<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900</id><updated>2024-12-19T10:21:40.917+07:00</updated><title type='text'>Islamic Forum</title><subtitle type='html'>Welcome to the Islamic web pages contribution to humanity and Civilization.&#xa;We welcome everyone regardless of tribe, religion, race or class to join at the Islamic Forum.&#xa;Because the Islamic Forum is a free discussion forum on the subject of the Islamic for all circles.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>110</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-8355932552200060041</id><published>2010-12-24T13:58:00.001+07:00</published><updated>2010-12-24T14:01:41.156+07:00</updated><title type='text'>13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan</title><content type='html'>Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifat-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, &lt;b&gt;Tidak Punya Visi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’: 1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada&amp;nbsp; keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, &lt;b&gt;Kasar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyiksa seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, &lt;b&gt;Sombong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendang Ku, siapa yang menandingi Aku, akan Aku masukkan neraka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, &lt;b&gt;Tertutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelima, &lt;b&gt;Plinplan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah &lt;br /&gt;
satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keenam, &lt;b&gt;Pembohong&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para suami pembohong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketujuh, &lt;b&gt;Cengeng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suami yang cengeng cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedelapan, &lt;b&gt;Pengecut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu di barisan paling depan. Ketika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama keluar dan mendatangi suara tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesembilan, &lt;b&gt;Pemalas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindungan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal, kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesepuluh, &lt;b&gt;Cuek Pada Anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesebelas, &lt;b&gt;Menang Sendiri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khathab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduabelas, &lt;b&gt;Jarang Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah dengan cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketigabelas, &lt;b&gt;Tidak Rapi dan Tidak Harum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingat bahwa Allah Maha Indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allahu a’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
oleh &lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, 23 Desember 2010.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/8355932552200060041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/8355932552200060041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/8355932552200060041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai.html' title='13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-2702002921711338013</id><published>2010-12-24T13:36:00.000+07:00</published><updated>2010-12-24T13:36:21.585+07:00</updated><title type='text'>Ibunda, Mengapa Engkau Menangis?</title><content type='html'>Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas? ”Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?” Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ku ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, 23 Desember 2010.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/2702002921711338013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/ibunda-mengapa-engkau-menangis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/2702002921711338013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/2702002921711338013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/ibunda-mengapa-engkau-menangis.html' title='Ibunda, Mengapa Engkau Menangis?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-1390521021404414682</id><published>2010-12-24T13:22:00.001+07:00</published><updated>2010-12-24T13:37:35.562+07:00</updated><title type='text'>Ketika Bangsa JIN Menjawab dan Bangsa MANUSIA Terdiam</title><content type='html'>Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan?&lt;br /&gt;
”Maka ni`mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”&lt;br /&gt;
(QS Ar Rahman:13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al Quran surat Ar Rahman (Yang Maha Pengasih)Allah ’Azza wa Jalla mengulang-ulangi satu pertanyaan penting yang ditujukan untuk bangsa MANUSIA dan JIN sampai 31 kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kali Allah mengulangi pertanyaan yang sama, di sela-sela pertanyaan itu Allah menyebutkan ragam nikmat-NYa,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan ? (maka ni`mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba renungkan sejenak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tinggalkan – untuk sesaat - rutinitas bisnismu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tinggalkan obsesi-obsesimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejenak saja...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk bersama menyambut dan menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan yang diulang-ulang oleh Allah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzat yang telah memberimu nafas, Dzat yang telah memberimu jantung, Dzat yang telah memberimu mata, tangan, kaki, dan beraneka nikmat lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzat yang telah memberi tempat tinggal yang asri, Lengkap dengan isteri, suami dan anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzat yang menghidupkan juga mematikanmu. Kapan dan dimana serta bagaimanapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sesungguhnya Dia-lah yang menggenggam jiwamu, Dan karena Dia-lah yang melepaskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Allah bertanya kepadamu; Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan ? (Maka ni`mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanakah kamu menjawabannya ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jabir bin Abdillah radliyallahu ’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallaahu ’alaihi wa sallam ketika membacakan surat Ar Rahman ini kepada para sahabatnya, beliau bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Mengapa kalian terdiam saja? Sesungguhnya bangsa JIN lebih baik jawabannya ketika aku membaca Fabi ayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan ? (maka ni`mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) mereka (bangsa jin) menjawab, ”Duhai Tuhan kami, tidak ada satu nikmatpun yang kami dustai, segala puji hanya bagi-Mu semata.” (Lihat: Al Mustadrak ’Ala ash-shahihain 2/515. Hadits ini menurut Imam Adz Dzahabi shahih sesuai syarat Imam Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau saat ini Engkau tengah membuka mushaf Al Quran, Bukalah ...surat Ar Rahman...lalu bacalah...renungkan...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan terasa bagimu sentuhan lembut kalam ilahi begitu teduh menyapa nuranimu. Karena pertanyaan yang berulang-ulang itu, bertujuan untuk menggugah rasa TAKUT mu.&lt;br /&gt;
Dan salah satu bentuk ancaman bagi para durjana. Yang coba-coba berani mengingkari nikmat-nikmat-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qois bin ’Ashim Al-Munqariy pernah meminta kepada Rasulullah shalallaahu ’alaihi wa sallam, seraya berkata, ”Bacakanlah apa yang telah diwahyuka kepadamu!” Lalu Rasulullah shalallaahu ’alaihi wa sallam membacakan surat Ar Rahman. Qois bin ’Ashim Al-Munqariy meminta untuk diulangi. Rasulullah shalallaahu ’alaihi wa sallam pun mengulangi sampai tiga kali. Akhirnya Qois bin ’Ashim Al-Munqariy menyatakan keislamannya; ”Demi Allah, betapa indah dan manisnya, di bawahnya meengalir air yang berlimpah, sedang di permukaannya buah-buahan yang ranum...Apakah gerangan yang diucapkan orang ini (maksudnya Rasulullah shalallaahu ’alaihi wa sallam)? Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya Engkau (Muhammad) adalah utusan Allah.” (Lihat: Tafsir Al Munir, Az Zuhail : 27/200)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat Ar Rahman ini Allah bertanya kepada masing-masing diri, tentang bagaimana kita bersikap di hadapan nikmat-Nya yang begitu banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nikmat TERBESAR yang diberikan Allah untuk hidup dan kehidupan, untuk manusia dan kemanusiaan adalah nikmat WAHYU (Al Quran).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nikmat wahyulah yang mampu menjelaskan manusia dan jin, akan garis-garis besar aturan kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wahyu perbedaan antara al-Haq dan al-Bathil dapat teridentifikasi dengan jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahyu pula-lah yang menuturkan kepada kita mana yang halal dan yang haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berawal dari INDERA kita dapat mengidentifikasi segala hal. Apa yang tidak dapat diketahui oleh indera akan dijelaskan oleh AKAL. Dan apa yang tidak terjangkau oleh akal akan dituntun oleh WAHYU.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahyulah tempat bermuaranya segala jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang musykil. &lt;br /&gt;
Dengan wahyu, segala pertanyaan akan terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakinlah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seberapa telah kita syukuri nikmat wahyu ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Qayim rahimahullah menjelaskan bahwa SYUKUR memiliki tiga rukun :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mengakui nikmat tersebut secara bathin.&lt;br /&gt;
2. Menceritakannya secara zhahir&lt;br /&gt;
3. Menggunakannya dalam rangka taat kepada Allah&lt;br /&gt;
(Tazkiyatun Nufus, Ibnu Qayim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita ingin mengetahui kadar SYUKUR kita kepada nikmat WAHYU (Al Quran) ini, maka lihatlah bagaimana kwalitas dan kwantitas interaksi kita kepada Al Quran dan penjelasnya (As Sunnah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kita sudah memanfaatkan secara maksimal anugerah Allah yang paling bermanfaat di dunia ini. Baik ’Ilman wa ’amalan. baik sebagai disiplin ILMU atau sebagai AMALAN yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: &quot;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.&quot; (QS Ibrahim : 7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.&quot; (QS Al-A&#39;raf : 179)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nas’alullaha al-’Afiah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu a’lam bi showab&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(&lt;b&gt;Abu Hilya Salsabila&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, 20 Desember 2010.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/1390521021404414682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/ketika-bangsa-jin-menjawab-dan-bangsa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1390521021404414682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1390521021404414682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/ketika-bangsa-jin-menjawab-dan-bangsa.html' title='Ketika Bangsa JIN Menjawab dan Bangsa MANUSIA Terdiam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-6858888722763527959</id><published>2010-12-24T13:10:00.001+07:00</published><updated>2010-12-24T13:38:09.912+07:00</updated><title type='text'>Hakikat Manusia dalam Al-Qur’an</title><content type='html'>Al-Qur’an adalah Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia. Di dalamnya Allah menyapa akal dan perasaan manusia, mengajarkan tauhid kepada manusia, menyucikan manusia dengan berbagai ibadah, menunjukkan manusia kepada hal-hal yang dapat membawa kebaikan serta kemaslahatan dalam kehidupan individual dan sosial manusia, membimbing manusia kepada agama yang luhur agar mewujudkan diri, mengembangkan kepribadian manusia, serta meningkatkan diri manusia ke taraf kesempurnaan insani. Sehingga, manusia dapat mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur’an juga mendorong manusia untuk merenungkan perihal dirinya, keajaiban penciptaannya, serta keakuratan pembentukannya. Sebab, pengenalan manusia terhadap dirinya dapat mengantarkannya pada ma’rifatullah, sebagaimana tersirat dalam Surah At-Taariq [86] ayat 5-7.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, hendaklah manusia merenungkan, dari apa ia diciptakan. Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. (Q.S. At-Taariq [86]: 5-7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan hal ini, terdapat sebuah atsar yang menyebutkan bahwa “Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhan-nya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di samping itu, Al-Qur’an juga memuat petunjuk mengenai manusia, sifat-sifat dan keadaan psikologisnya yang berkaitan dengan pembentukan gambaran yang benar tentang kepribadian manusia, motivasi utama yang menggerakkan perilaku manusia, serta faktor-faktor yang mendasari keselarasan dan kesempurnaan kepribadian manusia dan terwujudnya kesehatan jiwa manusia.[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba melihat sejauh mana hakikat manusia menurut perspektif Al-Qur’an. Di awal pembahasan, penulis akan memaparkan secara sekilas definisi manusia dan asal-usul penciptaannya. Semoga tulisan sederhana ini bisa menambah inspirasi untuk memantapkan kembali eksistensi kita sebagai manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Definisi Manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika berbicara tentang manusia, Al-Qur’an menggunakan tiga istilah pokok. Pertama, menggunakan kata yang terdiri atas huruf alif, nun, dan sin, seperti kata insan, ins, naas, dan unaas. Kedua, menggunakan kata basyar. Ketiga, menggunakan kata Bani Adam dan dzurriyat Adam.[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang bermakna penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjuk manusia dari sudut lahiriahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya.[4] Dengan demikian, kata basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada dimensi material manusia yang suka makan, minum, tidur, dan jalan-jalan.[5] Dari makna ini lantas lahir makna-makna lain yang lebih memperkaya definisi manusia. Dari akar kata basyar lahir makna bahwa proses penciptaan manusia terjadi secara bertahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (Q.S. Ar-Rum [30]: 20)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, kata basyar juga dikaitkan dengan kedewasaan manusia yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Akibat kemampuan mengemban tanggung jawab inilah, maka pantas tugas kekhalifahan dibebankan kepada manusia.[7] Hal ini sebagaimana firman Allah berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”(Q.S. Al-Hijr [15]: 28-29):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, kata insan terambil dari kata ins yang berarti jinak, harmonis, dan tampak.[8] Musa Asy’arie menambahkan bahwa kata insan berasal dari tiga kata: anasa yang berarti melihat, meminta izin, dan mengetahui; nasiya yang berarti lupa; dan al-uns yang berarti jinak.[9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut M. Quraish Shihab, makna jinak, harmonis, dan tampak lebih tepat daripada pendapat yang mengatakan bahwa kata insan terambil dari kata nasiya (lupa) dan kata naasa-yanuusu (berguncang).[10] Dalam Al-Qur’an, kata insaan disebut sebanyak 65 kali.[11] Kata insaan digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga.[12] Bahkan, lebih jauh Bintusy Syathi’ menegaskan bahwa makna kata insaan inilah yang membawa manusia sampai pada derajat yang membuatnya pantas menjadi khalifah di muka bumi, menerima beban takliif dan amanat kekuasaan.[13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua kata ini, yakni basyar dan insaan, sudah cukup menggambarkan hakikat manusia dalam Al-Qur’an. Dari dua kata ini, kami menyimpulkan bahwa definisi manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna, yang diciptakan secara bertahap, yang terdiri atas dimensi jiwa dan raga, jasmani dan rohani, sehingga memungkinkannya untuk menjadi wakil Allah di muka bumi (khaliifah Allah fii al-ardl).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Asal-Usul Penciptaan Manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur’an telah memberikan informasi kepada kita mengenai proses penciptaan manusia melalui beberapa fase: dari tanah menjadi lumpur, menjadi tanah liat yang dibentuk, menjadi tanah kering, kemudian Allah swt. meniupkan ruh kepadanya, lalu terciptalah Adam a.s.[14] Hal ini diisyaratkan Allah dalam Surah Shaad [38] ayat 71-72.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka, apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu menyungkur dengan bersujud kepadanya.” (Q.S. Shaad [38]: 71-72.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan juga firman Allah dalam Surah al-Hijr [15] ayat 28-29.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. Al-Hijr [15]: 28-29)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al-Qur’an, kata ruh (ar-ruh) mempunyai beberapa arti. Pengertian ruh yang disebutkan dalam ayat-ayat yang menjelaskan penciptaan Adam a.s. adalah ruh dari Allah swt. yang menjadikan manusia memiliki kecenderungan pada sifat-sifat luhur dan mengikuti kebenaran. Hal ini yang kemudian menjadikan manusia lebih unggul dibanding seluruh makhluk yang lain. Karakteristik ruh yang berasal dari Allah ini menjadikan manusia cenderung untuk mengenal Allah swt. dan beribadah kepada-Nya, memperoleh ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk kemakmuran bumi, serta berpegang pada nilai-nilai luhur dalam perilakunya, baik secara individual maupun sosial, yang dapat mengangkat derajatnya ke taraf kesempurnaan insaniah yang tinggi. Oleh sebab itu, manusia layak menjadi khalifah Allah swt.[15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruh dan materi yang terdapat pada manusia itu tercipta dalam satu kesatuan yang saling melengkapi dan harmonis. Dari perpaduan keduanya ini terbentuklah diri manusia dan kepribadiannya. Dengan memperhatikan esensi manusia dengan sempurna dari perpaduan dua unsur tersebut, ruh dan materi, kita akan dapat memahami kepribadian manusia secara akurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, dalam ayat lain juga disebutkan mengenai permulaan penciptaan manusia yang berasal dari tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan, kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.(Q.S. Al-Hajj [22]: 5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka, Mahasuci-lah Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. Al-Mu’minuun [23]: 13-14)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah di antara sekian banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang asal-usul penciptaan manusia. Penciptaan manusia yang bermula dari tanah ini tidak berarti bahwa manusia dicetak dengan memakai bahan tanah seperti orang membuat patung dari tanah. Akan tetapi, penciptaan manusia dari tanah tersebut bermakna simbolik, yaitu saripati yang merupakan faktor utama dalam pembentukan jasad manusia. Penegasan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah ini merujuk pada pengertian jasadnya. Oleh karena itu, Al-Qur’an menyatakan bahwa kelak ketika ajal kematian manusia telah sampai, maka jasad itu akan kembali pula ke asalnya, yaitu tanah.[16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara komprehensif, Umar Shihab memaparkan bahwa proses penciptaan manusia terbagi ke dalam beberapa fase kehidupan sebagai berikut.[17] Pertama, fase awal kehidupan manusia yang berupa tanah. Manusia berasal dari tanah disebabkan oleh dua hal: (1) manusia adalah keturunan Nabi Adam a.s. yang diciptakan dari tanah; (2) sperma atau ovum yang menjadi cikal bakal manusia bersumber dari saripati makanan yang berasal dari tanah. Kedua, saripati makanan yang berasal dari tanah tersebut menjadi sperma atau ovum, yang disebut oleh Al-Qur’an dengan istilah nutfah. Ketiga, kemudian sperma dan ovum tersebut menyatu dan menetap di rahim sehingga berubah menjadi embrio (‘alaqah). Keempat, proses selanjutnya, embrio tersebut berubah menjadi segumpal daging (mudlghah). Kelima, proses ini merupakan kelanjutan dari mudlghah. Dalam hal ini, bentuk embrio sudah mengeras dan menguat sampai berubah menjadi tulang belulang (‘idzaam). Keenam, proses penciptaan manusia selanjutnya adalah menjadi daging (lahmah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketujuh, proses peniupan ruh. Pada fase ini, embrio sudah berubah menjadi bayi dan mulai bergerak. Kedelapan, setelah sempurna kejadiannya, akhirnya lahirlah bayi tersebut ke atas dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: &lt;b&gt;Annisa Hidayat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan Kaki:&lt;br /&gt;
[1]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an: Terapi Qur’ani dalam Penyembuhan Gangguan Kejiwaan, terj. M. Zaka al-Farisi (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 11.&lt;br /&gt;
[2]Ibid., hlm. 19.&lt;br /&gt;
[3]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2007), hlm. 367.&lt;br /&gt;
[4]Cek dalam Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz Al-Qur’an Al-Karim (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), hlm. 153-154.&lt;br /&gt;
[5]Aisyah Abdurrahman Bintusy Syathi’, Manusia Sensitivitas Hermeneutika Al-Qur’an, terj. M. Adib al-Arief (Yogyakarta: LKPSM, 1997), hlm. 7.&lt;br /&gt;
[6]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 368.&lt;br /&gt;
[7]Ibid., hlm. 368-369.&lt;br /&gt;
[8]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 369.&lt;br /&gt;
[9]Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur’an (Yogyakarta: LESFI, 1992), hlm. 19.&lt;br /&gt;
[10]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 369.&lt;br /&gt;
[11]Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras, hlm. 119-120.&lt;br /&gt;
[12]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 369.&lt;br /&gt;
[13]Aisyah Abdurrahman Bintusy Syathi’, Manusia, hlm. 14.&lt;br /&gt;
[14]Ibid., hlm. 362.&lt;br /&gt;
[15]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Qur’an, hlm. 364.&lt;br /&gt;
[16]Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan, hlm. 63-65.&lt;br /&gt;
[17]Penjelasan mengenai fase kehidupan manusia ini didasarkan pada Q.S. al-Mu’minun [23]: 13-14. Lihat Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Qur’an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur’an (Jakarta: Penamadani, 2005), hlm. 105-106.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, 20 Desember 2010.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/6858888722763527959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/hakikat-manusia-dalam-al-quran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6858888722763527959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6858888722763527959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/hakikat-manusia-dalam-al-quran.html' title='Hakikat Manusia dalam Al-Qur’an'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-1963010520461231312</id><published>2010-12-06T13:03:00.000+07:00</published><updated>2010-12-06T13:03:09.447+07:00</updated><title type='text'>Selamat Tahun Baru 1432 Hijriyah</title><content type='html'>Alhamdulillah kita telah memasuki tahun yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh Admin &lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Islamic-Life-Community/83283555635&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Life Community&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Selamat Tahun Baru 1432 Hijriyah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jadikanlah tahun baru ini sebagai momentum memperbarui perjuangan Islam dan kedekatan diri kita kepada Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga keberkahan Allah selalu terlimpah atas kita semua ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, 06 Desember 2010</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/1963010520461231312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/selamat-tahun-baru-1432-hijriyah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1963010520461231312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1963010520461231312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/selamat-tahun-baru-1432-hijriyah.html' title='Selamat Tahun Baru 1432 Hijriyah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-7620609769824777407</id><published>2010-12-06T12:35:00.000+07:00</published><updated>2010-12-06T12:35:04.050+07:00</updated><title type='text'>Fatwa Ulama Tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pembaca yang dirahmati Allah:&lt;br /&gt;
Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 1431 Hijriyah dan akan memasuki tahun baru hijriyah 1432, sebagian besar kaum muslimin telah mempersiapkan perayaan untuk tahun baru islam tersebut, diantaranya dengan bertukar ucapan selamat satu sama lain maka apa kedudukan ucapan selamat tahun baru hijriyah dari sisi syar’ie?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah ini kami mengutip beberapa fatwa ulama:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. &lt;b&gt;Syeikh Ibnu Bazz&lt;/b&gt; rahimahullah pernah ditanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami pada permulaan tahun baru hijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), maka apa hukum syar’ie terkait ucapan selamat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: ucapan selamat tahun baru hijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para salaful shalih, dan saya tidak mengetahui satupun dalil dari sunah maupun kitabullah yang menunjukkan pensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidak mengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semoga anda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itu kami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya, adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. &lt;b&gt;Syeikh Ibnu Utsaimi&lt;/b&gt;n rahimahullah pernah ditanya mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: Syeikh yang mulia ! anda membahas tentang tahun baru, maka apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita terhadap mereka yang mengucapkan selamat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjawab: jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya, inilah pendapat yang benar dalam masalah ini, misalnya seandainya seseorang mengucapkan kepadamu: kamu mengucapkan selamat tahun baru kepadamu, maka dijawab: semoga Allah mengucapkan selamat kebaikan untukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan. Tetapi jangan kamu memulainya, karena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para salaful shalih bahwa mereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah, bahkan ketahuilah bahwa para salaf belum menjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Pertemuan bulanan ke 44 diakhir tahun 1417 H).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan beliau juga pernah ditanya: Syeikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: saya berpendapat bahwa memulai ucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidak disyariatkan dalam artian: kami tidak mengatakan kepada orang: sesungguhnya disunahkan bagi kalian untuk saling menyampaikan ucapan selamat, tetapi jika mereka melakukannya tidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun baru supaya memohon kepada Allah supaya menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah ini yang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasukan perkara ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(pertemuan terbuka ke: 93 hari Khamis tanggal 25 bulan Dzul Hijjah tahun 1415H).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan beliau juga pernah ditanya: apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjawab: ucapan selamat dengan kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan para salaful shalih, maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkan selamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan ditengah-tengah manusia, meskipun phenomena ini sekarang berkurang, karena Alhamdulillah sebagian orang sudah memahaminya, padahal sebelumnya mereka saling bertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penanya: apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjawab: yaitu mereka mengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allah mengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikan pertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penanya: apakah diucapkan: setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjawab: tidak, setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitri atau di tahun baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(perjumpaan terbuka ke: 202 pada hari Khamis tanggal 6 Muharram tahun 1420H).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &lt;b&gt;Syeikh Shalih Al-Fauzan&lt;/b&gt; hafidhohullah pernah ditanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeikh yang mulia semoga Allah memberikan anda taufik, kebanyakan manusia saling bertukar ucapan selamat tahun baru hijriyah, maka apa hukum ucapan selamat atas kedatangannya? Diantara ucapan mereka: semoga menjadi tahun bahagia, atau ucapan mereka: semoga kalian setiap tahun dalam kebaikan, apakah ini disyariatkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: ”ini adalah bid’ah, ini bid’ah dan menyerupai ucapan selamat orang-orang Nasrani dengan tahun baru masehi, dan ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan para salaf, dan juga tahun baru hijriyah adalah istilah para sahabat radhiyallahu anhum untuk penaggalan muamalat saja, mereka tidak menganggapnya hari raya dan mereka mengucapkan selamat atasnya atau...ini tidak ada dasarnya, para sahabat menjadikannya untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalat saja”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Fatwa &lt;b&gt;Syeikh Abdul Karim Al-Khidhir&lt;/b&gt; mengenai ucapan selamat tahun baru hijriyah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa kepada seorang muslim dengan doa umum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatan seperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapan selamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dan keceriaan pada wajah muslim lain. Imam Ahmad rahimahullah berkata: saya tidak memulai ucapan selamat, jika seseorang memulaiku dengan ucapan selamat maka saya suka menjawabnya karena menjawan ucapan selamat wajib, adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunah yang diperintahkan dan juga bukan termasuk perkara yang dilarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesimpulan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa fatwa diatas dapat dipahami bawa para ulama kibar sebagian membolehkan menjawab ucapan selamat saja tidak untuk memulainya, namun kita tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besar karena hal itu lebih kepada adat kebiasaan bukan diyakini sebagai ibadah yang disyariatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebaiknya kita menjelaskan kepada umat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihan dalam ucapan selamat, karena kuatir terjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum nasrani sebagaimana fatwa Syeikh Shalih Al-Fauzan hafidohullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kita tidak disyariatkan untuk merayakannya seperti kita merayakan hari-hari raya karena perayaan sebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A’lam bishowab.&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(&lt;b&gt;ar&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;
www.voa-islam.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, 06 Desember 2010</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/7620609769824777407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/fatwa-ulama-tentang-ucapan-selamat.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/7620609769824777407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/7620609769824777407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/fatwa-ulama-tentang-ucapan-selamat.html' title='Fatwa Ulama Tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-6553123174525179515</id><published>2010-12-05T03:09:00.001+07:00</published><updated>2010-12-05T03:13:20.748+07:00</updated><title type='text'>Muslims on the Internet: the Good, the Bad...the Ugly</title><content type='html'>The era of the technological age is upon us. We communicate in seconds with e-mails and fax&#39;s. Information of every type is accessible to anyone with a modem from what was originally intended to be a government network for research projects, now called the Internet. The average person is able to create, advertise and publish easily for an audience of millions on the World Wide Web. Thoughts and ideas are exchanged, discussed and argued across thousands of chat channels, muds and newsgroups for every possible topic ever imagined. Businesses, educators and fortune hunters all stumble over each other to see who can best exploit the new opportunities. The global electronic village is open for business and the garish neon 24 hour sign seems to keep blinking an urgent message: &quot;New Frontier: Danger Ahead.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The philosophy of the Internet comes from its originators; laid back computer programmers, information and technology addicts. They wanted to create something special. Something no one business, government or group could control. A true democracy circumventing normal channels and reaching to the deepest grass roots. A frontier where anyone could go out and make it, where those with common interests could connect with each other and ignore the normal barriers of race, nationality, and tradition. An ideology of community, working together exchanging ideas, and making the world a better place was their vision.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Noble beginnings, and this too was in the minds of the Muslims when we first joined the rush. Many were even part of the original builders, software engineers, and programmers, due to many Muslims themselves being in the Computer Science Information fields. We began mailing lists, newsgroups, chat lines, and web pages about Islam. Here was one place where we could actually get the true message of Islam to the outside world. Through the net, we could influence those who never would have encountered Islam or only received their information from the media, orientalists or anti-Islam propagandists. We could reach others and share and discuss ideas to help bring the Ummah closer. Muslims separated and spread out all over could feel the intimacy of being an e-mail or modem&#39;s dial away from each other. It would open new heights in our ability to organize and plan events, to share knowledge, articles, experiences.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;What we forgot though, was to read the sign.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Excellent Islamic homepages sprung up, but so too did the Ahmadiyya, Nation of Islam, and every other deviant sect&#39;s. To the point where doing a search on Islam, may indeed give you 72 links to different views, along with a host of anti-Islam sites giving blatantly false information and arguments by missionaries.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Newsgroups to discuss Islam are inundated with non-Muslims who&#39;s jobs seem to be to attack and divide Muslims at every turn, instead of discussing Islam. Bitter fights among the Muslims involving everything from Aqeedah to prayer to censorship have continued for years. Control of the newsgroup soc.religion.islam is a prime example. At one point, during the election of moderators, accusations of voting fraud and hacking were reported to school and police authorities. The job of co-moderating, effectively controlling all content and discussion in the newsgroup was then given to a non-Muslim regular.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MSA-net and other mailing lists too have had their share of contending with special interests threatening to destroy it. Faced with lawsuits against the university that hosted the listserv, by a Sufi group complaining about the Shurah council banning them due to their violation of the rules, the list was then moved to an all Muslim owned site. Groups, not individuals dominate the e-mail list much of the time. Sufis, Hizb-ut-tahrir, Salafees, Shia, Islamic organizations, etc. all post their own agendas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muslim chat rooms and muds such as Isnet are especially the hang outs for high school and college age Muslims. They are places for them to talk to other Muslims like themselves from all over the United States and elsewhere. For many, it may have the benefit of being an alternative to other non-Islamic activities, but it is also highly addictive and highly unregulated. Flirting and private on-line relationships are pervasive. Also, among some of the Internet chat channels such as channel islam is a very anti-Kuffar sentiment, with scripts such as &quot;Muslim pulls out a baseball bat, Muslim smashes Jew over the head, Muslim wipes off the blood.&quot; The few who control the islam channel kick and ban arbritrarily whoever disagrees with their opinion or definition of Islam. Where the potential for Dawah is at its greatest, the reputation of being narrow-minded and hypocritical has increased clashes and hacking between even the different Muslim channels, such as islam versus Pakistan versus Bangladesh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No scholars or Sheikhs are present on any of these mediums. There are no authorities or any kind of collaborative effort on the part of Muslims. Advice and Fatwas to non-Muslims and Muslims are given out by basically anyone and dangerously lacking in references or scholarly wisdom and knowledge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Despite everything, there are many positives to Muslims being on the Internet. In fact it has influenced many in good ways, from just increasing their Iman and knowledge to eventually leading people to Shahadah. This new technology has been a breakthrough in communication among Muslims. Conferences and events are well publicized and organizational logistics have been enhanced significantly and economically. Muslim activism is spread on- line. News is obtained directly from Muslim sources and not western media. Even the announcements of Ramadan and Eid are quickly distributed and followed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Students, sisters, those who live in far flung communities or even places where there are very few Muslims or any who might not otherwise be Islamically active, can get the information they need and try to stay in touch with their Islam. Hundreds of articles and books are available, from the Quran on-line in Indonesian to Ibn Taymeeyah&#39;s Essay on the Jinn to How to make Istakhara prayer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, while on the surface it may seem like a glittering tool, the reality of today makes one question the direction of Muslims on the net and highlights and points out the cracks in our Ummah dramatically.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Half due to ignorance, half due to avoidance, Islamic organizations and scholars refuse to get involved or try to create a presence or authority on the net. Muslim programmers and computer professionals do not use their knowledge to improve the content or build amazing Islamic programs like they could be. Muslims are not using it to its full Dawah potential and are not looking beyond their egos to work with one another in Shurah to make it a place of not just fun, but of benefit for themselves and others.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Facing all these positives and negatives, Muslims in cyberspace are at a turning point. The net and modern technology have created situations that are unlike any we have had to face in the past. As a microcosm and extension of our Muslim society, understanding and helping solve our problems on the net can be a first step in understanding the Muslims as a whole, our differences and how to resolve them.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
If we find unity on the Internet, there is hope for our Ummah yet﻿.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
by &lt;b&gt;Huma Ahmad&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
http://www.jannah.org&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, 05 Desember 2010</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/6553123174525179515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/muslims-on-internet-good-badthe-ugly.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6553123174525179515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6553123174525179515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/muslims-on-internet-good-badthe-ugly.html' title='Muslims on the Internet: the Good, the Bad...the Ugly'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-435955605896170715</id><published>2010-12-05T00:33:00.001+07:00</published><updated>2010-12-05T03:13:52.995+07:00</updated><title type='text'>Hukum Jual Beli Kredit Dalam Islam</title><content type='html'>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata [dalam Fatawa Mu&#39;ashirah, hal. 52-53, dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin]:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Menjual dengan kredit artinya bahwa seseorang menjual sesuatu (barang) dengan harga tangguh yang dilunasi secara berjangka. Hukum asalnya adalah dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu&#39;amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” [Al-Baqarah : 282]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula, karena Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa salam telah membolehkan jual beli As-Salam, yaitu membeli secara kredit terhadap barang yang dijual. Akan tetapi kredit (angsuran) yang dikenal di kalangan orang-orang saat ini adalah termasuk dalam bentuk pengelabuan terhadap riba. Teknisnya ada beberapa cara, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, Seseorang memerlukan sebuah mobil, lalu datang kepada si pedagang yang tidak memilikinya, sembari berkata, “Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini”. Lantas si pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan tersebut karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba (memberikan bunga, pent), padahal para ulama berkata, “Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba”. Jadi, standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba sebab si pedagang ini tidak pernah menginginkan rumah tersebut, andaikata ditawarkan kepadanya dengan separuh harga, dia tidak akan membelinya akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran yang lebih jelek lagi dari itu, ada orang yang membeli rumah atau barang apa saja dengan harga tertentu, kemudian dia memilih yang separuh harga, seperempat atau kurang dari itu padahal dia tidak memiliki cukup uang untuk melunasinya, lalu dia datang kepada si pedagang, sembari berkata, “Saya telah membeli barang anu dan telah membayar seperempat harganya, lebih kurang atau lebih banyak dari itu sementara saya tidak memiliki uang, untuk membayar sisanya”. Kemudian si pedagang berkata, “Saya akan pergi ke pemilik barang yang menjualkannya kepada anda dan akan melunasi harganya untuk anda, lalu saya mengkreditkannya kepada anda lebih besar dari harga itu. Dan banyak lagi gambaran-gambaran yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi yang menjadi dhabit (ketentuan yang lebih khusus) adalah bahwa setiap hal yang tujuannya untuk mendapatkan riba, maka ia adalah riba sekalipun dikemas dalam bentuk akad yang halal, sebab tindakan pengelabuan tidak akan mempengaruhi segala sesuatu. Mengelabui hal-hal yang diharamkan oleh Allah, hanya akan menambahnya menjadi semakin lebih buruk karena mengandung dampak negativ Dari hal yang diharamkan dan penipuan, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Janganlah kamu melakukan dosa sebagaimana dosa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sehingga (karenanya) kemu menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah (sekalipun) dengan serendah-rendah (bentuk) pengelabuan (siasat licik). [Ibn Baththah dalam kitab Ibthalil Hiyal hal. 24. Irwa&#39;ul Ghalil 1535]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai penjualan kredit dengan penambahan harga, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan [dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah V/419-427]:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan, maka baginya (harga,-pent) yang paling sedikit atau (kalau tidak mau, maka harga yang lebih tinggi adalah, -pent) riba” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam &quot;Al-Mushannaf (VI/120/502)&quot;, Abu Daud dari Ibnu Abi Syaibah (no. 3461), Ibnu Hibban di dalam &quot;Shahihnya (1110)&quot;, Al-Hakim (II/45), dan Al-Baihaqi (V/343) kesemuanya meriwayatkan bawha telah becerita kepada kami Ibnu Abi Zaidah dari Muhammad bin Amir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu, sanadnya hasan, bahkan telah dishahihkan oleh Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu Hazm di dalam &quot;Al-Muhalla (IX/16). Juga diriwayatkan oleh An-Nasa&#39;i (VII/296, cetakan baru), At-Tirmidzi (I/232), dia menshahihkannya, Ibnul Jarud (286), Ibnu Hibban (1109), Al-Baghawi di dalam &quot;Syarh As-Sunnah (VIII/142/211)&quot;, ia juga menshahihkannya, Ahmad (II/342, 375, 503) dan Al-Baihaqi dari beberapa jalan dari Muhammad bin Amr dengan lafazh: &quot;Beliau melarang dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan&quot;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Baihaqi berkata: “Bahwa Abdul Wahhab (yakni Ibnu Atha’) berkata yaitu (si penjual) berkata: “Itu (barang) untukmu apabila kontan Rp 10,- namun jika dengan penundaan (seharga) Rp 20,-”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ibnu Qutaibah juga menerangkannya dengan (keterangan) ini, beliau berkata di dalam “Gharib Al-Hadits (I/18): “Diantara jual beli yang terlarang (ialah) dua syarat (harga) dalam satu penjualan, yaitu (misalnya) seseorang membeli barang seharga dua dinar jika temponya dua bulan, dan seharga tiga dinar jika temponya tiga bulan. Itulah makna “dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hadits itu dengan lafazh ini [&quot;Dua syarat di dalam satu penjualan&quot;] adalah ringkas dan shahih. Hadits ini tersebut didalam hadits Ibnu Umar dan Ibnu Amr, keduanya telah ditakhrij di dalam “Irwaa Al-Ghalil (V/150-151)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan semakna dengan hadits itu adalah ucapan Ibnu Mas’ud: “Satu akad jual beli di dalam dua akad jual beli adalah riba” [Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq di dalam Al-Mushannaf (VIII/138-139), Ibnu Abi Syaibah (VI/199), Ibnu Hibban (163, 1111) dan Ath-Thabrani (41/1), sanadnya shahih]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/393), dan ini juga merupakan riwayat Ibnu Hibban (1112) (dari Ibnu Mas’ud,-pent) dengan lafazh: “Tidak patut dua akad jual-beli di dalam satu akad jual-beli (menurut lafazh Ibnu Hibban : Tidak halal dua akad jual beli) dan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Allah melaknat pemakan (riba) [Pemakan riba adalah orang yang mengambilnya walaupun tidak makan, diungkapkan dengan makan karena makan adalah kegunaan terbesar dari riba dan karena riba itu umumnya seputar makanan. Pemberi makan riba adalah orang yang memberikan riba kepada orang yang mengambilnya, walaupun yang mengambil tadi tidak memakannya,-pent. (Lihat Al-Fathur-Rabbani Ma&#39;a Syarhihi Bulughul -Amani (XV/68) oleh Ahmad Abdur Rahman Al-Banna, Penerbit Dar Ihya At-Turots Al-Arabi, tanpa tahun], saksinya dan penulisnya“. Dan sanadnya juga shahih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Nashr di dalam As-Sunnah (54), dia menambahkan dalam satu riwayat “Yaitu seseorang berkata: “Jika kontan maka (harganya) sekian dan sekian, dan jika tidak kontan maka (harganya) sekian dan sekian“. Apalagi sekelompok ulama dan Fuqaha (para ahli fiqh) menyepakatinya atas hal itu. Mereka adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Sirin Ayyub. Meriwayatkan darinya, bahwa Ibnu Sirin membenci seseorang berkata: “Aku menjual (barang,-pent) kepadamu seharga 10 dinar secara kontan, atau 15 dinar secara tempo” [Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq di dalam &quot;Al-Mushannaf (VIII/138/14630)&quot; dengan sanad yang shahih darinya (Ibnu Sirin)].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thawus. Dia berkata: “Apabila (penjual,-pent) mengatakan bahwa (barang) itu dengan (harga) sekian dan sekian jika temponya sekian dan sekian, tetapi dengan (harga) sekian jika temponya sekian dan sekian. Lalu terjadi jual beli atas (cara) ini, maka (penjual harus mengambil, -pent) harga yang lebih rendah sampai tempo yang lebih lama. [Dikeluarkan oleh Abdur Razzaq juga (14631) dengan sanad yang shahih juga. Abdur Razaq juga meriwayatkan (pada no 14626), demikian pula Ibnu Abu Syaibah (VI/120) dari jalan Laits dari Thawus dengannya (perkataan di atas,-pent) secara ringkas, tanpa perkataan : &quot;Lalu terjadi jual beli...&quot; tetapi dengan tambahan (riwayat) : &quot;Kemudian (jika penjualnya, -pent) menjual dengan salah satu dari kedua harga itu sebelum (pembeli, -pent) berpisah dari (penjual), maka tidak mengapa&quot;. Akan tetapi ini tidak shahih dari Thawus, karena :Laits -yaitu Ibnu Abu Salim- telah berubah ingatan (karena tua)].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sufyan Ats-Tsauri. Mengatakan bahwa, jika engkau berkata : “Aku menjual kepadamu dengan kontan (seharga) sekian, dan dengan tidak kontan (seharga) sekian dan sekian”, kemudian pembeli membawanya pergi, maka dia berhak memilih di antara dua (harga) penjualan tadi, selama belum terjadi keputusan jual-beli atas salah satu harga. Dan jika telah terjadi jual-beli seperti ini, maka itu adala dibenci.Itulah “dua penjualan di dalam satu penjualan”, dan itu tertolak serta terlarang. Maka jika engkau mendapati barangmu masih utuh, engkau dapat mengambil harga yang paling rendah dan waktu yang lebih lama. [Diriwayatkan oleh Abdur Razaq (14632) dari Sufyan Ats-Tsauri].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Auza’i. Riwayatnya secara ringkas senada dengan di atas. Dalam riwayat itu dikisahkan bahwa Al-Auza’i ditanya: “Jika (pembeli,-pent) membawa pergi dagangan itu (berdasarkan jual-beli dengan) dua syarat tadi?” Dia (Al-Auza’i) menjawab : “Harga barang itu dengan harga yang terendah dengan tempo yang lebih lama“. Al-Khaththabi menyebutkannya (riwayat ini, pent) di dalam “Ma’alimus Sunnah (V/99)”. Kemudian para imam hadits dan lughoh (bahasa Arab) berjalan mengikuti sunnah mereka, diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Imam An-Nasa’i. Beliau berkata dibawah bab: Dua penjualan di dalam satu penjualan: “yaitu seseorang berkata : Aku menjual kepadamu barang ini seharga 100 dirham secara kontan, dan seharga 200 dirham secara tidak kontan”.Demikian juga An-Nasa’i menerangkan seperti itu pada hadits Ibnu Amr “Tidak halal dua persyaratan di dalam satu penjualan“. [Hadits ini ini telah ditakhrih didalam &quot;Al-Irwaa (1305) dan lihatlah &quot;Shahihul Jaami (7520)&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ibnu Hibban. Beliau berkata di dalam &quot;Shahihnya (VII/225-Al-Ihsan)&quot;: &quot;Telah disebutkan larangan tentang menjual sesuatu dengan harga 100 dinar secara kredit, dan seharga 90 dinar secara kontan. Beliau menyebutkan hal itu dibawah hadits Abu Hurairah dengan lafazh yang ringkas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Ibnul Atsir. Di dalam &quot;Gharibul Hadits&quot; dia menyebutkannya di dalam penjelasan dua hadits yang telah diisyaratkan tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HUKUM JUAL BELI KREDIT Sesungguhnya telah disebutkan pendapat-pendapat yang lain mengenai tafsir &quot;dua penjualan&quot; itu, mungkin sebagiannya akan dijelaskan berikut ini. Namun tafsir yang telah lewat di atas adalah yang paling benar dan paling masyhur, dan itu persis dengan apa yang sekarang ini dikenal dengan (istilah) &quot;Jual Beli Kredit&quot;. Bagaimana hukumnya ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, para ulama telah berselisih pendapat semenjak dahulu hingga sekarang dan menjadi tiga pendapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Bahwa hal itu adalah batil secara mutlak, dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm&lt;br /&gt;
2. Bahwa hal itu adalah tidak boleh kecuali apabila dua harga itu dipisah (ditetapkan) pada salah satu harga saja. Misalnya apabila hanya disebutkan harga kreditnya saja.&lt;br /&gt;
