<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;CkMGRXc8eip7ImA9WhRUEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165</id><updated>2012-01-22T15:20:24.972+07:00</updated><category term="Country" /><category term="Melahirkan Peradaban Baru" /><category term="tukang beca yang berhati emas." /><category term="kaya" /><category term="venture" /><category term="drug" /><category term="April 20" /><category term="Ambiguitas Privatisasi dan Masa Depan BUMN" /><category term="energi dan uang." /><category term="Jorganizer Hamdani: Arti Dividen bagi seorang Pemodal" /><category term="Belajar dari Kerakyatan Brasil" /><category term="Universe" /><category term="dedikasi" /><category term="proposal" /><category term="diri" /><category term="Jorganizer Hamdani: Krisis Amerika dan Fundamental Ekonomi Indonesia" /><category term="train" /><category term="Dosa-dosa Pemasaran Versi Kotler" /><category term="Masa Depan Energi Untuk Rakyat" /><category term="kerugian" /><category term="Smart" /><category term="local to global." /><category term="CHAMPIONS" /><category term="Politik" /><category term="Gaya Hidup Modern dan Industri Penghisap Darah" /><category term="action" /><category term="Dana Segar Situs Maya" /><category term="keuangan" /><category term="Babak Baru Politik Ekonomi Mesir" /><category term="gembira" /><category term="dragon" /><category term="BELAJAR DARI ‘KASUS PATEN”" /><category term="orang" /><category term="Psikosomatis" /><category term="makna" /><category term="service." /><category term="KUNCI KEMENANGAN PERUSAHAAN" /><category term="FENOMENA MARKET LEADER dan MARKET FOLLOWER" /><category term="Suka dan Duka Trainer" /><category term="Pesan Singkat dari Leluhur" /><category term="pertemuan" /><category term="Resiko Besar Bisnis yang Harus Anda Pahami" /><category term="Mengenal 3 Wanita Mulia Islam" /><category term="kesah" /><category term="New York" /><category term="Philantropy (Hibah/ Hadiah): Upaya Menaklukkan Dengan Cara Yang Menyenangkan" /><category term="Masa Depan BUMN Indonesia" /><category term="PURPLE PATCH: The three principles -Charles Darwin (sejarawan)" /><category term="jobless" /><category term="FILOSOFI BENANG KUSUT" /><category term="Sejarawan" /><category term="gerak." /><category term="Getting Old" /><category term="Liberty" /><category term="very poerfull words" /><category term="integrasi" /><category term="gabung" /><category term="fakta" /><category term="Dua jalan belajar suatu ilmu" /><category term="paham" /><category term="gelar" /><category term="Karir Pasca PHK" /><category term="nihon." /><category term="trouble." /><category term="4 Modal Menjadi Entrepreneur (Ternyata Bukan Uang)" /><category term="negosiasi" /><category term="Rhenald Kasali: Buat Apa Mogok?" /><category term="Merekonstruksi Trias Politika yang Korup" /><category term="negotiation" /><category term="[PROFEC] [Artikel] Perencanaan Keuangan Pribadi | Investasi Jelang Ramadhan 2011" /><category term="Koalisi Pecah? tidaklah.." /><category term="Doing Well by Doing Good" /><category term="Politik." /><category term="Moslem" /><category term="Sejarah Bursa Berjangka di Dunia" /><category term="*BRIC" /><category term="CIA Invest in ‘Future’ of Web Monitoring" /><category term="Meracik Portofolio Reksa Dana" /><category term="When brand promises don't deliver" /><category term="Penemuan Piramida di Indonesia" /><category term="Indonesia." /><category term="Siapa yang mempersiapkan parasutmu?" /><category term="Sebuah Cerita Lama dari Negeri Tunisia" /><category term="Pesan buat Sang Naga" /><category term="nurani" /><category term="THE SUSTAINABLE BRAND OF  ‘THE NEXT INDONESIAN IDOL’" /><category term="menyerah" /><category term="Jangan Takut Memulai Bisnis dari Emperan Teras Sekalipun" /><category term="Gendut" /><category term="Tuhan" /><category term="produktivitas" /><category term="Kesuksesan dan Kasih Sayang" /><category term="Proyeksi Alam Bawah Sadar" /><category term="Valuta" /><category term="Etimologi Sejarah" /><category term="9 Kebiasaan Menyegarkan Otak" /><category term="[u-manager] (Artikel) Membimbing Bawahan" /><category term="Wall Street Selayang Pandang" /><category term="Brankas dan Pak Tua" /><category term="Horenso : Bukan Sekedar Pelaporan semata" /><category term="Geliat Naga dari Asia" /><category term="sang raja dan ahli sejarah" /><category term="Kreatif" /><category term="Politisi" /><category term="Mengingat 1 Thn AFTA Indonesia-China" /><category term="Revolution." /><category term="Langkah-Langkah Mendirikan Perusahaan (PT)" /><category term="Negara." /><category term="ventura" /><category term="epostemologi" /><category term="perawan tua udah biasa" /><category term="[Forum-Pembaca-KOMPAS] Sharing Blog: Pelajaran Bank Century: Mengelola Persepsi Likuiditas dan Ekspektasi Rakyat" /><category term="sikap" /><category term="Kekayaan" /><category term="Demokrasi Pasar di Republik Facebook" /><category term="400 dan 300 Diduga Retak Body" /><category term="merk." /><category term="Konflik" /><category term="ceria" /><category term="Kita" /><category term="Older" /><category term="dan Kaya" /><category term="world" /><category term="Ulah Spekulasi Importasi Daging Sapi" /><category term="keluh" /><category term="Dongkrak Penjualan dengan Strategi Pemasaran" /><category term="BIC" /><category term="perspektif" /><category term="muhasabah" /><category term="US Debt ceiling impasse: How we got into this mess" /><category term="umum." /><category term="Company" /><category term="energy" /><category term="commitment" /><category term="habitus." /><category term="[PROFEC] Motivation of The Day: &quot; Tiga Kunci Rahasia untuk Meraih Sukses &quot;" /><category term="Rapport Kurang Dari 3 Detik" /><category term="fiktif" /><category term="Isi Lengkap Memo CEO Nokia" /><category term="Negara" /><category term="A Brilliant Interview" /><category term="Plus Ultra" /><category term="pro historian" /><category term="Mendongeng di Era Digital" /><category term="toleransi" /><category term="Belajar dari Brand Juara" /><category term="copenhagen" /><category term="tegas" /><category term="Kebanyakan Orang adalah Orang Kebanyakan" /><category term="Tiga Modal Memotivasi Diri" /><category term="management" /><category term="Keterkaitan Rahasia Dagang dengan Perjanjian Kerja" /><category term="historio" /><category term="Why Socialism?" /><category term="Sejarah Perdagangan Valuta Asing" /><category term="Syekh Siti Jenar Manunggaling Kawula Gusti" /><category term="[IMA-Circle] Perusahaan" /><category term="memilih." /><category term="Jorganizer Hamdani: US Congress set to vote on debt-ceiling deal" /><category term="telat" /><category term="Perubahan; Brain Storming - Kuantitas dulu" /><category term="Simulakrum" /><category term="Realita Iran di Mata Seorang Penulis Rusia" /><category term="motivazi" /><category term="Maritim" /><category term="Kiat Mencetak Dan Kembangkan Berjuta Bakat Entrepreneur" /><category term="Mau Menjadi PROAKTIF?" /><category term="Jorganizer Hamdani: Kepemimpinan di Panggung Dunia Masa Depan" /><category term="Perkembangan Kasus Korupsi di Indonesia" /><category term="Client" /><category term="how" /><category term="pemecahan" /><category term="karakter" /><category term="budaya" /><category term="Era Mikrosegmentasi" /><category term="Terima Kasih" /><category term="wanita" /><category term="dengan Sungguh-sungguh" /><category term="2010 2:45 AM" /><category term="jepang" /><category term="jiwa" /><category term="Floating dalam trading di pasar modal." /><category term="pelaku sejarah" /><category term="Age is Just Only a Number" /><category term="Creative" /><category term="usia" /><category term="Piramida Mesir: Mahakarya Manusia Raksasa ???" /><category term="Marketing" /><category term="Haram Menyerah atas Kasus Korupsi" /><category term="Pelajaran dari Cerita Tentang Pensil" /><category term="sejarah bursa efek indonesia" /><category term="Gerakan Misterius Freemason Dalam Gejolak Sejarah Indonesia" /><category term="Tugas Networker dalam Pengembangan Jejaring" /><category term="kampus tembalang" /><category term="Studi Kasus &quot;Crisis Brand&quot;." /><category term="Prediksi Iseng" /><category term="Kaya Raya" /><category term="mengenal diri sendiri" /><category term="Mencari Akar Krisis Finansial" /><category term="Student" /><category term="moral" /><category term="keadaan." /><category term="organizer" /><category term="2010 4:32 AM" /><category term="Ruang" /><category term="JORGANIZER HAMDANI: Apa itu otak tengah?" /><category term="Strategy dan pedoman perang Sun Tzu" /><category term="bujangan" /><category term="dedikasi." /><category term="global" /><category term="Makam Kaisar Gila Romawi" /><category term="Pemikir" /><category term="PERDAGANGAN DERIVATIF:  Menguntungkan atau merugikan?" /><category term="bisnis" /><category term="Mind-Therapy : Menaklukkan EGOIS" /><category term="Jorganizer Hamdani: Krisis Hutang Di AS" /><category term="proyek" /><category term="citra" /><category term="jujur" /><category term="[The Managers] Tips Instant Mengelola Pikiran dan Perasaan" /><category term="Asal Usul Manusia Indonesia" /><category term="Marketing dan Sales dan Perspektif Praktis" /><category term="Tuhan Menciptakan Lebih Dari 212.000 Kelapangan Untuk 1 Buah Kesempitan" /><category term="Lelaki Ini 15 Tahun Cari Pembunuh Anaknya" /><category term="akal" /><category term="Profit." /><category term="secret" /><category term="Terampil Memimpin Perusahaan" /><category term="Manfaat Berlatih Menulis di Ruang Privat" /><category term="mistake" /><category term="gapai" /><category term="Historika" /><category term="Makhluk yang paling mulia dengan akal-budi." /><category term="inspirasi" /><category term="change" /><category term="affair" /><category term="&quot; TOKO ISTRI &quot;" /><category term="pilihan" /><category term="Geliat Sang Naga" /><category term="Design Thinking: Key Factor of The Rising of Creative Indonesia" /><category term="djoko hamdani" /><category term="ganesha." /><category term="Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan" /><category term="CUSTOMER EVANGELIST" /><category term="Memahami “KESADARAN” Secara Science Wednesday" /><category term="excellent." /><category term="SEJARAH GERAKAN MAHASISWA DAN PERS MAHASISWA" /><category term="MENJADI SEJARAWAN YANG BAIK" /><category term="4 miliar." /><category term="Oli Bekas" /><category term="historiografi" /><category term="Strategies of Zhuge Liang" /><category term="filozofi" /><category term="Universal" /><category term="fokus" /><category term="proteksi" /><category term="komunikasi" /><category term="Dongeng Global Warming" /><category term="Indonesia Bisa Bernasib Seperti Yunani Wednesday" /><category term="Aspri Soekarno Diminta Soeharto Cairkan Hubungan RI-Tiongkok" /><category term="Sinergi dan Re-Branding" /><category term="Keluar dari Jerat Hutang" /><category term="jepang. sejarah" /><category term="SEJARAH KARTINI - HABIS GELAP TERBITLAH TERANG" /><category term="personal" /><category term="Target" /><category term="rape" /><category term="Dunia Seolah-olah Kita" /><category term="Motivasi Karyawan dan Suasana Kerja Nyaman" /><category term="experience" /><category term="Nasionalisme" /><category term="The Power of Imagination." /><category term="Say YES to GAMBARU" /><category term="modal." /><category term="Berwirausaha Dengan Nol Modal" /><category term="time" /><category term="life" /><category term="Ambition" /><category term="Saya Belanja maka Saya Ada" /><category term="filosofi" /><category term="Manfaat" /><category term="momentum" /><category term="[HUT 5 PROFEC] 50 tips sukses" /><category term="FILOSOFI MUSIK (Pendekatan Musik dalam Manajemen)" /><category term="Membangun Keteraturan di Tengah Kekacauan" /><category term="atlantis" /><category term="Hati Nurani untuk Petani" /><category term="What Business Are You In?" /><category term="BRAND TERBAIK DUNIA SEPANJANG MASA" /><category term="negotiator" /><category term="konsentrasi" /><category term="perjuangan" /><category term="failure" /><category term="Exclusive: Google" /><category term="pribadi." /><category term="Jorganizer Hamdani: Perencanaan Investasi Bagaimana Merencanakan Investasi?" /><category term="Aturan tak tertulis dalam perdagangan derivative." /><category term="Siapa Peluk “Istri Belanda”" /><category term="brand" /><category term="merger" /><category term="olahraga" /><category term="tertawa" /><category term="Harmonism" /><category term="ANALISA YURIDIS MENGENAI KASUS-KASUS TRANSAKSI DERIVATIF" /><category term="sukses" /><category term="atau IBIC?*" /><category term="hikmat" /><category term="GBPUSD fundamental" /><category term="Berpura-puralah" /><category term="boleh percaya.. boleh jg tdk." /><category term="bangsa" /><category term="Power" /><category term="Complain Handling – Belajar Dari Kasus PT. Telekomunikasi Indonesia" /><category term="Kartu kredit dan &quot;Debt Collector&quot;" /><category term="Investasi kura-kura" /><category term="informasi." /><category term="All About Money" /><category term="Negara dalam Tikaman Uang" /><category term="job" /><category term="Maximizing Talent Management" /><category term="Kisah Tokoh Sufi Wanita : Rabi'atul Adawiyah" /><category term="manusia" /><category term="keras" /><category term="Historian" /><category term="Valuasi Saham IPO" /><category term="kejahatan" /><category term="kegagalan" /><category term="blogger." /><category term="economic" /><category term="Sales dan Marketing Sebuah Tinjauan Praktis" /><category term="Mengenal Teror Mental dalam Kehidupan" /><category term="bantuan" /><category term="Asal mula nama Sumatera" /><category term="idealisme" /><category term="Janji" /><category term="percobaan" /><category term="Mesin Pembuka Kunci Rahasia Alam Raya" /><category term="Jorganizer Hamdani: Solusi Krisis AS" /><category term="bizniz" /><category term="cerita" /><category term="information" /><category term="Jorganizer Hamdani: Penghematan Anggaran Negara" /><category term="optimal" /><category term="Ber-Komunikasi Efektif dalam Sebuah Tim" /><category term="Pledoi Arga Tirta Kirana Dalam Kasus Century." /><category term="multidimensional" /><category term="Jorganizer Hamdani: Visi dan Misi Bank Syariah yang seharusnya Ada." /><category term="potensi." /><category term="Kegagalan Adalah Kompetensi" /><category term="Kung Fu dalam tradisi dan sejarah" /><category term="[ppiindia] [Historia] “Haji Merah” Dalam Perjuangan Anti-Kolonialisme" /><category term="Matt's more creative in the morning. But Jenny cranks out her best work late at night. So just how do you capitalize on everyone's creative thinking?" /><category term="disaster" /><category term="tindakan" /><category term="Mulai yang Baru di Usia Senja" /><category term="retail." /><category term="Limbah" /><category term="[ppiindia] Intel di Indonesia (Konspirasi)" /><category term="circle" /><category term="pilek" /><category term="network" /><category term="Jorganizer Hamdani: Berkreasi menyusun proteksi dan investasi sendiri" /><category term="Tetaplah maju.." /><category term="mengenal strategi pemasaran tryvertising" /><category term="." /><category term="SUKSES BELAJAR DARI ALAM" /><category term="joko hamdani" /><category term="challenge" /><category term="Renungan Ramadhan" /><category term="Anand Krishna." /><category term="resesi" /><category term="27 Pesawat Boeing 737-500" /><category term="Pengendalian Diri" /><category term="Waktu adalah Nyawa" /><category term="Ucapan" /><category term="konsumen" /><category term="Neo liberalisme" /><category term="Sejarawan." /><category term="advertising" /><category term="Appreciative Inquiry: Jalan setiap orang untuk mengubah dunia" /><category term="bahagia" /><category term="ilmu." /><category term="taksi" /><category term="Hati-hati Penumpang: di Indonesia" /><category term="biografi" /><category term="matematika" /><category term="and Self  Confidence." /><category term="&quot;...setjangkir kopi bersama seorang Sahabat &quot; Saturday" /><category term="[PROFEC] BAGAIMANA MEMBUAT KOMUNIKASI ANDA BERPENGARUH" /><category term="integritas" /><category term="planning" /><category term="waktu" /><category term="okultisme" /><category term="IRASIONALITAS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN" /><category term="historiografi." /><category term="kronologis" /><category term="branding" /><category term="Valas" /><category term="kebijaksanaan." /><category term="Muda" /><category term="kekuatan" /><category term="Ditemukan" /><category term="Dan Bahagia" /><category term="perspective" /><category term="UNDERCOVER MARKETING" /><category term="&quot;Kuperintahkan Kau Untuk Berhenti Berpikirrrr.&quot;" /><category term="Menulis Lebih Mengasah Otak Ketimbang Mengetik" /><category term="Negara Saat Ini Hilang Akal" /><category term="kebiasaan" /><category term="Jorganizer Hamdani: &quot;The US is Long-term Bankrupt&quot;" /><category term="5 Jurus Jitu memperbaiki sikap anak-anak" /><category term="Forex" /><category term="10 RAHASIA KEMAJUAN ORANG JEPANG" /><category term="tujuan" /><category term="Jangan Terobsesi Miliki Si Dia" /><category term="Ekonom Profesional yg Nir-Kepentingan ?...." /><category term="Berpikiran Positif jalan menuju Sukses" /><category term="STORY OF ARTHURIA PEDRAGON" /><category term="kerja" /><category term="Redefinisi Pekerjaan Idaman" /><category term="perkembangan" /><category term="merdeka" /><category term="adsense" /><category term="&quot;Risiko Autis Bisa Diminimalkan&quot;" /><category term="Perencanaan Keuangan Pribadi: Cerdas Mengatur Keuangan" /><category term="Reformation." /><category term="Task" /><category term="human" /><category term="promotion." /><category term="Empat Karakter Pria Masa Kini" /><category term="problem" /><category term="Team" /><category term="indah" /><category term="prana" /><category term="Jorganizer Hamdani: Media Dan Pemberitaan Yang Sensasional" /><category term="Kredit Modal Kerja: Bagaimana Cara Mendapatkannya?" /><category term="Tips Kaya dan Bahagia" /><category term="Trans TV" /><category term="The Swordless Samurai" /><category term="Caligula" /><category term="Re: [ppiindia] Rokok dan Industri Nasional" /><category term="Mind Manipulation" /><category term="The Ideological Crisis of Western Capitalism" /><category term="data." /><category term="TANTANGAN IMPLEMENTASI SIX SIGMA" /><category term="kisah" /><category term="date" /><category term="almamater." /><category term="blo3" /><category term="Newbie (pemula) di Pasar Modal" /><category term="Publik" /><category term="Kapitalisme" /><category term="[Manager-Indonesia] Apa KEPRIBADIAN organisasi anda" /><category term="“Ternyata Dia Ada Di Sini”" /><category term="Sejarah nama Indonesia" /><category term="test" /><category term="iman" /><category term="Mari Pensiun Muda" /><category term="Teknik Motivasi - Macro Motivation dan Micro Motivation" /><category term="Lompatan Modernisasi dalam Globalisasi" /><category term="tips" /><category term="benua" /><category term="Mengapa Harus Mencintai Profesi Dan Pekerjaan?" /><category term="ehat" /><category term="Partai" /><category term="bencana" /><category term="Undip" /><category term="Jorganizer Hamdani: Fiat Money tanpa Standar Emas" /><category term="kerjasama" /><category term="SBY" /><category term="History" /><category term="advertisement" /><category term="universal." /><category term="Whatever" /><category term="July 14" /><category term="NLP : Sebuah “re-strukturisasi” Excellency Process" /><category term="lajang" /><category term="imajinasi" /><category term="[PROFEC] Motivation of The Day: &quot; Makna di Balik Derita &quot;" /><category term="pasar" /><category term="Optimistic" /><category term="solusi." /><category term="Pension Funds Buying Gold?" /><category term="Sendi Utama Kehidupan" /><category term="benefit" /><category term="Kapal" /><category term="Sejarah" /><category term="perlu" /><category term="serupa tapi tak sama." /><category term="Pers" /><category term="jorganizer" /><category term="Modal Sosial di Kancah Global" /><category term="bonafide" /><category term="Global Stock Selloff: Is another financial crisis coming?" /><category term="Environmental Impact" /><category term="handal" /><category term="AS Saat Ini Mirip Indonesia Era Orba" /><category term="16 Strategi Zhuge Liang" /><category term="expert." /><category term="Nasional" /><category term="Sastrawan dan Sejarawan" /><category term="reaction" /><category term="brand." /><category term="jodoh" /><category term="Liem Siok Lan Mohon Maaf: SMI tidak pantas disebut SPG IMF" /><category term="Pelajar." /><category term="Fact" /><category term="produktif" /><category term="ends crisis" /><category term="dan Militansi" /><category term="people" /><category term="Jorganizer Hamdani: Nebular Hypothesis" /><category term="7 Pesona Siem Reap" /><category term="Obama signs debt ceiling bill" /><category term="kinerja" /><category term="Butuh" /><category term="Sweet Dream" /><category term="revolusi." /><category term="quality" /><category term="Alanda dan Kasus Bank Century" /><category term="JANGAN BAYAR KARTU KREDIT JIKA TIDAK MAMPU" /><category term="Etimologi" /><category term="Universal Law." /><category term="CAFTA: Sebeku Es atau Seganas Hiu" /><category term="Berapa harga sebuah ide ? harganya tak terkira.." /><category term="Gaya Berkomunikasi Ditengah Konflik" /><category term="skill" /><category term="lebaran Cina" /><category term="arsip" /><category term="TEGURAN-TEGURAN SATU MENIT" /><category term="Atom" /><category term="pikiran." /><category term="baru kualitas" /><category term="Kampanye" /><category term="Quantum Leadership" /><category term="confusius" /><category term="Manajemen Konflik" /><category term="Bom Waktu AFTA Indonesia - China" /><category term="Bagaimana mungkin Komunikasi menjadi terapi?" /><category term="cantik" /><category term="Sistem Kerja Masa Depan" /><category term="TERNYATA ADA YANG LEBIH BAIK DARIPADA SEKADAR BERSYUKUR" /><category term="manager" /><category term="Future" /><category term="Jorganizer Hamdani: Rahasia Membaca Seseorang Dalam 10 Menit" /><category term="grafi" /><category term="Dapatkah Amatir Lebih Hebat Dari Profesional?" /><category term="Bursa valuta asing" /><category term="2011 9:18 PM" /><category term="Hipnotis dan Hipnoterapi: Bisakah membantu?" /><category term="June 12" /><category term="masalah" /><category term="hati" /><category term="BUMN" /><category term="THE GREAT FORMULA FOR MARKETING" /><category term="international." /><category term="[ppiindia] BLT untuk Bankir - Bankir tidak dipanggil Pansus  &quot;Jernihkan Pikiran&quot;" /><category term="bank" /><category term="Dolar" /><category term="Penyelesaian RUU Mata Uang Masuk Prioritas DPR" /><category term="internet" /><category term="lucu" /><category term="Kartu Kredit" /><category term="money oriented" /><category term="NATIONAL POSITIONING 'MADE IN INDONESIA'" /><category term="motivasi." /><category term="Orang yang kamu kasihi" /><category term="Jorganizer Hamdani: Soekarno Bukan Pembelah dan Ajaran Nasionalismenya Masih Relevan." /><category term="tahun" /><category term="recession" /><category term="Penawaran pernah menyentuh angka Rp1" /><category term="Persepsi dan Pengambilan Keputusan Individual" /><category term="cewek" /><category term="Barack Hussein Obama" /><category term="Spirit" /><category term="rutinitas" /><category term="Jorganizer Hamdani: Unit Link bukan seperti Rekening Tabungan." /><category term="Bicara" /><category term="Pondasi elemental Derivative" /><category term="EMOTIONAL BRANDING" /><category term="cinta" /><category term="The End of History in the Arab World?" /><category term="Perkembangan produk perbankan" /><category term="learn" /><category term="perang" /><category term="Apakah Penghasilan Saya sudah Ideal?" /><category term="Sejarah surat kabar Indonesia" /><category term="mencetak uang dan berdampak inflasi" /><category term="10 KEBIASAAN YANG DAPAT MERUSAK OTAK" /><category term="publisher" /><category term="Rahasia Terungkap Jembatan Ajaib Anda untuk Melakukan Persuasi" /><category term="Gemuk" /><category term="Bermain Saham Tanpa Informasi" /><category term="prediction." /><category term="MENGUKUR KINERJA SEKTOR LAYANAN PUBLIK" /><category term="Jorganizer Hamdani: Keunggulan Bersaing Bangsa  dalam Perspektif Antropologi Bisnis" /><category term="wisdom" /><category term="relativisme" /><category term="asal" /><category term="What to do When Your Advertising Doesn't Work" /><category term="MELURUSKAN SEJARAH PANCASILA" /><category term="dunia" /><category term="Mana Sahabatmu SBY?" /><category term="&quot;Leading and Managing Breakthrough&quot;" /><category term="asuransi" /><category term="koreksi." /><category term="Tinggal berbalik arah untuk sukses (terinspirasi buku SQ Reformation)" /><category term="US" /><category term="script." /><category term="informasi" /><category term="Patung" /><category term="rutin" /><category term="historian." /><category term="dipertanyakan." /><category term="data" /><category term="syajarotun" /><category term="peristiwa" /><category term="Kekuatan Imajinasi: &quot;Sukses Berkat Kekuatan Imaginasi&quot;" /><category term="money" /><category term="Pemasaran Hasrat Konsumen Global (sejarawan)" /><title>Sejarawan</title><subtitle type="html">New theoretical, philosophical, and empirical analyses of Indonesian history were tought widely at this blog and appear in professional writting. The Power of History (kekuatan ilmu sejarah, sejarawan, historian, historiografi, fakta, data, riset, informasi, Indonesia).</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://sejarawan.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>560</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/iQrKg" /><feedburner:info uri="blogspot/iqrkg" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>blogspot/iQrKg</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;DE8CR3wzeyp7ImA9WhRWEUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-3660820648415414471</id><published>2011-12-29T15:21:00.001+07:00</published><updated>2011-12-29T15:21:06.283+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-29T15:21:06.283+07:00</app:edited><title>Seperti Apakah Presiden RI ke-7 kelak?</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Dipaparkan ada &lt;strong&gt;tujuh satrio piningit&lt;/strong&gt; yang akan  muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin  wilayah seluas wilayah "bekas" kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio  Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio  Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong  Tuwuh, Satrio Boyong, Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan  Wahyu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;1. &lt;strong&gt;SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO&lt;/strong&gt;. Tokoh pemimpin  yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini  dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin  yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang  dimaksud ini ditafsirkan sebagai &lt;strong&gt;Soekarno&lt;/strong&gt;, Proklamator  dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar  Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt; &lt;a href="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/soekarno.jpg"&gt;&lt;img src="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/soekarno-210x300.jpg" alt="" class="alignnone size-medium wp-image-449" height="300" width="210"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. &lt;strong&gt;SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR&lt;/strong&gt;. Tokoh  pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo),  namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan  juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung  Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai &lt;strong&gt;Soeharto&lt;/strong&gt;, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.&lt;br&gt; &lt;a href="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/soeharto.jpg"&gt;&lt;img src="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/soeharto.jpg" alt="" class="alignnone size-full wp-image-450" height="293" width="200"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. &lt;strong&gt;SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR&lt;/strong&gt;.  Tokoh pemimpin yang  diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau  transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud  ini ditafsirkan sebagai &lt;strong&gt;BJ Habibie&lt;/strong&gt;, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.&lt;br&gt; &lt;a href="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/520px-Bacharuddin_Jusuf_Habibie_official_portrait.jpg"&gt;&lt;img src="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/520px-Bacharuddin_Jusuf_Habibie_official_portrait-260x300.jpg" alt="" class="alignnone size-medium wp-image-451" height="300" width="260"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;4. &lt;strong&gt;SATRIO LELONO TAPA NGRAME.&lt;/strong&gt;  Tokoh pemimpin yang  suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang  yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa  Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai &lt;strong&gt;KH. Abdurrahman Wahid&lt;/strong&gt;, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.&lt;br&gt; &lt;a href="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/gus-dur-ri1.jpg"&gt;&lt;img src="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/gus-dur-ri1.jpg" alt="" class="alignnone size-full wp-image-452" height="295" width="220"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;5. &lt;strong&gt;SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.&lt;/strong&gt;  Tokoh pemimpin  yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh).  Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai &lt;strong&gt;Megawati Soekarnoputri&lt;/strong&gt;, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.&lt;br&gt; &lt;a href="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/megawati.jpg"&gt;&lt;img src="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/megawati.jpg" alt="" class="alignnone size-full wp-image-453" height="268" width="200"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;6. &lt;strong&gt;SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO&lt;/strong&gt;. Tokoh pemimpin  yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai  pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro).  Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah &lt;strong&gt;Susilo Bambang Yudhoyono&lt;/strong&gt;.  Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu  mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya  dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan  kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar  dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja  tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman  bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang  terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.&lt;br&gt; &lt;a href="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/sby.jpg"&gt;&lt;img src="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/06/sby-205x300.jpg" alt="" class="alignnone size-medium wp-image-454" height="300" width="205"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU&lt;/strong&gt;.  Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan  bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak  atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu  bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai  zaman keemasan yang sejati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/07/ask-300x299.jpg"&gt;&lt;img src="http://vanrieta.blog.esaunggul.ac.id/files/2011/07/ask-300x299.jpg" alt="" class="alignnone size-full wp-image-491" height="299" width="300"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dari kajian karya-karya leluhur kita di atas menyiratkan bahwa segala  sesuatunya memang harus dan akan terjadi dan tidak dapat ditolak.  Sementara berkaitan dengan bencana terakhir yang terjadi, yaitu  meletusnya Gunung Merapi yang kemudian disusul dengan Gempa Yogya dan  Pangandaran, serta Semburan Lumpur Panas Sidoarjo yang tak kunjung  berhenti merupakan realita ucapan "Sabda Palon" kepada Prabu Brawijaya  dan Sunan Kalijaga. Berikut ini saya paparkan &lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ramalan Sabdo Palon :&lt;/div&gt; &lt;div&gt;1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad  tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan  pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang  bernama Sabda Palon Naya Genggong.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: "Sabda Palon&lt;/div&gt; &lt;div&gt;sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik."&lt;/div&gt; &lt;div&gt;3. Sabda Palon menjawab kasar: "Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu,  sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini  yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris  kita harus berpisah.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang  Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti  agama Budha (maksudnya Kawruh Budi) lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi  makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum  saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata  saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;6. Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah  pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh  Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi  bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon  Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di  tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan  manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah  kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada  ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada  yang membuatnya.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang  bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah  hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak  seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang  di hutan.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan.  Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan  keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah  pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa.  Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan  tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh  semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan  pasang.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan  kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa  sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan  serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang  meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur  tidak ada yang tertinggal sedikitpun.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia.  Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam  tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit.  Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka  meninggal dunia.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar  tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun  sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan  merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang  tidak mungkin diubahnya lagi.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keterangan :&lt;br&gt; Tanggal 13 Mei 2006 lalu bertepatan dengan hari Waisyak (Budha) dan hari  Kuningan (Hindu), Gunung Merapi telah mengeluarkan laharnya ke arah  Barat Daya (serta merta pada waktu itu ditetapkan status Merapi dari  "Siaga" menjadi "Awas"). Dari uraian Ramalan Sabdo Palon di atas, maka  dengan keluarnya lahar Merapi ke arah Barat Daya menandakan bahwa Sabdo  Palon sudah datang kembali. 500 tahun setelah berakhirnya Majapahit (Th  1500 an) adalah sekarang ini di tahun 2000 an.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Sampai dengan redanya, letusan Merapi hanya memakan korban 2 orang  meninggal. Sebelum letusan itu Sri Sultan Hamengkubuwono X menyatakan  bahwa Merapi akan meletus dalam waktu 10 hari, ternyata tidak terbukti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Karena ucapan yang mendahului kehendak Allah (ndisiki kerso) yang  tidak sepatutnya dilontarkan secara vulgar oleh seorang "raja", maka  Jogja pun digoyang gempa (disusul Pangandaran) yang banyak memakan  korban jiwa dan harta benda. Bahkan kita semua tidak tersadar bahwa  Merapi sebenarnya tetap meletus, namun berpindah tempat di Sidoarjo  dengan semburan lumpur panasnya yang beracun. Semburan lumpur panas ini  merupakan peristiwa yang sangat luar biasa yang dampaknya akan banyak  menyedot dana dan memakan korban jiwa. Secara penglihatan spiritual,  teknologi apapun dan kesaktian paranormal/ulama se-nusantarapun tidak  akan mampu menghentikan semburan lumpur ini. Bahkan peristiwa ini akan  berpotensi memicu terjadinya chaos (goro-goro) yang pada gilirannya akan  dapat menjatuhkan pemerintah. Sementara bencana-bencana ini akan terus  berlanjut. Hanya seorang Waliyullah (kekasih Allah) saja yang dapat  meredakan semuanya. Namun sayang, orang seperti ini selalu saja sangat  tersembunyi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Semua peristiwa alam yang terjadi adalah merupakan peristiwa gaib,  karena semua terjadi karena kehendak Yang Maha Gaib, Allah Azza wa  Jalla. Sehingga tidak dapat dilawan dengan kesombongan akal pikiran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Solusi atau jawaban tentang apa yang terjadi pada bangsa ini  sebenarnya telah ada di dalam misteri bait-bait Ramalan Joyoboyo, R.Ng.  Ronggowarsito maupun Sabdo Palon. Kebenaran selalu saja tersembunyi.  Kata sandi dari jawaban misteri ini adalah : JOGLOSEMAR. Joglo telah  runtuh, yang ada tinggal Semar.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Inilah hakekat kondisi negara saat ini. Sebagai panduan perlu saya  garis bawahi kata kunci yang ada di dalam bait-bait karya leluhur kita,  yaitu :&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Di dalam ramalan R.Ng. Ronggowarsito menyiratkan bahwa Satria VI  (Satriyo Boyong Pambukaning Gapura) harus menemukan dan bersinergi  dengan seorang spiritualis sejati satria piningit (tersembunyi) agar  kepemimpinannya selamat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-3660820648415414471?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BPpWf3bOSbaT4eLUYV3Y1KQDE4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BPpWf3bOSbaT4eLUYV3Y1KQDE4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BPpWf3bOSbaT4eLUYV3Y1KQDE4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BPpWf3bOSbaT4eLUYV3Y1KQDE4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/1ktpy9uvb_s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/3660820648415414471/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=3660820648415414471" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3660820648415414471?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3660820648415414471?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/1ktpy9uvb_s/seperti-apakah-presiden-ri-ke-7-kelak.html" title="Seperti Apakah Presiden RI ke-7 kelak?" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/12/seperti-apakah-presiden-ri-ke-7-kelak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cHRX87fyp7ImA9WhRXFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-6179428780926814729</id><published>2011-12-22T03:57:00.001+07:00</published><updated>2011-12-22T03:57:14.107+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-22T03:57:14.107+07:00</app:edited><title>Ilmu Sejarah Ekonomi Mulai Berkembang?</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt; Selain membuat buku dan kajian tentang ekonomi Indonesia, Professor  Arndt juga mendorong sejumlah mahasiswa pascasarjana Australia dan  Selandia Baru untuk menulis disertasi tentang berbagai aspek dan masalah  ekonomi Indonesia.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Beberapa di antara mereka kemudian muncul sebagai pakar yang terkemuka  di dunia tentang ekonomi Indonesia, yaitu Prof Anne Booth, yang bersama  Dr Peter McCawley pada 1981 menerbitkan buku pertama tentang ekonomi  Indonesia selama era Soeharto, The Indonesian Economy During the  Soeharto Era (Oxford University Press, 1981).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Prof Booth kemudian menyunting buku The Oil Boom and After –Indonesian  Economic Policy and Performance in the Soeharto Era (Oxford University  Press, 1992).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sebagai ekonom yang juga mendalami sejarah ekonomi Indonesia, Booth pada  1998 menerbitkan buku The Indonesian Economy During the Nineteenth and  Twentieth Centuries – A History of Missed Opportunities (Macmillan  Press, 1998).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Empat mantan mahasiswa pascasarjana Arndt lainnya yang mumpuni adalah  Prof Howard Dick, penulis buku The Interisland Shipping Industry in  Indonesia - An analysis of competition and regulation (Institute of  Southeast Asian Studies, Singapore, 1987), dan telah diterjemahkan  dengan judul Industri Pelayaran Indonesia – Kompetisi dan Regulasi  (LP3ES, Jakarta, 1989).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Lalu Prof Hal Hill yang menulis berbagai buku tentang ekonomi Indonesia,  yaitu Foreign Investment and Industrialization in Indonesia (Oxford  University Press, 1988), The Indonesian Economy Since 1966 (Cambridge  University Press, 1996, edisi kedua tahun 2000), Indonesia's Industrial  Transformation (Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 1997),  dan Indonesia's New Order (Allen and Unwin, Sydney, 1994).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Associate Professor Chris Manning menulis buku Indonesia's labour in  transition – An East Asian success story? (Cambridge University Press,  1998) dan menyunting dua buku, The Great Migration – Rural Urban  Migration in China and Indonesia bersama Prof Xin Meng (Edward Elgar,  2010), dan Employment, Living Standards, and Poverty in Contremporary  Indonesia, bersama Dr Sudarno Sumarto.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Akhirnya, Dr Peter McCawley bersama dengan Prof Sisira Jayasuriya  menulis buku The Asian Tsunami – Aid and Reconstruction After a Disaster  (Edward Elgar, 2010) yang banyak membahas respons terhadap tsunami yang  dialami Indonesia pada akhir Desember 2004.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Indonesia Mengepalai Proyek&lt;br&gt; Ada suatu perkembangan menarik terkait Proyek Indonesia ANU karena dua  sokoguru, yaitu Chris Manning, mantan Kepala Proyek Indonesia ANU dan  Associate Professor Ross McLeod, pada akhir 2011 akan pensiun.&lt;br&gt; Sebagai pengganti kepala proyek Indonesia yang baru ditunjuklah  Associate Professor Budy Resosudarmo, dan pada pertengahan 2012 akan  diperkuat Dr Arianto Patunru, keduanya dari FE UI. Diyakini suasana  akademik yang kondusif di ANU akan merangsang mereka menghasilkan karya  ilmiah yang mumpuni dan bermanfaat untuk Indonesia.