<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;C0cNQHg7fip7ImA9WhRQE0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257</id><updated>2011-12-08T16:38:11.606-08:00</updated><category term="Riau Kepulauan" /><category term="Kalimantan Selatan" /><category term="Sumatera Selatan" /><category term="Mithe" /><category term="Sumatera Barat" /><category term="Yogyakarta" /><category term="Jawa Barat" /><category term="Jambi" /><category term="Fabel" /><category term="Mite" /><category term="Nusa Tenggara Timur" /><category term="Jakarta" /><category term="Sumatera Utara" /><category term="Maluku" /><category term="Sulawesi Barat" /><category term="Lampung" /><category term="Kalimantan  Tengah" /><category term="Papua" /><category term="Kalimantan" /><category term="Jawa" /><category term="Jawa Tengah" /><category term="Gorontalo" /><category term="Sumatera" /><category term="Banten" /><category term="Sulawesi Selatan" /><category term="Sulawesi Utara" /><category term="Cerita Rakyat" /><category term="Sulawesi Tengah" /><category term="Kalimantan Timur" /><category term="Bali" /><category term="Jawa Timur" /><category term="Nusa Tenggara Barat" /><category term="Legenda" /><category term="Sulawesi Tenggara" /><category term="Aceh" /><category term="Folk Tales" /><category term="Bangka Belitung" /><category term="Bengkulu" /><category term="Kalimantan Barat" /><category term="Riau" /><title>Cerita Rakyat Nusantara</title><subtitle type="html">Indonesia Folk Tales</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://folktalesnusantara.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://folktalesnusantara.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>232</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/eHpGg" /><feedburner:info uri="blogspot/ehpgg" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><entry gd:etag="W/&quot;AkAFRXk8eSp7ImA9WhRRF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-3301200478175631223</id><published>2011-12-01T17:18:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T17:18:34.771-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T17:18:34.771-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bengkulu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Putri Gading Cempaka</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putri Gading Cempaka adalah putri bungsu Raja Ratu Agung yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Menurut cerita, Putri Cempaka adalah leluhur dari raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Sungai Lemau, Bengkulu Utara. Bagaimana kisah selengkapnya? Ikuti dalam cerita Putri Gading Cempaka berikut ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu, di daerah Bengkulu Tinggi yang sekarang termasuk ke dalam wilayah Provinsi Bengkulu, pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sungai Serut. Pendiri sekaligus raja pertama kerajaan ini bernama Ratu Agung, yaitu seorang pangeran yang berasal dari Kerajaan Majapahit di Jawa. Konon, ia merupakan penjelmaan dewa dari Gunung Bungkuk yang bertugas mengatur kehidupan di bumi. Ratu Agung memerintah negeri itu dengan arif dan bijaksana. Walaupun rakyat yang diperintahnya adalah bangsa Rejang Sawah yang memiliki perawakan tinggi, tegap, dan besar, ia tetap sebagai raja yang disegani oleh seluruh rakyatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ratu Agung mempunyai enam orang putra dan seorang putri. Keenam putra tersebut adalah Kelamba Api atau Raden Cili, Manuk Mincur, Lemang Batu, Tajuk Rompong, Rindang Papan, Anak Dalam, dan yang paling bungsu adalah seorang putri bernama Putri Gading Cempaka. Menurut cerita, kerajaan ini menjadi terkenal hingga ke berbagai negeri bukan saja karena kepemimpinan Ratu Agung, tetapi juga oleh kecantikan Putri Gading Cempaka. Meskipun usianya baru beranjak remaja, keelokan paras sang Putri sudah terlihat sangat jelas, anggun dan mempesona bagai bidadari. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun semuanya ditolak oleh Ratu Agung karena sang Putri masih belum cukup umur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seiring berjalannya waktu, Putri Gading Cempaka pun tumbuh menjadi gadis dewasa. Demikian pula Ratu Agung yang kian menua usianya. Suatu hari, penguasa Kerajaan Sungai Serut itu sakit keras. Ia mendapat firasat bahwa ajalnya tidak lama lagi tiba. Maka, sang Raja pun mengumpulkan ketujuh putra-putrinya untuk menyampaikan wasiat kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wahai, anak-anakku. Ayahanda takkan lama lagi hidup di dunia ini. Maka sebelum itu, Ayahanda akan menitipkan dua wasiat kepada kalian,” kata sang Ayah dengan suara lirih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar perkataan itu, wajah ketujuh anak raja itu mendadak lesu, terutama Putri Gading Cempaka. Ia tak bisa menahan perasaan sedihnya mendengar ucapan sang Ayah. Perlahan-lahan air matanya pun berderai membasahi pipinya yang kemerah-merahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ayah jangan berkata begitu. Kami tidak ingin kehilangan Ayah,” isak Putri Gading Cempaka seraya merangkul ayahandanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sudahlah, Putriku. Semua ini sudah menjadi kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Ajal kita semua ada di tangan-Nya. Kita tidak kuasa menahan jika ajal itu datang,” ujar Raja Ratu Agung menengkan hati putrinya. Raja yang arif dan bijaksana itu kemudian menyampaikan wasiatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Demi menjunjung tinggi rasa keadilan, kedamaian, dan ketenteraman di negeri ini, Aku mewasiatkan tahta Kerajaan Sungai Serut ini kepada putraku Anak Dalam. Aku berharap agar kalian semua tetap bersatu baik dalam suka maupun duka,“ ujar Ratu Agung kepada putra-putrinya seraya melanjutkan wasiatnya yang kedua, “Sekiranya negeri Sungai Serut ditimpa musibah besar dan tidak bisa lagi dipertahankan, menyingkirlah kalian ke Gunung Bungkuk. Kelak di sana akan datang seorang raja yang berjodoh dengan anak gadisku tercinta, Putri Gading Cempaka.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wasiat tentang tahta Kerajaan Sungai Serut itu pun diterima oleh Anak Dalam tanpa ada ada rasa iri hati dari kelima saudara tuanya. Bahkan, mereka sangat mendukung dipilihnya Anak Dalam sebagai pewaris tahta. Selang beberapa hari kemudian, Raja Ratu Agung pun menghembuskan nafas terakhirnya. Seluruh negeri pun berduka-cita. Putri Gading Cempaka seolah tidak rela melepas kepergian ayahanda yang amat dicintainya itu. Namun, sang Putri pun hanya bisa pasrah dan berdoa agar ayahandanya mendapat ketenangan di alam kubur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak Dalam kemudian dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya. Namun, nama kerajaan itu kini bernama Kerajaan Bangkahulu. Seperti ayahnya, Raja Anak Dalam adalah pemimpin yang arif sehingga ia dan keenam saudaranya senantiasa hidup rukun dan damai. Dalam waktu singkat, kemasyhurannya pun tersebar ke berbagai negeri. Selain itu, kecantikan Putri Gading Campaka semakin membuat negeri kian dikenal. Sudah banyak bangsawan maupun pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari, datanglah seorang putra mahkota dari Kerajaan Aceh bernama Pangeran Raja Muda Aceh hendak meminang sang Putri. Pangeran itu datang bersama segenap hulubalangnya dengan menggunakan kapal layar. Setiba di pelabuhan Bangkahulu, sang Pangeran mengutus beberapa penasehatnya ke istana untuk menyampaikan pinangannya kepada Raja Anak Dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ampun, Baginda. Hamba adalah  utusan Pangeran Raja Muda Aceh dari Kerajaan Aceh. Saat ini beliau menunggu di atas kapal yang sedang bersandar di dermaga,” kata salah seorang utusan seraya memberi hormat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa yang bisa saya bantu untuk Pangeran kalian?” tanya Raja Anak Dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sebenarnya kedatangan hamba ke mari untuk menyampaikan pinangan tuan kami kepada Putri Gading Cempaka,” jawab utusan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Anak dalam tidak mau mengambil keputusan sendiri. Ia mengajak semua saudaranya untuk membicarakan masalah tersebut. Sementara itu, para utusan diminta untuk menunggu sejenak. Tak berapa lama kemudian, mereka pun kembali menemui para utusan untuk menyampaikan hasil mufakat yang telah mereka putuskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maafkan kami, wahai utusan. Pinangan Tuan kalian belum dapat kami kabulkan,” kata Raja Anak Dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Serentak para utusan itu terkejut. Dengan perasaan kecewa, mereka segera kembali ke dermaga untuk melapor kepada Raja Muda Aceh. Betapa murkanya Pangeran dari Tanah Rencong itu saat mendengar laporan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa?! Mereka menolak pinanganku?!” kata Raja Muda Aceh geram.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merasa dikecewakan, Raja Muda Aceh menjadi marah dan menantang Raja Anak Dalam untuk berperang. Perang besar tak terhindarkan dan berlangsung hingga berhari-hari dengan banyak korban jiwa yang berjatuhan. Perang terus berkecamuk. Mayat-mayat yang sudah berhari-hari bergelimpangan tanpa terurus mulai membusuk. Raja Anak Dalam dan seluruh pasukannya tidak tahan lagi menahan bau busuk tersebut. Saat itulah, sang Raja teringat pada wasiat ayahandanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wahai saudara-saudaraku! Sesuai dengan pesan ayahanda bahwa jika negeri ini sudah tidak aman lagi, kita disarankan untuk menyingkir ke Gunung Bungkuk,” kata Raja Anak Dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, Raja Anak Dalam serta keenam saudaranya segera menarik diri menuju Gunung Bungkuk. Sementara itu, Pangeran Raja Muda Aceh bersama pasukannya yang masih hidup kembali ke Tanah Rencong tanpa membawa hasil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepeninggal para pemimpinnya, Kerajaan Bangkahulu menjadi kacau. Mendengar kabar tersebut, datanglah empat pasirah (bangsawan) Lebong Balik Bukit untuk menjadi raja di sana. Namun, setelah berhasil menguasai negeri tersebut, mereka malah saling bertikai karena memperebutkan wilayah kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut cerita, pertikaian keempat pasirah tersebut didamaikan oleh Maharaja Sakti. Ia adalah utusan Kerajaan Pagaruyung, kerajaan di Minangkabau yang diperintah oleh Seri Maharaja Diraja, untuk berkelana. Akhirnya, keempat pasirah tersebut segera menghadap Sultan Pagaruyung untuk memohon agar Maharaja Sakti yang adil dan bijaksana itu diangkat menjadi raja di Bangkahulu. Permohonan mereka dikambulkan. Upacara penobatan Maharaja Sakti pun dilaksanakan di balairung Kerajaan Pagaruyung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu, Baginda Maharaja Sakti berangkat menuju ke Bangkahulu dengan diiringi oleh ratusan pengawal dan juga oleh keempat pasirah. Setiba di sana, upacara penobatan sebagai raja di negeri itu pun telah disiapkan. Namun, ketika upacara itu akan dimulai, tiba-tiba langit menjadi gelap, lalu turunlah hujan yang sangat deras disertai angin kencang. Atas kesepakatan bersama, upacara itu akhirnya ditunda sambil menunggu cuaca kembali cerah. Namun, hingga malam hari, hujan dan badai tak kunjung berhenti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam itu, Baginda Maharaja Sakti bermimpi melihat seorang bidadari sedang menari-nari di tengah hujan badai. Ajaibnya, tak sedikit pun tubuh bidadari itu basah terkena air hujan. Bidadari itu kemudian menuju ke Gunung Bungkuk. Keesokan harinya, Baginda Maharaja Sakti menceritakan perihal mimpinya kepada keempat pasirah yang kemudian meminta seorang peramal untuk menafsirkan mimpi tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ampun, Baginda. Ternyata, bidadari cantik yang ada di dalam mimpi Baginda adalah Putri Gading Cempaka, putri penguasa wilayah ini di masa lalu. Kini, ia tinggal di Gunung Bungkuk bersama keenam saudaranya. Jika Baginda bisa membawanya ke sini,  Baginda akan mendirikan negeri ini tegak kembali dengan selamat. Menurut ramalan hamba, Putri Gading Cempaka kelak akan menurunkan raja-raja di negeri ini,” ungkap peramal itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar keterangan tersebut, sang Baginda pun berhasrat meminang sang Putri. Ia lalu mengutus keempat pasirah dan beberapa pengawalnya untuk menjemput Putri Gading Cempaka di Gunung Bungkuk. Setiba di sana, mereka menghadap Raja Anak Dalam dan semua saudaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ampun, Baginda! Kami adalah utusan dari Tuanku Baginda Maharaja Sakti. Atas titah beliau, hamba diminta untuk menjemput Tuanku Putri Gading Cempaka beserta tuan-tuan sekalian. Baginda Maharaja Sakti bermaksud mengangkat Tuanku Putri Gading Cempaka menjadi permaisuri di Negeri Bangkahulu,” ungkap para utusan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Anak Dalam bersama saudara-saudaranya pun menerima pinangan Maharaja Sakti sesuai dengan wasiat ayah mereka. Akhirnya, pesta pernikahan Putri Gading Cempaka dengan Maharaja Sakti pun dilangsungkan di Bangkahulu. Pesta berlangsung meriah karena bersamaan dengan upacara penobatan Maharaja Sakti menjadi raja di Negeri Bangkahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah menikah, dibangunlah istana baru yang megah sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena letak istana itu berada di Kuala Sungai Lemau, maka kerajaan itu pun berganti nama menjadi Kerajaan Sungai Lemau. Baginda Maharaja Sakti memimpin kerajaan itu dengan arif dan bijaksana. Ia dan permaisurinya pun hidup bahagia. Begitulah kisah Putri Gading Cempaka yang telah menurunkan raja-raja Kerajaan Sungai Lemau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian ceria Putri Gading Cempaka dari Bengkulu. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah anak yang taat kepada nasehat orangtua seperti Putri Gading Cempaka dan saudara-saudaranya pada akhirnya mendapat kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; http://dongengceritarakyat.blogspot.com/2011/10/putri-gading-cempaka.html&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-3301200478175631223?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/XH5qinExmrg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3301200478175631223?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3301200478175631223?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/XH5qinExmrg/putri-gading-cempaka.html" title="Putri Gading Cempaka" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/12/putri-gading-cempaka.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8HSXw4eSp7ImA9WhRRF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-3207758249992808697</id><published>2011-12-01T16:59:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T17:03:58.231-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T17:03:58.231-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Maluku" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Batu Berdaun</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Batu berdaun&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; yang dimaksud dalam &lt;b&gt;cerita&lt;/b&gt; ini adalah sebuah batu besar berbentuk &lt;b&gt;daun&lt;/b&gt; yang terletak di atas sebuah &lt;b&gt;bukit&lt;/b&gt; di &lt;b&gt;Maluku&lt;/b&gt;. Menurut cerita, batu tersebut memiliki mulut yang bisa terbuka dan &lt;b&gt;mengatup&lt;/b&gt; kembali serta dapat menelan siapa saja. Suatu ketika, batu berdaun itu menelan seorang &lt;b&gt;nenek.&lt;/b&gt; Apa yang terjadi selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita &lt;b&gt;&lt;i&gt;Batu Berdaun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3453899434500183257&amp;amp;postID=3207758249992808697" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Alkisah,  di daerah pesisir Maluku, hiduplah seorang nenek dengan dua orang  cucunya yang masih kecil. Cucu yang pertama berumur 11 tahun, sedangkan  yang bungsu masih berumur 5 tahun. Kedua anak itu yatim piatu karena  orangtua mereka telah meninggal dunia ketika mencari ikan di laut. Kini,  kedua anak itu berada dalam asuhan sang nenek. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Untuk  memenuhi kebutuhan hidup, nenek bekerja mengumpulkan hasil hutan dan  mencari ikan di pantai. Hasilnya tidak pernah cukup untuk mereka makan.  Untunglah para tetangga sering berbaik hati memberikan makanan kepada  sang nenek untuk dimakan bersama kedua cucunya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Suatu  hari, air laut terlihat surut, ombaknya pun tampak tenang. Kondisi  seperti ini biasanya menjadi pertanda bahwa banyak kepiting yang  terdampar di sekitar pantai. Si nenek pun mengajak kedua cucunya ke  pantai untuk menangkap kepiting.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Cucuku, mari kita ke pantai mencari kepiting,” ajak si nenek. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Alangkah senangnya hati kedua anak itu, terutama si bungsu. Ia berlari-lari dan melompat kegirangan. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Horeee... horeee... !” riang si bungsu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Setiba di pantai, mereka pun mulai memasang beberapa &lt;i&gt;bubu&lt;/i&gt; (alat untuk menangkap kepiting) di sejumlah tempat. Selang beberapa lama kemudian, sebuah &lt;i&gt;bubu&lt;/i&gt;  yang dipasang nenek memperoleh seekor kepiting besar yang terperangkap  di dalamnya. Si nenek pun menyuruh kedua cucunya untuk pulang terlebih  dahulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Cucuku,  kalian pulanglah dulu. Bawa dan rebuslah kepiting besar itu untuk makan  siang kita nanti,” ujar si nenek, “Capitannya sisakan untuk nenek.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Baik, Nek,” jawab cucu yang pertama. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kedua  anak itu pun kembali ke rumah dengan perasaan gembira. Hari itu, mereka  akan menikmati makanan lezat. Setiba di rumah, kepiting besar hasil  tangkapan mereka tadi segera direbus. Setelah masak, kepiting itu mereka  makan bersama ubi rebus. Mereka makan dengan lahap sekali. Sesuai  perintah sang nenek, kedua anak itu menyisakan capit kepiting. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Usai  makan, kedua anak itu pergi bermain hingga hari menjelang siang. Saat  mereka pulang ke rumah, nenek mereka ternyata belum juga kembali dari  pantai. Sementara itu, si bungsu yang baru sampai di rumah tiba-tiba  merasa lapar lagi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Kak, aku lapar. Aku mau makan lagi,” rengek si bungsu kepada kakaknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Bukankah tadi kamu sudah makan? Kenapa minta makan lagi?” tanya kakaknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Aku lapar lagi. Aku mau makan capit kepiting,” si bungsu kembali merengek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Jangan, capit kepiting itu untuk nenek,” cegah si kakak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Meskipun  sang kakak sudah berkali-kali menasehatinya, si bungsu tetap saja  merengek. Karena iba, sang kakak terpaksa mengambil sepotong capit  kepiting itu. Si bungsu akhirnya berhenti merengek. Namun, setelah  makan, ia kembali meminta capit kepiting yang satunya. Si kakak pun  memberikannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Tak  berapa lama kemudian, nenek mereka kembali dari pantai. Wajah si nenek  yang sudah keriput itu tampak pucat. Kelihatannya ia sangat lapar.  Cepat-cepatlah ia masuk ke dapur ingin menyantap capit kepiting bersama  ubi rebus. Betapa terkejutnya ia saat melihat lemari makannya kosong. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Cucuku., cucuku...!” teriaknya dengan suara serak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Iya, Nek,” jawab si sulung seraya menghampiri neneknya, “Ada apa, Nek?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Mana capit kepiting yang nenek pesan tadi?” tanya si nenek. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Ma...  maaf..., Nek!” jawab si sulung dengan gugup, “Capit kepitingnya  dihabiskan si Bungsu. Aku sudah berusaha menasehatinya, tapi dia terus  menangis meminta capit kepiting itu.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Betapa  kecewanya hati sang nenek mendengar jawaban itu. Ia benar-benar marah  karena kedua cucunya tidak menghiraukan pesannya. Tanpa berkata-kata  apapun, si nenek pergi meninggalkan rumah. Dengan perasaan sedih, ia  berjalan menuju ke sebuah bukit. Sesampai di puncak bukit itu, ia lalu  mendekati sebuah batu besar yang bentuknya seperti daun. Orang-orang  menyebutnya batu berdaun. Di hadapan batu itu, si nenek duduk bersimpuh  sambil meneteskan air mata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Wahai,  batu. Telanlah aku!” seru nenek itu, “Tidak ada lagi gunanya aku hidup  di dunia ini. Kedua cucuku tidak mau mendengar nasehatku lagi.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Batu  berdaun itu tidak bergerak sedikit pun. Ketika nenek mengucapkan  permintaannya untuk ketiga kalinya, barulah batu itu membuka mulutnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dengan  sekali sedot, si nenek langsung tertarik masuk ke dalam perut batu itu.  Setelah si nenek tertelan, mulut batu itu mengatup kembali. Sejak  itulah, si nenek tinggal di dalam perut batu itu dan tidak pernah keluar  lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sementara  itu, kedua cucunya dengan gelisah mencari nenek mereka. Saat tiba di  puncak bukit itu, mereka hanya mendapati kain milik nenek mereka terurai  sedikit di antara batu berdaun itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Nenek, jangan tinggalkan kami!” tangis si sulung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Maafkan aku, Nek. Aku berjanji tidak akan mengecewakan nenek lagi,” ucap si bungsu dengan sangat menyesal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Si sulung kemudian meminta kepada batu berdaun itu agar menelan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Wahai, batu berdaun. Telanlah kami!” seru si sulung. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Meskipun  kedua anak tersebut berkali-kali memohon, batu berdaun itu tetap tidak  mau membuka mulutnya, sampai akhirnya kedua anak itu tertidur di  dekatnya. Keesokan harinya, keduanya terbangun dan kembali meratapi  kepergian sang nenek. Pada saat itu, kebetulan ada seorang tetangga  mereka yang melintas di tempat itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;“Hai, kenapa kalian ada di sini?” tanyanya saat melihat kedua anak itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Si  sulung pun menceritakan semua yang telah terjadi pada neneknya. Oleh  karena nenek itu tidak akan kembali lagi, si tetangga pun mengajak kedua  anak tersebut pulang ke rumahnya dan kemudian merawat mereka. Kedua  anak itu merasa sangat menyesal atas perlakuannya terhadap nenek mereka.  Namun, hal itu mereka jadikan sebagai pelajaran berharga sehingga kedua  anak itu pun tumbuh menjadi manusia yang berbudi luhur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 115%;"&gt;Demikian cerita &lt;b&gt;&lt;i&gt;Batu Berdaun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  dari Maluku. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah  bahwa orang tidak mau menuruti nasehat orangtua seperti kedua cucu nenek  itu pada akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal. Gara-gara tidak  mau mendengar nasehat, mereka akhirnya ditinggal pergi oleh sang nenek.  Pelajaran lainnya adalah bahwa sebuah kesalahan dapat menjadi sebuah  pelajaran bagi kita untuk menata hidup yang lebih baik di masa yang akan  datang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 115%;"&gt;Sumber&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; line-height: 115%;"&gt;h*tp://dongengceritarakyat.blogspot.com/2011/10/batu-berdaun.html&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-3207758249992808697?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/Zye2Gdn2hjo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3207758249992808697?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3207758249992808697?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/Zye2Gdn2hjo/batu-berdaun.html" title="Batu Berdaun" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/12/batu-berdaun.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEAFRnw_cSp7ImA9WhRRF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-6146213940177099441</id><published>2011-12-01T16:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T16:45:17.249-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T16:45:17.249-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sulawesi Tenggara" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal Mulu Burung Ntaapo-apo (Cendrawasih)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama ini orang mengira burung cenderwasih hanya ada di Papua. Tapi, tahukah Anda bahwa burung jenis ini ternyata juga terdapat di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Muna? Masyarakat di sana menyebutnya dengan nama burung Ntaapo-apo. Menurut cerita, burung ini merupakan penjelmaan seorang anak laki-laki yang bernama La Ane. Bagaimana La Ane bisa menjelma menjadi burung Ntaapo-Apo? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Burung Ntaapo-Apo berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu, di sebuah kampung di daerah Muna, Sulawesi Tenggara, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya bernama La Ane. Suaminya meninggal dunia saat La Ane masih bayi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, janda itu mengolah kebun yang luasnya tidak seberapa. Kebun itu ia tanami ubi dan jagung untuk dimakan sehari-hari. Selain kebun, sang suami juga mewariskan seekor kuda jantan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Janda itu amat sayang kepada La Ane. Ia merawatnya dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi besar. Namun, La Ane yang telah menginjak usia remaja itu tidak pernah membantu ibunya bekerja. Dari bangun hingga tidur lagi, kerjanya hanya bermain gasing bersama teman-temannya. Ia baru pulang ke rumah jika perutnya sudah lapar. Tapi, setelah kenyang, ia kembali bermain gasing. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang ibu mulai tidak senang melihat kelakuan anaknya yang semakin hari semakin malas. Ia sudah berkali-kali mengajaknya pergi ke kebun, namun La Ane selalu menolak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Buat apa bekerja setiap hari. Capek, Bu,” begitu selalu kata La Ane. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Anakku, kita mau makan apa kalau tidak bekerja?” ujar ibunya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ibu saja yang bekerja. Aku lebih senang bermain gasing bersama teman-temanku daripada ikut bekerja di kebun,” kata La Ane dengan cuek. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau begitu, makan saja itu gasingmu!” tukas ibunya dengan nada kesal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;La Ane tetap saja tidak peduli pada nasehat ibunya. Ia pergi meninggalkan rumah menuju ke rumah teman-temannya. Sang ibu yang masih kesal sedang menyiapkan makanan di meja makan. Namun, bukannya nasi dan jagung rebus yang disiapkan, melainkan gasing yang dipotong kecil-kecil lalu ditempatkan di dalam kasopa (tempat jagung dan ubi). Tali gasing itu juga dipotong-potong lalu ditaruh di dalam kaghua (tempat sayur atau ikan). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Huh, makanlah gasing dan talinya itu, anak malas!” geram sang ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Janda itu kemudian pergi ke kebun. Menjelang siang hari, La Ane pun kembali dari bermain karena lapar. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat kasopa dan kaghua di atas meja yang berisi potongan-potongan gasing dan talinya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oh, Ibu. Engkau benar-benar marah kepadaku? Padahal, aku lapar sekali,” keluh La Ane. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan perasaan sedih, La Ane naik ke atas loteng rumahnya. Di atas loteng itu ia duduk termenung sambil memikirkan nasibnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ibu sudah tidak sayang lagi kepadaku. Lebih baik menjadi burung saja sehingga aku bisa terbang ke sana ke mari mencari makan sendiri,” ucap La Ane. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ucapan La Ane rupanya menjadi kenyataan. Begitu ia selesai berucap, tiba-tiba sekujur tubuhnya perlahan-lahan ditumbuhi bulu berwarna-warni yang indah dan berkilauan. Selang beberapa saat kemudian, anak pemalas itu pun berubah menjadi seekor burung. Ia kemudian hinggap di atap rumahnya sambil berkicau dengan merdu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat hari menjelang sore, sang Ibu kembali dari kebun. Ia pun memanggil-manggil anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“La Ane… La Ane…, kamu di mana anakku?!” teriaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah berkali-kali ibu itu berteriak, namun tak ada jawaban. Dengan panik, ia segera keluar dari rumah. Ketika berada di depan rumah, ia pun melihat seekor burung bertengger di atap rumah sambil bernyanyi merdu. Janda itu hampir pingsan melihat pada burung itu masih memperlihatkan tanda-tanda anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Oh, anakku, maafkan Ibu. Turunlah, Nak!” bujuk sang Ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nasi sudah menjadi bubur. La Ane yang telah menjelma menjadi burung itu tidak mungkin lagi berubah menjadi manusia. Ia akan menjadi burung untuk selama-lamanya. Ketika ibunya berteriak memanggilnya, ia sudah tidak mendengarnya lagi. Ia terbang dan hinggap di atas pohon pinang sambil berkicau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ntaapo-apo… Ntaapo-apo!” demikian kicauan burung itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang ibu tak henti-hentinya memanggil anaknya. Namun, burung itu tetap tidak mau kembali. Ia terbang menuju ke hutan belantara untuk mencari makan. Sang ibu pun tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyesal atas perlakuannya terhadap anak semata wayangnya itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak peristiwa itu, burung yang suka berkicau “ntaapo-apo” itu dinamakan burung Ntaapo-apo. Hingga saat ini, burung yang mirip dengan burung cenderawasih itu masih sering terdengar kicauannya dari dalam hutan di daerah Muna, Sulawesi Tenggara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian cerita Asal Usul Burung Ntaapo-Apo dari Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah anak pemalas dan pembangkang seperti La Ane pada akhirnya akan mendapat malapetaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;http://dongengceritarakyat.blogspot.com/2011/10/asal-mula-burung-ntaapo-apo.html&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-6146213940177099441?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/ImJWgHAWiVM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/6146213940177099441?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/6146213940177099441?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/ImJWgHAWiVM/asal-mulu-burung-ntaapo-apo-cendrawasih.html" title="Asal Mulu Burung Ntaapo-apo (Cendrawasih)" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/12/asal-mulu-burung-ntaapo-apo-cendrawasih.