<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262</id><updated>2026-05-20T17:27:14.023+07:00</updated><category term="TASAWUF"/><category term="AKHLAK"/><category term="AQIDAH"/><category term="TAUHID"/><category term="FIQH ISLAM"/><category term="MUSLIMAH"/><category term="FIQH MUAMALAH"/><category term="POLITIK ISLAM"/><category term="Kisah Religi Populer Abu Nawas"/><category term="KAIDAH SUNNAH NABI"/><title type='text'>WADAH SUFIYAH</title><subtitle type='html'>Wadah Informasi Ilmu Tasawuf | Ilmu Thariqat | Ilmu Hadist | Ilmu Al-Qur&#39;an | Ilmu Fiqh | Ilmu Ushuluddin | Politik Islam | Fiqh Muslimah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1055</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-114166648459979402</id><published>2025-02-10T21:48:00.003+07:00</published><updated>2025-02-10T21:48:25.822+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AQIDAH"/><title type='text'>Istighfar Nabi Nuh Alaihissalam</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Allah Swt menyebutkan pula tentang kisah Nabi Nuh As ketika memohon pada Rabbnya dan menyeru kepada-Nya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Sungguh anakku ini termasuk keluargaku, dan sungguh janji-Mu adalah haq, dan Engkau hakim paling bijak.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. Hud/11: 45).&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu Nabi Nuh As dihinggapi rasa belas kasih terhadap anaknya, sementara Allah Swt telah menjanjikan baginya keselamatan keluarganya, maka beliau Nabi Nuh As mengira janji itu berlaku umum bagi yang beriman dan yang tidak beriman, dan karena itu beliau berdo&#39;a seperti ini, maka Allah Swt berfirman kepadanya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Wahai Nuh, sungguh ia bukan termasuk keluargamu, sungguh ia berada di atas amal tidak shalih, maka janganlah minta pada-Ku apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, sungguh Aku menasihatimu agar engkau tidak menjadi orang-orang yang bodoh.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. Hud/11: 46).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya beliau Nabi Nuh As menyesal atas apa yang telah terjadi lalu memohon kepada Rabbnya maaf dan pengampunan: &quot;Dia berkata, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&#39;Wahai Rabbku, sungguh aku berlindung dengan-Mu untuk mohon kepada-Mu apa yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya, dan jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak merahmatiku, niscaya aku termasuk mereka yang merugi.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. Hud/11: 47). Itulah istighfar dan taubatnya Nabi Nuh As...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/114166648459979402/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2025/02/istighfar-nabi-nuh-alaihissalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/114166648459979402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/114166648459979402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2025/02/istighfar-nabi-nuh-alaihissalam.html' title='Istighfar Nabi Nuh Alaihissalam'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-6499363454493174849</id><published>2025-02-10T21:38:00.003+07:00</published><updated>2025-02-10T21:40:23.277+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AQIDAH"/><title type='text'>Istighfarnya Nabi Adam Alaihissalam</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Allah Swt telah menyebutkan dalam kitab-Nya Al-Qur’an yang mulia tentang para Nabi dan Rasul-Nya, yakni berupa kesempurnaan tentang peribadatan atau cara beribadahnya mereka, kesempurnaan penghinaan diri mereka, ketundukan mereka dan kepasrahan mereka kepada Rabb semesta alam.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Mereka senantiasa dalam kebaikan sebagai penuntun dan bagi orang-orang mendapat petunjuk di antara hamba-hamba-Nya sebagai teladan dan panutan dan di samping tentang kesempurnaan ini, mereka terus-menerus dalam taubat dan istighfar dan selalu kembali kepada yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Telah disebutkan di sejumlah tempat dalam Al-Qur&#39;an tentang para Nabi dan Rasul, tentang permohonan ampun mereka, serta taubat mereka kepada Allah Swt, di antara hal itu adalah apa yang disebutkan Allah Swt yang berkenaan dengan Nabi Adam As, Allah Swt berfirman : &lt;i&gt;&lt;b&gt;&quot;Dan Kami berfirman, &#39;Wahai Adam, tinggallah Engkau dan istrimu di syurga, dan makanlah oleh kamu berdua darinya sepuasnya, dimana saja kamu berdua kehendaki, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, sehingga kamu berdua menjadi orang-orang zhalim. Maka setan menggelincirkan keduanya darinya, ia mengeluarkan mereka berdua dari apa yang keduanya berada padanya, dan Kami berfirman; &#39;Turunlah kalian, sebagian kalian menjadi musuh atas sebagian yang lain, dan untuk kamu di bumi tempat tinggal serta kesenangan hingga waktu tertentu.&#39; Adam pun menerima dari Rabbnya beberapa kalimat dan Dia pun menerima taubatnya. Sungguh Dia Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&quot;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (Q.S. Al-Baqarah/2: 35-37).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya dalam ayat lain: &quot;Dan wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di syurga, dan makanlah kamu berdua dari mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak termasuk orang-orang zhalim. Syetan memberi waswas kepada keduanya untuk menampakkan bagi keduanya apa yang ditutupi dari kemaluan keduanya, dan syetan berkata, &#39;Tidaklah kamu berdua dilarang oleh Rabb kamu dari pohon ini, melainkan agar kamu berdua (tidak) menjadi dua malaikat atau kamu berdua menjadi mereka yang kekal. Dia bersumpah pada keduanya, &#39;Sungguh aku bagi kamu berdua termasuk para pemberi nasihat&#39; Dia merayu keduanya dengan tipu daya. Keduanya mencicipi pohon itu, tampaklah kemaluan keduanya, dan mulailah keduanya menutupi atas keduanya dengan daun-daun syurga, dan keduanya diseru oleh Rabb mereka berdua, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&#39;Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu, dan Aku katakan kepada kamu berdua; sungguh syetan bagi kamu berdua adalah musuh yang nyata.&#39; Keduanya berkata. &#39;Wahai Rabb kami, kami telah menzhalimi diri-diri kami, dan jika Engkau tidak mengasihi kami, niscaya kami benar-benar termasuk mereka yang merugi.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. Al-A’raf/7: 20-23).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya: &quot;Dan Adam durhaka kepada Rabbnya maka dia menyimpang. Kemudian Rabbnya memilihnya dan menerima taubatnya serta memberinya petunjuk.&quot; (Q.S. Thaha/20: 121-122).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/6499363454493174849/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2025/02/istighfarnya-nabi-adam-alaihissalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/6499363454493174849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/6499363454493174849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2025/02/istighfarnya-nabi-adam-alaihissalam.html' title='Istighfarnya Nabi Adam Alaihissalam'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-3788845806149276154</id><published>2024-03-19T21:30:00.006+07:00</published><updated>2024-03-19T21:34:51.481+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AQIDAH"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="MUSLIMAH"/><title type='text'>Jika Pria Mendapatkan Bidadari di Syurga, Bagi Wanita Mendapatkan Apa?</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Pria mendapatkan Bidadari di Syurga, untuk wanita mendapatkan apa pula?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: &quot;Para Pria mendapatkan istri-istri bidadari di Syurga, lalu wanita mendapatkan apa pula disana kelak?&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab: Para wanita akan mendapatkan pria ahli Syurga, dan pria ahli Syurga lebih afdhal dari pada bidadari. Pria yang paling baik ada di antara pria ahli Surga. Dengan demikian, bagian wanita di Syurga bisa jadi lebih besar dan lebih banyak daripada bagian pria, dalam masalah pernikahan. Karena wanita di dunia juga (bersuami) mereka mempunyai beberapa suami di Syurga. Bila wanita mempunyai 2 suami, ia diberi pilihan untuk memilih di antara keduanya, dan ia akan memilih yang paling baik dari keduanya (Fatawa wa Durusul Haramil Makki, Syaikh Ibn Utsaimin 1/132, yang dinukil dalam Al-Fatawa Al-Jami&#39;ah lil Mar&#39;atil Muslimah, edisi bahasa Indonesia &quot;Fatwa-fatwa tentang wanita 3&quot; cetakan Darul Haq).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;blockquote&gt;Selanjutnya ditanyakan pula: Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya: &quot;Ketika saya membaca Al-Qur&#39;an, kami menemukan banyak ayat-ayat yang memberi kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dari kaum laki-laki, dengan balasan bidadari yang cantik sekali. Adakah wanita mendapatkan ganti dari suaminya di akhirat, karena penjelasan tentang kenikmatan Syurga senantiasa ditujukan kepada lelaki mukmin. Apakah wanita yang beriman kenikmatannya lebih sedikit daripada lelaki mukmin?&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Maka dijawab: Tidak bisa disangsikan bahwa kenikmatan Syurga sifatnya umum untuk laki-laki dan perempuan. Allah berfirman: &quot;Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan&quot; (Q.S. Ali-Imran : 195).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik&quot; (Q.S. An-Nahl : 97).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun&quot; (Q.S. An-Nisa&#39; : 124).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu&#39;min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta&#39;atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu&#39;, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.&quot; (Q.S. Al-Ahzab : 35).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt telah menyebutkan bahwa mereka akan masuk Syurga dalam firman-Nya: &quot;Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.&quot; (Q.S. Yasin : 56).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&quot;Masuklah kamu ke dalam Syurga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan.&quot; (Q.S. Az-Zukhruf : 70).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt menyebutkan bahwa wanita akan diciptakan ulang. “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.&quot; (Q.S. Al-Waqi&#39;ah: 35-36).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya mengulangi penciptaan wanita-wanita tua dan menjadikan mereka perawan kembali, yang tua kembali muda. Telah disebutkan dalam suatu hadits bahwa wanita dunia mempunyai kelebihan atas bidadari karena ibadah dan ketaatan mereka. Para wanita yang beriman masuk Syurga sebagaimana kaum lelaki. Jika wanita pernah menikah beberapa kali dan ia masuk Syurga bersama mereka, ia diberi hak untuk memilih salah satu di antara mereka, maka ia memilih yang paling bagus diantara mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/3788845806149276154/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/03/jika-pria-mendapatkan-bidadari-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/3788845806149276154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/3788845806149276154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/03/jika-pria-mendapatkan-bidadari-di.html' title='Jika Pria Mendapatkan Bidadari di Syurga, Bagi Wanita Mendapatkan Apa?'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-4215972036338440311</id><published>2024-03-15T17:30:00.005+07:00</published><updated>2024-03-15T17:36:49.054+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH ISLAM"/><title type='text'>Hukum Makan Daging Yang Tidak Diketahui Apakah Disembelih Dengan Halal Atau Tidak</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Hukum Makan Daging Yang Tidak Diketahui Apakah Disembelih Dengan Halal Atau Tidak&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan:&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita lakukan apabila dihidangkan kepada kita daging untuk dimakan sedangkan kita tidak tahu apakah disembelih atas nama Allah atau tidak? Bagaimana pendapat Syaikh tentang bergaul dengan kaum kafir?&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Jawaban:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari yang bersumber dari Aisyah Radliallaahu&#39;anha : &quot;Bahwasanya ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi Shallallaahu&#39;alaihi wasallam, Sesungguhnya ada satu kelompok manusia yang datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah disembelih atas nama Allah ataukah tidak? Maka beliau menjawab: &quot;Sebutlah nama Allah oleh kamu atasnya dan makanlah.&quot; Aisyah menjawab, &quot;Mereka pada saat itu masih baru meninggalkan kekufuran.&quot; (H.R. Imam Al-Bukhari, Hadits No. 2057).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Maksudnya, mereka baru masuk Islam dan orang seperti mereka kadang-kadang tidak banyak mengetahui hukum-hukum secara rinci yang hanya diketahui oleh orang-orang yang sudah lama tinggal bersama kaum Muslimin. Namun begitu, Rasulullah Shalallaahu&#39;alaihi wasallam mengajarkan kepada mereka (para penanya) agar pekerjaan mereka diselesaikan oleh mereka sendiri, seraya bersabda: &quot;Sebutlah nama Allah oleh kamu atasnya.&quot; Yang maksudnya adalah : &quot;Bacalah Bismillah atas makanan itu lalu makanlah.&quot;&lt;/blockquote&gt;Adapun apa yang dilakukan oleh orang selain anda, dari orang-orang yang perbuatannya dianggap sah, maka harus diyakini sah, tidak boleh dipertanyakan, sebab mempertanyakannya termasuk sikap berlebihan. Kalau sekiranya kita mengharuskan diri kita untuk mempertanyakan tentang hal seperti itu, maka kita telah mempersulit diri kita sendiri, karena adanya kemungkinan setiap makanan yang diberikan kepada kita itu tidak mubah (tidak boleh), padahal siapa saja yang mengajak anda untuk makan, maka boleh jadi makanan itu adahal hasil ghashab (mengambil tanpa diketahui pemiliknya) atau hasil curian, dan boleh jadi berasal dari uang yang haram, dan boleh jadi daging yang ada di makanan tidak disebutkan nama Allah (waktu disembelih). Maka termasuk dari rahmat Allah kepada hamba-hamba_Nya adalah bahwasanya suatu perbuatan, apabila datangnya dari ahlinya, maka jelas ia mengerjakannya secara sempurna hingga bersih dari dzimmah (beban) dan tidak perlu menimbulkan kesulitan bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pertanyaan mengenai pergaulan dengan orang-orang kafir, kalau dari pergaulan itu bisa diharapkan masuk Islam setelah ditawarkan kepadanya, dijelaskan keunggulan-keunggulannya dan keutamaannya, maka boleh-boleh saja bergaul dengan mereka untuk mengajak mereka masuk Islam. Jika seseorang sudah melihat tidak ada harapan dari orang-orang kafir itu untuk masuk Islam, maka hendaknya jangan bergaul dengan mereka, karena bergaul dengan mereka akan menimbulkan dosa, karena pergaulan itu sendiri menghilangkan ghirah (kecemburuan) dan sensifitas (terhadap agama), bahkan barangkali bisa menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka, kaum kuffar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wata&#39;ala berfirman, &quot;Kamu tidak akan mendapat sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul_Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari_Nya.&quot; (Q.S. Al-Mujadilah : 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkasih sayang kepada musuh-musuh Allah, mencintai dan loyal kepada mereka adalah sangat bertentangan dengan apa yang menjadi kewajiban bagi seorang Muslim, sebab Allah Subhanahu wata&#39;ala telah melarang akan hal itu, seraya berfirman, &quot;Wahai orang-orang yang berfirman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebab sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.&quot; (Q.S. Al-Ma&#39;idah: 51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman_Nya, &quot;Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-musuh_Ku dan musuh-musuh kamu menjadi teman-teman setia(mu) yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.&quot; (Q.S. Al-Mumtahanah : 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa setiap orang kafir adalah musuh Allah dan musuh kaum beriman. Allah Swt telah berfirman, &quot;Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat_Nya, rasul-rasul_Nya, Jibril dan Mika&#39;il, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.