<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DUIFSXs5fCp7ImA9WhRUGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384</id><updated>2012-01-29T20:25:18.524-08:00</updated><category term="Sufi Nusantara" /><category term="Karomah" /><category term="Kitab Futuhal Ghaib" /><category term="Download" /><category term="Sufi Music" /><category term="Konya" /><category term="Alawiyyin" /><category term="Rajab - Sya'ban - Ramadhan" /><category term="Fana" /><category term="Martabat Nafsu" /><category term="kitab Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" /><category term="Tarekat" /><category term="Burdah" /><category term="Bay'at" /><category term="Again Wahabi" /><category term="Spiritualitas Sufi" /><category term="Muharam" /><category term="Mursyid Tariqa" /><category term="Sufi Tomb" /><category term="Mevlana Rumi" /><category term="Awlia Allah" /><category term="Sastra Sufistik" /><category term="Majelis Rasulullah Hb. Mundzir" /><category term="Sufi Book" /><category term="Video" /><category term="Intermezzo Sufi" /><category term="Sufi Meditation" /><category term="Al Hikam" /><category term="Habaib" /><category term="Tafsir" /><category term="Naqsybandi Qodariah" /><category term="Nur Muhammad" /><category term="Ziarah" /><category term="Risalatul murid: Habib Abdullah al Hadad" /><category term="Kisah Sufi" /><category term="Hadramaut" /><category term="Riyadathus Shalihin" /><category term="Manakib" /><category term="Rasulullah SAW" /><category term="Ibnu Taimiyah" /><category term="Naqsybandi Haqqani" /><category term="At Tijani" /><category term="Tokoh Sufi" /><category term="Musyawarah Burung" /><category term="Sholawat" /><category term="Makrifat" /><category term="Dzikir dan Doa" /><category term="Imam Ghazali" /><category term="Qaseedah" /><category term="Taubat" /><category term="Habib Lutfi bin yahya" /><category term="Hikam Al Haddad" /><category term="Ikhya Ulumuddin" /><category term="Hati" /><category term="Kitab Kimyatusy- Sya'adah" /><category term="Servanthood And What It Is" /><category term="Mahabbah" /><category term="Sufi Word" /><category term="Hadits Arba'in" /><category term="Kitab Sirrul Assrar-Syeikh Abdul Qadir Jailani" /><category term="Adab Spiritual" /><category term="Rumi Poetry" /><category term="Hadrah" /><category term="Syaziliah" /><category term="Hikmah Spiritual" /><category term="Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah" /><category term="Mawlid" /><category term="Walisongo" /><category term="Ruh" /><category term="Kunjungan Syeh Hisyam Kabbani" /><category term="Sufi Events" /><title>Sufi Road</title><subtitle type="html">Jalan orang-orang sufi..
Pecinta menuju makrifatullah</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://sufiroad.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>802</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/ftrV" /><feedburner:info uri="blogspot/ftrv" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>blogspot/ftrV</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;C0IEQ3g_eSp7ImA9WhRUF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4960961218263963142</id><published>2012-01-28T06:35:00.001-08:00</published><updated>2012-01-28T06:38:22.641-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-28T06:38:22.641-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Maqam Orang Menangis</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-XcdApE47Oio/TyQHxlfz-hI/AAAAAAAAEzA/w7AgIs8d6D4/s1600/99-06.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 210px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-XcdApE47Oio/TyQHxlfz-hI/AAAAAAAAEzA/w7AgIs8d6D4/s320/99-06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702691576618416658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 153);font-size:85%;" &gt;ww.sufinews.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51); font-weight: bold;"&gt;Syeikh Ahmad ar-Rifa’y&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosullullah SAW bersabda: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siapa pun anak yang dilahirkan, kemudian diberi nama Muhammad dalam rangka mendapatkan berkah darinya, maka ia dan anaknya berada di syurga.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits mulia ini mengandung rahasia cinta kepada Rasulullah Saw, yang bisa difahami oleh kalangan khusus yang dekat dengan Allah Swt.  Mereka senantiasa menyebut namanya yang penuh berkah, yang kemudian memberikan hasrat untuk berakhlaq dengan akhlaq beliau yang suci, dalam rangka bersiteguh dengan jejak langkahnya. Sehingga anda tidak melihat mereka berhenti dalam stasiun dunia, ketika mereka menempuh jalan napak tilas Rasul Saw.  Bahkan mereka senantiasa sadar dan [penuh] khusyu’, senantiasa takut kepada Allah Swt, mengikuti jejak Nabi mereka, mengamalkan sunnah Nabinya, dan merekalah yang disebut para ‘arifun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak sekalian. Ketahuilah kaum arifin senantiasa menangis, ketika kaum yang alpa sedang tertawa. Dan mereka sedang susah ketika kaum yang terpedaya dunia sedang gembira. Allah Swt, berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wajah-wajah mereka hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya terus memandang.”&lt;br /&gt;“Wajah-wajah mereka berseri, riang penuh gembira.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragam orang menangis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Swt, telah menyebutkan bukti-bukti menuju ma’rifat. Dan diantara tanda kaum arifin senantiasa lebih banyak menangis dan mengalir air matanya karena Allah Ta’ala. Sebagaimana firmanNya: “Dan mereka sujud gelisah dengan menangis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt mencerca kaum alpa, karena mereka lebih banyak bersendagurau dan tidak pernah menangis.&lt;br /&gt;“Apakah dari kisah ini mereka heran dan mereka tertawa-tawa dan tidak menangis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis itu ada kalanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis mata&lt;br /&gt;Menangis hati&lt;br /&gt;Menangis rahasia batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis mata adalah tangisan kaum ma’rifat yang kembali hatinya kepada Allah Swt.&lt;br /&gt;Menangis hati adalah tangisan kaum ma’rifat yang sedang menempuh jalan menuju Allah Swt.&lt;br /&gt;Menangis rahasia batin, adalah kaum ma’rifat yang menangis karena mereka menjadi pecinta Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, bahwa kalangan ahli ma’rifat mempunyai kesusahan yang tersembunyi di bawah rahasia batin mereka, tertutupi oleh pemikiran mereka, maka, ketika rahasia batinnya memuncah, berhembuslah angina rasa takut penuh cinta karena Kharisma Ilahi. Sedangkan hatinya begolak jilatan api kegelisahan, yang membakar seluruh remuk redamnya kealpaan dan kelupaan kepada Tuhannya Azza wa-Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat Tangis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan itu terdiri enam arah:&lt;br /&gt;Menangis karena malu, seperti tangisan Nabi Adam as.&lt;br /&gt;Menangis karena kesalahan, seperti tangisan Nabi Dawud as.&lt;br /&gt;Menangis karena takut, seperti tangisan Nabi Yahya bin Zakaria.&lt;br /&gt;Menangis karena kehilangan, seperti tangisan Nabi Ya’qub as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis karena Kharisma Ilahi, seperti tangisan seluruh para Nabi as, yaitu dalam firmanNya: “Ketika dibacakan ayat-ayat Sang Rahman kepada mereka, maka mereka bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis karena rindu dan cinta, seperti tangisan Nabi Syu’aib as,  ketika beliau menangis sampai matanya buta, kemudian Allah Swt, mengembalikan menjadi sembuh, lalu beliau menangis lagi hingga buta kembali sampai tiga kali. Lalu Allah Swt, memberikan wahyu kepadanya: “Wahai Syu’aib, bila tangisanmu karena engkau takut neraka, Aku sudah benar-benar mengamankan dirimu dari neraka. Dan jika tangismu karena syurga, Aku telah mewajibkan dirimu syurga.” Ayub menjawab, “Tidak Ya Tuhan, namun aku menangis karena rindu ingin memandangmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah Swt, menurunkan wahyu kepadanya, ”Sungguh wahai Syu’aib! Sangat benar orang yang menghendakiKu, menangis dari dalam rindu kepadaKu. Untuk penyakit ini tidak ada obatnya, kecuali bertemu denganKu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Nabi Saw, bersabda: “Bila seorang hamba menangis karena takut kepada Allah atas masalah ummat, sungguh Allah Swt memberikan rahmat bagi ummat itu, karena tangisan hamba tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabi’ah ra, berkata, “Aku menangis selama sepuluh tahun karena merasa jauh dari Allah Swt, dan sepuluh tahun lagi menangis karena bersama Allah Swt, kemudian sepuluh tahun menangis karena menuju kepada Allah Swt. Menangis karena bersama Allah, disebabkan sangat berharap padaNya. Sedangkan menangis jauh dari Allah Swt, karena takut kepadaNya. Adapun menangis karena menuju Allah Swt, karena sangat rindu kepadaNya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu Sufi berkata, “Aku masuk ke rumah abi’ah al-Bashriyah, ketika itu ia sedang sujud. Lalu aku duduk di sisinya, hingga ia bangun mengangkat kepalanya. Kulihat ditempat sujudnya menggenang air matanya. Aku bersalam kepadanya, dan ia jawab salamku. Ia berkata, “Apa kebutuhanmu?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin datang kepadamu..” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menangis, dan memalingkan wajahnya dariku. Ketika ia menangis, ia mengatakan, “Sejuknya matahatiku harus datang dariMu? Sungguh mengherankan orang yang mengenalMu, bagaimana ia bisa sibuk dengan selain DiriMu? Mengherankan sekali! Orang yang menghendakiMu, bagaimana ia menginginkan selain DiriMu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atha’ as-Sulamy ra, ketika menagis banyak berungkap: “Oh Tuhan, kasihanilah diriku yang putus menujuMu, kasihanilah berpalingku dari selain DiriMu, kasihanilah keterasinganku di NegeriMu, kasihanilah rasa takutku pada hamba-hambaMu dan berhentinya diriku di hadapanMu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Fudhail bin Iyadh menegaskan, “Ketika aku sedang thawaf, aku bertemu seseorang yang roman mukanya berubah dan tubuhnya kurus kering, ia menangis dengan menderu, lalu aku dekati ia. Tiba-tiba ia berkata, “Oh Tuhanku!betapa mesranya hati para pecinta,betapa ringannya hati para airfin, sungguh tak akan putus harapan perindumu.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba kudengar bisikan suara mengatakan, “Wahai Waliyullah, sungguh tujuh langit ikut menangis. Diam! Sekarang apa yang kamu pinta!.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Nabi Adam as, ketika diturunkan dari syurga, ia menangis sampai airmatanya menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, lalu Allah Swt, mewahyukan padanya, “Tangisan ini karena kehilangan syurga, lalu mana tangisan karena meninggalkan khidmah bakti padaKu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Nabi Adam as, terkejut, hingga sampai pada kalimat ikhlas. Lalu berucap”Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka…” (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau!)&lt;br /&gt;Allah Swt, berfirman, : “Maka Adam mendapatkan kalimat-kalimat dari Tuhannya, lalu ia taubat kepadaNya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzun Nuun al-Mishry –semoga Allah Swt, merahmatinya– mengatakan, “Aku melihat lelaki di Makkah sedang menangis dengan tangisan ahli ma’rifat, lalu aku mendekat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah engkau punya kekasih?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Betul!” jawabnya.&lt;br /&gt;“Jauh apa dekat kekasihmu itu?”&lt;br /&gt;“Dekat,” katanya.&lt;br /&gt;“Selaras denganmu apa tidak?”&lt;br /&gt;“Sungguh selaras denganku.”&lt;br /&gt;“Subhanallah! Lalu kenapa engkau menagis?”&lt;br /&gt;“Ketahuilah, siksaan karena dekat dan serasi itu lebih pedih, ketimbang siksaan karena jauh dan kontra…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa Rabiah –Rahimahallahu Ta’ala– suatu hari sedang lewat di salah satu jalan di Bashrah. Tiba-tiba ada tetesan yang menetes dari kesdihan, lalu ia bertanya, “Tetesan apakah itu?” Lalu dijawab, “Itu dari tangisan Hasan.” Rabi’ah lalu berkata, “Katakanj semua ya pada Hasan, seandainya airmata bertambah terus hingga sampai ke Arasy sana, sebagai rasa cinta kepada Allah Swt, sungguh airmata itu sangat sedikit sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbad bin Syumaid bin Ujlan berkata:”Apakah orang munafiq itu menmangis?”&lt;br /&gt;Lalu dijawab, “Menangis dari mata kepala, memang. Tapi tangisan dari hati, tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail ra, mengatakan, “Bila anda melihat seseorang menangis tapi hatinya alpa, maka itulah tangisan munafiq. Tangisan yang sesungguhnya adalah tangisan qalbu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malik bin Dinar ra, ditanya, “Tidakkah engkau datang dengan seorang qari’ yang membaca di hadapanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kematian kekasih tidak butuh  pada peratap tangisan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka’b al-Ahbar ra, menandaskan, “Suatu tangisanku setets karena takut kepada Allah Ta’ala, lebih kucintai disbanding sedekah segunung emas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tangisan Malik bin Dinar ra, seringkali munajat, “Duh diriku! Engkau ingin bersanding pasa Sang Maha Jabbar, dan menjadi orang yang terpilih, lalu mana engkau tinggalkan syahwat nafsumu? Sudah sejauh mana engkau mendekat kepada Allah? Wali mana yang engkau cintai karena Allah? Musuh mana yang engkau benci karena Allah? Menahan diri yang mana yang engkau lakukan karena Allah? Tidak! Jika semua itu tidak karena ampunan dan rahmat Allah!”. Tiba-tiba ia pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan, bahwa Allah Swt, berfirman kepada Nabi Musa as,: “Tak ada yang lebih dekat kepadaKu dibanding orang-orang yang menangis karena takut dan cinta kepadaKu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsabit an-Nasaj, ra berkata, “Nabi Dawud as, tidak pernah minum setegukpun setelah berbuat kesalahan, melainkan ia hanya menyerap airmatanya, hingga beliau menemui Allah Azza wa-Jalla (wafat).”&lt;br /&gt;Ketika suatu hari melihat airmatanya banyak yang mengalir, ia berkata, “Ya Ilahi, apakah Engkau tidak kasihan atas tangisanku?”&lt;br /&gt;Lalu ada suara dari langit, “Hai Dawud! Engkau masih ingat airmatamu, sedangkan engkau tidak mengingat dosa-dosamu?!”&lt;br /&gt;Lantas Nabi Dawud as mengambil debu yang dipanaskan, lalu mengusap-usap kepalanya dengan debu pasir itu, sembari berkata, “Duh hilanglah air mukaku di hadapan Tuhanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa Hasan al-Bashry ra ada seorang lelaki yang punya anak perempuan sedang menangis, hingga matanya buta. Lelaki itu datang kepada Hasan agar didoakan dan dinasehatinya, siapa tahu ia menyadari dirinya. Lalu Hasan mendatangi gadis itu, dan berkata, “Kasihanilah dirimu!”&lt;br /&gt;“Oh, guru! Mataku tidak lepas dari dua wajah, apakah layak untuk memandang Tuhanku atau tidak. Jika tidak layak maka sudah benar kalau mataku buta! Jika benar layak, maka ribuan seperti mataku ini pantas menjadi tebusan untuk memandangNya,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Aku datang untuk mengobati, malah aku yang diobati. Aku datang untuk jadi dokternya, malah aku menemukan dokterku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salamah bin Khalid al-Makhzumy ra mengatakan, “Suatu hari perempuan dari Syam ada di Baitullah al-Haram, ia bisaa dipanggil Khazinah (Sang duka), karena selamanya menangis akibat rindunya kepada Allah Swt. Saat ia memandang pintu Ka’bah, selalu ia berucap, “Oh rumah Tuhanku, oh, rumah Tuhanku…”&lt;br /&gt;Suatu saat pintu Ka’bah dibuka, lalu wanita itu melihat orang-orang sedang thawaf sembari menangis, dan berucap, “Diraja kami dan matahati kami…betapa panjang rindu kami kepadaMu…Kapan kami bertemu?” Wanita itu mendengarkan ucapan itu, lalu menjerit pingsan, hingga membuatnya mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya bin Ashfar menandaskan, “Kami masuk bersama jamaah kami ke rumah Ufairah, perempuan ahli ibadah –semoga Allah Ta’ala merahmatinya-. Ia seorang yang buta karena banyaknya menangis, lalu salah satu dari kami mengatakan, “Betapa sedihnya kebutaan setelah sebelumnya bisa melihat!”.&lt;br /&gt;Rupanya ia mendengar ucapan itu, dan berkata, “Hai hamba Allah! Butanya hati dari Allah Swt lebih pedih ketimbang butanya mata kepala! Aku sangat senang jika Allah memberikan kenyataan cintaNya kepadaku, dan sama sekali aku tidak ada kesedihan melainkan Allah Ta’ala mengambilnya dariku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam gelap gulita&lt;br /&gt;Sedang pemaksiat lelap tidurnya.&lt;br /&gt;Sang Arifun berdiri di hadap Tuhannya&lt;br /&gt;Membacakan Ayat-ayat hidayah&lt;br /&gt;Airmata mereka mengalir bercucuran&lt;br /&gt;Tak sabar sedetik pun untuk tidak mengingatNya&lt;br /&gt;Deru rindu bergelora&lt;br /&gt;Sungguh pecinta tak pernah tidur.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-4960961218263963142?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/iTFts22xoy8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4960961218263963142/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4960961218263963142" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4960961218263963142?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4960961218263963142?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/iTFts22xoy8/maqam-orang-menangis.html" title="Maqam Orang Menangis" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-XcdApE47Oio/TyQHxlfz-hI/AAAAAAAAEzA/w7AgIs8d6D4/s72-c/99-06.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/maqam-orang-menangis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck4ARnY8cSp7ImA9WhRUF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-7025133634345637391</id><published>2012-01-28T06:19:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T06:29:07.879-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-28T06:29:07.879-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Apa Itu Alam Jabarut?</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-xiAVV1Z6e44/TyQE9OgaTFI/AAAAAAAAEy0/NFA0P2kiUpg/s1600/jabarut.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 284px; height: 177px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xiAVV1Z6e44/TyQE9OgaTFI/AAAAAAAAEy0/NFA0P2kiUpg/s320/jabarut.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702688478070459474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apa Itu Alam Jabarut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 153);font-size:85%;" &gt;Prof Dr Nasaruddin Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam Jabarut merupakan kelanjutan dari alam Malakut. Kedua alam ini sama-sama di dalam alam gaib mutlak. Namun, alam Jabarut berada di atas lagi. Tidak semua penghuni alam Malakut dapat mengakses alam tersebut. Hal ini membuktikan, sesama penghuni alam Malakut tidak memiliki kapasitas yang sama di mata Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam Malakut memiliki penghuni tetap, yaitu para malaikat utama, seperti Jibril, Mikail, Israfil, dan lain-lain. Alam ini lebih dekat dengan “Maqam Puncak”, yang biasa disebut Haramil Qudsiyyah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu pengelompokan, lapisan-lapisan alam dan maqamnya dapat dibedakan pada beberapa tingkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu pengelompokan, lapisan-lapisan alam dan maqamnya dapat dibedakan pada beberapa tingkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­= Maqam Ahdah yang mencakup alam Lahut dan Martabat Dzat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­= Maqam Wahdah mencakup alam Jabarut dan Martabat Sifat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­= Maqam Wahidiyah mencakup Alam Wahidiyah dan Martabat al-Asma’;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­= Maqam Roh yang mencakup alam Malakut dan Martabat Af’al;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­= Maqam Mitsal; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­= Maqam Insan dan alam syahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau alam Malakut merupakan tahap atau maqam ruhaniah dan taman jiwa yang hakiki serta senantiasa mempertahankan kesuciannya, alam Jabarut sudah masuk dalam wilayah Lahut atau berada dalam hamparan Ma’rifatullah, tempat seluruh elemen dan yang banyak menjadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam Jabarut sudah masuk di dalam dunia rahasia Ilahi, tetapi masih tetap wilayah alam dalam arti alam gaib mutlak. Alam Jabarut sebagai bagian dari alam gaib mutlak agak sulit dijelaskan secara skematis karena sudah masuk wilayah antara alam dan Maqam Qudsiyah.&lt;br /&gt;Alam ini berada di antara wilayah aktual dan wilayah potensial yang lazim disebut dengan al-A’yan al-Tsabitah (akan dibahas dalam artikel mendatang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni Jabarut adalah sesuatu yang bukan Tuhan dalam level Ahadiyyah, melainkan derivasinya dalam level Wahidiyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku-buku tasawuf, di alam Jabarut ini berlangsung apa yang disebut sebagai Nafakh al-Ruh (peniupan roh suci Allah) yang kemudian mampu manghidupkan jasad. Itulah sebabnya alam Jabarut biasa juga disebut dengan alam roh. Di alam ini, kita juga mengenal adanya realitas kesamaran antara “sesuatu” dan “bukan sesuatu”. Juga kesamaran antara “alam” dan “bukan alam” serta antara “sifat” dan “asma”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam alam Jabarut terjadi proses suatu keberadaan dari keberadaan potensial ke keberadaan aktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam Jabarut adalah suatu alam yang tidak umum dijangkau oleh alam-alam sebelumnya, termasuk alam Malakut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebagai bukti, bukan hanya alam Syahadah yang mengalami tingkatan-tingkatan, tetapi alam gaib juga bertingkat-tingkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesama penghuni alam gaib tidak semuanya bisa mengakses alam Jabarut, berkenalan dengan para penghuninya, dan memahami seluk-beluk peristiwa yang terjadi di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa jin tidak bisa mengenal seluruh perilaku malaikat, meskipun sama-sama sebagai penghuni Malakut. Sesama malaikat pun tidak saling memahami rahasia satu sama lain. Para malaikat adalah makhluk profesional yang mengerjakan tugasnya masing-masing dan tidak saling mengganggu serta mengintervensi sebagaimana diamanatkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para malaikat, ada malaikat utama dan keutamaannya dilihat dari perspektif manusia yang memilah fungsi-fungsi para malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, alam Jabarut merupakan alam paling tinggi karena di atasnya sudah tidak bisa lagi disebut dengan alam dalam arti ma siwa Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atasnya, sudah bukan lagi alam, tetapi sudah masuk dalam wilayah Qudsiyyah. Sebagai alam paling tinggi, tentu menjadi objek cita-cita dan harapan manusia. Namun, perlu ditegaskan bahwa sebagai manusia kita tidak dituntut secara mutlak untuk memasuki alam-alam itu, namun juga tidak dilarang berupaya untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan martabat-martabat kehidupan spiritual manusia dan menantang manusia untuk menaiki jenjang derajat yang lebih tinggi. Alquran mencela manusia yang cenderung set back ke jenjang derajat lebih rendah (asfala safilin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau manusia sudah berupaya menaikkan status ke alam yang lebih tinggi, namun tidak bisa menembus batas-batas alam tersebut, tidak perlu khawatir dan tak perlu dipermasalahkan. Tugas manusia hanya sebagai hamba dan khalifah. Bagaimana menjadi hamba yang lebih baik dan bagaimana menjadi khalifah lebih sukses di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan menembus batas atau menyingkap tabir/hijab lalu memasuki alam dan maqam lebih tinggi itu adalah urusan dan hak prerogatif Allah. Apakah Allah mau memberi petunjuk dan siapa yang akan diberi petunjuk untuk itu, semuanya merupa kan rahasia Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya manusia meningkatkan martabat spiritual ke jenjang lebih tinggi ditempuh para sufi dan pengamal tarekat. Namun, substansi pendekatan mereka mempunyai benang merah yang sama, yaitu manusia selalu harus melakukan pembersihan diri (tadzkiyah al-nafs) melalui berbagai “exercise” (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitab Manhalus Shafi disebutkan langkah-langkah konkret yang dilakukan para salik untuk mencapai tujuan spiritualnya. Kitab ini memperkenalkan apa yang disebut dengan ilmu martabat tujuh atau ilmu tahqiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh martabat itu ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­- Hadratul Qudsi (puncak dari tempat penyucian diri) dan Unsi (tempat untuk bermesraan dengan Tuhan),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­- Mufatahah (tempat untuk membuka rahasia Ilahi),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­- Muwajahah (tempat untuk membuka hijab zulmani lalu menggunakan energi nuraniyah),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­- Mujalasah (sarana untuk memisahkan dan membersihkan diri dari segala macam kemusyrikan),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­- Muhadasah (tempat untuk menyingkap rahasia melalui Dirinya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­- Musyahadah (menyaksikan “wajah” Tuhan melalui seluruh alam ciptaan-Nya), dan Muthala’ah (menghayati keberadaan Tuhan melalui hidayah-Nya).&lt;br /&gt;Bagi para salik yang akan menyingkap hijab dan seterusnya melaju ke alam lebih tinggi, menurut buku ini, sangat dimungkinkan. Jika seseorang mampu melewati maqam-maqam tersebut dengan baik, dipersepsikan manusia bisa mengakses alam manapun yang ia kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak gampang mengakses maqam demi maqam yang berlapis-lapis itu. Peningkatan dari satu maqam ke maqam berikutnya terkadang ditempuh bertahun-tahun. Namun, tidak perlu berkecil hati karena jika Allah menghendaki, tentu tidak ada rintangan berarti bagi yang bersangkut an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam hadis tasawuf sering diungkap bahwa ada sekitar 70 ribu hijab yang menghijab manusia sehingga sulit mencapai mukasyafah (penyingkapan). Namun, tidak perlu takut dan berkecil hati, karena 100 ribu hijab pun dapat ditembus jika Allah menghendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sufi mempunyai keuletan karena mempunyai tujuan bukan untuk menembus hijab itu tersingkap, tetapi bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, tanpa target lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada kalangan sufi memiliki tujuan membuka hijab atau memperoleh karamah dalam pencahariannya, boleh jadi dua-duanya tidak diperoleh. Tuhannya tidak didapat dan karamahnya pun hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sufi dan salik tidak jarang terkecoh karena terdekonsentrasi oleh hal-hal yang tidak substansi. Mereka terkecoh oleh sesuatu yang bersifat sekunder lalu meninggalkan urusan primer. Yang primer itu adalah Tuhan yang sekunder itu adalah kelezatan dalam beribadah, kepemilikan karamah di depan jamaah, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(* Banyak yang terkecoh oeh rekayasa setan. Mereka menyangka sudah bertemu dengan “Tuhan”, padahal  ia adalah setan yg menyaru dan mengaku “Tuhan”. Ciri-ciri pengecohan setan itu antara lain, sifat sombong, meremehkan pelaksanaan syareat, mengabaikan Nabi Muhammad SAW sebagai penunjuk jalan yang lurus&lt;br /&gt;dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mencari yang substansi dan yang primer tanpa harus terkecoh dengan yang nonsubstansi dan yang bersifat sekunder, agar mikraj kita berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Republika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-7025133634345637391?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/BCwJ54eJH7Y" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/7025133634345637391/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=7025133634345637391" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7025133634345637391?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7025133634345637391?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/BCwJ54eJH7Y/apa-itu-alam-jabarut.html" title="Apa Itu Alam Jabarut?" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-xiAVV1Z6e44/TyQE9OgaTFI/AAAAAAAAEy0/NFA0P2kiUpg/s72-c/jabarut.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/apa-itu-alam-jabarut.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cAQnwycSp7ImA9WhRUF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-9070290977529622787</id><published>2012-01-28T05:57:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T06:30:43.299-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-28T06:30:43.299-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tafsir" /><title>Tafsir Surah Al Fatihah</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CcCtX6Bfvt8/TyP_aKP6xrI/AAAAAAAAEyk/cqmcxVahubc/s1600/alfatihah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 229px; height: 280px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CcCtX6Bfvt8/TyP_aKP6xrI/AAAAAAAAEyk/cqmcxVahubc/s400/alfatihah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702682378073982642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Tafsir Surah Al Fatihah (Pembukaan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Surat Makiyyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Disebut Al Fatihah artinya pembukaan kitab secara tertulis. Dan dengan Al Fatihah itu dibuka bacaan dalam shalat. Anas Bin Malik meriwayatkan: Al Fatihah itu disebut juga Ummul Kitab menurut jumhur ulama. Dalah hadist Shahih diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abu Hurairah : ia menuturkan, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda : {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} adalah Ummul Qur’an, Umml Kitab, As Sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al Qur’anul ‘Adzhim.&lt;br /&gt;Surat ini disebut juga dengan sebutan Al hamdu dan ash Salah. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, dari Rabb-nya :”Aku membagi shalat antara diriku dengan hambaku dua bagian, jika seseorang mengucapkan {Alhamdulillahir rabbil ‘Alamin} maka Allah berfirman: ‘Aku telah dipuji hambaku.’&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Al Fatihah disebut ash shalah, karena alafatihah itu sebagai syarat sahnya shalat. Selain itu Al fatihah disebut juga asy syifa. Berdasarkan hadist riwayat Ad Darimi dari Abu sa’id, sebagai hadist marfu’ : fatihatul Kitab itu merupakan As Syifa (penyembuh) dari setiap racun.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga disebut ar ruqyah berdasarkan hadist Abu Sa’id yaitu ketika menjampi (ruqyah) seseorang yang terkena sengatan (binatang), maka Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Darimana engkau tahu bahwa Al fatihah itu adalah ruqyah.”&lt;br /&gt;Sural Al Fatihah diturunkan di Mekah. Demikian dikatakan Ibnu Abbas, Qatadah dan Abu al ‘Aliyah. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa surat ini turun di madinah. Ini pendapat abu Hurairah, Mujahid, Atha bin Yasar, dan Az Zuhri. Ada yang berpendapat Surat Al Fatihah turun dua kali, sekali turun di Makkah dan yang sekalai lagi di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendap pertama lebih sesuai dengan Firman Allah “Sesungguhnya Kami telah berikan kepdamu sab’an minal matsani (tujuh ayat yang berulan-ulang).” (QS Al Hijr: 87) Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan surat ini, secara sepakat terdiri dari tujuh ayat. Hanya saja terdapat perbedaan dalam masalah basmalah, apakah sebagai ayat yang berdiri sendiri pada awal surah Al Fatihah, sebagaimana kebanyakan para qurra’ Kuffah, dan pendapat segolongan sahabat dan Tabi’in. Atau bukan sebagai ayat pertama dari surat tersebut, sebagaimana yang dikatakan para qurra’ dan ahli fiqih madinah. Dan mengenai hal ini terdapat tiga pendapat, yang isnyaAllah akan di bahas pada pembahasa berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengatakan “Surat Al fatihah terdiri dari 25 kata dan 113 huruf.” Al Bukhari mengatakan bahwa dalam awal kitab Tafsir, disebutkan Ummul Kitab, karena Al fatihah ditulis pada permulaan Al Qur’an dan dibaca pada permulaan shalat. Ada juga yang berpendapat, disebut demikian karena seluruh makna Al Qur’an kembali kepada apa yang di kandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu jarir mengatakan : orang arab menyebut “Umm” untuk semua yang mencakup atau mendahului sesuatu jika mempunyai hal-hal lain yang mengikutinya dan ia sebagai pembuka yang meliputinya. Seperti Umm Al ra’a, sebutan untuk kulit yang meliputi otak. Mereka menyebut bendera dan panji tempata berkumpulnya pasukan dengan ‘umm’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Keutamaan Surah Al Fatihah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id bin al Muhalla, ia berkata “Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya, hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau, maka beliaupun bertanya: ‘Apa yang menghalangi kamu datang kepadaku? Maka akau menjawab :Ya Rasululla, sesungguhnya aku tadi sedang mengerjakan shalat, lalu beliau bersabda: ‘Bukankah Allah ta’ala telah berfirman : ‘Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyerumu kepada yang memberikan kehidupan kepadamu. (QS Al Anfal:24). Dan sesdah itu beliau bersabda: Akan aku ajarkan kepadamu suatu surat yang paling agung didalam Al Qur’an sebelum engkau keluar dari Masjid ini. Mak beliaupun penggandeng tanganku. Dan ketika belaiu hendak keluar Masjid, aku katakana : ya Rasulullah engkau tadi telah berkata akan mengjarkan kepadaku surat yang paling agung di dalam Al Qur’an. Kemudian beliau menjawab : Benar, { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ia adalah as Sab’ul matsani dan Al Qur’an al ‘Adzhim yang teah diturunkan kepadaku. Demikian juga yang diriwayatkan oleh Bukhori, Abu Dawud, An Nasai dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur dari Syu’bah.