungan sesama antar manusia.Berbeda dengan pandangan Alkitab,bahwa dosa itu juga memiliki dimensi vertikal, yaitu hubungan manusia dengan Allah.

Rasa bersalah itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Daud, adalah merupakan suatu dosa.Dosa itu menyakiti hati Allah.Alkitab mengatakan bahwa pada dasarnya kita semua bersalah.“Tidak ada yang benar, seorangpun tidak”, (Roma 3:10).Artinya kesalahan itu sifatnya universal atau umum.Di mata Allah semua manusia bersalah, karena manusia cenderung tidak mau dipimpin oleh Allah dan memberontak terhadap-Nya.
Apa yang  Daud telah ungkapkan dalam Mazmur  51 ini, adalah sebuah pengakuan dosa dari Daud. Nabi Natan telah diutus Tuhan datang kepada Daud supaya membeberkan dosa perjinahan yang telah dilakukan Daud dan pembunuhan yang telah direncanakan/ dilakukan oleh Daud, dalam kisah 2 Sam.12 : 1-13. Dalam kisah ini, Daud  telah melakukan perjinahan dengan istri Uria bernama Batsyeba, dan karena hendak mengambilnya menjadi istrinya maka Daud dengan sengaja merencanakan dan membiarkan Uria mati dalam peperangan.

“Ditulisnya dalam surat itu, demikian: “Tempatkanlah Uria dibarisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati”, 2 Sam 11:15. Ini merupakan sebuah rencana pembunuhan yang dibuat oleh Daud terhadap Uria dan  Uriapun mati dalam pertempuran. Maksudnya ialah supaya ia dapat memiliki Batsyeba, mengambilnya menjadi isterinya. Nabi Natan kepada Daud, dan ia menceriterakan  kepada Daud tentang seorang kaya yang mengambil anak domba satu-satunya kepunyaan orang miskin untuk menjamu tamu orang kaya tersebut,maka marahlah Daud, agar supaya orang kaya itu dihukum mati karena tidak mengenal belas kasihan. Melalui cerita itu Natan menegur Daud bahwa Daudlah orang itu.

“Mengapa engkau menghina Tuhan dengan melakukan apa yang jahat di mataNya?”, 2 Samuel 12: 9a. Akhirnya Daud sadar akan apa yang telah diperbuatnya, keadaan itu membuat Daud menjadi gelisah dan tidak tenang, hidupnya diliputi oleh rasa bersalah. Apa yang tidak berkenan dan yang jahat bagi  Allah telah ia perbuat.  Daud merasa hidupnya sudah tidak nyaman lagi karena ia terus dibayang-bayangi oleh perbuatannya yang berdosa itu.  Ia merasa bersalah, dan hatinya tidak tentram. Daud menginginkan ketenangan itu kembali dalam hidupnya, namun hal tersebut tidak akan diperolehnya sebelum ia membuat pengakuan yang jujur dengan sepenuhnya kepada Allah. Bagaimanakah Daud mengatasi rasa bersalahnya untuk bangkit kembali?

Ada 4 hal yang dilakukan oleh Daud, yaitu:
1. Bergumul melawan  dosa
Daud tidak langsung bertobat ketika ia berselingkuh dengan Batsyeba. Memerlukan beberapa waktu lamanya  sampai hal yang telah dilakukannya itu menjadi suatu pergumulan dalam hatinya. Setelah nabi Natan datang kepada Daud dan menceriterakan kisah tentang seorangkayayang  mencuri domba dari  seorang miskin, barulah Daud mengerti tentang kesalahannya. Mendengar kisah ini Daud baru sadar akan kejahatan yang telah ia perbuat itu. 

Untuk memperoleh pengampunan dan pembaharuan dari Allah atas kesalahan dan dosa yang telah diperbuat itu tidaklah mudah. Apalagi jika seseorang itu telah mengalami keselamatan dan kemudian terjerumus ke dalam suatu kesalahan atau dosa maka akan mungkin mengalami pergumulan rohani yang panjang untuk mengalami pertobatan dan pemulihan. Pengampunan selalu ada pada Allah, yang Ia kehendaki ialah  supaya kita belajar untuk menjadi lebih baik lagi. 

