<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Dec 2024 03:23:06 +0000</lastBuildDate><category>Allah Azza wa Jalla</category><category>Al-Qur'an</category><category>Rasulullah-Muhammad saw</category><category>Puisi</category><category>Islam</category><category>Kitab Wahyu</category><category>nabi-nabi</category><title>Esensi Ajaran Islam</title><description> Created at Tahun baru Hijriah 1429</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>130</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle> Created at Tahun baru Hijriah 1429</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-6312538904388579490</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 23:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-03-11T07:31:05.527-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Rasulullah-Muhammad saw</category><title>PENGIKUT-PENGIKUT PERTAMA RASULULLAH saw</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Waraqa bin Naufal, seorang beragama Kristen yang seorang keponakan Khadijah, jelas mengingatkan kepada kabar gaib dalam Kitab Ulangan 18:18. Ketika kabar itu sampai kepada Zaid, budak Rasulullah saw. yang telah dimerdekakan (ia pada saat itu berusia tiga puluh tahun) dan kepada adik sepupu beliau, Ali, yang berusia kira-kira sebelas tahun, maka kedua-duanya segera menyatakan keimanan mereka kepada beliau. Abu Bakar, sahabat karib dari masa kecil pada saat itu sedang berada di luar kota. Ketika beliau pulang, mulai mendengar pengalaman baru Rasulullah saw. itu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kepada beliau diceritakan orang-orang bahwa sahabatnya telah menjadi gila dan mulai berkata bahwa malaikat-malaikat membawa amanat dari Tuhan kepadanya. Abu Bakar percaya sepenuhnya kepada Rasulullah saw. Beliau tidak ragu-ragu sedikit pun bahwa Rasulullah saw. tentu benar – beliau mengenal Rasulullah saw. orang yang waras otak dan jujur. Beliau mengetuk pintu rumah Rasulullah saw. dan setelah diperkenankan masuk segera beliau bertanya, apa yang telah terjadi. Rasulullah saw. khawatir jangan-jangan Abu Bakar akan salah paham, mulai memberi penjelasan panjang-lebar. Abu Bakar menghentikan Rasulullah saw. berbuat demikian dan mendesak bahwa yang sebenarnya diinginkan beliau hanya pernyataan, apakah seorang malaikat telah turun kepada Rasulullah saw. dari Tuhan dan memberikan Amanat. Rasulullah saw. berniat menerangkan lagi, tetapi Abu Bakar mengatakan tidak ingin mendengar keterangan. Beliau hanya membutuhkan jawaban kepada pertanyaan, apa Rasulullah saw. mendapatkan Amanat dari Tuhan. Rasulullah saw. menjawab bahwa benar demikian dan Abu Bakar segera menyatakan imannya. Karena telah menyatakan keimanan, beliau berkata bahwa alasan-alasan akan menurunkan nilai imannya. Beliau telah lama mengenal Rasulullah saw. dari dekat. Beliau tidak dapat meragu-ragukan Rasulullah saw. dan tidak memerlukan penjelasan untuk meyakinkan kebenarannya. Jemaat kecil orang-orang beriman itulah yang merupakan penganut-penganut Islam pertama: seorang wanita berumur agak lanjut, seorang anak berumur sebelas tahun, seorang budak yang dibebaskan dan hidup di antara orang-orang yang asing baginya, seorang sahabat muda, dan Rasulullah saw. sendiri. Itulah jemaat yang diam-diam telah bertekad bulat&amp;nbsp; untuk menyebarkan Nur Ilahi ke seluruh pelosok dunia. Ketika rakyat dan para pemimpin mereka mendengar hal itu, mereka tertawa dan menyatakan bahwa orang-orang itu jadi gila. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan tidak ada alasan untuk gelisah. Tetapi, dengan berlakunya masa, kebenaran mulai menyingsing dan seperti Nabi Yesaya (28:13) mengatakan lama sebelum itu, hukum di atas hukum, hukum ditambah dengan hukum syari’at di atas syari’at, syari’at disusul dengan syari’at, baris demi baris, baris di atas baris, di sini sedikit, di sana sedikit, mulailah turun kepada Rasulullah saw.&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/pengikut-pengikut-pertama-rasulullah-saw.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-6903859708380412840</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 23:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-03-11T07:31:36.545-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Rasulullah-Muhammad saw</category><title>SAAT MUHAMMAD RASULULLAH saw MENERIMA WAHYU PERTAMANYA</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika usia Muhammad, Rasulullah saw. telah lebih dari tiga puluh tahun, cintanya kepada Tuhan dan ibadah kepada Dia mulai kian menguasai beliau. Muak akan kedurhakaan-kedurhakaan, kejahatan-kejahatan, dan pelbagai dosa kaum Makkah, beliau memilih suatu tempat, dua atau tiga mil jauhnya, untuk bertafakur. Tempat itu di puncak sebuah bukit, semacam gua yang terbentuk dari batu. Istrinya, Khadijah, biasa menyediakan perbekalan untuk beberapa hari, dan dengan membawa perbekalan itu beliau mengasingkan diri di gua Hira. Dalam gua itu beliau melihat kasyaf (penglihatan gaib). Kejadian itu terjadi dalam gua itu. Beliau melihat suatu wujud yang memerintahkan kepada beliau membaca. Rasulullah saw. menjawab, tidak mengetahui apa yang harus dibaca dan bagaimana harus membacanya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Wujud itu memaksa dan akhirnya Rasulullah saw. membaca ayat-ayat berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Bacalah dengan nama Tuhan Engkau Yang menciptakan.&lt;br /&gt;
Menciptakan manusia dari segumpal darah.&lt;br /&gt;
Bacalah! Dan Tuhan engkau adalah Maha Dermawan,&lt;br /&gt;
Yang mengajar dengan pena,&lt;br /&gt;
Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya (96:2-6).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Ayat-ayat yang pertama-tama diturunkan kepada Rasulullah saw. itu merupakan bagian Al-Qur’an seperti juga ayat-ayat lainnya yang diwahyukan kemudian. Ayat-ayat ini mengandung arti yang sangat hebat. Ayat-ayat itu memerintahkan Rasulullah saw.&amp;nbsp; bangkit dan siap-sedia mengumumkan nama Tuhan Yang Maha Esa. Pencipta Tunggal – Pencipta Rasulullah dan semua nabi lainnya – Yang telah menciptakan manusia dan menanamkan benih cinta-Nya sendiri dan cinta kepada sesama manusia di dalam fitratnya. Rasulullah saw. diperintahkan mengumumkan Amanat Tuhan itu dan kepada beliau dijanjikan bantuan serta perlindungan-Nya mengumumkan Amanat itu. Ayat-ayat itu mengabarkan datangnya suatu zaman ketika dunia akan diajari segala macam ilmu lewat pena dan akan diajari hal-hal yang belum dikenal sebelumnya. Ayat-ayat itu merupakan ikhtisar Al-Qur’an. Apa pun yang akan diajarkan kepada Rasulullah saw. dalam wahyu-wahyu kemudian, tersimpul di dalam ayat-ayat ini. Di dalamnya telah diletakkan dasar kemajuan luhur yang sampai saat itu tidak dikenal dalam pertumbuhan rohani manusia. Arti dan penjelasan ayat-ayat ini akan dijumpai pada tempatnya dalam tafsir ini.&amp;nbsp; Kami singgung di sini, karena turunnya ayat-ayat itu merupakan peristiwa yang sangat luhur dalam kehidupan Rasulullah saw.. Ketika Rasulullah saw. menerima wahyu ini, beliau sangat takut dan gelisah atas kewajiban yang Tuhan telah memutuskan untuk meletakkannya pada pundak beliau. Orang lain dalam keadaan beliau pada saat itu akan diliputi oleh kebanggaan dan besar kepala; ia akan merasa dirinya telah menjadi orang besar. Tidak demikian Rasulullah saw. Beliau dapat mencapai hal-hal yang luhur, tetapi dalam keberhasilannya tidak menjadi sombong. Sesudah mendapatkan pengalaman yang maha hebat itu beliau pulang kerumah dalam keadaan sangat gelisah dengan wajah yang muram. Atas pertanyaan Siti Khadijah, beliau mengisahkan seluruh pengalaman beliau dan menggambarkan rasa takut dan gelisah beliau dengan perkataan: “Seorang lemah seperti aku ini, betapa aku dapat melaksanakan tugas yang hendak diletakkan Tuhan di atas pundakku.” Khadijah segera menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi Allah, Dia tidak menurunkan firman-Nya supaya engkau gagal dan terbukti tidak layak, kemudian meninggalkan engkau. Betapa mungkin Tuhan berbuat demikian, sedang engkau baik dan ramah terhadap sanak-saudara, menolong si miskin dan terlantar dan meringankan beban mereka? Engkau menghidupkan kembali nilai-nilai baik yang&amp;nbsp; telah lenyap dari negeri kita. Engkau perlakukan tamu-tamu dengan hormat dan membantu orang-orang yang berada dalam kesusahan. Dapatkah engkau dimasukkan oleh Tuhan ke dalam suatu cobaan?(Bukhari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berkata demikian Khadijah membawa Rasulullah saw. kepada kemenakannya, bernama Waraqa bin Naufal, seorang beragama Kristen. Ketika Waraqa mendengar cerita itu ia berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Malaikat yang turun kepada Musa, aku yakin, telah turun pula kepada engkau.”(Bukhari).&lt;/div&gt;
&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/saat-muhammad-rasulullah-saw-menerima.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-314945376383839198</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:48:55.935-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kitab Wahyu</category><title>ARTI PERADABAN DAN KEBUDAYAAN</title><description>Untuk menjawab soal ini kita harus ingat bahwa, jika kita meninjau kembali peradaban dan kebudayaan berbagai-bagai negeri, kita mengetahui bahwa negeri-negeri telah melalui zaman demi zaman yang berbeda. Beberapa zaman dari zaman-zaman ini sudah meningkat begitu maju sehingga antara zaman itu dan zaman kita tampaknya sedikit atau tak ada bedanya. Kalau kita kesampingkan kemajuan mekanik dunia modern, maka kemajuan dari sebagian zaman-zaman yang lampau dari sejarah manusia tampak sedikit sekali bedanya dari kemajuan masa kita. Baik dalam peradaban atau pun dalam kebudayaan, persamaan semacam itu ada. Tetapi, jika kita selami agak dalam, akan kita jumpai dua perbedaan penting antara masa lampau dan zaman modern ini.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sebelum kami bentangkan kedua perbedaan itu, kami ingin menerangkan apa yang kami maksud dengan peradaban dan kebudayaan. Menurut hemat kami, peradaban adalah konsepsi kebendaan semata-mata. Kalau kemajuan kebendaan berjalan, maka muncullah semacam keseragaman dan semacam kesenangan dalam kegiatan manusia. Keseragaman dan kesenangan ini menimbulkan peradaban. Hasil yang keluar sebagai akibat dari pekerjaan manusia, dan sarana pengangkutan&amp;nbsp; yang diperlukan untuk membawa hasil ini dari suatu tempat ke tempat lainnya menimbulkan suatu kemajuan dalam peradaban. Demikian pula, semua cara yang mungkin didapat untuk memindahkan barang-barang dari tangan ke tangan, segala rencana untuk memajukan pendidikan, industri, penyelidikan ilmiah, menyebabkan peradaban semakin maju. Apa saja yang mungkin dikerjakan untuk menjaga keamanan dalam negeri dan pertahanan terhadap serangan dari luar, melahirkan peradaban. Semua ini ialah unsur-unsur yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan manusia. Suatu negeri yang maju dalam unsur-unsur ini akan memberikan kepada penduduknya suatu pola hidup sehari-hari, yang berbedaan dari kehidupan di negeri-negeri lain. Perbedaan-perbedaan itulah yang menimbulkan perbedaan peradaban.&lt;br /&gt;Dalam suatu negeri yang pertaniannya terbelakang, makanan sehari-hari penduduknya akan berbeda jauh dari makanan sehari-hari negeri yang maju pertaniannya. Suatu negeri pertanian yang maju mendorong timbulnya konsumsi makanan yang banyak macamnya. Negeri itu akan berusaha&amp;nbsp; memenuhi beragam kebutuhan dan selera yang beragam. Tetapi suatu negeri yang terbelakang pertaniannya tak akan dapat memenuhi ragam-ragam semacam itu. Perbedaan perseorangan dalam kesehatan badan dan penghalusan selera tak akan diperhatikan di sana. Makanan apa saja, yang pada umumnya dihasilkan di negeri itu, semuanya akan dipergunakan tanpa suatu atau banyak perhitungan akan pilihan-pilihan corak makanan lain. Demikian pula suatu negeri yang ketinggalan industrinya, tak akan sanggup mengimbangi negeri industri maju dalam pakaian, perumahan dengan perkakasnya dan dalam pelengkap-pelengkap hidup yang lain guna kenyamanan hidup. Negeri yang industrinya terbelakang tak akan dapat memberi pakaian yang cukup untuk rakyatnya. Bahkan masalah ragam potongan pakaian, jenis bagaimana bahan kain akan dibuat, tak ada di sana. Malahan anak negeri itu tak akan mengenal apa yang dinamakan jas, jangankan pula corak-ragam jas yang sesuai dengan keperluan pada berbagai-bagai keadaan. Bahkan kemeja merupakan barang yang mewah bagi mereka. Pemakaian alas kaki yang dibuat dari kulit tak disamak merupakan barang mewah. Pengertian akan alas kaki itu sendiri pun adalah hal yang luar biasa. Penduduk biasa berjalan dengan kaki tak beralas, atau mereka sudah cukup puas dengan sepotong kulit yang belum disamak dan tak diberi bentuk yang diikatkan pada kaki mereka.&lt;br /&gt;Hal-hal itu kami sebutkan sambil lalu saja. Kami tak dapat menyebutkan semua rincian, tetapi sedikit rincian diperlukan untuk membuktikan bahwa perbedaan-perbedaan dalam pola kehidupan lahiriah kita adalah sebagai akibat dari perbedaan dalam taraf kemajuan yang dicapai oleh berbagai-bagai bangsa dalam pertanian, industri, pengetahuan dan pendidikan. Perbedaan-perbedaan itu begitu besarnya sehingga mereka yang sudah biasa dengan suatu macam kehidupan, tak suka mencampurkannya dengan macam kehidupan lain. Menurut paham kami perbedaan-perbedaan inilah yang menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam peradaban dan pada perbedaan-perbedaan inilah tergantung sebahagian besar soal perang dan damai. Dan perbedaan-perbedaan inilah yang pada akhirnya menimbulkan keinginan-keinginan imperialistis dan ketamakan akan kekuasaan.