<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062</id><updated>2024-10-31T23:24:56.406-07:00</updated><category term="Biography"/><category term="Fatwa"/><category term="Kajian"/><category term="Muslim&#39;s Belief"/><category term="Terrorism in Islam"/><category term="قصص المؤلفين"/><category term="Kajian tentang Sufi"/><category term="Renungan"/><category term="Women in islam"/><category term="Diskusi"/><category term="Islam and Other Religions"/><category term="Tausiyah"/><category term="Tela&#39;ah"/><category term="Akhbar"/><category term="Madzhab"/><category term="The Muslim Belief"/><category term="The Muslim&#39;s Belief"/><category term="Valentine Day"/><title type='text'>Islam Mine</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://islammine.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>79</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-1254937399224230616</id><published>2011-10-30T23:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-31T00:04:52.289-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>adakah bid&#39;ah hasanah ?</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Syubhat-syubhat para pendukung bid&#39;ah hasanah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(Imam Syafii mendukung bid&#39;ah hasanah??)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Syubhat pertama :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdalil dengan perkataan beberapa ulama yang mengesankan dukungan terhadap adanya bid&#39;ah hasanah.&lt;br /&gt;Diantaranya adalah perkataan Imam As-Syafi&#39;i dan perkatan Al-Izz bin Abdissalam rahimahumallah.&lt;br /&gt;Adapun perkataan Imam As-Syafi&#39;i maka sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu&#39;aim dalam Al-Hilyah dengan sanad beliau hingga Harmalah bin Yahya-,&lt;br /&gt;ثَنَا حَرْمَلَة بْنُ يَحْيَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِي يَقُوْلُ : البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُومٌ، وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ : نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ&lt;br /&gt;Dari Harmalah bin Yahya berkata, &quot;Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi&#39;i berkata, &quot;Bid&#39;ah itu ada dua, bid&#39;ah yang terpuji dan bid&#39;ah yang tercela, maka bid&#39;ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid&#39;ah yang menyelisihi sunnah adalah bid&#39;ah yang tercela&quot;, dan Imam Asy-Syafi&#39;i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan &quot;Sebaik-baik bid&#39;ah adalah ini&quot; (Hilyatul Auliya&#39; 9/113)&lt;br /&gt;Sebelum menjelaskan maksud dari perkataan Imam As-Syafii ini apalah baiknya jika kita menelaah definisi bid&#39;ah menurut beberapa ulama, sebagaiamana berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Definisi bid&#39;ah menurut para ulama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-&#39;Iz bin &#39;Abdissalam berkata :&lt;br /&gt;هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ&lt;br /&gt;((Bid&#39;ah adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah)) (Qowa&#39;idul Ahkam 2/172)&lt;br /&gt;Imam An-Nawawi berkata :&lt;br /&gt;هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ&lt;br /&gt;((Bid&#39;ah adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah)) (Tahdzibul Asma&#39; wal lugoot 3/22)&lt;br /&gt;Imam Al-&#39;Aini berkata :&lt;br /&gt;هِيَ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ&lt;br /&gt;((Bid&#39;ah adalah perkara yang tidak ada asalnya dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan dikatakan juga (bid&#39;ah adalah) menampakkan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat)) (Umdatul Qori&#39; 25/37)&lt;br /&gt;Ibnu &#39;Asaakir berkata :&lt;br /&gt;مَا ابْتُدِعَ وَأُحْدِثَ مِنَ الأُمُوْرِ حَسَناً كَانَ أَوْ قَبِيْحًا&lt;br /&gt;((Bid&#39;ah adalah perkara-perkara yang baru dan diada-adakan baik yang baik maupun yang tercela)) (Tabyiinu kadzibil muftari hal 97)&lt;br /&gt;Al-Fairuz Abadi berkata :&lt;br /&gt;الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ&lt;br /&gt;((Bid&#39;ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga : apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan)) (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231)&lt;br /&gt;Dari defenisi-defenisi di atas maka secara umum dapat kita simpulkan bahwa bid&#39;ah adalah segala perkara yang terjadi setelah Nabi, sama saja apakah perkara tersebut terpuji ataupun tercela dan sama saja apakah perkara tersebut suatu ibadah maupun perkara adat.&lt;br /&gt;Karena keumuman ini maka kita dapati sekelompok ulama yang membagi hukum bid&#39;ah menjadi dua yaitu bid&#39;ah hasanah dan bid&#39;ah sayyi&#39;ah, bahkan ada yang membagi bid&#39;ah sesuai dengan hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah), sebagaimana pembagian bid&#39;ah menurut Al-&#39;Iz bin Abdissalam yang mengklasifikasikan bid&#39;ah menjadi lima (wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah), beliau berkata,&lt;br /&gt;&quot;Bid&#39;ah terbagi menjadi bid&#39;ah yang wajib, bid&#39;ah yang haram, bid&#39;ah yang mandub (mustahab), bid&#39;ah yang makruh, dan bid&#39;ah yang mubah. Cara untuk mengetahui hal ini yaitu kita hadapkan bid&#39;ah tersebut dengan kaidah-kaidah syari&#39;at, jika bid&#39;ah tersebut masuk dalam kaidah-kaidah pewajiban maka bid&#39;ah tersebut wajib, jika termasuk dalam kaidah-kaidah pengharaman maka bid&#39;ah tersebut haram, jika termasuk dalam kaidah-kaidah mustahab maka hukumnya mustahab, dan jika masuk dalam kaidah-kaidah mubah maka bid&#39;ah tersebut mubah. Ada beberapa contoh bid&#39;ah yang wajib, yang pertama berkecimpung dengan ilmu nahwu yang dengan ilmu tersebut dipahami perkataan Allah dan perkataan Rasulullah shalallahu &#39;alaihi wa sallam, hal ini hukumnya wajib karena menjaga syari&#39;at hukumnya wajib dan tidak mungkin menjaga syari&#39;at kecuali dengan mengenal ilmu nahwu, dan jika suatu perkara yang wajib tidak sempurna kecuali dengan perkara yang lain maka perkara yang lain tersebut hukumnya wajib. Contoh yang kedua adalah menjaga kata-kata yang ghorib (asing maknanya karena sedikit penggunaannya dalam kalimat) dalam Al-Qur&#39;an dan hadits, contoh yang ketiga yaitu penulisan ushul fiqh, contoh yang keempat pembicaraan tentang al-jarh wa at-ta&#39;dil untuk membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang lemah. Kaidah-kaidah syari&#39;at menunjukan bahwa menjaga syari&#39;at hukumnya fardlu kifayah pada perkara-perakra yang lebih dari ukuran yang ditentukan dan tidaklah mungkin penjagaan syari&#39;at kecuali dengan apa yang telah kami sebutkan (di atas).&quot;&lt;br /&gt;Ada beberapa contoh bid&#39;ah yang haram, diantaranya madzhab Qodariyah, madzhab Al-Jabariah, madzhab Al-Murji&#39;ah, dan membantah mereka termasuk bid&#39;ah yang wajib.&lt;br /&gt;Ada beberapa contoh bid&#39;ah yang mustahab diantaranya pembuatan Ar-Robt dan sekolah-sekolah, pembangunan jembatan-jembatan, dan setiap hal-hal yang baik yang tidak terdapat pada masa generasi awal, diantaranya juga sholat tarawih, pembicaraan pelik-pelik tasowwuf (sejenis mau&#39;idzoh yang sudah ma&#39;ruf), perdebatan di tengah keramaian orang banyak dalam rangka untuk beristidlal tentang beberapa permasalahan jika dimaksudkan dengan hal itu wajah Allah. Contoh-contoh bid&#39;ah yang makruh diantaranya menghiasi masjid-masjid, menghiasi mushaf (Al-Qur&#39;an), adapun melagukan Al-Qur&#39;an hingga berubah lafal-lafalnya dari bahasa Arab maka yang benar ia termasuk bid&#39;ah yang haram.&lt;br /&gt;Contoh-contoh bid&#39;ah yang mubah diantaranya berjabat tangan setelah sholat subuh dan sholat ashar, berluas-luas dalam makanan dan minuman yang lezat, demikian juga pakaian dan tempat tinggal, memakai at-thoyaalisah (sejenis pakaian yang indah/mahal) dan meluaskan pergelangan baju. Terkadang beberapa perkara diperselisihkan (oleh para ulama) sehingga sebagian ulama memasukannya dalam bid&#39;ah yang makruh dan sebagian ulama yang lain memasukannya termasuk sunnah sunnah yang dilakukan pada masa Rasulullah shalallahu &#39;alaihi wa sallam dan sepeninggal beliau shalallahu &#39;alaihi wa sallam, hal ini seperti beristi&#39;adzah dalam sholat dan mengucapkan basmalah.&quot; (Qowa&#39;idul ahkam 2/173-174)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Ada 3 hal penting berkaitan dengan pengklasifikasian ini&lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pertama :&lt;/span&gt; Jika kita perhatikan perkataan Al-&#39;Iz bin Abdissalam secara lengkap dengan memperhatikan contoh-contoh penerapan dari pengklasifikasiannya terhadap bid&#39;ah maka sangatlah jelas maksud beliau adalah pengklasifikasian bid&#39;ah menurut bahasa, karena contoh-contoh yang beliau sebutkan dalam bid&#39;ah yang wajib maka contoh-contoh tersebut adalah perkara-perkara yang termasuk dalam al-maslahah al-mursalah (yaitu perkara-perkara yang beliau contohkan yang berkaitan dengan bid&#39;ah wajib) bahkan beliau dengan jelas menyatakan bahwa syari&#39;at tidak mungkin dijalankan kecuali dengan bid&#39;ah yang wajib tersebut.&lt;br /&gt;As-Syathibi berkata &quot;Sesungguhnya Ibnu Abdissalam yang nampak darinya ia menamakan maslahah mursalah dengan bid&#39;ah karena perkara-perkara maslahah mursalah secara dzatnya tidak terdapat dalam nas-nas yang khusus tentang dzat-dzat mashlahah mursalah tersebut meskipun sesuai dengan kaidah-kaidah syari&#39;at…dan ia termasuk para ulama yang berpendapat dengan mashlahah mursalah, hanya saja ia menamakannya bid&#39;ah sebagaimana Umar menamakan sholat tarawih bid&#39;ah&quot; (Al-I&#39;tishom 1/192)&lt;br /&gt;Demikian juga bid&#39;ah yang mustahab, berkaitan dengan wasilah dalam menegakkan agama. Sholat tarawih adalah termasuk perbuatan Nabi shalallahu &#39;alaihi wa sallam. Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat tarawih secara berjama&#39;ah bersama para sahabatnya beberapa malam. Dan pada tahun yang lain Nabi meninggalkan tarawih karena dikawatirkan akan diwajibkan karena tatkala itu masih zaman diturunkannya wahyu (ta&#39;syri&#39;). Hal ini menunjukan pada asalnya Nabi sholat malam bersama para sahabatnya dan di waktu yang lain beliau meninggalkannya karena kekawatiran akan diwajibkan. Namun kekawatiran ini tidak terdapat lagi di zaman Abu Bakar dan Umar. Hanya saja Abu akar tidak melaksanakan sholat tarawih karena ada dua kemungkinan, yang pertama karena mungkin saja ia memandang bahwa sholat orang-orang di akhir malam dengan keadaan mereka masing-masing lebih baik dari pada sholat di awal malam dengan mengumpulkan mereka pada satu imam (hal ini sebagaimana disebutkan oleh At-Thurtusi), atau karena kesibukan beliau mengurus negara terutama dengan munculnya orang-orang yang murtad sehingga beliau harus memerangi mereka yang hal ini menyebabkan beliau tidak sempat mengurusi sholat tarawih. (lihat Al-I&#39;tishom 2/194)&lt;br /&gt;Demikian contoh-contoh lain dari bid&#39;ah mustahab (hasanah) yang disampaikan oleh beliau diantaranya : pembangunan sekolah-sekolah merupakan sarana untuk menuntut ilmu, dan pembicaraan tentang pelik-pelik tasawwuf yang terpuji adalah termasuk bab mau&#39;izhoh (nasehat) yang telah dikenal.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kedua :&lt;/span&gt; Dalam contoh-contoh bid&#39;ah yang disyari&#39;atkan (baik bid&#39;ah yang wajib maupun bid&#39;ah yang mustahab) sama sekali beliau tidak menyebutkan bid&#39;ah-bid&#39;ah yang dikerjakan oleh para pelaku bid&#39;ah (Seperti sholat rogoib, maulid Nabi, peringatan isroo mi&#39;rooj, tahlilan, dan lain-lain) dengan dalih bahwa bid&#39;ah tersebut adalah bid&#39;ah hasanah, bahkan beliau dikenal dengan seorang yang memerangi bid&#39;ah.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ketiga :&lt;/span&gt; Beliau dikenal dengan orang yang keras membantah bid&#39;ah-bid&#39;ah yang disebut-sebut sebagai bid&#39;ah hasanah.&lt;br /&gt;Berkata Abu Syamah (salah seorang murid Al-&#39;Iz bin Abdissalam),&lt;br /&gt;&quot;Beliau (Al-&#39;Iz bin Abdissalam) adalah orang yang paling berhak untuk berkhutbah dan menjadi imam, beliau menghilangkan banyak bid&#39;ah yang dilakukan oleh para khatib seperti menancapkan pedang di atas mimbar dan yang lainnya. Beliau juga membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya&#39;ban dan melarang kedua sholat tersebut&quot; (Tobaqoot Asy-Syafi&#39;iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-&#39;Iz bin Abdissalam)&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Beliau ditanya :&lt;/span&gt; Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar hukumnya mustahab atau tidak? Doa setelah salam dari seluruh sholat mustahab bagi imam atau tidak? Jika engkau berkata hukumnya mustahab maka (tatkala berdoa) sang imam balik mengahadap para makmum dan membelakangi kiblat atau tetap menghadap kiblat?...&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Jawab :&lt;/span&gt; Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk bid&#39;ah kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari&#39;atkan tatkala datang.&lt;br /&gt;Setelah sholat Nabi berdzikir dengan dzikir-dzikir yang disyari&#39;atkan dan beristighfar tiga kali kemudian beliau berpaling (pergi)… dan kebaikan seluruhnya pada mengikuti Nabi. Imam As-Syafi&#39;i suka agar imam berpaling setelah salam. Dan tidak disunnahkan mengangkat tangan tatkala qunut sebagaimana tidak disyari&#39;atkan mengangkat tangan tatkala berdoa di saat membaca surat al-Fatihah dan juga tatkala doa diantara dua sujud…&lt;br /&gt;Dan tidaklah mengusap wajah setelah doa kecuai orang jahil. Dan tidaklah sah bersholawat kepada Nabi tatkala qunut, dan tidak semestinya ditambah sedikitpun atau dikurangi atas apa yang dikerjakan Rasulullah tatkala qunut&quot; (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-&#39;Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664)&lt;br /&gt;Beliau juga menyatakan bahwa mengirim bacaan qur&#39;an kepada mayat tidaklah sampai (lihat kitab fataawaa beliau hal 96). Beliau juga menyatakan bahwasanya mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid&#39;ah (lihat kitab fataawaa beliau hal 96)&lt;br /&gt;Pengklasifikasian bid&#39;ah menjadi bid&#39;ah dholalah dan bid&#39;ah hasanah juga diikuti oleh Imam An-Nawawi, beliau berkata, &quot;Dan bid&#39;ah terbagi menjadi bid&#39;ah yang jelek dan bid&#39;ah hasanah&quot;, kemudian beliau menukil perkataan Al-&#39;Iz bin Abdissalam dan perkataan Imam Asy-Syafi&#39;i di atas (lihat Tahdzibul Asma&#39; wal lugoot 3/22-23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kembali pada perkataan Imam Asy-Syafi&#39;i&lt;/span&gt; :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Harmalah bin Yahya berkata, &quot;Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi&#39;i berkata, &quot;Bid&#39;ah itu ada dua, bid&#39;ah yang terpuji dan bid&#39;ah yang tercela, maka bid&#39;ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid&#39;ah yang menyelisihi sunnah adalah bid&#39;ah yang tercela&quot;, dan Imam Asy-Syafi&#39;i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan &quot;Sebaik-baik bid&#39;ah adalah ini&quot; (Hilyatul Auliya&#39; 9/113)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan perkataan Imam As-Syafi&#39;i ini&lt;/span&gt; :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pertama :&lt;/span&gt; Sangatlah jelas bahwasanya maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid&#39;ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :&quot;Sebaik-baik bid&#39;ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)&quot;. Padahal telah diketahui bersama –sebagaimana telah lalu penjelasannya- bahwasanya sholat tarwih berjamaah pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kedua :&lt;/span&gt; Kita menafsirkan perkataan Imam As-Syafi&#39;i ini dengan perkataannya yang lain sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa&#39; wa Al-Lughoot (3/23)&lt;br /&gt;&quot;Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma&#39;, maka ini adalah bid&#39;ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela&quot;(lihat juga manaqib As-Syafi&#39;i 1/469)&lt;br /&gt;Lihatlah Imam As-Syafi&#39;i menyebutkan bahwa bid&#39;ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi&#39;i menghendaki dengan bid&#39;ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid&#39;ah jika ditinjau dari sisi bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Rojab, &quot;Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi&#39;i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid&#39;ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari&#39;ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid&#39;ah yang dimaksudkan dalam definisi syar&#39;i (terminology). Adapun bid&#39;ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang sesuai dengan sunnah yaitu yang ada dasarnya dari sunnah yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid&#39;ah menurut bahasa bukan secara terminology karena ia sesuai dengan sunnah&quot; (Jami&#39;ul &#39;Ulum wal Hikam 267)&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ketiga :&lt;/span&gt; Oleh karena itu tidak kita dapati Imam Asy-Syafii berpendapat dengan suatu bid&#39;ahpun dari bid&#39;ah-bid&#39;ah yang tersebar sekarang ini dengan dalih hal itu adalah bid&#39;ah hasanah. Karena memang maksud beliau dengan bid&#39;ah hasanah bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh para pelaku bid&#39;ah zaman sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Diantara amalan-amalan yang dianggap bid&#39;ah hasanah yang tersebar di masyarakat namun diingkari Imam As-Syafii adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Acara mengirim pahala buat mayat yang disajikan dalam bentuk acara tahlilan.&lt;br /&gt;Bahkan masyhuur dari madzhab Imam Asy-Syafii bahwasanya beliau memandang tidak sampainya pengiriman pahala baca qur&#39;an bagi mayat. Imam An-Nawawi berkata:&lt;br /&gt;&quot;Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi&#39;i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur&#39;aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi&#39;I adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…&quot; (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90)&lt;br /&gt;- Meninggikan kuburan dan dijadikan sebagai mesjid atau tempat ibadah&lt;br /&gt;Imam As-Syafi&#39;I berkata :&lt;br /&gt;وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس&lt;br /&gt;&quot;Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya&quot; (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu&#39; syarhul Muhadzdzab 5/280)&lt;br /&gt;Bahkan Imam As-Syafii dikenal tidak suka jika kuburan dibangun lebih tinggi dari satu jengkal. Beliau berkata :&lt;br /&gt;وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُزَادَ في الْقَبْرِ تُرَابٌ من غَيْرِهِ وَلَيْسَ بِأَنْ يَكُونَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ بَأْسٌ إذَا زِيدَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَإِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ على وَجْهِ الْأَرْضِ شِبْرًا أو نَحْوَهُ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ... وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك&lt;br /&gt;&quot;Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan diatas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan…&lt;br /&gt;Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut&quot;(Al-Umm 1/277)&lt;br /&gt;- Pengkhususan Ibadah pada waktu-waktu tertentu atau cara-cara tertentu&lt;br /&gt;Berkata Abu Syaamah :&lt;br /&gt;&quot;Imam As-Syafi&#39;i berkata : Aku benci seseroang berpuasa sebulan penuh sebagaimana berpuasa penuh di bulan Ramadhan, demikian juga (Aku benci) ia (mengkhususkan-pent) puasa suatu hari dari hari-hari yang lainnya. Hanyalah aku membencinya agar jangan sampai seseorang yang jahil mengikutinya dan menyangka bahwasanya perbuatan tersebut wajib atau merupakan amalan yang baik&quot; (Al-Baa&#39;its &#39;alaa inkaar Al-Bida&#39; wa Al-Hawaadits hal 48)&lt;br /&gt;Perhatikanlah, Imam As-Syafii membenci amalan tersebut karena ada nilai pengkhususan suatu hari tertentu untuk dikhususkan puasa. Hal ini senada dengan sabda Nabi&lt;br /&gt;« لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ »&lt;br /&gt;&quot;Janganlah kalian mengkhususkan malam jum&#39;at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum&#39;at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian&quot; (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19)&lt;br /&gt;Perhatikanlah, para pembaca yang budiman, puasa adalah ibadah yang disyari&#39;atkan, hanya saja tatkala dikhususkan pada hari-hari tertentu tanpa dalil maka hal ini dibenci oleh Imam As-Syafi&#39;i.&lt;br /&gt;Maka bagaimana jika Imam As-Syafii melihat ibadah-ibadah yang asalnya tidak disyari&#39;atkan??!&lt;br /&gt;Apalagi ibadah-ibadah yang tidak disyari&#39;atkan tersebut dikhususkan pada waktu-waktu tertentu??&lt;br /&gt;Beliau juga berkata dalam kitabnya Al-Umm&lt;br /&gt;&quot;Dan aku suka jika imam menyelesaikan khutbahnya dengan memuji Allah, bersholawat kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, menyampaikan mau&#39;izhoh, dan membaca qiroa&#39;ah, dan tidak menambah lebih dari itu&quot;.&lt;br /&gt;Imam As-Syafii berkata : &quot;Telah mengabarkan kepada kami Abdul Majiid dari Ibnu Juraij berkata : Aku berkata kepada &#39;Athoo : Apa sih doa yang diucapkan orang-orang tatkala khutbah hari itu?, apakah telah sampai kepadamu hal ini dari Nabi?, atau dari orang yang setelah Nabi (para sahabat-pent)?. &#39;Athoo berkata : Tidak, itu hanyalah muhdats (perkara baru), dahulu khutbah itu hanyalah untuk memberi peringatan.&lt;br /&gt;Imam As-Syafii berkata, &quot;Jika sang imam berdoa untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya&quot; (Al-Umm 2/416-417)&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman, cobalah perhatikan ucapan Imam As-Syafi&#39;i diatas, bagaimanakah hukum Imam As-Syafii terhadap orang yang menkhususkan doa kepada orang tertentu tatkala khutbah jum&#39;at?, beliau membencinya, bahkan beliau menyebutkan riwayat dari salaf (yaitu &#39;Athoo&#39;) yang mensifati doa tertentu dalam khutbah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya dengan &quot;Muhdats&quot; (bid&#39;ah). Bahkan yang dzohir dari perkataan Imam As-Syafii diatas dengan &quot;aku benci&quot; yaitu hukumnya haram, buktinya Imam Syafii menegaskan setelah itu bahwasanya perbuatan muhdats tersebut tidak sampai membatalkan khutbahnya sehingga tidak perlu diulang. Wallahu A&#39;lam.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Keempat :&lt;/span&gt; Para imam madzhab syafiiyah telah menukil perkataan yang masyhuur dari Imam As-Syafii, yaitu perkataan beliau;&lt;br /&gt;مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ&lt;br /&gt;&quot;Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari&#39;at&quot;&lt;br /&gt;(Perkataan Imam As-Syafi&#39;i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi&#39;i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur&#39;aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)&lt;br /&gt;Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakekatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari&#39;at yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kesimpulan &lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pertama : &lt;/span&gt;Ternyata banyak ulama yang menyebutkan mashlahah mursalah dengan istilah bid&#39;ah hasanah. Karena memang dari sisi bahasa bahwasanya perkara-perkara yang merupakan mashlahah mursalah sama dengan perkara-perkara bid&#39;ah dari sisi keduanya sama-sama tidak terdapat di zaman Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;Oleh karenanya semua sepakat bahwa ilmu jarah wa ta&#39;dil hukumnya adalah wajib, demikian juga mempelajari ilmu nahwu, namun sebagian mereka menamakannya bid&#39;ah hasanah atau bid&#39;ah yang wajib (sebagaimana Al-Izz bin Abdissalam) dan sebagian yang lain menamakannya maslahah mursalah (sebagaimana Imam As-Syathibi dalam kitabnya Al-I&#39;tishoom). Demikian juga semuanya sepakat bahwa membangun madrasah-madrasah agama hukumnya adalah mandub (dianjurkan) namun sebagian mereka menamakannya bid&#39;ah hasanah (bid&#39;ah mandubah) dan sebagian yang lain menamakannya maslahah mursalah.&lt;br /&gt;Meskipun terjadi khilaf diantara mereka tentang hukum permasalahan tertentu maka hal itu adalah khilaf dalam penerapan saja yang khusus berkaitan dengan permasalahan itu saja yang khilaf itu kembali dalam memahami dalil-dalil yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, khilaf mereka bukan pada asal (pokok kaidah) tentang pencelaan terhadap bid&#39;ah dan pengingkarannya.&lt;br /&gt;Namun bagaimanapun lebih baik kita meninggalkan istilah klasifikasi bid&#39;ah menjadi bid&#39;ah dholalah dan bid&#39;ah hasanah karena dua sebab berikut&lt;br /&gt;a. Beradab dengan sabda Nabi, karena bagaimana pantas bagi kita jika kita telah mendengarkan sabda Nabi ((semua bid&#39;ah itu sesat)) lantas kita mengatakan ((tidak semua bid&#39;ah itu sesat, tapi hanya sebagian bid&#39;ah saja))&lt;br /&gt;b. Pengklasifikasian seperti ini terkadang dijadikan tameng oleh sebagian orang untuk melegalisasikan sebagian bid&#39;ah (padahal para imam yang berpendapat dengan pengkasifikasian bid&#39;ah mereka berlepas diri dari hal ini), yang hal ini mengakibatkan terancunya antara sunnah dan bid&#39;ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kedua :&lt;/span&gt; Para ulama yang dituduh mendukung bid&#39;ah hasanah (seperti Imam As-Syafii dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam As-Syafi&#39;i) ternyata justru membantah bid&#39;ah-bid&#39;ah yang tersebar di masyarakat yang dinamakan dengan bid&#39;ah hasanah&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ketiga :&lt;/span&gt; Imam As-Syafii dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam yang juga bermadzhab syafiiyah yang dituduh mendukung bid&#39;ah hasanah ternyata tidak mendukung bid&#39;ah-bid&#39;ah hasanah yang sering dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermadzhab syafi&#39;i. Oleh karenanya saya meminta kepada orang-orang yang melakukan bid&#39;ah -dan berdalil dengan perkataan Imam As-Syafii atau perkataan Al-Izz bin Abdisalaam- agar mereka memberikan satu contoh atau dua contoh saja bid&#39;ah hasanah yang dipraktekan oleh kedua imam ini !!??? &lt;br /&gt;Sebagai tambahan penjelasan, berikut ini penulis menyampaikan perbedaan antara bid&#39;ah hasanah dengan maslahah mursalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Maslahah mursalah harus memenuhi beberapa kriteria yaitu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1 Maslahah mursalah sesuai dengan maqosid syari&#39;ah yaitu tidak bertentangan dengan salah satu usul dari usul-usul syari&#39;ah maupun dalil dari dalil-dalil syar&#39;i, berbeda dengan bid&#39;ah&lt;br /&gt;2 Maslahah mursalah hanyalah berkaitan dengan perkara-perkara yang bisa dipikirkan kemaslahatannya dengan akal (karena sesuatu yang bisa diketahui memiliki maslahah yang rajihah atau tidak adalah seauatu yang bisa dipikirkan dan dipandang dengan akal), artinya jika maslahah mursalah dipaparkan kepada akal-akal manusia maka akan diterima&lt;br /&gt;Oleh karena itu maslahah mursalah tidaklah berkaitan dengan perkara-perkara peribadatan karena perkara-perkara peribadatan merupakan perkara yang tidak dicerna oleh akal dengan secara pasti (jelas) dan secara terperinci (hanyalah mungkin diketahui hikmah-hikmahnya), seperti wudhu, tayammum, sholat, haji, puasa, dan ibadaah-ibadah yang lainnya.&lt;br /&gt;Contohnya thoharoh (tata cara bersuci) dengan berbagai macamnya yang dimana setiap macamnya berkaitan khusus dengan peribadatan yang mungkin tidak sesuai dengan pemikiran. contohnya keluarnya air kencing dan kotoran yang merupakan najis maka penyuciannya tidak hanya cukup dengan membersihkan tempat keluar kedua benda tersebut namun harus juga dengan berwudhu (meskipun anggota tubuh untuk berwudhu dalam keadaan bersih dan suci), kenapa demikian ??, sebaliknya jika anggota tubuh untuk berwudhu kotor namun tanpa disertai hadats maka tidak wajib untuk berwudhu, kenapa demikian?? kita tidak bisa mencernanya secara terperinci. Demikian juga halnya dengan tayammum, tanah yang sifatnya mengotori bisa menggantikan posisi air (yang sifatnya membersihkan) tatkala tidak ada air, kenapa demikan??, tidak bisa kita cerna dengan jelas, pasti dan terperinci. Demikan juga ibadah-ibadah yang lainnya seperti sholat dan haji terlalu banyak perkara-perkara yang tidak bisa kita cernai. Contohnya tentang tata cara sholat, jumlah rakaat, waktu-waktu sholat, hal-hal yang dilarang tatkala berihrom, dan lain sebagainya. Sungguh benar perkataan Ali لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لكان أَسفَلُ الخُفِّ أولى بالمسحِ من أعلاه ((Kalau memang agama dengan akal tentu yang lebih layak untuk di usap adalah bagian bawah khuf dari pada mengusap bagian atasnya)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;3 Maslahah mursalah kembali pada salah satu dari dua perkara dibawah ini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Bab wasilah (perantara) bukan tujuan, dan termasuk dalam kaidah مَا لاَ يَتِمُّ الوَلجبُ إلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجب ((sesuatu yang wajib jika tidak bisa sempurna pelaksanaannya kecuali dengan perkara yang lain maka perkara tersebut juga hukumnya wajib)), hal ini jika maslahah mursalah dalam rangka penyempurnaan pelaksaan salah satu dari dhoruriaat dalam agama. Contohnya seperti pengumpulan Al-Qur&#39;aan, pemberian harokat pada Al-Qur&#39;aan, mempelajari ilmu nahwu, mempelajari ilmu jarh wa ta&#39;diil, yang semua ini merupakan perkara-perkara yang tidak ada di zman Nabi hanya saja merupakan maslahah mursalah&lt;br /&gt;b. Bab takhfif (peringanan), hal ini jika maslahah mursalah dalam rangka menolak kesulitan yang selalu melazimi.&lt;br /&gt;Jika demikian maka kita mengetahui bahwa bid&#39;ah berbeda bahkan bertentangan dengan maslahah mursalah, karena obyek dari maslahah mursalah adalah perkara yang bisa dicerna dan ditangkap dengan akal secara terperinci seperti perkara-perkara adat, berbeda dengan perkara-perkara ibadat, oleh karena peribadatan sama sekali bukanlah obyek dari maslahah mursalah. Adapun bid&#39;ah adalah sebalikinya yang menjadi obyeknya adalah peribadatan. Oleh karena itu tidak butuh untuk mengadakan peribadatan-peribadatan yang baru karena tidak bisa dicerna secara terperinci berbeda dengan perkara-perkara adat yang berkaitan tata cara kehidupan maka tidak mengapa diadakannya perkara-perkara yang baru. Para ulama telah menjelaskan bahwa asal hukum dalam peribadatan adalah haram hingga ada dalil yang menunjukan akan keabsahannya, berbeda dengan perkara-perkara adat asal hukumnya adalah boleh hingga ada dalil yang mengharamkannya. Demikian juga perkara-perkara bid&#39;ah biasanya maksudnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah karena pelakunya tidak puas dengan syariat yang dibawa oleh Nabi, maka ia bukanlah termasuk maslahah mursalah karena di antara tujuan dari maslahah mursalah adalah untuk peringanan.&lt;br /&gt;Dan perbedaan yang paling jelas bahwasanya masalahah mursalah adalah wasilah untuk bisa melaksanakan seeuatu perkara dan bukan tujuan utama, berbeda dengan bid&#39;ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Source: Abu ‘Abdilmuhsin Firanda Andirja&lt;/span&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/1254937399224230616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/1254937399224230616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2011/10/adakah-bidah-hasanah.html' title='adakah bid&#39;ah hasanah ?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-5526305759517668901</id><published>2011-09-11T15:30:00.000-07:00</published><updated>2011-09-11T15:35:38.164-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>Amalan-Amalan Berpahala  Seperti Shalat Malam</title><content type='html'>by Dr. Muhammad Ibn Ibrahim an-Na’îm &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada penutup para nabi dan rasul, nabi kita  Muhammad -shalallahu alaihi wasallam-, kepada keluarganya serta seluruh sahabatnya.&lt;br /&gt;Adapun selanjutnya:&lt;br /&gt;&quot;Qiyamul lail&quot; (shalat malam) mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah -azzawajalla-. Ia adalah shalat yang paling utama setelah shalat &quot;fardu&quot; (wajib). Keistimewaannya tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mencegah pengamalnya terjatuh ke dalam dosa. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili -radiallahu&#39;anhu- dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,&lt;br /&gt;[عليكم بقيام الليل، فإنه دأب الصالحين قبلكم، وقربة إلى ربكم، ومكفرة للسيئات، ومنهاة للإثم] رواه الترمذي وابن خزيمة والحاكم وصححه الألباني&lt;br /&gt;“Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam, karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, pendekat kepada Tuhan kalian, penghapus kejelekan dan pencegah berbuatan dosa.” &lt;br /&gt;Dahulu para Salafusshalih -rahimahumullah- bahkan kakek-kakek kita pada waktu belakangan tidak melalaikan shalat malam. Namun sekarang, kebanyakan manusia telah membalikkan malam menjadi siang dengan bergadang, sehingga luput dari mereka kelezatan bermunajat kepada Allah di tengah malam, hingga sampai pada meninggalkan shalat Fajar (subuh).&lt;br /&gt;Ketika Thâwus Ibn Kaisân  –rahimahullah- hendak menemui seseorang menjelang subuh, dikatakan kepadanya bahwa orang itu masih tidur. Thâwus berkata, “Aku tidak menyangka bahwa ada orang yang tidur menjelang subuh.  Jika Thâwus Ibn Kaisan mengunjungi kita sekarang ini, kira-kira apa yang akan dikatakannya tentang kita?!&lt;br /&gt;Sesungguhnya di antara rahmat Allah -azzawajalla- kepada hamba-hamba-Nya, Dia berikan kepada kita amalan-amalan mudah yang pahalanya menyamai pahala shalat malam. Siapa yang luput melakukan shalat malam atau lemah melaksanakannya, janganlah melewatkan amalan-amalan tersebut agar berat timbangan amalnya. Ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan shalat malam, &quot;Salafusshalih&quot; -rahimahumullah- (generasi terdahulu kita) tidak memahami seperti itu, mereka giat dalam setiap medan kebaikan. &lt;br /&gt;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- telah menunjukkan kepada para sahabatnya yang mulia beberapa amalan-amalan mudah bagi siapa yang tidak dapat memaksa dirinya melakukan shalat malam. Motivasi dari Nabi -shalallahu alaihi wasallam- agar berbuat banyak kebaikan sehingga banyak pula pahala kebaikannya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili -radiallahu&#39;anhu-, katanya, &quot;Rasul -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ من هاله الليل أن يكابده  أو بخل بالمال أن ينفقه  أو جبن عن العدو أن يقاتله  فليكثر من سبحان الله وبحمده  فإنها أحب إلى الله من جبل ذهب ينفقه في سبيل الله عز وجل ] رواه الطبراني في الكبير (7795)، وقال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب: صحيح لغيره (1541).&lt;br /&gt;“Siapa yang dicegah oleh istirahat malamnya untuk melakukan ibadah atau kebakhilannya terhadap harta untuk berinfak atau ketakutannya kepada musuh untuk memeranginya, hendaknya memperbanyak mengucap: &quot;subhanallah wa bi hamdihi&quot; (Maha Suci Allah dan dengan segala pujian milik-Nya). Karena yang demikian itu lebih disukai oleh Allah dari gunung emas yang diinfakkan di jalan-Nya -azzawajalla-.”  &lt;br /&gt;Hadits-Hadits yang saya paparkan tadi sebetulnya adalah amal-amal yang pahalanya seperti pahala shalat malam. Rasul kita menunjukkannya kepada kita untuk menambah kebaikan-kebaikan kita dan memberatkan timbangan kita. Marilah kita amalkan. Di antara yang terpenting:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melaksanakan shalat Isya dan Fajar berjamaah.&lt;br /&gt;Utsman ibn ‘Affan -radiallahu&#39;anhu- berkata, &quot;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ  وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ ] رواه الإمام مالك (371) ، وأحمد –الفتح الرباني- (5/168) ، ومسلم (656) ، والترمذي (221) ، وأبو داود واللفظ له (555) ، والدارمي (1224) .&lt;br /&gt;&#39;Siapa yang shalat Isya berjamaah maka seperti shalat setengah malam dan siapa yang shalat Isya dan Fajar berjamaah maka seperti shalat semalam suntuk.” &lt;br /&gt;Oleh sebab itu semestinya loba dalam melaksanakan shalat fardu di masjid secara berjamaah dan tidak melewatkannya sama sekali, karena pahalanya sangat agung, khususnya shalat ‘Isya dan Fajar. Keduanya adalah shalat yang paling berat bagi orang–orang munafik. Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya niscaya akan mendatanginya walaupun dengan merangkak sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi -shalallahu alaihi wasallam-. Pahala kedua shalat di atas masing-masingnya seperti pahala shalat setengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melaksanakan shalat empat rakaat sebelum shalat Zuhur.&lt;br /&gt;Dari Abi Shalih -rahimahullah-  bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ يَعْدِلْنَ بِصَلاَةِ السَّحَرِ ] رواه ابن أبي شيبة في مصنفه (5940) ، وحسنه الألباني في السلسلة الصحيحة (1431) .&lt;br /&gt;“Empat rakaat sebelum Zuhur menyamai shalat menjelang subuh.” &lt;br /&gt;Di antara keistimewaan empat rakaat ini dibukakan pintu-pintu langit, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub al-Anshari -radiallahu&#39;anhu-  bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ أربع قبل الظهر تفتح لهن أبواب السماء ] رواه أبو داود (3128) ، والترمذي في الشمائل ، وقال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب: حسن لغيره (585)&lt;br /&gt;“Shalat empat rakaat sebelum Zuhur dibukakan dengannya pintu-pintu langit.” &lt;br /&gt;Karenanya Nabi -shalallahu alaihi wasallam- konsisten melaksanakannya. Jika terluput karena ada kepentingan yang tiba-tiba, beliau menggantinya dengan dilaksanakan setelah shalat fardu, tidak meninggalkannya. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah -radiallahu&#39;anha-, beliau berkata, &lt;br /&gt;“Dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- jika belum melaksanakan shalat empat rakaat sebelum Zuhur beliau laksanakan setelahnya.”  &lt;br /&gt;Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata, &lt;br /&gt;“Dahulu jika Nabi terluput melaksanakan empat rakaat sebelum Zuhur beliau laksanakan setelah Zuhur.” &lt;br /&gt;Oleh sebab itu, siapa yang terlewatkan shalat empat rakaat atau tidak sempat melaksanakannya karena kepentingan pekerjaan, seperti sebagian para pengajar, maka tidak mengapa menggantinya setelah selesai pekerjaannya dan pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;Abu ‘Isa at-Tirmidzi –rahimahullah- berkata,&lt;br /&gt;Hadits (di atas) menunjukkan disyariatkannya menjaga pelaksanaan shalat-shalat sunnah sebelum fardu. Waktunya lapang sampai berakhir waktu shalat fardu. Yang demikian karena, jika waktunya usai bersama usainya pelaksanaan shalat fardu tentu pelaksanaan setelahnya menjadi &quot;qodho&quot; (pengganti) sehingga mustinya dilakukan sebelum shalat sunnah bakda Zuhur. Namun dari hadits yang valid, jelas bahwa beliau melaksanakannya setelah shalat sunnah dua rakaat ba&#39;da Zuhur. Pengertian yang seperti itu disebutkan oleh al-&#39;Irâqi dan mengatakan, &#39;Inilah yang benar menurut Madzhab Syafi&#39;iah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melaksanakan shalat tarawih bersama imam sampai selesai.&lt;br /&gt;Abu Dzar al-Ghifari -radiallahu&#39;anhu- berkata, &lt;br /&gt;&quot;Kami berpuasa bersama Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- pada bulan Ramadhan. Beliau tidak shalat malam bersama kami hingga tersisa tujuh hari. Waktu itu beliau shalat bersama kami sampai sepertiga malam. Pada sisa hari yang ke enam beliau tidak shalat bersama kami. Pada sisa hari yang ke lima beliau shalat bersama kami sampai tengah malam. Aku pun bertanya, &lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, sudilah kiranya mengimami kami shalat semalam penuh!” &lt;br /&gt;Rasul bersabda: &lt;br /&gt;[ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (5/11) ، وأبو داود واللفظ له (1375) ، والترمذي (806) ، والنسائي (1364) ، وابن ماجه (1327) ، وصححه الألباني في صحيح الجامع (1615) .&lt;br /&gt;&#39;Sesungguhnya seorang yang shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk.”  &lt;br /&gt;Perkara ini sering diingatkan oleh imam-imam masjid pada bulan Ramadhan. Engkau melihat imam-imam itu memotivasi para jamaah agar melaksanakan shalat tarawih bersama imam sampai selesai, namun sebagian mereka meninggalkan syiar ini, yang merupakan keistimewaan bulan Ramadhan dari bulan-bulan lain. Mengenai hal ini Nabi -shalallahu alaihi wasallam- telah bersabda,&lt;br /&gt;[ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (9/220) ، والبخاري (37) ، ومسلم (759) ، والترمذي (808) ، والنسائي (1602) ، وأبو داود (1371) .