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Selain itu, perkembangan mutakhir lain yang menarik adalah munculnya  perhatian yang lebih besar pada kajian tentang sejarah ekonomi Indonesia  modern di Indonesia maupun di Belanda dan Australia.&lt;br&gt; Mungkin karya pertama yang menggunakan analisis ekonomi secara eksplisit  dalam kajian sejarah ekonomi Indonesia adalah Thee Kian Wie yang telah  menulis disertasi di University of Wisconsin, Madison, tentang  Plantation Agriculture and Export Growth: An economic history of  Indonesia, 1863 – 1942. Atas anjuran Prof Taufik Abdullah, Direktur  LEKNAS-LIPI selama 1974 -1978, disertasi ini kemudian diterbitkan  LEKNAS-LIPI dan LP3ES pada 1977.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pada 1998 Anne Booth dari Departemen Ekonomi, School of Oriental and  African Studies (SOAS, University of London) menerbitkan buku yang cukup  provokatif, The Indonesian Economy in the Nineteenth and Twentieth  Centuries – A History of Missed Opportunities (Macmillan, 1998).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Membangun Minat&lt;br&gt; Minat mahasiswa pascasarjana Indonesia pada kajian sejarah ekonomi  Indonesia berawal sewaktu Dr J Thomas Lindblad (Universitas Leiden) dan  Prof Bambang Purwanto (Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya,  Universitas Gadjah Mada/UGM) menyelenggarakan Summer Course on  Indonesian Economic History di UGM, Yogyakarta, pada pertengahan 1995,  1996, dan 1997.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Setelah Summer Course itu beberapa lulusan terbaik menempuh studi  pascarsarjana di sejumlah universitas. Dr Sri Margana dan Dr Singgih Tri  Sulistiyono ke Universitas Leiden, Dr Nasution ke Universitas Nagoya,  dan Dr Wasino ke UGM. Kini mereka menjadi guru besar bidang sejarah  ekonomi Indonesia di universitas masing-masing.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pada 2002 Prof Howard Dick, Prof Vincent Houben, Dr J Thomas Lindblad,  dan Dr Thee Kian Wie menerbitkan buku kedua (setelah buku Booth di atas)  tentang sejarah ekonomi Indonesia yang berjudul The Emergence of a  National Economy – An Economic History of Indonesia, 1800–2000 (Allen  &amp;amp; Unwin, Sydney, 2002, dan KITLV Press, Leiden, 2002).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Lindblad, yang merupakan motor penggerak kajian sejarah ekonomi  Indonesia modern, telah menerbitkan beberapa buku yang sangat menarik,  yaitu Between Dayak and Dutch – The Economic History of Southeast  Kalimantan, 1880-1942 (Foris Publications, 1988), dan Bridges to New  Business – The Economic Decolonization of Indonesia (KITLV Press,  Leiden, 2008).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Rupanya, kajian sejarah ekonomi Indonesia modern kini mengalami suatu  masa "boom", karena tahun depan akan diterbitkan buku ketiga tentang  sejarah ekonomi modern Indonesia, yaitu Economic History of Indonesia  1800 – 2000 – Growth without Catching Up yang ditulis Prof Jan Luiten  van Zanden dari Universitas Utrecht, Belanda, dan Dr Daan Marks, kini  staf ahli di Kementerian Keuangan Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt; Apakah kini kajian sejarah ekonomi Indonesia modern bisa sebagai masa terbaik bagi kajian sejarah ekonomi Indonesia?&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-6179428780926814729?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ry3jI_jWM8ETO_GeeXl8XOt4pVQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ry3jI_jWM8ETO_GeeXl8XOt4pVQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ry3jI_jWM8ETO_GeeXl8XOt4pVQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Ry3jI_jWM8ETO_GeeXl8XOt4pVQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/02-BMCLqkB4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/6179428780926814729/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=6179428780926814729" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6179428780926814729?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6179428780926814729?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/02-BMCLqkB4/ilmu-sejarah-ekonomi-mulai-berkembang.html" title="Ilmu Sejarah Ekonomi Mulai Berkembang?" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/12/ilmu-sejarah-ekonomi-mulai-berkembang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8FSXg8fip7ImA9WhRXFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-3912072504633057726</id><published>2011-12-22T03:53:00.001+07:00</published><updated>2011-12-22T03:53:38.676+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-22T03:53:38.676+07:00</app:edited><title>Independensi OJK harus bebas intervensi dan netral</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus tetap menjaga independensi dari segala upaya intervensi dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagai lembaga pengaturan serta pengawasan sektor jasa keuangan. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"OJK perlu melakukan harmonisasi dan memiliki relasi dengan otoritas lain, moneter dan fiskal, agar bekerja lebih baik, namun tetap melaksanakan tugas bebas dari campur tangan pihak lain," ujarnya dalam seminar nasional OJK di Jakarta, Rabu. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Menkeu mengatakan, substansi pembentukan lembaga pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan yang independen menjadi salah satu pembahasan rumit dalam perumusan UU nomor 21 tahun 2011 tentang OJK. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Namun, pemerintah serta panitia khusus RUU OJK DPR RI berhasil melahirkan UU yang memungkinkan keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan dapat terselenggara secara teratur, adil, transparan dan akuntabel melalui pembentukan lembaga independen. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Pembentukan OJK yang independen tersebut, katanya, diharapkan dapat mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh berkelanjutan dan stabil serta melindungi kepentingan konsumen yang diwujudkan melalui sistem pengaturan dan pengawasan terintegrasi. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Jadi OJK memang ada diluar pemerintah dan dalam menjalankan tugas pokok serta fungsinya harus independen, tetapi walau independen tetap harus melakukan kerjasama yang sebaik-baiknya," ujar Menkeu. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Menkeu optimistis kerja sama dengan otoritas lain seperti Kementerian Keuangan, Bank Indonesia serta Lembaga Penjamin Simpanan akan tetap terjaga dengan terbentuknya OJK, apalagi sektor jasa keuangan merupakan sistem yang kompleks. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Di dalam penyesuaian OJK, nanti akan jelas sekali kerjasama dan sistem komunikasi antara OJK dengan otoritas moneter, otoritas fiskal maupun LPS, bentuk koordinasinya akan baik dan akan menjaga kepentingan serta prudential makro maupun mikro, ini menjadi pesan pelaksanaan OJK," katanya. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Menkeu mengatakan, OJK akan memiliki sembilan anggota Dewan Komisioner yang bersifat kolektif kolegial dan memiliki hak suara yang sama. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Pemerintah akan melakukan tindakan-tindakan dalam waktu segera untuk mengimplementasi UU OJK tersebut, dan untuk pertama kali, pemerintah akan membentuk panitia seleksi calon dewan komisioner," kata Menkeu. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Menurut Menkeu, untuk menjamin efektifitas pelaksanaan tugas OJK, pembiayaan dan anggaran lembaga ini akan bersumber dari APBN dan atau pungutan dari pihak yang melakukan kegiatan dalam sektor jasa keuangan. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Sebagai bentuk akuntabilitas dalam perencanaan maupun penggunaan anggaran, anggaran OJK wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari DPR," katanya. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Menkeu mengharapkan, transisi dari peralihan pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan terkait penyelenggaraan tugas, aset, dokumen, kepegawaian, peraturan perundangan serta pembiayaan kepada OJK dapat berjalan dengan baik. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Pada 31 Desember 2012, fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal, perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lain beralih dari Bapepam LK ke OJK. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Kemudian, pada 31 Desember 2013, peralihan yang sama dilakukan untuk pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan dari Bank Indonesia ke OJK. &lt;/div&gt;  &lt;div style="border-width: medium medium 2.25pt; border-style: none none double; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; padding: 0in 0in 1pt;"&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="border: medium none; padding: 0in;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Jika proses transisi dalam tugas pengawasan oleh Bank Indonesia ke dalam mekanisme kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak dilakukan dengan tepat, maka keberadaan lembaga ini bisa terancam. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Kondisi ini bisa terjadi karena perekonomian global saat ini tengah krisis, sehingga memerlukan perhatian yang lebih dari Bank Indonesia sebagai otoritas moneter yang bertanggung jawab menjaga kestabilan nilai tukar mata uang dan inflasi, kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D. Hadad. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Muliaman menyampaikan hal itu dalam pidatonya pada acara seminar Perbanas `Pekerjaan Rumah bagi OJK` di Jakarta, Rabu. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Karena itu masa transisi kerja OJK harus dilakukan dengan baik dan tepat agar tidak mengganggu pengawasan, pesan Muliaman. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Tantangan OJK ke depan sangat berat, seperti membangun budaya dan membangun SDM-nya sendiri, karena itu memerlukan proses yang panjang. Syukur-syukur tidak ada krisis lagi menimpa, kalau ada krisis balik lagi ke tempat awal," ujarnya. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Muliaman juga menyatakan pekerjaan BI untuk melakukan transisi itu tidaklah mudah, cara mendekati persoalan dan membangun mekanisme juga tidak mudah. "Jadi masa transisi ini paling penting, karena dapat mengganggu kestabilan sektor keuangan yang lagi berjalan saat ini," katanya. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Menurut Muliaman, dari sisi pengawasan ini menjadi penting, termasuk bagaimana koordinasi yang harus dibangun khususnya dengan bank sentral. "Komunikasi dan koordinasi tidak bisa dianggap ringan, sehingga pengambil keputusan bisa tepat," tuturnya. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Ia menjelaskan hadirnya UU OJK akan mengambil alih fungsi pengawasan yang ada pada perbankan mikro dari Bank Indonesia (BI). &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Akan ada sekitar 1.000 pegawai BI di bawah pengawasan yang akan migrasi ke lembaga OJK tersebut, dan perlu ada proses kultur pengawasan dengan prinsip yang hati-hati dalam menjalankannya," ujarnya. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;OJK juga dapat dihantui oleh krisis global yang terjadi saat ini, ujarnya. Jika pengawasan perbankan nantinya ada di tangan BI, maka semua pengawai di pengawasan harus mendapatkan pelatihan yang lebih dan ada pelatihan ulang. &lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Muliaman menambahkan, agar OJK berjalan sesuai yang diinginkan, maka harus ada industri yang modern. Karena OJK akan berhubungan dengan pasar, sehingga perlu ada koordinasi BI dan OJK yang merupakan hal penting di dalamnya. &lt;/div&gt;  &lt;div style="border-width: medium medium 2.25pt; border-style: none none double; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; padding: 0in 0in 1pt;"&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="border: medium none; padding: 0in;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Menteri Keuangan Agus Martowardojo menjamin indepedensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan segera dibentuk, meski dalam organisasi baru ini ada perwakilan pemerintah dan Bank Indonesia.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Keberadaan wakil ex-officio ini tak menjadikan OJK sebagai bagian dari kekuasaan pemerintah," ujarnya saat membuka seminar Era Baru Pengawasan Sektor Keuangan di kantor Kementerian Keuangan, Rabu, 21 Desember 2011.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Agus menegaskan perwakilan dari pemerintah dan Bank Indonesia akan memfasilitasi OJK untuk berinteraksi dengan pemegang kebijakan lain, terutama otoritas fiskal dan moneter. Perwakilan pemerintah menjamin koordinasi, kerja sama, dan harmonisasi kebijakan fiskal, moneter, ataupun kebijakan terkait dengan jasa keuangan.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Ini untuk memastikan terperliharanya kepentingan nasional dalam rangka persaingan global," kata dia. Agus meminta OJK menjaga stabilitas sistem keuangan untuk pencegahan dan penanganan krisis. Dalam undang-undang OJK juga diatur dasar hukum protokol koordinasi dalam pencegahan dan penanganan krisis serta kerja sama dengan lembaga dalam negeri dan luar negeri.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;"Sektor keuangan itu suatu sistem yang kompleks, tak hanya beberapa lembaga, tapi juga bagian dari suatu sistem keuangan global," ujar dia.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Sebelumnya,Wakil Presiden Boediono menegaskan Undang-Undang OJK akan menentukan arah bidang keuangan Indonesia. Lembaga ini cukup ampuh sebagai satu otoritas pengawas karena digagas sejak awal mula krisis melanda Tanah Air melalui rancangan undang undang Bank Indonesia baru yang diusulkan di era kepemimpinan Presiden B.J. Habiebie. "Krisis pada waktu itu menerpa perbankan, dan sistim pengawasan ada kelemahan," ujarnya.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Pengalaman krisis membuat ada pergeseran kewenangan bank sentral. Bank Sentral diperlukan untuk supervisi krisis sistemik.&lt;/div&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-3912072504633057726?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q7sxd7vndEBgI1Sc2Bo0jUikP6c/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q7sxd7vndEBgI1Sc2Bo0jUikP6c/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q7sxd7vndEBgI1Sc2Bo0jUikP6c/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q7sxd7vndEBgI1Sc2Bo0jUikP6c/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/h3QJnpcJ1qA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/3912072504633057726/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=3912072504633057726" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3912072504633057726?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3912072504633057726?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/h3QJnpcJ1qA/independensi-ojk-harus-bebas-intervensi.html" title="Independensi OJK harus bebas intervensi dan netral" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/12/independensi-ojk-harus-bebas-intervensi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUECRnw-eCp7ImA9WhRSEU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-3972211534517108155</id><published>2011-11-13T01:47:00.001+07:00</published><updated>2011-11-13T01:47:47.250+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-13T01:47:47.250+07:00</app:edited><title>Bagaimana Cara CIA Awasi Twitter dan Facebook?</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div class="yiv155612806artikel yiv155612806pt_5"&gt;&lt;div id="yiv155612806foto1" class="yiv155612806multi_foto_wide yiv155612806tab_1"&gt;&lt;img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/11/07/0949445620X310.jpg" width="610"&gt;&lt;div class="yiv155612806c_abu yiv155612806font11"&gt;Siswa University of &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_0"&gt;Helwan&lt;/span&gt;, Mesir, menggambar mural dengan logo Facebook sebagai cara mengenang revolusi di Mesir.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;a target="_blank" href="http://kompas.com/"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_1"&gt;KOMPAS.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;  - Bukan rahasia jika pihak intelijen sebuah &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_2"&gt;negara&lt;/span&gt; saat ini gemar  mengawasi social media seperti Facebook dan Twitter. Hal &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_3"&gt;itu&lt;/span&gt; juga  dilakukan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_4"&gt;Amerika&lt;/span&gt; Serikat melalui Central Intelligence Agency (CIA).&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Salah  satu lembaga dalam CIA yang melakukan hal itu adalah The Open Source  Center (OSC). Meski namanya mengandung kata-kata Open Source, lembaga  ini tak terkait dengan software Opan Source seperti Linux dan lainnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di dalam OSC terdapat tim khusus yang menjuluki diri sendiri sebagai '&lt;em&gt;Ninja Librarians&lt;/em&gt;'. Tugas tim ini adalah mengawasi Facebook, Twitter, &lt;em&gt;chat room&lt;/em&gt; dan forum online apapun yang terbuka untuk kontribusi dari pengguna internet manapun.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jumlah  pasti tim itu tidak disebutkan, namun Associated Press menakar angka  ratusan sebagai gambaran bahwa tim itu cukup besar. Kebanyakan anggota  tim adalah analis dengan gelar master di bidang perpustakaan, cocok  dengan julukan '&lt;em&gt;Ninja Librarian&lt;/em&gt;'.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain itu, kemampuan  bahasa asing sangat diperlukan bagi anggota tim tersebut. Karena OSC  disebutkan memang fokus pada situasi di luar negeri. Selain di kantor  pusatnya di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_5"&gt;Virginia&lt;/span&gt;, AS, ada juga analis OSC yang disebar di kedutaan  besar AS di berbagai negara.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pekerjaan tim ini cukup intens, kadang bahkan mencakup pemantauan secara&lt;em&gt; real-time&lt;/em&gt;.  Contohnya saat terjadi kerusuhan di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_6"&gt;Thailand&lt;/span&gt;, atau beberapa saat  setelah Osama bin Laden tewas di tangan Navy Seal dan tentunya  momen-momen demonstrasi di Timur Tengah. Hasil laporan mereka menjadi  bagian dari laporan harian yang diterima Presiden AS Barack Obama.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kehandalan  tim ini juga tak diragukan. Sebagai contoh, para analis ini disebut  sudah memprediksikan akan terjadinya penggulingan kekuasaan di Mesir  sebelum hal itu terjadi. Hanya saja, mereka tidak bisa meramalkan kapan  tepatnya revolusi berlangsung.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;OSC dibangun sejak tragedi &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_7"&gt;11  September&lt;/span&gt; di AS. Lembaga ini merupakan salah satu hasil rekomendasi  Komisi &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_8"&gt;11 September&lt;/span&gt; yang dimaksudkan sebagai cara memperbaiki strategi  anti terorisme.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sedangkan fokus OSC pada &lt;em&gt;social media&lt;/em&gt;  mulai terjadi setelah Revolusi Hijau di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321123441_9"&gt;Iran&lt;/span&gt; pada 2009. Ketika itu para  analis mengamati bagaimana Twitter dipakai oleh demonstran untuk  mengakali sensor yang diterapkan pemerintah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tak hanya mengawasi, 'Ninja Pustakawan' ini juga berusaha memastikan kebenaran informasi yang muncul di &lt;em&gt;social media&lt;/em&gt;.  Mereka dikatakan memiliki metode untuk mencari siapa yang informasinya  bisa dipercaya dan siapa yang tidak. Salah satunya dilakukan dengan cek  silang kabar di &lt;em&gt;social media&lt;/em&gt; dengan pemberitaan umum atau bahkan dari penyadapan telepon.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-3972211534517108155?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QzW_8qsUM-JqVZILMnUE0KuPuc8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QzW_8qsUM-JqVZILMnUE0KuPuc8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QzW_8qsUM-JqVZILMnUE0KuPuc8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QzW_8qsUM-JqVZILMnUE0KuPuc8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/LzvGDDRiPa0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/3972211534517108155/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=3972211534517108155" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3972211534517108155?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3972211534517108155?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/LzvGDDRiPa0/bagaimana-cara-cia-awasi-twitter-dan.html" title="Bagaimana Cara CIA Awasi Twitter dan Facebook?" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/11/bagaimana-cara-cia-awasi-twitter-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMNQ3k4cCp7ImA9WhRSEU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-8783119158551194767</id><published>2011-11-13T01:28:00.001+07:00</published><updated>2011-11-13T01:28:12.738+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-13T01:28:12.738+07:00</app:edited><title>Indonesia Negara Penuh Potensi</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Bangsa  dan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321121666_1"&gt;negara&lt;/span&gt;  kita mempunyai banyak potensi, dan semuanya adalah sesuatu  yang sebenarnya ada di dalam hati dan diri kita, Namun seberapa dalam  kotoran hati menenggelamkanya adalah sesuatu yang berbeda-beda di tiap  individu seorang &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321121666_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; seperti kita. Mari sadari potensi diri kita,  Bangsa kita, Negara kita...Indonesia. 			 		 	 	 &lt;/div&gt;&lt;br&gt; &lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				Disini saya hadirkan beberapa percakapan antara :&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;A ---&amp;gt; Aku seorang Indonesia&lt;br&gt; B ---&amp;gt; Bangsa Asing (yang ingin mengetahui Indonesia)&lt;/b&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jatidiri Bangsa Indonesia...Mari kita Pertahankan/Wujudkan kembali. 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Negara yang kaya&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Apa yang menarik dari &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321121666_3"&gt;Negara Indonesia&lt;/span&gt; ?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Sesuatu yang membuat para penjajah bertahan 350 tahun, &lt;br&gt;     dimana setiap harinya teman mereka tertusuk sebatang bambu di perutnya.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Semangat persatuan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Bagaimana aku bisa membayangkan perjuangan pahlawan Indonesia?&lt;br&gt; A :&lt;i&gt; &lt;font color="Blue"&gt;Bayangkan jutaan rayap kecil di rumah yang kokoh, saat kau mengusirnya,&lt;br&gt;     keesokan harinya akan muncul yang lebih banyak, dan saat kau membiarkannya, &lt;br&gt;     saat &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321121666_4"&gt;itu&lt;/span&gt; kau kehilangan salah satu rumahmu.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Kepahlawanan yang berani&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Benarkah para pahlawan Indonesia adalah pemberani ?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Bisakah kau berlari menghindari peluru yang ditembakkan dari senapan? &lt;br&gt;     Jika kau tak bisa, maukah kau berlari ke arah senapan dengan menggemgam sebatang pedang?&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Negara yang merdeka&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Apakah kemerdekaan Indonesia sangat berarti bagi kalian ?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Saat pejuang tersenyum dalam kematiannya, mereka berpesan: "kematianku adalah kemerdekaan anak istriku suatu saat nanti",&lt;br&gt;     adakah yang lebih berarti dari itu ?&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Bangsa yang ramah&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Bagaimana aku berkomunikasi dengan seorang Indonesia dimana aku belum pernah mengenalnya?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;saat kau tersenyum menatap wajah mereka dan menundukan kepalamu, saat itu juga mereka adalah teman mu.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;keanekaragaman makhluk hidup&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : jelaskan tentang makhluk hidup yang ada di Indonesia?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Bayangkan 10% tumbuhan, 12% mamalia, 16%  reptil, 17%burung, 25% ikan yang ada di dunia hidup dan berada di  Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Dunia.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Bangsa yang bermoral&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Akan kah kalian Indonesia ingin menjadi negara terkaya di Dunia?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Jika kami menjual 1700 pulau yang ada disini, dimana di setiap pulaunya sangat mungkin kau menemukan tambang berharga,&lt;br&gt;     mungkin kami bisa memakai jahitan permata di tubuh kami, namun tubuh  kami semua ini tidak akan sebanding dengan 1 pulau penuh kenangan, &lt;br&gt;     Jadi untuk apa penutup yang lebih berharga dengan apa yang di tutupinya. &lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Populasi yang besar&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Seberapa banyak penduduk yang ada di Indonesia?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Saat kau berbuat kasar kepada kami, saat itu kau bersiap menghadapi 3.4% dari seluruh penduduk dunia.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Rela berkorban&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Apa yang kalian lakukan kepada orang yang lebih tua?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Sewaktu aku duduk dalam bus yang penuh, Seorang Ibu Tua datang,dan akupun memberikan tempat dudukku kepadanya,&lt;br&gt;     aku berusaha mengalah, Dia tersenyum lalu membiarkan kedua anaknya duduk dan dia berdiri disampingku.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Gotong royong&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Apakah kerjasama diantara kalian terjaga dengan erat ?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Bangunlah sebuah rumah di desa-desa kami, maka  calon tetanggamu akan bertanya : "Ada yang bisa kami bantu ?" dengan  senyumnya yang polos&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Tenggang rasa&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Apa arti tenggang rasa diantara kalian ?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Saat kau tiba-tiba mati disini sebagai orang yang tak dikenal, Aku pastikan  Kamu akan mendapatkan pemakaman yang layak.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Bahasa Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Apa arti Bahasa Indonesia di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321121666_5"&gt;mata&lt;/span&gt; kalian?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Bahasa yang akan berusaha menyatukan minimal 200 juta jiwa manusia.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Kaya akan etnis&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Aku ingin mengetahui tentang seluruh etnis di Indonesia?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Kau sedikitnya harus mengenal 300 etnis di Indonesia, dan butuh seumur hidupmu untuk memahaminya.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Bangsa yang beragama&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Agama apa saja yang ada di Indonesia?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Bukan jenisnya yang perlu kau ketahui, tapi ajarannya. Dimana Indonesia adalah negara yang beragama,&lt;br&gt;     dimana seluruh agamanya mengajarkan kebenaran.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;br&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Warisan busana yang kreatif&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Bagaimana keunggulan busana di Indonesia?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Jika kau pernah mengenal batik, berarti kau pernah ingin mengenakannya.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Warisan Arsitektur yang megah&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Adakah bangunan yang kalian banggakan?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Orang yang tidak memasukan Candi Borobudur sebagai keajaiban dunia &lt;br&gt;    adalah seseorang yang belum pernah melihatnya secara langsung.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Warisan seni musik yang berharga&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Apakah musik tradisional Indonesia begitu beragam ?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Setiap 33 propinsi di indonesia mempunyai satu  musik tradisional, setiap orang yang memainkanya mempunyai gaya yang  berbeda-beda,&lt;br&gt;     dan setiap daerah memiliki karakteristik alat musik yang berbeda-beda juga.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Kesadaran&lt;/b&gt;&lt;br&gt; B : Mengapa banyak orang &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1321121666_6"&gt;miskin&lt;/span&gt; di Indonesia?&lt;br&gt; A : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Disaat senyuman para petinggi bangsa adalah senyuman yang damai , saya yakin ... kami semua bisa bangkit.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	&lt;table width="100%" border="0" cellpadding="6" cellspacing="0"&gt; 	&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; 		&lt;td class="yiv598560752alt2"&gt; 			 				&lt;b&gt;Sesuatu yang tidak terlupakan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; A : Mengapa kamu banyak tanya ?, Ayo silahkan datang ke negara kami, Indonesia&lt;br&gt; &lt;br&gt; dengan senyum B menjawab...&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;font color="Red"&gt;B&lt;/font&gt; : &lt;i&gt;&lt;font color="Blue"&gt;Aku takut tak akan mampu meninggalkanya...&lt;/font&gt;&lt;/i&gt; 			 		&lt;/td&gt; 	&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt; 	&lt;div class="yiv598560752smallfont"&gt;Quote:&lt;/div&gt; 	 	 		 			 				&lt;b&gt;Kesimpulan :&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Mari kita bentuk suatu prinsip yang kuat dan maju dimana kita telah  mempunyai banyak potensi di indonesia ini. Indonesia telah memberi  banyak sesuatu kepada kita, Sekarang giliran kita memberi sesuatu kepada  nya...dengan membangunya, mengembangkanya,  mempertahankanya, serta  mencintainya. Kembangkan berbagai sektor, pendidikan dan teknologi.&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-8783119158551194767?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6bZZLatg0BjaVG-lHIaLd96M61o/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6bZZLatg0BjaVG-lHIaLd96M61o/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6bZZLatg0BjaVG-lHIaLd96M61o/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6bZZLatg0BjaVG-lHIaLd96M61o/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/7UJHC9rTwG8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/8783119158551194767/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=8783119158551194767" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8783119158551194767?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8783119158551194767?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/7UJHC9rTwG8/indonesia-negara-penuh-potensi.html" title="Indonesia Negara Penuh Potensi" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/11/indonesia-negara-penuh-potensi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQESXc4eSp7ImA9WhRTEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-6481612935985471863</id><published>2011-10-31T23:25:00.001+07:00</published><updated>2011-10-31T23:25:08.931+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-31T23:25:08.931+07:00</app:edited><title>VISI 2030: KEMAKMURAN ATAU ILUSI (GDP $ 18000 = KEMAKMURAN?)</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 15.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 15.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Bagian 1:&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 15.5pt;"&gt;Kemakmuran dan Kenyataan Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya jarang membaca koran atau majalah. Paling-paling hanya headlinenya saja. Dan beberapa minggu lalu muncul hal baru yang menjadi headline berjudul Visi 2030. Intinya ialah pendapatan perkapita, GDP Indonesia akan mencapai $ 18.000 (delapan belas ribu US dollar) per tahun dan Indonesia menjadi ekonomi dunia ke 5. Kemudian heboh antara SBY dan Amin Rais dalam kasus dana sumbangan pemilihan presiden. Hal ini membuat saya tergelitik untuk menulis opini ini, sekalian untuk menyambut ulang tahun lahirnya Pancasila, yang dengungnya sudah pudar. Saya juga ingin mengungkapkan kejahatan-legal yang berkaitan dengan kemakmuran dan tidak pernah diungkapkan di media massa.&lt;br&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;br&gt; Dalam masalah kemakmuran GDP $18.000 per kapita, saya skeptis. Sebabnya ialah sepanjang hidup saya, dengan pergantian tiga (3) jaman, yaitu jaman Orde Lama Sukarno, Orde Baru Pembangunan Lepas Landas Suharto, dan jaman Reformasi Otonomi Daerah, kemakmuran tidak beranjak kemana-mana, bahkan turun. Saya juga skeptis terhadap adanya perbaikan karena pergantian kabinet yang baru saja terjadi. Hal ini karena data ekonomi mengatakan demikian dan itu akan kita lihat dalam seri tulisan ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mengenai Visi 2030 butir pertama, bahwa GDP $ 18.000 per kapita mungkin bisa tercapai. Tetapi GDP $ 18.000 per kapita tidak identik dengan kemakmuran. Artinya, tingkat hidup dan tingkat kemakmuran bangsa Indonesia tidak akan beranjak kemana-mana dengan kenaikan dari $1.490 GDP per kapita saat ini ke $18.000 di tahun 2030. Sedang untuk butir kedua – ekonomi nomer 5 dunia, saya tidak yakin bisa tercapai. Saya akan jelaskan berdasarkan sejarah dan akal sehat, kenapa saya skeptis. Saya hidup di tiga (3) jaman yaitu Jaman Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) dan Jaman Reformasi. Jadi saya betul-betul mengenal ketiga jaman itu. Jaman sebelumnya juga akan disinggung yaitu Jaman Normal (itu istilah nenek kakek kita). Tetapi dasarnya hanya cerita para orang-orang tua saja dan untuk hal ini pembaca boleh dipercaya atau tidak.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sebelum melanjutkan kepada inti cerita, ada baiknya pembaca dikenalkan dengan jenis-jenis mata uang rupiah yang pernah beredar di republik ini dan kurs antar mata uang ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; 1. Rupiah ORI (Oeang Repoeblik Indonesia – Rp ORI)&lt;br&gt; 2. Rupiah setelah Gunting Sjafruddin - GS, (Rp 5 GS = Rp 10 ORI)&lt;br&gt; 3. Rupiah Orde Lama (Rp 1 Orla = Rp 10 GS)&lt;br&gt; 4.Rupiah Orde Baru (Rp 1 Orba = Rp 1000 Orla)&lt;br&gt; &lt;br&gt; Untuk mata uang jaman Belanda untuk mudahnya disebut rupiah kolonial, gulden. Kurs uang jaman Normal (jaman Penjajahan) tidak sederhana karena ada selingan jaman Jepang yang pendek dan kemudian ada NICA (pemerintahan Belanda pendudukan). Tetapi hal itu tidak perlu dirisaukan karena ada tolok ukur tandingan akan kita gunakan sebagai ikuran kemakmuran, yaitu uang sejati, yang disebut emas. Saya katakan uang sejati karena, jika anda beragama seperti Islam atau Kristen, maka hanya emas dan perak saja yang disebut dalam kitab suci kedua agama tersebut. Quran hanya menyebut dinar (uang emas) di surat Kahfi dan dirham (perak) di surat Yusuf. Dan fulus tidak akan pernah dijumpai di Quran. Demikian di Perjanjian Lama, akan anda jumpai banyak cerita emas dan perak sebagai uang.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Sekarang – Jaman Reformasi = Jaman Jutawan Kere&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Kata jutawan saat ini tidak punya konotasi kaya raya. Misalnya seorang supir taxi di Jakarta yang berpenghasilan Rp 1.100.000 Orba (terbilang: satu juta seratus ribu rupiah uang Orba) per bulan bisa disebut jutawan karena penghasilannya di atas Rp 1 juta per bulan. Kenyataannya bahwa hidupnya masih penuh dengan keluhan karena untuk makan ukuran warung Tegal saja Rp 10.000 sekali makan. Bayangkan kalau dia mempunyai istri dan 2 anak, berarti harus punya 3 x Rp 40.000 per hari untuk makan. Jangan heran jutawan ini tidak mampu makan di warung Tegal sekeluarga setiap hari. Di samping mereka harus mengeluarkan 3 x Rp 1.200.000 per bulan yang lebih besar dari penghasilannya, mereka juga punya keperluan lain seperti bayar sekolah dan sewa rumah. Untuk sewa rumah sangat sederhana sekali sampai-sampai selonjor saja sulit (RSSSSSSSSS), rumah petak ukuran 20 meter persegi saja bisa mencapai Rp 350.000, ongkos transportasi ke tempat kerja Rp 100.000 – 200.000. Jadi bisa dimengerti kalau saya sebut Jutawan Kere karena mempunyai karateristik bahwa makan harus dihemat, tinggal di rumah petak sederhana, anak tidak bisa sekolah di sekolah favorit (apalagi di universitas yang uang pangkalnya bisa mencapai puluhan juta rupiah). Dan kalau perlu istri harus kerja untuk memperoleh tambahan penghasilan keluarga.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jaman reformasi ditandai oleh tumbangnya Orde Baru dan kobaran semangat demokratisasi, kebebasan berpolitik dan otonomi daerah. Di bidang ekonomi, baru 1 dekade setelah dimulainya era reformasi (tahun 1997 – 1998) baru muncul visi ekonomi ke depan yaitu visi 2030. Sebelumnya, mungkin politikus menciptakan presepsi bahwa ekonomi akan membaik jika jumlah anggota legislatif, team anti korupsi, dewan penasehat presiden dan pelaku politik bertambah. Ekonomi (GDP) tumbuh sekitar 3% - 7% per tahunnya dari US$ 880 per kapita menjadi US$ 1.490 (US$ 1 = Rp 9.150) antara tahun 2000 sampai 2006. Kalau dihitung dengan US$ selama 6 tahun GDP per kapita Indonesia naik 69%!!! Tetapi kenapa makin banyak yang sengsara, beban hidup semakin berat, perlu adanya pembagian beras miskin (raskin) dan operasi pasar? Harga bahan pokok dan non-pokok naik berlipat ganda kendatipun tingkat inflasi hanya sekitar 5% (tetapi pernah 17% sekali dalam kurun waktu 5 tahun itu). Dalam 5 tahun belakangan ini beras sudah naik dua kali lipat. Juga gula, jagung, gula, rumah, minyak goreng, minyak tanah, coklat, kedele, ikan asin dan sederet lagi. Kalau tolok ukurnya diganti dengan emas maka GDP per kapita tahun 2000 adalah 99 gram emas turun menjadi 71 gram emas. Emas naik dari Rp 100.000 per gram di tahun 2000 menjadi Rp 200.000 per gram di tahun 2007. Dalam ukuran emas, GDP per kapita Indonesia turun 29%!. Kalau kita percaya bahwa emas mempunyai korelasi dengan harga barang maka wajar kalau kualitas hidup, kualitas kemakmuran turun 29%.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Lalu bagaimana dengan angka-angka statistik yang mengatakan bahwa inflasi Indonesia hanya sekitar 5%? Tanyakan saja pada yang membuat statistik. Tetapi Mark Twain mengatakan: "There are lies, damn lies and statistics" – Ada tipuan, ada tipuan canggih dan ada statistik. Pembaca akan melihat lebih banyak lagi dalam tulisan ini bukti-bukti statistik yang tidak lain kebohongan canggih. Kata-kata Mark Twain ini menjadi nyata kalau kita melihat pertumbuhan ekonomi di jaman Orba.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Orde Baru – Jaman Pelita, Tinggal Landas dan Nyungsep&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Secara sederhana jaman Orba bisa disebut jaman dimana harga-harga tinggal landas dan ekonomi akhirnya nyungsep. Mulainya Orde Baru (Orba) ditandai dengan beberapa hal penting dibidang keuangan dan pembangunan. Di bidang moneter, uang Orla dihapuskan dan Rp 1000 (Orla) menjadi Rp 1 (Orba) pada bulan Desember 1965. Sebabnya (mungkin) untuk mempertahankan arti kata jutawan. Seorang jutawan seharusnya mempunyai status sosial/ekonomi yang tinggi di masyarakat. Tetapi pada saat itu mengalami penggerusan makna. Untuk menggambarkan situasinya, tahun 1964 uang Rp 1000 (Orla) bisa untuk hidup sekeluarga 1 hari. Tetapi tahun 1967 uang itu hanya bisa untuk beli sebungkus kwaci. Sulit bagi orang awam untuk menerima kenyataan yang sudah berubah dalam waktu yang demikian singkat. Seorang jutawan tadinya berarti kaya raya berubah maknanya menjadi pemilik 1000 bungkus kwaci. Hal ini hanya berlangsung dalam kurun waktu 3 tahun dari tahun 1964 sampai 1967, cepat sekali.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemotongan nilai nominal dari Rp 1000 (Orla) ke Rp 1 (Orba) bisa juga dikarenakan gambar Sukarno pada design uang Orla itu sudah membosankan. Itu hanya rekaan saya saja. Yang tahu pastinya hanya para pejabat di Bank Indonesia pada saat itu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Awal dari Orba, mahasiswa melakukan tuntutan yang dikenal dengan Tritura (tiga tuntutan rakyat) yaitu Bubarkan PKI, Bentuk kabinet baru dan Turunkan harga. Untuk membubarkan PKI dan membentuk kabinet sangat mudah. Tetapi untuk menurunkan harga? Tidak pernah terjadi sampai Orba tumbang 3.5 dekade kemudian. Bahkan walaupun beberapa mentri yang duduk di kabinet Orba selama beberapa masa bakti dulunya adalah aktifis mahasiswa yang meneriakkan Tritura, harga-harga tidak pernah turun. Itu fakta. Saya tidak tahu apakah mereka lupa atau tuntutan itu tidak penting bagi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pembangunan di jaman Orba direncanakan melalui tahapan 5 tahun yang dikenal dengan Pembangunan Lima Tahun atau Pelita. Pertumbuhan ekonomi melesat, 7% - 10% katanya. Karena tingginya angka pertumbuhan itu, maka menjelang pertengahan dekade 90an, mulai dihembuskan istilah tinggal landas, swasembada pangan, sawah sejuta hektar dan entah apa lagi. Tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1997-1998, mungkin karena keberatan beban, pada saat tinggal landas, terpaksa nyungsep, import pangan, kurang pangan dan nasib sawah sejuta hektar entah bagaimana.&lt;br&gt; &lt;br&gt; GDP pada awal Orde Baru (katakanlah menjelang tahun 1970) adalah $ 70 per kapita. Pada saat Orde Baru digantikan Orde Reformasi GDP Indonesia menjadi $ 880 per kapita (tahun 2000). Jadi selama 30 tahun naik 12,6 kali lipat!!! Hebat?? (dengan tanda tanya). Saya pertanyakan pujian untuk Orde Baru karena selama 30 tahun itu keluarga saya, tetangga saya, handai taulan tidak bertambah kemakmurannya sebanyak 12,6 kali lipat. Dua kali lipat pun tidak. Bagaimana mungkin lebih makmur kalau pada awal Orba tarif bus dalam kota di Jakarta adalah Rp 15 dan pada akhir Orba Rp 1000, naik 7500%!! (Sekarang, 10 tahun kemudian sudah Rp 2500).&lt;br&gt; Mungkin anda membantah bahwa rupiah tidak bisa dijadikan ukuran. Oleh sebab itu kita gunakan tolok ukur uang yang tidak ada tanda tangan gubernur bank sentral, yaitu emas. Tahun 1970 harga emas adalah $35/oz atau $1.13/gram. Jadi dalam emas, GDP Indonesia adalah 79 gram per kapita. Sedangkan 30 tahun kemudian, tahun 2000 beranjak ke 99 gram per kapita. Hanya 25% selama 30 tahun. Lalu bagaimana dengan pertumbuhan super selama 30 tahun itu? Kok cuma 25% saja? Itulah statistik, bentuk tipuan yang canggih, seperti kata Mark Twain.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Catatan: Tidak hanya rupiah yang tergerus nilainya tetapi juga US dollar!