<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Cerita Ringan Masa Lalu</title><description>Ternyata banyak nostalgia masa lalu yang sayang untuk dilupakan begitu saja.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</managingEditor><pubDate>Thu, 29 Aug 2024 14:09:48 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Ternyata banyak nostalgia masa lalu yang sayang untuk dilupakan begitu saja.</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Lomba Mengarang, Bukti Kalau Aku Bisa Menulis</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2011/04/lomba-mengarang-bukti-kalau-aku-bisa.html</link><category>Masa SMP</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Sat, 9 Apr 2011 09:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-2797722328152084628</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpiqByFNA98I8X1Jv7X6S2jXMl_m2lb6XoQX6yYvylxHR4NWBHNgPBqlGo3X7nrFfsMHKNi1WjWr6qHwUJRaG8jZtCtztQHKsNI1SgRmmmXNluWpKl8hDovYoRLbkhkjp_9WNclzr6sQ/s1600/blog_ceritasugeng_com_lomba_mengarang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpiqByFNA98I8X1Jv7X6S2jXMl_m2lb6XoQX6yYvylxHR4NWBHNgPBqlGo3X7nrFfsMHKNi1WjWr6qHwUJRaG8jZtCtztQHKsNI1SgRmmmXNluWpKl8hDovYoRLbkhkjp_9WNclzr6sQ/s200/blog_ceritasugeng_com_lomba_mengarang.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Sebesar
apapun bakat yang dimiliki seseorang, kalau tidak dikembangkan dan dibina
dengan baik dalam wadah yang benar, pasti akan bersifat mubadzir dan sia-sia
belaka. Barangkali ungkapan itulah yang bisa mewakili apa yang terjadi pada
diriku. Benar, sejak masih di sekolah dasar, aku sudah mempunyai bakat menulis
dan mengarang. Bahkan sudah ada satu tulisan pendek karyaku yang dimuat di
salah satu majalah anak-anak terbitan Jakarta. Dan juga beberapa kali ikut
lomba mengarang tingkat SD di sekolahku.&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tetapi,
ajang lomba – dan pembuktian bahwa aku memang mempunyai bakat menulis – yang
sebenarnya, adalah saat duduk di bangku SMP kelas 2. Waktu itu, dalam
memperingati Hari Sumpah Pemuda, diadakan beberapa mata lomba, yang wajib
diikuti perwakilan setiap kelas, mulai kelas 1 sampai kelas 3. Untuk wakil
kelasku, aku ditunjuk oleh &lt;i&gt;Bu Rimamik&lt;/i&gt; (wali kelasku saat itu) untuk ikut lomba
mengarang. Entah, apa alasannya kenapa harus aku yang ikut lomba mengarang,
apakah karena tulisanku yang bagus atau karena apa, aku tidak pernah menanyakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Singkat
cerita, aku berlomba bersama 38 siswa lainnya dalam 2 ruang kelas yang berbeda,
dengan waktu yang diberikan 150 menit. Lucunya, aku pikir lomba mengarang ini
dikerjakan di rumah, jadi malam sebelum lomba aku sudah membuat karangan dengan
tema ‘pahlawan dalam era kemerdekaan’ dalam 4 halaman kertas buku tulis.
Maksudku, pas hari-H aku tinggal mengumpulkan saja. Ternyata beda, karangan
harus dibuat langsung di sekolah dengan waktu 2,5 jam tadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;The show
must go on&lt;/i&gt;, aku membuat (menulis ?) lagi karangan dengan tema sama dengan yang
sudah aku buat, sebelum memulai lomba aku sempatkan membaca karangan yang sudah
aku buat malam sebelumnya. Aku pikir tentu ini bukan perbuatan ‘salah’ karena
yang aku lihat ya hasil karanganku sendiri. Beda permasalahannya kalau yang aku
lihat adalah hasil tulisan orang lain, tentu ini sudah masuk kategori plagiat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Sedikit
gambaran, yang aku ceritakan dalam tulisanku adalah perjuanganku dalam lomba
halang rintang saat mengikuti perkemahan Pramuka tingkat SD se kecamatan Pakis
(&lt;i&gt;baca tulisan&lt;/i&gt;: &lt;a href="http://www.ceritasugeng.com/2010/11/terlatih-jadi-pemimpin-untuk-pertama.html" target="_blank"&gt;Terlatih Jadi Pemimpin untuk Pertama Kalinya&lt;/a&gt;). Saat menyeberangi sungai, kakiku terkilir dan terasa sakit
banget, tapi aku memaksakan terus mengikuti lomba sampai selesai. Karena
sebagai ketua regu, aku tidak boleh meninggalkan anak buah. Aku harus
bertanggung jawab terhadap reguku, meski jalan dengan terpincang-pincang
menahan rasa sakit. Aku mengibaratkan, itu sama halnya dengan sebuah perjuangan
yang dilakukan &lt;i&gt;Jenderal Soedirman&lt;/i&gt; saat perang gerilya melawan Belanda. Dalam
kondisi sakit, Beliau tetap berada di tengah pasukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Terus
terang, aku tidak pernah ‘bermimpi’ menang dalam lomba mengarang seperti ini.
Dengan sifat pendiam dan (sedikit) tertutup, aku sebenarnya lebih asyik dengan
apa yang aku kerjakan. Itulah sebabnya, ketika saat pengumuman pemenang lomba –
bertepatan dengan upacara bendera hari Senin – namaku disebut sebagai pemenang
ke-2 Lomba Mengarang, aku kaget dan gemetaran, bahkan diledek teman-teman
karena kebengonganku saat disuruh maju ke depan untuk menerima hadiah. Aku juga
tidak pernah menyesal karena hanya juara 2, karena sebagai juara 1 saat itu
adalah Mbak &lt;i&gt;Ida Maghfuroh&lt;/i&gt;, siswi kelas 3, yang memang dikenal mempunyai
kepandaian diatas rata-rata temannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;























&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Setelah menang lomba,
memang ada kegairahan untuk menulis. Hadiah berupa 5 buah buku tulis tebal,
awalnya aku rencanakan untuk membuat tulisan (karangan) dan catatan harian.
Tapi hanya berjalan beberapa hari semata. Selanjutnya, aku menjadi diriku yang
pendiam dan asyik dengan keinginanku sendiri. Ya, aku masih masa pancaroba,
mencari jatidiri, belum pernah terpikirkan bahwa menulis itu – ternyata – bisa menjadi
pekerjaan atau mata pencaharian di kelak kemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpiqByFNA98I8X1Jv7X6S2jXMl_m2lb6XoQX6yYvylxHR4NWBHNgPBqlGo3X7nrFfsMHKNi1WjWr6qHwUJRaG8jZtCtztQHKsNI1SgRmmmXNluWpKl8hDovYoRLbkhkjp_9WNclzr6sQ/s72-c/blog_ceritasugeng_com_lomba_mengarang.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ketika Rembulan dan Matahari Ada di Kelasku</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2011/03/ketika-rembulan-dan-matahari-ada-di.html</link><category>Masa SMP</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Tue, 29 Mar 2011 10:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-2424035820827247981</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiVvKE5u7FAOIx_JYViqyimXtHnOxCf1Aaq804UHlqGOa5qcjlKZEiqfWB9RapoRPLioubw7SvzFgkQ67wCYz4SmfaqLNErjDixF7nTzi2Lf3PhrzVoDFgCcQVbW5GwE7wutIfkKhF3g/s1600/catatan_sugeng_rembulan_dan_matahari.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiVvKE5u7FAOIx_JYViqyimXtHnOxCf1Aaq804UHlqGOa5qcjlKZEiqfWB9RapoRPLioubw7SvzFgkQ67wCYz4SmfaqLNErjDixF7nTzi2Lf3PhrzVoDFgCcQVbW5GwE7wutIfkKhF3g/s200/catatan_sugeng_rembulan_dan_matahari.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Memasuki kelas 2 SMP, adalah saat adaptasi
(kembali) dengan teman-teman baru. Karena yang tadinya di kelas 1 – yang
rata-rata berjumlah 40 siswa – masih menjadi teman sekelas, saat naik kelas 2
diacak kembali. Ya, saat kelas 1 di SMP-ku ada 10 kelas, maka saat kelas 2 tiap
kelas adalah gabungan 4-5 orang dari kelas yang berbeda saat kelas 1.
Menyenangkan juga sih, karena selain mendapat teman ‘baru’ dari kelas lain,
persaingan memperebutkan rangking kelas juga lebih kompetitif.&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tetapi yang cukup menarik – dan ini sering
menjadi candaan guru maupun teman-teman – di kelas 2 ini aku punya teman yang
namanya &lt;i&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Qomariyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Samsiyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, dua-duanya perempuan. Menarik, karena secara
kebetulan arti 2 nama temanku tersebut adalah &lt;span style="color: red;"&gt;Rembulan&lt;/span&gt; (=&lt;b&gt;Qomariyah&lt;/b&gt;) dan
&lt;span style="color: red;"&gt;Matahari &lt;/span&gt;(=&lt;b&gt;Samsiyah&lt;/b&gt;). Lebih menarik lagi, seperti sifat rembulan dan matahari,
&lt;i&gt;Qomariyah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Samsiyah&lt;/i&gt; mempunyai sifat bertolak belakang. &lt;i&gt;Qomariyah&lt;/i&gt; terkesan
pendiam, berambut ombak sebahu, berkulit kuning langsat dan bicaranya tidak
begitu keras. Sedang &lt;i&gt;Samsiyah&lt;/i&gt; lebih enerjik, berkulit putih dan terkesan
cerewet, serta bersuara cempreng. Rambutnya dipotong pendek dengan &lt;i&gt;style&lt;/i&gt; Lady Diana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kalau mau dideskripsikan lebih detail lagi,
&lt;i&gt;Qomariyah&lt;/i&gt; adalah tipikal remaja kampung pada umumnya – bisa jadi terkesan dari pelosok,
karena jarak sekolah ke rumahnya saja lebih dari 15 km – yang &amp;nbsp;selalu berpenampilan sederhana. Dengan tinggi
badan yang tak lebih dari 150 cm, Qomariyah lebih terkesan agak gemuk.