&lt;br /&gt;“Siapa yang menegakkan shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan berharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” &lt;br /&gt;Demikian juga halnya dengan Lailatul Qadr. Mendirikan shalat pada malam itu keutamaannya seperti shalat seribu bulan, sebagaimana firman Allah -azzawajalla-, &lt;br /&gt; “Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan.”(QS.al-Qodr:3)&lt;br /&gt;Akan tetapi aneh sungguh aneh, banyak orang menyia-nyiakan malam yang sangat agung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Membaca seratus ayat al-Quran pada malam hari&lt;br /&gt;Tamim ad-Dari berkata, &quot;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ مَنْ قَرَأَ بِمِئَةِ آيَةٍ فِي لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ ] رواه الإمام أحمد واللفظ له –الفتح الرباني- (18/11) ، والدارمي (3450) وصححه الألباني في صحيح الجامع (6468)&lt;br /&gt;&#39;Barang siapa membaca seratus ayat al-Quran pada malam hari dicatat baginya &quot;qunut&quot; (berdoa) malam suntuk.” &lt;br /&gt;Membaca seratus ayat adalah perkara yang mudah, tidak akan menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit. Jika waktumu sempit engkau bisa mendapatkan keutamaan ini dengan membaca empat halaman pertama dari surat as-Shaffat misalnya atau membaca surat al-Qalam dan al-Haqqah.&lt;br /&gt;Jika terlewatkan membacanya pada malam hari, gantilah pada waktu antara shalat fajar sampai shalat Zuhur. Jangan malas melakukannya karena akan engkau dapati pahalanya dengan izin Allah, sebagaimana yang diriwayatkan Umar ibn Khattab -radiallahu&#39;anhu-, katanya, &quot;Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;[ مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ  فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاةِ الْفَجْرِ وَصَلاةِ الظُّهْرِ  كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنْ اللَّيْلِ ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (18/29) ، ومسلم واللفظ له (747) ، والترمذي (581) ، والنسائي (1790) ، وأبو داود (1313) ، وابن ماجه (1343) ، والدارمي (1477).&lt;br /&gt;“Siapa yang tertidur dari  &quot;hizb&quot;nya (membaca zikir, doa dan al-Quran) pada suatu malam atau sesuatu darinya, hendaknya dibaca setelah shalat Fajar dan Zuhur. Dicatatkan baginya seperti membaca pada malam hari.”   &lt;br /&gt;Mubarakfuri -rahimahullah- berkata berkaitan dengan Hadits Umar ibn Khattab -radiallahu&#39;anhu- ini: &lt;br /&gt;&quot;Hadits tersebut menunjukkan disyari’atkannya membaca wirid pada malam hari dan disyari’atkan menggantinya jika terlewatkan karena tertidur atau berbagai halangan. Barang siapa mengerjakannya di antara shalat Fajar sampai shalat Zuhur maka seperti yang mengerjakannya pada malam hari. Telah &quot;tsabit&quot; (valid) dari &#39;Aisyah dalam riwayat Muslim, at-Tirmidzi dan selain keduanya bahwa jika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- terluput melaksanakan shalat malam karena tertidur atau sakit, beliau menggantinya pada siang hari sebanyak dua belas rakaat.&quot; &lt;br /&gt;Semoga Hadits ini mendorongmu selalu membaca wirid harian khususnya dari al Quran pada malam hari.&lt;br /&gt;Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mendorong kita untuk membaca sedikitnya sepuluh ayat pada malam hari agar tidak tercatat sebagai orang yang lalai?!&lt;br /&gt;Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘Ash -radiallahu&#39;anhuma- katanya, &quot;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ من قام بعشر آيات لم يُكتب من الغافلين  ومن قام بمئة آية كُتب من القانتين  ومن قام بألف آية كُتب من المقنطرين ] رواه أبو داود اللفظ له (1398) ، وابن حبان (2572) ، وابن خزيمة (1144) ، والدارمي (3444) ، والحاكم (2041) ، وقال الألباني في صحيح الترغيب والترهيب: حسن صحيح (639) &lt;br /&gt;“Siapa yang membaca sepuluh ayat al-Quran tidak dicatat sebagai orang yang lalai. Siapa yang membaca seratus ayat dicatat sebagai orang yang taat dan siapa yang membaca seribu ayat dicatat sebagai almuqantarin .”  &lt;br /&gt;Apakah kita termasuk yang loba membaca kitab Allah -azzawajalla-? Seyogianya kita mengkhatamkannya, dan tidak sebatas pada bulan Ramadhan saja, tetapi juga dilakukan sepanjang tahun. &lt;br /&gt;Mudah-mudahan kekonsistenan dalam membaca seratus ayat setiap hari guna mendapatkan pahala qiyamul lail menjadi titik tolak yang menjadi berkah, pendorong kita untuk mempelajari kitab Allah -azzawajalla- .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah pada malam hari.&lt;br /&gt;Abi Mas’ud -radiallahu&#39;anhu- berkata, &quot;Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (18/99) ، والبخاري واللفظ له (5010) ، ومسلم (807) ، والترمذي (2881) ، وأبو داود (1397) ، وابن ماجه (1369) ، والدارمي (1487).&lt;br /&gt;“Barang siapa membaca dua ayat akhir surat al-Baqarah pada malam hari maka keduanya telah mencukupkannya.”  &lt;br /&gt;An-Nawawi -rahimahullah-  berkata, &lt;br /&gt;&quot;Ada yang mengatakan bahwa makna Hadits: mencukupkannya dari &#39;qiyamul lail’ (melakukan shalat malam)’. ada juga yang mengatakan, perlindungan dari gangguan setan. Yang lain mengatakan, melindunginya dari keburukan&quot;. Seluruh makna memiliki kemungkinan. &lt;br /&gt;Ibnu Hajar -rahimahullah- menguatkan pendapat ini dengan mengatakan, &lt;br /&gt;&quot;Atas dasar inilah aku katakan, &#39;Boleh memaksudkan semua makna yang telah disebutkan tadi –wallahu a’lam-. Makna pertama dengan jelas disebutkan dari jalan periwayatan ‘Ashim dari ‘Alqamah dari Abi Mas’ud secara tersambung:&lt;br /&gt; [ مَنْ قَرَأَ خَاتِمَة الْبَقَرَة أَجْزَأَتْ عَنْهُ قِيَام لَيْلَة ] فتح الباري بشرح صحيح البخاري لابن حجر العسقلاني (8/673 ح 5010) &lt;br /&gt;“Siapa yang membaca ayat penutup surat al-Baqarah, sudah cukup menggantikan &#39;qiyamul lail&#39; (shalat malam).”  &lt;br /&gt;Membaca dua ayat tersebut merupakan sesuatu yang mudah sekali, karena kebanyakan orang menghafalnya –segala puji bagi Allah-. Sudah semestinya seorang muslim senantiasa membacanya setiap malam. Tidak pantas melalaikannya karena mudah dilakukan, termasuk amalan lainnya yang pahalanya sama dengan qiyamul lail. Karena target terbesar seorang mukmin adalah mengumpulkan sebanyak mungkin pahala kebaikan, karena dia tidak tahu amalnya yang mana yang akan diterima.&lt;br /&gt;Abdullah ibn Umair -rahimahullah- berkata, &lt;br /&gt;“Janganlah dirimu merasa puas dengan sedikit ketaatan kepada Allah -azzawajalla- dari amal remeh lagi sepele. Tetapi bersungguh-sungguhlah mengerjakannya dengan lobak dan diam-diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Akhlak yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah -radiallahu&#39;anha- berkata, &lt;br /&gt;&quot;Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;[ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ] رواه الإمام مالك (1675) ، وأحمد واللفظ له –الفتح الرباني- (19/76) ، وأبو داود (4798) ، وابن حبان (480) ، والحاكم (199) ، وصححه الألباني في صحيح الجامع (1620) .&lt;br /&gt;“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang senantiasa shalat di malam hari dan puasa di siang hari.”  &lt;br /&gt;Abu Thayib Muhammad Syamsuddin Âbadi -rahimahullah- berkata,&lt;br /&gt;&quot;Orang yang berakhlak baik diberi keutamaan agung ini karena, orang yang berpuasa dan shalat malam melawan keinginan dirinya yang berat melakukannya, sedangkan orang yang mempergauli manusia dengan akhlak yang baik dengan keragaman tabiat dan akhlak mereka seperti melawan banyak jiwa, sehingga mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang  yang senantiasa berpuasa dan shalat malam. Menjadi samalah derajatnya bahkan mungkin lebih. &lt;br /&gt;Berakhlak baik yaitu dengan memperbagus muamalah dengan manusia dan menahan diri dari mengganggu mereka.&lt;br /&gt;Sesungguhnya manusia tidaklah diberi sesuatu setelah iman yang lebih baik dari pada akhlak yang baik. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- memohon kepada Tuhan-Nya -azzawajalla-  diberi akhlak yang baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir ibn Abdillah -rahimahullah- bahwa Nabi -shalallahu alaihi wasalam- jika membaca &quot;istiftah&quot; (bacaan pembuka shalat setelah takbir) membaca:&lt;br /&gt;[ إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين  لا شريك له  وبذلك أمرت وأنا من المسلمين  اللهم اهدني لأحسن الأعمال وأحسن الأخلاق  لا يهدي لأحسنها إلا أنت  وقني سيئ الأعمال وسيئ الأخلاق  لا يقي سيئها إلا أنت ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (3/181) ، ومسلم (771) ، والترمذي (3421) ، والنسائي واللفظ له (897) ، وأبو داود (760) ، والدارمي (1238) ، وابن خزيمة (462) ، والبيهقي (2172) ، وأبو يعلى (285).&lt;br /&gt;“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu baginya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang yang berserah diri. Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku sebaik-baik amal dan sebaik-baik akhlak, tidak ada yang menunjukkan kepada kebaikannya kecuali Engkau, peliharalah aku dari seburuk-buruk amal dan seburuk-buruk akhlak, tidak ada yang memelihara dari keburukan kecuali Engkau. &lt;br /&gt;Demikian pula yang dilakukan Rasul -shalallahu alaihi wasalam- ketika melihat ke cermin sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud -radiallahu&#39;anhu- katanya, &lt;br /&gt;&quot;Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- jika melihat ke cermin berdo’a:&lt;br /&gt;[ اللهم كما حسنت خَلْقِي فحسن خُلُقِي ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (14/281) ، وابن حبان (959) ، وأبو يعلى (5075) ،  والطيالسي واللفظ له (374) ، وصححه الألباني في صحيح الجامع (1307)&lt;br /&gt;“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku maka perbaguslah akhlakku.”  &lt;br /&gt;Orang yang berakhlak baik adalah manusia yang paling mencintai Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dan yang paling dekat majelisnya pada hari kiamat. Jabir -radiallahu&#39;anhu- meriwayatkannya kepada kita bahwa Raasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,&lt;br /&gt;[ إن من أحبكم إلي  وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة  أحاسنكم أخلاقًا ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (23/13) ، والترمذي واللفظ له (2018) ، والطبراني في الكبير (10424) ، والبخاري في الأدب المفرد (272) ، وصححه الألباني في صحيح الترغيب والترهيب (2649) .&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”  &lt;br /&gt;Allah -azzawajalla- akan memberikan istana bagi yang berakhlak baik di surga yang paling tinggi, karena begitu besar pahalanya, dan sebagai penghormatan baginya. Ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili -radiallahu&#39;anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,&lt;br /&gt;[ أنا زَعِيمٌ ببيت في رَبَضِ الجنة لمن ترك الْمِرَاءَ وإن كان محقا  وببيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحا  وببيت في أعلى الجنة لمن حَسَّنَ خُلُقَهُ ] رواه أبو داود واللفظ له (4800)، والبيهقي (20965)، والطبراني في الكبير (7488)، وحسنه الألباني في صحيح الجامع (1464).&lt;br /&gt;&quot;Aku adalah pemimpin pada rumah di dasar surga bagi yang meninggalkan riya (pamer), sekalipun benar dan di pertengahan surga bagi yang meninggalkan dusta walaupun bergurau dan di surga yang paling tinggi bagi yang memperbagus akhlaknya.”  &lt;br /&gt;Berakhlak baik seyogianya tidak sebatas kepada orang-orang yang jauh saja, sementara orang-orang yang dekat terlupakan. Ia mencakup juga kedua orang tua dan setiap anggota keluargamu. Sebagian orang engkau dapati bertutur kata baik, lapang dada dan sopan santun dalam berakhlak kepada orang lain, tetapi sebaliknya jika kepada keluarga dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Berupaya berkhidmat kepada para janda dan orang-orang miskin.&lt;br /&gt;Abu Hurairah -radiallahu&#39;anhu- berkata, &quot;Nabi -shalallahu alaihi wasalam-  bersabda,&lt;br /&gt;[ السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ  كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (19/55) ، والبخاري واللفظ له (5353) ، ومسلم (2982) ، والترمذي (1969) ، والنسائي (2577) ، وابن ماجه (2140) ، وابن حبان (4245) ، والبيهقي (12444).&lt;br /&gt;“Orang yang berupaya berkhidmat kepada para janda dan orang-orang miskin seperti mujahid di jalan Allah atau seperti orang yang shalat &#39;qiyamul lail&#39; dan puasa di siang hari.”  &lt;br /&gt;Mungkin sekali engkau dapatkan pahala yang banyak ini dengan berkhidmat kepada orang-orang fakir dalam membantu mendaftarkan mereka pada &quot;jam’iyyah khairiah&quot; (lembaga sosial) misalnya, agar di data kebutuhan-kebutuhan mereka dan diberi bantuan.&lt;br /&gt;Mungkin juga mendapat pahala besar ini jika berusaha berkhidmat kepada para janda, yaitu wanita yang ditinggal mati suaminya sehingga menjadi fakir. Ini bukan perkara sulit karena jika engkau selidiki keluarga terdekatmu akan engkau dapati ada saja yang ditinggal mati suaminya dari bibi-bibimu atau dari garis nenek. Dengan berkhidmat kepada mereka dan membelikan kebutuhan-kebutuhannya engkau akan mendapat pahala jihad atau pahala qiyamul lail.&lt;br /&gt;8. Menjaga sebagian dari adab-adab Jumat.&lt;br /&gt;Aus ibn Aus ats-Tsaqafi -radiallahu&#39;anhu- berkata, &lt;br /&gt;“Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:&lt;br /&gt;[ مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ  ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ  وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ  وَدَنَا مِنْ الإِمَامِ  فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَل كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ  أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا ] رواه الإمام أحمد –الفتح الرباني- (6/51) ، والترمذي (496) ، وأبو داود واللفظ له (345) ، والنسائي (1381) ، وابن ماجه (1087) ، والدارمي (1547) ، والحاكم (1041) ، وابن خزيمة (1758) ، وصححه الألباني في صحيح الجامع (6405) .&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat kemudian bersegera (ke masjid) dengan berjalan kaki, tidak naik kendaraan, kemudian mendekat ke imam mendengarkan (khotbah Jumat), tidak bergurau, maka setiap satu langkahnya dihitung amal satu tahun pahala seperti pahala puasa dan shalat malam”  &lt;br /&gt;Satu langkah menuju shalat Jumat bagi yang melaksanakan adab-adab yang disebutkan tidak menyamai pahala qiyamul lail satu kali, seminggu atau sebulan, akan tetapi menyamai pahala setahun penuh. Karenanya perhatikanlah besarnya pahala ini.&lt;br /&gt;Adab-adab tersebut dalam bentuk: mandi pada hari Jumat, bersegera menuju masjid, berjalan kaki menuju masjid, mendekat pada imam, tidak menjauh ke barisan yang paling akhir, mendengarkan khotbah dengan baik dan tidak melakukan lagha (kesia-siaan) dan bergurau.&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa main-main saat khotbah berlangsung terhitung lagha (kesia-siaan). Siapa yang berbuat lagha (kesia-siaan), tidak ada pahala shalat Jumat baginya. Siapa yang memainkan batu atau kerikil berarti telah berbuat lagha. Siapa yang berkata: “diam!” berarti telah berbuat lagha. Berkata kepada teman atau anaknya yang masih kecil, “diam!” berarti telah berbuat lagha. Siapa yang memainkan tasbihnya atau handphonenya atau apa saja ketika khotbah tengah berlangsung berarti telah berbuat lagha.&lt;br /&gt;Tidak seyogianya lalai dengan adab-adab Jumat sama sekali agar tidak merugi dengan pahala yang besar ini yang akan memberatkan timbanganmu dengan banyak dan memberimu pahala qiyamul lail bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. “Ribât” (Menjaga perbatasan) di jalan Allah -azzawajalla- siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Salman al-Farisi -radiallahu&#39;anhu-, katanya, “Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda, &lt;br /&gt;[ رباط يوم وليلة خير من صيام شهر وقيامه  وإن مات جرى عليه عمله الذي كان يعمله  وأُجري عليه رزقه  وأمِنَ الفتَّان ] رواه الإمام البخاري (2892) ، ومسلم واللفظ له (1913) ، والنسائي (3168).&lt;br /&gt;“Menjaga perbatasan sehari semalam pahalanya lebih baik dari puasa dan qiyamul lail sebulan penuh. Jika meninggal (dalam tugasnya) mengalir kepadanya amalan yang selalu dia kerjakan dan diberikan kepadanya rezekinya dan aman dari “al-fattan” (pertanyaan-pertanyaan akhirat).”   &lt;br /&gt;Al-Fattân yaitu ujian pertanyaan di dalam kubur.&lt;br /&gt;10. Meniatkan qiyamul lail sebelum tidur&lt;br /&gt;Abu Darda -radiallahu&#39;anhu- meriwayatkan secara marfu kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-. Sabdanya,&lt;br /&gt;[ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ  فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ  كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى  وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ ] رواه النسائي (1787) ، وابن ماجه (1344) ، وحسنه الألباني في صحيح الجامع (5941).&lt;br /&gt;“Siapa yang beranjak ke pembaringannya sedang dia berniat akan bangun melakukan shalat malam, namun kantuk mengalahkannya sampai tiba waktu subuh, maka dicatat baginya apa yang telah diniatkannya, sedang tidurnya sebagai sedekah dari Tuhan-nya -azzawajalla-.” &lt;br /&gt;Tahukah engkau pentingnya niat, bahwa ia menduduki kedudukan amal?! Karenanya kita dapati keriskanan orang yang tidur tanpa berniat akan melaksanakan shalat fajar pada waktunya, padahal untuk kerja dan sekolahnya engkau dapati mereka bersusah-payah memasang alarm. Orang seperti ini telah melakukan salah satu dosa besar. Jika meninggal dalam keadaan seperti itu, berarti telah “su’ul khâtimah” (buruk pengakhirannya) -kita berlindung kepada Allah dari padanya-.&lt;br /&gt;Adapun orang yang meniatkan bangun untuk shalat fajar dan telah mencurahkan tenaga untuk sebab-sebab hal itu kemudian dia tidak bangun, maka tidak ada celaan atasnya karena tidak ada kelalaian dalam tidur. Kelalaian itu ada dalam keadaan terjaga.&lt;br /&gt;11. Mengajarkan kepada orang lain amalan-amalan yang pahalanya seperti qiyamul lail&lt;br /&gt;Pengajaranmu kepada manusia tentang amalan-amalan yang pahalanya seperti qiyamul lail merupakan cara lain memperoleh pahala qiyamul lail. Orang yang menunjukkan kepada kebaikan mendapat pahala seperti yang mengerjakannya. Karenanya jadilah penyeru kepada kebaikan dan sebarkanlah maklumat ini, engkau akan mendapat pahala sebanyak orang yang belajar darimu dan mengamalkannya. &lt;br /&gt;Segala pujian hanya untuk Allah Ta’ala.</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5526305759517668901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5526305759517668901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2011/09/amalan-amalan-berpahala-seperti-shalat.html' title='Amalan-Amalan Berpahala  Seperti Shalat Malam'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-5989346348617060501</id><published>2011-09-08T05:47:00.000-07:00</published><updated>2011-09-08T05:49:39.234-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tausiyah"/><title type='text'>Wahai Puteriku</title><content type='html'>Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.&lt;br /&gt; Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarkanlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari orang lain sebelumnya.&lt;br /&gt; Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya. &lt;br /&gt; Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.&lt;br /&gt; Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.&lt;br /&gt; Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.&lt;br /&gt; Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.&lt;br /&gt; Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!&lt;br /&gt; Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.&lt;br /&gt; Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang  usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.&lt;br /&gt; Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.&lt;br /&gt; Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila ia akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.&lt;br /&gt; Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki  untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.&lt;br /&gt; Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan menaruh simpati?&lt;br /&gt; Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu?    Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?&lt;br /&gt; Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut  dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.&lt;br /&gt; Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi wanita berkepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt; Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup  wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.&lt;br /&gt; Mereka yang menggembar-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong bila dilihat dari dua sebab : &lt;br /&gt; Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, seperti kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.&lt;br /&gt; Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa, pornografi, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?&lt;br /&gt; Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.&lt;br /&gt; Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain  untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat orang gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.&lt;br /&gt; Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat ditemukan kembali.&lt;br /&gt; Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkannya, persis seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.&lt;br /&gt; Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini janganlah engkau percayai. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.&lt;br /&gt;(wallahul musta’an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ali Ath-Thanthawi)</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5989346348617060501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5989346348617060501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2011/09/wahai-puteriku.html' title='Wahai Puteriku'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-1627476518950413911</id><published>2011-09-02T02:53:00.000-07:00</published><updated>2011-09-02T02:54:26.870-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>Keutamaan puasa enam hari Bulan Syawal</title><content type='html'>Puasa enam hari bulan Syawal setelah mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang sangat dianjurkan.&lt;br /&gt;Diantara keutamaannya adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakannya (puasa enam hari bulan Syawal -Red) niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan).&lt;br /&gt;Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu Bahwa Rasulullah Saw bersabda:&lt;br /&gt;&quot; من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر . &quot; رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه.&lt;br /&gt;“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد فسّر ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بقوله : &quot; من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة : (من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ) . &quot; وفي رواية : &quot; جعل الله الحسنة بعشر أمثالها فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام تمام السنة &quot; النسائي وابن ماجة وهو في صحيح الترغيب والترهيب 1/421 ورواه ابن خزيمة بلفظ : &quot; صيام شهر رمضان بعشرة أمثالها وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة &quot; .&lt;br /&gt;Rasulullah menjabarkan dalam sabdanya: “ Barang siapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal setelah ‘Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat.”&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat berbunyi :“Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun.” (HR. An-Nasa’I dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih Targhib)&lt;br /&gt;Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafadz: “Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh.&lt;br /&gt;Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi’I menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal setelah mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnah. Dan juga setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali  lipat.&lt;br /&gt;Salah satu faidah terpenting dari pelaksanan puasa enam hari hari bulan Syawal ini adalah menutupi salah kekuarangan puasa wajib pada Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.&lt;br /&gt;Sebagaimana sabda Rasulullah Saw : “Amal ibadah yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta’ala berkata kepada malaikat –sedang dia Maha Mengetahui tentangnya- : “Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: “Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu.” Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya.” (HR. Abu Dawud) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;(Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid)&lt;br /&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/1627476518950413911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/1627476518950413911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2011/09/keutamaan-puasa-enam-hari-bulan-syawal.html' title='Keutamaan puasa enam hari Bulan Syawal'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-3084593899132390464</id><published>2011-05-04T16:56:00.000-07:00</published><updated>2011-05-04T17:01:24.429-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>Apakah Iran Anak Buah Yahudi? Dimanakah Letak Khurasan?</title><content type='html'>Saya melihat bahwa negara iran seolah-olah menjadi pembela islam, tetapi banyak umat islam yang di bunuh oleh kaum syiah, padahal  syiah merupakan buah pemikiran seorang yahudi, bahkan di negara iran terdapat ka’bah versi mereka, begitu pula dengan qunut ala syiah yang mengejek dan melaknat para sahabat, lalu apakah khurasan yang dimaksud dalam hadits bahwa dajjal akan muncul dari negeri khurasan? apakah negeri khurasan yang dimaksud itu adalah salah satu provinsi di iran, dan apakah imam mahdi orang syiah itu adalah dajjal, seberapa dekatkah zionis yahudi dan iran?, mohon diungkap. Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa&#39;alaykumsalam, wr.wb saudaraku Abu Hasan. Jazakallah atas pertanyaannya, semoga kita selalu diberi keberkahan oleh Allah di fase-fase akhir zaman seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;Saya melihat ada dua ciri karakteristik kelompok/orang yang masuk ke lingkaran Syiah. Pertama mereka yang sebenarnya masih awam tentang Syiah. Golongan ini pada dasarnya tidak begitu mengenali bagaimana seluk beluk Syiah selama ini. Dari mulai pelecehan Syiah terhadap para sahabat, kecuali Ali. Sikap Syiah terhadap Ahlus Sunnah. Doktrin Imamah Syiah (yang berimplikasi pada Ushul Fiqh), sampai praktek taqiyah milik Syiah untuk menutupi ajaran mereka selama ini.&lt;br /&gt;Kedua. Pengikut Syiah yang benar-benar ideologis. Mereka mengikuti hakikat ajaran Syiah sepenuhnya. Seperti konsep Imamah, Taqiyah, Roj’ah, bad’a, dan lain sebagainya. KH. Nabhan Husein, dalam presentasinya di Mesjid Istiqlal tahun 1997, lewat artikel berjudul “Tinjauan Ahlus sunnah Terhadap Faham Syiah Tentang Al Qur’an dan Hadits” pun merinci setidaknya ada 219 ayat yang di Al Qur’an yang tidak diakui kelompok Syiah.&lt;br /&gt;Pada kasus pertama biasanya mereka yang masuk ke komunitas Syiah salah satunya oleh kekaguman kepada sosok Ahmadinejad. Mereka juga tidak bisa membedakan kasus Revolusi Iran dengan faham aqidah Syiah. Lalu bukan tidak mungkin mereka termakan oleh praktik taqiyah Syiah yang sengaja dimainkan untuk menutup-nutupi hakikat sesungguhnya.&lt;br /&gt;KH Dawam Anwar, dalam presentasinya &quot;Inilah Haqiqat Syiah&quot; saat Seminar Nasional tentang Syiah tahun 1997 di Mesjid Istiqlal, menjelaskan bahwa salah satu sulitnya ajaran Syiah terendus masyarakat awam dikarenakan kitab-kitab yang memuat hakikat Syiah dan Syariat Syiah langka sekali, bahkan bisa dibilang tidak ada.&lt;br /&gt;Kitab-kitab semacam Al Kaafi, Tahdzibuk Ahkam, Al Istibshar, Bihar Al Anwar, Al Waafi dan lain-lain tidak ditemui toko-toko buku pada umumnya. Karena sejak dahulu ulama-ulama Syiah sengaja merahasiakan kitab-kitab semacam itu agar jangan sampai jatuh ke tangan Ahlus Sunah karena akan menjadi senjata makan tuan. Walau pada akhirnya, atas izin Allah, kitab-kitab itupun sampai juga ke tangan ulama Ahlus sunnah wal Jama’ah.&lt;br /&gt;Hemat saya, elemen pertama inilah yang bisa menjadi lahan dakwah bagi kita untuk mengingatkan kepada mereka tentang kekeliruan faham Syiah. Kita bisa sama-sama menyadarkan untuk tidak terpukau semata-mata karena faktor Ahmadinejad gencar melakukan kritik terhadap Amerika. Karena, hal itu pun juga masih bisa diperdebatkan.&lt;br /&gt;Kalaulah memang Ahmadinejad serius melawan Amerika, sekiranya ia bisa berbuat lebih riil dalam melaksanakannya. Tidak jauh dari Iran, berbatasan langsung dengan teritori Ahmadinejad, yakni Afghanistan dimana puluhan ribu mujahidin bahu membahu mengusir Amerika dan cengkaman Zionis. Namun sampai saat ini belum ada tindakan konkret dari Ahmadinejad untuk membantu Afghan mengusir Amerika.&lt;br /&gt;Yang terjadi justru sebaliknya. Satu contoh saja, kita ketahui bersama hubungan Ahmadinejad dengan Nouri Al Maliki dekat sekali. Padahal Nouri adalah kaki tangan Amerika dan Israel di Irak. Jadi amat wajar jika spekulasi kemudian berkembang: apakah karena Nouri Al Maliki juga oang Syiah?&lt;br /&gt;Bahkan 18 april lalu, lima belas orang tewas di Ahwaz, Iran oleh pasukan keamanan Iran didukung oleh milisi pakaian sipil. Mereka melakukan serangan terhadap aksi demonstrasi dengan kekerasan yang menuntut hak bagi mayoritas etnis Arab di provinsi Khuzestan Iran yang berpenduduk mayoritas Sunni.&lt;br /&gt;Kalaulah Iran masih menganggap Sunni adalah saudaranya kenapa harus dengan membunuh, bukankah lebih baik senjata itu diarahkan kepada musuh sebenarnya yakni Gedung Putih yang kini bercokol di Irak, Afghan, dan Palestina?&lt;br /&gt;Dan ini semakin menimbulkan kecurigaan kenapa Iran -yang tak lebih besar dari pada Iraq yang sudah digempur habis-habisan oleh AS dan sekutu- masih baik-baik saja. Dalam artian, AS tidak pernah melakukan suatu tindakan yang nyata terhadap Iran.&lt;br /&gt;Khurasan dan Iran&lt;br /&gt;Lalu pertanyaan saudara selanjutnya, apakah yang dimaksud Khurasan disini adalah salah satu provinsi di Iran? Betul memang ada hadis yang mengatakan demikian. Namun kita ketahui bersama bahwa nama Khurasan minimal berada pada dua negara; pertama di Iran itu sendiri, kedua terletak pada salah satu sudut daerah di India Selatan, tepatnya masuk teritorial Desa Babua. Dari sinilah beberapa kalangan sempat menilai bahwa Sai Baba itu adalah Dajjal karena berasal dari Desa Khurasan, India Selatan.&lt;br /&gt;Dalam melihat Khurasan, DR Uman Sulaiman al Asyqar dalam kitabnya al Yaum al Akhir: al Qiyamah ash Shughra wa’ Alamat al Qiyamah al kubra, mengacu pada hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari An Nuwwas Ibn Sa’man, yang berbunyi “Sesungguhnya ia (Dajjal) muncul di suatu daerah antara Syam dan Iraq. Ia merusak ke kanan dan ke kiri. Hai Para Hamba Allah bersiteguhlah.”&lt;br /&gt;Dalam konteks hadis ini, Syaikh Al Bani berkata bahwa menurut Hakim sanad hadis ini shahih, dan disetujui oleh Adz Zahabi. Oleh karena itu DR Umar Sulaiman menilai bahwa Khruasan yang dimaksud adalah Persia. Yang berarti masuk teritori Iran modern.&lt;br /&gt;Hal ini bisa diperkuat dari hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam lainnya yang berbunyi. &quot;Pengkuti Dajjal dari Yahudi Isfahan ada tujuh puluh ribu orang. Mereka memakai pakaian gamis” (Musnad Ahmad IV h. 216-217).&lt;br /&gt;Isfahan (Esfahan) sendiri adalah sebuah kota bersejarah di Iran dan terbesar ketiga di Iran. Secara geografis kota ini terletak pada 32°38′ LU 51°29′ BT, di dataran Zayandeh-Rud yang subur, di kaki pegunungan Zagros.&lt;br /&gt;Pada masa lampau Isfahan juga ditulis sebagai Ispahan. Atau dalam bahasa Persia Kuno disebut Aspadana. Dan dalam dialek bahasa Persia Pertengahan disebut Spahān,&lt;br /&gt;Abu Naim dalam kitabnya Lawami’ al Anwar Bahiyyah, seperti dikutip DR. Sulaiman menuturkan bahwa salah satu desa yang masuk dalam daerah Isfahan ada yang bernama al Yahuddiyah karena penduduknya khusus Yahudi sampai zaman Ayyub Ibnu Ziyad penguasa Mesir pada zaman Khalifah al Mahdi ibn al Manshur al Abbasi. Pada zaman ini kaum muslim mulai masuk ke desa itu sehingga orang-orang Yahudi terdesak. Wallahu&#39;alam.&lt;br /&gt;Source: syiahindonesia.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/3084593899132390464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/3084593899132390464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2011/05/apakah-iran-anak-buah-yahudi-dimanakah.html' title='Apakah Iran Anak Buah Yahudi? Dimanakah Letak Khurasan?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-7803363724442577820</id><published>2010-05-14T01:18:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T01:20:17.042-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><title type='text'>Bolehkah Bersedekah untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal?</title><content type='html'>Berbakti kepada orang tua sangat dianjurkan Islam. Bahkan, dalam beberapa ayat disebutkan bergandengan dengan perintah ibadah kepada Allah Ta&#39;ala. Hal ini untuk menunjukkan besarnya urusan berbakti kepada orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta&#39;ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.&quot; (QS. Al Isra&#39;: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik kepada orang tua mencakup seluruh kebaikan, baik dengan berkata yang baik, bersikap yang sopan, mentaati perintahnya, menjauhi larangan, dan menafkahi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, berbakti kepada kedua orang tua ketika masih hidup adalah berbuat baik kepada mereka dengan lisan, sikap, bantuan fisik dan harta. Semua Ini hukumnya wajib. Tidak boleh seseorang cuek tidak perhatian kepada kedua orang tuanya, apalagi sampai menyakiti keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar. Di samping berlawanan dengan perintah Allah untuk berbuat baik pada mereka, juga karena perilaku kufur kepada kebaikan mereka berdua. Padahal di antara akhlak Islam yang dijunjung tinggi adalah bersyukur atau berterima kasih kepada yang telah memberikan kebaikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia (atas kebaikan mereka).&quot; (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan juga oelh al Abukhari dalam al Adab al Mufrad. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam al Shahihah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan secara khusus Alah memerintahkan agar bersyukur kepada orang tua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.&quot; (QS. Luqman: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sesudah meninggal, maka cara berbakti kepada orang tua sebagai bentuk terima kasih kepada keduanya adalah dengan mendoakan dan memohonkan ampunan bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati teman-teman mereka, dan memelihara hubungan kekerabatan yang hanya bisa disambung melaului keduanya. Itulah lima perkara yang merupakan bakti kepada kedua orang tua setelah mereka meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di masyarakat kita, sering cara berbakti kepada orangtua setelah tiada dengan bershadaqah di atasnamakan mereka. Bagaimana hukumnya, boleh ataukah tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersedekah atas nama keduanya hukumnya boleh. Tapi tidak harus, misalnya dengan mengatakan kepada sang anak, &quot;Bersedekahlah.&quot; Namun yang lebih tepat, &quot;Jika engkau bersedekah, maka itu boleh.&quot; Jika tidak bersedekah, maka mendoakan mereka adalah lebih utama, berdasarkan sabda Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Jika seorang manusia meninggal, terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga; Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.&quot; (HR. Muslim dalam al-Washiyah no. 1631).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bershadaqah atas nama keduanya hukumnya boleh. Tapi tidak harus . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam menyebutkan bahwa doa itu berstatus memperbaharui amal. Ini merupakan dalil bahwa mendoakan kedua orang tua setelah meninggal adalah lebih utama daripada bersedekah atas nama mereka, dan lebih utama daripada mengumrahkan mereka, dan membacakan Al-Qur&#39;an untuk mereka. Sebabnya, karena tidak mungkin Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam menggantikan yang utama dengan yang tidak utama, bahkan tentunya beliau pasti menjelaskan yang lebih utama dan menerangkan bolehnya yang tidak utama. Dalam hadits tadi beliau menjelaskan yang lebih utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang bolehnya yang tidak utama, disebutkan dalam hadits Sa&#39;d bin Ubaidillah, yaitu saat ia meminta izin kepada Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam untuk bershadaqah atas nama ibunya, lalu beliau mengizinkan. (HR. Al-Bukhari dalam al-Washaya no.2760).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam, &quot;Wahai Rasulullah, ibuku meninggal tiba-tiba, dan aku lihat, seandainya ia sempat bicara, tentu ia akan bersedekah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya?&quot; Beliau menjawab, &quot;Boleh.&quot; (HR. Al-Bukhari dalam al-Jana&#39;iz no.1388; Muslim dalam al-Washiyah no. 1004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, disarankan untuk banyak-banyak mendoakan kedua orang tua yang sudah wafat sebagai pengganti pelaksanaan umrah, sedekah dan sebagainya, karena hal itulah yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam. Kendati demikian, tidak boleh diingkari bolehnya bersedekah, umrah, shalat atau membaca Al-Qur&#39;an atas nama mereka atau salah satunya. Adapun bila mereka memang belum pernah melaksanakan umrah atau haji, ada yang mengatakan bahwa melaksanakan kewajiban atas nama keduanya adalah lebih utama daripada mendoakan. Walllahu a&#39;lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Disarankan untuk banyak-banyak mendoakan kedua orang tua yang sudah wafat sebagai pengganti pelaksanaan umrah, sedekah dan sebagainya, karena hal itulah yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Syaikh Ibnul Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah pernah ditanya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah boleh saya bersedekah dari harta saya atas nama ibu saya ? Dan apakah pahala sedekah saya itu akan sampai kepadanya? Semoga Allah mengasihimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, boleh. Seseorang boleh bersedekah atas nama ibunya atau ayahnya yang sudah meninggal dunia dan pahalanya akan sampai kepada yang diatasnamakan. Dalilnya adalah hadits yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu &#39;alahi wasallam dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ibu saya meninggal tiba-tiba, dan saya yakin seandainya dia bisa bicara, dia bersedekah. Bolehkah aku bersedekah atas namanya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, boleh, bershadaqahlah atas namanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berdasarkan izin Nabi sallallahu &#39;alahi wasallam kepada Sa’ad bin Ubadah yang hendak menjadikan pohon kurmanya yang ada di Madinah sebagai sedekah atas nama ibunya yang sudah meninggal. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, perlu diketahui, bahwa yang lebih utama bagi seseorang adalah mendoakan ibu bapaknya dan menjadikan pahala amal shalihnya untuk dirinya sendiri, karena seperti itulah yang dilakukan oleh para penghulu umat ini, bahkan itulah yang tersirat dalam sabda Nabi sallallahu &#39;alahi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.&quot; (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    bahwa yang lebih utama bagi seseorang adalah mendoakan ibu bapaknya dan menjadikan pahala amal shalihnya untuk dirinya sendiri, karena seperti itulah yang dilakukan oleh para penghulu umat ini . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati begitu, tidak apa-apa seseorang melakukan amal-amal shalih dengan niat atas nama ayahnya atau ibunya yang telah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kitab ad-Da’wah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Purnomo WD</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/7803363724442577820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/7803363724442577820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/05/bolehkah-bersedekah-untuk-orang-tua.html' title='Bolehkah Bersedekah untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-8530990428501352618</id><published>2010-04-22T18:18:00.001-07:00</published><updated>2010-04-22T18:22:35.337-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa"/><title type='text'>HUKUM MEMAKAI CADAR, WAJIBKAH?