&lt;br /&gt;Sedangkan segolongan lainnya berpendapat bahwasannya tidak ada keutamaan suatu ayat atau surat atas yang lainnya, karena semuanya merupakan Firman Allah. Supaya hal itu tidak menimbulkan dugaan adanya kekurangan pada ayat lainnya, meski semuanya itu memiliki keutamaan. Pendapat ini dinukil oleh Al Qurthubi dari Al Asy’ari, Abu Bakar al baqilani, Abu Hatim, Ibnu Hibban Al Busti, Abu hayyan, Yahya bin Yahya, dan sebuah riwayat dari Imam Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hadist yang diriwayatkan olehh Bukhari daam kitab Fadhailu Qur’an, dari Abu Sa’id al Khudri, ia berkata: Kami pernah beada dalam suatu perjalanan, lalu kami singgah, tiba-tiba seorang budak wanita datang seraya berkata: Sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak berada ditempat, apakah diantara kalian ada yang bisa menjampi (ruqyah)? Lalu ada seorang laki-laki yang bersamanya berdiri, yang kami tidak pernah menyangka bisa meruqyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian orang itu membacakan ruqyah, maka kepala sukunya pun sembuh. Lali ia (kepala suku) menyuruhnya memberi tigapuluh ekor kambing sedang kami diberi minum susu. Setelah ia kembali, kami bertanya kepadanya: Apakah memang engkau pandai dan bisa meruqyah? Ia menjawab : Aku tidak meruqyah kecuali dengan Ummul Kitab. (Al Fatihah). Jangan berbuat apapun hingga kita datang dan bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Ketika sampai di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: Darimana dia tahu kalau surat Al Fatihah itu sebagai ruqyah?, bagi-bagikanlah kambing-kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku.” Demikian juga diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist lainnya, riwayat Muslim dalam Kitab Shahih an Nasai dalam kitab Sunan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sedang bersama Malaikat Jibril, tiba-tiba Jibril mendengar suara dari atas. Maka Jibril mengarahkan pandangannya kelangit seraya berkata : Itu adalah dibukannya sebuah pintu di langit yang belum pernah terbuka sebelumnya.” Ibnu Abbas meneruskan, “dari pintu turun Malaikat dan kemudian menemui Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata : “Samapaikanlah kabar gembira kepad aumatmu mengenai dua cahaya. Kedua cahaya itu telah diberikan kepadamu, dan belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang nabipun sebelum kamu, yaitu Fatihatul Kitab dan beberapa ayat terakhir surat Al Baqarah. Tidakkah engkau membaca satu huruf saja darinya melainkan akan diberi pahala kepadamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah selain al Fatihah ada surat tertentu yang harus dibaca, atau cukup Al Fatihah saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan dalam surah  Al Fatihah menurut kesepakat ulama merupakan sesuatu yang wajib, namun demikian mereka berbeda pendapat menegani apakah selain alfatihah ada surat tertentu yang harus dibaca, atau cukup Al fatihah saja.&lt;br /&gt;Mengenai hal ini ada dua pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Menurut Abu hanifah, pada pengikutnya dan juga yang lainnya, bacaan Al qur’an itu tidak ditentukan. Surat atau ayata anapun yang dibaca akan memperoleh pahala. Merek berhujjah dengan keumuman firman Allah : “Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Al Qur’an” (QS: Al Muzzamil:20)&lt;br /&gt;Dan sebuah hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah mengenai kisah seseorang yang kurang baik dalam mengerjakan shalatnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “ Jika engkau mengerjakan shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari al Qur’an.”&lt;br /&gt;Menururt mereka Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk membaca yang mudah dari Al Qur’an dan beliau menentukan bacaan Al faatihah atas surat lainnya. Ini adalah pendapat yang kami pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Diharuskan membaca al Fatihah dalam shalat. Jika sesorang tidak membaca al Fatihah maka shalatnya tidak sah. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Asy Syafi’I , Imam Ahmad bin Hanbal, para sahabat mereka serta Jumhur ‘ulama.&lt;br /&gt;Pendapat mereka ini disandarkan pada hadist sebagai berikut. ‘Barangsiapa mengerjakan shalat, lalu tidak membaca Ummul Kitab didalamnya, maka shalatnya tidak sempurna.” (HR Muslim, at Tirmidzi, An Nasai dan Abu Dawud dari Abu Hurairah dari Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu mereka juga berdalil dengan sebuah hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhori dan Muslim, dari Az Zuhri, dari mahmud bin az Rabi’, dari Ubadah bin ash Shamit, ia berkata Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”&lt;br /&gt;Dan juga diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dan Sahih Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tidak sah shlat yang di dalamnya tidak dibacakan Ummul Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadist-hadist mengenai sangat banyak dan terlalu panjang jika kami kemukakan di sini tentang perdebatan mereka. Dan kami telah kemukakan pendapat mereka masing-masing.&lt;br /&gt;Apakah bacaan Al Fatihah wajib dilakukan pada setiap raka’at dalam shalat?&lt;br /&gt;Hal inipun ada perbedaan pendapat, Imam asy syafi’I dan sekelompok ulama berpendapat bahwa bacaan al Fatihah wajib dilakukan pada setiap  rakaat dalam raka’at. Sedangkan ulama lainnya mengatakan, bacaaan al Fatihah itu hanya pada sebagian besar ra’kaat.&lt;br /&gt;Hasan al Bashri dan mayoritas ulama Basrah mengatakan, bacaan al Fatihah itu hanya wajib dalam satu rakaat saja pada seluruh shalat, berdasarkan kemutlakan hadist Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, diaman dia bersabda “ Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Abu Hanifah dan para sahabatnya, at Tsauri serta al Aizai berpendapat, bacaan al Fayihah itu buka suatu hal yang ditentukan (diwajibkan), bahkan jika sesorang membaca selain al Fatihah, maka ia tetap mendapatkan pahala. Hal itu didasarkan pada firman Allah “Maka bacalah olehmu aoa yang mudah bagimu dari al Qur’an. (QS al Muzzammil:20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Apakah makmum berkewajiban membaca Al Fatihah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hal ini terdapat tiga pendapat dikalangan para ulama;&lt;br /&gt;Pertama: Setiap makmum tetap wajib membaca al Fatihah sebagaimana imam, hal itu didasarkan kepada keumuman hadist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Tidak ada kewah=jiban membaca al fatihah atau surat lainnya bagi makmum sama sekali, baik dalam shalat jahr maupun shalat sirr (perlahan bacanya). Hal itu didasarkan kepada hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal, dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa shalat bersama seorang imam, maka bacaan imam itu adalah bacaan unutk makmum juga.”&lt;br /&gt;Namun hadist ini memiliki kelemahan dalam sanadnya. Dan diriwayatkan oleh Imam Malik dari Wahab bin Kaisan, dari Jabir, juga diriwayatkan dari beberapa jalan namun tidak satupun yang berasal dari Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Al Fatihah wajib dibaca oleh makmum dalam shalat sir (tidak dikeraskan), dan tidak wajib baginya membaca dalam shalat jahr (bacaan dikeraskan). Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Musa Al Asy’ari dalam Sahih Muslim, ia berkata Easulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Sesungguhnya imam itu dijadikan ikutan, jika ia bertakbir maka hendaklah kalian bertakbir, dan jika ia membaca (Al Fatihah.Surat Al Qur’an) maka dengarkanlah.”&lt;br /&gt;Hadist tersebut diats diriwayatkan juga oleh para penyusun kitab Sunnan, yaitu Abu Dawud, an Nasai, dan Ibnu Majah yang berasal dari Abu Hurairah bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”jika imam membaca (al fatihah atau Qur’an) maka dengarkanlah.” Hadist ini dinyatakan shahih oleh Muslim bin Hajjaj. Kedua hadist diatas menunjukan kesahihahn pendapat ini yang merupakan qoulun qadim Imam asy-Syafi’i, dan satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal. Dan maksud dari pengangkatan masalah-masalah tersebut diatas adalah unutk menjelaskan hokum-hukum yang khusus berkenaan dengan Surat al-Fatihah dan tidak berkenaan dengan surat-surat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Tafsir isti’adzah dan Hukum-hukumnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ , إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ , وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS an-Nahl : 98-100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang masyuhur dikalangan jumhur ulama bahwa isti’azdah dilakukan sebelum membaca al-Aqur’an unutk mengusir gangguan syaitan. Menurut mereka ayat yang berbunyi “Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” artinya jika kamu hendak membaca. Sebagaiman firman Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ&lt;br /&gt;Artinya : “apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu” . (QS al-Maidah : 6), artinya jika kalian bermaksud mendirikan shalat.&lt;br /&gt;Penafsiran seperti itu berdasarkan beberapa hadist dari Rasulullah saw, Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu sa’id al Khudri, ia berkata jika Rasulullah saw hendak mendirikan shalat malam, maka beliau membuka shalatnya dan bertakbir seraya mengucapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سبحانك اللهم وبحمدك، وتبارك اسمك، وتعالى جدك، ولا إله غيرك " . ويقول: " لا إله إلا الله " ثلاثًا، ثم يقول: " أعوذ بالله السميع العليم، من الشيطان الرجيم، من هَمْزه ونَفْخِه ونَفْثه "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhaanakallahumma wabihamdika, watabaarakas muka wata’ala jadduka, walaa ilaaha ghoiruk. Dan membaca { لا إله إلا الله} tiga kali, kemudian membaca A’udzubillahis sami’il ‘aliim minasy syaithoonir rajiim, min Hamzihi, wa nafkhiHi, wa nafsiHi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Mahasuci Engkau, Ya Allah dan segal puji bagi-Mu. Maha Agung nama-Mu dan Maha Tinggi Kemulia-anMu. Tidak ada Tuhan/ilah yang haq melainkan Engkau. Dan membaca { لا إله إلا الله} tiga kali, kemudian membaca Aku berlindung kepada Allah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui dari Syaithan yang terkutuk, dari godaanya, iupannya, dan hembusannya.&lt;br /&gt;Hadist ini diriwayatkan juga oleh empat penyusun Kitab as Sunan dari ja’far bin Sulaiman, dari “ali bin ‘Ali ar Rifa’i. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini adalah hadist yang paling masyhur dalam masalah ini. Dan kata { هَمْز/ Hamz}, {نَفْخِه} nafkh ditafsirkan sebagai kesombongan serta {نَفْثه} Nafst ditafsirkan sebagai sya’ir.&lt;br /&gt;Bukhori meriwayatkan dari sualaiman bin Shurad, ia berkata : Ada dua orang yang saling mencela di hadapan rasulullah saw, sedang kami duduk dihadapan beliau. Salah seorang dari keduanya mencela lainnya dalam keadaan marah dengan wajah yang memerah, maka Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku akan mengajarkan suatu kalaimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang dirasakannya itu. Jika ia mengucapkan {أعوذ بالله من الشيطان الرجيم } , kemudian para sahabat berkata kepada orang itu: Tidakkah engkau mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw ? Orang itu menjawab: Sesungguhnya aku bukanlah orang yang tidak waras.&lt;br /&gt;Hadist diatas juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai, melalui beberap jalur sanad dari al-A’masy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 153);"&gt;Pengertian Isti’adzah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isti’adzah berarti permohonan perlindungan kepada Allah dari setiap kejahatan.  Jadi  {أعوذ بالله من الشيطان الرجيم } berarti aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk agar tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang telah Dia perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang, karena tidak ada yang mampu mencegah godaaan syaitan itu kecuali Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Allah memerintahkan manusia agar menarik dan menbujuk hati syaithan jenis manusia dengan cara memberikan sesuatu yang baik kepadanya hingga dapat berubah tabiat dari kebiasaaanya yang mengganggu orang lain. Selain itu, Allah juga memerintahkan untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan jenis jin, karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi oleh kebaikan. Tabiat mereka jahat dan tidak dapat yang mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang menciptakan.&lt;br /&gt;Inilah makna yang terkandung dalam tida ayat al Qur’an, yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ }, artinya : Jadilah engaku pemaaf dan suruhlah orang menegrjakan kebaikan dan berpaling dari orang-orang bodoh. (QS: al-A’raaf: 199). Makna ayat ini berkenaan dengan muamalah terhadap musuh dari kalangan manusia.&lt;br /&gt;Kemudian Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} artinya: Dan jika kamu ditimpa suatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS: al-A’raaf: 200)&lt;br /&gt;Sedangkan dalam suraat Al Mu’minun, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ, وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ, وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: "Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS al Mu’minun: 96-98)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa arab, kata syaithan berasal dari kata Syathon, yang berarti jauh. Jadi tabiat syaithan itu sangat jauh dari tabi’at manusia, dank arena kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam kebaikan.&lt;br /&gt;Ada juga yang mengtakan bahwa syaitan itu berasal dari kata “Syatha” artinya terbakar, karena ia diciptakan dari apai. Dan ada juga yang mengtakan bahwa kedua makna tersebut adalah benar, tetapi makna pertama lebih benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sibawaih, bangsa Arab biasa mengatakan “Tasyaithona Fulan”, jika sifulan berbuat seperti perbuatan syaitan. Jika kata syaithan itu berasal dari kata “Syatha” tentu mereka mengatakan “tasyaitha”. Jadi menurut pendapat yang benar kata syaithan itu berasal dari kata “Syathana” yang berarti jauh. Oleh karena itu mereka menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik jin, manusia, maupun hewan.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal ini, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS al An’am: 112)&lt;br /&gt;Dalam Musnad Ahmad, disebutkan hadist dari Abu Dzarr, Rasulullah saw bersabda :”Wahai Abu Dzarr, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaithan-syaithan jenis manusia dan jin.” Lalu aku bertanya, Apakah ada syaithan dari jenis manusia? Rasulullah menjawab “ya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Dzarr, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “yang dapat membatalkan shalat adalah wanita, keledai dan anjing hitam.” Kemudian kutanyakan: “Ya, Rasulullah, mengapa anjing hitam dan buka anjing kemerahan atau kekuningan? Beliau menjawab: “Anjing hitam itu adalah syaithan”.&lt;br /&gt;Kata “ar-rajiim” berwazan fa’il (subjek), tapi bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa syathan itu terkutuk dan terusir dari semua kebaikan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: {وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ}artinya : Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan. (QS al-Mulk: 5)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;افتتح بها الصحابةُ كتاب الله، واتّفق العلماء على أنها بعض آية من سورَة النمل، ثمّ اختلفوا: هل هي آية مستقلة في أوّل كل سورة، أو من أول كل سورة كتبت في أوّلها، أو أنها بعض آية من أوّل كل سورة، أو أنها كذلك في الفاتحة دون غيرها، أو أنها [إنما] كتبت للفصل، لا أنها آية؟ على أقوال للعلماء سلفًا وخلفًا، وذلك مبسوط في غير هذا الموضع.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat membuka Kitabullah dengan membacanya. Dan para ulama bersepakat bahwa ia (bismillah) merupakan salah satu ayat dari surah an-Naml. Kemudian mereka berselisih pendapat apakah basmalah itu ayat yang berdiri sendiri pada awal setiap surat, atau merupakan bagian awal dari masing-masing surat dan ditulis pada pembukaannya. Ataukah juga merupakan salah satu ayat dari setiap surat atau bagian dari surat al-Fatihah saja dan bukan surat-surat lainnya. Ataukah basmalah yang ditulis dimasing-masing surat itu hsnys untuk pemisah antara surat saja, dan merupakan ayat. Ada beberapa pendapat dikalangan ulama baik salaf maun khalaf, dan bukan disini tempat unuk menjelaskan itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي سنن أبي داود بإسناد صحيح، عن ابن عباس، رضي الله عنهما، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان لا يعرف فصل السورة حتى ينـزل عليه ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) وأخرجه الحاكم أبو عبد الله النيسابوري في مستدركه أيضًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunan Abu Dawud dengan sanad Shahih, dari Ibnu Abbas radhiAllahu’anhuma, bahwasannya Rasulullah saw tidak mengetahui pemisah surat al-Qur’an sehingga turun kepadanya { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}, dan dikeluarkan juga oleh Imam Hakim Abu Abdillah an-Naisaburi dalam Kitab Mustadraknya.&lt;br /&gt;Diantara ulam yang mengtakan bahwa basmalah adalah ayat dari setipa surat kecuali at-Taubah, yaitu Ibnu Abbas, ‘Umar, Ibnu az Zubair, Abu Hurairah, ‘Ali. Dan kalangan tabi’in ‘Atha, Thawus, Sa’id bin Jubair, Makhul dan az Zuhri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dikatakan oleh Abdullah bin al-Mubarak, Imam asy-Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, Ishak bin Rahawaih, Abu ‘Ubaid al Qasim bin Salam.&lt;br /&gt;Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah beserta para pengikutnya berpendapat bawa basmalah itu bukan merupakan ayat dari surah al-Fatihah, tidak juga surat-surat lainnya. Nmaun menurut Dawud, basmalah terletak pada awal setiap surat dan bukan bagian darinya. Demikian pula menurut satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal.&lt;br /&gt;Mengenai bacaan basmalah secara jahr (dikeraskan bacaannya) termasuk bagian dari perbedaan pendapat diatas. Mereka berpendapat bahwa basmalah itu bukan ayat dari surah al-Fatihah, maka ia tidak membacanya secara jahr. Demikian juga yang mengtakan bahwa basmalah adalah suatu ayat yang ditulis pada awal setiap surat.&lt;br /&gt;Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa basmalah termasuk bagian dari setiap surat, masih berbeda pedapat. Imam Asy Syafi’i, berpendapat bahwa basmallah itu dibaca secara jahr bersama al-Fatihah dan juga surat al-Qur’an lainnya. Inilah madzhab beberapa sahabat dan tabi’in serta para imam, baik salaf maupun khalaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي صحيح البخاري، عن أنس بن مالك أنه سئل عن قراءة  رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: كانت قراءته مدا، ثم قرأ ( بسم الله الرحمن الرحيم ) يمد بسم الله، ويمد الرحمن، ويمد الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab sahih Bukhori, diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa ia pernah ditanya mengenai bacaan dari Nabi saw, maka ia menjawab: bahwasannya bacaan beliau itu sesuai dengan panjang dan pendeknya, kemudian Anas membaca “bismillahirrahmanirrahim” dengan memanjangkan bismillah, kemudian “ar-rahmaan dan ar-rahiim.&lt;br /&gt;Dalam Musnad Ahamd, Sunan Abu dawud, Shahih Ibnu Khuzaimah dan Mustadrak Imam Hakim, yang diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata Rasulullah saw memutus-mutus bacaannya, bismillahirrahmanirrahii, alhamdulillahir rabbil ‘alamin , ar-rahmanir rahiim, maliki yaumiddin. Dan Imam ad-Daruqutni berkata : “sanad hadist ini shahih.”&lt;br /&gt;Dan ulama lainnya berpendapat bahwa basmallah tidak dibaca secara jahr didalam shalat. Inilah riwayat yang benar dari empat Khulafaur Rasyidiin, Abudullah bin Mughaffal, beberapa golongan ulama salaf maupun khalaf. Hal ini juga menjadi pendapat Abu Hanifah, atz-Tsauri, dan Ahmad Bin Hanbal.&lt;br /&gt;Dan menurut Imam Malik basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahr maupun sir. Mereka mendasarkan pada hadist yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim, dari ‘Aisyah berkata: Rasulullah saw membuka shalat dengan takbir dan bacaan al-hambulillahir rabbil’alamin.”&lt;br /&gt;Juga hadist dari kitab Bukhori dan Muslim dari Ans bin Malik, ia menceritakan :”Aku pernah shalat di belakang Nabi saw, Abu Bakar, Umar dan Ustman, mereka semua membuka shalat dengan bacaan al-hambulillahi Rabbil ‘alamiin.&lt;br /&gt;Dan juga dalam riwayat Mulism :”Mereka tidak menyebutkan Bismillahirrahmanirrahiim pada awal bacaan dan tidak juga pada akhirnya. Hal ini juga terdapat pada kitab sunnan, yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal.&lt;br /&gt;Demikianlah dasar-dasar pengabilan pendapat para imam mengenai masalah ini dan tidak menjadi perbedaan pendpaat, karena mereka telah sepakat bahwa shalat bagi orang yang men-jahr-kan atau yang men-sir-kan basmallah adalah sah. Al-hamdulillahirobbil ‘alamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Basmalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca basmalah disunnahkan pada saat mengawali setiapa pekerjaan. Disunnahkah juga padasaat hendaka masuk ke kamar kecil. Hal itu sebagaimana disebutkan dalah hadist. Selain itu, basmalah juga disunnahkan untuk dibaca di awal wudhu, sebagaimana dinyatakan dalam hadits marfu; dalam kitab Musnad Ahmad dan kitab-kitab sunnan, dari Abu Hurairah, Sa’id bin Zaid dan Abu Sa’id, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak sempurna wudhu bagi orang yang tidak membaca nama Allah padanya.” (Hadist in hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في صحيح مسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لربيبه عمر بن أبي سلمة: "قل: باسم الله، وكل بيمينك، وكل مما يليك"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim disebutkan : Bahwasannya Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Umar bin Abi Salamah: “Bacalah, bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat darimu.”&lt;br /&gt;Meski demikian diantara ulama ada yang mewajibkannya. Disunnahkan pula membacanya ketika hendak berjima’ (berhubungna intim) berdasarkan hadist dalam kitab sahih Bukhori dan Muslim, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;"لو أن أحدكم إذا أتى أهله قال: باسم الله، اللهم جنبنا الشيطان، وجنب الشيطان ما رزقتنا، فإنه إن يقدر بينهما ولد لم يضره الشيطان أبدًا"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya sesorang diantara kalaian hendak mencampuri dengan istrinya, hendakla membaca “Bismillah, Allahumma jannibnasy syaithaana, wajannibisy syaithaana maa razaqtanaa, (dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engaku anugerahkan kepada kami), maka jika Allah menakdirkan anak melalui hubungan keduanya, maka anak itu tidak akan diganggu syaitan selamanya.”&lt;br /&gt;Lafazh (Allah) merupakan nama untuk Rabb. Dikatakan bahwa Allah adalah al-ismul a’zham (nama yang paling Agung), karena nama itu menyandang segala macam sifat, sebagaimana firmna Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS Al Hasyr: 22)&lt;br /&gt;Dengan demikian semua nama-nama yang baik itu menjadi sifat-Nya. Dalam kitab sahih Bukhori dan Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;"إن لله تسعة وتسعين اسما، مائة إلا واحدًا من أحصاها دخل الجنة"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, barangsiapa yang dapat menghafalnya maka ia akan masuk surga.”&lt;br /&gt;Nama Allah merupakan nama yang tidak diberikan kepada siapapun kecuali diri-Nya, yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Oleh karena itu dalam bahasa Arab tidak diketahui dari kata apa nama-Nya itu berasal. Maka diantara para ahli nahwu ada yang menyatakan bahwa nama itu (Allah) adalah ismun kamid, yaitu nama yang tidak memiliki kata dasar. Al-Qurtubi mengutif hal itu dari sejumlah ulama diantaranya asy-syafi’I, al-Khatthabi, Imamul Haramain, al Ghazali, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Dari al-khalil dan Sibawaih diriwayatkan bahwa “Alif” dan “lam” dalam kata “Allah” merupakan suatu yang lazim (tak terpisahkan). Al Khatthabi mengatakan: “Tidakkah anda menyadari bahwa anda dapat meyerukan “ Ya Allah dan tidak dapat menyerukan “Ya Arrahmaan”. Jika kata “Allah” bukan kata yang masih asli, maka tidak boleh memasukan huruf nida (seruan) terhadap “alif” dan “lam”. Ada juga yang berpendapat bahwa kata “Allah” itu merupakan kata dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} merupakan dua nama dalam bentuk mubalagah yang berasal dari satu kata ar-rahmah. Namun kata ar-rahman lebih menunjukan makna lebih daripada kata ar-Rahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال القرطبي: والدليل على أنه مشتق ما خرجه الترمذي وصححه عن عبد الرحمن بن عوف، أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "قال الله تعالى: أنا الرحمن خلقت الرحم وشققت لها اسمًا من اسمي، فمن وصلها وصلته ومن قطعها قطعته"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata al-Qurthubi : Dan ini merupakan dalil yang menunjukan bahwa nama ini (ar-Rahman) adalah musytaq , sebagaimana diriwayatkan oleh at Tirmidzi dan sahih dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiAllahu ‘anhu bahwa ia pernah mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku adalah ar-Rahman, Aku telah menciptakan rahim. Aku telah menjadikan untuknya nama dari nama-Ku. Barangsiapa yang menyambungnya, maka Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskannya maka Akupun akan memutuskannya.”&lt;br /&gt;Ini merupakan nash bahwa nama tersebut adalah musytaq, karena itu tidak diterima pendapat yang menyalahi dan menentangnya.&lt;br /&gt;قال أبو علي الفارسي: الرحمن: اسم عام في جميع أنواع الرحمة يختص به الله تعالى، والرحيم إنما هو من جهة المؤمنين، قال الله تعالى:  وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berkata Abu ‘Ali al Farisi: “ar-Rahman merupakan nama yang bersifat umum meliputi segala bentuk rahmat, nama ini dikhusukan bagi Allah semata. Sedangkan ar Rahim, memberikan kasih saying hanya kepada orang-orang beriman.  Allah Ta’ala berfirman :”Dan Dia-lah yang Maha Penyayang kepada orang-orang berimana” (al Ahzab : 43)&lt;br /&gt;وقال ابن المبارك: الرحمن إذا سئل أعطى، والرحيم إذا لم يسأل يغضب، وهذا كما جاء في الحديث الذي رواه الترمذي وابن ماجه من حديث أبي صالح الفارسي الخوزي عن أبي هريرة، رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من لم يسأل الله يغضب عليه"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berkata Ibnu Mubarak : ar Rahman yaitu jika dimintai, maka Dia akan memberi, sedangkan ar Rahim, jika permohonan tidak diajukan kepada-Nya maka Dia akna murka. Sebagaimana hadist dalam riwayat at Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadist Ibnu Sholih al Farisi al Khuzi dari Abu Hurairah radhiAllahu ‘anhu, ia berkata, bersabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam “Barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya”.&lt;br /&gt;Nama { الرَّحْمَنِ} hanya dikhusukan unutk Allah saja, tidak diberikan kepada selain diri-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala&lt;br /&gt;قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Katakanlah : Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai al-Asmaul Husna. (QS al-Israa : 110)&lt;br /&gt;Oleh karena ini ketika dengan sombongnya, Musailamah al Kadzdzab menyebut dirinya dengan sebutan Rahman al Yamamah, maka Allahpun memakaikan padanya pakaian kebohongan dan membongkarnya, sehingga ia tidak dipanggil melainkan dengan sebutan Musailamah al-Kadzdzab.&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai { الرَّحِيمِ}Allah Ta’ala pernah meyebutkan kata itu untuk selain diri-Nya. Dalam firman-Nya Allah menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangan menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Aman belas kasihan lagi penyanyang terhadap orang-orang mu’min. (QS at Taubah : 128)&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa diantara nama-nama Allah itu ada yang disebutkan untuk selain diri-Nya, tetapi ada juga yang tidak disebutkan unutk selain diri-Nya, misalnya nama Allah, ar Rahman, al Kholiq, ar Razaq dan lain-lainnya. Oleh karena itu Dia memulai dengan nama Allah dan meyifati-Nya dengan ar Rahman, karena ar Rahman itu lebih khusu daripada ar Rahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IsyaAllah bersambung : Tafsir Surah al Fatihah ayat 2  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam (QS. Al-Fatihah :2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an as-sab’ah (tujuh ahli qiro’ah) membacanya dengan memberi harakat dhommah pada huruf dal padal kalimat alhamdulillah, yang merupakan mubtada (subjetk) dan khabar (predikat).&lt;br /&gt;Abu Ja’far bin Jarir mengatakan : al-hamdulillah berarti syukur kepada Allah Subhana wata’ala dan bukan kepada sesembahan selanin-Nya, bukan juga kepada mahluk yang telah diciptakannya, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya, dan tidak seorang pun selain Dia yang mengetahui jumlahnya. Berupa kemudahan berbagai sarana untuk menta’ati-Nya dan anugerah kekuatan fisik agar dapat menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya. Selain itu, pemberian rizki kepada mereka di dunia serta pelimpahan berbagai nikmat dalam kehidupan yang sama sekali mereka tidak memiliki hak atas hal itu, juga sebagai peringatan dan seruan kepada mereka akan sebab-sebab yang dapat membawa kepada kelanggengan hidup di surga tempat segala kenikmatan abadi. Hanya bagi Allah segala puji baik di awal maupun di akhir.&lt;br /&gt;Ibu Jarir mengatakan “Alhamdulillan merupakan pujian yang disampaikan Allah untuk diri-Nya. Didalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamban-Nya agar mereka memuji-Nya. Seolah-olah Dia mengatakan “Ucapkanlah, Alhamdulillah”.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Ibnu Jarir menyebutkan “Telah dikenal dikalangan para ulama muta-akhhirin, bahwa al-Hamdu adalah pujian melalui ucapan kepada yang berhak mendapatkan pujian disertai penyebutan segala sifat-sifat baik yang berkenaan dengan dirinya maupun berkenaan dengan pihak lain. Adapun Asy Syakru tiada lain kecuali dilakukan terhadap sifat-sifat yang berkenaan dengan selainnya, yang disampaikan melalui hati, lisan, dan anggota badan.&lt;br /&gt;Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai mana yang lebih umum, alhamdu atau asy-syukru. Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Dan setelah diteliti antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. Alhamdu  lebih umum dari pada asy-syukru, karena terjadi pada sifat-sifat yang berkenaan dengan diri sendiri dan juga pihak lain, misalnya anda katakana: “Aku memuji-Nya (Al-hamdu) karena sifatnya yang kestaria dan karena kedermawanannya. Tetapi juga lebih khusus, karena hanya bisa diungkapkan melalui ucapan, perbuatan dan juga niata. Tetapi lebih khusus, karena tidak bisa dikatakan bahwa aku berterimakasih kepadanya atas sifatanya yang kesatria, namun bisa dikatakan aku berterimakasih kepadanya atas kedermawanan dan kebaikannya kepadaku.&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari al Aswad bin Sari’, beliau berkata: :Aku bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam: Ya Rasulullah, maukah engkau aku bacakan puji-pujian yang dengannya aku memuji Rabb-ku, Allah Tabaarakta wa ta’ala, maka beliau bersabda: Tentu saja, sesungguhnya Rabb-mu menyukain pujian (al-hamdu).” (HR Imam Ahmad dan an-Nasai-i)&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu ‘Isa, at Tirmidzi, an Nasai dan Ibnu majah dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baiknya dzikir adalah kalimat “Laa ilaha illallaah, dan sebaik-baiknya do’a adalah Al Hamdulillah.”&lt;br /&gt;Menurut at-Tirmidzi, hadist ini hasan gharib. Dan diriwayatkan oleh Ibnu majah dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah shalallahi ‘alahi wasallam “Allah tidak menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan “Alhamdulillah, melainkan apa yang diberikan-Nya itu lebih baik dari pada yang diambil-Nya.”&lt;br /&gt;“Alif” dan “Lam” pada kata “alhamdu” dimaksudkan unutk melengkapi bahwa segala macam jenis dan bentuk pujian itu hanya untuk Allah semata.&lt;br /&gt;“Ar- Rabbi” adalah pemilik, penguasa dan pengendali. Menurut bahasa, kata Rabb ditujukan kepada tuan dan kepada yang berbuat untuk perbaikan, semuanya itu benear bagi Allah Ta’ala. Kata ar-Rabb tidak digunakan untuk selain dari Allah kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya “Rabbud Daari” (pemilik rumah). Sedangkan kata ar-Rabb secara mutlak hanya boleh digunakan untuk Allah Subhana wa Ta’ala.&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan bahwa ar-Rabb itu merupakan nama yang agung, sedangkan “Al ‘Alamiin” adalah bentuk jamak dari kata “’Alimuun” yang berarti segala sesuatu selain Allah. “ Lafazh “’Alamun” merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki mufrad (bentuk tunggal) dari kata itu. Sedangkan misalnya “al-‘Awaalimu” berarti berbagai macam makhluk yang ada dilangit, bumi, daratan maupun laiutan.