Sedangkan &lt;i&gt;Samsiyah&lt;/i&gt; lebih berpenampilan &lt;i&gt;trendy&lt;/i&gt;, dan kelihatan kalau datang dari
keluarga berada, karena orangtuanya memang juragan penggilingan padi di
desanya. Badannya yang langsing dengan tinggi badan ideal, membuat para siswa
laki-laki di SMP-ku banyak yang ‘kagum’ saat melihatnya. Apalagi Samsiyah
menjadi salah satu dari beberapa siswa – bisa dihitung dengan jari – yang &amp;nbsp;ke sekolah menggunakan sepeda motor, sementara
siswa lainnya menggunakan sepeda pancal, jalan kaki ataupun naik angkutan umum
desa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Nah, meski bertolak belakang, ada satu hal yang
membuat Qomariyah dan Samsiyah terasa ‘kompak’ di kelas, yaitu keduanya
sama-sama masuk kategori (maaf!) tidak pandai, bahkan untuk nilai ulangan
harianpun selalu dibawah rata-rata kelas. Aku sendiri kurang faham, kenapa
rata-rata siswa perempuan yang datang dari pelosok desa selalu masuk kategori kurang
pandai. Apakah mereka memang ‘menjalani’ sekolah hanya sekedar formalitas untuk
‘status’ saja – sambil menunggu umur cukup untuk menikah, jadi tidak punya
motivasi untuk belajar giat dan harus pintar – ataukah memang masuk jenjang SMP
sudah dianggap cukup tinggi, yang pada akhirnya setelah lulus &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; langsung menikah juga, agar tidak
masuk kategori perawan tua yang tidak laku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Yang pasti, ada kejadian yang menarik – dan agak
konyol ? – yang berhubungan dengan dua orang temanku ini. Yaitu pada saat
pelajaran Biologi yang mengambil tempat di ruang laboratorium IPA. Karena satu
Bab pokok bahasan sudah selesai, Pak &lt;i&gt;Gatot Sutjipto&lt;/i&gt; (guru Biologi) memutuskan
untuk ulangan. Celakanya, ini bagi teman-teman yang nggak siap ulangan, Pak
Gatot mengacak tempat duduk kami. Satu meja panjang &amp;amp; besar laboratorium
dipakai untuk 4 siswa, dengan duduk selang-seling siswa laki-laki dan
perempuan. Aku kebagian duduk di meja sebelah kanan nomor 3 dari depan, dengan posisi
duduk sebelah kiriku Qomariyah dan sebelah kanan Samsiyah, serta paling ujung
kanan &lt;i&gt;Wahyu Sardono&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Nah, saat 20 menit terakhir dipakai untuk
koreksi bersama, muncul ‘kejutan’ dari nilai-nilai yang langsung dibacakan Pak
&lt;i&gt;Gatot&lt;/i&gt;. Aku mendapatkan nilai 84. Sedang 3 teman sebangkuku, mendapat nilai
diatas 60-an. Qomariyah 65, Samsiyah 72, Wahyu Sardono 76. Suasana jadi ramai
di ruang laboratorium, karena menurut teman-teman ada yang aneh dengan 2 teman
sebangkuku, mana mungkin Qomariyah dan Samsiyah bisa mendapat nilai sebesar itu
(apalagi ini pelajaran Biologi!), karena biasanya hanya mendapat nilai maksimal
tak lebih dari 30-an. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kasarnya, pasti mereka berdua mencontek ke aku –
dan kenyataannya memang hiya, &lt;i&gt;hehehe&lt;/i&gt; – apalagi aku tipikal siswa pendiam dan
pemalu, sehingga tidak bisa menolak kalau ada yang minta bantuan, termasuk
contekan sekalipun. Untungnya Pak Gatot tidak mempermasalahkan hal ini. Cuma
untuk ulangan-ulangan berikutnya aku sudah tidak pernah lagi didudukkan
sebangku dengan Qomariyah dan Samsiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Memang, masih ada cerita-cerita lucu yang
berhubungan dengan kedua temanku itu, tetapi lebih pada kejadian keseharian di
kelas, yang bisa jadi dialami siapa saja saat masih duduk di bangku &lt;a href="http://www.smpn1tumpang.sch.id/" target="_blank"&gt;sekolah&lt;/a&gt;
SMP. Meski nilai dibawah rata-rata, syukurnya Qomariyah dan Samsiyah tetap naik
kelas dan lulus dari SMP, tanpa pernah tinggal kelas. Dan memang, seperti yang
aku duga semula, kabar yang beredar Qomariyah dan Samsiyah dijodohkan orang
tuanya begitu lulus SMP. Sebuah tradisi yang sulit untuk dikikis!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiVvKE5u7FAOIx_JYViqyimXtHnOxCf1Aaq804UHlqGOa5qcjlKZEiqfWB9RapoRPLioubw7SvzFgkQ67wCYz4SmfaqLNErjDixF7nTzi2Lf3PhrzVoDFgCcQVbW5GwE7wutIfkKhF3g/s72-c/catatan_sugeng_rembulan_dan_matahari.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ajaran ‘Bertanggung Jawab’ dari Bungkus Ketupat</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2011/02/ajaran-bertanggung-jawab-dari-bungkus.html</link><category>Masa SD</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Wed, 2 Feb 2011 14:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-8792851954815754529</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgY2_7iCrbB61oP_PyBUilli4Lxn1BPUXwllzwAFgfTMmHjyxdGw8arOY46V0Kn4nwddfQsBx89NyI2c9fRGC0RjPnuOAbdLFrWttFqdDfIPTn2-A_iKAT5HU125Nh2SJstBPXyz4C_ew/s1600/cerita_sugeng_pribadi_ketupat_lebaran.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgY2_7iCrbB61oP_PyBUilli4Lxn1BPUXwllzwAFgfTMmHjyxdGw8arOY46V0Kn4nwddfQsBx89NyI2c9fRGC0RjPnuOAbdLFrWttFqdDfIPTn2-A_iKAT5HU125Nh2SJstBPXyz4C_ew/s200/cerita_sugeng_pribadi_ketupat_lebaran.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Bisa membuat
ketupat? Ya, tepatnya ‘bungkus ketupat’ yang terbuat dari anyaman janur (itu
lho, daun kelapa yang masih muda) biasanya untuk salah satu sajian wajib di
hari Lebaran? Kalau tidak bisa, apalagi anda berjenis kelamin laki-laki, ya
siap-siap saja kelak di akhirat ‘dihukum’ menusuki (&lt;i&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;mbithingi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; = bahasa Jawa)
daun asam yang berukuran kecil – berukuran tidak lebih dari 1 cm -- dengan
antan (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;alu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; = bahasa Jawa), alat menumbuk padi yang super besar itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Begitulah ‘ajaran’
yang diberikan di keluargaku saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SD.
Sehingga, mau tak mau aku harus bisa membuat ketupat sendiri, agar kelak tidak
mendapat ‘siksa’ yang super berat tadi. Entahlah, apakah itu hanya
menakut-nakuti supaya sejak kecil kita bisa membuat ketupat sendiri, atau
memang begitu adanya, yang pasti aku terlecut belajar membuat ketupat saat
menginjak usia 9 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Aku belajar
membuat ketupat dari &lt;i&gt;Mak Pan&lt;/i&gt; – ini nama familiku yang sudah ‘mengabdikan’ diri
di keluargaku sejak aku baru usia balita – yang saat itu masih berusia 20-an
tahun. Meski dipanggil &lt;i&gt;Mak Pan&lt;/i&gt;, sebenarnya beliau ini laki-laki tulen, yang
bernama &lt;i&gt;Kaspan&lt;/i&gt;. Panggilan &lt;i&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Mak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; adalah dari kata ‘&lt;i&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Pamak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;’ atau ‘&lt;i&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Paman&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;’ dalam
tradisi Jawa. Jadi sebenarnya adalah &lt;i&gt;Paman Kaspan &lt;/i&gt;yang disingkat jadi &lt;i&gt;Mak Pan&lt;/i&gt;.
Seingatku, saat itu aku belajar membuat ketupat bersama-sama dengan &lt;i&gt;Mbak Anda&lt;/i&gt;
(kakakku) dan &lt;i&gt;Sri&lt;/i&gt; (adikku). Tidak memerlukan waktu lama, setelah hampir 2 jam
belajar, aku sudah bisa membuat ketupat sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Oh hiya&lt;/i&gt;,
tradisi Lebaran Ketupat di desaku sama ramainya dengan suasana Lebaran di hari
pertama. Lebaran Ketupat biasanya diadakan satu minggu setelah Lebaran 1
Syawal. Selain (hampir) semua rumah membuat ketupat secara serentak, biasanya siang
sampai malam harinya saling antar ketupat dengan tetangga-tetangga dan sanak
saudara yang jauh sekalipun. Sehabis sholat &lt;i&gt;Ashar&lt;/i&gt; sampai malam, bergantian dari
rumah ke rumah saling mengundang untuk &lt;i&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;kenduren&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; (=kendurian). Sunggu sehari yang penuh
kesibukan, selain penuh makanan ketupat dan sejenisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Satu hal
yang menurutku penuh dengan makna, sebenarnya bukan dari suasana dari Lebaran
Ketupat itu. &lt;span style="color: #990000;"&gt;Melainkan ‘ajaran’ bahwa anak laki-laki harus bisa membuat ketupat,
kalau tidak pasti kelak akan mendapat ‘siksa’&lt;/span&gt;. Ini menurutku bermakna luas.
&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, sudah sewajarnya anak laki-laki harus bisa mengerjakan hal-hal yang
(kelak) akan menjadi tanggung jawabnya, yaitu membuat ketupat untuk
keluarganya. &lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, membuat ketupat (mulai dari mencari janur, dan seterusnya)
tentulah pekerjaan kaum lelaki, sehingga sejak kecil harus diajarkan bahwa membuat
ketupat adalah tugas seorang lelaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Apapun itu, sampai kelak
aku sudah dewasa dan berkeluarga, sebisa mungkin aku membuat sendiri ketupat
untuk keluargaku setiap Lebaran tiba. Walaupun, pada jaman yang semakin maju
ini, sudah banyak dijual bungkus ketupat siap pakai di pasar-pasar tradisional. Tentu bukan masalah ribet atau praktisnya, tetapi ‘ajaran’ bahwa seorang laki-laki haruslah bertanggung jawab – untuk urusan apapun – pada keluarganya, itu yang harus
tetap dijunjung tinggi!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgY2_7iCrbB61oP_PyBUilli4Lxn1BPUXwllzwAFgfTMmHjyxdGw8arOY46V0Kn4nwddfQsBx89NyI2c9fRGC0RjPnuOAbdLFrWttFqdDfIPTn2-A_iKAT5HU125Nh2SJstBPXyz4C_ew/s72-c/cerita_sugeng_pribadi_ketupat_lebaran.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mas Eko, Sahabat Sekaligus Mentor Organisasi di OSIS</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2011/01/mas-eko-sahabat-sekaligus-mentor.html</link><category>Masa SMA</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Sat, 29 Jan 2011 14:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-6943156067923560669</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJ-csKxfHvzGw1ihlYV9q0yL3LljfJIFxzTsxPqYDYhT3dQYdF5Hwu5oomtTmF9A5_eUOdp98tjK-1ROln7XUG-Zlbbcd5iLkQsz7hx1FXhTyNFwpI4Wc01mB2Q5du6lY_AEIeh9K3lw/s1600/Sugeng_Pribadi_bersama_anak_anak_OSIS_SMANETA.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJ-csKxfHvzGw1ihlYV9q0yL3LljfJIFxzTsxPqYDYhT3dQYdF5Hwu5oomtTmF9A5_eUOdp98tjK-1ROln7XUG-Zlbbcd5iLkQsz7hx1FXhTyNFwpI4Wc01mB2Q5du6lY_AEIeh9K3lw/s200/Sugeng_Pribadi_bersama_anak_anak_OSIS_SMANETA.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;Bicara
masalah organisasi saat sekolah – baca: OSIS – aku langsung teringat pada sosok
&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mas&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Eko&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, Ketua OSIS SMA
Negeri Tumpang periode 1985/1986. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;Eko Santoso&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, &amp;nbsp;begitu nama lengkapnya, sebenarnya hanyalah siswa
biasa, jauh terkesan sebagai&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;local idol&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp;yang digilai-gilai lawan
jenis dan membuat iri sesame jenis (biasanya yang model gini ini, anak yang
banyak gaya, sedikit punya kemampuan tertentu, wajah diatas rata-rata, tetapi biasa-biasa
saja di pelajaran).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;Yang
membuat&amp;nbsp;&lt;b&gt;Eko&lt;/b&gt;&amp;nbsp;“lebih” dari yang lain adalah selain pemain utama tim
basket sekolah, otak encernya diatas rata-rata teman seangkatannya. &amp;nbsp;Pemilik tubuh tegapdengan tinggi sekitar 175
cm ini juga (kebetulan) seorang muslim taat dari etnis&amp;nbsp;&lt;i&gt;Chinese&lt;/i&gt;.