&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Orde Lama- Jaman Revolusi Berkepanjangan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Sebut saja uang Orde Lama untuk uang rupiah yang beredar sesudah kejadian pemenggalan satu (1) angka nol. Dimulai pada 25 Agustus 1959, dan ditandai dengan tindakan pemerintah menurunkan nilai uang Rp 500 menjadi Rp 50 dan Rp 1000 menjadi Rp 100. Uang rupiah yang beredar sebelum tanggal 25 Agustus 1956 (sebut saja uang hasil rekayasa Gunting Sjafruddin atau GS) ditukar dengan dengan uang rupiah Orla. Dan Rp 500 GS diganti dengan Rp 50 Orla. Jadi angka nol nya hilang satu. Bukan itu saja, simpanan giro yang ada di bank dibekukan dan deposito di atas Rp 25.000 dijadikan deposito berjangka panjang. Saya menyebutnya sebagai penyitaan untuk negara. Karena 8 tahun kemudian uang yang Rp 25.000 itu hanya cukup untuk membeli 3 bungkus kwaci.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Slogan seperti "Revolusi belum selesai" pada saat itu sering terdengar. Saya tidak tahu apakah slogan itu bermakna bahwa akhir dari revolusi itu identik dengan kemakmuran "gemah ripah loh jinawi". Dalam hal kemakmuran, seingat saya, kalau di tahun 1960 anjing saya bisa makan 0,25 kg daging per hari dan tahun 1966 saya harus makan dengan lauk 1 telor ayam kampung dibagi 3 orang. Dengan kata lain, sebenarnya pada awal-awal dekade 60an, boleh dikata kemakmuran cukup baik, tetapi kemudian merosot terus, karena banyak tenaga dan usaha diarahkan ke Trikora, Dwikora dan melanjutkan revolusi (apapun artinya). Puncak penghancuran ekonomi menjadi lengkap ketika G30S meletus dimana banyak petani dan pekerja yang tergabung dalam organisasi di bawah naungan PKI dihabisi dan mesin ekonomi macet karena fokus masyarakat tertuju pada ganyang PKI dan akibatnya ekonomi babak belur.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Uang Gunting Sjafruddin&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Masa uang rupiah "gunting Sjarifuddin" dimulai pada bulan Maret 1950 sampai dihapuskannya dan digantikannya dengan uang rupiah Orba tahun 1959. Yang dimaksud dengan gunting Sjarifuddin ialah keputusan pemerintah untuk menggunting pecahan mata uang rupiah di atas Rp 5 menjadi dua. Potongan bagian kanan tidak berlaku dan potongan sebalah kiri berlaku dengan nilai hanya setengahnya. Dan rupiah pun didevaluasi dari Rp 11,40 per US$ menjadi Rp 45 per US$. Artinya harga emas naik dari Rp 13 per gram menjadi Rp 51 per gram. Pada waktu itu keadaan jadi heboh. Pengumuman sanering (pengguntingan uang) ini dilakukan melalui radio dan pada saat itu tidak banyak yang memiliki radio. Sehingga mereka yang tahu kemudian berbondong-bondong memborong barang. Yang kasihan adalah para pedagang, karena barang dagangannya habis, tetapi ketika mereka hendak melakukan kulakan uang yang diperolehnya sudah turun harganya. Modalnya susut banyak. Tetapi, bukan hanya pedagang yang rugi, tetapi semua orang yang memiliki uang. Nilai uang susut paling tidak 50% dalam sekejap saja.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Antara tahun 1950 sampai tahun 1959, walaupun Bank Indonesia melakukan pembantaian terhadap para pedagang, penabung, pemilik uang di tahun 1950, tetapi kalau saya lihat, Indonesia masih tergolong makmur, dibanding dengan kondisi sekarang, jaman reformasi. Indikator saya ialah banyaknya mahasiswa yang berani berkeluarga dan punya anak pada saat mereka masih kuliah. Pada jaman reformasi ini, untuk berkeluarga, seorang mahasiswa harus lulus dan bekerja beberapa tahun dulu. Artinya, dulu lebih makmur dari sekarang dan indikasinya adalah banyak mahasiswa bisa bekerja dan memperoleh penghasilan yang bisa menghidupi keluarga.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa ORI dan Perang Kemerdekaan – Merdeka Mencetak Uang Semaunya&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Masa yang paling kacau adalah mulai dari pendudukan Jepang sampai masa perang kemerdekaan. Terlalu banyak otoritas keuangan (baca: Bank Sentral). Bermacam-macam uang dikeluarkan selama periode ini. Dari uang pendudukan Jepang yang dikeluarkan beberapa bank, uang NICA (pendudukan Belanda), uang daerah Sumatra Utara, Banten, Jambi, dan deret lagi di daerah repupblik. Bahkan di Yogya ada paling tidak dua jenis, yaitu yang dikeluarkan oleh Pakualaman dan oleh Kraton Yogya. Kita bicara saja uang republik yang paling resmi yaitu ORI – Oeang Republik Indonesia, walaupun sebenarnya uang-uang lainnya berlaku (kecuali uang pendudukan Jepang yang ditarik pada tahun 1946). Ketika ORI dikeluarkan dengan dektrit no 19 tahun 1946 pada tanggal 25 Oktober 1946 mempunyai nilai tukar terhadap uang sejati (emas) Rp 2 = 1 gram emas. Jadi Rp 1 ORI pada saat dikeluarkan punya nilai dan daya beli setara dengan Rp 100.000 uang sekarang (tahun 2007).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pada saat dikeluarkannya, mungkin bank sentral republik waktu itu masih naif, (mungkin juga tidak) mereka membagikan Rp 1 kepada setiap warga negara, anak-anak, pemuda, orang tua, semua dapat bagian. Mertua saya menceritakan betapa senang dia mendapat uang itu bagai mendapat durian runtuh. Dia pakai untuk jajan. Awalnya uang Rp 1 ORI bisa dipakai untuk beli nasi dan lauk pauknya beberapa porsi. Setelah beberapa hari pedagang menaikkan harga-harga. Tindakan para pedagang bisa dimaklumi karena uang tidak enak dan tidak mengenyangkan, lain halnya dengan makanan atau pakaian yang mempunyai manfaat yang nyata.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saya katakan jaman itu sebagai jaman kebebasan mencetak uang, contohnya ialah, pada tahun 1946 pecahan terbesar adalah Rp 100. Tahun 1947 pecahan terbesar naik menjadi Rp 250, kemudian dicetak lagi Rp 400 pada tahun 1948. Tidak hanya itu, banyak daerah seperti Sumatra Utara, Jambi, Banten, Palembang, Aceh, Lampung dan entah mana lagi juga mengeluarkan uangnya sendiri. Bahkan, kata mertua saya, di Jogya, ada dua uang daerah, yaitu yang dikeluarkan oleh Pakualaman dan yang dikeluarkan Keraton Jogya. Tidak heran kalau harga-harga tidak terkendali. Sebagai patokan, pada saat ORI dikeluarkan, nilai tukarnya terhadap uang sejati (emas) 1gr emas = Rp 2 dan setelah gunting Sjafruddin diberlakukan 1 gr emas = Rp 51 hanya dalam kurun waktu 4 tahun. &lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Jaman Normal&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Nama resminya yang diberikan oleh para penulis buku sejarah adalah jaman penjajahan Belanda. Sedangkan oleh kakek nenek yang berumur di atas 80 tahun, jaman itu disebut jaman normal, terutama pada periode sebelum tahun 1930an. Bisa dimengerti bahwa para penulis buku sejarah yang direstui oleh pemerintah memberi nama yang berkonotasi negatif, karena untuk mendiskreditkan pemerintahan yang lalu (Belanda). Dan Belanda yang tidak ikut menyusun buku sejarah Indonesia, tidak bisa membela diri. Seperti halnya dengan kata Orde Lama, bernada negatif karena nama itu adalah pemberian pemerintahan berikutnya (Orba) dan pada saat penulisan sejarah itu politikus Orla sudah disingkirkan habis-habisan pada saat pergantian rejim. Berbeda halnya dengan jaman Reformasi, walaupun ada pergantian rejim, nama Orba masih dipakai karena masih banyak anasir-anasir Orba yang bercokol di dalam Orde Reformasi. Jadi sulit nama Orba ditukar menjadi Orde Lepas Landas Nyungsep, atau nama yang konotasi negatif lainnya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jaman penjajahan Belanda walaupun nama resminya berkonotasi negatif, kakek nenek kita menyebutnya dengan nama yang megah yaitu Jaman Normal. Seakan-akan Jaman Revolusi, Jaman Sukarno atau Jaman Orba, tidak bisa dikategorikan sebagai jaman yang normal. Memang demikian. Ciri Jaman Normal menurut mereka ialah harga barang tidak beranjak kemana-mana alias tetap. Hanya bapak yang kerja dan bisa menghidupi anak sampai 12 dan istri. Cukup sandang dan pangan. Gaji 1 bulan bisa dipakai foya-foya 40 hari (artinya tanpa harus menghemat, mereka masih bisa menabung). Dibandingkan dengan kondisi sekarang, ibu dan bapak bekerja untuk membiayai rumah dengan anak 2 orang dan masih mengeluhkan gaji yang pas-pasan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Merasa masih penasaran dengan tingkat kemakmuran masa itu, saya tanyakan kepada mertua, berapa harga rumah dan makan dengan lauk yang wajar. Harga rumah di Kali Urang 1000 Gulden. Makan nasi dengan lauk, sayur dan minum 0,5 sen. Dengan kata lain harga rumah dulu adalah setara dengan 200.000 porsi nasi rames. Kalau sekarang harga nasi rames Rp 10.000 dan dianggap bahwa harga rumah yang bagus di Kali Urang setara dengan 200.000 porsi nasi rames, maka harga sekarang adalah Rp 2 milyar. Kira-kira itulah harga rumah yang bagus di daerah itu. Jadi kalau rata-rata 1 keluarga terdiri dari 2 orang tua dan 10 orang anak dan bisa makan foya-foya selama 40 hari, pasti penghasilannya setara dengan 4,8 juta sampai 14,4 juta lebih, karena faktor foya-foya harus diperhitungkan. Ayah dari mertua saya adalah guru bantu. Gajinya 50 gulden per bulan atau setara dengan 10.000 porsi nasi rames. Jumlah ini mempunyai daya beli setara dengan Rp 100 juta per bulan uang 2007 (nasi rames Rp 10.000 per porsi). Dengan penghasilan seperti itu, istri tidak perlu kerja.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Gaji pembantu waktu itu 75 sen per bulan atau setara dengan 150 porsi nasi rames. Berarti berdaya beli setara dengan Rp 1,5 juta uang saat ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kita bisa telusuri terus gaji-gaji berbagai profesi pada masa itu. Kesimpulannya bahwa daya beli waktu itu tinggi. Jadi tidak heran kalau jaman penjajahan dulu disebut jaman normal (artinya jaman lainnya tidak normal).&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Catatan Akhir dan Renungan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Kalau ditanyakan mengenai kemakmuran kepada pelaku ekonomi, selama 80 tahun terakhir, yang disebut Indonesia atau dulunya Hindia Belanda, tidak semakin makmur bahkan sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi yang spektakuler yang dilaporkan data-data statistik mengikuti kaidah Mark Twain: There are lies, damn lies and statistics. Kalau anda merasa heran, kenapa orang percaya pada janji para politikus, kata Adolf Hitler: "Make the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it" (Buatlah kebohongan besar dan susunlah sesederhana mungkin, dengungkan terus dan akhirnya orang akan percaya). Setiap jaman di republik ini punya tema kebohongan. "Merdeka" dan "revolusi" jaman Sukarno, "Pembangunan", "Lepas Landas" di jaman Suharto, dan "Demokrasi, Otonomi Daerah, Reformasi" jaman sekarang. Kalau janji demi janji didengungkan terus menerus seperti yang dilakukan Hitler dan mentri propagandanya Joseph Goebbels, orang akan percaya, kecuali orang yang berpikir dan menganalisa.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kemakmuran tidak bisa diciptakan dengan membuat undang-undang atau aktifitas-aktifitas berpolitik. Apakah padi akan tumbuh lebih subur atau minyak sawit keluar lebih banyak karena para politikus dan birokrat bersidang lebih lama atau undang-undang bertambah banyak? Atau orang lebih banyak ikut partai politik, organisasi kedaerahan? Untuk orang berpikirnya sederhana seperti saya ini, padi hanya akan tumbuh subur, kebun hanya akan berbuah lebih banyak, pabrik hanya bisa menghasilkan sepatu yang lebih banyak dan baik kalau orang bekerja di sawah, kebun atau pabrik lebih effisien dan lebih giat. Jadi kalau selama 6 dekade trendnya bukan terfokus pada aktifitas langsung untuk menaikkan kemakmuran, maka jangan mengharapkan hasil yang berbeda. Hanya orang gila atau idiot yang mengharapkan hasil yang berbeda sementara apa yang dikerjakan dan cara mengerjakannya sama. Itulah sebabnya saya skeptis bahwa GDP US$ 18.000 per tahun identik dengan kemakmuran. Saya tidak yakin kemakmuran akan dicapai dalam 2-5 dekade ke depan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sebagai penutup, saya minta anda merenungkan: "Kenapa uang semakin lama semakin besar nilai nominalnya, banyak nol nya?" Seperti uang Bosnia (salah satu wilayah Bosnia) ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pertanyaan ini akan kita bahas di bagian ke II dari seri tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bagian II:&lt;br&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 15.5pt;"&gt;Inflasi, Politik dan Kemakmuran: antara Mitos dan Kenyataan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 15.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Saya akan memulai bagian ke II melihat kutipan di atas dari dua presiden USA, seorang mentri propaganda Jerman Nazi dan saya sendiri.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saya pikir pembaca cukup pandai dan saya tidak akan menghina intelektualitas anda dengan menterjemahkan ketiga sitiran di atas. Essensi kutipan di atas akan menjadi jelas dengan tulisan di bawah ini bahwa intrik, pengelabuhan atas penguasaan pencetakan uang dan kebenaran adalah musuh utama negara.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Mitos:&lt;/b&gt; Inflasi adalah kenaikan harga-harga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Yang benar:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; Inflasi adalah laju pertumbuhan uang yang beredar di dalam ekonomi. Bank sentral/otoritas keuangan mencetak uang sehingga jumlahnya di dalam ekonomi meningkat, akibatnya nilai uang turun dan harga-harga naik.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jadi inflasi adalah perbuatan manusia yang disengaja berkaitan dengan jumlah uang yang beredar, &lt;b&gt;&lt;i&gt;bukan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; gejala ekonomi akibat permintaan dan penawaran barang/jasa.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Inflasi = Pajak Tabungan dan Pajak Ekonomi Bawah-Tanah&lt;br&gt; &lt;/b&gt;Pengertian inflasi yang beredar di masyarakat adalah yang mitos bukan yang sebenarnya. Penguasa tidak ingin kebenaran mitos ini terungkap karena kebenaran adalah musuh terbesar dari pemerintah (Goebbels). Bagi pemerintah inflasi mempunyai beberapa fungsi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; 1. Pajak atas tabungan&lt;br&gt; 2. Memindahkan kekayaan riil dari penabung ke penghutang&lt;br&gt; 3. Menghancurkan hutang&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemerintah hidup dari pajak. Tetapi pajak bukanlah hal yang populer. Bayangkan kalau anda dikenai pajak 70%-80% dari harta atau penghasilan anda. Anda pasti marah. Oleh sebab itu perlu diciptakan cara yang lebih halus dan tersembunyi di balik kekuasaan dan hak monopoli pencetakan uang. Misalnya pemerintah mencetak uang sehingga uang yang beredar bertambah 20% per tahun, jika barang dan jasa di dalam ekonomi tidak bertambah berarti nilai uang turun sebesar 20%. Artinya nilai riil tabungan anda turun, nilai riil gaji anda turun, nilai riil hutang anda juga turun.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dengan mitos inflasi (bahwa inflasi = kenaikan harga-harga) berarti penguasa bisa menyalahkan para pelaku ekonomi terutama pedagang. Tuduhan bisa dilontarkan bahwa karena ulah pedagang menimbun barang menyebabkan harga naik seperti yang dilakukan beberapa waktu ini terhadap produsen minyak sawit dan penyalur beras. Kemudian dibarengi dengan operasi pasar membuat image penguasa naik. Menjelekkan pedagang dan mendongkrak citra diri sendiri. Hal ini mudah dicerna dan didukung rakyat .&lt;br&gt; &lt;br&gt; Supaya lengkap, inflasi kemudian disamarkan dengan indeks harga bahan pokok. Kalau yang namanya indeks, cara menghitungnya bisa dibuat rumit, menjadi intimidatif kalau melihatnya dan tidak lagi transparan. Ini mengikuti hukum: "kalau kita tidak bisa menyakinkan orang, buatlah dia bingung supaya akhirnya pasrah dan tidak bertanya lagi". Jadi jangan heran kalau dengar inflasi negatif tetapi harga diesel dan minyak goreng naik di atas 20% seperti yang terjadi bulan lalu. Dan tidak ada wartawan yang menyoal hal ini, karena sudah terintimidasi oleh rumit dan canggihnya perhitungan indeks harga bahan pokok atau indeks inflasi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sebagai pajak tabungan, inflasi sangat effektif dalam menjangkau "underground economic" (ekonomi bawah tanah). Kalau pekerja seperti saya ini, tangan pajak bisa menjangkau kami melalui perusahaan. Pajak dipotong langsung oleh perusahaan. Lain halnya dengan tukang bakso, tukang sayur, pengemis, pemulung, tukang ojek dan profesi sejenisnya, mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan. Jangan dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung yang mangkal di depan rumah saya, penghasilannya Rp 100.000 – Rp 200.000 per hari, 365 hari per tahun. Jelas penghasilan mereka sudah melewati batas kena pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Oleh sebab itu diperlukan mekanisme untuk memajaki mereka yaitu lewat inflasi. Inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka bisa disebut pajak terhadap harta pelaku ekonomi bawah tanah.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Contoh riilnya, misalnya seorang tukang becak yang di tahun 1980 mangkal di dekat Senayan. Dia memberi jasa mengantar penumpang sejauh kurang lebih 4 km ke Blok M. Sebagai imbalannya dia diberi uang sebesar Rp 300. Artinya Rp 300 mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak. Uang ini disimpannya di lemari sampai tahun 2007. Pada saat dia sudah tua, dia mau naik becak dengan jarak yang sama. Kalau Rp 300 itu mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak maka kapan saja dia gunakan tanda/alat pembayaran yang syah itu dia akan memperoleh jasa yang sama. Nyatanya tidak demikian. Di tahun 2007 diperlukan Rp 5000 – Rp 8000 untuk jasa yang sama. Artinya nilai riil tabungan si tukang becak ini sudah termakan oleh inflasi (baca: pajak tabungan dan pajak ekonomi bawah tanah) walaupun secara sadar si tukang becak tidak pernah merasa membayar pajak.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Inflasi sebagai pajak, mempunyai spektrum luas. Artinya sasarannya ialah siapa saja yang mempunyai uang yang di-inflasikan, tidak mengenal batas negara atau kewarganegaraan, tetapi siapa saja. Seperti US dollar, yang beredar dan ngendon di bank sentral banyak negara karena dijadikan cadangan devisa serta yang ada di tabungan perorangan, laju pertumbuhan dollar yang beredar sebesar 8%-12% berarti nilai riil simpanan dollar turun dengan laju 8% - 12% per tahun. Kalau tabungan itu memperoleh bunga maka bunga itu bisa meredam sedikit turunnya nilai riil tabungan. Catatan: Sentral Bank USA – the Fed – sejak Maret 2006 tidak lagi melaporkan kepada publik laju pertambahan supply uang dollar M3. Maksud M3 adalah seluruh jenis uang, tunai, simpanan tabungan, dan lain lain. Dengan adanya perang di Irak dan Afganistan, USA memerlukan banyak pemasukkan pajak.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mendapatkan pemasukkan negara/pemerintah/penguasa melalui inflasi sangatlah mudah. Syaratnya hanya kekuasaan (dan monopoli) pencetakan/penerbitan uang. Sedangkan ongkos mencetak sangat murah. Mencetak uang Rp 100.000 atau Rp 5.000 atau US$100 atau kalau ada nanti Rp 1000.000, memerlukan usaha, tinta, kertas dan peralatan yang sama. Apalagi sekarang ini, uang tidak selalu berbentuk kertas melainkan juga catatan elektronik. Anda digaji melalui transfer elektronik. Belanja dengan kredit card atau debit card juga secara elektronik. Ketika bank memberikan hutang, tinggal mengkreditkan di rekening anda. Praktis penggunaan (uang) kertas sudah berkurang banyak. Catatan elektronik telah menggantikan kertas. Karena uang sekarang ini sebagian hanyalah catatan elektronik maka memciptakannya semakin mudah, hanya dengan pencetan tombol keyboard komputer. Kalau anda berjiwa kriminal, anda akan bertanya, "tentunya memalsukan uang sekarang menjadi semakin mudah dan sulit dilacak bagi hacker hacker ulung". Mungkin saja. Bagi seorang hacker ulung, kalau bisa masuk ke sistem komputer otoritas keuangan dan mengkreditkan sejumlah uang di rekeningnya. Mudah bagi yang ulung dan tahu sistemnya. Tidak perlu lagi beli tinta dan kertas uang serta sembunyi-sembunyi mencetak dan mengedarkannya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Liquiditas, Nama Baru Inflasi&lt;br&gt; &lt;/b&gt;Sejarah selalu berulang walaupun tidak sama persis. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa kita bisa belajar dari sejarah. Apakah itu untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Kekuasaan dan monopoli moneter menjadi landasan Kekaisaran Romawi melakukan mengenceran kadar emas yang terkandung di dalam uang dinarius nya dari 90% menjadi hampir 0% selama 250 tahun. Perlahan tetapi pasti. Atau kalau anda mau mencarinya di internet, cerita tentang John Law dan Duke Philippe d'Orléans berserta Banque Royale (Royal Bank) di tahun 1716 sampai 1720. Sampai-sampai orang Prancis alergi terhadap kata bank. Yang kita jumpai sekarang ini adalah Credit Lyonese atau Credit Suisse. Atau kalau anda buka situsnya Bank Indonesia, dan membaca sejarah Bank Indonesia, anda akan tahu bahwa keuangan republik ini didirikan di atas inflasi untuk membiayai perjuangan kemerdekaan dulu. Atau kalau mau baca majalah atau koran luar negri baru-baru ini tentang Zimbabwe, inflasinya 1700%!!!&lt;br&gt; &lt;br&gt; Di situs Bank Indonesia (BI) bisa dijumpai data jumlah uang M2 yang beredar dari tahun 1990 sampai sekarang. Tahun 1990 jumlah uang M2 yang beredar sekitar Rp 60 triliyun. Kurang dari 17 tahun kemudian (tahun 2007) jumlah itu sudah mencapai hampir Rp 1400 triliyun atau 23 kali lipat (lihat Grafik-1). Dapat dipastikan harga-harga barang sudah naik 23 kali lipat selama 17 tahun ini. Bukannya harga-harga naik, tetapi nilai uang diturunkan. Selama 17 tahun, 86% nilai rupiah sudah dihancurkan. Sekarang nilainya hanya 4% dari nilai riil di tahun 1990. Jadi jika anda 27 tahun lalu pensiun, dapat pesangon pensiun dan hidup dari bunga deposito uang tersebut, maka pada saat ini nilai riil uang anda di bank hanya tersisa 4% saja. Sekarang anda akan mengalami kesulitan hidup. Dan yang lebih merisaukan lagi ialah bahwa sejak tahun 2005 laju kenaikan uang yang beredar mengalami percepatan. Inflasi meningkat. Berarti penurunan nilai riil uang anda semakin dipercepat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://2.bp.blogspot.com/_FjYHDzxEy7U/Ro8ZzZg_XfI/AAAAAAAAABg/Dq-VbEZqTs0/s1600-h/Moneysupply.bmp"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; text-decoration: none;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Grafik 1 Uang M2 yang beredar (sumber: Bank Indonesia)&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kalau kita mundur lagi ke belakang pada saat republik ini baru diakui dunia yaitu tahun 1950. Jumlah uang yang beredar hanya Rp 3,9 milyar rupiah ORI (Sumber: BI). Jumlah ini sama dengan Rp 195 ribu nominal uang Orba. (Ingat Rupiah mengalami 3 kali pengguntingan nilai nominalnya). Kalau sekarang Rp 195 ribu adalah penghasilan sehari pemulung di depan rumah saya, tetapi 57 tahun lalu adalah semua uang yang beredar di republik ini. Selama 57 tahun nilai riil rupiah sudah dihancurkan dan hanya tersisa 0.0000000142% saja (oooalah banyak benar nolnya!!). Praktis NOL.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Nama baru inflasi saat ini ialah liquiditas. Kalau liquiditas naik artinya, inflasi meningkat. Dipersepsikan bahwa liquiditas adalah obat untuk segala persoalan ekonomi. Pembangunan ekonomi, untuk menggerakkan ekonomi, mencegah dan mengobati krisis ekonomi diperlukan liquiditas yang cukup. Sejak krisis moneter Asia 1997, krisis LTCM (Long Term Capital Management), krismon Russia, sampai krisis bursa Teknologi US, liquiditas membanjir. Selama dua tahun terakhir ini terjadi percepatan laju kenaikkan rupiah yang beredar yang cukup mencemaskan, antara 14% -20%. Soal cetak mencetak uang,bukan monopoli Indonesia saja, tetapi juga negara lain. Tahun lalu Uni Eropa 8.5%, US 10%, Cina 19%, India (18%), Afrika Selatan 23% dan Russia 45%.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Di bawah ini adalah grafik US$ M3 yang beredar dari tahun 1980 sampai Maret 2006 (sumber: nowandfutures.com). Sumber datanya dari the Fed (bank sentral US). Karena sejak Maret 2006 tidak lagi melaporkan uang M3 yang beredar maka kedepannya berupa perkiraan yang diturunkan dari data lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://3.bp.blogspot.com/_FjYHDzxEy7U/Ro8MYpg_XYI/AAAAAAAAAAo/wqxDw6bQFfs/s1600-h/M3+US.bmp"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; text-decoration: none;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; Grafik 2 Pertumbuhan Uang M3 US$ dalam milyar US$&lt;br&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;(Sumber: nowandfutures.com)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Selama kurang dari 27 tahun, jumlah US dollar yang beredar naik menjadi 6 kali lipat. Jangan heran kalau kemudian harga-harga bahan dasar naik. Maksudnya, nilai uang turun. Minyak naik dari titik terendahnya $10 per barrel di tahun 1999 sekarang berkisar di level $ 60. Jagung, beras, emas, perak dan komoditas lainnya naik. Lihat trend di grafik berikut ini dan jangan hiraukan unit nya. ( 1 U.S. bushel = 35.24 liter dan 1 oz = 31.1 gram).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv1966406393MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kita bisa teruskan ke bahan-bahan lain. Trendnya sama, yaitu naik (secara nominal). Dalam keadaan seperti ini, pemilik tabungan dirugikan dan para penghutang akan diuntungkan. Nilai riil hutang atau tabungan digerus inflasi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Catatan Akhir dan Renungan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Pemerintah/Penguasa bukan badan yang berorientasi keuntungan dan bukan pula yayasan sosial yang menciptakan kemakmuran. Pemerintah/penguasa menarik pajak, retribusi, membuat inflasi, mengeluarkan surat hutang. Katanya pajak itu akan kembali ke rakyat. Retorik itu salah. Prioritas utamanya ialah untuk mereka sendiri, membayar gaji. Kalau ada sisa baru disisihkan untuk memelihara dan membangun infra struktur untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. Pada tahun-tahun terjadinya krisis di negri ini, seperti 1946 – 1950, 1964 – 1968, 1997 – 2000, perawatan infra struktur hampir tidak ada. Tetapi gaji politikus dan birokrat tetap berjalan, juga aktifitas politiknya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saat ini pemerintah giat melakukan operasi pasar untuk minyak goreng. Kalau tujuannya untuk menurunkan harga, adalah usaha yang sia-sia. Saya melihatnya hanya sebagai aktifitas politik yaitu mencari popularitas. Seperti saya katakan: "Ada penipu kecil, penipu ulung, politikus dan Cut Zahara Fonna". Operasi pasar, memaksa pedagang untuk menjual barangnya di harga yang ditetapkan penguasa atau sejenisnya, sepanjang sejarah tidak bisa membuat kemakmuran meningkat, karena tidak ada pertambahan barang dan jasa di pasar. Kalau tindakan itu dimaksudkan untuk mencari popularitas, pemerintah reformasi ini masih kalah dengan Robert Mugabe. Robert Mugabe dari Zimbabwe, beberapa tahun lalu menyita tanah dari para tuan tanah kulit putih kemudian membagikannya kepada "petani" miskin kulit hitam. Jangan dikira Zimbabwe jadi makmur karena banyak tanah sudah berpindah tangan kepada petani. Produksi pangan menurun karena hengkangnya tuan tanah yang punya keahlian mengelola sistem pertanian. Inflasi harga (kenaikan harga barang) di Zimbabwe mencapai 1700% per tahun tidak hanya dipicu oleh pencetakan uang tetapi juga susutnya jumlah barang di pasar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tuan tanah, tengkulak, pengijon, penimbun, spekulator sering dijadikan kambing hitam oleh penguasa. Sebenarnya mereka merupakan bagian yang penting dalam ekonomi pasar. Kalau mereka dihilangkan, ekonomi menjadi terganggu. Nabi Jusuf adalah seorang penimbun dan spekulator. Dia menimbun dan berspekulasi bahan pangan hanya berdasarkan mimpi Firaun. Bulog juga penimbun. Perbedaan antara Bulog dan penimbun/spekulator swasta ialah bahwa pelaku Bulog tidak mempunyai rasa memiliki sehingga rawan korupsi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Profesi sebagai politikus sangat menggiurkan. Bisa bermain-main dengan kekuasaan dan imbalannya cukup besar. Jaman Reformasi ini seakan sempatan berpolitik dan berpartisipasi di sektor kekuasaan semakin terbuka lebar. Jangan heran kalau dari mulai kiai, pengangguran, guru, artis, beralih ke profesi ini. Kecenderungannya nampak semakin banyak "elite" politik, organisasi kedaerahan, dewan adat, laskar kedaerahan yang orientasinya kekuasaan dan hak atas pajak/retr&lt;var id="yiv1966406393yui-ie-cursor"&gt;&lt;/var&gt;ibusi atau sejenisnya yang disebut penghasilan daerah. Harus diingat bahwa aktifitas semacam itu tidak menambah barang atau kemakmuran, bahkan menurunkan kalau semakin banyak orang lari dari sektor-sektor produktif (pertanian, manufakturing, dsb) ke aktifitas politik yang non produktif.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Yang diceritakan di atas adalah institusi yang resmi. Ini tidak termasuk pak Ogah, unit-unit "keamanan", tukang parkir liar, tukang palak, organisasi kedaerahan dan sejenisnya yang tidak resmi dan ikut menariki iuran. Mereka ini memang tidak ikut dalam komponen pemicu inflasi moneter tetapi punya andil dalam inflasi harga. Iuran-iuran liar ini akan dimasukkan oleh para pedagang dalam komponen biaya dan harga jual barang menjadi lebih tinggi. Jangan heran kalau biaya hidup di Jakarta 30% lebih mahal dari di Kuala Lumpur, karena adanya perbedaan komponen ini.&lt;br&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-6481612935985471863?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUW2Ptq9KmNNhbduQ3y_OxCR9II/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUW2Ptq9KmNNhbduQ3y_OxCR9II/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUW2Ptq9KmNNhbduQ3y_OxCR9II/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dUW2Ptq9KmNNhbduQ3y_OxCR9II/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/YwA4RZYO-1E" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/6481612935985471863/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=6481612935985471863" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6481612935985471863?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6481612935985471863?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/YwA4RZYO-1E/visi-2030-kemakmuran-atau-ilusi-gdp.html" title="VISI 2030: KEMAKMURAN ATAU ILUSI (GDP $ 18000 = KEMAKMURAN?)" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/visi-2030-kemakmuran-atau-ilusi-gdp.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MMQn46eip7ImA9WhRTEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-942735980306083606</id><published>2011-10-31T22:37:00.000+07:00</published><updated>2011-10-31T22:38:03.012+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-31T22:38:03.012+07:00</app:edited><title>Peduli Rencana Keuangan</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Memiliki rasa aman dan nyaman dalam finansial merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Sayangnya, banyak yang masih tidak menyadari betapa penting melakukan perencanaan keuangan, dan lebih memilih pasrah menghadapi kenyataan hidup.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Masih bersikap masa bodoh dengan keuangan sendiri? Jangan lagi! Anda harus mulai peduli dengan masa depan diri sendiri dan keluarga. Setiap saya berkesempatan bicara di suatu seminar perencanaan keuangan, pertanyaan yang kerap dilontarkan adalah, "Mbak Prita, investasi apa yang paling aman dan menguntungkan buat saya"?&lt;br&gt; &lt;br&gt; Karena saya perencana keuangan dan bukan pembaca kartu tarot, jawaban ini hanya bisa diperoleh jika si penanya sudah merencanakan keuangan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Perencanaan keuangan adalah proses seorang individu yang berusaha untuk memenuhi tujuan-tujuan finansialnya melalui pengembangan dan implementasi dari sebuah rencana keuangan (financial plan) yang komprehensif. Sederhananya, Anda harus bermimpi, lalu membuat prioritas, menentukan harga, menentukan kapan, dan barulah membuat strategi mewujudkannya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pertama, Rencana = Harga + Jangka waktu + Strategi. Suatu impian baru berubah menjadi tujuan keuangan jika Anda sudah tahu mau liburan ke mana, berapa anggaran biayanya, dan kapan mau mewujudkannya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tujuan keuangan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1320071289_2"&gt;itu&lt;/span&gt; kemudian dipetakan menjadi sebuah rencana keuangan dengan menghitung dana yang telah miliki dan jumlah kebutuhan dana yang masih harus ditutup melalui proses menabung atau berinvestasi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam sebuah rencana keuangan, pertama wajib ada analisa atas kondisi keuangan saat ini alias financial check up. Berikutnya, Anda harus menentukan aspirasi yang jadi prioritas, lalu membuat strateginya. Terakhir, rencana saja tidak cukup, jadi harus ada rencana implementasi yang jelas.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Investasi merupakan bagian dari perencanaan keuangan. Yang penting dipahami bahwa investasi itu terbentuk dari risiko dan potensi keuntungan. "There\'s no free lunch". Semakin tinggi potensi keuntungan, maka semakin tinggi pula risiko berinvestasi di produk itu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kedua, Investasi = Pilihan + Risiko + Keuntungan. Saya selalu mengingatkan, kembalikan semua pilihan ke apa tujuan Anda. Meski investasi emas logam mulia sedang heboh luarbiasa, tetap tidak sesuai untuk membayar uang pangkal sekolah anak di bulan Januari 2012. Untuk tujuan ini, pilihan paling aman dan menguntungkan adalah ditempatkan dalam deposito di bank atau reksadana pasar uang.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Nah, kalau Anda masih suka menempatkan dana di deposito padahal ditujukan untuk kebutuhan hari tua 15 tahun lagi, siap-siap saja baru tiga tahun setelah pensiun dananya sudah habis tak bersisa. Pilihan paling baik adalah berinvestasi di reksadana saham.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dimulai dari keinginan&lt;br&gt; &lt;br&gt; Proses pembuatan rencana keuangan dimulai dengan adanya kemauan untuk membuat hidup menjadi lebih indah dan sejahtera. Saya tidak pernah bertemu dengan klien yang motivasi membuat rencana keuangan karena iseng saja. Perencanaan keuangan adalah proses yang membutuhkan disiplin dan komitmen, sama seperti menjaga kesehatan tubuh.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Berikutnya, Anda wajib membaca berbagai buku dan artikel tentang perencanaan keuangan, menghubungi perencana keuangan independen atau ikut pelatihan pembuatan rencana keuangan sendiri. Jika informasi sudah diperoleh, silahkan menyusun daftar prioritas rencana untuk keluarga Anda. Ujungnya, Anda harus punya rencana implementasi yang jelas dalam bentuk anggaran rumahtangga.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Trik agar anggaran tidak jebol adalah memisahkan antara arus kas yang rutin dan arus kas yang bersifat tahunan. Contoh pemasukan rutin adalah gaji bulanan atau penghasilan sewa bulanan, yang memang harus bisa menutup semua pengeluaran bulanan Anda.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemasukan tahunan, contohnya THR, bonus tahunan, dividen, dan sisa hasil usaha, harus bisa menutup semua pengeluaran tahunan seperti biaya liburan, pajak, dan lainnya. Untuk implementasinya, Anda bisa menggunakan metode alokasi penghasilan dengan cara pembagian fungsi rekening bank atau kalau mau konservatif dengan menggunakan amplop-amplop.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mempunyai rencana keuangan tidak mungkin menjamin Anda 100% akan kaya. Tapi, Anda akan lebih tenang karena tahu apakah dana investasi sudah cukup untuk&lt;br&gt; pendidikan, atau mengetahui bila saat ini baru bisa mendanai pensiun hingga usia 60 tahun. Saya percaya bahwa Anda tidak perlu jadi seorang ahli keuangan, tapi Anda harus paham bagaimana mengelola keuangan keluarga sendiri.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Anda tidak tahu kapan akan sakit, atau kapan berhenti bekerja. Apalagi, soal umur hidup di dunia. Karena itu, perencanaan keuangan merupakan salah satu panduan yang bisa membantu Anda memperoleh hidup yang lebih indah dan sejahtera. Live a Beautiful Life!&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-942735980306083606?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lgW2OZ3CPoYLx1NnKzSTr3btskg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lgW2OZ3CPoYLx1NnKzSTr3btskg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lgW2OZ3CPoYLx1NnKzSTr3btskg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lgW2OZ3CPoYLx1NnKzSTr3btskg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/61ZMiE-DaxA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/942735980306083606/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=942735980306083606" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/942735980306083606?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/942735980306083606?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/61ZMiE-DaxA/peduli-rencana-keuangan.html" title="Peduli Rencana Keuangan" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/peduli-rencana-keuangan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0AEQ3c7fSp7ImA9WhdaFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-1895612959732388903</id><published>2011-10-27T08:41:00.001+07:00</published><updated>2011-10-27T08:41:42.905+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-27T08:41:42.905+07:00</app:edited><title>Kondisi Darah Manusia Ketika Berdoa, Sedih, Takut dan Jatuh Cinta</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;br&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="separator" style="clear: left; color: black; float: left; line-height: 18px; margin: 0px 1em 0em 0px; outline-width: 0px; padding: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_mDCq2KqgYWo/TLwssgAwJjI/AAAAAAAACaQ/doiN9Q1linY/s200/blood.jpg" style="margin: 0px; max-width: 516px; outline-width: 0px; padding: 0px;" width="141" border="0" height="200"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sebuah   penelitian dilakukan oleh pakar EFT (Emotional Freedom Techniques)   untuk menunjukkan bagaimana kondisi darah manusia disaat normal, sedih,   gembira, jatuh cinta dan saat berdoa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span  class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Pakar   EFT yang bernama Dr. Felicy tersebut mengambil sampel darah seorang   pasien bernama Rebecca, kemudian memotretnya dengan menggunakan   "darkfield microscope" yang dihubungkan dengan monitor komputer.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family:  inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Dan   tampaklah perubahan drastis pada darah Rebecca tersebut setiap kali   emosinya berubah. Berikut ini adalah foto darah seorang Rebecca sebelum   dan sesudah melakukan EFT.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; font-weight: normal; line-height: 24px; margin: 0px 0px 10px;  outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat sedih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Rebecca   melakukan EFT dengan mengundang emosi "sedih" dengan cara memikirkan   saat-saat sedih sampai dia menangis, lalu sang pakar EFT mengambil   sampel darahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="border-collapse: collapse; color: black; line-height: 18px; margin: 5px auto 0.5em; outline-width: 0px; padding: 4px; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_mDCq2KqgYWo/TLwtgE2ZE-I/AAAAAAAACaU/sstdEFjQi8A/s1600/Kondisi+darah+saat+sedih.jpg" style="margin: 0px auto; max-width: 516px; outline-width: 0px; padding: 0px;" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td class="tr-caption" style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat sedih,Sel darah begerak cepat dan berbentuk air mata&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; font-weight: normal; line-height: 24px; margin: 0px 0px 10px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat merasakan cinta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Lalu   Rebecca menggunakan EFT untuk mengundang energi "cinta" untuk memasuki   tubuh dan darahnya. Dan seketika darahnya kembali normal, dan sel-sel   darah bergerak dengan indah dan timbul substansi yang berkilauan dalam   cairan darah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="border-collapse: collapse; color: black; line-height: 18px; margin: 5px auto 0.5em; outline-width: 0px; padding: 4px;  text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_mDCq2KqgYWo/TLwuczhMrXI/AAAAAAAACaY/vTC4znNzsM4/s1600/Kondisi+darah+saat+merasakan+cinta.jpg" style="margin: 0px auto; max-width: 516px; outline-width: 0px; padding: 0px;" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td class="tr-caption" style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat merasakan cinta,Sel darah bergerak pelan dan cenderung berkumpul&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; font-weight: normal; line-height: 24px; margin: 0px 0px 10px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat merasa  takut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Satu   kenyataan menarik pada sampel darah saat "sedih" terjadi perubahan   seperti pada sampel darah saat "merasakan cinta". Jadi walaupun darah   itu sudah meninggalkan tubuh Rebecca ia tetap masih berhubungan dengan   pemiliknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kemudian   seorang Rebecca mengundang rasa takut dan memikirkan kejadian   menakutkan yang pernah ia alami. Dan sel-sel dalam darahnya bergerak   tidak beraturan dengan sangat cepat dan terlihat berjauhan. Mungkin ini   adalah akibat dari produksi adrenalin sebagai reaksi normal atas rasa   takut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="border-collapse: collapse; color: black; line-height: 18px; margin: 5px auto 0.5em; outline-width: 0px; padding: 4px; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_mDCq2KqgYWo/TLwu0AVsLLI/AAAAAAAACac/J7wptn27N5U/s1600/Kondisi+darah+saat+merasa+takut.jpg" style="margin: 0px auto; max-width: 516px; outline-width: 0px; padding: 0px;" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td class="tr-caption" style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat merasa takut,Sel darah bergerak tidak beraturan dan berjauhan dengan sangat cepat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; font-weight: normal; line-height: 24px; margin: 0px 0px 10px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat berdoa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div  style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Lalu   Rebecca mecoba untuk memikirkan "sifat feminine Tuhan", yang dalam   keyakinan agamanya ia sebut "divine mother", sifat penyayang, penyantun   dan pemelihara. Dan memohon kepada-Nya untuk menyalurkan energi  feminine  itu kedalam tubuh dan darahnya. Saat berdoa tersebut, Rebecca  merasakan  seperti ini,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;"saya   merasakan gelombang energi yang begitu besarnya menyelimuti diri saya,   saya sampai menangis bahagia karenanya" Saat sampel darah Rebecca   diambil setelah berdoa dan merasakan pengalaman religius itu, kemudian   dilihatkan dibawah mikroskop yang dihubungkan dengan komputer, semua   yang hadir dilaboratorium itu seketika terdiam dan terpana karena   melihat kondisi darah yang sama sekali berbeda dengan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table class="tr-caption-container" style="border-collapse: collapse; color: black; line-height: 18px; margin:  5px auto 0.5em; outline-width: 0px; padding: 4px; text-align: center;" align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_mDCq2KqgYWo/TLwws4wt6dI/AAAAAAAACag/T_leA03s8ac/s1600/Kondisi+darah+saat+berdoa.jpg" style="margin: 0px auto; max-width: 516px; outline-width: 0px; padding: 0px;" border="0"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr style="background-color: white; height: 5px; margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;td class="tr-caption" style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px 5px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kondisi darah saat berdoa,Timbul substansi putih berkilauan, darah bergerak pelan dan sangat teratur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Cairan   darahnya sangat cerah, gerakan sel darah sangat tenang seakan bergerak   dengan penuh kedamaian, muncul banyak substansi yang berkilauan. Di   dalam sel darah terdapat substansi yang bercahaya dan berdenyut seperti   denyutan jantung mini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br style="margin: 0px; outline-width: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span  class="Apple-style-span"&gt;Sangat   luar biasa bukan??!... ini merupakan bukti betapa besar kekuasan Tuhan   YME, setiap inci dari tubuh kita bahkan darah pun bisa berubah sesuai   dengan emosi kita.. so, emosi kita mempengaruhi kesehatan kita juga..