<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Cerita Kehidupan</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</managingEditor><pubDate>Thu, 20 Feb 2025 07:05:46 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">54</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://mustofasilver.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Teh Poci Tegal, Si Penyedap Zaman</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/08/teh-poci-tegal-si-penyedap-zaman.html</link><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Mon, 15 Aug 2011 14:22:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-2729141578151884166</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXvnlBsFYNgWGWrzJVphSFKQUZbpA6tMneeh_aiAUAzeO-zL5Z66QRgk-16JeefDE5RlHHrJK_Tju3-T5io12gDLe1F7rU0xAPOxDF4wxgHJcPKipejutWkZWppJNHekhw1m7dwvfS4guy/s1600/poci1.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="143" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXvnlBsFYNgWGWrzJVphSFKQUZbpA6tMneeh_aiAUAzeO-zL5Z66QRgk-16JeefDE5RlHHrJK_Tju3-T5io12gDLe1F7rU0xAPOxDF4wxgHJcPKipejutWkZWppJNHekhw1m7dwvfS4guy/s200/poci1.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;oleh SIWI NURBIAJATI dan SONYA HELEN SINOMBOR&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama Tegal bukan hanya identik dengan Warung Tegal. Daerah yang pada zaman penjajahan belanda merupakan sentra industri logam dan perkapalan dan kemudian dijuluki "Jepang-nya Indonesia" ini tidak bisa dilepaskan dari teh poci. Minuman yang wangi, panas, sepet, legi (manis), dan kenthel itu adalah simbol kekerabatan yang kuat bagi warga tegal.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Moci, atau tradisi minum teh poci, tak bisa tidak adalah simbiosis mutualisme antara sejumlah pabrik teh dan pabrik gula di Tegal yang tumbuh sejak zaman Belanda, perajin gerabah poci yang tumbuh di pedesaan, dan masyarakat pecinta teh poci : seniman, buruh, dan guru seni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_dHerTIE7kWnK6oI5pof_mZ_ZIiDiZ7roL7smjx59LBEP-Nl6Gb_56oPbD41Ka6_lbUohZEkYqIFxCMS0-4WMKkyEVr3Ujemz8DpXh11J_OHL3Db3vL7bds_-IAcKPIpSaMb6KLgI28oY/s1600/gerbang+kota+tegal.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_dHerTIE7kWnK6oI5pof_mZ_ZIiDiZ7roL7smjx59LBEP-Nl6Gb_56oPbD41Ka6_lbUohZEkYqIFxCMS0-4WMKkyEVr3Ujemz8DpXh11J_OHL3Db3vL7bds_-IAcKPIpSaMb6KLgI28oY/s1600/gerbang+kota+tegal.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;Moci sebenarnya hilir. Hulunya adalah pabrik-pabrik, industri tadi. Di hilir, moci lalu bukan sekedar minum teh, melainkan sebuah panggung sosial yang kuat di pesisir pantai utara Jawa ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sekedar teman minum, kultur minum teh poci mewarnai kehidupan masyarakat wilayah tegal yang meliputi Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Brebes, termasuk Kabupaten Pemalang. Bahkan, tradisi moci menembus sekat-sekat antar-golongan masyarakat dan menghidupkan mesin perekonomian masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan cuma itu, tradisi minum teh menjelma dalam beberapa peran, mulai dari menjaga silaturahim hingga menjadi alat kontrol sosial di tengah masyarakat. Bahkan, komunikasi politik pun bisa berakhir di sebuah lesehan teh poci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warung teh poci pun menjadi ruang bebas berekspresi dan berpendapat komunitas masyarakat Tegal. "Waktu Walikota HM Zakir lengser saat reformasi, semuanya berawal dari obrolan teh poci " ungkap Ketua Dewan Kota Tegal Nurngudiono (52), saat menikmati teh poci bersama sejumlah seniman Tegal.&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEZwLvxigZoS4FclWhwbP2xYDgi3NG7QFjko_EL7FGuW8ju4Ect5mRK1Fthkli0eW_GB1rIErG2_-N4ucDh4MPji6QivZsOxwlbeuGid7APT7YJ6Ut2fpE_0lip5bh-gQD4gFzIthcLfCE/s1600/moci.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEZwLvxigZoS4FclWhwbP2xYDgi3NG7QFjko_EL7FGuW8ju4Ect5mRK1Fthkli0eW_GB1rIErG2_-N4ucDh4MPji6QivZsOxwlbeuGid7APT7YJ6Ut2fpE_0lip5bh-gQD4gFzIthcLfCE/s1600/moci.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Di sebuah lesehan teh poci yang menjadi tempat nongkrong para seniman yang di kenal dengan daerah Dama, sejumlah seniman kondang Indonesia pernah nongkrong di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bicara soal makna teh poci, menurut budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik, dalam sistem pertemanan, kedekatan seseorang bisa dinilai dengan poci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamu yang oleh tuan rumah langsung disuguhi teh dalam poci memperlihatkan bahwa tamu tersebut sudah di anggap nyedulur (bersaudara) dan menjadi kerabat dekat, atau oleh masyarakat Tegal biasa disebut jakwir cetem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu dekatnya teh poci dengan warga tegal sehingga teh poci menjadi ikon kota Tegal. Promosi sejumlah merek teh pun bertebarab di seantero wilayah Tegal, baik kabupaten maupun kota. Hampir semua spanduk/papan nama warung makan dan toko, ada tulisan tehpoci dari sejumlah merek. Gambar gerbang kota ini pun teko dan cangkir teh. Di hotel-hotel Tegal selalu tersedia cangkir dan teko teh poci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi moci mulai berakar seiring lahirnya pabrik-pabrik teh di wilayah Tegal sejak tahun 1950-an. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tegal, saat ini terdapat enam perusahaan teh dengan 2.823 tenaga kerja.&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjf8shRqfxsfjyDFdQryPPJrmZCnF_fp865bhSLYvCM7-fsUG-ilotkF4uQOXs-ohylx5IVo9I8cJkF1U0yZP615D6KhUueCaFi94X9kidzFx4bEo6bAMkp8t_DY-r-Ggc-4YqAUDGI3YyU/s1600/moci+1.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjf8shRqfxsfjyDFdQryPPJrmZCnF_fp865bhSLYvCM7-fsUG-ilotkF4uQOXs-ohylx5IVo9I8cJkF1U0yZP615D6KhUueCaFi94X9kidzFx4bEo6bAMkp8t_DY-r-Ggc-4YqAUDGI3YyU/s1600/moci+1.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Keenam perusahaan teh tersbut adalah PT Gopek Cipta Utama, PT Gunung Slamat, PT Tunggul Naga, PT Dua Burung, PT Podo Joyo, dan PT Asli. Merek yang dihasilkan pabrik-pabrik teh itu dan kini dikenal luas di masyarakat antara lain Teh 2 Tang, Teh Poci, Teh Tong Tji, dan Teh Gopek, Khusus untuk minuman teh poci dibungkus kecil-kecil seberat 9-10 gram, yang dibagi dalam beberapa kategori, yakni teh wangi, super, dan teh melati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma wangi yang berasal dari campuran melati tersebut tidak lepas dari keberadaan kebun melati di pesisir Kabupaten tegal, Pekalongan dan Batang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiayfmopZhvUMeIVA7V3j8Jhkiv-ghwYBc54s9joJtH-qL-lKLhhqsACyLhiIOY9HNd7ZMc_hwQAzLPagn_R2vMAzOXTfY9spR_CaW_ai-dHpf0m_wz7bQFcLMc2n2-wnFPmKQOFqgz7ROm/s1600/gopek.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiayfmopZhvUMeIVA7V3j8Jhkiv-ghwYBc54s9joJtH-qL-lKLhhqsACyLhiIOY9HNd7ZMc_hwQAzLPagn_R2vMAzOXTfY9spR_CaW_ai-dHpf0m_wz7bQFcLMc2n2-wnFPmKQOFqgz7ROm/s1600/gopek.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;Hidupnya tradisi moci juga ditopang keberadaan empat pabrik gula (PG), yakni PG Pangkah (Kabupaten Tegal), PG Jatibarang, PG Banjaratna, dan PG kersana . Tiga pabrik yang terakhir di Brebes yang berdiri sejak jaman Belanda. Dua dari empat PG tersebut masih eksis, yakni PG Pangkah dan PG Jatibarang, yang memproduksi gula batu yang menjadi pemanis minuman teh poci. Perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX di kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, juga hadir sejak tahun 1889&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hiruk-pikuk pertumbuhan pabrik gula tersebut adalah potret kerakusan maskapai dagang VOC dan penjajah Belanda. Gula, beras, lada, kopi, kapas, nila, kunyit, dan kayu gelondongan adalah komoditas yang dirampas dan digunakan untuk membangun Negeri Kincir Angin itu pada masa silam (lihat eksotisme Jawa, Ragam Kehidupan dan Kebudayaan Masyarakat Jawa 1768-1806, John Joseph Stockdale, Progesif Books, Yogyakarta, 2010, halaman 159-171).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, kebiasaan minum teh dengan poci, menurut nurngudiono, juga seiring berkembangnya sentra industri logam dan perkapalan serta perkebunan tebu dan teh di wilayah Tegal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menurut Nurngudiono, tradisi moci konon dimulai dari para buruh kebun teh yang mengolah daun teh menjadi minuman teh dalam poci menggunakan gula batu. Minuman para buruh itu dikenal dengan nama "teh intjip" dan biasanya hanya tiga lembar daun yang diseduh di air panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguNHIMpgxWz0I7GMRxIP3hc5vz37rXanrp1R14C50hHXUoXYnEZ2bSDf1vn_4RUlnH8DdisjDqzYXNwXjY4IMvBi5Rb9gftpm-3sM3U04FtxUh9yu3ZevDuTPdHal4ur8aGjGDAp0jsgyp/s1600/becak.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguNHIMpgxWz0I7GMRxIP3hc5vz37rXanrp1R14C50hHXUoXYnEZ2bSDf1vn_4RUlnH8DdisjDqzYXNwXjY4IMvBi5Rb9gftpm-3sM3U04FtxUh9yu3ZevDuTPdHal4ur8aGjGDAp0jsgyp/s1600/becak.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;Poci yang menjadi wadah tempat minuman teh poci tersebut di produksi masyarakat di daerah Grabahan, Talang, Tegal. Warna pocinya pun agak kehitaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkumpul bersama melepaskan penat seraya minum teh poci yang dilakukan buruh perkebunan, buruh pabrik, perajin logam, hingga nelayan terus berkembang dalam kehidupan masyarakat. "Bahkan, almarhum Piet Ardijanto yang terkenal dengan puisi-puisinya dan cerpenis SN Ratmana berasal dari Tegal. Mereka itu pecinta moci, " kata Joshua Igho, seniman musik di Tegal. Dua dalang hebat, Ki Slamet Gundhono dan Ki Enthus Susmono, adalah asli Tegal dan bagian dari komunitas negeri poci itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedemikian lekatnya nama dan tradisi moci dalam kehidupan masyarakat Tegal, dalam tatanan kehidupan kemasyarakatan pun kemudian muncul istilah mantu poci dan sunat poci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mantu (menikahkan) poci digelar seperti hajatan pernikahan umumnya, yakni harus ada mempelai pria dan perempuan yang disimbolkan dengan poci. Poci besar biasanya simbol mempelai pria dan poci kecil mempelai perempuan. mantu poci dan sunat poci dilakukan orangtua yang tidak memiliki anak, tetapi ingin menyelenggarakan hajatan seperti mantu dan sunatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengakuan teh poci sebagai identitas Tegal diberikan kalangan seniman Indonesia berupa antologi puisi Dari Negeri Poci 1-4. Penyair Handrawan Nadesul menyebut kumpulan puisi tersebut lahir dari spontanitas penyair Indonesia yang bernostalgia di Tegal. Sementara sastrawan F Rahardi membela buku itu sebagai pemberontakan penyair pinggiran terhadap pusat sastra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;sumber: kompas 6/8/2011       &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXvnlBsFYNgWGWrzJVphSFKQUZbpA6tMneeh_aiAUAzeO-zL5Z66QRgk-16JeefDE5RlHHrJK_Tju3-T5io12gDLe1F7rU0xAPOxDF4wxgHJcPKipejutWkZWppJNHekhw1m7dwvfS4guy/s72-c/poci1.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Tuntutan Harimau Siluman Penghuni Kuburan Mbayong ( bag 2 )</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/08/tuntutan-harimau-siluman-penghuni_06.html</link><category>Misteri</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sat, 6 Aug 2011 15:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-8949792732010052872</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSv9TtEfGwQ4fTVllwFoi8QaKBQ1wj5t7hUlW6SzDOcN49QW8FmOYtztKIGzxWmG0wk1XV3IGaMjbw1R0HO3ePmOVSe20xKYFDMrAAZZLQCl5v9MJ6lQC1NEHjT7UKqfBbiZ54_HHeyH_n/s1600/harimau.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSv9TtEfGwQ4fTVllwFoi8QaKBQ1wj5t7hUlW6SzDOcN49QW8FmOYtztKIGzxWmG0wk1XV3IGaMjbw1R0HO3ePmOVSe20xKYFDMrAAZZLQCl5v9MJ6lQC1NEHjT7UKqfBbiZ54_HHeyH_n/s200/harimau.jpeg" width="147" /&gt;&lt;/a&gt;Lalu kuceritakan semua kejadian sampai ke hal terkecil sekalipun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Terus  mau dikubur dimana lagi mayat ayah, kak?'' desak Sukamto. Mendengar  pertanyaan adikku, kedua mataku langsung terbelalak lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kenapa  kau bertanya demikian? Kau tahu, dikubur di pekuburan umum manapun atau  di Mbayong, ayah tetap mendapat resiko dari perbuatannya di masa  hidupnya. Nah, jika kedua-duanya mengandung resiko, lalu apa artinya  kita menguburkannya di pekuburan Mbayong? Itu sama halnya dengan  menyerahkan jiwa raga ayah kepada para siluman, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Jika kurang  jelas khotbahku, cobalah kau dengar baik-baik! Seandainya jisim ayah  dikubur di Mbayong, jisim tersebut akan bangkit kembali tapi dalam wujud  siluman harimau dan hidup sampai dunia ini kiamat. Itu menurut kakek  Mbayong sendiri. Tapi jika mayat ayah dikuburkan di pekuburan umum,  tidak urung para siluman Mbayong akan selalu membongkarnya lagi dan  itulah yang bakal membuat roh ayah kita penasaran,''&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jelasku panjang  lebar.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Jadi kedua-duanya tidak menguntungkan,'' sahut Sukamto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Ya,  kita akan memilih satu di antara dua alternatif. Tapi kita yakin roh  yang penasaran tak akan berlangsung lama. Dia akhirnya akan lenyap  sendiri ditelan waktu. Karena itu aku tetap memilih kuburan umum sebagai  tempat penguburan ayah,'' ujarku memutuskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukamto tak banyak membantah kata-kataku dan akhirnya ia pun setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan  harinya, penguburan untuk kedua kalinya almarhum Subroto dilakukan.  Tentu saja berita itu cukup tersebar luas sampai ke pelosok-pelosok desa  di sekitarnya. Dan gosip pun sambung-menyambung bagai tiada  berkeputusan. Ada yang membenarkan tindakanku, tetapi tak sedikit pula  yang mencela. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini penguburan mayat Subroto, ayahku, telah usai.  Dan beberapa hari setelah itu tak terjadi sesuatu yang menghebohkan  atas keluarga yang ditinggalkan. Namun menginjak hari keempat setelah  penguburan yang kedua kalinya, atau tepatnya malam ke tujuh setelah ayah  meninggal, suasananya terasa sangat mencekam.&lt;br /&gt;
Malam itu seperti biasanya sehabis selamatan, di rumah Mbok Broto,  ibuku, diadakan melekan sekedar untuk mengurangi duka cita keluarga yang  ditinggalkan. Kedua anak almarhum seperti biasa menginap di situ,  sekalian melihat reaksi para siluman pekuburan Mbayong, sekalipun hal  seperti itu sama sekali tidak diharapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lewat pukul dua belas  malam, keadaan terasa semakin sunyi dan orang-orang yang datang melekan  sudah pulang pada pukul sepuluh tadi. Udara di malam yang sunyi membuat  penghuni rumah mendengkur dalam tidur pulas. Hanya gelepar kelelawar  yang terdengar berkepak-kepak menyentuh pucuk daun. Ibuku yang niatnya  ikut begadang dan ingin melihat sendiri wajah-wajah para siluman,  ternyata sudah lelap pada pukul dua belas tengah malam itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini  waktu telah menunjukan pukul 02.00. Aku dan Sukamto yang sudah siap  menerima kehadiran para siluman, dikejutkan oleh munculnya kakek-kakek  dengan dua ekor 'kucing raksasa' yang selalu mengawalnya. Sebelum kami  menegur sang kakek ber-ucap lebih dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Rupanya kalian telah  siap menerima kehadiran kami kemari. Terima kasih atas penyambutan  kalian yang lebih semarak daripada sebelumnya. Tetapi kami disini tak  akan terlalu lama. Kami hanya menyampaikan berita, bahwa kekecewaan kami  semakin bertambah karena kekerasan hati kalian, yang tetap tak mau  mengubah pendirian. Meski demikian kami masih bisa bersabar sampai hari  yang ke-40 nanti. Jika sampai pada hari tersebut kalian masih tetap  berkeras, maka kesabaran kami akan habis. Nah, selamat berpikir  anak-anak Broto!'' katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai berucap demikian, kakek misterius itu beringsut keluar, yang segera di buntuti oleh 'pengawal-pengawalnya' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berpandangan satu sama lain.&lt;br /&gt;
'' Kau mendengar ucapan kakek Mbayong tadi, kak?'' seru Sukamto akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Ya,  tetapi apa artinya bagi kita? Ingat, kita telah menempuh separuh dari  perjuangan ini dan tiadaa gunanya mengubah rencana semula,'' tegasku.'Menyedihkan sekali nasib ayah,' ujar Sukamto, dan masih banyak lagi  kata-kata yang meluncur dari celah bibirnya, namun sama sekali tak  berhasil menggoyahkan keteguhanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak pula para pinisepuh  desa yang telah mencoba mempengaruhi hatiku dengan alasan agar para  siluman pekuburan Mbayong tidak mengganggu ketentraman desa kami, namun  aku tidak mempedulikan semuanya itu. Aku tak pernah melihat kesalahan  apa pun dalam tindakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
waktu berjalan terus dari detik ke  detik, dan kini tibalah hari ke-40. Melekan dirumah ibuku sudah usai  pada pukul 10 malam. Kini yang tinggal hanyalah seperti biasanya, aku  dan adikku. Pukul 02.00 seorang kakek-kakek muncul dengan tiba-tiba dan  langsung menatapku. Sejurus kemudian muncul pula dari luar pintu seekor  harimau putih sambil menggigit tempurung kepala manusia dengan wajah  menyeringai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas si kakek melirik kepada harimau itu, seraya ujarnya, '' Taruh di situ saja!'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan  binatang siluman itu pun melemparkan bebannya. Tempurung kepala manusia  tersebut berguling-guling di lantai dan berhenti tepat di depanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" Kami tak mengharapkan kesediaan kalian lagi untuk dapat mengubur benda  itu di pekuburan Mbayong. Tetapi kami merasa puas setelah membagi-bagi  jisim ayah kalian. Anak yang tertua kami beri kepala,seperti yang sedang  kalian saksikan saat ini. Dan untuk kau Kamto, di rumahmu sudah kami  taruh sekujur badan ayahmu tanpa kaki dan tangan, serta tanpa kepala  tentunya. Sedangkan adikmu yang termuda, Astuti, kami beri sepasang kaki  dan sepasang tangannya. Dengan demikian antara kami dan kalian sudah  tak ada sangkut paut utang piutang lagi. Tapi ingat! Setiap malam tiba  dan dalam suasana sunyi, kepala ayah kalian yang menyeringai itu akan  selalu berguling-guling menuju anaknya yang tertua untuk menuntut  disatukannya kembali dengan badannya. Sedangkan badannya sendiri akan  Sukamto untuk di satukan dengan kedua pasang anggota tubuh serta  kepalanya. Demikian pula sepasang kaki dan tangannya akan menuntut  Astuti untuk ditemukan dengan badannya, karena tiap-tiap yang  terpotong-potong itu selalu ingin berkumpul kembali hingga terbentuklah  sesosok jasad yang sempurna. Nah, selamat tinggal, anak-anak Broto....!''&amp;nbsp;  ujar si kakek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini suasana di ruangan itu hening dan sunyi senyap. Dan kami kakak beradik tenggelam dalam kebisuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Inilah  jawaban terakhir siluman-siluman harimau itu, kak!'' cetus Sukamto  menangis. Aku tidak menjawab. Bahkan cukup lama aku terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Jasad ayah yang terpisah-pisah kita kumpulkan, kemudian kubur sekarang juga,'' akhirnya aku memberikan keputusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Tapi kalau jasad tersebut belum bersatu, tiap malam pasti datang dan menteror kita, kak,'' timpal sukamto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dengar,  jasad orang mati itu baik utuh maupun terpisah-pisah, tidak bisa  berbuat apa-apa. Seandainya jasad ayah kita bisa melakukan teror,  tentulah karena ulah para siluman itu. Tetapi setelah kita  menguburkannya kembali, mereka tak berhak mengusiknya lagi,'' jelasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kesekian kalinya Sukamto tak berdaya dalam menghadapi keteguhan  sikapku. Maka malam itu juga kami berusaha mengumpulkan jasad ayah yang  terpisah-pisah, lalu menguburkannya kembali di pekuburan umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya  kebulatan tekadku yang ingin menyelamatkan jasad ayah membuahkan hasil.  Terbukti terorjasad yang terpotong-potong itu tidak terjadi. Tetapi  meskipun demikian, tentu saja almarhum Subroto, ayahku, tetap harus  mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya selama masa hidup di alam  dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;( kisah nyata ini sebagaimana di tuturkan oleh hardiono )&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
TAMAT&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSv9TtEfGwQ4fTVllwFoi8QaKBQ1wj5t7hUlW6SzDOcN49QW8FmOYtztKIGzxWmG0wk1XV3IGaMjbw1R0HO3ePmOVSe20xKYFDMrAAZZLQCl5v9MJ6lQC1NEHjT7UKqfBbiZ54_HHeyH_n/s72-c/harimau.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tuntutan Harimau Siluman Penghuni Kuburan Mbayong  ( bag I )</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/08/tuntutan-harimau-siluman-penghuni.html</link><category>Misteri</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sat, 6 Aug 2011 15:14:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-2509238213815964767</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpI_8jVBiSlkwci-VKVMnOcrh8quLnfC6_SCTDugGBvYpChMiZ3nH-dhl-sGH33LTJ_zJGXdX-_lg4WGp7DdMdYCIlVpWAodO1tAenom3cpetlIVl4xIgzJJ6yT1OTquznwj5yL62tnLXk/s1600/harimau.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpI_8jVBiSlkwci-VKVMnOcrh8quLnfC6_SCTDugGBvYpChMiZ3nH-dhl-sGH33LTJ_zJGXdX-_lg4WGp7DdMdYCIlVpWAodO1tAenom3cpetlIVl4xIgzJJ6yT1OTquznwj5yL62tnLXk/s200/harimau.jpeg" width="147" /&gt;&lt;/a&gt;Pukul 02.00 wib,gelap yang pekat menyelubungi desa kami dan sekitarnya.  Udara dingin teras kian menggigit ketika hujan turun rintik-rintik.  Beberapa saat kemudian hujanpun jadi semakin deras. Kesenyapan malam  tiba-tiba dipecahkan oleh dentuman petir yang menggelegar dari suatu  arah. Petir itu bergemuruh bersamaan dengan dengkur orang yang  bersahutan. Lalu, aku terbangun kaget&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Waduh, sasaran apa  gerangan yang telah disambar petir itu? Mudah-mudahan hanya pohon kelapa  saja yang menjadi sasaran, bukan manusia!" bisik hatiku&lt;br /&gt;
Dan entah karena jalan pikiranku sendiri, rasa takut tiba-tiba datang menyergap.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak  lama kemudian hujan sudah agak reda, hanya terdengar suara tak-tik sisa  butir-butir air hujan jatuh dari daun-daun pepohonan. Tetapi bila  diperhatikan sungguh-sungguh, bunyinya semakin lama terdengar semakin  keras dan seolah-olah kian dekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ah, rupanya ada hantu air yang bergentayangan!" gumamku merinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku  bangkit dari tidur, duduk dikursi dan kusulut sebatang rokok berfilter.  Lantas berusaha menenangkan hati dan berfikir bahwa tidak akan ada  hantu masuk rumah, kecuali jika keluargaku sendiri yang mati dan  kemudian menjadi hantu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi bukankah ayah baru saja meninggal, dan malam itu adalah malam selamatan yang ke tiga harinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam  itu memang merupakan malam tirakatan rumah keluargaku. Tiga hari yang  lalu ayahku meninggal dunia, dengan meninggalkan tiga orang anak,  masing-masing Aku, Sukamto, dan astuti. Almarhum ayah yang kaya telah  memberi bekal hidup kepada anak-anaknya dengan pendidikan yang lumayan  menurut ukuran orang-orang didesaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti halnya aku,  sekalipun tidak sampai mendapatkan titel kesarjanaan, tetapi masih dapat  menjabat kepala sekolah di SD Negeri setempat. Sedangkan adikku,  Sukamto yang rendah hati itu, menjabat jabatan kepala irigasi, dan  saudara yang termuda, Astuti, menjadi perawat di salah satu Puskesmas,  serta baru saja menikah dengan Pramono teman seprofesinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai pada malam itu, karena keluarga yang ditinggalkan terbilang orang  terkaya didesa, maka tak mengherankan bila dirumahku diadakan melekan  seusai selamatan. Pada malam selamatan ini tidak banyak orang yang  hadir, kecuali para kerabat dan keluarga dekat almarhum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga  yang ikut tirakatan sudah bubar pada pukul 22.00 tadi, tetapi anak-anak  almarhum bahkan sampai menginap dirumah ibu. Hanya anak termuda yang  tidak ikut melekan, karena tidak wajar seorang wanita melakukan hal  demikian. Sementara suaminya, Pramono, yang bersedia melek semalam  suntuk, dicegah olehku dan Sukamto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''kalian kan pengantin baru,'' kataku saat itu menggoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba, terdengar pintu diketuk dari luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Siapa?'' seruku, berdebar saat mengucapkan kata itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Saya  nak Har! Saya kakek Mbayong, tolong bukakan pintu, kami perlu  berbincang-bincang denganmu, sebentar saja,'' terdengar jawaban dari  luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kami?'' desisku dalam hati. Berarti lebih dari satu. Aku menggigil mendengar seruan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab  kakek Mbayong adalah manusia setengah setan. Juru kunci kuburan Mbayong  yang dihuni oleh siluman-siluman harimau. Lalu bagaimana cara  meloloskan diri dari kenyataan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Bukalah segera. Di luar masih turun hujan, rasa dingin semakin merasuk ke tulang sumsum," terdengar lagi suara kakek Mbayong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku  kian menggigil dan merasa darah disekujur tubuh seakan-akan telah  mengering. Sekonyong-konyong pintu terkuak dari luar tanpa menimbulkan  suara, dan seorang kakek-kakek yang berambut panjang masuk. Matanya  kelabu, dingin, tanpa secercah kebingaran tersirat. Tetapi kondisi fisik  dan mentalnya masih nampak cukup tangguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Selamat malam....!  Mungkin kau telah menganggapku kurang sopan, karena memasuki rumah ini  tanpa izin. Tapi ketahuilah har! Bahwa sebenarnya kami mempunyai banyak  urusan denganmu'' seru kakek itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa seluruh tenagaku  seperti lenyap. Hendak kugapai adikku yang masih tertidur pulas  dilantai, tetapi kakek misterius itu segera mencegah.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan! Jangan kau bangunkan dia! Kami merasa hanya berurusan denganmu,  sebab kaulah otak dari semua rencana penguburan jisim (jasad) ayahmu  itu. Sekarang, baiklah kubuka sejarah dari kehidupan kedua orang tuamu  di masa hidupnya." Lalu kakek itu bertutur panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"30 tahun  yang lalu, waktu itu kau masih berumur sekitar 6 tahun. Ayahmu telah  bersujud dibawah telapak kakiku untuk meminta sedekah. Kau tahu kenapa  kau diajak ayahmu menghadap kami? Hm..kami menyadari bahwa kau bukan  hendak dibuat tumbal oleh ayahmu, karena dia tidak sebodoh itu. Kau  diajak ke Mbayong dulu karena dirumah tidak ada yang mengasuhmu. Waktu  itu ibumu sedang minggat karena tidak diberi belanja oleh ayahmu  berbulan-bulan lamanya. Dan itulah sebabnya, ayahmu merengek-rengek  minta sedekah kepada kami dengan harapan agar bisa kaya-raya dan ibumu  yang cantik itu mau diajak rujuk kembali, dan demikianlah kenyataannya.  ingatkah kau waktu bermain-main dengan dua ekor kucing raksasa di  Mbayong dulu? Sementara itu ayahmu sedang bersemedi agar permohonannya  dikabulkan oleh penguasa pekuburan Mbayong...?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar  penuturan itu aku berdiam diri, bukan tak ingat lagi akan masalah itu.  Pikiranku mulai merangkak menyusuri jalur-jalur hidup yang telah  ditempuh ayah pada 30 tahun yang lalu. Waktu itu orang tuaku memang  sedang ditimpa kemelaratan hebat. Untuk membiayai hidup sehari-hari,  ayah merasa kewalahan, hingga akhirnya ibuku purik (minggat). Ayah  merasa selalu dibayangi nasib buruk dan akhirnya pergilah ia ke kuburan  Mbayong untuk mencari pesugihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami bisa memenuhi  permintaanmu, tetapi dengan syarat, setelah kau meninggal nanti harus  dikuburkan di pekuburan Mbayong sini! Kau akan dapat hidup kembali  sampai dunia ini kiamat, tapi dalam wujud seperti dua ekor kucing  raksasa yang sedang bergurau dengan anakmu Hardi itu," Demikian ujar juru  kunci saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ingatan ini, dalam hatiku membersit rasa menyesal bercampur  kengerian. Aku berusaha mengatasi cengkeraman tersebut dengan cara  menguburkan jisim ayah di pekuburan umum, yang sekaligus mengingkari  janji yang telah dibuat ayah dengan siluman-siluman pekuburan Mbayong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Nah bagaimana? Kau ingat kejadian 30 tahun yang lalu itu?'' seru kakek Mbayong yang agaknya mengetahui lamunanku sudah usai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Tapi kenapa jisim ayahmu kau kubur di pekuburan lain?'' tanya kakek Mbayong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tersentak aku oleh pertanyaan itu. Aku menggigil dan memandang pada si kakek untuk mohon pengertian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Maafkan saya kek. Kami memang sengaja membebaskan ayah dari jalan yang sesat itu,'' ujarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar ucapanku, kakek Mbayong memerah wajahnya karena dilanda amarah yang meluap-luap. Desahnya kemudian.&lt;br /&gt;