3. Bahwa hal itu tidak boleh. Akan tetapi apabila telah terjadi dan harga yang lebih rendah dibayarkan maka boleh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil madzhab yang pertama adalah zhahir larangan pada hadits-hadits yang telah lalu, karena pada asalnya larangan itu menunjukkan batilnya (perdagangan model itu). Inilah pendapat yang mendekati kebenaran, seandainya tidak ada apa yang nanti disebutkan saat membicarakan dalil bagi pendapat yang ketiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan para pelaku pendapat kedua berargumentasi bahwa larangan tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan harga, yaitu: ketidak pastian harga; apakah harga kontan atau kredit. Al-Khaththabi berkata: &quot;Apabila (pembeli) tidak tahu harga (maka) jual beli itu batal. Adapun apabila dia memastikan pada salah satu dari dua perkara (harga, -pent) itu dalam satu majlis akad, maka (jual-beli) itu sah&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Al Albani berkata: &quot;Alasan dilarangnya ‘dua (harga) penjualan dalam satu penjualan&#39; disebabkan oleh ketidaktahuan harga, adalah alasan yang tertolak. Karena hal itu semata-mata pendapat yang bertentangan dengan nash yang jelas di dalam hadits Abu Hurairah dan Ibnu Mas&#39;ud bahwa (penyebab larangan) itu adalah riba. Ini dari satu sisi, sedangkan dari sisi lain (yang menjadi pendapat ini tertolak, -pent) ialah karena alasan mereka ini dibangun di atas pendapat wajibnya ijab dan qabul dalam jual beli. Padahal (pendapat) ini tidak ada dalilnya, baik melalui Kitab Allah maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan di dalam (jual-beli) itu cukup (dengan) saling rela dan senang hati. Maka selama ada rasa saling rela dan senang hati di dalam jual beli, dan ada petunjuk kearah sana, berarti itu merupakan jual-beli yang syar&#39;i. Itulah yang dikenal oleh sebagian ulama dengan (istilah) jual beli Al-Mu&#39;aathaah [Yaitu akad jual beli yang terjadi tanpa ucapan atau perkataan (ijab qabul) akan tetapi dengan perbuatan saling rela. Seperti pembeli mengambil barang dagangan dan memberikan (uang) harganya kepada penjual ; atau penjual memberikan barang dan pembeli memberikan (uang) harganya tanpa berbicara dan tanpa isyarat, baik barang itu remeh atau berharga. (Lihat &quot;Al-Fihul Islami wa Adillatuhu IV/99 oleh DR Wahbah Az-Zuhaili)], Asy-Syaukani berkata di dalam “As-Sail Al-Jarar (III/126)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jual beli al-mu’aathaah ini, yang dengannya terwujud suasana saling rela dan senang hati adalah jual beli syar’i yang diijinkan oleh Allah, sedangkan menambahinya (dengan syarat-syarat lain, pent) adalah termasuk mewajibkan apa yang tidak diwajibkan oleh syara (agama)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga telah menjelaskan hal itu di dalam Al-Fatawa (XXIX/5-21) yang tidak memerlukan tambahan lagi, hendaklah orang yang ingin memperluas (masalah ini) melihat ke sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Al-Albani berkata: “Apabila demikian, maka seorang pembeli sewaktu dia telah berpaling (membawa) apa yang dia beli, mungkin dia membayar kontan atau mungkin membayar kredit. Jual beli dengan cara yang pertama itu sah, sedangkan pada cara kedua yaitu pembeli membawa barang dengan menanggung harga kredit -dan inilah masalah yang sedang diperselisihkan-, lalu mana alasan tidak mengerti harga yang dikemukakan di atas ? Khususnya lagi apabila pembayaran itu dengan angsuran, maka angsuran yang pertama dia bayar dengan kontan sedang sisa angsurannya tergantung kesepakatan. Dengan demikian batallah illat (alasan/sebab) tidak mengertinya harga sebagai dalil, baik melalui atsar maupun melalui penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil pendapat yang ketiga adalah hadits bab ini (hadits yang dibicarakan ini, -pent), ditambah atsar (hadits) Ibnu Mas’ud. Sesungguhnya kedua hadits tersebut sepakat bahwa: ‘dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan adalah riba”. Jadi riba itulah yang menjadi illat (alasan)nya. Dengan demikian maka larangan itu berjalan sesuai dengan illat (alasan)nya, baik larangan itu menjadi ada, ataupun menjadi tidak ada. Karenanya bila dia mengambil harga yang lebih tinggi, berarti itu riba. Tetapi bila mengambil harga yang lebih rendah, maka hal itu menjadi boleh. Sebagaimana keterangan dari para ulama, yang telah menyatakan bahwa boleh untuk mengambil yang lebih rendah harganya, dengan tempo yang lebih lama, karena sesungguhnya dengan demikian berarti dia tidak menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah anda lihat apabila (penjual) menjual barang dagangannya dengan harga pada hari itu, dan dia membebaskan pembeli untuk memilih antara membayar harga secara kontan atau hutang, maka dia tidak dikatakan: Telah menjual dengan dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan, sebagaimana hal itu jelas. Dan itulah yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabdanya pada hadits yang bicarakan, “Maka baginya (harga) yang paling sedikit, atau (kalau tidak mau maka harga yang lebih tinggi adalah) riba” [lihat hadits yang menjadi pokok bahasan di atas, -pent]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mensahkan penjualan itu karena hilangnya illat (alasan/sebab yang menjadikannya terlarang). Beliau membatalkan harga tambahan, karena hal itu adalah riba. Pendapat ini adalah juga pendapat Thawus, Ats-Tsauri, dan Al-Auza’i rahimahullah sebagaimana telah diterangkan di atas. Dari sinilah dapat diketahui gugurnya perkataan Al-Khaththabi di dalam “Ma’alimus Sunan (V/97)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kesimpulannya ; bahwa pendapat yang kedua itu adalah pendapat yang paling lemah, karena tidak ada dalil padanya kecuali akal bertentangan dengan nash. Kemudian diiringi oleh pendapat yang pertama, karena Ibnu Hazm yang mempunyai pendapat itu mengklaim bahwa hadits bab ini telah dihapus (mansukh) oleh hadits-hadits yang melarang dua penjualan di dalam satu penjualan, dan klaim itu tertolak, karena bertentanan dengan ushul (fiqh,-pent).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena (di dalam ushul fiqh, sebuah hadits itu,-pent) tidak akan menjadi (pembicaraan) naskh (penghapusan hukum) kecuali apabila jama’ (penggabungan nash) sulit dilakukan, padahal jama’ bisa dilakukan dengan mudah disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah akhi (saudaraku) Muslim ! bahwa mu’amalah tersebut yang telah tersebar di kalangan para pedagang dewasa ini, yaitu jual beli kredit, dan mengambil tambahan (harga) sebagai ganti tempo, dan semakin panjang temponya ditambah pula harganya. Dari sisi lain itu hanyalah mu’amalah yang tidak syar’i karena meniadakan ruh Islam yang berdiri di atas (prinsip) memudahkan kepada manusia, kasih sayang terhadap mereka, sebagaimana di dalam sabda beliau “Mudah-mudahan Allah merahmati seorang hamba, yang mudah apabila dia menjual, mudah apabila dia membeli, mudah apabila dia menagih” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang dermawan, yang lemah lembut, yang dekat niscaya Allah haramkan dari neraka” [Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan lainnya, dan telah disebutkan takhrijnya no. 938]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka seandainya salah seorang dari mereka (para pedagang ) bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjual (barang) dengan (sistim hutang atau kredit dengan harga kontan, sesunguhnya itu lebih menguntungkannya, hatta dari sisi materi. Karena hal itu akan menjadikan orang-orang ridha kepadanya dan mau membeli darinya serta akan diberkati di dalam rizkinya, sesuai dengan firmanNya Azza wa Jalla “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan jalan keluar baginya dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka” [Ath-Thalaq : 2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan pada kesempatan ini aku nasehatkan kepada para pembaca untuk meruju kepada risalah al-akh Al-Fadhil Abdurrahman Abdul Khaliq (yang berjudul): “Al-Quuluf Fashl Fii Bari’il Ajl”, karena risalah ini istimewa dalam masalah ini, bermanfaat dalam temanya, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan kepadanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di ambil dari tulisan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Abu Al Maira&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Majalah As-Sunnah Edisi 12/Th III/1420-1999, Penjualan Kredit Dengan Tambahan Harga, Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Peneremah Abu Shalihah Muslim Al-Atsari, Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah.&lt;br /&gt;
2. Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/notes/islamic-forum/hukum-jual-beli-kredit-dalam-islam/10150108144310030&quot;&gt;&lt;b&gt;Islamic Forum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; pada 03 Desember 2010</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/435955605896170715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/hukum-jual-beli-kredit-dalam-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/435955605896170715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/435955605896170715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/12/hukum-jual-beli-kredit-dalam-islam.html' title='Hukum Jual Beli Kredit Dalam Islam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-1169624430024594931</id><published>2010-11-29T01:17:00.003+07:00</published><updated>2010-11-29T01:22:31.899+07:00</updated><title type='text'>The United States of Islam (3)</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Muslims in America: Middle Class, Educated, Professional&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Most Muslims in America are from the Middle East, right?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actually, only about a fourth of the Muslims in the United States were born in Arab countries. The rest are a diverse mixture of converts and Muslims born here and in more than 75 other countries, according to a Pew Research Center study that interviewed more than 55,000 Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeed, almost as many Pakistani, Indian, and other South Asian Muslims live in the United States as there are Arab immigrants — 18 percent vs. 24 percent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Also surging in numbers: European and African Muslims. They now make up about one-tenth of the U.S. Muslim population after the government resettled tens of thousands of Bosnians, Somalis, Sudanese, and other refugees from their war-torn countries since the 1990s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At one point in the late 1990s, nearly half of all refugees who came to the United States were Muslims, according to the State Department.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today, immigrants and refugees account for 65 percent of Muslims in America, the Pew study found. Only 35 percent were born in the United States — and two-thirds of those converted to Islam. Converts are increasing, and they include both blacks and whites, although blacks dominate the numbers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even though many Muslim Americans are new to the United States, the Pew report found that they are solidly middle class, with about 1 in 5 families earning more than $100,000 a year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unlike their British, French, and German Muslim counterparts, American Muslims earn basically the same as non-Muslims. British Muslims, for example,Â are 22 percent more likely to be poor, compared with non-Muslims, while only 2 percent in the United States fare so poorly. Many Muslims here tend to have college educations — they are professors, doctors, engineers, and computer techs —except for the Asian and African refugees who often learn to read and write for the first time once they get to the United States.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It&#39;s no surprise, then, that American Muslims tend to feel more assimilated than European Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most American Muslims, for example, give high marks to the communities where they live.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pew report also found that Muslims in the United States are relatively young, with the ability to earn more money in the years ahead. Only 5 percent of Muslim Americans are 65 or older, while almost half are between the prime wage-earning years of 30 and 48. — D.G.W.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Shariah LAW: a question of Interpretation&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shariah is a legal and social code for Muslims to live by based on what is handed down in the Koran, in stories and teachings from the life of the Prophet Muhammad, and in rulings by Islamic thinkers over the centuries. Contrary to popular belief, it does not offer a fixed set of rules, and there are several differing interpretations. The use of Shariah in Islamic countries varies widely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Saudi Arabia, it has been used to justify death by stoning and even the intentional injury of a criminal through surgery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But in Egypt, the largest Arab nation, Shariah law applies only in personal issues — such as marriage, divorce, inheritance, and custody of children. Otherwise, the legal system is entirely secular, on the model of the French legal system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shariah categorizes its offenses by the types of punishments they engender:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Offenses to which are affixed a specified punishment (hadd)&lt;br /&gt;* Those for which the punishment is at the judge&#39;s discretion (ta&#39;zir)&lt;br /&gt;* Those offenses in which a form of retaliatory action or blood money &lt;br /&gt;  is inflicted against the perpetrator or his kinsmen by the victim&#39;s &lt;br /&gt;  kinsmen (jinayat)&lt;br /&gt;* Offenses against the public policy of the state, involving administrative &lt;br /&gt;  penalties (siyasa)&lt;br /&gt;* Offenses that are corrected by acts of personal penance (kaffara)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As originally published in &lt;a href=&quot;http://shop.newsmax.com/shop/index.cfm?page=products&amp;categoryid=48&quot;&gt;Newsmax magazine&lt;/a&gt;.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/1169624430024594931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/united-states-of-islam-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1169624430024594931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1169624430024594931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/united-states-of-islam-3.html' title='The United States of Islam (3)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-6204156856362340836</id><published>2010-11-29T01:11:00.002+07:00</published><updated>2010-11-29T01:16:04.870+07:00</updated><title type='text'>The United States of Islam (2)</title><content type='html'>In 2000, George W. Bush won roughly 45 percent of the Muslim vote, according to Zogby. But by 2004, because of the tensions over the invasion of Iraq, the terrorist-detention facility at Guantanamo, and growing allegations of racial profiling of Muslims, Bush won just 7 percent of the vote compared with Democratic Sen. John Kerry’s 76 percent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’ve talked to Muslim conservatives who asked me if I’m leaving the Republican Party. Those conversations are being had all over Washington,” says Suhail A. Khan, a former Bush administration official who is on the board of directors of the American Conservative Union. “I’ve said no, but many are. The question now is whether the damage will only be for a cycle or two or whether the GOP has lost the growing Muslim vote for a generation or more.” A Colorado native, Khan entered politics as a young Reagan Republican involved in conservative outreach in the liberal bastion of the University of California at Berkeley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He helped organize the campus’ college Republican organization into the largest conservative campus group in California. Being a Muslim was never an issue in his conservative work until after 9/11, Khan says. Even then, he insists, as Muslims complained of racial profiling at airports and heard their religion used almost as an expletive, he felt welcome in most GOP circles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He likens the situation among Muslims now to the conditions California conservatives faced after Gov. Pete Wilson backed Proposition 187, a ballot initiative that sought to block illegal immigrants from accessing state healthcare, public education, and other social services. Like Muslims, Hispanics are deeply conservative on social issues but feel alienated because of the GOP push against immigration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But both political parties are to blame for the present tensions, he says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While many GOP leaders such as Newt Gingrich and Sarah Palin have taken positions against the Manhattan Islamic center near ground zero, President Barack Obama has waffled on backing America’s Islamic community, during his campaign and through his first two years in office.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instead of asking what’s wrong with being a Muslim when his religious beliefs are called into question, Khan says, Obama and his advisers treat any report about his childhood upbringing in Indonesia as a “smear.” Khan says he takes heart in the conservatives who have supported Muslims rights during the ground zero controversy: New Jersey Gov. Chris Christie, Rep. Ron Paul, R-Texas, and Sen. Orrin Hatch, R-Utah, among others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I’m a committed Reagan Republican,” Khan says. “I don’t think the vast majority of Americans are racist, or prejudiced against Muslims, even those involved in the ground zero controversy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s just incumbent upon Muslim conservatives to redouble their efforts to tell the story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shariah finance, stealth jihad — these terms are reminiscent of what we used to hear about American Catholics, that they were a secret group trying to take over the American government, trying to extend papal control over America.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They would say that American Catholics couldn’t possibly be loyal to the American government and Constitution because of their ties to Rome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“But no Muslim I know is trying to extend Taliban-like Shariah in the United States. If you look at the Muslims involved in the mosque controversy, they’re not running to Shariah. They’re running to the U.S. Constitution and the First Amendment. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many Muslims ended up in America after fleeing repressive governments in Iran, Somalia, Sudan, and elsewhere that use fundamentalist interpretations of Shariah to crush political opponents and limit the freedoms of women and ethnic and religious minorities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The recent controversy over the planned Islamic center near ground zero not only has revealed a yearning among many Muslims to be accepted as Americans, but also has brought to the fore the diversity of viewpoints within American Islam. A number of American Muslims, for example, have been quite vocal in their opposition to the ground zero mosque. Shaimaa Aly, 29, who just earned her MBA from Drake University in Des Moines, Iowa, thinks organizers behind the Manhattan mosque should seriously rethink their plans before proceeding any further.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If it is going to increase tension — even make it worse — there’s no need for it,” Aly says. She’s quite open about her appreciation of the “human rights” she has in the United States compared with her native Egypt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She says she is also particularly thankful for America’s healthcare system, which she credits for the well-being of her 6-year-old son, who has a congenital medical condition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another prominent Muslim who was quite open in her criticism of the Manhattan Islamic project was Rima Fakih, a 25-year-old from Dearborn, Mich., who recently was crowned Miss USA. Fakih urges Muslim advocates to be sensitive to the feelings of victims of 9/11 and think more carefully about what is at stake for both communities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We should be more concerned with the [9/11] tragedy than religion,” she told reporters in August as the controversy was growing. Many Muslims like Fakih are quite aware they are living at a historic moment for the future of Islam in America. Their growing numbers and increasing prominence in areas such as business, politics, science, and academia put them under a microscope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though they bristle at what they perceive as racial profiling in airports and other places, many understand that they have a special responsibility both to their faith and their nation as it faces threats from the more radical elements within Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritual Tipping Point&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The next few decades will likely determine whether Islam can truly become a reliable piece of the American mosaic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“For spiritual growth, our faith needs modernization,” says Dr. Zuhdi Jasser, a retired U.S. naval officer and the son of Syrian political refugees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He has treated U.S. Supreme Court Justices, senators, and congressmen and says he fully understands non-Muslim doubts about the status of Islam in the United States.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasser, who now practices internal medicine and nuclear cardiology in Phoenix, has started the American Islamic Forum for Democracy to fight against Muslim extremists. Moderate American Muslims can help reforms by making sure Shariah doesn’t become part of the American tradition, he says. “We must fight political Islam,” Jasser adds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yet extremist strains continue to trouble many mosques, charities, and other organizations that are considered mainstream to many in the Muslim community. Experts such as Spencer consider some of these institutions to be fronts for the Muslim Brotherhood, a group founded in Egypt in the 1920s that ostensibly renounced violence there but whose members have founded terrorist groups such as al-Qaida and Hamas, the group that controls the Gaza Strip and calls for the extermination of Israel. The imam behind the ground zero mosque is the most recent such example.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though nearly every Muslim interviewed for this article described him a mainstream example of liberal, tolerant Islam, Feisal Abdul Rauf has made controversial statements over the years. He has shied from denouncing Hamas, has defended Iran’s fundamentalist clerics, and has criticized American foreign policy in false terms several times.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We tend to forget, in the West, that the United States has more Muslim blood on its hands than al-Qaida has on its hands of innocent non-Muslims,” Rauf said in one 2005 talk that was captured on video. “You may remember that the U.S.-led sanction against Iraq led to the death of over half a million Iraqi children.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But even liberal groups have said that statistic is exaggerated. A Columbia University study estimated that 106,000 to 227,000 children died during the imposed sanctions. Furthermore, The Nation magazine argued in 2001 that sanctions were not as much to blame for the deaths as Saddam Hussein’s corrupt handling of U.N. humanitarian aid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Extremism recently entangled a Muslim charity in Texas linked to Hamas. Nearly two years ago, the Richardson-based Holy Land Foundation and five of its leaders were found guilty of illegally funneling $12 million to Hamas, even after the United States had declared it a terrorist group in 1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After a mistrial, federal prosecutors convinced jurors in a second trial that the foundation “cooperated with Hamas fundraising” even though the charity “knew it to be violent and engaged in criminal conduct,” says Peter Margulies, a Roger Williams University law professor who studies terrorism financing. The case is on appeal. As part of a massive indictment, U.S. prosecutors labeled about 300 Muslims and Muslim groups as “unindicted co-conspirators,” or “joint venturers,” including such well-known nonprofits as the Islamic Society of North America and CAIR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frank Gaffney, founder and president of the Center for Security Policy in Washington, D.C., along with Spencer and others who monitor Islamist groups, consider CAIR to be yet another major front for the Muslim Brotherhood operations in the United States.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other fault lines for Islam in the United States cut through cultural grounds. Many Americans fear that groups such as CAIR, which describes itself as a civil rights organization, are pushing for special rights for Muslim communities that place them outside of American values.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Ann Arbor, Mich.-based Thomas More Law Center has been at the forefront of legal actions to stop Shariah-based rights that groups around the nation are seeking. It unsuccessfully sued a California public school district to block its use of textbooks that taught Islamic prayers and practices to elementary students. An appeals court agreed with a judge that the text was not trying to evangelize but rather teach about Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This past summer, the law firm fought charges against four Christians arrested for attempting to talk about their faith at a public Arab arts festival in Dearborn, Mich. Two of the arrested are converts from Islam — Muslims are forbidden from joining a new faith, according to Shariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The four “were not loud or boisterous yet the police came and arrested them,” says Richard Thompson, president and chief counsel of the Thomas More Law firm. A YouTube video showed police handcuffing the four and taking them away to jail, where they spent the night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evangelists were arrested in 2009 at the same festival, and this year’s participants say in a YouTube video that they purposely avoided conflict by talking only to festival-goers who approached them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The city of Dearborn is denying discrimination, and a trial took place in September. Some, however, think the case shows the imbalance in the United States.