<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;AkMESX4_fip7ImA9WhBaEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384</id><updated>2013-05-19T19:53:28.046-07:00</updated><category term="Sufi Nusantara" /><category term="Karomah" /><category term="Kitab Futuhal Ghaib" /><category term="Download" /><category term="Alam Sufistik" /><category term="Sufi Music" /><category term="At Thawasin Al Azal -Al Halaj" /><category term="Konya" /><category term="Alawiyyin" /><category term="Rajab - Sya'ban - Ramadhan" /><category term="Fana" /><category term="Martabat Nafsu" /><category term="Tarekat" /><category term="kitab Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" /><category term="Burdah" /><category term="Bay'at" /><category term="Again Wahabi" /><category term="Spiritualitas Sufi" /><category term="Muharam" /><category term="Mursyid Tariqa" /><category term="Prof Dr Nasaruddin Umar" /><category term="Sufi Tomb" /><category term="Mevlana Rumi" /><category term="Awlia Allah" /><category term="Sastra Sufistik" /><category term="Majelis Rasulullah Hb. Mundzir" /><category term="Sufi Book" /><category term="Video" /><category term="Hizib" /><category term="Intermezzo Sufi" /><category term="Risalah Al Muawanah" /><category term="Sufi Meditation" /><category term="Risalah Al Qusyairi" /><category term="Al Hikam" /><category term="Habaib" /><category term="Habib Ali Al Jufri" /><category term="Tafsir" /><category term="Naqsybandi Qodariah" /><category term="Nur Muhammad" /><category term="Ziarah" /><category term="Risalatul murid: Habib Abdullah al Hadad" /><category term="Kisah Sufi" /><category term="Hadramaut" /><category term="Riyadathus Shalihin" /><category term="Manakib" /><category term="Rasulullah SAW" /><category term="Ibnu Taimiyah" /><category term="Naqsybandi Haqqani" /><category term="At Tijani" /><category term="Tokoh Sufi" /><category term="Musyawarah Burung" /><category term="Sholawat" /><category term="Makrifat" /><category term="Dzikir dan Doa" /><category term="Imam Ghazali" /><category term="Qaseedah" /><category term="Taubat" /><category term="Habib Lutfi bin yahya" /><category term="Hikam Al Haddad" /><category term="Ikhya Ulumuddin" /><category term="Hati" /><category term="Kitab Kimyatusy- Sya'adah" /><category term="Servanthood And What It Is" /><category term="Mahabbah" /><category term="Sufi Word" /><category term="Hadits Arba'in" /><category term="Kitab Sirrul Assrar-Syeikh Abdul Qadir Jailani" /><category term="Adab Spiritual" /><category term="Rumi Poetry" /><category term="Hadrah" /><category term="Syaziliah" /><category term="Madrasah Hadramaut-Alkisah" /><category term="Hikmah Spiritual" /><category term="Bawa Muhaiyaddeen" /><category term="Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah" /><category term="Mawlid" /><category term="Walisongo" /><category term="Ruh" /><category term="Kunjungan Syeh Hisyam Kabbani" /><category term="Sufi Events" /><category term="Sufi News" /><title>Sufi Road</title><subtitle type="html">Jalan orang-orang sufi..  
Pecinta menuju makrifatullah
Blog ini saya persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf. Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah.

Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload dengan tetap mencantumkan sumber artikel</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://sufiroad.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>976</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/ftrV" /><feedburner:info uri="blogspot/ftrv" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>blogspot/ftrV</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;A0cNQH84cSp7ImA9WhBbGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-2876491200184277500</id><published>2013-05-18T19:04:00.006-07:00</published><updated>2013-05-18T19:04:51.139-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-18T19:04:51.139-07:00</app:edited><title>Sunan Bonang dengan Santrinya</title><content type="html">&lt;span style="color: #ffd966;"&gt;Kisah Hikmah untuk memahami syukur nikmat dari Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang wali, Sunan Bonang selalu mengembara untuk menyebarkan agama. Sering kali ia berjalan sendirian, menempuh hutan belantara, mendaki gunung yang tinggi, menuruni jurang yang curam dan mendatangi dusun terpencil di kaki bukit berhutan lebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Pada suatu hari ia melakukan perjalanan bersama seorang santrinya. Mereka membawa bekal nasi bungkus yang dibeli di warung pada sebuah desa di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai shalat Dzuhur, di tepi sebuah telaga yang bening, kedua orang guru dan murid itu beristirahat pada suatu tempat yang lapang dalam naungan daun-daun sebatang pohon beringin yang rimbun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka membuka nasi bungkus masing-masing, lalu memakannya dengan lahap karena perut sudah keroncongan. Tentu saja diawali membaca basmalah dan doa syukur kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

Rupanya, karena nikmatnya, santri Sunan Bonang sampai tidak sadar di pinggir mulutnya ada beberapa butir nasi yang menempel. Ketika selesai makan butir-butir tersebut masih disitu. Sunan Bonang sebagai guru lantas menegur, "Hai, santri. Jorok kamu."
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"Mengapa guru?" tanya santri heran.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Orang Islam tidak boleh jorok. Kebersihan adalah sebagian dari iman.&lt;/i&gt;"
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"Apa saya jorok?"
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Itu, di tepi bibirmu banyak butir nasi tertinggal&lt;/i&gt;," jawab Sunan Bonang sambil menuding dengan telunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Maka, dengan kemalu-maluan ia segera mengusap bibirnya dan membuang nasi itu ke tanah. Tiba-tiba Sunan Bonang menghardik :
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Hai santri. Bodoh kamu! Mengapa kau buang begitu saja sisa-sisa nasi itu&lt;/i&gt;?"
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Santri tersebut makin tidak paham. Ia pun berdalih, "Bukankah Guru mengatakan jorok kepada saya karena ada butir-butir nasi di mulut saya? Maka saya buanglah nasi itu. Apa harus saya makan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

"&lt;i&gt;Tidak, bukan kau makan. Memang ada hadits Nabi yang mengatakan beliau menganjurkan agar makanan yang tersisa di ujung-ujung jari pun harus dihabiskan, kalau perlu menjilatnya. Tapi maksudnya bukan harfiah begitu. Beliau bermaksud agar kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan, meskipun cuma sedikit&lt;/i&gt;." 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"Berarti tindakan saya membuang sisa nasi di mulut saya tadi tidak salah?"
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Tidak&lt;/i&gt;."
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"Jadi mengapa Guru mengatakan saya bodoh dan marah kepada saya?"  
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;Karena kamu memang bodoh&lt;/i&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

"Maksud Guru?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

"&lt;i&gt;Kau boleh membuang sisa nasi itu, tetapi harus dengan niat. Yaitu, karena nasi tersebut tidak mungkin kau manfaatkan lagi, maka buanglah dengan niat agar bisa dimakan oleh mahluk-mahluk Allah yang lain, seperti semut,dan sebangsanya. Sebab kalau kamu tidak dengan niat begitu, berarti kamu membuat mubazir rezeki Allah, kurnia Allah. Dan orang-orang yang suka berbuat mubazir adalah saudaranya setan. Termasuk jika kamu membuang makanan basi ke tempat sampah, berniatlah agar dimakan anjing atau babi. Mereka juga mahluk Allah yang perlu disayangi. Meskipun mereka hukumnya najis "Mughaladzah", tidak berarti boleh disakiti atau dianiaya. Mereka juga harus diperhatikan nasibnya&lt;/i&gt;."&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;

Sumber:  30 Kisah Teladan, Pengarang : KH Abdurrahman Arroisi.
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/tZXOlYfE2N4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/2876491200184277500/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=2876491200184277500" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/2876491200184277500?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/2876491200184277500?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/tZXOlYfE2N4/sunan-bonang-dengan-santrinya.html" title="Sunan Bonang dengan Santrinya" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/05/sunan-bonang-dengan-santrinya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4NQ3c6eCp7ImA9WhBbGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6772088472390584385</id><published>2013-05-18T18:46:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T18:46:32.910-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-18T18:46:32.910-07:00</app:edited><title>Akal, Nafs Dan Hawa</title><content type="html">&lt;span style="color: #fff2cc;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Mutiara Hikmah Kitab : Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’âlâ berfirman kepada orang-orang yang memiliki hati, “&lt;i&gt;Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati.”&lt;/i&gt; (QS Qaf, 50:37)Dan ketika menyebut nafs Allah Ta’âlâ berfirman, &lt;i&gt;“Sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan&lt;/i&gt;…” (QS Yusuf, 12:53)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman kepada Musa as, “&lt;i&gt;Salahkanlah nafs-mu, karena yang paling layak untuk disalahkan adalah nafs. Ketika bermunajat kepada-Ku, bermunajatlah dengan lisan yang shidq dan hati yang takut&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah, setiap kali hati memiliki sesuatu yang baik, maka nafs pun memiliki hal serupa yang dapat mengaburkan. Sebagaimana Allah memberi hati keinginan (irâdah), maka Allah juga memberi nafs angan-angan kosong (tamanniy). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan cinta (mahabbah), maka Allah memberi nafs hawa nafsu (hawâ). Sebagaimana Allah memberi hati harapan (rojâ`), maka Allah memberi nafs ketamakan (thoma’). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan takut (khauf), maka Allah memberi nafs perasaan putus asa (qunûth). Perhatikan dan renungkan kata-kataku ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Salah satu contoh yang dapat memberikan gambaran jelas kepadamu adalah keadaan orang yang terlilit hutang. Kamu seringkali melihat orang yang tidak mau melunasi hutangnya. Namun ketika memperoleh harta, ia justru menyedekahkannya, dan tidak berusaha melunasi hutangnya. Itulah contoh perbuatan baik yang timbul dari nafs. Sebab, di antara sekian banyak jenis nafs, ada nafs yang suka melakukan murûah dan merasakan kenikmatan ketika memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Orang yang nafs-nya seperti ini merasakan kenikmatan dalam memberi sebagaimana orang jahat merasakan kenikmatan ketika menolak permohonan pertolongan. Demikian pula halnya dengan mereka yang mengerjakan sunah, tapi meninggalkan yang wajib. Misalnya: orang yang mengerjakan ibadah haji berulang kali dengan uang halal dan haram serta mengabaikan ketakwaan dalam urusan-urusannya yang lain. Di antara mereka ada yang menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki, tapi meremehkan salat. Hasan Al-Bashri rhm berkata, “Ada seseorang berkata,’ Aku telah haji, aku telah haji.’ Kamu telah menunaikan ibadah haji, oleh karena itu sambunglah tali silaturahmi, bantulah orang yang sedang kesusahan, dan berbuat baiklah kepada tetangga.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Contoh lain adalah orang-orang yang mencari harta haram kemudian membelanjakannya dalam kebaikan. Sebagaimana telah kuberitahukan kepadamu, semua perbuatan ini digerakkan oleh nafs, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan hati.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Allah menjadikan “perbuatan yang dilakukan secara berlebih-lebihan” untuk nafs dan “perbuatan yang dikerjakan secara wajar” untuk hati. Jika kamu melihat perilaku, atau pencarian ilmu dan ibadah dikerjakan dengan tenang (thuma’ninah), maka ketahuilah bahwa perbuatan itu muncul dari hati dan pelakunya adalah orang berakal. Tetapi, jika kamu melihat seseorang yang perilaku, cara menuntut ilmu dan ibadahnya tidak dilakukan dengan tenang, pelakunya emosional dan bodoh, maka ketahuilah bahwa kegiatan itu digerakkan oleh nafs dan hawâ. Sebab, hawâ merusak dan menggoncangkan akal. Di mana pun berada, hawâ akan selalu merusak.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Demikianlah sifat hawâ. Jika hawâ berinteraksi dengan akal, hawâ akan merendahkan dan menggoyahkannya. Jika berinteraksi dengan agama, hawâ akan mengotori dan merusaknya. Sehingga kamu dapat melihat bahwa orang yang agamanya dan cara ber-sulûk-nya baik bila dikuasai oleh hawâ, urusannya menjadi kacau, keadaannya menjadi buruk dan dibenci masyarakat. Begitulah sifat kebatilan, ia akan merusak kebenaran, jika keduanya bercampur. Jika hawâ mampu merusak orang yang berakal dan beragama, lalu bagaimana menurutmu jika hawâ merasuki para pecinta dunia yang jiwanya lemah? Bagaimana keadaan mereka nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Segala hal yang dirusak oleh hawâ dapat diperbaiki oleh akal, karena hawâ mempunyai tingkat setaraf dengan akal. Hawâ akan merendahkan dan menjerumuskan manusia, sebaliknya akal akan memuliakan dan meninggikannya. Sungguh besar perbedaan keduanya!
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kamu lihat orang yang dipengaruhi hawâ tampak seperti orang buta, tidak tahu jalan (menuju Allah). Hawâ menghambatnya dari mencari sesuatu yang memiliki hakikat, membuatnya tidak memikirkan akibat perbuatan yang ia lakukan, membuatnya suka bertengkar dan bermusuhan, membuang-buang umur dalam mencintai dan membanding-bandingkan keutamaan para imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lain halnya dengan orang-orang yang berakal, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, menyempurnakan semua amal mereka dengan niat-niat yang baik, memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya, berusaha keras untuk berbuat kebajikan, dan menyesali perbuatan baik yang tidak dapat mereka kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br /&gt;

(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
 

&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Catatan:Hawâ adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawâ. Oleh karena itu, jauhilah hawâ dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawâ akan menodai agama dan murûah-mu. Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu dapati bahwa hawâ-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawâ merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawâ bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu dan akan hilang akal sehatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Murûah: usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk oleh masyarakat.&lt;/span&gt;

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/jyXZOdhjgwo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6772088472390584385/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6772088472390584385" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6772088472390584385?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6772088472390584385?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/jyXZOdhjgwo/akal-nafs-dan-hawa.html" title="Akal, Nafs Dan Hawa" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/05/akal-nafs-dan-hawa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A08AQHg8fCp7ImA9WhBbE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6505270863040967087</id><published>2013-05-11T20:36:00.002-07:00</published><updated>2013-05-11T20:37:21.674-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-11T20:37:21.674-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Again Wahabi" /><title>Mencium Tangan Orang Yang Dihormati</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8tawOQfjK5I/UY8NgsLrebI/AAAAAAAAF-I/OaQw9XMfj2U/s1600/mencium-tangan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-8tawOQfjK5I/UY8NgsLrebI/AAAAAAAAF-I/OaQw9XMfj2U/s320/mencium-tangan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;

Banyak orang yang mudah mengata­kan bahwa sesuatu itu bid‘ah, tak ada da­sarnya, dan sebagainya, tanpa me­me­riksanya dengan seksama.&lt;br /&gt;
Di antara­nya dalam masalah mencium tangan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak hadits yang menyebutkan ma­salah mencium tangan. Di antaranya dari Sayyidina Jabir disebutkan bahwa Sayyidina Umar mencium tangan Rasul­ullah. Demikian diriwayatkan oleh Al-Ha­fizh Ibn Al-Muqri Al-Ashbihani. Se­dang­kan dalam riwayat dari Ummu Aban binti Al-Wari‘ bin Zari‘ dari kakeknya, Zari‘, di­sebutkan bahwa kakeknya itu, yang suatu ketika berada dalam rom­bongan Abdul Qais, mengatakan, “Ke­tika datang ke Ma­dinah, kami segera beranjak dari kenda­raan-kendaraan kami lalu mencium ta­ngan dan kaki Nabi SAW.” Hadits ini di­sebutkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dalam At-Tarikh Al-Kabir. Juga diriwayat­kan oleh Abu Daud, Ath-Thabarani, dan Ahmad.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Jad‘an meriwayatkan bahwa Tsabit bertanya kepada Anas, “Apakah engkau pernah memegang Nabi SAW dengan tanganmu?”
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas menjawab, “Ya.”
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Tsabit pun mencium tangan­nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Di dalam kitab Fath Al-Bari, karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, disebutkan bah­wa Abu Lubabah, Ka‘ab bin Malik, dan dua orang sahabat Ka‘ab mencium ta­ngan Nabi SAW setelah Allah menerima taubat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalam sebuah keterangan, Shuhaib mengatakan, “Aku melihat Ali mencium tangan dan kaki Al-Abbas.” Demikian disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Ibnu Katsir dalam kitab­nya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dalam keterangan mengenai penaklukan Baitul Maqdis oleh Umar bin Al-Khaththab, mengatakan, “Ketika sampai di Syam, Umar disambut oleh Abu Ubaidah dan para pembesar, seperti Khalid bin Al-Walid. Abu Ubaidah dan Umar berjalan saling mendekat. Abu Ubaidah ingin men­cium tangan Umar sedangkan Umar ingin mencium kaki Abu Ubaidah. Abu Ubaidah menolak, maka Umar pun menolak.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Para tokoh ulama dari berbagai madzhab pun menjelaskan bolehnya men­cium tangan. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya, Fath Al-Bari, menyebut­kan bahwa Al-Imam An-Nawawi mengata­kan, “Mencium tangan seseorang karena kezuhudannya, keshalihannya, ilmunya, kemuliaannya, atau alasan-alasan ke­agamaan lainnya, adalah sesuatu yang ti­dak makruh, bahkan disunnahkan. Te­tapi jika mencium tangan seseorang ka­rena memandang kekayaannya, kekua­saannya, atau kedudukannya di kalangan ahli dunia, itu perbuatan yang sangat dibenci.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Al-Allamah Al-Bajuri dalam Hasyiyah-nya mengatakan, “Dan disunnahkan men­cium tangan karena alasan keshalih­an dan alasan-alasaan keagamaan lain­nya, seperti ilmu dan kezuhudan. Tetapi perbuatan mencium tangan itu dibenci apabila karena kekayaan dan alasan-alasan keduniaan yang lain, seperti ke­kuasaan atau kedudukan.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bukan hanya para ulama Madzhab Syafi‘i yang berpendapat demikian. Para ulama dari madzhab-madzhab lain juga menegaskan hal yang sama. Ibnu ‘Abidin, salah seorang pemuka Madzhab Hanafi, mengatakan dalam Hasyiyah-nya, “Tak apa-apa mencium tangan seorang alim yang wara‘ untuk mendapatkan keber­kahan, dan ada pula yang mengatakan bah­wa itu sunnah.” Al-Allamah Ath-Tha­hawi, pemuka Madzhab Hanafi, pun mengatakan, “Mencium tangan seorang alim atau sultan yang adil (karena keadil­annya, bukan karena kekuasaannya) ada­lah dibolehkan.” Kemudian ia mengata­kan, “Kesimpulan dari apa yang kami se­butkan adalah bahwa mencium tangan itu sesuatu yang dibolehkan.”

Az-Zaila‘i dalam kitabnya, Tabyin Al-Haqaiq, mengatakan, “Dalam Al-Jami‘ Ash-Shaghir dikatakan: Asy-Syaikh Al-Imam As-Sarkhasi dan sebagian ulama mu­taakhirin membolehkan mencium ta­ngan seorang alim atau seorang yang wara‘ dengan maksud mendapatkan ke­berkahan.” Sedangkan Ats-Tsauri me­ngatakan, “Mencium tangan seorang alim atau sultan yang adil adalah sunnah.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Al-Allamah As-Sifaraini, tokoh ulama Madzhab Hanbali, mengatakan dalam kitabnya, Ghidza’ Al-Albab, bahwa Al-Marwadzi menyebutkan, “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad bin Hanbal) mengenai men­cium tangan. Beliau menjawab, ‘Jika itu dilakukan karena alasan agama, tidak apa-apa. Tetapi bila karena alasan dunia, tidak dibolehkan.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
As-Sifaraini juga mengatakan, “Al-Hafizh Ibn Al-Jauzi menjelaskan, ‘Sepa­tutnya seorang penuntut ilmu sangat ta­wadhu’ kepada seorang alim dan meren­dahkan diri kepadanya, dan di antara ke­tawadhu’an itu adalah mencium tangan. Sufyan bin Uyainah dan Fudhail bin `Iyadh mencium Al-Husain bin Ali Al-Ja`fi; sa­lah satu dari keduanya mencium tangan­nya dan yang lain mencium kakinya.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari hadits-hadits dan keterangan-ke­terangan para ulama di atas dapat disim­pulkan, mencium tangan karena alasan-alasan agama adalah dibolehkan, se­dangkan mencium tangan karena alasan dunia tidak dibolehkan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber: Majalah Al Kisah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/JomM2LMYs_g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6505270863040967087/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6505270863040967087" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6505270863040967087?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6505270863040967087?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/JomM2LMYs_g/mencium-tangan-orang-yang-dihormati.html" title="Mencium Tangan Orang Yang Dihormati" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-8tawOQfjK5I/UY8NgsLrebI/AAAAAAAAF-I/OaQw9XMfj2U/s72-c/mencium-tangan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/05/mencium-tangan-orang-yang-dihormati.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4EQHw8fSp7ImA9WhBbE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-7364688853505449257</id><published>2013-05-11T19:46:00.002-07:00</published><updated>2013-05-11T19:48:21.275-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-11T19:48:21.275-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kunjungan Syeh Hisyam Kabbani" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sufi Events" /><title>Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani 19-25 Mei 2013 </title><content type="html">&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-TYl6TYJJXfI/UY8Bf8g4XuI/AAAAAAAAF94/71ko8nASt88/s1600/as.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="283" src="http://4.bp.blogspot.com/-TYl6TYJJXfI/UY8Bf8g4XuI/AAAAAAAAF94/71ko8nASt88/s400/as.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;span class="fullpost"&gt;


&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/0mn-gs0r1lI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/7364688853505449257/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=7364688853505449257" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7364688853505449257?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7364688853505449257?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/0mn-gs0r1lI/kunjugnan-syeikh-hisyam-kabbani-19-25.html" title="Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani 19-25 Mei 2013 " /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-TYl6TYJJXfI/UY8Bf8g4XuI/AAAAAAAAF94/71ko8nASt88/s72-c/as.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/05/kunjugnan-syeikh-hisyam-kabbani-19-25.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUFR34-cSp7ImA9WhBVFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8629606843769740632</id><published>2013-04-22T23:05:00.005-07:00</published><updated>2013-04-22T23:06:56.059-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-22T23:06:56.059-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Madrasah Hadramaut-Alkisah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Taubat" /><title>Madrasah Hadhramaut: Taubat </title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-TOT7FdnAjYc/UXYjoBX3FBI/AAAAAAAAF9c/-iWwkmajRrY/s1600/hadramaut.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-TOT7FdnAjYc/UXYjoBX3FBI/AAAAAAAAF9c/-iWwkmajRrY/s320/hadramaut.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kembalikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf kepada mereka untuk dirinya jika Allah melihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran ini akan membahas langkah pertama yang harus dijalani seorang hamba dalam perjalanan­nya menuju Allah SWT setelah muncul­nya al-baits dan kerinduan yang kuat di dalam hati untuk datang kepada-Nya. Langkah pertama untuk menuju Allah adalah tash-hih at-taubah, memperbaiki taubat dan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taubat sebagai kata diambil dari kata ar-ruju‘ dan al-awbah, yang berarti “kem­bali”. Taubat sendiri pada hakikatnya meliputi tiga makna, yang, apabila ke­tiganya terpenuhi dan tercakup, terwu­judlah taubat yang sesungguhnya. Tiga hal tersebut adalah ‘ilm, hal, fi‘l.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

