<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-12281426</atom:id><lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 03:10:20 +0000</lastBuildDate><category>anekdot</category><category>Pelatihan</category><category>catatan</category><category>Surat Senin Pagi</category><category>Pelatihan Agustus 2011</category><category>Cerpen</category><category>surat-surat</category><category>creative writing</category><category>kolom</category><title>Ruang Berbagi - A.S. Laksana</title><description>Menulis Jernih, Berpikir Jernih</description><link>http://as-laksana.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>142</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/ok_laks" /><feedburner:info uri="blogspot/ok_laks" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-6623214666010722638</guid><pubDate>Mon, 19 Dec 2011 08:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-19T16:13:21.405+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Ilmu Menjadi Kaya (2)</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos 18 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan terhadap kolom minggu lalu yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ilmu Menjadi Kaya&lt;/span&gt; sungguh di luar dugaan saya sendiri. Ada cukup banyak pembaca yang menulis email ke saya. Secara garis besar kita bisa menggolongkannya ke dalam tiga kelompok, yakni yang mengucapkan terima kasih, yang mengutarakan kekecewaan, dan yang menyampaikan pemikiran tandingan terhadap tulisan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama, diwakili oleh pernyataan, “Terima kasih atas tulisan tersebut. Saya sangat tertarik dan ingin bertukar pikiran lebih banyak dengan anda soal law of attraction.” Kelompok kedua, “Saya sudah mengamalkan law of attraction, tetapi sampai sekarang saya tidak pernah berhasil mendapatkan Mercy yang saya inginkan.” Kelompok ketiga, “Cara berpikir orang Barat dan kita orang Timur berbeda. Mereka lebih berfokus pada dunia materi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang saya akui di awal tulisan minggu lalu, saya bukan seorang ahli di bidang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;law of attraction&lt;/span&gt;, visualisasi kreatif, atau berpikir positif. Lebih dari itu, saya tidak berada di sini sebagai seorang motivator. Ketika anda terinspirasi, anda akan bisa memotivasi diri sendiri dalam cara yang lebih baik dibandingkan motivator mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, anda tahu, membahas hal-hal beginian ini sungguh tidak menyenangkan. Belum apa-apa Anda sudah akan dianggap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;matre&lt;/span&gt;, mendewakan harta benda, atau mata duitan. Saya kira karena itu orang lebih suka menyimpannya dengan sangat hati-hati jika ia memiliki hasrat untuk menjadi kaya. Seolah-olah hasrat untuk kaya adalah sesuatu yang keliru dan memalukan, seolah-olah hasrat menjadi kaya tidak akan membawa perubahan baik bagi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada seorang teman yang sangat spiritualistis, saya pernah menyampaikan bahwa mungkin uang menempati posisi paling bawah dalam anak tangga spiritual, tetapi ia tetap saja harus diberi perhatian. Orang tidak akan menapak lebih tinggi ketika ia gagal menyelesaikan urusan yang paling remeh. Anda tidak akan menapaki anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya ketika anak tangga paling bawah keropos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukankah kemiskinan adalah masalah serius bagi sebagian warga negeri ini? Jika ya, saya kira masuk akal ketika anda berpikir bahwa cara mengatasinya adalah dengan menjadi kaya. Kemiskinan membuat orang mudah disogok untuk memilih kandidat tertentu pada setiap pemilu atau pilkada. Itu masalah yang sangat serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, seagung apa pun orang membicarakan kemiskinan, kondisi miskin tetap saja membikin frustrasi bagi kebanyakan orang. Anda tahu, tidak semua orang memiliki kualitas pendeta. Ketika anda memiliki kualitas pendeta dalam diri anda, belum tentu keluarga anda memilikinya. Mereka akan frustrasi oleh kualitas kependetaan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda menyadari mahalnya biaya pendidikan, anda akan merasakan betapa penting menjadi kaya. Ketika anda menyadari mahalnya biaya pengobatan, anda akan tahu betapa berharganya menjadi kaya. Ketika anda menyadari bahwa anda memerlukan barang-barang dan jasa tertentu untuk membuat hidup anda menyenangkan untuk dijalani, anda akan merasakan betapa perlunya menjadi kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, saya terdengar seperti sedang menjadi corong bagi pemikiran yang memihak kekayaan. Jujur saja, saya menanggung risiko untuk dianggap matre dan semacamnya dengan tulisan minggu lalu dan tulisan sekarang ini. Tetapi itu risiko kecil. Saya hanya ingin berpikir sedikit melingkar dalam menghadapi situasi yang tampaknya terus begitu-begitu saja. Sejauh ini orang telah membahas kemiskinan dan bersitegang mengenai akurasi statistik angka kemiskinan. Namun masalah kemiskinan tidak pernah terselesaikan ketika ia terus-menerus dibahas dan dipertengkarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat seperti inilah hidup memerlukan inspirasi agar selalu menarik untuk dijalani. Dan saya betul-betul terpukau pada judul buku Wallace Wattles: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Science of Getting Rich&lt;/span&gt;. Itu sebuah klaim yang menakjubkan. Ia menyiratkan ada metodologi ilmiah di dalamnya, dan sudah melalui pembuktian berkali-kali untuk melihat keajekannya. Dan karena ia adalah ilmu eksakta, maka hasilnya akan sama ketika dilakukan oleh siapa pun dalam cara tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah saya nanti berhasil menjadi orang kaya atau tidak setelah membaca buku itu, saya tidak peduli. Dan saya tetap akan kagum pada buku itu apa pun hasilnya. Saya selalu kagum pada orang-orang yang menggunakan pikiran, dan selalu mempertahankan rasa ingin tahu mereka. Dari rasa ingin tahu itulah kita terus membangun gairah untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memberikan apresiasi kepada buku itu, buku yang baru saya baca satu abad setelah penerbitannya, karena saya yakin bahwa ia lahir dari pemikiran intensif untuk mendapatkan “metode ilmiah” tentang bagaimana mendatangkan kekayaan. Juga dari kesediaan untuk melakukan pengamatan terhadap fakta-fakta. Ada orang-orang yang memiliki bakat besar dan menjadi kaya, ada orang-orang dengan bakat besar dan terus terlunta-lunta. Ada orang pintar yang melarat, ada orang pintar yang kaya. Ada orang bodoh yang kaya, ada orang bodoh yang melarat. Ada dua orang dengan bisnis yang sama. Yang satu kaya, yang satu melarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa variabel yang ajek dalam fakta tentang orang-orang yang berhasil menjadi kaya? Penggalian atas inilah yang dilakukan oleh Wallace Wattles melalui pengamatan, juga pengalaman pribadinya, dan kemudian ia sampaikan dalam bentuk buku. Dan, anda tahu, itu sebuah buku yang tengil, yang dengan enteng menyampaikan, “Baca saja setiap hari buku ini dan jalankan saran yang disampaikan kepada anda. Anda tidak perlu membaca buku-buku lain sampai anda berhasil mewujudkan apa yang anda inginkan. Setelah anda berhasil, silakan baca buku apa pun semau anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ngakak membaca bagian itu. Sebagai penulis, yang selalu menyarankan kepada siapa pun untuk membaca buku sebanyak mungkin, nasihat itu jelas berlawanan dengan pendirian saya. Mungkin Wallace hanya mencoba mengekstremkan betapa pentingnya pengetahuan yang ia sampaikan. Mungkin ia sungguh-sungguh menyarankan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, entah ia sungguh-sungguh atau guyon, saya menyukai kelugasannya. Saya menyukai harapan yang ia hadirkan. Lebih-lebih Wallace menekankan bahwa apa yang ia sampaikan adalah ilmu menjadi kaya dalam cara yang kreatif, bukan kompetitif. Ketika anda menjadi kaya dalam cara yang kreatif, anda tidak merugikan siapa pun. Untuk itu, ia menyarankan, pertahankan dalam benak hal terbaik yang anda ingin capai, dan mulailah dengan mengerjakan sebaik-baiknya urusan anda hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat ini mengingatkan saya pada Bruce Lee. Pada saat yang nyaris bersamaan dengan menemukan buku Wallace di internet, saya baru saja selesai menonton untuk kedua kalinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Legend of Bruce Lee&lt;/span&gt;. Itu serial 50 episode yang dibikin berdasarkan buku yang ditulis oleh Linda Lee Cadwell, istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lie Siau Lung bukan siapa-siapa ketika dikirim oleh ayahnya ke Amerika karena terlibat permusuhan dengan bos mafia Hongkong. Ia tidak memiliki kerabat di sana, tidak punya siapa pun yang bisa menampungnya. Tetapi ia sangat sehat sehingga sanggup melakukan apa saja untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia sanggup menjadi tukang sampah, menjadi kuli jalan raya, menjadi pengantar koran, menjadi pelayan restoran. Ia melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan sambil terus mempertahankan pemikiran besar dalam benaknya. Ia membuktikan keberhasilannya. Dan saya berjanji tidak akan menulis judul “Ilmu Menjadi Kaya” untuk kali ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga &lt;a style="font-style: italic;" href="http://as-laksana.blogspot.com/2011/12/ilmu-menjadi-kaya-1.html"&gt;Ilmu Menjadi Kaya (1)&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-6623214666010722638?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/Ed2z3UQ7R7g" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/Ed2z3UQ7R7g/ilmu-menjadi-kaya-2.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/12/ilmu-menjadi-kaya-2.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-183834967597013233</guid><pubDate>Mon, 19 Dec 2011 08:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-19T16:11:57.309+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Ilmu Menjadi Kaya (1)</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos 11 Desember 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini saya agak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kuper &lt;/span&gt;mengenai buku-buku yang membahas soal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;law of attraction &lt;/span&gt;(LoA) dan bagaimana mendatangkan keberlimpahan dengan cara memvisualisasikan apa yang diinginkan. Beberapa teman saya pebisnis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;multi level marketing &lt;/span&gt;pernah datang ke rumah saya dan melakukan presentasi demi menarik saya ke dalam barisan mereka, dan mereka memperkenalkan buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berpikir dan Berjiwa Besar&lt;/span&gt;. Karena tak bisa menolak presentasi teman-teman, sekarang ini saya memiliki dua eksemplar buku tersebut dan belum pernah membacanya sama sekali. Itu kesalahan saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, tetap dengan pengetahuan minimum tentang LoA, saya menuliskan frase “science of getting rich” di mesin pencari internet. Pikir saya, jangan-jangan ada juga orang Barat yang sudah menulis metode ilmiah tentang cara menjadi kaya. Saya punya kecurigaan bahwa mereka gemar memikirkan apa saja, membahas apa saja, dan kemudian menuliskan apa saja menjadi buku. Dan ternyata memang ada buku ilmu pengetahuan tentang menjadi kaya. Judulnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Science of Getting Rich&lt;/span&gt;. Buku ini terbit pada 1910, ditulis oleh Wallace D. Wattles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun penerbitan buku itu membuat saya melongo. Jadi, ketika para proklamator kita masih bocah ingusan, di Amerika Serikat orang sudah memikirkan ilmu pengetahuan tentang bagaimana cara menjadi kaya dan menuliskannya sebagai sebuah sains. Dengan suara yang jernih dan penuh keyakinan, Wallace menyampaikan, “Ada ilmu menjadi kaya, dan itu ilmu eksakta, seperti aljabar dan aritmetika. Ada hukum-hukum tertentu yang mengatur proses mendapatkan kekayaan, dan barangsiapa mempelajari dan mengikuti hukum-hukum ini, ia akan menjadi kaya dengan kepastian yang matematis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera terpukau. Jika demikian halnya, buku ini sangat penting bagi teman-teman saya para penulis, yang sebagian dari mereka adalah orang-orang yang sering kesulitan uang dan kesulitan berkarya. Beberapa orang bahkan kesulitan membeli buku, barang yang sesungguhnya sangat mereka butuhkan untuk menopang proses kreatif mereka. Tentu saja ilmu ini wajib dipelajari juga oleh semua orang. Ia akan menjadi ilmu yang berguna untuk mengurangi kasus penganiayaan pembantu rumah tangga kita di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyampaikan sains menjadi kaya ini, Wallace enteng sekali menyodorkan pendapat-pendapatnya. Ia bilang bahwa manusia terdiri atas tubuh, pikiran, dan jiwa. Untuk menjalani hidup yang sebaik-baiknya, anda harus mempersembahkan hal yang baik kepada tubuh anda, kepada pikiran anda, dan kepada jiwa anda. Anda akan menjalani hidup yang baik ketika anda sanggup memberikan pakaian dan asupan yang baik bagi tubuh anda; sanggup memberikan buku-buku dan pengetahuan terbaik kepada pikiran anda; sanggup memberikan hal-hal yang baik kepada orang-orang yang anda cintai. Untuk itu, setiap orang harus kaya dan harus tahu cara pasti untuk menjadi kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, menurutnya, Anda hanya perlu menjadi kaya dalam cara yang kreatif, bukan kompetitif. Anda tak perlu menjadi kaya dengan mengalahkan siapa pun. Anda hanya perlu memulai “penciptaan” dari pikiran Anda. Itu sumber utama Anda untuk mewujudkan segala sesuatu, termasuk mewujudkan kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membaca dan setuju-setuju saja. Ia menyampaikan kalimat-kalimatnya dalam cara yang jernih dan provokatif. Lalu saya menambahi sendiri: Benar, Bung! Segala sesuatu, mulai dari jarum pentul sampai pesawat ruang angkasa, menjadi ada mula-mula karena orang memikirkannya. Demikian pula jamu galian singset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, muncul dalam benak saya sebuah adegan, semacam sinetron yang wagu. Anda sangat mencintai anak anda, dan anda mengatakan kepadanya, “Aku sangat mencintaimu, Nak, tapi jangan pernah minta apa pun kepadaku, ya.... Aku tidak akan sanggup memberikan apa pun yang kaubutuhkan karena aku tidak pernah punya cukup uang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saya kira ekspresi cinta yang konyol. Dan Wallace tidak pernah menyediakan tempat dalam dirinya untuk memikirkan kemiskinan. Baginya, sebagaimana ia tulis dalam bukunya yang lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;How to be A Genius&lt;/span&gt;, kebahagiaan terbesar manusia adalah ketika ia bisa memberikan hal terbaik kepada orang-orang yang ia cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sarannya, yang berkaitan dengan kemiskinan, bahkan terdengar sangat mengejutkan. Katanya, “Jangan peduli pada kegiatan-kegiatan amal. Orang miskin tidak butuh amal. Kegiatan amal hanya meringankan penderitaan dalam satu dua hari. Sebuah hiburan hanya akan memberi kesenangan dalam satu dua jam. Orang miskin membutuhkan inspirasi. Beri mereka inspirasi, dan itu adalah pemberian yang akan bertahan seumur hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal inspirasi, saya kira Wallace sudah membuktikan dirinya. Ia bertahun-tahun hidup melarat dan kehilangan posisinya yang baik di gereja Metodis karena dianggap bidah. Menurut penuturan anaknya, suatu pagi menjelang natal, uang terakhir yang ada pada istrinya sudah habis untuk membeli pohon natal. Wallace pulang saat itu. Dengan senyum mengembang di depan pohon natal itu ia mengatakan bahwa sekarang adalah saatnya mewujudkan kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, ia lalu memulai dari pikirannya. Ia melihat dirinya sebagai penulis yang berhasil, sebagai orang kaya, dan sebagai orang yang memberi inspirasi kepada orang banyak. Dengan cara itu ia membangun dirinya sendiri dalam benak. Dan ia berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bisa mengatasi kemiskinannya dan hidup sebagai orang berkecukupan, ia menjadi penulis yang memberikan inspirasi kepada penulis-penulis sesudahnya. Jejaknya dalam penulisan buku-buku pemberdayaan diri bisa anda jumpai pada karya-karya Napoleon Hill, Robert Schuller, Anthony Robbins, dan Rhonda Byrne.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rhonda, yang melahirkan The Secret dan memopulerkan istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;law of attraction&lt;/span&gt;, adalah orang yang sedang bangkrut ketika suatu hari anaknya memberikan hadiah ulang tahun kepadanya buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Science of Getting Rich&lt;/span&gt;. Tampaknya sains tentang menjadi kaya yang dirumuskan oleh Wattles benar-benar bekerja dalam kasus Byrne. Ia kemudian sukses dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Secret&lt;/span&gt;-nya, yang tidak lain adalah penulisan ulang buku Wallace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mulailah dari pikiran. Itu perangkat utama anda dalam “penciptaan”. Jadilah kaya lebih dulu, kata Wallace, bicara filosofis nanti setelah beres urusan. Seperti apa pun situasi anda sekarang, lihatlah diri Anda melampaui apa yang tampak di permukaan. Di sinilah orang perlu kekuatan, sebab biasanya sangat sulit bertindak rileks ketika anda di dasar kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga: &lt;a style="font-style: italic;" href="http://as-laksana.blogspot.com/2011/12/ilmu-menjadi-kaya-2.html"&gt;Ilmu Menjadi Kaya (2)&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-183834967597013233?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/SZUp1pIdP4k" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/SZUp1pIdP4k/ilmu-menjadi-kaya-1.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/12/ilmu-menjadi-kaya-1.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-4462689686257160172</guid><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 05:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-15T14:22:13.726+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Teknik Mendapatkan Cinta Sejati</title><description>* Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 13 November 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIKA harus membenci orang yang sangat kaucintai, apa yang akan kaulakukan? Pertanyaan itu datang Senin pagi ketika Seto baru bangun tidur. Masih samar benda-benda, masih remang pikirannya, dan tampang dungu adiknya sudah bercokol di depan mata. Seto tahu bahwa adiknya akan tampak seperti itu kapan saja, dan mungkin selamanya. Ibunya salah dalam hal ini. Pada umur dua tahun, adiknya memungut konde palsu ibunya yang, entah bagaimana, jatuh ke lantai dan memasukkannya ke mulut. Lalu ia jalan sempoyongan ke teras rumah sambil menggigit konde. “Papa, lihat dia!” kata ibunya. “Dia makan konde. Lucu sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seto enam belas tahun saat kejadian itu. Menurutnya makan konde, meski itu dilakukan oleh anak dua tahun, bukanlah tindakan lucu. Itu dungu. Selamanya dungu. Dan anak itu bahkan tak pernah memanggil Seto dengan sebutan kak atau mas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang si kerbau, yang kini 19 tahun, duduk di tepi tempat tidurnya, dekat kaki. Anak itu terlihat lebih dungu dari biasanya dan situasi di rumah agak mencemaskan. Ayah dan ibunya sedang pulang kampung sampai minggu depan untuk mengurus tanah warisan. Artinya, dalam seminggu si kerbau akan sepenuhnya menjadi urusan Seto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja adiknya sedikit berakal, Seto merasa akan gampang menjawab pertanyaan yang diajukannya pagi itu. Ia akan bilang, “Pindah agama saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan jawaban main-main. Seto pernah berpindah agama tiga kali sejak berhenti kuliah: semua agama baik, kautahu. Dengan berpindah agama, kau sekadar berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lain. Lagipula semua agama bisa dijalankan begitu-begitu saja. Ia tidak pernah ke masjid ketika Islam, tidak pernah ke gereja ketika Kristen, tidak pernah bertapa ketika menganut kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akan ada sedikit persoalan jika kau bolak-balik pindah agama. Tapi itu bisa diatasi dengan siasat. Di kartu tanda penduduk Seto selalu mencantumkan agama yang sama, seolah-olah ia memeluk agama itu secara kukuh. Itu demi kemudahan administrasi, karena Seto tidak mengurus sendiri pembuatan KTP-nya. Ia membayar orang kelurahan dan tinggal tunggu beres dalam dua tiga minggu dan ia tidak ingin ada pembicaraan panjang dengan orang itu soal agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah tahun terakhir, karena ilham dari sebuah novel, dan karena semua agama adalah baik, Seto memeluk tiga agama sekaligus—Islam, Kristen, Yahudi—dan ia merasa lebih tenteram. Ketika para pemeluk Islam dan Kristen saling bunuh di beberapa tempat, kedua agama itu tetap damai di dalam dirinya. Ia tidak harus membela yang satu dan mengalahkan yang lain. Ia juga tidak perlu mengutuk Yahudi. Justru dengan memeluk Yahudi, Seto bisa menikmati dirinya sebagai bagian dari suatu kaum yang meyakini diri sebagai pilihan Tuhan, yang hidup menyebar di mana-mana sembari terus-menerus merindukan tanah yang dijanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kautahu, dengan memeluk tiga agama sekaligus (dan sekarang ia juga sedang menekuni Budha dan Hindu), Seto merasa Tuhan sangat mengasihinya. Memang ia tak bisa mencantumkan ketiganya secara bersamaan dalam KTP, tetapi Tuhan maha mengetahui. Dia tahu apa yang ada dalam hati dan Dia pasti paham juga urusan administrasi kelurahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya urusan dengan Tuhan tak pernah terlalu rumit. Beda ketika kau berurusan dengan si kerbau. Ia berkebalikan dari Tuhan. Si kerbau maha tidak tahu dan ia pemburu yang pantang menyerah. Dan itulah ujian yang nyata bagi Seto. Maksudku, anak itu terlalu dungu untuk diladeni, tetapi ia akan terus mengejarmu sampai mendapatkan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETO membalikkan tubuh membelakangi adiknya. Ia kembali memejamkan mata dan tertidur lagi tak lama kemudian. Ketika bangun untuk kali kedua, dilihatnya si kerbau masih duduk seperti semula, seperti batu tua, seperti kutukan dari masa prasejarah. Ia katupkan lagi kelopak matanya yang tiga hari belakangan memang terasa layu dan berat. Seto yakin tensinya sedang merosot saat itu. Sehari sebelumnya ia seperti hidup tanpa tulang. Pada Sabtu pagi, ketika ia kencing, ia merasa lantai kamar mandinya goyah dan debur jantungnya meracau dan kepalanya seperti kesemutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi begini tak bisa kauanggap remeh. Kautahu, sering ada kabar orang terjengkang di kamar mandi dan harus dirawat di rumah sakit karena kepalanya bocor menghantam sudut bak mandi atau bibir kloset. Pasti karena tensi yang rendah. Sudah beberapa kali Seto mengalami keadaan seperti itu. Namun ia selalu baik-baik saja. Ia tahu cara kencing yang aman di saat tekanan darahnya sedang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula ia akan melakukan hal yang biasa dilakukan oleh lelaki dewasa, yakni menyemburkan air kencingnya ke dinding bak mandi. Jika ia merasa limbung, segera ia akan menyandarkan tubuh pada dinding kamar mandi sampai debur jantungnya kembali beres dan rasa kesemutan di kepalanya hilang. Selesai kencing ia kandangkan kembali burungnya. Biasanya ada satu tetesan sisa yang masih keluar setelah burung itu masuk kandang. Selalu begitu. Selalu ada tetes kencing terakhir yang keluar saat burung itu sudah dikandangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi apa yang akan kaulakukan?” tanya adiknya sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seto menggeliat dan bangkit dengan gerak malas dan kemudian melangkah keluar dari kamarnya. Di pintu kamar, tanpa berhenti dan tanpa menoleh, akhirnya ia menjawab juga sambil lalu, “Pindah agama.” Dan begitulah ia masuk perangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kerbau tercenung beberapa waktu. Mungkin ia memang selalu tampak tercenung. Kemudian ia mengikuti langkah Seto menuju kamar mandi, menunggui kakaknya di depan pintu. “Kau sungguh-sungguh?” tanyanya saat Seto membuka pintu kamar mandi sehabis kencing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah jalanan, suara penjual sapu terdengar panjang dan sedih menawarkan dagangannya. Seto tidak menjawab. Ia sudah memutuskan tidak akan meladeni adiknya lebih panjang. Tetapi, seperti pertanyaan pertama, pertanyaan susulan itu rupanya sangat serius. Melalui telepon siang harinya, ketika Seto sedang di kantor menyiapkan draf makalah untuk disampaikan di depan guru-guru bimbingan dan penyuluhan, si kerbau mengejarnya dengan pertanyaan yang kini lebih panjang, “Jadi kau sungguh-sungguh akan pindah agama jika kau harus membenci orang yang sangat kaucintai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Tuhan yang mahatahu akan isi hati dan urusan administrasi, itu bukan pertanyaan. Itu keruwetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membenci orang yang sangat dicintai adalah keruwetan. Lebih parah lagi, itu abnormal. Sudah beberapa waktu Seto menyadari bahwa hidup membutuhkan kewarasan dan aturan yang jelas. Jika seseorang sepatutnya dibenci, bencilah ia sebaik-baiknya. Jika seseorang sepatutnya dicintai, cintailah ia sebaik-baiknya. Ini sama dengan hal-hal umun yang lain: jika kau lapar, makanlah. Orang tidak harus berlari maraton pada saat ia lapar. Ibumu tak akan menyuruhmu minum saat kau mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin para pertapa akan menyarankan, ”Cintailah musuh-musuhmu!” tetapi kurasa mereka tak akan menyalahkanmu seandainya kau tidak sanggup mencintai orang yang sangat kaubenci, atau membenci orang yang sangat kaucintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum si kerbau mengajukan pertanyaan pagi itu, Seto bahkan sudah pernah menulis makalah untuk sebuah diskusi tentang hidup waras dan alasan-alasan pendukungnya. Ringkasan presentasinya begini: Sekarang bayangkan seseorang menanyaimu, “Kenapa kau menyayangi orang itu?” dan kau menjawab, “Karena aku membencinya.” Oh, kau pasti dianggap tidak genap karena jawaban itu. Sebaliknya, kenapa kau membenci orang itu? Kaujawab, “Karena aku menyayanginya.” Ini juga jawaban yang membuatmu perlu dibawa ke Puskesmas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Seto, pertanyaan si kerbau sebetulnya memberi kesempatan untuk mengulang diskusi beberapa tahun lalu. Sayangnya si kerbau tidak memadai untuk sebuah diskusi dan anak itu memiliki prinsipnya sendiri, yakni menagih jawaban. Ia kembali muncul pada malam hari ketika Seto sedang mulai membaca &lt;I&gt;Quantum Teaching&lt;/I&gt;. Dan itu membuat Seto gagal membaca dan tak bisa tidur hingga setengah empat dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya hampir saja ia terjengkang di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu terjadi hari Selasa tetapi seperti hari Senin. Si kerbau masih berdiri di muka pintu kamar mandi dan mengajukan pertanyaan, “Jadi kau sungguh-sungguh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau ruwet sekali?” bentak Seto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku sangat menyayanginya,” kata adiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau membencinya karena kau sangat menyayanginya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi menurutmu aku harus pindah agama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mestinya kau ikut pulang kampung saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kerbau diam. Seto melenggang ke rak jemuran, mengambil handuk, menyampirkannya ke pundak, dan masuk lagi ke kamar mandi. Si kerbau tetap berdiri di depan pintu kamar mandi, lalu melanjutkan pembicaraan, atau tepatnya bermonolog karena Seto hanya mandi selama adiknya bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kautahu, Seto, dia memang beragama lain,” kata si kerbau. “Dan sekarang aku betul-betul membencinya karena dia beragama lain. Dan apakah kau sungguh-sungguh? Aku harus pindah agama? Oh, itu tidak mungkin.... Aku akan semakin membencinya jika rasa sayangku padanya membuatku sampai harus bertukar keyakinan. Dan pasti ayah dan ibu akan sangat terpukul jika aku pindah agama. Lagi pula menurut mereka, orang yang sangat kusayangi itu bukanlah lelaki yang baik. Ia sudah punya istri....