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-1895612959732388903?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sy8pNvrQ9qN6zP4yfEMe3Ox_1ug/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sy8pNvrQ9qN6zP4yfEMe3Ox_1ug/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sy8pNvrQ9qN6zP4yfEMe3Ox_1ug/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/sy8pNvrQ9qN6zP4yfEMe3Ox_1ug/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/YHthnir7O-Q" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/1895612959732388903/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=1895612959732388903" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1895612959732388903?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1895612959732388903?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/YHthnir7O-Q/kondisi-darah-manusia-ketika-berdoa.html" title="Kondisi Darah Manusia Ketika Berdoa, Sedih, Takut dan Jatuh Cinta" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_mDCq2KqgYWo/TLwssgAwJjI/AAAAAAAACaQ/doiN9Q1linY/s72-c/blood.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/kondisi-darah-manusia-ketika-berdoa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MAR3Yyeyp7ImA9WhdaFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-7972855622505272017</id><published>2011-10-25T09:24:00.001+07:00</published><updated>2011-10-25T09:24:06.893+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-25T09:24:06.893+07:00</app:edited><title>Lakukan Kunjungan (Bersilaturahmilah)</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt;Salah  satu rutinitas penting seorang salesman yang sukses adalah melakukan  kunjungan secara fisik (tidak cukup dengan menelpon atau korespondensi)  ke kantor pelanggannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt;Selama  pengalaman saya sebagai seorang salesman di atas lapangan, banyak  sekali pelanggan-pelanggan penting (dan besar) yang berhasil saya rebut  dari pesaing saya hanya karena pesaing saya mulai kendur dalam melakukan  kunjungan ke tempat pelanggan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt;Secara  psikologis, melakukan kunjungan rutin ke pelanggan akan membuat ikatan  emosional menjadi semakin kuat dan pada ujung-ujungnya Anda seperti  membangun tembok pertahanan yang kokoh di sekitar pelanggan Anda  tersebut sehingga pesaing Anda pastinya sangat mengalami kesulitan dalam  melakukan pendekatan atau usaha untuk merebut pelanggan tersebut dari  tangan Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt;Seorang  salesman level pemula yang masih serba canggung sekalipun akan tetapi  memiliki tekad sekuat baja dan sering melakukan kunjungan ke tempat  seorang (calon) pelanggan lebih berpotensi untuk memenangkan persaingan  bisnis dibandingkan seorang salesman level senior yang sangat  berpengalaman (bahkan dengan posisi sebagai Direktur sekalipun, dari  pihak pesaing bisnisnya namun tidak pernah atau jarang melakukan  kunjungan ke tempat pelanggan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt;Bisnis penjualan yang sukses dan kokoh untuk jangka panjang "dalam bahasa sederhana"?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv2144712871MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: black;"&gt;Lakukan Kunjungan, titik!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;font face="Arial" size="2"&gt;Salah satu keunikan distribusi di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1319509339_0"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;,  memang&amp;nbsp;para salesman harus rutin dan secara periodik&amp;nbsp;diwajibkan  mengunjungi pelanggan. Bahkan yang paling baik adalah setiap hari harus ada  feedback dari salesman, terutama untuk pelanggan-pelanggan yang gagal  dikunjungi. Alasannya apa kok sampai tidak dikunjungi.&amp;nbsp;Dengan area  penjualan yang dituntut&amp;nbsp;semakin luas dan target penjualan yang harus  meningkat, maka senjata para salesman untuk dapat mengunjungi pelanggan secara  rutin dan periodik adalah:&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;font face="Arial" size="2"&gt;- Dibuat rute penjualan, dengan periodik mingguan;  2 mingguan; bulanan; dll.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;font face="Arial" size="2"&gt;- Perlu feedback dari setiap kunjungan ke pelanggan  setiap hari&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;font face="Arial" size="2"&gt;- Mengurangi kegiatan administrasi salesman, dan  memberikan informasi selengkapnya kepada salesman, melalui perangkat  PDA&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;font face="Arial" size="2"&gt;- Perangkat PDA juga berfungsi untuk mencatat  order, melakukan penagihan, survey dan mencatat aktivitas  kompetitor&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;font face="Arial" size="2"&gt;- Perangkat PDA juga berfungsi untuk mengecek  apakah salesman benar-benar datang ke pelanggan, sekaligus tentunya untuk  evaluasi berapa lama waktu tempuh dan cost yang diperlukan&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;font face="Arial" size="2"&gt;Kesimpulan saya,&amp;nbsp;kunjungan ke pelanggan adalah  urat nadi dari kehidupan perusahaan distribusi.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-7972855622505272017?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZGyfUksluQvQdCdvwvXvA_QE3Eg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZGyfUksluQvQdCdvwvXvA_QE3Eg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZGyfUksluQvQdCdvwvXvA_QE3Eg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZGyfUksluQvQdCdvwvXvA_QE3Eg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/r6UKi3LQ4Mg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/7972855622505272017/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=7972855622505272017" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/7972855622505272017?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/7972855622505272017?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/r6UKi3LQ4Mg/lakukan-kunjungan-bersilaturahmilah.html" title="Lakukan Kunjungan (Bersilaturahmilah)" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/lakukan-kunjungan-bersilaturahmilah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0cERHs4fCp7ImA9WhdaFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-8033249325384055254</id><published>2011-10-24T19:22:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T19:23:25.534+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-24T19:23:25.534+07:00</app:edited><title>Memberitakan Alasan, Menggapai Produktivitas</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://manuverbisnis.files.wordpress.com/2011/10/productivity.jpg"&gt;&lt;img src="http://manuverbisnis.files.wordpress.com/2011/10/productivity.jpg?w=360&amp;amp;h=360" alt="" title="productivity" class="alignleft size-full wp-image-995" width="360" height="360"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dulu tempat saya bekerja, per dua minggu sekali, kita ada acara chorei (&lt;em&gt;cho&lt;/em&gt; berarti Pagi, &lt;em&gt;rei&lt;/em&gt;  Berarti hormat) yakni semacam "briefing pagi" di tradisi kita. Bedanya,  kalau briefing pagi di tempat kita terlampau banyak "bunga-bunga"  bahasa dan basa-basi yang terkadang membuat makna pesan yang disampaikan  agak kabur. &lt;em&gt;Chorei&lt;/em&gt; di yang dilakukan di perusahaan saya, lebih banyak menyampaikan fakta-fakta lapangan, seperti tingkat prosentase&lt;em&gt; defect&lt;/em&gt;  produk yang diproduksi agar dibawah 0,005%, agar tetap mengurangi  kesalahan produksi, sampai kiat-kiat secara singkat untuk berperilaku  produktif disertai dengan penjelasannya.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seperti yang kita ketahui bersama, berperilaku produktif adalah akar  untuk memenangkan persaiangan. Tak heran, di Jepang, termasuk di  perusahaan tempat saya magang, masalah produktivitas ini merupakan "&lt;em&gt;never ending process&lt;/em&gt;" yang selalu diteriakkan dalam acara &lt;em&gt;chorei &lt;/em&gt;tadi.  Yang membedakan adalah topiknya saja. Tapi menurut saya, yang menarik  dalam chorei tadi, setiap ada penjelasan dan langkah baru dalam tindakan  lebih produktif. &lt;em&gt;Sachou&lt;/em&gt; (CEO), &lt;em&gt;Buchou&lt;/em&gt; (direktur) , &lt;em&gt;Kachou&lt;/em&gt; (Manajer/Kepala Bagian) bahkan sampai &lt;em&gt;Kakarichou&lt;/em&gt;  (Kepala Seksi) tidak lupa memberitahukan "alasan" mengapa harus begini  dan harus begitu. Kita tahu semua, orang Jepang sangat rigid tentang hal  ini. Sebuah langkah sosialisasi efektif, yang saya lihat belum banyak  perusahaan di Indonesia bisa mengadopsinya.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi, ketika ada SOP baru tentang sesuatu hal turun. Bisa dipastikan  beberapa alasan menyertai mengapa langkah "lebih produktif" itu  disosialisasikan pasti ada. Sehingga semua awak perusahaan mengetahui  alasan dibalik serangkaian langkah produktivitas yang diambil oleh  perusahaan. Sehingga pemahaman terhadap sebuah langkah "produktivitas"  menjadi lebih penuh dan holistik. Tidak parsial. Lebih lanjut, ketika  melakoni langkah-langkah produktif, yang sekilas mungkin lebih ribet,  tapi karena dibarengi adanya penjelasan yang memadai, maka ia tahu  mengapa langkah tersebut harus dilakukan. Tak jarang karena tahu lebih  produktif muncul kepuasan serta kegembiraan dalam melakoninya.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pernah, seorang &lt;em&gt;office Boy &lt;/em&gt;(OB) di sebuah kantor pernah  ditanya mengapa kalau menyajikan teh atau kopi kepada tamu di ruang  presedir selalu menggunakan cangkir (gelas) paling kecil, kecuali ada  permintaan khusus dari tamu atau sang direktur menggunakan cangkir yang  lebih besar. Alasan yang dikemukakan oleh sang &lt;em&gt;office boy &lt;/em&gt;masuk  akal, karena jarang sekali tamu di ruangan presedir itu menghabiskan  minuman yang disajikan. "Buang-buang gula sama teh saja, karena kalau  sisa kan dibuang", papar sang OB. "Mereka bukan tamu yang datang karena  haus di ruangan Boss." Dari pembicaraan ini, terlihat bahwa ajakan untuk  berperilaku produktif di kantor tersebut "berhasil", setidaknya   jajaran terbawah di kantor itu mampu memaparkan alasan mengapa harus  menyuguhkan minuman dengan cangkir paling kecil untuk tamu seorang  presedir.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seorang mekanik sepeda motor di sebuah bengkel ternama yang saya  sambangi ketika saya mengisi pelatihan disana, saya lihat rata-rata  mampu mengerjakan servis ringan sebuah sepeda motor di bawah rata-rata  waktu yang disyaratkan. Sehingga antrian panjang yang akan mengantri di  bengkel itu terlayani dengan relatif cepat dan baik. Salah satu resep  manjur mengapa bisa cepat dalam menservis ringan adalah kedisplinan yang  diterapkan untuk tidak meletakkan alat mekanik yang jauh dari jangkauan  tangannya. Sehingga ketika dia membutuhkan alat mekanik tertentu tidak  perlu mengambil di tempat kotak temannya lain yang menyebabkan waktu  bolak-balik makan waktu. Dalam terminologi Kaizen 5S, hal itu termasuk &lt;em&gt;Seiton&lt;/em&gt;, yakni meletakkan pada tempatnya sehingga ketika akan digunakan selalu siap sedia untuk digunakan.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penajaman produktivitas dalam kantor memerlukan sebuah "kerelaan" para &lt;em&gt;middle-up management&lt;/em&gt;  untuk selalu menyediakan waktu untuk menjelaskan lebih lanjut makna  dari setiap langkah produktivitas yang diambil. Tidak sekedar instruksi  dan perintah saja yang beraroma "indoktrinasi". Jadi setiap langkah  produktif yang diambil, hanya dimengerti dan dipahami para para punggawa  atas saja. Jangan heran kalau melihat himbauan atau slogan positif yang  bernada produktif dari sebuah perusahaan terasa kering kerontang,  karena sering alpa dijalankan oleh para bawahan. Salah satunya karena  para atasan tidak menyediakan waktu untuk "menjelaskan" &lt;em&gt;policy&lt;/em&gt; produktivitas   itu. Jadi sempatkan diantara dekapan kesibukan Anda untuk meluangkan  waktu untuk itu atau kalau tidak bisa, Anda perlu menyewa konsultan  untuk mensosialisasikan hal itu.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tahu mengerjakan sesuatu dengan benar dalam langkah produktivitas itu  sangatlah penting. Jadi buang rasa malas Anda untuk meluangkan diri  menjelaskan &lt;em&gt;raison de etre &lt;/em&gt;setiap langkah produktif yang diambil perusahaan.&lt;strong&gt;  Malas melakoni akan melahirkan malas berpikir. Malas berpikir lebih  lanjut menghadirkan malas merenung. Ujung-ujungnya jadi malas melayani&lt;/strong&gt;. Wah sangat berbahaya kalau sudah malas melayani.&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi Sudahkan Anda melakukannya kepada tim yang Anda pimpin?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-8033249325384055254?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kKdx1HV2bGE38Bhz1oLXM1IqfSg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kKdx1HV2bGE38Bhz1oLXM1IqfSg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kKdx1HV2bGE38Bhz1oLXM1IqfSg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kKdx1HV2bGE38Bhz1oLXM1IqfSg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/3zTB9W4gYzU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/8033249325384055254/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=8033249325384055254" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8033249325384055254?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8033249325384055254?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/3zTB9W4gYzU/memberitakan-alasan-menggapai.html" title="Memberitakan Alasan, Menggapai Produktivitas" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/memberitakan-alasan-menggapai.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE4GSHY-eSp7ImA9WhdbGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-6060379038875908861</id><published>2011-10-19T09:55:00.001+07:00</published><updated>2011-10-19T09:55:29.851+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-19T09:55:29.851+07:00</app:edited><title>Krisis Kapitalisme Dan Dampaknya Di Indonesia</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Pertengahan Agustus lalu, seorang professor ekonomi dari New York University, Nouriel Roubini, membuat pernyataan yang menggemparkan dunia akademis saat diwawancara oleh The Wall Street Journal.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Nouriel Roubini, yang empat tahun lalu membuat prediksi yang akurat tentang krisis global, menganggap teori Karl Marx sangat benar ketika mengatakan bahwa "kapitalisme akan menghancurkan dirinya sendiri".&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pernyataan itu sangatlah menggemparkan, sebab disampaikan oleh bukan ekonom Marxist dan itu tersampaikan di sebuah koran borjuis paling bergengsi. Roubini pun segera dituding sebagai komunis atau setidaknya punya simpati kepada penulis "Das Capital" itu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pada tahun 2005, Thomas Friedman, seorang kolumnis di New York Times, menerbitkan sebuah buku berjudul "The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century". Friedman, yang mengikuti Kenichi Ohmae, memproklamasikan "gejala pendataran dunia" menjadi satu pasar global. Ia seperti mengikuti alunan suara Francis Fukuyama tentang&lt;br&gt; "akhir sejarah".&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pada kenyataannya: bukan alternatif kapitalisme yang berakhir, tetapi kapitalisme itu sendiri yang terancam menjadi "sejarah". Tiba-tiba, pada akhir 2007 lalu, sebuah permulaan dari krisis struktural meluluh-lantakkan ekonomi "paman sam". Krisis itu makin menghebat pada tahun 2008, dan malahan menyebar ke berbagai negara Eropa, seperti Yunani, Spanyol, Portugal, Latvia, dan lain-lain.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Lalu, pada tahun 2010, IMF dan Bank Dunia mulai mengobarkan kembali optimisme bahwa krisis sudah akan berakhir; ekonomi Amerika Serikat mulai bangkit, lalu ekonomi global mulai tumbuh positif. Tetapi belum kering mulut pejabat IMF dan Bank Dunia mengobarkan optimisme, tiba-tiba krisis yang lebih besar kembali menghantam: krisis utang di Amerika Serikat dan Uni-Eropa.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menurut Samsul Hadi, ekonom dari Universitas Indonesia, krisis kapitalisme global saat ini menandai kegagalan free-market. Ia, dengan mengutip Joseph Stiglitz, ekonom peraih nobel itu, bahwa "the fall of Lehman Brothers is a fall free-market capitalism".&lt;br&gt; &lt;br&gt; Negara, yang sebelumnya dianggap biang-keladi kerusakan sistim ekonomi, kembali dipanggil sebagai "penyelamat". Sedangkan pasar, khususnya pasar finansial yang dibebaskan (unregulated), dianggap sumber masalah.&lt;br&gt; &lt;br&gt; "Dengan kejadian krisis global, kita melihat pasar menjadi sumber masalah, sedangkan negara menjadi solusi. Negara didorong memberi paket-paket stimulus," ujar Samsul Hadi saat menjadi pembicara dalam diskusi "Krisis Ekonomi Global Dan Pasal 33" di Galeri Kafe, Taman Ismail Marzuki, 12 Oktober 2011.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Bahkan, kata Samsul, ketika ekonomi dunia sudah terglobalisasi dan terkoneksi satu sama lain, krisis ekonomi sebuah negara semakin sulit dilokalisir. "Globalisasi atau dunia datar menjadi tidak relevan," katanya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tetapi "negara sebagai solusi" juga tidak bisa terlalu diharapkan. Pasalnya, kata ekonom dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) ini, negara juga menjadi bagian dari masalah sebagaimana diperlihatkan dalam krisis utang di AS dan Yunani.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Yunani, dan juga Portugal, adalah dua negara dengan defisit belanja publik paling tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Sedangkan pengaruh gelembung spekulasi keuangan di kedua negara itu berskala menengah dan kecil.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sehingga mimpi Paul Krugman untuk menjadikan negara "sebagai kuda tunggangan" untuk memancing "permintaan agregat" terbukti bermasalah. Apa yang dimaksud sebagai "model China" oleh Paul Krugman juga terkena dampak krisis.&lt;br&gt; &lt;br&gt; "China itu sangat bergantung kepada ekonomi ekspor. Itu juga dialami oleh ekonomi negara seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Eropa Timur," tegas Samsul Hadi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sementara itu, Fadli Zon, salah satu pimpinan partai Gerindra, kapitalisme sebagai sebuah `sistim yang gagal" sudah terjadi sejak lama. Selain krisis ekonomi global saat ini, krisis ekonomi 1996/7 di Asia adalah juga buah dari `krisis kapitalisme global'. "Krisis Asia itu juga disebabkan oleh adanya global capital movement," terangnya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saat itu, katanya, pemicu krisis tidaklah sepenuhnya karena praktek kolusi, korupsi dan nepotisme sebagaimana disuarakan ekonom neoliberal, tetapi sebagian besar karena krisis ekonomi global yang dipicu oleh global capital movement.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam perspektif marxisme, krisis kapitalisme global saat ini sebetulnya tanda-tandanya sudah muncul sejak tahun 1970an. kapitalisme memasuki krisis mendalam akibat kontradiksi internalnya, yaitu antara nafsu penciptaan keuntungan (profit) dari proses produksi dan realisasi keuntungan (profit) dalam sirkulasi dan distribusi. Ini sering disebut&lt;br&gt; dengan krisis kelebihan produksi (over-produksi) dan kelebihan kapasitas (over-kapasitas).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saat itu, untuk mengatasi krisis itu, arsitektur kapitalisme global mengajukan dua solusi: finansialisasi dan neoliberalisme. Finansialisasi dijalankan dengan keterpisahan antara sektor finansial dan sektor real, sehingga kapitalis mencetak keuntungan dari "kertas fiktif". Sementara neoliberalisme dijalankan dengan mengintegrasikan ekonomi&lt;br&gt; nasional dalam sebuah pasar global, sebagai solusi atas krisis over-produksi dan over-akumulasi dari negeri kapitalis maju.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sekitar 95% aktivitas ekonomi saat ini adalah bersifat financial. Sedangkan produksi, transportasi, dan penjualan hanya menempati angka 5%. Sudah begitu, seluruh aktivitas ekonomi keuangan ini berjalan tanpa kontrol politik dan publik, sehingga mendorong dunia dalam sebuah krisis ekonomi yang sangat buruk.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Seperti apa dampak krisis ekonomi dunia terhadap Indonesia?&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam dunia yang sudah terglobalisasi dan terkoneksi satu sama lain, krisis yang menyerang suatu negara dengan sendirinya, baik langsung maupun tidak langsung, akan menyebrang dan mempengaruhi ekonomi negara lain.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Apalagi jika yang krisis adalah induk kapitalisme global, yaitu Amerika serikat dan Eropa, tentu akan membawa pengaruh di negara-negara lain di dunia. Pendek kata, `jika Amerika bersin, maka bukan cuma airnya yang terkena ke muka kita, tapi juga penyakit demamnya.'&lt;br&gt; &lt;br&gt; Bagi Samsul Hadi, dampak krisis global yang sudah mulai terasa di Indonesia adalah turunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 5%. "Itu berarti ada penurunan transaksi, ada pelarian atau penarikan modal.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Hanya saja, sektor finansial ini, jika mengacu pada data Kompas, hanya dimasuki 311.000 pemain. Artinya, sektor ini tidak berhubungan langsung dengan rakyat jelata.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Di mata Samsul Hadi, ancaman nyata terhadap ekonomi nasional justru berasal dari dampak kerjasama FTA dengan China. "Sektor industri kehilangan 20% lapangan kerja, kapasitas produksi nasional menurun 25%," ungkapnya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Data Investor Daily, yang dikutip oleh Samsul Hadi, menyebutkan, hanya empat bulan setelah FTA dengan China diberlakukan, impor mainan anak-anak dari China meningkat 952%. Kemudian impor tekstil meningkat menjadi 225%. Ini berarti meningkatnya kehilangan pekerjaan atau pengangguran.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dengan mengutip ekonom Belanda di masa lalu, Samsul Hadi menjelaskan soal dualisme ekonomi Indonesia: (1) ekonomi yang terkoneksi dengan kapitalisme global, dan (2) ekonomi rakyat yang subsisten.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Ini masih nampak sampai sekarang, seperti konfigurasi segelintir orang yang sangat kaya dan bermain di pasar finansial dan 75% rakyat Indonesia yang hidup di sektor informal. "Sektor informal ini sudah sangat terbiasa untuk cari cara sendiri untuk hidup," tegasnya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dampak lainnya adalah turunnya ekspor Indonesia, khususnya untuk Amerika Serikat dan Eropa. Akan tetapi, jika bercermin kepada pengalaman krisis ekonomi 2008, dampaknya tidak terlalu terasa kepada rakyat banyak.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Penyebabnya: penopang utama pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rakyat sebesar 57%. Artinya, kata Samsul Hadi, rakyat banyak tidak terlalu terkena dampak krisis ekonomi global 2008.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Itulah mengapa, dalam derajat tertentu, krisis kapitalisme global tidak serta-merta membawa dampak seketika terhadap rakyat Indonesia. &lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-6060379038875908861?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rR_cTmuYPHgg7KJ2d-1Cn2fuv5Y/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rR_cTmuYPHgg7KJ2d-1Cn2fuv5Y/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rR_cTmuYPHgg7KJ2d-1Cn2fuv5Y/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rR_cTmuYPHgg7KJ2d-1Cn2fuv5Y/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/69137mVuLsk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/6060379038875908861/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=6060379038875908861" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6060379038875908861?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6060379038875908861?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/69137mVuLsk/krisis-kapitalisme-dan-dampaknya-di.html" title="Krisis Kapitalisme Dan Dampaknya Di Indonesia" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/krisis-kapitalisme-dan-dampaknya-di.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUEMRHc7fSp7ImA9WhdbFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-4424191257885807190</id><published>2011-10-13T08:01:00.001+07:00</published><updated>2011-10-13T08:01:25.905+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-13T08:01:25.905+07:00</app:edited><title>Manfaat Memiliki Izin &amp; Badan Usaha</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memulai suatu usaha atau mendirikan bisnis baru  memerlukan berbagai macam persiapan. Berbagai macam faktor perlu  dipertimbangkan misalnya saja seberapa besar modal yang dimiliki,  bagaimana tingkat keseriusan usaha dalam artian usaha tersebut merupakan  bisnis utama atau bisnis sampingan belaka dst. Hal-hal tersebut  tersebut diupayakan dengan tujuan usaha yang sudah dirintis dapat  dipertahankan keberadaan dan kelangsungannya bahkan ditingkatkan lagi.  Selain faktor kesiapan diawal usaha didirikan dan aliran penghasilan  yang diperoleh yang tergantung pada minat konsumen terhadap komoditas  atau jasa yang dijual, keberlangsungan suatu usaha dipengaruhi juga oleh  keberadaan &lt;b&gt;unsur legalitas dari usaha&lt;/b&gt; tersebut. Dalam suatu usaha faktor legalitas ini berwujud pada &lt;b&gt;kepemilikan izin usaha&lt;/b&gt;  yang dimiliki. Dengan memiliki izin usaha maka kegiatan usaha yang  dijalankan tidak disibukkan dengan isu-isu penertiban atau pembongkaran.  Manfaat yang diperoleh dari kepemilikan izin usaha tersebut adalah  sebagai sarana perlindungan hukum.&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berbicara mengenai fakta di lapangan, tidak sedikit  kios-kios pedagang ditertibkan atau terkena tindakan pembongkaran  lantaran tidak memiliki izin usaha. Kejadian tersebut kerap sekali  menimpa para pedagang kecil di mana pun mereka berada. Namun, penertiban  hanya akan diberlakukan lantaran tidak ada unsur legalitas dalam usaha  yang didirikan. Untuk itu, keberadaan izin usaha dalam melengkapi  kegiatan perdagangan yang dilakukan sangat memiliki arti penting.  Keuntunga serta manfaat penting apa saja yang dapat kita peroleh dengan  memiliki izin usaha atas bisnis yang kita rintis? Simak lebih lanjut  rincian berikut :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;1. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Sarana perlindungan hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Seperti yang telah disinggung diatas, kerap kali  telivisi menayangkan berita tentang pembongkaran terhadap  pedagang-pedagang kecil. Tindakan-tindakan tersebut dilatarbelakangi  oleh ketidakpatuhan para pedagang terhadap aturan­-aturan hukum yang  berlaku. Salah satunya adalah kepemilikan izin usaha. Terbatasnya  tingkat pendidikan yang dimiliki oleh para pedagang serta ketidaktahuan  para pedagang akan aturan-aturan tersebut menjadi faktor penyebab mereka  kerap kali menyepelekan sisi legalitas dari suatu usaha yang  dijalaninya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Rumitnya pengurusan izin usaha kerap kali menjadi  momok bagi para pedagang membatalkan niat mereka melegalkan usaha­nya.  Dengan demikian ketidakpatuhan tidak selalu berawal dari pedagang.  Namun, seringkali dari sistem birokrasinya. Selain itu, faktor permainan  oknum-oknum pada instansi terkail juga menjadi rahasia umum dan  mengakibatkan keengganan pelaku usaha mengurus izin usaha. &lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Dengan kepemilikan izin usaha, seorang pengusaha  telah sedini mungkin menjauhkan kegiatan usahanya dari tindakan  pembongkaran dan penertiban. Hal tersebut berefek memberikan rasa aman  dan nyaman akan keberlangsungan usahanya. Legalisasi merupakan sarana  yang pemerintah sediakan agar kenyamaan dalam melakukan kegiatan usaha  dirasakan oleh para pelakunya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;2. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Sarana promosi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Kegiatan promosi merupakan salah satu metode yang  kerap kali dilakukan untuk mendongkrak omzet penjualan serta sebagai  ajang pengenalan bagi usaha yang baru dibuka. Dalam promosi tersebut,  tidak lupa pengusaha mempromosikan komoditas yang disediakan. Tidak  ketinggalan ia memberikan semacam kelebihan dari service yang diberikan  kepada calon konsumen. Misalnya dengan diadakannya potongan harga,  delivery order, atau bentuk pelayanan lainnya.&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan mengurus dokumen-dokumen hukum tentang  kegiatan usaha, secara tidak langsung pengusaha telah melakukan  serangkaian promosi. Mengapa demikian? Pencatatan izin usaha dilakukan  beberapa tahapan lokasi, pertama melalui kantor kelurahan atau kantor  kecamatan dst. Dengan sendiri komunikasi terbizin usaha sebagai  perlindungan&amp;nbsp; hukumangun antara pengusaha dan pertugas tersebut, hal  tersebut tentunya menjadi ajang promosi secara individu. Setelah izin  usaha dan dokumen-dokumen lainya telah selesai, promosi secara  inventaris dan administratif mulai dapat dilakukan. Sebagai usaha yang  telah terdaftar dalam lembaga pemerintahan yang menaungi jenis usaha  maka setiap orang dapat mengakses data-data tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;3. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Bukti kepatuhan terhadap aturan hukum&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Dengan memiliki unsur legalitas tersebut menandakan  bahwa pengusaha telah mematuhi aturan-aturan hukum yang berlaku. Dengan  mematuhi hukum yang berlaku, secara tidak langsung ia telah menegakkan  budaya disiplin pada diri. Kepatuhan pengusaha tersebut merupakan bentuk  paling terkecil dari tindakan yang dapat dilakukan terhadap negara dan  pemerintahan. &lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;4. &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Mempermudah mendapatkan suatu proyek&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Seorang pengusaha tentunya menginginkan kegiatan  usaha yang dijalani mengalami kemajuan. Ada beberapa jenis usaha seperti  misalnya usaha bidang produksi atau developer perumahan tidak terlepas  dari proses pemenangan tender suatu proyek, baik dari perusahaan swasta  maupun pemerintah. Dalam suatu tender, mensyaratkan bahwa para peminat  harus memiliki dokumen-dokumen hukum.Tentunya unsur-unsur legalitas yang  terkait dengan kepemilikan suatu badan usaha guna mengikuti pelelangan  suatu sarana perlindungan hukumtender. Kepemilikan dokumen legal  tersebut menduduki posisi pertama. Dengan demikian izin usaha memiliki  arti penting bagi suatu usaha. Pada intinya izin usaha dapat dijadikan  sebagai sarana untuk pengembangan usaha.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;5. &lt;b&gt;Mempermudah pengembangan usaha&lt;/b&gt;&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Apabila suatu usaha /bisnis yang dirintis telah  mencapai perkembangan yang signifikan, aliran modal dan keuntungan telah  mengalir. Konsumen semakin bertambah dan mulai berkembang menjadi  langganan yang fanatik. Kondisi demikian dapat dikatakan bahwa usaha  tersebut memiliki prospek yang bagus di masa depan. Kondisi seperti itu  tampaknya sangat tepat untuk ditindaklanjuti dengan suatu ekspansi  kekuatan pendukung. Misalnya, membuka cabang-cabang usaha di beberapa  daerah. Dengan kondisi seperti itu, tentunya memerlukan ketersedian dana  segar un­tuk merealisasikan keinginan tersebut. Solusinya, meminjam  sejum­lah dana kepada bank. Namun, tanpa kelengkapan surat izin usaha  dan dokumen penting lain, tampaknya modal akan sulit didapatkan dari  lembaga keuangan/bank.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-4424191257885807190?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dv0oLj7iRnUYCpMUrCLWbsaN_Zs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dv0oLj7iRnUYCpMUrCLWbsaN_Zs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dv0oLj7iRnUYCpMUrCLWbsaN_Zs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dv0oLj7iRnUYCpMUrCLWbsaN_Zs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/-zemvTHfknw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/4424191257885807190/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=4424191257885807190" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/4424191257885807190?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/4424191257885807190?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/-zemvTHfknw/manfaat-memiliki-izin-badan-usaha.html" title="Manfaat Memiliki Izin &amp; Badan Usaha" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/manfaat-memiliki-izin-badan-usaha.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUEEQXo6eip7ImA9WhdbFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-1329143657566688614</id><published>2011-10-13T06:53:00.001+07:00</published><updated>2011-10-13T06:53:20.412+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-13T06:53:20.412+07:00</app:edited><title>Cara menjadi analis yang selalu benar</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Seorang pemodal beberapa waktu lalu datang kepada saya.&amp;nbsp; Dia kemudian bertanya:&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemodal (P): Pak.. bagaimana sih menjadi analis yang selalu benar?&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saya (S): Belajar prediksi yang baik pak.&amp;nbsp; Anda minimal harus menguasai teori ini, ini, dan ini, baca buku itu, itu dan itu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; P: Waduh… teorinya banyak banget.. bukunya bahasa Inggris lagi.&amp;nbsp; Susah  pak… kira-kira butuh waktu berapa lama untuk bisa kelas ahli?&lt;br&gt; &lt;br&gt; S: Setelah teori anda kuasai, Minimal 3 – 6 bulan lah untuk latihan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; P: Wah.. sudah susah… lama lagi… apa nggak ada cara yang lebih mudah pak?&lt;br&gt; &lt;br&gt; Di dunia yang berbasis selebritis seperti ini, menjadi terkenal  terkadang menjadi tujuan dari beberapa orang.&amp;nbsp; Mencari uang dengan  bermodal keterkenalan, itu yang dicari, itu yang ingin dicapai.&amp;nbsp; Nah..  sekarang, karena sekarang kita ngomongnya di dunia pasar modal, maka  sebagian orang kemudian merasa bahwa dengan memiliki prediksi yang  selalu benar, maka dia akan menjadi terkenal, sehingga dia bisa  memperoleh duit dengan gampang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;  mengilhami mereka yang berusaha mencapai kesempurnaan dalam  prediksi.Cerita mengenai W.D. Gann misalnya, seorang trader yang  terkenal di tahun 1930 – 1950an, sering kali Padahal, dibalik  prestasinya, sebagian dari orang juga mencurigai bahwa dia hanya kaya  dari training fee.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Maklum, ditahun-tahun tersebut, training fee dari WD Gann sudah mencapai  US$2000-US$5000 per kepala dengan peserta yang selalu ratusan atau  bahkan ribuan sekali seminar.&amp;nbsp; Orang bilang, duit segitu di tahun itu,  sudah sama besarnya dengan harga sebuah rumah kebanyakan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Bagaimana tidak kaya?&lt;br&gt; &lt;br&gt; Anyway… Kalau anda adalah orang yang 'penasaran' seperti pemodal yang  saya ceritakan tadi diatas, yang ingin memiliki analisis yang selalu  benar, dan anda tidak ingin mempelajari ilmu prediksi yang terlalu sulit, ada beberapa cara yang bisa anda lakukan:&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menggunakan nama samaran&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagian orang memang tidak  memiliki rasa percaya diri, sebagian yang lain memang tidak bangga  dengan nama pemberian orang tuanya, sebagian memang takut akan  konsekuensi dari sebuah pendapat, prediksi, rekomendasi, sebagian yang  lain memang hanya pengecut, atau juga penipu.&amp;nbsp; Orang terkadang  menggunakan nama palsu untuk melakukan prediksi, sampai orang tahu bahwa  sebenarnya dia juga tidak bisa memprediksi.&amp;nbsp; Nanti tinggal ganti nama  yang lain, yang lain, dan yang lain lagi.&amp;nbsp; Yang penting, selama  menggunakan nama yang saat ini dia pakai, dia juga selalu benar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tidak melakukan prediksi, tapi menjadi pihak yang benar ketika ada  analis lain yang sedang salah prediksi. Ini pasti terlihat seperti  benar.&amp;nbsp; Ketika ada orang salah.. Ikut-ikutan menimpa.&amp;nbsp; Padahal dia juga tidak pernah memprediksi.&amp;nbsp; Pasti terlihat benar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menjadi 'Market Psychology GURU'&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jadi… yang diomong cuman psikologi markeeeeeet melulu.&amp;nbsp; Ya sudah pasti  benar.&amp;nbsp; Orang psikologi market itu isinya cuman nilai-nilai positif.&amp;nbsp;  Let your profit run… cut your losses short… be greed when everybody  fear… be fear when everybody is greed…&amp;nbsp; Gak ada nilai prediksinya kan? Mau naik atau turun juga tetap benar kan?&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menjadi 'Sekondan Bandar' yang ahli ngeles&lt;br&gt; &lt;br&gt; Ketika market bullish… tiba-tiba ada yang komentar: "Hore… XXXX (gorengan) gue naeeek…".&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kalau market bearish, terus menghilang… meninggalkan semua orang yang  nyangkut.&amp;nbsp; Komentar penghibur (kalimat ngeles) yang stadar biasanya  adalah: tenang…fundamentalnya kan ok… storynya belum berubah kok… ini  kan karena market… atau emang gua dewa tau market mau naik atau turun?&amp;nbsp; Analis seperti ini akan menjadi analis yang selalu benar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Memiliki dua pendapat yang berbeda pada saat yang bersamaan&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sekarang posisi IHSG sedang di posisi 3400-an.&amp;nbsp; Kalau seorang analis  memiliki prediksi bahwa IHSG akan ke 2000 dan IHSG ke 4000.&amp;nbsp; Pendapat  yang berbeda ini bisa jadi dibingkai dengan periode short term dan long  term, atau jangka waktu yang berbeda.&amp;nbsp; Salah satu dari target itu pasti  salah satu akan tercapai.&amp;nbsp; Dia akan menjadi analis yang selalu benar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Analis 'Sabar menunggu'&lt;br&gt; &lt;br&gt; "Tenang… sabar… nanti kan target saya kena…" Itu adalah kalimat standar  yang sering diobral oleh seorang analis yang selalu benar.&amp;nbsp; Dengan  sabar, menunggu dia berharap kalau harga akan menjemput targetnya di  suatu saat nanti. Well… kalau rekomendasinya bullish… gpp lah.. karena  market akan mencapai targetnya eventually (dalam waktu yang sangat  panjaaaaaang di masa yang akan datang).&amp;nbsp; Tapi kalau rekomendasinya  bearish? hm… harusnya analis ini tahu kalau market menghabiskan 2/3  waktunya untuk naik, dan hanya 1/3 untuk turun.&amp;nbsp; Jadi.. rekomendasi  bullish memang bakal lebih mudah tercapai dibandingkan dengan  rekomendasi bearish.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Memiliki banyak prediksi yang disampaikan ke berbagai kelompok orang yang berbeda&lt;br&gt; &lt;br&gt; Ini juga selalu benar… at least untuk satu kelompok tertentu.&amp;nbsp; Selama  dia bisa mengingat apa yang dikatakan ke masing-masing kelompok yang dia  datangi, analis itu akan menjadi analis yang selalu benar.&amp;nbsp; Syaratnya,  dia harus selalu ingat, dimana dia ngomong apa, dan di kelompok mana dia  berkata benar, sehingga dia bisa berkonsentrasi disitu. Manajemen kebenaran.&amp;nbsp; Itu yang bisa membuat analis selalu benar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Analis teknikal tanpa gambar&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jadi analis ekonomi atau fundamental itu sulit, harus paham berita dan  banyak informasi. Lebih enak mengaku jadi analis teknikal.&amp;nbsp; Tapi, orang  sering lupa juga karena jadi analis teknikal itu tidak segampang apa  yang dibayangkan.&amp;nbsp; Sulit karena harus jujur.&amp;nbsp; Seorang analis teknikal  yang baik, akan melampirkan gambarnya ke dalam prediksinya. Karena  gambar tersebut kemudian dilihat oleh analis teknikal yang lain, maka analis&lt;br&gt; teknikal tersebut bisa menilai kualitas dan kejujuran dari analis  teknikal tersebut.&amp;nbsp; Untuk 'menyelesaikan' hal ini, sehingga seseorang  bisa menjadi analis yang selalu benar, maka dia melakukan analisa  teknikal kemana-mana dengan tanpa menggunakan grafik.&amp;nbsp; Analis ini akan  menjadi analis yang selalu benar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Serigala selalu 'Hunting in Pack'&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pernahkah anda datang ke suatu acara seminar, kemudian anda bertemu  dengan teman-teman dari pembicara yang ternyata adalah orang-orang yang  memiliki pendapat yang berseberangan dengan pembicara ketika berada  dalam suatu kelompok diskusi?&amp;nbsp; Well.. orang bilang serigala itu berburu  dalam kelompok (hunting in pack).&amp;nbsp; Kalau ada sekelompok orang yang  memiliki pendapat berbeda, sebagian pasti akan menjadi mereka yang  benar.&amp;nbsp; Nah.. mereka yang benar ini kemudian membuat seminar.&amp;nbsp; Anda  mengikutinya.&amp;nbsp; Mereka serigalanya, anda dombanya.&amp;nbsp; Indah bukan dunia ini?&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kisah sedih ini sebenarnya adalah kisah sedih mengenai dunia persahaman  di Indonesia.