‘Ilm
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
‘Ilm, atau ilmu, yang dimaksud di sini adalah ilmu yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang hamba, yang ke­lak akan berdiri di hadapan Allah SWT pada hari Kiamat, yang hidupnya hanya sementara untuk kemudian menemui ke­matian, dan akan dimintai pertanggung­jawaban atas segala perbuatan yang te­lah dilakukannya dalam hidupnya yang teramat singkat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sang hamba mengetahui bahwa hi­dup yang teramat singkat ini akan ber­ujung pada satu masa ketika ia akan ber­diri seorang diri di hadapan Raja dari se­gala raja, Yang akan menanyainya se­orang diri dengan tanpa ada seorang pem­bela pun dan tidak pula seorang pe­rantara yang dapat membantunya untuk menjawab segala pertanyaan yang di­ajukan. Maharaja itu akan berkata ke­pa­danya, “Wahai hamba-Ku, ingatkah eng­kau di hari ini, di waktu ini... engkau me­nutup rapat semua pintu agar tidak terlihat oleh pandangan seorang pun dari makh­luk-Ku karena engkau malu bila mereka melihat perbuatanmu kala itu... sedang­kan engkau terang-terangan mem­per­tunjukkan kepada-Ku satu per­buatan yang tidak Aku ridhai. Di mana­kah eng­kau taruh pandangan-Ku saat itu? Ham­ba-Ku, mengapa engkau jadi­kan Aku pemandang yang paling remeh dalam penilaianmu? Hambaku, engkau malu terhadap hamba-hamba-Ku, tetapi sama sekali tidak merasa malu kepada-Ku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di saat berada di hadapan-Nya, Dia akan berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menciptakanmu dari ketiadaan, Aku limpahi engkau dengan berbagai karunia, Aku muliakan engkau dengan ‘La ilaha illallah.’ Engkau tumbuh dengan karunia-karunia yang Aku berikan, ibu­mu menyusui dan mengasuhmu dengan karunia itu, pengetahuanmu pun ber­kembang dengan karunia itu, lalu eng­kau tumbuh besar dan menjadi perkasa dengan segala karunia yang telah Aku berikan dari berbagai kebaikan, namun kemudian engkau pergunakan untuk mendurhakai-Ku? Bagaimana engkau pergunakan nikmat-Ku? Apakah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang Aku ridhai? Apakah engkau mencari kedekatan dengan-Ku selama hari-hari yang telah Aku berikan kepadamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Saat-saat kelak kita dimintai pertang­gungjawaban itu tidak seorang mukmin pun kecuali ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa pasti akan dilaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Seorang hamba pun mengetahui bah­wa tidaklah setiap kata yang terucap dari lidahnya kecuali akan dicatat, tidak­lah setiap tatapan di saat memandang sesuatu kecuali akan dituliskan, dan ti­dak pula setiap diam, gerak, dan lengah kita kecuali akan dicatat untuk dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di saat memperhatikan semua pen­jelasan itu, mungkin sebagian orang akan merasa sempit dadanya untuk da­pat memahami makna-makna mulaha­qah (pencarian jati diri), mutaba‘ah (me­neladani), hisab (penghitungan amal), ataupun kitab ‘alaih (pencatatan amal perbuatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Maka, coba kita perhatikan dari segi yang lain, yakni memahami makna dari makna-makna kemurahan yang Allah SWT karuniakan kepada kita, kemuliaan yang diberikan-Nya kepada kita, dan penghormatan yang diberikan Allah kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Coba perhatikan seseorang yang memiliki kedudukan atau popularitas yang tinggi di tengah-tengah masyara­kat. Orang-orang berkumpul di sekitar­nya. Wartawan yang satu menulis setiap kata yang diucapkannya, sedang yang lainnya mengambil gambar dari setiap gerak-geriknya. Namun, puncak dari se­mua perhatian yang diberikan itu tidaklah lebih dari satu atau dua jam saja, setelah itu mereka kembali ke rumahnya ma­sing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketahuilah, seorang hamba memiliki kedudukan yang penting di sisi Allah. Karena penting dan tingginya keduduk­an seorang hamba di sisi Allah, Dia, bah­kan, mewakilkan dua malaikat mulia, yang tercipta dari cahaya yang  tidak per­nah durhaka kepada-Nya, sebagai pen­dampingnya setiap saat.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dua malaikat yang Allah wakilkan ini mencatat setiap ucapan sang hamba dari semenjak ia baligh hingga akhir ha­yatnya. Dalam gurau, sungguh-sungguh, marah, ridha, sedih, atau gembira, “Tiada suatu ucapan pun yang diucap­kannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir meng­awasi).” — QS Qaf (50): 18.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Seorang hamba adalah pemilik ke­dudukan di sisi Allah. Seseorang yang telah mengetahui bahwa semua per­buat­annya akan dicatat, dihitung, ke­mudian akan dilaporkan dan dibuka di hadapan Allah SWT. Setelah itu ditentu­kan tempat kembalinya, apakah menuju negeri keridhaan atau negeri kemurka­an, menuju surga atau dijerumuskan ke jurang neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Waktunya di dunia akan berakhir di saat ruh sampai di ujung kerongkongan. Tidak ada jaminan tentang kapan sam­painya ruh ke ujung kerongkongan. Ti­dak dapat direncanakan dan tidak pula dapat disiasati agar ia datang pada wak­tu yang tepat, dan tidak diketahui kapan malaikat maut datang menjemput. Se­mua­nya datang dengan tiba-tiba dan se­kejap mata. Tidak dibedakan antara anak muda ataupun orang tua, dan tidak pula dibedakan atara yang sakit ataupun yang sehat. Jika malaikat maut datang menjemput, pada saat itulah diberitahu­kan bahwa waktunya telah berakhir untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Seseorang yang mengetahui semua kemestian itu, akankah di hatinya tidak ada sesuatu yang terlahir dan muncul dari pengetahuannya itu? Yakni keada­an menyesal, merasa malu, hina, dan rendah di hadapan Allah SWT. “Kemarin aku mendurhakai Allah padahal Allah melihatku. Aku akan berdiri di hadapan-Nya dan Allah akan menanyaiku semua itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Salah seorang shalihin dari negeri Habasyah datang kepada seorang waliyullah dari kalangan salaf. Orang itu bertanya, “Wahai Syaikh, apakah Allah akan mengampuniku atas dosa yang telah aku perbuat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

“Benar, Allah akan mengampunimu bila engkau bertaubat dengan sungguh-sungguh,” jawab sang waliyullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Orang itu pun bersyukur dan memuji Allah, dan tampak dari raut wajahnya kegembiraan yang luar biasa. Namun, setelah beberapa langkah meninggalkan sang waliyullah, orang itu kembali lagi de­ngan raut muka yang tidak lagi me­nunjukkan kegembiraan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Wali tadi bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Orang itu menjawab, “Apakah Allah melihatku di saat aku mendurhakai-Nya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Maka dijawab, “Ya, Allah melihatmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tiba-tiba orang itu berteriak histeris dan langsung tersungkur ke tanah dalam keadaan sudah tidak bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tahukah apa yang terjadi dengan orang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Awal mula, pikirannya sibuk dengan urusan, “Apakah aku akan masuk ke da­lam surga atau neraka?” Setelah kekha­watirannya terhadap urusan surga dan neraka hilang dengan jawaban sang wali tadi bahwa Allah akan mengampuninya atas segala dosanya, muncullah di da­lam hatinya makna yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih besar, dan lebih halus lagi dari apa yang menyibukkan pikir­an­nya selama itu tentang surga dan ne­raka. Yakni makna hubungan seorang ham­ba dengan Allah, makna bahwa Allah melihat dirinya melakukan kedur­hakaan ini dan itu, makna bahwa Allah me­nutupi semua keburukannya dari pan­dangan makhluk-Nya, padahal Allah Mahakuasa untuk mempertunjukkan se­mua keburukan itu kepada mereka, makna bahwa Allah tak pernah berhenti memberikan berbagai karunia, nikmat, dan limpahan rizqi padahal ia tak henti pula mendurhakai-Nya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Semua perasaan itu melahirkan pe­nye­salan terhadap semua keteledoran, ke­durhakaan, dan keberanian yang se­lama ini ia lakukan terhadap Allah SWT. Perasaan semacam ini yang hadir di dalam hati seorang hamba disebut pe­nyesalan, salah satu unsur yang sangat penting dalam taubat.

 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Hal dalam konteks ini adalah penye­salan atas segala perbuatan buruk yang telah lalu. Terkadang sebagian salaf me­megang jenggotnya sambil berkata, “Alangkah buruknya perbuatanku meski­pun seandainya akan dimaafkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Penyesalan semacam ini akan me­nimbulkan keteguhan yang kuat dalam diri seseorang untuk berkata dalam hati­nya, “Aku akan berhenti dari berbuat dosa... aku tidak akan pernah melaku­kannya lagi untuk selama-lamanya... aku tidak akan pernah lagi mendurhakai Allah....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

 

Fi‘l
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Fi’il, atau perbuatan, dalam konteks ini adalah melepaskan diri dari maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Bila telah lahir penyesalan semacam ini, yang dilandasi dengan ilmu, penye­salan dan ilmu itu akan membuahkan ke­teguhan dalam hati untuk meninggalkan maksiat, dan tidak mengulanginya lagi, sehingga darinya terwujudlah hakikat sesuatu yang disebut taubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Adapun apabila kesalahan atau mak­siat itu berkaitan dengan hak-hak ma­nusia, misalnya mengambil harta si Fulan atau menghina dan mencacinya, ada per­kara keempat yang harus dilaku­kan, yak­ni mengembalikan hak-hak itu kepada pe­miliknya. Jika seseorang telah memakan harta orang lain, ia harus mengembalikan harta itu kepada pe­milik­nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Namun bukan hanya itu, karena apa yang telah dikembalikan itu belum ter­hitung sebagai taubat sebelum ia pun meminta maaf kepada mereka.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana seandainya mereka tidak memaafkannya?
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kem­balikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf ke­pada mereka untuk dirinya jika Allah me­lihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat. Dengan demi­kian berarti ia telah menunaikan kewajib­annya dalam taubat. Allah akan memu­lia­kannya dengan memberinya anu­ge­rah berupa kerelaan dari orang-orang yang didzalimi haknya. Dan bila ia tidak kuasa untuk mengembalikan hak itu ke­pada mereka, Allah akan memuliakan­nya dengan memberinya sesuatu yang setimpal dengan kerelaan orang-orang yang terzhalimi itu. Karena hak-hak orang lain atas dirinya tetap tidak gugur sebagai tanggunggannya.

 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lembaran-lembaran Dosa
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lembaran-lembaran dosa manusia dapat digolongkan menjadi tiga bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pertama, lembaran dosa yang pe­laku­nya dapat diampuni. Yakni semua kedurhakaan dan dosa yang ada antara sang hamba dan Tuhannya bila pada diri hamba terdapat penyesalan yang benar dan hakiki yang dihasilkan dari ilmu. Sehingga, penyesalan itu melahirkan keteguhan dan tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa-dosa itu semua. Itulah taubat nasuha. Maka Allah pun akan mengampuninya atas dosa-dosa­nya seluruhnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kedua, lembaran dosa yang pelaku­nya tidak akan diampuni. Yakni dosa syi­rik akbar, syirik besar. Syirik akbar ada­lah meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT. Namun, dosa ini tidak terjadi pada umat Rasulullah SAW. Tidak akan ada syirik besar pada umat Nabi SAW, se­bagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesung­guhnya aku, demi Allah, tidaklah takut ka­lian akan berbuat syirik (akbar) sete­lahku, akan tetapi yang aku takutkan ada­lah akan dibukakannya dunia atas kalian.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ketiga, lembaran dosa yang tidak tergugurkan. Yakni dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak-hak manusia, hak-hak yang berkaitan dengan makhluk. Inilah yang semestinya membuat sese­orang yang sedang berjalan menuju Allah besungguh-sungguh dalam me­nunai­kan hak-hak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

 

Dosa Besar dan Kecil
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Para ulama mengatakan, dosa besar itu ada empat macam. Sebagian saha­bat mengatakan, dosa besar ada tujuh macam, dan sebagian yang lain menga­ta­kan ada sebelas macam. Ibnu Abbas RA berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Umar, yang membagi dosa kepada tujuh macam, karena yang tujuh itu lebih dekat kepada tujuh puluh.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Adapun yang disepakati oleh jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bahwa semua perkara yang dikenai had (hukuman tertentu) termasuk dosa be­sar, semua yang dinashkan oleh Al-Qur’an atas keharamannya itu pun ter­masuk dosa besar, dan semua perbuat­an keji termasuk dosa besar.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Perhatikan juga terhadap makna lain, yaitu keadaan hati terhadap maksiat sesudah melakukan maksiat. Ulama berkata, “Terus-menerus dalam maksiat ter­golong dosa besar.” Dan meremeh­kan maksiat adalah termasuk dosa besar, meskipun maksiat itu kecil.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, sebagian shalihin memohon ampun kepada Allah terhadap hal-hal mubah sekalipun. Mereka selalu memandang bahwa hal (interaksi)-nya dengan Allah adalah senantiasa menun­tut ketinggian dan kedekatan dengan-Nya dalam segala hal. Karenanya bila melakukan sesuatu yang mubah tidak berniat untuk mencari kedekatan dengan Allah, mereka pun memohon ampun ke­pada-Nya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bukan hanya itu, sebagian mereka pun bertaubat kepada Allah pada bebe­rapa perbuatan taat. Mereka bertaubat dari makna yang hadir di hati pada saat berbuat taat, yakni tidak merasa dan menyadari adanya kemurahan Allah pada saat berdiri mengerjakan suatu ketaatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lebih tinggi lagi, Rabiatul Adawiyah pernah berkata, “Istighfar kita butuh kepada istighfar.” Mungkin kita memang sudah beristighfar, tapi istighfar kita belum sungguh-sungguh karena Allah.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Itulah taubat.

Mulailah taubat sejak saat ini juga, dan tidak ada ujung dari taubat. Setiap kali seseorang meningkat derajat kede­katannya kepada Allah secara maknawi, dituntut taubat dari makna-makna se­belumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Seorang shalihin berkata kepada Rabiatul Adawiyah, “Doakanlah aku su­paya aku bertaubat kepada Allah agar Allah memberiku taubat.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Rabiah menjawab, “Melainkan aku akan mendoakanmu semoga Allah mem­berimu taubat agar engkau bertaubat.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Shalatlah dua rakaat shalat sunnah Taubat dan jadikan sebagai wiridannya istighfar Astaghfirullaha wa atubu ilayh (100 kali) atau Rabbighfirli warhamni wa tub ‘alayya (100 kali). Apabila ini se­nantiasa dilakukan pada tiap-tiap malam, buahnya akan memperoleh satu tingkat­an yang dikatakan ulama sebagai ting­katan mahbubiyah (dicintai – oleh Allah). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat.” — QS Al-Baqarah (2): 222.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber :www.majalah-alkisah.com
&lt;/span&gt;

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/NDKE29koLkE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8629606843769740632/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8629606843769740632" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8629606843769740632?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8629606843769740632?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/NDKE29koLkE/madrasah-hadhramaut-taubat.html" title="Madrasah Hadhramaut: Taubat " /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-TOT7FdnAjYc/UXYjoBX3FBI/AAAAAAAAF9c/-iWwkmajRrY/s72-c/hadramaut.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/madrasah-hadhramaut-taubat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUMR3Y4cSp7ImA9WhBVFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6146129412958223371</id><published>2013-04-22T22:51:00.002-07:00</published><updated>2013-04-22T22:51:26.839-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-22T22:51:26.839-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="At Thawasin Al Azal -Al Halaj" /><title>Tawasin (6): Thasin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita Keabadian /Kekeliruan Pemahaman)</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s1600/tawasin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s200/tawasin.jpg" width="173" /&gt;&lt;/a&gt;
[: Untuk ia yang 'arif, dalam ke'arifannya-ke'arif saat berhubungan dengan wacana publiktentang apa yang logis dalam memperhatikan tujuan...] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.
 
Sang Faqir, Abu Mughits (Al-Hallaj), semoga Allah merahmatinya, berkata: "Tidak ada misi yang tangguh kecuali yang diemban Iblis dan Muhammad,shalawat dan salam atasnya. Hanya, Iblis terjatuh dari Zat, dan Muhammad merasakan Zatnya-Zat." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.
 
Telah dikatakan kepada Iblis: "Sujudlah!" (QS. 2: 34) dan kepada Muhammad: "Tengoklah!" (QS. 53: 13) Namun, Iblis tidak bersujud, dan Muhammad pun tidakmenengok. Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri, "Matanya tidak celingukan, tidak juga jelalatan." (QS. 53: 17)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
3.
 
Sementara Iblis, setelah menyatakan misinya, ia tidak kembali ke kemampuan awalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.
 
Sedangkan Muhammad, ketika menyatakan misinya, ia kembali ke kemampuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.
 
Dengan pernyataan ini: "Bersama Engkau semata aku merasa bahagia, dan kepada  Engkau semata aku mengabdikan diriku." Dan: "Wahai Engkau yang membolak-balikhati." Serta: "Aku tidak tahu bagaimana memuji-Mu sebagaimana mestinya Engkau dipuji." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.
 
Di antara penghuni surga tidak ada pemuja sekaligus peng-Esa (Tawhid) yang seperti Iblis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.
 
Karena Iblis 'di situ' telah 'melihat' penampakan Zat Ilahi. Ia pun tercegah bahkan dari mengedipkan mata kesadarannya, dan mulailah ia memuja Sang Esa Pujaan dalam  pengasingan khusyuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.
 
Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda, dan ia didakwa ketika menuntut kesendirian (Allah) mutlak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.
 
 Allah berfirman kepadanya: "Sujudlah (kepada Adam as)!" Ia menjawab: "Tidak,kepada yang selain Engkau." Dia berfirman lagi kepadanya: "Bahkan, apabila kutuk-Ku  jatuh menimpamu?" Ia menjawab lagi: "Itu tidak akan mengazabku!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.
 
"Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu, dan alasanku (ingkar) niscaya melanggar bagi-Mu. Tetapi, apalah Adam dibandingkan dengan-Mu, dan siapalah aku -- Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11.
 
Ia jatuh ke Samudera Keluasan, ia menjadi 'buta', dan berkata: "Tidak ada jalan bagiku kepada yang lain selain dari-Mu. Aku pecinta yang 'buta'!" Dia berfirman kepadanya: "Kau telah takabur!" Ia menjawab: "Apabila ada satu saja kilasan pandang di antara kita, itu cukup membuatku sombong dan takabur. Kendati begitu, aku adalah 'ia' yang mengenal-Mu sejak ke-baqa'-an masa Terdahulu, dan "aku lebih baik daripadanya" (QS.7: 12), sebab aku lebih lama mengabdi kepada-Mu. Tidak ada satu pun, di antara dua  jenis makhluk (Adam dan Iblis) ini, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripadaku!" "Ada Kehendak-Mu bersamaku, dan ada kehendakku bersama-Mu, sedangkan keduanya mendahului Adam. Apabila aku bersujud kepada yang selain Engkau, ataupun tidakbersujud, niscaya harus bagiku untuk kembali ke asalku. Karena Engkau menciptakan aku dari api, dan api kembali ke 'api', menuruti keseimbangan (sunnah) dan pilihan yang adanya milik-Mu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12.
 
"Tidak ada jarak dari-Mu padaku, karena aku yakin bahwa jarak dan kedekatan itu 'satu'!" "Bagiku, apabila aku dibiarkan, pengabaian-Mu justru menjadi mitraku. Jadi, seberapa pun jauhnya lagi, pengabaian dan cinta tetap 'menyatu'!" "Terpujilah  Engkau, dalam taufiq-Mu dan Zat-Mu yang tiada terjangkau, bagi sang pemuja setia ini, yang tiada bersujud ke yang selain Engkau!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.
 
 Musa (as) bertemu Iblis di lereng Bukit Sinai, dan bertanya kepadanya: "Hai Iblis, apa  yang mencegahmu dari bersujud?" Ia (Iblis) menjawab: "Yang mencegahku adalah  pernyataan ikrarku mengenai Sang Pujaan yang Unik. Dan, jika aku bersujud, aku akan menjadi sepertimu. Karena kau hanya perlu dipanggil sekali, "Tengoklah ke gunung," kau langsung menengok. Sementara aku, aku telah dipanggil ribuan kali untuk menyujudkan diriku kepada Adam, aku tidak bersujud, karena aku bersiteguh dengan 'Tujuan' Ikrarku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14.
 
 Musa (as) bertanya: "Kau membangkangi perintah?" Iblis pun menjawab: "Itu sebuah ujian, bukannya perintah." Musa bertanya lagi: "Tanpa dosa? Kendati wajahmu berubah begitu?" Iblis menyahut: "Hai Musa, keadaanku ini sekadar kemenduaan dari  penampilan-lahir, sementara keadaan (hal) spiritualku tidak bergantung atasnya, bahkantidak berubah. Ma'rifat tetaplah benar sebagaimana pada awalnya, dan itu tidak berubah kendatipun pribadinya berubah." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15.
 
 Musa (as) bertanya: "Adakah kau mengingat-Nya (zikir) sekarang?" "Hai Musa, pikiran yang murni tidak membutuhkan daya-ingat, -- dengan itu aku mengingat (Dia) dan Dia mengingat (aku). Ingatan-Nya adalah ingatanku, dan ingatanku adalah ingatan-Nya.Bagaimana mungkin, ketika kami saling mengingat, kami berdua berlainan satu sama lain?" "Pengabdianku sekarang lebih murni, waktuku lebih lapang, ingatanku lebih agung,sebab aku mengabdi kepada-Nya secara mutlak demi keberuntunganku, bahkan sekarang aku mengabdi kepada-Nya demi Diri-Nya." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16.
 
"Aku mencabut keserakahan dari segenap apa pun yang mencegahku atau menahanku,baik demi kerugian ataupun keuntungan. Dia mengasingkanku, membuatku mabuk- kepayang, melinglungkanku, mengeluarkanku, sehingga aku tidak dapat berpadu dengan  para ruh suci. Dia menjauhkanku dari yang lain, sebab kecemburuanku (kepada-Nya)supaya Dia Sendiri saja. Dia mengubahku, sebab Dia mengagumiku. Dia mengagumiku,sebab Dia membuangku. Dia membuangku, sebab aku pengabdi. Dan, menempatkanku dalam ahwal terlarang disebabkan kemitraanku. Dia mempertunjukkan kekurangan nilaiku disebabkan aku memuji Keagungan-Nya. Dia menyederhanakanku dengan sehelai kain ihram disebabkan kehajianku [hijya]. Dia membiarkanku disebabkan 'penemuan'- ku atas-Nya dalam zikir. Dia menyingkapkan (kasyf) hijabku disebabkaan penyatuanku.Dia mempenyatukanku disebabkan Dia memencilkanku. Dan, Dia memencilkanku disebabkan Dia mencegah hasratku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17.
 
"Dengan Kebenaran-Nya, maka aku tidak salah dalam memperhatikan titah-Nya,bukannya aku menolak takdir. Aku tidak peduli sama sekali tentang perubahan wajahku. Aku hanya menjaga keseimbanganku (sunnah) melalui hukuman ini." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18.
 
"Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang masa, aku tetap tidak akan bersujud kepada sesuatu (selain-Nya). Aku tidak akan merundukkan diriku kepada  pribadi atau jasad (Adam as), sebab aku tidak mengaku berlawanan dengan-Nya! Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang yang khusyuk dalam 'cinta'!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
19.
 
 Al-Hallaj berkata: "Ada beragam teori yang berkenaan dengan keadaan (hal)spiritualnya 'Azazyl () [sebutan Iblis sebelum kejatuhannya]. Seseorang mengatakan bahwa ia ditugaskan dengan misi di surga, serta dengan suatu misi (lainnya) di bumi. Di surga ia berkhutbah kepada malaikat, menunjukinya tentang amalan yang baik.Dan, di bumi ia berkhutbah kepada manusia dan jin, menunjukinya tentang perbuatan  yang jahat."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20.
 
"Sebab, seseorang tidak akan mengenali sesuatu kecuali dengan (mengenali) yang sebaliknya. Sebagaimana dengan sutera putih halus, yang hanya dapat ditenun dengan menggunakan lakan hitam di belakangnya -- makanya, malaikat mempertunjukkan amalan baiknya, dan berkata simbolis, "Jika kau beramal, kau akan mandapat pahala." Namun, ia yang tidak mengenal kejahatan sebelumnya, niscaya tidakdapat mengenali kebaikan." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21.
 
Sang Faqir, Abu Umar Al-Hallaj, berkata: "Aku bersoal dengan Iblis dan Fir'aun tentang kehormatan Sang Pemurah." Kata Iblis: "Jika aku bersujud, aku niscaya kehilangan gelar kehormatanku." Dan, kata Fir'aun: "Jika aku beriman kepada Rasul (Musa as) itu, aku niscaya terjatuh dari harkat kehormatanku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
22.
 
 Al-Hallaj pun berkata: "Jika aku memungkiri pengajaranku dan pernyataanku,aku juga niscaya jatuh dari altar kehormatanku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23.
 
Tatkala Iblis berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)," maka ia tidak melihat sesuatu pun selain dirinya. Tatkala Fir'aun berkata: "Aku tahu pun tidak bahwa kau (Musa as) mempunyai Tuhan yang selain aku," ia tidak mengetahui bahwa sembarang rakyatnya dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
24.
 
 Jadi, aku (Al-Hallaj) berkata: "Andaipun kau tidak mengenal-Nya, maka kenalilah  pertanda-Nya. Akulah pertanda-Nya [tajally], dan akulah Sang Kebenaran (anal'-Haqq)! Hal ini disebabkan aku tiada henti menyadari 'ada'-Nya Sang Kebenaran!" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
25.
 
Temanku adalah Iblis, dan guruku adalah Fir'aun. Iblis diancam dengan api dan tidakmencabut pernyataannya. Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah tanpa mencabut  pernyataannya ataupun mengakui sembarang perantara (rasul). kendatipun begitu ia berkata: "Aku beriman bahwa tiada Tuhan kecuali Dia yang diimani oleh Bani Isra'il." (QS. 10: 90) Dan, bukankah kau melihat bahwa Allah pun menentang Jibril dalam Keagungan-Nya? Dia berfirman: "Mengapa kau penuhi mulutmu dengan 'pasir'?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
26.
 
 Jadi, aku (akhirnya) dibunuh, digantung, tangan dan kakiku dipotong, tanpa aku mencabut pernyataan tegasku! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
27.
 