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeda beberapa saat. Seto selesai mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi apa sebetulnya maumu?” tanya Seto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sangat menyayanginya,” kata adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, ia balik ke kalimat semula. Seekor kerbau memang akan berkubang di situ-situ juga. Ada setengah keyakinan pada Seto bahwa otak adiknya tertinggal di rahim ibu pada hari ia dilahirkan dan kemudian ikut ditanam di pekarangan depan rumah bersama ari-ari, diterangi nyala lampu minyak setiap malam. Karena itulah ia tumbuh menjadi hewan. Benar-benar hewan dalam pengertian yang agak harfiah. Jelasnya begini, jika kau membenarkan definisi bahwa manusia adalah hewan berpikir, maka ia benar-benar hewan ketika tidak sanggup berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kau benar-benar akan pindah agama jika kau menjadi aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa aku berandai-andai menjadi kamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudku, jika kau menjadi aku....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ampun! Kenapa aku harus berandai-andai menjadi dungu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kakakku, kan? Aku hanya ingin tahu apa yang akan kaulakukan seandainya kau menjadi aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seto agak terpukul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kerbau melanjutkan, “Sebenarnya aku sendiri sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tapi kau kakakku, aku ingin tahu pendapatmu. Ayah bilang ia orang yang tidak baik. Apakah aku keliru mencintai orang yang tidak baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lakukan saja yang harus kaulakukan,” kata Seto, sedikit melunak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya aku rela menjadi istri kedua,” kata adiknya, “tetapi agamanya tidak membolehkan ia beristri dua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasa di sinilah letak persoalannya. Seto kembali mengeras. Baru saja si kerbau membuatnya bungkam dan agak terharu ketika mengatakan, “Kau kakakku, kan?” Tetapi sebentar kemudian anak itu sudah mengeluarkan pernyataan yang terdengar bebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, adikku yang maha cerdas,” kata Seto. “Kau tak pantas bilang begitu. Yang harus rela mestinya istri bajingan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau kakakku, kenapa selalu menyalahkan aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Seto tahu tak ada gunanya meluruskan orang yang tidak paham salah-benar. Ia bahkan menyesali jawaban pindah agama yang kemarin ia sampaikan sambil lalu. Sekarang si kerbau terus mencecar apakah ia perlu pindah agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja ia tidak bebal....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESTINYA urusan itu bisa menjadi diskusi yang menarik. Seto bisa menjelaskan dengan amat jernih mengenai pindah agama dan alasan-alasan pendukungnya. Ia akan memberikan alasan yang valid dan realistis, di luar kenyataan bahwa semua agama baik, dengan contoh kasus dirinya sendiri. Memang harus diakui bahwa keputusan Seto untuk berpindah-pindah agama mulanya didasari oleh peristiwa yang sangat remeh. Itu gejala yang lazim dalam munculnya berbagai bentuk pencerahan. Kautahu, Newton terilhami oleh apel yang jatuh dari pohon dan Archimedes oleh air yang meluap di bak mandinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengalaman Seto, peristiwa remeh itu adalah rasa cintanya pada gadis penjual tiket di gedung bioskop Cilandak. Sejak itu secara sungguh-sungguh ia melatih diri di depan cermin, beberapa kali sehari, untuk menyampaikan kalimat-kalimat. Namun, Seto merasa makin hari situasinya makin sulit. Setiap kali berada di depan loket (Seto memilih film-film yang tidak diminati penonton sehingga loket itu sepi antrian), ia merasa kalimat-kalimatnya selalu tidak tepat. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa gadis itu bukan ditakdirkan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, demi mempertegas takdir itu, ia memutuskan berpindah agama sehingga kini agama mereka berbeda. Dan, ajaib, keputusan ini justru membuatnya lebih santai dan lebih fasih ketika suatu malam ia berdiri di depan loket pada jam pertunjukan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat malam,” jawab gadis itu dalam nada resmi dan profesional. Lalu ia menunjukkan denah tempat duduk dan Seto memilih sembarang tempat duduk. Ketika para penonton lain sudah memasuki gedung pertunjukan, Seto kembali ke loket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya ada yang mau saya sampaikan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan,” kata gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh saya berterus terang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda cantik sekali. Sayang agama kita berbeda. Jika kita seiman, saya pasti sudah melamar anda dari dulu-dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan beres malam itu. Si gadis tersenyum, tidak menerima, tidak menolak. Hanya tersenyum, resmi dan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan-kesempatan berikutnya, Seto melakukan hal serupa dengan gadis lain yang menurut ia sama cantiknya dengan gadis penjual tiket itu. Tiga kali Seto berpindah agama karena perempuan: untuk membuktikan bahwa cintanya ditolak karena mereka berbeda agama, dan bukan oleh sebab-sebab lain. Kurang tampan, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau ingin menirukan caranya, lakukanlah. Teknik Seto akan membuatmu terhindar dari penderitaan akibat penolakan. Maksudku, jika seorang gadis menolakmu padahal agama kalian sama, itu bisa seperti kiamat bagimu. Kenapa seorang gadis menolakmu padahal kalian seagama? Ia akan bilang kau bukan tipenya. Atau, “Kita temenan saja, deh?” Atau, “Aku belum kepikiran untuk serius.” Atau, “Maaf, ya, aku masih ingin sendiri.” Apa pun jawabannya, yakinlah itu sinonim belaka dari fakta bahwa kau tidak menarik baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tirulah Seto agar kepalamu bisa tetap tegak dan gadis itu tak perlu berbelit-belit. Di luar itu, jika ia benar-benar mencintaimu, ia akan mengorbankan dirinya dengan berpindah agama mengikuti agamamu dan kalian akan menjadi pasangan yang berbahagia selama-lamanya, dengan agama baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi orang bisa menyelesaikan masalah dengan cara pindah agama?” tanya adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bahkan tidak perlu beragama,” kata Seto. Dalam hati ia melanjutkan, “Apa gunanya agama bagi seekor kerbau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasi, si kerbau, tersenyum. Usianya 19 menurut Seto, tetapi 22 menurut akte kelahiran. Seharusnya ia berangkat ke Austria bulan lalu, bersama tiga kawannya, untuk menempuh tahun terakhir kuliahnya. Itu program kerjasama antara kampusnya dengan kampus di sana. Tetapi ia membatalkannya. Situasi kakaknya terus memburuk sejak kedua orang tua mereka meninggal tiga tahun lalu. Mereka mengalami kecelakaan di Tegal dalam perjalanan ke Semarang. Sasi tak pernah sampai hati meninggalkan kakaknya sendirian—beberapa kali Seto pingsan di kamar mandi. Karena itulah setiap kali kakaknya ke kamar mandi ia selalu menungguinya di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bisa mengatakan bahwa Sasi kini menjalani hidup serupa perawan suci, dengan satu-satunya anak lelaki yang usianya 14 tahun lebih tua darinya. Bedanya, Seto bukan juru selamat.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-4462689686257160172?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/trww93y3c4I" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/trww93y3c4I/teknik-mendapatkan-cinta-sejati.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>11</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/11/teknik-mendapatkan-cinta-sejati.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-3733221226245800044</guid><pubDate>Thu, 03 Nov 2011 06:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-03T13:28:06.276+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">surat-surat</category><title>Surat Hemingway kepada Ibunya</title><description>Surat Hemingway kepada Grace Hall Hemingway (ibunya)&lt;br /&gt;Dari Kansas City, 16 Januari 1918&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama tersayang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuterima suratmu hari ini. Aku heran kenapa lama tak ada kabar dari kalian di rumah seolah hubungan kita sedemikian buruknya. Dua puluh derajat di luar, sangat dingin meski tidak banyak salju. Di Kansas paling-paling hanya setebal dua atau tiga kaki. Tak ada kereta jalan dari barat atau dari timur. Hubungan kita pasti terputus untuk sementara waktu. Stok batu bara sangat buruk di sini. Karenanya kami hanya bisa berharap agar musim semi segera tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, keringkan air matamu, Mama, dan bergembiralah. Kau akan menemukan sesuatu yang lebih baik daripada terus gelisah. Jangan rusuh hatimu atau menangis atau meratap hanya karena aku bukan seorang Kristen yang baik. Aku sebisa mungkin selalu berdoa setiap malam dan yakin sekuat mungkin untuk selalu bahagia. Maka, jangan resah hatimu hanya karena aku orang Kristen yang periang. Alasan kenapa aku tidak ke gereja pada hari Minggu adalah karena pada hari Sabtu aku harus bekerja keras hingga pukul satu dinihari untuk menyiapkan The Sunday Star dan kadang hingga pukul tiga atau empat pagi. Dan aku tak pernah membuka mata pada hari Minggu sampai pukul setengah satu siang. Kautahu, itu bukan kehendakku. Kautahu, aku tak terlalu menggebu-gebu soal agama tetapi aku tetap seorang Kristen sejauh bisa. Minggu adalah hari di mana aku bisa tidur nyenyak. Gereja tante Arabell juga terlalu menonjolkan mode pakaian dan tanpa pendeta yang simpatik—aku merasa tidak cocok di sana….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rasa kasih,&lt;br /&gt;Ernie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari &lt;i&gt;Ernest Hemingway, Selected Letters&lt;/i&gt;, Carlos Baker)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-3733221226245800044?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/J7VeeT0kdpM" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/J7VeeT0kdpM/surat-hemingway-kepada-ibunya.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>7</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/11/surat-hemingway-kepada-ibunya.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-7772488402070551563</guid><pubDate>Wed, 12 Oct 2011 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-13T00:11:28.936+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Dunia yang Berisik</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;* Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 9 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Ini hari baik, ini hari buruk, ini abad kebijaksanaan, ini abad ketololan, ini zaman keyakinan, ini zaman kegamangan, ini musim cahaya, ini musim kegelapan, ini musim semi harapan, ini musim dingin keputusasaan, kita memiliki semuanya di depan mata, kita semua akan meluncur ke surga, kita semua akan langsung nyungsep ke tempat sebaliknya. Singkatnya, inilah masa sekarang. Masa di mana sejumlah pemilik otoritas begitu berisik menegaskan bahwa dirinyalah yang paling bisa diterima, untuk kebaikannya atau kejahatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini bayi lahir dan nyawa terbang sama gampangnya. Ada banyak cara untuk mati dan anda bisa menemukannya di televisi setiap hari. Saya bukan penonton televisi yang tekun, dan rasa-rasanya saya tidak perlu menjadi tekun dalam hal itu, namun setiap kali saya sengaja menonton televisi, yang kebetulan tersaji di depan mata selalu berita pembunuhan. Pernah saya lihat bagaimana televisi menggambarkan cara pembunuh melakukan tugasnya, seolah-olah sedang memberi kita sebuah panduan. Ya, di depan mata kita, kita memiliki semua panduan untuk apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang televisi, saya akan selalu cerewet menyampaikan kampanye negatif. Ia sahabat yang mengerikan karena berada di tengah-tengah rumah kita. Ia memasok tempurung kepala kita dengan apa saja, sebagian besar tidak berguna, dan kita menikmati apa saja yang mereka pasokkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak stasiun televisi sekarang, tetapi semuanya menawarkan dunia yang tunggal, sebuah dunia yang menampilkan dirinya secara &lt;i&gt;lebay&lt;/i&gt;. Jika hari ini ada satu banci yang sangat digemari di layar kaca, besok akan ada orang lain yang lebih banci muncul di layar televisi, yang mencoba menarik perhatian anda. Hari ini ada siaran hantu, besoknya akan bermunculan hantu-hantu lain yang lebih dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyediakan panduan-panduan menuju neraka dan bahan-bahan untuk bergosip, tentu saja di sana ada juga orang-orang yang mengajak ke surga. Ada tukang khotbah dan seruan azan. Ada juga para pemompa semangat yang memberi tahu anda bagaimana cara menjadi Superman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu siapa yang masih memperhatikan perpustakaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kini sudah beralih menggemari propaganda. Di layar komputer atau ponsel anda disediakan jejaring sosial, di mana anda bisa menegaskan diri dalam kalimat sepanjang-panjangnya 140 karakter. Saya ingin bilang bahwa &lt;i&gt;Twitter&lt;/i&gt; dan jejaring sosial semacamnya adalah sebuah media yang cocok untuk propaganda. Memukau orang dengan kalimat pendek sama saja dengan anda menulis spanduk atau membuat &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt; untuk iklan. Dan kebanyakan adalah propaganda yang ditulis dengan cara yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bacalah buku. Buku yang baik akan menghindarkan anda dari dunia yang berisik dan membuat kepala anda lebih waras. Ia memberi anda kesegaran di tengah situasi politik yang kelihatannya kian tak waras. Ini juga dunia yang sangat berisik dan sungguh tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya di dunia politik orang-orang seperti Ruhut dkk mendapatkan tempat sebaik-baiknya. Hanya dunia politik yang memungkinkan anda mengenal pencipta lagu bernama Susilo Bambang Yudhoyono. Pak Presiden seperti sedang memberi panduan bahwa anda bisa menjadi presiden sambil terus-menerus menciptakan lagu-lagu yang berisi petuah-petuah truistik untuk dinyanyikan di acara-acara besar. Terakhir, ia sedang menciptakan lagu untuk dinyanyikan di pembukaan Sea Games.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia akan lebih sering mencipta lagu untuk memanfaatkan sisa waktunya. Semoga tidak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dunia politik yang menjadi semakin berisik, kita tetap tidak tahu bagaimana cara mendapatkan pemimpin yang baik. Padahal penting bagi anda untuk mendapatkan pemimpin yang baik. Memang anda menentukan nasib anda sendiri, tetapi pemimpin yang baik diperlukan agar kehidupan bersama, di sebuah tempat yang kita sebut tanah air, menjadi terkelola secara baik dan bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kriteria untuk menjadi pemimpin? Apa yang membuat kita menyerahkan diri untuk dipimpin oleh seseorang dan bagaimana cara kita bisa melakukan uji kelayakan? Jika anda memilih pemimpin, anda harus tahu cara membedakan mana loyang dan mana odong-odong. Jangan sampai anda mengira sedang memilih loyang, ternyata ia odong-odong—atau sebaliknya. Tetapi apa panduan untuk mendapatkan pemimpin yang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak pernah mendapatkannya. Salah satu keberhasilan pemerintahan SBY dalam bidang politik adalah membuat sampai hari ini kita tidak bisa melihat siapa calon pemimpin yang bisa kita percaya. Hari ini tidak muncul nama-nama kandidat yang memberi kita harapan bahwa di tangan mereka urusan akan menjadi lebih baik. Tokoh politik kita hari ini semua sama: mereka hanya orang-orang yang berisik, orang-orang yang pada suatu hari, jika tiba hari apesnya, akan diperiksa oleh KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kalau toh anda tidak mendapatkan pemimpin yang baik, sampai kapan pun, tetapkan saja bahwa andalah pemimpin bagi diri sendiri. Hanya dengan cara itu saya mengakhiri tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya akan membuat pengakuan. Anda tahu, paragraf pertama tulisan ini saya ambil dari paragraf awal novel &lt;i&gt;Kisah Dua Kota&lt;/i&gt; karya Charles Dickens, yang ditulis dua abad lalu. Ia relevan untuk Inggris masa itu, dan relevan untuk situasi kita dua ratus tahun kemudian. Bedanya, dua ratus tahun lalu ketika Dickens menulis itu, orang masih dalam tahap belajar bagaimana cara melakukan eksploitasi, sekarang orang sudah mahir melakukannya. Dan kita menghadapi keberisikan yang menjadi-jadi di tengah kecanggihan orang menguras apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar relevansi itu, saya ingin menyampaikan bahwa gagasan untuk menulis bisa datang dari mana saja. Ini saya sampaikan karena begitu banyak pertanyaan yang ditujukan ke email saya berkaitan dengan bagaimana cara menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-7772488402070551563?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/OtAY1BKf4Yo" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/OtAY1BKf4Yo/dunia-yang-berisik.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/10/dunia-yang-berisik.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-7545177416264887844</guid><pubDate>Wed, 12 Oct 2011 08:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-12T16:06:29.943+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerpen</category><title>Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih</title><description>Cerpen oleh Yusi Avianto Pareanom &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr width="70%" color="#000000" size="1" noshade&gt;&lt;i&gt;Cerita ini pernah dimuat di&lt;/i&gt; Koran Tempo &lt;i&gt;pada 27 Juli 2010, dan termaktub dalam&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Rumah Kopi Singa Tertawa&lt;/b&gt; (Banana, 2011). &lt;i&gt;Yusi Avianto Pareanom akan membacakannya pada Bienale Sastra di Salihara, Sabtu, 22 Okt 2011. Datanglah.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;hr width="70%" color="#000000" size="1" noshade&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANWAR Sadat menemui ajalnya pada hari pertama ia menginjakkan kaki di Jakarta. Ia datang dari Semarang. Usianya pada hari naas itu 28 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar dinamai ayahnya mengikuti Presiden Mesir Muhammad Anwar El Sadat. Ayahnya memiliki alasan mengapa ia memilihkan nama itu dan bukannya Gamal Abdul Nasser atau Husni Mubarak. Sepekan sebelum Anwar dari Semarang lahir, Anwar Sadat yang presiden tewas diberondong peluru oleh tentaranya sendiri. Menurut berita, kematian itu sebetulnya bisa dihindari jika Anwar Sadat bersedia mengenakan rompi antipeluru seperti usulan penasihatnya. Sang presiden menolak karena menganggap hanya pengecut yang memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh laki-laki pemberani,” kata ayah Anwar dari Semarang dengan kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, begitu anaknya lahir nama itu langsung ia pilih dan banggakan. Ia menyisihkan nama-nama mewah untuk ukuran kampungnya yang jauh hari sebelumnya sudah ia siapkan: Franz, Johan, Mario, dan Diego Armando.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meleset dari harapan ayahnya, Anwar Sadat dari Semarang tumbuh tak seheroik presiden bernasib celaka itu. Pembawaannya halus sehingga sering dijadikan olok-olok temannya. Dalam permainan apa pun perannya selalu sebagai anak bawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usianya sepuluh tahun, Anwar diajak berkereta api ke Surabaya. Sepanjang perjalanan ia pucat pasi. Orang tuanya mengira anaknya sakit karena telat makan. Sebetulnyalah, Anwar merasa nyawanya nyaris melayang setiap kali kereta melintasi jembatan. Perjalanan pulang Anwar merengek sehebat-hebatnya meminta naik bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar menderita gephyrphobia—takut menyeberang jembatan karena prasangka bangunan itu bakal runtuh—sebagian. Jembatan biasa tak menakutkannya, tapi jembatan kereta api benar-benar merampas nyalinya. Ketidaktahuan Anwar ataupun orang tuanya mengenai nama kondisinya tak mengurangi gemetar dengkul Anwar tiap kali jembatan kereta api terlihat. Derita Anwar makin bertambah karena ia juga mengidap sekian ketakutan lain, dari yang umum seperti hemophobia atau takut darah, iatrophobia atau takut dokter, claustrophobia atau takut ruang sempit, sampai yang sedikit melankosis yaitu ombrophobia atau takut rintik hujan. Setidaknya, kalau bisa disebut demikian, Anwar tak terjangkit optophobia, takut membuka mata, kondisi yang memungkinkan penderitanya mencakar atau mencungkil matanya sendiri, baik dengan tangan kosong, paku, atau garpu selada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian ketakutan itu tak pelak membuat Anwar lebih senang berkutat di rumah dan kotanya. Ia cukup bahagia bekerja menjaga warung kelontong milik ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan sebelum kematian Anwar, ayahnya mendapat telepon dari kerabatnya di Jakarta. Katanya, ada seorang perempuan muda, 24 tahun, janda ditinggal mati tanpa anak, yang cocok dipasangkan dengan Anwar Sadat yang masih lajang. “Anaknya baik, putih, pendiam, hemat, suka berkebun, suka merajut, pintar masak, hapal Yaasiin pula,” kata kerabat ayah Anwar berpromosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Anwar senang sekali, ibu Anwar setali tiga uang girangnya. Anwar diminta datang ke Jakarta. Kenalan dulu, sekiranya cocok hubungan bisa diteruskan. Sekiranya tidak, silaturahmi sudah terjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar mematuhi perintah orang tuanya dan berangkat ke Jakarta. Sebetulnyalah ia jeri pergi sendiri. Namun, ia malu jika dianggap penakut dan ia agak gembira juga membayangkan punya pasangan hidup. Malam sebelum perjalanan, kecemasan dan kegembiraan tak berhenti bertamu sehingga ia tak berhasil tidur sama sekali. Maka, ketika akhirnya Anwar berangkat dengan bus paling pagi, kantuk yang hebat menyerangnya. Sialnya, kantuk ini ternyata tak berhasil ia musnahkan dengan tidur karena kecemasan apa yang bakal terjadi sepanjang perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul setengah tiga sore Anwar sampai di Teminal Pulogadung. Sesuai petunjuk, ia kemudian berganti metromini menuju Senen. Rumah kerabatnya berada di kawasan Kramat. Di metromini, tanpa ia maui rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Ia terbangun ketika seseorang mengguncang bahunya dan berkata, “Mas turun, kita dioper ke metromini depan.” Mereka berada di kawasan Cempaka Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grogi, Anwar turun tergesa-gesa. Seruan kondektur metromini yang berjarak sepuluh meter di depan makin membuatnya gugup. Ketika sandal kanan merek Lily yang dipakai Anwar menapak titik yang jaraknya tepat lima meter dari awal, sandal kirinya yang berada di belakang menginjak pasir halus. Anwar tergelincir. Kalau saja ia membiarkan grativasi bekerja, nasibnya mungkin lebih baik. Tapi, Anwar berusaha melawannya dan saat berjalan terhuyung-huyung menyeimbangkan diri itu ia menabrak seorang perempuan yang baru saja berjalan keluar dari mulut jalan kecil yang terletak di antara dua metromini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Anwar mampir ke dada perempuan itu. Sama-sama kaget, keduanya berteriak. Masih grogi, tangan Anwar justru menggelincir ke pinggang perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Copet!” teriak perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan, Anwar tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar!” seru satu dari sekian laki-laki yang duduk bergerombol di depan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gerombolan orang itu mendatanginya, Anwar mengeluarkan air mata. Ia mendadak rindu kepada sup ayam dan perkedel daging buatan ibunya, dongeng-dongeng ayahnya, dan senyum calon istri yang belum pernah dijumpainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;LENA Mareta tak sempat melihat pukulan pertama yang mendarat di kepala Anwar. Ia sudah naik taksi saat itu. Tepat tiga detik setelah Anwar menabraknya sebuah taksi terlihat dan ia langsung melambai dan membuka pintu. Tentu saja ia masih kesal karena ada tangan laki-laki tak diinginkan singgah di tubuhnya. Tapi, ada hal lain yang lebih menggusarkannya yang membuatnya ingin segera berlalu dari tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh merokok?” tanya Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebetulnya tidak,” kata sopir taksi, matanya melirik Lena melalui spion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena membuka kaca jendela dan menyalakan rokoknya. Semestinya sore ini menyenangkan kalau si anak bau susu tolol itu tak bikin gara-gara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnyalah Lena menantikan sore ini. Bahkan, ia mengambil cuti. Pagi ia mandi, setelah makan siang ia mandi lagi. Ia tak terlalu suka bersolek tetapi sangat senang mewarnai kukunya. Maka, setelah mandi yang kedua, ia membuka kotak pemulas kukunya. Ada empat baris dengan sepuluh warna setiap barisnya. Baris pertama: merah jambu biji, merah ungu bawang Brebes, merah hati sapi yang masih segar, merah Harajuku, merah Mangga Besar, merah setrup soda gembira, merah haid pertama, merah marun, merah ludah campur sirih, dan merah gincu Joker. Baris kedua: biru telur asin, biru samurai, biru langit awal musim dingin, biru kostum Chelsea, biru memar maling kena bogem, biru mesum, biru kehijauan, biru lapis lazuli, biru tinta bolpen Pilot klasik, dan biru jins stonewash Cibaduyut. Baris ketiga: kuning bunga matahari, kuning durian mentega, kuning padi muda, hijau lumut, oranye kunyit, oranye jeruk pontianak, coklat batu bata, coklat teh kental, putih telur ceplok, dan putih pualam. Baris keempat: sembilan hitam rambut Joan Jett dan satu transparan berkilauan. Lena memilih yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sebelumnya, Jamal, pacar Lena, pulang dari perjalanan tiga minggu pendakian Gunung Elbrus di Rusia. Lena tak sempat menjemputnya. Lena sebetulnya sudah ingin mendatangi rumah pacarnya di Cempaka Putih itu tadi pagi, tapi ia menahan diri karena Jamal bilang ia pasti masih tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena dan Jamal sudah berpacaran selama empat bulan. Mereka sudah tidur bersama sembilan belas kali. Pada bulan kedua, Lena sebetulnya sudah sadar bahwa banyak ketidakcocokan di antara mereka. Bukan karena usia Jamal yang baru 21 tahun, lebih muda enam tahun darinya, melainkan obrolan dengannya benar-benar tak mendatangkan ilham. Bagi Lena, kemudaan bukan alasan seseorang boleh terus-menerus berkata tolol. Hanya saja, Jamal tak pernah mengecewakannya untuk urusan yang satu itu. Lena masih ingin menikmati sekaligus digarap Jamal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar Jamal, awalnya, semua berjalan seperti yang dibayangkan Lena. Namun, Lena girang kepagian. Tangan Lena yang hendak menjangkau kait bra di punggung terhenti saat ia melihat Jamal yang sudah duduk telanjang di ranjang melambaikan tangan kanan di atas perabotnya seperti seorang konduktor selesai beraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nona Lena, kau sudah sering bertemu, tapi belum kenalan resmi. Ini John, ini George dan Ringo,” kata Jamal tertawa-tawa sembari menunjuk batang, biji kiri, dan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana Paul?” tanya Lena, tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?”                