Dari Daud kita dapat belajar bahwa betapa menakutkan melukai hati Allah yang kudus setelah kita diberkati oleh Allah. “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku”, ayat 5. Ini merupakan suatu kesadaran tentang tanggungjawab pribadi atas kesalahannya. Kata yang sering muncul dalam bacaan Firman Tuhan di atas ialah pelanggaranku, kesalahanku, dan dosaku. Daud tidak mencari-cari alasan atau pembelaan, dan pembenaran terhadap dirinya mengapa iasampai berbuat dosa. Daud juga tidak menyalahkan pada keadaan yang membuat kesempatan itu terjadi, juga dia tidak  mempersoalkan ketidak-pengetahuan, atau karena kebutuhan, karena godaan, juga dia tidak melibatkan Batsyeba yang harus ikut menanggung kesalahan dalam perjinahannya, sehingga pembunuhan itupun terjadi. 

Kesalahan yang dilakukan Daud itu adalah tanggungjawab Daud sendiri. Pengakuan yang sejati itu ialah mengakui kesalahannya dengan tidak mencoba berdalih. Daud tidak mau tinggal terus menerus dalam dosanya, karena itu ia datang kepada Allah untuk memohon pengampunan supaya dipulihkan.  “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”, 1 Yohanes 1:9

Kita harus bergumul melawan dosa, sebab dosa itu melawan Tuhan.Jangan biarkan dosa itu tetap tinggal dalam hidup kita tapi lawan dan perangilah itu.Hadapi dosa itu,dengan bersikap terbuka dan jujur dihadapan Allah.Jangan ada yang disembunyikan akuilah semua kesalahan dan dosa itu kepada Allah.Allah pasti mendengarkan semua beban kita, karena Ia selalu setia terhadap kita. Ia mengasihi kita. Membiarkan dosa dan tidak mengakuinya, ini mencegah kita untuk menikmati hubungan dan persekutuan dengan Allah dan dengan sesama. Orang yang menyangkal dosanya atau berusaha menyembunyikannya, tidak mau mengakuinya, tidak menyesali dan meninggalkannya, tidak akanmerasa tenang dalam hidupnya dan tidak akan bertumbuh secara rohani. Pengampunan dan kemurahan Allah itu tersedia bagi semua orang yang mau datang kepadanya dengan sungguh hati untuk menerima pemulihan. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi”, Amsal 28:13.

2. Mengakui bahwa dosa itu melawan Tuhan
Setelah Daud menyadari kesalahanyang telah ia perbuat kepada manusia, ia juga menyadari bahwa terutama dosanya itu ialah kepada Allah. Firman Tuhan mengatakan bahwa dosa itu adalah perbuatan yang jahat dimata Allah.“Mengapa engkau menghina Tuhan dengan melakukan apa yang jahat di mataNya?Uria, orang Het itu, kau biarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kau ambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kau biarkan dibunuh oleh pedang bani Amon”, 2 Samuel 12:9.

Terlepas dari perbuatan Daud terhadap Batsyeba dan Uria suaminya, maka tindakan Daud itu pada akhirnya adalah menentang Allah. “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu”, ayat 6. Daudpun membuat sebuah pengakuan kepada Allah yang tanpa tersembunyi tentang kesalahan yang telah diperbuatnya. “Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku”, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku, Mazmur 32:5.
Mengakui dan memberitahukan dosa dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh akan menghasilkan pengampunan.Dengan pengakuan tersebut apabila Allah menjatuhkan hukumanNya atas orang berdosa Allah tidak boleh dituduh kejam.Daud mengakui bahwa Allah itu adil dalam segala keputusanNya.Resiko akibat dosa yang telah diperbuatnya itu dapat diterima oleh Daud sebagai maksud baik Allah.

Ada resiko yang harus diterima oleh Daud akibat dari perbuatan dosanya itu, yaitu anaknya yang dikandung oleh Batsyeba itu ditulahi oleh Allah sehingga sakit dan akhirnya mati. Sekalipun Daud telah berpuasa dan menangis untuk  berdoa minta belaskasih Allah agar anak itu tetap hidup tetapi keputusan Allah tetap terlaksana. Allah mau menunjukkan keadilanNya walaupun hati Daud terluka oleh kematian anak tersebut, karena itu Daud sangat menyadari bahwa keputusan Allah adalah baik apapun juga.  Sekalipun Daud bersedih tetapi ia tidak bisa menolak kehendak Allah dan Daud  merima keputusan Allah itu sebagai sesuatu yang baik.

Sebab itu ketika anaknya itu mati, Daud bangkit dan menyembah Tuhan.Daud tetap menyembah Tuhan disaat luka dihatinya masih ada akibat kesalahannnya itu.“Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah Tuhan dan sujud menyembah”, 2 Samuel 12:20a.

