<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 11:50:17 +0000</lastBuildDate><category>Ilmu Ushul Tafsir</category><category>Risalatul Mustahadloh</category><category>Fiqih 'Ubudiyah</category><category>Dr. Yusuf Al-Qardhawi</category><title>UntukNaily2</title><description>Sekedar berbagi</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (untuknaily2)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Sekedar berbagi</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-3417413140569006412</guid><pubDate>Fri, 11 Feb 2011 13:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-11T20:41:06.665+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dr. Yusuf Al-Qardhawi</category><title>TASAWUF DIANTARA PEMUJI DAN PENGELAK</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Dr. Yusuf Al-Qardhawi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;
Pertanyaan:&lt;/b&gt;
&amp;nbsp;
    Kapan lahir dan berkembangnya ilmu tasawuf, dan apa
    pula keistimewaanya?
&amp;nbsp;
    Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana
    dalilnya bagi orang-orang yang memujinya?
&amp;nbsp;
&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;
&amp;nbsp;
Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk
diulang  kembali,  sebab  masalah  ini  amat  penting  untuk
menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara
orang-orang  yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara
menyeluruh.
&amp;nbsp;
Dengan penjelasan  yang  lebih  luas  ini,  sekiranya  dapat
membuka  tabir  yang  menyelimuti  bagian  yang  cerah  ini,
sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu,
misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.
&amp;nbsp;
Di   zaman  para  sahabat  Nabi  saw,  kaum  Muslimin  serta
pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum
Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali.
&amp;nbsp;
Tiada   satu   bagian   pun   yang   tidak   dipelajari  dan
dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan  dunia  maupun
akhirat;   masalah  pribadi  maupun  kemasyarakatan,  bahkan
masalah  yang  ada  hubungannya  dengan   penggunaan   akal,
perkembangan  jiwa  dan  jasmani,  mendapat  perhatian pula.
Timbulnya perubahan dan  adanya  kesulitan  dalam  kehidupan
baru   yang   dihadapinya   adalah   akibat   pengaruh  yang
ditimbulkan  dari  dalam   dan   luar.   Dan   juga   adanya
bangsa-bangsa   yang   berbeda  paham  dan  alirannya  dalam
masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar.
&amp;nbsp;
Dalam  hal  ini,  terdapat  orang-orang  yang   perhatiannya
dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada
yang perhatiannya dibatasi pada  bagian  lahirnya  (luarnya)
atau   hukum-hukumnya  saja,  yaitu  ahli  fiqih.  Ada  pula
orang-orang yang perhatiannya  pada  materi  dan  foya-foya,
misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.
&amp;nbsp;
Maka,  pada  saat  itu,  timbullah  orang-orang  sufi  yang
perhatiannya terbatas pada  bagian  ubudiah  saja,  terutama
pada   bagian   peningkatan   dan   penghayatan  jiwa  untuk
mendapatkan   keridhaan   Allah   dan    keselamatan    dari
kemurkaan-Nya.   Demi   tercapainya  tujuan  tersebut,  maka
diharuskan zuhud atau hidup sederhana  dan  mengurangi  hawa
nafsu.  Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada
Allah.
&amp;nbsp;
Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta  kepada
Allah  (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah,
Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah
tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:
&amp;nbsp;
    "Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut
    pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan
    kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah
    dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat
    dengan-Nya."
&amp;nbsp;
Dalam syairnya, Siti Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata:
&amp;nbsp;
    "Semua orang yang menyembah Allah karena takut
    akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku
    tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku
    cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya."
&amp;nbsp;
Kemudian  pandangan  mereka  itu  berubah,  dari  pendidikan
akhlak  dan  latihan  jiwa, berubah menjadi paham-paham baru
atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang  paling
menonjol  ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham
bersatunya hamba dengan Allah).
&amp;nbsp;
Paham ini juga yang dianut  oleh &lt;a href="http://media.isnet.org/sufi/Opini/Hallaj.html" style="color: blue;"&gt;al-Hallaj&lt;/a&gt; ,  seorang  tokoh
sufi,  sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata,
"&lt;a href="http://media.isnet.org/sufi/Opini/Hallaj.html#Haqq"&gt;Saya adalah Tuhan&lt;/a&gt;."
&amp;nbsp;
Paham Hulul berarti Allah bersemayam di  dalam  makhluk-Nya,
sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.
&amp;nbsp;
Banyak  di  kalangan  para  sufi  sendiri yang menolak paham
Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang  menyebabkan  kemarahan
para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.
&amp;nbsp;
Filsafat  ini  sangat  berbahaya, karena dapat menghilangkan
rasa tanggung jawab  dan  beranggapan  bahwa  semua  manusia
sama,  baik  yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid
maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli
(kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah.
&amp;nbsp;
Dalam  keadaan  yang  demikian,  tentu  timbul  asumsi  yang
bermacam-macam, ada yang menilai  masalah  tasawuf  tersebut
secara  amat  fanatik  dengan  memuji  mereka dan menganggap
semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula  yang  mencelanya,
menganggap  semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan
aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi,  agama  Budha,
dan lain-lainnya.
&amp;nbsp;
Secara  obyektif  bahwa  tasawuf itu dapat dikatakan sebagai
berikut:
&amp;nbsp;
    "Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang
    mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan,
    dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur'an, Sunnah
    Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai
    sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi
    hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana
    sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda',
    Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya."
&amp;nbsp;
Banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan agar mawas diri dari
godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia.
&amp;nbsp;
Tetapi  hendaknya  selalu  bergerak  menuju  ke  jalan  yang
diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon  ampunan
Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka.
&amp;nbsp;
Dalam  Al-Qur,an  dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan
mengenai  cinta  Allah  kepada  hamba-hamba-Nya  dan   cinta
hambaNya  kepada  Allah.  Sebagaimana  disebutkan dalam ayat
Al-Qur,an:
&amp;nbsp;
    "Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat
    besar kepada Allah ..." (Q.s. Al-Baqarah: 165).
&amp;nbsp;
    "... Allah mencintai mereka dan mereka pun
    mencintai-Nya ..." (Q.s. Al-Maidah: 54).
&amp;nbsp;
    "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
    berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur
    (tidak tercerai-berai) ..." (Q.s. Ash-Shaff: 4).
&amp;nbsp;
Diterangkan pula dalam Al-Qur'an dan hadis mengenai  masalah
zuhud,   tawakal,   tobat,   syukur,  sabar,  yakin,  takwa,
muraqabah (mawas diri), dan  lain-lainnya  dari  maqam-maqam
yang suci dalam agama.
&amp;nbsp;
Tidak  ada  golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam
menafsirkan,  membahas  dengan  teliti  dan  terinci,  serta
membagi  segi-segi  utamanya  maqam  ini  selain  para sufi.
Merekalah yang paling mahir  dan  mengetahui  akan  penyakit
jiwa,  sifat-sifatnya  dan kekurangan yang ada pada manusia,
mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk.
&amp;nbsp;
Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga  di  sini  saja  dalam
peranannya  di  masa  permulaan,  yaitu adanya kemauan dalam
melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat  yang
murni  semata  untuk  Allah  swt. Sebagaimana dikatakan oleh
Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi,  yaitu:  "Ilmu  tasawuf  itu,
kemudian  akan  meningkat  ke  bidang  makrifat  perkenalan,
setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia  Allah.  Hal
ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani.
&amp;nbsp;
Akhirnya,  dengan  ditingkatkannya  hal-hal  ini,  timbullah
penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi."
&amp;nbsp;
Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang
sufi adalah sebagai berikut:
&amp;nbsp;
1.  Dijadikannya  wijid  (perasaan) dan ilham sebagai ukuran
untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat  dijadikan
ukuran   untuk  membedakan  antara  yang  benar  dan  salah.
Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku  diberi  tahu  oleh
hati dari Tuhanku (Allah)."
&amp;nbsp;
Berbeda  dengan  ungkapan  dari  ahli  sunnah  bahwa apabila
mereka meriwayatkan ini  dari  si  Fulan,  si  Fulan  sampai
kepada Rasulullah saw.
&amp;nbsp;
2.  Dibedakannya  antara  syariat  dan hakikat, antara hukum
Islam dan yang bebas dari hukumnya.
&amp;nbsp;
3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat
mempengaruhi  iman  dan akidah mereka, dimana manusia mutlak
dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi  melawan  dan  selalu
bersikap pasif, tidak aktif.
&amp;nbsp;
Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di
dunia  dianggapnya  sepele,  padahal  ayat  Al-Qur,an  telah
menyatakan:
&amp;nbsp;
    "... dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu
    (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia ..."
    (Q.s. Al-Qashash: 77).
&amp;nbsp;
Pikiran dan teori di atas telah  tersebar  dan  dipraktekkan
dimana-mana,  dengan  dasar  dan  paham bahwa hal ini bagian
dari  Islam,  ditetapkan  oleh  Islam,  dan  ada   sebagian,
terutama  dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti
benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.
&amp;nbsp;
Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu,  selalu
menyuruh  jangan  sampai  menyimpang  dari garis syariat dan
hukum-hukumnya.
&amp;nbsp;
Ibnul Qayyim berkata mengenai  keterangan  dari  tokoh-tokoh
sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin
Muhammad (297  H.),  berkata,  'Semua  jalan  tertutup  bagi
manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'"
&amp;nbsp;
Al-Junaid pun berkata:
&amp;nbsp;
    "Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan
    menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh
    dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita
    (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan
    As-Sunnah."
&amp;nbsp;
Abu Khafs berkata:
&amp;nbsp;
    "Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala
    sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah,
    serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan
    wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk
    golongan kaum tasawuf."
&amp;nbsp;
Abu Yazid Al-Basthami berkata:
&amp;nbsp;
    "Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan
    kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang
    harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan
    seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."
&amp;nbsp;
Kiranya keterangan yang paling tepat  mengenai  tasawuf  dan
para  sufi  adalah  sebagaimana  yang diuraikan oleh Al-Imam
Ibnu Taimiyah dalam  menjawab  atas  pertanyaan,  "Bagaimana
pandangan ahli agama mengenai tasawuf?"
&amp;nbsp;
Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut,
&amp;nbsp;
    "Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua,
    yaitu:
&amp;nbsp;
    Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam
    mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid'ah
    dan di luar Sunnah Nabi saw.
&amp;nbsp;
    Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam
    memberikan pujian dan menganggap mereka paling
    baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi
    saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah
    bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan
    pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha
    orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam
    kondisi yang prima di antara mereka, ada yang
    cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang
    ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang
    terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya;
    ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang
    saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min
    ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara
    kedua sikap tadi)."
&amp;nbsp;
Di antara golongan itu ada yang  salah,  ada  yang  berdosa,
melakukan  tobat,  ada  pula yang tetap tidak bertobat. Yang
lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman
dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi.
&amp;nbsp;
Masih  banyak  lagi dari ahli bid'ah dan golongan fasik yang
menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan  tidak
diakui  oleh  tokoh-tokoh  sufi  yang  benar  dan  terkenal.
Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya.
&amp;nbsp;
Wallaahu A'lam.
&amp;nbsp;
---------------
FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Penerbit Risalah Gusti
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/TasawufManusia.html&lt;/pre&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2011/02/tasawuf-diantara-pemuji-dan-pengelak.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-8012267993815996656</guid><pubDate>Fri, 11 Feb 2011 13:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-11T20:42:03.915+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dr. Yusuf Al-Qardhawi</category><title>SIAPAKAH DZULQARNAIN ITU?</title><description>&lt;table border="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Dr. Yusuf Al-Qardhawi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&lt;pre&gt;&amp;nbsp;
&lt;b&gt;Pertanyaan:&lt;/b&gt;
&amp;nbsp;
Didalam Al-Qur'an diterangkan masalah Dzulqarnain, yaitu:
&amp;nbsp;
"Hingga  apabila  dia  telah  sampai  pada  tempat  terbenam
matahari,  dia  pun  melihat  matahari terbenam kedalam laut
yang berlumpur hitam, dan dia mendapati disitu (di laut itu)
segolongan ummat. Kami berkata, 'Hai Dzulqarnain! Kamu boleh
menyiksa  mereka  dan  boleh   berbuat   kebaikan   terhadap
mereka'." (Q.s. Al-Kahfi: 86).
&amp;nbsp;
Apakah  yang  dimaksud  dengan  matahari yang terbenam dalam
mata air yang hitam?
&amp;nbsp;
Siapakah orang-orang yang didapati oleh Dzulkarnain?
&amp;nbsp;
&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;
&amp;nbsp;
Kisah Dzulqarnain telah  diterangkan  dalam  Al-Qur'an  pada
Surat  Al-Kahfi, tetapi Al-Qur'an tidak menerangkan siapakah
sebenarnya   Dzulqarnain,    siapakah    orang-orang    yang
didapatinya,   dan  dimana  tempat  terbenam  dan  terbitnya
matahari? Semua itu tidak diterangkan dalam Al-Qur'an secara
rinci  dan  jelas,  baik mengenai nama maupun lokasinya, hal
ini mengandung hikmah dan hanya Allahlah yang mengetahui.
&amp;nbsp;
Tujuan dari kisah yang ada dalam Al-Qur'an, baik pada  Surat
Al-Kahfi  maupun lainnya, bukan sekadar memberi tahu hal-hal
yang berkaitan dengan sejarah dan kejadiannya, tetapi tujuan
utamanya  ialah  sebagai  contoh dan pelajaran bagi manusia.
Sebagaimana Allah swt. dalam firman-Nya:
&amp;nbsp;
"Sesungguhnyapada kisah-kisah mereka itu terdapat  pelajaran
bagi orang-orang yang berakal." (Q.s.Yusuf: 111)
&amp;nbsp;
Kisah Dzulqarnain, mengandung contoh seorang raja saleh yang
diberi oleh Allah kekuasaan di bumi, yang meliputi Timur dan
Barat.   Semua  manusia  dan  penguasa  negara  tunduk  atas
kekuasaannya, dia tetap pada  pendiriannya  sebagai  seorang
yang  saleh,  taat  dan bertakwa. Sebagaimana diterangkan di
bawah ini:
&amp;nbsp;
"Berkata Dzulqarnain, 'Adapun orang  yang  menganiaya,  maka
kelak  Kami  akan  mengazabnya,  kemudian  dia  dikembalikan
kepada Tuhannya, lalu Tuhan  mengazabnya  dengan  azab  yang
tiada taranya'." (Q.s. Al-Kahfi: 87).
&amp;nbsp;
"Adapun  orang  yang  beriman  dan orang beramal saleh, maka
baginya pahala  yang  terbaik  sebagai  balasan  ..."  (Q.s.
Al-Kahfi: 88).
&amp;nbsp;
Jadi,   apa   yang  diterangkan  dalam  Al-Qur'an,  hanyalah
mengenai perginya Dzulqarnain ke arah terbenamnya  matahari,
sehingga  berada  pada  tempat  yang  paling  jauh.  Di situ
diterangkan bahwa dia  telah  melihat  matahari  seakan-akan
terbenam di mata air tersebut, saat terbenamnya. Sebenarnya,
matahari itu tidak  terbenam  di  laut,  tetapi  hanya  bagi
penglihatan  kita  saja  yang  seakan  tampak  matahari  itu
terbenam  (jatuh)  ke  laut.  Padahal  matahari  itu  terbit
menerangi wilayah (bangsa) lain.
&amp;nbsp;
Maksud dari ayat tersebut, bahwa Dzulqarnain telah sampai ke
tempat paling jauh, seperti halnya matahari terbenam di mata
air  yang kotor (berlumpur) , yang disebutkan diatas. Begitu
juga maksud dari ayat tersebut, Dzulqarnain telah sampai  di
tempat  terjauh, yaitu terbitnya matahari dan sampai bertemu
pula dengan kaum Ya'juj dan Ma'juj.
&amp;nbsp;
Dalam keadaan demikian, Dzulqarnain tetap pada  pendiriannya
semula,  yaitu  sebagai  seorang  raja  yang  adil  dan kuat
imannya, yang tidak  dapat  dipengaruhi  oleh  hal-hal  yang
dikuasai   dan  kekuasaannya  diperkuatnya  dengan  misalnya
membangun  bendungan   yang   besar,   yang   terdiri   dari
bahan-bahan  besi dan sebagainya. Di dunia ini beliau selalu
berkata dan mengakui, bahwa segala yang diperolehnya sebagai
karunia dari Allah dan rahmat-Nya.
&amp;nbsp;
Firman Allah swt. dalam Al-Qur'an:
&amp;nbsp;
"Dzulqarnain  berkata,  'Ini (bendungan atau benteng) adalah
suatu rahmat dari Tuhanku, maka  apabila  sudah  tiba  janji
Tuhanku,  Dia  pun  menjadikannya  rata  dengan bumi (hancur
lebur); dan janji Tuhanku itu adalah benar." (Q.s. Al-Kahfi:
98).
&amp;nbsp;
Tujuan  utama  dari  Al-Qur'an  dalam  uraian  di atas ialah
sebagai  contoh,  dimana  seorang  raja  saleh  yang  diberi
kekuasaan  yang  besar  pada kesempatan yang luar biasa dan,
kekuasaannya mencakup ke seluruh penjuru  dunia  di  sekitar
terbit  dan  terbenamnya  matahari.  Dalam keadaan demikian,
Dzulqarnain tetap dalam  kesalehan  dan  istiqamahnya  tidak
berubah.
&amp;nbsp;
Firman Allah swt.:
&amp;nbsp;
"Sesungguhnya  Kami telah memberi kekuasaan di bumi dan Kami
telah  memberikan  kepadanya  (Dzulqarnain)   jalan   (untuk
mencapai) segala sesuatu." (Q.s. Al-Kahfi: 84).
&amp;nbsp;
Mengenai  rincian  dari  masalah  tersebut tidak diterangkan
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, misalnya  waktu,  tempat  dan
kaumnya,  siapa  sebenarnya  mereka  itu.  Karena  tidak ada
manfaatnya, maka sebaiknya kami berhenti pada  hal-hal  yang
diterangkan   saja.   Jika  bermanfaat,  tentu  hal-hal  itu
diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.