&lt;br /&gt;Kebudayaan berbeda dari peradaban. Menurut paham kami perhubungan antara kebudayaan dan peradaban sama dengan perhubungan roh manusia dengan jasadnya. Perbedaan-perbedaan dalam peradaban sebenarnya adalah perbedaan dalam kemajuan kebendaan; tetapi perbedaan-perbedaan kebudayaan lahir dari perbedaan-perbedaan kemajuan rohani. Boleh dikatakan bahwa kebudayaan suatu bangsa terdiri atas pikiran dan cita-cita yang tumbuh dari pengaruh ajaran-ajaran agama dan ajaran susila. Ajaran agama itu menyiapkan dasar-dasarnya. Pengikut-pengikut ajaran itu kemudian mendirikan kebudayaan itu di atas dasar-dasar itu. Saat mendirikannya pada dasar-dasar itu agama itu mungkin menyimpang jauh dari ajaran aslinya, tetapi mereka tidak akan sama sekali terlepas dari hubungan dengan dasar-dasar itu. &lt;br /&gt;Seorang yang melaksanakan pola suatu bangunan dapat menyimpang dari rencana-asal sebanyak yang disukainya, tetapi ia tak dapat mengabaikan bagian-bagian yang penting rencana itu. Demikian juga agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan memberikan pola kehidupan. Apa pun yang didirikan pengikut&amp;nbsp; agama-agama dan ideologi-ideologi itu di atas rencana asalnya berkembang menjadi pelbagai pola kesenian dan kesusilaan yang mandiri, sehingga pemerhati-pemerhati terpaksa membagi pengikut-pengikut berbagai agama dalam golongan-golongan yang berlainan sekali. Perbedaan-perbedaan ini adalah perbedaan-perbedaan kebudayaan. Perbedaan-perbedaan kebudayaan telah menjadi sangat penting dewasa ini. Menganjurkan dan menuntut toleransi serta pandangan luas adalah suatu hal yang sudah umum dewasa ini. Kendati begitu, seorang yang namanya saja Kristen, kalau tidak seorang atheis, jauh lebih mudah bercampur-gaul dengan seorang Kristen taklid atau dengan seorang Muslim taklid. Memang tak dapat diragukan bahwa di zaman kita kepentingan-kepentingan politik juga mempengaruhi hubungan antar bangsa-bangsa, dan kepentingan-kepentingan politik ini lahir dari perbedaan-perbedaan peradaban. Tetapi perbedaan-perbedaan kebudayaan tak kurang pentingnya. Seorang Muslim Eropa sangat ramah kepada seorang Muslim Asia; keramahan yang ditunjukkan kepada sesama Muslim tak akan ditunjukkannya kepada sesama orang Eropa. Seorang Kristen Eropa taklid ramah terhadap seorang atheis Amerika. Apakah ini disebabkan oleh kecenderungan agama? Tidak! Kalau kecenderungan agama merupakan satu-satunya unsur yang bekerja, maka seorang Kristen seharusnya lebih dekat ke hati seorang Muslim daripada ke hati seorang atheis.&lt;br /&gt;Pada hakikatnya ialah, diantara orang Kristen dan orang Kristen, meskipun seorang dari mereka itu atheis, ada pertalian-pertalian kebudayaan yang dapat kita sebutkan kebudayaan Kristen. Seorang atheis Kristen bukan lagi orang Kristen dalam kepercayaan-kepercayaan agama, tetapi perasaan dan tindakannya tidak lepas dari pengaruh kebudayaan Kristen. Pengaruh-pengaruh yang sudah turun-temurun dalam beberapa angkatan tak mudah dilenyapkan. Seorang seniman Kristen yang mungkin menjadi atheis dalam pikirannya, masih akan memperlihatkan pengaruh kebudayaan Kristen dalam lukisan-lukisan dan musiknya. Tetapi, sebenarnya, tanpa pengaruh demikian itu keseniannya akan kelihatan janggal seperti tumbuhan tapak-liman tumbuh didalam taman mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/arti-peradaban-dan-kebudayaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-4814119310327797986</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:41:55.736-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nabi-nabi</category><title>ISA BUKAN GURU JAGAT</title><description>Isa a.s. berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu sangkakan aku datang untuk merombak hukum Torat atau kitab nabi-nabi; bukannya aku datang hendak merombak, melainkan hendak menggenapkan. Karena sesungguhnya aku berkata kepadamu sehingga langit dan bumi lenyap, satu noktah atau satu titik pun sekali-kali tiada akan lenyap dari pada hukum Torat itu, sampai semuanya telah jadi” (Matius 5:17-18).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Apa yang diajarkan Musa a.s. dan nabi-nabi sebelumnya tentang hal ini sudah kita lukiskan. Penganjur-penganjur agama Kristen telah pergi ke segenap bagian dunia, tetapi Isa a.s. sendiri tidak punya maksud demikian. Soalnya bukanlah apa yang sedang diusahakan oleh penganut-penganut agama Kristen. Soalnya ialah: apakah yang dimaksud Isa a.s. sendiri? Apakah tujuan Tuhan dengan mengirimkan Isa a.s.? Tak ada orang lain yang dapat menerangkan lebih baik daripada Isa a.s. sendiri; dan Isa a.s. berkata dengan jelas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiadalah aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba Israil yang sesat dari antara Bani Israil”(Matius 15:20).&lt;br /&gt;“Karena anak manusia datang menyelamatkan yang sesat” (Matius 18:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Karena itu ajaran Isa a.s. hanya untuk Bani Israil dan bukan untuk bangsa-bangsa lain. Orang mengatakan bahwa Isa a.s. menganjurkan pengikut-pengikutnya supaya pergi kepada bangsa-bangsa lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu pergilah kamu, jadikanlah sekalian bangsa itu muridku, serta membaptiskan dia dengan Nama Bapa, dan Anak dan Rohulkudus (Matius 28:19)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, menanggapi bahwa Isa a.s. menyuruh pengikut-pengikutnya menyampaikan ajarannya kepada bangsa-bangsa lain selain Bani Israil tidaklah betul. Kalimat itu hanya berarti bahwa Isa a.s. memerintahkan pengikut-pengikutnya supaya menyampaikan ajarannya kepada semua suku Bani Israil dan bukan kepada semua bangsa dan semua ummat. Isa a.s. berkata dengan sejelas-jelasnya:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku berkata kepadamu; bahwa kau pada masa kejadian alam yang baru, apabila Anak manusia kelak duduk di atas takhta kemuliaannya, maka kamu inipun, yang sudah mengikut aku, akan duduk juga di atas duabelas takhta serta menghakimkan duabelas suku bangsa bani Israil” (Matius 19:28).&lt;br /&gt;“Tiadalah Aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba Israil yang sesat dari antara bani Israil” ( Matius 15:24).&lt;br /&gt;“Tiadalah patut diambil roti dari anak-anak, lalu mencampakkan kepada anjing” (Matius 15:26).&lt;br /&gt;Lagi kita baca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka dua belas orang inilah disuruhkan oleh Yesus dengan pesannya demikian; Janganlah kamu pergi ke negeri orang kafir dan jangan kamu masuk negeri orang Samaria; melainkan pergilah kamu kepada segala domba kaum Israil yang sesat itu (Matius 10:5, 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tak boleh menyangka bahwa yang dimaksud penganjur-penganjur Kristen lebih dulu harus pergi ke kota-kota Bani Israil dan kemudian kepada lain-lainnya. Karena pergi kepada domba-domba Israil yang hilang tidak berarti hanya mengunjungi kota mereka, tetapi untuk menasranikan mereka. Karena maksud ayat itu ialah, bahwa sebelum orang-orang Bani Israil menjadi Kristen, orang lain tak usah diperhatikan. Isa a.s. menjelaskan bahwa pekerjaan mengajari orang-orang Bani Israil dan menasranikan mereka tidak akan terlaksana sepenuhnya sebelum kedatangannya yang kedua. Demikian kita baca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kamu dianiayakan oleh orang dalam sebuah negeri, larilah ke negeri yang lain, karena dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bahwa tiada habis kamu menjalani segala negeri Israil, sebelum datang Anak manusia (Matius 10:23).&lt;br /&gt;Maka jelaslah dari sini bahwa Matius 28:19 menghendaki penganjur-penganjur Kristen supaya menegakkan agama Kristen di kota-kota Bani Israil dan tidak hanya mengunjungi kota-kota itu saja. Dinyatakan dengan jelas bahwa kewajiban berda’wah kepada kaum Bani Israil ini tidak akan selesai sebelum “kedatangannya yang kedua”. Karena itu, dengan berda’wah kepada orang-orang lain, padahal kedatangan kedua Isa a.s. belum terjadi, penganjur-penganjur Kristen bertindak tak searah dengan ajaran Isa a.s.&lt;br /&gt;Murid-murid Isa a.s. juga menganggap tidak tepat menganjurkan Injil kepada orang-orang bukan Bani Israil. Demikianlah kita baca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekalian orang, yang berpecah-belah oleh sebab aniaya yang berbangkit karena Stephanus, itu pun mengembaralah sampai ke Feniki dan Kiperus dan Antiochia, tetapi tiada memberitakan firman itu kepada seorang pun kecuali kepada Yahudi (Kisah 11:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pula ketika murid-murid itu mendengar Petrus pada suatu tempat mengabarkan Injil kepada orang-orang bukan Bani Israil, mereka kesal hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Petrus tiba di Yerussalem, maka orang yang menurut adat bersunat itu pun berbantah-bantahlah dengan dia, sambil berkata:”Engkau sudah pergi kepada orang yang tiada bersunat, serta makan bersama-sama dengan mereka itu” (Kisah 11:2,3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sebelum nabi Muhammad saw. tak ada seorang pun yang menyampaikan ajarannya kepada segenap manusia; sebelum Al-Qur’an, tak ada sebuah kitab pun yang menunjukkan ajarannya kepada seluruh ummat manusia. Nabi Muhammad saw. lah yang menyerukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah rasul Allah kepada kamu sekalian”(7:159).&lt;br /&gt;Karena itu, wahyu Al-Qur’an dimaksudkan melenyapkan perbedaan-perbedaan dan perpecahan-perpecahan yang telah terjadi di antara agama-agama dan bangsa-bangsa dan yang mula-mula timbul karena pembatasan ajaran-ajaran dulu yang tak dapat dielakkan. Andai Al-Qur’an tidak datang, perpecahan-perpecahan itu akan terus berjalan. Dunia tak mungkin mengetahui bahwa hanya ada satu Khaliq, juga tak pula akan memaklumi bahwa kejadiannya dimaksudkan untuk satu tujuan yang lua.s. Perbedaan-perbedaan di antara agama-agama sebelum Islam tampaknya lebih memerlukan daripada menolak kedatangan suatu ajaran yang akan mempersatukan semua agama itu.&lt;br /&gt;Pertanyaan kedua ialah: tidakkah alam pikiran manusia akan menempuh proses evolusi yang sama seperti yang sudah dialami oleh jasmani manusia? Dan seperti halnya jasmani manusia yang akhirnya mencapai kemantapan bentuk yang tertentu tidakkah alam pikiran (dan roh) manusia juga ditakdirkan mencapai suatu kemantapan yang menjadi tujuannya terakhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/isa-bukan-guru-jagat.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-5770496718862375382</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:37:07.537-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Islam</category><title>ISLAM MENGAJARKAN TAUHID ILAHI DAN PERI KEMANUSIAAN</title><description>Tetapi, ketika ummat manusia mulai maju, dan lebih banyak negeri mulai makin banyak dihuni, dan jarak di antara negeri-negeri mulai diciutkan dan sarana perhubungan mulai bertambah baik, pikiran mulai merasakan keperluan adanya suatu ajaran yang universal dan melingkupi semua macam keadaan manusia. Berkat hubungan timbal-balik manusia dapat mendalami kesatuan asasi ummat manusia dan ke-Esa-an Khaliq dan Rabb mereka. Ketika itu di gurun sahara tanah Arabia, Tuhan menurunkan ajaran-Nya yang terakhir kepada ummat manusia dengan perantaraan nabi Muhammad saw. maka tak mengherankan kalau ajaran ini mulai dengan memuji Allah, Tuhan seru sekalian alam.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Beliau berbicara tentang Tuhan yang kepada-Nya harus ditujukan segala macam pujian, dan yang menurunkan rezeki-Nya kepada segenap kaum dan negara, dan dengan ukuran yang adil. Dia tidak pilih kasih terhadap suatu negeri atau suatu kaum. Oleh karena itu, ajaran yang mulai secara demikian tak dapat tidak akan berakhir dengan menyerukan Tuhan sekalian manusia, Raja mereka dan Tuhan mereka. Nabi yang membawa ajaran itu adalah Adam kedua. Sebagaimana di masa Adam pertama terdapat satu wahyu dan satu bangsa, begitu pula di masa Adam kedua ini dunia mendapat satu wahyu lagi dan menjadi satu bangsa. Karena itu, kalau dunia dijadikan oleh Tuhan Yang Esa, dan kalau Tuhan sama menaruh perhatian terhadap segenap kaum dan semua negeri, maka perlu sekali bahwa bangsa-bangsa yang beragam dan punya sejarah agama yang berbeda-beda itu bersatu dalam satu kepercayaan dan satu pandangan hidup. Sekiranya Al-Qur’an tidak datang, maka tujuan kerohanian yang merupakan maksud kejadian manusia akan menjadi gagal. Kalau dunia tak dapat dihimpun disekitar&amp;nbsp; satu pusat kerohanian, mungkinkah kiranya kita dapat menerima ke-Esa-an Chalik kita? Sebuah sungai mempunyai banyak anak tetapi akhirnya ia bersatu menjadi satu aliran besar dan diwaktu itulah kemegahan dan keindahannya menampakkan diri. Ajaran yang dibawa Musa, Isa, Krishna, Zoroaster a.s. dan nabi-nabi lain kepada berbagai bagian dunia, adalah laksana anak-anak sungai yang mengalir sebelum suatu sungai besar terwujud alirannya. Semuanya baik dan berfaedah. Tetapi, akhirnya semuanya perlulah mengalir ke dalam sebuah sungai dan menunjukkan ke-Esa-an Tuhan dan menuju ke tujuan terakhir yang satu, yang menjadi sebab manusia diciptakan. Kalau Al-Qur’an tidak memenuhi tujuan ini, manakah ajaran yang memenuhi itu? Bukan Bibel, karena Bibel hanya bicara tentang Tuhan Israil. Bukan pula kitab Zoroaster, karena Zoroaster a.s. membawa cahaya Tuhan yang hanya semata-mata untuk bangsa Iran. Juga bukan Weda, karena risji-risji mengajarkan hukuman berupa tuang logam cair ke dalam telinga orang-orang Sudra – penduduk asli India – yang berani mendengar bacaan Weda. Juga Budha a.s. tidak memenuhi tujuan besar ini, karena meskipun kepercayaan Budha berkembang sampai ke Tiongkok sesudah beliau wafat, namun pandangannya sendiri tak pernah melayang melintasi batas-batas negeri India. Juga ajaran Isa a.s. tak memenuhi tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/islam-mengajarkan-tauhid-ilahi-dan-peri.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-8624447373254629513</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:36:14.713-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Allah Azza wa Jalla</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kitab Wahyu</category><title>MENGAPA AJARAN-AJARAN BERBAGAI AGAMA BERBEDA</title><description>