Kesalahan itu mengandung resiko yang harus ditanggung. Saudaraku, bila saat ini engkau sedang mengalami suatu sakit, luka atau derita akibat kesalahan yang telah diperbuat di masa yang lampau anggaplah itu sebagai bentuk perhatian dan kasih Allah. Terimalah luka atau penderitaan yang wajar kita tanggung itu karena  akibat dosa atau  kesalahan kita, tapi jangan pandang  itu sebagai hukuman yang berkelanjutan, namun pandanglah itu sebagai sebuah proses penyembuhan yang akan terjadi kemudian setelah kita mengalami perubahan dalam hidup kita. Jika kita menyadari bahwa sesuatu beban yang kita terima/pikul saat ini adalah sebagai akibat dari kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat, maka hal itu  harus kita terima sebagai sesuatu keputusan yang adil dari Tuhan.  

Jadikan hal itu sebagai suatu peringatan atau sebagai kenangan indah untuk kita merasakan kasih Allah. Jangan kecewa, jangan putus asa, tetaplah menyembah Dia. Dia mengasihi, sangat mengasihi sekalipun kita orang berdosa. Sebab tidak selamanya kita dibiarkan menderita. Justru dengan resiko yang diterima itu kita dapat merasakan betapa besar kasih dan keadilanNya.Ia pasti menyediakan yang terbaik lagi di masa yang akan datang sesuai proses perubahan hidup yang kita jalani. Dia akan mengubahkan keadaan yang buruk untuk menjadi sebuah kebaikan.

3. Menyadari orang berdosa  memerlukan pengampunan Allah
Daud mengakui bahwa sejak dari kandungan atau lahir dia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Daud menyatakan bahwa manusia itu sifatnya berdosa, dengan kata lain setiap orang itu sejak dari lahir memiliki suatu kecenderungan untuk melakukan suatu kesenangan dan keiinginan diri sendiri, yang bahkan dapat menyebabkan orang lain menderita. 

“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”, ayat 7. “.. hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar!’, ayat 3. Hapuskan artinya ‘dikikis’ dibersihkan seperti sebuah tulisan dihapuskan, sehingga tidak kelihatan lagi. “Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!”, ayat 4. Dosa dilihat sebagai sesuatu yang berurat berakar secara dalam yang memerlukan pengobatan intensif, yaitu dengan membuang habis dosa sehingga menjadi tampak bersih.

Kecenderungan berdosa ini hanya dapat dibersihkan dari kehidupan kita melalui penebusan di dalam Yesus Kristus yang telah membayar, menebus kita dengan kematiannya di kayu salib dan oleh tuntunan Roh Kudus.Kita membutuhkan pertolongan Tuhan, sebab usaha kita hanyalah sia-sia jika bukan karena Tuhan yang menolong untuk membebaskan kita.Pengampunan yang diberikan Tuhan itu akan memulihkan keadaan kita. Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah menyediakan pertolongan itu melalui kematianNya di kayu salib. Oleh sebab itu siapa yang datang dan percaya kepadaNya akan diselamatkan.

4. Penyerahan diri kepada Allah untuk dibaharui
Kita sebagai orang percaya sangat memerlukan Roh Allah mendiami kita untuk menciptakan di dalam diri kita hati yang selalu menjauhi dan membenci dosa. Roh Kudus itu akan membaharui kita untuk selalu merindukan dan melakukan kehendak Allah dalam hidup kita. Hanya Allah saja yang dapat membuat  kita menjadi ciptaan baru dan memulihkan kehidupan kita. “Jadikanlah aku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”, Mazmur 51: 12.

Kita harus datang kepada Allah dan meminta pengampunanNya karena terhadap Allah kita telah berdosa. Daud mengakui kedalaman yang sebenarnya dari kesalahannya itu sebagai keadaan manusia sejak dilahirkan.Hanya Allah yang dapat membersihkan, hanya Allah pula yang dapat melaksanakan pemulihan jiwa dan tubuh secara sempurna dari kehancuran dan akibat dosa.“Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! (ayat 9-10).

Daud tidak akan merasa tenang sebelum ia mengutarakan segala dosanya dihadapan Allah. Perasaannya perih oleh penyesalannya atas keterlibatannya dalam pembunuhan terhadap Uria, Daud membawa jiwanyayang hancur itu kepada Allah sebagai persembahan yang sejati. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur , hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina ya Allah”, Mazmur 51:19. Tanpa jiwa yang hancur tampaknya segala korban itu tidak bermakna. Setelah Daud membuat pengakuan dosanya, maka nabi Natan langsung mengumumkan pengampunan dari Allah. Allah mengampuni Daud dan  Daud sadar tentang keajaiban kasih dan pengampunan yang begitu indah diberikan Allah kepadanya atas kesalahannya yang sangat besar itu.
Tidak mudah bagi Daud mengakui dosanya itu kepada Allah, namun ia berjuang melawan ungkapan hati terdalamnya itu kepada Allah sekalipun diliputi oleh rasa malu, direndahkan dan dipatahkan oleh rasa bersalahnya. Namun  akhirnyaia ditolong dari keputus-asan itu oleh  iman penyesalannya di dalam kasih Allah.