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UAR3g8eCp7ImA9WhRRF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-7228434718878723283</id><published>2011-12-01T16:13:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T16:20:46.670-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T16:20:46.670-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sulawesi Tengah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Sesentola dan Burung Garuda</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sesentola&lt;/span&gt; adalah seorang lelaki  muda yang mempunyai nafsu makan yang sangat besar. Oleh karena  orangtuanya tidak mampu lagi menghidupinya, Sesentola pun pergi dari  kampungnya. Namun, negeri yang ditujunya ternyata sedang tertimpa  musibah. Penduduk negeri itu hanya tinggal satu orang, yang lainnya  telah mati akibat diserang oleh garuda raksasa. Apa yang akan dilakukan  selanjutnya? Simak kisahnya dalam cerita Sesentola dan Burung Garuda  berikut ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu, di daerah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulawesi Tengah&lt;/span&gt;,  hiduplah sepasang suami istri. Sudah puluhan tahun mereka menikah namun  belum juga dikaruniai seorang anak. Meskipun demikian, mereka tidak  pernah berputus asa. Setiap malam mereka berdoa kepada Tuhan agar  dikaruniai anak, walau bagaimana pun keadaannya. Hingga pada suatu  ketika, sang istri pun hamil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Tuhan. Engkau telah  mengabulkan doa kami. Jika anak itu telah lahir, hamba berjanji akan  merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang,” ucap sang suami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa  bulan kemudian, sang istri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang  mereka beri nama Sesentola. Sejak dilahirkan, terlihat ada tanda-tanda  keajaiban pada diri anak itu. Ia amat kuat minum susu. Terkadang, ia  menangis karena merasa kurang kenyang. Sang ibu pun mulai kebingungan  melihat keadaan anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pak, anak kita masih lapar padahal air susuku sudah habis. Apa yang harus kita lakukan?” tanya sang istri bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebaiknya kita beri tambahan makanan saja,” ujar suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi  bukankah bisa membahayakan pencernaannya jika anak kita yang masih bayi  ini diberi makanan orang dewasa?” tanya sang istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus bagaimana lagi, Bu? Jika tidak diberi makanan tambahan, ia pasti akan menangis terus,” ujar sang suami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suami-istri  itu pun memutuskan untuk memberi nasi bubur kepada anak mereka.  Rupanya, sepiring nasi bubur tidak cukup mengenyangkan Sesentola. Sekali  makan, Sesentola yang masih bayi itu bisa menghabiskan 2-3 piring nasi.  Demikian seterusnya, semakin hari ia semakin kuat makan. Namun, di  balik itu, Sesentola memiliki kekuatan luar biasa yang tidak diketahui  oleh orangtuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa tahun kemudian, Sesentola tumbuh  menjadi remaja. Kebiasaan makan banyak pun semakin meningkat. Sekali  makan ia bisa menghabiskan satu bakul nasi. Hal itulah yang membuat sang  bapak mulai kesal karena merasa sudah tidak mampu lagi memberi makan  anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bu, aku sudah tidak kuat lagi dengan keadaan ini. Anak  kita semakin banyak makannya. Lama-lama kita sendiri bisa mati  kelaparan,” keluh sang suami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai suatu ketika, sang ayah  benar-benar sudah kuat lagi menghadapi keadaan tersebut. Ia pun berniat  untuk melenyapkan nyawa anak kandungnya sendiri. Sang istri pun tidak  dapat berbuat apa-apa dengan keputusan suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, sang  ayah mengajak Sesentola untuk menjala ikan di sungai yang banyak  buayanya. Sesentola pun menuruti ajakan ayahnya. Setiba di sungai, sang  bapak segera melemparkan jalannya ke tengah sungai. Setelah itu, ia  memerintahkan Sesentola untuk mengambil jala tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesentola, cepat ambil jala itu! Pasti sudah banyak ikan yang tertangkap di dalamnya!” perintah sang bapak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Pak,” jawab Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu  Sesentola menyelam ke dasar sungai untuk mengangkat jala itu, sang  bapak cepat-cepat meninggalkannya. Ia mengira anaknya itu pasti sudah  mati dimakan buaya. Sesampai di rumah, ia pun menceritakan hal itu  kepada istrinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bu, Sesentola pasti sudah mati dimakan buaya. Kita tidak akan kelaparan lagi,” kata sang suami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru saja sang suami berkata demikian, tiba-tiba terdengar teriakan dari depan rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapak, aku pulang! Lihatlah yang aku bawa ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasangan suami-istri itu tersentak kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pak, bukankah itu suara anak kita, Sesentalo?” tanya sang istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan  perasaan cemas, sang suami segera keluar. Betapa terkejutnya karena ia  mendapati Sesentola sedang memanggul seekor buaya besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lihat, Pak! Aku berhasil menangkap seekor buaya besar,” kata Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang  bapak pun terdiam, tidak percaya dengan apa yang saksikannya. Untung ia  cepat tersadar sehingga niat jahatnya tidak diketahui oleh Sesentola.  Karena rencananya gagal, ia segera mencari cara lain untuk melenyapkan  nyawa anaknya. Ia teringat pada pohon beringin besar di tepi sungai.  Maka, pada keesokan harinya ia pun mengajak Sesentola untuk pergi  menebang pohon beringin itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesentola, ayo bantu Bapak menebang pohon beringin yang ada di tepi sungai itu,” ajak sang bapak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Pak,” jawab Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak  dan anak itu pun berangkat ke tepi sungai. Sang bapak sengaja  mengarahkan rebahnya pohon itu ke tempat Sesentola berdiri. Begitu pohon  beringin itu roboh, tak ayal tubuh Sesentola pun tertimpa pohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aduuhhh…!” jerit Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah  itu, Sesentola tidak lagi bersuara. Sang bapak pun mengira anaknya  telah mati. Maka, cepat-cepatlah ia kembali ke rumahnya dan menceritakan  kejadian itu kepada istrinya. Namun, tiba-tiba terdengar suara  Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapak, aku pulang!” teriak Sesentola di depan rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah  terkejutnya sang bapak saat melihat anaknya sedang memikul pohon  beringin yang ditebangnya tadi. Ia semakin tidak percaya melihat  kekuatan anaknya itu. Sang istri langsung meneteskan air mata. Ia merasa  kasihan melihat nasib anak semata wayangnya itu atas perlakuan sang  suami terhadapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Sesentola yang telah menyadari  niat jahat sang bapak mulai kesal. Meski demikian, ia tidak ingin  melawan bapaknya. Ia merasa bahwa lebih baik pergi daripada terus  membebani kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika Bapak dan Ibu sudah tidak  mampu lagi menghidupiku, lebih baik aku pergi saja. Aku akan mencari  penghidupan sendiri,” kata Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Anakku. Bawalah benda pusaka ini,” ujar sang ibu seraya menyerahkan panah bermata tiga dan cincin pusaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingatlah,  saat kamu hendak menggunakan panah ini harus disertai menyebut bagian  tubuh musuh yang hendak kamu bidik. Jika kamu menyebut mata, anak panah  itu akan mengenai mata musuhmu. Kalau engkau sakit, rendamlah cincin ini  ke dalam air. Kemudian teteskanlah air itu di bagian tubuhmu yang  sakit, niscaya kamu akan sembuh,” jelas ibu Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, Bu. Jagalah diri kalian baik-baik,” kata Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai  berpamitan kepada ibu dan bapaknya, Sesentola pun pergi meninggalkan  kampung halamannya. Ia berjalan tanpa tentu arah hingga akhirnya sampai  di sebuah ibukota kerajaan. Namun anehnya, kota itu seperti tidak  berpenghuni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, kenapa kota ini sepi sekali? Pergi ke mana penduduknya?” gumam Sesentola dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah  Sesentola mengelilingi kota itu, tampaklah sebuah rumah megah. Ia  berpikir bahwa rumah itu pastilah istana raja. Dengan langkah  perlahan-lahan, Sesentola memasuki istana itu. Namun, tak seorang pun  yang terlihat. Hanya ada sebuah gendang rasasa di dalamnya. Karena  penasaran, Sesentola pun berniat memukul gendang itu. Begitu ia hendak  memukulnya, tiba-tiba ada suara wanita yang menegurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, jangan kamu pukul gendang ini! Aku ada di dalamnya,” seru suara itu, “Ayo cepat sembunyi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesentola pun menuruti seruan itu. Begitu masuk ke dalam gendang itu, ia mendapati seorang gadis cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, siapa kamu dan kenapa bersembunyi di sini?” tanya Sesentola heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sssstt…! Jangan keras-keras, nanti garuda itu datang menyerang lagi,” ujar perempuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Garuda apa maksudmu?” tanya Sesentola bertanya dengan pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namaku  Lemontonda. Tinggal akulah satu-satunya yang masih hidup di negeri ini.  Penduduk lainnya telah mati diserang burung garuda yang sangat ganas,”  ungkap Lemontonda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar cerita itu, Sesentola pun berniat untuk membinasakan garuda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan takut, Lemontonda! Aku akan memberi pelajaran garuda itu,” ujar Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan!  Garuda itu sangat sakti. Lagipula ia tidak sendiri, dan masih ada Raja  Garuda bernama Vandebulava yang lebih sakti,” kata Lemontonda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tenang saja. Aku akan menghadapi mereka dengan senjata pusakaku ini,” kata Sesentola sambil menunjukkan senjatanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa  saat kemudian, seekor garuda datang dan terbang berkeliling di atas  istana. Garuda itu mengetahui keberadaan Sesentola dan gadis itu. Dengan  gagah berani, Sesentola segera keluar lalu membidik mata garuda itu  dengan panahnya. Begitu terlepas dari busurnya, anak panah itu melesat  dengan cepat dan tepat mengenai mata garuda itu hingga tembus. Garuda  itu pun jatuh dan tewas seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengetahui kabar tersebut, Raja  Garuda menjadi murka. Ia segera memerintahkan seekor garuda bernama  Vandease untuk menangkap Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tangkap dan bawa anak muda itu ke mari! Jika tidak mau, habisi saja dia!” seru Raja Garuda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Tuan!” jawab Vandease.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Vandease  pun menemukan Sesentola dan memintanya untuk menyerahkan diri, namun  pemuda sakti itu tidak mau. Sesentola kemudian menarik busurnya lalu  membidik kening garuda itu. Anak panah pun melesat dan tepat mengenai  kening garuda itu hingga tewas seketika. Melihat hal itu, Lemontonda  berpesan kepada Sesentola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhati-hatilah, Sesentola! Raja Garuda itu sebentar lagi datang. Ia sangat sakti,” ujar Lemontonda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah,  tolong siapkan segelas air untuk merendam cincin ini!” pinta Sesentola  seraya menyerahkan cincinnya kepada Lemontonda, “Jika aku pingsan,  tolong teteskan air ini ke mataku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak berapa lama kemudian,  Vandebulava pun datang. Sesentola segera membidik leher garuda itu. Anak  panahnya kemudian melesat menembus leher Raja Garuda. Karena  kesaktiannya, sebelum jatuh, Raja Garuda sempat menyambar Sesentola  hingga pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Sesentola pingsan, Lemontonda segera  meneteskan air rendaman cincin pusaka ke mata pemuda itu. Beberapa saat  kemudian, Sesentola pun siuman. Dengan tewasnya Raja Garuda, negeri itu  kembali aman. Sesentola pun mengajak Lemontonda untuk menikah. Gadis itu  bersedia tapi dengan satu syarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku bersedia menikah asalkan kamu mampu menghidupkan kembali orangtuaku dan seluruh rakyat negeri ini,” pinta Lemotonda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesentola  pun menyanggupi syarat itu. Konon, dengan kesaktiannya, Sesentola  berhasil menghidupkan kembali seluruh penduduk negeri itu. Ia pun  menikah dengan Lemontonda dan diangkat menjadi raja di negeri itu.  Selanjutnya, Sesentola memboyong orangtuanya ke istana. Mereka pun hidup  berbahagia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
http://reginatheyser.blogspot.com/2011/10/cerita-rakyat-sulteng-sesentola-dan.html&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a 1em;"="" href="http://1.bp.blogspot.com/-8MU04Z39S2Q/To0QaFDVMZI/AAAAAAAAFcI/c4NcEskvHHo/s1600/sulteng.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="320" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660198346893373842" src="http://1.bp.blogspot.com/-8MU04Z39S2Q/To0QaFDVMZI/AAAAAAAAFcI/c4NcEskvHHo/s320/sulteng.jpg" style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" width="209" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-7228434718878723283?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/TV2SbkiqZJw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/7228434718878723283?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/7228434718878723283?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/TV2SbkiqZJw/sesentola-dan-burung-garuda.html" title="Sesentola dan Burung Garuda" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-8MU04Z39S2Q/To0QaFDVMZI/AAAAAAAAFcI/c4NcEskvHHo/s72-c/sulteng.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/12/sesentola-dan-burung-garuda.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQARXg5eSp7ImA9WhRRF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-8342548020568242882</id><published>2011-12-01T16:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T16:05:44.621-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T16:05:44.621-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sulawesi Utara" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal Usul Burung Moopoo</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bswszqVBaWM/TtgWMTK-JpI/AAAAAAAAAMM/NDP-411hisE/s1600/Burung-Moopoo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="286" src="http://3.bp.blogspot.com/-bswszqVBaWM/TtgWMTK-JpI/AAAAAAAAAMM/NDP-411hisE/s400/Burung-Moopoo.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Burung Moopoo&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Minahasa yang dahulu dikenal dengan Malesung adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Di kabupaten ini hidup beragam jenis binatang langka dan khas Minahasa. Salah satu binatang khas Minahasa adalah burung moopoo. Konon, burung moopoo ini merupakan jelmaan seorang anak laki-laki. Mengapa anak laki-laki itu menjelma menjadi burung moopoo? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita rakyat Asal Usul Burung Moopoo berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-AHuPJO9VRVQ/TtgU5Gz1LlI/AAAAAAAAAL8/r9EtA_YhvcM/s1600/burung+moopoo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-AHuPJO9VRVQ/TtgU5Gz1LlI/AAAAAAAAAL8/r9EtA_YhvcM/s400/burung+moopoo.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Alkisah, di sebuah daerah di Minahasa, Sulawesi Utara, hiduplah seorang kakek bersama dengan cucu laki-lakinya yang bernama Nondo. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di tepi hutan lebat. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, sang Kakek pergi ke hutan mencari hasil hutan dan menjualnya ke pasar. Sementara Nondo hanya bisa membantu kakeknya memasak dan membersihkan rumah, karena kakinya pincang. Kedua orang tua Nondo meninggal dunia ketika ia masih kecil. Sejak itu, Nondo diasuh oleh kakeknya hingga dewasa.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Setiap hari Nondo selalu bersedih hati. Ia ingin sekali membantu kakeknya mencari kayu bakar di hutan, namun apa daya kakinya tidak mampu berjalan jauh. Ia juga ingin sekali menyaksikan sendiri binatang-binatang yang hidup di hutan sebagaimana yang sering diceritakan oleh kakeknya setiap selesai makan malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kakeknya bercerita, Nondo selalu mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia hanya bisa membayangkan seperti apakah binatang-binatang yang diceritakan kakeknya itu. Ia juga sering bermimpi bertemu dengan binatang-binatang itu. Bahkan, ia kerap menirukan bunyi burung-burung yang diceritakan kakeknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, seperti biasanya, sang Kakek hendak pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kek! Bolehkah Nondo ikut ke hutan bersama Kakek?” pinta Nondo kepada kakeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kamu di rumah saja, Cucuku” jawab sang Kakek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Tapi, Kek! Nondo ingin sekali melihat binatang-binatang yang sering Kakek ceritakan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Jangan, Cucuku! Bukankah kakimu sedang sakit? Kakek khawatir dengan kesehatanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kek! Nondo mohon, izinkanlah Nondo pergi ke hutan bersama Kakek sekali ini saja,” bujuk Nondo sambil merengek-rengek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena kasihan melihat Nondo, akhirnya kakeknya pun mengizinkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Baiklah! Kamu boleh ikut bersama Kakek, tapi selesaikan dulu pekerjaan rumahmu,” ujar sang Kakek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perasaan senang dan penuh semangat, Nondo segera membersihkan rumah dan memasak untuk makan siang sepulang dari hutan. Beberapa saat kemudian, Nondo telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kek! Ayo kita berangkat! Pekerjaan Nondo sudah selesai,” seru Nondo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ya!” jawab sang Kakek singkat dengan perasaan khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, berangkatlah mereka ke hutan. Sang Kakek berjalan di depan, sedangkan Nondo mengikutinya dari belakang. Ketika memasuki hutan, Nondo seringkali tertinggal oleh kakeknya, karena selain kakinya pincang, ia juga sering berhenti setiap melihat binatang. Bahkan, ia kerap bermain-main dan menirukan suara binatang yang ditemuinya. Oleh karena keasyikan bermain-main dengan binatang itu, sehingga ia semakin jauh tertinggal oleh kakeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya Nondo tidak menyadari keadaan itu. Ketika hari menjelang sore, ia baru tersadar jika ia tinggal sendirian di tengah hutan. Hari pun semakin gelap, suasana hutan semakin menyeramkan dengan suara-suara binatang yang menakutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kakek...! Kakek....! Kakek di mana...?” teriak Nondo memanggil kakeknya sambil menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kali Nondo berteriak, namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia mencoba mencari jalan pulang ke rumah, namun semakin jauh ia berjalan semakin jauh masuk ke tengah hutan. Ia pun bertambah bingung dan tersesat di tengah hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam semakin larut, Nondo belum juga menemukan kakeknya. Ia pun semakin takut oleh suara-suara burung yang bersahut-sahutan, seperti burung uwak, kedi-kedi, kakaktua, toin tuenden dan burung hantu. Apalagi ketika ia mendengar suara burung kuow yang keras dan menyeramkan. Ia pun menangis dan berteriak sekeras-kerasnya agar suaranya didengar oleh kakeknya. Namun, usahanya sia-sia, karena tidak mendapat jawaban sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu sang Kakek menjadi panik ketika menyadari cucunya sudah tidak ada lagi di belakangnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan cucu kesayangannya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Nondo...! Nondo...! Kamu di mana?” teriak sang Kakek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kali pula kakek itu berteriak, namun tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pulang, karena mengira cucunya sudah kembali ke rumah. Namun sesampai di rumah, ia tidak menemukan cucunya. Pada pagi harinya, sang Kakek kembali ke hutan untuk mencari cucunya. Hingga sore hari, ia berkeliling di tengah hutan itu sambil berteriak-teriak memanggil cucunya, namun tidak juga menemukannya. Oleh karena merasa putus asa, akhirnya ia pun kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia mendengar suara yang aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
`moo-poo..., moo-poo..., moo-poo….!” terdengar suara burung aneh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Suara binatang apakah itu? Sepertinya baru kali ini aku mendengarnya,” gumam Kakek Nondo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena penasaran, kakek itu segera mencari sumber suara aneh itu. Setelah berjalan beberapa langkah, ia pun menemukannya. Ternyata suara itu adalah suara seekor burung yang sedang hinggap di atas pohon. Kakek itu terus berjalan mendekati pohon untuk melihat burung itu lebih dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Burung apakah itu? Sudah puluhan tahun aku mencari kayu di hutan ini, tapi aku belum pernah melihat jenis burung seperti itu,” gumamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara burung itu terbang dari satu cabang ke cabang yang lain sambil memerhatikan sang Kakek dan mengeluarkan suara, ”moo-poo”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semula kakek Nondo tidak mengerti maksud suara itu. Namun setelah lama memerhatikan suara itu, ia pun mulai menyadari jika burung itu memanggilnya opoku (kakekku). Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali mengamati burung itu. Setelah ia amati, rupanya kaki burung itu pincang. Tiba-tiba kakek itu menangis karena teringat cucunya. Ia yakin bahwa burung itu adalah jelmaan cucunya, Nondo. Sesuai dengan suara yang dikeluarkan, maka burung itu diberi nama moopoo. Hingga saat ini, burung moopoo dapat ditemukan di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Demikian cerita Asal Usul Burung Moopoo dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Cerita di atas tergolong cerita mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keburukan sifat tidak tahu diri dan suka berperilaku sembrono atau gegabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat tidak tahu diri yang dimaksud adalah menyadari kemampuan diri sendiri. Artinya, jika hendak mewujudkan suatu keinginan, sebaiknya terlebih dahulu mengukur kemampuan diri sendiri. Sifat ini tercermin pada sikap Nondo yang memaksakan keinginannya untuk ikut bersama kakeknya ke hutan, padahal kakinya pincang. Sementara sifat suka berperilaku sembrono atau gegabah tercermin pada perilaku sang Kakek yang tidak perhatian terhadap keadaan cucunya yang pincang, sehingga meninggalkannya seorang diri di tengah hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumaraw, Anneke.  Cerita Rakyat dari Sulawesi Utara. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.1998.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-8342548020568242882?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/iISCUxTY6mQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/8342548020568242882?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/8342548020568242882?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/iISCUxTY6mQ/asal-usul-burung-moopoo.html" title="Asal Usul Burung Moopoo" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-bswszqVBaWM/TtgWMTK-JpI/AAAAAAAAAMM/NDP-411hisE/s72-c/Burung-Moopoo.jpg" height="72" width="72" /><georss:featurename>Minahasa, Indonesia</georss:featurename><georss:point>1.0 124.58333330000005</georss:point><georss:box>0.6898394999999999 124.32647780000005 1.3101605 124.84018880000005</georss:box><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/asal-usul-burung-moopoo.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUQMRHk7fip7ImA9WhRRF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-8698176372691013621</id><published>2011-12-01T15:49:00.000-08:00</published><updated>2011-12-01T15:49:45.706-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T15:49:45.706-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gorontalo" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal Mula Danau Limboto</title><content type="html">Diceritakan kembali oleh: Samsuni&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Y1Z7z6j4Zqk/TtgR1l4ivzI/AAAAAAAAAL0/FHv5lMtHmqM/s1600/danau+limboto.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-Y1Z7z6j4Zqk/TtgR1l4ivzI/AAAAAAAAAL0/FHv5lMtHmqM/s400/danau+limboto.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Danau Limboto&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Danau Limboto merupakan sebuah danau yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo Indonesia. Dulunya, danau ini bernama &lt;i&gt;Bulalo lo limu o tutu&lt;/i&gt;,  yang berarti danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan. Menurut  kepercayaan masyarakat setempat, keberadaan danau seluas kurang lebih  3.000 hektar ini disebabkan oleh sebuah peristiwa ajaib yang terjadi di  daerah itu. Peristiwa apakah yang menyebabkan terjadinya Danau Limboto?  Ikuti kisahnya dalam cerita &lt;i&gt;Asal Mula Danau Limboto&lt;/i&gt; berikut ini!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;* * *&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Dahulu,&lt;b&gt; &lt;/b&gt;daerah  Limboto merupakan hamparan laut yang luas. Di tengahnya terdapat dua  buah gunung yang tinggi, yaitu Gunung Boliohuto dan Gunung Tilongkabila.  Kedua gunung tersebut merupakan petunjuk arah bagi masyarakat yang akan  memasuki Gorontalo melalui jalur laut. Gunung Bilohuto menunjukkan arah  barat, sedangkan Gunung Tilongkabila menunjukkan arah timur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada  suatu ketika, air laut surut, sehingga kawasan itu berubah menjadi  daratan. Tak beberapa lama kemudian, kawasan itu berubah menjadi  hamparan hutan yang sangat luas. Di beberapa tempat masih terlihat  adanya air laut tergenang, dan di beberapa tempat yang lain muncul  sejumlah mata air tawar, yang kemudian membentuk genangan air tawar.  Salah satu di antara mata air tersebut mengeluarkan air yang sangat  jernih dan sejuk. Mata air yang berada di tengah-tengah hutan dan jarang  dijamah oleh manusia tersebut bernama Mata Air Tupalo. Tempat ini  sering didatangi oleh tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan untuk  mandi dan bermain sembur-semburan air. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada  suatu hari, ketika ketujuh bidadari tersebut sedang asyik mandi dan  bersendau gurau di sekitar mata air Tupalo tersebut, seorang pemuda  tampan bernama Jilumoto melintas di tempat itu. &lt;i&gt;Jilumoto&lt;/i&gt; dalam  bahasa setempat berarti seorang penduduk kahyangan berkunjung ke bumi  dengan menjelma menjadi manusia. Melihat ketujuh bidadari tersebut,  Jilumoto segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Dari balik  pohon itu, ia memerhatikan ketujuh bidadari yang sedang asyik mandi  sampai matanya tidak berkedip sedikitpun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Aduhai.... cantiknya bidadari-bidadari itu!” gumam Jilumoto dengan takjub.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Melihat  kecantikan para bidadari tersebut, Jilumoto tiba-tiba timbul niatnya  untuk mengambil salah satu sayap mereka yang diletakkan di atas batu  besar, sehingga si pemilik sayap itu tidak dapat terbang kembali ke  kahyangan. Dengan begitu, maka ia dapat memperistrinya. Ketika para  bidadari tersebut sedang asyik bersendau gurau, perlahan-lahan ia  berjalan menuju ke tempat sayap-sayap tersebut diletakkan. Setelah  berhasil mengambil salah satu sayap bidadari tersebut, pemuda tampan itu  kembali bersembunyi di balik pohon besar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Ketika  hari menjelang sore, ketujuh bidadari tersebut selesai mandi dan  bersiap-siap untuk pulang ke Kahyangan. Setelah memakai kembali sayap  masing-masing, mereka pun bersiap-siap terbang ke angkasa. Namun, salah  seorang di antara mereka masih tampak kebingungan mencari sayapnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hai, Adik-adikku! Apakah kalian melihat sayap Kakak?”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Rupanya,  bidadari yang kehilangan sayap itu adalah bidadari tertua yang bernama  Mbu`i Bungale. Keenam adiknya segera membantu sang Kakak untuk mencari  sayap yang hilang tersebut. Mereka telah mencari ke sana kemari, namun  sayap tersebut belum juga ditemukan. Karena hari mulai gelap, keenam  bidadari itu pergi meninggalkan sang Kakak seorang diri di dekat Mata  Air Tupalo. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Kakak.. jaga diri Kakak baik-baik!” seru bidadari yang bungsu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Adikku...! Jangan tinggalkan Kakak!” teriak Mbu`i Bungale ketika melihat keenam adiknya sedang terbang menuju ke angkasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Keenam  adiknya tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Tinggallah Mbu`i  Bungale seorang diri di tengah hutan. Hatinya sangat sedih, karena ia  tidak bisa bertemu lagi dengan keluarganya di Kahyangan. Beberapa saat  kemudian, Jilumoto keluar dari tempat persembunyiannya dan segera  menghampiri Mbu`i Bungale.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hai, Bidadari cantik! Kenapa kamu bersedih begitu?” tanya Jilumoto dengan berpura-pura tidak mengetahui keadaan sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Sayapku hilang, Bang! Adik tidak bisa lagi kembali ke Kahyangan,” jawab Mbu`i Bungale. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Mendengar  jawaban itu, tanpa berpikir panjang Jilumoto segera mengajak Mbu`i  Bungale untuk menikah. Bidadari yang malang itu pun bersedia menikah  dengan Jilumoto. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal  bersama di bumi. Mereka pun mencari tanah untuk bercocok tanam. Setelah  berapa lama mencari, akhirnya sepasang suami-istri itu menemukan sebuah  bukit yang terletak tidak jauh dari Mata Air Tupalo. Di atas bukit  itulah mereka mendirikan sebuah rumah sederhana dan berladang dengan  menanam berbagai macam jenis tanaman yang dapat dimakan. Mereka menamai  bukit itu Huntu lo Ti`opo atau Bukit Kapas..