Barangkali karena alas an itu pula penghuni IPA-1 ini terpilih sebagai Ketua
OSIS secara aklamasi.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Satu
kejadian yang bagiku paling berkesan – sehubungan pertemanan dengan Mas Eko –adalah
saat mengikuti&amp;nbsp;&lt;b&gt;Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja&amp;nbsp;&lt;/b&gt;tingkat Kabupaten&amp;nbsp;Malang&amp;nbsp;tahun
1985. Berkesan (sekaligus salut !) karena dengan inisiatif sendiri &amp;nbsp;Mas&amp;nbsp;&lt;b&gt;Eko&lt;/b&gt;&amp;nbsp;membuat karya tulis,
tanpa disuruh guru Pembina OSIS ataupun dorongan dari pihak sekolah, tetapi hanya
berbekal selebaran yang dikirim kesekolah oleh panitia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;Judul
yang diajukan pun saat itu sangat orisinil, yaitu (mudah-mudahan kalimatnya pas
begini) :&amp;nbsp;&lt;b&gt;“Cara Mudah Menghitung Perkalian sampai 5 Digit dengan Menggunakan
Bantuan Jari”.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Karya ini termasuk dalam kategori “&lt;b&gt;Temuan Baru&lt;/b&gt;”
karena belum ada teori tertulis sebelumnya yang terpublikasi (memang sih, beberapa
tahun kemudian, muncul &lt;b&gt;Metode Kumon&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang menurutku hampir sama dengan
apa yang ditulis Mas Eko di tahun 1985. Kebetulan ?).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Disaat-saat
batas akhir pengumpulan karya tulis, tanpa dinyana Mas Eko memasukkan namaku dalam
tim, alasannya lomba karya tulis bukan untuk perorangan, tetapi beregu dengan jumlah
minimal 2 orang.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Yo&amp;nbsp;&lt;/i&gt;wis, nolak juga nggak enak,&amp;nbsp;&lt;i&gt;pokok’e&lt;/i&gt;&amp;nbsp;ikut
saja. Pas minta restu (pengesahan) dari&amp;nbsp;&lt;b&gt;Drs. Munawar&lt;/b&gt;, Kepala Sekolah
saat itu – hari Sabtu di penghujung bulan April sekitar jam 9 pagi, padahal batas
pengumpulan jam 13.00 di Kantor Depdikbud ab.&amp;nbsp;Malang&amp;nbsp;–&amp;nbsp;&lt;i&gt;ndilalah&lt;/i&gt;
sambutannya biasa-biasa saja, hanya disarankan minta “sangu” ke Bagian Keuangan
OSIS yang saat itu dipegang Bu&amp;nbsp;&lt;b&gt;Runia Laksmiwati&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dengan
segala alasan, Bu Runia bisanya ngasih&amp;nbsp;&lt;b&gt;Rp. 650,- &lt;/b&gt;saja, yang hanya cukup
untuk&amp;nbsp;&lt;b&gt;ongkos transport&amp;nbsp;&lt;/b&gt;PP dari SMAN Tumpang ke Kantor Dikbud Kabupaten
(yang kalo nggak salah saat itu di sekitar jalan ke arah Kebon Agung).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Keluar
dari ruang guru, dengan lirih Mas Eko bilang,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Geng, duwik’e mek cukup digawe wong siji tok. Yok opo iki ?”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Dan
tanpa disangka Mas &amp;nbsp;Eko nyambung lagi,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Wis&amp;nbsp;pokok’e
awak’e dewe kudu budal wong loro. Gak usah lewat Patimura&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(nama
terminal&amp;nbsp;Malang&amp;nbsp;dahulu,&amp;nbsp;red)&amp;nbsp;&lt;i&gt;tapi liwat kidul ae. Ayo’&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;wis&amp;nbsp;berangkat sak iki ae !”.&lt;/i&gt;Kalau diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia, &lt;i&gt;“Geng, uangnya Cuma cukup dipakai satu orang saja,
giman aini? Sudah, pokoknya kita tetap harus berangkat berdua. Nggak usah lewat
terminal Patimura, tapi lewat selatan saja. Ayo, kita berangkat sekarang!”&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Singkat
cerita, kami berangkat naik mobil colt yang melewati Banjarejo, terus Kedung Kandang,
dan memilih turun di sekitar Kota Lama (bayar Rp. 300,- berdua). Karena ngirit ongkos,
ke kantor Dikbud jalan kaki sekitar 2 km, panas-panasan sekitar jam 12-an
siang. Sampai kantor Dikbud tercatat sebagai peserta terakhir yang memasukkan naskah
lomba, karena sudah sekitar jam 12.30 (eh hiya, 3 copy Karya Tulis itu semuanya
diketik manual dan beberapa bagian ditulis tangan. Kayaknya belum ada yang
namanya computer deh saat itu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;Begitu
urusan selesai, balik ke Tumpang lewat&amp;nbsp;Kota&amp;nbsp;Lama lagi, jalan kaki
lagi, dan jaraknya sekitar 2 km juga. Anehnya, saat itu kami berdua tidak mengeluh
dan malah becanda terus di perjalanan (sambil ngrasani,&amp;nbsp;&lt;i&gt;koq tego yo pihak
sekolah nang awak’e dewe, hehehe…&lt;/i&gt;). Sebelum naik colt jurusanTumpang, kami
sempat berunding gimana kalo sisa uang yang Rp. 50,- dibelikan es sirup pinggir
jalan saja, lumayan, dapat 2 gelas, dan sisanya Rp. 300,- untu kongkos naik
colt.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Memang,
akhirnya karya tulis Mas Eko (sengaja tidak aku tulis “KAMI” sebab aku memang tidak
memberikan kontribusi apa-apa.&amp;nbsp; &lt;i&gt;Suer&lt;/i&gt;!) tidak menang, bahkan untuk masuk
10 besar pun tidak diperhitungkan. Tidak ada rasa kecewa, bahkan Mas Eko membesarkan
hatiku,&amp;nbsp;&lt;i&gt;“Gak popo Geng, sing
penting awak’e dewe&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;wis&amp;nbsp;wani nyoba’ &amp;nbsp;melok. Dadi iso ngukur kemampuan awak’e dewe iki
sepiro disbanding sekolah liyane..!”&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;(terjemahannya: &lt;i&gt;“Nggak apa-apa Geng, yang penting kita sudah
berani mencoba ikut. Jadi bisa mengukur kemampuan kita ini seberapa dibanding
sekolah lainnya.”&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;Bukan
main, begitu&amp;nbsp;&lt;b&gt;legowo-&lt;/b&gt;&lt;a href="" name="_GoBack"&gt;&lt;/a&gt;nya dia, meski sebenarnya
ada nada kecewa pada pihak sekolah yang kurang memberi dukungan. Dan untuk mensosialisasikan
“karya” Mas Eko ke teman-teman, aku sempat memasukkan kedalam salah satu edisi Majalah
Sekolah&lt;b&gt;&amp;nbsp;Widya Wiyata&lt;/b&gt;, yang kebetulan saat itu aku ikut menjadi pengelolanya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Seiring
bertambahnya waktu, setelah lulus SMA Mas Eko pernah mendaftar ke Akademi Angkatan
Laut (mudah-mudahan nggak salah), tetapi gagal dalam 2 kesempatan karena faktor
non-teknis. Trus, masih kalau nggak salah, mendaftar di IAIN Sunan Ampel
Surabaya. Dan, kabar terakhir Mas Eko saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta
di kawasan&amp;nbsp;Surabaya. Aku sendiri belum pernah berkomunikasi sampai saat ini.
Tetapi, bagaimanapun juga, Mas Eko sudah member banyak “pelajaran” padaku,
setidaknya Mas Eko-lah yang menjadi mentor pertamaku dalam belajar berorganisasi,
utamanya di OSIS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background: white; line-height: 15.0pt; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="background-color: white; line-height: 15pt; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; vertical-align: baseline;"&gt;
&lt;span style="border: 1pt none windowtext; padding: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ascii-theme-font: major-latin; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-hansi-theme-font: major-latin;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJ-csKxfHvzGw1ihlYV9q0yL3LljfJIFxzTsxPqYDYhT3dQYdF5Hwu5oomtTmF9A5_eUOdp98tjK-1ROln7XUG-Zlbbcd5iLkQsz7hx1FXhTyNFwpI4Wc01mB2Q5du6lY_AEIeh9K3lw/s72-c/Sugeng_Pribadi_bersama_anak_anak_OSIS_SMANETA.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kalau Ibu Marah, Itu Artinya Sayang</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/12/kalau-ibu-marah-itu-artinya-sayang.html</link><category>Masa SD</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Wed, 22 Dec 2010 15:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-1690568706714788893</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIQWCRNcqLGbvGsuCIsYNgpvP6rpG5DwDWVvTcXRlGNdZIyVLVe75nCXvl5_ZA68eTJ4DQFdslBX0YgjAbJbUrig1xpQD440LUgfvJnwuprENxWlh5nGlSVFUSSzxFsoWoH10zxCpLyg/s1600/Ibunda_di_rumah_sakit_sugeng_pribadi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIQWCRNcqLGbvGsuCIsYNgpvP6rpG5DwDWVvTcXRlGNdZIyVLVe75nCXvl5_ZA68eTJ4DQFdslBX0YgjAbJbUrig1xpQD440LUgfvJnwuprENxWlh5nGlSVFUSSzxFsoWoH10zxCpLyg/s200/Ibunda_di_rumah_sakit_sugeng_pribadi.jpg" width="183" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Setiap mengenang
Ibuku, saat itu pula ribuan, jutaan – atau bahkan tak terhingga – berbagai kejadian
dan peristiwa yang berkaitan dengan Ibu, begitu saja silih berganti berlomba melintas
di kepalaku. Hebatnya, tak ada satupun yang bercitra negative atau membuat aku kecewa,
marah ataupun dendam. Semuanya begitu indah, begitu penuh makna. Meski saat peristiwa
itu terjadi, aku belum bisa mencerna makna dari ikap ataupun perbuatan yang
dilakukan ibu.&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Peristiwa
yang membuat aku sangat menyesal – kelak di kemudian hari, ketika aku sudah berkeluarga
dan mempunyai putra – adalah ketika ‘melawan’ larangan ibu agar aku membatalkan
keinginanku menonton pertandingan sepakbola di lapangan kecamatan (kalau nggak salah
final antar desa dalam rangka 17-an) bersama teman-teman sekolahku. Alasan ibu sederhana,
cuaca siang itu cukup mendung dan ada tanda-tanda akan terjadi hujan lebat. &amp;nbsp;Apalagi tempat tinggalku masuk kategori dataran
tinggi, sehingga kemungkinan hujan lebat sangat besar di saat musim penghujan seperti
itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tapi larangan
ibu aku anggap sebagai sikap yang menganggap aku anak kecil. Padahal aku sudah kelas
5 SD saat itu. Dalam benakku, aku sudah jadi anak gede yang boleh main dan nonton
bola di lapangan yang jaraknya 1,5 km dari rumah. Apalagi teman-teman seperti &lt;i&gt;Lastari,
Budi, Nurcholiq, Yulianto&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Sofyan&lt;/i&gt; – ini teman-temanku di SD dan juga tetanggaku
– sudah menjemputku sejak jam 2 siang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Seperti sebuah
kutukan dari Ibu, sesampai di lapangan 20 menit kemudian, hujan mulai turun dan
langsung deras. Padahal dilapangan masih belum ada penonton yang datang, karena
pertandingan sepakbola diadakan sekitar jam 3 sore. Aku berlima akhirnya berteduh
di bawah pohon lamtoro yang banyak di pinggiran lapangan. Basah kuyup dan kedinginan,
serta lapar. Satu jam kemudian hujan tiba-tiba berhenti dan ada sinar matahari.
Kata orang-orang, itu kerjaan tukang sarang hujan yang sengaja disewa untuk
‘mengamankan’ cuaca di partai final sepakbola ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Singkat cerita,
ketika sampai di rumah lagi, hari sudah menjelang mahgrib. Aku masuk rumah dengan
rasa was-was, karena kekhawatiran ibu aku kehujanan di lapangan terbukti. Saat minta
baju ganti ke ibu, aku didiamkan saja sama ibu. Begitu juga saat minta makan karena
kedinginan dan lapar, ibu hanya diam saja. Akut ahu, ibu sangat marah luar biasa.
