<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911</atom:id><lastBuildDate>Fri, 08 Nov 2024 15:34:40 +0000</lastBuildDate><category>renungan</category><category>pertemuan</category><category>gereja</category><category>ARTIKEL BEBAS</category><title>langkah peziarah</title><description>.</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-3120788792944718797</guid><pubDate>Sat, 02 Apr 2011 09:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-02T16:48:04.877+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>BELAJAR DARI HEWAN: PENYU SANG PEMBERANI</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb8QjZYkBhB-EFRuiH7MaFKKDT9IkOBqBBHg9A6WJKgC5cfP73KSk8DweQ3Csq37-mUZ_cNO4n1vafEbbK3Oo8_W8kEfmLWirswd_k_7RdaUiBB05GXmTmMlrgLMVGPN3nrmYWL9ginK0/s1600/tukik.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 217px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb8QjZYkBhB-EFRuiH7MaFKKDT9IkOBqBBHg9A6WJKgC5cfP73KSk8DweQ3Csq37-mUZ_cNO4n1vafEbbK3Oo8_W8kEfmLWirswd_k_7RdaUiBB05GXmTmMlrgLMVGPN3nrmYWL9ginK0/s320/tukik.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5590920697539787602&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penyu adalah salah satu hewan vertebrata yang masih tergolong reptil, sebab dia tidak sepenuhnya hidup di laut, meski menghabiskan hampir sepanjang hidupnya di lautan. Dia bernafas dengan paru-paru dan sebagian besar adalah pemakan tumbuhan, tapi ada juga yang carnivora atau omnivora. Penyu sudah hidup sejak jaman Jura (140-208 juta tahun lalu) atau sejaman dengan dinosaurus, meski mengalami perubahan bentuk. Penyu betina suatu saat akan turun ke pantai untuk bertelur. Setelah itu dia kembali ke laut dan membiarkan telurnya tertimbun pasir sampai menetas menjadi tukik. Seekor penyu betina akan menghasilkan 60-150 butir telur dalam sekali bertelur. Setelah dua bulan telur itu akan menetas. Tapi sebagian besar telur itu tidak sampai menetas, sebab dimakan oleh hewan predator seperti kepiting, biawak, burung dan sebagainya. Kalau toh sampai menetas diperkirakan hanya 11 tukik yang mampu mencapai laut dan memulai kehidupannya di laut. Maksimal hanya 50% tukik yang bertahan hidup.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sejak lahir tukik tidak pernah mengetahui orang tuanya. Dia harus hidup dan berjuang sendiri. Menjelajahi lautan yang luas dan bergelora dengan aneka jenis hewan yang setiap saat dapat memangsanya. Penyu dikenal sebagai hewan yang tidak menetap di suatu tempat. Dia dapat mengarungi lautan yang luas. Bahkan ada pendapat bahwa penyu dapat berenang sejauh 3000 km dalam waktu 58-73 hari. Penyu yang menetas di Jawa dapat ditemukan di perairan Haiti dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kita sering seperti tukik yang harus bergerak perlahan menuju samudra luas. Kita kecil, lemah dan tidak berdaya sedang dihadapan kita ada samudra yang dalam dan luas dimana ada banyak binatang yang siap memangsa kita. Hal ini kerap membuat kita takut dan cemas akan kehidupan kita kelak. Persaingan dalam sekolah dan mendapat pekerjaan membuat kita sering mengalami frustasi. Kita dapat belajar dari tukik yang berani untuk bertahan hidup meski banyak dari mereka yang mati sebelum mencapai ke laut. Tapi dia tidak terus bersembunyi dalam cangkangnya yang merupakan rumah yang aman. Dia berani keluar, berjalan perlahan dan berenang di dalam samudra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering merasakan bahwa diri kita mempunyai banyak kelemahan. Kemiskinan, tidak cerdas, tidak mempunyai banyak talenta dan sebagainya. Kesadaran ini membuat kita sering enggan untuk maju. Seorang anak ketika melihat temannya mendapat hadiah karena menjadi juara menggambar, dia mengatakan tentu saja anak itu bisa berprestasi sebab orang tuanya mendukung dan memberi fasilitas. Sedangkan dia tidak mempunyai sarana sebagus yang dimiliki temannya. Ini salah satu kelemahan yang membuat orang tidak bisa maju. Dia hanya mengeluh akan situasi dirinya dan bermimpi seandainya dia memiliki hal seperti orang lain. Masih banyak keluhan-keluhan tentang keterbatasan yang membuat orang tidak dapat maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Alva Edison (11 Februari 1847 – 18 Oktober 1931) pada saat duduk di bangku sekolah dasar dia dikeluarkan oleh gurunya, sebab dianggap bodoh dan sedikit tuli. Tapi Nancy Edison, ibunya tidak putus asa. Dia mendidik anaknya sehingga Thomas menjadi penemu pengusaha yang mengembangkan banyak peralatan penting. Untuk dapat maju orang hendaknya mempunyai visi hidup dan berani mulai aksi. Sering orang hanya terjebak dalam mimpi tapi tidak melakukan aksi, sebab takut gagal. Maka kita harus memiliki keberanian untuk memulai sebuah perbuatan. Dalam menciptakan lampu, Thomas A Edison melakukan seribu percobaan. Dia tidak putus asa dan terus mencoba sampai berhasil. Seorang yang kubantu dana untuk berjualan dalam waktu dua bulan dia sudah tidak berjualan lagi dengan alasan ada banyak saingan. Orang seperti ini tidak akan maju, sebab tidak mempunyai mental yang kuat dalam menghadapi masalah. Bila dia tahu orang lain dapat maju maka dia seharusnya belajar dari orang lain dan berani menerima kelemahan untuk diubahnya bukan hanya berlindung dibalik kelemahannya untuk tidak bergerak. Selain itu untuk maju kita perlu mendapat dukungan dari sesama. Maka kita perlu saling membantu dan mendukung. Bila tukik yang lemah saja akhirnya dapat hidup di lautan luas mengapa kita tidak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2011/04/belajar-dari-hewan-penyu-sang-pemberani.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb8QjZYkBhB-EFRuiH7MaFKKDT9IkOBqBBHg9A6WJKgC5cfP73KSk8DweQ3Csq37-mUZ_cNO4n1vafEbbK3Oo8_W8kEfmLWirswd_k_7RdaUiBB05GXmTmMlrgLMVGPN3nrmYWL9ginK0/s72-c/tukik.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-805967559022622266</guid><pubDate>Sun, 20 Sep 2009 10:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-20T17:50:55.875+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>PAK TOMO (PERJUANGAN TANPA HENTI)</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pak Tomo hanyalah seorang lelaki tua dengan tubuh yang kurus. Badannya hitam terbakar matahari. Rambutnya sudah putih semua. Kalau bicara sudah susah dan pendengarannya sudah mulai agak berkurang. Tapi aku sangat kagum dengannya. Pak Tomo tinggal di desa Ngroto. Suatu desa kecil di lereng gunung Lawu, sekitar 38 km dari kota Ngawi. Desa yang sangat terpencil. Untuk mencapai desa Ngroto, kita harus berjalan mendaki melalui jalan berbatu sambil menikmati suara air yang gemericik, bajang keret yang bernyanyi, desir angin di sela daun bambu dan kesejukan udara pegunungan. Sejauh mata memandang hanya hamparan sawah yang semakin lama semakin kabur dan membaur dengan awan biru.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Ngroto hanyalah desa biasa. Kelebihan desa ini karena di situ tinggal Pak Tomo. Lelaki tua ini mempersilahkan aku untuk masuk dalam rumahnya. Sebuah rumah batu dengan banyak ruang. Sebagian ruangan masih belum diberi atap. Sebagian lagi masih separo jadi. Namun yang membuatku kagum adalah rumah itu dibangun hanya dari balok balok batu. Mirip candi pada jaman dulu. Tidak ada kayu dan semen. Pak Tomo hanya menyusun balok balok batu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tomo dengan bangga mengajakku memasuki ruang demi ruang. Dia bercerita bahwa rumah ini dia bangun sendiri selama 40 tahun. Gila pikirku. Membangun rumah batu sendirian tanpa alat alat yang berarti. Dulu disini banyak sekali batu hitam yang besar besar. Kisah Pak Tomo sambil menunjukan halamannya yang penuh dengan pepohonan. Lalu dia mulai memotong motong batu itu menjadi balok balok dan mulailah pembangunan rumah dimulai. Bekas galian batu dia tanami dengan cengkeh, kopi, jambu, apokat, durian, dan berbagai macam pohon lain. Lama lama kebunnya yang semula penuh dengan batu menjadi kebun buah buahan dan batu itu dia susun menjadi rumah yang sangat besar dan unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menggeleng gelengkan kepala melihat hasil karyanya. Bayangkan selama 40 tahun dia sendirian membangun rumah itu. Dia mengatakan bahwa kenekatannya membangun rumah batu ini telah meminta kurban. Istrinya meninggalkan dia, sebab dia tidak memahami ide gilanya. Banyak orang juga mencemooh karyanya yang dianggap gila. Tapi Pak Tomo tetap nekat. Dia terus memotong batu batu dan menyusunnya. Kapan bapak akan mengakhiri pembangunan ini? tanyaku. Dia mengatakan jika dia sudah mati, maka pembangunan rumah itu juga akan selesai. Apakah bapak tidak takut rumah ini roboh? tanyaku lagi. Pak Tomo hanya tertawa dan mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini akan musnah, termasuk rumahnya ini. Tapi beberapa kali gempa bumi, tidak bisa merobohkan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri Pak Tomo aku melihat sebuah semangat yang menyala nyala dan tidak terpadamkan. Suatu perjuangan panjang. Selama 40 tahun dia sendirian mengubah lahannya yang semula tidak bisa ditanami menjadi sebuah kebun buah. Dia mampu sendirian membangun rumah dari batu. Perjuangan panjang yang disertai hujatan. Dia hanya bersandar pada alam dan Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengendarai mobil sendirian menuju Surabaya, pikiranku penuh dengan kekaguman pada Pak Tomo. Ya, aku mengagumi keteguhannya pada pilihan hidupnya. Pada keputusannya yang berusaha untuk terus membangun sampai kematian yang akan menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku sedang bimbang dengan aktifitasku di komunitas kaum marginal. Beberapa persoalan yang tidak terpecahkan membuatku berpikir untuk membubarkan apa yang telah dimulai bersama teman teman. Dalam syer terakhir bersama teman teman, aku mengatakan pada mereka bahwa aku membangun komunitas ini seperti membangun rumah di atas pasir. Aku ternyata belum siap untuk lebih serius dalam aktifitas ini. Aku gamang dengan keputusanku, bahkan menyesal mengapa aku dulu tergesa gesa mengumpulkan teman teman untuk bergabung dalam aktifitas ini. Mengapa aku tidak membangun dasar lebih kuat baru mengajak teman teman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Pak Tomo seolah perkataan guru yang membuka mataku untuk tetap berjalan dalam keputusanku, meski banyak orang tidak memahami dan mencaci maki. Meski yang dibuat tidak pernah akan selesai sampai kematian mendatang. Meski rumah itu tetap kosong dan kebun buahnya tidak mampu menghidupinya dengan layak. Apakah sikap Pak Tomo suatu kebodohan? Apakah yang dilakukannya bukan suatu kesia siaan belaka? Apakah Pak Tomo seorang yang gila? Atau dia orang frustasi? Tidak. Bagiku dia orang yang patut dihargai. Dia bukan orang yang bodoh, sebab mampu mendesain rumah sedemikian unik. Meski tidak berpendidikan formal, dia mampu menyusun batu sedemikian tinggi dan tidak roboh karena gempa bumi. Dia adalah orang yang setia dengan apa yang telah dimulai. Dia adalah orang yang berjalan tanpa henti. Dia adalah pekerja yang bekerja bukan untuk kesombongan dan pujian.Dia membangun rumah besar untuk masa depan jika ada orang yang membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permenunganku lebih jauh membawaku pada Sang Guru sejati. Yesus juga seorang yang nekat. Dia beberapa kali jengkel dengan murid muridNya yang tetap tidak mampu memahami karya keselamatan yang dibawaNya. Dia senantiasa diintip oleh para musuh musuhNya untuk dihabisi. Dia dianggap gila oleh keluarganya. Dia dikhianati oleh muridNya. Dia ditinggalkan oleh orang orang terdekatNya. Namun Dia tetap berjalan menyeleseikan tugasNya. Apakah segala belenggu hilang dengan kehadiranNya? Tidak. Masih banyak orang yang terbelenggu oleh dosa. Dia sendiri bersabda bahwa orang miskin akan masih tetap ada. Lalu buat apa Dia datang? Akankah karyaNya sia sia? Mungkin beberapa muridNya dulu juga merasakan bahwa karya Sang Guru akan sia sia. Berakhir! Tapi ternyata sampai 2000 tahun karya Yesus masih terus berlangsung. Aku yakin bahwa rumah Pak Tomo tidak akan pernah selesai. Apakah akan sia sia? Aku yakin suatu saat pasti akan ada orang yang meneruskannya dan rumahnya akan menjadi bahan pembicaraan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tomo bukan seorang Kristen. Dia juga mungkin tidak mengenal siapa Yesus itu. Namun sikap hidupnya tidak jauh dari Yesus, yang pantang menyerah. Sikap yang terus berusaha dan bekerja dalam kesendirian dan kesepian. Kerja yang tidak membutuhkan penghargaan dari orang lain, hanya cukup untuk kerja itu sendiri. Dia ingin meninggalkan rumah ini untuk banyak orang, bahkan dia menawarkan agar aku menggunakan ruang atas rumahnya untuk gereja. 40 tahun Pak Tomo bekerja keras memotong batu, menyusunnya, mengangkatnya sehingga terbentuk rumah di tengah kebun buah yang subur. Ah seandainya aku bisa nekat seperti dia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/pak-tomo-perjuangan-tanpa-henti.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-3525140243804071462</guid><pubDate>Sun, 20 Sep 2009 10:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-20T17:45:05.777+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ARTIKEL BEBAS</category><title>SETAHUN LUMPUR LAPINDO</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibXnNZbv3pSfPFyo3mZ7eCiVHoCN9OtpNoSIBq2gSpSRJLEwoyarlhAyLi4SulBTdi7fQ9O71GWawKx4bWOGbDWRE4xembXjHtnaklKUcY51VmxNbxvsQfZTmUAOFbHT6atdsAvAGMnv0/s1600-h/LAPINDO.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 199px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibXnNZbv3pSfPFyo3mZ7eCiVHoCN9OtpNoSIBq2gSpSRJLEwoyarlhAyLi4SulBTdi7fQ9O71GWawKx4bWOGbDWRE4xembXjHtnaklKUcY51VmxNbxvsQfZTmUAOFbHT6atdsAvAGMnv0/s320/LAPINDO.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5383498802778595298&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah setahun lebih lumpur panas yang menyembur dari galian tambang minyak di desa Renokenongo belum surut. Semburan itu bermula pada hari Senin, 29 Mei 2006 di desa Renokenongo. Sekarang semburan lumpur itu sudah menenggelamkan 4 desa yaitu desa Renokenongo, Kedungbendo, Siring dan Jatirejo serta satu perumahan yaitu perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera 1 atau TAS 1. Semburan lumpur panas ini bermula dari usaha PT Lapindo Brantas Inc, anak perusahaan PT Energi Mega Persada Tbk, yang akan mengadakan eksplorasi minyak dan gas bumi di lokasi pengeboran Sumur Banjar Panji 1 yang terletak di desa Renokenongo. Namun karena ada “kesalahan” dalam cara pengeboran maka terjadi semburan lumpur panas yang sampai saat ini belum bisa dikendalikan.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya memang PT Lapindo Brantas Inc tidak mengakui kesalahan itu, bahkan mereka menyalahkan gempa yang terjadi di Jogjakarta dua hari sebelum terjadinya semburan. Menurut mereka gempa yang terjadi di Jogjakarta dengan kekuatan 5,9 skala Richter menyebabkan adanya lempengan bumi yang putus sehingga menyebabkan semburan lumpur. Namun beberapa ahli mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin, sebab jarak Jogjakarta dan Porong cukup jauh, sekitar 259 km, sehingga getaran gempa yang cukup kuat dan merusak tidak akan mencapai Porong. Menurut dokumen rapat PT Lapindo Brantas Inc pada 18 Mei 2006 ditulis bahwa PT Medco Energi sebagai pemegang 32 % saham Lapindo telah mengingatkan agar memasang selubung pengaman, sebab pihak Lapindo hanya memasang selubung pengaman hanya sampai kedalaman 3580 kaki, padahal pengeboran sudah mencapai 9297 kaki. Kesalahan ini mengakibatkan terjadinya ledakan akibat pecahnya sumur pengeboran, sehingga lumpur menyembur keluar dengan ketinggian 40 m dengan jarak 150 m dari pusat pengeboran pada tanggal 29 Mei 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian PT Lapindo telah melakukan kesalahan fatal dalam pengeboran. Namun hal ini pun dapat dipertanyakan apakah ini sebuah kesalahan perhitungan manusiawi atau kesengajaan? Beberapa media mengatakan ini kesalahan perhitungan, sehingga beberapa orang yang bertanggung jawab diajukan ke pengadilan meski sampai saat ini kasusnya tidak jelas apakah sudah diputuskan bersalah atau tidak. Namun bila dilihat dari dokumen pertemuan pada tanggal 18 Mei 2006 nampak bahwa luapan lumpur adalah sebuah kesengajaan. Pertanyaan berikut adalah mengapa ada kesengajaan? Hal ini kemungkinan terkait dengan pembebasan tanah. Sering terjadi pembebasan tanah menjadi soal yang sulit dan berkepanjangan sehingga menghabiskan dana dan waktu. Dengan adanya lumpur maka mau tidak mau penduduk menyerahkan tanahnya kepada PT Lapindo Brantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya kehadiran PT Lapindo di Porong sudah mendapat penolakan sejak awal mula. Seorang tokoh desa Jatirejo menceritakan bahwa semula PT Lapindo hendak mengadakan pengeboran di desa Jatirejo. Namun ditolak sebab mereka kuatir akan dampak negatif akibat pengeboran itu. PT Lapindo akhirnya membeli tanah di desa Renokenongo yang berbatasan dengan desa Jatirejo. Mengapa lurah Renokenongo mengijinkan? Apakah dia tidak tahu bahwa tanah itu akan menjadi ladang minyak? Seorang penduduk Renokenongo mengatakan bahwa pada awalnya mereka mengira tanah itu akan dijadikan lahan peternakan, sebab berita itulah yang tersebar. Maka mereka tidak curiga ketika banyak alat berat datang. Mereka sadar bahwa berita itu bohong ketika lumpur sudah menyembur. Dengan demikian tampaknya ada kesengajaan dari pihak PT Lapindo untuk menutupi usahanya agar dapat diterima oleh rakyat. Mengapa harus ditutupi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semburan lumpur panas itu menyebabkan ribuan orang mengungsi. Mereka kehilangan, rumah, harta benda dan kehidupannya. Pada umumnya penduduk 4 desa adalah petani dan penggarap sawah. Kini sawah mereka telah tenggelam oleh lumpur, maka mereka kehilangan penghidupannya. Mereka menjadi penggangguran. Sebagian orang yang bukan petani biasanya mempunyai usaha kecil seperti warung, toko dan usaha-usaha kecil lain. Dengan meluapnya lumpur maka mereka terpaksa menutup semua usaha mereka. Memang mereka dapat membangun kembali usahanya di tempat lain namun hal itu tidak mudah. Mereka semua harus memulai kehidupannya dari titik nol kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT Lapindo memang telah berusaha mengganti kerugian yang diderita oleh penduduk. Namun ganti rugi hanya dihitung dari luas tanah, bangunan dan sawah. Mereka tidak menghitung kerugian akibat hilangnya matapencaharian penduduk. Ganti rugi tanah, bangunan dan sawahpun masih banyak sekedar janji dan aneka alasan yang menjadi batasan yang sangat memberatkan penduduk. Boleh dikatakan sampai saat ini bahwa Lapindo belum memberi ganti rugi yang sepadan kepada penduduk. Pemerintah pun yang seharusnya melindungi rakyat ternyata kurang berpihak pada kurban. Pemerintah mengeluarkan Perpres 13 tahun 2006 yang dikeluarkan tanggal 8 September 2006 mengenai pembentukan Timnas dengan tugas penutupan semburan lumpur; b. penanganan luapan lumpur; c. penanganan masalah sosial. Namun setelah berjalan berbulan-bulan ternyata tugas itu tidak dapat berjalan dengan baik. Lumpur tetap menyembur dengan besar dan kurban tetap dalam kekurangan. Tampaknya pemerintah yang sudah dikuasai oleh pengusaha kurang  berpihak pada kurban. Pemerintah pun mengeluarkan Perpres 14 tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo yang didanai oleh APBN (pasal 14). Namun Perpres ini pun sangat merugikan kurban terutama pasal 15 dan sangat menguntungkan PT Lapindo. Kurban dapat ganti rugi tanah dan rumah seluas yang disahkan oleh akta pemerintah. Padahal banyak warga yang tanahnya belum memiliki sertifikat. Rumah mereka pun luasnya banyak yang tidak sesuai dengan IMB yang disahkan oleh pemerintah. Dengan demikian rakyat dirugikan. Selain itu pembayaran dicicil sebesar 20% dan sisanya akan dilunasi selama 2 tahun. Apakah 20% cukup untuk membuat rumah baru atau memulai usaha baru yang dapat menghidupi selama 2 tahun? Selain itu banyak keluarga yang hidup bersama di sebuah rumah, sebab mereka masih sanak saudara. Bila ganti rugi rumah hanya 20% maka dibagi beberapa keluarga. Maka setiap orang akan mendapat ganti rugi yang sangat kecil. Janji pembayaran uang muka 20% itupun sampai saat ini masih beberapa penduduk yang mendapatkannya. Selain itu tanah yang akan mendapat ganti rugi dari pihak PT Lapindo hanya tanah dan rumah yang tenggelam lumpur sampai 22 Maret 2007. Bila terjadi kurban baru setelah tanggal 22 Maret 2007 maka bukan tanggung jawab PT Lapindo melainkan akan dibebankan pada APBN. Hal ini sangat menguntungkan PT Lapindo. Perpres ini membantu PT Lapindo sehingga segala kerusakan infrastruktur akan dibebankan pada APBN. Dari sini dapat dilihat bahwa pemerintahpun tidak berkuasa menghadapi sebuah perusahaan atau pemilik modal, sehingga pemerintah mau menjadi kurban para pemilik modal dan tidak berpihak pada rakyat yang menjadi kurban para pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”) menyatakan bahwa tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti  kerugian tersebut. Jadi, unsur-unsur perbuatan melawan hukum terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan undang-undang, tetapi juga mencakup perbuatan yang melanggar hak orang lain, bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku, bertentangan dengan prinsip kehati-hatian dan bertentangan dengan norma atau kaidah yang berlaku dalam masyarakat.&lt;br /&gt;2. Perbuatan sebagaimana dimaksud di atas mengandung kesalahan;&lt;br /&gt;3. Mengakibatkan kerugian; dan&lt;br /&gt;4. Terdapat hubungan sebab akibat antara kesalahan dengan kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pasal ini jelaslah seharusnya PT Lapindo membayar semua kerugian yang diakibatkan oleh tindakannya yang ceroboh. Tidak perlu ada pengecualian dan aneka alasan yang berbelit misalnya verifikasi akta tanah dan bangunan dan sebagainya. PT Lapindo telah menimbulkan kerugian bagi warga 4 desa, maka wajib membayar ganti rugi atau membersihkan lumpur dari keempat desa tersebut sehingga semua warga dapat kembali ke desanya masing-masing. Namun pasal ini diabaikan dengan aneka alasan. Pemerintah pun yang seharusnya melindungi rakyat tampaknya dapat dikendalikan oleh para pemilik modal. Bahkan presidenpun tampaknya tidak peka. Dia tetap mendudukan Aburizal Bakrie, sebagai pemilik PT Energi Mega Persada Tbk, induk PT Lapindo Brantas Inc, sebagai menteri. Bagaimana orang yang telah menyensarakan ribuan rakyat masih dapat duduk sebagai menteri Kesejahteraan Rakyat. Kesejahteraan apa yang ditawarkan dan dilakukan oleh menteri Abu Rizal Bakrie?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Lapindo menunjukkan bahwa faham neoliberalisme sudah mengakar di bumi Indonesia. Neoliberalisme adalah faham dimana kekuatan modal diatas segalanya. Bila dulu kekuatan negara terletak di tangan birokrat dan militer, namun dalam neoliberalisme kekuatan negara terletak ditangan para ekonom dan pemilik modal. Birokrat dan militer hanya pendukung dari kekuatan pemilik modal. Hal ini tampak jelas dari keputusan presiden yang tampak dikendalikan oleh PT Lapindo. Bila demikian apakah rakyat akan mendapat ganti rugi yang sepadan? Itu hanya terjadi dalam impian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/setahun-lumpur-lapindo.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibXnNZbv3pSfPFyo3mZ7eCiVHoCN9OtpNoSIBq2gSpSRJLEwoyarlhAyLi4SulBTdi7fQ9O71GWawKx4bWOGbDWRE4xembXjHtnaklKUcY51VmxNbxvsQfZTmUAOFbHT6atdsAvAGMnv0/s72-c/LAPINDO.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-6935020846131363050</guid><pubDate>Sun, 20 Sep 2009 10:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-20T17:29:01.603+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>SENYUM</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang ibu muda dengan anaknya yang masih balita duduk tidak jauh dari tempatku. Anaknya perempuan dan sangat cerewet sehingga banyak hal dikomentari dengan keluguan seorang anak kecil. Seorang pramugari yang lewat sempat berhenti dan tersipu-sipu ketika anak itu mengatakan pada ibunya tante itu canti. Orang sekitar tempat duduk mereka sangat gemes melihat kelucuan anak perempuan itu. Aku pun tersenyum-senyum mendengar anak itu mempertanyakan aneka hal. Mulai dari pesawat mengapa bisa terbang sampai bagaimana kalau mau pipis nanti.