<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355</atom:id><lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 15:45:01 +0000</lastBuildDate><category>Digest</category><category>Catatan Perjalanan</category><category>Perjalanan Dinas</category><category>hanya sebuah pesan</category><title>WindWard</title><description>I do not attempt, O Lord, to penetrate Thy profundity, for I deem my intellect in no way sufficient thereunto, but I desire to understand in some degree Thy truth, which my heart believes and loves. For I do not seek to understand, in order that I may believe ;but I believe, that I may understand. For I believe this too, that unless I believed, I should not understand (St. Anselm of Canterbury).</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (WindWard)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/sOCh" /><feedburner:info uri="blogspot/soch" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>I do not attempt, O Lord, to penetrate Thy profundity, for I deem my intellect in no way sufficient thereunto, but I desire to understand in some degree Thy truth, which my heart believes and loves. For I do not seek to understand, in order that I may bel</itunes:subtitle><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-256187458648470189</guid><pubDate>Fri, 10 Oct 2008 04:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-09T22:15:42.638-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hanya sebuah pesan</category><title>Rekonstruksi Habermas atas Pemahaman Tentang Kebenaran dan Rasionalitas</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SO7kqZ4YXdI/AAAAAAAAAH4/f7r9Ua2YazQ/s1600-h/Thinker+Frog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SO7kqZ4YXdI/AAAAAAAAAH4/f7r9Ua2YazQ/s400/Thinker+Frog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255389232340950482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.3.2. Pembedaan yang Tidak Adequat antara Pengalaman dan Interpretasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua yang laian dari konsep kebenaran yang ditolak dapat dikelompokkan sekitar persoalan bagaimana konsep-konsep kebenaran itu berhubungan dengan pembedaan antara pengalaman dan interpretasi. Pertama, Habermas menolak konsep kebenaran objektivistik. Konsep kebenaran ini berhubungan dengan kebiasaan kita yang melihat bahwa observasi-observasi objektif yang diambil merupakan kebenaran. Habermas menyatakan bahwa kebenaran termasuk dunia pemikiran-pemikiran . Observasi tidak dapat jadi “benar” atau “tidak benar”. Kebenaran ada bukan ketika keraguan menolak secara langsung suatu observasi (untuk keraguan seperti itu, dapat digerakkan kembali oleh observasi yang diulang), tetapi ketika ada keraguan atas pernyataan dalam mana observasi diinterpretasi. Observasi-observasi (atau pengalaman-pengalaman) mengklaim diri memiliki objektivitas, tetapi bahwa objektivitas tidak identik dengan kebenaran suatu pernyataan yang menyertainya. Objektivitas dijamin oleh keberhasilan yang dapat dikontrol pada tindakan-tindakan yang dibangun atas suatu pengalaman. Pengalaman tentang struktur kategorial objek-objek menentukan objektivitas pengalaman kita. Kebenaran, bagaimanapun, tidak dapat menyatakan dirinya sendiri dalam tindakan-tindakan yang dikontrol dengan penuh keberhasilan, tetapi dalam rasio yang berhasil. Selain itu, kekuatan gambaran atas suatu pengalaman atau eksperimen-eksperimen hanya dapat membenarkan klaim kebenaran dari pernyataan proposisional dalam suatu kenyataan. Kita berpegang pada suatu pernyataan sejauh tidak ada pengalaman-pengalaman yang tidak sesuai, tetapi validasi suatu klaim kebenaran hanya mungkin dengan mengerti arti-arti rasio. Suatu pengalaman yang didasarkan atas suatu pengalaman tidak ekuivalen dengan suatu pernyataan-pernyataan yang didasarkan atas argumen-argumen. Saya hanya dapat menganggap suatu predikat yang benar berasal dari suatu objek, jika dan hanya jika setiap manusia yang lain yang akan terlibat dalam suatu debat dengan saya, akan menganggap suatu predikat yang sama berasal dari suatu objek yang sama. Ketika kebenaran suatu deskripsi atau suatu eksplanasi ada atau mungkin, semua yang lain, secara potensial, harus atau ada kemungkinan untuk menyetujuinya. Saya harus meyakinkan mereka, tidak dengan paksaan, bukan dengan menunjuk pada suatu eksperimen, tetapi dengan argumen-argumen. Dengan cara itu, mereka menjadi yakin secara rasional tentang kebenaran &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Habermas menanyakan bagaimanakah kenyataan-kenyataan dihubungkan dengan objek-objek pengalaman kita. Objek-objek pengalaman- benda-benda, peristiwa-peristiwa, manusia, ucapan-ucapan- adalah mengenai di mana kita membuat pernyataan-pernyataan dan dari mana kita menyatakan pernyataan dijustifikasi suatu kenyataan. Objek-objek berhubungan dengan “mengalami”, sedangkan kenyataan-kenyataan berhubungan dengan “dinyatakan”. Saya tidak dapat mengalami kenyataan-kenyataan atau menyatakan objek-objek pengalaman. Ketika saya menyatakan suatu kenyataan, saya dapat percaya atas pengalaman-pengalaman dan hubungan diri saya sendiri dengan objek pengalaman. Objek-objek pengalaman adalah sesuatu dalam dunia, kenyataan-kenyataan tidak. Ibid hlm95).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Konsep kebenaran objektivitas berhubungan juga dengan suatu teori korespondensi. Suatu teori korespondensi tentang kebenaran menyatakan bahwa pernyataan harus sesuai dengan kenyataan.Pernyataan ini hanya mempunyai makna kalau pernyataan-pernyataan merepresentasikan objek pengalaman yang adalah sesuatu yang ada dalam dunia. Suatu teori korespondensi menyangkal dirinya sendiri. Jika kita tidak dapat menganggap arti-arti yang lain dari term tentang “realitas”, maka kita berhubungan dengan pernyataan tentang kenyataan-kenyataan, dan jika kemudian melihat dunia sebagai totalitas fakta, maka korespondensi antara pernyataan-pernyataan dengan realitas pada gilirannya hanya dibatasi oleh pernyataan-pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;    Kenyataan-kenyataan dikemukakan dalam bidang diskursus hanya ketika suatu klaim validitas dihubungkan dengan suatu pernyataan menjadi topik pemikiran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;reasoning)&lt;/span&gt;. Dalam konteks tindakan-tindakan, kita memahami objek-objek pengalaman kita dan dalam konteks tindakan itu suatu pernyataan berfungsi sebagai suatu informasi tentang suatu pengalaman akan objek-objek apakah objektif atau subjektif. Dalam diskursus, suatu pernyataan berfungsi sebagai suatu ‘statement’ dengan suatu klaim validitas yang problematic, apakah benar atau tidak benar. Dalam konteks-konteks tindakan, saya bisa jadi keliru dalam pengalaman saya akan objek-objek. Dalam diskursus, saya benar atau salah berhubungan dengan klaim validitas yang dinyatakan.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;    Fakta-fakta adalah pernyataan-pernyataan proporsional. Pemikiran tentang objek-objek tidak sama dengan pengalaman-pengalaman atau observasi atas objek-objek. Bagaimanapun juga, seseorang mengacu pada pengalaman dalam konteks argumentasi. Tetapi, acuan pada pengalaman yang metodologis, misalnya dalam suatu eksperimen tetap tergantung pada interpretasi-interpretasi, hanya kelihatan jadi valid dalam diskursus. Pengalaman hanya dapat menyokong klaim kebenaran dari suatu pernyataan dalam diskursus. Kita bergantung pada pernyataan sejauh tidak ada pengalaman-pengalaman paksaan. Tetapi, suatu klaim kebenaran hanya dapat divalidasi oleh argumen-argumen. Suatu klim yang didasarkan atas pengalaman adalah dengan tidak mengartikan sebagai suatu klaim yang ditemukan dalam argumen-argumen. Kita mengatakan bahwa informasi dapat dipercaya atau tidak dapat dipercaya. Kita dapat mengukur realibilitas (hal dapat dipercaya) dengan probabilitas keyakinan-keyakinan atau pengharapan-pengharapan ketika hal itu terpenuhi. Tetapi, kebenaran tidak berkarakter informatikal, tetapi suatu pernyataan. Suatu pernyataan itu benar ketika pernyataan itu didasarkan atas pemikiran (reason) yang meyakinkan. Kondisi yang ditemukan adalah persetujuan yang potensial terhadap semua yang lain. Kebenaran suatu proposisi menunjukkan “janji” untuk mencapai consensus rasional.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;    Habermas juga menolak suatu konsep yang subjektivistik. Suatu konsep kebenaran dalam mana kepastian personal terhadap suatu pengalaman langsung dikatakan sebagai kebenaran. Sebagai suatu pengalaman tentang kepastian bisa didasarkan atas pemikiran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sense&lt;/span&gt;), tetapi ketika saya menggunakan pikiran-pikiran saya, perasaan, penciuman, pendengaran, atau penglihatan, persepsi tidak dapat, dalam dirinya sendiri dipandang sebagai suatu validitas.Bagi Habermas, klaim validitas itu hanya ketika saya membuat suatu tentang persepsi-persepsi saya bahwa saya membuat suatu klaim validitas. Saya tidak mengklaim bahwa sensasi memberikan saya kepastian. Karena itu, ada banyak klaim validitas yang tidak disertai oleh persepsi-persepsi saya bahwa saya membuat suatu klaim validitas. Saya tidak mengklaim bahwa sensasi memberikan saya kepastian. Karena itu, ada banyak klaim validitas yang tidak disertai oleh persepsi-persepsi sensoris tentang kepastian. Ketika saya mengetahui sesuatu atau ketika saya yakin tentang sesuatu, kepastian saya tidak harus didasarkan atas persepsi. Pengetahuan yang pasti dan suatu keyakinan yang solid hanya dapat didasarkan atas pemikiran-pemikiran yang dapat saya tawarkan pada counter-argumen yang lemah. Kepastian-kepastian hanya dapat didasarkan atas argumen-argumen, meskipun tentunya pendapat atau keputusan didasarkan atas persepsi-persepsi yang dapat dipakai dalam suatu argumen yang khusus. Pengetahuan hanya dapat didasarkan secara tak langsung atas persepsi-persepsi sensoris.&lt;br /&gt;   Kepastian juga dapat didasarkan atas suatu kepercayaan atau keyakinan. Kepastian kemudian didasarkan atas suatu interaksi dalam mana orang yang dipercayai telah terbukti benar. Suatu kepastian “keyakinan” tergantung atas suatu pengalaman dalam komunikasi. Bagi Habermas, kebenaran hanya dapat dihubungkan dengan rasio, bukan dengan kepercayaan atau keyakinan.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebenaran (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;truth&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;) dan ketepatan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;rightness&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;) tidak perlu didasarkan atas sensoris langsung atau kepercayaan begitu saja. Seseorang mengetahui sesuatu tentang suatu objek pengalaman hanya&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ketikadia menerima klaim kebenaran dari suatu pernyataan. Pengetahuan hanya mungkin ketika keputusan-keputusan (kritisisme atau justifikasi) itu mungkin. Seseorang yakin akan kebenaran sebagai suatu norma hanya ketika dia menerima klaim validitas dari kaidah-kaidah yang relevan.Seseorang percaya orang lain ketika dia melihat ketulusan hati orang tersebut. Ketika saya mengerti, mengetahui, percaya, kemudian saya pastikan, tetapi “kepastian-kepastian” itu berbeda dari kepastian-kepastian yang dilukiskan dengan jelas. Klaim-klaim validitas adalah intersubjektif. Suatu pengalaman konvidensi (kepercayaan) bukan pengalaman yang menetapkan basis kebenaran, kemudian suatu pernyataan bisa jadi benar untuk satu orang. Kepastian tentang sesuatu juga mungkin ada hanya bersifat subjektif. Tentu beberapa subjek telah membagikan kepastian sesuatu yang diobservasi, tetapi kemudian mereka akan harus mengatakannya dan membuat suatu pernyataan. Karena itu, mereka akan membuat suatu klaim tentang validitas, untuk ‘dicek’ secara intersubjektif. Kepastian akan selalu tetap suatu ekspresi subjektif, meskipun hal itu bisa jadi bahwa suatu pengalaman membangkitkan suatu persoalan tentang suatu klaim yang dipaksakan khusus atas validitas.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-256187458648470189?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/10/rekonstruksi-habermas-atas-pemahaman_09.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SO7kqZ4YXdI/AAAAAAAAAH4/f7r9Ua2YazQ/s72-c/Thinker+Frog.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-8307858473311768713</guid><pubDate>Thu, 09 Oct 2008 07:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-09T01:06:51.027-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hanya sebuah pesan</category><title>Rekonstruksi Habermas atas Pemahaman tentang Kebenaran</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SO27X-wBPxI/AAAAAAAAAHw/tgm9WE0oRy8/s1600-h/Frog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SO27X-wBPxI/AAAAAAAAAHw/tgm9WE0oRy8/s400/Frog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255062360867028754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;         &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;1.3 Teori tentang Kebenaran&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;    Sebelum kita sampai pada teori kebenarannya, terlebih dahulu kita menelusuri klaim-klaim validitas kebenaran yang ditolak oleh Habermas.&lt;br /&gt;    1.3.1 Klaim-klaim Validitas yang Tidak Adequat&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    Berkaitan dengan klaim-klaim validitas Habermas dengan gigih menolak konsep kebenaran yang metafisik maupun konsep kebenaran yang positivistic. Konsep kebenaran metafisik berawal dari munculnya pemikiran filosofis dalam masyarakat Yunani yang menimbulkan demitologi pemikiran mitis. Melalui ungkapan-ungkapan filosofis, sang filsuf selalu berusaha mencari dasar segala pengetahuan tentang keapaan realitas. Dan apa yang disebut realitas itu tak lain dari inti kenyataan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tak berubah-ubah.Apa yang dilakukannya adalah dengan cara kembali kepada dirinya yang memandang kosmos tersebut melalui cara ‘kontemplasi’. Di sana diharapkan ditemukan kepastian mendasar atau kesesuaian dirinya dengan tertib alam semesta itu.Kemudian apa yang disebut teori dalam pemikiran filosofis adalah suatu ‘kontemplasi atas kosmos’.Dengan mengartikan teori seperti itu, Filsafat telah menarik batas antara Ada dan Waktu, yaitu antara yang tetap dan yang berubah-ubah. Inilah bibit cara berpikir yang menyebabkan lahirnya ontology dalam sejarah pemikiran manusia&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;(Budi Harddiman,F.Kritik Ideologi.Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan,Yogyakarta,Kanisius,1990,hlm.21).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; Melalui teori, filsuf menyusun konsep-konsep tentang apa-nya realitas dan apa yang disebut hakikat realitas tak lain dari inti kenyataan yang tak berubah-ubah.Dengan berusaha mengangkat pemahamannya ke dalam rumusan-rumusan yang tak berubah-ubah,yaitu pengetahuan yang menangkap idea-idea. Pengetahuan manusia bersifat apriori, sudah melekat pada rasio sendiri. Maka tugas manusia hanyalah mengingat kembali apa-apa yang menjadi apriori di dalam rasionya, yakni idea-idea. Bagi Habermas, pemikiran seperti ini semakin menjadi ‘dimutlakkan’ dalam filsafat kesadaran, yakni dalam filsafat modern maupun ilmu-ilmu sosial yang diturunkannya; di mana telah dirintis oleh Rene Descartes.Dalam filsafat kesadaran, pengetahuan sejati dapat diperoleh dalam rasio sendiri dan bersifat apriori. Pengetahuan apriori semacam itu disebut pengetahuan transcendental karena mengatasi pengetahuan empiris yang bersifat khusus dan berubah-ubah. Pengetahuan manusia dipandang universal dan transhistoris. Filsafat kesadaran ini bersandar pada gagasan tentang subjektivitas dan objectivitas murni. Tugas pokok filsafat di sini adalahmencari fondasi segala pengetahuan (fondasionalisme) dan tugas pokok subjek adalah merepresentasikan kenyataan objektif (representasionalisme). Filsafat kesadaran ini, bagi Habermas, merupakan filsafat yang berpusat pada subjek atau rasio yang berpusat pada subject.Dasar segala pengetahuan diperoleh dengan cara kembali kepada subject yang mengetahui itu sendiri yang dipahami secara psikologis maupun transcendental. Itu berarti bahwa realitas dibayangkan sebagai “realitas luar”. Bagi Habermas,pemikiran seperti ini menyempitkan dan membatasi rasionalitas dlam pernyataan logis atau tidak logis, sfisien atau inefisien. Konsep tentang kebenaran pun akhirnya hanya terbatas pada pernyataan logis-tidak logisnya. Konsep kebenaran semacam itu, bagi Habermas sebagai konsep kebenaran yang metafisik. Konsep kebenaran yang metafisik disebutnya sebagai konsep kebenaran yang ‘kabur’ di mana tiga klaim validitas belum dibedakan secara substansial. Benar, tepat, dan lengkap atau utuh digabungkan atau disamakan begitu saja. Dalam konsep-konsep pokoknya, aspek-aspek ‘ada’, ‘syarat’, dan ‘rasa’ masih merupakan satu keseluruhan. Dorongan-dorongan subjektif manusia terpangkas dan tereduksi ke dalam rasio melalui syarat-syarat yang ditentukan oleh rasio itu sendiri. Demikian ‘ada’ direduksi menjadi ada menurut rasio. Bagi Habermas,rasio yang berpusat pada subyek ini tersimpan dan terpelihara kekuasaan. Tanpa disadari sang pemikir sendiri, pembersihan dari dorongan-dorongan subjektif manusia, tak lain dari pelaksanaan kepentingannya sendiri, yaitu pelaksanaan kepentingan untuk menekan kepentingan demi mencapai pengetahuan murni.&lt;br /&gt;   Sedangkan konsep kebenaran yang posivistik disebutnya sebagai konsep yang lemah. Konsep kebenaran yang positivistic ini sebetulnya sudah muncul dalam pemikiran Aristiteles yang mengutamakan peranan abstraksi. Baginya, pengetahuan sejati adalah hasil pengamatan empiris.Pengetahuan bersifat aposteriori, maka tugas manusia adalah mengamati unsure-unsur yang berubah-ubah dan melakukan abstraksi atas unsure-unsur itu sehingga dari yang particular diperoleh yang universal.Untuk melakukan abstraksi ini pun, manusia harus membersihkan diri dari unsure-unsur yang berubah-ubah. Pemikiran seperti ini menampakkan diri kembali dalam filsafat modern yang beraliran empirisme. Penganut-penganut aliran empirisme, seperti Hobbe, Locke, Barkeley, dan Hume, beranggapan bahwa pengetahuan sejati dapat diperoleh hanya lewat pengamatan empiris dan karenanya bersifat aposteriori. Pengetahuan semacam ini disebut pengetahuan empiris karena mendasarkan diri pada pengalaman. Bagi Habermas, pemikiran empiris analitis ini tidak bisa melepaskan diri ontology karena nampak dalam keyakinan bahwa teori murni diperoleh dengan jalan membersihkan pengetahuan dari dorongan-dorongan dan kepentingan-kepentingan manusia. Dari arus filsafat inilah positivisme yang dirintis oleh August Comte itu lahir. Positivisme menganggap pengetahuan mengenai fakta objektif sebagai pengetahuan yang sahih, yakni pengetahuan yang berdasarkan fakta objektif. Maka, ini pun tak lepas dari ontologi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Konsep kebenaran positivistic ini tidak mengakui “relasi-kebenaran” (truth-relationship), atau relasi antara rasionalitas normative (etis) dan persoalan-persoalan ekspresif. Konsep kebenaran ini hanya bisa ditetapkan dalam diskursus teoretis, dalam mana hanya mengedepankan debat rasional, argumen-argumen. Konsep positivistis ini sama sekali membatasi jarak rasionalitas. Positivisme menyempitkan dan membatasi wilayah rasional dengan mereduksinya pada deskripsi-deskripsi dan eksplanasi-eksplanasi &lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;(Ibid, hlm.91)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt; Akibatnya, pengetahuan yang yang dihasilkan tidak dapat diterapkan pada masalah-masalah yang disebabkan oleh suatu tindakan komunikatif yang terdistorsi. Pola-pola yang ditampilkan secara secara empiris hanya dapat dipakai untuk membuat ramalan-ramalan, melukiskan kondisi-kondisi, karena pola-pola tersebut hanya bisa ditransformasikan ke dalam rekomendasi teknis sehingga mengarah kepada makna-makna rasional-tujuan. Ketika ilmu pengetahuan sosial menganut sikap positivistis ini, ilmu pengetahuan sosial itu akan mengandung tiga pengandaian yang saling berkaitan (&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Budi Hardiman,F., Op.Cit, hlm.24)&lt;/span&gt;.Pertama, bahwa prosedure-prosedur metodologis dari ilmu-ilmu alam dapat berlangsung diterapkan pada ilmu-ilmu sosial itu. Gejala-gejala subjektivitas manusia, kepentingan maupun kehendak manusiawi, tidak mengganggu objeck pengamatan, yaitu tingkah laku sosial manusia. Dengan cara ini, objeck pengamatan disejajarkan dengan dunia alamiah. Kedua, hasil-hasil penelitian itu dapat dirumuskan dalam bentuk-bentuk ‘hukum-hukum’, seperti dalam ilmu-ilmu alam. Ketiga, ilmu-ilmu sosial itu harus bersifat teknis, yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instrumental murni. Pengetahuan itu harus dapat dipakai untuk keperluan apa saja sehingga tidak bersifat etis dan juga tidak terkait pada dimensi politis manusia. Ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu alam bersifat netral, bebas, dari nilai. Bagi Habermas, hal tersebut membawa konsekuensi bahwa ilmu sosial akhirnya menjadi ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mengontrol masyarakat secara rasional, seperti alam. Seperti suatu “Teknologi Sosial”, ilmu pengetahuan sosial itu tidak dapat diharapkan untuk pembaharuan terhadap suatu consensus sosial yang terdistorsi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Menurut penganut positivisme, kita hanya dapat bertindak secara rasional ketika kita menata masyarakat kita atau instusi-institusi sosial kita dengan berdasar pada rekomendasi teknis. Lebih lanjut, Habermas mengatakan bahwa manusia akan kehilangan kemungkinan untuk mencerahkan dirinya. Mereka akan kehilangan identitasnya, baik kolektif maupun individual. Masalah-masalah sosial tidak dapat dipecahkan dalam suatu cara teknis. Persoalan-persoalan yang berhubungan dengan identitas tidak dapat dijawab atau dicerahkan dengan pendekatan empiris saja. Identitas menunjukkan suatu proses, di mana identitas berkembang, mengalami kekacauan, ‘runtuh’, dan bangkit kembali. Proses itu tidak irasional. Komponen-komponen identitas yang normative (evaluatif) dan ekspresif merupakan “batas-kebenaran” dalam pengertian bahwa klaim-klaim validitasnya dapat dipertanggung-jawabkan dengan pemikiran atau rasio.&lt;br /&gt;   Ketiga, konsep kebenaran yang tidak diakui oleh Habermas, yakni konsep postmodernis. Konsep kebenaran yang didasarkan atas suatu paduan yang tidak adequate terhadap dua klaim validitas. Kebenaran (truth) yang dipadukan ke dalam kepenuh-kebenaran (truthfulness). Kebenaran (truth) dipahami sebagai ‘event’, di mana kebenaran menyingkapkan dirinya sendiri kepada subyek yang ‘attentive’ (penuh perhatian). Subyek yang penuh perhatian itu diubah oleh tanggapan kepada suatu “truth-event” yang “menarik” dan “mempesona”.Ketika suatu “event” dialami sebagai suatu revelasi kebenaran, bagaimanapun juga, pengalaman yang otentik bisa terjadi. Itu berarti otentisitas pengalaman tidak berarti sesuatu yang berhubungan denga “the truth-calibre”, “kualitas kebenaran” dari suatu pernyataan yang didasarkan atas pengalaman itu. “Truthfullness” merupakansuatu klaim validitas yang hanya menunjukkan bahwa seseorang sesungguhnya mengartikan apa yang dia nyatakan. Seseorang itu benar (truthfull) ketika tidak menyesatkan dirinya sendiri atau orang lain dengan pernyataannya. Kita tidak dapat memahami “truthfullness” sebagai suatu relasi-kebenaran (truth-relationship), dalam mana pernyataan dihubungkan dengan “inner entity” dari suatu pengalaman. Konsekuensinya, ketika seseorang berada dalam suatu pengalaman, dia tidak dapat membuat pernyataan-pernyataan tentang ‘inner life-nya’, bahwa kita dapat menilai benar atau tidak benar. Kita hanya dapat menilai tindakan-tindakannya, apakah dia secara sungguh-sungguh memaknai apa yang dia katakana. Kalau kebenaran tentang “being” itu memanifestasikan dirinya sendiri, sebagai yang dikatakan Heidegger dan pemikir-pemikir postmodernis, kebenaran itu hanya bisa dinyatakan secara naratif. Ketika seseorang dipikat atau ditawan oleh sesuatu kebenaran seperti itu, dia tidak dapat mengayakan “No” (or Yes) yang didasarkan atas rasio-rasio. Kemungkinan untuk menolak tidak ada. Dengan kata lain, dia telah “dicabut” dari kemungkinan untuk menolak. Semacam ada suatu heteronomy baru merasuki manusia dalam bentuk “being” atau “power” atau apa pun yang menyatakan atau menyingkapkan “kebenaran dalam dirinya”. Kebenaran menjadi esoteris dalam manfaat kepada publik. Alasannya adalah bahwa “truthfulness” yang disamakan dengan kebenaran (truth) membawa konsekuensi mengidentifikasi rasionalitas sebagai rasionalitas tujuan, rasionalitas teknis &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Ibid. hlm 92-93)&lt;/span&gt;. Postmodernisme memang menentang suatu pembunuhan rasionalitas tujuan dengan “kembali” atau dengan menampakkan pada kekuatan-kekuatan irrasionalitas. Kemudian, ketika rasionalitas dibatasi secara peyoratif pada rasionalitas tujuan, suatu “truth event” mendapatkan elemen-elemen “mistis”. Bagi Habermas, sebagai suatu konsep kebenaran, hal itu diragukan dalam suatu komunitas rasionalitas. Ketika kebenaran diatributkan (disifatkan/dilengkapi) pada suatu pengalaman tentang revelasi, kebenaran tidak mungkin lagi untuk mengkritisi suatu rasional tujuan atau klaim teknis atas kebenaran. Semua pemikir postmodern mengkritisi subject yang dengan pertolongan rasionalitas meyakini dirinya sendiri dalam suatu cara objectif dan instrumentalis atas dunia fenomena. Satu-satunya jalan keluar dari rasionalitas instrumental itu, dengan mana subject mengendalikan dunia, ditemukan dalam “truth events” dari suatu reuni mistis dengan beberapa kekuatan extra-rasional &lt;i&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(menurut Habermas, Jacques Derrida juga ingin melepaskan beban berat’subjec phillosopy’. Dia juga menolak kebenaran sebagai ‘truth events’. Akan tetapi analisa Derrida atas retorika mempunyai efek yang subversive dan anarkis. Tulis Habermas: “Derrida stands closer to the anarchist wish to explode the continuum of history than to the authoritarian admonition to bend before destiny”.Lih. De Roest, H., Ibid.hlm.93).&lt;/span&gt; &lt;/i&gt;Itu berarti para postmodernis tidak bisa meninggalkan rasio&lt;i&gt; (Ibid.hlm 93-94).&lt;/i&gt;Pembebasan itu merupakan jalan keluar&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;meninggalkan rasionalitas teknis disamping rentan pada kritik rasional.Habermas melihat jalan keluar semacam itu hanyalah permulaan ketika kita menggeser paradigma dari subyek sebagai “central point” referensi kepada bahasa sebagai suatu “starting point” untuk suatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;teori rasionalitas. Kritik rasional untuk mendapatkan suatu kekuatan argumentative, menemukan suatu “ambang pintu” untuk masuk dalam suatu rasionalitas komunikatif yang memiliki daya potensial kritis.&lt;br /&gt;   Keempat, menolak konsep kebenaran yang merupakan hasil paduan dua klaim validitas. Kebenaran dipadukan dengan kebenaran normative. Ini jelas dalam sistem-teoritisian, seperti N. Luhmann. Tindakan-tindakan instrumental atau tujuan, dikendalikan oleh pengharapan-pengharapan teknis dan didasarkan atas peraturan teknis, yang disamakan dengan tindakan-tindakan sosial yang dikendalikan oleh norma-norma yang valid. Pengalaman-pengalaman tentang dunia factual tidak dibedakan dari tindakan-tindakan dalam dunia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sosial. Karena itu, kebenaran dari suatu pernyataan atau suatu eksplanasi dan kebenaran suatu norma yang legitim hanya diukur oleh fungsi-fungsi di mana fungsi itu terekomendasi dalam sistem yang kokoh.Tindakan-tindakan yang dikendalikan secara normative dan hal ini tidak lain hanyalah memperkuat sistem yang ada. Bagi Habermas, kebenaran suatu norma menunjukkan bahwa norma harus valid, tetapi seperti suatu validitas yang tidak berhubungan dengan validitas kebenaran. Kebenaran tidak dapat dipahami sebagai suatu hubungan antara, di satu pihak, suatu kekuasaan dan dilain pihak suatu inneridentity, seperti suatu pemenuhan kebutuhan alamiah di mana perlu untuk pemeliharaan sistem biologis.  &lt;br /&gt;   Kelima, konsep kebenaran yang disamakan dengan klaim validitas tentang “kedapatdimengertian”&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(understandability)&lt;/span&gt;. Konsep kebenaran seperti ini disebut konsep kebenaran analitis juga ditolak Habermas.Suatu konsep kebenaran di mana konsep kebenaran disamakan dengan kedapatdimengertian kondisi-kondisi kebenaran suatu pernyataan yang dibatasi oleh kaidah-kaidah aplikasi pernyataan-pernyataan linguistik dalam pernyataan. Ketika seseorang betul-betul memahami, dia menyangka memiliki kompetensi pada bentuk kalimat-kalimat dengan mengikuti kaidah-kaidah yang benar secara gramatikal dan fonetis. Dia menguasai suatu bahasa. Karena itu, kebenaran analitis paling banter dapat dipertimbangkan menjadi suatu jenis khus dari “kedapatdimengertian” yang dihubungkan dengan kalimat-kalimat yang dibangun secara formal &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Ibid hlm.94).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-8307858473311768713?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/10/rekonstruksi-habermas-atas-pemahaman.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SO27X-wBPxI/AAAAAAAAAHw/tgm9WE0oRy8/s72-c/Frog.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-5405682126516702677</guid><pubDate>Tue, 30 Sep 2008 02:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-29T19:59:23.473-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hanya sebuah pesan</category><title>Rekonstruksi Habermas atas Pemahaman Tentang Kebenaran</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SOGUlEiaLpI/AAAAAAAAAHo/8c1LucMCHRQ/s1600-h/Frog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SOGUlEiaLpI/AAAAAAAAAHo/8c1LucMCHRQ/s400/Frog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251642005084843666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;1.2 Posisi Habermas dalam Dunia Filsafat        &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Jurgen Habermas sering dikenal sebagai pembaru Teori Kritis para pendahulunya, yakni Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno. Maka, kita tak bisa melihat posisi Habermas dalam konteks Filsafat terlepas dari Teori Kritis para pendahulunya tersebut. Ia adalah generasi muda yang bergabung dengan Mazhab Frankfurt. Filsafat yang dipraktekkan dalam Mazhab Frankfurt dikenal sebagai Teori Kritis. Teori Kritis ini merupakan salah satu aliran utama Filsafat Abad ke-20, di samping fenomenologi dan Filsafat Analitis.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Teori Kritis sebagai salah satu aliran Filsafat Abad XX, pada awalnya belum berhasil menarik perhatian di kalangan Filsafat Umum. Teori Kritis ini baru betul-betul menjadi bahan diskusi di kalangan Filsafat dan Sosiologi pada tahun 1961 dan tentu Jurgen Habermas memainkan peranan yang besar di dalamnya bahkan tokoh inilah yang membuat Teori Kritis itu &lt;i&gt;membetot&lt;/i&gt; perhatian di kalangan filsuf-filsuf konteporer.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Kalau kita ingin menentukan kedudukan Teori Kritis dalam rangka Sejarah Filsafat khususnya dan Filsafat pada umumnya, maka terutama tiga factor harus dikemukakan, yakni Teori Kritis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang secara khusus dipengaruhi oleh Hegel, Marx, dan Freud. Yang dikenal agak umum adalah peranan Filsafat Karl Marx dalam pemikiran para anggota Mazhab Frankfurt termasuk Habermas sampa-sampai ajaran mereka tidak jarang ditunjukkan dengan nama “neomarxisme”. Tetapi oleh pengikut-pengikut Mazhab Frankfurt , Marx dipandang lain daripada yang lazim dibuat pada waktu itu &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;( Mereka menolak suatu interpretasi terhadap Marxisme yang agak lazim pada waktu itu, yaitu pandangan tentang Marxisme&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;sebagai suatu ajaran matrialisme vulgar. Sehubungan dengan intepretasi Hegelian tentang Marxisme ini, perlu dicatat bahwa pada waktu itu belum dikenal apa yang disebut “karangan – karangan Marx muda” atau dengan nama lain “naskah-naskah dari paris” (The Paris Manuscripts). Karangan-karangan Marx muda barus diterbitkan pada tahun 1932 dan dengan jelas memperlihatkanhubungan antara Marx dan Hegel. Lih. Magnis-Suseno, F., Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta, Kanisius, 1992, hlm.178).&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Karya Karl Korsch “Marximus and Philosophie” (1923) memainkan peranan penting untuk interpretasi baru Mazhab Frankfurt atas Marx. Antara lain berdasarkan karya Korsch ini, kemudian Mazhab Frankfurt mengerti Marx dalam hubungan erat dengan Filsafat Hegel.Mereka terutama menekankan latar belakang Hegelian dari pemikiran Marx. Dalam hal ini, konsep dialektika sangat dipentingkan. Di samping itu, sudah sejak tahun-tahun pertama berdirinya lembaga penelitian , Horkheimer dan rekan-rekannya menaruh minat akan psikoanalisa Freud, sebab dari psikoanalisa mereka harapkan banyak penyelidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masalah sosial manusia khususnya dan masalah hidup manusia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Meskipun Habermas termasuk dalam Mazhab Frankfurt, tidak serta merta ia mengadopsi Teori Kritis para pendahulunya begitu saja. Meskipun Teori Kritisnya masih dalam arah yang sama, itu hanya dalam hal keprihatinan yang sama untuk melanjutkan proyek pencerahan (Aufklarung). Berbeda dari para pendahulunya, Habermas tidak menjalankan proyek pencerahan secara pesimis, tetapi dia tetap optimis dalam menghadapinya. Teori Kritisnya melampaui Teori Kritis para pendahulunya karena ia memberi landasan epistemologis yang baru dalam Teori Kritis. Habermas sendiri melukiskan Teori Teori Kritis sebagai suatu metodologi yang berdiri di dalam ketegangan dialektis antara Filsafat dan ilmu pengetahuan (Sosiologi). Dialektika Filsafat dan Sains ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi Habermas adalah suatu konstelasi baru sebagai alternatif baru untuk keluar dari kemelut Filsafat tradisional yang telah berakhir &lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Habermas,J. The theory of Communicative Action Vol I ,terjemahan Thomas McCarthy, Boston, Beacon Press,1984,hlm.1-2). &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;  Bahkan Teori Kritis sebetulnya mau menyingkapkan kegagalan Filsafat kesadaran&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Bahkan dalan bukunya&lt;i&gt; “The Philosopichal Discourse of Modernity”, &lt;/i&gt;Habermas mengungkapkan dengan jelas tentang tekadnya untuk mengatasi Filsafat Kesadaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Filsafat Modern dan ilmu-ilmu sosial yang diturunkannya). Sebagai seorang “post-rasionalis modernitas”, ia menggrogoti landasan Filsafat Modern dan memberi pandangan baru , yakni paradigma rasio komunikatif.Paradigma rasio komunikatif ini tidak hanya mau memperbaharui Teori Kritis Generasi Pertama yang mengalami jalan buntu, tetapi juga mau mengatasi Filsafat Kesadaran atau Filsafat Subyek. Filsafat harus mengarah kepada praksis dan tidak berkutat pada tataran teori belaka&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Nagl,L.Habermas and Derrida on Reflexivity dalam Enlightenments: between Critical Theory and Contemporary French Thougt oleh Harry Kunneman and Hent de Vries (eds), Kampen-The Netherlands, Kok Pharos Publising House, 1993,hlm61-65).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-5405682126516702677?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/09/rekonstruksi-habermas-atas-pemahaman_29.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SOGUlEiaLpI/AAAAAAAAAHo/8c1LucMCHRQ/s72-c/Frog.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-1648070494451446343</guid><pubDate>Mon, 29 Sep 2008 06:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-29T01:45:52.361-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hanya sebuah pesan</category><title>Rekonstruksi Habermas atas Pemahaman tentang Kebenaran dan Rasionalitas</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SOCViUr0_kI/AAAAAAAAAHg/2TEv09Aal7I/s1600-h/Frog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SOCViUr0_kI/AAAAAAAAAHg/2TEv09Aal7I/s400/Frog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251361582414626370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori Habermas tentang kebenaran dan rasionalitas memperlihatkan suatu perubahan mendasar di bidang Epistemologi, terutama dalam hal kita memahami hakikat pengetahuan. Pemahaman Habermas tentang kebenaran dan rasionalitas menawarkan sebuah pemahaman baru atau filsafat-rasio baru. Habermas tidak bermaksud mendekonstruksi Epistemologi, tetapi merekonstruksi Epistemologi secara baru. Dengan perkataan lain, teori kebenaran dan rasionalitas mau meletakkan fondasi baru tentang hubungan antara subyek dan dunia karena persoalan epistemologis adalah persoalan posisi subyek dalam hubungannya dengan dunia. Habermas bermaksud merekonstruksi karakter fondasional Epistemologi tradisional secara baru.Rekonstruksi tersebut sebetulnya juga mau menunjukkan bahwa Habermas mau mengatasi 'cacat-cacat' modernitas. Dan 'cacat-cacat' modernitas tersebut menurutnya disebabkan oleh Filsafat-subyek yang telah berawal sejak kemunculan filsafat. Itu berarti bahwa konstruksi Habermas tersebut mau mengatasi Filsafat Modern yang disebutnya sebagai 'rasio yang berpusat pada subyek'.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.1 Riwayat Hidup dan Karya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jurgen Habermas adalah seorang teoritikus sosial dan filsuf Jerman yang dewasa ini sangat disegani.Ia dilahirkan pada tanggal 18 Juni 1929 di Gummersbach, sebuah kota kecil di Jerman. Di Universitas kota Gottingen, ia belajar kesusasteraan Jerman, Sejarah, Filsafat dan juga mengikuti kuliah di bidang Psikologi dan Ekonomi. Setelah beberapa waktu di Zurich, ia meneruskan studi filsafat di Universitas Bonn di mana ia meraih gelar doktor Filsafat pada tahun 1954, bedasarkan sebuah disertasi tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;' Das Absolute und die Gerchichte'&lt;/span&gt; (Yang Absolut dan Sejarah), suatu karya yang masih secara mendalam dipengaruhi oleh Filsafat Heidegger. Pada waktu itu juga ia berkecimpung lebih intens dalam bidang politik, terutama sehubungan dengan diskusi yang sangat hangat di Jerman pada saat itu tentang pesenjataan kembali (rearmament) di Jerman.&lt;br /&gt;Pada tahun 1956, Habermas berkenalan dengan Lembaga Penelitian Sosial di Frankfurt dan menjadi asisten Adorno. Bersama denga sebuah team (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;von Friedburg, Oehleer, dan Weltz&lt;/span&gt;), ia mengambil bagian dalam suatu proyek riset mengenai sikap politik mahasiswa-mahasiswa di Universitas Frankfurt. Habermas terutama mengerjakan segi teoritisnya. Hasil penelitian itu terdapat dalam buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Student und Politic' &lt;/span&gt;(Mahasiswa dan Politik), tahun 1964.