Ketika aku ke dapur dan sedang mau ambil nasi, ibu menghampiriku sambil mencubit
keras-keras dadaku dan bergumam, “Ini upah anak yang nggak nurut orang tua.” Aku
menangis, karena sakit dan juga takut karena sudah melawan larangan ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ya, itulah –
salah satu – cara ibu mendidik kami, anak-anaknya. Keras, tidak banyak bicara,
tapi dibalik semua itu juga ada kelembutan dan juga kasih sayang yang luar biasa.
&lt;i&gt;&lt;span style="color: #0b5394;"&gt;Dan 30-an tahun kemudian, ketika aku sudah menjadi ayah, baru aku merasakan
‘kekhawatiran’ yang persis sama seperti ibuku, ketika &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/haidarbimo.prasetyo" target="_blank"&gt;Tyo&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; putraku belum juga pulang
main, meski sudah menjelang maghrib. Aku punya kemarahan yang sama dengan ibuku
ketika &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/AlifahSekarPertiwi" target="_blank"&gt;Tiwi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; putriku melanggar apa yang aku larang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;"&gt;Aku dapat pelajaran
yang sangat berharga dari peristiwa-peristiwa yang aku jalani ketika masih kecil,
terutama dari sikap dan perilaku ibu. Memang, kemarahan ibu (baca: orangtua)
tidak selalu berkonotasi keras dan otoriter, tetapi lebih dari itu, ada rasa
kasih saying dan kekhawatiran yang luar biasa pada anak-anaknya, terutama pada hal-hal
yang tidak diinginkan&lt;a href="" name="_GoBack"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIQWCRNcqLGbvGsuCIsYNgpvP6rpG5DwDWVvTcXRlGNdZIyVLVe75nCXvl5_ZA68eTJ4DQFdslBX0YgjAbJbUrig1xpQD440LUgfvJnwuprENxWlh5nGlSVFUSSzxFsoWoH10zxCpLyg/s72-c/Ibunda_di_rumah_sakit_sugeng_pribadi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Terlatih Jadi Pemimpin untuk Pertama Kalinya</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/11/terlatih-jadi-pemimpin-untuk-pertama.html</link><category>Masa SD</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Wed, 10 Nov 2010 14:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-5750707687276521502</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWWxpozqWHJ-dusvncu8BNdka_8LswPzrR3RVAThDZ2ctmk8rV5uwaHIe-JMzm_C1tz9_I1cv7bXpHj4x-7qNwH9ibUSfEXubZuasUe8DsgmtKfxy6CS4z7o7qRD-3gnPpJDukAdBnmA/s1600/Jamnas-Ke-3-Tahun-1981.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="152" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWWxpozqWHJ-dusvncu8BNdka_8LswPzrR3RVAThDZ2ctmk8rV5uwaHIe-JMzm_C1tz9_I1cv7bXpHj4x-7qNwH9ibUSfEXubZuasUe8DsgmtKfxy6CS4z7o7qRD-3gnPpJDukAdBnmA/s200/Jamnas-Ke-3-Tahun-1981.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Selama
menjalani sekolah di tingkat dasar (SD) 6,5 tahun -- ya benar, enam tahun enam
bulan, karena di Januari 1979 semua jenjang sekolah di Indonesia diperpanjang
enam bulan, yang semula kenaikan kelas di tiap akhir tahun (bulan Desember)
dirubah menjadi bulan Juni kenaikan kelasnya -- aku belum pernah diajarkan
ke-&lt;a href="http://www.pramuka.or.id/" target="_blank"&gt;Pramuka&lt;/a&gt;-an secara benar. Memang ada kegiatan Pramuka, tetapi disisipkan pada
pelajaran olahraga dan kesehatan, selang-seling tiap minggunya. Itupun lebih banyak
pada hafalan &lt;b&gt;Dasa Dharma&lt;/b&gt; dan mengenal simbol-simbol tanda jejak serta lagu-lagu
pramuka.&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Nah,
ketika aku sudah selesai menjalani Ebtanas dan tinggal nunggu hasil, ternyata
di lapangan kecamatan yang jaraknya kira-kita satu kilometer dari rumahku, diadakan
perkemahan Pramuka tingkat SD (Penggalang) se Kecamatan Pakis, selama 2 hari (sabtu-minggu), dalam rangka
memeriahkan Jambore Nasional Pramuka ke-3 dan Jambore Pramuka Asia Pasifik
ke-6, yang diadakan di Cibubur, Jakarta Timur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Untuk
yang tingkat kecamatan ini, sekolahku ikut serta juga, dan yang dikirim adalah
adik-adik kelas V. Entah dapat tenda darimana, dan bagimana adik-adik itu bisa
mengikuti kegiatan -- karena setahuku di SD memang tidak ada pelajaran Pramuka -- yang pasti pada suatu petang (selepas maghrib) aku diajak &lt;i&gt;Rochim&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Bagong&lt;/i&gt;,
teman sekelas yang sama-sama selesai Ebtanas, untuk melihat perkemahan di
lapangan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ironisnya,
tenda SD Pakisjajar I – ini nama sekolahku – masuk kategori yang cukup
memprihatikan, selain tendanya berukuran kecil, oleh panitia juga ditempatkan
di deretan paling belakang dari 3 lajur yang ada. Dan sekolahku ternyata cuma mengirim
regu laki-laki saja. Saat ketemu Pak &lt;i&gt;Sunanto&lt;/i&gt;, guru yang selama ini merangkap
mengajar Pramuka, beliau mengemukakan kalau cuma 6 anak yang datang ikut
perkemahan dari yang seharusnya 10 orang. Intinya, Pak &lt;i&gt;Nanto&lt;/i&gt; minta kami
bertiga bersedia ikut berkemah dan menyuruh kami pulang kembali untuk ganti
pakaian Pramuka dan membawa perlengkapan kemah seadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Singkat
cerita, malam itu kami ber-3 bergabung di regu Pramuka sekolahku, dan secara sepihak Pak
&lt;i&gt;Nanto&lt;/i&gt; dan teman-teman memilih aku sebagai Ketua Regu. Dan yang tanpa aku duga,
Pak&lt;i&gt; Nanto&lt;/i&gt; pamit tidak bisa menemani kami selama perkemahan karena ada acara
keluarga yang harus beliau hadiri. Ya, apa boleh buat, &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; ini hanya perkemahan
penggembira saja, pikirku saat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tapi,
yang aku pikirkan berbeda 180 derajat, karena esok harinya setelah apel pagi,
semua SD&amp;nbsp; peserta perkemahan wajib
mengikuti lomba penjelajahan dan dapur umum serta kebersihan tenda, baik putra
maupun putri. Gawaaat.., aku harus cepat mengambil keputusan sekaligus bagi
tugas, yakni 6 orang ikut penjelajahan dan 3 sisanya ikut lomba dapur umum sekaligus
menjaga tenda agar tetap rapi dan bersih. Yang kami bingungkan saat itu, kami
tidak tahu harus berbuat apa saat lomba nanti, karena memang belum pernah
diajarkan. Belum lagi perlengkapan yang kami bawa juga seadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;The
show must go on&lt;/i&gt;, sebelum &lt;i&gt;start &lt;/i&gt;penjelajahan, aku katakan pada anggota reguku
untuk selalu memperhatikan regu (sekolah) lain dalam melakukan prosesi apapun,
baik itu cara hormat memakai tongkat, mengerjakan tugas di lapangan, maupun
memecahkan tanda jejak. Entah dapat ‘kekuatan’ darimana, aku tak pernah kendor
memberi semangat pada reguku agar tidak minder pada regu lain yang seragam dan
perbekalannya lengkap, teknik kepramukaannya mumpuni dan selalu didampingi
pembinanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, semua rintangan dapat kami atasi, pertanyaan dan
tanda jejak kami jawab dan lewati dengan lancar, meski tidak sempurna. Tidak ada terlihat wajah kecapekan dari kami ber-6. Begitu
tengah hari memasuki &lt;i&gt;finish &lt;/i&gt;dan kembali ke tenda, kami masih semangat dan penuh
canda, meski yang kami temui di tenda hanyalah air putih, roti sepotong dan mie rebus
(tanpa nasi, karena memang tidak ada yang berbekal beras).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ya,
itulah pengalaman pertamaku sebagai ‘pemimpin’ yang harus membuat ‘keputusan’
cepat dalam kondisi darurat. Itulah kali pertama aku tidak merasakan sakit dan
ngilu di kakiku meski terkilir saat menyeberang sungai paling depan (sebagai
pimpinan regu aku tidak mau terlihat 'sakit' di depan anak buahku). Setidaknya, kegiatan Pramuka di akhir aku menempuh bangku SD
ini sudah memberiku pelajaran berharga, yang kelak akan menjadi dasar bagi kegiatanku
berikutnya di organisasi-organisasi yang aku ikuti.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dan,adalah benar
bahwa seorang pemimpin terlahir karena tempaan di ‘lapangan’, bukan karena
latihan dan teori-teori semata !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWWxpozqWHJ-dusvncu8BNdka_8LswPzrR3RVAThDZ2ctmk8rV5uwaHIe-JMzm_C1tz9_I1cv7bXpHj4x-7qNwH9ibUSfEXubZuasUe8DsgmtKfxy6CS4z7o7qRD-3gnPpJDukAdBnmA/s72-c/Jamnas-Ke-3-Tahun-1981.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menulis Itu Tak Beda dengan Kita Ngomong, Koq !</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/10/menulis-itu-tak-beda-dengan-kita.html</link><category>Masa SMA</category><category>Umum</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Sun, 10 Oct 2010 15:04:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-3686835945502114945</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGnSQCmXi4A3-yxgM1ZcJWn_kctk_llx9xyMFK_u3ByRcyVtdf9TVXU8b2q4CzDQIVC590afHgPojfgOogHSdkpIcHWgNIK72PjONFCeAjm2T8VwQYovIBGaE-xIhAAVw6Hm8ocyDDBA/s1600/image_menulis_itu_gampang_pojok_cibubur.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="193" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGnSQCmXi4A3-yxgM1ZcJWn_kctk_llx9xyMFK_u3ByRcyVtdf9TVXU8b2q4CzDQIVC590afHgPojfgOogHSdkpIcHWgNIK72PjONFCeAjm2T8VwQYovIBGaE-xIhAAVw6Hm8ocyDDBA/s200/image_menulis_itu_gampang_pojok_cibubur.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Wuiiih…,
judulnya penuh (mengandung) kesombongan ya? Hehehe.., tidak juga sebenarnya.
Karena membuat tulisan pada dasarnya sama seperti kita berbicara lisan, harus
punya pola, struktur dan juga perbendaharaan kata yang cukup. Setelah itu,
tinggal merangkainya saja.&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&amp;nbsp; Dan seperti
bicara lisan, saat menulis pun kita harus sesuaikan siapa yang dihadapi.