&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-bottom: 6.0pt; margin-left: 0in; margin-right: -2.7pt; margin-top: 0in; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tetapi
yang menjadi soal ialah, kalau semua guru itu berasal dari Tuhan, mengapa
ajaran-ajaran mereka begitu jauh berbeda antara satu sama lain? Adakah Tuhan
mengajarkan berbagai-bagai hal pada waktu yang berlainan? Orang-orang awam saja
pun akan mencoba bersikap taat asas dan akan mengajarkan hal-hal yang sama pada
berbagai waktu. Jawaban untuk soal ini ialah, bila keadaan-keadaan tetap sama,
maka akan janggal sekali memberikan petunjuk-petunjuk yang berlainan. Tetapi,
kalau keadaan berubah, maka perbedaan ajaran itu terletak pada intisari
hikmahnya. Pada masa nabi Adam as, rupa-rupanya manusia hidup bersama-sama
disuatu bagian dunia, karena itu satu ajaran cukup bagi mereka. Bahkan mungkin
sampai ke masa Nuh a.s. mereka hidup dengan cara itu. Menurut Bibel, suku-suku
bangsa manusia terus hidup bersama-sama pada suatu bagian dunia sampai masa
Babilonia. Bibel bukanlah sebuah buku sejarah. Tetapi ada bukti-bukti yang
menunjang cerita Bibel itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Diantara semua bangsa di dunia, bahkan
di antara kaum-kaum biadab yang mendiami pulau-pulau terpencil, kita menjumpai
jejak peninggalan cerita air-bah di zaman Nuh a.s. Rasanya mustahil bahwa seluruh
dunia mula-mula ditelan air-bah besar, lalu kabar tentang itu tersiar ke
segenap bagian dunia. Lebih masuk akal agaknya kalau pada suatu bagian dunia
terjadi banjir hingga menyebabkan terpencarnya penghuni dunia ke berbagai
jurusan. Sementara belum terbukti bahwa penduduk dunia itu merupakan satu
masyarakat sampai masa Babilonia, sejarah menyokong pandangan bahwa penduduk
dunia itu merupakan satu masyarakat sampai masa Nuh a.s. Sesudah masa Nuh a.s.
penduduk terpencar ke berbagai negeri. Pengaruh ajaran Nuh a.s. mulai
berkurang, karena sarana perhubungan sangat buruk. Seorang guru di suatu negeri
tak mungkin menyampaikan ajarannya ke negeri-negeri lain. Di waktu itu layaklah
kalau Tuhan mengirimkan seorang nabi ke setiap negeri sehingga tak ada suatu negeri
pun yang tak memperoleh hidayah-Nya. Ini menyebabkan perbedaan antara
agama-agama, karena pikiran manusia belum berkembang sepenuhnya. Karena
kecerdasan dan pengertian manusia belum sampai kepada perkembangan yang harus
dicapainya kelak, kepada setiap negeri diturunkan ajaran yang selaras dengan
tingkat kemajuan yang telah dicapainya.&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Body Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Body Text Indent"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:Arial;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/mengapa-ajaran-ajaran-berbagai-agama.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-3238048720090564225</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:33:36.657-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Allah Azza wa Jalla</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kitab Wahyu</category><title>AJARAN YANG DIWAHYUKAN SELAMANYA MENENTANG JALAN PIKIRAN YANG ADA</title><description>Keempat, kalau kita memperhatikan apa yang diajarkan pendiri-pendiri agama itu, maka akan kita ketahui bahwa ajaran itu selalu bertolak belakang dari segala aliran yang ada. Kalau ajaran itu sejalan dengan kecenderungan-kecenderungan masa mereka, dapatlah dikatakan bahwa guru-guru itu hanya menjabarkan kecenderungan-kecenderungan itu. Sebaliknya, yang diajarkan mereka sangat berbeda dari apa yang didapati mereka pada masa itu. Suatu perselisihan dahsyat terjadilah dan nampaknya seakan-akan di negeri itu berkobar kebakaran. Walau begitu, mereka yang mula-mulanya membantah dan menentang ajaran itu pada akhirnya terpaksa menyerah kepadanya. Ini juga merupakan suatu bukti bahwa guru-guru itu bukanlah hasil penjelmaan masanya, melainkan mereka itu guru-guru, pembaharu-pembaharu dan nabi-nabi yang sesuai dengan arti dan maksud da’wah mereka.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Pada masa Musa as, betapa ajarannya tentang Keesaan Tuhan nampaknya aneh. Ketika Isa a.s., pada masanya, berhadapan dengan iklim yang serba kebendaan sebagai penjelmaan sifat kaum Yahudi yang kedunia-duniaan dan oleh karena pengaruh buruk bangsa Roma, sungguh mengganjilkan sekali sikapnya yang menekankan pada kepentingan kerohanian itu. Betapa sumbangnya ajaran beliau tentang sifat pengampunan itu diterima oleh suatu bangsa yang, gemetar ketakutan dari kezaliman para prajurit Roma, selalu merintih-rintih dan menantikan kesempatan untuk melakukan pembalasan dendamnya secara semestinya? Betapa tidak pada waktunya muncul Krishna yang pada satu pihak mengajarkan perang dan pada pihak lainnya menganjurkan pengasingan diri dari dunia kebendaan untuk memupuk roh? Ajaran Zoroaster yang melingkupi segala segi kehidupan manusia, tentu juga menjadi kejutan bagi kehidupan bebas di masa itu. Nabi Muhammad saw. muncul di Arabia dan mengalamatkan seruannya kepada kaum Yahudi dan Kristen. Betapa aneh sekali hal itu tampaknya bagi mereka yang percaya bahwa di samping ajaran mereka tak mungkin ada ajaran lain!&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kemudian, beliau mengajarkan kepada penyembah-penyembah berhala Makkah, bahwa Tuhan itu Esa dan bahwa semua manusia sama. Betapa ganjil ajaran beliau tampaknya bagi suatu kaum yang sungguh-sungguh yakin akan ketinggian jenis bangsa mereka sendiri! Mengingatkan pecandu-pecandu minuman keras dan penjudi-penjudi tentang keburukan perangai mereka, menyalahkan hampir-hampir segala yang dipercayai atau dilakukan mereka, memberikan ajaran baru kepada mereka dan kemudian berhasil, tampaknya mustahil. Hal itu tak ubahnya seperti berenang kehulu melawan arus deras yang menyerang dengan kekuatan yang dahsyat. Hal itu sama sekali di luar kemampuan manusia.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kelima, pendiri-pendiri agama semuanya memperlihatkan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat. Setiap dari mereka menyatakan dari awal mula bahwa ajarannya akan mendapat kemenangan dan bahwa orang-orang yang berusaha menghancurkannya akan hancur sendiri. Mereka tak punya sarana-sarana dan perlengkapannya kurang. Ajaran-ajaran mereka bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaan dan cara-cara berpikir yang sudah mendarah daging, dan ajaran-ajaran itu menimbulkan perlawanan keras dari kaum mereka. Namun, mereka berhasil dan yang mereka katakan sebelumnya menjadi sempurna. Mengapa nubuatan-nubuatan dan janji-janji mereka menjadi sempurna? Memang, ada orang-orang lain, jenderal-jenderal dan diktator-diktator, yang juga mendapat kemenangan secara lahir kelihatannya seperti itu. Tetapi yang menjadi soal bukanlah kemenangan. Soalnya ialah kemenangan yang dinubuatkan lebih dahulu, yang dari semula dikaitkan kepada Tuhan, kemenangan yang padanya dipertaruhkan segenap reputasi akhlak nabi dan yang dicapai dengan menghadapi perlawanan yang paling dahsyat. Napoleon, Hitler dan Jengiz Khan naik ke jenjang tinggi dari kedudukan rendah. Tetapi, mereka tidak menentang suatu arus pikiran yang ada di masa mereka. Tidak pula mereka mengumumkan bahwa Allah telah menjanjikan kemenangan bagi mereka sekalipun menghadapi perlawanan. Tidak pula mereka harus menghadapi suatu perlawanan yang begitu mulus. Tujuan-tujuan yang mereka cita-citakan dijunjung tinggi oleh kebanyakan orang sezaman mereka yang barangkali menyarankan untuk menempuh cara-cara lain tetapi bukan tujuan yang berbeda.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kalau mereka menderita kekalahan, mereka tak kehilangan apa-apa. Mereka masih tetap tinggi dalam pandangan kaum mereka, mereka tak mempunyai kekhawatiran apa-apa. Tetapi, lain halnya dengan Musa, Isa, Krishna, Zoroaster dan nabi Islam saw. Sungguh, mereka tidak gagal, tetapi sekiranya mereka gagal, mereka akan kehilangan segala-galanya. Mereka tidak akan dinyatakan sebagai pahlawan, melainkan akan dihukum sebagai pendakwa palsu dan penipu. Sejarah akan memberi perhatian sedikit sekali kepada mereka dan nama buruk yang kekal akan menjadi ganjaran mereka. Karena itu di antara mereka dan orang orang seperti Napoleon atau Hitler terdapat perbedaan laksana siang dan malam – perbedaan yang sama seperti terdapat pada kemenangan-kemenangan mereka masing-masing. Tak banyak orang yang menghargakan atau memuliakan Napoleon, Hitler atau Jengis Khan. Sebagian memandang mereka sebagai pahlawan dan sangat mengagumi perbuatan-perbuatan mereka. Tetapi, dapatkah mereka menuntut dari orang lain kesetiaan dan kepatuhan sejati? Kesetiaan dan kepatuhan hanya diberikan kepada guru-guru jagat, seperti Musa, Krishna, Zoroaster a.s. dan nabi Muhammad saw. Jutaan manusia sepanjang abad melakukan apa yang disuruh oleh guru-guru itu. Berjuta-juta orang menjauhkan diri mereka dari hal-hal yang dilarang oleh guru-guru itu. Pikiran, kata dan perbuatan mereka yang sekecil-kecilnya dibaktikan kepada apa yang diajarkan kepada mereka oleh anutan-anutan mereka. Adakah pahlawan-pahlawan kebangsaan memperoleh secercah saja kesetiaan dan kepatuhan yang diberikan kepada guru-guru itu? Karena itu, guru-guru jagat itu adalah dari Tuhan dan apa yang diajarkan mereka itu diajarkan oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/ajaran-yang-diwahyukan-selamanya.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-5311704702700488495</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:30:48.979-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Allah Azza wa Jalla</category><title>AGAMA BUKAN HASIL KARYA CIPTA MANUSIA</title><description>Mengenai soal apakah agama-agama ini hasil karya cipta manusia, maka jawabnya pasti ialah, tidaklah demikian dan, jawaban itu berdasarkan beberapa alasan. Agama-agama yang sudah berdiri mapan di dunia memperlihatkan beberapa ciri yang membedakan :&lt;br /&gt;Pertama, menurut semua ukuran biasa para pendiri agama-agama adalah orang-orang yang serba lemah keadaannya. Mereka tak punya kekuasaan atau wibawa. Namun demikian, mereka mengalamatkan perkataan mereka baik kepada orang-orang besar maupun kepada orang-orang kecil dan pada waktu yang tepat mereka dan para pengikut mereka naik dari kedudukan yang rendah kepada yang tinggi di dunia. Ini menunjukkan bahwa mereka ditunjang dan dibantu oleh suatu Kekuasaan yang besar.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kedua, semua pendiri agama-agama adalah pribadi-pribadi yang sangat dihormati dan dimuliakan karena kebersihan hidup mereka, bahkan dimuliakan oleh orang-orang yang kemudian - setelah mereka mengumandangkan pangakuan mereka – menjadi lawan mereka. Tidaklah masuk akal bahwa orang-orang yang tidak pernah berdusta tentang manusia, tiba-tiba mulai berdusta tentang Tuhan. Pengakuan umum tentang keberhasilan hidup mereka sebelum pengumuman pendakwaan mereka adalah bukti kebenaran pendakwaan-pendakwaan itu. Al-Qur’an menekankan hal ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu sepanjang umur sebelum ini. Tidakkah kamu mempergunakan akal?”(10:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini menampilkan Nabi Muhammad saw. seakan-akan berkata kepada pemeluknya, “Aku lama tinggal bersama kamu sebagai seorang di antara kamu. Kamu mempunyai kesempatan untuk memperhatikan aku dari dekat sekali; kamu sudah menyaksikan ketulusan hatiku. Namun, mengapa kamu berani mengatakan bahwa aku hari ini tiba-tiba mulai berdusta tentang Tuhan?”&lt;br /&gt;Demikian pula Al-Qur’an berkata :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika mengutus kepada mereka seorang rasul dari antara mereka”(3:165)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Hal ini juga ditegaskan dalam ayat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, orang-orang yang beriman, sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari antaramu sendiri”(9:128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Yakni, “seorang rasul untuk kamu, yang adalah salah seorang dari antara kamu, bukan seorang yang tidak kamu kenal, melainkan seorang yang kamu kenal baik dan yang tentang kebersihan wataknya kamu telah menyaksikannya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bahkan tentang nabi-nabi lain selain nabi Muhammad saw., Al-Qur’an memberikan pernyataan demikian. Mereka dibangkitkan dari antara kaum mereka sendiri. Tak dapat dikatakan tentang nabi-nabi itu bahwa orang-orang yang mula-mula mereka panggil untuk mengikuti ajaran mereka, tidak cukup mengenal mereka. Ketika penghuni-penghuni neraka dilontarkan ke dalam neraka, Tuhan akan menyesali mereka dengan kata-kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah telah datang kepadamu rasul-rasul dari antara kamu sendiri membacakan kepadamu tanda-tanda dari Tuhan-mu dan memberi peringatan kepadamu tentang pertemuan pada harimu ini?”(39:72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, golongan jin dan manusia, tidakkah telah datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan kepadamu tanda-tanda-Ku dan memperingatkan kamu mengenai pertemuan pada harimu ini?”