&quot; (Q.S. Al-Baqarah : 98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak sepantasnya bagi seorang yang beriman bergaul dengan musuh-musuh Allah Swt, berbelas kasih dan mencintai mereka, karena mengandung banyak bahaya besar atas agama dan manhajnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/4215972036338440311/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/03/hukum-makan-daging-yang-tidak-diketahui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4215972036338440311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4215972036338440311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/03/hukum-makan-daging-yang-tidak-diketahui.html' title='Hukum Makan Daging Yang Tidak Diketahui Apakah Disembelih Dengan Halal Atau Tidak'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-2874163220828932412</id><published>2024-03-02T10:12:00.007+07:00</published><updated>2024-03-16T10:44:06.798+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AKHLAK"/><title type='text'>Nilai Sosial Ketika Berpuasa</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Nilai Sosial Ketika Puasa&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Adakah muncul pertanyaan apakah ada nilai sosial dalam ibadah puasa?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Ada.&amp;nbsp;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Puasa memiliki nilai-nilai sosial, di antaranya: melahirkan rasa persamaan di antara sesama kaum Muslimin, bahwa mereka adalah umat yang sama, makan di waktu yang sama dan berpuasa di waktu yang sama pula.&amp;nbsp;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Yang kaya merasakan nikmat Allah sehingga menyayangi yang fakir. Menghindari perangkap-perangkap setan yang ditujukan kepada manusia. Lain dari itu, puasa bisa melahirkan ketaqwaan kepada Allah yang mana ketaqwaan tersebut dapat memperkuat hubungan antar individu masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Apakah  yang lazim dan yang wajib dilakukan oleh orang yang berpuasa?&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Yang lazim bagi orang yang berpuasa adalah memperbanyak ketaatan dan menghindari semua larangan. Sedangkan yang wajib atasnya adalah memelihara kewajiban-kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan, yaitu melaksankaan shalat yang lima waktu pada waktunya secara berjamaah, meninggalkan dusta dan ghibah (menggunjing), meninggalkan kecurangan dan praktek-praktek riba serta semua perkataan atau perbuatan haram lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;.وَشَرَابَهُ طَعَامَهُ يَدَعَ أَنْ حَاجَةٌ اللهِ فَلَيْسَ وَالْجَهْلَ بِهِ وَالْعَمَلَ الزُّوْرِ قَوْلَ يَدَعْ لَمْ مَنْ&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&quot;Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan palsu serta perbuatan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan dia agar meninggalkan makan dan minumnya.&quot; (H.R. Imam Bukhari dalam Kitab Al-Adabul Mufrad (6057))...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/2874163220828932412/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/03/nilai-sosial-ketika-berpuasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/2874163220828932412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/2874163220828932412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/03/nilai-sosial-ketika-berpuasa.html' title='Nilai Sosial Ketika Berpuasa'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-6458866861487486910</id><published>2024-02-18T05:04:00.002+07:00</published><updated>2024-02-18T05:06:48.521+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH MUAMALAH"/><title type='text'>Tidak Ada Wasiat Buat Ahli Waris</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Tidak Ada Wasiat Bagi Ahli Waris&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Pertanyaan:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Hukum Islam melarang wasiat untuk ahli waris?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Jawaban:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Islam melarang wasiat untuk ahli waris karena akan melanggar ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu wata’ala, sebab Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan hukum-hukum pembagian warisan, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur&#39;an, yaitu : &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&quot; (Q.S. An-Nisa&#39;: 13-14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang mempunyai seorang anak perempuan dan seorang saudara perempuan sekandung umpamanya, maka si anak mempunyai hak setengahnya sebagai bagian yang telah ditetapkan (fardh), sementara saudara perempuannya berhak atas sisanya sebagai &#39;ashabah.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Jika diwasiatkan sepertiganya untuk anak perempuannya misalnya, berarti si anak akan mendapat dua pertiga bagian, sementara saudara perempuannya mendapat sepertiga bagian saja dan hal ini berarti pelanggaran terhadap ketetapan Allah Subhanahu wata’ala.&lt;/blockquote&gt;Demikian juga jika ia mempunyai dua anak laki-laki, maka ketentuannya bahwa masing-masing berhak atas setengah bagian. Jika diwasiatkan sepertiganya untuk salah seorang mereka, maka harta tersebut menjadi tiga bagian dan ini merupakan pelanggaran terhadap ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan haram untuk dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga hal ini jika memang di bolehkan mewasiatkan harta warisan untuk ahli waris, maka tidak ada gunanya ketentuan pembagian warisan itu dan tentu saja manusia akan bermain-main dengan wasiat sekehendaknya, sehingga ada ahli waris mendapat bagian lebih banyak, sementara yang lain malah bagiannya berkurang., jadi artinya tidak ada wasiat atas ahli waris yang sudah jelas kedudukannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/6458866861487486910/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/tidak-ada-wasiat-buat-ahli-waris.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/6458866861487486910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/6458866861487486910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/tidak-ada-wasiat-buat-ahli-waris.html' title='Tidak Ada Wasiat Buat Ahli Waris'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-792659397680779298</id><published>2024-02-18T04:54:00.006+07:00</published><updated>2024-02-18T05:05:57.517+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH ISLAM"/><title type='text'>Hukum Bersaksi Berdasarkan Dari Kesaksian Orang Lain</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Hukum Bersaksi Berdasarkan Kesaksian Orang Lain&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Pertanyaan:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apa hukumnya orang yang bersaksi berdasarkan dari kesaksian orang lain yang dipercayainya, misalnya dengan mengatakan, &quot;Saya lihat&quot; padahal ia tidak melihat sendiri, atau &quot;saya dengar&quot; padahal ia tidak mendengarnya secara langsung, tetapi hanya berdasarkan dari kata-lata orang yang dipercayai-nya yang telah memberitahunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Jawaban:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Para hakim hendaknya berhati-hati dalam menerima kesaksian yang berdasarkan kesaksian dari orang lain, hendaknya mereka tidak menerima begitu saja kecuali yang bersaksi itu menjamin adanya restu dari saksi utama (yang melihat atau mendengar langsung), misalnya dengan mengatakan, &quot;Saya bersaksi atas persaksian saya bahwa si fulan berhutang sekian dan telah melunasi sekian.&quot;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Persaksian itu boleh diterima dalam urusan hak-hak manusia seperti; hutang, diyat (denda pembunuhan), tuduhan zina, melukai, memerdekakan dan sebagainya, hakim dibolehkan tidak mendengar kesaksian dari orang pertama karena jauhnya atau telah meninggal atau karena sakit, namun keadilan (kejujuran) saksi pertama dan kedua itu harus diketahui hakim atau yang merekomendasikannya.&lt;/blockquote&gt;Jika saksi kedua tidak secara langsung melihat atau mendengar dari terdakwa, maka ia tidak boleh mengatakan, &quot;saya lihat&quot; atau &quot;saya dengar&quot; tapi dengan mengatakan, &quot;Fulan mengatakan demikian&quot; atau &quot;Saya dengar si Fulan mengatakan hak ini&quot; atau &quot;hutang ini&quot; dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi hakim bisa menerima atau menolaknya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ada. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wallahu a&#39;lam.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/792659397680779298/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/hukum-bersaksi-berdasarkan-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/792659397680779298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/792659397680779298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/hukum-bersaksi-berdasarkan-dari.html' title='Hukum Bersaksi Berdasarkan Dari Kesaksian Orang Lain'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-5658189585499264797</id><published>2024-02-17T11:51:00.004+07:00</published><updated>2024-02-17T11:51:24.857+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AKHLAK"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AQIDAH"/><title type='text'>Hukum Mencela Ad-Dahr (Masa/Waktu) </title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Hukum Mencela Masa atau Waktu (Ad-Dahr)&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Apakah permasalahan tentang hukum yang mencela atau mencaci-maki Ad-Dahr (masa/waktu)?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Jawaban:&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hukum Mencela Masa atau Waktu (Ad-Dahr) ada 3 (tiga) kategori, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama,&lt;/b&gt; apabila yang dimaksud itu adalah sebagai pembicaraan atau suatu bentuk berita belaka dan bukan bermaksud untuk mencela, maka ini hukumnya boleh-boleh saja, seperti perkataan seseorang misalnya, &quot;Cuaca panas hari ini membuat kita letih&quot;, atau disebabkan cuaca yang dingin, dan semisalnya karena semua perbuatan tergantung kepada niatnya,  sementara lafazh tersebut boleh diungkapkan bila hanya sekedar berita atau pembicaraan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua,&lt;/b&gt; apabila seseorang mencela Mencela Masa atau Waktu (Ad-Dahr) karena beranggapan bahwa ia adalah pelaku sesuatu, seperti bila yang dimaksudkannya dengan celaannya itu, bahwa Mencela Masa atau Waktu (Ad-Dahr) (masa) itulah yang dapat merubah kondisi menjadi baik atau jelek. Maka, ini adalah perbuatan syirik akbar (syirik paling besar) sebab orang tersebut telah berkeyakinan ada Khaliq (Tuhan) lain yang sejajar dengan Allah Swt. Artinya, dia telah menisbatkan (menyandarkan) kejadian-kejadian kepada selain Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga,&lt;/b&gt; Apabila seseorang mencela Mencela Masa atau Waktu (Ad-Dahr) dengan keyakinannya bahwa pelaku sesuatu itu adalah Allah Swt, akan tetapi dia mencelanya karena ia adalah wadah bagi semua hal-hal yang tidak disukai. Maka, ini haram hukumnya, karena menafikan wajibnya bersabar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Jadi, perbuatan ini bukan kekufuran karena orang tersebut tidak mencela Allah Swt secara langsung. Andaikata, dia mencela Allah Swt secara langsung, maka sudaj jelas dan pastilah dia telah kafir hukumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/5658189585499264797/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/hukum-mencela-ad-dahr-masawaktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5658189585499264797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5658189585499264797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/hukum-mencela-ad-dahr-masawaktu.html' title='Hukum Mencela Ad-Dahr (Masa/Waktu) '/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-4627520132473472667</id><published>2024-02-11T00:06:00.008+07:00</published><updated>2024-02-11T00:06:53.332+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AKHLAK"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="MUSLIMAH"/><title type='text'>Hukum Melaknat Isteri</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Apa hukumnya mengenai laknat suami terhadap isterinya dengan di sengaja? Apakah isterinya menjadi haram baginya karena laknat tersebut? Atau bahkan termasuk pada kategori talak? Lalu apa pula kaffarahnya (tebusannya)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Jawaban:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laknat seorang suami terhadap isterinya adalah perbuatan mungkar, tidak boleh dilakukan, bahkan termasuk dosa besar, sebagaimana sabda Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Melaknat seorang Mukmin adalah seperti membunuhnya.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (H.R. Muttafaq &#39;Alaih, Al-Bukhari, Kitab Al-Adab (6105) dan Imam Muslim, Kitab Al-Iman (110)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain juga disebutkan, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Mencela seorang Muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (H.R. Imam Al-Bukhari, Kitab Al-Iman (48) dan Imam Muslim, Kitab Al-Iman (64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam hadits lainnya lagi juga ada disebutkan, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Orang-orang yang suka melaknat itu tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (H.R. Imam Muslim, Kitab Al-Birr (2598).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Maka yang wajib atasnya adalah bertaubat dari perbuatannya itu dan membebaskan isterinya dari celaan yang telah dilontarkan terhadapnya. Barangsiapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah menerima taubatnya, sementara isterinya, tetap dalam tanggung jawabnya, ia tidak menjadi haram baginya lantaran laknat tersebut.&lt;/blockquote&gt;Lain dari itu, yang wajib atasnya adalah memperlakukannya dengan lebih baik lagi dan senantiasa menjaga lisannya dari setiap perkataan yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah Swt, demikian juga sang isteri, hendaknya memperlakukan suami dengan baik dan menjaga lisannya dari apa-apa yang dapat menimbulkan kemurkaan Allah Swt dan kemarahan suaminya, kecuali berdasarkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Dan bergaullah dengan mereka secara patut.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. An-Nisa&#39;: 19). Dalam ayat lain disebutkan juga, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. Al-Baqarah: 228). Hanya Allah Swt-lah pemberi petunjuk.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/4627520132473472667/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/hukum-melaknat-isteri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4627520132473472667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4627520132473472667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/hukum-melaknat-isteri.html' title='Hukum Melaknat Isteri'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-608003643607616324</id><published>2024-02-10T23:56:00.002+07:00</published><updated>2024-02-10T23:56:24.839+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH ISLAM"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="KAIDAH SUNNAH NABI"/><title type='text'>Poligami Itu Hukumnya Sunnah</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Bila umat bertanya tentang apakah hukum berpoligami itu mubah dalam Islam ataukah Sunnah atau lainnya?&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Jawaban:&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpoligami itu hukumnya sunnah bagi yang mampu, karena sesuai dengan firman-Nya daalam Al-Qur&#39;an, yaitu, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu milki, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. An-Nisa: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persoalan ini, Rasulullah Shalallaahu&#39;alaihi wasallam sendiri melakukannya, dimana beliau menikahi sebanyak 9 orang wanita dan dengan mereka Allah Swt memberikan manfaat besar bagi ummat ini, yang demikian itu (9 isteri) adalah khusus bagi beliau, sedang selain beliau hanya dibolehkan berpoligami tidak lebih dari 4 orang isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpoligami itu mengandung banyak maslahat yang sangat besar bagi kaum laki-laki, kaum wanita dan Ummat Islam secara keseluruhuan. Sebab, dengan berpoligami dapat dicapai oleh semua pihak tunduknya pandangan (ghaddul bashar), terpeliharanya kehormatan, keturunan yang banyak, lelaki dapat berbuat banyak untuk kemaslahatan dan kebaikan para isteri dan melindungi mereka dari berbagai faktor penyebab keburukan dan penyimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi orang yang tidak mampu berpoligami dan takut kalau tidak dapat berlaku adil, maka hendaknya cukup kawin dengan satu isteri saja, karena Allah Swt berfirman, &lt;b&gt;&lt;i&gt;&quot;Kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Q.S. An-Nisa: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi taufiq kepada segenap kaum Muslimin menuju apa yang menjadi kemasalahatan dan keselamatan bagi mereka di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan kajian:&lt;br /&gt;Al-Balagh  Edisi: 1028, Fatwa Ibnu Baz.