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What is happening is the government is taking the side of Muslims,” Thompson says. But many Muslims say some confuse normal, observant rituals of Islam with Shariah. Throughout the United States, comfortable accommodations are being made simply so that religious Muslims can fast, observe the call to prayer, or bury their loved ones in a traditional manner. Beauty queen Fakih’s brother Rami plays wide receiver and running back on the football team at Fordson High in Dearborn. The school’s student body is 85 percent Arab-American, and the city recently approved a local mosque’s request that the daily call to prayer be played on loudspeakers, as it is done in many Islamic nations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the Ramadan holiday, the high school was among the few in the nation to allow the football team to practice from 11 p.m. to 4 a.m., as Muslim players were not supposed to eat or drink from dawn to sundown during the month-long religious holiday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rami says practicing at night could be confusing, and he would forget that he could drink water during practice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Then I remember, you know,” he says. “I look up. There’s no sun. I can drink. I can eat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disquieting Presence&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the pace of mosque construction accelerates nationally, many communities find themselves at odds with the idea of a visible Islamic symbol in their midst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even though the FBI shows Muslims are seldom the victims of hate crimes, community activist Zainab Elberry in Nashville worries about violence. She has reason: Her community has contended with attacks against three Islamic worship centers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First a small mosque was torched in 2008 in rural Tennessee about 40 miles from Nashville; the suspect was convicted and sentenced to 14 years in prison. The Al-Farooq Mosque in Nashville was vandalized this year with “Muslim Go Home” and other graffiti splashed on its walls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then in August, a mosque being built about 25 miles south of Nashville was vandalized. A suspicious fire damaged construction equipment. “It’s quite disconcerting,” Elberry says. “This thing is accelerating. People don’t understand what Islam is.” Tennesseans are concerned about thousands of Muslim refugees brought to the Nashville area as part of a U.S. resettlement program, for Africans and thousands of Kurds from Iraq, Elberry says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then there are the cultural differences, such as the different way Muslims bury their deceased. Muslims believe in burying bodies in white cloths, not coffins. That has raised concerns about possible contamination of groundwater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The issue also has been raised in eastern Connecticut where Muslims proposed a cemetery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Groundwater isn’t affected, Elberry says, but longtime residents haven’t been persuaded.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Also stoking mosque fears, she says, is the furor over the Islamic center near ground zero. But Elberry says, “People should be able to build mosques wherever they want. Our people died innocently too [during the 9/11 attacks]. People died of all faiths.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although many Muslims praise Shariah for providing them with Islamic-based rules to live morally, Thompson believes the system “is the exact opposite of the U.S. Constitution and the Western way of life.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We have taken the lead in fighting what we think is the foremost threat to security of the United States and that is Shariah law,” Thompson says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Often, Thompson says, local, state, and U.S. government agencies will quash free speech to appease Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thompson’s firm sued Miami-Dade (Fla.) County — and won — when buses there refused to accept paid advertising that advised people where they could receive help if they wanted to leave Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His firm also filed suit — and ultimately convinced New York — to run ads on buses from the same company that now is advertising its opposition to the mosque and community center near ground zero.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Critics consider the advertisers an anti-Muslim organization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many Muslim-Americans also are divided over Shariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some say Muslim-Americans practicing their own personal Shariah is a night and day difference from that practiced in poorer, predominantly Muslim nations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michaela Corning, a 30-something Seattle businesswoman who converted to Islam, says Shariah is not about “holy jihad” and stoning women. Rather, she says, it is a set of principles for Muslims to go by, “just like what is in the Talmud” that Orthodox Jews respect and follow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shariah is actually positive,” Corning says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nevertheless, many other Muslim-Americans say they also don’t want Shariah institutionalized in America.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pardis Afshar says her family came to the United States to escape Iran’s Shariah. When she visits Iran she says she notices how many Iranians rebel, such as taxi drivers refusing to pick up passengers dressed in religious garb. There is tension between the religious and those who just want to be left alone, she says.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Honestly, I don’t think it is any way to run a country,” says Afshar who just graduated from college last spring and landed a job on a newspaper on Florida’s West Coast. “The laws do not make any sense. They might have made sense in the 1600s, but not now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I was not really raised knowing Islam,” she adds. “I went to a church and synagogue before a mosque.” Still, she says she considers herself a Muslim and she practices its moral tenets. So does Dr. Jasser. Both feel Islam has enriched them. But Jasser says, he doesn’t want an imam preaching politics. He has walked out of mosques where they did.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s too painful for him. His family was persecuted by a Syrian government that used Islam to hurt others. His mother and father fled to America. They cherish how Uncle Sam separates faith from state. “My parents immediately felt American,” he adds. “They believed in Western thought and freedom. So do I.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That freedom, he believes, has helped make Muslim-Americans so successful. Where else, he asks, could a refugee boy become a doctor — and end up treating his adopted country’s top leaders?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;continued in the next section&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As originally published in &lt;a href=&quot;http://shop.newsmax.com/shop/index.cfm?page=products&amp;categoryid=48&quot;&gt;Newsmax magazine&lt;/a&gt;.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/6204156856362340836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/united-states-of-islam-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6204156856362340836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6204156856362340836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/united-states-of-islam-2.html' title='The United States of Islam (2)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-1679558516219106580</id><published>2010-11-29T01:01:00.004+07:00</published><updated>2010-11-29T01:11:13.908+07:00</updated><title type='text'>The United States of Islam (1)</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;A prosperous and fast-growing Muslim-American minority is making its voice heard. Some applaud this trend. Others worry that our traditional American Judeo-Christian culture is being undermined.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;By &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Donna Gehrke-White&lt;/span&gt; and &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Tim Collie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukit Hossain is living the Islamic American Dream in the heart of the Old South.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Born and raised in Bangladesh, educated at Duke University, the former telecommunications executive had tired of his posh, suburban lifestyle two years ago and decided to become a farmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So he uprooted his wife and two daughters and bought a 15-acre spread just outside of Fredricksburg, Va. There, just miles from one of the Civil War’s most famous battlefields, the 49-year-old Hossain has invested a good portion of his savings in a venture to raise goats for the region’s rapidly growing Muslim market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His wife, raised in Kuwait, heads the PTA at their children’s elementary school. One daughter is president of the student council. Like many parents with conservative values, the Hossains opted for rural life to instill stronger values in their children.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And while controversy rages around the nation over a ground zero mosque, Shariah (strict Muslim religious law) finance and home-grown terrorists, Hossain is busy expanding his business selling “halal” (ritually slaughtered) goat meat to a thriving immigrant community with roots in more than two dozen Muslim nations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“America is not just a country — it’s an ideal,” Hossain says. “It fulfills human aspirations. You aspire to be better than what you are today. You find new challenges.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By one measure, Muslims are the new model minority — upwardly mobile, highly educated, entrepreneurial social conservatives who believe that strong families and hard work can open doors to success in America.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yet by another gauge, they are a suspect class: a diverse collection of races, ethnicities, and nationalities who adhere to a religion many fear is anathema to American ideals. Some — a distinct but dangerous minority, experts agree — harbor allegiances to repressive regimes and terrorist groups that consider the United States the next battleground in the clash of civilizations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The optimistic scenario sees Muslims such as Hossain joining Jews, Catholics, and Mormons as part of the American mosaic. The nightmare is a bleak tableau similar to what is being played out in Europe, where radicalized Muslims in growing, unassimilated enclaves launch terrorist attacks and push for the recognition of Shariah in family and financial matters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The ongoing controversy over the so-called ground zero mosque — an Islamic community center with mysterious financial backing originally planned for a site just two blocks from the scene of the World Trade Center attacks — is only the best-known among recent controversies involving Muslims around the nation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In cities and towns across America, clashes have resulted over proposed mosques or demands for recognition and special rights for Islamic communities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More disturbing has been a series of incidents in which Shariah has been used to justify brutality against women, discrimination, treason, and murder:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• In New Jersey, a family court judge rejected a woman’s request for a restraining order against her husband, who had raped her. The husband claimed that, under Islamic law, the wife must submit to him “and do anything I ask her to do.” An imam called as a witness backed up the husband. The ruling was overturned on appeal, but many were alarmed that such reasoning could take place in an American court.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• In October 2009, Luqman Ameen Abdullah, an African-American Muslim, was killed in a shootout with FBI agents in Detroit. A weapons smuggler, he was a member of a little-known Islamist network dedicated to the establishment — through violence, if necessary — of an enclave on U.S. territory to be governed by Shariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• In 2006, Somali Muslim taxi drivers revealed their decade-long practice of refusing to pick up passengers at the Minneapolis-St. Paul International Airport who were carrying alcohol or were accompanied by dogs, including guide dogs for blind customers, because doing so violated Shariah. After the boycott became public, the Metropolitan Airports Commission proposed special lights on their cabs indicating their adherence to the ban. The idea was rejected, but if it had been approved, it would have been the first time that a public agency had established Shariah law on public property in America.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Incidents of Islamic honor killings also are becoming more apparent around the nation. In early 2009, Muzammil Hassan, a 44-year-old immigrant from South Asia, was charged with second-degree murder in the killing and decapitation of his 37-year-old wife, Aasiya. The couple had been known as prominent leaders in the American-Muslim community who sought better understanding of liberal Islam through Bridges TV, a television station near Buffalo, N.Y. Months later, an Iraqi immigrant ran down and killed his daughter with a Jeep because she refused an arranged marriage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• This past summer, 14 suspects in Minnesota, Alabama, and California were charged with funneling money and fighters to Somali terrorists. Ten of the indicted were Minnesotans who had gone back to their native Somalia to fight.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Taken together, these incidents represent a troubling pattern to some experts who believe that fundamentalist Islam is taking root in America and encouraging a new generation of homegrown terrorists in a “stealth jihad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They point to Faisal Shahzad’s attempted car bombing in Times Square; the Fort Hood massacre, in which American-born U.S. Army Maj. Nidal Hasan killed 13 people; and the emergence of al-Qaida cleric Anwar al-Awlaki, who allegedly influenced Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All three are Muslims who strengthened their foreign allegiances to fundamentalist Islam despite years in the United States.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even more disturbing is the seeming reluctance of many U.S. Islamic leaders to condemn such incidents and denounce groups or individuals espousing terrorism. Critics of Islam point to an apparent lack of will among American-Muslim leaders to challenge fundamentalism in their own mosques. The critics see this as one indication that the religion simply hasn’t evolved from its medieval roots the way that Christianity or Judaism has.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“There is no significant liberal traditional within Islam as a whole,” says Robert Spencer, director of the website Jihad Watch and author of several books and a blog that examine the Koran in exhaustive detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spencer adds: “There’s no equivalent within Islam of Episcopalianism or Unitarianism or reform Judaism. It doesn’t exist. The literalistic, dogmatic view of Shariah — this is the dominant mainstream of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fundamentalist Islam is incompatible with numerous U.S. constitutional freedoms. Any knowledgeable, devout practitioner of it is not going to be assimilating or comfortable within a societal framework that advocates equality of rights for women, freedom of speech, or non-establishment of official religions.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But American-Muslim scholars and other experts on Islam say this outlook misinterprets Islam and further misunderstands American Muslims, many of whom came to America precisely because they reject the more draconian forms of fundamentalist Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslims such as Hossain and others see their faith as a collection of beliefs, prayers, and practices that forms a personal code for themselves, not a law to be imposed on others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;American Muslims “benefit from the American ideal of pulling yourself up from the boot straps,” says Ihsan Bagby, an associate professor at the University of Kentucky who sits on the board of the Council of American-Islamic Relations (CAIR). “I know they are very happy about the openness in the United States.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pollster John Zogby, who is an Arab-American Christian, has done extensive surveys of the American-Muslim community that reveal a deeply patriotic, quite conservative stream that he likens to other minority groups such as Hispanics, Catholics, or Jews.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“In terms of Shariah law, that’s not why Muslims came here, and for those [who] are second- and third-generation Americans, they have no concept of Shariah law,” Zogby tells Newsmax, referring to Islamic religious law. “The idea that there’s some effort to institute Shariah in the United States is fiction.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muslims are here in America and they’re here to stay — trying to attack them with concepts like Shariah is just going to backfire on politicians who attempt it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“They’re growing in size and they’re maturing politically as well as organizationally. They also live in all 50 states — in a way that can easily tip very close elections.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who Are America’s Muslims?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As with any religious or ethnic group, generalizations only go so far. But polls by Zogby, Gallup, and Pew during the past decade reveal a picture that experts generally describe politically as “big government social conservatives” remarkably similar in some ways to the Hispanic population. Most are better educated and higher earning than the overall American population — partly because immigration rules have favored skilled, hi-tech professionals during the past few decades. They tend to favor liberal government programs on healthcare, school funding, and the environment. But Muslim views on social issues such as abortion, the death penalty, tax cuts, forcing U.S. citizens to speak English, and (perhaps surprisingly to some) tougher laws to fight terrorism place them comfortably among America’s conservative grass roots. Politically, Muslims as a group have moved back and forth between parties.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;continued in the next section&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As originally published in &lt;a href=&quot;http://shop.newsmax.com/shop/index.cfm?page=products&amp;categoryid=48&quot;&gt;Newsmax magazine&lt;/a&gt;.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/1679558516219106580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/united-states-of-islam-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1679558516219106580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1679558516219106580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/united-states-of-islam-1.html' title='The United States of Islam (1)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-8891995542111385002</id><published>2010-11-28T23:53:00.002+07:00</published><updated>2010-11-28T23:58:40.219+07:00</updated><title type='text'>Mengukur Kebajikan</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Di dalam Al Qur’an (surat Al Baqarah ayat 177) ada ungkapan al Birr, artinya kebajikan. Lafal ayatnya adalah: Laisal birra an tuallu wujuuhakum qibalai masyrikqi wal maghrib (Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini turun sehubungan dengan sikap penduduk muslim di Madinah pada waktu itu. Mereka merasa sebagai orang-orang baik, sedangkan yang lain (non muslim) sebagai orang-orang yang tidak baik (sesat). Untuk menyadarkan penduduk Madinah yang telah bersikap salah itu, turunlah ayat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pengertian dan Sikap Keliru&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar Ibnu al Khaththab pernah mengatakan: “Tidaklah dapat mengukur keimanan dan keislaman seseorang karena ia telah melaksanakan shalat, tidak juga karena ia telah berpuasa, tidak juga karena telah membayar zakat hartanya, dan tidak juga karena ia telah menunaikan ibadah haji. Akan tetapi keimanan dan keislaman seseorang harus terlihat pada kehidupannya sehari-hari“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pernyataan dan sikap keliru jika seseorang yang telah melaksanakan shalat lalu dikatakan sebagai orang baik. Betapa banyak orang yang telah menjalankan ibadah shalat, baik shalat lima waktu (shalat fardhu) maupun shalat-shalat sunat akan tetapi (ternyata) ia masih suka berbohong, mengucapkan kata-kata kotor, suka menggosip, benci kepada seseorang, mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya (bukan hanya itu), bahkan ia juga terlibat kasus korupsi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, janganlah langsung mengalakan baik terhadap seseorang, akan tetapi perlu diperhatikan perbuatan, perilaku dan sikapnya sehari-hari, sebagaimana penjelasan komprehensif dari agama Islam (al Qur’an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang baik dalam pandangan manusia belum tentu baik dalam pandangan Allah SWT. Akan tetapi, apabila diri dan kehidupan seseorang telah baik dalam pandangan Allah SWT dan Rasul-Nya, maka dialah sebenarnya orang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ukuran Kebajikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengukur seseorang tentang kebaikannya (kebajikannya) harus terpenuhi (minimal) lima kriteria. Kelima kriteria itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;1. Segi Keimanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang beriman ia adalah orang yang sangat menyadari bahwa dalam hidup dan kehidupannya ada Dzat (sesuatu yang ghaib) yang Maha Mencipta dan Mengatur alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerak-geriknya senantiasa dilihat oleh Allah SWT. Selain itu ia juga orang yang menyadari, bahwa segala sesuatu (termasuk dirinya sendiri) akan mengalami kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya pasti akan berakhir, kecuali Dzat Allah SWT. Tidak hanya itu, ia juga beriman kepada para Malaikat, khususnya Malaikat Raqib (pencatat amai-amal baik) dan Malaikat Atid (Pencatat amal-amal buruk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali itu, ia juga seorang yang selalu mengikuli aturan-aturan hidup (Kitab Suci al Qur’an). Seluruh kehidupannya selalu sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam kitab-kitab suci, khususnya al Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keempat keimanan tersebut (tidak ketinggalan) keimanannya kepada para Nabi Allah pun adalah hal yang sangat mempengaruhi hidup dan kehidupannya. Para Nabi tersebut adalah pembawa ajaran keselamatan dan kebahagiaan bagi umat manusia, termasuk Nabi SAW. sehingga dalam menjalani kehidupan sehari-hari ia selalu mengikuti ajaran yang dibawa para Nabi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;2. Segi Kepedulian sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang baik dalam pandangan Allah SWT, tidak cukup dengan modal keimanan saja, akan tetapi ia juga harus memiliki kepedulian terhadap sesama umat manusia, seperti kepada keluarganya sendiri, anak-anak yatim, orang-orang miskin, kaum dhu’afa dan orang-orang yang kehilangan hak dan wewenang (hamba sahaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang baik tidak akan membiarkan orang-orang tersebut, kecuali diperhatikan dan dibantunya serta disayangi dan dihormatinya. Orang baik tidak akan mau menumpuk kekayaan, kecuali dibagikannya kepada orang-orang yangberihak menerimanya. Dan orang baik adalah yang memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan bersama orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;3. Segi ibadah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang telah baik imannya, ia juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi, (namun) untuk menggolongkannya sebagai orang baik dalam pandangan Islam, ia juga haruslah melaksanakan ibadah shalat dan membayar zakat hartanya secara baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pelaksanaan shalatnya benai-benar didasari oleh nilai ketaatan dan kecintaan yang tinggi kepadaAllah dan Rasul-Nya, serta dengan pelaksanaannya yang sesuai dengan ketentuan yang telah anda dan dicontohkan oleh Nabi SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ia senantiasa membayar zakat hartanya dengan ikhlas dan dengan cara yang baik dan benar, maka (dengan sendirinya) ia telah membangun hubungan baik dengan Allah SWT (hablum minallah) dan hubungan baik dengan manusia (hablum minannas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;4. Segi penepatan janji.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menepati janji adalah hal yang sangat penting. Posisinya menjadi tolok ukur kebaikan seseorang. Apabila seseorang selalu menepati janjinya maka ia telah menyelamatkan diri dari sebahagian ancaman kemunafikan. Oleh karena itu, menepati janji termasuk syarat untuk menjadi baik dalam pandangan Islam (QS. Al Baqarah: 177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;5. Segi kesabaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Islam (Allah SWT) orang baik harus memiliki sifat sabar. Walaupun seseorang telah memiliki iman, kepedulian sosial, melaksanakan shalat dan membayar zakat, dan juga senantiasa menepati janji, namun apabila ia tidak memiliki sifat sabar yang baik dan benar, maka ia belum termasuk baik dalam pandangan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Lembar Risalah An-Natijah, No. 26 / Thn. XIV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 28 November 2010 jam 22:54</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/8891995542111385002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/mengukur-kebajikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/8891995542111385002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/8891995542111385002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/mengukur-kebajikan.html' title='Mengukur Kebajikan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-4038210461033904426</id><published>2010-11-27T16:31:00.001+07:00</published><updated>2010-11-27T16:34:25.805+07:00</updated><title type='text'>THE MUSLIM LADY, HER ROLE AND HER HONOR</title><content type='html'>by &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Aisha Atiq Shahid&lt;/span&gt; ﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evidence from the Holy Quran: Believers, men and women, are protectors, one of another: then enjoin what is right and forbid what is evil.