Maksudnya, apakah untuk konsumsi anak-anak, remaja, ataupun umum. Setidaknya,
begitulah yang aku alami, sekaligus aku katakan setiap ditanya bagaimana cara
membuat tulisan yang enak – emangnya makanan ya – dibaca ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Its okay..&lt;/i&gt;,
ini adalah jabawan dari beberapa pertanyaan teman-teman pengunjung beberapa
&lt;a href="http://www.masprie.com/" target="_blank"&gt;blog&lt;/a&gt;-ku – ketahuan kan, kalau aku punya &lt;i&gt;blog&lt;/i&gt; lebih dari satu – yang menanyakan
bagaimana memulai menulis, menemukan ide tulisan, sampai menentukan jenis
tulisan. Agar aku tidak berulang menuliskan lagi, berikut cuplikan tulisan dari
blog yang aku kelola, yang aku buat di awal tahun 2009 silam, dengan judul:
&lt;a href="http://smantumpang.blogspot.com/2009/01/ternyata-menulis-itu-gampang.html" target="_blank"&gt;Ternyata Menulis Itu Gampang&lt;/a&gt;. Begini ceritanya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Aku jadi
ingat, sekitar awal tahun 1989 aku pernah menjadi (salah satu) pembicara/tutor
Latihan Jurnalistik Tingkat Dasar untuk adik-adik pengelola Majalah&amp;nbsp;&lt;a href="http://http/smantumpang.blogspot.com/2008/09/harusnya-kita-tidak-alergi-untuk.html"&gt;&lt;span style="color: #1f639c; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;Widya Wiyata&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;(Wita)
dan beberapa pengurus OSIS di&amp;nbsp;&lt;a href="http://prie999.multiply.com/journal/item/2/Menuntaskan_Sebuah_Obsesi_"&gt;&lt;span style="color: #1f639c; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;SMAN&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;1
Tumpang. Waktu itu aku sempat membuat diktat sebagai panduan (lengkap, mulai
menulis opini,&amp;nbsp;&lt;i&gt;features&lt;/i&gt;, berita/&lt;i&gt;news&lt;/i&gt;, sampai teknik
wawancara &amp;amp; tata letak/&lt;i&gt;lay out&lt;/i&gt;). Tujuannya, supaya adik-adik SMAN
Tumpang ndak "ketinggalan" kalau ngomong masalah jurnalistik dan
permasalahan&amp;nbsp;&lt;a href="http://sugeng-pribadi.blogspot.com/2007/12/aku-ingin-wita-lebih-berkembang.html"&gt;&lt;span style="color: #1f639c; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;majalah sekolah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;dengan
SMA di kota atau daerah lain. Tapi, ya itu tadi, ternyata ilmu itu hanya bisa
diterapkan dalam satu tahun kepengurusan. Ketika ganti pengelola, sama sekali
tidak berjalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Agar tidak bertele-tele, ini ada&amp;nbsp;&lt;b&gt;TIPS&lt;/b&gt;&amp;nbsp;ala kadarnya yang paling
gampang diterapkan untuk memulai belajar menulis, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Tahap Pertama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(untuk latihan) :
Apa yang ada di pikiran kita, coba dieksploitasi semua (dan diimplementasikan)
dalam bentuk tulisan. Biarkan mengalir begitu saja, gak usah dipikirkan, Ini
baik apa enggak ya? Yang penting ditulis. Persis sama kalau kita ngomong atau&amp;nbsp;&lt;i&gt;nggedabyah&lt;/i&gt;,
apa nulis surat cinta gitu... (tapi, yang ini melalui tuts&amp;nbsp;&lt;i&gt;keyboard&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bukan
melalui mulut).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Tahap Kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;: Coba dibaca lagi
apa yang sudah kita tulis tadi, ada yang janggal enggak? Ada yang bertele-tele
enggak? Ada kata-kata yang terlalu baku enggak? Ada yang kurang lucu enggak?
(untuk yang nulis lucu-lucuan), Atau, ada yang kurang jelas enggak? Nah..,
ditahap ini barulah kita koreksi, mana yang perlu dirubah, mana yang perlu
ditambah atau dibuang. Persis kayak ngoreksi karangan. Jaman masih memakai
mesin ketik dulu, untuk tulisan pertama mesti harus menggunakan 2 spasi, agar
ada ruang kosong buat nyoret dan koreksi. Kalau sekarang sih ndak perlu lagi,
di komputer tinggal di-&lt;i&gt;delete&lt;/i&gt;, beresss !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Tahap Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;: Baca lagi! Udah
pantas belum? Tapi, menurutku, pantas gak pantas memang harus di&amp;nbsp;&lt;i&gt;publish&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dulu.
Biarkan teman-teman yang menilai. Makin sering kirim tulisan, makin terlatih
otak kita memilih kata-kata yang enak dan pas (termasuk juga penempatan tanda
baca lho!).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Tahap Keempat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;: Biasakan membaca
tulisan di majalah, koran atau tulisan teman sendiri. Perhatikan karakter
tulisan tersebut (jelas beda lho, mana tulisan berita/&lt;a href="http://detik.com/"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #1f639c; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;news&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;features&lt;/i&gt;, fiksi, ilmiah,
dll). Dari situ kita bisa "belajar" , oooh ternyata gitu to nulis&amp;nbsp;&lt;i&gt;features&lt;/i&gt;&amp;nbsp;itu?
Oooh kalau tulisan&amp;nbsp;&lt;i&gt;news&amp;nbsp;&lt;/i&gt;ternyata harus hemat kata (nggak
bertele-tele). Dan seterusnya, dan seterusnya. Lantas ? ya coba aja nulis
sendiri dulu....&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Tahap kelima&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Segera menulis
sendiri. Jangan keenakan baca tulisan ini (emang nggak capek sambil kerja disuruh
ngetik tulisan ginian? Emang&amp;nbsp;&lt;a href="http://sugeng-pribadi.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color: #1f639c; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;gue&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; cowok
apaan? hehehe...).&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ciao&lt;/i&gt;&amp;nbsp;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;


&lt;div class="MsoNoSpacing"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;***&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini pernah dimuat di milist
Yahoogroups “ &lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;smantumpang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;”,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman';"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif;"&gt;dan blog &lt;a href="http://smantumpang.blogspot.com/"&gt;smantumpang.blogspot.com&lt;/a&gt; (Januari 2009) dengan
perubahan seperlunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGnSQCmXi4A3-yxgM1ZcJWn_kctk_llx9xyMFK_u3ByRcyVtdf9TVXU8b2q4CzDQIVC590afHgPojfgOogHSdkpIcHWgNIK72PjONFCeAjm2T8VwQYovIBGaE-xIhAAVw6Hm8ocyDDBA/s72-c/image_menulis_itu_gampang_pojok_cibubur.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Melacak Asal Usul Nama Mas Prie</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2012/11/melacak-asal-usul-nama-mas-prie.html</link><category>Masa SMA</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Fri, 10 Sep 2010 14:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-8594132824377034411</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtgoZbsGbgW9qfu5HRJrmc8GLCIXx7sxy-kjPFsrn_jA2v7kBcxvcJsDbpe6F5jlsjAjewa0jfDobfi8QK3hzT8xGmw3UjlOcsvcdJM80PwRubhaS984odRLbr_14Dg-SuYjOvigdhZA/s1600/Image_Widya_Wiyata_pojok_cibubur.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="138" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtgoZbsGbgW9qfu5HRJrmc8GLCIXx7sxy-kjPFsrn_jA2v7kBcxvcJsDbpe6F5jlsjAjewa0jfDobfi8QK3hzT8xGmw3UjlOcsvcdJM80PwRubhaS984odRLbr_14Dg-SuYjOvigdhZA/s200/Image_Widya_Wiyata_pojok_cibubur.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Meski
&lt;i&gt;William Shakespeare&lt;/i&gt; mengatakan "&lt;i&gt;What's In a&amp;nbsp;&lt;b&gt;Name&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;", tetapi
sebuah nama tetap saja punya sejarah tersendiri, entah bagi yang memberi maupun
yang punya nama itu sendiri. Bahkan, nama pemberian orang tua itu adalah (mengandung)
doa, begitu kata &lt;i&gt;Ustadz Abdurrahman&lt;/i&gt; – ini nama Ustadz yang menjadi Ketua DKM di
Masjid Adz Dzakirin, Perumahan Grand Harmony, tempat tinggalku – setiap aku
mengikuti selamatan aqiqah di kompleks perumahan. Seperti namaku misalnya,
&lt;a href="http://www.sugengpribadi.com/" target="_blank"&gt;Sugeng Pribadi&lt;/a&gt;. &lt;b&gt;Sugeng&lt;/b&gt; artinya &lt;i&gt;selamat&lt;/i&gt;, &lt;b&gt;Pribadi &lt;/b&gt;artinya &lt;i&gt;diri-sendiri&lt;/i&gt;. Jadi
orang tuaku memberi nama yang mengandung doa: agar diriku tetap selamat dunia
akhirat, sampai akhir jaman, amiiiin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Nah,
hubungannya dengan nama &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.masprie.com/" target="_blank"&gt;Mas Prie&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; apa? Kan wajar saja nama &lt;i&gt;Sugeng Pribadi &lt;/i&gt;dipanggil
dengan &lt;i&gt;Mas Prie&lt;/i&gt;, nggak ada yang aneh tuh ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ya benar,
wajar-wajar saja. Cuma, sebenarnya – dulunya, awalnya, asal mulanya, &lt;i&gt;haiyaaaah…&lt;/i&gt;
– nggak ada yang manggil aku dengan sebutan itu. Nama Mas Prie adalah nama “samaran”
saat aku masih mengelola majalah sekolah di jaman SMA. Nama majalahnya &lt;i&gt;Widya
Wiyata&lt;/i&gt;. Karena nggak nyaman juga menulis nama asli di setiap tulisan yang aku
buat, setidaknya niru-niru di majalah terkenal yang di setiap akhir sebuah
artikel dimunculkan nama inisial penulisnya atau samaran, semisal: &lt;i&gt;Ars,
Satmowie, Boim, Den Sastro, Dwie Koen,&lt;/i&gt; dan seterusnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Uniknya,
karena aku hidup sebagai ABG tahun 80-an, cara penulisan nama – atau apapun
juga – juga memakai &lt;i&gt;style&lt;/i&gt; yang lagi popular jaman itu. Entah darimana asal
mulanya, yang pasti hampir semua remaja (khususnya di Malang) mempunyai &lt;i&gt;style&lt;/i&gt;
yang sama. Misalnya mau menulis kelompok atau komunitasnya yang bernama “selebor”
pasti ditulisnya &lt;i&gt;Zhelebhour&lt;/i&gt;, menulis kota “Tumpang” menjadi &lt;i&gt;Thoempank&lt;/i&gt;, bahkan
nama “Sugeng” pun biasa ditulis &lt;i&gt;zhoegenk&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Jadi, saat
memilih nama samaran untuk jadi penulis di majalah sekolah, aku memakai nama &lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;must
prie&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;. Yaaaa.., biar agak kelihatan kebarat-baratan dan bau-bau bahasa Inggris
gitu. Bandingkan dengan ABG di jaman sekarang, yang untuk menulis namanya saja –
di &lt;i&gt;facebook, blackberry, sms&lt;/i&gt; ataupun pembicaraan sehari-hari – pakai &lt;i&gt;style&lt;/i&gt; kemanja-manjaan
seperti bayi cadel, &lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;ciyus&lt;/span&gt; nih…, nggak percaya? Atau, contoh lain, di awal tahun
2000-an, para ABG menulis apa saja dengan menggunakan huruf dan abjad acak,
besar (capital) kadang juga kecil. &lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;BaNyAk jUgA SiH cOntOhnYa&lt;/span&gt;, tapi nggak perlulah
aku tulis disini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kembali ke topik
bahasan. Awalnya sukses sih, hanya teman-teman pengelola majalah sekolah dan
pengurus OSIS saja yang tau kalau &lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;must prie&lt;/span&gt; itu aku. Memang nggak bertahan
lama. Habis berapa besar sih luas &lt;a href="http://smantumpang.blogspot.com/" target="_blank"&gt;SMA Negeri 1 Tumpang&lt;/a&gt; – ini nama sekolahku –