</title><content type='html'>Masalah kewajiban memakai cadar sebenarnya tidak disepakati oleh para ulama. Maka wajarlah bila kita sering mendapati adanya sebagian ulama yang mewajibkannya dengan didukung dengan sederet dalil dan hujjah. Namun kita juga tidak asing dengan pendapat yang mengatakan bahwa cadar itu bukanlah kewajiban. Pendapat yang kedua ini pun biasanya diikuti dengan sederet dalil dan hujjah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, marilah kita telusuri masing-masing pendapat itu dan berkenalan dengan dalil masing-masing. Sehingga kita bisa memiliki wawasan dalam memasuki wilayah ini bukan mencari titik perbedaan dan berselisih pendapat, melainkan untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang dasar kedua pendapat ini. Agar kita bisa berbaik sangka dan tetap menjaga hubungan baik dengan kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalangan yang Mewajibkan Cadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mewajibkan setiap wanita untuk menutup muka berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis non mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Surat Al-Ahzab: 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini adalah ayat yang paling utama dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat. Riwayat ini dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tidak ada kesepakatan di antara mereka tentang makna `jilbab` dan makna `menjulurkan`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila diteliti lebih jauh, ada ketidak-konsistenan nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya niqab. Karena dalam tafsir di surat An-Nuur yang berbunyi , Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang tidak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara `urf . Karena yang diperintahkan jsutru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Dan tidak ditemukan ayat lainnya yang memerintahkan untuk menutup wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Surat An-Nuur: 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahih dari para shahabat termasuk riwayat Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa yang dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya` bukanlah wajah, tetapi al-kuhl dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Surat Al-Ahzab: 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada istri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para istri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang harus diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya adalah untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun buat para istri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila disimak lebih mendalam, ayat ini tidak berbicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para istri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka yang ingin menikahi para istri nabi nanti setelah beliau wafat. Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda istri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan asbabun nuzul ayat ini yang menceritakan bahwa ada shahabat yang ingin menikahi Aisyah ra. bila kelak Nabi wafat. Ini tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan istri beliau adalah penafsiran yang terlalu jauh dan tidak sesuai dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perintah untuk meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para istri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Karena ayat ini memang khusus membicarakan akhlaq pergaulan dengan istri nabi. Dan mengqiyaskan antara para istri nabi dengan seluruh wanita muslimah adalah qiyas yang tidak tepat, qiyas ma`al-fariq. Karena para istri nabi memang memiliki standar akhlaq yang khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Hadits Larang Berniqab bagi Wanita Muhrim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendukung kewajiban menutup wajah bagi muslimah menggunakan sebuah hadits yang diambil mafhum mukhalafanya, yaitu larangan Rasulullah SAW bagi muslimah untuk menutup wajah ketika ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Janganlah wanita yang sedang berihram menutup wajahnya dan memakai sarung tangan`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya larangan ini, menurut mereka lazimnya para wanita itu memakai niqab dan menutup wajahnya, kecuali saat berihram. Sehingga perlu bagi Rasulullah SAW untuk secara khusus melarang mereka. Seandainya setiap harinya mereka tidak memakai niqab, maka tidak mungkin beliau melarangnya saat berihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini dijawab oleh mereka yang tidak mewajibkan niqab dengan logika sebaliknya. Yaitu bahwa saat ihram, seseorang memang dilarang untuk melakukan sesuatu yang tadinya halal. Seperti memakai pakaian yang berjahit, memakai parfum dan berburu. Lalu saat berihram, semua yang halal tadi menjadi haram. Kalau logika ini diterapkan dalam niqab, seharusnya memakai niqab itu hukumnya hanya sampai boleh dan bukan wajib. Karena semua larangan dalam ihram itu hukum asalnya pun boleh dan bukan wajib. Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan bahwa sebelumnya hukumnya wajib?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ada sebagian wanita yang di masa itu menggunakan penutup wajah, memang diakui. Tapi masalahnya menutup wajah itu bukanlah kewajiban. Dan ini adalah logika yang lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Hadits bahwa Wanita itu Aurat&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh At-Tirmizy marfu`an bahwa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut At-turmuzikedudukan hadits ini hasan shahih. Oleh para pendukung pendapat ini maka seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, termasuk wajah, tangan, kaki dan semua bagian tubuhnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian pengikut Asy-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Mendhaifkan Hadits Asma`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga mengkritik hadits Asma` binti Abu Bakar yang berisi bahwa, Seorang wanita yang sudah hadih itu tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini Sambil beliau memegang wajar dan tapak tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalangan yang Tidak Mewajibkan Cadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mereka yang tidak mewajibkan cadar berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat wanita. Mereka juga menggunakan banyak dalil serta mengutip pendapat dari para imam mazhab yang empat dan juga pendapat salaf dari para shahabat Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ijma` Shahabat&lt;br /&gt;Para shahabat Rasulullah SAW sepakat mengatakan bahwa wajah dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini adalah riwayat yang paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pendapat Para Fuqoha bahwa Wajah Bukan termasuk Aurat Wanita.&lt;br /&gt;Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita ajnabi yang merdeka kecuali wajah dan tapak tangan. . Bahkan Imam Abu Hanifah ra. sendiri mengatakan yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kami adalah sebuah kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Malikiyah dalam kitab `Asy-Syarhu As-Shaghir` atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat waita merdeka dengan laki-laki ajnabi adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syafi`iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya `al-Muhazzab`, kitab di kalangan mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1: 1-6,`Mazhab tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di dalam shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud yang mewakili kalangan zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pendapat Para Mufassirin&lt;br /&gt;Para mufassirin yang terkenal pun banyak yang mengatakan bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Dhai`ifnya Hadits Asma Dikuatkan oleh Hadits Lainnya&lt;br /&gt;Adapun hadits Asma` binti Abu Bakar yang dianggap dhaif, ternyata tidak berdiri sendiri, karena ada qarinah yang menguatkan melalui riwayat Asma` binti Umais yang menguatkan hadits tersebut. Sehingga ulama modern sekelas Nasiruddin Al-Bani sekalipun meng-hasankan hadits tersebut sebagaimana tulisan beliau `hijab wanita muslimah`, `Al-Irwa`, shahih Jamius Shaghir dan `Takhrij Halal dan Haram`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Perintah Kepada Laki-laki untuk Menundukkan Pandangan.&lt;br /&gt;Allah SWt telah memerintahkan kepada laki-laki untuk menundukkan pandangan . Hal itu karena para wanita muslimah memang tidak diwajibkan untuk menutup wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Rasulullah SAW kepada Ali ra. disebutkan bahwa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kamu mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama itu untukmu dan yang kedua adalah ancaman/dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila para wanita sudah menutup wajah, buat apalagi perintah menundukkan pandangan kepada laki-laki. Perintah itu menjadi tidak relevan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://assunnah.or.id</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8530990428501352618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8530990428501352618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/04/hukum-memakai-cadar-wajibkah_22.html' title='HUKUM MEMAKAI CADAR, WAJIBKAH?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-963338808829202867</id><published>2010-04-22T18:14:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T18:17:32.692-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>HUKUM MEMAKAI CADAR, WAJIBKAH?</title><content type='html'>Masalah kewajiban memakai cadar sebenarnya tidak disepakati oleh para ulama. Maka wajarlah bila kita sering mendapati adanya sebagian ulama yang mewajibkannya dengan didukung dengan sederet dalil dan hujjah. Namun kita juga tidak asing dengan pendapat yang mengatakan bahwa cadar itu bukanlah kewajiban. Pendapat yang kedua ini pun biasanya diikuti dengan sederet dalil dan hujjah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan ini, marilah kita telusuri masing-masing pendapat itu dan berkenalan dengan dalil masing-masing. Sehingga kita bisa memiliki wawasan dalam memasuki wilayah ini bukan mencari titik perbedaan dan berselisih pendapat, melainkan untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang dasar kedua pendapat ini. Agar kita bisa berbaik sangka dan tetap menjaga hubungan baik dengan kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalangan yang Mewajibkan Cadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mewajibkan setiap wanita untuk menutup muka berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis non mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Surat Al-Ahzab: 59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu`min, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini adalah ayat yang paling utama dan paling sering dikemukakan oleh pendukung wajibnya niqab. Mereka mengutip pendapat para mufassirin terhadap ayat ini bahwa Allah mewajibkan para wanita untuk menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka termasuk kepala, muka dan semuanya, kecuali satu mata untuk melihat. Riwayat ini dikutip dari pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas`ud, Ubaidah As-Salmani dan lainnya, meskipun tidak ada kesepakatan di antara mereka tentang makna `jilbab` dan makna `menjulurkan`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila diteliti lebih jauh, ada ketidak-konsistenan nukilan pendapat dari Ibnu Abbas tentang wajibnya niqab. Karena dalam tafsir di surat An-Nuur yang berbunyi , Ibnu Abbas justru berpendapat sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang tidak mewajibkan niqab mengatakan bahwa ayat ini sama sekali tidak bicara tentang wajibnya menutup muka bagi wanita, baik secara bahasa maupun secara `urf . Karena yang diperintahkan jsutru menjulurkan kain ke dadanya, bukan ke mukanya. Dan tidak ditemukan ayat lainnya yang memerintahkan untuk menutup wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Surat An-Nuur: 31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka dengan mengutip riwayat pendapat dari Ibnu Mas`ud bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun riwayat ini berbeda dengan riwayat yang shahih dari para shahabat termasuk riwayat Ibnu Mas`ud sendiri, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan lainnya dari kalangan tabi`in bahwa yang dimaksud dengan `yang biasa nampak darinya` bukanlah wajah, tetapi al-kuhl dan cincin. Riwayat ini menurut Ibnu Hazm adalah riwayat yang paling shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Surat Al-Ahzab: 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendukung kewajiban niqab juga menggunakan ayat ini untuk menguatkan pendapat bahwa wanita wajib menutup wajah mereka dan bahwa wajah termasuk bagian dari aurat wanita. Mereka mengatakan bahwa meski khitab ayat ini kepada istri Nabi, namun kewajibannya juga terkena kepada semua wanita mukminah, karena para istri Nabi itu adalah teladan dan contoh yang harus diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu bahwa mengenakan niqab itu alasannya adalah untuk menjaga kesucian hati, baik bagi laki-laki yang melihat ataupun buat para istri nabi. Sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini bahwa cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila disimak lebih mendalam, ayat ini tidak berbicara masalah kesucian hati yang terkait dengan zina mata antara para shahabat Rasulullah SAW dengan para istri beliau. Kesucian hati ini kaitannya dengan perasaan dan pikiran mereka yang ingin menikahi para istri nabi nanti setelah beliau wafat. Dalam ayat itu sendiri dijelaskan agar mereka jangan menyakiti hati nabi dengan mengawini para janda istri Rasulullah SAW sepeninggalnya. Ini sejalan dengan asbabun nuzul ayat ini yang menceritakan bahwa ada shahabat yang ingin menikahi Aisyah ra. bila kelak Nabi wafat. Ini tentu sangat menyakitkan perasaan nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna kesucian hati itu bila dikaitkan dengan zina mata antara shahabat nabi dengan istri beliau adalah penafsiran yang terlalu jauh dan tidak sesuai dengan konteks dan kesucian para shahabat nabi yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perintah untuk meminta dari balik tabir, jelas-jelas merupakan kekhusususan dalam bermuamalah dengan para istri Nabi. Tidak ada kaitannya dengan `al-Ibratu bi `umumil lafzi laa bi khushushil ayah`. Karena ayat ini memang khusus membicarakan akhlaq pergaulan dengan istri nabi. Dan mengqiyaskan antara para istri nabi dengan seluruh wanita muslimah adalah qiyas yang tidak tepat, qiyas ma`al-fariq. Karena para istri nabi memang memiliki standar akhlaq yang khusus. Ini ditegaskan dalam ayat Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Hadits Larang Berniqab bagi Wanita Muhrim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pendukung kewajiban menutup wajah bagi muslimah menggunakan sebuah hadits yang diambil mafhum mukhalafanya, yaitu larangan Rasulullah SAW bagi muslimah untuk menutup wajah ketika ihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Janganlah wanita yang sedang berihram menutup wajahnya dan memakai sarung tangan`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya larangan ini, menurut mereka lazimnya para wanita itu memakai niqab dan menutup wajahnya, kecuali saat berihram. Sehingga perlu bagi Rasulullah SAW untuk secara khusus melarang mereka. Seandainya setiap harinya mereka tidak memakai niqab, maka tidak mungkin beliau melarangnya saat berihram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini dijawab oleh mereka yang tidak mewajibkan niqab dengan logika sebaliknya. Yaitu bahwa saat ihram, seseorang memang dilarang untuk melakukan sesuatu yang tadinya halal. Seperti memakai pakaian yang berjahit, memakai parfum dan berburu. Lalu saat berihram, semua yang halal tadi menjadi haram. Kalau logika ini diterapkan dalam niqab, seharusnya memakai niqab itu hukumnya hanya sampai boleh dan bukan wajib. Karena semua larangan dalam ihram itu hukum asalnya pun boleh dan bukan wajib. Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan bahwa sebelumnya hukumnya wajib?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ada sebagian wanita yang di masa itu menggunakan penutup wajah, memang diakui. Tapi masalahnya menutup wajah itu bukanlah kewajiban. Dan ini adalah logika yang lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Hadits bahwa Wanita itu Aurat&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh At-Tirmizy marfu`an bahwa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut At-turmuzikedudukan hadits ini hasan shahih. Oleh para pendukung pendapat ini maka seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, termasuk wajah, tangan, kaki dan semua bagian tubuhnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian pengikut Asy-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Mendhaifkan Hadits Asma`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga mengkritik hadits Asma` binti Abu Bakar yang berisi bahwa, Seorang wanita yang sudah hadih itu tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini Sambil beliau memegang wajar dan tapak tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalangan yang Tidak Mewajibkan Cadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mereka yang tidak mewajibkan cadar berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat wanita. Mereka juga menggunakan banyak dalil serta mengutip pendapat dari para imam mazhab yang empat dan juga pendapat salaf dari para shahabat Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ijma` Shahabat&lt;br /&gt;Para shahabat Rasulullah SAW sepakat mengatakan bahwa wajah dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini adalah riwayat yang paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pendapat Para Fuqoha bahwa Wajah Bukan termasuk Aurat Wanita.&lt;br /&gt;Al-Hanafiyah mengatakan tidak dibenarkan melihat wanita ajnabi yang merdeka kecuali wajah dan tapak tangan. . Bahkan Imam Abu Hanifah ra. sendiri mengatakan yang termasuk bukan aurat adalah wajah, tapak tangan dan kaki, karena kami adalah sebuah kedaruratan yang tidak bisa dihindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Malikiyah dalam kitab `Asy-Syarhu As-Shaghir` atau sering disebut kitab Aqrabul Masalik ilaa Mazhabi Maalik, susunan Ad-Dardiri dituliskan bahwa batas aurat waita merdeka dengan laki-laki ajnabi adalah seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Keduanya itu bukan termasuk aurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syafi`iyyah dalam pendapat As-Syairazi dalam kitabnya `al-Muhazzab`, kitab di kalangan mazhab ini mengatakan bahwa wanita merdeka itu seluruh badannya adalah aurat kecuali wajah dan tapak tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mazhab Al-Hanabilah kita dapati Ibnu Qudamah berkata kitab Al-Mughni 1: 1-6,`Mazhab tidak berbeda pendapat bahwa seorang wanita boleh membuka wajah dan tapak tangannya di dalam shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud yang mewakili kalangan zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pendapat Para Mufassirin&lt;br /&gt;Para mufassirin yang terkenal pun banyak yang mengatakan bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Dhai`ifnya Hadits Asma Dikuatkan oleh Hadits Lainnya&lt;br /&gt;Adapun hadits Asma` binti Abu Bakar yang dianggap dhaif, ternyata tidak berdiri sendiri, karena ada qarinah yang menguatkan melalui riwayat Asma` binti Umais yang menguatkan hadits tersebut. Sehingga ulama modern sekelas Nasiruddin Al-Bani sekalipun meng-hasankan hadits tersebut sebagaimana tulisan beliau `hijab wanita muslimah`, `Al-Irwa`, shahih Jamius Shaghir dan `Takhrij Halal dan Haram`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Perintah Kepada Laki-laki untuk Menundukkan Pandangan.&lt;br /&gt;Allah SWt telah memerintahkan kepada laki-laki untuk menundukkan pandangan . Hal itu karena para wanita muslimah memang tidak diwajibkan untuk menutup wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: `Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Rasulullah SAW kepada Ali ra. disebutkan bahwa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kamu mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama itu untukmu dan yang kedua adalah ancaman/dosa.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila para wanita sudah menutup wajah, buat apalagi perintah menundukkan pandangan kepada laki-laki. Perintah itu menjadi tidak relevan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source:http://assunnah.or.id</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/963338808829202867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/963338808829202867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/04/hukum-memakai-cadar-wajibkah.html' title='HUKUM MEMAKAI CADAR, WAJIBKAH?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-2219341363816864522</id><published>2010-04-22T17:50:00.000-07:00</published><updated>2010-04-22T18:10:40.895-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>MEMBACA BACAAN SHOLAT DIDALAM HATI, BOLEHKAH</title><content type='html'>Allah berfirman: Karena itu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur`an (Muzammil:20). Ayat ini membantah yang mengatakan shalat hanyalah gerakan tanpa perkataan, dan juga adanya hadits yang menyatakan: Tidak sah shalat kecuali dengan membaca surat pembuka Al-Kitab (Al-Fatihah) (HR. Bukhari, Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: Shalatlah kalian sebagaimana aku mengerjakan shalat, maka fokusnya adalah diri Rasulullah yang mengerjakan tata-cara shalat, bukan berarti shalat itu hanya gerakan tanpa ucapan. Dengan demikian, tidak ada pertentangan dengan dalil yang mengatakan bahwa di dalam shalat juga membaca doa-doa tertentu yang sudah ditentukan. Membaca Al-Fatihah adalah hal yang fardhu di dalam shalat seperti pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama dan mayoritas shahabat nabi radhiyallahu`anhum. (Badaa`I Al-Sanaa`i I/110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya membaca ayat berulang kali namun hanya di dalam hati sudah dianggap cukup di dalam shalat -dan itu tidak akan pernah terjadi- Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak akan menjawab pertanyaan orang yang minta diajari shalat dengan Kemudian bacalah olehmu ayat Al-Qur`an yang kamu anggap mudah (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud), karena yang dimaksud dengan membaca itu bukan hanya terlintas di dalam hati, akan tetapi yang dimaksud dengan membaca -baik dalam pengertian bahasa maupun syariat- adalah menggerakkan lidah seperti yang telah maklum adanya. Diantara dalil yang memperkuat pernyataan ini adalah firman Allah ta`ala Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur`an karena hendak cepat-cepat (menguasainya) (Al-Qiyamah:16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah para ulama yang melarang orang junub membaca ayat Al-Qur`an memperbolehkan melintaskan bacaan ayat hanya di dalam hati, sebab dengan sekedar melintaskan bacaan ayat dalam hati, tidak digolongkan membaca. An-Nawawi rahimahullah berkata: Orang yang sedang junub, haidh, dan nifas boleh melintaskan bacaan ayat Al-Qur`an di dalam hati tanpa melafadzkannya, begitu juga dia diperbolehkan melihat mushaf sambil membacanya di dalam hati (Al-Adzkar halaman 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Ibnu Rusyd berkata: Adapun seseorang yang membaca di dalam hati, tanpa menggerakkan lidahnya, maka hal itu tidak disebut dengan membaca, karena yang disebut membaca adalah dengan melafadzkannya di mulut. Dengan suara hati inilah perbuatan manusia tidak dianggap hukumnya. Allah azza wa jalla berfirman: Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang ia kerjakan (Al-Baqarah: 286)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diketahui bahwa keburukan yang masih berada di dalam hati manusia tidak diberi hukuman dan tidak membahayakan bagi dirinya di sisi Allah, maka sama halnya dengan bacaan atau kebaikan yang masih berada di dalam hati juga tidak akan dibalas ataupun dianggap ada. Yang dianggap adalah bacaan yang disertai dengan menggerakkan mulut dan kebaikan yang telah direalisasikan dalam perbuatan (Al-Bayan wa Al-Tahshiil I/491)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa keras bacaan di dalam shalat diucapkan?&lt;br /&gt;Al-Nawawi berkata: Adapun selain imam, maka disunahkan baginya untuk tidak mengeraskan suara ketika membaca lafadz takbir, baik dia menjadi makmum atau ketika shalat sendiri (munfarid). Tidak mengeraskan suara ini jika dia tidak menjumpai rintangan, seperti suara yang sangat gaduh. Batas minimal suara yang pelan adalah bisa didengar oleh dirinya sendiri jika pendengarannya normal. Ini berlaku secara umum baik ketika membaca ayat-ayat Al-Qur`an, takbir, membaca tasbih ketika ruku`, tasyahud, salam dan doa-doa dalam shalat baik yang hukumnya wajib maupun sunnah. Apa yang dia baca tidak dianggap cukup selama masih belum terdengar oleh dirinya sendiri, dengan syarat pendengarannya normal dan tidak diganggu dengan hal-hal lainnya seperti dijelaskan di atas. Jika tidak demikian, maka dia harus mengeraskan suara sampai dia bisa mendengar suaranya sendiri, setelah itu barulah bacaan yang dia kerjakan dianggap mencukupi. Demikianlah nash yang dikemukakan oleh Syafi`i dan disepakati oleh pengikutnya. Sedangkan rekan-rekan kami berkata: Disunnahkan agar tidak menambah volume suara yang sudah dapat dia dengarkan sendiri. As-Syafi`i berkata di dalam Al-Umm: Hendaklah suaranya bisa didengar sendiri dan orang yang berada di sampingnya. Tidak patut dia menambah volume suara lebih dari ukuran itu (Al-Majmuu` III/295)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama madzhab Syafi`i berpendapat bahwa orang yang bisu bukan sejak lahir -mengalami kecelakaan di masa perkembangannya- wajib menggerakkan mulutnya ketika membaca lafadz takbir, ayat-ayat Al-Qur`an doa tasyahud dan lain sebagainya, karena dengan melaksanakan demikian, dia dianggap melafadzkan dan menggerakkan mulut, sebab perbuatan yang tidak mampu dikerjakan akan dimaafkan, akan tetapi selagi masih mampu dikerjakan maka harus dilakukan (Fatawa al Ramli I/140 dan Hasyiyah Qulyubiy I/143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebayakan ulama lebih memilih untuk mensyaratkan bacaan minimal bisa didengar oleh pembacanya sendiri. Sedangkan menurut ulama madzhab Maliki cukup menggerakkan mulut saja ketika membaca ayat-ayat Al-Qur`an, namun lebih baik jika sampai bisa didengar oleh dirinya sendiri sebagai upaya untuk menghindar dari perselisihan pendapat (Ad Diin al Khalish II/143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Bacaan-bacaan yang dilafadzkan di dalam pembahasan ini adalah bacaan di dalam shalat yaitu dari takbir sampai dengan salam. Adapun niat adalah tempatnya di hati, melafadzkannya [misalnya dengan usholli...dst] merupakan bid`ah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiallahu`anhuma, dia berkata: Aku telah menyaksikan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam membuka (memulai) shalatnya dengan takbir, kemudian mengangkat tangannya (HR.Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi : Qoulul Mubin fii Akhthail Mushalin, Syaikh Mashur Hasan Salman</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2219341363816864522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2219341363816864522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/04/membaca-bacaan-sholat-didalam-hati.html' title='MEMBACA BACAAN SHOLAT DIDALAM HATI, BOLEHKAH'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-1258490232988246484</id><published>2010-04-17T17:47:00.001-07:00</published><updated>2010-04-17T17:52:29.315-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tausiyah"/><title type='text'>Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat</title><content type='html'>Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja Anda menjawab, &quot;Tidak.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda: &quot;Ya,&quot; bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah demikian, Saudaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah demikian, Saudaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.&quot; (Muttafaqun &#39;alaihi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi menjelaskan makna hadits ini dengan berkata, &quot;Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu. Akan tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan.&quot;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-&#39;Ash radhiyallahu &#39;anhu, &quot;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&#39;Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.&#39;&quot; (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir&#39;aun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging [1] dibanding makanan lainnya.&quot; (Muttafaqun &#39;alaihi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain.&quot; (Hr. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan tetapi mandul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah mengisahkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ:  قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun &#39;alaihi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku.&quot; (Hr. At-Tirmidzi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.&quot; (Muttafaqun &#39;alaihi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.&quot; (Hr. At-Tirmidzi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun &#39;alaihi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, &#39;Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Keberhasilan Rumah Tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berhasil menemukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma&#39;ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.&quot; (Qs. al-Baqarah: 228)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahabat Abdullah bin &#39;Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata, &quot;Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta&#39;ala telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma&#39;ruf.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’&quot; (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda berdandan? Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar rumah? Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil menawan untuk orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, bahu-membahu, saling melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu prinsip dasar dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai penonton setia ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya. Usahakan sebisa Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu &#39;anha mengisahkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ خَرَجَ&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.&quot; (Hr. Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Constance Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair State University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok kedua, yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, penemuan ini bukanlah hal baru, karena secara logika, suami yang dengan rendah hati membantu pekerjaan istrinya pastilah lebih dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan erat dengan keromantisan suami-istri dalam bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a&#39;lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Arifin Badri, Lc., M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: pengusahamuslim.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/1258490232988246484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/1258490232988246484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/04/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun.html' title='Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-4925308328481936374</id><published>2010-03-23T02:15:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T02:18:12.704-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tela&#39;ah"/><title type='text'>Ledakan Penduduk, Antara Agama dan Ekonomi</title><content type='html'>Sebagaimana yang telah banyak tercantum dalam ayat-ayat al-Qur’an, dijelaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah mau menerima kehadiran agama Islam dan kaum muslimin. De-ngan segala daya dan upaya, mereka tidak akan segan-segan menghancurkan kita, kaum muslimin. Rencana-rencana telah dipersiapkan, strategi-strategi telah disiagakan, mungkin hanya menunggu waktu yang tepat saja. Satu di antara rencana-rencana jahat mereka adalah dengan mencipakan suatu rasa takut kepada manusia dengan sebuah doktrin yang menyatakan bahwa manusia saat ini dihadapkan pada bencana populasi penduduk yang berlebihan. “Over population” atau ledakan penduduk, itulah slogan-slogan yang mereka tanamkan di benak-benak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, orang-orang kafir ini tahu betul bagaimana caranya menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Jika dengan senjata, mereka merasa kesulitan, mungkin dengan cara perang pemikiran adalah cara halus yang jauh lebih efektif. Benar saja, munculnya jargon-jargon yang tertuju pada anjuran untuk mengurangi populasi penduduk, telah berhasil melumpuhkan kekuatan kaum muslimin. Simak saja dengan jargon-jargon seperti “terjadinya kesulitan barang dan jasa akibat terjadinya ledakan penduduk, selamatkan nyawa ibu dari kehamilan, keluarga kecil yang sejahtera, cukup dua anak saja, dan lain sebagainya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historis, ketakutan ini berawal dari sebuah teori kontrol populasi yang dicetuskan oleh Thomas Robet Malthus (1798). Dia adalah seorang pemikir berkebangsaan Inggris yang saat itu diakui akan kepintarannya dalam bidang teologi dan ekonomi. Teori tersebut menyatakan bahwa “Jumlah penduduk dunia akan cenderung melebihi pertumbuhan produksi (barang dan jasa). Oleh karenanya, pengurangan ledakan penduduk merupakan suatu keharusan, yang dapat tercapai melalui bencana kerusakan lingkungan, kelaparan, perang atau pembatasan kelahiran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya perlu untuk kita ketahui bahwa upaya-upaya mengontrol jumlah populasi sebenarnya telah dilakukan secara terang-terangan pada era 60-an oleh para pemimpin Amerika dan Eropa. Sejak saat itu, ada beberapa negara yang sudah menjadi pengikut program dari Eropa dan Amerika ini. Mesir dan India misalnya, kedua negara ini telah lama menerapkan program ini dalam rangka mengurangi jumlah penduduk. Terlebih bagi India yang memang sejak dulu dikenal sebagai negara yang paling padat penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelasnya, upaya untuk mengurangi jumlah penduduk dengan membatasi kelahiran ini, telah mendapat sambutan hangat dari beberapa organisasi geraja serta lembaga-lembaga swasta yang dengan sengaja mengucurkan dana dalam membantu program ini. Jika diperhatikan secara seksama, hampir semua program ini berlaku penuh di negara-negara muslim. Ya, program-program pembatasan jumlah penduduk banyak dicanangkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Jika bukan karena keinginan mereka untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, tentu mereka tidak akan melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa saksikan beberapa kesepatakan atau hasil-hasil deklarasi yang dengan nyata bertujuan untuk menjalankan program ini, seperti Kesepakatan Roma, Lembaga Ford Amerika (yang memiliki jargon kesehatan keluarga), Lembaga Imigrasi Inggris (salah satu lembaga yang berkedok cinta lingkungan namun mewajibakan progam pembatasan jumlah penduduk dengan alasan menjaga lingkungan hidup dari ancaman manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang paling mencengangkan lagi adalah terkuaknya beberapa dokumen Amerika Serikat pada tahun 1991. Pada kasus tersebut, pemerintah Paman Sam ini telah menyatakan sikapnya terhadap umat Islam. Terbukti dari dokumen-dokumen tersebut yang menyatakan pandangan Amerika bahwa ancaman bagi Negara Amerika adalah negara-negara ketiga, dalam hal ini adalah negara-negara kaum muslimin. Mengenai soal kependudukan negara-negara ketiga ini, Amerika dengan tegas menyatakan bahwa negara-negara tersebut wajib menerapkan program pembatasan kelahiran. Jelasnya, negara-negara ketiga itu antara lain adalah Mesir, Pakis-tan, Turki, Nigeria, Indonesia, Irak, dan Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mengharukan lagi tentang kondisi Palestina saat ini. Lihat saja, Amerika tidak pernah mau membantu Palestina dari penjajahan Israel. Bahkan sebalikya, Amerika begitu pasti mendudung langkah Negara Israel dalam menduduki wilayah Palestina. Bagaiamana tidak, bagi Amerika, kematian warga Palestiana-lah yang diharapkan. Dengan begitu, secara tidak langsung jumlah kaum muslimin semakin berkurang. Pembantaian demi pembantaian yang dilakukan Israel, tidak pernah digubris oleh Amerika. Sebaliknya, jika satu nyawa orang Israel tewas di tangan warga Palestina, tentu ini akan menjadi alasan bagi Amerika untuk menyerang Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut,apa yang terjadi di Pa-lestina ini, pun dialami pula oleh Negara Irak dan Afghanistan. Upaya pendudukan yang dilakukan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya atas negara-negara kaum muslimin ini, sebenanya tidak murni bertujuan hanya untuk menegakkan demokrasi semata. Di balik itu, ada upaya lain yang ditujukan untuk mengurangi jumlah penduduk kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal dokumen-dokumen Amerika tadi, satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa dokumen-dokumen tersebut menjelaskan beberapa sarana atau cara agar langkah-langkah mengurangi populasi kaum muslimin semakin menurun. Sebagai langkah awal, mereka dengan sengaja memepengaruhi pola pikir beberapa tokoh masyarakat yang berpengaruh. Caranya banyak sekali dan satu di antaranya adalah dengan menawarkan beberapa program pendidikan di negara-negara Eropa dengan gratis. Perlahan tapi pasti, tentu saja banyak orang-orang yang ikut serta mengikuti program pendidikan ini. Setelah itu, mereka yang lulus kemudian pulang ke negara asalnya. Tidak berhenti sampai di sana, lulusan-lulusan ini kemudian menjadi kaki tangan Amerika dan Eropa di negaranya. Selanjutnya, mereka yang asli pribumi ini, secara terus menerus, mencuci otak para pemimpin dan tokoh masyarakat mereka dengan ide-ide yang diharapkan oleh Amerika dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai puncaknya, PBB atau Per-serikatan Bangsa-Bangsa yang tentunya banyak terpengaruh oleh kebijakan-kebijakan Amerika Serikat, mengadakan konferensi di Ibu Kota Mesir, Kairo, pada tahun 1994. Konferensi tingkat internasional itu memiliki agenda pembahasan mengenai upaya atau cara kontrol dalam menghadapi fertilitas (kelahiran). Memang sempat terjadi sedikit perdebatan di antara negara-negara peserta, namum pada akhirnya mereka sepakat ‘memerangi’ ledakan penduduk. Salah satu upaya yang disepakati itu ialah penggunaan alat kontrasepsi, baik yang temporal seperti kondom, atau yang permanen seperti vasectomy (pemotongan saluran sperma bagi pria) dan tubectomy (pengikatan atau pemo-tongan saluran telur bagi wanita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri, pemerintah sudah cukup berperan aktif dalam rangka mengurangi jumlah penduduk. Program KB atau Keluarga Berencana misalnya, sudah lama gencar mensosialisasikan pentingnya mengurangi populasi pen-duduk. Salah satu sloganya adalah 4-Ter, yaitu Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Sering, dan Terlalu Dekat. Untuk kalangan pria, diarahkan untuk tidak berpoligami karena poligami dipandang ‘berbahaya’ bagi populasi manusia. Untuk para remaja, dilarang menikah pada usia di bawah 18 tahun meski mereka sudah melewati masa baligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, ada satu program lagi yang diberlakukan khusus untuk para remaja. Program ini dinamakan dengan DAKU atau Dunia Remajaku Seru. Program ini diadopsi dari program The World Start With Me dari Uganda. Kemudian selanjutnya, Thailan, Cina, Pakistan, Afrika Selatan, Mongolia, Kenya, serta Indonesia, mengikuti langkah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Lalu bagaimana Islam menyikapi persoalan ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, teori Malthus tentang ledakan penduduk yang menjadi akibat hancurnya ekonomi, adalah batil dan keliru besar. Karena, kemerosotan ekonomi, seperti kurangnya pangan dan jasa, diakibatkan karena ketidakadilan dan keserakahan segelintir manusia seperti penyelewengan distribusi pangan atau penimbungan yang dilakukan dengan skala besar. Sebagai bukti saja, 80 % barang dan jasa dunia, dinikmati oleh negara-negara kapitalis yang jumlah penduduknya hanya sekitar 25 % penduduk dunia (Rudolf H. Strahm, Kemiskinan Dunia Ketiga: Menelaah Kegagalan Pembangunan di Negara Berkembang, Jakarta: Pustaka Cidesindo, 1999). Jadi, merosotnya ekonomi sama sekali tidak ada kaitannya dengan populasi mansuia. Bumi yang kita injak ini bukan bumi yang miskin dari sumber daya alam, tapi bumi yang miskin dari sumber daya manusia yang adil dan beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bagaimana Islam menilai beberapa program yang dicanangkan dalam rangka mengurangi jumlah penduduk seperti program KB? Jawabannya adalah bahwa KB yang dimaksud memiliki dua arti. Dua arti itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Tahdid An-Nasl (membatasi jumlah populasi penduduk)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KB dalam arti ini hukumnya haram. Tidak boleh ada aturan yang membatasi jumlah penduduk di suatu wilayah. Program KB semacam ini bertentangan dengan Aqidah Islam, yang menjelaskan bahwa Allah menjamin rizki seluruh hamba-hambanya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&quot;Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya.&quot; (QS. Huud: 6)&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tanzhim an-Nasl (mengatur kelahiran)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KB dalam arti ini hukumnya mubah selama program ini tidak dikampanyekan kepada seluruh masyarakat. Artinya, program ini hanya berlaku secara individu dan bukan negara. Dalil dibolehkannya hal ini adalah sebuah riwayat dari Jabir yang berkata,&quot;Dahulu kami melakukan ‘azl pada masa Rasulullah sedangkan al-Qur`an masih turun.&quot; (HR Bukhari). ‘Azl adalah senggama terputus, artinya terhalangnya proses pembuahan karena sperma pria tidak masuk ke dalam kandung telur wanita. Namun hal ini tidak boleh dilakukan dengan alasan takut miskin jika punya anak, atau alasan-alasan lain yang bertentangan dengan aqidah. Adapun alasan karena ingin menjaga jarak antara anak pertama dengan kedua dan selanjutnya, maka hal ini sah-sah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, Islam amat bijak menyikapi hal ini. Amat bodoh jika memiliki anggapan bahwa sengsara dan sejahteranya manusia berdasarkan dari banyak atau sedikitnya jumlah manusia. Namun konspirasi tetaplah konspirasi. Adanya teori ledakan penduduk yang membahayakan ekonomi dunia, hanyalah sebuah ide awal untuk menghancurkan ummat Islam dari negara-negara sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, semuanya berawal dari negara-negara Eropa dan Amerika serta semua-nya berdasar pada kebencian mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Awalnya hanya sebuah teori, tentu saja teori yang dimaksud adalah teori yang sesat lagi menyesatkan. Dari teori ini, kemudian menjadi konspirasi yang dilancarkan lewat gerakan-gerakan pemikiran. Proses ini berjalan begitu lancar dan tersusun rapi. Sedikit demi sedikit banyak pemimpin di beberapa negeri kaum muslimin yang terpengaruh dengan pemikiran ini. Lambat laun, upaya menekan dan mengurangi jumlah kaum muslimin pun digencarkan. Populasi umat Islam dibatasi oleh pemimpin-pemimpin dari kalangan umat Islam sendiri. Karena memang sudah tercuci otaknya, jadi wajar saja jika banyak kaum muslimin yang ‘terbunuh’ dengan cara yang begitu halus. Bahkan jika perlu, peperangan pun bisa dipermain-kan antara penjajah dan yang terjajah. Asalkan, yang terjajah yaitu kaum muslimin karena yang terpenting adalah punahnya umat Islam. Titik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: zonadiskusi.blogspot.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/4925308328481936374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/4925308328481936374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/ledakan-penduduk-antara-agama-dan.html' title='Ledakan Penduduk, Antara Agama dan Ekonomi'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-3918312089384685810</id><published>2010-03-23T02:02:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T02:06:58.795-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Renungan"/><title type='text'>Bukan Karena Dewi Fortuna</title><content type='html'>“Kita tidak beruntung karena Sang Dewi Fortuna belum berpihak kepada kita.” Itu adalah sebuah contoh kalimat yang mungkin sering kita dengar dari beberapa mulut orang yang tidak beruntung atau merasa rugi akan sesuatu. Ucapan seperti ini begitu akrab di telinga kita dan begitu mudah disampaikan tanpa tak pernah terpikir akan makna atau kandungan dari ucapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan semacam ini, jika dikaji lebih dalam ternyata mengandung konsekuensi hukum yang berat. Mudahnya mengatakan ucapan itu tidak semudah aturan hukum yang menuntunnya. Memang saya cukup yakin bahwa kebanyakan kita mengartikan maksud Dewi Fotuna itu adalah sebuah ungkapan ‘kemujuran’ atau ‘keberuntungan’. Dewi Fortuna mungkin dianggap hanya sebatas simbol dari ekspresi mujur atau tidak mujur, dan tidak mengarah kepada sosok aslinya, yaitu salah satu dewi Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ya itu tadi, jika diperhatikan lebih seksama dan dicari bagaimana hukum Islam memandangnya, maka ucapan seperti ini adalah kekeliruan besar. Simaklah sebuah hadits Rasulullah berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;”Seorang hamba berbicara dengan sesuatu kalimat yang tidak ada kejelasan di dalamnya yang membuat nya terperosok masuk kedalam neraka yang jaraknya antara timur dan barat” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari hadits itu adalah bahwa ada beberapa ucapan yang bisa menyebabkan dirinya masuk ke dalam neraka dan salah satu dari ucapan itu adalah ucapan yang mengandung kesyirikan yang nyata, yakni seperti ucapan “Kita tidak beruntung atau beruntung karena Dewi Fortuna”.&lt;br /&gt;Diyakini atau tidak diyakini akan keberadaan sosok Dewi Fortuna, tetap saja bahwa ucapan semacam itu adalah ucapan yang batil dan berakibat fatal bagi aqidah seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Sosok Dewi Fortuna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya penting untuk kita ketahui siapa sebenarnya sang Dewi yang dipercaya membawa keberuntungan itu. Dewi Fortuna, dia adalah salah satu dari dewi Olimpus yang berasal dari keturunan Dewa Zeus dan Dewi Hera. Ayah dari Dewi Fortuna dalah Jupiter dan dia tidak memiliki anak atau keturunan. Dewi Fortuna sangat diagungkan oleh bangsa paganisme, Yunani dan Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mitologi kedua bangsa itu, disebutkan bahwa Dewi Fortuna adalah dewi yang cantik jelita yang selalu membagikan keberuntungan di atas awan. Gambaran sang dewi ini selalu mengenakan penutup mata dengan kain dan kadang mengenakan tudung atau kain penutup kepala. Ada yang menyebutkan bahwa sebenarnya Dewi Fortuna itu buta sehingga keberuntungan yang diturunkan oleh sang dewi adalah keberuntungan yang tidak proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang keberuntungan itu diturunkan kepada mereka yang malas bekerja dan sebaliknya, orang yang sudah berusaha keras malah tidak mendapatkan keberuntungan. Itulah kenapa kadang orang membedakan antara keberuntungan dan hasil usaha. Itulah juga kenapa orang selalu mengatakan bahwa orang jujur belum tentu mujur, atau orang jahat bisa lebih beruntung daripada orang baik. Semua itu merupakan refleksi dari kondisi sang dewi yang buta dan mengenakan tutup mata, yakni tidak bisa melihat kondisi yang sesungguhnya. Ia hanya membagikan keberuntungan tanpa melihat kinerja yang dilakukan oleh manusia.&lt;br /&gt;Keberuntungan yang dibagikan oleh sang dewi berbentuk seperti emas dan beragam harta dari tanduk Amaltea, si kambing suci yang dihormati oleh masyarakat Yunani Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Dewi Fortuna juga dilukiskan sebagai dewi yang selalu menjadi kesejahteran para petani, terutama petani gandum. Karena, ia adalah dewi yang selalu menjaga biji-bijian gandum. Dalam kalender Roma, tanggal 11 Juni adalah tanggal yang sangat suci bagi sang dewi sehingga sering diperingati dengan festival-festival besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama dari “Fortuna” nampaknya berasal dari turunan kata “Vortumna”, yang berarti ‘dia yang mengelilingi tahun’. Sebagai informasi tambahan, ada beragam macam nama sang dewi yang masing-masing mengandung makna keberuntungan yang berbeda seperti Fortuna Annonaria (keberkahan pada hasil panen), Fortuna Belli (kemenangan dalam perang), Fortuna Primigenia (keselamatan para proses kelahiran), Fortuna Virilis (kelancaran karir), Fortuna Equistris (keberuntungan para ksatria) dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pandangan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, kesyirikan itu adalah dosa besar yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah hingga si pelaku bertaubat sebelum kematiannya tiba. Kesyirikan bisa terjadi pada amalan hati, ucapan, dan perbuatan. Seseorang yang hatinya meyakini bahwa Dewi Fortuna itu adalah Dewi yang membawa keberuntungan, maka tidak ragu lagi bahwa dirinya telah melakukan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian dengan ucapannya. Jika seseorang mengucapkan bahwa keberuntungan atau ketidakberuntungan itu adalah berasal dari Dewi Fortuna, maka hal itu menjadikan dirinya telah mengamalkan kesyirikan kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsipa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika ada pernyataan bahwa ungkapan semacam itu hanyalah sebatas ungkapan tanpa ada maksud menyekutukan Allah? Kita katakan bahwa sesungguhnya perbuatan syirik itu bisa terjadi pada hati, lisan, dan ang-gota badan. Ucapan lisan yang mengandung kesyirikan tetaplah dipandang sebuah dosa besar meski hati atau anggota badannya tidak mengikutinya. Seperti halnya pada konsekuensi iman, seseorang tidaklah dikatakan muslim jika ia tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat meski hatinya mencintai Islam atau perbuatan-perbuatannya menunjukkan bahwa dirinya seperti muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah saudaraku, penting bagi kita untuk menjaga lisan dari segala macam perbuatan syirik yang bisa mengundang azab dan murka Allah. Jika pernah terlanjur mengatakan ucapan kesyirikan, maka bertaubatlah kepada Allah sebelum semuanya terlambat. Sungguh, tidak akan pernah ada kebahagiaan bagi mereka yang mati dalam keadaan membawa dosa syirik.&lt;br /&gt;Allah berfirman;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang dzalim itu.” (QS. Al-Maidah: 72)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: zonadiskusi.blogspot.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/3918312089384685810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/3918312089384685810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/bukan-karena-dewi-fortuna.html' title='Bukan Karena Dewi Fortuna'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-8609072945612092730</id><published>2010-03-23T01:46:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T02:00:21.059-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>Pandangan Syiah terhadap keluarga dan sahabat Nabi</title><content type='html'>Ahlul Bait secara bahasa artinya keluarga. Sedangkan secara istilah artinya keluarga Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam yaitu mereka yang haram menerima zakat. Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga Ja’far, keluarga ‘Aqil, dan keluarga ‘Abbas. Mereka semua dari Bani Hasyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zaid bin Arqom bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam pernah berkhutbah di tengah-tengah para shahabatnya lalu beliau berpesan tentang kitabullah (al-Qur&#39;an) dan menyuruh supaya berpegang teguh kepadanya. Kemudian beliau berkata: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;Dan ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Hushoin – seorang tabi’in yang menemui Zaid – berkata, &quot;Siapakah ahlul baitnya wahai Zaid? Bukankah para istri beliau termasuk ahlul baitnya?” Zaid menjawab, “Para istri beliau termasuk ahlul baitnya. Tetapi ahlul baitnya juga adalah siapa yang haram menerima sedekah sepeninggal beliau.” “Siapakah mereka itu?” tanya Hushoin. Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga ‘Aqil, dan keluarga ‘Abbas.” Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah?” tanya Hushoin. Zaid menjawab, “Benar.” (HR. Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Syi’ah membatasi makna Ahlul Bait hanya sebatas keluarga Ali bin Abi Thalib, yakni: Ali, Fathimah, Hasan, Husain dan keturunan keduanya. Ini adalah suatu manipulasi istilah. Sedangkan pemahaman yang benar tentang Ahlul Bait adalah semua keluarga Nabi shallallaahu alaihi wasallam yang haram menerima zakat, yaitu keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga ‘Aqil, keluarga al-‘Abbas, dan putra-putra al-Harits bin Abdul Muthalib. Termasuk juga para istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam. Mereka semua termasuk dalam Ahlul Bait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Syi’ah berdalih dengan sebuah hadits dimana Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam pada suatu hari keluar sementara di atas beliau ada selimut yang terbuat dari bulu wol hitam lalu datanglah Hasan bin ‘Ali kemudian Nabi shallallaahu alaihi wasallam memasukkannya ke dalam selimut itu, kemudian datanglah Husain lalu masuk bersamanya, kemudian datanglah Fathimah lalu beliau memasukkannya, kemudian datanglah ‘Ali maka beliau pun memasukkannya, lalu beliau membaca (firman Allah): &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab: 33)&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan riwayat di atas, Syi’ah membatasi ahlul bait hanya pada Fathimah, ‘Ali, Hasan, Husain dan keturunan keduanya. Pemahaman seperti itu keliru, karena jika kita perhatikan konteks ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, kita dapati bahwa ayat tersebut ditujukan untuk para istri Nabi shallallaahu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat tersebut ialah:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Hai istri-istri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain jika kalian bertaqwa. Maka janganlah kalian berbicara dengan lunak sehingga ber-keinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Ahzab: 32 – 34)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ayat tersebut tidak menghalangi masuknya ‘Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husain) ke dalam maksud ayat tersebut karena mereka memang ahlul bait Nabi shallallaahu alaihi wasallam. Dan itulah yang ditunjukkan oleh hadits shahih di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang senang membersihkan diri.” (QS. at-Taubah: 108)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konteks ayat tersebut dan sababun nuzulnya secara jelas menunjukkan bahwa masjid yang dimaksud pada ayat tersebut adalah masjid Quba’. Tetapi ini tidak menghalangi masuknya masjid lain ke dalam maksud ayat tersebut sebagaimana jawaban Nabi ketika ditanya tentang manakah masjid yang didirikan atas dasar taqwa? Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Ia adalah masjid kalian ini – Masjid Madinah – (yakni Masjid Nabawi di Madinah).” (HR. Muslim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallaahu alaihi wasallam dalam hadits ini menjelaskan bahwa ayat di atas (at-Taubah: 108) juga mencakup masjidnya (Masjid Nabawi) karena ia juga didirikan atas dasar taqwa. Jadi, as-Sunnah menjelaskan bahwa masing-masing dari kedua ayat di atas kandungannya lebih luas dari sekedar yang ditunjukkan oleh konteksnya. Maka tidak boleh menolak apa yang ditunjukkan oleh as-Sunnah dengan dalil konteks ayat, sebagaimana tidak boleh menolak konteks ayat dengan dalil as-Sunnah. Adapun Syi’ah, mereka menolak konteks ayat di atas (surat al-Ahzab: 33) dengan penjelasan Nabi. Hal ini jelas keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tegas dari itu adalah perkataan Nabi shallallaahu alaihi wasallam ketika terjadi haditsul ifki (kisah pencemaran nama baik), Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam berkhutbah di tengah-tengah manusia lalu berkata:&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt; “Wahai manusia, kenapa ada orang-orang yang menyakitiku dalam ke-luargaku serta berkata tentang mereka tanpa kebenaran. Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang mereka kecuali kebaikan.” (HR. Ibnu Ishaq, dishahihkan oleh al-Albani).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits tersebut Nabi shallallaahu alaihi wasallam jelas-jelas menyebut ‘Aisyah dengan keluargaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kecintaan Ahlus Sunnah wal Jama&#39;ah terhadap Ahlul Bait&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah mencintai dan memuliakan mereka semua karena kedekatan mereka dengan Rasulullah dan juga karena perintah Allah dan Rasul-Nya. Berkata Ibnu Katsir: &quot;Kita tidak mengingkari wasiat Rasulullah tentang ahlul bait dan perintah untuk berbuat baik terhadap mereka serta menghormati dan memuliakan mereka. Karena, sesungguhnya mereka adalah dari keturunan yang suci, dari keluarga termulia di muka bumi secara nasab dan keturunan. Terlebih lagi jika mereka mengikuti sunnah Nabi yang shahih lagi terang sebagaimana para pendahulu mereka seperti al-‘Abbas dan putra-putranya, Ali dan istinya serta keturunannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ath-Thahawi menjelaskan bahwa kebersihan dari sifat munafik tidak terwujud kecuali dengan meluruskan aqidah tentang para shahabat dan ahlul bait. Beliau berkata, &quot;Barangsiapa yang berkata baik tentang para shahabat Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, istri-istri beliau yang suci dan keturunan beliau yang dibersihkan dari setiap kotoran maka ia telah selamat dari kemunafikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salafus shalih telah memberikan contoh yang baik dalam menjaga wasiat Rasulullah tentang ahlul bait beliau. Berikut ini beberapa contoh saja:&lt;br /&gt;Abu Bakar berkata: &quot;Perhatikanlah Muhammad shallallaahu alaihi wasallam pada ahlul baitnya.” Yakni jagalah beliau pada keluarganya, jangan kalian sakiti atau kalian ganggu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau (Abu Bakar) juga berkata: &quot;Demi Allah, kerabat Rasulullah lebih aku cintai daripada menyambung kerabatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar pernah berkata kepada al-‘Abbas, “Demi Allah (wahai Abbas), keIslamanmu lebih aku sukai daripada keIslaman ayahku (al-Khaththab) seandainya ia masuk Islam. Karena, masuknya engkau ke dalam Islam lebih dicintai oleh Rasulullah daripada masuk Islamnya al-Khaththab.” Demikianlah Ahlus Sunnah wal Jama&#39;ah – sejak zaman para shahabat hingga kini – senantiasa mencintai ahlul bait Rasulullah dan menjaga wasiat beliau tentang keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Sikap Berlebihan Syi’ah Terhadap Ahlul Bait&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adapun Syi’ah, maka mereka membatasi cakupan ahlul bait hanya pada keluarga ‘Ali bin Abi Thalib saja. Sedangkan kerabat Rasulullah yang lain mereka keluarkan dari ahlul bait tanpa alasan selain hawa nafsu. Setelah itu mereka kultuskan keluarga ‘Ali bin Abi Thalib tersebut hingga sampai pada derajat ‘ishmah (terbebas dari semua kesalahan). Dengan demikian mereka telah berbuat ghuluw (melampaui batas) dalam agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah sangat berlebihan dalam menyanjung bahkan mengkultuskan imam-imam mereka dari kalangan ahlul bait. Untuk membenarkan perbuatan mereka itu, mereka membuat-buat riwayat palsu tentang keutamaan ahlul bait. Sebagai contoh, al-Kulaini mengutip dalam kitabnya, Ushuulul Kaafi, sebuah riwayat dari Imam Ja’far ash-Shadiq –‘alaihis salam – yang berkata, “Kami adalah gudang ilmunya Allah dan kami penterjemah perintah Allah serta kami adalah kaum yang ma’shum. Diwajibkan taat kepada kami dan dilarang menyelisihi kami, kami menjadi saksi atas perbuatan ma-nusia di bawah langit dan di atas bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang ulama mereka menukil – secara dusta – perkataan Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya akulah yang bersama Ibrahim di dalam api, dan akulah yang menjadikan api itu dingin dan selamat baginya, dan aku bersama Nuh di dalam bahtera (kapal), dan akulah yang menyelamatkannya dari tenggelam. Dan aku bersama Musa, lalu aku ajarkan ia Taurat. Dan akulah yang membuat Isa dapat berbicara di waktu masih bayi, dan akulah yang mengajarkannya Injil. Dan aku bersama Yusuf di dalam sumur, lalu aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang), dan akulah yang menundukkan angin untuknya. (Al-Anwaarun Nu’-maniyyah jilid 1, hlm. 31, dinukil dari Syi&#39;ah wa Tahriifu Qur’an, oleh Syaikh Muhammad Malullah hlm. 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khomeini (yang mereka gelari Ayatullah), pemimpin spritual mereka, berkata di dalam kitabnya al-Hukuumatu Islamiyyah (hlm. 52), “Termasuk dari kepastian madzhab kami adalah, bahwasanya para imam kami mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang muqarrab (dekat di sisi Allah) dan tidak pula nabi yang diutus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sikap ghuluw mereka terhadap sebagian ahlul bait. Akan tetapi terhadap ahlul bait yang lain – yang juga utama – justru Syi’ah membencinya. Contohnya adalah al-’Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi) dan Abdullah bin ‘Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kasyiy, seorang ulama Syi’ah meriwayatkan bahwa Muhammad al-Baqir pernah berkata: Pada suatu hari ada seorang datang kepada ayahku (yakni ‘Ali Zainal ‘Abidin) lalu berkata: “Abdullah bin ‘Abbas mengklaim bahwa dirinya mengerti setiap ayat al-Qur’an, kapan dan berkenaan dengan soal apa ayat itu diturunkan.” ‘Ali Zainal ‘Abidin menjawab: “Coba tanyakan kepadanya, tertuju kepada siapakah ayat-ayat ini ketika turunnya: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang lurus).” (QS. al-Isra’: 72)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasihatku sekalipun aku hendak memberi nasihat kepada kalian kalau Allah hendak menyesatkan kalian.” (QS. Huud: 34)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian serta tetaplah bersiap siaga.” (QS. Ali Imran: 200)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menghadap ayahku itu lalu mendatangi ‘Abdullah bin ‘Abbas. Tatkala orang itu mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan ayat-ayat tersebut, Ibnu ‘Abbas menjawab: “Aku lebih suka kalau engkau mempertemukan aku dengan orang yang menyuruhmu membawa pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi tanyakanlah dulu kepadanya: Apakah ‘Arsy itu, kapan diciptakan dan bagaimana keadaannya?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu lalu pergi menghadap ayahku dan mengatakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas. Ayahku bertanya: “Apakah Ibnu ‘Abbas menjawab pertanyaan mengenai ayat-ayat yang kupesankan kepadamu?” Orang itu menyahut: “Tidak.” Ayahku melanjutkan: “Baiklah, sekarang kuterangkan kepadamu mengenai ayat-ayat itu berdasarkan cahaya dan ilmu, bukan dengan mengaku-ngaku atau menjiplak. Ayat pertama dan kedua diturunkan berkenaan dengan ayah ‘Abdulah bin ‘Abbas (yakni al-‘Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi), sedangkan ayat yang ketiga diturunkan berkenaan dengan ayahku dan kami (Ahlul Bait).” (Rijalul Kasyiy, hlm. 53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang dikatakan oleh kaum Syi’ah mengenai paman Nabi, yaitu ‘Abbas. Sedangkan mengenai Ibnu ‘Abbas, seorang ulama umat Islam, ahli tafsir al-Qur’an dan shahabat Rasulullah , oleh mereka dituduh sebagai pengkhianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kasyiy meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas diangkat oleh ‘Ali -shalawatullahi ‘alaihi- sebagai Amir Bashrah, kemudian ia pergi ke Makkah meninggalkan ‘Ali –shalawatullahi ‘alaihi- dengan membawa uang baitul mal sebanyak dua ribu dirham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar berita itu, ‘Ali -shalawatullahi ‘alaihi- naik ke atas mimbar sambil menangis lalu berkata: “Dia (Abdullah bin ‘Abbas) adalah anak paman Rasulullah. Dengan segala ilmu dan kepandaian yang ada padanya ia masih berbuat seperti itu, lantas bagaimana orang yang berada di bawahnya mau beriman! Ya Allah, aku sungguh sudah jemu terhadap mereka, karena itu bebaskanlah diriku dari gangguan mereka.” (Rijalul Kasyiy, hlm. 57-58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kasyiy dalam bukunya menyediakan bab tersendiri di bawah judul “Ali menyumpahi ‘Abdullah dan ‘Ubaidillah, dua anak ‘Abbas.” Dalam bab itu ia meriwayatkan cerita bohong yang dikatakannya berasal dari Abu Ja’far -alaihis salam- bahwa Amirul Mukminin ‘Ali -alaihis salam- menyumpahi dua orang itu: “Ya Allah, kutuklah dua orang anak lelaki si Fulan – yang dimaksud adalah ‘Abdullah dan ‘Ubaidillah dua orang anak lelaki ‘Abbas- butakanlah mata mereka seperti Engkau telah membutakan hati mereka terhadap kedudukanku. Jadikanlah kebutaan mereka sebagai tanda kebutaan hati mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat-riwayat palsu seperti itu banyak sekali terdapat di dalam al-Kaafiy, dan di dalam kitab-kitab tafsir mereka, seperti al-Qummiy, al-‘Iyasyi dan ash-Shafiy. Padahal al-‘Abbas (paman Nabi) dan putranya yaitu Abdullah bin ‘Abbas termasuk dari keluarga Nabi (ahlul bait). Tetapi begitulah sikap kaum Syi’ah, mereka menyanjung dengan berlebih-lebihan sebagian ahlul bait dan menyudutkan sebagian ahlul bait yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Penetapan Khalifah berdasarkan nash&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah Rafidhah mengklaim bahwa Rasulullah telah menegaskan kepada umat bahwa khalifah sepeninggal beliau adalah Ali bin Abi Thalib , yaitu ketika beliau menunjuk Ali sebagai wakil beliau atas kota Madinah saat Rasulullah dan kaum muslimin berjihad dalam perang Tabuk. Ketika itu beliau bersabda kepada Ali: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Apakah engkau tidak ridha bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja tidak ada lagi nabi sesudahku.” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda kepada ‘Ali di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum: “Barangsiapa yang aku sebagai walinya maka Ali juga sebagai walinya, ya Allah, jadilah Engkau wali bagi siapa saja yang loyal kepadanya (Ali), dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.” (HR. Ahmad, Nasa’i dan al-Hakim). Hadits ini dikenal dengan hadits Ghadir Khum. Syi’ah mengklaim bahwa perkataan Nabi ini adalah nash yang tegas tentang penunjukan ‘Ali sebagai khalifah sepeninggal beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah menjawab bahwa kedua hadits tersebut memang menunjukkan salah satu keutamaan Ali. Dan masih banyak lagi keutamaan beliau yang lain. Akan tetapi hadits di atas bukan merupakan dalil penunjukan Ali sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah. Sebab, Beliau juga pernah menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai wakil beliau atas Madinah saat beliau keluar dalam salah satu jihadnya. Namun, para shahabat tidak menangkap hal itu sebagai penunjukan Rasulullah kepada Ibnu Ummi Maktum sebagai khalifah setelah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang diserupakannya kedudukan Ali sebagaimana Nabi Harun, maka pada kesempatan yang lain Rasulullah juga pernah menyerupakan Abu Bakar dengan Isa, dan menyerupakan Umar dengan Nabi Nuh pada saat musyawarah tentang bagaimana memperlakukan tawanan perang Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tentang doa Nabi, “Ya Allah, jadilah Engkau wali bagi siapa saja yang loyal kepada Ali, dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya,” maka itu adalah perkataan yang haq dan doa yang mustajab. Oleh karena itu, di kalangan kaum muslimin tidak ada yang memusuhi Ali selain kaum Rafidhah sendiri. Sebab, mereka telah memposisikan Ali pada posisi yang tidak layak baginya dan menyifatinya dengan sifat-sifat yang hanya layak bagi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara penyimpangan mereka yang parah adalah mengkultuskan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya serta mencaci maki para shahabat yang lain termasuk tiga khalifah yang pertama. Mereka menganggap tiga khalifah tersebut telah merampas hak kekhalifahan Ali dan melanggar wasiat Rasulullah yang telah menunjuk Ali sebagai khalifah sesudahnya. Mereka juga mengutuk ‘Aisyah dan Hafshah, (dua istri Nabi) karena keduanya adalah putri Abu Bakar dan Umar, bahkan menuduh ‘Aisyah dengan tuduhan yang sangat keji. Mereka selalu mendengung-dengungkan slogan “Membela hak-hak Ahlul Bait yang terzhalimi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Rasulullah tidak pernah berwasiat bahwa Ali sebagai khalifah sepeninggal beliau. Jika beliau pernah berwasiat seperti itu tentulah para shahabat yang mulia akan melaksanakan wasiat tersebut dan tidak akan berselisih dalam hal itu. Jika wasiat itu ada, tentulah Ali, di saat menjadi khalifah, akan mengumumkan hal itu kepada kaum muslimin dan menjelaskan bahwa tiga kekhalifahan yang sebelumnya adalah batil dan suatu kezhaliman. Akan tetapi yang terjadi adalah justru khalifah Ali sangat menghormati dan mencintai tiga khalifah sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bukti kecintaan Ali kepada tiga khalifah sebelumnya ialah beliau memberi nama seorang putranya dengan Abu Bakar, seorang lagi dengan nama Umar, dan seorang lagi dengan nama Utsman. Beliau juga menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin al-Khaththtab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Syi’ah Mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih mulia daripada Abu Bakar dan Umar. Mereka berdalih dengan beberapa riwayat yang lemah seperti hadits berikut: “Aku adalah kotanya ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya, maka barang-siapa yang menghendaki ilmu hendaklah mendatangi pintunya.” (HR. al-‘Uqaili, Ibnu ‘Adiy, ath-Thabrani dan al-Hakim; hadits ini dinyatakan maudhu’ oleh al-Albani dalam Silsilah adh-Dha’ifah no. 29-55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung hawa nafsunya yang batil, tokoh-tokoh Syi’ah Rafidhah tidak segan-segan mempermainkan ayat-ayat al-Qur’an. Al-Qummiy, seorang ulama tafsir Syi’ah ketika menafsirkan firman Allah berikut: “Dan pada hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit kedua tangannya, seraya berkata: &quot;Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrab(ku). “ (QS. al-Furqan: 27 – 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata: “Yakni Abu Bakar akan berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul dan Ali sebagai walinya. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan Umar sebagai teman akrabku. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sikap Syi’ah Rafidhah kepada Ali bin Abi Thalib dan kepada para shahabat. Sedangkan sikap Ahlus Sunnah terhadap Ali dan keluarganya adalah mencintai mereka dan mengakui semua keutamaan Ali yang tersebut dalam hadits-hadits yang shahih. Ahlus Sunnah tidak mengingkari keawalan beliau dalam masuk Islam, kekerabatannya dengan Nabi , kedudukannya sebagai menantu Nabi, ilmunya dan kefahamannya terhadap al-Qur’an, kedudukannya yang tinggi, jihadnya, keberaniannya, dan bahwa beliau adalah khalifah keempat dari al-Khulafaa’ ar-Rasyidin serta salah satu dari sepuluh shahabat yang dijamin surga. Tetapi Ahlus Sunnah tidak sampai berlebih-lebihan hingga menyifatinya dengan sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah juga meyakini bahwa prioritas keutamaan keempat khalifah tersebut sesuai dengan urutan kekhalifahannya. Dalilnya adalah ijma’ para shahabat yang lebih mendahulukan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman dalam pembai’atan sebagai khalifah. Dan para shahabat tersebut tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan karena Allah telah menjaga umat ini dari hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Sikap Rafidhah terhadap para shahabat Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyifati para shahabat Nabi sebagai orang-orang yang rakus terhadap dunia dan gila jabatan. Ibnul Muthahhir ar-Rafidhi, Ulama Syi’ah, berkata, “Sebagian mereka (yakni para shahabat) menginginkan kekuasaan untuk diri mereka, padahal itu bukanlah hak mereka. Lalu mereka pun dibai’at oleh orang-orang yang memburu dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya ialah Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman sangat menginginkan jabatan khilafah padahal mereka tidak berhak atas jabatan itu. Lalu para shahabat yang lain membai’at mereka karena mengharapkan dunia dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jelas suatu kebohongan besar. Karena sejarah mencatat bahwa Abu Bakar justru berkata kepada kaum muslimin pada saat musyawarah pemilihan khalifah, “Aku telah ridha untuk kalian salah satu dari dua orang ini, Umar atau Abu Ubaidah.” Lalu Umar berkata, “Demi Allah, jika leherku dipenggal bukan karena suatu dosa, itu lebih aku sukai daripada memimpin suatu kaum yang di situ ada Abu Bakar.” Riwayat ini tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kaum muslimin tidaklah memilih dan membai’at Abu Bakar kecuali karena mereka mengetahui bahwa Abu Bakar adalah orang terbaik di antara mereka. Para shahabat yang membai’at Abu Bakar adalah orang-orang yang paling zuhud terhadap dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah orang-orang yang telah mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan Allah, sehingga Allah memuji mereka dengan pujian yang sangat indah, &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah (yakni kaum Muhajirin), serta orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada mereka (yakni kaum Anshar), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS. al-Anfal: 74)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wallahua&#39;lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: zonadiskusi.blogspot.