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa ia ditinggalkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bijiku cuma dua, Len.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa bukan ia yang menjadi tiang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perusak band itu, yang benar saja!”            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran pecah. Lena sakit hati. Baginya, tanpa Paul McCartney tak akan ada The Beatles, sehebat apa pun John Lennon. Lena jatuh cinta kepada Beatles karena Paul. Sewaktu kecil, ketika ia sedang sedih-sedihnya karena kematian ayahnya, lagu-lagu slow Beatles yang dikarang Paul yang paling menghiburnya. Ia bukannya tak suka kepada John, ia menghormatinya malah, tapi cinta pertamanya tetap kepada Paul. Maka, ketika Jamal mencela Paul, ia tak terima. Saat Jamal, betapa pun lambannya dia, menyadari bahwa pertengkaran itu tak ada gunanya dan ia ingin berbaikan karena si John miliknya betul-betul kepengin segera bertanding, semua sudah terlambat. Lena kadung mutung dan meninggalkan kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rokok kedua habis, senyum pertama Lena terbit. Kenapa aku harus marah? Bukankah malah menghina kalau Paul dijadikan salah satu nama perkakas anak ingusan itu? Lena ingin balik tetapi gengsi menghalanginya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke Ragunan, Pak, kebun binatang,” kata Lena, akhirnya. Semula ia hanya mengatakan ‘jalan’ kepada sopir taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah sore, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena tak menjawab sehingga sopir itu pun tak berani berkata-kata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lagu-lagu Paul, yang paling menghibur Lena sejak kecil adalah menonton hewan-hewan bengong di kebun binatang. Dahulu favoritnya adalah tapir karena ketidakjelasan masuk keluarga hewan yang mana. Ibunya tak bisa memberi keterangan, pula kerabatnya. Tapir juga mempesona Lena karena tampak sedemikian malas. Ketika beranjak besar, Lena dengan mudah bisa mencari tahu keingintahuan masa kecilnya dan tapir tak lagi menggelitiknya. Saat ini Lena sedang senang jerapah karena satu fakta: jerapah tak memiliki pita suara. Leher sepanjang itu, tapi betapa pendiamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SOPIR taksi tak salah ketika bilang hari sudah sore karena petugas penjualan tiket di Ragunan juga mengatakan hal yang sama. Waktu yang tersisa tinggal empat puluh menit saja. Lena tak keberatan, ia hanya ingin menengok jerapah yang kandangnya tak jauh dari pintu masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore menjadi lebih gelap ketimbang biasanya karena mendung. Ternyata, setelah sepuluh menit Lena sudah bosan. Ketika ia ingin beranjak, seorang perempuan—mungkin beumur 70 tahunan, pikir Lena—menarik perhatiannya. Sebentar-sebentar perempuan itu bergantian memandang langit dan perdu di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak Lena ketahui, perempuan tua itu sedang menguji pengetahuannya tentang meteorological botanomancy, menebak gejala langit melalui perubahan gerak tanaman. Ilmu ini sangat sulit, bahkan bagi perempuan yang sudah menguasai fructomancy atau tafsir bentuk, pergerakan, dan reaksi buah-buahan, dendromancy atau tafsir pepohonan, phyllomancy atau tafsir dedaunan, dan xylomancy atau tafsir batang dan cecabang pohon ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena mengamati terus karena wajah perempuan tua itu mengingatkannya kepada seseorang. Akhirnya, Lena memberanikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu Reni?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua itu tersenyum. “Bukan, saya Esti. Reni kakak kembar saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena berjalan mendekat dan mencium tangan Esti. Ia tak menyangka bisa bertemu adik kembar orang yang pernah sangat berjasa kepada keluarga mereka. Dua puluh tahun yang lalu, ketika ibu Lena terserang stroke parah, Ibu Reni yang berpraktek di Semarang yang menyembuhkannya dengan gabungan pengobatan herbal dan totok jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“GURU, ceritamu sungguh penuh dengan kebetulan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki yang dipanggil guru itu tertawa keras di tempat duduknya. Aku yang berada di sampingnya ikut tergelak. Di hadapan kami duduk lima atau enam muridnya. Aku menyebutnya demikian karena guru itu sebelumnya bilang kepadaku bahwa dari enam orang yang belajar mengarang kepadanya yang seorang terdaftar resmi tetapi hanya ikut sekali dari dua belas pertemuan sementara yang seorang lagi tak terdaftar dan iseng ikut atas ajakan temannya dan lantas memanfaatkan kebaikan guru itu untuk masuk kelas terus dengan percuma sejak pekan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kalian yang bilang bahwa kebetulan bisa betul-betul terjadi dalam kehidupan nyata?” kata guru itu setelah reda tawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sebelum bertemu kami, enam orang itu membicarakan panjang lebar—ngrasani, tepatnya—seseorang laki-laki muda, vokalis band punk, yang pernah dekat dengan salah seorang dari mereka. Mulai lagu-lagu yang pemuda itu sukai dan mainkan sampai, bahkan, warna kulitnya yang semasa pacaran terlihat cerah dan sesudah putus menjadi lebih gelap. Mereka lupa siapa yang memulai pembicaraan. Hanya saja, mereka sama sekali tak menduga kejadian berikut. Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah, sebuah sepeda motor berhenti di samping kiri mereka. Salah seorang yang kebetulan menoleh langsung berteriak kaget karena yang ia lihat tak lain adalah laki-laki yang sedang mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan soal kejadian itu masih panjang lagi tetapi intinya mereka ingin agar kebetulan boleh mereka pakai dalam cerita-cerita mereka. Guru itu tersenyum dan bilang akan membuat cerita dengan kebetulan di sana-sini dan meminta lima atau enam muridnya menilai bagus tidaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, sebetulnya aku ingin menuliskan bahwa setelah mendengar protes muridnya guru itu mengambil napas, memejamkan mata, mendengarkan bisikan angin dan burung di kejauhan, lalu meluncurkan kisah di atas. Aku ingin membuat guru itu terlihat keren karena banyak upaya yang sudah ia lakukan untuk tampil demikian—termasuk memirangkan rambut, memakai anting berlian di kuping kiri, dan memakai sepatu dan topi yang serasi dan sewarna—sama sekali tak berhasil. Tapi, rasanya gambaran itu jadi kurang masuk akal karena kami sedang berada di sebuah kafe di Senayan City. Yang terjadi adalah guru itu meminta waktu sekitar dua jam, murid-muridnya gembira menurutinya dengan menonton Inception. Aku ikut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, bagaimana kelanjutannya, Guru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebetulan, aku ingin kalian yang meneruskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam orang itu bersungut-sungut tetapi patuh. Tiga orang bekerja dengan laptop sementara sisanya mencoret-coret di atas tisu yang kebetulan cukup tebal untuk ditulisi. Setelah dua puluh menit, seorang yang menulis di atas tisu menyerahkan karyanya kepada guru itu. Aku ikut membaca dari balik pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ANWAR, ayo siap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Sadat gemetar. Ia sama sekali tak ingin berada di selokan di tepi jalan raya itu. Tapi, teman-temannya memaksa. Salah seorang segera mengangsurkan katapel kepada Anwar, yang lain sibuk membuat peluru dari tanah liat. Anak-anak kampung Anwar sedang senang-senangnya melakoni permainan baru, menembaki mobil yang melintas dengan katapel mereka. Kalau ada pengemudi atau penumpang yang kaget, girang betul hati anak-anak itu. Apalagi kalau pengemudinya marah dan turun mengejar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar ikut karena janji Tamsi, anak yang mengajaknya bersembunyi di selokan, bahwa anak itu bakal melindunginya di sekolah. Semasa kelas satu dan dua SD sebelumnya, Anwar selalu jadi sasaran ejekan kawan-kawannya karena berat badannya yang sangat berlebih. Janji Tamsi yang berbadan jangkung itulah yang membuatnya memberani-beranikan diri ikut memegang katapel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai tiga menit, semua anak sudah siap. Ketika sebuah sedan Impala melaju dari arah utara, Tamsi menepuk pundak Anwar sebagai pengganti ucapan ‘sekarang giliranmu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memejamkan mata, Anwar menembak. Peluru tanah liat itu tepat menghantam gagang kaca mata kanan si pengemudi. Tembakan itu tak melukai tapi sangat mengagetkan laki-laki yang memegang setir itu. Dua penumpang, seorang perempuan berwajah pucat dan seorang anak perempuan bersama-sama menjerit ketika pengemudi itu membanting setir dan sedan itu menghantam pohon. Terdengar suara keras, tak ada suara dari dari dalam mobil. Setelah sepuluh detik terpaku, anak-anak segera kabur. Tamsi menarik tangan Anwar yang masih mematung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang memegang setir berlumuran darah, keningnya pecah. Perempuan yang berparas pucat pingsan, sementara si anak perempuan tersadar dan mulai menangis. Anak itu bernama Lena Mareta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-7545177416264887844?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/6JpqAk8fzhs" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/6JpqAk8fzhs/ajal-anwar-sadat-di-cempaka-putih.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/10/ajal-anwar-sadat-di-cempaka-putih.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-3253775835803237002</guid><pubDate>Tue, 04 Oct 2011 15:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-04T22:28:50.907+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">creative writing</category><title>Catatan Malcolm X: Menemukan Kesadaran Berbahasa</title><description>Pada tanggal 21 Februari 1965, Malcolm X, pemimpin Black Muslim Amerika, ditembak mati ketika sedang memberikan ceramah di Harlem. Enam belas butir peluru menembus dadanya. Ia berusia 39 tahun ketika itu. Semula El Hajj Malik El-Shabazz--nama Malcolm setelah naik haji--adalah pengikut dan pembela fanatik Elijah Muhammad; sampai kemudian ia mengumumkan perpisahannya dengan Elijah setelah ia berselisih paham tentang Islam dengan orang yang sangat dikaguminya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah penuturannya, diambil dari otobiografi yang ditulis oleh Alex Haley, pada bagian di mana ia menceritakan pengalamannya di dalam sel penjara dan bagaimana di sana ia menemukan kekuatan bahasa. Gairahnya tak pernah padam untuk membaca buku-buku di dalam selnya, dan cahaya remang-remang di dalam sel itu menyebabkan ia setiap saat harus mengganti lensa kacamatanya menjadi lebih tebal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, biografi tersebut sangat menarik. Dan Malcolm sendiri adalah pribadi yang menarik. "Aku sudah berusaha untuk tidak mempedulikan riwayatnya," tulis Alex Haley dalam bagian akhir epilognya untuk biografi tersebut. "Tetapi ia adalah pribadi paling menggetarkan yang pernah kutemui, dan aku masih tidak percaya bahwa ia sudah mati. Aku tetap merasa bahwa ia hanya pergi ke bab selanjutnya, untuk ditulis oleh para sejarawan." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Menemukan Kesadaran Berbahasa *)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEDIKIT pun tak ingin aku berhenti. Apa yang bisa kulakukan, aku akan melakukannya. Ketika tak banyak yang bisa kulakukan (di penjara ini), maka kutulis saja surat kepada orang-orang yang kukenal di duniaku dulu, orang-orang jalanan seperti Sammy si mucikari, John Hughes, pemilik rumah judi, si pencuri ulung Jumpsteady, dan yang lain-lain. Aku menceritakan kepada mereka tentang Allah dan Islam dan Mr. Elijah Muhammad. Aku tak tahu di mana para berandalan itu tinggal, maka kualamatkan saja surat-suratku ke bar-bar di Harlem dan Roxbury, di mana aku sering menjumpai mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak satu kali pun ada surat balasan. Rata-rata dari mereka, para pengasong dan penjahat, memang tidak berpendidikan dan kurasa tak pernah mereka akan menulis surat. Aku sering melihat para pengasong yang berdandan sangat rapi --jika kau tidak kenal mereka, kau akan melihat bahwa mereka serupa dengan para spekulan saham di Wall Street -- tapi sesungguhnya mereka tak lebih dari orang-orang yang akan sibuk mencari orang lain untuk membacakan surat yang baru mereka terima. Dalam surat-suratku, tak pernah lagi kutulis kata-kata kasar seperti "orang kulit putih adalah iblis" yang di masa lalu begitu gampang keluar dari mulutku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar yang kemudian berhembus di Harlem dan Roxbury adalah bahwa Detroit Red (panggilan Malcom X ketika masih di jalanan, red) sudah menjadi gila atau, kabar lainnya, ia mencoba menghipnotis para sipir untuk mempengaruhi sikap mereka. &lt;br /&gt;Sepanjang tahun-tahun aku disekap di penjara Norfolk Prison Colony, tak pernah ada teguran resmi untuk surat-surat yang kutulis itu. Aneh, padahal surat-surat itu pasti mereka sensor. Aku sangat yakin bahwa mereka tahu apa yang kutulis dan kemudian menyimpan surat-surat itu ke dalam file untuk menjaga agar tak banyak orang Negro yang berpindah mengikuti ajaran Elijah Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun waktu itu kupikir alasan kenapa aku tak pernah ditegur adalah karena orang kulit putih sadar akan kejahatan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aku menulis surat untuk Walikota Boston, untuk Gubernur Massachussets, dan juga untuk Presiden Harry S. Truman. Mereka tidak pernah membalas; mungkin mereka tidak pernah membaca suratku. Dengan tulisan cakar ayam aku menulis kepada mereka bahwa orang-orang kulit putih harus bertanggung jawab atas kondisi orang Negro di "belantara" Amerika ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mulai terbiasa menulis surat-surat itu, aku makin payah tersandung-sandung oleh kenyataan betapa jauhnya kami tertinggal dalam hal pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku frustrasi karena tidak bisa menemukan cara untuk menyampaikan lewat surat segala yang ingin kutulis, terutama kepada Mr Elijah Muhammad. Di jalanan, aku adalah berandalan yang paling artikulatif - aku selalu bisa merampas perhatian dengan apa pun yang meluncur dari mulutku. Tapi sekarang, mencoba menulis yang sangat sederhana pun, bukan saja tidak artikulatif, aku bahkan merasa macet sama sekali. Bagaimana memindahkan bahasa slang yang selalu keluar dari mulutku menjadi kalimat biasa saja dalam sebuah surat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang saat ini berjumpa denganku, atau menyaksikan aku di layar televisi, atau membaca segala yang kusampaikan, mungkin tidak akan pernah menyangka bahwa pendidikanku jauh lebih tinggi dari kelas delapan. Mereka mungkin tak akan menyangka bahwa hanya di penjaralah aku mempelajari banyak hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dikirim kembali ke penjara Charleston ketika tumbuh rasa cemburuku pada Bimbi yang jauh lebih berpengetahuan. Bimbi selalu menguasai setiap pembicaraan di mana dia terlibat di dalamnya, dan aku selalu berusaha menandinginya dengan terus membaca buku-buku. Tapi dalam setiap buku yang kubaca selalu saja ada kata-kata yang tidak kukenal, misalnya saja kata-kata dari bahasa Cina, atau entah dari mana. Jika kulewatkan begitu saja kata-kata itu, aku tak akan bisa menangkap dengan jelas maksud tulisan yang kubaca. Karena itu aku masih sering datang ke Norfolk untuk meminjam buku-buku di perpustakaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir cara yang paling tepat untuk mengatasi persoalan itu adalah membuka kamus--untuk belajar, untuk menemukan kata-kata. Aku juga harus belajar cara menulis bagus. Sebab, alangkah menyedihkan, aku bahkan tidak bisa menulis lurus mengikuti garis dalam buku. Lalu aku meminjam kamus dan meminta buku tulis dan pensil dari Norfolk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari aku membuka-buka halaman-halaman kamus itu. Hanya membuka-buka saja dan--ya ampun!--begitu banyak kata. Terlalu banyak yang tak kukenal. Aku tak tahu dari mana harus mulai dan kata mana yang paling perlu kupelajari. Akhirnya, sekadar untuk memulai satu tindakan, aku menyalinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan sekali, dengan tulisanku yang buruk dan kaku, aku menyalin setiap kata yang tercetak di halaman pertama kamus, lengkap dengan tanda bacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, hanya diperlukan waktu sehari saja untuk menyalin halaman pertama. Kemudian kubaca keras-keras apa yang sudah kutulis di buku tulisku. Membaca, membaca, begitu saja seterusnya - dengan suara keras - aku membaca tulisan tanganku sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bangun tidur esok paginya, yang pertama terpikir olehku adalah kata-kata. Ada kebahagiaan besar saat sadar bahwa dalam satu waktu saja aku telah menuliskan banyak kata, dan bukan hanya itu: aku bahkan telah menulis kata-kata yang tak kukenal sama sekali sebelumnya. Dengan sedikit usaha saja, aku jadi mengenal kata-kata itu dan bisa mengingat artinya. Aku mengulang lagi kata-kata yang aku lupa artinya. Lucu juga bahwa, setelah menyelesaikan halaman satu itu, aku terus-menerus teringat "aardvark". Ada gambar di kamus itu tentang "aardvark": seekor mamalia dari Afrika dengan buntut panjang, daun telinga yang juga panjang, tinggal di dalam liang, dan menangkap semut-semut mangsanya dengan menjulurkan lidah, seperti trenggiling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segenap kegembiraan aku melanjutkan ke halaman berikutnya - menyalin lagi seperti kemarin. Pengalaman hari pertama berulang lagi. Pada setiap halaman yang selesai kusalin, aku belajar tentang masyarakat, wilayah, dan peristiwa sejarah. Kamus bagiku seperti sebuah ensiklopedia ringkas. Selesai bagian A, buku tulisku penuh. Ganti bagian B, ganti buku baru. Aku menulis makin lama makin cepat. Berselang-seling antara menyalin kamus dan menulis surat sepanjang sisa waktuku di penjara, kurasa aku sudah menulis sejuta kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku yakin bahwa dengan penguasaan kosa kata yang makin banyak, aku akan bisa memahami apa pun yang tertulis di buku. Dan sebuah dunia baru akan terbuka di hadapan seseorang jika ia selesai membaca gagasan besar. Satu hal ingin kuceritakan kepada anda: sejak saat itu sampai aku bebas dari penjara, aku tidak membaca di perpustakaan, aku membaca di dalam sel. Kau tidak akan pernah bisa memisahkanku dari buku-buku. Aku membaca ajaran-ajaran Mr Elijah Muhammad, menulis surat, menemui orang-orang yang datang menjengukku, dan membaca buku-buku. Waktu berlalu tanpa ada secuil pikiran pun bahwa aku seorang pesakitan. Justru ketika itulah pertama kalinya aku merasakan kebebasan sesungguhnya yang sebelumnya tak pernah kudapat. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Diterjemahkan dari "&lt;b&gt;Coming to an Awareness of Language&lt;/b&gt;", yang dimuat dalam Language Awareness, suntingan Paul Eschholz, Alfred Rosa, dan Virginia Clark, edisi ketiga, diterbitkan oleh St, Martin's Press, New York.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-3253775835803237002?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/xhwBN7OhBJA" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/xhwBN7OhBJA/catatan-malcolm-x-menemukan.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/10/catatan-malcolm-x-menemukan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-2819553664621097934</guid><pubDate>Tue, 04 Oct 2011 14:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-06T12:44:25.052+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">catatan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">creative writing</category><title>Catatan Proyek Lenka</title><description>&lt;i&gt;Novel Lenka akan didiskusikan tanggal 8 Oktober 2011, pukul 15:30 - 17:30 WIB di Teater Salihara, Jl.Salihara No.16 Pasar Minggu. Pembicara, Ayu Utami dan Manneke Budiman. Novel ini ditulis oleh 17 orang peserta Bengkel Penulisan DKJ 2008 &amp; 2009, disunting oleh A.S. Laksana dan Yusi Avianto Pareanom. Berikut adalah catatan Yusi Pareanom tentang proses kreatif novel keroyokan tersebut. Pesan saya, bacalah bukunya dan datangi diskusinya. Banyak hal bisa dipelajari dari percobaan ini. Salam. ASL&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku bisa lahir karena rasa haru. Lenka adalah salah satunya. Tapi, sebelum sampai ke sana, izinkan saya melantur dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, Bengkel Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta yang digelar pada 2008 dan 2009 adalah berkah karena kegiatan ini mempertemukan orang-orang yang beruntung. Dua pengajarnya, A.S. Laksana (Sulak) dan saya, sangat gemar membual. Kami sudah terjangkit bakat ini saat pertama kali bertemu pada 1981 di kota kelahiran kami, Semarang. Saat itu kami masih duduk di bangku SMP. Kebiasaan ini kami lanjutkan di SMA ketika kami juga belajar di sekolah yang sama. Seperti lazimnya orang Semarang yang lain, kami tumbuh atau tepatnya dikutuk menjadi tukang cela, tukang ngeyel, dan tukang keluh profesional (kuliah di Jogjakarta sedikit melunakkan bakat-bakat kami itu). Dengan portofolio semacam ini, jelas kami merasa beruntung saat Zen Hae, Nukila Amal, dan Ayu Utami dari Komite Sastra DKJ menawari kami mengasuh Bengkel. Sungguh menggiurkan, diberi kesempatan menipu orang-orang baru selama tiga bulan. Dasar jodoh, murid-murid yang kami dapatkan selama dua periode ternyata sangat senang kami gurui dan cela karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua belas kali pertemuan untuk setiap periode Bengkel yang digelar di MP Book Point di kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Induk semang pertemuan adalah Rosdianah Angka. Setiap Sabtu, kelas dimulai pukul dua siang dan berakhir pukul empat sore. Itu jadwal resminya. Setiap selesai kelas, pertemuan selalu berlanjut sampai petang bahkan malam hari, biasanya di teras belakang MP Book Point dengan ngopi dan menggasak camilan-camilan yang bentuk, tekstur, dan rasanya ajaib—utamanya pada 2009, kadang kami pindah ke kafe lain. Jelas, pengajarnya belum puas berkicau sementara muridnya kecanduan dikibuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kelas 2009 berakhir pada Desember tahun itu, beberapa peserta secara terbuka menyatakan kesedihan mereka. Mungkin mereka kebanyakan nonton fim India atau telenovela. Sialnya, kami berdua ketularan. Agar ada alasan pertemuan terus berlanjut, saya menawarkan kepada angkatan 2009 untuk membuat karya bersama. Ini murni kecelakaan dan awal kepuyengan saya—saya akan menjelaskan lebih lanjut di bawah. Semestinya, saya meniru saja orang-orang desa Asterix yang tak memerlukan alasan saat ingin menggelar kenduri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun, tawaran sudah kadung digulirkan. Apalagi saya punya janji kepada Komite Sastra, bahwa penerbitan saya, Banana, akan menerbitkan karya terbaik peserta pelatihan. Bila kemudian tawaran berubah menjadi penerbitan karya bersama, itu karena semua peserta setara kecakapannya. Sekalipun awalnya tawaran ini disodorkan di milis Bengkel 2009, saya dan Sulak juga mengajak anak-anak angkatan 2008 ikut bergabung dalam proyek kegembiraan bersama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di milis Bengkel, pada 27 Desember 2009, terilhami oleh beberapa peristiwa bunuh diri di mal-mal Jakarta, saya menulis begini: Pada sebuah acara penggalangan dana yang meriah, seorang perempuan muda bergaun biru wisnu jatuh dari lantai lima. Namanya Magdalena, biasa dipanggil Lenka mengikuti kebiasaan orang Eropa Timur (neneknya orang Magyar, Hungaria), 22 tahun, mahasiswa dan model. Bunuh diri, kecelakaan, atau sengaja didorong oleh seseorang?