<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541</id><updated>2024-12-19T10:30:11.279+07:00</updated><category term="indoktrinasi"/><category term="fallacy"/><category term="kesalahan logika"/><category term="Straw Man"/><category term="ad hominem"/><category term="adu domba"/><category term="anak"/><category term="bahaya"/><category term="bundelanisme"/><category term="buntelanisme"/><category term="dagang babi"/><category term="definisi"/><category term="demokrasi"/><category term="demonisasi"/><category term="disintegrasi"/><category term="distorsi"/><category term="divide and rule"/><category term="divide et impera"/><category term="efek buruk"/><category term="glorifikasi"/><category term="intimidasi"/><category term="korban"/><category term="package deal"/><category term="paket promosi"/><category term="pendidikan"/><category term="pengalihan perhatian"/><category term="politik"/><category term="sensor"/><category term="target"/><title type='text'>INDOKTRINESIA</title><subtitle type='html'>meraba-raba dan menelanjangi berbagai trik manipulasi pikiran</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-8131811512604923572</id><published>2012-03-20T13:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-20T13:05:15.472+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pengalihan perhatian"/><title type='text'>Menghindari Pertanyaan Mengalihkan Perhatian</title><content type='html'>Untuk apa mengalihkan perhatian? Untuk apa memberi jawaban panjang lebar dan berputar-putar tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya fakta-fakta yang tidak menyenangkan tidak perlu muncul ke permukaan :))&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam acara TV, dimana para pembela penjahat dikumpulkan untuk mempengaruhi opini publik, diundanglah seorang kepala polisi untuk ditanya soal pengusutan pembantaian yang terjadi di pulau seberang. Dengan lihai dia berkata-kata panjang lebar, menerangkan tugas kepolisian, tanpa sedikitpun menjawab apa yang ditanyakan MC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau sadar bahwa waktu siaran terbatas. Dengan mengeluarkan kata-data yang tidak perlu, beliau sukses menghabiskan waktu dan menghindar dari keharusan menjawab pertanyaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Taktik licik macam itu memang sering dipakai oleh para tokoh di Indonesia. Tidak hanya politikus, agamawan sering lebih lihai. Silakan coba sendiri, ajukan pertanyaan yang sensitif, pasti jawabannya berputar kemana-mana. Biasanya malah disertai &lt;a href=&quot;http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/taktik-dagang-babi-sejarah-dan-tips.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;dagang babi&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebenarnya tidak hanya politisi, aparat negara atau agamawan. Orang biasa seperti saya juga sering pakai, haha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara menghadapi orang-orang seperti itu adalah menginformasikan dengan jelas, baik pada si penjawab yang kurang ajar maupun pada penonton bahwa pertanyaan belum dijawab. Jika lisan, katakan &quot;&lt;b&gt;Anda belum menjawab pertanyaannya.&lt;/b&gt;&quot; Jika tulisan ya sampaikan itu dengan tebal dan garis bawah :D Pastikan semua orang sadar kalau sedang dipermainkan, dan ingat untuk segera kembali mengejar jawaban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BTW, hampir oot tapi tidak juga nih...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkinkah kecintaan pada taktik &quot;menghindari pertanyaan&quot; ini yang membuat para pejabat kita sangat amat takut untuk membuka dialog di internet?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikanlah bagaimana &lt;a href=&quot;http://dpd.go.id/weblog&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;anggota DPD menelantarkan blog yang sudah dibuatkan&lt;/a&gt;, sampai kini tak pernah diisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bagaimana &lt;a href=&quot;http://www.kominfo.go.id/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Menkominfo&lt;/a&gt; lebih memilih diskusi di twitter yang cuma sekian karakter. Untuk urusan informasi dan komunikasi tapi cuma pakai twitter yang terbatas, bukannya G+ atau sekalian blog supaya lebih bisa menjelaskan dan menjawab yang sejelas-jelasnya pada rakyat. Bahkan halaman &lt;a href=&quot;http://kontak.kominfo.go.id/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;kontaknya&lt;/a&gt; sudah sejak lama tidak bisa diakses. Tidak ada waktu? Tidak ada orang? Lha kan punya staff ahli, jangan jadi menteri kalau tak pandai mendelegasikan tugas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang tersebut harusnya sudah jadi negarawan, tapi kelakuan masih saja seperti agamawan tukang &lt;a href=&quot;http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/02/apa-itu-indoktrinasi.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;indoktrinasi&lt;/a&gt; yang dakwahnya satu arah, dimana apapun yang keluar dari mulut (dan pantat?) mereka harus ditelan bulat-bulat oleh rakyat. Tampangnya seperti tidak merasa perlu mendengar apa pendapat/pertanyaan umat.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/8131811512604923572/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/menghindari-pertanyaan-mengalihkan.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/8131811512604923572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/8131811512604923572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/menghindari-pertanyaan-mengalihkan.html' title='Menghindari Pertanyaan Mengalihkan Perhatian'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-2381293664520901527</id><published>2012-03-13T05:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-13T05:00:04.776+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bundelanisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="buntelanisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="package deal"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="paket promosi"/><title type='text'>Bundelanisme memaksa kamu menelan semuanya</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje_q2q9qVzJxerGfM6v_2KT_Xbpmmhu6AqK6ubMvy9AFibIEyjSRfUaY-WLRZdFlVG2myrfTngcFHZQXtkFpQRhdeLYStVJ5OUojZDoOCJAvU_L1RtlMmvZ7gWG6zXQUJ8qhDI5KXIaHIJ/s1600/Bundelan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje_q2q9qVzJxerGfM6v_2KT_Xbpmmhu6AqK6ubMvy9AFibIEyjSRfUaY-WLRZdFlVG2myrfTngcFHZQXtkFpQRhdeLYStVJ5OUojZDoOCJAvU_L1RtlMmvZ7gWG6zXQUJ8qhDI5KXIaHIJ/s1600/Bundelan.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Bayangkan saja.&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Kalau ambil satu, harus ambil semua. Kalau telan satu, ya harus telan semuanya. 
