<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' gd:etag='W/&quot;DEABQHo-fCp7ImA9WhdUFUg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336747858361698502</id><updated>2011-10-02T04:59:11.454-07:00</updated><title>CurHat</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ewiwit.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default?redirect=false&amp;v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ewiwit.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>eric</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06820953447240042727</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry gd:etag='W/&quot;D0YASXk-fCp7ImA9WhdUFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336747858361698502.post-1156967276497069236</id><published>2011-09-23T04:34:00.001-07:00</published><updated>2011-10-02T01:45:48.754-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-02T01:45:48.754-07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan Hidup'/><title>Curahan Hati Seorang Istri</title><content type='html'>Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dalam sebuah laptopnya.&lt;br /&gt;
Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Cinta&lt;br /&gt;
itu butuh kesabaran…Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta &lt;br /&gt;
kita??? Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..&lt;br /&gt;
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan kami sederhana namun meriah….. Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.&lt;br /&gt;
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan &lt;br /&gt;
&amp;amp; mapan pula. Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam &lt;br /&gt;
karirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami &lt;br /&gt;
berpacaran dulu.. Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke &lt;br /&gt;
tanah suci….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… &lt;br /&gt;
sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku. Banyak orang&lt;br /&gt;
yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali &lt;br /&gt;
bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa &lt;br /&gt;
waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena&lt;br /&gt;
sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil &lt;br /&gt;
(bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami. Karena dia anak lelaki &lt;br /&gt;
satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk &lt;br /&gt;
mendapatkan penerus generasi baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku… Ia mengaggap Allah belum &lt;br /&gt;
mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA. Tapi keluarganya mulai &lt;br /&gt;
resah. Dari awal kami menikah, ibu &amp;amp; adiknya tidak menyukaiku. Aku &lt;br /&gt;
sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku&lt;br /&gt;
selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang &lt;br /&gt;
suami ku, aku dihina-hina oleh mereka Pernah suatu ketika satu tahun &lt;br /&gt;
usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. &lt;br /&gt;
Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi &lt;br /&gt;
seorang janda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah &lt;br /&gt;
kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang &amp;amp; malam sambil kubacakan &lt;br /&gt;
ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan &lt;br /&gt;
dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus &lt;br /&gt;
suamiku yang sakit karena kecelakaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, &lt;br /&gt;
aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman &lt;br /&gt;
suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang &lt;br /&gt;
sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur &lt;br /&gt;
suamiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat &lt;br /&gt;
suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, &lt;br /&gt;
“Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di&lt;br /&gt;
depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, &lt;br /&gt;
mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. &lt;br /&gt;
Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata &lt;br /&gt;
“Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih &lt;br /&gt;
namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah &lt;br /&gt;
mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan &lt;br /&gt;
keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku &lt;br /&gt;
pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam &lt;br /&gt;
ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sibuk membersihkan &amp;amp; mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru&lt;br /&gt;
sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama &lt;br /&gt;
Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun &lt;br /&gt;
mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan &lt;br /&gt;
abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. &lt;br /&gt;
Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan &lt;br /&gt;
berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang &lt;br /&gt;
menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan &lt;br /&gt;
memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, &lt;br /&gt;
toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya Salah ataupun &lt;br /&gt;
Tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi &lt;br /&gt;
meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia &lt;br /&gt;
kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam &lt;br /&gt;
kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku &lt;br /&gt;
memanggil ku ke taman belakang, ia baru saja selesai sarapan, ia &lt;br /&gt;
mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang &lt;br /&gt;
bertaburan di kolam air mancur itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga &lt;br /&gt;
sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan &lt;br /&gt;
aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu &lt;br /&gt;
disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan &lt;br /&gt;
sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya&lt;br /&gt;
itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat &lt;br /&gt;
untuknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu &lt;br /&gt;
tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium &lt;br /&gt;
keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan&lt;br /&gt;
pada nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang &amp;amp; &lt;br /&gt;
cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama Suamiku, tapi &lt;br /&gt;
karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku &lt;br /&gt;
karena Suamiku sangat sayang padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus&lt;br /&gt;
komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh &lt;br /&gt;
keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat &lt;br /&gt;
mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan &lt;br /&gt;
yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang &lt;br /&gt;
jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak &lt;br /&gt;
merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang&lt;br /&gt;
akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi &lt;br /&gt;
olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. &lt;br /&gt;
Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak &lt;br /&gt;
boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan &lt;br /&gt;
selalu menelponku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa &lt;br /&gt;
sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, &lt;br /&gt;
jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun &lt;br /&gt;
jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak&lt;br /&gt;
tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami&lt;br /&gt;
pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang &lt;br /&gt;
kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut &lt;br /&gt;
rahim stadium 3.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu &lt;br /&gt;
berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa &lt;br /&gt;
memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah &lt;br /&gt;
jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia &lt;br /&gt;
selalu marah-marah terhadapku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik aku tutupi dulu tentang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan &lt;br /&gt;
cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari &lt;br /&gt;
aku hitung…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat &lt;br /&gt;
foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja &lt;br /&gt;
ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di &lt;br /&gt;
rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum &lt;br /&gt;
kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan &lt;br /&gt;
menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. &lt;br /&gt;
Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap &lt;br /&gt;
berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci &lt;br /&gt;
kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik&lt;br /&gt;
keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan &lt;br /&gt;
nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan &lt;br /&gt;
aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat &lt;br /&gt;
pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengelus wajahnya dan aku&lt;br /&gt;
cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya &lt;br /&gt;
dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku &lt;br /&gt;
memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku &lt;br /&gt;
berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari &lt;br /&gt;
rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat &lt;br /&gt;
itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian yang &lt;br /&gt;
mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang &lt;br /&gt;
terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja &lt;br /&gt;
sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah&lt;br /&gt;
setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara&lt;br /&gt;
padaku, apalagi memanjakan aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas &lt;br /&gt;
tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya&lt;br /&gt;
saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan &lt;br /&gt;
mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku &lt;br /&gt;
telah berubah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan &lt;br /&gt;
mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku &lt;br /&gt;
serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang &lt;br /&gt;
suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku &lt;br /&gt;
pegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap&lt;br /&gt;
malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru &lt;br /&gt;
saja berkenalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap&lt;br /&gt;
seperti itu, aku tetap merawatnya &amp;amp; menyiakan segala yang ia &lt;br /&gt;
perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia &lt;br /&gt;
tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku &lt;br /&gt;
telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu &lt;br /&gt;
kapan ini semua akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai &lt;br /&gt;
seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk &lt;br /&gt;
pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah &lt;br /&gt;
menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku &lt;br /&gt;
untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam &lt;br /&gt;
usai, suamiku memanggilku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar,&lt;br /&gt;
dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke &lt;br /&gt;
Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing &lt;br /&gt;
buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto&lt;br /&gt;
pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. &lt;br /&gt;
Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak &lt;br /&gt;
berteriak, tapi aku tak bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, &lt;br /&gt;
suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan &lt;br /&gt;
sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya &lt;br /&gt;
bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku&lt;br /&gt;
tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah &lt;br /&gt;
berkumpul disana, termasuk ibu &amp;amp; adik-adiknya. Aku tidak tahu ada &lt;br /&gt;
acara apa ini..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar&lt;br /&gt;
tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam &lt;br /&gt;
lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada &lt;br /&gt;
sebelum suamiku lahir, tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik &lt;br /&gt;
padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun &lt;br /&gt;
menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang &lt;br /&gt;
tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau &lt;br /&gt;
Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 &lt;br /&gt;
tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang &lt;br /&gt;
sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau &lt;br /&gt;
menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di &lt;br /&gt;
atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat &lt;br /&gt;
lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin &lt;br /&gt;
aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya &lt;br /&gt;
keberanian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari &lt;br /&gt;
ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, &lt;br /&gt;
“kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan&lt;br /&gt;
remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti&lt;br /&gt;
ini terhadapku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘’Untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada &lt;br /&gt;
saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air &lt;br /&gt;
mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan &lt;br /&gt;
pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan &lt;br /&gt;
ini Nek?.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk &lt;br /&gt;
menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara &lt;br /&gt;
seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku&lt;br /&gt;
buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin &lt;br /&gt;
berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, &lt;br /&gt;
cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. &lt;br /&gt;
Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku &lt;br /&gt;
sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia &lt;br /&gt;
berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera &lt;br /&gt;
memandangnya dari cermin meja rias itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu &lt;br /&gt;
memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal &lt;br /&gt;
pergi kamu nanti! Iya kan?.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia &lt;br /&gt;
tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan &lt;br /&gt;
jangan salah memakai shampo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak &lt;br /&gt;
memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan&lt;br /&gt;
aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi &lt;br /&gt;
pernikahan suamiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin &lt;br /&gt;
takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan&lt;br /&gt;
aku atas rasa sayang dan cintanya itu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah &lt;br /&gt;
pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku &lt;br /&gt;
yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu &lt;br /&gt;
kepadaku. Aku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk &lt;br /&gt;
keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena &lt;br /&gt;
mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat &lt;br /&gt;
lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk &lt;br /&gt;
dan berbicara padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah kamu sudah siap?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk &lt;br /&gt;
kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu,&lt;br /&gt;
lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di &lt;br /&gt;
ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah &lt;br /&gt;
itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan &lt;br /&gt;
pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa &lt;br /&gt;
bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak &lt;br /&gt;
sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita lihat saja nanti ya!”. Dia memelukku&lt;br /&gt;
dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui &lt;br /&gt;
selain mama”..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, &lt;br /&gt;
“Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah &lt;br /&gt;
berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku&lt;br /&gt;
kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang &lt;br /&gt;
harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita &lt;br /&gt;
pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama &lt;br /&gt;
Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang &lt;br /&gt;
aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud &lt;br /&gt;
di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah,&lt;br /&gt;
telah membuatmu susah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba&lt;br /&gt;
perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia &lt;br /&gt;
bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu &lt;br /&gt;
itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. &lt;br /&gt;
Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus &lt;br /&gt;
khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat &lt;br /&gt;
hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku &lt;br /&gt;
ingat akan kondisiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu &lt;br /&gt;
ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang &lt;br /&gt;
baik itu, memelukku.. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini.&lt;br /&gt;
Ya… aku kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang&lt;br /&gt;
yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan &lt;br /&gt;
tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi&lt;br /&gt;
dibalik itu.. hatiku menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak &lt;br /&gt;
mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak&lt;br /&gt;
suka dengan pernikahan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan &lt;br /&gt;
perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka &lt;br /&gt;
lakukan didalam sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk &lt;br /&gt;
berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa &lt;br /&gt;
ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur &lt;br /&gt;
dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil&lt;br /&gt;
menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, &lt;br /&gt;
tentu saja aku kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku &lt;br /&gt;
tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, &lt;br /&gt;
“maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya &lt;br /&gt;
aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa &lt;br /&gt;
dan juga adik-adikku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk&lt;br /&gt;
istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, &lt;br /&gt;
sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh &lt;br /&gt;
malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah &lt;br /&gt;
merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku&lt;br /&gt;
untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 &lt;br /&gt;
tahun ini..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah &lt;br /&gt;
sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab &lt;br /&gt;
seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu suamiku berkata, ”Bun, Ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. &lt;br /&gt;
Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai &lt;br /&gt;
ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan &lt;br /&gt;
satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda &lt;br /&gt;
dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan &lt;br /&gt;
seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi &lt;br /&gt;
takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur &lt;br /&gt;
dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga &lt;br /&gt;
ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada &lt;br /&gt;
kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak &lt;br /&gt;
pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku &lt;br /&gt;
ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah.. Aku tidak pernah &lt;br /&gt;
berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar &lt;br /&gt;
hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih &lt;br /&gt;
mapan darimu waktu itu Yah.. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak &lt;br /&gt;
mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu..“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian &lt;br /&gt;
dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan &lt;br /&gt;
suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, &lt;br /&gt;
rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan &lt;br /&gt;
main, ia langsung menggendongku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun dilarikan ke rumah sakit..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasakan tanganku basah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda &lt;br /&gt;
ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, &lt;br /&gt;
kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan &lt;br /&gt;
suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu &lt;br /&gt;
sampai aku hidup didalam hati anakmu. Ketahuilah Ma.. dari dulu aku &lt;br /&gt;
selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka &lt;br /&gt;
kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari &lt;br /&gt;
anakmu, tapi mengapa kau benci diriku.. Dengan Desi kau sangat baik &lt;br /&gt;
tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==========================&lt;br /&gt;
===========================&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dihina oleh mereka ayah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia&lt;br /&gt;
adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat &lt;br /&gt;
terlihat Ayah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia &lt;br /&gt;
memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti &lt;br /&gt;
itu ayah ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku diusir dari rumah sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak boleh merawat suamiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sangat marah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ibunya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak mau sakit hati lagi..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Engkau Maha Adil..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu. Perempuan yang aku &lt;br /&gt;
benci, yang aku cemburui, tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian&lt;br /&gt;
keluarga suamiku. Aku harus sadar diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah.. aku masih tak rela..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku harus ikhlas menerimanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya. Semoga saja aku &lt;br /&gt;
masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku. Aku ingin sekali &lt;br /&gt;
merasakan kasih sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ayah.. aku kangen Ayah..”&lt;br /&gt;
------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
’’Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.’’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda akan selalu hidup dihati ayah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, &lt;br /&gt;
rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin Ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda.. kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
’’Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu &lt;br /&gt;
meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggulah Ayah disana Bunda..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
’’Ayah Sayang Bunda….’’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cerita disadur dari forum tetangga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336747858361698502-1156967276497069236?l=ewiwit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ewiwit.blogspot.com/feeds/1156967276497069236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8336747858361698502&amp;postID=1156967276497069236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/1156967276497069236?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/1156967276497069236?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ewiwit.blogspot.com/2011/09/dffsdfsaf.html' title='Curahan Hati Seorang Istri'/><author><name>eric</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06820953447240042727</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0QAQ3g8eyp7ImA9WhdUFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336747858361698502.post-2868580782498411557</id><published>2011-04-06T19:17:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T01:49:02.673-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-02T01:49:02.673-07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maaf'/><title>Maaf</title><content type='html'>&lt;div class="post-content"&gt;Assalamu alaikum…^_^&lt;br /&gt;