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya masih menulis beberapa kalimat pancingan lagi yang intinya meminta para montir—demikian para peserta menyebut diri mereka, saya dan Sulak tak pernah menyapa mereka seperti itu, kami memanggil mereka Sarekat Penulis Kuping Hitam, lebih lanjut soal ini di bawah—merumuskan sendiri siapa Lenka dan mengapa peristiwa naas itu bisa terjadi. Saya mempersilakan mereka mengajukan ide yang ingin mereka tulis. Boleh mengikuti pancingan, boleh juga bikin lakon carangan sepanjang ada benang merahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apakah ide awal tersebut akan menjadi kumpulan cerpen atau novel, saya menyerahkannya kepada peserta Bengkel. Apakah nantinya akan plek seperti pancingan atau menyimpang seliar mungkin, saya tak punya bayangan pada waktu itu. Saya mengambil sikap meniru sebuah bait puisi petuah dari seorang perempuan yang pernah saya taksir semasa SMA—ia sering sekali menulis puisi semacam itu di milis alumni SMA kami: biarkanlah semuanya mengalir. Tapi, saya dan Sulak yakin proses dan hasilnya bakal seru. Yang kami minta adalah anak-anak Bengkel menghadirkan kejutan dan berani meninggalkan zona nyaman mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tawaran itu langsung disambar. Pertama-tama soal keikutsertaan. Sekalipun saya memberi tenggat pendaftaran, yang telat tahu kabar ini juga ingin ikut. Lalu Sulak mengompori soal honor. Nyaris semuanya langsung mempraktekkan jurus sapi bersimpuh dan bilang bahwa diajak menulis bersama saja sudah senang. Dalam hati saya merutuk, sialan, mereka pintar memancing haru, dan itu alamat bandar bakal rugi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tepat pada 1 Januari 2010, Yuki Anggia Putri Ritonga menjadi orang pertama yang menggelindingkan bola. Ia menulis kehidupan kuliah Lenka dan pertemuannya dengan seorang fotografer—Andina menyambarnya dengan menyebut-nyebut soal aliran fotografi pembebasan. Lalu Miftah Rahman menulis tentang perjanjian dengan setan yang dilakukan ayah Lenka, seorang konduktor orkestra. Apendi, sesuai petingkahnya yang serba misterius dan konspiratif, bahkan sampai saat ini, menyodorkan keterlibatan organisasi rahasia yang berada di balik kematian Lenka. Wahyu Heriyadi, jauh-jauh dari Palu, menyumbang cerita mistis tentang gedung yang menjadi lokasi kematian Lenka. Sementara itu, Nia Nurdiansyah memberi tinjauan psikologi panjang lebar tentang orang-orang yang bunuh diri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaikan gerombolan piranha mendapatkan tetelan babi, anggota Bengkel yang lain menyambar dan memberi kritik. Saling kritik—atau saling bantai—memang menjadi asupan harian kami. Dilarang sakit hati adalah pelajaran hari pertama di Bengkel. Dengan kritik, ide kurang bagus bisa terasah, dan ide yang sudah bagus akan tambah mengkilap. Usulan-usulan baru pun meluncur deras. Sulak menyebut mereka kaum yang kesurupan Lenka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah beberapa bola menggelinding dan ditendang beramai-ramai, saya mengulang lagi pertanyaan apakah Proyek Lenka, demikian kegembiraan dan eksperimen bersama ini disebut, akan digarap bersama-sama sebagai sebuah novel atau setiap yang terlibat ingin membuat tafsir sendiri-sendiri atas ide awal. Semuanya sepakat memilih yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengajak mereka berkumpul lagi untuk membahas outline dan karakter-karakter yang ingin dimunculkan. Kami bertemu pada awal Januari 2010, dan tempat pertemuan yang dipilih anak-anak Bengkel sungguh tak imajinatif. Dari 1.234 kafe di Jakarta, mereka memilih MP Book Point. Alasannya, takut kesasar kalau ke tempat lain. Saya mengancam tak akan meneruskan Proyek Lenka bila tempat pertemuan berikutnya tak berubah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertemuan hari itu juga menandai perjumpaan pertama anak-anak angkatan 2008 dan 2009. Perbedaan yang mencolok antara dua angkatan ini adalah anak-anak 2008, tepatnya Wiwin Erikawati, membawa sekardus kue yang enak-enak sementara anak-anak 2009 datang dengan tangan kosong. Mungkin angkatan 2009 kangen dengan camilan MP Book Point seperti combro yang harus dicelupkan ke kopi panas karena saking kerasnya atau bolu yang seukuran telapak tangan orang dewasa yang baru saja tersengat lebah—besar sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertemuan itu menyepakati banyak hal. Utamanya tentang apa dan siapa Lenka—usianya terpangkas menjadi 19 tahun dalam rapat ini, misalnya—motif tindakan-tindakannya, karakter-karakter pendukung, serta yang tak kalah penting adalah nada penulisan. Setiap orang boleh bereksperimen dan membawa gaya mereka masing-masing, tapi nada mesti selaras. Untuk mendapatkan keselarasan itu, saya meminta mereka membaca buku, menonton film, dan mendengarkan lagu yang saya pikir bisa membantu. Dalam waktu singkat, usulan daftar lagu dan film bertambah sementara daftar bacaan tidak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan hasil rapat, saya kemudian membuat outline dan kemudian membagi bola, siapa menggarap bab berapa. Pembagian ini selain mengacu kepada minat dan usulan para penulis juga semacam tantangan kepada mereka. Jadi, sedikit banyak agak sepihak, untungnya pengambilan keputusan ala demokrasi terpimpin ini diamini anak-anak Bengkel. Sebetulnya, rencana awalnya saya dan Sulak akan ikut menulis satu bab. Tapi, akhirnya kami sepakat semuanya digarap Barisan Penulis Kuping Hitam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya lalu mendorong yang terlibat dalam Proyek Lenka bereksperimen lebih lanjut. Saya meminta mereka membuat akun Facebook atas nama tokoh-tokoh dalam Lenka dan menjalankan peran itu secara bersungguh-sungguh. Hitung-hitung latihan method writing. Beberapa menjalankan dengan takzim, beberapa tak sanggup menahan geli. Yang paling parah untuk yang terakhir ini adalah Laire Siwi Mentari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu, mulailah proses yang paling menarik. Satu demi satu pengeroyok Lenka memacak bab yang mereka tulis di milis. R. Mailindra menyebut Bengkel adalah padepokan silat sehingga jika dapat sedikit tendangan atau pukulan itu wajar belaka. Artinya, kritik pedas, dan mungkin bertubi-tubi, itu mesti diterima kalau mau tambah ilmu. Ia benar, karena jika ada yang mengirimkan naskah tapi sepi tanggapan yang bersangkutan justru merasa nelangsa. Yuki yang paling rajin berperan sebagai polisi bahasa. Saya dan Sulak biasanya memberi tanggapan atas tanggapan, utamanya yang luput ditanggapi para penanggap (saya meminjam gaya bahasa Wahyu di sini).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sulak menyebut aksinya mengkritik sebagai mengamuk. Dan, ia mengamuk dengan brutal. Yang paling sering ia lakukan adalah meminta anak-anak Bengkel memperagakan kalimat-kalimat janggal yang mereka buat. Beberapa anak Bengkel tergerak meniru, dan komentar yang muncul atas kiriman naskah semakin tajam. Kadang ada yang sedemikian tajam sehingga yang kena kritik tergores hati dan harga dirinya, lalu menyerang balik dan mempertanyakan kualitas si pengkritik. Andina menyebut gesekan semacam ini percikan bunga api. Mendengar kata bunga api itu Sulak buru-buru membawa jeriken bensin oplosan dan saya menyusul di belakangnya dengan kipas besar. Ganjilnya, hasutan kami agar perang makin ramai justru membuat anak-anak Bengkel yang bertikai saling meminta dan memberi maaf, seperti Lebaran saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebetulnya, saya dan Sulak bisa saja memainkan peran juru damai seperti Ketua RT di sinetron-sinetron Indonesia atau Babinsa di kampung-kampung. Tapi, alangkah membosankannya. Dinamika dalam sebuah grup biasanya menjadikan karya yang muncul dari kelompok itu ciamik. The Beatles jelang bubarnya menghasilkan karya-karya terbaik justru ketika ketegangan menjelujur di antara keempat anggotanya. Sebaliknya, karya Queen jelang Freddie Mercury meninggal—ketika semua anggotanya rukun—jauh di bawah album-album mereka sebelumnya. Saya sama sekali tak ingin menyamakan Sarekat Penulis Kuping Hitam dengan dua grup musik hebat itu, tapi saya ingin bilang ke mereka bahwa rivalitas itu penting karena semuanya ingin membuktikan diri sebagai yang terbaik. Rivalitas tak perlu ditakuti karena ia bukan permusuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah hampir semua bab ditulis, kami berkumpul lagi membahas penulisan bersama ini. Kali ini dalam jumlah besar. Pengeroyok Lenka dari dua angkatan yang sebelumnya hanya bercakap-cakap melalui milis bisa berkenalan langsung, dan makan-makan tentunya. Kali ini, mungkin malu saya sindiri terus, angkatan 2009 ikut membawa kue-kue, dan selanjutnya saling tukar hadiah atau buah tangan menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Pertemuan semacam ini terjadi beberapa kali. Katamsi Ginano, kawan Sulak dan saya, ikut meramaikan beberapa pertemuan dan melontarkan hasutan di sana-sini agar tulisan anak-anak Bengkel makin sedap. Setiap setelah pertemuan, saya dan Sulak meminta anak-anak Bengkel merevisi tulisan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada Juni 2010, draf pertama Lenka rampung. Saya dan Sulak bersepakat bahwa saya akan menjadi penyunting pertama dan baru kemudian ia merapikan lebih lanjut. Lagi-lagi, ini keputusan yang keliru. Mestinya saya mengumpankan Sulak lebih dahulu. Draf pertama, sekalipun tulisan per babnya sudah lebih baik ketimbang setoran-setoran awal, bercerita tentang Lenka yang berbeda-beda. Kadang, kepribadiannya sangat bertolak belakang dari satu bab ke bab lainnya. Untuk sebuah omnibus, hal ini tak menjadi masalah. Untuk sebuah novel yang tujuh belas penulisnya bertindak sebagai satu orang, ini persoalan. Persoalan saya, tepatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk naskah-naskah yang kembangannya terlalu jauh dari outline, saya meminta para penulisnya menulis ulang. Tapi, persoalan tak berhenti sampai di sini. Nada penulisan yang sejak awal disepakati ternyata dilanggar beramai-ramai. Penyelarasan bab-bab yang bercerita tentang Lenka inilah yang membuat penyuntingan tahap pertama memakan waktu—untuk bab-bab yang bercerita tentang karakter pendukung penyuntingannya lebih enteng. Sialnya, anak-anak Bengkel dengan semena-semena mendakwa saya mengidap fobia menyunting Lenka. Sapi betul.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat menyunting, saya mengubah pembukaan beberapa bab, menambahkan kalimat-kalimat penyambung, dan juga memangkas bagian-bagian yang membikin pembacaan seret atau tak sesuai dengan nada penulisan. Ketika saya pacak icip-icip penyuntingan tahap pertama di milis, anak-anak Bengkel bereaksi. Salah seorang penulis yang naskahnya saya permak langsung protes. “Kok metafora yang saya pakai hilang semua?” Saya menjawab bahwa metaforanya lemah, dan masih untung titik dan komanya tetap saya pakai. Ia nangis bombay, tapi kemudian hari mengaku bahwa penyuntingan menjadikan naskahnya lebih bagus. Tentu saja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika naskah sudah disetor semua pertemuan bulanan tidak berhenti, menjadi-jadi malah. Kami bertemu untuk berbual-bual sembari makan dan ngopi bareng. Pada kesempatan-kesempatan semacam ini, biasanya mereka tak lupa mendesak saya untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang sekian lama mengganggu mereka: kepanjangan A.S. pada nama Sulak. Awalnya saya menjawab Ahmad Sulaiman, dan mereka percaya. Lain kali saya bilang Alexie Sherman. Anak-anak Bengkel yang makin penasaran akhirnya mengajukan kombinasi mereka sendiri: Antonio Severus, Ajengan Sayid, Amadeus Salieri dan apa saja yang cocok dengan inisial A.S. Yuki pernah suatu kali datang dengan muka serius dan bilang kepada semua orang bahwa ia akhirnya tahu kepanjangan A.S. yang sebenarnya: Alit Seto, dua nama tokoh yang sering Sulak pakai untuk cerpen-cerpennya. Saya ketawa, tidak membenarkan atau menyalahkan, hanya berpikir yang seperti itu saja kok jadi obsesi berat. Si sasaran, Sulak, ketawa-ketawa senang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, tidak semua pertemuan diisi kuis remeh-temeh semacam itu. Sesekali, kami mengisinya dengan acara yang lebih serius seperti pengenalan Jurnalisme Sastrawi yang dilakukan kawan saya, Janet Steele dari George Washington University, atau diskusi penulisan yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah penyuntingan tahap pertama selesai, saya mengopernya ke Sulak. Dengan alasan tak mau mengganggu penyuntingan yang sudah saya lakukan, ia menyunting dengan cara yang orisinil sekaligus ruwet. Ia menyunting dari belakang. Saya tak tahu apakah metodanya ini bisa dipraktekkan orang lain. Pastinya, penyuntingan gaya atret ini memakan waktu lama sehingga anak-anak Bengkel berteriak lagi dan berencana membuat gerakan FB agar Sulak segera menyelesaikan penyuntingannya. Mungkin, karena khawatir bakal tambah populer, ia akhirnya beralih ke penyuntingan yang lumrah-lumrah saja. Dalam penyuntingan tahap kedua ini, Sulak juga mengubah beberapa pembukaan dan memperketat bagian-bagian longgar yang luput dari penyuntingan tahap pertama karena saya kadung kenyang mengunyah Lenka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah Sulak selesai, saya memeriksanya sekali lagi, dan hasilnya adalah buku yang sekarang ada di tangan pembaca. Kalau ada yang menghibur dari Lenka, itu adalah hasil kerja bersama, utamanya 17 orang yang bersedia memberi ruang kepada gagasan teman-temannya agar tulisan mereka semakin kaya. Setiap bab dalam Lenka digarap oleh seorang atau dua orang penulis, tapi gagasan yang ada di dalamnya adalah sumbangan semua yang terlibat. Adapun, kalau Lenka tak berhasil mencapai kualitas yang diharapkan, atau malah membuat pembaca gusar, itu benar-benar karena keteledoran saya dan Sulak sebagai penyunting.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Senyampang Lenka disunting, beberapa anak Bengkel sudah berhasil menerbitkan karya mereka, baik berupa cerpen maupun novel. Di luar penulisan, ada yang berhasil lulus kuliah, ada yang memutuskan berhenti kuliah, ada yang pindah pekerjaan, ada yang menikah, ada yang punya bayi lagi, dan ada pula yang kehilangan anggota keluarga. Perjalanan panjang Lenka sarat dengan cerita sampingan yang kelak mungkin menarik untuk ditulis tersendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentang nama Sarekat Penulis Kuping Hitam, ada sedikit cerita. Sekian puluh tahun yang lalu ada Barisan Pelawak Kuping Hitam yang anggotanya antara lain Basiyo, Jony Gudel, dan Atmonadi. Mereka lucu dan pintar sekali. Kami berdua sangat kagum kepada mereka. Kami menganggap anak-anak Bengkel pintar dan lucu sehingga pengadopsian nama itu kok rasanya enak. Kuping juga mengisyaratkan tindakan menyimak sementara warna hitam adalah lambang kesaktian. Tentu saja, penamaan ini semena-mena. Tapi, apa boleh buat, ini konsekuensi tak terhindarkan belajar kepada sepasang pendusta seperti kami. Lagi pula, kapan pun mereka bisa menyempal dari barisan dan mendirikan panji mereka sendiri. Dan, itu akan menjadi hari yang membahagiakan bagi kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yusi Avianto Pareanom&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-2819553664621097934?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/_SBBoXi_atg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/_SBBoXi_atg/catatan-proyek-lenka.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/10/catatan-proyek-lenka.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-7905681667791187432</guid><pubDate>Thu, 29 Sep 2011 08:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-29T15:59:40.422+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">creative writing</category><title>Tentang Deskripsi: Sampaikan Sekali Saja, dengan Tepat.</title><description>&lt;i&gt;Bapakku masih membaca kamus setiap hari. Ia bilang bahwa hidup kita tergantung pada kepiawaian kita menggunakan kata.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;b&gt;Arthur Scargill,&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;pemimpin buruh Inggris.&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menulis karena kita mencintai kata-kata: bagaimana ia terdengar, bagaimana ia menggetarkan pita suara kita, bagaimana ia membentuk kalimat dan memberikan makna terhadap keberadaan kita. Kata-kata adalah bayi yang kita lahirkan. Kita mestinya memperlakukan mereka sebaik-baiknya—tidak dengan cara teledor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemborosan adalah sebuah bentuk keteledoran bagi seorang penulis, orang tua dari setiap kata-kata. Pengulangan-pengulangan yang tidak perlu menunjukkan bahwa kita tidak percaya pada kata-kata. Dengan demikian, kita juga menyangsikan kesanggupan pembaca kita untuk mencerna makna pada kesempatan pertama. Karena itu kita merasa perlu mengulang-ulang. Celakanya, setiap jenis pemborosan sering tidak menjadikan cerita bertambah baik, ia justru akan melemahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat sebuah tulisan yang boros:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;i&gt;Rina duduk bersilang kaki di sofa besar. Ia merasa segalanya akan berubah. Ia membuka amplop dan mengintip isinya. Surat di dalam amplop itu terlipat rapi. Ia menarik keluar surat dalam amplop tersebut dan membukanya. Ia cemas akan isi surat tersebut. Ia khawatir bahwa Doni memutuskan hubungan mereka melalui surat tersebut. Tangannya gemetar membuka lipatan surat. Dengan perasaan tidak pasti ia membaca kalimat-kalimat yang akan mengubah hidupnya selama-lamanya. Segalanya tidak lagi seperti semula.&lt;/i&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Pemborosan menyiksa kita. Apakah penulis menganggap bahwa pembacanya tidak mempunyai urusan lain sehingga ia tega menyuguhkan kepada pembaca kalimat yang diulang-ulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan apa pun, kita sebagai penulis tidak boleh menyiksa pembaca. Beri mereka kesenangan dan bukan sesuatu yang membosankan. Pilih kata yang paling tepat untuk menyampaikan apa yang anda inginkan. Dan sampaikan itu sekali saja. Tak perlu anda mengulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus meyakini bahwa setiap kata yang kita pilih akan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Mari kita lihat lagi surat yang diterima oleh Rina dan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki paragraf tersebut.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;i&gt;Rina duduk bersilang kaki di sofa besar dan mengintip isi amplop di tangannya. Ditariknya surat dari dalam amplop tersebut, lalu ia buka lipatannya. Jari-jarinya gemetar saat ia membaca kalimat demi kalimat yang akan membuat hidupnya berubah selamanya.&lt;/i&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Paragraf yang terakhir ini rasanya lebih baik, namun anda mungkin merasakan bahwa geraknya terlalu cepat. Untuk lebih memperlambatnya, mungkin kita perlu menambahkan kalimat seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;i&gt;Ia mengusapkan telapak tangannya ke bajunya—baju pemberian Doni.&lt;/i&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Atau kalimat yang melukiskan perasaan Rina:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;i&gt;Ia merasa tak akan sanggup hidup tanpa Doni.&lt;/i&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Atau kalimat lain lagi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;i&gt;Surat itu meruapkan aroma masa lalu. Rina menarik nafas panjang dan membayangkan Doni duduk di sebelahnya, memegang tangannya, mengusap tempurung lututnya, mengangkat jemari tangannya lalu menciumnya dengan lembut.&lt;/i&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Di samping pemborosan dalam penuturan, sesuatu yang menyebabkan cerita anda seperti berputar-putar, kemubaziran juga bisa terjadi dalam sebuah kalimat, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;i&gt;Hanya&lt;/i&gt; iblis &lt;i&gt;semata&lt;/i&gt; yang tidak mau bersujud di hadapan manusia.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang benar&lt;/b&gt;: Hanya iblis yang tidak mau bersujud di hadapan manusia.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Atau&lt;/b&gt;: Iblis semata yang tidak mau bersujud di hadapan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi ia tidak makan apa pun &lt;i&gt;juga&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang benar&lt;/b&gt;: Sejak pagi ia tidak makan apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah &lt;i&gt;total&lt;/i&gt; orang di ruangan itu ada sepuluh orang.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang benar&lt;/b&gt;: Jumlah orang di ruangan itu ada sepuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendapatkan hadiah &lt;i&gt;cuma-cuma&lt;/i&gt; sebuah arloji dari pemilik toko.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang benar&lt;/b&gt;: Ia mendapatkan hadiah sebuah arloji dari pemilik toko.&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Untuk anda ingat: tulisan yang baik tidak menyediakan ruang untuk pemborosan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-7905681667791187432?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/oA5MkLRHfnQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/oA5MkLRHfnQ/tentang-deskripsi-sampaikan-sekali-saja.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/tentang-deskripsi-sampaikan-sekali-saja.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-3047189049947917296</guid><pubDate>Wed, 28 Sep 2011 13:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-29T17:25:45.243+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Kemelaratan, Penyakit Genetis</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 25 September 2011&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Saya sebenarnya sudah sangat jengkel dengan apa yang terus-menerus diberitakan—di koran, di televisi, di media-media internet. Urusannya hanya di situ-situ saja, korupsi oleh pejabat publik, penyuapan oleh politisi yang merangkap pengusaha, pemberian hukuman yang ringan oleh hakim kepada para koruptor, dan nanti pemberian remisi kepada mereka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remisi tentu saja bukan pelanggaran hukum, jika hukumnya dibuat memang untuk itu. Kita bahkan tidak bisa apa-apa jika pemerintah berniat memberikan remisi sebesar-besarnya kepada orang-orang yang telah menggerogoti keuangan negara. Sekarang, ketika saya sedang menyelesaikan tulisan ini, di sebelah saya tergeletak koran dengan berita “Bongkar Korupsi Badan Anggaran (DPR)”, “Chandra (Hamzah) Mengaku Bertemu Nazar-Anas”, “Presiden Kantongi Nama Menteri Baru”, “Pertumbuhan Ekonomi Terancam Melempem.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berita politik, semuanya tentang ulah politisi, mereka seperti kutukan bagi sebuah negeri. Anda tak punya kesempatan untuk memikirkan hal-hal lain ketika para politisi terus menyita perhatian dengan ulah mereka. Anda sudah tidak bisa gembira atau menangis kalaupun sekarang ini Presiden mengantongi nama menteri atau nama perampok. Mungkin memang sebaiknya anda tak peduli pada isi kantong presiden. Ia sudah memilih menteri-menterinya dengan metode yang ia sebut “Fit anda proper test”, dan tampaknya ia mengelirukan itu dengan “trial and error.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ia akan melakukan “&lt;i&gt;trial and error&lt;/i&gt;” lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan para politisi yang mendominasi pemberitaan, anda tak bisa cepat tahu apa yang terjadi dengan para petani di pelosok Ngawi, misalnya. Anda harus punya teman dari Ngawi dan menyempatkan diri ngobrol-ngobrol dengannya sehingga anda bisa mendapatkan gambaran tentang apa yang tak pernah menjadi perhatian. Lagi-lagi sesuatu yang muram, dengan detail yang akan membikin anda tersayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong sampaikan kepada Pak Waguh, Bung,” tulis teman saya di email beberapa hari lalu. “Dia kan temanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suratnya itu ia menceritakan bahwa sekitar akhir April tahun ini banyak petani mengalami gagal panen padi karena serangan wereng. Saat itu Menteri Pertanian mengatakan ada dana. “Kabar tentang jumlahnya macam-macam,” katanya. “Seingatku sekitar Rp2,6 juta per ha. Tapi sepeser pun dari uang itu tidak pernah kelihatan di desa. Malah musim tanam berikutnya, gagal panen lagi, akibat wereng, plus tungro. Lagi-lagi tidak ada bantuan apa-apa dari pemerintah. Teman-teman NU Ngawi sudah menanyakan ke Bupati, tapi jawabannya mutar-mutar tidak jelas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya ini sudah melanglang ke mana-mana, dan kemudian memilih pulang ke desanya di pelosok Ngawi. Bersama istrinya ia mengajari anak-anak desa bagaimana cara menggunakan komputer, berinternet, dan berbahasa Inggris. Dan lagi-lagi ia menyampaikan kabar sedih. “Orang desa apatis kok, Bung. Ketika masih kecil, bocah laki-laki dan perempuan semua rajin belajar. Tapi ketika sudah kelas 5 sampai SMP, yang lelaki menjadi ogah-ogahan, tinggal satu dua anak perempuan yang mau melanjutkan belajar komputer, internet, bahasa Inggris.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya yang menyedihkan. Menurutnya, yang lelaki tahu bahwa sebagai anak orang melarat mereka tidak mungkin bisa melanjutkan sekolah, tidak mungkin bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Sementara yang perempuan tahu bahwa mereka bisa jadi TKW. Pada umumnya mereka bercita-cita melanjutkan SMK lalu jadi TKW. Kalau bisa ke Hongkong, Taiwan, atau Singapura; kalau kepepet Arab pun tak apa. “Murid-muridku banyak yang ibunya di luar negeri,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang saya tidak pernah memenuhi permintaannya untuk menyampaikan hal itu kepada orang yang ia anggap teman saya. Namun cerita tentang orang-orang di pelosok desanya terus menghantui pikiran saya. Itu membuat saya melemparkan sebuah pertanyaan serius kepada teman-teman, meski tampak seperti guyonan, “Para ahli genetika mendeteksi adanya 5.000 penyakit genetis. Jika kemelaratan adalah salah satu penyakit serius yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur anda, apa yang bisa anda lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya betul-betul serius dengan pertanyaan itu. Kemelaratan dan kesengsaraan hidup, jika tak bisa dianggap penyakit genetis, ia pasti penyakit yang diwariskan turun-temurun melalui jaringan sosial. Jika anda melarat, anak anda nanti menjadi buruh pabrik, kemungkinan terbesarnya ia akan menikah dengan teman buruhnya (kalau beruntung ia bisa mendapatkan mandor) dan membangun rumah tangga yang serba kekurangan. Dengan anak-anak yang tak tertangani secara baik sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemelaratan dan kesengsaraan hidup adalah penyakit pikiran, mungkin hipnosis atau pelbagai teknologi pikiran bisa membantu mengatasi kesulitan itu, tetapi menyangkut jaringan kemelaratan, anda mestinya bisa berharap besar pada pendidikan. Pendidikan akan menjadi salah satu obat mujarab untuk mengatasi penyakit itu, jika ia dikelola dengan cara beres—bukan dengan cara yang nggilani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendidikan yang bagus, orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus. Tetapi pendidikan yang bagus selalu mahal saat ini. Orang miskin hanya bisa mendapatkan pendidikan yang jelek. Untuk mendapatkan pendidikan yang bagus, anak orang melarat harus rela semakin melarat agar nantinya bisa punya modal untuk menjalani kehidupan yang layak. Kalau bisa. Dan kalau kesempatannya tidak dirampas oleh para politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sekadar membicarakan hal yang berkaitan dengan uang, sesuatu yang secara spiritual selalu ditempatkan di posisi terendah. Dan karena ia berada di posisi terendah, maka menurut saya ia perlu dibereskan paling awal. Anda tak bisa menapaki anak tangga berikutnya jika anak tangga pertama anda rapuh. Jika anda tak bisa menyenangkan diri sendiri, anda tak bisa menyenangkan orang lain.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-3047189049947917296?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/_tcHt9WiJQY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/_tcHt9WiJQY/kemelaratan-penyakit-genetis.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/kemelaratan-penyakit-genetis.