Dampak dari rasa bersalah itu memang sangat dalam seperti  perasaan ditolak, ketidakmampuan untuk mengatakan tidak, munculnya depresi, kecemasan, dan kehilangan keintiman rohani dengan Allah. Kita bukanlah sebagai orang yang pertama merasakannnya. Jangan lari dan menghukum diri menjadi korban rasa bersalah, sebab jika ini dibiarkan maka keputus-asaan dan kegagalan akan mendatangi kita. Alkitab telah mencatat dalam kitab Mazmur, tentang  gambaran keputus-asaan itu, “Sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku”, Mazmur 38:5.

Saudaraku, Allah mengerti beban berat itu, dan Ia menyediakan jalan untuk mengatasinya.  Oleh kematian Yesus Kristus di kayu salib, Ia menyatakan kita tidak bersalah dan ditebus dari dosa.  Jika kita terus saja berpegang pada rasa bersalah itu, maka kita seolah-olah lebih tahu dari pada-Nya, dan kita menyia-nyiakan pengorbananNya yang rela mati buat kita.Tuhan meminta kita untuk memperbaharui pikiran kita dengan kebenaran FirmanNya untuk membantu kita supaya terhindar dari ganjaran yang tidak menyenangkan.Keadaan memang tidak berubah tapi Allah akan memperbaharui kita dengan memberi kekuatan yang baru serta ia akan mengubah hidup kita menjadi manusia yang baru bagiNya, karena walaupun kita berdosa tapi dapat dibenarkan olehNya karena iman kita kepadaNya kepada kasihNya.

Secara emosional kita mungkin hidup begitu lama dibawah rasa bersalah sehingga menghukum diri sendiri dan tidak merasa ada kebebasan lagi  untuk menjadi baik. Bangkitlah, hadapi rasa bersalah itu, akui dihadapan Tuhan dengan terbuka, dengan jujur dan minta pengampunan dari Tuhan dan bertobat. Jangan berhentimencoba untuk dipulihkan, buang putus asa itu dan rasa ketidakbergunaan itu, datanglah kepadaNya sebab Allah selalu menunggu kita dengan setia.Berserahlah dan minta pengampunan dari Allah. Curahkan semua isi hati, tekanan-tekanan dan beban-beban berat yang menghimpit itu.Meraunglah, menangislah, menjeritlah kepada Tuhan, Dia menunggu dan mendengarkan. Bawalah seluruh jiwa dan hati yang hancur itu kepada Tuhan. 

Tuhan pasti meringankan beban itu dan memberikelegaan serta bebaskan dari semua beban berat yang menindih itu.  Allah tidak ingin membinasakan umatNya, Ia selalu menawarkan pengampunan jika kita mau bertobat. Pengampunan itu disediakan bagi semua orang , yang sekalipun telah berbuat dosa. “Sekalipun dosamu merah seperti kermizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun  berwarna  merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih  seperti bulu domba, Yesaya 1:18.

Jika  ini sudah datang mengakui kesalahan itu kepada Tuhan dengan rendah hati yang tulus, rasakan betapa besar pengampunan yang diberikanNYa itu, rasakan betapa besar kasihNya itu. Allah adalah kasih.Dia Allah mengasihi, mengasihi orang berdosa.  Dia merindukan orang berdosa datang kepadaNya untuk dipulihkan.  Iblis memang suka mematahkan semangat, dan mengintimidasi kitasebagai orang tidak berguna orang berdosa, sekarang katakan kepada iblis bahwa engkau  telah dibebaskan dan dipulihkan Allah.Engkau sudah dibebaskan, sudah dimerdekakan oleh kasih karunia Tuhan.