&amp;nbsp; Orang seakan-akan dibuat terpaku dengan sebuah drama yang  bernama Pasar Modal sehingga mereka rela untuk menghalalkan segala cara  agar bisa menjadi raja di dunia persilatan itu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saya sih… cuman pelaku kecil.&amp;nbsp; Ilmu juga cuman segitu.&amp;nbsp; Prediksi juga  masih salah-salah. Porto hanya cukup untuk menyenangkan diri sendiri.&amp;nbsp;  Tujuan saya hanya sederhana: untung, beli ketika mau naik, jual ketika  mau turun (heran… semboyan ini kayanya sudah ditiru dimana-mana ya..  hehehe), dan disiplin.&amp;nbsp; Dapat sedikit ya alhamdulillah, dapet banyak ya alhamdulillah juga.&amp;nbsp; Memberikan yang terbaik untuk sesama, pengabdian yang&lt;br&gt; terbaik, yang tentu saja dilandasi dengan integritas yang tinggi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Menjadi analis yang selalu benar, tidak penting bagi saya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Happy trading… semoga untung!!!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-1329143657566688614?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aehjgPFsTqkeUJZvMO5jahwsn5k/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aehjgPFsTqkeUJZvMO5jahwsn5k/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aehjgPFsTqkeUJZvMO5jahwsn5k/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/aehjgPFsTqkeUJZvMO5jahwsn5k/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/ZuprqNk2MO0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/1329143657566688614/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=1329143657566688614" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1329143657566688614?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1329143657566688614?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/ZuprqNk2MO0/cara-menjadi-analis-yang-selalu-benar.html" title="Cara menjadi analis yang selalu benar" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/cara-menjadi-analis-yang-selalu-benar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMDQ3o7eyp7ImA9WhdUGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-6516898477417578417</id><published>2011-10-06T07:54:00.001+07:00</published><updated>2011-10-06T07:54:32.403+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-06T07:54:32.403+07:00</app:edited><title>VISI 2030: KEMAKMURAN ATAU ILUSI</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Saya jarang membaca koran atau majalah. Paling-paling hanya headlinenya saja. Dan beberapa minggu lalu muncul hal baru yang menjadi headline berjudul Visi 2030. Intinya ialah pendapatan perkapita, GDP Indonesia akan mencapai $ 18.000 (delapan belas ribu US dollar) per tahun dan Indonesia menjadi ekonomi dunia ke 5. Kemudian heboh antara SBY dan Amin Rais dalam kasus dana sumbangan pemilihan presiden. Hal ini membuat saya tergelitik untuk menulis opini ini, sekalian untuk menyambut ulang tahun lahirnya Pancasila, yang dengungnya sudah pudar. Saya juga ingin mengungkapkan kejahatan-legal yang berkaitan dengan kemakmuran dan tidak pernah diungkapkan di media massa.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam masalah kemakmuran GDP $18.000 per kapita, saya skeptis. Sebabnya ialah sepanjang hidup saya, dengan pergantian tiga (3) jaman, yaitu jaman Orde Lama Sukarno, Orde Baru Pembangunan Lepas Landas Suharto, dan jaman Reformasi Otonomi Daerah, kemakmuran tidak beranjak kemana-mana, bahkan turun. Saya juga skeptis terhadap adanya perbaikan karena pergantian kabinet yang baru saja terjadi. Hal ini karena data ekonomi mengatakan demikian dan itu akan kita lihat dalam seri tulisan ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mengenai Visi 2030 butir pertama, bahwa GDP $ 18.000 per kapita mungkin bisa tercapai. Tetapi GDP $ 18.000 per kapita tidak identik dengan kemakmuran. Artinya, tingkat hidup dan tingkat kemakmuran bangsa Indonesia tidak akan beranjak kemana-mana dengan kenaikan dari $1.490 GDP per kapita saat ini ke $18.000 di tahun 2030. Sedang untuk butir kedua – ekonomi nomer 5 dunia, saya tidak yakin bisa tercapai. Saya akan jelaskan berdasarkan sejarah dan akal sehat, kenapa saya skeptis. Saya hidup di tiga (3) jaman yaitu Jaman Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) dan Jaman Reformasi. Jadi saya betul-betul mengenal ketiga jaman itu. Jaman sebelumnya juga akan disinggung yaitu Jaman Normal (itu istilah nenek kakek kita). Tetapi dasarnya hanya cerita para orang-orang tua saja dan untuk hal ini pembaca boleh dipercaya atau tidak.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sebelum melanjutkan kepada inti cerita, ada baiknya pembaca dikenalkan dengan jenis-jenis mata uang rupiah yang pernah beredar di republik ini dan kurs antar mata uang ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; 1. Rupiah ORI (Oeang Repoeblik Indonesia – Rp ORI)&lt;br&gt; 2. Rupiah setelah Gunting Sjafruddin - GS, (Rp 5 GS = Rp 10 ORI)&lt;br&gt; 3. Rupiah Orde Lama (Rp 1 Orla = Rp 10 GS)&lt;br&gt; 4.Rupiah Orde Baru (Rp 1 Orba = Rp 1000 Orla)&lt;br&gt; &lt;br&gt; Untuk mata uang jaman Belanda untuk mudahnya disebut rupiah kolonial, gulden. Kurs uang jaman Normal (jaman Penjajahan) tidak sederhana karena ada selingan jaman Jepang yang pendek dan kemudian ada NICA (pemerintahan Belanda pendudukan). Tetapi hal itu tidak perlu dirisaukan karena ada tolok ukur tandingan akan kita gunakan sebagai ikuran kemakmuran, yaitu uang sejati, yang disebut emas. Saya katakan uang sejati karena, jika anda beragama seperti Islam atau Kristen, maka hanya emas dan perak saja yang disebut dalam kitab suci kedua agama tersebut. Quran hanya menyebut dinar (uang emas) di surat Kahfi dan dirham (perak) di surat Yusuf. Dan fulus tidak akan pernah dijumpai di Quran. Demikian di Perjanjian Lama, akan anda jumpai banyak cerita emas dan perak sebagai uang.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Sekarang – Jaman Reformasi = Jaman Jutawan Kere&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Kata jutawan saat ini tidak punya konotasi kaya raya. Misalnya seorang supir taxi di Jakarta yang berpenghasilan Rp 1.100.000 Orba (terbilang: satu juta seratus ribu rupiah uang Orba) per bulan bisa disebut jutawan karena penghasilannya di atas Rp 1 juta per bulan. Kenyataannya bahwa hidupnya masih penuh dengan keluhan karena untuk makan ukuran warung Tegal saja Rp 10.000 sekali makan. Bayangkan kalau dia mempunyai istri dan 2 anak, berarti harus punya 3 x Rp 40.000 per hari untuk makan. Jangan heran jutawan ini tidak mampu makan di warung Tegal sekeluarga setiap hari. Di samping mereka harus mengeluarkan 3 x Rp 1.200.000 per bulan yang lebih besar dari penghasilannya, mereka juga punya keperluan lain seperti bayar sekolah dan sewa rumah. Untuk sewa rumah sangat sederhana sekali sampai-sampai selonjor saja sulit (RSSSSSSSSS), rumah petak ukuran 20 meter persegi saja bisa mencapai Rp 350.000, ongkos transportasi ke tempat kerja Rp 100.000 – 200.000. Jadi bisa dimengerti kalau saya sebut Jutawan Kere karena mempunyai karateristik bahwa makan harus dihemat, tinggal di rumah petak sederhana, anak tidak bisa sekolah di sekolah favorit (apalagi di universitas yang uang pangkalnya bisa mencapai puluhan juta rupiah). Dan kalau perlu istri harus kerja untuk memperoleh tambahan penghasilan keluarga.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jaman reformasi ditandai oleh tumbangnya Orde Baru dan kobaran semangat demokratisasi, kebebasan berpolitik dan otonomi daerah. Di bidang ekonomi, baru 1 dekade setelah dimulainya era reformasi (tahun 1997 – 1998) baru muncul visi ekonomi ke depan yaitu visi 2030. Sebelumnya, mungkin politikus menciptakan presepsi bahwa ekonomi akan membaik jika jumlah anggota legislatif, team anti korupsi, dewan penasehat presiden dan pelaku politik bertambah. Ekonomi (GDP) tumbuh sekitar 3% - 7% per tahunnya dari US$ 880 per kapita menjadi US$ 1.490 (US$ 1 = Rp 9.150) antara tahun 2000 sampai 2006. Kalau dihitung dengan US$ selama 6 tahun GDP per kapita Indonesia naik 69%!!! Tetapi kenapa makin banyak yang sengsara, beban hidup semakin berat, perlu adanya pembagian beras miskin (raskin) dan operasi pasar? Harga bahan pokok dan non-pokok naik berlipat ganda kendatipun tingkat inflasi hanya sekitar 5% (tetapi pernah 17% sekali dalam kurun waktu 5 tahun itu). Dalam 5 tahun belakangan ini beras sudah naik dua kali lipat. Juga gula, jagung, gula, rumah, minyak goreng, minyak tanah, coklat, kedele, ikan asin dan sederet lagi. Kalau tolok ukurnya diganti dengan emas maka GDP per kapita tahun 2000 adalah 99 gram emas turun menjadi 71 gram emas. Emas naik dari Rp 100.000 per gram di tahun 2000 menjadi Rp 200.000 per gram di tahun 2007. Dalam ukuran emas, GDP per kapita Indonesia turun 29%!. Kalau kita percaya bahwa emas mempunyai korelasi dengan harga barang maka wajar kalau kualitas hidup, kualitas kemakmuran turun 29%.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Lalu bagaimana dengan angka-angka statistik yang mengatakan bahwa inflasi Indonesia hanya sekitar 5%? Tanyakan saja pada yang membuat statistik. Tetapi Mark Twain mengatakan: "There are lies, damn lies and statistics" – Ada tipuan, ada tipuan canggih dan ada statistik. Pembaca akan melihat lebih banyak lagi dalam tulisan ini bukti-bukti statistik yang tidak lain kebohongan canggih. Kata-kata Mark Twain ini menjadi nyata kalau kita melihat pertumbuhan ekonomi di jaman Orba.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Orde Baru – Jaman Pelita, Tinggal Landas dan Nyungsep&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Secara sederhana jaman Orba bisa disebut jaman dimana harga-harga tinggal landas dan ekonomi akhirnya nyungsep. Mulainya Orde Baru (Orba) ditandai dengan beberapa hal penting dibidang keuangan dan pembangunan. Di bidang moneter, uang Orla dihapuskan dan Rp 1000 (Orla) menjadi Rp 1 (Orba) pada bulan Desember 1965. Sebabnya (mungkin) untuk mempertahankan arti kata jutawan. Seorang jutawan seharusnya mempunyai status sosial/ekonomi yang tinggi di masyarakat. Tetapi pada saat itu mengalami penggerusan makna. Untuk menggambarkan situasinya, tahun 1964 uang Rp 1000 (Orla) bisa untuk hidup sekeluarga 1 hari. Tetapi tahun 1967 uang itu hanya bisa untuk beli sebungkus kwaci. Sulit bagi orang awam untuk menerima kenyataan yang sudah berubah dalam waktu yang demikian singkat. Seorang jutawan tadinya berarti kaya raya berubah maknanya menjadi pemilik 1000 bungkus kwaci. Hal ini hanya berlangsung dalam kurun waktu 3 tahun dari tahun 1964 sampai 1967, cepat sekali.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemotongan nilai nominal dari Rp 1000 (Orla) ke Rp 1 (Orba) bisa juga dikarenakan gambar Sukarno pada design uang Orla itu sudah membosankan. Itu hanya rekaan saya saja. Yang tahu pastinya hanya para pejabat di Bank Indonesia pada saat itu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Awal dari Orba, mahasiswa melakukan tuntutan yang dikenal dengan Tritura (tiga tuntutan rakyat) yaitu Bubarkan PKI, Bentuk kabinet baru dan Turunkan harga. Untuk membubarkan PKI dan membentuk kabinet sangat mudah. Tetapi untuk menurunkan harga? Tidak pernah terjadi sampai Orba tumbang 3.5 dekade kemudian. Bahkan walaupun beberapa mentri yang duduk di kabinet Orba selama beberapa masa bakti dulunya adalah aktifis mahasiswa yang meneriakkan Tritura, harga-harga tidak pernah turun. Itu fakta. Saya tidak tahu apakah mereka lupa atau tuntutan itu tidak penting bagi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pembangunan di jaman Orba direncanakan melalui tahapan 5 tahun yang dikenal dengan Pembangunan Lima Tahun atau Pelita. Pertumbuhan ekonomi melesat, 7% - 10% katanya. Karena tingginya angka pertumbuhan itu, maka menjelang pertengahan dekade 90an, mulai dihembuskan istilah tinggal landas, swasembada pangan, sawah sejuta hektar dan entah apa lagi. Tetapi tidak lama kemudian pada tahun 1997-1998, mungkin karena keberatan beban, pada saat tinggal landas, terpaksa nyungsep, import pangan, kurang pangan dan nasib sawah sejuta hektar entah bagaimana.&lt;br&gt; &lt;br&gt; GDP pada awal Orde Baru (katakanlah menjelang tahun 1970) adalah $ 70 per kapita. Pada saat Orde Baru digantikan Orde Reformasi GDP Indonesia menjadi $ 880 per kapita (tahun 2000). Jadi selama 30 tahun naik 12,6 kali lipat!!! Hebat?? (dengan tanda tanya). Saya pertanyakan pujian untuk Orde Baru karena selama 30 tahun itu keluarga saya, tetangga saya, handai taulan tidak bertambah kemakmurannya sebanyak 12,6 kali lipat. Dua kali lipat pun tidak. Bagaimana mungkin lebih makmur kalau pada awal Orba tarif bus dalam kota di Jakarta adalah Rp 15 dan pada akhir Orba Rp 1000, naik 7500%!! (Sekarang, 10 tahun kemudian sudah Rp 2500).&lt;br&gt; Mungkin anda membantah bahwa rupiah tidak bisa dijadikan ukuran. Oleh sebab itu kita gunakan tolok ukur uang yang tidak ada tanda tangan gubernur bank sentral, yaitu emas. Tahun 1970 harga emas adalah $35/oz atau $1.13/gram. Jadi dalam emas, GDP Indonesia adalah 79 gram per kapita. Sedangkan 30 tahun kemudian, tahun 2000 beranjak ke 99 gram per kapita. Hanya 25% selama 30 tahun. Lalu bagaimana dengan pertumbuhan super selama 30 tahun itu? Kok cuma 25% saja? Itulah statistik, bentuk tipuan yang canggih, seperti kata Mark Twain.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Catatan: Tidak hanya rupiah yang tergerus nilainya tetapi juga US dollar!&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Orde Lama- Jaman Revolusi Berkepanjangan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Sebut saja uang Orde Lama untuk uang rupiah yang beredar sesudah kejadian pemenggalan satu (1) angka nol. Dimulai pada 25 Agustus 1959, dan ditandai dengan tindakan pemerintah menurunkan nilai uang Rp 500 menjadi Rp 50 dan Rp 1000 menjadi Rp 100. Uang rupiah yang beredar sebelum tanggal 25 Agustus 1956 (sebut saja uang hasil rekayasa Gunting Sjafruddin atau GS) ditukar dengan dengan uang rupiah Orla. Dan Rp 500 GS diganti dengan Rp 50 Orla. Jadi angka nol nya hilang satu. Bukan itu saja, simpanan giro yang ada di bank dibekukan dan deposito di atas Rp 25.000 dijadikan deposito berjangka panjang. Saya menyebutnya sebagai penyitaan untuk negara. Karena 8 tahun kemudian uang yang Rp 25.000 itu hanya cukup untuk membeli 3 bungkus kwaci.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Slogan seperti "Revolusi belum selesai" pada saat itu sering terdengar. Saya tidak tahu apakah slogan itu bermakna bahwa akhir dari revolusi itu identik dengan kemakmuran "gemah ripah loh jinawi". Dalam hal kemakmuran, seingat saya, kalau di tahun 1960 anjing saya bisa makan 0,25 kg daging per hari dan tahun 1966 saya harus makan dengan lauk 1 telor ayam kampung dibagi 3 orang. Dengan kata lain, sebenarnya pada awal-awal dekade 60an, boleh dikata kemakmuran cukup baik, tetapi kemudian merosot terus, karena banyak tenaga dan usaha diarahkan ke Trikora, Dwikora dan melanjutkan revolusi (apapun artinya). Puncak penghancuran ekonomi menjadi lengkap ketika G30S meletus dimana banyak petani dan pekerja yang tergabung dalam organisasi di bawah naungan PKI dihabisi dan mesin ekonomi macet karena fokus masyarakat tertuju pada ganyang PKI dan akibatnya ekonomi babak belur.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Uang Gunting Sjafruddin&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Masa uang rupiah "gunting Sjarifuddin" dimulai pada bulan Maret 1950 sampai dihapuskannya dan digantikannya dengan uang rupiah Orba tahun 1959. Yang dimaksud dengan gunting Sjarifuddin ialah keputusan pemerintah untuk menggunting pecahan mata uang rupiah di atas Rp 5 menjadi dua. Potongan bagian kanan tidak berlaku dan potongan sebalah kiri berlaku dengan nilai hanya setengahnya. Dan rupiah pun didevaluasi dari Rp 11,40 per US$ menjadi Rp 45 per US$. Artinya harga emas naik dari Rp 13 per gram menjadi Rp 51 per gram. Pada waktu itu keadaan jadi heboh. Pengumuman sanering (pengguntingan uang) ini dilakukan melalui radio dan pada saat itu tidak banyak yang memiliki radio. Sehingga mereka yang tahu kemudian berbondong-bondong memborong barang. Yang kasihan adalah para pedagang, karena barang dagangannya habis, tetapi ketika mereka hendak melakukan kulakan uang yang diperolehnya sudah turun harganya. Modalnya susut banyak. Tetapi, bukan hanya pedagang yang rugi, tetapi semua orang yang memiliki uang. Nilai uang susut paling tidak 50% dalam sekejap saja.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Antara tahun 1950 sampai tahun 1959, walaupun Bank Indonesia melakukan pembantaian terhadap para pedagang, penabung, pemilik uang di tahun 1950, tetapi kalau saya lihat, Indonesia masih tergolong makmur, dibanding dengan kondisi sekarang, jaman reformasi. Indikator saya ialah banyaknya mahasiswa yang berani berkeluarga dan punya anak pada saat mereka masih kuliah. Pada jaman reformasi ini, untuk berkeluarga, seorang mahasiswa harus lulus dan bekerja beberapa tahun dulu. Artinya, dulu lebih makmur dari sekarang dan indikasinya adalah banyak mahasiswa bisa bekerja dan memperoleh penghasilan yang bisa menghidupi keluarga.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa ORI dan Perang Kemerdekaan – Merdeka Mencetak Uang Semaunya&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Masa yang paling kacau adalah mulai dari pendudukan Jepang sampai masa perang kemerdekaan. Terlalu banyak otoritas keuangan (baca: Bank Sentral). Bermacam-macam uang dikeluarkan selama periode ini. Dari uang pendudukan Jepang yang dikeluarkan beberapa bank, uang NICA (pendudukan Belanda), uang daerah Sumatra Utara, Banten, Jambi, dan deret lagi di daerah repupblik. Bahkan di Yogya ada paling tidak dua jenis, yaitu yang dikeluarkan oleh Pakualaman dan oleh Kraton Yogya. Kita bicara saja uang republik yang paling resmi yaitu ORI – Oeang Republik Indonesia, walaupun sebenarnya uang-uang lainnya berlaku (kecuali uang pendudukan Jepang yang ditarik pada tahun 1946). Ketika ORI dikeluarkan dengan dektrit no 19 tahun 1946 pada tanggal 25 Oktober 1946 mempunyai nilai tukar terhadap uang sejati (emas) Rp 2 = 1 gram emas. Jadi Rp 1 ORI pada saat dikeluarkan punya nilai dan daya beli setara dengan Rp 100.000 uang sekarang (tahun 2007).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pada saat dikeluarkannya, mungkin bank sentral republik waktu itu masih naif, (mungkin juga tidak) mereka membagikan Rp 1 kepada setiap warga negara, anak-anak, pemuda, orang tua, semua dapat bagian. Mertua saya menceritakan betapa senang dia mendapat uang itu bagai mendapat durian runtuh. Dia pakai untuk jajan. Awalnya uang Rp 1 ORI bisa dipakai untuk beli nasi dan lauk pauknya beberapa porsi. Setelah beberapa hari pedagang menaikkan harga-harga. Tindakan para pedagang bisa dimaklumi karena uang tidak enak dan tidak mengenyangkan, lain halnya dengan makanan atau pakaian yang mempunyai manfaat yang nyata.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saya katakan jaman itu sebagai jaman kebebasan mencetak uang, contohnya ialah, pada tahun 1946 pecahan terbesar adalah Rp 100. Tahun 1947 pecahan terbesar naik menjadi Rp 250, kemudian dicetak lagi Rp 400 pada tahun 1948. Tidak hanya itu, banyak daerah seperti Sumatra Utara, Jambi, Banten, Palembang, Aceh, Lampung dan entah mana lagi juga mengeluarkan uangnya sendiri. Bahkan, kata mertua saya, di Jogya, ada dua uang daerah, yaitu yang dikeluarkan oleh Pakualaman dan yang dikeluarkan Keraton Jogya. Tidak heran kalau harga-harga tidak terkendali. Sebagai patokan, pada saat ORI dikeluarkan, nilai tukarnya terhadap uang sejati (emas) 1gr emas = Rp 2 dan setelah gunting Sjafruddin diberlakukan 1 gr emas = Rp 51 hanya dalam kurun waktu 4 tahun. &lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; &lt;b&gt;Masa Jaman Normal&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Nama resminya yang diberikan oleh para penulis buku sejarah adalah jaman penjajahan Belanda. Sedangkan oleh kakek nenek yang berumur di atas 80 tahun, jaman itu disebut jaman normal, terutama pada periode sebelum tahun 1930an. Bisa dimengerti bahwa para penulis buku sejarah yang direstui oleh pemerintah memberi nama yang berkonotasi negatif, karena untuk mendiskreditkan pemerintahan yang lalu (Belanda). Dan Belanda yang tidak ikut menyusun buku sejarah Indonesia, tidak bisa membela diri. Seperti halnya dengan kata Orde Lama, bernada negatif karena nama itu adalah pemberian pemerintahan berikutnya (Orba) dan pada saat penulisan sejarah itu politikus Orla sudah disingkirkan habis-habisan pada saat pergantian rejim. Berbeda halnya dengan jaman Reformasi, walaupun ada pergantian rejim, nama Orba masih dipakai karena masih banyak anasir-anasir Orba yang bercokol di dalam Orde Reformasi. Jadi sulit nama Orba ditukar menjadi Orde Lepas Landas Nyungsep, atau nama yang konotasi negatif lainnya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jaman penjajahan Belanda walaupun nama resminya berkonotasi negatif, kakek nenek kita menyebutnya dengan nama yang megah yaitu Jaman Normal. Seakan-akan Jaman Revolusi, Jaman Sukarno atau Jaman Orba, tidak bisa dikategorikan sebagai jaman yang normal. Memang demikian. Ciri Jaman Normal menurut mereka ialah harga barang tidak beranjak kemana-mana alias tetap. Hanya bapak yang kerja dan bisa menghidupi anak sampai 12 dan istri. Cukup sandang dan pangan. Gaji 1 bulan bisa dipakai foya-foya 40 hari (artinya tanpa harus menghemat, mereka masih bisa menabung). Dibandingkan dengan kondisi sekarang, ibu dan bapak bekerja untuk membiayai rumah dengan anak 2 orang dan masih mengeluhkan gaji yang pas-pasan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Merasa masih penasaran dengan tingkat kemakmuran masa itu, saya tanyakan kepada mertua, berapa harga rumah dan makan dengan lauk yang wajar. Harga rumah di Kali Urang 1000 Gulden. Makan nasi dengan lauk, sayur dan minum 0,5 sen. Dengan kata lain harga rumah dulu adalah setara dengan 200.000 porsi nasi rames. Kalau sekarang harga nasi rames Rp 10.000 dan dianggap bahwa harga rumah yang bagus di Kali Urang setara dengan 200.000 porsi nasi rames, maka harga sekarang adalah Rp 2 milyar. Kira-kira itulah harga rumah yang bagus di daerah itu. Jadi kalau rata-rata 1 keluarga terdiri dari 2 orang tua dan 10 orang anak dan bisa makan foya-foya selama 40 hari, pasti penghasilannya setara dengan 4,8 juta sampai 14,4 juta lebih, karena faktor foya-foya harus diperhitungkan. Ayah dari mertua saya adalah guru bantu. Gajinya 50 gulden per bulan atau setara dengan 10.000 porsi nasi rames. Jumlah ini mempunyai daya beli setara dengan Rp 100 juta per bulan uang 2007 (nasi rames Rp 10.000 per porsi). Dengan penghasilan seperti itu, istri tidak perlu kerja.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Gaji pembantu waktu itu 75 sen per bulan atau setara dengan 150 porsi nasi rames. Berarti berdaya beli setara dengan Rp 1,5 juta uang saat ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kita bisa telusuri terus gaji-gaji berbagai profesi pada masa itu. Kesimpulannya bahwa daya beli waktu itu tinggi. Jadi tidak heran kalau jaman penjajahan dulu disebut jaman normal (artinya jaman lainnya tidak normal).&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Catatan Akhir dan Renungan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Kalau ditanyakan mengenai kemakmuran kepada pelaku ekonomi, selama 80 tahun terakhir, yang disebut Indonesia atau dulunya Hindia Belanda, tidak semakin makmur bahkan sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi yang spektakuler yang dilaporkan data-data statistik mengikuti kaidah Mark Twain: There are lies, damn lies and statistics. Kalau anda merasa heran, kenapa orang percaya pada janji para politikus, kata Adolf Hitler: "Make the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it" (Buatlah kebohongan besar dan susunlah sesederhana mungkin, dengungkan terus dan akhirnya orang akan percaya). Setiap jaman di republik ini punya tema kebohongan. "Merdeka" dan "revolusi" jaman Sukarno, "Pembangunan", "Lepas Landas" di jaman Suharto, dan "Demokrasi, Otonomi Daerah, Reformasi" jaman sekarang. Kalau janji demi janji didengungkan terus menerus seperti yang dilakukan Hitler dan mentri propagandanya Joseph Goebbels, orang akan percaya, kecuali orang yang berpikir dan menganalisa.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kemakmuran tidak bisa diciptakan dengan membuat undang-undang atau aktifitas-aktifitas berpolitik. Apakah padi akan tumbuh lebih subur atau minyak sawit keluar lebih banyak karena para politikus dan birokrat bersidang lebih lama atau undang-undang bertambah banyak? Atau orang lebih banyak ikut partai politik, organisasi kedaerahan? Untuk orang berpikirnya sederhana seperti saya ini, padi hanya akan tumbuh subur, kebun hanya akan berbuah lebih banyak, pabrik hanya bisa menghasilkan sepatu yang lebih banyak dan baik kalau orang bekerja di sawah, kebun atau pabrik lebih effisien dan lebih giat. Jadi kalau selama 6 dekade trendnya bukan terfokus pada aktifitas langsung untuk menaikkan kemakmuran, maka jangan mengharapkan hasil yang berbeda. Hanya orang gila atau idiot yang mengharapkan hasil yang berbeda sementara apa yang dikerjakan dan cara mengerjakannya sama. Itulah sebabnya saya skeptis bahwa GDP US$ 18.000 per tahun identik dengan kemakmuran. Saya tidak yakin kemakmuran akan dicapai dalam 2-5 dekade ke depan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sebagai penutup, saya minta anda merenungkan: "Kenapa uang semakin lama semakin besar nilai nominalnya, banyak nol nya?" Seperti uang Bosnia (salah satu wilayah Bosnia) ini.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pertanyaan ini akan kita bahas di bagian ke II dari seri tulisan ini.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Saya akan memulai bagian ke II melihat kutipan di atas dari dua presiden USA, seorang mentri propaganda Jerman Nazi dan saya sendiri.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saya pikir pembaca cukup pandai dan saya tidak akan menghina intelektualitas anda dengan menterjemahkan ketiga sitiran di atas. Essensi kutipan di atas akan menjadi jelas dengan tulisan di bawah ini bahwa intrik, pengelabuhan atas penguasaan pencetakan uang dan kebenaran adalah musuh utama negara.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Mitos:&lt;/b&gt; Inflasi adalah kenaikan harga-harga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Yang benar:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; Inflasi adalah laju pertumbuhan uang yang beredar di dalam ekonomi. Bank sentral/otoritas keuangan mencetak uang sehingga jumlahnya di dalam ekonomi meningkat, akibatnya nilai uang turun dan harga-harga naik.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Jadi inflasi adalah perbuatan manusia yang disengaja berkaitan dengan jumlah uang yang beredar, &lt;b&gt;&lt;i&gt;bukan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; gejala ekonomi akibat permintaan dan penawaran barang/jasa.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Inflasi = Pajak Tabungan dan Pajak Ekonomi Bawah-Tanah&lt;br&gt; &lt;/b&gt;Pengertian inflasi yang beredar di masyarakat adalah yang mitos bukan yang sebenarnya. Penguasa tidak ingin kebenaran mitos ini terungkap karena kebenaran adalah musuh terbesar dari pemerintah (Goebbels). Bagi pemerintah inflasi mempunyai beberapa fungsi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; 1. Pajak atas tabungan&lt;br&gt; 2. Memindahkan kekayaan riil dari penabung ke penghutang&lt;br&gt; 3. Menghancurkan hutang&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pemerintah hidup dari pajak. Tetapi pajak bukanlah hal yang populer. Bayangkan kalau anda dikenai pajak 70%-80% dari harta atau penghasilan anda. Anda pasti marah. Oleh sebab itu perlu diciptakan cara yang lebih halus dan tersembunyi di balik kekuasaan dan hak monopoli pencetakan uang. Misalnya pemerintah mencetak uang sehingga uang yang beredar bertambah 20% per tahun, jika barang dan jasa di dalam ekonomi tidak bertambah berarti nilai uang turun sebesar 20%. Artinya nilai riil tabungan anda turun, nilai riil gaji anda turun, nilai riil hutang anda juga turun.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dengan mitos inflasi (bahwa inflasi = kenaikan harga-harga) berarti penguasa bisa menyalahkan para pelaku ekonomi terutama pedagang. Tuduhan bisa dilontarkan bahwa karena ulah pedagang menimbun barang menyebabkan harga naik seperti yang dilakukan beberapa waktu ini terhadap produsen minyak sawit dan penyalur beras. Kemudian dibarengi dengan operasi pasar membuat image penguasa naik. Menjelekkan pedagang dan mendongkrak citra diri sendiri. Hal ini mudah dicerna dan didukung rakyat .&lt;br&gt; &lt;br&gt; Supaya lengkap, inflasi kemudian disamarkan dengan indeks harga bahan pokok. Kalau yang namanya indeks, cara menghitungnya bisa dibuat rumit, menjadi intimidatif kalau melihatnya dan tidak lagi transparan. Ini mengikuti hukum: "kalau kita tidak bisa menyakinkan orang, buatlah dia bingung supaya akhirnya pasrah dan tidak bertanya lagi". Jadi jangan heran kalau dengar inflasi negatif tetapi harga diesel dan minyak goreng naik di atas 20% seperti yang terjadi bulan lalu. Dan tidak ada wartawan yang menyoal hal ini, karena sudah terintimidasi oleh rumit dan canggihnya perhitungan indeks harga bahan pokok atau indeks inflasi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sebagai pajak tabungan, inflasi sangat effektif dalam menjangkau "underground economic" (ekonomi bawah tanah). Kalau pekerja seperti saya ini, tangan pajak bisa menjangkau kami melalui perusahaan. Pajak dipotong langsung oleh perusahaan. Lain halnya dengan tukang bakso, tukang sayur, pengemis, pemulung, tukang ojek dan profesi sejenisnya, mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan. Jangan dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung yang mangkal di depan rumah saya, penghasilannya Rp 100.000 – Rp 200.000 per hari, 365 hari per tahun. Jelas penghasilan mereka sudah melewati batas kena pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Oleh sebab itu diperlukan mekanisme untuk memajaki mereka yaitu lewat inflasi. Inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka bisa disebut pajak terhadap harta pelaku ekonomi bawah tanah.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Contoh riilnya, misalnya seorang tukang becak yang di tahun 1980 mangkal di dekat Senayan. Dia memberi jasa mengantar penumpang sejauh kurang lebih 4 km ke Blok M. Sebagai imbalannya dia diberi uang sebesar Rp 300. Artinya Rp 300 mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak. Uang ini disimpannya di lemari sampai tahun 2007. Pada saat dia sudah tua, dia mau naik becak dengan jarak yang sama. Kalau Rp 300 itu mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak maka kapan saja dia gunakan tanda/alat pembayaran yang syah itu dia akan memperoleh jasa yang sama. Nyatanya tidak demikian. Di tahun 2007 diperlukan Rp 5000 – Rp 8000 untuk jasa yang sama. Artinya nilai riil tabungan si tukang becak ini sudah termakan oleh inflasi (baca: pajak tabungan dan pajak ekonomi bawah tanah) walaupun secara sadar si tukang becak tidak pernah merasa membayar pajak.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Inflasi sebagai pajak, mempunyai spektrum luas. Artinya sasarannya ialah siapa saja yang mempunyai uang yang di-inflasikan, tidak mengenal batas negara atau kewarganegaraan, tetapi siapa saja. Seperti US dollar, yang beredar dan ngendon di bank sentral banyak negara karena dijadikan cadangan devisa serta yang ada di tabungan perorangan, laju pertumbuhan dollar yang beredar sebesar 8%-12% berarti nilai riil simpanan dollar turun dengan laju 8% - 12% per tahun. Kalau tabungan itu memperoleh bunga maka bunga itu bisa meredam sedikit turunnya nilai riil tabungan. Catatan: Sentral Bank USA – the Fed – sejak Maret 2006 tidak lagi melaporkan kepada publik laju pertambahan supply uang dollar M3. Maksud M3 adalah seluruh jenis uang, tunai, simpanan tabungan, dan lain lain. Dengan adanya perang di Irak dan Afganistan, USA memerlukan banyak pemasukkan pajak.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mendapatkan pemasukkan negara/pemerintah/penguasa melalui inflasi sangatlah mudah. Syaratnya hanya kekuasaan (dan monopoli) pencetakan/penerbitan uang. Sedangkan ongkos mencetak sangat murah. Mencetak uang Rp 100.000 atau Rp 5.000 atau US$100 atau kalau ada nanti Rp 1000.000, memerlukan usaha, tinta, kertas dan peralatan yang sama. Apalagi sekarang ini, uang tidak selalu berbentuk kertas melainkan juga catatan elektronik. Anda digaji melalui transfer elektronik. Belanja dengan kredit card atau debit card juga secara elektronik. Ketika bank memberikan hutang, tinggal mengkreditkan di rekening anda. Praktis penggunaan (uang) kertas sudah berkurang banyak. Catatan elektronik telah menggantikan kertas. Karena uang sekarang ini sebagian hanyalah catatan elektronik maka memciptakannya semakin mudah, hanya dengan pencetan tombol keyboard komputer. Kalau anda berjiwa kriminal, anda akan bertanya, "tentunya memalsukan uang sekarang menjadi semakin mudah dan sulit dilacak bagi hacker hacker ulung". Mungkin saja. Bagi seorang hacker ulung, kalau bisa masuk ke sistem komputer otoritas keuangan dan mengkreditkan sejumlah uang di rekeningnya. Mudah bagi yang ulung dan tahu sistemnya. Tidak perlu lagi beli tinta dan kertas uang serta sembunyi-sembunyi mencetak dan mengedarkannya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Liquiditas, Nama Baru Inflasi&lt;br&gt; &lt;/b&gt;Sejarah selalu berulang walaupun tidak sama persis. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa kita bisa belajar dari sejarah. Apakah itu untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Kekuasaan dan monopoli moneter menjadi landasan Kekaisaran Romawi melakukan mengenceran kadar emas yang terkandung di dalam uang dinarius nya dari 90% menjadi hampir 0% selama 250 tahun. Perlahan tetapi pasti. Atau kalau anda mau mencarinya di internet, cerita tentang John Law dan Duke Philippe d'Orléans berserta Banque Royale (Royal Bank) di tahun 1716 sampai 1720. Sampai-sampai orang Prancis alergi terhadap kata bank. Yang kita jumpai sekarang ini adalah Credit Lyonese atau Credit Suisse. Atau kalau anda buka situsnya Bank Indonesia, dan membaca sejarah Bank Indonesia, anda akan tahu bahwa keuangan republik ini didirikan di atas inflasi untuk membiayai perjuangan kemerdekaan dulu. Atau kalau mau baca majalah atau koran luar negri baru-baru ini tentang Zimbabwe, inflasinya 1700%!!!&lt;br&gt; &lt;br&gt; Di situs Bank Indonesia (BI) bisa dijumpai data jumlah uang M2 yang beredar dari tahun 1990 sampai sekarang. Tahun 1990 jumlah uang M2 yang beredar sekitar Rp 60 triliyun. Kurang dari 17 tahun kemudian (tahun 2007) jumlah itu sudah mencapai hampir Rp 1400 triliyun atau 23 kali lipat (lihat Grafik-1). Dapat dipastikan harga-harga barang sudah naik 23 kali lipat selama 17 tahun ini. Bukannya harga-harga naik, tetapi nilai uang diturunkan. Selama 17 tahun, 86% nilai rupiah sudah dihancurkan. Sekarang nilainya hanya 4% dari nilai riil di tahun 1990. Jadi jika anda 27 tahun lalu pensiun, dapat pesangon pensiun dan hidup dari bunga deposito uang tersebut, maka pada saat ini nilai riil uang anda di bank hanya tersisa 4% saja. Sekarang anda akan mengalami kesulitan hidup. Dan yang lebih merisaukan lagi ialah bahwa sejak tahun 2005 laju kenaikan uang yang beredar mengalami percepatan. Inflasi meningkat. Berarti penurunan nilai riil uang anda semakin dipercepat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://2.bp.blogspot.com/_FjYHDzxEy7U/Ro8ZzZg_XfI/AAAAAAAAABg/Dq-VbEZqTs0/s1600-h/Moneysupply.bmp"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; text-decoration: none;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Grafik 1 Uang M2 yang beredar (sumber: Bank Indonesia)&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kalau kita mundur lagi ke belakang pada saat republik ini baru diakui dunia yaitu tahun 1950. Jumlah uang yang beredar hanya Rp 3,9 milyar rupiah ORI (Sumber: BI). Jumlah ini sama dengan Rp 195 ribu nominal uang Orba. (Ingat Rupiah mengalami 3 kali pengguntingan nilai nominalnya). Kalau sekarang Rp 195 ribu adalah penghasilan sehari pemulung di depan rumah saya, tetapi 57 tahun lalu adalah semua uang yang beredar di republik ini. Selama 57 tahun nilai riil rupiah sudah dihancurkan dan hanya tersisa 0.0000000142% saja (oooalah banyak benar nolnya!!). Praktis NOL.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Nama baru inflasi saat ini ialah liquiditas. Kalau liquiditas naik artinya, inflasi meningkat. Dipersepsikan bahwa liquiditas adalah obat untuk segala persoalan ekonomi. Pembangunan ekonomi, untuk menggerakkan ekonomi, mencegah dan mengobati krisis ekonomi diperlukan liquiditas yang cukup. Sejak krisis moneter Asia 1997, krisis LTCM (Long Term Capital Management), krismon Russia, sampai krisis bursa Teknologi US, liquiditas membanjir. Selama dua tahun terakhir ini terjadi percepatan laju kenaikkan rupiah yang beredar yang cukup mencemaskan, antara 14% -20%. Soal cetak mencetak uang,bukan monopoli Indonesia saja, tetapi juga negara lain. Tahun lalu Uni Eropa 8.5%, US 10%, Cina 19%, India (18%), Afrika Selatan 23% dan Russia 45%.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Di bawah ini adalah grafik US$ M3 yang beredar dari tahun 1980 sampai Maret 2006 (sumber: nowandfutures.com). Sumber datanya dari the Fed (bank sentral US). Karena sejak Maret 2006 tidak lagi melaporkan uang M3 yang beredar maka kedepannya berupa perkiraan yang diturunkan dari data lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://3.bp.blogspot.com/_FjYHDzxEy7U/Ro8MYpg_XYI/AAAAAAAAAAo/wqxDw6bQFfs/s1600-h/M3+US.bmp"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; text-decoration: none;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; Grafik 2 Pertumbuhan Uang M3 US$ dalam milyar US$&lt;br&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;(Sumber: nowandfutures.com)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt; Selama kurang dari 27 tahun, jumlah US dollar yang beredar naik menjadi 6 kali lipat. Jangan heran kalau kemudian harga-harga bahan dasar naik. Maksudnya, nilai uang turun. Minyak naik dari titik terendahnya $10 per barrel di tahun 1999 sekarang berkisar di level $ 60. Jagung, beras, emas, perak dan komoditas lainnya naik. Lihat trend di grafik berikut ini dan jangan hiraukan unit nya. ( 1 U.S. bushel = 35.24 liter dan 1 oz = 31.1 gram).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="yiv571513342MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kita bisa teruskan ke bahan-bahan lain. Trendnya sama, yaitu naik (secara nominal). Dalam keadaan seperti ini, pemilik tabungan dirugikan dan para penghutang akan diuntungkan. Nilai riil hutang atau tabungan digerus inflasi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;b&gt;Catatan Akhir dan Renungan&lt;/b&gt;&lt;br&gt; Pemerintah/Penguasa bukan badan yang berorientasi keuntungan dan bukan pula yayasan sosial yang menciptakan kemakmuran. Pemerintah/penguasa menarik pajak, retribusi, membuat inflasi, mengeluarkan surat hutang. Katanya pajak itu akan kembali ke rakyat. Retorik itu salah. Prioritas utamanya ialah untuk mereka sendiri, membayar gaji. Kalau ada sisa baru disisihkan untuk memelihara dan membangun infra struktur untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. Pada tahun-tahun terjadinya krisis di negri ini, seperti 1946 – 1950, 1964 – 1968, 1997 – 2000, perawatan infra struktur hampir tidak ada. Tetapi gaji politikus dan birokrat tetap berjalan, juga aktifitas politiknya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saat ini pemerintah giat melakukan operasi pasar untuk minyak goreng. Kalau tujuannya untuk menurunkan harga, adalah usaha yang sia-sia. Saya melihatnya hanya sebagai aktifitas politik yaitu mencari popularitas. Seperti saya katakan: "Ada penipu kecil, penipu ulung, politikus dan Cut Zahara Fonna". Operasi pasar, memaksa pedagang untuk menjual barangnya di harga yang ditetapkan penguasa atau sejenisnya, sepanjang sejarah tidak bisa membuat kemakmuran meningkat, karena tidak ada pertambahan barang dan jasa di pasar. Kalau tindakan itu dimaksudkan untuk mencari popularitas, pemerintah reformasi ini masih kalah dengan Robert Mugabe. Robert Mugabe dari Zimbabwe, beberapa tahun lalu menyita tanah dari para tuan tanah kulit putih kemudian membagikannya kepada "petani" miskin kulit hitam. Jangan dikira Zimbabwe jadi makmur karena banyak tanah sudah berpindah tangan kepada petani. Produksi pangan menurun karena hengkangnya tuan tanah yang punya keahlian mengelola sistem pertanian. Inflasi harga (kenaikan harga barang) di Zimbabwe mencapai 1700% per tahun tidak hanya dipicu oleh pencetakan uang tetapi juga susutnya jumlah barang di pasar.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tuan tanah, tengkulak, pengijon, penimbun, spekulator sering dijadikan kambing hitam oleh penguasa. Sebenarnya mereka merupakan bagian yang penting dalam ekonomi pasar. Kalau mereka dihilangkan, ekonomi menjadi terganggu. Nabi Jusuf adalah seorang penimbun dan spekulator. Dia menimbun dan berspekulasi bahan pangan hanya berdasarkan mimpi Firaun. Bulog juga penimbun. Perbedaan antara Bulog dan penimbun/spekulator swasta ialah bahwa pelaku Bulog tidak mempunyai rasa memiliki sehingga rawan korupsi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Profesi sebagai politikus sangat menggiurkan. Bisa bermain-main dengan kekuasaan dan imbalannya cukup besar. Jaman Reformasi ini seakan sempatan berpolitik dan berpartisipasi di sektor kekuasaan semakin terbuka lebar. Jangan heran kalau dari mulai kiai, pengangguran, guru, artis, beralih ke profesi ini. Kecenderungannya nampak semakin banyak "elite" politik, organisasi kedaerahan, dewan adat, laskar kedaerahan yang orientasinya kekuasaan dan hak atas pajak/retr&lt;var id="yiv571513342yui-ie-cursor"&gt;&lt;/var&gt;ibusi atau sejenisnya yang disebut penghasilan daerah. Harus diingat bahwa aktifitas semacam itu tidak menambah barang atau kemakmuran, bahkan menurunkan kalau semakin banyak orang lari dari sektor-sektor produktif (pertanian, manufakturing, dsb) ke aktifitas politik yang non produktif.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Yang diceritakan di atas adalah institusi yang resmi. Ini tidak termasuk pak Ogah, unit-unit "keamanan", tukang parkir liar, tukang palak, organisasi kedaerahan dan sejenisnya yang tidak resmi dan ikut menariki iuran. Mereka ini memang tidak ikut dalam komponen pemicu inflasi moneter tetapi punya andil dalam inflasi harga. Iuran-iuran liar ini akan dimasukkan oleh para pedagang dalam komponen biaya dan harga jual barang menjadi lebih tinggi. Jangan heran kalau biaya hidup di Jakarta 30% lebih mahal dari di Kuala Lumpur, karena adanya perbedaan komponen ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-6516898477417578417?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/omexkSFVK_1kb0_FIG72bdQOWmE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/omexkSFVK_1kb0_FIG72bdQOWmE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/omexkSFVK_1kb0_FIG72bdQOWmE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/omexkSFVK_1kb0_FIG72bdQOWmE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/1QiwqXkMXm4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/6516898477417578417/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=6516898477417578417" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6516898477417578417?