&amp;nbsp;
---------------------------------------------------&lt;/pre&gt;&lt;pre&gt;FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Penerbit Risalah Gusti
Cetakan Kedua, 1996
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177&lt;/pre&gt;&lt;/pre&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2011/02/siapakah-dzulqarnain-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-2181297987471176785</guid><pubDate>Mon, 20 Sep 2010 13:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-20T20:22:02.738+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqih 'Ubudiyah</category><title>Bab Shalat bagian 1 : Pengertian Dan Waktu Shalat</title><description>&lt;b&gt;PENGERTIAN SHOLAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sholat &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;( الصلاة )&lt;/font&gt; secara bahasa mempunyai arti doa. Sedangkan menurut istilah syar'i sholat adalah ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keutamaan sholat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sholat adalah yang paling utama dari ibadah-ibadah badaniyah yang tampak, kemudian puasa, haji dan zakat, fardlu dan sunnah-sunnahnya sholat adalah utama-utamanya fardlu dan sunnah. Sholat merupakan rukun islam yang ke dua, dan dia adalah tiangnya agama. Keutamaannya sangat besar sebagaimana yang dalam salah satu firman Allah SWT ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ&lt;br /&gt;
سورة هود : 114&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya : "Dan laksanakanlah sholat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."&lt;br /&gt;
(QS ; Hud : 114)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hadits Nabi SAW :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
إن العبد إذا قام في الصلاة فتحت له الجنان، وكشف له الحجاب بينه وبين ربه، واستقبلته الحور العين ما لم يمتخط أو يتنخع.&lt;br /&gt;
أخرجه الطبراني ‏في "الكبير" من حديث أبي امامة&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya seorang hamba ketika berdiri dalam sholat dibukakan untuknya surga-surga, dan disingkapkan untuknya penutup antara dia dan tuhannya, dan menghadap kepadanya para bidadari selama dia tidak mengeluarkan ingus  atau berdahak."&lt;br /&gt;
(HR. Al-Thobroni, di dalam "Al-Kabir" dari haditsnya Abi Umamah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hadits :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
إن العبد إذا قام يصلي أتي بذنوبه فوضعت على رأسه -أو على عاتقه- فكلما ركع أو سجد تساقطت عنه.&lt;br /&gt;
أخرجه الطبراني في الأوسط 154:8&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
"Sesungguhnya seorang hamba ketika berdiri sholat didatangkan dosa-dosanya dan diletakkan diatas kepalanya -atau diatas pundaknya- dan ketika dia ruku' atau sujud dosa-dosanya berguguran."&lt;br /&gt;
(HR. Al-Thobroni didalam "Al-Ausath" (8:154) ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;WAKTU SHOLAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sholat-sholat maktubah (wajib) ada lima, yaitu ; Dhuhur, 'Ashr, Magrib, 'Isya' dan shubuh, yang ditetapkan dalam Al-Qur'an didalam dua ayat ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (17) وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ (18).&lt;br /&gt;
سورة الروم 17-18&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya :&lt;br /&gt;
"Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari (waktu shubuh) . Dan segala puji bagi-Nya baik di langit, di bumi, pada malam hari dan pada waktu dhuhur (tengah hari) .&lt;br /&gt;
(Q.S Ar-Ruum :17-18)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[kata tasbih didalam ayat tersebut yang dimaksud adalah sholat. (Tafsir Showi, juz:3, hal:301) ]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ayat : &lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا.&lt;br /&gt;
سورة الإسراء : 78&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya :&lt;br /&gt;
"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) subuh. Sungguh, sholat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)."&lt;br /&gt;
(Q.S Al-Isra' : 78)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PEMBAGIAN WAKTU SHOLAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu setiap sholat terbagi menjadi enam bagian, yaitu ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Waktu Fadlilah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ketika seseorang sholat pada waktu ini maka dia mendapatkan fadlilahnya awal waktu. Mendapatkannya fadlilah awal waktu ini dengan sebab menyibukkan diri dengan sebab-sebab sholat, mulai dari masuknya waktu sholat, kemudian segera mengerjakan sholat.&lt;br /&gt;
Sebab-sebab sholat seperti menjawab adzan, bersuci, menutup aurat, menunggu jama'ah dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Waktu ikhtiyar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Syari' memilih sholat dikerjakan pada waktu ini jika sholat tidak dikerjakan pada waktu fadlilah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Waktu jawaz&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sholat boleh diakhirkan sampai pada waktu ini, dan terkadang dengan kemakruhan dan terkadang tidak makruh.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Waktu hurmah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sholat haram diakhirkan sampai pada waktu ini, karena akan menjatuhkan sebagian dari sholat diluar waktu.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Waktu udzur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sholat boleh dikerjakan pada waktu ini karena ada udzur, seperti saat bepergian atau sakit.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Waktu dloruroh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu akhir waktu ketika hilangnya penghalang sholat -seperti haidl dan lainnya- dan waktu hanya tersisa sekadar takbiratul ihram saja atau lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERTAMA : SHOLAT DHUHUR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinamakan Dhuhur karena sholat ini dikerjakan pada waktu tengah hari. Ada yang mengatakan dinamakan Dhuhur karena sholat Dhuhur adalah sholat yang pertama kali muncul dalam islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu sholat Dhuhur masuk saat waktu zawal ( condongnya matahari ke arah terbenamnya ). Dan waktunya habis ketika bayangan sesuatu menyamai panjangnya kecuali bayangan istiwa' (matahari tepat diatas), bayangan yang tampak ketika waktu istiwa' tidak dihitung.&lt;br /&gt;
Contohnya : Jika panjang bayangan ketika istiwa' adalah empat jari dan tingginya seseorang adalah 1,5 M, maka waktu Dhuhur keluar ketika panjang bayangan sudah sama dengan tingginya orang itu selain bayangan yang tampak ketika istiwa' ( 1,5 M + 4 jari ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
WAKTU SHOLAT DHUHUR :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Waktu fadlilah :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu dengan kadar kesibukan menyiapkan sebab-sebab sholat.&lt;br /&gt;
2. Waktu ikhtiyar :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu sampai tersisa kadar waktu yang memuat untuk sholat.&lt;br /&gt;
3. Waktu jawaz :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu sampai tersisa kadar waktu yang memuat untuk sholat.&lt;br /&gt;
4. Waktu hurmah :&lt;br /&gt;
Ketika waktu sudah tidak cukup dibuat melakukan sholat.&lt;br /&gt;
5. Waktu udzur :&lt;br /&gt;
Seluruh waktu 'Ashar&lt;br /&gt;
6. Waktu dloruroh :&lt;br /&gt;
Bagi wanita yang haid dan nifas dan yang lainnya ketika penghalang sholat sudah hilang dan waktu sholat tersisa hanya cukup digunakan untuk takbiratul ihram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KE DUA : SHOLAT 'ASHR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'Ashr dalam bahasa berarti masa, dia adalah utama-utamanya sholat lima waktu dan sholat wustho yang ditunjukkan dalam firman Allah SWT :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ *&lt;br /&gt;
سورة البقرة : 238&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya : &lt;br /&gt;
"peliharalah semua sholat dan sholat wustho&lt;font color="red" &gt;&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt;, dan laksanakanlah (sholat) karena Allah dengan khusuk. "&lt;br /&gt;
(Q.S Al-Baqarah : 238)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;font color="red" &gt;[1]&lt;/font&gt; = sholat wustho menurut hadits yang shohih adalah sholat 'Ashr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
WAKTU SHOLAT 'ASHR :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu sholat 'Ashr masuk ketika bayangan sesuatu sudah menyamai panjangnya selain bayangan istiwa' dan lebih sedikit. Dan waktunya keluar ketika matahari terbenam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Waktu fadlilah :&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari awal waktu dengan kadar kesibukan dengan sebab-sebab sholat.&lt;br /&gt;
2. Waktu ikhtiyar :&lt;br /&gt;
Dari berakhirnya waktu fadlilah sampai bayangan sesuatu panjangnya dua kali lipat dari panjang sesuatu tersebut.&lt;br /&gt;
3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :&lt;br /&gt;
Dari berakhirnya waktu ikhtiyar sampai sinar matahari kekuning-kuningan.&lt;br /&gt;
4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :&lt;br /&gt;
Dari sinar matahari kekuning-kuningan sampai tersisa waktu yang cukup digunakan untuk sholat.&lt;br /&gt;
5. Waktu hurmah :&lt;br /&gt;
ketika tersisa waktu tidak cukup untuk sholat.&lt;br /&gt;
6. Waktu udzur :&lt;br /&gt;
Seluruh waktu dhuhur.&lt;br /&gt;
7. Waktu dloruroh :&lt;br /&gt;
ketika penghalang sholat sudah hilang dan tersisa waktu yang hanya cukup untuk takbiratul ihram saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KE TIGA : SHOLAT MAGHRIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu sholat Maghrib masuk dari terbenamnya matahari, dan keluar dengan terbenamnya / hilangnya mega merah di ufuk.&lt;br /&gt;
Ini adalah madzhabnya imam Syafi'i yang lama (madzhab qodim), sedangkan dalam madzhabnya yang baru (madzhab jadid) bahwa waktu maghrib sangat pendek, yaitu sekadar menjawab adzan, menutup aurat, bersuci, dan sholat sekadar lima raka'at, ada yang mengatakan sekadar tujuh raka'at. Akan tetapi sekelompok ulama' syafi'iyyah memilih madzhab qodim karena kuatnya dalil pada madzhab qodim. Sekelompok ulama' itu diantaranya : Ibnu Mundzir, Ibnu Khuzaimah, Al Khithobiy, As Suhailiy, Al Ghozali, Al Baghowi, Ar Royyani, Ibnu Sholah, Ath Thobari dan An Nawawi didalam semua kitab-kitab mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Waktu fadlilah :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu dengan kadar kesibukan menyiapkan sabab-sabab sholat.&lt;br /&gt;
2. Waktu ikhtiyar :&lt;br /&gt;
Waktu ikhtiyar dalam sholat maghrib adalah waktu fadhilah itu sendiri.&lt;br /&gt;
3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :&lt;br /&gt;
Sama dengan waktu ikhtiyar.&lt;br /&gt;
4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :&lt;br /&gt;
Dari habisnya waktu fadlilah sampai tersisa waktu yang cukup digunakan untuk sholat.&lt;br /&gt;
5. Waktu hurmah :&lt;br /&gt;
Ketika tersisa waktu yang tidak cukup untuk mengerjakan sholat .&lt;br /&gt;
6. Waktu udzur :&lt;br /&gt;
Seluruh waktu sholat 'isya .&lt;br /&gt;
7. Waktu dloruroh :&lt;br /&gt;
Ketika penghalang sholat telah hilang (suci dari haid misalnya) dan waktu sholat hanya tersisa untuk takbiratul ihram saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KE EMPAT : SHOLAT 'ISYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu sholat 'isya masuk dengan hilangnya mega yang berwarna merah. Dan waktunya keluar dengan terbitnya fajar shodiq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Waktu fadlilah :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu dengan kadar kesibukan menyiapkan sebab-sebabnya sholat.&lt;br /&gt;
2. Waktu ikhtiyar :&lt;br /&gt;
Dari selesainya waktu fadlilah sampai selesainya sepertiga malam yang pertama. (ada yang mengatakan sampai tengah malam).&lt;br /&gt;
3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :&lt;br /&gt;
Dari habisnya sepertiga malam yang pertama sampai terbitnya fajar kadzib.&lt;br /&gt;
4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :&lt;br /&gt;
Dari terbitnya fajar kadzib sampai tersisa waktu yang cukup digunakan untuk sholat.&lt;br /&gt;
5. Waktu hurmah :&lt;br /&gt;
Jika tersisa waktu yang tidak cukup digunakan untuk sholat.&lt;br /&gt;
6. Waktu udzur :&lt;br /&gt;
Seluruh waktu maghrib.&lt;br /&gt;
7. Waktu dloruroh :&lt;br /&gt;
Ketika penghalang sholat telah hilang dan masih tersisa waktu yang cukup digunakan untuk takbiratul ihram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KE LIMA : SHOLAT SHUBUH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara bahasa shubuh adalah nama dari permulaan hari.&lt;br /&gt;
Sholat shubuh disebut juga dengan sholat fajr dan jama'ahnya sholat shubuh adalah sebaik-baiknya jama'ah.&lt;br /&gt;
Waktu sholat shubuh masuk dengan terbitnya fajar shodiq, dan keluar dengan terbitnya sebagian dari sinar matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Waktu fadlilah :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu dengan kadar menyiapkan sebab-sebabnya sholat.&lt;br /&gt;
2. Waktu ikhtiyar :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu sampai isfar (terang).&lt;br /&gt;
3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :&lt;br /&gt;
Dari awal waktu sampai terbitnya sinar kemerah-merahan.&lt;br /&gt;
4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :&lt;br /&gt;
Dari terbitnya sinar kemerah-merahan sampai tersisa waktu yang cukup digunakan untuk sholat.&lt;br /&gt;
5. Waktu hurmah :&lt;br /&gt;
Ketika tersisa waktu yang tidak cukup digunakan untuk sholat.&lt;br /&gt;
6. Waktu dloruroh :&lt;br /&gt;
Ketika penghalang sholat telah hilang dan tersisa waktu yang cukup digunakan untuk takbiratul ihram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERBEDAAN FAJAR SHODIQ DAN FAJAR KADZIB&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. FAJAR SHODIQ&lt;br /&gt;
1. Sinarnya menyebar dan terus bertambah.&lt;br /&gt;
2. Memanjang dari utara ke selatan.&lt;br /&gt;
3. Menandakan masuknya waktu sholat dan puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. FAJAR KADZIB&lt;br /&gt;
1. Cahayanya bersifat sementara kemudian gelap lagi.&lt;br /&gt;
2. Memanjang dari timur ke barat.&lt;br /&gt;
3. Tidak berhubungan dengan hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Permasalahan-permasalahan Dari Waktu-Waktu Sholat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Makruh menamakan Maghrib dengan nama 'Isya, dan menamakan 'Isya dengan nama 'Atamah, karena ada larangan atas keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
لا تغلبنكم الأعراب على اسم صلاتكم المغرب و تقول الأعراب هي العشاء.&lt;br /&gt;
رواه البخاري&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya :&lt;br /&gt;
"Janganlah orang-orang a'rab (badui) mengalahkanmu atas penamaan shalat maghrib kalian, orang-orang a'rab itu menyebut shalat maghrib dengan isya'."&lt;br /&gt;
(HR Bukhori)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
لاَ تَغْلِبَنَّكُمُ الْأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلاَتِكُمُ الْعِشَاء ، فَإِنَّهَا فِي كِتَابِ اللهِ الْعِشَاءُ وَإِنَّهَا تُعْتِمُ بِحِلاَبِ الْإِبِلِ&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya :&lt;br /&gt;
“ Jangan sekali-kali orang-orang A'rab (Badui) mengalahkan kalian dalam penamaan shalat isya kalian ini, karena shalat ini dalam kitabullah disebut isya5 dan ia diakhirkan saat diperahnya unta. ”&lt;br /&gt;
(HR. Muslim no. 1454)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dimakruhkan juga tidur sebelum sholat 'Isya dan setelah sholat Shubuh dan 'Ashr, dan makruh juga ngobrol-ngobrol setelah 'Isya kecuali dalam hal yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ ، وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَا.&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“ Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mengakhirkan shalat isya. Dan beliau membenci tidur sebelum shalat isya dan berbincang-bincang setelahnya. ”&lt;br /&gt;
(HR. Ibnu Majah no. 701, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Ibni Majah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
جَدَبَ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّمَرَ بَعْدَ الْعِشَاءِ.&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kami dari berbincang-bincang setelah isya. ”&lt;br /&gt;
(HR. Ahmad 1/388-389, 410, Ibnu Majah no. 703, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 2435)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Hukum memanjangkan sholat sehingga sebagian dari sholat tersebut jatuh di luar waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam permasalahan ini ada beberapa penafsilan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Adakalanya waktu cukup digunakan mengerjakan sholat beserta sunnah-sunnahnya sholat : maka memanjangkan sholat disunnahkan agar bisa mengerjakan sunnah-sunnahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Adakalanya waktu hanya cukup untuk digunakan mengerjakan fardlu-fardlunya sholat saja : maka memanjangkan sholat hukumnya khilaful aula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Adakalanya waktu tidak cukup digunakan mengerjakan fardlu-fardlunya sholat : maka memanjangkan sholat hukumnya haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sholat bisa dikatakan Ada' ketika menemukan satu raka'at di dalam waktu, baik karena ada udzur maupun tidak, sedangkan jika tidak menjumpai satu raka'at di dalam waktu maka shalatnya dihukumi qodlo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Sebaik-baiknya (afdlol) pekerjaan adalah sholat di awal waktu. Ke-afdlol-annya ini bisa didapatkan dengan menyibukkan diri dengan sabab-sabab sholat (seperti menjawab adzan, wudlu, menunggu jama'ah dan sebagainya) sejak masuknya waktu sholat.&lt;br /&gt;
Nabi SAW ditanya tentang amal yang paling disukai Allah SWT, kemudian Nabi menjawab : &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;الصلاة في أول وقتها&lt;/font&gt; "Sholat di awal waktunya. " (HR. Ibnu hibban dan Al-Baihaqi.)&lt;br /&gt;
Di dalam hadits lain juga di sebutkan ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
أول الوقت رضوان الله، و وسطه رحمة الله، و الأخر عفو الله.&lt;br /&gt;
أخرجه الدار قطني في "السنن" 246:1&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
"Awal waktu adalah kerelaan Allah, dan tengahnya adalah rahmat Allah, dan akhirnya adalah pengampunan Allah."&lt;br /&gt;
(Hadits dikeluarkan oleh Ad-Daaru Quthni di dalam "As-Sunan" 1:246.)&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
فضل أول الوقت على أخره كفضل الأخرة على الدنيا.&lt;br /&gt;
أخرجه الديلمي في "مسند الفردوس" 154:3 عن ابن عمر.‏&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
"keutamaan awal waktu diatas (dibanding) akhir waktu itu seperti keutamaan akhirat dibanding dunia"&lt;br /&gt;
(Hadits dikeluarkan oleh Ad-Dailami di dalam "Musnad Al-Firdaus" 3:154 dari Ibnu 'Umar.).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disunnahkan juga untuk mengakhirkan / menunda shalat dari awal waktunya hanya dalam 27 kondisi.&lt;br /&gt;
Definisinya adalah : Jika mengakhirkannya sholat itu termasuk dari kemaslahatan sholat maka disunnahkan mengakhirkan, diantaranya adalah :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;menanti shalat dhuhur sampai dingin ( الإبراد ‏بالظهر )&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال : إذا اشتد الحر فأبردوا بالصلاة فإن شدة الحر من فيح جهنم.‎ ‎&lt;br /&gt;
رواه البخاري في مواقيت الصلاة، باب الإبراد بالظهر :533 ، ومسلم في كتاب المساجد، باب استحباب الإبراد بالظهر :615&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah. Beliau SAW bersabda : "Apabila hari sangat terik, maka dirikanlah shalat zhuhur sewaktu (matahari) agak dingin sedikit. Karena, teriknya panas adalah berasal dari uap api neraka."&lt;br /&gt;
(HR. Bukhori dalam "waktu-waktu sholat", bab "Al-Ibrad" (533), dan Muslim dalam "kitab Al-Masaajid", bab "Istihbab Al-Ibrad Bi Adh-dhurhri" (615). )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SYARAT-SYARAT KESUNNAHANNYA IBRAD :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Shalat yang dikerjakan adalah shalat dhuhur.&lt;br /&gt;
2. Di dalam musim panas (Kemarau).&lt;br /&gt;
3. Di daerah yang beriklim panas.&lt;br /&gt;
4. Shalat dikerjakan dengan berjama'ah.&lt;br /&gt;
5. Tempat shalat / masjid berada jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;UDZUR-UDZUR SHALAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna dari udzur-udzur shalat adalah bahwasannya orang tidak berdosa jika mengakhirkan shalat keluar dari waktunya dengan udzur apapun dari udzur-udzur ini.&lt;br /&gt;
Udzur-udzur yang dimaksud ada empat, yaitu : tidur, lupa, jama', dan karena di paksa.&lt;br /&gt;
( Sebagian ulama' ada yang menambahkan dua lagi, yaitu ; bagi orang yang takut ketinggalan wuquf di 'Arafah dan bagi orang yang menyelamatkan orang lain yang mendekati kehancuran / kematian. )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. TIDUR&lt;br /&gt;
Tidur ini dianggap sebagai udzur jika tidurnya tersebut sebelum masuknya waktu shalat. Adapun jika tidurnya tersebut setelah masuknya waktu shalat maka tidak dianggap sebagai udzur, kecuali jika sudah menjadi kebiasaannya dia bisa bangun dari tidurnya sebelum keluar waktu shalat, atau dia telah berpesan kepada orang yang bisa dipercaya untuk membangunkannya sebelum waktu shalat keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan disunnahkan membangunkan orang yang tidur sebelum masuknya waktu shalat, dan wajib hukumnya membangunkan orang yang tidur setelah masuknya waktu shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. LUPA&lt;br /&gt;
Lupa bisa dianggapkan sebagai udzur jika lupanya tersebut disebabkan oleh perkara yang mubah, adapun jika lupanya disebabkan oleh perkara yang makruh atau haram maka lupanya tersebut tidak bisa dianggap sebagai udzur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. JAMA' DUA SHALAT&lt;br /&gt;
Mendahulukan shalat dari waktunya, atau meng-akhir-kan_nya, dikarenakan men-jama' / mengumpulkan antara shalat satu dengan shalat yang lain yang disebabkan safar / bepergian atau sakit atau hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. DI PAKSA &lt;br /&gt;
Sekiranya orang yang hendak shalat di paksa mengeluarkan shalat dari waktunya, maka keadaan tersebut bisa dianggap sebagai udzur jika memenuhi syarat-syaratnya paksaan / ikroh ( الإكراه ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Empat syaratnya paksaan ;&lt;br /&gt;
1. Mampunya orang yang memaksa ( mukrih ) untuk melaksanakan ancamannya dengan kekuasaan atau kekuatannya.&lt;br /&gt;
2. Lemah / tidak mampunya orang yang dipaksa ( mukrah ) untuk menolak / menghindar dari yang dipaksakan dengan melarikan diri atau meminta pertolongan.&lt;br /&gt;
3. Si mukrah berprasangka jika dia menolak maka si mukrih akan benar-benar melaksanakan apa yang diancamkannya.&lt;br /&gt;
4. Tidak ada tanda-tanda pilihan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
WAKTU-WAKTU YANG DIHARAMKAN SHALAT DIDALAMNYA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian 'ulama ada yang me-redaksi-kan dengan "Waktu-Waktu Yang Dimakruhkan Shalat Didalamnya", maksudnya adalah Makruh Tahrim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan antara Haram dan Makruh Tahrim;&lt;br /&gt;
1. Haram&lt;br /&gt;
Sesuatu yang keharamannya telah ditetapkan dengan dalil qoth'i yang tidak ada kemungkinan ta'wil. Seperti keharamannya khomer.&lt;br /&gt;
2. Makruh Tahrim&lt;br /&gt;
Sesuatu yang keharamannya telah ditetapkan dengan dalil yang ada kemungkinan ta'wil. Seperti keharamannya shalat dalam waktu yang lima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan antara Makruh Tahrim dan Makruh Tanzih ;&lt;br /&gt;
1. Makruh Tahrim&lt;br /&gt;
Menyebabkan dosa.&lt;br /&gt;
Seperti shalat dalam waktu yang lima.&lt;br /&gt;