''  Kami memang telah menempuh jalan yang sesat, tetapi ayahmu terpengaruh  oleh kami, sehingga kau sudah terlambat untuk membebaskannya. Kau tahu,  utang-utang ayahmu kepada kami sudah tak terhitung lagi banyaknya, dan  itu harus dibayar dengan cara penguburan jisim dia di pekuburan Mbayong.  Kau bisa saja menjauhi jalan yang kami tempuh itu, tetapi tidak bisa  membebaskan ayahmu!'' ujar si kakek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai berucap demikian,  kakek misterius itu bertepuk tiga kali. Pintu terbuka lebar dan dari  luar merangkaklah dua ekor harimau putih, sambil menggotong sesosok  mayat yang masih terbungkus kain kafan. Mayat itu ditaruh di depanku,  kemudian binatang-binatang siluman ini duduk dengan sepasang kaki  belakangnya di sisi si kakek. Seekor di sisi kiri dan yang lain  disebelah kanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hadirnya siluman raja hutan itu,  jantungku seolah-olah berhenti berdetak, hatiku dicekam ketakutan hebat.  Tetapi kakek Mbayong segera menegaskanku agar tidak usah merasa takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kucing-kucing raksasa ini adalah kakek dan eyangmu sendiri. Coba perhatikan baik-baik!'' ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini yang tampak dimataku adalah dua orang kakek yang menatap tajam ke  arahku. Kedua kakek yang menatap tajam kearahku. Kedua kakek itu hampir  sama roman mukanya, tetapi yang sebelah kanan jauh lebih tua daripada  yang kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Nah, itulah wajah-wajah leluhurmu, Hardi! Tentu kau  tidak mengenalnya sebab mereka meninggal di saat kau belum lahir ke  dunia. Mereka inilah yang telah menjadi warga kami, dan orang ketiga  nanti adalah ayahmu. Sekarang perhatikan jasad itu, itu adalah ayahmu  sendiri. Kami sengaja membongkarnya kembali dari kuburnya, bersamaan  dengan terdengarnya petir yang menggelegar tadi. Lalu kami membawanya  kemari dengan harapan agar kau bersedia menguburnya kembali di pekuburan  Mbayong. Itulah pesan kami. Jika kau tetap berkeras, itu resikonya  besar sekali.'' Imbuh si kakek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah berkata demikian,  sekonyong-konyong kedua harimau di sisinya hilang secara gaib, tanpa  meninggalkan suara. Sementara kakek Mbayong beringsut mundur, lalu  menutup pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bagaikan baru terlepas dari daya pukau yang  kuat. Segera membangunkan adikku, Sukamto, yang masih tertidur dengan  pulas di lantai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Ada apa kak?'' serunya kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'' masa kau  tidak mendengar pembicaraanku dengan kakek Mbayong? Coba lihat itu!''  kataku sambil menunjuk mayat ayah yang terbujur di lantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sukamto berpaling, ia langsung hendak berteriak tetapi segera dicegah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Jangan berteriak! Itu adalah mayat ayah kita sendiri, yang dibawa kakek Mbayong kemari. Coba periksa betul-betul!'' ujarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah  kesadarannya penuh, Sukamto beranjak kearah mayat ayah. Kain kafan  dibuka, bau yang tidak enak tersebar semburat memenuhi ruangan. Dan  secara perlahan-lahan pemuda itu mencucurkan air mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Memang ayah telah menempuh jalan yang sesat,'' gumamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Benar, tetapi semuanya demi kebahagiaan kita,'' sahutku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Lalu apa yang dikehendaki kakek Mbayong dengan perbuatnnya ini, kak?'' tanya sukamto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Tentu mereka menuntut agar jasad ini dikubur di pekuburan Mbayong!'' jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bersambung ke:&lt;b&gt; &lt;a href="http://mustofasilver.blogspot.com/2011/08/tuntutan-harimau-siluman-penghuni_06.html"&gt;Tuntutan Harimau Siluman Penghuni Kuburan Mbayong (bag 2 )&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpI_8jVBiSlkwci-VKVMnOcrh8quLnfC6_SCTDugGBvYpChMiZ3nH-dhl-sGH33LTJ_zJGXdX-_lg4WGp7DdMdYCIlVpWAodO1tAenom3cpetlIVl4xIgzJJ6yT1OTquznwj5yL62tnLXk/s72-c/harimau.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cinta Farhan ( Tamat )</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/07/sally-tercengang-di-depan-pintu-kamar.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Fri, 29 Jul 2011 15:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-4624703459461740845</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxuPkEtI3cOIe8KfWO2PYL1fWruRify04XqiPaL83Uybqeoe8_BLKo4_Ix8KzbK0VUj_FiQkfzUElMfCR4UtVb8WSE_iHjxUb0IGu27jLrKORWZV10z1XCFQ0yrsSAdWz-iOJ52P-wb5-Y/s1600/cinta+farhan.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxuPkEtI3cOIe8KfWO2PYL1fWruRify04XqiPaL83Uybqeoe8_BLKo4_Ix8KzbK0VUj_FiQkfzUElMfCR4UtVb8WSE_iHjxUb0IGu27jLrKORWZV10z1XCFQ0yrsSAdWz-iOJ52P-wb5-Y/s200/cinta+farhan.jpeg" width="153" /&gt;&lt;/a&gt;Sally tercengang di depan pintu kamar mandi, wajahnya mendadak pucat  dan kelihatan bingung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ohh… Tuhan kenapa jadi begini?  Bagai mana aku bilang ke Farhan bahwa aku hamil.  arrrrrrrrrrgggggggghhhh” Sally merintih dalam hati. Lalu membanting  pintu kamar mandi dan segera berlalu kekamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Apapun  yang terjadi aku harus memberi tahu Farhan, bayi ini juga anak dia.”  Sally segera mengganti bajunya dan meluncur dengan mobilnya menuju rumah  Farhan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya dirumah Farhan Sally segera memarkir  mobilnya dan turun, Rina adik Farhan sedang asyik membaca majalah  dikursi santai didepan rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Pagi Rin, abangmu ada?”  Sapa Sally sambil mengelus kepala Rina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Pagi Mbak, Abang  dah keluar dari kemarin sore, dia bilang minggu depan baru kembali,  emangnya abang gak pamitan ama mbak yah?” jawab RIna sambil menggeser  kursi untuk Sally.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”enggak, emang Farhan kemana Rin?”  Tanya Sally sambil menjatuhkan pantatnya disebelah Rina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Katanya  sih mau ke Jogja nyari cewek pujaannya, itu tuh cewek alim yang namanya  Aisyah, kemarin Rina sempat baca buku harian Abang, rupanya dia masih  mengharap dengan mbak Aisyah.” Rina menjawab dengan mata yang masih  asyik melihat lihat majalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sally tersentak mendengar  ucapan Rina, ada berjuta rasa cemburu yang berkecamuk didadanya.  Perlahan matanya berkaca-kaca dan sebelum Rani menyadarinya dia segera  berpamitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ran mbak pulang dulu yak? Kamu baik-baik  dirumah. Kalau Farhan pulang suruh dia hubungi aku ya? Penting.” Sebelum  Rani sempat menjawab Sally segera berlari menuju mobilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia  tak segera pulang ke rumah tapi menuju tepi pantai dan menangis disana  meluapkan kekecewaan didadanya. Suara deburan ombak dan pekikan  burung-burung camar menjadi musik pengiring tangisannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  ****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Farhan sudah berada  di pondok pesantren Al-Furqon milik kakek Aisyah “Kiyai Soleh”.. karena  pengasuh pondok itu sedang mengisi Tausiyah di Mushala pesantren maka  Farhan dipersilahkan untuk menunggu dipendopo Pesantren. Setelah  menunggu kurang lebih dua jam akhirnya kiyai Soleh datang menemui  Farhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Assalamu’alaikum anak muda, ada perlu apa kiranya  anak muda ini menemui saya?” Tanya Pak kiyai setelah beliau duduk  didepan Farhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”wa’alaikumsallam pak, saya Farhan, saya  datang kesini ingin menemui salah seorang&amp;nbsp; santriwati yang sedang  nyantri disini.” Jawab farhan agak ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”ohhh… begitu,  trus apa hubungan sampean dengan santriwati tersebut?” Tanya pak Kiayi  menyelidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”emmmmm anu pak, cuman kawan” Jawab Farhan  disambut senyum pak kiayi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Anak muda, sampean tau gak apa  hukumnya seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan yang bukan  mukhrim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
farhan hanya diam tanpa berani menatap mata pak  kiayi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Jadi maaf saya tidak bisa mengijinkan sampeyan  bertemu dgn santriwati saya, siapapun dia.” Lanjut pak kiayi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Tapi  pak, ini penting sekali pak.. “ Desak Farhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Sekali  lagi maaf, ini peraturan pesantren, tak ada yang berhak menemui santri  kami kecuali Makhramnya. Maaf, saya harus segera mengajar. Nak Farhan  kalau masih ingin istirahat disini nanti saya suruh lurah pondok  menyediakan tempat di asrama putra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Tidak pak  terimakasih, saya pamit saja. Assalamu’alaikum.” Farhan berdiri dan  segera keluar dari pendopo pesantren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setibanya dihalaman  pesantren tiba-tiba matanya tertuju pada sosok yang sangat dia kenal  sosok yang selama ini dia rindukan, yahhh Aisyah dia sedang asyik  menyiram bunga yang tumbuh dihalaman pesantren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Aisyah…  aku datang mencarimu.”Ucap Farhan sambil mendekat kearah Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Assalamu’alaikum…  mas Farhan, kenapa ada disini.” Tanya Aisyah agak terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Aku  sengaja datang mencarimu sah… kenapa kamu gak memberi tahu ku saat kau  pergi? Kamu tahu malam itu aku datang kerumahmu dan akhirnya kecewa.”  Farhan berkata sambil menatap Aisyah lekat-lekat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Sebaiknya  mas pergi dulu, besok saya berangkat kuliah, kalau mas masih ada yang  perlu di omongin tunggu saya jam 11 di warung bakso dekat lapangan.  Assalamu’alaikum.” Setelah berkata seperti itu Aisyah segera berlalu ke  dalam asrama, meninggalkan Farhan dengan sejuta rasa yang berkecamuk di  dadanya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; *****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara  riuh kicauan burung mengusik tidurku pagi ini, matahari sedikit demi  sedikit menampakan wajahnya diufuk timur, Deni masih tertidur dengan  memeluk gulingnya, aku bangun dan segera menuju kamar mandi untuk mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Wahhh…&amp;nbsp;  seumur hidup aku baru pertama liat kamu mandi pagi han.” Oceh Deni saat  aku kembali masuk kedalam kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sembarangan, emangnya  elu Den. Jorok.” Jawabku sambil menatap pantulan wajahku didalam cermin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Elo  beruntung banget Den punya temen seganteng gua hahaha.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nenek  kamu tuh ganteng.” Sahut Deni sambil melempar bantal gulingnya  kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Deni adalah temanku sedari kecil, dia sudah  menetap dan bekerja di jogja sejak beberapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah  merapikan sedikit penampilanku aku segera keluar menuju tempat yang  dijanjikan Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“hemm, baru jam 10 pagi, aku masih  punya waktu 1jam menunggu Aisyah.” Kata ku dalam hati sesampainya di  depan warung bakso yang dimaksud oleh Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah  warung kecil sederhana, penjualnya seorang perempuan berjilbab setengah  baya yang ramah. Aku memesan segelas es the manis untuk menemaniku  duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bu, boleh numpang duduk sebentar gak? Saya lagi  nunggu temen nich!” kata ku pada pemilik warung saat dia tengah  menghidangkan the manis dimejaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Boleh-boleh saja den,  kebetulan jam-jam segini warung emang sepi.” Jawab nya ramah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“makasih  bu..” aku segera menyambar es the yang sudah terhidang dihadapan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru  beberapa teguk aku meminum minumanku, Aisyah sudah muncul didepan pintu  warung. Dia tersenyum kearahku lalu mengambil tempat duduk didepanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Assalamu’alaikum,  maaf mas dah menunggu lama yak?” Tanya nya dengan nafas sedikit ter  engah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngak kok baru beberapa menit aku sampai, liat nih  minumannya juga belum habis..” Jawabku sambil mengangkat gelas  minumanku. Lalu aku pun memesan dua mangkok bakso dan segelas es jeruk  untuk Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”oh ya mas, kenapa mas Farhan ada disini?”  Tanya Aisyah sambil mengaduk minumannya, lalumeneguknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Aku  sengaja datang mencarimu Syah, Aisyah aku.. aku… aku suka ma kamu.”  Aisyah tersedak mendengar ucapanku. Dia hanya tertunduk dan diam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syah,  kamu gak perlu menjawabnya sekarang, aku takan mendesakmu, aku hanya  ingin kamu tahu, itu saja.” Aku melanjutkan ucapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mas,  mas tahu kan aku tinggal dipesantren sekarang, dan tak dibenarkan untuk  berpacaran disana? Kami hanya akan menurut pada peraturan guru dan  orang tua kami, maaf mas, sebaiknya mas lupakan saja saya, masih banyak  gadis lain yang jauh lebih sempurna dari saya. Assalamu’alaikum.”  Setelah berkata seperti itu Aisyah segera berdiri dan berjalan tergesa  meninggalkan aku yang hancur bersama harapan ku untuk bisa mendapatkan  dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; -------- Tamat ------------&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxuPkEtI3cOIe8KfWO2PYL1fWruRify04XqiPaL83Uybqeoe8_BLKo4_Ix8KzbK0VUj_FiQkfzUElMfCR4UtVb8WSE_iHjxUb0IGu27jLrKORWZV10z1XCFQ0yrsSAdWz-iOJ52P-wb5-Y/s72-c/cinta+farhan.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mama, ma'afkan Nisa</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/07/mama-maafkan-nisa.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Fri, 29 Jul 2011 15:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-7751844441115926788</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiffIHspEfP4ftgpIdravuSRFGIkWnRFbaLlOPUsqOmg0VGjQHk5wBBBj8mYb8YpQwSvTnv90Flyh1MZja6o_tPnBPxrFDdoIEEHpaAmfddrI825OT3ipMOEMfvbW3hAcU2AKzmF4NL3GBI/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiffIHspEfP4ftgpIdravuSRFGIkWnRFbaLlOPUsqOmg0VGjQHk5wBBBj8mYb8YpQwSvTnv90Flyh1MZja6o_tPnBPxrFDdoIEEHpaAmfddrI825OT3ipMOEMfvbW3hAcU2AKzmF4NL3GBI/s200/images.jpeg" width="141" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Aku mencintai markus  ma, kenapa mama tak biarkan aku bersamanya?” Aku mendebat mama yang  mempermasalahkan hubungan ku dengan atasan ku dikantor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa  yang kurang dari dia ma, dia jelas-jelas seorang yang sukses, kaya,  ganteng dan yang pasti dia sayang sama Nisa.” Lanjutku dengan nada yang  jauh lebih tinggi dari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akidah nduk yang jadi  pertimbangan mama, pernikahan beda agama akan menimbulkan banyak konflik  dalam rumah tangga nantinya” Mama tetap tenang menyanggah setiap  perkataanku.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Coba bayangkan seandainya nanti juniormu  lahir, dia akan melihat banyak perbedaan pada keseharian ayah ibu nya,  dia melihat ibunya shalat sehari 5 kali, sementara ayahnya pergi ke  gereja, kamu melarang dia minum alcohol dan memakan daging babi tapi  ayahnya melakukannya. Ini akan berpengaruh pada perkembangan mentalnya  dan di akan mengecap kalian sebagai pembohong karena disatu sisi kamu  melarang A tapi suamimu melakukan A. Nisa Mama rasa kamu jauh memahami  tentang hokum-hukum pernikahan beda agama dari pada mama. Cari lah pria  yang seiman nduk.” Aku mulai enggan mendengarkan nasehat Mama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah  lah Ma, Nisa capek.”Aku segera berlalu menuju kamarku dan membanting  pintunya keras-keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubunganku dengan Mama memang agak  memburuk setelah Mama mengetahui aku berpacaran dengan Markus Bosku,  Mama tak menginginkan aku menikah dengan orang yang berbeda keyakinan  denganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam 7 malam aku sudah berdandan, malam ini  Markus mengajak ku nonton dengannya, saat aku keluar dari kamar aku  berpapasan dengan mama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Astaghfirullah Nisa apa-apaan  ini? Mana jilbab kamu?” Tanya Mama setengah berteriak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ma,  malam ini Nisa mau nonton bukan kepengajian, sudah lah ma Nisa gak mau  berantem ma mama. Markus sudah menunggu. Assalamu’alaikum.” Setelah  berkata seperti itu aku segera berlalu dari hadapan Mama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Markus  sudah menungguku didepan rumah, lalu dia keluar dari mobil dan  membukakan pintu untukku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nis, kamu cantik banget tanpa  kain yang menutupi rambutmu?” Markus berkata sambil mengelus tanganku,  lalu perlahan mengemudikan mobilnya, aku duduk disampingnya dengan  senyum terkembang dibibirku, membayangkan menjadi nyonya Markus adalah  hal terindah dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu juga kelihatan ganteng  malam ini mas.” Balasku malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hahaha sejak lahir mas  sudah tercipta untuk jadi orang ganteng sayanggg..” jawab Markus dengan  nada bercanda. Aku hanya tertawa lepas, tawa yang hilang sejak kematian  tragis karena kecelakaan menimpa tunangan q Iwan beberapa tahun yang  lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melewati perjalanan kurang lebih 1jam  akhirnya kami sampai ke bioskop, Markus segera membeli tiket dan sekotak  besar pop corn serta dua gelas soft drink.&lt;br /&gt;
Selama menonton tangan  Markus selalu menggenggam tanganku, betapa berbunga nya hatiku dapat  menghabiskan malam dengan lelaki pujaanku. Setelah film slesai diputar,  Markus berbisik ditelingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nisa, I LOVE U…” lalu  mengecup keningku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“LOVE U 2..”aku menjawab dengan bibir  bergetar dan membenamkan tubuh ku dalam pelukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami  masih berpelukan saat keluar dari bioskop, dan tiba-tiba seorang wanita  cantik muncul di hadapan kami dan menampar mukaku, Markus hanya diam  melihat aku diperlakukan seperti itu, bahkan dia melepaskan pelukannya  dari pinggangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dasar kamu perempuan gatal, berani  sekali kamu mengganggu suamiku.” Kata-kata itu seperti petir yang  menyambar telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Astaghfurullah, maaf mbak… saya  bener gak tahu kalau dia sudah beristri.” Jawabku dengan airmata mulai  menetes dipipiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alasan, pergi kau dari sini, jangan  pernah coba mencari suamiku lagi.” Hardik perempuan itu sambil mendorong  tubuhku hingga hampir jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku segera berlari dari  tempat itu, mencegat taxi yang kebetulan lewat dihadapanku, Mama aku  ingin secepatnya pulang dan menangis dipangkuan mama…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Mama  maafkan Nisa mama, maafkan Nisa yang khilaf dengan keindahan dunia.”  Aku segera memeluk mama saat mama membukakan pintu untukku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada  apa Nis, apa yang terjadi sayang.” Mama membelai rambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Markus  ma, dia pembohong dia ternyata sudah beristri.” Kataku sambil terus  terisak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mama tersenyum mendengar apa yang aku tuturkan,  lalu mengajak ku duduk dan menyuruhku minum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seharusnya  kamu bersyukur nduk, Allah masih sayang sama kamu. Dia memberitahu kamu  tentang ini lebih awal, apa jadinya kalau kamu sampai menikah dengan  dia. Dan kerudung kamu, kerudung kamu yang rela kamu lepas demi seorang  kafir seperti dia, Allah tentu tidak menyukai hal itu. Segera mandi nak,  dan shalat tobat lah, mohon ampunan kepada Allah, mama yakin Allah akan  memberikan jodoh yang terbaik bagi kamu, jodoh yang sekeyakinan dengan  kita. Yang dapat membimbingmu untuk menggapai kebahagiaan dunia dan  akherat.” Mama kembali tersenyum dan memelukku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih  mama maafkan Nisa yang telah mendurhakai mama.” Aku mencium pipi mama  dan segera pergi mandi dan berwudlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membentangkan  sajadahku diantara hening malam, ditemani suara jangkrik dan serangga  malam, dalam pelukan cinta Mama yang tak kenal batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hamba  khilaf ya Rabb… terimalah tobat hamba. Ampunilah dosa-dosa hamba.  Berilah kesempatan pada hamba untuk menjadi hamba yang sholehah yang  bisa menjaga iman dan islam hamba… amiinnnn ya Robbal’alamin.” Aku  segera melipat sajadah dan mukenaku, menyimpan nya dan berjalan menuju  kamar Mama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mama tetap cantik dalam tidurnya, wajahnya  teduh dan senyum kecil terkembang dibibirnya, aku mendekat dan  merebahkan tubuhku yang lelah disisi mama, memeluk nya erat dan terlelap  dalam mimpi indah tentang kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata didunia ini  hanya mama lah cinta yang sebenarnya, yang bertaruh nyawa untuk  melahirkan kita, yang berjuang untuk membesarkan kita, dan mengasuh kita  hingga kita dewasa. Semoga Ibu-ibu kita yang masih hidup diberi  kesehatan dan umur yang panjang serta barokah hingga masih diberi  kesempatan untuk menggendong cucu cicitnya, dan semoga Mama-mama yang  telah dipanggil oleh Allah SWT diberikan tempat yang terpuji disisi-Nya,  tempatnya orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah Tuhan semesta alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELAMAT  MENYAMBUT BULAN RAMADHAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiffIHspEfP4ftgpIdravuSRFGIkWnRFbaLlOPUsqOmg0VGjQHk5wBBBj8mYb8YpQwSvTnv90Flyh1MZja6o_tPnBPxrFDdoIEEHpaAmfddrI825OT3ipMOEMfvbW3hAcU2AKzmF4NL3GBI/s72-c/images.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sang Pengembara</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/07/cerpen-sang-pengembara.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sat, 2 Jul 2011 14:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-8270218859171623719</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwyQbeZrBRvJBh98P9XvH-SkFf0iey8zQMgn1YQLBXvQLfoDcTUrk-OdFyokrRu3e2LY7AvM2626SAeSVix14uhUuNJKz5uhUKH69VtRWZ7dNrbM6p1Iv8-RWnAxHSIQCVe1vz5UPep1SM/s1600/index.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwyQbeZrBRvJBh98P9XvH-SkFf0iey8zQMgn1YQLBXvQLfoDcTUrk-OdFyokrRu3e2LY7AvM2626SAeSVix14uhUuNJKz5uhUKH69VtRWZ7dNrbM6p1Iv8-RWnAxHSIQCVe1vz5UPep1SM/s200/index.jpeg" width="195" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Cerpen: Antoni&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku  membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba  makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan  kasar, jatuhlah aku ke pelaminan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang pengembara, tapi  kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara  terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung,  tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati  dironce-ronce,&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali.  Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung  menggantung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ini pernikahan resmi kan, Ma?" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada naib dan petugas KUA. Sah &lt;br /&gt;
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya  alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang  muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami  pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut  yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan  satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Sambil menyulut  rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah limasan  ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah.  Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tercenung sejenak.  Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun lalu. Seandainya  masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan pernikahanku. Wasiat  terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku bahagia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambutku  terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang kering, bersirobok masuk  dari pintu depan. "Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa  saja, Bu…," gumamku dalam batin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan, terus terang, memang  membuatku bahagia. Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana.  Pernikahan memaksaku berhenti mengembara. Puluhan tahun aku melintasi  jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan harapan. Kakiku melangkah  tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh kekuatan yang tidak pernah  aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai  pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat  perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya.  Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam  berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun  oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama  sekali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam  bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih  dahulu, seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18  tahun, sudah tiga kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami  elemen-elemen pernikahan itu. Rumah pertama, mungil tapi permanen,  terpaksa aku jual karena pindah ke Surabaya. Dan calon istriku pergi  jadi pramugari. Terbang, selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah kedua, sebetulnya aku  tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski  pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di pinggir jalan besar,  di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun lamanya, sambil  menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke  Singapura bekerja di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, aku tidak membangun  rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja.  Sebuah rumah joglo tua dan angker. Kubuat galeri &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kecil, lumayan  juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat dibeli turis Belanda dan Belgia.  Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom Bali, aku memutuskan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini,  aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya rumah  tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini  istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang didera  penderitaan hidup berkepanjangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku letakkan puntung rokok  terakhirku ke asbak. Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak  dari duduknya. Lamunanku tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku  tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku  di bilik sebelah, bersekat tripleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istriku cantik sekali.  Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi pakaian  pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun  pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal,  di ujung hidungku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi  aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana  lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda,  Surabaya dua tahun lalu, sepulang dari Makassar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku cium lagi  tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. "Mau  ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari belakang,  kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan cermin.  Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya  berbinar-binar. Ia bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna kebahagiaan bagiku hanyalah  setetes warna yang lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam.  Setiap orang yang mampu meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan,  tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. Seringkali aku merasa lelah  mengembara dan ingin hidup layak seperti pada umumnya orang dengan  menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang disampaikan Allah  kepada Nabi Ibrahim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua minggu menjelang pernikahan, secara  khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan  paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon  tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah  malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku  itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga,"  begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala sesuatunya secepat kilat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahanku  juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam  di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada  getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir  lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasa saja, semuanya  berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang  mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama  aku, harus serius…," katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langsung saja aku melamarnya malam  itu juga. Ia pun mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita  mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam "bertabur bintang" itu,  terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan dan wedding taart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat, &lt;br /&gt;