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6516898477417578417?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/1QiwqXkMXm4/visi-2030-kemakmuran-atau-ilusi.html" title="VISI 2030: KEMAKMURAN ATAU ILUSI" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/visi-2030-kemakmuran-atau-ilusi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cFQ3o5fip7ImA9WhdUGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-4170871778873095552</id><published>2011-10-06T07:30:00.001+07:00</published><updated>2011-10-06T07:30:12.426+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-06T07:30:12.426+07:00</app:edited><title>Tugas Kecil Hanya Membuat Anda Kerdil</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="yiv2112381638MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jika  boleh memilih antara gaji besar dan gaji kecil, apa pilihan Anda?  Pertanyaan yang kurang cerdas. Jika dihadapkan pada 2 pilihan antara  mengerjakan sesuatu yang sudah biasa Anda lakukan dengan baik atau  sesuatu yang Anda belum terampil melakukannnya; Anda pilih yang mana?  Tidak usah khawatir, ini bukan soal pilihan antara benar dan salah kok.  Kebanyakan orang mendahulukan kenyamanan. Maka wajar jika mereka memilih  mengerjakan tugas-tugas yang mudah. Selain memberi rasa nyaman,  pekerjaan gampang tidak memerlukan kerja keras dan bisa menghemat banyak  keringat. Tak heran jika banyak orang yang merasa berat hati ketika  mendapatkan penugasan yang sulit. Bahkan tidak sedikit yang rela  karirnya tidak berubah karena merasa sudah sangat nyaman dengan  pekerjaan yang dilakukannya selama  bertahun-tahun. Boleh saja jika memang itu sudah menjadi pilihan hidup  kita. Tapi, jika kita masih mengeluhkan hasilnya, itu pertanda ada yang  salah dengan pilihan kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;" class="yiv2112381638MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;" class="yiv2112381638MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dua  minggu lalu sahabat saya menunjukkan pohon beringin bonsai yang  dimilikinya. Lalu saya teringat kepada pohon beringin besar yang tumbuh  dihalaman belakang rumah kakek saya di kampung ketika saya masih kecil  dulu. Membayangkan kedua beringin itu, tiba-tiba saya merasa miris  sendiri. Jangan-jangan saya ini sebenarnya memiliki potensi yang sangat  besar. Namun, saya membiarkan diri sendiri kerdil seperti beringin  bonsai itu. Seolah tersadar dari keterlenaan yang telah bertahun-tahun  ini saya alami, saya melihat betapa banyak potensi diri yang saya  sia-siakan selama ini. &lt;/span&gt;Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memaksimalkan potensi diri, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip &lt;span style="color: rgb(55, 55, 55);"&gt;&lt;a rel="nofollow" title="Natural Intelligence" target="_blank" href="http://www.dadangkadarusman.com/"&gt;Natural Intelligence (NatIn)&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;berikut ini: &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;" class="yiv2112381638MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% yellow;"&gt;Behentilah bermain di arena kecil.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  Jika Anda sudah tidak lagi mengalami kesulitan dalam menyelesaikan  pekerjaan yang Anda tangani, boleh jadi sebenarnya Anda sudah tidak  cocok lagi dengan pekerjaan itu. Huhu, bukankah justru sebaliknya?&lt;span&gt; &lt;span lang="SV"&gt;Bukan.  Salah satu alasan mengapa pohon beringin di rumah teman saya itu  menjadi bonsai adalah karena dia secara sengaja ditempatkan pada pot  beton yang sangat kecil. Beda dengan beringin raksasa di kebun kakek  saya. Tanahnya luas, nutrisinya banyak, ruang geraknya leluasa. Maka  jadilah beringin teman saya kerdil. Dan  jadilah pohon beringin kakek saya menjulang tinggi dengan akar  gantungnya yang besar dan kekar. Begitu pula dengan pekerjaan. Jika Anda  masih terus bertahan dalam pekerjaan yang sudah menjadi tugas cetek dan  celepete itu, bisa jadi Anda membiarkan diri sendiri menjadi bonsai.  Kita sering mengkalim diri sebagai orang yang berjiwa besar dan  berkehormatan besar. Namun, kita membiarkan diri sendiri ngendon di  ruang kecil yang hanya cocok untuk mereka yang memiliki kapasitas kerja  yang juga kecil. Terlalu mudahnya pekerjaan yang Anda tangani itu adalah  indikasi jika kapasitas diri Anda sudah lebih besar. Maka datanglah  kepada atasan Anda untuk penugasan yang lebih menantang. Karena seperti  pot mungil; tantangan kecil hanya cocok untuk orang kecil, atau orang  besar yang ingin menjadi kerdil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;" class="yiv2112381638MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% yellow;"&gt;Tumbuhkanlah keinginan untuk menjadi orang besar&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;  Kalau merasa takut keluar dari arena kecil untuk memasuki arena bermain  yang lebih besar itu wajar. Namun kita memiliki pilihan apakah akan  menjadikan rasa takut itu sebagai alasan untuk tetap diam ditempat,  ataukah sebagai daya dorong untuk mengembangkan diri agar bisa menjadi  pribadi yang lebih besar. Pilihan itu menghasilkan sebuah perbedaan  bermakna. Orang-orang yang terkurung dalam ketakutan tidak akan pernah  keluar dari penjara aman yang dibuatnya sendiri.  Sedangkan orang-orang yang terdorong oleh rasa takut proporsional justu  semakin bersemangat untuk terus mengembangkan diri. Saya melihat akar  bonsai itu memberontak keluar dari pot kecilnya. Bahkan ada bagian pot  yang retak. Terlihat sekali jika sebenarnya bonsai itu ingin tumbuh  membesar seperti yang seharusnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita  menggeliat mencari tantangan lebih besar ataukah justru diam saja  ditempat berhambatan kecil? Kita kalah oleh tanaman jika demikian.  Tantangan besar sering tidak datang dengan sendirinya. Maka seperti akar  bonsai itu, kita sendirilah yang harus mencarinya keluar dari tempat  persembunyian. Banyak atasan yang enggan memberi penugasan besar kepada  orang-orang tertentu. Mengapa? Karena kebanyakan orang memiliki seribu  satu alasan untuk menolaknya. Kita? Karus seperti akar itu.  Mendatanginya. Dan mempersiapkan keterbukaan diri untuk menerima  tantangan besar.&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;" class="yiv2112381638MsoNormal"&gt; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% yellow;"&gt;Pancinglah kesempatan besar dengan umpan yang besar&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;  Bayangkan jika Anda berharap bisa menangkap hiu, namun Anda menggunakan  sampan kecil. Dengan kondisi seperti itu, didatangi oleh hiu justru  sangat berbahaya. Banyak kejadian yang patut kita ambil hikmahnya.  Misalnya orang-orang yang mendapatkan jabatan atau tanggungjawab yang  'terlalu besar' dibandingkan dengan kapasitas dirinya yang kecil. Mereka  berambisi untuk mendapatkan ikan besar, tapi lupa untuk memperbesar  alat pancingnya. Mereka berambisi mendapatkan jabatan tinggi, tapi lalai  mengimbanginya dengan kapasitas dan kemampuan diri yang juga  tinggi. Akhirnya? Kinerjanya buruk. Frustrasi. Dilecehkan kolega dan  bawahan. Lalu, melarikan diri ke tempat lain karena sudah tidak sanggup  lagi mengatasi tantangan yang dihadapinya. Ditempat baru, kejadiannya  tidak jauh berbeda. Pasti akan terulang lagi. Kecuali jika mereka  kembali memasuki kolam kecil yang sesuai dengan kapasitas dirinya.  Sebaliknya jika penugasan besar itu diberikan kepada orang-orang yang  memiliki kapasitas diri yang besar. Dia tentu bisa mengembannya dengan  sebaik-baiknya. Jadi, jika ingin mendapatkan tanggungjawab yang besar,  kita mesti belajar untuk terlebih dahulu membuat kapasitas diri kita  tambah besar. Karena, hanya orang besar yang layak mendapatkan  kesempatan besar.&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% yellow;"&gt;Besarkanlah kapasitas diri dengan kemauan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  Saya berani mengatakan bahwa Anda tidak bisa mengandalkan proses  pengembangan kapasitas diri Anda kepada atasan Anda. Mengapa? Karena  proses pengembangan diri itu harus dimulai dari kesadaran yang datang  dari diri Anda sendiri. Atasan Anda hanya bisa memfasilitasi prosesnya,  atau merekomendasikan program pelatihannya, atau sekedar menyediakan  budgetnya. Apakah Anda berhasil mengembangkan kapasitas diri itu atau  tidak, atasan Anda tidak memiliki kuasa untuk itu. Faktanya? Banyak  orang yang ikut suatu pelatihan namun tidak menerapkan ilmu yang  diperolehnya di tempat kerja. Banyak juga bawahan yang mengelak untuk  mendapatkan penugasan menantang yang sebenarnya merupakan kesempatan  bagi mereka untuk berkembang lebih cepat. Bukankah kita sering mengomel  kalau diberi tugas yang sulit? Padahal kita tahu bahwa pengalaman adalah  bekal yang paling relevan, berdampak, dan berdaya guna. Dan itu tidak  bisa kita raih selain dengan menjalaninya sendiri. Kebanyakan orang  langsung nyantai begitu pekerjaannya selesai. Banyak juga yang sengaja  melambat-lambatkan pekerjaanya dengan maksud menghindari penugasan  lainnya. Tapi seorang staff memiliki kemauan yang sedemikian kuat untuk  berkembang lebih pesat. Dia beristirahat hanya pada waktunya istirahat.  Lalu berpindah dari tugas yang satu kepada tugas yang lain. Setahu saya,  karir orang ini melejit sangat cepat. Bahkan melampaui posisi mantan  atasannya. Mengapa hanya dia yang begitu? Apakah atasannya pilih kasih?  Tidak. Itu karena memang dia memiliki kemauan  untuk memperbesar kapasitas dirinya sendiri.&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;" class="yiv2112381638MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% yellow;"&gt;Raihlah kesempurnaan dengan proses pencarian tanpa henti.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  Orang-orang yang merasa dirinya sudah sempurna pasti jauh dari  kesempurnaan. Mengapa? Karena tidak ada satu hal pun dimuka bumi ini  yang benar-benar statis. Semua bergerak secara dinamis. Bahkan  benda-benda yang terlihat diam pun sebenarnya bergerak. Apakah secara  absolut pada tingkatan atomiknya, maupun secara relatif dalam tingkatan  kosmiknya. Segala sesuatu yang hari ini kita kira sebagai puncak  pecapaian, akan segera kadaluarsa lalu digantikan oleh  pencapaian lain yang jauh lebih bernilai. Kesempurnaan pencapaian diri  kita itu laksana undakan anak tangga. Setiap kali kita menanjak naik,  posisi kita memang menjadi lebih tinggi. Namun kita tidak benar-benar  sampai ke puncak tertinggi. Jika kita berhenti pada anak tangga itu,  maka kita hanya akan bisa mencapai setinggi itu. Lihatlah satu anak  tangga lagi, maka kita akan tahu bahwa meski sudah tinggi tapi kita  belum cukup tinggi. Naiklah lagi, dan posisi kita lebih tinggi lagi.  Naiklah lagi, dan naiklah lagi. Itulah satu-satunya cara untuk menapaki  ketinggian nilai-nilai kemanusiaan diri kita sendiri. Yaitu dengan  pencarian yang tanpa henti. Sebagai imbalannya, setiap penemuan yang  kita dapatkan itu semakin mendekatkan diri kita pada kesempurnaan diri.  Karenanya, kesempurnaan hanyalah milik para pencari tanpa henti. &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak karyawan yang sangat senang  dengan penugasan ringan. Mereka merasa nyaman dengan segala kemudahan  dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Padahal, justru kondisi itu sangat  membahayakan karir mereka sendiri. Tugas-tugas ringan yang kita dapatkan  dari pekerjaan tidak ubahnya seperti pot-pot kecil yang akan  menghalangi pertumbuhan akar, dahan dan ranting-ranting kapasitas diri  yang besar. Jika pohon beringin yang bisa tumbuh puluhan meter pun bisa  dikerdilkan untuk menjadi hanya 15 senti, maka kapasitas diri kita yang  sangat besar itu pun pasti bisa dikerdilkan hanya dengan cara memberinya  tugas-tugas yang kecil. Maka mulai sekarang, berhentilah merasa nyaman  dengan tugas-tugas kecil. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dan mulailah untuk memberikan pohon kapasitas diri Anda tanah yang luas dan besar agar bisa tumbuh hingga sebesar-besarnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-4170871778873095552?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-_-i50Xna5oNdBIMit-d_8j9Co4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-_-i50Xna5oNdBIMit-d_8j9Co4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-_-i50Xna5oNdBIMit-d_8j9Co4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-_-i50Xna5oNdBIMit-d_8j9Co4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/E4QBpeE98yQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/4170871778873095552/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=4170871778873095552" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/4170871778873095552?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/4170871778873095552?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/E4QBpeE98yQ/tugas-kecil-hanya-membuat-anda-kerdil.html" title="Tugas Kecil Hanya Membuat Anda Kerdil" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/tugas-kecil-hanya-membuat-anda-kerdil.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcASHk7eCp7ImA9WhdUF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-8310139878047698438</id><published>2011-10-05T08:10:00.001+07:00</published><updated>2011-10-05T08:10:49.700+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-05T08:10:49.700+07:00</app:edited><title>Food &amp; Fuel: Kembar Identik Komoditas Global</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;"…it is now almost impossible to know where one ends and one begins.  Food makes fuel and fuel makes food. They are like identical twins,  separated at birth. Without either one, our society literally grinds to a halt."– Andrew Heintzman  &amp;amp; Evan Solomon (Food and Fuel: Solutions for the Future, 2009).&lt;br&gt; &lt;br&gt; ***&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Begini latar belakang ceritanya. Tatkala lebih dari seratus tahun  lampau, tepatnya 4 Juni 1896, saat itu seorang insinyur muda berusia  meluncurkan invensinya, banyak orang belum bisa secara definitif  menentukan jenisnya, apakah benda itu termasuk energi atau bahan pangan?  Insinyur muda itu menggunakan bahan temuannya untuk menggerakkan  ciptaannya yang lain lagi, yaitu Ford model-T yang legendaris itu. &lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sejak saat itu ditengarai bahwa bahan itu telah menentukan nasib  milyaran orang, juga kerap jadi penyebab perang maupun kemakmuran. Benda  itu bukan berfungsi cuma sebagai energi atau cuma sebagai pangan,  hebatnya benda itu adalah keduanya: pangan dan energi. Ya betul, bahan  bakar (fuel) yang diinvensi oleh Henry Ford demi menggerakkan mobil  model-T-nya terbuat dari bahan pangan (food) yaitu jagung (corn). Ford  saat itu menggerakan combustion engine-nya dengan bahan bakar ethanol  berbasis jagung.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan kata lain, sudah sejak awal produksi massal kendaraan  bermotor dan produksi massal bahan pangan keduanya saling terjalin erat.  Kelindan ini terus berlangsung sampai detik ini. Namun dalam  perjalannya, bahan bakar energi bersumber fosil tak terbaharukan ini  mulai tidak digali lagi dalam format pertambangan (lantaran di beberapa tempat juga sudah habis), dan berangsur-angsur  bergeser kearah pemanenan sumber energi dalam format perkebunan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pemerintah di seantero bumi saat ini sangat agresif dengan target  ambisius untuk meningkatkan persentase ethanol sebagai campuran bahan  bakar otomotif berbasis fosil. Di Brazil contohnya, 30% dari kendaraan  yang ada disana saat ini digerakan ethanol berbasis tebu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; ***&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Implikasinya jelas dan mudah diprediksi. Tatkala produk pertanian  pangan (mis: tebu, jagung, sawit dan ketela) bisa dikonversi jadi bahan  bakar (energi), maka demand-nya juga semakin besar. Akibatnya terjadi  scarcity (kelangkaan) yang ujungnya mendongkrak harga.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Andrew Heintzman &amp;amp; Evan Solomon mencatat, "…the impact of the  biofuel industry is felt most dramatically at the grocery store, not at  the gas station. When the appetite for biofuel grows, so does the price  of staple foods." Dibuktikannya dengan kejadian di tahun 2008, "…when  the price of oil approached $150 a barrel and the price of natural gas  shot up to record highs, the price of food also skyrocketed. The amount  of grain it takes to make enough ethanol to fill the tank of single car  could feed a person for a year." Maka dampaknya sosialnya jadi sangat  serius, "In a world where over 800 million people are starving, the  relationship between food and fuel is&lt;br&gt; not an abstract economic issue."&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita ingat, tatkala kerusuhan di pelbagai sudut bumi terjadi,  kebanyakan dipicu oleh kelangkaan pangan atau meroketnya harga pangan.  Kerusuhan di Meksiko&lt;br&gt; (melonjaknya harga gandum yang merupakan bahan baku tortilla), protes  rakyat Italia dan Perancis tatkala harga pasta dan roti naik tak  terkendali. Juga rusuh di Pakistan, Kamerun, Haiti, Mesir dan Libya  baru-baru ini disinyalir dipicu kelangkaan bahan pangan. Heintzman &amp;amp;  Solomon kembali melaporkan, "In the last year alone, the cost of making  bread around the world has doubled. When food prices rise, the one  billion people in the world who spend 90 percent of their income on food  suffer."&lt;br&gt; &lt;br&gt; ***&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dulu di era 1930an Indonesia punya kebun tebu dan industri gula  yang hebat lantaran kita jadi salah satu pemasok gula terbesar di dunia.  Saat itu produksi gula hampir 3 juta ton (bandingkan dengan prediksi  tahun 2011 yang cuma 2,1 juta ton). Karenanya Indonesia patut  me-reshuffle kebijakan pangan nasionalnya! &lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saat ini tingkat konsumsi gula di Indonesia sebesar 5,1 juta ton,  karena produksi local kurang maka kita mesti mengimpor sekitar 3 juta  ton dari Brazil, Thailand,&lt;br&gt; Australia, dll. Nilai impor gula kita ditengarai setara dengan devisa  sebesar lebih dari Rp.20 trilyun setiap tahun! Uang sebesar ini  sebetulnya cukup untuk membangun 10 unit pabrik gula baru masing-masing  berkapasitas 10 ribu TCD (tone cane per day) yang nantinya mampu  menambah pasokan gula nasional sebesar 1,3 – 1,6 juta ton gula per  tahun!&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kasus keterpurukan industri gula di Indonesia juga dialami beberapa  sektor komoditi pangan lainnya, seperti misalnya: beras, jagung, garam  dan kedele. Padahal tak satupun dari komoditi tersebut yang tidak bisa  ditanam di tanah Nusantara. Bayangkan nilai importasi yang sesungguhnya  bisa dihemat dan direinvestasikan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kita sungguh berharap  seluruh komponen Indonesia Incorporated bisa bahu-membahu bekerja keras,  jujur, cerdas dan disiplin.&lt;br&gt; &lt;br&gt; ***&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kembali ke jalinan bahan bakar dan bahan pangan. Mobilitas manusia  abad 21 semakin tinggi, alat transportasi menjadi kubutuhan mutlak. Di  sini kita ingat kembali caveat dari Bill Paul (Future Energy: How The  New Oil Industry Will Change People, Politics and Portfolios, 2007),  dikatakannya, "Who is to blame for all these additional vehicles that  will continue making it harder to keep up with the demand for oil?  Nobody, unless you want to blame the rapidly emerging middle-classes in India and China for wanting to share in the prototypical American dream,  a dream just starting to come into focus in these and other budding  economic powers thanks to the global economy's ever-expanding  interdependency."&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Food &amp;amp; Fuel, komoditas kembar identik terpenting di dunia saat  ini dan di masa depan. Dan Indonesia sesungguhnya punya potensi besar  untuk jadi pemain utamanya! Quo vadis?&amp;nbsp;&lt;br&gt; &lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-8310139878047698438?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IAF94wEbKpgqQsC_a-uirxuDG9U/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IAF94wEbKpgqQsC_a-uirxuDG9U/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IAF94wEbKpgqQsC_a-uirxuDG9U/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IAF94wEbKpgqQsC_a-uirxuDG9U/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/r8Q6y6R7ld8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/8310139878047698438/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=8310139878047698438" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8310139878047698438?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8310139878047698438?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/r8Q6y6R7ld8/food-fuel-kembar-identik-komoditas.html" title="Food &amp; Fuel: Kembar Identik Komoditas Global" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/food-fuel-kembar-identik-komoditas.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0ECQ3c7eyp7ImA9WhdUF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-3725642140802611496</id><published>2011-10-05T06:07:00.001+07:00</published><updated>2011-10-05T06:07:42.903+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-05T06:07:42.903+07:00</app:edited><title>Mengelola Saat di Perjalanan</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Pertanyaan tentang uang saat melakukan perjalanan adalah salah satu  topik yang paling populer di forum situs Travelfish. Pertanyaan yang  selalu muncul adalah bagaimana dan di mana saja tempat untuk menarik  uang di tempat bepergian. Silakan baca terus untuk mengetahui  saran-saran untuk mengatur dana kita pada saat liburan maupun tips  lainnya yang berhubungan dengan uang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__6/inspirationsid-761389118-1317631535.jpg?ymvowvFDSOvLrzHB" border="0"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Cara  terbaik untuk mengatur uang kita saat bepergian di Asia, pertama-tama  kita harus paham akan biaya saat penarikan. Langkah selanjutnya, kita  mulai mencari tahu kartu yang paling baik untuk menarik uang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah  kita memilih kartu yang paling baik untuk bepergian, strategi terbaik  adalah dengan menggunakan kartu ATM sebagai sumber utama dana,  dikombinasikan dengan cek pelawat dan uang tunai sebagai sumber  sekunder.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika kita sudah melakukan penelitian dan mendapatkan  kartu dengan biaya penarikan yang rendah, ini artinya kita telah  memiliki kombinasi paling bagus antara kenyamanan, keselamatan dan  biaya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ada empat pertimbangan utama jika menggunakan uang di luar negeri: biaya komisi, nilai tukar, suku bunga, dan biaya transaksi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Biaya komisi&lt;/strong&gt; &lt;br&gt;Dapat  berupa persentase atau biaya dengan harga tetap. Cek pelawat umumnya  dikenakan biaya 1-3% (bisa sampai 5-6%) jika dibeli di negara asal.  Biaya itu akan ditambah 1-2% ketika kita melakukan penukaran ke dalam  mata uang asing (tapi, kadang-kadang bisa juga diuangkan tanpa kena  biaya). Bisa juga kita tidak dikenakan biaya saat menukarkan uang,  misalnya saat terpampang papan iklan "No commission", tapi kemungkinan  nilai tukarnya rendah atau ada biaya tersembunyi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Valuta asing&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Mata  uang tertentu lebih berharga dibandingkan lainnya. Nilai tukar sangat  bervariasi, hal yang harus selalu diingat adalah belilah mata uang asing  di Asia.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kami pernah menulis pada tahun 2007, satu bank asal  Australia yang sangat populer menawarkan untuk menjual Baht Thailand  pada tingkat 27,9812. Sebuah bank Thailand yang sama populernya bersedia  membeli dollar Australia pada angka 30,61875. Jika kita menukarkan A  $1.000 maka akan ada perbedaan besar, 27.981 baht vs 30.618 - hampir A  $100.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jual-beli valuta asing adalah hal yang penuh "permainan"  jika kita menggunakan kartu kredit atau kartu debit di luar negeri.  Mereka akan memberikan konversi sesuai tingkat antar bank, tetapi bukan  tidak mungkin selanjutnya ada biaya transaksi sampai 3%.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Suku bunga&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Penyedia  jasa keuangan akan mengenakan biaya jika kita&amp;nbsp; meminjam uang tunai atau  berbelanja dengan kartu. Salah satu cara untuk menghindari kewajiban  membayar bunga adalah mengisi kartu kredit dengan dana yang cukup  sebelum berangkat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hal ini sering kali bermanfaat, tapi beberapa  kartu langsung mengenakan bunga begitu kita menarik uang, meskipun kartu  kita masih punya dana lebih. Perhatikan syarat-syarat tersembunyi dalam  kartu kredit!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Biaya transaksi&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Biaya  transaksi biasanya kecil tapi bisa memberatkan. Biasanya biaya transaksi  dalam kisaran $2-5 per transaksi. Di Vietnam hal ini bisa "tidak  main-main" karena penarikan tunggal terbesar dari ATM adalah sekitar  $125 - artinya jika kita ingin $500 secara tunai, kita harus menarik  $125 empat kali, artinya ada biaya transaksi&amp;nbsp; minimal $8. Ini tidak  menjadi masalah di Kamboja yang batas penarikan tunggalnya $ 2000.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__6/inspirationsid-424367667-1317631535.jpg?ymvowvFDbUklsPd5" border="0"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Pro dan kontra&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Tunai&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;Uang  tunai adalah yang paling memudahkan kita. Sangat fleksibel dan kita  tidak perlu menunjukkan paspor jika ingin menukarkan uang atau  menukarkan cek pelawat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tapi, uang tunai juga paling mudah  hilang, sangat berisiko untuk membawa uang dalam jumlah besar. Jika  hilang atau dicuri, artinya benar-benar tak kembali. Ini jelas beda  dengan Cek pelawat yang dapat diganti.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Asia adalah tempat yang  bagus untuk menukarkan uang. Jika memungkinkan, bandingkan dulu nilai  tukar di sejumlah tempat penukaran uang, tapi tentunya tak perlu&amp;nbsp; buang  waktu dan uang demi mondar-mandir melintasi kota untuk menghemat 10  baht.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bank dan penukaran uang biasanya memberikan harga yang jauh  lebih baik dari pada hotel atau bisnis lainnya. Langkah bijaksana  adalah menukar uang di penukar uang berlisensi karena meski kita  mendapat nilai tukar yang tidak terlalu menguntungkan, tapi terhindar  dari penipuan atau diberi uang palsu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pecahan&amp;nbsp; besar biasanya  mendapatkan nilai tukar yang lebih baik di penukaran uang, tetapi tak  ada salahnya menyimpan beberapa pecahan kecil. Cara cerdas lainnya  adalah menyimpan beberapa ratus dollar tunai untuk keadaan darurat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Cek pelawat&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Keuntungan  utama dari cek pelawat adalah dapat diganti jika hilang atau dicuri.  Kelemahannya adalah bahwa sering ada (meskipun tidak selalu) biaya saat  menukarkan cek tersebut. Meskipun demikian, anggap saja ini hal kecil  atau sejenis asuransi dalam perjalanan karena kita dijamin mendapatkan  uang tunai dalam keadaan darurat. Cek pelawat biasanya diterbitkan dalam  dolar AS, tetapi mata uang lainnya juga semakin diterima.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika  membeli cek pelawat, bandingkanlah dulu antara beberapa penyedia dan  biaya-biaya yang mereka kenakan. Jika cek yang ditawarkan bebas biaya  komisi, perhatikan dulu dengan seksama kurs yang ditawarkan. Tanyakan  juga ada-tidaknya biaya saat cek pelawat itu kita jual kembali. Juga,  tanyakan lokasi di tempat tujuan yang menerima penukaran cek pelawat  secara gratis. Belilah cek pelawat untuk nilai besar - minimal $100. Di  bawah itu, kita akan kehilangan terlalu banyak karena membayar  biaya-biaya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menyimpan beberapa ratus dolar dalam bentuk cek  pelawat sebagai cadangan merupakan hal yang cerdas. Jika kita kehilangan  kartu ATM, ada pemadaman listrik, jaringan ATM sementara off-line atau  di tempat terpencil yang tidak menerima ATM, cek pelawat bisa jadi  alternatif.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Kartu kredit dan debet&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Periksa  dengan hati-hati istilah dan syarat-syarat di kartu kita. Periksa dengan  seksama ketentuan transaksi ATM dan biaya konversi mata uang. Pastikan  kartu kita memiliki simbol Cirrus atu Maestro Plus- jika tidak, kita  mungkin tidak dapat menggunakannya di luar negeri.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika kita  menggunakan kartu untuk melakukan penarikan ATM, setiap kali penarikan  lakukanlah dalam jumlah besar. Biaya yang dibebankan tidak akan sebesar  jika kita menarik berulang kali dalam jumlah kecil (asumsinya, Anda  merasa cukup aman dan nyaman membawa uang tunai).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pastikan kita  memiliki kode PIN ATM 4-digit karena kode 6-digit kadang-kadang tidak  berlaku di Asia. Keypad ATM di Asia biasanya tanpa huruf, jadi jika pin  ATM kita menggunakan huruf, pastikan&amp;nbsp; mengetahui angka yang sesuai. Jika  ragu, gunakan tombol ponsel untuk mengetahuinya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Beri tahu bank  kita bahwa nasabahnya sedang&amp;nbsp; bepergian ke luar negeri, hal ini untuk  mencegah akun kita secara tidak sengaja termatikan. Pertimbangkan juga  untuk membawa ATM kedua atau kartu kredit dari rekening lain sebagai  cadangan jika kartu utama hilang atau dicuri. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Usahakan agar  hanya menggunakan mesin ATM di dalam atau di sebelah bank. Jadi, jika  ada masalah dengan kartu, kita bisa meminta bantuan staf bank.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Kartu perjalanan prabayar&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Ini  semacam kartu debit, kita mengisi kartu dengan uang sebelum bepergian  kemudian menggunakannya&amp;nbsp; seperti kartu kredit atau kartu debit.  Contohnya adalah Visa TravelMoney, MasterCard Traveller's Cash cards dan  Post Office Travel Money Card. Tetap berhati-hati terhadap biaya  transaksi seperti pada kartu kredit dan kartu debit.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__6/inspirationsid-193389992-1317631535.jpg?ymvowvFDfLvYWQgu" border="0"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Saran buat negara-negara tertentu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Kamboja&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;Demi  kepraktisan, mata uang di Kamboja adalah dolar AS, dan hampir semua  hotel, restoran, tur dan toko menerima dolar. Akan sangat berguna jika  kita membawa dolar pecahan kecil misalnya setumpuk uang kertas satu  dolar. Uang kembalian dalam jumlah kecil akan diberikan dalam mata uang  lokal, riel, dan akan sangat berguna untuk transaksi kecil.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jangan  pernah menerima uang kertas dolar AS yang robek di Kamboja - bahkan  robek kecil atau lubang akan membuatnya susah laku. Uang kertas baru  pecahan $100 sudah pasti diterima.&lt;br&gt;&lt;br&gt;ATM, misalnya Royal Bank ANZ,  mengeluarkan dolar AS dan tersedia di pusat-pusat wisata utama seperti  Phnom Penh, Siem Reap, Battambang dan Sihanoukville.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Beberapa ATM  juga mengeluarkan mata uang lokal, riel, tetapi biasanya hanya untuk  pemegang rekening lokal. ANZ mengenakan biaya $2 per penarikan yang  menggunakan kartu asing. Baht Thailand juga diterima di beberapa tempat  di Kamboja, tetapi nilai tukar biasanya tidak menguntungkan seperti  dolar.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Laos&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Mata uang resmi di Laos adalah  kip tapi urusan bisnis biasanya menggunakan dolar AS dan baht Thailand.  Uang kembalian bisa berupa kip atau dolar AS, tergantung besar-kecilnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;ATM  dengan akses internasional tersedia di sebagian besar pusat wisata  utama di Laos, tapi setiap penarikan dibatasi dalam jumlah yang tak  besar (700 ribu kip di BCEL atau hingga 1 juta kip di Lao Development  Bank). Artinya, biaya untuk menarik dana menjadi mahal. Lebih baik kita  membawa uang tunai dalam persentase yang lebih tinggi (dollar AS atau  baht Thailand) atau cek pelawat saat bepergian di Laos.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kartu  kredit dan kartu debit sangat berguna di Laos, khususnya pada bisnis  skala besar dan Anda bisa menarik uang tunai di kasir menggunakan  kartu-kart ini. Tapi, ada biaya tambahan 3% pada semua transaksi kredit  dan kartu debit.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Singapura&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Mata uang  Singapura adalah dolar Singapura. Kita dapat dengan mudah melakukan  penarikan tunai dengan ATM atau kartu kredit jika melakukan pembelian  dalam jumlah besar.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Thailand&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Berbagai tempat  hanya menerima Baht Thailand, tapi sebagian toko perhiasan atau penjahit  masih mengenakan tarif dolar AS atau Euro. Thailand memiliki jaringan  ATM yang luas, dengan ATM yang tersedia bahkan di lokasi terpencil. Bank  dan jasa penukaran uang ada di mana-mana. Semua ATM di Thailand menarik  150B sebagai biaya transaksi jika menggunakan kartu asing.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Vietnam&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Dolar  AS cukup mudah digunakan di Vietnam tapi akan lebih menguntungkan kita  jika pembayaran kita lakukan dalam mata uang lokal, dong. Dan untuk  pembelian kecil, Anda diharap untuk membayar dengan dong. ATM tersedia  dengan mudah, meski batas per penarikan adalah 2 juta dong atau cuma  sekitar $125. Harap perhatikan biaya-biaya jasa penarikan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;img src="http://a323.yahoofs.com/ymg/inspirationsid__6/inspirationsid-895276273-1317631535.jpg?ymvowvFDquXetJ6U" border="0"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Saran-saran umum&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Ada beberapa tips lain agar perjalanan Anda lancar.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Uang  kembalian mungkin akan menjadi masalah jika kita bertransaksi di  restoran dan toko-toko kecil, jadi pecahkanlah dulu uang kertas Anda  setiap kali ada kesempatan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tips lainnya adalah membayar dengan  pecahan kecil, misalnya membayar tagihan 280 baht dengan tiga lembar 100  baht. Ini lebih baik daripada menyerahkan uang kertas 500 baht atau  1000 baht, sekaligus mengurangi risiko tidak mendapatkan uang kembalian  secara penuh.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Koin masih digunakan di Thailand dan Singapura, tetapi tidak lagi digunakan di Vietnam, Laos dan Kamboja.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika kita keluar kota, hanya bawa yang diperlukan dan lainnya tinggalkan di brankas di kamar atau safety box yang disediakan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Terakhir,  ingatlah bahwa dong Vietnam, riel Kamboja, dan kip Laos hanya berharga  di dalam negeri masing-masing. Jadi sebelum anda pulang, habiskan uang  itu atau masukkan ke kotak amal.&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-3725642140802611496?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WYKBqOuiJ7pwghTRPt3GKRi8CzI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WYKBqOuiJ7pwghTRPt3GKRi8CzI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WYKBqOuiJ7pwghTRPt3GKRi8CzI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WYKBqOuiJ7pwghTRPt3GKRi8CzI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/q_QtmKBePX8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/3725642140802611496/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=3725642140802611496" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3725642140802611496?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/3725642140802611496?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/q_QtmKBePX8/mengelola-saat-di-perjalanan.html" title="Mengelola Saat di Perjalanan" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/mengelola-saat-di-perjalanan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0AGSHo6eCp7ImA9WhdUFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-6348011370187661923</id><published>2011-10-04T02:22:00.001+07:00</published><updated>2011-10-04T02:22:09.410+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-04T02:22:09.410+07:00</app:edited><title>Tertawa Lepas itu Bikin Sehat lho..</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div class="yiv1360271184mobile-photo"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://4.bp.blogspot.com/-3-8x7tPVKKc/TnG0CatvbcI/AAAAAAAAGkc/etya4zs-0Qw/s1600/%253D%253Futf-8%253FB%253FdGVydGF3YS5qcGc%253D%253F%253D-704887"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-3-8x7tPVKKc/TnG0CatvbcI/AAAAAAAAGkc/etya4zs-0Qw/s320/%253D%253Futf-8%253FB%253FdGVydGF3YS5qcGc%253D%253F%253D-704887" alt="" id="yiv1360271184BLOGGER_PHOTO_ID_5652496960950595010" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Selama  ini Anda mungkin sudah mengetahui bahwa tertawa itu membuat sehat, dan  ternyata para peneliti memang telah membuktikan bahwa tertawa adalah  obat paling mujarab. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Hasil penelitian yang diumumkan, Rabu (14/9) menyebutkan bahwa hanya  dengan menonton tayangan komedi selama 15 menit, rasa sakit kita bisa  berkurang hingga 10 persen. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Studi selama satu dekade yang dilakukan oleh Universitas Oxford di  Inggris menemukan bahwa tertawa lepas bisa menguras energi bahkan  membuat seseorang kelelahan, dan hal ini memicu pelepasan hormon  endofin, yakni hormon yang mengelola rasa sakit dan membuat kita merasa  nyaman. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Tapi hati-hati, jangan tertawa palsu atau tertawa malu-malu karena  hal itu tidak akan berdampak sama seperti ketika kita tertawa lepas. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Salah tayangan komedi yang menjadi alat penelitian ini adalah  tayangan Mr Bean. Sementara kondisi tubuh yang diukur adalah suhu pada  lengan, tekanan darah, dan otot kaki. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Untuk mendemonstrasikan efeknya, para peserta penelitian juga diajak  menonton acara live, yakni di Festival Edinburgh Fringe dan juga di  panggung-panggung drama. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Dengan menggunakan mikropon, tertawa lepas para peserta penilitian  itu direkam. Hasilnya, ketika menonton tayangan komedi, mereka  menghabiskan sepertiga waktu menontonnya untuk tertawa, dan memang rasa  sakit yang mereka alami jauh berkurang. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Kepala peneliti Profesor Robin Dunbar, yang juga Kepala Institut  Antropologi Sosial dan Budaya Universitas Oxford, mengatakan bahwa efek  pelepasan hormon endorfin, menjelaskan betapa pentingnya tertawa lepas  dalam kehidupan sosial kita. &lt;br&gt; &lt;br&gt;"Hanya sedikit penilitian yang dilakukan untuk menjelaskan mengapa  kita perlu tertawa, dan apa pentingnya tertawa dalam kehidupan sosial  kita," kata profesor Dunbar. &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-6348011370187661923?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CFervueuyb9Xve5BtlJ_uhKRutc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CFervueuyb9Xve5BtlJ_uhKRutc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CFervueuyb9Xve5BtlJ_uhKRutc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CFervueuyb9Xve5BtlJ_uhKRutc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/Q01_JvrPtdE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/6348011370187661923/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=6348011370187661923" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6348011370187661923?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/6348011370187661923?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/Q01_JvrPtdE/tertawa-lepas-itu-bikin-sehat-lho.html" title="Tertawa Lepas itu Bikin Sehat lho.." /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-3-8x7tPVKKc/TnG0CatvbcI/AAAAAAAAGkc/etya4zs-0Qw/s72-c/%253D%253Futf-8%253FB%253FdGVydGF3YS5qcGc%253D%253F%253D-704887" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/tertawa-lepas-itu-bikin-sehat-lho.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MFRHY5eSp7ImA9WhdUFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-1390731614059201337</id><published>2011-10-04T02:16:00.001+07:00</published><updated>2011-10-04T02:16:55.821+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-04T02:16:55.821+07:00</app:edited><title>Belajar untuk Menerima Kritik</title><content type="html">&lt;div style="color:#000; background-color:#fff; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div class="yiv1360271184mobile-photo"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://2.bp.blogspot.com/-akBAF5iNYuE/TnG80DZ6n2I/AAAAAAAAGk0/k3zocs_oXe0/s1600/%253D%253Futf-8%253FB%253FS3JpdGlrLmpwZw%253D%253D%253F%253D-751396"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-akBAF5iNYuE/TnG80DZ6n2I/AAAAAAAAGk0/k3zocs_oXe0/s320/%253D%253Futf-8%253FB%253FS3JpdGlrLmpwZw%253D%253D%253F%253D-751396" alt="" id="yiv1360271184BLOGGER_PHOTO_ID_5652506609779908450" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;"Kritik  adalah sesuatu yang&amp;nbsp;dengan mudah dapat Anda hindari dengan tidak  mengatakan apapun, tidak melakukan apapun dan&amp;nbsp;tidak menjadi apapun."&amp;nbsp; -  Aristoteles -&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak selalu mudah untuk menerima kritik - namun kritik  dapat diubah menjadi sebuah kesempatan untuk peningkatan pribadi,  perkembangan emosional, efisiensi waktu, memperbaiki hubungan dan rasa  percaya diri. Saya menyadari kritik tidak selalu diucapkan dengan lembut  dari seseorang yang mencoba untuk membantu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terkadang kita  dengan sekuat tenaga mencoba untuk memperoleh persetujuan semua orang.  Saya terobsesi atas apa yang orang pikirkan tentang saya. Saya melakukan  tindakan spekulatif dan biasanya tidak akurat untuk umpan balik yang  saya terima, sehingga saya terbenam dalam pikiran negatif tentang kritik  dan manfaatnya. Kemudian saya bertanya-tanya&amp;nbsp;— mengapa pendapat orang  lain tentang saya begitu penting?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kita tidak dapat mengendalikan  apa yang akan dikatakan orang lain kepada kita, apakah mereka akan  menyetujui atau menyatakan pendapatnya. Namun kita dapat mengontrol  bagaimana kita menyelaraskan, menyikapi dan belajar dari kritikan, dan  ketika kita melepas kesedihan dan melanjutkan hidup. Itu semua  tergantung pada pola pikir kita!