&lt;br /&gt;Disarikan dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, hal. 410-411, Penerbit Darul Haq&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/608003643607616324/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/poligami-itu-hukumnya-sunnah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/608003643607616324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/608003643607616324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2024/02/poligami-itu-hukumnya-sunnah.html' title='Poligami Itu Hukumnya Sunnah'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-5561180281769107067</id><published>2023-07-28T11:12:00.002+07:00</published><updated>2023-07-28T11:13:24.661+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AKHLAK"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AQIDAH"/><title type='text'>Sufi Zaman Sekarang</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Ulama Ahli Hadist Abad ini) dalam Kitabnya ‘Fatawa Al-Imaratiyah’ ditanya tentang Jama’ah Tabligh atau Jama’ah Da’wah atau Jaulah, dan beliau memberikan jawaban berikut ini.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah (jama’ah) Tabligh adalah (da’wah) Sufi masa kini yang tidak berpijak pada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Khuruj (keluar untuk berda’wah) yang mereka tentukan selama 3 hari, (7 hari) dan 40 hari tidak pernah menjadi amalan generasi salaf, dan bahkan tidak pernah pula menjadi amalan generasi khalaf (kaum mutaakhirin). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengherankan, mereka keluar untuk tabligh (menyampaikan da’wah), padahal mereka sendiri mengakui bahwa mereka bukanlah ahlinya untuk tabligh (lalu kalau kenyataannya seperti itu, apa yang bisa mereka da’wahkan, sedangkan mereka sendiri miskin dari ilmu???!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabligh (menyampaikan da’wah), sepantasnya hanyalah dikerjakan oleh orang-orang yang berilmu, seperti halnya pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw ketika mengutus delegasinya yang terdiri dari para sahabat yang alim (hanya yang alim, tidak seluruh sahabat disuruh untuk menjadi delegasi!!!!) untuk mengajarkan Islam kepada umat, misalnya beliau mengutus Ali bin Abi Thalib seorang diri, mengutus Abu Musa Al-Asy’ari seorang diri, mengutus Mu’adz bin Jabal seorang diri (untuk menyampaikan da’wah Islam kepada umat dan tidak pernah mengutus serombongan sahabat lain untuk menyertai individu-individu utusan Rasul tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun mereka adalah juga para sahabat-sahabat Rasul, namun ilmunya tidak menyamai individu-individu para sahabat yang diutus beliau. Karena itulah kami menasihati agar mereka (Orang-orang jama’ah Tabligh) mau belajar dan memperdalam pemahamannya tentang ilmu agama (karena orang yang tidak berilmu tidak mempunyai kewajiban menda’wahi orang lain, malah yang wajib dilakukannya adalah duduk di Majelis Ilmu para ulama, bukannya keliling kesana kemari dengan alasan berda’wah!!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam kepergiannya kenegeri kafir untuk berda’wah, sesungguhnya mereka menghadapi fitnah yang jelas sekali, padahal mereka tidak memahami bahasa orang-orang kafir tersebut (dan lagi merekapun tidak mengetahui adab-adab berpergian kenegeri kafir!!). Disisi lain, tidak jarang mereka berdalil dengan perkataan: ‘lihatlah para sahabat’.mereka ada yang penduduk mekkah, dan adapula yang penduduk madinah, namun kuburan mereka ada yang dinegeri Bukhara dan Samarkand, (jika demikian dalil mereka), maka jawabannya adalah: ‘Bahwa betapa inginnya kita seandainya bisa keluar (khuruj) sebagaimana para sahabat dulu. Mereka keluar untuk berjihad dalam peperangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, analogi (pengkiasan) orang-orang jama’ah tabligh diatas adalah pengkiasan yang tidak pada tempatnya.’ Kita tidak mengingkari amar ma’ruf nahi munkar, tetapi kita mengingkari Tanzhim (pengorganisasian da’wah) yang bernama Jama’ah Tabligh ini. Sesungguhnya ada salah satu tokoh Jama’ah Tabligh menyusun sebuah Risalah. Ketika sampai pada penjelasan tentang kalimat Laa Ilaaha Illallah menafsirkannya dengan penafsiran : ‘Tidak ada yang disembah selain Allah’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin tidak ada yang disembah selain Allah’ Padahal berhala-berhala yang disembah selain Allah jumlahnya banyak sekali, dan penafsiran yang benar adalah menurut para ahli ilmu yaitu ‘Tidak ada Tuhan yang disembah dengan benar kecuali Allah.’ Karena kalau yang disembah secara tidak benar itu jumlahnya banyak sekali, seperti: Latta disembah, Uzza disembah, Manat disembah, Api disembah, Matahari disembah dan seterusnya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan pula ada seorang tokoh dari Jama’ah Tabligh yang menyusun sebuah Kitab yaitu ‘Fadhoil Amal’ yang didalamnya kitab tersebut sangatlah banyak sekali hadits-hadits dhaif, maudhu, khurofat, Takhayul, Bid’ah dan banyak hal yang sangat dapat merusak aqidah seorang muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita renungi sebuah ucapan dari Syaikhul Islam Ibnu Qudamah (seorang Muhaddits) didalam kitabnya Mukhtasar Minhajul Qashidin karya Syaikhul Islam Ibnul Jauzi, yaitu: ‘Wahai saudaraku, bagaimana mungkin kamu begitu khusyu&#39; melakukan peribadahan kepada Allah yang padahal tata cara ibadah kamu itu diingkari oleh Rasulullah Saw dan dimurkai oleh Allah, tetapi kamu dapat begitu tenang dan istiqamah didalam hal yang Allah dan Rasul-Nya benci, kamu shalat, tetapi shalat kamu itu berasal dari hadits dhaif yang sengaja dibuat oleh orang-orang yang durhaka pada Allah dan Rasul-Nya, lalu kamu berdzikir, padahal dzikir kamu itu adalah dzikir-dzikir dari buatan syaithan yang membisikannya pada telinga orang-orang yang tidak percaya bahwa Islam ini sudah sempurna??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayakah kamu kalau Islam agama yang sudah sempurna? Percayakah kamu bahwa Islam itu adalah cukup dengan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan? Percayakah kamu kalau semua jalan/cara/manhaj yang arahnya kesyurga atau keneraka telah diberitakan oleh Rasulullah Saw secara lengkap? Adakah menurutmu risalah Rasulullah Saw itu ada yang belum disampaikan atau kelupaan? Kalau kamu mempercayai Islam ini sudah sempurna, maka ikutilah sunnah-sunnah yang beliau telah sampaikan dan jauhilah olehmu cara-cara yang baru didalam melakukan peribadahan kepada-Nya, buang olehmu fanatik kepada Syaikh-syaikh yang mengajarkan ajaran-ajaran syaithan, karena yang selain ajaran Allah dan Rasul-Nya semuanya itu adalah kesesatan dan itu adalah Thaghut yang wajib ditinggalkan???&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/5561180281769107067/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/07/sufi-zaman-sekarang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5561180281769107067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5561180281769107067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/07/sufi-zaman-sekarang.html' title='Sufi Zaman Sekarang'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-4651619972152133899</id><published>2023-07-28T10:54:00.000+07:00</published><updated>2023-07-28T10:54:03.399+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AQIDAH"/><title type='text'>Apa Yang Dilakukan Jika Seseorang Sedang Ihtidhar (Sekarat)</title><content type='html'>&lt;h2 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;i&gt;Apa yang harus kita lakukan terhadap seseorang yang sedang sekarat?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Jika ada seorang muslim yang sakit, maka sangat dianjurkan bagi para kerabat dan seseorang yang paling dekat dengannya untuk hadir disitu. Yang demikian itu agar para kerabat bisa melaksanakan hal-hal yang disyariatkan kepada mereka terhadap orang sekarat ini.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Berupa, memejamkan kedua matanya, mentalqin, menutupi jasadnya, atau melakukan hal-hal lainnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata, &quot;Hadapkan saya ke arah kiblat!&quot; Demikiannya seperti disebutkan Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, membaringkannya di atas samping kanan dengan menghadap kiblat. Dari Syadad bin ’Aus Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, &quot;Jika kalian menghadiri orang yang sekarat, maka pejamkanlah matanya, sebab mata itu mengikuti ruh. Dan ucapkanlah yang baik-baik saja, karena setiap yang diucapkan keluarga mayit pasti diamini oleh para Malaikat.&quot; Imam Ahmad rahimahullah berkata, &quot;Yang diucapkan saat seseorang meninggal adalah,  &quot;Dengan menyebut nama Allah Azza wa Jalla dan atas wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dianjurkan bagi keluarga mayit mentalqin (mengajarinya) dengan mengucapkan kalimat syahadat. Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, &quot;Talqin (ajarilah) orang-orang yang sekarat dari kalian dengan ucapan Laa ilaaha illallaah.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang semisal dengannya. Sedangkan dari Mu`adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda, &quot;Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah laa ilaaha illallaah, ia pasti masuk Surga.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama menyebutkan bahwa mentalqin orang sekarat dengan ucapan &quot;Laa ilaaha illallaah&quot; termasuk sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, jadi bagaimana caranya melakukan hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni diucapkan kepadanya, &quot;Katakan: ‘Laa ilaaha illallah’.&quot; Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, &quot;Talqin (ajarilah) orang-orang yang sekarat dari kalian dengan ucapan ‘Laa ilaaha illallaah’.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jika orang yang sekarat itu mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’, kemudian ia berbicara dengan hal-hal lain yang bukan kalimat syahadat, maka wajib bagi orang-orang yang hadir pada saat itu untuk mentalqinnya kembali dan hendaknya orang yang mentalqin ini tidak menyusahkan orang yang sekarat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artian, ia mengajarinya mengucap kalimat syahadat dengan lemah lembut dan pelan-pelan, agar orang yang hendak meninggal tersebut tidak merasa bosan. Jika bosan, maka ia bisa merasa jengkel, sehingga ia akan sulit mengatakannya atau ia bisa mengucapkannya tapi dengan rasa benci karena beratnya ucapan yang diajarkan kepadanya.&lt;br /&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/4651619972152133899/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/07/apa-yang-dilakukan-jika-seseorang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4651619972152133899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4651619972152133899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/07/apa-yang-dilakukan-jika-seseorang.html' title='Apa Yang Dilakukan Jika Seseorang Sedang Ihtidhar (Sekarat)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-3396775037425717484</id><published>2023-01-29T18:10:00.007+07:00</published><updated>2023-01-29T18:16:25.842+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH MUAMALAH"/><title type='text'>Tentang Ucapan Selamat dan Wakaf Dari Non Muslim</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;WAKAF UNTUK MEREKA ATAU WAKAF MEREKA BUAT KAUM MUSLIMIN&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ibnul Qayyim رحمو الله berkata: Adapun wakaf mereka maka dilihat lagi. Apabila mereka mewakafkan untuk orang tertentu atau hal-hal yang diperbolehkan seorang muslim mewakafkannya, seperti sedekah kepada orang-orang miskin, fakir dan perbaikan jalan serta maslahat umum, atau untuk anak-anak dan keturunan mereka, maka wakaf ini sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Hukumnya sama dengan hukum wakaf muslimin dalam hal ini. Akan tetapi apabila disyaratkan bahwa anak-anak dan kerabat mendapatkan wakaf tersebut dengan syarat harus berada dalam kekufuran mereka, misalnya syarat: &#39;Apabila mereka masuk Islam maka mereka tidak berhak mendapatkannya sedikitpun&quot;. Maka syarat ini tidak sah dan tidak boleh pemerintah memberlakukan hukum wakaf ini menurut kesepakatan umat Islam, karena menentang agama Islam dan berlawanan dengan ajaran yang menjadikan Allah عّزوج ّ ل mengutus Rasul-Nya.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Sedangkan wakaf muslim untuk orang kafir, maka ini sah darinya selama sesuai dengan hukum Allah dan Rasul-Nya sehingga diperbolehkan mewakafkan untuk perorangan dari mereka atau untuk kerabatnya dan bani fulan dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah kekufuran menjadi sebab dan syarat dalam kepemilikan hak dan juga bukan penghalang darinya. Seandainya seseorang mewakafkan untuk anaknya, bapaknya atau kerabatnya, maka mereka berhak atas hal itu walaupun masih dalam kekufuran mereka dan bila masuk Islam maka itu lebih berhak lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan wakaf untuk gereja dan tempat ibadah mereka serta tempat-tempat kekufuran yang mereka tegakkan padanya syiar kekufuran, maka tidak sah dari orang kafir dan juga dari orang muslim. Karena hal itu mengandung bantuan yang besar untuk mereka menegakkan kekufuran dan menguatkannya. Hal itu sangat bertentangan dengan agama Allah ( .عّزوج ّ ل Ahkam Ahlidz Dzimmah 1/299- 302 dan lihat Majmu&#39;ah Rasa&#39;il wal Masail 1/229).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;MENJENGUK MEREKA YANG SAKIT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;DAN MENGUCAPKAN SELAMAT&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Imam Al-Bukhari رحمو الله meriwayatkan dalam kitab Al -Jana&#39;iz dari Anas رضي الله عنه beliau berkata: Dahulu ada seorang anak Yahudi biasa membantu Nabi صلى الله عليه وسلم Suatu saat ia sakit, lalu Nabi menjenguknya dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata kepadanya : Masuklah ke dalam Islam! Lalu anak tersebut melihat kepada bapaknya yang berada di sampingnya. Sang bapak berkata kepadanya: Taatilah Abul Qasim .صلى الله عليه وسلم Lalu ia masuk Islam. Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم keluar sembari berkata: &quot;Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.&quot; (H.R. Al-Bukhari 3/219 No. 1356).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan kisah Abu Thalib ketika sakaratul maut, lalu Nabi صلى الله عليه وسلم mengunjunginya dan menawarkan Islam kepadanya. (Lihat Shahih Al-Bukhari 3/222 No. 1360).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Bathal رحمو الله menyatakan: Menjenguk orang kafir yang sakit disyariatkan apabila diharapkan akan menerima untuk masuk Islam. Bila tidak diharapkan maka tidak boleh. (Fathul Bari 10/119). Sedangkan Ibnu Hajar رحمو الله berkata: Yang rajih adalah hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan maksud. Terkadang dengan menjenguknya akan muncul maslahat lainnya. (Fathul Bari 10/119).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengucapkan selamat kepada mereka dalam syiar-syiar kufur yang khusus untuk mereka, maka itu disepakati keharamannya. Contohnya menyambut hari raya mereka dengan mengucapkan: &quot;Selamat Hari Raya&quot; atau menyambut hari rayanya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ini apabila yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, maka ia masuk dalam perkara terlarang. Hal ini seperti kedudukan orang yang mengucapkan selamat kepada orang kafir yang sujud kepada salib. Bahkan hal ini lebih besar dosa dan kemurkaannya di sisi Allah عّزوج ّ ل dari pada orang yang mengucapkan selamat kepada peminum minuman keras, pembunuh, pezina dan lain-lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang tidak memiliki komitmen dengan agama terjerumus dalam hal ini dan tidak mengerti buruknya perbuatannya. Siapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba dengan kemaksiatan, bid&#39;ah atau kekufurannya, maka telah membuka diri untuk dimurkai Allah عّزوج ّ ل.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Dahulu para ahli wara&#39; dari kalangan ulama menjauhi ucapan selamat kepada orang-orang zhalim yang mendapatkan kekuasaan dan ucapan selamat kepada orang-orang bodoh yang mendapatkan jabatan Qadhi, pengajaran dan fatwa, karena menjauhi murka Allah dan jatuhnya mereka dari pandangan Allah عّزوج ّ ل. Apabila seseorang ditimpa seperti itu maka ia melakukannya untuk menolak keburukan yang akan terjadi dari mereka, sehingga berjalan menemui mereka dan tidak berkata kecuali yang baik dan mendoakan mereka mendapatkan taufiq dan kelurusan, maka itu tidak mengapa. (Ahkam ahli Adz-Dimmah 1/205-206).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Masuk juga dalam hal ini pengagungan terhadap mereka dan memanggil mereka dengan istilah Sayyid (tuan) dan maula. Hal ini terlarang dengan dasar hadits yang marfu&#39;: &quot;Jangan mengatakan kepada Munafiq panggilan Sayyid, karena kalaupun menjadi sayyid, maka kalian telah membuat murka Rabb kalian Azza wa Jalla. (H.R. Abu Dawud dalam Sunannya kitab al-Adab dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh juga menjuluki mereka dengan julukan sebagaimana disampaikan Imam Ibnul Qayyim Mu&#39;izuddaulah atau fulan As-Sadid (yang lurus perilakunya) atau Ar-Rasyid (yang mendapat bimbingan) atau Ash-Shalih (yang shalih) dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Siapa yang menamakan dirinya dengan salah satu dari nama-nama tersebut, maka seorang muslim dilarang memanggil dengan namanya tersebut. Seandainya ia seorang Nashrani maka panggil saja dengan Wahai Nashrani dan untuk Yahudi dengan wahai orang Yahudi:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Kemudian Ibnul Qayyim رحمو الله berkata lagi: Adapun sekarang sungguh aku mendapati zaman orang-orang tersebut (kaum non Muslim) muncul di bagian terdepan berbagai majlis, disambut dengan berdiri dan diciumi tangan-tangan mereka, serta menempati jabatan mengatur gaji para tentara dan harta-harta kerajaan. (Ahkam Ahlidz-Dzimmah 2/771).