Tidak boleh pilih-pilih yang kamu anggap baik saja, pokoknya... POKOKNYA
 ya, kamu harus telan semuanya, karena ini bundelan suci banget. Ayo 
telan!!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah ciri utama bundelanisme, sebuah taktik ampuh dalam indoktrinasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh yang paling jelas tentu agama, karena sebagai orang beragama pasti kita akrab sama bundelan 
indoktrinasi yang satu itu.Tapi itu kamu teliti dan jabarkan sendiri saja. Di sini kita main aman aja, kita pakai contoh lain yang lebih sopan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;Contoh HP:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beli Handphone yang dibundel kartu perdana berbonus gratisan sekian hai, kita bakal dilarang kalau cuma mau beli HPnya saja atau kartu bonusnya saja. Semuanya harus dibeli sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nanti setelah telanjur beli, kita masih harus kecewa karena ternyata HP itu dilock, dikunci agar hanya bisa pakai kartu dari satu operator tertentu saja. Mau beralih ke lain OP jadi sulit, padahal sudah muak dengan layanan operator yang seperti setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekaguman kita pada tokoh yang kita kultuskan juga dapat memicu bundelanisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kita kagum banget sama seseorang, misalnya seperti kamu yang kagum banget sama aku yang kharismatik dan keren sangat *sodorin pukebag*, apapun yang aku katakan bakal kamu terima seutuhnya sebagai kebenaran. Padahal yang bener paling cuma berapa kalimat, sisanya biar bullshit tetap juga kamu telan bulat-bulat sambil merem melek khidmat sebagai satu bundel. Logika kamu begitu terpesona pada bagian-bagian keren yang sebenernya anak kecil juga sudah tau, lalu karena terlalu yakin bahwa aku bakal selalu menyampaikan kebenaran, pertahanan pikiran kamu pun terbuka dan menelan mentah-mentah keseluruhan bundelan yang aku suguhkan. Akhirnya segala bullshit bisa menghujam ke bawah sadar kamu, Mengubah kamu jadi umat aku yang paling taat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh terakhir deh...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu buku-buku selfhelp, motivasi dan rohani-rohanian juga sering pakai taktik bundelan. Sesendok fakta diaduk dengan gombal sebelanga biar kelihatan &lt;i&gt;saintipik&lt;/i&gt; dan sesuai kaidah &lt;i&gt;ilemiyaah&lt;/i&gt;. Sialnya kita sering malas kritisi satu-satu tiap fakta yang disuguhkan, kita lebih suka menelan secara utuh. Ya sudah, kaffah dah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi gimana biar tidak mudah jadi korban bundelan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap indoktrinator yang menyodorkan bundelan pasti ingin kita menelan bulat-bulat, mereka bakal kasih sejuta alasan supaya kita tidak curiga. Tinggal kita, mau nurut membabibuta, atau mau seleksi satu persatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau mau repot ya sebaiknya selalu mikir dan meluangkan waktu dan energi untuk meneliti dan menyeleksi apapun yang terbundel sebelum menelannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup jadi manusia berpikir memang tidak mudah. Kalau mau mudah tuh jadi kucing piaraan saja, hidupnya cuma cari makan, tidur, seks. Tak usah mikir rumit-rumit. Hidupnya mengalir seperti air, selalu damai lahir dan batin, wajah ceria optimis, dahinya berbulu memancarkan keimanan. Matinya juga langsung masuk surga surga yang paling dalam.... :) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gimana, kamu punya taktik lain lain untuk menghindari taktik bundelan? Atau malah punya cara menyuguhkan buntelan supaya enak ditelan bulat-bulat? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mangga atuh :)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/2381293664520901527/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/bundelanisme-memaksa-kamu-menelan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/2381293664520901527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/2381293664520901527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/bundelanisme-memaksa-kamu-menelan.html' title='Bundelanisme memaksa kamu menelan semuanya'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEje_q2q9qVzJxerGfM6v_2KT_Xbpmmhu6AqK6ubMvy9AFibIEyjSRfUaY-WLRZdFlVG2myrfTngcFHZQXtkFpQRhdeLYStVJ5OUojZDoOCJAvU_L1RtlMmvZ7gWG6zXQUJ8qhDI5KXIaHIJ/s72-c/Bundelan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-5445954831687553052</id><published>2012-03-12T05:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-12T05:00:03.725+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="distorsi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sensor"/><title type='text'>Pentingnya Sensor dalam Pelestarian Kekuasaan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrxq-9mfM96QMD845-Ltlx-PGlBohsVFXtrkH5n2Q0V5hb1_nV6HW70LjguJVmYlD4ym1e-TJphjCvV54mN5CqcMLfVhkHaUSbUqBRQ6_yzOTmEQGHao7ZaEcP38JpSPp_OwwydGf1QoLt/s1600/censorship.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;137&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrxq-9mfM96QMD845-Ltlx-PGlBohsVFXtrkH5n2Q0V5hb1_nV6HW70LjguJVmYlD4ym1e-TJphjCvV54mN5CqcMLfVhkHaUSbUqBRQ6_yzOTmEQGHao7ZaEcP38JpSPp_OwwydGf1QoLt/s200/censorship.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Melindungi Anda dari Kenyataan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Salah satu kegiatan terpenting dalam taktik indoktrinasi adalah sensor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita lebih mudah diindoktrinasi jika sejak kecil dibiasakan menelan mentah-mentah segala informasi terdistorsi sebagai fakta, padahal kebanyakan yang kita telan itu adalah 
informasi yang sudah dimutilasi, sudah disensor oleh mereka yang kita 
hormati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang sepanjang sejarah, para penguasa tercatat gemar melakukan &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Censorship&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;sensor&lt;/a&gt; informasi. Perlu diingatkan?&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Galileo_Galilei&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Dicap kafir dan dibungkam sampai mati&lt;/a&gt; karena menyebarkan informasi bahwa bumi mengelilingi matahari, oleh gerombolan yang diyakini lebih dekat dengan Tuhan.  &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Book_burning&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Bakar-bakar buku&lt;/a&gt; karena isinya tidak sesuai dengan kepentingan rezim yang berkuasa:&lt;/li&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Di Zaman Mongol &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Wisdom&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Baitul Hikmah dibakar&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Zaman dinasti &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Wisdom&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Qin&lt;/a&gt; tak cuma buku dibakar, orangnya sekalian.