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian pesawat mulai bergerak dan meninggalkan landasan pacu. Anak itu masih bernyanyi gembira. Ketika pesawat semakin tinggi, tiba-tiba anak itu menangis dan ingin turun sebab telinganya sakit. Suara tangis anak itu membuat beberapa orang menjadi gelisah. Beberapa orang memandang ibu itu dengan tatapan kurang senang. Beberapa pramugari berusaha menghibur dengan memberi permen dan kue tapi anak itu tetap menangis minta turun. Ibu itu menjadi gelisah. Dia sungkan dengan penumpang yang lain. Aku pun menjadi gelisah, sebab merasa terganggu dengan suara tangisan anak itu yang cukup keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba membaca novel yang kubawa. Tapi tidak ada satupun kalimat yang kupahami sebab konsentrasiku terganggu oleh suara tangisan anak itu. Ibu itu sudah berusaha menenangkan anaknya tapi tidak berhasil. Semakin lama orang semakin gelisah. Beberapa orang terlibat untuk menenangkan, tapi tidak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menatap awan putih di sekitarku aku mulai bertanya, mengapa aku gelisah? Aku yakin kekerasan suara tangis anak itu tidak jauh berbeda dengan suara tawanya. Mengapa ketika anak itu menyanyi dan tertawa aku tidak gelisah, sedangkan sekarang aku gelisah? Mengapa aku jadi terganggu oleh suara yang sebetulnya sejak sebelum pesawat berangkat tadi sudah memenuhi sebagian ruang pesawat? Saat anak itu bertanya dan bernyanyi aku sangat gemes melihatnya, namun ketika anak ini menangis aku menjadi jengkel. Apakah yang beda dengan anak itu? Anak itu tetap sama, hanya suasana hatinya yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka persoalan bukanlah kekerasan suara anak itu melainkan suasana yang dibangunnya. Kegembiraan dan kesedihan. Kegembiraan anak itu mampu menebarkan kegembiraan pada orang sekitarnya. Demikian pula kesedihannya. Orang tidak suka dengan suasana sedih. Mungkin di dalam hatinya yang terdalam juga ada rasa sedih yang ingin dilupakan atau dipendam sehingga ketika ada suara tangis, kepedihan yang berusaha dilupakan muncul dan menggelisahkan. Aku bukan seorang psikolog atau yang mempelajari ilmu manusia. Aku hanya tahu tangisan anak itu membuat orang lain gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang membutuhkan kegembiraan. Suasana gembira. Namun suasana kegembiraan rupanya semakin sulit ditemukan. Sejak aku duduk di ruang tunggu bandara sampai duduk di dalam pesawat, aku melihat wajah-wajah yang diam. Tidak ada senyum. Kecuali jika dia mengobrol dengan temannya. Namun orang-orang sendirian sepertiku, semua diam. Mungkin mereka sudah penuh dengan persoalan atau capek atau memang sedang sedih atau ingin tertawa tapi tidak tahu mengapa harus ketawa. Maka ketika anak tadi menawarkan kegembiraan semua orang menjadi ikut tersenyum. Mereka mendapatkan kepenuhan dari sesuatu yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua orang membutuhkan suasana yang gembira, mengapa banyak orang tidak mau menciptakan kegembiraan? Mengapa orang sulit untuk tersenyum kepada sesama? Apakah malu atau menjaga harga diri? Apakah jika mendahului senyum akan dilihat rendah oleh orang lain? Aku rasa tidak. Tapi mengapa semua diam? Mengapa tidak ada yang menciptakan kegembiraan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat suasana muram bukan hanya di ruang umum, tetapi juga di dalam komunitas yang disebut Gereja. Sering kali doa lingkungan, pendalaman iman, misa dan sebagainya penuh dengan keseriusan. Orang tidak boleh ketawa ngakak. Tidak boleh tepuk tangan. Tidak boleh menciptakan kegembiraan. Orang harus serius dan diam. Merenungkan sabda Allah, berdoa atau meditasi. Bahkan anak-anak yang ikut misa atau sakramen lain pun harus diam. Padahal dalam Kisah Para Rasul dikatakan bahwa jemaat yang berkumpul itu gembira. Inilah yang saat ini dihilangkan oleh Gereja. Kita pun diutus mewartakan kabar gembira, namun dalam pewartaan kabar gembira orang menjadi serius. Orang memang bergembira bahwa dirinya sudah diselamatkan, tapi apakah kegembiraan itu tidak bisa diungkapkan? Bagaimana orang akan menjadi pewarta kabar gembira, bila wajahnya selalu suram? Bila tidak ada senyum atau perkataan yang memancing orang gembira? Bagiku ini sama saja dengan seorang berkepala gundul berseru dengan penuh  semangat menawarkan obat untuk melebatkan rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada seorang pemimpin agama yang selalu menangis bila berdoa sehingga orang yang datang pun ikut menangis. Tapi sebelumnya mereka ketawa dan gembira. Mereka menangis sebab menyesali dosanya. Apakah mereka suka dengan suasana duka? Aku tidak yakin. Seorang teman mengatakan mereka menangis sebab pemimpinnya menangis. Aku pikir benar juga. Apakah mereka akan tetap menangis bila pemimpinnya tertawa atau tersenyum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bayangkan seandainya setiap orang mampu menebarkan kegembiraan pada lingkungannya. Setiap orang mau tersenyum pada sesamanya. Tentu dunia akan indah. Namun orang tidak cukup hanya mengejar kegembiraan lawakan seperti di Srimulat. Orang akan bosan. Kegembiraan terdalam adalah kalau orang sadar bahwa dirinya sudah diselamatkan oleh Allah. Dia yang pendosa diangkat oleh Allah menjadi anakNya. Diperhatikan oleh Allah. Kegembiraan model inilah yang dialami oleh Maria, sehingga dia mengumandangkan kidung kegembiraannya. Lebih dari itu manusia diselamatkan oleh Putra Allah dengan pengorbanan total. Inilah kegembiraan yang terdalam. Kegembiraan yang tidak bisa dirampas oleh siapa saja atau oleh apa saja. Para martir jaman dulu menghadapi kematian dengan tanpa rasa takut. Mereka tetap bernyanyi dengan gembira. Hal ini disebabkan mereka sudah memperoleh kegembiraan yang mendalam. Bukan dari manusia namun dari Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bayangkan seandainya semua orang mau tersenyum antar satu dengan yang lain. Tentu dunia akan indah. Atau mungkin perlu mengadakan perubahan wajah pada gambar Yesus dan orang suci lainnya? Sebab mereka seringkali digambarkan tanpa senyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/senyum.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-654305456467130187</guid><pubDate>Fri, 11 Sep 2009 16:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-11T23:53:44.288+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>SEORANG IBU DI TEPI JALAN</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK4OOZjFcpHHGhzTEo_hXSmzPlDT79xiSFA1pLtUbOEIHHoHDws5LZmVNbBohkt5Ib3eIFmvr2RRwBreuAo7Qz8JLmbCgCBxaVVR-fdvkUPN9EPhZnqKJkSur3quwGppC4g9lii4T4WLU/s1600-h/3424656156_36604796bf.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK4OOZjFcpHHGhzTEo_hXSmzPlDT79xiSFA1pLtUbOEIHHoHDws5LZmVNbBohkt5Ib3eIFmvr2RRwBreuAo7Qz8JLmbCgCBxaVVR-fdvkUPN9EPhZnqKJkSur3quwGppC4g9lii4T4WLU/s320/3424656156_36604796bf.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5380254048835653970&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mataku sudah ingin dipejamkan. Tadi waktu berbaring di atas kasur jualannya Ambon yang dibentangkan di trotoar Jl. Darmo sambil mengobrol dengannya tiba-tiba aku jadi sangat mengantuk. Mungkin karena udara malam yang sejuk membuat tubuh yang capek jadi mudah sekali mengantuk. Aku pamit pada Ambon untuk pulang. Ambon adalah salah satu anak jalanan dari rumah singgah yang berusaha untuk keluar dari lingkaran jalanan dengan membuat kasur dan dipasarkan di trotoar Jl Darmo. Hampir setiap malam aku datang ke tempat jualan untuk melihat perkembangannya.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbasa basi sejenak aku meninggalkan Ambon yang masih duduk di trotoar. Masih kudengar suaranya yang parau mengejekku yang tergesa pulang. Aku hanya tersenyum mendengar ejekkan itu. Aku tidak peduli apa yang dikatakannya. Mataku sudah sangat berat. Aku ingin tidur. Jam di mobil sudah menunjukan pk 11.43. Aku memacu mobil melalui jalan-jalan Surabaya yang mulai sepi. Kulihat ada sebuah warung kecil jualan nasi bebek yang masih buka. Tiba-tiba perutku menjadi lapar. Memang sejak pagi aku belum makan. Sejak bangun pagi sudah ada beberapa hal yang harus kukerjakan sampai malam. Ketika tadi mau makan beberapa teman telpon memintaku untuk datang ke rumah singgah. Sepulang dari rumah singgah aku mampir dulu ke tempat jualan Ambon. Aku parkir mobil dan kumasuki warung. Rasa lapar mengalahkan rasa kantuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat beberapa tukan becak sedang asyik menikmati nasi bebek di piringnya masing-masing. Aku mengambil duduk di sebelah mereka. Sambil menanti pesanan aku memandang ke jalan. Kulihat seorang ibu duduk di tepi jalan tidak jauh dari tempatku duduk. Seorang bayi terbaring dalam pangkuannya beralas sehelai kain yang sudah lusuh dan tidak jelas lagi motifnya. Dia pasti salah satu dari pengemis yang semakin banyak saja di Surabaya. Kadang aku sangat jengkel dengan pengemis-pengemis yang membawa bayi dalam menjalankan profesinya. Kok tega sekali mereka membiarkan anak-anaknya tersengat sinar matahari di siang bolong atau sekarang membiarkan anaknya kedinginan di tengah malam. Tapi anehnya banyak bayi yang digendong itu tidur dengan pulas. Mereka tidak terganggu oleh panasnya matahari atau dinginnya malam. Seorang teman pernah bercerita bahwa bayi-bayi itu sudah diberi obat tidur sehingga tidak pernah merasa terganggu oleh panas matahari atau keributan di sekitarnya. Konon bayi-bayi itu tidak akan dapat tumbuh menjadi anak, sebab mereka akan meninggal dalam usia yang sangat muda akibat over dosis obat tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu duduk diam saja. Bayi yang dalam gendongannya tampaknya sudah tertidur pulas. Pesananku sudah datang. Aku menikmati nasi bebek tanpa peduli lagi dengan ibu itu. Tapi aku menjadi tidak tenang. Aku merasa gelisah. Pikiranku terganggu. Aku kuatir melakukan kesalahan yang sama seperti pengalaman di atas kapal fery menuju Bali, dimana aku tega tidak memberi seorang anak pengemis yang kelaparan. Jangan-jangan aku menjadi orang kaya yang tidak peduli pada Lazarus yang miskin seperti perumpamaan yang diberikan oleh Yesus. Dalam perumpamaan itu digambarkan bahwa Lazarus tidak pernah meminta pada orang kaya. Dia hanya diam dan memunguti remah-remah roti yang jatuh dari meja orang kaya. Orang kaya itu juga tidak mengusirnya. Mereka pribadi-pribadi yang diam. Tidak saling mengusik. Namun Allah menghukum orang kaya sebab dia tidak peduli pada Lazarus. Dia dihukum bukan karena dia kaya melainkan karena dia tidak peduli pada orang yang miskin. Dia tidak mempunyai kepekaan akan kediaman Lazarus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku gundah dalam perdebatan. Aku ingin menetramkan hati dengan mencari alasan bahwa ibu itu memang pengemis yang jahat, sebab menggunakan anaknya sebagai sarana untuk mencari uang. Ibu itu telah menjual anaknya hanya untuk beberapa ratus rupiah perhari. Dia ibu yang tidak baik sebab tega membunuh anaknya secara perlahan dengan memberinya obat tidur setiap harinya. Aku mencoba mencari alasan untuk menghindari tanggung jawabku sebagai orang Katolik. Aku ingin menikmati nasi bebek lalu pulang dan tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pengalaman di fery terus terbayang. Selesai makan, aku menghampiri ibu itu. Kusapa dia. Aku mencoba membuka percakapan dengannya. Dia melihatku sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke gelora 10 November yang megah. Kuajukan beberapa pertanyaan yang dijawabnya secara singkat-singkat. Kupikir mungkin dia sudah mengantuk dan tidak ingin diganggu. Kunyalakan sebatang rokok sambil berdiri hendak meninggalkannya. Tiba-tiba ibu itu mengatakan apakah aku mau membelikan dia makanan? Dia lapar dan tidak punya uang. Kutatap dia dalam-dalam. Aku berusaha mencari tanda dalam wajahnya. Apakah dia tidak bohong? Suasana yang temaram mampu menyembunyikan ekspresi wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memesan nasi bebek lagi dan dibungkus. Kupesan juga es teh yang dimasukan kantong plastik. Kuberikan semuanya pada ibu itu. Dia lalu menikmati makannya. Aku duduk kembali di sampingnya. Sambil makan ibu ini bercerita bahwa dia berasal dari suatu daerah di daerah selatan Jawa Timur. Dia datang ke Surabaya untuk mencari suaminya. Menurut kabar yang diterimanya dari beberapa orang bahwa suaminya bekerja sebagai tukang becak dan mangkalnya di Tambaksari, daerah di sekitar gelora 10 November. Tapi sudah dicari sejak siang tadi ternyata suaminya tidak ada. Dia sudah bertanya kepada beberapa tukang becak yang mangkal di depan gelora apakah mereka mengenal suaminya? Ternyata tidak ada satupun yang mengenal suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ibu ini sudah 7 bulan lebih suaminya tidak pulang. Dia belum pernah sekalipun melihat anaknya ini. Dia pergi meninggalkannya sejak dia hamil tua. Kemiskinan yang melanda mereka, membuat suaminya memutuskan untuk pergi ke Surabaya. Dia berharap di Surabaya akan ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Tapi ternyata sampai kini suaminya tidak pernah pulang dan uang yang dinantikan pun tidak pernah datang. Maka ibu ini mencari ke sini dan jika bertemu suaminya dia akan memaksa suaminya untuk pulang. Kalau dia tidak mau pulang, maka ibu ini  juga akan tinggal di Surabaya. Aku tersenyum bagaimana mereka akan bisa hidup, sebab rumah saja mereka tidak punya. Dan apakah penghasilan dari menarik becak dapat memenuhi tuntutan kehidupan di kota seperti Surabaya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu sudah hampir menyelesaikan makannya. Dia bercerita tentang harapan dan masa depan. Dia ingin anaknya dapat bersekolah dan hidup layak. Dia yakin bahwa hidup manusia itu seperti roda yang terus berputar. Kini dia dibawah, tapi pada saatnya nanti dia akan bisa di atas. Suatu kebijaksanaan kuno, kataku dalam hati. Aku sendiri tidak yakin apakah nasib ibu itu akan berubah, tapi aku kagum dengan harapannya akan masa datang. Suatu harapan yang menuntunnya pergi dari rumah untuk mencari suaminya. Suatu harapan yang membuat dia mampu  bertahan dalam kelaparan dan kehausan demi bertemu dengan suaminya. Ketika kutanya bagaimana jika suaminya ternyata sudah mempunyai istri baru? Sejenak ibu itu memandang kosong ke depan. Lalu dia mengatakan bahwa dia yakin suaminya pasti ingat akan dirinya dan anaknya. Ada nada getir dalam jawabannya, namun nada itu tertutup oleh suatu harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi kagum dengan kuatnya harapan yang dipegang oleh ibu itu. Aku harus belajar banyak untuk mempunyai harapan. Pertanyaanku tentang suaminya yang menikah sebetulnya tidak pantas aku katakan, sebab bisa mematahkan harapan yang sudah dibangunnya dari rumah. Namun aku menjadi kagum sebab ibu ini tidak terpengaruh oleh kepesimisanku. Dia tetap optimis dengan harapan-harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya banyak orang mempunyai harapan-harapan yang besar seperti ibu ini dan mampu mengubah harapan menjadi suatu keyakinan, tentu akan banyak orang yang tidak putus asa. Teman-temanku di rumah singgah banyak yang tidak mempunyai harapan akan hari esok. Akibatnya mereka banyak melakukan tindakan bodoh. Mereka menghabiskan uang mereka begitu saja, padahal uang itu mereka peroleh dengan susah payah. Mereka tidak menyesal ketika uangnya habis untuk suatu tindakan bodoh yang tidak ada gunanya sama sekali. Bagi mereka hidup itu harus dinikmati hari ini, sebab besok itu tidak ada apalagi masa depan. Mereka tidak mempunyai harapan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya ibu ini bisa mengajarkan pada teman-teman bagaimana agar orang tetap mempunyai sebuah harapan. Sebuah keyakinan bahwa besok mereka bisa hidup lebih baik. Bahwa besok dia akan bertemu dengan suaminya. Bahwa besok anaknya bisa sekolah seperti anak-anak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut. Aku pamitan pada ibu itu. Dia berterima kasih atas nasi bungkus dan es tehnya. Aku hanya tersenyum dan berjalan menuju mobil. Dalam perjalanan yang hanya membutuhkan beberapa menit saja aku bersyukur bahwa aku tidak mengulang kejadian di fery. Ibu ini sebaliknya mengajarku agar tetap mempunyai harapan akan hari esok. Akan Tuhan yang tidak akan membiarkan orang selalu menderita. Aku tahu bahwa Yesus akan datang ketika aku diterjang badai seperti yang dialami oleh para murid. Tapi aku masih belum meyakininya. Aku masih meragukan kekuasaan Allah yang bisa mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Aku kurang memiliki harapan. Terima kasih malam ini aku sudah diajar oleh seorang ibu di tepi jalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/seorang-ibu-di-tepi-jalan.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK4OOZjFcpHHGhzTEo_hXSmzPlDT79xiSFA1pLtUbOEIHHoHDws5LZmVNbBohkt5Ib3eIFmvr2RRwBreuAo7Qz8JLmbCgCBxaVVR-fdvkUPN9EPhZnqKJkSur3quwGppC4g9lii4T4WLU/s72-c/3424656156_36604796bf.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-2112056128267385871</guid><pubDate>Tue, 08 Sep 2009 14:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-08T21:35:48.909+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>LAMPU</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kami duduk melingkar mendengarkan seorang romo yang sedang memberikan renungan. Namun hampir semua dari kami yang berada disitu tidak bisa mendengarkan dengan baik. Hati kami digelisahkan oleh lampu neon. Ada satu lampu neon di tengah ruangan yang berkedi-kedip dan menimbulkan suara mendengung yang cukup keras. Penjaga rumah sudah kami beri tahu tapi dia tidak mempunyai cadangan lampu, maka kami terpaksa mengikuti session diterangi lampu yang rusak. Aku sama seperti yang lain menjadi merasa tidak nyaman. Sambil berbisik-bisik pada teman disebelah aku mulai mengkritik tempat ini.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya romo pembimbing menyadari akan situasi yang tidak mengenakan ini. Maka dia mengatakan agar kami jangan memperhatikan lampu melainkan mulai berusaha menyimak apa yang diuraikannya. Dia mengatakan semakin kami memperhatikan lampu maka kami akan semakin jengkel. Semakin kami jengkel semakin kami tidak bisa memahami apa yang dikatakan olehnya. Perkataan romo mendorongku untuk berusaha konsentrasi pada materi yang sedang dibahas. Aku berusaha melupakan lampu dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh romo pembimbing. Tidak terasa waktu konfrensi sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah dinginnya udara Pacet aku berusaha merenungkan apa yang baru aku alami tadi. Dalam hidup tidak ada yang sempurna. Hal yang sudah direncanakan matang pun kadang kala masih menimbulkan sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana. Beberapa kali aku mengalami kegagalan. Padahal aku sudah mempersiapkan dengan serius. Kegagalan ini membuatku merasa gagal dalam aneka hal. Aku selama beberapa hari bisa tenggelam dalam rasa kecewa,  gelisah, ingin berontak dan sebagainya. Jika sudah demikian maka aku enggan melakukan segala sesuatu, sebab seluruh diriku terpusat dalam rasa gagal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam komunitas pun ada saja orang yang kuanggap kurang sesuai dengan yang kuharapkan. Aku ingin menyingkirkannya. Namun aku tidak mampu, sebab dia pun berhak tinggal dalam komunitas. Aku pun tidak bisa melarikan diri dari realita komunitas seperti ini. Aku dipaksa menerima teman-teman sekomunitas apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini hanya dibutuhkan kesiapan untuk menerima apa adanya. Ini butuh kebesaran hati, sebab tidak mudah menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang aku kehendaki. Sering kali aku memimpikan semuanya orang bisa hidup sesuai dengan apa yang kukehendaki. Namun ini mustahil. Setiap orang mempunya gaya hidup sendiri-sendiri. Mereka mempunyai penampilan yang berbeda. Mereka mempunyai karakter dan kepribadian yang unik, sehingga tidak sama dengan kepribadian dan karakterku. Bahkan mungkin bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya jika aku tidak suka dengan orang, belum tentu aku tidak suka keseluruhan dirinya. Aku bisa tidak suka akan kepribadiannya atau sikapnya atau gaya hidupnya atau yang lain. Hanya sebagian dari dirinya saja yang tidak kusukai, tapi akibatnya aku tidak menyukai dirinya secara keseluruhan. Sama seperti kejadian tadi. Gara-gara hanya sebuah lampu aku menjadi jengkel. Padahal masih ada 3 lampu lain yang menyala dengan bagus. Aku menjadi tidak suka pada semua pegawai dan pengurus rumah retret ini yang kuanggap tidak tanggap. Aku mengkritik pegawai yang malas, managemen yang tidak profesional sampai pemilik rumah yang pelit dan sebagainya. Dari persoalan lampu yang kecil menjadi melebar kemana-mana. Seolah-olah dalam rumah ini tidak ada yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung romo pembimbing memberikan pencerahan, bahwa jangan memusatkan diri pada sesuatu yang menjengkelkan, melainkan alihkan pandangan ke hal lain. Memang memusatkan diri pada hal negatif jauh lebih mudah. Pernah aku juga menguji sekelompok anak muda. Aku mengambil selembar kertas putih dan memberikan titik hitam. Ketika kutanya apa yang mereka lihat, hampir semua mengatakan sebuah titik  hitam dalam sebidang kertas putih. Mengapa jawaban tidak dibalik yaitu sebidang kertas putih yang mempunyai titik hitam? Sebab memang titik hitam itu menarik perhatian. Semua orang memusatkan pada titik itu. Hal hitam dan negatif sangat mudah dilihat dan diingat oleh orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam hidup. Titik hitam seseorang sering kali diingat dan menjadi pusat perhatian. Akibatnya semua lembaran hidup putih lain yang dimilikinya seolah tidak pernah ada, kalau toh ada dianggap sebagai sebuah hal yang biasa atau bahkan dilupakan. Seorang teman pernah tertangkap mencuri barang. Dia harus menjalani hidup selama beberapa bulan didalam penjara. Ketika keluar dari penjara sedikit sekali orang yang berani memberikan kepercayaan padanya. Semua orang melihatnya sebagai bekas pencuri. Padahal sebelum mencuri banyak orang percaya padanya. Dia mencuri pun akibat terdesak tuntutan keluarga sebab orang tuanya sakit dan membutuhkan banyak biaya. Barang yang dicuri pun bukanlah barang mahal, hanya beberapa peralatan dapur dan makan. Dia menjualnya hanya laku Rp 150.000. tapi akibat semua itu dia sudah dianggap sebagai orang yang penuh dengan dosa. Seluruh hidupnya hitam kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandang langit yang hitam. Seandainya tidak hitam pasti bintang tidak akan tampak indah seperti malam ini. Gelap pun dibutuhkan dalam dunia. Gelap pun bisa menambah keindahan alam. Mengapa aku selalu ingin semuanya putih dan terang? Hidupku pun tersusun dari hitam dan putih. Gelap dan terang. Keberhasilan dan kegagalan. Sikap buruk dan baikku. Semua membentukku menjadi diriku saat ini. Aku tidak akan berkembang bila hanya memusatkan diri pada hal buruk atau kegagalan dalam hidupku. Aku tidak bisa bersyukur pada Allah bila hanya memusatkan pandangan pada hal negatif dan menjengkelkan yang melekat pada diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur romo tadi menyadarkan aku akan hal itu. Keberanian untuk tidak lari dari kekurangan yang ada namun tidak memusatkan diri padanya. Tidak berusaha berontak akan kekurangan yang ada, melainkan menerimanya. Sebab semakin berontak akan semakin menjengkelkan dan membuatku tidak berkembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/lampu.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-2658028580533435613</guid><pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-06T23:38:54.193+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>SELAMAT JALAN NOK</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxpippkPbf-BHqdktVOWapxz49_pGWRuwDvJmjc-3VdtxORnm0pGSi6DTTx-7XhNWDGk8C4T0_MIqSH-aEvlEv6DYWQK8t49HVu6-KYQPW07PEStM7RD8UYnHymqYP5FpL9nV_05CXfyE/s1600-h/dewanto.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;cursor:pointer; cursor:hand;width: 120px; height: 178px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxpippkPbf-BHqdktVOWapxz49_pGWRuwDvJmjc-3VdtxORnm0pGSi6DTTx-7XhNWDGk8C4T0_MIqSH-aEvlEv6DYWQK8t49HVu6-KYQPW07PEStM7RD8UYnHymqYP5FpL9nV_05CXfyE/s320/dewanto.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5378394739957705874&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hanya inilah yang bisa aku katakan ketika Mas Yoga menegaskan bahwa kamu adalah salah satu kurban di TimTim. Penegasan berita dari Mas Yoga dan Rm. Hari membuatku bersimpuh. Hatiku berkecamuk. Tidak tahu aku harus teriakan pada siapa. Pedih. Marah. Geram. Kecewa. Tidak percaya. Berkecamuk menjadi satu. Mengapa orang TimTim yang memandang pastur begitu tinggi dibandingkan di Jawa sini bisa membunuh pasturnya? Benarkan penembakmu adalah orang TimTim? Tuhan akan membukanya, entah kapan. Aku tidak tahu.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat pertemuan kita di Dili beberapa waktu lalu. Kau mengejekku sebab terlalu cepat menjadi imam. Aku pun mengejekmu yang betah menjadi frater. Kita saling ejek setelah sekian lama tidak jumpa. Ya, sejak kita pisah di Garum dulu. Kau masuk Jesuit sedang aku masuk CM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nok, Painok, begitu kau disebut. Entah ini nama ejekan atau nama kesukaanmu, tapi banyak teman memanggilmu demikian dan kamu tidak sakit hati. Aku lihat lagi foto foto kita ketika kita keluyuran di girli untuk menemui Rm. Mangun. Ketika kita di Rowoseneng untuk meneguhkan panggilan kita masing masing. Ketika di rumahmu. Gara gara kamu hanya memberi alamat dekat lampu bangjo, aku kesasar sampai jauh sekali, sebab lampu itu mati dan hari sudah malam sehingga tidak tampak kalau ada lampu bangjo. Aku pun harus kembali naik angkutan dan bertanya sana sini untuk menemukan daerahmu. Sampai daerahmupun aku lupa nomor rumahmu. Untung aku masih ingat nama ayahmu, sehingga agak mudah menemukan rumahmu. Kitapun saling ejek atas kekeliruan ini. Syukurlah kamu punya ibu yang sangat baik, sehingga beliau repot membuatkan minuman hangat dan air hangat untuk mandiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nok, mengenang semua ini aku jadi sedih. Dua tahun kita satu kamar tidur. Banyak kisah lucu ala seminaris kita alami. Tapi kini semua tinggal kenangan. Kau sudah tidak bisa ketemui lagi. Untuk mengunjungi kuburmu pun aku tidak bisa, sebab tubuhmu belum ditemukan. Ah Nok,...masih terbayang kecerianmu di Dili. Kau bersemangat sekali sebab sebentar lagi akan ditahbiskan. Aku pun mengejekmu akan datang ke tahbisanmu, hanya untuk menumpangkan tanganku di atas rambutmu yang sering diejek mambu kloso. Tapi, aku tahu kau hanya bergurau, tidak akan mengundangku. Tidak ingin aku menumpangi tangan. Ah...jahat sekali kamu Nok. Sungguh Nok, aku sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku bangga padamu. Sungguh! Aku kagum padamu! Kagum pada pilihanmu. Mati diantara umatmu. Kemarin aku sedikit ngobrol dengan beberapa teman cerita soal cara matimu. Ada yang berkomentar bahwa itu konyol, sebab berani menantang maut. Harusnya kau mengungsi keluar kota bersama para seminaris. Tapi kau memilih bertahan di parokimu. Berani menghadapi para perusuh bersenjata. Berani tanpa berpikir adalah konyol. Kali ini kau kubela, Nok. Menurutku kita memang harus konyol. Yesus pun tahu bahwa Dia akan ditangkap dan disalibkan. Dia ketakutan di taman Getsmani. Tapi Dia tidak lari dari Yerusalem. Apakah Dia tidak konyol? Konyol! Yesus juga konyol. Dia menyongsong kematianNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kagum kau tidak lari. Kau bertahan bersama umatmu. Aku yakin bahwa saat itu umatmu membutuhkan kau berada di tengah tengah mereka. Umatmu penuh ketakutan dan kau berada di tengah tengahnya. Ini peneguhan yang tidak ternilai, meski kau harus merelakan tubuhmu dihilangkan. Bukan hanya nyawamu saja. Memang ada yang berpendapat bahwa dengan pergi kau bisa meneruskan perjuangan mereka. Kau bisa memberikan laporan pandangan mata tentang kekejaman mereka. Kau bisa mengorganisir perjuangan dari luar. Tapi, Nok, kau pilih mati bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersyukur atas pilihanmu, sehingga Yesus tidak perlu lagi datang dan menemuimu di tengah jalan dengan memikul salib. Dan kau tidak perlu lagi bertanya Quo vadis Domine? Kau hebat Nok! Mau tetap memikul salibmu, sehingga Yesus tidak perlu menggantikanmu ditembak di tengah umatmu. Ada yang komentar, bahwa kau akan lebih berguna jika masih hidup dari pada mati dengan cara seperti ini. Tapi sekali lagi aku membelamu Nok. Mungkin saat Petrus meninggalkan Roma, umatpun senang, sebab Petrus bisa mengembangkan kekristenan di luar Roma. Tapi Yesus berjalan menuju Roma. Petrus pun malu dan kembali ke Roma untuk mati disalib. Ternyata kematian Petrus tidak memusnahkan Gereja. Darah Petrus terus mengalir dan menjadi rabuk tempat bersemainya Gereja baru. Aku yakin Nok, darahmu pun akan membuat Gereja Timor Timur khususnya, dan Indonesia pada umumnya, akan tumbuh subur dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nok, sekali lagi aku kagum padamu. Kau dalam diam membuka mataku tentang keberanian, tentang kecintaan pada umat, tentang hakekat panggilan hidup kita, yaitu mengikuti Yesus yang berjalan menuju bukit Golgota, tentang salib yang harus kita pikul. Aku yakin Nok, pilihanmu ini tidak akan mengangkatmu menjadi orang terkenal di seluruh dunia. Kau tidak akan dilirik oleh panitya Nobel untuk diberi nobel perdamaian. Kau tidak akan mendapat tepukan dimana mana. Kau tidak akan jadi orang terkenal. Kau akan tetap menjadi Rm. T. Dewanto SJ yang mati ditembak di TimTim. Kau hanya diingat dan dicatat sebagai kurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Nok, aku percaya bahwa kematianmu tidak sia sia. Kau bukan kurban yang memang harus jatuh, konsekwensi logis, akibat revolusi. Kau tidak salah dengan pilihanmu. Aku bahkan iri padamu. Sebab kau bertemu Yesus dan bisa menunjukan luka tembakmu. Sedang aku Nok. Apa yang bisa aku tunjukan pada Yesus? Luka luka aku belum punya. Apakah Yesus akan memperhitungkan aku, sebab beberapa kali nulis di p net? Apakah aku bisa membanggakan diri dihadapan Yesus dengan menunjukan kedudukanku sebagai ketua komisi? Apakah Yesus akan menerimaku di surga jika kutunjukan bahwa aku direktur sebuah yayasan? Seandainya aku jadi uskuppun, apakah bisa Yesus langsung mempersilahkan diriku masuk surga? Bahkan seandainya semua orang di dunia tahu bahwa aku penerima nobel perdamaian dan dicatat oleh para tokoh politik sebagai pejuang, apakah Yesus lalu mengagumiku dan menerimaku dengan penuh suka cita? Ah, Nok....kau telah diterima di surga. Bukan dengan gelar atau prestasi yang hebat, tapi dengan keberanian pilihanmu untuk bersama Yesus di TimTim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Nok, aku ucapkan SELAMAT JALAN KAWAN. Aku bangga padamu. Aku akan berdoa khusus bagimu dengan hati yang merintih pedih. Hanya ini yang bisa kulakukan. Maaf!