(Surah at-Tawba:71) Quran: And say to the believing women that then should lower their gaze and guard their modesty, and not display their ornaments except to their husbands or their fathers, or the fathers of their husbands of their sons, or the sons of their husbands or their brothers or their brother&#39;s sons, or their sister&#39;s sons or their women or those whom their right hands possess, or the male servants not having need (of women), or the children who have not attained knowledge of what is hidden of women; and let them not strike their feet so that what they hide of their ornaments may be known... (Surah an-Noor:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The role of a Muslim lady is quite unique in the fact that Islam has already prescribed here role and responsibility to Almighty God, her husband, her children, other family members, her community, and society, as well as herself. Every aspect of her life from birth to death, has been outlined and placed in perfect order by Creator Himself. As Almighty God cares for and tends to the needs of all creatures, great and small, why would He not address the needs of His superior creation, which is human kind?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outwardly, it would be extremely difficult not to recognize a Muslim lady, if she is indeed adhering to the commands of Almighty God. Her dress itself, to her submission to God and her acceptance of Al-Islam as her way of life. Her modest dress, as well as behavior, manifests her attempt at following the orders of Allah stated in Holy Quran and the traditions of the Holy Last Messenger Muhammad ibn Abdullah (s.a.s.). For when she goes forth, her attire tells all that she is Muslim, and she wears her attire as a cloak of honor and dignity, for all to see, recognize, and respect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The relationship of the Muslim lady towards her husband and family members has also been explained in the Holy Quran. She is a loving wife, mother, responsible homemaker, devoted daughter, caring sister, reliable friend neighbor. She is an educator, nurse, facilitator, and councilor. It is her responsibility to see that her family&#39;s needs are attended to, if not by her husband, then just as capable. Towards her husband, a Muslim lady is friend, lover, advisor confidante, help-mate, and supervisor of his home. She is this way, because she her husband will obey the command from Almighty God to love, maintain, and protect her at all cost. Men are protectors and maintainers of women because Allah has given the one more strength than the other, and because they support them from their means. (Surah an-Nissaa:34). Because she has been given the assurance that she will be maintained, a Muslim lady does not have to go out to work; rather she can stay home and care for her family, which is her main responsibility. However, if she chooses to work, in the home or out, she may do so and is she chooses to aid her family financially, she may also do so, obtaining thereby Allahs blessings. Yet if she chooses not to aid financially, Allah has stated in the Holy Quran to women what they earn and to men what they earn. Since it is not the responsibility of a woman to maintain her family she does not have to do so, nor give any money to her family. And stay quietly in your houses, and make not a dazzling display of yourselves like that of the former times of ignorance. (Surah Ahzab:33). O Prophet! Tell thy wives and daughters and believing women that they should cast their outer garments over their persons (when abroad). (Surah Ahzab:59). Islam encourages that Muslim ladies stay home and tend to their families. However, it does not mean that ladies cannot go out for business, for family needs, for society needs, or just socially visiting family and friends. If Muslim ladies expected to only stay in the home, there would not have been rules and guidelines on how to dress and conduct oneself outside of the home. According to traditions of the Holy Last Messenger (s.a.s.), women receive many blessings for being home, yet she may leave her home for various reasons, and not incur Allah&#39;s displeasure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadith: The Prophet said to some women, &quot;Those of you who stay at home will gain the action (merit) of the Mujahideen (those who strive in the path of Allah).&quot; The Holy Prophet (s.a.s.) said, &quot;If a wife of any of you should ask permission to go to the mosque, do not stop her.&quot; Muslim ladies may work outside of the home in jobs that do not her religion. For example, if she is not required to uncover herself, remain alone with a man who is not her relative, serve or associate around alcohol, pork, or drugs, etc... Muslim ladies are doctors, lawyers, teachers, business owners, bankers. They are also politically and socially involved in communities here and abroad. They fund-raisers human rights activists, and moral consciousness raisers. They may function in these arenas with the permission of their husbands and the support of their families and communities. If there is a conflict between these activities and home life, the Muslim lady knows and undoubtedly understands that any and all activities outside the home, but never would she abandon her family. Family is her first and foremost obligation. The Holy Prophet (s.a.s.) has stated that, &quot;A woman is the guardian of the family of her husband and of his children, and she will be asked about them (as to what extent she fulfilled their rights).&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contrary to misconceptions and lies perpetrated against Muslims, in Islam, the Muslim lady is not an object of scorn, nor reduced to one with no moral rights or social obligations. She is not property to any man, nor subservient to anyone. Islam has not taken away any rights, rather it has increased and enhanced her rights and obligations to the Creator and herself. Almighty God answers the prayers of both men and women. She observes prayers, fasting, performing pilgrimage, religious holidays, Islamic injunctions, modest dress and behavior similar to her male counterpart. Her good deeds are rewarded by Almighty God and her bad deeds may punished or forgiven by Almighty God, just like the Muslim male. As stated in Holy Quran, women have rights similar to the rights of men. Many verses of Holy Quran speak about believing men and women, patient men and women, pious and women, men and women of virtue, righteous men and women, and their rewards with Allah (Almighty God). In the religion of Islam, the Muslim lady has found a perfect way of life. To achieve that perfection, she must live up to the guidelines prescribed by Almighty God in letter and spirit. She recognizes her obligations and strives to fulfill them according to Islam. She acknowledges that the Supremacy, Sovereignty, Final Authority, and the only Ruler is Almighty Allah. The Holy Quran is the book follows, for in it the essentials of the Islamic system are beautifully laid out for her and each and every Muslim. She has no doubt in its authenticity. She is sure of it and she is sure of herself an her role in this society. She is a Muslim lady, with much deserved honor and dignity. And she is proud and honored to be amongst the God-fearing, God loving creation of the Almighty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.challengeyoursoul.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 27 November 2010 jam 16:30</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/4038210461033904426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/muslim-lady-her-role-and-her-honor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/4038210461033904426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/4038210461033904426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/muslim-lady-her-role-and-her-honor.html' title='THE MUSLIM LADY, HER ROLE AND HER HONOR'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-506597646798609378</id><published>2010-11-26T21:27:00.001+07:00</published><updated>2010-11-26T21:30:22.233+07:00</updated><title type='text'>Berbuat Lebih (Sekedar Renungan)</title><content type='html'>Seorang pencari bambu, yang biasanya untuk dijadikan sebagai kayu api akan memperoleh sekedar api yang menyala dan menjadikan makanan yang di atas tungku menjadi matang tanpa mendapatkan tembahan finansial dari bambu yang diperolehnya. tetapi alangkah bijaknya jika sang pencari bambu tersebut bisa mengolah bambu yang didapatnya tidak hanya sekedar dijadikan kayu api, tetapi bambu tersebut diraut kecil-kecil dan dijadikan tsuk gigi, tentu harganya akan menjadi labih mahal dan bisa menambah penghasilan ketimbang hanya dijadikan kayu api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika kita ibadah puasa misalnya. Tentu jika hanya mengharapkan ibadah puasa maka pahala yang didapat juga hanya sebanding dengan usaha yang kita lakukan, tetapi jika ibadah puasa yang dilakukan dibarengi dengan tadarus serta shalat malam pada pertiga malamnya, tentu akan mendapatkan pahala yang lebih di sisi Allah. Bukankah Allah telah berfirman, bahwa Allah akan membalas kebaikan usaha yang kita lakukan, sekecil apapun. Seringkali ibadah yang kita lakukan hanya sekedar mengugurkan kewajiban saja, tetapi apakah kita pernah berpikir untuk menjadikan ibadah itu sebagai lahan untuk kita semakin dekat dan mendapatkan nilai positif dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mahasiswa saja ketika dia ingin mendapatkan nilai yang tinggi pada suatu mata kuliah maka dia mendekatkan diri pada dosen yang memberikan mata kuliah tersebut, kenapa kita tidak mencoba lebih mendekatkan diri kita terhadap Allah untuk mengambil hati sang Khalik agar rahmat Nya selalu mengucur kepada kita?????????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿http://www.pelajar-islam.or.id/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 26 November 2010 jam 21:26</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/506597646798609378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/berbuat-lebih-sekedar-renungan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/506597646798609378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/506597646798609378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/berbuat-lebih-sekedar-renungan.html' title='Berbuat Lebih (Sekedar Renungan)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-2647068183445365231</id><published>2010-11-25T16:37:00.001+07:00</published><updated>2010-11-25T16:40:25.812+07:00</updated><title type='text'>Islam the Misunderstood Religion</title><content type='html'>Preface From “&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Islam the Misunderstood Religion&lt;/span&gt;” by &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Muhammad Qutub.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.﻿ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The majority of the modern “educated” people are today faced with a religious crisis. Is religion really a fact of life? It might have been one in the past, but does it still remain so in the world of today when science has changed the whole course of life, and when there is no place in it for anything save science and what scientific facts approve of? Does religion represent a genuine need of humanity? Or is it something wholly dependent upon the temperamental constitution of an individual so that one may not believe in it as there is no difference between the two states of belief and unbelief?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talking about Islam they betray a similar state of intellectual crisis when the missionaries of Islam tell them that Islam is not a mere creed, nor does it represent simply an edification of souls, or a refinement and training of human virtues but it is rather a harmonious whole that also includes a just economic system, a well-balanced social organization, codes of civil, criminal as well as international law, a philosophical outlook upon life along with physical instruction, all of these flowing from the same fundamental creed of Islam and its moral and spiritual temperament. When they hear all this, these “educated” people are greatly perplexed, for they supposed that Islam had since long ceased to exist as it has become outmoded and had exhausted all its usefulness. That is why they are surprised when they hear devout Muslims saying that Islam does not belong to a remote past, it is not obsolete or antiquated but it is a living and flourishing system of life even at the present moment, as it holds within itself such elements of life as no other system known to humanity does including socialism as well as communism or any other system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(…) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before proceeding further let us, however, pause awhile and see as to who these “educated” skeptics are? Whence does their skepticism originate? Is this attitude of mind a result of their own free thinking or are they merely parroting the words of others without even so much as understanding them?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fact is that the skepticism exhibited by these gentlemen is not a result of their own independent thinking, nor did it originate in their own minds as such. For its true source we will have to go back a little over the history of modern times.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The middle ages witnessed crusades between Europe and the world of Islam. Furious battles were fought between the two after which followed a period that saw a suspension of hostilities between the two camps but their hostility towards each other never ended as is well borne out by what Lord Allenby said in clear terms on the occasion of the British occupation of Jerusalem in World War I: “Now have the crusades come to an end!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We must also keep in mind that during the last two centuries European imperialism remained in conflict with the Islamic Orient. The British stepped into Egypt in 1882 following Taufiq’s treachery. They hatched a plot with him for the military occupation of Egypt in order to thwart the popular revolution under the leadership of Orabi. Thereafter the British policy of necessity revolved around one basic aim: strengthening their hold more and more on the Islamic world and safeguarding their interests from being swept away by the true Islamic spirit of the Orient. We would in this respect like to refer to what the British Prime Minister of the Victorian age, Mr. Gladstone said in the House of Commons. Holding up the Holy Koran in his hands he told the members of the House: “So long as the Egyptians have got this book with them, we will never be able to enjoy quiet or peace in that land”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naturally the policy pursued by the British was one of deriding Islamic laws and principals, of exiling the sense of sanctity from Muslim’s hearts, and of painting Islam in the blackest of colors so as to make them look down upon it and in due course of time to discard it totally. They did all this in order to tighten up their imperialistic grip on this country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The educational policy they adopted in Egypt was such as left the students quite ignorant about the reality of Islam, except that it was a religion embracing worships, prayers, praising and glorifying God, and pursuing mystic practices; that the Koran was a book read to invoke God’s blessings and that Islam was a theoretical invitation to pursue the noblest and most generous of moral precepts. Students were never told anything about Islam as a socio-economic system of government or as a constitution, or as a basis of internal and external policy, or as a system of education, or as a way of life and a watcher of life. What they were taught instead was the doubts cast against Islam by the orientalists and other European crusaders in order to make the Muslims forsake their religion and succumb easily to the evil machinations of imperialism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They were taught that the only genuine social system in existence was that which Europe possessed, the only true economic system was one that was conceived by the European philosophers, the right and most appropriate form of constitutional government was what the Europeans, thanks to their various experiments, evolved. They were taught that the rights of man were first taken cognizance of by the French Revolution, that democracy was fostered and made popular by the English people, and that it was the Roman Empire that provided any basis of civilization. In short, the British depicted Europe as a rebellious but might giant with none to stand in its way or check its progress whereas they presented the East as a dwarfish underling with no standing of its own save that of subordination to Europe and complete dependence upon it for its social and cultural outlook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This political policy at last took effect. Among the Egyptians there sprang up generations who were shorn of any thought of their individuality or independent cultural existence. They were completely enthralled by Europe; they worshipped it most devotedly; they could neither see with their own eyes nor were they any more left capable of thinking for themselves; they would see just what the Europeans wanted them to see; and they thought what they wished them to think.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The “educated” intelligentsia of today represents as such the culminating point of what the imperialists with the political maneuvers achieved in this country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These poor people know nothing about Islam but doubt. About Islam they have no information save what they received through their European masters. That is why they are seen shouting like them advocating the separation of religion from the state and of science from Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But in their ignorance they pass by the fact that the religion that Europe shook off was quite different from what the advocates of Islamic ideology call upon people to adopt; and that the particular circumstances that prevailed in Europe at the time made it turn its back upon religion were confined to that region of the world only. Nothing of the sort ever happened in the Islamic orient; nor is there any likelihood of its ever happening there. Thus when they call upon their countrymen to discard Islam or declare that Islam should have no say in the management of social, political and economic affairs of community and life, they are merely expressing and parroting the imported thoughts of their masters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Europe was the scene of a conflict between religion and science, because the church there had arbitrarily embraced certain theories and dogmas (inheriting them from Greece) and insisted that they were sacred and gospel truth. So when the theoretical and the empirical science demonstrated the errors and fallacy of these theories, the people there had no other course but to believe in science and disbelieve in the church as well as in the religion these churchmen stood for. The war between religion and science gained in intensity and the enthusiasm to get free from the dominance of these religious men increased as the church in Europe conferred upon itself divine power and proceeded to enforce it in a most tyrannical manner. Thus for the people there religion came to signify and abominable ghoul that harassed them in their working no less than in their sleeping hours. It exacted from men costly extortion and reduced them to an abject state of subordination to the churchmen, besides calling upon them to swallow nonsense and superstitions in the name of God. The torturing of scientists and burning them alive because they said, for instance, that the earth was round, was the ugliest of crimes that made it a sacred duty of every sensible, free-thinking and conscientious individual there to come forward and help the forces that sought to destroy this abominable ghoul or at least put it in chains so as not to let it ever again harass and oppress the people besides harming the cause of religion by misrepresenting it and making others feel as if religion contained nothing but falsehood and untruth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But what about us, we who live in the Islamic East? Why should we separate science from religion or hold that the two are at variance and war with each other? Is there even a single scientific fact which has been found to contradict Islam and its basic creed? Were scientists ever subjected to persecution in the domain of Islam? The whole history of Islam is before us. It testifies that there have been great doctors, astronomers, mathematicians, physicists as well as chemists but never were they persecuted for their views. There is no trace of conflict between science and their religious beliefs to be found in the minds of these great Muslim scientists. Nor did there exist any hostilities between them and the ruling authorities such as might have led to their suffering or burning alive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is it then that makes these “educated” people plead for separation of religion from science, for attacking Islam and finding faults with it without any understanding or knowledge of it? Their feverish crying is nothing but a symptom of the poison that had been administered to them by the imperialists, of course, without their knowing it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This class of the “educated” elite was not at all in my mind when I wrote this book. They would never return to what is right until their masters in the West also do towards it after despairing of their godless materialistic civilization and recognize that it can bring no salvation, and so return to a system of life that is at once spiritual as well as practical – a system embracing belief no less than life at once and at the same time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I had rather another class before me in writing this book – the sincere and enlightened youth, who earnestly wish to find out the reality, the truth, but the doubts and lies spread about Islam by the deceitful imperialistic powers leave them helpless to see the light, or the answer to those lies, and so they are left groping about in darkness, for the slaves of imperialism and the devils of communism would not let them march out to the right path – the path to freedom, honor and sublimity. It is to this enlightened and sincere group of young men that I present this book and hope that it may please God to help me dispel doubts about Islam from their minds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.salaattime.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 25 November 2010 jam 16:37</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/2647068183445365231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/islam-misunderstood-religion.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/2647068183445365231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/2647068183445365231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/islam-misunderstood-religion.html' title='Islam the Misunderstood Religion'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-6905771836491408788</id><published>2010-11-24T08:07:00.002+07:00</published><updated>2010-11-24T08:13:04.915+07:00</updated><title type='text'>The Land of the Pure and True - Muslims in China Feature</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Muslim China boasts a population of 20 million. From the Hui to the Uyghurs, Islam in China is distinctive and diverse - intertwining authentic Chinese culture, with Islamic practice.&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ethar El-Katatney&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;I get into a rickshaw in Beijing and my 65 year old wrinkled driver immediately whizzes me through the hutongs - old, narrow alleyways. He looks at me and talks in Chinese. I turn to my guide. “He’s asking where you are from.” “Aygee,” I reply in my broken Chinese - Egypt. He points at my headscarf, “Are you Hindu?” “No, Muslim.” He smiles and points to himself, “Moosleeman.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For many people it comes as a shock to learn that officially there are at least 20 million Muslims in China, that’s a third of the UK’s total population. Unofficially, the number is even higher, some saying 65.3m and even 100m Muslims in China – up to 7.5% of the population.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regardless of the real figure, the reality is that Islam in China is almost as old as the revelation of Islam to the Prophet Muhammad. Twenty years after the Prophet’s death, diplomatic relations were established in China by the Caliph Uthman. Trade was followed by settlement, until eighty years after the hijrah pagoda style mosques appeared in China. A century later, in 755, it became common for Chinese emperors to employ Muslim soldiers in their armies and also as government officials.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today, the population of China includes 56 ethnic groups, 10 of which are Muslim. Out of these 10 minority groups, the Hui (short for Huizhou) are the largest group at 9.8m, making up 48% of China’s Muslim population. The second largest group is the Uyghurs at 8.4m, or 41% of the Chinese Muslim population. The Hui speak Chinese, unlike the Uyghurs and five other Muslim ethnic groups which speak Turkic languages. Overwhelmingly Sunni in belief and practice, the Hui are ethnically and culturally Chinese, virtually indistinguishable from the Han, who make up China’s billion-strong community. If my rickshaw driver hadn’t told me he was Muslim, I would have never guessed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For over a millennium, and across five major imperial dynasties the Hui have lived in China peacefully, spread in every province and contributing to every aspect of Chinese life, from the military and the economy to the arts and sciences. Thriving in a non-Muslim civilisation, the Hui managed to create an indigenous Islamic culture that is uniquely and simultaneously Chinese and Muslim. Their experience, as Dru Gladney, author of Dislocating China puts it, is a “standing refutation of Samuel Huntington’s clash of civilisations.” No identity crisis whatsoever.