&lt;br /&gt;Sekitar waktu itu juga Habermas mempersiapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Habilitationschrift&lt;/span&gt;-nya. Karangan ini berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Structur&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wndel der Deffentlichkeit' &lt;/span&gt;(Perubahan dalam Struktur Pendapat Umum), suatu studi yang mempelajari sejauh manakah demokrasi masih mungkin dalam masyarakat modern. Perhatian khusus diberikan kepada berfungsi atau tidaknya pendapat umum dalam masyarakat Modern. Karena alasan tertentu Habilitation ini tidak dapat dilanjutkan di Frankfurt; Habermas terpaksa mencari seorang promotor di tempat lain dan akhirnya berhasil di Marburg. Tetapi, sebelumnya ia sudah diundang menjadi professor filsafat di Heidelberg (1961-1964).&lt;br /&gt;Pada awal tahun 1960-an, Habermas sangat populer dalam kalangan mahasiswa di Jerman. Akan tetapi, sikapnya yang kritis terhadap gerakan protes para mahasiswa membuatnya makin dibenci oleh para mahasiswa kiri. Acara-acara seminarnya di Frankfurt sering diganggu. Rupanya inilah satu alasan mengapa Habermas meninggalkan Frankfurt tahun 1970. Pada tahun 1971, Habermas menerima tawaran pekerjaan pada Institut Max-Plank (sebuah institut yang mempelajari kondisi-kondisi kehidupan  dalam dunia) di Starnberg dan ketika itu juga ia menghentikan kegiatannya sebagai professor.&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemikir yang bergerak dalam suatu wilayah ilmiah yang sangat luas, Habermas banyak menyumbangkan karya-karya besar lainnya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Theory und Praxis&lt;/span&gt;, 1961 (Teori dan Praksis); &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zur Logic der&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sozialwissenchaften&lt;/span&gt;,  1967 (Tentang Logika  Ilmu Pengetahuan Sosial); &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Technik und Wissenschaft als Ideologie&lt;/span&gt; (Teknik dan Ilmu Pengetahuan sebagai Ideologi), 1968 : mengumpulkan pelbagai karangan, antara lain &lt;span style="font-style: italic;"&gt; 'Erkenntnis Und Interesse'&lt;/span&gt; yang merupakan pidato Habermas ketika dikukuhkan sebagai professor di Frankfurt yang kemudian program yang dirancang dalam pidato ini sebagian direalisasikan dalam buku berikut dengan judul yang sama, yakni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;" Erkenntnis Und Interesse" &lt;/span&gt;(Pengenalan dan Kepentingan Manusiawi), 1968. Kemudian muncul juga karya-karyanya yang lain, yaitu sebagai berikut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Theorie der Gesseischaft oder Sozialtechnologie&lt;/span&gt; ( Teori Masyarakat atau Teknologi Sosial), 1971; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Philosophish-Politische Profile&lt;/span&gt; (Profilprofil Filosofis-Politis), 1971; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Legitimations Probleme im Spatkapitalismus &lt;/span&gt;( Masalah Legitimasi dalam Kapitalisme Lanjut), 1973; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kultur und Kritik &lt;/span&gt;(Kebudayaan dan Kritik); 1973; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zur Rekonstruction des Historischean Materialismeus&lt;/span&gt; (Rekonstruksi Materialisme Historis), 1976; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Politik, Kunst, Religion. Esseys Uber Zeitgenossischen Philosophen&lt;/span&gt; (Politik, Kesenian, dan Agama. Esei-Esei tentang beberapa filsuf dewasa ini), 1978; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Philosophical Discourse of Modernity.&lt;/span&gt; Kemudian pada tahun 1981, terbitlah karya besarnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Theory of&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Communicative Action,&lt;/span&gt; sebuah usaha untuk mendialogkan Teori Kritisnya yang disebut "Teori Tindakan Komunikatif" dengan tradisi-tradisi besar ilmu-ilmu sosial modern.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-1648070494451446343?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/09/rekonstruksi-habermas-atas-pemahaman.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/SOCViUr0_kI/AAAAAAAAAHg/2TEv09Aal7I/s72-c/Frog.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-510034934819547860</guid><pubDate>Wed, 30 Jan 2008 09:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-30T01:24:39.085-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Komentar Kritis atas Pemikiran Ibnu Rusyd (3)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R6BAzlHw7bI/AAAAAAAAAHA/VoxwPi5zJAc/s1600-h/Averoes.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R6BAzlHw7bI/AAAAAAAAAHA/VoxwPi5zJAc/s400/Averoes.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161196427848773042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;KEAZALIAN TUHAN DAN ALAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;(Pemikiran Ibnu Rusyd dalam Rentang Sejarah)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;3.3. Visi Etis Pemikiran Ibnu Rusyd&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keseluruhan pemikiran Ibnu Rusyd sebagaimana pernah saya sampaikan di atas, tidak hanya sebatas debat berkepanjangan mengenai bernalar, akan tetapi produk seorang pemikir besar yang mampu melahirkan dan menjadikan bagian sistem pemikirannya tetap memiliki relevansi untuk kehidupan manusia dewasa ini. Pemikiran Ibnu Rusyd, bagaimanapun bisa menjadi salah satu landasan pemikiran manusia masa kini dalam rangka memecahkan persoalan kehidupan sekarang dan memiliki ‘daya raba’ bagi kemungkinan-kemungkinan masa depan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hal yang patut diberi aksentuasi dalam kaitannya dengan praktik hidup manusia bahwa dalam seluruh struktur ciptaan, manusia merasa diri berada di puncak ciptaan atau lebih tepatnya, manusia menganggap diri sebagai mahkota ciptaan. Untuk itu, pemahaman realitas secara tuntas pun mengandaikan pengetahuan yang mendalam atas manusia terlebih dahulu. Hal itu didasarkan pada pemahaman juga bahwa rumitnya struktur ini tercermin secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adequate&lt;/span&gt; dalam diri manusia. Kesadaran semacam inilah yang memicu munculnya pemahaman bahwa manusia harus ditempatkan sebagai pusat dan tujuan akhir hidup manusia &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(B. Wiliam L., Dictionary of Philosophy and Religion: Estern and Western Thought, Humanities Press Inc, New Jersey England, 1980,hlm.17).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pola pandang seperti di atas, sebenarnya pola pandang antroposentrisme yang membuat manusia cenderung bersikap mensubordinasikan alam semesta. Manusia semacam memperoleh “mandat” religius untuk menahklukkan alam semesta. Lebih parah, mandat seperti itu, kemudian dilegitimasi oleh refleksi filosofis yang berpandangan bahwa manusia adalah pusat jagat raya. Kata antroposentrisme diturunkan dari kata Yunani, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;antropos&lt;/span&gt; (manusia) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kentron&lt;/span&gt;(pusat). Jika kita bertolak dari arti kedua kata di atas, kita akan mengolaborasi beberapa kontruksi pengertian terminology antroposentrisme. Pertama, antroposentrisme dipahami sebagai pandangan yang menempatkan manusia sebagai satu-satunya pusat dan merupakan muara/tujuan akhir alam semesta. Kedua, antroposentrisme diartikan sebagai pandangan yang menilai bahwa nilai-nilai manusia merupakan pusat untuk berfungsinya alam semesta dan alam semesta menopang nilai-nilai manusia itu. Antroposentrisme sendiri berakar dalam tradisi filsafat maupun religius. Antrposentrisme filosofis memperoleh justifikasi dari akal budi manusia &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(lih. Lorens Bagus,Op.Cit.,hlm.60).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lebih lanjut, ilmu dan teknologi tampaknya mengafirmasi visi religius danfilosofis dengan menekankan kapasitas rasio manusia untuk mengontrol alam melalui eksplorasi ilmiah guna menguak semua misteri dan merenggut semua sakralitas alam semesta. Dari fenomena kecenderungan di atas, alam semesta teramcam ‘luluh-lantak’, jika manusia tidak mengubah tingkah-laku dan pola pandangnya terhadap semesta alam. Bertolak dari tuntutan semacam itu, maka pemikiran Ibnu Rusyd atas keazalian alam dan Tuhan memunculkan kesadaran baru bagi manusia dewasa ini. Kesadaran baru ini serentak menjadi dasar langkah preventif dalam rangka mengganti visi yang bertendensi menahklukkan alam semesta menjadi visi yang lebih bertendensi memelihara dan melestarikan alam semesta. Menurut hemat saya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesadaran baru yang muncul dari pemikiran Ibnu Rusyd antara lain sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kalau Ibnu Rusyd melihat alam semesta bersifat azali, maka sikap hormat, cinta, dan kagum pada Tuhan mengandaikan sikap hormat, cinta, dan kagum juga tehadap alam semesta. Alam itu sakral. Kesakralannya terletak pada fakta bahwa alam semesta memiliki dinamika internal, bisa beroperasi tanpa intervensi pihak eksternal. Tanpa intervensi manusia, alam semesta mampu mengembangkan dirinya, sehingga segala sesuatu yang ‘melekat’ padanya tetap eksis. Berkat dinamika itu pula, manusia bisa menimba nafas dan mempertahankan kehidupannya. Visi Ibnu Rusyd semacam itu berdampak positif terhadap penempatan diri manusia terhadap alam semesta. Alam bukanlah bagian yang terpisah dengan manusia, tetapi menjadi bagian yang integral dari eksistensinya, bahkan menjadi faktor penentu utama eksistensinya. Tanpa daya dukung alam semesta, manusia sendiri terancam punah. Karena itu, alam semesta tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernyawa karenanya alam semesta juga tidak boleh dirusak dan dikuasai. Sebaliknya, alam semesta harus dihormati dan manusia mesti menyatu dengan alam semesta. Keyakinan dasar seperti ini sebenarnya dapat kita temukan dan saksikan dalam cara hidup masyarakat suku tertentu. Lebih dari sekedar perasaan ,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa mereka merupakan bagian dari alam bahkan alam dipandang sebagai tempat berlindung sekaligus sebagai tempat yang menjamin kehidupan, sebab alam adalah ibu yang mengayomi dan memberi rasa aman kepada anak manusia. Misalnya, dalam pola pandang suku-suku Irian Jaya. Mereka melihat bahwa tanah mempunyai beberapa segi. Tanah itu sakral, tempat hidup manusia. Karena itu mereka sangat menghormati tanah.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;( Lihat Erari, Karel P., Our Land In Irian Jaya as Theologi Problem, Sout is Asia Graduate School of Theology, Singapore, 1997,hlm.373-388).&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Ibnu Rusyd dalam teori emanasinya menyatakan bahwa alam semesta ini melimpah dari Tuhan sejak keazalian. Alam semesta melimpah dari Tuhan dengan disertakan padanya &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt; yang memampukan alam semesta memiliki potensi di dalam dirinya. &lt;i&gt;Creative Power&lt;/i&gt; dipahami sebagai kekuatan Tuhan yang mendasari alam semesta. Dengan demikian, Tuhan harus dilihat sebagai prinsip dasar dari segala sesuatu. Kebijaksanaan religius pun menerima bahwa Tuhan adalah prinsip dasar segala sesuatu. Di balik tatanan kosmos yang megah ini diyakini tersembunyi kekuatan atau energi kreatif yang mengoperasikan totalitas aktivitas alam semesta &lt;span style="font-size:78%;"&gt;( bdk. Leonardo Boff, Cry of the Earth, Cry of the Poor, Orbis Books, Maryknoll, New York,1997,hlm.142.146).&lt;/span&gt; Makna asumsi di atas menyiratkan imanensi(kehadiran Tuhan) dalam dunia. Tuhan hadir untuk menata semesta ini. Dia bukan sekedar figure pencipta, lalu pergi, tetapi sebagai roh dunia ini. Itu berarti, Tuhan hadir (ada) dalam kosmos lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power &lt;/span&gt;yang disertaka_Nya dalam alam semesta dan alam semesta ada bersama Tuhan juga lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt;. Ini adalah visi Ibnu Rusyd. Visi Ibnu Rusyd ini harus dibedakan dari visi panteisme yang menandaskan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan dan Tuhan adalah segala sesuatu. Dalam Phanteisme, Tuhan identik dengan segala sesuatu. Tuhan tidak ada bedanya dengan kuda, batu, tanah, udara dan lain-lainnya. Dengan kata lain, Tuhan adalah kuda, batu, tanah dan udara. Konsekuensinya, alam semesta bukan lagi ciptaan, tetapi Tuhan itu sendiri. Pantheisme sangat berbeda dengan Ibnu Rusyd. Dalam perspektif Ibnu Rusyd, Tuhan dan alam semesta sama-sama independen. Kehadiran Tuhan dalam alam semesta hanya dapat dipahami lewat &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt;. Sebaliknya, alam semesta yang imanen mempunyai makna transenden karena ia melimpah dari Tuhan yang azali dengan &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt; yang disertakan padanya. Bagi kita, yang hidup bermandikan berbagai macam pandangan yang cenderung menjustivikasi penghancuran alam semesta, visi Ibnu Rusyd itu bisa menjadi undangan untuk mengusahakan keselamatan alam semesta, sebab dalam alam semesta tersimpan &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt; Tuhan sendiri sebagai tanda kehadiran-Nya di alam semesta ini. Jika Tuhanhadir dalam alam semesta lewat &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt;, maka manusia tidak mungkin menghampiri dan memahami Tuhan, jika manusia mengabaikan begitu saja alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kalau Ibnu Rusyd memahami alam semesta sebagai tanda kehadiran Tuhan lewat &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt;, maka dalam konteks kehidupan religius, menjadi panggilan tersendiri bagi institusi religius untuk menggali secara bijaksana seluruh nilai fundamental yang tersembunyi di balik dogma serta doktrin-doktrinnya, sehingga mampu memperbesar apresiasi manusia akan alam semesta. Misalnya, Agama Kristen sendiri memiliki konsep sakramen.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sakramen adalah tanda dan kehadiran rahmat Allah bagi manusia, tanda konkrit berupa obyek material bahkan event yang memungkinkan manusia bersentuhan dengan dengan realitas Ilahi. Pemikiran Ibnu Rusyd, bila ditinjau dengan standard logika religius kristiani, maka segala sesuatu yang ada di alam semesta ini harus dilihat sebagai anugerah Tuhan yang mengagumkan dan membahagiakan, karena alam semesta memberi kehidupan yang berasal dari Tuhan. Visi Ibnu Rusyd mengakui perbedaan antara pencipta dengan ciptaannya. Tuhan yang transenden dapat dipahami berkat &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt;, maka manusia tidak mungkin menghampiri dan memahami Tuhan, jika manusia tidak dengan perantaraan alam semesta. Bumi dan segala potensi yang ada di alam semesta ini harus kita lestarikan. Memporak-porandakan alam semesta sama artinya dengan memporak-porandakan Tuhan. Sebaliknya, merawat dan melestarikan alam semesta merupakan perwujudan bakti sejati kepada Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;Semoga dengan visi etis pemikiran Ibnu Rusyd ini membantu sikap dasar manusia dalam rangka menempatkan dirinya dalam alam semesta ini, yaitu mengambil bagian dalam totalitas eksistensi alam semesta. Manusia bukan lagi ‘yang berada di puncak’ melainkan ‘yang berdiri di antara’. Karena menurut Ibnu Rusyd, manusia tidak akan pernah dapat berdistansi dengan alam semesta, karena manusia merupakan bagian dari alam semesta yang bersifat azali, sebagaimana Tuhan adalah Azali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-510034934819547860?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/01/komentar-kritis-atas-pemikiran-ibnu.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R6BAzlHw7bI/AAAAAAAAAHA/VoxwPi5zJAc/s72-c/Averoes.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-8452699089038519569</guid><pubDate>Tue, 29 Jan 2008 02:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-28T19:10:29.281-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Selamat Jalan Jenderal Besar</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R56Y_VHw7aI/AAAAAAAAAG4/V38ST7acqv8/s1600-h/Jenderal+Soeharto.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R56Y_VHw7aI/AAAAAAAAAG4/V38ST7acqv8/s400/Jenderal+Soeharto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160730436782058914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt; &lt;span style="color:black;"&gt;”Betapa hatiku takkan pilu&lt;br /&gt;Telah gugur pahlawanku&lt;br /&gt;Betapa hatiku takkan sedih&lt;br /&gt;Hamba ditinggal sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah kini plipur lara&lt;br /&gt;Nan setia dan perwira&lt;br /&gt;Siapakah kini pahlawan hati&lt;br /&gt;Pembela bangsa sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah gugur pahlawanku&lt;br /&gt;Tunai sudah janji bakti&lt;br /&gt;Gugur satu tumbuh sribu&lt;br /&gt;Tanah air jaya sakti”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Minggu, 27 Januari 2008, tepatnya di Bulan Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat dikejutkan sebuah berita perihal wafatnya Bapak Soeharto, mantan presiden ke-2 Republik Indonesia. Sudah barang tentu berita yang dilansir oleh media cetak dan elektronik tentang tokoh controversial tersebut mengundang tanggapan beragam di tengah kalangan masyarakat. Sebagian merasa sedih dan bermuram durja seraya berdoa atas kepergiannya, tetapi sebagian lagi (terutama lawan-lawan politiknya) bersorak-sorai sambil berkata: “Selamat jalan bapak koruptor!”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Terlepas bagaimana masyarakat menanggapi kepergian Pak Harto, saya tertarik dengan sebuah artikel yang saya baca dari Ensiklopedi Tokoh Indonesia tentang Pak Harto. Mudah-mudahan dengan artikel di bawah ini mampu membantu kita semua mendudukkan kepemimpinan Pak Soeharto secara proporsional, sehingga kita secara pribadi tetap memiliki itikad baik untuk membuka pintu maaf bagi Pak Soeharto.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Haji Muhammad Soeharto, dipanggil akrab Pak Harto, adalah sosok nama besar yang memimpin Republik Indonesia,     selama 32 tahun. Suatu kemampuan kepemimpinan luar biasa yang harus diakui oleh teman dan lawan politiknya (senang atau tidak). Ia menggerakkan pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada pangan (1985). Maka, saat itu pantas saja ia pun dianugerahi penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; Namun, akhirnya ia harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa (1998), melainkan lebih akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS dan ambisius tanpa fatsoen politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia baru meletakkan jabatan, ada rumor yang berkembang. Seandainya Pak Harto mendengar hati nurani isteri yang dicintainya, Ibu Tien Soeharto, yang konon, sudah menyarankannya berhenti sepuluh tahun sebelumnya, pasti kepemimpinnya tidak berakhir dengan berbagai hujatan yang memojokkannya seolah-olah ia tak pernah berbuat baik untuk bangsa dan negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang seperti kehilangan ‘inspirasi’ dan ‘teman sehati’ setelah Ibu Tien Soeharto meninggal dunia(Minggu 28 April 1996). Pak Harto bukan pria satu-satunya yang merasakan hal seperti ini. Banyak pria (pemimpin) yang justru ‘kuat’ didukung keberadaan isterinya. Salah satu contoh, Bill Clinton mungkin sudah akan jatuh sebelum waktunya jika tak ditopang isterinya Hillary Clinton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto tidak segera mencari pengganti isterinya. Kesepiannya seperti teratasi atas dorongan pengabdian kepada bangsa dan negaranya. Ia menghabiskan waktunya dalam mengemban tugas beratnya sebagai presiden. Apalagi beberapa pembantunya memberinya laporan dan harapan yang mendorongnya untuk tetap bertahan sebagai presiden. Bahkan, bersama pembantunya (menterinya) BJ Habibie, ia bisa berjam-jam berbicara. Tak jarang para staf harus menyediakan mie instan jika menunggui pertemuan mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat bangsa ini tentu masih ingat. Seusai Pemilu 1997 dan sebelum Sidang Umum MPR, Maret 1998, para pembantunya, di antaranya Harmoko, selaku Ketua Umum DPP Golkar, menyatakan akan tetap mencalonkan Soeharto sebagai presiden 1998-2003. Tapi, justeru pada HUT Golkar ke-33, Oktober 1997 itu, HM Soeharto mengembalikan pernyataan itu untuk dicek ulang: Apakah rakyat sungguh-sungguh masih menginginkannya menjadi presiden?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berselang beberapa bulan, tepatnya tanggal 20 Januari 1998, tiga pimpinan Keluarga Besar Golkar atau yang lazim disebut Tiga Jalur Golkar, yakni jalur Golkar/Beringin (Harmoko), jalur ABRI (Feisal Tanjung) dan jalur birokrasi (Yogie SM), datang ke Bina Graha menyampaikan hasil pengecekan ulang keinginan rakyat dalam pencalonan HM Soeharto sebagai Presiden RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu mereka melaporkan bahwa “ternyata rakyat memang hanya mempunyai satu calon Presiden RI untuk periode 1998-2003 yaitu HM Soeharto,” kata Harmoko mengumumkan kepada pers usai melapor kepada Pak Harto. "Mayoritas rakyat Indonesia memang tetap menghendaki Bapak Haji Muhammad Soeharto untuk dicalonkan sebagai Presiden RI masa bakti 1998-2003," tutur Harmoko yang didampingi M Yogie SM dan Jenderal TNI Feisal Tanjung ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harmoko, Jenderal TNI (Purn) H Muhammad Soeharto, setelah menerima hasil pengecekan itu, menyatakan bersedia dicalonkan kembali sebagai Presiden RI masa bhakti 1998-2003. Selain mengumumkan kesediaan Pak Harto dipilih kembali sebagai Presiden RI, menurut Harmoko, Keluarga Besar Golkar juga membuat kriteria untuk calon Wakil Presiden, antara lain memahami ilmu pengetahuan dan industri. Pernyataan ini mengarah kepada BJ Habibie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil pengecekan yang dilakukan oleh keluarga besar Golkar itu, masih menurut Harmoko, Soeharto menghargai kepercayaan sebagian besar rakyat Indonesia tersebut walaupun harus ada pengorbanan bagi kepentingan keluarga. Tetapi untuk kepentingan bangsa dan negara, Haji Muhammad Soeharto tidak mungkin menghindar dari tanggung jawab sebagai patriot dan pejuang bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan adanya kepercayaan rakyat ini tidak membuat Bapak Haji Muhammad Soeharto bersikap 'tinggi glanggang colong playu.' Itu istilah Pak Harto yang artinya tidak meninggalkan tanggung jawab dan mengelak dari kepercayaan rakyat tersebut demi kepentingan negara dan bangsa," tegas Harmoko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ternyata itulah awal sebuah tragedi pengkhianatan digulirkan. HM Soeharto memang terpilih kembali menjadi Presiden periode 1998-2003 pada Sidang Umum MPR, 1-11 Maret 1998. Didampingi BJ Habibie sebagai wakil presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, komponen mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat terus melancarkan demonstrasi meminta Presiden Soeharto dan Wapres BJ Habibie turun serta Golkar dibubarkan. Saat itu, Pak Harto masih terlihat yakin bahwa demonstrasi itu akan surut dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Maka pada awal Mei 1998, ia berangkat ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri KTT Nonblok. Saat berangkat, di bandara Halim Perdanakusuma, ia dilepas Wakil Presiden BJ Habibie, Fangab Feisal Tanjung, juga Ketua Harian ICMI Tirto Sudiro dan sejumlah menteri lainnya yang sebagian diantaranya kemudian mengkhianatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, sepeninggal Soeharto, dalam beberapa hari kemudian, suasana Jakarta semakin mencekam. Selain akibat demonstrasi mahasiswa makin marak, juga tersiar isu terjadi sesuatu misteri dalam tubuh ABRI. Misteri itu diwarnai arah pengelompokan dalam tubuh militer itu. Selain banyak aktivis pro demikrasi ‘hilang’ entah kemana, juga diisukan ribuan anggota militer ‘menghilang’ dari kesatuannya memembawa persenjataan lengkap dan amunisi cadangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Indonesia, adalah suatu tanda tanya besar yang harus segera dicari jawabannya. Apakah suatu power game sedang dimainkan di Indonesia? Siapa yang bermain dengan kelompok bersenjata, serta bagaimana peta kekuatan gerakan sipil? Adalah sesuatu yang harus kita analisa bersama,” tulis sebuah majalah ketika itu. Beberapa pertanyaan yang sampai hari ini tetap misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana makin mencekam, pada 12 Mei 1998, akibat terjadinya penembakan mahasiswa di kampus Universitas Trisakti, yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Trisakti. Empat orang mahasiswa gugur. Mahasiswa makin ‘marah’. Hampir di seluruh kampus terjadi demonstrasi. Bahkan sebagian mulai keluar dari kampusnya. Bersamaan dengan itu, terjadi pembakaran mobil di sekitar parkir dekat Universitas Trisakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, 13 Mei 1998, mahasiswa seperti dipancing untuk keluar dari kampusnya. Situasi di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta justeru mengundang tanda tanya. Ada sekelompok demonstran yang melempari mahasiswa dalam kampus itu karena mereka tidak keluar dari kampusnya. Para mahasiswa tetap berada dalam kampus dalam suasana berkabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, 14 Mei 1998, terjadilah malapetaka di Jakarta. Warga keturunan Cina menjadi sasaran. Pertokoan dan pusat-pusat perbelanjaan dibakar. Saat itu, Jakarta seperti tak punya petugas keamanan. Sementara para petinggi ABRI berada di Malang. Di lapangan sangat terasa ada provokator yang menggerakkan. Di beberapa tempat, ada teriakan: “Mahasiswa datang… mahasiawa datang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi chaos itu, rupanya mahasiswa sangat jeli. Tampaknya, mereka menghindari dijadikan kambinghitam. Karena hari itu, dan besoknya, tidak ada demonstrasi mahasiswa yang keluar dari kampusnya. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang sebelumnya tidak biasa ikut demonstrasi, memilih tidak pulang dari kampus daripada terjebak di jalan yang penuh kerumunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini memaksa HM Soeharto pulang lebih cepat dari jadual dari Mesir. Sebelum pulang, beredar isu bahwa ia akan dihadang oleh mahasiswa. Tapi Soeharto tetap pulang, tanpa terjadi penghadangan seperti diperkirakan sebelumnya. Sebelum pulang, di hadapan warga Indonesia di Mesir, ia menyatakan bersedia mundur jika rakyat menghendakinya. Saat itu, ia menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan bersenjata melawan mahasiswa dan kehendak rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di Jakarta, HM Soeharto kemudian mengundang beberapa tokoh masyarakat, di antaranya Abdurrahman Wahid dan Nurcholis Madjid, tanpa Amien Rais dan Adi Sasono, untuk membicarakan pembentukan Komite Reformasi. Ia juga berencana merombak kabinetnya menjadi Kabinet Reformasi. Ia menawarkan reformasi secara gradual untuk mencegah terjadinya keguncangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menerima rombongan rektor Universitas Indonesia. Mereka ini datang untuk meminta Presiden Soeharto berhenti dengan hormat. HM Soeharto mempersilahkan mereka menyampaikan aspirasi itu melalui MPR. Demonstrasi mahasiswa pun akhirnya terpusat ke gedung MPR/DPR. Mereka menduduki gedung legislatif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmoko, yang menjabat Ketua MPR dan pimpinan MPR lainnya menampung desakan mahasiswa yang meminta Pak Harto turun. Di hadapan para mahasiswa itu, Harmoko menyatakan bahwa pimpinan MPR setuju dengan desakan mahasiswa untuk meminta Pak Harto mundur. Harmoko seperti tak terpengaruh atas pernyataannya saat meminta kesediaan Pak Harto untuk dicalonkan kembali menjadi presiden jauh hari sebelum SU MPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Harmoko ini kemudian dijelaskan (dibantah) Pangab Jenderal Wiranto sebagai bukan pernyataan institusi tapi lebih merupakan pernyataan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HM Soeharto tentu dengan cermat terus mengikuti perkembangan itu. Sampai sore tanggal 20 Mei 1998, tampaknya ia masih yakin akan bisa mengatasi keadaan secara damai dengan membentuk Komite Reformasi dan merombak kabinet menjadi Kabinet Reformasi. Tapi keinginan baik Pak Harto ini disambut dingin berbagai kalangan bahkan tragisnya ditolak sebagian pembantunya (menteri) yang dibesarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya inilah detik-detik terakhir ia menjabat presiden. Hari itu, Rabu 20 Mei 1998 sekitar pukul 19:30, Pak Harto menerima Mantan Wakil Presiden Sudharmono di kediaman Jalan Cendana 8 Jakarta. Saat itu, menurut Sudharmono, Presiden Soeharto menyatakan tetap akan melaksanakan tugas-tugas kepresidenan dan segera akan mengumumkan pembentukan Komite Reformasi serta mengadakan perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar setengah jam berikutnya, pukul 20.00, Wakil Presiden B.J. Habibie menghadap Pak Harto. Lalu sekitar pukul 20:30, Saadillah Mursyid diminta menemui Presiden Soeharto yang sedang bersama Wakil Presiden B.J. Habibie di ruang tamu kediaman Jalan Cendana 8 itu. Di hadapan Wakil Presiden BJ Habibie, Presiden Soeharto meminta Saadillah Mursyid, Menteri Sekretaris Negara, mempersiapkan naskah final: Keputusan Presiden tentang Komite Reformasi dan Keputusan Presiden tentang Pembentukan Kabinet Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Presiden Soeharto menyatakan akan mengumumkan dan melaksanakan pelantikannya besok hari, Kamis 21 Mei 1998. Untuk keperluan itu Presiden Soeharto juga minta agar ruang upacara atau yang lazim disebut ruang kredensial di Istana Merdeka dipersiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Wakil Presiden B.J Habibie pulang. Sementara itu, sebanyak empat belas orang menteri membuat pernyataan tidak bersedia ikut serta dalam Kabinet Reformasi yang direncanakan Pak Harto. Mereka itu adalah para menteri yang sebelumnya dibesarkan Pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sekitar pukul 21:00, setelah BJ Habibie pulang itu, Saadillah Mursyid mohon untuk bisa melanjutkan bertemu dengan Pak Harto. Dalam kesempatan itu, Saadillah Mursyid melaporkan bahwa sejumlah orang-orang yang direncanakan untuk menjadi anggota Komite Reformasi telah menyatakan menolak. Saadillah juga melaporkan adanya informasi bahwa empat belas orang menteri yang direncanakan akan duduk dalam Kabinet Reformasi menyatakan tidak bersedia ikut serta dalam Kabinet. Setelah itu, Saadillah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekitar pukul 21:40, Saadillah Mursyid diminta menemui Presiden Soeharto lagi. Saadillah bergegas menuju ruangan di tempat biasanya Presiden menerima tamu, termasuk menerima para menteri. Saadillah terkejut karena Presiden tidak ada di ruangan itu. Ketika ditanyakan, barulah ajudan memberitahukan bahwa Presiden Soeharto menunggu di ruang kerja pada bagian kediaman pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 22:15 hari Rabu 20 Mei 1998 itu, HM Soeharto mempersilakan Saadillah duduk di sebelahnya. Kursi hanya ada satu, di situ HM Soeharto duduk. Lalu Saadillah dipersilahkan menggeser puff, sebuah tempat duduk empat persegi, agar bisa lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hening sejenak, kemudian HM Soeharto mengatakan: “Segala usaha untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. Tetapi Tuhan rupanya berkehendak lain. Bentrokan antara mahasiswa dan ABRI tidak boleh sampai terjadi. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berhenti sebagai Presiden, menurut Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kepada Saadillah sebagai Menteri Sekretaris Negara, diminta untuk mempersiapkan empat hal. Pertama, konsep ‘Pernyataan Berhenti dari jabatan Presiden RI’; Kedua, memberitahu pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat bahwa permintaan pimpinan DPR untuk bertemu dan melakukan konsultasi dengan Presiden akan dilaksanakan hari Kamis, 21 Mei 1998 pukul 09:00 di ruang Jepara Istana Merdeka; Ketiga, memberitahu Wakil Presiden BJ Habibie agar hadir di Istana Merdeka hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 pukul 09:00 dan agar siap untuk mengucapkan Sumpah Jabatan Presiden di hadapan Ketua Mahkamah Agung; Keempat, memohon kehadiran Ketua Mahkamah Agung di Istana Merdeka hari Kamis 21 Mei 1998 pukul 09:00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saadillah pun segera memberitahu Pimpinan DPR, Wakil Presiden dan Ketua Mahkamah Agung melalui telepon. Malam sudah larut menjelang tengah malam. Lalu, bersama-sama staf, Saadillah segera mulai melakukan penyusunan naskah Pernyataan Berhenti Presiden. Setelah mendapatkan pokok-pokok dan arahan, Bambang Kesowo, waktu itu Wakil Sekretaris Kabinet, dan Soenarto Soedharmo, ketika itu Asisten Khusus Menteri Sekretaris Negara mulai menyusun konsep awal. Sementara Yusril Ihza Mahendra, ketika itu Pembantu Asisten (Banas) Menteri Sekretaris Negara, memberikan masukan-masukan terutama dari segi hukum tata negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep disusun secara bersama-sama, sebagaimana layaknya suatu pekerjaan staf. Bukan hasil kerja orang perorangan. Setelah konsep diteliti dan dikoreksi beberapa kali, pada pukul 03:00 menjelang subuh tanggal 21 Mei 1998 naskah Pernyataan telah siap untuk diajukan kepada Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah diajukan melalui prosedur yang sudah baku pada Sekretariat Negara. Konsep yang sudah diketik rapi diserahkan kepada Ajudan. Ajudan menaruh naskah itu di meja kerja Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 10:00 pagi di ruang upacara Istana Merdeka, yang lazim ketika itu disebut ruang kredensial, Presiden Soeharto menyampaikan pidato Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya itu Presiden Soeharto antara lain menyatakan: “Saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun demikian kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan Komite tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini, pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu, dengan ditemani puteri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) dan Saadillah Mursyid, Pak Harto melambaikan tangan meninggalkan Istana Merdeka pulang ke kediaman di Jalan Cendana 8. Ketika sampai di kediaman, sebelum duduk di ruang keluarga, Pak Harto mengangkat kedua belah tangan sambil mengucap: “Allahu Akbar. Lepas sudah beban yang terpikul di pundakku selama berpuluh-puluh tahun.“ Kemudian, putera-puteri dan keluarga menyalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Pak Harto pun menjadi bulan-bulanan caci-maki dan hujatan. Bukan hanya dari orang-orang yang sebelumnya tidak sejalan dengan Pak Harto, melainkan lebih lagi dari para menteri dan tokoh-tokoh Golkar yang selama ini tak sungkan-sungkan melakukan berbagai cara untuk bisa mendekat. Bahkan BJ Habibie yang mengaku dibesarkan HM Soeharto juga tampak tanpa fatsoen politik mengambil sikap bahwa dalam politik tidak ada persahabatan yang kekal, hanya kepentinganlah yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak segan-segan memosisikan Pak Harto dan keluarga Cendana ibarat keranjang sampah. Tempat pembuangan semua yang kotor. Bahwa semua kekotoran pada era Orde Baru ditimpakan ke pundak Pak Harto dan keluarganya. Sepertinya, HM Soeharto dan keluarganya sebagai satu-satunya yang melakukan korupsi pada era itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HM Soeharto pun ‘diasingkan’ dari Golkar yang dibesarkannya. Elit-elit Golkar malah yang duluan teriak agar Soeharto ditahan karena kejahatan-kejahatan yang dituduhkan kepadanya selama memerintah. Golkar yang sebelumnya lebih didonimasi pengaruh ABRI tampak bergeser lebih didominasi elit-elit ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu tragedi tendensius konstitusi, yang kental diwarnai subjektivitas politik pun terjadi. Pada Sidang Istimewa MPR 13 November 1998 – MPR yang masih didominasi kekuatan Golkar hasil Pemilu 1997 – menetapkan Ketetapan MPR No.XI/MPR/1998. Pasal 4 ketetapan MPR itu berbunyi: “Upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/ konglomerat termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tidak bersalah dan hak-hak asasi manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan nama orang secara eksplisit – mantan Presiden Soeharto – dalam pasal ini tampak tendensius, absurd dan sangat diwarnai sifat subjektivitas politik serta di luar kelaziman sistem ketatanegaraan Indonesia. Bukankah sebaiknya format suatu Tap MPR merupakan garis-garis umum dari suatu kebijakan negara? Jadinya, pasal ini seperti hendak diposisikan hanya berlaku kepada mantan Presiden Soeharto, tetapi tidak berlaku bagi mantan presiden yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, itulah puncak pengkhianatan beberapa mantan menteri dan elit Golkar yang dibesarkannya. Kendati Pak Harto tidak pernah mengatakan secara eksplisit bahwa mereka ini mengkhianatinya. Tapi sikapnya yang sampai hari ini belum bersedia menerima kunjungan BJ Habibie dan beberapa mantan menteri dan elit Golkar lainnya bisa dipahami berbagai pihak sebagai indikasi ke arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Harto pun menunjukkan ketabahan dan keteguhannya. Ia pun akhirnya sempat diadili dengan tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana yayasan-yayasan yang didirikannya. Ia menyatakan bersedia mempertanggungjawabkan dana yayasan itu. Tapi, ia pun jatuh sakit yang menyebabkan proses peradilannya dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak semua mantan menterinya tega mengkhianat, tidak mempunyai moral politik. Ada beberapa yang justeru makin dekat dengannya secara pribadi setelah bukan lagi berkuasa. Satu di antaranya adalah Saadillah Mursyid, mantan Menteri Sekretaris Negara. Saadillah menyatakan: “Mudah-mudahan saya terhindar dari orang-orang yang semasa Pak Harto memegang jabatan Presiden, selalu mendekat-dekat, menjilat dan mencari muka. Pada waktu Pak Harto tidak lagi menjadi Presiden orang-orang itu pula yang bersuara lantang menghujat, mencaci, melempar segala kesalahan kepada Pak Harto. Kelompok orang-orang seperti itu memperoleh kutukan Allah dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk, jahanam (Al Qur‘an, Surah Ar Ra’ad ayat 25).” &lt;/span&gt;                                                &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selamat jalan Jenderal Besar, selamat jalan Bapak Pembangunan. Sebagai bangsa yang besar, pantang bagi kami untuk melupakan semangat perjuanganmu, jasa serta pengabdianmu bagi negeri tercinta ini, Republik Indonesia. Dan Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memperhitungkan amal serta kebaikanmu.Amin&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-8452699089038519569?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/01/selamat-jalan-jenderal-besar.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R56Y_VHw7aI/AAAAAAAAAG4/V38ST7acqv8/s72-c/Jenderal+Soeharto.