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/selamat-jalan-nok.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxpippkPbf-BHqdktVOWapxz49_pGWRuwDvJmjc-3VdtxORnm0pGSi6DTTx-7XhNWDGk8C4T0_MIqSH-aEvlEv6DYWQK8t49HVu6-KYQPW07PEStM7RD8UYnHymqYP5FpL9nV_05CXfyE/s72-c/dewanto.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-6633664130723179837</guid><pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-06T23:32:25.004+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>AKU HANYALAH ANAK KOPRAL ANUMERTA</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya adalah anak seorang kopral anumerta. Ya! Benar! Bapak adalah seorang anggota ABRI yang berpangkat kopral. Dia sudah tewas tertembak dalam suatu pertempuran maka dibelakangnya diberi tambahan anumerta.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak bagi saya adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Disetiap kesempatan luang, dia mengajak ibu, dua adik dan saya jalan jalan. Kami hanya jalan jalan menikmati keindahan kota. Sebelum jalan jalan bapak atau ibu senantiasa berpesan agar kami tidak boleh meminta apa apa. Kalau bapak atau ibu punya uang, maka kami akan dibelikan sesuatu, entah mainan yang dijual di emper toko atau kue kue di pedagang kaki lima. Kata ibu gaji bapak sangat kecil, sehingga tidak mungkin kami beli mainan di toko atau makan di restoran. Bapak hanyalah seorang prajurit. Tapi meski hidup susah, saya bangga pada bapak. Apalagi kalau melihat bapak dengan seragam lengkap. Dia tampak gagah dan tampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan saya dengan bapak tidaklah lama. Saya masih kelas tiga SD ketika bapak mendapat tugas ke Timor Timur. Saya sendiri tidak tahu dimana tempat itu. Ibu hanya bilang bahwa Timor Timur itu jauh di timur negara Indonesia. Malam sebelum berangkat bapak mengambil peta Indonesia dan menunjukan dimana tempat yang namanya Timor Timur. Suatu daerah kecil yang diberi warna lain, sebab tidak termasuk negara Indonesia. Bapak menjelaskan bahwa dia bersama teman temanya harus naik kapal laut selama beberapa hari baru bisa mencapai tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ibu bapak kesana akan berjuang. Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit yaitu siap diperintah kemana saja dan berjuang melawan musuh. Saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak disana. Saya juga tidak tahu pasti siapa musuh bapak di sana. Apakah berjuang melawan penjajah seperti cerita kakek yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Atau berjuang melawan pemberontak seperti cerita kakek tentang pemberontakan Kahar Muzakar, RMS, DI/TII atau yang lain. Saya tidak tahu, ibu pun tidak tahu. Maklum ibu bukan orang yang berpendidikan tinggi. Kami juga kekurangan informasi, sebab tidak berlangganan surat kabar. Kami tidak mempunyai uang untuk berlangganan surat kabar. Beberapa kali saya melihat bapak membaca surat kabar yang dibeli eceran atau hasil dari pinjam ke tetangga. Kami juga tidak mempunyai TV. Ini suatu barang yang sangat mewah. Yang kami punya hanya radio kecil dan hanya bisa menangkap siaran radio amatir. Atasan bapak juga tidak menjelaskan dengan rinci untuk apa dia harus mengirim bapak kesana. Menurut bapak, dia hanya mengatakan bahwa sebagai prajurit yang menjalankan sapta marga, dia harus siap untuk diutus kemana saja. Maka ibu tidak bisa menjelaskan mengapa bapak harus berjuang di Timor Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak sendiri tidak tahu apa yang terjadi di Timor Timur. Dia hanya mengatakan bahwa di sana terjadi kerusuhan dan sebagai prajurit, dia harus mengamankan negara dari kerusuhan. Ini perintah dan harus ditaati. Sampai bapak berangkat saya tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak. Apa yang menyebabkan kerusuhan. Siapa yang dianggap perusuh. Saya sendiri tidak tahu apa arti kata berjuang bagi seorang prajurit ABRI. Yang saya tahu pasti ialah bahwa bapak mendapat tugas pergi ke Timor Timur bersama teman temannya. Kedua, hal itu berarti bahwa saya akan lama untuk tidak bertemu dengan bapak. Saya hanya akan memandang foto bapak yang gagah dalam seragam prajurit marinir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan bapak tidak terdengar kabar beritanya. Bagi ibu ini hal biasa. Ibu sudah tahu konsekwensi istri prajurit. Dia akan sering ditinggal pergi oleh suaminya. Tapi saya tidak senang bapak pergi terlalu lama. Saya kangen dengan bapak. Saya kangen belaian tangannya yang kasar. Saya kangen digendong belakang. Saya kangen diajak jalan jalan. Saya kangen untuk menunjukan pada teman teman bahwa bapak saya adalah seorang ABRI yang sangat gagah dalam pakaian seragamnya. Saya kangen bapak. Saya yakin ibu juga kangen, tapi tidak ditunjukan pada kami. Saya juga yakin bahwa adik adik kangen pada bapak, tapi mereka tidak bisa mengungkapkan, sebab mereka masih umur 3 th dan 4 bulan. Saya yang sudah besar, sudah klas 3 SD, dapat merasakan rasa kangen itu dan mengungkapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir menginjak bulan kedua bapak belum juga pulang. Beberapa kali saya tanya ibu, kapan bapak kembali. Ibu selalu mengatakan tidak tahu atau kalau keadaan sudah aman. Kata ibu situasi di Timor Timur sangat berat dan gawat. Beberapa teman bapak tewas di sana. Ada yang pulang tapi mengalami gangguan jiwa. Dia sering teriak teriak pada malam hari dan sangat ketakutan dalam gelap. Padahal dulu dia pemberani. Kalau tidak pasti dia tidak akan jadi prajurit. Tapi kini dia menjadi penakut dan sikapnya aneh. Pernah dia menangkap cicak di rumah kami, langsung dimakan. Tentu saja saya jadi jijik. Kata ibu teman bapak itu mengira bahwa dia masih di Timor Timur. Ada juga teman bapak yang pulang dengan menyandang cacat tubuh. Ada yang kakinya hilang satu ada yang tangannya hilang. Melihat teman bapak itu, saya jadi takut. Jangan jangan bapak pulang nanti menjadi seperti itu. Tapi bapak belum pulang, maka saya hanya bisa berdoa semoga bapak bisa cepat pulang dan tidak berubah. Masih seperti bapak yang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak beberapa hari setelah bulan kedua, seorang tentara datang ke rumah kami. Saya tidak tahu apa yang dia ceritakan. Yang saya tahu tiba tiba ibu menjerit dan menangis histeris, sampai beberapa tetangga berusaha menenangkannya. Melihat ibu menangis semua adik juga ikut menangis. Tapi saya tidak, sebab tidak tahu mengapa ibu menangis. Banyak tetangga yang berkumpul di rumah kami sampai tentara itu pergi. Saya melihat ibu beberapa kali pingsan. Jika sadar dia berteriak teriak memanggil nama bapak. Saya mengira ibu bertengkar dengan tetantara itu dan memanggil bapak untuk membelanya. Akhirnya saya bertanya pada ibu apa yang terjadi. Dengan sedih tetangga sebelah menceritakan bahwa bapak saya tewas ditembak. Ya bapak saya tewas dalam berjuang, meski saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan. Bapak juga tidak menjelaskan apa yang diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tewas. Saya tidak berani mengatakan bapak gugur. Kata itu hanya untuk para pahlawan dan para tentara yang mempunyai pangkat. Bapak bukan pahlawan. Dia juga bukan perwira. Dia hanya seorang prajurit yang mati ditembak. Saya kehilangan bapak. Padahal saya masih membutuhkan bapak. Apalagi adik adik. Tentu si bungsu tidak akan pernah tahu siapa bapaknya. Dia hanya akan tahu dari sebuah foto di ruang tamu. Saya sedih sekali. Bapak telah ditembak. Saya tidak tahu siapa yang menembak bapak. Saya tidak tahu apakah yang menembak bapak bisa disebut musuh atau bapaklah yang dianggap sebagai musuh. Saya tidak tahu siapa yang benar, siapa yang dibela, siapa yang diperjuangkan. Yang saya tahu dengan pasti ialah bahwa bapak diperintahkan untuk pergi ke Timor Timur dan mati ditembak orang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian peti mati bapak datang. Ibu histeris di depan peti mati. Tapi bapak tetap mati. Sebetulnya saya ingin sekali melihat wajah bapak yang gagah untuk terakhir kalinya. Tapi ada larangan untuk membuka peti mati. Saya tidak kuasa dengan perintah itu. Ibu pun tidak kuasa menolak perintah atasan bapak. Ibu harus percaya bahwa yang ada dalam peti mati itu adalah jenasah bapak. Betapa sedihnya hati saya. Untuk melihat wajah bapak yang terakhir saja tidak bisa. Dengan berderai air mata, saya mengatar bapak ke pemakaman. Dalam pemakaman ada beberapa sambutan yang saya sendiri tidak tahu apa yang dikatakan oleh atasan bapak. Hanya yang saya tahu dia menyerahkan sebuah amplop berisi uang dan sebuah tanda penghargaan. Ganti nyawa bapak adalah uang yang ada dalam amplop dan selembar kertas yang katanya berisi tanda penghargaan atas keberanian bapak dalam membela negara. Saya nangis saat itu. Saya tidak mau nyawa bapak diganti oleh lembaran itu. Saya lebih memilih bapak tidak mendapat tanda jasa dan kenaikan pangkat, dari pada harus kehilangan bapak yang saya cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bapak bukanlah satu satunya dan yang terakhir. Masih banyak teman teman bapak yang tewas atau pulang dengan cacat. Mereka pada umumnya adalah prajurit dengan pankat rendah. Saya belum mendengar seorang jendral yang tewas atau pulang dengan cacat tubuh. Tapi hal ini semakin membanggakan saya bahwa bapak jauh lebih berani berjuang dari pada para jendral, sebab buktinya bapak berani tewas ditembak, sedangkan para jendral pulang dengan selamat. Tapi merekalah yang terkenal, sedangkan bapak tetap sebagai kopral anumerta, yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Bapak hanyalah seorang prajurit yang harus taat pada perintah atasan bahkan siap mati demi membela bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini kesedihan terus berlanjut. Kehilangan bapak dan kemiskinan akibat pensiun bapak yang kecil tidak mampu memenuhi semua kebutuhan hidup. Ibu dan saya harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Tapi hal yang sangat menyedihkan saya saat ini ialah bapak dan teman teman dicaci maki sebagai biang kerusuhan saat ini. Bapak menjadi tentara bukan untuk menindas, tapi punya tujuan mulia yaitu mempertahankan negara dan bangsa dari serangan musuh, seperti kakek dulu mempertahankan negara dari serangan Belanda. Saya yakin kalau boleh memilih bapak pasti menolak untuk pergi ke Timor Timur. Dia berangkat kesana karena taat pada perintah atasan. Disana dia pasti pernah menembak dan dia mati terkena tembakan. Oleh siapa? Musuh bangsa? Pejuang bangsa? Saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini banyak orang mengkritik bapak dan teman teman bahwa dia melakukan kekerasan di Timor Timur. Bapak bukan orang yang suka kekerasan. Dia pasti menembak supaya tidak mati ditembak. Tapi toh akhirnya dia ditembak. Pengurbanan nyawa bapak tidak ada gunanya, bahkan saya saat ini malu jika ingin mengatakan bahwa bapak adalah ABRI yang berangkat ke Timor Timur pada tahun 1976. Bukan saya tidak bangga dengan bapak, tapi saya tidak tahan dengan ejekan sebagai anak ABRI yang mendapat nilai jelek sekali dihdapan teman teman. Seolah apa yang dilakukan bapak adalah kesalahan besar, padahal bapak hanya seorang prajurit yang harus taat pada pimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kuburan bapak saya hanya bisa mengeluh pada sebuah batu nisan. Saya ingin protes mengapa bapak dulu memilih sebagai tentara, mengapa bukan sebagai pekerja pabrik, kantor, bahkan tukang becak atau pemulung sekalipun. Mengapa bapak memilih menjadi tentara? Mengapa bapak mau dikirim ke Timor Timur? Apakah itu dosa bapak, sehingga banyak orang sekarang sinis pada saya yang mengatakan bahwa bapak adalah salah satu tentara yang dikirim ke Timor Timur pada tahun 1976? Pernah ibu meneguhkan saya, ketika saya digelisahkan oleh persoalan ini. Ibu mengutip dari Injil Yohanes, &quot;Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah dia yang melemparkan batu yang pertama pada perempuan itu.&quot; Saya hanya berdoa semoga bapak hanyalah sebagai perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Dai harus diadili sedang yang lelaki tidak diadili oleh masa. Bapak dan teman teman harus diadili sedangkan yang berkepentingan tidak diadili. Dan yang mengadili bapak adalah masa yang sebenarnya juga penuh dengan dosa, sering berbuat kekerasan, tidak adil, penindas. Ini meneguhkan saya agar saya tidak melihat nyawa bapak sebagai sebuah kesia siaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun juga salib masih harus kami pikul. Kemiskinan, status kami sebagai anak piatu, kerinduan kami pada bapak yang tidak mungkin dipenuhi dan terlebih nama jelek bapak karena dia adalah tentara. Ya, saya hanyalah anak seorang kopral anumerta. Seorang kopral yang katanya membela nusa dan bangsa sehingga harus menyerahkannya nyawanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/aku-hanyalah-anak-kopral-anumerta.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-1757634941683362491</guid><pubDate>Sun, 06 Sep 2009 16:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-06T23:29:29.992+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>SEBOTOL MINYAK GORENG</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suatu hari ibu menyuruhku untuk membeli minyak goreng. Aku mengajak adikku untuk pergi ke warung yang tidak seberapa jauh dari rumah. Dalam perjalanan pulang kami berkejaran di pematang sawah. Namun sial, aku terjatuh dan terperosok masuk ke sawah. Akibatnya botol minyak pecah dan minyak tumpah di sawah. Sejenak kami termangu. Kami sudah membayangkan wajah ibu yang akan marah dan ngomel lama sekali. Kami tahu bahwa uang ibu tidak banyak, sehingga setiap pengeluaran sangat diperhitungkan.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk tanpa bicara. Ada perasaan takut, sedih, menyesal dalam hati. Kami hampir menangis, bukan karena hanya takut dimarahi, namun menyesal telah memecahkan botol minyak. Kami menyesali tindakan kami yang tidak hati-hati. Kami sedih mengingat bahwa ibu harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli minyak, padahal kami sangat miskin. Namun semua sudah terjadi. Dengan perasaan yang bercampur aduk kami berjalan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah berat kami menyusuri jalan pulang. Kami tidak bicara sesuatu pun. Semakin mendekati rumah, hati kami semakin takut dan galau. Kami melihat ibu duduk di teras rumah dengan seorang tamu. Semakin dekat dengan teras, kakiku semakin berat. Ingin rasanya menangis. Di teras kulihat ibu tersenyum. Dengan lembut dia tanya mana minyak yang harus kami beli? Sejenak aku hanya bisa tertunduk takut menatap wajah ibu. Dengan suara bergetar aku katakan bahwa minyaknya tumpah di sawah. Aku sempat melirik wajah ibu. Ibu tetap tersenyum. Lalu dengan lembut dia menyodorkan uang dan menyuruhku untuk membeli minyak lagi dengan peringatan agar aku tidak lari-lari lagi di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ibu itu bagiku sebagai suatu berkat. Aku sangat bahagia sekali. Sepertinya ada beban besar yang terlepas dari diriku. Ingin rasanya aku melonjak kegirangan dan memeluk ibu saat itu juga. Aku merasakan kebahagiaan yang tidak terkirakan. Aku yang bersalah dan ketakutan akibat kesalahanku, ternyata tidak dipersoalkan oleh ibu. Meski sedih ibu memberiku uang lagi. Ibu mempercayaiku lagi tanpa kemarahan yang aku bayangkan selama perjalanan ke rumah. Tanpa komando untuk kedua kali aku langsung berlari ke warung lagi dengan penuh suka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini membuatku bisa merasakan betapa bahagianya si anak bungsu yang diterima lagi oleh bapanya (Luk 15:11-32). Dia tidak hanya diterima bahkan dibuat spesial dengan perhiasan dan pesta. Dia yang telah berdosa dan takut akan bapanya, ternyata ketakutannya itu tidak terjadi bahkan sebaliknya menjadi suka cita. Aku yakin meski tanpa pesta pun anak itu sudah menjadi bahagia, sebab bapanya menerima dia kembali. Dia pun sudah menetapkan sejak mau berangkat pulang bahwa dia akan menjadi pegawai bapaknya. Dia sadar akan ketidakpantasannya dan akan dosa-dosanya yang seharusnya mendapatkan hukuman. Namun bapanya memberikan jauh lebih besar dari apa yang dia harapkan. Bapanya tidak saja mengatakan bahwa dia mengampuni, namun memberikan hal yang sangat spesial. Kebahagiaan anak bungsu ini menjadi berlipat dan tidak terkatakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pesan Yesus dalam Injil hari ini adalah aku mewartakan berita tentang pertobatan dan pengamunan dosa (Luk 24:46-53). Kamu adalah saksi akan semua itu. Yesus datang dan mengampuni dosaku. Dosa-dosaku yang tidak terhitung diampuniNya. Aku yang penuh dosa Dia terima tanpa memberikan hukuman. Aku tetap diangkatNya sebagai anak bukan budak atau hamba. Bahkan Dia menjanjikan akan kebahagiaan surgawi. Inilah suka cita yang tidak terperikan. Suka cita bukan karena Tuhan memberikan kelimpahan harta, namun suka cita pengampunan dosa. Aku yang berdosa dan selalu berbuat dosa diampuni dan selalu diampuniNya. Aku selalu diterima dan ditunggu kapan aku akan kembali padanya. Inilah kebahagiaan akan kasih Allah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersuka cita, sebab aku yang penuh dengan dosa diampuni Allah. Namun mengapa aku sulit untuk mengampuni sesama? Aku tidak ubahnya seperti perumpamaan yang ditulis dalam Mat 18:21-35. Aku seperti hamba yang memohon belas kasih pada Allah untuk melepaskan hutang-hutangku, namun aku tidak mau melepaskan hutang orang yang berhutang padaku. Aku memohon agar Allah mengampuni dosaku, namun aku tidak mau mengampuni dosa sesamaku. Aku ingin mendapatkan suka cita pengampunan, namun aku tidak mau memberikan suka cita itu pada sesama. Aku merasa Allah wajib mengampuniku, namun aku tidak wajib mengampuni sesamaku. Aku bebas menyakiti hati Allah, namun aku tidak boleh disakiti. Bagaimana seandainya aku menjadi Allah yang harus senantiasa mengampuni sedang orang yang aku ampuni tidak mau mengampuni? Aku akan sakit hati sekali bagai raja dalam perumpamaan itu. Maka pantaslah raja itu menghukum hamba itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah butuh kesadaran diri. Kesadaran akan dosa-dosaku yang besar dihadapan Allah, namun Dia tetap mau menerimaku. Kesadaran bahwa aku sebenarnya tidak pantas menerima tubuh Kristus karena dosa-dosaku, namun aku tetap memberanikan diri untuk menerimanya. Dan aku merasa suka cita atas peristiwa ini. Kesadaran pengalaman inilah menjadi titik tolakku untuk mengampuni sesamaku yang dosanya tidak sebesar dosaku pada Allah. Jika aku tidak memiliki pengalaman diampuni Allah, maka aku juga sulit mengampuni, sebab aku tidak pernah merasakan betapa bahagianya diampuni itu. Seandainya aku tidak pernah memiliki pengalaman diampuni ibuku sebab memecahkan botol minyak, maka aku juga tidak pernah merasakan betapa bahagianya pengampunan itu. Seandainya banyak orang mengalami dan menyadari semua ini, maka dunia akan lebih membahagiakan....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2009/09/sebotol-minyak-goreng.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-3802300881274697060</guid><pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-16T13:39:09.020+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI</title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Adikku telpon. Nadanya datar tapi isi kalimatnya menunjukkan kekesalan hati. Dia cerita baru saja menerima berkat dari Tuhan. Dia menawarkan apakah aku mau menerima berkat itu. Di perumahan tempatnya tinggal ada seorang pemuda yang tidak jelas asal usulnya. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;   Badannya kurus kering. Tinggal kulit membalut tulang, sehingga semua persendian tampak sebagai benjolan-benjolan besar. Mirip foto orang kelaparan yang banyak tersebar di berbagai media. Pemuda ini sakit parah. Dia muntah darah dan sudah tidak mampu bangun lagi. Tampaknya umurnya tidak akan lama lagi. Orang yang menemukan tahu bahwa pemuda ini adalah seorang Katolik, maka dia membawanya ke rumah adikku. Maka adikku berinisiatif untuk melaporkan ke tokoh iman di paroki, sebab yakin bahwa pemuda ini membutuhkan pengobatan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku menceritakan masalahnya pada tokoh tersebut. Pertanyaan yang muncul pertama kali dari dia adalah apakah pemuda ini Katolik atau bukan? Mendengar pertanyaan itu adikku menjadi jengkel sekali. Bukankah pemuda ini sudah akan meninggal dunia, tapi mengapa masih dipertanyakan soal agamanya? Dalam kekecewaan adikku menyarankan agar tokoh itu sebaiknya menyobek Injil yang bercerita tentang orang Samaria yang baik hati. Bila perikop itu tidak ada maka pertanyaannya menjadi relevan. Mendengar omelan adikku akhirnya sang tokoh menyarankan agar pemuda itu dibawa ke rumah sakit dan Gereja akan menanggung sebagian biayanya. Adikku membawa pemuda itu ke sebuah rumah sakit swasta. Ternyata pemuda ini terkena pneumonia. Lebih parah lagi dia terjangkit HIV positif. Rumah sakit swasta mengirimnya ke rumah sakit umum. Adikku melaporkan kepada sang tokoh bahwa pemuda itu terkena AIDS. Mendengar itu tokoh itu memberikan banyak aturan dan penjelasan yang intinya bahwa gereja kekurangan dana. Artinya dia tidak mau terlibat dalam pengobatan pemuda ini. Adikku lalu mengumpulkan teman-temannya untuk urunan. Sedikit uang yang ada dijadikan modal untuk membayar biaya perawatan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena biaya rumah sakit cukup banyak sedang bantuan tidak ada, maka adikku bertanya apakah aku mau membantunya? Siapa lagi yang akan membantunya kalau bukan aku? Katanya berusaha memelas agar aku mau membantunya. Mendengar semuanya aku menjadi tersenyum. Aku katakan inilah hidup yang sering kali tidak berjalan sesuai dengan ajaran Injil. Injil memang enak untuk dikotbahkan tapi berat untuk dilaksanakan. Kebetulan bacaan Injil minggu itu diambil dari perikop tentang orang Samaria yang baik hati. Aku bayangkan bagaimana tokoh itu akan merenungkan Injil? Beranikah dia mengajarkan cinta kasih dan kepedulian pada sesama yang menderita seperti orang Samaria yang rela menolong tanpa mempedulikan siapa orang yang ditolongnya? Mungkin dia mempersiapkan sebuah renungan bagus yang akan mendapatkan decak kagum banyak orang yang mendengar, namun apakah dia tidak malu dengan diri sendiri? Aku tersenyum geli membayangkan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu adalah anak sebatang kara. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ayahnya tidak jelas siapa. Dia hidup dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Akhirnya menjadi anak jalanan yang hidup dari mengamen di perempatan jalan. Kemana dia harus minta tolong pada saat genting hidupnya? Siapa yang harus bertanggungjawab terhadap dirinya? Aku mengatakan pada adikku mengapa dia ribut padahal baru merawat satu sedangkan aku sudah sekian tahun dengan sejumlah anak jalanan. Namun adikku berkilah bahwa anak jalanan yang ada bersamaku tidak satu pun yang AIDS. Aku bersyukur selama mengadakan pertemanan dengan anak jalanan tidak pernah menemui mereka yang terinfeksi HIV meski kehidupan mereka sangat memungkinan terjangkit HIV. Akhirnya aku menyarankan pada adikku untuk mencari orang Samaria lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini memang sangat dibutuhkan orang Samaria yang baik hati. Dalam kisah tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37), Yesus menceritakan bahwa pada saat itu ada imam dan orang Lewi yang melihat orang yang dirampok namun mereka melaluinya lewat seberang jalan. Imam dan orang Lewi adalah petugas di Bait Allah. Mungkin mereka menduga bahwa orang yang tergeletak di tepi jalan itu sudah mati. Bila mereka menyentuh orang mati, maka akan najis selama 7 hari (Bil 19:11-13). Mereka tidak mau mengambil resiko yang menyebabkannya najis sehingga tidak dapat masuk dalam bait Allah. Orang Samaria tidak terikat oleh aturan najis dan haram orang Israel, maka dia berani menyentuh dan merawat orang yang sudah sekarat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang enggan menolong orang lain sebab takut dengan resiko yang terkait dengan tindakannya. Bila orang menolong maka dia akan kehilangan entah harta, tenaga, waktu dan sebagainya. Banyak orang enggan kehilangan apa yang dimilikinya maka mereka tidak peduli pada orang yang menderita. Ada pula orang menjadi enggan menolong sesama sebab perbuatannya dipandang tidak baik oleh orang lain. Orang membantu sesamanya dikatakan ingin menjadikan orang lain beriman sama, dikatakan sok suci dan sebagainya. Belum lagi bila yang ditolong tidak berterima kasih bahkan sebaliknya menjadi pengkhianat. Orang ingin hidup aman. Tidak mau ambil resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Samaria adalah orang yang berani mengambil resiko. Dia sedang dalam perjalanan ke luar kota. Mungkin dia sedang dalam perjalanan bisnis. Namun dia berani meninggalkan segala kepentingan dirinya demi orang lain. Segala perhatiannya hanya terarah pada keselamatan orang yang sedang menderita. Maka dia berani merawat, menaikkan ke keledainya, membawanya ke rumah penginapan, memberi ongkos pada pemilik rumah penginapan dan berjanji akan melunasi bila uang yang dititipkanya ternyata kurang ketika dia kembali. Orang Samaria berani mengurbankan waktunya, uangnya, bahkan mungkin keselamatannya sebab ada kemungkinan para perampok itu akan datang lagi dan merampoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman ini sangat dibutuhkan orang yang berani mengurbankan segalanya demi orang lain. Pengurbanan yang terbesar adalah pemberian dirinya. Orang Samaria itu merawat orang yang menderita. Dia terlibat dalam penderitaan orang. Dia berempati. Banyak orang hanya memiliki simpati. Seorang presiden meneteskan air mata ketika mendengar kisah sedih para kurban lumpur. Dia berjanji akan datang ke tempat kurban. Ternyata ketika datang dia hanya melihat dari atas helikopter yang berkeliling di daerah kurban dan menyatakan aneka janji. Padahal dia tahu masalah ada dalam keputusan yang dibuatnya dan memiliki kekuatan hukum. Presiden itu hanya bersimpati tapi tidak memiliki empati. Orang yang berempati pada sesamanya yang menderita bukan hanya melihat dari jauh atau berkotbah mengenai kasih. Namun dia harus terlibat. Merawat orang yang menderita, menyentuh dan disentuh serta mengusahakan keselamatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus datang ke dunia untuk mengajarkan empati Allah akan penderitaan manusia. Dia tidak menangis dari surga sambil mendengarkan atau melihat penderitaan manusia. Dia datang dan terlibat dalam penderitaan manusia bahkan Dia memberikan diriNya untuk keselamatan manusia. Rasa inilah yang saat ini sudah menipis. Orang sudah merasa puas bila mampu berkotbah tentang kasih, memberikan harapan pada orang yang menderita dan menampakkan wajah sedih bila melihat orang menderita. Maka saat ini sangat dibutuhkan orang Samaria yang baik hati. Orang yang berani menanggung resiko demi keselamatan orang lain. Orang yang menomor duakan kepentinganya sendiri demi nyawa seseorang. Orang yang berani dengan tangannya sendiri menyentuh dan merawat orang yang sangat menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda yang terinfeksi HIV saat ini sudah keluar dari RSU, maka adikku bertanya dia harus tinggal dimana? Tidak ada satu tempatpun yang bersedia menampungnya. Aku katakan sebaiknya dikontrakkan rumah saja. Sekali lagi adikku menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kami saling tersenyum. Aku katakan bukankah mendiang ibu kita sudah mengajarkan untuk berani memberi meski hanya memiliki sedikit bahkan sampai kita sendiri menjadi kekurangan? Aku sarankan agar dia berserah pada Tuhan. Pemuda itu adalah utusan Tuhan bahkan mungkin Tuhan sendiri yang datang padanya untuk meminta apa yang sudah diberikanNya selama ini. Kita sering bersyukur atas segala anugerah Tuhan. Dengan demikian semua yang kita miliki adalah milik Tuhan yang dititipankan pada kita. Sekarang Tuhan datang dan meminta mengapa kita tidak memberikannya? Ada saatnya Tuhan memberi namun ada saatnya Tuhan meminta kembali. Dia datang kepada kita tanpa kita duga dan dalam wujud orang yang miskin dan menderita. Inilah saat Tuhan datang, maka inilah anugerah besar yang kita terima. Adikku bertanya sekali lagi apakah aku mau menerima sebagian anugerah Tuhan? Aku hanya tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/06/orang-samaria-yang-baik-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-5265626960712189735</guid><pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-16T13:35:22.865+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>DOA</title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Aku baru saja mengcopy beberapa lagu dari keping MP3 ke dalam komputer. MP3 ini baru kubeli di trotoar pertokoan Siola. Kupikir lebih baik membeli MP3 yang berisi puluhan lagu dari pada membeli kaset yang harganya dua kali dari MP3 dan lagunya hanya beberapa saja.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;  Ketika sedang asyik memilih lagu dari deretan lagu yang tertera di keping MP3 yang hendak kucopy tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat khas milik temanku. Keras dan ribut sekali. Dalam waktu sekejap dia sudah berdiri di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak dia melihat-lihat cover MP3. Dia ingin meminjam MP3 yang baru kubeli, sebab ada lagu yang disukainya juga. Memang selera lagu kami boleh dikatakan sama. Dia lalu memilih beberapa lagu dan memintaku untuk mencobanya di Winamp. Sambil mendengarkan musik kami mulai bercerita aneka pengalaman kami selama ini. Kami sudah lama tidak bertemu. Sejak dia mendapat pekerjaan yang mapan, maka dia jarang sekali main ke kamarku. Sebelumnya dia sering main ke kamarku entah hanya sekedar untuk mengobrol sambil mendengarkan tape, main komputer atau membaca buku. Obrolan kami pun meloncat dari satu topik ke topik lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dia mengeluh bahwa sekarang malas berdoa, sebab jenuh. Dia menceritakan bahwa dia sudah mencoba berdoa dari buku-buku doa dan doa rasorio, tapi dia merasa doa-doanya kosong. Hanya sekedar mengucapkan saja. Bahkan tidak jarang doa rosario tidak selesai, sebab ketiduran atau dia sengaja menghentikan di tengah jalan sebab pikirannya sudah tidak lagi dalam doa itu. Dia tanya bagaimana mengatasi rasa jenuh berdoa. Pertanyaan ini membuat kami masuk dalam diskusi mengenai doa. Dia bertanya bagaimana agar dapat berdoa secara khusuk? Aku sendiri tidak tahu bagaimana doa yang khusuk itu. Apakah berdoa sampai pingsan? Apakah bisa menyelesaikan rosario dengan kesadaran penuh telah berdoa Salam Maria, Kemuliaan dan Bapa Kami? Apakah sampai terasa melayang-layang? Ataukah bisa memahami setiap kata yang diucapkanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus berdiskusi untuk menemukan doa yang baik itu bagaimana. Dalam buku-buku tentang doa memang banyak teori doa. Kutunjukan pada temanku beberapa buku doa yang kumiliki. Tapi temanku masih ingin mengetahui pendapatku dari pada membaca, sebab dia sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk membaca buku rohani. Dia mengandaikan aku sudah membaca buku-buku yang ditawarkan padanya. Kukatakan bahwa doa itu bicara pada Tuhan. Dia langsung menjawab bahwa jawabanku itu klasik dan sudah dimengertinya. Dia ingin tahu bicara dengan Tuhan itu yang bagaimana? Persoalannya dia tidak bisa konsentrasi doa. Ketika dia berusaha untuk hening maka dalam sesaat saja pikirannya sudah melayang kemana-mana, sehingga tidak tahu lagi apa yang dikatakan. Dalam misa pun dia sering kali hanya duduk dan tanpa sadar misa sudah selesai. Dia merasa tidak mendapatkan apa-apa ketika misa dan berdoa pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja, sebab memang tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Kamarku menjadi hening. Temanku membaca daftar lagu yang ada di cover MP3, lalu dia menujuk sebuah lagu, apakah lagu ini sudah kucopy, sebab lagu itu bagus sekali. Aku katakan sudah. Lho kan sudah kita dengarkan bersama? Jawabku. Temanku heran, maka dia melihat lagi daftar lagu yang ada di winamp. Memang lagu itu sudah terlewati. Lho aku kok nggak mendengarnya ya? Tanyanya dengan penuh keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jawaban Tuhan pada kami. Aku katakan bahwa dia tidak mendengarkan lagu itu berkumandang sebab terlalu asyik berbantahan denganku soal doa. Mungkin inilah persoalan doa, yaitu tidak adanya topik menarik yang hendak dibicarakan dengan Tuhan. Akibatnya orang berdoa hanya untuk memenuhi kewajiban sebagai orang beriman, atau membaca rumusan-rumusan doa yang dibuat oleh orang suci, tetapi tidak mengungkapkan persoalan diri sendiri. Apa yang diungkapkan dalam doa bukan kebahagiaan dan kepedihan diri melainkan puji-pujian dan segala kata-kata indah, dogmatis, biblis dan sebagainya yang tidak bersentuhan dengan hidup pribadinya. Akibatnya orang mengalami kejenuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika doa adalah percakapan manusia dengan Tuhan, seharusnya sungguh-sungguh sebagai suatu percakapan. Ungkapan hatiku, secara pribadi pada Tuhan sebagai Bapa yang penuh belas kasih. Persoalannya memang tidak semua orang mempunyai hubungan yang baik dengan bapaknya, sehingga sulit membayangkan bagaimana caranya bisa bercakap-cakap yang menyenangkan dengan bapaknya. Kupikir mengapa tidak mengganti Tuhan sebagai Bapa menjadi Tuhan sebagai Ibu? Jika dengan ibu pun susah berkomunikasi, sehingga sulit membayangkan bagaimana sharing dengan ibu, mengapa tidak mengubah Tuhan menjadi Sahabat? Temanku mengatakan pendapatku ini konyol, sebab bagaimana mau berdoa “Ibu kami yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu...” Tapi aku masih bertahan buat apa aku mempertahankan sebutan Tuhan sebagai Bapa kalau aku mempunyai pengalaman traumatik pada bapaku? Kalau aku tidak mempunyai gambaran bapa yang baik dan enak diajak ngobrol? Bukankah percakapanku dengan Tuhan harus pribadi, sehingga aku bisa senang berbicara padaNya? Aku bisa sharing tentang kehidupanku padaNya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku masih belum bisa menerima ide gilaku ini. Pembicaraan kami terus berputar-putar sampai akhirnya dia menyatakan mau pulang. Sambil menikmati suara lagu, aku berusaha merenungkan kembali percakapan dengan temanku tentang bagaimana berdoa yang baik itu. Bagiku berdoa akan menyenangkan kalau aku sharing tentang kehidupanku pada Tuhan. Yesus sudah mendobrak pemahaman orang Yahudi tentang Tuhan, yang dianggap sangat besar, sehingga untuk menyebut namaNya saja orang merasa tidak pantas. Yesus menyebut Tuhan bukan lagi Yahweh tetapi Bapa, sehingga jarak antara manusia dan Tuhan tidak terlalu jauh lagi. Yesus ingin membuat manusia mempunyai hubungan pribadi dengan Bapanya. Diapun dengan para rasul sudah memposisikan diri sebagai sahabat. Para rasul bukan lagi hamba tapi sahabat. Hubunganku dengan Yesus bukan lagi antara hamba dengan tuan, melainkan antar sahabat. Aku bisa sharing sesukaku seperti aku sharing dengan sahabatku yaitu orang yang dapat memahami kegelisahan hatiku. Orang yang dapat ikut bersyukur kalau aku berhasil. Orang yang dapat memberiku semangat kala aku jatuh. Orang yang siap mendengarkan segala kepedihan hatiku. Orang yang tidak jijik sebab aku telah berbuat banyak dosa. Orang yang cepat menolongku ketika kuberitahu kesulitanku. Orang yang mampu diam dan tenang saat aku mengungkapkan seluruh kegalauan hati. Orang yang mampu menerima diriku apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang susah memandang Yesus sebagai sahabat, sebab aku masih sering memposisikan diri sebagai hamba, sehingga aku tidak berani berbicara sembarangan padaNya. Aku harus menjaga sopan satun. Berbicara padanya harus formil dan dengan kata-kata yang indah. Lebih hebat lagi kalau bisa mengutip sebagian ayat-ayat dari Kitab Suci dan berbicara panjang lebar untuk membuatnya bahagia. Tapi semua kadang kosong. Apakah aku harus banyak aturan jika berhadapan dengan sahabatku? Bukankah aku bisa terbuka untuk menceritakan apa saja padanya? Lebih parah lagi aku memposisikan diri seperti pengemis. Aku hanya merengek meminta belas kasihan pada Tuhan. Aku hanya datang padaNya kalau aku sedang kalut. Aku membuat Tuhan tidak lebih dari keranjang sampah yang menampung segala persoalan hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku bisa memposisikan Tuhan sebagai sahabat atau orang yang sangat dekat entah itu bapa atau ibu atau adik atau kakak, mungkin aku bisa memulai doa dengan cara yang baru. Doa bukan lagi suatu kewajiban melainkan kebutuhanku untuk sharing pada orang yang paling dekat denganku. Doa bukan lagi rangkaian kata-kata indah, biblis, dogmatis, melainkan suatu ungkapan perasaanku yang sedang aku alami saat ini. Suatu pengalaman hidup yang ingin aku bagikan pada sahabatku. Pada orang yang sangat dekat padaku. Jika aku bisa berdoa seperti ini, maka doa tidak lagi membosankan. Aku tidak lagi bingung mau mengatakan apa pada sahabatku itu. Aku tidak lagi dibingungkan tidak bisa konsentrasi dalam doa. Sama seperti akibat keasyikanku sharing dengan temanku, maka lagu-lagu yang berkumandang dari komputer berlalu begitu saja tanpa aku sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pertanyaan temanku tadi adalah dia bisa saja berdebat denganku sebab aku bisa menyatakan argumen-argumenku. Aku berkata-kata padanya. Tapi bagaimana dengan Tuhan? Dia bicara panjang lebar dalam doa tapi Tuhan diam saja, sehingga dia seolah-olah berbicara sendiri. Ini membosankan. Aku pikir mengapa dia mempersoalkan bahwa Tuhan tidak menjawab apa yang dikatakannya? Bukankah ada Kitab Suci yang diyakini sebagai sabda Tuhan. Bukankan Tuhan juga sudah mengatakan bahwa tubuhku adalah baitNya, tempat dimana Dia bersemayam. Dengan demikian Dia bisa saja bersabda melalui hati manusia. Bukankah Yesus juga mengatakan ada tanda-tanda jaman, dimana Tuhan berbicara pada manusia melalui peristiwa-peristiwa jaman? Mengapa orang masih bingun mencari sabda Tuhan? Mungkin kejenuhan doa juga disebabkan oleh tidak adanya waktu manusia untuk mendengarkan Tuhan, sehingga seolah-olah manusia berbicara sendiri. Atau orang malas untuk merenungkan sesuatu sebagai sabda Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat sudah beberapa lagu terlalui, tapi aku tidak bisa menikmatinya bahkan tidak mendengarnya sebab aku sibuk menulis di komputer. Seandainya aku susah berbicara dengan Tuhan dengan kata-kata mengapa aku tidak menuliskan semua doaku? Aku tenggelam dalam tulisanku sehingga aku tidak sadar akan banyak hal. Jika ini adalah suatu doa bukankah aku sudah berdoa dengan baik? Sayang aku masih sering menjadi hamba dan pengemis dihadapan Tuhan. Aku masih malas mendengarkan sabda Tuhan, sehingga menganggap bahwa Tuhan tidak dapat kuajak untuk sharing. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/06/doa.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-6085846822022538508</guid><pubDate>Mon, 09 Jun 2008 11:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-09T19:03:38.393+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertemuan</category><title>BESUKI</title><description>Akhir-akhir ini di media massa dikabarkan bahwa Lapindo akan membayar sisa pembayara sebanyak 80%. Banyak orang merasa bahwa persoalan lumpur panas yang disebabkan oleh pengeboran minyak Lapindo Inc sudah selesai. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Banyak orang merasa persoalan Porong sudah ditangani oleh pemerintah dengan baik, sehingga banyak orang tidak peduli lagi dengan persoalan Porong. Bahkan ada banyak orang menolak untuk membantu pengungsi kurban lumpur panas dengan alasan sudah ditangani oleh pemerintah dan Lapindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah sebetulnya letak kesalahan pandangan banyak orang. Pada jaman ini media massa memang sangat kuat pengaruhnya pada masyarakat, maka orang yang menguasai media akan menguasai dunia. Dia dapat mempengaruhi dan mengubah pandangan orang mengenai aneka hal. Pemberitaan Lapindo yang sering kali tidak jujur oleh media sangat mempengaruhi masyarakat, sehingga berita mengenai pembayaran 80% seolah sudah menyelesaikan masalah. Kelemahan lain masyarakat masih banyak yang kurang kritis, sehingga mereka menelan begitu saja aneka pemberitaan. Diberitakan di koran bahwa sudah dimulai pembayaran, maka masyarakat merasa persoalan sudah selesai. Padahal jelas dikatakan “dimulai”, sebuah kata yang sangat kabur. Sejak dulu Lapindo selalu menggunakan kata “memulai atau dimulai” tanpa mengatakan “mengakhir atau diakhiri”. Ketika mengadakan pembayaran 20% juga menggunakan kata “dimulai” persoalannya kapan diakhiri? Sampai sekarang masih ada ratusan keluarga yang belum mendapat ganti 20%. Tapi orang tidak peduli lagi, sebab sudah dijebak dengan kata “dimulai”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kasus yang sangat memprihatinkan adalah pengungsi di daerah Besuki. Desa Besuki terbelah oleh jalan tol yang sekarang sudah tidak berfungsi. Oleh pemerintah melalui kepres 14/2007 daerah ini tidak termasuk daerah kurban, sebab yang dianggap daerah kurban lumpur hanyalah desa Siring, Renokenongo, Jatirejo dan Kedung bendo. Akibatnya daerah yang tidak termasuk dalam peta terdampak tidak mendapat perhatian oleh pemerintah dan Lapindo. Keppres 14 ini sudah ditolak oleh banyak pihak dan warga Porong yang merasa dirugikan. Mereka menuntut sampai MA tapi segala usaha itu seperti bertemu dengan tembok yang keras, tuli dan tidak berhati nurani. Salah satu alasan yang dilontarkan oleh orang MA adalah bahwa pihak Lapindo sudah bertanggungjawab dengan memberikan uang ganti rugi. Padahal bila membaca teks keppres 14 dan realisasi yang terjadi banyak yang berbeda. Misalnya dalam keppres 14 art 10 dikatakan bahwa pembayaran 80% dilakukan sebulan sebelum uang kontrak atau masa dua tahun selesai. Padahal dalam perjanjian dengan notaris Lapindo ditulis bahwa pembayaran 80% dilakukan setelah selesainya uang kontrak. Jadi keppres 14 sudah dilanggar oleh Lapindo sendiri dan pemerintah tidak peduli. Seharusnya orang yang bertanggungjawab terhadap keppres itu mengubah isi keppres atau memberi sanksi kepada pihak yang melanggar. Belum lagi pasal-pasal lain yang tidak pernah ada realisasinya oleh pihak Lapindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat keppres yang jelas sangat merugikan kurban lumpur ini juga berdampak pada desa Besuki. Oleh karena desa Besuki tidak termasuk desa terdampak, maka desa ini tidak diperhatikan dan mendapatkan ganti rugi. Pada bulan Agustus 2007 ada tanggul yang jebol sehingga air dan lumpur panas meluber ke desa Besuki sebelah barat dan menenggelamkan 3 RT dengan jumlah penduduk lebih dari 200 keluaga. Pemerintah dan Lapindo belum peduli sebab hanya dianggap banjir biasa. Tapi air panas itu sudah merusak perabot rumah tangga. Tidak ada ganti rugi sama sekali dari pemerintah dan Lapindo. Bulan September 2007 sekali lagi tanggul jebol sehingga air dan lumpur panas sekali lagi menenggelamkan desa Besuki sebelah barat. Penduduk mengungsi dan kembali lagi. Akhirnya pada 10 Februari 2008 tanggul jebol lagi, sehingga air dan lumpur menenggelamkan sawah dan rumah penduduk sampai ketinggian 1 m lebih. Penduduk mengungsi ke bekas jalan tol. Rumah mereka hancur oleh lumpur dan sawah mereka seluas 33,2 ha telah menjadi lautan lumpur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menuntut agar pihak lapindo dan pemerintah memberikan ganti rugi, tapi terbentur oleh keppres 14 maka mereka tidak mendapatkan ganti rugi. Pihak Lapindo berjanji akan memberikan ganti rugi gagal panen untuk jangka waktu 2 tahun. Pihak kurban desa Besuki menuntut 1,2 milyard rupiah, tapi pihak Lapindo menawar menjadi sekitar Rp 772 juta. Pihak Lapindo menggunakan istilah santunan. Bila orang membaca istilah ini maka orang dapat menangkap itu adalah kemurahan hati pihak Lapindo, tapi sebetulnya disini letak perancuan bahasa. Seharusnya Lapindo bertanggungjawab atas gagal panen yang dialami oleh penduduk Besuki, sebab sawah mereka tertimbun lumpur yang dikeluarkan oleh semburan lumpur. Dengan demikian kata “santunan” tidak tepat dan dapat membangun persepsi yang salah. Seharusnya dipakai kata ganti rugi. Uang itu bukan belas kasih Lapindo tapi tanggungjawab Lapindo dan pemerintah.  Hal yang lebih memprihatinkan adalah sampai saat ini uang itu belum dibayarkan. Dengan demikian Lapindo telah membuat sekian puluh petani kehilangan mata pencahariannya dan melalaikan tanggungjawabnya sebagai penyebab semua itu. Usaha untuk menuntut lewat pemerintah ternyata gagal, sebab mereka bertahan pada keppres 14 yang sangat merugikan masyarakat. Bagaimana mungkin sebuah keppres yang merugikan dapat dipertahankan? Inilah kebijakan pemerintah dan penguasa yang tidak adil dan hanya berpihak pada pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini warga Besuki kehilangan rumah, perabot dan matapencaharian. Mereka terpaksa tidur di gubuk-gubuk darurat berukuran 3X3 m atau di tenda bantuan depsos di tepi bekas jalan tol. Sebagian jalan tol masih digunakan oleh pihak Lapindo unuk lalu lalang truk-truk besar mengangkut tanah dan peralatan membuat tanggul serta mobil lainnya. Debu berterbangan dimana-mana. Bila siang hari akan terasa sangat panas sekali. Seorang penduduk mengatakan bahwa selama ini tidak ada bantuan dari pihak lain. Pemerintah melalui depsos memang terkadang membantu tapi tidak bisa dijadwalkan kapan mereka akan memberikan bantuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penduduk mengeluh bahwa seharusnya pemerintah dan Lapindo bertanggungjawab atas semua ini. Mereka telah kehilangan apa yang mereka miliki selama ini bahkan masa depannya. Mereka sudah merasa mengalah sebab tidak menuntut segala barang dan perabot rumah tangga yang hancur oleh lumpur, tapi mereka menuntut pemulihan mata pencaharian mereka. Air dan lumpur Lapindo sangat ganas. Setiap perabot bahkan sepeda motor yang terendam akan langsung rusak. Dia menceritakan bahwa banjir itu datang sangat cepat dan deras sekali. Air bercampur lumpur panas menerjang rumah dan menghanyutkan aneka perabot yang masih tertinggal. Kini rumah mereka terendam lumpur yang sudah mengering. Mereka iklas bila Lapindo tidak membayar kerugian perabot, tapi mereka harus membayar ganti rugi sawah dan biaya kehidupan mereka. Betapa memprihatinkan negara ini, dimana rakyat miskin mengiklaskan seluruh miliknya sebuah perusahaan besar. Betapa tidak malunya penguasa dan pemilik Lapindo ketika merusakkan barang milik orang lain dan orang itu tidak menuntut, padahal pemilik Lapindo adalah orang terkaya. Inilah pengorbanan rakyat miskin untuk Lapindo. Bagaimana mungkin rakyat miskin harus berkorban untuk orang terkaya? Dimana hati nurani di negara ini? Apakah pemilik Lapindo tidak pernah terbersit rasa malu bahwa dia sudah tidak bertanggungjawab pada sekian ratus rakyat miskin padahal dia orang yang sangat kaya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat nasib rakyat di Besuki barat sangat memprihatinkan. Pemerintah, penguasa dan pemilik Lapindo tidak mempedulikan mereka. Pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom rakyat tampaknya membiarkan pihak Lapindo bertindak sewenang-wenang bahkan dengan keppres 14 pemerintah membela Lapindo yang jelas sangat merugikan masyarakat. Pemerintah telah mengkhianati rakyat dan hanya mencari amannya dengan membiarkan pihak Lapindo bertindak tidak adil. Ataukah memang penguasa adalah robot yang tidak mempunyai mata dan telinga apalagi hati, sehingga membela orang yang bersalah dan menulikan diri terhadap jeritan rakyat?.&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/06/besuki.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-3886490013165221115</guid><pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-10T08:22:25.964+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gereja</category><title>PEMIMPIN DALAM GEREJA PERDANA</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu”, (Kis 6:3). &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Dalam perkembangannya Gereja para rasul atau biasanya disebut Gereja perdana membutuhkan awam untuk membantu para rasul dalam pelayanan umat. Hal ini disebabkan semakin banyaknya pekerjaan yang harus ditangani oleh para rasul. Mereka kini tidak hanya mengajar dan melayani orang yang datang padanya, melainkan juga berusaha mengembangkan jumlah komunitasnya. Para petugas yang akan membantu para rasul dipilih oleh umat dan akan disahkan oleh para rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Gereja perdana mulai ada pemisahan pelayanan. Ada bagian yang dilakukan oleh umat dan ada yang dilakukan oleh pengganti para rasul. Setiap pemilihan melibatkan umat namun dengan syarat yang berbeda. Syarat pemilihan Matias sebagai pengganti Yudas berbeda dengan syarat 7 diakon sebagai pembantu pelayanan. Namun semua melibatkan umat. Dengan demikian Gereja perdana sudah meletakkan dasar demokrasi dalam pemilihan pengurus dengan syarat yang ditetapkan oleh para rasul dan umat diminta untuk mimilih secara benar dan bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para rasul memberikan syarat bagi diakon yang hendak dipilih yaitu orang yang itu harus terkenal baik, penuh Roh dan hikmat. Dengan demikian umat diminta untuk bertanggungjawab terhadap pilihannya. Mereka tidak dapat memilih orang asal memilih atau berdasarkan suka atau tidak suka pada seseorang. Mereka harus memberikan penilaian tentang orang ini. Hal ini agar tidak menjadi batu sandungan dikemudian hari. Paulus lebih merinci tentang syarat itu. “Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.&lt;br /&gt;Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. (1Tim 3:8-12). Syarat ini hampir sama dengan syarat untuk penilik jemaat (bdk 1 Tim 3:2-7).&lt;br /&gt;Dalam pemilihan selain mengandalkan suara umat juga membutuhkan peran Roh. Sebetulnya Rohlah yang memilih melalui umat. Gereja memang mirip sebuah organisasi namun ada perbedaan yang mendasar. Organisasi lebih mementingkan keuntungan bagi diri sendiri dan tujuannya mengenai hal duniawi sedangkan Gereja bertujuan hal ilahi dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Yesus sejak awal sudah menekankan bahwa seorang pemimpin adalah hamba yaitu orang yang mau dengan suka cita melayani tuannya yaitu sesamanya. Memang para murid Yesus pun saling berebut ingin menjadi yang terbesar bahkan Yohanes dan Yakobus tanpa malu-malu menyatakan hal itu baik melalui dirinya sendiri maupun melalui ibunya. &quot;Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” (Mrk 10:35). Para murid yang lain mendengar itu mereka menjadi marah, sebab mereka juga ingin mendapatkan kedudukan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengingatkan bahwa kebesaran seseorang bukan karena kedudukan yang tinggi tapi keberanian dia untuk melayani. Kedudukan yang tinggi dalam Gereja sudah ditentukan oleh Allah bukan oleh keinginan manusia. Inilah yang membedakan antara kepemimpinan dalam Gereja dan dalam dunia. Jika dalam organisasi duniawi semakin tinggi kedudukan semakin besar kuasanya dan semakin besar kuasanya. Yesus menentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja adalah kumpulan manusia yang mendunia, sehingga persoalan kepemimpinan juga masih tercampur aduk dengan pola pemikiran duniawi. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam tubuh Gereja banyak orang yang berambisi mengejar kedudukan baik secara terbuka seperti Yohanes bersaudara maupun secara tersembunyi, maka tidak jarang terjadi perebutan kekuasaan. Memang bila dilihat bahwa menjadi pelayan Gereja seseorang tidak akan mendapatkan upah materi, namun salah satu ciri jaman ini adalah pencitraan diri yang semakin kuat dimana orang mengejar citra diri. Orang membeli baju di butik agar dilihat sebagai orang yang hebat. Demikian pula menjadi jabatan adalah sarana untuk menaikkan citra diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ada baiknya kita belajar dari Gereja perdana dimana orang dipilih dengan kuasa Roh yang bekerja melalui umat dan tujuan menjadi pemimpin adalah melayani umat.