2. Makruh Tanzih&lt;br /&gt;
Tidak menyebabkan dosa.&lt;br /&gt;
Seperti shalat sunnah antara adzan shubuh dan iqomah selain shalat sunnah qobliyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu-waktu yang diharamkan shalat ada lima, tiga diantaranya berhubungan dengan zaman / waktu, dan dua diantaranya berhubungan dengan pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
YANG BERHUBUNGAN DENGAN ZAMAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dari terbitnya matahari hingga matahari setinggi tombak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dari istiwa' hingga zawal.&lt;br /&gt;
Waktunya sangat singkat sekali, maka haram menjatuhkan shalat pada waktu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ISTIWA' = Matahari tepat ditengah langit.&lt;br /&gt;
ZAWAL = Matahari condong dari tengah langit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mulai dari matahari menguning hendak tenggelam sampai matahari benar-benar tenggelam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu berkata :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="‎#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ&lt;br /&gt;
فِيْهِنَّ مَوْتَانَا : حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ ، وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ ، وَحِيْنَ تَضَيَّف لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“ Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi, ketika seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari tergelincir dan ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam. ”&lt;br /&gt;
(HR. Muslim no.1926)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Setelah shalat shubuh sampai terbitnya matahari.&lt;br /&gt;
2. Setelah shalat 'Ashar sampai terbenamnya matahari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="‎#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“ Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam. ”&lt;br /&gt;
(HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no.1920)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MACAM-MACAM SHALAT YANG HARAM DIKERJAKAN DALAM LIMA WAKTU&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat-shalat yang haram dikerjakan dalam lima waktu yang telah disebutkan diatas terdiri dua macam ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Shalat Sunnah Yang Sebabnya Datang Belakangan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat sunnah dimaksudkan ada enam, yaitu ;&lt;br /&gt;
1. Shalat sunnah ihram.&lt;br /&gt;
2. Shalat sunnah safar (shalat sunnah ketika bepergian jauh).&lt;br /&gt;
3. Shalat sunnah istikharah.&lt;br /&gt;
4. Shalat sunnah Qotl&lt;br /&gt;
5. Shalat sunnah ketika keluar rumah.&lt;br /&gt;
6. Shalat sunnah hajat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Shalat Sunnah Muthlaq&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu shalat sunnah yang dikerjakan tanpa ada sebab atau waktu.&lt;br /&gt;
Seperti shalat Tasbih dan sebagainya dari shalat-shalat sunnah yang tidak mempunyai sebab dan waktu tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari yang telah disebutkan diatas (haram shalat baik yang berhubungan dengan waktu maupun tempat) ada yang dikecualikan ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Berdasarkan Tempat :  &lt;br /&gt;
Tanah haram makkah ( حرام مكة‎ )‎= ‏masjid dan lainnya dari batas-batas tanah haram.&lt;br /&gt;
Maka diperbolehkan shalat di tanah haram ini setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
يا بني عبد مناف، لا تمنعوا أحدا طاف بهذا البيت و صلى فيه أية ساعة شاء من ليل أو نهار.&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“ Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian menghalangi seorangpun untuk thowaf  di rumah ini (Baitullah) dan sholat di waktu kapanpun ia mau baik malam maupun siang. ”&lt;br /&gt;
(Shahih, HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Nasa’i)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Berdasarkan Waktu :&lt;br /&gt;
Dari istiwa' sampai zawal nya hari Jum'at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam lima waktu yang diharamkan shalat tersebut (baik yang berhubungan dengan zaman maupun pekerjaan), tidak diharamkan melakukan qodlo sholat. Begitu juga sholat-shalat sunnah yang sebabnya datang terlebih dahulu, seperti shalat sunnah wudlu, tahiyyatal masjid, qodlo shalat (baik fardlu maupun sunnah), atau shalat sunnah yang sebabnya datang bersamaan dengan waktu shalat, seperti shalat sunnah khusuf dan kusuf (gerhana matahari dan bulan), kecuali jika memang sengaja menjatuhkan shalat pada waktu yang diharamkan tersebut, maka hukumnya tetap haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HUKUM SHALAT KETIKA KHOTIB SEDANG KHOTBAH JUM'AT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah menjadi kesepakatan 'ulama, ketika khotib Jum'at sudah naik di atas mimbar maka diharamkan shalat, shalat apapun itu, meskipun shalat yang dikerjakan adalah shalat qodlo yang wajib dikerjakan dengan segera, kecuali shalat sunnah tahiyyatal masjid, dan shalat tahiyyatal masjid itu wajib dikerjakan dengan takhfif (ringan / sekedar memenuhi rukun dan fardlunya saja tanpa melakukan sunnah-sunnahnya shalat) dan tidak boleh lebih dari dua raka'at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
عن أبي سفيان عن جابر بن عبد الله قال ؛ جاء سليك الغطفاني يوم الجمعة و رسول الله صلى الله عليه و سلم يخطب فجلس، فقال له ؛ ياسليك ! قم فاركع ركعتين وتجوز فيهما. ثم قال ؛ إذا جاء أحدكم يوم الجمعة و الإمام يخطب فليركع ركعتين و ليتجوز فيهما.&lt;br /&gt;
رواه مسلم&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
"Dari Abu sufyan, dari Jabir ibn 'Abdullah, jabir berkata ; "Sulaik Al-Ghothofan datang pada hari jum'at saat Rosulullah sedang khotbah kemudian ia duduk. Lalu Rosullah berkata pada Sulaik ; "Wahai Sulaik ! Berdiri dan shalat lah dua raka'at dan kerjakan dengan ringan." Kemudian Rosulullah SAW bersabda ; "Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum'at, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua raka'at dengan ringan."&lt;br /&gt;
(HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
والله اعلم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber utama :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. التقريرات السديدة في المسائل المفيدة&lt;br /&gt;
karya :&lt;br /&gt;
حسن بن أحمد بن محمد بن سالم الكاف&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. توشيخ على ‏ابن قاسم&lt;br /&gt;
3. الباجوري على ابن قاسم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari sumber-sumber yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/09/bab-shalat-bagian-1-pengertian-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-6584505737995535369</guid><pubDate>Sun, 15 Aug 2010 08:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-15T15:42:31.614+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqih 'Ubudiyah</category><title>Bab Mandi</title><description>&lt;b&gt;PENGERTIAN MANDI (Al ghuslu : الغسل)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara bahasa berarti mengalir.&lt;br /&gt;
Secara istilah adalah meratakan air keseluruh badan dengan air dengan niat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan antara Al-ghuslu, Al-ghoslu dan Al-ghislu menurut istilah fuqoha' :&lt;br /&gt;
1. Al-ghuslu : Meratakan seluruh badan menggunakan air.&lt;br /&gt;
2. Al-ghoslu : sebutan untuk membasuh sebagian anggota badan dengan air.&lt;br /&gt;
3. Al-ghislu : sebutan untuk barang yang digabungkan ke air, seperti sabun dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HUKUM MANDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Wajib :&lt;br /&gt;
Ketika nadzar mengerjakan mandi yang sunnah, dan dalam enam kondisi, diantaranya adalah keluar mani.&lt;br /&gt;
2. Sunnah :&lt;br /&gt;
Seperti mandi Jum'at dan dua hari raya.&lt;br /&gt;
3. Mubah :&lt;br /&gt;
Ketika mandi dilakukan untuk ngadem atau membersihkan badan dengan tanpa niat yang baik.&lt;br /&gt;
4. Makruh :&lt;br /&gt;
Mandi dengan cara menyelam bagi orang yang sedang puasa meskipun mandinya adalah mandi wajib.&lt;br /&gt;
5. Haram :&lt;br /&gt;
a. Haram tapi sah : ketika mandi menggunakan air yang di ghosob.&lt;br /&gt;
b. Haram dan tidak sah : ketika wanita haid mandi dengan niat ibadah, (kecuali beberapa yang dikecualikan, seperti mandi hari raya, ibadah haji dan lainnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HAL - HAL YANG MEWAJIBKAN MANDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang mewajibkan mandi semuanya ada enam dan terbagi jadi dua macam :&lt;br /&gt;
1. Yang khusus pada perempuan ada tiga : Haidl, Nifas dan Wiladah (melahirkan).&lt;br /&gt;
2. Yang bersama-sama laki-laki dan perempuan juga ada tiga : Jima', keluar mani dan meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENJELASAN HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN MANDI BESAR :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. MEMASUKKAN HASYAFAH KEDALAM FARJI :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hasyafah : ujung penis.&lt;br /&gt;
Farji : setiap sesuatu yang dinakan farji (kemaluan), baik itu qubul (vulva) maupun dubur (anus), dari bangsa manusia maupun lainya, masih hidup maupun sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. KELUAR MANI :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mani itu tidak mewajibkan mandi kecuali jika sudah keluar dari hasyafah, atau bagian luar dari farjinya gadis / perawan ( bikr ), atau bagian yang wajib dibasuh ketika istinja' dari farjinya tsayyib, yaitu bagian yang tampak ketika dia jongkok.&lt;br /&gt;
Jadi selama mani itu belum keluar dari hasyafah (masih didalam penis) maka tidak mewajibkan mandi.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perawan ( bikr )&lt;/b&gt; : perempuan yang belum pernah berhubungan badan meskipun sudah pernah menikah dan cerai.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tsayyib&lt;/b&gt; : perempuan yang sudah pernah berhubungan badan meskipun belum menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KAIDAH MANI YANG MEWAJIBKAN MANDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Yang keluar adalah mani dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
Maka tidak wajib mandi jika yang keluar adalah maninya orang lain, akan tetapi membatalkan wudlu. Seperti ketika seorang suami men-jima' istrinya dan istrinya tersebut tidak sampai tuntas syahwatnya (dalam keadaan tidur atau dipaksa misalnya), kemudian istrinya mandi, lalu mani suaminya keluar dari farji istrinya, maka istri tersebut tidak wajib mandi lagi, akan tetapi wudlunya batal. Berbeda jika si istri tuntas syahwatnya (orgasm) maka dia wajib mandi lagi karena kemungkinan besar mani suaminya bercampur dengan maninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mani yang keluar adalah yang keluar pertama kali.&lt;br /&gt;
Maka tidak wajib mandi jika mani yang sudah keluar itu dimasukkan lagi, lalu keluar lagi untuk kedua kalinya. Akan tetapi wudlunya batal jika mani yang kedua itu keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERBEDAAN ANTARA AIR MANI, MADZI DAN WADI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. MANI :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
ciri-cirinya sebagai berikut, jika salah satu ciri dari tiga ciri berikut dijumpai maka mewajibkan mandi :&lt;br /&gt;
1. Air mani keluar karena dorongan syahwat yang sangat kuat.&lt;br /&gt;
2. keluarnya terpancar beberapa kali pancaran.&lt;br /&gt;
3. Baunya seperti bau adonan&lt;br /&gt;
tepung (al-'ajin). Atau pelepah kurma yang masih muda atau aroma putih telur apabila mani itu telah mengering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ciri-ciri yang lain yang biasa dijumpai adalah :&lt;br /&gt;
4. Berwarna putih dan terkadang sedikit kekuning-kuningan dan umumnya kental seperti putih telur.&lt;br /&gt;
5. Apabila keluar, menimbulkan rasa enak dan nikmat serta mengurangi syahwat.&lt;br /&gt;
6. Apabila air ini telah keluar, maka badan menjadi letih dan lemas dan syahwat berkurang bahkan hilang sama sekali.&lt;br /&gt;
Namun, untuk wanita, umumnya air tersebut keluar tidak seperti laki-laki, dia keluar tidak terpancar tapi mengalir seperti air biasa dan aromanya tidak seperti aroma air mani laki-laki. Namun, keduanya sama-sama keluar menimbulkan kenikmatan dan mengurangi syahwat serta badan menjadi letih dan lemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. MADZI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Berwarna putih, lembut dan tidak kental.&lt;br /&gt;
2. Apabila dipegang terasa sedikit kasar.&lt;br /&gt;
3. Keluar bukan karena syahwat yang kuat tapi syahwat yang kecil dan biasa .&lt;br /&gt;
4. Keluarnya tidak menimbulkan&lt;br /&gt;
kenikmatan dan tidak mengurangi&lt;br /&gt;
syahwat&lt;br /&gt;
5. Keluarnya tidak terpancar, tapi&lt;br /&gt;
keluar biasa seperti air mengalir&lt;br /&gt;
6. Setelah air ini keluar, badan&lt;br /&gt;
tidak terasa letih dan tidak terasa&lt;br /&gt;
lemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika air ini keluar dari seorang perempuan maka dinamakan "QODZA" .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. WADI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Airnya berwarna putih, pekat,tapi sedikit keruh.&lt;br /&gt;
2. Keluarnya tidak menimbulkan rasa nikmat dan tidak pula mengurangi syahwat.&lt;br /&gt;
3. Keluarnya tidak terpancar, tapi keluar biasa seperti air mengalir.&lt;br /&gt;
4. Umumnya keluar setelah buang air kecil atau karena kecapean setelah mengangkat beban yang sangat berat.&lt;br /&gt;
5. Setelah keluar air ini, badan tidak terasa letih dan tidak terasa lemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HUKUM KETIKA SALAH SATU DARI KETIGA AIR TERSEBUT KELUAR :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. MANI :&lt;br /&gt;
Jika air mani ini keluar maka mewajibkan mandi, tidak membatalkan wudlu, dan air mani ini hukumnya suci.&lt;br /&gt;
B. MADZI DAN WADI :&lt;br /&gt;
Hukum kedua air ini seperti air kencing, keduanya najis, dan jika keluar membatalkan wudlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERMASALAHAN :&lt;br /&gt;
Ketika seseorang ragu-ragu, apakah yang keluar itu air mani atau air madzi, bagaimana hukumnya ?&lt;br /&gt;
Jawab : Dia diperbolehkan memilih. Jika mau dia bisa menjadikan / menganggap yang keluar itu adalah air mani, maka dia wajib mandi. Dan juga jika mau dia bisa menjadikannya air madzi, maka wudlunya batal dan dia wajib mencuci yang terkena air itu karena madzi hukumnya najis.&lt;br /&gt;
Dan dia diperbolehkan menarik kembali dari pilihannya yang pertama ke yang kedua.&lt;br /&gt;
Misalnya yang pertama dia menganggap yang keluar itu adalah air mani, setelah mandi kemudian dia merubah anggapannya ke air madzi, maka sekarang dia wajib mencuci tempat yang tekena air tersebut. Atau yang pertama dia menganggap sebagai air madzi, kemudian merubah anggapan ke air mani, maka sekarang dia wajib mandi.&lt;br /&gt;
Jika dalam keadaan ragu-ragu seperti ini sebaiknya dia menggabungkan keduanya, mandi dan mencuci tempat yang terkena air tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. HAIDL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wajibnya mandi dari haidl ini setelah darah haidl tidak keluar lagi / suci.&lt;br /&gt;
Yang menjadikan wajibnya mandi itu adalah haidl itu sendiri, bukan suci dari haidl, sedangkan suci dari haidl adalah syarat untuk sah-nya mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. NIFAS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wajibnya mandi dari nifas ini setelah darah nifas tidak keluar lagi / suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. WILADAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wiladah atau melahirkan ini mewajibkan mandi meskipun yang dilahirkan / dikeluarkan itu tidak berbentuk manusia sekira diketahui itu adalah asalnya manusia, seperti mudlghoh (segumpal daging) atau 'alaqoh (segumpal darah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HUKUM-HUKUM YANG BERHUBUNGAN DENGAN MELAHIRKAN :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. 'ALAQOH&lt;br /&gt;
Jika seorang perempuan melahirkan dalam bentuk 'alaqoh maka dia :&lt;br /&gt;
1. Wajib mandi.&lt;br /&gt;
2. Puasanya batal.&lt;br /&gt;
3. Darah yang keluar setelah melahirkan dinamakan nifas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. MUDLGHOH&lt;br /&gt;
1. Wajib mandi&lt;br /&gt;
2. Puasanya batal&lt;br /&gt;
3. Darah yang keluar setelahnya dinamakan nifas&lt;br /&gt;
4. Iddah-nya selesai&lt;br /&gt;
5. Istibro'-nya berhasil&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Jika yang dilahirkan mempunyai bentuk meskipun tidak jelas :&lt;br /&gt;
1. Wajib mandi&lt;br /&gt;
2. Puasanya batal&lt;br /&gt;
3. Darah yang keluar setelahnya dinamakan nifas&lt;br /&gt;
4. Iddah-nya selesai&lt;br /&gt;
5. Istibro'-nya berhasil&lt;br /&gt;
6. Wujubul ghurroh&lt;br /&gt;
7. Perempuan yang melahirkan disebut ibu&lt;br /&gt;
8. Jika yang melahirkan itu merupakan hewan yang halal maka yang dilahirkan boleh dimakan menurut imam Romli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan tentang haidl, nifas dan wiladah silahkan baca pada label Risalatul Mustahadloh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. MENINGGAL DUNIA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terakhir dari hal-hal yang mewajibkan mandi adalah meninggal dunia.&lt;br /&gt;
Penjelasan lebih lanjut insya Allah nanti pada pembahasan memandikan jenazah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;FARDLU-FARDLU NYA MANDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fardlu-fardlunya mandi, baik itu mandi wajib / mandi besar maupun mandi sunnah ada tiga, yaitu ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama : NIAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktunya niat adalah bersamaan dengan permulaan mandi, karena seluruh anggota badan seperti satu anggota badan dalam masalah mandi. Jika niat dilakukan setelah membasuh salah satu anggota tubuh, maka anggota tubuh yang dibasuh sebelum niat wajib diulangi membasuh lagi, karena yang dikerjakan sebelum niat itu tidak dianggap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Caranya niat mandi dalam mandi wajib :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Niat dalam hati, dan disunnahkan mengucapkan lafadhnya niat, seperti ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
نويت رفع الجنابة&lt;br /&gt;
"Aku berniat menghilangkan janabah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
نويت رفع الحدث الأكبر&lt;br /&gt;
"Aku berniat menghilangkan hadats besar".&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
MASALAH 1 :&lt;br /&gt;
Ketika dua mandi wajib atau lebih berkumpul jadi satu pada seseorang, seperti hadats besar karena jima' dan keluar mani, apakah dengan niat satu mencukupi untuk keduanya ?&lt;br /&gt;
jawab : iya.. Mencukupi dengan satu niat. Begitu juga dengan dua mandi sunnah, dengan satu niat saja sudah mencukupi keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MASALAH 2 :&lt;br /&gt;
Ketika berkumpul mandi wajib dan mandi sunnah, seperti mandi janabat dan mandi jum'at, apakah mencukupi keduanya dengan niat salah satu ?&lt;br /&gt;
jawab : tidak bisa mencukupi keduanya hanya dengan niat satu, tapi harus dengan dua niat. Jika hanya dengan niat satu (yang diniati mandi sunnah saja misalnya), maka yang jadi adalah yang diniati, sedang yang lain tidak jadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEDUA : MERATAKAN AIR KE SELURUH BADAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fardlu wudlu yang kedua adalah meratakan air ke seluruh badan. Rambut bagian luar dan dalam harus tersiram air semua, tidak ada berbedaan antara rambut kepala dan lainnya, dan yang tebal maupun yang tipis. Rambut yang sengaja di kepang jika air tidak bisa meresap sampai kedalamnya maka wajib di urai.&lt;br /&gt;
Dan tempat-tempat yang dikhawatirkan air tidak bisa meresap sampai kesitu, seperti di bawah kuku, ketiak, lipatan-lipatan perut, telinga, selangkangan, lipatan-lipatan anus, telapak kaki yang pecah-pecah, kulup, bagian yang kelihatan dari farjinya perempuan ketika jongkok waktu buang hajat. Semua tempat-tempat yang dhohir, yang harus diperhatikan agar air sampai kesitu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah membasuh bagian bawah Kulup (bagi orang yang belum khitan) :&lt;br /&gt;
Kulup : kulit yang dipotong ketika dikhitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dalam mandinya orang yang masih hidup :&lt;br /&gt;
Wajib menyampaikan air kebagian bawah kulup, jika air sulit sampai pada bagian bawahnya maka orang tersebut sholatnya seperti sholatnya faqidu thohurain, dan dia wajib meng-qodlo sholatnya. Karena kulup itu wajib dihilangkan dan bagian bawahnya adalah termasuk anggota dhohir, oleh karena itu wajib dibasuh ketika mandi janabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dalam mandinya orang yang sudah meninggal :&lt;br /&gt;
Menurut imam Romli, mayat itu dimandikan dan tidak disholati, karena men-sholat-i mayat itu tidak sah sebab air tidak bisa mencapai bagian bawah kulupnya.&lt;br /&gt;
Menurut ima Ibnu Hajar, mayat itu di tayammumi setelah dimandikan, kemudian disholati. Kulupnya mayat tersebut diboleh dihilangkan supaya tidak merendahkan muslim, dan sholatnya karena dloruroh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SUNNAH-SUNNAH KETIKA MANDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesunahan yang dilakukan ketika mandi wajib maupun mandi sunnah banyak sekali, diantaranya adalah ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Membaca basmalah.&lt;br /&gt;
Bagi orang junub tidak diperbolehkan membaca basmalah dengan niat membaca Al-Qur'an, akan tetapi dengan niat membaca dzikir.&lt;br /&gt;
2. Siwakan / gosok gigi.&lt;br /&gt;
3. Berdiri.&lt;br /&gt;
4. Menghadap Qiblat.&lt;br /&gt;
5. Membasuh kedua telapak tangan.&lt;br /&gt;
6. Berkumur dan menghirup air dengan hidung ( madlmadloh dan istinsyaq ).&lt;br /&gt;
7. Buang air kecil sebelum mandi jika mandinya sebab keluar mani.&lt;br /&gt;
(ini dilakukan agar mani yang tersisa didalam penis keluar. Jika tidak buang air kecil sebelum mandi maka mandinya tetap sah, akan tetapi jika setelah mandi dia buang air kecil dan air mani yang tersisa didalam penis tersebut keluar bersama air seni maka dia wajib mandi lagi).&lt;br /&gt;
8. Menghilang najis yang ada dibadan sebelum mandi.&lt;br /&gt;
Didalam kitab fathul qorib ini dimasukkan dalam fardlunya wudlu, karena menurut imam Rofi'i menghilangkan najis yang ada di badan sebelum mandi hukumnya wajib, menurut beliau tidak cukup hanya dengan satu basuhan untuk menghilangkan najis dan hadats, beliau beralasan ; karena air begitu dibuat menghilangkan najis akan menjadi musta'mal, maka tidak boleh digunakan lagi untuk menghilangkan hadats, dan karena menghilangkan najis dan menghilangkan hadats adala dua perkara wajib yang berbeda jenisnya, maka yang satu tidak bisa masuk ke yang lainnya.&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut iman Nawawi ; cukup hanya dengan satu basuhan untuk keduanya.&lt;br /&gt;
9. Wudlu sebelum atau sesudah atau dipertengahan mandi.&lt;br /&gt;
Jika hadats besarnya tidak bercampur dengan hadats kecil, seperti ketika seseorang membayangkan atau melihat sesuatu lalu keluar mani, maka dia wudlunya dengan niat melakukan sunnahnya wudlu. Jika bercampur dengan hadats kecil maka wudlunya dengan niat seperti biasanya ketika hendak sholat.&lt;br /&gt;
10. Kosokan.&lt;br /&gt;
11. Mendahulukan anggota badan sebelah kanan.&lt;br /&gt;
12. Mengulang tiga kali basuhan.&lt;br /&gt;
13. Menutup aurat.&lt;br /&gt;