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;1,400 years of History&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Muslims in China began as traders and soldiers in the seventh century, therefore instilling in the early Muslim settlers a sense of belonging and legitimacy; they were not a burden on the country, but valuable contributors. It was only in the thirteenth century however, after the Mongols conquered China, that these Muslims who were classified as ‘foreign guests’ were allowed to live wherever they chose and granted citizenship. This started the development of a fully indigenous Chinese Muslim culture. The Mongols, a minority themselves, encouraged Muslim migration to China, and forcibly relocated millions of Muslim immigrants, employing them as government officials and dispersing them throughout China. In the Ming dynasty Hui became the standard title for Chinese Muslims, and they flourished.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Centuries later, during the Manchurian (Qing) dynasty in 1780, communal violence between the Han and Hui began, and continued for 150 years. It began with the Manchurian’s discriminatory policies towards the Muslims: forbidding them from building mosques or slaughtering animals, paradoxically at a time when then Hui had become an integral part of Chinese culture. One of the worst bloodbaths took place between 1862 and 1878 in the province of Gansu, where the population of 15m was slaughtered to one million, two-thirds of which were Hui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The Manchurian dynasty was overthrown in 1912, although violence against the Hui continued until 1930. But then less than 20 years later, communist party Chairman Mao Zedong established the People’s Republic of China, a Marxist state that was antagonistic to all religions. The Hui, with other religious minorities, were prosecuted, killed, and had their places of worship destroyed. It was only after Mao’s death that things started to settle down. Realising the economic potential of the Hui, the government sought to make amends and offered them special accommodations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Imam Ali Noor-Elhuda, Chairman of the Islamic Association in Beijing, and Imam of the gorgeous 1,000-year-old Niujie mosque tells me, “The government is no longer repressing faith and allows everyone to practice their religion. It emphasises respect to everyone. And although in our history there was fighting with the Han, it is mostly peaceful now. And for the most part there is no ideological conflict between Muslims; we believe in one God and one Book. The differences are only in language, food and tradition.” Although Chinese Muslims are currently disfranchised from political involvement (the Chinese communist party only admits atheists, I’m told by some students), the political stability of modern China is hopefully a good omen for the future of the Hui.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Harmony&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam began in an Arab region. On the surface, it seemed to be at complete odds with Chinese traditions and Confucianism, which at the time was the official religion of China. The ancient Chinese people saw their civilisation as the epitome of human development, and had Islam been presented as an alien faith, they would have rejected it completely and seen it as unworthy, with no place in their world. Islam in China would have become isolated, and perhaps as fleeting as Christianity was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “But this was unacceptable,” says the Imam of the Grand Mosque of Xian, the first mosque to be built in China almost 1,400 years ago. Sitting in front of him, trying not to gawp at the incredible architecture surrounding me, I ask him why. “Chinese Muslims love their country and its people. We are Chinese. We cannot not be part of China. There is even a hadith that says, ‘Love of your country is part of faith.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Hui scholars therefore searched to find the common ground between Islam and the main faiths of China: Confucianism, Daoism (Taoism), and Buddhism. They became experts in Islamic and Chinese texts, traditions and practices, and without their efforts Chinese Muslim culture would have remained alien and foreign, isolated and far removed from the community.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    In Western discourse, Dr. Umar Abd-Allah of the Nawawi Foundation tells me, many scholars argue that in order to integrate into the country, Chinese Islam Sinicised, which means orthodox Islamic faith and practice was made Chinese. The most evident example of how Chinese Muslims created their own unique forms of cultural expressions are their mosques, of which 45,000 exist in China. Stunningly beautiful, the mosques are quintessentially both Chinese and Muslim. My first sight of a Chinese mosque literally took my breath away. On the outside, they are built in traditional Chinese style, with pagoda-like roofs, Chinese calligraphy and Chinese archways. On the inside, however the Islamic influences are crystal clear: beautiful Chinese Arabic calligraphy, an octagonal minaret, a mihrab, a Chinese Imam lecturing in Mandarin and making supplication in perfect Arabic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Examples of the fusion of Chinese and Islamic traditions are everywhere. In Xian, where an estimated 90,000 Muslims live, whilst wandering through a noisy souvenir market I came across traditional wall hangings with Arabic hadith written in calligraphy; porcelain tea sets with Qur’anic verses inscribed on them; popular red amulets with an attribute of Allah at the center rather than the traditional Chinese zodiac animal; rosaries with a name of Allah printed on each bead in Chinese characters; Qur’ans printed in both Chinese and Arabic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When it comes to language, rather than transliterate Arabic terms into words that might be mispronounced and misunderstood - since the Chinese writing system is not phonetic - the early Hui scholars decided to choose words that best reflected the meaning of the Arabic terms, and at the same time were meaningful in Chinese tradition. Their purpose in doing this was twofold: they showed the Chinese community that they respected, believed and honoured the Chinese tradition, and that Islamic concepts, which in Arabic might have seemed inconceivable, were not only relatable, but similar. The Qur’an, for example, was referred to as the Classic: the sacred books of China were called the Classics, and as such the Qur’an was psychologically put in the same category. Islam was translated as Qing Zhen Jiao, “The religion of the Pure and the Real”. At the great Mosque of Xian, Chinese characters proclaim, “May the religion of the Pure and the Real spread wisdom throughout the land.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haroun Khanmir, a 24-year-old Islamic Studies student at the Xiguian mosque in Lingxia, has studied Arabic for four years. “Being fluent in Chinese and Arabic allows me to appreciate the brilliance of the terms chosen. They have so many nuances that instantly explain the true essence of Islam using main Chinese values.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When comparing Islamic and Chinese traditions, the Hui scholars searched for common ground, coming up with five main principles that both traditions shared. And although they were clear about where Islamic belief deviated from Chinese thought, they did not set out to reject Chinese tradition and prove why it was wrong. Instead, they showed how Islam added to it. By not painting Islamic and Chinese tradition in binary opposition where belief in the former meant rejection of the latter, they avoided distressing Muslims who were very much Chinese.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I consider myself 100% Chinese,” says a smiling 18 year old Ahmed Dong, dressed in a white thobe and turban. “And I don’t see why, even with different politics and languages and beliefs, we can’t be so; we share the same language, customs, and culture. Our country is so diverse, and yet unity is a value we all wish to have, rather than living separately.” One of the hundreds of students at the Xiguian mosque who come from a number of different ethnic backgrounds and study Qur’an, hadith, Arabic, English, as well as computer skills, Dong hopes to continue his studies in an Arabic country, and then come back and do da’wa in China, raising awareness of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Today&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thirty four years after the Cultural Revolution, Muslims – and indeed, followers of other religions – are in a much better position. Islamic associations, schools and colleges are being created, mosques are being built, and there is a small but visible Islamic revival. After years of repression, Chinese Muslims are flourishing, organising inter-ethnic activities amongst themselves and international activities with Muslims abroad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China’s one-child policy applies to the Hui, even though minority groups are allowed to have two or even three children, simply because the Hui’s numbers are so substantial. The majority of the other Chinese Muslim minority groups, however, are allowed to have two children, and Chinese Muslim numbers are increasing. “There is also a very small number of converts,” says the Imam of the Xiguian mosque after a heartfelt du’a under the shade of a 500 year old tree, the only original thing left in the mosque complex which was destroyed during the Cultural Revolution. “But what is more interesting is that many people who would not admit to being Muslims before out of fear of harming their livelihoods, like doctors, are now openly saying they are Muslims.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depending on the city you are in, the practice of Islam is different. In rural areas such as Little Mecca, where Muslims make up almost 60% of the population, Islam is evident in the number of mosques, halal restaurants and women in headscarves. It felt wonderful and yet so strange to walk and hear a dozen assalamu alaikums; to hear the adhan. In cosmopolitan cities like Beijing, however, as in every country of the world, globalisation and consumerism affects spirituality. Abdul Rahman Haroun, Imam of the 300-year old Nan Dou Mosque, one of Beijing’s 72 mosques, elaborates: “Here in the big cities Muslims have to conform to the dress code. Women do not wear headscarves because they are inconvenient and would be incomprehensible. In the southwestern parts of China it is different.” Deea’ El Din, Imam at the 85 year old mosque in Shanghai smiles when I tell him I am from Egypt, and says that the years he spent at Al-Azhar university in Cairo were some of the best in his life. “Unfortunately, the environment here is not conducive to being religious, and most mosque-goers are older men and women.” He excuses himself to call the adhan for maghrib, and leads us in prayers; there were only half a dozen Chinese worshippers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim minorities around the world have much to learn from the experience of the Hui in China, even though many Muslim minorities today in the West have a millennium long history of contributing to their country. By delving deep into the heart of Islamic beliefs and becoming just as knowledgeable of Chinese beliefs, the Hui scholars found common ground with faiths and traditions that on the surface seemed very different to Islam - but they found the human values that bind us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Islamic scholars of today have to do the same with Western traditions, which are much more similar to Islam than Chinese traditions: they share the same Abrahamic values and beliefs, and the two civilisations have histories that were often intertwined.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    There are 10 Muslim minority groups in China, but never in the history of the world has there ever been such an ethnically diverse group of Muslims in non-Muslim countries as there are in the world today. From the example of China we learn the importance of cross-cultural communication.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Hui experience also demonstrates that it is very possible that Muslims can live in harmony with very different civilisations, and at the same time create a viable and unique indigenous culture. The fusion of things Chinese and Islamic is unparalleled, whether it is in thought or cultural expression. By expressing their spirituality through architecture, works of literature, calligraphy and more, the Hui demonstrate to all minority Muslim groups that creating an authentic and genuine culture that is both Muslim and indigenous is not only possible, but beautiful. My fondest memory of the entire trip is reading Qur’an in a Chinese mosque, only to have an old Chinese woman, dressed all in white sit next to me, smile hugely and point at the Qur’an. I look at her askance, and she starts pointing to the letters and at me. I start reading from surah Ya Sin and she reads with me. And for the next fifteen minutes we read together. Islam is truly a universal religion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.emel.com/article?id=77&amp;a_id=2139&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 24 November 2010 jam 8:06</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/6905771836491408788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/land-of-pure-and-true-muslims-in-china.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6905771836491408788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6905771836491408788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/land-of-pure-and-true-muslims-in-china.html' title='The Land of the Pure and True - Muslims in China Feature'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-924690057363357099</id><published>2010-11-23T04:10:00.001+07:00</published><updated>2010-11-23T04:24:45.102+07:00</updated><title type='text'>How to Convert to Islam and Become a Muslim</title><content type='html'>The word “Muslim” means one who submits to the will of God, regardless of their race, nationality or ethnic background. Becoming a Muslim is a simple and easy process that requires no pre-requisites. One may convert alone in privacy, or he/she may do so in the presence of others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If anyone has a real desire to be a Muslim and has full conviction and strong belief that Islam is the true religion of God, then, all one needs to do is pronounce the “Shahada”, the testimony of faith, without further delay. The “Shahada” is the first and most important of the five pillars of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the pronunciation of this testimony, or “Shahada”, with sincere belief and conviction, one enters the fold of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upon entering the fold of Islam purely for the Pleasure of God, all of one’s previous sins are forgiven, and one starts a new life of piety and righteousness. The Prophet said to a person who had placed the condition upon the Prophet in accepting Islam that God would forgive his sins:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Do you not know that accepting Islam destroys all sins which come before it?” (Saheeh Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When one accepts Islam, they in essence repent from the ways and beliefs of their previous life. One need not be overburdened by sins committed before their acceptance. The person’s record is clean, and it is as if he was just born from his mother’s womb. One should try as much as possible to keep his records clean and strive to do as many good deeds as possible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Holy Quran and Hadeeth (prophetic sayings) both stress the importance of following Islam. God states:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...The only religion in the sight of God is Islam...” (Quran 3:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In another verse of the Holy Quran, God states:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire).” (Quran 3:85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In another saying, Muhammad, the Prophet of God, said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Whoever testifies that there in none worthy of being worshipped but God, Who has no partner, and that Muhammad is His slave and Prophet, and that Jesus is the Slave of God, His Prophet, and His word[1] which He bestowed in Mary and a spirit created from Him; and that Paradise (Heaven) is true, and that the Hellfire is true, God will eventually admit him into Paradise, according to his deeds.” (Saheeh Al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Prophet of God, may the blessing and mercy of God be upon him, also reported:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indeed God has forbidden to reside eternally in Hell the person who says: “I testify that none has the right to worship except Allah (God),’ seeking thereby the Face of God.” (Saheeh Al-Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;The Declaration of the Testimony (Shahada)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;To convert to Islam and become a Muslim a person needs to pronounce the below testimony with conviction and understanding its meaning:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I testify “La ilah illa Allah, Muhammad rasool Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The translation of which is:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I testify that there is no true god (deity) but God (Allah), and that Muhammad is a Messenger (Prophet) of God.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To hear it click here or click on “Live Help” above for assistance by chat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When someone pronounces the testimony with conviction, then he/she has become a Muslim.  It can be done alone, but it is much better to be done with an adviser through the “Live Help” at top, so we may help you in pronouncing it right and to provide you with important resources for new Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first part of the testimony consists of the most important truth that God revealed to mankind: that there is nothing divine or worthy of being worshipped except for Almighty God. God states in the Holy Quran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We did not send the Messenger before you without revealing to him: ‘none has the right to be worshipped except I, therefore worship Me.’” (Quran 21:25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This conveys that all forms of worship, whether it be praying, fasting, invoking, seeking refuge in, and offering an animal as sacrifice, must be directed to God and to God alone. Directing any form of worship to other than God (whether it be an angel, a messenger, Jesus, Muhammad, a saint, an idol, the sun, the moon, a tree) is seen as a contradiction to the fundamental message of Islam, and it is an unforgivable sin unless it is repented from before one dies. All forms of worship must be directed to God only.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Worship means the performance of deeds and sayings that please God, things which He commanded or encouraged to be performed, either by direct textual proof or by analogy. Thus, worship is not restricted to the implementation of the five pillars of Islam, but also includes every aspect of life. Providing food for one’s family, and saying something pleasant to cheer a person up are also considered acts of worship, if such is done with the intention of pleasing God. This means that, to be accepted, all acts of worship must be carried out sincerely for the Sake of God alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The second part of the testimony means that Prophet Muhammad is the servant and chosen messenger of God. This implies that one obeys and follows the commands of the Prophet. One must believe in what he has said, practice his teachings and avoid what he has forbidden. One must therefore worship God only according to his teaching alone, for all the teachings of the Prophet were in fact revelations and inspirations conveyed to him by God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One must try to mold their lives and character and emulate the Prophet, as he was a living example for humans to follow. God says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“And indeed you are upon a high standard of moral character.” (Quran 68:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God also said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“And in deed you have a good and upright example in the Messenger of God, for those who hope in the meeting of God and the Hereafter, and mentions God much.” (Quran 33:21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He was sent in order to practically implement the Quran, in his saying, deeds, legislation as well as all other facets of life. Aisha, the wife of the Prophet, when asked about the character of the Prophet, replied:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“His character was that of the Quran.” (As-Suyooti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To truly adhere to the second part of the Shahada is to follow his example in all walks of life. God says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Say (O Muhammad to mankind): ‘If you (really) love God, then follow me.’” (Quran 3:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It also means that Muhammad is the Final Prophet and Messenger of God, and that no (true) Prophet can come after him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad is not the father of any man among you but he is the Messenger of God and the last (end) of the Prophets and God is Ever All-Aware of everything.” (Quran 33:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All who claim to be prophets or receive revelation after Muhammad are imposters, and to acknowledge them would be tantamount to disbelief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We welcome you to Islam, congratulate you for your decision, and will try to help you in any way we can.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnotes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] God created him through His statement, “Be!”﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.islamreligion.com/articles/204&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;Islamic Forum pada 23 November 2010 jam 4:20&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 23 November 2010 jam 4:20</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/924690057363357099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/how-to-convert-to-islam-and-become.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/924690057363357099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/924690057363357099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/how-to-convert-to-islam-and-become.html' title='How to Convert to Islam and Become a Muslim'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-7918084021610337723</id><published>2010-11-22T20:06:00.002+07:00</published><updated>2010-11-22T20:17:39.382+07:00</updated><title type='text'>Islam, Culture and Women</title><content type='html'>by &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ruqaiyyah Waris Maqsoodthe&lt;/span&gt; author of over thirty books on Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How can anyone justify Islam&#39;s treatment of women, when it imprisons Afghans under blue shuttlecock burqas and makes Pakistani girls marry strangers against their will?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How can you respect a religion that forces women into polygamous marriages, mutilates their genitals, forbids them to drive cars and subjects them to the humiliation of &quot;instant&quot; divorce? In fact, none of these practices are Islamic at all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyone wishing to understand Islam must first separate the religion from the cultural norms and style of a society. Female genital mutilation is still practised in certain pockets of Africa and Egypt, but viewed as an inconceivable horror by the vast majority of Muslims. Forced marriages may still take place in certain Indian, Pakistani and Bangladeshi communities, but would be anathema to Muslim women from other backgrounds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeed, Islam insists on the free consent of both bride and groom, so such marriages could even be deemed illegal under religious law.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A woman forbidden from driving a car in Riyadh will cheerfully take the wheel when abroad, confident that her country&#39;s bizarre law has nothing to do with Islam. Afghan women educated before the Taliban rule know that banning girls from school is forbidden in Islam, which encourages all Muslims to seek knowledge from cradle to grave, from every source possible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Koran is addressed to all Muslims, and for the most part it does not differentiate between male and female. Man and woman, it says, &quot;were created of a single soul,&quot; and are moral equals in the sight of God. Women have the right to divorce, to inherit property, to conduct business and to have access to knowledge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since women are under all the same obligations and rules of conduct as the men, differences emerge most strongly when it comes to pregnancy, child-bearing and rearing, menstruation and, to a certain extent, clothing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some of the commands are alien to Western tradition. Requirements of ritual purity may seem to restrict a woman&#39;s access to religious life, but are viewed as concessions. During menstruation or postpartum bleeding, she may not pray the ritual salah or touch the Koran and she does not have to fast; nor does she need to fast while pregnant or nursing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The veiling of Muslim women is a more complex issue. Certainly, the Koran requires them to behave and dress modestly - but these strictures apply equally to men. Only one verse refers to the veiling of women, stating that the Prophet&#39;s wives should be behind a hijab when his male guests converse with them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some modernists, however, claim that this does not apply to women in general, and that the language used does not carry the textual stipulation that makes a verse obligatory. In practice, most modern Muslim women appreciate attractive and graceful clothes, but avoid dressing provocatively.