semua  berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar  sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan  matahari bersinar ramah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik.  Biasanya jok sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen  pribadi dan beberapa bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut  tergerai, tawa yang renyah dan sangat suka memakai aksen…gitu loh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa Liya beda dengan Lia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku  jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita  selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem  kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta. &lt;br /&gt;
"Aku pengin punya anak 9," kataku.&lt;br /&gt;
"Dua saja….Capek," jawabnya sambil menepuki perutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu  kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan  kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis  lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di  cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku  selalu merindukan setiap menitnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tawa ceria dan segala canda  itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya  dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak  kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. Sirna seketika.  Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. Menghentak-hentak dan  menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah paham muncul  silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan pembicaraan-pembicaraan  yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah ucap sedikit,  menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa  karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya  berubah-ubah, sulit dipahami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar. &lt;br /&gt;
Menggelegar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati," kataku &lt;br /&gt;
mengingatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip. &lt;br /&gt;
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil  menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun berargumentasi tentang  pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele sampai besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku  tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku juga bukan  yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya agak berkerut-kerut,  ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku  berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal  rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang  jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan  perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir  kenapa harus begitu tergesa-gesa menikah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku &lt;br /&gt;
memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Argumentasinya  itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa lalu yang  carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. Ketika  baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa lalu  berakhirlah di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba  bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa  harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat  sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditata seperti mengatur  sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai  akhirnya lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik  hak atas seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hanya  kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku kepadanya. Ia  tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat.  Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada  bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil  bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia  sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam.  Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia pun menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;
"Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prahara  itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi  puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi  kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Besok  aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," ujarnya  sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku  berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti  permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin.  Ternyata tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu.  Sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi  ditutup. Ia pun ganti nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan  yang bisa membuatku bersedih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ini hanya sementara…," katanya  ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sementara…," itulah  kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan  teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupanku pun  limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak ada teman selain  rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan masa lalu  kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara. Akulah, pengembara  itu! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup &lt;br /&gt;
sederhana  di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai.  Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan  terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati.  Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku,  mengikutiku berdoa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak  mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi  pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit  yang lembab itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete  mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku  tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku. &lt;br /&gt;
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber: &lt;a href="http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/"&gt;&lt;i&gt;kumpulan cerpen&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwyQbeZrBRvJBh98P9XvH-SkFf0iey8zQMgn1YQLBXvQLfoDcTUrk-OdFyokrRu3e2LY7AvM2626SAeSVix14uhUuNJKz5uhUKH69VtRWZ7dNrbM6p1Iv8-RWnAxHSIQCVe1vz5UPep1SM/s72-c/index.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Peradilan Rakyat</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/07/cerpen-peradilan-rakyat.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sat, 2 Jul 2011 14:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-75121053035244934</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijWr3Y7EMWCcT8FMExJMs4aIVltbBIMbzJfIN99bsojfLexjzVuKvMoW6e4Fb4fow6tGjyI5_8UjE4yqTcUJ1Z9c5Y7tuxFST4vBFCjHidco5F4iaXK1Se5I2sNjIHPUJ9KWs6vsaOISdg/s1600/peradilan+rakyat.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="147" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijWr3Y7EMWCcT8FMExJMs4aIVltbBIMbzJfIN99bsojfLexjzVuKvMoW6e4Fb4fow6tGjyI5_8UjE4yqTcUJ1Z9c5Y7tuxFST4vBFCjHidco5F4iaXK1Se5I2sNjIHPUJ9KWs6vsaOISdg/s200/peradilan+rakyat.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Cerpen Putu Wijaya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi  ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para  penegak hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata  pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda  yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara  tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap  putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan  agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung&lt;br /&gt;
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu tersenyum.&lt;br /&gt;
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tentu  saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau  perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan  pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para  pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan tidak seperti para  elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan,  namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk  menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu  pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah  membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di  luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memang tidak  pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di  lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang  sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak  belajar dari buku itu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu tersenyum. Ia  mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti  macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku  tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh  sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan  bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap  kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan aku terlalu kecil untuk  menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah  tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya  penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna,  tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara tua itu meringis.&lt;br /&gt;
"Aku  suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa  bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara tua itu tertawa.&lt;br /&gt;
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak  apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung  pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga  pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri  dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam  doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air,  bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."&lt;br /&gt;
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terima  kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela  seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak  keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan  kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan  seorang pembela kelas satu untuk mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi aku tolak mentah-mentah.  Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk  membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater  spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada  kebangkitan baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang  pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam  dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua  sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara  yang aku tangani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena  pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya  pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus  juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di situ  aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku  melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil,  kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan  kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap  kejahatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke  titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim  pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda,  karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena  aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai  pecundang. Dan itulah yang aku tentang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negara harusnya percaya  bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang  bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi  aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku  untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah  negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat  kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk  membelanya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.&lt;br /&gt;
"Bagaimana Anda tahu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara  tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang  jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan  kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sebab aku kenal  siapa kamu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.&lt;br /&gt;
"Ya  aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang  pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar  aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku  mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu  pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang  seadil-adilnya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.&lt;br /&gt;
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Antara lain."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."&lt;br /&gt;
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.&lt;br /&gt;
"Jadi langkahku sudah benar?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan  dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai  profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak  hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan  sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di  situ sudah ada tujuan-tujuan politik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tawaran yang sama dari  seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang  pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak  mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik  pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal  semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak  membelanya karena ketakutan, bukan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak! Sama sekali tidak!"&lt;br /&gt;
"Bukan juga karena uang?!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan!"&lt;br /&gt;
"Lalu karena apa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu tersenyum.&lt;br /&gt;
"Karena aku akan membelanya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Supaya dia menang?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak  ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk  mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang  paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai.  Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling  penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai  klienku."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara tua termenung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa jawabanku salah?"&lt;br /&gt;
Orang tua itu menggeleng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seperti  yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan.  Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar  sebagai pemenang."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi kamu akan menang."&lt;br /&gt;
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sudah  bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca  walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi  karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu tertawa kecil.&lt;br /&gt;
"Itu pujian atau peringatan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pujian."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Asal Anda jujur saja."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku jujur."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Betul?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Betul!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.&lt;br /&gt;
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan! Kenapa mesti takut?!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mereka tidak mengancam kamu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengacam bagaimana?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara tua itu terkejut.&lt;br /&gt;
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak."&lt;br /&gt;
"Wah! Itu tidak profesional!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu tertawa.&lt;br /&gt;
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu terdiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"&lt;br /&gt;
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu tak menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Berarti ya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang  tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya  mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat  tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."&lt;br /&gt;
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan  kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau  perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu  ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi  kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Betul."&lt;br /&gt;
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keputusanmu  sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan,  seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan  dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian  untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu  sebagai penegak hukum yang profesional."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.&lt;br /&gt;
"Aku  kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu  pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah  sangat rindu kepada dia."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara muda itu jadi amat terharu.  Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat  tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah  dan kesakitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."&lt;br /&gt;
"Tapi..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara  tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.  Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu  wanita itu menoleh kepada pengacara muda.&lt;br /&gt;
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah  karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat  indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang  sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia  mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai  membangunkan orang tua itu dan berbisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Katakan kepada  ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu  sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan  memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang  ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang  lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat  negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan  menjadi bangsa yang lalai."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dibisikkan pengacara muda  itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia  mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat  itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya  dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara,  tak mungkin dijamah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir  bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster  raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru.  Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan  sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan  hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengacara tua itu  terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan  berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan  suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Setelah  kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku  berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku  sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada  putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi  juga seorang putra dari ayahmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak inginkah kau mendengar apa kata  seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di  mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan  rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.kumpulan-cerpen.blogspot.com/"&gt;&lt;i&gt; kumpulan cerpen&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijWr3Y7EMWCcT8FMExJMs4aIVltbBIMbzJfIN99bsojfLexjzVuKvMoW6e4Fb4fow6tGjyI5_8UjE4yqTcUJ1Z9c5Y7tuxFST4vBFCjHidco5F4iaXK1Se5I2sNjIHPUJ9KWs6vsaOISdg/s72-c/peradilan+rakyat.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Senja</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/06/cerpen-senja.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sun, 19 Jun 2011 00:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-4452387791146203912</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhls4Y25Y4oLeXKfoQ97P1_OHN1uGYvlMXzjOlBQmwaVVRvwi6defZ8ftaSOCvrjfUGvAkIMT4zd1rToAoG5DsKPQdux-s_IcsQzixKLFzv8XqguFknqqJYA0ZVySzzFqF5ObshZ_GMhdVZ/s1600/senja.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhls4Y25Y4oLeXKfoQ97P1_OHN1uGYvlMXzjOlBQmwaVVRvwi6defZ8ftaSOCvrjfUGvAkIMT4zd1rToAoG5DsKPQdux-s_IcsQzixKLFzv8XqguFknqqJYA0ZVySzzFqF5ObshZ_GMhdVZ/s200/senja.jpeg" width="129" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Cerpen Yanusa Nugroho&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering dibayangkannya bahwa awan-awan yang putih di bentangan langit  biru itu adalah pulau-pulau kapas. Kadang, awan itu membentuk bentangan  air terjun yang membeku, atau gunung karang putih yang mengambang di  lautan biru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehari penuh dia amati setiap perubahan yang ada di langit sana. Dan  ketika &lt;br /&gt;
awan-awan itu kian memerah dan akhirnya hilang oleh gelap malam,  dia pun berjalan pulang ke rumahnya. Di sapanya rumput, batu, tanah dan  perdu. Disenyuminya angin yang dengan nakal menyusup-nyusup di sela  rambutnya.  &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampainya di rumah, dia disambut keheningan yang  berjingkrak-jingkrak bagai kanak-kanak menyambut ibu pulang dari pasar.  Gelap, beranda rumahnya, berisi kursi plastik yang jebol di sana-sini,  serta selapis debu siang hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disapanya mawar merah dalam pot di beranda itu dengan siraman air.  Kemudian dinyalakannya saklar dan beranda menunjukkan wajahnya yang  samar-samar. Beberapa serangga mengitari bola lampu, seperti bergembira  menyaksikan kehidupan ada di rumah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang bisa dilakukannya setelah semua pintu kantor tertutup  baginya? Tak ada lagi sisa pekerjaan. Kantor tak membutuhkan seorang  laki-laki kurus, apatis, dan lamban seperti dia. Kantor tak membutuhkan  otak yang selalu menolak dan menilai sebuah tugas. Tidak. Pintu-pintu  kantor terbuka bagi mereka yang muda, gesit, dan tak banyak tanya;  kecuali jumlah billing yang akan diterima kantor. Mereka bicara hanya  soal insentif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu mendesah. Sejak semuanya tersapu badai krisis 98,  istrinya pun minggat bersama --entah siapa. Meninggalkan semua, bahkan  juga kenangan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu duduk, setelah tentu saja mandi, memasak mi instan dan  memakannya di beranda. Sebatang kretek menyala dan terselip di sela  jarinya yang kurus. Entah mengapa, dia ingin sekali menengok kotak pos  di pagar. Dengan lesu, dia berjalan dan membuka kotak pos itu. Tak di  sangkanya di sana ada sepucuk surat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan harap-harap cemas dia segera mengambil surat itu, membukanya  buru-buru, dan mencari tempat di bawah lampu untuk membacanya. &lt;br /&gt;
Surat itu berasal dari seseorang yang tak dikenalnya. Si pengirim  menyebutkan bahwa dia mendapatkan alamat serta nama si laki-laki itu  dari seseorang yang "...kenal betul dengan bakat anda..", begitu yang  tertulis di situ.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tertegun. "Bakat?" gumamnya. Lalu dilanjutkannya membaca.  Intinya, setelah panjang lebar menguraikan berbagai hal, si pengirim  meminta laki-laki itu untuk bertandang ke rumahnya di kompleks perumahan  mewah di kota itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aneh. Mengapa dia tak langsung saja datang. Mengapa harus berkirim  surat, jika tinggal di kota yang sama? Di situ, di bawah tanda tangan si  pengirim, disertakan sebuah nomor telepon. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai membaca, laki-laki itu duduk lagi di kursi plastik jebolnya.  Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di benaknya --entah apa, dia sendiri  tak begitu paham. Dengan cepat dihisapnya rokok kretek itu. Asap  mengepul-ngepul, sebelum lenyap ditiup angin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bergegas pula dia ke telepon, dan sambil melihat nomor yang ada di  surat itu dia pun menekan-nekan angka yang dimaksud. Dia terdiam  beberapa saat. Kemudian, "Haloo..." dan terjadilah pembicaraan yang agak  tersendat-sendat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu banyak terdiam, mendengarkan. Jika pun harus menjawab,  bibirnya hanya menyuarakan "oke" atau "baik", dan paling banyak "ya".  Pembicaraan itu akhirnya selesai, setelah si laki-laki menjawab,  "sama-sama." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali dia duduk di beranda, sambil mencoba menyatukan berbagai  kilasan bayangan di pembicaraan telepon tadi. Dinyalakannya sebatang  rokok lagi. Lalu, sesaat setelah hisapan ketiga baru saja dilakukan, dia  seakan mendapat jawaban akan apa yang seharusnya dilakukan. &lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