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-5866123500021823425</guid><pubDate>Sat, 26 Jan 2008 06:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-25T22:27:35.324-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>MEMILIH UNTUK TIDAK MENJADI PEMARAH</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5rSc1Hw7ZI/AAAAAAAAAGw/z8Nnmu0ydkc/s1600-h/Picture+015.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5rSc1Hw7ZI/AAAAAAAAAGw/z8Nnmu0ydkc/s400/Picture+015.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159667715844140434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/b&gt;    Amarah tidak dapat disangkal merupakan masalah bagi semua orang. Kapanpun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan di manapun dia siap datang dan menyergap. Wajah kita merah tegang, kening mengernyit, mata melotot, mulut berteriak dan berceracau, jantung berdetak, tangan gemetar dan telapak tangan mengepal, saat ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Saat kita bekerja di perusahaan pun, kita kerap kali mendengarkan bagaimana bos mencaci dan mengumpat ‘tai-lah, anjing-lah, keparat-lah, goblok-lah, tolol-lah’. Juga diantara karyawan pun kerap terjadi saling gesek dan gosok, yang kemudian berakhir saling tendang, adu tonjok dan adu jotos. Bahkan melampaui dua kondisi di atas, beberapa peristiwa tragis yang pernah terjadi dapat kita sebutkan di sini, diantaranya: seorang pemuda menghabisi nyawa sebuah keluarga, ibu tega membunuh tiga anaknya, ibu menikam suaminya, suami membunuh istrinya, anak didik menikam gurunya, dan masih banyak kasus tragis lainnya, yang kesemuanya tentu kita sepakat bahwa amarah-lah yang menjadi biang keladinya. Pertanyaannya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adakah sesuatu yang lain yang dapat kita buat selain melampiaskan kemarahan kita dengan mengumpat, memukul, melempar benda, membanting pintu, berdiam diri,merasa jengkel, dendam, benci dan kecewa saat terjadi sesuatu yang menyulut amarah? Memang, amarah adalah sebuah pilihan, pilihan yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;buruk,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sementara banyak pilihan baik yang ditawarkan kepada kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Beberapa teks Kitab Suci dapat kita jadikan refrensi untuk memahami amarah, sebelum kita sampai pada beberapa alternatif preventif yang dapat kita kerjakan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pengkhotbah 37:8).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan (Amsal 15:18)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri (Amsal 22:24-25).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran (Amsal 10:12).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Hai Saudara-Saudari yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:19-20).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu (Kolose 3:8).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa mengumpat adalah orang bebal (Amsal 16:32).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketentraman, daripada makan daging serumah disertai dengan perbantahan (Amsal 17:1)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu (Mazmur 37:8).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Orang yang tidak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya (Amsal 25:28).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Teks-teks di atas lebih mengacu pada kemarahan manusiawi; yang tidak terkendali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan raibnya kesabaran, yang bersumber dari kebencian, kedengkian dan kejengkelan, sebagai pengugkapan kekecewaan dan untuk membinasakan orang lain, egois dan berperilaku destruktif, bermaksud untuk memutus hubungan dan melukai, pelanggaran terhadap diri sendiri dan pada mereka yang menentang kehendak kita. Kemarahan manusiawi semacam itulah yang berbanding terbalik dengan kemarahan Allah; terkendali dan bertujuan, tanpa kebencian, tanpa kedengkian atau tanpa kejengkelan, tidak egois, sebagai ungkapan kepedulian, untuk memperbaiki atau membatasi, terhadap ketidak adilan dan bukan untuk memutuskan serta mengacu pada setiap ketidak-patuhan yang disengaja. Dengan demikian, dalam konteks inilah kita diajar untuk tidak gampang mengatakan bahwa kemarahan kita adalah kemarahan yang membangun. Kita mesti berhati-hati jangan sampai istilah ‘kemarahan yang membangun’ justru akan menjadi ladang subur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi nafsu egoisme dan amarah kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Nah, pertanyaannya sekarang adalah alternatif preventif semacam apa yang dapat menguatkan kehendak kita untuk memilih tidak menjadi pemarah, sehingga kita tidak setiap kali harus jatuh ke dalam lembah amarah yang tidak berujung. Ada beberapa hal yang patut mendapat perhatian serius kita semua:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar menertibkan pikiran kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Amzal 10:19 mengatakan: “ makin banyak berbicara, makin banyak kemungkinan berdosa; orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah bijaksana”. Orang Jawa bilang: “Ojo waton njeplak”. Artinya jangan asal bunyi “asbun”. Mempertimbangkan segala sesuatunya, dampak dari omongan kita, menjadi factor penting yang harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum berbicara. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk, yang kurang enak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang akhirnya kita sesali, lantaran perkataan yang kita keluarkan tampa pemikiran yang matang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar mengutarakan ‘ganjalan’ yang masih      tertinggal kepada orang yang tepat dan jangan menundanya lebih lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Bahwa celakalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apabila kanker ganas yang kita derita, kita biarkan dan tidak kunjung kita obati. Sama halnya dengan kemarahan, semakin kita timbun, maka akan semakin berpotensi menimbulkan letupan yang lebih jahat dan ganas. Maka melatih diri untuk tidak menarik diri dan menutup mulut dari persoalan yang kita hadapi jauh lebih bijaksana. Dengan menutup mulut dan menarik diri dari masalah yang kita hadapi, bukanlah jaminan bahwa masalah itu akan keluar dari diri kita.” Kalau kalian marah janganlah kemarahan itu menyebabkan kalian berdosa . Jangan marah sepanjang hari, supaya Iblis tidak mendapat kesempatan” (Efesus 4:26-27).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar menerima teguran,cacian dan tamparan      daripada dihancurkan oleh pujian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;‘Orang yang tidak mau dididik menjadi miskin dan hina; orang yang mengindahkan nasihat akan dihormati (Amsal 13:18). ABS ‘Asal Bapak Senang’ menjadi sebuah istilah yang popular di kalangan kita yang sebenarnya mencerminkan bahwa ada kecenderungan untuk mengemas sesuatu yang sebenarnya tidak/kurang layak biar seolah-olah menjadi layak sehingga menyenangkan atasan. Budaya ‘membungkus’, budaya ‘seolah-olah’, adalah tipuan yang sangat menghancurkan. Ok beres, oke aman dan terkendali, sementara kenyataannya kacau dan semrawut. Dalam konteks ini, akan jauh lebih baik kalo kondisi sebenarnya yang kacau dan semrawut disampaikan apa adanya sehingga dapat dicari alternatif solusi untuk mengatasinya. Maka, di sinilah perlunya kita terbuka pada teguran, dan tidak melulu berharap pada pujian terus menerus yang dalam batas-batas tertentu justru dapat menghancurkan kita. “Teguran orang arif kepada orang yang mau mendengarnya, seperti cincin emas atau perhiasan kencana (Amsal 25:12).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="4" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar mengungkapkan harapan-harapan yang ingin      orang lain lakukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Dalam hal ini, sandi tidak cukup, bahasa verbal yang dituntut. “Ngomong dong, siapa yang tahu kalo ngak ngomong?”, begitu kurang lebih kalimat yang sering kita dengar. Bicara bahwa saya tidak suka orang lain membicarakan topik tertetu yang saya tidak mau, itu jauh lebih baik dibandingkan kita memaksakan diri untuk mendengarkan sementara hati kita sebenarnya tak mau. Terus terang akan apa yang kita harapkan orang lain mengerjakannya, itu intinya. Berbagilah perihal masalah kita dengan orang yang kita rasa tepat, sehingga kasusnya tidak kronis dan berubah menjadi letupan-letupan emosional.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="5" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar menghadapi masalah yang muncul dan      lupakan masa lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Kerapkali penyakit yang muncul ‘mengungkit-ungkit masa lalu’. ‘Wah, dulu dia begitu, sekarang dia berbuat begitu lagi’, keluh seseorang. Yang dulu lupakan, dan hadapi masalah yang sekarang saja. Kita focus pada masalah sekarang yang kita hadapi, masa lalu hanya akan mengaburkan persoalan yang sekarang dan masa lalu hanya akan menjadi pertanda bahwa persoalan yang sekarang kurang kuat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="6" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Hindari situasi menang dan kalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Dalam banyak kasus, kita tidak selalu dihadapkan pada kenyataan kalah atau menang. Misalnya dalam dunia olah raga, kadang hanya kita temukan istilah kedudukan seimbang. Atau dalam sebuah perkara di pengadilan, tidak ada yang kalah dan juga tidak ada yang menang, dg kata lain mereka menemuh jalur kompromi. Demikian untuk persoalan yang kita hadapi, bukan soal kalah atau menang pertama-tama, tetapi solusi atas masalah yang kita hadapi itu yang perlu dipecahkan bersama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="7" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar menyadari bahwa ini persoalan yang      serius&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Hilangkan kecenderungan untuk bergurau tidak pada tempatnya. Bergurau pada saat yang tepat akan tampak jenaka, tetapi bergurau tidak pada tempatnya bisa berakibat bencana. Kita banyak belajar dari kasus yang ada, bahwa bergurau yang berlebihan justru membuat persoalan meruncing. Kita maunya bergurau, tetapi apakah orang lain mau kita ajak bergurau. Mau atau tidaknya bukan tergantung dari kwalitas guraan saja, tetapi juga akan ditentukan oleh karakter seseorang, situasi dan kondisi yang juga akan turut mempengaruhi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="8" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Jangan membesar-besarkan masalah yang ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Melihat dan membahas masalah yang ada secara proporsional, ini kuncinya. Tindakan membesar-besarkan masalah hanya akan membuat persoalan semakin bias dan hanya akan meninggalkan benang kusut yang tidak akan pernah terurai. Mengetahui kasus secara persis akan sangat membantu kita untuk menyampaikan suatu persoalan secara porposional. Belum tentu apa yang kita dengar, seperti itu kebenaran kasus yang terjadi. “Ojo antem kromo”, kata orang Jawa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="9" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar mengemukakan keluhan seobyektif mungkin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Jangan membiasakan diri untuk langsung datang dan memaki-maki. Belajar menginventaris rasa kecewa, kepedihan dan keluhan lebih bijaksana. Baru kemudian sampaikanlah dengan tetap memegang itikad yang baik. Inventarisasi apa yang harus kita sampaikan pun akan membantu kita focus pada persoalan yang ada.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="10" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Carilah jalan keluar yang terbaik&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Berkutat terus menerus dengan perasaan tidak enak, tertekan dan kecewa tanpa ada upaya untuk mencari solusinya sebenarnya hanyalah membuang-buang energi yang besar. Sayang, energi harus kita buang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak menghasilkan seseatu pun bagi kita selain kehancuran. Adalah lebih baik, energi yang ada kita pergunakan untuk sesuatu yang bermanfaat; bermanfaat untuk kita, masyarakat, dan dalam konteks besar bangsa dan negara ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="11" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Belajar mendengar dan beri kesempatan lawan      untuk berbicara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;Penyakit yang sering menghinggapi kita sering kali ketidak-mauan kita untuk sejenak mendengarkan orang lain. Ironisnya, kita cenderung memaksa orang lain untuk mengikuti perkataan dan harapan kita. Sungguh kecenderungan yang sangat tidak terpuji. Padahal, hanya dengan mendengarkan orang lain bicara, di situ kita akan mengetahui kenapa dia berbuat seperti itu sehingga menjadikan kita paham dengan kasus yang ada. Dengan mendengar mungkin kita juga akan sampai pada kesadaran bahwa ternyata dalam kasus ini hayalah salah pengertian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Dengan alternatif-preventif seperti di atas, kita akan mampu menempatkan sebuah persoalan pada tempatnya dengan ukuran yang proporsional dan dari sudut pandang yang obyektif. Dalam terang keseluruhan bahwa menjadi panggilan kita untuk mencintai sesama sebagaimana Tuhan mencintai kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-5866123500021823425?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/01/memilih-untuk-tidak-menjadi-pemarah.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5rSc1Hw7ZI/AAAAAAAAAGw/z8Nnmu0ydkc/s72-c/Picture+015.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-7896126163532832671</guid><pubDate>Wed, 23 Jan 2008 04:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-22T20:41:26.155-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Catatan Perjalanan</category><title>O, TANÖ NIHA…!!!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5bEpVHw7WI/AAAAAAAAAGY/oHFKQBmo070/s1600-h/Picture+028.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5bEpVHw7WI/AAAAAAAAAGY/oHFKQBmo070/s400/Picture+028.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158526637522873698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;Note: Singkatnya kami sekeluarga udah sampai ke tempat tujuan ‘Negeri Langit Lapis Sembilan’ dengan selamat. Tetapi inilah bagian cerita yang sangat berat bagi kami. Bukan hanya rasa bahagia yang akhirnya kami rasakan, tetapi ‘tumpleg bleg’, campur-aduk tidak karuan. Bahagia ada, sedih ada, terharu ada, bahkan sampai perasaan takut pun muncul. ‘Tumpleg bleg’, campur aduk, semuanya ada intinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;S&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ampai Bandara Binaka kami sempat kebingungan juga, nich. Kok belum ada keluarga yang ngejemput. Hubang-hubungin ke nomer-nomer penjemput ngak masuk ‘teu ayak sinyal’. Yah udahlah, kami tunggu sambil ngeliat-ngeliat seputar Bandara Binaka, ngobrol sana-sini dengan penumpang yang lain yang memiliki itikad baik untuk sekedar membagi keramahan dengan kami. “Bang, mau ke mana?”, tanya salah seorang Bapak kepadaku. Ngak biasa juga sih dipanggil ‘abang’, hari-hari kan dipanggil ‘mas’. “Oh, saya Pak. Saya mau ke…”, begitu saya kebingungan ngejawab pertanyaan Bapak itu. Saya hanya tahu ke Nias, tapi orang tua tinggal di Nias bagian mana, daerah apa kan saya ngak tahu. “ &lt;i&gt;Say, mama teh bumina dimana&lt;/i&gt;?”, tanyaku sama istriku. “Di Lolo Moyo, Tuhemberua, Mas”, jawab istriku. Saya rasa bahasa sunda titik temu untuk ngatasin kebingungan saya. Nanya ke istri pakai bahasa Indonesia ketahuan sama bapak itu kalo aku ngak tahu rumah orang tua ‘malu donk’. Pakai Bahasa Jawa, istriku yang ngak tahu. Yah, amannya pakai Bahasa Sunda aja, dech. Antara aku dan istriku sama-sama tahu, dan yang penting nich, supaya Bapak itu ngak ngerti kalo aku sebenarnya ngak tahu daerah mamaku. Supaya aku tetap jadi manusia biasa dan bukan manusia ‘aneh’ di mata bapak itu. Eee.., ini mah strategi aja, tapi harus aku catat, lain kali hal-hal kayak ginian saya harus tau. “Oh, tadi nanyak apa,Pak?”, tanyaku seolah-olah tidak dengar pertanyaan bapak itu tadi. “ Abang mau pergi ke mana?”, jawab bapak itu. “Ooo…, kami mau ke Mama,Pak. Di Lolo Moyo, Tuhemberua”, jawabku. Wah, gawat.., hampir aja aku kelabakan bilang ‘Lolo Moyo’. “O…, Lolo Moyo, Tuhemberua”, sambung bapak itu. “Yah Pak, tapi kami lagi nunggu jemputan. Dari tadi menunggu kok ngak datang-datang. Kami hubungi ngak bisa sambung”, tambahku. “O…, kalo sinyal tidak masuk, berarti mereka ada dalam perjalanan ke sini. Ditunggu aja Bang”, kata bapak itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sementara Dibyo sudah tidak sabar melihat rumah neneknya, tiba-tiba muncullah mobil warna biru laut, yang penumpang di dalamya udah tidak asing lagi bagi istriku. “ Itu adikku Mas, Ama Lucky!”, kata istriku. Syukurlah, penantian kami tidak sia-sia. Ama lucky datang bersama dengan istri dan satu anaknya “Muri”, beserta sopir. “Loh, kok sopir ini kayak orang Jawa juga. Kenapa nyasar di sini itu ‘orang’’, pikirku dalam hati. “Yah, namanya juga cari hidup, Mas. Beginilah, terdampar di mana-mana”, jawab Mas sopir itu saat aku tanya sejarahnya sampai ke Nias. Ternyata itu orang, bawaan Papa Sakhi dan Tante dari Palembang. Jawa yang hidup di Palembang gitu ceritanya. Sementara Dibyo dan mamanya masuk ke dalam mobil, saya dan yang lainnya memasukkan barang bawaan kami dan memastikan bahwa kami siap menuju ke Lolo Moyo, Tuhemberua. Kebahagiaan kedua anak kami mengiringi perjalanan kami itu. “Papa-Papa, mana rumahnya nenek, kok lama amat sih?”, tanya Dibyo padaku. “Sabar Io…, baru 10 menit udah bilang lama’, jawabku. Memang, perjalanan dari Bandara Binaka ke Tuhemberua kurang lebih memakan waktu 30 menit. Jalan raya yang tampak lengang (ngak kayak Bandung yang muacet-cet), jalan yang berlekuk, pepohonan yang menghijau dan yang menarik perhatian saya, banyak ibu-ibu dan anak-anak kecil tampak sibuk bekerja di kebun-kebun milik mereka sepanjang perjalanan yang kami lalui. Ngak tahu ya, ini kebetulan ataukah memang seperti itu etos kerja di Nias. Ibu-Ibu dan anak-anak yang dominan kelihatan di kebun-kebun mereka. Bapak-Bapaknya ke mana ya? Ok, mungkin itu hanyalah kebetulan saja di hari itu. “Papa-papa, laut…, itu lautttt..!”, teriakan Dibyo secara tiba-tiba. Memang, pulau ini begitu nyata dikelilingi oleh lautan. Maklum Dibyo tidak pernah melihat laut selama ini selain dari tv. Habis, di Padalarang laut tidak ada, yang ada hanyalah gunung. Maka setiap kali lihat laut ‘histeris-lah’ dia. Dan yang menarik, disepanjang jalan terdapat panggung-pabnggung kecil yang nanti akan mereka pakai untuk menjajakan ikan hasil tangkapan dari laut. Tetapi sepertinya kami udah kesiangan sehingga tinggal tempatnya saja, sementara ikan dan pedagangnya udah tidak ada lagi. “ Ya udahlah kalo gitu, kita langsung pulang dulu aja. Biar mereka istirahat dulu dan biar berjumpa dengan mama dulu. Belinya ikan nanti sore saja. Sekarang juga udah kesiangan”, begitu kata Ama Lucky. Akhirnya pencarian ikan kami tanguhkan dan langsung kita menuju rumah. Memang, sepertinya mereka dari rumah membawa misi agar jemput sekalian beli ikan. Ya udahlah, lagian kami udah tidak sabar untuk bertemu dengan mama di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tidak lama kemudian sampailah kami di rumah Mama. Wow, rumah itu sangat indah posisinya, ada diatas jalan dan bertrap tiga, bangunan satu, bangunan dua dan bangunan tiga. Tampak ramai sih jelas, karena mama tinggal bersama 2 anaknya, Ama Lucky dengan Ina Lucky berikut Lucky dan Muri-nya, Ama Cleo dengan Ina Cleo dan Cleonya, serta yang dekat-dekat dengan situ Ama Hengky dengan Ina Hengky, berikut Hengky dan Teguh (wah.., Teguh, kayak nama orang Jawa saja) yang saya rasa juga turut meramaikan rumah itu dari hari ke hari. Apalagi Papa Sakhi Palembang dan keluarga kan udah duluan di rumah mama. “Hallo, bagaimana perjalanannya?”, begitulah mereka sapa kami begitu melihat kami turun dari mobil jemputan. “Wah, sangat menyenangkan”, begitu jawaban istriku. “Ayuk, kalian langsung aja makan”, kata mama. Wah, begitu denger makan, langsung pikiran saya ke ‘benda haram’ itu ‘ada ngak ya”. Begitu sampai di meja makan, saya langsung lirik ke kiri dan lirik ke kanan, sampai akhirnya ketemu juga yang aku cari ‘benda haram’. “Asyiklah, haram &lt;i&gt;teu naon-naon&lt;/i&gt;, yang penting nikmatttt…”, begitu pikirku dalam hati. Kami akhirnya asyik makan sambil cerita ke sana kemari, entah tentang Bandung, entah tentang anak-anak di perjalanan, entah tentang Nias yang dulu dan sekarang dan sebagainya dan sebagainya. Tetapi satu hal yang sudah kami tetapkan sebelum kami berangkat ke Nias, hari pertama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kami di Nias, kami akan menengok makam keluarga. Di sanalah, ‘leluhur’ istri saya di makamkan termasuk ayahandanya. Yah, mungkin ini tindakan kami yang controversial juga ‘mengunjungi makam’. Tetapi apa boleh buat, kami tahu apa yang kami lakukan. Sebaliknya, kami salah dan kurang bersyukur, kalo rasa bhakti dan rasa cinta kami harus berhenti sampai makam dan tulang belulang saja. Tidak…, &lt;b&gt;rasa bhakti dan rasa cinta kami terhadap orang yang telah ‘ditakdirkan’ pernah hidup bersama kami tak kan pernah berhenti, bahkan ibarat sudah menjadi tulang-belulang yang berserakan dalam kubur pun, tetap akan kami pungut, kumpulkan dan kami rawat&lt;/b&gt;. &lt;b&gt;Sejauh darah yang mengalir dalam diri ini adalah bagian dari dia , sejauh itu juga kami akan mengucap syukur bagi Tuhan Sang Empunya Hidup dan Mati, seraya berdoa bagi dia yang kini sudah di alam baka. &lt;/b&gt;“ Naik, naik ke puncak gunung. Tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat smua. Banyak pohon cemara. Kiri-kanan kulihat semua. Banyak pohon cemara”, begitulah kami berjalan mendaki bukit keluarga menuju ke tanah pemakaman di daerah lerengnya. Wuih, capek juga nich. Di Bandung tidak pernah olah raga, sementara di Nias harus langsung menaiki sebuah bukit. Weleh-weleh…, betis, paha dan pinggang kami nih yang rasanya setengah ampun. Apalagi saya mendaki sambil ngegendong Io. Habis, Io juga ingin ngeliat di mana kakeknya disemayamkan. Kira-kira kami sampai di pekuburan sekitar 15 menitlah. Sebuah kuburan keluarga yang luasnya kira-kira 15 x 6 m2, dan berpenghuni sekitar 6 atau 7 kerabat yang udah meninggal dan dikuburkan di situ. Kami bersih-bersih, sambil mereka menceritakan siapa nisan yang pertama, kedua, ketiga dan sebagainya. Termasuk bagaimana mereka sewaktu mereka masih hidup. Menarik, dan sangat senang saya mendengarnya. Yang tidak kalah menariknya, kedatangan kami bak disambut oleh harumnya bunga kamboja. Padahal nich, saya tidak bermaksud nakut-nakutin, di sekitar makam itu tidak ada pohon kamboja. Dari mana ada harum bau kamboja? Yahhh.., kami ambil hikmah positifnya aja bahwa kedatangan kami disambut dengan baik. “ Pa, kakeknya Io di mana. Kok ngak ada. Kakek Io udah mati?”, tanya Dibyo. “ Itu rumah kakek Io, jauhhh di dalam sana kakek Io beristirahat”, jawabku sambil mengarahkan telunjukku ke arah gundukan batu yang paling ujung. “ Di dalam sana kakek Io sama siapa? Ada temennya enggak? Kasian dong kalo ngak ada temennya”, tanyanya kembali. “ Wow, kakek di dalam sana tidak sendirian, tetapi banyak temennya. Ada Tuhan Yesus, ada Santa Maria, ada Santo Yosef, Santa Theresia, ada para Malaikat dan Malaikat Agung dan bersama penghuni surga lainnya”, begitu saya menjawabnya. Yeach…, kami harus segera turun bukit nich, rencana kami dari Bandung yang penting udah kami laksanakan. “ Menengok&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;makam papa”. Ini hari pertama kami di Nias.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bersambung…. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-7896126163532832671?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/01/o-tan-niha_22.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5bEpVHw7WI/AAAAAAAAAGY/oHFKQBmo070/s72-c/Picture+028.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-6256473928790298376</guid><pubDate>Fri, 18 Jan 2008 09:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-18T01:44:41.003-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Catatan Perjalanan</category><title>O, TANÖ NIHA…!!!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5B0nPVIfuI/AAAAAAAAAGQ/w9Uy_n6ecDk/s1600-h/bINAKA.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5B0nPVIfuI/AAAAAAAAAGQ/w9Uy_n6ecDk/s400/bINAKA.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156749790818107106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (2)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;Note: Sabar ya, aku ini orang ‘gajian’. Karena terima gaji dari orang lain itulah, maka aku kan ngak bisa suka-suka, kan? Mimpi sih, bisa ngaji diri sendiri, tapi itu belum menjadi kenyataan…doain yack!! So, harus cari celah di sela-sela kesibukan harianku. Ada celah waktu sedikit aja…, pasti aku gunakan untuk corat-coret ‘sak udelku dhewe. Rak yo apik to, daripada ngerumpi ngalor-ngidul ngak ada juntrungnya. O iya, NROCOS terus, kapan ceritanya….?!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MEDAN-NIAS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Wah, kemarin sampai mana ya? Ntar yah, aku inget-inget dulu (udah agak-agak pikun,nich..). Nah, inget nih sekarang. Polonia-Medan…, naik taxi ke rumah saudara istriku yang di Medan…terakhir sampai di rumah dan tidur di sana,ya?!!! Ok, so pasti kami sangat lelah. Bayangin saja dari Bandung ke Jakarta, dari Jakarta sampai ke Medan. Wuih, jarak sejauh itu…pasti capeklah, yaw. Makanya, begitu sampai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kami bersih-bersih badan (mandi maksud saya), ngasih makan bubur Haga, main sebentar sambil nyuapin Dibyo, sesudahnya gantian kami yang makan dan ‘bleg’… kami semua tertidur lelap tanpa mimpi. Tapi sebelum berangkat bubuk, kami dah sepakat bahwa esok hari akan bangun pkl. 04.00 WIB. Hihhh, ngebayangin dinginnya ngueri juga. Tapi apa boleh buat, ngurus anak-anak sebelum keberangkatan ini yang memakan waktu panjang, belum mbaliknya ke Bandara Polonia . Sementara pesawat yang akan kami tumpangi ke Bandara Binaka Nias berangkat Pkl. 06.30 Wib.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kukuruyuk…kukuruyuk…kukuruyukkkkk…”, begitulah ayam jantan berkokok. Ntar.., inget pelajaran membaca SD kelas 1? Artinya, hari sudah pagi. “Io, Iooo…bangun Sayang, hari udah pagi, ayuk kita lanjutin perjalanan ke rumah nenek”, begitu kami ngebangunin Dibyo. Sekali, dua kali, tiga kali tidak mempan, akhirnya kami harus berkali kali sampai dia terbangun. “ eit,eit,eitt…kok bobok lagi! Bangun Sayang, kita harus cepat, nenek udah nungguin Io sama Dede Haga dari tadi”, begitu pinta kami. Yah, tampaknya dia kecapean. Habis saking semangatnya, kemarin dari Bandung sampai Bandara Polonia maunya narikin koper-koper seberat kurang lebih 35kg. ‘Terasa pegal semua kali ya”, begitu pikirku. Seperti biasa, begitu bangun kami selalu meminta Dibyo untuk berdoa terlebih dulu, bersyukur atas istirahat semalaman dan mohon berkat untuk hari yang baru. “Ayo kita mandi, ayo, ayo…wah, airnya tidak terlalu dingin loch, segar lagi…”, begitu bersemangatnya kami untuk segera berangkat ke Bandara Polonia menuju Bandara Binaka Nias.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Baya, Tante…kami terima kasih banyak atas sambutan dan tumpangannya sehingga kami dapat istirahat dan meneruskan perjalanan ke Nias dengan kondisi yang jauh lebih segar”, begitu kurang lebih kalimat yang kami sampaikan kepada empunya rumah. O iya, baya itu Bahasa Nias yang padanan bahasa kita ‘om’. Om-nya Tante maksud saya, bukan ‘Omplong’. Begitulah, kira-kira pkl. 05.30 Wib kami berangkat ke Bandara Polonia setelah segala sesuatunya siap. Dibyo, yang tadinya susah bangun, sekarang udah kelihatan segar, dan nampak cakep dengan kemeja warna coklat keabu-abuan ala USA ARMY. “Siap, siap..ok, kita berangkat !”, begitu saya pastikan segala sesuatunya. Sepanjang perjalanan, sepi-sepi aja karena mobil yang dipakai nganter kami sepertinya tidak dilengkapi dengan tape mobil. Kami semacam sepakat untuk diam, menikmati keindahan sepanjang jalan protocol Medan yang masih lengang, sambil menikmati kesegaran pagi yang ditawarkan kota Medan. Lumayan jauh juga jarak antara rumah yang kami tumpangi dengan Bandara Polonia Medan. Yah, kira-kira setengah jam perjalananlah. Kaloupun lebih ya paling hanya selisih beberapa menit. Tepat pukul 06.00 Wib, kami sampai di Bandara. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tengok kiri-tengok kanan lazimnya orang kebingungan, kami mencari seseorang yang janji membeliin tiket untuk keberangkatan pagi ini. Tapi kok ngak nongol-nongol batang hidungnya. Biasa, namanya juga calo pasti masih sibuk dengan client-nya yang lain. Kata baya sih, dia itu orangnya baik, tidak terlalu ngambil untung dan orang Nias juga. Sebenarnya antara mau dan ngak mau sih, tapi ngak enak juga kalo kami tolak. Ntar kirain yang bukan-bukan. Enakan beli langsung kalo kami pikir-pikir. Tapi ya udahlah, yang penting kami sampai di Nias dengan selamat dan dapat berjumpa dengan Mama dan keluarga yang lain. Tidak selang beberapa lama, datanglah orang yang kami carai, berteriak sambil berkata: “&lt;i&gt;check-in&lt;/i&gt; barang…, &lt;i&gt;check-in&lt;/i&gt; barang!!”. Setelah check-in beres, harga tiket kami berikan kepada calo tersebut, kami akhirnya menuju ke ruang tunggu. Kira-kira waktu sudah nunjukin pkl. 06.15 Wib. Baru saja kami duduk, pihak Bandara Polonia sudah mengumumkan bahwa pesawat SMAC tujuan Bandara Binaka Nias segera akan diberangkatkan dan seluruh penumpang diharapkan masuk. Wah, syukurlah..makin cepat makin baik. Dibyo juga udah ngak sabaran mau naikin pesawat SMAC.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Liat-liat Papa ,liat Mama...pesawatnya udah mau jalan!”, begitu Dibyo berteriak manakala pesawat mau persiapan untuk ‘&lt;i&gt;take-off’&lt;/i&gt;. Wah, luar biasa indahya…terbang di antara awan-awan. Dan betul juga kata pepatah, “di atas langit ada langit”. Yah, langit berlapis-lapis kali ya…lapis sembilan kata orang Nias. Ngak tahu nih, pesawat ini udah tembus langit yang keberapa ya? Satu, dua, tiga…tetapi yang jelas belum sampai lapisan langit yang kesembilan. Aduh, kok ada tiba-tiba kulit saya terasa tertusuk benda tajam. Periksa demi periksa, O…, bukan benda tajam ternyata. Tapi kutu busuk (orang Jawa bilangnya ‘tinggi’. Bukan tinggi-tinggi sekali, tetapi kutu busuk maksudnya). ‘Liat,liat Papa…, liat Mama, ada kutu. Matiin cepat. Ionya takut”, teriakan Dibyo yang ketakutan dengan binatang-binatang kecil semacam itu. Yah, terpaksa dech, bukannya nikmati perjalanan bersama awan , tetapi nikmati perjalanan dengan kutu busuk.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“itu-itu liat Mama, ada daratan di bawah sana, ada pohon-pohon kelapa”, lagi-lagi teriakan Dibyo yang sanngat dominan dalam ruang pesawat itu. Yah, payah dech orang lain yang mau nikmati perjalanan. Bisa-bisa terganggu dengan keributan-keributan yang dibuat Dibyo sepanjang perjalanan. Tetapi benar kata Dibyo, memang di kejaguan tampak hamparan daratan yang membentang hijau dan permai. “Nias itu”, tanyaku pada istriku. “Yah, rupanya sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Binaka”, jawab istriku. “Syukurlah, mudah-mudahan kita dapat mendarat dengan selamat”, sambungku. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak lama kemudian…”horeee…kita udah mendarat di Bandara Binaka Nias dengan selamat. Ada semacam kebahagiaan yang sulit untuk kami ungkapkan “inilah Negeri Langit Lapis Sembilan itu”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;BERSAMBUNG...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-6256473928790298376?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/01/o-tan-niha_18.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R5B0nPVIfuI/AAAAAAAAAGQ/w9Uy_n6ecDk/s72-c/bINAKA.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-1690522885072600586</guid><pubDate>Thu, 17 Jan 2008 09:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-17T01:27:33.993-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Catatan Perjalanan</category><title>O, TANÖ NIHA…!!!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R48ckvVIfrI/AAAAAAAAAF4/uOtvVE1R9Z4/s1600-h/Batavia+Air.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 71px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R48ckvVIfrI/AAAAAAAAAF4/uOtvVE1R9Z4/s400/Batavia+Air.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156371515868479154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;PERJALANAN KE NEGERI LANGIT LAPIS SEMBILAN (1)&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Note: Dengan tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk membuat cerita fiktif sekelas ‘Puteri Selendang Biru’. Tetapi dengan tulisan ini, saya sekedar bermaksud untuk mengabadikan perjalan kami sekeluarga ke Tano Niha (Pulau Nias). Di Negeri yang terkenal dengan ‘hoho’/syairnya inilah, saya mendapat informasi bahwa selain hoho, di Tano Niha pun terdapat mitos&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;yang sangat terkenal, yaitu mitos tentang Langit Lapis Sembilan. Terlepas mitosnya seperti apa, karena saya sendiri juga belum pernah mendengarnya secara lengkap, tetapi saya merasa bahwa Negeri Langit Lapis Sembilan dapat saya jadikan julukan untuk Tano Niha, bak Belanda dengan Negeri Kincir Anginnya atau Jepang dengan Sakura/Mata Hari Terbitnya. Negeri Langit Lapis Sembilan saya harapkan mampu mewakili rasa kagum saya terhadap potensi dan keindahan alam serta kekayaan khasanah budaya yang ada di sana.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;BANDUNG-JAKARTA-MEDAN&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tanggal 29 Desember 2007&lt;i&gt;, k&lt;/i&gt;ira-kira pkl. 11.00 Wib, kami sekeluarga ( saya, istri, dan kedua anak saya yang masih kecil) bergegas meninggalkan Kota Bandung, dengan menggunakan Extrans Travel, menuju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta). Lebih baik datang awal daripada terlambat, begitulah kira-kira prinsip kami sekeluarga. Dan sesuai yang kami rencanakan, kami pun tiba di bandara kira-kira pkl.14.30. Artinya, kami datang lebih awal beberapa jam dibandingkan jadwal penerbangan yang kami dapatkan dari maskapai Batavia Air (pkl. 18.15 Wib) tujuan Medan. Lumayan , ada cukup waktu bagi kami untuk beristirahat sebelum kami menuju ke Kota Medan, terlebih lagi ada cukup waktu untuk memperhatikan anak-anak agar tidak kena angin perjalanan nantinya. Juga yang menarik dan yang susah untuk tidak aku ceritakan, Yohanes Krisostomus Dibyo Yuwono (4&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;), anak kami yang pertama, begitu semangatnya ngangkutin barang-barang bawaan kami, yang untuk ukuran anak seusia itu tergolong besar dan berat, tetapi dia kuat dan penuh semangat. Begitu beraninya ia menyelinap masuk ke sana-kemari sambil membawa barang-barang, bahkan sapaan yang dilontarkan orang-orang yang mengagumi semangat dan kekuatannya pun tidak ia hiraukan lagi. Terus terang aku bangga dengan dia, tetapi pertanyaan saya waktu itu, akan tetap seperti itukah anak saya ? Oh…, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan buat dia. Sementara Gabriello Haga Gulidane (6 bln) juga tidak kalah menariknya, dia begitu gembira dan selalu tebar senyum kepada hampir semua orang yang menaruh perhatian kepadanya. Yah, mereka berdualah yang dapat melepaskan kami dari kegalauan yang sebenarnya turut mengiringi kepergian kami ke Nias.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat yang kami tunggu-tunggu pun tiba, pihak bandara mengumumkan bahwa sudah waktunya kami &lt;i&gt;Check-in&lt;/i&gt; dan pesawat tidak lama lagi akan segera diberangkatkan. “Cepet Sayang, ayo cepat..!”, begitulah saya kasih semangat kepada Dibyo agar segera memasuki pesawat setelah check-in selesai kami lakukan. Ribut dan banyak pertanyaan yang aneh-aneh, itu sudah dapat aku bayangkan sebelumnya. Yang ini apa, yang itu apa, mengapa begini dan mengapa begitu, itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus kami jawab sebelum pesawat ‘take-off’ sehingga petunjuk-petunjuk penerbangan yang disampaikan pramugari pun tidak dapat kami ikuti lagi. Untunglah ada pamflet-pamflet yang juga bisa kami baca, yang tersedia di belakang kursi duduk di depan kami. Walaupun begitu, kami tetap mengajak Dibyo untuk sejenak berdoa mohon keselamatan kepada Tuhan sebelum pesawat diberangkatkan. Andai harus tidak selamat pun, kami sudah melakukan yang terbaik , yaitu telah menyerahkan hidup dan mati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kami sepenuhnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke dalam tangan-Nya. Memang ngeri juga sih kalo terjadi ‘apa-apa’ di udara, apalagi kalo ingat ada informasi pesawatnya yang tualah, cuaca yang kurang baiklah, ada pesawat yang jatuhlah, yang itu semua akan menambah daftar panjang sebab pemicu rasa takut sebelum kita memutuskan untuk menaiki pesawat. Aneh juga ya bangsaku ini, sementara ada kecenderungan menyukai penerbangan, tetapi serentak dihinggapi penyakit ‘ketakutan’ untuk terbang. “Hei Papa-Papa, pesawatnya udah mulai jalan. Sebentar lagi terbang!”, begitu teriakan Dibyo yang nyaris seluruh penumpang dalam pesawat dapat mendengarnya. Dan begitulah, pesawat rupanya mulai persiapan ‘take-off’. Sementara sebagian besar penumpang sibuk dengan persiapan menutup mata, tetapi Dibyo justru sibuk memperlebar pintu penutup cendela pesawat. “ Lihat Papa, lihat Papa….!”, begitulah Dia mengekspresikan kekagumannya terhadap sesuatu disekitar yang dia lihat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Wah, penerbangan dengan ketinggian 3.500 kaki rupanya cukup membuat kita sadar juga bahwa manusia bukanlah ‘apa-apa’ dibandingkan alam semesta, manusia masih lumayan dikatakan debu, padahal debu pun tidak. Begitu nyata bahwa daratan jauh lebih kecil dibandingkan dengan lautan. Sayang, karena penerbangan ini malam hari, sehingga patokan saya hanya satu, pada saat kerlap-kerlip di bawah hilang dan kita masuk ke kegelapan, itulah laut. Betul enggak sih, saya pun tidak tahu…,ini kan dugaan saya, ketinggian pesawat pun berpengaruh juga kan sehingga cahaya yang bertebaran dibawah tidak dapat terlihat lagi. Tetapi yang jelas, rasa dingin makin lama makin menusuk tulang. “ Aduh, tolong Dibyo diselimutin”, begitu pinta istriku. Kebetulan Haga sudah tertidur dari tadi di dekapan mamanya, sehingga kami dapat sedikit menghemat tenaga. Dan hampir sedikit lagi, Dibyo pun saya pastikan tertidur. Habis, ngak ada sesuatu yang menarik untuk dia lihat lagi. Lha wong gelap gulita… Situasi dipesawat pun berubah tenang dan hening, hanya raungan bunyi pesawat dan goncangan-gonjangan akibat cuaca yang kurang baiklah yang dapat kami dengar dan kami rasakan. “ngrokkkkk….gerrrrr…..,ngrokkkkk……gerrrrr……, ngrokkkkk….gerrrr….”, semuanya tertidur. Sampai akhirnya, semua yang tertidur termasuk Dibyo, dikejutkan oleh pengumuman dari pihak pramugari yang menerangkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Polonia-Medan. Tepat pukul 20.00 WIB kami tiba di Medan dengan selamat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kami sekeluarga rencana menginap di Medan semalam, sebelum keesokan harinya kami melalanjutkan perjalanan lagi dari Medan ke Nias. Semalam di Cianjur sih sudah biasa, lain cerita dengan semalan di Medan, rasanya seperti apa sih? Tidak lama berselang, keluarga istri saya pun datang lengkap dengan taxi sewaan dan pengawal pribadi. Sepanjang jalan kami beramah-tamah lazimnya saudara yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Tetapi yang menarik, dan ini pengalaman langka buat saya, tidak pernah saya jumpai di Jawa, begitu saya masuk ke dalam taxi, kami disambut dengan lagu Ave Maria. &lt;i&gt;“ Ave Maria. Gratia plena. Maria Gratia Plena. Maria Gratia Plena. Ave, Ave Dominus. Dominus tecum. Benedictatu in mulieribus, et bennedictus. Et bennedictus fructus ventris. Ventris tui Jesu&lt;/i&gt;”, wow terasa di Belgia. Dan yang juga menarik, sepanjang jalan banyak kami temukan pedagang buah durian. Dan konon informasinya, durian di Medan murah loh…waw, alangkah lezatnya! Tetapi kami cukup menelan air liur saja lantaran masih ada hari esok pikir kami. Yang penting kami sampai dulu di rumah tujuan, ngebersihin badan, makan dan kalo masih ada waktu tersisa ‘&lt;i&gt;mlaku-mlaku’&lt;/i&gt; kata orang Jawa. Saat yang kami nantikan pun tiba dan sampailah kami di rumah tujuan. Ya udah, kami pun beristirahat semalem di Medan. Dan bocoran saja, semalem di Cianjur dg semalem di Medan, tidak jauh beda loch!