Tanpa terasa esok hari lebaran itu tiba…ada sedih yg kurasa ketika ku  tarawih td malam….sedih berpisah dgn ramadhan ini..akankah ku bertemu  dgn ramadhan tahun depan…mataku berkaca2 dan hatiku bergetar saat  mendengar ustadz bertasbih..berkumandang menyebut namaNya dgn suaranya  yg sgt indah…Subahanallah…hatiku bergetar saat ku mendengar ceramah yg  ustadz sampaikan..singkat,padat, sgt bermakna dan menyentuh…Allahu  akbar…ntah apa yg kurasa malam td..malam terakhir ku tarawih di ramadhan  ini….&lt;br /&gt;
Mulai malam nanti takbir itu akan dikumandangkan….Ayahanda tercinta  esok hari stlh slsai sholat ID..akan kembali ke&amp;nbsp;tempat  peristirahatannya….Ayah..ada rasa rindu..haru..yg kurasa di hati  ini….betapa aku menyayangimu dan betapa aku&amp;nbsp;merindukanmu…putri  tersayangmu..hanya bisa berdo’a padaNya..moga ibadah yg&amp;nbsp;putrimu ini  lakukan..akan menjadi bekal yg membahagiakanmu ketika ayah&amp;nbsp;sampai di  peristirahatanmu kembali….amiiiin.. ^_*&lt;br /&gt;
Selamat Hari Raya Idul Fitri&lt;br /&gt;
Mohon Maaf Lahir &amp;amp; Bathin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Source:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;dedeknurul.blogdetik.com&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336747858361698502-2868580782498411557?l=ewiwit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ewiwit.blogspot.com/feeds/2868580782498411557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8336747858361698502&amp;postID=2868580782498411557' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/2868580782498411557?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/2868580782498411557?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ewiwit.blogspot.com/2011/04/mantan-as-curt-weldon-rep-mengatakan.html' title='Maaf'/><author><name>eric</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06820953447240042727</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0AGR3gyeCp7ImA9WhdUFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336747858361698502.post-2919155294934866231</id><published>2011-04-06T19:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T01:55:26.690-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-02T01:55:26.690-07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><title>Pantaskah aku tetap mencintainya??</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mempertahankan cinta yang bertepuk sebelah tangan memang penuh tantangan, hati yang seakan menjadi taruhannya. mempertahankan cinta  dengan kesakitan atau… pergi dan melepas semua mimpi-mimpi yang sempat  terbangun indah di atas nama cinta. ya, hari demi hari aku seakan  menyimpan kesakitan yang menyeruak di dasar hati. menyimpan luka yang  tidak sedikitpun bisa ku ungkapkan. memang.. raganya bersamaku  disini.tapi hatinya.. jauh terbang bersama mimpi-mimpi dengan wanita  itu. dan jika aku boleh memilih.. aku tidak ingin berada di posisi  seperti ini. dia yang memulai semuanya… perkenalan hingga persahabatan  pun sempat kita rangkai. hingga akihirnya perasaan itu tumbuh walau  tidak secuilpun aku bermimpi untuk mendapatkannya. karena saat itu..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;perasaan   tidak mungkin bisa untuk mendapatkan cinta darinya. hingga di suatu  hari.. ia mengucapkan satu kata yang membuatku setengah tidak percaya.  ya, dia mengucapkan cinta.. yang saat itu aku serasa di buai oleh asmara  yang tidak berujung. hingga hari-hari ku pun selalu di hiasi dengan  canda tawa bersamanya. sempat.. aku berfikir kalau hubungan cinta itu  akan berlangsung lama dan selamanya. namun.. belum genap satu bulan  hubungan kita, masalah seakan menghncurkan segalanya. ya, menghancurkan  segalanya !!! hingga perasan putus asa menghinggapi benak ini. sempat  mempunyai pemikiran untuk mengakhiri hidup pun ada. inginku tak ingin  berpisah darinya. kehadiran wanita yang lama ia cintai telah menodai  hubungan kita berdua. entah.. apa yang mereka bicarakan di kampusnya  ataupun di chat yang ia sembunyikan dariku saat itu. yang aku tau… dia  akhirnya kembali kepadaku dengan keadaan yang tidak meyakinkan kalau  hatinya hanya untukku. selang beberapa bulan dari kejadian itu..  hubungan kita pun semakin serius.. sempat kami membicarakan tentang  pernikahan. ya, pernikahan yang sakral itu pun sempat ia utarakan.  bahkan.. di keluargaku pun ia sudah dekat dengan mereka. hingga  janji-janji atas nama cinta pun ia ikrarkan. namun… itu tidak  berlangsung lama. dua bulan kemudian.. wanita itu hadir kembali ke akun  jejaring sosialnya (Facebok). sempat aku ingin beontak.. tapi apalah  daya. aku.. yang hanya sebagai pacar dan aku sendiripun tidak mempunyai  keberanian untuk mengungkap apa yang aku rasa sejak hadirnya wanita itu  di akun facebook nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;walaupun aku sendiri sudah meyakini… lama  sebelum hal itu terjadi pun dia masih sering memikirkan wanita itu. aku  yang seakan terjelembab kedalam cinta yang semu. yaa, cinta yang ia  hadirkan untukku adalah cinta semu. aku hanya bisa mendapatkan raganya..  tanpa mendapatkan tulus cintanya. hingga beberapa bulan kemdian  hubungan itu masih tetap kita pertahankan. dengan keyakinan yang tipis  aku mencoba untuk selalu bersabar menunggu ia menyerahkan hatinya  untukku. tapi apa yang terjadi ??? di bulan ke – 6 dia seakan tidak  menganggap apa yang selama ini aku perjuangkan. tentang kesakitan, dan  tentang perasaan seorang wanita yang mengetahui jika lelaki yang ia  cintai mencintai wanita lain. di hari ke 30 bulan 6 itu dia memutuskan  hubungan kita. sempat aku mencoba untuk tetap mempertahankan semuanya.  namun.. lagi lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa. aku hanya wanita  biasa.. yang hanya bisa mencintai. meski cintanya tidak pernah ia  dapatkan dari lelaki yang ia cintai. hingga akhirnya… aku pun hanya bisa  menyerah. menyerah untuk keputusannya itu. menyerah dalam keadaan luka  yang teramat dalam. namun kucoba untuk tetap tertawa jika sesaat aku  mencoba menghubunginya lewat telepon. ya, bisa berbicara dan mendengar  suaranya saja itu membuat aku sedikit lupa akan kenyataan yang ada.  kenyataan jika hubungan kita itu memang sudah berakhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan saat  itu.. aku mencoba untuk menjadi teman dan sahabat seperti dulu kala.  tapi apa tanggepannya ??? ia seakan menjauh dan menghindar. hingga suatu  hari.. aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pergi dan  menghilang dari kehidupannya. yang aku yakin.. dia akan lebih bahagia  jika aku tidak hadir di kehidupannya lagi. walau itu hanya sebatas  SAHABAT. hingga saat ini.. hubungan kita pun bisa di bilang sangat jauh.  jauh.. seperti orang yang tidak pernah mengenal satu sama lain. dan  sampai saat ini.. aku bertahan dengan kesendirian ini. hingga rasanyaa..  aku lebih nyaman dengan keadaan ku saat ini. walau.. hati kecilku tak  memungkiri jika aku masih sangat mengharapkannya. ya, aku masih sangat  mengharapkannya sampai detik ini. walaupun kadang terlintas di benak ini  PANTASKAH AKU TETAP MENCINTAINYA ??? walau kesakitan ini begitu  mendalam. dan aku pun tidak bisa menhindar dari kata hati kecil ku  sendiri. kalau aku… masih tetap mencintainya dari sini. ya, mencintainya  dari kejauhan.&lt;br /&gt;