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-4084542929444525904</guid><pubDate>Sat, 24 Sep 2011 21:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-29T15:32:53.611+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Surat Senin Pagi</category><title>Mereka Mencecar Saya</title><description>Teman-teman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dicecar banyak orang tentang "Menulis Buku dalam 21 Hari". Jadi akan saya gunakan surat ini sebagian untuk menanggapi cecaran itu. Beberapa tahun lalu saya mendirikan Jakarta School bersama 3 orang teman. Kami merancang program pelatihan menulis dalam 12 kali pertemuan. Dengan pertemuan yang berlangsung seminggu sekali, tiap pertemuan berlangsung 2 jam, pelatihan menulis itu akan berjalan dalam 24 jam, yang ditempuh selama 12 minggu atau kurang lebih tiga bulan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi yang saya ajarkan dalam pelatihan di Jakarta School kemudian diterbitkan dalam buku “Creative Writing”. Itu buku yang membuat saya banyak menerima ucapan terima kasih dari mereka yang merasa mendapatkan sesuatu yang amat bermanfaat. Banyak yang berterima kasih pada “Strategi tiga kata” yang saya sampaikan dalam buku itu. Hal lain yang tak pernah mereka perkirakan adalah anjuran untuk “Menulis Buruk”. Itu anjuran yang mengejutkan tetapi mereka tahu kenapa saya menganjukan seperti itu. Lalu cara bermain-main untuk meciptakan karakter. Juga pemahaman tentang bagaimana membikin dialog dan deskripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bahkan pada waktu itu saya tidak pernah berani membuat janji kepada para peserta pelatihan menulis tentang berapa lama mereka bisa merampungkan sebuah buku. Saya mengajarkan dasar-dasar menulis, menyampaikan prinsip-prinsip dan strategi yang memudahkan menulis, namun saya tidak pernah menetapkan deadline kepada mereka tentang berapa lama mereka bisa merampungkan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya mengubah format pelatihan menjadi hanya sehari atau enam jam. Ini mempersingkat waktu menjadi hanya seperempat dari waktu pelatihan semula. Dan dipadatkan dalam sehari. Beberapa orang menanyakan apakah pendekatan yang sekarang ini lebih efektif dari sebelumnya? Apakah dengan pelatihan sehari orang benar-benar akan mampu menulis buku dalam 21 hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa memahami munculnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Anda tahu, bahkan orang yang sudah berlatih menulis bertahun-tahun pun banyak yang tidak kunjung melahirkan buku, padahal mereka terobsesi untuk menulis buku. Yah, itu salah mereka sendiri. Jika anda belajar dan tidak pernah meningkat kemampuan anda setelah bertahun-tahun, pasti ada yang salah dalam cara belajar anda. Jika anda belajar menulis bertahun-tahun dan tidak pernah menjadi mahir menulis, anda tidak tahu cara belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mengulang-ulang saran saya bahwa jika anda menggeluti sesuatu, temukan cara yang memudahkan anda dalam menangani urusan itu. Prinsip kemahiran adalah anda menguasai banyak strategi yang semakin memudahkan anda. Jika anda ingin mahir menulis, anda perlu menguasai sebanyak mungkin strategi menulis. Saya tidak peduli apakah anda beranggapan bahwa menulis tidak bisa diajarkan, atau kecakapan menulis hanya bisa diperoleh melalui wahyu yang diturunkan dari langit, atau menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan keseriusan tingkat tinggi, atau untuk menulis bagus anda memerlukan perenungan bertahun-tahun, atau menulis bisa mudah ketika anda sangat sangat terinspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu keyakinan yang tidak pernah membuat anda menjadi lebih baik dalam menulis. Dengan menyampaikan bahwa menulis tidak bisa dikerjakan cepat, atau menulis memerlukan segala macam prasyarat yang bertele-tele, saya kira pada dasarnya anda hanya mencari-cari alasan untuk tidak menulis. Anda tidak akan pernah menjadi terampil menulis jika yang tersimpan di dalam benak anda adalah menulis itu sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah bahwa menulis itu sulit, maka anda akan menjumpai bahwa keyakinan anda benar. Dan yakinlah bahwa menulis itu bisa dikerjakan cepat, maka anda akan mendapati bahwa itu juga benar. Lalu yakinlah bahwa menulis itu tidak bisa diajarkan, dan anda akan mendapati bahwa itu juga sangat sangat benar, semata-mata karena anda tidak akan pernah percaya kepada siapa pun yang menyampaikan pelajaran menulis dan apa pun yang mereka sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi benarkah menulis tidak bisa diajarkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawablah tidak. Dan saya tahu anda sedang menyangkal diri sendiri. Ketika anda mengikuti tulisan ini, bukankah anda sedang mencari “pelajaran” tentang menulis? Anda sedang ingin tahu apalagi yang saya sampaikan tentang menulis, dan apalagi yang bisa anda dapat dari celoteh saya tentang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apakah menulis tidak bisa dikerjakan dengan cepat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis hampir setiap hari, seminggu sekali untuk mengisi kolom di Jawa Pos, untuk memperbarui isi blog—blog tentang menulis, blog tentang hipnosis, blog tentang EFT—dan guyon setiap hari dengan teman-teman di fesbuk. Yang terakhir itu salah saya sendiri, terlalu banyak guyon. Seharusnya saya lebih banyak menulis ketimbang guyon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kurang lebih setelah enam tahun sejak Jakarta School, saya tiba-tiba menawarkan sesuatu yang tampak ajaib bagi mereka yang tertatih-tatih dalam menulis: Menulis buku dalam 21 hari. Apakah ini serius?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya yakin anda tidak akan percaya jika pengalaman sepanjang hidup anda tentang penulisan adalah pengalaman terlunta-lunta. Orang-orang yang penuh penderitaan cenderung tidak percaya pada apa saja. Terhadap mereka saya hanya bisa bilang, “Saya penulis yang baik, saya tahu cara menulis yang baik, dan saya bukan politisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya sampaikan dalam materi Menulis Buku dalam 21 Hari adalah materi yang melompat jauh dibandingkan materi menulis dalam buku “Creative Writing” yang saya tulis beberapa tahun lalu. Para peserta pelatihan mengakui bahwa mereka tidak pernah menyangka metode yang saya sampaikan akan berbeda jauh dari materi penulisan yang sudah saya tulis sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan materi ini, saya berani mempersingkat waktu pembelajaran formal, sehingga anda tidak memerlukan berangkat belajar seminggu sekali selama 12 kali pertemuan. Dari segi waktu anda diuntungkan, saya diuntungkan. Dari segi materi, ini adalah materi final saya sampai saat ini. Tentu saja akan selalu ada penambahan nantinya, karena saya senang mencari strategi-strategi yang memudahkan menulis. Tetapi untuk sementara, setidaknya sampai hari ini, ia final. Anda benar-benar akan bisa menyelesaikan buku anda dalam 21 hari dengan mengikuti materi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda memerlukan perenungan panjang sebelum menulis, lakukan perenungan anda. Itu cara yang baik bagi anda selama anda bisa menulis cepat. Jika anda merenung lama dan menulis jauh lebih lama, anda tak akan bergerak ke mana-mana. Anda akan cenderung merenung lagi ketika tulisan anda tidak jadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah anda tidak ingin menghasilkan buku sebulan sekali, itu pilihan anda. Yang terpenting bagi anda dalam menulis adalah bahwa ketika anda siap menulis, setelah perenungan sepanjang yang anda inginkan, anda tahu cara menulis cepat dan menyelesaikan buku dalam cara yang sangat mudah. Dengan kata lain, anda sudah menguasai strategi untuk menyelesaikan penulisan buku anda dalam waktu yang bisa anda tentukan kapan rampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira itu kondisi ideal ketika anda mencebutkan diri dalam penulisan, sebagai profesional maupun sebagai amatir. Ingat akar kata amatir adalah “amare”—pencinta. Dan anda akan menjadi pencinta yang buruk terhadap dunia tulis-menulis jika anda tidak pernah cakap setelah bertahun-tahun, atau mungkin berpuluh tahun mencoba menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya ulangi lagi saran saya: temukan cara paling mudah untuk menulis, sehingga anda menulis semakin lancar. Saya menemukan cara saya dan berkoar bahwa menulis buku bisa diselesaikan dalam 21 hari. Anda mungkin menganggap menulis tidak bisa seperti itu dan tidak bisa diajarkan, maka yang perlu anda lakukan adalah menemukan cara anda sendiri. Dan sudah berapa lama anda tersiksa karena tidak kunjung meningkat kecakapan anda? Dan akan sampai berapa lama lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N.B. Saya sudah menyusun&lt;a href="http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/jadwal-pelatihan-menulis-oktober.html"&gt; jadwal pelatihan menulis untuk bulan Oktober sampai Desember tahun ini&lt;/a&gt;. Bergabunglah jika anda ingin mengakhiri kesengsaraan anda dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-4084542929444525904?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/tUTa2TXz17M" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/tUTa2TXz17M/mereka-mencecar-saya.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/mereka-mencecar-saya.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-7769000506466236380</guid><pubDate>Sat, 24 Sep 2011 18:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-26T19:18:09.529+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pelatihan</category><title>Jadwal Oktober-Desember 2011</title><description>Para peserta pelatihan sebelumnya sudah memberikan pengakuan mereka tentang program ini dan materi Menulis Buku dalam 21 Hari. Sekarang, jika anda ingin mendapatkan LOMPATAN BESAR dalam kecakapan menulis anda, yang anda perlukan hanya membuat keputusan lebih cepat ketimbang orang-orang lain di bidang yang sama dengan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Kenapa ikut Pelatihan&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Karena anda ingin benar-benar terampil dalam menulis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena anda ingin menguasai banyak strategi yang memudahkan anda dalam menulis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena anda sudah bertahun-tahun belajar menulis dan hasilnya begitu-begitu saja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena buku anda, selain merupakan bentuk ekspresi terbaik yang bisa anda wujudkan, juga sangat penting bagi laju karier anda. Ini hanya disadari oleh sedikit orang yang sudah membuktikan bahwa buku adalah marketing tool yang sangat ampuh untuk melejitkan posisi di antara kolega atau orang-orang lain yang bergerak di bidang yang sama dengan anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buku akan membuat anda berbeda.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;center&gt;&lt;u&gt;Siapa saja yang cocok ikut Pelatihan&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, konsultan, motivator, guru, karyawan, wiraswasta, wartawan, konsultan, lawyer, psikolog, psikiater, dan siapa saja yang menganggap buku adalah karya yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Tempat dan Waktu Pelatihan:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jakarta&lt;/b&gt;, Minggu, 9 Oktober 2011, pukul 09.00 – 15.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jakarta&lt;/b&gt;, Minggu, 13 November 2011, pukul 09.00 – 15.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jakarta&lt;/b&gt;, Minggu, 11 Desember 2011, pukul 09.00  - 15.00 WIB&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fasilitas bagi peserta:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Materi lengkap “Menulis Buku dalam 21 Hari—Metode Hypnotic Speedwriting”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Creative Writing: panduan menulis cerpen dan novel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Contoh surat pengiriman naskah yang membuat penerbit susah menolaknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana Menyelesaikan Cerita Pendek dalam 2 Jam Saja (Contoh kasus tentang gagasan, penyusunan outline, penulisan, editing, sampai naskah jadi dan dimuat di media.)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teknik terbaik membukukan riwayat hidup anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keanggotaan dalam GRUP PENULIS kami&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;center&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Biaya pelatihan:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp1 juta pas (50% dari harga normal Rp2 juta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Cara pendaftaran:&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transfer ke salah satu rekening di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bank Mandiri&lt;/b&gt; No Rekening 164.000.009.5804 a/n A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BCA&lt;/b&gt; No Rekening 566.006.9714 a/n Eka Sulistyawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konfirmasikan pembayaran anda melalui SMS ke no 0878.83793924, pilih tanggal pelatihan yang anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Contoh konfirmasi: &lt;i&gt;“Saya [Nama anda], telah mentransfer Rp1 juta ke [BCA/Mandiri]utk pelatihan menulis tanggal [pilih yg anda inginkan] Mohon dicatat keikutsertaan saya.”&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;PENTING!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih dan putuskan waktu pelatihan anda. Demi kemudahan, pendaftaran selambat-lambatnya 7 hari sebelum waktu pelatihan yang anda inginkan.&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N.B. Yah, mereka sudah mengambil keputusan lebih awal, sekarang giliran anda menjadi pengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;b&gt;STOP PRESS: Demi Keadilan!&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pelatihan baru diselenggarakan di Jakarta, maka demi keadilan, teman-teman di luar Jabotabek tetap mendapatkan kesempatan untuk memiliki satu bundel besar materi lengkap "Menulis Buku dalam 21 Hari" dan semua bonus yang sama dengan harga hanya Rp500 ribu (hanya 10% dari biaya kursus online atau 25% dari biaya pelatihan).&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lebih lanjut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;Email: aslaksana@menulisbuku21hari.com&lt;br /&gt;HP: 0878.83793924&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-7769000506466236380?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/e6AmgU8LnOw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/e6AmgU8LnOw/jadwal-pelatihan-menulis-oktober.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/jadwal-pelatihan-menulis-oktober.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-5136055102287964425</guid><pubDate>Fri, 23 Sep 2011 02:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-23T09:22:59.713+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Mengistu dan Bangsa Pilihan</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 18 September 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa tahunkah diperlukan waktu untuk mengangkat negeri dari dasar jurang? Belajarlah dari Ethiopia. Ini bangsa yang tua. Namanya hadir dalam sejarah agama-agama samawi. Menurut iman kaum Rastafari, yang memuja Kaisar Haile Selassie sebagai raja segala raja atau Tuhan yang turun ke dunia untuk kedua kalinya atau Yah, kependekan dari Yahweh, Ethiopia adalah bangsa Yahudi hitam, keturunan Daud melalui perkawinan Sulaiman dan Ratu Sheba.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui artikel Mario Vargas Llosa, “Trench Town Rock” (yang diterjemahkan secara bagus oleh Ronny Agustinus), anda akan menemukan informasi bahwa kaum Rasta menghindari alkohol, tembakau, daging, hasil laut, dan garam. Mereka tidak menggunting rambut, janggut, atau kuku. Komuni dan ritualnya didasarkan pada ganja atau mariyuana, tanaman sakramental yang dimuliakan oleh Raja Sulaiman. Konon dari makamnya tumbuhan itu bersemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka belajarlah pada bangsa Yahudi hitam ini. Jika orang-orang Yahudi meyakini bahwa mereka adalah bangsa pilihan, barangkali Ethiopia juga seperti itu, dalam pengertian yang amat muram. Ethiopia mungkin bangsa terpilih ketika Tuhan ingin berbicara tentang nasib buruk yang bisa datang terus-menerus pada sebuah bangsa, dengan berbagai cara, baik karena kosongnya perut dan lumbung makanan. Atau karena buruknya kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh lima tahun lalu, Iwan Fals merilis album Ethiopia sebagai respons atas kelaparan yang melanda negeri tersebut. Hingga tahun ini, ia tetap dikenal sebagai negeri kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ethiopia, kelaparan sepanjang tahun merampas nyawa dan kebahagiaan, dan menyodorkan sensasi pada media massa ketika serakan tubuh-tubuh kerontang berdampingan dengan kawanan burung nasar. Di Ethiopia, empat tahun kekuasaan yang buruk telah merenggut nyawa lebih dari seratus ribu warganya. Sepanjang tahun 1974 hingga 1978, rakyat Ethiopia merasakan betapa mengerikan risiko yang jatuh ke tengkuk mereka ketika pemerintahan yang picik suka menjatuhkan tuduhan kontrarevolusi. Sedikit-sedikit kontrarevolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang yang suka menjatuhkan tuduhan itu bernama Mengistu Haile Mariam. Ia seorang perwira militer berpangkat letnan kolonel pada tahun 1974. Tahun itu, ia menggulingkan pemerintahan Kaisar Haile Selassie, sesembahan kaum Rasta, mencampakkan bentuk pemerintahan kerajaan dan memproklamasikan pemerintahan republik dengan dirinya sebagai presiden. Selanjutnya ia mengendalikan negara dan mencekik nasib rakyat dengan tangan besinya. Pada langit-langit markas komando perang di Addis Ababa, yang kemudian menjadi gedung pengadilan,  ia menuliskan sebuah kalimat yang congkak: “Kami mampu mengendalikan tidak hanya para pemberontak, tetapi bahkan alam pun berada di bawah kendali kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pemerintahan yang buruk membuktikan kepicikannya, Mengistu pun mendemonstrasikan kepada rakyatnya tentang bagaimana ia mengendalikan “alam semesta.” Dua tahun pertama pemerintahannya, radio pemerintah hampir setiap hari menyiarkan nama-nama orang yang dieksekusi dengan tuduhan kontrarevolusi. Pemumuman itu selalu didahului dengan alunan musik. “Begitu mendengar musik tersebut, kita langsung tahu bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Dan tak lama kemudian mereka membacakan nama-nama korban,” tutur Abebe Ambualem, wartawan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintahan Mengistu hanya bertahan hingga tahun 1978, namun tulisan di langit-langit gedung pengadilan tidak terhapus hingga tujuh belas tahun setelah Mengistu tumbang. Ia masih di tempatnya. Ketika penuntut umum menyeret Mengistu ke pengadilan, Januari 1995, setiap yang hadir di ruang sidang masih bisa membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa yang buruk itu kini diadili di bawah kalimat yang ditulisnya sendiri. Ia tidak lagi bisa mengontrol bahkan nasibnya sendiri. Di belakangnya, 3.000 terdakwa lain menunggu giliran. Mereka adalah para kaki-tangan Mengistu yang, menurut penuntut umum, “Tak pernah melepaskan pedang dari genggaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menghadapi berbagai tuduhan atas tindakan kejam yang dilakukan sepanjang tahun-tahun pemerintahan Mengistu yang penuh darah. Lebih dari seratus ribu orang, menurut laporan tim hak asasi internasional, tewas. Kebanyakan para pemuda, terutama murid-murid sekolah dan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada celah untuk melakukan pembelaan,” keluh pembela Mengistu. Ia menghadapi kesaksian lebih dari 2.500 orang, dokumen perencanaan kudeta, dokumen pembunuhan Kaisar Haile Selassie, ribuan file dan rekaman yang menggambarkan pembunuhan dan penyiksaan, serta hasil penyelidikan forensik atas korban-korban yang dibongkar dari kuburan massal. Tetapi terutama ia menghadapi gairah massa yang menghendaki hukuman paling berat bagi penguasa yang amat gampang mencabut nyawa rakyatnya--karena ia merasa sanggup mengendalikan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, belajarlah dari bangsa yang tua tentang berapa waktu diperlukan untuk mengangkat sebuah negeri dari dasar jurang. Jawabannya, sepanjang sejarah. Atau jika masih ada gairah menyala untuk mempertahankan keunikan bangsa sendiri, belajarlah pada peribahasa ayam mati di lumbung padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu peribahasa yang saya ingat ketika suatu hari masuk pesan singkat dari penulis Lan Fang: “Ayamku mati kejepit tempat makanan di kandangnya. Bodohnya ayam ini. Padahal di tempat makannya ada banyak makanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab, “Sayang ia mati. Jika panjang umur, ia berbakat jadi politisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-5136055102287964425?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/V4xCYEQTyKk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/V4xCYEQTyKk/mengistu-dan-bangsa-pilihan.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/mengistu-dan-bangsa-pilihan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-8863090672312647922</guid><pubDate>Mon, 19 Sep 2011 03:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-20T12:38:10.157+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Surat Senin Pagi</category><title>“Kenapa Saya Selalu Mendapatkan Gagasan?”</title><description>Teman-teman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang paling sering ditanyakan orang dalam urusan tulis-menulis adalah bagaimana cara mendapatkan gagasan. Variasi lain dari pertanyaan tersebut: “Saya ingin menulis setiap hari, tetapi saya selalu kesulitan menemukan gagasan.” Atau seperti sebuah status facebook, “Mati ide... setiap hari.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang terakhir, semoga diterima di sisi Tuhan... setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa urusan besar, salah satunya ya tentang bagaimana mendapatkan gagasan, mungkin bisa diselesaikan dengan cara sepele. Kadang-kadang anda hanya perlu mengubah formulasi pertanyaan untuk mendapatkan perasaan berbeda dalam benak anda. Misalnya, jika anda mengubah pertanyaan “bagaimana” itu dengan pertanyaan “kenapa”, maka kalimat anda akan menjadi “Kenapa saya bisa mendapatkan gagasan setiap hari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pertanyaan yang lebih anda butuhkan sekiranya anda benar-benar ingin menulis setiap hari. Pertanyaan ‘kenapa” akan membawa anda ke situasi hasil akhir, yakni bahwa anda mendapatkan gagasan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya bisa mendapatkan gagasan setiap hari? Jawablah sendiri kenapa. Jawaban saya tentu saja berbeda dengan jawaban anda. Dan anda bisa menjawab apa saja, tidak ada yang menggampar anda ketika jawaban anda buruk, tidak ada yang mencibir anda ketika jawaban anda remeh, tidak ada yang menghukum anda bahkan ketika jawaban anda ngawur. Jadi anda bisa menjawab sebanyak-banyaknya kenapa anda mendapatkan gagasan setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekali duduk anda bisa mendapatkan banyak jawaban untuk hal ini. Berikut adalah beberapa jawaban saya yang muncul begitu saja:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Karena setiap hari saya membaca.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena setiap hari saya mengajukan pertanyaan tentang apa yang bisa saya tulis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena setiap hari saya mengkhayalkan sesuatu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena setiap malam saya mencatat masalah dan mencari tahu pemecahannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena setiap bangun tidur saya selalu mendapatkan satu kalimat bagus yang bisa saya teruskan menjadi karangan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya bisa bekerja dengan strategi tiga kata.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena berita apa saja yang saya terima setiap hari merangsang saya memberikan tanggapan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya menghirup udara segar setiap pagi ketika bangun tidur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya menyukai mitologi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kerena saya selalu punya cerita yang bisa saya sampaikan kepada teman-teman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya tertarik pada perilaku manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya tertarik pada tempat-tempat yang ganjil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya punya pendapat yang berbeda dari yang ditulis orang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena untuk tema yang sama saya punya cerita yang berbeda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya tidak setuju pada pendapat orang itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya memberi masukan kepada bawah sadar saya sebelum tidur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya minta tolong malaikat agar selalu memberi saya gagasan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena saya memelihara jin yang setiap hari memasok saya dengan gagasan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena istri saya galak sekali, ia akan menghukum saya jika saya tidak menulis setiap hari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena sumur saya tak pernah kering sekalipun musim kemarau.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena otak saya bisa menghasilkan seribu khayalan setiap hari.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Begitulah, jawaban atas pertanyaan “kenapa” itu bisa sangat banyak, mulai dari yang bisa diterima akal sampai yang tampak seperti jawaban seorang pemabuk. Dengan jawaban-jawaban di atas, saya hanya ingin menyampaikan bahwa dalam waktu sangat cepat, dengan pertanyaan “kenapa”, anda akan menemukan sejumlah hal yang membuat anda punya gagasan. Bahkan kalaupun jawaban itu tampak tidak berkaitan. Bukankah gagasan bisa datang kepada kita dalam situasi apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih penting dari itu, yang saya sukai dengan pertanyaan “kenapa” adalah, saya ulangi lagi, ia menggambarkan “hasil akhir” dalam benak. Jika pertanyaan “bagaimana” membuat anda terseok-seok dan meratap setiap hari, pertanyaan “kenapa” secara tersirat sudah menempatkan anda dalam situasi yang anda inginkan. Apa pun jawaban anda, itu adalah alasan bagi anda untuk menuju hasil akhir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifatnya yang demikian, saya kira itu juga pertanyaan yang bisa anda gunakan untuk hal-hal lain. Misalnya, “Kenapa saya selalu sehat setiap hari?” Atau, “Kenapa saya menulis semakin lancar setiap hari?” Atau, “Kenapa saya bisa bahagia?” Atau, “Kenapa saya selalu punya uang untuk mendapatkan hal baik yang saya inginkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal gagasan, anda tahu, sesungguhnya mendapatkan gagasan adalah bagian termudah dalam proses penulisan. Selagi menulis surat ini, di benak saya pun ada sejumlah gagasan. Misalnya, apa jadinya jika kau bisa bicara dengan binatang? Apakah kau juga akan menjadi orang seperti Raja Sulaiman? Apa jadinya jika keadaan memaksamu mengkhianati orang yang sangat kauhormati? Apa jadinya jika kehadiran seseorang kaurasakan sebagai teror bagimu? Kenapa malaikat maut itu tidak jadi mencabut nyawanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin bisa mendapatkan sepuluh atau seratus atau seribu gagasan setiap hari. Masalahnya, ketika kecakapan menulis anda nihil, maka gagasan yang sebanyak apa pun akan menjadi sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bisa saja berdalih bahwa bahwa ia tidak punya waktu untuk menulis, kesibukannya sehari-hari terlalu menguras tenaga dan pikiran dan waktunya. Ringkasnya ia tidak punya kesempatan sama sekali untuk menulis sekalipun niatnya untuk menulis besar sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu mengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda memiliki kecakapan menulis, anda selalu punya gairah untuk menulis. Dan ketika anda punya gairah menulis, anda akan selalu membuat diri anda punya waktu untuk menulis. Hanya orang-orang yang tidak cakap menulis yang selalu tidak punya waktu untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam saya&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.menulisbuku21hari.com" target="blank"&gt;http://www.menulisbuku21hari.