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada suatu hari, Mbu`i Bungali mendapat kiriman &lt;i&gt;Bimelula&lt;/i&gt;, yaitu sebuah mustika sebesar telur itik dari Kahyangan. &lt;i&gt;Bimelula&lt;/i&gt; itu ia simpan di dekat mata air Tupalo dan menutupinya dengan sehelai &lt;i&gt;tolu&lt;/i&gt;  atau tudung. Beberapa hari kemudian, ada empat pelancong dari daerah  timur yang melintas dan melihat mati air Tupalo tersebut. Begitu melihat  air yang jernih dan dingin itu, mereka segera meminumnya karena  kehausan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Usai minum, salah  seorang di antara mereka melihat ada tudung tergeletak di dekat mata air  Tupalo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hai, kawan-kawan! Lihatlah benda itu! Bukankah itu tudung?” seru salah seorang dari pelancong itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Benar, kawan! Itu adalah tudung,” kata seorang pelancong lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Aneh, kenapa ada tudung di tengah hutan yang sepi ini?” sahut pelancong yang lainnya dengan heran. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Oleh  Karena penasaran, mereka segera mendekati tudung itu dan bermaksud  untuk menangkatnya. Namun, begitu mereka ingin menyentuh tudung itu,  tiba-tiba badai dan angin topan sangat dahsyat datang menerjang,  kemudian disusul dengan hujan yang sangat deras. Keempat pelancong itu  pun berlarian mencari perlindungan agar terhindar dari marabahaya.  Untungnya, badai dan angin topan tersebut tidak berlangsung lama,  sehingga mereka dapat selamat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Setelah  badai dan hujan berhenti, keempat pelancong itu kembali ke mata air  Tupalo. Mereka melihat tudung itu masih terletak pada tempatnya semula.  Oleh karena masih penasaran ingin mengetahui benda yang ditutupi tudung  itu, mereka pun bermaksud ingin mengangkat tudung itu. Sebelum  mengangkatnya, mereka meludahi bagian atas tudung itu dengan sepah  pinang yang sudah dimantrai agar badai dan topan tidak kembali terjadi.  Betapa terkejutnya mereka ketika mengangkat tudung itu. Mereka melihat  sebuah benda bulat, yang tak lain adalah mustika &lt;i&gt;Bimelula.&lt;/i&gt; Mereka pun tertarik dan berkeinginan untuk memiliki mustika itu. Namun begitu mereka akang mengambil mustika &lt;i&gt;Bimelula&lt;/i&gt; itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale datang bersama suaminya, Jilumoto. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Maaf,  Tuan-Tuan! Tolong jangan sentuh mustika itu! Izinkanlah kami untuk  mengambilnya, karena benda itu milik kami!” pinta Mbu`i Bungale.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hei, siapa kalian berdua ini? Berani sekali mengaku sebagai pemilik mustika ini!” seru seorang pemimpin pelancong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Saya Mbu`i Bungale datang bersama suamiku, Jilumoto, ingin mengambil mustika itu,” jawab Mbu`i Bungale dengan tenang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hai,  Mbu`i Bungale! Tempat ini adalah milik kami. Jadi, tak seorang pun yang  boleh mengambil barang-barang yang ada di sini, termasuk mustika ini!”  bentak pemimpin pelancong itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Apa buktinya bahwa tempat ini dan mustika itu milik kalian?” tanya Mbui`i Bungale.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pemimpin pelancong itu pun menjawab:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Kalian mau lihat buktinya? Lihatlah sepah pinang di atas tudung itu! Kamilah yang telah memberinya,” ujar pemimpin pelancong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Mendengar pengakuan para pelancong tersebut, Mbu`i Bungale hanya tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hai,  aku ingatkan kalian semua! Kawasan mata air ini diturunkan oleh Tuhan  Yang Mahakuasa kepada orang-orang yang suka berbudi baik antarsesama  makhluk di dunia ini. Bukan diberikan kepada orang-orang tamak dan rakus  seperti kalian. Tapi, jika memang benar kalian pemilik dan penguasa di  tempat ini, perluaslah mata air ini! Keluarkanlah seluruh kemampuan  kalian, aku siap untuk menantang kalian!” seru Mbu`i Bungale.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Keempat  pelancong itu pun bersedia menerima tantangan Mbu`i Bungale. Si  pemimpin pelancong segera membaca mantradan mengeluarkan seluruh  kemampuannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Wei mata air Kami! Meluas dan membesarlah,” demikian bunyi mantranya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Berkali-kali  pemimpin pelancong itu membaca mantranya, namun tak sedikit pun  menunjukkan adanya tanda-tanda mata air itu akan meluas dan membesar.  Melihat pemimpin mereka sudah mulai kehabisan tenaga, tiga anak buah  pelancong tersebut segera membantu. Meski mereka telah menyatukan  kekuatan dan kesaktian, namun mata air Tupalo tidak berubah sedikit pun.  Lama-kelamaan keempat pelancong pun tersebut kehabisan tenaga. Melihat  mereka kelelahan dan bercucuran keringat, Mbu`i Bungale kembali  tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hai,  kenapa kalian berhenti! Tunjukkanlah kepada kami bahwa mata air itu  milik kalian! Atau jangan-jangan kalian sudah menyerah!” seru Mbu`i  Bungale.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Diam  kau, hai perempuan cerewet! Jangan hanya pandai bicara!” sergah  pemimpin pelancong itu balik menantang Mbu`i Bungale. “Jika kamu pemilik  mata air ini, buktikan pula kepada kami!” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Baiklah,  Tuan-Tuan! Ketahuilah bahwa Tuhan Maha Tahu mana hambanya yang benar,  permintaannya akan dikabulkan!” ujar jawab Mbu`i Bungale dengan penuh  keyakinan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Usai  berkata begitu, Mbu`i Bungale segera duduk bersila di samping suaminya  seraya bersedekap. Mulutnya pun komat-kamit membaca doa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Woyi,  air kehidupan, mata air sakti, mata air yang memiliki berkah. Melebar  dan meluaslah wahai mata air para bidadari.... membesarlah....!!!”  demikian doa Mbu`i Bungale.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Usai  berdoa, Mbu`i Bungale segera mengajak suaminya dan memerintahkan  keempat pelancong tersebut untuk naik ke atas pohon yang paling tinggi,  karena sebentar lagi kawasan itu akan tenggelam. Doa Mbu`i Bungale pun  dikabulkan. Beberapa saat kemudian, perut bumi tiba-tiba bergemuruh,  tanah bergetar dan menggelegar. Perlahan-lahan mata air Tupalo melebar  dan meluas, kemudian menyemburkan air yang sangat deras. Dalam waktu  sekejap, tempat itu tergenang air. Keempat pelancong tersebut takjub  melihat keajaiban itu dari atas pohon kapuk. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Semakin  lama, genangan air itu semakin tinggi hingga hampir mencapai tempat  keempat pelancong yang berada di atas pohon kapuk itu. Mereka pun  berteriak-teriak ketakutan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Ampun Mbu`i Bungale! Kami mengaku salah. Engkaulah pemilik tempat ini dan seisinya!” teriak pemimpin pelancong itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Mbu`i  Bungale adalah bidadari yang pemaaf. Dengan segera ia memohon kepada  Tuhan agar semburan mata air Tupalo dikembalikan seperti semula,  sehingga genangan air itu tidak semakin tinggi dan menenggelamkan  keempat pelancong tersebut. Tak berapa lama kemudian, semburan air pada  mata air Tupalo kembali seperti semula. Mereka pun turun dari pohon.  Mbu`i Bungale segera mengambil tudung dan mustika &lt;i&gt;Bimelula&lt;/i&gt;.  Ajaibnya, ketika ia meletakkan di atas tangannya, mustika yang  menyerupai telur itik itu tiba-tiba menetas dan keluarlah seorang bayi  perempuan yang sangat cantik. Wajahnya bercahaya bagaikan cahaya bulan.  Mbu`i Bungale pun memberinya nama Tolango Hula, diambil dari kata &lt;i&gt;Tilango lo Hulalo&lt;/i&gt; yang berarti cahaya bulan. Menurut cerita, Tolango Hula itulah yang kelak menjadi Raja Limboto. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Setelah  itu, Mbu`i Bungale dan suaminya segera membawa gadis kecil itu dan  mengajak keempat pelancong tersebut ke rumah mereka. Ketika hendak  meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale melihat lima buah benda  terapung-apung di tengah danau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Hai, benda apa itu?” seru Mbu`i Bungale dengan heran sambil menunjuk ke arah benda tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Karena penasaran, Mbu`i Bungale segera mengambil kelima benda tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Bukankah ini buah jeruk?” pikirnya saat&amp;nbsp; mengamati buah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Setelah  mencubit dan mencium buah tersebut, lalu mengamatinya, maka yakinlah  Mbu`i Bungale bahwa buah jeruk itu sama seperti yang ada di Kahyangan.  Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia bermaksud untuk memeriksa pepohonan  yang tumbuh di sekitar danau. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Kanda,  tolong gendong Tolango Hula! Dinda ingin memeriksa pepohonan di sekitar  danau ini. Jangan-jangan di antara pepohonan itu ada pohon jeruk yang  tumbuh,” ujar Mbu`i Bungale seraya menyerahkan bayinya kepada sang  Suami, Jilumoto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Setelah  beberapa saat mencari dan memeriksa, akhirnya Mbu`i Bungale menemukan  beberapa pohon jeruk yang sedang berbuah lebat. Untuk memastikan bahwa  pohon yang ditemukan itu benar-benar pohon jeruk dari Kahyangan, ia  segera memanggil suaminya untuk mengamatinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Kanda, kemarilah sebentar!” seru Mbu`i Bungale.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Coba perhatikan pohon dan buah jeruk ini! Bukankah buah ini seperti jeruk Kahyangan, Kanda?” ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Suaminya  pun segera mendekati pohon jeruk itu sambil menggendong bayi mereka.  Setelah memegang dan mengamatinya, ia pun yakin bahwa pohon dan buah  jeruk itu berasal dari Kahyangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Kamu benar, Dinda! Pohon jeruk ini seperti yang ada di Kahyangan,” kata Jilumoto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;&amp;nbsp;“Dinda heran! Kenapa ada pohon jeruk Kahyangan tumbuh di sekitar danau ini?” ucap Mbu`i Bungale dengan heran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Beberapa  saat kemudian, Mbu`i Bungale baru menyadari bahwa keberadaan pohon  jeruk di sekitar danau itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa.  Untuk mengenang peristiwa yang baru saja terjadi di daerah itu, Mbu`i  Bungale dan suaminya menamakan danau itu &lt;i&gt;Bulalo lo limu o tutu&lt;/i&gt;, yang artinya danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan. Lama-kelamaan, masyarakat setempat menyebutnya dengan &lt;i&gt;Bulalo lo Limutu&lt;/i&gt; atau lebih dikenal dengan sebutan Danau Limboto. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Demikian cerita &lt;i&gt;Asal Mula Danau Limboto&lt;/i&gt; dari Provinsi Gorontalo, Indonesia. Hingga kini Danau Limboto menjadi salah satu obyek wisata menarik di Gorontalo. Para pengunjung dapat menikmati berbagai kegiatan seperti memancing, lomba berperahu, dan menikmati ikan bakar segar. &amp;nbsp;Pesan  moral yang dapat dipetik dari cerita di atas dapat dilihat pada  keberanian dan kegigihan Mbu`i Bungale mempertahankan hak miliknya  dengan menantang keempat orang pelancong untuk memperluas mata air  Tupalo. Dalam kehidupan orang Melayu, mempertahankan hak milik sendiri  sangatlah dianjurkan sebagaimana dikatakan dalam tunjuk ajar berikut  ini:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;apa tanda melayu bertuah,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;hak milik orang ia pelihara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;hak milik diri ia jaga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;hak milik bersama ia bela&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;(Samsuni/sas/166/09-09)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;_________________&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Samsuni adalah Pimpred &lt;i&gt;www.ceritarakyatnusantara.com, &lt;/i&gt;dan redaktur sastra &lt;i&gt;www.melayuonline..com&lt;/i&gt;&amp;nbsp; di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Isi cerita diolah dari berbagai s&lt;i&gt;umber: &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;http://hulondhalo.com/, diakses pada tanggal 28 September 2009.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;www.gorontalofamily.org, diakses pada tanggal 28 September 2009.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Tenas Effendy. 2006. &lt;i&gt;Tunjuk Ajar Melayu&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/ &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Sumber photo :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
http://tourismindonesian.com/lake-limboto-limboto-gorontalo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-8698176372691013621?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/EyX8L_tNdeQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/8698176372691013621?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/8698176372691013621?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/EyX8L_tNdeQ/asal-mula-danau-limboto.html" title="Asal Mula Danau Limboto" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-Y1Z7z6j4Zqk/TtgR1l4ivzI/AAAAAAAAAL0/FHv5lMtHmqM/s72-c/danau+limboto.jpg" height="72" width="72" /><georss:featurename>Gorontalo, Indonesia</georss:featurename><georss:point>0.5333333 123.06666670000004</georss:point><georss:box>0.47602880000000003 123.01389220000004 0.5906378 123.11944120000004</georss:box><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/12/asal-mula-danau-limboto.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUIMQHo5cCp7ImA9WhRRFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-248331139534852761</id><published>2011-11-30T10:26:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T10:26:21.428-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-30T10:26:21.428-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Loro Jonggrang</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://cicykasih.files.wordpress.com/2008/07/roro-jonggrang.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Asal Mula Terjadinya Candi Prambanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SU7zie8f7aI/AAAAAAAAAC0/CCbkviqRP6A/s1600-h/PrambananStuckinCustoms.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282427186700086690" src="http://1.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SU7zie8f7aI/AAAAAAAAAC0/CCbkviqRP6A/s400/PrambananStuckinCustoms.jpg" style="display: block; height: 263px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Candi Prambanan (Loro Jonggrang)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama  Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang  terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri  Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara  tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan  Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://cicykasih.files.wordpress.com/2008/07/roro-jonggrang.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="alignleft size-medium wp-image-40" height="300" src="http://cicykasih.files.wordpress.com/2008/07/roro-jonggrang.jpg?w=131&amp;amp;h=99" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;img align="right" src="http://www.e-smartschool.com/CRA/001/LoroJonggrang1.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. "Siapapun  yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar  Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang  yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa,  Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri  Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik nian putri itu. Aku ingin  dia menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang. "Kamu cantik sekali,  maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada  &lt;img align="left" src="http://www.e-smartschool.com/CRA/001/LoroJonggrang2.gif" /&gt; Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan  Bondowoso. "Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku  langsung menginginkanku menjadi permaisurinya",  ujar Loro Jongrang  dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Loro Jonggrang menjadi  kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung  Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat  Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro  Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;"Bagaimana, Loro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang  mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada  syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau  Istana yang megah?".  "Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya  minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?"  teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu  semalam." Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar  menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana  caranya membuat 1000  candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya.  "Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!",  kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang  kubutuhkan!"   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Setelah  perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan  altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin,  Bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian,  langit menjadi gelap. Angin menderu-deru.  Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso.  "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu  aku membangun seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera  bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu  singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;img align="right" src="http://www.e-smartschool.com/CRA/001/LoroJonggrang3.gif" /&gt; Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia  cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. "Wah, bagaimana  ini?", ujar Loro Jonggrang dalam hati.  Ia mencari akal. Para dayang  kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami.  "Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Loro Jonggrang. Sebagian  dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung!  Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk  pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan  terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita  dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin tersebut  berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat  heran melihat kepanikan pasukan jin.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;img align="left" src="http://www.e-smartschool.com/CRA/001/LoroJonggrang.gif" /&gt;Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Loro Jonggrang segera  menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!.  "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah  gagal memenuhi syarat yang saya ajukan".  Bandung Bondowoso terkejut  mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...",  kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang. "Kalau begitu  kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada  Loro Jonggrang. Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung  batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak  di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;http://www.e-smartschool.com&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;Photo :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;http://db5.skyscrapercity.com/showthread.php?t=583797&amp;amp;page=8&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-248331139534852761?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/z7BInERA_gw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/248331139534852761?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/248331139534852761?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/z7BInERA_gw/loro-jonggrang.html" title="Loro Jonggrang" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SU7zie8f7aI/AAAAAAAAAC0/CCbkviqRP6A/s72-c/PrambananStuckinCustoms.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/loro-jonggrang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEYMSXc6eSp7ImA9WhRRFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-836951361658829329</id><published>2011-11-29T17:23:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T17:23:08.911-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-29T17:23:08.911-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sulawesi Selatan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Putri Tandampalik</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-HyGgzcKleQI/TtWD2mnmyuI/AAAAAAAANRs/DRHOqYw-cDQ/s1600/Putri-Tandampalik.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-HyGgzcKleQI/TtWD2mnmyuI/AAAAAAAANRs/DRHOqYw-cDQ/s400/Putri-Tandampalik.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Putri Tandampalik&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Luwu adalah sebuah kabupaten di Provinsi  Sulawesi Selatan, Indonesia, yang memiliki luas 3.098,97 km&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;.  Dalam perkembangannya,  Kabupaten Luwu dimekarkan menjadi tiga daerah  strategis, yaitu Kabupaten Luwu  Utara yang kemudian dimekarkan lagi  menjadi Kabupaten Luwu Timur dan Kota  Palopo. Dahulu, Kabupaten Luwu  merupakan pusat kerajaan Bugis tertua yang  bernama Kerajaan Luwu, yaitu  bermula sebelum abad ke-14 dan berakhir abad ke-16  M. Kerajaan Luwu  atau yang biasa juga dieja &lt;em&gt;Luwuq, Luwok&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;Luwu‘&lt;/em&gt;,  tertera dalam epik &lt;em&gt;I La galigo&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; bersama dua kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan, yaitu Kerajaan &lt;em&gt;Wewang Nriw&lt;/em&gt;uk  dan &lt;em&gt;Tompoktikka. &lt;/em&gt;Namun,  keberadaan kedua kerajaan yang terakhir disebutkan  tidak dapat  dipastikan, karena tidak ada bukti-bukti yang nyata mengenai wujud kedua   kerajaan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Lain  halnya dengan Kerajaan Luwu,  ia merupakan sebuah kerajaan yang pernah  ada di Sulawesi Selatan. Hal ini dibuktikan  dengan keberadaan sebuah  istana yang terletak di tengah Kota Palopo (kini  menjadi salah satu  kota kelas menengah di Provinsi Sulawesi Selatan), yang  bernama Istana  Luwu. Istana ini dibangun kembali oleh Pemerintah Kolonial Belanda   sekitar tahun 1920-an Masehi di atas tanah bekas “Saoraja” (Istana  sebelumnya  yang terbuat dari kayu, konon bertiang 88 buah). Dalam  sebuah cerita rakyat masyarakat  Luwuk disebutkan bahwa pada zaman  dahulu, Kerajaan Luwu pernah diperintah oleh  seorang raja yang bernama  La Busatana Datu Maongge atau sering dipanggil Raja atau  Datu Luwu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Ia  memiliki seorang putri yang cantik jelita, namanya Putri  Tandampalik.  Menurut adat yang berlaku di Kerajaan Luwu, bahwa seorang putri  Luwu  tidak boleh menikah dengan pemuda dari negeri lain. Hal inilah yang   membuat Datu Luwu menjadi bimbang. Jika ia menolak setiap lamaran yang  datang  kepadanya, ia khawatir akan terjadi peperangan dan membuat  rakyatnya menderita.  Pada suatu hari, utusan Raja Bone&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt; &lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;datang  kepadanya ingin melamar  Putri Tandampalik. Bersediakah Datu Luwu  menerima lamaran Putra Mahkota Raja  Bone? Akankah terjadi perang antara  Kerajaan Luwu dengan Kerajaan Bone? Lalu,  bagaimana nasib Putri  Tandampalik? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam  cerita &lt;em&gt;Putri Tandampalik&lt;/em&gt; berikut ini. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Alkisah,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;  pada  zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Provinsi Sulawesi Selatan,  berdiri  sebuah kerajaan yang bernama Kerajaaan Luwu. Kerajaan ini  dipimpin oleh seorang  raja atau &lt;em&gt;datu&lt;/em&gt; yang bernama La Busatana  Datu Maongge, atau sering  dipanggil Raja Luwu atau Datu Luwu. Ia adalah  seorang raja yang adil, arif dan  bijaksana, sehingga rakyatnya hidup  makmur dan sentosa. Datu Luwu mempunyai seorang  putri yang cantik  jelita dan berperangai baik, namanya Putri Tandampalik. Berita   kecantikan dan perangai baiknya tersebar sampai ke berbagai negeri di  Sulawesi  Selatan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada  suatu hari, Raja Bone ingin  menikahkan putranya dengan Putri  Tandampalik. Ia pun mengutus beberapa pengawal  istana ke Kerajaan Luwu  untuk melamar sang Putri. Sesampainya di istana Luwu,  utusan tersebut  disambut dengan ramah oleh Datu Luwu. “Ampun, Baginda! Kami  adalah  utusan Raja Bone,” lapor seorang utusan sambil memberi hormat kepada   Datu Luwu. “Kalau boleh aku tahu, ada apa gerangan kalian diutus oleh  Raja  kalian ke istana kami?,” tanya Datu Luwu dengan penuh wibawa.  “Ampun, Baginda! Perkenankanlah  kami untuk menyampaikan lamaran Raja  Bone untuk putranya kepada putri Baginda  yang bernama Putri  Tandampalik,” jawab utusan itu memberi hormat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Mendengar  lamaran itu, Datu Luwu  terdiam sejenak. Ia bingung untuk mengambil  keputusan, menerima atau menolaknya,  sebab dalam adat Kerajaan Luwu,  seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah  dengan pemuda dari negeri  lain. Akan tetapi, jika lamaran itu ditolak, ia  khawatir akan terjadi  perang yang sangat dahsyat antara dua kerajaan, sehingga  membuat rakyat  menderita. Setelah beberapa saat berpikir, Datu Luwu masih  kebingungan  untuk memberikan jawaban. “Wahai, Utusan! Perlu kalian ketahui, bahwa   di Kerajaan Luwu ini berlaku sebuah hukum adat, yaitu seorang putri  Luwuk tidak  boleh menikah dengan pemuda dari negeri lain. Untuk itu,  tolong sampaikan  kepada raja kalian, supaya aku diberi waktu beberapa  hari untuk memikirkan  lamarannya tersebut,” ujar Datu Luwu. Utusan Raja  Bone memahami dan mengerti  keputusan Datu Luwu. Mereka pun kembali ke  Kerajaan Bone untuk menyampaikan berita  tersebut kepada Raja Bone. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Keesokan  harinya, tiba-tiba negeri Luwu geger. Putri Tandampalik terserang penyakit  kusta. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Sekujur   tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat  menjijikkan.  Para tabib istana mengatakan bahwa Putri Tandampalik  terserang penyakit menular  yang sangat berbahaya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Berita  tentang musibah yang menimpa sang Putri  sudah tersebar ke seluruh  negeri. Rakyat negeri Luwu sangat bersedih atas  penyakit yang diderita  oleh sang Putri yang mereka cintai itu. Setelah berpikir  dan  menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya ke   suatu tempat yang jauh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Ia   khawatir penyakit putrinya akan menular ke seluruh rakyatnya.  “Putriku! Demi  keselamatan seluruh rakyat di negeri ini, relakah engkau  jika Ayah mengasingkanmu  ke daerah lain?” tanya Raja Luwu pada  putrinya. “Jika itu adalah jalan yang  terbaik, Ananda menerima  keputusan Ayah dengan senang hati,” jawab sang Putri menerima  keputusan  ayahnya dengan tulus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Dengan  berat hati, Datu Luwu  terpaksa harus berpisah dengan putri yang sangat  dicintainya itu. Berangkatlah sang  Putri dengan perahu bersama  beberapa pengawal istana. Sebelum berangkat, Datu  Luwu memberikan  sebuah keris pusaka kepada Putri Tandampalik sebagai tanda  bahwa ia  tidak pernah melupakan, apalagi membuang anaknya. Setelah  mempersiapkan  segala perbekalan yang dibutuhkan, berangkatlah mereka ke suatu  daerah  yang jauh dari Kerajaan Luwu. Berbulan-bulan sudah mereka berlayar  tanpa  arah dan tujuan. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada  suatu hari, tampaklah bagi mereka  sebuah pulau dari kejauhan. “Lihat,  Tuan Putri!” seru seorang pengawal sambil  menunjuk ke arah pulau itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Akhirnya,  kita pun menemukan pulau,”  jawab sang Putri dengan perasaan lega. Para  pengawal pun semakin cepat mengayuh  perahunya mendekati pulau itu.  “Wah, indah sekali pemandangan itu. Sepertinya  pulau itu belum terjamah  oleh manusia,” sahut pengawal yang lain dengan kagum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Tak  berapa  lama, sampailah mereka di pulau itu. Seorang pengawal yang  lebih dahulu  menginjakkan kakinya di pulau itu menemukan buah &lt;em&gt;wajao.&lt;/em&gt; Pengawal itu  kemudian memetik beberapa biji buah &lt;em&gt;wajao&lt;/em&gt; untuk sang Putri. “Pulau ini  kuberi nama Pulau &lt;em&gt;Wajo&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;”  kata  sang Putri saat menerima buah itu. Sejak saat itu, Putri  Tandampalik beserta  pengawalnya memulai kehidupan baru. Mereka hidup  dengan penuh kesederhanaan. Meskipun  demikian, mereka tetap bekerja  keras penuh dengan semangat dan gembira. Hari  berganti hari, minggu  berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa satu  tahun sudah  mereka berada di tempat itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Suatu  waktu,  Putri Tandampalik duduk di tepi danau yang terletak di tengah  pulau itu. Tiba-tiba  seekor kerbau putih menghampiri dan menjilati  kulit sang Putri dengan lembut. Semula,  sang Putri hendak mengusirnya.  Tetapi, hewan itu tampak jinak dan terus  menjilatinya. Akhirnya, ia  diamkan saja. Sungguh ajaib! Setelah berkali-kali  dijilat oleh kerbau  itu, kulit sang Putri yang mengeluarkan cairan tiba-tiba  hilang tanpa  bekas. Kulit sang Putri kembali halus, mulus dan bersih seperti   sediakala. Sang Putri terharu dan bersyukur kepada Tuhan, karena  penyakitnya  telah sembuh. Ia kemudian berpesan kepada para pengawalnya,  “Mulai saat ini,  aku minta kalian untuk tidak menyembelih atau memakan  kerbau putih yang ada di  pulau ini, karena hewan itu telah  menyembuhkan penyakitku.” Permintaan sang  Putri itu langsung dipenuhi  oleh seluruh pengawalnya. Hingga kini, kerbau putih  yang ada di Pulau  Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak. Kemudian oleh  masyarakat  setempat, kerbau putih tersebut disebut sebagai &lt;em&gt;sakkoli.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt; &lt;em&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada  suatu  hari, pulau Wajo kedatangan serombongan pemburu. Mereka adalah  Putra Mahkota  Kerajaan Bone yang didampingi oleh Anreguru&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;  Pakanranyeng, Panglima Kerajaan Bone, dan beberapa pengawalnya. Saking  asyiknya  berburu, Putra Mahkota Raja Bone tidak sadar kalau ia sudah  terpisah dari  rombongannya dan tersesat di hutan. Ia terus berteriak  memanggil panglima dan  para pengawalnya. “Panglimaaa...! Pengawaaal...!  Aku di sini, kalian di mana...?”  Berkali-kali sang Putra Mahkota  berteriak, namun tidak ada jawaban. Menjelang  malam, ia pun memutuskan  untuk berstirahat di bawah sebuah pohon besar, karena  kelelahan  seharian berburu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Malam  semakin  larut, Putra Mahkota tidak dapat memejamkan matanya.  