Yaitu menutup sauatain (qubul dan dubur), disunnahkan menutupnya sekira itu adalah auratnya ketika sendirian / tidak ada orang lain (kholwah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan masih banyak lagi sunnah-sunnah yang lain yang tidak bisa disebutkan semuanya disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam ghozali didalam kitab ihaya' menyebutkan ; orang yang sedang menanggung hadats besar sebaiknya tidak bercukur, memotong kuku, mengeluarkan darah, memotong sebagian anggota tubuh sebelum mandi karena kelak diakhirat semua anggota tubuhnya dikembalikan padanya. والله اعلم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;CARA MANDI YANG DISUNNAHKAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Menghilangkan kotoran sebelum mandi, seperti mani, atau najis, atau yang lainnya.&lt;br /&gt;
2. Menghadap qiblat, membaca basmalah, lalu sikat gigi, lalu mencuci kedua telapak tangan, lalu madlmadloh dan istinsyaq tiga kali. Semuanya dilakukan dengan niat mengerjakan sunnah-sunnahnya wudlu.&lt;br /&gt;
3. Membasuh kedua farjinya (qubul dan dubur) dan sekitarnya dengan niat menghilangkan janabat pada kedua tempat tersebut, atau dengan niat mandi sunnah seperti mandi jum'at.&lt;br /&gt;
4. Wudlu sebelum mandi mandi dengan sampurna (beserta sunnah-sunnahnya wudlu), maka dia mengulangi siwakan, mencuci telapak tangan, madlmadloh dan istinsyaq.&lt;br /&gt;
Dan sunnah menutup sauatain-nya seperti yang telah disebutkan diatas, dan disunnahkan menutup auratnya yang lainnya.&lt;br /&gt;
5. Mencurahkan air ke kepalanya, dan niat menghilangkan janabat atau mandi sunnah pada awalnya.&lt;br /&gt;
6. Memperhatikan lipatan-lipatan kulit.&lt;br /&gt;
7. Menuangkan air pada sisi depan bagian kanan tubuhnya lalu sisi belakang, kemudian sisi depan bagian kiri tubuhnya lalu sisi belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MASALAH 1 ;&lt;br /&gt;
Apa alasannya dalam mendahulukan membasuh kedua qubul dan dubur dengan niat menghilangkan janabat dari kedua tempat tersebut ?&lt;br /&gt;
Jawab ; agar tidak perlu lagi membasuh kedua tempat tersebut dan menyentuhnya di tengah-tengah mandi, jika menyentuhnya ditengah-tengah mandi maka wudlunya batal, maka dia wajib wudlu lagi setelah mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MASALAH 2 ;&lt;br /&gt;
Apakah hadats kecil bisa masuk /lenyap dibawah mandi atau tidak ?&lt;br /&gt;
Jawab ; hadats kecil bisa hilang meskipun tidak diniati jika mandinya adalah mandi wajib (seperti janabah) dan tidak batal wudlunya ditengah-tengah mandi. Dan tidak bisa masuk dan hilang hadats kecilnya jika mandinya adalah mandi sunnah, maka dia harus wudlu sebelum mandi, atau sesudahnya atau ditengah-tengah mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MANDI SUNNAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mandi jum'at.&lt;br /&gt;
Mandi jum'at ini adalah yang paling utama diantara mandi-mandi sunnah yang lainnya, karena ada yang mengatakan mandi jum'at ini hukumnya wajib.&lt;br /&gt;
Waktunya mandi jum'at dimulai dari terbitnya fajar, dan batas waktunya habis jika orang tersebut tidan berharap menghadiri sholat jum'at.&lt;br /&gt;
Dan mandi jum'at ini disunnahkan bagi orang yang ingin menghadiri sholat jum'at. Yang lebih utama adalah mengakhirkan mandinya sampai dia hendak berangkat menghadiri jum'at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mandi hari raya.&lt;br /&gt;
Waktunya disunnahkannya mandi hari raya mulai dari tengah malam sampai terbenamnya matahari.&lt;br /&gt;
Sunnahnya mandi hari raya ini karena hari raya tidak terkhususkan bagi orang yang hendak menghadiri sholat ied saja, maka mandi hari raya ini juga disunnah bagi wanita yang sedang haidl dan orang yang belum tamyiz.&lt;br /&gt;
Wanita haidl dilarang melakukan mandi dengan niat ibadah kecuali dalam masalah mandi hari raya ini dan beberapa mandi yang lainnya seperti yang telah disebutkan diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mandinya orang yang memandikan janazah.&lt;br /&gt;
Meskipun janazah yang dimandikan adalah janazahnya orang kafir, dan meskipun yang memandikan janazah adalah wanita yang sedang haidl atau nifas.&lt;br /&gt;
Waktunya mandi masuk setelah selesai memandikan janazah, dan waktunya habis dengan berpaling / tidak menghendaki mandi sunnah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mandi istisqo'.&lt;br /&gt;
Masuk waktunya, jika sholatnya sendirian ketika hendak sholat istisqo' (minta hujan), jika sholatnya berjama'ah waktunya mandi masuk ketika orang-orang sudah berkumpul, dan waktunya mandi selesai dengan dikerjakannya sholat istisqo'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Mandi gerhana matahari dan bulan.&lt;br /&gt;
Waktunya mulai sejak ada perubahan pada matahari atau bulan, dan waktunya habis dengan dikerjakannya sholat gerhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Mandinya orang kafir yang masuk islam.&lt;br /&gt;
Ini jika semasa kafir orang tersebut tidak junub, jika orang tersebut semasa kafirnya pernah junub maka dia wajib mandi janabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Mandi karena sembuh dari gila dan siuman dari pingsan.&lt;br /&gt;
Ini jika semasa gila atau pingsan tidak keluar mani, jika keluar mani maka wajib mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Mandi karena berbekam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Mandi ketika haji atau umrah.&lt;br /&gt;
Yaitu ketika hendak ihram, ketika masuk kota Makkah, wuquf di Arofah, thowaf, melempar jumroh.&lt;br /&gt;
Menurut pendapat yang kuat tidak disunnahkan mandi untuk mabit (bermalam) di Muzdalifah karena waktunya dekat dengan wuquf di Arofah.&lt;br /&gt;
Dalam mandi sunnah ketika haji dan umrah ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, yang suci atau yang sedang haidl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Mandi ketika masuk Madinatu Rosul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;والله اعلم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
المراجع&lt;br /&gt;
1. التقريرات السديدة في المسائل المفيدة&lt;br /&gt;
2. توشيح على ابن قاسم&lt;br /&gt;
3. حاشية الباجوري على ابن قاسم الغزي&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/08/bab-mandi.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-6757140493421642961</guid><pubDate>Wed, 11 Aug 2010 14:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-16T00:37:15.318+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqih 'Ubudiyah</category><title>Puasa</title><description>KITAB PUASA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ PENGERTIAN PUASA ( الصوم ) ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara bahasa berarti menahan diri, sebagaimana firman Allah SWT tentang sayyidah Maryam :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
إنى نذرت للرحمن صوما فلن أكلم اليوم إنسيا.&lt;br /&gt;
سورة : مريم 26&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya : "Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapapun pada hari ini."&lt;br /&gt;
(QS. Maryam : 26)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara istilah syar'i puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat yang khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- DALIL PUASA -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Allah SWT ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
ياأيها الذين ءامنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون . &lt;br /&gt;
البقرة :183&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya : "Wahai orang-orang yang ber-iman! Diwajibkan atas kamu ber-puasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa."&lt;br /&gt;
(QS. Al-baqarah : 183)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- WAKTU DIWAJIBKANNYA PUASA -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa diwajibkan pada tahun kedua hijrah pada bulan sya'ban. Selama hidupnya Rasulullah SAW berpuasa Ramadhan sebanyak sembilan kali, semuanya tidak genap satu bulan (hanya 29 hari) kecuali sekali yang genap satu bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-BULAN RAMADHAN-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Ramadhan adalah bulan yang ke sembilan dalam kalender hijriyah, dia adalah bulan yang paling mulia. Dinamakan Ramadhan karena katanya waktu orang-orang arab menetapkan nama-nama bulan, pada bulan Ramadhan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat menyengat, maka kemudian orang-orang arab memberikan nama Ramadhan ( رمضان ) berasal dari kata Ramdha' (رمضاء) yang berarti sangat panas. Ada yang mengatakan dinamakan Ramadhan karena membakar dosa-dosa. والله اعلم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-KEUTAMAAN PUASA-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat Al Qur'an dan hadits Nabi SAW banyak sekali yang menerangkan keutamaannya puasa, diantaranya adalah firman Allah SWT :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا&lt;br /&gt;
سورة الأحزاب : 35&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya : "Laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."&lt;br /&gt;
(QS. Al-Ahzab : 35).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam hadits Qudsi disebutkan ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
كل حسنة بعشر أمثالها إلى سبع مئة ضعف، إلا الصيام فهو لي وأنا أجزي به.&lt;br /&gt;
رواه مالك في " الموطأ "، والبخاري في الصوم :1904&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya kurang lebih : "Setiap kebaikan di gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."&lt;br /&gt;
(HR. Malik di dalam kitab "Al-Muwaththo', dan Bukhari dalam bab puasa : 1904)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hadits-hadits Nabi SAW:&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
من صام يوما في سبيل الله باعد الله منه جهنم مسيرة مئة عام.&lt;br /&gt;
رواه النسائى 174/4&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya : "Barang siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan darinya neraka jahannam sejauh 100 tahun perjalanan. (HR. An-Nasa'i : 4 / 174).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika puasa satu hari saja dijauhkan dari jahannam sejauh 100 tahun perjalanan, bagaimana jika berpuasa 30 hari ?.&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
للصائم فرحتان : فرحة حين يفطر ، وفرحة حين يلقى ربه.&lt;br /&gt;
حديث صحيح أخرجه الترمذي والنسائي وابن ماجة وأحمد عن أبي هريرة رضي الله عنه.&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya : "Untuk orang yang berpuasa ada dua kegembiraan : gembira ketika berbuka, dan gembira ketika bertemu Rab (tuhan) nya."&lt;br /&gt;
(Hadits shahih yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Abu Hurairah R.A).&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
صمت الصائم تسبيح، ونومه عبادة، ودعاؤه مستجاب، وعمله مضاعف.&lt;br /&gt;
أخرجه الديلمي في " مسند الفردوس " 397/2&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Artinya : "Diamnya orang yang puasa adalah tasbih, tidurnya adalah ibadah, do'anya dikabulkan, dan amal perbuatannya di lipat gandakan."&lt;br /&gt;
(Diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam "Musnad alfirdaus" 2 / 397).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-HUKUM PUASA-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa kesemuanya mencakup empat hukum, yaitu wajib, sunah, makruh dan haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. WAJIB.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang merupakan puasa wajib adalah ;&lt;br /&gt;
A). Puasa Ramadhan.&lt;br /&gt;
B). Puasa qodlo.&lt;br /&gt;
C). Puasa kafarat : seperti kafarat dhihar, membunuh atau jima' disiang hari bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;
D). Puasa pada waktu haji atau umrah sebagai ganti dari menyembelih hewan dalam fidyah.&lt;br /&gt;
E). Puasa istisqa' ketika di perintahkan oleh pemerintah.&lt;br /&gt;
F). Puasa nadzar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. SUNNAH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa sunnah ini terbagi jadi tiga macam :&lt;br /&gt;
1. Puasa yang berulang-ulang setiap tahun :&lt;br /&gt;
Seperti puasa pada hari arofah, tasu'a', asyuro, tgl 11 muharrom, enam hari pada bulan syawal, 10 hari pertama bulan dzul hijjah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
2. Puasa yang berulang-ulang setiap bulan :&lt;br /&gt;
Seperti puasa pada tanggal 13, 14, 15 setiap bulan hijriyah atau yang dikenal dengan puasa ayyaam al-bidl, dan puasa ayyaam as-suud yaitu tgl 28, 29 dan 30 tiap bulan.&lt;br /&gt;
3. Puasa yang berulang setiap pekan :&lt;br /&gt;
Yaitu puasa hari senin dan kamis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan puasa sunnah yang paling utama adalah sehari puasa sehari tidak. Puasa ini adalah puasanya Nabi Dawud AS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. MAKRUH.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu puasa sehari pada hari jum'at atau sabtu atau ahad saja tanpa mengikutkan puasa pada hari sebelumnya atau sesudahnya. Jika puasanya dua hari (jum'at dan sabtu misalnya), atau tiga hari berturut-turut maka tidak makruh.&lt;br /&gt;
Dan yang termasuk makruh juga adalah puasa terus menerus sepanjang tahun ( صيام الدهر ) bagi orang khawatir akan mendatangkan bahaya atau kerugian bagi dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. HARAM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
puasa yang haram dikerjakan ini terbagi dua bagian :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Haram dikerjakan akan tetapi puasanya sah.&lt;br /&gt;
Yaitu puasa sunnahnya seorang istri tanpa ijin dari suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Haram dikerjakan dan juga tidak sah puasanya.&lt;br /&gt;
Pada bagian ini ada lima contoh, yaitu ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Puasa pada idul fitri, yaitu tanggal 1 syawal.&lt;br /&gt;
2. Puasa pada idul adhha, yaitu tanggal 10 dzul hijjah.&lt;br /&gt;
3. Puasa pada hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 dzul hijjah.&lt;br /&gt;
4. Puasa pada pertengahan yang akhir dari bulan sya'ban, yaitu mulai tanggal 16 sampai akhir bulan sya'ban.&lt;br /&gt;
5. Puasa pada hari syak&lt;br /&gt;
yaitu hari ke tiga puluh dari bulan sya'ban ketika ada selentingan orang-orang bicara telah melihat hilal / tanggal, atau orang yang melihat hilal adalah orang yang kesaksiannya (syahadah) tidak diterima, seperti anak kecil dan perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permasalahan : kapan diperbolehkan puasa pada hari syak dan pertengahan akhir bulan sya'ban ?&lt;br /&gt;
Puasa pada dua waktu tersebut diperbolehkan hanya dalam tiga kondisi ;&lt;br /&gt;
1. Jika puasa tersebut bersifat wajib, seperti puasa qodlo, atau kafaroh, atau nadzar.&lt;br /&gt;
2. Jika sudah terbiasa puasa sunnah, seperti puasa senin kamis.&lt;br /&gt;
3. Jika puasa pada pertengahan yang akhir disambung dengan sebelumnya.&lt;br /&gt;
seperti pada tanggal 15 sya'ban sudah berpuasa maka pada tanggal 16 diperbolekan untuk berpuasa. Jika tanggal 16 berpuasa maka tanggal 17 boleh puasa, begitu seterusnya. Jika sehari saja tidak puasa maka hari selanjutnya sampai akhir bulan sya'ban tidak diperbolehkan puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ SYARAT-SYARAT SAHNYA PUASA ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka puasanya sah, yaitu ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Islam&lt;br /&gt;
Orang yang berpuasa disyaratkan harus islam sepanjang hari, jika murtad (Na'udzu billah min dzalik) walaupun cuma sekejap maka puasanya batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Berakal / waras&lt;br /&gt;
Jika gila meskipun sekejap maka batal puasanya.&lt;br /&gt;
Adapun orang yang mabuk penjelasannya nanti pada pembahasan pembatal puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Suci dari haid dan nifas&lt;br /&gt;
perempuan yang berpuasa disyaratkan harus suci sepanjang hari. Jika tiba2 haid pada akhir hari menjelang berbuka maka puasanya batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mengetahui boleh tidaknya waktu digunakan untuk melaksanakan puasa.&lt;br /&gt;
Orang yang berpuasa disyaratkan harus mengetahui waktu / hari yang akan digunakan untuk melaksanakan puasa boleh atau tidak puasa pada hari tersebut, seperti hari-hari yang dilarang untuk puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ SYARAT-SYARAT WAJIBNYA PUASA ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka orang tersebut diwajibkan puasa. Syarat-syaratnya yaitu ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Islam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang selain islam tidak diperintahkan puasa, adapun orang yang murtad (Na'udzu billah min dzalik) diwajibkan mengqodlo puasa ketika kembali masuk islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Taklif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya adalah orang yang sudah baligh dan berakal. Sedangkan anak kecil yang sudah menginjak umur tujuh tahun maka walinya wajib memerintahkan anak tersebut untuk puasa, dan walinya diperbolehkan memukulnya jika sudah menginjak umur sepuluh tahun dan mampu mengerjakan puasa tapi tidak mau puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mampu puasa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemampuan berpuasa ini terbagi menjadi dua ;&lt;br /&gt;
1. Mampu secara hissi (nyata)&lt;br /&gt;
Maka bagi orang yang sudah sangat tua dan orang yang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya tidak wajib puasa.&lt;br /&gt;
2. Mampu secara syar'i&lt;br /&gt;
Maka tidak wajib puasa bagi wanita yang haid dan nifas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Sehat&lt;br /&gt;
Maka tidak wajib puasa bagi orang yang sakit.&lt;br /&gt;
Orang yang sakit ini tidak diwajibkan niat puasa pada malam hari ( تبييت النية ) jika sakitnya ada sebelum fajar, jika sebelum sebelum fajar tidak sakit maka wajib niat pada malam hari dan berpuasa, kemudian jika sakitnya kambuh dia diperbolehkan berbuka.&lt;br /&gt;
Definisi sakit yang diperbolehkan tidak puasa : yaitu sakit yang dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan atau lambat sembuhnya atau sakitnya akan bertambah parah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Tidak sedang bepergian (iqomah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka puasa tidak diwajibkan bagi orang yang sedang bepergian (musafir) yang menempuh jarak yang jauh (82 km) yang perjalanannya tersebut diperbolehkan (tidak untuk maksiat). Dan di syaratkan juga (untuk bolehnya berbuka dalam perjalanan) perginya harus sebelum terbitnya fajar.&lt;br /&gt;
Dan yang lebih utama bagi musafir adalah berpuasa jika tidak memberatkan, jika dirasa terlalu berat berpuasa maka berbuka adalah yang lebih utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan diwajibkan juga niat tarakhkhush (niat mendapatkan keringanan) ketika berbuka bagi musafir dan orang sakit yang bisa diharapkan sembuh dan orang yang sangat kelaparan untuk membedakan antara berbuka yang diperbolehkan dari yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ RUKUN PUASA ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Niat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik itu puasa wajib maupun puasa sunnah. Sabda Nabi SAW ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
إنما الأعمال بالنيات&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Sesungguhnya (sahnya) amal-amal perbuatan itu tergantung niat."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niat puasa ini wajib dikerjakan setiap hari,&lt;br /&gt;
Karena setiap harinya puasa ini adalah suatu bentuk ibadah yang berdiri sendiri dan tidak cukup hanya dengan satu niat untuk satu bulan, menurut pendapat yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan antara niatnya puasa fardlu dan puasa sunnah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Niatnya puasa fardlu&lt;br /&gt;
1. Waktunya niat masuk mulai terbenamnya matahari sampai terbit fajar. Maka puasa fardlu ini wajib meng-inap-kan Niat.&lt;br /&gt;
2. Wajib ta'yin (menentukan) seperti puasa ramadhan atau kifarat atau nadzar atau qodlo.&lt;br /&gt;
3. Tidak diperbolehkan menggabungkan dua puasa fardlu dalam satu hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Niatnya puasa sunnah&lt;br /&gt;
1. Waktunya niat masuk mulai terbenamnya matahari sampai matahari tepat diatas kepala (zawal). Maka tidak wajib meng-inap-kan niat.&lt;br /&gt;
2. Tidak wajib ta'yin kecuali jika puasanya tersebut puasa pada waktu-waktu tertentu seperti puasa pada hari 'arofah, menurut pendapat yang kuat.&lt;br /&gt;
3. Boleh menggabungkan antara dua puasa sunnah atau lebih dengan satu niat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam puasa sunnah niat sah dikerjakan setelah terbitnya fajar akan tetapi dengan dua syarat :&lt;br /&gt;
1. Niat harus dilakukan sebelum zawal (masuk waktu dhuhur).&lt;br /&gt;
2. Tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai waktu melakukan niat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niat puasa Ramadhan :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
نويت صوم غد عن أداء فرض شهر رمضان هذه السنة لله تعالى&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Nawaitu shouma ghodin 'an ada'i fardli syahri romadhoni haadzihis-sanati Lillaahi Ta'aalaa."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. MENINGGALKAN HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rukun puasa yang kedua adalah meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dengan sadar, atas kehendak sendiri (tidak dipaksa) dan tidak bodoh yang diampuni. Maka orang yang berbuka karena lupa atau dipaksa atau bodoh / tidak tahu yang diampuni kebodohannya puasanya tidak batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bodoh yang diampuni adalah salah satu dari dua berikut ini :&lt;br /&gt;
1. Orang yang hidupnya jauh dari ulama'.&lt;br /&gt;
2. Orang yang baru saja masuk islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ WAJIBNYA PUASA RAMADHAN ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kewajibannya melaksanakan puasa Ramadhan sebab salah satu dari lima hal.&lt;br /&gt;
Dua diantaranya secara umum : keduanya tersebut wajib bagi semua orang ketika sudah ditetapkan oleh pemerintah.&lt;br /&gt;
Dan yang tiga secara khusus : bagi masing-masing individu secara khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. SECARA UMUM&lt;br /&gt;
1. Dengan menyempurnakan bilang bulan sya'ban menjadi 30 hari.&lt;br /&gt;
2. Melihat hilal yang disaksikan oleh orang yang adil kesaksiannya, ialah orang yang menetapi beberapa syaratnya syahadah, yaitu : laki-laki, merdeka, mempunyai harga diri, bijaksana, sadar, bisa berbicara, mendengar dan melihat, tidak melakukan dosa besar, tidak melakukan dosa kecil terus menerus, atau selalu melakukan dosa kecil sehingga maksiatnya mengalahkan ta'atnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna dari "SECARA UMUM" : puasa diwajibkan bagi seluruh penduduk daerah tersebut dan penduduk yang satu mathla' menurut imam Nawawi, sedangkan menurut imam Rofi'i wajib bagi seluruh daerah yang tidak jauh dari daerah tersebut sekitar jarak 82 km.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. SECARA KHUSUS&lt;br /&gt;
1. Dengan melihat hilal, bagi orang yang melihat hilal itu sendiri meskipun dia fasiq.&lt;br /&gt;
2. Diberi kabar telah dilihatnya hilal.&lt;br /&gt;
Dalam masalah ini ada perincian :&lt;br /&gt;
Jika orang yang memberi kabar adalah orang yang bisa dipercaya maka wajib puasa, baik yang puasa itu mantap dengan kebenaran orang yang memberi kabar atau tidak. Adapun jika orang yang memberi kabar tersebut tidak bisa dipercaya maka tidak wajib puasa kecuali jika orang yang hendak puasa meyakini kebenaran orang yang memberi kabar tersebut.&lt;br /&gt;
3. Dengan prasangka masuknya Ramadhan berdasarkan ijtihad, bagi orang yang bimbang akan masuknya ramadhan, seperti telah mendengarkan sirine yang biasa digunakan untuk menandakan masuknya ramadhan dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ PERTANYAAN-PERTANYAAN SEPUTAR MASALAH HILAL ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Seseorang telah puasa selama 30 hari (ramadhan) sebab perkataan orang yang dipercayai kebenarannya, apakah dia boleh tidak puasa setelah puasa selama 30 hari meskipun dia tidak melihat hilal (1 syawal)?&lt;br /&gt;