yang cuma diisi sekitar 900 siswa, hanya untuk mencari sosok misterius bernama &lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;must
prie&lt;/span&gt;? Hehehe….. &amp;nbsp;Cuma, selain senang karena
akhirnya aku dikenal (dan dipanggil) sebagai &lt;i&gt;Mas Prie&lt;/i&gt;, sebagian lagi masih ada
yang memanggil dengan bacaan yang “sempurna” yaitu: &lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;mus priye&lt;/span&gt; (sesuai tulisannya:
&lt;i&gt;must prie&lt;/i&gt;), celaka memang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dalam
perjalanan waktu, nama &lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;PRIE&lt;/span&gt; – tidak lagi memakai kata MAS didepannya – yang menjadi
identitas di setiap tulisanku, entah di media cetak, di koran dan majalah kampus,
di tabloid tempat aku pernah menjadi reporter, di blog, ataupun identitas
kepenulisan lainnya. Bahkan tanda tanganku pun, kalau dilihat dengan seksama
akan terbaca PRIE. Kalau &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; sampai sekarang masih ada yang memanggil &lt;a href="http://www.facebook.com/sugengpribadi.smaneta" target="_blank"&gt;Mas Prie&lt;/a&gt;,
yang nggak apa-apa, lha memang itu namaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Cuma, kalau
di tempat aku bekerja, nama itu nggak dipakai, karena memang di dunia kerja
lebih formal dengan memakai nama asli. Satu pengalaman menggelikan, pernah ada
teman sekolah, yang telepon ke kantorku dan ‘maksa’ ingin bicara dengan &lt;i&gt;Pak
Prie&lt;/i&gt; yang kerja di &lt;a href="http://www.mustika-ratu.com/" target="_blank"&gt;Mustika Ratu&lt;/a&gt;, ya semua – baik &amp;nbsp;&lt;/span&gt;operator sampai teman-teman kerja – nggak ada
yang tau. Untungnya ada teman kantor yang inisiatif tanya, memangnya Pak Prie
itu asalnya dari mana ? Ketika dijawab dari Malang, terkuaklah siapa gerangan
yang dicari penelepon itu, siapa lagi kalau bukan aku, yaitu &lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;Must Prie&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, eeeh…
&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;Sugeng Pribadi&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtgoZbsGbgW9qfu5HRJrmc8GLCIXx7sxy-kjPFsrn_jA2v7kBcxvcJsDbpe6F5jlsjAjewa0jfDobfi8QK3hzT8xGmw3UjlOcsvcdJM80PwRubhaS984odRLbr_14Dg-SuYjOvigdhZA/s72-c/Image_Widya_Wiyata_pojok_cibubur.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ketika Tulisan Pertamaku Muncul di Majalah Terbitan Jakarta</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/08/ketika-tulisan-pertamaku-muncul-di.html</link><category>Masa SD</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Tue, 10 Aug 2010 22:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-3065829017855359698</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5lQZfPStCiNmavs5hWb8kHQk41kMqm-OI0sGmZUCqFTj1h7_jK1biiv7NwcMKc8Kc97vjr254kW5BvCSOJGWTj8Zk_q-JOc-h9BbK5DM537PkjmKoLJcI6Dkcn5K82h-K4c8p75PWGQ/s1600/blog_pojok_cibubur_mas_prie_majalah_kawanku.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="180" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5lQZfPStCiNmavs5hWb8kHQk41kMqm-OI0sGmZUCqFTj1h7_jK1biiv7NwcMKc8Kc97vjr254kW5BvCSOJGWTj8Zk_q-JOc-h9BbK5DM537PkjmKoLJcI6Dkcn5K82h-K4c8p75PWGQ/s200/blog_pojok_cibubur_mas_prie_majalah_kawanku.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Hobi membaca
berbanding lurus dengan kemampuan menulis, barangkali kalimat tersebut bisa
mewakili kesukaanku akan dunia tulis menulis. Setidaknya, karena terbiasa
membaca apa saja – koran, majalah, tabloid, buku cerita ataupun brosur pameran –
aku jadi bisa memilih kata dan membuat kalimat lebih terstruktur, terutama
kalau ada pelajaran mengarang.&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Lucunya,
ketika ada kesempatan mengirimkan tulisan-tulisanku ke media cetak (majalah)
justeru yang pertama aku tulis bukannya karangan tentang suasana desa ataupun
cerita keseharian, tetapi malah ‘pengalaman lucu’ di rumah. Adalah majalah
&lt;b&gt;&lt;a href="http://kawankumagz.com/" target="_blank"&gt;Kawanku&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; – terbitan Jakarta dan merupakan majalah anak-anak skala nasional –
yang pertama kali menginspirasiku untuk mengirimkan tulisan. Entah mengapa, setiap
majalah Kawanku terbit di hari Selasa, rubrik pertama yang aku baca biasanya
adalah tulisan-tulisan karya pembaca, baik berupa cerita ataupun pengalaman
keseharian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Nah, karena
di rumah – yang memang keluarga besar – termasuk keluarga humoris, yang selalu penuh
canda dalam keseharian, maka suatu saat aku ingin menuliskannya dalam sebuah cerita
lucu, yang (akhirnya) aku kirim ke majalah anak-anak Kawanku. Ceritanya sangat
sederhana, yaitu kebiasaan kami, aku dan adik-adikku, setiap disuruh Ibu untuk
mengambil sesuatu pasti selalu menjawab, “&lt;i&gt;Dimana, Bu?&lt;/i&gt;”&amp;nbsp; Karena memang suka becanda, Ibu kadang-kadang
menjawab dengan kalimat, “&lt;i&gt;Di rumah Mbak Lastri sana!&lt;/i&gt;” (ini nama tetangga
belakang rumah). Meski jawaban Ibu cuma becanda, kadang kami tanpa pikir
panjang langsung lari ke rumah Mbak Lastri. Dan tentu saja kami kecele,
&lt;i&gt;hehehe....&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Cerita
sederhana itulah yang dalam waktu satu bulan setengah kemudian – sejak aku
kirim via kantor pos – dimuat di majalah Kawanku, saat aku masih duduk di
bangku kelas VI. Tulisan itu memang tidak dikirim asal-asalan, tetapi aku ketik
rapi (memakai mesin tik yang dibawa pulang Bapak dari kantor desa tiap
harinya), dan beberapa kali aku rapikan kata-katanya, sehingga setidaknya 4
kali ganti kertas HVS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kalau
ditanya tentang perasaan saat itu, sungguh sangatlah senang, karena aku merasa tulisan
yang dibuat anak SD dari kota kecamatan di wilayah Kabupaten Malang bisa dimuat
di majalah anak-anak terbitan ibukota Jakarta. Rasanya tidak percaya, bahwa aku
bisa ‘menembus’ media cetak skala &lt;a href="http://www.jakarta.go.id/" target="_blank"&gt;nasional&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dan tidak
berselang lama, kira-kira 5 hari sejak dimuat, sebuah wessel senilai Rp. 7,500,-
diantar pak pos ke rumah. Ya, honor pertama sebagai penulis sekaligus
pengalaman pertama mendapatkan uang dari hasil keringat (kemampuan?) sendiri.
Memang tidaklah besar – kalau menurutku saat itu ya lumayan besar, apalagi
sebagai anak yang baru kelas V SD – dibandingkan dengan harga sepatu basket
yang sudah mencapai harga Rp. 20,000,- saat itu. Bahkan, saat mengambil di
kantor pos, petugas pos bercanda sambil mengatakan lumayanlah uang segitu, bisa
dibelikan petasan dan kembang api untuk persiapan di bulan puasa (aku jadi
ingat, bahwa saat itu memang menjelang bulan puasa ramadhan, hehehe...).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Begitulah,
apa-apa yang ‘pertama’ selalu berkesan, dan sering menjadi tonggak perjalanan
seseorang untuk masa depannya. Dan tulisan pertamaku yang dimuat di majalah
Kawanku, nampaknya akan menjadi tonggak kesukaanku akan dunia &lt;a href="http://www.sugengpribadi.com/" target="_blank"&gt;tulis-menulis&lt;/a&gt;,
meski tidak (benar-benar) menjadi seorang penulis!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg5lQZfPStCiNmavs5hWb8kHQk41kMqm-OI0sGmZUCqFTj1h7_jK1biiv7NwcMKc8Kc97vjr254kW5BvCSOJGWTj8Zk_q-JOc-h9BbK5DM537PkjmKoLJcI6Dkcn5K82h-K4c8p75PWGQ/s72-c/blog_pojok_cibubur_mas_prie_majalah_kawanku.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pak Margo, Guru Paling Sabar Sedunia. Tapi…</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/07/pak-margo-guru-paling-sabar-sedunia-tapi.html</link><category>Masa SMP</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Sat, 10 Jul 2010 13:23:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-7843793182399576487</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2QYMn4hHkSNheuhhlFod8RwTs7IEDEtxTWIFDa_58ijhgVVhQVzDw1T521Bf9KtVSKN9Zjt9EgLMBGPK3ZhNmDZXkAxFLOiQXklP2fk_6n1AcyDFVXEVuDHOLzl9_caykLlSvm969qw/s1600/Image_buku_bahasa_jawa_pojok_cibubur.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2QYMn4hHkSNheuhhlFod8RwTs7IEDEtxTWIFDa_58ijhgVVhQVzDw1T521Bf9KtVSKN9Zjt9EgLMBGPK3ZhNmDZXkAxFLOiQXklP2fk_6n1AcyDFVXEVuDHOLzl9_caykLlSvm969qw/s200/Image_buku_bahasa_jawa_pojok_cibubur.jpg" width="176" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Saat
baru duduk di bangku SMP, satu kebiasaan yang hampir dilakukan seluruh siswa
baru adalah saling mencari informasi ‘semua hal’ tentang guru yang mengajar
setiap mata pelajaran. Ya cara ngajarnya, kebiasaan di kelas, killer apa
enggak, suka ngasih PR apa enggak, sampai nyari tau apakah guru tersebut suka
nyuruh murid maju ke depan apa enggak. Namanya juga baru masuk SMP, yang jauh
beda saat masih di SD, yang gurunya cuma itu-itu juga – guru kelas yang mengajar
semua mata pelajaran – kecuali guru agama yang berbeda.&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dari
investigasi antar kelas tersebut, muncul satu nama yang menjadi guru favorit –
bukan karena keren, cara ngajarnya bagus atau apa – yaitu Pak &lt;i&gt;Margo Utomo&lt;/i&gt;, yang
terkenal karena kesabarannya yang luar biasa. Memang sih, beliau kalau
menerangkan di depan kelas, suaranya tidaklah terlalu keras dan tetap
menerangkan (&lt;i&gt;cuek?&lt;/i&gt;) walau muridnya pada bertingkah aneh-aneh. Mau ngobrol kek,
mau main kapal-kapalan kek, atau malas-malasan senderan di kursi juga dibiarkan.
Paling-paling beliau cuma ngomong, &lt;i&gt;“Ayo cah.., cubo nyimak neng papan tulis!”&lt;/i&gt;
(= Ayo anak-anak.., coba perhatikan ke papan tulis!).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kesabaran
Pak &lt;i&gt;Margo Utomo&lt;/i&gt; yang sudah terkenal seantero &lt;a href="http://www.smpn1tumpang.sch.id/" target="_blank"&gt;SMP Negeri 1 Tumpang&lt;/a&gt; ini, kadang
memang ada sisi positifnya, yaitu mata pelajaran Bahasa Jawa – yang diajarkan
beliau – mudah dicerna dan bukan menjadi momok menakutkan. Dianggap menakutkan,
karena harus menghafal (dan bisa menulis) aksara Jawa, yang sudah sangat jarang
terlihat. Cuma ada sisi negatifnya juga, yaitu anak murid jadi kurang &lt;i&gt;ngajeni&lt;/i&gt;
(=menghargai) Pak Margo, sehingga muncul perbuatan &lt;i&gt;ngelamak&lt;/i&gt; (=kurang ajar) dari
murid terhadap gurunya. Misalnya saja, saat Pak Margo pulang mengendarai sepeda
pancal-nya di jalan raya, murid-muridnya berlomba-lomba untuk &lt;i&gt;nyorakin&lt;/i&gt;,
sehingga kadang Pak Margo jadi kurang konsentrasi dan tertatih-taih dalam
mengendarai sepedanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tetapi,
sesabar-sabarnya Pak Margo, pernah juga meluapkan kemarahan yang luar biasa di
kelas. Ini terjadi saat aku duduk di kelas II. Saat pelajaran Bahasa Daerah,
Pak Margo menanyakan kepada kami apakah sudah bisa dimengerti atau ada yang mau
bertanya. Karena semua diam (tidak menghiraukan ?), Pak Margo ganti bertanya
kepada kami tentang materi yang baru dijelaskan. Nah, ketika giliran &lt;i&gt;Herman&lt;/i&gt; – mudah-mudahan
aku tidak salah sebut nama – ditanya berulang-ulang tidak menjawab, malah
menelungkupkan wajahnya di meja. Merasa tidak dihiraukan, Pak Margo mendekati
meja Herman, yang persis di samping mejaku. Bertanya lagi, tetapi tidak dijawab
oleh &lt;i&gt;Herman&lt;/i&gt; (yang belakangan ketahuan kalau dia malah pulas tertidur!). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dengan
menahan amarahnya yang amat sangat – terlihat dari wajahnya memerah dan giginya
bergemerutuk – Pak Margo dengan kekuatan penuh menggampar kepala Herman.