Suara-suara binatang malam  membuatnya terus terjaga dan gelisah. Di  tengah gelapnya malam, tiba-tiba ia  melihat seberkas cahaya dari  kejauhan. Semakin lama, pancaran cahaya itu  semakin terang. Ia sangat  penasaran ingin mengetahuinya. Ia kemudian  memberanikan diri untuk  mencari sumber cahaya itu. Dengan tertatih-tatih, Putra  Mahkota  berusaha berjalan mengikuti kaki melangkah menelusuri gelapnya malam.  Akhirnya,  sampailah ia di sebuah perkampungan yang ramai dengan  rumah-rumah penduduk. Setelah  ia memasuki perkampungan itu, sumber  cahaya itu semakin jelas terdapat di  sebuah rumah yang nampak kosong.  Dengan melangkah pelan-pelan, Putra Mahkota  mendekati dan memasuki  rumah itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat  seorang gadis yang  cantik sekali bak bidadari sedang menjerang (memasak) air di  dalam  rumah itu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Gadis   cantik itu tidak lain adalah Putri Tandampalik. “Ya, Tuhan! Mimpikah  aku.  Selama hidupku, baru kali ini aku melihat gadis secantik itu,”  kata Putra  Mahkota dalam hati dengan perasaan kagum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Putri   Tandampalik yang merasa kedatangan tamu, tiba-tiba menoleh. Sang Putri   tergagap, “Tampan sekali pemuda ini. Tetapi, siapa dia dan dari mana  asalnya? Sepertinya  dia bukan penduduk sini,” kata sang Putri dalam  hati. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Kemudian mereka berdua berkenalan.  Dalam waktu singkat, keduanya sudah akrab. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Putri   Tandampalik sangat kagum dengan kehalusan tutur bahasa Putra Mahkota.  Meski ia  seorang calon raja, ia sangat sopan dan rendah hati.  Sebaliknya, bagi Putra  Mahkota, Putri Tandampalik adalah seorang gadis  yang anggun dan tidak sombong. Kecantikan  dan penampilannya yang  sederhana membuat Putra Mahkota kagum dan langsung  menaruh hati. Namun,  Putra Mahkota tidak bisa berlama-lama di Pulau Wajo  menemani Putri  Tandampalik, karena ia harus kembali ke negerinya untuk  menyelesaikan  beberapa kewajibannya di Istana Bone. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Sejak   perjalanan dari Pulau Wajo sampai ke Kerajaan Bone, Putra Mahkota  selalu  teringat pada wajah cantik Putri Tandampalik. Ingin rasanya  Putra Mahkota  tinggal di Pulau Wajo. Anreguru Pakanyareng yang lebih  dulu tiba di negeri Bone  setelah berpisah dengan Putra Mahkota di Pulau  Wajo, mengetahui apa yang  dirasakan oleh putra rajanya itu. Ia sering  melihat Putra Mahkota duduk  termenung seorang diri di tepi telaga. Oleh  karena tidak ingin melihat tuannya  terus bersedih, maka Anreguru  Pakanyareng segera menghadap dan menceritakan  semua kejadian yang  pernah mereka alami di Pulau Wajo. “Ampun, Baginda Raja! Hamba   mengusulkan agar Paduka Raja segera melamar Putri Tandampalik,” usul  Anreguru  Pakanyareng. Setelah mendengar semua cerita dan usulan  Anreguru itu, Raja Bone  segera mengutus beberapa pengawalnya  mendampingi Putra Mahkota untuk melamar  Putri Tandampalik di Pulau  Wajo. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Sesampainya  di  pulau itu, Putri Tandampalik tidak langsung menerima lamaran Putra  Mahkota. Ia  hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan  ayahnya ketika ia  diasingkan. “Maaf, Tuan-tuan! Aku belum bisa menerima  lamaran kalian. Bawalah  keris ini kepada Ayahandaku. Jika Ayahandaku  menerima keris ini berarti lamaran  kalian diterima,” ujar sang Putri  seraya menyerahkan keris pusaka itu. Setelah  bermusyawarah dengan  pengawalnya, Putra Mahkota memutuskan untuk berangkat  sendiri ke  Kerajaan Luwu. Perjalanan berhari-hari ia jalani penuh dengan  semangat.  Setibanya di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya   dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu  Luwu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Datu  Luwu dan  permasuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu  Luwu sangat kagum  dengan perangai Putra Mahkota. Datu Luwu merasa  bahwa Putra Mahkota adalah  seorang pemuda yang gigih, bertutur kata  lembut, sopan dan penuh semangat. Tanpa  berpikir panjang lagi, Datu  Luwu menerima keris pusaka itu dengan tulus. Hal  ini berarti bahwa  lamaran Putra Mahkota diterima. Tanpa menunggu lama, Datu  Luwu dan  permaisuri datang mengunjungi Pulau Wajo untuk menemui putri   kesayangannya. Pertemuan Datu Luwu dengan putri tunggalnya sangat  mengharukan.  “Maafkan Ayah, Nak! Ayah telah membuangmu ke tempat ini,”  Datu Luwu minta maaf  sambil memeluk putrinya. “Tidak, Ayah! Justru Ayah  harus bersyukur, karena  rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular  yang menimpa diriku,” kata Putri  Tandampalik. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Beberapa  hari  kemudian, Putri Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Raja  Bone di Pulau Wajo.  Pesta pernikahan mereka berlansung sangat meriah.  Seluruh keluarga dari dua  Kerajaan Besar di Sulawesi Selatan itu sangat  gembira dengan pernikahan  tersebut. Putri Tandampalik dan Putra  Mahkota hidup bahagia. Beberapa tahun  kemudian, Putra Mahkota naik  tahta. Ia menjadi raja yang arif dan bijaksana.  Maka semakin  bertambahlah kebahagiaan mereka. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Ada  beberapa  pelajaran yang dapat dipetik dari cerita rakyat di atas, di  antaranya sifat  bijak, sopan, rendah hati atau tidak sombong. Sifat  bijak tercermin pada sifat  Datu Luwu. Ia sangat bijaksana mengambil  keputusan untuk mengasingkan putri  kesayangannya ke tempat yang jauh,  demi keselamatan rakyatnya agar tidak  ketularan penyakit kusta yang  diderita putrinya itu. Sifat rendah hati atau  tidak sombong tercermin  pada sifat Putra Mahkota Raja Bone. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Meskipun sebagai calon  raja, ia selalu  bertutur kata halus kepada siapa saja, rendah hati dan  tidak sombong. Kesemua sifat  tersebut termasuk ke dalam sifat terpuji  yang patut untuk diteladani dalam  kehidupan sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Sifat  bijak  yang dimiliki seseorang akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri  bagi pemiliknya.  Ketika menjadi seorang guru yang bijak, guru tersebut  akan disukai oleh  murid-muridnya. Seorang pemimpin yang bijaksana  biasanya disegani oleh kawan  maupun lawannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Demikian  pula orang tua yang bijaksana akan dicintai oleh anak-anaknya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Ada  beberapa cara untuk menjadi  orang yang bijak, di antaranya tidak  emosional, tidak egois dan memiliki sifat  kasih sayang terhadap sesama.  &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;  tidak  emosional, yaitu terampil mengendalikan diri dari sifat amarah,   ketersinggungan, dan temperamental. Orang-orang yang emosional akan  sibuk  membela diri dan membalas menyerang, ini tidak bijaksana karena  yang ia cari  adalah kemenangan pribadi, bukan kebenaran itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;,  tidak egois, yaitu orang yang  tidak menginginkan kebaikan untuk  dirinya sendiri. Orang yang bijaksana adalah  orang yang mau berkorban  untuk orang lain, bukan mengorbankan orang lain untuk  kepentingan  dirinya sendiri. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, memiliki sifat kasih sayang  terhadap  sesama manusia. Orang yang bijaksana akan selalu sayang terhadap   sesama, tanpa harus pandang bulu. Kasih sayangnya tidak hanya untuk satu  pihak  atau kelompok, melainkan merata untuk semua golongan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Sementara  sifat rendah hati  merupakan salah satu sifat terpuji dalam budaya  orang Melayu. Menurut Tenas  Effendy, sifat ini secara turun-temurun  dikekalkan dalam kehidupan mereka  sebagai jati diri. Konon, istilah  “Melayu” itu pun berasal dari “me-melayukan”  diri, yakni merendahkan  hati, berlaku lemah lembut, dan berbuat ramah tamah.  Oleh karenanya,  orang Melayu umumnya menjauhi sifat angkuh, mengelakkan sombong  dan  pongah, menghindari berkata kasar, dan tidak mau membesarkan diri  sendiri.  Orang tua-tua Melayu mengatakan, “adat Melayu merendah  selalu”. “Merendah” yang  dimaksud di sini adalah merendahkan hati,  bermuka manis, dan berlembut lidah,  tidak “rendah diri” atau pengecut.  Sifat rendah hati adalah cerminan dari  kebesaran hati, ketulusikhlasan,  tahu diri, dan menghormati orang lain. (SM/sas/33/10-07)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Effendy,  Tennas. 2006. &lt;em&gt;Tunjuk Ajar&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Melayu.&lt;/em&gt; Yogyakarta: Balai Kajian dan  Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Anonim. “Putri Tandampalik,” (&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;http://www.kaskus.us&lt;/span&gt;, diakses tanggal 6  Oktober 2007).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Gym., Aa. 2007. “Rangkuman  Pengajian Majelis Manajemen Qolbu: Menjadi Pribadi Yang Bijak”. (&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;http://wanto03.blogspot.coml&lt;/span&gt;, diakses  tanggal 8 Oktober 2007).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Anonim. “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;La Galigo,” (&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;http://ms.wikipedia.org/wiki/La_Galigo&lt;/span&gt;,  diakses tanggal 6 Oktober 2007).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Anonim. “Kabupaten Wajo,” (&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Wajo&lt;/span&gt;,  diakses tanggal 6 Oktober 2007). &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Anonim. “Kabupaten Bone,”  (http://www.bone.go.id/sejarah.php, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;diakses tanggal 5 Oktober  2007)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;http://www.ceritarakyat.pustaka78.com &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;  &lt;div id="ftn1"&gt;  &lt;div style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt; &lt;em&gt;&lt;span&gt;I &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;La Galigo&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;  adalah sebuah  epik yang terpanjang di dunia. Epik yang muncul sebelum  epik Mahabrata ini,  sebagian besar berisi puisi-puisi dalam bahasa  Bugis lama. Epik ini mengisahkan  tentang &lt;em&gt;Sawerigading,&lt;/em&gt; seorang pahlawan yang gagah berani dan juga  perantau. Namun, epik &lt;em&gt;I La Galigo&lt;/em&gt;  ini tidak dapat dijadikan sebagai teks  sejarah, karena isinya dipenuhi  dengan cerita mitos dan peristiwa-peristiwa  luar biasa. Walaupun  demikian, setidaknya epik &lt;em&gt;I La Galigo&lt;/em&gt; ini dapat  memberikan  gambaran kepada para sejarahwan mengenai kebudayaan masyarakat Bugis   sebelum abad ke-14 M. Adapun manuskrip &lt;em&gt;I La Galigo&lt;/em&gt; tersebut dapat  ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropah, terutama di &lt;span style="color: black;"&gt;Perpustakaan Leiden. (&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;http://ms.wikipedia.org/wiki/La_Galigo&lt;/span&gt;,  diakses tanggal 5 Oktober 2007).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;  Raja  Bone adalah raja dari Kerajaan Bone. Kerajaan ini merupakan salah  satu kerajaan  besar di Sulawesi Selatan pada masa lalu. Kerajaan ini  didirikan oleh ManurungngE  Rimatajang pada tahun 1330 M., dan mencapai  puncak kejayaannya pada masa pemerintahan  Latenritatta Towappatunru  Daeng Serang Datu Mario Riwawo Aru Palakka Malampee  Gemmekna Petta  Torisompae Mantinro ri Bontoala, pada pertengahan abad ke-17 M.  (http://www.bone.go.id/sejarah.php, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;diakses tanggal 5 Oktober 2007).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3"&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt; &lt;em&gt;Wajo&lt;/em&gt; berarti bayangan atau bayang-bayang (&lt;em&gt;wajo-wajo).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/putri-tandampalik.html#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt;Sakkoli&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 8pt;"&gt; berasal dari dua kata, yaitu &lt;em&gt;sakke &lt;/em&gt;yang berarti  pulih; dan &lt;em&gt;oli &lt;/em&gt;berarti kulit.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-836951361658829329?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/tRcBGT2TEXM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/836951361658829329?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/836951361658829329?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/tRcBGT2TEXM/putri-tandampalik.html" title="Putri Tandampalik" /><author><name>Taneak Jang  Tanah Rejang  Rejang Land</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03644424994390829057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="29" src="http://3.bp.blogspot.com/_h8QUKh9nNTk/SRmSfzFYgMI/AAAAAAAAFiw/gJLE0BkhvjA/S220/3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-HyGgzcKleQI/TtWD2mnmyuI/AAAAAAAANRs/DRHOqYw-cDQ/s72-c/Putri-Tandampalik.jpg" height="72" width="72" /><georss:featurename>Celebes, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-1.8479079 120.52790959999993</georss:point><georss:box>-6.1050754000000005 117.17698209999993 2.4092596000000004 123.87883709999993</georss:box><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/11/putri-tandampalik.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QFRXs4eyp7ImA9WhRRFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-3597958768813753764</id><published>2011-11-29T17:08:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T17:08:34.533-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-29T17:08:34.533-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Selatan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Raja Empedu</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Raja  Empedu adalah seorang raja muda yang memerintah di Negeri Hulu Sungai  Nusa, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Suatu ketika, Raja Empedu  membantu Raja Pangeran Mas dari Kerajaan Lesung Batu untuk membinasakan  Raja Kubang yang terkenal sakti mandraguna. Berhasilkah Raja Empedu  membinasakan Raja Kubang? Ikuti kisahnya dalam cerita Raja Empedu  berikut!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Pada  zaman dahulu kala, Kecamatan Rawas Ulu yang merupakan wilayah Kabupaten  Musi Rawas, Sumatera Selatan, terbagi ke dalam tiga wilayah  pemerintahan yaitu Hulu Sungai Nusa, Lesung Batu, dan Kampung Suku Kubu.  Ketiga wilayah tersebut masing-masing diperintah oleh seorang raja.  Negeri Hulu Sungai diperintah oleh Raja Empedu yang masih muda dan  terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Rakyatnya hidup aman dan  makmur karena pertanian di daerah itu maju dengan pesat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Sementara  itu, Negeri Lesung Batu diperintah oleh Pangeran Mas yang terkenal kaya  raya dan mempunyai banyak ternak kerbau. Adapun Negeri Kampung Suku  Kubu diperintah oleh Raja Kubu yang memiliki kesaktian yang tinggi.  Negeri Kampung Kubu dikenal paling tertinggal dibanding dua negeri yang  lain meskipun wilayahnya cukup subur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Suatu  ketika, Pangeran Mas mengalami kesulitan memelihara ternaknya yang  semakin hari semakin berkembangbiak. Oleh karenanya, ia berniat untuk  menyerahkan sebagian ternaknya kepada siapa pun yang berminat  memeliharanya dengan syarat kerbau-kerbau yang diserahkan tetap menjadi  miliknya, hasil dari pengembangbiakan itulah nantinya akan dibagi  bersama secara adil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Raja  Kubu yang mendengar kabar tersebut sangat berminat untuk menerima  tawaran Pangeran Mas. Ia segera mengirim utusannya ke Negeri Lesung Batu  untuk menghadap Pangeran Mas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Ampun,  Tuan! Hamba adalah utusan Raja Kubu dari Negeri Kampung Suku Kubu.  Kedatangan hamba kemari untuk menyampaikan keinginan Raja hamba yang  berminat menerima tawaran Tuan dan bersedia menaati persyaratannya,”  lapor utusan Raja Kubu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah,  kalau begitu! Pulanglah dan sampaikan kepada Raja-mu bahwa aku  menyetujui keinginannya. Besok aku akan mengirimkannya puluhan ekor  kerbau. Sampaikan juga kepada Raja-mu bahwa jika kerbau-kerbau tersebut  telah berkembangbiak, aku akan datang untuk mengambil pembagian  hasilnya,” jelas Pangeran Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Baik, Tuan! Pesan Tuan akan hamba sampaikan kepada Raja hamba,” kata utusan itu seraya mohon diri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Keesokan  harinya, Pangeran Mas mengirim berpuluh-puluh ekor kerbau jantan dan  betina kepada Raja Kubu. Raja Kubu pun menerimanya dengan senang hati.  Ia memelihara dan merawat kerbau-kerbau tersebut dengan baik.  Kerbau-kerbau tersebut ia gembalakan dan membiarkannya berkubang di  sawah-sawah yang terhampar luas di daerahnya. Kerbau peliharaannya pun  berkembangbiak dengan cepat dan hampir seluruh daerahnya telah menjadi  kubangan kerbau. Sejak itu, negeri tersebut kemudian dikenal dengan nama  Negeri Kubang dan Raja Kubu dipanggil Raja Kubang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa  tahun kemudian, Pangeran Mas merasa bahwa tibalah saatnya untuk  mengambil pembagian atas ternaknya yang dipelihara oleh Raja Kubang.  Maka dikirimlah utusannya untuk menghadap Raja Kubang. Setibanya di  sana, Raja Kubang mengikari janjinya dan menolak untuk berbagi hasil  dengan Pangeran Mas. Bahkan, ia menganggap bahwa semua kerbau yang  dipeliharanya adalah miliknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Hai, utusan! Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Raja Kubang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Ampun,  Tuan! Hamba diutus Raja Pangeran Mas kemari untuk menagih pembagian  hasil dari ternak kerbau yang Tuan pelihara,” jawab utusan Raja Pangeran  Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Apa  katamu, pembagian hasil? Tidak, semua kerbau tersebut sudah menjadi  milikku karena akulah yang merawat dan mengembangbiakkannya,” kata Raja  Kubang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Tapi, Tuan! Bukankah hal itu sesuai dengan perjanjian yang telah Tuan sepakati bersama Raja Pangeran Mas?” ujar utusan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Cuihhh…  persetan dengan perjanjian itu! Perjanjian itu hanya berlaku pada waktu  itu, tapi sekarang tidak lagi,” Raja Kubang menyangkal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa  kali utusan Raja Pangeran Mas berusaha membujuk dan memberinya  pengertian, namun Raja Kubang tetap mengingkari janjinya. Lama kelamaan  Raja Kubang merasa muak dengan bujukan-bujukan itu. Ia pun memerintahkan  pengawalnya agar mengusir utusan itu. Akhirnya, utusan Raja Pangeran  Mas pulang dengan tangan hampa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Mendengar  laporan dari utusannya, Raja Pangeran Mas sangat marah atas sikap dan  tindakan Raja Kubang. Penguasa Negeri Lesung Batu itu berniat untuk  menyerang Raja Kubang, namun apa daya Raja Kubang terkenal sakti dan  mempunyai banyak pengawal yang tangguh. Akhirnya, ia memutuskan untuk  meminta bantuan kepada Raja Empedu. Berangkatlah ia bersama beberapa  pengawalnya ke Negeri Hulu Sungai Nusa. Setibanya di sana, kedatangan  mereka disambut baik oleh Raja Empedu. Raja Pangeran Mas kemudian  mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa berpikir panjang, Raja Empedu  pun menyatakan kesediaannya untuk membantu Pangeran Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah,  Pangeran Mas! Aku akan membantu mengembalikan kerbau-kerbaumu. Raja  Kubang yang suka ingkar janji itu harus diberi pelajaran,” ujar Raja  Empedu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Tapi, bagaimana caranya Raja Empedu? Bukankah Raja Kubang itu sangat sakti?” tanya Pangeran Mas bingung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Tenang Pangeran Mas! Kita perlu strategi untuk bisa mengalahkannya,” ujar Raja Empedu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Akhirnya,  Raja Empedu bekerjasama dengan Pangeran Mas membangun strategi.  Pertama-tama mereka membagi dua pasukan mereka. Pasukan pertama bertugas  membuat hiruk pikuk seluruh rakyat Raja Kubang dengan mengadakan  pertunjukan seni dan tari pedang di Negeri Kubang. Pasukan kedua  bertugas untuk mengepung dan membakar seluruh pemukiman penduduk Negeri  Kubang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Pada  hari yang telah ditentukan, berangkatlah pasukan pertama ke Negeri  Kubang untuk mengadakan pertunjukan. Mereka masuk wilayah negeri itu  sambil membawakan lagu-lagu merdu dan tari-tarian pedang. Penduduk  Negeri Kubang pun berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukkan itu,  tidak terkecuali Raja Kubang dan para pengawalnya. Pada saat itulah,  pasukan kedua yang dipimpin oleh Raja Empedu dan Pangeran Mas segera  memanfaatkan kesempatan untuk mengepung dan membakar seluruh permukiman  warga. Para penduduk pun berlarian untuk menyelamatkan diri. Sementara  itu, Raja Kubang baru menyadari bahwa mereka telah dikepung oleh pasukan  dari dua kerajaan. Ia pun tak berdaya untuk melakukan perlawanan karena  jumlah pasukan Raja Empedu dan Pangeran Mas jauh lebih banyak daripada  pasukannya. Akhirnya, Raja Kubang menyerah dan mengembalikan seluruh  kerbau yang ada di negerinya kepada Pangeran Mas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Pangeran  Mas dan Raja Empedu beserta seluruh pasukannya menggiring kerbau-kerbau  tersebut menuju Negeri Lesung Batu. Betapa senangnya hati Pangeran Mas  karena ternak kerbaunya dapat direbut kembali dari tangan  Raja Kubang atas bantuan Raja Empedu. Sebagai ucapan terima kasih dan  balas jasa, Pangeran Mas menyerahkan putri semata wayangnya yang bernama  Putri Darah Putih kepada Raja Empedu untuk dijadikan permaisuri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah  menikah, Raja Empedu mengajak Putri Darah Putih tinggal di Negeri Hulu  Sungai Nusa. Sejak itulah, Raja Pangeran Mas merasa kesepian dan selalu  merindukan putrinya. Untuk melepas keriduannya, ia sering pergi ke  Tebing Ajam, yaitu suatu tempat yang tinggi untuk meninjau dari kejauhan  Negeri Hulu Sungai, tempat tinggal putrinya dan Raja Empedu. Hingga  kini, tebing itu terkenal dengan nama Tebing Peninjauan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;* * * &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Demikian cerita &lt;i&gt;Raja Empedu &lt;/i&gt;dari  daerah Sumatera Selatan. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat  dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan sifat suka menolong dan  akibat buruk sifat suka ingkar janji. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, sifat suka  menolong ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Raja Empedu yang telah  membantu Raja Pangeran Mas menumpas ketamakan Raja Kubang. Berkat  sifatnya yang suka menolong itu, Raja Empedu dinikahkan dengan Putri  Darah Putih yang cantik jelita. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Kedua,  akibat buruk dari sifat suka ingkar janji. Sifat ini ditunjukkan oleh  sikap dan perilaku Raja Kubang yang mengingkari perjanjiannya dengan  Raja Pangeran Mas karena keserakahannya terhadap harta. Akibatnya,  seluruh permukimannya binasa dibakar oleh Pasukan Raja Pangeran Mas dan  Raja Empedu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;ht*p://www.ceritarakyat.pustaka78.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-3597958768813753764?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/9a2LyBGnFgw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3597958768813753764?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3597958768813753764?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/9a2LyBGnFgw/raja-empedu.html" title="Raja Empedu" /><author><name>Taneak Jang  Tanah Rejang  Rejang Land</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03644424994390829057</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="29" src="http://3.bp.blogspot.com/_h8QUKh9nNTk/SRmSfzFYgMI/AAAAAAAAFiw/gJLE0BkhvjA/S220/3.jpg" /></author><georss:featurename>Musi Rawas, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-2.8625305 102.98961499999996</georss:point><georss:box>-3.4773335000000003 102.19928349999996 -2.2477275 103.77994649999995</georss:box><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2011/11/raja-empedu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cNSXY7fip7ImA9WhRRFUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-904065375369673745</id><published>2011-11-29T07:38:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T07:38:18.806-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-29T07:38:18.806-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Papua" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Cendrawasih</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6t_IeKV4sNE/TtT7nxJXyrI/AAAAAAAANRk/e6pqJtOei8Q/s1600/burung+cendrawasi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-6t_IeKV4sNE/TtT7nxJXyrI/AAAAAAAANRk/e6pqJtOei8Q/s400/burung+cendrawasi.jpg" width="316" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Burung Cendrawasih&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Di daerah Fak-fak tepatnya, pegunungan Bumberi hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah. Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh di perutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu memastikan bahwa, ternyata sahabatnya (anjing betina) itu bunting.Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si perempuan tua itu segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya. Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki diberi nama: Kweiya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu). Karenannya, Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Setiap kali, hutan lebat itu dihiasi dengan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan mengadakan kepulan asap itu.&lt;br /&gt;
Konon ada seorang pria tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Dia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Karena perasaan ingin tahu mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat. Pria itu berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki, akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setibannya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam: “weing weinggiha pohi” (artinya selamat siang) sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohonpun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristerahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat melihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar. Dan karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan menuju rumah Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan, “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Sewaktu ada dalam rumah Kweiya berbuat seolah-olah haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk di makannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusaan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Serta-merta ibunya menjerik ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Harapan agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima baik pikiran anaknya itu dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa waktu lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya dari hari ke hari hubungan persaudaraan antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri dari Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya sehingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri di salah satu sudut rumah sambil meminta tali dari kulit pohon “Pogak nggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang ditanyakan di mana Kweiya tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya berada. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar cerita itu si ibu tua merasa ibah terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi: “Eek..ek, ek, ek, ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncak di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu-sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalan itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengkar di atas pohon sambil berkicau dengan suara: wong, wong, wong, wong, ko,ko, ko, wo-wik!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sejak saat itulah burung cenderawasih muncul di permukaan bumi di mana terdapat perbedaan antara burung cenderawsih jantang dan betina. Burung cenderawasih yang buluhnya panjang di sebut siangga sedangkan burung cenderawasih betina disebut: hanggam tombor yang berarti perempuan atau betina. Keduanya dalam bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu meresa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik di bandingkan cenderawasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna buluh, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir buluh yang indah itu justru mendatangkan mala petaka bagi mereka. Dia berpikir suatu ketika orang akan memburuh mereka termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa kerena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah buluh. Kini Ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu, menjemburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur”.&lt;br /&gt;
---------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #006600;"&gt;Sumber: Penyesuaian dari Depdiknas--Cerita Rakyat Papua, (1883;23-26)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-904065375369673745?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/CRRNkqmqOgU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/904065375369673745?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/904065375369673745?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/CRRNkqmqOgU/cendrawasih.html" title="Cendrawasih" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-6t_IeKV4sNE/TtT7nxJXyrI/AAAAAAAANRk/e6pqJtOei8Q/s72-c/burung+cendrawasi.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/cendrawasih.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0AFQX4zcSp7ImA9WhRRFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-1509481394103031632</id><published>2011-11-29T01:41:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T01:41:50.089-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-29T01:41:50.089-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Papua" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Terjadinya Pohon Kelapa</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://tabloidjubi.files.wordpress.com/2008/04/asalkelapa.gif" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-thumbnail wp-image-244" height="276" src="http://tabloidjubi.files.wordpress.com/2008/04/asalkelapa.gif?w=255&amp;amp;h=174" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pada&lt;/b&gt; zaman dahulu hiduplah seorang laki-laki bernama Mora dengan istrinya yang cantik bernama Taribuy. Mora dan Taribuy adalah manusia pertama yang mendiami pulau Moor. Selama bertahun-tahun mereka berdua hidup ditengah-tengah hutan pulau karang itu. Kehidupan mereka hanya bergantung pada tumbuh-tumbuhan hutan dan hasil kebun mereka seperti tunas bambu (rebung), buah dan daun genemo, serta kacang merah dan kacang hijau. &lt;span id="more-223"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Perjalanan hidup perkawinan dua sejoli suami istri ini berlangsung aman, damai dan sejahtera bertahun-tahun lamanya. Hanya masih tersisa satu keinginan mereka berdua kepada sang pencipta, yaitu mereka ingin memperoleh anak. Sang pencipta mendengar keinginan mereka, maka pada suatu hari Taribuy merasakan suatu perubahan dalam dirinya. Pada awalnya ia masih bertanya-tanya apakah gerangan yang dia alami ini, setelah di renungkan akhirnya dia tau kalau yang dialami ini adalah jawaban dari sang pencipta akan keinginannya dan suaminya selama ini. Ia memahami bahwa didalam dirinya telah berlangsung suatu proses kehidupan, benih hasil cinta kasih antara dirinya dan suaminya selama bertahun-tahun. Ia hamil! Keadaan ini makin di rasakan ketika usia kehamilannya memasuki bulan ketiga dan keempat. Begitu Mora mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung,betapa gembiranya dia sehingga dia mengambil keputusan untuk melakukan semua pekerjaan yang biasa mereka lakukan berdua. Sedang istrinya diharuskan tinggal di rumah menjaga keselamatannya dan juga bayi yang ada di kandungannya. Mora sangat bahagia dengan kehamilan istrinya dan dia sangat bersemangat mengolah kebun serta usaha yang lainnya.&lt;br /&gt;