Hiduplah sebagai seorang anak Allah yang telah diampuni. Buang rasa malu itu karena  hanya membuat jurang pemisah dalam hubungan kita dengan sesama dan Allah.Terimalah kebebasan dari rasa bersalah itu dalam kasih Allah yang telah dikaruniakanNya melalui pengampunanNya.  Bangkitlah sebagai seorangpemenang yang telah dibebaskan dan dibaharui dalam kasihNya. Berjalanlah dalam terang Firman Allah dan Roh Kudus, sebab di dalam Tuhan, masa depan itu sungguh ada. “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”, Amsal 23:18. Tuhan mengasihimu.
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis didalamnya, sebab waktunya sudah dekat”, Wahyu 1:3.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>7 Kiat Menulis Content yang Menarik</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/7-kiat-menulis-content-yang-menarik.html</link><category>Cara menulis diblog yang baik</category><category>Hal penting bagi penulis blog yang perlu dilakukan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 10:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-6046850964634319874</guid><description>Biasanya blogger pemula banyak yang merasa kesulitan mengisi content blog. Banyak juga yang merasa tidak bisa menulis content yang menarik. Saya dulu juga begitu. Selalu merasa ada yang kurang dengan tulisan saya. Selalu bertanya,“Apa akan ada banyak orang yang tertarik dengan tulisan saya?”

Tapi, sekarang syukur tidak lagi. Sudah lumayan pengunjung blog saya. Anda mau tahu kiat-kiat menulis content yang menarik agar pengunjung bejibun? Begini kiatnya:
1. Menulis dengan tulus. Jika anda menulis dengan tulus tanpa ada perasaan terpaksa saya yakin semuanya akan berjalan mulus. Anda tidak akan mengalami kesulitan dalam mencari kata-kata. Mengalir saja, tulis semua yang ingin anda tulis. Blog yang bagus itu biasanya punya content asli dan ditulis sepenuh hati. Jadi, anda bisa menulis apa saja yang anda sukai agar jiwa anda terasa masuk dalam tulisan. Selain itu, tulisan anda tidak terkesan dipaksakan.
&lt;span class="fullpost"&gt;2. Tulis yang bermanfaat. Blog yang sukses mengerti apa yang disukai para pembacanya. Semua orang yang mengakses blog seperti ini tidak akan pergi dengan tangan hampa. Mereka punya hal baru yang bermanfaat dan setiap pengunjung bisa menerapkan manfaat ini untuk kepentingan mereka. Jadi, kita harus menulis sesuatu yang berguna untuk orang lain. Berikan informasi yang anda punya untuk semua pengunjung. Agar, pengunjung tidak merasa sia-sia telah datang ke blog anda.

3. Cari solusi untuk masalah orang lain. Pertama kali sebelum mencoba memecahkan masalah orang lain, anda mesti tahu betul siapa saja pembaca anda. Jadi anda bisa menganalisis kesulitan apa saja yang biasa mereka hadapi. Nah, selanjutnya anda bisa membantu mereka menemukan solusi yang tepat untuk masalah itu. Tapi jika anda belum punya pembaca (biasanya dialami blogger baru) anda bisa membaca blog lain yang punya target pembaca yang sama dengan anda dulu. Sebut saja ini blog reference anda. Jika anda benar-benar blank tidak punya ide untuk menawarkan solusi pada pengunjung. Coba saja pelajari masalah-masalah yang biasa diutarakan pengunjung blog reference anda. Biasanya di bagian komentar pengunjung suka mencurahkan masalah-masalah mereka. Kemudian anda tulis pemecahan masalah mereka itu menurut versi anda sendiri.

4. Jangan cuma menulis tentang diri sendiri. Jika anda terlalu banyak menulis tentang diri anda, nanti malah banyak pengunjung yang tidak suka. Mereka akan mengira anda bikin blog hanya karena ingin pamer. Gawat bukan kalau sudah begini? Apa anda pernah menemui blog yang isinya seperti buku harian? Saya kira banyak juga ya jumlahnya. Dan sepertinya model blog curhat seperti ini tidak banyak disukai pengunjung. Kecuali kalau isi tulisan mereka mengandung banyak informasi yang berguna buat pengunjung. Bukan cuma menulis kegiatan harian seperti menulis di buku diary saja. Nah, jadi apa yang mesti anda ingat agar blog anda tidak seperti buku harian? Anda sebaiknya mengingatkan diri anda kalau anda menulis di blog bukan hanya ditujukan untuk diri anda sendiri. Tapi anda juga menulis untuk banyak pengunjung di seluruh penjuru dunia. Berbagi apa yang anda alami tapi juga bagikan apa yang dipelajari banyak orang. Jangan melulu membicarakan diri anda sendiri.

5. Sentuhlah pembaca anda. Coba buat interaksi dengan para pembaca anda. Caranya bagaimana? Tidak cuma membalas komentar yang pembaca berikan. Tapi, anda bisa membuat sejenis kontes yang menarik minat pembaca anda. Missal bagi pemberi komentar diberi hadiah ebook.