&lt;em&gt;&lt;a href=&quot;http://coretangani1.blogspot.com/2008/04/pemimpin-dalam-gereja-perdana.html&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/pemimpin-dalam-gereja-perdana.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-7536999092434215350</guid><pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-10T08:26:20.311+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gereja</category><title>KITA ADALAH CERMINAN YESUS</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.&quot; (Luk 10:16) &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Yesus menyatu dengan Bapa. Dia ada dalam Bapa dan Bapa ada dalam Dia. Dia pun menyatu dengan muridNya secara nyata. Persatuan ini utuh, sehingga apa yang dikatakan dan dilakukan oleh para muridNya menunjukkan apa yang dikatakan dan dilakukan olehNya sendiri. Yesus ada dalam diriku, sehingga bila orang melihatku maka dia akan melihat Yesus yang hidup dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah aku tinggal di negara asing. Teman-teman di negara itu beberapa kali mendapat kiriman post-card dari Indonesia dengan gambar suku Asmat yang memakai koteka, sawah, laut, hutan dan sebagainya. Gambar dari post-card itu membangun gambaran teman-teman disana mengenai Indonesia. Mereka menduga Indonesia masih begitu terbelakang. Akibatnya sering kali mereka bertanya padaku apakah di Indonesia ada ini atau itu seperti yang ada di negaranya. Dalam situasi semacam ini aku harus mampu menunjukkan bahwa Indonesia tidak seburuk yang mereka bayangkan. Aku berusaha membangun gambaran tentang Indonesia dari diriku sendiri, sebab teman-teman disana mungkin tidak akan pernah melihat Indonesia secara langsung. Bila teman-teman ingin melihat Indonesia maka cukup dengan melihatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula kita sebagai pengikut Kristus. Dengan baptis maka kita telah bersatu dengan Kristus. Kita bukan manusia biasa lagi, sebab di dalam diri kita ada Yesus bahkan ada Allah. “Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.” (1Yoh 4:15). Kita adalah manusia berdosa dan mudah sekali menyimpang dan mengingkari Allah, tapi melalui baptisan Allah telah mengangkat kita menjadi anakNya dan Dia tinggal dalam diri kita. Ini sebuah anugerah yang maha hebat. Tidak ada satu pun agama yang mempunyai konsep seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun konsep ini juga membawa konsekwensi bagi diri kita. Perkataan, sikap, dan pemikiran kita harus sesuai atau mendekati perkataan, sikap dan pemikiran Allah. hal ini tidak mudah, sebab kita adalah manusia lemah yang mempunyai aneka keterbatasan, sedangkan Allah adalah sempurna. Namun bukan berarti bila kita lemah, maka kita dapat memaafkan diri untuk tidak melakukannya atau kita terlalu permisif, menjadikan kelemahan kita untuk bersembunyi dari apa yang seharusnya kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia membutuhkan kesaksian akan hadirnya Allah. Banyaknya penderitaan membuat orang apatis atau pesimis dengan Allah. Bahkan ada orang yang bertanya bila Allah ada mengapa ada banyak penderitaan. Banyak ornag tidak peduli pada sesamanya. Di satu sisi ada orang membelanjakan ratusan ribu untuk sebuah kosmetik sedangkan disisi lain ada jutaan bayi kekurangan gizi. Setiap saat kita juga disuguhi berita tentang kekerasan dalam aneka bentuk. Kekerasan bukan hanya di luar rumah tapi juga sudah melanda di dalam rumah. Dunia krisis kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi seperti ini kita dituntut untuk menjadi saksi kehadiran Allah. kita tidak mungkin memaksa Yesus untuk datang kembali dan menyelesaikan semua masalah ini. Tidak cukup kita memohon pada Allah agar memperbaiki&lt;br /&gt;Situasi yang carut marut ini. Allah telah memilih kita dan mengutus kita untuk menjadi saksiNya di dunia. “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.(Kis 22:14-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar mampu menampakkan Allah, maka kita hendaknya mendekatkan diri padaNya. Hanya dengan cinta yang besar kita akan sanggup mengikuti jejak Allah. Cinta terwujud dalam kesukaan membaca firman Allah untuk melihat apa yang dikerjakan oleh Yesus dan memahamiNya. Tapi sayang masih banyak orang enggan membaca Kitab Suci dengan berbagai alasan. Selain itu juga berdoa dan meditasi. Doa adalah saat kita berusaha berbicara dan mendengarkan Allah, namun sering kali dalam doa kita hanya berbicara sehingga lupa mendengar Allah yang ada dalam hati kita. Meditasi adalah saat kita berusaha hening untuk melihat seluruh hidup kita dalam terang Allah. Namun banyak orang merasa tidak punya waktu, sebab seluruh waktu sudah habis untuk beraktifitas. Bila kita tidak melakukan semua itu, maka akan sulit bagi kita untuk menjadi cermin Allah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/kita-adalah-cerminan-yesus.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-8832774806061384353</guid><pubDate>Tue, 29 Apr 2008 15:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-10T08:28:29.553+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gereja</category><title>PERBUATAN BAIK DEMI MEMULIAKAN ALLAH</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat 5:16) &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Yesus selama hidupnya senantiasa berbuat baik kepada setiap orang yang membutuhkan. Maka Dia pun menghendaki agar para muridNya melakukan hal yang sama. Perbuatan baik harus dinyatakan agar dilihat oleh banyak orang dan mereka akan memuji Bapa yang di surga. Jadi tujuan perbuatan baik adalah agar manusia memuji Bapa yang disurga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Yesus ini sangat berat. Orang cenderung ingin menonjolkan diri. Orang ingin dihargai dan diperhitungkan. Perbuatan baik juga menjadi sarana untuk menonjolkan diri atau minimal diperhitungkan. Akibatnya dia tidak mewartakan Allah melainkan dirinya sendiri. Hal ini tampak banyaknya orang putus asa atau menjadi jenuh untuk melakukan kebaikan sebab apa yang dia lakukan terasa tidak ada hasilnya. Orang yang dibantu tetap saja tidak berubah dan orang lain pun dianggap kurang menghargai apa yang sudah dikerjakan, sehingga dia merasa apa yang telah dilakukan hanyalah sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi akan hal ini Yesus bersabda, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Mat 6:3). Orang tidak perlu menunjukkan apa yang sudah dilakukannya sebab Allah sudah melihat. Allah bukan melihat apa yang nampak tapi apa yang ada dalam hati manusia. Allah menilai apa yang tersirat dalam hati orang. Ketika Yesus melihat orang Farisi dan seorang pendosa berdoa, Dia bersabda bahwa Allah mendengarkan doa orang berdosa, sebab dia berdoa didasari oleh hati yang tulus. Tidak mencari pujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia saat ini dimana prestasi sangat diagungkan sehingga manusia dihargai bukan karena dia adalah manusia tapi karena dia berprestasi maka ada bahaya besar dimana orang berbuat baik agar dihargai. Orang saling menonjolkan apa yang sudah dilakukan dan kehebatan-kehebatannya. Saat terjadi reformasi di negara kita, tiba-tiba muncul orang yang menyatakan diri sebagai tokoh reformasi, padahal sebelum ada gerakan mahasiswa dia tidak pernah menunjukkan dirinya sebagai oposisi pemerintah. Dia muncul begitu saja dan berusaha berbuat baik agar diperhitungkan oleh rakyat. Banyak contoh yang dapat kita lihat dimana orang berbuat baik demi kepentingan pribadi. Hal ini juga ada dalam tubuh Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar mampu berbuat baik demi memuji Tuhan, seseorang harus memiliki semangat rendah hati. Setiap pekerjaan yang dilakukan didasari oleh kerendahan hatinya dan kesadaran bahwa apa yang dilakukan sebetulnya adalah pekerjaan Allah. Kita hanya sebagai pelaksana belaka. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,” (Yoh 9:4). Yesus mengingatkan bahwa kita hanyalah hamba yang tidak berguna yang mengerjakan apa yang seharusnya kita kerjakan. Bila perbuatan baik adalah apa yang seharusnya kita kerjakan, maka orang tidak akan merasa bangga telah mengerjakan hal itu. Seperti seorang ibu yang setiap hari memasak bagi keluarganya. Dia mengerjakan itu sebagai apa yang seharusnya dia kerjakan, maka dia tidak merasa berprestasi atau menonjolkan apa yang sudah dilakukanya. Perbuatan baik adalah bagian dari iman, maka tidak ada yang dapat dibanggakan bila kita melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menganugerahkan kepada kita kemampuan dan bakat. Setiap orang diberi secara berbeda-beda, sebab Tuhan mengingkan semua orang melalui apa yang dimilikinya itu meneruskan apa yang sudah diawali olehNya. Tuhan menciptakan dunia baik adanya dan manusia diminta untuk menjaganya. Perbuatan baik bertujuan menjaga agar ciptaan Tuhan dapat hidup bahagia. Maka kita melakukan apa yang sesuai dengan anugerah yang telah diterima dari Tuhan. “jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” (Rm 12:8).&lt;br /&gt;Perbuatan baik juga hendaknya dilakukan secara iklas dan didorong oleh belas kasihan. Iklas adalah ketulusan hati dimana bila seseorang melakukan suatu tindakan tanpa memiliki motivasi demi dirinya sendiri melainkan demi kebahagiaan sesama. Dia tidak peduli apakah pekerjaan yang telah dilakukan akan dipuji atau dicela oleh sesama. Dia hanya ingin melakukan sebab merasa berbelas kasih oada sesama. Bila pekerjaan dilakukan dengan iklas, maka dia akan bergembira, tidak putus asa, kecewa dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/perbuatan-baik-demi-memuliakan-allah.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-8078733920154870578</guid><pubDate>Wed, 23 Apr 2008 16:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-10T08:30:02.862+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertemuan</category><title>NILAI YANG MASIH TERSISA</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sepuluh anak muda duduk di sekelilingku. Mereka akan sharing tetang pengalaman mereka selama live in di rumah penduduk. Sejak kemarin ada 128 anak yang mengikuti acara jambore di Klepu. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Sebuah desa kecil di sebelah barat kota Ponorogo. Desa Klepu mempunyai penduduk sekitar 2800 jiwa dan yang Katolik sekitar 1300 an dan selebihnya beragama Islam. Kehidupan disini seperti layaknya desa-desa di Jawa lainnya. Penduduk pada umumnya adalah petani. Mereka hidup dalam kesederhaan seorang petani. Kalau toh ada rumah yang tampak bagus, pada umumnya mereka adalah TKI. Mereka masih mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa ini yang dulu pernah ada namun sekarang sudah semakin temaram yaitu rasa persaudaraan yang tinggi, ramah dan terbuka terhadap orang pendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis umur belasan tahun bercerita dengan penuh semangat mengenai keluarga yang ditinggalinya. Dia menceritakan betapa penduduk sini sangat ramah. Di kota memang ada orang yang ramah, tapi keramahan di kota beda dengan yang dia rasakan di tempat ini. Mereka ramah tampa memakai topeng, sedangkan di kota biasanya orang pura-pura ramah. Disini ketika berjalan dia selalu disapa orang, sehingga dia pun turut menyapa setiap berpasasan dengan orang. Sedangkan di kota dia tidak pernah merasakan disapa dan menyapa orang seperti disini. Dikota hanya orang yang kenal saja yang mau saling menyapa, sedangkan disini semua orang yang berpapasan pasti akan disapa atau menyapa. Pengalaman ini tidak ditemukan di tempat asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lain lagi menceritakan bahwa di halaman rumah tempat dia menginap ada sebatang pohon jeruk. Saat itu berbuah banyak tapi yang besar dan sudah dapat dimakan hanya dua buah. Pemilik rumah dengan ramah menawarkan untuk mengambilnya. Anak ini menolak sebab buah hanya dua. Tapi pemilik rumah mengatakan silakan mengambil sebab dia masih dapat menanti buah yang masih kecil menjadi besar dan masak. Dia sangat kagum dengan sikap tuan rumah itu. Dia membandingkan bila di kota sulit sekali mendapati orang yang mau mengalah pada orang lain. Dia berani berbagi dengan orang lain, meski dia harus menunggu lama lagi untuk menikmati buah pohonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman masih terus bercerita dengan semangat mengenai keramahan penduduk desa ini. Kepolosan dan ketulusan mereka dalam menerima para tamu. Seorang anak mengatakan dia heran mengapa disambut seperti itu, padahal dia hanya anak muda biasa. Pengalaman hidup bersama penduduk desa membuat mereka membandingkan dengan kehidupan mereka selama ini di kota. Mengapa hal yang baik disini sudah tidak ada lagi di kota? Memang tidak semua yang terjadi di sini dapat dikatakan baik. Ada pula sisi negatifnya, tapi pada umumnya masih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya pada mereka kira-kira apa yang membuat orang di daerah sini dapat begitu ramah dan saling memberi sedangkan di kota sudah tidak ramah dan tidak saling berbagi lagi? Banyak jawab yang mereka berikan. Mereka pada umumnya masih duduk di bangku SMA sehingga segala analisanya hanya apa yang mereka lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak memakai aneka teori sosiologi atau antropologi atau ilmu lain yang berbelit-belit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya mereka merasa bahwa di kota orang sudah menjadikan uang dan kekayaan sebagai tujuan hidup. Bila orang menjadikan uang sebagai tujuan maka semua perhatian dipusatkan pada uang atau kekayaan. Akibatnya juga orang menjadi egois. Mereka tidak mau berbagi dengan tetangga. Seorang anak bercerita bahwa dia pernah sampai mencuri buah milik tetangga sebab dia minta tidak diberi. Mendengar semua itu kami tertawa. Akhirnya kelompok kami bubar dan mempersiapkan acara berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesendirian sambil menikmati sejuknya aliran angin dari pegunungan, aku berusaha merenungkan apa saja yang telah dipercakapkan anak-anak tadi. Aku merasa memang di bangsa ini ada nilai-nilai bagus yang sudah hilang atau langka ditemukan. Di kota aku melihat banyak orang tertindih oleh kegelisahan. Mereka gelisah untuk bertahan hidup. Bertahan untuk apa yang sudah diperolehnya. Kegelisahan ini menekannya sehingga orang cenderung mudah marah dan curiga. Lebih jauh mungkin mereka dikuasai oleh uang atau kekayaan seperti kata anak-anak tadi. Ketika orang masih miskin dia berusaha keras untuk mendapatkan uang, tapi setelah dipandang kaya pun orang masih terus berusaha memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Orang tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya, bahkan kalau memungkinkan dia akan merampas milik orang lain untuk dijadikan miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah satu anak kekayaan sekarang sudah menjadi syarat untuk dihargai oleh sesama. Diakui oleh orang lain. Maka orang mengejar kekayaan juga agar diakui bukan hanya sekedar menumpuk kekayaan. Hal ini beda dengan disini dimana orang dihargai karena dia adalah sesama. Dia adalah manusia meski orang asing. Aku tersenyum sendiri bila teringat analisa anak itu. Aku pikir ada benarnya juga. Beberapa waktu lalu orang berlomba mengajukan dana yang cukup besar untuk liturgi tahun baru Imlek. Di paroki kami juga orang mengajukan dana yang cukup besar untuk misa Imlek. Melihat angka itu aku hanya mampu menghela nafas, bagaimana mungkin dalam situasi seperti ini, dimana beberapa daerah terkena bencana yang parah orang masih ribut untuk membagi jeruk setelah misa dan meminjam aneka baju untuk misa? Mengapa tidak berpikir soal saudara-saudaranya yang kelaparan akibat bencana? Inilah sisi kecil kehidupan kota dimana orang lebih mementingkan kemegahan diri daripada berpikir mengenai sesamanya. Orang lebih mementingkan misa dengan beberapa romo yang hebat dan aneka hiasan yang indah serta asesoris mahal lain daripada prihatin dengan sesamanya yang menderita akibat bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian manusia saat ini ditentukan oleh kekayaan. Barang siapa memiliki kekayaan maka dia akan diperhitungkan. Semakin banyak kekayaan yang dimilikinya maka dia akan semakin dihargai dan diperhitungkan. Pernah aku pergi ke sebuah toko elektronik dan akan membeli sebuah barang elektronik. Setelah beberapa saat aku berdiri dan melihat-lihat barang tidak ada satu pun pegawai yang datang dan berusaha menjelaskan produknya. Tapi ada orang yang begitu datang langsung dilayani oleh pegawai toko itu. Hal ini disebabkan aku hanya mengenakan kaos dan bersandal sedangkan orang yang dilayani datang mengenakan baju yang bagus dan bersepatu. Ketika aku beranikan diri untuk bertanya-tanya tentang sebuah produk maka pegawai itu menjawab ala kadarnya. Berbeda ketika dia melayani orang yang berpenampilan bagus. Mungkin pegawai itu mengira aku hanya bertanya-tanya dan tidak akan membeli sebab tidak mempunyai uang. Berbeda dengan pelanggan yang lain. Ketika aku memilih barang dan menentukan akan membeli barulah mereka melayani dengan baik. Aku dilayani dengan baik bukan karena aku mau membeli atau tidak melainkan karena penampilanku. Andaikan aku datang dengan mengendarai mobil merk mahal dan berpakaian bagus pasti akan dilayani seperti orang lain. Ketika aku ceritakan hal ini pada temanku, dia bilang memang hal itu sering terjadi bahwa orang dinilai dari apa yang menempel di tubuhnya. Inilah kekuatan saat ini yaitu kepemilikan. Apa yang menempel di tubuh bukan jati diri dan martabat manusia. Bila pegawai toko yang seharusnya melayani setiap orang yang datang saja sudah membeda-bedakan pembeli bagaimana dengan orang yang mempunyai kekuasaan dan jabatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena orang ingin dihargai dan diperhitungkan maka dia ingin memiliki banyak materi. Akibatnya orang berlomba untuk mengumpulkan materi sebanyak mungkin agar dia semakin dihargai dan diperhitungkan jati diri atau martabatnya. Orang berlomba untuk mengumpulkan materi sehingga terkadang menggunakan segala cara untuk mempertahankannya. Orang pun menjadi cemas untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya serta keinginan untuk mendapatkan materi sebanyak mungkin. Padahal apa yang diperebutkan sangat terbatas, sehingga orang menjadi berebut untuk memperolehnya. Hal ini menekan hati banyak orang, sehingga banyak orang menjadi mudah marah. Tidak mampu lagi ramah terhadap sesamanya bahkan orang mudah curiga pada sesamanya, sebab kuatir orang itu akan menjadi saingannya dalam memperoleh materi atau mengambil apa yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus bukan orang yang membenci atau menolak uang atau kekayaan, sebab Dia mempunyai uang dan diikuti oleh perempuan-perempuan kaya. Bila Dia tidak mempunyai uang sama sekali mengapa Yudas diangkat menjadi bendahara? Tapi Yesus tidak ingin dikuasai oleh materi atau jabatan, sebab Dia tahu bahwa keinginan memperoleh harta dapat merusak manusia. Kata-Nya lagi kepada mereka: &quot;Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.&quot; (Luk 12:15). Dia sejak awal sudah menolak kekayaan, jabatan dan kehormatan yang ditawarkan oleh iblis. Dia pun menolak ketika hendak dijadikan raja. Bagi Yesus tujuan hidupNya adalah untuk sesama. Bukan untuk menumpuk prestasi atau kekayaan. Bila orang mengejar kekayaan dan aneka prestasi maka dia akan menjadi egois dan sulit untuk melayani. Yesus datang ke dunia untuk melayani, maka Dia melepaskan semua itu. Dia tidak ingin terjebak untuk menikmati segala popularitas, kekayaan, status sosial, jabatan dan sebagainya. Bagi Yesus hal yang sangat penting adalah melayani manusia terutama yang miskin dan menderita. Kekayaan dan sebagainya dapat menghalangiNya untuk menjadi pelayan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus menjadi terkenal bukan karena Dia kaya atau memiliki status terhormat, gelar yang hebat dan sebagainya. Dia menjadi terkenal sebab Dia melayani sesama. Dia mampu mewujudkan kasih secara nyata dan dapat dirasakan oleh banyak orang. Maka Dia pun berpesan kepada para muridNya untuk melakukan kasih secara nyata bukan mengumpulkan kekayaan atau aneka gelar. Inilah hukum yang utama dan terutama. Hukum yang menjadi inti dan dasar semua hukum. Kasih yang diajarkan oleh Yesus adalah kasih yang tulus dan sampai mengurbankan diri. Bila orang melakukan kasih yang tulus bagi sesama maka dia akan dihormati oleh Allah meski mungkin tidak dihormati oleh sesama. Kasih yang tulus mampu membangun persaudaraan diantara manusia. Orang yang hidup penuh kasih dia akan bahagia bila sesamanya berbahagia. Maka dia akan rela berbagi dengan sesamanya. Dia tidak digelisahkan oleh sesama yang ingin memiliki banyak hal. Dia akan berlaku ramah dan sopan terhadap setiap orang. Dia sadar bahwa yang penting adalah bukan apa yang dimilikinya melainkan sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk di Klepu yang jauh dari gebyar kota besar masih belum terjangkit keinginan untuk menumpuk materi, sehingga mereka dapat hidup dengan tentram. Mereka melihat sesama bukan pesaing yang akan merampas apa yang dimilikinya melainkan sebagai manusia yang bermartabat sehingga patut dihormati. Mereka masih senang berbagi, sebab tidak berusaha mempertahankan apa yang dimilikinya. Mereka dapat ramah kepada setiap orang sebab baginya persaudaraan jauh lebih berharga daripada segala kepemilikan yang dimilikinya. Semoga saja apa yang nilai-nilai yang indah di Klepu tidak tergerus oleh arus pemikiran yang muncul di kota besar.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/nilai-yang-masih-tersisa.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-2616419734155109129</guid><pubDate>Wed, 23 Apr 2008 16:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-11T23:38:17.496+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertemuan</category><title>MARIA POTRET BURUH YANG DIKALAHKAN</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku duduk disekitar 43 buruh. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Saat itu kami sedang mengadakan dialog mengenai kehidupan. Satu demi satu buruh dengan bebas menyatakan kegelisahannya, penderitaannya, harapan‑harapannya akan masa mendatang, gambaran kehidupan buruh yang sesungguhnya di pabrik tempat mereka bekerja, dan lain sebagainya. Dialog berjalan mengalir dari satu tema ke tema yang lain.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Aku hanya duduk mendengarkan mereka mengungkapkan isi hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa buruh menyatakan pengalaman hidupnya, tiba‑tiba seorang buruh yang ada di hadapanku mengangkat jari. Maka aku persilahkan dia berbicara. Buruh perempuan ini berdiri dengan tanpa ragu. &quot;Namaku Maria,&quot; katanya &quot;Aku berasal dari sebuah desa di Sumatera Utara. Keluargaku miskin, maka aku hanya bisa sekolah sampai SMA. Setelah lulus aku memutuskan untuk merantau ke Batam. Alasanku, aku sudah besar dan tidak mau membebani orang tuaku dan kalau kerja, maka aku bisa membantu biaya sekolah adik‑adikku. Tapi pastur....&quot; katanya berhenti sejenak, &quot;setelah 7 tahun disini, aku ternyata tetap sebagai operator. Aku tidak punya tabungan. Aku juga belum punya jodoh, padahal umurku sudah 28 tahun.