Tak terasa tibalah waktunya istrinya Taribuay akan melahirkan. Mereka berdua mempersiapkan segala sesuatu untuk kelahiran anak mereka. Akhirnya Taribuay melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama “Reio” yang artinya “kasihan dia”.&lt;br /&gt;
Hanya kebahagian yang selalu ada dalam kaluarga ini. Waktu terus berlalu hingga Reio sudah berumur lima tahun. Pertumbuhannya sangat di perhatikan oleh kedua orang tuanya. Mereka begitu bangga terhadap anak laki-laki mereka satu-satunya itu. Kehadirannya sungguh menyenangkan hati mereka, menjadi penghibur dikala kepenatan datang menghantui mereka.&lt;br /&gt;
Sayangnya, sang pencipta berkehendak lain! Mora ayah Reio mulai jatuh sakit. Sakitnya tak terobati, walaupun telah di lakukan berbagai usaha untuk mengembalikan kesehatannya. Segala usaha mereka tidak membuahkan hasil. Akhirnya Mora meninggal dunia, meninggalkan Taribuy dan Reio.&lt;br /&gt;
Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Mora memanggil istrinya dan berkata: “Bila saya meninggal, kuburlah jenazah saya di halaman rumah dan kau jaga serta bersihkan. Kalau ada tumbuhan yang tumbuh di situ, kau jaga dan rawatlah dengan baik karena tumbuhan itu dapat menjamin kehidupan kalian berdua”. Taribuy dan Reio dengan tekun melaksanakan amanah yang dibebankan oleh Mora. Hari berlalu bulan pun berganti, Reio dengan setia menjaga pusara ayahnya sambil menanti apa yang akan terjadi seperti apa yang di pesankan ayahnya sebelum meninggal.&lt;br /&gt;
Akhirnya pada suatu malam, tumbuhlah sebatang pohon di antara pusara ayahnya, tepatnya di bagian kepala pusara ayahnya. Pohon itu dirawat dan di pelihara dengan baik, sehingga makin hari makin besar dan akhirnya berbuah. Reio dan ibunya Taribuy yang tidak pernah melihat pohon dan buah tersebut, merasa heran melihat bentuk dan jenis buah yang dihasilkan pohon tersebut.&lt;br /&gt;
Sambil memegangi buah dari pohon tersebut Reio mulai mereka-reka apa yang akan dilakukan dengan buah tersebut. Akhirnya dia mulai menguliti buah itu. dia mulai menguliti kulit serabut buah yang sangat tebal dan dibalik kulit itu ternyata masih ada tempurung yang cukup keras. Setelah memecah tempurungnya maka terlihatlah isinya yang berwarna putih, yaitu daging kelapa. Dan pada buah yang masih muda dagingnya lembut dan pada buah yang sudah tua dagingnya agak keras. Walau demikian tidak terlalu jauh berbeda cita rasa antara keduanya. Maka buah yang berasal dari pohon yang tumbuh di bagian kepala pusara Mora itu mencitrakan dirinya sendiri. Sabut kelapa mencitrakan rambutnya, tempurungnya mencitrakan tulangnya, mata dan mulut dicitraka pada tiga lubang yang biasanya terdapat di bagian puncak buah, dan air yang terdapat di dalam tempurung mencitrakan darahnya. Sedangkan isi dari buah itu mencitrakan daging dari tubuh Mora, dan tombong atau bakal tunas mencitrakan jantungnya. Buah itu di beri nama dalam bahasa Moor “ Nera” yang artinya kepala Mora.&lt;br /&gt;
Dengan demikian bertambahlah perbendaharaan tanaman yang mereka miliki. Buah kelapa dengan dagingnya yang enak rasanya, air kelapa yang di minum menyegarkan, serta daun dan buah genemo yang di masak dengan santan kelapa terasa nikmat bila di makan. Itulah sebabnya sampai saat ini orang Moor suka sekali makan buah kelapa dan sayur daun genemo.*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #006600; font-size: 85%;"&gt;Sumber :&lt;br /&gt;
http://tabloidjubi.wordpress.com/2008/03/27/terjadinya-pohon-kelapa/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-1509481394103031632?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/ohjX4dH8ow4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/1509481394103031632?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/1509481394103031632?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/ohjX4dH8ow4/terjadinya-pohon-kelapa.html" title="Terjadinya Pohon Kelapa" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/terjadinya-pohon-kelapa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MGQ348fip7ImA9WhRRFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-5962267246859994735</id><published>2011-11-29T01:33:00.000-08:00</published><updated>2011-11-29T01:37:02.076-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-29T01:37:02.076-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Papua" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal Mula Telaga Werabur</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ibWyvfQXyv8/TtSmSnv7J7I/AAAAAAAAALs/jHIAku3oeck/s1600/desa+werabur.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-ibWyvfQXyv8/TtSmSnv7J7I/AAAAAAAAALs/jHIAku3oeck/s400/desa+werabur.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Desa Werabur terletak di Kec. Windesi Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Menurut cerita, dahulu suku Wekaburi mendiami kali sekitar Wekaburi,penduduknya bermaksud mengadakan pesta adat di kampungnya. Untuk meksud tersebut sebelumnya mereka harus menyediakan bahan perlengkapan yang dibutuhkan, antara lain membangun rumah, menyediakan makanan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
Hari penentuan pelaksanaan pesta telah tiba maka berdatanganlah masyarakat dari suku Kandami, Wettebosy, Sakarnawari dan Torambi yang mendiami daerah Azas untuk merayakan pesta yang dimaksud.&lt;br /&gt;
Para pengungjung dan undangan dipersilakan mengambil tempat dalam rumah adat yang telah dipersiapkan. Dari sekian banyak orang itu, turut hadir pula nenek tua bersama cucunya yang bernama ISOSI. Sang nenek membawa pula anjing kesayangannya ke pesta tersebut. Acara pesta sudah dimulai dan berjalan dengan merih sekali. Sementara anjing sang nenek sedang tidur nyenyek di pinggir api yang disediakan untuk berdiang. Berhubung banyak orang yang menari-nari dan bersuka-sukaan, maka terinjaklah anjing kesayangannya. Anjing itu menjerit-jerit kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat peristiwa itu si nenek sangat marah, sebaba anjing kesayangannya terinjak oleh mereka. Dengan demikian ia membawa anjing itu ke dalam kamar lalu diikatkan cawat ke anjingnya. Setelah itu ia keluar sambil memeluk anjing itu serta menari-nari dalam pesta.Sang nenek tau bahwa perbuatannya itu adalah suatu pelanggaran. Karena menurut nenek moyangnya apabila penduduk berbuat demikian akan mendatangkan kilat,guntur dan hujan. Oleh sebab itu ia cepat-cepat mengambil puntung api lalu disembunyikan dalam seruas bambu,supaya tidak kelihatan oleh orang banyak. Setelah itu ia bergegas untuk keluar sambil memanggil cucunya supaya segera mengikutinya. Mereka mengikuti jalan tapak lalu mendaki gunung Ainumuwasa pada malam itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara sekian banyak pemuda yang hadir dalam pesta itu ada seorang yang bernama ASYA. Sewaktu Asya melihat Isosi meninglkan ruangan maka iapun segera menyusul gadis idamannya. Ketika mereka berada di gunung Ainumuwasi, dilihatnyan keadaan cuaca alam sudah mulai memburuk. Tidak berapa lama disusul dengan kilat, guntur dan hujan di hulu kali Wekaburi yang makin lama makin hebat, sehingga terjadilah banjir dashyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun hujan lebat namun keadaan pesta semakin hangat dan meriah sehinggah terlupakan bahaya yang sedang mengancam. Banjirpun makin lama semakin tinggi akhirnya mencapai lantai rumah. Para pengunjung kelam kabut hendak mencari jalan untuk melupuykan diri dari bahaya tersebut. Tetapi terlambat karena banjir telah menghanyutkan rumah dan seluruh isinya ke muara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya si nenek,Isosi dan Asya turun dari gunung untuk melihat kejadian yang telah terjadi semalam itu. Setibanya di sana mereka tidak melihat rumah adat itu lagi. Orang- orangnya telah mati dan menjelma menjadi katak dan buaya. Sekarang si nenek merasa puas dengan perbuatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengisi daerah kosong itu maka atas kebijaksaan si nenek, Isosi cucunya dikawinkan dengan Asya, setelah kawin mereka membangunun sebuah rumah yang besar dan panjang dan diberi nama ANIOBIAROI. Dari perkawinan Asya dan Isosi lahir banyak anak yang kemudian saling kawin sehinggah rumah itu makin lama penuh sesak. Oleh sebab itu atas kebijakan Asya disambung rumah aniobiroi itu dan diberi nama MANUPAPAMI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun berganti tahun dan rumah manupapami yang diperkirakan dapat menampung sekian banyak orang itu, pada akhirnya penuh sesak lagi. Melihat keadaan itu maka Asya mengambil kebijaksanaan lagi untuk menyambung rumah aniobiroi kemudian diberi nama YOBARI. Walaupun rumah itu sudah dua kali disambung, namun tetap tetap, tidak dapat menampung juga semua orang yang berada di Aniobiaroi, Manupapami maupun Yobari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu untuk ketiga kalinya Asya menyambung lagi kemudian diberi nama SONESYARI dan KETARANA. Karena rumah itu sudah berkali-kali disambung menjadi Manupapami, Yobari, Sonesyari dan Ketarana, namun tidak tertampung juga semuanya. Akhirnya bersepakatlah mereka untuk memutuskan sebagian penghuninya keluar dari rumah- rumah tersebut,kemudian pergi mencari tempat tinggal baru guna membangun rumah bagi anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian dari rumah Manupapami keluarlah orang-orangnya yang kemudian menjadi WETTEBOSY. Dari rumah Yobari keluarlah orang-orang yang kemudian menjadi suku WEKABURI. Sedangkan dari rumah Sonesyari dan Keterana menjadi suku TOREMBI. Tempat baru yang didiaminya diberi nama “WERABUR” yang artinya kampung yang terletak di atas air. Jadi kata WER adalah asal dari nama NEMBIWER yang berarti air sehinggah orang-oramg Nambi memberi nama WERABUR. (*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;http://tabloidjubi.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;http://www.kaskus.us/showthread.php?p=439697616 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-5962267246859994735?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/goqQ8nKNbwQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5962267246859994735?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5962267246859994735?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/goqQ8nKNbwQ/asal-mula-telaga-werabur.html" title="Asal Mula Telaga Werabur" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-ibWyvfQXyv8/TtSmSnv7J7I/AAAAAAAAALs/jHIAku3oeck/s72-c/desa+werabur.JPG" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/asal-mula-telaga-werabur.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0QERHczeSp7ImA9WhRRFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-1064774984568823239</id><published>2011-11-28T23:21:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T23:21:45.981-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-28T23:21:45.981-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Timur" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Ande Ande Lumut</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-O_ue5M2__xs/TtSFJF8XH8I/AAAAAAAANRU/NnOc5xXISjU/s1600/ande_ande_lumut.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://1.bp.blogspot.com/-O_ue5M2__xs/TtSFJF8XH8I/AAAAAAAANRU/NnOc5xXISjU/s400/ande_ande_lumut.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulunya, Jenggala dan Kediri berada dalam suatu wilayah bernama Kahuripan. Tapi oleh Airlangga dibagi dua karena takut terjadi perang saudara. Sebelum meninggal, Airlangga sempat berpesan, Kediri dan Jenggala harus kembali disatukan dalam suatu ikatan pernikahan antara anak Jayengnagara (Penguasa Jenggal) dan anak Jayengrana (Penguasa Kediri). Tapi pernikahan bukan berdasarkan perjodohan melainkan atas dasar suka sama suka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Panji Asmarabangun (anak Jayengnagara) dan Sekartaji (anak Jayenggrana) secara rahasia sudah bersahabat sejak kecil. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama dengan ditemani Simbok dan Prasanta, dua pembantu setia. Maka ketika kemudian keluarga Jayengnagara berkunjung kerumah Jayengrana, tentu saja Panji dan Sekar jadi senyum-senyum sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata orangtua keduanya bersahabat karib dan mempunyai keinginan untuk saling berbesanan. Panji langsung saja minta diamankan saat itu juga. Sekar, meskipun malu-malu, sebenarnya menyetujui juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keputusan untuk menikahkan Panji (Temmy Rahadi) dengan Sekar (Imel Putri Cahyati) membuat Padukasari (isteri kedua Jayengrana) tidak terima. Karena Padukasari menginginkan Intan Sari yang bersanding dengan Panji. Padukasari kemudian menculik dan menyembunyikan Sekar bersama Candrawulan (Ibunda Sekar - isteri pertama Jayengrana) di rumah peristirahatan di luar kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengetahui Sekar menghilang, Panji kecewa. Langsung menolak usul Padukasari yang minta pernikahan tetap berlangsung dengan Intan Sari sebagai mempelai wanitanya. Panji yang kecewa, berkenalan untuk mencari Sekar dan Candrawulan. Kemudian diangkat anak oleh ibu Randa yang berterimakasih karena sudah menolongnya. Panji berganti nama menjadi Ande-Ande Lumut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu Candrawulan berhasil mengirim pesan ke Jayengrana melalui burung merpati. Sekar dan Candrawulan dibebaskan, Padukasari dan Intan Sari melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Sekat tidak langsung senang. Karena Panji sudah pergi berkelana entah kemana. Sekar yang kecewa, memutuskan berkelana juga untuk mencari Panji bersama Simbok. Lalu ditampung dirumah ibu Wati yang memiliki 2 anak perempuan bernama Klenting Merah dan Klenting Biru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ande-Ande Lumut terus tinggal bersama ibu Randa. Karena mau balas budi, ibu randa lalu membuka lowongan untuk siapa saja yang mau menjadi isteri Ande-Ande Lumut. Dan ternyata usaha ibu Randa memang ada hasilnya. Ande-Ande Lumut, alias Panji Asmarabangun bisa bertemu lagi dengan Sekartaji yang sudah ganti nama menjadi Klenting Kuning. Kedua sejoli tersebut lalu sepakat pulang untuk melanjutkan rencana menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;http://pangeran229.wordpress.com/2008/05/21/temmy-rahadi-ande-ande-lumut-imel-cahyati/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-1064774984568823239?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/RV7ptgG6-R8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/1064774984568823239?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/1064774984568823239?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/RV7ptgG6-R8/ande-ande-lumut.html" title="Ande Ande Lumut" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-O_ue5M2__xs/TtSFJF8XH8I/AAAAAAAANRU/NnOc5xXISjU/s72-c/ande_ande_lumut.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/ande-ande-lumut.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ak4CRXk7fSp7ImA9WhRRFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-5621644341240114691</id><published>2011-11-28T22:42:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T22:42:44.705-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-28T22:42:44.705-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Legenda Lau Kawar</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-E_6PkfT7jNg/TtR9n67lJzI/AAAAAAAANRM/tu9acjo-OUo/s1600/danau+lau+kawar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://2.bp.blogspot.com/-E_6PkfT7jNg/TtR9n67lJzI/AAAAAAAANRM/tu9acjo-OUo/s400/danau+lau+kawar.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Danau Lau Kawar, Kabupaten Karo, Sumatera Utara&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman dahulu kala tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut. Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran ‘Gendang Guro-Guro Aron’, musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadir dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya. “Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan, teringatlah ketika ia masih remaja. Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu, remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak, menantu serta cucu-cucunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahap dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahapnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aduuuh…! Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu menangisi nasibnya yang malang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Isriku! Apakah kamu sudah  mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada istrinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Belum?” jawab istrinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!” perintah sang suami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baiklah, suamiku!‘ jawab sang istri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baik, Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa  makanan itu pulang ke rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara. Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan!!.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya. “Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ya, Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!” perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama ‘Lau Kawar’.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawardari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan menyia-nyiakan amanat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;**********&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki wilayah seluas 2.127,25 km2 ini terletak di dataran tinggi Karo, Bukit Barisan, Sumatera Utara. &lt;/div&gt;Oleh karena daerahnya terletak di dataran tinggi, sehingga kabupetan ini dijuluki Taneh Karo Simalem. Kabupaten ini memiliki iklim yang sejuk dengan suhu berkisar antara 16 sampai 17C dan tanah yang subur. Maka tidak heran, jika daerah ini sangat kaya dengan keindahan alamnya. Salah satunya adalah keindahan Danau Lau Kawar, yang terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Air yang bening dan tenang, serta bunga-bunga anggrek yang indah, yang mengelilingi danau ini menjadi pesona alam yang mengagumkan.&lt;span id="more-170"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Menurut masyarakat setempat, sebelum terbentuk menjadi sebuah danau yang indah, Danau Lau Kawar adalah sebuah desa yang bernama ‘Kawar’. Dahulu, daerah tersebut merupakan kawasan pertanian yang sangat subur. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah, meskipun tidak pernah memakai pupuk dan obat-obatan seperti sekarang ini. Suatu waktu, terjadi malapetaka besar, sehingga desa Kawar yang pada awalnya merupakan sebuah desa yang subur menjelma menjadi sebuah danau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #006600; font-size: 85%;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #006600; font-size: 85%;"&gt;http://rapolo.wordpress.com/2008/05/19/legenda-lau-kawar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #006600; font-size: 85%;"&gt;http://sumateratravel.blogspot.com/2011/04/lau-kawar.html &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-5621644341240114691?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/T9KbZLREeH0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5621644341240114691?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5621644341240114691?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/T9KbZLREeH0/legenda-lau-kawar.html" title="Legenda Lau Kawar" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-E_6PkfT7jNg/TtR9n67lJzI/AAAAAAAANRM/tu9acjo-OUo/s72-c/danau+lau+kawar.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/legenda-lau-kawar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcNRHc5cSp7ImA9WhRRFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-3100715857375791112</id><published>2011-11-28T21:51:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T21:54:55.929-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-28T21:54:55.929-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Aceh" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal mula Danau Laut Tawar</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-s7X0X8ynVFo/TtRyNQRVBsI/AAAAAAAANQ8/bwJRRnV7g00/s1600/Danau+Laut+Tawar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-s7X0X8ynVFo/TtRyNQRVBsI/AAAAAAAANQ8/bwJRRnV7g00/s400/Danau+Laut+Tawar.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Danau Laut Tawar, Takengon, Nanggroeh Aceh Darussalam&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkisah dulu di Takengon pernah ada sebuah kerajaan, tdk diketahui secara jelas apa nm kerajaannya tapi yg pasti dikerajaan itu ada seorang putri yg bernama Putri Pukes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putri Pukes mencintai seorang pria dari kerajaan lain tapi hubungan mereka tdk disetujui oleh orang tua Putri Pukes. Tapi sang putri tetap teguh dgn keinginannya sehingga akhirnya terjadilah pernikahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Putri Pukes akan pergi menuju kerajaan suaminya, orang tua yg dari awal hubungan mrk tdk setuju berpesan…"Jika kau sudah pergi meninggalkan kerajaan ini janganlah sekalipun  engkau palingkan wajahmu ke belakang "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang putri yang saat itu bimbang antara sayang dgn org tuanya serta cinta pada suaminya ternyata tdk dpt menahan kesedihan akibat kehilangan itu . Serta merta saat perjalanan yang dikawal oleh bbrp prajurit itu sang putri tdk sadar memalingkan wajahnya ke belakang…tiba2 bersamaan dgn itu datanglah petir yg diiringi dgn hujan lebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Parapengawal menganjurkan kepada putri utk berteduh di sebuah gua yang tdk jauh dr tempat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berteduh dan mrk akan melanjutkan perjalanan, para pengawalpun memanggil putri yg berdiri disudut sendirian. Tapi  dipanggil berkali2 sang putri tdk menyahut, ternyata setelah didatangi badan sang putri sudah mengeras seperti batu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai sekarang patung membatu sang putri sudah membesar dibagian bawahnya, tapi msh jelas bentuk sanggul dan perawakan yg mungil dari sang putri. Bagian bawah badannya yg besar katanya diakibatkan air matanya yg sampai skrg kadang2 msh jatuh. Kata sang penjaga jika org yg mengunjungi dan mengetahui kisah putri trus merasa sedih patung sang putri bisa saja tiba2 ikut mengeluarkan air matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disana juga ada lubang tempat suami sang putri lari, yg ktnya sampai sekarang arwahnya msh sering menjaga sang putri…begitulah kt sang penjaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibat hujan deras tadi terjadilah Danau Laut Tawar yang sampai sekarang byk dikunjungi oleh orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber photo :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
http://tourismresort-indonesia.blogspot.com/2011/09/laut-tawar-lake.html&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-3100715857375791112?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/pTa5iixLxy4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3100715857375791112?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3100715857375791112?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/pTa5iixLxy4/asal-mula-danau-laut-tawar.html" title="Asal mula Danau Laut Tawar" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-s7X0X8ynVFo/TtRyNQRVBsI/AAAAAAAANQ8/bwJRRnV7g00/s72-c/Danau+Laut+Tawar.jpg" height="72" width="72" /><georss:featurename>Takengon, Indonesia</georss:featurename><georss:point>4.5469401 96.83089369999993</georss:point><georss:box>4.4908176 96.76457169999993 4.6030625999999994 96.89721569999993</georss:box><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/asal-mula-danau-laut-tawar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUCR30yeip7ImA9WhRRFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-8214334782934738871</id><published>2011-11-28T20:55:00.000-08:00</published><updated>2011-11-28T22:31:06.392-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-28T22:31:06.392-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal usul Bunga Teratai</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Diceritakan kembali oleh : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Devi Mega&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-7zxul442vXA/TtR7eb1XKFI/AAAAAAAANRE/p8pKUwa2Csk/s1600/bunga+teratai.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-7zxul442vXA/TtR7eb1XKFI/AAAAAAAANRE/p8pKUwa2Csk/s400/bunga+teratai.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bunga Teratai&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu kala ditepi gunung Semeru ada raja yang arif dan bijaksana serta perhatian kepada rakyatnya.Raja itu memimpin kerajaan disana.Raja itu bernama Raja Ranubanu.Raja Ranubanu memiliki putri yang amat cantik yang bernama Dewi Arum.Sang putri memiliki kebiasaan mandi serta senang sekali bermain air.&lt;br /&gt;
Pada suatu hari,negara UmbulWenig terserang penyakit.Penduduk desa banyak yang terserang penyakit itu dan banyak penduduk yang tewas.Raja sedih dengan keadaan itu.Sudah banyak tabib yang didatangkan namun tidak berhasil.&lt;br /&gt;
Disaat raja sudah pasrah datanglah seorang laki laki yang menghadap raja.Laki laki itu bercerita bahwa dia dapat isyarat bahwa penyakit itu disebabkan oleh salah satu bunga dan bunga itu tumbuh ditenggah danau dan harus diambil oleh putri raja.Raja pun terdiam seketika.&lt;br /&gt;
SEtalah memikirkan nasib putrinya,akhirnya putri dipanggil oleh raja.Berangkatlah putri bersama penggawak kesayanggannya.&lt;br /&gt;
Setelah menempuh perjalanan yang amat meneganggkan akhirnya sampailah dia disana.Melihat air danau yang sangat jernih dansegar,putri tidak dapat menahan hasratnya untuk berrenang.akhirnya dia mandi sampai lupa wakyu.&lt;br /&gt;
Raja dan rakyat setia menunggu kedatangan putri dan pengawalnya.Akhirnya raja menjemput putri dengan perasaaan binggung.&lt;br /&gt;
Sesampai disana raja terkejut dan mengumpat putri “Tidak selayaknya kamu menjadi anak raja!!Lebih baik kamu menjadi penunggu danau ini” .Akhirnya putri hilang dan saat itu muncullah bunga teratai yang indah.Dengan persaan menyesal raja membawa pulang bunga itu,dan sembuhlah semua rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;AMANAT:JANGANLAH MENYALAHGUNAKAN KEPERCAYAAN ORANG LAIN KEPADA DIRIMU..&lt;br /&gt;
NILAI SOSIAL:MENGORBANKAN PUTRI DEMI KESEJATERAAN RAKYATNYA…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber photo :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