6. Buat headline yang memikat. Headline atau judul tulisan jadi salah satu faktor penentu banyak tidaknya pengunjung yang tertarik dengan blog anda. Kenapa? Ya karena siapaun yang ingin join di blog pasti membaca judul tulisan anda dulu. Betapapun menariknya content anda kalau judulnya tidak menawan hati pengunjng, ya sia-sia saja. Nah, untuk membuat judul tulisan yang mematikan, anda bisa belajar dari blog lain. Perhatikan saja judul-judul yang ada di blog-blog terkenal. Pelajari apa yang membuat judul itu bisa memikat anda. Lalu silakan meniru model judul yang membuat anda terpikat ini. Apa mereka banyak memakai kalimat tanya, memakai judul how to, memakai kalimat imperatif atau malah judulnya singkat seperti headline koran? Anda boleh meniru model yang anda sukai.

7. Fokus pada hal yang penting saja. Jangan merepotkan diri anda dengan hal-hal yang tidak memberi manfaat banyak untuk traffic blog anda. Misal, anda terlalu asyik mencari gambar yang sempurna untuk blog anda. Atau terlalu lama mendesain layout dan mengutak-atik format halamannya. Tentukan hal apa sih yang paling esensial untuk blog anda? Dan fokus pada hal yang penting ini saja. Jangan buang waktu anda dengan aktivitas yang membuat anda terlena. Kalau bagi saya sendiri menulis content dan berinteraksi dengan pembaca itu dua hal yang lebih penting dari apapun. Jadi saya minimalkan saja aktivitas yang tidak berkaitan dengan dua hal ini. Jadi saya bisa menggunakan waktu saya yang lain untuk hal yang lebih produktif.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>7 Senjata Ampuh Mengalahkan Iblis</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/7-senjata-ampuh-mengalahkan-iblis.html</link><category>Bersama Yesus Kita kalahkan musuh</category><category>Gunakan senjata rohani untuk kalahkan Setan</category><category>Kalahkan Iblis dengan Iman yang teguh</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 10:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-1007883793854418336</guid><description>“Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” Efesus 6:13. Seorang prajurit tidak akan sembarangan dalam mempersiapkan dirinya untuk bertempur. Dia akan memperlengkapi dirinya dengan berbagai persenjataan sebelum maju berperang. Mulai dari pakaian perang (baju zirah), sepatu prajurit, helm prajurit, pedang dan perisai.

Semua perlengkapan yang digunakan mempunyai tujuan yaitu untuk melindungi dirinya sendiri dari serangan musuh, memberi kekuatan ekstra dalam menghadapi serangan musuh dan juga sebagai senjata untuk menghancurkan musuh. Tanpa perlengkapan perang yang memadai, maka sang prajurit akan dengan mudah dikalahkan oleh musuh, karena musuh tentunya tidak akan memberi ampun kepadanya dan menyerang dengan bertubi-tubi.
Saat ini kita tidak lagi bertempur seperti jaman dahulu. Peperangan kita bukanlah melawan manusia lagi, tetapi perbuatan si jahat/iblis yang senantiasa mengganggu dan ingin menghancurkan kehidupan kita.
&lt;span class="fullpost"&gt;“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6:12
Walau begitu, kita juga memerlukan perlengkapan yang tepat untuk berperang melawan segala perbuatan dan tipu muslihat si iblis. Berbagai cara akan digunakan si iblis untuk menghancurkan kehidupan kita, baik itu melalui masalah di dalam hubungan orang tua dan anak, masalah dalam hubungan rumah tangga, masalah keuangan, masalah dengan atasan, bawahan maupun rekan sekantor, masalah kesehatan, dan masih banyak lagi masalah yang akan datang dalam kehidupan kita.

Si iblis akan berusaha mencuri damai sejahtera kita dan akan menghancurkan kehidupan kita, sehingga kita akan melepaskan kepercayaan kita dan menyerah kepada keadaan bahkan mencari jalan keluar melalui cara-cara yang tidak berkenan kepada Tuhan.
“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” Efesus 6:10-11. Kita harus tetap kuat dalam berbagai keadaan yang kita alami dan berdiri teguh dengan menggunakan perlengkapan senjata Allah.
Berikut ini beberapa perlengkapan yang dapat kita gunakan untuk melawan musuh:

1. Ikat pinggang kebenaran
Nyatakan kebenaran dalam setiap hal yang kita jalani. Nyatakan ya di atas ya dan tidak di atas tidak. Jangan mau berkompromi dengan dosa. Miliki integritas dalam diri kita dan berani untuk menegakkan kebenaran dalam kehidupan yang kita jalani.