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N.B. Jika anda merasa kesulitan mendapatkan gagasan, ingatlah bahwa itu bagian yang paling mudah dalam penulisan. Yang penting dalam menulis adalah anda bersedia menulis dan meningkatkan kecakapan anda dalam menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-8863090672312647922?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/cd_oqlzeE3s" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/cd_oqlzeE3s/kenapa-saya-selalu-mendapatkan-gagasan.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>10</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/kenapa-saya-selalu-mendapatkan-gagasan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-1468512108253963969</guid><pubDate>Tue, 13 Sep 2011 00:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-13T07:06:37.473+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Hukum Kesinambungan dan Patahan</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 11 September 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah kisah Nabi Yusuf. Pada bagian tafsir mimpi, anda akan memahami bagaimana hukum kesinambungan bekerja. Dalam mimpinya Fir’aun melihat tujuh sapi gemuk ditelan oleh tujuh sapi kurus. Yusuf menafsirkan akan ada tujuh tahun kemakmuran yang diikuti dengan tujuh tahun kelaparan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benoit Mandelbrot, ahli geometri fraktal, membuat tafsir atas tafsir mimpi itu. Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Yusuf itu adalah sebuah proses yang berkesinambungan. Ia membentang dari titik awal hingga ujung, dan ujung itu adalah kelaparan. Dengan kata lain, kelaparan adalah hasil akhir dari sebuah proses yang memang arahnya ke sana. Ia tidak terjadi serta merta, tetapi berlangsung pelan-pelan dan persisten untuk tiba ke titik yang dituju. Dalam peribahasa kita, ketekunan itu diwakili oleh kalimat “berdikit-dikit lama-lama menjadi bukit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, hukum kesinambungan menyampaikan kepada kita prinsip ketekunan dalam mencapai hasil akhir. Atau, jika anda membacanya secara terbalik, anda akan mendapati bahwa situasi hari ini adalah sebuah keniscayaan--sebuah keadaan yang memang sudah seharusnya begini. Ia merupakan akibat dari ketekunan sekian waktu yang melapangkan jalan anda ke “situasi ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum kesinambungan ini bekerja pada gumpalan besar jagat raya maupun satuan terkecil diri anda. Jika anda menyimpan foto-foto anda secara rapi, anda bisa mengamati bagaimana hukum itu bekerja pada diri anda. Bandingkan foto-foto anda ketika bayi, balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud saya, dari deretan foto-foto itu, anda bisa melihat bagaimana setiap peristiwa penting dalam kehidupan anda memberikan dampak-dampak tertentu pada penampilan anda. Mungkin anda bisa menemukan fase di mana kedua mata anda masih berkilauan--itu pada foto anda ketika bayi. Lalu berbagai peristiwa menghilangkan kilauan itu. Dan hasil paling akhir bisa anda jumpai ketika anda menatap bayangan anda di cermin. Lihat seperti apa sosok di dalam cermin itu. Perhatikan bagaimana hukum kesinambungan telah membentuk penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain untuk menjelaskan hukum kesinambungan ini adalah dengan mengamati pola-pola yang lazim dalam keseharian kita. Orang yang sehat akan cenderung kian sehat. Orang yang sakit akan cenderung sakit-sakitan dan kian parah. Kesebelasan juara akan cenderung selalu jadi juara. Petinju yang mencium kanvas tiga kali berturut-turut akan semakin jatuh cinta pada kanvas untuk seribu pertandingan berikutnya. Dan penulis yang baik akan cenderung menjadi lebih baik--jika ia betul-betul penulis yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pola semacam ini, anda bisa menemukan bahwa negeri-negeri yang sudah pernah dilanda kelaparan cenderung akan gampang mengalami kelaparan lagi dan lebih hebat dari sebelumnya. Dalam hal ini, hukum kesinambungan bukan bertabiat seperti penyakit cacar, melainkan demam berdarah. Untuk penyakit cacar anda hanya perlu kena sekali dan aman seumur hidup. Serangan demam berdarah membuat anda untuk selanjutnya lebih rentan terhadap penyakit tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka periksalah diri anda. Jika anda seorang pengeluh, itu adalah hasil dari ketekunan anda menjadi pengeluh. Jika anda sakit-sakitan, itu adalah hasil gemilang dari ketekunan anda juga dalam urusan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai penulis, teman saya menanyakan, barangkali secara cemas seolah-olah sedang mendengar ramalan, “Apakah tidak ada kemungkinan bagi penulis yang tidak baik untuk menjadi baik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang, untuk itu berlaku hukum yang lain. Anda tahu, selain kesinambungan, masih ada turbulensi dan hukum patahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turbulensi adalah gejolak yang membuat kita teraduk-aduk. Ia membuat kapal di permukaan laut jungkir balik oleh pusaran gelombang. Ia adalah situasi tak menentu yang membuat dinosaurus gagal bertahan di muka bumi. Jika tidak ada turbulensi yang menyebabkan mereka punah, mungkin hingga hari ini kita akan hidup berdampingan dengan raksasa-raksasa itu. Akibatnya, sesekali penyiar televisi akan menyampaikan kepada kita, sembari menunjukkan wajah memelas, tentang seorang bocah tak berdosa atau sepasang kakek-nenek yang sudah kenyang asam garam kehidupan tewas terinjak dinosaurus yang sedang jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum patahan bisa dijelaskan dengan mengacu pada kisah lain dalam kitab suci, ialah riwayat Nabi Nuh, yang bertutur tentang lenyapnya sebuah peradaban dalam semalam oleh sapuan banjir besar. Menurut Plato, metropolis Atlantis punah dengan cara itu dua belas ribu tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang hanya patahan yang bisa memotong sebuah pola yang berjalan dengan ketekunan, sebuah matarantai kesinambungan yang menghasilkan situasi terkini. Anda harus menghancurkan pola lama dan membangun tatanan baru di atasnya. Dalam kata-kata Einstein, “Cara berpikir yang memberimu masalah tidak mungkin digunakan untuk menyelesaikan masalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu nasihat yang berlaku bagi anda pribadi dan bagi kelompok besar yang disebut negara, atau bahkan semesta. Meskipun negara ini pernah punya hobi untuk menampilkan dirinya sebagai “bukan ini bukan itu”, namun ia tak bisa menampik berlakunya hukum kesinambungan dan patahan. Jika anda menghendaki ada perubahan, yang anda perlukan adalah mengubah cara berpikir, meruntuhkan pola lama, dan membangun pola baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cina pernah remuk oleh turbulensi pada masa Revolusi Kebudayaan Mao Zedong. Kini negeri itu memberlakukan hukum patahan untuk memerangi korupsi, yakni dengan menerapkan hukuman mati kepada para koruptor. Kita menerapkan hukum kesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-1468512108253963969?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/RBgKTxJHOew" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/RBgKTxJHOew/hukum-kesinambungan-dan-patahan.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/hukum-kesinambungan-dan-patahan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-5274506645237703489</guid><pubDate>Tue, 06 Sep 2011 22:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-07T06:15:51.180+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Setelah Trauma tak Ada Lagi *)</title><description>Goenawan Mohamad datang kepada saya melalui frase-frase yang ganjil bagi murid kelas dua SMA yang kurang bacaan. Pada masa ini, saya mendekati sastra dengan perasaan kagum kepada siapa saja yang membacakan puisi di panggung. Saya sendiri hanya berani melihat mereka dari jarak terjauh di pojokan, sebagai anonim. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cukup banyak lomba atau pentas baca puisi di Semarang pada tahun-tahun ketika saya SMA. Rendra dan Taufiq Ismail mungkin paling sering dibaca. Seingat saya, tak pernah ada yang membaca puisi Goenawan Mohamad. Maka pada satu-satunya lomba baca puisi yang pernah saya ikuti, dengan puisi wajib yang saya lupa judulnya, saya memilih puisi &lt;i&gt;Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi&lt;/i&gt;, karena ia pendek dan tidak membuat saya perlu berteriak, sebagai puisi bebas yang akan saya bawakan. Satu demi satu peserta naik ke panggung dan giliran saya semakin dekat dan saya merasa kian ruwet. Tak tahan oleh keruwetan itu, akhirnya saya ikuti saran dalam puisi yang akan saya bacakan itu, “Pergilah sebelum malam tiba...” Dan saya pergi sebelum giliran tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu satu dari dua puisi Goenawan yang saya kenal melalui buku pelajaran sekolah. Satu puisi lain adalah &lt;i&gt;Kwatrin tentang Sebuah Poci&lt;/i&gt;. Puisi kok judulnya begini. Tetapi ternyata saya suka dua-duanya. Ada frase “bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata” di sini, tetapi frase yang menghantui saya adalah “Pergilah sebelum malam tiba/Kudengar musim mendesak ke arah kita”. Itu kalimat yang tidak saya ketahui artinya, bahkan sampai sekarang, dan saya tidak merasa perlu mengartikannya. Namun, ia mendekam begitu saja dalam benak, atau menyusup diam-diam tanpa saya berupaya menghafalkannya. Saya tidak pernah membaca puisi untuk menghafalkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu ganjil dan merisaukan dan sekaligus akrab. Ia sudah kerap hadir pada situasi-situasi lain, misalnya pada film dan sandiwara perjuangan, dalam formulasi yang berbeda satu kata. Pada adegan-adegan yang patriotik, kalimat itu akan berbunyi, “Pergilah sebelum malam tiba, kudengar musuh mendesak ke arah kita.” Dalam frase Goenawan, musuh disingkirkan dan tempatnya digantikan oleh musim. Tiba-tiba saya merasa disodori situasi asing. Ia akrab dan mencemaskan, mengingatkan bahwa sesuatu yang biasa dan niscaya bisa terasa sebagai ancaman. Ada situasi gawat yang susah saya pahami, tetapi menantang. Saya ingin menjawab, baiklah kita pergi sebelum malam tiba. Tapi ke mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpukau oleh frase itu, dan situasi gawat yang dibangunnya, saya kemudian menguber buku puisinya, sebetulnya juga buku-buku puisi penyair lain. Buku puisi Sapardi, Linus Suryadi, Darmanto Jatman, Eka Budianta, dan Rendra masih bisa saya temukan. Tetapi dua buku puisi Goenawan, &lt;i&gt;Pariksit&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Interlude&lt;/i&gt;, tidak pernah saya dapati baik di toko buku maupun di tukang loak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguberan itu akhirnya mempertemukan saya dengan buku &lt;i&gt;Catatan Pinggir&lt;/i&gt;, kumpulan tulisan-tulisan pendek yang saya tak tahu apa namanya. Lagi-lagi saya menjumpai kalimat-kalimat yang terasa ganjil. Semakin bertaburan karena itu buku tebal pertama yang saya beli. Kadang itu kalimat yang tidak lengkap, tetapi aneh bahwa ia justru menjadi lebih baik ketika begitu. Ada sesuatu yang rasa-rasanya sengaja dibiarkan lowong, yang menantang saya untuk menggenapkannya sendiri selama pembacaan—dan sesudahnya. Dalam pengalaman saya, “dan sesudahnya” itu bahkan bisa sampai bertahun-tahun masa berlakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru menyadari hal itu ketika di tahun 2004 Sitok Srengenge, yang ketika itu baru mendirikan penerbitannya sendiri KataKita, meminta cerpen-cerpen saya untuk diterbitkan dalam sebuah kumpulan. Dari dua belas cerita pendek yang ada di buku &lt;i&gt;Bidadari yang Mengembara&lt;/i&gt;, dua cerpen tersusupi frase Goenawan. Sialan. Orang ini mengikuti saya seperti bayang-bayang. Saya membaca &lt;i&gt;Penangkapan Sukra&lt;/i&gt; di majalah &lt;i&gt;Horison&lt;/i&gt; dengan rasa gembira setelah perburuan yang gagal untuk mendapatkan buku-buku puisinya, dan frase “Ada juga lolong serigala ketika Kurawa dilahirkan” memaksa masuk ke dalam salah satu cerpen saya, bertahun-tahun setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya saya mulai menyadari trauma itu pada tahun 1993 ketika bergabung dengan teman-teman lain di tabloid DeTIK dan diserahi kewajiban menulis kolom &lt;i&gt;Podium&lt;/i&gt; setiap minggu. Urusan ini membuat saya berpikir keras bagaimana menghindar darinya dan terbebas dari frase-frasenya. Akibatnya, saya sering mimisan pada setiap akhir pekan dalam tiga bulan pertama. Saya telanjur berpikir untuk menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan sebisa mungkin tidak ikut-ikutan menaburi tulisan-tulisan saya dengan kosakata warna lokal—dalam kasus saya, warna lokal berarti Jawa. Umar Kayam sudah melakukannya dengan amat bagus. Linus sudah melakukannya dalam &lt;i&gt;Pengakuan Pariyem&lt;/i&gt;, dan banyak penulis lain dari Jawa sudah melakukannya. Maka, tidak diperlukan satu orang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan niat seperti itu, lagi-lagi saya berjumpa dengan Goenawan Mohamad. Penulis yang menggunakan bahasa Indonesia paling baik, yang bisa saya jadikan rujukan tentang cara menulis yang baik, menurut saya adalah Goenawan Mohamad. Ini penilaian subjektif yang tentu saja tidak membutuhkan persetujuan orang lain. Jika saya menulis kolom seperti ia menulis kolom, tentu saja tidak ada gunanya. Begitupun jika saya menyusun kalimat seperti cara ia menyusun kalimat-kalimatnya. Ia sudah menulis dengan cara itu dan pembaca tidak memerlukan jiplakan GM sementara mereka bisa mendapatkan aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin tahu apa yang membuatnya berbeda. Salah satu kesimpulan saya, ia menulis dalam kegigihan yang pada masa lalu pernah menjadi tekad Chairil Anwar, ialah mengorek kata hingga ke putih tulang. Namun, tidak seperti Chairil, Goenawan diam, tak menyuarakan kredo apa pun. Barangkali ia hanya memendam apa yang meledak-ledak untuk dirinya sendiri, untuk memberi tenaga bagi tulisan-tulisannya. Dan dengan jalan yang dipilihnya, ia menjadi jernih dan berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang juga memukau bagi saya, ia menulis cepat (meski beberapa kali ia mengaku menulis lambat). Saya pernah menerima email darinya pada suatu malam, dalam cara bertutur yang sebagaimana saya kenali. Malam itu juga saya menulis email balasan, tetapi tidak langsung saya kirimkan. Saya periksa lebih teliti keesokan harinya draft balasan saya sebelum ia benar-benar saya kirimkan. Sampai sekarang saya tetap heran, bahkan membalas suratnya pun saya begitu tegang. Rasa-rasanya seperti menyetorkan tulisan kepada seorang redaktur galak yang akan menggampar muka saya jika ia menemukan kesalahan dalam tulisan tersebut, atau kalimat saya begitu buruknya. Setelah yakin tidak ada kesalahan, saya kirimkan surat balasan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 15 menit kemudian datang email balasan dari GM, dengan tulisan yang “sudah seperti itu”—kalau ada kesalahan paling hanya salah ketik. Brengsek orang ini. Ia bisa menulis sangat cepat dan beres, dengan suara bening yang saya akrabi bertahun-tahun, dengan perumpamaan yang jitu untuk sebuah gagasan. Ini peristiwa lain yang juga terus menghantui saya. Bagaimana orang bisa menulis secepat itu dan langsung bagus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ini juga pertarungan yang melelahkan, saya harus bertarung melawan bayang-bayang yang terus memburu. Dan saya berkali-kali kena jab hingga darah mengucur dari hidung saya. Tetapi ini juga sebuah pertarungan seru yang harus saya jalani. Pada akhirnya setiap penulis perlu menemukan suaranya sendiri dan pergulatan untuk ke sana sungguh menegangkan. Pertarungan dengan bayang-bayang ini mendorong saya membaca sebanyak mungkin yang saya bisa: demi melemahkan efek peracunan olehnya dan agar saya tidak terlalu memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi saya membaca dengan niat yang curang sebenarnya. Saya tidak berpikir tentang menambah wawasan atau untuk membuktikan bahwa buku adalah jendela ilmu. Saya hanya berpikir bagaimana cara melemahkan racun yang sudah menjalari pikiran saya, bagaimana melepaskan diri dari frase-frase yang menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tampaknya saya menyerah saja. Mungkin ia memang dilahirkan sebagai undagi yang piawai dan bahasa Indonesia adalah kayu-kayu yang bisa ia bentuk semaunya—dengan citarasa yang baik. Mungkin ia bahkan memiliki kemampuan mendirikan tiang dari tatal. Itu hal yang saya cemburui sejak saya membeli buku Catatan Pinggir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu hal lagi yang saya cemburui darinya: ia tidak membuat klaim-klaim besar tentang puisi, sesuatu yang sejak awal digelutinya. Baginya, kegunaan atau keberhasilan puisi adalah ketika ia mampu membuat pembacanya merasakan basah embun di telapak kaki atau mendengarkan “kepak sayap bangau yang terbang menuju utara.” Lagi-lagi saya menyepakatinya, sembari bertanya kenapa terbang ke utara. Dan kemudian, kenapa utara kerap muncul dalam tulisannya. Saya menduga, ini arah kematian, sesuatu yang niscaya, yang kian mendekat, seperti “musim yang mendesak ke arah kita”. Utara bagi orang Jawa adalah ujung perjalanan. Kepada orang-orang yang tidak bisa berubah, misalnya, yang sudah tidak diharapkan bisa menjadi baik, orang Jawa selalu bilang, “&lt;i&gt;Isone apik mengko nek wis mujur ngalor&lt;/i&gt;”--nanti ketika ia sudah membujur ke utara. Dengan kata lain, kalau sudah modar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghindari klaim-klaim besar itu, ia memilih lirih dan ringkas, ia memilih metafora. Ia menghindari khotbah yang meledak-ledak atau “semboyan yang tegas”. Dalam kebanyakan tulisannya, ia seperti sengaja memilih peran sebagai orang yang bicara sendiri, seperti menggumam. Kalimat-kalimatnya seolah tidak ditujukan kepada siapa-siapa kecuali kepada dirinya sendiri: ia seperti seseorang yang bicara di pojokan dengan wajah menunduk ke lantai. Dan, anda tahu, itu cara yang manjur untuk menyusupkan suara lirihnya ke dalam ingatan orang. Ia tidak hendak membangunkan orang dengan teriakan, “Situasi sudah mengerikan, mari kita membuat perlawanan!” Ia hanya menggumam, “Yah, situasinya memang seperti ini, dan akan tetap seperti ini kecuali kita melakukan sesuatu.” Dan apakah sesuatu di sini? Setiap pembaca akan menemukan sendiri, sesuai kebutuhan masing-masing, apa yang ia sebut dengan sesuatu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjadi trauma bagi saya karena saya menyukai caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah saya menjadi sedikit “frustrasi” ketika terasa oleh saya bahwa Goenawan Mohamad mulai menjadi jurkam, dalam pengertian yang nyaris harfiah, pada hari-hari menjelang pemilu 2009 lalu. Ia seperti orang yang sangat cemas kepada musim dan meminta dukungan kepada orang ramai untuk memilih musim yang satu ketimbang musim yang lain. Tentang hal ini, kami pernah bercakap dari siang hingga besok siangnya lagi melalui SMS. Saya yang memulai pembicaraan. Itu saya lakukan karena sebetulnya saya tidak rela. Saya merasa ia tidak lagi memberikan ruang kosong yang bisa saya isi sendiri dengan pengetahuan eksperiensial saya. Ia membuat seruan-seruan yang memenuhi ruangan yang sudah sesak. Secara publik ia menjelaskan pilihannya, secara pribadi ia juga menyampaikan hal yang sama kepada saya. Tetapi rasa-rasanya saya tetap tidak bisa terima.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Tulisan ini dimuat di buku &lt;i&gt;Goenawan Mohamad, Enak Dibaca dan Perlu&lt;/i&gt;, sebuah kumpulan tulisan dari 31 teman, dicetak terbatas sebagai kado ulang tahun ke-70 bagi GM. Diterbitkan oleh R&amp;W Publishing, Jakarta, 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-5274506645237703489?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/BaeHUhGtfmE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/BaeHUhGtfmE/setelah-trauma-tak-ada-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/09/setelah-trauma-tak-ada-lagi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-8305825008897824933</guid><pubDate>Mon, 22 Aug 2011 09:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-22T16:48:38.990+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Mari Meniru SBY</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu 21 Agustus 2011&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Sebagai bapak bagi anak-anak dan suami bagi istri saya, sebenarnya saya membuat rancangan yang baik untuk keluarga. Saya merancang berpiknik sebulan sekali bersama mereka. Kalau tidak berhasil, saya tidur. Minimal itu baik bagi saya sendiri. Dengan demikian saya tetap bisa berpiknik kendati tubuh saya hanya bercokol di rumah. Tidur adalah saat ketika anda kembali ke dunia anda sendiri, ke mimpi anda, ke apa yang sangat pribadi. Anda boleh memiliki mimpi yang sangat bagus, dan pertahankan itu, sekalipun saat ini anda tidur dikelilingi sampah atau spanduk.&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Anda memerlukan tidur yang berkualitas, sebagai persiapan sempurna untuk menghadapi apa yang mungkin ruwet saat anda terjaga. Ini saya tekankan karena kawan sendiri pun kadang bisa menyiksa. Saya baru mengalaminya beberapa hari lalu ketika saya bangun tidur dan teman saya sudah menunggu di teras rumah. Begitu saya keluar ia sudah mengajak bicara tentang surat Nazaruddin kepada SBY, yang katanya belum diterima oleh Pak Presiden tetapi sudah bisa dibaca oleh orang banyak sebagai surat terbuka.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ia bertanya apa artinya surat tersebut. Sialan, itu bukan pertanyaan yang saya harapkan ketika bangun tidur. Saya kira itu bukan surat sungguh-sungguh. Maksud saya, pesan sebenarnya mungkin bukan pada apa yang tertulis di sana. Nazaruddin pasti tahu persis jika ia menghendaki istri dan anak-anaknya tidak diganggu, ia tidak akan memohon kepada Presiden dengan cara seperti itu. Ia akan melakukannya diam-diam--atau mungkin sudah?
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jadi, menurut saya, ia ingin menyampaikan sesuatu yang lain, sebuah pesan tersirat, dengan surat tersebut. Tetapi anda akan capek sendiri memikirkan apa pesan tersirat dari surat itu.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Surat itu dibuka dengan kalimat “Saya mohon kepada Bapak agar segera memberikan hukuman penjara kepada saya tanpa perlu lagi mengikuti proses persidangan untuk membela hak-hak saya.” Apakah itu sebuah permohonan? Tidak. Itu sebuah pemberitahuan oleh mantan bendahara Partai Demokrat kepada khalayak bahwa semua ini berada di dalam kendali SBY. Apa yang tampak sebagai proses hukum tidak lain adalah permainan kekuasaan belaka.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jadi, meski dalam berbagai kasus SBY sering mengatakan tidak akan mencampuri proses hukum, tetapi Nazaruddin sepertinya sengaja mengabaikan ucapan Presiden. Implikasi dari surat terbuka itu jelas: negara ini adalah negara kekuasaan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Anda tidak perlu berpikir bahwa semua yang muncul dari Nazaruddin bisa dipercaya. Tidak semua yang keluar dari mulutnya adalah emas bagi penegakan hukum. Maka ketika ia bungkam, dan tiba-tiba lupa, biarkan saja. Tidak perlu anda berpikir bahwa ia sengaja menyembunyikan emas dengan kebungkamannya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Selanjutnya, pemberitahuan dalam surat dua paragraf itu diperkuat dengan penutup, “Saya juga berjanji, saya tidak akan menceritakan apa pun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK demi kelangsungan bangsa ini.”
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Apakah itu sebuah upaya tawar-menawar dengan kekuasaan? Tidak sama sekali. Tawar-menawar dengan kekuasaan selalu dilakukan di ruangan tertutup. Dan poin yang dijadikan tawar-menawar oleh Nazaruddin sama sekali tidak penting bagi SBY. Pak Presiden mungkin sudah tidak membutuhkan partai tersebut—ia sebentar lagi turun dan tidak mungkin bertarung lagi pada pemilihan presiden berikutnya. Rusak tidak apa-apa. Saya kira jika ia menginginkan istri atau anak-anaknya maju sebagai kandidat, ia bisa membikin partai baru lagi, sebagaimaa dulu Demokrat dibikin sebagai kendaraan untuk menopang dia naik.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dan rasa-rasanya ia juga tidak terlalu peduli apakah KPK akan rusak citranya atau apa pun yang terjadi dengan lembaga tersebut. Lembaga ini pernah menjatuhkan vonis kepada besannya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jadi tidak usah berharap Nazaruddin buka mulut. Kalaupun ia bungkam atau lupa, sepak terjangnya dalam proyek-proyek APBN sudah menunjukkan kepada kita bahwa Partai Demokrat rusak dengan sendirinya. Tetapi apakah berguna untuk mengetahui kerusakan Partai Demokrat? Tidak. Pengalaman kita menunjukkan bahwa pilihan orang banyak seringkali sangat pragmatis: mereka mendukung partai apa pun yang berkuasa. Di masa Orde Baru, Golkar selalu menang pemilu. Tidak penting bahwa ia selalu menang dengan cara-cara yang intimidatif, yang terpenting adalah memenangi pemilu.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Aduh, jengkel sekali saya harus berpikir tentang surat Nazaruddin. Saya sebetulnya hanya ingin menikmati sedikit kebebasan dengan tidur panjang di hari peringatan kemerdekaan. Sudah dua kali lagu SBY dinyanyikan di dalam upacara kenegaraan. Mungkin tahun depan masih akan dinyanyikan lagi. Saya kira jika Ibas atau Agus Harymurti bisa menciptakan lagu, lagu mereka bisa juga dinyanyikan bersama-sama dengan lagu-lagu si bapak. Atau jika Ibu Negara berniat melakukan peragaan menyulam, kegiatan tersebut bisa juga disisipkan di dalam rangkaian upacara.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Becermin dari apa yang berlangsung tahun lalu, semula saya menduga bahwa upacara kenegaraan 17 Agustus di istana negara hanya bisa digunakan sebagai acara peluncuran bagi produk-produk keluarga SBY. Ternyata tidak. Tahun lalu memang begitu. Pada acara tersebut dibagikan buku-buku tentang aktivitas keluarga SBY, seperti aktivitas Ibu Negara Kristiani Herrawati Yudhoyono dan buku berjudul Sekarang Kita Makin Percaya Diri oleh putra sulung SBY.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Pada acara yang sekarang, ternyata orang luar boleh ikut meluncurkan produknya. Denny Indrayana meluncurkan bukunya Indonesia Optimis di acara itu. Ada juga koran dan tabloid dibagikan di sana. Kenapa Denny bisa? Apa haknya membuat pernyataan di acara kemerdekaan?