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What about polygamy, which the Koran endorses up to the limit of four wives per man? The Prophet, of course, lived at a time when continual warfare produced large numbers of widows, who were left with little or no provision for themselves and their children.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In these circumstances, polygamy was encouraged as an act of charity. Needless to say, the widows were not necessarily sexy young women, but usually mothers of up to six children, who came as part of the deal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polygamy is no longer common, for various good reasons. The Koran states that wives need to be treated fairly and equally - a difficult requirement even for a rich man. Moreover, if a husband wishes to take a second wife, he should not do so if the marriage will be to the detriment of the first.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sexual intimacy outside marriage is forbidden in Islam, including sex before marriage, adultery or homosexual relationships. However, within marriage, sexual intimacy should be raised from the animal level to sadaqah (a form of worship) so that each considers the happiness and satisfaction of the other, rather than mere self-gratification.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contrary to Christianity, Islam does not regard marriages as &quot;made in heaven&quot; or &quot;till death do us part&quot;. They are contracts, with conditions. If either side breaks the conditions, divorce is not only allowed, but usually expected. Nevertheless, a hadith makes it clear that: &quot;Of all the things God has allowed, divorce is the most disliked.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Muslim has a genuine reason for divorce only if a spouse&#39;s behaviour goes against the sunnah of Islam - in other words, if he or she has become cruel, vindictive, abusive, unfaithful, neglectful, selfish, sexually abusive, tyrannical, perverted - and so on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In good Islamic practice, before divorce can be contemplated, all possible efforts should be made to solve a couple&#39;s problems. After an intention to divorce is announced, there is a three-month period during which more attempts are made at reconciliation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If, by the end of each month, the couple have resumed sexual intimacy, the divorce should not proceed. The three-month rule ensures that a woman cannot remarry until three menstrual cycles have passed - so, if she happens to be pregnant, the child will be supported and paternity will not be in dispute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When Muslims die, strict laws govern the shares of property and money they may leave to others; daughters usually inherit less than sons, but this is because the men in a family are supposed to provide for the entire household.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Any money or property owned by women is theirs to keep, and they are not obliged to share it. Similarly, in marriage, a woman&#39;s salary is hers and cannot be appropriated by her husband unless she consents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A good Muslim woman, for her part, should always be trustworthy and kind. She should strive to be cheerful and encouraging towards her husband and family, and keep their home free from anything harmful (haram covers all aspects of harm, including bad behaviour, abuse and forbidden foods).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regardless of her skills or intelligence, she is expected to accept her man as the head of her household - she must, therefore, take care to marry a man she can respect, and whose wishes she can carry out with a clear conscience. However, when a man expects his wife to do anything contrary to the will of God - in other words, any nasty, selfish, dishonest or cruel action - she has the right to refuse him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her husband is not her master; a Muslim woman has only one Master, and that is God. If her husband does not represent God&#39;s will in the home, the marriage contract is broken.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What should one make of the verse in the Koran that allows a man to punish his wife physically? There are important provisos: he may do so only if her ill-will is wrecking the marriage - but then only after he has exhausted all attempts at verbal communication and tried sleeping in a separate bed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, the Prophet never hit a woman, child or old person, and was emphatic that those who did could hardly regard themselves as the best of Muslims. Moreover, he also stated that a man should never hit &quot;one of God&#39;s handmaidens&quot;. Nor, it must be said, should wives beat their husbands or become inveterate nags.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, there is the issue of giving witness. Although the Koran says nothing explicit, other Islamic sources suggest that a woman&#39;s testimony in court is worth only half of that of a man. This ruling, however, should be applied only in circumstances where a woman is uneducated and has led a very restricted life: a woman equally qualified to a man will carry the same weight as a witness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, does Islam oppress women?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While the spirit of Islam is clearly patriarchal, it regards men and women as moral equals. Moreover, although a man is technically the head of the household, Islam encourages matriarchy in the home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Women may not be equal in the manner defined by Western feminists, but their core differences from men are acknowledged, and they have rights of their own that do not apply to men.﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://facebook-islamicforum.blogspot.com/&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 22 November 2010 jam 20:12</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/7918084021610337723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/islam-culture-and-women.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/7918084021610337723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/7918084021610337723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/islam-culture-and-women.html' title='Islam, Culture and Women'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-7123892792294082407</id><published>2010-11-22T01:11:00.001+07:00</published><updated>2010-11-24T17:20:48.375+07:00</updated><title type='text'>Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Semoga dengan hari raya Idul Adha tahun ini hati kita menjadi lebih suci ...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 16 November 2010 jam 4:12</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/7123892792294082407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/selamat-hari-raya-idul-adha-1431-h.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/7123892792294082407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/7123892792294082407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/selamat-hari-raya-idul-adha-1431-h.html' title='Selamat Hari Raya Idul Adha 1431 H'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-580701727790798223</id><published>2010-11-22T00:14:00.000+07:00</published><updated>2010-11-22T00:16:46.441+07:00</updated><title type='text'>Khutbah Idul Adha 1431 H: Membangun Kekuatan Umat</title><content type='html'>– Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Adha yang kita rayakan dari tahun ke tahun selalu memberi makna dan pelajaran yang amat berharga bagi kita, baik secara pribadi dan keluarga maupun sebagai umat dan bangsa. Lebih dari 200.000 jamaah haji kita dari Indonesia bersama dengan sekitar 3 juta jamaah haji dari seluruh dunia selalu kita doakan agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya dan menjadi haji yang mabrur, karena haji yang mabrur pasti memberi pengaruh positif dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Adha tahun ini kita masuki dalam suasana duka bangsa Indonesia yang dilanda oleh berbagai musibah yang datang silih berganti, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi sampai gunung meletus, belum lagi dengan berbagai persoalan kehidupan yang begitu banyak, baik di desa-desa terpencil maupun di perkotaan, satu persoalan belum terpecahkan sudah muncul lagi persoalan berikutnya. Oleh karena itu, mengambil hikmah dari ibadah haji dan qurban serta meneladani kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya menjadi sesuatu yang amat penting. Paling tidak, ada lima kekuatan yang harus kita bangun pada umat kita ini untuk bisa mengatasi persoalan dan membangun kehidupan yang lebih baik pada masa-masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kekuatan aqidah, iman atau tauhid kepada Allah swt. Nabi Ibrahim as telah mencontohkan kepada kita bagaimana aqidah begitu melekat pada jiwanya sehingga ia berlepas diri dari siapa pun dari kemusyrikan, termasuk orang tuanya yang tidak mau bertauhid kepada Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴿٤﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS Al Mumtahanah [60]:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dampak positif dari aqidah yang kuat akan membuat seorang mukmin memiliki prinsip yang tegas dalam setiap keadaan, dia tidak lupa diri pada saat senang, baik senang karena harta, jabatan, popularitas, pengikut yang banyak maupun kekuatan jasmani dan ia pun tidak putus asa pada saat mengalami penderitaan, baik karena sakit, bencana alam, kekurangan harta maupun berbagai ancaman yang tidak menyenangkan, inilah yang membuatnya menjadi manusia yang mengagumkan, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ لَخَيْرٌ وَلَيْسَ ذَالِكَ ِلأَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ِانْ اَصَبَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ اَصَبَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya (HR. Ahmad dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan umat Kedua yang harus kita bangun adalah akhlaq yang mulia. Kondisi akhlaq masyarakat kita sekarang kita akui masih amat memprihatinkan, bila ini terus berlangsung, cepat atau lambat yang lemah dan hancur bukan hanya diri dan keluarga, tapi juga umat dan bangsa. Seorang ulama Mesir yang wafat tahun 1932 M yang bernama Syauqi Bey, menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّماَ الأُمَمُ الأَخْلاَقُ ماَ بَقِيَتْ وَإِنْ هُمُوْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا Suatu bangsa akan kekal selama berakhlaq, bila akhlaq telah lenyap, lenyaplah bangsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu melanjutkan misi Nabi Muhammad saw memperbaiki akhlaq menjadi sesuatu yang amat penting. Profil Nabi Ibrahim dan keluarganya serta dari ibadah haji yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin sekali seumur hidupnya adalah menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan. Kesimpulan ini kita ambil dari larangan melakukan keburukan bagi jamaah haji, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٧﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Musim haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkataan maupun perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS Al Baqarah [2]:197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlaq mulia tercermin dari jawaban Ismail as yang meskipun begitu siap untuk melaksanakan perintah Allah swt berupa penyembelihan dirinya, namun ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar karena generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar, Allah swt menceritakan masalah ini dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS Ash Shaffat [37]:102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kekuatan umat yang harus kita bangun adalah kekuatan ilmu dalam arti umat ini harus menguasai ilmu pengetahuan, bukan mencari ilmu sekadar untuk mendapat gelar kesarjanaan, bahkan yang lebih tragis adalah gelar kesarjanaan sudah disandang, tapi tidak ada ilmu yang dikuasai dan diamalkanya. Oleh karena itu menuntut ilmu tidak hanya diwajibkan, tapi diberi keutamaan yang amat besar dan banyak. Generasi Ibrahim adalah generasi yang cinta akan ilmu, karena itu ia mencarinya, di manapun ilmu itu berada, tanpa ada perasaan puas dalam mendapatkannya, bahkan ilmu yang didapatnya menyatu ke dalam jiwa, sikap dan tingkah lakunya, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ ﴿٤٥﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi (QS Shad [38]:45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, harus kita sadari bahwa amat sedikit ilmu yang kita kuasai, namun yang amat disayangkan adalah begitu banyak orang yang malas menuntut ilmu, apalagi ilmu agama Islam, padahal ajaran Islam harus kita amalkan dan bagaimana mungkin kita akan mengamalkannya bila memahami saja tidak, akibatnya banyak orang yang hanya ikut-ikutan (taklid) dalam beramal, padahal ini  merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ﴿٣٦﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al Isra [17]:36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar 3X Walillahil Hamdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kekuatan umat yang harus kita bangun adalah ukhuwah Islamiyah. Dalam ibadah haji, kaum muslimin dari seluruh dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda bisa bertemu, berkumpul dan beribadah di tempat yang sama, bahkan dengan pakaian yang sama. Ini semua seharusnya sudah cukup untuk memberi pelajaran betapa persaudaraan antar sesama kaum muslimin memang harus kita bangun. Bila ukhuwah Islamiyah terwujud dalam kehidupan kita, maka sebagai umat kita punya kekuatan dan kewibawaan, berbagai persoalan umat bisa dipecahkan, kualitas umat bisa diperbaiki dan ditingkatkan serta musuh-musuh Islam bisa dihadapi, bahkan mereka akan takut melihat kekuatan umat yang luar biasa. Tapi karena ukhuwah umat belum terwujud, maka jadilah umat ini seperti buih di tengah lautan yang terus mengikuti ke mana beriaknya ombak bukan seperti karang yang memecahkan ombak. Karena itu peribadatan dalam Islam pada hakikatnya menyadarkan setiap muslim dan muslimah sebagai bagian dari umat Islam sedunia dan merupakan salah satu anggota masyarakat Islam sedunia yang tidak boleh berlepas diri dari persoalan-persoalan dunia Islam. Begitulah yang kita peroleh dari ibadah shalat, zakat, puasa dan apalagi haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kehidupan kita sekarang, mungkin saja kita berbeda-beda suku dan bangsa, organisasi sosial dan politik, bahkan dalam kelompok-kelompok aliran atau pemahaman keagamaan, tapi semua itu seharusnya tidak membuat kita menjadi begitu fanatik lalu merasa benar sendiri dan menganggap kelompok lain sebagai kelompok yang salah. Harus kita ingat bahwa ukhuwah merupakan bukti keimanan dan bila ini belum kita wujudkan pertanda lemahnya keimanan yang kita miliki, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿١٠﴾&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS Al Hujurat [49]:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan  umat Kelima yang harus kita bangun adalah kekuatan ekonomi, ini pelajaran yang bisa kita ambil dari Nabi Ibrahim as beserta keluarganya yang mau berusaha untuk mencari rizki yang halal, bukan menghalalkan segala cara. Kesulitan hidup tidak bisa dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara dalam mencari harta, apalagi kita memang tidak sesulit generasi terdahulu dalam memperoleh rizki. Keyakinan bahwa Allah punya maksud baik dan rizki di tangan-Nya membuat manusia seharusnya mau berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Siti Hajar berusaha mencari rizki yang dalam rangkaian ibadah haji disebut dengan sa’i. Oleh karena itu Allah swt senang kepada siapa saja yang berusaha secara halal meskipun harus dengan susah payah, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ للهَ تَعَالىَ يُحِبُّ أَنْ  يَرَى تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang halal meskipun sedikit yang diperoleh dan berat memperolehnya merupakan sesuatu yang lebih baik daripada banyak dan mudah mendapatkannya, tapi cara memperolehnya adalah dengan mengemis yang hanya akan menjatuhkan martabat pribadi. Bila mengemis saja sudah tidak terhormat apalagi bila mencuri atau korupsi dan cara-cara yang tidak halal lainnya. Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َلأَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ حَبْلاً فَيَحْتَطِبَ بِهِ، ثُمَّ يَجِيْءَ فَيَضَعَهُ فِى السُّوْقِ، فَيَبِيْعَهُ ثُمَّ يَسْتَغْنِىَبِهِ، فَيُنْفِقُهُ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، اَعْطَوْهُ اَوْمَنَعُوْهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik daripada seorang yang meminta minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah khutbah ied kita pada pagi ini, semoga memotivasi kita untuk terus berjuang dengan penuh kesungguhan guna memperbaiki diri, keluarga, umat dan bangsa. Akhirnya marilah kita tutup dengan do’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرً وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah haji mereka haji yang mabrur, sa’i yang disyukuri, dosa yang diampuni, perniagaan yang tidak merugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Drs. Ahmad Yani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; · 16 November 2010</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/580701727790798223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/khutbah-idul-adha-1431-h-membangun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/580701727790798223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/580701727790798223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/khutbah-idul-adha-1431-h-membangun.html' title='Khutbah Idul Adha 1431 H: Membangun Kekuatan Umat'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-1223769619720411409</id><published>2010-11-22T00:10:00.000+07:00</published><updated>2010-11-22T00:13:25.848+07:00</updated><title type='text'>Siapakah yang Harus Diikuti dalam Puasa Arofah?</title><content type='html'>Permasalahan ini sering muncul dari berbagai pihak ketika menghadapi hari Arofah. Ketika para jama’ah haji sudah wukuf tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia, padahal di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijah, mana yang harus diikuti dalam puasa Arofah? Apakah ikut waktu jama’ah haji wukuf atau ikut penanggalan Hijriyah di negeri ini sehingga puasa Arofah tidak berpapasan dengan wukuf di Arofah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mendapat pertanyaan sebagai berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا اختلف يوم عرفة نتيجة لاختلاف المناطق المختلفة في مطالع الهلال فهل نصوم تبع رؤية البلد التي نحن فيها أم نصوم تبع رؤية الحرمين؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arofah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh rahimahullah menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا يبنى على اختلاف أهل العلم: هل الهلال واحدفي الدنيا كلها أم هو يختلف باختلاف المطالع؟ والصواب أنه يختلف باختلاف المطالع، فمثلاً إذا كان الهلال قد رؤي بمكة، وكان هذا اليوم هو اليوم التاسع، ورؤي في بلد آخر قبل مكة بيوم وكان يوم عرفة عندهم اليوم العاشر فإنه لا يجوز لهم أن يصوموا هذا اليوم لأنه يوم عيد، وكذلك لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة، هذا هو القول الراجح، لأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: «إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا» وهؤلاء الذين لم يُر في جهتهم لم يكونوا يرونه، وكما أن الناس بالإجماع يعتبرون طلوع الفجر وغروب الشمس في كل منطقة بحسبها، فكذلك التوقيت الشهري يكون كالتوقيت اليومي.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permasalahan ini adalah derivat dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya di Mekkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arofah pada hari ini karena hari ini adalah hari Iedul Adha di negara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya.” (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing).” [1] –Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah-. Namun kami menghargai pendapat yang berbeda dengan penjelasan Syaikh di atas. Hendaklah kita bisa menghargai pendapat ulama yang masih ada ruang ijtihad di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/47-48, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 14 November 2010 jam 23:16</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/1223769619720411409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/siapakah-yang-harus-diikuti-dalam-puasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1223769619720411409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1223769619720411409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/siapakah-yang-harus-diikuti-dalam-puasa.html' title='Siapakah yang Harus Diikuti dalam Puasa Arofah?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-5491600299297848540</id><published>2010-11-22T00:08:00.001+07:00</published><updated>2010-11-24T17:24:18.926+07:00</updated><title type='text'>Akankah Amalku Diterima?</title><content type='html'>Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah Allah Subhanahuwata’ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata’ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman di dalam Al Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Diterima Amal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahuwata’ala berfirman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala adalah benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahuwata’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahuwata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari http://www.asysyariah.com/ Penulis: al Ustadz Abdurrahman Lombok, judul asli Akankah Amalku Diterima ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 12 November 2010 jam 10:05</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/5491600299297848540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/akankah-amalku-diterima.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/5491600299297848540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/5491600299297848540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/akankah-amalku-diterima.html' title='Akankah Amalku Diterima?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-1053483646968933191</id><published>2010-11-21T23:58:00.001+07:00</published><updated>2010-11-22T00:07:33.078+07:00</updated><title type='text'>Ibadah Haji, Keinginan Setiap Muslim</title><content type='html'>وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): &quot;Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu kaharamannya, maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta&quot;. [Al Hajj : 26-30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat-ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala menyebutkan keagungan dan kemuliaan al Bait al Haram (rumah yang suci, Ka’bah), juga kemuliaan orang yang membangunnya, yaitu khalilur rahman (Nabi Ibrahim Alaihisallam) [1]. Sebagaimana dalam ayat-ayat ini pula, terdapat celaan terhadap orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta&#39;al. Demikian pula celaan terhadap orang-orang yang berbuat syirik dari kaum Quraisy, yang justru mereka berbuat kufur dan syirik di tempat yang pertama kali diserukan tauhidullah (pengesaan Allah) dan pengkhususan ibadah hnaya untuk Allah saja tanpa ada kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pun menyebutkan dalam kitabNya yang mulia ini, bahwa Dia telah menempatkan Ibrahim Alaihissallam di sebuah tempat, yaitu Baitullah. Maksudnya adalah membimbingnya dan menyerahkan kepadanya, serta mengizinkannya untuk membangunnya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat pertama dari kelima ayat di atas mengandung makna, bahwa Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala telah memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihissallam dan anaknya, yaitu Nabi Ismail Alaihissallam [3] agar membangun Ka’bah [4] atas namaNya Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya dan menyucikannya dari kesyirikan-kesyirikan [5], yang (tujuannya) diperuntukkan bagi orang orang yang thawaf mengelilinginya, yang tinggal padanya [6], dan shalat dengan menghadap kepadanya dari kalangan orang-orang senantiasa melakukan ruku’ dan sujud.[7]. Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&quot;Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji&quot;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala memerintahkan agar Nabi Ibrahim Aliahissallam menyerukan kepada segenap manusia di seluruh penjuru bumi, agar manusia melakukan ibadah haji dengan menuju Baitullah (Ka’bah) yang sebelumnya Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangunnya.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh)., mengandung janji Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala kepada Nabi Ibrahim Alaihissallam, bahwa segenap manusia dari segala penjuru dunia akan datang berhaji menuju Baitullah, mereka berjalan kaki ataupun berkendaraan. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun firmanNya يَأْتُوكَ (mendatangimu), walaupun kenyataannya mereka mendatangi Ka’bah, akan tetapi karena yang diperintah untuk menyerukannya adalah Ibrahim Alaihissallam, maka seolah-olah orang yang mendatangi Ka’bah untuk melakukan ibadah haji telah mendatangi Nabi Ibrahim Alaihissallam, karena ia telah menyambut seruannya tersebut. Ayat ini juga mengandung unsur pemuliaan terhadap Nabi Ibrahim Alaihissallam.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: &quot;Ayat ini seperti ayat lainnya ketika Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala menceritakan perihal NabiNya, (yaitu) Ibrahim Alaihissallam, tatkala ia berkata di dalam doanya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka – Ibrahim ayat 37), maka tak ada satu orang Islam pun melainkan ia benar-benar ingin dan rindu melihat Ka’bah dan thawaf mengelilinginya. Oleh karena itu, seluruh manusia (umat Islam) mendatanginya dari segala arah dan penjuru dunia.