Istilah Iblis diperoleh dari 'mutasi' nama pertamanya, 'Azazyl ().'Ain'-nya () menunjukkan keluasan ikhtiarnya,'zay'-nya () adalah bertambah kerapnya kunjungan (kepada-Nya),'alif'-nya () sebagai jalan hidupnya dalam harkat-Nya,'zay'-nya () yang kedua keasketisannya dalam derajat-Nya,'ya'-nya () langkah pengembaraannya ke penderitaannya, dan 'lam'-nya () ketegarannya dalam kesakitannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
28.
 
Dia (Allah) berfirman kepadanya: "Kau tidak bersujud, hai yang nista!" Ia menjawab: "Sebutlah lebih baik -- 'pecinta'!" Karena pecinta dianggap rendah, maka Engkau menyebutku nista. Aku telah membaca dalam Kitab yang Nyata, wahai Sang Kuasa dan Setia, bahwa hal ini akan terjadi padaku. Jadi, bagaimana mungkin aku menistakan diriku kepada Adam, padahal Engkau menciptakannya dari tanah, sedangkan aku dari api? Dua hal yang berlawanan tidak dapat diakurkan. Dan, aku telah mengabdi-Mu lebih lama, juga memiliki kebajikan yang lebih luhur, pengetahuan yang lebih luas, serta aktivitas  yang lebih sempurna." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
29.
 
 Allah, yang senantiasa terpujilah Dia, berfirman kepadanya: "Pilihan adalah milik-Ku,bukannya milikmu." Ia menjawab: "Segenap pilihan, bahkan pilihan diriku, adalah milik-  Mu. Karena Engkau telah terpilih untukku, wahai Sang Khaliq. Jika Engkau mencegahku dari bersujud kepadaanya (Adam as), Engkau adalah 'Sebab' pencegahan itu. Jika aku khilaf berbicara, Engkau tidak membiarkanku, karena Engkau Sang Maha  Mendengar. Jika Engkau berkehendak aku bersujud kepadanya, aku niscaya taat. Aku tidak mengetahui seorang pun di antara (makhluk) yang 'Arif, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripada aku." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30.
 
 Jangan persalahkan aku, ide kecaman jauh dariku, anugerahilah aku, wahai Penguasaku,demi aku sendiri. Kalaupun dalam hal janji, janji-Mu itu sejatinya Kebenaran prinsip,tentunya prinsip ikhtiarku juga kuat. Ia yang berhasrat menulis ikrarku ini, atau membacanya, akan mengetahui bahwa aku (akhirnya) menjadi seorang Syahid! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
31.
 
Hai saudaraku! Ia (Iblis) disebut 'Azazyl karena ia dibebastugaskan ('uzyla),dibebastugaskan dari kesucian purbanya. Ia tidak kembali dari asalnya ke akhirnya, sebab ia tidak keluar dari akhirnya. Ia dibiarkan, dikutuk dari asalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
32.
 
Upayanya untuk keluar pun gagal, disebabkan perasaan iba-dirinya. Ia mendapatkan dirinya antara api tempat peristirahatannya dan cahaya posisi ketinggiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
33.
 
Sumber air di darat adalah telaga yang rendah. Ia (Iblis) terazab kehausan di tempat yang (airnya) berlimpah-ruah. Ia menangisi kesakitannya, karena api telah membakarnya.Kekhawatirannya tidak lain hanyalah kepura-puraan, dan ke-'buta'-annya adalah kesia- siaan -- itulah ia adanya! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
34.
 
Hai saudaraku! Andaikan kau mengerti, kau telah mempertimbangkan jalan sempit di kesempitannya yang teramat sangat. Kau telah menunjukkan khayalan itu kepadamu dalam kemusykilannya yang teramat sangat. Dan, kau akan menderita serta penuh kegelisahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
35.
 
Kaum shufi yang paling terjaga pun tetap bungkam tentang Iblis, dan para 'arifin tidakmemiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang telah dipelajarinya (tentang Iblis).Iblis lebih kuat daripada mereka dalam hal pemujaan, dan lebih dekat daripada mereka kepada Sang Zat Wujud. Ia (Iblis) mengerahkan dirinya lebih dan 'lebih' setia pada  perjanjian, serta lebih dekat daripada mereka kepada Sang Pujaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
36.
 
 Malaikat lain bersujud kepada Adam (as) karena dukungan (Allah), sedangkan Iblis menolak (bersujud) karena ia telah 'tafakur' sekian lamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
37.
 
Kendati begitu, keadaannya menjadi membingungkan, dan pikirannya kesasar, sehingga ia berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)." (QS. 7: 12) Ia tetap di balik tabir,tidak menghargai 'debu' (asal kejadian Adam as), dan mengusung kutukan di atas  pundaknya hingga Akhir Ke-'baqa'-an Masanya-Masa Ke-'baqa'-an nanti.

&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut
dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;





&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/IPdR40ciwqY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6146129412958223371/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6146129412958223371" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6146129412958223371?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6146129412958223371?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/IPdR40ciwqY/tawasin-6-thasin-al-azal-wa-al-iltibas.html" title="Tawasin (6): Thasin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita Keabadian /Kekeliruan Pemahaman)" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s72-c/tawasin.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/tawasin-6-thasin-al-azal-wa-al-iltibas.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUDQn44cSp7ImA9WhBVFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-3291445562861406155</id><published>2013-04-22T22:51:00.001-07:00</published><updated>2013-04-22T22:51:13.039-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-22T22:51:13.039-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="At Thawasin Al Azal -Al Halaj" /><title>Tawasin (5): Thasin Al Nuqtah (Titik)</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s1600/tawasin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s200/tawasin.jpg" width="173" /&gt;&lt;/a&gt;
1.
 
 Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang 
Titik „AzaliyAda yang lebih 
halus dari itu, yakni penyebutan tentang 
Titik „Azaliy 
yang berupa Asal, dan yang (keberadaannya) tidak bertambah ataupun berkurang, tidak juga habis sirna dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.
 
Orang yang mengangkal keadaan (hal) batinku telah menyangkalnya, karena tidakmengetahui aku, malah menyebutku 
bid‟ah.
Dituduhnya aku dengan sebutan Iblis, serta dianggapnya kekeramatanku sebagai praktik perdukunan, juga demikian terhadaplingkaran suci yang berada di luarnya-luar jangkauan, yang dicemoohkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.
 
Orang yang menjangkau lingkaran kedua membayangkan aku menjadi sang Pemangku Ilham.

&lt;span class="fullpost"&gt;
4.
 
Orang yang menjangkau lingkaran ketiga mengira aku berada di bawah pengaruh nafsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;5.
 
Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran melupakan aku, bahkan perhatiannya beralih dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;6.
 
“Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pelindung pun.
Pada hari itu hanya Tuhan  penolongmu untuk kembali. Juga pada hari itu setiap manusia akan diberi tahu tentang  perbuatan 
 yang didahulukannya dan yang dilalaikannya.” (QS. 75: 11
-13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;7.
 
 Namun, umumnya manusia berpaling pada pernyataan semu, melarikan diri pada sang  pelindung, mengkhawatiri pertanda-pertanda, tujuan hidupnya terpedaya, dan akibatnya tersesat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;8.
 
 Aku terisap ke kedalaman samudera kelanggengan 
(baqa‟).
Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran itu sibuk di pantai samudera pengetahuan dengan pengetahuannya sendiri, luput pandangan (bashirah) batinnya dariku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;9.
 
 Aku melihat sejenis burung khasysy dari pribadi Shufi yang terbang dengan dua sayap Tashawuf. Ia menyangkal kekeramatanku, sebagaimana ia terus membumbung dalam penerbangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;10.
 
Ia menanyai aku tentang kesucian-batin, dan aku menjawabnya: 
“Pangkaslah sayapmu 
dengan gunting penyirnaan-diri 
(fana‟).
 
Kalau tidak, kau tidak dapat mengikuti aku.”

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;11.
 
Ia 
berkata kepadaku: “Aku terbang dengan sayapku menuju Kekasihku.” 
Aku katakan 
kepadanya: “Hati 
-hati buat kau! Sebab, tidak ada yang menyerupai-Nya. Hanya Dia 
sang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” 
Maka, seketika itu ia jatuh ke samudera kearifan dan hilang tenggelam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;12.
 
Orang dapat menggambarkan samudera kearifan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt; &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Nj7Nqyz4rco/UV6cnDFHldI/AAAAAAAAF7o/mQnXOJAWgvU/s1600/ti.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-Nj7Nqyz4rco/UV6cnDFHldI/AAAAAAAAF7o/mQnXOJAWgvU/s320/ti.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Aku 
„melihat‟ 
Tuhanku dengan mata hatiku,
aku menyapa: “Siapakah Engkau?” 
Dia menjawab: 
“Kau!” 
Namun, bagi-Mu,
„di mana‟ 
tidak memiliki tempat. Dan, tidak ada 
„di mana‟ 
ketika perhatian hanya menyangkut-Mu. Akal pun tidak punya bayangan tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu, yang memungkinkan akal mengetahui 
„di mana‟ 
adanya Engkau. Engkau adalah Sesuatu yang meliputi setiap
„di mana‟,
 mengatasi 
„titik‟ 
yang tak di mana-mana. Jadi,
„di mana‟ 
Engkau adanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
13.
 
Sebuah titik-tunggal yang unik dari lingkaran (titik-titik), menandakan beragamnya anggapan tentang kearifan. Adalah sebuah titik-tunggal saja yang dirinya berupa Kebenaran, sedangkan sisanya merupakan kekeliruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.
 
Ia begitu dekat” saat kenaikannya 
 
(mi‟raj)
 
 – 
 
“ia tampak kembali” saat kemuncakannya 
(transenden). Karena pencarian, ia begitu dekat. Karena kegairahan, ia tampak kembali.Ia menanggalkan hatinya 
„di sana‟, dan begitu dekat kepada 
-Nya. Ia sirna 
(fana‟)
ketika 
„melihat‟ 
Allah, kendati demikian ia tidak sampai tuntas sirna 
(fana‟ 
ul- 
 fana‟).
Bagaimana mungkin ia hadir sekaligus tak-hadir? Bagaimana mungkin pula ia tampak dan sekaligus tak-tampak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.
 
Dari ketakjuban ia melintas ke pencerahan, dan dari pencerahan ke ketakjuban. Dengan kesaksian Allah, ia 
„menyaksikan‟ 
Allah. Ia sampai dan sekaligus pisah. Ia mencapai Pujaan-Nya, dan terputus dari hatinya.
“Hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.” (QS. 53: 11)
 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.
 
 Allah menyembunyikannya ketika membuatnya begitu dekat. Dia mengangkatnya dan menyucikannya. Dia membuatnya dahaga dan menyegarkannya. Dia menyucikannya danmemilihnya. Dia menyerunya dan memerintahkannya. Dia menimpainya Cobaan dan menjenguknya untuk membantunya. Dia mempersenjatainya dan mendudukkannya di atas  pelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.
 
 Ada sebuah jarak dari “satu rentangan busur”,
dan ketika ia kembali, ia pun mencapai sasarannya. Ketika diseru, ia menjawabnya 
 – 
merasa dilihat, ia rendahkan dirinya.Karena minum, ia merasa puas. Karena mendekat, ia dicekam keterpesonaan. Dan,karena keterpisahan dirinya dari Kota serta para pembantunya, ia pun terpisah dari bisikan nurani, dari pandangan, juga dari lamunan makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.
 
“Sahabatmu tidak tersesat,” (QS. 53: 2)
ia tidak lemah atau bertambah sedih. Matanya tidak goyah atau lelah oleh suatu 
„Saat‟ 
dari sejatinya masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.
 
“Sahabatmu tidak tersesat” dalam tafakurnya mengenai Kami.
Ia tidak menyeberang dalam kunjungannya kepada Kami, tidak juga melanggar terhadap Risalah Kami. Ia tidak membandingkan Kami dengan yang lain kalau membicarakan Kami. Ia tidakmenyimpang di taman zikir dalam tafakurnya mengenai Kami, tidak juga tersesat dalam  pengembaraan di alam fikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.
 
Cukuplah ia mengingat Allah 
(zikru‟llah)
dalam tarikan nafasnya, dan kerdipan matanya. Bertawakkal kepada-Nya dalam kesusahan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.
 
“Ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan,” (QS. 53: 4)
dari Cahaya ke 
„Cahaya‟.
 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 22.
 
Ubahlah bicaramu! Kosongkan dirimu dari khayalan, angkatlah kakimu tinggi-tinggi dari manusia serta makhluk lainnya. Bicaralah tentang Dia dengan selaras dan sekadarnya!  Jadilah berghairah, dan tenggelamlah dalam keghairahanmu. Ketahuilah 
 – 
bahwa kau akan terbang melampaui gunung dan lembah, gunung kesadaran dan lembah perlindungan,agar 
„melihat‟ 
Dia yang kau puja-puja. Dan, puasa wajib pun berakhir dengan datang ke Rumah Suci 
(Ka‟bah).
 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.
 
 Maka, ia begitu dekatnya kepada Allah, seperti seorang 
‟asyiq 
yang memasuki 
 Ma‟syuq.
 Selanjutnya ia memaklumkan bahwa itu terlarang. Itu seperti sebuah rintangan yang lebih dari cukup untuk melemahlunglaikan. Ia melintas dari Maqam Pembersihan ke Maqam Pencelaan, dan dari Maqam Pencelaan ke Maqam Kedekatan. Ia begitu dekat sebagai pencari, dan ia kembali secara berlari. Ia begitu dekat sebagai pendoa, dan ia kembali sebagai 
„Abdi.
Ia begitu dekatnya sebagai penyeru, dan kembali dengan 
bai‟at 
sebagai Qarib-Nya Ilahi. Ia begitu dekatnya sebagai seorang saksi, dan kembalinya sebagai ahli tafakur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.
 
 Jarak di antara keduanya adalah “dua rentangan busur”.
 
Ia membidik tanda „di mana‟ 
 
[„ayna] 
 
dengan panah „di antara‟ 
[bayna]. Ia menyatakan bahwa ada dua rentangan busur untuk menetapkan ketepatan tempat-nya, baik karena tiada terlukiskannya sifat Zat, atau karena serasa lebih akrab pada Zatnya-Zat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.
 
Sang Faqir yang Luar dari Biasa (Khariq ul- 
„Addah)
Al-Husain ibn Manshur Al- Hallaj, berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 26.
 
 Aku tidak percaya bahwa ungkapan kita di sini dapat dipahami, kecuali untuk orang  yang sampai pada rentangan busur kedua, yang adanya melampaui Lembaran yang Terjaga [Lawh ul-Mahfudz].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.
 
Itulah suratan yang tidak mempergunakan huruf Arab ataupun Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.
 
Kecuali satu huruf saja, yaitu huruf 
„mim‟ 
( ),
 yang merupakan huruf pertanda “apa  yang ia pancarkan.” 
 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.
 
„Mim‟ 
( 
 ) yang menandakan “Yang Terakhir”.
 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 30.
 
„Mim‟ 
( 
 ) yang juga merupakan untaian “Yang Terawal”.
Rentangan busur pertamanya adalah 
„Alam 
Kegagahan (Jabarut), dan yang keduanya adalah 
„Alam 
Kerajaan (Malakut). Sedangkan Sifat-Nya adalah untaian dua 
„Alam 
itu.Serta Zat-Nya yang Khusus Beriluminasi (tajalliy khasysy) adalah panah yang Mutlak, panahnya dua rentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.
 
Panahnya itu dari Seseorang yang menyalakan api Iluminasi (tajalliy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.
 
Dia berfirman bahwa kepantasan dari pembicaraan adalah yang pengertiannya merupakan  gambaran kedekatan. Adapun sang Firman dari pemaknaan ini adalah Kebenaran Allah,bukan metode ciptaan-Nya. Dan, kedekatan ini juga hanya berlaku dalam lingkaran ketepatan yang amat sangat tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.
 
Kebenaran dan Kebenarannya-Kebenaran (Allah) ini terdapat dalam halusnya perbedaan,lewat pengalaman sebelumnya, dengan memakai penangkal yang dibuat oleh sang pecinta,untuk membalas keterputusannya dengan segenap kecintaan (makhluk), di pelananya yang sampai secara berbarengan, karena bahaya terus mengancam, serta tajamnya perbedaan, yang diatasinya dengan ayat pembebasan. Inilah jalan (shufi) yang terpilih dalammemperhatikan Diri pribadi. Dan, kedekatannya terlihat sebagai areal luas, agar sang arif 
(„irfan)
yang taat mengikuti jalannya tradisi nubuwah ini dapat dipahami adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.
 
Sang Junjungan Yatsrib (Muhammad), shalawat dan salam atasnya, memaklumkan keagungan yang kerasukan jiwa anggun ini, yang tak- 
tergugat, yang terawat dalam “Kitab Tersembunyi” (QS. 56: 78),
sebagaimana Dia menyatakannya dalam Kitab (alam)Terbuka,
dalam “Kitab Tertulis” yang menerangkan makna bahasa burung,
ketika Dia mengangkatnya 
„ke sana‟.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 35.
 
 Apabila kau memahami ini, hai pecinta, pahamilah bahwa Tuhan tidak berbicara kecuali dengan Diri-Nya, atau dengan Sahabat-Nya (waly).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.
 
Untuk menjadi Sahabat-Nya, janganlah punya Guru ataupun Murid. Jadilah tanpa  pilihan, tanpa perbedaan, tanpa kepura-puraan atau sok-nasihat, jangan mengakui sesuatu 
itu “miliknya” atau “darinya”.
 
Tapi, apa yang ada padanya cukuplah sebagai “apa yang ada padanya”,
 
tanpa merasa adanya itu “padanya”,
sebagaimana gurun tanpa air di suatu 
“gurun 
 
tanpa air”,
 
 juga sebagaimana pertanda di suatu “pertanda”.
 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.
 
Wacana umum mengalihartikan maknanya. Makna pun mengalihartikan maksudnya,sedangkan maksudnya terlihat dari kejauhan. Jalannya sulit, namanya agung, tampilannya unik. Pengetahuannya adalah ketidaktahuan, ketidaktahuannya adalah kebenaran tunggal, keawamannya adalah sumber rahasianya. Namanya adalah Jalannya, karakter- lahirnya adalah kehangatannya, dan perlambang-batinnya adalah kegairahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.
 
Hukum syari‟at 
 
[syar‟iy] 
adalah ciri-khasnya, kebenaran 
[haqa‟iq] 
adalah gelanggangnya dan keagungannya. Jiwanya adalah serambinya, Syaitan adalah pengajarnya, dan setiapmusafir yang ada dijadikannya sebagai kerabatnya. Keinsanan adalah nuraninya,kerendahhatian adalah kemuliaannya, kefanaan adalah subyek zikir-nya, istri adalah tamansarinya, dan fananya-fana adalah singgasananya.39.
 
Pelindungnya adalah perlindunganku, prinsipnya adalah peringatanku,
syafa‟atnya adalah 
 permohonanku, karunianya adalah persinggahanku, dan duka-citanya adalah kesedihanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.
 
Pewarisannya adalah kedai tempat minum-(ku), lengan bajunya bukan apa-apa kecuali sekadar pengelap debu-(ku). Ajarannya adalah dasar pijakan keadaan (hal) batinnya,sedangkan keadaan batinnya adalah kefanaan. Kendati demikian, sembarang keadaan (ahwal) lainnya dapat menjadi obyek kemurkaan Allah. Makanya cukuplah ini,semoga rahmat Allah besertamu.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut
dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/Puv-7nJ81KM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/3291445562861406155/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=3291445562861406155" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3291445562861406155?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3291445562861406155?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/Puv-7nJ81KM/tawasin-5-thasin-al-nuqtah-titik.html" title="Tawasin (5): Thasin Al Nuqtah (Titik)" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s72-c/tawasin.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/tawasin-5-thasin-al-nuqtah-titik.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYBQnY7cSp7ImA9WhBVFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-5857535388608172204</id><published>2013-04-20T17:12:00.002-07:00</published><updated>2013-04-20T17:12:33.809-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-20T17:12:33.809-07:00</app:edited><title>Rumi :  Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan </title><content type="html">&lt;a href="http://1.http//www.blogger.com/img/blank.gifbp.blogspot.com/-fGqSkJtMFGY/T4S8OYFpbiI/AAAAAAAAFDs/fmpztmJRa04/s1600/rumitongkat.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5729911581092441634" src="http://1.bp.blogspot.com/-fGqSkJtMFGY/T4S8OYFpbiI/AAAAAAAAFDs/fmpztmJRa04/s320/rumitongkat.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 144px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #ffff33; font-style: italic;"&gt;Rumi: Matsnawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia,&lt;br /&gt;
sang Maha Pengampun, untuk&lt;br /&gt;
memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi takkan sesuatu dikenali&lt;br /&gt;
kecuali jika ada lawannya,&lt;br /&gt;
dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka diangkatnya seorang khalifah,&lt;br /&gt;
seorang insan pemilik qalb,&lt;br /&gt;
agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga,&lt;br /&gt;
dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya,&lt;br /&gt;
yang berasal dari kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam:&lt;br /&gt;
Yang pertama Adam;&lt;br /&gt;
dan lainya Syaithan, sang penghalang jalan&lt;br /&gt;
menuju kepada-Nya.                        [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Diantara ke dua kubu ini,&lt;br /&gt;
berlangsung pertentangan dan perang;&lt;br /&gt;
dan melalui hal-hal itu terjadilah&lt;br /&gt;
apa-apa yang harus terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Demikianlah, pada generasi berikutnya&lt;br /&gt;
tampil lah Habil, sedangkan saudaranya Khabil&lt;br /&gt;
menentang cahaya murninya.           [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lalu , pertentangan ke dua panji itu:&lt;br /&gt;
keadilan melawan ke-tidak-murni-an,&lt;br /&gt;
memasuki masa kekuasaan Namrud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dia menentang dan memusuhi Ibrahim,&lt;br /&gt;
dan tentara ke duanya berperang&lt;br /&gt;
dan bertempur satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sampai akhirnya,&lt;br /&gt;
Dia berkehendak mengakhiri sengketa itu,&lt;br /&gt;
api-Nya menjadi alat penentu diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lalu dia mengangkat hamba-Nya, sang Api,&lt;br /&gt;
menjadi pemutus perkara ini: sehingga persoalan&lt;br /&gt;
diantara mereka dapat ditentukan.    [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Generasi demi generasi berlalu,&lt;br /&gt;
sampai pertentangan ke dua kubu itu&lt;br /&gt;
memasuki masa Fir'aun dan Musa yang bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pertentangan diantara ke duanya&lt;br /&gt;
berlangsung bertahun-tahun.&lt;br /&gt;
Terjadi bermacam pelanggaran berat&lt;br /&gt;
yang melampaui batas,&lt;br /&gt;
dan menyebabkan banyak penderitaan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Saat itu, Dia menjadikan Air sebagai utusan-Nya,&lt;br /&gt;
Laut lah yang menentukan siapa yang benar&lt;br /&gt;
diantara mereka yang bersengketa.   [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada masa ketika Mushtafa hadir bertugas,&lt;br /&gt;
dia berhadapan dengan Abu Jahl,&lt;br /&gt;
pemimpin ke-tidak-adilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di masa kaum Tsamud,&lt;br /&gt;
Dia mengutus Suara sebagai abdi-Nya,&lt;br /&gt;
gelegar Suara dahsyat mematikan mereka.  [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di dalam penghancuran kaum 'Ad,&lt;br /&gt;
hamba-Nya yang bertugas adalah Angin,  [6]&lt;br /&gt;
yang bergemuruh, bergerak naik, dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketika Dia mengutus hamba-Nya yang teliti, Bumi,&lt;br /&gt;
sebagai utusan kepada Qarun:&lt;br /&gt;
dihias-Nya sifat lembut bumi dengan permusuhan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Saat itu, kelembutan Bumi berubah&lt;br /&gt;
menjadi kemurkaan, sehingga&lt;br /&gt;
ditelannya Qarun beserta harta-bendanya.   [7]
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Perhatikanlah fungsi makanan bagi tegaknya tubuhmu,&lt;br /&gt;
roti itu ibarat baju zirah yang menahan tombak lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tapi ketika Dia menaruh kemurkaan dalam rotimu,&lt;br /&gt;
roti akan melekat pada kerongkonganmu,&lt;br /&gt;
dan membuatmu tersedak sampai terasa tercekik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Atau ketika pakaianmu&lt;br /&gt;
--yang seharusnya melindungimu dari hawa dingin--
dibuat-Nya dingin, setajam es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Maka segera kau tanggalkan baju-bulu hangat,&lt;br /&gt;
dan beralih berlindung kepada hawa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pengetahuanmu belum memadai;&lt;br /&gt;
ibarat air, jumlah dan kemurniannya&lt;br /&gt;
masih tak mencukupi untuk bersuci:&lt;br /&gt;
kau lupakan azab yang menimpa&lt;br /&gt;
pada hari ketika awan menaungi.               [8]
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di kota dan desa,&lt;br /&gt;
kepada setiap rumah dan dinding,&lt;br /&gt;
turunlah perintah -Nya: "Jangan beri naungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jangan tepis hujan maupun cahaya matahari;"&lt;br /&gt;
sehingga kaum itu semua bergegas&lt;br /&gt;
menemui Syu'aib, Sang Utusan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menjerit, Kasihanilah kami,&lt;br /&gt;
wahai Pangeran! Kami seperti telah mati.&lt;br /&gt;
Baca lah kisah selanjutnya dalam Al Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kenanglah bagaimana Dia yang Maha Terampil&lt;br /&gt;
mengubah tongkat Musa menjadi seekor ular-naga,&lt;br /&gt;
itu saja cukup sebagai contoh bagimu,&lt;br /&gt;
seandainya kau cukup cerdas.                 [9]
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kau miliki perangkat akal,&lt;br /&gt;
tapi tak cukup dalam kau merenung:&lt;br /&gt;
bagai musim dingin membeku,&lt;br /&gt;
tak kunjung mengalir ke musim semi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Karenanya, sang Maha Perancang,&lt;br /&gt;
yang membentuk pikiran berkata,&lt;br /&gt;
Wahai hambaku, renungkan lah dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dia tak berkata, tempa lah besi yang dingin,   [10]&lt;br /&gt;
tapi maksudnya, wahai engkau yang sekeras besi,&lt;br /&gt;
dedikasikanlah dirimu bagi Dawud.                [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jika tubuhmu seperti mati,&lt;br /&gt;
cari lah pertolongan Israfil;                           [12]&lt;br /&gt;
jika hatimu membeku,&lt;br /&gt;
cari lah kehangatan Ruh al-Quds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jika berlama-lama kau kungkung dirimu&lt;br /&gt;
dalam selimut pakaian khayalan,&lt;br /&gt;
segera kau dapati pikiranmu berubah jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sehingga Akal Sejati tanggal:&lt;br /&gt;
tak didapati persepsi yang sejati&lt;br /&gt;
tak pula diperoleh pengalaman kesejatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Disini aku harus menahan lisanku,&lt;br /&gt;
jika kukatakan yang sebenarnya,&lt;br /&gt;
akan banyak penyingkapan yang mempermalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Apakah sebenarnya arti  iman?&lt;br /&gt;
Maknanya: yang menyebabkan mata-air-sumber mengalir.&lt;br /&gt;
Ketika janin keluar dari rahim,&lt;br /&gt;
ia disebut  rawan.                                       [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Filsuf yang sejati itu&lt;br /&gt;
orang yang jiwanya telah dimerdekakan&lt;br /&gt;
dari kungkungan penjara tubuh,&lt;br /&gt;
lalu berkelana (rawan) di taman Kesejatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ke dua hal pokok di atas itu didapat melalui anugerah,&lt;br /&gt;
maka perhatikan lah dengan cermat;&lt;br /&gt;
Semoga engkau terberkati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;