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Apabila ini adalah ucapan Imam Ibnul Qayyim yang wafat tahun 751 H, maka hendaknya seorang Muslim melihat zaman ini pada kumpulan buih yang banyaknya bagaikan buih banjir. Mereka menisbatkan diri kepada Islam padahal mereka mengikuti musuh Allah dalam segala urusannya, baik yang kecil maupun yang besar, hingga seandainya musuh Islam tersebut masuk ke dalam lubang kadal gurun tentulah mereka masuk mengikutinya. Bukan sekedar mengekor pada mereka semata, bahkan mengekor dengan segala ketakjuban dan kebanggaan terhadap mereka. Tidaklah terjadi acara dan momen musuh-musuh kita, kecuali dipenuhi dengan ucapan selamat dari segala penjuru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/3396775037425717484/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/tentang-ucapan-selamat-dan-wakaf-dari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/3396775037425717484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/3396775037425717484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/tentang-ucapan-selamat-dan-wakaf-dari.html' title='Tentang Ucapan Selamat dan Wakaf Dari Non Muslim'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-8508842109371504238</id><published>2023-01-20T10:33:00.002+07:00</published><updated>2023-01-20T10:33:16.460+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH MUAMALAH"/><title type='text'>Jual Beli Dengan Orang Beda Agama</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Dalam kehidupan bermasyarakat di negara ini, tentunya seorang muslim hidup dengan beragam manusia yang berbeda agama. Tentu saja tidak bisa disamakan sikap kita kepada orang kafir (non Muslim) dengan sikap kita kepada sesama Muslimin, karena hal ini menyangkut Aqidah Al-Wala&#39; dan Al-Bara&#39;.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam permasalahan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan sebuah kaedah dengan menyatakan: Pada asalnya semua muamalah yang dibutuhkan manusia tidak diharamkan atas mereka, kecuali ada petunjuk Al-Qur&#39;an dan Sunnah yang mengharamkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana tidak disyariatkan sebuah ibadah yang dilakukan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah, kecuali ada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah yang mensyariatkannya. Karena agama adalah semua yang disyariatkan Allah, dan yang haram adalah yang Allah haramkan.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Berbeda dengan orang-orang yang Allah cela. Mereka mengharamkan yang tidak diharamkan Allah dan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak ada hujahnya, serta membuat syariat dari agama ini apa yang tidak diizinkan Allah. (As-Siyasah Asy-Syar&#39;iyah hlm. 155).&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;JUAL BELI DENGAN ORANG KAFIR&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Berdasarkan kaedah yang disampaikan Syaikhul Islam di atas, juga adanya nash-nash syariat dan keterangan sejarah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya, didapatkan bahwa praktik muamalah dengan orang kafir berupa jual beli, menerima hadiah dan semisalnya tidak dinamakan Al-Muwalah (memberi bentuk loyalitas kepada mereka). Dan diperbolehkan seorang muslim berjual beli dengan orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمو الله pernah ditanya tentang bermuamalah dengan bangsa Tatar. Beliau menjawab: Diperbolehkan padanya seperti diperbolehkannya bermuamalah dengan orang kafir seperti mereka, dan diharamkan padanya apa yang diharamkan dalam hal bermuamalah denga orang kafir seperti mereka. Sehingga seorang Muslim diperbolehkan membeli hewan ternak dan kuda mereka serta yang lainnya sebagaimana diperbolehkan membeli hewan ternak orang-orang Arab Badui, Turkman dan Kurdi. Dan diperbolehkan menjual kepada mereka barang berupa makanan, pakaian dan sejenisnya, yang biasa dijual kepada orang kafir semisal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun apabila menjual kepada mereka atau kepada selain mereka sesuatu yang membantu mereka dalam melakukan hal-hal terlarang, seperti menjual kuda dan senjata pada orang yang menggunakannya untuk perang yang terlarang, maka ini tidak boleh. Allah berfirman yang artinya: &quot;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.&quot; (Q.S. Al-Maidah/5:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada pada mereka atau selain mereka harta yang diketahui hasil dari rampasan mereka dari orang yang tidak boleh dirampas hartanya, maka tidak diperbolehkan membelinya dalam rangka untuk memilikinya. Tapi bila membelinya untuk menyelamatkan harta tersebut agar digunakan pada hal-hal yang sesuai syariat, maka dikembalikan kepada pemiliknya bila memungkinkan, kalau tidak memungkinkan digunakan untuk maslahat kaum muslimin, maka hal itu diperbolehkan. Apabila diketahui sebagian harta mereka ada yang terlarang namun tidak diketahui barangnya, maka tidak diharamkan muamalahnya dalam hal tersebut, sebagaimana apabila diketahui ada di pasar-pasar barang-barang rampasan dan curian namun tidak diketahui jelas barangnya. (Al-Masail al-Mardiniyyah hlm. 132-133 dengan Tahqiq Asy-Syawisi, cetakan ketiga tahun 1299 H.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Al-Buyu&#39; Bab Asy-Syira wal bai&#39; ma&#39;al Musyrikin wa ahli al-Harb dari Abdurrahman bin Abi Bakr beliau berkata: &quot;Kami bersama Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian datanglah seorang musyrik yang tinggi (posturnya) menggiring kambing.&quot; Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: &quot;Silahkan dijual atau diberikan? Atau berkata: atau dihadiahkan. Maka ia menjawab: &quot;Tidak. Tapi &#39;dijual. Maka beliau صلى الله عليه وسلم membeli darinya seekor kambing. (Shahih Al-Bukhari 4/410 No. 2216).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Bathal رحمو الله berkata: Muamalah (bergaul) dengan orang kafir diperbolehkan kecuali jual beli sesuatu yang digunakan membantu orang kafir yang memerangi kaum Muslimin. (Fathul Bari 4/410).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga ada riwayat shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang membeli tiga puluh wasaq gandum dari seorang Yahudi dan menggadaikan baju besi beliau, seperti yang diriwayatkan Al-Bukhari رحمو الله dari A&#39;isyah ,رضي الله عنها beliau berkata: &quot;Sungguh Nabi صلى الله عليه وسلم membeli bahan makanan dari seorang Yahudi dengan hutang dan orang Yahudi mengambil baju besi beliau sebagai gadai jaminannya.&quot; (H.R. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمو الله berkata: &quot;Apabila seorang bepergian ke negeri kafir harbi untuk membeli barang darinya maka itu diperbolehkan menurut pendapat kami, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits perniagaan Abu Bakr di masa hidup Rasulullah صلى الله عليه وسلم ke negeri Syam. Sedangkan negeri Syam ketika itu adalah negari kafir harbi dan juga hadits-hadits lainnya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun seorang Muslim menjual atau menghadiahkan kepada mereka di hari-hari raya mereka barang yang digunakan dalam hari raya mereka, baik berupa makanan, pakaian, parfum atau sejenisnya, maka ini mengandung unsur membantu memeriahkan hari raya mereka yang terlarang. Dan ini kembali kepada dasar Tidak boleh menjual kepada orang kafir anggur atau perasannya yang dijadikan sebagai khamr. Demikian juga tidak boleh menjual kepada mereka senjata yang digunakan untuk memerangi kaum muslimin. (Iqtidhaus Shiratil Mustaqim hlm. 229).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya jual-beli dengan orang kafir pada asalnya diperbolehkan selama tidak mendukung kepada hal-hal yang terlarang. Komite Tetap Untuk Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta&#39;) pernah ditanya: Bagaimana hukumnya meninggalkan kerjasama di antara kaum Muslimin, yakni dengan tidak ridha dan tidak suka membeli dagangan dari kaum Muslimin tetapi suka membeli barang dari toko toko orang kafir, apakah hal seperti itu sebagai suatu yang halal atau haram?&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawaban:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketetapan asal hukum, membolehkan seorang muslim membeli semua yang dibutuhkannya dari semua yang dihalalkan oleh Allah, baik dari orang muslim maupun orang kafir. Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri pernah membeli dari orang Yahudi. Tetapi jika keengganan seorang muslim untuk membeli dari orang muslim lainnya tanpa ada sebab; baik itu dalam bentuk kecurangan, mahalnya harga, buruknya barang, yang membuatnya lebih suka membeli dari orang kafir serta lebih mengutamakannya atas orang muslim tanpa alasan yang benar, maka yang demikian itu jelas haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, yang demikian itu termasuk bentuk loyalitas kepada orang-orang kafir, meridhai dan juga mencintai mereka. Selain itu, karena hal tersebut dapat melemahkan perdagangan kaum muslimin dan merusak barang dagangan mereka serta tidak juga membuatnya laris, jika seorang muslim menjadikan hal-hal itu menjadi kebiasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika sebab-sebab yang menjadikannya berpaling seperti tersebut di atas, maka hendaklah dia menasihati saudaranya (pedagang) itu dengan memperbaiki kekurangannya tersebut. Apabila dia mau menerima nasihat tersebut, maka Alhamdulillah, dan jika tidak maka dia boleh berpaling darinya menuju ke orang lain, sekalipun kepada orang kafir yang terdapat manfaat dalam interaksi dengannya secara jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya. [Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta, Pertanyaan ke-3 dari Fatwa Nomor3323].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/8508842109371504238/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/jual-beli-dengan-orang-beda-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/8508842109371504238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/8508842109371504238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/jual-beli-dengan-orang-beda-agama.html' title='Jual Beli Dengan Orang Beda Agama'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-5124550502940829953</id><published>2023-01-17T15:14:00.002+07:00</published><updated>2023-01-17T15:17:27.154+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TAUHID"/><title type='text'>Apakah Bisa Mengetahui Sifat-Sifat Ruh?</title><content type='html'>&lt;h2 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Apakah Kita Bisa Mengetahui Sifat-Sifat Ruh?&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ruh diciptakan dari jenis bahan yang tidak ada yang semisal dengannya di alam nyata, maka dari itu kita tidak bisa mengetahui sifat-sifatnya, akan tetapi Allah telah menjelaskan kepada kita bahwa ruh itu naik dan turun, mendengar, melihat serta berbicara dst, hanya saja sifat-sifat tersebut berbeda dengan sifat-sifat jasad yang kita kenal, maka naik dan turunnya, mendengar, melihat, berdiri dan duduknya bukanlah seperti yang kita ketahui, sebagaimana Nabi Saw juga memberitakan, bahwa ruh itu dibawa naik ke langit yang paling tinggi, kemudian dikembalikan ke kubur dalam waktu yang singkat, diberi nikmat atau disiksa, yang pasti semua itu berbeda dengan apa yang telah kita ketahui.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ruh Berbeda Dengan Badan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;1)&lt;/b&gt; Sebagian kaum filsafat dan ahli bid&#39;ah dari kalangan Jahmiyyah dan Mu&#39;tazilah berpendapat bahwa ruh itu bagian atau sifat dari badan, sebagian mengatakan,&quot;Ruh itu adalah nafas atau udara yang beredar didalam tubuh&quot;, sebagian yang lain mengatakan, &quot;Ruh itu adalah kehidupan, sesuatu yang tercampur atau badan itu sendiri&quot;. Maka dari itu mayoritas dari mereka mengingkari adanya siksa kubur, sehingga bagi mereka tidak ada ruh yang diberi nikmat atau disiksa di alam kubur, akhirnya merekapun menolak dalil-dalil yang menyatakan hal itu. Dengan ini, mereka telah mendustakan berbagai dalil mutawatir dan mengingkari pokok agama yang seharusnya sudah mereka ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2)&lt;/b&gt; Kaum filsafat lainnya menyatakan bahwa jiwa itu tetap ada setelah berpisah dengan badan, akan tetapi mereka namakan sebagai akal, dan bagi mereka, akal itu berbeda dengan segala zat dan sifat-sifatnya, zat yang mereka maksud adalah jasad, sedangkan akal adalah sesuatu yang berdiri sendiri, tidak bergerak, tidak diam dan tidak berubah sama sekali. Maka dari itu mereka mengatakan, apabila ruh berpisah dari badan, maka keadaannya akan pasif, baik ditinjau dari segi ilmu, pemahaman, pendengaran, penglihatan, keinginan, senang serta kegembiraan dst dalam berbagai hal yang mungkin bisa berubah, bahkan ruh itu akan tetap berada pada kondisi yang satu seperti permulaannya dan akan abadi, sebagaimana yang mereka sangkakan terhadap akal dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3)&lt;/b&gt; Sebagian kaum filsafat lainnya menyifati ruh dengan apa yang mereka istilahkan sebagai wajibul wujud (sesuatu yang pasti ada), padahal kenyataan sesuatu dengan sifat-sifat itu&lt;br /&gt;tidak mungkin ada, mereka menyatakan, ruh itu tidak didalam tubuh dan tidak juga diluarnya, tidak berpisah dengan badan dan tidak juga menyatu dengannya, tidak bergerak dan tidak juga diam, tidak naik dan tidak juga turun, bukan sesuatu yang nyata dan bukan juga sesuatu yang abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kelompok mengakui keberadaan ruh yang berpisah dari badan, akan tetapi dikarenakan ruh adalah makhluk yang tidak sejenis dengan badan bahkan berbeda sama sekali, maka mereka sulit untuk mendefinisikan dan menggambarkannya. Sebab utama mereka menyimpang dalam hal ini adalah, dikarenakan mereka sangat mengandalkan akal dan berbagai kias buatan mereka dalam meneliti perkara gaib ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul-Nya serta beriman kepada keduanya, maka Allah menunjuki mereka, sehingga mereka mengetahui bahwa ruh itu merupakan satu bentuk perwujudan yang berbeda dengan perwujudan badan yang nyata ini, itulah perwujudan nurani yang tinggi ringan hidup dan bergerak, ada dan mengalir didalam inti inti anggota badan seperti mengalirnya air dalam bunga mawar, seperti mengalirnya minyak dalam buah zaitun, demikian juga bagai api dalam bara.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Selama jasad ini masih bisa menerima makhluk yang halus ini, maka dia akan tetap bergabung dengan badan, sehingga badan akan tetap bisa merasakan, bergerak dan berkeinginan. Akan tetapi apabila jasad telah rusak dikarenakan telah dikuasai campuran-campuran yang berat dan sebagainya, sehingga tidak bisa lagi bereaksi dengan ruh, maka ruh akan berpisah dari jasad menuju alam arwah.&lt;/blockquote&gt;Diantara dalil yang mejelaskan bahwa ruh itu merupakan sesuatu yang berbeda dengan jasad adalah sebagai berikut : &quot;Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.&quot; [Q.S. Az-Zumar (39) : 42].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kalian melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan bagian belakang mereka (dan berkata): &quot;Rasakanlah olehmu siksa&lt;br /&gt;neraka yang membakar&quot;, (tentulah kamu akan merasa ngeri). [Q.S. Al-Anfaal (8): 50].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Alangkah dahsyatnya sekiranya kalian melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): &quot;Keluarkanlah nyawamu&quot;. [Q.S. Al-An&#39;aam (6) : 93].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): &quot;Siapakah yang dapat menyembuhkan?&quot;. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). (29) Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan). Kepada Tuhanmulah pada hari itu kalian dihalau.&quot; [Q.S. Al-Qiyaamah (75) : 26-30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan. Padahal kamu ketika itu melihat. [Q.S. Al-Waqi&#39;ah (56) : 83-84].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat-ayat yang mulia ini jelas, bahwa yang ditahan, dimatikan dan yang sampai ke kerongkongan pastilah sesuatu yang hakiki dan berbeda dengan jasad. Hadits-hadits yang telah kita sebutkan juga menguatkan hal ini, Rasulullah Saw menceritakan bahwa malaikat maut mencabut nyawa, kemudian para malaikat meletakkannya didalam kafan surga atau didalam karung neraka sesuai dengan keshalihan dan kefasikannya, lalu dibawa melakukan perjalanan jauh menembus langit-langit, jika jiwa itu shalih, maka akan dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan akan ditutup pintu-pintunya apabila yang datang adalah jiwa yang jelek, setelah itu dikembalikan ke jasadnya, ditanya, disiksa atau diberi nikmat. Arwah syuhada tinggal dikantung-kantung burung hijau, ketika nyawa dicabut, pergerakannya akan diikuti pandangan mata.