(6:131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain kita baca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami kirimkan ke tengah-tengah mereka seorang rasul dari&amp;nbsp; antara mereka sendiri, dengan amanat, sembahlah Allah. Tiada bagimu tuhan selain Dia”(23:33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ingatlah hari itu akan Kami bangkitkan dari setiap ummat seorang saksi”(16:85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “saksi” yang dipakai di sini berarti seorang nabi yang dibangkitkan untuk suatu kaum. Pada hari peradilan, nabi-nabi itu akan menunjuk diri mereka sendiri sebagai bukti yang nyata tentang apa-apa yang mereka capai oleh sebab menerima wahyu dari Allah Taala. Tuhan akan memberi malu terhadap orang-orang yang tak percaya dengan berkata : “Lihatlah apa yang telah dicapai oleh nabi-Ku dan kemana keingkaranmu telah membawa kamu”. Kepada kita dikatakan bahwa semua nabi dibangkitkan dari antara kaum mereka sendiri. Keadaan-keadaan tempat seseorang nabi dibangkitkan dan reaksi setiap nabi terhadap keadaan-keadaan itu diketahui benar oleh setiap orang dari bangsa itu. Maka itu, setiap bangsa itu menjadi saksi atas kesalehan dan kesucian nabinya. Disamping itu kita dapati juga dalamAl-Qur’an ayat-ayat seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan, kepada “Ad Kami utus saudara mereka, Hud” (7:66)&lt;br /&gt;“Dan, kepada Tsamud Kami utus saudara mereka, Saleh” (7:74)&lt;br /&gt;“Dan Kami utus pula kepada Midian saudara mereka, Syu’aib” (7:86)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini berarti bahwa Hud, Saleh dan Syu’aib a.s. berhubungan&amp;nbsp; erat sekali dengan bangsa mereka masing-masing sehingga bangsa-bangsa itu dapat dikatakan mengetahui segala-galanya tentang mereka itu. Tentang Saleh a.s. kita baca bahwa ketika beliau mengumumkan diri sebagai nabi untuk bangsanya, kepada beliau dikatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Saleh, sesungguhnya engkau adalah seorang di antara kami sebelum ini tempat kami menaruh harapan. Apakah engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami?”(11:63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula kaum Syu’aib berkata kepada Syu’aib a.s. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruh engkau supaya kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami ataupun melarang kami berbuat apa yang kami sukai berkenaan dengan harta kami? Engkau sesungguhnya menganggap dirimu seorang yang sangat cerdas dan berpikir lurus”.(11:88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kalimat-kalimat ini jelaslah bahwa, menurut Al-Qur’an, nabi Muhammad saw. sendiri dan Hud, Saleh, Syu’aib serta nabi-nabi lainnya bukanlah orang-orang asing yang sedikit sekali diketahui oleh kaum mereka masing-masing. Kaum mereka tahu benar akan macam apa kehidupan yang dijalani oleh guru-guru mereka dan tahu benar bahwa mereka adalah orang-orang yang tulus, mutaki dan saleh. Seorang pun dari antara mereka tak dapat dikatakan pahlawan kesiangan yang tak dikenal dan mempunyai maksud-maksud tertentu terhadap kaumnya sendiri.&lt;br /&gt;Ketiga, pendiri-pendiri agama tidaklah memiliki daya dan kemampuan-kemampuan yang biasanya diperlukan untuk menjadi pemimpin yang berhasil. Mereka sedikit atau sama sekali tidak mengetahui kesenian-kesenian atau kebudayaan di masa mereka. Namun, apa yang diajarkan mereka ternyata merupakan sesuatu yang lebih maju dari masa mereka, sesuatu yang tepat dan sesuai dengan waktunya. Dengan menjalankan ajaran itu suatu kaum mencapai suatu peringkat tinggi dalam peradaban dan kebudayaan, dan berabad-abad lamanya memegang terus kejayaannya. Seorang Guru Jagat yang sejati membuat hal itu mungkin. Sebaliknya, tak dapat dimengerti bahwa seorang yang lugu dengan kesanggupan-kesanggupan yang biasa-biasa, segera setelah ia mulai berdusta tentang Tuhan, memperoleh kekuasaan yang demikian hebatnya sehingga ajarannya mengungguli ajaran lainnya yang terdapat pada masanya. Kemajuan semacam itu tak akan mungkin dicapai tanpa bantuan Tuhan Yang Mahakuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/agama-bukan-hasil-karya-cipta-manusia.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-7823459727587716251</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:29:26.909-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Allah Azza wa Jalla</category><title>TUHAN ITU ESA</title><description>Dunia ini sekarang sudah jauh maju. Kita tak perlu berusaha susah-payah memikirkan soal bahwa kalau dunia mempunyai Khaliq, Dia adalah Khaliq yang tunggal, Tuhan kaum Bani Israil, Tuhan kaum Hindu, Tuhan negeri Cina dan Tuhan negeri Iran adalah tidak berbeda. Tidak juga Tuhan Arabia, Afganistan, dan Eropa berlainan. Tidak pula Tuhan orang-orang Mongol dan Tuhan orang-orang Semit itu berlainan. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tuhan itu satu sebagaimana hukum yang menguasai dunia adalah hukum tunggal, dan sistem yang menghubungkan yang satu dengan lainnya adalah sistem tunggal pula. Ilmu pengetahuan bersandar pada kepercayaan bahwa semua perubahan alami dan mekanis adalah penjabaran dari satu hukum. Dunia mempunyai satu prinsip, ialah gerakan, sebagaimana dikatakan oleh ahli-ahli filsafat materialistis. Atau dunia mempunyai satu Khaliq. Kalau benar, maka ucapan seperti Tuhan kaum Bani Israil, Tuhan orang-orang Arab, Tuhan bangsa Hindu, tak ada artinya. Tetapi, kalau Tuhan itu satu, mengapa kita harus mempunyai ragam agama begitu banyak? Apakah agama-agama itu buah pikiran manusia? Adakah karena ini setiap bangsa dan setiap kaum menyembah Tuhan masing-masing? Kalau agama-agama bukan ciptaan manusia, mengapa dan bagaimana cara terjadi perbedaan di antara agama-agama? Kalau memang ada suatu sebab untuk perbedaan itu, maka adakah wajar kalau perbedaan itu terus berlangsung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/tuhan-itu-esa.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-1001018666377330761</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:25:13.237-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kitab Wahyu</category><title>WEDA JUGA KITAB KEBANGSAAN</title><description>Di kalangan pengikut-pengikut Weda, membaca Weda menjadi hak yang begitu istimewa bagi kasta-kasta tinggi, sehingga Gotama Risji berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seorang Sudra kebetulan mendengar Weda, maka telah menjadi kewajiban raja untuk memasukkan logam dan lilin cair ke dalam telinganya; kalau ada seorang Sudra membaca Mantra-mantra Weda, raja harus memotong lidahnya dan kalau ia mencoba membaca Weda, raja harus mencincang badannya (Gotama Smarti: 12).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ajaran dalam Weda terhadap musuh-musuh sangat dahsyat dan biadab. Dalam Atharwa Weda kepada orang-orang kolot diajarkan supaya merantai orang-orang yang bukan pengikut Weda dan menjarah rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikap singa rampoklah rumah-rumah kediaman mereka, dengan sikap harimau usirlah musuh-musuh kamu. Sebagai tuan dan pemimpin satu-satunya dan berserikat dengan Indra, rebutlah hai penakluk, harta kekayaan musuh-musuhmu (Atharwa-Weda IV, 22:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Demikianlah pula do’a-do’a Weda yang dihadapkan kepada matahari, bulan, api, Indra, malahan rumput, berusaha memusnahkan orang-orang agama yang bukan pengikut Weda. Demikianlah kita dapati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil melumpuhkan pancaindera, tangkaplah olehmu badan mereka dan berangkatlah, hai Apwa. Seranglah mereka masukkanlah hati mereka ke dalam api dan bakarlah mereka: Biarkanlah musuh itu tinggal terus dalam kegelapan pekat.&lt;br /&gt;Dengan mengasah anak panah dan pedangmu yang tajam, O Indra, remukkan musuh dan kucar-kacirkan mereka yang membenci kami (Sama-Weda, Bag.2, ix, iii, 9).&lt;br /&gt;Hendaklah kamu, hai musuh-musuh-ku, menjadi buta seperti ular tak berkepala; moga-moga Indra menyembelih tiap-tiap orang yang terbaik di antara kamu, bila api Aqni telah merobohkan kamu (Sama Weda, Bag.2,ix,iii,8).&lt;br /&gt;Tembus, O Darbha, jimat, jantung musuh-musuhku, lawan-lawanku; bangkitlah dan penggal kepala mereka (Atharwa-Weda,28;4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kita baca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bercakap-cakap dengan orang-orang agama, yang bukan pengikut Weda (Gotamadharma Sur,V). Kalau seorang mencela Weda, usir ia dari negeri, yaitu hukum ia seumur hidup (Manu Dharm Shastra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;Agama-agama Kong Hu Cu dan Zoroaster juga adalah agama kebangsaan. Agama-agama itu tidak mengalamatkan ajaran-ajaran mereka ke seluruh dunia, juga tidak berusaha memberi ajaran dengan cara besar-besaran. Sebagaimana halnya agama Hindu menganggap India sebagai negeri yang amat disukai Tuhan, begitu pula halnya agama Kong Hu Cu menganggap Cina sebagai kerajaan Tuhan sendiri. Hanya ada dua jalan untuk melenyapkan perpecahan dan perselisihan-perselisihan di antara agama-agama ini; kita harus menerima bahwa Tuhan itu banyak, atau, kalau Tuhan itu satu, kita harus membuktikan ke-Esaan-Nya. Atau, agama-agama yang satu sama lain bertentangan ini harus diganti oleh satu ajaran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/weda-juga-kitab-kebangsaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-6774401337627427195</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:24:26.215-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kitab Wahyu</category><title>TUHAN DALAM BIBEL ADALAH TUHAN KEBANGSAAN</title><description>Agama mempunyai tujuan ganda: (i) ia memberi kemampuan kepada manusia untuk bertemu dengan Chalik-nya; dan (ii) ia mengajari manusia tentang kewajibannya terhadap sesamanya. Semua agama yang sudah ada sebelum Islam tidak saja berbeda-beda, tetapi juga saling bertentangan. Bibel tidak bicara tentang Tuhan, kecuali tentang Tuhan-nya Israil. Kita membaca didalamnya berulang-ulang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka kata Daud kepada Abigail: Segala puji bagi Tuhan-nya Israil, yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; menyuruh&amp;nbsp;&amp;nbsp; engkau mendapatkan aku pada hari ini (I Samuel 25:32).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dan lagi demikianlah titah baginda: Segala puji bagi Tuhan-nya Israil, yang mengaruniakan pada hari ini kepada seseorang untuk duduk di atas takhta kerajaanku, sehingga mataku sendiri juga telah melihatnya (I Raja-raja I : 48)&lt;br /&gt;Segala puji bagi Tuhan-nya Israil, dari kekal datang kepada kekal. Segenap orang mengatakan, Amin! Segala puji bagi Tuhan (I Tawarikh 16:36).&lt;br /&gt;Maka kata baginda: Segala puji bagi Tuhan-nya Israil, yang telah menyempurnakan dengan tangannya apa-apa yang Dia telah berfirman dengan mulutnya kepada ayahku Daud, firmannya …… (II Tawarikh 6:4).&lt;br /&gt;Segala puji bagi Tuhan, Tuhan-nya Israil, yang sendiri mengadakan perbuatan yang ajaib (Mazmur 72:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isa a.s. juga menganggap dirinya sendiri sebagai guru untuk Bani Israil. Kalau orang-orang yang lain menghampiri, beliau menyuruh mereka pergi. Dalam Matius 15:21-26 kita baca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Isa-pun keluar dari sana, serta berangkat ke daerah pantai Tsur dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah pantai itu, serta berseru kepadanya: Ya, tuan, ya Anak Daud kasihanilah hamba; anak hamba perempuan dirasuk setan terlalu sangat.&lt;br /&gt;Tetapi sepatah katapun tidak dijawabnya. Maka datanglah murid-muridnya meminta kepadanya, serta berkata: Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia berteriak-teriak di belakang kita. Tetapi ia menjawab, katanya: Aku hanya disuruh kepada segala domba yang sesat dari kaum Bani Israil. Maka datanglah perempuan itu sujud menyembahnya, katanya: Ya tuan, tolonglah hamba! Tetapi ia menjawab, katanya: Tidak patut diambil roti dari anak-anak, lalu ,menyampaikannya kepada anjing.&lt;br /&gt;Isa a.s. mengajarkan juga kepada murid-muridnya :&lt;br /&gt;Janganlah kamu memberi barang yang kudus pada anjing dan janganlah dicampakkan mutiaramu di hadapan babi, kalau-kalau dipijak-pijaknya dengan kakinya serta berbalik dan menerkammu (Matius 7:6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/tuhan-dalam-bibel-adalah-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-266010829279935193</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:23:37.588-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>KEPERLUAN AKAN AL-QUR’AN</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;

&lt;div class="MsoBodyText" style="margin-right: -2.7pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Dengan
kehadiran semua kitab dan ajaran itu, masihkah dunia memerlukan sebuah kitab
yang baru? Pertanyaan ini akan timbul dalam hati setiap orang yang mulai
menelaah Al-Qur’an. Jawabannya akan berbagai-bagai bentuknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pertama, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;bukankah perpecahan
di antara agama-agama itu menjadi alasan yang cukup untuk kemunculan seuatu
agama baru lagi untuk mempersatukan semuanya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;, tidakkah pikiran
manusia akan menempuh proses evolusi serupa dengan yang sudah dilalui oleh
jasad manusia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Dan,
persis sebagaimana evolusi jasmani yang akhirnya menjadi sempurna, tidakkah
evolusi alam pikiran dan rohani ditakdirkan menuju kepada kesempurnaan akhir
yang merupakan tujuan hakiki kejadian manusia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;, tidakkah
kitab-kitab yang datang lebih dahulu menjadi demikian rusaknya sehingga kini
suatu kitab baru sudah menjadi keperluan universal yang dipenuhi oleh Al-Qur’an
?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;, adakah tiap agama
yang datang lebih dahulu menganggap ajarannya sebagai mutlak terakhir sekali?