&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Catatan:&lt;br /&gt;
[1]  "... Dan syaithan jadikan mereka memandang baik
perbuatan mereka, dan menghalangi mereka dari jalan (Allah) ..."
QS [Al 'Ankabuut [29]: 38)&lt;br /&gt;

[2]  Ketika ke dua putera Adam a.s, Qabil dan Habil diperintahkan
berkurban, maka kurban Qabil ditolak.
Adiknya, Habil, berkata, "... Sesungguhnya Allah hanya
mengabulkan dari (orang-orang) al-Mutaqiin."
(QS Al Maa-idah [5]: 27)&lt;br /&gt;

[3]  "Kami berfirman, 'Wahai api, menjadi dinginlah,
dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.'"
(QS Al Anbiyaa [21]: 69)&lt;br /&gt;

[4]  "... maka Kami tenggelamkan dia serta mereka yang
bersamanya, seluruhnya."
(QS Al Israa [17]: 103)
&lt;br /&gt;
[5]  Kaum Tsamud yang tinggal di daerah Hijr akhirnya
"... dibinasakan oleh suara yang menggelegar di waktu subuh."
(QS Al Hijr [15]: 83)&lt;br /&gt;

[6]   "Adapun kaum 'Aad, mereka telah dibinasakan oleh
angin yang sangat dingin lagi kencang."
(QS Al Haaqqah [69]: 6)
&lt;br /&gt;
[7]  "Maka Kami benamkan ia beserta rumahnya kedalam bumi.
Maka tiada baginya suatu golonganpun yang menolong dari
adzab Allah, dan tiada pula ia yang dapat membela diri."
(QS Al Qashash [28]: 81)&lt;br /&gt;

[8]  "Kemudian mereka mendustakannya (Syu'aib),
lalu mereka ditimpa 'adzab, pada hari mereka dinaungi awan.
Sesungguhnya 'adzab itu hari yang agung ('adziim)."
(QS Asy Syu'araa [26]: 189)
&lt;br /&gt;
[9]  "Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tongkat itu
menelan apa yang mereka ada-adakan"
(QS [Asy Syu'ara [26]: 45)&lt;br /&gt;

[10]  Maksudnya, menghabiskan daya dan waktu dalam pemikiran spekulatif.

[11]  Nabi Dawud a.s, Insan Kamil yang bertugas ketika Bani Israil
diboikot habis sehingga tak memiliki kekuatan apa pun;

"Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud, membuat baju besi
untukmu, guna melindungimu dalam peperanganmu.
Maka hendaklah kau bersyukur."
(QS Al Anbiyaa [21]: 80)

Maksudnya, agar orang-orang kuat, cerdik-cendekia atau berkuasa,
tidak sekedar tenggelam asyik dalam pagelaran kecerdasan atau
kekuasaan mereka tapi mendaya-gunakannya untuk mencari
amal-shaleh dalam bimbingan insan kamil, yang yang dihadirkan
hidup pada zaman mereka.
&lt;br /&gt;
[12] Sang malaikat Pemegang Sangsakala Hari Kiamat.&lt;br /&gt;

[13] Yang bergerak, mengalir&lt;/span&gt;. 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber:
Rumi: Matsnavi VI:2151 - 2189.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Ngrumi.blogspot.com&lt;/span&gt;

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/wRrUsfSbkFQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/5857535388608172204/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=5857535388608172204" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/5857535388608172204?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/5857535388608172204?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/wRrUsfSbkFQ/rumi-pagelaran-hal-hal-yang-berlawanan.html" title="Rumi :  Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan " /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-fGqSkJtMFGY/T4S8OYFpbiI/AAAAAAAAFDs/fmpztmJRa04/s72-c/rumitongkat.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/rumi-pagelaran-hal-hal-yang-berlawanan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMMQnw4eSp7ImA9WhBVFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-5560794644557801804</id><published>2013-04-20T16:59:00.003-07:00</published><updated>2013-04-20T17:01:23.231-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-20T17:01:23.231-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hizib" /><title>Kumpulan Hizib Syazili (5) Hizib Al Hujb</title><content type="html">Berikut sy lampirkan Hizib Al Hujb dah Syeikh abu Hasan As Syazili. silahkan mencari ijazah untuk mengamalkan hizib ini. Semoga Allah memberikan kita keberkahan atas kemulian hizib ini
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-y7NQ-jAIB6g/UXMrgn75H8I/AAAAAAAAF9M/5V5baOuzFGs/s1600/193.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-y7NQ-jAIB6g/UXMrgn75H8I/AAAAAAAAF9M/5V5baOuzFGs/s400/193.jpg" width="252" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;


&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/q-x3w7UEH2c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/5560794644557801804/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=5560794644557801804" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/5560794644557801804?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/5560794644557801804?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/q-x3w7UEH2c/kumpulan-hizib-syazili-5-hizib-al-hujb.html" title="Kumpulan Hizib Syazili (5) Hizib Al Hujb" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-y7NQ-jAIB6g/UXMrgn75H8I/AAAAAAAAF9M/5V5baOuzFGs/s72-c/193.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/kumpulan-hizib-syazili-5-hizib-al-hujb.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MMSH89fip7ImA9WhBVFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8009392065812683440</id><published>2013-04-20T16:44:00.000-07:00</published><updated>2013-04-20T16:44:49.166-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-20T16:44:49.166-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Video" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Habib Ali Al Jufri" /><title>Why Sufis are not Jihadists- Habib Ali al Jifri</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;object height="315" width="420"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/_os6slCYgSw?version=3&amp;amp;hl=en_US"&gt;&lt;/param&gt;
&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;
&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;
&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/_os6slCYgSw?version=3&amp;amp;hl=en_US" type="application/x-shockwave-flash" width="420" height="315" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;


&lt;span class="fullpost"&gt;


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/3ScOJBjsjpU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8009392065812683440/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8009392065812683440" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8009392065812683440?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8009392065812683440?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/3ScOJBjsjpU/why-sufis-are-not-jihadists-habib-ali.html" title="Why Sufis are not Jihadists- Habib Ali al Jifri" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/why-sufis-are-not-jihadists-habib-ali.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkUEQ3c8eCp7ImA9WhBVEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6683738809726848653</id><published>2013-04-17T03:23:00.001-07:00</published><updated>2013-04-17T03:23:22.970-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-17T03:23:22.970-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Madrasah Hadramaut-Alkisah" /><title>Habib Zein : Pahala Bacaan untuk Orang Mati</title><content type="html">&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-9SRp7QJGHqU/UW52yZOYseI/AAAAAAAAF88/NG5BlqR7ggU/s1600/habib-zain.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-9SRp7QJGHqU/UW52yZOYseI/AAAAAAAAF88/NG5BlqR7ggU/s320/habib-zain.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;span style="color: yellow;"&gt;&lt;i&gt;Bolehkah menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran dan dzikir kepada orang yang telah mati?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, itu dibolehkan. Madzhab yang benar dan terpilih menyatakan sampai­nya pahala bacaan dan amal-amal jas­mani lainnya kepada mereka, dan bah­wasanya karena itu pula mereka bisa men­dapatkan pengampunan atas dosa atau peningkatan derajat, cahaya, ke­gembiraan, dan pahala lainnya lantaran karunia Allah SWT.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;Apa dalilnya?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalilnya, Nabi SAW bersabda, “Ba­calah surah Yasin kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Hadits ini di­sampaikan oleh Abu Daud (3121), Ibnu Majah (1448), dan lainnya, dari hadits Ma’qil bin Yasar RA.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah SAW juga bersabda, “Ya-Sin adalah jantung Al-Quran. Tidaklah seseorang membacanya dengan niat kepada Allah SWT dan menghendaki ne­geri akhirat melainkan Allah mengam­puninya. Dan bacakanlah ia kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Disampaikan oleh Ahmad (5: 26), An-Nasa’i dalam Al-Kubra (10914), dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;



Ulama ahli tahqiq menyatakan, ha­dits ini bersifat umum, mencakup bacaan kepada orang sekarat yang akan mati dan bacaan kepada orang yang sudah mati. Inilah pengertian yang jelas dari hadits di atas.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Hadits ini menjadi dalil bahwa baca­an tersebut sampai kepada orang-orang yang sudah mati dan adanya manfaat padanya sebagaimana yang disepakati para ulama. Perbedaan pendapat hanya berkaitan jika pembaca tidak berdoa setelahnya dengan doa semacam ini, misalnya, “Ya Allah, jadikanlah pahala bacaan kami kepada Fulan.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Jika seesorang membaca doa ini se­bagaimana yang diamalkan kaum mus­limin, yang memberikan pahala bacaan mereka kepada orang-orang mati di an­tara mereka, tidak ada perbedaan pen­da­pat di antara ulama terkait sampai­nya bacaan itu, karena ia dikategorikan seba­gai doa yang disepakati tersampai­nya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka ber­doa, ‘&lt;i&gt;Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami’.&lt;/i&gt;” – QS Al-Hasyr (59): 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jika dia tidak berdoa demikian de­ngan bacaannya itu, menurut pendapat yang termasyhur dalam Madzhab Syafi’i, pahalanya tidak sampai. Namun ulama Madzhab Syafi’i generasi akhir menyata­kan, pahala bacaan dan dzikir sampai kepada mayit, seperti mazhab tiga imam yang lain, dan inilah yang diamalkan umat pada umumnya. “Apa yang menu­rut kaum muslimin baik, itu baik di sisi Allah.” Ini adalah perkataan Ibnu Mas’ud RA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, semoga Allah melimpahkan manfaat kepada kita lantarannya, mengatakan, “Di antara yang paling besar keberkah­annya dan paling banyak manfaatnya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran dan meng­hadiahkan pahalanya kepada mereka. Kaum muslimin pun telah mengamalkan ini di berbagai negeri dan masa. Mayo­ritas ulama dan orang-orang shalih, salaf maupun khalaf, pun berpendapat demi­kian.” Silakan simak perkataan Al-Haddad RA selengkapnya dalam Sabil al-Iddikar.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Umar RA, ia mengatakan, “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahannya. Segera­kanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya di­bacakan permulaan Al-Baqarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kaki­nya dengan penutup Al-Baqarah.” – Disampaikan secara marfu’ (perkataan sahabat yang dinisbahkan sebagai per­kataan Nabi SAW) oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (12: 444) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (7: 16) dari hadits Ibnu Umar RA. Al-Baihaqi mengatakan, yang benar adalah bahwasanya itu adalah perkataan Ibnu Umar RA.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kitabnya, Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengungkapkan adanya penyampaian pelajaran di atas kubur. Ia berhujjah, se­jumlah ulama salah berwasiat agar di­adakan bacaan pada kubur mereka, di antaranya adalah Ibnu Umar, yang ber­wasiat agar dibacakan surah Al-Baqarah pada kuburnya, dan bahwasanya kaum Anshar mengamalkan jika ada orang yang mati, maka mereka silih berganti ke kuburnya untuk membaca Al-Quran padanya (Ar-Ruh hlm. 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ulama menyatakan, seseorang di­bolehkan menghadiahkan pahala amal­nya kepada orang lain, baik itu berupa bacaan maupun yang lainnya. Dalilnya, hadits yang diriwayatkan Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi SAW, yang bersabda, “Dibolehkan bagi salah seorang di antara kalian, jika hendak bersedekah dengan sukarela, memberikannya kepada kedua orang­tuanya. Dengan demikian, kedua orang­tuanya mendapatkan pahala sedekah­nya dan ia pun mendapatkan seperti pa­hala kedua orangtuanya tanpa mengu­rangi pahala kedua orangtuanya sedikit pun.” – Disampaikan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (7: 92) dan Abu Syaikh Ibnu Hayyan dalam Thabaqat Al-Muhad­ditsin bi Ashbahan (3: 610).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di antara hadits-hadits yang diriwa­yat­kan terkait hal ini, meskipun dhaif, telah ditetapkan di antara ulama hadits bahwasanya hadits dhaif dapat diamal­kan terkait fadhail al-a’mal, keutamaan-keutamaan amal.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;

Apa hukum bacaan Al-Quran kepada mayit dan di atas kubur?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Imam Syafi’i R.H.M. menyatakan, dianjurkan membaca ayat apa pun dari Al-Quran di dekat kubur. Jika mereka mengkhatamkan Al-Quran seluruhnya, itu baik. Ini disebutkan oleh An-Nawawi dalam Riyadh Ash-Shalihin dan dalam Al-Adzkar.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;

Apa dalil yang membolehkannya?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalilnya, sebagaimana yang baru saja disampaikan di atas, perkataan Ibnu Umar R.A., “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahan­nya. Segerakanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya dibacakan permulaan Al-Ba­qarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kakinya dengan penutup Al-Baqarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Hadits marfu’ juga telah disampaikan sebelum ini, “Bacalah Ya-Sin kepada orang-orang yang mati di antara kalian.” Sebagian ulama hadits menafsirkannya pada makna sebenarnya, sebagaimana ini cukup jelas dari lafal hadits. Semen­tara sebagian yang lain menafsirkannya pada makna kiasan. Maksudnya, orang yang sudah mendekati kematiannya. Namun masing-masing makna dimung­kinkan. Dan seandainya kedua makna ini sama-sama diamalkan, itu lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Al-Khallal meriwayatkan dari Sya’bi, ia mengatakan: Jika di antara kaum Anshar ada orang yang mati, mereka silih berganti ke kuburnya untuk mem­baca Al-Quran. Demikian. Kaum muslim­in pun masih tetap membaca Al-Quran kepada orang-orang mati sejak masa kaum Anshar.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari semua penjelasan di atas dapat diketahui bahwasanya bacaan Al-Quran di atas kubur merupakan anjuran syari’at. Allah lebih mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Apa makna firman Allah SWT “Dan tidaklah manusia mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya.” – QS An-Najm (53): 39, dan sabda Nabi SAW “Jika manusia mati, terputuslah amalnya”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalam kitab Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengatakan, Al-Quran tidak menafikan seseorang mendapatkan manfaat dari usaha orang lain, tetapi Al-Quran hanya memberitahukan bahwasanya ia tidak memiliki kecuali usahanya. Adapun usaha orang lain, itu adalah milik orang yang melakukannya. Orang lain itu dapat menghendaki memberikannya kepada orang lain atau menghendaki menahan­nya untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini, Allah SWT tidak menyatakan “Sesung­guhnya dia tidak boleh menerima man­faat kecuali lantaran apa yang diusaha­kannya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sabda Nabi SAW, “Terputuslah amal­nya.” Beliau tidak menyatakan “Peman­faatannya”, tetapi beliau hanya memberi­tahukan ihwal keterputusan amalnya. Ada­pun amal orang lain, itu menjadi hak orang yang melakukannya. Jika ia mem­berikannya kepadanya, pahala amal orang yang melakukannya sampai ke­padanya, bukan pahala amalnya sendiri. Dengan demikian, yang terputus adalah satu hal, dan yang sampai adalah hal lainnya. Demikian yang disampaikannya secara ringkas (Ar-Ruh hlm. 129).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ulama tafsir menyebutkan dari Ibnu Abbas RA, firman Allah SWT “Dan se­sungguhnya manusia tidak mendapat­kan kecuali apa yang diusahakannya” – QS An-Najm (53): 39, telah dihapus hu­kumnya dalam syari’at ini dengan firman Allah SWT “Dan orang-orang yang ber­iman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka.” – Ath-Thur (52): 21. Allah memasukkan anak-cucu ke dalam surga lantaran kebajikan leluhur mereka. Lihat Tafsîr Al-Qurthubi (17: 114).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ikrimah mengatakan, itu terjadi pada kaum Musa AS. Adapun umat ini menda­patkan apa yang mereka usahakan dan mendapatkan pula apa yang diusahakan oleh yang lain. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan bahwa seorang wa­nita mengangkat bayinya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anak ini men­dapatkan pahala haji?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Beliau menjawab, “Benar, dan bagi­mu pahala.” – Hadits ini disampaikan oleh Muslim (1336) dan lainnya, dari hadits Ibnu Abbas RA.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Yang lainnya bertanya kepada Nabi SAW, “Ibuku terluputkan dirinya (mati tanpa wasiat), apakah ia mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas nama dia?”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Beliau menjawab, “Benar.” – Hadits ini disampaikan oleh Al-Bukhari (1322) dan Muslim (1004) dari hadits Aisyah RA.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Perkataan penanya, “terluputkan”, kata ini diucapkan terkait orang yang mati secara tiba-tiba, dan diucapkan pula terkait orang yang tewas oleh jin dan gangguan. “Dirinya,” menurut Imam Na­wawi, “kami menulisnya dengan harakat fathah dan dhammah nafsaha dan naf­suha, dengan nashab dan rafa’. Bacaan rafa’ dengan maksud sebagai obyek yang tidak disebutkan subyeknya. Nashab dengan maksud sebagai obyek kedua.” – Syarh Muslim (7: 89-90).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Demikian, Allah lebih mengetahui.
&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;
Apa hukum bacaan Al-Fatihah dan bacaan kepada mayit serta tawasul dengannya untuk penerimaan doa?
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ketahuilah, di antara yang terbesar keberkahannya dan terbanyak manfaat­nya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran Al-Azhim dan menghadiahkan pahalanya kepada mereka. Mayoritas ulama dan orang-orang shalih, baik salaf maupun khalaf, berpendapat demikian, dan kaum muslimin di berbagai masa dan negeri pun mengamalkannya. Dalam hadis marfu’ yang telah disampaikan terdahulu dinyatakan, “Jantung Al-Quran adalah Ya-Sin. Tidaklah seseorang membaca­nya dengan niat kepada Allah dan meng­hendaki negeri akhirat melainkan ia di­ampuni. Hendaknya kalian membaca­nya kepada orang-orang mati di antara kalian.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dalam hadits dhaif, “Siapa yang masuk pemakaman dan mem­baca ‘Katakanlah: Dialah Allah Yang Esa’ sebelas kali, kemudian mem­berikan pahalanya kepada orang-orang mati, ia diberi pahala sesuai dengan jum­lah orang-orang yang mati.” Diriwayat­kan oleh Ar-Rafi’i dalam kitabnya At-Tarikh dan Ad-Daraquthni dalam kitab­nya As-Sunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Adapun tawasul dengan surah Al-Fatihah terkait penerimaan doa, ini se­baik-baik wasilah. Pada hakikatnya, itu hanyalah tawasul dengan Allah SWT. Dalam hadits qudsi dikatakan, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.” Disampaikan oleh Muslim dalam kitabnya Shahîh Muslim (598) dari hadits Abu Hurairah RA.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber: Majalah-alkisah.com
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/kXTirTSTPHA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6683738809726848653/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6683738809726848653" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6683738809726848653?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6683738809726848653?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/kXTirTSTPHA/habib-zein-pahala-bacaan-untuk-orang.html" title="Habib Zein : Pahala Bacaan untuk Orang Mati" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-9SRp7QJGHqU/UW52yZOYseI/AAAAAAAAF88/NG5BlqR7ggU/s72-c/habib-zain.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/habib-zein-pahala-bacaan-untuk-orang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UMR34_cCp7ImA9WhBVEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-890318633211267605</id><published>2013-04-15T02:48:00.000-07:00</published><updated>2013-04-15T02:48:06.048-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-15T02:48:06.048-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Madrasah Hadramaut-Alkisah" /><title>Madrasah Hadhramaut : Jendela Bathin </title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZiXG1TRHrUM/UWvL1y9Pc-I/AAAAAAAAF8s/DarDa7o341M/s1600/hadra.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZiXG1TRHrUM/UWvL1y9Pc-I/AAAAAAAAF8s/DarDa7o341M/s320/hadra.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;majalah-alkisah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketahuilah, bila engkau relakan hatimu menjadi halaman bagi datang dan perginya berbagai macam dan rupa lintasan-lintasan baik ataupun buruk dalam bentuk apa pun, engkau tidak akan pernah bisa mengontrol segala tingkah laku dan perbuatanmu untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah engkau pelihara jendela-jendela lahir yang dapat mencemari hati, baik pada siang maupun malam hari, selanjutnya terdapat jendela-jendela lain yang perlu mendapat perhatian kita. Jendela-jendela yang sesungguhnya mem­pengaruhi mata dalam memandang, telinga dalam mendengar, dan lidah da­lam bertutur kata. Jendela-jendela itu ada­lah jendela bathin, sebagaimana telah disinggung pada penjelasan yang lalu.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama suluk menyebut jendela-jendela bathin ini dengan nama al-kha­wathir, yakni lintasan-lintasan yang muncul di dalam hati. Jendela jenis ini tidak dapat diindra, dan tidak pula berupa materi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap bentuk ketaatan yang disukai Allah SWT yang telah mewujud dalam ben­tuk perbuatan tidak lain berawal dari satu lintasan yang ada di dalam hati. Ter­lintas ketaatan di dalam hatimu lalu eng­kau melakukannya. Demikian pula setiap maksiat yang dimurkai Allah yang telah mewujud dalam bentuk perbuatan, itu pun tidak lain berawal dari satu lintasan yang ada di dalam hati.