http://media.tumblr.com/tumblr_kywjulyZYx1qaypke.jpg&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-8214334782934738871?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/yNu01cnLkj8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/8214334782934738871?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/8214334782934738871?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/yNu01cnLkj8/asal-usul-bunga-teratai.html" title="Asal usul Bunga Teratai" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-7zxul442vXA/TtR7eb1XKFI/AAAAAAAANRE/p8pKUwa2Csk/s72-c/bunga+teratai.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/asal-usul-bunga-teratai.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUECSX8ycCp7ImA9WxVWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-6302947190009603475</id><published>2009-02-20T22:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:27:48.198-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-20T22:27:48.198-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kalimantan Barat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Semangka Emas</title><content type="html">&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;td bg="" align="center" width="100%"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:130%;" &gt;SEMANGKA EMAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;                           &lt;/tr&gt;                           &lt;tr&gt;                             &lt;td align="center" width="100%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);font-family:Verdana,Arial;font-size:78%;"  &gt;(CERITA                               RAKYAT MELAYU SAMBAS)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;                           &lt;/tr&gt;                         &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                                                                                                  &lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-family:Times;font-size:180%;"  &gt;&lt;i&gt;&lt;span style="background-color: rgb(0, 153, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="background-color: rgb(0, 153, 0);"&gt;P&lt;i&gt;                         &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;ada                         zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar                         yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang                         anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan                         yang bungsu bernama Dermawan. Muzakir sangat loba dan                         kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang                         saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin.                         Sebaliknya Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia                         tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada                         fakir miskin.&lt;/span&gt;                          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Sebelum                         meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata                         kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak                         berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah                         meninggal kelak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Muzakir langsung                         membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam                         peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada orang miskin                         datang, bukannnya ia memberi sedekah, melainkan ia                         tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang                         pincang, buta dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu                         tidak mau pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang                         gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian                         berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Dermawan selalu                         menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka                         dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba                         melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang                         Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai                         rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih                         kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa, sekedar                         cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan                         hidupnya yang demikian.&lt;/span&gt; &lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Muzakir                         tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang                         dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah yang                         lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan                         tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Suatu hari                         Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan                         rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di                         hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan                         "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah,                         ya?" lanjut Dermawan seolah-olah ia berbicara                         dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut,                         lalau diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung                         itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya.                         Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya                         perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit                         itu diberinya makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Burung itu                         menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari                         kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan                         sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan                         harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada                         sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan                         Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji                         biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya                         menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanam di                         belakang rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Tiga hari                         kemudian tumbuhlah biji itu. Yang tumbuh adalah pohon                         semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga                         tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka                         akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah                         semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh,                         meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya satu.                          Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari                         semangka umumnya. Sedap kelihatannya dan harum pula                         baunya. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka                         itu. Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah                         mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah                         diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia                         membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa                         kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning                         yang bertumpuk di atas meja. Ketika diperhatikannya                         sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas                         urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya.                         Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung                         pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak.                         "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan.                         Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Keesokan harinya                         Dermawan memberli rumah yang bagus dengan pekarangan                         yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke                         rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan                         jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak                         dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini                         membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui                         rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di sana                         Dermawan menceritakan secara jujur kepadanya tentang                         kisahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Mengetahui hal                         tersebut, MUzakir langsung memerintahkan orang-orang                         gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah                         sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya,                         seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. MUzakir                         sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya,                         Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang                         gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan. Tentu                         saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian                         berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada                         sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun                         sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali                         kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir                         sungguh gembira.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:85%;"  &gt;Biji pemberian                         burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di                         kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan                         berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih                         besar dari semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua orang                         gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam                         rumah karena beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia                         sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja                         semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu                         lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya                         busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani                         di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan                         kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan                         raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan                         mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil                         bertepuk tangan dengan riuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:78%;"  &gt;diceritakan kembali oleh Hendy Lie&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:78%;"  &gt;(diolah dari                         Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat 2, Syahzaman,                         PT.Grasindo, 1995)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana,Arial;font-size:78%;"  &gt;&lt;!-- http://www.mail-archive.com/singkawang@yahoogroups.com/msg00081.html --&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;                       &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-6302947190009603475?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/WG-kTMhY9T0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/6302947190009603475?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/6302947190009603475?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/WG-kTMhY9T0/semangka-emas.html" title="Semangka Emas" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/semangka-emas.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEcHR308eyp7ImA9WxVXEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-3098831624321104426</id><published>2009-02-09T07:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T07:07:16.373-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-09T07:07:16.373-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kalimantan Barat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Legenda Bukit Kelam</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SZBGiVtwTMI/AAAAAAAAAKw/hhmy4PQOO4s/s1600-h/20070202060222bkelam1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SZBGiVtwTMI/AAAAAAAAAKw/hhmy4PQOO4s/s400/20070202060222bkelam1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300814317173624002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukit Kelam merupakan salah satu obyek wisata alam yang eksotis di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia. Bukit yang telah menjadi Kawasan Hutan Wisata ini memiliki panorama alam yang memesona, yaitu berupa pemandangan air terjun, gua alam yang dihuni oleh ribuan kelelawar, dan sebuah tebing terjal setinggi kurang lebih 600 meter yang ditumbuhi pepohonan di kaki dan puncaknya. Dibalik pesona dan eksotisme Bukit Kelam, tersimpan sebuah cerita yang cukup menarik. Konon, Bukit Kelam dulunya merupakan sebuah rantau.[1]  Namun, karena terjadi suatu peristiwa, maka kemudian rantau itu menjelma menjadi Bukit Kelam. Bagaimana kisahnya sehingga rantau itu menjelma menjadi bukit yang indah dan memesona? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Bukit Kelam berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di Negeri Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah dua orang pemimpin dari keturunan dewa yang memiliki kesaktian tinggi, namun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Yang pertama bernama Sebeji atau dikenal dengan Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka merusak, pendengki dan serakah. Tidak seorang pun yang boleh memiliki ilmu, apalagi melebihi kesaktiannya. Oleh karena itu, ia kurang disukai oleh masyarakat sekitar, sehingga sedikit pengikutnya. Sementara seorang lainnya bernama Temenggung Marubai. Sifatnya justru kebalikan dari sifat Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka menolong, berhati mulia, dan rendah hati. Kedua pemimpin tersebut bermata pencaharian utama menangkap ikan, di samping juga berladang dan berkebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang Beji beserta pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di sungai Simpang Melawi beraneka ragam jenis dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan sungai di Simpang Kapuas. Tidak heran jika setiap hari Temenggung Marubai selalu mendapat hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan Bujang Beji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya. Ikan-ikan tersebut kemudian dipilihnya, hanya ikan besar saja yang diambil, sedangkan ikan-ikan yang masih kecil dilepaskannya kembali ke dalam sungai sampai ikan tersebut menjadi besar untuk ditangkap kembali. Dengan cara demikian, ikan-ikan di sungai di Simpang Melawi tidak akan pernah habis dan terus berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui hal tersebut, Bujang Beji pun menjadi iri hati terhadap Temenggung Marubai. Oleh karena tidak mau kalah, Bujang Beji pun pergi menangkap ikan di sungai di Simpang Kapuas dengan cara menuba[2]. Dengan cara itu, ia pun mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak. Pada awalnya, ikan yang diperoleh Bujang Beji dapat melebihi hasil tangkapan Temenggung Marubai. Namun, ia tidak menyadari bahwa menangkap ikan dengan cara menuba lambat laun akan memusnahkan ikan di sungai Simpang Kapuas, karena tidak hanya ikan besar saja yang tertangkap, tetapi ikan kecil juga ikut mati. Akibatnya, semakin hari hasil tangkapannya pun semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai tetap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Hal itu membuat Bujang Beji semakin dengki dan iri hati kepada Temenggung Marubai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!” gumam Bujang Beji dengan geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ia merenung untuk mencari cara agar ikan-ikan yang ada di kawasan Sungai Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar pada hulu Sungai Melawi. Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memikirkan masak-masak, Bujang Beji pun memutuskan untuk mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memikul puncak Bukit Batu yang besar itu. Oleh karena jarak antara Bukit Batu dengan hulu Sungai Melawi cukup jauh, ia mengikat puncak bukit itu dengan tujuh lembar daun ilalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan sedang menertawakannya. Rupanya, tanpa disadari, dewi-dewi di Kayangan telah mengawasi tingkah lakunya. Saat akan sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia menoleh ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah dewi-dewi yang sedang menertawakannya, tiba-tiba kakinya menginjak duri yang beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aduuuhhh... !” jerit Bujang Beji sambil berjingkrat-jingkrat menahan rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus. Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah rantau yang disebut Jetak. Dengan geram, Bujang Beji segera menatap wajah dewi-dewi yang masih menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Awas, kalian! Tunggu saja pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada dewi-dewi tersebut sambil menghentakkan kakinya yang terkena duri beracun ke salah satu bukit di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enyahlah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji dengan perasaan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu[3] yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kretak... Kretak... Kretak... !!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Legenda Bukit Kelam dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk dalam cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat yang ditimbulkan dari sikap iri hati dan tamak, dan keutamaan sifat suka bermusyawarah untuk mufakat. Sifat iri hati dan tamak tercermin pada sifat dan perilaku Bujang Beji yang hendak menguasai ikan milik Temenggung Marubai yang ada di Sungai Melawi. Dari sini dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa sifat tamak dan serakah dapat menyebabkan seseorang menjadi iri dan dengki. Sifat ini tidak patut dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;kalau orang tak tahu diri,&lt;br /&gt;seumur hidup iri mengiri&lt;br /&gt;apa tanda orang serakah,&lt;br /&gt;berebut harta terbuan tuah&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Sementara sifat suka bermusyawarah untuk mufakat terlihat pada perilaku kawanan sampok dan beruang yang berusaha untuk menggagalkan rencana jelek Bujang Beji yang hendak membinasakan dewi-dewi di kayangan. Menurut Tenas Effendy, melalui musyawarah dan mufakat, tunjuk ajar dapat dikembangkan dengan pikiran, ide, atau gagasan yang dapat disalurkan. Dalam ungkapan Melayu dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;di dalam musyawarah,&lt;br /&gt;buruk baiknya akan terdedah&lt;br /&gt;di dalam mufakat,&lt;br /&gt;berat ringan sama diangkat&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Isi cerita diadaptasi dari. Anonim. (http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Liputankhusus&amp;amp;id=153887, diakses tanggal 12 Mei 2008).&lt;br /&gt;Anonim. “Sintang”, (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tanggal 12 Mei 2008).&lt;br /&gt;Anonim. “Rantau”, (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tanggal 12 Mei 2008).&lt;br /&gt;Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.&lt;br /&gt;Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.&lt;br /&gt;Melayu Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Rantau berarti pantai sepanjang teluk (sungai); pesisir (lawan darat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Menuba artinya meracun ikan-ikan dengan tuba, yaitu sejenis racun ikan dari akar tumbuh-tumbuhan hutan yang sangat memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Pohon kumpang mambu adalah sejenis kayu raksasa yang ujungnya menjulang tinggi ke angkasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-3098831624321104426?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/B-BBOofEN6A" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3098831624321104426?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3098831624321104426?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/B-BBOofEN6A/legenda-bukit-kelam.html" title="Legenda Bukit Kelam" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SZBGiVtwTMI/AAAAAAAAAKw/hhmy4PQOO4s/s72-c/20070202060222bkelam1.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/legenda-bukit-kelam.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0EMRnY8eyp7ImA9WxVXEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-7189904663887233102</id><published>2009-02-09T06:58:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T07:01:27.873-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-09T07:01:27.873-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kalimantan Barat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Batu Menangis</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur. Provinsi ini memiliki ratusan sungai besar dan kecil, sehingga dijuluki sebagai wilayah “Seribu Sungai”. Menurut cerita, di sebuah daerah di provinsi ini ada seorang gadis cantik yang menjelma menjadi batu. Peristiwa apa yang menimpa gadis itu, sehingga menjelma menjadi batu? Ingin tahu cerita selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Menangis Berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi.  Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara putrinya, Darmi, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah,” ajak sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur,” jawab Darmi menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?” tanya sang Ibu mengiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu,” jawab Darmi dengan ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu! Mana uang upahnya itu!” seru Darmi kepada Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini,” ujar sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru,” kata Darmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja,” kata sang Ibu kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Darmi menolak ajakan Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  setelah didesak, Darmi pun bersedia menemani Ibunya ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata Darmi kepada Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memang kenapa, Nak!” tanya Ibunya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu,” jawab Darmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?” tanya sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku  malu punya Ibu berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya. Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan Ibunya mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya temannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke pasar!” jawab Darmi dengan pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu, siapa orang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?” tanya lagi temannya sambil menunjuk orang tua yang membawa keranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hendak ke pasar,” jawab Darmi singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa yang di belakangmu itu?” tanya lagi orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia pembantuku,” jawab Darmi mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu! Kenapa berhenti?” tanya Darmi heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, Ibu sedang apa?” tanya Darmi dengan nada membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!” doa sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu?” tanya Darmi sambil berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” seru Darmi semakin panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sikap durhaka terhadap orang tua. Oleh karena itu, seorang anak harus hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, karena doa ibu akan didengar oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan sifat durhaka ini, dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;kalau hidup mendurhaka,&lt;br /&gt;kemana pergi akan celaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau suka berbuat durhaka,&lt;br /&gt;orang benci Tuhan pun murka&lt;/blockquote&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Isi cerita diadaptasi dari "Cerpen: Batu Menangis”, (http://s.tf.itb.ac.id/~armanto/cerpen/batumenangis/, diakses tanggal 3 Mei 2008).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anonim. “Cerita Rakyat Kalbar,” (http://www.geocities.com/kesumawijaya/ceritarakyat/kalbar1.html, diakses tanggal 3 Mei 2008).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anonim. “Kalimantan Barat”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat, diakses tanggal 3 Mei 2008).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melayu online&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-7189904663887233102?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/rbI71OD6qbo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/7189904663887233102?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/7189904663887233102?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/rbI71OD6qbo/batu-menangis.html" title="Batu Menangis" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/batu-menangis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0QFR349fSp7ImA9WxVXEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-1558496716497722904</id><published>2009-02-09T06:53:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T06:55:16.065-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-09T06:55:16.065-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kalimantan Barat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Semangka Emas (Sambas)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Rambut sama hitam, hati lain-lain,” (Sungguhpun manusia mempunyai persamaan pada zahirnya, namun sifat, kelakuan, perasaan dan hati masing-masing adalah berbeda). Makna peribahasa ini tergambar dalam sebuah cerita rakyat di daerah Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita ini mengisahkan tentang dua orang bersaudara yaitu Muzakir dan Dermawan. Keduanya adalah putra dari seorang saudagar kaya di daerah itu. Setelah orang tuanya meninggal, keduanya mendapat harta warisan yang sama banyaknya. Namun, kedua orang bersaudara ini memiliki sifat, kelakuan, perasaan dan hati yang berbeda. Muzakir memiliki sifat yang sangat kikir. Ia enggan untuk mengeluarkan uang atau hartanya untuk kepentingan apapun. Sebaliknya, Dermawan, sesuai dengan namanya, memiliki sifat yang sangat dermawan. Ia suka mengeluarkan uang atau hartanya untuk kepentingan yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun orang lain. Suatu ketika, si Dermawan jatuh miskin, karena sebagian besar hartanya disumbangkan kepada orang-orang miskin. Muzakir yang mendengar kabar itu tertawa terpingkal-pingkal, karena dikiranya saudaranya itu orang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa waktu, Muzakir mendengar kabar lagi tentang Dermawan, bahwa saudaranya itu sudah tidak miskin lagi. Ia tiba-tiba menjadi kaya-raya, rumahnya sangat besar dan kebunnya sangat luas. Hal ini membuat Muzakir penasaran untuk mengetahui rahasia keberhasilan saudaranya yang tiba-tiba kaya mendadak. Pembaca yang budiman, penasaran juga kan…? Bagaimana cara Dermawan bisa kaya mendadak? Mau tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Semangka Ema berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Sambas, Kalimantan Barat, hiduplah seorang saudagar yang kaya-raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Namun, keduanya memiliki sifat dan tingkah laku yang sangat berbeda. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang. Ia tidak pernah memberikan sedekah kepada fakir miskin. Sebaliknya, Derwaman sangat peduli dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Ia tidak rakus dengan harta dan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggal dunia, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Ia bermaksud agar anak-anaknya tidak berbantahan dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak. Setelah harta tersebut dibagi, Muzakir dan Dermawan tinggal terpisah di rumahnya masing-masing. Muzakir tinggal di rumahnya yang mewah, demikian pula Dermawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang bagian Muzakir dimasukkan ke dalam peti, lalu ia kunci. Bila ada orang miskin datang ke rumahnya, ia bukannya memberinya sedekah, melainkan tertawa mengejeknya. Bahkan ia tidak segan-segan mengusirnya jika orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya. Suatu hari, seorang perempuan tua dengan pakaian compang-camping berjalan terseok-seok datang menuju rumah Muzakir. Di depan rumah Muzakir, nenek tua itu memohon belas kasihan, “Tuan, kasihanilah nenek. Berilah nenek sedekah!” Mendengar suara nenek itu, Muzakir keluar dari dalam rumahnya dan menertawakan perempuan tua itu, “Ha ha ha…. Hai nenek jelek, pergi kau dari sini! Aku muak melihat wajahmu yang keriput itu!” Meskipun dibentak, nenek tua itu tidak mau beranjak. Ia pun terus mengiba kepada Muzakir, “Tapi tuan, nenek sudah dua hari tidak makan, kasihanilah nenek.” Melihat nenek itu tidak mau pergi, Muzakir menyuruh orang gajiannya untuk mengusirnya. Akhirnya, perempuan tua yang malang itu pun pergi tanpa mendapat apa-apa, kecuali penghinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang miskin yang sudah mengetahui sifat Muzakir yang kikir itu, termasuk si nenek tua tadi, tidak mau lagi ke rumah Muzakir. Mereka kemudian berduyun-duyun ke rumah Dermawan. Berbeda dengan sifat Muzakir, Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin tersebut dengan senang hati dan ramah. Mereka dijamunya makan dan diberinya uang karena ia merasa iba melihat mereka hidup miskin dan melarat. Hampir setiap hari orang-orang miskin datang ke rumahnya. Lama-kelamaan harta dan uang Dermawan habis, sehingga ia tidak sanggup lagi menutupi biaya pemeliharaan rumahnya yang besar. Akhirnya, ia pindah ke rumah yang lebih kecil, dan mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur dengan keadaan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. “Itulah akibatnya selalu melayani orang-orang miskin. Pasti kamu juga ikut miskin, dasar memang tolol si Dermawan itu,” gumam si Muzakir. Bahkan, Muzakir merasa bangga sekali karena bisa membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan, "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah, ya?" lanjut Dermawan berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalu diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Burung itu pun menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan akhirnya ia pun terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya burung pipit itu kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, lalu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tersenyum melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun hanya biji biasa, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanamnya di belakang rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Ternyata, yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya, karena banyak sekali bunganya. “Kalau bunganya ini semuanya menjadi buah, saya pasti kenyang makan semangka dan sebagiannya bisa saya sedekahkan kepada fakir miskin,” kata Dermawan dalam hati berharap. Tetapi aneh, setelah beberapa minggu semangka itu ia pelihara dengan baik, namun di antara bunganya yang banyak itu hanya satu yang menjadi buah. Meskipun hanya satu, semangka itu semakin hari semakin besar, jauh lebih besar dari semangka umumnya. Dermawan tergiur melihat semangka besar itu. “Kelihatannya sedap sekali semangka ini. Mmm….harum sekali baunya,” ucap Dermawan setelah mencium semangka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya semangka itu dipanen. Dermawan memetik buah semangka itu. “Wah…, bukan main beratnya semangka ini,” gumam Dermawan sambil terengah-engah mengangkat semangka itu. Kemudian ia membawa semangka itu masuk ke dalam rumahnya, dan diletakkannya di atas meja. Lalu dibelahnya dengan pisau. Setelah semangka terbelah, betapa terkejutnya Dermawan. “Wow, benda apa pula ini?” tanya Dermawan penasaran. Ia melihat semangka itu berisi pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Disangkanya hanya pasir biasa. Setelah diperhatikannya dengan sungguh-sungguh, ternyata pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia tidak sadar kalau dari luar rumahnya ada seekor burung memperhatikan tingkahnya. Setelah burung itu mencicit, baru ia tersadar. Ternyata, burung itu adalah burung pipit yang pernah ditolongnya. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan dengan senangnya. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Dermawan membeli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Meskipun setiap hari dan setiap saat orang-orang miskin tersebut datang ke rumahnya, Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu. Uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah-ruah. Tersiarlah kabar di seluruh kampung bahwa Dermawan sudah tidak miskin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, berita keberhasilan Dermawan terdengar oleh abangnya, Muzakir. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Ia pun ingin mengetahui rahasia keberhasilan adiknya, lalu ia pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepada Muzakir tentang kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui hal tersebut, Muzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kakinya atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, tak seekor burung pun yang mereka temukan dengan ciri-ciri demikian. Muzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Ia gelisah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan burung yang patah sayapnya. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan (sumpit). Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung itu. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Tak lama, burung itu kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira. Dalam hatinya, ia selalu berharap agar cepat menjadi kaya, “Ah, sebentar lagi saya akan menjadi kaya-raya dan melebihi kekayaan si Dermawan,” kata Muzakir dalam hati tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tiga hari kemudian, tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Beberapa bulan kemudian, tibalah waktunya semangka itu dipanen. Dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir sudah tidak sabar lagi ingin melihat emas urai murni berhamburan dari dalam semangka itu. Ia pun segera mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil muntah-muntah, karena tidak tahan dengan bau lumpur itu. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya. Dermawan menjadi sangat malu ditertawakan oleh orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita di atas, dapat dipetik hikmahnya bahwa sekecil apa pun pemberian orang, harus kita terima dengan senang hati. Karena kita mana tahu, kalau benda kecil itu sangatlah berharga. Hal ini tercermin pada sifat Dermawan ketika ia menerima biji kecil dari burung pipit. Ia menerimanya dengan senang hati, dan ia tidak menyangka kalau biji kecil itu akan menjadi emas urai murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah lain yang dapat diambil dari cerita di atas adalah menjadi orang dermawan memang membutuhkan suatu pengorbanan, baik materil maupun moril. Pengorbanan tersebut hanya Allah SWT saja yang dapat menggantinya, itu sangat cepat dan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Hal ini tercermin pada sifat Dermawan yang suka menolong fakir miskin meskipun ia sendiri ikut menjadi miskin. Namun, semua pengorbanan yang telah dilakukan Dermawan tersebut dibalas oleh Allah SWT, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari apa yang telah ia dermakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika kita menjadi orang yang loba, kikir, tidak mau memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, maka Allah SWT enggan untuk membalasnya dengan kebaikan. Seperti yang dialami oleh Muzakir, karena ia suka menumpuk-numpuk harta dan tidak mau bersedekah kepada fakir miskin, maka Allah membalasnya dengan kehinaan. Ia menjadi terkucilkan dari masyarakat di sekitarnya. Ketika ia berharap mendapat emas, lumpur berbau bangkai yang ia peroleh, dan orang-orang di sekitarnya pun menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta datangnya dari Allah SWT Yang Maha Pemberi Rezeki dan Mahakaya. Harta itu dititipkan kepada manusia agar mereka bisa beramal dan bersedekah dengan ikhlas semata-mata karena mengharap keridaan-Nya. Dengan demikian, manusia akan mendapatkan balasan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat daripada-Nya. Oleh karena itu, marilah memperbanyak sedekah dan membantu orang lain, terutama orang-orang yang tidak seberuntung kita. Senang jadi dermawan, kejutan akan datang tiap saat, hidup menjadi semakin indah dan dunia akan tersenyum melihat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;www.mail-archive.com&lt;br /&gt;melayu online&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-1558496716497722904?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/mUjeXP9KA4U" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/1558496716497722904?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/1558496716497722904?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/mUjeXP9KA4U/semangka-emas-sambas.html" title="Semangka Emas (Sambas)" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/semangka-emas-sambas.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkIFR3o5eCp7ImA9WxVXEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-2650456758906587039</id><published>2009-02-08T19:32:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:35:16.420-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-08T19:35:16.420-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Riau" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Legenda Putri Mambang Linau</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Riau adalah salah satu propinsi di Indonesia yang kaya dengan pelbagai jenis kesenian tradisional yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Riau. Pelbagai jenis kesenian tradisional tersebut adalah seni tari, seni musik, seni ukir, seni tenun, seni lukis, seni bela diri, dan teater rakyat. Di antara jenis kesenian tersebut, seni tari (tarian) merupakan jenis kesenian Melayu Riau yang paling menonjol. Seni tari atau tarian merupakan jenis seni gerak yang memiliki gerakan-gerakan khusus. Setiap daerah dan suku-bangsa mempunyai gerakan-gerakan tersendiri dalam memperagakan sebuah tarian. Dibalik gerakan-gerakan tersebut terdapat cerita-cerita yang menarik. Salah satu tari yang memiliki cerita menarik di Riau adalah tari Olang-olang. Tarian ini sangat digemari oleh puak Melayu Sakai di kabupaten Bengkalis, Riau. Mereka mempercayai bahwa tarian ini lahir dari sebuah cerita legenda yang mengisahkan pertemuan seorang pemuda dengan seorang gadis jelita dari kayangan yang sangat gemulai menari, lalu keduanya bercinta kasih. Namun, jalinan kasih mereka putus, karena si gadis melanggar pantangan yang telah mereka buat. Pantangan apa yang dilanggar gadis itu? Bagaimana kisah pertemuan mereka hingga akhirnya berpisah? Ikuti kisahnya dalam Legenda Putri Mambang Linau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di tanah Bengkalis hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Enok. Ia hidup miskin dan sebatang kara, tak berayah, tak beribu, tak juga bersaudara. Namun, ia adalah pemuda yang baik dan pemurah hati. Pekerjaan sehari-harinya mencari kayu api di dalam hutan, yang kemudian dijualnya ke pasar atau ditukarkannya dengan beras dan keperluan hidupnya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, Bujang Enok sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia dihadang seekor ular berbisa. “Ssssss......Ssssss.....”, ular itu berdesis menjulur-julurkan lidahnya ke arah Bujang Enok. Melihat ular itu, Bujang Enok berusaha menghalaunya dengan baik, namun tidak juga mau pergi. Lalu ia pun mendiamkannya. Ketika ia diamkan, ular itu justru hendak mematuk Bujang Enok. Dengan terpaksa, Bujang Enok pun melecutnya dengan semambu (tongkat rotan), pusaka peninggalan almarhum ayahnya. Sekali lecut, ular berbisa itu pun menggeliat, lalu mati. Setelah melihat tak bergerak lagi, Bujang Enok segera mengubur ular itu di pinggir jalan. Setelah itu, ia pun mulai mengumpulkan kayu api. Ketika akan memulai pekerjaannya, ia mendengar suara perempuan sedang bercakap-cakap. “Ular berbisa itu telah mati”, kata sebuah suara perempuan dari arah lubuk di hulu sungai. “Syukurlah, kita tidak akan diganggu ular itu lagi”, sahut suara perempuan lainnya. Semakin lama, suara-suara tersebut semakin jelas terdengar oleh Bujang Enok, namun ia tidak menghiraukan suara tersebut, dan ia terus melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kayu api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tengah hari, seperti biasanya Bujang Enok pulang ke pondoknya. Ketika dia masuk ke dapur pondoknya, Bujang Enok merasa heran, karena di dapurnya telah tersedia nasi dan segala lauk pauk yang lezat rasanya. Karena lapar yang tak tertahan, ia pun langsung melahap semua hidangan yang tersaji itu. Sambil menikmati kelezatan makanan itu, Bujang Enok menebak-nebak dalam hati, “Ibuku sudah meninggal dunia, aku pun tak punya saudara, tetanggaku juga sangat jauh dari sini. Lalu, siapa ya.....yang menghidangkan makanan ini?”. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk dalam benaknya. Karena penasaran, ia pun berniat untuk mencari tahu orang yang menghidangkan makanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Bujang Enok melaksanakan niatnya untuk mencari tahu orang yang telah berani masuk ke dalam pondoknya. Hari itu ia memutuskan tidak pergi ke hutan. Dari pagi hingga siang ditunggunya orang yang masuk ke pondoknya. Bujang Enok menunggu di antara semak-semak yang berada tak jauh dari pondoknya. Menjelang tengah hari, tiba-tiba dari arah lubuk, datang tujuh gadis jelita. Mereka datang beriring-iringan dan menjunjung hidangan, lalu masuk ke dalam pondok Bujang Enok. Ketujuh gadis itu mengenakan selendang berwarna pelangi. Namun dari ketujuh gadis itu, gadis yang berselendang warna jinggalah yang paling cantik. “Waw, cantik sekali gadis yang berselendang jingga itu?”, gumam Bujang Enok sambil mengawasi gadis itu hingga hilang dari pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, ketujuh gadis itu keluar dari pondok Bujang Enok, dan berjalan ke arah lubuk hulu sungai. Dengan langkah hati-hati, Bujang Enok membuntuti ketujuh gadis jelita itu hingga ke pinggir lubuk hulu sungai, lalu bersembunyi di rimbunan semak-semak. Di balik semak-semak itu, Bujang Enok dapat melihat ketujuh gadis itu tengah berganti pakaian yang akan mandi. Masing-masing gadis itu menyangkutkan selendangnya pada sebuah ranting kayu. Mereka mandi sambil bersendau gurau, hingga tak menyadari kehadiran Bujang Enok yang tak jauh dari tempat mereka mandi. Suasana yang ramai itu, digunakan Bujang Enok untuk mengambil selendang yang tergantung di ranting. Dari balik semak-semak, Bujang Enok mengaitkan sebuah tongkat ke selendang yang berwarna jingga. Kemudian ia menariknya dengan pelan-pelan, lalu meraih selendang itu dan menyembunyikan di balik bajunya. Setelah itu, ia pun kembali bersembunyi di balik semak-semak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mandi, ketujuh gadis itu naik ke tepi lubuk lalu berganti pakaian. Masing-masing mengambil dan mengenakan selendangnya yang tergantung di ranting. Namun, di antara ketujuh gadis itu ada seorang gadis yang kehilangan selendang. “Selendang saya di mana?, tanya gadis itu sambil mencari-cari selendangnya yang hilang. Namun, tak seorang pun temannya yang tahu keberadaan selendang itu. Lalu, gadis itu meneruskan pencariannya, dibantu keenam gadis lainnya. Setelah beberapa lama mereka mencari, tapi selendang jingga itu tak kunjung ditemukan. Menjelang sore, keenam gadis yang telah mengenakan selendang, tiba-tiba menari dan kemudian melayang-layang terbang ke angkasa meninggalkan gadis yang kehilangan selendang itu seorang diri di tepian lubuk. Sementara itu, Bujang Enok tercengang-cengang menyaksikan peristiwa itu dari balik semak-semak. Bujang Enok terus memandangi keenam gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Makin tinggi terbang ke angkasa, makin kecil keenam gadis itu terlihat. Sampai akhirnya mereka menghilang dari pandangan Bujang Enok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Bujang Enok keluar dari persembunyiannya dan menghampiri gadis yang sedang mencari-cari selendangnya. “Apa yang kau cari, wahai gadis cantik?” tanya Bujang Enok. “Tuan, apabila Tuan mengetahui selendang berwarna jingga, hamba mohon kembalikanlah selendang itu,” pinta Gadis itu sambil menyembah. Bujang Enok menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata: “Saya bersedia mengembalikan selendang jingga milik Tuan Putri, tetapi dengan syarat, Tuan Putri bersedia menikah dengan saya,” kata Bujang Enok. “Ya, saya berjanji bersedia menikah dengan Tuan, asalkan Tuan sanggup berjanji pula, apabila saya terpaksa harus menari, berarti kita akan bercerai kasih,” kata gadis jelita itu dengan tulus. “Baiklah, saya bersedia mengingat janji itu. Nama saya Bujang Enok,” jelas Bujang Enok memperkenalkan dirinya. “Nama saya Mambang Linau,” kata gadis jelita itu membalasnya. Sejak saat itu, mereka menjalin cinta kasih dalam sebuah bahtera rumah tangga. Bujang Enok dan Mambang Linau hidup bahagia, rukun dan berkecukupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menikah dengan Mambang Linau, Bujang Enok semakin terkenal di kampungnya dengan sifat pemurahnya. Kepemurahan hati Bujang Enok itu terdengar oleh Raja yang berkuasa di negeri itu. Kemudian sang Raja pun memanggil Bujang Enok menghadap kepadanya untuk diangkat menjadi Batin (Kepala Kampung) di kampung Petalangan. Bujang Enok pun datang ke istana. Setelah di hadapan Raja, “Ampun, Baginda! Ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?”, tanya Bujang Enok sambil memberi hormat. “Wahai Bujang Enok, bersediakah kamu saya jadikan Batin di kampung Petalangan?‘, sang Raja bertanya pula. “Ampun, Baginda! Jika itu kehendak Baginda, dengan senang hati hamba bersedia menjadi Batin”, jawab Bujang Enok pelan sambil memberi hormat. Kesediaan Bujang Enok menjadia Batin membuat sang Raja senang. Beberapa hari kemudian, Bujang Enok pun dilantik menjadi Batin di kampung Petalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menjadi Batin, Bujang Enok pun menjadi salah seorang kepercayaan sang Raja. Setiap mengadakan pesta, sang Raja selalu mengundang Bujang Enok. Suatu hari, sang Raja mengadakan pesta di istana. Dalam pesta itu wajib diisi dengan tari-tarian yang dipersembahkan oleh dayang, istri pembesar istana, istri para penghulu dan kepercayaan raja, termasuk istri Bujang Enok, Putri Mambang Linau. Setelah acara dimulai, satu persatu para istri mempersembahkan tarian mereka. Putri Mambang Linau yang sedang menyaksikan pertunjukan tarian itu, mulai berdebar-debar. Dalam hatinya, “Jika aku ikut menari, berarti aku akan bercerai dengan Suamiku”. Baru saja ia selasi bergumam, tiba-tiba, “Kami persilakan Putri Mambang Linau,” titah Raja diiringi tepuk tangan para hadirin. Mendengar titah sang Raja, hatinya pun semakin berdebar kencang. Bujang Enok yang duduk di sampingnya menoleh ke arah istrinya, “Wahai adinda Mambang Linau, kakanda menjunjung tinggi titah raja,” bisik Bujang Enok. Mambang Linau mengerti maksud bisikan suaminya, lalu menjawab “Demi menjunjung titah raja dan rasa syukur atas tuah negeri, saya bersedia menari,” jawab Mambang Linau seraya mengenakan selendang berwarna jingga dan kemudian menuju ke atas pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai tariannya, Putri Mambang Linau terlebih dahulu melakukan gerakan-gerakan persembahan untuk menjaga tata kesopanan dalam istana dan menghormati sang Raja. Setelah itu, ia pun mulai menari layaknya seekor burung elang. Ia melambaikan selendangnya seraya mengepak-ngepakkannya. Perlahan-lahan kakinya diangkat seperti tak berpijak di bumi. Tiba-tiba Mambang Linau meliukkan badannya, dan seketika itu ia pun terbang melayang, membubung ke angkasa menuju kayangan. Semua yang hadir terperangah menyaksikan peristiwa tersebut. Sejak itu, Putri Mambang Linau tidak pernah kembali lagi. Sejak itu pula, Batin Bujang Enok bercerai kasih dengan Putri Mambang Linau. Betapa besar pengorbanan Bujang Enok. Ia rela bercerai dengan istrinya demi menjunjung tinggi titah sang Raja. Menyadari hal itu, sang Raja pun menganugerahi Bujang Enok sebuah kehormatan yaitu dilantik menjadi Penghulu yang berkuasa di istana. Dari peristiwa ini pula lahir sebuah pantun yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah seulas si buah limau&lt;br /&gt;Coba cicipi di ujung-ujung sekali&lt;br /&gt;Sudahlah pergi si Mambang Linau&lt;br /&gt;Hamba sendiri menjunjung duli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu, Raja Negeri bertitah bahwa untuk menghormati pengorbanan Bujang Enok, maka setiap tahun diadakan acara tari persembahan. Tarian ini mengisahkan Putri Mambang Linau sejak pertemuan sampai perpisahannya dengan Bujang Enok. Karena gerakannya menyerupai burung elang yang sedang melayang (elang babegar), maka tarian itu dinamakan tarian elang-elang. Kini, masyarakat Riau lebih senang menyebutnya tari olang-olang. Tarian olang-olang ini biasanya dimainkan dengan diiringi oleh gendang (gubano) rebab, calempong dan gong. Tarian ini dapat dijumpai di kecamatan Siak dan Merbau, kabupaten Bengkalis, Riau, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Legenda Puteri Mambang Linau. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2005.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Budaya Tradisional Bengkalis. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu UNRI (P2BKM-UNRI).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melayu Online&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-2650456758906587039?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/nFbC313MzwA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/2650456758906587039?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/2650456758906587039?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/nFbC313MzwA/legenda-putri-mambang-linau.html" title="Legenda Putri Mambang Linau" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/legenda-putri-mambang-linau.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkUGQHk7eyp7ImA9WxVXEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-3403169351281385917</id><published>2009-02-08T19:24:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:30:21.703-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-08T19:30:21.703-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Riau" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Si Bujang: Asal Mula Burung Punai</title><content type="html">Ada beberapa versi mengenai cerita asal-mula Burung Punai. Setiap versi memiliki alur cerita yang berbeda-beda. Versi cerita rakyat tentang asal-mula Burung Punai di Kalimantan Selatan berbeda dengan cerita rakyat di Pelalawan, Riau. Cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat di Kalimantan Selatan – seperti tergambar pada cerita yang lalu dalam portal ini - mengisahkan tentang seorang pemuda yang bernama Datu Pulut, menikah dengan seorang bidadari dari Kahyangan. Namun, karena si Pemuda melanggar larangan yang pernah mereka sepakati bersama sebelum menikah, sang Bidadari pun berubah menjadi Burung Punai.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sementara cerita rakyat tentang asal-mula Burung Punai yang berkembang di kalangan masyarakat Pelalawan, Riau, Indonesia, memiliki alur cerita yang berbeda. Dalam cerita tersebut dikisahkan seorang anak laki-laki yang bernama si Bujang, yang durhaka terhadap kedua orang tuanya. Oleh karena kedurhakannya tersebut, Bujang dikutuk menjadi seekor Burung Punai. Apa yang menyebabkan si Bujang durhaka terhadap kedua orang tuanya? Bagaimana ceritanya hingga ia berubah menjadi seekor Burung Punai? Ingin tahu jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Si Bujang: Asal Mula Burung Punai berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SY-jDp0EuhI/AAAAAAAAAKo/p9TXz0s0WCg/s1600-h/punai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 283px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SY-jDp0EuhI/AAAAAAAAAKo/p9TXz0s0WCg/s400/punai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300634569597565458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Bujang. Hidup mereka sangat miskin. Meskipun hidup miskin, keduanya sangat sayang terhadap anak semata wayangnya. Mereka berharap dan selalu berdoa kepada Tuhan agar anak tunggalnya itu kelak menjadi anak yang shaleh, berbudi luhur, berilmu pengetahuan dan berguna bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, orang tuanya telah bertekad bekerja keras mencari rezeki yang halal sebagai modal untuk mendidik si Bujang. Setiap hari sang Ayah pergi ke ladang dan mencari ikan di sungai. Hasilnya ia jual ke desa-desa tetangga. Meskipun harus berjalan berhari-hari dengan membawa beban berat, sang Ayah tidak pernah mengeluh atau merasa lelah demi kebahagiaan anaknya. Uang hasil penjualannya tersebut, ia tabung sedikit demi sedikit. Ia sendiri hidup sangat hemat. Makan dan berpakaian seperlunya saja. Ia selalu berdoa kepada Tuhan agar senantiasa diberikan kesehatan untuk bisa mendapatkan lebih banyak rezeki demi masa depan Bujang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu. Bulan berganti Bulan. Si Bujang tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah dan cerdas. Kedua orang tuanya amat bangga dan bahagia melihat anak tumpuan harapan mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup besar, Bujang pun diserahkan ke sebuah surau di kampung itu untuk belajar mengaji. Sejak itu ia sangat rajin pergi mengaji. Setiap hari ia pergi ke surau bersama teman-temannya. Jika kampungnya dilanda banjir, Bujang diantar oleh ayahnya dengan sebuah perahu kecil. Waktu pulang ia dijemput oleh emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu kebiasaan di Pelalawan, apabila air surut dan tanah sudah kering, semua anak-anak bermain gasing. Sebenarnya, banyak orang tua yang jengkel jika musim bergasing itu tiba. Mereka jengkel melihat anak-anak mereka yang asyik bermain gasing yang lupa segalanya. Bahkan, anak-anak mereka terkadang lupa pulang untuk makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, musim bergasing itu tiba. Bujang dan teman-temannya asyik bermain gasing dari pagi hingga petang hari. Orang tuanya mulai gelisah. Sudah beberapa hari si Bujang tidak pergi mengaji. Guru mengajinya sudah berkali-kali ke rumah orang tuanya menanyakan keadaannya. Hati kedua orang tuanya semakin kesal melihat perangai anak tunggal yang diharapkannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, di saat hari sudah petang, si Bujang baru pulang dari bermain gasing. Kedua orang tuanya sudah menunggunya di depan pintu. Melihat si Bujang datang, emaknya menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Jang, sudah berapa lama kamu tidak pergi mengaji ke surau? Kamu selalu asyik bermain gasing sehingga lupa segala-galanya. Apa kamu tidak jemu-jemu bermain gasing, Jang? Kamu mau emak memberimu makan gasing?” Mendengar omelan emaknya, si Bujang hanya diam dan menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai ibunya mengomelin si Bujang, kini giliran ayahnya. “Jang, ayah tengok kamu asyik bermain gasing saja. Sampai-sampai kamu lupa makan-minum, apalagi mengaji. Sejak bermain gasing, kamu sudah tidak pernah lagi membantu emakmu. Apa kamu bisa kenyang makan gasing?” ujar sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Bujang tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak berani membantah kata-kata ayahnya, karena ia memang merasa bersalah. Namun, omelan kedua orang tuanya itu tidak membekas dalam hatinya. Semua kata-kata orang tuanya hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Ketika ayahnya pergi ke ladang, ia pergi lagi bermain gasing. Begitulah setiap hari yang dilakukannya. Pendeknya, Bujang sudah lupa segalanya. Orang Pelalawan mengatakan, “kalau anak sudah kena hantu gasing, ia tidak dapat bekerja apa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari si Bujang tidak pulang. Ayahnya sudah tidak mau lagi mencarinya. Ia sudah tidak perduli lagi dengan kelakuan anaknya. Pada suatu malam, sang Ayah berkata kepada istrinya, “Barangkali inilah resikonya terlalu memanjakan anak. Lihatlah si Bujang anak kita, semakin dimanja semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, mulai sekarang kita biarkan saja, tidak usah kita hiraukan.” Mendengar ujaran suaminya, sang Istri pun mengangguk-angguk. Ia merasa bersalah, karena terlalu memanjakan si Bujang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, semakin hari si Bujang semakin nakal. Ia sudah lupa segalanya. Ia semakin jarang pulang ke rumah dan tidak pernah lagi mengaji ke surau. Hati orang tuanya semakin sedih. Anak semata wayang, tumpuan harapan mereka, sudah tidak dapat diharapkan lagi. Sirnalah semua harapan kedua orang tuanya. Mereka benar-benar kecewa terhadap perilaku si Bujang. Semakin hari, hati mereka pun semakin kesal dan jengkel. Mereka tidak pernah lagi memasak nasi untuk si Bujang sebelum mereka ke ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari sebelum pergi ke ladang, ibunya memasak gasing, dan tali gasingnya ia gulai untuk si Bujang. Melihat kedua orang tuanya sudah berangkat ke ladang, si Bujang pulang ke rumahnya. Oleh karena sudah kelaparan, ia segera membuka periuk, dilihatnya sebuah gasing. Lalu ia membuka belanga, dilihatnya gulai tali gasing. Oleh karena merasa kecewa, menangislah si Bujang sambil bernyanyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh bulu sehelai, lalu ia menyanyi lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh bulu sehelai lagi, ia pun terus bernyanyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian si Bujang terus bernyanyi, satu demi satu bulu tumbuh di badannya. Oleh karena terus bernyanyi, lama-kelamaan ratalah seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Maka berubahlah si Bujang menjadi seekor Burung Punai. Ia pun terbang ke arah jendela, lalu ia terbang ke bumbung atap, kemudian ia terbang tinggi ke udara. Dari udara tampaklah olehnya ladang orang tuanya. Kemudian ia terbang ke arah ladang itu dan hinggap di atas sebuah pohon kayu ara yang tinggi. Dari atas pohon itu terlihat ayah dan ibunya sedang asyik menyiangi rumput. Ia pun bernyanyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nyanyian Burung Punai pandai berbicara itu, ibu Bujang berkata kepada suaminya, “Bang, coba dengarkan suara burung yang bernyanyi di atas pohon itu! Sepertinya suara anak kita si Bujang.” Ayah Bujang langsung berdiri dan menghentikan kegiatannya menyiangi rumput. Dipasangnya telinganya baik-baik untuk memastikan jika suara burung itu adalah suara anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan suara itu dengan jelas, ayah Bujang pun yakin bahwa itu adalah suara Bujang. “Benar, Adikku! Itu suara anak kita,” kata sang Ayah dengan yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berteriaklah emaknya memanggil si Bujang. “Nak, kemarilah! Ini nasi… !” Dari atas pohon kayu ara itu, burung punai itu menjawab, “Tidak, Emak…! Saya sudah menjadi Burung Punai. Saya makan buah kayu ara.” Setelah berkata begitu, burung itu pun mematuk dan memakan buah ara dari satu dahan ke dahan yang lain. Sang Ayah sangat kasihan melihat nasib anaknya itu. Ia pun mengambil kapak dan menebang pohon tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu pun pindah ke pohon yang lain. Kemudian ia bernyanyi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarilah, anakku! Ini emak bawakan nasi untukmu!” bujuk emaknya agar si Bujang yang telah menjadi Burung Punai itu mau mendekat. “Tidak, Emak! Saya sudah menjadi burung. Saya makan buah kayu ara,” jawab Burung Punai itu menolak ajakan emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Burung Punai itu tidak mau mendekat, Ayah Bujang menebang pohon ara tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu terbang lagi ke pohon ara lainnya. Kemudian bernyanyi lagi dengan nada dan lagu yang sama. Begitulah seterusnya, setiap ayahnya menebang pohon tempat ia hinggap, Burung Punai itu pindah ke pohon yang lainnya dan kemudian benyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, semakin jauh kedua orang tuanya meninggalkan ladangnya. Sampai pada suatu waktu perbekalan mereka benar-benar sudah habis. Sementara jalan untuk pulang, mereka sudah tidak tahu lagi. Oleh karena sudah berhari-hari tidak makan, kedua orang tua Bujang akhirnya meninggal di dalam hutan. Sementara si Bujang yang durhaka itu tetap menjadi Burung Punai selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua nilai moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pentingnya mendidik anak dan akibat menjadi anak durhaka. Sikap yang mementingkan pendidikan bagi anak tercermin pada sikap kedua orang tua si Bujang yang senantiasa bekerja keras mencari nafkah tanpa mengenal lelah demi masa depan anaknya. Sementara sifat durhaka tercermin pada sikap si Bujang yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang tuanya. Akibatnya, ia menjelma menjadi seekor Burung Punai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Melayu, mendidik dan membela anak amatlah diutamakan. Tujuannya adalah agar anak-anak mereka kelak “menjadi orang”, yakni menjadi manusia sempurna lahiriah dan batiniah. Para orang tua berharap agar anak mereka menjadi “anak bertuah” yang dapat membawa kebahagiaan, kelapangan, kerukunan, dan kesejahteraan baik bagi keluarga maupun bagi masyarakatnya. Orang tua-tua Melayu mengatakan, “kalau anak menjadi orang, kecil menjadi tuah rumah, besar menjadi tuah negeri”. Ungkapan lain mengatakan, “tuahnya selilit kepala mujurnya selilit pinggang, ke tengah menjadi manusia ke tepi menjadi orang.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang telah “menjadi manusia” atau “menjadi orang” disebut pula “anak bertuah”, karena mereka dapat mendatangkan kebahagiaan, kebanggaan, dan keberuntungan bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebaliknya, anak yang durhaka, sesat, dan jahat, selain mencoreng muka orang tua, juga mengaibmalukan kerabat dan merusak masyarakatnya. Terkadang, kedurhakaan sang anak dianggap kesalahan orang tua yang tidak mampu mendidik, mengajar, dan membela anaknya secara baik dan benar. Namun, terkadang pula, kedurhakaan itu datang dari si anak itu sendiri. Meskipun orang tuanya sudah bersusah payah mendidik dan mengajarnya, si anak tetap saja keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orang tuannya. Hal inilah yang terjadi pada diri si Bujang dalam cerita di atas. Meskipun ayahnya sudah bersusah payah mencari nafkah untuk modal pendidikannya, si Bujang tetap saja durhaka terhadap kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena pentingnya mendidik dan membela anak, banyak petuah amanah yang berkaitan dengan anak, yang diwariskan dalam budaya Melayu. Tenas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” banyak menyebutkan tentang petuah amanah mendidik dan membela anak, antara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;anak dididik pada yang baik&lt;br /&gt;diajar pada yang benar&lt;br /&gt;dibela pada yang mulia&lt;br /&gt;dituntun pada yang santun&lt;br /&gt;ditunjuk pada yang elok&lt;br /&gt;dipelihara pada yang sempurna&lt;br /&gt;dijaga pada yang berguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak dididik dengan kasih,&lt;br /&gt;kasih jangan berlebih-lebihan&lt;br /&gt;kasih berlebih membutakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak dididik dengan keras,&lt;br /&gt;tetapi jangan terlalu keras&lt;br /&gt;terlalu keras membawa naas&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Cerita Rakyat Daerah Riau”, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayan Daerah. 1981. Jakarta: Depdibud Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.&lt;br /&gt;photo burung punai :&lt;br /&gt;http://www.firdausradzi.com/wordpress/burung-apa/&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-3403169351281385917?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/7GjHoGrPWrw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3403169351281385917?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/3403169351281385917?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/7GjHoGrPWrw/si-bujang-asal-mula-burung-punai.html" title="Si Bujang: Asal Mula Burung Punai" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SY-jDp0EuhI/AAAAAAAAAKo/p9TXz0s0WCg/s72-c/punai.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/si-bujang-asal-mula-burung-punai.