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8609072945612092730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8609072945612092730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/pandangan-syiah-terhadap-keluarga-dan.html' title='Pandangan Syiah terhadap keluarga dan sahabat Nabi'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-4577344696730568660</id><published>2010-03-23T01:31:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T01:35:02.125-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Diskusi"/><title type='text'>Ummat Islam di Bawah Naungan Demokrasi</title><content type='html'>Demokratisasi adalah sebuah gerakan baru yang saat ini ramai terjadi di hampir setiap negara. Tidak hanya ramai di negara-negara barat yang memang dikenal sebagai nenek moyang demokrasi, sistem ini pun merambah pesat dan berkembang di negara-negara timur. Tentu jika kita menyebut negara timur dalam bahasan ini, yang dimaksud adalah negara-negara kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah wajah ummat Islam di bawah naungan demokrasi? Seberapakah untungnya bagi ummat Islam dari sistem demokrasi ini? Dan sejauh manakah perkembangan yang terjadi selama ini bagi ummat Islam sejak demokrasi menaungi mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul ke permukaan sebagai bentuk keingintahuan kita tentang sepak terjang demokrasi dalam menaungi kaum muslimin. Tidak hanya itu, kita pun bisa menyaksikan sendiri bagaimana kondisi kaum muslimin di seluruh dunia setelah negara-negara mereka menganut sistem demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari sinilah, kita bisa menganalisa dan mampu memberikan penilaian yang kritis terhadap sistem demokrasi. Mengapa harus kritis? Tentu saja harus, karena bagaimanapun juga, demokrasi tidak lain adalah produk pemikiran manusia. Segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia, termasuk ide-ide demokrasi, memiliki kemungkinan salah dan benar, tepat dan keliru, atau bahkan bermanfaat dan berbahaya. Terlebih dengan kondisi masyarakat kita saat ini yang begitu menyanjung-nyanjung demokrasi, tentu sikap kritis dalam menilai demokrasi itu harus lebih digencarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Belajar dari Aljazair&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam masuk ke Aljazair pada saat Daulah Khilafah Bani Umayah, sekitar pada tahun 682 M. Berawal dari kawasan Tunisia, tentara Islam terus berdakwah dan berjihad, serta bergerak terus menuju kawasan-kawasan di sebelah barat lainnya seperti Aljazair, Maroko, dan Libya. Kawasan-kawasan ini kemudian dibebaskan dari penjajahan Romawi, dan hidup di bawah naungan Islam. Agama Islam mendapat sambutan yang sangat luar biasa di daerah ini karena ajarannya yang rahmatan lil alamin. Selain membebaskan kawasan-kawasan ini dari penindasan Romawi, Islam menyeru mereka pada kalimat tauhid yang menyatukan seluruh suku bangsa di bawah ukhuwah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak dapat dipungkiri, kejayaan Islam setelah itu mulai memudar dan menunjukkan gejala-gejala keruntuhan. Benar saja, akibat arus pemikiran-pemikiran yang sesat dari luar seperti sekularisme dan pemikiran dari dalam seperti sufisme, ajaran Islam yang murni semakin ditinggalkan. Saat itu di kawasan Aljazair, penjajah Prancis masuk ke wilayah ini, tepatnya pada tahun 1830 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, masih banyak kaum muslimin yang setia dengan ajarannya. Untuk menghadapi tentara penjajah, genderang jihad pun diserukan dan dikobarkan. Perlawanan demi perlawanan terus berlanjut sampai kemudian Prancis harus mengakui kemerdekaan Aljazair pada tahun 1962. Namun, seperti negara-negara kaum muslimin lainnya termasuk Indonesia, kemerdekaan ini menjadi semu karena yang berkuasa di Aljazair setelah kemerdekaan itu adalah agen-agen Prancis sendiri. Aljazair kemudian menjadi negara sekular dengan sistem republik yang dipimpin oleh boneka dan kader-kader binaan Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jadinya Aljazair sebagai negara sekular, negara ini sangat bergantung pada Prancis. Sistem sekular yang dianut Aljazair ini hanya menguntungkan negara asing dan para penguasa sekular. Hakikatnya, penjajahan masih berlangsung. Aljazair kemudian menjadi negara yang banyak berutang pada Prancis dan IMF. Tentu saja, sama dengan negara-negara kaum muslimin seperti Indonesia, IMF memaksa Aljazair melakukan liberalisasi radikal, memeras dengan bunga utang yang berlipat-lipat, serta ancaman-ancaman yang menyudutkan mereka agar tetap ‘setia’ kepada Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini semakin memperparah keadaan di Aljazair. Perekonomian menjadi hancur dan kondisi masyarakat semakin terpuruk. Kebobrokan terjadi di hampir segala aspek, termasuk budaya korupsi yang semakin mendarah daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi yang sangat menyedihkan akibat sistem sekular ini mendorong munculnya gerakan-gerakan Islam yang menyerukan kembali kepada ajaran dan aturan Islam. Sekularisme dianggap telah gagal dan berakibat buruk. Untuk itulah, jalan yang bisa menyelamatkan kaum muslimin hanyalah Islam. Gerakan-gerakan Islam ini menyuarakan bahwa Islam adalah solusi bagi setiap permasalahan. Ya, Islam is Solution, adalah opini-opini yang terus dibangun untuk mewujudkan Islam sebagai solusi bagi rakyat Aljazair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat pun menyambut ajakan itu karena mereka menyaksikan dan merasakan sendiri, bagaimana sistem sekular telah gagal mensejahterakan rakyat. Apalagi negara ini pernah merasa bagaimana indah dan sejahteranya hidup di bawah naungan Islam, yakni saat mereka menjadi bagian dari negara Khilafah Islamiyah selama berabad-abad lamanya. Dengan kata lain, kaum muslimin Aljazair mulai merintis jalan Islam sebagai payung hukum di negara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, perjuangan untuk kembali kepada Islam ini, tidak semudah yang diharapkan. Kesulitan ini semakin terasa karena saat itu, arus demokrasi yang terjadi di negara-negara barat, berkembang pesat. Tentu saja, pemikiran demokrasi ini mempengaruhi rakyat dan pemerintah Aljazair. Benar saja, pengaruh demokrasi dari barat ini, semakin dirasakan oleh Aljazair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1980-an, pemerintah menjanjikan kebebasan politik yang lebih luas dan menawarkan sistem demokrasi untuk menanggapi ketidakpuasan rakyat. Untuk menyukseskan demokratisasi ini, pemerintah melakukan beberapa upaya politik seperti referandum nasional, revisi konstitusi yang menghapuskan sosialisme Aljazair, mengakhiri monopoli FLN sebagai partai pemerintah yang sifatnya tunggal, dan menawarkan sistem multipartai. Sebagai wujud kesukesan demokrasi ini, Aljazair menyelenggarakan pemilu nasional multipartai pada 26 Desember 1991. Ini adalah kali pertama Aljazair menyelenggarakan pemilu sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kondisi politik dan sistem pemerintahan yang sudah berubah ini dipandang sebagai peluang emas oleh beberapa gerakan Islam, antara lain adalah FIS, salah satu partai berideologi Islam yang kemudian terjun ikut pemilu. Hasilnya memang sangat mengejutkan banyak pihak. FIS berhasil menang pada pemilu nasional putaran pertama. FIS memenangkan 47,54 persen suara atau mendapat 188 dari 231 kursi. Sisa kursi kemudian akan ditentukan dalam pemilu putaran kedua yang diyakini banyak pihak akan dimenangkan kembali oleh FIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kemenangan FIS ini disambut gembira oleh kaum muslimin Aljazair. Terlebih, bagi mereka yang selama ini percaya bahwa jalan demokrasi bisa dijadikan sebagai wadah dalam merebut kekuasaan. Bisa dikatakan bahwa kemenangan FIS di Aljazair adalah sebuah kemenangan pertama gerakan Islam dunia yang terjadi lewat sistem demokrasi. Di beberapa negara seperti Indonesia, gerakan-gerakan Islam yang ikut pemilu hanya mendapat suara yang kecil. Terlebih saat ini, partai-partai yang berbasis Islam begitu banyak hingga tidak mampu menampung satu suara dalam satu partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah pemilu, kemenangan FIS menimbulkan kecaman dari kelompok-kelompok sekular. Mereka menganggap kemenangan FIS ini akan mengancam pemerintahan Aljazair. Dari anggapan itulah, muncul upaya-upaya dari beberapa kelompok yang tergabung sebagai lawan politik FIS, untuk menghentikan kemenangan FIS. Mereka menuduh FIS dan menyatakan bahwa partai ini telah membajak demokrasi untuk membangun pemerintahan fundamentalis Islam yang anti demokrasi. Mereka tidak memperdulikan soal kemenangan FIS yang menang secara demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dengan alasan mempertahankan keamanan dan stabilitas negara, militer dilibatkan oleh kelompok-kelompok yang menentang kemenangan FIS. Sebuah badan boneka militer kemudian dibentuk. Badan itu adalah Dewan Negara atau Dewan Keamanan Tertinggi. Sejak saat itulah, mulai terjadi penindasan terhadap FIS dan pihak-pihak yang dekat dengan FIS. Setelah memberlakukan keadaan darurat, hasil pemilu akhirnya dibatalkan. Sebagai puncaknya, FIS dinyatakan sebagai partai terlarang di Aljazair. Para pemimpin, anggota, dan orang-orang yang dicurigai sebagai simpatisan FIS, ditahan dan disiksa. Lembaga-lembaga sosial milik FIS ditutup, aset-aset mereka disita, dan ulama-ulama yang kritis diganti dengan ulama-ulama hasil binaan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sikap negara-negara barat terhadap kondisi di Aljazair saat itu, hanya sebatas komentar kosong. Jelas, mereka tentu saja mendukung upaya pemberangusan FIS meskipun partai ini nyata-nyata menang secara demokratis. Bagi Barat, demokrasi hanya berlaku jika menguntungkan kepentingan mereka. Sebaliknya, jika kemenangan sebuah demokrasi bisa menimbulkan ancaman bagi mereka seperti kemenangan partai yang bebasis Islam ini, maka mereka akan menghentikan kemenangan itu. Mereka tidak rela jika Islam memenangkan sebuah pemilu. Hal ini merupakan bukti nyata kebohongan demokrasi yang dikampanyekan oleh Barat. Singkatnya, demokrasi yang ditawarkan selama ini hanyalah sebuah kebebasan bersyarat yaitu tidak menjadikan Islam sebagai landasan hukum dan tidak mengganggu kepentingan barat. Titik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Wajah Busuk Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sistem-sistem terdahulu seperti sekularisme atau sosialisme, ternyata demokrasi tidak lebih dari sekedar sistem yang dijadikan alat oleh negara-negara barat untuk merebut hati kaum muslimin, yang hakikatnya adalah menghancurkan Islam dan kaum muslimin itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat bagaimana kondisi Irak, Palestina, Afghanistan, dan negara-negara kaum muslimin lainnya, termasuk Indonesia. Jumlah kita sangat banyak, namun banyaknya jumlah itu ibarat buih di lautan. Sama sekali tidak menjanjikan kekuatan dan kejayaan Islam. Demokrasi yang dipilih, tidak lain hanya sebuah sistem yang tetap saja membatasi keinginan kaum muslimin secara utuh. Yang berkuasa tetaplah negara-negara yang menciptakan demokrasi. Adapun kita sebagai kaum muslimin, tidak lebih sebatas meramaikan kancah demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi inti masalahnya hanya satu, yaitu jangan mengganggu kepentingan barat. Nah, selama ini Islam dipandang sebagai ajaran dan ideologi yang bisa mengancam kenyamanan negara-negara barat. Namun barat mengakui bahwa mereka akan sangat kesulitan jika menghancurkan Islam secara fisik seperti perang dengan senjata api. Untuk itulah, jalan pertama yang mereka tempuh adalah ‘merangkul kaum muslimin’ dalam sebuah wadah yang dinamakan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memudahkan penawaran demokrasi ini, mereka mengeluarkan ide-ide lainnya yang dirasa mampu menarik simpati kaum muslimin agar terjun kepada sistem demokrasi dan bekerja sama dengan barat. Ide-ide itu seperti kebersamaan, kerakyatan, kebebasan berpendapat, dan ide-ide lainnya yang sifatnya bisa diterima oleh semua kalangan manusia, entah itu muslim atau non-muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam demokrasi dinyatakan bahwa kekuasan sebuah negara berada di tangan rakyat. Suara rakyat bisa menentukan kekuasaan sebuah negara. Tentunya, suara rakyat ini adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Kemudian setelah itu, tentu akan banyak para politisi Islam yang akan menilai bahwa demokrasi adalah jalan untuk menegakkan hukum Islam dengan cara yang relatif damai. Sayangnya mereka lupa, bahwa demokrasi sendiri diciptakan untuk mengelabui kaum muslimin agar bisa kerja sama dengan barat. Buktinya jelas, kalaupun ummat Islam -dalam hal ini tergabung dalam beberapa partai Islam- berhasil memenangkan pemilu -sebagai bagian dari demokrasi-, tentu kemenangan ini tidak akan menjadikan tegaknya hukum Islam di negara yang menyelenggarakan pemilu tersebut. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya hanya satu: Jika sebuah negara yang menganut sistem demokrasi menjadikan Hukum Islam sebagai payung hukum negara tersebut, maka hal itu sama saja melanggar sistem demokrasi. Karena pada hakikatnya, demokrasi itu berawal dari sebuah keragaman, apakah itu suku, bangsa, bahasa, atau agama. Kemudian keragaman itu tergabung dalam sebuah kebersamaan, yaitu satu hukum. Tentu saja, hukum yang dipilih adalah hukum yang mewakili semua keragaman itu. Bukan Hukum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: zonadiskusi.blogspot.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/4577344696730568660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/4577344696730568660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/ummat-islam-di-bawah-naungan-demokrasi.html' title='Ummat Islam di Bawah Naungan Demokrasi'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-5992458787183428240</id><published>2010-03-23T01:23:00.000-07:00</published><updated>2010-03-23T01:30:03.634-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Akhbar"/><title type='text'>ISRAEL, Militer Yang Tangguh?</title><content type='html'>Israel, sebuah negara ilegal yang telah berdiri di tanah milik kaum muslimin sejak tahun 1948, kini dipercaya bahwa negara tersebut adalah negara yang tidak tertandingi. Anehnya, mitos semacam ini tidak berasal dari Israel sendiri, namun didongengkan oleh para pemimpin kaum muslimin yang loyal kepada mereka serta orang-orang bodoh yang hanya ikut-ikutan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung pertunjukan militer Israel dalam peperangan melawan bangsa-bangsa Muslim di kawasan tersebut pada 1948, 1956, 1967, dan 1973, sudah lama dianggap sebagai bukti kehebatan militernya. Namun sesungguhnya, semua peperangan ini hanya sebuah cara mereka untuk mencaplok tanah-tanah kaum muslimin. Semua konflik militer dengan bangsa Arab, hanya sebatas cara agar mereka bisa membuat hubungan yang akrab antara Israel dan negara-negara Arab. Setelah mereka puas bertempur, maka mereka akan melakukan gencatan senjata atau bahkan perdamaian. Tentu hal ini akan berujung pada pengakuan kedaulatan Israel sebagai negara yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Rekayasa Perang 1948&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemicu utama terjadinya perang 1948 adalah akibat diploklamirkannya negara Israel sebagai negara yang sah dan merdeka. Sejak itu pula, meletuslah sebuah perang yang melibatkan Israel dengan pasukan gabungan bangsa Arab. Saat itu, pasukan bangsa Arab mencapai kurang lebih 40 ribu tentara sedangkan Israel hanya sekitar 30 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sangat tidak masuk akal, bagaimana negara-negara Arab dengan jumlah penduduknya yang hampir mencapai 40 juta orang ini tidak mampu mengalahkan tentara Israel dan orang-orang Yahudi yang hanya berjumlah sekitar 600 ribu orang saja. Ternyata memang, hampir semua pemimpin bangsa Arab saat itu, sudah dirangkul oleh Israel dan tidak berniat untuk mengusir mereka dari tanah Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin-pemimpin besar seperti Raja Abdullah dari Yordania, Raja Farouk dari Mesir, dan Mufti Palestina, adalah para pemimpin lemah yang sebelumnya selalu diperdaya oleh Inggris. Semua orang tahu bahwa Raja Abdullah dan Ben Gurion, Perdana Menteri Israel yang pertama menjabat, pernah sama-sama belajar sebagai mahasiswa di Istanbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Abdullah sendiri pernah memiliki sebuah Legiun Arab –yaitu unit tentara terlatih yang berkekuatan 4.500 orang– yang dikomandani langsung oleh seorang Inggris yang bernama Jenderal John Glubb. Se-dangkan Glubb sendiri pernah meng-akui bahwa dirinya berada dalam naungan dan perintah kolonial Inggris meski ia memimpin tentara Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Mesir, negara ini justru sengaja memperlemah serangannya ke Israel. Tindakan yang bodoh ini terjadi di saat Nakrashi Pasha, Perdana Menteri Mesir, sengaja tidak menggunakan unit-unit militer mereka, namun hanya mengirim tentara sukarelawan saja yang baru dibentuk pada bulan Januari pada masa perang itu. Tidak hanya itu, Yordania juga menunda keberangkatan tentara Irak di wilayahnya. Dengan kata lain, Yordania telah menahan diri dalam menyerang tentara Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski disebutkan bahwa tentara Arab berjumlah hampir 40 ribu orang, namun hanya 10 ribu saja dari mereka yang benar-benar tentara terlatih. Israel berkekuatan 30 ribu orang tentara. Dari jumlah itu, 10 ribu adalah tentara pertahanan dan 20 ribu lainnya adalah penjaga pemukiman. Tentara Israel ini dibekali dengan persenjataan terbaru dan disokong oleh dana agen-agen Zionis di AS dan Inggris. Terlepas dari kesiapan Yahudi dalam perang itu, sikap yang tidak berani dari para pemimpin Muslim adalah faktor penentu jejak Yahudi di Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Perebutan Terusan Suez 1956&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi saat itu, sebenarnya bukan konflik perang dalam mencapai kemerdekaan Palestina atas penjajahan Israel. Konflik ini hanyalah sebuah pergulatan kecil antara Amerika Serikat dan Inggris dalam mengendalikan terusan Suez yang memiliki arti penting dalam jalur perdagangan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya menanamkan pengaruhnya di Timur Tengah, Amerika menilai bahwa Mesir harus menjadi sekutu penting bagi Amerika. Melalui CIA, Amerika merekayasa sebuah kudeta untuk menjatuhkan Raja Farouk pada 1952 karena Raja Farouk adalah boneka Inggris yang berpengaruh di Mesir. Setelah itu, Amerika menempatkan sekelompok perwira yang dipimpin Gamal Abdul Nasser. Mike Copeland, kepala operasi CIA, menjelaskan bahwa CIA mem-butuhkan seorang pemimpin kharismatik yang akan mampu mengalihkan sikap Anti Amerika menjadi sikap Pro Amerika. Itulah kenapa Raja Farouk dikudeta oleh Nasser atas bantuan CIA karena CIA dan Nasser memiliki kesepahaman yang sama tentang Israel. Bagi Nasser, Israel bukanlah soal dan pembicaraan tentang Israel tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Baginya, musuh utama Mesir adalah Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1956, Nasser menjalankan pesan Amerika untuk melakukan nasionalisasi Terusan Suez. Apa yang dilakukan oleh Nasser ini tentu mendapatkan respon dari Inggris. Saat itu juga, Inggris melibatkan Perancis dan Israel ke dalam pertempuran melawan Mesir. Konflik Suez ini dijelaskan oleh Corelli Barnet di dalam bukunya ‘The Collapse of British Power’. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Perancis marah kepada Nasser karena Mesir mem-bantu pemberontak di Aljazair, dan merasa memiliki Terusan Suez padahal Terusan Suez ini dibuat oleh Perancis. Adapun dengan Israel, sebelumnya Israel sudah kesal kepada Nasser karena blokade yang dilakukan Mesir atas Selat Tiran. Maka dari itulah, Sir Anthony Eden, Perdana Menteri Inggris saat itu, membuat skenario dengan Perancis dan Israel. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Israel akan menyerang Mesir melalui semenanjung Sinai. Di saat yang sama, Inggris dan Perancis akan menyerukan kepada Israel dan Mesir untuk menghentikan peperangan, atau mereka (Inggris dan Perancis) akan campur tangan dalam me-lindungi Terusan Suez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS dan Uni Soviet melakukan tekanan diplomatik untuk memaksa Inggris dan Perancis menarik diri. Besarnya tekanan internasional waktu itu, memaksa Inggris dan Perancis angkat kaki dan kehilangan jejaknya di Mesir. Amerika bertindak tegas dengan mengancam akan memberikan sanksi ekonomi kepada Israel jika mereka tidak menarik diri dari kawasan-kawasan yang diram-pasnya dari Mesir. Tentu saja, ancaman Amerika ini adalah sesuatu yang akan membawa malapetaka bagi Israel bila benar-benar terjadi. Setelah krisis Suez mereda, Amerika muncul sebagai kekuatan sentral yang menguasai Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Perang 1967&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perang yang dikenal dengan Perang Enam Hari ini juga merupakan episode lain dari konflik Anglo-Amerika dalam memperebutkan pengaruh di kawasan Timur Tengah. Selama 11 tahun berlangsung, yakni sejak perang 1956, Inggris masih menyisakan sedikit pengaruh melalui para agennya di Yordania, Suriah, dan Israel. Sebagai langkah dalam memperlemah Nasser, Inggris sengaja menjebak Israel agar menarik Mesir, Suriah, dan Yordania ke dalam perang. Pada tanggal 5 Juni 1967, Israel melakukan serangan awal dan menghancurkan 60% kekuatan Angkatan Udara Mesir serta 66% mesin tempur Suriah dan Yordania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israel merebut Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari tangan Yordania. Hanya dalam waktu 48 jam saja, Israel telah sepenuhnya menduduki seluruh kota di Tepi Barat. Dengan cara yang sama pula, Israel menduduki Dataran Tinggi Golan pada hari ke-6. Pasukan Suriah yang berada di Dataran Tinggi Golan mendengar sendiri berita jatuhnya kawasan Golan ke tangan Israel, padahal mereka jelas-jelas menduduki kawasan itu. Israel juga memberikan pukulan hebat kepada Nasser dengan mengambil alih Sharm El Sheikh dan mengamankan jalur perairan Selat Tiran dari blokade Mesir. Upaya memperlemah rezim Nasser pun tercapai, sehingga menambah pengaruh Inggris ke kawasan tersebut. Israel pun mampu memperluas wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Perang 1973&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perang yang dilancarkan Mesir dan Suriah kepada Israel pada awal Oktober 1973, menunjukkan bahwa tujuan yang hendak mereka capai bersifat terbatas dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kemerdekaan Palestina. Tujuan perang yang sesungguhnya adalah memperkuat posisi Anwar Sadat dari Mesir dan Hafez al-Assad dari Suriah. Keduanya merupakan pemimpin yang relatif baru di masing-masing negara dan berkuasa karena kudeta. Terlebih bagi Sadat, secara khusus ia telah menduduki posisi yang rentan karena ia menggantikan posisi Nasser yang cukup kharismatik di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Sadat sama sekali tidak berkeinginan mengalami perang dengan Israel. Itulah mengapa, ia mengajukan tawaran damai dengan Israel ketika tentaranya berada dalam posisi unggul di medan perang. Padahal semestinya, Mesir bisa mengalahkan Israel dan mengusir mereka dari Palestina jika benar-benar memiliki niat membebaskan tanah suci itu dari cengkeraman Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 24 jam pertama peperangan, Mesir memukul pertahanan Israel di Bar Lev, dengan hanya kehilangan 68 orang tentara. Sementara 2 divisi Suriah dan 500 tanknya menyapu ke arah Dataran Tinggi Golan dan menduduki kembali kawasan-kawasan yang direbut pada 1967. Dalam dua hari peperangan, Israel telah kehilangan 49 pesawat dan 500 tank. Di tengah kecamuk perang, Sadat mengirimkan pesan kepada Menteri Luar Negeri Amerika, Henry Kissinger, dengan mengatakan bahwa tujuan perang tersebut adalah mencapai perdamaian di Timur Tengah sepenuhnya. Maksudnya adalah, Mesir ingin menunjukkan kekuatannya dan menjadi penjaga kedamaian di Timur Tengah atas komando PBB dan Amerika dan sama sekali tidak berniat menghapuskan Israel dari peta dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, peperangan demi peperangan antar bangsa Arab dengan Israel selama ini adalah sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa para pemimpin kaum muslimin belum pernah serius, atau bahkan tidak serius, memerangi Israel demi kemerdekaan Palestina. Yang terjadi selama ini hanyalah pengkhianatan para pemimpin bermuka dua yang telah bergandengan tangan dengan Israel. Masing-masing perang dilancarkan demi tujuan tertentu, dan tidak ada satu pun yang dilancarkan demi kebebasan Palestina dari penjajahan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: zonadiskusi.blogspot.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5992458787183428240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5992458787183428240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/israel-militer-yang-tangguh.html' title='ISRAEL, Militer Yang Tangguh?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-8860156876199639517</id><published>2010-03-22T15:46:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T15:50:37.324-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tela&#39;ah"/><title type='text'>ROTARY CLUB, Zionisme Berkedok Kemanusiaan</title><content type='html'>Pada tahun 1905 di Chicago, Amerika Serikat, berdiri sebuah perkumpulan yang notabene bergerak untuk memberikan jasa kemanusiaan, membangun kesadaran etika yang tinggi dan menciptakan kebersamaan juga kedamaian. Anggotanya terdiri dari para pemimpin bisnis dan kaum profesional. Misinya terangkum dalam motto, “Service Above Self” (Pelayanan kepada yang lain lebih utama daripada kepentingan diri sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul Harris, pendiri yang juga seorang pengacara, dibantu kawan-kawannya sanggup membawa perkumpulan tersebut dari tataran komunitas lokal menjadi organisasi yang bertaraf internasional, hanya dalam jangka waktu 6 tahun sejak didirikan. Itulah Rotary Club (RC). Tahun 1911, RC memindahkan pusat kegiatannya ke Dublin, Irlandia. Tahun 1921 RC membuka cabang (distrik) di Madrid, Spanyol. Di tahun yang sama pula berdiri cabang RC di Palestina. Disusul Maroko dan Aljazair pada tahun 1930. Perkembangan ini dibarengi dengan meningkatnya jumlah anggota. Terhitung hingga tahun 1947 anggota RC telah mencapai 327.000 orang. Pada periode 2006-2007 membengkak menjadi, kurang-lebih,1.200.000 anggota yang tersebar di 168 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RC merupakan organisasi tanpa sekretariat. Keanggotaannya hanya terbatas melalui undangan dari seorang Rotarian (sebutan bagi anggota RC) kepada para pemimpin bisnis dan profesional yang bekerja dalam berbagai bidang. Setiap klub hanya mempunyai satu anggota yang mewakili satu bidang pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Rotary Club Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rotary Club pertama di Indonesia didirikan pada tahun 1927 di Yogyakarta. Hingga tahun 1941 telah ada 26 klub dengan 219 anggota. Kegiatan Rotary dihentikan pada masa Perang Dunia II dan dilanjutkan kembali pada tahun 1946. Hingga tahun 1961 jumlah klub mencapai 17 dengan anggota sebesar 533 orang. Kegiatan klub kembali terhenti dari tahun 1961-1970. Sejak saat itu, Distrik 3400 (sebagaimana Rotary Club Indonesia dikenal) telah berkembang hingga mempunyai 87 klub dan 1.850 anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh Rotary Club (RC) Indonesia, yang jika dilihat namanya, niscaya ia seorang Muslim. Orang ter-sebut adalah ”Governor 1992 International District 3400” TR. Tjoet Rahman. Dalam rubrik Komentar majalah Tempo (18 Juli 1992), Tjoet Rahman mencoba meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa Rotary Club adalah murni sebuah organisasi kemanusiaan dan tidak ada kaitan dengan freemasonry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tjoet Rahman menjelaskan, Motto RC: Service above self, bakti tanpa pamrih. Caranya bukan seperti sinterklas yang mengedrop harta untuk orang-orang miskin, melainkan melalui empat alternatif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Club Service, bertujuan mening-katkan persahabatan antar-anggota.&lt;br /&gt;• Vocational Service, kegiatan yang antara lain meningkatkan etik kerja, menghargai pekerjaan yang berguna, dan memanfaatkan pengetahuan dan ketrampilan individu untuk mengatasi kesulitan masyarakat.&lt;br /&gt;• Community Service, kegiatan yang dapat memperbaiki cara dan taraf hidup masyarakat.&lt;br /&gt;• International Service, menjalin kerjasama dengan Rotary Club di deluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, usaha RC bukan hanya sekedar menjadi sinterklas. Dan tanggungjawabnya terlalu berat untuk ”para kapitalis yang hobinya berhura-hura”. Tjoet Rahman hendak mengesankan bahwa organisasinya itu eksklusif. Padahal di daerah, pengusaha yang sudah bangkrut pun diterima menjadi anggota. Di jakarta pun banyak pensiunan pegawai negeri yang jadi anggota RC. RC, sebagaimana Lions Club, berupaya mencari anggota sebanyak-banyaknya untuk dijadikan target audiences, sasaran propaganda Zionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berperilaku anob, sok kebarat-baratan, merupakan sasaran empuk jaringan Rotary dan Lions Club International. Untuk kemudian pada tingkat tertentu, tanpa atau dengan kesadaran yang bersangkutan menjadi bagian dari network lobi Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Antara Rotary Club dan Gerakan Freemasonry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kaum muslimin mungkin asing dengan Freemasonry, atau dengan RC itu sendiri, hingga tidak bisa menemukan hubungan antara keduanya. Akibatnya bisa timbul penolakan atas eksistensi, atau paling tidak, menganggap bahwa keduanya adalah organisasi yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan lainnya. Memang secara logika, tidak mungkin sebuah lembaga kemanusiaan tanpa pandang bulu seperti RC berafiliasi dengan sebuah organisasi pendengki semacam Freemasonry. Sebuah organisasi yang sejarahnya banyak dilumuri oleh darah kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan bahwa RC dan Freemasonry adalah setali tiga uang, maka kita perlu mengetahui lebih dulu apa itu Freemasonry. Sekilas saja, Freemasonry adalah gerakan rahasia tertua (namun beberapa tahun belakangan ini mereka sudah berani muncul ke permukaan) yang masih eksis hingga kini. Awalnya hanyalah sebuah gerakan bathiniah. Namun pasca kepemimpinan Nabi Sulaiman , Bani Israil menjadi bulan-bulanan kerajaan-kerajaan lain. Silih berganti penjajah datang merongrong bangsa Israil, mulai dari Assiria, Babilonia, Masedonia hingga Romawi. Penjajahan membuat banyak dari mereka terpaksa keluar dari negerinya. Penindasan ini mengakibatkan Freemasonry berubah menjadi gerakan politik pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan RC?! Kita awali dari ditugaskannya seorang Freemason asal Jerman bernama Tasfaac pada tahun 1784, untuk menyusun kembali program Weiz Howigt (seorang pendeta Kristen terkemuka dan profesor Theologi pada universitas Angold Stadt di Jerman. Murtad dari agamanya, kemudian mengikuti faham Atheisme. Lalu tokoh-tokoh Yahudi Jerman memutuskan Weiz Howight sebagai seorang cendekiawan yang paling tepat untuk dimanfaatkan, demi kepentingan Yahudi). Kemudian program tersebut dituangkan dalam bentuk buku yang diberi nama &quot;Program Asli yang Unik.&quot; Program ini sendiri digulirkan untuk menguasai dunia, yaitu dengan meletakkan paham Atheisme dan menghancurkan seluruh umat manusia dengan cara menyalakan api peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tersebut kemudian dikirim melalui utusan khusus kepada beberapa tokoh Yahudi di Paris, Perancis. Ditengah perjalanan, di sebuah kota kecil antara Frankfurt dan Paris, sang utusan tewas tersambar petir. Ketika mengadakan pemeriksaan, pasukan keamanan mendapati dokumen penting tersebut di kantong mantelnya. Dokumen tersebut segera disampaikan kepada yang berwajib di kerajaan Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa Jerman mempelajari dokumen tersebut dengan penuh perhatian. Sadar akan bahaya yang mengancam, pemerintah Jerman segera mengeluarkan instruksi kepada pasukan keamanan untuk menduduki sarang Freemasonry The Grand Eastern Lodge. Demikian pula nama-nama yang terdapat dalam dokumen ter-sebut tidak luput dari penggerebekan pasukan keamanan. Di kediaman me-reka itu pula ditemukan dokumen penting lainnya mengenai program Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa kebocoran rahasia ini di-jadikan pelajaran berharga oleh perkumpulan konspirasi Yahudi. Mereka merubah alur strategi. Kegiatan mereka selanjutnya banyak dialihkan ke dalam perkumpulan Freemasonry yang lain, yang disebut The Blue Masonry, dengan tujuan mendirikan sebuah or-ganisasi Masonry di dalam Masonry itu sendiri. Maka muncullah RC. Untuk menutupi rencana jahatnya, dibungkuslah RC dengan kain kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari peristiwa kebocoran itu pula, Freemasonry melakukan seleksi ketat dalam merekrut anggota. Begitu pula dengan RC. Walaupun tidak seketat induknya, tetap saja keanggotaan tidak bisa didapat hanya sekedar mengisi formulir dan membayar biaya administrasi. Dari sisi filosofi, RC dan Freemasonry, sama. Dalam Khoms Kanon (Asas Freemasonry), salah satunya berbunyi; “Gerakan Freemasonry adalah gerakan kemanusiaan. Dengan Freemasonry manusia dapat tolong-menolong dalam kebaikan tanpa membedakan ras, agama, suku dan paham. Freemasonry adalah lembaga kemanusiaan yang menyeru kepada etika dan keutamaan. Freemasonry menyerukan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.” Asas ini biasa disebut dengan Humanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan dibawah ini jelas sama dengan asas Humanisme. Dikutip dari situs www.rotaryd3400.org, situs RC Indonesia, disebutkan; “Rotary adalah tentang manusia yang mencintai se-sama, siapapun dan dimanapun mereka. Rotary memungkinkan kita mengekspresikan cinta kasih kita dan membagikannya.” Kemudian di harian “Kedaulatan Rakyat” terbitan 10 Desember 2007 tertulis, “Sebagai organisasi sosial nirlaba dengan jaringan internasional antar Rotary Club diseluruh dunia saling bekerja sama untuk membantu di bidang kemanusiaan tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan golongan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas Humanisme diterapkan tidak lain adalah untuk mengikis loyalitas terhadap agama, mengubur karakteristik bangsa-bangsa. Dampaknya, pribadi-pribadi akan kehilangan identitas dan harga diri serta hidup dalam kebimbangan. “Humanisme harus kita jadikan sebagai tujuan selain dari Allah. Jadikan kemanusiaan itu sebagai Tuhan untuk disembah. Bentuklah etika kemanusiaan sebagai pengganti etika agama. Tidaklah cukup bagi kita (Yahudi) hanya mengalahkan mereka (para pemeluk agama) dan peribadatannya dengan humanisme sejati, melainkan dengan humanisme harus dapat memusnahkan mereka itu” (Notulen Kongres Freemasonry Begardo 1911 dalam Asrar Masuniah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan RC dengan Freemasonry semakin nyata tatkala pendirinya, Paul Harris, ternyata seorang Yahudi. Walaupun dia pernah menyanggah keterlibatannya dalam Free-masonry, tapi dia tak bisa menyangkal kalau dia terdaftar sebagai anggota Liberty Masonic Lodge #301 (Rumah ritual/pertemuan Freemasonry). Dan banyak pula Rotarian pada masa-masa awal berdirinya adalah seorang Freemason. Begitu juga dengan piagam-piagam RC, banyak tersimpan di gedung-gedung dan kuil Mason.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Larangan Bergabung Menjadi Anggota RC&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang awam, RC tidak lebih dari sebuah perkumpulan yang universal, peduli dengan kemanusiaan, dan ingin memajukan kesejahteraan dan perdamaian tanpa membedakan ras dan agama. Untuk menyelamatkan umat dari cengkraman Yahudi, para fuqoha (ulama) mengeluarkan fatwa larangan orang-orang Islam untuk bergabung dengan Rotary Club. Fatwa ini dikeluarkan tanggal 15 Juli 1978 dalam muktamar yang diselenggarakan di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Fatwa Seputar Hukum Berafiliasi Kepada Gerakan Frimasonry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Al-Mujamma’ Al-Fiqhiy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah , keluarga besar, para shahabat serta orang-orang yang berjalan di bawah petunjuk beliau . Amma ba&#39;du.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sejumlah tulisan dan teks yang telah diteliti darinya, al-Mujamma’ telah mendapatkan gambaran yang jelas dan tak dapat diragukan lagi sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…sampai kepada….&lt;br /&gt;[10]. Organisasi ini (Freemasonry) memiliki banyak cabang yang memakai nama-nama lainnya untuk mengecoh dan mengalihkan perhatian orang sehingga ia bisa melakukan aktifitas-aktifitasnya dibawah nama-nama yang beragam tersebut tanpa mendapatkan penentangan. Cabang-cabang terselubung dengan nama-nama yang beragam tersebut, di antaranya organisasi hitam, Rotary Club, Lion Club, dan prinsip-prinsip serta aktifitas-aktifitas busuk lainnya yang bertentangan dan bertolak belakang secara total dengan kaidah-kaidah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dan berdasarkan informasi-informasi lain yang rinci tentang kegiatan freemasonry, bahayanya yang besar, pengelabuannya yang demikian busuk dan tujuan-tujuannya yang licik, al-Mujamma’ al-Fiqhiy memutuskan untuk mengang-gap Freemasonry sebagai organisasi paling berbahaya yang merusak Islam dan kaum Muslimin. Demikian pula, siapa saja yang berafiliasi kepadanya secara sadar akan hakikat dan tujuan-tujuannya maka dia telah kafir terhadap Islam dan menyelisihi para penganutnya. Wallahu Waliy At-Taufiq.. (Kumpulan Fatwa Islam dari sejumlah Ulama, Jilid 1, hal, 115-117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan untuk bergabung dengan klub tersebut ternyata tidak dikeluarkan oleh para fuqoha dari kalangan Islam saja, namun juga dilakukan pula oleh Dewan Agung Vatikan pada tanggal 20 Desember 1950. Bahkan, pada tahun 1981 dikeluarkan larangan yang lebih keras dengan menyatakan bahwa orang-orang yang bergabung dalam perkumpulan freemasonry atau organisasi lainnya yang serupa (RC, Lion Club, B’Nai Birth Club, dll) merupakan sikap yang memusuhi gereja dan tidak menerima larangan gereja. (M. Fahim Amin, Darul Fikri al-Arabi: 1991)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: zonadiskusi.blogspot.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8860156876199639517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8860156876199639517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/rotary-club-zionisme-berkedok.html' title='ROTARY CLUB, Zionisme Berkedok Kemanusiaan'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-5830718439523069117</id><published>2010-03-21T17:31:00.000-07:00</published><updated>2010-03-21T17:43:20.360-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Diskusi"/><title type='text'>Di Balik Ilmu Tenaga Dalam</title><content type='html'>Betapa takjubnya kita ketika melihat seseorang yang tidak dapat terluka ketika ditebas senjata tajam, tidak terluka ketika disiram dengan minyak panas, bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan sentuhan, melalui telepon dan juga email, bisa melindungi diri sendiri dari mara bahaya, bisa menangkal hujan, bisa menemukan barang hilang, bisa memukul lawannya dari jarak yang cukup jauh dan tanpa menyentuh sedikitpun lawannya, dan sederet kelebihan dari tenaga dalam yang dimiliki seseorang. Namun, apa sebenarnya tenaga dalam itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah masyarakat kita, kini menjamur berbagai perguruan tenaga dalam yang menjanjikan beragam kesaktian mandraguna, kemampuan mengobati berbagai penyakit ringan maupun berat, dan berbagai kelebihan lainnya. Dikemas dalam berbagai atraksi kesaktian di televisi, dibumbui dengan wirid-wirid dan bacaan-bacaan ayat tertentu, dan diiklankan secara luas melalui media massa, cetak dan elek-tronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Sihir berjudul &quot;Tenaga Dalam&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam teori dibuat untuk mengelabui orang awam sehingga dapat diterima masyarakat. Mereka mengatakan bahwa tenaga dalam adalah satu aliran tenaga yang memang terdapat dalam tubuh manusia. Ia akan mengaktifkan sel darah putih dan sel darah merah untuk menghasilkan satu getaran saraf yang akan mewujudkan tenaga di luar kemampuan biasa. Tenaga baru ini mereka sebut &#39;super power.&#39;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori lain untuk melegitimasi tenaga dalam adalah: Pertama, para praktisi tenaga dalam menjadikan senam pernapasan untuk membangkitkan tenaga dalam, kemudian menyajikan konsepnya secara ilmiah. Hal ini dilakukan agar bisa membujuk masyarakat yang cukup terpelajar agar mau ikut perguruan mereka. Kedua, tenaga dalam dikaitkan dengan alam ghaib, sasarannya adalah masyarakat yang masih suka dengan halhal yang berbau klenik dan benuansa supranatural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Mengilmiahkan Tenaga Dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Pertama:&lt;/span&gt; mereka mengatakan bahwa tenaga dalam berasal dari impuls listrik yang dihasilkan oleh ATP (adenosine triphosphate) sebagai senyawa yang menyimpan energi tubuh, terjadi akibat pembakaran oksigen dalam tubuh. Dalam sel, energi digunakan un-tuk mensintesis molekul baru, kontraksi otot, konduksi saraf, menghasilkan radiasi energi yang menghasilkan pancaran sinar. Medan listrik dapat diperbesar hingga menghasilkan energi listrik tubuh (bioelektris) bila elektron bergerak lebih cepat secara teratur. Energi atau tenaga dalam inilah yang diolah dan dikembangkan para ahli tenaga dalam untuk menyembuhkan penyakit. Mereka berpendapat, “Segala yang ada di alam semesta merupakan manifestasi energi, seperti gravitasi, dan gelombang magnet, serta energi matahari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Kedua:&lt;/span&gt; tenaga dalam adalah energi biolistrik tubuh yang diolah dengan senam pernapasan hingga voltase bio-listrik tubuh meningkat lebih besar dari normal. Setiap listrik akan menghasilkan medan listrik yang besar jika dirangsang dengan menyedot napas, lalu ditahan di dada atau perut, maka medan biolistrik akan membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dua teori yang hampir sama ini, orang yang beremosi tinggi maka voltase biolistriknya akan naik dan berarti medan biolistriknya memancar lebih besar dari biasanya. Sesuai dengan hukum alam, listrik yang bermuatan sejenis akan saling tolak-menolak. Begitu juga dengan biolistrik manusia, bila dikontakkan akan saling tolak-menolak. Maka dengan niat dan konsentrasi, mereka bisa mementalkan musuh yang emosi, dengan medan biolistrik mereka yang lebih besar karena sudah dilatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Tenaga Dalam Sebagai Ilmu Karamah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tenaga dalam yang dikaitkan dengan ilmu karamah, ditujukan bagi orang-orang yang memiliki keyakinan kuat dengan hal-hal yang bersifat ghaib dan masyarakat yang mempercayai klenik. Jika dia beragama Islam, maka akan dikatakan bahwa tenaga dalam tersebut berasal dari para wali, atau dari kekuatan khadam. Jika beragama Hindu, Budha atau Taoisme, maka tenaga dalam berasal dari kekuatan puja mantra para dewa-dewi, tenaga dalam berasal dari energi prana, chi, atau ki yang dihisap dan dikumpulkan ke cakra solar pleksus. Tenaga dalam berasal dari cosmik negatif cakra dasar dan kosmik positif cakra mahkota, tenaga dalam berasal dari energi kundalini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang perguruan tenaga dalam menggunakan dua macam pendekatan sekaligus untuk dapat menarik minat seluruh anggota masyarakat dari berbagai macam tingkat strata kehidupan atau pun dari berbagai macam agama dan kepercayaan agar dapat masuk menjadi anggota perguruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Perguruan senam pernapasan tenaga dalam terbagi dalam dua aliran:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Pertama&lt;/span&gt;, bernafaskan keagamaan yang bersifat ekslusif –(hanya agama dan kepercayaan tertentu yang dapat menjadi anggotanya). Biasanya menggunakan ritual keagamaan sebelum dan pada saat latihan tenaga dalam. Jika perguruan tenaga dalam tersebut berbasis agama Islam, akan mewajibkan anggotanya menggunakan ama-lan, wirid dan puasa selama mem-pelajari tenaga dalam. Jika perguruan tenaga dalam itu berbasis agama Hindu, Budha atau Thaoisme maka menggunakan puja mantra pada dewa-dewi atau Budha, membakar hio dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Kedua,&lt;/span&gt; yang berbasis senam dan olah nafas saja tanpa ada unsur eksklusifisme agama di dalamnya, hingga semua agama masuk menjadi anggota perguruan. Dalam pelaksanaan latihannya boleh menggabungkan dengan ritual agama yang diyakininya.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Di antara tujuan perguruan tenaga dalam ketika mengajarkan senam pernapasan adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penyebaran ajaran agama atau kepercayaan tertentu.&lt;br /&gt;• Mengajarkan teknik-teknik tenaga dalam untuk perlindungan diri, kesehatan tubuh, baik secara fisik, psikis ataupun spiritual.&lt;br /&gt;• Mempererat tali persaudaraan.&lt;br /&gt;• Tujuan bisnis semata, terkadang merugikan anggotanya dengan persyaratan yang memberatkan secara finansial dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Cara membangkitkan tenaga dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaidah yang pertama adalah pernafasan. Kedua, pembinaan kekuatan pikiran. Akan tetapi sebelum itu seseorang perlu dibukakan cakranya terlebih dahulu oleh seorang guru yang memiliki tenaga dalam yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Asas membangkitkan tenaga dalam antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Pertama,&lt;/span&gt; keyakinan. Ketika seseorang hendak belajar tenaga dalam, harus memiliki keyakinan tentang adanya tenaga dalam. Cara menumbuhkan keyakinan ini adalah dengan mem-berikan sugesti pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Kedua, &lt;/span&gt;konsentrasi. Yaitu melupakan segala masalah-masalah keduniaan menuju satu hal saja.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Ketiga,&lt;/span&gt; kemauan. Karena dengan kemauan yang kuat inilah seseorang akan kotinu dalam mempelajari tenaga dalam.