Hari itu adalah hari ketiga dia "bekerja" di rumah si pengirim  surat. Dan bahkan sampai hari ketiga itu pun, dia tak tahu siapa si  pengirim surat. Dia hanya berhubungan dengan seseorang yang  memperkenalkan diri sebagai "pembantu" si tuan rumah. Dan si "pembantu"  itu pun enggan menyebutkan namanya. Laki-laki kurus itu tak keberatan.  Apalah artinya dia mengetahui nama seseorang, jika hal itu tidak  berhubungan dengan pekerjaannya. Bukankah dunia tempat dia hidup sudah  memberinya semacam ekosistem seperti itu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti dua hari sebelumnya, dia duduk dan menunggu reaksi orang  yang ditungguinya. Yang ditungguinya itu adalah seorang gadis muda,  jelita, namun gila. Begitulah si "pembantu" bos besar itu mengatakannya  dua hari yang lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lalu, apa hubungannya dengan saya? Kalau dia gila, bawa saja ke rumah sakit gila..." &lt;br /&gt;
"Sudah. Dokter mengatakan bahwa dia tidak apa-apa." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kok, aneh? Kok, situ bisa mengatakan bahwa dia gila?" &lt;br /&gt;
"Ayahnya sendiri yang mengatakan begitu. Saya cuma meneruskan ucapannya kepada Anda." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terus, apa saya ini dianggap dukun?" &lt;br /&gt;
"Saya tidak tahu, Anda dukun atau bukan. Yang penting, Sampean diminta untuk mengupayakan agar dia sembuh. Begitu kata bos." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu sebetulnya tak tahu apa yang harus dilakukannya  terhadap gadis cantik yang katanya gila itu. Dia hanya duduk dan  menatapnya. &lt;br /&gt;
Ditatapnya sepasang bola mata yang bening namun kosong itu. Tak ada  siapa-siapa di dalam bola mata itu. Gadis itu sendiri seperti telah  pergi, atau mengembara ke negeri jauh, entah apa namanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sudah hari yang ketiga. Dan laki-laki itu sendiri sudah putus  asa menghadapi sesuatu yang tak jelas ini. Dia ingin mengatakan kepada  si "pembantu" bos bahwa dia menyerah. Namun, ada sesuatu yang membuatnya  batal mengatakan maksudnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara iseng, laki-laki itu kemudian mengambil sebuah patung kuda  perunggu, yang memang bagus. Diperkirakannya, itu buatan Italia. Detil  pada surai, bahkan pada bungkah otot-ototnya membuat kuda perunggu itu  tampak bernyawa.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Haha... apa kabar tuan putriku? Apakah hari ini tuan putri siap  berjalan-jalan?" ucapnya sambil memainkan kuda yang hanya segenggaman  tangan itu. Kuda itu digerak-gerakkannya di depan wajah si gadis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si "pembantu" hanya mendesah. Di benaknya hanya ada satu ungkapan "gila ternyata menular". &lt;br /&gt;
"Kita akan membelah awan. Tahukah tuanku bahwa awan sesungguhnya  adalah sebuah daratan di langit. Dia tergantung, dan tidak terdiri dari  tanah dan batu. Seluruh pohon, bahkan air yang ada di sana, adalah kabut  putih yang indah. Dan manakala matahari bersinar, pohon-pohon di negeri  awan itu akan tembus, laksana kristal." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bawa aku." &lt;br /&gt;
"Ten...tu, tentu." Tiba-tiba si laki-laki tercekat mendengar ucapan  itu. Dia seperti tak menyangka bahwa itu diucapkan si gadis.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si "pembantu" bos pun agaknya juga terheran-heran. Bagaimana  mungkin, setelah bertahun-tahun, gadis itu "pergi" dari tubuhnya,  mendadak kembali hanya karena bualan si laki-laki. Dia segera menelepon  bosnya melalui hp. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, laki-laki kurus itu seperti melihat ada cahaya  kehidupan di bola mata bening itu. Dia berhati-hati mengutarakan  keindahan yang dikhayalkannya. Dan untuk beberapa kali, dia sempat  menyaksikan senyum kecil tersungging di sudut bibir gadis cantik itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau harus membawaku ke sana." &lt;br /&gt;
"Baik. Apakah tuan putri ingin naik ke punggungku?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apakah kau bisa terbang?" &lt;br /&gt;
"Bisa. Lihat?" Laki-laki itu mengangkat kuda perunggu itu tinggi-tinggi melampaui kepalanya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si gadis tertawa kecil, matanya mengikuti ke mana pun gerak tangan  si laki-laki terarah. Dan ketika si laki-laki pura-pura menjatuhkan kuda  perunggu itu, si gadis terpekik dan tertawa senang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunung es itu telah cair dan laki-laki itu seakan menemukan beranda  rumahnya terang benderang. Mawar yang ada di pot kecil di beranda itu  seakan berkembang dan mengharum. &lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
Seminggu kemudian, gadis itu mau berdandan dan mengajak laki-laki  itu berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas. Dia dengan manjanya  merangkul lengan laki-laki itu. Dan tentu saja, laki-laki itu menjadi  muda kembali --meskipun usianya belumlah setua wajahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mas pernah menikah, ya?" &lt;br /&gt;
"Ya...dengan seekor kupu-kupu," candanya. &lt;br /&gt;
Gadis itu tergelak, "Cantik, tentunya..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya. Secantik kupu-kupu. Serapuh kupu-kupu..." &lt;br /&gt;
"Ke mana dia sekarang?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terbang. Bukankah kupu-kupu selalu ingin dikejar?" &lt;br /&gt;
Kembali gelak tawa si gadis terdengar. "Kok, Mas tidak mengejarnya?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Capek." &lt;br /&gt;
"Capek? Kalau begitu selama menikah Mas mengejar dia terus-menerus?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya." &lt;br /&gt;
"Mas tidak suka mengejar perempuan, ya?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya. Capek." &lt;br /&gt;
"Mas tidak mencari pacar?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak. Capek." &lt;br /&gt;
"Capek terus, sih?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya. Hidupku sudah amat melelahkan. Kamu sendiri ke mana saja selama ini?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jalan-jalan." &lt;br /&gt;
"Ke mana?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ke mana saja, asal tidak di rumah." &lt;br /&gt;
"Mengapa?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Capek?," jawabnya singkat menirukan gaya bicara si laki-laki.  Keduanya kemudian tertawa bahagia. Sebuah dunia yang aneh, yang belum  pernah mereka rasakan sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kata ayahmu, kamu mau dikawinkan. Dan sejak percakapan itu, kamu ?"menghilang". Mengapa, nggak suka sama calon suamimu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tahu dari mana?" &lt;br /&gt;
"Tuh, dia yang mengatakan padaku?," jawab si laki-laki sambil menunjuk pada si "pembantu". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Herder macam dia dipercaya." &lt;br /&gt;
"Herder? Terlalu bagus; buldog," tambah si laki-laki sambil tertawa. Si gadis pun tertawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu hening. Setelah hening, "Aku capek Mas. Semuanya  ditentukan dan sudah ada jalurnya. Aku nggak bisa mengatakan "tidak",  ya, akhirnya aku pilih diam saja." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mas, mau nggak, ngajak aku ke rumahmu?" &lt;br /&gt;
Laki-laki itu terdiam. Dia bukan saja ingin mengajak gadis cantik  itu ke rumahnya, tetapi bahkan ke atas ranjangnya. Dia ingin memeluk dan  menumpahkan kegersangan jiwanya selama ini ke tubuh si gadis itu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada syaratnya...," akhirnya si laki-laki berkata. &lt;br /&gt;
"Apa?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau harus mau jadi istriku." &lt;br /&gt;
"Mengapa?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya?pokoknya harus," jawab laki-laki itu sekenanya. &lt;br /&gt;
"Kalau?pacar?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wah..." &lt;br /&gt;
"Kalau pacar, gimana?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya?mmm... gimana, ya?" &lt;br /&gt;
"Kita pacaran dulu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, kamu kayak kupu-kupu." &lt;br /&gt;
"Tidak. Kupu-kupu hanya memberi isyarat agar dikejar. Aku tidak ingin kejar-kejaran. Aku hanya ingin kenal lebih lama." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Begini, Dinda," baru kali itu laki-laki itu mengucapkan nama si  gadis, "tugasku untuk "menyembuhkan" kamu sudah selesai. Kamu, kan...  sekarang sudah bisa bicara dan tertawa." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi Mas pergi? Lalu mengunciku dalam ruang kenangan?" &lt;br /&gt;
"Tidak. Bukan maksudku begitu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau Mas pergi, aku akan "pergi" lagi." &lt;br /&gt;
"Jangan, dong..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa?" &lt;br /&gt;
Laki-laki itu diam, dalam hati dia juga bertanya, apa sebetulnya yang tengah terjadi dalam hidupnya ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mas nggak merasa bahagia bersama aku?" &lt;br /&gt;
"Bahagia, karena melihat kamu bisa ceria lagi. Kembali lagi seperti dulu kala." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sok tahu. Aku nggak mau seperti dulu. Aku mau seperti besok, seperti yang akan datang..." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan aneh-aneh." &lt;br /&gt;
"Aku nggak aneh-aneh. Aku cuma kepingin bisa bicara apa saja yang  aku suka. Aku hanya ingin tertawa, kapan saja aku mau. Dan itu semua  hanya bisa kulakukan dengan Mas. Kalau Mas nggak ada, lantas...?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bapak-ibumu nggak bisu, kan?" &lt;br /&gt;
"Siapa, tuh?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Siapa, yang siapa?" &lt;br /&gt;
"Bapak-ibu." &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hus. Sama orang tua, kok, begitu." &lt;br /&gt;
"Siapa yang orang tua?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, anak sekarang. Dosa besar kamu mengingkari orang tua sendiri." &lt;br /&gt;
"Siapa yang Mas sebut orang tua?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya...orang yang mbayar aku, yang kasih honor aku puluhan juta rupiah ini. Siapa lagi?" &lt;br /&gt;
"Ooo?orang tua itu?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hei?jangan ngawur, lho." &lt;br /&gt;
"Tidak, aku tidak ngawur. Orang tua itu, kan?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu menatap Dinda dengan pandangan menyelidik. Sepasang  mata Dinda seperti sengaja menyambut tatapannya. Seakan mempersilakannya  masuk dan membongkar setiap relung dan liku yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;
*** &lt;br /&gt;
Laki-laki itu, yang biasanya hanya diam menatapi awan-awan  berserakan di langit, yang merasa hidupnya kosong melompong, tiba-tiba  kalang kabut. Betapa tidak, Dinda yang selama ini diketahuinya adalah  anak seorang kaya, yang sakit jiwa dan karenanya si bapak mencarikannya  dukun, dan secara kebetulan memilih laki-laki itu, ternyata hanyalah  bapak angkat Dinda. Dan si bapak angkat ternyata menginginkan Dinda  seutuhnya. Dia menyayangi Dinda dan memaksakan diri masuk ke dalam  ruang-ruang kesucian anak angkatnya itu. Tak mengherankan jika Dinda  membeku.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki itu mendidih mendengar semuanya, dan karenanya, entah  dengan pertimbangan apa, dia segera mengajak Dinda terbang mengendarai  kuda terbang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mendadak merasa menjadi Pronocitro yang mengajak terbang Roro Mendut dari kungkungan Adipati Wiroguno.  &lt;br /&gt;
Tetapi, laki-laki itu tiba-tiba merasa capek. Dia tak ingin mengejar  dan dikejar. Dia hanya ingin duduk tenang di beranda rumahnya yang sepi  dan berdebu. Dia hanya ingin setiap kali menyirami mawarnya, ada  kesegaran yang menyiram jiwanya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti senja itu. Laki-laki itu kembali duduk di beranda rumahnya,  dan merokok. Dia dengan segera melipat halaman-halaman indah buku  kehidupannya --walau hanya beberapa lembar-- bersama Dinda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di keheningan senja, di beranda rumahnya, dia hanya bisa  membayangkan Dinda berada di sampingnya, meskipun saat itu, mungkin  berada dalam pelukan orang lain. Laki-laki itu benar-benar merasa lelah,  bahkan sekadar untuk mengakui bahwa dirinya seorang laki-laki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pinang, 982.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;sumber: &lt;a href="http://www.kumpulan-cerpen.blogspot.com/"&gt;&lt;i&gt;kumpulan cerpen &lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhls4Y25Y4oLeXKfoQ97P1_OHN1uGYvlMXzjOlBQmwaVVRvwi6defZ8ftaSOCvrjfUGvAkIMT4zd1rToAoG5DsKPQdux-s_IcsQzixKLFzv8XqguFknqqJYA0ZVySzzFqF5ObshZ_GMhdVZ/s72-c/senja.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Seharusnya Berjudul Celana Dalam</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/06/cerpen-seharusnya-berjudul-celana-dalam.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sun, 19 Jun 2011 00:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-6097847531111925898</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsEfhXNn-O3zFjKksypy_v1hpa8Sen6fYwSV7h39yIa9mYEeCdvEdqHatpv1doTOwPR84ebrWoXeH9N-Uq5ib1dzZO-RjixGJFuo3s1ANumBr-gN5fJjibdRnImHpATx_hWYBmO0DKkSMD/s1600/cerpen.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsEfhXNn-O3zFjKksypy_v1hpa8Sen6fYwSV7h39yIa9mYEeCdvEdqHatpv1doTOwPR84ebrWoXeH9N-Uq5ib1dzZO-RjixGJFuo3s1ANumBr-gN5fJjibdRnImHpATx_hWYBmO0DKkSMD/s200/cerpen.jpeg" width="156" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;cerpen etik juwita&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari sedang memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci ketika suara  lantang majikan perempuannya menggema dari arah kamar tidur utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cundaliiii!!"  jerit itu terdengar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari terkesiap, gugup. Sundari tahu benar,  ketika namanya disebut lengkap begitu sesuatu yang luar biasa pasti  sedang terjadi. Tiga bulan tinggal bersama keluarga asing yang menjadi  majikannya, sudah membuatnya mulai mengerti kebiasaan tuan dan  nyonyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari mencoba mengingat-ingat, apa kira-kira yang  telah diperbuatnya pagi ini atau kemarin malam. Sundari yakin tidak ada  yang tidak wajar. Memang, sejak kepulangannya dari Amerika kemarin sore,  Mam tak habis-habisnya menekuk wajah. Sepertinya ia menyesal telah  pulang. Tuan pergi ke China, berangkat dua jam sebelum Mam kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari buru-buru memindahkan semua baju dari dalam keranjang ke mesin  cuci. Tapi, belum sempat ia menuangkan deterjen, suara majikannya  terdengar dekat. Menyembul dari pintu dapur,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cundaliiii!!" Sundari  menoleh,&lt;br /&gt;
dan tanpa diperintah lagi mengikuti langkah majikannya. Dag dig  dug jantungnya berirama bingar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Look!!" jari lentik majikannya  menunjuk laci pakaian dalamnya yang terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari mendekat, mengamati  setiap pernik di dalamnya. Rapi, tidak ada yang salah letak. Beberapa  saat Sundari cuma tertegun. Sampai majikannya dengan menggunakan sisir  mencoba mengangkat sesuatu (celana dalam!). Sundari tetap tidak  mengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"It’s your panty, isn’t it?" berkata begitu Mam melotot  ke arahnya sambil menunjukkan celana dalam yang dirapikanya beberapa  hari lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu Sundari sempat tersenyum geli, berpikir, mungkin  Tuan sedang kangen sama Mam hingga perlu mengeluarkan celana dalamnya  yang paling bagus --yang ini Sundari belum pernah lihat sebelumnya, lalu  menjemurnya di balkon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat merapikannya, Sundari merasa tidak perlu  bertanya pada Tuan soal celana dalam itu. Tidak sopan, pikirnya. Tapi,  menghadapi sikap nyonyanya yang seolah telah lupa sama sekali dengan  barang milik pribadinya, kontan Sundari jadi salah tingkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nnn...  no.. no Mam. My panty is big-big one," kata Sundari akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar  jawaban Sundari, Mam mengerutkan dahi hingga alisnya yang bergaris  tajam saling bertaut. Wajahnya semakin kelihatan judes. Matanya yang  sipit mulai kelihatan merah dan berair. Mam mulai menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari  semakin salah tingkah. Ia ingin mengatakan pada Nyonya, mungkin  sebaiknya Nyonya menelepon dan menanyakan pada Tuan soal celana dalam  yang diributkannya itu. Tapi, segera diurungkannya. Dengan bahasa  Inggris patah-patah sambung, bagaimana mungkin ia akan mampu menjelaskan  pada Nyonya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari diam dalam kebingungan. Ia hanya menuruti langkah  majikannya saja ketika ia bergegas menuju kamar Sundari. Sambil  sesenggukan Nyonya membuka laci pakaian Sundari. Foto usang Parjo  meringis di depan sepeda motor tetangga, terlihat. Sundari tersipu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mam  mengamati isi laci Sundari agak lama, dan dengan tangis yang semakin  menjadi ia menenteng celana dalam murahan berukuran XL milik Sundari.  Tangisnya semakin keras, meraung-raung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehari itu, Nyonya  mengurung diri di dalam kamar. Bahkan, ketika makan siang pun Nyonya  menolak keluar. Sundari berusaha santai dengan mengerjakan rutinitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Nyonya memanggilnya untuk membantu memasukkan baju-bajunya ke  dalam tas besar, Sundari tidak merasakan keganjilan apa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Besoknya,  Nyonya pergi bersama tas besarnya setelah berpesan kepada Sundari untuk  tidak pergi ke mana-mana. Sundari yang memang terbiasa tak pergi keluar  rumah, cuma mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari mulai mampu meraba apa  yang terjadi. Dulu, dua bulan lalu, Nyonya pernah marah besar kepada  Tuan. Gara-garanya, Tuan terlambat pulang. Padahal, Nyonya menunggunya  untuk makan malam bersama. Sampai larut malam keduanya masih riuh adu  argumen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga tiba-tiba, Tuan menggedor pintu kamarnya dan menyuruhnya  mengambilkan peralatan P3K. Esoknya, Sundari melihat pergelangan tangan  kiri Nyonya diperban. Mungkin Nyonya mencoba bunuh diri. Nyonya memang  orang yang cemburuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepekan setelah kepergian Nyonya, ketika  persediaan makan mendekati habis, Nyonya pulang bersama seseorang dari  agen penyalur tenaga kerja yang memasokkan Sundari ke majikannya di Hong  Kong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cundali, kamu punya majikan mau celai. Kamu punya kelja  tidak ada. Kamu dipulangkan," kata Miss Lam berusaha memberi pengertian  pada Sundari. Saat itu Sundari hanya ingat Kang Parjo, suaminya di dekat  sepeda motor tetangga, meringis. Padahal Sundari ingin menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Indonesia,  hamaiya?" sapa seseorang dari arah samping Sundari, ketika ia sedang  mengamati lalu-lintas orang di ruang tunggu Bandara Chek Lap Kok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dipulangkan meh?" tanyanya lagi. Sundari merasa agak gerah dengan pertanyaan itu. Tapi mencoba tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kok tahu?" katanya balik bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rambutnya pendek dan bawaannya sedikit ma!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari  tersenyum getir. Lalu perempuan yang menyapanya itu pun duduk di  sampingnya. Berbincang-bincang dengan bahasa negeri sendiri --meski  Sundari merasa bahasa perempuan itu agak dibuat-buat-- Sundari merasa  akan kembali ke dunianya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga bulan ia harus memelajari bahasa asing  patah-patah bercampur bahasa isyarat. Menelan bulat-bulat dan berusaha  memahami budaya yang jelas berbeda dengannya. Berpikir itu hanyalah  bagian yang harus dijalaninya untuk mewujudkan mimpi punya kehidupan  yang lebih layak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin seperti Budha yang mesti menjalani Samsara  sebelum mencapai Nirwana. Apalagi bila ia ingat kebiasaan majikan yang  suka marah, bicara dengan membentak, tertawa ngakak, menangis  sejadi-jadinya, serta-merta Sundari merasa lelah. Kelelahan yang jelas  menggurat di wajahnya yang bulat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Marni, gadis di sebelahnya  itu, siapa menyangka ternyata bekerja di flat yang sama dengannya! Satu  tingkat di atasnya. Marni juga dipulangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Namanya majikan ya Mbak, salah bener ya maunya bener. Hamai sin? Ngapain Mbak dipulangkan?" Marni bertanya kepada Sundari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Majikanku cerai. Kamu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Karena celana dalam! Jisin! Dasar majikan nggak tahu diuntung! Seenaknya bilang aku cerob..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Celana dalam? Jangan-jangan warnanya merah muda?" potong Sundari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Haiya, haiya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada renda-renda di samping kanan dan kirinya ya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Haiya!!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kecil, mereknya Sexygirl?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Haiwo!! TIM CHI CEK? Kok tahu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sundari  bengong, teringat ia akan celana dalam merah muda yang telah berubah  jadi guntingan kain kecil tak beraturan di kamar majikannya. Nyonya  bilang, "Jangan dibuang, biar Tuan tahu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat nasibnya,  nasib Marni, juga nasib majikannya, Sundari tersenyum tanpa sadar.  Seseorang dengan kulit sewarna periuk gosong, di sebelah kiri pintu  masuk, menyambut senyumnya. Sundari mengalihkan pandang cepat-cepat  kepada Marni,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ceritanya singkat. Nanti aku ceritakan di dalam pesawat,"  katanya, karena pengeras suara itu sudah meneriakkan pengumuman bahwa  pesawat menuju Surabaya akan segera lepas landas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marni cuma mengangguk sambil melongo.***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hong Kong, 24 April 2005&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-  Etik Juwita adalah salah seorang buruh migran di Hongkong yang kini  merintis menjadi cerpenis. Cerpen ini salah satu karya terbarunya, yang  Kamis (15/9) lalu dibacakannya bersama cerpenis buruh migran lainnya,  Denok Rokhmatika di Galeri Surabaya. Etik yang asal Blitar, baru pulang  dari Hongkong, 13 September lalu, setelah empat tahun bekerja menjadi  TKW di negeri itu. Dia berencana melanjutkan studinya di perguruan  tinggi.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- My panty is big-big one = My panties are bigger than his one.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- jisin: gila&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- hai wo: o, begitu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sumber : &lt;a href="http://www.kumpulan-cerpen.blogspot.com/"&gt;kumpulan-cerpen.blogspot.com &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsEfhXNn-O3zFjKksypy_v1hpa8Sen6fYwSV7h39yIa9mYEeCdvEdqHatpv1doTOwPR84ebrWoXeH9N-Uq5ib1dzZO-RjixGJFuo3s1ANumBr-gN5fJjibdRnImHpATx_hWYBmO0DKkSMD/s72-c/cerpen.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cinta Farhan (bag 2)</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/06/cerpoen.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Thu, 16 Jun 2011 23:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-3790710798788938378</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlNgM-hQ-8WMpNoXmtVooWpgZPzvt5Lr2JLCj1UtsDYQ5-1-uJHyYYJGEo6bzkAFqHariTo-Nvl5IWgUtdiLZZRY9M9o26cgLLlPPj7qs_yIEZGwTavvl1SlurbRbTZMDEMVRnJr7EbWiE/s1600/cinta+farhan.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlNgM-hQ-8WMpNoXmtVooWpgZPzvt5Lr2JLCj1UtsDYQ5-1-uJHyYYJGEo6bzkAFqHariTo-Nvl5IWgUtdiLZZRY9M9o26cgLLlPPj7qs_yIEZGwTavvl1SlurbRbTZMDEMVRnJr7EbWiE/s1600/cinta+farhan.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi pagi sekali Aisyah sudah bangun, dia bergegas mandi lalu shalat subuh dikamarnya. Hari ini hari terakhir disekolahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sedih juga harus meninggalkan sekolah dan temen temen.” Gumam Aisyah dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam  6.30 dia berpamitan pada Ibu Bapak nya untuk berangkat kesekolah,  seperti biasanya sahabatnya Risma sudah menunggu didepan rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Assalamu’alaikum Ibu nyai.” Yahhh Risma selalu memanggilku dengan sebutan Ibu nyai saat menggodaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wa’alaikumsallam nona manies, dah sarapan belum?” jawabku sambil memberikan&amp;nbsp; sepotong pisang goreng yang aku goreng pagi tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wew,  you always know what I want dear.” Sahut Risma sambil menyambar pisang  goreng ditanganku dan melahapnya. Aku hanya tersenyum dan berjalan  disamping nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ohh ya syah, aku dengar Farhan datang ke  rumahmu yah? Ngapain dia?” Tanya Risma sambil terus mengunyah pisang  goreng dimulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cuman mampir kok, gak ngapa-ngapain, km kok tau cih?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lah elu Syah kaya kagak tau gue aja… haha ratu gossip” jawab Risma sambil tertawa lebar lalu melanjutkan ucapannya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan jangan naksir kamu Syah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“su’udzon  kamu, orang cuman kebetulan lewat trus mampir kok… ehhh cepet Ris dah  mau masuk tuhh…” aku mengalihkan pembicaraan dan menggandeng tangan  Risma masuk kedalam gerbang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada pelajaran  hari ini, cuman acara perpisahan yang diisi dengan pertunjukan kesenian  dan makan makan, sebenarnya aku tak suka keramaian, maka aku memilih  duduk menyendiri dibawah pohon rindang menyibukan diri dengan buku ku,  baru beberapa saat aku duduk Doni teman sekelasku yang sekaligus mantan  ketua Osis di Sekolahku menghampiriku. Dan duduk disampingku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kok sendiri Syah? Gak nimbrung tuhh acaranya seru banget” Ucap Doni membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak ahhh males, bising banget. Lah kamu sendiri kenapa disini?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tadi  aku liat kamu sendiri so aku pengen nemenin kamu aja.”&amp;nbsp; Jawab Doni  sambil memungut daun nangka kering yang jatuh didepannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syah, kamu ada rencana apa selanjutnya?” Lanjut Doni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“emmm  aku paling cari kerja Don, benernya pengeen kuliah tapi aku kasihan ma  ortu, lagian adik ku juga belum kelar sekolahnya, kamu sendiri?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah  ku menginginkan aku melanjutkan kuliah ke Jogja, and I have to go, aku  tinggal dengan paman ku disana. I will be missing you Syah.” Ucap Doni  sambil menatapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Me too… come on Doni jangan sedih geto dunk, kita kan masih bisa ketemu dihari libur kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami  memang berteman sejak kecil, aku menganggapnya bukan sekedar teman tapi  lebih pada seorang kakak. Tapi hubungan kami sempat terganggu karena  Doni nekat menyatakan cintanya padaku beberapa bulan yang lalu, yahhhh  Doni hanya aku anggap teman, aku tak mau hubungan kami retak hanya  karena urusan cinta. Maka dengan halus aku menolaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masuk  yuk Don, Risma nyanyi tuhhh… haha dia slalu ingin aku menontonnya saat  dia nyanyi.” Ajak ku sambil berdiri, aku sudah berlalu dari tempat duduk  ku sebelum Doni sempat menjawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; *******************&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Udara  siang ini begitu panas, angin pun seakan enggan berhembus ditengah  tengah terik mentari, beberapa penjual es keliling mengkal didepan  sekolah ku, aku berjalan sendiri karena Risma pulang kerumah neneknya  ditempat yang berlawanan arah, baru beberapa meter aku berjalan tiba  tiba sebuah sepeda motor berhenti disampingku, aku berhenti dan menoleh  kearahnya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syah, mbonceng yuk? Aku antar!” Ucap Farhan dari atas motornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gak usah mas makasih, bentar lagi juga sampai.” Aku berusaha menolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo lah kita kan satu arah Syah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku  gak enak hati hendak menolak lagi, akhirnya aku menurut dan naik keatas  motor Farhan, gak ada percakapan yang terjadi diantara kami, kami  hanyut kedalam pikiran kami masing masing. Sementara disepanjang jalan  semua mata memperhatikan kami, yah mungkin karena ini pertama kalinya  aku berboncengan dengan seorang laki laki, apa lagi laki laki itu adalah  Farhan yang terkenal sebagai preman di kampung kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeda  motor berhenti tepat didepan rumahku, lalu aku segera turun dan  membenarkan letak jilbabku yang agak berantakan karena tertiup angin  disepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih mas, nggak mampir dulu.” Ucapku setelah aku turun dari motor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ntar  malem aja aku datang lagi kesini ya Syah? Kamu gak keberatan kan kalau  aku bertamu? Itu pun kalau kamu gak ada yang ngapelin.”