jawab : menurut imam Romli dia boleh tidak puasa tapi harus dengan sembunyi-sembunyi. Menurut ibnu Hajar tidak boleh, karena itu bukan merupakan hujjah (dalil) syar'iyah, kecuali kalau puasanya berdasar kabar dari orang yang adil dan dia puasa untuk hati-hati, maka dia wajib imsak juga untuk hati-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Seandainya seseorang bepergian dari negaranya ke negara lain pada akhir bulan sya'ban keadaan tidak puasa karena belum melihat hilal, kemudian dia menemui penduduk negara lain tersebut berpuasa sedangkan dia tidak. Atau sebaliknya, Bagaimana hukumnya?&lt;br /&gt;
jawab : ketika dia menemui penduduk negara lain tersebut berpuasa maka dia wajib mengikuti mereka. Tapi sebaliknya, jika dia menemui penduduk negara tersebut tidak puasa sedangkan dia puasa maka dia membatalkan puasanya menurut imam Romli, sedang menurut imam Ibnu Hajar dia tidak boleh membatalkan puasanya, karena dia puasa berdasarkan keyakinan telah melihat hilal maka dia tidak boleh menentangnya hanya disebabkan dia sampai dinegara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jika seseorang bepergian dari negaranya ke negara lain pada akhir bulan ramadhan dalam keadaan puasa karena tidak melihat hilal, atau dalam keadaan tidak puasa karena sudah melihat hilal, kemudian dia menemui penduduk negara tersebut tidak puasa sedang dia sendiri puasa, atau dia menemui penduduk negara tersebut berpuasa sedang dia tidak puasa. Bagaimana hukumnya ?&lt;br /&gt;
jawab : Dalam dua permasalahan tersebut dia wajib mengikuti penduduk setempat menurut pendapat yang kuat, karena dia menjadi bagian dari penduduk setempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ SUNNAH-SUNNAH PUASA DAN RAMADHAN ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Segera berbuka :&lt;br /&gt;
Jika yakin matahari sudah terbenam, kecuali jika ragu-ragu, maka dia wajib mengamalkan yang lebih hati-hati dan menunda berbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Makan sahur :&lt;br /&gt;
Sunnahnya makan sahur ini waktunya mulai dari tengah malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mengakhirkan makan sahur :&lt;br /&gt;
Sekira mengakhirkannya ini tidak terlalu mepet terbitnya fajar, dan disunnahkan untuk tidak makan menjelang fajar kira-kira sekadar membaca 50 ayat Al-Qur'an (sekitar 15 menit sebelum fajar)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Berbuka menggunakan kurma yang matang dengan bilangan ganjil.&lt;br /&gt;
Buka puasa dengan kurma ini didahulukan, jika tidak ada kurma matang maka dengan kurma yang sebelum matang, kemudian kurma muda, kemudian air zamzam, kemudian makanan yang manis yang tidak dimasak seperti anggur kering / kismis, kemudian makanan yang manis yang dimasak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Berdoa ketika buka puasa :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم لك صمت، وبك أمنت، وعلى رزقك أفطرت‎ ‎&lt;br /&gt;
ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله.&lt;br /&gt;
الحمد لله الذي أعانني فصمت ورزقني فأفطرت. اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي.&lt;br /&gt;
روى أوله أبو داود وأخره ابن السني&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Ya Allah.. Untuk-Mu lah aku puasa, dan kepada-Mu lah aku beriman, dan atas rizqi-Mu lah aku berbuka. Hilanglah sudah rasa dahaga, urat-urat menjadi basah, dan pahala sudah tetap insyaaallah. Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku bisa berpuasa, dan memberikan aku rizqi sehingga aku bisa berbuka. Ya Allah... aku mohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang memenuhi segala sesuatu agar mengampuni aku."&lt;br /&gt;
(Yang awal diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan yang akhir diriwayatkan oleh Ibnu Sinni)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dilanjutkan berdoa sesuka hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Memberikan buka puasa kepada orang-orang yang berpuasa.&lt;br /&gt;
Karena hal tersebut pahalanya sangat besar sekali. Didalam hadits disebutkan :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
من فطر صائما كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا.&lt;br /&gt;
رواه الترمذي وصححه وابن ماجه وابن خزيمة وابن حبان&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Barang siapa memberikan buka puasa kepada orang yang puasa maka baginya sebagaimana pahalanya orang yang puasa tanpa dikurangi dari pahalanya orang yang puasa sedikitpun."&lt;br /&gt;
(HR. At-Tirmidzi dan di-shahih-kan olehnya, dan Ibnu majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Mandi janabat sebelum fajar.&lt;br /&gt;
Ini dilakukan untuk keluar dari khilaf ulama dalam masalah puasanya orang yang sedang junub. Dan supaya dia memulai puasanya dalam keadaan suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Mandi setiap malam setelah maghrib.&lt;br /&gt;
Supaya giat dalam mengerjakan ibadah dimalam hari ramadhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Memelihara shalat taraweh dari awal sampai akhir ramadhan.&lt;br /&gt;
Rosulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.&lt;br /&gt;
رواه البخاري و مسلم&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Barang siapa mendirikan Romadhon karena iman dan mencari pahala maka di-ampuni baginya yang telah lalu dari dosanya."&lt;br /&gt;
(HR : Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang dimaksud dengan mendirikan ramadhan adalah shalat taraweh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Sangat disarankan memelihara shalat witir.&lt;br /&gt;
Shalat witir dibulan ramadhan ini mempunyai tiga keistimewaan yang tidak dimiliki shalat witir diluar bulan ramadhan. Keistimewaannya yaitu ;&lt;br /&gt;
1. Disunnahkan dikerjakan dengan berjama'ah.&lt;br /&gt;
2. Disunnahkan mengeraskan suara bacaan dalam shalat.&lt;br /&gt;
3. Disunnahkan membaca doa qunut pada separuh yang kedua dari bulan ramadhan, menurut pendapat ulama yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Memperbanyak membaca Al-Qur'an sambil meresapi maknanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Memperbanyak mengerjakan ibadah sunnah :&lt;br /&gt;
Seperti shalat sunnah rowatib, shalat dhuha, shalat tasbih, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Memperbanyak mengerjakan amal sholih :&lt;br /&gt;
Seperti shodaqoh, silaturrahmi, menghadiri majlis ilmu, iktikaf dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Berusaha mendapatkan lailatul qadar pada sepuluh hari yang terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Berusaha berbuka puasa dengan makanan yang halal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16. Memberikan lebih kelonggaran (rizqi) kepada keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
17. Meninggalkan perkataan yang bukan-bukan (omong kosong) dan saling mencaci maki.&lt;br /&gt;
Jika ada seseorang yang mencacinya maka dia menyebut dalam hatinya bahwa dia sedang puasa untuk mencegah masuknya kecacatan pada puasanya. Dan juga disunnahkan juga mengucapkannya ( "Aku sedang puasa." ) dengan mulutnya jika tidak dikhawatirkan timbulnya riya' (memperlihatkan ibadah kepada orang lain) dengan tujuan untuk memperingatkan orang yang mencacinya dan membalasnya dengan yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ KEMAKRUHAN-KEMAKRUHAN SAAT PUASA ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mengunyah Makanan.&lt;br /&gt;
Makruhnya mengunyah makanan ini jika tidak ada makanan yang masuk kedalam, jika ada yang masuk maka puasanya batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mencicipi masakan.&lt;br /&gt;
Makruhnya ini jika dilakukan tanpa ada hajat kebutuhan serta tidak ada masakan yang ikut masuk kedalam perut. Adapun jika mencicipi masakan tersebut karena ada kebutuhan maka tidak makruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ihtijam (berbekam).&lt;br /&gt;
Yaitu mengeluarkan darah dengan cara khusus untuk pengobatan. Makruhnya ini karena untuk keluar dari khilafnya ulama', dan karena ihtijam menyebabkan lemas. Sebagaimana berbekam dimakruhkan, membekam orang lain juga dimakruhkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Memuntahkan air dari mulutnya setelah berbuka.&lt;br /&gt;
Karena menghilangkan barokahnya puasa yang terdapat pada air tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Mandi dengan cara menyelam (selulup : jawa) meskipun itu mandi wajib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Menggosok gigi setelah zawal (setelah masuk waktu dhuhur).&lt;br /&gt;
Karena dapat menghilangkan bau mulut (kholuf) orang yang puasa.&lt;br /&gt;
sebagaimana yang disebutkan dalam hadits bahwa bau mulutnya orang yang puasa itu lebih harum dari minyak misik disisi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Terlalu kenyang dan kebanyakan tidur, dan tenggelam dalam sesuatu yang tidak berguna.&lt;br /&gt;
Karena semua itu menghilangkan faedah puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Mengerjakan kesenangan-kesenangan yang diperbolehkan dari bau-bauan, pemandangan atau pendengaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang membatalkan puasa ini terbagi menjadi dua bagian:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Hanya membatalkan pahalanya puasa saja tapi tidak membatalkan puasanya itu sendiri.&lt;br /&gt;
2. Membatalkan puasa begitu juga pahalanya (jika tanpa ada udzur). Dalam masalah ini maka dia diwajibkan qodlo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ BAGIAN PERTAMA ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian pertama ini disebut juga dengan istilah "AL MUHBITHOT" Yaitu yang membatalkan pahalanya puasa saja.&lt;br /&gt;
Rosulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش .&lt;br /&gt;
أخرجه أحمد وابن ماجه&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."&lt;br /&gt;
(Hadits dikeluarkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ghibah&lt;br /&gt;
yaitu menggunjing atau anda membicarakan saudaramu sesama muslim dengan sesuatu yang tidak disukainya meskipun yang kamu bicarakan itu adalah benar.&lt;br /&gt;
Didalam hadits disebutkan :&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
الصائم في عبادة من حين يصبح إلى حين يمسي ما لم يغتب، فإذا اغتاب خرق صومه .&lt;br /&gt;
رواه الديلمي&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Orang yang puasa itu dalam keadaan ibadah dari pagi sampai sore selagi dia tidak menggunjing, ketika dia menggunjing maka dia telah merusak puasanya."&lt;br /&gt;
(HR. Ad-Dailami)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Namimah (adu domba) :&lt;br /&gt;
Yaitu memindahkan ucapan dari seseorang ke orang lain dengan tujuan untuk menimbulkan fitnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Berbohong&lt;br /&gt;
Menceritakan yang tidak sesuai kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Memandang kepada yang diharamkan atau memandang kepada yang halal dengan syahwat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sumpah palsu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Berkata jelek, keji, kotor, jorok .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika orang yang berpuasa mampu menjaga mulutnya dari hal-hal diatas maka dia mendapatkan dua pahala sekaligus, insyaa Allah, pertama pahala wajib dari segi kewajiban menjaga mulut dari hal-hal diatas, yang kedua pahala sunnah dari segi puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ BAGIAN KE DUA ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu yang membatalkan puasa secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. MURTAD&lt;br /&gt;
Yaitu memutuskan islam dengan niat atau ucapan atau perbuatan meskipun murtadnya itu hanya sekejap.&lt;br /&gt;
2. HAID, NIFAS, DAN WILADAH&lt;br /&gt;
Meskipun ketiganya itu hanya sekejap di siang hari.&lt;br /&gt;
3. GILA : walaupun cuma sekejap.&lt;br /&gt;
4. PINGSAN DAN MABUK&lt;br /&gt;
Jika pingsan dan mabuknya tersebut sampai satu hari penuh. Jika dia sadar / siuman meskipun cuma sebentar maka puasanya sah, ini adalah pendapat yang kuat menurut imam Romli.&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut imam Ibnu Hajar, orang yang pingsan dan mabuk tersebut puasanya batal jika pingsan dan mabuknya tersebut disengaja meskipun cuma sebentar.&lt;br /&gt;
Sedangkan imam yang lainnya berpendapat : puasanya tidak batal kecuali jika disengaja dan sehari penuh.&lt;br /&gt;
5. JIMA' / BERSETUBUH&lt;br /&gt;
Ketika seseorang bersetubuh (meskipun di dubur atau dengan hewan) dengan sengaja, mengetahui keharamannya, atas kehendak sendiri (tidak dipaksa) maka puasanya batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan &lt;u&gt;&lt;b&gt;"KETIKA SESEORANG MERUSAK PUASANYA DI BULAN RAMADHAN SEHARI PENUH, DENGAN JIMA' YANG SEMPURNA, DAN DIA BERDOSA SEBAB JIMA'NYA TERSEBUT KARENA PUASA"&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; maka dia terkena lima perkara :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dia berdosa&lt;br /&gt;
2. Dia wajib imsak (tidak boleh makan, minum dan sebagainya sampai waktu buka puasa tiba)&lt;br /&gt;
3. Dia wajib di-Ta'zir (hukuman dari hakim), dan ta'zir ini khusus untuk orang yang tidak mau bertaubat.&lt;br /&gt;
4. Dia wajib qodlo&lt;br /&gt;
5. Wajib membayar kafarat udzma:&lt;br /&gt;
Yaitu salah satu dari tiga hal berikut sesuai urutan. Dia tidak boleh pindah ke urutan kedua kecuali jika dia tidak mampu dari yang sebelumnya :&lt;br /&gt;
A. Me-merdeka-kan budak mu'minah yang selamat dari cacat yang dapat mengganggu pekerjaan.&lt;br /&gt;
B. Jika tidak mampu, maka dia wajib Puasa dua bulan berturut-turut. Jika sehari saja tidak puasa (meskipun karena udzur, sakit misalnya) maka dia wajib mengulangi dari awal lagi. Tapi jika tidak puasa nya itu disebabkan haidl atau nifas atau gila atau pingsan sehari penuh maka tidak jadi masalah.&lt;br /&gt;
Kewajibannya kafarat ini hanya untuk laki-laki, tidak untuk perempuan, karena hanya dengan masuknya sebagian dari penisnya laki-laki sudah membatalkan puasanya perempuan. Jadi batalnya puasa-nya perempuan dalam masalah ini bukan karena jima' tapi karena masuknya sesuatu kedalam tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan dari kalimat :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;"KETIKA SESEORANG MERUSAK PUASANYA DI BULAN RAMADHAN SEHARI PENUH, DENGAN JIMA' YANG SEMPURNA, DAN DIA BERDOSA SEBAB JIMA'NYA TERSEBUT KEPADA PUASA"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
yang disebutkan diatas yang menyebabkan wajibnya kafarat udzma adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Seseorang merusak / membatalkan puasanya. Ini adala makna dari "KETIKA SESEORANG MERUSAK PUASANYA."&lt;br /&gt;
2. Jima' tersebut dilakukan pada siang hari bulan ramadhan. Maka tidak wajib kafarat ketika seseorang itu merusak puasanya selain di bulan ramadhan meskipun puasa itu wajib. Ini adalah makna dari "DI BULAN RAMADHAN."&lt;br /&gt;
3. Hari yang telah dirusak tersebut adalah penuh, maka tidak wajib kafarat jika orang tersebut meninggal atau gila sebelum matahari tenggelam. Ini adalah makna dari "SEHARI PENUH"&lt;br /&gt;
4. Puasanya tersebut dirusak dengan jima', maka tidak wajib kafarat jika puasanya tersebut dirusak dengan selain jima', seperti makan dahulu baru kemudian melakukan jima'. Ini adalah makna dari "DENGAN JIMA' "&lt;br /&gt;
5. Jima' yang dilakukan harus sempurna, yaitu memasukkan semua hasyafah (kepala penis) kedalam farji. Maka tidak wajib kafarat jika yang dimasukkan sebagian dari hasyafah, bahkan puasanya tidak batal. Ini adalah makna dari "YANG SEMPURNA"&lt;br /&gt;
6. Dia berdosa sebab jima' tersebut. Maka dia tidak wajib kafarat jika dia men-jima' istrinya pada siang hari ramadhan dalam keadaan bepergian jauh yang diperbolehkan. Ini adalah makna dari "DIA BERDOSA SEBAB JIMA'NYA TERSEBUT."&lt;br /&gt;
7. Dosanya itu disebabkan karena dia telah merusak pada puasa. Maka tidak wajib kafarat jika orang tersebut melakukan zina ((Na'udzu billah min dzalik)) dalam keadaan bepergian, dia telah melakukan dosa besar bukan karena dari segi puasa. Ini adalah makna dari" KEPADA PUASA".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan masih ada satu syarat yang tidak disebut dalam kalimat tersebut, yaitu ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Tidak ada keraguan (syubhah). Maka tidak wajib kafarat bagi orang yang ragu-ragu pada masuknya malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. MASUKNYA BENDA ASING MELALUI LUBANG YANG TERBUKA SAMPAI KE JAUF (DALAM TUBUH/PERUT).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat "MASUKNYA BENDA" mengecualikan udara, maka masuknya udara sampai ke perut tidak membatalkan puasa.&lt;br /&gt;
Kalimat "LUBANG YANG TERBUKA"  mengecualikan ketika masuknya benda sampai ke perut dari lubang yang tidak terbuka seperti minyak dan lainnya sebab diserap pori-pori.&lt;br /&gt;
Lubang-lubang yang ada di badan semuanya terbuka dalam madzhabnya imam Syafi'i kecuali mata, begitu juga telinga menurut imam Ghozali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Akan tetapi ilmu kedokteran sekarang menetapkan bahwa mata mempunyai lubang terbuka yang sampai ke perut dan telinga tidak mempunyai lubang terbuka yang sampai ke perut).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ Permasalahan-Permasalahan Dalam Masuknya Benda Ke jauf ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. HUKUM SUNTIK&lt;br /&gt;
Boleh karena darurat, akan tetapi ulama' berbeda pendapat dalam membatalkannya puasa ada tiga pendapat ;&lt;br /&gt;
1. Pendapat pertama ; suntik membatalkan puasa secara mutlak, karena obat yang dimasukkan sampai ke perut.&lt;br /&gt;
2. Pendapat kedua ; tidak membatalkan puasa secara mutlak, karena yang dimasukkan sampai ke perut tidak melalui lubang yang terbuka.&lt;br /&gt;
3. Pendapat ketiga ; tafsil (ini adalah pendapat yang kuat) ; jika yang dimasukkan merupakan sebagai makanan atau zat pengganti makanan (seperti infus) maka membatalkan puasa, jika tidak sebagai makanan maka perlu kita lihat ;&lt;br /&gt;
- jika di urat yang berongga / berlubang maka membatalkan puasa.&lt;br /&gt;
- jika di otot (urat yang tidak berongga) maka tidak membatalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. HUKUM DAHAK.&lt;br /&gt;
Dalam masalah ini ada pemerincian ;&lt;br /&gt;
1. Jika dahak tersebut keluar sampai batas luar kemudian menelannya maka puasanya batal.&lt;br /&gt;
2. Jika sampai batas dalam kemudian menelannya maka puasanya tidak batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batas luar ( حد الظاهر ) : makhrojnya huruf  &lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;ح &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Batas dalam ( حد الباطن ) : makhrojnya huruf&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Makhrojnya huruf ح ini ada perbedaan pendapat ;&lt;br /&gt;
menurut imam Nawawi termasuk batas luar, maka membatalkan puasa ketika orang puasa menelan dahak yang telah sampai pada batas ini.&lt;br /&gt;
menurut imam Rofi'i termasuk batas dalam maka tidak membatalkan puasa jika menelannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. HUKUM MENELAN LUDAH.&lt;br /&gt;
Menelan ludah ini tidak membatalkan puasa (meskipun sengaja dikumpulkan dibawah lidahnya) akan tetapi dengan tiga syarat ;&lt;br /&gt;
1. Ludahnya harus murni (tidak tercampur dengan yang lainnya).&lt;br /&gt;
Jika ludah yang ditelan tersebut sudah tercampur dengan semisal zat pewarna atau yang lainnya maka membatalkan puasa.&lt;br /&gt;
2. Ludah tersebut harus suci tidak terkena najis (mutanajjis).&lt;br /&gt;
Seperti ludah yang ditelan terkena najis, misalnya terkena darah atau bekas muntah-muntahan (yang tidak disengaja) kemudian dibersihkan tanpa menggunakan air maka ludah dan mulutnya tetap najis meskipun ludah tersebut bening, maka mau tidak mau harus dibersihkan dengan air.&lt;br /&gt;
3. Ludah harus dari mulutnya.&lt;br /&gt;
jika orang yang puasa menelan ludah yang sudah keluar sampai bibirnya maka puasanya batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. HUKUM MASUKNYA AIR KEDALAM TUBUH KETIKA MANDI TANPA DISENGAJA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam masalah ini ada perincian sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Jika mandinya tersebut merupakan mandi yang diperintahkan, wajib, seperti mandi janabat, atau sunnah, seperti mandi jum'at, maka tidak membatalkan puasa jika mandinya dengan cara diguyur, dan membatalkan puasa jika mandinya dengan cara menyelam.&lt;br /&gt;
2. Jika mandinya tersebut bukan mandi yang diperintahkan, seperti mandi untuk ngadem atau membersihkan badan maka membatalkan puasa meskipun tidak sengaja, baik itu mandinya dengan diguyur maupun menyelam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. HUKUM KETIKA AIR TERTELAN TANPA SENGAJA WAKTU BERKUMUR DAN MENGHIRUP AIR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perincian :&lt;br /&gt;
1. Jika berkumurnya tersebut diperintahkan dalam wudlu atau mandi , maka perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;
A. Jika berkumurnya tidak berlebih-lebihan : maka tidak membatalkan puasa jika air itu tertelan tanpa sengaja.&lt;br /&gt;
B. Jika berkumurnya itu berlebih-lebihan : maka membatalkan puasa, karena berkumur yang berlebih-lebihan dimakruhkan bagi orang yang puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jika berkumurnya tersebut tidak diperintahkan, misalnya berkumur yang keempat kalinya dalam wudlu, atau berkumurnya itu tidak dalam wudlu atau mandi : maka puasanya batal meskipun tidak berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ 7. ISTIMNA' ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkara yang membatalkan puasa yang ketujuh adalah ISTIMNA' yaitu sengaja mengeluarkan mani dengan tangannya atau tangan orang yang halal untuknya atau dengan berfikir / membayangkan atau memandang (jika dia tahu akan keluar mani ketika membayangkan atau memandang) atau dengan tidur berdampingan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulan dari masalah keluarnya mani :&lt;br /&gt;
keluarnya mani suatu saat membatalkan dan disaat yang lain tidak membatalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang membatalkan puasa ada dalam dua kondisi :&lt;br /&gt;
1. Dengan istimna'&lt;br /&gt;
2. Ketika bergaul dengan istrinya tanpa penghalang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang tidak membatalkan puasa juga ada pada dua kondisi :&lt;br /&gt;
1. Ketika keluarnya tidak sebab bergaul, seperti memandang atau berfikir.&lt;br /&gt;
2. Ketika keluarnya sebab bergaul dengan istrinya tapi dengan penghalang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(kata "bergaul" yang aku maksudkan adalah mubasyaroh, atau bersenang-senang dengan istri tanpa melakukan jima' / hubungan badan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ HUKUM CIUMAN ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum berciuman dengan istri ketika puasa adalah haram jika ciuman tersebut sampai menggerakkan syahwatnya. Jika tidak menggerakkan syahwatnya maka hukumnya khilaful aula (atau dengan kata lain "lebih baik tidak dilakukan") , dan tidak membatalkan puasa jika sampai keluar mani sebab ciuman tersebut.&lt;br /&gt;
Letak keharamannya ciuman dengan istri tersebut pada puasa fardlu, sedangkan pada puasa sunnah tidak haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ 8. SENGAJA MUNTAH. ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkara yang membatalkan puasa yang terakhir adalah sengaja muntah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muntahan = makanan yang keluar kembali setelah melewati tenggorokan meskipun itu air, dan meskipun rasa dan warnanya tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum ketika seseorang muntah-muntah :&lt;br /&gt;