Bukankah agama-agama itu percaya kepada kemajuan rohani yang berkesinambungan?
Bukankah tiap agama selalu meyakinkan para pengikutnya tentang kedatangan suatu
ajaran yang akan mempersatukan ummat manusia dan memimpin mereka kepada tujuan
mereka yang terakhir?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Jawaban
terhadap keempat pertanyaan ini ialah jawaban terhadap pertanyaan mengenai
perlunya Al-Qur’an di samping kitab-kitab dan ajaran-ajaran agama yang datang
lebih dahulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: -2.7pt; tab-stops: 6.0in; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Kita akan melanjutkan
menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu. Tidakkah perpecahan
agama-agama menjadi alasan cukup untuk kemunculan suatu ajaran baru yang akan
mempersatukan semua ajaran yang datang lebih dahulu?&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Body Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0in;
 mso-para-margin-right:0in;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0in;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:Arial;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/keperluan-akan-al-quran.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-7513620049211438363</guid><pubDate>Mon, 20 May 2013 07:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-20T00:19:37.663-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kitab Wahyu</category><title>KITAB-KITAB WAHYU YANG LAIN</title><description>&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ketika Al-Qur’an diwahyukan , di dunia terdapat banyak agama dan banyak kitab agama. Di Arabia dan di dekatnya terdapat kaum-kaum yang mempercayai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Banyak orang Arab menjadi pengikut agama Kristen atau makin cenderung kepada agama Kristen. Orang-orang Arab diikhtiari supaya masuk agama Yahudi. Di antara orang-orang yang masuk terdapat orang bernama Ka’b bin Asyraf, seorang kepala kabilah di Madinah dan musuh terkenal Islam, dan bapaknya, bapak Ka’b termasuk suku Banu Ta’i. Ia menjadi begitu terkesan oleh agama Yahudi sehingga seorang Yahudi, Abu Rafi’ bin Abi Haqiq, mengawinkannya dengan anak perempuannya, dan Ka’b lahir dari perkawinan itu (Al-Chamis, Jilid I).&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di Makkah sendiri, selain budak-budak Kristen, ada orang-orang Makkah yang cenderung kepada agama Kristen. Waraqa bin Naufal, saudara sepupu Chadijah, istri Nabi Muhammad saw. menganut kepercayaan Kristen. Ia juga berpengetahuan sedikit tentang bahasa Iberani dan menerjemahkan Injil-Injil bahasa Iberani ke dalam bahasa Arab. Kita membaca dalam Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waraqa bin Naufal masuk agama Kristen dalam masa Jahiliyah, dan sering menerjemahkan Injil-Injil dari bahasa Iberani ke dalam bahasa Arab”(Buchari, Bab Bad’al Wahy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ujung Arabia lainnya tinggal orang-orang Iran, dan mereka juga percaya kepada seorang Nabi dan sebuah kitab. Walaupun Zend Avesta telah mengalami perubahan-perubahan karena ulah manusia, namun ia dijunjung tinggi oleh beberapa ratus ribu orang yang mempercayainya, dan suatu negara besar ada di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India, Kitab Weda dipuja orang selama beribu-ribu tahun. Ada juga kitab Gita dari Sri Kresna dan ajaran Budha. Agama Kong Hu-Cu berkuasa di Cina tetapi pengaruh Budha kian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2013/05/kitab-kitab-wahyu-yang-lain.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-7965742933967063137</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:58:33.075-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Puisi</category><title>Wahyu Ilahi</title><description>Dengan kalam Ilahi, fajar kebenaran telah merekah&lt;br /&gt;Mata yang belum melihat kalam suci, sesungguhnya buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istana hatiku dipenuhi wewangian kesturi itu&lt;br /&gt;Kekasih yang telah meninggalkan, sekarang telah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata yang tidak melihat Nur Al-Furqan&lt;br /&gt;Demi Allah, ia tidak akan dibukakan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mencari taman Ilahi tetapi menyisihkan Al-Qur’an&lt;br /&gt;Sesungguhnya ia tidak pernah mencium wewangiannya.&lt;br /&gt;Aku bahkan tidak membandingkan dengan mentari&lt;br /&gt;Akan nur yang aku perhati,&lt;br /&gt;Beratus mentari mengitarinya dengan rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sial manusia yang memalingkan wajah dari Nur&lt;br /&gt;Hanya karena keangkuhan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 335,  London, 1984). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/wahyu-ilahi.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-3184709264340956912</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:57:53.024-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Puisi</category><title>Al-Qur'an Sumber segala kebenaran</title><description>Dari Nur suci Al-Qur’an muncul hari yang terang&lt;br /&gt;Angin musim semi semilir mengusap kuntum hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari pun tidak memiliki Nur dan kecemerlangan ini&lt;br /&gt;Pesona dan keindahannya pun tak ada pada rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf dilemparkan sendiri ke sebuah lubang&lt;br /&gt;Sedangkan Yusuf9 yang ini telah menarik manusia ke luar lubang.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sumber segala ilmu, ia telah mengungkap ratusan kebenaran&lt;br /&gt;Keindahannya menggugah wawasan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kalian betapa luhur fitrat pengetahuan miliknya?&lt;br /&gt;Penaka madu surgawi menetes dari wahyu Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mentari kebenaran ini muncul di dunia,&lt;br /&gt;Semua celepuk yang memuja kegelapan, bersembunyi semua.&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa merasa pasti di dunia ini,&lt;br /&gt;Kecuali ia yang berlindung dalam wujudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang diberkati dengan pengetahuannya&lt;br /&gt;Menjadi khazanah pengetahuan,&lt;br /&gt;Ia yang tidak menyadarinya&lt;br /&gt;Serupa mereka yang tak tahu sesuatu apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan rahmat Ilahi menghampiri dirinya&lt;br /&gt;Wahai sialnya mereka yang meninggalkannya dan mencari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan kepada dosa adalah gejala syaitan bernoda&lt;br /&gt;Yang kuanggap manusia hanya mereka yang meninggal kannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai tambang keindahan, aku tahu sumbermu&lt;br /&gt;Engkau adalah Nur dari Allah yang mencipta semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak hasrat dengan siapa pun, hanya engkau kasihku&lt;br /&gt;Kami telah menerima nurmu dari Dia yang mendengar doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 304-305,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/al-quran-sumber-segala-kebenaran.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-8887469344661913435</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-08T07:26:25.835-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Puisi</category><title>Keindahan Al-Qur’an</title><description>Pesona dan keindahan AlQur’an&lt;br /&gt;Adalah Nur dan kehidupan setiap Muslim,&lt;br /&gt;Rembulan mungkin kecintaan lainnya&lt;br /&gt;Bagi kami yang terkasih Al-Qur’an semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kucari ke berbagai penjuru&lt;br /&gt;Tak bersua sama sekali tandingannya,&lt;br /&gt;Bagaimana tidak ada padanannya&lt;br /&gt;Ia adalah Kalam Suci Tuhan yang Maha Kaya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kata di dalamnya berisi kehidupan&lt;br /&gt;Dan sumber mata air tak berkesudahan,&lt;br /&gt;Tak ada kebun yang demikian indah&lt;br /&gt;Tidak juga taman serupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalam Allah yang Maha Pengasih&lt;br /&gt;Tak ada bandingannya,&lt;br /&gt;Meski mutiara dari Oman&lt;br /&gt;Atau pun mirah dari Badakshan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana mungkin kata manusia&lt;br /&gt;Bisa mengimbangi Kalam Ilahi?&lt;br /&gt;Di sini kekuatan samawi, di sana tanpa daya,&lt;br /&gt;Bedanya demikian nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengetahuan dan kefasihan&lt;br /&gt;Gimana mungkin manusia mengimbangi-Nya?&lt;br /&gt;Padahal para malaikat pun&lt;br /&gt;Tak berdaya di hadirat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kaki serangga kecil pun&lt;br /&gt;Tak mampu manusia mencipta,&lt;br /&gt;Gimana mungkin baginya&lt;br /&gt;Mencipta Nur sang Maha Perkasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai manusia, perhatikanlah&lt;br /&gt;Keagungan Tuhan yang Maha Akbar&lt;br /&gt;Kendalikan lidah kalian&lt;br /&gt;Jika ada sedikit saja keimanan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganggap ada yang sama dengan Tuhan&lt;br /&gt;Adalah kekafiran pada puncaknya,&lt;br /&gt;Takutlah kepada Tuhan, wahai sayangku&lt;br /&gt;Betapa dusta dan fitnah hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian menerima Ketauhidan Ilahi&lt;br /&gt;Mengapa hati kalian berisi penuh berhala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabir kegelapan apa yang telah menyelimuti hati kalian.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kalian telah berdosa&lt;br /&gt;Bertaubatlah, jika kalian takut kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengharapkan buruk bagi kalian, saudaraku&lt;br /&gt;Ini hanyalah nasihat sederhana&lt;br /&gt;Hati dan jiwaku adalah persembahan bagi&lt;br /&gt;Siapa pun yang berhati mulia.&lt;br /&gt;(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 198-204,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur dari Al-Furqan&lt;br /&gt;Adalah yang paling cemerlang dari semua sinar,&lt;br /&gt;Maha Suci Dia yang dari-Nya&lt;br /&gt;Mengalir sungai nur ruhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon keimanan dalam Ketauhidan Ilahi&lt;br /&gt;Sudah hampir meranggas kering&lt;br /&gt;Ketika tiba mata air murni ini&lt;br /&gt;Muncul dari ketiadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Furqan-Mu sendiri adalah alam hakiki&lt;br /&gt;Yang berisi segala yang dibutuhkan makhluk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kucari ke seluruh dunia,&lt;br /&gt;Telah kutelusuri semua tempat niaga&lt;br /&gt;Yang kutemukan adalah piala satu ini&lt;br /&gt;Berisi ilmu hakiki sang Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada padanan Nur ini&lt;br /&gt;Di segenap penjuru bumi&lt;br /&gt;Fitratnya unik dalam segala hal&lt;br /&gt;Tanpa tanding di segala bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula kukira bahwa Furqan serupa dengan tongkat Musa,&lt;br /&gt;Setelah kurenungi mendalam nyatanya&lt;br /&gt;Setiap katanya adalah al-Masih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika buta mata mereka&lt;br /&gt;Itu kesalahan mereka sendiri,&lt;br /&gt;Padahal Nur ini telah bersinar&lt;br /&gt;Seterang seratus mentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa menyedihkan kehidupan&lt;br /&gt;Umat manusia di dunia,&lt;br /&gt;Yang hatinya tetap membuta&lt;br /&gt;Meski tersedia Nur hakiki ini.&lt;br /&gt;(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 305-306,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.lintasberita.com/submit.php?phase=2&amp;url=http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/keindahan-al-quran.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.lintasberita.com/buttons_lb/lintasberita_a_180x35.png" alt="baca berita di lintas berita" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/keindahan-al-quran.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-4897012868821997076</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:56:08.994-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Kesempurnaan sistem petunjuk dalam Al-Qur’an</title><description>Pada tempat lain juga telah difirmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan pemisahkan yang hak dari yang batil”. (S.2 Al-Baqarah:186).&lt;br /&gt;Berarti Al-Qur’an memiliki tiga karakteristik. Pertama, Kitab ini membimbing manusia kepada pengetahuan tentang keimanan yang telah menghilang. Kedua, Kitab ini mengemukakan rincian dari pengetahuan tersebut secara detil. Ketiga, Kitab ini mengemukakan firman tegas tentang hal-hal berkaitan dengan mana telah muncul perselisihan paham, sehingga dengan demikian menjadi pembeda di antara yang hak dan yang batil. &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan sifat komprehensifitas daripada Al-Qur’an, dinyatakan dalam sebuah ayat bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala sesuatu telah Kami terangkan dengan keterangan yang terperinci”. (S.17 Bani Israil:13).