&lt;br /&gt;Bisyr bin ‘Imarah meriwayatkan dari Abu Rauq dari Adh Dhahak, dari Ibnu Abbas: “Alhamdulillahi robbail ‘alamiin” artinya segala puji bagi Allah pemilik seluruh yang ada di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.&lt;br /&gt;Az-Zajjaj mengatakan : “al-‘aalamu” berarti semua yang diciptakan oleh Allah di dunia dan di akhirat. Sedangkan Al Qurtubi mengatakan: “Apa yang dikatakan az-Zajjaj itulah yang benar, karena mencakup seluruh alam (dunia dan Akhirat)&lt;br /&gt;Menurut penulis (ibnu Katsir) “al-‘aalamu” berasal dari kata “al-alaa matu” karena alam merupakan bukti yang menunjukan adanya Pencipta serta ke-Esa-an-Nya. Sebagaimana Ibmu al Mu’taz pernah mengatakan :”Seungguh mengherankan, bagaimana mungkin seorang bisa mendurhakai Rabb, atau mengingkari-Nya, padahal dalam setiap segala sesuatu terdapat untuk-Nya yang menunjukan bahwa Dia adalah Esa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ&lt;br /&gt;Arrahmaanirr rahiim (QS 1: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }: mengenai pembahasannya telah dikemukakan dalam pembahasan basmalah, sehingga tidak perlu diulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qurtubhi mengatakan : “Allah menyifati diri-Nya dengan ar-Rahman ar-Rahim setelah Rabbul ‘alamin, untuk meyelingi anjuran (targhib) sesudah peringatan (tarhib), sebagaimana yang di Firmankan-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa  sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr : 49-50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Firman Allah lainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya Rabb-mu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-An’aam : 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Al Qurtubhi menjelaskan : ar-Rabb merupakan peringatan, sedangkan ar-Rahman ar-Rahim merupakan anjuran. Dalam Shahih Muslim, disebutkan hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Sholallahu ‘alahi wasallam, bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال رسول الله صلى الله عليه وسلم " لو يعلم المؤمن ما عند الله من العقوبة ما طمع في جنته أحد ولو يعلم الكافر ما عند الله من الرحمة ما قنط من رحمته أحد "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada pada sisi Allah, niscaya tidak seorangpun yang bersemangat untuk meraih surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada seorang pun yang berputus asa untuk mendapatkan rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Menguasi Hari Pembalasan (QS. 1:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian qurra’a membaca “مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ” dengan meniadakan alif huruf mim. Sementara sebagian qurra’a lainnya membaca dengan menggunakan alif setelah mim menjadi “مَالِكِ”. Kedua bacaan itu benar dan mutawatir dalam qira’ah sab’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“مَالِكِ  ” berasala dari kata “al-mulku/kepemilikan”, sebagaimana firman-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الأرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami lah mereka dikembalikan. {QS. Maryam : 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan “Malikun” berasal dari kata “al-mulku” sebagaimana firman-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ&lt;br /&gt;"Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. [al- Mu’min : 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkusan kerajaan pada hari pembalasan tersebut tidak menafikan kekuasaan Allah atas kerajaan yang lain. (kerajaan Dunia), karena telah disampaikan sebelumnya bahwa Dia Rabb semesta alam. Dan kekuasaan-Nya ini bersifat umum di dunia maupun di akhirat. Ditambahkan kata “yaumid din” (hari pembalasan), kaena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-ngaku sesuatu dan tidak juga dapat berbicara kecuali dengan seidzin-Nya, sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلائِكَةُ صَفًّا لا يَتَكَلَّمُونَ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. [an-Naba: 38]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pembalasan berarti hari perhitungan bagi semua makhluk, disebut juga hari kiamat. Mereka diberi balasan sesuai dengan amalnya. Jika amalnya baik maka balasannyapun baik, jika amalnya buruk, maka balasannyapun buruk kecuali bagi yang diampuni.&lt;br /&gt;Pada hakikatnya “al-Malik” adalah nama Allah sebagaimana firman-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ&lt;br /&gt;Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera. [al-Hasyr : 23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sahih Bukhori dan Sahih Muslim, diriwayatkan, hadist marfu’ dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Julukan yang paling hina disisi Allah adalah seorang yang menjuluki didrinya malikul Amlak (Raja-diraja), karena tidak ada Raja (Malik) yang sebenarnya kecuali Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam kitab yang sama juga dari Abu Hurairah, ra, rasulullah sholallahu ‘alahi wasalam, bersabda : “Allah [pada hari kiamat] akan menggemgam bumi dan melipat langit dengan tangan-Nya, lalu berfirman : “akulah Raya (yang sebenarnya), dimankah raja-raja bumi, dimanakan mereka yang merasa perkasa itu, dan dimana orang-orang yang sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di dalam al Qur’an disebutkan&lt;br /&gt;لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. [al-Mu’min : 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penyebutan malik selain kepada-Nya di dunia hanyalah secara majaz (kiasan) saja, tidak pada hakikatnya sebagaiman Allah pernah mengemukakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". [al-Baqarah: 247]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kata “ad-diin” dalam lafazh “Maalikiyauminddin” berarti ari pembalasan atau perhitungan. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, [an-Nur : 25], dan juga Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَئِنَّا لَمَدِينُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" [ash-Shaafaat: 53]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda : “ orang yang cerdik adalah yang mau mengoreksi dirinya dan berbuata untuk (kehidupan) setelah kematian.”  (HR Tarmidzi dalam kitab al-Qiyamah, dan ia meng-hasankannya. Juga Ibnu majah dalam Kitab az-Zuhud dan Ahmad dalam Al Musnad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : ia akan senantiasa menghitung-hitung dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar bin Khattab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا وَتَأَهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَر عَلَى مَنْ لَا تَخْفَى عَلَيْهِ أَعْمَالُكُمْ . " يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَة "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hisablah diri kalian sebelum kalian di hisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan bersiaplah menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya (amal seseorang), sementara semua amal kalian tidan tersembunyi dari-Nya.  Allah berfirman : Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada rabb kalian), tiada sesatupun dari keadaaan kalian yang tersembunyi (bagi-Nya).” [QS. Al- Ahaqqa: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (QS. 1 : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli qiraa’at sab’ah dan jumhurul ‘ulama membacanya dengan memberikan tasydid pada huruf ya’ pada kata “إِيَّاكَ”. Sedangkan kata “نَسْتَعِينُ” dibaca dengan memfathahkan huruf “nun” yang pertama. Menururt bahasa, kata ibadah berarti tunduk dan patuh. Sedangkan menurut syari’at, ibadah berarti ungkapan dari kesempurnaan cinta, ketundukan dan ketakutan.&lt;br /&gt;Didahulukan maf’ul (objek) yaitu kata “iyyaka”, dan setelah itu diulangi lagi, adalah merupakan tujuan mendapatkan perhartiam dan juga sebagai pembatasan. Artinya “ Kami tidak beribadah keculai kepada-Mu., dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu. Dan inilah puncak kesempurnaan keta’atan. Dan agama itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna diatas.&lt;br /&gt;Yang demikian itu seperti kata sebagaian ‘ulama terdahulu, bahwa surat al-Fatihah adalah Rahasia Al Qur’an, dan rahasia al-Fatihah terletak pada ayat :&lt;br /&gt;{ِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} artinya “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.&lt;br /&gt;Pengalan pertama, yakni “Hanya kepada-Mu kami beribdahah” merupakan pernyataan berlepas dari kemusrikan, sedangkan pada pengalan kedua, yaitu “Hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan” merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekuatan serta meyerahkan urusannya hanya kepada Allah Subhana wata’ala saja.&lt;br /&gt;Makana seperti ini tidak hanya terdapat dalam satu ayat al-Qur’an saja, seperti firman-Nya :&lt;br /&gt;فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan” (Qs. Hud 123)&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut terjadi perubahan bentuk dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhatha (orang kedua, lawan bicara) yang ditandai dengan huruf {كَ} padakata “iyyaka”. Yang demikian itu memang sejalan karena ketika seorang hamba memuji kepada Allah, maka seolah-olah ia merasa dekat dan hadir dihadapannya. Oleh karena itu Allah berfirman&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);font-size:130%;" &gt;إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (QS. 1 : 5)&lt;br /&gt;Ini merupakan dalil yang menunjukan bahwa awal-awal surat al-Fatihah merupakan pemberitahuan dari Allah yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagi sifat-Nya yang Agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut.&lt;br /&gt;Dalam Sahih Muslim, diriwayatkan dari al-‘Ala bin Abdurrahman, dari ayahnya dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَقُول اللَّه تَعَالَى قَسَمْت الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ فَنِصْفهَا لِي وَنِصْفهَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ إِذَا قَالَ الْعَبْد " الْحَمْد لِلَّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ " قَالَ اللَّه حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ " الرَّحْمَن الرَّحِيم " قَالَ اللَّه أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ : " مَالِك يَوْم الدِّين" قَالَ اللَّه مَجَّدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ " إِيَّاكَ نَعْبُد وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين " قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ " اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيم صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْت عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ " قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang di minta. Jika ia mengucapkan “segala puji bagi Allah, Rabb semesta Alam”, maka Allah berfirman “ Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Dan jika ia mengucapkan “maha Pemurah lagi Maha Penyanyang” maka Allah berfirman :”Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Jika ia mengucapkan “Yang menguasai Hari pembalasan” maka Allah berfirman “Hamba-ku telah memuliakan-Ku”. Jika ia mengucapkan “hanya kepada Engaku kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan” maka Allah berfirman “Inilah bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta. Dan jika Ia mengucapkan “Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesata, maka Allah berfirman “Ini unutk hamba-Ku dan bagi hamba-ku  pula apa yang ia minta.”&lt;br /&gt;{Iyyakana’budu}didahulukan dari {wa-iyyakanasta’in}, karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan, sedangkan permohonan pertolongan hanya merupakan sarana untuk beribadah. Yang terpenting lebih didahulukan dari pada yang sekedar penting. Jika ditanyakan : Lalu apa makna huruf (nun - نَعْبُدُ-) pada firman Allah&lt;br /&gt;{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}&lt;br /&gt;Jika huruf (nun) itu dimaksudkan sebagai bentuk jamak, padahal orang yang mengucapkan itu hanya satu orang, dan jika untuk pengagungan, maka yang demikian itu tidak sesuai dengan kondisi?&lt;br /&gt;Pertanyan diatas dapat dijawab : Bahwa  yang dimaksudkan dengan nun (NA’budu/Kami beribadah) itu adalah untuk memberitahukan mengenai jenis hamba dan orang yang shalat merupakan salah satu darinya, apalagi jika orang-orang melakukannya secara berjama’ah, atau imam dalam shalat, memberitahukan tentang dirinya sendiri dan juga saudara-saudaranya yang berimana tentang “ibdah” yang untuk tujuan inilah mereka diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 0);"&gt;اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. 1: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قِرَاءَة الْجُمْهُور بِالصَّادِ وَقُرِئَ السِّرَاط وَقُرِئَ بِالزَّايِ قَالَ الْفَرَّاء وَهِيَ لُغَة بَنِي عُذْرَة وَبَنِي كَلْب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumhur Ulama membacanya dengan memakai huruf “shod” {ص}. Adapula yang membacanya dengan huruf “syin” {س}= ( السِّرَاط), serta ada juga membacanya dengan huruf “za” {ز}. Al-Farra’ mengatakan : Bacaaan ini merupakan bahasa Bani ‘udzrah dan Bani Kalb.&lt;br /&gt;Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Subhana wa Ta’ala dan hanya kepada-Nya permohonan ditjukan, maka layaklah jika hal itu diukitu dengan permintaan. Sebagaimana firman-nya :”Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya unutk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.&lt;br /&gt;Yang demikian itu merupakan keadaan yang amat sempurna bagi seorang yang mengajukaan permintaan. Pertama ia memuja rabb yang akan ia minta, kemudian memohonkan keperluanyya sendiri dan keperluan saudara-saudaranya dari kalangan orang-orang yang berimana, melalui ucapannya { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} (Tunjukilah kami jalan yang lurus)&lt;br /&gt;Karena yan demikian itu lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat dikanulkan. Untuk itu Allah Tabaraka wa Ta’ala membimbing kita agar senantiasa melakukannya, sebab yang demikian itu lebih sempurna.&lt;br /&gt;Permohonan juga dapat diajukan dengan cara memberitahukan keadaan dan kebutuhan orang yang mengajukan permintaan tersebut, sebagaimana yang diucapkan Musa ‘alaihi sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ&lt;br /&gt;"Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". (al-Qashash : 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan itu bisa didahului dengan meyebut sifat-sifat siapa yang akan diminta, seperti ucapan Dzun dan Nun (nabi Yunus ‘alaihi sallam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (al-Anbiyya : 87)&lt;br /&gt;Kata hidayah pada ayat ini berarti bimbingan dan taufik. Terkadang kata hidayah (mya’addi/transitif)  dengan sendirinya (tanpa huruf lain yang berfungsi sebagai pelengkapnya), seperti pada firman Allah Subhaana wa Ta’ala { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}, dalam ayat ini terkandung makna berikanlah ilham kepada kami, berikanlah taufik kepada kami, berikanlah rizki kepada kami atau berikanlah anugerah kepada kami.&lt;br /&gt;Sebagaimana yang ada pada firman Allah&lt;br /&gt;وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS al-Balad : 10) artinya Kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Selain itu dapat juga menjadi muta’addi dengan memakai kata “’ila”, sebagaimana firman Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. “ (an-Nahl : 121)&lt;br /&gt;Maka hidayah dalam ayat diatas ialah dengan pengertian bimbingan dan petunjuk. Demikian juga dengan firman-Nya&lt;br /&gt;وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya kamu (Muhammad Shalalallahu ‘alahi wasallam) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura’: 52)&lt;br /&gt;Terkadang kata hidayah menjadi mu’addi dengan memakai kata “li” sebagaimana yang diucapkan oleh para penghuni surga {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا } “"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini” (QS: al-A’raf: 43), yakni Allah memberikan taufik kepada kami unutk memperoleh surga ini dan Dia janjikan kami sebagai penghuninya.&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai firman Allah { الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ }, Imam Abu ja’far bin Jariri mengatakan bahwa ahli tafsir secara keseluruhan sepakat bahwa “Shirathal mustaqim” adalah jalan yang terang dan lurus.&lt;br /&gt;Kemudian terjadi perbedaaan penafsiran dikalangan mufaasir dari kalangan ulama salaf dan khalaf dalam menafsirkan kata shirath, meskipun pada prinsipnya kembali kepada satu makna, yakni mengikuti Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Jika ditanyakan : “Mengapa seorang mu’min memohon hidayah pada setiap saat, baik pada waktu mengerjakan shalat maupun diluar shalat, padahal ia sendiri menyandang sifat itu. Apakah yang demikian itu termasuk memperoleh sesuatu yang sudah ada?&lt;br /&gt;Jawabnya adalah tidak. Kalau bukan karena dia perlu memohon hidayah siang dan malam hari, niscaya Allah tidak akan membimbing kearah itu, sebab seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah setiap saat dan situasi agar diberikan keteguhan, kemantapan, penambahan dan kelangsungan hidayah, karena ia tidak kuasa memberikan manfaat atau mudharat kepada dirinya sendiri kcuali Allah menghendaki.&lt;br /&gt;Oleh karena itu Allah selalu membimbingnya agar ia senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat dan supaya Dia memberikan pertolongan, keteguhahn dan taufik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);font-size:130%;" class="fullpost" &gt;صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (al-Baqarah : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَوْله تَعَالَى : " صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْت عَلَيْهِمْ " مُفَسِّر لِلصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم وَهُوَ بَدَل مِنْهُ عِنْد النُّحَاة وَيَجُوز أَنْ يَكُون عَطْف بَيَان وَاَللَّه أَعْلَم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta’ala yaitu { صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ}adalah sebagai tafsir dari firman-Nya (Shiratal Mustaqim/jalan yang lurus), dan merupakan badal  menurut para ahli nahwu dan boleh juga sebagai athaf bayan . Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah itu adalah orang-orang yang  tersebut dalam surat an-Nissa, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا  (69)ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا  (70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (an-Nissa : 69-70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ)  artinya bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (al-Baqarah : 7), jumhur ulama membaca “ghoiri” dengan memberikan kasrah pada huruf ra’ dan kedudukannya sebagai na’at (sifat).&lt;br /&gt;Maka ayat ke-7 dari surat ini memiliki makna tunjukilah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engaku karunia nikmat kepadanya, yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqomah, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya. Bukan jalan orang-orang ynag mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak sehingga meskipun mereka mengetahu kebenaran, namun menyimpang darinya. Bukan juga jalan 0rang0rang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.&lt;br /&gt;http://alhikmah.web.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-9070290977529622787?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/Idtm0_j5oA8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/9070290977529622787/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=9070290977529622787" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/9070290977529622787?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/9070290977529622787?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/Idtm0_j5oA8/tafsir-surah-al-fatihah.html" title="Tafsir Surah Al Fatihah" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-CcCtX6Bfvt8/TyP_aKP6xrI/AAAAAAAAEyk/cqmcxVahubc/s72-c/alfatihah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/tafsir-surah-al-fatihah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkEAQnw-eyp7ImA9WhRUF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-3414722598980089489</id><published>2012-01-28T05:43:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T05:50:43.253-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-28T05:50:43.253-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo Sufi" /><title>Sebutir Delima untuk Satu Pertanyaan</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-j1_v7u3FctY/TyP8Ht1qS6I/AAAAAAAAEyY/vchLwG_zxpA/s1600/NAS1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 235px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-j1_v7u3FctY/TyP8Ht1qS6I/AAAAAAAAEyY/vchLwG_zxpA/s400/NAS1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702678762675129250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Kisah Nashruddin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelajar mendapatkan kesulitan mengenai beberapa persoalan dalam pelajarannya.&lt;br /&gt;Dia sudah bertanya kepada beberapa orang ulama, tetapi tak seorang pun di antara mereka yang dapat menjawabnya. Mereka malah berkata padanya, "Satu-satunya orang yang dapat menyelesaikan seluruh pertanyaanmu itu adalah Syaikh Nashruddin yang tinggal di kota Aq Syahr."&lt;br /&gt;Pelajar tersebut lalu pergi ke kota tempattinggal Nashruddin. Sesaat sebelum tiba di&lt;br /&gt;rumah Syaikh Nashruddin, dia berjumpa dengan seorang pria tua, mengenakan jubah dan sorban, sedang asyik membajak sawah. Pelajar itu mendekati dan berbincang-bincang dengannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak tahu kalau orang tua itu adalah Syaikh Nashruddin yang sedang dicarinya.&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan kata-katanya yang sarat ilmu dan kesantunan, pelajar tersebut yakin bahwa orang yang sedang diajaknya bicara adalah seorang yang cerdas dan bijak. Karena itu, dia mulai menanyakan tentang masalah yang sulit dipahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Nashruddin melihat sebuah bungkusan kain berisi buah delima yang dibawa&lt;br /&gt;pelajar itu. Nashruddin pun berkata padanya, "Beri aku sebutir delima untuk setiap pertanyaan, maka aku akan menjawab seluruh pertanyaanmu itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara itu, sang pelajar menanyakan seluruh kesulitan yang dihadapinya pada&lt;br /&gt;Nashruddin. Setiapkali menjawab pertanyaan yang diajukan, Nashruddin menerima sebutirdelima. Sampai akhirnya, delima yang ada di dalam bungkusan itu pun habis.&lt;br /&gt;Kemudian, pelajar itu berkata, "Saya masih memiliki satu pertanyaan lagi."Nashruddin pun menjawab, "Tapi buah delimamu sudah habis.&lt;br /&gt;Jadi, pergilah dari sini."Nashruddin pun kembali membajak sawahnya. Sementara, pelajar itu beranjak pulang sembari bergumam, "Jika para petani negeri ini begitu pandai, apalagi para ulamanya..."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-3414722598980089489?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/NoUPuXwGzfg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/3414722598980089489/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=3414722598980089489" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3414722598980089489?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3414722598980089489?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/NoUPuXwGzfg/sebutir-delima-untuk-satu-pertanyaan.html" title="Sebutir Delima untuk Satu Pertanyaan" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-j1_v7u3FctY/TyP8Ht1qS6I/AAAAAAAAEyY/vchLwG_zxpA/s72-c/NAS1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/sebutir-delima-untuk-satu-pertanyaan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcCR34_fCp7ImA9WhRUF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-7441354348518210976</id><published>2012-01-28T05:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T05:41:06.044-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-28T05:41:06.044-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hadits Arba'in" /><title>Sufi Road : Hadits  Arba'in (12)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;HADITS KEDUABELAS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-KebNYVTeq0I/TyP6REAwIMI/AAAAAAAAEyM/xjz6gA_xJVI/s1600/arbain12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 105px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-KebNYVTeq0I/TyP6REAwIMI/AAAAAAAAEyM/xjz6gA_xJVI/s400/arbain12.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5702676724222795970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terjemah hadits:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 153);"&gt;Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 153);"&gt;Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 153);"&gt;(Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran:&lt;br /&gt;1. Termasuk sifat-sifat orang muslim adalah dia  menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia serta menjauhkan perkara yang hina danrendah.&lt;br /&gt;2. Pendidikan bagi diri dan perawatannya dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di dalamnya.&lt;br /&gt;3. Menyibukkkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah kesia-siaan dan merupakan pertanda kelemahan iman.&lt;br /&gt;4. Anjuran untuk memanfaatkan waktu dengan sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri bagi dunia maupun akhirat.&lt;br /&gt;5. Ikut campur terhadap sesuatu yang bukan urusannya dapat mengakibatkan kepada&lt;br /&gt;perpecahan dan pertikaian di antara manusia.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-7441354348518210976?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/E5aTHnfCmBQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/7441354348518210976/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=7441354348518210976" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7441354348518210976?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7441354348518210976?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/E5aTHnfCmBQ/sufi-road-hadits-arbain-12.html" title="Sufi Road : Hadits  Arba'in (12)" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-KebNYVTeq0I/TyP6REAwIMI/AAAAAAAAEyM/xjz6gA_xJVI/s72-c/arbain12.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/sufi-road-hadits-arbain-12.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMDRns_eyp7ImA9WhRUFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8503764223603215076</id><published>2012-01-25T19:58:00.000-08:00</published><updated>2012-01-25T20:01:17.543-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-25T20:01:17.543-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo Sufi" /><title>Kisah Sufi : Emas Keberuntungan</title><content type="html">&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YRPrkSpQywc/TyDPsANcb4I/AAAAAAAAEyA/wmf7vMxjZ8Y/s1600/emas-ilustrasi-_120117222354-430.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 282px; FLOAT: left; HEIGHT: 216px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701785483128631170" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-YRPrkSpQywc/TyDPsANcb4I/AAAAAAAAEyA/wmf7vMxjZ8Y/s320/emas-ilustrasi-_120117222354-430.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; Konon hiduplah seorang saudagar bernama Abdul Malik. Ia dikenal sebagai orang baik dari Khurasan karena menggunakan kekayaannya yang berlimpah untuk berderma dan mengundang orang-orang miskin untuk makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada suatu hari, ia begitu saja memberikan sebagian besar hartanya, dan merasakan kelegaan yang jauh lebih nikmat dibandingkan ketika ia memberi hanya sebagian kecil dari segala kepunyaannya. Kelegaan itu membuatnya memutuskan untuk mendedikasikan tiap sen miliknya demi kesejahteraan umat manusia. Dan ia melakukan keputusannya itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah membebaskan hatinya dari segala kekayaan duniawi—dan berserah diri pada takdir kehidupannya—dan ketika sedang shalat, Abdul Malik melihat sosok gaib muncul dari lantai kamarnya. Sosok itu ternyata seorang lelaki; jubah perca di tubuhnya jelas jubah seorang darwis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Abdul Malik, manusia murah hati dari Khurasan!" sapa sosok itu. "Aku adalah dirimu sendiri, yang sekarang ini hampir nyata bagimu karena engkau telah berbuat kebajikan yang sungguh mulia. Oleh karena itu, semua laku baikmu di masa lalu jadi tampak kerdil. Dan karena engkau mampu melepaskan dirimu dari kekayaan tanpa merasa dirimu hebat, aku menganugerahkanmu sumber anugerah yang sejati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap hari dengan cara ini aku akan muncul di depanmu. Saat itu pukullah aku, dan aku akan berubah menjadi emas. Ambillah emas itu sebanyak yang engkau mau. Tak usah khawatir engkau menyakitiku, sebab yang kau ambil akan diganti dari sumber segala anugerah." Setelah berkata demikian, sosok itu pun lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Abdul Malik sedang duduk-duduk bersama seorang teman, Bay-Akal, ketika hantu darwis itu mulai menunjukkan diri. Hantu itu pun jatuh ke tanah ketika dipukul oleh Abdul Malik dengan tongkat, dan berubah jadi emas. Abdul Malik mengambil bagiannya dan memberikan emas itu juga untuk tamunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Bay-Akal, tanpa mengerti kejadian sebelumnya, mulai berpikir alangkah baiknya bila ia dapat melakukan keajaiban serupa. Ia mengetahui bahwa kaum darwis punya kekuatan tertentu dan menyimpulkan bahwa ia pun hanya perlu memukul mereka untuk mendapatkan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, diadakanlah sebuah pesta lalu diundangnya semua darwis untuk hadir dan bersantap. Ketika mereka sudah makan kenyang, Bay-Akal pun mengeluarkan sebilah besi dan dengan tanpa ampun dihantamnya setiap darwis di dekatnya hingga mereka tersungkur di tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang suci yang luput segera menangkap Bay-Akal dan membawanya kepada hakim. Mereka mengadukannya bersama para darwis yang luka sebagai bukti. Bay-Akal pun bercerita tentang kejadian di rumah Abdul Malik dan ia hanya mencoba menirukan mukjizat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dipanggillah Abdul Malik. Dan dalam perjalanan ke pengadilan, sosok emas itu membisikkan kepadanya apa yang harus ia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah pernyataan saya," kata Abdul Malik. "Menurut saya, orang ini sudah tidak waras, atau sedang berusaha menutup-nutupi hobinya menyiksa orang tanpa alasan. Memang saya mengenalnya, tetapi yang ia ceritakan tentang kejadian di rumah saya tidak lebih dari akal-akalannya belaka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bay-Akal pun dimasukkan ke rumah sakit jiwa sampai ia menjadi lebih tenang. Para darwis yang luka sudah sehat kembali melalui ilmu pengobatan yang mereka miliki. Dan tak ada yang percaya bahwa peristiwa menakjubkan seperti seorang manusia berubah menjadi patung emas—setiap hari demikian—bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berpuluh-puluh tahun kemudian, hingga ia dikumpulkan bersama para para leluhurnya, Abdul Malik terus memecahkan patung emas yang adalah dirinya. Dan membagi-bagikan harta itu—yang adalah dirinya—kepada siapa saja yang tak dapat ia tolong dengan cara lain kecuali dengan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pendapat bahwa para pendeta menyampaikan ajaran moral dengan memakai perumpamaan, tetapi kaum darwis mampu menyamarkan pengajaran mereka secara lebih sempurna. Sebab, hanya melalui usaha untuk mengerti dan kecerdikan seorang gurulah yang sungguh-sungguh mampu memengaruhi pendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini lebih condong pada bentuk perumpamaan daripada kebanyakan kisah sejenis. Namun, sang darwis yang menceritakannya di sebuah pasar di Peshawar pada awal tahun 1950-an menasihati, "Pusatkan perhatian pada bagian awal cerita, bukan pada pesan moralnya. Itu menunjukkan padamu tentang metode."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Republika&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-8503764223603215076?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/Hjcnss2QrF4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8503764223603215076/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8503764223603215076" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8503764223603215076?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8503764223603215076?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/Hjcnss2QrF4/kisah-sufi-emas-keberuntungan.html" title="Kisah Sufi : Emas Keberuntungan" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-YRPrkSpQywc/TyDPsANcb4I/AAAAAAAAEyA/wmf7vMxjZ8Y/s72-c/emas-ilustrasi-_120117222354-430.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/kisah-sufi-emas-keberuntungan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0AMQnk_fip7ImA9WhRUE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4414290838366853188</id><published>2012-01-23T22:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-23T22:16:23.746-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-23T22:16:23.746-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sufi Word" /><title>Tarekat Naqsyabandiyah di India</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-czyMZOPzKwU/TxEpQYTcBwI/AAAAAAAAEtY/7xOxjt-z9Qg/s1600/sultanakbar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 173px; height: 234px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-czyMZOPzKwU/TxEpQYTcBwI/AAAAAAAAEtY/7xOxjt-z9Qg/s320/sultanakbar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697380364979013378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tarekat Naqsyabandiyah masuk ke India dibawa oleh Sayyidi Syaikh Muaiyiduddin Muhammad Baqi Billah qs. dan dilanjutkan oleh Sayyidi Syaikh Akhmad Faruqi Sirhindi Q.S. yang lahir di Sirhindi, kini negara bagian Punjab, sebelah barat New Delhi pada Jum’at, 4 Syawal 971 H atau 26 Mei 1564.  &lt;br /&gt;Disebut al-Faruqi karena beliau memiliki garis keturunan yang bersambung sampai kepada Khalifah Umar. Tarekat Naqsyabandiyah betul-betul telah tumbuh dan berkembang di India sebelum Syaikh M. Baqi Billah wafat pada 1603 M. Penerusnya, Syaikh Akhmad, sangat yakin akan tugas besarnya dalam memainkan peranan menumbuhkan kehidupan keagamaan di masanya. Berkat bimbingan dan dorongan Syaikh M. Baqi Billah, Syaikh Akhmad sadar akan tugas-tugas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau diperkenalkan dengan seorang yang memegang posisi penting dalam pemerintahan Kerajaan Mughal - seorang jenderal yang juga murid Syaikh M. Baqi Billah, yakni Syaikh Farid Murtadha Khan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bidang administrasi dan militer merupakan aspek karir Syaikh Farid yang menonjol. Loyalitasnya kepada negara dan kedermawanannya dalam kualitas yang baik sekali. Syaikh Farid juga mendapat penghormatan dan penghargaan dari para ulama dan pembaharu karena keberanian, ketulusan dan keikhlasannya. Dia memperoleh posisi baik dalam pemerintahan Sultan Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Syaikh Farid inilah sebagian besar surat-surat Syaikh Ahmad ditujukan; mengingatkan bahwa keadaan Islam di India telah merosot dan menjadi tugas mereka untuk menegakkan kembali. Beliau ingatkan pula bahwa figur Nabi Muhammad saw. merupakan panutan terbaik. Dalam sebuah surat yang lain, tidak lama setelah Khwaja Baqi Billah berpulang, dia berterima kasih kepada Syaikh Farid karena telah menyediakan sesuatu untuk mereka yang berdiam di khanaqah Khwaja. Hal ini membuktikan bahwa Syaikh Farid menyokong gerakan pembaharuan secara moril dan materiil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh ajaran Syaikh Ahmad termaktub dalam surat-suratnya yang terdiri dari 534 buah. Kemudian surat-suratnya itu dikumpulkan menjadi magnum opus dari seluruh karyanya berjudul al-Maktubat Imam Rabbani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8VxkDWCoo3Q/Tx5MjIHcjMI/AAAAAAAAEx0/TXu3DJc46t4/s1600/india.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 271px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8VxkDWCoo3Q/Tx5MjIHcjMI/AAAAAAAAEx0/TXu3DJc46t4/s400/india.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701078344655473858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, pada masa itu India dibawah kekuasaan Kaisar Mughal Sultan Akbar, dalam masa pemerintahannya ia mencoba menawarkan konsep toleransi antar umat beragama yang disebut Tauhid Ilahi atau lebih populer dengan nama Din-i-Ilahi.  Konsep toleransi yang pada akhirnya terjerumus pada sinkretisme Hindu dan Islam ini, semula dimaksudkan mendamaikan pertikaian panjang antara umat Hindu dan Muslim, sekaligus menampung kepentingan mayoritas Hindu di dalam kekuasaan Mughal. Namun dalam tataran ’akar rumput’, konsep ini telah membawa ’kekisruhan’ bagi masyarakat India saat itu, khususnya antara Muslim dan penganut Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan yang penuh kontroversi antara lain: Sijda (sujud) saat menghadap raja. Boleh meminum anggur jika diijinkan dokter untuk sekadar menguatkan badan. Prostitusi yang dilegalkan dengan melokalisasi di suatu tempat di dalam kota yang dinamakan Shaitanpura atau Desa Syetan. Larangan menyembelih dan memakan daging sapi - termasuk sebagai hewan kurban. Penghapusan jizyah (zakat perlindungan bagi non-Muslim). Di tataran masyarakat mengubah masjid menjadi candi, atau sebaliknya, kerap terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi umat Islam sendiri banyak diwarnai syirik dan bid’ah, terutama disebabkan oleh kontak dengan kepercayaan politeistik yang hidup di India. Tidak jarang umat Islam di India ikut dalam kegiatan peribadatan non-Muslim. Faktor lainnya, bid’ah dan khurafat telah merajalela, terutama disebabkan oleh adanya pengaruh sufi palsu yang bodoh dan sesat. Misalnya, pelaksanaan ritual kurban di makam wali (masyayikh). Para wanita biasanya melakukan puasa dengan niat untuk para guru sufi tertentu, dan untuk itu dilakukan serangkaian ritus. Sebagian besar sufi di masa itu lebih sering larut dalam pesta musik (sama’), tarian spiritual (raqs), serta melebih-lebihkan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Akhmad menyesalkan para ulama masa itu, yang seharusnya menjadi penjaga agama dan menyelamatkan umat dari syirik dan bid’ah, namun diri mereka justru terjerumus dalam praktik-praktik  demikian.  Syaikh Akhmad menentang keras konsep Din-i-Ilahi yang digagas Sultan Akbar. Ia mulai melakukan serangkaian pembelaan bagi kepentingan Islam yang telah dipinggirkan oleh penguasa. Kekhawatiran Syaikh Akhmad adalah dapat tercerabutnya akar tradisi Islam dan lunturnya syariat Islam. Ia mencoba berkorespondensi dengan sejumlah menteri yang dekat dengan Sultan Akbar agar pesannya di dalam surat tersebut disampaikan kepada Sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Besar UIN Sunan Kalijaga - Yogyakarta, Prof. Umar Asasuddin Sokah, MA dalam bukunya Din-i-Ilahi; Kontroversi Keberagamaan Sultan Akbar Agung (India 1560 - 1605), yang diterbitkan Ittaqa Press Yogyakarta (1994), berpendapat : Andaikata kedua pribadi agung itu - Syaikh Farid dan Syaikh Ahmad - tidak ada, mungkin Islam telah lenyap di India dengan meninggalnya Akbar. Mungkin Islam telah lenyap di India dengan meninggalnya Akbar. Mungkin negara Islam Pakistan dan Bangladesh tidak akan pernah ada. Sebab jika Khusru’ anak Jahangir naik tahta, dan jika Syaikh Farid berdiam diri dan tidak mau membai’at Jahangir, tentu negara yang dipimpin oleh Khusru’ akan lebih banyak diwarnai agama Hindu dan Sikh. Untunglah hal itu tidak terjadi. Allahu Akbar!&lt;br /&gt;Misi pemurnian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat Naqsyabandiyah di bawah pimpinan Syaikh Akhmad mempunyai 3 (tiga) misi besar yang harus diselesaikan pada masa hidupnya. Pertama, mengkritik kaum kafir, bid’ah, dan berbagai doktrin yang salah, serta meneguhkan kembali nubuwwah, beriman kepada wahyu dan agama Rasul. Mengutuk kemungkaran, kekafiran, dan kembali mematuhi Sunnah. Menentang kekuatan-kekuatan anti Islam serta menjaga lembaga-lembaga dan hukum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mengklarifikasi propaganda penganut Syi’ah yang mengutuk  dan mempersalahkan para sahabat Rasul yang telah merampas kekuasaan dari tangan Ali yang notabene - dalam perspektif Syiah - adalah pewaris kekuasaan sesudah Nabi SAW wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemurnian ajaran tasawuf dari pengaruh teori wahdat al-wujud. Syaikh Akhmad meyakini bahwa penganut teori tersebut kurang peduli terhadap syariat. Mereka berkeyakinan bahwa syariat hanyalah jalan untuk mencapai kebenaran, tetapi mereka yang sudah mencapai kebenaran itu menganggap tugas-tugas syariat tidak lagi diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Syaikh Akhmad untuk melaksanakan misinya itu tidak pernah berhenti sampai ajal menjemput Sultan Akbar yang kemudian diganti oleh putranya yang bernama asli Salim kemudian setelah menjadi sultan berganti nama Jahangir. Dengan meninggalnya Akbar tanggal 15 Oktober 1605 maka berakhir pulalah Din-i-Ilahi, karena Akbar hanya mengandalkan pengaruh dan contoh-contoh yang diberikannya. Dia tidak mengangkat orang-orang yang akan meneruskan dan mempropagandakan gagasannya itu. Jahangir yang naik tahta pada 21 Oktober 1605 tidak melanjutkan gagasan ayahnya. Akan tetapi sijda masih tetap dipertahankan di kala menghadap raja di istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menarik hati rakyat dia menetapkan suatu dekrit yang berisikan 12 fasal yang masih berhubungan dengan Din-i-Ilahi, seperti larangan pemungutan zakat, larangan penyembelihan binatang-binatang pada hari tertentu, dan penghormatan yang diberikan kepada hari Minggu.&lt;br /&gt;Saat pelantikan Jahangir menjadi sultan, ia memberi gelar -Tuan Pedang dan Pena- kepada Syaikh Farid, dan memerintahkannya untuk mematahkan pemberontakan Pangeran Khusru’ - anak Jahangir sendiri yang ingin menjadi raja.  Misi tersebut berhasil dan Syaikh Farid mendapatkan gelar ’Murtadha Khan’. Sementara Syaikh Akhmad melihat bahwa inilah momentum bagus untuk mengembalikan Islam dan kaum Muslimin kepada ajaran yang sesungguhnya. Namun sejak awal Syaikh Akhmad sebenarnya tidak berharap terlalu banyak hal-hal itu dapat direalisasikan, sekalipun Jahangir pernah berjanji kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar dugaannya, setelah pernikahan Jahangir dengan Nur Jehan, suasana berbalik arah. Syaikh Akhmad dibenci karena ia dianggap pemimpin Sunni. Ajarannya tidak lagi didengar. Bahkan, ia sempat mendekam di penjara karena sebuah fitnah, tetapi akhirnya Jahangir berbaik hati, Syaikh Akhmad dibebaskan setelah setahun mendekam di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Jahangir yang lain, Shah Jahan menggantikannya dan naik tahta pada 6 Pebruari 1628. Apabila Jahangir memperlakukan agama Jain dan Sikh dengan perlakukan yang tidak menunjukkan rasa toleransi, maka Shah Jahan juga menganut paham yang sama, tetapi sasarannya adalah orang-orang Hindu dan tahanan Kristen yang ada di Hugli. Di samping itu dia menghidupkan kembali rasa agama yang mulai padam dengan mengeluarkan beberapa dekrit. Pertama kali dia memperbaiki kalender. Kalender menurut perhitungan matahari dianggap bid’ah, dan karena itu dihentikan. Semua kejadian resmi dan transaksi dicatat menurut tahun qamariah, dan untuk itu era Hijrah diutamakan. Sijda (sujud) yang telah menjadi mode di masa pemerintahan Akbar dan Jahangir dihentikan, sebab dianggap bertentangan dengan syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti sari ajaran Din-i-Ilahi; agar semua rakyat dapat perlakuan yang sama berdasarkan undang-undang keadilan alam (natural justice), tidak digubris oleh Shah Jahan. Di  kala anaknya, Aurangzeb, naik tahta pada 21 Juli 1658, maka dia ternyata lebih ekstrem lagi dari Shah Jahan dalam  membela dan menyebar-luaskan agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban pajak untuk semua bahan komoditi yang dijual ditetapkan 2,5% bagi orang-orang Islam, dan 5% bagiorang Hindu. Kemudian dalam Mei 1667 orang-orang Islam seluruhnya dibebaskan dari pajak seperti itu, dan  negara harus melepaskan banyak pendapatan. Cara lain yang dipergunakan oleh Sultan agar membujuk konversi ke dalam Islam adalah memberikan hadiah-hadiah dan kedudukan-kedudukan bagi orang-orang Hindu yang melepaskan agamanya. Negara menjadi sebuah pranata misionari besar yang perlindungannya meluas kepada orang-orang yang menukar agamanya dan memberikan banyak janji tanpa memandang keuntungan dan efisiensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja, pada 1668, pasar-pasar amal bagi orang-orang Hindu ditutup di seluruh kerajaan. Pada 2 April 1679 jizyah yang telah dibekukan di masa Akbar dicairkan kembali oleh Aurangzeb di seluruh provinsi, dengan tujuan membendung orang-orang kafir dan untuk membedakan tanah orang Islam dan tanah orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Aurangzeb tidak mengindahkan sama sekali ajaran Din-i-Ilahi, yang satu pokok ajarannya ialah, semua agama sama derajatnya. Agama Islam mewarnai politik pemerintahannya, dan sedapat mungkin disesuaikan dengan standar ortodoks Sunni. Itulah sebabnya dia mengambil tindakan-tindakan tersebut di atas. Hal itu adalah berkat adanya Tarekat Naqsyabandiyah yang diperkenalkan oleh Syaikh M. Baqi Billah, dilanjutkan oleh Syaikh Akhmad serta anaknya Syaikh Muhammad Ma’sum Q.S. (silsilah ke-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu terdapat pejabat tinggi yang tidak memihak kepada pembaharuan agama yang diadakan oleh Akbar. Beliau adalah Syaikh Farid, seorang jenderal yang tangguh dari kaum bangsawan. Keistimewaan Tarekat  Naqsyabandiyah yang diperkenalkan oleh Syaikh M. Baqi Billah ini ialah keinginannya untuk memenangkan umat Islam dengan cara mempengaruhi pejabat-pejabat tinggi pemerintahan, baik sipil maupun militer. Sedangkan ulama sebelumnya meremehkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Republika&lt;br /&gt;1.    Din-i-Ilahi; Kontroversi Keberagamaan Sultan Akbar Agung (India 1560 - 1605) Prof. Umar Asasuddin Sokah, MA., Ittaqa Press Yogyakarta (1994)&lt;br /&gt;2.    Ensiklopedi Tasawuf, Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah - Pimpinan Redaksi/Penanggungjawab Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., Penerbit Angkasa Bandung (2008) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-4414290838366853188?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/sSNwau-GTKg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4414290838366853188/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4414290838366853188" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4414290838366853188?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4414290838366853188?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/sSNwau-GTKg/tarekat-naqsyabandiyah-di-india.html" title="Tarekat Naqsyabandiyah di India" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-czyMZOPzKwU/TxEpQYTcBwI/AAAAAAAAEtY/7xOxjt-z9Qg/s72-c/sultanakbar.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/tarekat-naqsyabandiyah-di-india.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QCSXs8fip7ImA9WhRUE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4192670505329639586</id><published>2012-01-23T22:07:00.001-08:00</published><updated>2012-01-23T22:09:28.576-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-23T22:09:28.576-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Kemuliaan</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-PhIiL769VWw/Tx5KssygvcI/AAAAAAAAExo/l5ftmZpSJ9E/s1600/kem.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 210px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-PhIiL769VWw/Tx5KssygvcI/AAAAAAAAExo/l5ftmZpSJ9E/s320/kem.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701076310095347138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);font-size:85%;" &gt;www.sufinews.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51); font-weight: bold;"&gt;Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulthanul Auliya’ Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily mengatakan: Allah Swt. berfirman: “Hanya bagi Allahlah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nyaserta  bagi sekalian orang-orang yang beriman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan orang yang beriman adalah pencegahan Allah terhadap dirinya untuk menghamba kepada hawa nafsu, syetan dan dunia  atau segala yang ada di jagad ini baik yang ghaib maupun yang tampak, baik itu dunia maupun akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang munafik tidak mengerti keagungan kecuali  melalui kausalitas (sebab akibat) serta penyembahan terhadap  tuhan-tuhan yang  banyak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Adakah Tuhan (yang lain) disamping Allah? Maha Luhur Allah  dari apa  yang  mereka sekutukan. Apakah mereka  menyekutukan  melalui (tuhan-tuhan)  yang  tak  bisa mencipta  sesuatu  pun, sedangkan mereka  itu  diciptakan, dan mereka  (tuhan-tuhan) tidak mampu menolong  mereka,  juga menolong diri  mereka  sendiri. Apabila engkau mengajak mereka kepada petunjuk, mereka tidak akan mengikutimu, baik mereka engkau ajak atau engkau diam saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian Sufi berkata, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barang siapa yang menghendaki kemuliaan dunia akhirat maka masuklah dalam mazhab kami ini dalam dua hari.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang bertanya,  “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana caranya  untukku?”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijawab, “Pisahkan berhala-berhala dari hatimu, dan ringankanlah tubuhmu  dari kepentingan duniawi, baru kemudian jadilah  dirimu semaumu. Sebab Allah tak akan meninggalkanmu. Apabila setelah itu ada sesuatu dari dunia yang datang kepadamu, jangan engkau  pan¬dang  dengan mata hasrat kesenangan,  jangan pula  Anda  menyertai dunia  itu dengan  gembira.  Jangan pula Anda duduk bersamanya kecuali dengan kewajiban ilmu dalam mendistribusikan dan menahan¬nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila suatu hari Anda masih mencari duniawi, maka  saksi kanlah  bahwa Allah telah mencarimu dalam pencarianmu pada  dunia itu. Dan engkau sebenarnya dicari melalui pencarian. Kalau engkau keluar  menuju  upaya pencarian dunia melalui jalan  ridha,  maka masuklah  jalan itu. Hati Anda jangan bergantung padanya,  dengan tetap  bergantung  pada  Allah, dan memang  harus  begitu.  Sebab engkau  tidak tahu apakah engkau akan mendapatkannya atau  tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  engkau telah mendapatkannya, engkau tidak tahu apakah  itu milik  Anda  atau milik orang lain? Kalau itu milik  Anda  engkau tidak tahu apakah di dalamnya mengandung  unsur  kebaikan  atau keburukan?  Kalau  itu bukan milik Anda, maka Anda  tidak  berhak mengetahuinya, apakah itu untuk kekasihmu atau musuhmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya:  Bagaimana hati bisa tenang manakala masih  singgah kepada seuatu yang membingungkan yang terilustrasikan dari  semua ini, bahkan  lebih banyak lagi? Karena itu carilah dunia itu, tetapi Anda tetap bergantung kepada-Nya dan memandang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah manakala Anda berhasil, dan bersabar serta ridhalah  jika belum berhasil. Bahkan memuji kepada Allah itu lebih layak indahnya.  Sebab  Allah tidak menghalangimu dari sukses duniawi  itu, karena Allah bakhil. Tidak demikian! Tetapi Allah menghalangimu karena Dia memandang  kepadamu. Artinya, apabila Allah  menghalangimu  dari sukses itu, Allah sebenarnya telah memberi anugerah kepadamu. Namun pemberian anugerah  dalam ketidaksuksesan itu  hanya  dipahami  oleh orang-orang shiddiqun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, apabila  Anda mendapatkan jalan keluar  usaha  dari Allah  melalui  jalan kebencian, yang mengganti pengetahuan (yang benar) atau yang mendekatinya, maka cepat-cepatlah  kembali kepada Allah, larilah kepada-Nya hingga Dia sendiri yang  member sihkan Anda,  dan (Allah bertindak sebagaimana  kehendak-Nya  -- sedangkan akibat baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa).”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-4192670505329639586?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/tP7fIwCxxOo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4192670505329639586/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4192670505329639586" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4192670505329639586?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4192670505329639586?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/tP7fIwCxxOo/kemuliaan.html" title="Kemuliaan" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-PhIiL769VWw/Tx5KssygvcI/AAAAAAAAExo/l5ftmZpSJ9E/s72-c/kem.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/kemuliaan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YCRno_cCp7ImA9WhRUE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-1056540272766911166</id><published>2012-01-23T22:02:00.001-08:00</published><updated>2012-01-23T22:06:07.448-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-23T22:06:07.448-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Sanad (Silsilah) Talqin Kaum Sufi</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-6-k81rXuCzo/Tx5JrP-bvMI/AAAAAAAAExc/G1lltVXZFZg/s1600/sanad.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 197px; height: 206px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-6-k81rXuCzo/Tx5JrP-bvMI/AAAAAAAAExc/G1lltVXZFZg/s320/sanad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701075185669225666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);font-size:85%;" &gt;www.sufinews.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Syeikh  Abdul Wahab Asy-Sya’rani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penjelasan tentang sanad (silsilah) kaum sufi dalam mendikte dan membimbing secara lisan (talqin) kalimat Tauhid: La Ilaha IllaLlahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) kepada para murid (para pemula yang ingin mencari tarekat) adalah sebagaimana yang diriwayatkan berikut ini: Bahwa Rasulullah Saw. pernah mendikte dan membimbing para Sahabatnya secara lisan akan kalimat Tauhid, La Ilaha IllaLlahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) secara berjamaah dan individu. Dimana silsilah sanad mereka bersambung dan masing-masing kepada jamaah kaum yang dibimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani dan lain-lain dengan sanad yang baik (hasan), dari Sadad bin Aus dan dibenarkan oleh Ubadah bin Shamit, yang menceritakan: Suatu hari kami pernah berkumpul bersama Rasulullah Saw, lalu beliau bertanya, ‘Apakah diantara kalian terda pat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami (para Sahabat) menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menutup pintu dan berkata, ‘Angkatlah tangan kalian dan ucapkan: “La Ilaaha Illallah” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah).” Sadad bin Aus berkata: Kemudian kami mengangkat tangan kami sesaat dan mengucapkan kalimat, “La Ilaha IllaLlahu” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah). “Lalu Rasulullah meletakkan tangannya sembari berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji hanya milik Allah, ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan membawa Kalimat ini, Engkau memerintahku dengan Kalimat ini, Engkau telah menjanjikanku surga atas Kalimat ini, dan sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepada para Sahabat, “Apakah kalian tidak senang, sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah dalil bagi para guru tarekat dalam men-talqin dzikir kepada para jamaah secara bersamaan. Adapun dalil mereka dalam men-talqin dzikir secara sendiri-sendiri, maka saya tidak mendapatkannya dalam kitab-kitab para ahli hadis yang sempat saya telaah, akan tetapi Tuan Guru Yusuf al-Ajami, seorang guru silsilah telah meriwayatkan dalam risalahnya dengan sanad yang mutashil (sambung) sampai kepada Ali bin Abu Thalib r.a. yang mengatakan: Aku pernah meminta kepada Rasulullah Saw, “Tunjukkan aku jalan (cara) yang lebih dekat kepada Allah Azza wa-Jalla dan paling mudah untuk dilakukan oleh para hamba serta paling utama di sisi Allah Swt.” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Wahai Ali, engkau harus melanggengkan dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla, baik secara sirri (rahasia) atau keras (terang-terangan).” Lalu aku menyahut, “Semua orang bisa berdzikir, wahai Rasulullah! Akan tetapi yang kuinginkan adalah engkau mau mengkhususkan sesuatu untukku.” Maka Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, wahai Ali, sebaik-baik apa yang aku dan para nabi terdahulu ucapkan adalah kalimat, ‘La Ilaha IllaLlah.’ Dan andaikan tujuh langit dan tujuh bumi berada pada piringan neraca [yang satu] sedangkan kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ berada di piringan neraca [yang lain], tentu kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ akan tetap mengungguli (lebih berat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguatkan Hadis ini adalah Hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban, al-Hakim dan lain-lain dengan Hadis Maifu’ (sampai kepada Rasulullah Saw): Bahwa Musa a.s. pernah berkata kepada Tuhannya, “Ya Tuhan, ajari aku sesuatu, yang dengan sesuatu itu aku bisa mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.” Kemudian Allah menjawab, “Wahai Musa, ucapkan, ‘La Ilaha IllaLlah’ (Tiada Tuhan selain Allah).” Lalu Musa berkata, “Wahai Tuhan, seluruh hamba-Mu telah mengucapkan kalimat ini,” Allah menjawabnya, “Ucapkan, ‘La Ilaha IllaLlah’ (Tiada Tuhan selain Allah).” Musa balik berkata, “Ya Tuhanku, aku ingin sesuatu yang Engkau khususkan untukku. “ Allah menjawab, “Wahai Musa, andaikan tujuh langit dan tujuh bumi berada pada piringan neraca [yang satu] sedangkan kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ berada di piringan neraca [yang lain], tentu kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ akan miring (lebih berat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis ini adalah sebanding dengan apa yang ditanyakan Ali r.a. kepada Rasulullah Saw. Dan dalam Hadis lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata kepada Ali r.a., “Wahai Ali, Kiamat tidak akan segera terjadi sementara di muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan, Allah’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Guru Yusuf al-Ajami mengatakan: Kemudian Ali r.a. meminta kepada Rasulullah Saw. untuk membimbing dzikir secara lisan (talqin) sembari berkata: “Bagaimana aku berdzikir?” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, kemudian kamu ucapkan, La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) tiga kali, sementara aku mendengarkanmu.” Kemudian Rasulullah Saw. mengucapkan: La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) sebanyak tiga kali dengan memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sementara Ali mendengarkannya. Lalu Ali r.a. menirukannya dengan mengucapkan La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) sebanyak tiga kali dengan memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sementara Nabi Saw. mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menemukan dalil dan landasan tentang cara yang diajarkan Rasulullah Saw. kepadaAli r.a. ini. Sementara hanya Allah yang Mahatahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Guru Yusuf al-Jami —rahimahullah— mengatakan: Rasulullah Saw. memerintahkan para Sahabat untuk menutup pintu ketika beliau hendak membimbing dzikir secara lisan kepada para Sahabatnya dengan lebih dahulu bertanya, ‘Apakah diantara kalian terdapat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”—sebagaimana Hadis di muka— adalah untuk mengingatkan bahwa tarekat kaum sufi dibangun atas dasar ketertutupan. ini berbeda dengan Syariat suci. Sehingga seorang pengikut tarekat kaum sufi tidak diperkenankan membicarakan hakikat di depan orang yang tidak meyakininya, karena dikhawatirkan bisa berakibat mengingkarinya, dan kemudian membenci!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini sebagian dari para ahli hadis mengingkari bahwa Hasan al-Bashri pernah mendapatkan bimbingan secara lisan tentang dzikir kalimat (Tidak ada Tuhan selain Allah dari Ali r.a., karena sangat langkanya dan sedikitnya argumentasi untuk menguatkan akan hal itu secara masyhur. Bahkan sebagian dari mereka juga mengingkari bahwa Hasan al-Bashri sempat berkumpul dengan Ali bin Abu Thalib r.a., apalagi tentang kesempatan mendapatkan bimbingan tarekat dari Ali r.a. Tapi yang benar, ia sempat berkumpul dengan Ali r.a. dan ia sempat mendapatkan bimbingan secara lisan tentang dzikir La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) dari Ali r.a. dan Ali pun sempat memakaikan serpihan kain (khirqah) kepada al-Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar dan muridnya, al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahumallah— meriwayatkan, dimana ia mengatakan bahwa sanadnya sahih dan para perawinya juga bisa dipercaya: Sesungguhnya Hasan al-Bashri pernah berkata: ‘Aku pernah mendengar Ali r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda:‘Umatku ibarat hujan, tidak diketahui mana yang terbaik, yang pertama atau yang terakhir?’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dari Hasan al-Bashri yang mengatakan: Aku pernah mendengarAli r.a. di Madinah, ’dimana ia mendengar suara, lalu ia bertanya: “Apa gerangan ini?” Orang-orang menjawab, “Utsman bin Affan terbunuh!!” Lalu ia berkata: “YaAllah, sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu, bahwa aku tidak rela dan tidak peduli [siapa pun pembunuhnya].”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Musnad Ibnu Musdi, dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Aku pernah berjabat tangan dengan Ali bin Abu Thalib r.a.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahullah— mengatakan: “Menurut hemat saya dan juga sekelompok para Huffazh (penghafal Hadis) riwayat Hasan al-Bashri dan Alii bin Abu Thalib r.a. memang benar dan ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahullah— juga mengatakan: Demikian halnya apa yang dikemukakan guru kami, al-Hafizh Ibnu Hajar juga sama dengan pernyataan kami, dimana ia memberikan dukungan, dengan mengatakan: Hal ini bisa diperkuat oleh berbagai aspek: Pertama, bahwa apa yang ditetapkan (mutsbat) akan didahulukan daripada yang meniadakan (menafikan); Kedua, al-Hafizh menyebutkan, bahwa Hasan al-Bashri pernah shalat di belakang Utsman bin Affan r.a.. Dan ketika Utsman terbunuh, maka ia shalat di belakang Ali r.a. ketika ia datang di Madinah. Ia juga pernah berkumpul dengan Ali r.a. setiap hari sebanyak lima kali. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan hal ini secara panjang lebar pada bagian yang ia tulis mengenai kebenaran mengenakan serpihan kain, tarekat al-Qadiriah, ar-Rifa’iah dan as-Suhrawardiah. Maka sebaiknya anda merujuk kembali pada penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bisa diketahui, bahwa sanad talqin (bimbingan dzikir secara lisan) dan mengenakan serpihan kain (khirqah) yang berlaku di kalangan ulama salaf antara satu dengan yang lain tidak terdapat sanad yang tetap sesuai dengan cara yang ditempuh para ahli hadis, karena mereka telah berprasangka baik terhadap generasi pendahulunya. Sampai pada akhirnya muncul al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi serta orang-orang yang sependapat dengan mereka. Kemudian mereka menyatakan benar dan sahih, bahwa Hasan al-Bashri pernah mendengar Ali r.a. Mereka juga menjadikan sanadnya bersambung (mutashil) sampai kepada al-Bashri. Maka anda jangan heran dan merasa aneh, wahai saudaraku, bila sebagian para ahli hadis menyatakan Mauquf (berhenti) tentang persambungan sanad mengenakan serpihan kain dan bimbingan dzikir secara lisan, karena memang hal itu tidak bisa dilakukan, dimana sebagian besar kaum sufi merasa kesulitan untuk mengeluarkan (takhrij) dan kitab-kitab para ahli hadis. Semoga Allah Swt. senantiasa memberi rahmat kepada Ibnu Hajar dan Jalaluddin as-Suyuthi yang telah menjelaskan tentang persambungan sanad masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah hal mi bakal kamijelaskan lebih lanjut ketika kami membicarakan teiitang sanad mengenakan serpihan kain, dimana Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi tidak pernah melihat persambungan sanad mengenakan serpihan kain melalui cara menukil (mengalihkan kepada orang lain) secara lahiriah. Kemudian ia mengambilnya melalui Nabi Khidhir a.s. ketika ia sedang berkumpul dengannya, sampai akhirnya dijadikan sebagai rujukan dalam sanad. Dan segala puji hanya milik Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sekarang anda telah tahu akan kebenaran dan kesahihan sanad kaum sufi dan sambungnya sanad taiqin dan Nabi Saw. kepada Ali bin Abu Thalib r.a., maka Au r.a. juga mentaiqin Hasan al-Bashri, kemudian Hasan al-Bashri men-talqin Habib al-Ajami, dan Habib al-Ajami men-talqin Dawud ath-Tha’i, kemudian Dawud ath-Tha’i men-talqin Ma’ruf al-Karkhi, kemudian Ma’ruf al-Karkhi men-talqin Sari as-Saqathi, kemudian Sari as-Saqathi men-talqin Abu al-Qasim al-Junaid, kemudian al-Junaid men-talqin al-Qadhi Ruwaim, kemudian Ruwaim men-talqin Muhammad bin Khafif asy-Syirazi, kemudian Ibnu Khafif men-talqin Abu al-Abbas an-Nahawandi, kemudian an-Nahawandi men-taiqin Syekh Faraj az-Zanjani, kemudian az-Zanjani men-talqin Syekh Syihabuddin as-Suhrawardi, kemudian Syekh Syihabuddin men-talqin Syekh Najibuddin Burghusy asy-Syirazi, kemudian Ibnu Burghusy men-talqin Syekh Abdush-Shamad an-Nathtani, kemudian Syekh Abdush-Shamad men-talqin Syekh Hasan asy-Syamsiri, kemudian asy-Syamsiri men-talqin Syekh Najmuddin, kemudian Syekh Najmuddin men-talqin Syekh Mahmud al-Ashfahani, kemudian Syekh Mahmud men-talqin  Syekh Yusuf al-Ajami al-Kurani, kemudian Syekh Yusuf men-talqin  Syekh Hasan at-Tustari yang dimakamkan di dekat jembatan al-Muski Mesir al-Mahrusah, kemudian Syekh Hasan men-talqin Syekh Ahmad bin Sulaiman az-Zahid, kemudian az-Zahid men-talqin Syekh Madyan, kemudian Syekh Madyan men-talqin Syekh Muhammad, putra dan saudara perempuan Madyan, Tuan Guru Muhammad men-taiqin Syekh Muhammad as-Surawi dan Syekh Ali al-Murshifi. Kedua Tuan Guru tersebut yang membimbing kami bertobat dan men-talqin hamba yang selalu membutuhkan pertolongan Allah ini Abdul-Wahab bin Ahmad asy-Sya’rani, penulis risalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya juga pernah mendapatkan bimbingan dzikir secara lisan (talqin) dari Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi, seorang murid dan kedua guru saya yang terakhir tersebut, dimana beliau membimbing saya dalam bertobat dan memberi izin saya untuk men-talqin dzikir dan mendidik para murid sufi, untuk meniru dan mencari berkah terhadap tarekat kaum sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayajuga memiliki jalur tarekat lain yang sanadnya lebih dekat dan kedua sanad di atas, dimana saya pernah mendapatkan bimbingan secara lisan dari Syekh Islam Zakaria al-Anshani, dimana ia mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Muhammad al-Ghamari, murid dari Tuan Guru Ahmad az-Zahid, teman dari Syekh Madyan. Sehingga silsilah antara saya dengan Syekh az-Zahid hanya ada dua orang. Darij alur ini saya sejajar dengan Tuan Guru Muhammad as-Surawi, guru dari Syekh Muhammad asy-Syanawi. Akan tetapi dan jalur ini tidak ada yang mengizinkan saya untuk men-talqin dan mendidik para murid sufi, selain Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga merniliki jalur tarekat lain, selain jalur-jalur di atas, dimana antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya terdapat dua orang silsilah. Jalur ini saya dapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ali al-Khawwash, dimana dia pernah mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ibrahim al-Matbuli yang langsung mendapatkan bimbingan dari Rasulullah Saw. secara sadar dengan lisan dan dengan cara yang sudah dikenal di kalangan kaum sufi di alam ruhaniah. Kemudian Tuan Guru Ali al-Khawwash sebelum wafat juga mendapatkan bimbingan langung dari Rasulullah Saw. tanpa perantaraan silsilah orang lain, sebagaimana yang pernah didapatkan oleh gurunya, Syekh Ibrahim al-Matbuli. Dengan demikian antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya ada satu orang silsilah. Jalur tarekat ini hanya saya sendiri yang bisa mendapatkan di Mesir sampai saat ini. Sebagaimana yang saya jelaskan dalam Kitab al-Minan wal-Akhlaq dan dalam Kitab al-’Uhud al-Muhammadiyyah. Dan hanya Allah yang Mahatahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— membimbingku dzikir secara lisan, ia menyenandungkan bait syair berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung di malarnku, selagi aku hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku mati, maka siapa yang akan bingung setiap malamnya setelahku, Kemudian dia berkata kepadaku: Sudah menjadi tradisi para guru tarekat sufi, setelah mereka men-talqin muridnya akan menyebutkan sanad (silsilah) talqin  yang mereka dapatkan dari guru sebelumnya, dan menyebutkan sanad mengenakan serpihan kain (khirqah) kepada sang murid sebelum sang guru mengenakan serpihan kain tersebut kepada sang murid. Dia juga memberi tahu saya, bahwa di NegaraYaman sana terdapat jamaah yang memiliki sanad talqin bacaan shalawat kepada Rasulullah Saw. Mereka membimbing bacaan shalawat kepada sang murid, sehingga mereka sibuk untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Sang murid akan terus memperbanyak shalawat kepada Nabi, sampai akhirnya ia bisa bertemu dengan Rasulullah Saw. secara sadar dan berbicara secara lisan. Ia bisa bertanya kepada Nabi tentang beberapa kejadian sebagaimana seorang murid yang bertanya kepada gurunya. Tingkatan spiritual sang murid ini ternyata naik begitu cepat dalam waktu hanya beberapa hari, sehingga ia tidak butuh lagi bimbingan dari para guru sufi, karena langsung dibimbing oleh Rasulullah Saw. sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Muhammad asy-Syanawi melanjutkan pembicaraannya: Guru kebenaran dalam menempuh jalur tarekat tersebut adalah ia bisa bertemu dengan Nabi Saw —sebagaimana yang kami sebutkan. Kalau ia tidak berhasil bertemu dan berkumpul dengan Nabi Saw. maka jalur tarekatnya jelas tidak benar. Dan diantara orang yang bisa berhasil bertemu dengan Nabi Saw. adalah Syekh Ahmad az-Zawawi ad-Damanhuri, dimana wirid shalawatnya kepada Nabi Saw. setiap harinya sebanyak lima puluh ribu kali shalawat dengan lafal berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, semoga shalawat (rahmat) tetap Engkau berikan kepada Junjungan kita Muhammad, seorang Nabi yang Llmmi dan kepada keluarga serta para Sahabatnya, dan juga salam sejahtera kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara orang yang juga berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Nuruddin asy-Syanwani, pendiri majelis shalawat yang ada di Jami al-Azhar. Termasuk juga orang yang berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Muhammad Dawud al-Mauzalawi, Syekh Muhammad al-SAil ath-Thanaji, Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dan sekelompok orang yang kami sebutkan dalam Mukadimah Kitab al-Vhud 4- Muhammadiyyah dan generasi terdahulu dan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil tarekat shalawat mi melaluij alur Syekh Nuruddin asy-Syanwani yang mengatakan: “Bahwa diantara syarat-syaratnya adalah makan makanan yang halal, tidak menyibukkan diri dengan apa pun selain apa yang diizinkan oleh Syariat.” Maka segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara alam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-1056540272766911166?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/HWNtuuFpCA8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/1056540272766911166/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=1056540272766911166" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1056540272766911166?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/1056540272766911166?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/HWNtuuFpCA8/sanad-silsilah-talqin-kaum-sufi.html" title="Sanad (Silsilah) Talqin Kaum Sufi" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-6-k81rXuCzo/Tx5JrP-bvMI/AAAAAAAAExc/G1lltVXZFZg/s72-c/sanad.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/sanad-silsilah-talqin-kaum-sufi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEENRXgzeyp7ImA9WhRUEkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6644471022275066070</id><published>2012-01-22T20:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-22T20:24:54.683-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-22T20:24:54.683-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Adab Spiritual" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bay'at" /><title>Haruskah Salik Menjalani Baiat?</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-WGrUykUizpA/Txzgk7sMifI/AAAAAAAAExE/3O05zdIC_LY/s1600/mowlana.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 266px; height: 159px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-WGrUykUizpA/Txzgk7sMifI/AAAAAAAAExE/3O05zdIC_LY/s320/mowlana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700678153447180786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Prof Dr Nasaruddln Umar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji setia dari calon murid atau salik kepada mursyid biasa disebut baiat atau talqin. Dalam suatu tarekat, baiat adalah sesuatu yang lazim. Biasanya yang melakukan proses baiat ialah mursyid kepada salik. Sebelum ke proses pembaiatan, umumnya diawali perkenalan dan penjelasan langkah-langkah yang harus ditempuh jika kelak resmi menjadi murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang calon salik diperkenalkan berbagai syarat dan ketentuan internal tarekat, misalnya kesediaan murid menyempurnakan ibadah syariah, patuh kepada mursyid, aktif dan telaten melakukan riyadhah, serta berusaha meninggalkan rutinitas duniawi, lalu memasuki wilayah tasawuf dengan menginternalisasikan sifat-sifat utama seperti sabar, tawakal, qanaah, dan syukur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia secara perlahan-lahan dibimbing untuk meninggalkan dominasi eksoterisme dan memasuki wilayah esoterisme dalam beribadah. Ia dituntut berkontemplasi guna lebih banyak mengenal alam rohani, dan pada akhirnya salik berusaha respek dan mencintai mursyidnya. Bagaikan sahabat yang mencintai rasulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang calon salik juga berlatih menumbuhkan rasa cinta (mahabbah) dan harapan besar [raja). Jika dia diyakini memiliki kemampuan untuk lanjut sebagai salik, mursyid akan membaiatnya. Prosesnya, ada yang sederhana ada juga yang lebih rumit. Ini semua bergantung pada ketentuan yang berlaku dalam sebuah tarekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ada yang berbulan-bulan atau tahunan tetapi belum dibaiat. Sementara ada yang hanya beberapa hari tinggal bersama langsung dibaiat. Bergantung intensitas dan kesiapan calon murid menempa diri. Dasar hukum pelaksanaan baiat ini dihubungkan dengan surah al-Fath ayat 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut berbunyi &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 153);"&gt;"Orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Tuhan di atas tangan mereka. Barang siapa melanggar janjinya, niscaya akibat dia melanggar janji itu akan menimpa dirinya. Dan barang siapa menetapi janjinya kepada Allah, Allah akan memberinya pahala yang besar&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, baiat itu mengikat, apalagi komitmen ini bertujuan positif sebagaimana ditegaskan Allah SWT, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah kalian"&lt;/span&gt;. (QS al-Nahl [16] 91). "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti akan diminta pertanggungjawabannya&lt;/span&gt;". (QS al-Isra [17] 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadis ditemukan sejumlah riwayat yang mengajarkan konsep baiat bagi mereka yang akan menjadi pengikut khusus Rasulullah. Seperti hadis riwayat Bukhari dari Ubaidah bin Samit. Rasulullah bersabda, "Berjanjilah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu,tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak membuat kebohongan di antara tangan dan kaki kalian, dan tidak mendurhakai aku dalam kebaikan. Barang siapa di antara kalian menepati janji ini, dia akan mendapatkan pahala dari Allah. Barang siapa yang melanggar sebagian darinya lalu Allah menutupinya, hukumannya bergantung pada Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengam-puninya. Dan jika tidak. Dia akan menghukumnya". Maka kami pun membaiat beliau dengan hal itu. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk baiat dan lafal yang pernah dilakukan Rasulullah kepada para sahabatnya berbeda-beda. Baiat secara kolektif dan individu pernah dilakukan Rasul. Contoh baiat kolektif dilakukan beliau kepada beberapa sahabatnya diungkapkan oleh Syadad bin Aus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada suatu hari, pernah ada beberapa orang berada di hadapan Rasulullah. Saat itu Rasul bertanya, apakah di antara kalian ada orang asing-maksudnya ahli kitab. Kami jawab tidak ada. Lalu, beliau menyuruh kami menutup pintu dan berucap, angkatlah tangan kalian dan ucapkan La Haha illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Kemudian, Rasulullah bersabda, Segala puji hanya bagi Allah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini. Engkau menyuruhku untuk mengamalkan-nya. Dan Engkau menjanjikan surga kepadaku dengannya. Ketahuilah bahwa aku membawa kabar gembira untuk kalian. Sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji. Lalu beliau bersabda, Ketahuilah bahwa aku membawa kabar gembira untuk kalian. Sesungguhnya Allah telah memberi ampunan kepada kalian." (Hadis riwayat Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, contoh baiat secara individu terungkap melalui hadis yang diriwayatkan Thabrani. Baiat ini terjadi ketika Ali bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan yang paling dekat menuju Allah, yang paling mudah untuk beribadah kepada-Nya dan paling utama di sisi-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, Rasulullah menjawab agar Ali melanggengkan zikir kepada Allah secara rahasia dan terang-terangan. Ali meresponsnya dengan mengatakan bahwa semua orang melakukan zikir dan ia berharap diberi zikir khusus. "Hal paling utama dari apa yang aku ucapkan dan para nabi sebelum aku adalah kalimat La Haha illallah," demikian jawaban Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya langit dan kalimat ini ditimbang, kata Rasul, maka kalimat ini lebih berat daripada langit. Kiamat tidak terjadi selama di bumi masih ada orang yang mengucapkan kalimat itu. Ali bertanya kembali, bagaimana cara mengucapkannya. Rasul menjawab, " Pejamkanlah kedua matamu dan dengarkanlah aku La Haha illallah, diucapkan tiga kali. Ucapkanlah tiga kali kalimat itu dan aku mendengarkannya." Ali mengucapkannya dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemukan banyak lagi hadis yang menerangkan cara pembaiatan kepada orang dan kelompok. Setelah Rasulullah wafat, pembaiatan terus dilakukan oleh para sahabat. Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali pernah membaiat orang dan kelompok. Tradisi itu dilanjutkan oleh para praktisi tarekat sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiat di sini bukan baiat politik seperti Baiatul Aqabah kaum Anshar atau baiat sebagai tanda pengakuan kekuasaan terhadap seorang pemimpin. Ini adalah baiat spiritual yang dimana seseorang atau kelom-pok orang menyatakan janji suci kepada Allah untuk hidup sebagai orang yang saleh/salehah di depan mursyidnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mendasar tentang baiat ini, mestikah seseorang dibaiat? Bagaimana dengan orang-orang yang memilih hidup di luar tarekat, yang di sana tidak umum dikenal ada baiat atau talqin? Apakah keislaman tidak sempurna tanpa baiat atau talqin? Tidak ada kesepahaman para ulama tentang wajibnya baiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiat di dunia tarekat bisa diperbarui seandainya seseorang memerlukan pengisian kembali (recharging) energi spiritual dari mursyid. Namun perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa mursyid bukan santo atau lembaga pastoral yang dapat atas nama Tuhan memberikan pengampunan dosa terhadap jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi mursyid sebagaimana telah diuraikan dalam artikel terdahulu hanya berfungsi sebagai motivator dan tutor yang dipercaya! salik. Banyak cara orang untuk memperoleh ketenangan dan sekaligus motivasi untuk menggapai rasa kedekatan diri dengan Tuhan. Salah satu di antaranya ialah menyatakan komitmen spiritual kepada Tuhan di depan atau melalui mursyid yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada suatu saat mengalami krisis spiritual, ia merasa sangat terbantu oleh kehadiran sahabat spiritual yag berfungsi sebagai konsultan spiritualnya. Tentu, sekali lagi bukan memitoskan atau mengultuskan seseorang. Tetapi secara psikologis, setiap orang pada dasarnya membutuhkan referensi personal untuk mengatasi kelabilan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan bidah karena memiliki dasar yang kuat dalam Alquran dan hadis. Namun tidak berarti bagi mereka yang tidak pernah menjalani baiat, keislamannya bermasalah, sebab baiat bukan sesuatu yang wajib.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-6644471022275066070?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/f6KnQZGB4ks" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6644471022275066070/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6644471022275066070" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6644471022275066070?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6644471022275066070?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/f6KnQZGB4ks/haruskah-salik-menjalani-baiat.html" title="Haruskah Salik Menjalani Baiat?" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-WGrUykUizpA/Txzgk7sMifI/AAAAAAAAExE/3O05zdIC_LY/s72-c/mowlana.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/haruskah-salik-menjalani-baiat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkACQHsyeip7ImA9WhRUFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8852216027055524472</id><published>2012-01-21T02:31:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T19:06:01.592-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-24T19:06:01.592-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sholawat" /><title>Sholawat Habib Ahmad bin Hamid al-Kaf</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center; color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Sholawat dinisbatkan kepada Habib Ahmad bin Hamid al-Kaf&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-nZh_QXGDUo0/Txzjckn2sRI/AAAAAAAAExQ/ZlVGGi9hdRM/s1600/s11112.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 136px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-nZh_QXGDUo0/Txzjckn2sRI/AAAAAAAAExQ/ZlVGGi9hdRM/s400/s11112.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700681308350886162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Artinya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Alloh, limpahkanlah sholawat kepada Junjungan kita Nabi Muhammad, sholawat yang dengan keberkatannya Engkau penuhi hatiku dengan nur, kebaikan dan kegembiraan; Dan dengan keberkatannya Engkau rezeqikan daku dengan rezeqi yg luas yg mencurah-curah; Limpahkanlah juga kepada keluarga dan para sahabatNya beserta salam kesejahteraan sebanyak bilangannya segala sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Habib Ahmad bin Hamid al-Kaf&lt;/span&gt; rahimahUllah dilahirkan di Kota Pekalongan, Jawa Tengah tetapi membesar di Kota Palembang. Sedari kecil beliau diasuh oleh waliyullah Habib Ahmad bin 'Abdullah bin Thalib al-'Aththas. Pada usia 7 tahun, beliau diantar ke Hadhramaut untuk mendalami ilmu agamanya dengan para ulama di sana. Antara lain  yang menjadi guru beliau adalah Shohibul Mawlid Simthud Durar, Habib 'Ali al-Habsyi rahimahUllah dan Habib 'Alwi bin 'Abdullah asy-Syahab rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Ahmad telah menjalani jalan tasawwuf dari kecil lagi dengan melakukan mujahadah dan riyadhah dengan disiplin yang tinggi. Beliau pulang ke Indonesia setelah menghabiskan masa 10 tahun belajar di Hadhramaut. Sekembalinya ke Indonesia, meskipun masih berusia muda, beliau telah terkenal sebagai seorang ulama yang zuhud dan khumul. Di Indonesia, beliau menjalankan kegiatan dakwah dan membuka majlis taklim di berbagai tempat. Diantara yang diberi kesempatan menjadi murid beliau adalah Habib Salim bin Ahmad Bin Jindan, Habib 'Alwi bin Ahmad Bahsin dan Habib Syaikhan al-Ghathmir yang akhirnya menjadi da'i dan ulama yang terkenal. Ketinggian ilmu Habib Ahmad juga mendapat pengakuan/pengiktirafan dari waliyullah yang masyhur, Al-Habib 'Alwi bin Muhammad al-Haddad @ Habib Kramat Empang Bogor rahimahUllah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berdakwah dan menyebarkan ilmu, beliau juga amat kuat melakukan amalan-amalan lain. Wirid sholawat beliau saja adalah 100,000 kali sehari. Adakah orang yang mengaku-ngaku mengikut sunnah dan menolak bid`ah, yg dapat bersholawat kepada Shohibus Sunnah sebanyak itu? Ini belum lagi qiyam dan shiyam beliau ... Allahu ... Allah. Tatacara beliau menjalani kehidupan zuhud dengan menjauhi berlezat-lezat dengan nikmat duniawi yang sementara amat luar biasa sehingga beliau terkenal dengan kata-kata:-&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku belum mau bersenang-senang sebelum aku tahu:-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;        Apakah aku akan mengucap kalimah tauhid di akhir hayatku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;        Apakah aku akan selamat dari siksa kubur?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;        Apakah timbangan amalku akan lebih berat dari dosaku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;        Apakah aku akan selamat dari jembatan shirathal mustaqim?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan inilah yg menyebabkan Habib Ahmad rahimahullah tidak memandang kepada kenikmatan dunia yang sementara ini. Habib Ahmad al-Kaf menghembuskan nafas terakhir beliau di Kota Palembang pada 25 Jamadil Akhir 1375H / 25 Jun 1956 M. Mudah-mudahan Allah sentiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayangNya kepada beliau dan leluhur beliau serta sekalian muslimin dan muslimat. Semoga kita mendapat keberkahan beliau dan dzurriyyah beliau, Junjungan Nabi SAW&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-8852216027055524472?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/SFYoRxEDZdI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8852216027055524472/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8852216027055524472" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8852216027055524472?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8852216027055524472?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/SFYoRxEDZdI/sholawat-habib-ahmad-bin-hamid-al-kaf_21.html" title="Sholawat Habib Ahmad bin Hamid al-Kaf" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-nZh_QXGDUo0/Txzjckn2sRI/AAAAAAAAExQ/ZlVGGi9hdRM/s72-c/s11112.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/sholawat-habib-ahmad-bin-hamid-al-kaf_21.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0AFQnY9cSp7ImA9WhRUEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8997688353914053079</id><published>2012-01-20T19:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T19:15:13.869-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-20T19:15:13.869-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Cinta Itu Satu Perkenalan</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-J5fAlzsPoEw/Txos9EvSnhI/AAAAAAAAEwY/je5VeM7G-ms/s1600/aliw.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 195px; height: 259px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-J5fAlzsPoEw/Txos9EvSnhI/AAAAAAAAEwY/je5VeM7G-ms/s320/aliw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699917706146520594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Kalam Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu`alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat salam semoga selalu terlimpahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, keluarga dan Shahabatnya.&lt;br /&gt;Ibnu Abbas RA menjelaskan tentang firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Aku tidak menjadikan Jin dan Manusia melainkan untuk menyembah-Ku”.(Q.S. Adh Dhariyat: 56) Yaitu mengenali Alah SWT.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin Adham RA telah berkata: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kasih sayang itu merupakan hasil dari sebuah perkenalan, barang siapa yang mengenal Allah SWT maka dia akan mencintai-Nya dan barang siapa mencintai Allah SWT maka dia akan mencintai Baginda Rasulullah SAW, barang siapa yang kenal Baginda Rasulullah SAW, pasti dia akan mencintainya”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Kita pernah mendengar sebuah ungkapan menarik yang mengatakan bahwa; Tidak wajar hubungan kita dengan Baginda Rasulullah SAW jika hanya sekedar melakukan suatu amalan dan hanya cukup seperti itu, sepatutnya hubungan tersebut akan membuahkan cinta kepada Habibana Muhammad SAW dan cinta itu terus hidup mekar didalam hati kita dan beliau SAW pasti akan hidup didalam hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda Rasulullah SAW adalah seorang Nabi yang datang kepada kita sebagai seorang manusia, namun Nabi SAW bukanlah seperti insan biasa. Baginda Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara memandang kepada sebuah kehidupan dengan pandangan yang mempunyai makna, bukan pandangan yang sebaliknya. Perbedaan diantara kedua pandangan yang tidak mempunyai makna ialah, seseorang yang melihat dirinya dan semata-mata tertumpu untuk memenuhi kepuasan nafsu dirinya. Pandangan yang mempunyai makna ialah, melihat kepada kehidupan mengikuti pandangan yang telah dibawa Baginda Rasulullah SAW, dimana ia bertujuan untuk mengembalikan kekhalifahan diatas muka bumi ini kepada manusia yang termaktub didalam Al Quran: “sesungguhnya Aku telah jadikan diatas muka bumi ini khalifah”. Pandangan tersebut itu merangkumi kepada hewan, benda-benda tidak bernyawa dan tumbuh-tumbuhan, karena pandangan itu bukan hanya melibatkan pandangan kepada manusia saja tetapi merangkumi semua.&lt;br /&gt;Baginda Rasulullah SAW memandang kepada gunung yang terdiri dari batu dan tanah, dengan suatu pandangan yang membangkitkan perasaan cinta. Sabda beliau SAW: &lt;span style="color: rgb(255, 255, 153); font-style: italic;"&gt;“Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita juga mencintainya”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang ditunjukkan Baginda SAW kepada yang tidak bernyawa itu menyebabkan ia begerak dan cenderung kepada Baginda Rasulullah SAW. Dalam suatu peristiwa, bukit Uhud bergetar ketika Baginda Rasulullah SAW mendaki bukit tersebut, kemudian Baginda Rasulullah SAW bersabda: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetaplah kamu wahai Uhud, sesungguhnya yang diatas kamu ini ialah seorang Nabi”&lt;/span&gt;. Maka bukit Uhudpun berhenti bergetar dan disaksikan oleh shahaabat Abu Bakar As Shidiq dan dua orang lainnya. Pandangan yang ditunjukkan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada benda-benda yang tidak bernyawa itu, menyebabkan ia datang kepada Baginda Nabi SAW dan menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertu sebuah kisah pelepah kurma yang tidak bernyawa, dimana Baginda Nabi SAW sering memegang pelepah kurma tesebut ketika sedang khutbah Jumat di Masjidnya, hari demi hari bilangan manusia semakin bertambah maka Baginda Nabi SAW menggunakan Mimbar. Suatu ketika Baginda Nabi SAW pun datang ke Masjid untuk khutbah, ketika itu Baginda Nabi SAW telah melepasi pelepah kurma yang dibawanya tersebut, dimana jarak Baginda Nabi SAW dengan pelepah kurma tersebut kurang lebih sekitar 8 langkah. Baginda Nabi SAW melangkah menaiki mimbar dan memulai khutbahnya, semasa khutbah Baginda Nabi SAW, para shahabat mendengar suara tangisan yang teramat sedih dan menyayat hati. Semakin lama suara tangisan itu semakin nyaring terdengar, para shahabat mulai berpaling kekiri dan kekanan mencari-cari dari mana arah datang suara tangisan tersebut, akhirnya mereka dapati suara tangisan itu datang dari pelepah kurma. Apabila benda yang tidak bernyawa ini telah dapati Baginda Nabi SAW berkomunikasi dengannya dan mengandung makna kehidupan yang dibawa Baginda Nabi SAW, maka beliau SAW telah menggerakkan makna kehidupan pada pelepah kurma itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ia amat menyukai untuk menggambarkan rasa cintanya kepada Baginda Rasulullah SAW. (Hadits ini bertahap mutawatir mengikuti ke Shahihannya)&lt;br /&gt;Para Shahabat berkata: Apabila pelepah kurma itu mulai merengek seperti kehilangan anak, ia menyebabkan kami hampir tidak bisa mendengar suara Baginda Nabi SAW. Kemudian Baginda Nabi SAW turun dari mimbar dan sekali lagi Baginda Nabi SAW telah mengajar kami suatu pengajaran bahwa; Baginda Nabi SAW datang dengan mempunyai pengetahuan tentang rahasia sebuah kehidupan untuk membujuk pelepah kurma itu, kemudian beliau SAW meletakkan tangannya diatas pelepah kurma itu lalu membujuknya seperti seorang ibu yang membujuk anaknya sedang menangis sehingga pelepah kurma itupun terus diam. Lalu Baginda Nabi SAW memberi pilihan kepadanya, kekal hidup sehingga hari kiamat dan kembali kepada Nabi SAW seperti sedia kala atau berada bersama Baginda Nabi SAW didalam Surga. Pelepah kurma itupun memilih untuk bersama Baginda Nabi SAW di Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda Nabi SAW apabila datang kepada hewan, telah mengajar kita bagaimana cara untuk bermuamalah dengan hewan dengan mempunyai nilai ubudiyah kepada Allah SWT. Ketika Baginda Nabi SAW berangkat kemedan jihad di Perang Badar, berulangkali Baginda Nabi SAW turun dari hewan tunggangannya tersebut supaya dapat beristirahat, demikianlah Baginda Nabi SAW terus menerus lakukan pada tunggangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda Nabi SAW telah mengajar kita cara bermuamalah kepada yang telah berkhidmat untuk kita walau ia hanya seekor hewan. Muamalah ini mestilah mempunyai nilai rasa menghargai, bahwa yang dihadapanku ini mempunyai hak sewajarnya untuk dipelihara.&lt;br /&gt;Hasil dari sebuah kecintaan ini juga dapat dilihat, apabila seekor hewan berada dipuncak kemarahan sekalipun, ia mau merasai hubungan dengan orang yang dapat berkomunikasi dengannya dimana orang itu memahami rahasia sebuah kehidupan. Terdapat sebuah kisah tentang seekor unta dan orang Arab tahu apabila unta tersebut membahayakan bahkan bisa membunuh orang, mereka pasti akan mengikatnya. Baginda Nabi SAW melalui kawasan tersebut dan bertanya: “Apa yang berlaku kepada kamu?”, mereka menjawab; “Unta ini bahaya”, Baginda Nabi SAW bersabda; “Bukalah ikatan unta itu”, mereka menjawab, “kami takut ada hal-hal yang tidak baik menimpamu, disebabkan unta ini ya Rasulullah?”, Baginda Nabi SAW bersabda; “Bukakanlah ikatan itu”. Merekapun membuka ikatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Baginda Nabi SAW mendekati unta itu, lantas iapun diam sebagaimana diriwayatkan oleh hadits shahih, unta itu datang kepada Baginda Nabi SAW dalam keadaan tunduk. Seorang perawi telah meriwayatkan: “Unta itu mendekati kaki Baginda Nabi SAW dan menciuminya, kemudian ia mengangkat kepalanya, Nabi SAW mendekati dan berbicara dengannya. Lantas unta itu angkat kepalanya dan mendekati Nabi SAW sekali lagi, ia membisikkan sesuatu ketelinga Nabi SAW, seterusnya Baginda Nabi SAW kembali berkata-kata kepadanya dan ia pun melakukan perkara yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Baginda Nabi SAW memandang ke arah orang yang mempunyai Unta tersebut dan berkata; “Sesungguhnya unta ini telah mengad kepadaku bahwa ia telah diberikan kerja-kerja yang membebankannya dan kamu juga tidak memberi makan yang baik kepada unta itu”. Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, demi karenamu ia akan diberi sebaik-baik makanan untuk unta dan kami tidak akan membebankan selama-lamanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unta ini berbicara begitu karena Baginda Nabi SAW datang kepadanya dengan membawa makna kehidupan hewannya. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak diutuskanmu melainkan membawa rahmat seluruh alam&lt;/span&gt;”. Begitulah akhlak Baginda Nabi SAW bersama unta dan benda-benda yang tidak bernyawa.&lt;br /&gt;Maka bagaimana muamalah Baginda Nabi SAW dengan manusia? Dimana beliau SAW ditugaskan mengangkat martabat manusia serta mengembalikan sifat manusia kepada sifat kemanusiaannya. Pada hari ini kita dapat belajar satu pengajaran; kita hidup sebagai umat Baginda Rasulullah SAW mengetahui bahwa berbicara dengan alam yang mengelilingi kita, dengan konsep kenabian yang mulia akan menimbulkan keadaan yang lain pada alam ini serta menjadikan alam ini merasai rahasia sebuah kehidupan yang dianugerahkan Baginda Rasulullah SAW untuk memahaminya, ini merupakan penganugerahan cinta, diadakan untuk menggerakkan hati kita sebelum orang lain. Untuk menyadarkan kita sebagai kelompok muslim tentang wujudnya hubungan dengan Baginda Rasulullah SAW. Ia membuat kita berlomba-lomba dalam perlombaan, disana kita mampu untuk berbicara dengan alam ini dari mula bahwa Baginda Rasulullah SAW diutus untuk mengembalikan rasa hormat manusia kepada dirinya sendiri sebagai manusia dan hormat kepada alam disekelililngnya sehingga alam ini juga kembali hormat kepada manusia itu. Jika kita kembali pada konsep komunikasi dengan yang berada disekeliling kita dan sebaliknya dengan berpandukan ajaran Baginda Rasulullah SAW, banyak perkara akan berubah kepada suatu keadaan yang lebih baik karena kita adalah umat Baginda Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mohon kepada Allah SWT, agar hidupkan kita dengan makna ini, ya Allah..hidupkanlah makna hubungan dengan Baginda Rasulullah SAW didalam jiwa kami, gerakkanlah dalam diri kami dengan semangat ini, satukanlah kami dengan orang yang Engkau cintai dan ridha dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang Maha pengasih dan penyayang dan segala puji bagi Allah SWT Tuhan sekalian alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A`lam…&lt;br /&gt;http://ahlulkisa.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-8997688353914053079?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/pa5AuOk7oP4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8997688353914053079/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8997688353914053079" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8997688353914053079?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8997688353914053079?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/pa5AuOk7oP4/cinta-itu-satu-perkenalan.html" title="Cinta Itu Satu Perkenalan" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-J5fAlzsPoEw/Txos9EvSnhI/AAAAAAAAEwY/je5VeM7G-ms/s72-c/aliw.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/cinta-itu-satu-perkenalan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QHSXwyfCp7ImA9WhRUEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4530861889187326308</id><published>2012-01-20T19:01:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T19:08:58.294-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-20T19:08:58.294-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Sufi" /><title>Aku Tidak Berharap Surga dan Neraka</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-3Dp0Po34hL8/Txor6TNdn_I/AAAAAAAAEwM/W9tKYuIQpzA/s1600/nera.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 276px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-3Dp0Po34hL8/Txor6TNdn_I/AAAAAAAAEwM/W9tKYuIQpzA/s320/nera.