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0ADQ3czfyp7ImA9WxVXEUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-4749786034349721262</id><published>2009-02-08T19:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:22:52.987-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-08T19:22:52.987-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Riau Kepulauan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pulau Bintan merupakan pulau yang terbesar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Di Pulau ini terdapat Kota Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dihuni oleh berbagai macam suku-bangsa seperti Melayu, Tionghoa, Minang, Batak, Jawa dan lain-lain. Dahulu, di Pulau Bintan juga pernah berdiam sekelompok suku-bangsa yang terkenal dengan nama Suku Sampan atau Suku Laut. Terkait dengan hal ini, ada sebuah cerita rakyat yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Kepulauan Riau, khususnya masyarakat Bintan. Cerita ini berkisah tentang Batin Lagoi, pemimpin Suku Laut atau Suku Sampan di Pulau Bintan, yang menemukan seorang bayi perempuan di semak-semak pandan di tepi laut. Batin Lagoi kemudian mengangkat bayi itu sebagai anak dan diberinya nama Putri Pandan Berduri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin Lagoi mengasuh Putri Pandan Berduri seperti layaknya seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi mengajarinya budi pekerti luhur, sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi bahasa lembut. Kecantikan dan keelokan budi Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda kampung di Bintan. Namun, tak seorang pun yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau megat.[1] Akankah tercapai cita-cita Batin Lagoi tersebut? Lalu, anak raja atau anak megat dari manakah yang akan beruntung menjadi suami Putri Pandan Berduri? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Putri Pandan Berduri berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan berdiam sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh seorang Batin yang gagah perkasa. Batin Lagoi namanya. Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi itu, harus melalui sebuah betung[2] yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Batin Lagoi menyusuri pantai. Tengah berjalan santai, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan takut, ia menerobos semak pandan itu dengan hati-hati. Tak berapa lama, didapatinya seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun di antara semak pandan itu. “Anak siapa gerangan? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?” Batin Lagoi bertanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menengok ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya. Karena ia tidak mempunyai anak, timbullah keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, diambilnya bayi itu dan dibawanya pulang. Bayi itu kemudian ia beri nama Putri Pandan Berduri. Ia memelihara Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih-sayang seperti memelihara seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberinya pelajaran budi pekerti yang luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangai Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda di Pulau Bintan. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau anak megat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di Pulau Galang, tersebutlah seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Megat itu mendidik kedua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keduanya beranjak dewasa, Megat menginginkan Julela sebagai batin di Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong. Ia sudah tidak peduli dengan adiknya, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berkata kepada adiknya, “Hei, Jenang bodoh!” Kelak aku menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi segala perintahku. Jika tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya itu. Ia merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal ini menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu, timbullah keinginannya untuk meninggalkan Pulau Galang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak tentu arah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah ia di Pulau Bintan. Di sana, ia tidak mengaku sebagai anak seorang megat. Ia selalu bertutur kata lembut kepada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan pula Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan itu. Jenang Perkasa pun pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, ia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, agar air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang ia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak ia datang sepasang mata telah memerhatikan perilakunya, yang tak lain adalah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin Lagoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa. “Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan dan kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah engkau aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri?” tanya Batin Lagoi. “Dengan segala kerendahan hati, saya bersedia menerima putri tuan sebagai istri saya,” jawab Jenang Perkasa dengan sopannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Batin Lagoi sudah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja atau megat. Meskipun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang megat, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui tentang hal itu. Ia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka dilangsungkan sangat meriah. Aneka minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian juga dipergelarkan menghibur para pengantin dan para undangan. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk menggantikan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang berlaku di Bintan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana itu terdengar oleh masyarakat Galang. Hingga suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. “Wahai, Jenang Perkasa! Kami sudah mengetahui tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak engkau kembali ke Galang mengggantikan abang Engkau yang sombong itu sebagai Batin,” kata salah seorang dari mereka. Namun, Jenang Perkasa menolaknya. Ia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Batin. Sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu Batin Kelong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya dengan baik, agar mereka tidak menjadi orang yang sombong. Ia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ketiga anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, dan dinamakan dengan adat Kesukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke barat, dan Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yaitu kepada adat Kesukuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun keduanya telah tiada, tetapi anak-cucu mereka banyak sekali, sehingga adat Kesukuan terus berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Adapun nilai-nilai moral yang dapat diambil pelajaran dalam cerita di atas adalah keutamaan perangai yang baik dan pantangan bersikap sombong. Sifat berperangai baik tercermin pada sikap dan perilaku Putri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa. Mereka selalu bertutur kata yang lembut, sopan dan santun, sehingga mereka banyak disenangi orang. Sikap dan perilaku mereka tersebut patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sifat sombong tercermin pada sifat Julela yang selalu merendahkan adiknya, Jenang Perkasa. Kesombongannya pun semakin menjadi setelah diangkat menjadi Batin Galang. Oleh karena sifatnya tersebut, ia dijauhi oleh masyarakat. Bahkan adiknya sendiri pergi meninggalkannya. Besarnya akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat sombong, sehingga sifat ini sangat dipantangkan dalam kehidupan orang Melayu. Bagi mereka, orang yang sombong dan angkuh akan terkucilkan dalam masyarakat. Banyak petuah amanah yang menyebutkan tentang akibat buruk dari sifat sombong dan angkuh ini, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;kalau suka membesarkan diri,&lt;br /&gt;saudara menjauh, sahabat pun lari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau suka berlaku angkuh,&lt;br /&gt;orang benci, sahabat menjauh&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Isi cerita diringkas dari Azmi. Putri Pandang Berduri: Asal Mula Persukuan di Pulau Bintang. 2005. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.&lt;br /&gt;Anonim. “Pulau Bintan,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Bintan, diakses tanggal 8 November 2006.&lt;br /&gt;Effendy, Tennas, 1994/1995. `Ejekan` terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Riau: Bappeda Tingkat I Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Megat adalah keturunan raja, daling, sutan, wan, syekh, nong, marah, atau paduka matur (gelar kebangsawanan di Riau) dari pihak ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Betung adalah buluh atau bambu besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Melayu Online&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-4749786034349721262?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/AQimer5V7iw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/4749786034349721262?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/4749786034349721262?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/AQimer5V7iw/putri-pandan-berduri-asal-mula.html" title="Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/putri-pandan-berduri-asal-mula.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0QAR3c9fCp7ImA9WxVXEUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-5448303698255424332</id><published>2009-02-08T19:12:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T19:15:46.964-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-08T19:15:46.964-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Papua" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal Mula Nama Irian</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu kala, di Kampung Sopen, Biak Barat tinggal sebuah keluarga yang memiliki beberapa anak laki-laki. Salah satu anak tersebut bernama Mananamakrdi. Ia sangat dibenci oleh saudara-saudaranya karena seluruh tubuhnya dipenuhi kudis, sehingga siapa pun tak tahan dengan baunya. Maka, saudara-saudaranya selalu meminta Mananamakrdi tidur di luar rumah. Jika Manana­­­­makrdi melawan, tak segan-segan saudara-saudaranya akan menendangnya keluar hingga ia merasa kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saudara-saudaranya sudah tak tahan dengan bau kudis itu. Maka, Mananamakrdi diusir dari rumah. Dengan langkah gontai, Mananamakrdi berjalan ke arah timur. Sesampai di pantai, diambilnya satu perahu yang tertambat. Diarunginya laut luas hingga ia menemukan sebuah darat­an yang tak lain adalah Pulau Miokbudi di Biak Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuat gubuk kecil di dalam hutan. Setiap hari ia pergi memangkur sagu untuk mencukupi kebutuhan makannya. Selain itu, ia juga membuat tuak dari bunga kelapa. Kebetulan di hutan itu terdapat beberapa pohon kelapa yang dapat disadapnya. Setiap sore, ia memanjat kelapa, kemudian memotong manggarnya. Di bawah potongan itu diletakkan ruas bambu yang diikat. Hari berikutnya, ia tinggal mengambil air nira itu kemudian dibuat tuak. Suatu siang, ia amat terkejut, nira di dalam tabungnya telah habis tak bersisa. Mananamakrdi sangat kesal. Malam itu ia duduk di pelepah daun kelapa untuk menangkap pencurinya. Hingga larut malam pencuri itu belum datang. Menjelang pagi, dari atas langit terlihat sebuah makhluk memancar sangat terang mendekati pohon kelapa tempat Mananamakrdi bersembunyi. Makhluk itu kemudian meminum seluruh nira. Saat ia hendak lari, Mananamakrdi berhasil menangkapnya. Makhluk itu meronta-ronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kamu?” tanya Mananamakrdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Sampan, si bintang pagi yang menjelang siang. Tolong lepaskan aku, matahari hampir menyingsing,” katanya memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembuhkan dulu kudisku, dan beri aku seorang istri cantik,” pinta Mananamakrdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabarlah, di pantai dekat hutan ini tumbuh pohon bitanggur. Jika gadis yang kamu inginkan sedang mandi di pantai, panjatlah pohon bitanggur itu, kemudian lemparkan satu buahnya ke tengah laut. Kelak gadis itu akan menjadi istrimu,” kata Sampan. Mananamakrdi kemudian me­lepaskan Sampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu setiap sore Mananamakrdi duduk di bawah pohon bitanggur memperhatikan gadis-gadis yang mandi. Suatu sore, dilihatnya seorang gadis cantik mandi seorang diri. Gadis itu tak lain adalah Insoraki, putri kepala suku dari Kampung Meokbundi. Segera dipanjatnya pohon bitanggur. Kulitnya terasa sakit bergesekan dengan pohon bitanggur yang kasar itu. Diambilnya satu buah bitanggur, dan dilemparnya ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bitanggur itu terbawa riak air dan mengenai tubuh Insoraki hingga ia merasa terganggu. Dilemparnya buah itu ke tengah laut. Namun, buah itu kembali terbawa air dan mengenai Insoraki. Kejadian itu berlangsung berulang-ulang hingga Insoraki merasa jengkel. Ia kemudian pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Insoraki hamil. Kejadian aneh di pantai ia ceritakan kepada orangtuanya. Tentu saja orangtuanya tak percaya. Beberapa bulan kemudian, Insoraki melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat lahir, bayi itu tak menangis, namun tertawa-tawa. Beberapa waktu kemudian, diadakan pesta pemberian nama. Anak itu diberi nama Konori. Mananamakrdi hadir dalam pesta itu. Saat pesta tarian berlangsung, tiba-tiba Konori berlari dan menggelendot di kaki Mananamakrdi. “Ayaaah ...,” teriaknya. Orang-orang terkejut. Pesta tarian kemudian terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Isoraki dan Mananamakrdi dinikahkan. Namun, kepala suku dan penduduk kampung merasa jijik dengan Mananamakrdi. Mereka pun meninggalkan kampung dengan membawa semua ternak dan tanamannya. Jadilah kampung itu sepi. Hanya Mananamakrdi, Insoraki, dan Konori yang tinggal. Suatu hari, Mananamakrdi mengumpulkan kayu kering, kemudian membakarnya. Insoraki dan Konori heran. Belum hilang rasa heran itu, tiba-tiba Mananamakrdi melompat ke dalam api. Spontan, Insoraki dan Konori menjerit. Namun ajaib, tak lama kemudian Mananamakrdi keluar dari api itu dengan tubuh yang bersih tanpa kudis. Wajahnya sangat tampan. Anak dan istrinya pun gembira. Mananamakrdi kemudian menyebut dirinya Masren Koreri yang berarti pria yang suci. Beberapa lama kemudian, Mananamakrdi mengheningkan cipta, maka terbentuklah sebuah perahu layar. Ia kemudian mengajak istri dan anaknya berlayar sampai di Mandori, dekat Manokwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi buta, anaknya bermain pasir di pantai. Dilihatnya tanah berbukit-bukit yang amat luas. Semakin lama, kabut tersibak oleh sinar pagi. Tampak pegunungan yang amat cantik. Tak lama ke­­mudian matahari bersinar terang, udara menjadi panas, dan kabut pun lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah ... Irian. Iriaaan,” teriak Konori. Dalam bahasa Biak, irian berarti panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Anakku, jangan memekik begitu. Ini tanah nenek moyangmu,” kata Mananamakrdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Ayah. Maksud Konori, panas matahari telah menghapus kabut pagi, pemandangan di sini indah sekali,” kata Konori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sejak saat itu wilayah tersebut disebut dengan nama Irian. Air laut yang membiru, pasirnya yang bersih, bukit-bukit yang menghijau, dan  burung cendrawasih yang anggun dan molek membuat Irian begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Daryatun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Buku 366 cerita rakyat nusantara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-5448303698255424332?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/AfR1A6-fAuU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5448303698255424332?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5448303698255424332?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/AfR1A6-fAuU/asal-mula-nama-irian.html" title="Asal Mula Nama Irian" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/asal-mula-nama-irian.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QEQX87eSp7ImA9WxVQGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-3453899434500183257.post-5847543342638600513</id><published>2009-02-07T00:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T00:28:20.101-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-07T00:28:20.101-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jambi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Legenda" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Folk Tales" /><title>Asal Usul Raja Negeri Jambi</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jambi adalah salah satu nama provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera. Provinsi yang beribukota Jambi ini merupakan bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901 M). Konon, jauh sebelum adanya wilayah kesultanan ini, di negeri Jambi telah berdiri lima buah desa, namun belum memiliki seorang pemimpin atau raja. Untuk itu, para sesepuh dari kelima desa tersebut bersepakat untuk mencari seorang raja yang dapat memimpin dan mempersatukan kelima desa tersebut. Setelah bermusyawarah, mereka bersepakat bahwa siapa pun dapat menjadi pemimpin, tapi dengan syarat harus lulus ujian. Ujian apakah yang harus ditempuh untuk menjadi pemimpin kelima desa tersebut? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Raja Negeri Jambi berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu, wilayah Negeri Jambi terdiri dari lima buah desa dan belum memiliki seorang raja. Desa tersebut adalah Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, dan Batin Duo Belas. Dari kelima desa tersebut, Desa Batin Duo Belaslah yang paling berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari penduduk kelima desa tersebut semakin ramai dan kebutuhan hidup mereka pun semakin berkembang. Melihat perkembangan itu, maka muncullah suatu pemikiran di antara mereka bahwa hidup harus lebih teratur, harus ada seorang raja yang mampu memimpin dan mempersatukan mereka. Untuk itu, para sesepuh dari setiap desa berkumpul di Desa Batin Duo Belas yang terletak di kaki Bukit Siguntang (sekarang Dusun Mukomuko) untuk bermusyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebelum kita memilih seorang raja di antara kita, bagaimana kalau terlebih dahulu kita tentukan kriteria raja yang akan kita pilih. Menurut kalian, apa kriteria raja yang baik itu?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menurut saya, seorang raja harus memiliki kelebihan di antara kita,” jawab sesepuh dari Desa Tujuh Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, Benar! Seorang raja harus lebih kuat, baik lahir maupun batin,” tambah sesepuh dari Desa Petajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sepakat dengan pendapat itu. Kita harus memilih raja yang disegani dan dihormati,” sahut sesepuh dari Desa Muaro Sebo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kalian semua setuju dengan pendapat tersebut?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setuju!” jawab peserta rapat serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, mereka bersepakat tentang kriteria raja yang akan mereka pilih, yakni harus memiliki kelebihan di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui kelebihan masing-masing di antara kita?” tanya sesepuh dari Desa Sembilan Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, setiap calon pemimpin harus kita uji kemampuannya,” jawab sesepuh Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana caranya?” tanya sesepuh Desa Petajin penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setiap calon harus melalui empat ujian, yaitu dibakar, direndam di dalam air mendidih selama tujuh jam, dijadikan peluru meriam dan ditembakkan, dan digiling dengan kilang besi. Siapa pun yang berhasil melalui ujian tersebut, maka dialah yang berhak menjadi raja. Apakah kalian setuju?” tanya sesepuh Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua peserta rapat setuju dan siap untuk mencari seorang calon raja. Mereka bersepakat untuk melaksanakan ujian tersebut dalam tiga hari kemudian di Desa Batin Duo Belas. Dengan penuh semangat, seluruh sesepuh kembali ke desa masing-masing untuk menunjuk salah seorang warganya untuk mewakili desa mereka dalam ujian tersebut. Tentunya masing-masing desa berharap memenangkan ujian tersebut. Oleh karena itu, mereka akan memilih warga yang dianggap paling sakti di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pelaksanaan ujian pun tiba. Semua warga dari kelima desa telah berkumpul di Desa Batin Duo Belas untuk menyaksikan lomba adu kesaktian yang mendebarkan itu. Setiap desa telah mempersiapkan wakilnya masing-masing. Sebelum perlombaan dimulai, peserta yang akan tampil pertama dan seterusnya diundi terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diundi, rupanya undian pertama jatuh kepada utusan dari Desa Sembilan Koto. Wakil desa itu pun masuk ke tengah gelanggang untuk diuji. Ia pun dibakar dengan api yang menyala-nyala, tapi tubuhnya tidak hangus dan tidak kepanasan. Ujian kedua, ia direndam di dalam air mendidih, namun tubuhnya tidak melepuh sedikit pun. Ujian ketiga, ia dimasukkan ke dalam mulut meriam lalu disulut dengan api dan ditembakkan. Ia pun terpental dan jatuh beberapa depa. Ia segera bangun dan langsung berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa. Seluruh penonton kagum menyaksikan kehebatan wakil dari Desa Sembilan Koto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memasuki ujian terakhir, tiba-tiba suasana menjadi hening. Seluruh penonton menjadi tegang, karena ujian yang terakhir ini adalah ujian yang paling berat. Jika kesaktian wakil dari Desa Sembilan Koto itu kurang ampuh, maka seluruh tulangnya akan hancur dan remuk. Ternyata benar, belum sempat penggilingan itu menggiling seluruh tubuhnya, orang itu sudah meraung kesakitan, karena tulang-tulangnya hancur dan remuk. Penggilingan pun segera dihentikan. Wakil dari Desa Sembilan Koto itu dinyatakan tidak lulus ujian dan gagal menjadi raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian berikutnya jatuh kepada wakil dari Desa Tujuh Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wakil dari Desa Tujuh Koto dipersilahkan untuk memasuki gelanggang,” kata salah seorang panitia mempersilahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat menunggu, wakil dari Desa Tujuh Koto belum juga maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mana wakil dari Desa Tujuh Koto? Ayo, maju!” seru salah seorang panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak berani, lebih baik mundur saja!” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa dilecehkan oleh panitia, calon dari Desa Tujuh Koto pun segera maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa takut? Kami dari Desa Tujuh Koto dak kenal kato undur, dak kenal kato menyerah!” seru wakil Desa Tujuh Koto itu dengan nada menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon raja dari Desa Tujuh Koto pun diuji. Ia berhasil melalui ujian pertama hingga ujian ketiga. Namun, ia gagal pada ujian keempat. Akhirnya, ia pun gagal menjadi raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian berikutnya dihadapi oleh wakil dari Desa Batin Duo Belas, kemudian diikuti oleh Desa Petajin dan Muaro Sebo. Namun, wakil dari ketiga desa tersebut semuanya gagal melalui ujian keempat, yakni digiling dengan kilang besi. Oleh karena semua wakil dari kelima desa tersebut gagal melalui ujian, maka mereka pun kembali mengadakan musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita mencari calon raja Jambi dari negeri lain?” usul sesepuh dari Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulan tersebut diterima oleh peserta rapat lainnya. Selanjutnya mereka mengutus dua wakil dari setiap desa untuk pergi mencari calon raja. Keesokan harinya, rombongan itu berangkat meninggalkan Negeri Jambi menuju ke negeri-negeri di sekitarnya. Di setiap negeri yang disinggahi, mereka menanyakan siapa yang bersedia menjadi raja Jambi dan tidak lupa pula mereka menyebutkan persyaratannya, yaitu harus mengikuti keempat ujian tersebut.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berpuluh-puluh negeri mereka singgahi, namun belum menemukan seorang pun yang bersedia menjadi raja Jambi, karena tidak sanggup menjalani keempat ujian tersebut. Rombongan itu pun kembali mengadakan musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita kembali saja ke Negeri Jambi. Mustahil ada orang yang mampu memenuhi syarat itu untuk menjadi raja Jambi,” keluh wakil Desa Petijan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sabar, Saudara! Kita jangan cepat putus asa. Kita memang belum menemukan calon raja Jambi di beberapa negeri yang dekat ini. Tetapi, saya yakin bahwa di negeri jauh sana kita akan menemukan orang yang kita cari,” kata wakil Desa Muaro Sebo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa maksudmu?” tanya wakil Desa Petijan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita harus mengarungi samudera yang luas itu,” jawab wakil Desa Muaro Sebo dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami setuju!” sahut wakil dari Desa Batin Duo Belas, Tujuh Koto, dan Sembilan Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, kami juga setuju,” kata wakil Desa Petijan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, rombongan itu bertekat untuk mengarungi samudera di ujung Pulau Sumatra. Setelah mempersiapkan segala keperluan, berangkatlah rombongan itu dengan menggunakan dendang (perahu besar). Setelah berhari-hari diombang-ambing oleh gelombang laut di tengah samudera yang luas itu, mereka pun tiba di Negeri Keling (India). Mereka berkeliling di Negeri Keling yang luas itu untuk mencari orang yang bersedia menjadi Raja Negeri Jambi dengan ujian yang telah mereka tentukan. Semua orang yang mereka temui belum ada yang sanggup menjalani ujian berat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, mereka mendengar kabar bahwa di sebuah kampung di Negeri Keling, ada seseorang yang terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Akhirnya, mereka pun menemui orang sakti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Permisi, Tuan! Kami adalah utusan dari Negeri Jambi. Negeri kami sedang mencari seorang raja yang akan memimpin negeri kami, tapi dengan syarat harus lulus ujian. Apakah Tuan bersedia?” tanya salah seorang dari rombongan itu sambil menceritakan ujian yang harus dijalani calon raja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sanggup menjalani ujian itu,” jawab orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan itu segera membawa calon raja itu pulang ke Negeri Jambi. Setelah menempuh perjalanan selama berminggu-minggu, tibalah mereka di Negeri Jambi. Orang sakti itu disambut gembira oleh rakyat Jambi. Mereka berharap bahwa calon yang datang dari seberang lautan itu benar-benar orang yang sakti, sehingga lulus dalam ujian itu dan menjadi raja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, orang sakti itu pun diuji. Seperti halnya calon-calon raja sebelumnya, orang sakti itu pertama-tama dibakar dengan api yang menyala-nyala. Orang Keling itu benar-benar sakti, tubuhnya tidak hangus, bahkan tidak satu pun bulu romanya yang terbakar. Setelah diuji dengan ujian kedua dan ketiga, orang itu tetap tidak apa-apa. Terakhir, orang itu akan menghadapi ujian yang paling berat, yang tidak sanggup dilalui oleh calon-calon raja sebelumnya, yaitu digiling dengan kilang besi yang besar. Pada saat ujian terakhir itu akan dimulai, suasana menjadi hening. Penduduk yang menyaksikan menahan napas. Dalam hati mereka ada yang menduga bahwa seluruh tubuh orang itu akan hancur dan remuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Ujian terakhir itu pun dimulai. Pertama-tama, kedua ujung jari-jari kaki orang Keling itu dimasukkan ke dalam kilang besi. Kilang mulai diputar dan sedikit demi sedikit tubuh orang Keling itu bergerak maju tertarik kilang besi yang berputar. Semua penduduk yang menyaksikannya menutup mata. Mereka tidak sanggup melihat tubuh orang Keling itu remuk. Namun apa yang terjadi? Mereka yang sedang menutup mata tidak mendengarkan suara jeritan sedikit pun. Tetapi justru suara ledakan dahsyatlah yang mereka dengarkan. Mereka sangat terkejut saat membuka mata, kilang besi yang besar itu hancur berkeping-keping, sedangkan orang Keling itu tetap tidak apa-apa, bahkan ia tersenyum sambil bertepuk tangan. Penduduk yang semula tegang ikut bergembira, karena berhasil menemukan raja yang akan memimpin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh penduduk dari Desa Tujuh Koto, Sembilan Koto, Muaro Sebo, Petajin, dan Batin Duo Belas segera mempersiapkan segala keperluan untuk membangun sebuah istana yang bagus. Selain itu, mereka juga mempersiapkan bahan makanan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk meresmikan penobatan Raja Negeri Jambi. Beberapa bulan kemudian, berkat kerja keras seluruh warga, berdirilah sebuah istana yang indah dan orang Keling itu pun dinobatkan menjadi raja Jambi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Asal Usul Raja Negeri Jambi dari daerah Jambi, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat diambil, yaitu sifat suka bermusyawarah dan pentingnya keberadaan seorang pemimpin dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sifat suka bermusyawarah. Sifat ini tercermin pada perilaku warga dari kelima desa dalam cerita di atas. Setiap menghadapi persoalan, mereka senantiasa bermusyawarah. Dalam ungkapan Melayu dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;apa tanda Melayu bertuah,&lt;br /&gt;sebarang kerja bermusyawarah.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pentingnya keberadaan seorang pemimpin. Dalam cerita di atas, masyarakat menyadari bahwa keberadaan seorang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Untuk itu, mereka pun berusaha mencari seorang raja yang diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun mereka agar kehidupan mereka aman, damai dan sejahtera. Dikatakan dalam petuah amanah orang tua-tua Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;bertuah ayam ada induknya&lt;br /&gt;bertuah serai ada rumpunnya&lt;br /&gt;bertuah rumah ada tuannya&lt;br /&gt;bertuah kampung ada penghulunya&lt;br /&gt;bertuah negeri ada rajanya&lt;br /&gt;bertuah iman ada jemaahnya&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaslani.  Buku Cerita Rakyat dari Jambi 2. Jakarta: Grasindo. 1997.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Cerita Rakyat Indonesia, legenda,mite, sage, fabel&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3453899434500183257-5847543342638600513?l=folktalesnusantara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/eHpGg/~4/DYB-TIbGy-w" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5847543342638600513?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/3453899434500183257/posts/default/5847543342638600513?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/eHpGg/~3/DYB-TIbGy-w/asal-usul-raja-negeri-jambi.html" title="Asal Usul Raja Negeri Jambi" /><author><name>Cerita rakyat yang paman kumpul dari semua pelosok nusantara untuk adik adik semua</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09829663715291658776</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/asal-usul-raja-negeri-jambi.html</feedburner:origLink></entry></feed>