&lt;br /&gt;Makna dari ayat ini ialah semua pengetahuan tentang keimanan telah dijelaskan secara rinci di dalam Al-Qur’an dan Kitab ini memberikan sarana dan mengajarkan bahwa pengetahuan luhur demikian akan membimbing manusia tidak saja ke arah kemajuan parsial tetapi justru kepada perkembangan yang sempurna.&lt;br /&gt;Begitu juga dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah Kami turunkan kepada engkau kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk dan rahmat dan kabar suka bagi orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah”. (S.16 An-Nahl:90).&lt;br /&gt;Makna ayat ini untuk mengemukakan bahwa Kitab tersebut diwahyukan agar setiap kebenaran agama menjadi jelas dan kejelasan tersebut bisa menjadi pedoman dan rahmat bagi mereka yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kemudian juga difirmankan:&lt;br /&gt;      ••    &lt;br /&gt;“Inilah suatu kitab yang telah Kami turunkan kepada engkau, supaya engkau dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya”.  (S.14 Ibrahim:2).&lt;br /&gt;Berarti bahwa Al-Qur’an dapat mengikis semua bentuk keraguan yang telah menyelinap ke dalam pikiran manusia sehingga memunculkan pandangan-pandangan yang salah, serta mengarunia¬kan Nur dari pemahaman yang sempurna. Dengan kata lain, Kitab ini memberikan semua wawasan dan kebenaran yang dibutuhkan manusia guna berpaling ke arah Tuhan mereka dan beriman kepada-Nya.&lt;br /&gt;Pada tempat lain dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukanlah suatu hal yang telah dibuat-buat, melainkan suatu penyempurnaan apa yang telah ada sebelumnya dan penjelasan terperinci untuk segala sesuatu, dan suatu petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (S.12 Yusuf:112).&lt;br /&gt;Berarti bahwa Al-Qur’an bukanlah suatu buku yang bisa dikarang oleh seorang manusia. Tanda-tanda kebenarannya nyata sekali karena Kitab ini telah menegakkan kebenaran dari Kitab-kitab sebelumnya, dengan pengertian bahwa nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab-kitab sebelumnya berkaitan dengan Al-Qur’an telah menjadi kenyataan dengan diwahyukannya Kitab ini. Begitu pula Al-Qur’an telah memberikan argumentasi yang mendukung aqidah-aqidah hakiki yang sebelumnya tidak dikemukakan dalam Kitab-kitab terdahulu dan dengan demikian telah menjadikan aqidah tersebut menjadi sempurna. Dengan cara ini Al-Qur’an telah meneguhkan kebenaran Kitab-kitab terdahulu dan dengan demikian telah menegakkan kebenarannya sendiri. Bahwa Kitab ini berisi semua kebenaran dari agama-agama lainnya, juga menjadi tanda kebenaran dirinya. Semua hal itu menjadi tanda kebenarannya karena tidak ada manusia yang pengetahuannya demikian komprehensif sehingga menguasai semua kebenaran agama dan mutiara kebenaran tanpa ada yang terlewatkan.&lt;br /&gt;Dalam ayat-ayat tersebut di atas Allah yang Maha Kuasa secara tegas menyatakan bahwa Al-Qur’an secara komprehensif telah merangkum semua kebenaran dan hal ini menjadi argumentasi yang kuat untuk menopang kebenarannya. Sudah lewat ratusan tahun sejak pernyataan dari Al-Qur’an itu dan sampai sekarang tidak ada dari Brahmo Samaj atau pun yang lainnya yang berani menyangkalnya. Rasanya menjadi jelas bahwa mereka dengan tidak memberikan kebenaran baru yang mungkin terlewat oleh Al-Qur’an, tentulah mereka itu seperti orang-orang tidak waras yang mengemukakan sesuatu tanpa realitas yang mendukung. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa mereka itu sebenarnya memang tidak mencari kebenaran sebagaimana seorang muttaqi tetapi hanya untuk memuaskan nafsu jahat mereka dalam mencari jalan untuk membebaskan diri dari Firman Tuhan dan dari Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;Guna memperoleh kebebasan demikian, mereka telah berpaling dari Kitab Tuhan yang hakiki dimana kebenarannya lebih cemerlang daripada matahari sekalipun. Mereka tidak mau membicarakan hal-hal itu dalam semangat orang terpelajar, tidak juga mereka mau mendengarkan suara pihak lain. Mereka seharusnya diingatkan, kapan pernah seorang manusia mampu mengajukan suatu kebenaran keagamaan yang bertentangan dengan Al-Qur’an yang tidak ada jawabannya di dalam Kitab ini. Selama lebih dari 1300 tahun sudah Kitab Suci Al-Qur’an menyatakan bahwa semua kebenaran keagamaan telah dirangkum di dalamnya. Alangkah jahatnya orang yang tanpa menguji Kitab yang demikian luhur lalu mengatakannya sebagai berkekurangan. Betapa angkuhnya mereka karena tidak mau mengakui kebenaran pernyataan Al-Qur’an tetapi juga tidak mampu membantahnya. Sebenarnya walau bibir mereka terkadang mengucapkan nama Tuhan, namun hati mereka berisi segala kekotoran duniawi. Bila mereka memulai diskusi keagamaan, mereka selalu tidak mau melanjutkannya sampai selesai karena takut kebenaran akan mengemuka. &lt;br /&gt;Mereka seenak hatinya sendiri menyatakan bahwa Kitab ini berkekurangan padahal Allah s.w.t. telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagi manfaatmu dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4).&lt;br /&gt;Apakah kalian tidak takut kepada Tuhan? Apakah kalian akan terus saja berkelakukan seperti ini? Apakah kalian pikir bahwa mulut kalian tidak akan dilaknat Tuhan nanti? Jika kalian pikir bahwa kalian telah menemukan kebenaran luhur setelah penelitian dan kerja keras kalian, lalu menyatakan bahwa hal itu terlewatkan oleh Al-Qur’an, kami undang kalian untuk datang menyerahkannya kepada kami, dan kami nanti akan berikan bukti dari Al-Qur’an bahwa semuanya sudah terangkum di dalamnya. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 223-227,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/kesempurnaan-sistem-petunjuk-dalam-al.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-5452623471780483184</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:55:03.563-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Jawaban atas kritik kaum Brahmo Samaj</title><description>Ada yang mengajukan keberatan bahwa bagaimana mungkin seluruh kebenaran pengetahuan Ilahi dirangkum dalam satu Kitab saja dan karena itu bagaimana mungkin Kitab yang tidak sempurna itu dapat diharapkan akan membimbing manusia ke arah pengertian yang benar?&lt;br /&gt;Jawaban atas pertanyaan seperti itu ialah keberatan demikian patut mendapat perhatian jika salah satu dari kelompok Brahmo Samaj dapat mengemukakan dari pikirannya sendiri adanya kebenaran baru berkaitan dengan pengenalan Tuhan atau hal lainnya yang belum diungkapkan di dalam Al-Qur’an. &lt;div class="fullpost"&gt; Jika ia mampu maka kaum Brahmo Samaj boleh mengagulkan diri menyatakan bahwa belum semua kebenaran mengenai akhirat dan pengenalan Tuhan sudah dikemukakan dalam Al-Qur’an, dan bahwa mereka menemukan kebenaran baru di luar Kitab itu. Nyatanya hal seperti itu tidak mungkin terjadi dan kalau mereka melakukannya juga, paling-paling mereka hanya berhasil mengelabui beberapa orang yang bodoh saja. Kitab Suci Al-Qur’an menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada sesuatu yang Kami alpakan dalam Kitab ini”. (S.6 Al-Anaam:39)&lt;br /&gt;dengan pengertian bahwa tidak ada kebenaran yang berkaitan dengan pengetahuan Ilahi yang diperlukan manusia yang terlewat tidak disentuh oleh Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Di tempat lain dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang rasul dari Allah yang membacakan kepada mereka lembaran-lembaran suci, yang di dalamnya terkandung perintah-perintah kekal abadi”. (S.98 Al-Bayinah:3-4).&lt;br /&gt;Dari ayat ini jelas bahwa Al-Qur’an telah merangkum keseluruhan kebenaran serta pengetahuan dari awal maupun akhir. Begitu pula difirmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah kitab yang ayat-ayatnya telah dibuat kokoh dan bebas dari cacat, kemudian itu telah diuraikan terperinci, dari Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui”. (S.11 Hud:2).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, Kitab ini memiliki dua sifat; pertama, yang Maha Bijaksana telah menyusunnya secara kokoh dengan argumentasi yang kuat dalam kebijakan dan bukan semata-mata sebagai dongeng; dan kedua, Kitab ini menjelaskan segala hal yang patut diketahui mengenai akhirat. Dinyatakan juga di tempat lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Al-Qur’an itu perkataan yang menentukan, dan Al-Qur’an itu bukan pembicaraan kosong”. (S.86 Ath-Thariq:14-15)&lt;br /&gt;yaitu Kitab ini menjelaskan semua pandangan mengenai kehidupan akhirat dan bukan merupakan suatu hal yang tidak ada artinya. Begitu pula dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak menurunkan kepada engkau kitab ini kecuali supaya engkau dapat menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang mereka telah menimbulkan perselisihan-perselisihan dan supaya menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (S.16 An-Nahl:65)&lt;br /&gt;yaitu dengan pengertian bahwa Kitab ini diwahyukan agar perselisihan paham di antara manusia akibat dari penalaran yang salah atau karena kesengajaan, bisa dilenyapkan dan bagi mereka yang beriman akan terbuka jalan yang lurus. Yang juga diindikasikan dalam ayat ini ialah kekeliruan yang muncul akibat dari komposisi manusia dapat diselesaikan oleh Firman yang kalis dari segala cacat tersebut.&lt;br /&gt;Rasanya jelas bahwa mereka yang terbawa keliru karena ucapan, bisa dibawa kembali ke jalan yang lurus hanya melalui Firman Ilahi. Manusia secara alamiah saja tidak akan mampu membedakan kebaikan di antara berbagai karangan atau komposisi orang lain, tidak juga bisa menyadarkan yang keliru mengenai kesalahan mereka. Seorang hakim walau telah mencatat semua tuntutan dari penggugat dan telah menjawab untuk mengatasi semua keberatan dari si terdakwa, masih saja pihak-pihak berkaitan merasa tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dan sanggahan mereka dalam keputusan sang hakim, dan bagaimana bisa keputusan akhir memuaskan semua pihak jika didasarkan pada hal-hal rancu yang tersirat?&lt;br /&gt;Berbeda dengan itu, perintah-perintah Tuhan secara konklusif ditegaskan demi kepuasan para hamba-Nya ketika Dia memberitahukan tentang kesalahan mereka akibat terperosok oleh ucapan dusta orang lain serta menjelaskan hal kejatuhan mereka itu secara jelas dan tegas, dimana mereka akan menyadari bahwa jika mereka tidak memperbaiki diri setelah diberi peringatan maka mereka akan dihukum. Apakah adil bagi Tuhan jika Dia langsung mencekam seseorang sebagai pelanggar peraturan lalu menghukum¬nya tanpa terlebih dahulu membuktikan kesalahan pandangan orang itu dengan ketentuan yang jelas dan tanpa menghilangkan terlebih dahulu keraguan yang bersangkutan melalui Firman-Nya yang tegas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/jawaban-atas-kritik-kaum-brahmo-samaj.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-3939303210968734417</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:53:47.708-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Pemeliharaan Al-Qur’an</title><description>Ada sebuah janji di dalam Al-Qur’an bahwa Allah s.w.t. akan memelihara Islam saat menghadapi bahaya dan percobaan seperti diungkapkan dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”. (S.15 Al-Hijr:10).&lt;br /&gt;Sesuai dengan janji tersebut maka Allah yang Maha Perkasa akan menjaga Firman-Nya dengan empat cara. Pertama, melalui daya ingat mereka yang telah menghafal keseluruhan Al-Qur’an sehingga keutuhan teks dan urutannya tetap terjaga. &lt;div class="fullpost"&gt; Pada setiap zaman terdapat ratusan ribu orang yang menghafalkan Al-Qur’an di luar kepala dimana jika ada yang menanyakan satu kata saja, mereka ini dapat mentilawatkan kalimatnya. Melalui cara ini Al-Qur’an dipelihara terhadap penyimpangan verbal sepanjang masa. Kedua, melalui ulama-ulama akbar di setiap zaman yang memperoleh pemahaman Al-Qur’an, dimana mereka ini menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan Hadits, sehingga dengan cara tersebut Firman Tuhan terpelihara dari penyimpangan penafsiran dan arti. Ketiga, melalui para cendekiawan yang mengungkapkan ajaran Al-Qur’an berdasarkan logika dan dengan demikian memeliharanya terhadap serangan dari para filosof yang berpandangan cupat. Keempat, melalui mereka yang mendapat karunia keruhanian dimana mereka di setiap zaman menjaga Firman Suci Tuhan terhadap serangan-serangan dari mereka yang menyangkal mukjizat dan wawasan keruhanian. (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 288, London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Jangan sampai umat Islam berpandangan bahwa turunnya wahyu dimulai dengan kedatangan Nabi Adam a.s. dan telah berakhir dengan selesainya penugasan Hadzrat Rasulullah s.a.w. sehingga setelah beliau lalu dianggap wahyu Ilahi tidak ada lagi. Janganlah kita mempunyai keyakinan seperti bangsa Hindu yang berpendapat bahwa Firman Tuhan hanya terbatas kepada apa yang sudah disampaikan-Nya saja. Sejalan dengan aqidah Islam, yang namanya firman, pengetahuan dan kebijakan-Nya, sebagaimana juga Wujud-Nya, adalah bersifat tidak terbatas. Allah yang Maha Agung berfirman:&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;“Katakanlah: “Sekiranya setiap lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhan-ku, niscayalah lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai bantuan tambahan”“. (S.18 Al-Kahf:110).