Mulutnya menjadi najis, maka dia wajib membasuh mulutnya dan berlebih-lebihan dalam berkumur hingga semua bagian dalam mulutnya yang termasuk batas luar terkena basuhan, dan tidak membatalkan puasa jika air kumur itu tertelan tanpa sengaja, karena menghilangkan najis itu diperintahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ PEMBAGIAN MEMBATALKAN PUASA (IFTHOR) MENURUT KEWAJIBAN YANG DISEBABKAN OLEH IFTHOR TERSEBUT ¤&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Yang mewajibkan Qodlo dan Fidyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ifthor karena mengkhawatirkan keadaan orang lain, seperti ifthornya wanita hamil karena khawatir keadaan janinnya dan wanita menyesui karena khawatir pada yang disusuinya.&lt;br /&gt;
Adapun jika kedua wanita ini ifthor karena khawatir pada keadaan dirinya sendiri dan juga pada anaknya maka kedua wanita ini tidak punya kewajiban apa-apa kecuali qodlo puasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ifthor serta menunda qodlo (dan ada kesempatan) sampai datang ramadhan lain tanpa ada udzur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika mengakhirkan / menundanya ini karena udzur (seperti bepergian, sakit, menyusui, lupa, bodoh) maka dia tidak wajib membayar fidyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
FIDYAH : Mengeluarkan satu mud bahan makanan penduduk setempat untuk setiap satu hari yang dia tidak puasa.&lt;br /&gt;
fidyah ini akan berlipat-lipat dengan lipatan tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Yang mewajibkan qodlo saja tanpa fidyah.&lt;br /&gt;
seperti orang pingsan, orang yang lupa niat, dan orang yang sengaja membatalkan puasa dengan selain jima'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Yang mewajibkan fidyah saja tidak qodlo.&lt;br /&gt;
Seperti orang yang sudah tua renta dan orang sakit yang tidak bisa diharapkan sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Yang tidak mewajibkan qodlo dan fidyah.&lt;br /&gt;
Seperti ifthornya orang gila yang tidak sengaja tadi gila.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KEADAAN YANG MEWAJIBKAN QODLO SERTA IMSAK (menahan diri dari makan, minum dan sebagainya) SAMPAI TERBENAMNYA MATAHARI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hal ini hanya ada pada puasa ramadhan, karena kemuliaannya ramadhan:&lt;br /&gt;
1. Bagi orang yang sengaja berbuka / membatalkan puasanya.&lt;br /&gt;
2. Bagi orang yang tidak niat dimalam hari walaupun lupa.&lt;br /&gt;
Karena lupanya itu menandakan keteledorannya tidak memperhatikan ibadah.&lt;br /&gt;
3. Bagi orang yang makan sahur dengan sangkaan masih malam tapi tenyata salah.&lt;br /&gt;
4. Bagi orang yang berbuka dengan sangkaan sudah maghrib tapi tenyata salah.&lt;br /&gt;
Jika sangkaannya tersebut berdasarkan ijtihad maka dia tidak diharamkan buka puasa, tapi jika tidak berdasarkan ijtihad maka haram berbuka, karena aslinya adalah masih sore.&lt;br /&gt;
5. Bagi orang yang mengetahui ternyata hari yang ke 30 sya'ban adalah tanggal 1 ramadhan.&lt;br /&gt;
6. Bagi orang yang kemasukan air ketika berkumur, atau menghirup air, atau mandi yang tidak diperintahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MASUKNYA BENDA KE DALAM TUBUH -JAUF- MELALUI LUBANG YANG TERBUKA TAPI TIDAK MEMBATALKAN PUASA :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Benda yang masuk karena lupa&lt;br /&gt;
2. Benda yang masuk serta dia tidak tahu kalau itu membatalkan puasa dan orang itu golongan orang bodoh / jaahil yang diampuni.&lt;br /&gt;
3. Benda yang masuk karena dipaksa orang lain.&lt;br /&gt;
4. Benda yang masuk sebab mengalirnya air ludah yang murni dan suci bersama sesuatu yang ada disela-sela giginya.&lt;br /&gt;
5. Benda yang masuk dan itu merupakan debu jalanan.&lt;br /&gt;
6. Ayakan tepung&lt;br /&gt;
7. Lalat yang terbang dan sebagainya meskipun dia sengaja membuka mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
و الله اعلم&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;Diterjamahkan dari kitab&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt; ( التقريرات السديدة في المسائل المفيدة ) &lt;/font&gt;karya Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim al-Kaf.</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/08/puasa.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-3433801864346221618</guid><pubDate>Sun, 01 Aug 2010 15:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-15T16:38:39.374+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqih 'Ubudiyah</category><title>Wudlu</title><description>Bab wudlu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pengertian Wudlu'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wudlu' &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; ( الوضوء ) &lt;/font&gt;secara bahasa adalah nama untuk membasuh sebagian anggota badan.&lt;br /&gt;
Sedangkan secara istilah syar'i adalah menggunakan air untuk membasuh anggota badan tertentu, dengan niat tertentu, dan dengan cara tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hikmah Wudlu'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Beberapa hikmahnya wudlu' yang disebutkan dalam hadits diantaranya adalah;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Pembersih dari noda / dosa kecil&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : إذا توضأ العبد المسلم، أو المؤمن، فغسل وجهه، خرج من وجهه كل خطيئته نظر إليها بعينه مع الماء، أو مع أخر قطر الماء، فإذا غسل يديه خرج من يديه كل خطيئته كان بطشتها يداه مع الماء، أو مع أخر قطر الماء، فإذا غسل رجليه خرجت كل خطيئته مستها رجلاه مع الماء، أو مع أخر قطر الماء حتى يخرج نقيا من الذنوب.&lt;br /&gt;
رواه مسلم&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Apabila seorang muslim atau mukmin berwudlu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudlu’ atau bersama akhir tetesan air wudlu’ . Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudlu’ atau bersama akhir tetesan air wudlu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudlu’ atau bersama tetesan akhir air wudlu’ , hingga ia selesai dari wudlu’ nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa. ”&lt;br /&gt;
(HR Muslim no. 235)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Anggota wudlu akan bersinar pada hari kiamat.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  أتى المقبرة فقال السلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون وددت أنا قد رأينا إخواننا قالوا أولسنا إخوانك يا رسول الله قال أنتم أصحابي وإخواننا الذين لم يأتوا بعد فقالوا كيف تعرف من لم يأت بعد من أمتك يا رسول الله فقال أرأيت لو أن رجلا له خيل غر محجلة بين ظهري خيل دهم بهم ألا يعرف خيله قالوا بلى يا رسول الله قال فإنهم يأتون غرا محجلين من الوضوء  ..........الحديث&lt;br /&gt;
رواه مسلم :249&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah RA, Bahwasanya Rasulullah SAW mendatangi maqbarah kemudian berkata : "Assalaamu 'alaikum daara qoumin mukminin wa innaa insya_Allahu bikum laahiquun,..... &gt;&gt;&lt;br /&gt;
(sampai pada)&lt;br /&gt;
para shahabat bertanya lagi : "Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu ‘ alaihi wasallam ?" Seraya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memilki kuda&lt;br /&gt;
yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para shahabat menjawab: “ Tentu wahai Rasulullah”. Rasulullah berkata: “ Mereka (umatku) nanti&lt;br /&gt;
akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudlu' mereka........... (al hadits)&lt;br /&gt;
(HR Muslim, no: 249)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengangkat derajat disisi Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات قالوا بلى يا رسول الله قال إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الخطا إلى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط.&lt;br /&gt;
رواه مسلم 251&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda;&lt;br /&gt;
“ Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajatnya!. Para shahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “ Menyempurnakan wudhu ’ walaupun dalam kondisi sulit, dan memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, maka itulah yang disebut dengan Ar Ribath.”&lt;br /&gt;
(HR.Muslim no. 251)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Fardlu-fardlunya wudlu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Fardlu-fardlunya wudlu kesemuanya ada enam, empat diantaranya ditetapkan dalam Al-Qur'an, yaitu : membasuh wajah, membasuh kedua tangan, mengusap sebagian kepala, dan membasuh kedua kaki. Sedangkan yang dua lainnya ditetapkan dalam hadits, yaitu : niat dan tartib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar dari diwajibkannya wudlu adalah firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 6 ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
يأيها الذين ءامنوا إذا قمتم إلى الصلوة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى ‏المرافق وامسحوا برءوسكم وأرجلكم إلى الكعبين &lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki."&lt;br /&gt;
(QS. Al-maidah : 6)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana yang disebutkan dalam nadhom Shofwah al Zubad / صفوة الزبد&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;&lt;br /&gt;
فروضه النية واغسل وجهكا # و غسلك اليدين مع مرفقكا&lt;br /&gt;
ومسح بعض الرأس ثم اغسل وعم # رجليك مع كعبيك والترتيب ثم&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar dari niat adalah hadits Nabi SAW;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
إنما الأعمال بالنيات&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;"Sesungguhnya (sahnya) setiap perbuatan tergantung niatnya."&lt;br /&gt;
(Arbain Nawawi)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : "Hadits ini merupakan sepertiga Islam" .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang berhubungan dengan niat adalah ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Hakikatnya Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Niat adalah bermaksud /menghendaki sesuatu bersamaan dengan mengerjakannya.&lt;br /&gt;
Jika maksudnya tersebut tidak bersamaan dengan pekerjaannya, dengan kata lain pekerjaan tersebut dikerjakan setelah bermaksud, maka maksud tersebut tidak disebut sebagai niat akan tetapi disebut sebagai 'Azam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Hukumnya Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kebanyakan hukumnya niat adalah wajib, kecuali dalam masalah memandikan jenazah. Niat untuk memandikan jenazah adalah sunah bagi yang memandikannya.&lt;br /&gt;
Wajib adanya niat dalam ibadah ini untuk membedakan antara ibadah dengan suatu kebiasaan, seperti duduk dalam masjid untuk i'tikaf dengan duduk untuk istirahat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c. Tempatnya Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tempatnya niat adalah hati, sedangkan mengucapkannya adalah sunah supaya lisan membantu hati dalam meng-istihdlor-kan niat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;d. Waktunya Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Waktunya niat adalah ada pada awal ibadah, kecuali ibadah yang niatnya tidak pada awalnya, yaitu ; puasa. Niat puasa jatuh lebih dahulu dari mengerjakan puasa karena sulitnya mengamati fajar. Bahkan kalau menjatuhkan niat puasa tepat pada waktu fajar puasanya tidak sah, karena adanya kewajiban menginapkan niat pada malam hari dalam puasa fardlu. Yang benar dalam hal ini 'azam ditempatkan sebagai niat. (Tausyih 'ala ibnu qosim).&lt;br /&gt;
Dalam masalah wudlu waktunya niat adalah ketika membasuh awal bagian dari wajah. Jika niatnya jatuh sebelum membasuh wajah, seperti niat wudlu ketika sedang berkumur, maka niatnya tidak sah, kecuali jika bibir atau tepi mulut yang termasuk dari bagian wajah ikut terbasuh, maka niatnya sah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;e. Caranya Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Caranya niat berbeda-beda tergantung ibadah yang dikerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;f. Syarat-syaratnya Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Islam&lt;br /&gt;
2. Tamyiz (berakal)&lt;br /&gt;
yaitu orang yang sudah bisa makan dan istinja' sendiri, maka niatnya anak kecil yang belum tamyiz dan orang yang hilang akalnya (gila) tidak sah kecuali dalam dua masalah, yaitu:&lt;br /&gt;
a. Wudlunya anak kecil untuk thowaf. Maka walinya anak kecil tersebut yang berniat atas nama si kecil karena thowaf merupakan rukun dari rangkaian ibadah haji dan thowaf tidak sah tanpa wudlu, sedangkan niat itu sendiri merupakan fadlunya wudlu'.&lt;br /&gt;
b. Mandinya istri yang hilang akalnya (gila) setelah haid supaya halal (boleh dikumpuli) bagi suaminya. Maka dalam masalah ini suaminya yang berniat mandi atas nama istrinya.&lt;br /&gt;
3. Mengetahui yang di niati.&lt;br /&gt;
yaitu orang yang berwudlu mengetahui / faham tentang tata cara ibadah yang akan dikerjakannya.&lt;br /&gt;
4. Tidak mendatangkan sesuatu yang dapat menghilangkan niat.&lt;br /&gt;
Seperti niat wudlu dan kemudian murtad &lt; na'udzu billah min dzalik &gt; ditengah-tengah wudlu atau berpaling meninggalkan wudlu.&lt;br /&gt;
5. Tidak menggantungkan memutus niat dengan sesuatu.&lt;br /&gt;
Seperti niat dalam shalat bahwa nantinya dia akan memutus / membatalkan niat tersebut jika si fulan datang, maka niat dan shalatnya tersebut tidak sah meskipun tidak memutusnya.&lt;br /&gt;
6. Sesuatu yang menuntut kepada niat benar-benar ada (yakin).&lt;br /&gt;
Benar-benar ada hadats dari wudlu, maka tidak sah niatnya dengan keragu-raguan. Seperti ketika seseorang hendak mengambil wudlu dengan ragu-ragu adanya adanya hadats, ketika sedang wudlu ternyata memang dia telah berhadats, maka wudlunya tidak sah. Insya Allah penjelasannya lebih lanjut ada di syarat-syaratnya wudlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;g. Tujuan niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Seperti yang sudah disebutkan diatas, tujuan dari adanya niat adalah untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan : seperti mandi jum'at (sunah) dan mandi biasa (kebiasaan), yang membedakan diantara keduanya adalah adanya niat. Atau untuk membedakan tingkatannya ibadah : seperti mandi jinabat (wajib) dan mandi jum'at (sunah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Membasuh wajah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fardlunya wudlu yang kedua adalah membasuh wajah meskipun tidak dilakukan sendiri atau diguyur air oleh orang lain tanpa ijinnya atau terjebur sungai, jika ingat akan niat ketika itu.&lt;br /&gt;
Batas-batas wajah :&lt;br /&gt;
lebar : antara dua telinga.&lt;br /&gt;
Tinggi : antara tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dua dagu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hukum membasuh rambut-rambut yang ada diwajah :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Semua rambut yang ada diwajah hukumnya wajib dibasuh luar dalam. Kecuali jenggot dan cambang (godek) yang tebal, maka wajib membasuh luarnya saja tidak dalamnya, dan disunnahkan merengganggan dari bawah dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;
Jenggot dan cambang yang tebal adalah yang tidak terlihat kulitnya dari hadapan ketika sedang berbincang-bincang dengan teman (kira-kira sekitar 1,5 meter).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Membasuh dua tangan beserta dua siku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fardlu wudlu yang ketiga adalah membasuh dua tangan beserta dua siku.&lt;br /&gt;
Dalam istilah ahli fiqih yang dimaksud dengan tangan adalah mulai dari ujung jari sampai pada siku.&lt;br /&gt;
Selain membasuh tangan wajib juga membasuh sebagian dari lengan agar dua tangan benar-benar terbasuh, karena ada qoidah &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;" ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب "&lt;/font&gt; [sesuatu yang perkara wajib tidak bisa sampurna tanpa sesuatu tersebut maka sesuatu tersebut hukumnya wajib].&lt;br /&gt;
Dan wajib juga membasuh semua yang tumbuh di tangan seperti rambut meskipun tebal, kuku meskipun panjang dan wajib menghilangkan kotoran yang dibawah kuku dan yang lainnya yang dapat menghalangi air sampai pada kulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Mengusap sebagian dari kulit kepala atau rambut kepala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fardlu wudlu yang ke-empat adalah mengusap sebagian dari kulit kepala atau rambut kepala meskipun itu sebagian dari satu lembar rambut.&lt;br /&gt;
Syarat rambut yang boleh diusap dan sah adalah rambut yang tidak keluar dari batas kepala dari arah turunnya. Semisal rambut jidat (bagian depan kepala) arah turunnya adalah ke wajah, jika yang diusap adalah rambut yang melebihi batas kepala maka tidak sah.&lt;br /&gt;
Dalam mengusap sebagian kepala ini tidak harus dilakukan dengan tangan yang penting adalah membasahi sebagian dari kepala atau rambut dengan air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Membasuh dua kaki beserta dua mata kaki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kelima dari fardlunya wudlu adalah membasuh dua kaki beserta dua mata kaki dan juga wajib membasuh sebagian dari betis untuk menyempurnakan basuhan pada kaki sebagaimana qoidah &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; ما لا يتم الواجب ‏إلا به فهو واجب &lt;/font&gt;, dan hukum-hukumnya sama seperti pada membasuh kedua tangan yang telah disebutkan diatas. Sedangkan jika orang tersebut memakai sepatu tinggi ( الخف ) maka wajib mengusap sepatu tersebut akan tetapi membasuh dua kaki lebih utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Tartib&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fardlu wudlu yang terakhir adalah tartib, yaitu meletakkan sesuatu pada urutannya, karena Rasulullah SAW berwudlu secara tartib.&lt;br /&gt;
Kewajibannya tartib ini jika orang yang berwudlu tersebut tidak memiliki hadats besar. Jika orang itu memiliki hadats besar maka kewajiban tartib tersebut menjadi gugur karena hadats kecil masuk pada hadats besar, sehingga jika orang yang junub mandi kecuali anggota wudlunya maka tidak diwajibkan tartib dalam membasuh anggota wudlu tersebut. Seperti ketika orang yang junub mandi kecuali dua kakinya yang belum dibasuh misalnya, kemudian orang itu menanggung hadats kecil lalu berwudlu, maka dia boleh mendahulukan membasuh dua kaki atau mengakhirkannya atau ditengah-tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika orang yang berwudlu itu lupa akan tartib maka tidak dianggap dan harus mengulangi dari yang di ingatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Soal :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tartib hukumnya wajib pada setiap wudlu kecuali pada satu masalah, apakah itu?&lt;br /&gt;
jawab : Yaitu ketika orang berwudlu sambil menyelam dalam air meskipun hanya sebentar banget, dan dia niat wudlu ketika dalam keadaan menyelam, maka kewajiban tartib jadi gugur.&lt;br /&gt;
Ini adalah pendapat yang kuat menurut imam Nawawi, karena tartib bisa hasil dalam waktu yang singkat yang tidak bisa dilihat dengan indra. Sedangkan menurut pendapatnya iman Rafi'i diharuskan diam sesaat yang kira-kira dimungkinkan adanya tartib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sunnah-sunnahnya wudlu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian ulama' ada yang mengatakan bahwa kesunahan yang dikerjakan ketika seseorang mengambil wudlu itu mencapai tujuh puluh, diantaranya adalah sebagai berikut sesuai dengan tartib / urutan fardlunya wudlu' :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama : sunnah-sunnnah sebelum membasuh wajah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Mengucapkan niat sunnahnya wudlu, misalnya mengucapkan : &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;" نويت سنن الوضوء "&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
2. Membaca ta'awwudz dan basmalah. Minimalnya adalah :&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;( بسم الله )&lt;/font&gt;, dan yang sampurna adalah : &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم، رب أعوذ بك من همزات الشياطين، وأعوذ بك رب أن يحضرون &lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
3. Siwakan : disunnahkan siwaknya dari kayu arok, dibasahi dengan air, dengan tangan kanan, dan berdoa :&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم بيض به أسناني، وشد به لثاتي، وثبت به لهاتي، ‏وبارك لي فيه، وأثبني عليه يا أرحم الراحمين &lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
4. Membasuh kedua telapak tangan sampai pada pergelangan tangan dan membaca doa :&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
( اللهم إني أسألك اليمن والبركة، وأعوذ بك من الشؤم والهلكة )&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
5. Madlmadloh dan istinsyaq&lt;br /&gt;
Madlmadloh adalah memasukkan air kedalam mulut (berkumur), dan dengan tangan kanan serta berdoa : &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; اللهم أعني على تلاوة كتابك وكثرة الذكر لك، وثبتني بالقول الثابت في الدنيا والأخرة &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
Istinsyaq adalah memasukkan air kedalam hidung, dengan tangan kanan dan berdoa : &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; اللهم ‏أرحني رائحة الجنة وأنت عني راض &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
6. Almubalaghoh dalam madlmadloh dan istinsyaq.&lt;br /&gt;
Mubalaghoh dalam madlmadloh yaitu air sampai ke pangkal tenggorokan dan kanan kiri gigi dan gusi.&lt;br /&gt;
Mubalaghoh dalam istinsyaq yaitu menghirup air dengan nafas sampai pada batang hidung.&lt;br /&gt;
7. Istintsar : mengeluarkan air dari hidung. Disunnahkan dengan tangan kiri dan berdoa : &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; اللهم إني أعوذ بك من روائح النار و سوء الدار &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
8. Mengerjakan tiga kali semua yang telah disebutkan (tastlist).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua : Sunnah-sunnah ketika membasuh wajah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Mengucapkan niat wudlu' : misalnya &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; ( نويت الوضوء للصلاة ) &lt;/font&gt;. Dan berdoa :&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt; اللهم بيض وجهي بنورك يوم تبيض وجوه أوليائك، ولا تسود وجهي بظلماتك يوم تسود وجوه أعدائك &lt;/font&gt; .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;font="green"&gt;# Doa-doa yang dipanjatkan ketika wudlu' ada perbedaan pendapat diantara para ulama, dan imam al Ghozali dan imam ar Rafi'i lebih menyukai doa-doa ini, sedangkan imam ar Ramli dan imam Zakaria al Anshari mengarahkan hanya mengerjakan yang ada dasarnya saja.&lt;br /&gt;
Imam al Adzro'i mengatakan : "Sebaiknya tidak meninggalkan doa-doa ini meskipun tidak ada dasarnya".&lt;br /&gt;
Imam Nawawi mengatakan dalam kitab Alminhaaj : Doa-doa ini tidak ada dasarnya (yang shahih), jika tidak maka diriwayatkan dari Nabi SAW dengan jalan (riwayat) yang lemah didalam kitab "Tarikh" nya Ibnu Hibban dan lainya, dan yang semacam ini dikerjakan dalam fadloilil a'mal.&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad bin sulaiman al_kurdi berkata dalam kitab hasyiyahnya atas al_minhaj al_qowim syarh al_muqoddimah al_hadlromi : "Tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama (ibnu hajar, ar ramli, dan zakaria al anshari) didalam kesunahannya melakukan doa-doa ini.&lt;br /&gt;
Ulama yang berpendapat ini tidak boleh dikerjakan mengatakan : "doa ini dilakukan karena sesuai pada keadaan saat itu akan tetapi tidak bisa menjadi kesunahan, anjuran membaca doa ini tidak ada khilaf, yang menjadi khilaf adalah apakah kesunahannya itu jadi atau tidak?".&lt;br /&gt;
2. Memulai dari wajah bagian atas.&lt;br /&gt;
3. Mengambil air dengan kedua tangannya secara bersamaan.&lt;br /&gt;
4. Meneliti / memperhatikan al_maaq (pinggir / pojok mata yang bersebelahan dengan hidung) dengan jari telunjuk.&lt;br /&gt;
5. Meneliti / memperhatikan al_lihadh (tepi mata yang dekat dengan hidung), juga dengan jari telunjuk.&lt;br /&gt;
6. Mengusap dua telinga : Dengan tujuan untuk keluar dari khilafnya ulama yang berpendapat bahwa dua telinga termasuk bagian dari wajah.&lt;br /&gt;
7. Memanjangkan / melebihkan al_ghurroh : Yaitu membasuh bagian luar dari batas wajah dari semua sisi wajah.&lt;br /&gt;
8. Ad_dalku (kosokan) : menjalankan tangan pada anggota wudlu.&lt;br /&gt;