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Nazi_book_burnings&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Nazi&lt;/a&gt; bakar buku, musuhnya juga ikutan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Censorship#See_also&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Dan lain-lain&lt;/a&gt;. Silakan beri contoh sensor informasi di Indonesia, tapi jangan aksi pak Tiffy, secara beliau masih berkuasa, ndak sopan nanti ;) &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Itu tadi sensor yang eksplisit, terang-terangan, tanpa malu-malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pula sensor yang halus lembut, &lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;biasanya menakut-nakuti sedikit, atau semacam himbauan agar kita menjauhi&amp;nbsp; informasi (buku, situs atau orang) tertentu dengan alasan &quot;dapat merusak iman&quot; atau &quot;resiko tergoda setan&quot;. Seolah para pelarang yakin betul bahwa kita tak mampu berpikir sendiri hingga gampang tergoda. Ya tentu saja mereka tahu, karena mereka sendiri yang bersusah payah membentuk kita untuk tak mampu berpikir. Karena kekuasaan mereka atas kita memang sangat bergantung pada lestarinya kebodohan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pemimpin, pemuka agama atau kepala sekte yang jago sangat, malah dapat membuat para pengikutnya untuk melakukan sensor sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita jenis yang kurang cerdas dan gampang fanatik, kita akan diprogram untuk menutup diri, tidak mau mendengar siapapun atau membaca tulisan apapun yang tidak direstui oleh pemimpin/guru/master/murabbi.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan jika kita termasuk moderat yang agak mikir, kita diprogram untuk pura-pura mendengar sambil merasa open minded, tapi otomatis langsung membantah tanpa pikir panjang. Itupun sambil memuntahkan dalil-dalil standar tak masuk nalar, persis seperti dalil-dalil yang biasa dijejalkan sang pemimpin langsung ke bawah sadar kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi yang mendengarkan, mungkin kita tampak konyol seperti korban cuci otak, padahal di mata kita justru mereka yang konyol, sesat dan hatinya tertutup pantat iblis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dibiasakan untuk mencapai kesimpulan final dan menemukan &quot;kebenaran sejati&quot; hanya berdasarkan &quot;fakta-fakta&quot; sepihak yang sudah termutilasi dan terdistorsi. Kita dibuat malas untuk mencari fakta sendiri, kita dibuat takut untuk mendengarkan informasi dari pihak lain. Akhirnya kita berprinsip &quot;ah, yang penting niatnya baik&quot; lalu melesat membabibuta setiap kali pemimpin menarik picu. Akhirnya bom bunuh diri pun akan kita lakukan, yang penting niatnya baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lewat sensor, manusia memang jadi lebih mudah diindoktrinasi dan mudah diarahkan untuk apapun sesuai kepentingan sang indoktrinator.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba yuk introspeksi bentar. Apakah kita ternyata suka menelan bulat-bulat apapun kata pemimpin tercinta? Malas mencari sendiri informasi dan data dari pihak lain? Malas berpikir dan mengolah berbagai informasi yang bertentangan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau iya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti kita hampir lulus jadi korban indoktrinasi. Itu semua gejala awal dimana kemanusiaan kita sedang dimutilasi menggunakan informasi yang terdistorsi. Kita sudah bukan lagi khalifah berakal yang mampu memimpin (minimal) dirinya sendiri.&amp;nbsp; Kita sedang diubah jadi robot domba lugu yang remotenya dalam genggaman sang gembala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gimana, pernah memeluk sebuah keyakinan yang sangat bergantung pada aksi sensor? Atau pernah menggunakan sensor untuk memperbudak pegaw.. eh, orang? Atau punya solusi untuk pengobatan?&amp;nbsp; Atau pencegahan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Monggo.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/5445954831687553052/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/pentingnya-sensor-dalam-pelestarian.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/5445954831687553052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/5445954831687553052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/pentingnya-sensor-dalam-pelestarian.html' title='Pentingnya Sensor dalam Pelestarian Kekuasaan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrxq-9mfM96QMD845-Ltlx-PGlBohsVFXtrkH5n2Q0V5hb1_nV6HW70LjguJVmYlD4ym1e-TJphjCvV54mN5CqcMLfVhkHaUSbUqBRQ6_yzOTmEQGHao7ZaEcP38JpSPp_OwwydGf1QoLt/s72-c/censorship.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-6295340854370950800</id><published>2012-03-08T08:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-08T08:00:02.759+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ad hominem"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="fallacy"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indoktrinasi"/><title type='text'>Ad Hominem, logika favorit kita semua</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizAF5wG6mZFnmYdJiLQwS_yCBVLu5eSeu-atkCU3kL9uU3iyYUz_DdHUaPM8nv8_QN3W7rbFGoIdGonQAEPjC0MwEb59d5Ew6Aqk_GFjQLzYAZIUkb6pnYznmhQvoS7YDuPqpNBjUt7-uy/s1600/Ad-hominem.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;198&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizAF5wG6mZFnmYdJiLQwS_yCBVLu5eSeu-atkCU3kL9uU3iyYUz_DdHUaPM8nv8_QN3W7rbFGoIdGonQAEPjC0MwEb59d5Ew6Aqk_GFjQLzYAZIUkb6pnYznmhQvoS7YDuPqpNBjUt7-uy/s200/Ad-hominem.gif&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Muke lu Fallasiyah! - &lt;a href=&quot;http://ohinternet.com/Ad_hominem&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;ohinternet&lt;/a&gt;.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;i&gt;Ad Hominem&lt;/i&gt; itu artinya &lt;u&gt;menyerang si pembawa pesan&lt;/u&gt; dan &lt;u&gt;bukan pesannya&lt;/u&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Weits, saya tidak sedang menyindir kaum taat beragama lho. Memang itu taktik utama dikalangan mereka, tapi sebenaranya kita yang tidak terlalu taat juga sering melakukannya dalam keseharian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mekanismenya praktis, dua langkah mudah. Pertama, cari kebusukan si pembawa pesan, boleh prilakunya, motivasinya, sukunya, latar belakangnya, tampangnya atau apapun. Kalau sulit dicari ya kreatif, buat-buat sendiri saja kebusukan si pembawa pesan. Langkah kedua, gunakanlah kebusukan itu sebagai dalil sahih untuk menyerang pesan yang disampaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi alur logikanya gini:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Si A mengatakan X&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Si B menyerang pribadi A&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;X salah&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Perhatikan bagaimana si B tidak tak perlu meneliti dan menguji apakah X benar. Cukup dengan menyerang si A, tiba-tiba X bisa dianggap salah, dan tidak perlu dibahas lagi.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lain kasus bila B adalah orang yang merasa agamanya dinodai karena A mengatakan X. Langkah alurnya tentu tak sampai 3, karena langkah 2 isinya &quot;B membunuh A&quot;, lalu seluruh dunia bertengkar membela dan mengutuki B maupun A, tanpa seorangpun ingat untuk membahas X.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya X tak pernah dikupas tuntas apalagi diuji kebenarannya. Dan memang itulah keuntungan (dan tujuan utama) dari taktik &lt;i&gt;ad hominem&lt;/i&gt;. &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh sederhana dalam dialog:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budi Handuk: &quot;Memilih presiden hanya berdasarkan tampangnya saja itu salah, Coy. Harusnya kita pertimbangkan juga ketegasan, kepemimpinan dan keberpihakannya pada rakyat. Supaya dia dan semua bawahannya kerja bukan buat agama atau tuhannya sendiri aja, tapi kerja untuk seluruh rakyat. &quot;&lt;br /&gt;