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Oh, saya kira pertanyaannya jangan begitu. Jika anda sedikit optimistis, anda akan berpikir bahwa jika Denny Indrayana bisa, maka Mbah Samid juga bisa. Jika Mbah Samid bisa, anda pasti bisa. Jadi mulai sekarang, pikirkan produk apa yang bisa anda luncurkan pada upacara kenegaraan 17 Agustus di istana negara. Belajarlah pada SBY. Ia melakukan hal terbaik untuk diri sendiri dan keluarganya. Dan apa pekerjaannya? Ia presiden. Ia kepala rumah tangga yang pekerjaannya adalah presiden. Ia bisa memberi bintang jasa pada istrinya. Jika anda mau, anda bisa memberikan bintang jasa pada ponakan anda.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-8305825008897824933?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/NCjOe_kAZRc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/NCjOe_kAZRc/mari-meniru-sby.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/08/mari-meniru-sby.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-8097423336360415336</guid><pubDate>Mon, 15 Aug 2011 04:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-16T03:23:11.661+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Surat Senin Pagi</category><title>Obsesi dan Deadline, Dua Perangkat Ampuh</title><description>Teman-teman, 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ada satu makanan ajaib dari Semarang bernama wingko babat. Makanan ini, menurut keterangan yang bisa anda baca di kertas pembungkusnya, jelas-jelas tidak pernah secara sengaja dibikin oleh pembikinnya. Ia selalu “&lt;i&gt;terbikin oleh Ny....&lt;/i&gt;” Jadi, saya kira, ketika si nyonya sedang ngobrol-ngobrol, wingko babat itu jadi sendiri. Ketika si nyonya sedang membikin lontong opor, wingko babat itu jadi juga dengan sendirinya. Saya kira wingko babat itu bahkan jadi dengan sendirinya ketika si nyonya sedang mendengkur. &lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Tapi buku anda bukan wingko babat Semarang. Ia tidak jadi dengan sendirinya ketika anda nongkrong di gardu ronda, atau main gitar di teras rumah, atau muncul begitu saja saat anda sedang bikin pecel.  Saya harus sampaikan ini, terutama kepada mereka yang memiliki keinginan menulis buku, atau setidaknya pernah memiliki keinginan seperti itu, namun tidak pernah benar-benar menuliskannya. 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Sekarang saya akan menyampaikan dua perangkat penting yang perlu anda miliki agar anda bisa menyelesaikan buku anda dalam waktu cepat, perhatikan sungguh-sungguh. Ya, anda harus memperhatikan nasihat ini sungguh-sungguh dan kemudian menjalankannya. Sebenarnya sudah banyak saya membikin tulisan di blog ini tentang bagaimana menulis. Jika anda tidak pernah menjalankan apa yang saya sampaikan, anda hanya akan menjadi penikmat tulisan-tulisan saya, yang setia menunggu-nunggu tulisan berikutnya, tanpa pernah menyelesaikan buku anda sendiri.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jadi, inilah dua perangkat yang anda perlukan untuk menyelesaikan penulisan buku: obsesi dan deadline. Jika anda menggunakan keduanya, hampir bisa dipastikan anda akan berhasil menyelesaikan penulisan buku anda.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Mari kita mulai dengan obsesi. Ini tidak ada hubungannya dengan gairah yang tiba-tiba muncul dan menguasai diri anda. Juga tidak ada hubungannya dengan mitos tentang inspirasi.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Obsesi bisa dimulai dari sebuah lintasan di benak, misalnya tiba-tiba terpikir oleh anda untuk menulis buku dengan topik tertentu. Atau tiba-tiba muncul selintas di benak anda sebuah ide cerita. Baiklah, apakah itu fiksi atau non-fiksi, anda memiliki gagasan selintas tentang buku itu beberapa bulan lalu.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dan kemudian momen itu hilang.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Anda menjalani kehidupan normal-normal saja. Waktunya makan, anda makan. Waktunya bayar listrik, anda bayar, kalau tidak saluran listrik anda diputus dan anda harus ganti dengan lampu minyak. Itu merepotkan. Langit-langit rumah dan lubang hidung anda akan jadi hitam oleh jelaga.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Beberapa minggu setelah itu, pikiran tentang menulis buku datang lagi dan kali ini bertahan selama satu menit atau lebih. Sebulan setelah itu, anda melamunkan penulisan buku tersebut dalam waktu lebih lama, yakni 20 menit. 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya, ia benar-benar menguasai benak anda. Hanya buku itu yang terus-menerus ada dalam benak anda. Entah bagaimana bisa begitu, yang jelas gagasan tentang buku itu terus-menerus menguasai anda. Sekarang bahkan sampai menjelang tidur pun anda tetap teringat tentang buku itu. Ia bahkan mulai memasuki mimpi-mimpi anda. Inilah yang saya sebut sebagai obsesi.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Hasil dari proses semacam ini sering ajaib. Suatu hari, untuk meladeni pikiran yang terus-menerus diganggu urusan tentang menulis buku, anda memutuskan duduk di depan mesin tulis anda, dan menulis, terus menulis, setiap hari anda menulis. Dan anda tidak bisa berhenti menulis sampai buku anda rampung. Anda tahu, orang-orang yang terobsesi seringkali berhasil mewujudkan apa yang menjadi obsesi mereka, dengan cara yang bahkan tidak mereka pikirkan sebelumnya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana anda bisa memiliki obsesi yang dibutuhkan untuk merampungkan sebuah buku? Itu sungguh tidak sulit. Setelah anda selesai membaca "Surat Senin Pagi" ini, cukup anda pikirkan buku apa yang anda ingin tulis. Cukuplah bagi anda duduk beberapa detik dan memikirkan buku yang anda ingin tulis. Besoknya, ingatkan diri anda untuk melakukan hal yang sama. Pikirkan saja buku yang anda ingin tulis. Begitu pula hari setelahnya, dan setelahnya lagi. 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Pada tiap kesempatan, pikirkan buku itu dalam jangka waktu lebih lama. Dalam beberapa hari saja, benak anda akan dipenuhi oleh gagasan tentang buku tersebut, dan ia akan mengikuti anda ke mana-mana. Lihatlah, ia juga bahkan mulai menyusupi mimpi anda. Pada saat itu, apa-apa yang berkaitan dengan buku tersebut seperti datang sendiri ke dalam benak anda. 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jadi jangan menulis. Pikirkan saja tentang buku yang anda ingin tulis. Kemudian biarkan pikiran anda berkembang. Biarkan lintasan pikiran itu berubah dengan sendirinya menjadi minat, minat menjadi gairah, dan gairah menjadi obsesi.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Saya kira seminggu adalah waktu yang cukup untuk membuat diri anda dipenuhi pikiran tentang buku tersebut. Dan seminggu untuk membangun obsesi merupakan langkah awal yang baik.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Selanjutnya, mari kita bicara &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;. Saya akan terus cerewet soal &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; ini. Tanpa &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;, tidak ada yang akan memaksa anda menyelesaikan apa pun. Kecuali anda punya atasan yang akan menghukum anda jika anda tidak menyelesaikan penulisan buku. Dan mengenai &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;, semakin pendek waktunya semakin bagus. 
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Saya hapal dengan cara kerja kebanyakan orang. Mereka biasa mengerjakan apa-apa pada hari(-hari) akhir. Saya termasuk di dalam golongan kebanyakan orang itu. Dan kemungkinan besar anda juga salah satu di antara mereka. Artinya, sepanjang apa pun anda memberikan batas waktu, anda tetap akan bekerja pada hari(-hari) terakhir. Maka, beri &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; pendek saja. Tanpa ada &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;, sekali lagi, buku apa pun yang anda ingin tulis tidak akan pernah rampung hingga kiamat.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Berapa bulan dari sekarang anda akan merampungkan buku anda? Atau berapa minggu? Atau berapa hari? Saya tidak peduli. Atau apakah anda akan menyelesaikan satu bab dalam tiga hari? Atau satu bab sehari? Saya juga tidak peduli. Anda sendiri yang memutuskan. Anda yang tahu persis apa yang akan anda tulis.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Saya katakan tidak peduli tentang berapa bulan, berapa minggu, atau berapa hari, karena saya akan lebih rinci lagi tentang &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; ini. Kepada murid-murid saya, saya selalu mengatakan, “Tulis 200 kata dalam 5 menit.” Bekerjalah dengan kecepatan 200 kata dalam 5 menit. Itu akan membuat anda menulis 3.000 kata dalam 75 menit. Dengan demikian, setiap hari akan ada kemajuan yang berarti dalam penulisan buku anda. Sebab anda bisa bekerja cepat. Mungkin anda masih ingat apa yang saya sampaikan dalam latihan menulis dengan “keajaiban tiga kata”. Dalam latihan dengan tiga kata itu, saya hanya meminta anda menulis sebanyak mungkin dalam jangka waktu lima menit dengan tiga kata pemancing. Itulah sebenarnya basis untuk menulis cepat.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jadi, jika anda mengeluhkan tak punya waktu untuk menulis, anda punya waktu 5 menit yang bisa anda manfaatkan untuk memproduksi 200 kata. Urusan anda menjadi lebih gampang di sini. Berapa kali 5 menit anda miliki dalam sehari? Bekerjalah dalam kecepatan 200 kata tiap 5 menit. Itu akan membuat anda menulis semakin mudah.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Salam saya,
&lt;br /&gt;A.S. Laksana
&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.menulisbuku21hari.com" target="blank"&gt;www.menulisbuku21hari.com&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;N.B. Jika anda benar-benar memperhatikan apa yang saya tulis, maka mulailah sekarang juga. Buatlah diri anda terobsesi dan berlakukan &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;. Atau anda akan menunggu surat berikutnya?
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-8097423336360415336?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/tsVLTZOiL_A" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/tsVLTZOiL_A/obsesi-dan-deadline-dua-perangkat-ampuh.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/08/obsesi-dan-deadline-dua-perangkat-ampuh.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-102232352542276519</guid><pubDate>Fri, 05 Aug 2011 09:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-05T22:18:42.711+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">catatan</category><title>Keajaiban Negara Kelima ES Ito</title><description>Setelah berkali-kali ditanya teman apa pendapat saya tentang novel &lt;i&gt;Negara Kelima&lt;/i&gt; karya ES Ito, saya akhirnya membaca novel itu. Bab pertama begitu ajaib. Komisaris Besar Polisi Riantono datang ke sebuah hotel atas permintaan Komisaris Melvin, anak buahnya di kesatuan. Begitu ia tiba di hotel, mulailah saya disodori kejadian-kejadian yang ajaib.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riantono dibawa oleh manajer hotel ke kamar 210 di mana Melvin sudah menunggu sang komandan untuk menyampaikan sesuatu. Melvin menerima kedatangan komandannya masih dengan piyama dan perempuan yang bersamanya di kamar hotel itu juga mengenakan piyama. “&lt;i&gt;Wajahnya ketakutan. Dua tangannya merapat ke dada sambil memegangi bagian-bagian dari kain bajunya yang tidak menempel ke tubuh.&lt;/i&gt;” (hal. 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, Melvin memang rupanya ingin menyambut kedatangan komandannya dalam keadaan seperti itu. Tentu saja ia punya waktu untuk berpakaian rapi setelah meminta komandannya datang. Dan komandannya bukan jin yang akan langsung nongol begitu saja ketika Melvin menggosok akik. Jadi Melvin sengaja. Perempuan yang bersamanya di dalam kamar juga memang sengaja berpose begitu: menampilkan paras ketakutan sambil kedua tangannya merapat di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar itu juga ada mayat seorang perempuan muda yang ternyata adalah Lidya, putri sulung Riantono. Oke, ada keajaiban yang lebih besar: bagaimana mayat gadis itu bisa ada di kamar? Anda tidak usah jadi detektif untuk mengajukan pertanyaan, “Kenapa mayat Lidya ada di kamar di mana Melvin dan perempuan yang dikencaninya sama-sama berpakaian piyama?” Hal yang mengusik benak pembaca ini saya pikir juga mestinya menarik perhatian bagi Kombes Riantono. Tapi rupanya si Kombes hanya menanyakan sambil lalu dan tidak terlalu tertarik pada fakta itu. Ia lebih tertarik pada gambar piramid yang diguratkan pada tubuh putrinya oleh si pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pembukaan novel ini sungguh ajaib dan terus berkembang semakin ajaib—dengan dialog-dialog yang juga ajaib:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Lidya!” Riantono terpekik melihat putri sulungnya meringkuk kaku.&lt;br /&gt;“Lidya, ini papa….”&lt;br /&gt;“Maaf, Komandan. Lidya sudah tiada….”&lt;br /&gt;(hal. 11)&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya menemukannya sudah dalam keadaan tewas. Tampaknya dicekik dengan menggunakan tali, kabel, atau benda-benda semacam,” seru Melvin dengan nada lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan yang agak kabur itu sampai juga di telinga Riantono. Ia bersimpuh di depan mayat putrinya. Mendekap tubuh yang perlahan mulai dingin. Ia meraung tertahan. Tiba-tiba ia merasakan kehidupan yang tidak lebih dari lintasan waktu yang tidak berharga. Setelah resmi cerai dengan istrinya, Lidya ikut dengannya tinggal di Jakarta. Sementara istrinya pindah ke Surabaya bersama dua orang anak laki-laki mereka. Semenjak itu tak ada komunikasi sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komandan, sudahlah…”&lt;br /&gt;Melvin menepuk-nepuk bahu komandannya. Perlahan Riantono melepaskan dekapannya pada Lidya. Matanya merah, pandangannya keruh, tatapannya nanar mencari ruang harap.&lt;br /&gt;(hal. 12)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencari ruang harap inilah segala sesuatu dalam bagian pembukaan ini semakin remuk dalam berbagai hal. Baiklah, mari kita bicarakan sedikit apa yang remuk di sini. Melvin saya kira bukan manusia. Demikian pula Riantono. Karena itu, dengan fakta bahwa Lidya ditemukan mati dengan leher dijerat kabel, keduanya masih bisa bercakap-cakap lancar.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”&lt;br /&gt;“Seseorang telah membunuh putri anda, Komandan.”&lt;br /&gt;“Siapa bajingan pelakunya?”&lt;br /&gt;“Belum tahu.”&lt;br /&gt;“Bagaimana kautemukan mayat ini?”&lt;br /&gt;“Aku hanya sebentar masuk kamar, Dan…. Naluriku tepat dan aku menemukan Lidya sudah tidak bernyawa, Dan.”&lt;br /&gt;(hal. 12)&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Ya, Tuhan! Bukankah dia menyambut komandannya dengan mengenakan piyama? Dan ada perempuan bersamanya yang juga mengenakan piyama. Dan ketika dia ngomong itu, bukankah ia masih mengenakan piyama? Tetapi semua itu tidak ada masalah karena komandannya percaya begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya curiga bahwa novel ini pasti menyimpan hal-hal yang menakjubkan di halaman-halaman 317, atau 419, atau di halaman 274. Tanpa itu, tidak mungkin ia laku keras di pasaran. Tetapi, setelah saya merambat tertatih-tatih dalam 4 bab awal, saya putuskan membuat lompatan jauh ke belakang. Dari halaman 39, saya langsung melompat ke halaman akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya benar, Melvin itulah yang membunuh Lidya dan ia ditembak oleh Riantono di halaman 517. Dan dengan cara membaca seperti itu tentu saja saya tidak berhasil menemukan rahasia guratan piramida di tubuh Lidya. Tapi tidak apa-apa jika saya tidak tahu apa rahasianya. Empat bab pertama yang kocar-kacir pada novel ini membuat saya tidak menyesal ketika tidak menemukan hal-hal menakjubkan yang tersembunyi di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-102232352542276519?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/WdiPKSskuoM" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/WdiPKSskuoM/keajaiban-negara-kelima-es-ito.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/08/keajaiban-negara-kelima-es-ito.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-1447996666894951670</guid><pubDate>Tue, 02 Aug 2011 17:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-03T02:22:25.718+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Surat Senin Pagi</category><title>Lima Alasan Kenapa Anda Perlu Memiliki Strategi Menulis Cepat</title><description>Teman-teman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu topik tentang penulisan yang selalu menarik dibicarakan. Topik itu diwakili oleh pertanyaan, “Bagaimana rahasianya menulis bagus?” Itu pertanyaan yang selalu susah saya jawab. Sama susahnya bagi dokter ahli untuk menjawab pertanyaan yang saya ajukan, “Bagaimana rahasianya membedah dengan baik?” Serupa juga dengan pertanyaan yang saya ajukan kepada Lionel Messi, “Bagaimana bermain bola dengan baik?”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tak ada jawaban untuk itu. Di ruangan ini saya sudah banyak membuat tulisan tentang “menulis kreatif” dan cukup banyak rupanya. Seorang teman saya, Arul Chandrana, baru saja mengumpulkan tulisan-tulisan yang saya tampilkan di blog ini dengan label creative writing. Hasilnya adalah sebuah ebook yang ia bagikan gratis kepada siapa pun yang berminat atas buku tersebut. Saya senang pada apa yang telah dilakukan oleh Arul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja saya masih akan terus menulis tentang creative writing, itu topik yang saya sukai. Dan Arul mengatakan bahwa nanti ia akan membuat edisi kedua ebook “creative writing” berdasarkan tulisan-tulisan saya selanjutnya. Saya berharap upayanya bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut statistik yang bisa saya lihat, salah satu tulisan di blog ini yang banyak dibaca orang adalah “&lt;a href="http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/cara-cepat-mendapatkan-ide-cerita.html" target="blank"&gt;Cara Cepat Menemukan Ide Cerita&lt;/a&gt;.” Beberapa pembaca menyampaikan terima kasih melalui email atau pesan pribadi di facebook. Dari sana saya tahu bahwa pengunjung blog ini adalah mereka yang berminat menulis dan ingin tahu strategi-strategi yang memudahkan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit catatan, yang membedakan menulis dengan bermain sepakbola dan membedah orang adalah pada sikap masing-masing orang yang terlibat di dalam wilayah-wilayah tersebut. Setiap orang yang punya kaki bisa menendang bola. Kalaupun kakinya pengkor sedikit, ia tetap bisa menendang bola. Namun, para penendang bola tahu bahwa berlatih setiap hari di lapangan kampung saja tidak akan membawa mereka bermain di level kompetisi. Ia mungkin bisa menendang keras, bisa menggiring bola dan mengecoh teman-temannya sesama pemain kampung, tetapi keterampilannya tak cukup untuk membuatnya bertanding di level yang lebih tinggi ketimbang kejuaraan “tarkam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu membedah orang lebih rumit lagi. Anda tak bisa sembarang menggunakan pisau bedah untuk membelek perut orang meskipun anda punya tangan. Dan tidak akan terampil hanya dengan menanyakan, "Bagaimana cara membedah orang dengan baik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengatakan bahwa pada setiap jenis keterampilan, apakah itu membedah orang atau bermain bola atau menambal gigi, selalu ada teknik yang bisa dipelajari. Juga ada pengetahuan yang bisa diajarkan. Tidak setiap pemain bola yang belajar di klub bisa memiliki kepiawaian setingkat Messi. Dengan teknik serupa, yang dipelajari di tempat yang sama, Messi memainkan bola berbeda ketimbang teman-teman berlatihnya. Tetapi mempelajari ilmu bermain bola membuat setiap orang di klub itu punya kesempatan bermain di level kompetisi tertinggi yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis bukan pengetahuan yang unik di antara pengetahuan-pengetahuan lain di muka bumi. Anda bisa menulis setiap hari, bermodal tekad, dan suatu ketika anda mungkin mandek. Pada saat itu, anda akan frustrasi jika perlengkapan anda tidak memadai untuk mengatasi kemandekan. Anda akan menyerah jika sudah bertahun-tahun kecakapan anda tidak pernah bisa meningkat. Teknik, strategi, atau kelengkapan persenjataan anda perlukan untuk mengatasi situasi macet, untuk tahu bagaimana cara bermain secara optimum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi literer yang anda kuasai mungkin tidak akan membuat anda menulis seperti para pemenang nobel sastra (tentu saja anda bisa memiliki kualitas seperti itu jika anda sungguh-sungguh bertekad ke arah sana), tetapi anda memiliki banyak cara untuk menyelamatkan diri dari jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya ingin menyampaikan kenapa anda perlu menjadi orang pertama dalam pengambilan keputusan. Berulang kali saya menyampaikan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut materi “Menulis Buku dalam 21 Hari”, saya hanya mencetak materi tersebut secara terbatas, untuk kepentingan pelatihan dan bagi mereka yang benar-benar ingin tahu apa isi materi tersebut. Saya meyakinkan anda untuk mempercayai sesuatu yang mungkin gila, yakni bahwa materi ini bisa membantu anda menulis dalam waktu beberapa hari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa alasan bagi anda untuk mendapatkan materi itu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Anda berhasrat meningkatkan keterampilan menulis anda di tingkat tertinggi yang bisa anda capai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anda mengetahui strategi utama untuk menulis buku dalam kecepatan yang tidak pernah ada bayangkan. Itu inti materi ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anda bisa memanfaatkannya untuk menulis buku panduan anda sendiri jika anda seorang instruktur penulisan kreatif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Anda bisa mengajarkan kembali apa yang anda dapatkan dari materi itu. Beberapa teman pernah memberi tahu saya bahwa mereka menggunakan buku “creative writing” untuk mengajar penulisan kreatif. Mereka menggunakannya sebagai referensi dan melengkapinya dengan pengetahuan mereka sendiri. Anda sendiri bisa membuat pelatihan menulis, sebab pelatihan yang saya adakan tidak mungkin menjangkau semua tempat dan semua orang yang berminat. Dan materi ini memuat strategi-strategi yang jauh lebih kuat dibandingkan yang saya sampaikan di buku “Creative Writing”.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saya menulis panduan itu seperti saya bercakap-cakap dengan anda. Itu karena ada dorongan untuk bisa mendampingi anda secara pribadi dalam merampungkan penulisan buku anda. Tetapi hasrat seperti itu jelas tidak mungkin karena pelbagai alasan. Karenanya, materi ini saya tulis sedemikian rupa seolah-olah saya ada di samping anda.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman di Kupang membeli materi pada hari pertama saya membuka kesempatan untuk mendapatkan hanya materinya saja. Dia bilang, “Saya ingin memanfaatkannya untuk mengajar penulisan kepada anak-anak di sini, Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu niat yang baik.Dan sekarang ia telah mendapatkan materi yang ia inginkan untuk menjalankan rencana baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.menulisbuku21hari.com" target="blank"&gt;http://www.menulisbuku21hari.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N.B. Anda bisa menambahkan poin anda sendiri untuk kepentingan apa anda menginginkan materi penulisan tersebut, sebab saya sungguh tidak bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-1447996666894951670?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/Okuct2Mcdw4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/Okuct2Mcdw4/lima-alasan-kenapa-anda-perlu-memiliki.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/08/lima-alasan-kenapa-anda-perlu-memiliki.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-8998783018969731896</guid><pubDate>Sun, 31 Jul 2011 05:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-31T12:28:04.748+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">creative writing</category><title>Cara Cepat Mendapatkan Ide Cerita</title><description>Entah anda penulis pemula atau bangkotan, soal ide cerita sepertinya merupakan pertanyaan abadi. Bagaimana mendapatkan ide cerita? Saya akan menunjukkan kepada anda cara yang gampang. Dan anda bisa mendapatkannya secara cepat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda berminat pada fiksi, mungkin pada non-fiksi. Itu berarti saya perlu menyampaikan dua-duanya. Siapa tahu anda juga berminat menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Lakukan saja, saya berharap dalam waktu tak lama anda bisa melaju cepat dan menulis kedua jenis buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita mulai dulu dengan non-fiksi. Pilih topik tentang apa yang sudah anda kuasai atau yang ingin anda kuasai. Jika anda memilih yang pertama, anda bisa menulis lancar karena anda sudah memiliki banyak informasi tentang topik yang anda garap. Jika anda memilih yang kedua, anda bisa melakukan riset dengan penuh gairah untuk mendapatkan informasi yang anda butuhkan untuk merampungkan penulisan buku. Saya katakan “penuh gairah” karena anda melakukan pengumpulan informasi untuk hal yang anda ingin kuasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat anda sudah menemukan topik buku anda, pastikan bahwa topik anda diinginkan banyak orang. Akan sengsara anda jika memilih topik buku yang tidak seorang pun ingin membacanya. Saya akan menunjukkan cara untuk mengetahui apakah topik anda diinginkan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuliskan daftar topik yang sudah anda pikirkan. Lalu tunjukkan kepada teman, kolega, kerabat, dan bahkan mungkin orang-orang yang tidak anda kenal. Tanyakan kepada mereka topik mana yang paling mereka inginkan atau mana yang menjadi pilihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda seorang konsultan, anda bisa menanyakan kepada klien anda. Jika anda pembicara seminar, anda bisa menanyakannya kepada peserta yang menghadiri seminar anda. Mungkin pilihan mereka tidak sesuai dengan apa yang paling anda inginkan. Terima saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunjukkan daftar itu kepada beberapa orang, semakin banyak semakin bagus, anda akan mendapatkan topik paling unggul. Itulah topik yang akan anda kerjakan. Anda bisa menggunakan strategi yang sama untuk menciptakan judul bagi buku anda. Saya punya teman yang pintar menggunakan jaringan pertemanan di fesbuknya untuk mendapatkan topik atau judul buku yang digarapnya. Dan karena ia menggunakan fesbuk secara baik, teman-temannya akan dengan senang hati menyampaikan pendapat mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda pemalu seperti kelomang dan tidak bisa membayangkan cara kerja seperti itu, masih ada satu cara lain yang bisa anda lakukan. Gunakan &lt;i&gt;Google&lt;/i&gt; sebagai alat bantu. Ketikkan daftar topik yang anda miliki sebagai kata kunci pencarian. Lihatlah iklan di sisi kanan laman hasil pencarian. Semakin banyak iklannya semakin populer topik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang untuk fiksi. Saya harap anda sudah tahu genre fiksi apa yang akan anda tulis. Maksud saya, anda bisa menulis novel horor, psikologis, thriller, drama percintaan, fiksi ilmiah, drama rumah tangga, spionase, detektif, petualangan, dll. Jika anda sudah memutuskan akan menulis cerita apa, maka inilah yang anda lakukan untuk mendapatkan plot hebat atau plot &lt;i&gt;best-seller&lt;/i&gt; (jika anda menginginkan plot &lt;i&gt;best-seller&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah ke tukang buku loak. Temukan novel yang diterbitkan antara 5-10 tahun lalu. Pastikan bahwa di sampul buku tersebut ada tulisan “novel best-seller”. Belilah novel tersebut. Harganya sangat murah, karena ia buku bekas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buku yang anda beli itu adalah buku yang sudah ditulis, diedit, dan diterbitkan. Ia diterbitkan karena penerbit menyukai plotnya. Dan ia best-seller. Artinya pasar juga menyukai plotnya. Dan jika anda sudah mendapatkan buku semacam itu, artinya sebuah plot best-seller berada di tangan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang anda lakukan? Baca buku itu. Tulis dalam catatan anda plot novel tersebut selengkap-lengkapnya, namun ringkas saja. Inilah plot yang akan anda gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, santai sajalah, saya tidak meminta anda menulis ulang buku tersebut. Saya hanya bilang, &lt;i&gt;itu plot yang akan anda gunakan&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil plot itu dan buatlah perubahan sebanyak mungkin. Ubah waktunya, ubah tempatya, ubah karakternya, ubah genrenya, ubah suasananya, ubah apa saja yang bisa anda ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu kisah percintaan, ubah menjadi cerita silat. Jika itu cerita petualangan, ubah menjadi drama psikologis. Ubah semua karakter laki-laki menjadi perempuan. Ubah semua karakter perempuan menjadi laki-laki. Jika kejadiannya masa lampau ubah menjadi masa depan. Jika peristiwanya di Kalifornia atau Jakarta, ubah menjadi Ngawi, atau Jonggol, atau Klaten, atau Planet Venus atau kerajaan di bawah laut. Saya pikir anda jelas menangkap maksud saya. Yang anda lakukan ini juga dilakukan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan saja. James Joyce melakukannya dengan &lt;i&gt;Ulysses&lt;/i&gt;, Leo Tolstoy melakukannya dengan cerita &lt;i&gt;Three Hermits&lt;/i&gt;. Dan mereka adalah penulis-penulis yang mendapatkan pengakuan luas di wilayah sastra. Jika mereka boleh melakukannya, anda boleh melakukannya. Cerita petualangan Karl May, jika anda ganti tempat kejadian dan waktunya, anda akan mendapatkan cerita-cerita silat Kho Ping Hoo dengan pendekar pengembara yang sama saktinya dengan Old Shatterhand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia perfilman, para sineas melakukannya. Akira Kurosawa menggarap &lt;i&gt;King Lear&lt;/i&gt; dan memindahkan tempat kejadiannya ke Jepang, maka jadilah film &lt;i&gt;Ran&lt;/i&gt;. Sebaliknya sutradara Hollywood John Sturges menggarap ulang &lt;i&gt;Seven Samurai&lt;/i&gt; Akira Kurosawa dan memindahkan tempat kejadiannya di barat. Jadilah film koboi &lt;i&gt;The Magnificent Seven&lt;/i&gt;. Stephen Spielberg menggunakan Peter Pan dan mencampurkannya dengan masa kecilnya sendiri dan jadilah film &lt;i&gt;ET&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ada banyak plot yang bisa anda temukan dengan mudah, ada cara mudah menemukan topik untuk anda garap. Anda perlu menulis cepat untuk mengerjakan ide cerita yang bertebaran di sekitar anda dan mewujudkannya menjadi buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.menulisbuku21hari.com" target="blank"&gt;Menulis Buku 21 Hari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-8998783018969731896?