2. Baju zirah keadilan
Bersikaplah adil terhadap sesama kita, jangan memandang muka dalam setiap perbuatan kita. Ingalah bahwa Tuhan tidak pernah memandang muka dan memilih-milih atas kehidupan kita. Nyatakanlah kasih kepada semua orang.

3. Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera
Jadilah saksi dan teladan dalam kehidupan kita. Beritakanlah kabar baik melalui setiap tingkah dan laku kita. Sebarkanlah berita damai sejahtera bagi semua orang, sehingga mereka juga mengenal kasih Kristus.

4. Perisai iman
Jangan takut dan kuatir, gunakan iman kita untuk menangkis semua perasaan dan prasangka buruk. Perisai iman merupakan perlindungan kita terhadap setiap serangan si iblis. Setiap kali si iblis mempengaruhi pikiran kita dengan pikiran-pikiran negatif (panah-panah api), tangkislah dengan perisai iman. Percayalah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara. Tolak setiap pikiran negatif yang muncul dalam pikiran kita.

5. Ketopong keselamatan
Kristus menjadi dasar keselamatan hidup kita. Jangan lepaskan kepercayaan kita kepada Kristus, biarlah Dia yang menjadi pusat kehidupan kita. Biarlah Kristus yang senantiasa menaungi hidup kita, sehingga Dia akan melindungi kita di manapun kita berada.

6. Pedang Roh
Firman Tuhan merupakan senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan musuh. FirmanNya sangat tajam bagai pedang bermata dua. Gunakan selalu pedang Roh yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, yaitu Firman Tuhan, untuk melawan si jahat. Jangan lepaskan pedang Roh dari genggaman hidup kita. Bawa selalu Firman Tuhan, agar kita dapat menghancurkan si jahat kapan saja.

7. Berdoa dan berjaga-jaga
Doa merupakan nafas kehidupan kita. Doa juga merupakan komunikasi kita kepada Tuhan. Jangan pernah hidup tanpa berdoa. Jangan pernah melangkah tanpa berdoa. Berdoalah senantiasa, agar Tuhan senantiasa memberikan tuntunanNya bagi hidup kita. Melalui doa, kita akan menjadi semakin peka akan suara Tuhan. Dia akan menjagai kehidupan kita. Bagai prajurit yang dengan yakin maju ke medan pertempuran oleh karena dia telah siap dengan segala perlengkapannya, maka kita akan dengan yakin maju menghadapi berbagai masalah kehidupan yang ada, karena kita telah menggunakan perlengkapan senjata Allah.

Dengan senjata-senjata yang telah diberikan bagi kita, maka kita dapat menghancurkan setiap pekerjaan si jahat yang ingin mengganggu kehidupan kita.
Raihlah kemenangan bersama dengan Yesus. Bersama Yesus kita lakukan perkara besar. Haleluya!&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tuhanlah Penolong Hidupku</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/tuhanlah-penolong-hidupku.html</link><category>Berserulah kepada Tuhan</category><category>Hiduplah dalam kebenaran Allah</category><category>Mengandalkan Tuhan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 10:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-5525502534171503706</guid><description>“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Mazmur 121:1-2
Menjadi pengikut Kristus bukan berarti kita lepas dari masalah kehidupan dan kita dapat hidup nyaman tanpa kesusahan. Justru kita akan diuji dengan berbagai masalah untuk tetap berpegang erat dan berdiri teguh di atas kebenaran Firman Tuhan.
Pemazmur mengalami berbagai keadaan yang sangat memberatkan hidupnya sehingga dia mencari pertolongan agar dapat keluar dari masalahnya. Tetapi dia tidak menemukan satu pihakpun yang dapat menolong dia. Pertolongan yang dapat dia temukan hanyalah pertolongan dari Tuhan.

“Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” Mazmur 121:3-4
Untuk sesaat pemazmur merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan dia, sehingga dia merasa tidak ada pertolongan bagi masalahnya. Tetapi justru melalui masalah Tuhan membukakan matanya bahwa Tuhan tidak pernah sekalipun meninggalkan dirinya.
Tuhan berfirman bahwa Dia akan selalu menjadi penolong hidup kita dan Dia tidak akan membiarkan kita jatuh dalam setiap masalah dan pergumulan. Untuk kita perlu mengetahui bagaimana caranya agar kita dapat menerima pertolongan dari Tuhan.
&lt;span class="fullpost"&gt;Berikut ini 2 langkah yang dapat membantu kita untuk senantiasa memperoleh pertolongan dari Tuhan:

1. Hidup dalam kebenaran dan berseru kepada Tuhan
Tuhan menyatakan bahwa Dia adalah penjaga yang tidak akan terlelap sekejap-pun. Seorang prajurit yang menjaga benteng mungkin akan terlelap pada waktu jaganya. Tetapi Tuhan tidak pernah terlelap ketika Dia menjaga hidup kita. MataNya senantiasa mengawasi kita yang senantiasa hidup di dalam Dia. “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.” Mazmur 34:16-18. Sebagai manusia mungkin kita merasa sudah tidak ada lagi jalan keluar, bahkan sudah tidak ada lagi pengharapan. Tetapi jangan lupa bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, bahkan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepadaNya (Lukas 1:37 dan Markus 9:23).