&amp;nbsp; Jawab Farhan  sambil menatap aku daalam dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tertunduk dan hanya mengangguk mengiyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampai  ketemu ntar malam Syah, aku pulang dulu.” Lalu farhan berlalu dengan  motornya, aku hanya berdiri terapaku menatap kepergiannya. Dan sesaat  kemudian aku masuk kedalam rumahku. Mandapati ibuku yang rupanya  memperhatikan aku sejak tadi dari dalam rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;****************&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hujan  rintik rintik membasahi bumi malam ini, namun tak menyurutkan  semangatku untuk datang ke tempat Aisyah, yahhh aku sudah menunggu  berbulan bulan untuk mendekati gadis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup lama juga  aku menatap wajahku didalam cermin, aku diciptakan sempurna, hidung  mancung dan kedua bola mata yang tajam kelihatan serasi dengan dagu  panjangku. Aku tersenyum sendiri, dan segera mengganti bajuku. Kaos  oblong warna hitam yang aku beli ketika aku berlibur ke Bandung, dengan  celana jeans warna kusam kesukaanku jadi pilihanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam 8 tepat aku turun dari kamarku…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ceilehh… abang gue keren amat, mo kondangan ya Bang?” Goda Rina yang sedang asyik&amp;nbsp; nonton drama Korea &amp;nbsp;kesukaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diem lu anak kecil, makan coklat aja nich.” Ucapku sambil melempar satu bar besar Tobleron kesukaan adik ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mau ngapelin Aisyah yah Bang?” Rina mendekat dan merangkul pundak ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ha ha yup tau aja, liat Abang lu yang ganteng, pantang ditolak ma cewek.” Aku berlalu setelah aku cubit hidung Rina..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena  hujan aku mengendarai mobil pemberian ayah ku ke rumah Aisyah,  disepanjang jalan aku berfikir keras bagai mana cara untuk mengungkapkan  isi hatiku pada Aisyah, aku takut dia menolak dan akhirnya membenciku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhh, sialan aku selalu gugup setiap kali ada didepannya.” Gumamku dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya  beberapa menit aku telah sampai didepan rumah Aisyah, rumah terlihat  sepi, aku segera keluar dari dalam mobil ku dan mengetuk pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Aisyah keluar dari dalam rumah dan tersenyum ramah, lalu mempersilahkan aku masuk dan duduk diruang tamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aisyahnya ada bu?” Tanya ku membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aisyah udah berangkat tadi sore ke Jogja, dia minta maaf karena gak sempat pamit sama nak Farhan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Emang Aisyah ngapain di Jogja Bu?” aku kembali bertanya dengan berjuta rasa kecewa dihatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aisyah mendapat Bea siswa nglanjutin kuliah disana, sekalian nyantri dipesantren milik kakeknya, mau minum apa nak Farhan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ohhh enggak Bu makasih, saya pamit saja dulu.” Aku segera berpamitan dan berlalu dari rumah Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada  berjuta kekecewaan yang berkecamuk didadaku, aku melaju mobilku dengan  kecepatan tinggi menyusuri jalanan kampungku dan keluar menuju kota yang  berjarak beberapa kilometer dari desaku. Aku ingin melampiaskan  kekecewaan malam ini dengan berkumpul bersama teman temanku. Sesampainya  diBar tempat biasa aku dan teman2ku nongkrong aku segera memarkir  mobilku dan masuk kedalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Akhirnya datang juga pangeran tampan kita.” Goda teman teman ku saat melihat kedatanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Malam ini temenin aku minum, aku yang bayar.” Ucapku sambil menyambar segelas whiskey yang ada dimeja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“yu  huuuu asyik choy, gua suka liat orang patah hati, haha jadi ada yang  nraktir dwehh” Andi berkata sambil memesan beberapa botol whiskey. Aku  terus menenggak minumanku tanpa mempedulikan ocehan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ************************&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semenjak  kejadian itu aku tak pernah lagi melihat Aisyah, sehari hariku hanya  aku habiskan dirumah bergumul dengan kanvas dan lukisan ku, dan keluar  bersama teman teman ku dimalam hari, aku serasa kehilangan sesuatu yang  sangat berarti dalam hidupku. Sesuatu yang belum sempat aku miliki tapi  telah pergi meninggalkan ku. Memang ada seorang gadis bernama Saly yang  selalu menemani aku, selalu ada disaat sedihku, tapi aku telah terlanjur  memberikan&amp;nbsp; cintaku pada Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Farhan are you in side?’ teriak Saly dari luar kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup, masuk aja Sal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu pintu kamarku terbuka, dan Saly berjalan masuk dengan senyum terkembang dibibirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wew  you look so dirty Farhan, mandi dulu sana, I have breakfast for u, you  see… tuna fish sandwich.” Ucap Saly sambil meletakan bungkusan diatas  meja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saly gadis manis yang selalu melakukan apapun untuk  ku, gadis yang dengan tulus mencintaiku tanpa aku sanggup membalas  cintanya, aku hanya merasa nyaman dengan segala perhatian yang  diberikannya pada ku. Entah lah apa mungkin aku akan terus terbunuh  dengan bayang bayang Aisyah, atau aku sanggup untuk mengalihkan hatiku  pada Saly…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhhhh Aisyah..” gumam ku dalam hati dan segera berlalu ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air  dingin yang mengguyur tubuhku seolah menyegarkan alam sekitarku,  sejenak aku terlepas dari fikiran tentang Aisyah, dan aku terkejut saat  sepasang tangan lembut milik Saly memeluk ku dari belakang, aku berbalik  dan memandang wajah saly yang menatapku sayu, aku angkat dagunya dan  mengecup bibirnya, sesaat kami saling berciuman dan semakin hanyut  tenggelam dalam remang remang lampu kamar mandiku…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersambung&amp;nbsp; ke: &lt;a href="http://mustofasilver.blogspot.com/2011/07/sally-tercengang-di-depan-pintu-kamar.html#more"&gt;Cinta Farhan 3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pengarang : &lt;i&gt;Atien &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlNgM-hQ-8WMpNoXmtVooWpgZPzvt5Lr2JLCj1UtsDYQ5-1-uJHyYYJGEo6bzkAFqHariTo-Nvl5IWgUtdiLZZRY9M9o26cgLLlPPj7qs_yIEZGwTavvl1SlurbRbTZMDEMVRnJr7EbWiE/s72-c/cinta+farhan.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cinta Farhan ( bag 1)</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/06/cinta-farhan-bag-1_11.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sat, 11 Jun 2011 15:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-8070379747668565476</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE9dxJMdVdnpVz2L_WNYHHNeMg77mKJixfFU_73wFP7uHbfLj_0IIWGu12HlMnL47sf_fM2uj6Oo1eMEGp56Np8l3ac7mQbC4mmDDOtHVdCz_sNnfW86Jiep4qFGLHImFNdHDn_ykj4U1R/s1600/cinta+farhan.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE9dxJMdVdnpVz2L_WNYHHNeMg77mKJixfFU_73wFP7uHbfLj_0IIWGu12HlMnL47sf_fM2uj6Oo1eMEGp56Np8l3ac7mQbC4mmDDOtHVdCz_sNnfW86Jiep4qFGLHImFNdHDn_ykj4U1R/s1600/cinta+farhan.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;Aku tertegun saat aku melihat seorang gadis cantik berkerudung merah  melintas didepanku, pandangannya tertunduk memandangi jalan yang dia  lalui, aku yang tengah berkumpul dengan teman-temanku mencoba untuk  menggodanya, yaaahh Aisyah, dia gadis paling cantik dikampungku, gadis  ramah yang sederhana dan santun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aisyah… duhhh cantiknya, mau kemana neng?” Aku mencoba menggodanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Aisyah hanya tersenyum simpul dan mengangguk, kearah ku…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aisyah abang anter yukkk…” Timpal andi temanku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Idih ini anak ikut-ikut aja, minggir lu…” Aku berucap sambil membungkam mulut Andi.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;  Aku lihat senyum Aisyah yang tertahan dibibirnya melihat ulah ku dan  teman-temanku. Lalu dia berlalu dan tak mempedulikan tingkah ku dan  teman-temanku yang masih berteriak-teriak menggodanya. Yaaahhh Aisyah  dia selalu bersikap tenang walau kami selalu mengganggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aduhhh…  kayaknya gue jatuh cinta nich ma gadis itu, ohhh matanya tajam,  bibirnya sexy abies…. Uhhhh” aku berkata sambil memeluk lengan ku  sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Alahh elu han, kemarin elu bilang jatuh cinta  ama Nina anaknya Haji Somad, sekarang tergoda Aisyah.” Iwan menimpal  ucapanku sambil mendaratkan tinjunya dilengan ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kaya  gak tau Farhan aje lu wan, kalau belum macarin cewek sekampung belum mau  kawin kali tuhhh anak hahaha” sahut Andi disambut gelak tawa  teman-temanku yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Aku hanya tersenyum, dan  akhirnya berbaur dengan tawa riuh mereka, beginilah keseharianku, hanya  duduk dipinggir jalan dengan teman-teman ku, minum-minuman keras dan  menggoda gadis yang melalui tempat kami berkumpul, terkadang ribut dan  berkelahi dengan pemuda dari kampung sebelah, yahhh selalu ada keributan  disetiap tempatku dan teman-teman satu gank ku berkumpul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada rasa  takut dihati kami kepada siapapun, kami akan berkelahi dengan siapapun  yang berani mengganggu teman satu gank kami, tak peduli mereka benar  atau pun salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Jam sebelas malam aku tlah tiba dirumahku, adik perempuanku Rina masih sibuk mengerjakan PR nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Belum tidur Rin?” Tanyaku sambil duduk melepas sepatuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tanggung Bang, PR nya belum kelar, Abang dah makan?” Tanya Rina sambil menoleh kearahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Udah, cepet tidur dah malem.” Ucapku sambil berlalu kekamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya Bang, met malem.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Aku tak segera terlelap setelah aku berbaring diatas ranjangku, dalam  benakku selalu terbayang senyuman bibir Aisyah, dia begitu lembut dan  teduh, tatapan matanya menyejukan jiwaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhhh gila, apa  apaan nichhh…” Aku menggerutu dalam hati dan bangun lalu duduk di  balkoni kamarku yang berada dilantai dua rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; Yah…  rumah mewah milik orang tua ku yang hanya ditempati oleh aku dan adik ku  Rina serta Bi Inah pembantu rumahku yang merawat kami sejak kecil, ayah  dan ibu kami selalu sibuk dengan bisnis mereka diluar kota bahkan tak  jarang melalang buana hingga ke luar negri. Memang kebutuhan lahir yang  berupa materi bagi kami terpenuhi tapi kebutuhan batin yang berupa kasih  sayang tak pernah kami dapatkan, hanya Bi Inah lah yang selalu  mencurahkan kasih sayang nya kepada ku dan adikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Aku  adalah jiwa yang memberontak, aku sama sekali tak suka ada seorang yang  mengatur langkahku, termasuk orang tua ku, mereka menginginkan aku  menyelesaikan study ku dan mendapat gelar sarjana, tapi aku sama sekali  tak berminat dengan buku-buku pelajaran yang membuat aku seperti orang  bodoh. Entah lahhh….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Sayup-sayup aku dengar adzan Subuh  berkumandang, ada rasa dingin yang menyusup sanubariku, lalu aku turun  kelantai bawah bermaksud kedapur tuk mengambil air minum, sebelum masuk  kedapur aku melewati kamar Bi Inah, aku tertegun melihat perempuan  separuh baya itu tengah khusyu dalam shalatnya. Wajah keriputnya  terlihat sangat berwibawa. Aku segera memalingkan wajahku dan kembali ke  kamarku sebelum aku sempat meneguk setetes air pun. Dan akhirnya aku  terlelap dalam tidurku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;*****************&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;“Nak Farhan, bangun nak, dah siang makan dulu.” Suara Bi Inah membangunkan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hemmm.. jam berapa bi?” Tanyaku setelah aku terbangun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dah  jam dua nak, cepat mandi, bibi udah siapin makanan dimeja, bibi mau  kepengajian siang dulu dimasjid. Cepet mandi, ganteng-ganteng kok  kummel.”Bi Inah barkata sambil menarik selimutku, lalu berlalu  darikamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Aku segera mandi dan mengganti pakaianku,  lalu turun ke ruang makan untuk menyantap makan siangku, Rina sudah  terlebih dulu duduk disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Met pagi nona manis.” Aku menggoda Rina sambil mencubit pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Met malem pangeran Kodok, kok bangun? Emang perutnya bisa ngrasa laper juga yah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gak laper tapi ini dalam rangka menyelamatkan makanan dari pada dibuang sia-sia.” Balas ku cuek sambil melahap makananku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehhh Rin, kamu kenal Aisyah gak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hoho  siapa sih yang gak kenal Aisyah Bang, gadis paling cantik dan paling  pendiem disekolah Rina, dia kakak kelas Rina, setahu Rina dia termasuk  salah satu cewek tercerdas di sekolah. Hemmmm naksir yah? Haha mana mau  Aisyah ama Abang ku yang kummel, dekil dan jelek ini haha!!” Rina  nyrocos tanpa memandangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sialan lu Rin, liat aja gue pasti bisa jadiin dia kakak ipar lu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haha  atau Abang mati gantung diri karena cintanya ditolak Aisyah hahaha  cacingan Abang gue.” Setelah berkata seperti itu rina berlari  kekamarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heran ni anak gak ndukung banget ama Abangnya.” Gerutuku dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;  Tekadku dah bulat hari ini, aku ingin berkenalan lebih dekat dengan  Aisyah, dengan berjuta rasa ragu aku melaju sepeda motorku kerumah  Aisyah, sebuah rumah mungil diujung kampungku, rumah sederhana yang  ditumbuhi pohon mangga dihalaman depannya, beberapa batang pohon mawar  yang tengah berbunga menambah asri pemandangan didepan rumah itu,  seorang wanita separuh bara tengah asyik memberi makan sekelompok anak  ayam dengan segenggam jagung yang berada ditangannya. Ada rasa ragu  dihatiku saat aku hendak melangkahkan kakiku kehalaman depan rumah itu.  Sejenak aku berhenti dan menarik nafas dalam-dalam, belum pernah aku  merasa segugup ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Assalamu’alaikum. Permisi bu, bener ini rumahnya Aisyah?” Tanyaku sedikit ragu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wa’alaikumsallam. Ya bener, nak ini temennya Aisyah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Emmmm bukan bu, emmm maksud saya, saya kenal Aisyah tapi belum kenal bu.” Ucapku gugup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hahaha  bagai mana nak ini, wong kenal kok gak kenal sih, ya udah mari masuk  dulu.” Sahutnya ramah, sepertinya dia bisa menangkap kegugupanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;  Aku mengikuti Ibu Aisyah memasuki rumahnya, sungguh sebuah rumah yang  sangat mungil namun penuh dengan keindahan sebuah lukisan besar wajah  Aisyah tergantung didinding ruang tamu, sebuah pot besar berisikan bunga  matahari berdiri disudut ruangan. Meja dan kursi yang terbuat dari kayu  jati tertata rapi ditengah-tengah ruaangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Silahkan duduk nak, sebentar Ibu panggilkan Aisyah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih  Bu, maaf merepotkan” Lalu Ibu Aisyah masuk kedalam rumah, dan aku asyik  terhanyut dengan fikiranku sendiri. Yahh… ini lah yang disebut rumah,  sebuah keluarga yang benar-benar hidup. Ada seorang Ibu yang mengasuh  anak-anaknya, merawat dan menjaga mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Sayup-sayup  aku dengar suara Ibu Aisyah memanggil putrinya, menyuruh Aisyah keluar  menemuiku. Selang beberapa menit Aisyah keluar dengan nampan berisikan  segelas the manis beserta singkong goreng ditangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Dia tersenyum padaku dan mempersilahkan aku minum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mas Farhan tumben mampir?” Tanyanya sedikit malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Emmmm  iya, tadi kebetulan lewat, jadi sekalian aja berkunjung.” Jawabku  sekenanya, entah lah seumur hidup aku tak pernah merasa segugup ini  dihadapan wanita. Yahhh.. aku dah puluhan kali mendekati wanita, tapi  aku tak pernah merasa sekerdil ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aisyah satu sekolah dengan Rina ya?” Aku berusaha membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya mas, Aisyah kakak kelas dik Rina, kalau gak salah mas Farhan Abangnya dik Rina bukan?” Aisyah balik bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yup, bener. Kok tau?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya tau lah mas, kan mas sering ngnterin Rina kesekolah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“hehe iya juga yak? Maksud mas kok Rina perhatian banget ma mas, sampai-sampai tau &amp;nbsp;mas sering nganterin Rina.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ihh bukan gitu orang Aisyah liat kok.” Timpal Aisyah malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Selanjutnya kami berbincang tentang sekolah dan keluarga, Aisyah juga  sempat menanyakan kenapa aku suka sekali nongkrong dipinggir jalan dan  menggoda cewek-cewek yang lewat didepan kami. Perbincangan kami semakin  hangat setelah Bapak, Ibu serta adik laki-laki Aisyah ikut nimbrung  bersama kami. Entahlah seakan-akan aku berada ditengah-tengah keluargaku  sendiri, Ayah dan Ibu ku jarang sekali duduk satu meja makan bersama  kami. Saat tiba adzan Maghrib mereka mengajakku Shalat bersama, tapi aku  menolak dan berpamitan pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan kapok main kesini ya nak Farhan?” Ucap Ibu Aisyah saat mengantarku kedepan pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya  bu, makasih, Assalamu’alaikum.” Aku pun berpamitan dan segera melaju  dengan motorku, aku sempat melihat Aisyah tersenyum kearahku. Dan  melambaikan tangannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Hatiku berbunga disepanjang  perjalanan pulang, ada angin segar yang berhembus membelai jiwaku yang  gersang, aku tak tahu apakah karena Aisyah atau karena keramahan dan  kehangatan keluarga Aisyah padaku. Adzan Maghrib mengiringi langkah  kakiku memasuki rumahku, rumah keluargaku sendiri yang selalu sunyi  senyap, tak ada sapaan lembut seorang wanita yang melahirkan ku, tak ada  nasehat bijak dari laki-laki yang sangat aku hormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;  Lagi-lagi aku melewati kamar Bi Inah dan melihat dia sedang khusyu dalam  Shalatnya, aku perhatikan Bi Inah dari balik pintu, wajahnya yang teduh  membuat aku ingin bermanja padanya seperti ketika aku masih kecil. Aku  menarik nafas panjang dan segera naik kekamar ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Ku  pandangi dinding kamarku yang dipenuhi dengan gambar-gambar grup musik  favoritku, beberapa botol arak tertata rapi dilemari kaca kecil  disebelah televisi. Aku mengambil sebotol yang telah terbuka dan  menuangkannya kedalam gelas, dan meneguknya perlahan, lalu berjalan  menuju balkoni kamarku, kuambil kanvas dan mulai melukiskan imajinasiku,  seorang gadis berkerudung merah dengan senyum manis yang menghias  bibirnya, yah wajah Aisyah lah yang selalu melekat dalam ingatanku…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://mustofasilver.blogspot.com/2011/06/cerpoen.html#more"&gt;Bersambung ke bag 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&amp;nbsp;pengarang :&lt;a href="http://www.facebook.com/atien.guthenk"&gt; atien&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE9dxJMdVdnpVz2L_WNYHHNeMg77mKJixfFU_73wFP7uHbfLj_0IIWGu12HlMnL47sf_fM2uj6Oo1eMEGp56Np8l3ac7mQbC4mmDDOtHVdCz_sNnfW86Jiep4qFGLHImFNdHDn_ykj4U1R/s72-c/cinta+farhan.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tarian Senja Sonia</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/06/tarian-senja-sonia.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 23:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-7195016618167464788</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzUpGFY-UbJsC1AWINUF2bci0c74Bi-YjO5e0p6MmMUzfLTtVYCgqfabRZfKrh0ZcsoRgfw-lEtrVhJWaLPQpChc3HqMufX5hP4T2tAzINl5pY09HQpxdr_NMkvIhB0q6SXgP6PCWs-U8o/s1600/cerpen.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzUpGFY-UbJsC1AWINUF2bci0c74Bi-YjO5e0p6MmMUzfLTtVYCgqfabRZfKrh0ZcsoRgfw-lEtrVhJWaLPQpChc3HqMufX5hP4T2tAzINl5pY09HQpxdr_NMkvIhB0q6SXgP6PCWs-U8o/s200/cerpen.jpeg" width="141" /&gt;&lt;/a&gt;Angin sore berhembus dengan lembut, menambah segarnya udara Pantai Kuta. Suara denting gitar yang kupetik memecahkan keheningan pantai. Suara debur ombak bagai musik pengiring setiap melody yang ku mainkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana Kuta hari ini tak seramai biasanya, entahlah mungkin karena ada konser musik di alun-alun kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedang asyik dengan gitar dan musik hatiku, aku dikejutkan dengan suara seorang lelaki asing yang menyapaku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hi, how do you do?, may I join you?” ucap pria ganteng berkulit putih itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hi, Sure..” jawabku sambil tersenyum kearahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“It was a wonderfull evening that I can spend with a sweet girl like you” Ucap pria itu setengah menggoda ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya tersenyum ke arahnya dan kembali menghanyutkan diri dengan alunan gitarku, lagu milik m2m “The Day You Went Away” telah slesai ku mainkan. Yahhh mungkin aku gak akan lupa hari itu, hari dimana pacar ku “Ben” mutusin aku di salah satu pojok pantai Kuta ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahhh… semua tlah berlalu, dia tlah pergi dari hidupku dan takan mungkin kembali lagi”  Aku bergumam dalam hati, dan menarik nafas berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari beranjak malam, aku berdiri dari duduk ku dan berpamitan pada pria itu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“I have to go home now, thank’s for join me” aku berkata sambil menoleh kearah nya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ohhh… so early, I still enjoying to listen your guitar” jawabnya dengan menatapku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“haha may be next time, ohhh Im Sonia, nice to meet you” ucapku sambil berlalu, sebelum dia memanggilku kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“emmm wait, Sonia, Im Jack, I really wish to meet you again. Could you please call me if you have time. Here is my name card.”  Jack memberikan kartu nama nya padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Thank’s, I’ll call you when I have time, bye.” Dan aku pun berlalu meninggalkan Jack yang masih duduk di tempatnya semula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bias sinar mentari yang mulai tenggelam meninggalkan rona merah di kaki langit, kegelapan mulai menyelimuti pantai yang aku tinggalkan, aku terus berjalan menelusuri jalan raya yang mulai ramai oleh pedagang jajan yang biasa beroperasi dimalam hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