&lt;br /&gt;Kami memahami telah berhentinya wahyu Ilahi turun ke bumi dalam pengertian bahwa karena yang telah diturunkan berupa Al-Qur’an sudah sangat lengkap guna memperbaiki kondisi umat manusia maka tidak akan ada lagi kaidah baru. Pada saat diturunkannya Al-Qur’an tersebut, segala hal yang berkaitan dengan akhlak,  aqidah dan perilaku manusia sudah rusak sama sekali dimana segala bentuk penyimpangan dan kejahatan telah mencapai puncaknya. Karena itulah ajaran yang dibawa Al-Qur’an bersifat sangat komprehensif. Dalam pengertian inilah dikatakan bahwa kaidah yang dikemukakan Al-Qur’an bersifat sempurna dan terakhir atau final, sedangkan kaidah yang dibawa oleh Kitab-kitab suci terdahulu itu tidak lengkap karena tingkat kejahatan manusia di masanya belum mencapai klimaks sebagaimana saat diturunkannya Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Perbedaan di antara Al-Qur’an dengan Kitab-kitab yang diwahyukan lainnya adalah meskipun Kitab-kitab itu dipelihara dengan segala cara, tetapi karena ajaran yang dibawanya tidak sempurna maka masih diperlukan diwahyukan¬nya Al-Qur’an sebagai ajaran yang paling sempurna. Hanya saja tidak akan ada lagi Kitab lain yang akan diwahyukan setelah Al-Qur’an karena tidak ada sesuatu yang bisa melampaui apa yang namanya kesempurnaan. Bilamana diandaikan bahwa prinsip-prinsip hakiki dari Al-Qur’an bisa disesatkan seperti halnya Veda dan Injil dimana manusia menciptakan sekutu bagi Tuhan-nya serta ajaran Ketauhidan Ilahi diselewengkan dan disesatkan sehingga berjuta-juta umat Islam lalu mengikuti syirik dan menjadi penyembah makhluk, maka dalam keadaan seperti itu bisa jadi perlu diwahyukan syariat baru dan diutus seorang Rasul baru. Namun perandaian seperti ini jelas tidak masuk akal.&lt;br /&gt;Penyesatan ajaran Al-Qur’an tidak mungkin terjadi karena Allah yang Maha Agung telah berfirman:&lt;br /&gt;  •    &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”. (S.15 Al-Hijr:10).&lt;br /&gt;Kebenaran daripada nubuatan ini telah dibuktikan sepanjang sejarah selama 1300 tahun terakhir. Sejauh ini tidak ada ajaran pagan atau penyembahan berhala bisa berhasil menyusup ke dalam Al-Qur’an sebagaimana yang terjadi pada Kitab-kitab suci lainnya. Pikiran waras pun tidak bisa membayangkan bahwa hal seperti itu dapat terjadi. Berjuta-juta umat Islam telah menghafalkan Al-Qur’an di luar kepala dan terdapat ribuan buku tafsir yang akan menjaga arti dan pengertiannya. Ayat-ayatnya ditilawatkan dalam shalat lima kali sehari dan Kitab ini dibaca orang setiap hari. Kitab ini dicetak di semua negeri-negeri di dunia dalam jumlah jutaan buku dimana ajarannya karena diketahui oleh setiap orang sehingga kita pun menyadari secara pasti bahwa adanya perubahan atau penyimpangan dalam ayat-ayat Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sama sekali tidak mungkin terjadi. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 100-102,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/pemeliharaan-al-quran.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-3551781342095846404</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:52:48.009-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Al-Qur’an sebagai Kitab Universal</title><description>Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan secara logika tidak mungkin merupakan Kitab yang sempurna. Kitab yang ada tentunya seperti buku pelajaran abjad atau alfabet bagi anak-anak yang baru mengenal huruf. Pasti untuk pelajaran yang bersifat sangat mendasar demikian tidak diperlukan kemampuan yang luar biasa. Ketika pengalaman umat manusia berkembang dan banyak dari antara mereka yang kemudian menyimpang, diperlukan petunjuk yang lebih terinci. &lt;div class="fullpost"&gt; Apalagi ketika kegelapan ruhani sudah demikian meluas dan kalbu manusia menjadi terjerat dalam berbagai bentuk penyelewengan intelektual dan pengamalan. Pada saat seperti itu diperlukan ajaran yang lebih tinggi dan sempurna sebagaimana yang dibawa Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Di masa awal sejarah manusia tidak diperlukan petunjuk bermutu tinggi karena batin manusia waktu itu masih sederhana dan belum ada kegelapan atau kedurhakaan mengendap di hati mereka. Ajaran yang luhur diperlukan dalam Kitab yang diturunkan di masa penyelewengan yang sangat, guna perbaikan manusia yang terlanjur telah menganut aqidah-aqidah palsu dan dimana perilaku kejahatan telah menjadi kebiasaan sehari-hari. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 70,  London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Memang benar bahwa manusia dikaruniai dengan sebuah Kitab yang diwahyukan pada awal penciptaan, namun Kitab itu bukanlah Veda. Mengatakan bahwa Kitab Veda sekarang ini sebagai wahyu dari Allah yang Maha Kuasa, sama saja dengan menghina Wujud-Nya yang Maha Suci. Kalau ada yang bertanya mengapa hanya satu Kitab saja yang diturunkan bagi manusia di masa awal itu dan mengapa tiap bangsa tidak diberikan masing-masing satu Kitab tersendiri, maka jawabannya adalah karena pada awalnya jumlah manusia masih sangat sedikit sehingga bahkan belum bisa dikatakan satu bangsa, sehingga satu Kitab saja sudah cukup bagi mereka.&lt;br /&gt;Ketika umat manusia kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh dunia dimana penghuni dari suatu daerah menjadi sebuah bangsa tersendiri, lalu karena faktor jarak tidak memungkinkan lagi satu bangsa tetap berhubungan dengan bangsa lain, kebijakan Ilahi menetapkan bahwa saat itu seharusnya sudah ada Rasul dan Kitab yang tersendiri bagi masing-masing bangsa. Setelah manusia berkembang lebih lanjut dan kemudian tercipta komunikasi beserta sarananya di antara bangsa-bangsa maka Allah yang Maha Agung menetapkan bahwa sewajarnya mereka sekarang menjadi satu bangsa dimana mereka bersama-sama memperoleh satu Kitab saja sebagai pedoman hidup. Dalam Kitab tersebut terkandung perintah bahwa begitu Kitab itu sampai di berbagai belahan bumi, manusia setempat wajib menerima dan mengimaninya. Kitab tersebut bernama Al-Qur’an yang diwahyukan guna mencipta perhubungan di antara berbagai daerah dan bangsa.&lt;br /&gt;Kitab-kitab yang diwahyukan sebelum Al-Qur’an terbatas masing-masing hanya bagi satu bangsa saja. Kitab samawi dan para Rasul telah muncul di antara bangsa Syria, Persia, India, Cina, Mesir dan Roma dimana ajaran yang dibawanya hanya khusus bagi bangsa dimana mereka diturunkan. Yang terakhir dari semua Kitab itu adalah Al-Qur’an yang menjadi Kitab yang bersifat universal dan tidak terbatas bagi satu bangsa saja melainkan bagi seluruh penduduk bumi. Kitab itu diturunkan dengan tujuan antara lain menyatukan seluruh bangsa-bangsa menjadi satu kesatuan. Sekarang ini sudah ada cara-cara dan sarana guna mempersatukan bangsa-bangsa tersebut. Hubungan antar bangsa yang menjadi dasar untuk mengkonversi umat manusia menjadi satu kesatuan telah menjadi demikian mudah dimana tadinya perjalanan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sekarang ini bisa dicapai dalam hitung harian. Begitu juga komunikasi yang tadinya bisa mengambil waktu setahun untuk mengkontak satu negeri dengan negeri lain, sekarang ini cukup dalam satu jam saja.&lt;br /&gt;Demikian dahsyatnya revolusi kemajuan yang diikuti derasnya perubahan dalam arus sungai kebudayaan, sehingga menjadi jelas bahwa memang menjadi maksud Tuhan agar segala bangsa yang tersebar di muka bumi ini menjadi satu kesatuan. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an dimana memang hanya Kitab ini saja yang menyatakan bahwa ajarannya itu untuk seluruh bangsa di dunia, sebagaimana dikemukakan dalam ayat:&lt;br /&gt;  •     •&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian”“. (S.7 Al-Araf:159).&lt;br /&gt;Di tempat lain dinyatakan:&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat”. (S.21 Al-Anbiya:108).&lt;br /&gt;Begitu pula dengan ungkapan dari ayat:&lt;br /&gt;  •&lt;br /&gt;“Maha beberkat Dia yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi sekalian alam”.  (S.25 Al-Furqan:2).&lt;br /&gt;Tidak ada Kitab samawi lainnya sebelum Al-Qur’an yang mengajukan klaim seperti itu. Masing-masing Kitab tersebut membatasi dirinya hanya bagi bangsanya sendiri. Bahkan Nabi yang dipertuhan umat Kristen juga menyatakan bahwa beliau diutus hanya bagi domba-domba Israil yang hilang.8 Kondisi dunia pada saat kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. juga telah membenarkan klaim Al-Qur’an sebagai pesan Ilahi yang bersifat universal dimana pintu penyebaran kebenaran telah dibukakan. &lt;br /&gt;(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 74-77,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/al-quran-sebagai-kitab-universal.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-7204192975803945871</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:51:36.032-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Al-Qur’an menyelaraskan ilmu dan agama</title><description>Kitab Suci Al-Qur’an penuh sekali dengan segala kebijakan sehingga tercipta keselarasan antara prinsip-prinsip pengobatan keruhanian yaitu prinsip keagamaan, dengan prinsip-prinsip pengobatan jasmani, dimana keselarasan itu sedemikian mulusnya sehingga membukakan pintu kepada ratusan wawasan dan kebenaran. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menafsirkan Al-Qur’an secara benar yang dapat merenungi prinsip-prinsip yang ditetapkan Al-Qur’an dan kaitannya dengan sistem pengobatan jasmani. &lt;div class="fullpost"&gt; Suatu ketika aku diperlihatkan sebuah kashaf tentang beberapa buku dari beberapa tabib medikal ahli, yang berisikan diskusi tentang prinsip-prinsip pengobatan jasmani, termasuk di antaranya buku dari tabib akbar Qarshi7. Disiratkan kepadaku bahwa buku-buku itu mengandung tafsir Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat di antara pengetahuan tentang jasmani dengan pengetahuan tentang agama dimana keduanya saling menopang satu sama lain. Ketika aku meneliti Al-Qur’an, ternyata di dalamnya memang ada prinsip-prinsip pengobatan jasmani. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 102-103,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/al-quran-menyelaraskan-ilmu-dan-agama.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-5012877961257611906</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:50:50.257-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Al-Qur’an dibanding Injil</title><description>Wahai umat Kristiani, kemarilah&lt;br /&gt;Tengok Nur Allah yang hakiki dan temukan jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah kalian menunjukkan dari Injil&lt;br /&gt;Fitrat tak terbilang yang ada dalam Al-Qur’an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, ada wujud Pencipta di atas kalian,&lt;br /&gt;Jangan kalian menyesatkan makhluk ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan kalian akan mencintai kedustaan,&lt;br /&gt;Cobalah kebenaran sebagai imbalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai umat, takutlah akan Tuhan kalian,&lt;br /&gt;Milikilah rasa malu di hadirat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan hidup ini tidak lestari,&lt;br /&gt;Sayangku, ini bukanlah tempat bermukim abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang pernah langgeng di dunia ini,&lt;br /&gt;Tidak juga langgeng buana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umatku tercinta, dengarlah, tanpa Al-Qur’an&lt;br /&gt;Tak mungkin manusia berjumpa Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tak memahami nur hakiki,&lt;br /&gt;Tak mungkin mengenali sang Kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh al-Furqan sungguh luar biasa&lt;br /&gt;Dijadikannya manusia menjadi pencinta Tuhan,&lt;br /&gt;Dengarlah dariku hal keindahan Allah terkasih&lt;br /&gt;Dengarkan aku hal wujud-Nya yang mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian tak bermata, paling tidak kalian bertelinga,&lt;br /&gt;Jika juga tidak, mungkin itu cobaan bagi kalian.&lt;br /&gt;(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 298-300,  London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Al-Qur’an berisi kebijakan yang dalam. Dalam semua ajaran dan petunjuknya  tentang akhlak yang baik, Kitab ini jauh melampaui Injil. Suluh obor untuk mengenali Tuhan yang benar dan abadi ada di dalam Al-Qur’an. Kalau saja Al-Qur’an tidak diwahyukan, sulit membayangkan sudah berapa banyak makhluk yang dipertuhan di dunia ini. Segala puji bagi Allah karena Ketauhidan Ilahi yang telah lenyap dari dunia, telah ditegakkan kembali oleh Al-Qur’an. (Tohfa Qaisariyyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1897; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 282,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/al-quran-dibanding-injil.