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ayat berikutnya, Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala menyebutkan beberapa manfaat dari berkunjung ke Baitullah al Haram, baik yang bersifat diniyah ataupun duniawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat-manfaat diniyah ialah, seperti dapat mengerjakan ibadah-ibadah yang utama di tempat tersebut[12] sehingga meraih keridhaanNya [13]. Adapun manfaat-manfaat duniawiyah, seperti memperoleh daging-daging hewan kurban dan keuntungan-keuntungan dari hasil berniaga atau yang semisalnya [14]. Kedua jenis manfaat ini dapat diraih sekaligus agar kaum muslimin bersyukur kepadaNya dengan berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala ketika mereka menyembelih hewan kurban yang telah Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala karuniakan kepada mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#39;alapun memerintahkan setelahnya, agar sebagian sembelihan tersebut dimakan oleh mereka yang berkurban, dan sebagian yang lain diberikan kepada para fakir miskin [15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala memerintahkan agar kaum muslimin menunaikan seluruh manasik haji dan menghilangkan segala kotoran yang ada pada tubuh mereka dengan cara mencukur rambut kepala, memotong kuku, dan kembali mengenakan pakaian mereka. Semua ini sebagai tanda bahwa ihram mereka telah usai. Kemudian menunaikan nadzar-nadzar mereka [16] dan akhirnya dengan melakukan thawaf [17]. Pada ayat ini, terkandung perintah Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala agar kaum muslimin melakukan thawaf (secara tersendiri, padahal thawaf juga termasuk paket manasik haji) karena keutamaannya. Disamping itu, seluruh manasik haji adalah washilah (perantara) menuju thawaf ini. Mungkin juga, karena ada sebab lainnya, yaitu thawaf disyariatkan di setiap waktu dan kesempatan, dilakukan pada saat haji ataupun waktu lainnya [18].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ayat terakhir dari lima ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala menegaskan kembali bahwa semua itu merupakan perintah Allah, agar kaum muslimin menunaikan seluruh ibadah manasik haji sebagai perwujudan taat kepadaNya, pengagungan dan penghormatan terhadap hurumatillah [19]. Dan karena hal-hal ini sangat dicintai Allah, maka semuanya itu merupakan kebaikan di dunia dan akhirat bagi yang melakukannya, sehingga AllahSubhanahu wa Ta&#39;alal menyediakan pahala yang sangat agung dari sisiNya bagi yang menunaikannya [20].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu kaharamannya), maksudnya adalah, telah dihalalkan seluruh hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing. Kecuali yang telah diharamkan dari hewan-hewan tersebut, sebagaimana yang telah diterangkan di dalam Al Qur`an [21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu), maksudnya ialah, diwajibkan atas setiap muslim untuk menjauhi peribadatan terhadap berhala-berhala. Dan berhala-berhala dalam ayat ini disifati dengan najis, karena berhala merupakan salah satu jenis najis yang terbesar, yang menyebabkan pelakunya kekal dengan adzab di dalam neraka, karena ia telah berbuat syirik besar -wal ‘iyadzubillah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun maksud dari najis di sini ialah, najis secara hukum (maknawi), bukan najis secara dzati (konkrit, nyata). Sehingga najis di sini adalah sifat syar’i yang berhubungan dengan hukum-hukum iman, yang tidak mungkin dihilangkan kecuali dengan iman, sebagaimana (orang yang) bersuci dengan menggunakan air [21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan firman ini, ada sebuah hadits dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu &#39;anhu, beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَفِيْ عُنُقِيْ صَلِيْبٌ مِنْ ذَهَبٍ, فَقَالَ: ((ياَ عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذاَ الْوَثَنَ)), وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِيْ سُوْرَةِ بَرَاءَة: اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُوْنِ اللهِ , قاَلَ: ((أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُوْنُوْا يَعْبُدُوْنَهُمْ, وَلَكِنَّهُمْ كَانُوْا إذَا أَحَلُّوْا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوْهُ, وَإذَا حَرَّمُوْا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوْهُ)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku mendatangi Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat salib (yang terbuat) dari emas, (lantas) beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai ‘Adi, buanglah darimu watsan ini!’. (Lalu) aku mendengar beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam membacakan ayat dalam surat Bara’ah: اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُوْنِ اللهِ (Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah – QS Bara’ah / At Taubah ayat 31), beliau bersabda: ‘Ketahuilah sesungguhnya mereka tidak menyembahnya, akan tetapi apabila mereka (orang-orang alim dan rahib-rahib mereka) menghalalkan sesuatu, merekapun (ikut) menghalalkannya, dan apabila mereka mengharamkan sesuatu, merekapun (ikut) mengharamkannya&quot;. [23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firmanNya dalam ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(… dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta), maksudnya ialah, menjauhi seluruh kata-kata yang diharamkan, baik berupa kata-kata dusta, batil, ataupun persaksian dusta [24].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan dari firman yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala telah menghubungkannya dengan berhala (kesyirikan), yang menunjukkan betapa besar dosa berkata-kata atau bersaksi dusta [24].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits Abu Bakrah Radhiyallahu &#39;anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟)) ثَلاَثاً, قاَلُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ, قاَلَ: ((الإشْرَاكُ بِاللهِ, وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ)), وَجَلَسَ, وَكَانَ مُتَّكِئاً, فَقَالَ: ((أَلاَ وَقَوْلَ الزُّوْرِ)), قَالَ: فَماَ زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىَّ قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” Beliau mengatakannya tiga kali. Para sahabat menjawab.”Tentu, wahai Rasulullah,” Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda,”Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada orangtua.” Kemudian beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam duduk bersandar, dan kembali bersabda: “Waspadalah dari berkata dusta”. Abu Bakrah berkata,”Dan beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam terus mengulang-ulangnya, sampai-sampai kami berkata, seandainya beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam diam&quot;. [25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tafsir singkat lima ayat dari surat Al Hajj yang mulia ini. Adapun untuk mengetahui secara luas pembahasan haji dan seluruh hukum-hukum syariat yang berkenaan dengannya, kami menyarankan agar membaca kitab-kitab tafsir ataupun kitab-kitab yang membahas secara khusus masalah ibadah haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam, wa akhiru da’waana ‘anil hamdulillahi rabbil ‘aalamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ dan Mashadir: 1. Shahih al Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al Bugha, Dar Ibni Katsir, Al Yamamah, Beirut, Cet. III, Th. 1407 H/1987 M. 2. Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar Ihya at Turats, Beirut, tanpa cetakan dan tahun. 3. Tafsir ath Thabari, tahqiq Mahmud Syakir, Dar Ihya at Turats, Beirut, Cet I, Th. 1421H/ 2001M. 4. Tafsir al Qurthubi (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an), Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, tahqiq Abdur Razzaq al Mahdi, Dar al Kitab al ‘Arabi, Cet II, Th. 1421 H/1999 M. 5. Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Sami bin Muhammad aS Salamah, Dar ath Thayyibah, Cet I, Th. 1422H/2002M. 6. Fathul Bari, Ibnu Hajar al Asqalani (773-852 H), tahqiq Muhibbuddin al Khatib, Dar al Ma’rifah, Beirut. 7. Taisir Karim ar Rahman fi Tafsiri Kalami al Mannan, Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, tahqiq Abdurrahman bin Mu’alla al Luwaihiq, Dar as Salam, Cet I, Th. 1422 H/2001 M. 8. Adhwaul Bayan, Muhammad al Amin asy Syinqithi (1393H), tahqiq Maktab ad Durus wa ad Dirasat, Dar al Fikr, Beirut, Cet. 1415 H/ 1995M. 9. Shahih Sunan at Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote &lt;br /&gt;[1]. Taisir al Karim ar Rahman (2/132). [2]. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/413). [3]. al Baqarah ayat 125. Lihat Adhwa’ al Bayan (4/297). [4]. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah yang pertama kali membangun Ka’bah. Apakah Ka’bah sudah ada sebelum masa Nabi Ibrahim ataukah belum? Al Hafizh Ibnu Katsir membawakan perkataan mereka dalam tafsirnya pada surat al Baqarah ayat 125-128 (1/437-440 dan 5/413). Demikian halnya Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6/408-409). Dan kesimpulan dari seluruh perkataan ulama tersebut mungkin bisa kita ambil dari perkataan Syaikh Muhammad al Amin asy Syinqithi di dalam tafsirnya Adhwa’ al Bayan (4/296): “Maksud utama yang ditunjukkan oleh (ayat) al Qur`an ini ialah, Allah l telah menempatkan Nabi Ibrahim Alaihissallam dengan membimbingnya dan memperkenalkannya (kembali) kepadanya, agar ia membangunnya di tempatnya. (Walaupun) sementara ada sebagian ulama lainnya yang berpendapat, bahwa orang pertama yang mendirikan Ka’bah adalah Ibrahim Alaihissallam, dan tidak ada orang lain sebelumnya yang mendirikannya. Namun, tekstual perkataannya (Ibrahim Alaihissallam) ketika ia meninggalkan Ismail dan Hajar di Mekkah seraya berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. - QS Ibrahim : 37), menunjukkan bahwa sesungguhnya Ka’bah sudah (ada dan) pernah dibangun, kemudian hilang berangsur-angsur (karena tertimbun tanah dan akhirnya diketahui kembali), sebagaimana telah ditunjukkan oleh ayat ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَكَانَ الْبَيْتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Di tempat Baitullah – QS Al Hajj ayat 26), karena hal ini menunjukkan bahwa Baitullah telah didahulukan oleh tempat lain sebelumnya yang sudah dikenal, berada di tempat yang sudah dikenal sebelumnya. wallahu a’lam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Yang berupa berhala-berhala dan maksiat-maksiat lain seperti berkata-kata keji, dusta dan yang semakna dengannya. [6]. Baik dengan melakukan shalat ataupun orang-orang yang tinggal bermukim di sekitarnya. [7]. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (1/423-424 dan 5/413), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/132). [8]. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414). [9]. Berupa unta-unta yang kurus. Lihat Adhwa’ al Bayan (4/299) dan Taisir al Karim ar Rahman (2/132). [10]. Lihat Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/38). Syaikh Muhammad al Amin asy Syinqithi dalam tafsirnya menerangkan secara panjang lebar hal-hal yang berkaitan dengan seluruh hukum ibadah haji dan khilaf ulama serta tarjih yang beliau bawakan. Lihat Adhwa’ al Bayan (4/299 sampai 5/110 dan yang setelahnya). [11]. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414). [12]. Seperti thawaf, i’tikaf dan ibadah-ibadah lainnya, yang keutamaannya tidak didapatkan kecuali jika dilakukan di Baitullah. Lihat Taisir al Karim ar Rahman (2/132). [13]. Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414). [14]. Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Demikianlah yang dikatakan oleh Mujahid dan ulama lainnya, bahwa yang dimaksud dengan manfaat di sini adalah manfaat-manfaat di dunia dan akhirat, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu. (Al Baqarah : 198). Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/414), dan Adhwa’ al Bayan (5/111).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15]. Taisir al Karim ar Rahman (2/133). Yang berkaitan dengan firman Allah فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ (pada hari yang telah ditentukan), para ulama pun berselisih pendapat tentangnya. Di antara mereka ada yang berkata, bahwa hari-hari itu adalah sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. Ada pula yang berkata, bahwa hari-hari itu adalah hari ke sepuluh dan tiga hari setelahnya di bulan Dzul Hijjah. Dan masih ada pendapat-pendapat lainnya juga. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/415-416). Namun Syaikh Muhammad al Amin asy Syinqithi mengatakan, bahwa seluruh pendapat ulama yang banyak tersebut tidak ada yang bisa dijadikan dasar dan hujjah, kecuali hanya dua pendapat saja. Pendapat pertama adalah pendapat Imam Malik dan para ulama Kufiyyin (yang berasal dari Kufah), yang mengatakan hari-hari itu adalah hari ‘Idul Adha (hari ke sepuluh di bulan Dzul Hijjah) dan dua hari setelahnya (yaitu hari ke sebelas dan ke dua belas). Pendapat kedua adalah pendapat Imam asy Syafi’i dan para ulama Syamiyyin (yang berasal dari Syam), yang mengatakan, hari-hari itu adalah hari ‘Idul Adha (hari ke sepuluh di bulan Dzul Hijjah) dan tiga hari setelahnya (yaitu hari yang ke sebelas, ke dua belas, dan ke tiga belas). Lihat Adhwa’ al Bayan (5/115-116). [16]. Baik itu nadzar yang berkaitan dengan ibadah haji, ataupun nadzar lainnya secara umun, selama nadzar tersebut bukan maksiat. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/417-418), dan Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/50). [17]. Yaitu thawaf ifadhah yang hukumnya wajib. Imam Ath Thabari berkata: “Tidak ada khilaf di antara ahlul ilmi tentang masalah ini.” Lihat Tafsir ath Thabari (17/179), Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/50), dan Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/417-418)]. [18]. Taisir al Karim ar Rahman (2/133-134). [19]. Dengan cara menjauhi segala perbuatan maksiat dan hal-hal haram lainnya. Juga bisa ditafsirkan segala sesuatu yang memiliki kehormatan di sisi Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala, dan diperintahkan untuk menghormatinya dengan cara beribadah dengannya. Seperti seluruh praktek manasik haji. Maka semua hal ini seseorang tidak boleh meremehkannya, atau bermalas-malasan dalam menunaikannya. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134)]. [20]. Lihat Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134). [21]. Imam ath Thabari berkata di dalam tafsirnya (17/180): “(Maksudnya adalah), Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala telah menghalalkan bagi kalian wahai sekalian muslimin, seluruh hewan-hewan ternak seperti unta dan domba…, kecuali yang telah dibacakan atas kalian dalam kitab Allah, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&quot;Bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (QS Al Maidah : 3), maka semuanya itu adalah najis (haram)&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22]. Lihat Al Jami’ li Ahkam Al Qur`an (12/53), Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134). [23]. HR At Tirmidzi (5/278 no. 3095). Dan dihasankan Syaikh al Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24]. Lihat Al Jami’ li Ahkam al Qur`an (12/54), Tafsir al Qur`an al ‘Azhim (5/419), dan Taisir al Karim ar Rahman (2/134-135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25]. HR Al Bukhari (2/939 no. 2511, 5/2229 no. 5631, 5/2314 no. 5918, 6/2535 no. 6521), Muslim (1/91 no. 87), dan lain-lainnya. Dan dari hadits Anas bin Malik, HR Al Bukhari (5/2230 no. 5632, 6/2519 no. 6477), Muslim (1/92 no. 88), dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Abu Abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 28 Oktober 2010 jam 14:37</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/1053483646968933191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/ibadah-haji-keinginan-setiap-muslim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1053483646968933191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/1053483646968933191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/ibadah-haji-keinginan-setiap-muslim.html' title='Ibadah Haji, Keinginan Setiap Muslim'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-6756308015818537804</id><published>2010-11-21T23:55:00.002+07:00</published><updated>2010-11-24T17:29:45.032+07:00</updated><title type='text'>Nasihat Seputar Gempa Dan Bencana Alam</title><content type='html'>Apa hikmah dibalik dari setiap gempa yang terjadi di atas bumi Allah ini? Berikut adalah nasihat Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, yang kami angkat dari Majmu’ Fatawa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah, IX/148-152. Insya Allah sangat bermanfaat bagi kaum Mukminin dan umat manusia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحابته و من اهتدى بهـداه أما بعد :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Azza wa Jalla Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua syari’at dan semua yang diperintahkan. Allah Azza wa Jalla menciptakan tanda-tanda apa saja yang dikehendakiNya, dan menetapkannya untuk menakuti-nakuti hambaNya. Mengingatkan terhadap kewajiban mereka, yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla. Mengingatkan mereka dari perbuatan syirik dan melanggar perintah serta melakukan yang dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : &quot;Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti&quot;.[al Israa` : 59].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FirmanNya : &quot;Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al Qur`an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu&quot;. [Fushilat : 53].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman : &quot;Katakanlah (Wahai Muhammad) : &quot;Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain&quot;. [al An’am : 65].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu &#39;anhuma, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, dia (Jabir) berkata : &quot;Saat firman Allah Azza wa Jalla قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ turun, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdoa,’Aku berlindung dengan wajahMu,’ lalu beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melanjutkan (membaca) أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ , Rasulullah berdo’a lagi,’Aku berlindung dengan wajahMu&quot;. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Syaikh al Ashbahani dari Mujahid tentang tafsir ayat ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengatakan, yaitu halilintar, hujan batu dan angin topan. (أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ), gempa dan tanah longsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah, gempa yang terjadi pada masa-masa ini di beberapa tempat termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan yang digunakan untuk menakut-nakuti para hambaNya. Semua yang terjadi di alam ini, (yakni) berupa gempa dan peristiwa lain yang menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam penderitaan, disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : &quot;Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)&quot;. [asy Syuura : 30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman : &quot;Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri&quot;. [an Nisaa` : 79].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman : &quot;Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri&quot;. [al Ankabut : 40].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajib bagi setiap kaum Muslimin yang mukallaf dan yang lainnya, agar bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, konsisten di atas din (agama)nya, serta waspada terhadap semua yang dilarang, yaitu berupa perbuatan syirik dan maksiat. Sehingga, mereka selamat dari seluruh bahaya di dunia dan akhirat, serta Allah menolak semua adzab dari mereka, dan menganugerahkan kepada mereka segala jenis kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : &quot;Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya&quot;. [al A’raaf : 96].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Ahli Kitab : &quot;Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka&quot;. [al Maidah : 66].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman : &quot;Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi&quot;. [Al A’raaf : 97-99].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Pada sebagian waktu, Allah Azza wa Jalla memberikan ijin kepada bumi untuk bernafas, lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Dari peristiwa itu, lalu timbul rasa takut pada diri hamba-hamba Allah Azza wa Jalla, rasa taubat dan berhenti dari perbuatan maksiat, tunduk kepada Allah Azza wa Jalla dan penyesalan. Sebagaimana perkataan sebagian ulama Salaf, pasca gempa,’Sesungguhnya Rabb kalian mencela kalian’. Umar bin Khaththab Radhiyallahu &#39;anhu, pasca gempa di Madinah menyampaikan khutbah dan nasihat; beliau Radhiyallahu &#39;anhu mengatakan,’Jika terjadi gempa lagi, saya tidak akan mengijinkan kalian tinggal di Madinah’.” Selesai – perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atsar-atsar dari Salaf tentang hal ini sangat banyak. Maka saat terjadi gempa atau peristiwa lain, seperti gerhana, angin ribut atau banjir, wajib segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, merendahkan diri kepadaNya dan memohon ‘afiyah kepadaNya, memperbanyak dzikir dan istighfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Jika kalian melihat hal itu, maka segeralah berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, berdo’a dan beristighfar kepadaNya&quot;.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan juga menyayangi fakir miskin dan bershadaqah kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ارْحَمُوا تُرْحَمُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihani&quot; [3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Orang yang menebar kasih-sayang akan disayang oleh Dzat Yang Maha Penyayang. Kasihanilah yang di muka bumi, kalian pasti akan dikasihani oleh yang di langit&quot;.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Orang yang tidak memiliki kasih-sayang, pasti tidak akan disayang&quot;. [5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah, bahwa saat terjadi gempa, dia menulis surat kepada pemerintah daerah agar bershadaqah. Diantara faktor terselamatkan dari segala keburukan, yaitu pemerintah segera memegang kendali rakyat dan mengharuskan agar konsisten dengan al haq, menerapkan hukum Allah Azza wa Jalla di tengah-tengah mereka, memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mencegah kemungkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla : &quot;Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma&#39;ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta&#39;at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&quot;. [at Taubah:71].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman : &quot;Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma&#39;ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan&quot;. [al Hajj : 40-41].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman : &quot;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya&quot;. [ath Thalaaq : 2-3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah Azza wa Jalla akan menolongnya&quot; [6]. [Muttafaq ‘alaih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah Azza wa Jalla akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah Azza wa Jalla akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah k akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah Azza wa Jalla akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya [7]. [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits yang semakna ini banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Allah kita memohon agar memperbaiki kondisi kaum Muslimin, memberikan pemahaman agama dan menganugerahkan kekuatan untuk istiqamah, segera bertaubat kepada Allah k dari semua perbuatan dosa. Semoga Allah memperbaiki kondisi para penguasa kaum Muslimin; semoga Allah menolong al haq melalui mereka serta menghinakan kebathilan, membimbing mereka untuk menerapkan syari’at Allah Azza wa Jalla atas para hamba. Dan semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum Muslimin dari fitnah dan jebakan setan yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa untuk hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله على نبينا محمد و آله و صحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;footnote:&lt;br /&gt;[1]. Dikeluarkan Imam al Bukhari dalam kitab Tafsir Al Qur`anil ‘Azhim, no. 4262, dan diriwayatkan Imam Tirmidzi, no. 2991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam al Jum’ah, no. 999 dan Imam Muslim dalam al Kusuf, no. 1518.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Diriwayatkan Imam Ahmad, no. 6255.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Diriwayatkan Imam Tirmidzi di dalam al Birr wash Shilah, no. 1847.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam al Adab, no. 5538, dan Imam Tirmidzi di dalam al Birr wash Shilah, no. 1834.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Diriwayatkan Imam al Bukhari dalam al Mazhalim wal Ghasab, no. 2262 dan Muslim dalam al Birr wash Shilah wal Adab, no. 4677.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Diriwayatkan Imam Muslim, no. 4867 dan Imam Tirmidzi dalam al Birr wash Shilah, no. 1853. ﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 28 Oktober 2010 jam 14:29</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/6756308015818537804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/nasihat-seputar-gempa-dan-bencana-alam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6756308015818537804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6756308015818537804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/nasihat-seputar-gempa-dan-bencana-alam.html' title='Nasihat Seputar Gempa Dan Bencana Alam'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6756770462218633900.post-6665519570086819639</id><published>2010-11-21T23:52:00.000+07:00</published><updated>2010-11-21T23:53:54.627+07:00</updated><title type='text'>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H</title><content type='html'>Sejalan dengan berlalunya Ramadhan tahun ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan akan kita gapai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini indah jika segala karena ALLAH SWT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islamic Forum mengucapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqobalallahu minna wa minkum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir dan bathin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;www.facebook.com/pages/Indonesia/Islamic-Forum/89382864624&quot;&gt;Islamic Forum&lt;/a&gt; pada 08 September 2010 jam 11:45</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/feeds/6665519570086819639/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/selamat-hari-raya-idul-fitri-1431-h.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6665519570086819639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6756770462218633900/posts/default/6665519570086819639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://facebook-islamicforum.blogspot.com/2010/11/selamat-hari-raya-idul-fitri-1431-h.html' title='Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>