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/XOjflNGk6cI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/XOjflNGk6cI/cara-cepat-mendapatkan-ide-cerita.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>8</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/cara-cepat-mendapatkan-ide-cerita.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-3055056816359150329</guid><pubDate>Fri, 29 Jul 2011 09:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-29T16:11:17.898+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">creative writing</category><title>Meningkatkan Persistensi dalam Menulis</title><description>Jika anda mendapatkan masalah dalam menulis buku, jika anda hanya bisa menulis sedikit dalam waktu lama, atau lebih buruk lagi, jika anda tidak bisa menulis apa pun dalam waktu beberapa hari berturut-turut, maka kesimpulannya simpel saja: anda kurang persenjataan. Jika persenjataan anda lengkap, dan ada masih mengalami masalah seperti itu, solusinya hanya satu: “&lt;i&gt;Don’t Give Up&lt;/i&gt;”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu judul lagu Peter Gabriel. Saya penggemar vokalis awal kelompok musik Genesis ini. &lt;i&gt;Don’t Give Up&lt;/i&gt; adalah salah satu lagu solonya, yang ia nyanyikan bersama Kate Bush. Jawaban untuk masalah anda adalah apa yang disuarakan oleh Kate Bush dalam lagu tersebut, “&lt;i&gt;Don’t give up, cause you have friends….&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bilang itu satu-satunya  solusi, karena pada akhirnya yang anda perlukan untuk menyelesaikan penulisan buku anda adalah persistensi. Saya telah mengajarkan penulisan kepada banyak orang, dan saya bisa melihat bahwa keberhasilan selalu dimiliki oleh mereka yang persisten, mereka yang tekun dan gigih mewujudkan kehendak mereka untuk menulis buku. Semakin gigih orang, semakin berhasil ia. Semakin tekun orang, semakin berhasil ia. Orang-orang yang gigih selalu ingin tahu apa yang bisa mereka tulis hari ini, apa yang bisa mereka lakukan setiap hari untuk menyelesaikan buku mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelbagai cara sudah saya lakukan untuk memperkuat dorongan orang agar menulis hingga selesai. Salah satu di antaranya, saya biasa meminta mereka menuliskan 10 hal yang menyenangkan ketika buku mereka selesai ditulis. Jawaban terbanyak yang saya dapatkan sejauh ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memiliki karya yang akan terus hidup bahkan setelah penulisnya mati,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahagia melihat nama saya tercetak di sampul depan buku sebagai penulis,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya akan dikenal banyak orang,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi penulis buku akan membuat saya berbeda dari kebanyakan orang,” dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada mereka saya bilang, “Kalian sudah memiliki sepuluh hal yang menyenangkan ketika berhasil merampungkan buku. Ingat-ingat sepuluh hal itu dan kalian akan mendapatkannya dengan ketekunan dan kegigihan yang kalian miliki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh pengalaman saya mengajar, hanya ada satu orang yang berhasil, yakni mereka yang gigih dan tekun. Kadang-kadang saya sedih mengingat mereka yang kelihatan cerdas di kelas, banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan hebat, dan luas wawasan, tetapi mereka tidak menghasilkan apa-apa. Sampai sekarang saya tetap berharap mereka benar-benar menulis, tetapi pada akhirnya tiap orang membuat keputusan untuk dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda tetap ingin menulis, ubah sikap dan cara pandang anda tentang penulisan. Anda memikirkan kesulitannya dan anda akan mendapatkan kesulitan. Anda memikirkan perangkat untuk mengatasi kesulitan dan anda akan mendapatkan perangkat itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buku adalah urusan yang sangat menantang. Ia membutuhkan persistensi. Mungkin ada saat-saat di mana anda ingin berhenti di tengah jalan. Anda tahu, sungguh amat mudah untuk meletakkan pena, atau meninggalkan mesin tulis, atau melempar handuk, atau mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Dan itu yang sering terjadi pada banyak orang yang ingin menulis buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berangkat dengan penuh inspirasi di dalam benak, hasrat yang menggebu, dan komitmen untuk menulis. Tetapi ketika menulis terasa sedikit sulit, ketika ia memerlukan sedikit ikhtiar untuk memeras pikiran, ia menyerah. Maka yang bisa menyelamatkan anda dari situasi itu adalah kegigihan anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara menjadi lebih gigih dalam menulis? Saran saya, mulailah dengan menjadikan diri anda lebih gigih secara umum. Untuk urusan apa pun, baik itu mencuci piring, mengepel lantai, atau mengecat rumah, jangan pernah berhenti sampai urusan itu rampung. Itu tidak ada kaitannya dengan penulisan, tetapi akan menjadikan anda lebih persisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tingkatkan level persistensi anda, di bidang apa pun, dan itu akan mempengaruhi persistensi anda dalam merampungkan penulisan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.menulisbuku21hari.com" target="blank"&gt;Menulis Buku 21 Hari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/sembilan-saran-dan-satu-nb-tentang.html" target="blank"&gt;Sembilan Saran dan Satu NB tentang Menulis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/saatnya-saya-diam-saatnya-mereka-bicara.html"&gt;Saatnya Saya Diam, Saatnya Mereka Bicara&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-3055056816359150329?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/xSbhlOTr9Sk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/xSbhlOTr9Sk/meningkatkan-persistensi-dalam-menulis.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/meningkatkan-persistensi-dalam-menulis.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-4088333983577659825</guid><pubDate>Thu, 28 Jul 2011 10:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-28T18:02:26.476+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kolom</category><title>Setelah Jingle Sari Roti</title><description>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*)Dimuat di Jawa Pos, Senin, 25 Juli 2011&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda tahu bagaimana kasus pemancungan Ruyati diselesaikan? Ibu yang malang itu dipancung sebulan lalu. Empat hari sebelumnya, pada konferensi ILO di Jenewa, Presiden SBY dengan bangga menyebut TKI adalah pahlawan devisa. “Pemerintahan kami sedang mengintensifkan kerjasama ... untuk memastikan keselamatan mereka dan perlindungan,” katanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang baru berlalu sebulan itu mungkin sekarang sudah kita lupakan. Saya sendiri hanya ingat pernyataan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa bahwa pihak pemerintah Saudi Arabia sudah minta maaf atas kelalaian mengeksekusi Ruyati. Dubes Saudi Arabia membantahnya. Menurut Dubes, pemeritahnya tidak pernah meminta maaf karena seluruh proses sudah dijalankan secara benar—termasuk prosesi hukum pancung terhadap Ruyati. Menlu bertahan bahwa yang ia sampaikan adalah faktual. Sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini isu baru telah mendepak kasus tersebut dan membuatnya seolah-olah sudah berlalu bertahun-tahun. Sekarang ganti urusan &lt;i&gt;Sari Roti&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penonton televisi yang jeli berhasil menangkap &lt;i&gt;jingle&lt;/i&gt; Sari Roti pada saat berlangsung wawancara telepon antara Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat yang kini buron, dengan Metro TV. Menyusupnya &lt;i&gt;jingle&lt;/i&gt; ini memberikan kabar gembira tentang keberadaan Nazaruddin. Ia pasti di Indonesia. Itu bukan suara latar yang bisa anda temukan di Singapura, Mali, atau apalagi Skandinavia. Sudah pasti di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kegembiraan saya tidak berumur panjang. Keesokan harinya, Roy Suryo, anggota DPR fraksi Demokrat dan penyandang atribut pakar telematika, membuat analisis yang membabat habis rasa gembira. Menurutnya, &lt;i&gt;jingle&lt;/i&gt; Sari Roti itu hanya ringtone. Setelah itu Nazaruddin muncul lagi dan mengakui bahwa itu memang suara ringtone-nya. Mungkin di saat berikutnya ia akan menggunakan nada dering yang mengeluarkan suara pedagang keliling sate padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kegembiraan dibabat habis dalam waktu singkat, saya kembali pada posisi semula bahwa kasus ini pasti tidak akan pernah diselesaikan. Itu pikiran muram yang didasari oleh keyakinan bahwa semua urusan menjadi ruwet karena tidak ada kehendak yang sungguh-sungguh untuk menyelesaikannya. Yang ada hanya dalih atau kilah untuk menghindari tanggung jawab sembari tetap bertahan pada jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu, tanpa kehendak untuk membuat penyelesaian yang berpihak kepada orang banyak, apa yang tampak sepele dalam cara berpikir kita bisa menjadi kusut tak terhingga. Akhirnya kita harus mengakui bahwa:memang tidak ada cara untuk menyelesaikan masalah besar maupun kecil di negeri ini. Semua masalah sama rumitnya--dan selalu tak ada ujungnya. Apa yang sepele dibuat berbelit-belit oleh mulut-mulut yang asal bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat percaya bahwa jika ada kehendak untuk menyelesaikan kasus Nazaruddin, ia bisa cepat diselesaikan. Namun kasus ini tampaknya sengaja dibikin bertele-tele dan dikaburkan. Nazaruddin sendiri mungkin dibiarkan kabur, atau dikabarkan seolah-olah kabur. Saya kira ini hanya permainan mengulur-ulur waktu, sembari memberi kesempatan kepada Nazar untuk membombardir pihak-pihak yang perlu dijatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bagaimana kasus ini mulai digulirkan. Pada tahap awal, politisi Partai Demokrat menyatakan sudah tahu bahwa ini adalah ulah Mr. A. Orang yang membuat pernyataan yakin betul ia tahu dan kenal siapa Pak Mister tersebut. Pertanyaan sepelenya, kenapa ia tidak dimintai keterangan atau diminta menunjukkan siapa mister yang ia maksud? Mungkin saja ia ngomong ngawur. Jika begitu, nanti akan ketahuan bahwa ia ngomong ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian Achmad Mubarok menyusulinya dengan omongan yang menyebutkan bahwa ia tahu betul siapa yang mengatur Nazaruddin. Kini ia menggunakan sebutan Mister A1. Ia mengaku kenal orang itu dan tahu di mana si Mister tinggal. Mestinya pelacakan juga bisa melibatkan orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, politisi kita adalah orang yang tidak perlu mempertanggungjawaban apa pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan Presiden tampaknya juga tak perlu mempertanggungjawabkan setiap ucapannya. Sampai sekarang tercatat sekurangnya lima kali Presiden SBY mengeluarkan instruksi, kepada petinggi partainya dan kepada kepolisian, untuk membawa pulang Nazaruddin (karena kabarnya ia di Singapura, tetapi saya yakin Presiden tahu di mana si Nazar ini sesungguhnya berada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak ada efek apa pun dari instruksi Presiden itu. Justru Nazaruddin kian leluasa membuat serangan ke Anas Urbaningrum. Lalu, apa maknanya perintah presiden jika tidak pernah dijalankan, bahkan oleh orang-orangnya sendiri? Atau barangkali orang-orang Demokrat menjalankan prinsip presiden boleh menggongong, dan khafilah tetap berpesta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, lupakan saja apa yang dulu sering digembar-gemborkan sebagai pembangunan karakter bangsa. Anda tak akan pernah tahu apakah pernah dilakukan pembangunan karakter semacam itu dan sejauh mana tingkat keberhasilannya. Susah sekali menyebutkan apa karakter bangsa ini. Mungkin tawuran, atau amuk, sebab itu yang tampak mencolok. Atau keajaiban. Di Jakarta, metropolitan yang secara rakus menelan bagian yang sangat besar dari sumberdaya politik, ekonomi, sampai keruwetan, anda akan menjumpai orang-orang tidur berderet-deret di rel kereta api Stasiun Rawabuaya untuk melakukan terapi setrum. Mereka tampak seperti ikan asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ini karakter yang absurd. Pemerintahan yang absurd. Dan tindakan-tindakan yang absurd. Negara ini memiliki kelengkapan institusi yang kurang lebih sama dengan negara-negara lain yang berjalan tertib. Setidaknya, kita punya lembaga apa saja yang diperlukan untuk mengelola negara. Dengan pengorbanan banyak orang untuk hidup terlunta-lunta, mereka mendapatkan gaji dan tunjangan tinggi dan fasilitas istimewa. Tetapi mereka tidak mampu menangani hampir setiap urusan. Saya kira anda tahu kenapa: merekalah sumber perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-4088333983577659825?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/61hD_pn7gR4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/61hD_pn7gR4/setelah-jingle-sari-roti.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/setelah-jingle-sari-roti.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-1114002197619953271</guid><pubDate>Tue, 26 Jul 2011 20:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-31T22:45:02.436+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pelatihan Agustus 2011</category><title>Saatnya Saya Diam, Saatnya Mereka Bicara</title><description>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketika saatnya diam, saya harus diam. Sekarang, biarlah giliran mereka, para peserta pelatihan pertama, yang bicara kepada anda. Mencermati pengalaman orang lain tentu sangat penting bagi anda untuk membuat keputusan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“&lt;i&gt;Menulis Buku dalam 21 Hari&lt;/i&gt; adalah hal paling sableng yang saya temui sepanjang karir saya mengikuti pelatihan menulis. Sableng itu satu tingkat di bawah sinting. Ahahaha :D Gini, selama ini saya sudah banyak membaca buku panduan menulis. Tapi panduan ini beda. Ia memberi saya banyak hal yang tidak saya dapatkan dari buku panduan menulis lain maupun guru menulis lain.&lt;span class="fullpost"&gt; Dengan bahasa yang sederhana, A.S. Laksana mengajari cara menulis novel secara runut, mudah dimengerti, dan sangat tidak serius. &lt;i&gt;Hey, don't get me wrong&lt;/i&gt;. Materi pelatihan ini serius mengajari kalian menulis dalam 21 hari. Hanya saja contoh-contoh yang disodorkan terkesan ‘tidak serius’. Sopir taksi yang punya watak seperti Albert Camus? Akakakak. Sintiiiiinnnggg :D Saya sukaaa contoh-contoh yang diberikan. Sangat detail dan kocaaakkk. Satu hal lagi yang membuat materi pelatihan ini lain dari yang lain. Ia mengajari saya untuk tidak berpikir. &lt;i&gt;You know what, the ability to think is extraordinary, but the ability not to think is super extraordinary. This book is brilliant&lt;/i&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Swistien Kustantyana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;center&gt;***&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;“Materi pelatihan &lt;i&gt;Menulis Buku dalam 21 Hari&lt;/i&gt; ini membekali saya dengan segudang pengetahuan dan kiat yang membuat penulisan buku menjadi mudah dan menggairahkan. Ia menyediakan langkah demi langkah yang membuat saya tahu apa yang harus ditulis setiap hari. Ini elemen kunci yang tidak saya dapatkan dari kebanyakan materi teknik menulis buku yang pernah saya baca selama ini. Yang terunik dan membuat saya sangat antusias, materi penulisan ini telah mendorong saya untuk langsung membuat keputusan merampungkan penulisan buku saya dalam waktu tercepat yang tidak pernah saya bayangkan. Sekarang, setelah mengikuti pelatihan, saya betul-betul tahu bagaimana cara termudah mewujudkan apa yang menjadi impian saya selama belasan tahun: menulis buku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Indriastuti Salim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;praktisi humas, penulis (untuk publikasi di organisasi internasional), dosen Teori Ilmu Komunikasi (di Sekolah Tinggi Bahasa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;***&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;“Mudah dipahami dan bakal banyak bermanfaat bagi penulis. Langkah untuk menulis buku dalam 21 hari masuk akal dan, terutama, bisa dijalankan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dyah Utami&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penulis dan Editor Freelance, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;***&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;"Setelah buku &lt;i&gt;Creative Writing&lt;/i&gt;, A.S. Laksana mengembangkan dan memperluas bahasan strategi menulis di dalam materi &lt;i&gt;Bagaimana Menulis  Buku Dalam 21 Hari&lt;/i&gt;. Bab tentang &lt;i&gt;hypnotic speedwriting&lt;/i&gt; sungguh menohok perhatianku. Di sini &lt;i&gt;hypnotic speedwriting&lt;/i&gt; itu diurai-jelaskan bagi mereka yang telah siap untuk memiliki “mesin penulisan”. … Bahkan aku merasa diriku dioprek habis oleh pelatihan ini dan terlahir kembali sebagai The Six Million Dollar Man."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aang Sukardjasman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Praktisi perfilman dan penulis skenario, Jakarta&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:170%;"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;Pelatihan Bulan Agustus 2011&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, jika anda ingin mendapatkan LOMPATAN FANTANTIS dalam kecakapan menulis anda, yang anda perlukan hanya membuat keputusan lebih cepat ketimbang orang-orang lain di bidang yang sama dengan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pelatihan diadakan pada:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hari/tanggal&lt;/b&gt;: Minggu, 14 Agustus 2011&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Waktu:&lt;/b&gt; 11.00 sd 17.00 WIB (ditutup dengan buka puasa bersama)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tempat:&lt;/b&gt; Gedung Galeri 678, Jalan Kemang Selatan Raya 125 A, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas bagi peserta:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Materi lengkap “&lt;b&gt;Menulis Buku dalam 21 Hari—Metode Hypnotic Speedwriting&lt;/b&gt;”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Creative Writing&lt;/b&gt;: panduan menulis cerpen dan novel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Contoh surat pengiriman naskah yang membuat penerbit susah menolaknya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana Menyelesaikan Cerita Pendek dalam 2 Jam Saja (Contoh kasus tentang gagasan, penyusunan outline, penulisan, editing, sampai naskah jadi dan dimuat di media.)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teknik terbaik membukukan riwayat hidup anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keanggotaan dalam GRUP PENULIS kami&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Biaya pelatihan:&lt;/b&gt; Rp2 juta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara pendaftaran:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Uang muka pendaftaran Rp 200 ribu untuk memastikan keikutsertaan anda (peserta dibatasi hanya 20 orang).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelunasan sisanya bisa anda lakukan pada hari pelatihan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendaftaran ditutup tanggal 12 Agustus 2011&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Pembayaran ke salah satu rekening:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Bank Mandiri&lt;/b&gt; No Rekening 164.000.009.5804 a/n A.S. Laksana&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;BCA&lt;/b&gt; No Rekening 566.006.9714 a/n Eka Sulistyawati&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Konfirmasikan pembayaran anda melalui SMS ke no 0878.83793924&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Contoh konfirmasi: &lt;i&gt;“Saya [Nama anda], telah membayar uang muka untuk pelatihan 17 Juli sebesar 200 ribu via [BCA/Mandiri]. Mohon dicatat keikutsertaan saya.”&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;PENTING!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Anda berhak mendapatkan harga &lt;b&gt;Rp1,5 juta&lt;/b&gt; (DISKON 25%) jika membayar lunas sampai batas waktu tanggal 5 Agustus 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam saya,&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.S. Laksana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.menulisbuku21hari.com/" target="blank"&gt;Menulis Buku 21 Hari&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;email: aslaksana@menulisbuku21hari.com&lt;br /&gt;hp: 0878.83793924&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N.B. Yah, mereka sudah mengambil keputusan lebih awal, sekarang giliran anda menjadi pengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;***&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;STOP PRESS: Demi Keadilan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena pelatihan pertama dan kedua baru diselenggarakan di Jakarta, maka demi keadilan, teman-teman di luar Jabotabek tetap mendapatkan kesempatan untuk memiliki satu bundel besar materi lengkap "Menulis Buku dalam 21 Hari" dan semua bonus yang sama dengan harga &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hanya Rp500 ribu&lt;/span&gt; (hanya 10% dari biaya kursus online atau 25% dari biaya pelatihan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-1114002197619953271?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/Eh2vKKYsDVk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/Eh2vKKYsDVk/saatnya-saya-diam-saatnya-mereka-bicara.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>7</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/saatnya-saya-diam-saatnya-mereka-bicara.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-12281426.post-6418244130385759585</guid><pubDate>Mon, 25 Jul 2011 00:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-25T07:22:00.485+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Surat Senin Pagi</category><title>Sembilan Saran dan Satu N.B. tentang Menulis</title><description>Teman-teman, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sembilan saran yang ingin saya sampaikan dalam surat kali ini. Tidak peduli sudah berapa kali pun saya membuat tulisan tentang teknik menulis, sampai sekarang masih banyak yang mengirimkan email ke saya menanyakan bagaimana caranya menulis bagus. Tentu banyak sekali yang bisa disampaikan tentang menulis. Jika anda menekuni satu topik, anda akan tahu bahwa selalu ada bahan yang tak habis-habisnya untuk dibicarakan dalam cakupan topik itu. Saya sendiri akan terus mencari tahu sebanyak mungkin tentang penulisan dan strategi-strategi yang memudahkan pekerjaan menulis. Namun, untuk menjawab pertanyaan umum tentang bagaimana menulis bagus, saya harap beberapa hal di bawah ini cukup bermanfaat untuk disampaikan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, baca. Bacalah seluas-luasnya dan serakus-rakusnya. Baca buku-buku klasik. Baca buku-buku kontemporer. Baca yang anda sukai. Baca juga gaya penulisan yang tidak anda sukai. Kalaupun minat baca anda payah, saya tetap akan menempatkan urusan membaca ini pada prioritas pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, menulislah setiap hari. Menulis adalah kecakapan yang membutuhkan baik bakat maupun keterampilan. Karena sulit sekali mengetahui apa bakat anda, maka tingkatkan saja keterampilan anda. Anda belajar dengan cara mempraktekkan sesuatu, dengan membuat pelbagai kesalahan, dan kemudian menyadari di mana anda melakukan kekeliruan. Dengan cara demikian, anda akan memperbaiki diri dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, jika anda tertarik mengikuti kursus atau pelatihan menulis, pilih yang anda pikir akan memberikan pengalaman terbaik kepada anda. Kursus atau pelatihan yang baik akan memperkenalkan kepada anda sejumlah strategi penulisan yang bisa anda terapkan dan mungkin tidak pernah anda pikirkan. Banyak orang menawarkan kursus dan pelatihan sekarang ini. Kenali betul siapa pengajarnya. Anda harus memastikan bahwa anda mendapatkan pengajar yang baik. Apa yang mendorong anda mengikuti pelatihan? Turuti! Tak perlu silau pada ijazahnya. Anda tidak memerlukannya; anda hanya memerlukan disiplin dan gairah untuk terus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;, jika anda tidak ingin menjadi penulis profesional, tidak apa-apa menjadi penulis amatir. Anda tahu, akar kata amatir adalah “amare’, mencintai. Mungkin cukup bagi anda menjadi orang yang menulis karena mencintai dunia penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;, dapatkan umpan balik yang konstruktif terhadap hasil karya anda. Terima saran-saran secara serius, dan belajarlah dari sana. Workshop-workshop bisa sangat bermanfaat--tidak hanya bagi calon penulis, tetapi juga bagi para penulis profesional. Tulisan saya menjadi lebih baik karena saran-saran yang saya terima dari lingkungan pertemanan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keenam&lt;/b&gt;, jika tulisan anda layak terbit, cepat atau lambat ia akan diterbitkan. Mungkin. Saya memiliki sejumlah tulisan yang teronggok di folder dan saya pikir ia layak terbit, tetapi ternyata tidak terbit. Tak ada masalah. Anda menulis karena ada sesuatu yang memaksa anda untuk terus menulis--yakni keyakinan bahwa apa yang anda lakukan berguna. Di luar itu, anda sendirilah yang bisa memutuskan apakah keterampilan menulis anda sudah melampai keterampilan anak-anak yang sedang belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketujuh&lt;/b&gt;, temukan sumber informasi yang baik tentang bagaimana meningkatkan keterampilan menulis. Ada banyak buku tentang menulis, ada banyak situs tentang menulis. Perpustakaan mungkin menyediakan juga buku-buku tentang menulis. Cari tahu juga alamat-alamat penerbit dan media massa yang menerima tulisan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedelapan&lt;/b&gt;, jadilah keras kepala dan tebal muka. Rilekslah menghadapi penolakan. Tulisan saya juga sering ditolak. Dan kenapa saya terus menulis? Apakah saya gila? Mungkin saja. Saya hanya tidak mau menyerah soal itu. Saya harap anda begitu. Tak perlu sakit hati atau merasa dibenci oleh penerbit jika tulisan anda ditolak. Kirimkan saja ke penerbit lain. Dan kemudian tulislah cerita yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesembilan&lt;/b&gt;, saya ingin melihat naskah anda diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;A.S. Laksana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;N.B. Jangan mengirimkan naskah kepada saya. Terus terang, saya tidak bisa membacanya. Saya sibuk mencari nafkah--dengan menulis dan juga dengan membuka kursus dan pelatihan menulis. Pekerjaan editing dan memberi saran-saran untuk perbaikan tentu saja saya prioritaskan bagi para peserta kursus dan pelatihan saya. Itu komitmen saya kepada mereka. Di luar itu, saya membatasi diri untuk berbagi saja tentang penulisan. Anda sendiri yang harus melangkah ke sana-kemari. Saya tahu itu melelahkan, terutama jika anda cengeng, tetapi tidak ada cara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12281426-6418244130385759585?l=as-laksana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/blogspot/ok_laks/~4/WCUVytkL_9E" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ok_laks/~3/WCUVytkL_9E/sembilan-saran-dan-satu-nb-tentang.html</link><author>noreply@blogger.com (A.S. Laksana)</author><thr:total>11</thr:total><feedburner:origLink>http://as-laksana.blogspot.com/2011/07/sembilan-saran-dan-satu-nb-tentang.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