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-8826261131269191848</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:49:37.315-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Ketauhidan Ilahi menurut Al-Qur’an dan Taurat</title><description>Pernyataan para missionaris Kristen bahwa Al-Qur’an tidak ada mengemuka¬kan suatu hal baru berkenaan dengan Ketauhidan Ilahi dan semua kaidahnya sudah terdapat di dalam Kitab Taurat, adalah suatu hal yang salah sama sekali. Seorang awam yang membaca Kitab Taurat mungkin terkecoh bahwa Kitab itu mengemukakan masalah Ketauhidan Ilahi, petunjuk pelaksanaan ibadah, hak-hak asasi manusia sehingga tidak ada hal baru di dalam Al-Qur’an. &lt;div class="fullpost"&gt; Tetapi hanya orang yang belum merenungi Firman Tuhan yang mungkin melakukan kesalahan demikian. Masih banyak sekali masalah-masalah Ketuhanan yang tidak diungkapkan di dalam Kitab Taurat, sebagai contoh, Kitab ini tidak mengemukakan tingkat-tingkat rinci dari Ketauhidan Ilahi. Al-Qur’an tidak mengemukakan Ketauhidan Ilahi sebagai suatu hal semata melarang penyembahan berhala, makhluk lainnya, unsur-unsur alam, benda-benda langit atau syaitan, karena sebenarnya Ketauhidan Ilahi memiliki tiga tingkatan.&lt;br /&gt;Tingkat pertama dari Ketauhidan Ilahi adalah keadaan dimana orang awam mengharapkan keselamatan dari kemurkaan Allah yang Maha Perkasa.&lt;br /&gt;Tingkat kedua adalah bagi mereka yang mengharapkan kedekatan yang lebih kepada Tuhan-nya dibanding orang awam.&lt;br /&gt;Tingkat ketiga adalah khas bagi mereka yang menginginkan kesempurnaan dalam kedekatan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Pada tingkat pertama penekanannya adalah pada pandangan bahwa tidak ada yang lainnya patut disembah kecuali Tuhan dimana manusia harus menahan diri dari penyembahan kepada segala hal yang merupakan barang ciptaan dan bersifat terbatas, baik yang di langit maupun di bumi.&lt;br /&gt;Tingkat kedua dari Ketauhidan Ilahi adalah keyakinan bahwa dalam segala urusan hanya Tuhan saja yang menjadi kekuatan hakiki dan tidak ada satu pun yang kemudian ditinggikan sebagai sekutu-Nya. Sebagai contoh, kalau ada yang mengatakan bahwa tanpa bantuan si X yang bersangkutan akan celaka atau tanpa pertolongan si Y seseorang akan merugi, hal ini sama dengan syirik karena menganggap seolah-olah X atau Y itu mempunyai kekuasaan.&lt;br /&gt;Tingkat ketiga Ketauhidan Ilahi adalah menyingkirkan nafsu dan keinginan pribadi seseorang dari kecintaannya kepada Allah s.w.t. dan mengabdikan seluruh hidupnya bagi Keakbaran-Nya.&lt;br /&gt;Bentuk Ketauhidan Ilahi seperti itu tidak ada dijumpai dalam Kitab Taurat. Dalam Kitab itu juga tidak ada disinggung mengenai keselamatan atau tentang neraka, kecuali sekelumit kutipan di sana sini. Begitu juga tidak bisa ditemui rincian sifat-sifat Ilahi yang sempurna. Kalau saja di Kitab Taurat terdapat sebaris ayat seperti yang terdapat di dalam Al-Qur’an:&lt;br /&gt;                      •     &lt;br /&gt;“Katakanlah: “Dia-lah Allah yang Maha Esa. Allah yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula diperanak kan; dan tiada seorang pun menyamai Dia””. (S.112 al-Ikhlas:2-5)&lt;br /&gt;maka umat Kristiani tidak akan mempertuhan seorang makhluk.&lt;br /&gt;Begitu juga Kitab Taurat tidak merinci mengenai tingkat-tingkat hak, sedangkan dalam Al-Qur’an ajaran tentang ini dikemukakan secara sempurna.  Sebagai contoh, dinyatakan dalam ayat:&lt;br /&gt;•       &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan kepada orang lain dan memberi orang-orang lain seperti kepada kaum kerabat sendiri”. (S.16 An-Nahl:91).&lt;br /&gt;Makna dari ayat ini ialah simpati kita kepada umat manusia haruslah didorong oleh hasrat alamiah dan bukan karena motivasi ingin diakui, laiknya kecintaan seorang ibu kepada putranya.&lt;br /&gt;Kitab Taurat juga tidak mampu menegakkan eksistensi Tuhan, Ketauhidan dan sifat-sifat-Nya yang sempurna berdasarkan logika, sedangkan dalam Al-Qur’an aqidah ini dijelaskan lengkap dengan mengapa perlu adanya pewahyuan dan Kenabian, dan semua dikemukakan secara filosofis sehingga seorang pencari kebenaran mudah memahaminya. Semua argumentasi disajikan dengan cara yang sempurna sehingga tidak akan ada yang bisa mengajukan bantahan tentang eksistensi Tuhan berdasarkan apa yang dikemukakan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Argumentasi yang mendukung perlunya Kitab Suci Al-Qur’an adalah karena semua Kitab-kitab samawi seperti Taurat sampai Injil sebenarnya ditujukan kepada satu bangsa tertentu saja yaitu Bani Israil dimana di dalamnya ditegaskan bahwa ajaran yang terkandung di dalamnya bukanlah untuk masyarakat lain selain Bani Israil. Adapun Al-Qur’an bertujuan memperbaiki seluruh dunia dan tidak ditujukan kepada satu bangsa tertentu saja dan jelas dikatakan bahwa Kitab ini diwahyukan bagi kemaslahatan dan perbaikan seluruh umat manusia. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 83-85, London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/ketauhidan-ilahi-menurut-al-quran-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-1044178427517179869</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:47:20.922-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Tanda-tanda kebenaran Al-Qur’an sebagai Kitab Ilahi</title><description>Cara yang pasti, mudah, sempurna, tanpa kesulitan, tanpa susah payah, tanpa keraguan atau kecurigaan, tanpa kesalahan atau kealpaan, berikut prinsip-prinsip yang benar yang dilengkapi dengan argumentasi yang mendukung serta memberikan keyakinan yang sempurna adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Tidak ada Kitab atau pun sarana lainnya yang bisa memberikan sarana guna pencapaian tujuan akbar tersebut. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 77,  London, 1984). &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Tanda jelas yang digunakan seorang yang berpikir untuk mengenali suatu Kitab yang diwahyukan hanya bisa ditemukan di dalam Kitab Suci dari Allah yang Maha Kuasa yaitu Al-Qur’an. Di masa ini semua sifat-sifat yang seharusnya bisa ditemukan sebagai tanda yang jelas dari suatu Kitab Ilahi nyatanya tidak terdapat di dalam Kitab-kitab lainnya. Bisa jadi Kitab-kitab tersebut ada memiliki sifat-sifat tersebut di masa awalnya, tetapi yang jelas sekarang ini sudah tidak ada lagi. Berdasarkan alasan yang telah kami kemukakan, Kitab-kitab tersebut masih kami anggap sebagai sesuatu yang diwahyukan, namun dalam kondisinya sekarang ini sebenarnya Kitab-kitab itu sudah tidak ada gunanya. Kitab-kitab itu lebih mirip istana yang telah kosong dan tinggal puing-puingnya serta kalis dari kekayaan dan kekuatan.  (artikel dilekatkan pada Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 402,  London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Jika ada lawan Islam yang berkeberatan atas superioritas atau lebih baiknya Al-Qur’an dibanding semua Kitab-kitab yang diwahyukan, karena hal itu berarti bahwa Kitab-kitab lainnya itu mutunya lebih rendah, padahal isinya bersumber pada Tuhan yang sama sehingga seharusnya tidak ada masalah superioritas atau inferioritas di antara Kitab-kitab tersebut, maka jawaban untuk itu ialah bahwa dari sudut pandang pewahyuan memang semua Kitab itu sama adanya, namun nyatanya yang satu lebih tinggi dari yang lain berkaitan dengan kuantitas isi dan penyempurnaan keimanan yang dikandungnya. Dari sudut pandang ini, jelas bahwa Al-Qur’an lebih unggul dibanding semua Kitab samawi lainnya karena Kitab-kitab tersebut tidak mengandung petunjuk guna penyempurnaan agama seperti masalah-masalah yang berkaitan dengan Ketauhidan Ilahi, penyangkalan segala bentuk syirik, obat penawar bagi penyakit-penyakit ruhani, argumentasi untuk menolak agama-agama palsu serta bukti-bukti dari aqidah yang benar, sebagaimana secara tegas dikemukakan dalam Al-Qur’an. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 74,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/tanda-tanda-kebenaran-al-quran-sebagai.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4211745487721807067.post-5484303770293734844</guid><pubDate>Thu, 10 Jan 2008 00:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-09T16:46:29.372-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Qur'an</category><title>Al-Qur’an Telah Mencakup Seluruh Kebenaran</title><description>Menjadi keyakinanku bahwa Kitab Suci Al-Qur’an bersifat sempurna dalam ajarannya dan lengkap berisi semua kebenaran yang ada sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah s.w.t. bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah Kami turunkan kepada engkau kitab itu untuk menjelas kan segala sesuatu”. (S.16 An-Nahl:90)&lt;br /&gt;serta ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiada sesuatu yang Kami alpakan dalam Kitab ini”. (S.6 Al-Anaam:39).&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Tetapi aku juga berpendapat bahwa bukanlah fungsi dari setiap ulama atau maulvi untuk mengemukakan dan mencanangkan masalah-masalah keagamaan dari Al-Qur’an. Ini adalah fungsi dari orang-orang yang secara khusus telah ditolong oleh wahyu Ilahi sebagai bagian dari semi Kenabian atau kesucian. Mereka yang bukan penerima wahyu, sebenarnya tidak cukup kompeten untuk mengemukakan wawasan Al-Qur’an. Satu-satunya cara terbaik bagi mereka adalah menerima semua ajaran yang telah diterima turun temurun tanpa berusaha ingin menafsirkan Al-Qur’an.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka yang memperoleh pencerahan dengan Nur wahyu suci termasuk di antara mereka yang disucikan. Kepada mereka inilah Allah s.w.t. dari waktu ke waktu membukakan mutiara-mutiara hikmah yang tersembunyi di dalam Al-Qur’an serta menjelaskan kepada mereka bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. tidak ada menambah-nambahkan apa pun pendapat beliau sendiri ke dalam Al-Qur’an, disamping mengemukakan bahwa Hadits yang sahih hanya mengemukakan rincian dari prinsip-prinsip dan pengarahan yang ada di dalam Al-Qur’an. Dengan diungkapkannya wawasan ini maka mukjizat Al-Qur’an jadi merona nyata bagi mereka dan kebenaran dari ayat-ayat yang menurut Allah s.w.t. “tiada sesuatu yang Kami alpakan dalam Kitab ini”. menjadi jelas bagi mereka. (Al-Haq, Mubahisa Ludhiana, Qadian, 1903, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 4, hal. 80-81,  London, 1984).&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Makna daripada ayat:&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;“Dia-lah yang telah mengutus di tengah-tengah bangsa yang butahuruf seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah”. (S.62 Al-Jumuah:3)&lt;br /&gt;ini ialah untuk menunjukkan bahwa Kitab Suci Al-Qur’an mempunyai dua tujuan akbar yang untuk itu maka telah diutus Hadzrat Rasulullah s.a.w. Yang pertama adalah hikmah kebijaksanaan Al-Qur’an yaitu yang berkaitan dengan wawasan dan mutiara-mutiara hikmah yang dikandungnya. Yang kedua adalah pengaruh dari Al-Qur’an dalam menyucikan batin.&lt;br /&gt;Penjagaan Al-Qur’an tidak saja berarti memelihara keutuhan teksnya, karena fungsi seperti ini juga telah dilakukan oleh umat Yahudi dan Kristiani berkaitan dengan Kitab-kitab suci mereka sejak dahulu, sedemikian rupa sehingga tekanan huruf-huruf hidup (vowel) dari Kitab Taurat pun mendapat perhatian mereka. Yang dimaksud dengan penjagaan Al-Qur’an tidak saja hanya memelihara teksnya tetapi juga memelihara kemaslahatan dan pengaruh Kitab tersebut dan hal ini bisa dilakukan sejalan dengan pengelolaan Ilahi jika dari waktu ke waktu selalu didatangkan wakil-wakil dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. dimana mereka ini memperoleh berkat Kerasulan sebagai pantulan refleksi wujud beliau. Hal ini diindikasikan dalam ayat:&lt;br /&gt;       •              •                   &lt;br /&gt;“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kamu yang beriman dan bermuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah-khalifah di muka bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah dari antara orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhoi bagi mereka dan niscayalah Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan menyembah kepada-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Daku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka”. (S.24 An-Nur:56).&lt;br /&gt;Ayat ini menjelaskan makna dari ayat lainnya yaitu:&lt;br /&gt;  •    &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”. (S.15 Al-Hijr:10)&lt;br /&gt;sebagai jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana Al-Qur’an itu akan dijaga. Allah yang Maha Agung telah berfirman bahwa dari waktu ke waktu Dia akan mengirimkan pewaris Hadzrat Rasulullah s.a.w. &lt;br /&gt;(Shahadatul Qur’an, Panjab Press, Sialkot, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 6, hal. 338-339,  London, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Sumber Pembelajaran ke Islam an&lt;/div&gt;</description><link>http://narasumberislam.blogspot.com/2008/01/al-quran-telah-mencakup-seluruh.html</link><author>noreply@blogger.com (Danial Anwar)</author></item></channel></rss>