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagi siapa saja yang sulit berurusan dengan kritik, mungkin hal-hal berikut dapat membantu Anda:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengembangan Pribadi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1.  Mencari benih-benih kebenaran dalam kritik mendorong tumbuhnya  kerendahan hati. Tidak mudah untuk melihat kekurangan atau kelemahan  diri sendiri, tetapi Anda hanya bisa maju berkembang jika Anda mau  mencoba.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. Belajar dari kritik memungkinkan Anda untuk meningkat.  Hampir setiap kritik memberi Anda alat untuk lebih efektif menciptakan  masa depan yang Anda bayangkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. Kritik membuka perspektif baru  bagi Anda, dan ide baru yang tadinya mungkin belum pernah terpikirkan  oleh Anda. Setiap kali seseorang menantang Anda, mereka membantu  memperluas pemikiran Anda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;4. Kritik memberikan Anda kesempatan  untuk melatih kemampuan mendengarkan secara aktif. Ini berarti Anda  melawan keinginan untuk menganalisa di kepala Anda, perencanaan  sanggahan Anda dan hanya mempertimbangkan apa yang orang lain katakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;5.  Anda memiliki kesempatan untuk melatih rasa toleran saat Anda  menghadapi kritik keras. Sebagian besar dari kita diliputi stres dan  frustrasi yang tidak sengaja menyesatkan kita berlarut-larut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Manfaat Emosional&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;6.  Kontrol emosi saat dikritik, jangan menunjukkan reaksi emosional saat  dikomentari. Apapun yang&amp;nbsp; dilakukan saat kita dalam kondisi emosi  (melakukan berdasarkan perasaan), biasanya bukan hal yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;7.  Kritik memberikan Anda kesempatan untuk mengembangkan keterampilan  memecahkan masalah, yang tidak selalu mudah ketika Anda merasa sensitif,  mengkritik diri sendiri atau kesal dengan kritik yang Anda terima.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;8.  Menerima kritik yang menyentuh sisi sensitif membantu Anda mengenali  isu yang belum terselesaikan. Mungkin Anda sensitif tentang kecerdasan,  karena Anda menyimpan sesuatu yang dikatakan seseorang tahun yang lalu –  sesuatu yang Anda perlu lepaskan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;9. Menafsirkan umpan balik  orang lain adalah kesempatan untuk berpikir rasional - meskipun  terkadang kedengarannya negatif, kritik sangat berguna.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;10. Kritik  mendorong Anda untuk mengatur naluri dan perasaan Anda. Jika kita  memosisikan diri untuk melihat hal-hal itu terlalu fokus, tidak ada  batas bagi kita untuk terus maju!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hubungan yang Meningkat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;11.  Kritik menyajikan kesempatan untuk memilih perdamaian atas konflik.  Acapkali, ketika dikritik, insting kita melawan, menciptakan drama yang  tidak perlu. Orang-orang di sekitar kita umumnya ingin membantu kita,  bukan menghakimi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;12. Menahan kritik akan membantu Anda mengurangi  sikap membenarkan diri sendiri. Tidak ada yang menutup pikiran&amp;nbsp; anda  selain ego – yang adalah hal buruk bagi pertumbuhan pribadi dan merusak  hubungan Anda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;13. Kritik memberi Anda kesempatan untuk  menjelaskan apa yang berbeda dari pemikiran orang lain. Hubungan yang  didasarkan pada kebutuhan persetujuan mungkin dapat menyulitkan semua  yang terlibat. Hal ini membiarkan orang berpikir apa yang mereka  inginkan - mereka akan tetap melakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;14. Kritik memberi Anda  kesempatan untuk mengajar orang bagaimana untuk memperlakukan Anda.  Jika seseorang melakukannya dengan buruk, Anda dapat menggunakan  kesempatan ini untuk memberitahu mereka, "Saya pikir ada beberapa yang  benar, tapi saya akan menerima kritik dengan lebih baik jika Anda tidak  meninggikan suara Anda."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;15. Bagian tertentu dari kritik mengajar Anda untuk tidak memusingkan hal-hal kecil. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Efisiensi Waktu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;16.  Semakin banyak waktu yang Anda habiskan tentang apa yang dikatakan  seseorang, semakin sedikit waktu Anda untuk melakukan sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;17.  Jika Anda memperbaiki cara Anda melakukan sesuatu setelah menerima  kritik, ini akan menghemat waktu dan energi di masa depan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;18.  Membangun kemampuan untuk melepaskan perasaan dan pikiran Anda tentang  dikritik dapat membantu Anda melepaskan hal lain dari kehidupan Anda.  Melepaskan kekhawatiran, penyesalan, tekanan, ketakutan dan bahkan  perasaan positif membantu&amp;nbsp; menemukan akar masalah Anda sendiri pada saat  itu. Perasaan menerima adalah yang paling efisien dalam penggunaan  waktu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;19. Kritik memperkuat ruang gerak pribadi. Luangkan 10  menit untuk memproses emosi Anda, mungkin dengan menulis jurnal, akan  memastikan Anda merespon dengan baik. Merespon dengan baik akan mencegah  sebuah komentar kritis menguasai hari Anda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;20. Dalam beberapa  kasus, kritik mengajarkan Anda bagaimana untuk berinteraksi dengan  seseorang – misalnya jika mereka negatif atau bermusuhan. Mengetahui hal  ini dapat menghemat banyak waktu dan stres di masa depan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Percaya Diri&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;21.  Belajar untuk menerima kritik semu - umpan balik yang tidak memiliki  nilai membangun - tidak kehilangan kepercayaan diri adalah suatu  keharusan jika Anda ingin melakukan hal-hal besar dalam hidup. Anda  menerima pekerjaan lebih besar, kritik juga akan lebih besar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;22.  Ketika seseorang mengkritik Anda, itu menampakan kelalaian Anda sendiri.  Jika Anda diam-diam setuju bahwa Anda malas, Anda telah mencari hingga  ke akarnya. Mengapa Anda percaya itu - dan apa yang dapat Anda lakukan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;23.  Belajar untuk tetap melangkah ke depan setelah kritik, bahkan jika Anda  tidak merasa percaya diri, memastikan tidak ada komentar tersembunyi  mencegah Anda merebut impian Anda. Anggap saja sebagai memisahkan gandum  dari sekam, mengambil apa yang berguna, meninggalkan sisanya dan terus  maju!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;24. Ketika orang lain menilai Anda kasar, Anda memiliki  kesempatan untuk melihat diri Anda. Penelitian menunjukkan bahwa  proporsi&amp;nbsp; pikiran negatif kita bisa&amp;nbsp; mencapai 80 persen. Pergunakan  kesempatan ini untuk melihat dan mengubah proses berpikir Anda sehingga  Anda tidak menguras dan menyabotase diri sendiri!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;25. Menerima  umpan balik dengan baik akan mengingatkan Anda tidak apa-apa memiliki  kekurangan – ketidaksempurnaan adalah bagian dari menjadi manusia. Jika  Anda dapat mengakui kelemahan dan berusaha mengatasinya tanpa  merendahkan diri sendiri, Anda tidak hanya mengalami dari sekedar rasa  bahagia, kedamaian, kenikmatan, dan kesuksesan. &lt;/div&gt;&lt;br&gt;Tidak ada dari  kita yang sempurna dan orang lain mungkin melihat ketidaksempurnaan kita  dari waktu ke waktu. Kita dapat mengamatinya lewat orang-orang di  sekeliling kita.&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-1390731614059201337?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1b_v2kNfn4SHC1Z_TC2GK_zYZnQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1b_v2kNfn4SHC1Z_TC2GK_zYZnQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1b_v2kNfn4SHC1Z_TC2GK_zYZnQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1b_v2kNfn4SHC1Z_TC2GK_zYZnQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/VjrEpB_-hak" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/1390731614059201337/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=1390731614059201337" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1390731614059201337?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1390731614059201337?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/VjrEpB_-hak/belajar-untuk-menerima-kritik.html" title="Belajar untuk Menerima Kritik" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-akBAF5iNYuE/TnG80DZ6n2I/AAAAAAAAGk0/k3zocs_oXe0/s72-c/%253D%253Futf-8%253FB%253FS3JpdGlrLmpwZw%253D%253D%253F%253D-751396" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/belajar-untuk-menerima-kritik.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkICQHk6fCp7ImA9WhdUFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-1836522328261918915</id><published>2011-10-03T07:09:00.001+07:00</published><updated>2011-10-03T07:09:21.714+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-03T07:09:21.714+07:00</app:edited><title>The Great Fed Miscalculation</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Low interest rates are an effect – not a cause – of prosperity...&lt;br&gt;&lt;br&gt;LAST WEEK was the week that the Pollyanna's prayers weren't answered. And Pangloss's pleas went resolutely unheard, writes Sean Corrigan for the Cobden Centre.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Despite all the unsubtle prompting from the Bulge Bracket and all the wishful thinking from the rest of the sell side, the Bernanke Fed signally failed to live up to its billing as Deus ex Machina, with its much-vaunted 'Operation Twist' proving a severe disappointment.&lt;br&gt;&lt;br&gt;It should not really have come as much of a surprise to readers of this publication, for we have long warned that, such is the political revulsion against bailing out the plutocracy at the expense of the purchasing power of the masses, the Fed had too little political cover to enact anything more dramatic — that, as we  have put it several times before, the 'Bernanke Put' is likely to lie further out of the money than Wall St. might hope. And so, indeed, it proved.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Yes, by his narrowly ingenious lights, Blackhawk Ben tried to achieve the maximum impact on long yields by spreading the buy program further out the curve than most of the commentariat had expected.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Yes, again, he may have been more crafty than has yet been recognized in announcing that MBS and Agency redemptions would be re-invested in more mortgage product since this provides the Fed with a mechanism whereby it can cushion the blow if the Administration ever does put his mass refinance proposals into operation at some future remove.&lt;br&gt;&lt;br&gt;But, what he could not do was offer a route to more, naked monetization of debt and so, the price exacted to play such games as he could was a high one.&lt;br&gt;&lt;br&gt;The sense that the Uberdoves have temporarily run out of bullets (or that dissent on the FOMC  will not allow these to be discharged) was compounded by the fact that, in order to justify even this latest chicanery, the accompanying declaration had to offer a post hoc endorsement to every stock bear and double-dipper out there, by painting the bleakest economic picture possible.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Even without that, this fixation with reducing long rates is a futile one. No less than 320 years ago, Sir Dudley North already knew better than Ben Bernanke that to assume that low interest rates are a cause, rather than an effect, of prosperity is to put the cart very much before the horse.&lt;br&gt;&lt;br&gt;In his 1691 'Discourses Upon Trade', he argued that:-&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; These things consider'd, it will be found, that as plenty makes cheapness in other things, as Corn, Wool, etc. when they come to Market in greater Quantities than there are Buyers to deal for, the Price will fall; so if there be more Lenders than Borrowers, Interest will also fall; wherefore it is  not low Interest makes Trade, but Trade increasing, the Stock of the Nation makes Interest low.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; It is said, that in Holland Interest is lower than in England. I answer, It is; because their Stock is greater than ours. I cannot hear that they ever made a law to restrain [it]…&lt;br&gt;&lt;br&gt;What our good Fed Chairman also seems unable to grasp is that businessmen do not work simply off their direct arithmetical estimate of the negative cash flow consequences of a hypothetical borrowing, but they must also be assured of the positive cash flow prospects of whatever it is that they are borrowing to achieve, i.e., the hurdle rate they apply is usually the decisive factor and this hurdle always contains a sizeable, subjective — and eminently variable — risk factor.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Thus, it will be to little avail if Bernanke reduces the going bond yield by 50bps if, in doing it, he is so adding to the general uncertainty that hurdle rates go up by  500!!&lt;br&gt;&lt;br&gt;It is interesting to note that, in the ten quarters since the crisis broke out, US non-financial corporates have switched from being net takers of $1.2 trillion in funds, to net lenders of a near equal-and-opposite $1.1 trillion and that, more to the point, they have devoted almost 40% of that hoard to piling up cash and near-cash holdings — a sum not far short of the net amount devoted to making direct investments abroad, their other primary outlet in this period.&lt;br&gt;&lt;br&gt;This has left them with a modern era high proportion of 11.5% of net worth and 6.0% of total assets parked in quasi-cash instruments — a testimony to the paralyzing effect of the regime uncertainty imposed by the likes of the Fed, a degree of unease which has mounted even in the face of the record, nominal after-tax profits they have simultaneously secured for themselves.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Meanwhile, the empty round continues wherein the Fed tries to find ever more convoluted  ways to help the government spend new money into existence and that same government borrows ever more from foreign export surplus nations so that it can hand out record amounts of subsidies and transfer payments. These are what purchases those same exports while the whole helps maintain (and inflate) domestic corporate revenues.&lt;br&gt;&lt;br&gt;That extended and expanded dole next helps obviate the need for the Captains of Industry to employ anyone so that the hirees may earn the means with which to buy their wares, while also increasing the comparative disutility of labor and so perpetuating the scourge of unemployment (check out the jobless duration time series in comparison with its behavior in previous recessions).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Thus, despite the elevated profits, everyone becomes so concerned about the sustainability of all this market suppression over the longer horizon and each is so frightened of sudden, arbitrary changes to currency parities, import duties,  energy taxes, etc., by way of 'fixes' for the ongoing malaise, that they pile up cash with banks who are themselves still so mutually distrustful that THEY can think of nothing better to do with the money they receive than park it with the local central bank, whence first it emanated.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Having tried more and more of the same, to the only end of digging us all deeper and deeper into the same hole, you might think it was about time we pretended that Hoover had retired harmlessly while still Commerce Secretary and that Roosevelt had stuck to swanning about on his yacht, indolently squandering the sinecures he acquired from his numerous family connections. In this more rational alternative universe, we could then assume that we all go back to letting recessions blow themselves out by themselves, just like we used to until the end of the fateful third decade of the 20th century.&lt;br&gt;&lt;br&gt;In the spirit of such counterfactual imagining, let us just suppose  that, having exhausted all the other possibilities, we summon up some vestige of economic clarity and strike some exceedingly rare vein of political courage and proceed roughly as follows.&lt;br&gt;&lt;br&gt;First, we allow for bankruptcy to proceed as swiftly as possible for all entities, individual, corporate, or sovereign who can show sufficient legal proof of their inability to meet their existing obligations. As much debt as possible is then commuted into equity—including, in the sovereign case, the privatization of any and all identifiable state assets and the transfer of the relevant title deeds to their creditors.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Any lender or stockholder brought low by this cleansing should be similarly wrapped up and its residual estate disposed of forthwith. Any bank which requires it should be then be privately recapitalized, but only after forcing all financial entities into a mutual bonfire of the vanity of their $60 trillion-odd of on – and $550  trillion-plus of off-balance sheet claims&lt;br&gt;on one another in a grand ripping up and netting off of the inhibiting legacy of their long years of undercapitalized, state-sanctioned, casino capitalism.&lt;br&gt;&lt;br&gt;This act of mutually assured reconstruction will have the salutary effect of both cleaning the Augean stables of mark-to-myth and reducing total assets to a level where the required amount of new equity is minimized to the greatest degree possible&lt;br&gt;&lt;br&gt;Any bank which cannot survive this should also be summarily put out of its misery. If it is absolutely necessary to do so, this triage may be effected via the temporary agency of a governmental 'bad bank' and — accepting the unfortunate fait accompli of an unstable fractional reserve system — to the accompaniment of a time-limited guarantee of retail and SME deposits and the payments system.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Will there be redundancies? Yes. Will there be hardship? Yes. Will many find that they are not as  rich as they once thought or that their skills and experience are not so readily marketable? Yes, again. Whether there will be more such losses than we are suffering at present, whether they will take longer to make good, or whether the hardship will be distributed any less equitably under this more direct approach is, however, a very moot point indeed.&lt;br&gt;&lt;br&gt;In trying to decide this, what we must not lose sight of is the fact that none of this will diminish the material patrimony or the sum of individual efforts which form the actual machinery of our subsistence, occasional luxury, and secular self-betterment. All it will do is reprice its components in line with a fairer estimate of their ability to generate&lt;br&gt;income. It will inevitably reallocate it to presumably more competent hands, or at least into the control of those who have proved their superior stewardship of the assets heretofore entrusted to them, men and women whom we can therefore  expect will do just as good a job of maximizing the value to be extracted from whatever its is they also now acquire as the reward of their foresight, thrift, and entrepreneurship.&lt;br&gt;&lt;br&gt;If, amid the less forgiving financial scrutiny of this brave new reality, there is a service which can no longer be provided by the lazy deceit of unfunded state spending, there will also be no impediment to any private enterprise from attempting to make an honest living in providing it to those who retain a discretionary control over their pocket books. If, in fact,&lt;br&gt;they do turn out not to want it, its provision can be regarded as nothing other than wasteful — no matter what the legal status of the provider — and the resources devoted to it should be redeployed elsewhere at once.&lt;br&gt;&lt;br&gt;If some sprawling, Ozymandian works are revealed as the easy-money follies we already suspect them to be, well, they can always be parceled out to fulfill other purposes; broken  up and recycled as scrap; or turned into leisure facilities or museum pieces with a radically different price tag to reflect the real measure of their worth, but also with a bracing absence of a dead weight of unserviceable debt hanging about both them and all those who might otherwise have been expropriated to maintain the pretense that they were actually useful.&lt;br&gt;&lt;br&gt;A steep, overt recession we would surely have, in place of the insidious, covert erosion of our wealth which we have been suffering these past four years and more.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Many, many things would fall in price, especially where those prices have been borne artificially upward by an infusion of irredeemable Ponzi credit. But, assuming that the core money supply is not allowed to contract — that is, assuming there is no deliberate deflation — and that the relentless writing off of unserviceable liabilities and the unsentimental renegotiation of contracts take their course unhindered,  each fall in price would improve some potential buyer's real income until a floor was found, a floor which could not but correspond more closely to each item's genuine value in a world now dedicated to honest accounting, sound money, and minimal government.&lt;br&gt;&lt;br&gt;To expect all of this to come to pass in today's world is, frankly, unrealistic, but while the stalwarts of the Bundesbank continue to resist the evil allure of Bernankism and so provide a standard around which north European politicians can rally their consciences alongside their common sense, it just might be that the Old Continent achieves rather more of this healing than anyone currently credits.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Then, if the Fed would only spend a little less time listening to the wheedling of its pack of welfare brats on Wall St., devote less time wallowing up to its ivory-towered armpits in the deranged divinations of DSGE theory, and a great deal more time paying heed to what actual wealth  creating businesses are saying and doing, who knows? — we might even spark a genuine recovery one of these fine days!&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-1836522328261918915?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oWoMJBxQUFBK0LnYZznK0uXqi9Y/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oWoMJBxQUFBK0LnYZznK0uXqi9Y/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oWoMJBxQUFBK0LnYZznK0uXqi9Y/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oWoMJBxQUFBK0LnYZznK0uXqi9Y/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/FsLoBLd2tew" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/1836522328261918915/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=1836522328261918915" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1836522328261918915?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1836522328261918915?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/FsLoBLd2tew/great-fed-miscalculation.html" title="The Great Fed Miscalculation" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/great-fed-miscalculation.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkAGR3w_eyp7ImA9WhdUFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-8761591388869057348</id><published>2011-10-03T06:38:00.001+07:00</published><updated>2011-10-03T06:38:46.243+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-03T06:38:46.243+07:00</app:edited><title>Kolonialisme Di Sektor Pertambangan</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Pada saat revolusi Agustus masih berkobar, rakyat Indonesia berhasil merebut sejumlah perusahaan milik Belanda, termasuk perusahaan pertambangan. Di ladang-ladang minyak, muncul perusahaan yang diorganisasikan oleh pejuang republik, yang sering menyebut dirinya "laskar minyak".&lt;br&gt; &lt;br&gt; Itulah cikal-bakal berdirinya Perusahaan Minyak Indonesia (Permiri) di Sumatera Selatan, Perusahaan Minyak Negara Republik Indonesia (PMNRI) di Sumatera Utara, dan Perusahaan Tambang Minyak Nasional (PTMN) di Jawa Tengah.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Itu hanya secuil kisah tentang bagaimana kehendak revolusi agustus, juga semangat seluruh rakyat Indonesia, berusaha mengakhiri praktek kolonialisme di lapangan ekonomi. Meskipun semangat itu menemui banyak kendala, bahkan perusahaan yang sudah direbut berakhir macet, tetapi ada hal yang tak dapat dibantah: rakyat tak menghendaki kolonialisme merampok kekayaan alam kita.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tetapi semangat itu benar-benar berhenti pada tahun 1967. Saat itu,Soeharto, setelah membuat perjanjian khusus dengan para kolonialis di Jenewa, segera membuka pintu bagi modal asing di berbagai sektor ekonomi di dalam negeri. Salah satunya kehadiran PT. Freeport di Papua.&lt;br&gt; &lt;br&gt; PT. Freeport melakukan penambangan di dua kawasan, yaitu tambang Ertsberg (dari 1967 hingga 1988) dan tambang Grasberg (sejak 1988). Konon, sejak tahun 1968 hingga sekarang pertambangan itu telah mengasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Kalau diuangkan dalam bentuk rupiah: taruhlah harga emas Rp300.000/gram, maka&lt;br&gt; 724.700.000.000.000 gram x Rp300.000= Rp 217.410.000.000.000.000.000 atau Rp217.410 triliun.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Apakah Indonesia mendapat untung? Tidak. Menurut Surjono H. Sutjahjo, dari Fakultas Pertanian IPB, prosentase bagi hasil antara pihak Indonesia dan pihak PT. Freeport sangat tidak adil: Indonesia mendapat 1% dan Freeport mendapatkan 99%.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Rejeki nomplok Freeport belum berakhir di situ. Ketika emas dan tembaga di kawasan itu mulai menipis, tetapi di bawahnya, tepatnya di kedalaman 400 meter, ditemukan kandungan uranium. Uranium punya harga seratus kali lebih mahal dari emas.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Nasib buntung juga dirasakan Indonesia saat sejumlah ladang minyak dikuasai oleh perusahaan Shell (Belanda). Pada tahun 2005, misalnya, pendapatan Shell di Indonesia mencapai US$ 178 miliar (Rp 1.600 triliun), sementara Pertamina hanya mendapat untung sebesar Rp 322 triliun. Keuntungan Shell itu bahkan melebihi anggaran APBN Indonesia&lt;br&gt; pada saat itu yang berjumlah Rp 463,3 triliun (kalau tidak salah).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tetapi bukan cuma penerimaan negara yang cekak. Terdapat puluhan perusahaan-perusahaan asing yang menunggak pajak, dan itu dilakukan selama lima kali pergantian Menteri Keuangan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Perlu kami tambahkan pula, pekerja Indonesia di perusahaan-perusahaan asing terkadang tidak mendapat perlakuan yang wajar. Mereka sering mendapat perlakuan diskriminatif, sehingga upah atau kesejahteraan mereka lebih murah ketimbang pekerja asing.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Ada benarnya apa yang pernah dikatakan Bung Karno 81 tahun silam, tepatnya ketika menyampaikan pidato pembelaan di hadapan pengadilan kolonial, bahwa kolonialisme dan imperialisme hanya butuh empat hal: bahan baku, pasar untuk barang-barang mereka, tempat penanaman modal, dan tenaga kerja murah.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Tetapi, pada tanggal 1 Juni 2011 lalu, saat peringatan lahirnya Pancasila, Presiden SBY sudah mengeluarkan janji mahal: renegosiasi semua kontrak pertambangan yang merugikan bangsa Indonesia.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Kita belum tahu seperti apa janji itu dijalankan. Kita juga belum tahu apakah pemerintah sudah membentuk panitia atau tim kerja khusus untuk urusan itu. Bahkan, kita tidak pernah dengar seperti apa kemajuan rencana itu, dan perusahaan mana saja yang setuju dan tidak setuju dengan renegosiasi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Akan tetapi, dalam keyakinan kami, sepanjang proses renegosiasi ini tidak melibatkan partisipasi rakyat, maka isu renegosiasi hanya akan menjadi "pintu baru" untuk kongkalikong antara pemerintah Indonesia dan perusahaan asing. Sebab  kami tahu betul watak dan mental pemerintah Indonesia yang sangat inlander itu.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Padahal, semua itu tidak perlu terjadi jikalau saja pemerintah setia dan mau menjalankan konstitusi dengan benar, khususnya pasal 33 UUD 1945.&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-8761591388869057348?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/32WHawc9q6jnnT0lOo0BynZlaDk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/32WHawc9q6jnnT0lOo0BynZlaDk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/32WHawc9q6jnnT0lOo0BynZlaDk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/32WHawc9q6jnnT0lOo0BynZlaDk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/NJnmhemJ7ko" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/8761591388869057348/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=8761591388869057348" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8761591388869057348?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8761591388869057348?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/NJnmhemJ7ko/kolonialisme-di-sektor-pertambangan.html" title="Kolonialisme Di Sektor Pertambangan" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/kolonialisme-di-sektor-pertambangan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQGQXY6eip7ImA9WhdUFUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-8311331463934708802</id><published>2011-10-03T06:31:00.000+07:00</published><updated>2011-10-03T06:32:00.812+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-03T06:32:00.812+07:00</app:edited><title>Fenomena Sosial Aceh 2010-2012</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;Masyarakat Aceh saat ini sedang mengalami proses sakit sosial yang amat parah.  Sakit sosial ini tentu saja bukan diobati dengan obat yang bisa sembuh  dalam satu atau dua minggu. Sakit sosial ini disebabkan karena dua hal  yaitu adanya proses demoralisasi dan destabilisasi. Demoralisasi ini  adalah proses mencabut aspek dan nilai-nilai dalam masyarakat, yang  dilakukan secara tanpa sadar selama beberapa tahun terakhir. Tentu saja  proses ini telah berhasil mengikis fondasi kehidupan rakyat Aceh.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Pertama yang dikikis adalah nilai-nilai adat istiadat, dari yang  bersifat hakikat ke simbolik semata. Makna dan substansi nilai-nilai  digantikan secara sistematis melalui proses internalisasi nilai-nilai  budaya yang sesungguhnya dibenci rakyat Aceh itu sendiri. Sekarang kita  membela sesuatu yang kita tidak sukai, tetapi kita jadikan sebagai  pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Proses internalisasi budaya dari  luar melalui non-adat istiadat adalah bentuk ketidakramahan dalam  berpikir sebagai orang Aceh.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Mengamalkan apa yang tidak sukai merupakan suatu kewajiban dalam membina  peradaban Aceh saat ini. Apa yang disukai baik oleh pikiran dan  perasaan menjadi sesuatu yang amat mahal sekali diamalkan. Hal tersebut  boleh jadi tidak ada lagi standar moral ketika proses demoralisasi  terjadi dalam masyarakat. Tingkat pengetahuan masyarakat, bukan lagi  diturunkan dari keluarga dan para urafa, melainkan dipaksakan untuk  menilai sendiri apa yang baik dan buruk.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Akibat tidak standar moral, orang baik dan jahat tidak jauh berbeda air  muka dan perangai kehidupannya. Terkadang orang senyum untuk menutup  kejahatan, sementara tidak sedikit yang berbuat jahat dengan senyuman.  Pola ini pada ujungnya mengakibatkan masyarakat hilang kontrol. Inilah  kekosongan yang diisi oleh standar moral atau perilaku yang tidak baik.  Masyarakat mengukur sesuatu bukan karena pengetahuan, tetapi apa yang  menjadi penerimaan dari standar moral dari luar nilai-nilai  kehidupannya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Ketika proses demoralisasi dan tidak ada standar ideologi, maka ideologi  lain akan masuk ke dalam pikiran masyarakat. Karena mereka tidak cukup  pengetahuan untuk memahami fenomena sosial, propaganda atau gagasan  untuk menukar ideologi terjadi secara sistematik. Ketika perubahan ini  terjadi, maka masyarakat menjadi gamang. Ini sama dengan perilaku habis  azan magrib di TV swasta nasional, lalu muncul iklan dan acara yang  tidak mengajak orang untuk shalat. Artinya, orang membaca doa, tetapi  mata harus menikmati apa yang dibenci oleh doa itu sendiri.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Adapun kedua yang terjadi adalah proses destabilisasi yaitu mencari  sekuat tenaga untuk menciptakan proses ketidakamanan di Aceh. Proses ini  sesungguhnya sedang dilakukan melalui adu domba. Dulu musuh bersama  rakyat Aceh, ketika dipropagandakan oleh GAM adalah Jawa. Saat itu,  ketika sudah tidak ada musuh bersama, maka proses destabilitasi  dilakukan dengan saling adu kekuatan di antara sesama orang Aceh  sendiri.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Saat tidak ada musuh bersama, maka siapa pun yang paling dekat ketika  berjuang boleh jadi saat ini menjadi musuh yang paling berbahaya. Proses  ini sebenarnya sangat wajar, di mana beberapa negara pernah  mengalaminya. Ini dikarenakan, pemerintah tidak mementingkan teori dan  pandangan ilmuwan dalam merekayasa mesin sosial atau fenomena sosial.  Sehingga ayunan pemerintah selalu bergoyang dan seolah harus bermusuhan  antara satu sama lain. Kalau tidak berdebat dan saling menjegal adalah  sesuatu tidak begitu indah dipandang mata. Dengan kata lain, pemerintah  gagal dalam menciptakan sebuah rekayasa sosial masyarakat Aceh yang  bertamaddun.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sekarang, kedua proses ini sebenarnya sudah muncul dalam ilmu  propaganda, ketika ingin mengubah satu struktur masyarakat untuk menuju  kehancuran secara sistemik. Dulu, rakyat Aceh menelan mentah-mentah  propaganda anti-Jawa, anti-Indonesia, dan anti-Jakarta, sehingga rakyat  kecil dan besar rela korban perasaan dan angkat senjata untuk mengusir  Jawa dari Aceh. Setelah damai, propaganda tersebut hilang, muncul  propaganda lain yang ternyata lebih parah dari anti-Jawa. Yaitu  meluluhlantakkan struktur dan fondasi kehidupan rakyat secara  sistematis. Agama diformalkan, tetapi budaya beragama dihilangkan.  Lembaga adat ditumbuhkan, tetapi pengetahuan tentang manfaat beradat  diabaikan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Alhasil, ujung dari proses ini adalah menciptakan ketidakstablisan atau  ketidakamanan di Aceh. Proses normalisasi melalui MoU dipandang tidak  begitu indah, karenanya perlu usaha untuk menciptakan krisis. Uniknya,  krisis yang muncul berasal dari orang Aceh sendiri. Sehingga fenomena  bahasa kekerasan menjadi potret kehidupan baru rakyat Aceh. Marah tidak  dikasih proyek, marah ketika disentil dalam ceramah agama, legislatif  dan eksekutif saling jegal, dan marah ketika tidak bisa memarahi orang  lain merupakan budaya baru dalam bahasa kekerasan di Aceh. Kalau tidak  marah seolah-olah hilang jatidiri ke-Aceh-annya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Akibatnya, pola tasamuh (toleransi) dan meusyedara sudah tidak begitu  penting dalam masyarakat. Karena tidak ada konsep untuk merekayasa  sebuah masyarakat yang bertamaddun dan bermartabat, rakyat kemudian  menciptakan sendiri budaya-budaya untuk hanya menguntungkan diri  sendiri. Paradigma negatif tersebut sebenarnya sudah terjadi dalam  sepuluh tahun terakhir, karena pemerintah Aceh tidak memiliki konsep  secara subtantif. Konsep yang dimaksud adalah mengembangkan daya pikir  untuk kemajuan, tidak hanya pada pembangunan saja, tetapi juga tingkat  kecerdasan dan kemampuan rakyat dalam mempertahankan proses demoralisasi  di atas.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Sekadar perbandingan, proses pembangunan kecerdasan rakyat dilakukan  melalui budaya-budaya yang diproduksi oleh para endatu. Karena budaya  tersebut tidak diarahkan untuk menghancurkan sendi kehidupan rakyat,  maka ketika unsur-unsur budaya ini dibawa sebagai alat perjuangan, yang  terjadi adalah keinginan untuk mengamankan diri sendiri, bukan demi kaum  atau masyarakat Aceh secara keseluruhan. Di Aceh, ilmuwan dan ulama  sangat banyak sekali, namun mereka belum dianggap penting untuk  memroduksi pemikiran demi ke-Aceh-an.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam sejarah gerakan sosial, tokoh-tokoh ilmuwan yang menggerakkan  mesin atau rekayasa sosial adalah mereka yang merasakan kaum atau  etniknya tertindas. Pertanyaannya, apakah saat ini Aceh sedang  tertindas? Kalau iya, siapa yang paling betanggungjawab dalam wujud  ketertindasan tersebut? Jawabannya adalah rakyat Aceh sudah lama  tertindas, namun abai dalam menciptakan mimpi untuk masa depan. Sehingga  mimpi yang ada hanya untuk mengamankan diri dan keluarga, tanpa  memikirkan etnik Aceh secara keseluruhan.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Artikel ini hanya berupaya mencari penyebab kecil dari sakit sosial yang  dialami rakyat Aceh. Tentu saja sakit sosial obatnya bukanlah minum  pil, melainkan memikirkan penyebab dan jalan keluar dari kemelut ini.  Jalan keluar bukanlah selalu menadah tangan pada asing atau  Jakarta--jika sudah tidak sanggup berdamai secara internal-- tetapi  mencari energi dan spirit positif untuk mengatakan, bahwa kita sebagai  sebuah etnik dan bangsa, harus mampu menyelesaikan masalah sendiri,  dengan mengedepankan kepentingan warisan endatu, ketimbang ambisi  pribadi untuk jangka pendek.&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;Kamaruzzaman Bustamam-AhmadOleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad&lt;br&gt;* Penulis adalah kontributor buku Kearifan Lokal di Laut Aceh. &lt;br&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://aceh.tribunnews.com/2011/09/15/masyarakat-sakit"&gt;http://aceh.tribunnews.com/2011/09/15/masyarakat-sakit&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani (Ed)&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-8311331463934708802?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nTvUfnwoiwNcLVDAZZAeGv_gI34/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nTvUfnwoiwNcLVDAZZAeGv_gI34/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nTvUfnwoiwNcLVDAZZAeGv_gI34/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nTvUfnwoiwNcLVDAZZAeGv_gI34/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/s2__5kn2S7o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/8311331463934708802/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=8311331463934708802" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8311331463934708802?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8311331463934708802?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/s2__5kn2S7o/fenomena-sosial-aceh-2010-2012.html" title="Fenomena Sosial Aceh 2010-2012" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/fenomena-sosial-aceh-2010-2012.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A04HR346eyp7ImA9WhdUFU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-8735980452406167417</id><published>2011-10-02T14:18:00.001+07:00</published><updated>2011-10-02T14:18:56.013+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-02T14:18:56.013+07:00</app:edited><title>Ready for If Money/ US $ Dies?</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;The Greater Depression is on, says Doug Casey. Next up, a true US Dollar crisis...&lt;br&gt;&lt;br&gt;SHOULD DOLLAR-DUMPING turn from trickle to flood, watch out. Exploding prices – aka exorbitant inflation – will compound the problems we saw in 2007-2009. Catastrophe will come when everybody realizes that the Dollar is an "IOU nothing".&lt;br&gt;&lt;br&gt;That's the big picture according to Casey Research chairman Doug Casey. An optimist at heart, however, Doug Casey identifies in this interview with The Gold Report some reasons to be hopeful...&lt;br&gt;&lt;br&gt;The Gold Report: Are the US government's debt, plus the money creation since the financial crisis began, really explosive circumstances that will bring catastrophic results? Or will it just result in a huge, but manageable, hangover?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: Both, but in sequence. One thing that's for sure is  that although the epicenter of this crisis will be the US, it's going to have truly worldwide effects. The US Dollar is the de jure national currency of at least three other countries, and the de facto national currency of about 50 others. The main US export for many years has been paper Dollars; in&lt;br&gt;exchange, the nice foreigners send us Mercedes cars, Sony electronics, cocaine, coffee – and about everything you see on Walmart shelves. It has been a one-way street for several decades, a free ride – but the party's over.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Nobody knows the numbers for sure, but foreign central banks, and individuals outside the US, own US Dollars to the tune of something like $6 or $7 trillion. Especially during the recent crisis, the Fed created trillions more Dollars to bail out the big financial institutions. At some point, foreign Dollar holders will start dumping them; they are starting to realize this is like a game of Old Maid, with the Dollar being the  Old Maid card. I don't know what will set it off, but the markets are already very nervous about it. This nervousness is demonstrated in gold having hit $1,900 an ounce, copper at all-time highs, oil at $100 a barrel – the boom in commodity prices.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Some countries are already trying to get out of Dollars, but it could become a panic if the selling goes from a trickle to a flood. So, yes, it's a time bomb waiting to go off, or maybe a landmine waiting to be stepped on. If atheatre catches fire and one person runs out, soon everybody rushes toward the door and they all get trampled. It's a very serious situation.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: If panic erupts on the US Dollar, would products manufactured in the US become super-cheap or super-expensive?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: They would become super-cheap. Everybody says that devaluing the Dollar will stimulate US industry because the products will become cheaper and foreigners will buy them. This is a huge canard  everybody repeats and nobody thinks about. Yes, it is true for a while, but if devaluation were the key to prosperity, Zimbabwe should be the most prosperous country in the world as it has already collapsed its currency.