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Keempat,&lt;/span&gt; ketekunan. Ketekunan dalam latihan akan semakin memudahkan seseorang mendapatkan tenaga dalam.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;• Kelima,&lt;/span&gt; keajaiban pikiran. Salah satu efek tenaga dalam, sebagaimana yang diakui para praktisinya, adalah bisa menajamkan pikiran. Bahkan yang lebih ekstrim, bisa mengendalikan pikiran orang lain dan mengetahui hal-hal ghaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kesesatan Tenaga Dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sering kali khalayak ramai bertanya, apakah tenaga dalam itu benar-benar ada? Apakah tenaga dalam itu murni olah tubuh atau ada unsur makhluk halus di dalamnya? Apakah tenaga dalam itu bisa membuat kita sehat baik secara fisik dan psikis? Apakah tenaga dalam bisa meningkatkan spiritualitas kita? Sesuai-kah senam pernapasan tenaga dalam itu dengan syari’at Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita tertipu dengan istilah tenaga dalam yang rancu penjabarannya. Jika ‘tenaga dalam’ yang dimaksud adalah hasil pembakaran zat-zat makanan dalam tubuh hingga menjadi energi untuk kekuatan dan kelangsungan kesehatan tubuh, itu bisa kita terima, karena istilah ‘tenaga dalam’ tersebut adalah energi yang didapat dari zat-zat makanan yang kita makan tanpa ada unsur metafisika. Akan tetapi jika tenaga dalam tersebut bisa mementalkan orang, bisa membuat kebal, bisa meringankan tubuh, bisa menyakiti orang lain lewat gerak dan fungsi jurus yang telah kita latih, tentu berbeda jauh dan tidak bisa disamakan dengan ‘tenaga dalam’ dari hasil “pembakaran” zat-zat makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan istilah tenaga dalam yang berasal dari energi listrik tubuh, ini pun sebuah penipuan. Teori tubuh kita mempunyai impuls-impuls listrik sejauh ini memang telah dibuktikan oleh ahli biologi modern, dengan impuls-impuls listriklah syaraf-syaraf dapat bekerja dengan baik untuk menyampaikan pesan dari tubuh ke otak dan sebaliknya. Tetapi, jika dikatakan bahwa senam pernapasan bisa melipatgandakan energi listrik tubuh hingga bisa menjadi &#39;tenaga dalam,’ maka ini terlalu mengada-ada dan mencari pembenaran saja. Sebab, seluruh kerja sistem fisiologis dalam tubuh selalu berada pada keseimbangan. Sistem kerja impuls listrik atau syaraf tubuh manusia tidak bisa direkayasa lagi dan sama sekali tidak ada penelitian ilmiah yang bisa membuktikan bahwa listrik tubuh bisa direkayasa untuk mementalkan seseorang, kecuali hanya dugaan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan energi ghaib yang diistilahkan dengan tenaga prana, chi, ki, manna, ruah, energi Ilahi atau karamah dari luar tubuh yang kita serap untuk memperoleh tenaga dalam dari hasil pernapasan, harus kita koreksi kebenarannya. Sekarang ini sudah ada yang berusaha untuk bisa membuktikan atau mengklaim eksistensi energi ghaib, melihat aura bahkan ruh dengan menggunakan peralatan modern, seperti dengan menggunakan foto aura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Grand ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, ada toko bertuliskan “Xing Passion Reflexiology &amp; Aroma-therapy”. Toko itu mempunyai Aura Video Station dari Jerman seharga sekitar US$ 25.000 (dengan kurs sekarang sekitar Rp 225 juta). Harga tersebut termasuk satu paket software lengkap dengan beberapa peranti tambahan, seperti kartu PC dan kamera. Cara penggunaannya, tubuh seseorang harus menghadap ke arah sebuah kamera di atas layar monitor, lalu seluruh ujung jari dimasukkan ke sebuah alat berbentuk seperti telapak tangan. Alat tersebut terbuat dari logam dan langsung terhubung ke PC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah software Aura Video Sta-tion diaktifkan, wajah dan aura langsung terlihat. Tidak hanya itu, cakra yang ada dalam diri seseorang pun nampak. Apakah benar suatu hakikat bahwa Aura Video Station bisa membuktikan bahwa yang nampak pada layar monitor adalah aura atau lapisan tubuh bahkan cakra-cakra manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian ilmu pengetahuan metafisika sekarang ini mengenai lapisan tubuh halus, aura tubuh, atau sinar energi adalah asumsi lama tentang teori sinar yang telah dibantah oleh Albert Einstein dengan teori relatifitasnya, sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Abdul Muhsin Shalih di dalam bukunya al-Insan al-Hair baina al-Ilam al-Khurafah. Beliau menyajikan argumentasi-argumentasi ilmiah dengan dilengkapi foto yang mengungkapkan bahwa perkiraan berhasilnya foto aura dalam memotret atau melihat ruh adalah kesalahan atau bentuk penipuan ilmiah. Sebenarnya pengilmiahan tenaga dalam hanyalah kamuflase pelegitimasian agar bisa diterima oleh khalayak ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan ajaib yang dimiliki seseorang yang berlatih tenaga dalam seperti kebal, bisa mematahkan besi dragon, memecahkan botol yang su-dah diisi air, menaiki kertas koran dan aktraksi-atraksi lainnya terbagi tiga. Pertama, hanya berdasarkan trik-trik semata. Kedua, memang menggunakan unsur makhluk ghaib (jin). Ketiga, gabungan diantara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap aliran tenaga dalam mempunyai gerakan dasar yang sama dan terbagi dalam 10 jurus, dalam sepuluh jurus itu bisa digabung dan dijadikan jurus baru. Dapat disimpulkan bahwa senam pernapasan tenaga dalam mempunyai asal usul yang sama, walaupun dalam setiap aliran tenaga dalam mengklaim sumber ajaran tenaga dalamnya berbeda-beda dan saling mengunggulkan setiap alirannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada syubhat bahwa setelah masuk dan berlatih senam pernapasan tenaga dalam, tubuh menjadi sehat, secara psikis menjadi lebih tenang dan lebih dekat pada Tuhan. Dengan berlatih senam yang menggunakan olah pernapasan, tubuh kita memang menjadi sehat karena mematikan unsur negatif seperti virus dan bakteri, menetralkan zat kimia dalam tubuh, serta membantu memper-lancar suplai oksigen ke sel syaraf sehingga sel dapat berfungsi semestinya. Sel syaraf yang sehat berperan penting dalam mengaktifkan organ dan sel tubuh lainnya, dengan tubuh yang sehat maka kita akan bisa berfikir dengan jernih, dengan berkumpulnya bersama anggota masyarakat lain tentunya secara psikis juga kita lebih sehat karena bisa bersosialisasi dengan baik terhadap anggota masyarakat yang sama-sama ikut senam pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi senam pernapasan sangat luas pengertiannya, seperti joging atau lari pagi, senam kesegaran jasmani, jalan santai dengan menggerak-gerakkan tubuh lalu menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan-nya pelan-pelan tentu menyehatkan. Sedangkan jika berlatih senam pernapasan tenaga dalam selain ingin mendapatkan kesehatan dan disertai dengan niat mendapatkan suatu kekuatan tertentu yang bersifat ghaib, hal inilah yang mesti diwaspadai. Haki-kat keghoiban hanya milik Allah semata dan hanya diberitakan kepada Rasul yang diridoi-Nya. Allah menyatakan dalam firmannya:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;”(Dia adalah Tuhan) Yang Me-ngetahui yang ghoib,maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu itu kecuali kepada Rasul yang diridoi-Nya,maka sesungguhnya Dia mengadakan pen-jagaan (malaikat) di hadapan dan di-belakangnya.”(QS. Jin: 26-27)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan ayat ini maka jika kita melakukan senam pernapasan dengan niat untuk mendapatkan ke-kuatan ghaib, seperti berlatih jurus satu untuk membuat benteng diri, jurus dua untuk menundukkan lawan, jurus tiga untuk mementalkan lawan, jurus empat untuk membuka pagar betis lawan, jurus lima untuk memutarkan lawan, jurus enam untuk mengunci lawan, jurus tujuh untuk menarik lawan atau menarik sesuatu yang bersifat ghaib, jurus delapan untuk mematikan lawan jurus sembilan untuk membuka pagar ghaib lawan, jurus sepuluh untuk menarik energi alam semesta. Dari fungsi jurus-jurus itu dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan sesuai dengan kehendak penggunanya, semua itu adalah prilaku bid’ah dan sangat menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika meniatkan diri untuk menarik kekuatan tertentu pada saat menarik nafas dengan gerak jurus, menahan nafas dengan niat mengumpulkan atau membentuk suatu jenis energi atau kekuatan ghoib entah itu diistilahkan dengan Energi Ilahi, prana, chi, ki, bioenergi, karomah dan yang lainnya, maka pada saat itulah kita sadar atau tidak sadar membuka diri untuk dimasuki unsur makhluk ghoib, khodam, hantu siulian (dalam aliran tenaga dalam Cina dikatakan bahwa hantu siulian dapat membantu mem-peroleh kekuatan ghaib). Hingga makhluk itu membantu manusia sesuai dengan fungsi jurus yang diinginkannya. Dan inilah salah satu bentuk sihir sebagaimana Ibnul Qoyyim mengatakan: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Sihir adalah persenyawaan dari berbagai pengaruh ruh-ruh jahat dan interaksi kekuatan-kekuatan alam dengannya.”&lt;/span&gt; (Zadul maad: IV/127) Maksudnya adalah makhluk-halus itu masuk ke tubuh manusia dan membantu menjalankan sihir melalui prasarana alam seperti udara, aliran darah, reaksi fisiologis tubuh dari rekayasa ilmiah yang dilakukan jin dan setan. Hal ini bisa dilihat pada seseorang yang mempunyai ilmu kebal dengan bantuan jin dalam merekayasa dan memadatkan molekul tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Aturan main dalam menggunakan tenaga dalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Latihannya harus menggunakan emosi. Rahasia mereka ketika mempraktekkan tenaga dalam adalah musuhnya harus marah, sebab dengan marah tersebut syaithan bisa masuk dalam tubuh musuhnya sehingga bisa dipengaruhi jurus tenaga dalam, bukan karena listrik tubuh, energi yang dipancarkan ataupun alasan-alasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diperkuat oleh pernyataan para praktisi tenaga dalam bahwa jurus akan berfungsi penuh dan sempurna jika lawan dalam keadaan emosi. Jadi bukan karena energi tenaga dalam musuh yang sedang emosi dapat ditaklukkan dengan fungsi jurus-jurus tertentu, tetapi khodam (jin) jurus itulah yang langsung merasuk ke dalam tubuh lawannya yang sedang dalam keadaan emosi menuju otak-nya hingga lawannya bisa dia permainkan dengan fungsi jurus tenaga dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika latihan, mereka sering tidak sadar, terutama ketika sedang mempraktekkan jurus mereka, biasanya ada pada jurus putar, atau pada saat diharuskan emosi untuk praktek tenaga dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sama saja dengan sengaja membuat diri menjadi tidak sadar dan hal ini tidak dibenarkan dalam Islam, sebab Islam me-nganjurkan kita untuk senantiasa menjaga akal kita sehingga bisa senantiasa berdzikir ke-pada Allah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang disertai dengan puasa mutih (tidak boleh makan kecuali yang putih-putih), pati geni dan prosesi puasa bid’ah lainnya. Hal ini tidak ada syari’atnya dalam Islam. Atau untuk menjaga ilmunya dia harus menghindari pantangan-pantangan tertentu yang sebenarnya hal itu dihalalkan baginya sebelum dia memiliki ilmu tenaga dalam tersebut. Dan ini berarti mengharamkan yang dihalalkan Allah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Sebuah nasihat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernapasan tenaga dalam dengan niat hanya untuk kesehatan, bisa menjerumuskan ke dalam kesyirikan. Hal ini lebih besar mudharatnya daripada kebaikannya. Walaupun ada perguruan tenaga dalam yang mengiklankan dirinya hanya untuk kesehatan, tetapi tetap saja ada meditasi energi, penyaluran energi dan pasti diselingi praktek-praktek atraksi tenaga dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak senam pernapasan lain seperti senam kesegaran jasmani, senam jantung, joging, lari pagi, fitnes, yang jauh lebih aman dari kesyirikan jika niat kita belajar senam pernapasan hanya ingin sehat. Jika ada alasan ingin berlatih tenaga dalam untuk melindungi diri, apakah kita tidak mengkaji lagi doa-doa dan dzikir Rasulullah untuk memohon perlindungan dari segala mara bahaya yang hal itu selaras dengan akidah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: zonadiskusi.blogspot.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5830718439523069117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/5830718439523069117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/di-balik-ilmu-tenaga-dalam.html' title='Di Balik Ilmu Tenaga Dalam'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-7922147494032295459</id><published>2010-03-13T16:47:00.000-08:00</published><updated>2010-03-13T16:51:13.131-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Renungan"/><title type='text'>Menggapai Ketenangan Hidup</title><content type='html'>Allah SWT berfirman: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih ” (QS Ibrahim : 7)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda :&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt; “Orang dermawan, dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan syurga, sedangkan orang bakhil (pelit), jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka. Sungguh Allah SWT lebih mencintai hambanya yang bodoh tapi dermawan, dibandingkan dengan ahli ibadah (pandai) tapi pelit (bakhil) ” (Al Hadits-Riwayat Abu Hurairah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda: &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, Kalian tidak akan tersesat bila kalian berpegang teguh kepadanya yakni: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku (Hadits)“. (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini memang seperti pergantian siang dan malam. Siang dengan ciri khasnya terang dan malam dengan ciri khasnya gelap. Bagi orang yang sudah tahu ilmunya, tentu tidak ada masalah dengan pergantian siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika sudah tahu bahwa siang itu harus bekerja dan beraktivitas, maka ditunggulah siang. Dan karena tahu bahwa malam itu waktunya tidur, istirahat atau berusaha shalat tahajjud, maka datangnya malam sangat dinantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang alangkah indahnya jika kita senantiasa mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap apa yang akan kita hadapi, karena yang kasihan adalah orang yang tidak siap menghadapi siang ataupun malam. Misalnya, siang takut terkena tagihan dan malam takut tidak bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam menghadapi hidup ini. Orang yang tidak tahu rumusnya, maka dia akan selalu tegang. Mempunyai uang takut hilang, tidak punya uang takut tidak bisa membeli apa-apa. Musim mutasi takut kehilangan jabatan, sudah punya jabatan takut dipindahkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum punya suami takut tidak punya suami, sudah punya takut suami menikah lagi. Belum punya usaha takut tidak punya penghasilan, sudah punya usaha takut usahanya ambruk. Selalu takut, takut, dan terus ketakutan, lalu sesudah itu mati. Lantas, kapan bahagianya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, setiap orang pasti mendambakan ketenangan batin. Sebab jika hati tenang, maka kita akan merasa lebih nyaman dalam melakukan berbagai macam aktivitas baik duniawi maupun ukhrowi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Allah SWT telah mengajarkan pada kita langkah nyata untuk mendapatkan ketenangan hati, yaitu dengan dzikir. Sebagaimana firman-Nya, &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Ingatlah dengan dzikir mengingati Allah, hati akan tenteram.” (QS Ar Ra’d: 28).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan selalu mengingat Allah, hati akan tenteram. Sebaliknya, ketika kita jarang ingat pada Allah, hati akan kering dan gersang. Dengan kata lain, sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin hidup dalam tenterarn hati akan sangat terlihat dari berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berdzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tertambat hatinya kepada Allah, apa pun yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan, selalu dikorelasikan dengan Dzat Pencipta alam semesta ini. Seorang ahli dzikir akan jatuh dalam damai yang mendalam ketika merenungi hakikat pertumbuhan hidup manusia, sejak masih dalam rahim kemudian lahir hingga saat ajal tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam rahim, janin manusia, sejak masih dalam rahim kemudian lahir hingga saat ajal tiba. Ketika dalam rahim, janin manusia lemah tidak berdaya, namun semakin besar semakin kuat hingga sampai di puncak kekuatannya. Dan ketika semakin tua kekuatan itu mulai pudar, hingga manusia seolah kembali ke tingkat kekuatan bayi yang lemah. Semua ini tidak terjadi melainkan karena kuasa Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak mengingat Allah, maka kadar keimanannya akan semakin bertambah. la tidak akan takut diancam oleh apa dan siapa pun makhluk yang ada di dunia ini. la hanya merasa takut akan ancaman dan murka Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang telah mencapai derajat ini tidak pernah merasa waswas dalam bertindak. Tiap-tiap sesuatu yang dia hadapi dijadikan sebagai ladang amal. Bahkan dalam bertransaksi sekalipun ia akan memikirkan keuntungan bagi orang lain, la tidak khawatir dengan harga yang dipatok pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;la akan merasa bahagia jika mampu berbagi rezeki dengan orang lain, la sangat yakin bahwa yang mengatur rezeki adalah Allah dan ia akan berjuang sekuat tenaga agar rezeki itu jatuh ke tempat yang barakah. la tidak takut hartanya akan habis, sebab yakin bahwa Allah akan memberi kelapangan rezeki bagi siapa pun yang berhati murah dengan banyak berderma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, berdzikir harus senantiasa dilakukan setiap saat, sebab bila seseorang hanya mengingat Allah ketika shalat saja, maka ia akan selalu gelisah di luar shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang ingat Allah hanya ketika ia mendapat ancaman saja. Bahkan ada yang benar-benar tidak tahu siapa itu Allah selama hidupnya. Naludzubillahi min dzalik. Orang yang tidak kenal Allah, sehebat apa pun ia, sebanyak apa pun harta yang dimilikinya, serta setinggi apa pun derajatnya di mata manusia, sungguh ia akan selalu dicekam gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk terus berdzikir hendaknya diiringi dengan sabar dan syukur. Sebab kedua aspek tersebut dapat menghindarkan kita dari kebiasaan marah terhadap sesuatu yang telah mengecewakan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kemarahan yang kita luapkan bisa jadi karena tidak tercapainya keinginan atau harapan tinggi yang kita miliki. Memang, jika kita terlalu berharap untuk mendapatkan sesuatu, kita akan kecewa saat tidak mendapatkannya. Makin banyak keinginan, maka makin banyak peluang kita untuk marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya, kita harus siap menerima kenyataan, bahwa hidup ini penuh risiko dan tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mengapa? Sebab ketika kita mempunyai rencana, maka Allah juga mempunyai rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al Quran surat Al Hadiid ayat 22-23, Allah SWT berfirman, &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri meiainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita’terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, ayat di atas menyiratkan bahwa sesungguhnya apa pun yang terjadi di dalam dunia dan kehidupan setiap manusia sesungguhnya telah Allah tentukan. Dengan demikian, maka kita tidak perlu terlalu bersedih ketika ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, kita juga tidak boleh terlalu gembira melampaui batas ketika memperoleh kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika Allah telah menentukan semua hal, lantas apakah kita sudah tidak memiliki pilihan lagi? Tentu saja tidak demikian, karena Allah telah melengkapi manusia dengan software untuk memilih apa yang ingin kita pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi baik maupun untuk menjadi buruk. Mau lurus maupun bengkok, mau di jalan Allah atau di jalan sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, berarti kita harus meyakini bahwa itulah takdir terbaik dari Allah. Sepanjang kita sudah berusaha meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, tentu apa pun yang kita peroleh tidak akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah tidak sedikit orang yang ikhtiarnya sangat luar biasa namun belum juga memperoleh keberhasilan? Tugas kita hanya dua, luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun luar biasanya kecintaan seseorang terhadap dunia, sadarilah bahwa semua itu fana belaka. Kita tidak akan hidup selamanya, ada kampung akhirat yang senantiasa menanti. Karena itu, sudah sewajarnya bila setiap episode kehidupan kita jalani dengan penuh rasa syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode mempunyai kekayaan, jalani dengan ahli sedekah. Episode tidak memiliki harta kekayaan, jagalah diri kita dengan terus bekerja sebaik-baiknya dan tidak meminta-minta belas kasih orang lain. Saat datang episode dipuji, kita berusaha sekuat tenaga agar senantiasa rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode dihina, bersyukur karena itu mungkin pertolongan Ailah agar kita mau mengevaluasi diri. Episode sehat, perbanyaklah ibadah. Episode sakit, tingkatkan kesabaran sebab bisa jadi itu adalah lahan penggugur dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus senantiasa ber-husnudzhan terhadap ketentuan-ketentuan Allah yang menimpa diri kita, Jika kita merasa banyak berbuat kekhilafan dan dosa, yakinlah bahwa ampunan Allah lebih besar lagi daripada dosa-dosa yang kita perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus optimis bahwa Allah akan mengampuni kita. Dan tentu saja, kita juga harus optimis bahwa kita mampu terus memperbaiki diri. Justru sikap optimis itulah etika kita kepada Allah, sebab ketika kita diuji oleh Allah dengan aneka kesulitan justru supaya kita berpegang teguh kepada pertolongan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi berikutnya, kita harus selalu berlatih mengenal diri sendiri. Sebab jika seseorang ingin baik, maka ia terlebih dahulu harus mengetahui sesuatu yang ingin dia rubah menjadi baik. Pengetahuannya bisa ia dapatkan dari perenungan, dan jawaban dari orang yang kita tanyai tentang diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan kedua adalah upaya untuk memperbaiki. Setelah kita tahu kondisi kita, maka kita usahakan untuk meminimalisasi bahkan menghilangkan kekurangan yang kita miliki. Bila perlu, kita tulis dalam daftar semua keburukan yang kita miliki dan rumuskan formula-formula untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : Buletin Al-Salaam, Februari 2010</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/7922147494032295459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/7922147494032295459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/menggapai-ketenangan-hidup.html' title='Menggapai Ketenangan Hidup'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-2674912143230639561</id><published>2010-03-13T16:36:00.000-08:00</published><updated>2010-03-13T16:41:39.714-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Renungan"/><title type='text'>Masih Bolehkah Kita Tidak Bersyukur Kepada Allah?</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang ” (QS. An Nahl: 18)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita kecil, di musholla kecil yang mungkin tempat kita pertama belajar mengaji, selalu diajarkan oleh guru kita, betapa nikmat yang diberikan Allah begitu besar. Dari bentuk tubuh kita yang sempurna sampai kemampuan kita untuk bisa belajar. Itu semua adalah karunia Allah yang harus disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana tangan kita berfungsi dengan baik, kaki, mata, hidung, mulut, telinga, semua adalah pemberian Allah yang tidak bisa kita balas dengan apapun. Termasuk kehidupan yang kita jalani adalah kemurahan Allah pada makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berada di lingkungan keluarga yang lengkap, diberi istri atau suami yang selalu menenteramkan hati, diberi anak-anak yang menggembirakan, diberi orang tua yang menyayangi kita. Ini semua juga bentuk kasih sayang Allah pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terkadang kita lupa satu hal. Berterimakasih kepada-Nya, bersyukur pada-Nya. Bahkan walau hanya sekedar dengan mengucap kalimat sederhana, “Alhamdulillahirobbil ‘alamiin” kita lupa mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sekali saja kita coba menuliskan semua yang telah diberikan Allah pada kita. Pasti dan sangat pasti, kita akan membutuhkan sangat banyak kertas dan sangat banyak tinta untuk menulis semua kemurahan-Nya itu, bahkan itupun hanya yang kita ingat dan kita tahu. Belum lagi yang kita lupakan atau yang kita tidak sadar bahwa Allah telah memberikannya kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalaupun ternyata Allah tidak memberikan suatu hal yang orang lain miliki, misalnya kita diberi tubuh yang cacat, buta atau tuli atau pincang, itu semua pun bukan berarti Allah tidak sayang kepada kita. Tapi itu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ingin menguji kesabaran hamba-Nya. Jika ia bersabar dengan kekurangannya, itu sudah merupakan nilai tambah tersendiri yang akan menaikkan derajatnya dimata Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Dan sesunggguhnya Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah kamu kerjakan“. (QS An Nahl : 96).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, masih bolehkah kita tidak bersyukur atas semua nikmatyang Allah berikan itu?&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, kita diberi kehidupan di dunia ini adalah untuk dua hal yaitu bersabar dan bersyukur. Jika ditimpa musibah kita bersabar dan jika diberi kebaikan kita bersyukur. Maka kita sudah termasuk dalam golongan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Dari Suhaib r.a, bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orangyang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sabar sendiri adalah salah satu aplikasi dari rasa syukur kita kepada Allah. Dengan bersabar dan mencoba merenungi makna dibalik ujian, maka kita telah menjadi orang yang bersyukur. Karena dibalik setiap musibah dan ujian, ada banyak kebaikan yang akan kita peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit kita mungkin saja adalah cara Allah mengangkat dosa kita. Kehilangan harta adalah cara Allah mengingatkan akan adanya hak orang lain yang harus kita tunaikan. Kehilangan salah satu keluarga dapat mengingatkan kita bahwa kita semua tidak kekal ada di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan segala bentuk musibah adalah bentuk kasih sayang Allah pada kita.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa keburukan yang kita lakukan tidak akan mengurangi keagungan yang dimiliki Allah dan kebaikan yang kita lakukanpun takkan pernah menambah kemuliaan Allah sebagai pemilik alam ini. Lalu bagaimana kita mengungkapkan rasa syukur kita pada Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk menyatakan rasa syukur itu yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengakui di dalam bathin&lt;br /&gt;   2. Mengucapkannya dengan lisan&lt;br /&gt;   3. Menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak pemberi nikmat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa syukur kita harus meresap dalam hati, kita merasakan dan menyadari bahwa apa yang kita terima adalah benar-benar kemurahan Allah. Kita pun harus mengucapkannya dengan lisan kita yaitu dengan mengucap Hamdalah setiap kali kita mendapatkan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya diakui dalam hati dan diucapkan dengan lisan, kita juga harus membuktikan rasa syukur kita dengan amal perbuatan. Yaitu dengan menggunakan nikmat Allah itu untuk kebaikan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita gunakan waktu hidup kita untuk hal-hal yang bermanfaat, kita gunakan harta kita untuk membangun bukan untuk menghancurkan, kita gunakan tubuh kita untuk beribadah kepada Allah bukan bermaksiat kepada-Nya dan kita jadikan dunia ini untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Allah bukan sebagai tujuan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sebenarnya apa yang kita dapatkan dari bersyukur?&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumatkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim : 7)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada satu zarahpun perbuatan yang tidak dibalas oleh Allah. Maka ketika kita bersyukur atas segala nikmat yang kita terima, maka janji Allah adalah menambah ni’mat itu. Tapi bagi yang kufur nikmat tentu ada balasan juga dari Allah yaitu berupa azab yang pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sudah ditunjukkan Allah pada umat-umat terdahulu agar itu menjadi pelajaran bagi kita. Kisah kaum Nabi Nuh, Nabi Luth, kisah kaum Tsamud, dan ‘Ad. Semua adalah kisah yang harus kita jadikan tolak ukur akan balasan dari Allah atas perbuatan yang kita lakukan di dunia ini. Manfaat lain dari rasa syukur kita adalah membersihkan jiwa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa syukur akan menjadikan kita menjadi manusia yang rendah hati dan tidak sombong. Sifat penghambaan pada Allah akan melekat semakin kuat karena merasa apa yang diperolehnya di dunia ini adalah dari Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang kita dapatkan dari rasa syukur adalah mendorong jiwa untuk beramal sholeh dan mendayagunakan kenikmatan secara baik melalui hal-hal yang dapat menumbuh kembangkan kenikmatan tersebut. Kita akan mudah berbagi dengan orang lain yang kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan kesadaran kita bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan Allah yang harus kita jaga yang mungkin saja Allah menyertakan hak orang lain untuk kita sampaikan kepadanya. Dan ini adalah sebuah kesempatan lain yang Allah berikan pada kita untuk berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian rasa syukur kita juga membawa dampak muamalah kita dengan manusia berjalan baik. Memperbaiki dan melancarkan berbagai bentuk interaksi dalam sosial masyarakat, sehingga harta dan kekayaan yang dimiliki dapat terlindung dengan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu hal sederhana, yaitu bersyukur, kita mendapatkan banyak hal yang bahkan mungkin tidak terpikir oleh kita bahwa kita akan mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuka peluang beramal baik yang lain, Habluminallah dan habluminannas kita berjalan dengan seimbang, kitapun masih mendapatkan limpahan pahala dari Allah. Sungguh Maha Pemurahnya Allah pada makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mari kita bertanya pada hati kita yang paling dalam, pada kejujuran nurani kita yang masih bersih, pada kepatutan kita sebagai seorang hamba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bolehkah kita tidak bersyukur kepada-Nya???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Lembar Jum’at Oase, Edisi ke-7 tahun 2010</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2674912143230639561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2674912143230639561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/03/masih-bolehkah-kita-tidak-bersyukur.html' title='Masih Bolehkah Kita Tidak Bersyukur Kepada Allah?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-103388671042565228</id><published>2010-02-26T21:17:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T21:34:37.389-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kajian"/><title type='text'>Peringatan Maulid Nabi dalam Timbangan Islam</title><content type='html'>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Shalahuddin Al Ayubi Pro Maulid Nabi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang selalu mencari-cari dalil untuk membenarkan amalan tanpa tuntunan yang ia lakukan. Di antara cara yang dilakukan adalah menjadikan perkataan ulama Ahlus Sunnah sebagai argumen untuk mendukung bid’ah mereka. Inilah yang terjadi dalam perayaan Maulid Nabi. Di antara perkataan ulama Ahlus Sunnah yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, disalahpahami oleh sebagian kalangan sehingga beliau pun disangka mendukung perayaan Maulid. Begitu pula ada perkataan lain dari Ibnu Hajar Al ‘Asqolani mengenai hal ini. Ibnu Hajar adalah di antara ulama yang memiliki ketergelinciran dalam masalah Maulid. Nantinya kami juga akan membahas syubhat (kerancuan) lainnya yang sengaja disuarakan oleh para simpatisan Maulid seperti pemutarbalikkan sejarah Maulid yang disangka dipelopori oleh Shalahuddin Al Ayubi. Semoga Allah memudahkan untuk mengungkap yang benar dan yang batil. Allahumma yassir wa a’in (Ya Allah, mudahkan dan tolonglah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kerancuan Pertama: Salah Paham dengan Perkataan Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu website yang kami telusuri, ada perkataan Syaikhul Islam sebagai berikut, “Merayakan maulid dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin dalam setahun sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian orang, akan mendapatkan pahala yang besar sebab tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah SAW.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan beliau inilah yang menjadi dasar sebagian kalangan yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung Maulid. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat selengkapnya terdapat dalam kitab Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد ولهذا قيل للامام أحمد عن بعض الأمراء إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال دعه فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجديد الورق والخط وليس مقصود أحمد هذا وإنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة وفيه أيضا مفسدة كره لأجلها فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا وإلا اعتاضوا الفساد الذي لا صلاح فيه مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور ككتب الأسماء أوالأشعار أو حكمة فارس والروم&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara tahunan, hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, diceritakan kepada imam Ahmad mengenai beberapa pemimpin (umaro’) bahwasanya mereka menginfaqkan 1000 dinar untuk pencetakan Mushaf. Maka beliau berkata, “Biarkan mereka melakukan itu, itulah infaq terbaik yang dapat mereka lakukan dengan emas” atau sebagaimana yang Imam Ahmad katakan. Padahal menurut madzhab Imam Ahmad, makruh hukumnya memperindah mushaf. Namun sebagian pengikut Imam Ahmad menafsirkan maksud Imam Ahmad adalah beliau memakruhkan memperbaharui kertas dan khothnya. Namun sebenarnya maksud Imam Ahmad bukanlah seperti yang ditafsirkan ini. Imam Ahmad memaksudkan bahwa memperindah mushaf ini ada mashlahat (manfaat) di satu sisi dan ada pula mafsadatnya (bahayanya). Inilah yang beliau makruhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perlu diketahui bahwa jika mereka (para umara’) tidak melakukan hal ini (yaitu memperindah mushaf), tentu mereka akan melakukan hal-hal lain yang tidak berfaedah. Misalnya para umara’ tersebut malah menyalurkan infaq mereka untuk mencetak buku-buku tidak bermoral: buku cerita yang hanya menghabiskan waktu, buku sya’ir (yang sia-sia belaka) dan buku filsafat dari Persia dan Romawi.”[2] Demikian perkataan beliau rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang membaca teks di atas secara utuh, insya Allah dia tidak memiliki pemahaman yang keliru. Lihat baik-baik perkataan beliau di atas: ”Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik”. Dari perkataan beliau ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak dianggap baik oleh orang-orang yang mendapat taufik. Jika ada yang menganggap amalan Maulid itu baik, maka dia adalah orang yang keliru. Maka ini menunjukkan bahwa Maulid bukanlah amalan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita lihat kembali perkataan Syaikhul Islam lainnya dalam kitab yang sama (Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim) agar kita tidak salah keliru dengan perkataan beliau di atas. Dalam beberapa lembaran sebelumnya, Syaikhul Islam mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه و سلم وتعظيما له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه و سلم عيدا مع اختلاف الناس في مولده فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضى له وعدم المانع منه ولو كان هذا خيرا محضا أو راجحا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه و سلم وتعظيما له منا وهم على الخير أحرص وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره وإحياء سنته باطنا وظاهرا ونشر ما بعث به والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان فإن هذه هي طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Begitu pula halnya dengan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang. Boleh jadi perbuatan mereka menyerupai tingkah laku Nashrani sebagaimana Nashrani pun memperingati kelahiran (milad) ‘Isa ‘alaihis salam. Boleh jadi maksud mereka adalah mencintai dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan. Padahal perlu diketahui bahwa para ulama telah berselisih pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau. Apalagi merayakan maulid sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Padahal ada faktor pendorong (untuk memuliakan nabi) dan tidak ada faktor penghalang di kala itu. Seandainya merayakan maulid terdapat maslahat murni atau maslahat yang lebih besar, maka para salaf tentu lebih pantas melakukannya daripada kita. Karena sudah kita ketahui bahwa mereka adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kita. Mereka juga tentu lebih semangat dalam kebaikan dibandingkan kita. Dan perlu dipahami pula bahwa cinta dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna adalah dengan ittiba’ (mengikuti) dan mentaati beliau yaitu dengan mengikuti setiap perintah, menghidupkan ajaran beliau secara lahir dan batin, menyebarkan ajaran beliau dan berjuang (berjihad) untuk itu semua dengan hati, tangan dan lisan. Inilah jalan hidup para generasi utama dari umat ini, yaitu kalangan Muhajirin, Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”&lt;/span&gt;[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami rasa sudah jelas jika kita memperhatikan penjelasan beliau yang kedua ini. Jelas sekali beliau menyatakan perayaan Maulid itu tidak ada salafnya (pendahulunya) artinya amalan yang tidak ada tuntunannya, bahkan merayakan Maulid sama halnya dengan Natal yang dirayakan oleh Nashrani. Lantas dengan penjelasan beliau ini apakah masih menuduh beliau rahimahullah mendukung maulid?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon jangan menukil perkataan beliau sebagian saja, cobalah pahami perkataan beliau secara utuh di halaman-halaman lainnya dalam kitab Iqtidho’. Simak baik-baik perkataan beliau di atas: “Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan.” Dari sini, beliau menggolongkan maulid sebagai bid’ah karena memang tidak pernah diadakan oleh para salaf dahulu (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Namun perayaan ini dihidupkan dan diada-adakan oleh Dinasti ‘Ubaidiyyun[4]. Dan ingat, beliau katakan bahwa mudah-mudahan mereka mendapat pahala karena mengangungkan dan mencintai beliau, namun bukan pada acara bid’ah maulid yang mereka ada-adakan. Mohon pahami baik-baik perkataan beliau ini. Semoga Allah beri kepahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tegas lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan mengenai Maulid Nabi dapat dilihat dalam Majmu’ Al Fatawa sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ : إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنَ عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ أَوْ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ أَوْ ثَامِنِ شَوَّالٍ الَّذِي يُسَمِّيهِ الْجُهَّالُ عِيدَ الْأَبْرَارِ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ .&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ‘Idul Abror (lebaran ketupat)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.”&lt;/span&gt;[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkan perkataan beliau baik-baik. Apakah bisa dipahami dari perkataan terakhir ini bahwa beliau mendukung Maulid? Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita sekalian agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kerancuan Kedua: Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Membolehkan Maulid Nabi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perkataan berikut kami nukil dari kitab Al Hawiy yang ditulis oleh Imam As Suyuthi.