&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dosa-dosa besar, kefasikan, kedur­haka­an, aniaya, dan semua kezhaliman yang banyak dilakukan banyak manusia, dari manakah asalnya? Asal semua itu adalah lintasan-lintasan yang ada di da­lam hati lalu mereka memenuhi panggilan lintasan-lintasan itu. Lintasan-lintasan itu adalah jendela-jendela bathin hati yang datang kepada hati dari dalam dirinya sendiri. Dan jendela-jendela ini memiliki empat sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pertama, dari an-nafs (nafsu) yang disebut al-hawa (hasrat atau keinginan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lintasan yang bersumber dari nafsu disebut “hawa nafsu”. Di tengah kemarau yang terik, misalkan, engkau tengah ber­puasa fardhu. Di saat yang sama engkau melihat air yang sejuk dan dingin. Apa yang diinginkan oleh nafsumu? Tentu eng­kau ingin meneguk air itu. Dari mana da­tangnya lintasan itu? Lintasan itu da­tang dari nafsu, dari kebutuhan nafsu, dari keinginan nafsu.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Seseorang dengan serta merta me­ngejekmu dengan ejekan yang menyakit­kan, tentu engkau ingin segera menam­parnya. Datang lintasan kepadamu untuk menamparnya. Dari mana lintasan untuk me­nampar itu datang? Lintasan itu da­tang dari nafsu, dari keinginan nafsu, dari perbuatan nafsu.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kedua, dari setan, sebagaimana da­lam hadits, “Setan itu memberikan bisikan kepada hati anak Adam. Bila ia berdzikir kepada Allah, setan akan menangguh­kan­nya. Namun bila ia lupa dari berdzikir ke­pada Allah, setan pun akan kembali membisikinya.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lintasan yang bersumber dari setan ini dinamakan al-waswas (bisikan), se­bagaimana dalam firman Allah SWT, “&lt;i&gt;Dari kejahatan waswasil khannas (bisik­an setan yang biasa bersembunyi).&lt;/i&gt;” – QS An-Nas (114): 4.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ketiga, dari malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang di­keluarkan oleh Imam As-Suyuthi dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesung­guh­nya setan memiliki bisikan kepada anak adam, dan sesungguhnya malaikat pun memiliki bisikan pula. Adapun bisikan setan adalah mendatangkan keburukan dan pengingkaran terhadap kebenaran, se­dang bisikan malaikat adalah menda­tangkan kebaikan dan pengakuan terha­dap kebenaran. Oleh karena itu barang siapa mendapatkan bisikan semacam itu (kebaikan), ketahuilah, sesungguhnya itu datangnya dari Allah, maka pujilah Allah; dan barang siapa mendapatkan bisikan selain dari itu (keburukan), memohonlah perlindungan kepada Allah dari setan.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari dasar ini, para ulama kemudian menamakan bisikan setan dengan nama waswasah dan bisikan malaikat dengan nama lummatul malak.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Keempat, dari al-khawathir (lintasan-lintasan) yang datang langsung dari sisi Allah SWT yang ditanamkan ke dalam hati.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Semua lintasan itu memang secara hakikat datang dari Allah SWT, baik se­bagai musibah maupun anugerah, baik sebagai ujian maupun karunia. Namun di luar sumber-sumber yang telah dise­butkan terdapat lintasan-lintasan yang Allah SWT tanamkan secara langsung ke dalam hati seorang hamba mukmin dari sisi kemahatinggian-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lintasan semacam ini para ulama me­nyebutnya “ilham”, sebagaimana fir­man Allah SWT, “Dan demi jiwa serta pe­nyempurnaannya, Allah meng­il­ham­kan ke­pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ke­taqwaannya.” – QS Asy-Syams (91): 7-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lintasan-lintasan yang ada dalam hati seorang salik sangatlah banyak, bahkan di hati setiap insan di atas muka bumi ini. Bila engkau mencoba untuk mengontrol satu lintasan yang datang di dalam hatimu dalam satu waktu, perhatikanlah, berapa lintasan yang akan datang pada saat itu juga di dalam hatimu?
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Di saat engkau merasakan haus, da­tanglah lintasan di dalam hatimu, “Pergi­lah dan minumlah!” Lalu datang lagi lin­tasan yang lain, “Tetapi aku harus buru-buru, sudah janji Fulan akan datang, aku harus segera menyambutnya.” Datang lagi lintasan yang lain, “Wah, kok aku bisa lupa dengan acara anu… semua di tem­patku lagi?” Dan demikian seterusnya, da­tang silih-berganti berbagai macam rupa lintasan dalam hatimu, sampai-sam­pai seorang ahli pendidikan pernah me­ngatakan, dalam sehari semalam lebih dari 70.000 lintasan datang ke dalam hati seorang manusia.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Hal yang penting bagi seorang salik menuju Allah dalam memelihara hatinya adalah bagaimana ia mampu menda­tangkan lintasan-lintasan kebaikan, men­dengarkannya dengan seksama, dan ke­mudian memenuhinya, dan bagaimana agar ia mampu berpaling dari lintasan-lin­tasan keburukan dan menanggalkan­nya. Dengan melakukan hal tersebut, insya Allah engkau akan dapat mema­hami berbagai hakikat yang dapat me­nimbulkan dan mendatangkan dorongan-dorongan untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lintasan-lintasan yang datangnya dari sumber kebaikan akan memperluas pe­mahaman dan pandangan hati terha­dap kebaikan dan selanjutnya ia pun menghendaki kebaikan. Lintasan-lintasan yang membawa bisikan keburukan, bila engkau tidak menghentikannya dari hati­mu, bila engkau tidak mengobatinya, bila engkau tidak bersungguh-sungguh dalam mengekangnya, dan bila engkau tidak men­jaga hatimu dari semua itu dan tidak pula membentenginya, akan terus-mene­rus melakukan serangan-serangan ter­hadap hati dan memperdayanya untuk berbuat keburukan.

 
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: yellow;"&gt;Sebuah Renungan
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Selanjutnya mari kita merenung ber­sama. Kita renungkan bagaiamana be­sarnya pengaruh lintasan-lintasan itu ter­hadap hati. Coba kita perhatikan keadaan kita pada hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di zaman sekarang ini, sejak dini hari seseorang telah disibukkan dengan ber­bagai aktivitas. Sejak pagi, seseorang te­lah bergelut dengan berbagai kesibukan, dari kemacetan lalu lintas, tugas kantor, tu­gas seminar, tugas kuliah, urusan pri­badi, janji dengan relasi, berhadapan de­ngan klien, dan sebagainya. Datang wak­tu malam, ia pun telah lelah, karena se­harian bekerja dan beraktivitas. Tanpa di­sadari, kehidupannya terus berjalan be­gitu cepatnya. Hari berganti hari, bulan ber­ganti bulan, dan tahun pun telah ber­ganti tahun.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kenyataan yang dilakukannya seba­gai rutinitas tanpa disadari telah mengam­bil bagian demi bagian dari dirinya. Ia bangun di waktu pagi dan kembali ke pem­baringan di malam hari tanpa menge­tahui bagaimana semestinya memelihara dirinya. Tidak siang dan tidak pula malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kita lihat sebagian pemuda. Mereka tengah asyik tertidur, tidak tahu ke mana me­reka akan pergi. Di jalanan, asyik-masyuk mendengarkan musik kegemar­annya, dari satu lagu kepada lagu beri­kutnya. Mereka sibuk, lalu kapan mereka ber­pikir? Kapan duduk untuk merenungi masa yang akan datang dari kehidup­annya?
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dalam pembahasan ini, kita tidak se­dang berbicara tentang haramnya men­de­ngarkan lagu-lagu tertentu. Yang men­jadi pembicaraan kita adalah bagaima seseorang telah menceburkan dirinya ke dalam putaran roda kehidupan dengan cara semacam itu pada sepanjang waktu­nya, dari satu aktivitas kepada aktivitas lainnya, dari satu kesibukan kepada ke­sibukan berikutnya. Inilah permasalahan sesungguhnya. Sebab, mungkin saja se­seorang mendengarkan satu lagu yang indah dengan syair-syair yang meng­gu­gah hati untuk semakin mendekatkan diri­nya kepada Allah, atau paling tidak mem­bantunya dalam menjalani rutinitasnya. Ini bukanlah masalah.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Namun bila hidup seseorang telah ter­patri pada situasi dan kenyataan sema­cam itu, meskipun dengan berbagai rupa aktivitasnya, bahkan lebih dari itu, andai­kan yang didengarkannya bukanlah lagu-lagu yang haram dan tidak pula diperse­lisihkan hukumnya sekalipun, dan bahkan misalkan seseorang menghabiskan se­mua waktunya untuk berbagai macam ke­sibukan hingga tidak menemukan waktu untuk memikirkan lintasan-lintasan yang datang dalam hatinya, inilah masalahnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lalu apa yang dituntut? Yang dituntut adalah bagaimana seseorang dapat pin­dah dari kehidupan yang telah dijalaninya semacam itu, yakni bagaimana kenyata­an yang selama ini telah melingkupi diri­nya dapat mengingatkan kepada kehi­dupan yang lain, yakni kehidupan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Coba tengoklah sedikit ke belakang dan lihatlah kenyataan yang sekarang kita jalani. Yang penting bagi kita, selama kita berjalan menuju Allah, katakanlah, “Aku tidak rela bila harus terbawa arus ke­hidupan. Aku akan melaksanakan ke­wajibanku dengan sebaik mungkin. Bila aku seorang siswa, aku akan menjadi sis­wa yang berprestasi tinggi, namun bukan karena apa-apa, melainkan karena aku memiliki tujuan dari prestasi yang tinggi itu, yakni taqarub kepada Allah. Bila aku seorang pedagang, aku harus menjadi pe­dagang yang terbaik, karena aku me­miliki tujuan, dan tujuanku adalah taqarub kepada Allah. Bila aku seorang arsitek, se­orang pegawai, dan lain-lain, akan hi­dup bersama di tengah-tengah masyara­kat, tetapi hatiku bersama Allah.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Makna “hatiku bersama Allah” yakni menghilangkan segala lintasan keburuk­an yang datang kepada hati.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Untuk itulah kita butuh suatu keingin­an setelah memahami pelajaran ini. Kata­kan, “Tidak akan pernah kubiarkan da­tang, pada siang ataupun malam hari, lintasan ke dalam hatiku seperti itu selain aku mempunyai tujuan.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ketahuilah, bila engkau relakan hati­mu menjadi halaman bagi datang dan perginya berbagai macam dan rupa lin­tasan-lintasan baik ataupun buruk dalam ben­tuk apa pun, engkau tidak akan per­nah bisa mengontrol segala tingkah laku dan perbuatanmu untuk selama-lama­nya.

Seseorang pernah mengadu, ia ber­kata, “Aku telah hadir ke berbagai majelis semacam ini, mataku pun terkadang me­nangis dan hatiku luluh karena rindu un­tuk datang kepada Allah SWT, dan aku ber­tekad untuk istiqamah setelah itu. Na­mun setelah dua-tiga hari, semua itu hi­lang dari diriku. Mengapa?”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Jawabnya, karena sesuatu yang men­jadikanmu kehilangan semua itu, itu juga yang telah membuatmu kembali ke­pada apa yang engkau telah bertaubat darinya (maksiat), membawamu kembali kepada kelalaian, dan yang juga melupa­kanmu kepada makna taraqqi (mengga­pai kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT). Sesuatu itu adalah bahwa hatimu menjadi halaman yang terbuka untuk da­tang dan perginya berbagai rupa lintasan kebaikan dan keburukan. Engkau tidak me­miliki penyaring yang dapat membiar­kan masuknya lintasan yang baik dan men­cegah datangnya lintasan-lintasan yang buruk.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Setelah memahami pelajaran ini, yang harus kita lakukan adalah bersung­guh-sungguh dalam mengontrol lintasan-lintasan di dalam hati kita dengan jalan menerima lintasan kebaikan dan menolak atau berpaling dari lintasan keburukan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: yellow;"&gt;Perpindahan yang Berbeda
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Apa yang akan engkau lakukan bila lintasan itu telah berlalu, berubah menjadi pemahaman, dan kemudian menjadi per­buatan? Engkau telah melakukan suatu per­buatan yang engkau sendiri tidak ingin untuk melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Bila itu terjadi, duduklah dan renung­kanlah bagaiamana engkau sampai ke­pada hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

“Aku bersalah kepada si Fulan dalam ucapan karena aku merelakan diriku ikut ber­­­samanya dalam satu perbincangan yang semestinya aku tidak ikut di da­lamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Mengapa? “Karena aku menerima lin­tasan yang ada dalam hatiku. Lintasan itu berkata, ‘Aku harus meluruskannya, aku lebih hebat dalam pemahaman, dan aku lebih hebat dalam berdebat’.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Bila engkau sudah mulai membingkai dirimu dengan rangkaian perenungan se­macam ini di dalam mengontrol lintasan-lintasan hati, yakni engkau meyakinkan ke­pada dirimu bahwa engkau memiliki ba­nyak lintasan hati yang perlu untuk di­kontrol, setelah itu engkau akan dapat me­nerima untuk memahami berbagai tim­­bangan untuk mengukur lintasan-lin­tasan tersebut sebagai wujud dari mu­jahadatun nafs (pergulatan hati), yang diba­rengi dengan penyandaran diri ke­pada Allah SWT serta berserah diri ke­pada-Nya. Sehingga, niscaya engkau akan melihat dirimu akan berpindah-pin­dah dalam kehidupanmu dengan per­pindah­an yang berbeda dari sebelumnya. Eng­kau akan berpindah dari keadaaan se­orang manusia yang berjalan dengan lintasan-lintasan yang mengarahkannya ke mana pun, dan bagaimana pun ben­tuknya, kepada keadaan seorang muk­min yang mampu mengendalikan dan mengarahkan lintasan-lintasan hatinya bagaimana seharusnya berjalan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Semoga Allah mengaruniai kita se­mua sebaik-baik langkah dalam mengha­dapi lintasan-lintasan yang datang ke dalm hati.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber :www.majalah-alkisah.com
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/xCRhwXd9ZeA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/890318633211267605/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=890318633211267605" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/890318633211267605?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/890318633211267605?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/xCRhwXd9ZeA/madrasah-hadhramaut-jendela-bathin.html" title="Madrasah Hadhramaut : Jendela Bathin " /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-ZiXG1TRHrUM/UWvL1y9Pc-I/AAAAAAAAF8s/DarDa7o341M/s72-c/hadra.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/madrasah-hadhramaut-jendela-bathin.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQHQHY9eyp7ImA9WhBWEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4645536618674524200</id><published>2013-04-05T22:47:00.000-07:00</published><updated>2013-04-05T22:48:51.863-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T22:48:51.863-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hadits Arba'in" /><title>Hadits  Arba'in (18)</title><content type="html">&lt;div style="color: yellow; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Hadits Ke Delapan Belas Belas
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WH8EwfFLF4A/UV-1ZqywOkI/AAAAAAAAF8Y/v1Ah6Oj5riY/s1600/18.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-WH8EwfFLF4A/UV-1ZqywOkI/AAAAAAAAF8Y/v1Ah6Oj5riY/s320/18.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Terjemah hadits:&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, dan Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik .“ (Riwayat Turmuzi, dia berkata, "haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
Kandungan Hadist:&lt;br /&gt;
1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap
muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2. Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan
secara langsung, karena kebaikan akan menghapus
keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3. Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak
mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci
kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia
dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan
dampak negatif pergaulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5. 
Makna takwalloh (takwa kepada Alloh) adalah membuat perisai antara dirinya dengan azab dan murka Alloh, baik di dunia ataupun di akhirat. Dan perisai yang paling asasi adalah menegakkan tauhidulloh. 

Perintah untuk bertakwa ditujukan kepada 3 sasaran, yaitu:&lt;br /&gt;

Ditujukan kepada seluruh manusia, maka takwa di sini maknanya adalah menunaikan tauhid dan membersihkan dari syirik. &lt;br /&gt;

Ditujukan kepada kaum mukminin, maka takwa di sini maknanya adalah melaksanakan ketaatan kepada Alloh berdasarkan petunjuk Alloh dan meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh berdasarkan petunjuk Alloh. &lt;br /&gt;

Ditujukan kepada seseorang yang sudah bertakwa, maka perintah takwa di sini maknanya adalah perintah untuk melestarikan ketakwaannya. &lt;br /&gt;

Ruang lingkup Takwalloh meliputi seluruh tempat dan waktu, artinya di manapun dan kapan pun berada serta dalam kondisi apapun terkena kewajiban takwalloh. Dengan demikian, sifat takwalloh berbeda-beda sesuai dengan tempat, waktu dan keadaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

6.
Kebajikan adalah sesuatu yang mendatangkan pahala, dan keburukan adalah sesuatu yang mendatangkan dosa atau siksa. Kebajikan yang dapat menghapus keburukan ada 2 tingkatan, yaitu:
&lt;br /&gt;
Melakukan kebajikan dengan niat untuk menghapus keburukan. Jika melakukan kebajikan dengan niat menghapus keburukan maka sudah terkandung di dalamnya penyesalan dan taubat atas kejelekannya. &lt;br /&gt;

Melakukan kebajikan tanpa adanya niat menghapus keburukan. Kebajikan seperti ini secara umum akan menghapuskan kejelekannya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Derajat yang ke-2 ini lebih rendah dibanding derajat yang pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

7.
Husnul Khuluq adalah banyak berderma, tidak menyakiti dan berwajah ceria. Inilah tafsir Husnul Khuluq kepada sesama manusia. Seseorang mendapatkan Husnul Khuluq secara thobi’í atau hasil usaha. Seseorang yang melakukan Husnul Khuluq sebagai hasil dari jerih payahnya lebih besar pahalanya dibanding dengan yang melakukan karena sudah tabiatnya. Karena kaidah menyatakan, “Jika sesuatu diwajibkan oleh syariat maka yang lebih mendapatkan kesulitan dalam pelaksanaannya lebih besar pahalanya. Berbeda dengan apabila sesuatu itu disunahkan, maka tidak secara otomatis yang lebih mendapatkan kesulitan lebih besar pahalanya.”


&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/RhquIhD-lVo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4645536618674524200/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4645536618674524200" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4645536618674524200?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4645536618674524200?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/RhquIhD-lVo/hadits-arbain-18.html" title="Hadits  Arba'in (18)" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-WH8EwfFLF4A/UV-1ZqywOkI/AAAAAAAAF8Y/v1Ah6Oj5riY/s72-c/18.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/hadits-arbain-18.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUIAQnczeSp7ImA9WhBWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-2458521158139092642</id><published>2013-04-05T03:21:00.002-07:00</published><updated>2013-04-05T03:25:43.981-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T03:25:43.981-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sholawat" /><title>Sholawat Miftahu Babil Arzaq</title><content type="html">&lt;div style="color: yellow; text-align: center;"&gt;
Sholawat Miftahu Babil Arzaq (Pembuka Pintu-Pintu Rezeki)&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: yellow; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: yellow; text-align: center;"&gt;
As Syaikh Al Qutb Muhammad Al -Budairi Ad-Dimyathi Qoddasa Allahu Sirrohu Wa Rodhianhu&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-KZRta3ulNF8/UV6hn5Me-VI/AAAAAAAAF8E/bjYirYvkZEM/s1600/sd.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://4.bp.blogspot.com/-KZRta3ulNF8/UV6hn5Me-VI/AAAAAAAAF8E/bjYirYvkZEM/s400/sd.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: yellow;"&gt;Artinya:&lt;/span&gt;
&lt;i&gt;Ya Allah, Limpahkanlah SholawatMu atas pimpinan kami Muhammad, hamba Mu dan Rasul Mu, Nabi yang dibangkitkan sebagai rahmat, juga keatas keluarga dan sahabat beliau, dengan disertai salam, sebanyak bilangan yang engkau ketahui dan dijalani qalam Mu dan berjalanya hukum Mu.
Ya Allah, wahai siapa yang mengatakan kepada sesuatu "Jadilah maka dia terjadi". Aku meminta kepada Mu agar engkau melimpahkan sholawatmu keatas Muhammad dan menyelamatkan aku dari lilitan hutang, serta memperkaya diriku dari kefakiran dan berilah aku rezeki yang halal dan luas penuh keberkahan dan limpahan ya Allah. Sholawat Mu atas muhammad dan keluarganya, beriringan dengan sallam.&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat catatan khusus dari sholawat ini yaitu "Barangsiapa mengucapkanya sepuluh kali maka ia akan dapat melunasi hutang-hutangnya dan diberi Allah keberkahan rezekinya.
Semoga Allah terus memuliakan Rasulullah Sayyidina Muhammad Shollallahu 'alaihi wassalam dan memberikan keberkahan kita yang membaca sholawat ini.  Amin
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Shalawat tersebut kami dapatkan dari dalam kitab Saadatud Dara`in karya Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dengan terjemahan dari Syaikhina Habib Muhammad bin Ali bin Ahmad Syihab.



&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;


&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/yQQygXbVktA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/2458521158139092642/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=2458521158139092642" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/2458521158139092642?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/2458521158139092642?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/yQQygXbVktA/sholawat-miftahu-babil-arzaq.html" title="Sholawat Miftahu Babil Arzaq" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-KZRta3ulNF8/UV6hn5Me-VI/AAAAAAAAF8E/bjYirYvkZEM/s72-c/sd.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/sholawat-miftahu-babil-arzaq.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkMNQX86fyp7ImA9WhBWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-3053980456042250740</id><published>2013-04-05T02:31:00.000-07:00</published><updated>2013-04-05T02:34:50.117-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T02:34:50.117-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sufi News" /><title>Syeikh Syazili:  Dunia</title><content type="html">&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-m57X_KB6mZs/UV6Y1JA9FNI/AAAAAAAAF7Y/OAgIAFEaA1k/s1600/34.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-m57X_KB6mZs/UV6Y1JA9FNI/AAAAAAAAF7Y/OAgIAFEaA1k/s320/34.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;span style="color: yellow;"&gt;Sufinews&lt;br /&gt;
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: lime;"&gt;
Awas! Waspadalah dengan kesibukan dunia manakala dunia mendekatimu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Awas! Dengan penyesalannya manakala dunia pergi darimu. Orang yang cerdas sama sekali tidak tergantung pada sesuatu (dunia) yang apabila dunia datang ia sibuk dan apabila pergi ia menyesal. Lalu ada yang berkata padanya, “Mereka telah memburu dan mereka telah terampas.”
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IKHLAS merupakan Siapapun  yang meraih sedikit saja dari dunia secara halal dengan disertai etika (adab), hatinya telah selamat dari pengotoran dan dari neraka hijab. Etika (adab) di sini ada dua macam: Adab sunnah dan adab ma’rifat. Adab sunnah adalah berpijak pada ilmu pengetahuan melalui tujuan dan niat yang baik semata bagi Allah. Sedangkan adab ma’rifat disertai izin, perintah, ucapan dan  isyarat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Isyarat di sini, merupakan pemahaman dari Allah terhadap hamba-Nya melalui cahaya keindahan-Nya dan keagungan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
Ilahi, dunia ini hina, hinalah orang yang berkubang di  dalamnya, kecuali dzikrullah. Sedangkan akhirat itu mulia, dan mulia pula orang yang ada di dalamnya. Sementara Engkau  yang menghinakan kehinaan  dan memuliakan kemuliaan. lalu mana bisa mulia orang yang memburu selain Diri-Mu? Tau bagaimana bisa zuhud orang  yang memilih dunia bersama-Mu? Maka benarkanlah secara hakiki  diriku dengan hakikat zuhud sehingga aku tidak membutuhkan lagi mencari selain Diri-Mu, dan kokohkan dengan hakikat ma’rifat sehingga aku tidak butuh mencari-Mu lagi.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ilahi, bagaimana orang yang mencari-Mu bisa sampai kepada-Mu, atau bagaimana  orang yang lari dari-Mu bisa kehilangan Diri-Mu? Maka carilah aku dengan kasih sayang-Mu, dan jangan engkau cari diriku dengan siksa-Mu wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

“Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tak ada masalah besar bagi kami, kecuali dua hal ini: cinta dunia secara  berlebihan dan rela menduduki kebodohan. Sebab,  cinta dunia itu tonggak dari segala dosa besar, sedang menempati  kebodohan adalah tonggak segala kedurhakaan. Sungguh Allah memperkaya dirimu jauh dari dunia lebih baik dibanding Allah memperkaya dirimu dengan dunia. Maka demi Allah tak seorang  pun bisa kaya dengan dunia, sebab bagaimana bisa kaya dengan  dunia, sementara firman-Nya: “Katakanlah, sesungguhnya harta dunia itu amat sedikit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ada seseorang datang kepadaku, ketika aku ada dalam gua di Marokko. Lalu ia berkata padaku, “Engkau punya keahlian di bidang ilmu kimia, ajarilah aku.” Kukatakan padanya, “Baik aku akan mengajarimu  tentang kimia, namun aku tidak memperdayaimu dari ilmu kimia itu satu huruf pun, seandainya engkau menerima, dan aku lihat  engkau tidak akan menerima...?” Orang itu menjawab,  “Hai, demi  Allah aku pasti menerima.” Lalu  kukatakan, “Gugurkanlah makhluk  dari hatimu, dan putuskanlah  keinginan agar Tuhanmu memberikan sesuatu yang selain apa yang telah diberikan  padamu dari Tuhanmu.” Orang itu menegaskan, “Sungguh, aku tidak  mampu menjalankan ini!”. Lalu kukatakan padanya, “Bukankan sudah kukatakan padamu, kalau engkau tidak akan menerima. Kalau  begitu pergilah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ada empat perkara, jadilah dirimu bersamanya, dan masuklah kapan saja engkau mau. 1) Janganlah engkau mengangkat  pemimpin yang kafir, 2) janganlah memandang orang mukmin  sebagai musuh, 3) jauhkanlah hatimu dari dunia dan bersiaplah menyongsong kematian, dan 4) bersaksilah bagi Allah dengan Keesaan-Nya, dan bersaksilah bagi Rasul dengan risalahnya. Lalu amalkanlah. Ucapkan:
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
“Aku  beriman kepada Allah,  malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, seluruh takdir-Nya, dan seluruh  kalimat-kalimat yang bercabang-cabang dari Kalimat-Nya (Kami tidak membedakan antara  seseorang dari para Rasul-Nya)  dan kami katakan sebagaimana mereka katakan, (kami mendengar dan kami patuh, hanya ampunan-Mu wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu lah tempat kembali).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Siapa pun yang berpijak pada empat hal tersebut, Allah akan menjamin empat hal di dunia dan empat hal di akhirat. (Di dunia) benar dalam bicara; ikhlas dalam beramal; rizki seperti hujan dan terjaga dari keburukan. Sedangkan di akhirat mendapatkan:  ampunan agung; kedekatan yang sangat (kepada Allah); masuk ke dalam syurga yang luhur dan mendapatkan derajat tinggi. Kamudian mendapatkan empat hal pula dalam agama: Masuk ke dalam Allah; bermajlis bersama-Nya; mendapat Salam dari Allah dan meraih  keridhaan Allah yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Apabila engkau ingin benar dalam ucapan, maka resapkanlah  dalam dirimu dengan membaca: “Sesunggunya Kami telah  menurunkan Al-Qur’an di malam  qadar (lailatul qadr)”.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Apabila engkau ingin ikhlas beramal, resapkan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Allah itu Esa”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Apabila engkau ingin luas dalam riziki, resapkankan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Aku berlindung pada Tuhannya manusia.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Aku  pernah melihat Rasulullah Saw. bersabda: “Ada empat  perkara yang tak bisa dipahami sama sekali, sedikit ataupun banyak: Cinta dunia; alpa akhirat; takut miskin dan takut manusia.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
“Seburuk-buruk manusia adalah orang yang bakhil dengan  dunianya terhadap orang yang berhak, maka bagaimana dengan  orang yang bakhil dengan dunia terhadap yang memiliki dunia (Allah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Aku melihat seakan-akan diriku berada di tempat yang tinggi. Lalu aku bermunajat: Ilahi, manakah kondisi ruhani yang paling engkau cintai dan ucapan manakah yang paling benar menurut-Mu?  Amal manakah yang paling bisa menunjukkan kecintaan pada-Mu? Tolonglah aku dan tunjukkanlah diriku. Maka dikatakan padaku:  “Kondisi ruhani paling Kucintai adalah ridha disertai musyahadah;  sedangkan ucapan paling benar menurut-Ku adalah ucapan, Laa ilaaha illaLlah secara jernih. Sementara amal yang paling bisa menunjukkan kecintaan-Ku  adalah membenci dunia dan putus  asa terhadap ahli dunia, disertai keselarasan dengan-Ku.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Lepaskanlah dirimu dari berlebihan terhadap cinta dunia, tinggakanlah untuk terus menerus bermaksiat, langgengkanlah pada masalah rahmat laduniyah (dari sisi Allah), dan mohonlah pertolongan melalui rahmat itu pada segala tindakan, serta janganlah hatimu bergantung  dengan sesuatu, maka engkau termasuk orang-orang yang  sangat mendalam (dan benar)  dalam ilmu, dimana rahasia batin  dan ilmu tidak pernah hilang.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Apabila muncul gangguan hatimu berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua telapak  kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi zuhud, lalu  penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk. Janganlah  engkau menunda-nunda, yang  bisa membuatmu tenggelam  dalam kegelapannya dan anggota  badanmu terlepas di sana, lalu engkau harus memeluknya, baik  melalui hasrat, fikiran, kehendak dan gerakan. Kala itu, lubuk hati menjadi terombang-ambing, dan seorang hamba “bagaikan telah disesatkan oleh syetan di pesawangan yang menakutkan  dalam keadaan bingung, dia mempunyai sahabat-sahabat yang  memanggilnya kepada jalan yang  lurus (dengan mengatakan):  “Marilah ikuti kami,” katakanlah,  “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya)  petunjuk.” Sedangkan petunjuk itu tidak akan pernah ada kecuali pada orang yang bertaqwa; tiada orang yang bertaqwa kecuali orang itu kontra terhadap dunia. Tiada orang yang kontra terhadap dunia kecuali orang yang menghina dirinya. Tidak ada orang yang menghina dirinya kecuali orang yang tahu akan dirinya. Tidak pula tahu orang yang tahu akan dirinya kecuali orang yang tahu Allah. Tidak ada yang mengenal Allah kecuali orang  yang mencintai-Nya, dan tidak ada orang yang mencintai-Nya  kecuali orang yang telah dipilih dan dikasihi Allah, dan antara  dirinya terhalang dari hawwa dan nafsunya. Ucapkanah: “Ya Allah, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha Menghendaki, wahai Yang maha Perkasa, wahai Yang Maha Bijaksana, wahai Yang Maha  Terpuji, wahai Tuhan, wahai Sang Raja, wahai Yang Ada, wahai  Yang Memberi Petunjuk wahai Yang Maha Memberi  nikmat. Limpahkanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya  Engkau Maha Memberi Anugerah, dan Engkau memberi nikmat pada hamba-Mu dengan nikmat agama  dan nikmat hidayah, ”menuju  jalan yang lurus, jalan Allah yang Dia pemilik apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah hanya kepada Allah lah  segala urusan kembali,” melalui kemuliaan Nama Agung ini. Amin.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Apabila engkau berhadapan dengan suatu yang menjadi bagian dari dunia maka bacalah: “Wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang  Maha Mengetahui, wahai Yang Maha Kuasa, wahai Yang Maha  Mendengar, wahai Yang Maha Melihat.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Manakala tambahan bekal tiba, berupa bekal dunia maupun akhirat, maka bacalah: ”Cukuplah  Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami dari karunia keutamaan-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”(Q.s. at-Taubah: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Wahai orang yang berhasrat pada jalan selamat-Nya yang  beruntung menuju hadirat Kehidupan-Nya, jauhilah memperbanyak diri atas apa yang diwenangkan Allah kepadamu. Tinggalkan apa yang tidak masuk dibawah ilmumu dari apa yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu. Bergegaslah menuju kewajiban-kewajibanmu, dan tinggalkan  kesibukan manusia pada umumnya untuk menjaga batinmu. Maka dalam hal meninggalkan memperbanyak diri, merupakan zuhud, dan meninggalkan hal-hal yang tidak termasuk dalam ilmumu adalah wara’. Renungkan sabda Rasulullah Saw. ”Kebaikan adalah yang menentramkan jiwa dan menentramkan kalbu. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang merajut-rajut dalam jiwa dan membawa keraguan dalam dada, walaupun  manusia lain telah menasehatimu dengan yang selain dosa itu.” Maka fahamilah.Sibuk menjaga rahasia batin berarti menghormati hakikat-hakikat keimanan. Jika engkau seorang pedagang yang jeli, maka tinggalkanlah kemauanmu untuk pasrah pada Kehendak-Nya, disertai ridha pada seluruh aturan-Nya. “Dan siapakah yang lebih baik daripada Allah sebagai hukum bagi orang-orang yang yakin?” Hadis ini cukup bagimu, ”Dunia itu haramnya adalah siksa, dan halalnya adalah hisab.” Dunia yang tak ada hisab kelak di akhirat dan tak ada hijab ketika di dunia, adalah dunia yang bagi  pemiliknya tidak mengandung  hasrat kehendak sebelum adanya dunia itu, dan tidak pula mengandung hasrat ketika dunia menyertainya, tidak pula kecewa ketika dunia hilang dari  sisinya. Sedangkan kebebasan mulia hanya bagi orang yang meraih dunia secara berhadapan, tanpa sedikit pun pengaruh yang memperdayai hatinya (karena dunia itu).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Aku pernah bermimpi melihat Abu Bakr ash-Shiddiq, lalu beliau berkata padaku, “Tahukah engkau apa tanda keluarnya cinta duniawi dari dalam kalbu?” Aku bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Meninggalkannya ketika ada, dan merasa ringan ketika dunia tak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber: Sufinews.com&lt;/span&gt;

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/glcnm-TUeDg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/3053980456042250740/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=3053980456042250740" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3053980456042250740?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3053980456042250740?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/glcnm-TUeDg/syeikh-syazili-dunia.html" title="Syeikh Syazili:  Dunia" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-m57X_KB6mZs/UV6Y1JA9FNI/AAAAAAAAF7Y/OAgIAFEaA1k/s72-c/34.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/syeikh-syazili-dunia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkMAQ38-eyp7ImA9WhBWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-9207110383579493250</id><published>2013-04-05T02:24:00.000-07:00</published><updated>2013-04-05T02:34:02.153-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T02:34:02.153-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sufi News" /><title>Memahami Agama, Kunci Dari Tarekat</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-B6PfeGJqtAQ/UV6XN1Xft2I/AAAAAAAAF7I/GydVoCrYaMo/s1600/6489_wallpaper.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-B6PfeGJqtAQ/UV6XN1Xft2I/AAAAAAAAF7I/GydVoCrYaMo/s320/6489_wallpaper.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;Sufinews&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: yellow;"&gt;
Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
DARI sini kaum sufi mengatakan: “Pahamilah agama anda lebih dahulu baru anda kemari dan masuk ke dalam tarekat.” Ini dengan harapan tidak banyak memperhatikan lagi kepada selain tarekat. Barangkali ia baru mulai masuk dalam majelis dzikir misalnya, kemudian masih butuh menelaah pelajaran-pelajaran syariatnya, menghadiri diskusi bersama para pencari ilmu (mahasiswa) dan banyak berdebat. Ini akan menjauhkan dari makna yang dimaksud dalam tarekat untuk selalu muraqabah kepada Allah Swt. saja, dimana sebagian besar ilmu-ilmu yang rumit dan pelik akan ikut mempengaruhi bagian nafsu. Sementara seluruh landasan tarekat dibangun atas dasar melawan dan tidak menuruti kesenangan nafsu. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
Dan seyogianya seorang murid memiliki saksi yang bisa membuktikan pengakuannya dalam setiap kondisi dan tingkatan spiritual, apakah pengakuannya sekadar berpura-pura atau memang pengakuan yang sesungguhnya. Kalau ia mengaku cinta kepada Allah maka warna temperamennya akan lebih cenderung pucat, bila mengaku zuhud dalam masalah dunia maka ia akan menjauhi orang-orang yang jahat, dan bila mengaku dalam kondisi kelaparan maka tubuhnya kelihatan kurus.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Asy-Syarifal-Ahmadi bercerita: Kami pernah di majelis orang-orang fakir sufi yang ada di Bahasna untuk mengunjungi orang-orang saleh. Ternyata secara tiba-tiba ada seorang pemuda yang kelihatan kurus datang kepada kami. Warna kulitnya kelihatan pucat dan menunjukkan tanda-tanda orang baik. Ketika salah seorang dari kami yang bisa bersyair melihatnya maka ia melagukan bait syair:
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dan kerinduan menjadikannya kurus dan selalu mendapat bagian ketika terbenamnya bintang untuk selalu merintih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kemudian pemuda itu menjerit dan dengan tangannya ia memukuli tiang, sampai pecah. Dan akhirnya kerinduan semua orang yang ada di tempat itu bergerak.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Maka bisa diketahui, bahwa setiap orang fakir sufi yang tidak pernah menderita kelaparan dan beratnya mujahadat ia akan terus diliputi kebekuan hati dan diliputi oleh hijab yang sangat tebal. Andaikan mendengar al-Qur’an ia hampir tidak bisa mendapatkan nasihat apa pun dan larangan-larangan-Nya karena sangat tebalnya hijab. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MENGAMBIL ALTERNATIF YANG LEBIH BERHATI-HATI
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
DAN diantara perilaku murid, hendaknya ia mengambil cara yang lebih berhati-hati dalam masalah agama dan keluar dari perbedaan pendapat para ahli fikih menuju pada pendapat yang paling disepakati mereka semampu mungkin. Ini dimaksudkan agar ibadahnya bisa dianggap sah oleh semua madzhab, atau paling tidak sebagian besar madzhab fikih. Sebab kalau syariat memberikan keringanan (rukhshah) itu hanya diperuntukkan orang-orang lemah dan mereka yang dalam kondisi darurat atau memiliki kesibukan. Sedangkan kaum sufi tidak memiliki kesibukan apa pun kecuali selalu mengambil tindakan nafsunya untuk selalu melakukan ketentuan syariat yang bersifat hukum asal (azimah). Oleh karenanya kaum sufi mengatakan: “Apabila seorang fakir sufi telah turun dari tingkatan hakikat menuju pada keringanan-keringanan yang diberikan syariat, berarti ia telah merusak dan membatalkan perjanjiannya dengan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dan diantara perilaku yang harus dilakukan murid hendaknya menyembunyikan seluruh kondisi spiritualnya yang terjadi antara dia dengan Allah Swt. semampu mungkin, sampai tertanam kuat pada tingkatan menjaga dan memperhatikan al-Haq saja, tanpa memperhatikan siapa pun dan makhluk-Nya. Maka hampir tidak seorang pun yang mampu mengambil kedudukan spiritualnya dan tidak seorang pun yang tahu kondisi spiritualnya, karena sangat rapat dalam menjaga dan menyembunyikannya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ada salah seorang fakir sufi datang kepada Syekh Muhammad asy-Syarbini dan melantunkan bait syair di depannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berapa banyak pemuda yang menyangka aku jauh&lt;br /&gt;
Sedangkan dia diam berada di bawah tenda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Maka Syekh asy-Syarbini berteriak dan bangkit kemudian memegang si pemuda yang melantunkan syair tersebut sembari bertanya, “Dari mana anda tahu akan hal itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Para ahli tarekat telah sepakat bahwa, seorang murid apabila yang memberikan dorongan untuk beramal itu selain al-Haq, maka tidak akan ada sesuatu yang muncul darinya. Mereka juga sepakat bahwa, setiap murid yang suka pamer agar semua orang bisa melihat kesempurnaannya maka ia telah terputus. Apalagi kalau semua orang ingin mencari berkah darinya maka habislah sudah secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Seorang murid juga harus melatih dan memantapkan dirinya untuk selalu sanggup memikul beban penderitaan dalam menempuh tarekatnya, dan tidak segera berpaling dan tarekat untuk mencari alternatif lain bila ditimpa penyakit, kekurangan, dan bencana yang menyusulnya. Untuk selamanya ia juga tidak boleh mengambil keringanan bila sedang ditimpa kesulitan, kemiskinan dan kondisi yang membahayakan. Sering kali terjadi pada murid dijauhi oleh semua orang bila ia sudah masuk ke dalam tarekat kaum sufi. Mereka akan menguasai harga dirinya dengan mencemooh dan meremehkannya. Pada saat seperti itu setan akan datang menemuinya sembari mengatakan, ‘Anda tidak perlu untuk mencari tarekat kaum sufi seperti itu. Berapa tahun anda enak dan tidak ada masalah di tengah-tengah masyarakat? Semua orang mengatakan anda baik dan tidak pernah mengumpat karena kesalahan anda!” Akhirnya kalau menuruti omongan setan, si murid akan segera membatalkan perjanjiannya dan mengundurkan diri dari tarekat, akhirnya semakin bercerai-berai, yang tidak layak lagi masuk di tarekat dan juga yang lain. Maka hendaknya seorang murid berteguh pendirian untuk tetap berjalan di tarekat dan tidak guncang dengan membawa kebenaran hanya karena ujian yang ada di dalamnya, karena sesungguhnya hal itu dari setan. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;TIDAK PERNAH MENINGGALKAN SANG GURU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
DIANTARA perilaku yang harus dilakukan murid, bila ia memiliki seorang guru maka ia harus tetap bersama sang guru dan tidak pernah meninggalkannya. Kalau ia sedang bermujahadat hendaknya berkhalwat dengan menghadap ke pintu rumah sang guru, agar penglihatan sang guru selalu menatap kepadanya ketika dia hendak keluar. Hal itu merupakan tanda keberhasilan dan kebahagiaan Si murid. Barangkali sekali tatapan mata sang guru mampu menjadikannya “emas” yang tampak di mata sehingga tidak butuh lagi bermujahadat, sebagaimana yang terjadi pada Tuan Guru Yusufal-’Ajami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Suatu hari ia keluar dan khalwat, dan tidak menemukan seorang pun dari kaum fakir sufi yang bisa dilihatnya. Pertama kali yang ditatap oleh penglihatan matanya adalah seekor anjing. Akhirnya seluruh anjing yang ada di Mesir mengikutinya, dan berjalan di belakangnya ke mana pun ia berjalan, dan berhenti bersamanya di mana pun ia berhenti. Akhirnya semua orang mengkhawatirkan sapi dan binatang ternak yang lainnya akan seperti anjing-anjing tersebut. Maka Tuan Guru berjalan di belakang anjing-anjing tersebut sembari mengusirnya. Akhirnya anjing-anjing itu meninggalkannya. Tuan Guru berkata, “Andaikan tatapan pandangan mata yang pertama kali itu tertuju pada manusia, tentu ia akan menjadi seorang imam yang diikuti.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kaum sufi mengatakan: “Sepantasnya seorang murid tidak mengadakan perjalanan jauh atau bepergian sebelum diterima oleh tarekat. Sebab bepergian bagi seorang murid merupakan racun yang mematikan.”
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Imam al-Qusyairi —rahimahullah— mengatakan: “Apabila Allah menghendaki seorang murid itu baik, maka Allah akan menetapkannya di tempat keinginannya dan melanggengkannya untuk selalu berada dijalan mujahadatnya. Akan tetapi bila Allah menghendakinya jelek, maka Allah akan mengembalikannya pada kondisi sebelum ia bertobat dan disibukkan dengan urusan dunia sehingga jauh dari-Nya.” Al-Qusyairi juga mengatakan: “Kebaikan dan segala kebaikan adalah selalu berhenti di depan pintu gerbang sang guru. Apabila Allah menghendaki seorang hamba itu jelek maka Dia akan mencerai-beraikannya ke tempat pengasingan sebelum ia kokoh dalam masalah-masalah Tuhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sementara akhir dari masalah dalam pengembaraannya hanya akan menjadi hijab yang kosong dari adab yang diinginkan atau bertambahnya tempat-tempat baru yang ia kunjungi atau bertemu dengan guru-guru yang tidak harus mengikatkan diri dengan salah seorang dari mereka untuk mendidik. Orang seperti ini tidak terbebani untuk selalu berjalan pada jalur tarekat yang telah ditentukan. Sebab Allah tidak menghendakinya naik ke tingkatan para tokoh sufi. Andaikan Allah menghendaki untuk naik tentu Dia akan mengikatkannya dengan seorang guru yang bakal dia layani dan berjanji untuk selalu mendengar dan taat terhadap apa yang disuka dan dibenci. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber: Sufinews.com

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/aArBQVHCXe0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/9207110383579493250/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=9207110383579493250" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/9207110383579493250?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/9207110383579493250?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/aArBQVHCXe0/memahami-agama-kunci-dari-tarekat.html" title="Memahami Agama, Kunci Dari Tarekat" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-B6PfeGJqtAQ/UV6XN1Xft2I/AAAAAAAAF7I/GydVoCrYaMo/s72-c/6489_wallpaper.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/memahami-agama-kunci-dari-tarekat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMERH45eip7ImA9WhBWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8527077336750295122</id><published>2013-04-05T02:00:00.001-07:00</published><updated>2013-04-05T02:00:05.022-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T02:00:05.022-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Risalah Al Qusyairi" /><title>Risalah Al Qusyairi 8 : Takut (Khauf)</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-och9eSi4lpE/Tz3Tkjyt06I/AAAAAAAAE20/1TCgr0Oxyec/s1600/Risalah%2BQusyairiyah_Hrm-500x500.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="200" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5709952527612367778" src="http://3.bp.blogspot.com/-och9eSi4lpE/Tz3Tkjyt06I/AAAAAAAAE20/1TCgr0Oxyec/s200/Risalah%2BQusyairiyah_Hrm-500x500.jpg" style="float: left; height: 256px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 171px;" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #ffff33; font-style: italic;"&gt;Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Rasulullah saw telah mengatakan, “Barangsiapa yang menangis kerana takut kepada Allah SWT, niscaya tidak akan dimasukkan ke dalam neraka selama air susu masih mengalir dari seorang ibu. [Disamping itu], debu dari jalan Allah tidak akan pernah bercampur dengan asap api neraka pada batang hidung seorang hamba.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anas meriwayatkan bahawa Rasulullah saw berkata, “Seandainya kamu semua tahu apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq menjelaskan, “Takut memiliki berbagai tahap, yaitu khauf khasy-yah dan haybah. Khasy-yah adalah salah satu keadaan pengetahuan lahir, manakala haybah adalah salah satu keadaan pengetahuan batin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abul Qasim Al-Hakim mencatat, “Ada dua jenis takut, iaitu gentar (rahbah) dan takut (khasy-yah). Orang yang merasa gentar mencari perlindungan dengan cara lari ketika dia takut, tetapi orang yang merasa takut (khasy-yah) akan berlindung kepada Allah.”



&lt;span class="fullpost"&gt;

Jika seseorang melarikan diri (rahaba), maka dia ditarik kepada hasratnya sendiri, seperti halnya pada rahib (ruhban) yang mengikuti hasrat mereka sendiri. Tetapi jika kendali mereka adalah pengetahuan yang didasarkan pada kebenaran hukum, maka itu adalah takut (khasy-yah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq berpendapat, “Takut adalah bahwa anda berhenti mengemukakan dalih dengan kata-kata ‘asaa (mudah-mudahan) dan saufa (‘akan’ atau ‘mungkin sekali akan’).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibn Al-Jalla menyatakan: “Manusia yang takut (kepada Tuhan) bukanlah dia yang menangis dan menghapus air matanya, tetapi dia yang merasa aman dari hal-hal yang menakutkan.” ( atau meninggalkan apa yang ditakutinya akan mendatangkan hukuman.)
//hanya orang yang takut sahaja dapat melihat orang yang takut – sepertimana hanya ibu yang kehilangan anaknya saja yang mahu memandang kepada ibu-ibu yang berkabung//&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yahya bin Muadz mengatakan, “Alangkah malangnya anak Adam. Seandainya dia takut kepada neraka sebesar rasa takutnya kepada kemiskinan, nescaya dia akan masuk syurga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abul Qasim Al-Hakim menyatakan: “Orang yang takut kepada sesuatu akan lari darinya, tapi orang yang takut kepada Allah SWT akan lari kepada-Nya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzun Nun ditanya, “Bilakah jalan takut menjadi mudah bagi seorang hamba?” Dia menjawab, “Apabila dia mengibaratkan dirinya dalam keadaan sakit dan menghindari dari segala sesuatu yang dikhuatirkan akan membuat penyakitnya berpanjangan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzun Nun mengatakan, “Manusia akan tetap berada di jalan selama takut tidak tercabut dari hati mereka, sebab jika takut telah hilang dari hati mereka, maka mereka akan tersesat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ali Ar-Razi Ibrahim bin Syaiban berpendapat, “Manakala takut menetap di hati, maka keinginan nafsu akan terbakar habis darinya dan hasrat akan dunia akan terusir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Sulaiman Ad-Darani menyatakan, “Adalah perlu bahawa tidak sesuatu pun yang memperoleh menguasai hati selain takut, sebab jika harapan memperoleh penguasaan atas hati, maka hati akan rusak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Husain bin Manshur menyatakan, “Barangsiapa yang takut akan sesuatu selain Allah SWT atau berharap akan sesuatu selain Dia, maka, semua pintu akan tertutup baginya dan rasa takut akan mendominasinya, manabiri hatinya dengan 70 tabir, yang paling tipis di antaranya adalah keraguan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mendengar Manshur bin Khalaf membacakan kisah: “Ada dua orang yang saling menemani dalam mengerjakan ibadat. Kemudian salah seorang di antaranya pergi meninggalkan sahabatnya. Setelah berlalu waktu yang lama, tidak terdengar khabar berita mengenainya. Sahabat yang ditinggal pergi itu ikut berperang bersama tentara Muslim memerangi bala tentera Bizantium. Dalam pertempuran itu, seorang tentera musuh yang memakai baju besi menyerang tentera Muslim dan memegang senjatanya. Seorang satria Muslim maju ke depan dan tentera Bizantium itu membunuhnya. Kemudian maju lagi seorang tentera Muslim, dan dia juga terbunuh. Satria Muslim ketiga yang maju ke depan juga terbunuh. Kemudian majulah sang sufi ke depan dan keduanya bertempur. Topeng yang menutupi wajah tentera Bizantium terlepas, dan ternyata dia adalah sahabat sang sufi yang dulu telah menemaninya beribadah selama bertahun-tahun. Maka berserulah dia. “Apakah ini?” Musuhnya menjawab, “Aku telah murtad dan kahwin dengan seorang wanita dari kaum ini. Aku sudah punya anak-anak dan harta kekayaan.” Sang sufi berteriak, “Dan engkau adalah orang yang dahulu biasa membaca Al-Quran dengan berbagai gaya bacaannya!” Dia menjawab, “Satu huruf pun aku tidak ingat lagi daripadanya.’ Maka sang sufi lalu berkata kepadanya, “Berhentilah kamu dari kelakuanmu itu, dan bertaubatlah.” Dia menjawab dengan keras, “Aku tidak mahu, sebab aku telah beroleh kemasyuran dan kekayaan. Tinggalkan sahaja diriku, atau aku akan melakukan kepadamu apa yang telah kulakukan terhadap ketiga orang temanmu.” Sang sufi berkata, “Ketahuilah bahawa engkau telah membunuh 3 orang Muslim. Tidak ada malu yang akan menimpamu jika kau pergi saja dari sini. Kerana itu, pergilah dan aku akan memberimu tempoh waktu.’ Maka orang itu pun mundur ke belakang dan berbalik. Sang sufi mengikutinya dan membunuhnya dengan pedangnya. Setelah menempuh perjuangan dan disiplin spiritual yang begitu lama dan berat, orang itu mati sebagai orang Kristian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan, “Ketika terjadi apa yang terjadi pada Iblis, Jibril dan Mikail tiba-tiba menangis dengan lamanya, hingga Allah SWT berfirman kepada mereka, “Wahai kamu berdua, kenapa kamu menangis demikian?” Mereka menjawab, “Wahai Tuhan kami, kami tidak merasa aman dari pengawasan-Mu.” Allah SWT berfirman, “Tetaplah begitu, dan janganlah merasa aman dari pengawasan-Ku.”
Abu Hafs menuturkan, “Selama 40 tahun aku benar-benar yakin bahawa Allah SWT memandangku dengan murka dan semua amal perbuatanku membuktikan hal itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan, Hatim Al-Ashamm menegaskan, "Janganlah kamu tertipu oleh tempat-tempat yang saleh, sebab tidak ada tempat yang lebih saleh daripada syurga, dan fikirkanlah apa yang telah menimpa Adam di tempat yang begitu saleh! Jangan pula kamu tertipu oleh banyaknya amal ibadah; lihatlah apa yang menimpa Iblis setelah dia begitu banyak beribadah. Juga, janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ilmu, sebab Bal'aam pun mengetahui al-ismul a'zham, tetapi lihatlah apa yang terjadi kepadanya!Jangan kamu tertipu kerana bertemu dengan seorang yang saleh, sebab tidak ada orang yang takdirnya lebih agung dari Al-Musthafa saw, namun berjumpa dengannya sama sekali tidak memberi manfaat kepada (sebahagian dari ) karib kerabat dan musuh-musuhnya."
Ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya pada suatu hari, Ibn Al-Mubarak melaporkan, “Aku begitu berani terhadap Allah SWT kelmarin. Aku meminta syurga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan bahawa Isa as sedang bepergian, dan bersamanya ada seorang saleh dari Bani Israel. Seorang pendosa yang terkenal kerana kejelekan akhlaknya, mengikuti mereka. Duduk agak jauh dari mereka berdua, dia berseru kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku!” Sedang si soleh berdoa, “Ya Allah, bebaskan aku dari orang berdosa yang mengikutiku ini, mulai besok pagi.” Maka Allah SWT pun mewahyukan kepada Isa as “Aku telah mengabulkan doa dua orang yang berdoa ini; telah Ku-usir orang saleh ini dari syurga dan telah Ku-ampuni si pendosa ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku memohon kepada Tuhanku SWT agar membukakan pintu takut. Dia membukanya, dan aku pun lalu mengkhuatirkan kawarasan fikiranku. Kerana itu aku berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku rasa takut setakat yang boleh ku-tanggung.” Maka, kesan yang menggoyahkan kewarasan akalku itupun lenyaplah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّہُمۡ خَوۡفً۬ا وَطَمَعً۬ا وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﻿
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Mereka merenggangkan diri dari tempat tidur, (sedikit sangat tidur, kerana mengerjakan sembahyang tahajud dan amal-amal soleh); mereka sentiasa berdoa kepada Tuhan mereka dengan perasaan takut (akan kemurkaanNya) serta dengan perasaan ingin memperolehi lagi (keredaanNya) dan mereka selalu pula mendermakan sebahagian dari apa yang Kami beri kepada mereka. (As-Sajdah: 16)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