Luciferano: &quot;Haha, jelas aja lu ngomong gitu, tampang lu ancur lebur&quot;&lt;br /&gt;
Budi Handuk: &quot;Tapi bener lah coy, milih cuma karena tampang itu ga bener. Iya dong coooy !?!&quot; &lt;br /&gt;
Luciferano: &quot;Ah, lu ngomong gitu cuma karena lu iri sama kegantengan presiden, ngaku aja lu, dasar buluk!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan penonton pun tertawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bagaimana Luciferano tidak perlu memikirkan apakah ada kebenaran dalam pesan Budi Handuk. Dia hanya perlu menyerang wujud fisik Budi, dan argumen budi termentahkan, tidak dibahas sama sekali. Dengan begitu juga semua penonton yang terlalu dungu dapat diindoktrinasi, agar merasa
 tak ada yang salah dengan memilih presiden berdasar tampang doang. Jika
 ada yang mengkritik, pasti&amp;nbsp; karena iri dengki saja, mungkin kalah 
ganteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taktik ini mengekploitasi kedunguan umat. Sangat tidak mendidik dan sangat membodohkan umat.&amp;nbsp; Tapi ya gimana, kan memang itu tujuannya :)) Kalau umat terlalu pintar nanti susah &lt;a href=&quot;http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/adu-domba.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;diadudomba&lt;/a&gt;, dan taktik &lt;a href=&quot;http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/taktik-dagang-babi-sejarah-dan-tips.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;dagang babi&lt;/a&gt; juga tak laku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi waspadalah kawan, jika ada diantara kita yang melakukan &lt;i&gt;ad hominem&lt;/i&gt; untuk provokasi kebencian, permusuhan, perpecahan dan semacamnya, segerakan untuk bertanya berapa besar dia dibayar untuk melakukan itu, siapa tahu kita bisa dapat bagian, hahaha. Becanda coy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh iya, memang menghina fisik itu tidak etis, silakan keberatan. Bisa saja saya bikin contoh Luciferano menuduh Budi ditunggangi CIA atau dirasuki iblis neraka, tapi nanti contohnya jadi terlalu rumit... Dan mungkin malah menyinggung rekan-rekan yang saat ini sedang asik menerapkan taktik &lt;i&gt;ad hominem.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, sekarang silakan kamu kasih contoh lain yang aktual dan realistis. Tanpa takut menyinggung juga gpp :)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/6295340854370950800/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/ad-hominem-logika-favorit-kita-semua.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/6295340854370950800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/6295340854370950800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/ad-hominem-logika-favorit-kita-semua.html' title='Ad Hominem, logika favorit kita semua'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizAF5wG6mZFnmYdJiLQwS_yCBVLu5eSeu-atkCU3kL9uU3iyYUz_DdHUaPM8nv8_QN3W7rbFGoIdGonQAEPjC0MwEb59d5Ew6Aqk_GFjQLzYAZIUkb6pnYznmhQvoS7YDuPqpNBjUt7-uy/s72-c/Ad-hominem.gif" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-3183750720798627856</id><published>2012-03-07T07:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-15T08:45:02.829+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dagang babi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="fallacy"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indoktrinasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="intimidasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kesalahan logika"/><title type='text'>Taktik Dagang Babi, sejarah dan tips mengatasinya</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj5XXSYsnCaX_CURr_MIYOvdGu_dThCsg5U2VZAyQlkuusHZWtyLAE4BEPo4eNU9mG-_4DDZqhJWNCb8CUrLzmR2lKtlD_DK21Iz419SM466j3o5vTdpo4f1khtwFSUts4UI-yuduJKO0G/s1600/babijenggot.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj5XXSYsnCaX_CURr_MIYOvdGu_dThCsg5U2VZAyQlkuusHZWtyLAE4BEPo4eNU9mG-_4DDZqhJWNCb8CUrLzmR2lKtlD_DK21Iz419SM466j3o5vTdpo4f1khtwFSUts4UI-yuduJKO0G/s1600/babijenggot.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ilustrasi babi berjenggot -&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Bearded_Pig&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;wiki&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Jika kamu bertemu orang yang memaki atau mengintimidasi sambil membawa-bawa Tuhan dan ancaman-ancaman ghaib lainnya, ketahuilah bahwa dia sedang menerapkan &lt;u&gt;taktik dagang babi&lt;/u&gt;. Kamu bilang saja dengan sopan dan rendah hati:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;&lt;b&gt;Gak usah dagang babi deh lu!&lt;/b&gt;&quot;&lt;br /&gt;
Lalu sodorkan tulisan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa? Bacalah sejarahnya... Bacalah...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;Taktik dagang babi ini populer sekitar dua ribu tahun setelah Masehi. Ketika itu sekelompok manusia di lembah Rekaan memutuskan untuk menyembah Babi dan mempengaruhi semua orang di sekitarnya untuk ikut menyembahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Babi --sebagai satu-satunya binatang yang eksis dalam cerita itu-- dipilih karena sifatnya yang maha sabar dan maha nrimo. Dituduh apapun tidak menyangkal, apalagi melakukan sesuatu yang menunjukan penolakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari berbagai keagungan sifat yang dimiliki Babi, yang paling utama (dan rahasia) adalah: maha pendiam, alias tidak bakal menjawab pertanyaan apapun yang diajukan hambanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkat pemahaman mendalam atas sifat-sifat itulah, segelintir hambanya yang tampak paling taat mendapat anugrah kharisma yang sangat besar. Ucapannya sakti dan mempengaruhi pikiran semua yang didakwahi. Derajat mereka terangkat begitu tinggi hingga mereka menjadi golongan elit yang berkuasa atas banyak sekali manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini rahasianya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat di lembah itu sangatlah lugu. Mereka sangat amat hormat pada siapapun yang tampak paling taat dan lebih dekat dengan Babi sembahan hati. Segala yang dikatakan si Taat dengan mengatasnamakan Babi akan langsung masuk ke hati dan dituruti. Bahkan ketika si Taat mulai mengaku mendengar bisikan Babi yang bicara langsung ke dalam pikirannya, umat jelata tak punya pilihan kecuali langsung percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umat jelata tak akan berani meragukan para taat elit yang jelas-jelas lebih dekat dengan Babi. Apalagi selama ini sang Babi terkenal pendiam, setiap ditanya tak mau jawab. Jadi sekarang masih untung dia mau bicara, walau sebatas pada segelintir elit (yang mengaku diajak bicara).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari besarnya potensi keuntungan dari mengeksploitasi keluguan umat, kelakuan para elit makin menjadi-jadi. Nama Babi makin sering digunakan untuk memuaskan berbagai kepentingan duniawi. Mulai dari menarik upeti sampai untuk mengoleksi istri, bahkan sampai sekedar untuk memaki mereka akan mengatasnamakan Babi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dilaknat Babi kamu kalau berani melawan kemauan akuh!