**************************&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam ini aku ada pentas menari di Bali Resort Hotel, jam delapan tepat sopir hotel sudah menjemput aku dirumahku, aku keluar dengan mengenakan kaos oblong warna biru, dipadu dengan jeans warna biru kusam. Aku biarkan wajahku polos tanpa make up.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam 8.20 aku telah tiba diruang rias hotel, aku segera ganti bajuku dan merias wajahku dengan sentuhan warna-warna natural, aku tak suka kelihatan norak dengan warna menyolok. Malam ini ada tamu khusus dari Timor leste yang bertamu di hotel ini, dan aku harus tampil dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat setelah lampu ruangan diredupkan, dan lampu sorot menyinari panggung yang berada diujung ruangan, aku dengan pakaian serba mini yang membalut tubuhku berjalan dengan tenang ketengah-tengah pentas, yahhh sudah ratusan kali aku menari disini, jadi tak ada rasa canggung dihatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musik mulai mengalun, dan aku mulai meliuk2 mengikuti iramanya, beberapa pria mabuk kadang ikut naik ke pentas dan menari bersamaku, kadang meraba tubuhku tanpa aku pedulikan. Semua mata tertuju padaku, dan terhanyut dalam irama musik dan liukan tubuhku, dipojok kanan ku lihat bos ku tersenyum puas dengan penampilanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya tugasku slesai juga, aku kembali keruang rias untuk berganti pakaian, saat itu bosku menghampiriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“wow… great sonia, kamu hebat. Penampilan kamu hari ini sungguh memukau” ucap bos ku sambil merangkul pundak ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“That is my job. Hemmmm pasti ada maunya nich muji-muji” timpal ku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha ha you selalu tau yang ku mau, kamu belum mau pulang kan? Ada yang ingin ketemu kamu malam ini… cowok ganteng, tajir lagi. Kamu gak bakal nyesel nia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okey, tapi aku pengen mandi dulu. Dimana aku harus ketemu dia?” Aku menyanggupi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Good girl. Di kamar 203, gak pakai lama yak? Daaahhhh” bos ku segera berlalu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badan ku dan kembali mengganti baju ku dan berhias seperlunya. Lalu aku segera berjalan ke kamar 203 yang dimaksud bos ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang laki-laki muda membukakan pintu untuk ku, dan mempersilahkan aku untuk masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nona Sonia?  Silahkan masuk, bos saya sudah menunggu didalam.” Ucap nya ramah mempersilahkan aku masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih…” Tanpa canggung aku masuk kedalam kamar dan duduk di sofa, menunggu orang yang dimaksud Boss ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kurang lebih 5 menit aku duduk, aku dikejutkan oleh suara laki-laki yang memanggil ku dengan suara yang teramat sangat aku kenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nia…” Suara itu bergetar memanggil ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berdiri dari dudukku dan berpaling kearah asal suara itu. Dan aku tercengang melihat siapa yang memanggil namaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ben… is that you?” Tanya ku setengah tak percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya nia, ini aku… aku datang untuk mu” Ben perlahan menghampiriku, dan memelukku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling berpelukan dan larut dalam tangisan, saling melepaskan segala gejolak rasa rindu didada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu jahat ben, kenapa kamu tinggalkan aku sendiri, lihat apa yang terjadi padaku? Lihat, semua karena kamu..” Aku menangis sambil memukul-mukul dada Ben.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafin aku Nia, aku tak ada maksud menyakitimu, semua demi kita juga, aku datang untuk membawa mu ke Timor, lalu kita menikah disana. Aku janji Nia.” Ben semakin erat memelukku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alunan musik lembut membuai dua jiwa yang dirundung rindu, semakin hanyut dalam pelukan malam yang pekat, semakin membara cinta didada kedua insan yang dimabuk asmara. Selimut putih yang jadi saksi kedua rindu yang tercurahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
****************************&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinar mentari menerobos masuk lewat jendela kamar hotel,  aku terbangun oleh sinarnya yang menyilaukan mata, Ben sudah tak ada lagi disisiku, aku bangun dan melihat sepucuk surat tergeletak dimeja, disebelahnya ada sebuah kotak perhiasan warna biru, dan sebuah hand phone, aku buka sampul surat itu dan mulai membaca bait demi bait tulisan tangan Ben.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dear Nia ku sayang…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nia, maafin aku, pagi ini aku buru-buru harus kembali ke Timor, ada tugas penting yang harus aku selesaikan, aku sudah menyuruh asisten ku untuk mempersiapkan keberangkatan mu untuk menyusul ku esok siang, tadi aku liat kamu tidur dengan pulasnya, so aku gak tega untuk membangunkan kamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nia, aku cinta kamu, aku ingin suatu hari nanti kamu akan jadi pendamping dalam hidupku, oh ya.. dulu aku pernah berjanji padamu akan beliin kamu kalung berlian, aku sudah mampu membelinya untuk mu, sebagai tanda sayangku padamu. Dan hpnya aku dah isi dengan nomer khusus agar aku lebih mudah menghubungimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai ketemu diTimor sayang, segera mandi dan pulang kerumahmu, lalu berkemas, masalah dengan bos mu sudah aku selesaikan. See you hunny.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ben”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melipat kembali surat itu dengan hati berbunga-bunga, dan segera mandi lalu bersiap hendak pulang kerumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum sempat aku beranjak, tiba-tiba bel kamar berbunyi, aku segera membuka pintu. Dan aku terkejut saat aku buka pintu ternyata yang dating adalah Jack, pria asing yang bertemu dipantai waktu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sonia, you still ingat aku? Tanya jack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, aku ingat, kamu yang waktu itu jumpa dengan ku di pantai Kuta bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul, nia… sebenarnya waktu itu memang Ben yang menyuruhku mencari informasi tentang keberadaanmu. Dia sudah hampir putus asa mencarimu.” Jack terdiam sebelum akhirnya melanjutkan ucapan nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nia, kamu harus tabah, kalau aku katakana yang sebenarnya terjadi pada  Ben, emmmmm.. “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ben kenapa?” Aku tak sabar menunggu Jack melanjutkan ucapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pesawat pribadi yang ditumpangi Ben tadi pagi  meledak Nia dan tak ada satupun penumpang yang terselamatkan termasuk Ben.” Ucapan terakhir Jack serasa bagai petir yang menyambar tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba aku rasakan bumi menjadi gelap, lantai yang aku pijak seakan berguncang dengan hebat, dan aku tak sadar dengan apa yang aku lakukan, pandangan mataku kosong, aku tersenyum dan kadang menangis dalam satu waktu, semua mata yang memandangku mengundang amarah didadaku, terkadang berteriak histeris, dan terkadang terbahak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjalan tanpa tujuan, tak peduli dengan tubuh yang dekil dan kumal terbakar terik mentari, jiwaku telah pergi bersama cinta Ben yang terkubur dengan jasadnya. Yang ada bukan lagi Sonia yang cantik, yang jadi primadona panggung, Sonia yang sekarang  hanya lah jiwa kosong yang tak lagi sanggup menggunakan akalnya. &lt;br /&gt;
Kadang bernyanyi dan menari sepanjang jalan, kadang menyenandungkan syair-syair tentang kerinduan, terkadang menangis dan mengumpat paada siapapun yang lewat didepannya. Sonia penari malam yang hancur bersama kisah cintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keindahan yang terukir karenanya telah sirna ditelan kejamnya dunia, sang pecinta yang dipujanya telah pergi dan meluluhlantahkan karang pertahanan yang memberi iya semangat untuk kembali menapakan kaki diatas dunia. &lt;br /&gt;
Gadis jelita itu kini telah menjadi sampah bagi masyarakat, menjadi kotoran yang tercecer di sepanjang jalanan pantai kuta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah cinta abadi yang disimpan didalam hatinya selamanya, hingga pada suatu masa raga yang tak lagi mempunyai nyawa terkapar bersama onggokan sampah jalanan. Kejamnya dunia padanya, kejamnya cinta memperlakukannya. Gadis yang malang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; THE END&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
oleh: &lt;a href="http://www.facebook.com/home.php#%21/cerpen.hatiku"&gt;&lt;i&gt;Cerpen Hatiku&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzUpGFY-UbJsC1AWINUF2bci0c74Bi-YjO5e0p6MmMUzfLTtVYCgqfabRZfKrh0ZcsoRgfw-lEtrVhJWaLPQpChc3HqMufX5hP4T2tAzINl5pY09HQpxdr_NMkvIhB0q6SXgP6PCWs-U8o/s72-c/cerpen.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Keteguhan Siti Masyitoh</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/05/apa-di-dalam-kerajaanku-sendiri.html</link><category>kisah hikmah</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Fri, 27 May 2011 16:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-369732896296657882</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjExLZDMSTXe2ZRqP0EiUhKZYLlFbWQL7_OeZEfKrc0PzXqXClSyAUSxbhDh0uNmvwD4JBHv666UMLjl4eHAmxAWe4TYMwCPTs-5QJUhW0N5IDsQ_U15_63ICH4aMKClHzYcWU4mF-FIR1T/s1600/FIR%2527AUN.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjExLZDMSTXe2ZRqP0EiUhKZYLlFbWQL7_OeZEfKrc0PzXqXClSyAUSxbhDh0uNmvwD4JBHv666UMLjl4eHAmxAWe4TYMwCPTs-5QJUhW0N5IDsQ_U15_63ICH4aMKClHzYcWU4mF-FIR1T/s1600/FIR%2527AUN.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;“Apa, &amp;nbsp; di dalam kerajaanku sendiri &amp;nbsp;ada pengikut Musa?” Teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah &amp;nbsp;mendengar cerita putrinya perihal &amp;nbsp;keimanan  &amp;nbsp;Siti Masyitoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini &amp;nbsp;bermula ketika suatu hari Siti &amp;nbsp;Masyitoh sedang menyisir rambut  &amp;nbsp;putri Fir’aun, tiba-tiba sisir itu &amp;nbsp;terjatuh, seketika Siti Masyitoh &amp;nbsp;mengucap Astagfirullah. Sehingga &amp;nbsp;terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh &amp;nbsp;yang  selama &amp;nbsp;ini disembunyikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;“Baru saja aku menerima laporan dari Hamman, mentriku, bahwa &amp;nbsp;pengikut &amp;nbsp;  Musa&lt;br /&gt;
terus bertambah setiap hari. Kini pelayanku sendiri ada &amp;nbsp;yang &amp;nbsp; berani  memeluk&lt;br /&gt;
agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si Masyitoh &amp;nbsp;itu,” &amp;nbsp; umpat Fir’aun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Panggil Masyitoh &amp;nbsp;kemari,” perintah Fir’aun &amp;nbsp;pada pengawalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyitoh &amp;nbsp;datang menghadap &amp;nbsp;Fir’aun dengan &amp;nbsp;tenang. Tidak ada secuil pun&lt;br /&gt;
perasaan &amp;nbsp;takut di hatinya. &amp;nbsp;Ia yakin Allah &amp;nbsp;senantiasa menyertainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masyitoh, &amp;nbsp;apakah benar kamu &amp;nbsp;telah memeluk &amp;nbsp;agama yang dibawa Musa?”.  Tanya&lt;br /&gt;
Fir’aun pada Masyitoh &amp;nbsp;dengan amarah &amp;nbsp;yang semakin meledak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar,” jawab Masyitoh mantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tahu akibatnya? Kamu sekeluarga akan &amp;nbsp;saya bunuh,” bentak Fir’aun,&lt;br /&gt;
telunjuknya mengarah pada Siti Masyitoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya memutuskan untuk &amp;nbsp;memeluk agama Allah, maka saya telah siap pula&lt;br /&gt;
menanggung segala &amp;nbsp;akibatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masyitoh, apa kamu sudah gila! Kamu tidak sayang dengan &amp;nbsp;nyawamu,  &amp;nbsp;suamimu, dan&lt;br /&gt;
anak-anakmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih baik mati daripada hidup &amp;nbsp;dalam &amp;nbsp;kemusyrikan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat &amp;nbsp;sikap Masyitoh yang tetap teguh &amp;nbsp; memegang keimanannya, Fir’aun&lt;br /&gt;
memerintahkan kepada para pengawalnya &amp;nbsp;agar &amp;nbsp;menghadapkan semua keluarga&lt;br /&gt;
Masyitoh kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siapkan sebuah &amp;nbsp;belanga besar, isi dengan air, dan masak hingga  &amp;nbsp;mendidih,”&lt;br /&gt;
perintah &amp;nbsp;Fir’aun lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah &amp;nbsp;berkumpul, &amp;nbsp;Fir’aun memulai&lt;br /&gt;
pengadilannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masyitoh, &amp;nbsp;kamu lihat belanga besar di &amp;nbsp; depanmu itu. Kamu dan  keluargamu akan&lt;br /&gt;
saya &amp;nbsp;rebus. Saya berikan &amp;nbsp; kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama  yang&lt;br /&gt;
dibawa Musa dan &amp;nbsp;kembalilah &amp;nbsp;untuk menyembahku. Kalaulah kamu tidak  &amp;nbsp;sayang&lt;br /&gt;
dengan &amp;nbsp;nyawamu, paling &amp;nbsp;tidak fikirkanlah keselamatan bayimu itu.  &amp;nbsp;Apakah kamu&lt;br /&gt;
tidak kasihan &amp;nbsp;padanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Fir’aun, Siti &amp;nbsp;Masyitoh sempat&lt;br /&gt;
bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, &amp;nbsp;suami, dan&lt;br /&gt;
anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih &amp;nbsp;bayi. Naluri&lt;br /&gt;
keibuannnya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam &amp;nbsp;gendongannya. &amp;nbsp;  “Yakinlah&lt;br /&gt;
Masyitoh, Allah pasti menyertaimu.” Sisi &amp;nbsp;batinnya yang lain &amp;nbsp; mengucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika &amp;nbsp;itu, terjadilah suatu keajaiban. &amp;nbsp; Bayi yang masih menyusu itu  berbicara&lt;br /&gt;
kepada ibunya, “Ibu, janganlah &amp;nbsp; engkau bimbang. Yakinlah dengan janji  &amp;nbsp;Allah.”&lt;br /&gt;
Melihat bayinya dapat &amp;nbsp; berkata-kata dengan fasih, menjadi &amp;nbsp;teguhlah  iman Siti&lt;br /&gt;
Masyitoh. Ia &amp;nbsp;yakin &amp;nbsp;hal ini merupakan tanda bahwa &amp;nbsp;Allah tidak  meninggalkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah &amp;nbsp; pun membuktikan janji-Nya pada &amp;nbsp;hamba-hamba-Nya yang memegang  teguh&lt;br /&gt;
(istiqamah) keimanannya. Ketika &amp;nbsp;Siti Masyitoh dan keluarganya &amp;nbsp;  dilemparkan&lt;br /&gt;
satu persatu pada belanga &amp;nbsp;itu, Allah telah terlebih dahulu &amp;nbsp; mencabut  nyawa&lt;br /&gt;
mereka, sehingga tidak &amp;nbsp;merasakan panasnya air dalam &amp;nbsp; belanga itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah &amp;nbsp;kisah seorang wanita shalihah &amp;nbsp;bernama Siti &amp;nbsp;Masyitoh, yang  tetap&lt;br /&gt;
teguh &amp;nbsp;memegang keimanannya walaupun &amp;nbsp;dihadapkan pada &amp;nbsp;bahaya yang akan&lt;br /&gt;
merenggut nyawanya dan keluarganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika &amp;nbsp;Nabi &amp;nbsp;Muhammad Saw. isra dari &amp;nbsp;Masjidil Haram di Mekkah ke  Masjidil Aqsa&lt;br /&gt;
di &amp;nbsp;Palestina, beliau mencium &amp;nbsp;aroma wangi yang berasal dari sebuah  &amp;nbsp;kuburan.&lt;br /&gt;
“Kuburan siapa itu, &amp;nbsp;Jibril?” tanya baginda Nabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu adalah kuburan &amp;nbsp;seorang wanita shalihah &amp;nbsp;yang bernama Siti  Masyitoh,” jawab&lt;br /&gt;
Jibril.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://cerpen-alhidayah.blogspot.com/"&gt;&lt;i&gt;sumber: cerita pendek islami&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjExLZDMSTXe2ZRqP0EiUhKZYLlFbWQL7_OeZEfKrc0PzXqXClSyAUSxbhDh0uNmvwD4JBHv666UMLjl4eHAmxAWe4TYMwCPTs-5QJUhW0N5IDsQ_U15_63ICH4aMKClHzYcWU4mF-FIR1T/s72-c/FIR%2527AUN.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Asal Usul Kumandang Adzan</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/05/asal-usul-kumandang-adzan.html</link><category>Tauziah</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Fri, 27 May 2011 13:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-8260819942449983007</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAxkMhnxzmeTYmR9bOdF6cvGEXTpHJ5HJyoOPTTMlQD50Rd8wp84wSNENtKTGOK5NeK7rZGuUiTQ26yUmJzLUDeYGyIzqOm6wH3wApKMXEOcPj2goK4GwqJkviDWfFL0gMAHl_bM3fHTvL/s1600/adzan.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAxkMhnxzmeTYmR9bOdF6cvGEXTpHJ5HJyoOPTTMlQD50Rd8wp84wSNENtKTGOK5NeK7rZGuUiTQ26yUmJzLUDeYGyIzqOm6wH3wApKMXEOcPj2goK4GwqJkviDWfFL0gMAHl_bM3fHTvL/s200/adzan.jpeg" width="171" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;( Riwayat : Anas r.a; Abu Dawud; Al Bukhari )&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Seiring  dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit,  bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus  dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebenaran memang tidak dapat dmusnahkan. Semakin hari semakin bertambah  banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Demikian  pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat  penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar  dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi  mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat  berjama`ah. Kini, hal itu tidak mudah lagi mengingat setiap penduduk  tentu mempunyai ragam kesibukan yang tidak sama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Kesibukan yang tinggi  pada setiap orang tentu mempunyai potensi terhadap kealpaan ataupun  kelalaian pada masing-masing orang untuk menunaikan sholat pada  waktunya. Dan tentunya, kalau hal ini dapat terjadi dan kemudian  terus-menerus berulang, maka bisa dipikirkan bagaimana jadinya para  pemeluk Islam. Ini adalah satu persoalan yang cukup berat yang perlu  segera dicarikan jalan keluarnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Pada masa itu, memang belum  ada cara yang tepat untuk memanggil orang sholat. Orang-orang biasanya  berkumpul dimasjid masing-masing menurut waktu dan kesempatan yang  dimilikinya. Bila sudah banyak terkumpul orang, barulah sholat jama`ah  dimulai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Atas timbulnya dinamika pemikiran diatas, maka  timbul kebutuhan untuk mencari suatu cara yang dapat digunakan sebagai  sarana untuk mengingatkan dan memanggil orang-orang untuk sholat tepat  pada waktunya tiba. Ada banyak pemikiran yang diusulkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Ada sahabat  yang menyarankan bahwa manakala waktu sholat tiba, maka segera  dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan  mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya bisa dilihat  orang walaupun ia berada ditempat yang jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang menyarankan untuk  membunyikan lonceng. Ada juga yang mengusulkan untuk meniup tanduk  kambing. Pendeknya ada banyak saran yang timbul. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Saran-saran  diatas memang cukup representatif. Tapi banyak sahabat juga yang kurang  setuju bahkan ada yang terang-terangan menolaknya. Alasannya sederhana  saja : itu adalah cara-cara lama yang biasanya telah dipraktekkan oleh  kaum Yahudi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Rupanya banyak sahabat yang mengkhawatirkan image yang bisa  timbul bila cara-cara dari kaum kafir digunakan. Maka disepakatilah  untuk mencari cara-cara lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Lantas, ada usul dari Umar  r.a jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum  Muslim untuk sholat pada setiap masuknya waktu sholat. Saran ini agaknya  bisa diterima oleh semua orang, Rasulullah SAW juga menyetujuinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="text-align: justify;"&gt;Sekarang yang menjadi persoalan bagaimana itu bisa dilakukan ? Abu Dawud  mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid r.a meriwayatkan sbb :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ketika cara  memanggil kaum muslimin untuk sholat dimusyawarahkan, suatu malam dalam  tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah  lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada  maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya  untuk menjual kepadaku saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang tersebut malah bertanya," Untuk apa ?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
Aku  menjawabnya,"Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil  kaum muslim untuk menunaikan sholat."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
Orang itu berkata lagi,"Maukah  kau kuajari cara yang lebih baik ?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
Dan aku menjawab " Ya !"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
Lalu dia berkata lagi, dan kali ini dengan suara yang amat lantang ,"  Allahu Akbar,…Allahu Akbar….."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Rasulullah SAW  dan menceritakan perihal mimpi itu kepada beliau.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan beliau  berkata,"Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan  ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus  mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat  lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rupanya, mimpi serupa dialami  pula oleh Umar r.a, ia juga menceritakannya kepada Rasulullah SAW .  Nabi SAW bersyukur kepada Allah SWT atas semua ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(SELESAI)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.dongengkakrico.com/kisah-teladan-islam/40-kumpulan-kisah--cerita-teladan-islam/181-asal-usul-kumandang-adzan.html"&gt;&lt;i&gt;sumber : kisah teladan islami &lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAxkMhnxzmeTYmR9bOdF6cvGEXTpHJ5HJyoOPTTMlQD50Rd8wp84wSNENtKTGOK5NeK7rZGuUiTQ26yUmJzLUDeYGyIzqOm6wH3wApKMXEOcPj2goK4GwqJkviDWfFL0gMAHl_bM3fHTvL/s72-c/adzan.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Legenda Narsisus</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/05/legenda-narsisus.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Mon, 9 May 2011 04:23:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-2258900445413743375</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBERV99a3xJZDSMX2XW_Gvx1scPoaYPtto39IfHWeZOH9JDiQt2ocDk7Uj8JyZgjlSL-wpnVxv02bfxWSHJ7UkVgcZvCfGGrijGhnde5eVyGMUPxXgtGq-2w8TT-nI2z1QhH1o2LZBsSqq/s1600/narsisus.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBERV99a3xJZDSMX2XW_Gvx1scPoaYPtto39IfHWeZOH9JDiQt2ocDk7Uj8JyZgjlSL-wpnVxv02bfxWSHJ7UkVgcZvCfGGrijGhnde5eVyGMUPxXgtGq-2w8TT-nI2z1QhH1o2LZBsSqq/s200/narsisus.jpg" width="196" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Menurut legenda yunani kuno, tersebutlah di sebuah Negeri bernama Thebes,  hidup seorang peramal yang sangat terkenal bernama Tiresias,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konon  ramalannya selalu terbukti dan menjadi kenyataan, banyak orang datang  kepadanya untuk meramalkan nasibnya dan meminta petunjuk serta nasihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkisah  disuatu waktu datanglah&amp;nbsp; Peri liriope istri dewa Cephissus beserta  anaknya yg bernama Narsisus, kepada Tiresias sang peramal Peri meminta  untuk meramalkan masa depan anaknya&lt;br /&gt;
'&lt;br /&gt;
"dapatkah anaku bisa menjalani hidupnya sampai tua?"&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan sang peramalpun menjawab" mungkin bisa, jika ia tidak pernah mengenal dirinya sendiri "&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Dan waktupun berlalu narsis pun tumbuh jadi pemuda gagah dan tampan, oleh ketampanannya banyak Peri-peri &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1304889201_0" style="border-bottom: 2px dotted rgb(54, 99, 136); cursor: pointer;"&gt;jatuh cinta&lt;/span&gt; kepadanya, dikagumi dan dipuji oleh siapapun yang melihatnya, ia begitu mempesona&amp;nbsp; &amp;nbsp;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun  semua keistimewaan dan pujian serta kekaguman untuk dirinya menjadikan  Narsisus seseorang yang amat sombong, terlalu bangga akan dirinya, egois  dan seolah-olah hanya dirinyalah makhluk yang paling sempurna .&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun  begitu rupanya peri cantik bernama Echo tergila-gila kepada Narsisus.  Begitu gandrungnya sehingga kemanapun Narsisus pergi Echo selalu  menguntitnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sayang Echo tidak bisa berbicara dengan  normal, dia hanya bisa mengulang kata dari kalimat terakhir yang  diucapkan orang, ini akibat dari kutukan &lt;br /&gt;
Yuno istri dari Jupiter yang marah karena Echo terlalu banyak bertanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan  kondisi yang dialaminya membuat Echo tidak bisa mengutarakan isi  hatinya, namun rasa cintanya yang menggebu tak menyurutkan langkahnya  untuk mendekati Narsisus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada satu kesempatan Echo mengikuti  Narsisus dan mendapatkan nrsisus sendirian dihutan, diapun  mendekatinya...tapi apa yang didapatnya?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melihat kondisi Echo Narsisus pun mengejek dan mengusirnya untuk tidak lagi mendekatinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu  saja penghinaan Narsisus membuatnya sangat terluka dan malu. Echo pun  pergi dia sangat terpukul dan bersedih, dia berlari dihutan, melintasi  bukit-bukit dan menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para dewa yang mencari Echo pun tak pernah menemukannya, hanya suaranya  lah yang terdengar menggema menirukan siapa saja yg berteriak  memanggilnya tapi ujudnya tak pernah terlihat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlakuan Narsisus&amp;nbsp;  yang tak punya timbang rasa kepada Echo, dan keangkuhannya, membuat  dewa Nemesis marah dan mengutuk Narsisus yang sombong untuk &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1304889201_0" style="border-bottom: 2px dotted rgb(54, 99, 136); cursor: pointer;"&gt;jatuh cinta&lt;/span&gt; pada dirinya sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian yang menimpa Echo tak membuat narsisus merasa bersalah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" itu bukan salahku, yg kumiliki adalah untukku sendiri,&lt;br /&gt;
Tak seorangpun berhak atas diriku"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan  seperti biasanya narsisus pergi kehutan dan berbaring berlama2 ditepi  danau, sambil melihat kedalam air untuk memandangi bayangan wajahnya  yang rupawan, tak puas-puas menikmati keelokan parasnya, dia sangat  terpesona oleh ketampanan wajahnya sendiri &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatinya pun bergetar  dia tertegun, ada satu rasa bergejolak dia jatuh cinta pada bayangannya  sendiri, ingin menyentuhnya..&amp;nbsp; dijulurkan tangannya keair, ingin  menggapai bayangan itu, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Airpun beriak, banyangan itu menghilang,  dia menunggu air kembali tenang..dan berulang kali diraihnya kembali  bayangan itu dan selalu hasilnya sama, Narsisus&amp;nbsp; kecewa.. kesal..hatinya  tersiksa, frustasi dan tanpa sadar dia tergelincir jatuh kedanau dan  tenggelam ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
alam pun berduka cita daun2 beguguran...air danau kembali tenang hutan menjadi sunyi...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan dimana danau tempat Narsisus jatuh tumbuhlah tanaman bunga yang cantik. Dan orang menamakan itu bunga Narsis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
by: &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.mustofasilver.blogspot.com/"&gt;heri mustofa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
dari berbagai sumber&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/i&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBERV99a3xJZDSMX2XW_Gvx1scPoaYPtto39IfHWeZOH9JDiQt2ocDk7Uj8JyZgjlSL-wpnVxv02bfxWSHJ7UkVgcZvCfGGrijGhnde5eVyGMUPxXgtGq-2w8TT-nI2z1QhH1o2LZBsSqq/s72-c/narsisus.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Kesetaraan Gender Di Semua Bidang</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/04/kesetaraan-gender-di-semua-bidang.html</link><category>Artikel</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sat, 23 Apr 2011 19:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-3770481583087858156</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9S_C0lcB9nP8t1PsswOqulD-nCreLeLKJjwFQddvw2UYpvZ66kvRfHyN5T6L6TeYUuOKIXs6_SUSfKWL2bkcLk1UPfhWW4acBlGREQQH6zsbt0FeEkMOaRtrFRM2C5oP_LBbwzhO6aChE/s1600/Hari+Kartini.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="141" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9S_C0lcB9nP8t1PsswOqulD-nCreLeLKJjwFQddvw2UYpvZ66kvRfHyN5T6L6TeYUuOKIXs6_SUSfKWL2bkcLk1UPfhWW4acBlGREQQH6zsbt0FeEkMOaRtrFRM2C5oP_LBbwzhO6aChE/s200/Hari+Kartini.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Di negeri ini seorang wanita pernah menjadi presiden, menteri anggota legislatif, produser film, serta profesi lain yang membanggakan. Dalam hal ini, kartini selaku tokoh emansipasi boleh berbangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di era globalisasi ini sudah banyak generasi penerusnya yang meraih sukses di segala bidang. Semua profesi yang menjaanjikan sudah bisa diduduki kaum perempuan. Bahkan, untuk bidang yang identik dengan kaum pia sekalipun, wanita sudah menduduki peran strategis di sana.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Di sisi lain, RA Kartini juga merasa prihatin, sebab harapannya mengangkat derajat kaum perempuan dari keterpurukan hidup akibat kebodohan, tidak sepenuhnya berhasil. Tengok saja para wanita yang sampai saat ini masih belum dapat mengenyam pendidikan yang layak karena terbentur masalah biaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau para Tenaga Kerja Wanita yang kurang mendapat perhatian dan perlindungan pemerintah. Sehingga mereka selalu berhadapan dengan perlakuan buruk berupa kekerasan dan pelecehan seksual di negeri orang.&lt;br /&gt;
Masalah lain, begitu banyak kaum perempuan yang belum merdeka secara pribadi. Masih sering terdengar oleh kita perihnya nasib perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, diceraikan sepihak oleh suaminya, dilecehkan, diintimidasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dunia kerja sendiri, tak jarang wanita hanya dijadikan objek dan subordinat ketimbang subjek dan ordinat. Baik disadari maupun tidak oleh dirinya, kecantikan dan kemolekan tubuh wanita banyak dimanfaatkan. Pada umumnya kaum laki-laki memandang wanita hanya terfokus pada jasmaniahnya, bukan pada potensi diri dan kecerdasannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun membanggakan di berbagai bidang, fenomena Women Empowerment saat ini, juga masih menyisakan ironi yang mendalam. Namun, mari lihat sisi positifnya. Kita dapat mengambil contoh wanita-wanita sukses dan berhasil bebas dari intimidasi sekaligus keluar dari comfort zone. Sudah saatnya kesetaraan gender di semua bidang tidak lagi menjadi tuntutan kaum wanita, namun sudah otomatis diberikan. &lt;br /&gt;
MARKET+&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9S_C0lcB9nP8t1PsswOqulD-nCreLeLKJjwFQddvw2UYpvZ66kvRfHyN5T6L6TeYUuOKIXs6_SUSfKWL2bkcLk1UPfhWW4acBlGREQQH6zsbt0FeEkMOaRtrFRM2C5oP_LBbwzhO6aChE/s72-c/Hari+Kartini.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tembakanku Meleset Son!</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/04/tembakanku-meleset-son.html</link><category>Cerpen</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Thu, 21 Apr 2011 01:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-9134445272134395896</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOUdCY6TFwDlNiKTeN7CFFHeGjFVYzEMF-HpU-fNOOTnQ0rov7tCwgVrbi2hyESJmPqGzaLbeoNuKt_5_-E1guWxYlWNdIEgnEXDLqQQzHa1jyfg0mTSq_DsyXUqGCzcx5JI4TMPJkVdW_/s1600/p.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVYDpEM9U63XcVJIA9IylvhMhwjdaF15Q0kwhyphenhyphenpmg1EiEzTSnBg_MGIxIcgZzoKdCDBbspR8Z8qlB4yhkXr_S6z18Ofozb9L9-lDPGzut1EQinkBnMYS6jx3Yf78mA0Nmuli7GHYtsD8TG/s1600/tem.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVYDpEM9U63XcVJIA9IylvhMhwjdaF15Q0kwhyphenhyphenpmg1EiEzTSnBg_MGIxIcgZzoKdCDBbspR8Z8qlB4yhkXr_S6z18Ofozb9L9-lDPGzut1EQinkBnMYS6jx3Yf78mA0Nmuli7GHYtsD8TG/s200/tem.jpeg" width="121" /&gt;&lt;/a&gt; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; Gubraaak!!&amp;nbsp; "Gendon bangun ndon..!!" teriak Jupri &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang lagi asyik ngiler melompat kaget "Et dah! Ada apa'an sih Pri? Pagi pagi udah kayak ayam mao betelor?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"itu bidadarimu si Dakem lewat depan rumah" bisik Jupri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hah  yang bener?!" aku melompat dari kasur segera lari ke kamar mandi buat ngelap belek ma iler biar  kliatan ganteng dihadapan sang pujaan hati Nimas Roro Dakem,&amp;nbsp; hehe..PD  aja lagi!&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beres ngilangin belek ma iler pake biore Mens Scrub aku duduk diteras rumah &lt;br /&gt;