Seluruh kelas langsung senyap, ketakutan. Tidak biasanya Pak Margo berlaku
seperti itu. Herman yang terkaget (dan terbangun dari tidurnya) langsung
menangis, entah takut atau kesakitan. Begitu sampai depan kelas, Pak Margo
dengan suara bergetar meminta maaf atas perbuatannya, sambil mengatakan bahwa
beliau tidak akan berbuat seperti itu kalau murid-muridnya tidak keterlaluan
memperlakukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Luar
biasa! Mestinya ini pelajaran yang sangat berharga bagi siapapun – termasuk
kami yang saat itu ada di dalam kelas – bahwa sifat sabar bukan berarti tidak
bisa marah dan boleh diperlakukan semaunya. Pak Margo telah memberikan contoh
tauladan dalam bersikap sebagai seorang guru: menerangkan, menanyakan,
memperingatkan, bertindak, dan meminta maaf. Ya, sebuah sikap yang harus
ditunjukkan seorang guru, ketika murid-muridnya sudah (mencoba untuk) tidak
menghargai gurunya sendiri!&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2QYMn4hHkSNheuhhlFod8RwTs7IEDEtxTWIFDa_58ijhgVVhQVzDw1T521Bf9KtVSKN9Zjt9EgLMBGPK3ZhNmDZXkAxFLOiQXklP2fk_6n1AcyDFVXEVuDHOLzl9_caykLlSvm969qw/s72-c/Image_buku_bahasa_jawa_pojok_cibubur.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Gara-gara AMBON, Gagal Jadi Pelajar Teladan</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/06/gara-gara-ambon-gagal-jadi-pelajar.html</link><category>Masa SD</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Thu, 10 Jun 2010 11:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-5488767409848221205</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7KR0IZ_Un1X35ACoiGxZZggTwnNebXItjkIIl17hJn47DqYxqRpSgaIjjnOgNqK2E9F9MaS8NpnCMYIH5UK6F13NnroX4ytUiqgBWn0NzxssxnE6ePj29ESQUel2OwC8BO8zTa9CVvQ/s1600/Image_PETA_+AMBON_pojok_cibubur.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="141" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7KR0IZ_Un1X35ACoiGxZZggTwnNebXItjkIIl17hJn47DqYxqRpSgaIjjnOgNqK2E9F9MaS8NpnCMYIH5UK6F13NnroX4ytUiqgBWn0NzxssxnE6ePj29ESQUel2OwC8BO8zTa9CVvQ/s200/Image_PETA_+AMBON_pojok_cibubur.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Entah karena memang aku pintar, atau alasan lain –bisa saja kan ?– saat duduk di bangku SD kelas V, aku ditunjuk mewakili SDN Pakisjajar I untuk mengikuti seleksi ‘Pelajar Teladan’ tingkat Kecamatan Pakis. Selama satu minggu, aku diharuskan belajar semua materi pelajaran yang pernah diajarkan sampai kelas V, bahkan Pak Irfan,  kepala sekolah saat itu, memberikan buku-buku pelajaran kelas VI untuk tambahan bekal maju ke pemilihan pelajar teladan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Lucunya, aku sendiri saat itu merasa biasa-biasa saja, tidak dalam kondisi tertekan, stres, deg-degan, atau apapun namanya. Namanya juga anak-anak di kampung, yang ada cuma senang saja karena bisa mewakili sekolah. Padahal, kepala sekolah dan guru-guru nampak ‘berjuang keras’ mengatur strategi bagaimana caranya supaya aku bisa lolos tingkat kecamatan, supaya bisa maju ke tingkat kabupaten. Apalagi SD-ku yang berada di pusat kota kecamatan menjadi tuan rumah bagi puluhan SD lainnya di &lt;a href="http://pakis.malangkab.go.id/" target="_blank"&gt;Kecamatan Pakis&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tibalah saat seleksi yang ditunggu-tunggu. Suasana di ruang kelas sungguh mencekam. Karena ruang kelas yang biasanya dihuni sampai 50 siswa, kali ini hanya berisi 22 siswa ‘pilihan’ saja, sedang di kelas sebelah juga diisi sekitar 24 siswa saja. Total ada 46 siswa yang mengikuti seleksi, dibagi dalam 2 kelas. Pengawaspun sungguh istimewa, satu ruangan bisa ada 4 sampai 6 pengawas. Entah berapa jam yang diperlukan untuk menyelesaikan soal-soal yang ada, seingatku ada 2 kali pergantian lembar soal, yang total keseluruhan sekitar 100 soal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tengah hari, sekitar jam 11 siang, seleksi tulis dinyatakan selesai. Semua soal dan jawaban langsung dibawa ke Kantor Penilik Sekolah (Kantor Dikbud Kecamatan) yang ada di seberang jalan sekolahku. Aku sudah masuk dan bermain lagi dengan teman-teman sekelasku yang nampaknya hari itu tidak ada pelajaran, dan hanya diisi dengan berdoa bersama agar aku bisa memenangi seleksi ini. Luar biasa!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Sekitar jam 12 siang, di ruang guru – yang bersebelahan dengan ruang kelasku – tiba-tiba bersuasana gaduh, kepala sekolah dan beberapa guru yang menjadi panitia seleksi yang baru kembali dari penilaian di Kantor Dikbud nampak berdiskusi dengan suasana tegang, entah apa yang sedang dibicarakan. Setelah itu, kepala sekolah kembali ke Kantor Dikbud lagi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dan 15 menit berselang, kepala sekolah kembali lagi ke sekolah dengan wajah sedikit muram dan kurang semangat. Kami, murid-murid yang masih ada di depan ruang guru langsung mendekat ke pintu. Pak Irfan – kepala sekolah – memanggilku masuk ruang guru, yang didalam sudah lengkap para guru untuk mendengarkan hasil penilaian. Sedang teman-teman sekelasku hanya bisa berkerumun, melihat (lebih tepatnya: nguping) dari pintu yang sedikit terbuka.
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Di depan para guru – dan juga aku – &lt;i&gt;Pak Irfan&lt;/i&gt; menyampaikan seluruh proses seleksi sampai penilaian, yang nampaknya menjadi perdebatan sengit antar dewan juri penilai (dan dengan para kepala sekolah yang berkepentingan). Pokok permasalahannya, nilai yang aku dapat (wakil SDN Pakisjajar I) dengan salah seorang siswi dari SD Angkasa (Desa Saptorenggo) adalah sama. Sehingga ada pro dan kontra, antara diadu ulang: head to head, atau dinilai ulang. Dan kesepakatan mereka, opsi terakhirlah yang diambil, karena kalau diadu ulang tidak memungkinkan (siswi dari SD Angkasa sudah pulang).&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Disinilah letak ‘konflik’nya. Disalah satu pertanyaan mata pelajaran IPS tertulis: &lt;i&gt;“Pahlawan Pattimura berasal dari pulau …………”.&lt;/i&gt; Di lembar jawabanku tertulis &lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;Ambon&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, sedang wakil dari SD Angkasa menulis &lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;Maluku&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Para tim penilai bersikukuh bahwa Ambon adalah nama kota, sedang Maluku nama pulau/kepulauan, jadi yang benar adalah wakil SD Angkasa, yang sekaligus saat itu juga siswi tersebut dinobatkan sebagai Pelajar Teladan Tingkat Kecamatan Pakis, dan berhak maju ke tingkat Kabupaten Malang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ya, kesempatan untuk menjadi Pelajar Teladan tingkat SD – yang bisa dibanggakan sekolah, para guru, orang tua dan juga teman-temanku – akhirnya sirna. Meski saat itu tidak ada rasa menyesal sedikitpun dihatiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7KR0IZ_Un1X35ACoiGxZZggTwnNebXItjkIIl17hJn47DqYxqRpSgaIjjnOgNqK2E9F9MaS8NpnCMYIH5UK6F13NnroX4ytUiqgBWn0NzxssxnE6ePj29ESQUel2OwC8BO8zTa9CVvQ/s72-c/Image_PETA_+AMBON_pojok_cibubur.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lho, Pemain Level Divisi Utama Koq Nggak Tahu Istilah Sepakbola ?</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/05/lho-pemain-level-divisi-utama-koq-nggak.html</link><category>Masa SMA</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Mon, 10 May 2010 14:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-8983750941898812889</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHUSDKMzHxIIyJmhb1H8Psl6N7LoGpyYbf5LxAfcT0ITFnumSo_2srIqLq_bg927Ci1GCmLhbO1aE558woeTILwCzGGLuQbSqg592ak-kRvevMTVaNzl5E_bY_NlNokY4WFXlrA8d63w/s1600/image_heading_in_soccer_pojok_cibubur.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHUSDKMzHxIIyJmhb1H8Psl6N7LoGpyYbf5LxAfcT0ITFnumSo_2srIqLq_bg927Ci1GCmLhbO1aE558woeTILwCzGGLuQbSqg592ak-kRvevMTVaNzl5E_bY_NlNokY4WFXlrA8d63w/s200/image_heading_in_soccer_pojok_cibubur.jpg" width="136" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kalau ditanya jam pelajaran
apa yang paling difavoritkan teman-teman saat di SMA dulu, jawabannya pastilah
Olahraga dan Kesehatan (disingkat Orkes), meski sebenarnya masih kalah favorit
dengan jam pelajaran ‘kosong’ (biasanya gurunya sakit atau ada acara dinas mewakili
sekolah, jadi tidak ada pelajaran, hehehe…). Tapi nggak semua sih senang
olahraga, terutama bagi mereka yang masuk kategori kutu-buku, mereka ini maunya
pelajaran diisi dengan teori dan catatan melulu.&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Nah, bagi yang senang
olahraga – tepatnya mencari kebebasan dari catatan dan teori-teori di dalam
kelas – olahraga berarti bisa menghirup udara segar dan balik ke kelas agak
terlambat. &amp;nbsp;Apalagi sekolah &lt;a href="http://smantumpang.blogspot.com/"&gt;SMA&lt;/a&gt;-ku dulu
memang masuk kategori terisolir, karena terletak di tengah perkebunan tebu,
yang lumayan jauh dari jalan raya utama, sehingga kalau pas jam olahraga (terutama
sepakbola) bisa dimanfaatkan untuk sedikit keluyuran cari buah gratisan di
kebun atau rumah penduduk sekitar sekolah. Karena jarak gedung sekolah dengan
stadion tempat olahraga jaraknya sekitar 200 meter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tapi kali ini yang aku
ceritakan bukan masalah kebiasaan cari buah – durian, rambutan ataupun nangka –
di kebun tetangga sekitar sekolah, melainkan yang berhubungan dengan sepakbola,
yang katanya sudah menjadi olahraga rakyat di negeri ini (dan ini masih perlu
diperdebatkan, karena ternyata rakyat lebih senang nonton sepakbola daripada
memainkannya, sumpah !). Karena dari olahraga sepakbola ini, beberapa kelas malah
bisa mendapatkan tambahan uang kas kelas (baca: &lt;b&gt;&lt;a href="http://smantumpang.blogspot.com/2008/02/nostalgila-sepakbola-jaman-sma.html"&gt;disini!&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;) ya tentunya uang itu datang
dari ‘taruhan’ tanding antar kelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Meski
kelasku belum pernah ‘berani’ bertanding melawan kelas lain, apalagi dengan
uang taruhan segala, tetapi di kelasku ada satu orang teman yang lumayan jago
dalam bermain sepakbola, terutama saat memasuki kelas III. Selain di desanya
masuk tim inti, &lt;i&gt;Muhammad Isnaeni&lt;/i&gt; – ini nama lengkapnya – nampaknya juga mulai
sering dipanggil ke tim KONI kecamatan. Jadi nggak aneh, setiap ada kesempatan
bermain sepakbola, &lt;i&gt;Isnaeni&lt;/i&gt; nampak lebih dominan dan sering terlihat &lt;i&gt;over acting&lt;/i&gt;,
karena merasa lebih jago dari teman-teman sekelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Meski aku
ketua kelas saat itu, di lapangan yang menjadi jenderal tetaplah Isnaeni.