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم وعلى هذا فينبغي أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى في يوم عاشوراء ومن لم يلاحظ ذلك لا يبالي بعمل المولد في أي يوم من الشهر بل توسع قوم فنقلوه إلى يوم من السنة وفيه ما فيه – فهذا ما يتعلق بأصل عمله، وأما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال ما كان من ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم لا بأس بإلحاقه به وما كان حراما أو مكروها فيمنع وكذا ما كان خلاف الأولى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Hafizh di masa ini, Abul Fadhl Ibnu Hajar ditanya mengenai amalan Maulid, beliau pun menjawab dengan redaksi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan buid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua.” Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rasulullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih. Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu. Kalau perkara yang dilakukan ketika itu mubah maka hukum merayakannya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya”.&lt;/span&gt;[7]&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Sanggahan untuk kerancuan di atas:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Yang harus dipahami dari setiap perkataan ulama bahwa mereka tidaklah ma’shum, artinya mereka tidaklah luput dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karenanya, seharusnya yang jadi pegangan adalah dalil. Janganlah bersikap mengambil pendapat mereka yang ganjil berdasarkan selera dan hawa nafsu. Jika ketergelinciran dan kekeliruan mereka yang diambil, maka pasti kita pun akan menuai kejelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaiman At Taimi mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اِجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka pasti akan terkumpul padamu kejelekan.” Setelah mengemukakan perkataan ini, Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, ”Ini adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama, saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Auza’i mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَخَذَ بِنَوَادِرِ العُلَمَاءِ خَرَجَ مِنَ الإِسْلاَمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengambil pendapat yang ganjil dari para ulama, maka ia bisa jadi keluar dari Islam.” Asy Syatibi menyampaikan adanya ijma’ (kesepakatan para ulama) bahwa mencari-cari pendapat yang ganjil dari para ulama tanpa ada pegangan dalil syar’i adalah suatu kefasikan dan hal ini jelas tidak dibolehkan.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Ibnu Hajar rahimahullah telah mengatakan di atas: “Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama”, maka sebenarnya perkataan beliau ini sudah cukup untuk menyatakan tercelanya perayaan Maulid. Cukup sebagai sanggahannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya amalan tersebut (perayaan maulid) baik, tentu mereka (para sahabat dan tabi’in) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Justru dalil puasa Asyura di atas bisa berbalik pada orang yang pro Maulid. Jika puasa Asyura adalah dalil untuk memperingati Maulid, maka tentu para salaf dahulu akan menjadikannya sebagai dalil. Sudah dipastikan bahwa mereka telah berijma’ (bersepakat) tidak merayakan maulid karena tidak satu pun di antara generasi awal Islam yang merayakannya. Argumen yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah sebenarnya telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan) para ulama salaf dari sisi pemahaman dan pengamalan. Siapa saja yang menyelisihi ijma’ salaf, berarti ia telah keliru. Karena para salaf tidaklah mungkin bersatu melainkan dalam petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Keempat:&lt;/span&gt; Menyimpulkan dibolehkannya perayaan Maulid dari puasa Asyura adalah pendalilan yang terlalu memberat-beratkan diri dan pendalilan semacam ini tertolak. Karena ingatlah bahwa Maulid adalah ibadah dan bukan amalan sosial sebagaimana kata sebagian orang. Buktinya adalah yang merayakan maulid ingin merealisasikan cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun lewat jalan yang keliru. Dan juga setiap yang merayakannya pasti ingin cari pahala. Bagaimana mungkin ini dikatakan bukan ibadah?! Jika perayaan tersebut adalah ibadah, maka landasannya adalah dalil dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya sangkaan baik semata. Jika masih mengklaim bahwa Maulid adalah bid’ah hasanah, maka cukup kami sanggah dengan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Umar mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kelima:&lt;/span&gt; Ingatlah bahwa mengenai puasa Asyura ada dorongan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya. Hal ini jauh berbeda dengan perayaan Maulid yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mendorong untuk melakukannya.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kerancuan Ketiga: Shalahuddin Al Ayubi Mempelopori Peringatan Maulid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini lebih terkenal kalau Shalahuddin Al Ayubi adalah pelopor Maulid Nabi dalam rangka menyemangati para pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami merasa aneh kenapa pejuang Sunnah yang anti Rafidhah (Syi’ah) malah diklaim sebagai pemrakarsa perayaan Maulid. Perlu diketahui bahwa Shalahuddin Al Ayubi adalah seorang raja dan panglima Islam. Beliau bahkan yang melenyapkan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).[13]&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Lalu siapakah sebenarnya ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun)?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.”[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama, “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].”[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah (Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).”[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin Shalahuddin menghidupkan perayaan Maulid sedangkan beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun?! Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Beliau menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.”[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Beliau yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Di masa beliau, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terbesar luas.”[19][20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan ini, sangat mustahil jika kita katakan bahwa Shalahuddin Al Ayubi yang menjadi pelopor perayaan Maulid, padahal beliau sendiri yang menumpas ‘Ubaidiyyun. Sungguh, jika ada yang menyatakan bahwa Shalahuddin sebagai pelopor Maulid, maka ini sama saja memutar balikkan sejarah. Sejarah yang benar, Shalahuddin itu menumpas ‘Ubaidiyyun sebelum diadakan perang salib karena ‘Ubaidiyyun yang sebenarnya melemahkan kaum muslimin dengan maulid yang mereka ada-adakan. Namun inilah kenyataan sejarah yang direkayasa yang diputarbalik dan disebar di negeri ini. Hanya Allah yang beri taufik.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kerancuan Keempat: Argumen Peringatan Maulid dengan Puasa Senin Kamis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah kerancuan lainnya dari kalangan pro Maulid. Mereka mengatakan, “Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah hadits dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).”[21]&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;Sanggahan terhadap syubhat di atas:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Bagaimana mungkin dalil di atas menjadi pendukung untuk merayakan hari kelahiran beliau[?] Ini sungguh tidak tepat dalam berdalil. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melaksanakan puasa pada tanggal kelahirannya yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, dan itu kalau benar pada tanggal tersebut beliau lahir. Karena dalam masalah tanggal kelahiran beliau masih terdapat perselisihan. Yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah puasa pada hari Senin bukan pada 12 Rabiul Awwal[!] Seharusnya kalau mau mengenang hari kelahiran Nabi dengan dalil di atas, maka perayaan Maulid harus setiap pekan bukan setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Ingatlah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya menjadikan hari Senin untuk berpuasa namun juga hari kamis. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.”[22] Sehingga hadits yang dikemukakan kalangan pro Maulid bukan menunjukkan bahwa beliau ingin memperingati hari kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Jika memperingati maulid adalah dalam rangka bersyukur kepada Allah atas kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka cara memperingatinya adalah dengan berpuasa sebagaimana yang beliau contohkan. Namun kami belum ketahui ada yang bersyukur dengan cara seperti ini. Yang ada bentuk syukurnya adalah dengan membaca shalawat tanpa tuntunan, bahkan ada pula yang memperingatinya dengan bermusik ria.[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan kami mengenai beberapa syubhat yang ada dari para simpatisan Maulid. Namun masih banyak syubhat dan kerancuan lainnya, moga-moga lain waktu bisa kami lengkapi insya Allah. Kerancuan dan jawaban lainnya bisa dilihat di artikel kami sebelumnya di sini. Intinya, syubhat yang dimunculkan tidak terlepas dari dua kemungkinan, yaitu boleh jadi dengan anggapan baik semata (tanpa dalil) dan boleh jadi dengan dalil namun salah dalam memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Cukuplah maksud kami ini sebagaimanan yang dikatakan oleh Nabi Syu’aib,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Syubhat ini dikemukakan di salah satu web pro Maulid Nabi. Silakan lihat link berikut &gt;&gt; http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1 . Begitu pula Syubhat ini dilontarkan oleh pemilik blog Salafytobat di sini &gt;&gt; http://salafytobat.wordpress.com/2009/03/04/sunnah-maulid-nabi-allah-pun-merayakan-maulid-nabi-nabi/ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim li Mukholafati Ash-haabil Jahiim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Tahqiq &amp; Ta’liq: Dr. Nashir ‘Abdul Karim Al ‘Aql, 2/126-127, Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1419 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Lihat Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim, 2/123-124.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Coba lihat pembahasan tentang “Sejarah Kelam Maulid Nabi” di sini &gt;&gt; http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2925-sejarah-kelam-maulid-nabi.html atau di sini &gt;&gt; http://muslim.or.id/manhaj/antara-cinta-nabi-dan-perayaan-maulid-nabi-2.html . Insya Allah akan kami singgung pula dalam penjelasan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 25/298, Darul Wafa’,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat Al Hawi Lil Fatawa, As Suyuthi, 1/282, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Syubhat ini disampaikan dari web pro Maulid Nabi di link berikut &gt;&gt; http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat Kasyful Jaani, Muhammad At Tiijani, hal. 96, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Sanggahan ini kami olah dengan beberapa tambahan dari Al Bida’ Al Hawliyah, ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz bin Ahmad At Tuwaijiri, hal. 159-161, Darul Fadhilah, cetakan pertama, tahun 1421 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Dinukil dari Al Maulid, hal. 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Majmu’ Al Fatawa, 35/127&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Wafayatul A’yan, 3/117-118&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Majmu’ Al Fatawa, 35/138&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Majmu’ Al Fatawa, 3/281.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] Untuk mengetahui selengkapnya mengenai Shalahuddin Al Ayubi apakah mendukung Maulid, silakan baca di buku “Benarkan Shalahudin Al Ayubi mengerjakan Maulid Nabi?”, yang ditulis oleh Al Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Maktabah Muawiyah bin Abi Sofyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Syubhat ini dijadikan dalil bolehnya perayaan Maulid Nabi di web pada link berikut &gt;&gt; http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1150&amp;Itemid=1 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 4897.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] Lihat sanggahan dalam kitab Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 176.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: www.muslim.or.id</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/103388671042565228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/103388671042565228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/02/peringatan-maulid-nabi-dalam-timbangan.html' title='Peringatan Maulid Nabi dalam Timbangan Islam'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-6184677319610863697</id><published>2010-02-16T01:08:00.001-08:00</published><updated>2010-02-16T01:18:19.320-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Terrorism in Islam"/><title type='text'>Islam Is Not The Source Of Terrorism, But Its Solution</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Introduction&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the last two decades in particular, the concept of &quot;Islamic terror&quot; has been often discussed. In the wake of the September 11 terrorist attacks on targets in New York and Washington which caused the death of tens of thousands of innocent civilians, this concept has once again returned to the top of the international agenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Muslims, we completely condemn these attacks and offer our condolences to the American people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this article, we will explain that Islam is by no means the source of this violence and that violence has no place in Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We strongly condemn the cruel terrorist acts which targeted the innocent people of the United States.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One point that should be stressed at the outset is that the identities of the perpetrators of the acts of terrorism which targeted the United States are not yet determined. There is a chance that these horrible attackers are linked to quite different centres. It may well be a communist organization harboring rage and hatred against American values, a fascist organization opposing federal administration or a secret faction in another state. Even though the hijackers have Muslim identities, the questions regarding by whom and for what purposes these people were used will probably remain to be a mystery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The fact remains however, that even if the terrorists have Muslim identities, the terror they perpetrated cannot be labelled &quot;Islamic terror&quot;, just as it would not be called &quot;Jewish terror&quot; if the perpetrators were Jews or &quot;Christian terror&quot; if they were Christians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That is because, as we will examine in the following pages, murdering innocent people in the name of religion is unacceptable. We need to keep in mind that, among those who were killed in Washington or New York, there were people who loved Jesus (Christians), Prophet Moses (Jews) and Muslims. According to Islam, murdering innocent people is a great sin that, unless forgiven by God, brings torment in Hell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thus, a religious person who has fear of God can never commit such an act.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In fact, the aggressors can commit such violence only with the intention of attacking religion itself. It may well be that they carried out this violence to present religion as evil in the eyes of people, to divorce people from religion and to generate hatred and reaction against pious people. Consequently, every attack having a &quot;religious&quot; facade on American citizens or other innocent people is actually an attack made against religion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All the three Theistic religions command love, mercy and peace. Terror, on the other hand, is the opposite of religion; it is cruel, merciless and it demands bloodshed and misery. This being the case, while looking for the perpetrators of a terrorist act, its origins should be sought in disbelief rather than in religion. People with a fascist, communist, racist or materialist outlook on life should be suspected as potential perpetrators. The name or the identity of the triggerman is not important. If he can kill innocent people without blinking an eye, whatever his label is, then he is a disbeliever, not a believer. He is a murderer with no fear of God, whose main ambition is to shed blood and to give harm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For this reason, &quot;Islamic terror&quot; is quite a erroneous concept which contradicts Islam&#39;s message. That is because, the religion of Islam can by no means concur with terror. On the contrary, Muslims are responsible for preventing terrorist acts and bringing peace and justice to the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;The Values of the Qur&#39;an demands Goodness, Justice and Peace&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terror, in its broadest sense, is violence committed against non-military targets for political purposes. To put it in another way, the targets of terror are entirely innocent civilians whose only crime is, in the eyes of terrorists, to represent &quot;the other&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is an act bereft of any moral justification. This, as in the case of murders committed by Hitler or Stalin, is a crime committed against &quot;mankind&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Qur&#39;an is a Book revealed to people as a guide to the true path and in this Book, God commands man to adopt good morals. This morality is based upon concepts such as love, compassion, tolerance and mercy. God calls all people to Islamic morals through which compassion, mercy, peace and tolerance can be experienced all over the world:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;You who believe! Enter absolutely into peace (Islam). Do not follow in the footsteps of Satan. He is an outright enemy to you. (Surat al-Baqara :208)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The values of the Qur&#39;an hold a Muslim responsible for treating all people, whether Muslim or non-Muslim, kindly and justly, protecting the needy and the innocent and preventing the &quot;dissemination of mischief&quot;. Mischief comprises all forms of anarchy and terror that remove security, comfort and peace. As God says in a verse, &quot;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;God does not love mischief makers&quot;. (Surat al-Qasas: 77)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Murdering a person for no reason is one of the most obvious examples of mischief. God repeats in the Qur&#39;an a command He formerly revealed to Jews in the Old Testament thus:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;So We decreed for the tribe of Israel that if someone kills another person - unless it is in retaliation for someone else or for causing corruption in the earth - it is as if he had murdered all mankind. And if anyone gives life to another person, it is as if he had given life to all mankind. Our Messengers came to them with Clear Signs but even after that many of them committed outrages in the earth. (Surat al-Ma&#39;ida: 32)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the verse suggests, a person who kills even a single man, &quot;unless it is in retaliation for someone else or for causing corruption in the earth&quot;, commits a crime as if he had murdered all mankind on earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This being the case, it is obvious what great sins are the murders, massacres and, attacks, popularly known as &quot;suicide attacks&quot;, committed by terrorists are. God informs us how this cruel face of terrorism will be punished in the hereafter in the following verse:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;There are only grounds against those who wrong people and act as tyrants in the earth without any right to do so. Such people will have a painful punishment. (Surat ash-Shura: 42)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All these reveal that organizing acts of terror against innocent people is utterly against Islam and it is unlikely that any Muslim could ever commit such crime. On the contrary, Muslims are responsible for stopping these people, removing &quot;mischief on earth&quot; and bringing peace and security to all people all over the world. Being a Muslim cannot be reconciled with terror. Just the contrary, it is the solution and prevention of terror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This being the case, how did the popular term &quot;Islamic terror&quot; emerge?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What has been examined so far reveals that it is not possible to talk about an &quot;Islamic&quot; terror. Indeed, a closer look at the characteristics of the perpetrators explicitly reveals that this terror is not a religious but a social phenomenon.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Crusaders: Barbarians Who Trampled Their Own Religion&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A helmet used by the Crusaders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The true message of a religion or another system of belief can be at times exposed to distortion by its pseudo-adherents. The Crusaders, who constitute a dark episode of Christian history, set a good example of this.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crusaders were European Christians who undertook the expeditions at the end of the 11th century to recover the Holy Land (the area around Palestine) from the Muslims. They set out with a so-called religious goal, yet they laid waste each acre of land they entered with fear and violence. They subjected civilians to mass executions and plundered many villages and towns.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Their conquest of Jerusalem, where Muslims, Jews and Christians lived under Islamic rule in peace, became the scene of immense bloodshed. They violently killed all Muslims and Jews. The Crusaders&#39; barbarism was so excessive that, during the Fourth Crusade, they plundered Istanbul, also a Christian city, and stole the golden objects from the churches.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite the fact that Christianity is a religion of love and pacifism, the Crusaders slaughtered innocent people in the name of Christ. They misunderstood their religion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No doubt, all this barbarism was utterly against Christian political doctrine. That is because, Christianity, in the words of the Bible, is a &quot;gospel of love&quot;. In the Gospel according to Matthew, it is said that Jesus said &quot;Love your enemies and pray for those who persecute you&quot; to his followers (Matthew, 5/44) In the Gospel according to Luke, it is said that Jesus said &quot;If someone strikes you on one cheek, turn to him the other also.&quot; (Luke, 6/29) No doubt, in no part of the New Testament, is there reference to the legitimacy of violence; murdering innocent people, on the other hand, is unimaginable. You can find the concept of &quot;massacre of the innocents&quot; in the Bible; yet, only in the cruel Jewish King Herod&#39;s attempt to kill Jesus while he was a baby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While Christianity is a religion based on love that accommodates no violence, how did Christian Crusaders carry out the most violent acts of history? The major reason for this is that, Crusaders were mainly made up of ignorant people who could better be defined as &quot;rabble&quot;. These masses, who knew almost nothing about their religion, who had never read or even seen the Bible once in their lifetime, and who were therefore completely unaware of the moral values of the Bible, were led into barbarism under the conditioning of Crusaders&#39; slogans as &quot;God wills it&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is worth mentioning that in that period, Eastern Christians - the people of Byzantium, for instance - who were culturally far ahead of Western Christians, espoused more humane values. Both before and after the Crusaders&#39; conquests, Orthodox Christians managed to live together with Muslims. According to Terry Johns, the BBC commentator, with the withdrawal of the Crusaders from Middle East, &quot;civilized life started again and members of the three monotheistic faith returned to peaceful coexistence.&quot; [1] The example of the Crusaders is indicative of a general phenomenon: The more the adherents of an ideology are uncivilized, intellectually underdeveloped and &quot;ignorant&quot;, the more likely they are to resort to violence. This also holds true for ideologies that have nothing to do with religion. All communist movements around the world are prone to violence. Yet the most savage and blood-thirsty of them was the Khmer Rouge of Cambodia. That is because they were the most ignorant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just as ignorant people may take a violence-ridden opinion to the point of insanity, so they may confuse violence with an opinion against violence (or to religion). The Islamic world also experienced such cases.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;The Bedouin Character in the Qur&#39;an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the period of our Prophet, there existed two basic social structures in Arabia. City-dwellers and Bedouins (Desert Arabs). A sophisticated culture prevailed in Arab towns. Commercial relations linked the towns to the outer world, which contributed to the formation of &quot;civilized life&quot; among Arabs dwelling in cities. They had refined aesthetic values, enjoyed literature and, especially poetry. Desert Arabs, on the other hand, were the nomad tribes living in the desert who had a very crude culture. Utterly unaware of arts and literature, they developed an unrefined, harsh character.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam was born and developed among the inhabitants of Mecca, the most important city of the peninsula. However, as Islam spread to the peninsula, all tribes in Arabia embraced it. Among these tribes were also Desert Arabs, who were somehow problematic: their poor intellectual and cultural background prevented them from grasping the profundity and noble spirit of Islam. Of this God states the following in a verse:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;The Desert Arabs are more obdurate in disbelief and hypocrisy and more likely not to know the limits which God has sent down to His Messenger. God is All-Knowing, All-Wise. (Surat at-Tawba: 97)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;The Desert Arabs, that is, social groups who were &quot;obdurate in disbelief and hypocrisy&quot; and prone to disobey God&#39;s commands, became a part of the Islamic world in the Prophet&#39;s lifetime. In latter periods, they became a source of trouble for the Islamic world. The sect called &quot;Kharijis&quot; that emerged among Bedouins was an example. The most distinctive trait of this perverse sect (which was called &quot;Kharijis&quot; the rebels because they greatly deviated from Sunni practises), was their extremely vulgar, wild and fanatical nature. The &quot;Kharijis&quot;, who had no comprehension whatsoever of the essence of Islam or of the virtues and the values of the Qur&#39;an, waged war against all other Muslims and based this war on a few Qur&#39;anic verses about which they made distorted interpretations. Furthermore, they carried out &quot;acts of terrorism&quot;. Caliph Ali, who was one of the closest companions of the Prophet and was described by him as the &quot;gate of the city of knowledge&quot;, was assassinated by a Kharijite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In latter periods, &quot;Hashashis&quot; (Assassins), another brutal organization, emerged; this was a &quot;terrorist organization&quot; made up of ignorant and fanatical militants bereft of a profound understanding of the essence of Islam and thus who could be readily influenced by simple slogans and promises.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In other words, just as the Crusaders distorted and misinterpreted Christianity as a teaching of brutality, some perverted groups emerging in the Islamic world misinterpreted Islam and resorted to brutality. What is common to these sects and the Crusaders was their &quot;Bedouin&quot; nature. That is, they were ignorant, unrefined, uncultivated, vulgar, and isolated people. The violence they resorted resulted from this social structure, rather than the religion to which they claimed to adhere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;The Actual Source of Terrorism: The Third World Fanaticism&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These examples from history are enlightening for a better understanding of the phenomenon, the so-called &quot;Islamic terror&quot;, which is nowadays on the top of the international agenda. That is because those who emerge and carry out acts of terrorism in the name of Islam or those who back such acts -these people, no doubt, represent a minority in the world of Islam- stem from this &quot;Bedouin character&quot;, not from Islam. Failing to understand the essence of Islam, they try to make Islam, essentially a religion of peace and justice, a tool of barbarism, which is simply an outcome of their social and cultural structure. The origin of this barbarism, which may well be called the &quot;Third World Fanaticism&quot;, is the benighted initiatives of people who are devoid of love for humans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is a fact that, for the last few centuries, Muslims in all corners of the Islamic world, are being subjected to violence by Western forces and their affiliates. The colonialist European states, local oppressive regimes or colonialists backed by the West (Israel, for instance) caused great suffering for Muslims at large. However, for Muslims, this is a situation that has to be approached and responded to from a purely Qur&#39;anic stance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In no part of the Qur&#39;an does God command believers to &quot;respond to violence with violence&quot;. On the contrary, God commands Muslims to &quot;respond to evil with goodness&quot;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;A good action and a bad action are not the same. Repel the bad with something better and, if there is enmity between you and someone else, he will be like a bosom friend. (Surat al-Fussilat: 34)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is no doubt a legitimate right of Muslims to react against cruelty. However, these reactions should never turn into a blind hatred, an unjust enmity. God warns about this in the following verse:&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt; &quot;... Do not let hatred for a people who debar you from the Masjid al-Haram incite you into going beyond the limits. Help each other to goodness and heedfulness. Do not help each other to wrongdoing and enmity. Heed God Allah (alone)...&quot; (Surat al-Ma&#39;ida: 2)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Consequently, carrying out terrorist acts under the pretence of &quot;representing the oppressed nations of the world&quot;, against the innocent people of other nations is by no means compatible with Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another point that deserves a special mention here is that all the Western world cannot be held responsible for the aforementioned colonialist (or &quot;neo-colonialist) violence and oppression against Muslims. Actually, the materialist, irreligious philosophies and ideologies that prevailed in the 19th century are responsible for these dismal acts. European colonialism did not originate from Christianity. On the contrary, anti-religious movements opposing the values of Christianity led the way to colonialism. At the roots of the greatest brutalities of the 19th century lies the Social Darwinist ideology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the Western world today, there are still cruel, mischievous and opposing elements as well as a culture dominated by peaceful and just elements that have its roots in Judeo-Christian faith. As a matter of fact, the main disagreement is not between the West and Islam. Contrary to the general opinion, it is between the religious people of the West and of the Muslim world on the one hand, and the people opposing religion (like materialists and atheists.) on the other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another indication that Third World Fanaticism has nothing to do with Islam is that, until recently, this fanaticism has been identified with communist ideology. As is known, similar anti-Western acts of terror were carried out in 1960s and 70s by Soviet-backed communist organizations. As the impact of the communist ideology faded, some of the social structures which gave birth to communist organizations have turned their attention to Islam. This &quot;brutality presented under the guise of religion&quot;, which is formulated by the incorporation of some Islamic concepts and symbols into the former communist rhetoric are entirely against the moral values constituting the essence of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anti-Western radicalism once used the communist ideology to support its violence. Now it is trying to use religious concepts.&lt;br /&gt;A last remark about this issue is that Islam is not peculiar to a particular nation or geography. Contrary to the dominant Western perception, Islam is not an &quot;Eastern culture&quot;. Islam is the last religion revealed to mankind as a guide to the true path that recommends itself to all humanity. Muslims are responsible for communicating the true religion they believe in to all people of all nations and cultures and making them feel closer to Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Consequently, there is a unique solution for people and groups who, in the name of Islam, resort to terror or establish oppressive regimes and turn this world into a dreadful place instead of beautifying it: revealing the true Islam and communicating it so that the masses can understand and live by it.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Conclusion: Recommendations to the Western World&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Today, the Western world is concerned about the organizations that use terror under the guise of Islam and this concern is not misplaced. It is obvious that those carrying out terror and their supporters should be punished according to international judicial criteria. However, a more important point to consider is the long-term strategies that have to be pursued for viable solutions to these problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The assessments above reveal that terror has no place in Islam. They further show the inherently contradictory nature of the concept of &quot;Islamic terror&quot;. This provides us with an important vantage point:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) The Western world, especially the United States, will surely take the most dissuasive measures to cope with terror and it has the right to do that. However, it has to state explicitly that this is not a war waged against Islam and Muslims but, on the contrary, a measure serving the best interests of Islam. The &quot;Clash of civilizations&quot;, the dangerous scenario envisioned in the 90&#39;s should be at all costs prevented.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Support should be provided for the spread of &quot;True Islam&quot;, which is a religion of love, friendship, peace and brotherhood, and for its true understanding by Islamic societies. The solution for radical factions in Islamic countries should not be &quot;forced secularization&quot;. On the contrary, such a policy will incite more reaction from the masses and feed radicalism. The solution is the dissemination of true Islam and the appearance of a Muslim role-model who embraces Qur&#39;anic values such as human rights, democracy, freedom, good morals, science and aesthetics, and who offers happiness and bliss to humanity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) The source of terrorism is ignorance and bigotry and the solution is education. To the circles who feel sympathy with terror, it should be said that terror is utterly against Islam, that terror only does harm to Islam, Muslims and to humanity at large. Besides, these people have to be provided with education in order to be purified of this barbarism. The United States&#39; support to such an education policy will yield very positive results.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our hope is that these measures will help to the world get rid of terrorism and all other bigoted, brutal, barbarous structures. With its Christian-dominated culture and population, the United States, which defines itself as &quot;a nation under God&quot;, is in fact a real friend of the Muslims. In the Qur&#39;an, God draws attention to this fact and informs us that Christians are those who are &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;most affectionate to those who believe&quot;. (Surat al-Ma&#39;ida: 82)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;In history, some ignorant people (for instance, Crusaders) failed to understand this fact and caused conflicts between these two great religions. To prevent the repetition of this scenario, true Christians and Muslims need to come together and co-operate. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: www.harunyahya.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/6184677319610863697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/6184677319610863697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/02/islam-is-not-source-of-terrorism-but.html' title='Islam Is Not The Source Of Terrorism, But Its Solution'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-8839658082176469849</id><published>2010-02-16T01:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T01:06:38.118-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Terrorism in Islam"/><title type='text'>What Does Islam Say About Terrorism?</title><content type='html'>One of the distinctive characteristics of the times we live in is the overwhelming presence of violence in our societies. Whether it is a bomb going off in a market place, or the hijacking of an aircraft where innocent people are held at ransom to achieve political ends, we live in an age, where the manipulation and loss of innocent lives has become commonplace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Such is the all-pervasive nature of indiscriminate violence, that “terrorism” is considered as one of the prime threats to peace and security in our societies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The word terrorism came into wide usage only a few decades ago. One of the unfortunate results of this new terminology is that it limits the definition of terrorism to that perpetrated by small groups or individuals. Terrorism, in fact, spans the entire world, and manifests itself in various forms. Its perpetrators do not fit any stereotype. Those who hold human lives cheap, and have the power to expend human lives, appear at different levels in our societies. The frustrated employee who kills his colleagues in cold-blood or the oppressed citizen of an occupied land who vents his anger by blowing up a school bus are terrorists who provoke our anger and revulsion. Ironically however, the politician who uses age-old ethnic animosities between peoples to consolidate his position, the head of state who orders “carpet bombing” of entire cities, the exalted councils that choke millions of civilians to death by wielding the insidious weapon of sanctions, are rarely punished for their crimes against humanity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is this narrow definition of terrorism that implicates only individuals and groups, that has caused Muslims to be associated with acts of destruction and terror, and as a result, to become victims of hate violence and terror themselves. Sometimes the religion of Islam is held responsible for the acts of a handful of Muslims, and often for the acts of non-Muslims!