&quot; kontan semua buruh yang hadir tertawa ngakak. Mulailah perkataan simpang siur saling menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, perkataan Maria masih membekas dalam ingatanku. Tujuh tahun dia tetap sebagai operator, tabungan tidak punya dan jodoh juga belum dapat. Suatu penderitaan yang bertumpuk‑tumpuk. Soal tidak naik jabatan bagi Maria tidak menjadi persoalan yang mendasar, sebab dia sadar bahwa dia hanya lulusan SMA di desa. Tapi soal tabungan baginya merupakan persoalan yang cukup membebani. Setelah bekerja sekian lama, dia tetap tidak mampu menabung sedikitpun. Padahal tabungan adalah modal bagi masa depannya, sebab sistem kontrak membuatnya dapat diberhentikan dari pekerjaannya begitu masa kontrak selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria bukan perempuan pemboros. Sebaliknya hidupnya sangat sederhana. Dia tinggal di sebuah kamar ukuran 2X3 m di ruli (rumah liar). Kalau melihat penampilannya, aku tidak yakin bahwa dia memiliki beberapa baju yang bagus. Dia juga tidak bermake up. Katanya dia sudah mencoba untuk makan sehari sekali saja, meski harus kerja seven to seven (12 jam perhari) dan kerap kali selama 7 hari penuh, sebab hari minggu atau hari raya biasanya di dipaksa oleh perusahaannya untuk OT (over time istilah untuk kerja lembur). Aku tanya kalau begitu kemana uang hasil kerjanya? Maria mengatakan bahwa sebagian besar uangnya dikirimkan ke keluarganya di desa. Dia menjadi salah satu tiang keluarga, sebab dia anak pertama dan masih mempunyai 5 adik yang harus dibiayai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Maria mengirim uang ke orang tua adalah suatu perwujudan balas budi atau bakti. Bagi orang tuanya hal itu merupakan kewajiban seorang anak. Mereka tidak peduli bagaimana Maria harus mengumpulkan uang. Mereka tidak mengerti betapa beratnya hidup di Batam. Yang mereka tahu hanyalah bahwa Maria bekerja di suatu perusahaan dengan gaji yang sangat tinggi untuk ukuran penghasilan di desa, maka dia wajib mengirimkan sebagian upahnya kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria juga gelisah dengan umurnya. Dia sudah tua dan belum mempunyai pacar. Hal ini membuatnya malu untuk pulang ke kampung, sebab apa kata orang di desanya kalau melihat dia belum menikah. Pasti akan menjadi bahan gunjingan. Selain itu siapa yang sudi menikah dengan perempuan yang sudah berumur seperi dia. Persoalan umur dan jodoh sering kali menekannya. Orang tuanya sudah beberapa kali mendesak dia untuk segera mencari pacar dan menikah, tapi untuk mendapatkan pacar di sini tidak mudah, sebab jumlah pria dan perempuan sangat tidak seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria adalah salah satu potret kecil penderitaan kaum perempuan di Batam. Masih banyak lagi kaum perempuan di Batam yang hidupnya jauh lebih menderita dibandingkan Maria. Mereka bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan dengan sistem kontrak dan aku yakin selamanya mereka akan tetap dikontrak sebagai operator, suatu bidang pekerjaan yang melakukan hal yang sama sepanjang bekerja. Misalnya dia bagian memasang kancing di perusahaan konveksi, maka selamanya dia akan memasang kancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya perusahaan yang menggunakan tenaga perempuan, maka di sini jumlah antara pria dan perempuan tidak seimbang. Bagi pria yang tinggal disini akan sangat mudah mencari pacar. Dalam pembicaraan itu juga diceritakan adanya pria yang mempunyai beberapa pacar dan memanfaatkan pacarnya. Setiap hari dia hanya beralih dari satu perempuan ke perempuan yang lainnya untuk minta uang. Dia hidup dari pacar‑pacarnya. Dan banyak perempuan tidak tahu kalau dia ditipu oleh pria semacam ini, sebab ada begitu banyak perempuan. Kalau toh dia tahu, maka dia akan diam dan menerima saja. Dia terus saja berpacaran dengan pria itu demi gengsi, sebab ada banyak perempuan yang merasa malu bila tidak mempunyai pacar, sehingga mereka merelakan dirinya menjadi sapi perasan seorang pria asal dia mau menjadi pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku protes dalam hati, mengapa ada pria yang memanfaatkan kelemahan dan peluang seperti ini? Sebetulnya ada protes yang lebih jauh lagi yaitu mengapa kaum perempuan sering dianggap rendah, tidak laku nikah, bila sudah agak tua belum mempunyai pacar dan menikah? Mengapa hal yang sama bagi kaum pria tidak pernah dipersoalkan? Akibat ketakutan ini (tidak laku) maka beberapa teman mau saja diperlakukan sebagai istri atau pacar yang sekian. Bahkan dia rela menghidupi pacarnya. Ini juga terjadi di komunitasku. Hampir semua pekerja seks mempunyai kiwir (istilah untuk suami‑suamian). Mereka pada umumnya tidak bekerja dan hanya mengandalkan hasil dari istrinya. Bahkan beberapa waktu yang lalu, seorang pekerja seks mukanya lebam dan luka‑luka sebab habis dipukuli oleh kiwirnya, sebab ketika kiwir itu minta uang, si pekerja seks tidak punya uang sama sekali. Katanya malam harinya tidak ada tamu. tapi si kiwir itu tidak peduli. Padahal uang itu hanya untuk main judi dan beli minuman keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Batam ada pula ruli yang dihuni oleh perempuan‑perempuan simpanan apek‑apek (istilah untuk orang tua‑tua dari Singapura). Apek‑apek itu datang setiap hari sabtu sampai minggu. Pada umumnya perempuan itu memiliki suami, tapi mereka membiarkan istrinya menjadi simpanan apek‑apek. Jika sabtu sampai minggu mereka pergi, sehingga apek‑apek itu bisa leluasa. Masih banyak ketidakadilan yang dilakukan oleh kaum pria terhadap perempuan. Banyak orang yang kurang peduli akan semua itu. Banyak orang mengaku pedih melihat ketidakadilan itu, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah buruh perempuan di Batam adalah secuil cerita mengerikan tentang penderitaan perempuan di hampir seluruh pelosok bumi. Maria adalah satu dari jutaan perempuan yang sering diperlakukan tidak adil. Banyak kaum perempuan yang dengan sengaja dibisukan dan ditindas. Mereka hanya dijadikan obyek kesenangan oleh orang yang merasa dirinya mempunyai kekuatan. Mereka dirampas hak-haknya dan tidak dihargai martabatnya. Bila sistem dunia memang tidak adil dan menindas perempuan, maka seharusnya lembaga agama yang berusaha berjuang untuk mengangkat martabat perempuan. Namun ada banyak orang mendasarkan diri dengan ajaran agamanya melakukan penindasan pada perempuan. Ada orang mendasarkan diri pada hukum agama memutuskan untuk menikahi perempuan sebanyak mungkin, sebab menurut agamanya hal ini sah saja. Bagaimana bila hal itu dibalik sehingga dia menjadi suami yang kesekian dari seorang perempuan? Tentu hal ini akan ditolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa manusia adalah gambaran diri Allah. Memang ciptaan pertama adalah lelaki namun Allah menciptakan perempuan sebagai ciptaan yang sepadan dengan lelaki. TUHAN Allah berfirman: &quot;Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.&quot; (Kej 2:28). Dari ayat ini dapat dilihat bahwa Allah menciptakan perempuan bukan hanya sepadan dengan lelaki tapi juga penolongnya. Bila lelaki sadar bahwa perempuan adalah penolongnya, maka dia akan menghormati perempuan. Yesus pun berusaha melawan pandangan saat itu dimana perempuan menduduki posisi yang rendah. Dalam Injil Yohanes digambarkan bahwa perempuanlah yang menjadi pewarta pertama sehingga banyak membawa orang pada Yesus. “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: &quot;Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (Yoh 4:28-29). Dalam Injil Matius Yesus memuji iman perempuan Kanaan (Mat 15:21-28). Dalam surat Paulus yang menggambarkan kehidupan menggereja saat itu memang perempuan masih rendah kedudukannya. Namun seturut perkembangan jaman yang disertai oleh pemikiran-pemikiran kaum cerdik pandai, maka seharusnya perempuan semakin lama semakin dihargai dan memperoleh posisi yang setara dengan pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria dan masih banyak Maria-Maria yang lain hidup dalam penindasan. Memang di negara kita sejak awal abad ke 20 Ibu Kartini sudah mengungkapkan kegelisahannya sebagai perempuan yang sering dikalahkan oleh adat dan tradisi yang tidak adil. Apa yang dituliskan Ibu Kartini dalam surat-suratnya mendorong banyak orang untuk semakin peduli pada perempuan. Namun sampai saat ini Maria masih menjadi perempuan yang dikalahkan. Dengan demikian masih panjang jalan yang harus dilalui oleh perempuan untuk dihargai martabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai larut malam aku masih duduk bersama teman-teman buruh di ruang pertemuan. Mendengar kisah beberapa temanku, aku jadi ngeri. Timbul pertanyaan dalam hati sampai dimana sosialisasi gender? Sampai dimana gerakan emansipasi? Bagaimana reaksi ibu Kartini jika melihat nasib para perempuan di Batam? Mengapa perempuan‑perempuan itu diam saja, meski ditindas? Apakah mereka tidak sadar kalau dirinya ditindas? Apakah mereka sadar kalau ditindas, namun pasrah pada nasib? Banyak pertanyaan yang bergulung‑gulung dibenakku, tapi semuanya tidak bisa kutemukan jawabannya satupun. Maria akan terus menjalani hidupnya dalam penderitaan. Aku hanya bisa diam terpaku disini.&lt;/div&gt; &lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/maria-potret-buruh-yang-dikalahkan.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-195759001675827845</guid><pubDate>Wed, 23 Apr 2008 16:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T04:44:19.347+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertemuan</category><title>AKU SEORANG PEKERJA SEKS</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perempuan muda itu wajahnya kuyu. Matanya sembab. Entah sudah berapa lama dia menangis. Tubuhnya yang agak gemuk kelihatan layu. Pakaiannya ala kadarnya. Kacau. Dia datang menemuiku di suatu malam yang disiram gerimis kecil. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Aku baru pertama kali ini melihat wajahnya. Dia memperkenalkan diri. Ketika kutanya dimana rumahnya, dia mengatakan sebuah daerah yang tidak jauh dari gereja. Aku tanya kenapa dia tidak ikut mudika? Ternyata dia bukan orang Katolik. Dia mengetahui namaku dari salah seorang temannya. Lalu dia menyebutkan nama seorang perempuan, tapi aku sendiri lupa apakah pernah bertemu dengan pemilik nama itu atau belum. Temannya menyarankan agar dia datang padaku untuk meminta pertolongan. Melihat penampilannya yang kacau aku tahu bahwa gadis ini sangat menderita. Maka kutawari dia minuman. Sedikit senyum menghiasi bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meminum air kemasan, gadis itu mulai bercerita. Aku seorang perempuan yang jatuh dalam dunia hitam katanya memulai ceritanya. Sejak lulus SMP di desa aku datang ke Surabaya diajak oleh seorang teman. Aku tidak tahu bahwa pekerjaan yang ditawarkan oleh temanku itu adalah pekerjaan seperti ini. Semula dia mengatakan bahwa aku akan bekerja di sebuah restoran seperti dia. Siapa yang tidak tergiur bila melihat perhiasan yang menempel di leher dan pergelangan tangannya. Baju-baju yang sangat bagus. Satu tas besar berisi alat kosmetik. Kiriman uang kepada keluarga yang cukup besar bagi ukuran orang desa. Semua itu diperoleh dari hasil kerjanya di restoran. Mendengar ceritanya dan melihat apa yang dikenakannya, maka orang tuaku tanpa berpikir panjang menyarankan agar aku ikut dengannya. Apa yang dapat diharapkan di desa yang miskin ini? Paling kau akan menikah dengan pemuda desa, katanya membujuk. Setelah semalam membangun mimpi dengan bapak dan ibu tentang masa depan keluarga. Tentang kemiskinan yang akan berakhir. Tentang hidup kota yang gemerlap. Akhirnya ketika surya mengintip bumi, aku berangkat bersama temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dolly adalah nama yang sangat asing bagi telingaku. Temanku bilang disanalah tempatku. Siang hari aku sudah sampai daerah yang dituju. Kekecewaan segera menerkam hatiku ketika melihat lingkungan Dolly. Semua itu jauh dari bayanganku sebelum berangkat. Aku hanya melihat jalan kecil yang ramai dilalui aneka kendaraan. Deretan rumah yang cukup padat berjajar di sepanjang jalan. Dari beberapa rumah yang terbuka daun pintunya terdengar suara musik yang memekakkan telinga. Beberapa pemuda berdiri di dekat pintu masuk. Ada yang memakai seragam ada pula yang tanpa seragam. Temanku mengajak ke salah satu rumah. Disana aku berkenalan dengan beberapa perempuan. Mereka sangat genit. Dandanan mencolok. Aku tertegun. Apakah aku tidak salah masuk? Temanku memperkenalkan aku pada seorang ibu separo baya yang menjadi pemilik rumah. Dia memuji-muji kecantikanku. Padahal wajahku biasa saja. Tidak berapa lama kemudian dia memberiku pakaian yang bagus. Aku sudah mulai curiga. Tempat apakah ini? Beberapa kali aku pernah dengar tentang tempat semacam ini. Di kotaku juga ada perempuan-perempuan semacam ini. Perempuan yang dipandang sangat hina. Tapi aku berusaha menghibur diri bahwa temanku hanya mampir ke rumah salah satu teman. Aku tidak akan bekerja disini. Temanku pasti tidak akan memasukan aku dalam lingkaran dosa. Malam jatuh ke bumi. Jalan kecil semakin ramai. Lampu kelap kelip menghiasi beberapa rumah. Suara musik yang keras terdengar dari mana-mana. Lelaki dengan aneka dandanan mulai muncul di rumah tempatku. Ibu pemilik rumah memanggilku. Kulihat dia berbisik-bisik sambil tersenyum pada seorang lelaki setengah baya. Itulah awal petaka. Malam itu aku mengalami malam yang sangat mengerikan dalam hidup. Suatu malam yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Segala impian yang sudah kubangun dari desa hancur. Aku merasa kehilangan diriku. Tidak ada lagi yang kupertahankan dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun aku menjalani kehidupan yang sangat merendahkan diri. Aku seperti sebuah toilet umum yang menerima buangan dari para lelaki. Aku harus tersenyum tanpa tahu mengapa aku tersenyum. Aku dipaksa merayu dan melayani setiap lelaki di depanku. Hidupku hanya bergerak dari satu lelaki ke lekaki lain. Semula aku merasa berat menjalani hidup semacam ini. Pernah terpercik pikiran akan lari, namun beberapa teman berbisik-bisik bahwa lari dari tempat ini bukanlah langkah yang mudah. Mereka akan mencari dan memaksaku kembali. Akhirnya aku menyerah. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam rumah yang penuh dosa ini. Selama dua tahun aku tidak tahu berapa banyak lelaki yang sudah aku layani. Aku menjadi semakin tahu bagaimana harus melakukan pekerjaan itu. Tiga kali aku pulang ke desa. Banyak barang kubawa. Tidak beda dengan temanku dulu. Orang tuaku bangga. Mereka bercerita ke semua tetangga bahwa aku sudah berhasil di kota. Padahal setiap pulang aku selalu seperti melihat diri dalam sebuah cermin. Aku malu untuk melihat diri tapi aku tidak berkuasa untuk melarikan diri dari hadapan cermin. Aku lebih banyak mengurung diri di rumah daripada pergi ke rumah tetangga, ke pasar atau tempat yang lain. Setiap aku berjalan ke luar rumah aku tidak berani mendongakkan kepala. Aku malu. Seolah semua orang menatapku penuh dengan kejijikan. Di desaku dan pasti juga di semua desa, pekerja seks adalah orang yang sangat hina dan akan digunjingkan oleh banyak orang. Tidak ada satu pun orang yang pernah memahami pekerjaan ini. Mereka hanya mencaci maki dan memandang penuh kejijikan. Padahal belum tentu mereka tidak pernah menggunakan jasaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ada seorang dari luar pulau datang ke rumah tempat kami bekerja. Dia sangat baik. Usianya sudah jauh diatasku. Dia langganan utama. Kami berhubungan sangat dekat. Setiap saat kami saling menelpon. Setelah berhubungan selama beberapa bulan akhirnya aku hamil. Orang dari luar pulau itu merasa kasihan padaku. Usiaku belum genap 17 tahun dan sudah harus mempunyai anak. Beberapa kali aku mencoba untuk menggugurkan tapi tidak berhasil. Akhirnya lelaki itu mau menikahiku, meski kami tidak tahu siapa ayah dari anak yang ada dalam kandunganku. Kami menikah di modin, sebab dia sudah punya istri sah dan beberapa anak. Dia memaksaku untuk meninggalkan rumah tempat bekerja dan mencari kost diluar. Akhirnya aku kost di sebuah kampung yang tidak terlalu jauh dari Dolly. Aku melahirkan anak perempuan. Kini berusia 4 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak anakku lahir, lelaki itu tidak pernah datang lagi. Ditelpon pun tidak pernah diangkat. Bahkan dia sudah ganti nomor HP. Aku tidak dapat menghubunginya. Pernah aku mencari di tempat kerjaku dulu. Beberapa teman mengatakan bahwa lelaki itu masih sering datang. Beberapa kali aku berusaha menemuinya tapi tidak berhasil. Kini aku harus hidup bersama anakku. Tanpa penghasilan. Uang tabungan sudah habis untuk biaya persalinan. Aku tidak ingin kembali ke pekerjaan yang lama. Tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana mendapatkan uang untuk menyambung hidup. Sudah banyak lamaran yang aku ajukan ke toko atau rumah tangga sebagai pembantu, tapi semua tidak ada hasilnya. Ijasah yang kumiliki hanya ijasah SMP di desa. Apa arti ijasah itu dikota? Aku juga kecewa pada suamiku. Dia memang berjasa mengeluarkan aku dari Dolly, tapi mengapa sekarang dia tidak mau menyapaku? Aku hanya ingin tahu bagaimana kelanjutan hubungan kami. Apakah dia menginginkan putus denganku atau melanjutkannya. Aku tidak mempermasalahkan apakah aku akan menjadi istri ketiga atau keempat dan sebagainya. Aku hanya ingin keluar dari tempatku bekerja dan memulai hidup baru sehingga bila suatu saat pulang ke desa aku dapat menegakkan kepala tanpa rasa malu atas pandangan orang lain. Itu saja yang aku inginkan. Tapi mengapa dia meninggalkan begitu saja? Mengapa tidak mau menerima telponku? Apalagi menemuiku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Saat ini aku sudah tidak mempunyai uang sama sekali. Pulang ke desa tidak menyelesaikan masalah. Bahkan lebih menambah masalah bagi orang tua. Apa kata penduduk desa bila melihatku pulang dengan menggendong seorang bayi? Bagaimana bila mereka tahu bahwa aku selama ini bekerja di Dolly, sebuah kompleks pelacuran yang katanya terbesar di Asia? Dimana orang tuaku harus meletakkan mukanya? Bagi mereka kehormatan dan harga diri sangat besar artinya. Menjadi pekerja seks adalah tindakan penghancuran harga diri bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi seluruh keluarga. Keluargaku pasti akan sulit menerimaku meski mereka sangat mudah menerima apa yang aku hasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah perempuan muda itu semakin kuyu. Air mata mengalir membasahi pipinya. Matanya semakin sembab. Kemanakah aku harus berjalan? Tanyanya putus asa. Sesaat kami masuk dalam keheningan. Cerita seperti ini sudah pernah aku dengar dulu. Dulu aku berusaha membantu memberinya modal untuk alih profesi. Tapi orang yang kubantu akhirnya gagal. Maka aku bertanya pada perempuan di depanku apakah yang dapat kubantu? Perempuan itu hanya menggelengkan kepala. Dia mengucapkan terima kasih sebab aku mau mendengarkan dan meneguhkannya. Meski dia bukan orang Kristen tapi aku masih mau mendengarkan dan tidak menyalahkannya. Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu harus kepada siapa dia bercerita untuk mendapat peneguhan dan pencerahan bagi hidupnya yang kelam sekelam malam yang gerimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran dengan pernyataan gadis itu, sebab selama dia bercerita aku hanya duduk memandanginya. Aku hanya diam dan berusaha memahaminya segala pergolakan hatinya. Aku hanya berusaha membayangkan seandainya aku ada dalam posisinya. Ternyata ini sudah merupakan peneguhan padanya. Beberapa kali dia bercerita pada orang, ternyata orang itu memberikan banyak nasehat yang intinya hanya menyalahkan dia mengapa mau bekerja di Dolly. Dia mengatakan kalau tahu akan bekerja sebagai pekerja seks pasti tawaran temannya itu akan ditolak oleh semua keluarganya. Tidak ada satupun orang tua yang bangga anaknya bekerja sebagai pekerja seks meski dia mampu memberi banyak barang dan uang. Lebih baik baginya makan sehari sekali tanpa lauk sekalipun, daripada menjadi pekerja seks. Tapi semua sudah terlanjur. Sekali orang masuk maka sulit sekali keluar, kecuali sudah tidak laku lagi maka akan dibuang begitu saja. Sekali lagi kutawari apakah dia mau modal untuk usaha? Perempuan itu menolak. Dia merasa bahwa aku sudah cukup memberi bantuan. Dia berharap bila suatu saat mengalami kebuntuan hidup maka dia akan datang lagi padaku. Aku terkejut. Biasanya orang bercerita sedih dan ujungnya meminta bantuan. Tapi perempuan ini menolak bantuan materi yang kutawarkan. Dia sudah merasa nyaman karena aku mau mendengarkan kisahnya dan memahaminya. Bagiku ini pengalaman baru dimana orang membutuhkan bantuan materi tapi menolak ketika akan diberi. Penolakan perempuan itu merupakan tamparan bagiku. Dia mampu mencelikkan mataku bahwa pertolongan tidak dapat disempitkan hanya pada materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali aku sudah merasa menolong seseorang bila mampu berbagi materi dengannya. Orang miskin yang datang cukup diberi uang. Selesai. Namun dari pengalaman ini aku menjadi sadar bahwa pertolongan lebih luas dari sekedar pemberian materi. Pertolongan adalah penghargaan martabat manusia. Yesus menyembuhkan orang kusta karena sebagai orang kusta mereka telah kehilangan martabatnya sebagai manusia. Yesus berteman dengan Zakheus sebab Zakheus dikucilkan oleh masyarakat. Dia kehilangan martabatnya sebagai manusia. Maka ketika Yesus menawarkan akan makan di rumahnya dia segera turun dari pohon dan mengadakan perjamuan bahkan dia berani membagikan kekayaannya. Sebagai pekerja seks perempuan ini juga telah kehilangan martabatnya. Maka ketika aku mau mendengarkan dan tidak mengadilinya, dia merasa bahwa aku sudah menghargai martabatnya. Ini jauh lebih besar dari pertolongan materi yang dapat aku berikan, maka dia menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbasa basi sejenak, maka perempuan muda itu mohon pamit. Hujan gerimis segera menelan tubuh perempuan itu. Dia berjalan cepat dan menghilang di jalan raya. Berapa banyak orang yang mengalami hidup seperti perempuan itu? Tanyaku dalam hati. Dia harus berjuang untuk mengatasi masalah hidupnya sendiri. Dia harus menyimpan semua kegalauan hatinya sendiri. Dia memang telah masuk dalam sebuah pekerjaan yang dianggap hina, namun itu bukan merupakan pilihannya. Dia terpaksa masuk dan menjalani semua itu. Namun orang sering mudah menuduh tanpa mau mendengarkan latar belakangnya. Orang mudah merasa jijik melihat para pekerja seks padahal belum tentu mereka adalah orang yang menjijikkan dan belum tentu juga orang yang merasa jijik hidupnya lebih baik dari para pekerja seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu pasturan aku menatap air hujan yang turun semakin deras. Terlintas wajah perempuan tadi. Kemana dia akan melangkah pada hari esok? Bagaimana dia harus menghidupi anaknya? Perempuan tadi hanyalah satu dari sekian banyak perempuan yang terpaksa bekerja sebagai pekerja seks. Sering orang hanya mampu menuding dan menyalahkan mereka tanpa berusaha mengetahui mengapa mereka memilih pekerjaan itu. WS Rendra, salah seorang penyair terkenal, pernah menulis sajak berjudul “Nyanyian Angsa” yang menceritakan tentang seorang pekerja seks yang akhirnya meninggal dalam pelukan Yesus. Bila Yesus ada saat ini apakah yang akan diperbuatNya? Sejak dahulu kala pekerja seks dianggap orang yang hina, tapi dalam sejarah keselamatan ada pula seorang pekerja seks yang berjasa bagi bangsa Israel. Atas bantuan seorang perempuan sundal maka mata-mata Israel selamat dari kejaran orang Yerikho (Yos 2:1-24). Yesus pun berteman dengan perempuan yang tertangkap berbuat jinah dan banyak ahli Kitab Suci yang mengatakan bahwa perempuan itu adalah seorang pekerja seks. Bahkan Yesus menurut Yohanes menampakkan diri pertama kali kepada Maria Magdalena yang diduga adalah seorang pekerja seks yang bertobat. (Yoh 20:11-18). Dengan demikian belum tentu seorang pekerja seks adalah orang yang hina dan dapat diperlakukan sesuka hati. Mereka adalah manusia yang memilih pekerjaan yang dianggap tidak layak bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerja seks juga manusia yang mempunyai harga diri. Mereka masih mempunyai nurani dan malu pada situasi hidupnya. Namun sering kali mereka tidak berdaya menghadapi kenyataan. Memang bagi orang yang ada diluar hidup mereka dapat mengatakan dengan mudah seharusnya mereka begini atau begitu. Tapi bagi mereka yang menjadi pelakunya perubahan hidup atau alih profesi bukanlah hal yang mudah. Status mereka sebagai pekerja seks saja sudah menjadi salib yang sangat berat baginya. Perempuan tadi pun merasakan betapa banyak orang hanya menyalahkan tanpa memberi alternatif jalan keluar dari hidupnya. Banyak orang hanya mampu menuding tanpa mau memahaminya. Inilah yang membuatnya merasa semakin terkucil dan tidak berani melangkah keluar dari kehidupannya. Bagaimana akan mampu alih profesi bila semua orang memandang rendah padanya? Seorang teman yang dulu pekerja seks dan mau meninggalkan pekerjaannya dengan memulai usaha baru, ternyata mengalami kegagalan. Usahanya tidak berjalan sesuai dengan harapannya. Ada banyak kendala yang harus dihadapinya. Salah satunya adalah pandangan orang terhadap dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berdiri di depan pintu menatap air hujan yang mulai menggenangi halaman yang gelap. Hidup perempuan itu bagaikan halaman yang gelap penuh genangan air mata.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/aku-seorang-pekerja-seks.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-1465817003792868873</guid><pubDate>Wed, 23 Apr 2008 01:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T04:45:25.861+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertemuan</category><title>MANUSIA YANG DIKALAHKAN</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Puluhan orang duduk berdesakan di sela rak-rak buku bekas. Asap rokok memenuhi ruangan. Mengepung setiap tubuh. Udara segar yang ditebarkan oleh kipas angin tua yang tergantung di langit-langit dan berputar dengan suara gemerisik, tidak mampu menyentuh hidungku. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Angin malam yang berhembus dingin hanya sesekali lewat sedikit memberi kesegaran. Aku sedot air dari gelas air kemasan untuk mengurangi rasa kering di tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekelilingku berderet dalam desakan wajah-wajah kumuh. Rambut gondrong. Pakaian kumal. Persis seperti situasi kehidupan yang sedang kami bahas. Kehidupan kami adalah wajah kumal dari sebuah kota. Jerawat di seraut wajah. Ingin disingkirkan agar wajah tampak bersih. Tapi satu disingkirkan dia akan tumbuh di lain tempat. Maka dilakukan kekerasan dengan aneka cara meski tidak menyelesaikan masalah. Digencet. Dicukil. Dipencet-pencet sampai berdarah-darah sehingga menimbulkan luka dimana-mana. Demikian pula kehidupan kami. Digencet. Dimarginalkan. Diusir dan dicaci maki. Ditendang dan digebuki sampai berdarah-darah. Kehadiran kami dianggap sebagai noda buruk di wajah ibu kota yang sedang bersolek agar dapat anugerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari ini aparat mulai dari pasukan dari Polwil, Koramil, SatPol PP, pegawai kecamatan, kelurahan, pemkot dan sebagainya datang untuk memberitahukan batas akhir keberadaan kami di Jl. Semarang. Kami terheran-heran melihat banyaknya petugas dari berbagai pasukan, layaknya hendak maju perang. Seorang ibu yang menjadi kepala pasukan dengan tegas dan keras memutuskan tanpa memberi ruang tawar. Kami seolah bukan warga negara yang dilindungi hukum, sehingga tidak ada hak untuk membela diri atau memberikan penawaran. Apakah memang hukum tidak ada bagi kami yang hanya dianggap kaum liar? Memang sudah banyak contoh bila kaum seperti kami ini selalu kalah atau dikalahkan. Kadang kami berpikir apakah benar negara ini disebut sebagai negara hukum yang sering diagungkan dan dikatakan oleh orang-orang hebat? Bila negara hukum apakah hukum itu adil bagi semua rakyat? Terkadang ada tontonan hukum yang bergerak dan diatur oleh orang yang kuat dan ditamengi oleh uang, kekuasaan, jabatan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang duduk berkumpul memanjang seiring sela rak buku bekas saling memberikan pendapat untuk mendukung para kurban yang akan digusur. Mengapa kami selalu digusur? Kehadiran PKL penjual buku bekas di Jl. Semarang sudah bertahun-tahun. Jauh lebih lama daripada mall atau supermarket yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Mall dan supermarket dibangun oleh orang yang mempunyai dana sangat besar sehingga gedung-gedungnya besar dan indah meski tidak jarang menggusur pemukiman penduduk bahkan fasilitas umum, seperti lapangan olah raga. Gedung-gedung itu diijinkan berdiri sebab dianggap mampu menunjukkan kemakmuran warga kota. Sedangkan PKL dianggap sebagai bukti kemiskinan warga. Para pejabat enggan melihat ada warga miskin di daerahnya. Maka mereka harus dibersihkan dan disingkirkan. Ada banyak alasan yang digunakan oleh pihak berwenang untuk melakukan hal itu. Pemerintah membuat perda-perda yang digunakan landasan hukum, meski perda itu dapat tidak sevisi dengan UUD 45. Dalam UUD 45 yang seharusnya menjadi landasan hukum dari setiap keputusan pemerintah atau UU dikatakan bahwa kaum miskin dipelihara negara, namun perda dapat menyatakan yang berbeda. Memang perda tidak secara jelas menyingkirkan kaum miskin, namun akibat perda itu kaum miskin disingkirkan atau dimarginalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang berusaha mencari jalan damai dengan berusaha mengajukan tempat sebagai alternatif pinggir jalan. Namun usulan mereka ditolak. Penguasa hanya berusaha menyingkirkan tanpa memberi ruang baru. Kalau toh mereka memberikan tempat baru, maka tempat itu sangat tidak mendukung. Penguasa menyodorkan tempat di lantai dua sebuah pasar pakaian. Usulan ini kami anggap kurang bijak. Bagaimana mungkin kami akan berjualan buku bekas ditengah orang berjualan pakaian? Selain itu tempatnya cukup jauh dari rumah kami yang berada di sekitar Jl Semarang. Penguasa juga mengajukan usul agar kami pindah ke pinggiran kota. Bagaimana mungkin kami berjualan buku di sekitar tanah yang masih berupa persawahan? Seorang teman bertanya apakah kita akan mengajari kodok membaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran PKL penjual buku bekas sebetulnya sangat menguntungkan bagi masyarakat di Surabaya. Mereka menyediakan buku-buku dengan harga yang sangat murah. Meski disebut bekas namun masih banyak buku yang cukup bagus. Dengan tingginya biaya pendidikan dan mahalnya harga buku baru, maka buku bekas dapat mengurangi anggaran yang harus dikeluarkan oleh pelajar dan mahasiswa. Bukan hanya mahasiswa dan pelajar tapi orang umum pun banyak yang datang untuk mencari buku-buku sebagai bahan bacaan menambah ilmu pengetahuan. Orang harus mengeluarkan jutaan rupiah bahkan puluhan juta untuk memiliki ensiklopedia, tapi dengan membeli ensiklopedia bekas orang tidak perlu mengeluarkan jutaan rupiah. Selain itu ada banyak buku-buku lama yang sudah tidak ada di toko buku namun ada di sini. Dengan demikian kehadiran para penjual buku bekas sangat penting bagi masyarakat terutama golongan ekonomi lemah untuk memperluas wawasan. Bila kami digusur entah kemana, maka kemana masyarakat akan membeli buku yang murah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam terus bergerak menuju dini hari. Orang-orang yang hadir sudah mendapatkan titik terang untuk mempertahankan diri. Namun perjalanan untuk memperoleh keadilan dan hak sebagai warga negara masih sangat jauh. Kekalahan dan penggusuran masih kuat terbayang di mata kami. Bagi kami yang hadir disini kekalahan dan penggusuran mungkin akan kami alami. Kami tidak akan mampu melawan orang yang bersenjata api dan didukung oleh peralatan perang sedangkan kami hanya bersenjatakan tekad untuk bertahan. Kami akan kalah dan dikalahkan namun setidaknya kami berusaha untuk bertahan. Kami ingin sedikit menujukkan kepada penguasa agar tidak memperlakukan masyarakat miskin kota sebagai warga yang sungguh-sungguh tidak ada manfaatnya sama sekali bagi warga kota lainnya. Kami ingin sedikit menunjukkan bahwa kami adalah warga negara yang ingin meraih hak-hak kami sebagai warga negara yang dilindungi oleh UUD 45.