&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Dasar jahat, semoga laknat Babi ditimpakan kepadamu berkali-kali&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Kamu tidak takut dimurkai Babi? Makanya nurut akuh!&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tersebut barusan adalah beberapa contoh pemanfaatan Babi untuk intimidasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepintas tampak konyol di mata kita orang jaman sekarang, tapi bagi umat jelata di masa itu sungguh sangat menakutkan. Penyembah Babi mana yang tidak bergetar hati dan lututnya ketika diancam dengan murka Babi? Mereka semua akan langsung menggigil ketakutan tanpa pernah penasaran apakah Babi sungguh-sungguh melaknatnya, atau cuma tuduhan kosong saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama Babi terus disalahgunakan untuk mencapai tujuan-tujuan manipulatif secara tidak etis. Dagang babi, itulah julukan yang diberikan untuk taktik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedahsyatan taktik ini terus menginspirasi manusia sepanjang jaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ketika Babi sudah tidak disembah karena manusia mulai mengenal Tuhan, segelintir orang sok elit masih juga menggunakan taktik dagang babi dengan sangat kurang ajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana tidak kurang ajar, bayangkan, taktik dagang babi dipakai semena-mena untuk menyalahgunakan nama besar Tuhan dan memanipulasi keluguan manusia! Untuk tujuan tak etis pula! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini contoh memaki dengan menyalahgunakan Tuhan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dasar kamu orang yang dilaknat Tuhan!!&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Tukang Bajai Laknatullah! Kalo belok pakai tanda dong!!!&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Kamu mau dilaknat Tuhan? sini masuk selimut bareng aku&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba perhatikan dan pikirkan, apa iya Tuhan melaknat? Bahkan jika kita penasaran dan berani langsung bertanya pada Tuhan, pasti juga tidak dijawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu padahal tuduhan kosong saja yang berasal dari kecerdikan si pemaki. Fungsinya murni untuk mengintimidasi korban, sambil mengindoktrinasi para followernya yang penyembah Tuhan agar (secara tak sadar) percaya bahwa kita sudah dilaknat Tuhan. Si pemaki sebagai rasul penyampai laknat akan merasa hebat dan punya otoritas, walau semu ilusif, tapi lumayan daripada tidak ada yang bisa dibanggakan. Lagi pula umat yang kelewat dungu juga tetap termakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bagaimana cara memaki dan mengintimidasi yang lebih mendidik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya tidak usah lagi mengatasnamakan obyek-obyek ghaib. Gunakan saja dasar-dasar hukum yang diakui masyarakat setempat. Misal:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&quot;Dasar kamu tidak sesuai UU XX pasal bla-bla!!&quot; (sesuaikan &#39;XX&#39; dan &#39;bla&#39; dengan situasi)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&quot;Kamu sesat, tidak sesuai kitab x ayat y yang artinya yeee!!&quot; (ganti &#39;x&#39; dan &#39;y&#39; dan &#39;yeee&#39; sesuai kebutuhan).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Atau jika belum ada aturan hukumnya, bikin saja argumen sederhana yang mudah dipahami, misal:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Jangan merokok di sini karena ada anak kecil, nanti dia jadi perokok pasif, baca deh daftar resiko&amp;nbsp; yang tertulis di bungkus rokok kamu, itulah yang akan kamu timpakan ke setiap orang yang kamu racuni dengan asapmu.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Cara begitu bakal lebih mendidik, baik bagi obyek makian maupun para
 penonton adegan maki-maki. Kita tampak lebih cerdas karena omong pakai pengetahuan, argumen juga lebih kuat karena ada dasarnya. Dan jika yang ditegur tidak terima, mereka bisa bantah argumen kita dan itu akan jadi awal untuk diskusi yang lebih mencerahkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kawan, jangan lupa, lain kali kamu ketemu orang yang memaki atau mengintimidasi sambil menyalahgunakan obyek-obyek ghaib seperti Tuhan dan semacamnya, katakan dengan sopan dan rendah hati:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;&lt;b&gt;Gak usah &lt;u&gt;dagang babi&lt;/u&gt; deh lu!&lt;/b&gt;&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu sertakan link ke posting ini untuk dibaca, dipahami dan ditanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi gimana, berapa pelaku dagang babi yang kamu temui hari ini?&lt;br /&gt;
Ada yang menarik?</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/3183750720798627856/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/taktik-dagang-babi-sejarah-dan-tips.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/3183750720798627856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/3183750720798627856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/taktik-dagang-babi-sejarah-dan-tips.html' title='Taktik Dagang Babi, sejarah dan tips mengatasinya'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjj5XXSYsnCaX_CURr_MIYOvdGu_dThCsg5U2VZAyQlkuusHZWtyLAE4BEPo4eNU9mG-_4DDZqhJWNCb8CUrLzmR2lKtlD_DK21Iz419SM466j3o5vTdpo4f1khtwFSUts4UI-yuduJKO0G/s72-c/babijenggot.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-1994563093920297141</id><published>2012-03-06T00:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-07T14:44:14.868+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="fallacy"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kesalahan logika"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Straw Man"/><title type='text'>Straw Man</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjv6bor06q9INyGouzJQi6FC0lnlUmiP1AmU49mokW-CSiSUzxHq-gO5n9ROZg9_BqsryvQa9HAsQD_qzb80E3-g578AxagXMQ1rCVKtnCYIinKJBA0yzyrHmgG-bW5wg6NOAO0hih8ceFI/s1600/strawman.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjv6bor06q9INyGouzJQi6FC0lnlUmiP1AmU49mokW-CSiSUzxHq-gO5n9ROZg9_BqsryvQa9HAsQD_qzb80E3-g578AxagXMQ1rCVKtnCYIinKJBA0yzyrHmgG-bW5wg6NOAO0hih8ceFI/s1600/strawman.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi, &lt;a href=&quot;http://transitionculture.org/2011/05/26/transitions-life-as-a-straw-man/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Rob Hobkins&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Straw Man, kalau di indonesia mungkin sama dengan orang-orangan sawah. Boneka horor yang fungsinya untuk menakuti dan mengusir burung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perdebatan, seringkali lawan kita punya argumen yang sulit bantah atau sulit diserang. Strawman bisa kita summon untuk membuat kita tampak cerdas, menang dan membuat umat yang menyaksikan perdebatan memihak kita. Malah bisa sekalian membuat lawan bingung dan terpengaruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begini contohnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lawan kita menolak usul kita untuk membeli Tank jadul bekas latihan perang negeri asing, selain harganya kemahalan, juga bukan waktunya buang uang untuk investasi di persenjataan organik, terlebih saat ini kita sedang diserang, dipecahbelah dan dimangsa lewat ekonomi, pikiran dan budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita yang butuh sripilan dari transaksi tank bisa repot melawan argumen macam itu, jalan terbaik adalah kita pakai taktik straw man, jawab begini:&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Apaaaaah?!?!? Jadi kamu ingin negara kita tidak punya pertahanan? Itu akan membuat tanah tumpah darah kita terbuka lebar untuk diserang agressor!!! Dasar kamuh tengik penghianat bangsah! Kamu suka kalau negara kita lemah ya? hah? Hah? HAH!!?