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699916558979932146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang lelaki bertanya kepada Imam Abu Hanifah, &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;”Bagaiman pendapatmu tentang seseorang yang berkata: ”Aku tidak berharap surga, tidak takut neraka, aku suka makan bangkai, aku bersaksi terhadap apa yang tidak aku lihat, aku tidak takut kepada Allah, aku shalat tanpa ruku dan sujud, aku tidak menyukai kebenaran dan aku menyukai fitnah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Imam Abu Hanifah kepada penanya yang ternyata penanya tersebut adalah orang yang sangat membenci Imam Abu Hanifah, ”Wahai fulan, engkau bertanya kepadaku tentang masalah ini, padahal engkau sendiri telah mengetahui jawabannya.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;awab lelaki itu, ”Aku tidak mengetahui, tapi aku tidak mendapati sesuatu yang lebih buruk daripada pertanyaan ini, karena itu aku bertanya kepadamu.”&lt;br /&gt;Kata Imam Abu Hanifah kepada kawan-kawannya, ”Bagaimana pendapat kalian tentang lelaki ini?” Jawab mereka, ”lelaki ini adalah seburuk-buruk orang karena sifatnya sebagai orang kafir.” Mendengar jawaban mereka Imam Abu Hanifah tersenyum seraya berkata, ”Sungguh kalian telah menilainya sangat buruk, padahal ia seorang wali Allah.”&lt;br /&gt;Kemudain Imam Abu Hanifah berkata kepada lelaki itu, ”Jika aku mengatakan kepadamu engkau termasuk wali Allah, apakah engkau tidak akan memusuhi aku lagi?” Jawab lelaki itu, Ya.”&lt;br /&gt;Kata Imam Abu Hanifah, ”Adapun ucapan tidak berharap surga dan tidak takut kepada neraka, karena engkau hanya berharap kepada Tuhan Allah pemilik surga dan takut kepada Tuhan Allah pemilik neraka, adapun ucapanmu engkau tidak takut kepada Allah maksudnya, engkau tidak takut dizalimi oleh Allah, karena Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya, seperti yang diucapkan Allah bahwa Tuhanmu tidak pernah menzalimi hamba-Nya sedikitpun, kemudian maksud ucapan mu suka makan bangkai adalah engkau suka makan ikan laut (ikan laut adalah bangkai), adapun maksud ucapanmu tidak pernah ruku dan sujud ketika shalat adalah ketika engkau memperbanyak bershalawat kepada Nabi SAW, ia selalu melazimi tempat-tempt orang mati untuk menshalati mereka, karena beliau SAW suka mengambil pelajaran dari orang mati sehingga tidak banyak angan-angan dan beliau SAW suka menshalati setiap muslim dan muslimat, suka mendoakan mereka yang masih hidup maupung yang sudah mati, kemudian maksud ucapanmu menyaksikan sesuatu yang tidak pernah engkau lihat adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad hamba Allah dan Rasul-Nya, adapun maksudmu engkau membenci kebenaran adalah engkau membenci kematian, karena engkau masih ingin hidup lama agar selalu menaati Allah, adapun maksudmu membenci kebenaran mempunyai arti engkau membenci kematian, karena kematian adalah kebenaran, adapun maksud ucapanmu menyukai fitnah mempunyai arti bahwa setiap hati suka kepada harta dan anak, karena keduanya adalah ujian yang sangat besar bagi orang yang beriman, seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT, ”Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah cobaan.” (Q.S. Al-Anfaal: 28)&lt;br /&gt;Maka lelaki itu tidak lagi membenci Imam Abu Hanifah r.a dan ia bertaubat kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A`lam..&lt;br /&gt;http://ahlulkisa.com/&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-4530861889187326308?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/n8BHfhZBWRM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4530861889187326308/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4530861889187326308" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4530861889187326308?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4530861889187326308?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/n8BHfhZBWRM/aku-tidak-berharap-surga-dan-neraka.html" title="Aku Tidak Berharap Surga dan Neraka" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-3Dp0Po34hL8/Txor6TNdn_I/AAAAAAAAEwM/W9tKYuIQpzA/s72-c/nera.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/aku-tidak-berharap-surga-dan-neraka.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYFRX85eSp7ImA9WhRUEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4663733558599924453</id><published>2012-01-20T18:25:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T18:31:54.121-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-20T18:31:54.121-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kitab Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" /><title>Langkah Awal Mendekatkan Diri Kepada Allah</title><content type="html">&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Berikut penjelasan dari kitab "Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" (Habib Muhammad bin Abdullah Al Aidarus)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang cerdas dan berpikiran sehat adalah mereka yang mengelola  amal-amalnya sehingga semua kegiatan mereka menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal yang harus diperhatikan oleh seorang hamba dalam ber-suluk adalah menyucikan dan mendidik nafs serta menyempurnakan akhlak. Bagi seorang sâlik usaha penyucian nafs lebih utama dari pada memperbanyak ibadah sunah, seperti salat sunah, puasa sunah dan sejenisnya. Karena, seorang hamba tidak layak menghadap Allah SWT dengan hati dan nafs yang kotor. Ia hanya akan melelahkan dirinya, sebab amal yang ia kerjakan mungkin justru membawanya ke arah kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang tidak menangani urusannya secara arif, maka dikhawatirkan ia akan tersesat dan mengalami kemunduran. Karena itu seseorang hendaknya selalu memelihara sir-nya (nurani) dan memanfaatkan waktu yang ia miliki. Jangan sekali-kali ia membiarkan hatinya kosong dari fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu. Dan jangan sampai ia mengerjakan suatu perbuatan tanpa niat yang benar, karena niat adalah ruh amal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hati seseorang tidak mampu mewadahi fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu dan niat-niat saleh, maka ia seperti hewan liar. Dalam keadaan demikian manusia akan terbiasa menghabiskan waktunya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan bergaul dengan orang-orang bodoh. Ia akan melakukan berbagai perbuatan buruk dan tercela. Seorang yang berakal hendaknya sadar dan memelihara hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, keadaan hati yang paling mulia adalah ketika ia selalu berhubungan dengan Allah SWT. Inilah landasan amal dan sumber perbuatan-perbuatan yang baik. Cara memakmurkan batin adalah dengan selalu menghubungkan sir (nurani) dengan Allah SWT, sedangkan cara merusaknya adalah dengan selalu melalaikan-Nya. Jika hati seseorang telah memiliki hubungan yang kuat dengan Allah SWT, ia dengan mudah dapat melakukan berbagai amal dan ketaatan yang bisa mendekatkannya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa hati itu bagaikan cermin, memantulkan bayangan dari semua yang ada di hadapannya. Karena itu manusia harus menjaga hatinya, sebagaimana ia menjaga kedua bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah hendaknya tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, bodoh dan suka berbuat tercela, sebab perilaku mereka akan mempengaruhi hati dan memadamkan cahaya bashiroh-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pencari kebenaran hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang dapat memperbaiki hatinya. Untuk memperbaiki hati diperlukan beberapa&lt;br /&gt;metode, di antaranya adalah dengan selalu mengolah fikr (pemikiran) untuk membuahkan hikmah dan asror, banyak berdzikir dengan hati dan lisan, dan juga dengan menjaga penampilan lahiriah: pakaian, makanan, ucapan, serta semua perilaku lahiriah yang memberikan pengaruh nyata bagi hati. Seorang&lt;br /&gt;pencari kebenaran tidak sepantasnya mengabaikan hal ikhwal hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-4663733558599924453?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/55DFWw1iBjc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4663733558599924453/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4663733558599924453" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4663733558599924453?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4663733558599924453?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/55DFWw1iBjc/berikut-penjelasan-dari-kitab-idharu.html" title="Langkah Awal Mendekatkan Diri Kepada Allah" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/berikut-penjelasan-dari-kitab-idharu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0QNQHs_fip7ImA9WhRUEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-486881114777407839</id><published>2012-01-20T02:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T06:56:31.546-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-20T06:56:31.546-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Bertasawuf yang Benar</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-88W_tOwct7E/Txl_hBauJzI/AAAAAAAAEwA/jGtHNRsQdb4/s1600/abuzayd_and_son_large.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 227px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-88W_tOwct7E/Txl_hBauJzI/AAAAAAAAEwA/jGtHNRsQdb4/s320/abuzayd_and_son_large.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699727008706996018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua orang ulama besar pernah hidup pada satu zaman. Keduanya dikenal sebagai ahli fiqih dan sekaligus ahli makrifat. Yang satu bernama &lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Syech Sofyan Al-Tsawri.&lt;/span&gt; Ia dikenal sebagai pendiri mazhab fiqih besar di zamannya; tetapi dalam perkembangan zaman, fiqihnya kalah populer dengan fiqih-fiqih yang lain, satunya lagi adalah &lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Imam Ja’far Al- Shadiq,&lt;/span&gt; salah satu di antara “bintang” cemerlang dalam silsilah tarikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Syech Sofyan Al-Tsawri mendatangi Imam Ja’far Al-Shadiq dan di dapatinya Imam Ja’far dalam pakaian yang indah gemerlap, hingga tampak bagi Al-Tsawri sangat mewah. Ia merasa, Imam yang terkenal sangat salih dan zahid, tidak pantas untuk memakai pakaian seperti itu. Ia berkata, “Busana ini bukanlah pakaianmu!”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Imam Jakfar Al-Shadioq menimpali ucapan Al-Tsawri dengan berkata, “Dengarkan aku dan simak apa yang akan aku katakan padamu. Apa yang akan aku ucapkan ini, baik bagimu sekarang dan pada waktu yang akan datang, jika kamu ingin mati dalam sunnah dan kebenaran, dan bukan mati di atas bid’ah. Aku beritakan padamu, bahwa Rasulullah saw hidup pada zaman yang sangat miskin. Ketika kemudian zaman berubah dan dunia datang, orang yang paling berhak untuk memanfaatkannya adalah orang-orang salih, bukan orang-orang yang durhaka; orang-orang mukmin, bukan orang-orang munafik; orang-orang Islamnya bukan orang-orang kafirnya. Apa yang akan kau ingkari, hai Al- Tsawri? Demi Allah, walaupun kamu lihat aku dalam keadaan seperti ini sejak pagi hingga sore, jika dalam hartaku ada hak yang harus aku berikan pada tempatnya, pastilah aku sudah memberikannya semata-mata karena Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu datanglah rombongan orang yang” bergaya sufi”. Mereka mengajak orang banyak untuk mengikuti kehidupan mereka yang sangat sederhana. Mendengar ucapan Imam Ja’far, mereka berkata, “Tampaknya sahabat kami ini tidak mampu membalas pembicaraan Tuan dan tidak dapat menyampaikan hujah.” Imam Ja’far berkata, “Tunjukkan hujah kalian.” Mereka menyahut, “Kami punya hujah dari Kitab Allah.” Kata Imam, “Tunjukkan dalil-dalilnya, karena Kitab Allah lebih wajib untuk diikuti dan diamalkan.ketimbang selainnya” Mereka berkata, “Allah swt mengabarkan sekelompok sahabat Nabi saw: di dalam kitab-Nya; Dan mereka mendahulukan orang-orang lain di atas diri mereka sendiri sekali pun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu; siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr; 9) Allah memuji mereka. Kemudian Allah berfirman dalam ayat yang lain; Mereka memberikan makanan yang mereka cintai kepada orang miskin, yatim, dan tawanan. Cukuplah bagi kami semua keterangan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang hadir dalam majelis itu ada seseorang yang segera menukas, “Kami tidak melihat kalian (dengan maksud orang yang “Bergaya sufi” itu) menahan diri untuk tidak makan makanan yang baik. Malahan kalian memerintahkan orang lain untuk mengeluarkan harta mereka supaya kalian bersenang-senang dengan memanfaatkan harta mereka.” Imam berkata pada orang itu, “Tinggalkan olehmu apa yang tidak bermanfaat bagi kamu.” Setelah itu Imam berkata kepada mereka yang menyampaikan dalil-dalil dari Al- Quran itu, “Hai saudara-saudara, ceritakan kepadaku apakah kalian tahu nâsikh-mansûkh dalam Al-Quran, muhkam dan mutasyâbih-nya? Karena di sinilah umat ini banyak yang tersesat atau binasa.” Mereka menjawab: “Sebagian memang kami ketahui. Tetapi sebagian yang lain tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertanya seperti itu, Imam Ja’far bermaksud untuk mengajarkan mereka untuk berhati-hati menafsirkan Al-Quran, tanpa bantuan ilmu yang memadai. Karena di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang berlaku dalam konteks tertentu tetapi tidak pada konteks yang lain (nâsikh-mansûkh). Di dalamnya juga ada yang sangat jelas maknanya dan ada yang sekilas tampak ambigu (muhkam mutasyâbih). Setelah itu, Imam Ja’far berkata:“Apa yang kalian sebut sebagai keterangan dari Al-Quran tentang orang yang mendahulukan orang lain, walaupun diri mereka dan keluarga mereka kepayahan, perbuatan mereka itu hanyalah hal yang diperbolehkan bukan hal yang dilarang. Mereka mendapat pahala di sisi Allah. (Tidak ada perintah untuk melakukan perbuatan seperti itu. Mereka boleh saja melakukan hal demikian). Tetapi Allah setelah itu memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang bertentang dengan apa yang mereka lakukan. Perintah Tuhan itu menjadi nâsikh (menghapuskan) bagi perbuatan mereka. Allah melarang mereka untuk berbuat demikian sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada kaum mukmin. Supaya mereka tidak menyengsarakan dirinya dan keluarganya. Mungkin ada di antara mereka anak-anak kecil yang lemah, anak-anak, orang tua renta, orang yang sudah sangat tua yang tidak sanggup lagi menahan lapar. Jika aku menyedekahkan makananku kepada orang lain, padahal padaku tidak ada lagi makanan selain itu, pastilah semua keluargaku ditelantarkan dan binasa dalam keadaan lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah Rasulullah saw bersabda: Jika ada lima butir kurma atau lima dinar atau dirham yang dimiliki seseorang, kemudian ia ingin mengekalkan uang itu, maka yang paling utama ialah ia memberikannya kepada kedua orangtuanya, kemudian kepada dirinya dan keluarganya, kemudian kepada kerabat dan saudaranya kaum muslim, kemudian kepada tetangganya yang miskin, dan terakhir pada ranking kelima, ia mensedekahkannya di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Anshar memerdekakan lima atau enam orang budak sebelum matinya, padahal ia tidak punya harta lain selain itu. Ia meninggalkan anak-anak kecil. Nabi saw pernah berkata kepada sahabatnya: ‘Sekiranya kalian memberitahukan kepadaku keadaan dia, aku tidak akan membiarkan kalian menguburkannya di pekuburan muslimin. Ia menelantarkan anak-anak kecil dan membiarkan mereka mengemis kepada orang lain.’ Kemudian Imam berkata: ‘Ayahku menyampaikan kepadaku dari Nabi saw bahwa ia bersabda; Mulailah dari tanggunganmu yang paling dekat, kemudian yang paling dekat, dan seterusnya!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, inilah yang difirmankan dalam Al-Quran, yang menolak argumentasi kalian dan diwajibkan kepada kalian oleh Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana; Dan orang-orang yang apabila membelanjakan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan; 67). Tidakkah kalian perhatikan bahwa Allah mengecam orang yang berlebih-lebihan dalam menginfakkan hartanya? Pada ayat lain Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Ia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-An’am; 141, QS. Al-A’raf; 31). Tuhan melarang mereka berlebihan dan melarang mereka kikir. Yang benar itu ialah yang berada di tengah-tengah. Seseorang tidak boleh memberikan seluruh hartanya, lalu setelah itu, ia berdoa agar Tuhan memberinya rezeki. Doa seperti itu tidak akan dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda: Ada beberapa kelompok dari umatku yang doanya tidak akan dikabulkan; Doa seorang anak yang disampaikan untuk mencelakakan orang tuanya, doa seseorang untuk mencelakakan pengutangnya padahal ketika ia membuat transaksi tidak ada saksi, doa seorang lelaki untuk mencelakakan isterinya padahal Allah sudah menyerahkan tanggungjawab memelihara isteri itu di tangannya, dan doa seseorang yang duduk di rumah lalu ia tidak henti-hentinya bermohon: ‘Tuhanku berilah rezeki padaku’; kemudian ia tidak keluar rumah untuk mencari rezeki. Allah swt akan berkata kepadanya: ‘Wahai hamba-Ku, bukankah Aku sudah memberi jalan bagimu untuk mencari rezeki dan berusaha di bumi dengan modal tubuhmu yang sehat? Supaya kamu tidak bergantung pada orang lain. Jika Aku kehendaki, Aku akan memberi rezeki. Jika Aku kehendaki, Aku batasi rezeki kamu. Dan alasanmu Aku terima.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu, doa orang yang tidak akan Aku dengar adalah doa seseorang yang mendapat rezeki yang banyak dari Allah swt. Ia mengeluarkan semuanya kemudian ia kembali sambil berdoa: ‘Ya Rabbi, berilah aku rezeki’. Tuhan berfirman: ‘Bukankah Aku telah memberimu rezeki yang banyak. Kenapa kamu tidak berhemat seperti yang Aku perintahkan? Mengapa kamu berlebih-lebihan seperti yang Aku larang?’ Kemudian terakhir, doa yang tidak akan didengar Tuhan adalah doanya orang yang memutuskan silaturahim.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah mengajari Nabi-Nya bagaimana cara berinfak. Di suatu hari, pada diri Rasulullah saw ada beberapa uang emas. Ia tidak ingin tidur bersama uang itu. Kemudian ia mensedekahkannya. Pagi hari ada seseorang yang datang meminta bantuan kepadanya. Tapi Rasulullah tidak punya apa pun. Peminta itu kecewa karena Nabi saw tidak membantunya. Rasulullah saw juga berduka cita karena tidak dapat memberinya apa pun, padahal Nabi saw adalah orang yang sangat santun dan penuh kasih. Allah swt lalu mendidik beliau dengan firman-Nya: Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu di kudukmu, jangan juga engkau buka selebar-lebarnya, nanti kamu duduk dalam keadaan menyesal dan rugi (QS. Al-Isra 29).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sofyan Al-Tsawri, bisa dibilang, mewakili pandangan sekelompok orang yang meyakini bahwa kesucian harus dicapai dengan mengorbankan segala-galanya, meninggalkan pekerjaan, memberikan seluruh harta, meninggalkan keluarga, mengasingkan diri, dan menjauhkan diri dari dunia. Konon, karena cinta dunia itu sumber segala kejahatan, akhirnya mereka memilih untuk membenci dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahadah dan Riyadhah.gaya Al-Tsawri, tidak bisa dibilang salah, karena memang ada segolongan orang yang karena “ kondisi tertentu harus menjalani model itu”, tetapi tidak dapat diterapkan sepenuhnya kepada semua orang, karena jika demikian, siapakah di antara kita yang harus membayar zakat, melakukan ibadah haji, mengurus orang yang lemah, membiayai pendidikan, melakukan penelitian ilmiah dan sebagainya ?, hanya melihat kehidupan tasawuf model ini, bisa melahirkan pendapat yang keliru dalam memandang tasawuf dan kehidupan Sufi yang oleh sebagian penentangnya, diidentikkan dengan kemiskinan, kelusuhan, dan bahkan kekotoran. Bisa bisa membuat orang takut belajar tasawuf dan menjalani kehidupan sufi karena kuatir menjadi miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far menunjukkan dengan argumentasi yang sangat fasih, bahwa tasawuf sejati tidak demikian. Ia menjelaskan bahwa kemiskinan yang disamakan dengan kesalihan berasal dari kekeliruan dalam memahami Al-Quran dan hadis. Tasawuf sejati bukan tidak memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia. Sufi bukan berarti tidak mempunyai apa-apa, tetapi tidak dipunyai apa-apa.( Laisa Zuhud bian La tamlika Syaian , Innama Zuhud an laa yamlikaka dzalikas syaik), seperti hal ini ditegaskan oleh Imam Abil Hasan Ali Assadzili&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sufi boleh saja, malah mungkin harus, memiliki kekayaan yang banyak; tetapi ia tidak akan melupakan kewajiban diri maupun hartanya, dalam meraih dan mendistribusikannya dan ia tidak meletakkan kebahagiaan pada kekayaannya. Hatinya tidak bergantung pada harta dan kekayaannya melainkan kepada ALLAH yang memberinya anugrah harta dan kekayaan itu.dan kepadanya sepenuhnya ia bersujud dan menumpahkan puji syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;almihrab.com&lt;br /&gt;ahlussunahwaljamaah.wordpress.com &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-486881114777407839?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/DisxYwUq9eQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/486881114777407839/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=486881114777407839" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/486881114777407839?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/486881114777407839?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/DisxYwUq9eQ/bertasawuf-yang-benar.html" title="Bertasawuf yang Benar" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-88W_tOwct7E/Txl_hBauJzI/AAAAAAAAEwA/jGtHNRsQdb4/s72-c/abuzayd_and_son_large.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/bertasawuf-yang-benar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkECR3w5eip7ImA9WhRUEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8240060878776898686</id><published>2012-01-20T01:50:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T02:17:46.222-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-20T02:17:46.222-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Manakib" /><title>Syaikh Muhammad Nafis Al Banjari</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-DGxSzVXhAC8/Txk5hRBBbcI/AAAAAAAAEvo/_Z0b_3MesGU/s1600/datu-nafis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 227px; height: 295px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-DGxSzVXhAC8/Txk5hRBBbcI/AAAAAAAAEvo/_Z0b_3MesGU/s320/datu-nafis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699650047080230338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Syafi’i adalah mazhab fiqihnya, Asy’ary i’tiqad tauhidnya, Junaidi jalan tasawufnya, Qadariyah tariqatnya, Satariyah pakaiannya, Naqsabandiyah amalnya, Khalwatiyah makanannya dan Samaniyah minumannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah &lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Muhammad Nafis bin Idris bin Husein,&lt;/span&gt;  ia lahir sekitar tahun 1148 H.11735 M., di kota Martapura, sekarang ibukota Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ia dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar yang garis silsilah dan keturunannya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam, yang dahulu bergelar Pangeran Samudera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah lengkapnya adalah: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muhammad Nafis bin Idris bin Husein bin Ratu Kasuma Yoeda bin Pangeran Kesuma Negara bin Pangeran Dipati bin Sultan Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Musta’in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah.&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Nafis hidup pada periode yang sama dengan Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dan diperkirakan wafat sekitar tahun 1812 M. dan dimakamkan di Mahar Kuning, Desa Binturu, sekarang menjadi bagian desa dari Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong. Dan sekarang makam tersebut menjadi salah satu objek wisata relijius di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada catatan tahun yang pasti kapan ia pergi berangkat menuntut itmu ke tanah suci Makkah. Diperkirakan ia pergi menimba ilmu pengetahuan ke tanah suci Makkah sejak usia dini dan sangat muda, sesudah mendapat pendidikan dasar-dasar agama Islam di kota kelahirannya, Martapura. Di kemudian diketahui ia belajar dan menuntut ilmu agama Islam di kota Makkah, sebagaimana ia tuliskan dalam catatan pendahuluan pada karya tulisnya “ad-Durrun Nafis” (….. dia yang menulis risalah ini… yaitu, Muhammad Nafis bin Idris bin al-Husein, yang dilahirkan di Banjar dan hidup di Makkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tidak terdapat informasi dan catatan tentang apakah ia di Makkah dan Madinah belajar bersama Syaikh Abdussamad al-Falimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari dan rekan-rekan mereka yang lainnya, tetapi besar kemungkinan masa belajar Muhammad Nafis di Haramain bersamaan dengan masa belajar Syaikh Abdussamad al-Falimbani,Muhammad Arsyad al-Banjari dan rekan-rekan mereka yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, dengan melihat daftar nama-nama guru Muhammad Nafis al-Banjari besar kemungkinan mereka belajar bersama pada satu masa atau masa yang Iain. Sebagaimana kebiasaan para ulama Jawi (Indonesia/Asia Tenggara) abad ke 17 dan ke 18, ia belajar dan menuntut ilmu pengetahuan keislaman kepada para ulama yang terkenal di dunia Islam pada masa itu, baik yang menetap maupun yang sewaktu-waktu berziarah dan mengajar di Haramain, Makkah dan Madinah, dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan Islam, terutama tafsir, hadits, fiqih, tauhid dan tasauf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara guru-gurunya yang tercatat dalam bidang ilmu tasauf di Haramain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S&lt;span style="font-style:italic;"&gt;yeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi al-Azhari.&lt;br /&gt;Syeikh Shiddiq bin Umar Khan.&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samani al-Madani.&lt;br /&gt;Syeikh Abdur Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad bin Ahmad al-Jawhari.&lt;br /&gt;Syeikh Yusuf Abu Dzarrah al-Mishri.&lt;br /&gt;Syeikh Abdullah bin Syeikh Ibrahim al-Mirghani&lt;br /&gt;Syeikh Abu Fauzi Ibrahim bin Muhammad ar-Ra’is az-Zamzami al-Makki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kegigihannya dalam mempelajari ilmu tasauf Muhammad Nafis akhirnya berhasil mencapai gelar “Syeikh al-Mursyid”, yaitu seorang yang memahami, mengerti, mengamalkan serta mempunyai ilmu yang cukup tentang tasauf, gelar yang menunjukkan bahwa ia mampu dan diperkenankan serta diberi izin untuk mengajar tasauf dan tarekatnya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Tll18GiU7KY/Txk7y5cNZMI/AAAAAAAAEv0/hv68Z59wHF0/s1600/Makam_Syekh_Muhammad_Nafis_al-Banjari.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Tll18GiU7KY/Txk7y5cNZMI/AAAAAAAAEv0/hv68Z59wHF0/s320/Makam_Syekh_Muhammad_Nafis_al-Banjari.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699652549012710594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena seringnya melakukan dakwah ke pedalaman ia hanya sempat mengarang sedikit kitab. Yang sampai sekarang yang terlacak hanya dua buah kitab saja yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanzus Sa’adah. Yaitu kitab yang berisi tentang istilah-istilah ilmu tasauf. Kitab ini belum pernah dicetak masih berupa manuskrip.&lt;br /&gt;Ad-Durrun Nafis. Yaitu kitab yang berisi tentang pengesaan perbuatan, nama, sifat dan zat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab ad-Durrun Nafis yang pada mulanya dikarang hanya untuk memenuhi permintaan kawan-kawan, namun pada akhirnya banyak diminati dan tersebar luas ke pelosok Nusantara bahkan sampai negara-negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut seorang yang kasyaf mengatakan bahwa kitab ad-Durrun Nafis berisi bagian dari ilmu para wali Allah, barangsiapa mempelajarinya, maka ia akan dicatat oleh para wali sebagai bagian dari mereka. Ini merupakan salah satu karamah dari penyusunnya yaitu Syeikh Muhammad Nafis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari, seperti kebanyakan ulama Melayu-Indonesia lainnya, mengikut Madzhab Syafi’i pada bidang fikih dan Asy’ariyyah pada ilmu tauhid ia juga menggabungkan diri dengan Tarekat Qadiriyyah, Syattariyyah, Samaniyyah, Naqsyabandyyah dan Khalwatiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari seperti ulama-ulama sufi lainnya, ia juga mendapat tantangan dari orang-orang yang tidak sependapat dengan ajaran tasaufnya. Namun tidak sehebat ta ntangan terhadap Syeikh Hamzah al-Fansuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Dalam perkembangan mutakhir golongan sufi dunia Melayu cukup sering dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu pihak kitab itu dilarang atau diharamkan menggunakannya, di pihak lain ternyata lebih banyak surau ataupun masjid serta di rumah-rumah orang yang mengajarkannya. Bahkan KH. Haderanie HN., seorang ulama di Surabaya berusaha menyalin ke dalam huruf latin kitab tersebut, yang diberi kata sambutan oleh seorang ulama dan tokoh atau ahli politik Islam Indonesia, KH. Dr. Idham Chalid. ad-Durr an-Nafis yang disalin ke dalam huruf latin itu diberi judul Ilmu Ketuhanan Permata Yang Indah (ad-Durrun Nafis). Juga kitab ad-Durrun Nafis telah disalin secara lengkap ke dalam huruf latin dan diberi catatan kaki serta diberi indeks untuk kemudahan menelaahnya oleh Tim Sahabat Kandangan. Kitab ad-Durrun Nafis latin tersebut menjadi bagian dari buku Manakib Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kajian bahasan, kitab Al-Durr al-Nafis tersebut berisikan ajaran-ajaran tasawuf yang tinggi sehingga dikatakan, “adalah rahasia yang amat halus dan perkataannyapun amat dalam, tiada mengetahui yang demikian kecuali ulama yang rasikh/ulama yang tinggi ilmu agama”. Sayangnya naskah asli yang di tulis tangan sendiri oleh pengarang, sampai sekarang belum ditemukan. Padahal menurut Laily Mansur pengaruh kitab ini cukup luas di kalangan masyarakat dan cukup dikenal oleh kaum muslimin di daerah Asia Tenggara yang berbahasa Melayu, selalu dibaca orang sejak terbitan pertama hingga sekarang, dicetak di Saudi Arabia, Mesir, Singapura dan Indonesia serta berpengaruh dalam risalah Amal Ma’rifah karangan Abdurrahman Siddiq Al Banjary tahun 1322 H dan risalah Kasyful Asrar karang Muhammad Saleh bin Abdullah Mangkabawi tahun 1344 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan naskah kitab tersebut oleh Laily Mansur disimpulkan bahwa kitab tersebut mengandung ajaran-ajaran tasawuf yang berintikan tauhid dalam struktur yang sistematis, pokok-pokok ajaran tasawuf yang terkandung di dalamnya meliputi maqamat, Tuhan, kejadian manusia, hubungan manusia dengan Tuhan yang kesemuanya mempunyai hubungan diales antara yang satu dengan yang lain hingga bernatijah bahwa wujud itu hanya satu. Laily Mansur menilai bahwa ajaran tasawuf  Muhammad Nafis dipengaruhi oleh filsafat khususnya filsafat Neo Platonisme. Kemudian tauhid dalam ajaran Muhammad Nafis adalah tauhid sebagaimana yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi dan Abdul Karim Al Jilli, yakni yang ada hanyalah Allah dan selain Dia adalah tidak ada, kalau selain Dia itu ada maka cara beradanya adalah melalui tajalli atau kezahiran hingga Dia berada di tiap zarrah ujud, dengan demikian paham tasawuf yang dikandung dalam kitabnya tersebut adalah paham wahdatul wujud yang melihat bahwa segala yang ada terdiri dari aspek luar (aradh dan al Khalq) dan aspek dalam atau batin/jauhar (yakni al haq), paham ini dipelopori oleh Ibnu Arabi, Abdul Karim Jilli, Jalaluddin Rumi. Pokok pembahasan tentang tauhid tersebut mencakup tauhid af’al, tauhid asma, tauhid sifat dan tauhid zat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan gambaran di atas pemikiran tasawuf Muhammad Nafis dapat dimasukan kepada corak pemikiran tasawuf falsafi yang berpaham Kesatuan Wujud atau Wahdatul Wujud. Sehingga ada beberapa ulama yang secara keras menyatakan bahwa ajaran yang terkandung dalam kitab Al-Durr al-Nafis tersebut haram untuk dipelajari dan dikaji. Bahkan ada pula yang lebih keras menyatakan bahwa barang siapa yang mempelajari bahkan meyakini isi dan ajaran dalam kitab tersebut maka ia menjadi kafir, sebab kitab tersebut mengajarkan paham Wahdatul Wujud sebagaimana difatwakan oleh mufti kerajaan Johor, Sayyid Alwi Thahir Haddad. Untuk itulah Hawash Abdullah penulis buku Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara menjelaskan bahwa pada zaman Indonesia dijajah oleh Belanda, mempelajari kitab ini diharamkan. Sehingga ada ulama yang kemudian juga menfatwakan bahwa kitab tersebut berisi ajaran yang sesat menyesatkan. Boleh jadi hal ini merupakan salah satu siasat politik Belanda, karena Belanda paham betul bahwa apabila orang sudah mempelajari ilmu tasawuf secara lurus dan mantap, maka orang tersebut tidak takut mati dan berjuang waja sampai kaputing memerangi penjajah yang dianggap kafir. Hawash Abdullah pada tahun 1972 juga pernah melakukan pelacakan ke berbagai daerah dan kepada para ulama untuk mengetahui secara pasti tanggapan mereka terhadap isi kitab tersebut, seperti di Pontianak Kalimantan Barat. Sayangnya di antara ulama yang mengecam kitab tersebut ada yang belum pernah membaca atau mempelajari kitab Al-Durr al-Nafis, tidak mengetahui secara pasti isi kitabnya dan bagian-bagian mana saja dari kitab tersebut yang dianggap salah dan menyimpang. Karena itulah selanjutnya argumentasi kelompok yang mengharamkan dan menganggap kitab Al-Durr al-Nafis sesat adalah lemah. Sebab kalau kitab Al-Durr