إِنَّمَا ذَٲلِكُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُ ۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya (pembawa berita) yang demikian itu ialah syaitan yangbertujuan menakut-nakutkan (kamu terhadap) pengikut-pengikutnya (kaum kafir musyrik). Oleh itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu (jangan abaikan perintahKu), jika betul kamu orang-orang yang beriman. (Ali-Imran: 175)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


وَقَالَ ٱللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓاْ إِلَـٰهَيۡنِ ٱثۡنَيۡنِ‌ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ۖ فَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman: Janganlah kamu bertuhankan dua tuhan, karana sesungguhnya Tuhan itu hanyalah Tuhan yang satu; maka kepada Akulah saja hendaknya kamu gementar. (An-Nahl: 51)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَٲنُهُ ۥ كَذَٲلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﻿﻿
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dan demikian pula di antara manusia dan binatang-binatang yang melata serta binatang-binatang ternak, ada yang berlainan jenis dan warnanya? Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun. (Fathir: 28)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِى شَىۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَٮٰةً۬‌ۗ وَيُحَذِّرُڪُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُ ۥ‌ۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﻿
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Janganlah orang-orang yang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman dan sesiapa yang melakukan (larangan) yang demikian maka tiadalah dia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada sesuatu bahaya yang ditakuti dari pihak mereka (yang kafir itu) dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diriNya (menyeksa kamu) dan kepada Allah jualah tempat kembali. (Ali-Imran:28)
&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/Am0XCrFpinE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8527077336750295122/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8527077336750295122" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8527077336750295122?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8527077336750295122?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/Am0XCrFpinE/risalah-al-qusyairi-8-takut-khauf.html" title="Risalah Al Qusyairi 8 : Takut (Khauf)" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-och9eSi4lpE/Tz3Tkjyt06I/AAAAAAAAE20/1TCgr0Oxyec/s72-c/Risalah%2BQusyairiyah_Hrm-500x500.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/risalah-al-qusyairi-8-takut-khauf.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04ASHo8cCp7ImA9WhBWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6246242417702240065</id><published>2013-04-05T01:52:00.004-07:00</published><updated>2013-04-05T01:52:29.478-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T01:52:29.478-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo Sufi" /><title>Abu Nawas : Curang Dibalas Curang</title><content type="html">&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BqKQDMC332Y/UV6QLF9wbjI/AAAAAAAAF64/TmL7abTMrA8/s1600/abu-nawas.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-BqKQDMC332Y/UV6QLF9wbjI/AAAAAAAAF64/TmL7abTMrA8/s320/abu-nawas.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka. "Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar. Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas. Berkata Abu Nawas, "Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan. "Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"Barang siapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan lemparilah dengan batu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lebih-lebih ketika tanpa basa-basi lagi mereka langsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah. Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?" Murid-murid itu menjawab, "Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah. Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya, "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda. Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

"Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu." Abu Nawas menjawab, "Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus Iagi. Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Baginda berkata, "Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dengan tenang Abu Nawas menjawab, "Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku." Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa. "Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut. "Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !" perintah Baginda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

"Baiklah..." Abu Nawas tetap tenang. "Baginda... beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhimya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berkata Baginda Raja, "Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini." Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya." Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir. Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas. Berkata Abu Nawas, "Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua." Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber: kumpulan-humor-abunawas.blogspot.com
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/T-wv3G54MOo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6246242417702240065/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6246242417702240065" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6246242417702240065?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6246242417702240065?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/T-wv3G54MOo/abu-nawas-curang-dibalas-curang.html" title="Abu Nawas : Curang Dibalas Curang" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-BqKQDMC332Y/UV6QLF9wbjI/AAAAAAAAF64/TmL7abTMrA8/s72-c/abu-nawas.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/abu-nawas-curang-dibalas-curang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQCRn4zcCp7ImA9WhBWEU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-1824143319401255530</id><published>2013-04-04T20:59:00.005-07:00</published><updated>2013-04-04T20:59:27.088-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-04T20:59:27.088-07:00</app:edited><title>Rumi: Mereka yang Merendahkan Pandangannya </title><content type="html">&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ORlntaeSUYc/UV5LWV8Q9pI/AAAAAAAAF6o/voQAYlA30GI/s1600/73018_415549035185217_1820515372_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-ORlntaeSUYc/UV5LWV8Q9pI/AAAAAAAAF6o/voQAYlA30GI/s200/73018_415549035185217_1820515372_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;
Pengalaman ruhaniyah itu bagaikan&lt;br /&gt;
para bidadari yang merendahkan pandangannya,&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;mereka tak menampakkan diri kecuali&lt;br /&gt;
kepada pemiliknya.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;    [1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggur yang membawa kepada pengalaman itu,    &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya,&lt;br /&gt;
sementara wahana-wahana yang menghijabnya&lt;br /&gt;
dari penglihatan bagaikan tenda-tenda    &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungai-besar itu bagaikan tenda,    &lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
di dalamnya terdapat kehidupan bagi unggas-air, &lt;br /&gt;
dan kematian bagi burung gagak.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;


Racun itu bagai gula-gula bagi ular&lt;br /&gt;
tapi penderitaan dan kematian bagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Bentuk dari setiap keberuntungan dan bencana itu&lt;br /&gt;
bagaikan surga bagi seseorang&lt;br /&gt;
atau neraka bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Karena itu, sungguhpun kau tatap&lt;br /&gt;
berbagai bentuk dan benda,&lt;br /&gt;
dan terdapat hidangan atau racun&lt;br /&gt;
di dalam semua ciptaan itu--&lt;br /&gt;
kau tidak melihatnya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Setiap orang itu bagaikan cangkir atau cawan,&lt;br /&gt;
di dalamnya terdapat makanan bergizi&lt;br /&gt;
dan hal yang membawa terbakarnya hati.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Wadahnya jelas nampak,&lt;br /&gt;
hidangan di dalamnya tersembunyi;&lt;br /&gt;
hanya mereka yang pernah mencicipi&lt;br /&gt;
tahu bagaimana cita-rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;


Catatan:&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[1]&lt;/span&gt;   "Huurum-maqshura'tuun fiil-khiyam," diterjemahkan
ke Bahasa Indonesia dengan "bidadari jelita, bersih, di dalam tenda."
(QS Ar-Rahmaan [55]: 72)
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mereka yang hanya Allah perlihatkan kepada hamba terkasih-Nya;
yang untuk sang hamba itu mereka diciptakan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Para bidadari itu tersembunyi, Allah bentangkan hijab yang
melindungi mereka dari penglihatan makhluk lain.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[2]&lt;/span&gt;  Yang dimaksud disini tentunya bukan anggur fisikal
yang dilarang Syariah, melainkan sejenis pengetahuan, kesadaran,
pengenalan, yang diberikan seorang Guru Sejati;
sedemikian rupa, sehingga seorang penempuh jalan taubat
terbantu memasuki situasi lebur-musnah dari dirinya sendiri.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Saat seperti itu, raganya menjadi hijab yang menutupi,
sehingga kondisi leburnya itu tidak diketahui makhluk lain.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;[3] &lt;/span&gt;  Diri sang penempuh jalan taubat itu bagaikan sebutir air,
yang ketika disucikan mulai bergerak mencari jalan kembali.
Seiring pensucian dan pelapangan hatinya, dia akan mendapati,
di kanan kirinya butir-butir air lain, yang bersatu, membesar,
membentuk aliran air, semakin deras mencari jalan kembali.
"Sungai" adalah jalan besar untuk kembali ke "Laut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Butiran air di dalam Sungai berada dalam habitat yang tepat;
unggas-air atau diri sang pencari di dalam kehidupan pertaubatan
dengan segala ketetapan dan ukuran-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Gagak, sering Rumi gunakan sebagai simbol pencinta-dunia,
yang ketajaman hawa-nafsunya mencungkil dan membutakan
"mata Akal Sejatinya," sehingga tiada sesuatu pun yang nampak
baginya, kecuali kepentingan duniawinya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;br /&gt;
Rumi: Matsnavi  V: 3292 - 99&lt;br /&gt;
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.&lt;br /&gt;
Ngrumi.blogspot.com&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/yYDeIK7lwzs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/1824143319401255530/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=1824143319401255530" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1824143319401255530?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1824143319401255530?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/yYDeIK7lwzs/rumi-mereka-yang-merendahkan.html" title="Rumi: Mereka yang Merendahkan Pandangannya " /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ORlntaeSUYc/UV5LWV8Q9pI/AAAAAAAAF6o/voQAYlA30GI/s72-c/73018_415549035185217_1820515372_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/rumi-mereka-yang-merendahkan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIARn8-eip7ImA9WhBWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-3900617822175263269</id><published>2013-04-04T00:02:00.003-07:00</published><updated>2013-04-05T02:02:27.152-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T02:02:27.152-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Risalah Al Muawanah" /><title>Risalah Al Muawanah (2) : Pengisian Waktu Luangmu</title><content type="html">&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-IfHRkTQBMVk/UVqkkFZ7oPI/AAAAAAAAF34/Cz4o7Dhseec/s1600/Risalah_Muawanah__00231_zoom.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-IfHRkTQBMVk/UVqkkFZ7oPI/AAAAAAAAF34/Cz4o7Dhseec/s200/Risalah_Muawanah__00231_zoom.jpg" width="132" /&gt;&lt;/a&gt;
(SAYIID ABDULLAH AL HADDAD )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan wajib bagi kamu sekalian untuk memakmurkan segenap waktumu dengan berbagai macam amal ibadah sehingga tidak ada waktu yang kosong baik malam maupun siang kecuali engkau isi dengan berbagai amal kebajikan. Maka dengan demikianakan terlihatlah bagimu berkah waktumu dan akan menghasilkan faidah yang besar dari umurmu, dan kelanggenganmu dalam menghadap kepada Allah Ta’ala. Dan seyogyanya engkau jadikan waktu tersendiri untuk kebiasanmu sehari-hari seperti makan dan minum dan pergi bekerja. Dan waktumu adalah umurmu, dan umurmu adalah modal hidupmu dan dengan waktumu itulah engkau mulai berniaga-untuk akhirat yang akan mengantarkanmu kepada kebahagiaan yang abadi di dalam kedekatan dengan Allah. Maka setiap nafas dari seluruh nafas adalah mutiara yang tidak terhitung nilainya, dan apabila telah lewat –nafas itu- maka tidak ada gantinya. Dan tidak seharusnya engkau menggunakan seluruh waktumu dengan hanya satu wirid meskipun wirid tersebut termasuk wirid yang utama. Karena yang demikian itu akan menghilangkan berkahnya banyaknya bilangan bermacam-macam wirid karena pada setiap wirid mempunyai efek sendiri-sendiri di dalam hati. Dan mempunyai nur dan keistimewaan tersendiri dari Allah. Dan ketahuilah sesungguhnya bagi tiap-tiap wirid memiliki bekas yang bermacam-macam yang berguna untuk membersihkan hati dan memperbaiki tingkah laku lahiriah , dan jika engkau tidak termasuk orang ayng dapat mencurahkan semua waktumu untuk melakukan wirid, maka pilihlah pada waktu-waktu yang khusus/tertentu dan engkau bayar pada waktu yang lain apabila engkau sempat meninggalkannya –pada wakut yang telah ditentukan tersebut, yang demikian ini untuk mendidik nafsu dalam berdisiplin menjaga amalan wirid tersebut. 

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Sayyidy Syaikh Abdurrahman as-Saqaf telah berkata,”man lam yakun lahu wirdun fahuwa qirdun yang artinya-barang siapa yang tidak memiliki wirid maka ia tak ubahnya seperti kera-. Dan telah berkata sebagian orang ‘arifiin (orang yang sangat mengenal Allah) , “Al-Waarid (sesuatu yang datang dari Allah – seperti ilham dll) itu tergantung dari Wirid. Maka barang siapa yang tidak memiliki Wirid pada dhahiriahnya, maka tidak akan ada wariid pada bathiniahnya/sirrnya. Dan wajib bagimu untuk selalu jujur dan selalu adil dalam segala hal dan laksanakanlah amal yang sekiranya engkau dapat melanggengkannya / mudawwamah dan sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW amal yang paling disenangi/dicintai Allah adalah yang terus menerus meskipun hanya sedikit. Dan RasuluLlah SAW juga telah bersabda ambilah dari amal apa yang engkau rasa mampu kaena sesungguhnya Allah tidak akan berpaling hingga mereka berpaling. Dan sebagian dari kebiasaan syaithan dala menipu murid/orang yang sedang belajar menempuh jalan Allah, adalah mengajak mereka bergegas melakukan amal yang banyak dan tujuan syaithon dari yang demikian ini adalah agar kelak mereka)para murid) meninggalkan amal baik tersebut pada akhirnya, atau melakukannnya akan tetapi tidak sesuai dengan tuntutanyang seharusnya. Maka kemudian dari beberapaa aurad / wirid /zikir, yang dapat engkau lakkukan adalah memperbanyak shalat sunah, membaca Al-Qur’an, atau membaca ilmu, atau bertafakur. Kemudian kami terangkan beberapa adab, oleh karena itu seyogyanya bagi kamu memiliki wirid semisal shalat sunnah sebagai tambahan dari shalat-shalat sunah yang lain, yang ditentukan waktunya dan di dikira kirakan jumlahnya sekiranya akan dapat dilakukan secara terus menerus. Dan sungguh sebagian para Ulama salafushalih rahimahumuLlaah telah melaksanakan shalat dalam sehari semalam sebanyak 1000 reka’at seperti Imam Ali bin Husein ra. Dan sebagian dari mereka ada yang melaksanakan 500 reka’at, ada yang melaksanakan 300 reka’at dan lain sebagainya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketahuilah sesungguhnya di bagi amalan shalat ada benytuk lahir danhakekat bathinnya. Dan tiadalah shalat itu dihargai oleh Allah, hingga disempurnakan amaliahn lahiriahnya dan hakikat bathiniahnya. Adapun kesempurnaan bentuk shalat adalah kesempurnaan rukun-rukunnya, dan etika/adab lahiriah dari berdirinya, pembacaan Al-Qur’annya, dan ruku’ dan sujud dan tasbih dan sebagainya. Adapun hakekatnya adalah hadir bersama Allah, ikhlasnya niat, dan menjadikan Allah sebagai tujuan dan menghadap dengan kesungguhan kepada Allah demikian juga segenap hatinya ditujukan kepada Allah, dan hendaknya pikirannya di dikonsentrasikan / tidak banyak memikirkan sesuatu maka dirinya tidak bercakap-cakap dengan selain perkara shalat. Dan seyogyanga beradab sebagimana adabnya orang yang sedang bermunajat/berbisik-bisik dengan Tuhannya . telah bersabda RasuluLlah SAW, “sesunggunya orang yang shalat adalah orang yang seaedng bermunajat kepada Tuhannya. . dan Nabi SAW telah bersabda, “apa bila seorang hamba berdiri melaksanakan shalat, maka sesungguhnya Allah berhadapan dengan nya dengan wajahNya . dan sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat shalat sunnah yang lain segingga ia telah melaksanakan amal sunnah yang telah dianjurkan oleh Nabi SAW secara sempurnna , diantara shalat sunnah yang dianjurkan itu aantara lain beberapa rekaat sebelum shalat maktubah/shalat wajib yang 5 waktu ataupun beberapa rekaat sedudahnya, dan diantaranya juga shalat witir yang termasuk shalat sunnah muakkad bahkan sebagian ulama mewajibkannya. RasuluLlah SAW telah bersabda.-Sesungguhnya Allah Ta’ala Iganjil dan senang dengan yang ganjil maka berwitirlah kamu semua wahai ahli Al-Qur’an. Dan RasuluLlah SAW bersabda sesungguhnya witir adalah sesuatu yang haq/benar maka barang siapa yang tidak berwitir maka bukanlah golongan kami. Dan banyaknya bilangan reka’at shalat witir adalah 11 reka’at sedangkan yang paling sedikit adalah hendaklah meringkas sampai tiga reka’at adapun pengerjaannya adalah pada akhir waktu malam bagi orang yang membiasakan diri mengerjakan shalat malam. RasuluLlah SAW bersabda Jaadikanlah akhir shalat kamu sekalaian dengan shalat witir. Dan bagi orang yang tidak memiliki kebiasaanmegerjakan shalat malam / qiyamul lail maka lebih utama mengerjakannya setelah habis shalat Isya .
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan termasuk shalat sunah yang dianjurkan Nabi SAW adalah shalat dhuha dan dia/shalat dhuha adalah shalat yang banyak sekali manfaat dan barokahnya. Banyaknya bilangan reka’at adalah 8 reka’at dan ada pula yang mengatakan 12 reka’at. Dan paling sedikitnya adalah 2 rekaat. Telah bersabda RasuluLlah SAW hendaklah kamu sekalian menjadikan seluruh anggota badan sebagai sedekah. Maka sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, dan setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, dan setiap takbir adalah sedekah, dan setiap amar ma’ryf adalah sedekah, dan nahi mungkar adalah sedekah. Dan telah mencukupi dari yang demikian itu semua 2 reka’at yang dilakukan pada waktu dhuha. Dan tremasuk shalat yang dianjurkan adalah shalat antara Maghrib dan Isya’. Adapun banyaknya adalah 20 rekaat, dan yang sedang adalah 6 reka’at. RasuluLlah SAW telah bersabda Barang siapa yang megerjakan shalat 2 reka’at antara dua Isya’ maka Allah akan membangunkan baginya rumah di dalam surga. Dan RasuluLlah bersabda Barang siapa mengerjakan shalat sunah setelah maghrib 6 reka’at dimana diantara keduanya dia tidak bercakap-cakap dengan sesuatu yang buruk maka yang demikian itu menyamai baginya dengan beribarah selama 12 tahun dengan menghidupkan saat antara maghrib dan isya’. Dan sungguh telah datang banyak keterangan tentang fadhilah atau keutamaan shalat diantara Maghrib dan Isya’ dan akan mencukupililah keterangan berikut ini yaitu bahwasanya Ahmad bin Abil Hawary ketika bermusyawarah dengan syaikhnya Abaa Sulaiman RohimahumaLlooh, apakah lebih baik ia berpuasa pada siang hari ataukah mendirikan shalat diantara waktu maghrib dan isya’, maka syaikh Abaa Sulaiman berkata, “kumpulkanlah keduanya-artinya laksanakan keduanya-. “. Kemudian ia bertanya lagi, “aku tidak mampu melaksanakan keduanya, karena apabila aku berpuasa maka aku akan disibukkan dengan berbuka puasa pada saat itu”. Maka Syaikh Abaa Sulaiman menjawab, ” jikalau engkau tidak mampu untuk mengumpulkan keduanya, maka tinggalkanlah puasa dan hidupkanlah shalat diantara dua ‘Isya’ (antara maghrib dan isya’)”. Sayyidatina ‘Aisyah RA berkata, “tidaklah masuk RasuluLlah SAW ke kediaman saya setelah shalat Isia’ yang akhir kecuali beliau SAW melaksanakan shalat empat reka’at atau enam reka’at dan Beliau SAW bersabda, “empat reka’at yang demikian telah menyamai daripada Lailatul Qadar. Dan suatu keharusan bagi kamu untuk mengerjakan Shalatul Lail /Shalat malam , sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, “Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. Dan bersabda RasuluLlah SAW, “Keutamaan shalat malam dibandingkan dengan shalat pada waktu siang hari adalah seperti kelebihannya sedekah secara tersembunya dibanding dengan sedekah secara terang-terangan”. Dan telah datang keterangan yang menyebutkan bahwa keutamaan sedekah secara tersmbunyi dibanding dengan sedekah secara terang-terangan adalah berlipat 70 lipatan dalam hal pahala dan keutamaannya. Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Bagi kamu sekalian untuk mengerjakan shalat malam karena sesungguhnya shalat malam itu adalah amalan orang-orang shaleh sebelum kamu sekalian, dan tempat bermuqorrobah bagi kamu sekalian kepada Tuhanmu, dan saat bertafakur akan maksiyat yang dilakukan, dan membersihkan adri dos, dan penolak penyakit dari jasad kamu sekalian”.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketahuilah sesunggunya orang yang mendirikan shalat ba’dal Isya’ adalah sungguh telah menghidupkan seluruh malamnya. Dan telah terjadi pada sebagian Ulama salaf melaksanakan amalan shalat pada Awwal malam hari. Akan tetapi pengerjaannya pada saat setelah bangun tidur pada malam hari adalah lebih menghinakan syaithan dan menjadi perjuangan nafsu / mujahadatunnafsi dan sirr / rahasia yang sangat ‘aja’ib , dia itulah shalat tahajjud dimana Allah telah memerintahkan RasulNya SAW untuk mengerjakannya dengan firmannya, “Waminallaili fatahajjad bihii naafilatallak “. “Dan pada sebagian maalm maka bertahajudlah sebagai amalan sunnah bagi Kamu”. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai seorang hamba manakala ia bangun malam diantara keluarganya yang lain yang sedang tidur lalu ia mengerjakan shalat dan Allah memamerkannya kepada MalaikatNya dan Allah menghadapinya dengan WajahNya yang Mulia.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketahuilah sesungguhnya termasuk suatu keburukan apabila orang menginginkan Akhirat akan tetapi meninggalkan shalat malam. Maka bagaimana ? bahwa seorang murid-orang yang menginginkan sampai kepada Allah- bahwa ia senantiasa mengharapkan tambahan rahmat pada setiap waktunya, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Sesungguhnya pada setiap malam ada suatu saat yang apabila seorang hamba menjumpai saat itu kemudian ia meminta suatu kebaikan kepada Allah tentang urusan dunia maupun akhirat melainkan Allah akan memberikannya, dan yang demikian itu terjadi setiap malam HR Muslim. Dan pada sebagian kitan Allah yang diturunkan, Allah Ta’ala berfirman, “sungguh telah bohong orang yang mengaku mencintaiKu, apabila malam telah larut lantas ia tertidur dariKu. Bukankah setiap orang yang mencintai akan selalu ingin bersendirian dengan yang dicintainya”. Syaikh Ismail bin Ibrahim AL-Jibraani rahimahuLloohu berkata, “semua kebaikan akan terkumpul semuanya pada waktu malam”-tentu saja apabila digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT-. RasuluLlah SAW bersabda yang artinya, “sesungguhnya Allah Ta’ala turun paad tiap-tiap malam ke langit dunia ketika malam tinggal sepertiganya yang akhir. Maka Allah Ta’ala berifrman, ‘Adakah yang berdo’a akan sesuatu niscaya akan ijabahi, dan adakah yang meminta ampunan kepadaKu maka akan Aku ampuni, dan adakah yang meminta sesuatu niscaya akan Aku beri, dan adakah orang yang bertaubat maka akan Aku beri taubat kepadanya yang demikian itu hingga terbit fajar”. Dan bagi orang yang ‘Aarif biLlah pada mendirikan shalat malam terdapat / merupakan tempat turunnya rahmat Allah / manziilaat yang sangat mulia, yang banyak sekali dan beberapa kehebatan rasa (Dzauq) yang sangat lembut yang dapat mereka rasakan di dalam hati mereka akan ni’matnya berdekatan dengan Allah dan lezatnya bersama-sama Allah dan manisnya bermunajah dan indahnya bercakap-cakap kepada Allah / Muhadastah. Sebagian dari mereka / Aarifuu berkata, “seandaina ahli surga merasakan apa yang kami rasakan niscaya mereka merasakan hidup yang sangat menyenangkan”. Dan sebagian dari mereka Arifuun berkata, “sesungguhnya Ahlullail-orang yang ahli menghidupkan malamnya untuk beribadah kepada Allah-dalam menikmati malamnya seperti Ahlullahwi-orang yang senang bersendau gurau- dalam menikmati sendau guraunya”. Dan berkata sebagian dari mereka para Arifuun, “semenjak empat puluh tahun tidak ada sesuatu yang mengecutkan hatiku kecuali munculnya fajar”. Tentu saja nilmat yang demikian ini tidak akan terjadi kecuali setelah melalui usaha yang terus menerus dan menanggung penderitaan yang berat dalam menghidupkan ibadah di waktu malam, sebagaimana yang dikatakan oleh Utbatul Ghulam “telah datang malam selama dua puluh tahun dan selama itu pula aku merasakan kenikmatan”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