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/manusia-yang-dikalahkan.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-5115069954649654543</guid><pubDate>Thu, 17 Apr 2008 08:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T04:49:21.638+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertemuan</category><title>RUMAHKU PENUH LUMPUR</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang ibu muda dengan terisak mengatakan, “Bila saya ditanya apa yang saya butuhkan, maka saya &lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;tidak&lt;/span&gt; tahu apa yang saya butuhkan. Saya hanya butuh rumah saya kembali.” Ibu ini adalah salah satu kurban semburan lumpur Lapindo, Porong. Dia menceritakan seminggu yang lalu dia bersama anak dan suaminya masih makan bersama di ruang makan yang kecil. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Menonton TV bersama setelah seharian bekerja. Bernyanyi bersama para tetangga untuk mempersiapkan misa Natal. Tapi sekarang semua tidak dapat dilakukan kembali. Rumahnya sudah tergenang lumpur. Dia harus meninggalkan rumah yang dibeli ketika masih pacaran. Rumah yang menjadi saksi bisu suka duka membangun keluarga baru. Di rumah itu dia melahirkan anak semata wayang. Mengasuh anaknya dan membangun masa depan. Semua musnah begitu saja akibat lumpur yang terus mengalir dan menggenangi rumahnya.Semburan lumpur yang sudah sejak bulan Mei 2006 dan entah kapan berakhir secara perlahan melebar kemana-mana. Puluhan hektar sawah dan kompleks perumahan sudah tenggelam. Meledaknya pipa gas milik pertamina semakin memperparah situasi. Lumpur yang diperkirakan tidak memasuki perumahan padat ternyata mengalir dan menggenangi perumahan. Memaksa orang di perumahan untuk meninggalkan rumahnya dalam waktu singkat. Mereka dicabut begitu saja dari tempat mereka berpijak. Mereka harus mengungsi dan tidak mungkin kembali lagi pada rumah yang mereka beli dengan susah payah. Rumah yang mereka jadikan harapan untuk membangun keluarga. Rumah yang menjadi idaman mereka ketika memulai hidup berkeluarga kini semua musnah. Rumah tinggal menjadi bangunan tidak berarti yang menyembul dari lumpur kering bahkan hilang menjadi sebuah tanggul.Para petinggi pemerintah dan perusahaan Lapindo hanya menghitung rumah yang rusak dan perkiraan ganti rugi. Padahal masalah kehilangan rumah tidak sesederhana itu. Rumah bagi para kurban bukanlah sekedar bangunan mati melainkan gerak dan denyut kehidupan mereka. Tempat mereka membangun kehidupan keluarga. Tempat yang dapat mereka banggakan pada sesamanya. Tempat mereka kembali setelah bekerja. Banyak orang membangun rumah yang disesuaikan dengan karakter dirinya. Rumah adalah cerminan diri seseorang. Apalagi orang sederhana yang harus dengan susah payah mengumpulkan uang untuk membangun sedikit demi sedikit. Pembangunan yang merupakan sebuah bentuk perjuangan yang lama dan keras. Bangunan rumah itu menjadi kebanggaan dan monumen perjuangan hidup. Kini semua hancur. Mereka kehilangan apa yang dibanggakannya. Mereka dipaksa pergi dengan cepat tanpa persiapan apa-apa. Maka ibu muda tadi bila ditanya orang apa yang dibutuhkan saat ini, dia menjawab bahwa dia tidak tahu. Dia kehilangan kebanggaannya dan hasil perjuangannya dalam waktu yang singkat. Dia tidak mungkin kembali untuk membangun apa yang sudah dimulai. Dia harus mengawali dari nol kembali.Pengungsian membuat orang kehilangan komunitasnya. Selama di perumahan mereka sudah membangun pertemanan yang baik dengan sesamanya. Hancurnya kampung mereka membuat mereka harus terpisah dari teman-teman atau komunitasnya. Memang mereka dapat membangun pertemanan atau komunitas dimana saja. Tapi hal itu tidak mudah. Jaman ini kecenderungan individualis sangat kuat, meski dalam hati yang terdalam manusia membutuhkan sesamanya. Situasi jaman juga membentuk orang untuk tidak mudah percaya pada sesamanya. Mereka butuh waktu untuk membangun persaudaraan atau pertemanan. Di perumahan para kurban sudah mampu membangun persaudaraan dengan baik. Kini mereka kehilangan pertemanan dan harus membangun kembali pertemanan yang baru.“Saya adalah salah satu orang yang pertama di perumahan TAS,” kata seorang bapak muda. Dia seorang guru. “Saat itu TAS masih belum ada listrik. Kami menggunakan lampu minyak. Sedikit demi sedikit saya membangun rumah yang sederhana untuk masa depan anak-anak. Kini semua musnah. Kami hanya mampu menatap sisa rumah kami di tengah lautan lumpur.” Lanjutnya sambil terisak. “Saat itu saya sedang mengajar di sebuah SMP swasta di Surabaya ketika istri saya menelpon bahwa air sudah masuk. Segera saya pulang. Saya memacu sepeda motor dengan gila. Pikiran saya kalut. Saya harus menyelamatkan anak dan istri saya.” Lanjutnya. Semua keluarganya selamat tapi rumahnya tenggelam dalam lumpur. Gajinya sebagai seorang guru tidaklah cukup banyak. Dia harus menabung sedikit demi sedikit untuk mencicil rumah dan merenovasinya. Kini setelah rumahnya dianggap layak huni, dia dipaksa meninggalkannya. “Saya masih harus mencicil rumah yang tidak mungkin saya tempati lagi.” Katanya menutup pembicaraan.Banyak para penghuni perumahan TAS (Tanggulangin Anggun Sejahtera) yang masih harus mencicil rumahnya. Penghuni TAS pada umumnya adalah keluarga muda yang baru merintis karir atau menjadi pegawai sederhana. Mereka harus pintar membelanjakan penghasilan yang tidak banyak untuk biaya hidup dan mencicil rumah. Setelah bertahun-tahun mencicil kini mereka dipaksa pindah oleh lumpur. Pemerintah dan Lapindo di koran dan media massa lain mengatakan akan mengganti rumah, tanah, atau ladang yang terkena lumpur. Mereka juga berjanji akan memberikan uang Rp 2.000.000 untuk kontrak rumah. Berita itu dimuat di koran dengan tulisan besar-besar. Dalam waktu sekejap harga kontrakan rumah di Sidoarjo melambung tinggi. Hal ini disebabkan berita adanya uang ganti kontrak dan melonjaknya orang yang membutuhkan rumah kontrakkan. Parahnya janji itu masih sekedar ditulis di koran. “Kami harus kos,” kata seorang ibu muda, “Biaya kos sebulan Rp 300.000. Ini sangat berat bagi kami. Tapi tidak ada pilihan. Maka saya tidak tahu bulan depan apakah akan mampu membayar uang kos atau pindah entah kemana lagi.”Bencana lumpur Lapindo memang tidak segempar bencana tsunami di Aceh atau gempa di Jogjakarta. Namun sebetulnya bencana ini menimbulkan kepedihan yang mendalam bagi para kurban. Bila orang Jogjakarta setelah bencana mampu kembali ke tanah mereka. Membangun kembali rumah mereka. Menggarap sawah mereka kembali, bahkan ada banyak sawah yang tidak hancur akibat gempa sehingga masih dapat diharapkan hasilnya. Tapi kurban Lapindo tidak mungkin akan kembali ke tanah mereka. Rumah mereka musnah atau tersisa sebagian bangunan. Sawah mereka sudah menjadi lautan lumpur yang tidak mungkin ditanami kembali. Mereka dipaksa meninggalkan tempatnya berpijak selama ini. Tempat mereka membangun harapan. Inilah kepedihan mereka yang mendalam.Selama ini pemerintah hanya berbicara soal hasil survey tentang data material dan jumlah kurban lalu mengeluarkan aneka analisa dan keputusan yang dilakukan di belakang meja sebuah hotel mewah. Mereka tidak pernah mencoba memposisikan diri menjadi kurban. Orang yang diusir dari tempatnya berlindung. Dalam hal ini perasaan kehilangan dan terusir tidak pernah diungkapkan. Padahal hal itu sangat besar pengaruhnya pada para kurban. Anak-anak kehilangan arena bermain. Mereka juga cemas kalau sekolah mereka tenggelam dan sudah ada sekolah yang tenggelam. Mereka bingung dengan masa depan pendidikan mereka. Mereka juga malu dikatakan sebagai anak pengungsi yang tinggal di pasar Porong.Memang bagi orang yang cukup mampu dalam segi ekonomi mereka akan cepat pindah rumah dan memindahkan sekolah anak-anak mereka. Atau orang yang masih mempunyai keluarga di sekitar Sidoarjo dan Surabaya akan segera bergabung kembali dengan keluarga mereka. Tapi bagaimana dengan orang yang kurang mampu dan jauh dari keluarga mereka? Mereka tidak mungkin meninggalkan Porong sebab mereka bekerja di Sidoarjo. Disinilah sumber kehidupannya. Pemerintah pernah menganjurkan agar mereka sudi untuk mengikuti program transmigrasi tapi apakah itu akan menyelesaikan masalah kemanusian? Disini terjadi perbedaan pandangan antara penguasa dan para kurban. Penguasa melihat semua dari data dan pemecahan yang memungkinkan. Tapi kurban melihat dari perasaan terusir dan ketidakadilan. Bagi mereka pengeboran minyak bukan urusan mereka. Tidak sekalipun mereka diajak berunding oleh Lapindo bahwa perusahaan itu akan mengadakan pengeboran minyak disana. Kini mereka harus menanggung bencana yang diakibatkan oleh sesuatu yang bukan salah mereka. Bila pengeboran minyak itu berhasil apakah Lapindo akan memberikan keuntungan pada penghuni perumahan dan para petani? Pasti tidak. Semua keuntungan akan dinikmati sendiri oleh perusahaan dan pemerintah. Tapi ketika terjadi bencana maka yang dirugikan adalah masyarakat yang tidak tahu menahu soal pengeboran minyak.Luapan lumpur dengan cepat mengubah status seseorang. “Dulu saya sering mengkoordinir teman-teman untuk menyumbangkan sembako pada kaum miskin. Kini saya harus menerima tas kresek hitam berisi sembako.” Kata seorang ibu muda dengan nada pedih. “Saya sebenarnya malu. Tapi bagaimana lagi.” Katanya pasrah. Lumpur membuat orang kehilangan harga dirinya. Dia tidak mampu mempertahankan kebanggaan diri sebagai seorang pemberi. Kini dia harus menjadi orang penerima. Orang yang menunggu belas kasih dari para penentu kebijakan. Padahal seharusnya dia tidak membutuhkan itu.“Saya tidak tahu bagaimana masa depan pendidikan anak-anak saya,” kata seorang bapak dengan berlinang air mata. “Kami harus tinggal di kios pasar. Ada sekitar 24.000 orang yang harus berdesakan di pasar. Bagaimana anak-anak dapat belajar dengan baik? Anda dapat membayangkan betapa repotnya kami harus mandi dan buang air, sebab kamar mandi sangat terbatas.” Lanjutnya. “Lapindo memang memberikan jatah makanan, tapi makanan datang tidak pasti. Kadang juga sudah bau dan rasa tidak enak sama sekali. Kami tidak mungkin masak sendiri.” Kata seorang lelaki muda yang baru beberapa tahun menikah. Dia menyesalkan tindakan pemerintah yang sangat lambat. Para pejabat hanya berunding dan mengumbar janji di koran dan TV tapi kenyataan sangat jauh dari apa yang dikatakan. Para kurban tidak makan janji dan diskusi atau kunjungan para pejabat yang tidak menyelesaikan masalah. Sudah banyak pejabat yang datang dan melihat. Mereka hanya mengumbar janji penghiburan yang tidak terealisasikan. Para kurban butuh terpenuhinya uang ganti rugi dalam bentuk lembaran rupiah di tangan mereka. Inilah yang masih dalam mimpi.Masih banyak lagi kurban yang tidak dapat menyerukan kepedihan hatinya. Seandainya pemerintah dan Lapindo melihat masalah ini dari hati mungkin penyelesaian tidak serumit saat ini. Kebanyakan penyelesaian masalah bencana dilihat dari data dan analisa yang dibicarakan oleh orang yang tidak bertanya pada para kurban. Mereka tidak berusaha merasakan menjadi kurban. Inilah yang dibutuhkan saat ini yaitu empati. Orang bersedia masuk dalam penderitaan orang lain. Melihat dari sisi kurban bukan hanya dari sisi ganti rugi belaka. Melihat dari sisi kehidupan bukan hanya dari angka dan analisa. Seandainya pemerintah dan Lapindo mau semalam tidur di pasar Porong atau rumahnya turut tenggelam oleh lumpur mungkin mereka akan mempunyai pemikiran lain dan bertindak dengan cepat. Namun apakah untuk menumbuhkan belas kasih dan rasa solidaritas harus mengalami menjadi kurban? Bila hal ini yang dituntut maka akan sulit sekali. Belas kasih dan solidaritas hanya tumbuh dalam hati yang peka akan penderitaan sesama. Hati yang berusaha memposisikan diri ditempat kurban. Bukan mengandalkan akal budi dan aneka analisa belaka. Sayang semua hanya seandainya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/rumahku-penuh-lumpur.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-7880376778046893042</guid><pubDate>Thu, 17 Apr 2008 08:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T04:50:24.564+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pertemuan</category><title>MENGAPA AKU MENDERITA</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang datang padaku di siang yang terik. Wajahnya kusut. Matanya cekung mungkin kurang tidur. Tubuhnya kurus. Gurat penderitaan terpampang jelas di wajahnya. Sorot matanya yang tidak memancarkan kehidupan penuh dengan air mata. Orang ini sangat menderita, pikirku dalam hati. Dia kupersilahkan duduk. baru saja duduk dia sudah mulai membuka cerita hidupnya. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Sebuah rentetan kepedihan yang panjang. Setelah sekian lama mendengarkan aku menjadi heran bagaimana Tuhan bisa menciptakan situasi hidup yang demikian pedih? Dia pun bertanya apakah Tuhan belum puas menghukumnya dengan aneka penderitaan? Siang semakin terik ketika orang itu pamit pulang. Dalam kesendirian aku berusaha merenungkan segala kisah pedih dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh tamu tadi.Orang itu berulang kali bertanya mengapa Tuhan menghukumnya? Pertanyaan ini sering kali muncul bila orang masuk dalam penderitaan. Banyak orang senantiasa mengkaitkan penderitaan dengan hukuman Tuhan. Pemahaman ini membuat banyak orang kebingungan bila masuk dalam penderitaan. Apakah dirinya pantas mendapat hukuman Tuhan sedemikian rupa? Jika penderitaan tidak dikaitkan dengan dosa maka akan semakin membingungkan. Orang dapat bertanya apakah Tuhan memang suka menghukum orang tanpa alasan? Bila toh orang ini mempunyai dosa, yang kurasa tidak berat, mengapa hukuman itu sedemikian berat? Sebaliknya mengapa orang yang sudah jelas sangat merugikan masyarakat dapat hidup tenang dengan harta yang melimpah? Bila demikian dimana keadilan Tuhan?Dalam kitab Ayub dituliskan bahwa penyebab penderitaan adalah iblis atas persetujuan Tuhan (Ay 1:7-19; 2:1-7). Seolah iblis dan Tuhan sedang bertaruh mengenai iman Ayub. Tuhan yakin akan kesalehan Ayub sedang iblis melihat bahwa Ayub saleh sebab dia hidupnya penuh dengan kebahagiaan yang dianggap sebagai berkat dari Tuhan. Akhirnya Tuhan mengijinkan iblis untuk membuat Ayub menderita. Meski dirundung penderitaan yang bertubi-tubi Ayub tetap setia. Dia tidak terpengaruh hasutan istrinya untuk menghujat Tuhan (Ay 2:9-10). Ayub bergulat untuk memahami Tuhan yang memberinya penderitaan sebab dia yakin bahwa dirinya bukan orang berdosa. Bila merujuk pembukaan kitab Ayub apakah memang penderitaan adalah perbuatan iblis atas persetujuan Tuhan? Pada akhir kitab Ayub dijelaskan bahwa penderitaan adalah misteri Tuhan yang tidak mudah dipecahkan oleh manusia.Dalam Injil diceritakan suatu hari Yesus diberitahu bahwa Lazarus sedang sakit parah. Namun Yesus tidak cepat datang ke rumah Lazarus. Dia mengatakan &quot;Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.&quot; (Yoh 11:4). Dengan demikian Yesus melihat penderitaan dari segi positifnya yaitu sebagai sarana untuk menyatakan kemuliaan Allah. Yesus pun melihat bahwa orang yang menderita belum tentu dia orang yang berdosa (Luk 13:2-4). Yesus mengingatkan bahwa kita pun dapat mengalami penderitaan yang saat ini sedang menimpa saudara kita. Maka bila kita tidak menderita jangan merasa lebih saleh daripada orang yang menderita. Dengan demikian penderitaan tidak terkait dengan kesalehan.Semua orang ingin hidupnya bahagia. Namun penderitaan dapat datang begitu saja tanpa pernah direncanakan. Seorang teman sedang bahagia sebab dia baru saja menerima gaji pertamanya. Dia sudah berjanji akan membelikan hadiah kecil buat orang tuanya sebagai ucapan syukur atas gaji pertama. Ketika dia berjalan menuju sebuah toko tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Oleh karena pengemudi tidak mampu mengotrol sepada motornya maka menabrak teman yang sedang berbahagia. Dia meninggal setelah beberapa saat dirawat di rumah sakit. Penderitaan itu datang begitu cepat tanpa diduga.Yesus bersabda, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Mat 11:29). Yesus memberikan tawaran kepada orang yang sedang letih dan berbeban berat agar datang padaNya. Namun Dia tidak melepaskan beban itu, melainkan mengajak kita untuk belajar dariNya bagaimana menyikapi beban itu. Yesus mengajar agar kita rendah hati dan lemah lembut. Penderitaan akan semakin menyakitkan bila kita mengadakan pemberontakan melawan penderitaan itu. Pemberontakan itu dapat dengan cara mempertanyakan mengapa penderitaan itu datang padaku? Bukankah aku ini sudah berusaha mentaati perintah Tuhan? Masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam hati. Bila kita rendah hati maka kita menerima saja penderitaan itu. Di Taman Getsemani Yesus pun berulat akan penderitaan yang akan dijalaniNya. Dia melihat bahwa penderitaan itu adalah kehendak Allah, maka Dia bertanya &quot;Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.&quot; (Mat 26:39). Penyerahan total kepada kehendak Allah inilah yang membuat Yesus berani menghadapi semua penderitaan.Sering kita ingin hidup seturut keinginan kita. Keinginan kita adalah kebahagiaan. Penderitaan bukan termasuk dalam daftar keinginan. Disinilah tantangan bagi diri kita. Sejauh mana kita mampu rendah hati menerima setiap penderitaan yang ada. Melihat penderitaan sebagai bagian dari kehendak Allah yang tidak mungkin kita tolak. Allah bukanlah Allah yang kejam dan sewenang-wenang. Dia senantiasa mempunyai maksud atas segala kehendakNya. Yesus menerima penderitaan akhirnya mengalami kebangkitan yang menjadi titik keselamatan manusia. Banyak orang Kristen dibunuh namun pembunuhan dan penindasan itu membuat Gereja berkembang sampai saat ini. Semua rencana Allah tersembunyi bagi kita. Apa yang pahit saat ini mungkin menghasilkan yang manis dikemudian hari.Penderitaan “diadakan” oleh Allah agar kasih Allah semakin nyata. Ketika Aceh terkena tsunami maka ada ribuan orang yang memberikan dananya bagi masyarakat Aceh. Ada banyak orang datang ke Aceh untuk membantu masyarakat disana. Sebelum terjadi tsunami bukan berarti Aceh mengalami kehidupan yang menyenangkan. Banyak sekali pertikaian dan pembunuhan yang terjadi disana akibat konflik yang ditimbulkan perbedaan politik. Banyak masyarakat Aceh yang menderita akibat konflik itu. Tetapi jarang sekali orang datang untuk membantu mereka atau menyumbangkan dana bagi mereka. Dengan demikian adanya bencana membuat orang mulai berbelas kasih pada sesamanya. Bila kita melihat ada orang yang menderita itulah saatnya kita menunjukkan belas kasih Allah kepada masyarakat. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.&quot; (Mat 5:16).Dengan demikian penderitaan bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi manusia. Bila kita mengalami penderitaan kita hendaknya semakin berserah pada Tuhan dan melihatnya sebagai kehendak Tuhan. &quot;Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr 12:5-6) Kita menanggapinya dengan lemah lembut dan rendah hati. Bila ada orang lain yang menderita ini adalah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih Allah sehingga semakin banyak orang memuliakan nama Allah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/mengapa-aku-menderitahttpcoretangani1bl.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-4265464309867785391</guid><pubDate>Thu, 17 Apr 2008 08:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T04:57:21.093+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>PIALA DUNIA</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saat ini hampir separo penduduk dunia mengarahkan perhatiannya ke Jerman. Bukan disana Hitler bangkit kembali, tetapi ada pertandingan sepak bola piala dunia. Acara empat tahunan ini mampu menyedot perhatian manusia di dunia. Membawa banyak orang dari aneka negara terutama negara yang masuk dalam finalis ke Jerman. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Banyaknya pendatang membuat ekonomi Jerman bergerak lebih baik lagi. Menurut sebuah harian di Jawa Timur, piala dunia sepak bola mampu membuat ekonomi negara yang ketempatan menjadi lebih baik. Korea dan Jepang ekonominya juga semakin bergerak ketika ada piala dunia.Sepak bola sudah bergeser dari sebuah olah raga menjadi sebuah ajang bisnis yang menganggumkan. Tidak ada cabang olah raga yang menyedot perhatian manusia sedemikian besar seperti sepak bola. Kecintaan manusia pada sepak bola membuat mereka setia untuk datang di stadion atau menonton di TV. Moment itu digunakan oleh para pebisnis untuk mendongkrak produksinya. Mulai dari bisnis jasa seperti hotel, angkutan, restoran dan sebagainya sampai produk-produk yang ditawarkan dalam iklan sepak bola, baik itu di stadion maupun dalam iklan di TV atau media lain.Beberapa tahun lalu Paus Yohanes Paulus II pernah prihatin ketika mengetahui bahwa Christian Vieri ditransfer 50 juta dollar dari AC Milan ke Inter Milan pada tahun 1999. Paus prihatin bagaimana uang sedemikian besar hanya digunakan untuk membayar pemain sepak bola, padahal di dunia masih banyak orang yang sangat membutuhkan uang. Padahal sekarang saja biaya transfer seorang pemain sudah jauh dari yang diterima oleh Vieri. Bila dollar pada tahun itu sekitar Rp 10.000 maka Vieri harga transfer Vieri sebesar Rp 50 Milyard. Sekarang pemain gelandang Argentina Rodriguez sudah ditawari Rp 308 Milyard oleh AC Milan. Hal itu belum lagi pemasukan dari sponsor dan sebagainya. Bila kita bisa matematika maka kita dapat menghitung sendiri berapa gajinya per hari atau bahkan perjamnya. Lebih gila lagi presiden Nigeria, Olesgum Abasanjo rela mengeluarkan dana dari kas negara sebesar 1 Milyard dollar atau Rp 9 Trilyun untuk membangun sebuah stadion. Padahal Nigeria adalah negara miskin yang masih diancam perang saudara dan pemberontakan.Dari sini kita dapat merenungkan betapa sepak bola sudah sedemikian mempengaruhi manusia. Bila dipikirkan dengan kepala jernih apakah dana-dana transfer seorang pemaian yang sedemikian besar sudah wajar bagi dunia saat ini? Dimana sebagian dunia masih diliputi kemiskinan, kelaparan, bencana dan sebagainya? Dalam olah raga bola basket yang paling menghebohkan yaitu NBA ada batasan tingginya transfer seorang pemain, tapi dalam sepak bola tidak ada batasan. Siapa yang mempunyai uang banyak dapat membeli pemain yang bagus.Iming-iming uang yang banyak membuat banyak orang bermimpi menjadi pemain sepak bola yang hebat. Sebab selain mendapat uang mereka juga mendapatkan popularitas dan fasilitas lain yang tidak dapat dimiliki oleh orang lain pada umumnya. Tampaknya sepak bola menjadi janji yang menggiurkan banyak orang.Bagaimana dengan di Indonesia? Sepak bola di negara ini memang masih sangat memprihatinkan. Prestasi di lapangan sangat minim tapi prestasi di luar lapangan memang sangat membuat heboh. Menonton sepak bola di sini mendapat tambahan atraksi yaitu perkelahian antar pemain, antar pemain dengan wasit, antar penonton, penonton dengan masyarakat dan sebagainya. Memang sepak bola di sini belum sehebat dan semengagumkan di negara Eropa atau beberapa Asia lainnya. Tidak ada transfer pemain yang sangat bombastis. Semua masih dalam taraf dapat dipahami. Tapi melihat transfer pemain di Eropa kita dapat bertanya-tanya. Sedemikian besarkah jurang antar negara kaya dan negara miskin? Apakah tidak ada solidaritas diantara kita?Padahal sepak bola Eropa atau negara maju berkembang juga didukung oleh masyarakat dari dunia ketiga atau negara tidak berkembang. Sebuah klub bisa kaya raya sebab setiap mereka bertanding akan diliput dan liputan itu dijual ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam setiap tayangan juga ada iklan yang membuat banyak masyarakat dunia ketiga membeli produk yang ditawarkan. Jadi mereka juga didukung oleh dunia ketiga. Tapi apakah adil bila mereka mendapatkan puluhan milyard sedangkan masih banyak orang yang kelaparan? Inilah yang perlu ditanyakan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/piala-dunia.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-4451258396934615376</guid><pubDate>Thu, 17 Apr 2008 03:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T05:02:02.318+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>CHICO</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sore itu kami sedang duduk di ruang tamu rumah ibu. Diluar hujan turun dengan derasnya. Tiba-tiba adikku masuk dengan tubuh basah kuyup sambil menggendong Chiko. Dia mengomel panjang lebar mengenai Chiko yang nakal suka main air hujan. Tidak lama kemudian sudah terdengar dengkingan Chiko dari kamar mandi. Chiko adalah seekor anjing kecil. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Aku tidak tahu jenis apa. Tinggi tubuhnya tidak lebih dari 25 cm. Bulunya putih dan panjang. Sangat lucu. Chiko suka main air hujan. Maka ketika hujan turun langsung adikku mencarinya, ketika tidak diketemukan di rumah, dia segera keluar rumah mencarinya di tengah guyuran hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian adikku sudah keluar dari kamar mandi dan mulai mengeringkan tubuh Chiko dengan handuk. Dia lalu menyuruh Chiko duduk dekat kami berkumpul. Tidak sampai 5 menit Chiko sudah lari keluar dan berguling-guling di teras. Padahal lantai teras masih berupa tanah, akibatnya tubuh Chiko kotor kembali. Penuh dengan tanah. Melihat hal itu adikku langsung berteriak-teriak memarahi Chiko. Aku hanya tertawa dan menggodanya, sebab percuma memarahi anjing yang tidak mampu memahami bahasa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan sudah reda. Aku segera pulang ke Surabaya. Dalam perjalanan pulang dari rumah ibu, aku membayangkan kembali peristiwa adikku dengan Chiko. Aku bisa memahami kejengkelannya. Dia sudah susah-susah mencari sampai basah kuyup lalu ketika menemukan dia menggendongnya. Dia memandikan dengan sampho yang dia biasa gunakan. Setelah itu dia mengeringkan dengan handuk, tapi tidak lama kemudian Chiko sudah berguling-guling di tanah yang kotor lagi. Jelas hal ini membuat jengkel saja. Maka ketika jengkel adikku mengambil rantai dan merantai Chiko. Katanya sebagai pelajaran. Apakah Chiko akan faham akan hukuman yang diberikan oleh adikku? Apakah besok kalau setelah dimandikan dia tidak akan berguling kembali di tanah? Apakah kalau hujan dia tidak akan main-main di luar lagi? Aku tidak bisa memberikan jaminan sebab Chiko bukanlah adikku. Dia juga bukan manusia yang mempunyai pikiran soal kebersihan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku membawa peristiwa adikku dengan Chiko pada hubunganku dengan Tuhan. Aku pikir ternyata Chiko adalah gambaran diriku. Aku tidak jarang masuk dalam sebuah bahaya dosa. Aku menikmati bermain-main dalam dosa seperti Chiko menikmati main-main air hujan. Aku tidak menyadari bahaya akan tindakanku. Aku yakin Allah mengetahui dan kuatir akan keselamatan jiwaku, namun aku tidak. Aku tetap bermain dan menikmati apa yang aku anggap menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa pada umumnya sangat menyenangkan meski akibat dari dosa seringkali menimbulkan sakit dan luka yang dalam. Bahkan tidak jarang dosa menghantui seumur hidupku. Menimbulkan penyesalan yang panjang. Namun meski aku tahu akibatnya pun aku tetap melakukan dosa. Aku tidak pernah berhenti melakukan dosa dalam aneka bentuk tindakan. Chiko lebih baik, sebab dia main air hujan tanpa tahu akibatnya. Dia hanya ingin bermain. Sedangkan aku tahu akibat dosa. Tuhan telah memberiku akal budi yang cukup sehingga membuatku bisa mempertimbangkan sebuah tindakan. Aku bisa memilih sebuah tindakan dosa atau bukan. Namun aku tetap memutuskan untuk melakukan. Ini lebih parah dari Chiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali aku membuat aneka alasan untuk berbuat dosa. Melakukan pembenaran diri atau memaafkan diri dengan alasan banyak orang yang melakukan atau itu hal biasa dalam hidup. Sebuah warna lain dari hidup. Namun jika jujur aku tahu bahwa aku salah dalam mengambil keputusan. Tidak ada dosa yang terjadi secara tidak sengaja. Semua sudah aku pertimbangkan dan dengan kesadaran penuh. Chiko lari ke jalanan yang hujan aku yakin tidak didasari oleh pertimbangan kesadaran yang penuh dan akal budi yang cukup. Chiko tidak mempunyai kesadaran seperti yang aku miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dosa-dosaku tidak menyurutkan Allah untuk menyelamatkan. Dia mengutus PutraNya untuk datang ke dunia dan menyelamatkan aku. Dia masuk dalam lingkungan yang penuh dengan dosa dan mencariku. Ketika ditemukan aku digendongnya, seperti adikku menggendong Chiko. Namun bedanya Yesus tidak semarah adikku. Dia tidak pernah ngomel ketika menggendongku. Bahkan Dia mengatakan bersukacita seperti seorang janda yang menemukan satu keping dinarnya yang hilang. Allah bersuka cita ketika menemukan aku yang berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku disucikan oleh Allah dengan baptisan. Sama seperti adikku membersihkan Chiko dari segala lumpur dengan shampo yang digunakannya. Yesus menyelamatkan aku dengan tetesan darahNya. Ini lebih dari shampo. Dia mengurbankan diriNya demi membersihkan diriku sehingga aku layak dan pantas untuk duduk dan bersamanya di dalam kerajaanNya. Namun aku sering tidak menyadari hal ini. Maka seperti Chiko setelah baptis pun aku lalu lari kembali pada kesenanganku. Berguling-guling dalam dosa. Aku tidak mampu mempertahankan kebersihan diri dan jiwaku. Gereja menyediakan sakramen tobat, dimana aku memohon ampun atas segala dosa dan membangun niat ingin kembali kepada Allah. Namun buah sakramen tobat tidak berlangsung lama. Aku masuk kembali dalam dosa. Seolah denda belum aku laksanakan sudah ada dosa lagi yang aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak seperti adikku yang langsung marah ketika melihat Chiko berlari kembali ke teras yang kotor. Allah memberikan aku kebebasan. Dia membiarkan aku memilih sebuah pilihan hidup. Dia tidak merantaiku sehingga aku tidak bisa bergerak. Alalh memberiku kebebasan untuk memilih apa yang hendak aku lakukan. Allah adalah bapa yang baik. Dia menungguku dan menyosongku ketika aku pulang kembali padaNya setelah mengecewakanNya. Gereja senantiasa terbuka bagi orang berdosa yang ingin kembali. Namun sayang ada orang yang arogan sehingga menutup pintu Gereja bagi orang berdosa yang ingin bergabung kembali. Banyak orang yang merasa berdosa tidak mau masuk kembali dalam Gereja sebab dia merasa ditolak oleh sesamanya. Padahal Allah tidak pernah menolak, bahkan Dia sangat bersuka cita dan berharap orang berdosa akan kembali lagi dalam pangkuanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ubahnya seperti Chiko yang lebih suka menuruti kesenanganku sendiri daripada taat pada kehendak Allah. Padahal Allah sudah berbicara dengan bahasa yang aku mengerti. Bertindak yang bisa aku lihat. Allah sudah menjadi bagian dari manusia. Ini berbeda antara adikku dengan Chiko. Adikku berbicara dalam bahasa manusia yang tidak dimengerti seekor anjing. Dia tidak menjadi anjing agar Chiko melihat keteladanannya. Jika Chiko tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh adikku hal ini wajar, sebab ada perbedaan besar antara keduanya. Sedangkan aku dengan Yesus tidak ada bedanya. Dia juga manusia yang berbicara dalam bahasa manusia. Aku faham apa yang dikehendakiNya. Aku bisa melihat keteladananNya. Namun aku masih tidak taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Chiko mengotori tubuhnya kembali, adikku kecewa. Dia merasa apa yang sudah dilakukannya menjadi sia-sia. Jika aku berguling dalam dosa, aku yakin Yesus kecewa melihat keputusanku. Namun Dia tidak mengomel. Dia mungkin hanya menatapku dengan sedih sama seperti ketika Dia menatap Petrus yang mengkhianatiNya. Sama dengan ketika Dia mempersilakan Yudas menjalankan segala rencananya. Aku bayangkan ada nada getir ketika Yesus mempersilahkan Yudas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sudah sering kecewa dengan pilihan tindakanku. Aku pun sadar akan hal itu, namun aku lemah dan sering jatuh. Apakah keyakinan kasih Allah yang tidak menghukumku ini membuatku tidak takut berbuat dosa? Apakah Allah sengaja membiarkan aku berbuat dosa? Aku yakin tidak. Sama seperti ketika Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang mempersoalkan perceraian. Dia mengatakan bahwa akibat kekerasan hati merekalah maka Musa memberikan surat cerai. Ya ketegaran hatilah yang membuatku berulang kali jatuh dalam dosa. Ketegartengkukkanlah yang membuatku masuk dalam dosa. Tanggung jawab ini tidak bisa dilemparkan pada Allah, melainkan aku harusnya bersyukur bahwa Allah masih memberiku kesempatan untuk bertobat dan tetap memberiku kebebasan untuk memilih apa yang hendak aku lakukan. Allah tidak seperti adikku yang membawa rantai dan memberikan hukuman atas segala tindakanku. Aku hanya harus menanggung konsekwensi atau akibat dari apa yang aku lakukan. Aku harus memetik buah dari dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman sore ini menyadarkan aku bahwa aku tidak lebih baik dari Chiko, seekor anjing kecil yang suka main air hujan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/chico.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-4717033747617716166</guid><pubDate>Thu, 17 Apr 2008 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T05:04:38.991+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>AKU DAN KECOAK</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku memandang seekor kecoak yang berlarian di kamar mandiku. Sebentar-sebentar dia berhenti. Aku tidak tahu apakah dia hanya mengendus sesuatu atau makan sesuatu. Tapi apa yang dimakan? Di kamar mandi hanya ada sisa air, sisa busa sabun, sisa busa shampo dan sisa abu rokok. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Apakah kotoran itu bisa dijadikan makanan? Ataukah dia makan dakiku yang berjatuhan dari tubuhku ketika tersiram air? Entahlah. Tapi kalau tidak makan, bagaimana dia bisa hidup di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah itu memang Mahakuasa. Bagaimana kecoak yang kupikir tidak mempunyai makanan, ternyata masih bisa hidup. Bagaimana sampah dari diriku masih bisa memberikan suatu kehidupan, meski hanya untuk seekor kecoak. Pernah aku berpikir untuk tidak ke kamar mandi sama sekali. Aku ingin tahu apakah kecoak itu masih bisa bertahan hidup atau akan mati. Tapi akhirnya aku berpikir mengapa aku bisa begitu jahat? Mengapa aku sayang membuang sampahku? Padahal aku tidak merasa kehilangan sama sekali. Bahkan tubuhku menjadi lebih bersih setelah mandi. Memang kadang aku terlalu egois. Aku tidak ingin orang lain atau hewan lain menikmati apa yang aku miliki bahkan sampai apa yang sebetulnya tidak pernah aku rasakan sekalipun jika aku melepasnya. Misalnya di dalam lemariku ada beberapa helai baju bahkan beberapa sudah sangat lama, sebab kubeli beberapa tahun yang lalu. Aku sudah tidak memakainya selain sudah tidak mampu menampung tubuhku yang semakin membesar juga sudah ada yang lebih baru. Karena tidak pernah kupakai, maka aku tidak pernah memperhatikan baju-baju itu lagi. Tapi ketika ada yang mengambilnya, aku merasa kehilangan. Padahal selama ini aku tidak pernah memperhatikannya. Kalau kecoak itu makan dakiku, kenapa aku tidak rela memberinya? Apakah aku merasa kehilangan daki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula aku jijik melihat kecoak, maka ketika pertama melihatnya aku langsung membawa pemukul. Tapi dia memang gesit. Begitu kupukul dia lari masuk ke lubang air. Lama tidak muncul. Dia akan muncul lagi ketika aku tidak ada, sebab setiap masuk kamar mandi pasti kecoak itu sedang berkeliaran. Lama-lama aku biarkan saja. Toh dia tidak mengganggu kehidupanku. Dia hanya membuatku jijik saja, tapi tidak membahayakan diriku. Dia juga tahu diri sehingga tidak masuk kamar. Hanya berkutat di kamar mandi. Mengapa aku tidak bisa berbagi ruangan sedikit saja dengannya? Toh aku juga jarang masuk kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku jijik pada kecoak? Jika kulihat warnanya yang coklat tua dan mengkilat, mengapa bisa menimbulkan kejijikan? Bukankah warna itu indah? Mungkin kejijikan itu muncul dari cerita ibuku bahwa kecoak itu kotor. Hidupnya di got-got dan tempat kotor lainnya. Kini dia hidup di kamar mandiku apakah masih menjijikan? Temanku lebih parah lagi, jangankan melihat kecoak, mendengar kata kecoak saja dia sudah ketakutan, karena jijik. Jika kecoak itu sejak kecil kupelihara di tempat yang bersih apakah dia akan tetap menjijikan? Pasti tetap menjijikan. Dengan demikian kejijikan itu bukan karena asal tempat tinggal kecoak, tapi karena pikiranku sendiri yang sudah menuduhnya menjijikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masyarakat juga ada orang yang dianggap menjijikan sebab status dan pekerjaannya. Beberapa orang dengan secara implisit menyatakan bahwa pekerja seks kelas teri yang mangkal di stasiun dan terminal adalah orang yang menjijikan. Pemulung dan anak jalanan juga menjijikan. Aku teringat pernah ketika bersama teman-teman hampir saja diusir oleh satpam rumah makan, sebab di dalamnya sedang ada pesta. Padahal kami diundang dan diminta untuk mengisi acara. Kami semua saat itu sudah mandi dan bersih, hanya pakaian kami bukan pakaian pesta, sebab memang tidak punya. Satpam itu mau mengusir sebab mengetahui dari penampilan kami bahwa kami adalah anak jalanan yang suka bikin onar, mencuri dan tuduhan lainnya, yang membuat kami jadi masyarakat yang menjijikan. Untung aku ingat nomor HP orang itu sehingga dia sendiri keluar dan mempersilahkan kami masuk. Kalau aku lupa jelas satpam itu akan tetap mengusir kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang pun enggan aku ajak untuk berteman dengan teman-temanku. Aku tahu bahwa alasan mereka adalah mereka jijik. Mereka jijik bukan karena melihat penampilan temanku yang sudah mandi, tapi dari pikirannya sendiri yang terbentuk dari lingkungannya bahwa anak jalanan, pekerja seks kelas teri dan pemulung adalah orang yang menjijikan. Orang Yahudi pun sempat terheran-heran dan mengkritik Yesus ketika Dia datang dan makan bersama orang-orang yang dianggap menjijikan. Mereka dianggap menjijikan sebab orang Yahudi merasa lebih bersih. Aku pun bisa melihat kecoak menjijikan sebab aku merasa lebih bersih dibandingkan kecoak. Padahal kecoak itu selalu di kamar mandi. Dia pasti selalu terkena air, sedangkan aku hanya dua kali sehari mandi. Itupun kalau di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akhirnya senang dengan kecoak itu sebab dia bisa menjadi hiburan di saat aku tengah duduk sambil menikmati rokokku di kloset. Aku bisa melihatnya berlarian dan penasaran jika melihatnya mengendus-endus. Aku teringat Ktut Tantri seorang Amerika yang membantu perjuangan rakyat Bali melawan Belanda yang ingin menduduki Indonesia kembali setelah Jepang kalah. Ketika di penjarakan Ktut Tantri merasa kesepian, sebab dia sendiri dalam satu sel dan tidak boleh berkomunikasi dengan siapapun. Maka dia berteman dengan kecoak yang berkeliaran di selnya. Ternyata kecoak pun bisa menjadi teman yang menyenangkan. Apakah setelah keluar dari penjara dan kembali ke Amerika Ktut Tantri masih suka berteman dengan kecoak? Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah melupakan teman-temannya itu. Atau bahkan mungkin sudah menyemprot kecoak yang ada di rumahnya dengan pestisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ketika orang sedang kesepian dia bisa saja berteman dengan siapa saja dan apa saja. Namun ketika dia menemukan dunianya kembali dia mulai meninggalkan teman-temannya. Aku pun hanya berteman dengan kecoak ketika di kamar mandi. Di luar kamar mandi aku sudah lupa dengan mereka. Jangankan dengan kecoak, dengan sesamaku saja aku bisa lupa. Memang dalam kesepian aku bisa berteman dengan siapa saja. Dengan orang yang masih mau denganku. Tapi jika sudah punya banyak teman, aku pun mulai memilih mana yang bisa kuanggap teman. Aku pun pernah mengalami nasib seperti kecoak. Ketika orang sedang dalam kesepian dan kesulitan dia senantiasa datang padaku, bahkan sampai menyita banyak waktuku. Tapi setelah dia aman dan nyaman, dia melupakanku. Jangankan datang, telpon saja tidak pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kusadar bahwa perteman ternyata sangat rentan. Saat ini aku punya banyak teman sebab aku jadi imam, suatu status yang tidak menjijikan. Banyak orang senang bisa mengenalku bahkan mau bersusah payah menolongku. Padahal dulu aku merupakan bagian dari orang yang dilupakan dan tidak diperhitungkan. Tidak ada seorangpun yang bangga berteman denganku. Kini semuanya berubah, sebab statusku. Bukan diriku, sebab aku sama dengan yang dulu. Seandainya nanti suatu saat aku menyatakan mengundurkan diri dari imamatku, aku yakin akan menjadi orang yang dihindari lagi. Aku akan jadi kecoak di masyarakat. Padahal aku tetap menjadi diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecoak di kamar mandiku yang berukuran 1X2,5 m masih berlari kian kemari. Apakah dia bangga hidup sebagai kecoak? Apakah dia bahagia sebagai kecoak? Aku tidak tahu. Kalau toh kecoak itu menangis atau tertawa aku juga tidak tahu. Atau dia tidak bisa menangis dan tertawa? Ataukah memang aku tidak peduli apakah kecoak itu menangis atau tertawa? Ataukah aku memang tidak bisa membedakan antara tangis dan tertawanya kecoak? Dalam masyarakat saat ini banyak sekali kecoak. Orang yang dianggap menjijikan. Orang yang disingkiri. Orang yang hidup dari sisa-sisa orang lain. Orang yang bisa hidup dari makanan yang tidak pernah kita duga bisa menghidupinya. Orang yang sudah sulit membedakan antara tangis dan ketawa, sebab dia tertawa dalam tangisan. Dalam kesedihan dan kesepiannya. Mereka berkeliaran di sekitarku hanya aku saja tidak peduli padanya, sehingga aku lebih memperhatikan kecoak di kamar mandi daripada mereka yang ada di sekitarku.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/aku-dan-kecoak.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4371864648823252911.post-5309752168338771720</guid><pubDate>Thu, 17 Apr 2008 03:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-12T05:05:51.433+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>AKU HANYALAH ANAK SEORANG PSK</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Malam semakin larut. Radio tetangga sebelah yang sepanjang siang sangat keras mendendangkan lagu-lagu dang dhut sudah lama tidak berbunyi. Lorong rumah yang sehari-hari ramai oleh suara tangis anak, jeritan atau tawa mereka ditengah suara keras dari ibu-ibu yang marah sudah lama menghilang. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Saat ini hanya sesekali terdengar suara derungan mesin sepeda motor yang melintasi jalan depan lorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha tidur. Mataku sudah kupejamkan sejak sore, tapi masih belum bisa terlelap juga. Dua adikku sudah sejak tadi tertidur. Bahkan adikku yang paling kecil sudah ngompol sehingga aku harus menggantikan celananya dan membersihkan plastik alas tidur agar air kencing itu tidak mengalir kemana-mana. Rumahku hanyalah sebuah kamar ukuran 3X3 m. Aku tinggal bersama ibu dan kedua adikku yang masih kecil. Dulu sebelum ayah pergi entah kemana, kami harus menempati kamar ini berlima. Kami semua tidur di lantai dengan beralaskan plastik. Tidak ada tempat tidur atau meja. Kalau toh kami punya maka semua itu pasti tidak akan cukup untuk diletakan dalam ruang yang sempit ini. Kami hanya mempunyai satu buah lemari kecil tempat pakaian dan rak tempat aku menyimpan semua buku pelajaran dan alat-alat rumah tangga lain. Tidak jarang bukuku basah kena air yang menetes dari piring yang masih basah. Ibu selalu melarangku untuk meletakan piring yang baru selesai dicuci di luar rumah, sebab kemungkinan besar akan hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah ini sempit dan pengap. Tidak ada jendela. Hanya ada sebuah pintu. Rumahku adalah salah satu dari 5 rumah lain yang berderet. Antar rumah hanya dibatasi oleh sebuah dinding triplek tipis, sehingga apa yang terjadi di sebuah rumah pasti akan didengar dan ketahui oleh tetangga sebelah. Di hadapan rumahku juga ada 5 rumah lain yang berderet. Kami dipisahkan oleh sebuah lorong sempit. Perumahan ini tidak bedanya dengan kandang ayam yang pernah aku lihat di rumah tetangga yang mempunyai banyak ayam jantan. Kurangnya ventilasi dan banyaknya barang yang berjejal dalam rumah membuat rumahku menjadi pengap. Ini juga terjadi pada rumah para tetangga. Semuanya pengap. Bau ompol, asap kompor, pakaian kotor, dan keringat semua bercampur menjadi satu. Apek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat jam kecil di atas lemari pakaian sudah menunjukan hampir pukul 2 dini hari. Jam itu merupakan pemberian dari seseorang sebab aku bisa menggambar dengan bagus. Katanya aku mempunyai bakat menggambar. Padahal menurutku gambaranku biasa saja. Mungkin orang itu ingin memberi tapi menggunakan cara lomba. Ah terserahlah! Yang penting aku mempunyai jam, sehingga bisa tahu waktu. Biasanya jam segini ibu pulang. Aku kadang terbangun ketika ibu membuka pintu yang tidak terkunci. Kadang wajah ibu tampak tersenyum melihat kami tidur berdesakan diantara lemari dan peralatan dapur. Tapi tidak jarang juga wajah ibu terlihat lelah dan suntuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu memang bekerja malam hari. Dia berangkat ketika adzan mahgrib di mushola sebelah mulai berkumandang. Aku tidak tahu apa pekerjaan ibu yang sesungguhnya. Jika aku bertanya apa yang dilakukan ibu pada malam hari, dia tidak pernah menjawab dengan memuaskan. Ibu hanya mengatakan bahwa dia bekerja untuk menghidupi kami. Tidak perlu tanya apa pekerjaannya! Bagi ibu yang penting ada uang untuk bertahan hidup. Aku tidak berani bertanya lagi. Aku akan melanjutkan bermain atau belajar. Tetapi sudah sering kudengar dari para tetangga bahwa ibuku bekerja sebagai pekerja seks di tepi jalan. Katanya pernah ada tetangga yang melihat ibu sedang berdiri di tepi jalan bersama dengan pekerja seks yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan ibu ini membuat banyak tetangga mencibirkan bibir melihat keluarga kami. Kadang kalau adikku bertengkar dengan anak tetangga, maka orang tuanya marah dan mengatakan, “pantas saja anak ini nakal sebab ibunya adalah seorang pelacur.” Atau kalimat pedas lainnya. Kenakalan adikku atau kenakalanku selalu dikaitkan dengan pekerjaan ibu sebagai seorang pelacur. Aku sakit hati kalau mendengar perkataan itu, tapi aku tidak bisa membela diri. Kadang aku bertengkar dengan anak tetangga bukan akibat kesalahanku, tapi mereka selalu menyalahkan aku, sebab aku anak seorang pelacur. Apakah seorang anak pelacur selalu salah? Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus dikaitkan dengan pekerjaan ibu? Apakah akibat ibu bekerja sebagai pekerja seks maka aku dan adikku menjadi nakal? Apakah kalau orang tuanya bekerja sebagai buruh anaknya tidak akan nakal? Masih banyak pertanyaan yang tidak mampu kujawab dalam usiaku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jarang bertemu dengan ibu, sebab ketika ibu di rumah aku dan adikku sekolah. Siang hari kebanyakan ibu tidur, sebab kecapekan kerja malam dan mempersiapkan makanan untuk hari ini. Aku tidak mau mengganggu jika ibu sedang tidur. Aku sering membayangkan belajar malam hari dibantu oleh ibu. Aku ingin bermain seperti teman-teman yang lain tanpa harus diganggu oleh adikku yang paling kecil. Saat ini aku tidak bebas bermain sebab harus mengasuh dan merawat adikku yang baru berusia 3 tahun. Kata ibu aku sudah besar maka harus bertanggungjawab terhadap isi rumah termasuk menjaga adik-adikku. Kadang aku jengkel dengan situasi hidup ini. Jika sudah demikian maka aku akan menyalahkan bapakku yang pergi begitu saja. Pergi meninggalkan kami dalam keadaan miskin sehingga hanya menjadi bahan ejekan para tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci pada bapakku, tapi sering kali aku juga merindukan kehadirannya. Bapak dulu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik. Kehidupan kami tidak seburuk seperti saat ini. Meski rumah kami tetap kontrakan seperti ini, tapi tidak ada tetangga yang mengejekku. Aku masih mempunyai harga diri. Aku bisa bermain dan belajar dengan tenang, sebab ada ibu yang menjaga adik. Kalau aku bertengkar dengan anak tetangga masih ada bapak yang membelaku. Tapi kini semua itu sudah berlalu. Sejak di PHK bapak tampak kalut. Dia suka mabuk dan main judi dengan harapan akan menang besar. Kadang bapak menang judi, tapi uang itu akan cepat habis di meja judi lagi. Akhirnya ibu dan bapak sering bertengkar. Hingga suatu saat bapak pergi dan tidak kembali lagi. Kepergiaan bapak menjadi bahan gunjingan para tetangga. Semua tetangga menyalahkan ibu yang suka marah. Apalagi setelah ibu menjadi pekerja seks, maka semua tetangga semakin menyalahkan ibu sebagai perempuan nakal. Perempuan yang tidak baik, sehingga ditinggalkan bapak. Padahal bagiku bapaklah yang salah. Ibu menjadi pekerja seks sebab dia tidak mempunyai apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukan pilihan ibu, tapi sebuah keterpaksaan. Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan pekerjaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pernah ibu diberi modal oleh seseorang untuk membuat kue. Tapi hasil jualan tidak cukup untuk hidup. Untuk makan kami bertiga dan biaya sekolah. Apalagi bila kue itu tidak laku, maka ibu tidak mempunyai uang sama sekali. Hal ini sering terjadi. Pernah ada orang mengatakan ibu kurang bersemangat berjualan dan hanya mencari enaknya saja. Aku tidak setuju pendapat ini! Aku lihat sendiri ibu selalu bangun pada dini hari lalu membuat kue dan memasarkan di pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Siang hari baru ibu pulang dengan membawa bahan untuk membuat kue dan bahan makan kami. Pekerjaan ibu belum selesai. Sore hari ibu mulai membuat kue sampai malam, sehingga esok pagi tinggal menggoreng. Maka tidak jarang ibu mengeluh sangat capek sekali. Tapi perjuangan ibu untuk menghidupi kami bertiga masih tidak dihargai oleh tetangga. Mereka masih mencap bahwa ibu seorang pemalas yang hanya ingin hidup enak tanpa berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangga dan sangat mencintai ibu, meski ibu bekerja sebagai pekerja seks. Tanpa ibu aku dan kedua adikku sudah lama kelaparan. Siapa yang akan peduli dengan kami? Para tetangga yang mencela pekerjaan ibu pun tidak pernah memberi kami barang semangkuk sayur, meski mereka melihat kami hanya makan nasi dan kerupuk. Mereka memang hanya mencela saja, tapi tidak peduli dengan kami. Oleh karena itu ibu sering menasehati agar aku tidak perlu mendengarkan omongan para tetangga, sebab mereka hanya bisa berbicara dan mencela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukan hampir pukul 3 dini hari. Pintu rumah berderit pelan. Kulihat ibu masuk dengan berhati-hati agar tidak membangunkan kami. Ibu tersenyum ketika melihat aku memandangnya. Ibu keluar lagi ke kamar mandi. Tidak lama ibu sudah tidur disisiku. Aku peluk ibu dengan penuh kasih. Bau wangi parfum yang menyengat masih melekat bercampur bau rokok. Aku tidak peduli. Dia adalah ibuku meski seorang pekerja seks.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://langkahpeziarah.blogspot.com/2008/04/aku-hanyalah-anak-seorang-psk.html</link><author>noreply@blogger.com (teman minum kopi)</author><thr:total>2</thr:total></item></channel></rss>