"Mana pri" tanyaku&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tadi udah lewat kita tunggu aja baliknya" jawabnya cuek sambil ngebenerin tali kolornya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa  menit berselang akhirnya yang ditunggu nongol juga,&amp;nbsp; dari kejauhan tampak mengkilat jidat sang cewek  pujaan hati, hatiku jadi degdeg ser kayak kena sindrom sinden tarling &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat  lidahku jadi kelu, Dakem mendekat tenggorokanku tambah tercekat,  ah..daripada mubazir aku sudah berkorban merelakan mimpi indahku  terputus, kuberanikan diri untuk menyapanya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" ehm..pagi Nimas.. dari mana nih, abis lari pagi ya ?" tanyaku asal njeplak yang penting ada obrolan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ah nggak kok cuma abis belanja sayuran" sahutnya sambil senyum, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
duh...manis banget cengirannya hikhik..Mataku jadi berkunang-kunang, eit..apa karena belum sarapan kali ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"boleh gak abang anterin?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ah ndak usah mas deket koq" tukasnya halus,matanya melirik kearahku .. ih aku jadi geregetan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"hati hati ya Kem, kalo dikejar anjing kesini aja, nih ada pawangnya, kang Gendon hahahaha " tiba-tiba Jupri nyeletuk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"iya makasih, qiqiqi..mas Jupri bisa aja " Dakem menjawab dengan tersenyum-senyum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"brengsek lo pri nyamber aja kayak petir " gerutuku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan si Dakem pun berlalu, kuhanya mampu memandanginya sampai ujung jalan dan menghilang di tikungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hm..aku  jadi garuk-garuk kepala, oh dakem..lenggak-lenggok jalanmu dan goyang  pinggulmu amboi...menimbulkan gelombang tsunami dihatiku,  meluluh-lantakkan perasaanku, menerjang mata hatiku hingga tak mampu  berfikir apakah ia juga mempunyai perasaan yang sama denganku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aah...kutepis  semua rasa yang berkecamuk di dadaku kumuntahkan semuanya, aku tak mau  membayangkan soal itu, kuhanya bisa membayangkan betapa indahnya jika  bisa mendapatkan cintanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah sekian lama aku memedam rasa cinta ini namun untuk mengutarakannya aku tak punya cukup keberanian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak  dari masih sama-sama duduk dibangku sekolah ku hanya bisa mengaguminya  saja. Krisis kepercayaan dirilah yang membuatku melewatkan begitu saja  kesempatan saat-saat berdua dengannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat aku termenung  kembali ke pertanyaan semula, bisakah aku meraih cintanya? ini tidak  mudah buatku, aku tau cewek secantik dia&amp;nbsp; banyak yang naksir dan banyak  saingan tentunya. Terutama si Dewo anak pak Lurah yang sudah  terang-terangan meminta ayahnya untuk melamar primadona desa anak  juragan kedele ini, Hm..jelas kalah saing nih aku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
huuft.. Aku jadi merutuk nasibku ini menyalahkan takdirku, mengapa aku terlahir kurang beruntung? &lt;br /&gt;
Tampang pas pasan duit kagak gablek, untungnya masih idup!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aah..  apakah mungkin&amp;nbsp; semua gadis memandang cowok dari fisik dan materi?  Termasuk dakem ? Aku jadi pusing memikirkan hal ini, masa bodo ah gimana  nanti aja pikirku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Heh nglamun aja lo, mancing yuk "&amp;nbsp; suara Jupri menbuyarkan lamunanku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" males ah " jawabku lemah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ceileeh..baru gitu aja, udah kayak ayam kena telo" olok supri &lt;br /&gt;
"tau begini&amp;nbsp; nggak aku kasih tau tadi"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"jangan ngledek deh! Belum penah makan kolak sendal jepit ya " ujarku sewot&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"hahahaha..payah, makanya kalo naksir jangan diem aja, tembak dong&amp;nbsp; jadi nggak penasaran , nggak uring-uringan gitu "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
begini  maksudnya, cinta itu harus diungkapkan soal diterima atau tidak itu  soal nanti, yang penting dia tau perasaanmu dulu" kata Jupri sok bijak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"kalo dia nolak?" tanyaku penasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"kalo ditolak ya udah cari cewek lain dong, dunia ini luas cewek bukan cuma sidakem kok" jawabnya enteng&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"hm..susah deh ngomong ama robot, nggak punya perasaan" sungutku sambil beranjak pergi, &lt;br /&gt;
jupri cuma cengar-cengir melihatku yang senewen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hm..bener juga ucapan si Jupri tadi, aku harus mengungkapkan isi hati  ini, jika memang dia menolakku maka aku harus terima itu, agar semuanya  menjadi jelas, tidak seperti punguk merindukan bulan, mungkin akan sakit  tapi itu lebih baik, daripada nanti mungkin akan lebih sakit lagi,  lebih baik sekarang, ya aku harus terima semua resiko,&amp;nbsp; tapi gimana  caranya? uh otakku buntu&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ah aku minta tolong Jupri aja deh buat atur strategi dia kan dekat sama keluarganya dan ceweknya juga teman akrabnya dakem&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku balik lagi menghampiri Jupri&lt;br /&gt;
"pri? Bisa tolongin gue gak?" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;  "tolongin apa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"mm..anu.. kamu kan deket sama keluaganya Dakem...." belum selesai aku ngomong&amp;nbsp; Jupri memotong&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"oh..aku tau maksudmu, itu yang mau aku omongin tadi, kamu sih udah senewen duluan, tenang aja deh nanti aku atur " imbuhnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku punya rencana bagus, besok minggu aku mo jalan sama cewekku tini,  nanti aku ajak sekalian dakem kita ketemuan dipantai Purwahamba Indah, di taman  tempat biasa kita nongkrong, gimana setuju?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"oke mantaaf bro, hehe..kamu emang sahabatku yang paling baik bro, makasih ya" sambutku senang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"udah deh jangan lebay, jijay gue, sono mandi dulu" &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"hehehe...aku ternyum puas, seraya ngeloyor pergi ke kamar mandi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari minggu yang di nantikan pun tiba, HP jadulku berbunyi..tut..tuuut...tuuuut.., ah pasti itu si Jupri semoga kabar baik dan sesuai rencana &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ternyata benar setelah kuangkat teleponnya dari seberang sana Jupri mengabarkan aku untuk segera berangkat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ndon buruan aku udah mau jalan nih" kata Supri&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ya ok bro aku mandi dulu ya" kataku mengakhiri obrolan&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku  segera mandi lalu berdandan serapi mungkin, pake minyak nyongnyong&amp;nbsp;  biar wangi menebarkan aroma jantan haha...nyambung gak sih?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ah  beres sudah aku dandan kuperiksa isi dompetku, hm..cukuplah buat ongkos  sama traktir bakso bidadariku, ayaaam caming..langsung aku melejit  menuju target (ceileeh..kaya buser aja)&lt;br /&gt;
sesampainya dipantai  rupanya mereka sudah menunggu disana, segera aku hampiri mereka,  bersalaman, dan sedikit grogi aku menyalami dakem&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"hehe..dah lama?" tanyaku membuka obrolan walau terasa garing&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"yah udah setengah jam sih" jawabnya datar&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"duh..aku kok jadi kikuk begini sih" bathinku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
untung ada Jupri dan Tini yang segera mencairkan keadaan. Dengan banyolan mereka suasana menjadi segar dan meriah penuh canda tawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak  terasa satu jam berlalu dan sepertinya ini memang sudah diatur jupri  dan tini, mereka pamit untuk jalan-jalan melihat sekeliling seakan  memberi ruang kepadaku untuk ngobrol dengan Dakem. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Gendon , Dakem  aku aku jalan dulu ya, nanti sore kalo mo pulang bareng aku tunggu di pos depan ya, tapi telpon dulu ya, Gendon tolong jagain Dakem, jangan di apa-apain yah hehe.. yuk  aku cabut dulu" pamit si Jupri setengah bercanda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ok tenang aja bro, ya udah jangan kesorean yah pulangnya" tukasku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"yoi" dan mereka ngeloyor pergi meninggalkan aku berdua dengan Dakem&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana  kembali kaku saling berdiam diri, hatiku bergemuruh entah apa yang  harus kulakukan serba salah, aku ragu. kata-kata yang sudah kurancang  semalaman musnah seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku menengadahkan wajah kelangit, angin bertiup kencang, awan kelabu  menyelimuti langit senja dipantai purwahamba, seakan mewakili perasaanku  saat ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hm.." aku bergumam lirih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"kem?" akhirnya suaraku memecah kesunyian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"apa" sahut dakem sambil melirik kearahku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"hehe...sambil garuk kepala, aku boleh ngomong nggak?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"boleh, emang mo ngomong apa?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"mmm...apa yah..." aku ragu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ngomong aja mas, ada apa sih?"Dakem sedikit penasaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejenak aku terdiam, dengan suara berat aku berkata"aku naksir kamu boleh ga?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hah..maksudnya?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
duh..telmi amat sih, apa pura-pura ga tau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku cinta kamu nimas. Aku suka kamu sejak lama tapi baru sekarang aku berani mengatakanya"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"aduh gimana ya mas, aku....."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hm..ya udah nggak usah diterusin aku sudah tau koq jawabannya"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"bukan begitu mas Gendon..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"iya aku tau maksudmu, kamu nggak bisa jawab sekarang kan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"heem.." dia pun terdiam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1303322618_0" style="border-bottom: 2px dotted rgb(54, 99, 136); cursor: pointer;"&gt;Kamu&lt;/span&gt;  nggak usah khawatir nimas, kamu tidak perlu menjawab apapun, cintaku  tak memerlukan jawaban darimu aku hanya ingin kamu tau kalau aku  mencintaimu, itu saja tak lebih, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku bukan siapa-siapa buatmu &lt;br /&gt;
Aku sadar cinta tak harus memiliki&lt;br /&gt;
Walaupun itu terdengar sangat naif,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
walaupun  kamu menolak cintaku aku nggak akan marah atau benci padamu, dengan  melihatmu tersenyum pun aku sudah bahagia, aku akan tetap slalu  mengagumimu nimas,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dakem hanya tertunduk diam..tak berkata sepatahpun. Aku jadi merasa gak enak hati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"aku minta maaf nimas sudah membuatmu nggak nyaman "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nggak papa"&lt;br /&gt;
sahutnya lirih hampir tak terdengar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"hm..terimakasih Nimas, ya sudah kita pulang aja, hari sudah sore sebentar lagi hujan "  kataku sambil ku ulurkan tanganku dan dia pun&amp;nbsp; menyambutnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan  kami segera beranjak meninggalkan pantai, langit mulai gelap, gerimis  pun turun membasahi tubuh kami,&amp;nbsp; kulangkahkan kakiku iringi  langkahnya, ku menoleh kebelakang, pada sebuah bangku disudut taman,  yah... disitulah saksi bisu sekaligus tuli, sejarah baruku terukir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sejarah  baru untuk tidak menjadi seorang pengecut, tidak seperti yang selama ini aku  lakukan,&amp;nbsp; seorang yang takut akan kegagalan, padahal kegagalan bukanlah  akhir dari segalanya. ini hanya soal waktu, suatu saat impianku bisa  kuraih, dan aku percaya waktu bisa merubah segalanya&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVYDpEM9U63XcVJIA9IylvhMhwjdaF15Q0kwhyphenhyphenpmg1EiEzTSnBg_MGIxIcgZzoKdCDBbspR8Z8qlB4yhkXr_S6z18Ofozb9L9-lDPGzut1EQinkBnMYS6jx3Yf78mA0Nmuli7GHYtsD8TG/s72-c/tem.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Candi Borobudur</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/04/candi-borobudur_19.html</link><category>Wisata</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Tue, 19 Apr 2011 18:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-2930069083567253315</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcphMe7aZBkfa6u8u1LwLFOYbJDgXOx4jvzTuNbanV-KejlYGCyMyuhfk9WCdQxOf2LZtYoGYV6B97JRfanFZsudyMkutBfRMQMilmi6XH8vs1nOEzE36ltIQuj2QyEcEhMHJyDnQopit2/s1600/borobudur.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcphMe7aZBkfa6u8u1LwLFOYbJDgXOx4jvzTuNbanV-KejlYGCyMyuhfk9WCdQxOf2LZtYoGYV6B97JRfanFZsudyMkutBfRMQMilmi6XH8vs1nOEzE36ltIQuj2QyEcEhMHJyDnQopit2/s200/borobudur.jpg" width="174" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Anda tentu kenal dengan candi Borobudur. Tapi apakah anda pernah mengunjunginya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terletak di dekat kota Magelang, Borobudur merupakan candi Budha yang dibangun pada abad kesembilan masehi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai kuil Budha yang terbesar di seluruh dunia, Borobudur adalah salah satu hasil budaya manusia yang paling sering dikunjungi lebih dari sejuta&lt;br /&gt;
wisatawan setiap tahunnya, baik domestik maupun mancanegara. Tidak ada satupun candi di seluruh dunia yang menyerupai gaya arsitek candi ini.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Candi yang dibangun di era dinasti Syailendra ini sangat pas sekali untuk Anda yang hobi fotografi. Banyak spot menarik yang bisa diambil untuk diabadikan, apalagi disaat sunset.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Borobudur penuh dengan ornamen filosofis dimana menyimbolkan secara gamblang tentang perbedaan jalur yang dapat diikuti untuk mencapai tujuan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Relief yang terukir di dinding candi memberitahukan keindahan dalam mempelajari hidup. Dengan kata lain, Borobudur memiliki jiwa seni, filosofis dan budaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap relief memiliki ceritanya masing-masing. Untuk lebih mengerti tentang makna relief serta sejarah candi ini, Anda dapat mengikuti tur atau pemandu berlisensi untuk membimbing Anda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari yogyakarta Borobudur bisa ditempuh mengunakan mobil. Hanya akan memakan waktu sekitar satu jam untuk sampai kesana. Anda dapat mengikuti tur atau menyewa mobil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menaiki candi menakjubkan ini, Anda dapat mengagumi setiap relief yang terpapar pada batu-batu di sekeliling Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aneka souvenir berupa miniatur Borobudur dari perak (atau berlapis perak), gantungan kunci, kaos oblong hingga kartu pos bergambar Borobudur, bisa Anda dapatkan di area candi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bagi yang berkunjung ke candi ini, ada semacam mitos yang mengatakan apabila Anda berhasil menyentuh figur sang Buddha yang terdapat di dalam stupa, maka keinginan anda akan terkabul. Anda penasaran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;sumber: MARKET+ &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcphMe7aZBkfa6u8u1LwLFOYbJDgXOx4jvzTuNbanV-KejlYGCyMyuhfk9WCdQxOf2LZtYoGYV6B97JRfanFZsudyMkutBfRMQMilmi6XH8vs1nOEzE36ltIQuj2QyEcEhMHJyDnQopit2/s72-c/borobudur.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengajari Keledai Membaca</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/04/mengajari-keledai-membaca.html</link><category>Humor Sufi</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Mon, 18 Apr 2011 03:25:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-5588816903930290283</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTiYju806vE0WmaUTQkg3mMngZ8Q8O377q3wjYASv-ZPk6iBX5iON-ZvQNVdN586N3ZFe1E-nU2LcJqwK7gOM3MYICMtUgXEgCspIKDAY_5fcaFioA2KxSDQBhrojNjmW-RL6NBYXZd-1K/s1600/Nasreddin.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTiYju806vE0WmaUTQkg3mMngZ8Q8O377q3wjYASv-ZPk6iBX5iON-ZvQNVdN586N3ZFe1E-nU2LcJqwK7gOM3MYICMtUgXEgCspIKDAY_5fcaFioA2KxSDQBhrojNjmW-RL6NBYXZd-1K/s200/Nasreddin.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa  banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin  menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya  dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke  halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan  lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di  dalamnya.&lt;br /&gt;
Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa  makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya  membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka  buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTiYju806vE0WmaUTQkg3mMngZ8Q8O377q3wjYASv-ZPk6iBX5iON-ZvQNVdN586N3ZFe1E-nU2LcJqwK7gOM3MYICMtUgXEgCspIKDAY_5fcaFioA2KxSDQBhrojNjmW-RL6NBYXZd-1K/s72-c/Nasreddin.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kisah Ibu dan Semangkuk Bakmi</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/04/kisah-ibu-dan-semangkuk-bakmi.html</link><category>kisah hikmah</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Mon, 18 Apr 2011 02:32:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-4624206154551497862</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1saAYdGBy7S_XyOYOhIGgJeVt3X_0uCwndV7fu8SlhUDqH9BtM77K1hZu1AZE8xYW4kyMgGDqtZE7acefQvPXmdCMydxTGeOSjXkNR1TYbTkX-qsxSZ_WEudDogiVOZezpDi7-UTkr38S/s1600/ab.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1saAYdGBy7S_XyOYOhIGgJeVt3X_0uCwndV7fu8SlhUDqH9BtM77K1hZu1AZE8xYW4kyMgGDqtZE7acefQvPXmdCMydxTGeOSjXkNR1TYbTkX-qsxSZ_WEudDogiVOZezpDi7-UTkr38S/s1600/ab.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya . karena sangat marah Ana segera meninggalkan  rumah tanpa membawa apapun. Setelah lama berjalan, Ia baru  menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menyusuri sebuah  jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma  masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak  mempunyai uang.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Pemilik  kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata:  “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak  lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana  segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bahkan,  seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi! Tetapi,  ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan  mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi.Sedangkan Kau, seorang yang baru  kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku  sendiri” katanya kepada pemilik kedai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilik kedai itu setelah  mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang lalu berkata, “Nona,  mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya  memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak  bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak  berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ana terdiam mendengar hal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa  aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang  yang baru kukenal , aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yang  memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan  kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan kecil, aku bertengkar  dengannya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan  dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia  memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di  ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika  bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah  “Ana, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan  malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau  tidak memakannya sekarang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang,  kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar  kita untuk suatu pertolongan kecil yang mereka berikan kepada kita.  Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua  kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur  hidup kita.&lt;/div&gt;&lt;span class="post-backlinks post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-action"&gt; &lt;a href="http://www.blogger.com/email-post.g?blogID=1308830439789534415&amp;amp;postID=450226669280738415" title="Email Post"&gt; &lt;span class="email-post-icon"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1saAYdGBy7S_XyOYOhIGgJeVt3X_0uCwndV7fu8SlhUDqH9BtM77K1hZu1AZE8xYW4kyMgGDqtZE7acefQvPXmdCMydxTGeOSjXkNR1TYbTkX-qsxSZ_WEudDogiVOZezpDi7-UTkr38S/s72-c/ab.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>"Yuk Punya Properti di Web"</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/04/bicara-sosial-media-yang-akhir-akhir_17.html</link><category>Artikel</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Mon, 18 Apr 2011 00:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-9125379155029182549</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoPy1r8m8y40foiIepBTLZUAtgmMDSmU_Ew-u28HW1CJBkbTTaVG701iJS8kVDmpQ53c-DQEN4aYczGKtD6IIv2TKlCtHHVVxOF7_Q2tFhdINgZJItJHHxgpRz0tQm81pxTFS9dNl7h6Ey/s1600/a.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoPy1r8m8y40foiIepBTLZUAtgmMDSmU_Ew-u28HW1CJBkbTTaVG701iJS8kVDmpQ53c-DQEN4aYczGKtD6IIv2TKlCtHHVVxOF7_Q2tFhdINgZJItJHHxgpRz0tQm81pxTFS9dNl7h6Ey/s200/a.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bicara sosial media yang akhir-akhir ini digandrungi banyak orang  dibelahan dunia, aku jadi tergelitik ingin tahu apa sih sebenarnya  sosial media dan apa bisa memberikan keuntungan pada penggunanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah  bolak-balik mencari tahu akhirnya aku menemukan sebuah artikel di  sebuah majalah MARKET+, yang bagiku amat menarik dibuat oleh @andysjarif  CEO SITTI. Sekedar informasi &lt;a href="http://www.sitti.com/" target="_blank"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1303062361_0"&gt;www.sitti.co.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; adalah flatform iklan teks kontekstual berbahasa indonesia.&lt;br /&gt;
berikut adalah copi-an artikelnya :&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman  dekat saya, Anton, adalah seorang juragan properti di Jakarta. Dia  pernah bilangke saya bahwa kalau kita lempar biji jagung kelangit,  kemungkinan akan jatuh ditanah, rumah, apartemen atau gedung milik dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah  saya tidah berani bicara soal properti karena tidak seperti Anton,  properti milik saya hanya satu Kijang Innova hitam yang kemarin ditabrak  pak bajaj yang lagi ngantuk. Tapi saya disini menberanikan diri untuk  berbicara tentang properti yang tidak bisa disentuh dan tidak ada surat  hak miliknya. Dalam bahasa Inggris&amp;nbsp; yang saya bicarakan ini disebut web property.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap  situs itu ada halamannya. Ambil saja contoh si Solihin, OB di kantor  SITTI. Dia punya situs mempromosikan dirinya sebagai cowok metropolitan  yang bekerja di perusahaan teknologi di Jakarta. Gadis-gadis di kampung  Solihin sering "datang" dan masuk ke situs Solihin ini. Pertama satu  atau dua orang. Lama kelamaan 217 gadis single di kampung Solihin mulai  secara rutin mendatangi situs Solihin ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
217 gadis datang dua  kali sehari . Artinya gadis-gadis single yang banyak dari pesantren ini  memberikan 2 pageview seharinya. Pageview, adalah sebuah terminologi  yang mendiskripsikan berapa kali suatu halaman situs dibaca ( baca: view  ) oleh mata orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, situs si Solihin anak metropolitan  mampu mendatangkan 434 pageview/hari (217x2). Coba bayangkan dalam  setahun, situs si Solihin ini akan dapat mendatangkan pageview sebanyak  158.410 (434x365hari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan begitu, waktu Solihin mudik, dia bisa jualan pageview ini ke  warteg ibu jurhada supaya memulai beriklan di situs "Solihin Anak  Metropolitan" karena dilihat 158.000 kali dalam setahun oleh gadis-gadis  di kampungnya. Ini adalah esensi web property. Tidak bisa disentuh atau diukur secara meter persegi tapi tetap ada harganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Punya  blog? Kalau belum, buatlah blog. Buatlah situs seperti Solihin. Karena  setiap halaman situs atau blog adalah web property yang bisa  menghasilkan uang. Kalau malas jualan iklan sendiri, disinilah SITTI  bisa membantu. Datang ke &lt;a href="http://sitti.co.id/" target="_blank"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1303062361_0"&gt;www.sitti.co.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;,  download skrip SITTI lalu pasang di blog anda. Dengan begini, halaman  Anda sudah termasuk secara otomatis menjadi bagian dari pageview yang  dijual oleh tim SITTI lalu penghasilan mayoritas untuk Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan  demikian Anda tidak harus menjual halaman Anda satu persatu karena  berdasarkan data September 2010 hingga Januari 2011, total pageview  SITTI sudah mencapai 272 juta. Setiap halaman akan mendapatkan pemasukan  berdasarkan konteksnya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan pageview sebesar  itu siapa yang tak tergiur? Anton si juragan property pun akan ngiler  untuk beriklan di SITTI. Sedangkan Solihin, puas dengan peforma situs  "Solihin Anak Metropolitan", bukan tidak mungkin membuat situs-situs  lain seperti blog "Kisah Solihin OB Juara" atau situs "Makan Siang Murah  Meriah" untuk menggapai cita-citanya menjadi koki terkenal. Sehingga  kali lain saya lempar biji jagung kelangit web, kemungkinan akan jatuh  ke salah satu property milik Solihin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ah..Solihin meuni keren pisan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber: MARKET+&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoPy1r8m8y40foiIepBTLZUAtgmMDSmU_Ew-u28HW1CJBkbTTaVG701iJS8kVDmpQ53c-DQEN4aYczGKtD6IIv2TKlCtHHVVxOF7_Q2tFhdINgZJItJHHxgpRz0tQm81pxTFS9dNl7h6Ey/s72-c/a.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jam Piket Organ Dalam Shalat dan Perubahan Warna Pada Alam</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/03/sholat-dan-perubahan-warna-alam.html</link><category>Tauziah</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Fri, 25 Mar 2011 16:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-6341305993454061195</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJcVf4dsas0OTmQob9dZFv57K0ZTd0Cub6nV5i4Y57GEX-t7NYvl7elyq4bteq637p1wcAReaBvxb3CntZ2WvHvfUQ2-ChPWQfbSbrbDePFtxAnzoCyFTsLDYyBuKaxL_-UqvKP1SnBclh/s1600/images.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="229" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJcVf4dsas0OTmQob9dZFv57K0ZTd0Cub6nV5i4Y57GEX-t7NYvl7elyq4bteq637p1wcAReaBvxb3CntZ2WvHvfUQ2-ChPWQfbSbrbDePFtxAnzoCyFTsLDYyBuKaxL_-UqvKP1SnBclh/s320/images.jpeg" width="220" /&gt;&lt;/a&gt;Sholat dan perubahan Warna Alam&lt;br /&gt;