(Dan jika apa yang harus di laksanakan untuk mendirikan shalat malam/ibadah malam hari dan berapa reka’at sebaiknya shalat malam dilakukan ?). maka ketahuilah sesungguhnya RasuluLlah SAW tidak mengajarkan dalam shalat tahajud akan bacaan surah-surah tertentu, akan tetapi baik juga dilakukan dengan membacanya sedikit demi sedikit ketika berdiri melakukan shalat sehingga dapat khatam dalam satu bulan, atau kurang atau lebih tergantung dari kemampuan. Adapun bikangan reka’at maka banyaknya adalah sebagaimana RasuluLlah SAW mendirikan shalat malam yaiut 13 reka’at, dan yang sedang bisa 9 atau 7 reka’at. Akan tetapi kebanyakan yang diajarkan adalah 11 reka’at . dan disunahkan ketika bangun dari tidur hendaklah engkau mengusap wajah dengan tangan seraya mengucapkan kalimat, “AlhamduliLlaahilladzii ahyanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaiHinnusyuur”. Yang artinya, “Segala puji bagi Allah yang telah manghidupkan aku setelah kematianku dan kepadaNyalah tempat kembali”. Dan kemudian membaca Inna fii kholqissamaawaati wal ardhi wakhtilaafillaili wannahaari la aayaatill li ulul albaab……dan seterusnya sampai akhir surah.
Kemudian setelah itu bangun dari tepat tidur lalu ber wudhu dengan wudhu yang sempurna, kemudian shalat dua rekaat secara ringkas (tidak terlalu panjang) syukril wudhu, kemudian shalatlah setelah itu delapan reka’at dengan memanjangkannya, dengan salam pada setiap dua reka’at atau setiap empat reka’at, atau sekaligus delapan reka’at dengan satu salam. Dan apabila masih dirasa mampu, maka berdirilah mengerjakan shalat sunah menurut kemampuanmu, kemudian shalatlah tiga reka’at dengan niat mengerjakan shalat witir dengan sekali salam atau dua kali salam. Dan bacalah pada reka’at awwal surah Sabbihisma Robbikal A’la, dan reka’at ke dua surah Qulyaa ayyuhal kaafiruun, dan reka’at yang ke tiga surah Ikhlash dan Muawwidzatain
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: Deli Sufi


&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/PUSU_beCGas" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/3900617822175263269/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=3900617822175263269" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3900617822175263269?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3900617822175263269?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/PUSU_beCGas/risalah-al-muawanah-pengisian-waktu.html" title="Risalah Al Muawanah (2) : Pengisian Waktu Luangmu" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-IfHRkTQBMVk/UVqkkFZ7oPI/AAAAAAAAF34/Cz4o7Dhseec/s72-c/Risalah_Muawanah__00231_zoom.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/risalah-al-muawanah-pengisian-waktu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkMER3k_fSp7ImA9WhBWEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-1114670044494490304</id><published>2013-04-03T23:52:00.003-07:00</published><updated>2013-04-03T23:53:26.745-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-03T23:53:26.745-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hizib" /><title>Kumpulan Hizib Syazili (4) Hizib Ikhfa</title><content type="html">Berikut sy lampirkan Hizib Al Ikhfa dah Syeikh abu Hasan As Syazili. silahkan mencari ijazah untuk mengamalkan hizib ini. Semoga Allah memberikan kita keberkahan atas kemulian hizib ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UEiU3p3iXlE/UV0ihXeu-MI/AAAAAAAAF6U/JfPoQFbNW2E/s1600/191+-+Copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-UEiU3p3iXlE/UV0ihXeu-MI/AAAAAAAAF6U/JfPoQFbNW2E/s400/191+-+Copy.jpg" width="377" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UrFUd3L0OVQ/UV0ihasIipI/AAAAAAAAF6Q/jNXYzIVZxv0/s1600/192.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-UrFUd3L0OVQ/UV0ihasIipI/AAAAAAAAF6Q/jNXYzIVZxv0/s640/192.jpg" width="401" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/MjlBq0b6Vw8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/1114670044494490304/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=1114670044494490304" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1114670044494490304?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1114670044494490304?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/MjlBq0b6Vw8/kumpulan-hizib-syazili-4-hizib-ikhfa.html" title="Kumpulan Hizib Syazili (4) Hizib Ikhfa" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-UEiU3p3iXlE/UV0ihXeu-MI/AAAAAAAAF6U/JfPoQFbNW2E/s72-c/191+-+Copy.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/kumpulan-hizib-syazili-4-hizib-ikhfa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUAMSX0-eCp7ImA9WhBbGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6446439580711499150</id><published>2013-04-03T23:11:00.002-07:00</published><updated>2013-05-18T18:43:08.350-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-18T18:43:08.350-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kitab Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" /><title>Psikologi Ucapan</title><content type="html">Ucapan yang keluar dari nafs yang penuh gejolak dan hati yang buruk akan menggerakkan dan membangkitkan keburukan dari lawan bicaranya. Oleh karena itu, pada saat berbicara hendaknya manusia memperhatikan nafs-nya ataupun nafs orang lain agar tercapai kebaikan dan ketenangan. Betapa indah ucapan sayidina Ali kwh ketika menjelaskan rahasia ucapan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wadah (lahan) ucapan adalah hati, gudangnya adalah pikiran (fikr), penguatnya adalah akal, pengungkapnya adalah lisan, jasadnya adalah huruf, ruhnya adalah makna, hiasannya adalah i’rob dan aturannya adalah kebenaran. Pengaruh ucapan pada pendengar tergantung pada nafs pembicara. Jika ucapan tersebut muncul dari jiwa yang kuat, maka akan memberikan kesan yang kuat. Dan jika muncul dari jiwa yang lemah, maka akan memberikan kesan yang lemah. Oleh karena itu sebelum berbicara manusia harus memperhatikan keadaan jiwanya agar kalimat yang ia ucapkan muncul dari jiwa yang tenang (sakînah), sehingga ia dapat berbicara kepada temannya dengan lemah lembut, dapat merebut dan menyenangkan hatinya, dan tidak membuatnya marah.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
Allah SWT berfirman:
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
“Serulah (manusia) kepada êalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS An-Nahl, 16:125)
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat, 41:43)
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang
yang mempunyai keberuntungan yang besar.”
(QS Fushshilat, 41:35)
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki sifat-sifat mulia akan memperoleh karunia yang sangat besar dari Allah. Pahamilah persoalan ini
dan berusahalah untuk berperilaku dengan sifat-sifat mulia tersebut, yakni dengan akhlak kaum khowwâsh (khusus).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Wahai saudaraku, perhatikanlah akhlak-akhlak yang mulia ini dan berlombalah untuk meraihnya. Pergaulilah manusia dengan sopan santun. Hindarilah gejolak nafs, karena bila nafs bergejolak, ia akan kembali pada
tabiatnya, yaitu cenderung untuk melakukan perbuatan buruk dan menampakkan aib. Sedangkan jika nafs telah rela dan senang, maka ia akan merasa lapang dan siap untuk melakukan berbagai perbuatan baik.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Jauhilah pertentangan dan pertengkaran dengan segenap tenagamu, baik secara lahir maupun batin. Jika kamu tidak mampu menghindarinya secara
batiniah, maka hindarilah secara lahiriah. Perlakukanlah temanmu dengan baik, sebab pertentangan merupakan sumber keburukan dan bencana, sebagaimana dikatakan: Pertentangan membangkitkan permusuhan dan permusuhan mendatangkan bencana.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Oleh karena itu wahai saudaraku, berusahalah untuk hidup rukun dan tenangkanlah nafs-mu, karena jika antara hati yang satu dan yang lain telah
saling bersesuaian, maka manusia akan mudah mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan keberkahan pun akan turun. Ali kwh berkata: Biasakanlah dirimu untuk berniat dan bertujuan baik, niscaya kamu akan sukses.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Betapa banyak niat lebih bermanfaat daripada amal. Pahamilah hal ini!

Perbaikilah akhlakmu, niscaya kamu akan mendapat petunjuk dalam setiap urusanmu. Ilmu diperoleh dengan belajar sedangkan hilm (sabar, santun) diperoleh dengan latihan.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dikatakan dalam sebuah syair:
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sebelum jadi penyantun&lt;br /&gt;
ia dipukul dengan tongkat dahulu&lt;br /&gt;
Seseorang dididik&lt;br /&gt;
tak lain agar berilmu
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Manusia harus menjaga ucapannya, jangan sampai ia mengucapkan kata-kata buruk atau menceritakan pembicaraan yang buruk kepada seseorang, karena kelak ia akan terkena aibnya dan akan mendapat dosa paling banyak. Seorang penyair berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tak akan berkata jorok, si orang mulia,&lt;br /&gt;
Tak akan pula menghapal ucapan tercela&lt;br /&gt;
Ia curahkan semua tenaga,&lt;br /&gt;
Dan bila bicara indah dan benar ucapannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Seorang manusia hendaknya tidak berbicara ketika berada dalam keadaan emosional atau marah. Sebab, saat itu nafs-nya sedang bergolak dan berkobar sehingga ia mudah tergelincir dalam kesalahan. Oleh karena itu, hendaknya ia bersabar hingga nafs tenang.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/DsM8I95V2ok" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6446439580711499150/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6446439580711499150" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6446439580711499150?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6446439580711499150?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/DsM8I95V2ok/psikologi-ucapan.html" title="Psikologi Ucapan" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/psikologi-ucapan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EESXw8fSp7ImA9WhBWEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-7671878235370480755</id><published>2013-04-03T23:06:00.002-07:00</published><updated>2013-04-03T23:06:48.275-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-03T23:06:48.275-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kitab Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" /><title>Memahami Hawa Nafsu</title><content type="html">&lt;br /&gt;
Ketika seorang hamba melihat dengan akalnya tanpa terpengaruh oleh hawa, maka segala sesuatu akan tampak sebagaimana hakikatnya. Namun jarang yang dapat melihat dengan cara demikian, karena hawa terlalu menguasai nafs, dan nafs sangat sulit untuk melepaskan diri dari kekuasaan hawa. Bahkan karena demikian tersembunyi dan sulit dipahami, maka manusia tidak dapat merasakan kehadiran hawa. Hanya orang-orang yang berakal unggul (superior) yang dapat mengetahui keberadaan hawa dalam nafs-nya.
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hawa adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawa. Oleh karena itu, jauhilah hawa dan bebaskanlah nafs-mu darinya. Sebab, hawa akan menodai agama dan murûah -mu, sebagaimana dikatakan dalam syair:
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kau ikuti hawa,
ia akan menuntunmu
menuju semua perbuatan
yang tercela bagimu.
&lt;span class="fullpost"&gt;

Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu temukan bahwa hawa-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawa merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawa bak minuman memabukkan. Seseorang yang
meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu, dan akan hilang akal sehatnya. Oleh karena itu, seorang yang pandai harus menyadari hal ini dan berusaha
mematikan hawa-nya dengan mujâhadah dan mukhôlafah (penentangan).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Hakikat hawa adalah kecenderungan pada sesuatu yang batil. Hawa adalah perilaku dan tabiat nafs. Semua kecenderungan nafs pada kebatilan disebut
hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Hawa terbagi dua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pertama, ajakan-ajakan syahwat yang terdapat dalam diri seseorang, misalnya berbagai hal di atas, yang menipu dan menguasai nafs serta diperebutkan oleh manusia. Ajakan-ajakan syahwat tersebut hina dan buruk, karena itulah orang-orang yang memiliki murûah menjauhinya demi menjaga agama, menyucikan murûah, melindungi kehormatan, dan menjaga akal mereka. Orang-orang berakal, jika menghadapi tipu daya hawa dan penentangan nafsu, mereka tetap kokoh, tidak goyah.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Mereka mempertimbangkan akibatnya dengan hati-hati dan tidak gegabah. Lain halnya dengan orang-orang yang akal dan jiwanya lemah, mereka akan dikuasai nafs hingga tak dapat berkutik. Hawa akan menjerumuskan mereka ke dalam perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela. Namun karena hatinya telah buta, hanyut dimabuk hawa, mereka tidak menyadari berbagai keburukan yang telah dilakukannya.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Kedua, hawa yang timbul ketika seseorang marah (ghodhob). Hawa jenis ini merupakan jenis hawa yang paling buruk. Sebab hawa yang timbul ketika
seseorang sedang marah (ghodhob) bersifat memaksa dan sulit diajak kompromi. Hanya kaum ksatria (abthôl), orang-orang yang berakal sehatlah yang mampu mengetahui keberadaan hawa ini.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Jenis hawa yang lain adalah (perasaan) yang timbul ketika seseorang bersikap sombong (kibr) dan congkak. Jenis hawa ini juga buruk, merusak agama dan menghancurkan amal. Namun pengaruh buruknya lebih ringan dibandingkan dengan hawa yang timbul ketika marah. Hawa yang timbul ketika marah menggoncangkan nafs dan menghilangkan akal sehatnya. Nafs menjadi bodoh.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ketahuilah, marah adalah jenis hawa yang paling berat. Para abdâl pilihan memperoleh kedudukan di sisi Allah karena mereka benar-benar menjauhi semua jenis hawa. Sebab, semua jenis hawa adalah buruk. Para ashâbul Haq Ta’âlâ selalu berpijak pada kebenaran. Sebab, kebenaran adalah lawan kebatilan. Mereka sadar bahwa seberapa besar mereka mendekati hawa, maka sebesar itu pula mereka menjadi jauh dari Allah. Karena itu dalam semua perilakunya — makan, tidur, berbicara, dan lain-lain — mereka hanya melakukannya sebatas kebutuhan (dharûri) saja. Dalam pandangan mereka segala sesuatu yang melebihi batas kebutuhan merupakan bagian dari hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/xW1tGjZ-WmI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/7671878235370480755/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=7671878235370480755" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7671878235370480755?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7671878235370480755?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/xW1tGjZ-WmI/memahami-hawa-nafsu.html" title="Memahami Hawa Nafsu" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/memahami-hawa-nafsu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUDSXY9eCp7ImA9WhBVFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-1319259429869100366</id><published>2013-04-02T22:16:00.004-07:00</published><updated>2013-04-22T22:51:18.860-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-22T22:51:18.860-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="At Thawasin Al Azal -Al Halaj" /><title>Tawasin (4):  Thasin Al Dairah (Lingkaran)</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s1600/tawasin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s200/tawasin.jpg" width="173" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-wv_OJAPwCGk/UVu6CHRJbxI/AAAAAAAAF4g/fCHDowjSc_w/s1600/taw.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-wv_OJAPwCGk/UVu6CHRJbxI/AAAAAAAAF4g/fCHDowjSc_w/s320/taw.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pintu 
„ba‟ 
() pertama melambangkan seseorang yang menjangkau lingkaran Kebenaran.Pintu 
„ba‟ 
() kedua melambangkan orang yang menjangkaunya, yang setelah memasukinya, sampailah ia ke pintu yang tertutup. Pintu 
„ba‟ 
() ketiga melambangkan seseorang yang tersesat di gurun Sifatnya-Kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.
 
Ia yang memasuki lingkaran itu jauh dari Kebenaran, sebab jalannya terjegal dan sang  penempuh (salik) disuruh kembali. Adapun noktah di atas melambangkan hasratnya. Noktah yang lebih bawah melambangkan kembalinya ke titik-tolaknya, dan noktah di tengah adalah kebingungannya.
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.
 
Lingkaran dalam tidak memiliki pintu 
„ba‟ 
(), dan 
„titik‟ 
yang ada di dalamnya adalah  pusat Kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.
 
 Makna tentang Kebenaran adalah yang darinya, baik lahir maupun batin, tidak ada yang luput. Dan, ia pun tidak direkayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.
 
 Andaikan kau berhasrat memahami apa yang aku terangkan ini.“ambillah empat 
ekor 
„burung‟, cincanglah buatmu,” (QS. 2: 260)
sebab Al-Haqq (Allah)
„tak
- 
terbang‟.

&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.
 
 Adalah kecemburuan-Nya yang membuat ia tampak, setelah Dia menyembunyikannya. Adalah keterpesonaan yang menjaga keterpisahan kita. Adalah kebingungan yang mencabut kita dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.
 
Inilah makna tentang Kebenaran. Ia lebih licin dari lingkaran Asal, ataupun rancangan Bidang. Dan, yang lebih licin lagi adalah memfungsikan kearifan secara batin, karena ketersembunyiannya (Kebenaran) dari khayalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.
 
Ini karena sang pengkaji hanya mengkaji lingkaran dari wilayah luar, bukannya dari wilayah dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.
 
 Adapun tentang pengetahuannya-pengetahuan Kebenaran, sang pengkaji tidakmemahaminya, karena ia tidak mampu. Pengetahuan menunjukkan tempat, sedang lingkaran itu 
„tempat‟ 
yang terlarang [haram].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.
 
 Makanya mereka menamakan Sang Rasul (saw): Haramy, sebab hanya ia seorang yang keluar dari Lingkarang Haram itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.
 
Ia penuh kegentaran dan keterpesonaan, serta mengenakan jubah Kebenaran. Ia keluar dan menyerukan 
“A
h!! 
!” 
() kepada segenap makhluk
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut
dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/N4W-i2n8j8M" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/1319259429869100366/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=1319259429869100366" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1319259429869100366?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1319259429869100366?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/N4W-i2n8j8M/tawasin-4-thasin-al-dairah-lingkaran.html" title="Tawasin (4):  Thasin Al Dairah (Lingkaran)" /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/--Q_EeQ8sV-w/UIYeyA-iz9I/AAAAAAAAFZg/rOzKEXbgQwo/s72-c/tawasin.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/tawasin-4-thasin-al-dairah-lingkaran.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEAMR3Y7cSp7ImA9WhBWEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-9012372474354769032</id><published>2013-04-02T21:26:00.001-07:00</published><updated>2013-04-03T23:26:26.809-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-03T23:26:26.809-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Habib Lutfi bin yahya" /><title>Hb. Lutfi : Syarat Belajar Thoriqoh </title><content type="html">&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-DMpPwTxusq0/TnV916IrAiI/AAAAAAAAESg/Vk-6zbWTCPk/s1600/habib%2Blutfi.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653563272325693986" src="http://2.bp.blogspot.com/-DMpPwTxusq0/TnV916IrAiI/AAAAAAAAESg/Vk-6zbWTCPk/s320/habib%2Blutfi.jpg" style="float: left; height: 201px; margin: 0px 10px 10px 0px; width: 152px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya seorang pemuda berumur 27 tahun, belum menikah, ingin belajar tarekat, tetapi tidak diperbolehkan oleh bapak saya. Katanya, saya baru boleh belajar tarekat setelah berumur 40 tahun. Benarkah hanya orang-orang yang sudah berumur 40 tahun atau lebih yang boleh mempelajari tarekat? Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amiruddin
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban:
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jawaban saya untuk Sdr. Amiruddin, untuk sementara patuhilah nasihat orang tua. Karena umur Anda masih muda, lebih baik memperkaya ilmu, entah itu melalui jalur sekolah, madrasah, maupun pesantren. Kesempatan yang baik itu saya namakan peluang emas. Jangan disia-siakan. Adapun bahwa mengikuti tarekat harus setelah umur 40 tahun, perlu saya luruskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
Tarekat itu untuk orang-orang yang sudah cukup ilmunya. Terutama sudah mengetahui yang sudah diwajibkan syariat Allah, seperti mengetahui mana yang wajib, mustahil, ja'iz (mungkin) bagi Allah. Maksudnya, dia telah mengerti 20 sifat Allah.

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, dia telah mengetahui hukum-hukum ibadah, seperti rukun wudhu, rukun iman, yang membatalkan wudhu, rukun shalat, yang membatalkan shalat, dan bisa membedakan mana yang halal dan haram. Bilamana itu sudah tercukupi, dipersilakan menambah amalan-amalan atau ibadah dalam tarekat, karena tarekat tidak mengatur yang zahir belaka. Tarekat juga mengatur hati supaya bersih dari sifat-sifat yang tidak dibenarkan oleh Allah dan RasulNya. Hal demikian itu, perlu kita rintis dari sedini mungkin. Ya, kita belajar untuk membersihkan lahiriah maupun hatiniah.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Tapi, nasihat ayah Anda bahwa mengikuti tarekat menunggu setelah umur 40 tahun, itu pun tidak salah. Karena dia mengambil kebijaksanaan seorang bapak yang sayang kepada anaknya, supaya anaknya mempersiapkan diri lebih matang. Tuntunan seseorang ayah kepada anaknya merupakan tanggung jawab, dengan harapan bahwa anaknya akan semakin dewasa. Karena, si anak akan menghadapi berbagai tantangan yang nanti hasilnya akan menjadi bekal hidupnya. Sebagai seorang ayah, ia berharap kepada anaknya untuk bisa mendapatkan pekerjaan, misalnya. Pertama-tama, untuk diri Anda sendiri. Yang kedua, tentu Anda harus bisa memperingankan beban kepada kedua orang tua Anda dalam menyongsong masa tua mereka.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Ketiga, tidak selamanya nanti Anda sendirian. Paling tidak, sebagaimana manusia yang normal, ingin mendapatkan pasangan untuk teman hidup di dunia sampai akhirat. Apakah Anda sudah mempersiapkan itu semua? Dari situlah orang tua yang bijak lebih jauh pandangannya dalam memberikan nasihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Sumber: Majalah Al Kisah

&lt;/span&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/ztlnXASNZi4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/9012372474354769032/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=9012372474354769032" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/9012372474354769032?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/9012372474354769032?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/ztlnXASNZi4/hb-lutfi-syarat-belajar-thoriqoh.html" title="Hb. Lutfi : Syarat Belajar Thoriqoh " /><author><name>zezz</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-DMpPwTxusq0/TnV916IrAiI/AAAAAAAAESg/Vk-6zbWTCPk/s72-c/habib%2Blutfi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2013/04/hb-lutfi-syarat-belajar-thoriqoh.html</feedburner:origLink></entry></feed>