Bahkan dalam salah satu pertandingan aku sempat beberapa kali ‘diperingatkan’
oleh Isnaeni agar tidak sembarangan duel mengambil bola-bola tanggung dengan
kepala, karena aku bisa terkena &lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;heading&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, dan itu dampaknya bisa fatal. Jujur,
kata-kata ‘&lt;i&gt;heading&lt;/i&gt;’ ini bertahun-tahun membuat aku penasaran. Karena aku tahu
yang dimaksud &lt;i&gt;Isnaeni &lt;/i&gt;tentulah &lt;i&gt;body charge&lt;/i&gt; – &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #222222;"&gt;kontak fisik dengan lawan – yang tentu tidak memungkinkan
aku lakukan karena badanku yang kurus dan kecil. Cuma, kenapa Isnaeni bilangnya
‘&lt;i&gt;heading&lt;/i&gt;’ yang artinya tentu saja menyundul bola dengan kepala?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #222222;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Dua tahun kemudian, saat
sudah mulai kuliah, aku membaca di koran lokal Jawa Timur – akhir tahun 80-an
belum ada internet – kalau Isnaeni sudah masuk tim utama &lt;a href="http://www.soccerway.com/teams/indonesia/persema-malang"&gt;Persema&lt;/a&gt; Malang, yang
berlaga di Divisi Utama (Perserikatan) PSSI. Aku bangga, karena teman main bola
saat jaman SMA ternyata bisa main di kompitisi level atas negeri ini. Dan
setiap membaca berita Persema di koran, pasti yang aku ingat adalah &lt;i&gt;Muhammad
Isnaeni&lt;/i&gt;, anak desa Glagah Dowo yang mengajari aku untuk tidak sembarangan melakukan
&lt;i&gt;heading&lt;/i&gt; (eeeh &lt;i&gt;body charge&lt;/i&gt; ya?) saat bermain bola.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #222222;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Yang pasti, karena
setelah lulus SMA, Isnaeni masuk klub RSSA yang berafiliasi di Divisi Utama
Persema Malang – dan kemudian masuk tim inti Persema Malang – aku yakin disana &lt;i&gt;Muhammad
Isnaeni&lt;/i&gt; akan diajari istilah-istilah sepakbola yang benar, seperti: &lt;i&gt;sliding
tackle, shooting, heading &lt;/i&gt;ataupun &lt;i&gt;body charge&lt;/i&gt;. Hmmm.., Isnaeni sekarang dimana
ya ?&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #222222;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #222222;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #222222;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNoSpacing" style="text-align: right;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia, 'Times New Roman', serif; font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: #333333;"&gt;Image source: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://drdavidgeier.com/"&gt;http://drdavidgeier.com&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ascii-theme-font: major-latin; mso-bidi-font-family: Arial; mso-hansi-theme-font: major-latin;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHUSDKMzHxIIyJmhb1H8Psl6N7LoGpyYbf5LxAfcT0ITFnumSo_2srIqLq_bg927Ci1GCmLhbO1aE558woeTILwCzGGLuQbSqg592ak-kRvevMTVaNzl5E_bY_NlNokY4WFXlrA8d63w/s72-c/image_heading_in_soccer_pojok_cibubur.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tentang Penulis Blog Ini</title><link>http://pojokcibubur.blogspot.com/2010/04/tentang-pak-pepen.html</link><category>Profil</category><category>Umum</category><author>noreply@blogger.com (Secangkir Teh)</author><pubDate>Sat, 10 Apr 2010 11:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5576959428011945559.post-8370922441856149391</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_YSqObs9qCuzTsNZnH-RpCVXslbYAK6MwvmJcubj_DV4ZEGyzgI0gAd-fpq2kodeNMnbFi0g7gLBZCRf6jeyHj17vq9VWu4jH6SfiuYUBQ1r8_MKCeG2L7cEf_3BHcEpHXuG_RnyAtuM/s1600/blog+-+Male_Profile_Icon.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_YSqObs9qCuzTsNZnH-RpCVXslbYAK6MwvmJcubj_DV4ZEGyzgI0gAd-fpq2kodeNMnbFi0g7gLBZCRf6jeyHj17vq9VWu4jH6SfiuYUBQ1r8_MKCeG2L7cEf_3BHcEpHXuG_RnyAtuM/s200/blog+-+Male_Profile_Icon.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Siapa pemilik dan penulis di blog ini, nampaknya nggak penting-penting banget. Dan nanti akan dijelaskan, itupun kalau sempat. Yang pasti orangnya beda dengan &lt;a href="http://cerpenkompas.wordpress.com/tag/arswendo-atmowiloto/"&gt;Arswendo Atmowiloto&lt;/a&gt; -- penulis kawakan negeri ini, yang sangat digandrungi (tulisan-tulisannya) oleh penulis -- sehingga untuk awal posting pun, menampilkan profil Arswendo, seperti dibawah ini:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Mantan Pemimpin Redaksi Tabloid Monitor ini bercita-cita jadi dokter, tapi ekonomi keluarga tak memungkinkan membiayai Sarwendo (demikian nama dari orang tuanya) masuk fakultas kedokteran. Ayahnya, pegawai balai kota Surakarta, sudah meninggal ketika Arswendo duduk di bangku sekolah dasar. Ibunya, meninggal pada 1965. Arswendo pun yatim piatu di usia 17 tahun, ketika masih duduk di bangku SMA.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: 12px;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: 12px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Bahkan ketika ia diterima di Akademi Postel Bandung yang berikatan dinas, setelah lulus SMA, anak ketiga dari enam bersaudara ini tak bisa berangkat ke Bandung karena tak punya ongkos. Kalaupun ia sempat kuliah di IKIP Negeri Solo (sekarang Universitas Negeri Sebelas Maret), itu karena: “Saya cuma ingin menyandang jaket perguruan tinggi.” Setelah tiga bulan kuliah, ia mangkir untuk seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: 12px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Arswendo (nama yang semula diciptakannya untuk tulisan-tulisannya tapi akhirnya menjadi nama resminya) memang suka berkelakar. Terkesan seenaknya hampir dalam segala hal, kadang ia pun mengikuti arus. Misalnya, rambutnya dipanjangkan dan diikat ke belakang bergaya ekor kuda, ini pun cuma ikut-kutan dengan arus, katanya. Ia pun mengaku hidupnya santai, tak pernah basa-basi, dan juga tak pernah memikirkan hari esok. Untuk soal terakhir itu, inilah contohnya. Suatu hari, di awal tahun 70-an, ia menerima honorarium dari Dharma Kandha sebanyak Rp 1.500. Di dekat kantor tampak sejumlah orang, antara lain sopir becak, berjudi. Ia bergabung, dan kontan uang itu ludes.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Wendo, demikian panggilannya, pernah kerja macam-macam; di pabrik bihun, tukang parkir sepeda di apotek, tukang pungut bola di lapangan tenis, dan macam-macam lagi. Ia mulai menulis, dalam bahasa Jawa, cerita pendek, cerita bersambung, artikel di media berbahasa Jawa di tahun 1968. Mula-mula tulisan-tulisannya selalu ditolak. Tapi begitu menggunakan nama Arswendo (bukan Sarwendo) Atmowiloto (nama ayahnya), tulisan diterbitkan. "Nama sarwendo tak membawa berkah rupanya," komentarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Ia menjadi wartawan ketika di Solo muncul harian berbahasa Jawa Dharma Kandha dan Dharma Nyata. Sambil bekerja di media tersebut, ia pun menjadi koresponden lepas majalah TEMPO. Tahun 1972 Arswendo pindah ke Jakarta, bekerja sebagai redaktur pelaksana di majalah humor Astaga. Majalah ini tak hidup lama, dan ia pun masuk menjadi wartawan di kelompok Kompas-Gramedia. Di kelompok ini, terakhir ia menjadi pemimpin redaksi majalah remaja Hai dan tabloid hiburan Monitor.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Monitor yang melesat tirasnya dalam waktu singkat dengan jurnalismelernya, tersandung kasus. Jajak pendapat tentang tokoh-tokoh yang dikagumi antara lain menempatkan Nabi Muhammad di urutan ke-12. Keruan saja tabloid ini dituding menghina Nabi Muhammad. Meledak demonstrasi hingga merusakkan kantor Monitor. Merasa terancam, Arswendo meminta perlindungan ke polisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Tuntutan massa dan suasana sosial-politik kala itu menyebabkan Wendo diajukan ke pengadilan, diganjar lima tahun penjara. Ekonomi keluarga terpuruk. Anaknya yang baru lulus sekolah dasar berjualan sampul buku, anaknya yang lebih gede berjualan kue.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Pribadinya yang santai dan senang humor, membantu Arswendo menjalani hidup di penjara. Ia misalnya, menghabiskan waktu di penjara dengan memanfaatkan keterampilannya membuat tato--yang ditato adalah sandal. Sandal yang semula seharga Rp 500, setelah ditato bisa ia lego seharga Rp 2.000. Lewat usaha itu, ia punya 700 anak buah. Tentu, ia tetap menulis. Tujuh novel lahir di LP Cipinang, antara lain: Kisah Para Ratib, Abal-Abal, Menghitung Hari (sekeluar dari penjara Menghitung Hari dibuat sinetron dan memenangi Piala Vidya). Lalu puluhan artikel, tiga naskah skenario, beberapa cerita bersambung. Sebagian di antaranya ia kirimkan ke Kompas dan Suara Pembaruan dengan menggunakan nama samaran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Wendo, yang pernah mengikuti program penulisan kreatif di Iowa, AS, 1979, dikenal juga sebagai pengamat televisi. Dipedulikan atau tidak, kritik dan komentarnya tentang pertelevisian terus mengalir. Akhirnya, Dewan Kesenian Jakarta mengundangnya untuk menjadi pembicara dalam diskusi tentang televisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Pemilik rumah produksi PT Atmochademas Persada ini telah membuat sejumlah sinetron. Sinetronnya Keluarga Cemara memperoleh Panasonic Award 2000 sebagai acara anak-anak favorit. Tiga kali ia menerima Piala Vidya untuk Pemahat Borobudur, Menghitung Hari, dan Vonis Kepagian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Kalau sekarang ia juga merangkap menjadi sutradara sinetron, “Karena iseng saja. Sutradara honornya juga bagus, ya sudah,” ujar Wendo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_YSqObs9qCuzTsNZnH-RpCVXslbYAK6MwvmJcubj_DV4ZEGyzgI0gAd-fpq2kodeNMnbFi0g7gLBZCRf6jeyHj17vq9VWu4jH6SfiuYUBQ1r8_MKCeG2L7cEf_3BHcEpHXuG_RnyAtuM/s72-c/blog+-+Male_Profile_Icon.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>