Dia sanggup melepaskan kita dari berbagai macam masalah dan kesusahan apapun yang kita alami. Tetap hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan dan berserulah kepada Tuhan, maka Dia akan menolong kita dan melindungi dari segala macam bahaya. Dia akan senantiasa memegang dan menuntun hidup kita. Dia akan memberi kita kekuatan agar dapat terus berjalan meraih kemenangan.

2. Senantiasa mengandalkan Tuhan dan berharap kepadaNya
Jangan pernah lepaskan kepercayaan kita kepada Tuhan. Jangan pernah meragukan pertolongan dari Tuhan. Dan jangan pernah mencoba mencari jalan keluar di luar Tuhan. Dunia ini menawarkan banyak sekali alternatif bagi kita untuk bisa keluar dari masalah. Tetapi keadaan kita tidak akan menjadi lebih baik ketika kita berharap kepada manusia.

“Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! 
Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” Yeremia 17:5-6

Orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri akan kecewa. Kekuatan kita terbatas dan kemampuan manusia juga terbatas. Dan Tuhan tidak suka jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Yeremia 17:7-8

Tetap andalkan Tuhan dalam segala perkara. Berharaplah sepenuhnya kepada Tuhan. Dia tidak akan pernah berhutang kepada kita. Janji Tuhan adalah ya dan amin. Dan kita akan melihat penggenapan setiap janji Firman Tuhan ketika kita tetap setia berharap dan hidup di dalam kasih dan kebenaran Firman Tuhan. Haleluya! “Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Mazmur 121:5-8.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Mengatasi Kekuatiran dalam Hidup</title><link>http://mtribute.blogspot.com/2011/11/cara-mengatasi-kekuatiran-dalam-hidup.html</link><category>Artikel kekuatiran</category><category>Cara mengatasi kekuatiran</category><category>Percayalah kepada Allah</category><category>Utamakan firman dalam hidup kita</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 10:22:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-355423074204130527.post-2974205954240995708</guid><description>Siapapun dalam hidupnya pernah mengalami kekuatiran. Rasa kuatir ini disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain krisis ekonomi yang tidak menentu, masalah keamanan, penyakit yang sulit diprediksi dan masalah-masalah lainnya. Perasaan kuatir sebenarnya sebagai manusia itu hal yang wajar. Normal saja. Tidak salah. Tetapi yang menjadi persoalan ialah ketika rasa kuatir menjadi penguasa dalam hidup kita, sehingga hal-hal yang tidak seharusnya kita kuatirkan, malah menjadi bahan yang membuat kita kuatir.

Tuhan Yesus dalam salah satu seri khotbahnya di bukit juga membahas tentang kekuatiran. Tuhan Yesus berkata demikian, "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?" Matius 6:25.
&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimana cara mengatasi kekuatiran dalam hidup kita? Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan.
 
1. Ingat bahwa Allah sumber hidup kita
Apapun yang membuat kita kuatir dalam hidup ini, kita harus ingat bahwa ada Allah yang menguasai hidup kita. Dia selalu peduli dan memberi pertolongan bagi kita. Percayalah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh karena Dialah sumber hidup dan kekuatan serta kemenangan dan ketenangan kita. Dekatkan diri secara terus menerus kepada-Nya. Jangan menjauh dari-Nya.
2. Jadikan firman-Nya sebagai menu utama kita
Setiap hari tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi. Tujuannya ialah supaya tubuh kita mendapat kekuatan dalam menjalani aktivitas sepanjang hari. Itu sebabnya menu makanan yang kita susun selalu berhubungan dengan apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Di sisi lain, kita juga punya kebutuhan rohaniah. Kebutuhan rohaniah ini hanya bisa dipuaskan atau dipenuhi oleh asupan kita akan firman Allah. Oleh sebab itu sangat penting bagi kita untuk membaca, merenungkan, menghayati dan melakukan  firman dalam hidup kita. Dengan cara demikian, kita bisa mengusir rasa kuatir dalam hidup kita. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semaunya itu akan ditambahkan kepadamu."
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>