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kumpulan dalil ini memberikan petunjuk dengan pasti bahwa ruh itu adalah sesuatu yang berbeda dari badan dan akan tetap ada setelah berpisah dari badan.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/5124550502940829953/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/apakah-bisa-mengetahui-sifat-sifat-ruh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5124550502940829953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5124550502940829953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/apakah-bisa-mengetahui-sifat-sifat-ruh.html' title='Apakah Bisa Mengetahui Sifat-Sifat Ruh?'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-4732763143982405743</id><published>2023-01-17T14:56:00.004+07:00</published><updated>2023-01-17T14:56:55.222+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TAUHID"/><title type='text'>Ruh Selaku Penggerak Jasmani</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ibnu Taimiyyah menjelaskan, &quot;Ruh penggerak badan yang meninggalkan badan melalui kematian adalah ruh yang ditiupkan ke dalam badan, itulah jiwa yang akan meninggalkan badan dengan cara kematian&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh telah keliru apabila ada yang menyatakan bahwa ruh dan jiwa itu adalah dua hal yang berbeda, karena dari dalil-dalil yang telah kita sebutkan dapat diketahui bahwa jiwa yang dicabut malaikat, dibawa naik ke atas langit, dikembalikan ke jasadnya, ditanya, lalu diberi nikmat atau disiksa, itulah ruh yang keluar dari jasad diikuti pandangan mata, sebagaimana termaktub dalam hadits-hadits terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk inilah yang menimbulkan kehidupan, bahkan kehidupan akan lenyap bersamaan dengan perginya makhluk ini, makhluk ini disebut ruh dan jiwa, meskipun dua kata ini&lt;br /&gt;terkadang memiliki makna yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Terkadang maksudnya adalah jibril, firman-Nya : &quot;Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). [QS. AsySyu&#39;aro&#39; (26) : 193]. Terkadang maksudnya adalah Al-Qur&#39;an, firman-Nya : &quot;Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur&#39;an) dengan perintah Kami. [QS. Asyuura (42) : 52].&lt;/blockquote&gt;Penjelasan kitab Ath-Thahawiyyah menyimpulkan, &quot;Mayoritas penyebutan jiwa adalah apabila ruh itu masih bersambung dengan badan, adapun apabila telah dicabut dan berdiri sendiri maka mayoritasnya disebut ruh&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyyah menjelaskan, &quot;Disebut jiwa ditinjau dari perannya mengatur badan, disebut ruh ditinjau dari kehalusannya, maka dari itu angin disebut juga sebagai ruh, sabda Nabi Saw : &quot;Angin itu dari ruh Allah. (H.R. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Abu Dawud dan Al-Hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya : berasal dari ruh yang telah diciptakan Allah.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/4732763143982405743/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/ruh-selaku-penggerak-jasmani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4732763143982405743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/4732763143982405743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/ruh-selaku-penggerak-jasmani.html' title='Ruh Selaku Penggerak Jasmani'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-1249287940235047651</id><published>2023-01-01T14:43:00.003+07:00</published><updated>2023-01-01T14:51:10.054+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AKHLAK"/><title type='text'>Sebaik-Baiknya Manusia</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;1. Beriman dan Beramal Shaleh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (QS. Al-Bayyinah/98: 7)` Pada ayat ini kita ketahui bahwa sebaik-baik makhluk adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Ingat Allah Bila Melihatnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: &quot;Sesungguhnya sebaik-baik hamba di kalangan umat ini adalah yang apabila mereka dilihat maka Allah ‘Azza wa Jalla di ingat.&lt;br /&gt;Inilah pokok segala kebaikan, Iman terporos dalam rukun Iman sedangkan Amal Shalih pada rukun Islam, keduanya mesti diatas petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Majjah Al-Khara-ithi dalam Masawi’ Al-Akhlaq.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;3. Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dan juga sabdanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : &quot;Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur&#39;an dan mengajarkannya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Paling Baik Kepada Istri dan Anaknya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula sabdanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: &quot;Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya adalah yang terbaik dari kalian terhadap keluargaku.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Berakhlak Baik dan Menuntut Ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: &quot;Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.&quot; &quot;Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Baik Dimasa Jahiliyyah dan Dimasa Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dan juga beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;Sebaik-baik kalian ketika masa Jahiliyah adalah sebaikbaik kalian di dalam Islam jika memahami agama.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Memberi Makan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : &quot;Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Masyarakat Mengharap Kebaikannya dan Aman Dari Keburukannya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : &quot;Sebaik-baik kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan dirasakan aman dari keburukannya dan seburuk-buruk kalian adalah yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak dirasakan aman dari keburukannya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, Islam apakah yang paling utama? Beliau Saw bersabda : &quot;Yaitu orang yang muslim lainnya aman dari lisan dan tangannya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Paling Baik dalam Membayar Utang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dan juga sabda beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : &quot;Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam pembayaran (utang).&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Paling Bermanfaat Bagi Manusia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : &quot;Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;11. Paling Lembut Shalat Berjama’ah dan Menutup Celah Shaff&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : &quot;Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut pundaknya ketika shalat (berjamaah) dan tidak ada satu langkah dari seorang hamba ketika melangkahkan satu langkah yang pahalanya lebih besar melebihi langkahnya seorang laki-laki yang berjalan menuju celah di shaff kemudian dia menutupinya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;12. Panjang Umur dan Baik Amalnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam : Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr bahwasanya seorang Arab badui berkata, Ya Rasulullah! Siapakah sebaik-baik manusia?&quot; Beliau menjawab, &quot;Yang panjang umurnya dan baik amalannya.&quot; Maukah aku tunjukkan manusia terbaik di antara kalian? Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Manusia terbaik di antara kamu adalah yang paling panjang usianya dan semakin baik amalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;13. Berhati Al-Makhmuum, Jujur dan Zuhud&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dan juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam : Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash dia berkata, &quot;Kami berkata, &#39;Ya Rasulullah! Siapakah sebaik-baik manusia?&#39; Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, &#39;(Dia adalah) yang memiliki hati Al-Makhmuum dan (yang memiliki) lisan yang jujur.&#39; Kami berkata, &#39;Kami telah mengetahui (lisan) yang jujur, apa yang dimaksud dengan hati al-makhmuum?&#39; Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, &#39;Dia adalah hati yang bertakwa dan suci yang tidak ada dosa di dalamnya dan tidak ada rasa dengki/iri! Kami berkata, &#39;Siapakah orang setelahnya?&#39; Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, &#39;(Dia adalah) yang membenci dunia dan mencintai akhirat! Mereka berkata, &#39;Kami tidak mengetahui ada orang seperti ini kecuali Rafi’ Maula Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Siapakah orang setelahnya?&#39; Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, &#39;Seorang Mukmin yang berakhlak baik.&#39; Mereka berkata, &#39;Adapun ini, maka ada pada kami!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;14. Berhati al-Makhmuum, Jujur dan Zuhud&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : &quot;Sebaik-baik manusia di zaman fitnah adalah seorang lakilaki yang mengambil tali kudanya -atau beliau berkata mengambil tali di mulut kudanya- di belakang musuh-musuh Allah. Dia menakut-nakuti mereka dan mereka pun menakut-nakutinya, atau seorang yang menyendiri di baadiyah (tempat yang jauh dari penduduk), dia memenuhi hak Allah yang wajib dikerjakan olehnya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;15. Tiga Generasi Terbaik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda : &quot;Sebaik-baik manusia adalah zaman/generasiku, kemudian zaman/generasi yang berikutnya, kemudian zaman/generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu tidak termasuk zaman tersebut, namun kita bisa menjadi pengikut mereka, karena hanya sahabat dan pengikutnya yang masuk syurga : &quot;Dan masih banyak hadits yang lain. Allahu a&#39;lam. Sudah sepantasnya kita berusaha dan berlomba-lomba untuk menjadi para hamba terbaik yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.&quot; (Q.S. At-Taubah/9: 100). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/1249287940235047651/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/sebaik-baiknya-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/1249287940235047651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/1249287940235047651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2023/01/sebaik-baiknya-manusia.html' title='Sebaik-Baiknya Manusia'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-8488964431212985531</id><published>2022-10-10T16:13:00.009+07:00</published><updated>2022-10-10T16:17:18.816+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH ISLAM"/><title type='text'>Membagi Waktu Untuk Belajar Agama Berat?</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ini mudah saja jawabannya, sebab belajar agama akan menjadikan siapa pun untuk menjadi lebih baik, sedangkan ilmu dunia bisa membawa kebaikan dan menjadikan baik juga, semua itu tergantung daripada ilmu yang dipelajari dan tujuan ketika memanfaatkan ilmu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang keutamaan ilmu agama, ada hadits dari Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (H.R. Bukhari, No. 71 dan Muslim, No. 1037).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Rahimahullah menyatakan, “Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1:165). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti dengan mendalami ilmu diin barulah bisa jadi baik, tanpa belajar dan tanpa mendatangi majelis ilmu, tentu tidak bisa meraih kebaikan yang diharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban kedua adalah dengan mempelajari ilmu agama akan membuat kedudukan seorang mukmin menjadi mulia di dunia dan akhirat. Kita bisa mengambil pelajaran dari ayat berikut, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membawakan ayat di atas, Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan riwayat dari Imam Ahmad, bahwa Naf’ bin ‘Abdul Harits pernah menemui ‘Umar bin Al-Khaththab di ‘Usfan. ‘Umar ketika itu memerintahkan pada Naf’ agar bertanggungjawab pada kota Makkah. ‘Umar lantas bertanya kepada Naf’, “Siapa yang engkau tunjuk untuk memimpin wilayah lembah ini?” Naf’ menjawab, “Aku memerintahkan kepada Ibnu Abza untuk bertanggungjawab pada wilayah tersebut.” ‘Umar bertanya, “Siapa gerangan Ibnu Abza?” Naf’ menjawab,“ Ia adalah di antara bekas budak kami.” ‘Umar bertanya, “Kenapa sampai engkau menunjuk seorang bekas budak menjadi pemimpin?” Naf’ menjawab, “Wahai Amirul Mukminin. Ia itu paham kitabullah dan sangat mengilmui faraidh (masalah waris), ia juga seorang qadhi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar itu, ‘Umar berkata, Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini suatu kaum, dan merendahkan yang lain karena kitab ini (yaitu Al-Qur’an).” Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim dari jalur lainnya, dari Az-Zuhri. Lihat Shahih Muslim, No. 817.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Surah Al-Mujadilah Ayat 11, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah berkata, “Allah mengangkat orang yang berilmu dan beriman beberapa derajat sesuai dengan keistimewaan ilmu dan iman yang Allah anugerahkan untuknya.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Orang Sangat Sibuk, Bagaimana Kiat Dalam Belajar Agama?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Kuncinya sebenarnya mudah yaitu pada manajemen waktu yang baik.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (H.R. At-Tirmidzi, No. 2317; Ibnu Majah, No. 3976).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih). Berarti hal-hal yang tidak manfaat ditinggalkan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam kitabnya “Kitab Al-‘Ilmi” menyebutkan ada tiga hal yang menyebabkan penuntut ilmu agama banyak membuang-buang waktu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Enggan mengulang dan muraja’ah apa yang telah ia baca dan pelajari.&lt;br /&gt;• Duduk dan nongkrong dengan teman-teman yang menghabiskan waktu tanpa faedah.&lt;br /&gt;• Sibuk dengan membicarakan orang dan membicarakan sesuatu yang tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Kiat Dalam Manajemen Waktu&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;1. Buat batasan waktu untuk setiap aktivitas setiap harinya.&lt;br /&gt;2. Yang sangat membantu dalam manajemen waktu adalah meninggalkan aktivitas yang sia-sia dan berlebihan dari yang sewajarnya.&lt;br /&gt;3. Jangan punya kebiasaan menunda-nunda, berkata, “Ah, nanti sajalah.” Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata, “Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.” (Dinukil dari Ma’alim fi Tariq Tolab Al-‘Ilmi, hlm. 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memanfaatkan setiap detik waktu untuk kebaikan dan ibadah. Coba lihat contoh para ulama di masa silam, mereka adalah orang-orang yang sangat memperhatikan waktu dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contohnya adalah :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Salim Ar-Razi, seorang ulama Syaf’iyah pernah mengatakan, “Aku telah membaca&lt;br /&gt;satu juz kitab selama perjalananku.” Itu ia lakukan dalam perjalanan pergi dan&lt;br /&gt;pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Al-Hafzh Adz-Dzahabi ketika menjelaskan biograf Al-Khatib AlBaghdadi, ia berkata, “Sudah biasa Al-Khatib itu berjalan dan ada satu juz kitab di tangannya untuk ia telaah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Anak dari Ibnu ‘Asakir pernah menceritakan tentang bapaknya, bahwa sejak 40 tahun ia selalu sibuk bersama kitab ilmu, mushaf Al-Qur’an yang ia baca dan ia pun sibuk menghafal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Abul Wafa’ ‘Ali bin Aqil menyatakan bahwa ia sampai tidak ingin mensia-siakan satu detik dari umurnya. Jika ia tidak mengulang pelajaran, tidak pula memanfaatkan matanya untuk menelaah, ia berpikir di waktu rehatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Ibnul Qayyim berkata bahwa ia mengetahui sendiri ada ulama yang sakit, pusing atau sakit demam, saat itu kitab masih berada di sisi kepalanya. Jika sadar, ia membaca buku tersebut. Jika ia tak sadarkan diri, buku tersebut tergeletak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Membuat jadwal belajar. Jadwal belajar itu mulai dari Shubuh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hal-hal yang disarankan oleh para ulama sebagai berikut :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;a. Waktu shubuh adalah waktu untuk menghafal, lebih-lebih menghafal AlQur’an Al-Karim. Waktunya adalah ketika waktu sahur (menjelang Shubuh) dan setelah Shubuh, sebab ketika itu pikiran masih jernih. Menghafal saat itu sangat-sangat mudah. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan melakukan shalat Shubuh di masjid, lalu diam hingga waktu syuruq (matahari terbit). Waktu tersebut digunakan untuk menghafal dan mengulang hafalan (muraja’ah). Jika selesai dari menghafal Al-Qur’an, bisa juga digunakan untuk menghafal matan berbagai cabang ilmu seperti menghafal hadits, fiqh, ilmu ushul dan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jika punya waktu untuk bekerja atau belajar di sekolah saat pagi, maka tekunilah aktivitas tersebut. Jika tidak, maka hafalan bisa dilanjutkan hingga mendekati Zhuhur. Lantas sebelum Zhuhur, ambillah waktu untuk melakukan qailulah (tidur siang sejenak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Setelah ‘Ashar digunakan untuk muthala’ah (menelaah), membaca, belajar, menghadiri majelis ilmu, atau mengulang hafalan yang telah dihafal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Setelah Maghrib digunakan untuk menghadiri majelis ilmu. Sedangkan ba’da Isya’ digunakan untuk mengulang pelajaran atau menelaah suatu pelajaran. Namun penjadwalan di atas berbeda untuk setiap orang. Seorang pekerja dengan seorang yang masih jadi pelajar atau mahasiswa, tentu berbeda manajemen waktunya. Seorang yang telah menikah dan yang masih bujang, juga berbeda. Orang yang super sibuk dengan yang biasa saja, tentu berbeda pembagian waktunya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Bagaimana Caranya Mendalami Ilmu Agama?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ini beberapa saran dari Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, No. 10324.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;1. Mulai dari menghafalkan dan memahami Al-Qur’an semampunya.&lt;br /&gt;2. Mempelajari aqidah.&lt;br /&gt;3. Mempelajari fkih dari kitab dasar dalam madzhab.&lt;br /&gt;4. Mempelajari ilmu-ilmu alat seperti nahwu dan sharaf (kaidah bahasa Arab), ilmu ushul fiqh dan ilmu hadits.&lt;br /&gt;5. Menghiasi diri dengan mempelajari akhlak dan adab.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/8488964431212985531/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2022/10/membagi-waktu-untuk-belajar-agama-berat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/8488964431212985531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/8488964431212985531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2022/10/membagi-waktu-untuk-belajar-agama-berat.html' title='Membagi Waktu Untuk Belajar Agama Berat?'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-8404599003226540671</id><published>2022-10-05T20:09:00.000+07:00</published><updated>2022-10-05T20:09:00.841+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AKHLAK"/><title type='text'>Muhasabah Jiwa</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Topik yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah muhasabah jiwa, yaitu bagaimana agar kita melihat dan memeriksa diri kita sebelum tiba waktunya kita dipanggil oleh Allah, Allah berfirman di dalam Alquran, “Wahai orang-orang yang beriman! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini merupakan Ushul fii alMuhasabah (dalil pokok dalam pembahasan muhasabah). Hal ini dikarenakan bahwa Allah memanggil orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah, kemudian Allah memerintahkan agar setiap jiwa melihat apa yang dia lakukan untuk hari esok, kemudian setelah itu Allah memerintahkan lagi untuk bertakwa, kemudian Allah mengingatkan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kita lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyuruh kita untuk memperhatikan hari esok kita agar kita sadar bahwa kehidupan kita di dunia hanya sementara. Oleh karenanya Rasulullah Saw juga telah menyebutkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang telah mempersiapkan hari esoknya (akhirat) yang dia akan hidup selama-lamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah ditanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah orang mukmin yang utama?” beliau menjawab: “Orang yang paling baik akhlaknya.” Dia bertanya lagi; “Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling cerdas?” beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah 2/1423 no. 4259).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits ini, terdapat dua baromoter kecerdasan menurut Nabi Saw. Dua perkara tersebut adalah sering mengingat kematian dan yang paling siap berhadapan dengan hari setelah kematian. Oleh karenanya Allah Swt memerintahkan kita untuk memperhatikan apa-apa yang kita siapkan untuk hari esok (akhirat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain Nabi Saw bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi 4/638 no. 2459).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Menundukkan dirinya maksudnya adalah dia menghisab dirinya.” (Ighatsatu Al-Lahfan 1/78). Maksudnya adalah seseorang melihat kepada dirinya, mengecek amalan yang dia lakukan hari ini, dia menghisab dirinya sebelum dihisab oleh Allah Swt pada hari kiamat kelak. Kematian merupakan perkara yang pasti dan tidak ada yang meragukan akan kedatangannya. Seluruh manusia pasti meyakini bahwasanya dia akan mati, bahkan orang-orang musyrikin Arab dahulu yang diperangi oleh Nabi Saw yang mereka mengingkari akan adanya hari kebangkitan, akan tetapi mereka yakin akan adanya kematian. Allah Swt berfirman, “Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.” (QS. Ath-Taghabun : 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, (disanalah) kita mati dan hidup dan tidak akan dibangkitkan (lagi).” (QS. Al-Mu’minun : 37). Begitu pula dengan orang-orang Atheis yang mengingkari adanya tuhan, mereka juga yakin bahwasanya ada yang namanya kematian dan mereka akan merasakannya, maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang beriman? Tentunya mereka lebih beriman dan yakin akan adanya kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kenyataannya, banyak orang yang yakin bahwasanya mereka akan mati, namun sikap dan perbuatannya menunjukkan seakan-akan mereka tidak akan mati. Oleh karenanya Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang meyakinkan tetapi seakan diragukan oleh manusia seperti keyakinan manusia terhadap kematian karena mereka tidak mempersiapkannya.” (Tafsir Al-Qutrhubi 10/64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah kematian adalah perkara yang pasti dan tidak ada orang yang meragukannya. Akan tetapi sikap manusia tatkala menghadapi kematian tersebut seakan-akan menunjukkan bahwa kematian itu tidak akan datang, buktinya adalah manusia tidak memiliki persiapan, maka jadilah kematian adalah perkara yang pasti namun seakan-akan itu perkara yang diragukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah Swt telah memberikan banyak peringatan yang menunjukkan bahwasanya kita akan meninggal. Di antaranya adalah perubahan yang ada pada diri kita, sebagaimana firman Allah, “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat : 21). Dan Allah Swt telah berfirman, “Dan telah datang kepadamu peringatan.” (QS. Fathir : 37). Sebagian ulama menafsirkan bahwa peringatan yang datang tersebut adalah uban yang ada di rambut kita. Intinya Allah Swt menjadikan manusia semakin lemah, kulit semakin keriput, rambut semakin memutih. Jika itu telah terjadi, maka itu adalah peringatan dari Allah Swt bahwasanya kita sedang menuju kepada kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekiranya tubuh kita senantiasa muda, senantiasa sehat, mungkin kita akan merasa sombong dan lupa bahwa kita akan mati, akan tetapi karena kasih sayang Allah Swt, maka Allah berikan kita peringatan dengan berbagai peringatan diantaranya adalah rambut yang memutih. Oleh karenanya Nabi Saw melarang seseorang untuk menyemir rambut dengan warna hitam. Rasulullah Saw bersabda, “Semirlah (rambut dan jenggot Anda) selain dengan warna hitam.” (HR. Muslim No. 2102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang menyemir rambutnya dengan warna hitam, maka seseorang akan merasa muda terus. Sedangkan jika dia menyemir dengan warna yang lain, maka dia akan sadar bahwasanya asal rambutnya itu berwarna putih yang artinya dia telah menua dan akan meninggal dunia. Bagaimanapun seseorang berusaha untuk pergi ke tempat-tempat perawatan untuk mempercantik dirinya, namun tetap saja kulitnya akan keriput, dan tubuhnya akan melemah, maka bagaimanapun seseorang yang sombong, tetap saja dia akan mencapai suatu titik yang bernama kematian dan kita semua sedang mengantri untuk mencapai titik tersebut untuk bertemu dengan Allah dan tidak di antara kita yang keluar dari antrian tersebut. Hanya saja tidak ada di antara kita yang tahu siapa yang berada di depan dan di belakang kita dalam antrean tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salaf juga telah mengingatkan kita akan hal ini. Di antaranya adalah perkataan Hasan Al-Bashri, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Maka apabila telah pergi sebagian hari-hari, maka pergi pula sebagian dari dirimu. Dan dikhawatirkan jika telah pergi sebagian dari dirimu, maka akan hilang seluruh dari dirimu.” (Fashal Khitab Zuhud, Raqaaiq, dan Adab 3/555).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya seseorang itu ibarat umur. Semakin hari melewati diri seseorang, maka semakin dekat orang tersebut kepada Allah Swt, Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata, “Sesungguhnya dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih ke hadapan (semakin mendekat), pada tiap-tiap keduanya terdapat anak-anaknya (pengikutnya). Maka jadilah pengikut akhirat dan jangan jadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini adalah untuk beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hari penghisaban bukan lagi untuk beramal.” (Ighatsatu Al-Lahfan 1/71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, kita semakin meninggalkan dunia menuju akhirat. Sehingga akhirat semkain dekat dan dunia semakin menjauh. Sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa kalau sekarang seseorang masih bisa beramal, masih bisa berangan-angan dan mewujudkannya. Jika ada di antara kita yang bercita-cita untuk menghafal juz 30, membangun masjid, ingin shalat malam tiap hari, maka cita-cita dan angan-angan tersebut masih bisa untuk dilakukan. Akan tetapi jika seseorang telah meninggal dunia maka tidak bisa lagi melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya Allah Swt menyebutkan bahwasanya orangorang yang sudah meninggal akan menyesal. Allah Swt berfirman, “Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr : 25). Penyesalan tersebut akan diungkapkan oleh orang kafir maupun orang beriman. Orang-orang kafir jelas menyesal karena di hadapan mereka telah ada neraka jahannam dan mereka akan dilemparkan ke dalamnya, mereka menyesal kenapa dahulu tidak beriman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelaku maksiat juga menyesal kenapa dahulu di dunia mereka bermaksiat kepada Allah Swt, bahkan orang-orang yang beriman juga menyesal karena mengapa mereka sedikit beramal dan sedikit ibadahnya, maka saat ini kita masih bisa beramal dan tidak ada hisab bagi kita, akan tetapi tatkala kita telah meninggal dunia maka yang ada hanyalah hisab dan tidak bisa beramal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya kita harus sadar bahwa kehidupan kita ini hanya sementara. Maka kita harus mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan kehidupan kita yang sesungguhnya yaitu kehidupan setelah kematian. Karena Allah Swt telah berfirman, “Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Ar-Rum : 64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan yang kita jalani saat ini adalah kehidupan yang semu dan kehidupan sesungguhnya dimulai tatkala seseorang meninggal dunia. Kita harus sadar bahwasanya umur kita sesungguhnya tidaklah panjang. Rasulullah Saw bersabda, “Umur umatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi 5/553 No. 3550).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang jadi perhatian kita adalah kematian tidak mensyaratkan harus tua. Banyak orang yang meninggal dunia dalam usia muda. Bahkan ada yaang masih bayi telah meninggal dunia, dalam janin juga ada yang telah meninggal dunia. Oleh karenanya seorang penyair berkata, Betapa banyak anak muda yang masih tertawa di pagi dan petang hari, akan tetapi malam hari dia dimasukkan ke dalam gelapnya kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga kematian tidak mempersyaratkan harus sakit terlebih dahulu. Banyak orang yang meninggal secara tiba-tiba dan tanpa di dahului sakit. Seorang penyair berkata, Betapa banyak orang sehat meninggal tanpa didahului sakit. Betapa banyak orang sakit yang disangka akan meninggal akan tetapi masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering seseorang keluar dari rumahnya tanpa terbetik dalam benaknya bahwa dia akan meninggal dunia, akan tetapi tiba-tiba Allah Swt mencabut nyawanya dan kita tahu bahwa sebab-sebab kematian itu banyak. Seorang penyair berkata, Terdapat banyak sebab-sebab yang mengantarkan pada satu tujuan yaitu kematian Oleh karenanya hendaknya seseorang berusaha untuk mempersiapkan dirinya untuk hari akhiratnya. Karena Allah Swt berfirman, “dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan kita saat ini adalah kehidupan yang semu, dan semua kita akan meninggal dunia. Akan tetapi yang menjadi perhatian kita adalah bagaimanakah kehidupan kita yang sesungguhnya di kampung akhirat? Sudahkah kita mempersiapkan untuk kehidupan kita yang abadi di akhirat kelak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah kesuksesan di akhirat, serta kerugian yang sesungguhnya adalah kerugian di akhirat pula. Allah Swt berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. AzZumar : 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma seseorang sukses di dunia, punya rumah banyak, punya mobil banyak, punya pakaian yang mewah, punya pembantu yang banyak, akan tetapi tidak sukses di akhirat. Sesungguhnya seluruh perbendaharaan dunia tersebut akan ditinggalkan dan tidak akan ada yang dibawa masuk ke kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah ke kuburan-kuburan, terdapat banyak model orang di bawahnya, ada yang mantan pejabat, mantan pimpinan perusahaan, orang miskin, dan yang lainnya. Akan tetapi mereka semua sama saat ini, seluruh jabatan mereka tanggalkan, seluruh harta mereka tinggalkan, dan yang tersisa hanyalah mereka dan amal mereka. Oleh karenanya saya ingatkan bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah kesuksesan di akhirat. Jika sukses dunia dan akhirat bisa diraih, maka ini lebih bagus. Namun jika hanya salah satunya, maka sukseslah di akhirat, dan jangan sampai sukses di dunia namun merugi di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari sini kita sadar tentang pentingnya pembahasan muhasabah. Para ulama menjelaskan bahwasanya muhasabah adalah langkah awal agar kita memperbaiki diri kita. Dan Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa meninggalkan muhasabah adalah di antara sebab seseorang mudah bermaksiat kepada Allah Swt. Orang yang hilang dari dirinya muhasabah, maka dia akan terus berjalan menjalani hari-hari tanpa kepedulian, hingga akhirnya mudah baginya terjerumus ke dalam kemaksiatan.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/8404599003226540671/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2022/10/muhasabah-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/8404599003226540671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/8404599003226540671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2022/10/muhasabah-jiwa.html' title='Muhasabah Jiwa'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-328608515294074439</id><published>2021-10-12T08:07:00.011+07:00</published><updated>2021-10-12T08:13:18.670+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TASAWUF"/><title type='text'>Bagaimana Cara Bermuhasabah Diri?</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ketahuilah bahwa pada hari itu adalah hari yang mengerikan,dimana dosa-dosa kita akan diungkap satu demi satu, oleh karenanya barangsiapa yang senantiasa menghisab dirinya di dunia, maka akan semakin ringan hisabnya di akhirat sebagaimana perkataan Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu :&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum diri kalian ditimbang. Sesungguhnya akan mudah penghisaban kalian esok hari jika kalian menghisab diri kalian sekarang dan bersiaplah kalian (untuk dihisab oleh Allah) pada hari kiamat kelak. ‘Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah).’ [Q.S. Al-Haqqah : 18]. (Muhasabah An-Nafs – Ibnu Abi Ad-Dunya.