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;BERSAMBUNG.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-1690522885072600586?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2008/01/o-tan-niha.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R48ckvVIfrI/AAAAAAAAAF4/uOtvVE1R9Z4/s72-c/Batavia+Air.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-7974269551998045908</guid><pubDate>Mon, 24 Dec 2007 01:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-23T18:00:47.479-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>SELAMAT NATAL 2007</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R28R5PVIfqI/AAAAAAAAAFw/qjyvUXF2Xa8/s1600-h/Pohon+Natal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R28R5PVIfqI/AAAAAAAAAFw/qjyvUXF2Xa8/s400/Pohon+Natal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147352574173150882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KESEDERHANAAN TITIK BALIK KE ARAH KEBENARAN HAKIKI&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Sebuah Seni Menempatkan Dekorasi Natal dalam Hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Oleh:Ant. Dwi Wahyudi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:10;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Hidup adalah perjalan satu arah. Perasaan sukses telah berhasil membuat banyak cabang justru merupakan isyarat bahwa kita telah jauh dari kebenaran hakiki. Hanya jika kita mampu menutup kembali seluruh cabang yang pernah kita buat, dan tinggal jalan satu arahlah yang kita lihat, di situ kita telah menemukan kembali kebenaran hakiki yang sempat jauh tersesat,hampir hilang bahkan nyaris tidak dikenali lagi”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Kutipan di atas sekedar ilustrasi yang saya buat, yang saya harapkan mampu membantu para pembaca yang budiman, memahami pentingnya makna kesederhanaan yang tersirat dalam peristiwa natal. Makna kesederhanaan yang sama , yang juga akan kita perlukan untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mendapatkan kebenaran hakiki, yang kadang tanpa kita sadari telah hilang, pergi dan menjauh dari kita. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Saya pribadi lebih condong untuk mendifinisikan kebenaran hakiki sebagai kebenaran komunal Gereja, yang tentunya tertuang/dapat ditemukan dalam dogma, doktrin dan tradisi Gereja, yang jauh hari telah kita dengar dari mulut ke mulut dan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi sehingga jauh direlung hati kita sebenarnya telah menjadi nilai yang kuat terpatri. Hanya saja, kebenaran komunal yang saya maksud toh dalam prakteknya kerapkali berbenturan dengan ‘kesombongan’ kita, yang tidak mau terikat dengan nilai-nilai komunal Gereja lagi , bahkan memutuskan diri untuk keluar dari dalamnya sehingga nilai-nilai kebenaran komunal Gereja yang sebenarnya telah terpatri, tidak kita jadikan lagi pedoman arah dalam kehidupan kita. Nilai-nilai itu akhirnya hilang dan kita terbuai dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nilai-nilai baru yang kita temukan, yang justru kita jadikan pedoman hidup kita , yang biasanya jauh dari keterikatan dengan nilai-nilai kebenaran komunal Gereja.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Dengan kelahiran Yesus anak Maria, yang kita sebut dengan peristiwa natal pada akhirnya, ‘kesombongan’ kita terasa didobrak. Kita diajak untuk menghentikan pembuatan cabang dan menutup cabang yang pernah kita buka dengan mengenakan dandanan kesederhanaan sehingga memungkinkan kita kembali untuk menghayati hidup sebagai perjalanan satu arah. Banyak para penulis yang lebih tertarik untuk berkutat dengan tema-tema terkait sejarah Natal, berspekulasi dan memperdebatkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus Kristus atau bukan. Tetapi dalam bentuk yang berbeda, saya ingin menyuguhkan yang terkecil (yang kerap kita abaikan) dari keagungan perayaan natal yang saya yakin dapat dijadikan jendela untuk mengintip, mencari dan menemukan kebenaran hakiki sebagaimana yang saya pahami di atas. Yang sederhana saja, tentang dekorasi kandang natal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Dalam literatur Sejarah Gereja ada yang mencatat bahwa St.Fransiskus dari Asisi adalah orang pertama dalam Gereja yang dipercaya sebagai pencetus dibuatnya kandang Natal. Dekorasi kandang natal yang pertama di buat di Gereja Greccio, dekat Asisi, Italia. Dikisahkan bahwa pada awal mulanya, Beliau hanya meletakkan tiga tokoh dalam kandang natal, yaitu Yesus, Maria dan Yosef. Namun dalam tahun-tahun selanjutnya, Beliau terinspirasi untuk menambahkan tokoh-tokoh lain (malaikat, gembala, domba, tiga raja dari timur) yang berada disekitar kisah kelahiran sebagaimana dikisahkan dalam Injil Matius dan Injil Lukas. Dan tak lama kemudian, karya Sang Santo menjadi tradisi yang tersebar di seluruh Eropa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Kita hanya mampu berspekulasi bahwa dengan dekorasi kandang natalnya, tentu Santo Fransiskus dari Asisi bermaksud menggambarkan situasi dan kondisi sebenarnya dari peristiwa kelahiran tersebut, yaitu kesederhanaan/ kebersahajaan. Cukup dengan lampu tempel yang redup untuk dijadikan penerangan dan bukan dengan lampu pijar/lampu listrik. Cukup dengan berbaring dalam palungan dalam sebuah kandang domba dan bukan dibaringkan dalam tempat tidur yang lux di salah satu rumah sakit kota. Cukup dengan iringan suara jangkrik dan binatang-binatang lainnya dan bukan dengan iringan sebuah lagu yang merdu dengan alat musik yang modern. Cukup dengan keheningan yang mencekam tanpa perayaan dan bukan dengan hingar-bingar pesta pora penyambutan. Cukup dijaga oleh para gembala dan bukan dijaga oleh polisi ataupun tentara. Cukup dengan seorang ayah yang sekedar berprofesi sebagai tukang kayu, bukan raja, pegawai atau pun pengusaha besar. Cukup dengan seorang ibu yang berasal dari kampung, tidak berpendidikan dan bukannya dengan seorang Ibu yang berasal dari kota, berpendidikan dan dari universitas ternama. Kesederhanaan Natal yang seperti itulah yang saya rasa berusaha digambarkan oleh Santo Fransiskus dari Asisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan dekorasi natal yang dibuatnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Memang, dekorasi natal sekarang menjadi sebuah dekorasi perayaan yang ‘wuah’, sebuah perayaan yang megah dan sedemikian sudah dilumuri ornamen-ornamen kemodernan yang luar biasa, menjadi sesuatu yang elegant sehingga pesan kesederhanaan dari sebuah perayaan natal terabaikan dan nyaris tidak ditemukan lagi.Tema-tema natal menjadi iklan-iklan dunia bisnis yang diharapkan mampu mengeruk tumpukan uang dolar. Lampu tempel berubah jadi lampu listrik yang berwarna-warni, palungan berubah menjadi spring bad mewah khusus bagi bayi , suara jangkrik tidak lagi diperhitungkan dan diganti dengan iringan musik band dengan lagu-lagu kontemporer. Sosok Yosef sang ayah telah diganti dengan pakaian mewah, mengalahkan seorang raja yang sedang duduk di singgasana. Maria pun tampil sebagai sosok Ibu yang dibayangkan semacam pernah mengikuti kursus-kursus privat tentang kecantikan. Berpose ala mojang priyangan, berpakaian tangtop, berpenampilan cantik dan menarik. Kesan bahwa Maria adalah gadis kampung, lugu dan sederhana tidak diketemukan lagi. Para gembala penjaga yang bersenjatakan seruling bambu pun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kalo perlu diganti dengan polisi ataupun tentara dengan persenjataan laras panjang dan siap tembak di tempat. Maklum, dunia kita tidak sedamai waktu Yesus Kristus dilahirkan sekian ribu tahun yang silam. Justru sekarang moment natal kerapkali malah menjadi arena orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, yang mengatas-namakan kebenaran, untuk uji coba nuklir. Inilah gambaran dekorasi kandang natal produck kemodernan , yang identik dengan kemajuan berpikir manusia dewasa ini dalam segala aspek kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Mungkin gambaran dekorasi natal produk kemodernan yang saya buat akan terkesan mengada-ada dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi toh saya ingin menyampaikan bahwa sering kali kita kesulitan untuk menangkap pesan natal dari sebuah dekorasi kandang natal modern. Saya pun juga ingin menyampaikan bahwa ada kecenderungan dari kita manusia-manusia modern ini, keluar dari kebenaran-kebenaran komunal yang sebenarnya sudah ada dan sudah kita tahu, bahkan sudah saya singgung di atas bahwa kebenaran komunal itu sendiri sebenarnya telah ‘terpatri’ dalam lubuk hati kita terdalam. Korban dari kecenderungan ini bukan hanya pesan sederhana dari sebuah dekorasi kandang natal yang akhirnya hilang, tetapi dalam banyak sektor dan rung lingkup keimanan kita, termasuk nilai-nilai yang ada yang tidak kita hiraukan lagi dengan dalih dan alasan yang beragam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Terlepas fenomena itu terjadi, terlepas ada kecenderungan-kecenderungan bahwa kita pernah mencoba untuk keluar dari kebenaran hakiki yang saya pahami sebagai kebenaran-kebenaran komunal Gereja, tetapi dalam lubuk hati kita yang terdalam sebenarnya kebenaran hakiki itu sudah terlanjur terpatri. Yang menjadi persoalan sekarang adalah sejauh mana kita berkehendak untuk belajar rendah hati. Karena di dalam kerendahan hati, bersemayamlah kesederhanaan. Nah, kesederhanaan inilah yang kita perlukan untuk menjaga kebenaran hakiki yang telah kita miliki. Kesederhanaan inilah yang harus kita bangun dalam kehidupan keberimanan kita. Kesederhanaan inilah yang memungkinkan kita untuk menjadi umat yang patuh, tunduk dan taat kepada otoritas wewenang mengajar Gereja. Tidak usah aneh-aneh, tidak ‘neko-neko’, tidak ‘sak udele dhewe’, kata orang Jawa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Kesederhanaan dekorasi kandang natal adalah media bagi kita. Media yang memungkinkan kita belajar bersikap dan berbuat pada tempatnya di dalam kesederhanaan. Kesederhanaan dekorasi natal adalah jalan satu arah yang memungkinkan kita sampai kepada kebenaran hakiki. Kesederhanaan dalam dekorasi kandang natal itulah, yang juga Allah pergunakan sebagai media untuk masuk ke dalam kebesaran, keagungan dan semarak kemuliaan. Mendandani Bayi Yesus dengan kain lampin, meletakkannya di dalam palungan, mendandani maria dengan kesederhanaan gadis kampung, mengembalikan baju Yosef sepantasnya seorang tukang kayu, mengganti lampu listrik yang telah kita rubah menjadi lampu tempel, mengikat domba dalam patok-patok yang disediakan di dalam kandang, mempercayakan kepada para gembala keamanan lingkungan sekitar kandang, dan menempatkan miniatur dekorasi kandang natal ini ke dalam hati kita. Biarlah Dia lahir setiap hari dalam kesederhanaan di dalam hati kita. Dan biarkanlah kelahiran itu terang memancar bersama kerlip bintang kejora yang gemilang nun jauh di sana, di dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lubuk hati kita yang terdalam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Inilah yang saya maksud dengan sebuah seni menempatkan dekorasi natal dalam hati kita, agar dengan kesederhanaan yang dipantulkan dari sebuah kandang natal yang kita tempatkan, kita semua dapat menemukan kembali kebenaran hakiki yang kadang tanpa kita sadari ternyata menjadi kabur , kosong, telah hilang, dan pergi jauh meninggalkan kita. Kesederhanaan dekorasi kandang natal adalah seruan agar kita bersedia untuk kembali kepada kebenaran yang hakiki. Dan mengalami natal sebagai pesan kesederhanaan memungkinkan kita masuk ke dalam misteri inkarnasi. Saya mengucapkan Selamat Natal, semoga Sang Bayi Mungil yang manis tetap bertahta di hati kita, dalam sebuah kesederhanan dekorasi natal yang telah kita persiapkan, untuk menerangi hidup serta semesta tercinta ini. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-7974269551998045908?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/selamat-natal-2007.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R28R5PVIfqI/AAAAAAAAAFw/qjyvUXF2Xa8/s72-c/Pohon+Natal.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-7820575728273065860</guid><pubDate>Wed, 19 Dec 2007 08:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-19T00:44:46.959-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Komentar Kritis atas Pemikiran Ibnu Rusyd (2)</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2jVXfVIfgI/AAAAAAAAAEY/YnU1CwWX-zk/s1600-h/looking+out.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2jVXfVIfgI/AAAAAAAAAEY/YnU1CwWX-zk/s320/looking+out.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145597173794635266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;(Pemikiran Ibnu Ruzyd dalam Rentang Sejarah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;3.2 Redefinisi dan Tafsir atas Pemikiran Ibnu Rusyd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada bagian ini, saya akan mencoba menafsir ide pokok dalam konsep keazalian alam dan Tuhan menurut Ibnu Rusyd. Penafsiran yang akan saya lakukan tentunya serentak menunjukkan kritik atas pemikiran Ibnu Rusyd dan merumuskan kembali pemikirannya secara baru, suatu cara pandang baru terhadap diri manusia, alam, dan keterkaitannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, pemahaman saya atas pemikiran Ibnu Rusyd akan membantu saya juga dalam melihat serta memahami visi etis Ibnu Rusyd.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;3.2.1.Tinjauan Baru atas Teori Emanasi Ibnu Rusyd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Masalah bagaimana alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, Ibnu Rusyd menjelaskannya dengan teori emanasi.Persoalan kemudian yang muncul menurut saya, teori emanasi Ibnu Rusyd tidak begitu menampakkan apakah alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan karena kehendaknya, ataukah alam yang melimpah dari Tuhan itu terjadi dengan sendirinya, tanpa kehendak-Nya, sehingga Ia adalah Tuhan yang terpaksa berbuat sesuatu tanpa kehendak dan pilihan. Ibnu Rusyd dalam hal ini ngambang dalam memberikan penjelasan atas teorinya. Dalam teori emanasinya, alam melimpah dari Tuhan karena Ia Mahasempurna. Kalaupun muncul pemahaman akan adanya kehendak dalam teori emanasinya, itu pun sebagai konsekuensi pemaparannya atas kesempurnaan Tuhan. Baginya, kesempurnaan Tuhan harus dilihat dari sisi perbuatannya secara azali, karena sejak saat itulah kehendaknya sudah berlaku. Jika kesempurnaan Tuhan tidak dilihat dari sisi perbuatannya sejak azali, maka ada saat di mana Tuhan menganggur pada zaman tertentu. Hal ini merupakan hal yang tidak sesuai dengan sifat kesempurnaan Tuhan. Lebih lanjut, Ibnu Rusyd nenyatakan dalam teorinya bahwa dari Yang Esa haruslah beragam yang melimpah. Menurut hemat saya, pemahaman Ibnu Rusyd semacam ini kemungkinan didasarkan pada suatu pemahaman akan fakta alam semesta ini yang sangat beragam. Sehingga tidak tergambar kemungkinan bahwa alam ini hasil perbuatan Tuhan, jika dari Yang Esa hanya satu yang melimpah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berseberangan dengan teori emanasi Ibnu Rusyd, persoalan dari yang Esa haruslah hanya satu yang melimpah merupakan suatu persoalam yang sudah disepakati oleh kalangan filsuf klasik. Para filsuf sepakat bahwa pinsip atau dasar alam semesta alam ini haruslah satu. Maka, dari Yang Esa haruslah satu yang melimpah. Dua dasar ini telah diakui kebenarannya dalam kalangan para filsuf klasik, dan atas dasar itu barulah mereka mempertanyakan dari mana asalnya keberagaman alam semesta ini &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Lih. Dr. Ahmad Daudy, Op. Cit., hlm 30).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Segala sesuatu melimpah dan dijadikan dari Prinsip Pertama (Tuhan). Alam semesta sebagai totalitas telah dijadikan oleh Tuhan dengan kekuatan sehingga meresap di dalamnya. Dengan begitu, jadilah alam semesta sebagai suatu kesatuan yang sesuai dengan perbuatan Tuhan. Karena kalao tidak dipahami demikian, maka tidak ada aturan dan ketertiban di alam ini. Menurut hemat saya, kekuatan yang meresap dalam alam semesta itu tidak lain adalah &lt;i style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;yang disertakan dalam proses emanasi yang memungkinkan alam semesta memiliki potensi untuk berubah roman dan bersalin rupa. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perihal penyebab keberagaman realitas particular di alam semesta ini, Ibnu Rusyd melihat bahwa Tuhan sendiri yang memunculkan keberagaman sejak azali dan dengan tindakan yang serentak. Menurut hemat saya, rupanya pemikiran Ibnu Rusyd harus dipahami bahwa antara alam dan Tuhan terdapat perbedaan kualitas yang besar, walaupun alam sendiri bersifat azali. Perbedaan itu tampak pada Sebab (Tuhan) yang membuat alam ini berwujud. Dengan begitu, rupanya alam ini azali dari perspektif zaman mengingat wujudnya ada bersama Tuhan. Adapun dari sudut zat, alam ini baru, karena munculnya alam ini berasal dari Penyebabnya( Tuhan ), Zat Azali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lebih lanjut, Ibnu Rusyd dalam teori emanasinya menyatakan bahwa alam semesta terjadi karena suatu keharusan mutlak. Kalo emanasi dipahami sebagai keharusan mutlak, sebenarnya harus dikatakan bahwa Tuhan telah mengikatkan diri dengan alam semesta. Dengan begitu, Tuhan sebenarnya tidak independen lagi. Pemahaman seperti ini sebenarnya dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa pemikiran Ibnu Rusyd ditemukan ketidak-konsitenan. Di satu sisi, pemikiran Ibnu Rusyd secara jelas menyatakan bahwa Tuhan itu independen. Tetapi di sisi lain, pemikirannya dapat memunculkan kesan bahwa Tuhan tidak independen dengan mengikatkan Diri dengan alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan demikian, dari teori emanasi ini, saya dapat menyimpulkan bahwa Ibnu Rusyd tidak pernahmampu mengelak dari setiap tuduhan bahwa teori melimpahnya itu akan membawa penganutnya pada keyakinan bahwa alam ini azali serta menafikan kehendak dan kebebasan Tuhan, jika alam ini tercipta karena suatu keharusan mutlak.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;3.2.2 Tinjauan Baru atas “Penggerak Pertama”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam proses penciptaan, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa bukan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta secara langsung. Posisi Tuhan terhadap alam semesta hanyalah sebagai perantara. Posisi sebagai perantara inilah yang menyebabkan adanya gerak. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber gerak, akan tetapi bukan Tuhan yang bekerja menjadikan alam semesta. Tuhan sebagai sumber penggerak tidak bergerak dan tidak ada penggeraknya. Tuhan adalah Penyebab Pertama dan sebagai Penggerak Pertama. Dari urain singkat di atas, pemahaman Ibnu Rusyd bahwa Tuhan sebagai Penggerak Pertama sebenarnya ia ingin memahami hakikat alam dan Tuhan secara lain. Ibnu Rusyd ingin mengukuhkan keyakinannya bahwa alam semesta azali, tidak berawal dan tidak berkesudahan. Alam semesta tidak diciptakan dalam waktu (enam) hari), tetapi di luar waktu (enam hari). Alam tidak diciptakan dari kekosongan, dari tiada menjadi ada, tetapi alam semesta diciptakan dari “ada” menjadi “ada yang lain”. Alam semesta juga bukan diciptakan dari bahan tertentu, karena alam semesta merupakan keseluruhan dari bahan yang ada.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut hemat saya, selain tendensi di atas, sebenarnya dalam pemikirannya Ibnu Rusyd tetap berada dalam haluan hukum normal alam semesta. Satu-satunya Sebab yang bukan merupakan akibat dari sebab sebelumnya bagi Ibnu Rusyd adalah Tuhan. Dia adalah substansi yang memungkinkan eksistensi segala sesuatu. Eksistensi segala sesuatu menjadi tidak mungkin tanpa dimungkinkan oleh sebab yang bukan merupakan akibat dari Sebab sebelumnya, yaitu Tuhan. Begitu Sebab itu bekerja, akibat pun mengikuti (menjadi ada) sehingga sesuai dengan hukum normal alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan mengikuti hukum normal alam semesta seperti di atas, sebenarnya atribut “Penggerak Pertama” bagi Tuhan, dalam konsepsi Ibnu Rusyd,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih tetap dapat menunjukkan kesinambungan antara Tuhan dengan alam semesta. Dengan kata lain, Ibnu Rusyd tetap mampu menunjukkan bahwa Tuhan tetap terlibat di dalam alam semesta, termasuk mengendalikan realitas particular di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;3.2.3 Tinjauan Baru atas Pengetahuan Tuhan dan Realitas Partikular di Alam Semesta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Dalam konsepsinya, Ibnu Rusyd memahami Tuhan sebagai Akal Tertinggi. Karena Tuhan adalah akal yang Tertinggi, maka pengetahuan dari Akal Tertinggi itu haruslah pengetahuan akan hal tertinggi pula. Hal ini dimaksudkan agar ada persesuaian antara yang mengetahui dengan yang diketahui. Karena itu, sangatlah tidak mungkin Tuhan itu mengetahui selain daripada Zatnya-Nya sendiri. Pengetahuan Tuhan akan zat-Nya itulah yang menjadi sebab pengetahuan Tuhan secara universal. Hal ini mengandaikan bahwa pengetahuan Tuhan mengenai hal-hal particular tidaklah mungkin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari uraian di atas, penulis melihat bahwa Ibnu Rusyd tidak bisa begitu saja membebaskan diri dari tuduhan bahwa dia telah membatasi pengetahuan Tuhan sebatas zat-Nya belaka, tanpa mau peduli akan realitas particular. Ibnu Rusyd telah “memenjarakan” pengetahuan Tuhan sebatas yang bersifat universal belaka, yaitu struktur alam, prinsip-prinsip dasar yang terletak pada inti segala sesuatu. Dalam konteks ini, Ibnu Rusyd tidak ubahnya sebagai ‘durjana’ bagi kaum agamis. Bagi kaum agamis, Tuhan mesti mengetahui semua peristiwa keseharian, karena Dialah yang akan memberikan pahala dan siksa. Tuhan adalah Dia yang mendengarkan dos-doa serta Dia yang menaruh perhatian besar atas alam semesta. Tetapi apakah persoalannya semudah itu? Tidak adakah interpretasi lain yang timbul dari pemikiran Ibnu Rusyd?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk memahami persoalan di atas, saya akan menganalogkan dua pandangan managemen dengan pemikiran Ibnu Rusyd. Pertama, salah satu pandangan managemen menuntut seorang menejer untuk mengetahui semua hal dalam organisasinya dan bertanggung-jawab atas segala hal yang terjadi. Konsekuensinya, seorang menteri akan dipecat apabila pegawainya melakukan pelanggaran. Kedua, pada tahun 1990-an, model baru ini misalnya, seorang menteri hanya bertyanggung-jawab atas organisasi secara umum dalam suatu departemen dan tidak ada pelaksanaan harian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari analog di atas, saya cenderung mensejajarkan pemikiran Ibnu Rusyd dalam analogi kedua, yang lebih longgar atas tanggung jawab. Seorang menejer memang digambarkan sebagai yang tidak tahu mengenai organisasinya, tetapi bukan berarti karena ketidak-mampuannya, melainkan karena hal itu tidak penting untuknya. Yang lebih penting adalah kebijaksanaan dan penyelenggaraannya, dan bukan tetekbengek pelaksanaan semua segi kebijaksanaan tersebut. Memang, saya sadar sepenuhnya bahwa pemahaman ala menejer yang fana itu tidak dapat diterapkan begitu saja bagi Tuhan dalam pemikiran Ibnu Rusyd. Akan tetapi, bertolak dari analog di atas, saya bermaksud untuk masuk lebih jauh ke dalam pemikiran Ibnu Rusyd, sehingga persoalan yang dimunculkan sebagai konsekuensi pemikirannya dapat didekati secara lebih proporsional.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seperti diungkapkan oleh Ibnu Rusyd, pada satu sisi, pengetahuan Tuhan mirip dengan pengetahuan manusia. Akan tetapi di sisi lain, pengetahuan Tuhan berbeda dengan pengetahuan manusia. Pengetahuan Tuhan dikatakan mirip dengan pengetahuan manusia karena pengetahuan Tuhan mengandung pernyataan-pernyataan yang ia sadari sebagai pernyataan yang logis dan benar. Sementara pengetahuan Tuhan berbeda dengan pengetahuan manusia karena Tuhan menciptakan objek-objek pengetahuan-Nya dan mempunyai akses terhadap semua obyek itu secara berbeda dengan manusia. Tuhan tidak harus mencari tahu akan apa yang bakal harus terjadi atau belajar mengenai objek-objek pengetahuan-Nya. Dengan segera mengetahui semua yang mesti diketahui, tanpa Dia harus mengetahui semua yang manusia ketahui.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari gagasan Ibnu Rusyd di atas, akhirnya dapat dipahami pernyataan awalnya bahwa pengetahuan Tuhan hanya bersifat universal. Tuhan tidak mengetahui hal-hal particular. Dalam konteks ini, rupanya Ibnu Rusyd bukan bermaksud membatasi pengetahuan Tuhan atau bahkan secara keji bermaksud memenjarakan pengetahuan Tuhan di balik jeruji. Akan tetapi, Ibnu Rusyd memiliki tendensi untuk menghindari pemaksaan jenis pengetahuan manusia dalam memahami pengetahuan Tuhan. Hal ini tentunya lebih didasarkan pada suatu pemahaman bahwa memaksakan jenis pengetahuan manusia tidak ubahnya memaksakan keterbatasannya kepada Tuhan. Kecenderungan semacam itulah menurut hemat saya yang berusaha dihindari oleh Ibnu Rusyd, karena pemaksaan keterbatasan manusia pada manusia kepada Tuhan sungguh-sungguh merusak ketuhanan-Nya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lebih jauh saya melihat bahwa kemahakuasaan Tuhan tidak harus berarti mengetahui segala hal. Kemahakuasaan Tuhan tidak bisa begitu saja diukur dengan pengetahuann-Nya akan segala sesuatu , termasuk obyek-obyek yang remeh dan sementara. Kemahakuasaan Tuhan harus dikaitkan dengan prinsip-prinsip umum yang mengatur alam semesta ini secara azali, yaitu zat-Nya sendiri. Dalam konteks pemahaman seperti inilah, konsepsi Ibnu Rusyd atas pengetahuan Tuhan dan realitas particular dapat dipahami secara lebih bijaksana.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;3.2.4.Tinjauan Baru atas Keazalian Alam dan Tuhan Menurut Ibnu Rusyd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dalam pemikiran Ibnu Rusyd, antara alam dan Tuhan tidak bisa dipisahkan. Dalam proses penciptaan, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa bukan Tuhan yang menciptakan alam secara langsung. Posisi Tuhan terhadap alam adalah sebagai pengantara pada benda. Posisi sebagai pengantara inilah yang menyebabkan adanya gerak. Dengan demikian, Tuhan merupakan sumber gerak, akan tetapi bukan Tuhan yang menjadikan alam semesta secara langsung.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut hemat saya, pola pandang Ibnu Rusyd atas alam dan Tuhan di atas, memang benar-benar menghilangkan peran Tuhan, karena Tuhan hanya dilihat sebagai penyebab tidak langsung. Tidaklah cukup berbicara ikhwal Tuhan, jika yang dimaksud “Tuhan” berbeda dengan Tuhan yang dipahami dalam agama-agama. Bahasa tentang Tuhan, betul-betul menggambarkan Tuhan, dan bukan bahasa baru tentang ketuhanan yang dirampingkan, aturan-aturan tertentu mestinya ditaati.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Al-Ghazali dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tahafut Al-Falasifah&lt;/span&gt; mengungkapkan bahwa aturan yang paling penting adalah Tuhan harus dipahami sebagai pelaku hakiki (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Real Agent&lt;/span&gt;). Tuhan sebagai pelaku sejati haruslah Tuhan yang bisa membuat keputusan sendiri, mengerjakan sesuatu yang dikehendaki-Nya sesuai dengan kesanggupan-Nya sendiri, dan memiliki pengaruh langsung terhadap alam semesta. Jika Tuhan yang dimaksud adalah pelaku hakiki, Dia pasti mempunyai kekuatan bertindak dengan cara apapun yang Ia kehendaki &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Oliver Leaman, Op. Cit., hlm.28).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi persoalannya, apakah bisa begitu saja menghakimi pemikiran Ibnu Rusyd hanya berdasarkan penggalan pemikiran? Ibnu Rusyd sendiri jelas-jelas menyatakan bahwa Tuhan hanyalah menyebabkan gerak pada akal pertama saja. Sedangkan gerakan-gerakan selanjutnya, yang menimbulkan berbagai peristiwa di alam semesta ini disebabkan oleh akal-akal yang lain. Akal-akal yang lain yang dimaksudkan sebenarnya adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;creative power &lt;/span&gt;yang menyertai alam semesta, baik secara keseluruhan maupun realitas particular yang ada di alam semesta. Dengan begitu, harus dipahami bahwa Tuhan pun dalam konsepsi Ibnu Rusyd tetap memiliki keterlibatan terhadap alam semesta lewat &lt;span style="font-size:78%;"&gt;creative power&lt;/span&gt; yang disertakan-Nya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut saya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; dalam konsepsi Ibnu Rusyd sebenarnya dapat disejajarkan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;élan vital&lt;/span&gt; dalam pemikiran evolusi kreatif Henri Bergson. Bagi Bergson, apabila kita memperhatikan apa yang disingkapkan oleh intuisi kepada kita, maka kita tidak hanya sebatas menemukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;duree&lt;/span&gt; dan perkembangan yang terus-menerus, melainkan juga suatu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;élan vital&lt;/span&gt;, suatu energi hidup atau pendorong hidup. Bergson menduga bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;élan vital &lt;/span&gt;ini meresapi seluruh proses evolusi dan menentukan semua cirri evolusi yang penting. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Elan vital&lt;/span&gt; inilah yang dipahami Bergson sebagai penyebab yang melalui bermacam-macam variasi akhirnya menghasilkan jenis-jenis baru. Henri Bergson adalah seorang filsuf berkebangsaan Perancis (1859-1941). Ia menolak secara tegas evolusi ala mekanisme dan menolak juga evolusi ala finalisme. Mekanisme adalah suatu pandangan yang mengintepretasikan evolusi sebagai perkembangan yang bersifat mekanis. Sementara finalisme adalah suatu pandangan yang memahami proses evolusi di mana evolusi memiliki suatu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Lih. K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX, Perancis, Jakarta, Gramedia, 1985,hlm.262).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Sementara Ibnu Rusyd memahami &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt; sebagai potensi kreatif Tuhan yang juga memiliki energi hidup dan mendorong hidup yang disertakan pada alam semesta dalam proses emanasi, sehingga alam semesta memiliki potensi untuk memunculkan keberagaman, berubah muka dan bersalin roman sepanjang zaman dan tiada henti-hentinya. Perbedaannya, &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt; Ibnu Rusyd yang senantiasa bergerak terus-menerus ini tidak memiliki arah gerakan atau tujuan. Sementara Bergson rupanya evolusi kreatifnya memiliki arah evolusi yang mengambil tiga jurusan: kehidupan tumbuhan, kehidupan imajinatif dan kehidupan intelijen, yang masing-masing diwujudkan pada taraf tumbuh-tumbuhan, serangga dan vertebrata (ibid).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalaupun dipahami sebagai evolusi kreatif sebagaiman Bergson memahami teorinya sebagai teori evolusi kraetif, demikian juga Ibnu Rusyd rupanya berbicara teori evolusi kreatif, kendati evolusinya tidak memiliki arah, karena evolusinya bersifat azali, tiada berawal dan tiada berkesudahan. Dengan demikian, pemikiran Ibnu Rusyd pun sangat berbeda dengan teori evolusi Darwin. Darwin memandang evolusi realitas selalu menuju suatu karakter dan bentuk yang sempurna. Sedangkan Ibnu Rusyd, evolusi bukan pada soal perubahan bentuk dan karakter realitas, dari yang kurang sempurna menuju yang lebih sempurna, melainkan soal adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; pada alam semesta yang menyertai dan mendorong setiap realitas untuk membentuk karakternya sendiri. Darwin dalam bukunya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Survival of the Fittest&lt;/span&gt; menyatakan bahwa yang kuat akan hidup terus, sementara yang lemah akan mati. Dari sudut teori evolusi, setiap realitas, khususnya mahluk hidup selalu berevolusi menuju sesuatu yang lebuh sempurna, dalam arti yang lebih kuat. Variasi-variasi yang cocok supaya organisme dapat hidup terus dipilih dan diwariskan kepada generasi berikut. Sedangkan variasi lain ditinggalkan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(lih. Lorens Bagus, Op. Cit., hlm. 223. Lih juga Oliver Leaman, Op.Cit., hlm.262)&lt;/span&gt;. Menurut saya, pola pandang Darwin seperti di atas susah dipahami Ibnu Rusyd untuk melihat keberagaman alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keberagaman yang diakibatkan oleh creative power yang ada di alam semesta ini rupanya dalam pemikiran Ibnu Rusyd harus dipahami sebagai keberagaman yang diresapi oleh hanya satu substansi. Hal ini tampak dalam uraiannya tentang akal aktif &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(active intellect)&lt;/span&gt; dengan akal pasif (Receptive Intellect). Akal aktif adalah sumber dari segala jiwa alam semesta yang bersifat satu dan universal. Sementara akal pasif merupakan jiwa yang berkuasa sehari-hari dalam alam semesta yang berasal dari akal aktif yang satu dan universal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan uraian seperti di atas, saya memahami bahwa Ibnu Rusyd mau mengatakan bahwa keberagaman yang merupakan fakta alam semesta sebenarnya hanya diresapi oleh substansi yang satu dan univesal. Konsekuensinya, apa yang menyertai individu-individu bukanlah akal mereka sendiri lagi melainkan akal ilahi. Akan tetapi dalam hal ini, rupanya Ibnu Rusyd tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya secara terbuka, karena pernyataan itu akan memiliki implikasi bahwa segala yang ada itu pun Tuhan. Atau lebih tepatnya, segala pluralitas, yaitu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, juga pikiran dan perasaan tidaklah mandiri lagi. Itu semua hanya bentuk beradanya Tuhan, modus-modus, atau cara beradanya substansi yang satu itu. Terjatuh ke dalam pemahaman seperti itulah yang rupanya mau dihindari oleh Ibnu Rusyd.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam konteks inilah, menurut penulis, keberatan terhadap pemikiran Ibnu Rusyd patut diajukan. Di satu sisi, Ibnu Rusyd berhasrat untuk tetap pada pendiriannya bahwa alam dan Tuhan itu sama-sama independen tanpa mengartikecilkan keterlibatan Tuhan dalam alam semesta lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt;. Tetapi di sisi lain, toh implikasi pernyataannya bahwa alam semesta ini yang diresapi oleh substansi yang universal, satu dan sama ternyata menjatuhkan pemahamannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sampai tingkat mengidentikkan alam semesta dengan Tuhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-7820575728273065860?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/komentar-kritis-atas-pemikiran-ibnu_19.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2jVXfVIfgI/AAAAAAAAAEY/YnU1CwWX-zk/s72-c/looking+out.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-2618734537619176517</guid><pubDate>Tue, 18 Dec 2007 08:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-18T00:42:12.329-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Komentar Kritis atas Pemikiran Ibnu Rusyd</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2eGHvVIffI/AAAAAAAAAEM/HIW4MP1GSAw/s1600-h/Picture+013.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2eGHvVIffI/AAAAAAAAAEM/HIW4MP1GSAw/s320/Picture+013.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145228566816390642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoBodyText"&gt;(Pemikiran Ibnu Rusyd dalam Rentang Sejarah)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Inti konsep keazalian alam dan Tuhan Ibnu Rusyd merupakan suatu upaya untuk memahami dan menyelami hakikat alam semesta, Tuhan dan manusia itu sendiri sebagai satu kesatuan antara yang spiritual dan material secara menyeluruh.Hakikat ketiga realitas itu identik dengan relasi hakiki antara ketiganya. Saya bermaksud untuk melihat secara kritis pemikiran Ibnu Rusyd, baik pandangannya maupun isi pokok konsepnya perihal keazalian alam dan Tuhan. Dengan berlandaskan pemikiran serta pemahaman Ibnu Rusyd, saya juga berupaya sedemikian rupa untuk melihat secara baru hakikat alam dan Tuhan dalam kaitannya dengan manusia sebagai satu kesatuan yang menyeluruh antara yang spiritual dan yang material. Dan dalam konteks ini, saya meminjam pemikiran Ibnu Rusyd untuk saya jadikan “pisau bedah”, dalam rangka menemukan makna hidup sehingga hidup dialami terasa lebih bermakna. Hal ini tetap mengandaikan suatu kesepakatan bahwa kehidupan yang tidak dikaji merupakan kehidupan yang tidak layk untuk dijalani.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Pemahaman Ibnu Rusyd sebagaimana telah saya paparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, akhirnya juga berhasil membawa saya ke dalam suatu penafsiran baru atas alam dan Tuhan, terutama dalam kaitannya dengan praktek hidup manusia dewasa ini. Pemahaman saya terhadap konsep keazalian alam dan Tuhan menurut Ibnu Rusyd pun, lebih lanjut mendorong saya untuk memahami alam dan Tuhan dari perspektif etis-ekologis. Karena menurut hemat saya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pespektif etis-ekologis perlu ditempatkan sebagai yang utama di saat bumi ini terancam ‘carut-marut’ dalam waktu yang singkat, apabila manusia tidak dapat menempatkan diri secara benar dalam kaitannya dengan relasi hakiki antar manusia itu sendiri, Tuhan dan alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;3.1. Karakter Pemikiran Ibnu Rusyd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;        Ibnu Rusyd adalah seorang filsuf abadi dalam sejarah pemikiran Islam, bahkan beliau berhasil menempati posisi khusus dalam sejarah pemikiran dunia. Dalam rentang waktu yang cukup lama, filsafatnya dikaji secara mendalam di bumi eropa. Alhasil, pemikiran Ibnu Rusyd melahirkan sejumlah pengikut fanatik, yang dengan gagah berani dan tangguh mempertahankan serta membela pemikiran serta mazhabnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; Seperti halnya filsuf-filsuf Islam lainnya, Ibnu Rusyd merasa perlu untuk mengusahakan paduan pemikiran antara filsafat Yunani dan filsafat Islam yang telah tersurat dalam Al-Qur’an. Dalam pemahaman ini, produk pemikiran Ibnu Rusyd merupakan hasil perpaduan antara ajaran Agama Islam dengan Filsafat Yunani. Fenomena ini sebenarnya merupakan suatu hal yang muskil, tetapi juga asli dalam Filsafat Islam&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;( Dr. Ahmad Daudy, Op.Cit., hlm. 8).