&quot;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan baik-baik, yang diserang sebenarnya bukan argumen lawan, tapi strawman yang kita munculkan sebagai pengganti argumen lawan.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini rumusnya:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Lawan punya argumen X&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kita summon Y (yaitu X yang sudah kita distorsi)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kita serang argumen Y dengan ganas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;X berhasil dibuat tampak salah, lawan kalah, umat pun memihak kita.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lawan Anda adalah gerombolan liberal yang tidak suka dengan berbagai aksi kekerasan yang sering kita lakukan sambil mengatasnamakan agama Z.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Hentikan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan Agama! Itu melanggar HAM dan memecah belah bangsa!&quot;&lt;/i&gt; Teriak mereka sambil menyodorkan berbagai ayat yang menganjurkan perdamaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada kita jawab panjang lebar sambil mencari-cari ayat suci yang membenarkan kekerasan, kebencian dan disintegrasi.... Dan membuat citra agama Z yang sudah buruk jadi semakin buruk, jelas lebih praktis untuk panggil strawman saja. Jawab begini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Hei kamuh kafir laknatubi, kami lakukan itu demi membela agama Z. Barang siapa tidak mendukung kami berarti bukan umat Z. Dan barang siapa yang bukan Z tapi berani melawan kami berarti darahnya legal untuk ditumpahkan!! Hidup Z!!!&quot;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan begitu lawan diskusi akan ketakutan sampai terkencing-kencing, sedangkan penonton yang dungu pasti tak cukup awas untuk melihat kesalahan logika yang sengaja kita lakukan. Sering-sering suguhi mereka dengan diskusi licik begini, dalam waktu singkat mereka akan terindoktrinasi untuk memihak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan lupa, sedikit bumbu ad hominem akan membuatnya lebih afdolsurafdol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yak, begitulah kurang-lebih penjelasannya. Silakan menambahkan jika ada yang kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, berapa kali dalam sehari Anda menyaksikan taktik semacam ini digunakan untuk pembodohan? Ada yang menarik? Bagi tahu saya dong :)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/1994563093920297141/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/straw-man.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/1994563093920297141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/1994563093920297141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/straw-man.html' title='Straw Man'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjv6bor06q9INyGouzJQi6FC0lnlUmiP1AmU49mokW-CSiSUzxHq-gO5n9ROZg9_BqsryvQa9HAsQD_qzb80E3-g578AxagXMQ1rCVKtnCYIinKJBA0yzyrHmgG-bW5wg6NOAO0hih8ceFI/s72-c/strawman.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-7966344570958538061</id><published>2012-03-05T13:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-05T13:00:06.667+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="adu domba"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="disintegrasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="divide and rule"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="divide et impera"/><title type='text'>Adu Domba</title><content type='html'>Adu domba, pecah belah, divide et impera tidak cuma terjadi di zaman 
Belanda. Hari ini pun masih sering terjadi. Rakyat di adu, supaya sibuk 
sendiri, sementara para penguasa menikmati berbagai hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


Dulu jaman SD, saya memahami taktik ini sebagai : mengadudomba calon mangsa agar lemah dan tidak kompak, lalu Belanda datang sebagai musuh dari 
semuanya dan dengan mudah mengalahkan domba-domba dungu yang lelah 
saling bertempur itu. Ternyata kini prakteknya jauh lebih lebih kompleks. Yang melakukan 
pun bukan kompeni “dari luar sana”, tapi justru oleh para pimpinan dan 
pemuka kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Jika ada 
“musuh bersama”, maka sang indoktrinator bisa memposisikan diri sebagai 
“pelindung” atau “pembela umat” dari ancaman musuh. Dengan begitu umat 
jadi lebih mudah diatur dan dipengaruhi. Itulah makanya banyak pemimpin yang menyukai taktik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Atau jika umat mulai tidak setia, tidak patuh, dan terancam bubar, 
maka &lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;tersedianya musuh dan ancaman juga bisa membuat umat kembali setia 
dan kembali kompak.&lt;br /&gt;

Karena itulah, sang indoktrinator, eh, maksudnya sang pemimpin tidak 
akan segan untuk&amp;nbsp; menciptakan “musuh” untuk diperangi oleh umat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;War on terror&quot;, &quot;melawan pornoaksi&quot;, &quot;Perang melawan perusak ahlaq&quot;&amp;nbsp; adalah berbagai kata kunci yang bisa Anda analisa. Siapakah yang diuntungkan? Apakah aksi-aksi tersebut tulus mencari akar masalah demi penemuan solusi, atau hanya sarana untuk memicu konflik dan meraih kuasa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Dan jika menciptakan musuh baru terlalu mahal, kita bisa pilih cara yang lebih praktis: Manfaatkan
 musuh yang sudah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eksploitasi saja bibit perselisihan yang telah 
tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pempimpin yang milih cara itu akan menghindari segala usaha untuk mencari solusi damai dengan lawan, bagi mereka justru lebih menguntungkan jika perselisihan yang ada diperuncing dan dipakai untuk memprovokasi
 umat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memelihara biang onar padahal seharusnya bisa dilenyapkan bisa jadi contoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Oh, biasanya dalam adu domba akan tercium pekatnya &lt;a href=&quot;http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/glorifikasi-dan-demonisasi.html&quot;&gt;glorifikasi dan demonisasi&lt;/a&gt;.&amp;nbsp; Itu perlu dilakukan agar umat dari masing-masing kubu bisa diyakinkan bahwa musuh adalah 