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Could it be possible that Islam, whose light ended the Dark Ages in Europe, now propound the advent of an age of terror? Could a faith that has over 1.2 billion followers the world over, and over 7 million in America, actually advocate the killing and maiming of innocent people? Could Islam, whose name itself stands for “peace” and “submission to God”, encourage its adherents to work for death and destruction?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For too long, have we relied on popular images in the media and in Hollywood films, for answers to these pertinent questions. It is now time to look at the sources of Islam, and its history to determine whether Islam does indeed advocate violence.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;SANCTITY OF HUMAN LIFE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Glorious Qur’an says:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“…take not life, which God hath made sacred, except by way of justice and law: thus doth He command you, that ye may learn wisdom.”&lt;br /&gt;[Al-Qur’an 6:151]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Islam considers all life forms as sacred. However, the sanctity of human life is accorded a special place. The first and the foremost basic right of a human being is the right to live. The Glorious Qur’an says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“…if any one slew a person - unless it be for murder or for spreading mischief in the land - it would be as if he slew the whole people: and if any one saved a life, it would be as if he saved the life of the whole people.”&lt;br /&gt;[Al-Qur’an 5:32]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Such is the value of a single human life, that the Qur’an equates the taking of even one human life unjustly, with killing all of humanity. Thus, the Qur’an prohibits homicide in clear terms. The taking of a criminal’s life by the state in order to administer justice is required to uphold the rule of law, and the peace and security of the society. Only a proper and competent court can decide whether an individual has forfeited his right to life by disregarding the right to life and peace of other human beings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;ETHICS OF WAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even in a state of war, Islam enjoins that one deals with the enemy nobly on the battlefield. Islam has drawn a clear line of distinction between the combatants and the non-combatants of the enemy country. As far as the non-combatant population is concerned such as women, children, the old and the infirm, etc., the instructions of the Prophet are as follows: &quot;Do not kill any old person, any child or any woman&quot;[1]. &quot;Do not kill the monks in monasteries&quot; or &quot;Do not kill the people who are sitting in places of worship.&quot;[2] During a war, the Prophet saw the corpse of a woman lying on the ground and observed: &quot;She was not fighting. How then she came to be killed?&quot; Thus non-combatants are guaranteed security of life even if their state is at war with an Islamic state.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;JIHAD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While Islam in general is misunderstood in the western world, perhaps no other Islamic term evokes such strong reactions as the word ‘jihad’. The term ‘jihad’ has been much abused, to conjure up bizarre images of violent Muslims, forcing people to submit at the point of the sword. This myth was perpetuated throughout the centuries of mistrust during and after the Crusades. Unfortunately, it survives to this day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The word Jihad comes from the root word jahada, which means to struggle. So jihad is literally an act of struggling. The Prophet Muhammad (peace be upon him) said that the greatest jihad is to struggle with the insidious suggestions of one’s own soul. Thus jihad primarily refers to the inner struggle of being a person of virtue and submission to God in all aspects of life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secondarily, jihad refers to struggle against injustice. Islam, like many other religions, allows for armed self-defense, or retribution against tyranny, exploitation, and oppression. The Glorious Qur’an says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“And why should ye not fight in the cause of God and of those who, being weak, are ill-treated (and oppressed)? - Men, women, and children, whose cry is: &quot;Our Lord! Rescue us from this town, whose people are oppressors; and raise for us from thee one who will protect; and raise for us from thee one who will help!&quot;&lt;br /&gt;[Al-Qur’an 4:75]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thus Islam enjoins upon its believers to strive utmost, in purifying themselves, as well as in establishing peace and justice in the society. A Muslim can never be at rest when she sees injustice and oppression around her. As Martin Luther King Jr. said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We will have to repent in this generation not merely for the hateful words and actions of the bad people but for the appalling silence of the good people.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam enjoins upon all Muslims to work actively to maintain the balance in which God created everything. However, regardless of how legitimate the cause may be, the Glorious Qur’an never condones the killing of innocent people. Terrorizing the civilian population can never be termed as jihad and can never be reconciled with the teachings of Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;HISTORY OF TOLERANCE&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Even Western scholars have repudiated the myth of Muslims coercing others to convert. The great historian De Lacy O&#39;Leary wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;History makes it clear, however, that the legend of fanatical Muslims, sweeping through the world and forcing Islam at the point of sword upon conquered races is one of the most fantastically absurd myths that historians have ever repeated.&quot;[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslims ruled Spain for roughly 800 years. During this time, and up until they were finally forced out, the non-Muslims there were alive and flourishing. Additionally, Christian and Jewish minorities have survived in the Muslim lands of the Middle East for centuries. Countries such as Egypt, Morocco, Palestine, Lebanon, Syria, and Jordan all have significant Christian and/or Jewish populations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is not surprising to a Muslim, for his faith prohibits him from forcing others to see his point of view. The Glorious Qur’an says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;“Let there be no compulsion in religion: Truth stands out clear from Error: whoever rejects evil and believes in God hath grasped the most trustworthy hand-hold, that never breaks. And God heareth and knoweth all things.”&lt;br /&gt;[Al-Qur’an 2:256]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;ISLAM - THE GREAT UNIFIER&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Far from being a militant dogma, Islam is a way of life that transcends race and ethnicity. The Glorious Qur’an repeatedly reminds us of our common origin:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“O mankind! We created you from a single (pair) of a male and a female, and made you into nations and tribes, that ye may know each other (not that ye may despise (each other). Verily the most honored of you in the sight of God is (he who is) the most righteous of you. And God has full knowledge and is well acquainted (with all things).”&lt;br /&gt;[Al-Qur’an 49:13]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Thus, it is the universality of its teachings that makes Islam the fastest growing religion in the world. In a world full of conflicts and deep schisms between human beings, a world that is threatened with terrorism, perpetrated by individuals and states, Islam is a beacon of light that offers hope for the future.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Narrated in the collection of traditions of Abu Dawud&lt;br /&gt;[2] Narrated in the Musnad of Imam Ibn Hanbal&lt;br /&gt;[3] Islam At Crossroads, London, 1923, page 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: whyislam.org</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8839658082176469849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/8839658082176469849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/02/what-does-islam-say-about-terrorism.html' title='What Does Islam Say About Terrorism?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-3387640805676433421</id><published>2010-02-15T14:50:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T14:58:21.017-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Terrorism in Islam"/><title type='text'>Islam - A Religion of Terror ?</title><content type='html'>A bomb goes off in a marketplace in Jerusalem. A suicide bomber launches himself into a bus full of women and children in Tel Aviv. Foreign tourists get massacred at a holiday resort in Luxor, Egypt. Villages upon villages get annihilated in Algeria. The list of events worldwide which have come to symbolise the &#39;Islamic terror&#39; are endless. From the times in the 70&#39;s and 80&#39;s when Pan Am and TWA aeroplanes would be highjacked, to the mid 80&#39;s in war torn Lebanon where Americans and Europeans would be held as hostages for years; all such incidents have come to be identified with the religion of Islam. Such incidents from past and present have undoubtedly affected Muslims worldwide and more so in the West. Any Muslim, who wants to practice his/her religion and expresses the pious desire to live under the banner of Islam, is labelled a fundamentalist or extremist. Any Muslim man who walks down a busy street in London or Paris (and Paris moreso) with a beard and a scarf on his head, is looked upon as being a terrorist who&#39;s probably got an AK47 stashed somewhere on his person. Muslim women who are veiled can&#39;t go anywhere in the Western world without being taunted as being oppressed or being mad (for covering up). However, are such beliefs and opinions about Islam really justified?&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Exploring the myth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of the many short comings which has arisen in the West, is judging Islam by the conduct of a minority of its people. By doing this, segments of Western society have deliberately played off the desperate actions of many Muslims, and have given it the name of Islam. Such behaviour is clearly not objective and seeks to distort the reality of Islam. For if such a thing was done Judge a religion by the conduct of its people) then we too could say that all Christianity is about is child molesting and homosexuality [1] whilst Hinduism was all about looting and breaking up mosques [2]. Generalising in such a manner is not seen as being objective, yet we find that the Western world is foremost in propagating this outlook on Islam. So what is the reality of Islam? How does one dispel the myths which have been created and spread so viciously? The only way to examine Islam is to simply examine its belief system. Look at its sources, the Qur&#39;an and Sunna, and see what they have to say. This is the way to find the truth about what Islam says about terror, terrorism and terrorists. One who is sincerely searching for the truth, will do it no other way. The very name Islam comes from the Arabic root word &#39;salama&#39; which means peace. Islam is a religion which is based upon achieving peace through the submission to the will of Allah. Thus, by this very simple linguistic definition, one can ascertain as to what the nature of this religion is. If such a religion is based on the notion of peace, then how is it that so many acts done by its adherents are contrary to peace? The answer is simple. Such actions, if not sanctioned by the religion, have no place with it. They are not Islamic and should not be thought of as Islamic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Jihad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The word jihad sends shivers down the spines of many Westerners. They readily equate this term with violence and oppression. However, it must be said that the meaning of jihad, as a &#39;holy war&#39;, is something which is totally foreign and not from Islam. If anything, such a description belongs more so to Christianity and its adherents. It was terms like this which were used to justify the slaughter and pillage of towns and cities during the crusades by the Christians. By simply looking into the sources of Islam, one is able to know that the true meaning of jihad is to strive/make effort in the way of Allah. Thus striving in the way of Allah can be both peaceful and physical. The Prophet Muhammed (saws) said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;The best jihad is (by) the one who strives against his own self for Allah, The Mighty and Majestic&quot; [3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the Qur&#39;an, Allah also says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;So obey not the disbelievers, but make a great jihad (effort) against them (by preaching) with it (the Qur&#39;an)&quot;&lt;br /&gt;(Surah Al-Furqan 25:52&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By controlling and fighting against ones desires, the Muslims can then also physically exert themselves in the path of Allah. It is this physical or combative jihad which receives so much criticism. Because of the sheer ignorance of this type of jihad Islam is regarded as terror, and Muslims are regarded as terrorists. However, the very purpose of this physical jihad is to raise the word of Allah uppermost. By doing this, it liberates and emancipates all those who are crying out for freedom all over the world. If the likes of the pacifists of this world had their way, then the world would indeed be full of anarchy and mischief. The combative jihad seeks to correct this as Allah says in the Qur&#39;an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;And if Allah did not check one set of people by means of another, the Earth would be full of mischief. But Allah is full of bounty to the worlds&quot;&lt;br /&gt;(Surah Al-Baqarah 2:251)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Such would be the corruption on this Earth if there had never been a combative jihad that Allah says:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;For had it not been that Allah checks one set of people by means of another, monasteries, churches, synagogues and mosques, wherein the name of Allah is mentioned much, would surely have been pulled down. Indeed Allah will help those who help His (cause). Truly Allah is All strong, All mighty&quot;&lt;br /&gt;(Surah Al-Hajj 22:40)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This combative jihad being both defensive and offensive, is something which is commanded by Allah upon the Muslims. Through this command the oppressed and weak are rescued from the tyranny of the world:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;And what is the matter with you that you do not fight in the cause of Allah and for those weak, ill treated and oppressed among men, women and children whose only cry is; &#39;Our Lord, rescue us from this town whose people are oppressors and raise for us from you one who will protect and raise for us from you one who will help&quot;&lt;br /&gt;(Surah An-Nisa 4:75&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyone who knows the early history of Islam, will know that all those nations and empires which came under the fold of Islam were indeed previously oppressed. When the companions of the Prophet Muhammed (saws) went out for the offensive jihad against the Egyptians, the Persians and the Romans, we find that the people did not resist against them at all. Rather, they accepted Islam on such a scale, that it is inconceivable that the jihad of Islam could be anything other then a liberation for these people; a liberation from centuries of tyranny. In fact, with the Byzantine Egyptians and the people of Spain, the Muslims were even beckoned to come and liberate these lands from the oppression of their kings. This is the glorious track record of the Muslim jihad Compare this with the brutal track record of warfare in the Western world over the centuries. From the crusades against the Muslims to the days of colonial warfare, the Western world has killed, destroyed and plundered everything which has come in its way. Even today this merciless killing goes on by the Western nations. While claiming to be about world peace and security, Western nations are ready to bomb innocent civilians at the drop of a hat. The classic example of this is the recent bombings of Sudan and Afghanistan. Whilst claiming that Sudan and Afghanistan were havens for Islamic terrorists, the bombings of these two nations could not have come at a better time for the American president Bill Clinton. The destruction of innocent lives which were a result of these bombings clearly seem to have been an attempt by Clinton to avert attention away from his sexual misdemeanours; [4] something which he so often gets caught up in. Without doubt this was the reason for such terror from the American military upon innocent people. This is the same American military which claims to enter the worlds trouble spots under the guise of being peace keepers. But&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;… when it is said to them; &#39;Make not mischief on the Earth&#39;, they say; &#39;We are only peace makers&#39;. Indeed they are the ones who make mischief, but they perceive it not&quot; (Surah Al-Baqarah 2:11-12)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;The hypocrisy of the West is indeed astounding.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By looking at the rules and regulations of this combative jihad it will be clear to any sincere person that this is indeed the religion of truth. When fighting an unjust enemy, no matter how unjust they are, it is forbidden by Islam that their retreating forces are mutilated, tortured or slaughtered. The treacherous violation of treaties and carrying out assassinations after a cease fire, are also prohibited. Allah says in the Qur&#39;an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;And fight in the way of Allah those who fight you. But do not transgress the limits. Truly Allah loves not the transgressors&quot;&lt;br /&gt;(Surah Al-Baqarah 2:190)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not transgressing the limits means not to kill women and children, for the Messenger of Allah (saws) &quot;forbade the killing of women and children&quot; [5]. Not transgressing the limits means that the elderly, the sick, monks, worshippers and hired labourers are not attacked. Not transgressing the limits means not killing animals wantonly, burning crops and vegetation, polluting waters and destroying homes, monasteries, churches and synagogues:&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Allah does not forbid you to deal justly and kindly with those who fought not against you on account of religion, nor drove you out of your homes. Indeed, Allah loves those who deal with equity&quot;&lt;br /&gt;(Surah Al-Mumtahinah 60:8)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After reading such passages from the Qur&#39;an and knowing about what Islam commands and prohibits in jihad, the rules of warfare are given a new meaning; a meaning of justice. How sad it is then, that whilst Islam is condemned for striking terror into the hearts of the people, the likes of the Serbs, the Indian army in Kashmir and the Israeli soldiers in Palestine are left untarnished for the atrocities they have committed in the name of warfare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So what about suicide bombing, is this too a part of jihad in Allah&#39;s path? From what has already been stated above, it can be deduced that this is not from the religion. However, unfortunately many Muslims have taken suicide bombing as being a virtuous act by which one receives reward. This could not be further from the truth. The Prophet (saws) said: &quot;Those who go to extremes are destroyed&quot; [6]. Suicide bombing is undoubtedly an extremity which has reached the ranks of the Muslims. In the rules of warfare, we find no sanction for such an act from the behaviour and words of the Prophet Muhammed (saws) and his companions. Unfortunately, today (some misguided) Muslims believe that such acts are paving the way for an Islamic revival and a return to the rule of Islam&#39;s glorious law. However, we fail to bear in mind that the Prophet (saws) said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Do not be delighted by the action of anyone, until you see how he ends up&quot; [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, for example what is the end of a suicide bomber in Palestine?, a leg here, an arm there. Massive retaliation by the Israeli&#39;s in the West Bank and Gaza. More Muslims killed and persecuted. How can we be delighted with such an end? What really hammers the final nail in the coffin of this act, is that it is suicide; something which is clearly forbidden in Islam. The Messenger of Allah (saws) said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;He who kills himself with anything, Allah will torment him with that in the fire of Hell&quot; [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some are under the misconception that by killing oneself for an Islamic cause, one commits an act which deserves Paradise. Once when a man killed himself, the Prophet (saws) said: &quot;He is a dweller of the Fire&quot;. When the people were surprised at this, the Prophet (saws) said:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;A person performs the deeds which to the people appears to be the deeds befitting the dweller of Paradise, but he is in fact one of the dwellers of the Fire&quot; [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The taking of ones life which Allah has given as a trust to the human, is a great sin. Likewise the taking of other lives (which is so often the case with suicide bombing) is also forbidden, as human life is indeed precious:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;...If anyone killed a person not in retaliation for murder or to spread mischief in the land, it would be as if he killed the whole of mankind. And (likewise) if anyone saved a life, it would be as if he saved the whole of mankind&quot;&lt;br /&gt;(Surah Al-Maaida 5:32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thus, all other types of extremities such as hostage taking, hijacking and planting bombs in public places, are clearly forbidden in Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;The Media&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By going through the teachings of Islam, it is clear that such a religion has only come to benefit mankind - not to destroy it. So why is there so much hatred for this noble religion in the West? The answer is simple, the media. It is the Jewish influenced media of the West which has portrayed Islam to be something that it is not. During the 70&#39;s and 80&#39;s when the PLO (Palestine Liberation Organisation) were carrying out daring highjacks on the worlds airways, the media in the West portrayed it as being Islamic. When the Shi&#39;ite suicide bombers of the 80&#39;s were causing so much havoc in the Lebanon and in the Gulf region, the media in the West portrayed it as a part of Islam. However, it is known by the heads of the media that the likes of the PLO were not an Islamic organisation, and that according to Islam, Shi&#39;ites are outside the fold of Islam [10]. Yet such facts are never portrayed by a media which seeks to cover the truth of this religion. A number of years ago, when the Oklahoma City bomb went off, a headline in one of the newspapers, &#39;Today&#39; [11], summed up this attitude. With a picture of a fire fighter holding a dead child in his arms, the headline read: &quot;In The Name of Islam&quot; Time has of course proven that this bigoted assumption was incorrect, as Timothy McVeigh, a right wing radical now faces the death penalty for the crime [12]. Likewise the bombs which went off in the Paris metro in 1995, were also blamed on Muslim fanatics. It has now emerged that the Algerian secret service who having routinely bribed many European journalists and MPs, were actually behind it. The desire to throw a veil over Islam is immense by these people:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;They intend to put out the light of Allah with their mouths, but Allah will complete His light even though the disbelievers hate (it)&quot;&lt;br /&gt;(Surah As-Saff 61:8)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With such immense pressure against it, it is indeed a blessing from Allah that Islam goes from strength to strength. It continues to grow faster then any other religion in the Western world, conquering the hearts and minds of thousands. All this should not even surprise us though, for Allah has promised us that this religion will prevail:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;&quot;It is He who has sent His Messenger with the guidance and the religion of truth, so that He may make it victorious over all other religions, even though the disbelievers detest it&quot;&lt;br /&gt;(Surah As-Saff 61:9)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is a must that humanity comes towards the religion of Islam. Without it, we will continue to slip down the road of inequity and darkness. With it we can establish a society of justice and peace. Religion of terror? ... no. The way forward? ... yes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;There is no compulsion in religion. The right path has indeed become distinct from the wrong. So whoever rejects false worship and believes in Allah, then he has grasped the most trustworthy handhold that will never break. And Allah is All Hearing, All Knowing&quot;&lt;br /&gt;(Surah Al-Baqarah 2:256)&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Footnotes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 By using the many cases of child abuse and homosexuality by priests, Such a generalisation about Christianity could be made&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 By using the incident of the destruction of the Babri mosque in Ayodya, India in December 1992 by Hindu zealots, such generalisations could be made about Hinduism&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Authentic - Reported by At-Tabaranee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Years of sexual liaison with a White House aide, Monica Lewinski, has been proved against Mr Clinton. Since this time, a number of other women have also claimed that they have had affairs with the president. And this is the same man who propagates family values and to whom millions look up to!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Reported by Bukhari - Eng. Trans, Vol.4, p. 160, No. 258&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Authentic - Reported by Ahmed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Authentic - Reported by Ahmed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Reported by Muslim - Eng. Trans, Vol. 1, p.62, No.203&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Reported by Muslim - Eng. Trans, Vol. 1, p.64, No.206&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 The beliefs which are contained in the books of the Shi&#39;ites places them outside of the fold of Islam generally. However, upon the individual Shi&#39;ite, the proofs need to be established before one can say that he or she is a disbeliever&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 This newspaper no longer exists&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 It is strange indeed that whilst the Western media criticises Islamic law for being barbaric and harsh, not a word is said about the fact that McVeigh too will be executed just as someone would in an Islamic state&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 These two groups killed Arabs, Jews and the British. They are accredited with the massacre at the village of Deir Yassin, in which many innocent people were butchered&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Despite the fact that the UN has even made a resolution against Israel for this illegal occupation, no &#39;democratic peace loving nation&#39; (like the USA!!) has bothered to implement it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sourec:www.beconvinced.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/3387640805676433421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/3387640805676433421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/02/islam-religion-of-terror.html' title='Islam - A Religion of Terror ?'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-2318791702601410309</id><published>2010-02-15T14:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T14:49:54.980-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Terrorism in Islam"/><title type='text'>Islam &amp; Terrorism</title><content type='html'>Every time speculation arises that a bomb is responsible for a tragedy, such as the TWA Flight 800 crash, we in America (including Muslims) suspect the Islamic connection. Of course the disclaimers abound, but a lingering suspicion about Muslims is left in the general views of terrorism, even if other groups are identified as the main culprits for any particular incident.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This perception is not due to any intrinsic resentment of Islam by the American people. It is understood that the mainstream of Muslims, the vast majority of them, like in every other faith, is peaceful and pay their taxes, trying to make America a better society, trying to improve relations with neighbors and colleaguees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But images and terminology influence public opinion, and a bitter taste is left when Islam is reported in the daily headlines. The term &quot;Islamic fundamentalism&quot;, whatever it means, has been repeated enough times in relation to violent incidents that naturally, any thinking human being has to be uncomfortable with the fact that America is home to a vibrant Muslim community. The problem stems from negative images about Islam. In the court of public opinion, Islam is guilty until proven innocent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even though the Middle East was home to fewer terrorist incidents than Latin America and Europe, for example, it is still regarded as the region where terrorism is rooted. According to a recent US State Department report, Patterns of Global Terrorism, issued earlier this year, 272 terrorist events occurred in Europe, 92 in Latin America and 45 in the Middle East. Sixty-two anti-US attacks occurred in Latin America last year, 21 in Europe and 6 in the Middle East. These numbers represent the terrorist trend and not an anomaly, whereby the majority of perpetrators are not linked to the Middle East or Islam. The Red Army Faction in Germany, the Basque Separatists in Spain, the Tamil Tigers in Sri Lanka, the Shining Path in Peru and the National Liberation Army in Columbia are not viewed with the same horror as terrorist groups of Muslim background.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no moral justification for terrorism regardless of the ethnic or religious background of the perpetrator or the victim, but the factual basis of terrorism has been either hidden or twisted in the public&#39;s perception of this policy problem, especially in congressional hearings on terrorism. The countries with the worst terrorist records in the world are not in the Middle East either. They are not even Muslim countries outside the Middle East. They are Columbia and Germany, havens for drug lords and neo-Nazis.&lt;br /&gt;The negative association of Islam with terrorism exists, but no one has ever asked &quot;Why?” Could it be that American society cannot overcome the Khomeini phobia, even though he is dead? The US Congress found it necessary to push $20 million towards covert operations in toppling the Iranian government even at the dissent of people in the CIA. The Arab countries, both friend and foe, are run by tyrants who kill more of their own people than those outside their countries. The presumption that these countries represent a threat to American interests or that any one of them can dominate the region or even rival the only remaining superpower is indeed generous. So the issue is not these countries&#39; hegemony in their region or the world, but about who can dominate their people and exploit their resources.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The perception in the Middle East is that US policy does not serve the peoples interests; it protects Israel and friendly Arab dictators even when they violate human rights, while it slaps sanctions on and takes military actions against countries whose dictators misbehave, resulting in suffering, starvation and even slaughter, all in the name of teaching the tyrants a lesson. The priorities in the Middle East for the US are not human rights and democracy, but rather oil and Israeli superiority. Consequently, anti-American sentiment increases. This mood of the general public is then characterized as &quot;Islamic fundamentalism&quot;, even though the resentment is not rooted in religion. When it turns violent, it is termed &quot;radical Islamic fundamentalism&quot; or &quot;Islamic terrorism.&quot; The various &quot;terrorism experts&quot; promote linkage to the Middle East before any other possibility every time terrorism is speculated. They exploit the human suffering of the victims, their families, and the fears of the American public.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeed, extremists of Muslim backgrounds are violating the norms of Islamic justice and should be held accountable for their criminal behavior, but we in America should not be held hostage to the politics of the Middle East or biased reporting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Israeli journalist, Yo&#39;av Karny, reporting on the events in Chechnya made a striking observation about this development: &quot;The West will be told--and will be inclined to believe--that the oppression of the Chechens is part and parcel of a cosmic struggle against &#39;Islamic extremism&#39; that rages from Gaza to Algeria, from Tehran to Khartoum. Russians will seek Western sympathy. They should not be given it.&quot; The issue is not Chechnya, and it is not even about Islam and the West. Debates about religious wars and cultural clashes only distract us from the real issue: the powerful want to continue dominating the powerless, manipulating facts to influence public opinion, hence maintaining the status quo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: www.beconvinced.com</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2318791702601410309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2318791702601410309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/02/islam-terrorism.html' title='Islam &amp; Terrorism'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6092870267174769062.post-2337824336158273648</id><published>2010-02-15T07:24:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T07:26:57.639-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="The Muslim Belief"/><title type='text'>Who is Allah</title><content type='html'>slam is the complete submission and obedience to Allah (God). The name Allah (God) in Islam never refers to Muhammad (peace be upon him), as many Christians may think; Allah is the personal name of God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;What do Muslims believe about Allah?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. He is the one God, Who has no partner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nothing is like Him. He is the Creator, not created, nor a part of His creation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. He is All-Powerful, absolutely Just.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. There is no other entity in the entire universe worthy of worship besides Him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. He is First, Last, and Everlasting; He was when nothing was, and will be when nothing else remains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. He is the All-Knowing, and All-Merciful,the Supreme, the Sovereign.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. It is only He Who is capable of granting life to anything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. He sent His Messengers (peace be upon them) to guide all of mankind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. He sent Muhammad (peace be upon him) as the last Prophet and Messenger for all mankind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. His book is the Holy Qur&#39;an, the only authentic revealed book in the world that has been kept without change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Allah knows what is in our hearts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These are some of the basic guidelines Muslims follow in their knowledge of God:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Eliminate any anthropomorphism (human qualities) from their conception of Allah. His attributes are not like human attributes, despite similar labels or appellations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Have unwavering faith in exactly what Allah and Prophet Muhammad (peace be upon him) described Allah to be, no more, no less.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Eradicate any hope or desire of learning or knowing the modality of His names and attributes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Believe totally in all the names and attributes of Allah; one cannot believe in some and disbelieve the others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. One cannot accept the names of Allah without their associated attributes, i.e. one cannot say He is Al-Hayy - &#39;The Living&#39; and then say that He is without life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Similarity in names (or meanings) does not imply similarity in what is being described (referents). As a robotics arm differs from a human arm, so the &quot;hand&quot; of Allah is nothing like a human hand, His speech is nothing like human speech, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Certain words are ambiguous or vague in their meanings, and thus may be susceptible to misinterpretation. Only those meanings that are in accordance with what is specified by Allah and His Prophet (peace be upon him) are acceptable.</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2337824336158273648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6092870267174769062/posts/default/2337824336158273648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islammine.blogspot.com/2010/02/who-is-allah.html' title='Who is Allah'/><author><name>Ibnudangeen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00571148189667547052</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>