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;        Konsep keazalian alam dan Tuhan Ibnu Rusyd sendiri menampilkan suatu pemikiran yang menurut hemat saya sangat cemerlang, mendalam, rasional dan unik. Hal ini muncul sebagai buah upaya Ibnu Rusyd untuk menampilkan hakikat keharmonisan antara konsepsi ajaran filosofis yang berlandaskan akal dengan konsepsi ajaran Islam yang berlandaskan wahyu. Konsepsi Ibnu Rusyd, atas alam dan Tuhan ini, tidak lain sebenarnya lahir dari upayanya yang mendalam untuk mengintegrasikan pemaknaan iman dan akal budi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Persoalan mendasar perihal keazalian alam dan Tuhan menurut Ibnu Rusyd sebenarnya bersumber pada kombinasi fundamental antara informasi teologis dengan informasi filosofis. Ibu Rusyd, dalam petualangan pemikirannya, berupaya menemukan titik koherensi terdalam, antara ide yang berkarakter teologis dengan ide yang berkarakter filosofis. Upaya ini sendiri didasarkan pada keyakinan Ibnu Rusyd sendiri bahwa Filsafat dan agama laksana dua saudara kembar yang tidak mungkin dipisahkan. Keyakinan ini diungkapkan dan dipertegas, saat Ibnu Rusyd berhadapan dengan pemikiran Al Gazali yang cenderung menolak filsafat secara berlebihan.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Lih. H. Zainal Abidin Ahmad, Op.Cit., hlm. 156-157.Bdk.Prof. K. Hitti, Op.Cit., hal. 580).&lt;/span&gt; Filsafat dan agama sama sekali tidak bertentangan menurut Ibnu Rusyd, bahkan tetap memiliki koherensi di dalam ide-idenya sejauh konsep-konsep teologis (Al-Qur’an) dipandang secara alegoris. Baginya, Al-Qur’an tidak bisa dipahami hanya dengan pola piker tertentu saja, atau hanya ditangkap berdasarkan arti literalnya. Makna Al-Qur’an musti dirasa secara rasional dan filosofis dibalik rangkaian kata-kata alegorisnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Menurut pemahaman saya, bagaimanapun logika pemikiran Ibnu Rusyd ini merupakan suatu logika yang konsumtif dalam memahami serta mencermati isi Al-Qur’an. Artinya, Ibnu Rusyd melihat isi Al-Qur’an bukan tanpa tujuan bagi hidup manusia. Al-Qur’an begitu kaya akan makna yang mendasar sehingga perlu dikonsumsi demi perkembangan hidup manusia itu sendiri.Nah, bila Al-Qur’an syarat dengan makna hidup yang mesti dikonsumsi manusia, maka ayat-ayat Al-Qur’an mesti diolah lebih dahulu agar dapat dikonsumsi sesuai kebutuhan manusia. Di sinilah letak titik hermeunetik filsafat yang mampu mengolah makna Al-Qur’an menjadi makanan bagi hidup manusia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Sesuatu yang tidak bisa dibantah adalah bahwa setiap manusia dianugerahi akal sehat. Ibnu Rusyd justru mencoba mengangkat makna Al-Qur’an ini yang penuh dengan kata-kata alegoris ke tataran rasional yang berdasarkan pada akal sehat. Dengan demikian, Al-Qur’an dapat menyulut suatu implikasi etis yang jauh lebih mendalam. Suatu pola pikir, pola sikap dan tanggung-jawab manusia terhadap dirinya sendiri maupun realitas di luar dirinya, yaitu alam dan Tuhan Apa yang dinamakan “makna” Al-Qur’an (makna konsep) sejauh konsep itu mendorong pola pikir dan pola sikap tertentu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Inti konsep keazalian alam dan Tuhan dalam Pemikiran Ibnu Rusyd adalah bahwa alam dan Tuhan itu memiliki hakikat yang sama, yakni azali, kekal, abadi. Namun demikian ada perbedaan mendasar antara keazalian alam dengan keazalian Tuhan. Keazalian Tuhan tanpa sebab selain dari diri-Nya sendiri, sedangkan keazalian alam dimugkinkan karena alam teremanasi dari Tuhan. Karena alam teremanasi dari Tuhan, bukan diciptakan dari kekosongan, bukan dari benda lain, maka alam memiliki hakikat yang sama dengan Tuhan, yakni asali, abadi. Dengan demikian alam sebenarnya merupakan emanasi Tuhan yang berpartisipasi dalam hakikat Tuhan yang abadi. Ibnu Rusyd sendiri memahami Tuhan lebih sebagai “Penyebab Utama”, dan bukan sebagai Pencipta. Sebagai Penyebab Utama, Tuhan menyertakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative Power &lt;/span&gt;bagi alam semesta melalui emanasi, sehingga alam semesta sebenarnya tidak hanya disebabkan, tetapi Tuhan sebagai Penyebab Utama juga telah menjadikan alam semesta sebagai instrumen penyebab. Dengan begitu, Tuhan dalam hal ini tidak dapat dikatakan turut campur tangan secara langsung dalam peristiwa partikular yang terjadi di alam semesta&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(B. Lewis, dkk., Op. Cit., hlm 914-915).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sepintas lalu, konsep Ibnu Rusyd atas keazalian alam dan Tuhan di atas memunculkan beberapa kesan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;        Pertama, karakter pemikiran Ibnu Rusyd tergolong pantheisme, yakni aliran yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah prinsip impersonal, yang berada di luar alam, tetapi identik dengannya. Dalam pandangan ini, secara empiris, segala sesuatu memang berbeda satu sama lain, tetapi pada hakikatnya sungguh-sungguh identik dengan Tuhan sendiri. Alam semesta merupakan cerminan dari Tuhan &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Lorenz Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta, PT. Grameda Pustaka Utama, 1996, hlm.774-775).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Namun demikian, pantheisme bukanlah aliran yang tepat dikenakan bagi pemikiran Ibnu Rusyd. Hal utama yang perlu diberi aksentuasi dalam pikiran Ibnu Rusyd bahwa secara kualitatif alam semesta berbeda dengan Tuhan. Tuhan merupakan Zat yang berasal dari diri-Nya sendiri, sedangkan alam disebabkan oleh sesuatu di luar dirinya sendiri, yaitu Tuhan. Dengan demikian, antara alam dan Tuhan tetap memiliki perbedaan secara kualitatif.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Alam itu azali karena Tuhan menjadikan alam sebagai instrumen penyebab dengan menyertakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt;, sehingga mamampukan alam dalam dirinya memiliki potensi untuk berubah. Oleh karena itu, tepatlah pemahaman Ibnu Rusyd bahwa Tuhan adalah penggerak yang tidak digerakkan. Dengan uraian seperti di atas, pemahaman Ibnu Rusyd akan keazalian alam dan Tuhan tidak pernah jatuh ke dalam kontradiksi internal. Tuhan bagi Ibnu Rusyd tetap sebagai Tuhan yang tak berubah dan tunggal. Tuhan tidak pernah melebur dalam dunia. Tuhan tetaplah Tuhan yang independen, sebagaimana alam juga independen berkat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; yang disertakan dalam dirinya. Dengan kualitas zat yang berbeda, Tuhan menyertai alam semesta dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt;, sehingga Tuhan tetap memiliki keterlibatan dalam alam semesta, tetapi serentak eksistensi Tuhan sebagai penyebab tidak langsung berada di luar alam semesta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative Power&lt;/span&gt; yang berasal dari Tuhan inilah yang memungkinkan alam semesta juga memiliki kesadaran di dalam dirinya sendiri, untuk berubah muka, berganti roman sepanjang zaman dan tiada henti-hentinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam konteks ini, alam semesta tidak dapat begitu saja dilihat sebatas cerminan Tuhan, karena alam pun memiliki kesadaran di dalam dirinya sendiri. Pemaparan Ibnu Rusyd semacam itu mau memberi tekanan akan adanya kesadaran manusiawi. Berbeda dengan pantheisme, rupanya pantheisme harus terjatuh ke dala kontradiksi internal. Di satu sisi, ajaran pantheisme membawa ke dalam suatu pemahaman akan ketiadaan kesadaran manusiawi. Di sini lain, pantheisme tidak dapat menutup mata akan adanya fakta bahwa manusia memiliki kesadaran. Manusia juga memiliki kesadaran untuk menentukan dirinya sendiri, tanpa sepenuhnya harus bergantung pada sesuatu di luar dirinya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;    Bagi Ibnu Rusyd, mausia tidak akan pernah memiliki kesadaran pribadi, kalau manusia tidak independen dalam eksistensinya. Dengan begitu, kesadaran manusiawi hanya dimungkinkan apabila substansi independen dan tidakselalu harus bergantung dengan realitas di luar dirinya. Menurut hamat saya, tekanan yang diberikan oleh Ibnu Rusyd semacam ini tidak sedikit pun bermaksud untuk mengadakan pemisahan yang total antara alam dengan Tuhan. Akan tetapi, Ibnu Rusyd lebih jauh mau memberi tendensi bahwa alam pun memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; dalam dirinya sendiri. Dengan begitu alam semesta juga diberi hak untuk menentukan dirinya sendiri tanpa harus selalu menggantungkan diri dengan realitas di luar dirinya. Alam semesta diberi hak untuk menggunakan otaknya sendiri dan tidak harus selalu bergantung pada Tuhan, kendati harus disadari juga bahwa alam semesta memiliki otak tiada lain disebabkan oleh Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Kedua, karakter pemikiran Ibnu Rusyd termasuk panentheisme&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Yunani; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pan&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Theo&lt;/span&gt;s yang berarti semua dalam Tuhan. Lih. Lorenz Bagus, Ibid.,hlm. 770-771)&lt;/span&gt;.Panentheisme sendiri merupakan pandangan yang mengajarkan bahwa seluruh realitas merupakan bagian dari eksistensi Tuhan. Kaum panentheis dalam kosmologinya meyakini bahwa dunia adalah ciptaan yang terbatas dalam keadaan Allah yang tak terbatas; dan bahwa seluruh alam merupakan suatu organisme ilahi yang terkonstitusi sedemikian, hingga organisme yang lebih tinggi berunsurkan organisme yang lebih rendah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Ibnu Rusyd memahami alam semesta sebagai yang azali, abadi dan tak terbatas, yakni karena alam semesta disebabkan oleh yang Azali, yaitu Tuhan. Keazalian Tuhan memang dilihatnya sebagai yang lebih utama dibandingkan dengan keazalian alam.Akan tetapi kalo menurut hemat saya, Ibnu Rusyd tidak bermaksud untuk berpikir secara hirarkis, artinya Ibnu Rusyd tudak bermaksud untuk mengungkapkan keazalian alam lebih utama dibandingkan dengan keazalian Tuhan. Demikian juga sebaliknya, keazalian Tuhan tidak pernah bermaksud untuk “memenjarakan” keazalian alam, sehingga alam semesta harus dipahami sebagai eksistensi yang terbatas di dalam keberadaannya dengan Tuhan yang tak terbatas. Tuhan juga tidak tampak sebagai otoritas yang merasa diri perlu untuk mengatur alam, sehingga alam harus dipahami sebagai organisme ilahi yang terinstitusi sedemikian rupa, yang harus “menginduk” pada organisme yang lebih tinggi. Apakah dengan pemahaman ini mampu mengukuhkan pemikiran Ibnu Rusyd ke dalam panentheisme?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Menurut hemat saya, relasi antara alam dan Tuhan dalam konsep Ibnu Rusyd bercorak dialektis, suatu relasi timbal-balik yang tak terpisahkan , tanpa adanya suatu pemahaman baru yang memunculkan kesan mereduksi alam di satu pihak, dan Tuhan di pihak lain. Dalam batas tertentu, keduanya independen dalam eksistensinya. Tidak ada konsep ‘mana yang lebih tinggi’ yang merasa perlu untuk mengatur yang lebih rendah. Alam dalam konsep Ibnu Rusyd sekali lagi disertai oleh creative power Tuhan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative Power &lt;/span&gt;Tuhan inilah yang memungkinkan alam semesta bebas menentukan dirinya sendiri dalam relasinya dengan Tuhan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;power&lt;/span&gt; yang disertakan oeh Tuhan inilah, rupanya yang mendorong Tuhan untuk lebih bersikap toleran terhadap segala peristiwa yang terjadi di dalam alam semesta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative power&lt;/span&gt; yang juga memungkinkan pemahaman ada bersama Tuhan bagi realitas alam semesta sebagai totalitas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;    Menurut hemat saya, pemahaman Ibnu Rusyd seperti di atas sangat mendukung pola pandang bahwa hanya dari Tuhanlah dilahirkan segala sesuatu yang baik. Tuhan tidak pernah menyebabkan hal-hal yang kurang baik, bahkan yang tidak baik, karena Tuhan tidak lain adalah Kebaikan Sempurna itu sendiri. Kalaupun dalam fakta muncul sesuatu yang kurang baik bahkan tidak baik, karena sudah dari keazalian Tuhan memberi substansi kreatif yang memungkinkan alam semesta bebas menjadi dirinya sendiri. Dengan demikian, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; yang disertakan Tuhan dalam seluruh realitas alam semesta senenarnya memunculkan pemahaman baru akan Tuhan yang menaruh kepercayaan yang besar terhadap alam semesta sebagai totalitas. Namun demikian, apakah setiap realitas yang menjadi bagian alam semesta sebagai totalitas itu sungguh berpartisipasi di dalam Tuhan yang tidak lain adalah Kebaikan Sempurna itu? Dalam konteks pemahaman ini saya secara pribadi optimis sekali bahwa pemikiran Ibnu Rusyd sangat adequate menjawab fenomena “ganjil’ yang terjadi dalam alam semesta ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;        Ketiga, pemikiran Ibnu Rusyd tergolong deisme. Istilah deisme sendiri diperkenalkan oleh Laelius dan Faustus Socinus pada abad ke XVI. Istilah ini sekarang digunakan untuk menunjuk pada&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;suatu gerakan pemikiran abad XVII dan XVIII, terutama di Inggris. Gerakan ini sangat berupaya menggantikan wahyu dengan cahaya akal. Inti pemikirannya, aliran ini meyakini bahwa satu Tuhan pencipta dunia, setelah itu lepas tangan dalam fungsinya yang sekarang (Lorenz Bagus, Ibid., hlm.152-153). Memang, dalam konsepnya, Ibnu Rusyd memunculkan suatu pemahaman bahwa Tuhan adalah penyebab Pertama. Sebagai Penyebab Pertama, Tuhan hanyalah penyebab gerak akal pertama saja, sedangkan gerakan-gerakan selanjutnya dalam alam semesta bukanlah akibat langsung dari Tuhan. Alam semesta memiliki potensi kreatif yang memungkinkan alam semesta bergerak secara independen tanpa campur tangan Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Sepintas lalu, konsep Ibnu Rusyd di atas memang memberi kesan seolah-olah ia memandang Tuhan sebagai Penyebab Utama yang dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya tidak bertanggung-jawab.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan muncul dalam pemahaman yang cenderung ‘cuci tangan’ setelah menyebabkan segala sesuatu.Tetapi kesan negatif atas pemikiran ini, rupanya harus dibuang jauh-jauh, mengingat dalam konsepnya, Ibnu Rusyd tetap membuka pemahaman akan keterlibatan Tuhan dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya. Kembali dalam konteks ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power &lt;/span&gt;yang ada dalamalam semestalah yang membawa lampu pencerahan dalam pemikiran Ibnu Rusyd.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Menurut hemat saya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power &lt;/span&gt;yang ada dalam alam semesta, merupakan isyarat bahwa Tuhan menurut Ibnu Rusyd bukanlah Tuhan yang pasif, cuci tangan dan meninggalkan alam semesta begitu saja, tetapi Tuhan yang aktif-kreatif dalam alam semesta berkat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; yang juga Dia sertakan dalam alam semesta. Sebagaimana alam semesta ini melimpah dari Tuhan, demikian juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; yang melimpah dari Tuhan niscaya kalo keberadaanya selain dari Tuhan sendiri. Artinya, keberadaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; dalam alam semesta harus dipahami sebagai substansi “tangan-tangan” Tuhan sendiri yang bergerak secara aktif-kreatif dalam suatu gerakan yang tidak langsung. Hal ini harus tetap didasarkan pada pemahaman bahwa alam semesta memiliki potensi pada dirinya sendiri, tidak lain karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; yang disertakan Tuhan. Tanpa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power,&lt;/span&gt; potensi alam semesta praktis tidak dapat dipahami.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Saya sendiri cenderung melihat konsep Ibnu Rusyd tentang keazalian alam dan Tuhan ini sebagai konsep yang sangat unik. Begitu unik pemikiran Ibnu Rusyd sehingga sulit sekali untuk dikategorikan secara tepat dengan aliran-aliran tertentu. Ibnu Rusyd selalu ada posisi ‘antara’ di samping aliran-aliran lainnya. Tidak bertendensi ekstrem kanan, maupun kiri. Relasi alam dan Tuhan yang dibangun oleh Ibnu Rusyd lebih sebagai relasi yang bersifat imanen, tetapi serentak relasi yang transenden. Secara actual, memang Tuhan tidak bertindak secara langsung tetapi dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt;, Tuhan ada bersama alam semesta, turut serta dalam proses kehidupan di dalamnya, kendati tidak secara langsung. Imanensi yang tampak dalam konsep Ibnu Rusyd ini, tetap tidak mampu menghapus kenyataan bahwa Tuhan transenden: independen, lebih tinggi,unggul, agung, dan melampaui alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;        Pemikiran Ibnu Rusyd tetap berbeda dengan ajaran panentheisme dalam hal relasi antara alam dan Tuhan. Memang, panentheisme memunculkan pemahaman akan adanya relasi transenden dan imanen. Akan tetapi, panentheisme tidak memiliki kejelasan, apakah dalam konsepnya, panentheisme juga menggunakan pemahaman “perantara”, seperti Ibnu Rusyd dengan c&lt;span style="font-style: italic;"&gt;reative power &lt;/span&gt;dalam konsepnya &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(lih. Lorenz Bagus, Ibid. hlm.770-771)&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative power &lt;/span&gt;dalam konsep Ibnu Rusyd harus dipahami sebagai ‘utusan’ dan Tuhan ‘yang mengutus’. Kalau Tuhan dikatakan sebagai ‘yang mengutus’, dalam hal ini Tuhan tidak datang dengan sendirinya, melainkan lewat utusannya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative power&lt;/span&gt; bukan Tuhan sendiri, tetapi harus dilihat dan dipahami sebagai ‘wakil’ Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-2618734537619176517?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/komentar-kritis-atas-pemikiran-ibnu_18.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2eGHvVIffI/AAAAAAAAAEM/HIW4MP1GSAw/s72-c/Picture+013.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-3295104888186304491</guid><pubDate>Fri, 14 Dec 2007 05:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-13T21:25:17.602-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Catatan Pemikiran Ibnu Rusyd (3)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2ISEvVIfdI/AAAAAAAAAD8/m_HguaTJS3o/s1600-h/Averoes.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2ISEvVIfdI/AAAAAAAAAD8/m_HguaTJS3o/s320/Averoes.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143693597044407762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;LANJUTAN…&lt;/b&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;(Pemikiran Ibnu Rusyd dalam Rentang Sejarah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2.3.1. Hakikat Ruang dan Waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Cara Ibnu Rusyd menopang pandangannya perihal hakikat ruang dan waktu ialah dengan memerikan hakikat ruang dan waktu secara berbeda. Pemahaman Ibnu Rusyd perihal ruang dan waktu sama sekali tidak bermaksud untuk menyangkal eksistensi waktu umum (&lt;i&gt;ordinary time&lt;/i&gt;), seperti yang kita pahami, yang berdetak seiring terciptanya alam semesta ini. Akan tetapi, keadaan waktu umum itu, sebagai konsekuensi atas pemikirannya, Beliau lihat sebagai karya ciptaan yang eksistensinya berada dalam kekekalan dan bukan sebagai karya ciptaan yang diciptakan pada saat tertentu. Ruang dan waktu tidak diciptakan di dalam waktu enam hari, melainkan di luar waktu 6 (enam) hari. Eksistensi ruang dan waktu beliau pahami sebagai ada bersama Tuhan dan bukan sebagai ada pada saat tertentu, di mana Tuhan merasa perlu untuk menciptakan alam semesta sebagai totalitas. Untuk itulah, amat sulit bagi Ibnu Rusyd untuk membayangkan bahwa eksistensi ruang dan waktu itu baru ada setelah Tuhan berkehendak untuk menciptakan, atau Tuhan ada lebih dulu, kemudian barulah eksistensi ruang dan waktu menyusul &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Ibid.hlm.66).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ibnu Rusyd sendiri memahami waktu sebagai ukuran perubahan dalam alam semesta dan eksistensi waktu itu sendiri sudah ada sejak permulaan sebagai kontinuitastransformatif, tanpa adanya proses penyelangan waktu. Dengan kata lain, hakikat ruang dan waktu sebagai bagian dari totalitas alam semesta diciptakan Tuhan tanpa adanya durasi waktu. Eksistensi Tuhan harus selalu dipahami sebagai eksistensi yang membawa konsekuensi akan adanya eksistensi ruang dan waktu. Ruang dan waktu bukanlah realitas susulan, yang keberadaannya baru kemudian setelah Tuhan berkehendak untuk menciptakan alam semesta sebagai totalitas. Kontinuitas transformatif waktu itu sendiri merupakan karakter khusus yang kerap kali beliau pergunakan sebagai isyarat bentuk yang meruang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Spatialized form)&lt;/span&gt;. Karena dalam bentuk itulah, kodrat perubahan alam mungkin terjadi dan bentuk berjasad pun dapat dialami &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis, (penerjemah Musa Kazhim), Bandung, Mizan, 2002,hlm. 37).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Untuk memperkuat pemikirannya di atas, dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu, Ibnu Rusyd mebuat tiga kategori eksistensi realitas. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, eksistensi realitas yang berasal dari tindakan pelaku lain, yaitu segala macam perubahan yang terjadi dalam perjalanan alam semesta. &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; eksistensi realitas yang tidak berasal selain dari dirinya sendiri dan terjadi di luar waktu. Kategori ini hanya pantas dikenakan pada Tuhan. Ketiga, kategori eksistensi yang berada di antara kategori pertama dan kedua, yang tidak berasal dari eksistensi lain dan tidak pula terjadi di dalam waktu, yaitu alam secara keseluruhannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan demikian, harus dikatakan bahwa alam semesta tidak dapat dipahami sebagai yang tercipta dari bahan tertentu, karena alam itu sendiri merupakan keseluruhan bahan yang ada. Alam semesta pun tidak dapat dipahami sebagai yang tercipta dalam waktu, karena waktu merupakan ukuran perubahan alam semesta. Perubahan alam semesta itu hanya dapat dipahami setelah alam semesta itu bereksistensi. Oleh karena itu, sangatlah mustahil bagi Ibnu Rusyd untuk memahami konsepsi ruang dan waktu tanpa eksistensi ruang dan waktu ada bersama Tuhan dan alam semesta. Hal itu didasarkan pada suatu pemahaman bahwa ruang dan waktu itu sendiri merupakan bagian dari totalitas alam semesta, bahkan ruang dan waktu itu merupakan alam semesta itu sendiri, yang eksistensinya ada bersama Tuhan &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Oliver Leaman, &lt;i&gt;Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis,&lt;/i&gt; Op.Cit., hlm.37).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dalam keterkaitannya dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ruang dan waktu, Ibnu Rusyd berpendapat bahwa alam semesta tidak dapat dipahami dalam dua kutub yang saling bertentangan, yaitu pemahaman bahwa alam semesta ini diciptakan secara langsung, tetapi serentak alam semesta juga bersifat abadi, azali. Ibnu Rusyd secara tegas menandaskan bahwa pertentangan ekstrem semacam itu mustahil terjadi.Dengan tetap berpegang teguh pada konsepsinya tentang alam semesta secara keseluruhan, Ibnu Rusyd secara mengagumkan melontarkan pemikirannya bahwa segala sesuatu yang ada di luar waktun (abadi) mustahil terwujud oleh sesuatu selain dirinya sendiri, dan segala sesuatu yang tercipta di luar dirinya niscaya terbatas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari uraian di atas, dalam konteks ruang dan waktu, tampak jelas bahwa Ibnu Rusyd dalam konsepsinya berupaya konsisten dengan gagasan keazalian alam dan Tuhan. Konsepsi Ibnu Rusyd perihal ruang dan waktu ternyata mampu mengantar pada suatu pemahaman bahwa ruang dan waktu merupakan kontinuitas transformatif yang bereksistensi sejak keabadian, karena alam semesta itu sendiri bersifat abadi, tanpa permulaan dan tiada akan berkesudahan. Jika alam semesta dipahami sebagai yang azali,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka mustahil jika alam semesta diciptakan dalam waktu enam hari, karena waktu itu sendiri adalah ukuran perubahan alam semesta. Bagi Ibnu Rusyd, penciptaan alam semesta dalam kurun waktu enam hari merupakan isyarat bahwa eksistensi alam semesta terbatas &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(finite)&lt;/span&gt;. Sementara, alam semesta menurut Ibnu Rusyd&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak berawal dan tidak berakhir, sebagai kontinuitas transformatif yang bersifat azali. Oleh karena semesta alam tidak berawal dan berakhir, maka ruang dan waktu pun tiada berawal dan tiada berakhir. Dengan kata lain, keberadaan ruang dan waktu harus dipahami sebagai ada bersama Tuhan dan alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2.3.2. Waktu dan Keputusan Tuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Ibnu Rusyd rupanya tidak hanya menelorkan konsepsi tentang ruang dan waktu, melainkan beliau juga menyatakan bahwa dalam peristiwa penciptaan tidaklah mungkin terjadi jeda waktu &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(gap in time)&lt;/span&gt;, antara pertimbangan dan pelaksanaan tindakan Tuhan secara actual. Robert L. Arington dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“A Companion to the Philosophers”&lt;/span&gt; mensitir gagasan Ibnu Rusyd dan menuliskannya sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Averoes replies that are important differences between God and human beings as agents. We can decide to do something and than do it, yet for God there is no time between His decision and His action, and indeed the very notion of God making decision implies that He has changed His mind about something, which involve change in unchangeable being. An Omnipotent God does not need to think about what to do before acting, since there is no accessity for Him to wait in order to bring something about. Why should God create the world at one particular time since all times are the same for Him? How could God create the world at a particular time since the world was created and motion started there was no time?” (Robert L. Arington, &lt;/span&gt;&lt;i style="font-style: italic;"&gt;A Companion to the Pilosophers&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, Malden, USA, Blackwell Publisher Inc.,1999, hlm.667-8).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pemahaman Ibnu Rusyd akan ketiadaan jeda waktu, sebagaimana tampak juga dalam kutipan di atas, tidak lain merupakan konsekuensi logis atas konsepsi dan argumentasinya perihal ruang dan waktu; serta pemahaman beliau yang tanpa sekat dan batas atas Al-Qur’an, terutama dari Surat Hud ayat 7. Ibnu Rusyd melihat bahwa alam semesta merupakan realitas tercipta yang sangat layak. Karenanya, tak ada satu pun alasan yang bisa menjelaskan tertundanya tindak penciptaan oleh Tuhan, wujud yang Mahakuasa dan Mahasempurna itu &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;( Oliver Leman, &lt;i&gt;Pengantar Filsafat Islam Abad Pertengahan&lt;/i&gt;, Op.Cit., hlm.65-66).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ibnu Rusyd menyatakan bahwa jeda antara pertimbangan dan pelaksanaan suatu tindakan actual oleh Tuhan sangatlah mustahil. Kalaupun ada jeda waktu sebelum alam semesta diciptakan, waktu itu sendiri tidak sama dengan waktu yang kita pahami, tidak sama dengan waktu particular yang kita pahami sekarang. Hal ini harus didasarkan kembali pada suatu pemahaman bahwa waktu itu sendiri pada hakikatnya merupakan ukuran perubahan peristiwa yang terjadi dalam alam semesta. Oleh karena waktu merupakan ukuran perubahan peristiwa dalam alam semesta, maka sebelum alam semesta ini tercipta, waktu itu tidaklah bermakna, karena belum ada perubahan dalam alam semesta. Atau jika tidak ada waktu sebelum penciptaan alam semesta, waktu permulaan alam semesta pun tiada bermakna.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ibnu Rusyd juga menambahkan bahwa di dalam persoalan pertimbangan Tuhan untuk menciptakan atau tidak menciptakan alam semesta, Tuhan tidak dihadapkan pada pilihan tertentu. Dalam penciptaan semesta alam,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan lebih dihadapkan pada kemungkinan menciptakan kehidupan dengan segala sesuatu yang terkait di dalamnya. Segala sesuatu yang terkait di dalam penciptaan harus dipahami sebagai baik adanya. Kalo segala sesuatu itu baik adanya bagi alam semesta, seperti “keberadaan” kita ini lebih baik dari pada “ketiadaan” kita , maka sangatlah mungkin bahwa keberadaan alam semesta dengan masa yang lebih panjang adalah lebih baik &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Oliver Leaman, &lt;i&gt;Pengantar Filsafat Islam Abad Pertengahan&lt;/i&gt;, Op.Cit.,hlm 66).&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Selain itu,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;rupanya Ibnu Rusyd kembali mau menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak pernah bertindak atau bertobat secara langsung dalam lingkup ruang dan waktu. Juga dalam hal penciptaan alam semesta, Tuhan tidak pernah dapat dikaitkan dengan suatu pilihan tertentu, bahkan harus dikatakan bahwa Tuhan tidak pernah membuat keputusan secara kekal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Zat yang bersifat kekal tidaklah mungkin menjadi sebab kejadian-kejadian temporal dan tidak kekal, tidak azali. Tetapi seluruh rangkaian atau peristiwa yang bersifat abadi benar-benar disebabkan oleh apa yang ada yang bersifat kekal, yang juga bertindak secara menyeluruh. Zat yang bersifat kekal semacam inilah, yang bagi Ibnu Rusyd, hanya pantas dikenakan bagi Tuhan. Tuhan benar-benar merupakan Penyebab Pokok, dalam artian bahwa Dia menyebabkan dan mendatangkan apa yang disebabkan serentak dengan keberadaannya sendiri. Demikian juga halnya dengan waktu, karena waktu merupakan bagian alam semesta, maka waktu pun harus dipahami sebagai yang azali, karena keberadaannya serentak dengan keberadaan Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2.4. Keazalian Alam: Konsekuensi Logis Hubungan Alam dengan Tuhan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari teori emanasi yang pernah saya paparkan sebelum topik pembahasan ini, tampak bahwa alam semesta ini melimpah dari Tuhan, bukan ada begitu saja, bukan juga diciptakan dari ketiadaan. Karena alam semesta ini melimpah dari atau meleleh dari Tuhan, bukan diciptakan dari ketiadaan atau dari zat lainnya, maka mesti diterima bahwa alam semesta dan Tuhan memiliki hubungan yang bersifat mutlak dan harus. Dengan kata lain, hubungan alam semesta dengan Tuhan itu bersifat azali, abadi, sudah dari kekal hingga kekal, tiada berawal dan tiada berakhir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dasar pemikiran yang menunjukkan adanya hubungan alam semesta dengan Tuhan yang bersifat harus dan mutlak ini diuraikan oleh Ibnu Rusyd dengan ide yang begitu cemerlang. Menurut Ibnu Rusyd, alam semesta ini pada dasarnya azali, tanpa permulaan dan tanpa berkesudahannya. Karena itu, yang azali tidak hanya Tuhan, melainkan juga alam semesta. Hanya saja, keazalian Tuhan itu berbeda dengan keazaliaan alam semesta. Keazalian Tuhan adalah keazalian tanpa sebab selain dari Tuhan itu sendiri. Sedangkan keazalian alam semesta adalah keasalian yang disebabkan oleh sesuatu yang lain di luar dirinya sendiri, yaitu Tuhan yang azali. Namun, keazalian Tuhan di sini juga sudah sejak kekal meresap ke dalam alam semesta, dan bahkan telah menjadi hakikat alam semesta, yakni alam yang azali&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Drs. H. Hasbulah Bahkry, SH., Op. Cit. hlm.70).&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Untuk memperkuat pendapatnya, Ibnu Rusyd mengajukan argumentasi yang rasional, dengan berlandaskan pada pemahaman akan hubungan sebab-akibat. Dia mengatakan bahwa seandainya alam semesta ini tidak azali, ada awal dan akhir, maka semesta ini selalu hadits, baru. Kalo alam semesta ini hakikatnya baru, maka mesti ada yang menjadikannya baru. Lalu, yang menjadikan alam semesta ini baru harus ada pula yang menjadikannya. Kalo dipahami seperti ini, maka alam semesta ini tidak akan ditemukan penyebabnya, karena penalaran semacam ini tidak akan pernah ada habisnya, tidak akan pernah memberikan jawaban rasional yang dapat dipahami. Keadaan yang berantai-rantai demikian itu, dengan tiada putus-putusnya, akan menjadi hal yang tidak akan pernah dapat diterima secara rasional. Jadi, mustahil kalo alam semesta itu baru, hadits. Alam semesta ini memang sesungguhnya azali, kekal, tiada berawal, dan tiada berkesudahan, sesuatu yang sejak kekal hingga kekal diresapi proses kekal, proses yang terus-menerus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain argumentasi yang telah diuraikan di atas, Ibnu Rusyd juga mengajukan argumentasi mengenai keazalian alam semesta ini dalam kaitannya dengan pengetahuan Tuhan terhadap realitas alam semesta ini dalam kaitannya dengan pengetahuan Tuhan terhadap realitas alam semesta ini. Ibnu Rusyd melihat hubungan antara Tuhan dan alam semesta kendati tidak secara detail dan Tuhan tidak memiliki hubungan secara langsung dengan realitas-realitas particular di alam semesta ini. Dalam kaitannya dengan persoalan hubungan antara Tuhan dan alam semesta, sudah merupakan keharusan bagi Tuhan bahwa alam semesta Dia harus mengemanasikan alam semesta sejak keazalian. Segala sesuatu yang teremanasi dari Tuhan memiliki hakikat Tuhan dalam konteks waktu, yakni keazalian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena Tuhan dengan alam semesta ini ada hubungan yang bersifat harus dan mutlak, maka alam semesta sudah merupakan keharusan terdalam alam semesta, untuk berada dalam keterkaitan dengan Tuhan yang azali. Bahkan keterkaitan ini sesungguhnya bersifat azali. Jadi, keazali alam semesta dan keazalian Tuhan tidak bisa dipisahkan, kendati keazalian keduanya berbeda. Khususnya keazalian alam semesta, tidaklah mungkin kalau tidak dalam keterkaitannya dengan Tuhan yang azali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2.5. Rangkuman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kata azali harus dipahami dalam keterkaitannya dengan penciptaan, ruang, Tuhan, dan alam. Kata azali berarti abadi, kekal, tiada berawal dan tiada akan berkesudahan. Keazalian sendiri merupakan wadah di mana form dan wujud dengan semua karakter dari segala sesuatu terbentuk dan ada. Dikatakan demikian, karena dalam keazalian ini apa pun tidak akan pernah musnah, selalu azali sebab berada dalam wadah yang azali, yaitu keazalian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ibnu Rusyd sendiri memahami waktu sebagai ukuran perubahan alam semesta dan eksistensi waktu itu sendiri sudah ada sejak keazalian sebagai ukuran perubahan alam semesta dan eksistensi waktu itu sendiri sudah ada sejak keazalian sebagai kontinuitas transformatif tanpa adanya penyelangan waktu. Ruang dan waktu disebabkan oleh Tuhan tanpa adanya durasi. Ruang dan waktu bukan merupakan realitas susulan yang keberadaannya baru kemudian setelah Tuhan berkehendak menciptakan alam semesta ini.Kontinuitas transformatif waktu itu sendiri bagi Ibnu Rusyd merupakan karakter khusus, yang kerap kali ia pergunakan sebagai isyarat bentuk yang meruang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;spatialized form),&lt;/span&gt; karena dalam bentuk itulah, kodrat perubahan alam mungkin terjadi dan bentuk berjasad pun dapat dialami.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut Ibnu Rusyd, setiap benda memiliki kemungkinan untuk berubah, karena setiap benda bernyawa. Karena benda bernyawa, maka benda itu pun berakal sesuai sesuai dengan keadaan dan bentuknya sendiri. Hal ini berarti, akal itu sendiri pun mempunyai daya untuk mengenal dirinya sendiri dan hal-hal lain dengan keberadaannya. Akal di sini merupakan isyarat gerak yang menimbulkan perubahan, berganti roman dan bersalin rupa sepanjang zaman dan tiada akan pernah berkesudahan. Gerak yang terus-menerus dan tiada akan berkesudahan ini senantiasa menjadikan apa yang bersifat potensi menjadi wujud yang nyata dan potensi itu tetap menjadi hakikat terdalam dari alam semesta. Lebih lanjut, Ibnu Rusyd melihat bahwa peristiwa “jadi” dan “musnah”, yang merupakan fakta hidup sehari-hari, tidak lain sebagai akaibat dari gerakan azali. Karena gerakan bersifat azali, maka peristiwa “jadi” dan “musnah” pun akan bersifat azali pula. Hanya dengan cara demikian, maka alam semesta tidak akan pernah mengalami apa yang dikatakan sebagai kekosongan. Dasar pemikiran Ibnu Rusyd mengenai keazalian alam semesta, dalam konteks ini, tidak lain merupakan semua gerak , energi, dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; creative power &lt;/span&gt;dalam alam semesta itu sendiri, yang aktif secara terus-menerus; tanpa diketaui awalnya dan tiada akan berkesudahan. Persoalan pergantian wujud itu sendiri merupakan persoalan yang terkait dengan hakikat realitas semesta alam dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power &lt;/span&gt;yang disertakan Tuhan bagi alam semesta itu sendiri, yang secara terus-menerus menimbulkan gerak azali. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Creative Power&lt;/span&gt;, yang ada dalam tiap wujud itu tentunya dalam alur pemikiran Ibnu Rusyd ada dan aktif hanya dalam keterkaitannya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative power&lt;/span&gt; yang Universal, Pertama, dan Tunggal, yaitu Tuhan. Sehingga dapat dikatakan bahwa hakikat alam semesta merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;creative&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;power&lt;/span&gt; yang menimbulkan proses terus-menerus dalam alam semesta. Karenanya, alam semesta ini dikatakan bersifat azali, tiada berawal dan tiada berkesudahan, kekal dan abadi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hubungan alam semesta dengan Tuhan sendiri harus dipahami sebagai hubungan yang bersifat harus dan mutlak. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa alam semesta ini melimpah dari Tuhan, bukan diciptakan dari ketiadaan. Dengan kata lain, hubungan antara alam dan Tuhan tersebut bersifat azali, abadi, sudah dari kekal hingga kekal, tiada berawal dan tiada akan berakhir. Jadi, alam semesta dikatakan azali karena dikaitkan dengan Tuhan. Alam semesta terkait dengan Tuhan karena alam semesta teremanasi dari Tuhan melalui gerak yang ditimbulkan Tuhan sejak azali, tiada berawal dan tiada akan berkesudahan. Sesuatu yang diemanasikan harus dipahami mutlak berada dalam keterkaitan dengan yang mengemanasikannya. Dengan demikian, alam semesta yang teremanasi dari Tuhan mutlak dan menjadi keharusan terdalam alam semesta itu, untuk berada dalam keterkaitan dengan Tuhan yang azali. Alam semesta harus dipahami sebagai ada bersama Tuhan. Eksistensi alam semesta dan Tuhan itu bersifat azali, karenanya keazalian alam dan Tuhan tidak akan pernah bisa dipisahkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;ABIDIN AHMAD, ZAINAL&lt;/b&gt;. 1975. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Riwayat Hidup Ibnu Rusyd&lt;/span&gt;. Jakarta:Bulan Bintang&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;AMIN HOESIN&lt;/b&gt;, Oemar. 1964. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kultur Islam&lt;/span&gt;. Jakarta: Bulan Bintang&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;BAKRY, Has&lt;/b&gt;bullah. 1978. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di Sekitar Filsafat Skolastik Islam&lt;/span&gt;. Jakarta: Tinta Mas&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;Daudy, Ahmad&lt;/b&gt;. 1984. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Segi-Segi Pemikiran Falsafi dalam Islam.&lt;/span&gt; Jakarta: Bulan Bintang&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;LEAMAN, Oliver&lt;/b&gt;. 1989. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengantar Filsafat Islam Abad Pertengahan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;----------------------2002. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengantar Filsafat Islam: Sebuah Pendekatan Tematis. &lt;/span&gt;(Penerjemah Musa Kazhim). Bandung: Mizan&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;HITTI,Philip K&lt;/b&gt;. 1956. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;History of The Arab.&lt;/span&gt; New York: Princeton University Press&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;JURJI, Edward J&lt;/b&gt;. 1990. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Great Religious of The Modern World.&lt;/span&gt; New Jersey: Princeton University Press.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;ARRINGTON, Robert L.&lt;/b&gt; 1999. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Companion to Philosophers.&lt;/span&gt; Malden:Blackwell Publisher Inc.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;Shushtery, A.M.A.&lt;/b&gt; 1938. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;outlines of Islamic Culture. Vol.II. &lt;/span&gt;Bangalore City: The Bangalore Press.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-3295104888186304491?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/catatan-pemikiran-ibnu-rusyd-3.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R2ISEvVIfdI/AAAAAAAAAD8/m_HguaTJS3o/s72-c/Averoes.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-1588754894452272365</guid><pubDate>Tue, 11 Dec 2007 04:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-10T21:01:32.538-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Catatan Pemikiran Ibnu Rusyd (2)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R14Yz3gTztI/AAAAAAAAADg/NIghLpd-h7Y/s1600-h/Averoes.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R14Yz3gTztI/AAAAAAAAADg/NIghLpd-h7Y/s320/Averoes.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142575103855546066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;LANJUTAN…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;(Pemikiran Ibnu Rusyd dalam Rentang Sejarah).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2.1. Pengertian Keazalian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kata dasar keazalian adalah azali. Dalam kamus dan ensiklopedi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tidak ditemukan kata azali. Karena itu, etimologi kata “azali” sulit dilacak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, bila kita membaca buku-buku yang memuat Filsafat Islam seing dipakai khususnya dalam Filsafat tentang penciptaan, ruang, waktu, Tuhan dan Alam. Kita sudah mengenal bahwa Filsafat Islam itu berpusat di Arab. Karena itu, dapat diduga bahwa kata azali berasal dari Bahasa Arab.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setelah saya berupaya memahami pemikiran Ibnu Rusyd, salah satu filsuf skolastik Islam, saya melihat bahwa kata azali terkait erat dengan persoalan waktu. Dari alur pemikiran Ibnu Rusyd dapat ditangkap bahwa keazalian berarti keabadian, kekekalan, tiada berawal dan tiada berakhir &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Drs. Hasbulah Bakry, Op.Cit.,hlm.69-70. Lihat juga Qemar Amin Hoesin, Op.Cit: hlm.365-366.).&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Kata azali yang berarti keabadian, kekekalan, tiada berawal, dan tiada berkesudahan di sini, rupanya tidak hanya berkaitan dengan keberadaan dari sesuatu yang tidak akan pernah musnah, tetapi juga soal asal-usul dari sesuatu yang ada. Karena itu, kata keazalian berarti juga tidak berawal dan tidak berkesudahan, dari kekal hingga kekal. Dengan demikian, keazalian juga menyangkut segala sesuatu serta proses yang memungkinkan dan menyetai terjadinya segala sesuatu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam filsafat tentang Alam dan Tuhan, Ibnu Rusyd melihat bahwa alam dan Tuhan itu bersifat azali, abadi, yang berarti tidak berawal dan tiada kan berakhir. Sekilas, pernyataan ini tidak koresponden dengan kenyataan alam. Bagaimanapun, realitas particular tertentu di alam ini (terutama realitas material) pada kenyataannya musnah juga, seperti kematian manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Dari kenyataan ini, alam rupanya tidak bisa dikatakan sebagai azali.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun demikian, pemahaman Ibnu Rusyd mengenai keazalian tidak bisa dibantah begitu saja hanya dengan alasan sederhana seperti itu. Ibnu Rusyd yang memakai kata azali sebenarnya mau bicara soal hakikat terdalam dari segala-sesuatu, yaitu potensi kreatif yang menyebabkan dan menyertai segala sesuatu, entah sebagai totalitas maupun sebagai realitas yang particular. Dari pemahaman seperti ini, kata azali sebetulnya juga menunjuk karakter universal segala sesuatu. Di sini saya memahami bahwa Ibnu Rusyd&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat adanya “creative power” universal, yang memungkinkan terjadinya dan menyertai alam semesta dengan segala karakternya, termasuk perubahan-perubahan alam particular, bahkan juga soal peristiwa kemusnahan suatu realitas dalam alam semesta ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jadi, keazalian berarti keabadian, kekekalan, dan secara negatif, keazalian berarti tiadaberawal dan berakhir, tidak kontingen dan juga tidak berdurasi. Dari uraian di atas, keazalian merupakan wadah di mana form dan wujud dengan semua karakter dari segala sesuatu terbentuk dan ada. Dengan demikian, keazalian juga merupakan hakikat terdalam dari segala sesuatu. Dikatakan demikian, karena dalam keazalian ini, apa pun tidak akan pernah musnah dan selalu azali, karena berada dalam wadah azali, yaitu keazalian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2.2. Keazalian Alam dan Tuhan dalam Kaitannya dengan Gerak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam pemikiran Ibnu Rusyd, antara gerak, alam, dan Tuhan tidak bisa dipisahkan. Dalam proses penciptaan, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa bukan Tuhan yang menciptakan alam semesta secara langsung. Posisi Tuhan terhadap alam adalah sebagai perantara. Posisi sebagai pengantara inilah yang menyebabkan adanya gerak. Dengan demikian, Tuhan merupakan sumber gerak, akan tetapi bukan Tuhan yang bekerja menjadikan alam &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Dr. Oemar Amin Hoesin, &lt;i&gt;Kultur Islam&lt;/i&gt;, Jakarta, Bulan Bintang, 1964, hlm.365-366).&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Tuhan sebagai sumber gerak tidak bergerak dan tidak ada yang menggerakkannya. Tuhan adalah Penyebab Pertama dan Utama, Tuhan hanyalah menyebabkan gerak pada akal pertama saja. Sedangkan gerakan-gerakan selanjutnya yang menimbulkan berbagai peristiwa di alam ini disebabkan oleh akal-akal selanjutnya. Akal-akal selanjutnya yang dimaksud di sini sebenarnya merupakan “creative power”, yang menyertai alam semesta sebagai totalitas maupun menyertai setiap realitas particular di alam semesta ini. Karena itu, peristiwa atau kejadian apapun di alam ini bukanlah akibat langsung dari tindakan Tuhan. Alam semesta, sebagai totalitas maupun realitas particular di dalamnya, berproses dengan creative power yang terkandung di dalamnya, tanpa campur tangan langsung dari Tuhan. Adanya creative power dalam alam itu sendiri menjadi dasar dari gerak alam semesta , yang mendorong dan membentuk karakter alam semesta dan realitas particular yang ada di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalo gerak itu dipahami sebagai energi atau daya kreatif, maka hakikat dalam materi itu adalah energi. Hal ini sangat jelas, ketika Ibnu Rusyd menyatakan bahwa segala bendaadalah potensi yang bersifat universal. Setiap benda mengandung energi yang membentuk dirinya sendiri (Ibid.,hlm366). Karena setiap benda mengandung energi, maka setiap benda memiliki gerak dan gerakan itu memiliki dua arah, yaitu gerak di dalam dirinya sendiri dan gerak terhadap benda-benda lainnya (Ibid.). Dalam konteks ini, Shushtery menerangkan pemikiran Ibnu Rusyd secara gamblang:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Matter as universal potency, contain in itself the capacity of taking form. Both matter and form are eternal and necessary to each other. The highest sphere is immaterial and permanent. It does not revolve as considered by other scholars, but the apparent mation is connected with the star fixed in it. The heaven of the planets, on the other hand, has two mations; one particular to each planet and the other its daily movement. Sun and the stars contribute to life on earth by their warmth (A.M.A. Shushtery, Outline of Islamic Culture, VOL. II., Banggalore City, The Bangalore Press, 1938, hlm.436).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Gerakan adalah suatu akibat, karena tiap-tiap gerakan senantiasa mempunyai sebab menggerakkan yang mendahuluinya. Kalo kita mencari sebab itu, maka akan kita temui sebab penggeraknya. Begitu seterusnya, dan tidak mungkin berhenti. Karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menganggap bahwa sebab yang terdahulu atau yang pertama itu adalah sesuatu yang tidak bergerak. Suatu gerak yang tiada awal dan tiada akhir yang merupakan penggerak utama, “Prima-Causa” yang hanya pantas dikenakan bagi Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena Penggerak Utama (Tuhan) ini tidak berawal dan tidak berakhir, maka Tuhan pada hakikatnya azali, tiada berawal dan tiada berakhir, kekal ada-Nya. Dalam teori emanasi yang pernah saya uraikan, kita telah melihat bahwa Tuhan yang sempurna dan esa mengemanasi alam semesta, tanpa membutuhkan perantara dari sesuatu yang lain, selain diri-Nya sendiri. Tuhan yang menggerakkan itu sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah Tuhan yang mengemanasikan diri-Nya , sehingga terbentuk alam semesta dengan potensi dan karakternya. Maka di sini, Tuhan itulah yang memberikan creative power pada alam semesta dengan seluruh realitas particular yang ada di dalamnya. Tuhan yang memberi creative power berarti Tuhan yang memberikan daya aktif dan hidup pada alam semesta. Karena itu, lebih lanjut Ibnu Rusyd mengatakan bahwa setiap benda mempunyai&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;‘kemungkinan ‘ bahkan setiap benda bernyawa. Karena benda bernyawa, maka benda itu pun berakal sesuai dengan keadaan dan bentuknya sendiri (Op.Cit., hlm.366). Itu berarti bahwa akal itu sendiri mempunyai daya untuk mengenal dirinya sendiri dan hal-hal lain dengan keadaannya. Akal di sini merupakan isyarat gerak yang menimbulkan perubahan , nerganti roman dan berganti rupa sepanjang jaman yangtiada hentinya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Gerak yang menimbulkan perubahan berganti roman dan bersalin rupa di sini tidak berarti bahwa alam semesta itu bersifat baru (hadits), karena bentuk alam semesta itu benar-benar mempunyai sumber asal-usulnya, yaitu Tuhan. Namun, alam semesta dalam kaitannya dengan waktu sendiri berkembang secara terus-menerus dalam kedua kutub yang ekstrem, yaitu tanpa ada proses penyelangan waktu (Oliver Leaman, Op.Cit.,hlm 35). Alam terus menerus berubah, tetapi alam serentak bersifat azali. Nah, itu berarti bahwa alam semesta karena hakikatnya yang berubah dan berkembang secara terus-menerus, tanpa penyelangan waktu, menunjukkan karakter keazalian alam semesta. Alam semesta secara hakiki tidak bersifat hadits (baru, kontingen), melainkan azali, kekal, dan abadi, karena teremanasi dari yang azali dan kekal, yaitu Tuhan sebagai Penggerak Pertama dan Utama. Maka kita sebetulnya dapat mengatakan bahwa alam semesta ini tidak azali, baru, sebab azali selalu berarti tiada berawal dan tiada berakhir. Terhadap persoalan ini, Ibnu Rusyd mengembangkan argumentasinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan mendasarkan diri pada beberapa ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan sedemikian rupa untuk dijadikan landasan teologid bagi pemikirannya. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dipakainya sebagai landasan pemikiran, antara lain sebagai berikut. Ibnu Rusyd mengemukakan Al-Qur’an ayat 7 dari surah Hud yang berbunyi: “ Allah itulah yang menjadikan beberapa langit dan bumi dalam waktu enam hari, dan tahtanya di atas air”. Ibnu Rusyd menafsirkan bahwa memang ayat itu membenarkan pemahaman bahwa alam semesta merupakan realitas yang dijadikan oleh Tuhan. Tetapi di samping itu, ayat ini memberi kesan pula sebelum ada langit dan bumi ini, sudah ada zaman dan zaman itu merupakan wadah dari alam semesta ini. Selain itu, ayat ini juga dapat memberi kesan bahwa sebelum ada langit dan bumi, sudah ada tahta dan air. Berkaitan dengan tafsiran ayat ini, kita perlu melihat kembali arti alam menurut pemikiran Ibnu Rusyd. Kita sudah mengetahui bahwa Ibnu Rusyd memahami alam sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;totalitas eksistensi dan potensi terpadu. Hal itu berarti bahwa alam sudah termasuk air, tahta, ruang, dan waktu.Kenyatannya, dalam Al-Qur’an tampak jelas bahwa sebelum langit dan bumi dijadikan sudah ada waktu,tahta dan air yang semuanya termasuk alam semesta. Dengan demikian, alam semesta sebenarnya terbentuk bukan dari “ketiadaan”, dan dari zaman tertentu, melainkan dari kekal, sejak azali. Karena itu, wujud dan bentuk alam ini keseluruhannya sebetulnya bersifat azali, tiada berawal dan tiada berakhir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain ayat di atas, Ibnu Rusyd juga mengemukakan juga ayat 48 dari Surat Ibrahim yang berbunyi: “ Pada hari bumi ini diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit, menghadaplah keduanya ke hadirat Allah yang Mahaesa dan mengerasi”. Menurut Ibnu Rusyd, ayat ini kalo ditafsirkan akan menunjukkan kesan bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam kejadian alam semesta ini ada kelangsungan, pergantian. Hal ini tidak berarti bahwa alam semesta ini hadits (baru). Untuk memperkuat pendapatnya ini, Ibnu Rusyd kembali mengutip Al-Qur’an ayat 11 dari Surat Fushshilat yang berbunyi : “ Kemudian Allah menuju ke langit yang ketika itu sebagai asap, lalu katanya kepada langit dan bumi: Datanglah kamu berdua, baik dengan suka hati ataupun terpaksa. Menyahutlah keduanya: kami datang dengan penuh kesukaan”. Ibnu Rusyd menyatakan, dari ayat ini dapat diambil kesan bahwa wujud alam itu adalah azali sedangkan yang baru itu hanyalah pergantian bentuknya &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Drs. H. Hasbullah Bakhry, SH., Op.Cit., hlm. 71-72).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalau dilihat secara cermat, sebenarnya dasar pemikiran Ibnu Rusyd mengenai keazalian alam semesta dalam konteks ini adalah semua gerak, energi, creative power dalam alam semesta yang aktif secara terus-menerus, tanpa diketahui awalnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan tiada akan berkesudahan, dan tiada akan pernah berhenti. Persoalan pergantian wujud itu merupakan persoalan hakikat realitas alam semesta, yang sebenarnya dimungkinkan oleh keterpautan totalitas alam semesta itu dengan creative power yang terkandung di dalam dirinya sendiri, yang terus menerus menimbulkan gerak. Creative Power alam semesta itu tentunya, menurut alur pemikiran Ibnu Rusyd, ada dan aktif hanya dalam keterkaitannya dengan Creative Power yang universal, Pertama, dan Tunggal, yaitu Tuhan. Dapat dikatakan bahwa karena hakikat alam semesrta adalah potensi kreatif (Creative Power), yang menimbulkan proses terus menerus pada alam semesta, maka alam semesta ini bersifat azali, tiada berawal dan tiada berkesudahan, kekal dan abadi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;2.3. Keazalian Alam dan Tuhan dalam Kaitannya dengan Ruang dan Waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ibnu Rusyd adalah seorang filsuf Islam. Kita tahu bahwa bagi umat Islam, Al-Qur’an tidak hanya diyakini sebagai Buku Suci yang memuat hal-hal yang terkait dengan perkara spiritual belaka, akan tetapi Al-Qur’an juga dipercaya sebagai sumber dan gudang ilmu pegetahuan. Al-Qur’an diyakini memuat jawaban-jawaban fundamental serta difinitif atas persoalan-persoalan ketuhanan, alam, dan manusia. Al-Qur’an memuat hal-hal yang begitu kompleks. Karena itu, pemahaman yang benar dan tepat atas isi Al-Qur’an menjadi tuntutan yang sangat mendasar. Ibnu Rusyd sendiri melihat, terutama bagi kaum intelektual,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;isi Al-Qur’an mesti ditafsir dan dikaji secara rasional agar dapat dipahami secara benar dan tepat sehingga bermakna bagi petualangan hidup manusia. Bahkan Ibnu Rusyd sendiri menyatakan bahwa tidaklah benar bagi seorang intelektual memahami isi Al-Qur’an secara literal, tanpa ditafsir dan dikaji secara rasional. Tentang isi Al- Qur’an, Ibnu Rusyd berpendirian bahwa Al-Qur’an merupakan buku yang diturunkan oleh Allah untuk seluruh manusia. Oleh karena manusia memiliki tingkat-tongkat tertentu dalam pengetahuan, ada yang berilmu dan ada yang bodoh, maka pengertian atas isi Al-Qur’an pun sudah barang tentu bertingkat-tingkat pula, menurut tingkat pemahaman seseorang. Ibnu Rusyd membagi tingkat pengertian atas Al-Qur’an menjadi dua kategori: pertama, Al-Qur’an bagi orang illiteral (orang awam) harus ditafsir secara literal. Artinya, bagi orang awam, Al-Qur’an harus dikemas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan disajikan berdasarkan bunyi serta cara mereka berpikir. Kedua, Al-Qur’an bagi orang literal (kaum terpelajar atau kaum intelektual), Al-Qur’an harus dilihat secara alegoris atau secara kiasan , menurut tingkat ilmu pengetahuan kaum intelektual &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(lih. H. Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibnu Rusyd, Op. Cit., hlm.160).&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dalam peristiwa penciptaan alam semesta, dalam kaitannya dengan ruang dan waktu, Al-Qur’an memang menyajikan informasi perihal penciptaan alan semesta (langit dan bumi) yang dijadikan Tuhan dalam waktu 6 (enam) hari. Dinyatakan juga bahwa alam semesta bertahta di atas air. Terkait dengan penciptaan alam semesta ini, kita dapat melihat Kitab Suci Al-Qur’an dalam Surat Hud ayat 7 yang berbunyi :” Allah itulah yang menjadikan langit dan bumi dalam waktu enam hari, dan arasynya (tahtanya) di atas air (Lihat Al-Qur’an terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia). Informasi mndasar dalam Al-Qur’an itulah yang dijadikan Ibnu Rusyd untuk memahami peristiwa penciptaan alam semesta dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu. Sebagai seorang filsuf, Ibnu Rusyd sedikit mengesampingkan arti literal Ayat Suci Al-Qur’an tersebut dan lebih condong untuk memahami secara alegoris informasi yang terdapat dalam Ayat Suci Al-Qur’an perihal penciptaan alam semesta, dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu. Ibnu Rusyd tidak begitu saja menerima dan meyakini pernyataan Al-Qur’an itu sebagai ungkapan yang dapat dijadikan representasi realitas peristiwa penciptaan alam semesta ini oleh Tuhan. Bahasa yang dipergunakan dalam Al-Qur’an bagi Ibnu Rusyd merupakan bahasa alegoris yang tidak bisa diterima begitu saja, tanpa adanya penafsiran dan pengkajian secara rasional.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk itu, Ibnu Rusyd perlu melihat secara jeli dan kritis peristiwa penciptaan alam semesta dan keterkaitannya dengan ruang dan waktu serta sangat berkepentingan sekali untuk mengajukan beberapa pertnyaan mendasar yang dirasakannya mampu membawa pada suatu pemahaman yang sejati, akan hakikat peristiwa alam semesta dalam kaitannya dengan ruang dan waktu. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang Ibnu Rusyd lontarkan adalah sebagai berikut: Pertama, apakah waktu itu sudah ada sebelum Tuhan menciptakan alam semesta ini, ataukah waktu itu dimulai dari hari pertama dari keenam hari sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an? Apakah kita tidak dapat membayangkan waktu sebelum adanya waktu seperti yang kita pahami sekarang manakala Tuhan ada bersama dengan waktu itu? Kedua, apakah dalam proses penciptaan alam semesta ini, ada saat di mana Tuhan harus menunggu saat yang tepat untuk mencipta?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang Ibnu Rusyd munculkan di atas, rupanya tidak mendapat jawaban yang memadai secara rasional dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Ayat Suci Al-Qur’an rupanya tidak memberikan jawaban yang pasti dan meyakinkan berkaitan dengan peristiwa penciptaan alam semesta dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu. Bahasa Al-Qur’an perihal ruang dan waktu itu tetap mengundang banyak interpretasi yang mungkin timbul &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Lih. Oliver Leaman, &lt;i&gt;Pengantar Filsafat Islam&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Abad Perten&lt;/i&gt;gahan, Op.Cit. hlm.33).&lt;/span&gt;. Kenyataan seperti inilah yang mendorong Ibnu Rusyd untuk berpetualang dengan pemikirannya dalam rangka memahami hakikat alam semesta dalam keterkaitannya dengan ruang dan waktu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Wah, leren dhisik ya…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;BERSAMBUNG&lt;/b&gt; ke sub-judul berikutnya….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-1588754894452272365?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/catatan-pemikiran-ibnu-rusyd-2_7637.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R14Yz3gTztI/AAAAAAAAADg/NIghLpd-h7Y/s72-c/Averoes.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-1982620471374499188</guid><pubDate>Tue, 11 Dec 2007 04:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-10T20:22:34.547-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Catatan Pemikiran Ibnu Rusyd(1)</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R14PaHgTzpI/AAAAAAAAAC8/yygoT3eQ6pk/s1600-h/Averoes.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R14PaHgTzpI/AAAAAAAAAC8/yygoT3eQ6pk/s320/Averoes.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142564765869264530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;KEAZALIAN ALAM DAN TUHAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(PEMIKIRAN IBNU RUSYD DALAM RENTANG SEJARAH)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;“Berkat kecerdasan dan kecermerlangan pikirannya, Ibnu Rusyd merambah belantara cabang ilmu pengetahuan, Filsafat dan Agama. Keseluruhan petualangannya sangat mengandalkan daya cerna rasional atas apa pun serta mengesampingkan emosi dan perasaan sentimen. Alih-alih perjalanan seorang tokoh besar, justru kebesaran dan kejeniusannya malah membuat resah para ulama fikih yang tidak senang dengan pendapat-pendapatnya, bahkan dia dituduh sebagai penyebar ajaran filsafat yang menyimpang dari ajaran Agama Islam. Dia dikenal sebagai penentang ajaran Agama Islam dengan tudingan ‘manusia zindik’ (lahirnya Islam sementara batinnya kafir).Tidak hanya sebatas dituduh sebagai pengajar ajaran sesat saja, Beliau juga diasingkan di Lucena dan karya-karya yang sudah dipublikasikan pun di bakar dan secara resmi diumumkan haram belajar Ilmu Filsafat. Sejak saat itulah, Filsafat tidak mendapat tempat di dunia Islam karena kebebasan berpikir ‘dipasung’ dengan dalih agama”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;1. Riwayat Hidup dan Karya-Karya Ibnu Rusyd&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Ibnu Rusyd dilahirkan pada tahun 520 H atau tahun 1126 Masehi, di kota Cordova, Andalusia, wilayah Islam di ujung Barat Benua Afrika. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad Ibnu Rusyd. Di Barat Beliau lebih dikenal dengan nama Averoes. Ia berasal dari sebuah keluarga terhormat, baik di wilayah kesarjanaan maupun kenegaraan. Di wilayah kesarjanaan, keluargannya telah menyumbangkan sarjana-sarjanaTeologi dan Ilmu Hukum bagi kaum muslimin Spanyol.Sementara di wilayah kenegaraan, Kakek dan ayahnya pernah menduduki jabatan sebagai hakim agung. Beliau sendiri juga pernah menduduki jabatan sebagai hakim di Sevilla dan hakim agung di Cordova.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Sejak kecil Beliau telah mempelajari Al-Qur’an, ilmu-ilmu keislaman (tafsir, hadis, fikih, dansastra Arab). Kemudian Beliau juga mendalami Matematika, Fisika, Astronomi, Logika, Filsafat, Ilmu Kedokteran , sejarah, dan juga Ilmu Sastra.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beliau adalah komentator dan kritikus ulung dan namanya melambung tinggi justru karena uraian-uraiannya tentang filsuf-filsuf pendahulu, terutama Aristoteles. Kritik dan komentarnya tentang Filsafat Aristoteles inilah yang membuat Beliau termasyur di Eropa, sehingga Eropa tidak segan-segan mengakui bahwa Ibnu Rusyd adalah komentator besar atas karya Aristoteles sebagai guru besarnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Selama pergulatannya dengan Filsafat dan berbagai ilmu empiris lainnya, Ibnu Rusyd sangat merangsang banyak pemikir dunia terutama dalam ranah Filsafat. Beberapa karyanya dapat kita sebut, sbb: &lt;i&gt;Mabadi-ul-Falasifah&lt;/i&gt; (Pengantar Ilmu Filsafat), &lt;i&gt;Kashful-adilla&lt;/i&gt; (Buku Filsafat dan Agama), &lt;i&gt;Tahafutu-t-Tahafut&lt;/i&gt; (Buku filsafat yang merupakan balasan atas serangan buku Al-Ghazali yang berjudul &lt;i&gt;Tahafatul-Falasifah&lt;/i&gt;), &lt;i&gt;Muwafagati-I-Hikmawati Wal Sharia&lt;/i&gt; (Persamaan Filsafat dan Agama), &lt;i&gt;Qism Ur&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Rabi’min Warait Thabie’ah&lt;/i&gt; (Buku Metafisika), &lt;i&gt;Fashl ul maqal&lt;/i&gt; (Buku Ilmu Teologi), &lt;i&gt;Bidayat ul Muftahid wa Nihayat Urdjuza&lt;/i&gt; (Ilmu Pengobatan), &lt;i&gt;Taslu&lt;/i&gt;l (Ilmu Kalam).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Setelah dibebaskan oleh Kaisar Al- Mansyur dari pengasingannya di Lucena, Ibnu Rusyd kemudian pergi ke Maroko dan di tempat inilah Beliau menghabiskan sisa hidupnya hingga hembusan nafas terakhir pada tanggal 11 Desember 1198.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;1.1&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Kemasyuran Ibnu Rusyd&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam Dunia Filsafat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Terlepas ‘label negatif’ yang harus dia pikul karena kecemerlangan dan keradikalan pemikirannya, Ibnu Rusyd harus diakui sebagai pemikir Abad Pertengahan yang paling besar , mencengangkan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengguncangkan dunia, khususnya dunia Islam. Beliau adalah seorang filsuf Islam yang paling terkenal. Seorang putera andalus yang menjadi ‘perantara’ dan yang membawa cara berpikir dan akidah Timur di tengah kehidupan orang Barat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Karena kecemerlanagan dan keradikalan pemikirannya, maka Beliau berhasilmenggondol nilai yang tinggi dalam pandangan orang Eropa, serentak memeteraikan namanya dalam deretan filsuf-filsuf Eropa. Karena keistimewaannya inilah, maka Philip K. Hitti mengatakan :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;“last of the great Arabic writing philosophers, Ibnu Rushd produced no progeny is Islam. He belonged more to Christian Europe than to Muslem Asia or Africa. To the West he became “the commentator” as Aristotle was the teacher” (Philip K. Hitti, History of the Arab, New York, Princeton University Press, 1956,hlm.583).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari uraian di atas, Ibnu Rusyd sebenarnya merupakan seorang filuf Islam yang sangat mempengaruhi gema filsafat Eropa. Beliau seorang filsuf sklolastik Islam yang kecemerlangan pemikirannya lebih menampilkan raut pemikiran yang holistic, karena pemikirannya mengakomodasi setiap pemikiran, kemudian menggodoknya secara rasional, sistematis, metodis serta koheren. Harapannya tentu pemikiran-pemikiran baru yang akan lebih mampu menampilkan karakter realitas yang sebenarnya. Beliau betul-betul seorang pencari kebenaran sejati, yang tidak begitu saja sudi ‘terpaku-mati’ dalam keyakinan-keyakinan, doktrin dan dogma-dogma yang sudah diterima tanpa memperkarakannya oleh khalayak umum. Beliau seorang manusia biasa yang memiliki keberanian untuk menerjang semua keangkuhan dogmatis-teologis serta filosofis, sambil menebarkan semerbak harum nubuat profetis serta pesan-pesan keilmuan yang luas, tajam dan mendalam. Dari konteks ini juga, dapatlah kita memahami bahwa pemikiran Beliau sebenarnya buah dari petualangan perdebatan yang panjang. Tetapi, pencarian Beliau sudah barang tentu dilakukan dalam konteks pencariannya akan makna yang terdalam dari sesuatu yang Beliau imani.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;1.1.1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Pengertian alam dan Tuhan Ibnu Rusyd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent3"&gt;Ibnu Rusyd tidak pernah mendifinisikan apa itu alam dan Tuhan. Beliau hanya menampilkan karakter alam dan Tuhan serta relasi hakiki antara alam dan Tuhan itu sendiri. Alam dalam pemikiran Ibnu Rusy lebih cenderung dipahami sebagai segala sesuatu yang ada dengan segala proses yang menjadikannya serta yang menyertai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;segala sesuatu itu. Dapat dikatakan bahwa alam merupkan totalitas eksistensi dan potensi yang terpadu. Alam meliputi ruang, waktu, materi, perubahan, gerak, energi, kausalitas, serta keabadian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Sebagai seorang yang berimankan Islam, sudah barang tentu Kitab Suci Al-Qur’an menjadi pijakan pemikirannya. Beliau merefleksikan apakah ada sesuatu yang telah ada sebelum dunia ini diciptakan dan dari bahan yang sudah ada itukah dunia ini diciptakan. Apakah waktu itu sudah dimulai dari hari pertama dari keenam hari ataukah waktu itu sudah ada sebelum Allah menciptakan alam semesta ini. Ajaran tradisional Islam mengklaim bahwa alam semesta ini diciptakan dari ketiadaan “creatio ex nihilo”. Hal ini terutama didasarkan pada ayat 7 dari Surat Hud yang berbunyi: &lt;i&gt;“Wa hua-llazi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;khasqas samawati wal ardla fi Satttati ay yami wa kana arsyuhu ala ama”&lt;/i&gt; (Allah itulah yang menjadikan beberapa langit dan bumi dalam waktu enam hari, dan arasynya di atas air). Kutipan ini dapat dijadikan rujukan bahwa ada sesuatu sebelum penciptaan alam semesta ini berlangsung. Tetapi khalayak memahami bahwa air itu sendiri dulunya juga diciptakan oleh Tuhan &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;bdk. A.J. Arbery, The Koran Interpreted, Oxfort University Press, 1964. Lihat juga Oliver Leaman, Pengantar Filsafat Islam Abad Pertengahan, Jakarta, Rajawali Pers, hal.35)&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Tetapi berseberangan dengan pemikiran tradisional Islam, Ibnu Rusyd menurunkan gagasan alam semesta secara baru. Bahkan baginya, konsep “creatio ex nihilo” sama sekali tidak masuk akal. Tidaklah mungkin “tiada” dapat berubah menjadi “ada”. Yang terjadi “ada” berubah menjadi “ada yang lain”. Ibnu Rusyd susah membayangkan kalo sesuatu yang ada itu tidak bersifat azali, tanpa permulaan dan tiada berkesudahan. Beliau tidak terima pada saat kita merendahkan derajad Allah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya sekedar pemain sulap. Kemudian, sapakah Tuhan menurut Ibnu Rusyd dan bagaimana relasinya dengan alam semesta?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Ibnu Rusyd lebih memahami segala sesuatu di alam ini disebabkan oleh Tuhan. Tuhan adalah ‘penyebab utama’ segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dikatakan Tuha sebagai penyebab karena segala sesuatu yang ada di alam ini memancar atau melimpah dari-Nya. Karenanya, segala sesuatu yang ada di alam ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus dipahami sebagai “ada-bersama” Tuhan. Alam semesta dengan demikian azali, tanpa permulaan dan tiada berkesudahan, dan bukan dari “ketiadaan” kemudian menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ada”. Hal ini mengisyaratkan bahwa Tuhan dan alam dari sisi durasi waktu sama-sama kekal. Tuhan adalah kekal dan alam semesta pun kekal adanya. Betapa sulit membayangkan matahari tanpa sinar matahari, demikian juga sulit membayangkan kekekalan Tuhan tanpa adanya kekekalan alam. Namun demikian, harus diakui bahwa kekekalan Tuhan berbeda dengan kekekalan alam semesta. Kekekalan Tuhan tanpa penyebab sedangkan kekekalan alam semesta mempunyai penyebab, yaitu Tuhan sendiri sebagai “Penyebab Pertama”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Ibnu Rusyd tidak pernah membayangkan Tuhan sebagai Dia yang pasif, tetapi Dia yang aktif lantaran potensi kreatif yang Tuhan sertakan dalam alam semesta. Hakikat Tuhan menimbulkan gerak kendati Tuhan sendiri tidak bergerak. Gerak inilah yang menjadikan segala sesuatu di alam. Dari Tuhan tidak hanya memancar atau melimpah alam semesta saja, tetapi alam semesta bersama &lt;i&gt;creative power&lt;/i&gt; yang disrtakan padanya. Tuhan tidak hanya menjadikan semesta alam saja, tetapi tuhan juga menjadikannya instrumen penyebab &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;lih. B.Lewis,dkk.(Ed.),Op.Cit.,hlm 914-915)&lt;/span&gt;.Dengan wujud dan potensinya, akhirnya alam semesta menjadi penyebab bagi realitas-realitas particular yang ada di dalammya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Dalam konteks pemahaman ini, Tuhan menurut Ibnu Rusyd tidak menciptakan alam semesta secara langsung. Dapat dipahami pula bahwa adanya realitas perubahan berganti roman dan berganti rupa sepanjang jaman tidak lain karena adanya kemampuan kreatif, potensi kreatif yang menyertai setiap materi yang ada di semesta alam ini. Bahkan dalam batas-batas tertentu, kita perlu memahami bahwa penciptaan alam semesta sebagai peristiwa transformatif alam semesta itu sendiri secara terus-menerus, karena melalui gerak pertama itu, Tuhan sudah memberikan daya transformasi pada alam itu &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;sendiri ( Mircea Aliade, The Encyclopedia of Religion, New York, MacMillan Publishing Co.,1987,hlm.567).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Ibnu Rusyd menggunakan teori emanasi sebagai dasar pergulatan pemikirannya untuk memahami relasi antara alam dan Tuhan. Dalam teori emanasi ini, Ibnu Rusyd berangkat dari pemahaman bahwa salah satu sifat Tuhan yang hakiki adalah kesempurnaan-Nya dan keesaan-Nya. Tuhanyang esa inilah yang mengemanasikan alam semesta karena kesempurnaan-Nya.Kesempurnaan dan ke-Esa-an Tuhan itu harus dilihat dari sisi perbuatan-Nya sejak azali. Karena kalo tidak dipahami demikian, maka ada saat di mana Tuhan harus mengatur pada zaman tertentu, sebelum Dia memutuskan diri untuk menciptakan alam semesta ini. Tuhan yang mengatur rupanya susah terbayangkan oleh Ibnu Rusyd.Terkait dengan ke-Esa-an Tuhan, Ibnu Rusyd memahami bahwa yang melimpah dari Tuhan yang Esa tidak harus satu, tetapi juga lebih dari satu &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dr. Ahmad Daudy, MA(ED.), “Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam Islam”,Jakarta, Bulan Bintang, 1984,hal.5-6).&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;1.1.2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Alam dan Tuhan dalam Teori Emanasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Ibnu Rusyd menggunakan teori emanasi sebagai dasar pergulatan pemikirannya untuk memahami relasi antara alam dan Tuhan. Dalam teori emanasi ini, Ibnu Rusyd berangkat dari pemahaman bahwa salah satu sifat Tuhan yang hakiki adalah kesempurnaan-Nya dan keesaan-Nya. Tuhanyang esa inilah yang mengemanasikan alam semesta karena kesempurnaan-Nya.Kesempurnaan dan ke-Esa-an Tuhan itu harus dilihat dari sisi perbuatan-Nya sejak azali. Karena kalo tidak dipahami demikian, maka ada saat di mana Tuhan harus mengatur pada zaman tertentu, sebelum Dia memutuskan diri untuk menciptakan alam semesta ini. Tuhan yang mengatur rupanya susah terbayangkan oleh Ibnu Rusyd.Terkait dengan ke-Esa-an Tuhan, Ibnu Rusyd memahami bahwa yang melimpah dari Tuhan yang Esa tidak harus satu, tetapi juga lebih dari satu &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dr. Ahmad Daudy, MA(ED.), “Segi-segi Pemikiran Falsafi dalam Islam”,Jakarta, Bulan Bintang, 1984,hal.5-6).&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk mendukung pendapatnya ini, Ibnu Rusyd mengungkapkan perbedaan mendasar antara Tuhan dengan manusia dalam melakukan suatu aktivitas/perbuatan. Ibnu Rusyd mengatakan sesungguhnya ada perbedaan anatara Pembuat Pertama (Tuhan) dengan pembuat yang nyata (manusia). Dalam proses penciptaan, alam semesta ini melimpah dari Tuhan yang Esa. Tuhan tidak hanya melimpahkan yang satu saja, tetapi terdapat multiplisitas limpahan yang terjadi, sebagai efek multiple dari tindakan Tuhan yang Esa itu. Menurut Ibnu Rusyd, tindakan Tuhan semacam itu harus dibedakan dengan tindakan manusia. Manusia hanya mungkin melakukan sekali tindakan dengan satu efek tindakan yang telah dibuatnya. Tetapi untuk Tuhan, dengan sekali tindakan, dapat menghasilkan beragam efek dari tindakan yang telah diperbuat-Nya. Dengan alasan ini, akhirnya Ibnu Rusyd menolak pemahaman para pemikir teori emanasi pada umumnya yang menyatakan bahwa dari Yang Satu, Esa, hanya melimpah satu (B. Lewis,dkk (Ed.),Op.Cit.,hlm.915). Ibnu Rusyd sekali lagi secara tegas mengatakan bahwa Tuhan dalam keharusan-Nya menyebabkan segala sesuatu secara serentak, tanpa ada perantara lain selain Dia. Dalam bukunya, Tahafut-al-Tahafut, Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa pembuat yang Esa itu menyebabkan alam semesta dengan keanekaragaman realitas particular di dalamnya (Dr. Ahmad Daudy,MA (ed), Op.Cit.,hlm.31).