&lt;br&gt;&lt;br&gt;A strong currency is essential for a strong economy. Sure, a strong currency can hurt exporters for a while. But, a strong currency encourages manufacturers to invest in technology, and become more efficient. It rewards savings and results in the growth of capital that's critical for prosperity. A strong currency allows businessmen to buy foreign companies and technologies at bargain prices. It results in a high standard of living for the country, and yields social stability as a bonus. The idea that decreasing the value of currency to stimulate exports is a short-lived, stupid and counterproductive solution to the problem. People seem to forget that while the German currency was rising about sixfold from its level of 1971, and  the Japanese Yen about fourfold, those countries became the world's greatest export economies. It didn't happen despite a strong currency, but in large measure because of it.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Given that the US is the world's biggest consuming nation, wouldn't fleeing the Dollar create a big consumer vacuum in the international community? Doesn't the rest of the world want to keep up the high level of exports to these US consumers?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: That's exactly why the US is in such trouble; it's idiotically focused on consumption, while only production can create prosperity. The world doesn't need to stimulate consumption. This is another canard, because everybody has an infinite desire for goods and services. I know for myself, I'd like not just a car, but 10 Ferraris, a couple of Gulfstreams and 10 houses around the world. So, by myself, I have an infinite desire for goods and services. Multiply that by 7 billion other people. The only way to gratify  those desires is by producing enough to trade with other people to give you what you want. When so-called "economists" think the problem is that we don't have enough consumption, that shows that the profession itself is bankrupt. It's actually quite embarrassing.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: But other countries currently produce enough of what the US wants. With US Dollars, that trade won't look good on their side eventually.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: The problem is the US doesn't produce enough in return. The US has been lucky to have a currency that has, so far, been accepted by everybody. But when everybody realizes that the Dollar is an "IOU nothing" on the part of a bankrupt government and a society that doesn't really produce anything anymore, it's going to create a worldwide catastrophe. Those $7 trillion held by foreigners are going to become instant hot potatoes.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Considering what you said a moment ago, that the world doesn't need to stimulate consumption,  you must find some irony in the Obama administration's plan to stimulate consumption again in the US as a way to spur some economic growth.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: I'm afraid that after being counseled by the fools that surround him, Obama talking about economics is like the blind leading the doubly dismembered. They want to spend $450 billion trying to create new jobs – but these are government jobs, where you have people digging holes during the day and filling them up at night to create the appearance of employment. No government has any idea what the market really wants and needs. There should be zero government involvement in this. The government cannot and should not even try to create jobs. If Obama wants to stimulate the economy, he can decrease the size of the government. I would say a 90% reduction would be a good starting figure.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: But that will create even more unemployment. That's one of the big concerns. States laying off employees  could increase unemployment even more.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: It is wonderful that states are starting to lay off employees. Once they lose their state jobs, which suck wealth from taxpayers, maybe those people can find real, productive jobs providing goods and services that people actually want and will pay for voluntarily. So I'd argue that getting rid of state employees is essential to a sound recovery plan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: You warned early on in the 2008-2009 economic crisis that it would really be more of a hurricane. In the last year or so, we've been in the eye of the hurricane and there's more turmoil to come. Will the other side of the storm be worse than the first? And given the recent economic news, do you think we have moved out of that eye?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: Yes, I think we are moving out of the eye and going into the other side of the storm. This storm will be much more severe because we haven't solved any of the problems that caused the  hurricane in the first place. The fact that governments all over the world have created trillions of currency units has only aggravated those problems. Now, I expect exploding prices to compound the problems that we saw back in 2007, 2008 and 2009. That will devastate the prudent people in society who saved money.&lt;br&gt;They saved it in the form of currency, and wiping out their savings will be catastrophic.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Will this affect only North America and Europe?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: Mostly North America and Europe, but it's going to be very serious in Japan, too. It could be even more disastrous in China. The Chinese real estate market bubble is very inflated, driven by the lending of Chinese banks that won't be able to recover their loans. They will all go bankrupt, taking out the Chinese populace's savings with them. At the same time, those who own real estate will find it worth vastly less than what they paid for it. Those problems will create social  disruptions in China, leading to riots, perhaps even revolution, and who-knows-what. The fallout is going to be terrible.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Many pundits and economists still project growth in China, albeit at a lower rate, and anticipate further expansion of the middle class.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: The 21st century will be the Chinese century, but the distortions and misallocations of capital that have occurred over the last 30 years – notwithstanding the truly phenomenal progress the country has made – are serious and have to be washed out. I am a huge bull on China for lots of reasons, but I am bullish for the long run. I think it is going to go through the meat grinder over the next 10 years. I don't know how it will come out; maybe China will break up into five or six different countries. Actually, that would be a good thing. Most of the world's nation-states are artificially constructed and too big to be manageable as political entities.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Your  outlook on China fits right in with something you've been saying for years – about this being the "Greater Depression," which is also the topic of your upcoming presentation at the sold-out Casey Research/ Sprott Inc. "When Money Dies" summit next month in Phoenix. Your opening general session talk is entitled, "The Greater Depression Is Now". We are now four years into it, based on your 2007 start date.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: Actually, depending on how long a historical scale you look at, you could say that, for the working class in the US anyway, the depression started in the early 1970s. After inflation, after taxes, their take-home pay hasn't risen in real terms for 40 years. But the definition of a depression that I use is "a period of time during which most people's standard of living drops significantly."&lt;br&gt;&lt;br&gt;Net savings shows that you're living within your means and putting aside capital for the future. In the US, people have been living above  their means for many years – that is what debt is all about. Debt means that you are borrowing against future production, which is exactly what the US has been doing.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: So, how long will this Greater Depression last?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: It doesn't have to last long at all. It could be quite brief if the US government, which is basically the root cause, retrenches vastly in size and defaults on the national debt, which is essentially an enormous mortgage, an albatross around the neck of the next several generations of Americans. The debt will be defaulted on one way or another, almost certainly through inflation. I simply advocate an honest, overt default; that would serve to punish those who, by lending to the government, have financed its depredations. Distortions and misallocations of capital that have been cranked into the economy for many years need to be liquidated. It could be unpleasant but brief. The government is likely to do just  the opposite, however. It will try to prop it up further and make it worse – compounding the problem by expanding the wars. So, it could last a very long&lt;br&gt;time. In that sense, I'm not optimistic at all. I think there is little cause for optimism.&lt;br&gt;&lt;br&gt;On the other hand, I'm generally optimistic for the future. There are only two causes for optimism. First, smart individuals all over the world continue, as individuals, to produce more than they consume and try to save the difference. That will build capital, which is of critical importance. They should just save by holding paper currency. Second, expanding and&lt;br&gt;compounding technology will increase the standard of living. Remember that there are more scientists and engineers alive today than have lived in all previous history combined. Those two factors countervail the government stupidity around us. Whether they will be overwhelmed and washed away by a tsunami of statism and collectivism, I don't  know.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: You say that the US government is the root cause of this problem. Isn't that putting too much blame for a worldwide problem on one nation?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: The institution of government itself is the problem, and the problem is metastasizing like a cancer all over the world. But, sad to say, the US is the most serious offender because it is currently both the most powerful and the most aggressive nation-state. It has been greatly abetted by the fact that the US currency has been accepted globally. The US Dollar is, in effect, the reserve that backs all the other currencies in the world. That is why the US government has been the most destructive from an economic&lt;br&gt;point of view. Furthermore, military spending – which in the US equals that of all the other militaries in the world combined – is purely destructive. It serves no useful economic purpose at all. The military is no longer "defending" anything – least of all liberty.  It's actively creating enemies&lt;br&gt;and provoking conflict. So, yes, I think the US government is actually the&lt;br&gt;most dangerous force roaming the world today.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Do you see that changing after the next election?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: No. I think the chances of Obama being reelected are high, simply because more than half of Americans are big net recipients of state largesse. The US has turned into a larger version of Argentina politically, where the electorate is effectively bribed to vote for the biggest thief. It is likely to turn out much worse than Argentina, however. Unlike the Argentines, the US government is fairly efficient. And, unlike Argentina, the US is rapidly turning into a police state.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Electing a Republican might be even worse, though. With the exception of Ron Paul and Gary Johnson, the potential Republican candidates absolutely make my skin crawl. So, no, there is no help on the horizon. The US government is spending about  $1.5 trillion more this year than it takes in, and it is not going to cut that. In fact, foolish spending to bail things out will increase. And, worse than that, the Fed has artificially suppressed interest rates for three years. Interest accounts for roughly 2% of $15 trillion official national debt, or $300 billion per year. As interest rates inevitably rise, that interest amount will grow. At 12% – and I'm afraid they'll have to go even higher than that – it would add another $1.5&lt;br&gt;trillion just in interest payments.&lt;br&gt;&lt;br&gt;I absolutely see no way out without a collapse of the US currency and a total reordering of the US economy.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: When Money Dies, the title of your summit, implies some return to a gold standard. How do you see that playing out?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: Nothing is certain, but when the Dollar disappears – and it's going to reach its intrinsic value soon – what are people going to use as money? Will we gin up another  fiat currency like the Euro? The Euro is likely to fail before the Dollar. My suspicion is that people will want to go back to gold. It's not because gold is anything magical, but simply the one of the 92 naturally occurring elements that – for the same reasons that make aluminum good for planes and iron good for steel girders – is most useful as money. In fact, the reason that gold has risen as high as it has is that the central banks of third-world countries – places that don't have large gold reserves, such as China, India, Korea, Russia, even Mexico – have been buying the stuff in size.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: The concept of going to a gold standard seems impossible in the sense that there is only so much gold above ground – 6 billion ounces? Maybe $11 trillion worth? But it's only a fraction of the US GDP. Even with gold at $2,000 an ounce, that leaves an immense gap. In that scenario, how do you convert to a gold standard?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: In  terms of today's Dollars, gold should probably be a lot higher than it is. I don't know what the number will be, because a lot of those Dollars will disappear in bankruptcies; they will dry up and blow away. It's like a real estate development that was worth $1 billion on somebody's books; when it fails, that's $1 billion destroyed. It's a&lt;br&gt;question of the battle of inflation (with the government creating Dollars to prop things up) against deflation (where businesses fail and wipe out Dollars). But put it this way: the US Government reports it owns about 265 million ounces. Its liabilities to foreigners alone are at least $6 trillion. If they were to be redeemed for a fixed amount, that would require roughly $22,000/oz. gold. And that doesn't count Dollars in the US itself.&lt;br&gt;&lt;br&gt;I'm a bargain hunter and a bottom fisher, and bought most of my gold at vastly lower prices. But I think gold is going much higher because most people still barely even know  that the stuff exists. As inflation picks up, they are going to want to get rid of these Dollars – but what other monetary commodity can they turn to? So, gold is going higher. I'm still accumulating gold.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: You said that the storm as we emerge from the eye of the hurricane will be worse than it was on the other side. If they don't own gold, how do investors protect themselves?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: It's very hard to be an investor in today's world because an investor is someone who allocates capital in a way to create new wealth. That is not easy in today's highly taxed and regulated economy. It's late in the day, but not too late, to Buy Gold, silver and other commodities. Productive assets are good to own. Of course, the easiest way to buy most productive assets is through the shares of publicly traded companies, but the stock market is quite overvalued in my opinion, so that's not the best option right now.&lt;br&gt;&lt;br&gt;In addition to trying to  build personal holdings of gold and, to a lesser degree, silver, I think people should learn to be speculators. This is not to be confused with gamblers, who rely on random chances. Speculators position themselves to take advantage of politically caused distortions in the marketplace. In a true free market society, you would see very few speculators because there would be few such distortions. But regulations, taxes and currency inflations are likely to keep markets very volatile. Good speculators will position themselves to take advantage of bubbles, and identify bubbles that have been blown to their maximum and are about to deflate.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Government actions are going to force people to become speculators, whether they like it or not. Most won't like it, and very few will be good at it.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: What bubbles might speculators look to exploit?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: I'd say the world's biggest bubble is real estate in China, but real estate bubbles are  just starting to deflate elsewhere, too – in Australia and Canada, for example. It's relatively hard to short real estate, of course. Shorting bank stocks is an indirect way to play it. I'd say bonds are the short sale of the century. They're going to be destroyed. Bonds pose a triple threat to capital because:&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Interest rates are artificially low, and as interest rates rise – which they must – bonds will fall; Bonds are denominated in currencies, and most currencies, let's say Dollars, are going to lose a lot of value; The credit risk of most bonds, certainly those issued by governments, is high.&lt;br&gt;&lt;br&gt;On the long side, mining stocks are very cheap relative to the price of gold right now. I'd say there's an excellent chance of a bubble being ignited in gold mining stocks, especially the small ones; in fact, I'd put my finger on that as likely being the easiest way to make a killing.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Technology was one of the two  areas of optimism you mentioned earlier. Do you see a bubble forming there?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Doug Casey: You have a point, but I'm not sure you can talk about technology stocks as a whole; technology is too variegated, too vast a field. Although, I've long been a huge believer in nanotech, which is likely to change the world as we know it. With gold stocks, however, you can jump into a discrete universe, that's likely to become a mania.&lt;br&gt;&lt;br&gt;TGR: Thank you for the tips, Doug, and as always, for your thoughtful insights.&lt;br&gt;&lt;br&gt;The Gold Report, 28 Sep '11&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-8735980452406167417?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eo4Lj-tLkCFUxUTR33EXWlctdcY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eo4Lj-tLkCFUxUTR33EXWlctdcY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eo4Lj-tLkCFUxUTR33EXWlctdcY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Eo4Lj-tLkCFUxUTR33EXWlctdcY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/u4ZNPfB-2OI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/8735980452406167417/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=8735980452406167417" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8735980452406167417?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/8735980452406167417?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/u4ZNPfB-2OI/ready-for-if-money-us-dies.html" title="Ready for If Money/ US $ Dies?" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/ready-for-if-money-us-dies.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYESHc4eip7ImA9WhdUFU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-1431976067841221545</id><published>2011-10-02T13:31:00.001+07:00</published><updated>2011-10-02T13:31:49.932+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-02T13:31:49.932+07:00</app:edited><title>ALKISAH FAN PANG DIMASA DINASTI SONG</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv942983770mobile-photo"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://2.bp.blogspot.com/-pbunDrAzpFo/Tmlh5o4wZoI/AAAAAAAAGg0/YJ95ZPbM6lU/s1600/%253D%253Futf-8%253FB%253FZmFucGFuZy5qcGc%253D%253F%253D-788942"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-pbunDrAzpFo/Tmlh5o4wZoI/AAAAAAAAGg0/YJ95ZPbM6lU/s320/%253D%253Futf-8%253FB%253FZmFucGFuZy5qcGc%253D%253F%253D-788942" alt="" id="yiv942983770BLOGGER_PHOTO_ID_5650154850368906882" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Su  Dongpo adalah penulis terkenal pada masa Dinasti Song. Ketika dia  berumur sembilan tahun, ibunya, Nyonya Cheng menahan nafas ketika  mengajarkan dia membaca Sejarah Karakter Dinasti Han – Biografi dari Fan  Pang. Su Dongpo bertanya kepada ibunya,"Apakah anda mengizinkan saya  menjadi seperti seorang Fan Pang?" Ibunya kemudian menjawab,"Jika kamu  bisa menjadi Fan Pang, mengapa saya tidak bisa menjadi seperti ibunya  Fan Pang?"&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Su Dongpo sangat tersentuh dengan karakter Fan Pang dan  menjadikan beliau sebagai suri teladan. Beliau sangat terkenal akan  semangatnya yang selalu mengambil tanggung jawab dari dunia, dan tidak  pernah menyesal ketika menghadapi bencana. Bagaimanakah sebenarnya  seorang Fan Pang itu? Apa yang menyebabkan Su Dongpo dan ibunya selalu  menghela napas ketika membaca biografinya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada masa pemerintahan  Kaisar Han Ling, di akhir dari Dinasti Han Timur, para kasim mengontrol  Kaisar. Kaisar hanyalah sebuah nama saja. Para kasim memeras rakyat  biasa. Mereka juga mengontrol pemilihan pejabat negara, mengangkat  pejabat berdasarkan sifat suka atau tidak suka, membuat yang benar  menjadi yang salah. Para kasim tersebut juga menindas pejabat yang jujur  dan terpelajar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diantara para pejabat yang terpelajar, Li Ying  dan Du Mi adalah yang paling terkenal. Mereka mengkritik para kasim dan  meminta agar kekuasaan kasim dihapuskan. Sebagai hasilnya, Li Ying dan  Du Mi dihukum.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para kasim membuat tuduhan tuduhan palsu terhadap  Li Ying dan Du Mi dan melaporkannya kepada Kaisar, dengan mengatakan  bahwa mereka berdua berniat untuk melakukan perlawanan. Mereka meminta  kepada Kaisar Han Ling untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan  terhadap Li Ying dan Du Mi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Surat perintah pengangkapan  menyebabkan gejolak dimana-mana. Seseorang melaporkan kepada Li Ying,  yang kemudian menjawab dengan tenang,"Saya harus menghadapinya,  seseorang mungkin akan mendapat masalah. Selain itu, saya telah berumur  60 tahun. Kematian adalah sesuatu yang wajar sebagaimana juga kehidupan.  Saya tidak perlu melarikan diri." Kemudian Li Ying dimasukkan ke  penjara dan dianiaya hingga meninggal. Du Mi yang mengetahui bahwa dia  juga tidak akan terlepas dari hukuman, kemudian bunuh diri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di  Provinsi Jinan, tinggallah seorang muda yang bernama Fan Pang yang  sangat jujur dan sering kali mengkritik para kasim. Rakyat biasa  sangatlah menghormatinya. Suatu hari, seorang pejabat yang menangani  keadilan menerima perintah dari para kasim untuk menangkap Fan Pang. Dia  kemudian menutup semua pintu dan menangis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mendengar hal ini, Fan Pang berkata,"Saya tahu dia menangis karena dia tidak ingin menangkap saya."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fan  Pang dengan segera pergi ke kantor pejabat tersebut. Pejabat tersebut  juga adalah seorang yang jujur. Dia sangat terkejut melihat Fan Pang dan  berkata."Dunia ini sangatlah besar. Mengapa anda langsung datang ke  sini dan menyerahkan diri? Pergi carilah tempat untuk bersembunyi."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fan  Pang sangat berterima kasih dan menjawab,"Saya sangat menghargai budi  baik anda. Tetapi pemerintah mungkin akan berhenti menangkap orang orang  setelah saya meninggal. Bagaimana mungkin saya melibatkan anda? Ibu  saya telah sangat tua. Bagaimana mungkin saya membiarkan dia terlunta  lunta tidak ada tempat tinggal karena saya melarikan diri?"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pejabat  tersebut tidak memiliki pilihan lain selain memasukkan Fan Pang ke  penjara, dan memberitahukan kepada ibu dan anak Fan Pang untuk  menjenguknya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ibu Fan Pang  datang dengan cucunya. Fan Pang mencoba untuk menghiburnya,"Abang Fan Bo  sangatlah berbakti dan penuh hormat. Dia akan menjaga ibu. Saya mungkin  akan bergabung dengan almarhum ayah. Ibu harus merelakan saya. Tolong,  jangan bersedih." Ibu Fan Pang berkata."Sekarang kamu sama terkenalnya  dengan Li Ying dan Du Mi. Kamu tidak perlu menyesal. Kamu tidak dapat  menikmati reputasi yang baik dan juga hidup panjang bersamaan. Kamu  tidak bisa mendapatkan kue dan menikmatinya juga." Ibu bangga kepadamu."&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Fan  Pang meninggal dalam penjara pada usia 33 tahun. Inilah cerita  bagaimana Fan Pang berpisah dengan ibunya. Tidak mengherankan Su Dongpo  dan ibunya menahan napas membaca cerita Fan Pang. Banyak sekali anak  seperti Fan Pang yang berusaha untuk melawan penguasa dan membawa  kedamaian. Tetapi tidak semua ibu, menyemangati anak anak mereka untuk  melakukannya. Ketenangan Fan Pang menjelang ajal dan kesadaran aan  kebenaran yang dimiliki oleh ibu Fan Pang, akan diingat sepanjang masa. &lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-1431976067841221545?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0D2VWzO4TbnutbyIJvVld4DAq8s/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0D2VWzO4TbnutbyIJvVld4DAq8s/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0D2VWzO4TbnutbyIJvVld4DAq8s/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0D2VWzO4TbnutbyIJvVld4DAq8s/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/8vRZqckV-eQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/1431976067841221545/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=1431976067841221545" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1431976067841221545?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/1431976067841221545?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/8vRZqckV-eQ/alkisah-fan-pang-dimasa-dinasti-song.html" title="ALKISAH FAN PANG DIMASA DINASTI SONG" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-pbunDrAzpFo/Tmlh5o4wZoI/AAAAAAAAGg0/YJ95ZPbM6lU/s72-c/%253D%253Futf-8%253FB%253FZmFucGFuZy5qcGc%253D%253F%253D-788942" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/alkisah-fan-pang-dimasa-dinasti-song.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EER3szfyp7ImA9WhdUFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-444438557308870165.post-638353150417863763</id><published>2011-10-02T07:33:00.001+07:00</published><updated>2011-10-02T07:33:26.587+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-02T07:33:26.587+07:00</app:edited><title>Amuk Massa Seputar 1965-1966, Kenangan Seorang Anak Singkong</title><content type="html">&lt;div style="color:; background-color:; font-family:times new roman, new york, times, serif;font-size:12pt"&gt;&lt;div&gt; Peristiwa pemberontakan PKI 30 September 1965 yang mengambil korban&lt;span style="text-decoration: line-through;"&gt;&lt;/span&gt;  6 0rang perwira Tinggi dan seorang Perwira pertama&amp;nbsp;Angkatan Darat, &amp;nbsp;yang kemudian disebut 7 Pahlawan  Revolusi, rasanya semua orang Indonesia tahu. Penjelasan resmi dari  Pemerintah masih mengacu pada buku bikinan rezim Orde Baru: &amp;nbsp;&lt;em&gt;Gerakan 30 September, Pemberontakan &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Partai Komunis &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Indonesia&lt;/em&gt;&lt;em&gt;: Latar Belakang, &amp;nbsp;Aksi dan Penumpasannya&lt;/em&gt;,  terbitan&amp;nbsp;Sekretariat Negara, 1994. &amp;nbsp;Buku yang sering disebut sebagai  buku putih G-30-S ini menggiring pembaca untuk membuat kesimpulan bahwa  PKI&amp;nbsp;adalah dalang Peristiwa G-30-S. &amp;nbsp;Belum baca? &amp;nbsp;Nonton film manisnya  Arifin C. Noer &lt;em&gt;Pengkhianatan G30S/PKI&lt;/em&gt; kan? Ya itulah, gak beda jauh!&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;&lt;br&gt;Memang ada versi lain dari kejadian itu? Ah, gak usah bersikap pura-pura tak tahu begitulaaaah……….&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Meskipun pemutaran film itu sekarang bukan lagi menjadi tontonan wajib (&lt;em&gt;berarti diakui dong, kalau ada yang salah disitu?&lt;/em&gt;),  tapi penjelasan resmi itu belum direvisi Entah ini kesengajaan atas  dasar pesanan, atau memang kita memang tak pernah peduli dengan sejarah.  Atau kita memang tidak punya dana cukup untuk mengungkapkan sejarah…………&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Dokumen CIA yang diklasifikasikan sebagai sangat rahasia, biasanya  diumumkan kepada publik setelah dokumen itu berusia lewat 40 tahun. Tapi  khusus mengenai Indonesia di seputar peristiwa itu, sampai saat ini  masih disimpan rapat. Mantan Dutabesar Amerika Serikat untuk Indonesia  tahun 1965-1969 &lt;strong&gt;Marshall Green&lt;/strong&gt; dalam buku memoarnya &lt;em&gt;Dari Sukarno ke Soeharto: G30S/PKI dari kacamata seorang Duta Besar&lt;/em&gt;,  secara tegas memastikan tidak ada keterlibatan CIA dalam proses alih  kekuasaan itu. &amp;nbsp;Padahal ketika ditugaskan ke Indonesia, Juli 1965, Green  sudah terkenal sebagai spesialis kudeta, &amp;nbsp;karena posisinya selalu ada  di tempat yang &lt;em&gt;terjangkit penyakit &lt;/em&gt; kudeta di wilayah Asia .&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;&lt;br&gt;Jadi, memang CIA tidak pernah terlibat dalam peristiwa itu?&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;address&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; &lt;div id="yiv1602723172attachment_132061" class="yiv1602723172wp-caption yiv1602723172alignleft"&gt;&lt;img class="yiv1602723172size-full yiv1602723172wp-image-132061 " title="1316940191553231586" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/09/1316940191553231586.jpg" alt="1316940191553231586" width="280" height="440"&gt; &lt;div class="yiv1602723172wp-caption-text"&gt;sumber: lib.monash.edu.au&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Lupakan &lt;strong&gt;Dokumen Gilchrist&lt;/strong&gt; yang katanya palsu itu.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/address&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;Andrew Gilchrist (1910-1993), adalah Duta Besar Inggris untuk  Indonesia (1962-1966). Dalam sebuah telegramnya ke Kementerian Luar  Negeri Inggris, Gilchrist mengungkapkan adanya rencana gabungan  intervensi militer AS-Inggris di Indonesia. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Pihak AS belakangan mengumumkan bahwa dokumen ini palsu adanya.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Ah, &amp;nbsp;saya juga tidak sedang nulis tentang&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Cornell Paper&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;&lt;br&gt;Cornell Paper adalah julukan untuk sebuah publikasi akademis yang  ditulis mahasiswa pasca sarjana Universitas Cornell (Ithaca-New York), &lt;/em&gt;Benedict Anderson, Ruth McVey&lt;em&gt; serta &lt;/em&gt;Frederick Bunnel&lt;em&gt;,  10 Januari 1966. Thesis ini dibawah tanggung jawab pakar Asia Tenggara  dan Direktur Kajian Indonesia Modern di Universitas Cornell, &lt;/em&gt;George T. Kahin&lt;em&gt;. Publikasi ini seharusnya hanya dibuat untuk kalangan terbatas. Tapi koran &lt;/em&gt;The Washington Post&lt;em&gt;  menyebarkannya 5 Maret 1966. Penguasa Orde Baru berang dan membuat para  penulis dan penanggung jawabnya dicekal masuk Indonesia. Karya ilmiah  itu jadi barang haram disini. Justru karena itu, para mahasiswa  menjadikannya "bacaan wajib". Kala itu rasanya jarang ada mahasiswa  Indonesia yang belum pernah membaca karya ini. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;br&gt;Yaaaaah sudahlah. &amp;nbsp;Saya bukan ahli  sejarah. Hanya rakyat biasa yang mengalami masa-masa suram itu. Bukan  pula seorang penikmat kontroversi, hanya seorang yang cengengesan…..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;&lt;br&gt;Saya hanya ingin cerita tentang masa-masa itu, dari sudut pandang seorang anak singkong.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br&gt;Awal1965 itu, Ayah dipindah tugaskan dari Jakarta kembali ke  Surabaya yang sudah beberapa tahun ditinggalkan. Kami menempati rumah  besar yang &lt;em&gt;'magrong-magrong&lt;/em&gt;' cukup mencolok bila dibandingkan  dengan lingkungan sekitar, dipinggiran Surabaya ketika itu (sekarang  sudah ditengah kota). Dengan kondisi itu pantas apabila PKI di wilayah  kami menuding keluarga kami sebagai &amp;nbsp;&lt;em&gt;Kapitalis Birokrat&lt;/em&gt;, &amp;nbsp;atau&amp;nbsp;&lt;em&gt;Kontra Revolusi. &lt;/em&gt;Tudingan &lt;em&gt;antek Kapbir&lt;/em&gt; atau&lt;em&gt; Kontrev&lt;/em&gt;  ketika itu sebetulnya sudah cukup membuat rumah kami dijarah PKI. Tapi  karena ayah aktivis Sarekat Buruh Marhaenis (SBM, organisasi yang  menginduk ke PNI), maka kami aman-aman saja.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Saat itu, situasi politik memang sedang panas. Bung Karno sebagai  Presiden Seumur Hidup, Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Tertinggi  ABRI, sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Kekuatan Nasional bertumpu  pada 3 partai politik besar pengusung gagasan Bung Karno, yang NASAKOM  itu. Nasionalis: PNI, Agama: NU dan Komunis: PKI. Mereka sibuk saling  bersaing menaikkan pamor partai sambil berebut massa. Tak jarang  perkelahian fisik terjadi antara mereka.&lt;/div&gt; &lt;address&gt;&lt;em&gt;&lt;br&gt;Tapi anak-anak singkong ini bebas saja kemana-mana. Ada  pawai PKI, kami ngikut pawai dibelakang sambil plesetan lagunya "Solmi  iwak babi. Remifasol iwak tongkol. Mire mire mire, PKI-ne memang kere".&lt;br&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Pawai PNI, ikut nyanyi gaya PNI sambil mengejek: "Bung Karno jaya sentosa. PNI-neee ngikut ajaaaa &amp;nbsp;".&lt;br&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Pawai NU? &amp;nbsp;"Bapak NU, Ibu Muslimat, kakak Ansor, adik Fatayat"  (nada shalawat Badar). Kalaulah ada yang usil nanya dari pinggir jalan  (selalu ada !) "Masa cuma Bapak, Ibu, Kakak, Adik. Yang nyanyi sendiri  apaaa?". &amp;nbsp;Kami jawab sekencangnya "PKI !!!!!".&lt;br&gt; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Semuanya buntutnya sama, lari serabutan sekencangnya dikejar  para Pemuda Rakyat (PKI), Banteng Marhaen (PNI), Banser (NU). &amp;nbsp;Lucunya,  kalau kami ngusilin PKI, &amp;nbsp;Banser lah yang ngomporin dan BM lah yang  ngumpetin. &amp;nbsp;Begitu sebaliknya………….&lt;/em&gt;&lt;/address&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;PKI atau Partai Komunis Indonesia, meskipun hanya sebagai partai nomer 4  pada Pemilu 1955 (dibawah PNI, Masyumi dan NU), tapi di awal 1965 itu  sudah berkembang pesat dan amat agresif. Di desa-desa, mereka menjadi  musuh bersama karena merampas kepemilikan lahan pribadi (atas dasar UU  Land Reform yang melarang kepemilikan tanah di atas 10 hektar) yang  kemudian dibagikan kepada simpatisannya. &amp;nbsp;Di kota, dengan menuduh  pedagang&amp;nbsp;atau distributor &amp;nbsp;menumpuk barang untuk keuntungan pribadi (&lt;em&gt;antek Kapbir!), &lt;/em&gt;mereka  menjarah toko atau gudangnya. (Ingat organisasi massa yang saat ini  dengan dalih agama, menghancurkan apa saja yang tak sesuai dengan  ideologi mereka?).&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Yups, ekonomi ketika itu sedang parah. Meskipun hanya anak singkong,  tapi tahu setiap hari ada antrian panjang untuk membeli beras. &amp;nbsp;Sabun  mandi? Sekarang mungkin jadi barang sepele. Tapi ketika itu benar-benar  jadi barang mewah. Hari ini harganya 100 rupiah, besok bisa jadi 1.000  rupiah, dan…..meskipun kalian punya duitnya, belum tentu kebagian  barangnya!&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;(&lt;em&gt;Saya ingat benar karena Ayah ketika itu mendapat jatah bulanan dari  kantor. Beras dan yang lainnya gak ingat persis. Tapi sabun mandi merk  Camay yang keciiiiil dan cuma sebiji itu jadi barang mewah betul.  Seminggu kami berenam mandi wangi. Minggu berikutnya ya mandi pake sabun  cuci cap Tangan. Untungnya, saya punya kulit kwalitas badak&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Bung Karno memang mengandalkan PKI sebagai tulang punggung dalam  membangun hubungan baik Jakarta-Hanoi-Peking. &amp;nbsp;DN Aidit, Ketua PKI dalam  ulang tahun PKI Mei 1965 mengklaim diri sebagai partai dengan 3 juta  anggota dan 20 juta simpatisan. Dengan penduduk Indonesia ketika itu  hanyalah sekitar 90 juta, dengan menghitung prosentase "&lt;em&gt;massa mengambang&lt;/em&gt;", wajar kan kalau mereka menyebut diri sebagai partai terbesar di Indonesia, mengalahkan PNI, yang notabene &lt;em&gt;anak kandung&lt;/em&gt; Bung Karno?&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;Dalam posisi strategis dan sekuat itu, kalau disebut PKI melakukan  kudeta (seperti kata Orde Baru), lantas kudeta kepada siapa?. &amp;nbsp;Buat  apa?. &amp;nbsp;Ah, abaikan saja, cuma pertanyaan iseng…….&lt;/em&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Tapi peristiwa itu sudah terjadi, dan 7 orang Perwira Angkatan Darat dan beberapa perwira lain jadi korban.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; Lantas, &amp;nbsp;PKI lah yang dituding di belakang semua kejadian ini…….&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Gelombang amarah masyarakat yang tertekan akibat ulah PKI sebelumnya  menemukan titik balik. Seperti bendungan yang bobol, masyarakat yang  didukung oleh Angkatan Darat, mengamuk habis. 10 ribu petinggi PKI  terbunuh atau di Pulau Buru-kan&amp;nbsp;lewat Mahmilub. Tapi mereka jauh lebih  beruntung daripada para anggota kelas teri, atau para simpatisan, atau  mereka yang sekadar dicurigai.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Tak perlu menjadi anggota aktif PKI. Hanya diperlukan saksi saja, cukup  untuk menyeret orang yang tak disukai dari hangatnya pelukan anak  isterinya untuk tidak pernah kembali. &amp;nbsp;Seorang pemilik toko di depan  rumah kami, yang kebetulan ber-etnis Tionghoa diseret dari rumahnya  gara-gara dia sering menyumbang PKI. Padahal mestinya dia juga dalam  dilema ketika menyumbang itu. Kalaulah dia tak menyumbang, pasti tokonya  dijarah PKI. Tapi menyumbang, akibatnya malah dianya gak bisa pulang  lagi.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Sungai yang beberapa puluh meter dari rumah setiap hari membawa mayat  manusia yang mengapung tanpa identitas, bahkan kadang tanpa kepala.  &amp;nbsp;Sering cuma sekali, kadang sampai sepuluh kali sehari (&lt;em&gt;overdosis yak?&lt;/em&gt;). Terkadang, dalam perjalanan menghilir, &lt;em&gt;mereka perlu istirahat &lt;/em&gt;dan  tersangkut di pilar jembatan. Warga sekitarlah yang kemudian mengurus  dan memakamkannya. Korban jiwa, menurut statemen resmi Orde Baru, adalah  50 ribuan orang. Tapi banyak pendapat yang menyebut, korban mencapai  500 ribu orang, bahkan ada yang menyebut angka 2 juta manusia terbantai  dalam peristiwa amuk massa ini.&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Pagi menjelang subuh itu, si anak singkong &amp;nbsp;&lt;em&gt;jagoan neon&lt;/em&gt; ini, karena terprovokasi teman-temannya yang katanya menemukan "&lt;em&gt;sesuatu yang asyik&lt;/em&gt;", nekad melompat pagar rumah. Meskipun tahu resikonya bakal berhadapan dengan &lt;em&gt;penggebug kasur&lt;/em&gt;  Penguasa Rumah alias Ayah dan Ibu. Meskipun juga tahu betul resiko akan  pelanggaran jam malam yang diterapkan Penguasa (Penguasa betulan!)  ketika itu. Tertangkap aparat, berarti gak main-main lagi. Tapi itu  dipikir nantilah, kalau sudah tertangkap betulan. (&lt;em&gt;Toh kami sudah sering berlatih lari kan?&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Di sebuah area pemakaman tak jauh dari rumah, lewat sawah dan hutan  bambu yang lumayan lebat, bandit-bandit kecil ini benar-benar  menyaksikan (meskipun sambil ngumpet dan dari jarak jauh) secara &lt;em&gt;"live"&lt;/em&gt; proses &lt;em&gt;penyembelihan&lt;/em&gt;  manusia oleh sesamanya. Bukan hanya sekadar dibunuh!. Di keremangan  pagi itu, gak jelas siapa yang melakukan dan siapa yang jadi korban.  Tapi tak jauh dari situ, ada beberapa jip dan truk tentara sedang  diparkir, galian lubang besar, tumpukan mayat dan calon korban yang  menunggu giliran……….. Gak usah lagi saya cerita tentang bunyi-bunyian  apa yang saya dengar ketika itu. Penampakan itu bukan hanya visual kan?&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;br&gt;Kejadian ini tidak diceritakan dalam film resmi dan propaganda yang  maniiiis itu kan? Yang jelas, &amp;nbsp;penampakan pagi itu menjadikan saya  benar-benar dicekam horor selama bertahun-tahun…..&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt; &lt;em&gt;Ah, semoga saja tidak akan pernah terjadi lagi revolusi atas nama  apapun &amp;nbsp;di Indonesia ini….. Harga yang harus dibayarkan buat nilai  kemanusiaan, benar-benar terlalu mahal!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jorganizer Hamdani&lt;br&gt;024-7060.9694 (flexy)&lt;br&gt;hope 4 the best n prepare 4 the worst&lt;br&gt;knowing is nothing without applying&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;024 - 7060.9694
Jorganizer Hamdani
johamdani@yahoo.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/444438557308870165-638353150417863763?l=sejarawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/weS0PoWbmisQiwvQMuiMBuko61E/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/weS0PoWbmisQiwvQMuiMBuko61E/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/weS0PoWbmisQiwvQMuiMBuko61E/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/weS0PoWbmisQiwvQMuiMBuko61E/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/iQrKg/~4/TGK5_PWRWwA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://sejarawan.blogspot.com/feeds/638353150417863763/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=444438557308870165&amp;postID=638353150417863763" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/638353150417863763?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/444438557308870165/posts/default/638353150417863763?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/iQrKg/~3/TGK5_PWRWwA/amuk-massa-seputar-1965-1966-kenangan.html" title="Amuk Massa Seputar 1965-1966, Kenangan Seorang Anak Singkong" /><author><name>Sejarawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02813809472009756234</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="24" src="http://3.bp.blogspot.com/_iW4sam84jrE/SaY7Jrmoi1I/AAAAAAAAAAQ/M-Y2fKGuFeA/S220/Sunset.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://sejarawan.blogspot.com/2011/10/amuk-massa-seputar-1965-1966-kenangan.html</feedburner:origLink></entry></feed>