buat kamu yang disana… semua yang pernah kamu  ucapkan kepadaku, masih tetap aku pertahankan. seperti yang pernah kita  janjikan dulu.. kalau masing-masing di antara kita tidak akan mempunyai  hubungan dengan orang lain sebelum kita memang siap untuk menikah. dan  aku… masih tetap dengan janjiku itu. tapi entahlah dengan kamu…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ONCOMLOLLA&lt;br /&gt;
dwiowmy@yahoo.co.id&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Source:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;www.ruangcurhat.com &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336747858361698502-2919155294934866231?l=ewiwit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ewiwit.blogspot.com/feeds/2919155294934866231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8336747858361698502&amp;postID=2919155294934866231' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/2919155294934866231?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/2919155294934866231?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ewiwit.blogspot.com/2011/04/pembangkit-listrik-tenaga-nuklir.html' title='Pantaskah aku tetap mencintainya??'/><author><name>eric</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06820953447240042727</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;Ck4DSXo9fyp7ImA9WhdUFUg.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336747858361698502.post-3805476401359842910</id><published>2011-04-05T03:13:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T03:22:58.467-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-02T03:22:58.467-07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kirim Artikel'/><title>Kirim Artikel</title><content type='html'>&lt;script type="text/javascript"&gt;
var servicedomain="www.123contactform.com"; var cfJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://" : "http://"); document.write(unescape("%3Cscript src='" + cfJsHost + servicedomain + "/includes/easyXDM.min.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E")); document.write(unescape("%3Cscript src='" + cfJsHost + servicedomain + "/jsform-225487.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E")); 
&lt;/script&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;a class="footerLink13" href="http://www.123contactform.com/" title="Online forms"&gt;Online forms&lt;/a&gt; powered by 123ContactForm.com | &lt;a class="footerLink13" href="http://www.123contactform.com/sf.php?s=123contactform-52&amp;amp;control119314=http://www.123contactform.com/contact-form--225487.html&amp;amp;control190=Report%20abuse" rel="nofollow" title="Looks like phishing? Report it!"&gt;Report abuse&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336747858361698502-3805476401359842910?l=ewiwit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/3805476401359842910?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/3805476401359842910?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ewiwit.blogspot.com/2011/10/kirim-artikel.html' title='Kirim Artikel'/><author><name>eric</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06820953447240042727</uri><email>noreply@blogger.com</email></author></entry><entry gd:etag='W/&quot;DUQNRHgzeSp7ImA9WhdUFUk.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336747858361698502.post-6211060541069841682</id><published>2011-04-05T02:02:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T02:23:15.681-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-02T02:23:15.681-07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Saya'/><title>Tentang Saya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya hadir disini untuk membantu anda, membebaskan pikiran anda semua, agar apa yang ingin anda utarakan seperti unek-unek atau beban hidup anda dapat tersalurkan disini. Blog ini hadir untuk semua kalangan, baik kalangan muda maupun tua. Dimana sekarang kita melihat begitu banyak orang yang mengalami kesulitan dalam mengutarakan isi hatinya. Apabila kita mengalami hal demikian, kita pasti stress, mudah depresi dan bisa beresiko terkena stroke atau tekanan darah kita naik. &lt;b&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Mengapa?!!!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Kenapa bisa demikian!!!!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Karena kita sebagai manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan juga manusia mempunyai kapasitas otak yang terbatas untuk menghadapi masalah ini. Jika kapasitas otak kita ini sudah tidak dapat di tampung, dapat berakibat negatif seperti: depresi, stroke. Nah, dengan adanya blog ini, saya mengharapkan agar teman-teman disini dapat mengutarakan isi hati atau curhat (bahasa kerennya) supaya segala keluhan ataupun isi hati yang tidak tersampaikan didunia nyata dapat tercover disini. Dan kiranya artikel yang teman-teman postingkan disini dapat dibaca oleh segenap pengunjung blog ini dan dapat ditanggapi dengan komentar yang bersifat positif agar dapat merubah cara berpikir teman-teman terhadap masalah yang teman-teman hadapi. Akhir kata saya menyampaikan agar hadirnya blog ini dapat bermanfaat bagi kita semua.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336747858361698502-6211060541069841682?l=ewiwit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/6211060541069841682?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336747858361698502/posts/default/6211060541069841682?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ewiwit.blogspot.com/2011/04/tentang-saya.html' title='Tentang Saya'/><author><name>eric</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06820953447240042727</uri><email>noreply@blogger.com</email></author></entry></feed>