9. Takhlil (merenggangkan) [nyela-nyelani :jawa] jenggot dan cambang [godek:jawa] yang tebal dengan jari-jari tangan kanan dari bawah dan dengan cidukan air tersendiri.&lt;br /&gt;
10. Mengerjakan dengan tiga kali pada semuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga : Sunnah-Sunnah yang ada ketika membasuh dua tangan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Memulai dari dua telapak tangan : jika menuangkan air dikerjakan sendiri, apabila dengan bantuan orang lain maka dimulai dari siku.&lt;br /&gt;
[ini menurut pendapatnya imam ar Romli, sedangkan menurut pendapatnya imam Ibnu Hajar maka mutlak dimulai dari jari-jari tangan dan kaki.]&lt;br /&gt;
Dan ketika membasuh tangan kanan berdoa : &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم أعطني كتابي بيميني، وأدخلني الجنة بغير ‏حساب&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
Dan ketika membasuh tangan kiri berdoa : &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم إني أعوذ بك أن تعطني كتابي بشمالي أو من وراء ظهري&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
2. Mendahulukan yang sebelah kanan kemudian yang kiri.&lt;br /&gt;
3. Kosokan.&lt;br /&gt;
4. Merenggangkan (nyela-nyelani) jari-jari dengan berbagai cara, yang utama adalah dengan cara tasybik (meletakkan salah satu telapak tangan diatas yang lain)&lt;br /&gt;
5. Memanjangkan tahjil [melebihkan basuhan pada tangan] sampai separuh lengan.&lt;br /&gt;
6. Menggerakkan cincin (jika memakai cincin) . Jika air tidak bisa masuk / sampai kebawah cincin maka wajib hukumnya menggerakkan cincin.&lt;br /&gt;
7. Muwalah (berturut-turut / segera / tanpa jeda waktu yang lama) antara membasuh wajah dan tangan.&lt;br /&gt;
8. Mengerjakan tiga kali basuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keempat : Sunnah-sunnah ketika mengusap sebagian kepala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Mengusap semua kepala.&lt;br /&gt;
Dan disunnahkan semisal meletakkan kedua jempolnya pada kedua pelipisnya dan mempertemukan kedua telunjuknya, dan memulai mengusap dari depan sampai belakang kepala, kemudian kembali kedepan lagi jika rambutnya dapat terbalik. Adapun jika rambutnya sangat pendek atau sangat panjang seperti rambutnya perempuan maka setelah sampai dibelakang kepala tidak kembali lagi kedepan.&lt;br /&gt;
Jika orang yang berwudlu tidak ingin melepas sesuatu yang ada diatas kepalanya, seperti surban dan lain-lain, maka yang di usap adalah bagian atas dari penutup kepala tersebut. Kesunahannya ini bisa didapat dengan syarat;&lt;br /&gt;
A. Tidak melakukan maksiat dengan memakainya. Seperti orang yang ihram.&lt;br /&gt;
B. Diatasnya tidak terdapat najis meskipun berupa najis yang di ma'fu.&lt;br /&gt;
C. Sebelumnya harus mengusap sebagian dari kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa ketika mengusap kepala ; &lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم غشني ‏برحمتك، وأنزل علي من بركاتك، وأظلني تحت ظل عرشك يوم لا ظل إلا ظلك، ‏اللهم حرم شعري وبشري على النار&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mengusap dua telinga beserta kepala dengan tujuan untuk keluar dari khilaf ulama' yang mengatakan bahwa kedua telinga termasuk bagian dari kepala.&lt;br /&gt;
3. Berturut-turut (segera) antara membasuh tangan dan mengusap kepala.&lt;br /&gt;
4. Mengulangi tiga kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelima : sunnah-sunnah setelah mengusap kepala.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Mengusap kedua telinga dan berdoa :&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم اجعلني من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، اللهم أسمعني منادي الجنة في الجنة مع الأبرار، وأعوذ بك من النار وسوء الدار&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
2. Mengusap leher , menurut pendapatnya beberapa ulama : al Ghozali, al Baghowi dan ar Rafi'i, dan disunahkan dengan tangan kanan. Dan berdoa :&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم فك رقبتي من النار، وأعوذ بك من السلاسل والأغلال&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;keenam : sunnah-sunnah disaat membasuh kaki.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Memulai dari jari-jari kaki : jika dalam mencurahkan air dilakukan sendiri, tapi jika dicurahkan oleh orang lain maka dimulai dari tumitnya.&lt;br /&gt;
Doa ketika membasuh kaki kanan :&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم ثبت قدمي ‏على الصراط مع أقدام عبادك الصالحين&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
Doa ketika membasuh kaki kiri :&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
اللهم إني أعوذ بك أن تزل قدمي على الصراط في النار يوم تزل أقدام المنافقين والمشركين&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
2. Kosokan.&lt;br /&gt;
3. Menyela-nyelani : dengan jari kelingking tangan kiri, mulai dari jari kelingking kaki kanan sampai kelingking kaki kiri dari arah bawah.&lt;br /&gt;
4. Mendahulukan kaki kanan kemudian kiri.&lt;br /&gt;
5. Memanjangkan basuhan kaki (tahjil) sampai separuh betis.&lt;br /&gt;
6. Bersungguh-sungguh dalam membasuh tumit.&lt;br /&gt;
7. Berturut-turut  antara mengusap kepala dan membasuh kedua kali.&lt;br /&gt;
8. Mengerjakan tiga kali basuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum mengulangi tiga kali basuhan :&lt;br /&gt;
1. Sunnah : ini adalah hukum aslinya.&lt;br /&gt;
2. Makruh : jika dikhawatirkan akan tertinggal jama'ah.&lt;br /&gt;
3. Haram : jika dikhawatirkan waktu shalat habis.&lt;br /&gt;
4. Wajib : jika dinadzari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan satu basuhan adalah satu anggota wudlu sudah dibasuh / terkena air dengan sampurna, jika belum sempurna atau ada bagian dari anggota wudlu yang belum terkena air maka belum dianggap sebagai satu basuhan meskipun sudah diulang-ulang lebih dari sepuluh kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ketujuh : sunnah-sunnah setelah selesai wudlu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Memercikkan sisa air wudlu pada pakaian.&lt;br /&gt;
2. Membaca doa setelah wudlu sambil menghadap qiblat dengan mengangkat tangan :&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
أشهد ‏أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم اجعلني من التوابين، واجعلني من المتطهرين، واجعلني من عبادك الصالحين&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
3. Membaca surah Al Qodar (3x), ayat kursi dan surah Al Ikhlas.&lt;br /&gt;
4. Shalat sunnah wudlu. Dalam shalat sunnah membaca surah Al kafirun dan Al Ikhlash.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;kedelapan : sunnah-sunnah yang umum dalam wudlu.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Menghadap qiblat.&lt;br /&gt;
2. Duduk.&lt;br /&gt;
3. Tidak mengibaskan air.&lt;br /&gt;
4. Tidak berlebih-lebihan dalam menuangkan air.&lt;br /&gt;
5. Tidak berbicara ketika sedang wudlu.&lt;br /&gt;
6. Meletakkan wadah air disebelah kanan jika berupa wadah yang untuk mengambil air dengan cara diciduk, seperti ember, dan meletakkan wadah air disebelah kiri jika berupa wadah dengan cara dipancurkan, seperti teko atau kendi.&lt;br /&gt;
7. Berturut-turut : membasuh anggota wudlu yang kedua sebelum anggota wudlu yang pertama kering.&lt;br /&gt;
8. Tidak menyirati wajah dengan air.&lt;br /&gt;
9. Menghindari cipratan-cipratan air.&lt;br /&gt;
10. Tidak meminta bantuan orang lain untuk menuangkan air kecuali bagi orang yang mempunyai udzur atau tidak mampu.&lt;br /&gt;
11. Tidak menyeka / mengeringkan air wudlu yang ada dibadannya kecuali ada udzur.&lt;br /&gt;
12. Tidak lebih dari tiga kali basuhan.&lt;br /&gt;
13. Menyertakan niat sampai akhir wudlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hal-hal yang disunnahkan untuk wudlu :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hendak tidur, membaca Al Qur'an dan mendengarkannya, membaca hadits dan mendengarkannya, menghadiri majlis ilmu dan dzikir, ziarah qubur, membawa kitab dan menulis hadits, tafsir dan fiqih, adzan, masuk dan duduk dalam masjid, wuquf di Arafah, sa'i, ziarah maqam Nabi SAW, Melanggengkan wudlu agar tetap dalam keadaan suci dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syarat-syaratnya wudlu :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Islam.&lt;br /&gt;
Maka tidak sah wudlunya orang kafir, karena wudlu merupakan ibadah yang membutuhkan niat, dan orang kafir bukan orang yang layak terhadap niat.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Tamyiz.&lt;br /&gt;
Maka tidak sah wudlunya orang yang tidak tamyiz, karena wudlu adalah ibadah yang membutuhkan niat, dan diantara syaratnya niat adalah orang yang berniat harus tamyiz.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Suci dari haid dan nifas.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Bersih dari sesuatu yang dapat mencegah sampainya air pada kulit.&lt;br /&gt;
Jika diatas kulit ada sesuatu yang menghalangi sampainya air pada kulit maka wajib dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5.&lt;/b&gt; Pada anggota wudlu tidak boleh ada sesuatu yang dapat merubah air sekira dapat menghilangkan nama air, seperti tinta atau sabun.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6.&lt;/b&gt; Mengerti fardlunya : yaitu orang yang hendak wudlu mengetahui bahwa wudlu itu adalah fardlu.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7.&lt;/b&gt; Tidak meyakini bahwa salah satu dari fardlu-fardlunya wudlu itu adalah sunnah.&lt;br /&gt;
Dalam hal ini ada beberapa permasalahan :&lt;br /&gt;
1. Meyakini bahwa semua pekerjaannya wudlu adalah fardlu, jika demikian maka wudlunya sah.&lt;br /&gt;
2. Meyakini bahwa semua pekerjaanya wudlu adalah sunnah, jika demikian maka wudlunya tidak sah.&lt;br /&gt;
3. Meyakini bahwa dalam wudlu ada fardlu dan sunnahnya, jika demikian maka di perinci :&lt;br /&gt;
a. Jika orang itu tidak tahu / bodoh ('ami) maka wudlunya sah.&lt;br /&gt;
b. Jika orang itu pintar : maka wudlunya sah menurut imam Ibnu Hajar, sedangkan menurut imam ar Ramli wudlunya tidak sah.&lt;br /&gt;
4. Berpendapat bahwa : mengusap kepala dan membasuh kedua kaki salah satu diantaranya adalah sunnah dan tidak ditentukan yang mana, jika demikian maka wudlunya sah karena dia tidak meyakini satu fardlu tertentu kalau itu adalah sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;8.&lt;/b&gt; Air yang suci.&lt;br /&gt;
Karena hadats tidak bisa dihilangkan kecuali dengan air yang suci mensucikan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;9.&lt;/b&gt; Menghilangkan najis 'ainiyah.&lt;br /&gt;
Jika najis 'ainiyah tidak bisa dihilangkan dengan hanya satu basuhan maka wajib dengan dua basuhan menurut kesepakatan para ulama'. Adapun jika bisa hilang hanya dengan satu basuhan maka menurut imam Ar Rafi'i wajib juga melakukan dua basuhan, basuhan yang pertama untuk menghilangkan najis dan basuhan yang kedua untuk menghilangkan hadats.&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut imam Nawawi cukup dengan satu basuhan saja untuk menghilangkan najis dan hadats sekaligus, dan ini adalah pendapat yang mu'tamad.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;10.&lt;/b&gt; Mengalirkan air pada semua anggota wudlu.&lt;br /&gt;
Maka tidak cukup hanya dengan mengusap anggota wudlu menggunakan kain (kecuali pada mengusap sebagian kepala).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;11.&lt;/b&gt; Yakin adanya sesuatu yang menuntut terhadap wudlu (yakin pada niat).&lt;br /&gt;
Jika seseorang wudlu dengan ragu-ragu : apakah dia sudah berhadats atau masih mempunya wudlu? , maka tidak sah wudlunya jika ternyata dia memang sudah berhadats karena tidak adanya keyakinan yang mengharuskan wudlu, itu yang disebut dengan yakin pada niat.&lt;br /&gt;
Kesimpulannya : jika seseorang ragu-ragu apakah dia dalam keadaan suci atau hadats kemudian dia mengambil wudlu untuk hati-hati, maka perinciannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1. Jika ternyata dia masih suci / masih mempunyai wudlu maka wudlunya yang baru dikerjakan hukumnya sah.&lt;br /&gt;
2. Jika ternyata dia sudah berhadats maka wudlunya yang baru dikerjakan tidak sah.&lt;br /&gt;
3. Jika tidak jelas / tidak diketahui kenyataannya maka wudlunya yang baru dikerjakan sah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;12.&lt;/b&gt; langgengnya niat secara hukum.&lt;br /&gt;
Seperti tidak mengerjakan sesuatu yang dapat menghilangkan niat, seperti murtad, dan tidak mengalihkan niat kepada selain yang diniati.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;13.&lt;/b&gt; Tidak menggantungkan niat pada sesuatu, seperti yang dijelaskan pada syaratnya niat diatas.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;14 dan 15.&lt;/b&gt; Sudah masuk waktunya dan bersegera bagi orang yang hadatsnya terus menerus seperti orang yang beser dan mustahadloh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Masalah 1&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ketika seseorang ragu-ragu apakah sudah bersuci atau belum, sedangkan dia yakin sebelumnya berhadats, atau ragu-ragu sudah berhadats atau belum tapi yakin sebelumnya sudah bersuci. Bagaimana hukumnya ?&lt;br /&gt;
Contohnya : ketika seseorang hendak shalat kemudian ragu-ragu, apa dia dalam keadaan berhadats atau suci ?. Jika dia yakin sebelumnya berhadats, seperti kencing, kemudian ragu-ragu, apakah sudah bersuci / wudlu atau belum? Maka dia dihukumi berhadats, karena itu yang diyakini. Begitu juga jika dia yakin sudah bersuci kemudian ragu-ragu setelahnya, apakah dia sudah berhadats atau belum? Maka dia dihukumi masih suci, karena itu yang diyakininya.&lt;br /&gt;
Hukumnya : Dia mengambil apa yang diyakininya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Masalah 2 :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ketika seseorang yakin suci dan hadats akan tetapi ragu-ragu, mana diantara keduanya yang lebih dahulu. Bagaimana hukumnya ?&lt;br /&gt;
Contohnya : setelah matahari terbit seseorang yakin telah hadats dan juga yakin telah bersuci, akan tetapi ragu-ragu : apakah yang dahulu itu hadats kemudian dia bersuci atau dia suci dahulu kemudian dia berhadats?&lt;br /&gt;
Hukumnya : Dia mengambilkan yang berlawanan dengan keadaan sebelum keduanya (sebelum terbitnya matahari).&lt;br /&gt;
1. Jika sebelum terbitnya matahari dia berhadats maka sekarang dia dalam keadaan suci, karena aslinya adalah dia tetap dalam keadaan berhadats, dan bersucinya dia menghilangkan hadats tersebut.&lt;br /&gt;
2. Jika sebelum terbitnya matahari dia dalam keadaan suci, maka perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;
A. Jika dia terbiasa memperbaharui wudlu maka sekarang dia dalam keadaan berhadats.&lt;br /&gt;
B. Jika dia tidak terbiasa memperbaharui wudlu maka dia sekarang dalam keadaan suci.&lt;br /&gt;
3. Jika sebelum terbitnya matahari tidak diketahui keadaannya maka sekarang dia berhadats, dan dia wajib bersuci. Dan yang utama dan lebih baik untuknya adalah sengaja membuat dia berhadats kemudian bersuci agar bersucinya tersebut dalam keadaan dia benar-benar yakin telah berhadats.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hal-hal yang membatalkan wudlu&lt;/b&gt; &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;( نواقض الوضوء )&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nawaqidl adalah bentuk jama' dari lafadh Naaqidl yang dalam arti bahasa adalah sesuatu yang dapat menghilang perkara dari asalnya. Yang dimaksud denga nawaqidlu al wudlu adalah hal-hal atau perkara yang dapat menyebabkan berakhirnya wudlu.&lt;br /&gt;
Dan perkara-perkara itu ada empat :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama : Sesuatu yang keluar dari salah satu dua jalan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari dubur atau qubul (kemaluan) , berupa angin (kentut) atau yang lainnya, kecuali mani (sperma).&lt;br /&gt;
Kenapa keluarnya mani tidak membatalkan wudlu?&lt;br /&gt;
Karena keluarnya mani menuntut sesuatu yang lebih berat dari wudlu, yaitu mandi, maka tidak mewajibkan wudlu.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Qoidah :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;&lt;br /&gt;
( كل ما أوجب أعظم الأمرين بخصوصه لم يوجب أدونهما بعمومه )&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
"Setiap sesuatu yang mewajibkan / menuntut yang lebih berat dari dua perkara secara khusus maka tidak bisa mewajibkan yang lebih ringan dari dua perkara tersebut secara umum."&lt;br /&gt;
Seperti mani, mani itu mewajibkan yang lebih berat dari dua perkara (yaitu mandi) secara khusus karena itu adalah mani, maka tidak mewajibkan yang lebih ringan dari dua perkara (yaitu wudlu) secara umum karena itu adalah perkara yang keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua : Hilangnya akal.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pembatal wudlu yang kedua adalah hilangnya akal seseorang.&lt;br /&gt;
Ada dua bentuk hilangnya akal seseorang:&lt;br /&gt;
1. Hilangnya akal secara&lt;br /&gt;
keseluruhan sehingga seseorang tidak waras lagi dalam berpikir, seperti gila.&lt;br /&gt;
2. Tertutupnya akal seseorang dalam beberapa saat karena suatu sebab seperti pingsan, mabuk, tidur, dan semisalnya.&lt;br /&gt;
Hilangnya akal disebabkan gila, pingsan dan mabuk karena minum khamr atau karena minum obat, membatalkan wudlu seseorang, sebentar ataupun lama. Sehingga bila seseorang gila kemudian waras kembali, atau mabuk, atau jatuh pingsan kemudian siuman, maka wajib baginya memperbarui thaharahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hilangnya akal yang disebabkan tidur membatalkan wudlu kecuali tidur yang dalam keadaan duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syarat-syarat tidur yang tidak membatalkan wudlu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Dalam keadaan duduk dengan bokong menempel pada lantai sekira tidak dimungkinkan keluar kentut.&lt;br /&gt;
2. Bentuk badannya sedang, tidak terlalu gemuk atau ceking.&lt;br /&gt;
3. Ketika bangun (terjaga) harus dalam posisi yang sama ketika dia tidur.&lt;br /&gt;
4. Tidak diberi tahu oleh orang yang ma'shum atau 'adadu at tawatur (sekelompok orang yang tidak dimungkinkan sepakat berbohong) dengan keluarnya kentut ketika dia sedang tidur menurut imam Ar Ramli, sedang menurut imam Ibnu Hajar cukup diberi tahu oleh orang yang adil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga : Bertemu kulit antara laki-laki dengan perempuan ajnabi yang sudah dewasa tanpa penghalang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syaratnya :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Bersentuhan dengan kulit langsung.&lt;br /&gt;
Kecuali jika bersentuhannya dengan kuku, rambut, gigi.&lt;br /&gt;
2. Berbeda jenis kelamin.&lt;br /&gt;
3. Sama-sama dewasa.&lt;br /&gt;
Sekira orang yang mempunyai watak jika melihat keduanya tertarik untuk menikahi meskipun keduanya belum baligh dengan salah satu dari tiga tandanya baligh.&lt;br /&gt;
4. Keduanya sama-sama ajnabi (tidak ada hubungan mahram).&lt;br /&gt;
Mahram :&lt;br /&gt;
a. Hubungan nasab : ibu/bapak, anak, saudara lk/pr, paman/bibi (pak lek / bu lek), pakdhe/budhe, anak dari kakak, anak dari mbak.&lt;br /&gt;
b. Hubungan rodlo' (tunggal susu) : sama seperti hubungan dari nasab.&lt;br /&gt;
c. Hubungan pernikahan : mertua, anaknya suami/istri, suami/istrinya bapak/ibu, menantu.&lt;br /&gt;
Sebagaimana yang disebutkan dalam surah An Nisa' ayat 23.&lt;br /&gt;
Istri / suami merupakan ajnabi jadi jika bersentuhan membatalkan wudlu.&lt;br /&gt;
5. Tanpa ada penghalang.&lt;br /&gt;
jika ada penghalang meskipun tipis maka tidak membatalkan wudlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permasalahan dalam menyentuh &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;( لمس )&lt;/font&gt; anggota tubuh yang terpotong (terpisah) dari tubuhnya.&lt;br /&gt;
Jika anggota tubuh yang terpotong itu separuh bagian atas dari tubuh (pusar keatas), tangan misalnya, maka membatalkan wudlu jika memegangnya menurut Ibnu Hajar, sedangkan menurut&lt;br /&gt;
Permasalahan dalam menyentuh &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;( لمس )&lt;/font&gt; anggota tubuh yang terpotong (terpisah) dari tubuhnya.&lt;br /&gt;
Jika anggota tubuh yang terpotong itu separuh bagian atas dari tubuh (pusar keatas), tangan misalnya, maka membatalkan wudlu jika memegangnya menurut Ibnu Hajar, sedangkan menurut imam Ar Ramli membatalkan wudlu ketika anggota tubuh yang terpotong itu masih bisa dikenali apakah itu anggota tubuh laki-laki atau perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keempat : Menyentuh &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;( مس )&lt;/font&gt; qubul atau dubur/anus dengan bagian dalam telapak tangan atau jari-jari.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam permasalahan ini yang batal adalah wudlunya orang yang menyentuh, sedangkan orang yang disentuh wudlunya tidak batal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤ Qubul :&lt;br /&gt;
Bagi laki-laki : hanya penis saja, tidak termasuk kandung kemih dan rambut kemaluan.&lt;br /&gt;
Bagi perempuan : tempat bertemunya dua bibir kemaluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perbedaan antara massu&lt;/b&gt; &lt;font size="4px" color="fffdf0" &gt;( المس )&lt;/font&gt; &lt;b&gt;dan lamsu&lt;/b&gt; &lt;font size="4px" color="fffdf0" &gt;( اللمس )&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
Dua kata ini dalam bahasa mempunyai arti yang sama yaitu menyentuh, tapi dalam istilah fiqih mempunyai perbedaan, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="fffdf0" &gt;(المس)&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
1. Yang batal wudlunya hanya orang yang menyentuh sedangkan yang disentuh tidak batal.&lt;br /&gt;
2. Khusus menggunakan bagian dalam dari jari-jari dan telapak tangan.&lt;br /&gt;
3. Dalam membatalkan wudlu tidak disyaratkan berbeda jenis kelamin.&lt;br /&gt;
4. Tidak disyaratkan sampai pada batas syahwat.&lt;br /&gt;
5. Tidak disyaratkan tidak adanya hubungan mahram.&lt;br /&gt;
6. Anggota tubuh yang terpisah membatalkan wudlu jika masih ada namanya.&lt;br /&gt;
7. Bisa terjadi pada satu orang.&lt;br /&gt;
8. Khusus pada qubul dan dubur.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="fffdf0" &gt;(اللمس)&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
1. kedua orang yang bersentuhan/bersenggolan kulit wudlunya sama-sama batal.&lt;br /&gt;
2. Membatalkan wudlu dengan menyentuh seluruh kulit tubuh.&lt;br /&gt;
3. Disyaratkan harus berbeda jenis kelamin.&lt;br /&gt;
4. Disyaratkan harus sampai pada batas syahwat.&lt;br /&gt;
5. Disyaratkan harus tidak ada hubungan mahram.&lt;br /&gt;
6. Tidak disyaratkan masih adanya nama dari anggota tubuh yang terpotong menurut Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;
7. Pasti antara dua orang atau lebih.&lt;br /&gt;
8. Tidak terkhusus pada qubul atau dubur.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px"‎ &gt; والله اعلم &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;sumber :&lt;br /&gt;
1. Al taqrirat as_sadidah fi al_masa'il al_mufidah.&lt;br /&gt;
2. Tausyih 'ala ibnu qasim.&lt;br /&gt;
3. Al Bajuri 'ala ibnu qasim.&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2001/08/wudlu-1.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-2414570507649186308</guid><pubDate>Wed, 28 Jul 2010 09:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-13T02:20:45.327+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqih 'Ubudiyah</category><title>Bab Bejana</title><description>Bab ini menerangkan bejana-bejana yang haram di gunakan dan yang boleh digunakan meskipun makruh penggunaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bejana / wadah atau dalam bahasa arab إناء‎ yang dimaksudkan adalah setiap sesuatu yang dapat digunakan memindahkan apa saja dari satu tempat ke tempat lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HUKUM MENGGUNAKAN BEJANA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya menggunakan semua bejana adalah diperbolehkan kecuali bejana yang terbuat dari emas dan perak, penggunaan bejana dari emas dan perak ini diharamkan bagi laki-laki maupun perempuan meskipun dalam penggunaannya tidak seperti biasanya, misalnya dengan cara terbalik, dan yang digunakan adalah bagian bawahnya. Diharamkannya itu karena terdapat kesombongan dan dapat mengecilkan hati fuqoro'.&lt;br /&gt;