BismillaahiRrohmaniRrohiim...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap peralihan waktu sholat sebenarnya&lt;br /&gt;
menunjukkan perubahan tenaga alam ini yang&lt;br /&gt;
boleh diukur dan diserap melalui perubahan warna&lt;br /&gt;
alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku rasa fenomena perubahan warna alam adalah&lt;br /&gt;
sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang terlibat&lt;br /&gt;
dalam bidang fotografi, betul tidak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Subuh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, pada waktu Subuh alam berada&lt;br /&gt;
dalam spektrum warna biru muda yang&lt;br /&gt;
bersamaan dengan frekuensi tiroid yang&lt;br /&gt;
mempengaruhi sistem metabolisma tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi warna biru muda atau waktu Subuh&lt;br /&gt;
mempunyai rahasia berkaitan dengan penawar/&lt;br /&gt;
rezeki dan komunikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya&lt;br /&gt;
ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama&lt;br /&gt;
kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi&lt;br /&gt;
dan rezeki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini karena tenaga alam iaitu biru muda tidak dapat&lt;br /&gt;
diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam&lt;br /&gt;
keadaan roh dan jasad bercantum (keserentakan&lt;br /&gt;
ruang dan masa) - dalam arti kata lain jaga&lt;br /&gt;
daripada tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sini juga dapat kita cungkil akan rahasia&lt;br /&gt;
diperintahkan sholat di awal waktu.&lt;br /&gt;
Bermulanya saja adzan Shubuh, tenaga alam pada&lt;br /&gt;
waktu itu berada pada tahap optimum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui&lt;br /&gt;
konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud.&lt;br /&gt;
Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenarnya&lt;br /&gt;
sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Dhuhur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau&lt;br /&gt;
(Isyraq &amp;amp; Dhuha) dan kemudian warna kuning&lt;br /&gt;
menandakan masuknya waktu dhuhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Spektrum warna pada waktu ini bersamaan&lt;br /&gt;
dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan&lt;br /&gt;
dengan sistem pencernaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warna kuning ini mempunyai rahasia yang&lt;br /&gt;
berkaitan dengan keceriaan.&lt;br /&gt;
Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya&lt;br /&gt;
akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat&lt;br /&gt;
cerianya. Orang yang tengah sakit perut ceria&lt;br /&gt;
tidak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Ashar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian warna alam akan berubah kepada&lt;br /&gt;
warna orange, yaitu masuknya waktu Ashar di&lt;br /&gt;
mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan&lt;br /&gt;
dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis&lt;br /&gt;
yang merangkumi sistem reproduktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rahasia warna orange ialah kreativiti.&lt;br /&gt;
Orang yang kerap tertinggal Ashar akan hilang&lt;br /&gt;
daya kreativitinya dan lebih malang lagi kalau di&lt;br /&gt;
waktu Ashar ini jasad dan roh seseorang ini&lt;br /&gt;
terpisah (tidur ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat&lt;br /&gt;
diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Magrib&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna&lt;br /&gt;
merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh&lt;br /&gt;
orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini karena spektrum warna pada waktu ini&lt;br /&gt;
menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan&lt;br /&gt;
ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat&lt;br /&gt;
bertenaga karena mereka resonan dengan alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-&lt;br /&gt;
eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (sholat&lt;br /&gt;
Maghrib dulu ) karena banyak interferens berlaku&lt;br /&gt;
pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rahasia waktu Maghrib atau warna merah ialah&lt;br /&gt;
keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Isyak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila masuk waktu Isyak, alam berubah ke&lt;br /&gt;
warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa&lt;br /&gt;
Kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Isyak ini menyimpan rahasia ketenteraman&lt;br /&gt;
dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan&lt;br /&gt;
dengan sistem kawalan otak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang kerap ketinggalan Isyaknya akan&lt;br /&gt;
selalu berada dalam kegelisahan.&lt;br /&gt;
Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan&lt;br /&gt;
sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidur pada waktu ini dipanggil tidur delta di mana&lt;br /&gt;
keseluruhan sistem tubuh berada dalam kerehatan.&lt;br /&gt;
Qiyamullail&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selepas tengah malam, alam mulai bersinar&lt;br /&gt;
kembali dengan warna putih, merah jambu dan&lt;br /&gt;
seterusnya ungu di mana ianya bersamaan&lt;br /&gt;
dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus&lt;br /&gt;
dan hipotalamus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini&lt;br /&gt;
dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiyamullail.&lt;br /&gt;
Begitulah secara ringkas perkaitan waktu sholat&lt;br /&gt;
dengan warna alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia kini sememangnya telah sadar akan&lt;br /&gt;
kepentingan tenaga alam ini dan inilah faktor&lt;br /&gt;
adanya bermacam-macam kaedah meditasi yang&lt;br /&gt;
dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga&lt;br /&gt;
alam ke sistem tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur&lt;br /&gt;
karena telah di ’kurniakan’ syariat sholat oleh Allah&lt;br /&gt;
s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana&lt;br /&gt;
hendak menyerap tenaga alam ini. Subhanallah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakikat ini seharusnya menginsafkan kita bahwa&lt;br /&gt;
Allah s.w.t mewajibkan sholat ke atas hamba-Nya&lt;br /&gt;
atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai&lt;br /&gt;
pencipta karena Dia tahu hamba-Nya ini amat-amat&lt;br /&gt;
memerlukan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah amat malang sekali bagi kumpulan manusia&lt;br /&gt;
yang amat lalai dalam menjaga solatnya tapi amat&lt;br /&gt;
berdisiplin dalam kesibukan kesibukan lainnya.&lt;br /&gt;
Wallahualam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tauziah Ustd Jefry Al Buchori&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJcVf4dsas0OTmQob9dZFv57K0ZTd0Cub6nV5i4Y57GEX-t7NYvl7elyq4bteq637p1wcAReaBvxb3CntZ2WvHvfUQ2-ChPWQfbSbrbDePFtxAnzoCyFTsLDYyBuKaxL_-UqvKP1SnBclh/s72-c/images.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sang Maha Pembolak - balik Hati</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/01/sang-maha-pebolak-balik-hati.html</link><category>kisah hikmah</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Sun, 30 Jan 2011 00:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-7085388177706920675</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div&gt;&lt;ul class="uiList body contentListWidth"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUO3XHPNH2S8dpzlt_GC3f5OLDG9Od4xU2d_ukBiXX9TvjfVpxqEXPEIp6qCFKpRAD70SFZEskF1vjCADWLbOgnf9BmeYY_2Z5XldfB12CnJyiNWGsTxY2UmhVhSuc4W3rUxNJNu1rTKsb/s1600/jilbab-kartun.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUO3XHPNH2S8dpzlt_GC3f5OLDG9Od4xU2d_ukBiXX9TvjfVpxqEXPEIp6qCFKpRAD70SFZEskF1vjCADWLbOgnf9BmeYY_2Z5XldfB12CnJyiNWGsTxY2UmhVhSuc4W3rUxNJNu1rTKsb/s200/jilbab-kartun.jpg" width="145" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;li class="MessagingMessageBody uiListItem  uiListVerticalItemBorder" id="MessagingMessageBodye9290eb602e2419492587c730200fec0"&gt;&lt;div class="content" id="e9290eb602e2419492587c730200fec0"&gt;Sepuluh  tahun lalu si cantik, sebut saja begitu, selalu meludah di depan muka  setiap anak-anak aktivis Rohis (kerohanian Islam) di sekolahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baginya,  sosok berkerudung lebar seperti teman-teman kita tersebut adalah 'kaum  sok suci' yang selalu membatasi kebebasan berekspresi, padahal masih  remaja, 'masih bebas donk', begitu pikirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga pernah dari lidahnya  keluar cacian bahwa seorang teman terkena sakit cacar karena penyakit  kulit yang tertular dari teman yang menutup aurat itu. Astaghfirrulloh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak  kalah meresahkan dengan ulah si cantik, sesosok wanita berusia sangat  senior yang sangat kuhormati, sebut saja kanjeng Ratu, pernah membaluri  hidupnya dalam lumpur pengkhianatan pada Sang Tuhan. Bukan hanya berbuat  syirik dengan pergi ke dukun, beliau juga sering bersumpah serapah yang  sangat menyakitkan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kalimat mengerikan pernah meluncur  dari mulutnya, "Saya tak akan pernah memakai jilbab, dengar itu! dan  kalau anakku ikutan memakai jilbab, maka Saya akan telanjang bulat dan  berlari keliling lapangan!"Astaghfirrulloh...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau ini  benci sekali padaku, semua oleh-olehku dibuangnya, semua kenyataan yang  baik-baik diubahnya menjadi cerita jelak dan jahat, memandangku  bagaikan melihat musuh terbesar dengan sorot mata tajamnya seolah ingin  mencincang tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu lagi orang dekatku, Pak Sholeh  sebutlah namanya begitu, beliau adalah guruku, yang telah dianggap  seperti anak sendiri oleh orang tuaku. Beliau ini doyan belajar, memang  otaknya encer, daya ingatnya mantap, cerdas sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, setidaknya  lima belas tahun lalu (waktu itu saya masih SMP), beliau masih sangat  membenci sosok-sosok para da’i dan da’iyah. Baginya, sosok-sosok itu tak  lebih hanya menutupi kemunafikan, terutama banyaknya peristiwa di depan  matanya, yang dilaluinya sehari-hari berhubungan dengan keburukan  akhlaq para jilbaber dan para aktivis dakwah kampus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Sholeh pernah  berujar, "Saya paling benci dengan cewek berhijab dan cowok yang sok  alim, lho dek...", kira-kira redaksinya begitu, menggambarkan kebiasaan  busana para aktivis dakwah kampus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu persatu hari  berganti, minggu bergulir bulan, tahun bergantian berulang kali...  aduhai Tuhanku, keimanan seorang hamba mengalami perubahan, naik-turun  bahkan saat perubahan detik ke detik berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Oase Iman dalam  catatan cinta ini dibaca oleh jutaan hamba-Nya yang saat memahami hal  ini memiliki kadar keimanan yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami hanya mampu memelas, Yaa  muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika, ...  "wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap  konsisten dalam dien-Mu dan dalam menaati-Mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah  beberapa tahun berlalu, si cantik, kanjeng Ratu dan Pak Sholeh berjumpa  kembali denganku dalam waktu yang berbeda. Kali ini, si cantik memang  benar-benar cantik, tak ada lagi perangai cemberut dan cemoohan terhadap  busana muslimah, malah ia telah menutup auratnya dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada  yang menduga bahwa si cantik dapat berubah drastis seperti ini. Duhai  teman, inilah hidayah Allah. Dia kirimkan kepada siapa saja yang  dikehendakiNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pun kanjeng Ratu, yang dulu amat  membenciku, yang dulu 'hobi' membuat air mataku membanjir, yang dulu  tiap saat bersumpah-serapah dengan sentuhan hidayahNYA, berubahlah ia!  Tak ada yang menyangka bahwa dulunya ia sejahat itu, sebab sekarang ia  sangat menyayangiku, kata-katanya telah lembut, waktu sholatnya telah  teratur, sorot matanya malah penuh rasa rindu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah… Duhai  Allah, Engkaulah Sang Maha pembolak-balik hati. Maka jadikanlah hati  kami semua selalu berkumpul dalam cinta, dalam kasih sayang dan  keridhoanMU selalu, amiin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Temanku, jangan balas  kebencian dengan dendam, sentuhlah hati dengan hati yang tulus pula,  serta ingatlah satu-satunya tempat bergantung kita hanyalah Allah SWT.  Maka optimislah, bahwa orang-orang yang keras hatinya, yang membenci  dirimu, mencaci atau mencela disertai penyakit hati lainnya, cukup  'maklumi saja', ilmuNYA belum sampai pada mereka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan lihatlah  contoh sang kanjeng Ratu yang sebegitu hebat sepak terjangnya—banyak  merugikan moril dan materi bagiku dan keluarga, namun ternyata, dia bisa  berubah, insya Allah, inilah petunjukNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita hanya  berusaha mengajak untuk selalu mengingat Sang Khaliq, Allah berfirman,  "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram  dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah- hati  menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tak  mengalami sendiri, sungguh diriku pun masih belum percaya sepenuhnya.  Saat kubaca catatan artikel milik Pak Sholeh melalui dunia internet,  semuanya berisi pujian pada Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat-kalimatnya indah,  menggambarkan kecerdasannya sebagai ilmuwan yang religious. Contohnya  saat ia berujar bahwa "sesungguhnya penemuan para ilmuwan hanyalah  menemukan sesuatu yang sudah diciptakan oleh Allah SWT, maka dimanakah  hak untuk menyombongkan diri?" atau kalimatnya “Jangan tutupi penuaan  yang terjadi padamu…karena itu mendudukanmu pada tempat dan waktu yang  tepat,”subhanalloh… “Tempat kebijakan adalah diam yang mendengarkan,  lisan yang menentramkan, marah yang disenyumkan, kegembiraan yang  dibagikan dan sedekah yang diikhlaskan, semua hanya karena Allah  semata!”nuraniku ikut tentram membaca kalimat hikmahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bukan itu  saja, dia yang dulunya mencemooh para aktivis dakwah, malah sekarang  merupakan bagian dari mereka. Ya Allah… kejutan yang luar biasa di era  modern ini, bahkan dengan tegasnya ia mengatakan, “wanita Islam itu bisa  dilihat dengan identitas pakaiannya : auratnya hanya dibuka di depan  suaminya!”, bayangkan… dulunya kalimat yang berkebalikan-lah yang  meluncur dari bibirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga tergelitik saya  bertanya padanya, (maklumlah, sepuluh tahun kami tak berjumpa, beliau  lama menuntut ilmu di negara lain, maka hal perubahan Pak Sholeh ini  amatlah 'luar biasa' bagiku), “bagaimana pengalaman spiritual, kenapa  mas bisa berubah begitu....?”tulisku mengirim pesan untuknya. Ternyata  beliau menjawab, “Karena Allah, mas pernah mati tapi masih diberikan  kesempatan hidup.. mungkin itu yang membuat mas kapok, dek...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secarik  kata, mati. Masyaalloh... mengingat mati akan melembutkan hati dan  menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat untuk banyak  mengingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat  sahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu : “Perbanyaklah  kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi  no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar, kematian  memang pelajaran berharga, dengan mengingat bahwa “Setiap yang berjiwa  pasti akan merasakan mati,” dan entah di hari ini, esok ataupun lusa  'due-datenya', maka jiwa kita akan luluh, sesegera mungkin meraih  taubatan nasuha, tak ingin menemui ajal yang buruk, tak ingin berada di  jalan kotor yang berselubung dosa saat mengakhiri detik nafas kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai  saudara-saudari yang merindukan cinta-Nya, jangan paksa orang lain  untuk menyukai atau mencintaimu, ujungnya pasti jelek dan menyakitkan.  Pakailah strategi ketulusan hati baginda Rasulullah SAW, dengan cara  berserah diri pada Allah SWT—mengajak mereka mencintaiNya, lebih banyak  mengintrospeksi dan memperbaiki diri sendiri, dan pasti kalian dapat  melihat bukti kekuasaan Allah SWT, Sang Maha Pembolak-balik Hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai  para pemilik hati yang optimis karena Allah SWT, yang selalu mengejar  hidayahNYA, yang senantiasa merindukan belaian dan didikanNYA, semoga  kelak kita berkumpul bersama dalam pimpinan baginda Rasulullah SAW,  dalam barisan kaum yang beriman, yang selalu bertaubat, yang  dirahmatiNYA, bukan dalam golongan orang yang dimurkaiNYA. Amiin… amiin  Ya Robb. Wallohu ‘alam bisshowab.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUO3XHPNH2S8dpzlt_GC3f5OLDG9Od4xU2d_ukBiXX9TvjfVpxqEXPEIp6qCFKpRAD70SFZEskF1vjCADWLbOgnf9BmeYY_2Z5XldfB12CnJyiNWGsTxY2UmhVhSuc4W3rUxNJNu1rTKsb/s72-c/jilbab-kartun.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tetesan Air Mata</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/01/tetesan-air-mata.html</link><category>Tauziah</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Wed, 26 Jan 2011 16:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-5191379055179650860</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUItuDcIhALw3dBUGk6M5MFcN5H07eYNePkVEKOgmVsmsW_nx_7ebrI2LSL6aDCqqXHMHnpIMYSIR2xD0MeVW8HfALe1n4ovUjSeoKiAWC818c3zJqRyEAqD8jqaiYOT8s6f7s2VN39TxR/s1600/nangis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUItuDcIhALw3dBUGk6M5MFcN5H07eYNePkVEKOgmVsmsW_nx_7ebrI2LSL6aDCqqXHMHnpIMYSIR2xD0MeVW8HfALe1n4ovUjSeoKiAWC818c3zJqRyEAqD8jqaiYOT8s6f7s2VN39TxR/s200/nangis.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pernah menangis? Pasti pernah ya, paling tidak sekali seumur hidup kita  pasti menangis, yaitu saat dilahirkan. Saat itu uraian tetesan air di  sudut mata menjadi kebahagiaan orang-orang yang mengasihi kita. Lalu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
apakah  air mata itu identik dengan kelemahan, bahkan kecengengan? Mungkin iya,  tapi mungkin juga tidak. Air mata bisa juga menjadi berharga atau malah  tidak berharga lho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang lelaki yang sesenggukan karena  kekasihnya telah pergi meninggalkan dirinya, bisa jadi air mata saat itu  tidak berharga sama sekali. Demikian juga uraian air mata seorang  wanita yang 'mengorbankan harga dirinya' kepada Arjuna, Sang Pemetik  Cinta, justru pada saat cinta mereka sebenarnya belum diikat dengan  ikatan suci, maka saat itu air mata hanyalah kesia-siaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun  air mata juga bisa menjadi sangat berharga, bahkan sangat berharga. Di  dunia, sebagai contoh, air mata bisa menjadi tema tulisan yang laku  dijual dan menjadi tema yang tak pernah henti-hentinya mengalir ke benak  banyak penulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah tahu buku-buku yang pernah laris di  Jepang? Di antara buku-buku terlaris itu adalah "Gotan Fumanzoku", karya  autobiografis Hirotada Ototake, seorang pria yang lahir tanpa kaki dan  tangan namun tetap bersemangat dalam hidupnya, menamatkan studinya di  Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita olahraga di  televisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pula buku yang lain, yaitu "Dakara Anata mo  Ikinuite", sebuah autobiografi Mitsuyo Ohira, seorang wanita yang  menjadi sasaran olok-olok ketika duduk di sekolah menengah. Ohira san  pernah mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan seorang gangster  pada usia enam belas tahun, bercerai, namun kemudian berhasil bangkit  dari masa lalunya dan kini menjadi pengacara. Kisah-kisah haru seperti  ini dan menguras air mata juga banyak diminati masyarakat pembaca di  Jepang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mata memang ibarat hujan yang jatuh dari langit pada  lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang. Ia bisa melunakkan  hati dan jiwa yang keras membatu, perlahan lunak dan menjadi peka  terhadap lingkungan sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Islam, air mata sangat berharga  nilainya saat penyesalan, kerinduan pada manusia-manusia yang tawadhu'.  Menyiram kegersangan taman hati dan jiwa, serta qalbu yang gersang  dengan berbagai nista hingga perlahan pupus, bagaikan debu-debu yang  hanyut terbawa arus oleh butiran-butiran do'a yang dimunajatkan  kepada-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahal... sungguh sangat mahal harganya tetesan air  mata yang mengalir saat khusuk menghadap-Nya, bahkan salah satu dari dua  tetesan yang disukai Rasulullah SAW adalah air mata yang mengalir  karena rasa takut dan rindu kepada Allah SWT. Beliau, kekasih Allah,  merengguk, menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa  dengan-Nya. Abu Bakar ash-Shidiq r.a. pun senantiasa sesegukan ketika  menegakkan sholat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang mujahid serta sekaligus mujaddid yang  pernah hidup di dunia ini, Hasan al Banna juga pernah menguraikan air  matanya karena memikirkan ummat ini. Betapa sang mujahid menginginkan  agar ummat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya  sendiri, sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian. Betapa  bangganya beliau ketika jiwa-jiwa ini gugur sebagai penebus kehormatan  mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan  terwujudnya cita-cita Islam. Rasa cinta yang mengharu-biru hati,  menguasai perasaan bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga  membuat beliau memeras air matanya. Air mata yang mengalir karena  menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini, sementara kita hanya  sanggup menyerah pada kehinaan serta pasrah pada keputusasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu,  bagaimanakah dengan kita? Takkala kita lahir menangis, namun  orang-orang di sekeliling kita tertawa bahagia karena menyambut  kelahiran kita. Namun orang-orang yang kita tinggalkan menangis pilu  saat kita tutup usia, saat itu apakah kita juga turut menangis ataukah  tertawa bahagia karena akan berjumpa dengan Allah SWT? Adakah amal kita  lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia yang  singkat ini? Adakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati, kemudian  dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang terdekat kita? Lalu setelah itu  pasrah, rebah di bantalan tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang  pasti tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya akhi wa ukhti fillah, Semoga Allah SWT menjadikan  air mata yang jatuh di sudut-sudut mata kita adalah air mata yang  berharga dipandangan-Nya, hingga dapat membersihkan hati yang pekat ini  untuk mudah disusupi cahaya Ilahi Rabbi. Semoga air mata ini kelak tidak  menjadi tetesan darah karena letihnya kita berteriak dan mengetuk pintu  surga yang telah tertutup rapat setelah pengadilan itu nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh,  tetesan air mata di dunia ini adalah lebih baik bagi kita ketimbang  menangis di akhirat nanti, menangislah sebelum datang hari dimana kita  semua akan ditangisi, karena itu pasti terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya Allah, yang  manusia harus takuti Angkatlah kami dari lembah maksiat Sampai kami  keluar dari dunia Tak bawa beban walau sebesar zarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a data-hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=158437109454" href="http://www.facebook.com/group.php?gid=158437109454"&gt;oleh : Ustadz   Jefry Al-Buchori&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUItuDcIhALw3dBUGk6M5MFcN5H07eYNePkVEKOgmVsmsW_nx_7ebrI2LSL6aDCqqXHMHnpIMYSIR2xD0MeVW8HfALe1n4ovUjSeoKiAWC818c3zJqRyEAqD8jqaiYOT8s6f7s2VN39TxR/s72-c/nangis.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Istri Shalihah Penyejuk Hati</title><link>http://mustofasilver.blogspot.com/2011/01/istri-shalihah-penyejuk-hati.html</link><category>Tauziah</category><author>noreply@blogger.com (Heri Mustofa)</author><pubDate>Wed, 26 Jan 2011 16:43:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4279589153624219950.post-1889790858550419477</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0N8MaIp6L4GZBNf_qO2lZxvCzbXHJ0cHm72UuZSi7gOZFa9C1M_Nfv4InoT8p6yGlylP5nSdk9al7APsmDKaWwwrnUFPI09N4Bzmqq5AqohnunwWTxFLGxaygw6Z9suMM0K-BV7-wlieM/s1600/sa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="193" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0N8MaIp6L4GZBNf_qO2lZxvCzbXHJ0cHm72UuZSi7gOZFa9C1M_Nfv4InoT8p6yGlylP5nSdk9al7APsmDKaWwwrnUFPI09N4Bzmqq5AqohnunwWTxFLGxaygw6Z9suMM0K-BV7-wlieM/s200/sa.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Cinta adalah fitrah pada manusia. Ketika cinta itu bersemi, maka dunia  akan menjadi begitu indah. Ada yang bilang ”dunia serasa milik berdua,  sedang yang lain cuma ngontrak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta yang suci akan membuat ia semakin  dekat dengan Allah, karena memang cinta seperti ini dilandasi atas  dasar cinta karena Allah. Sebaliknya cinta yang tidak suci akan semakin  menjauhkan ia dengan Rabbnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pria tentunya mendambakan  seorang wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya. Yang  menaatinya, mampu mengurusi urusan rumah tangga, mendidik anak, sebagai  sekretaris sang suami, dan lain-lain. Wanita shalihah yang akan berusaha  selalu tampil mempesona ketika dihadapannya. Hal ini digambarkan oleh  Rasulullah Saw:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah Saw  bersabda “Sebaik-baik wanita adalah yang menawan hatimu bila engkau  pandang, taat manakala engkau perintah, dan menjaga hartamu serta  memelihara kehormatan diri-nya ketika engkau tidak ada di rumah.”(HR.  Ibnu Jarir dan Al-Baihaqi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah  berkata: “Tidak ada kewajiban yang harus ditunaikan oleh wanita,  setelah hak Allah dan Rasul-Nya, yang lebih wajib daripada hak suami”  (Majmu’ Fatawa. 32/260). Ketaatan istri ini adalah dalam rangka menaati  Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi para pengemban dakwah, mereka  ingin seorang pendamping yang juga siap men-support suaminya dalam  melakukan tugas dakwah. Yang siap menghadapi resiko apapun ketika  menghadapi tantangan-tantangan dakwah, yang tidak terlalu banyak  menuntut, pandai bersyukur dan penuh kesabaran. Disamping itu ia juga  tidak melupakan tugas dakwahnya. Istri yang akan menjadi pakaian dalam  hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri yang siap mengikhlaskan suaminya jika  hendak pergi berjihad, bahkan kalau diperlukan ia juga ikut turut serta  dalam medan Jihad. Sebagaimana para sahabiyah dahulu. Bukhari telah  memberitakan dari Anas ra. dia berkata: “Pada hari peperangan Uhud ramai  orang Islam yang terkocar-kacir dan terpisah dari Nabi Saw Dan aku  lihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummi Sulaim tergesa-gesa membawa  kantung Qirbah (terbuat dari kulit kambing) yang berisi air, memberi  minum orang-orang yang dahaga dalam pertempuran itu. Sesudah habis  mereka pergi lagi mengisi air dan memberi minum kepada tentara Islam  yang berperang itu.” (Baihaqi 9:30).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Abbas pernah  mengatakan pasangan hidup yang sholeh (Al-azwaju shalihah) merupakan  salah satu dari 7 indikator kebahagiaan dunia. Sungguh, istri yang  shalihah adalah idaman bagi para pria, karena memiliki istri yang  shalihah merupakan perhiasan paling baik dari dunia beserta isinya.  “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah  istri yang shalihah”. (HR. Muslim, Ibnu Majah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi  para pria termasuk saya, berusahalah untuk menjadi pria yang shalih,  sehingga pantas mendapatkan istri yang shalihah. Yang siap menunaikan  kewajibannya sebagai suami, sebagai imam yang tangguh dan terpercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a data-hovercard="/ajax/hovercard/hovercard.php?id=158437109454" href="http://www.facebook.com/group.php?gid=158437109454"&gt;oleh : Ustadz  Jefry Al-Buchori&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0N8MaIp6L4GZBNf_qO2lZxvCzbXHJ0cHm72UuZSi7gOZFa9C1M_Nfv4InoT8p6yGlylP5nSdk9al7APsmDKaWwwrnUFPI09N4Bzmqq5AqohnunwWTxFLGxaygw6Z9suMM0K-BV7-wlieM/s72-c/sa.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>