penjahat sempurna yang tidak ada baiknya sama sekali, tidak pantas ddengar penjelasannya. Dengan begitu umat tidak mungkin menguji kebenaran dari berbagai informasi sepihak yang disodorkan pemimpin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konflik bisa terus dipertahankan, begitu juga dengan kekuasaan :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Punya contoh bagaimana seorang pemimpin memilih memperuncing konflik, menganjurkan pertikaian dan kekerasan sementara ada jalan lain yang lebih damai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silakan berbagi.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/7966344570958538061/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/adu-domba.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/7966344570958538061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/7966344570958538061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/adu-domba.html' title='Adu Domba'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-8617028359219881727</id><published>2012-03-04T20:02:00.000+07:00</published><updated>2012-03-05T13:13:39.172+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="demonisasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="glorifikasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indoktrinasi"/><title type='text'>Glorifikasi dan Demonisasi</title><content type='html'>Glorifikasi itu aksi melebih-lebihkan sesuatu hingga hingga terkesan hebat luar biasa, sangat suci, atau sempurna tanpa cela. Sedangkan demonisasi adalah melebih-lebihkan keburukan atau kejahatan hingga sesuatu 
jadi tampak buruk luar biasa, jahat sempurna, tidak ada sedikitpun 
kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taktik tersebut, emosi korban dipermainkan dan dipengaruhi agar&amp;nbsp; sangat memuja pihak kawan secara berlebihan dan membenci pihak musuh juga secara berlebihan. Saking bencinya, korban indoktrinasi tidak akan terpikir untuk mendengarkan penjelasan dari musuh, apalagi memahami alasan-alasan dibalik tindakannya. Pokoknya kata pemimpin dia musuh, jahat sangat, harus diperangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taktik glorifikasi demonisasi dapat dikatakan berhasil jika korban 
indoktrinasi tidak bisa lagi melihat, atau malah sengaja mengabaikan segala 
kesalahan/keburukan yang dilakukan pihak kawan tapi tetap bersemangat untuk kritis
 pada berbagai keburukan yang dilakukan pihak lawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taktik ini biasanya diterapkan oleh para pemimpin yang menggunakan 
taktik pecah belah (&lt;a href=&quot;http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/adu-domba.html&quot;&gt;divide and rule / adu domba&lt;/a&gt;) untuk melestarikan 
kekuasaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gimana, sering kah Anda lihat itu terjadi di sekitar kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, dapatkah Anda beri contoh diterapkannya taktik ini dalam kehidupan kita sebagai warga Indonesia?</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/8617028359219881727/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/glorifikasi-dan-demonisasi.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/8617028359219881727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/8617028359219881727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/glorifikasi-dan-demonisasi.html' title='Glorifikasi dan Demonisasi'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-230987754914740467</id><published>2012-03-01T12:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-07T22:29:56.611+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="anak"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indoktrinasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pendidikan"/><title type='text'>Peran Pendidikan</title><content type='html'>Banyak anak usia sekolah sudah kecanduan rokok, ada pula tua bangka berpendidikan S2, dosen pula, tapi masih kuatir aqidahnya hancur lebur hanya gara-gara salam agama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara para penyelenggara negara juga masih banyak S1, S2 atau S3 yang mudah dipengaruhi untuk mengutamakan kepentingan partainya diatas kepentingan rakyat banyak, tega mengadudomba menggunakan agama, atau rajin korupsi karena indoktrinasi orang tua yang menuhankan materi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indoktrinatornya beda, doktrinnya berbeda, tapi hasilnya sama: masyarakat yang mudah dibodohi, diadudomba, dikadali.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas sekali bahwa masih ada yang lupa diajarkan dalam pendidikan formal kita, terbukti dari lulusannya-lulusan terbaiknya yang masih mudah diindoktrinasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemendiknas maupun kemenham juga, setahu saya, belum membuat 
kurikulum/panduan resmi untuk memudahkan warga mempelajari topik 
tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan soal ini mungkin tabu untuk dibahas dan dijadikan konsumsi publik. Pakar-pakarnya pun masih langka yang sudi bagi-bagi ilmu secara gratis... Apalagi jika terikat prinsip kerahasiaan yang melarang mereka bicara apapun terkait dengan proyek yang dikerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya kita tak punya pilihan selain belajar tanpa bisa terlalu tergantung pada seorang pun nara sumber. Mungkin lebih baik begitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Anda, mengapa pendidikan kita tidak memperkenalkan taktik indoktrinasi sejak dini? Jika masyarakat tetap bodoh dan mudah dimanipulasi, siapa yang diuntungkan?</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/230987754914740467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/230987754914740467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/peran-pendidikan.html' title='Peran Pendidikan'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-1440091855341066100</id><published>2012-03-01T09:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-07T22:29:29.260+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bahaya"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="demokrasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="efek buruk"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indoktrinasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="politik"/><title type='text'>Bahaya Indoktrinasi</title><content type='html'>Tentu tidak setiap indoktrinasi dilatarbelakangi niat jahat dan 
tidak setiap indoktrinasi berakibat sangat buruk. Akan tetapi yang 
namanya indoktrinasi hanya sukses disebut indoktrinasi jika dan hanya 
jika berhasil &quot;melumpuhkan&quot; sesuatu yang membedakan manusia dari 
binatang jalang: Kemampuan bertanya, mengkritisi dan menguji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, korban yang sudah dibiasakan untuk tidak berpikir kritis memungkinkan sang indoktrinator untuk bebas 
memperbudak pikiran dan memanipulasi korban sesuai keinginan mereka. Mengubah manusia dari mahluk berpikir menjadi domba-domba yang patuh 
secara membabibuta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluguan kronis itu menjelaskan mengapa banyak dari 
kita masih &lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;setia mendukung ajaran kekerasan; Masih mendukung partai 
pengadudomba yang jualan agama; Masih suka mengusir dan menzalimi tetangga akibat 
provokasi ahli kitab pemecah belah negara; Masih suka berkultus ria dan 
bersekte-sekte; Dan... Masih gampang ditipu iklan, baik iklan dari perusahaan 
komersil maupun iklan dari koruptor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segelintir elit yang paham 
cara manipulasi pikiran bersenang-senang menikmati kekuasaannya, bebas 
korupsi dan memperkaya diri. Sementara warga yang tidak paham dibuat 
sibuk dengan urusan-urusan tidak bermutu tidak berkaitan dengan tujuan 
kita bernegara. Warga-warga lugu selalu didombakan, dibabikan, 
dibutakan.... oink-oink! &amp;lt;&amp;lt; suara babi lucu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tingginya populasi babi-babi lugu 
seperti itu jelas tidak sehat untuk demokrasi. Korban indoktrinasi, ketika diberi kebebasan