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari apa yang telah diuraikan di atas, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa antara wujud empiris dengan wujud akali sebetulnya tidak dapat dipisahkan. Lebih lanjut Ibnu Rusyd menyatakan juga bahwa alamsemesta ini satu, ke luar dari Yang Satu. Di satu pihak, Yang Satu ini adalah penyebab adanya kesatuan. Sementara di pihak lain, Yang Satu ini menjadi penyebab adanya keragaman realitas. Untuk memperkuat pendapatnya ini, Ibnu Rusyd mengajukan argumentasi cemerlang melaui sebuah pernyataan tegas bahwa dari Yang Esa, dengan ke-Esa-an-Nya, harus melimpah keragaman atau melimpah apapun sesuai dengan kesempurnaan-Nya. Dari Yang Satu bukan hanya melimpah satu, karena hal itu tidak akan pernah sesuai dengan fakta keberagaman yang ada di semesta alam ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Semua prinsip, baik yang berasal dari materi maupun yang bukan materi, melimpah dari prinsip pertama (Tuhan). Untuk itu, eksistensi alam semesta ini tiada lain disebabkan oleh kekuatan Tuhan yang satu, sehingga kekuatan Tuhan yang satu itu meresap di dalammya. Dari kekuatan Tuhan ini, jadilah semuanya sebagai satu kesatuan yang sesuai dengan tindakan Tuhan yang satu. Karena jika tidak dipahami secara demikian, tidak akan pernah terjadi keteraturan dan keterkaitan antar bagian di dalam alam semesta ini. Berdasarkan pemahaman semacam ini juga, maka Ibnu Rusyd membenarkan bahwa Tuhan adalah penyokong dan pemelihara segala sesuatu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalaupun ada kekuatan yang meresap dalam alam semesta, seperti yang dimaksudkan Ibnu Rusyd, hal itu bukan berarti bahwa dengan meresapnya kekuatan yang satu ke dalam alam semesta, maka alam semesta menjadi banyak, seperti yang diduga. Hal ini memang sesuai dengan anggapan kebanyakan orang bahwa dari prinsip pertama mula-mula hanya melimpah satu saja, kemudian dari yang satu itu melimpah yang banyak. Akan tetapi, dugaan semacam itu muncul dari pemikiran orang-orang yang menyamakan pembuat yang gaib (Tuhan) dengan pembuat nyata (manusia), atau antara pembuat yang immaterial (Tuhan) dengan pembuat yang material (manusia). Hal ini sangatlah mustahil bagi Ibnu Rusyd. Dari pemaparan di atas, maka jelaslah kebolehan melimpahnya keberagaman dari Yang Esa, tanpa perantara siapa dan apa pun, selain dari Yang Esa itu sendiri. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ibnu Rusyd kemudian menambahkan penjelasannya dengan membandingkan alam semesta ini , yang terdiri dari berbagai bagiannya, dengan negara yang memiliki banyak pemimpin. Semua pemimpin yang ada dalam negara itu, akan tunduk di bawah pimpinan yang satu dan tertinggi, yaitu kepala negara. Demikian pun alam semesta ini, begitu banyak realitas particular ada di dalamnya, akan tetapi alam semesta, baik sebagai totalitas maupun realitas-realitas particular yang ada di dalamnya, tunduk di bawah prinsip pertama dan tunggal, yakni Penyebab alam semesta ini. Dengan begitu, tidak dapat dibantah bahwa dari Yang Esa melimpah beraneka ragam realitas sehingga sesuai dengan kenyataan yang ada dalam alam semesta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;1.1.3 Pengetahuan Tuhan dan Realitas Partikular di Alam Semesta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Ibnu Rusyd berangkat dari pemahaman bahwa Tuhan Yang Mahamulia hanya mengetahui realitas alam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semesta secara universal saja, dan tidak secara particular. Tuhan baginya merupakan Akal pertama yang menggerakkan, bahkan merupakan Akal tertinggi. Karena itu, pengetahuan dari Akal tertinggi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu haruslah merupakan pengetahuan yang tertinggi pula, agar ada persesuaian antara yang mengetahui dengan yang diketahui. Karena itu, mustahil Tuhan mengetahui selain Zat-Nya sendiri. Sebab tidak ada suatu zat lain yang sama luhurnya dengan Zat Tuhan &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Robert L. Arrington, &lt;i&gt;A Companion to The Philosophers,&lt;/i&gt; USA, Blackwell Publisher Inc.,1999,hlm.668).&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pengetahuan Tuhan hanya dimungkinkan jika ada kesesuaian keluhuran, antara yang beraktivitas mengetahui dengan hal yang akan diketahui. Karena itu, Tuhan hanya mungkin mengetahui realitas yang secara kualitatif sejajar dengan Tuhan sendiri. Realitas yang secara kualitatif sejajar dengan Tuhan tidak lain hanyalah Zat Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, apa yang bukan Zat Tuhan, tidak mungkin diketahui oleh Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pengetahuan Tuhan akan Zat-Nya itu menjadi sebab bagi adanya pengetahuan Tuhan secara universal saja. Hal ini serentak mengandaikan bahwa pengetahuan Tuhan mengenai hal-hal particular tidaklah mungkin. Kalau Tuhan mengetahui hal-hal yang particular, maka hal itu berarti bahwa pengetahuan Tuhan itu disebabkan oleh hal-hal yang kurang sempurna dari pada-Nya, sesuatu yang tidak sejajar dengan Zat-Nya sendiri. Hal ini pun akanmenjadi tidak masuk akal, mengingat Tuhan yang adalah Akal Tertinggi itu seharusnya tidak mengetahui selain Zat-Nya sendiri, supaya ada persesuaian antara yang mengetahui dan yang diketahui. Ibnu Rusyd menggambarkan Tuhan sebagai kehidupn yang sempurna dari segala segi dan sudah puas dengan kesempurnaan-Nya sendiri. Bahkan pengetahuan Tuhan pun tidak ditentukan oleh hal-hal particular.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terkait dengan pengetahuan Tuhan yag bersifat universal ini, Ibnu Rusyd melihat alam dan Tuhan sebagaimana halnya hubungan negara dengan kepala negara. Karena kedudukannya sebagai “Penyebab” (kepala), maka Tuhan itu lain dari alam, sebagaimana kepala negara lain dengan negara yang dipimpinnya. Tidaklah mungkin kepala negara mengetahui urusan pemerintahannya secara detail, apalagi menangani segala urusan kenegaraannya. Jika hal demikian ini terjadi, maka kepala negara itu sebenarnya mulai mengabaikan potensi-potensi yang seharusnyabekerja di dalam tubuh pemerintahannya. Tuhan yang diimani oleh Ibnu Rusyd rupanya tidak seperti itu. Akan tetapi persoalannya apakah Tuhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ibnu Rusyd itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan alam semesta? Ternyata tidak bisa dikatakan demikian, karena bahaimana pun juga Ibnu Rusyd tetap memahami Tuhan dalam kaitannya dengan alam semesta. Antara Tuhan dan alam semesta sebenarnya ada penghubungnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penghubung utama antara Tuhan dg alam semesta ialah intelligensi yang tingkat bertingkat, sama halnya dengan susunan bintang-bintang di langit. Adapun intelligensi yang menghubungkan realitas particular, termasuk manusia, dinamakan “intelligensi bulan”. Secara mengagumkan Ibnu Rusyd menerangkan bahwa intelligensi bulan yang merupakan asal dari akal manusia ini merupakan suatu benda alam yang “azali”, sebagaimana azalinya alam semesta itu sendiri. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Secara cermat, Ibnu Rusyd membedakan antara akal aktif (Active Intellect) dengan akal pasif (Receptive Intellect).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akal aktif merupakan sumber dari segala akal manusia yangmemiliki sifat satu dan universal, sementara akal kemungkinan merupakan pikiran yang berkuasa sehari-hari terhadap diri manusia. Menurut Ibnu Rusyd, akal manusia terdiri atas akal aktif (yang merupakan sumber) dan akal pasif (yang merupakan pikiran yang berkuasa sehari-hari dalam diri manusia).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akal dan jiwa manusia adalah satu, bersifat universal, dan abadi. Jasmani manusia boleh meninggal dan musnah, tetapi akal dan jiwanya akan terus hidup, menjadi bebas dari jasmani yang kasar itu dan menyatukan dirinya ke dalam akal aktif yang menjadi induk dan asalnya. Pemikiran Ibnu Rusyd seperti ini dinamakan “monopsychism” yaitu paham yang menyatukan segala jiwa &lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Drs. H. Hasbullah Bakry, SH., Op.Cit., hlm.73).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;1.2&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Rangkuman &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;Dari uraian di atas, tampak bahwa Ibnu Rusyd memang terkenal sebagai pemikir ulung, yang menampilkan pemikiran yang sangat cemerlang, baik di dunia Islam maupun di dunia barat. Kalo mau digolongkan dalam pemikiran Filsafat, sekilas tampak bahwa Ibnu Rusyd berdasarkan pemikirannya termasuk kaum rasionalisme. Akan tetapi kalo dilihat secara cermat, sebenarnya Ibnu Rusyd selain mengagumi rasionalitas, serentak beliau juga meyakini adanya realitas yang tidak dapat dicerna secara rasional, dan hanya mungkin dipahami melalui kerangka agama dan iman. Dengan demikian, Ibnu Rusyd merupakan seorang filsuf yang sangat rasional di satu sisi, tetapi sangat agamis di sisi yang lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;Dengan pemaparan yang sangat berbeda, Ibnu Rusyd berusaha secermat mungkin memberi tendensi bahwa alam semesta ini azali: kekal,abadi, tiada berawal dan tiada akan berakhir. Alam semesta ini azali, karena keberadaan alam semesta ini disebabkab oleh Tuhan yang azali. Alam semesta ini azali, karena alam semesta memiliki daya kreatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam dirinya semndiri yang berasal dari Tuhan. Tendensi pada keazalian alam dan Tuhan semacam itu, beliau kukuhkan dengan teori emanasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;Dalam teori emanasi, Ibnu Rusyd meyakini bahwa alam semesta melimpah atau meleleh dari Tuhan. Ibnu Rusyd memahami peristiwa emanasi ini sebagai keharusan mutlak berdasarkan kesempurnaan Tuhan. Lebih lanjut, Ibnu Rusyd menyatakan bahwa alam semesta ini merupakan satu kesatuan totalitas, melimpah dari Yang Satu, yaitu Tuhan. Dari Yang Satu melimpah keragaman sehingga sesuai dengan fakta adanya keragaman di semesta alam. Dengan pendapatnya ini, Ibnu Rusyd serentak menolak bahwa dari Yang Satu hanya melimpah satu. Jika dari Yang Satu melimpah hanya satu, hal ini baginya tidak akan sesuai dengan keberagaman yang ada di alam semesta ini. Selain itu, Ibnu Rusyd juga mau memberi tendensi bahwa alam semesta ini azali. Eksistensi Tuhan sudah berarti adanya Tuhan yang mengemanasikan diri-Nya, yang nyata dalam alam semesta sebagai totalitas. Dengan begitu, proses emanasi harus dipahami sebagai proses yang terjadi sejak keazalian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;Karena alam semesta meleleh atau melimpah dari Tuhan, maka konsekuensinya pengetahuan Tuhan atas realitas particular bersifat universal. Tuhan tidak mengetahui segala sesuatu sampai sekecil-kecilnya. Bagi Ibnu Rusyd, harus ada kesesuaian antara yang mengetahui dengan yang diketahui. Karena itu, Tuhan harus dipahami sebagai yang hanya mengetahui sesuatu yang seluhur dengan Tuhan itu sendiri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan itu tidak lain adalah zat-Nya sendiri. Pengetahuan Tuhan mengenai zat-Nya itulah yang menjadi sebab pengetahuan Tuhan secara universal. Kemaha-kuasaan Tuhan harus dikaitkan dengan prinsip-prinsip umum yang mengatur alam semesta ini secara azali, yaitu Zat-Nya sendiri. Kalau Tuhan mengetahui setiap realitas particular sampai tingkat sekecil-kecilnya, maka pengetahuan Tuhan itu disebabkan oleh sesuatu yang kurang sempurna dalam dirinya. Dalam hal ini mustahil, karena Tuhan dalam pemikiran Ibnu Rusyd adalah Tuhan yang sempurna dan merupakan Akal Tertinggi. Tuhan yang sempurna dan merupakan Akal tertinggi tersebut, tidaklah mungkin mendapatkan pengetahuan dari sesuatu yang kurang sempurna.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Leren disik ya….&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;BERSAMBUNG&lt;/b&gt;, cari inspirasi dulu…..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-1982620471374499188?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/catatan-pemikiran-ibnu-rusyd1.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R14PaHgTzpI/AAAAAAAAAC8/yygoT3eQ6pk/s72-c/Averoes.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-5897522100158385260</guid><pubDate>Sat, 08 Dec 2007 02:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-07T18:08:41.147-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Perjalanan Dinas</category><title>Mengabadikan &amp; Menarikan Sebuah Pengalaman</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R1n8gkLIHLI/AAAAAAAAACE/TB1C9D3IvDA/s1600-h/Cipularang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R1n8gkLIHLI/AAAAAAAAACE/TB1C9D3IvDA/s320/Cipularang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141418086016490674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CATATAN PERJALANAN&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;Sabtu, 06 Desember 2007&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Terpaksa menunggu di depan Kota Baru Parahyangan sampai batas waktu yang aku tidak tahu, akhirnya itulah yang harus terjadi. Yah maklumlah, sudah menjadi kebiasaan sebelum berangkat, Mas Danang (Driver Perusahaan) sudah dapat dipastikan harus bolak-balik terlebih dahulu untuk ngumpulin barang-barang titipan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk outlet di luar kota (efektifitas &amp;amp; efisiensi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tentunya). Tetapi apapun alasannya, aku juga kan manusia, menunggu tetap rumus yang membosankan bagiku. Bagaimana tidak, lha wong aku udah &lt;i&gt;stand-by&lt;/i&gt; di depan Kota Baru Parahyangan sejak pkl.07.00 WIB. Sementara suhu bumi pun rupanya tidak mau kompromi lagi. Masak waktu juga baru menunjukkan pkl. 8.30 WIB, tetapi panasnya udah minta ampun. Ironisnya, ini terjadi kan di Bulan Desember, bulan yang masuk dalam kategori musim penghujan. Mau kiamat kali ya…, atau by the way, kali dampak &lt;i&gt;the global warming &amp;amp; climate change&lt;/i&gt; kali ya...but I’m not scientist, so forget it, please.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Selain rasa panas &amp;amp; rasa bosan yang aku temukan sepanjang menunggu mobil perusahaan dari Bandung, aku pun merasakan betapa diri ini kurus kering&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan miskin, kurus kering secara fisik dan miskin secara materi. Informasi saja, Kota Baru Parahyangan tempat aku nunggu rekan-rekan sekerjaku, merupakan perumahan ter-elit di kota Bandung ‘miniatur Kota Bandung/ Kota Parahyangan tepatnya’. Trus bayangin saja, seorang yang kurus, duduk di depan perumahan elit (nongkrong lho ya, bukan di kursi), sambil sesekali menghisap rokok ukuran murahan, makin sempurnalah ‘potret’ kemiskinanku atau bahkan dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menambah sederet panjang potret kemiskinan di kota ini.Tetapi mudah-mudahan wartawan yang lewat tidak memiliki kepekaan estetis terhadap keberadaanku saat ini, yang sebenarnya dapat mereka abadikan untuk dijadikan inspirasi penulisan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menarik tentang ‘potret’ kemiskinan kota ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Tragisnya lagi, dalam kondisiku yang seperti ini, tiba-tiba aku inget belasan tahun yang silam, saat aku minta ijin, doa dan restu kepada kedua orang tuaku untuk menggapai sukses di negeri orang. &lt;i&gt;“Pak, mbok…,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;kulo badhe bidal dateng Bandung. Mboten wonten alesan sanesipun, kejawi mbenjing kulo kedhah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dados tiyang sukses”&lt;/i&gt;, kataku waktu itu kepada orang tuaku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tejemahannya begini: “Bapak dan Ibu…, saya mau berangkat ke Bandung. Tidak ada alasan lain tentunya, selain suatu saat nanti saya harus menjadi orang yang sukses”. Yah, tetapi apa boleh buat Bapak dan Ibu, niat untuk merubah nasib seperti dulu yang pernah saya ungkapkan memang masih ada, bahkan ini akan menjadi proyek yang berkelanjutan dalam hidupku. Tetapi toh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aku pun serentak menyadari bahwa Tuhan lebih mengetahui mana yang jauh lebih baik dan mengetahui secara persis apa yang menjadi kebutuhanku saat ini. Berani menjelajah bumi, menerjang lautan dan membelah mega, ini sikap mental yang harus aku miliki. Supaya kemustahilan yang selalu menggelayuti pikiranku, dirubah menjadi kenyataan lantaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketidak-mustahilan akan segala sesuatu yang dapat dikerjakan Tuhan bagiku. Dengan demikian, aku pun akan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selalu dapat melihat segala sesuatu dibalik pengalaman dan kenyataan hidup yang harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aku temui dan rasakan, semata-mata tetap dalam koridor penyelenggaraan Illahi yang berlimpah dan tiada batas bagiku.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Klakson mobil yang dibunyikan secara berulang-ulang akhirnya memecahkan pergumulan batin dalam diriku. Nonggol kepala Mas Danang sambil berteriak: “Sorry Boss, terlambat. Saya harus ngambilin barang-barang titipan Pak Daniel!”. “ Ok. Ngak masalah Mas Danang. Aku ngerti”, jawabku. Akhirnya aku masuk ke mobil ( wauw, keroncong rohani kesukaan Mas Sopir, Boy!) dan mulailah perjalan kami menelusuri jalur puncak. Kebetulan bersama dengan saya ada bagian &lt;i&gt;IT &amp;amp; System&lt;/i&gt; ( P. Erwin Mulyawan dan P. Irvan Budi Santoso) yang juga ikutan keliling ke cabang-cabang untuk menambah dan memperbaiki sistem komputerisasi administrasi seluruh outlet luar kota dan sekalian ngikutin presentasi program &lt;i&gt;accounting&lt;/i&gt; di Jakarta. Selain itu juga, aku pun harus berangkat dalam satu mobil dengan beberapa &lt;i&gt;rekan finance &amp;amp; accounting Staff&lt;/i&gt; ( Ibu Herna Pandiangan &amp;amp; Ibu Novi Anggraeni) yang secara khusus akan mengikuti presentasi program accounting di Jakarta bersama Ibu Suzanna Setiaputra&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(CSO perusahaan). Sementara aku sendiri berkepentingan ke Bogor Boutique Outlet dan Red Factory Outlet untuk melakukan perekrutan bersama Recruitment Center Unit (Ibu Peni Riantini). Kebetulan saja, perusahaan lagi membutuhkan 11 (sebelas) karyawan untuk posisi Sales Attendant Outlet ( tujuh Bogor Boutique dan empat Red Cipayung).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Perhentian pertama di Cipanas Factory Outlet (kira-kira 09.45), Pak Irvan &amp;amp; P. Erwin yang turun dan yang akan berurusan dengan persoalan-persoalan komputer tentunya. Kecuali aku, &lt;i&gt;cruw&lt;/i&gt; yang lain pun turun sekedar &lt;i&gt;‘say hello’&lt;/i&gt; dengan karyawan setempat (maklum, ini perjalanan pertama kali Bu Herna dan Bu Novi ke cabang-cabang) sambil keliling melihat-lihat seputar lingkungan outlet. Aku pilih tidak turun lantaran kondisi fisikku yang memang kurang fit. Bahkan sebelum berangkat istriku pun udah nyempatin diri nyiapin ‘jamu tolak angin’ untuk aku minum. Dari Cipanas Factory Outlet, kami melanjutkan perjalanan ke dse Cimacan Factory Outlet ( enam menit seperjalanan dari Cipanas Factory Outlet). Setibanya di dse Cimacan , semua cruw pun turun kembali, tetapi aku memilih untuk tetap tinggal di dalam mobil. Justru Gina Novianti (Spv Cimacan Factory Outlet) yang datang menghampiriku untuk membicarakan hal-hal terkait status kekaryawanannya. Kira-kira hanya sepuluh menit kami berada di Cimacan, dan sesudahnya kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Red Cipayung (kira-kira 30 menit perjalanan).Dan kembali Pak Irvan dan Pak Erwin segera turun untuk urusan-urusan yang terkait dengan komputer. Hari sedang hujan lebat. Sementara Pak Erwin dan Pak Irvan bekerja, yang lain pun terpaksa turun lantaran tidak kuasa untuk menahan air kencing yang mungkin udah terkumpul berliter-liter di dalam tubuh. Memang, aku berkepentingan dengan Red Factory Outlet, tetapi lebih terkait dengan rekrutment karyawan, sementara recruitment sendiri dipusatkan di Bogor Boutique Outlet. Maka sekali lagi, saya pun memilih untuk tetap diam dan tidak turun dari dalam mobil. Setelah urusan di Red Factory Outlet selesai secara keseluruhan, akhirnya kami pun meluncur ke arah Kota Bogor menuju Bogor Boutique Outlet yang menjadi tujuan utamaku. Kira-kira satu jam perjalanan menggunakan mobil jarak antara Red Cipayung dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bogor Boutique Outlet.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;Sampailah kami di Bogor Boutique Outlet sekitar pkl. 13.00 WIB. Perut udah keroncongan tentunya, tetapi alhamdullilah ‘makanan udah tersedia dan minuman udah terjamin”. Santap, santap, santap…, akhirnya ludes “selesailah dengan urusan duniawi”. Tidak selang beberapa lama, team yang ke Jakarta pun dianter oleh Mas Danang ngikutin &lt;i&gt;meeting&lt;/i&gt;. Sementara mereka berangkat ke Jakarta, Ibu Peni Riantini segera melakukan psikotest dengan 20 (dua puluh) peserta yang hadir. Aku pun terlibat pembicaraan dari yang serius sampai yang kurang serius dengan Ibu Savitri Devi (Area Head III) yang kebetulan ngantornya di Bogor Boutique Outlet. Obrolan yang serius tentu masalah karyawan dengan liku-liku persoalan yang dihadapinya, berikut pencarian solusi untuk topik-topik tertentu. Yang kurang serius sebenarnya terkait pembicaraan kami tentang spesies bunga &lt;i&gt;Adenium, Aglaonema, Anthurium dan Caladium&lt;/i&gt;. Kebetulan, aku termasuk pemerhati bunga, sementara suami Bu Devy rupanya lagi gencar bisnis bunga-bunga berharga semacam itu. Tetapi pembicaraan kami lebih tersedot pada tema Anthurium Jenmanii( terutama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cobra), Anthurium Hokeri, dan Anthurium Plowmani Croat).Waow…, jutaan hingga ratusan juta bahkan. Yang bener aja ah…Udah banyak yang ngebuktiin loch yah (termasuk suami Bu Devi kali ya…). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Alhasil dari pembicaraan tentang bunga, akhirnya saya pesan 5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(lima) pot Bunga Gelombang Cinta. “Lain kali indukan Jenmanii Cobra loh ya”, kata Bu Devi. Ya...Jenmanii Cobra, rambutku digadaikan satu-persatu aja ngak akan bisa untuk beli bijinya, apalagi indukannya…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ok. sudah waktunya aku harus menginterview karyawan, kira-kira waktu menunjukkan pkl 15.30 WIB saat Bu Peni Riantini menutup psikotestnya. Satu per satu pun calon pelamar akhirnya menjalani tahap interview bersamaku hingga selesai. Tapi sayang, dari 20 (dua puluh) pelamar…, berdasarkan parameter yang kami kenakan kepada masing-masing&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peserta, hanya beberapa pelamar yang memenuhi kualifikasi, sementara kebutuhan kami relatif banyak. Tetapi apa boleh buat, padatnya job di kantor pusat dan pertimbangan lain-lainnya yang ikut menentukan, akhirnya kami memutuskan untuk mencukupi kebutuhan karyawan dengan prinsip ‘seadanya’. Toh, tiga bulan ke depan kan dapat kita pantau. Sejauh bagus ya silahkan lanjut, tetapi kalo kurang berdasarkan kualifikasi, ya akan kami akhiri sebelum masa trainning berakhir.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;O iya, sebelum melakukan interview, aku sempat mengakhiri masa kerja karyawan Bogor Boutique Outlet, yang bernama Eka Sri Purwanti ( menikah sebelum masa kerja 1 tahun). Waduh, tidak tega sebenarnya aku. Tapi apa boleh buat, ketentuan mengharuskan demikian. “Terima kasih Eka atas persahabatan dan kerja-samanya selama ini. Kami yakin, Eka akan cepat mendapatkan pekerjaan yang baru lagi dan masa depan yang cerah akan selalu bersama Eka”, begitu kataku. Sampai di sini urusanku dengan Bogor Boutique dan Red Cipayung udah selesai. Waktu kira-kita udah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Danang pun sudah siap nganter aku dan Ibu Peni Riantini ke Jakarta sakalian ngejemput rekan-rekan yang meeting di sana.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Malang tidak dapat ditolak, untung pun tidak dapat di raih, begitu bunyi pepatah. Sepanjang perjalanan dari Bogor ke Jakarta macet total. Kondisi kami udah lelah sebenarnya (apalagi Pak Sopir yang bolak-balik ya..). Baru kira-kira pkl. 22.30 kami sampai di Jakarta (Puri Indah). Sesuatu yang mengejutkan, ternyata Ibu Susan (CSO) sangat terampil dalam memainkan piano dengan lagu-lagu klasiknya. Sambil ngobrol ke sana kemari, kami sangat dihibur dengan permainan lagu-lagu klasiknya “terasa kembali ke Abad Pertengahan’. Pengalaman langka dan diluar dugaan kami setelah sekian tahun kami mengenal dan bersama Ibu Susan dalam satu perusahaan. Yang jelas kami tahu, Beliau sangat ‘datais’, logis berdasarkan data dan sangat detail dalam banyak hal. Rupanya hobbynya berklasik ria dapat dijadikan alat bantu untuk memahami karakter Beliau yang seperti itu. Hebat dan salut Buat Ibu Susan!&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sayang, malam rupanya semakin larut, sementara kami harus kembali ke Bandung sehingga kami tidak dapat menikmati permainan piano Ibu Susan lebih lama lagi. Apalagi Pak Sigit (suami Ibu Susan) membawa berita bahwa Cipularang kilometer 121 ambles. Kita disaranin untuk segera pulang, tanpa maksud untuk mengusir kami. Akhirnya kami pun pamit dan mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan mereka sekeluarga. Meluncurlah kami semua dari Puri Indah ke tol Cipularang ke arah Bandung. Waktu kira-kira sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB saat mobil meluncur kencang di jalur tol Cipularang. Singkat cerita perjalanan kami di tol Cipularang, kami semua tertidur dan tahu-tahu sampai di Bandung. Mimpi apa sepanjang tidur, kami pun udah ngak dapat mengingatnya. Apalagi teriakan Mas Danang: “ Pak Wahyu, kloter Padalarang udah nyampai. Siap-siap”, begitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;teriaknya membangunkanku yang sedang pulas tertidur. “Ok. Mas Danang. Aku anter sampai PT. BIMETA KARNUSA (perusahaan tempat isteriku bekerja) ya. Motorku aku titipin di sana “, pintaku. “Baik Pak Wahyu”, jawabnya. Kira-kira sepuluh menit, sampailah aku di PT. BIMETA KARNUSA. Kemudian aku ngucapin terima kasih kepada Mas Danang dan rekan-rekan lainnya, baru setelah itu aku turun. Sementara mereka melanjutkan perjalanan ke Bandung, saya pergi ngambil motor di dalam perusahaan dan setelahnya pergi melanjutkan perjalanan menuju rumah. Sampai rumah kira-kira pukul 02.15 dini hari. Hehe…, rupanya anakku no.1 satu Yohanes Krisostomus Dibyo Yuwono (IO) setia menunggu kedatanganku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hingga tertidur di sebuah kasur lantai tidak jauh dari pintu utama rumah kami. Sebuah pemandangan yang mengharukan dan sangat menyentuh hatiku “ rasa sayang anak kepada orang tuanya”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku mengawali kisah perjalananku pada hari ini, sementara anakkulah yang akhirnya menutup seluruh kisahku itu. Selamat tidur sayang, suatu saat Io akan tahu betapa penting arti bertanggung-jawab dalam mengemban tugas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-5897522100158385260?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/mengabadikan-menarikan-sebuah.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R1n8gkLIHLI/AAAAAAAAACE/TB1C9D3IvDA/s72-c/Cipularang.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-8450017343305332913</guid><pubDate>Mon, 03 Dec 2007 09:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-03T01:21:27.321-08:00</atom:updated><title>Obrolan di Kedai Kopi</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R1PJjkLIHII/AAAAAAAAABo/nIHm8iQmVvU/s1600-R/1506ha33.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R1PJjkLIHII/AAAAAAAAABo/Wj00Nh2yO-M/s320/1506ha33.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139673212602817666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGADILAN RAKYAT&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;(Hanya Obrolan Rakyat Jelata di Sebuah Kedai Kopi)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Peristiwa terbunuhnya salah satu warga desa,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang kepergok mencuri seekor ayam beberapa hari yang lalu, rupanya memicu obrolan-obrolan hangat antar beberapa orang di salah satu kedai kopi di persimpangan Cimareme-Padalarang. Waktu itu kira-kira pukul17.30 WIB saat hujan mendadak turun dengan lebatnya. Harum aroma kopi pahit, kepulan asap rokok dari beraneka macam merk terasa semakin membakar obrolan mereka semua dalam topik yang mereka anggap up to date.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Wah, itu ngak bisa ditolelir Pak Dhe. Itu namanya anarkisme massa”, celetuk Paijo yang katanya jebolan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fakultas hukum dari universitas negeri ternama di Bandung itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Anarkisme masa, itu apa to,Le?”, tanya Pak Dhe sambil sesekali meniup secangkir kopi panas yang ada dihadapannya sebelum akhirnya dia dapat minumnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“ Anarkisme masa tuh masayarakat yang melakukan pengrusakan dan penganiayaan tanpa memperhatikan lagi hukum dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di negara ini, Pak Dhe. Termasuk warga meninggal yang kita bicarakan ini.Dia itu meninggal karena diamuk masa kan…”, jawab Paijo setelah menghisap sebatang rokok yang baru disulutnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Tapi dia itu kan pencuri Ayam, Le…yo pantas to yen digebuki. Kalo ngak kita-kita ini yang ngebukin, kasian warga yang ternak ayam. Lagian, siapa to Le yang diharap bisa ngadilin maling ayam”, tandas Pak Dhe.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Itu salah Pak Dhe, itu tidak bener. Negara kita ini negara hukum Pak Dhe. Kita harus bantu pemerintah menyadarkan masyarakat bahwa tindakan main hakim itu tidak bisa dibenarkan”, kata Paijo.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Membantu menyadarkan masayarakat, Le ? Wah, apa ngak salah nih…aku ini kan tukang becak to! Masak ngebantuin pemerintah nyadarin masyarakat. Ukhh..dasar sableng kamu, Le. Mikir, mikir dong…semprul kon iku!”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Paijo kaget mendengarkan pernyataan Pak Dhe. Pernyataan tulus dari seorang rakyat jelata. Jangankan menyadarkan rakyat, har-harinya pun habis untuk ‘narik’ penumpang. Jangankanmenyadarkan Rakyat, hukum sepeti apa dan bunyinya bagaimana jelas dia tidak belajar. ‘menyadarkan rakyat’, kalimat yang dia sadari terlalu di ‘awang-awang’ untuk seorang tukang becak. Sejenak Dia tertegun dan termenung, hingga akhirnya Si tukang kedai tertawa terbahak-bahak menertawakan obrolan mereka berdua.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Mas, Mas…mendingan ngobrolin pantatnya Inul Dara Tista yang lagi beken, atau ngobrolin Roy Marten dan Ahmad Albar yang sedang kejerat kasus narkoba dari pada bicara hukum dan hukum. Hukum kok dibahas di kedai kopi. Apa udah turun derajad dan wibawa hukum di negara kita ini?”, seloroh si pemilik kedai.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“ Udah sepantasnyalah Mas, maling ayam itu digebukin sampai mati. Ini namanya peradilan rakyat. Rakyat punya “peradilan rakyat” untuk siapa saja yang berbuat tidak benar. Lha wong aku sendiri juga jengkel kalo ada yang nyolong ayam…”, tambah si pemilik kedai.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Pak, bagaimana pun saya “mengerti” kenapa peristiwa itu terjadi. Main hakim sendiri bisa ‘dimengerti’, tetapi tidak bisa dibenarkan apapun alasannya”, jawab Paijo dengan aksentuasi kalimat yang lebih dengan maksud untuk makin menjelaskan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“ Hanya bisa ‘dimengerti’…tidak bisa dibenarkan? Hei, Mas…dengerin saya ya…justru dengan berbuat seperti itu, rakyat ingin menunjukkan kebenaran kepada publik bahwa pejabat dan aparat sudah tida&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;k mampu lagi menegakkan institusi dan fungsinya”, kata si pemilik kedai.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“kami sudah lelah menantikan penegakan hukum yang bertele-tele dan sekedar hanya panggung sandiwara politik.Bukan hanya untuk kasus-kasus dalam ukuran skala nasional yang merugikan uang negara milyaran bahkan trilyunan rupiah saja, tetapi kejahatan-kejahatan yang skalanya local pun tidak kunjung ada penyelesaiannya”, tambah si tukang kedai dengan nada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gusar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Baiklah Pak, saya mengerti. Memang di satu sisi saya pun melihat bahwa pejabat dan aparat sedemikian rupa ‘bengkok’ dalam menjalankan fungsi dan menegakkan institusinya. Tetapi di sisi lain, rakyat begitu mengharapkan bahwa pejabat dan aparat berjalan pada norma-norma serta ketentuan hukum yang berlaku. Kenyataan di sana-sini terlihat tidak seperti yang diharapkan rakyat, maka rakyat kecewa, prustasi dan melakukan tindakan-tindakan anarkisme yang brutal yang mengabaikan norma serta hukum yang berlaku bagi masyarakat. Ini adalah fenomena frustrasi sosial yang udah menjadi kanker ganas yang meracuni kesehatan mental masyarakat kita. Inilah era “pengadilan Rakyat’,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;era di mana masyarakat melakukan perlawanan yang didorong oleh rasa ketidak-puasan terhadap kinerja aparat yang tidak berhasil dalam menjalankan fungsi dan menegakkan hukum”, kata Paijo panjang lebar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Yah, sepertinya itu yang terjadi dengan saya dan juga masyarakat lainnya. Kami sakit, Mas, kami saraf…Bagaimana kami tidak sakit, bagaimana kami tidak saraf, begitu gampangnya para koruptor dan penjahat-penjahat kaliber di negeri ini berlenggang pantat. Kami sakit. Kami saraf, Mas…Andaikata tangan-tangan kami dapat menjangkau aparat yang keparat dan pejabat yang tidak bermartabat…kami tidak akan sakit, kami tidak akan saraf”, sambung Si pemilik kedai sambil tangan-tangannya mengepal sebagai reaksi atas kekesalannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Entahlah, mungkin para pejabat dan aparat pun perlu dididik bagaimana cara menindak seorang penjahat. Di bawa ke kantor polisi…,diadili sesuai dengan kesalahan…, dikenakan sanksi hukum berdasarkan ketentuan yang diberlakukan. Atau, cara ini lucu kali ya, apalagi tukang becak atau tukang kedai kopi yang melakukanntya, untuk seorang pejabat dan aparat gitu loch..”, tambah si pemilik kedai kopi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Menyedihkan sebenarnya situasi dan kondisi semacam ini. “Pengadilan Rakyat”, fenomena yang seharusnya tidak terjadi di negara yang konon tersohor karena keadilan dan keberadabannya”, kata Paijo dengan tatapan mata menerawang jauh ke depan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Sejenak kedai menjadi sepi, mereka tertegun dan termenung. Ada guratan-guratan kekecewaan yang besar terpancar dari wajah mereka. Kekecewaan lebih dikarenakan ketidak-pecusan aparat dan pejabat dalam melaksanakan fungsi dan dalam menegakkan institusi peradilan sehingga masyarakat mengeluarkan impuls dasar primitif dalam mengungkapkan rasa ketidak-puasan mereka, yang sudah tidak bisa lagi diterima di dunia modern, dengan mengabaikan nurani dan pranata sosial.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Ngrukkk… grokkkk…, ngrukk….grokkk…”, dengkuran Pak Dhe yang rupanya ketiduran dari tadi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“We lha dalah Mas, Pak Dhe tuh yang semangat ngobrolin soal hukum dan politik, e…malah tertidur ngorak. Dasar Orang ngak berpendidikan, cocoknya ngobrolin pantatnya Inul yang beken tuh, bukannya masalah negara dan pemerintahan”, ucap si tukag kedai dengan nada kesal penuh kelakar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Tuh Pak, hujannya udah reda…, aku pulang ya. Terima kasih atas kopi, rokok dan obrolannya yang hangat “Pengadilan Rakyat”, hanya obrolan rakyat jelata di sebuah kedai kopi”, tutur Paijo sambil berlenggang siap ninggalin kedai kopi itu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Tetapi tiba-tiba…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Le, Le…tunggu dulu dong…hukum di Indonesia ini akhirnya bagaimana!”, teriak Pak Dhe sambil berupaya bangun dari tidurnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Paijo dan tukang kopi sejenak diam dan saling tatap, sebelum akhirnya mereka berdua serempak berteriak: “HUKUMNYA TAMAT, Pak Dhe!”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;“Wuah ahahah…wuah ahahah…wuah ahahah, bangun tidur kok tanya hukum. HUKUMNYA UDAH TAMAT,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pak Dhe”, &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Begitulah, obrolan berakhir, sementara Pak Dhe tertegun kebingungan, si pemilik kedai beres-beres dan Paijo pun pergi meninggalkan kedai karena hujan telah berhenti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-8450017343305332913?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/12/obrolan-di-kedai-kopi.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R1PJjkLIHII/AAAAAAAAABo/Wj00Nh2yO-M/s72-c/1506ha33.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-8146699637731440286</guid><pubDate>Fri, 30 Nov 2007 09:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-30T01:41:57.010-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>Isu Ekologi Global</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R0_asQxAcwI/AAAAAAAAABg/_sh4j9S43_0/s1600-R/070905aLnKebakaranHutan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R0_asQxAcwI/AAAAAAAAABg/YxEpPeGxiVY/s320/070905aLnKebakaranHutan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138566153802642178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;" class="MsoTitle"&gt;BUMI KITA RUMAH KITA&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoTitle"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(SEBUAH DUKUNGAN DISELENGGARAKANNYA UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (UNFCCC) DI NUSA DUA-BALI 03 S.D. 14 DESEMBER 2007).