al-Nafis tersebut menyesatkan, mengapa ia dipelajari oleh para ulama di Nusantara sejak beredarnya tahun 1200 H hingga sekarang, belum seorangpun di kalangan ulama sufi yang mengatakan bahwa kitab ini tidak berdasarkan Al Qur’an dan Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadi Isa berpendapat bahwa kitab Al-Durr al-Nafis yang dikarang oleh Muhammad Nafis itu berisi ajaran-ajaran Tauhid yang terjalin kelindan dengan tasawuf yang kadang-kadang sulit dan rumit, kecuali bagi ulama yang luas pengetahuan agamanya, paling tidak sudah mempunyai dasar-dasar ilmu fiqih, tauhid dan tasawuf yang memadai. Pokok bahasan dan penjelasan di dalam kitab Al-Durr al-Nafis nampaknya berangkat dari ilmu tauhid, pengarangnya mendukung aliran tauhid Sunni Al Asy’ari sambil mengkirtik dan menyanggah aliran Mu’tazilah dan Jabariyah. Kemudian dia kembangkan tauhid para sufi sambil menolak paham hulul Al Hallaj dan Ittihad Abu Yazid Al Bustami. Di sisi lain dia menjembatani atau memadukan ajaran tasawuf sunni dengan tasawuf filosofis, antara lain dia padukan antara paham wahdatul syuhud dengan paham wahdatul wujud. Hal inilah yang pada akhirnya mengundang pendapat pro dan kontra terhadap ajaran tasawuf dalam karya tulisnya Al-Durr al-Nafis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kontroversi, pro dan kontra tersebut setidak-tidaknya menurut Asmaran.AS. ulama yang menilai ajaran tasawuf kitab Al-Durr al-Nafis terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama kelompok yang memandang bahwa kitab Al-Durr al-Nafis adalah kitab tasawuf yang tidak boleh diajarkan, karena dianggap banyak mengandung kesalahan, atau tidak sejalan dengan ajaran tasawuf mazhab ahlussunnah waljamaah. Kedua kelompok yang melihat bahwa karena kitab Al-Durr al-Nafis sebagai kitab tasawuf  yang mengandung ajaran tinggi, sebagaimana dikatakan oleh pengarangnya sendiri bahwa hanya ulama yang rasikh (tinggi pengetahuan agamanya) sajalah yang dapat memahami isi dan materi kitab tersebut, maka ia tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Karena itulah menurut kelompok kedua ini hanya orang-orang tertentu atau mereka yang memenuhi syarat saja yang boleh mempelajari dan membacanya. Kemudian kelompok ketiga berpendapat bahwa kitab Al-Durr al-Nafis mempunyai kedudukan yang sama dengan kitab tasawuf pada umumnya. Karena itu sebagai salah satu aspek ajaran Islam ia tidak boleh dirahasiakan, setiap orang mukmin boleh mempelajari dan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis sendiri melihat bahwa adanya kontroversi terhadap isi ajaran tasawuf yang terkandung dalam kitab tersebut merupakan salah satu kekayaan intelektual di antara mereka yang berdebat, selama perbedaan dalam memahaminya bersifat profesional dan proporsonal serta bisa melahirkan gagasan-gagasan baru yang lebih baik dan sempurna. Karenanya dalam menilai permasalahan mengenai keberadaan dan paradigma pemikiran tasawuf  Syekh Muhammad Nafis ini ada beberapa hal yang menjadi catatan penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, naskah asli kitab tersebut sampai sekarang masih belum ditemukan sebagaimana pernah dilakukan oleh Ilham Masykuri Hamdi (1989) ketika melacaknya kepada beberapa ulama dan tokoh masyarakat, sehingga naskah yang ada sekarang diragukan keasliannya sebagai tulisan Muhammad Nafis dilihat dari sebagian isinya yang bertentangan dengan paham tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana pengakuan Muhammad Nafis bahwa Syafi’i adalah mazhab fiqihnya, Asy’ary i’tiqad tauhid atau ushuluddinnya, Junaidi ikutan tasawufnya, Qadariyah tariqatnya, Satariyah pakaiannya, Naqsabandiyah amalnya, Khalwatiyah makanannya dan Samaniyah minumannya. Terlebih-lebih lagi selama mengkaji ilmu tasawuf dan tariqat Muhammad Nafis seguru dengan Muhammad Arsyad dan Abdussamad Al Palimbani. Bahkan umumnya penerbit buku Al-Durr al-Nafis selalu mengingatkan bahwa mereka tidak pernah secara langsung menemukan naskah asli yang ditulis oleh Muhammad Nafis sendiri, karenanya tidak mustahil terdapat kekeliruan atau percampuran terhadap isi kitab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, seandainya paham dan pemikiran tasawuf Muhammad Nafis adalah  Wahdatul Wujud yang mirip dengan tasawuf Hulul Husien Mansur Al Hallaj, konsep tasawuf Al Fana dan Al Baqa atau Al Ittihad Abu Yazid Al Bustami yang berpendapat bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan tanpa diantarai oleh sesuatu apapun, atau  konsep Wahdatul Wujud (unity of existence) Muhyidin Ibnu Arabi yang merupakan bentuk lain dari paham Ittihad, ataukah pula Manunggaling Kawula Gustinya Syekh Siti Jenar, mengapa keberadaan Muhammad Nafis atau bukunya Al-Durr al-Nafis tidak menimbulkan dan memicu terjadinya pergolakan di masanya sebagaimana yang terjadi dengan Abdul Hamid Abulung, Siti Jenar, atau Hamzah Fansuri? Lebih daripada itu sebagaimana penjelasan Ahmadi Isa di atas tasawuf yang dikembangkan oleh Muhammad Nafis tidaklah murni wahdatul wujud, sebagaimana kesimpulan Laily Mansur, tetapi lebih kepada wahdatul syuhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, buku tersebut secara luas telah menjadi rujukan masyarakat dalam memahami ilmu tasawuf ketika itu ––bahkan sekarangpun di beberapa daerah negara-negara di Asia Tenggara masih dipelajari dan diajarkan secara lisan serta mengalami beberapa kali cetak ulang oleh beberapa penerbitan yang ada di Mekkah, Mesir, Basrah, Singapura, Surabaya––, dan mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap upaya pencerahan pemikiran dan spiritual umat, sehingga menurut H. Muhammad Djanawi (Ulama dari HSU Amuntai) orang yang sudah mempelajari ajaran tasawuf dalam kitab ini mereka akan merasa bangga. Namun walaupun menjadi rujukan dan berpengaruh luas terhadap masyarakat Islam diberbagai daerah, terutama di Kalimantan Selatan, namun tidak pernah terbetik adanya berita terhadap pencekalan isi atau larangan pengajarannya oleh pihak kerajaan Banjar baik pada masa pemerintahan Sultan Tahmidillah 1778-1808 M, Sultan Sulaiman 1808-1825 M maupun Sultan Adam Al Watsiq Billah 1825-1857 M dan masa-masa Sultan kerajaan Islam Banjar yang memerintahnya sesudahnya. Kecuali larangan yang dikeluarkan oleh Belanda, karena ketakutan mereka terhadap bangkitnya semangat orang-orang bumi putera dalam berjuang, berjihad guna mencapai kemerdekaannya. Sehingga mereka berkepentingan sekali untuk menghembuskan isu bahwa mempelajari kitab tasawuf seperti Al-Durr al-Nafis haram hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, boleh jadi pasca peristiwa dihukum bunuhnya Syekh Abdul Hamid Abulung (Datu Abulung) yang dipancung karena perkataannya yang menyatakan bahwa syariat yang diajarkan pada masanya adalah kulit dan belum sampai kepada hakikat, untuk itu ia menyatakan statement baru bahwa “Tiada yang maujud melainkan hanyalah Dia, tiada aku melainkan Dia, Dialah aku dan aku adalah Dia”, serta eksistensi dan luasnya pengaruh buku tasawuf Al-Durr al-Nafis karya syekh Muhammad Nafis ini menjadi salah satu faktor penyebab ditulisnya risalah tasawuf Kanzul Ma’rifah oleh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, yang menurut berita pada akhirnya dihadiahkan kepada salah seorang sultan Aceh (Idwar Saleh, 1980).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas kesimpulan yang menarik untuk menjadi bahan renungan adalah bahwa keberadaan atau sejarah hidup dan perjuangan, karya tulis dan corak pemikiran, pengaruh dan penyebarluasan ajaran tasawuf dari Syekh Muhammad Nafis dan kitabnya Al-Durr al-Nafis urgen untuk dikaji dan diteliti kembali secara lebih mendalam dan komprehensif. Wallahua’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Tulisan:&lt;br /&gt;taufik79.wordpress.com&lt;br /&gt;bagampiran.blog.com  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-8240060878776898686?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/XS9IimBxWYk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8240060878776898686/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8240060878776898686" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8240060878776898686?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8240060878776898686?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/XS9IimBxWYk/syaikh-muhammad-nafis-al-banjari.html" title="Syaikh Muhammad Nafis Al Banjari" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-DGxSzVXhAC8/Txk5hRBBbcI/AAAAAAAAEvo/_Z0b_3MesGU/s72-c/datu-nafis.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/syaikh-muhammad-nafis-al-banjari.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YBQHc7eCp7ImA9WhRVGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-7825390780346720494</id><published>2012-01-19T02:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T02:32:31.900-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-19T02:32:31.900-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo Sufi" /><title>Pencuri yang tercuri hatinya</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-x7i-jHy1BhY/TxEo0Pk71iI/AAAAAAAAEtM/4MCyqkpIW8Q/s1600/brokenheart.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 227px; height: 204px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-x7i-jHy1BhY/TxEo0Pk71iI/AAAAAAAAEtM/4MCyqkpIW8Q/s320/brokenheart.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697379881600144930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seorang pencuri memanjat tembok rumah Malik bin Dinar, menyelinap masuk, tapi ia tidak menemukan apapun yang pantas untuk dicuri. Sementara tuan rumah yang khusyuk melakukan shalat, memperpendek shalatnya karena merasa ada sesuatu yang mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Malik bin Dinar menoleh kearah pencuri itu. Sambil mengucapkan salam, ia berkata, “Semoga Allah memberimu taubat, engkau memasuki rumahku, tetapi engkau tidak menemukan sesuatu yang dapat engkau ambil. Namun aku tidak akan membiarkanmu keluar dengan sia-sia.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malik bin Dinar membawakan sebaskom air dan berkata kepadanya, “Ambillah air wudhu, lalu lakukan shalat 2 rakaat, niscaya engkau nanti akan keluar dengan membawa sesuatu yang lebih berharga daripada apa yang engkau cari ke sini!” Mendengar kata-kata dan ketulusan Malik bin Dinar, pencuri itu terharu lalu ia menjawab, “Baiklah. Aku jadi tersanjung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencuri itu berwudhu, lalu melakukan shalat 2 rakaat. Jiwanya tergetar luar biasa, dengan sopan ia minta pada Malik bin Dinar kalau boleh dia melakukan shalat  2  rakaat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa nasihat Malik bin Dinar telah mengubah niat maling itu dalam sekejap. Dan Malik bin Dinar dengan tulus mengizinkannya, dan maling itu shalat terus sampai pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang pulanglah, dan baik-baiklah,” Malik bin Dinar berkata kepadanya. Ia menjawab, “Tuan, kalau engkau berkenan bolehkah aku tinggal bersamamu?  Aku berniat berpuasa hari ini jadi aku tak perlu menghabiskan makananmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu, boleh saja, aku senang, tinggallah di sini selama engkau mau,” jawab Malik bin Dinar. Maka pencuri itu tinggal bersama Malik bin Dinar berhari-hari.  Dia bangun malam melakukan shalat sepanjang malam dan berpuasa pada siang harinya. Ketika hendak pulang dia berkata pada Malik bin Dinar, “Wahai Tuan Malik bin Dinar yang baik hati, aku telah berniat melakukan taubat.” Malik bin Dinar menjawab, “Itu ditangan Allah Azza wa Jalla.” Dan, maling itu benar bertaubat.  Dia tidak mau dan tidak pernah lagi mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan temannya maling lain yang ia kenal baik. Temannya bertanya padanya, “Lama benar engkau di rumah Malik bin Dinar, aku pikir kau pasti sudah mencuri harta karun di sana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudaraku, aku menyelinap hendak mencurinya, tapi kenyataannya dia justru mencuriku, aku bertaubat pada Allah Azza wa Jalla, dan mulai sekarang aku akan lebih banyak berada dalam rumahku untuk mendapatkan dan menikmati apa-apa yang dikaruniakan Allah pada para Kekasih-Nya.”&lt;br /&gt;Ia melangkah pulang dengan langkah tetap dan tegap. Pencuri yang pernah menjadi rekannya itu terbengong-bengong memandang sosok punggungnya dari belakang.  Subhanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kak Mer)&lt;br /&gt;Baitul amin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-7825390780346720494?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/dPNzzWDNQG8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/7825390780346720494/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=7825390780346720494" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7825390780346720494?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7825390780346720494?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/dPNzzWDNQG8/pencuri-yang-tercuri-hatinya.html" title="Pencuri yang tercuri hatinya" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-x7i-jHy1BhY/TxEo0Pk71iI/AAAAAAAAEtM/4MCyqkpIW8Q/s72-c/brokenheart.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/pencuri-yang-tercuri-hatinya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkYGRn45eCp7ImA9WhRVGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8090503485610618920</id><published>2012-01-19T02:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T02:15:27.020-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-19T02:15:27.020-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Al Hikam" /><title>Al Hikam : Orang Ma'rifat Lebih Mengkhawatirkan Keadaan Lapang</title><content type="html">&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-EHtUhWxkEO8/TeOqVM6GDsI/AAAAAAAAD88/cZyqTCHsQaQ/s1600/al-hikam_Ibnu_Athoillah.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 137px; FLOAT: left; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612516841852636866" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-EHtUhWxkEO8/TeOqVM6GDsI/AAAAAAAAD88/cZyqTCHsQaQ/s320/al-hikam_Ibnu_Athoillah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;"Orang-orang ma'rifat jika merasa lapang lebih banyak khwatirnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;daripada jika mereka dalam keadaan kesempitan. Dan tidak dapat tetap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;berdiri di atas batas-batas adab di dalam keadaan lapang kecuali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;sedikit".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang ma'rifat lebih khawatir dalam keadaan lapang daripada&lt;br /&gt;dalam keadaan kesempitan. Sebab keadaan lapang itu sesuai dengan hawa&lt;br /&gt;nafsunya. Sehingga mereka khawatir kalau sampai tertarik ke dalam&lt;br /&gt;ajakan hawa nafsu. Misalnya selalu memperbincangkan berbagai keadaan&lt;br /&gt;yang wujud ini, dan berbagai kekeramatan. Kadang-kadang bahkan keluar&lt;br /&gt;dari padanya ucapan yang tidak patut diucapkan di hadapan Allah.&lt;br /&gt;Padahal bagi orang ma'rifat dia harus selalu menjaga kesopanan di&lt;br /&gt;hadapan-Nya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula keadaan lapang itu bisa menggelincirkan orang. Sehingga menyebabkan orang harus tambah berhati-hati. Sebaliknya kesempitan lebih mendekatkan orang menuju keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan keadaan lapang dan kesempitan itu, Syaikh Ahmad bin "Athaillah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;"Dalam keadaan lapang nafsu ikut mengambil bagiannya dengan bergembira, sedang dalam keadaan kesempitan tidak ada bagian sama sekali bagi nafsu itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga kesopanan kepada Allah di dalam masa lapang merupakan perkara yang sukar. Karena itu di dalam masa lapang itu hawa nafsu ikut mengambil bagiannya dengan bergembira ria. Tetapi kalau dalam kesempitan hawa nafsu tidak dapat mengambil bagiannya. Dengan demikian orang lebih aman dalam keadaan kesempitan daripada dalam&lt;br /&gt;keadaan lapang. Dalam keadaan lapang hawa nafsu mudah memperdaya. Sedangkan dalam kesempitan nafsu tak dapat memperdaya. Karena demikian itulah orang-orang ma'rifat lebih senang dalam kesempitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali orang yang kesempitan dari keadaan lapang atau kesempitan. Antara lapang dan kesempitan itu silih berganti bagaikan pergantian siang dan malam. Namun Allah tetap menerima penghambaan seseorang dalam dua keadaan itu. Barang siapa waktunya dalam kesempitan, maka dia tidak lepas dari dua keadaan, yaitu mengetahui&lt;br /&gt;sebab-sebabnya dan tidak mengetahui sama sekali. Adapun sebab-sebab kesempitan (kerisauan hati) itu ada tiga, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Dosa yang dilakukan, maka dia harus bertaubat.&lt;br /&gt;2.Kehilangan sesuatu yang berhubungan dengan masalah keduniaan, maka orang harus menyerah dan rela.&lt;br /&gt;3. Hinaan atau disakiti orang dzalim, maka dia harus sabar dan betah menanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kadang-kadang Allah memberi kepadamu sesuatu dari masalah keduniaan, maka Dia menolak memberikan pertolongan kepadamu. Dan kadang-kadang Dia menolak memberikan sesuatu kepadamu, maka Dia kemudian memberi pertolongan kepadamu".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Allah memberi atau mencegah sesuatu dari masalah keduniaan, maka janganlah dilihat hanya lahirnya saja dari pemberian atau pencegah itu. Tetapi yang harus diperhatikan adalah hakekat perkaranya. Sebab kadang-kadang Allah memberikan masalah keduniaan kepada seseorang, akan tetapi dibalik itu dia memberikan pertolongan untuk ta'at kepada- Nya. Begitu pula kadang-kadang Allah menolak memberikan sesuatu dari&lt;br /&gt;masalah keduniaan kepada seseorang, namun dibalik itu pula Dia memberi pertolongan kepadanya untuk ta'at kepada-Nya. Dengan demikian sebaiknya orang itu tidak mengatur dan memilih sendiri, melainkan hanya menyerahkan segala perkaranya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Ahmad bin 'Athaillah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apabila Allah telah membukakan kepadamu pintu kepahaman didalam penolakan (Nya), maka kembalilah penolakan itu sebagai kenyataan pemberian(Nya)".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana Allah menolak sesuatu kepada seseorang, kemudian orang itu memahami bahwa penolakan Allah kepadanya merupakan suatu rahmat dari pada-Nya, maka penolakan itu pada hakekatnya adalah pemberian juga &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-8090503485610618920?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/ErqRllfFfCM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8090503485610618920/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8090503485610618920" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8090503485610618920?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8090503485610618920?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/ErqRllfFfCM/al-hikam-orang-marifat-lebih.html" title="Al Hikam : Orang Ma'rifat Lebih Mengkhawatirkan Keadaan Lapang" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-EHtUhWxkEO8/TeOqVM6GDsI/AAAAAAAAD88/cZyqTCHsQaQ/s72-c/al-hikam_Ibnu_Athoillah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/al-hikam-orang-marifat-lebih.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUCRHc4eSp7ImA9WhRVGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-3296066156808401453</id><published>2012-01-17T18:46:00.001-08:00</published><updated>2012-01-19T02:01:05.931-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-19T02:01:05.931-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sufi Word" /><title>Islam di Siprus</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-sRPI9VdPedY/Txfo0IOS5AI/AAAAAAAAEuU/OcrIvqnsj_M/s1600/c1.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 260px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-sRPI9VdPedY/Txfo0IOS5AI/AAAAAAAAEuU/OcrIvqnsj_M/s320/c1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699279835718935554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Agama Islam telah ada di Siprus sejak abad ke-7 Masehi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siprus merupakan nama sebuah pulau di Laut Mediterania Timur. Negara ini terkena] sejak zaman kuno karena kekayaan mineral, anggur, dan keindahan alamnya. Siprus terdiri atas pegunungan tinggi, lembah yang subur, dan pantai yang luas. Negara yang terletak di Asia Tengah ini berada sekitar 40 mil (65 km) di selatan Turki, 60 mil (100 km) sebelah barat Suriah, dan 480 mil (770 km) di tenggara Yunani. Ini adalah pulau terbesar ketiga Mediterania setelah Sisilia dan Sardinia. Secara umum, luasnya tidak lebih besar dari Jakarta. Bahkan, pada sensus 2006, penduduknya hanya 746.000 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Siprus mewakili dua kelompok etnis utama Yunani dan Turki. Siprus Yunani yang berjumlah empat per lima penduduk, berasal dari campuran penduduk asli dan imigran dari Peloponnese yang terjajah sekitar 1200 SM.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemukim berasimilasi sampai abad ke-16. Sekitar seperlimanya adalah Siprus Turki, keturunan para prajurit tentara Ottoman yang menaklukkan pulau itu pada 1571 dan imigran dari Anatolia yang dibawa oleh pemerintahan sultan. Sejak 1974, tambahan imigran dari Turki telah dibawa untuk bekerja di tanah kosong. Mereka meningkatkan total angkatan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-yFlawR5PP28/TxfpYkacB0I/AAAAAAAAEu4/zfnFHWAVnpQ/s1600/c4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-yFlawR5PP28/TxfpYkacB0I/AAAAAAAAEu4/zfnFHWAVnpQ/s320/c4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699280461761349442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kata siprus tidak selalu digambarkan sebagai Siprus. Kata ini lebih sering digunakan bersama-sama dengan awalan Yunani atau Turki, sebagai pengakuan dari dua kelompok etnis besar di Siprus. Siprus Yunani adalah komunitas Ortodoks Yunani yang berbahasa Yunani, sedangkan Siprus Turki adalah komunitas Muslim yang berbahasa Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Siprus merdeka dari Inggris pada 1960, Konstitusi Republik mendefinisikan Siprus Turki dan Siprus Yunani sebagai dua kelompok etnis yang terpisah. Pada saat itu, para anggota dari kedua kelompok masih menghuni desa-desa dan kota, namun sudah saling berbaur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kebanyakan kasus, keduanya hidup bersama dalam damai dan merayakan perayaan hari besar juga secara bersama-sama. Sayangnya, peristiwa 1974 memisahkan Pulau Siprus Turki dan Siprus Yunani. Kedua kelompok masyarakat itu tidak lagi hidup berdampingan selama lebih dari 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam masuk ke Siprus sekitar tahun 649 Masehi, pada saat pemerintahan Islam di Madinah dipimpin oleh Khalifah Usman bin Affan. Kendati masuk ke negara tersebut lebih awal, sampai tahun 1974, kebanyakan pemeluk agama Islam berasal dari orang-orang Siprus Turki. Jumlahnya mencapai 18 persen dari total penduduk. Namun, saat ini jumlahnya mencapai 264.172 Muslim atau sekitar 10 persen dari total penduduk. Sebagian besar tinggal di bagian utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Yh1B56FvmKY/TxfpYvDCzQI/AAAAAAAAEvE/sDLibY8v_yw/s1600/c5.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Yh1B56FvmKY/TxfpYvDCzQI/AAAAAAAAEvE/sDLibY8v_yw/s320/c5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699280464616017154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Siprus Turki mayoritas menganut ajaran Islam Suni. Berbeda dengan kebanyakan pemeluk Muslim Suni lainnya, Muslim Siprus sangat kental dalam pengaruh tasawuf, baik dalam kebudayaan maupun spiritualnya. Aliran tasawuf yang berkembang adalah Naqsabandi Haqqani yang dipimpin oleh Syaikh Muhammad Nazim Al-Qubrusi dari Larnaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Ottoman (Turki Usmani) pada tahun 1572-1878, sebagian besar umat Islam menetap di Siprus Turki. Selama abad ke-17, pemeluk Islam tumbuh pesat. Sebagian merupakan imigran Turki, lainnya adalah orang keturunan Yunani yang memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peninggalan Islam ada di Siprus termasuk di dalamnya Masjid Arabahmet di Nikosia (dibangun pada abad ke-16 ), Masjid Hala Sultan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekke atau Umm Masjid Haram Larnaca (dibangun pada abad ke-18), Masjid Lala Mustafa Pasha, Selimiye Masjid, dan Masjid Haydarpasha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Kisah perebutan wilayah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siprus merupakan semenanjung wilayah Islam yang dibebaskan oleh kaum Muslim pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abbasiyah setelah sebelumnya dikuasai oleh pemerintahan Islam pada masa Usman bin Affan tahun 28 Hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi Perang Salib, Inggris datang ke negeri ini pada 1191 M dan menduduki Siprus selama Perang Salib. Kaum Muslim kemudian membebaskannya kembali dari cengkeraman Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris paham akan nilai strategis Siprus. Bahkan, mereka menjadikannya sebagai pangkalan titik tolak menyerang negeri-negeri Islam. Karena itu, Inggris mengelabui Daulah Usmaniyah pada 1878, dengan dalih menghadapi Rusia, sehingga bisa menyewa pangkalan di Siprus. Inggris mendeklarasikan kependudukannya atas Siprus pada Perang Dunia I tahun 1914.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris mulai mendorong etnis Yunani Nasrani agar bermigrasi ke Siprus demi mengubahnya menjadi semenanjung yang mayoritasnya non-Muslim. Inggris membuat undang-undang yang berkaitan dengan masalah kependudukan, artinya bebas dari kaum Muslim etnis Turki. Tujuannya untuk melemahkan eksistensi dan kekuatan Turki di sana. Caranya dengan menetapkan syarat bahwa siapa saja yang berkewarganegaraan Turki dilarang menjadi warga negara Siprus yang dikuasai Inggris dan mereka tidak boleh tinggal di Siprus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Inggris memberi kemungkinan kepada orang Siprus etnis Yunani untuk memerintah semenanjung dan mengontrol nasib kaum Muslim. Karena itu, jumlah pemeluk Nasrani xii Siprus yang berasal dari luar makin meningkat, sedangkan jumlah penduduk asli yang Muslim makin berkurang. Inggris mengokohkan eksistensinya di Siprus dengan membangun dua pangkalan militer di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascakudeta dan intervensi Turki, secara militer, di Siprus pada 1974, semenanjung terbagi menjadi dua bagian. Etnis Turki, di utara semenanjung pada 1983, mendeklarasikan Republik Turki Siprus Utara (The Turkish Republic of Northern Cyprus) dan berada di bawah kontrol negara Turki yang luasnya 37 persen dari luas Kepulauan Siprus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah ini oleh Turki diakui sebagai wilayah independen. Bagian selatan tetap berada di bawah kontrol etnis Siprus keturunan Yunani, yakni Republik Siprus yang meliputi 59 persen luas Kepulauan Siprus dan masuk sebagai anggota Uni Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, hingga kini. Siprus tetap terbagi menjadi dua wilayah Siprus Yunani dan Siprus Turki. Bahkan, dalam budaya pun Siprus terbagi menjadi Turki di bagian utara dan Yunani di selatan negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, agama Siprus Yunani masih kebanyakan milik otosefalus Gereja Ortodoks Siprus (78 persen), sedangkan Siprus Turki merupakan Muslim (18 persen). Agama-agama lain terwakili di pulau tersebut, termasuk Maronit dan Apostolics Armenia (empat persen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya di Turki, gaya dan penampilan masyarakat Siprus Turki sudah sangat Eropa. Namun, banyak juga perempuan yang mengenakan jilbab, walaupun tidak sebanyak di Turki.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bed syaifuddineWikn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-3296066156808401453?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/ZoxfTwJscEI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/3296066156808401453/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=3296066156808401453" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3296066156808401453?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/3296066156808401453?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/ZoxfTwJscEI/islam-di-siprus.html" title="Islam di Siprus" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-sRPI9VdPedY/Txfo0IOS5AI/AAAAAAAAEuU/OcrIvqnsj_M/s72-c/c1.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/islam-di-siprus.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0AERX09eCp7ImA9WhRVGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4159794214395366333</id><published>2012-01-17T17:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T17:55:04.360-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T17:55:04.360-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sufi Word" /><title>Jahanara Putri dan Sufi dari Agra</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-gQsX35rhT0M/TxYl_WdkKkI/AAAAAAAAEt8/yWkMPOzmFgc/s1600/jahanara-tomb.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 202px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-gQsX35rhT0M/TxYl_WdkKkI/AAAAAAAAEt8/yWkMPOzmFgc/s320/jahanara-tomb.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698784148775512642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Karyanya banyak dirujuk para penganut sufisme modern.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Jahanara (1614-1681 M) melegenda di India. Tidak hanya karena statusnya sebagai putri Kerajaan Mughal, tapi juga kiprah keilmuan dan keagamaannya sebagai sufi. Terlahir sebagai anak sulung dari Sultan Shah Jahan dan Permaisuri Mumtaz Mahal, Jahanara terlatih menangani urusan istana. Muslimah yang dikenal juga dengan nama Fatima, Jahan Ara Begum Sahib, dan Shahzadi ini pun bisa menggantikan peran ibunya yang wafat saat dia berusia 17 tahun. Sejak itu, ia bertugas mendampingi ayahandanya dalam memimpin kerajaan. Dalam hal ini, Jahanara bertanggung jawab pada segala urusan administrasi rumah tangga kerajaan. Sang ayah pun sangat memercayai berbagai masukan dari Jahanara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan pada sang putri membuat Shah Jahan menganugerahkan beberapa gelar kehormatan. Di antaranya, Sahibul al-Zamani (Ratu Peradaban), Padishah Begum (Ratu Kerajaan), dan Begum Sahib (Sang Maharatu). Jahanara pun menempati istana tersendiri di luar kompleks Istana Agra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah juga sangat memanjakan putrinya. Saat Jahanara mengalami kecelakaan akibat kebakaran, sang ayah mengobati langsung luka di punggung putrinya. Shah Jahan juga menghadiahkan banyak perhiasan pada Jahanara agar hati sang putri bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sejarawan mencatat, hubungan kasih sayang ini tak hanya terjalin antara Jahanara dan ayahnya. Jahanara juga sangat menyayangi adik laki-lakinya, Dara Shikoh. Sedangkan pada saudara lainnya, Au-rangzeb, yang digambarkannya bak harimau putih, juga tak kalah welas asih. Sayangnya, kebaikan Jahanara dibalas dengan keburukan akibat haus kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ztTftQfgUj4/TxYl7dxgcUI/AAAAAAAAEtw/f0kq8z4nkoo/s1600/jahana1b.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ztTftQfgUj4/TxYl7dxgcUI/AAAAAAAAEtw/f0kq8z4nkoo/s320/jahana1b.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698784082018726210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada 1658 M, Aurangseb mengudeta sang ayah yang kemudian dijebloskan ke penjara hingga akhir hayatnya. Di saat-saat sulit itu, Jahanara tetap setia mendampingi ayahnya. Setelah kematian Shah Jahan, hubungan Jahanara dan Aurangzeb mulai membaik. Sang adik bahkan memberinya nama kehormatan Maha Ratu Kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam urusan kerajaan. Aurangzeb lebih memilih adiknya, Roshanara Begum. Sang adik yang terpaut tiga tahun dari Jahanara acap kali merasa iri pada sang kekuasaan sang kakak. Dia ingin merasakan kebahagiaan serupa ratu penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, Jahanara tertekan dengan manuverpolitik adik-adiknya. Meski demikian, Jahanara tidak menunjukkan perasaan ini dengan amarah. Justru dia memutuskan untuk lebih memperhatikan nasib rakyatnya. Keteguhan Jahanara untuk memfokuskan diri pada dunia sufi diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1679, Aurangzeb menetapkan pembayaran pajak penuh pada penganut non-Islam. Jahanara langsung menemui Aurangzeb dan beradu argumentasi. Menurutnya, peraturan itu akan membuat pemerintahan sang adik tak didukung rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyingkir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pahit dalam lingkaran kekuasaan membuatnya mantap untuk menyingkir. Sepening-gal sang ayah, Jahanara diberi tempat tinggal di samping penjara. Di rumah tersebut Jahanara makin hanyut dalam kecintaan tak terbatas pada Sang Khalik. Dia juga mendalami bidang seni rupa serta membiayai pembangunan beberapa masjid dan taman kota-taman kota di Agra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata kota Agra tak lepas dari pengaruh Jahanara. Dia merombak pusat Kota Shahjahanabad dengan menambahkan delapan bangunan. Dari delapan bangunan itu, lima di antaranya ditangani oleh arsitek perempuan. Hingga kini, bagian Kota Agra itu dikenal sebagai pusat perbelanjaan Chandni Chowk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahanara juga menulis beberapa buku praktis tentang sufisme. Dia menulis juga biografi dan ajaran sang guru sufi aliran Qadiriyyah, Mulia Shah Badakhsih. Karyanya mampu mewakili pemikiran sufi abad pertengahan dan banyak dirujuk para penganut sufisme modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurva lain Jahanara adalah biografi pendiri aliran Chistiyah, Moinuddin Chishti. Biografi ini dinilai berkualitas tinggi karena bisa menggambarkan sosok sang pemimpin aliran dengan lengkap disertai tata bahasa yang indah. Tak heran, pemikiran Jahanara masih diminati penganut sufi setelah empat abad kematiannya. Jahanara pun ditahbiskan sebagai salah satu Muslimah terkemuka di ranah tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kini raganya tak lagi ada di dunia, nama Jahanara tetap terukir di hati rakyat Kota Agra. Banyak orang menziarahi makamnya di Kompleks Nizamuddin Dargah, New Delhi. Ini bukan tempat atau bangunan yang megah. Sederhana saja, namun dekat dengan pusat aktivitas masyarakat. Maka, Jahanara serasa selalu ada bersama rakyat. Ini sejalan dengan gelar indah yang diberikan Aungrazeb untuk kakak perempuannya, yaitu Sahibatuz Za-mani (Permaisuri Sepanjang Zaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Oleh Indah Wulandari&lt;br /&gt;Republika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-4159794214395366333?