 bersuara hanya akan mengeluarkan teriakan-teriakan sesuai indoktrinasi purba yang 
diterimanya sejak kecil, atau indoktrinasi dari siapapun yang sedang memanipulasi pikirannya. Dan ketika diberi hak memilih, akan membuat pilihan yang 
sesuai dengan petunjuk sang indoktrinator. Bayangkan jika babi lugu selalu jadi mayoritas, percuma saja ada pemilu, karena hasilnya akan selalu menguntungkan segelintir elit yang menguasai taktik indoktrinasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika taktik indoktrinasi bisa diungkap dan dipahami oleh lebih banyak orang, para domba yang membabi buta bisa dibangkitkan lagi kemanusiaannya, kembali menjadi warga yang bisa berpikir layaknya manusia yang berakal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disertai dengan kualitas pendidikan yang baik, rakyat akan mampu membuat pilihan-pilihan yang lebih menguntungkan untuk sebanyak-banyaknya umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda tahu contoh keburukan yang timbul akibat orang mudah diindoktrinasi? Mari berbagi :)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/1440091855341066100/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/bahaya-indoktrinasi.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/1440091855341066100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/1440091855341066100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/bahaya-indoktrinasi.html' title='Bahaya Indoktrinasi'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-2265563042891577738</id><published>2012-03-01T06:00:00.000+07:00</published><updated>2012-03-07T22:28:50.118+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indoktrinasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="korban"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="target"/><title type='text'>Mangsa empuk indoktrinator</title><content type='html'>Paling rentan dan paling mudah diindoktrinasi biasanya adalah orang yang tidak 
terbiasa berpikir kritis, malas bertanya dan malas mencari fakta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya yang seperti itu sejak lahir dibiasakan percaya tahayul dan mitos yang wajib 
dipercaya tanpa bisa dipertanyakan. Masa kecil bersama ancaman &lt;i&gt;pamali&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;ora ilok&lt;/i&gt; dan berbagai teror ghaib lainnya, lalu tumbuh dewasa dengan keyakinan &lt;i&gt;kaffah&lt;/i&gt;
 pada dongeng-dongeng suci warisan leluhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbiasa menerima kebenaran 
&quot;versi otoritas&quot; membuatnya jarang penasaran, malas mengkritisi, apalagi
 menguji kebenarannya. Daripada repot mikir, mending ikut saja lah sama pemimpin. Begitulah prinsipnya dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa benar korbannya hanya dari kalangan yang malas berpikir?&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu ampuhnya taktik indoktrinasi, korban
 indoktrinator tidak terbatas pada kalangan pemuja tahayul lho. Para kafir, 
atheis, budayawan, filusuf dan anarko (yang sering dengan sok skeptis 
menolak doktrin agama, pakai bawa-bawa sains pula), ternyata banyak juga
 jadi korban indoktrinasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tebak, indoktrinasi apa yang memakan mereka? Yap. Industri Candu!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan
 mengerahkan ahli psikologi dan teknologi manipulasi-pikiran terkini, 
industri rokok menjadi indoktrinator yang sangat buas. Mungkin lebih 
buas dari ahli kitab yang paling ganas. Lewat bombardemen iklan yang 
intensif, pikiran manusia diindoktrinasi agar mengasosiasikan rokok 
dengan &quot;berani&quot; atau &quot;apa adanya&quot; atau &quot;setia kawan&quot; atau &quot;sukses&quot; dan 
apapun yang dirasa &quot;keren&quot; oleh korban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lewat berbagai muslihat manusia 
dirayu agar &quot;pikir pendek&quot; dan &quot;go ahead&quot; mencoba rokok. Setelah 
kecanduan tak perlu dirayu lagi, efek ketagihan akan memaksa korban 
membeli lagi, dan lagi, dan lagi... Atau minta teman saat tak mampu 
beli. Sambil sukarela mengarang berbagai pembenaran jenius demi 
melestarikan kecanduannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerikan bukan? Tidak harus malas berpikir untuk jadi korban indoktrinasi. Walaupun kita merasa sudah termasuk &quot;kritis&quot;, kalau kita tidak tahu taktik indoktrinasi, peluang untuk jadi korban tetap terbuka lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya, Anda dan semua orang semua adalah mangsa-mangsa empuk indoktrinasi, jika kita tidak waspada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau menurut Anda mangsa empuk untuk indoktrinasi itu yang bagaimana?</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/2265563042891577738/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/mangsa-empuk-indoktrinator.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/2265563042891577738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/2265563042891577738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/03/mangsa-empuk-indoktrinator.html' title='Mangsa empuk indoktrinator'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8025903053930055541.post-3845538100719764135</id><published>2012-02-29T23:43:00.000+07:00</published><updated>2012-03-07T22:28:23.583+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="definisi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="indoktrinasi"/><title type='text'>Apa itu Indoktrinasi?</title><content type='html'>Menyimak penjelasan &lt;a data-mce-href=&quot;http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/&quot; href=&quot;http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/&quot;&gt;kbbi&lt;/a&gt; dan &lt;a data-mce-href=&quot;https://id.wikipedia.org/wiki/Indoktrinasi&quot; href=&quot;https://id.wikipedia.org/wiki/Indoktrinasi&quot;&gt;wiki&lt;/a&gt;,  indoktrinasi adalah proses menanamkan sesuatu (bisa gagasan, perilaku,  sikap, kepercayaan, kecanduan dll). Yang perlu digarisbawahi adalah:  Dalam indoktrinasi, korban indoktrinasi &lt;span data-mce-style=&quot;text-decoration: underline;&quot; style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;tidak diharapkan&lt;/span&gt; untuk mempertanyakan, mengkritisi apalagi menguji doktrin yang diajarkan.&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Justru biasanya, indoktrinasi sengaja dirancang begitu zuper agar doktrin  mampu lolos melewati &#39;filter pikiran&#39; dan ditelan bulat-bulat oleh  korban. Sehingga biarpun yang diajarkan cuma &#39;kebenaran&#39; sepihak yang  tak teruji kebenarannya, korban indoktrinasi dapat dibuat yakin bahwa  doktrin yang ditanam adalah kebenaran sejati yang pantas diperjuangkan  sampai mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagimana dengan Anda, apakah punya pengalaman tentang indoktrinasi? Atau justru pernah jadi indoktrinator?</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/feeds/3845538100719764135/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/02/apa-itu-indoktrinasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/3845538100719764135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8025903053930055541/posts/default/3845538100719764135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://indoktrinesia.blogspot.com/2012/02/apa-itu-indoktrinasi.html' title='Apa itu Indoktrinasi?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>