&lt;/blockquote&gt;Orang-orang yang bermuhasabah itu ibarat orang yang kembali mengecek laporannya kembali sebelum akhirnya dia disidang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Bergaul dengan orang-orang yang mengingatkan kita tentang akhirat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bergaul dengan orang-orang yang mau menegur kita tatkala kita memiliki kesalahan dapat membantu kita semangat dalam bermuhasabah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya adalah mintalah kepada teman kita untuk menegur diri kita jika memiliki kesalahan, kemudian tatkala teman kita telah mengur, maka hendkanya kita menerima dengan senang hati, maka jika kita memiliki teman yang siap menegur kita dengan yang cara yang ma’ruf, maka peganglah teman tersebut, karena dengan teguran tersebut akan membantu kita untuk bermuhasabah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bisa jadi kita luput dari muhasabah karena terlalu banyak waktu memikirkan pekerjaan dan urusan dagang, sehingga akhirnya yang sering kita hisab adalah masalah hutang, maka jangan sampai kita seperti orang kafir yang sebagaimana firman Allah, “Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak, sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (Q.S. Al-Humazah:1-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya jika ada teman yang mau menegur kita, maka dia adalah teman yang baik. Teman yang seperti inilah yang seharusnya kita pegang erat dan bukan teman yang hanya bisa mengajak untuk ketawa dan ketiwi, ngobrol, makan dan yang lainnya yang membuat kita lupa bermuhasabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Ziarah Kubur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalau saat ini kita masih hidup dan bisa berangan-angan, maka kita masih bisa untuk menunaikan angan-angan tersebut, akan tetapi jika kita telah meninggal dunia, maka selesailah segala angan-angan tersebut, maka lihatlah kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, mereka tidak bisa lagi beramal, karena mereka telah berpindah kepada kehidupan yang hakiki dan kehidupan dunia yang semu ini mereka telah tinggalkan dan ziarah kubur ini telah diperintahkan oleh Rasulullah Saw beliau mengatakan, “Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan akhirat.” (H.R. Ibnu Majah 1/500 No. 1596).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa dianjurkan juga untuk mengunjungi orang yang sedang sakratul maut, dengan melihat peristiwa tersebut akan membuat seseorang membayangkan bahwa dirinya juga akan mengalami hal yang sama, sehingga akhirnya dia mau untuk bermuhasabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Menghadiri Majelis Ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menghadiri majelis ilmu bisa mengingatkan kita kepada akhirat, majelis ilmu akan menegur kita atas kesalahan-kesalahan kita dan ingatlah, bahwa ilmu itu bukan membuat seseorang semakin sombong, melainkan ilmu itu membuat seseorang harusnya sadar bahwa diri ini memiliki banyak kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang belajar, namun menjadikannya sombong, maka sungguh niatnya dalam belajar itu salah, begitupula sebaliknya, orang yang belajar dengan niat yang benar, maka dia akan semakin tawadhu, semakin sadar akan kesalahan, semakin sadar akan kebodohan dan semakin sadar bahwa ilmu Allah itu sangatlah luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Berdoa kepada Allah untuk dimudahkan untuk bermuhasabah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/328608515294074439/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/ketahuilah-bahwa-pada-hari-itu-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/328608515294074439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/328608515294074439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/ketahuilah-bahwa-pada-hari-itu-adalah.html' title='Bagaimana Cara Bermuhasabah Diri?'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-1705634373725725138</id><published>2021-10-10T07:48:00.009+07:00</published><updated>2021-10-10T07:48:57.114+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TASAWUF"/><title type='text'>Faidah Muhasabah</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Faidah Muhasabah Diri&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Terdapat banyak faidah jika seseorang menghisab dirinya. Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan beberapa faidah dari muhasabah, yaitu antara lain adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui kekurangan diri, manusia itu sering melihat kekurangan orang lain, namun sering lupa dengan kekurang diri sendiri, maka tatkala anda bermuhasabah, maka anda akan tersibukkan dengan kesalahan-kesalahan anda, sehingga tatkala anda telah disibukkan dengan kesalahan-kesalahan anda, maka anda tidak akan tersibukkan dengan kesalahan-kesalahan orang lain.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena anda akan berpikir bahwa diri anda sendiri telah memiliki banyak kesalahan, sehingga anda tidak tersibukkan dengan kesalahan orang lain, orang-orang yang bermuhasabah mungkin akan sadar bahwa matanya telah banyak melakukan kesalahan, sementara Allah telah berfirman, “Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Q.S. Ghafir : 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebelumnya kita merasa bahwa kita adalah orang yang salih dengan menjaga pandangan, akan tetapi tatkala kita bermuhasabah kita akan tahu bahwa ternyata kita selama ini tidak menjaga pandangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian juga hisablah diri kita apakah kita ini anak yang berbakti kepada orang tua? Apa buktinya kita adalah anak yang berbakti? Mungkin setelah bermuhasabah kita akan sadar bahwa kita bukanlah anak yang berbakti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya dengan menghisab diri, kita akan tahu kekurangan-kekurangan yang kita miliki dan kita tidak akan tersibukkan dengan urusan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Akan semakin banyak beistighfar dan bertaubat, tatkala seseorang telah mengetahui aib-aibnya, maka itu akan memicu seseorang untuk beristighfar kepada Allah dan istighfar tersebut benar-benar keluar dari hati yang paling dalam karena benar-benar menyesali perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, maka ketika kita tidak pernah menghisab diri kita, maka kita akan lalai dari beristighfar dan akhirnya dosa-dosa kita lewatkan seakan-akan tidak tercatat, oleh karenanya seseorang yang sering menghisab dirinya akan semakin banyak beristighfar kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengetahui kemuliaan dan Maha Baiknya Allah, setelah seseorang mengecek maksiat-maksiat yang telah dilakukan, maka seseorang akan tahu bahwa Allah itu Maha Baik. Dia akan sadar bahwa meskipun dia bermaksiat dengan begitu banyaknya, Allah masih  memberikannya kenikmatan dan karunianya, maka dari situ seseorang akan tahu betapa luasnya rahmat Allah dan dia akan semakin cinta kepada Allah karena kebaikan-kebaikan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermuhasabah, seseorang akan sadar betapa banyak maksiat yang dia lakukan, namun Allah tidak memberikan hukuman, Allah hanya memberikan teguran kecil kepadanya, oleh karenanya Allah  mengatakan, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. ASySyura : 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Seseorang akan zuhud, seseorang senantiasa menghisab dirinya, maka dia akan zuhud. Dia akan siap untuk bertemu dengan hari akhirat, sehingga dia tidak terlalu memperbanyak perkara-perkara yang akan menambah hisab bagi dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia telah diberikan karunia berupa mobil, maka dia tidak akan merasa butuh dengan mobil lain meskipun dia mampu membelinya, karena mereka khawatir hal tersebut hanya menambah hisab mereka di hari kemudian, begitu pula dengan harta-harta yang lain, mereka akan zuhud dan hanya memiliki yang diperlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya orang yang menghisab dirinya, maka dia akan bersikap zuhud, bukan berarti saya mengatakan bahwa jangan seseorang memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang bagus, karena Rasulullah Saw pernah bersabda, “Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.” (H.R. Ibnu Hibban 9/340 No. 4032).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi yang terpenting adalah seseorang bisa menjawab pertanyaan Allah tatkala segala hartanya dihisab, karena saat ini banyak orang bingung mau dikemanakan hartanya, sehingga akhirnya mereka menambah koleksi rumah, mobil dan harta benda lainnya, padahal mungkin mereka bisa menyalurkan hartanya untuk pembangunan masjid atau kegiatan sosial lainnya.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/1705634373725725138/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/faidah-muhasabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/1705634373725725138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/1705634373725725138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/faidah-muhasabah.html' title='Faidah Muhasabah'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-9143909413351383879</id><published>2021-10-10T07:38:00.003+07:00</published><updated>2021-10-10T07:38:17.177+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TASAWUF"/><title type='text'>Tujuan Muhasabah Diri</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Tujuan Muhasabah&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Sebenarnya, tujuan dari muhasabah adalah agar diri kita mudah untuk dihisab pada hari kiamat. Sebelum kita dihisab oleh Allah, maka kita menghisab diri kita terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya Umar bin Khattab berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum diri kalian ditimbang. Sesungguhnya akan mudah penghisaban kalian esok hari jika kalian menghisab diri kalian sekarang. Dan bersiaplah kalian (untuk dihisab oleh Allah) pada hari kiamat kelak. ‘Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah).’ [Q.S. Al-Haqqah : 18].” (Muhasabah An-Nafs – Ibnu Abi Ad-Dunya 1/22).&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa perkara yang Allah akan tanyakan pada hari kiamat kelak sangatlah banyak. Perkara-perkara itulah yang harus kita hisab pada diri kita sebelum kita ditanya oleh Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah apa yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw, bahwa beliau bersabda, “Tidaklah kaki seorang hamba bergeser (dari tempat penantiannya) pada hari kiamat hingga ia ditanya empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang badannya untuk apa ia gunakan, tentang harta dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang ilmu untuk apa ia amalkan.” (H.R. Ad-Darimi 1453 No. 556).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Di antara yang akan dihisab oleh Allah pada hari kiamat kelak adalah tentang usia kita. Usia dan masa muda akan ditanya tentang kemana telah kita habiskan. Ingatlah bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa di antara tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah  pada hari kaiamat kelak adalah, “Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naungan-Nya (pada hari kiamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu; (di antaranya) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan &#39;ibadah kepada Rabbnya.” (H.R. Bukhari 2/111 No. 1423).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa yang seharusnya digunakan untuk bersenang-senang dan bermaksiat, akan tetapi dia melewatinya dalam rangka taat kepada Allah, oleh karenanya janganlah sia-siakan masa muda kita, karena hal tersebut akan ditanya oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Di antaranya yang akan ditanya oleh Allah adalah harta yang kita miliki, dari mana kita peroleh dan kita belanjakan untuk apa. Sebelum kita dihisab oleh Allah, maka hisablah diri kita tentang harta kita. Apakah harta kita murni halal? Atau bercampur dengan yang haram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah harta kita berasal dari pekerjaan yang menzalimi orang? Kalau seorang ustadz saja harus menghisab dirinya, bagaimana lagi dengan seorang pedagang? Kemudian setelah itu kita akan ditanya lagi, harta tersebut kemanakah kita habiskan? Apakah hal-hal yang kita belanjakan dengan harta tersebut adalah barang-barang yang perlu atau barang-barang yang digunakan untuk menyombongkan diri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua akan ditanya pada hari kiamat kelak oleh Allah,  Allah berfirman, “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (Q.S. At-Takatsur : 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kemudian yang akan ditanya oleh Allah adalah tentang ilmu seseorang. Hisablah diri kita tentang apa yang telah kita amalkan dari ilmu kita. Jangan sampai kita telah belajar ilmu agama bertahun-tahun, namun tidak ada perubahan sikap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana ilmu yang dipelajari? Seorang istri yang telah lama belajar ilmu agama, namun masih suka membangkang kepada suami, kemana ilmu yang dipelajari? Begitupula dengan seorang suami yang telah belajar ilmu agama namun tidak bersikap baik terhadap istrinya, keamanankah ilmunya selama ini? Mana shalat malam kita? Mana sedekah kita? Padahal mungkin kita telah sering mendengar dalil-dalil akan keutamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang tidak tahu ilmu agama juga akan ditanya alasannya untuk mengapa tidak mempelajarinya, maka dari itu ingatlah, bahwa ilmupun juga akan ditanya oleh Allah, ini adalah di antara perkara-perkara yang Allah akan hisab pada hari kiamat, maka sebelum Allah menghisab kita tentang perkara-perkara ini, maka kita hisab diri kita terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jika kita menghisab diri kita saat ini, maka InsyaAllah hisab kita di akhirat akan mudah, diluar dari pada itu, yang akan dihisab oleh Allah adalah mata kita. Mata kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisab telinga dan mulut kita, mungkin telah terlalu banyak ghibah dan namimah yang telah kita ucapkan dan telah kita dengarkan, kemudianlah hisablah tangan kita yang senantiasa menulis di media-media sosial, karena apa yang kita tulis juga tercatat dan tidak akan hilang catatan tersebut dari catatan amal kita meskipun tulisan telah kita hapus dari media sosial kita.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/9143909413351383879/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/tujuan-muhasabah-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/9143909413351383879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/9143909413351383879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/tujuan-muhasabah-diri.html' title='Tujuan Muhasabah Diri'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-1479349742173229885</id><published>2021-10-04T07:32:00.003+07:00</published><updated>2021-10-04T07:32:26.788+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TASAWUF"/><title type='text'>Bagaimana Cara Kita Bermuhasabah?</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ingatlah bahwa muhasabah itu setiap hari dan bukan setahun satu kali, semakin sering bermuhasabah, maka akan semakin baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang jarang bermuhasabah maka dia akan sulit untuk menangis tatkala shalat, tatkala bersendirian dengan Allah, karena jarang bermuhasabah, seseorang tidak bisa khusyu’ dalam shalatnya karena tidak mengetahui berapa banyak dosa yang telah dia lakukan dan lupa bahwa bisa saja ruh dicabut secara tiba-tiba, oleh karenanya perlu untuk menyisihkan waktu untuk bermuhasabah.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Bagaimana cara menghisab diri kita? &lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Maymun bin Mihran berkata, “Tidaklah seorang hamba dikatakan bertakwa, hingga dia bersikap muhasabah kepada dirinya lebih besar daripada saat dia perhitungan dengan teman dagangnya.” (Az-Zuhd li-Hanad bin as-Sirri 2/580).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwasanya jiwa itu seperti teman dagang yang pengkhianat, sehingga kalau seseorang tidak hitung dengan detail, maka dia akan membawa pergi hartanya. Maksudnya adalah tatkala seseorang menghisab dirinya, hisablah secara detail. Karena jika seseorang tidak menghisab diri secara detail, maka bisa jadi dia akan dibawa kepada neraka jahannam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detail maksudnya adalah ingatlah dengan baik-baik apakah benar diri kita tidak menzalimi orang lain? Apakah hari ini tidak ada halhal yang haram yang kita lihat? Apakah ada music yang kita dengarkan? Coba ingat kembali satu persatu apa yang telah kita lakukan, sebagaimana seseorang yang berusaha untuk kembali menghitung ulang uang dagangnya kepada teman dagangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa Allah menjadikan dalam jiwa kita tiga sifat, yaitu :&lt;br /&gt;Sifat yang pertama adalah jiwa yang mengajak kepada keburukan. &lt;br /&gt;Allah berfirman, “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Yusuf : 53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang kedua adalah jiwa yang mencela diri sendiri. Allah berfirman, “Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).” (Q.S. Al-Qiyamah : 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang ketiga adalah jiwa yang tenang. Allah berfirman, “Wahai jiwa yang tenang!” (Q.S. Al-Fajr : 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga sifat jiwa ini sering bergulat dalam diri seseorang, oleh karenanya terkadang jiwa itu sering mengajak kepada kemaksiatan agar seseorang mengikuti hawa nafsunya, oleh karenanya telah kita sebutkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (H.R. At-Tirmidzi 4/638 No. 2459).