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/MKY3UrsQpDE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4159794214395366333/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4159794214395366333" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4159794214395366333?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4159794214395366333?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/MKY3UrsQpDE/jahanara-putri-dan-sufi-dari-agra.html" title="Jahanara Putri dan Sufi dari Agra" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-gQsX35rhT0M/TxYl_WdkKkI/AAAAAAAAEt8/yWkMPOzmFgc/s72-c/jahanara-tomb.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/jahanara-putri-dan-sufi-dari-agra.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cFQng4fip7ImA9WhRVGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-4786729042803414862</id><published>2012-01-17T17:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T17:43:33.636-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T17:43:33.636-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sufi Music" /><title>Anasyid dan Sama</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-WOwhOszGLVc/TxYjg6eSD-I/AAAAAAAAEtk/MoHi2VB9sXk/s1600/DSC_0158-whirling-dervishes.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-WOwhOszGLVc/TxYjg6eSD-I/AAAAAAAAEtk/MoHi2VB9sXk/s320/DSC_0158-whirling-dervishes.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698781426842996706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia tasawuf, lagu-lagu pujian (anasyid) dan tarian sakral (sama') adalah biasa. Seni di dalam kehidupan sufi seolah merupakan bagian yang tak terpisahkan. Hampir semua sufi mencintai, bahkan menjadi praktisi seni. Sebutlah nama Jalaluddin Rumi, seorang sufi yang seniman atau seniman yang sufi. Ia bukan hanya mencintai seni, melainkan juga menjadi praktisi seni. Ia menguasai berbagai jenis alat musik, mulai dari alat tiup seperti seruling sampai berbagai jenis gendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pengikut tarekat 'Maulawiyah, tarekat yang menyandarkan diri pada ajaran Jalaluddin Rumi, sangat akrab dengan anasyid dan sama' (shema'). Shema ialah zikir yang diiringi alunan musik dan tari memutar yang biasa juga dikenal dengan tari sufi (whirling darwishes). Shema sudah lama menjadi ciri khas Kota Konya, kota di mana Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) dimakamkan dan di atas makamnya tertulis: al-Imam al-Auliya' (imam para wali). Shema bukan sekadar musik dan tari, bukan pula sekadar hiburan dan tontonan, melainkan lebih merupakan upacara ritual.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shema' merupakan ungkapan rasa cinta yang amat mendalam di dalam hati kepada Sang Kekasih sehingga sang pencinta dan Yang Dicintai seolah-olah menyatu, larut, dan hanyut seiring dengan alunan musik yang diiringi tarian. Alat-alat musik yang dominan adalah seruling bambu. Sebuah seruling baru dapat menghasilkan bunyi yang merdu jika di dalamnya terbebas dari sumbatan. Sama dengan kalbu, tidak akan melahirkan kesucian jika di dalamnya terdapat kotoran dan hanya dengan kalbu yang bening yang dapat berjumpa (liqa') dengan Tuhan. Bunyi gendang atau tambur diilustrasikan sebagai  perintah suci (divine order). "Kun=jadilah", maka ciptaan suci menyerupai sang Mahasuci terjadi. Syair-syair dalam lagu diawali dengan pujian terhadap Rasulullah (Nat-i Serif) sebagai lambang cinta sejati, sebagaimana pula nabi-nabi sebelumnya. Memuji mereka berarti memuji Tuhan yang menciptakan mereka. Keseluruhan paduan indah irama musik, lagu, dan gerakan lembut yang berputar merupakan persembahan suci (ta'dhim) yang kemudian menghasilkan napas suci (The Divine Breath) dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi pakaian yang terbentuk dari bahan putih kemilau semula dibungkus dengan bahan berwarna hitam-gelap. Setelah satu per satu melakukan sungkeman (tawajjuh) kepada seorang syekh yang didampingi seorang mursyid, para penari yang umumnya berjumlah 25 orang duduk membanjar di sebelah kiri syekh. Sambil musik mengalun, perlahan-lahan mereka melepaskan jubah hitam, sebagai simbol pelepasan segala dosa dan maksiat dan yang tertinggal  adalah warna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, satu per satu berdiri berbaris lembut menghampiri syekh. Selepas melakukan penghormatan kedua kali terhadap syekh, satu per satu mereka mulai berputar seperti gasing. Tangan kanan lurus ke samping dengan telapak tangan menengadah ke atas sebagai simbol hamba ('abid) yang memohon kedekatan diri kepada Sang Khalik, sementara tangan kiri lurus ke samping menengadah ke bawah sebagai simbol khalifah, yang menyalurkan kasih kepada para makhluk lainnya. Kaki kiri seolah menancap (istiqamah) sambil berputar di tempat dan kaki kanan yang sering terangkat sambil berputar. Pakaian yang mirip rok panjang melebar bagai kipas yang terhampar. Semuanya ini memiliki makna yang akan diuraikan dalam artikel mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan wirid, mudzakarah, pembacaan rawi Maulid Nabi (amdah, maulidat), dan beberapa syair yang diambil dari quatrain sufi penyair Arab dan Persia, biasanya dilantunkan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan berjamaah. Di Indonesia, pembacaan berbagai macam selawat Nabi, seperti selawat Badar, dilantunkan bagaikan himne yang diperuntukkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Tidak jarang para jamaah meneteskan air mata ketika melantunkan selawat Nabi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat Syaziliyah yang berkembang di Maroko sampai Irak sangat kental dengan nyanyian/nasyid yang diambil dari Burdah (mantel)¸ karya penyair sufi Mesir, al-Bushiri (wafat 694H/1296M). Konon syair ini diilhami oleh mimpi. Sedangkan, tarekat Syaziliyah yang berkembang di Syiria menyenandungkan himne-himne yang diambil dari kumpulan syair (diwan) karya penyair sufistik, Abdul Gani al-Nabulusi dari Naplus, Palestina, yang hidup sekitar 1641-1731 M. Pembacaan kidung spiritual biasanya dilakukan di dalam sebuah tempat khusus yang disebut dengan Zawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait-bait yang dilantunkan oleh para penyair sufi memiliki makna eksoterik dan esoterik. Contoh kidung-kidung tersebut, antara lain, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai engkau yang tampil saat bangkitnya lingkaran Yang Tak Terlihat Wahai engkau yang berhenti di tenda orang-orang yang dekat di hati Jangan salahkan aku, wahai pemeriksa, karena mencintai si cantik dengan tubuh mulus Karena aku tidak punya keterkaitan lain kecuali dengan Dia yang hadir di balik tirai Harumnya rahasia tercium di taman pertemuan Dan aromanya membuat kami mabuk kepayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna esoterik dari "Dia yang berhenti di tenda orang-orang yang dekat di hati" adalah akal (akal pertama/al-'aql al-awwal), yang oleh para sufi sebagaimana pernah dibahas dalam artikel terdahulu disebut makhluk pertama. Karena itu, ia merupakan pancaran cahaya yang menyatukan semua dunia. "Si cantik dengan tubuh mulus" adalah berbagai keindahan  di dunia yang subtil, yakni bidadari yang cahayanya bersumber dari Zat Yang Mahamutlak. "Harumnya rahasia-rahasia" adalah manifestasi kasat mata dari kehadiran Ilahi yang bisa memabukkan karena dikaitkan dengan anggur atau Laila, sang kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandi, sebagaimana yang berkembang di Tanah Air, juga sangat akrab dengan sejumlah zikir dan syair berbahasa Arab, yang mengandung nilai sastra tinggi, seperti syair-syair Barzanji,  juga dapat dilantunkan dengan ritme tertentu yang bisa "memabukkan" jamaah jika dilantunkan oleh pelantun spesialis. Tidak sedikit orang menjadi pingsan karena terharu dengan lantunan lagu yang memicu kerinduan terhadap Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anasyid dan Sama' sebagai sebuah zikir yang dilakukan dengan nyanyian, gerak, dan tari, biasanya diiringi oleh alat-alat dan ensembel musik yang lengkap. Musik itu sendiri bagi tarekat Maulawiyah dianggap zikir karena instrumen dan ritmenya bisa menggetarkan batin, menambah rasa cinta teramat mendalam kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarekat Qadiriyah dan tarekat Syaziliyah lebih sering berbicara tentang hadhrah al-dzikr, yang secara harfiah berarti "kehadiran pengingatan". Nama-nama indah Allah (al-Asma' al-Husna') sering kali menjadi dasar ritme hadhrah, bagaikan ucapan "sakramen" yang bisa menjadi sarana manusia meninggalkan watak kasarnya menuju ke personalitas yang suci dan agung. Di Maroko yang terkenal sebagai kota tarekat Syaziliyyah dengan cabang-cabangnya, seperti Isawiyyah, Zarruqiyyah, Nashiriyyah, dan Darqawiyyah, memiliki bentuk tarian sufi khusus yang biasa disebut dengan umarah (kelimpahan). Ini sebagai manifestasi esensi Allah yang biasa disebutkan kata gantinya, Huwa (Dia). Jika masuk merasuk ke dalam diri manusia, Ia akan memenuhinya hingga melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Republika (-)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-4786729042803414862?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/55VVHVHMF0E" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/4786729042803414862/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=4786729042803414862" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4786729042803414862?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/4786729042803414862?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/55VVHVHMF0E/anasyid-dan-sama.html" title="Anasyid dan Sama" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-WOwhOszGLVc/TxYjg6eSD-I/AAAAAAAAEtk/MoHi2VB9sXk/s72-c/DSC_0158-whirling-dervishes.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/anasyid-dan-sama.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUMBR344fSp7ImA9WhRVGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-6326460934336498121</id><published>2012-01-14T19:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T02:04:16.035-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-19T02:04:16.035-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Video" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alawiyyin" /><title>Al-Habib 'Ali Al-Jufri:Bagaimanakah Kamu Memandang Diri Kamu?</title><content type="html">&lt;object style="height: 290px; width: 480px"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/0j4iqSqMono?version=3&amp;amp;feature=player_embedded"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowScriptAccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/0j4iqSqMono?version=3&amp;amp;feature=player_embedded" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" width="480" height="290"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-6326460934336498121?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/MoiQDy6MBAY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/6326460934336498121/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=6326460934336498121" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6326460934336498121?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/6326460934336498121?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/MoiQDy6MBAY/al-habib-ali-al-jufribagaimanakah-kamu.html" title="Al-Habib 'Ali Al-Jufri:Bagaimanakah Kamu Memandang Diri Kamu?" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/al-habib-ali-al-jufribagaimanakah-kamu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CU4HRn04fyp7ImA9WhRVFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-7383692358549385232</id><published>2012-01-13T22:47:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T22:52:17.337-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-13T22:52:17.337-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Manakib" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Kisah Sahabat Abu Yazid Al Bistami</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-C7zRpfokZDA/TxElaDzzHEI/AAAAAAAAEtA/XhU51d2EHAs/s1600/makamabuyazid.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-C7zRpfokZDA/TxElaDzzHEI/AAAAAAAAEtA/XhU51d2EHAs/s320/makamabuyazid.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697376133229780034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Abu Yazid al-Bistami adalah nama masyhur dari Al 'Arif Billah Sultanul Arifin Asysyaikh Thaifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan. Beliau lahir pada tahun 188 H/804 M dan wafat sekitar tahun 261 H/875 M ini merupakan tokoh sufi termashur dan berada di urutan kelima dalam silsilah keguruan Tarekat Naqsyabandiyah. Tidak sedikit tokoh sufi lain yang bersahabat dengannya,beberapa diantaranya adalah Ahmad Ibn Khadrawyh dan Yahya ibn Mu’adz al-Razi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Ahmad Ibn Khadrawyh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Abu Hamid ibn Ahmad ibn Khadrawyh al Balkhi, seorang syaikh sufi yang begitu agung dalam futuwwah,yaitu perilaku mulia yang mengikuti teladan Nabi SAW, wali, orang-orang bijak,dan para pecinta Allah. Ia belajar kepada Abu Turab al-Nakhsyaby. Ketika datang di Naishabur ke rumah Abu Hafs – sapaan Abu Turab al-Nakhsyaby – beliau berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih besar hasratnya dan lebih benar kondisi rohaninya dibanding Ahmad ibn Khadrawyh.” Ketika melanjutkan perjalanan ke Bistam menemui Abu Yazid al-Bistami, Abu Yazid pun menyambutnya dengan menyebut, “Ahmad, guru kami.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ahmad ibn Khadrawyh menulis karya-karya terkenal mengenai etika dan wacana-wacana cemerlang tentang tasawuf. Ujaran-ujarannya bermutu tinggi dan kebenaran ungkapan-ungkapannya bisa dipertanggungjawabkan. Berikut ucapan-ucapan Ahmad ibn Khadrawyh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiada tidur yang lebih berat ketimbang kealpaan. Tiada belenggu yang memperbudak ketimbang syahwat. Bila saja muatan berat kealpaan pada dirimu tidak ada, tentu engkau tidak berbuat syahwat.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalan sudah terbentang dan kebenaran sudah jelas, penggembala telah menyerukan panggilannya. Sesudah itu,jika seseorang kehilangan dirinya sendiri karena kebutaannya sendiri, sungguh keliru mencari-cari jalan, karena jalan menuju Tuhan adalah seperti kilatan sinar matahari. Hendaknya engkau mencari dirimu sendiri, karena bilamana engkau telah menemukan dirimu sendiri, engkau akan sampai pada tujuan perjalanan,karena Tuhan terlalu nyata untuk dicari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“B&lt;span style="font-style: italic;"&gt;unuhlah jiwamu itu sehingga ia dapat kamu hidupkan kembali. Tuhan itu terang dan nyata. Jika engkau tidak dapat melihatnya maka matamulah yang buta.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad ibn Khadrawyh yang beristri Fatimah putri Amir Balkh, tinggal di Naishabur dan wafat pada 240 H/854 M dalam usia 95 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Yahya ibn Mu’adz al-Razi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Abu Zakariyya Yahya ibn Mu’adz al-Razi. Pada suatu hari ia menulis sepucuk surat kepada sahabatnya, Abu Yazid al-Bistami, bahwa dia sudah mabuk oleh karena terlalu banyak meminum khamar cinta. Abu Yazid membalas,“Orang lain pun telah meminum air demikian sepenuh lautan, langit dan bumi, tetapi dia belum juga merasa puas,dia masih tetap menjulurkan lidahnya meminta tambah lagi dan tambah lagi.”Tentu yang ia maksud dengan ‘orang lain’ itu adalah dirinya (Abu Yazid) sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya ibn Mu’adz al-Razi adalah salah seorang murid Ibn Karram yang meninggalkan Rayy, kota kelahirannya dan beberapa lama menetap di Balkh. Kemudian, pindah ke Naishabur dimana beliau wafat pada 258 H/871 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya menulis banyak kitab yang sebagian besar telah hilang. Ucapanucapan di dalam bukunya disusun hati-hati, enak didengar, padat isinya, serta berguna bagi pengabdian. Ungkapanungkapannya yang tersebar dan beberapa sajaknya yang sampai kepada pembaca,memiliki gaya yang indah dan berbeda dengan ungkapan para sufi Baghdad dan Khurasan. Ia dikenal sebagai seorang khatib yang memanggil jamaahnya untuk mendekat kepada Allah. Meskipun banyak sufi lain yang suka memberikan khatbah bagi umum, ia adalah satu-satunya sufi yang mendapat julukan al-wa’iz (juru khatbah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya juga banyak berbicara tentang Cinta illahi. Ia pernah mengatakan, “Cinta sejati tidak redup oleh kekejaman kekasih,dan tidak tumbuh oleh karunia Tuhan, ia senantiasa berlangsung sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pernah berbicara tentang perbedaan antara orang yang datang menghadiri pesta dan orang yang datang ke pesta dengan maksud menemui kekasihnya. Inilah perbedaan antara petapa yang merindukan surga demi kenikmatan dan pecinta yang merindukan wajah gemilang Kekasih Abadinya. Yahya mengucapkan kata-kata yang sering dikutip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maut itu indah, sebab ia menggabungkan sahabat dengan Sahabat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri yang paling menonjol dalam kesalehan Yahya adalah renungan suatu kepercayaan mengenai Allah yang penuh kasih sayang. Dalam bentuk dialektis,doa-doanya menunjukkan kontras antara pendosa yang putus asa dan Allah Maha Kuasa yang bisa memaafkan umat-Nya yang papa dengan harta ampunan yang tak habis-habisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara doanya, “Ya, Allah.Kau telah mengirim Musa dan Harun kepada Fir’aun si pemberontak dan berkata. ‘Berbicaralah baik-baik dengannya.’‘Ya, Allah, inilah kebaikan hati-Mu terhadap orang yang menganggap dirinya Tuhan; bagaimana pula gerangan kebaikan hati-Mu terhadap orang yang menjadi abdi-Mu sepenuh jiwanya? Ya, Allah, aku takut kepada-Mu karena Kaulah Tuan. Ya,Allah, bagaimana aku tidak berharap pada-Mu, padahal Kau penuh maaf, dan bagaimana pula aku tidak takut pada-Mu karena Kau Maha Kuasa? Ya, Allah, bagaimana aku datang kepada-Mu karena aku budak yang memberontak, dan bagaimana aku tidak datang kepada-Mu karena Kau Penguasa Yang Pemurah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya mempercayai sedalamdalamnya Maha Rahman dan Rahim Tuhan dapat menutup setiap dosa. Sebab betapa pun hampir sempurna seorang manusia, berbuat dosa tetap merupakan sifat manusia.Oleh karena itu, Yahya bermunajat,“Ya, Allah, meskipun aku tidak bisa menghindarkandiri dari dosa, kau bisa memaafkan dosa-dosa. Ya, Allah, aku tidak melakukan apa pun untuk bisa mencapai surga dan aku tidak tahan menghadapi api neraka, segalanya terpulang kepada kemurahan-Mu belaka. Ya, Allah, maafkan aku, karena aku milik-Mu.” (BAMS-MFH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi: Baitulamin.org&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-7383692358549385232?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/BsiD1EHcpoY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/7383692358549385232/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=7383692358549385232" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7383692358549385232?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/7383692358549385232?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/BsiD1EHcpoY/kisah-sahabat-abu-yazid-al-bistami.html" title="Kisah Sahabat Abu Yazid Al Bistami" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-C7zRpfokZDA/TxElaDzzHEI/AAAAAAAAEtA/XhU51d2EHAs/s72-c/makamabuyazid.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/kisah-sahabat-abu-yazid-al-bistami.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEAEQXo-eyp7ImA9WhRVFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8401841322255798772</id><published>2012-01-13T22:27:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T22:31:40.453-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-13T22:31:40.453-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hikmah Spiritual" /><title>Ahl Al-suffah, Generasi Sufi Pertama</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/--F7CmfRq9SU/TxEgjuwHXYI/AAAAAAAAEs0/s8UxiaXS5ks/s1600/nabawi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://1.bp.blogspot.com/--F7CmfRq9SU/TxEgjuwHXYI/AAAAAAAAEs0/s8UxiaXS5ks/s320/nabawi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697370801817738626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak yang menyebut bahwasanya &lt;span style="color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Ahl al-Suffah&lt;/span&gt; adalah generasi sufi pertama dalam Islam. Istilah ‘sufi’ sendiri ada yang berpendapat berasal dari kata Ahl al-Suffah. Al-suffah adalah bangku yang dijadikan alas tidur mereka dengan berbantal pelana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah sekelompok sahabat yang mendiami bilik-bilik yang disediakan Rasulullah SAW di sekitar Masjid Nabawi. Seluruh waktu mereka dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk hal-hal yang bermanfaat dan seluas-luasnya untuk memahami ajaran Islam. Keperluan dan kebutuhan hidup sehari-hari mereka diambil dari dana bantuan kaum Muslimin sesuai kemampuan masing-masing.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahl al-Suffah bukanlah sekelompok umat yang istimewa atau diistimewakan, mereka juga bekerja, berperang, bahkan diantara mereka adalah panglima perang dan periwayat hadis. Sikap yang menonjol pada Sahabat dan Ahl al-Suffah adalah zuhud. Zuhud atau al-zuhd secara harfiah bermakna keadaan meninggalkan kehidupan dunia yang bersifat materi dan menekuni hal-hal yang bersifat rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan disalahtafsirkan, perilaku yang meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi, misalnya tidak peduli terhadap keluarga, pekerjaan dan lain sebagainya, bukan merupakan bagian dari zuhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun menjauhi kesenangan duniawi dan memilih hidup sederhana, mereka berbahagia bersama Rasululah SAW, berjihad mendampingi Rasululah SAW, bersikap zuhud dan qana’ah dalam menghadapi hidup. Mereka merasa lebih bahagia bila berada di sisi Rasululah SAW, menimba ilmu dari setiap wahyu yang diterima Rasululah SAW, dengan ikhlas dan penuh kegembiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khalwah, mereka pergunakan untuk shalat, membaca Al-Qur’an, mengkaji ayat demi ayat secara bersama dan memusatkan diri untuk berdzikir. Sebagian mereka belajar menulis. ‘Ubadah ibn al-Samit merupakan salah seorang yang sering mengajar mereka menulis dan membaca. Bahkan salah seorang dari mereka ada yang terkenal karena pengetahuan dan hafalannya tentang hadis-hadis Nabi, seperti Abu Hurayrah yang meriwayatkan banyak hadis Nabi SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Petarung Ulung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjadi orang-orang yang mengkhususkan diri untuk mempelajari dan mengembangkan ajaran Islam, Ahl as-Suffah juga merupakan pasukan yang mumpuni yang sewaktu-waktu siap dikirim ke medan perang menghadapi orang-orang kafir. Mereka terkenal sebagai pasukan yang sangat berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketika pertempuran dan perang berkecamuk dengan silih berganti mereka memimpin pasukan menjadi laskar Islam yang tangguh. Di kala damai mereka sering mendapat tugas dari Rasululah SAW sebagai duta umat ke negeri-negeri yang ditaklukkan pasukan Islam dan sekaligus menjadi da’i yang menyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mereka yang syahid di Badar, antara lain; Safwan ibn Bayda, Zayd ibn Khattab, Kharim ibn Fatik al-Asadi, Khubayh ibn Yasaf, Salim ibn Umair, dan Haritsah ibn Nu’man al-Ansari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang syahid di Uhud; Hanzhalah al-Ghazil. Syahid dalam Perang Hudaibiyah; Jurhad ibn Khuwa’ad dan Abu Suraybah al-Ghifari. Syahid di Khaibar; Tariq ibn Amr. Syahid di Tabuk; Abd Allah Dzu al-Bijadam. Syahid di Yamamah; Salim dan Zayd ibn al-Khattab. Dengan demikian, mereka menghabiskan malam hari untuk ibadah dan siang hari untuk berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah mereka bervariasi dari waktu ke waktu. Mereka bertambah saat delegasi berdatangan ke Madinah. Penghuni permanen kira-kira 70 orang, tetapi jumlah mereka bertambah setiap saat. Suatu ketika Sa’ad ibn Ubadah menjamu sekitar 80 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Nu’aim adalah ulama pertama yang membuat daftar nama-nama mereka di kalangan Ahl al-Suffah. Ia mengutip dari sumber-sumber terdahulu tanpa menyebut referensinya. Barangkali dari buku Abu Abd al-Rahman al-Sulami (wafat 412 H) yang menulis tentang Ahl as-Suffah. Diantara sahabat yang termasuk ke dalam golongan Ahl as-Suffah yang ditulis Abu Nu’aim, ditambah lagi dengan nama-nama yang disebut dalam sumber-sumber lain ada 55 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu Ahl al-Suffah yang tertulis sebagai Mursyid dalam silsilah Tarekat Naqsyabandiyah adalah Sayyidina Salman al-Farisi RA. Beliau inisiator strategi pertahanan dalam ‘Perang Parit’ yang belum pernah dikenal sebelumnya di Jazirah Arab. Sayyidina Salman al-Farisi RA mendapat ilmu yang menjadi amalan para sufi ini berasal dari Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq, yang mendapat langsung dari Nabi Muhammad SAW, seperti diterangkan Nabi sendiri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak ada sesuatu pun yang dicurahkan Allah ke dalam dadaku, melainkan aku mencurahkan kembali ke dalam dada Abu Bakar.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;http://baitulamin.org&lt;br /&gt;Tim Penulis UIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Tasawuf, Angkasa – Bandung (2008).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-8401841322255798772?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/PPTmAdXsFYk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8401841322255798772/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8401841322255798772" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8401841322255798772?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8401841322255798772?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/PPTmAdXsFYk/ahl-al-suffah-generasi-sufi-pertama.html" title="Ahl Al-suffah, Generasi Sufi Pertama" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/--F7CmfRq9SU/TxEgjuwHXYI/AAAAAAAAEs0/s8UxiaXS5ks/s72-c/nabawi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/ahl-al-suffah-generasi-sufi-pertama.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUGQnkzeip7ImA9WhRVFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1668527884690980384.post-8932420759543860403</id><published>2012-01-13T20:52:00.000-08:00</published><updated>2012-01-13T21:00:23.782-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-13T21:00:23.782-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sastra Sufistik" /><title>Kearifan Rumi: Kisah Penanam Duri</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-CAzm6PAtTJQ/TxELPs0cIpI/AAAAAAAAEso/wtOtMM2sLcY/s1600/thorns.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 202px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CAzm6PAtTJQ/TxELPs0cIpI/AAAAAAAAEso/wtOtMM2sLcY/s320/thorns.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5697347367957439122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dunia Islam pernah melahirkan Jalaludin Ar-Rumi, atau orang-orang barat sering menyebutnya Jalaludin Rumi. Beliau adalah seorang pujangga sufi yang hidup di kota Konya, yaitu daerah Turki sekarang ini. Ajaran-ajaran beliau tentang cinta kasih dan keluhuran budi sampai kini terus dipelajari. Kaum muslim banyak berhutang budi atas kontribusinya memperkenalkan tasawuf dan spiritualisme Islam kepada barat. Orang-orang di Eropa dan Amerika banyak belajar nilai-nilai Islam dari karya-karya Rumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pujangga sufi beliau banyak menulis puisi-puisi dan kisah-kisah yang bermuatan spiritual. Salah satu karyanya adalah Matsnawi-i-Ma’nawi, yang berisi ribuan bait syair yang sangat indah dalam bahasa Persia. Matsnawi, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “Al Quran dalam bahasa Persia” karena keindahan bahasa dan kedalaman dimensi spiritual yang termuat di dalamnya, menjadi sebuah karya yang paling banyak diterjemahkan sepanjang masa. Di dalamnya banyak termuat kisah-kisah penuh mutiara hikmah. Saya kutip salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalaludin Rumi berkisah tentang seorang penduduk Konya yang punya kebiasaan aneh. Ia suka menanam duri di pinggir jalan. Setiap hari kerjanya menanam duri. Lama kelamaan, pohon duri yang ia tanam menjadi besar. Awalnya orang-orang yang lewat jalan itu tidak merasa terganggu oleh duri-duri. Mereka baru mulai protes setelah duri itu mulai bercabangdan mempersempit jalan yang dilalui mereka. Hamper setiap orang pernah tertusuk duri itu. Yang menarik lagi, bukan orang lain saja yang terkena tusukan duri. Si penanamnya pun berulang kali tertusuk duri tanaman yang ia pelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas kota Konya lalu datang menegur orang itu dan memintanya agar menyingkirkan tanaman berduri dari jalan. Si penanam enggan untuk menebang tanamannya. Tapi setelah banyak orang yang protes, akhirnya ia berjanji untuk menebang tanaman itu keesokan harinya. Tapi ternyata pada hari berikutnya, ia menunda pekerjaannya. Demikian pula hari berikutnya. Hal itu berlangsung terus-menerus hingga akhirnya orang itu sudah menjadi sangat tua dan tanaman berduri itu sudah menjadi pohon yang sangat kokoh. Orang tua itu sudah tak sanggup lagi untuk mencabut pohon berduri yang ia tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa sederhana, Rumi menasehati kita, “kalian, wahai orang-orang yang malang, adalah penanam duri. Tanaman berduri itu adalah kebiasaan dan sifat buruk kalian, perilaku tercela yang selalu kalian pelihara dan sirami. Karena perilaku buruk itu, banyak sudah yang menjadi korban. Dan korban yang paling menderita adalah kalian sendiri. Karena itu, jangan menunda untuk menebang duri itu. Ambillah kapak dan tebang duri-duri itu sekarang, agar orang bisa melanjutkan perjalanan tanpa terganggu olehmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah rumpun berduri itu setiap kebiasaan burukmu&lt;br /&gt;Berulang kali tusukannya menyobekkan kakimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulangkali kamu terluka oleh akhlakmu yang keji&lt;br /&gt;Kamu tak punya perasaan, bebal dan keras hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika terhadap luka yang kamu torehkan pada orang&lt;br /&gt;Yang semua dari watakmu yang garang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tak peduli, paling tidak pedulikan lukamu sendiri&lt;br /&gt;Kamu menjadi bencana bagi semua orang dan diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah kapak dan tebas layaknya lelaki&lt;br /&gt;Runtuhkan benteng Khaibar, laksana Ali&lt;br /&gt;(Matsnawi, hal 1240-1246).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1668527884690980384-8932420759543860403?l=sufiroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ftrV/~4/-T2xvZ87J68" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sufiroad.blogspot.com/feeds/8932420759543860403/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1668527884690980384&amp;postID=8932420759543860403" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8932420759543860403?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1668527884690980384/posts/default/8932420759543860403?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ftrV/~3/-T2xvZ87J68/kearifan-rumi-kisah-penanam-duri.html" title="Kearifan Rumi: Kisah Penanam Duri" /><author><name>zezz</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15051946125738092127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="25" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ac4nYF2iMi4/TaCMQJAanmI/AAAAAAAAD0s/PT4b6xUKXi0/s220/Picture3.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-CAzm6PAtTJQ/TxELPs0cIpI/AAAAAAAAEso/wtOtMM2sLcY/s72-c/thorns.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/kearifan-rumi-kisah-penanam-duri.html</feedburner:origLink></entry></feed>