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Masalah pemanasan global (&lt;i&gt;global warming&lt;/i&gt;) dan perubahan iklim (&lt;i&gt;climate change&lt;/i&gt;), rupanya menjadi sebuah persoalan global yang menghantui masyarakat dunia. Bahkan isu tersebut, menurut pernyataan yang dirilis PBB, telah berkembang menjadi persoalan pembangunan dan ekonomi yang sangat gawat dan tidak berhenti lagi sebatas persoalan lingkungan hidup. Pernyataan yang serupa pernah disampaikan oleh Richard Kinley, wakil Sekertaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena alasan inilah, maka PBB menyelenggarakan konferensi internasional ini di Bali yang diharapkan mampu menggalang kesadaran masyarakat global&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk berupaya sedemikian rupa untuk aktif berperan dalam menanggulangi makin meningkatnya pemanasan global dan menyadarkan negara-negara tertentu yang keberadaan hutannya mulai berkurang. Tentunya ini merupakan salah satu upaya dunia internasional yang patut kita beri dukungan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Dibalik tujuan tegas dari penyelenggaraan konferensi internasional itu sebenarnya juga tersimpan sebuah kesadaran bahwa kesimbangan ekologis sangat diperlukan bila manusia dan anak cucunya ingin hidup dengan layak di dunia ini. Lahirnya kesadaran seperti itu sebenarnya dipicu juga oleh kenyataan bahwa segala daya upaya manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya, di satu sisi dapat mendongkrak kesejahteraan taraf hidup yang diharapkan, tetapi di sisi lain usaha tersebut justru mengancam kesejahteraan yang sedang atau sudah diperjuangkan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Dari pengalaman faktual kita tidak memungkiri bahwa kehidupan manusia semakin makmur dan sejahtera. Namun demikian usaha pemakmuran itu justru merongrong mutu lingkungan, tempat manusia hidup.Degradasi kualitas lingkungan hidup itu sudang barang tentu sangat berpengaruh terhadap kelangsungan dan keselamatan kehidupan manusia dan mahluk lainnya dalam banyak sektor dan bentuknya. Pembabatan hutan, eksploitasi mineral dari dalam maupun permukaan bumi merupakan persoalan besar bagi bangsa-bangsa yang menjadikan industrialisasi sebagai cara dalam meningkatkan perekonomian negara. Keperkasaan kapitalisme modern yang menegakkan industrialisasi mengakibatkan kerusakan dan kehancuran aneka sumber hayati, pencemaran udara, suara, air dan darat. Keperkasaan kapitalisme ini dapat kita temukan pada kasus Lapindo Brantas dan penebangan dan pembabatan liar di negara kita tercinta ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Berbagai sumber telah mengungkap bahwa unsure kimia karbondioksida (CO2) diudara semakin meningkat, kadar oksigen (O2) makin menurun, lapisan Ozon (O3) semakin rusak, erosi berambah, hutan hujan primer dan hutan tropis mengalami kerusakan dalam skala yang besar. Seiring dengan rusaknya hutan, punah juga jutaan bahkan puluhan juta spesies flora dan fauna.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belum pemakainan senjata nuklir yang juga turut andil dalam memperparah kerusakan lingkungan hidup, disamping racun dan kematian bagi manusia. Sementara di sisi lain, institusi lain yang konsen terhadap isu konservasi alam, tidak mampu menegakkan ketentuan hukum yang seharusnya diberlakukan. Bahkan kita bisa menengok kasus terakhir terkait Adelin Lies yang melibatkan Departemen Kehutanan sebagai institusi yang harus bertanggung-jawab. Dari seluruh urain di atas, akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa manusia dan organisme lainnya terancam. Alasan yang sangat fundamental ini tentu juga menjadi salah satu point yang digaris-bawahi oleh Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa isu global ini tidak hanya bisa/harus ditangani oleh seorang ekolog atau seorang Biolog, tetapi juga harus melibatkan seluruh komponen masyarakat dunia di seputar sektor kehidupan mereka tanpa pandang bulu. Lebih lanjut, konferensi ini tentunya juga diharapkan mampu menghasilkan penggerak-penggerak local yang akan menyadarkan masyarakat setempat pentingnya sebuah kesadaran bahwa industrialisasi dan kapitalisme modern akan berdampak buruk terhadap lingkungan dimana manusia dan mahluk lainnya hidup dan berlindung. Mempertahankan prinsip bumi kita adalah rumah kita dan menghindari kontradiksi “rumah” sekaligus “menyeramkan” dan “membahayakan”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Beberapa tinjauan/perspektif penting yang memicu terjadinya eksploitasi manusia terhadap alam akan saya sampaikan, berikut sekilas rekonstruksi yang saya tawarkan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;1. Perspektif Antroposentris&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam perspektif ini, manusia menempatkan diri sebagai otoritas yang berkuasa untuk membuat statement yang mengatakan bahwa manusia adalah yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Manusia adalah pusan dan tujuan akhir dari alam semesta. Nilai-nilai manusia adalah pusat yang memungkinkan semesta alam menjalankan fungsinya dan alam semesta menopang nilai-nilai manusia itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;2. Perspektif Antroposentrisme Kristiani-Barat (Religius)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia dijadikan satu-satunya factor paling berkuasa dengan menempatkan diri pada puncak hierarki/piramida ciptaan. Ciptaan lain dipandang tidak berhak sebagai penentu, termasuk semesta seisinya. Manusialah satu-satunya yang memiliki privelege. Di luar manusia akan dilihat sebagai yang tidak bernilai apabila keberadaannya tidak memberi kontribusi bagi manusia. Manusialah sang penentu nilai bagi yang lainnya.Dan dalam hal superioritas manusia terhadap alam semesta ini, kristianitas turut terlibat di dalamnya, terlepas pernyataan Moltmann yang menyatakan bahwa kristianitas adalah pelopor kemajuan dan perkembangan kultur termasuk ilmu pengetahuan.Karena dorongan Kitab Suci, kristianitas berlaku angkuh terhadap semesta alam. Kristianitas mengacu Kej 1:28 &lt;i&gt;“Allah memberkati Adam, dan bersabda, taklukkanlah dan berkuasalah atas ikan, dan semua hewan di bumi”&lt;/i&gt;, dan menjadikannya legitimasi religius bagi manusia Kristen untuk menguasai dan menundukkan semesta. Alam menjadi benda asing yang sah untuk dieksploitasi atas nama manusia.Ayat di atas ditrapkan tanpa mempertanyakan validitasnya dan ditrima sebagai &lt;i&gt;“unquestioned truth”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;3. Perspektif Filosofis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalo perspektif antroposentrisme Kristiani-Barat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;legitimasi diterima dari manusia dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kitab Suci sebagai “unquestioned truth”, tetapi perspektif filosofis lebih memandang akal budi sebagai dasar yang dijadikan legitimasi.Tetapi dalam perjalanan kedua perspektif akan saling menguatkan. Akal budi yang tidak dimiliki mahluk ciptaan lainnya. Konsekuensinya, semesta alam dan mahluk lainnya akan dilihat sebagai benda di luar manusia,sesuatu yang lain (other).Yang lain itu akhirnya harus dikontrol dan ditahlukkan untuk memenuhi hasrat dari nafsu serakah manusia. Sadar akan kekuatan alam yang besar, dan bisa menjadi ancaman manusia, juga menjadi inspirasi bagi manusia untuk menciptakan ilmu dan teknologi untuk menguasai semesta. Di sinilah era kejayaan rasio, jaman ilmiah di mana seluruh pemikiran kita didominasi unsur-unsur rasio. Di luar rasio, primitif, tidak logis, &lt;i&gt;out of&lt;/i&gt; &lt;i&gt;date&lt;/i&gt;, dan tidak modern.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Usulan Rekonstruksi&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Melihat bumi yang adalah “rumah/ tempat tinggal kita” akan hancur berantakan dalam waktu yang singkat, tentu bukanlah hal yang kita harapkan. Bumi tidak akan rusak/hancur mengandaikan kita beritikad baik untuk merubah tingkah laku, pola pandang, pemahaman, orientasi ilmu pengetahuan , teknologi, dan pembangunan ekonomi. Langkah preventif untuk mengurangi kehancuran ekologis yaitu dengan menempuh langkah-langkah teoritis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guna merevisi konsep pengetahuan dan teknologi, pemahaman-pemahaman religius, filsafat, teologi, orientasi pembangunan, dan kependudukan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia harus mengambil bagian dalam eksistensi alam semesta secara keseluruhan.Manusia seharusnya jangan menempatkan/memposisikan dirinya sebagai ‘sentrum’ ciptaan. Tendensi manusia untuk membongkar dan menguasai semesta alam harus dirubah menjadi visi yang merawat dan menyayangi alam semesta. Ini merupakan transformasi manusia dalam menempatan diri dalam tatanan alam. Manusia menempatkan diri berada ‘diantara’ dan bukan di “puncak” ciptaan. Manusia harus menyadari bahwa dia hanyalah satu dimensi dari alam semesta. Manusia tetap memakai alam, tetapi untuk memanfaat dan melestarikannya, bukan untuk merusak dan mengeksploitasinya. Kesadaran bahwa alam juga memiliki nilai instrinsik di dalam dirinya, bisa menggerakkan diri tanpa campur tangan manusia, harus dibangkitkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia religius juga harus belajar rendah hati untuk mendapatkan kesalehan batin untuk menghormati alam. Hanya dengan kerendahan hati, manusia akan mampu menerima nilai instrinsik yang ada dalam alam semesta. Akhirnya alam tidak dipandang lagi sebagai object demi kerakusan manusia. Kaum religius harus menemukan ‘mutiara’ yang banyak tersimpan dalam dogma dan doktrin yang mengandung semangat ekologis.Kebajikan religius menerima bahwa Tuhanlah prinsip dasar segala sesuatu. Terdapat energi kreatif yang menggerakkan semesta alam, yang tidak lain Tuhanlah namanya. I a menjadi kekuatan dibalik peristiwa dan proses jagad raya ini. Tuhan bukan pencipta yang kemudian pergi, tetapi Dia pencipta yang akan selalu menyertai. Dia ada dalam kosmos dan kosmos tinggal di dalam Dia (panentheisme). Segala sesuatu bukan Allah, tetapi segala sesuatu ada dalam Allah dan Allah ada dalam segala sesuatu (istilah yang berbeda dengan pantheisme).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Paradigma yang pembangunan yang cenderung mengabaikan lingkungan dirubah menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development),yaitu mencukupi kebutuhan sendiri saat ini tanpa mengurangi generasi yang akan muncul dalam memenuhi kebutuhannya ‘ jo srakah’.Manusia sah memanfaatkan alam untuk kemajuan ekonominya, tetapi harus dibarengi upaya konservasi. Manusia sah membangun sejauh tidak merenggut hak generasi lain. Di sini diperlukan konsep Amdal (Analisis Dampak Lingkungan).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hal-hal di atas saya sampaikan tentunya tanpa maksud untuk mengabaikan langkah-langkah praktis yang juga dituntut. Tetapi mengatasi langkah-langkah praktis yang dapat kita lakukan, urain-urain di atas kiranya dapat membantu kita memahami dan memungkinkan kita untuk meletakkan persoalan yang ada pada porsi yang semestinya. Akhirnya, masalah ini harus kita lihat sebagai masalah yang pelik dan multidimensional. Studi lintas sektoral, baik budaya, demografis, biologi, sosiologi,ekonomi, psikologi, iptek,hukum, politik, filsafat, etika dan juga agama. Studi ini tentunya bukan hanya sebatas wacana saja yang dimunculkan, tetapi harus mengacu pada praktik konkrit dalam sekup hidup kita. Harapan yang sama pun bagi &lt;b&gt;united nations Framework Convention on Climate change&lt;/b&gt; dengan isu pemanasan global (&lt;i&gt;globel warming&lt;/i&gt;) dan perubahan iklimnya (&lt;i&gt;climate change&lt;/i&gt;) yang sebentar lagi akan di gelar di Bali dengan peserta yang kurang lebih sebanyak 189 negara anggota PBB.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-variant: small-caps;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-8146699637731440286?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/11/isu-ekologi-global.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R0_asQxAcwI/AAAAAAAAABg/YxEpPeGxiVY/s72-c/070905aLnKebakaranHutan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-5562976800323907907</guid><pubDate>Thu, 29 Nov 2007 08:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-29T00:32:06.968-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">digest</category><title>Cerpen</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R054qAxActI/AAAAAAAAAAw/H5u8S0uIEEg/s1600-h/argodlm.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R054qAxActI/AAAAAAAAAAw/H5u8S0uIEEg/s320/argodlm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138176888031703762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;" class="MsoTitle"&gt;SANG JUBAH PUTIH DARI PUNCAK GUNUNG LAWU&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sementara lalu lalang orang disekeliling rumahku mulai berkurang, rembulan malam pun sudah merayap tepat di atas kepalaku. Lambat laun keadaan disekelilingku pun akhirnya berubah menjadi sepi dan sunyi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sesekali hanyalah kedengaran sayup-sayup gemercik air dan suara hempasan pintu kamar dari tetangga sebelah yang turut membangkitkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesadaranku bahwa malam makin larut. Namun apalah dayaku, mataku tiada mau terpejamkan kendati kesunyian malam sudah turun menyelimuti muka bumi dan dinginnya udara malam pun semakin dalam menusuk tulang-tulangku. Aku menengadah ke atas memandang rembulan sambil mendesah :’’Oh Tuhan, betapa Engkau Maha Kuasa dan segala sesuatu terjadi seturut kehendakMu”. Sejenak aku sempat kagum, diam dan tertegun betapa Tuhan Maha Kuasa dan kekuasaannya mengatasi segala akal dan pikiran manusia. Berbagai macam peristiwa dan pengalaman masa lalu pun akhirnya menyusul dan bermunculan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;silih berganti, mondar-madir, lalu lalang seolah menuntut perhatian dariku. Akhirnya pun aku tertarik untuk sejenak mengenang kisah perjumpaanku dengan seorang aki-aki berjubah putih yang misterius.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Waktu itu, kira-kira Februari 2001, aku sedang mengerjakan tugas akhirku di sebuah universitas ternama di Kota Bandung untuk program sarjana. Susah payah, belajar kuat untuk mengumpulkan bahan yang sesuai untuk skripsiku dan bekerja keras untuk mendapatkan suntikan dana buat biaya foto copy, buat bayar rental dan buat cetak hasil akhir sekripsiku.Badanku semakin kurus, wajahku kusut dan pandangan mataku kelihatan sayu. Tetapi aku harus selesai tepat pada waktunya dan mendapatkan nilai A, itu yang menjadi tekatku. Sangat susah aku bayangkan, andaikata aku harus mengulang kuliahku lagi hanya lantaran skripsi yang tidak bisa aku selesaikan. Tidak, aku tidak mau itu terjadi denganku. Aku harus selesai tepat pada waktunya. Kalo perlu, siang akan aku jadikan malam, dan malam pun akan aku jadikan siang. Tetapi syukurlah, aku tidak tinggal sendirian melainkan bertiga dalam bilik sempit rumah kost-kosanku. Kami terpaksa tidur hanya menggelar tikar tipis, ditengah-tengah ketakutan masuk angin dan serangan paru-paru basah. Kami sudah semacam saudara sendiri akhirnya. Suka dialami bersama dan dalam duka pun kami tetap bersatu, seia dan sekata.Keakraban seperti inilah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang akhirnya dapat aku harapkan pada saat-saat aku memerlukan bantuan seperti saat ini. Kalaupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka tidak punya ide, mereka bisa ngebantuin saya dalam penerjemahan bahan atau mengetik bahan,misalnya. Singkatnya, ada pertolongan yang bisa aku harap dari mereka. Yah, solidaritas mahasiswa miskin saja sebenarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Di siang hari yang terik, aku pergi ke salah satu rental komputer untuk mengedit seluruh hasil ketikan skripsiku yang keesokan harinya harus disidangkan di kampus. Tetapi malang tidak dapat ditolak, untung pun tidak dapat diraih. Seluruh file skripsiku rupanya telah diacak-acak jenis virus yang ngetren waktu itu: &lt;i&gt;hiden virus&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;mr. king&lt;/i&gt; &lt;i&gt;of kong&lt;/i&gt;. Aku sedemikian rupa berupaya untuk memperbaikinya. Tapi apa boleh buat, lihat komputer saja baru di rental, boro-boro mampu memperbaiki data yang sudah kocar-kacir seperti itu. Ahirnya aku dengan rasa letih diiringi perasaan kuatir dan takut melangkah dengan gontai kembali ke kamar kost. Tidak ada yang menghiburku selain sebatang rokok temanku yang kebetulan tergeletak di atas meja kecil. Tanpa minta ijin sebelumnya, rokok itu pun aku ambil dan aku nyalakan. Aku berharap agar sebatang rokok itu mampu mengusir rasa penat di dalam hati dan pikiranku. Seperti itulah yang akhirnya terjadi. Otot-otot syarafku yang tadinya tegang, seiring dengan tarikan dan kepulan asap dari dalam mulutku akhirnya berhasil mengendur. Dan rasa kantuk pun akhirnya datang menjemputku. Membawaku dalam buaian istirahat siang yang menyegarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Aku menemukan diriku berada di kaki sebuah gunung yang aku sendiri tidak pernah tahu sebelumnya. Gunung itu menjulang tinggi dan menghijau permai dengan puncaknya yang mengeluarkan kepulan asap putih. Terlihat olehku sesosok aki-aki renta dengan postur tubuh yang tampak masih tegak berdiri, berpakaian putih, berjenggot putih, mengenakan ikat kepala berwarna keabu-abuan dan bertongkatkan kayu hutan hitam sedang berjalan dengan enteng menuruni kaki gunung serasa hendak menghampiriku. Tetapi dugaanku meleset karena secara tiba-tiba aki renta itu berbalik menaiki kaki kembali ke arah puncak gunung dengan kecepatan yang mustahil untuk orang sebayanya. Aku terpana memandangnya dan begitu tersentak dari keterpanaanku, aku tergerak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mengejarnya. Aku berlarian seolah sedang mengejar seribu bayang di sela-sela lebatnya pepohonan hutan. Aku berlari dan terus berlari sambil memasang mata liar untuk mendeteksi udah sampai di mana dan ke arah mana aki-aki renta itu berjalan. Sejenak aku kehilangan jejak dan sambil terengah-engah kuhampiri sebuah batu hitam besar yang sedang menelungkup tidak jauh dari tempatku berdiri. Aduh, capeknya tidak ketulungan hanya penasaran ingin tahu lebih tentang aki-aki yang pernah aku lihat di kaki gunung tadi. Kini aku terdiam, kehilangan arah dan jejak, aku menyerah dan terasa tidak mungkin lagi untuk melanjutkan pengejaran ini lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Tetapi secara tiba-tiba, aku kaget dan tersentak karena sesosok aki-aki yang sekarang sedang berkecamuk di hati dan pikiranku, yang baru-baru saja aku kejar dan udah raib dari pandanganku,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tampak berdiri tidak jauh dari batu tempat aku terduduk kehabisan daya, tenaga dan upaya untuk mengejarnya. “Hai Cucuku, kenapa kamu mengikutiku? Kamu tidak akan mampu”, sapa aki renta itu kepadaku. “Ohhh, Eyang ini siapa?”. Mendengar pertanyaanku aki itu tersenyum, menengadah ke atas ke arah puncak Gunung itu, sambil mengelus jenggotnya yang udah memutih seleher panjangnya. “Aki ini siapa berani-beraninya sendirian di tempat seperti ini?”, aku coba bertanya sekali lagi. Tetapi hanya seulas senyuman yang ramah yang aku dapatkan. Aku bingung dengan sikap aki itu dihadapanku, sementara aku ingin sekali mengetahuinya lebih lanjut. Tetapi tiba-tiba aki itu berkata: “ Cucuku, sekalipun baru pertama kali kita bertemu, jauh hari sebelumnya aku sebenarnya sudah tahu kamu dan sebaliknya jauh hari sebelumnya pun kamu pun juga udah tahu dan kenal sama eyang ini, bahkan hal yang sama pun sudah diketahui para leluhurmu”. “Benarkah apa yang Eyang katakan itu?”, tanyaku lagi. Aki itu hanya tersenyum sambil berjalan mendekatiku dengan sebatang tongkat kayu hutan hitam yang erat dipegang di tangan kanannya. Dan sementara aku melihat dia berjalan menghampiriku, akupun berdiri seolah mau menyambut kedatangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Suasana sekitar pun terasa sunyi , hanya kicauan burung-burung hutan saja yang kedengaran bersahut-sahutan. Kami berdua pun sempat tertegun dan saling pandang seolah kami sibuk dengan pikiran kita masing-masing. Sampai suatu ketika aki-aki itu buka suara : “ Cucuku, tidak usah kuatir. Percaya saja sama Eyang tidak akan pernah terjadi apa-apa denganmu. Kalau pun ada hal yang terjadi, itu semata-mata kehendak Sang Yang Widhi Wasa. Dan apa yang terjadi itu baik adanya buat kamu. Hidup tidak selamanya lancar seperti yang kita harapkan. Kerikil dan bebatuan kerapkali kita temui ditengah-tengah perjalanan kita untuk sampai pada yang kita tuju. Jangan takut, Eyang selalu bersamamu”. Kemudian pandangannya tertuju pada tongkat kayu hitamnya, dan dengan tangan-tangannya yang lembut dia mengangkat tongkat itu tepat di depanku, seolah mau memberikan barang itu kepadaku. “ Cucuku, Eyang hanya memiliki sebuah tongkat kayu hitam yang tidak berharga ini. Terima dan ambillah, siapa tahu bermanfaat buat kamu nantinya”, kata aki itu kepadaku. Tanpa berpikir panjang, aku pun menerimanya.Dan belum habis kebingunganku dengan barang yang sudah saya terima, aku dikejutkan dengan raibnya aki dari hadapan dan pandanganku. Bersamaan dengan itu, aku pun terbangun dari nyenyak tidur siangku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;“Hi, mana tongkat pemberian aki tadi?”, kalimat pertamaku sambil sibuk mengusap kedua mata dengan tanganku. “Ohh, rupaya aku barusan mimpi, mimpi tentang aki-aki berjubah putih”, begitu gumamku. Kemudian aku segera bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk sejenak mencuci mukaku. Sesudahnya aku berniat ke rental lagi dengan maksud untuk berusaha memperbaiki data-data skripsiku yang hancur lebur dan porak poranda itu. Mungkin ini usaha untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya aku menyerah dan angkat tangan. Selang kurang lebih sepuluh menit, aku pun sampai di tempat rental komputer dan mulailah aku mencoba mengutak-atiknya. “Aduh Mas, bagaimana ya, dataku dihancurkan oleh virus. Sudah aku coba dari tadi aku tidak bisa memperbaikinya”, keluhku. “ Ya udah kalo gitu Mas, biar saya coba bantu kalo diijinkan”, kata salah seorang yang mengaku lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer terkenal di Bandung itu.. “ Oh, tentu Mas…dengan senang hati”, jawabku. Setelah berkenalan dan ngobrol ke sana ke mari, dia pun sibuk memperbaiki data-dataku yang sudah kocar-kacir. Sementara dia bekerja, saya duduk sedikit di belakangnya dengan pandangan mata takjub melihat kelincahan jari-jarinya yang meliuk-liuk di atas &lt;i&gt;keyboard&lt;/i&gt; komputer. Kira-kira waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;“ Oouw…&lt;i&gt;hidden verus&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;mr. King of kong&lt;/i&gt;!”, seru dia setelah mengetahui penyebab hancurnya fail-failku. “Kira-kira bisa diselamatkan tidak, Mas ya?”, tanyaku padanya. “Bisa saja sih, hanya butuh waktu. Ngak apa-apa kan?”, kilahnya. “Ooh, ngak apa-apa Mas. Aku yang seharusnya berterima kasih karena Mas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mau meluangkan waktu untuk memperbaiki data-data skripsiku yang sudah porak-poranda itu”. “Yah, ini juga kebetulan saja Mas, saya lagi ada di sini lagian aku lagi ngak ada kerjaan sekarang”, sambungnya. Begitulah kami berdua ngobrol ke sana ke mari tanpa mengurangi kecermatan dan kecepatan jari-jarinya menyusun kalimat per kalimat menjadi seperti semula. Waktu pun terus berjalan dan tanpa kami sadari, arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Hingga pada akhirnya seluruh data skripsiku dapat tersusun pulih seperti sedia kala. “Oke terima kasih banyak Mas ya…,ngak tahu jadinyalah kalo Mas tidak menolong saya. Bisa jadi besok aku tidak bisa ikutan sidang”, ucapku. “Ok sama-sama Mas, kudoain dech sidangnya sukses dan dapat nilai yang bagus”, sambungnya. Kemudian aku bermaksud memberikan sebungkus rokok marllboro kepadanya tetapi dia menolak menerimanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Kurang lebih waktu itu sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB sewaktu aku tiba kosku. Aduh, syukurlah…perjuanganku akhirnya membuahkan hasil. Besok akhirnya aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;siap ikutan sidang skripsi. Hanya satu lagi yang terlintas dalam pikiranku, esok aku harus mendapatkan nilai A agar setimpal dengan perjuangan dan kekuatiranku selama ini. Aku bangga dan aku merasa lega dan akhirnya semuanya bisa berjalan sukses seperti yang aku rencanakan. Begitulah, akhirnya aku semacam terbebas dari himpitan yang selama ini menekanku. Dan rasa bebasku itulah yang waktu itu menghantarku dalam buaian istirahat malamku, sampai mentari esok hari kan datang menjemputku. Sidang skripsiku pun akhirnya berhasil aku lalui&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan baik dan tanpa perlawanan yang berarti dari dosen-dosen pengujiku. Aku hanya pegang satu prinsip saja waktu itu, aku yang buat dan akulah yang tahu, mereka (dosen-dosen) tidak tahu. Dengan prinsip ini aku berhasil membangkitkan rasa optimisme dalam diriku. Setidak-tidaknya rasa optimisme yang muncul itu mampu menghalau rasa grogi/minder pada saat berhadapan dengan dosen-dosen penguji. Alhamdullilah, harapanku tercapai dan mimpiku menjadi kenyataan. Begitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hasil sidang diumumkan, aku mendapatkan diriku memperoleh nilai A. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Pengalaman itu terasa membekas dalam sanubariku. Terutama pada saat-saat tertentu seperti sekarang ini, rasanya kenangan itu tetaplah menjadi sebuah kenangan hidup dan yang terpatri dalam sanubariku. Pengalaman yang susah untuk dilupakan, dan yang manis untuk dikenangkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Suka dan dukaku, perjuanganku, prestasiku dan petualanganku kehadiran tokoh aki-aki berjubah putih yang turut berperan serta menghidupkan kisahku ini. Pengalaman ini akhirnya akan tetap mewarnai kisah hidupku. Keakrabanku dengan keindahan alam Gunung Lawu berikut kisah dan mitosnya, akhirnya mendorongku untuk selalu mengatakan bahwa aki-aki renta berjubah putih itu adalah Eyang Lawu, Sang Jubah Putih dari Puncak Gunung Lawu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“cukurukukkkkk….cukurukukkkk, cukurukukkk….”, ayam jantan pun mulai berkokok, sahut menyahut mengidungkan madah pagi bagi semesta alam. Bahkan rembulan di atas kepalaku pun kini telah bergerak menggapai dedaunan pohon pisang di padang dataran sana.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Huhahahemmmm, hari rupanya sudah pagi, aku mulai ngantuk. Aku harus cepat pergi tidur, waktu istirahatku tinggal dua jam lagi. Tetapi meskipun begitu, aku akan tetap pergi tidur dan aku akan selalu berharap agar dapat berjumpa kembali dengan Sang Jubah Putih Dari Puncak Gunung Lawu, kendati dalam istirahatku yang sangat singkat sekali pun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-5562976800323907907?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/11/cerpen.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R054qAxActI/AAAAAAAAAAw/H5u8S0uIEEg/s72-c/argodlm.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-4149030755864698837</guid><pubDate>Wed, 28 Nov 2007 06:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-27T22:35:19.222-08:00</atom:updated><title /><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R00LJgxAcsI/AAAAAAAAAAo/kfraPVnHwjo/s1600-h/Bimasena.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R00LJgxAcsI/AAAAAAAAAAo/kfraPVnHwjo/s320/Bimasena.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137775007941817026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="text-align: center;" class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PANCANAKA SANG BIMA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Ant.Dwi Wahyudi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:11;" &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:225pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:/WINDOWS/TEMP/msoclip1/01/clip_image001.png" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Wujudku hanyalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt; seonggok mayat beraroma bau busuk dan penuhdengan belatung. Menjadi hancur dan membaur dengan tanah, hanyalah harapan yang sudah terlupakan. Dipungut dari kegelapan, ketersembunyian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;   dan keterasingan adalah hal yang mustahil.Akumayat tetaplah mayat, aku beraroma busuk tetaplah busuk, berbelatung akan tetap berbelatung. Aku mayat yang sudah tidakmampu lagi berbuat, aku mayat yang udah tidak ingin lagi meratap. Aku mayat, hanya boleh kamu lihat dan aku mayat, silahkan sajakamu berbuat tentang apa yang kamu lihat bahwa aku menjadi mayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Aku kan bercerita tentang perilakumu dulu kepadaku yang biadab, yang melampaui batas-bata moral-susila dan perikemanusiaan. Kamu yang memperkosa, kamu yang merusak, kamu yang jahat, kamu yang biadab,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kamu yang durhaka, penuh tipu-muslihat dan kamu yang khianat. Karena kamu memperkosa jadilah aku mayat, kamu merusak jadilah aku mayat, kamu berbuat jahat jadilah aku mayat, kamu berbuat biadab jadilah aku mayat, kamu menjalankan tipu dan muslihat jadilah aku mayat, kamu durhaka jadilah aku mayat, dan karena kamu berkhianat maka jadilah aku mayat. Kamu, kamu dan karena kamu sehingga aku jadi mayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sementara masa laluku menceritakan bahwa kepadaku diberikan kuku pancanaka. Kuku pancanaka dari Hutan Mandalasara, milik seorang bayi bungkus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang oleh Dewi Kunti diberi nama Bima. Begini dikisahkan kepadaku, putra Dewi Kunti yang merupakan buah cipta Bathara Bhayu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dilahirkan dalam wujud bayi bungkus yang sangat liat. Kurang lebih di bulan yang ke delapan, bayi itu diletakkan di Hutan Mandalasara. Para jawara, pendita, brahmana yang sakti mandra guna tidak kuasa untuk membuka bungkusan itu. Alkisah, di kahyangan ada Gajah Setu Seno yang giat ulah tapa dan mati raga agar Dewata mengizinkannya masuk ke dalam surga manusia.Ia adalah anak dari Gajah Setu Bandha hewan tunggangan Bathara Indra. Dewata akan mengabulkan permohonannya dengan satu syarat bahwa ia harus menolong anak bayi bungkus dalam Hutan Mandalasara. Pada saat bungkusan berusia kurang lebih 12 tahun, Gajah Setu Seno datang merobek bungkusan tersebut dengan gadingnya yang kuat dan sakti mandra guna. Di dalam bungkusan itu ternyata ada seorang bocah besar dan sedemikian rupa berusaha untuk mematahkan gading&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gajah Setu Seto ketika masuk ke dalam bungkusan. Kejadian ajaib terjadi, kedua gading&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gajah menyatu dengan kedua jempol dan berubah menjadi kuku yang runcing, tajam dan panjang.Kuku itulah yang tadi aku bilang sebagai kuku pancanaka yang pernah diberikan kepadaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Sekarang pancanaka entah kemana. Tak seorang manusia pun yang aku temukan memegang pancanaka.Yah, saya ingat pancanaka sempat aku tarik dan aku lempar sekuat tenagaku. Aku berharap ada manusia yang menemukannya, menggunakannya dan mencintainya. Aku tidak ingin pancanaka aku bawa sampai ajalku tiba; sementara aku lihat kamu mulai memperkosa, mulai merusak,mulai jahat, mulai durhaka, mulai biadab dan khianat. Ooh, pancanaka, mungkinkah ujud asal sudah lenyap-musna dimakan karat dan ngengat. Tidak pancanaka, selagi mayatku tetap utuh, masih tetap beraroma busuk dan tetap dikerubuti belatung, mustahil pancanaka lenyap-musna dimakan karat dan ngengat. Selama manusia tetap saja melakukanpemerkosaan, tetap saja masih hobi merusak kehidupan, tetap saja berbuat jahat dan tidak berlaku adil, tetap saja durhaka, bertindak biadab dan khianat, mustahil pancanaka hilang. Tidak, Oooh tidak! Andai wujud pancanaka harus lenyap-musna dimakan karat dan ngengat, setidaknya sukma pancanaka harus tetap ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Hai kamu, dengarkan aku…pancanaka adalah kelima tuntunan. Pancanaka pertama pengendalian nafsu untuk tidak membunuh. Pancanaka kedua pengendalian nafsu serakah/murka. Pancnaka ketiga pengendalian nafsu seks. Pancanaka keempat pengendalian nafsu kesenangan indrawi. Dan pancanaka kelima pengendalian nafsu untuk mencuri/merugikan orang lain. Aku mayat, hanya boleh kamu lihat dan aku mayat, silahkan kamu berbuat tentang apa yang kamu lihat bahwa aku menjadi mayat. Lihatlah aku mayat dan carilah pancanaka, kenakanlah dan sayangilah kalo kamu ingin hidup selamat. Aku terlanjur menjadi mayat, tetapi sekalipun aku mayat, aku tetap berharap kamu mau melihat bahwa aku telah menjadi mayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoTitle" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-4149030755864698837?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/11/pancanaka-sang-bima-oleh-ant.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_louKX4yyVQk/R00LJgxAcsI/AAAAAAAAAAo/kfraPVnHwjo/s72-c/Bimasena.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6820492536730876355.post-1903359921013142085</guid><pubDate>Fri, 23 Nov 2007 03:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-22T19:54:26.467-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Digest</category><title>My transcripts</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;MENGENAL ANUGERAH TERINDAH BAWAAN LAHIR&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: A. Dwi Wahyudi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p style="font-style: italic; text-align: justify;" class="MsoBodyText2"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“walau masih dalam keadaan terpendam, tersembunyi dan belum berkembang, benih keagungan, kedahsyatan dan keajaiban sudah ditanam dalam diri kita. Ada bakat, ada kemampuan, ada hak istimewa ada kecerdasan serta kesempatan yang kita terima sebagai anugerah menabjubkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang kita miliki sejak lahir”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic; text-align: justify;" class="MsoBodyText2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Terkait cuplikan kalimat di atas, semua orang tentunya sependapat untuk mengatakan bahwa bayi merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ciptaan yang sangat tergantung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada orang lain ‘ibunya’, tetapi keajaiban terjadi dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam beberapa tahun saja, sang bayi akan menjelma menjadi mahluk yang kuat dan cerdas. Ini terjadi karena ada anugerah bawaan sejak lahir, yang apabila kita latih dan kita manfaatkan, semakin banyak bakat yang kita dapatkan dan semakin kuatlah kemampuan kita.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Ada 3 (tiga) anugerah yang paling penting, ada yang sudah kita buka, tetapi masih banyak yang belum kita buka, yaitu:&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;1. Kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kita sebagai pribadi adalah hasil dari pilihan-pilihan kita, bukan alam “gen”, atau pola asuhan “didikan,lingkungan”. Memang gen dan didikan kerapkali berpengaruh juga, tetapi tidak menentukan. Yang menentukan adalah pilihan kita sendiri berdasarkan nilai-nilai. Karena hakikat menjadi manusia apabila kita mampu mengarahkan hidup kita sendiri. Ini adalah anugerah yang terbesar yang memungkinkan anugerah-anugerah yang lain dapat kita terima. Ini juga yang memungkinkan kita mengangkat hidup ini ke tingkat yang semakin tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;2. Hukum-hukum alam/prinsip-prinsip universal yang tidak berubah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hukum alam, seperti rasa hormat,kejujuran, kebaikan hati, integritas, pelayanan dan keadilan, menentukan akibat dari pilihan-pilihan kita.Hukum alam bersifat impersonal, factual, objectif dan tidak dapat diperdebatkan. Berbagai akibat atau konsekuensi ditentukan oleh prinsip; perilaku ditentukan oleh nilai: karena itu hargailah prinsip-prinsip itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;3. Kecerdasan kita/kemampuan kodrat kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;a. Kecerdasan Fisik ( &lt;i&gt;Physical Quotient&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Tanpa kita perintah, tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem syaraf, dan sistem-sistem vital lainnya yang memungkinkan kita bertahan hidup.Tubuh kita laksana tangan-tangan cerdas gurita yang bergerak siang malam tanpa henti dan tiada tertandingi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;b. Kecerdasan Mental (&lt;i&gt;Intelligence Quotient&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kemampuan untuk menganalisis, berfikir dan menemukan hubungan sebab-akibat, berfikir abstrak, menggunakan bahasa, memvisualisasikan sesuatu dan memahami sesuatu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;c. Kecerdasan Emosional ( &lt;i&gt;Emotional Quotient&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;Pengetahuan mengenai diri, kepekaan sosial, empati dan berkomunikasi baik dengan orang lain, kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, keberanian mengakui kelemahan serta mengakui perbedaan. Kecerdasan emosional dianggap lebih kreatif, tempat intuisi,pengindraan dan bersifat holistic dan menyeluruh. Penggabungan antara kecerdasan mental (&lt;i&gt;IQ&lt;/i&gt;)yang lebih logis dengan kecerdasan emosional (&lt;i&gt;EQ&lt;/i&gt;) yang lebih bersifat perasaan/penginderaan akan menciptakan keseimbangan,penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;d. Kecerdasan Spiritual (&lt;i&gt;Spiritual Quotient&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kecerdasan spiritual adalah pusat dan yang paling fundamental di antara kecerdasan yang lainnya, karena kecerdasan ini menjadi arah ‘kompas’ bagi kecerdasan yang lainnya.Kecerdasan spiritual membantu kita mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati,mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan Yang Tak Terbatas.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Memfokuskan diri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam upaya memanfaatkan dan melatih anugerah terbesar bawaan lahir itu sedemikian rupa, akan membuat hidup kita amat kuat dan damai sejahtera. Nampak sederhana dan mudah di tangkap akal sehat tentunya. Tetapi apa yang sudah diketahui oleh akal sehat, tentunya bukan jaminan juga bahwa sesuatu itu sudah banyak dipraktikkan. Sementara harus kita sadari, riset telah membuktikan bahwa ketidak-mampuan seseorang mengatur dirinya secara efisien akan menimbulkan penuaan dini, penurunan kecerdasan mental, dan bahkan menutup akses kecerdasan yang ada dalam diri kita. Dan yang sebaliknya juga berlaku, bila secara internal semakin padu, sistem fisiologis seseorang akan semakin efisien dan dia akan semakin kreatif, adaftif, luwes, berkepribadian matang, dan memiliki tingkat spiritual keagaamaan yang baik.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;b&gt;Bibliografi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Covey, Stephen R., &lt;i&gt;The 8&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Habit&lt;/i&gt;, Gramedia Pustaka Utama, 2005.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Hall,C.S.,&amp;amp; Lindzey, G.,&lt;i&gt;Teori-Teori Sifat dan Behavioristik&lt;/i&gt;, Kanisius,1993.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6820492536730876355-1903359921013142085?l=windwardwhy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windwardwhy.blogspot.com/2007/11/my-transcripts_22.html</link><author>noreply@blogger.com (WindWard)</author><thr:total>0</thr:total></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