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi ada juga sifat dari diri manusia yang mulia yaitu sifat lawwamah (mencela dan menyesal). Oleh karenanya Allah bersumpah dengan menyebut sifat tersebut. Sifat ini akan membuat seseorang mencela atas keburukan dan menyesal atas kebaikan. Maksudnya adalah ketika jiwa melakukan keburukan, maka akan ada ketidak tenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya Rasulullah Saw bersabda, “Kebaikan itu ialah budi pekerti yang baik, sedangkan dosa ialah perbuatan atau tindakan yang menyesakkan dada dan engkau sendiri benci jika perbuatanmu itu diketahui orang lain.” (H.R. Muslim 4/1980 No. 2553).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ketidak tenangan itu maka seseorang akan mencela dirinya karena telah melakukan maksiat dan dosa. Jika seseorang masih memiliki jiwa yang seperti ini, maka dia masih memiliki jiwa yang baik. Kemudian juga di sisi lain, para ulamanya mengatakan bahwa jiwa ini bukan hanya mencela perbuatan yang buruk, akan tetapi juga mencela (menyesali) perbuatan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah dia melakukan celaan dan penyesalan ketika dia melakukan amalan yang sedikit, ketika meninggalkan amalan yang sunnah dan yang lainnya dan sifat ini akan hadir tatkala seseorang mau untuk bermuhasabah, maka kalau kita telah terlatih untuk mencela (menyesali) diri kita atas perbuatan-perbuatan kita, maka kita berharap itu akan mengantarkan kita kepada derajat Nafsu Al-Muthmainnah (Jiwa yang tenang).&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/1479349742173229885/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/bagaimana-cara-kita-bermuhasabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/1479349742173229885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/1479349742173229885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/bagaimana-cara-kita-bermuhasabah.html' title='Bagaimana Cara Kita Bermuhasabah?'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-7833248679505285484</id><published>2021-10-04T07:20:00.004+07:00</published><updated>2021-10-04T07:34:53.204+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="FIQH ISLAM"/><title type='text'>Hukum T a‘zir</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Pengertian Ta&#39;zir&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt; Ta&#39;zir adalah hukuman yang tidak memiliki ketentuan ukuran atas maksiat yang tidak ada had dan tidak pula kafarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hukuman atas maksiat ada tiga jenis, yaitu :&lt;/b&gt;&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Padanya terdapat had yang telah ditentukan, seperti zina, pencurian, membunuh dengan sengaja, semua ini tidak ada kafarat dan tidak pula ta&#39;zir padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apa yang padanya terdapat kafarat dan bukan had, seperti bersetubuh dalam keadaan ihram, bersetubuh pada siang hari bulan ramadhan, dan kesalahan dalam membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apa yang padanya tidak terdapat had dan tidak pula kafarat, yang seperti ini mengharuskan ta&#39;zir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Hikmah Disyari&#39;atkannya Ta&#39;zir&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Allah mensyari&#39;atkan beberapa hukuman tertentu yang tidak boleh di tambah dan tidak pula di kurangi, atas kejahatan yang menodai landasan umat demi untuk menjaga agama, jiwa, harta, kehormatan serta akal dan Dia menentukan untuk itu beberapa had yang tegas, yang mana itu merupakan perhiasan, sehingga tidak mungkin bagi umat ini untuk bisa hidup kecuali dengan menjaganya dalam menegakkan hukum had.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum-hukum had ini memiliki persyaratan serta ketetapan, terkadang sebagian darinya ada yang tidak bisa dipastikan, maka akhirnya diapun akan berpindah dari hukuman yang memiliki ketentuan kepada hukuman yang tidak memiliki ketentuan dan diserahkan kepada&lt;br /&gt;Imam, inilah yang disebut ta&#39;zir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Hukum Ta&#39;zir Dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Wajib bagi seluruh maksiat yang tidak memiliki had dan tidak pula kafarat, baik itu berupa perbuatan atas hal yang diharamkan, ataupun juga karena meninggalkan kewajiban, seperti bercumbu yang tidak ada had padanya, mencuri yang tidak sampai batas potong tangan, kejahatan yang tidak ada qishas padanya, wanita bercumbu dengan wanita (lesbi), menuduh yang bukan karena perzinahan dan lainnya atau karena meninggalkan suatu kewajiban bersama adanya kemampuan, seperti membayar hutang, melaksanakan amanat serta barang titipan, mengembalikan barang orang lain, kedzaliman dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa melakukan suatu maksiat yang tidak memiliki hukum had kemudian bertaubat dan menyesalinya, maka dia tidak akan dikenai ta&#39;zir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Pembagian Ta&#39;zir&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;1. Ta&#39;zir dalam mendidik dan mentarbiyah: seperti didikan seorang ayah terhadap putranya, suami terhadap isteri, tuan terhadap pekerjanya yang bukan dalam maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, dalam masalah ini tidak boleh lebih dari sepuluh kali cambukan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: &quot;Janganlah kalian mencambuk lebih dari sepuluh kali, kecuali dalam had yang telah Allah tentukan.&quot; (H.R. Bukhari No. 6850, lafadz ini darinya dan Muslim No. 1708).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ta&#39;zir atas perbuatan maksiat. dalam hal ini Hakim boleh melebihkan sesuai dengan maslahat, kebutuhan, ukuran maksiat serta banyak dan sedikitnya, dia tidak memiliki ukuran tertentu, akan tetapi jika maksiat yang dilakukan memiliki hukuman yang telah ditentukan syari&#39;at, seperti zina, pencurian dan semisalnya, maka ta&#39;zirnya tidak boleh melebihi ketentuan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Tata Cara Ta&#39;zir&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ta&#39;zir merupakan beberapa hukuman yang dimulai oleh nasihat dan peringatan, hajr, bentakan, ancaman, peringatan serta pengasingan, dia akan berakhir dengan hukuman sangat berat, seperti penjara dan cambuk, bahkan terkadang sampai pada pembunuhan dengan ta&#39;zir ketika dirasa berdampak positif terhadap masyarakat, seperti membunuh seorang mata-mata, ahli bid&#39;ah dan pelaku kejahatan yang membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang ta&#39;zir juga dilakukan dengan cara mengumumkan pelaku atau denda harta benda ataupun juga dengan cara pengasingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hukuman Ta&#39;zir Tidak Terbatas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagi Hakim boleh menentukan hukuman yang sesuai dengan pelaku kejahatan, sebagaimana yang telah lalu, dengan syarat tidak keluar dari apa yang telah Allah perintahkan atau yang dilarang-Nya, sehingga dia akan berbeda-beda dari setiap daerah, waktu, pribadi, jenis maksiat serta keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafarat bagi dia yang mencium wanita tidak halal baginya lalu datang untuk bertaubat&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki mencium seorang wanita, lalu dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan kejadian tersebut, maka turunlah ayat: &quot;Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.&quot; (Q.S. Huud/11:114). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu bertanyalah orang tersebut, &quot;Ya Rasulullah, apakah ini hanya untukku? Beliau menjawab: &quot;Untuk seluruh umatku&quot; (H.R. Bukhari No. 526, lafadz ini darinya dan Muslim No. 2763).&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/7833248679505285484/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/hukum-t-azir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/7833248679505285484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/7833248679505285484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/10/hukum-t-azir.html' title='Hukum T a‘zir'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2545448830135041262.post-5393876879409807698</id><published>2021-09-27T09:47:00.004+07:00</published><updated>2021-09-27T09:47:39.075+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="KAIDAH SUNNAH NABI"/><title type='text'>Pengertian Ruqyah</title><content type='html'>&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Ar-Rukyah&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;Bacaan-bacaan yang dilafazkan dari Al-Quran &amp;amp; As-Sunah As-Sohihah dan bukan dari yang lain. Ada beberapa faktor manusia menjadi lemah dan sakit diantaranya : Tidak atau kurang bersyukurnya atas nikmat yang Allah berikan.&lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Transaksi-transaksi ekonomi Ribawi atau mencari nafkah dengan tidak halal (Korupsi, menipu/ berbohong, dsb) Allah berfirman: &quot;Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ada dibumi.Dan janganlah engkau mengikuti langkah setan,karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu&quot;. (QS.Al-Baqarah :168).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Orang-orang yang makan(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) Penyakit gila.&quot; (Q.S.Al-Baqarah :275).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakan makanan dan minum yang tidak halal dan baik (binatang yang diharamkan, merokok, mabuk, dsb). Life Style tidak sehat menghasilkan pola makan, prilaku Sex dan Pola aktivitas yang sekularistik yang mengundang penyakit. lingkungan sosial yang tidak sehat, ditandai dengan angka kriminalitas yang tinggi, kemiskinan, pengangguran konflik senjata dan berbagai kekerasan fisik ditengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan fisik &amp;amp; biologi tdk sehat disebabkan kesehatan, tanah, air, udara yg tercemar polutan, menipisnya ozon sehingga ekosistem yg ada dibumi rusak, akibat keserakahan manusia. Pemanasan global yg diikuti perubahan iklim yang ekstrim mengakibatkan berbagai kuman penyakit berkembang biak dengan pesat, terjadi krisis pangan, krisis air bersih , dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan alQuran dan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Saw berupa ruqyah, merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman : “Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: &quot;Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?&quot; Apakah (patut Al-Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: &quot;Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu&lt;br /&gt;suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh&quot;. (Q.S. Fushshilat : 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakitpenyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus : 57).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian al-Quran merupakan penyembuhan yang sempurna diantara seluruh obat hati dan juga obat fisik, sekaligus obat bagi seluruh penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang mampu dan mempunyai kemampuan untuk melakukan penyembuhan dengan Al-Quran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pengobatan dan penyembuhan itu dilakukan secara baik terhadap penyakit, dengan didasari kepercayaan dan keimanan, penerimaan yang penuh, keyakinan yang pasti, terpenuhi syarat-syaratnya, maka tidak ada satu penyakitpun yang mampu melawan al-Quran untuk selamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin penyakit-penyakit itu akan menentang dan melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika (firman-firman itu) turun ke gunung, maka ia akan memporak-porandakan gunung-gunung tersebut, atau jika turun ke Bumi, niscaya ia akan membelahnya. Oleh karena itu, tidak ada satu penyakit hati dan penyakit fisik pun melainkan didalam Al-Quran terdapat jalan penyembuhannya, sebab kesembuhan, serta pencegahan terhadapnya bagi orang yang dikaruniai pemahaman oleh Allah terhadap Kitab-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah SWT (Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung) telah menyebutkan didalam al-Quran beberapa  penyakit hati dan fisik, juga disertai penyebutan penyembuhan hati dan juga fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penyakit-penyakit hati terdiri dari dua macam, yaitu : penyakit syubhat (kesamaran) atau ragu, dan penyakit syahwat atau hawa nafsu. Allah Yang Mahasuci telah menyebutkan beberapa penyakit hati secara terperinci yang disertai dengan beberapa sebab sekaligus cara penyembuhan penyakit-penyakit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman : “Dan Apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al-Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. AlAnkabuut : 51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Ibnul Qayyim Ra mengemukakan : “Barang siapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al-Quran, berarti Allah tidak memberikan kesembuhan  kepadanya. Dan barang siapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Quran, maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai penyakit-penyakit badan atau fisik, Al-Quran telah membimbing dan menunjukkan kita kepada pokok-pokok pengobatan dan penyembuhan, dan juga kaidah-kaidah yang dimilikinya. Yakni, bahwa kaidah pengobatan penyakit badan secara keseluruhan terdapat di dalam Al-Quran, yaitu ada tiga poin :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjaga Kesehatan&lt;br /&gt;2. Melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit&lt;br /&gt;3. Mengeluarkan unsur-unsur yang merusak badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang hamba melakukan penyebuhan dengan Al-Quran secara baik dan benar, niscaya dia akan melihat pengaruh yang sangat menakjubkan dalam penyembuhan yang cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim Ra berkata : “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat Al-Fatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zamzam dan membacakan padanya surat Al-Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga kudapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit, dan aku mendapatkan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga pengobatan dengan ruqaa (jama’ dari ruqyah) Nabawi yang riwayatnya shahih merupakan obat yang sangat bermanfaat. Dengan ayat dan do’a yang dipanjatkan. Apabila doa tersebut terhindar dari penghalang-penghalang terkabulnya do’a itu, maka ia merupakan sebab yang sangat bermanfaat dalam menolak hal-hal yang tidak disenangi dan akan tercapai hal-hal yang diinginkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang demikian itu termasuk salah satu obat yang sangat bermanfaat, khususnya yang dilakukan berkali-kali dan do’a pun berfungsi sebagai penangkal bala’ (musibah), mencegah dan menyembuhkannya, menghakangi turunnya atau meringankannya jika ternyata sudah sempat turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda : “Tidak ada yang dapat mencegah qadha’ (takdir) kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebajikan.” Tetapi yang harus dimengerti dengan cermat, yaitu bahwa ayat-ayat, dzikir-dzikir, doa-doa dan beberapa ta’awwudz (permohonan perlindungan kepada Allah) yang dipergunakan untuk mengobati atau untuk ruqyah pada hakikatnya ada pada semua ayat, dzikir-dzikir, doa-doa dan taawudz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama telah sepakat membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah, atau Asma (Nama-nama) dan sifat-Nya atau sabda Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ruqyah itu hendaknya diucapkan dalam bahasa Arab. Kalau tidak bisa, maka boleh dengan bahasa lain yang difahami maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Harus diyakini bahwa bukanlah dzat ruqyah itu sendiri yang memberikan pengaruh, tetapi yang memberikan pengaruh itu adalah kekuasaan Allah Swt, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/feeds/5393876879409807698/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/09/pengertian-ruqyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5393876879409807698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/2545448830135041262/posts/default/5393876879409807698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://wadahsufiyah.blogspot.com/2021/09/pengertian-ruqyah.html' title='Pengertian Ruqyah'/><author><name>YUHERMAN.YS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03305559575033575739</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJwFtXrOQ72M6jUU5ByDhZnQiqVsAGA7sS162N-ftbzlxCjw7i2FeXVXGOSEL8VjMkPrnvgWm2_VB92AENhbgq5prXsK7aDukJ3gvD4zU91DLjeYvICNLKYIJMN4BzP10/s44/Man3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>