Sebagaimana haram penggunaannya, memperolehnya / menyimpannya juga diharamkan karena memperolehnya dapat menarik ke menggunakannya, ini jika memperoleh dan menyimpannya tidak sebagai barang dagangan. Jika menyimpannya itu untuk dagangan yang nantinya akan dijual kepada orang yang nantinya akan dibuat perhiasan atau mata uang, maka diperbolehkan menyimpannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggunaan bejana dari emas dan perak ini diperbolehkan hanya jika ada hajat seperti pengoles celak mata yang digunakan untuk mengobati mata (ini hanya jika mendapat petunjuk dari dokter atau orang yang berpengalaman, dan jika sudah sembuh maka tidak boleh menggunakannya dan menyimpannya lagi karena hajatnya sudah hilang)  , dan dalam keadaan darurat seperti untuk minum jika tidak menemukan yang selain keduanya.&lt;br /&gt;
Sedangkan batu mulia dan permata seperti kristal, yakut, zamrud dan intan tidak diharamkan menggunakannya dan memperolehnya meskipun harganya lebih mahal dari emas, akan tetapi hukumnya makruh, karena fuqoro' tidak mengetahuinya dan tidak membuat mereka kecil hati jika melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Masalah Tambalan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambalan atau dalam bahasa arab disebut &lt;font size="4px" color="#fff" &gt; الضبة &lt;/font&gt; yaitu potongan emas atau perak yang ditempelkan untuk memperbaiki bejana yang pecah atau untuk memperindah bejana.&lt;br /&gt;
Hukum penggunaannya ada perincian karena terkadang tambalannya itu kecil dan terkadang besar, kadang untuk hajat, untuk memperindah, kadang diperbolehkan, kadang makruh, dan kadang juga haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diperbolehkannya penggunaan tambalan dari emas dan perak ini hanya dalam satu kondisi, yaitu ketika ada hajat / kebutuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dimakruhkan dalam empat kondisi, yaitu ;&lt;br /&gt;
1. Jika tambalannya besar dan semuanya karena hajat.&lt;br /&gt;
2. Jika kecil dan semuanya untuk memperindah.&lt;br /&gt;
3. Jika kecil dan sebagian karena hajat dan sebagian lagi untuk memperindah.&lt;br /&gt;
4. Jika ragu dalam besar kecilnya, baik tambalan itu untuk memperindah atau sebagian untuk memperindah dan sebagian lagi karena hajat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diharamkan dalam dua kondisi, yaitu ;&lt;br /&gt;
1. Jika tambalannya besar dan semuanya untuk memperindah.&lt;br /&gt;
2. Jika tambalannya besar, sebagian untuk memperindah dan sebagian lagi karena hajat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadar besar kecilnya tambalan adalah menurut kebiasaan daerah setempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perincian ini ulama' khilaf, apakah mencakup tambalan emas dan perak, atau membatasi pada tambalan perak saja ?&lt;br /&gt;
Menurut imam Rofi'i mencakup tambalan emas dan perak, sedangkan pendapat yang jadi pegangan imam Nawawi bahwa perincian ini hanya pada tambalan perak saja, karena kesombongan pada emas lebih besar daripada perak, dan karena perak mempunyai hukum lebih luas dengan dalil diperbolehkannya laki-laki menggunakan cincin dari perak. Adapun tambalan emas hukumnya haram sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SEPUH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu melapisi permukaan bejana menggunakan emas atau perak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum mengerjakannya : haram secara mutlak. Begitu haram menyerahkan upah atas pekerjaan menyepuh.&lt;br /&gt;
Hukum menggunakannya : tafsil ;&lt;br /&gt;
1. Ketika dipanaskan dengan api tidak ada yang luluh dari hasil sepuhan itu (ini hanya terjadi jika sepuh nya sangat tipis, hingga dianggap tidak ada sepuhnya) maka diperboleh secara mutlak bagi laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;
2. Ketika dipanaskan dengan api ada yang luluh dari sepuhan itu maka penggunaannya diharamkan bagi laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ketika bejana yang terbuat dari emas atau perak itu disepuh dengan semisal tembaga maka halal menggunakannya menurut imam Ibnu Hajar, dan haram menurut imam Romli jika tidak ada yang luluh dari bejana tersebut saat dipanaskan dengan api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MENUTUP BEJANA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menutup bejana / wadah tempat makanan atau minuman maupun yang lainnya itu disunnahkan walaupun menggunakan sebatang ranting, dan kesunahannya ini jadi lebih disunnahkan ketika malam hari karena hadits Nabi SAW ;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fff" &gt;&lt;br /&gt;
عن جابر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال غطوا الإناء وأوكوا السقاء وأغلقوا الباب وأطفئوا السراج فإن الشيطان لا يحل سقاء ولا يفتح بابا ولا يكشف إناء فإن لم يجد أحدكم إلا أن يعرض على إنائه عودا ويذكر اسم الله فليفعل، فإن الفويسقة تضرم على أهل البيت بيتهم.&lt;br /&gt;
رواه مسلم.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dari Jabir, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: Tutuplah wadah, ikatlah gereba (tempat minum dari kulit), kuncilah pintu dan padamkanlah lampu. Sesungguhnya setan tidak dapat menguraikan tali gereba, tidak dapat membuka pintu dan tidak dapat menyingkap wadah. Jika seseorang di antara kalian hanya dapat melintangkan sebatang kayu di atas wadahnya lalu menyebut nama Allah, maka hendaklah ia lakukan itu sebab tikus dapat mencelakakan penghuni rumah dengan membakar rumahnya. (Shahih&lt;br /&gt;
Muslim No.3755)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat lain disebutkan&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fff" &gt;&lt;br /&gt;
غَطُّوْا‎ ‎الإِناَءَ‎ ‎وَأَوْكُوْا‎ ‎السِّقَاءَ‎ ‎فَإِنَّ‎ ‎فِي‎ ‎السَّنَةِ‎ ‎لَيْلَةٌ‎  ‎ينزِلُ فِيْهَا‎ ‎وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِناَءٍ لَيْسَ‎ ‎عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ‎ ‎سِقَاءٍ لَيْسَ‎ ‎عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فَيْهِ‎ ‎مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ &lt;br /&gt;
أخرجه مسلم في كتاب الأشربة، باب : الأمر بتغطية الإناء وإيكاء السقاء 1596:3&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
"Tutuplah bejana, ikatlah kantung air. Sesungguhnya dalam satu tahun terdapat satu malam yang turun pada malam itu wabah penyakit. Tidaklah wabah itu melewati bejana yang tidak ditutup atau wadah air yang tidak diikat, melainkan wabah itu akan turun padanya ”&lt;br /&gt;
(HR. Muslim dalam kitab Minuman, bab : perintah menutup bejana dan tempat minuman, 3:1596)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;FAEDAH MENUTUP BEJANA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Imam an Nawawi, para ulama telah menyebutkan beberapa faedah di balik perintah&lt;br /&gt;
menutup bejana ini. Di antaranya dua faidah yang tersurat dalam hadits-hadits di atas ;&lt;br /&gt;
Pertama : terjaganya seorang muslim dari setan, karena setan tidak bisa membuka penutup atau membuka tali pengikat kantung air.&lt;br /&gt;
Kedua : terjaganya seorang muslim dari wabah penyakit yang turun pada suatu malam pada setiap tahun.&lt;br /&gt;
Ketiga : terjaganya dari benda-benda najis dan kotoran.&lt;br /&gt;
Keempat : terjaganya seorang muslim dari serangga dan hewan-hewan melata, yang mungkin jatuh ke dalam (bejana) lalu dia meminumnya, sementara ia tidak mengetahuinya, sehingga ia mendapat bahaya karenanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="4px" color="#fff" &gt; والله اعلم &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : التقريرات السديدة في المسائل المفيدة&lt;br /&gt;
karya : حسن بن أحمد بن محمد بن سالم الكاف&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/07/bab-bejana.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-1616869064342091456</guid><pubDate>Wed, 21 Jul 2010 13:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-31T21:59:28.676+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqih 'Ubudiyah</category><title>Bab Air 1</title><description>&lt;b&gt;Pembagian air berdasarkan tempat dan sumbernya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air berdasarkan tempat dan sumber asalnya ada tujuh macam.&lt;br /&gt;
Tiga diantaranya berasal dari langit yaitu air hujan, salju dan es.&lt;br /&gt;
Empat yang lainnya berasal dari bumi yaitu air laut, sungai, sumur dan mata air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembagian air berdasarkan hukumnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama : Air suci yang bisa mensucikan (air mutlak) &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;( الطاهر في نفسه مطهر لغيره )&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Makna mutlak adalah yang terlepas dari qoyyid yang selalu menempel menurut orang yang tahu keadaan air tersebut dari orang2 ahli 'urf dan lisan, maka tidak butuh pada qoyyid. Dan yang menyerupai "yang terlepas dari qoyyid yang selalu menempel" adalah yang diqoyyidi dengan qoyyid yang terlepas, seperti air sumur dan air laut, maka air tersebut dinamakan air mutlak dan sah untuk digunakan bersuci. Berbeda dengan air yang diqoyyidi dengan qoyyid yang selalu menempel seperti air mawar, air teh, air kopi dan air buah, maka tidak bisa dinamakan air mutlak dan tidak sah digunakan untuk bersuci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembagian air mutlak dari segi kemakruhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Air mutlak jika dilihat dari segi kemakruhannya terbagi menjadi dua;&lt;br /&gt;
1. Yang tidak dimakruhkan penggunaannya.&lt;br /&gt;
2. Yang dimakruhkan penggunaannya, bagian ini terbagi menjadi empat;&lt;br /&gt;
&lt;li&gt;&lt;ul&gt;1. Air yang dipanaskan dibawah terik sinar matahari. Karena dikhawatirkan menyebabkan penyakit. 2. Air yang sangat panas. 3. Air yang sangat dingin. 4. Air yang didapatkan dengan cara ghosob.&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syarat-syarat makruhnya penggunaan air yang dipanaskan dengan sinar matahari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Dipanaskan dengan sinar matahari langsung.&lt;br /&gt;
2. Digunakan ketika masih dalam keadaan panas.&lt;br /&gt;
3. Digunakan untuk orang yang masih hidup.&lt;br /&gt;
4. Air tersebut didalam bejana yang terbuat dari besi, timah dan tembaga, kecuali yang terbuat dari emas dan perak.&lt;br /&gt;
5. Pada waktu yang panas.&lt;br /&gt;
6. Digunakan pada anggota badan, tidak pada pakaian.&lt;br /&gt;
7. Di daerah yang panas.&lt;br /&gt;
8. Tidak terpaksa menggunakannya (masih ada yang lain).&lt;br /&gt;
9. Tidak khawatir sakit, jika dikhawatirkan sakit maka haram bersuci menggunakan air tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jika salah satu syarat2 tersebut tidak ada maka kemakruhannya hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua : Air suci yang tidak bisa mensucikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air suci yang tidak bisa mensucikan &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;( الطاهر في نفسه غير مطهر لغيره )&lt;/font&gt; ini ada dua macam;&lt;br /&gt;
Air musta'mal dan air Al-mutaghoyyir (air yang berubah rasa, warna, dan baunya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Air Musta'mal : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;( المستعمل )&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu air sedikit (kurang dari dua kulah atau kurang dari 217 liter) yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadats (yaitu air basuhan yang pertama pada wudlu dan mandi yang wajib) atau untuk menghilangkan najis walaupun najis yang bersifat ma'fu (diampuni) seperti darah nyamuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syarat air musta'mal yang digunakan untuk menghilangkan hadats;&lt;br /&gt;
1. Airnya sedikit (kurang dari dua kulah). Dua kulah setara dengan 217 liter.&lt;br /&gt;
2. Digunakan untuk thoharoh yang fardlu.&lt;br /&gt;
3. Sudah terpisah dari anggota badan. Selama masih menempel pada anggota badan maka tidak bisa dikatakan air musta'mal.&lt;br /&gt;
4. Tidak berniat menciduk (nyawuk : jawa) : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;( الإغتراف )&lt;/font&gt; . Ketika waktu memasuk tangan dengan niat menciduk maka air tersebut tidak bisa dikatakan musta'mal.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Niat menciduk / al ightirof&lt;/b&gt; : yaitu orang yang berwudlu niat menciduk air dengan tangannya setelah membasuh wajah sebelum memasukkan kedua tangannya kedalam bejana untuk membasuh kedua tangannya diluar bejana, jika tidak niat ightirof maka air menjadi musta'mal, karena sudah dianggap membasuh kedua tangannya didalam bejana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan air musta'mal yang bekas digunakan untuk menghilangkan najis bisa dihukumi suci dengan syarat;&lt;br /&gt;
1. Air tersebut tidak berubah.&lt;br /&gt;
2. Tidak bertambah bobotnya setelah lepas dari tempat yang dibasuh.&lt;br /&gt;
3. Airnya dicurahkan pada tempat atau pakaian yang terkena najis.&lt;br /&gt;
4. Tempat yang dibasuh jadi suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika salah satu dari syarat2 tersebut tidak terpenuhi, misalnya setelah digunakan untuk mencuci pakaian yang terkena najis airnya kemudian berubah walaupun sedikit, atau bobotnya bertambah, atau airnya yang dimasuki pakaian yang terkena najis (contoh air dituangkan kedalam ember dahulu baru kemudian pakaian yang terkena najis baru dimasukkan), atau tempat / pakaian yang terkena najis setelah dibasuh tidak langsung suci, misalkan najisnya itu masih menyisakan rasa atau warna atau bau, maka air bekas basuhan tersebut menjadi air yang najis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Air yang berubah : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;&lt;/font&gt; المتغير &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu air yang berubah salah satu sifatnya, rasanya atau warnanya atau baunya, baik air itu sedikit atau banyak yang disebabkan oleh sesuatu yang suci yang masuk ke air tersebut.&lt;br /&gt;
Hukumnya seperti seperti air musta'mal dengan beberapa syarat, jika salah satu dari syaratnya tidak terpenuhi maka boleh digunakan untuk bersuci.&lt;br /&gt;
Syaratnya yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Berubahnya disebabkan oleh sesuatu yang suci. Jika disebabkan oleh sesuatu yang najis maka hukumnya menjadi air yang najis.&lt;br /&gt;
2. Berubahnya disebabkan oleh al-mukholith, seperti air kopi. Adapun jika berubahnya disebabkan oleh al-mujawir, seperti kayu, maka tidak masalah dan sah digunakan untuk thoharoh.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;- Al_Mukholith :&lt;/b&gt; Sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari air, atau yang tidak bisa dibedakan dengan pandangan mata. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;- Al_Mujawir :&lt;/b&gt; Sesuatu yang bisa dipisahkan dari air, atau yang bisa dibedakan dengan pandangan mata.&lt;br /&gt;
3. Berubahnya melampaui batas / banyak : sekira bisa menghilang nama air / menimbulkan nama lain, seperti sari buah, kuah, teh, kopi, maka tidak sah digunakan untuk thoharoh. Timbulnya nama lain itu menunjukkan ada yang terpisah dari benda lain (al mujawir) sehingga menjadi mukholith.&lt;br /&gt;
Adapun jika perubahannya itu hanya sedikit maka tidak masalah.&lt;br /&gt;
4. Air bisa dilindungi darinya. Berdeda jika air sulit dilindungi / terbebas darinya, seperti lumut, maka sah digunakan untuk thoharoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Contoh-contoh masalah air yang berubah :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Perubahan yang disebabkan oleh kayu atau minyak : tidak bermasalah, karena kayu atau minyak tersebut termasuk al_mujawir meskipun perubahannya banyak dan air dapat dijaga agar tidak kemasukan kayu.&lt;br /&gt;
2. Perubahan yang disebabkan sari buah, za'faron, celak mata : bermasalah, karena termasuk al_mukholith jika memenuhi syarat-syaratnya.&lt;br /&gt;
3. Perubahan yang disebab debu dan diam di satu tempat dalam waktu yang lama : tidak bermasalah, begitu juga tidak bermasalah perubahan yang disebabkan oleh sesuatu yang ada ditempat diamnya air dan tempat mengalirnya, dan sebab garam air, dan juga sebab daun yang rontok dari pohon sendiri, karena dalam semua ini air tidak bisa dijaga darinya maka sah digunakan untuk thoharoh meskipun menghilang nama air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga : Air najis &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;( النجس      )&lt;/font&gt; atau yang terkena najis &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;( المتنجس        )&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al mutanajjis adalah air yang menjadi najis karena kejatuhan benda najis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadaan air yang kejatuhan benda najis;&lt;br /&gt;
1. Air sedikit (kurang dari dua kulah) : Air menjadi najis secara mutlak hanya karena jatuhnya / masuknya benda najis kedalam air meskipun airnya tidak berubah.&lt;br /&gt;
2. Air banyak (lebih dari dua kulah) : Air tidak menjadi najis kecuali jika mengalami perubahan pada warnanya atau rasanya atau baunya meskipun perubahannya cuma sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;pertanyaan2 dalam masalah air yang kena najis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ketika ada air yang banyak dan kemasukan najis, akan tetapi kita ragu : apakah air tersebut berubah atau tidak, apakah boleh bersuci menggunakan air tersebu?&lt;br /&gt;
jawab : Boleh , karena asalnya air tersebut adalah suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jika ada air yang banyak dan sudah berubah, akan tetapi kita ragu2 : apakah perubahannya tersebut disebabkan benda yang suci atau benda najis. Bagaimana hukumnya?&lt;br /&gt;
jawab : Air itu tetap dihukumi suci, karena asalnya air adalah suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jika ada air yang banyak dan air tersebut berubah karena benda najis, kemudian setelah beberapa lama kita ragu2 : apakah perubahannya itu sudah hilang apa tidak? Bagaimana hukumnya?&lt;br /&gt;
jawab : air tersebut dihukumi najis, karena sebelumnya kita sudah yakin bahwa air tersebut adalah najisa. Dan sesuatu yang sudah diyakini tidak bisa dihilangkan dengan keragu-raguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Najis yang di ma'fu di dalam air&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air yang sedikit ketika kemasukan najis ada dua najis yang di ma'fu (di ampuni), yaitu ; Najis yang tidak bisa dilihat dengan mata dan bangkai hewan yang tidak mempunyai darah yang mengalir, yaitu hewan yang ketika salah satu anggota badannya dipotong darahnya tidak mengalir, seperti lalat dan sebagainya. Kedua najis itu di ma'fu dengan syarat :&lt;br /&gt;
1. Tidak disebabkan oleh pekerjaan orang. Dalam arti masuknya najis kedalam air yang sedikit itu tidak disengaja dimasukkan, akan tetapi karena terjatuh sendiri atau memang karena tumbuhnya didalam air.&lt;br /&gt;
2. Tidak menyebabkan perubahan air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Cara mensucikan air yang terkena najis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air yang menjadi najis gara-gara terkena najis bisa menjadi suci kembali dengan tiga cara :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Menjadi suci sendiri :&lt;br /&gt;
Khusus untuk air yang lebih dari dua kulah yang menjadi najis karena ada perubahan pada air tersebut yang disebabkan oleh benda najis bisa menjadi suci kembali jika perubahan pada air tersebut hilang sendiri karena di diamkan dalam jangka waktu yang lama.&lt;br /&gt;
2. Menambahkan air :&lt;br /&gt;
Air yang kurang dari dua kulah yang menjadi najis bisa disucikan dengan cara menambahkan air yang suci kedalamnya sehingga air yang terkena najis tersebut menjadi dua kulah lebih. Akan tetapi jika yang ditambahkan tersebut merupakan air yang najis, seperti air kencing, maka tidak bisa menyebabkan air tersebut menjadi suci.&lt;br /&gt;
3. Mengurangi air :&lt;br /&gt;
Cara ini dengan syarat setelah dikurangi air tersebut tidak kurang dari dua kulah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Teka-teki seputar air&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ada mandi wajib atau wudlu wajib, akan tetapi air bekas mandi dan wudlu wajib tersebut bukan merupakan air musta'mal, apa contohnya?&lt;br /&gt;
jawab : Contohnya adalah ketika seseorang &lt;b&gt;nadzar&lt;/b&gt; melakukan mandi sunah seperti mandi jum'at atau &lt;b&gt;nadzar&lt;/b&gt; tajdid (memperbaharui) wudlu. Mandi dan wudlu tersebut hukumnya wajib, akan tetapi airnya tidak musta'mal, karena mandi dan wudlu yang di nadzari tersebut tidak bisa menghilangkan hadats, dan wajibnya merupakan sesuatu yang datang belakangan, sedangkan yang di anggap adalah yang asal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ada dua air yang sah digunakan untuk bersuci dalam keadaan terpisah, tapi jika dikumpulkan tidak boleh digunakan untuk bersuci. Apa contohnya?&lt;br /&gt;
jawab : jika ada air suci yang berubah disebabkan oleh sesuatu yang ada pada tempat diamnya air atau tempat mengalirnya, seperti lumut, dituangkan kedalam air suci yang tidak berubah, sehingga air suci yang tidak berubah tersebut menjadi berubah dan nama air tersebut menjadi hilang, maka air tersebut tidak boleh digunakan untuk bersuci. Karena perubahan ini semestinya bisa dicegah agar tidak terjadi atau dalam istilah fiqih disebut &lt;font size="4px" color="#fffdf0" &gt;( يستغني الماء عنه )&lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;font size="4px" color="#fffdf0"&gt;( والله اعلم )&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/07/bab-air-1.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-3665446942170382205</guid><pubDate>Tue, 20 Jul 2010 06:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-12T04:28:43.327+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fiqih 'Ubudiyah</category><title>Kitab Thoharoh</title><description>&lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;Pengertian Thoharoh&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thoharoh &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt;( الطهارة )&lt;/font&gt; dalam segi bahasa berarti kesucian / kebersihan / bebas dari kotoran yang tampak : seperti bersih dari hadats (kotoran) dan khobats (sampah), dan yang tidak tampak : seperti bersih dari penyakit-penyakit hati : seperti ujub, sombong, hasud dan riya'.&lt;br /&gt;
Sedangkan dalam istilah&lt;sup&gt;&lt;font color="red" &gt;[1]&lt;/font&gt;&lt;/sup&gt; thoharoh mempunyai arti : menghilangkan hadats atau menghilangkan najis, atau yang semakna dengan menghilangkan hadats dan menghilangkan najis, atau yang serupa dengan keduanya.&lt;br /&gt;
Pengertian ini adalah ta'rif dari imam Nawawi disamping beberapa ta'rif yang lain.&lt;br /&gt;
Penjelasan dari ta'rif imam Nawawi tersebut sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Menghilangkan hadats : seperti wudlu dan mandi.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Menghilangkan najis : seperti istinja menggunakan air dan mencuci baju yang terkena najis.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Yang semakna dengan menghilangkan hadats : seperti tayammum dan wudlu nya orang yang mempunya halangan ; seperti orang yang beser kencing. Pada keduanya hadats tidak bisa hilang.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Yang semakna dengan menghilangkan najis : seperti istinja dengan batu, dalam hal ini bekas dari najis masih ada.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5.&lt;/b&gt; Yang serupa dengan menghilangkan hadats : seperti mandi-mandi sunah, wudlu yang diperbaharui, basuhan yang kedua dan ketiga saat membasuh tangan dan lainnya dalam wudlu. Basuhan yang kedua dan ketiga ini tidak bisa menghilangkan hadats, bentuk dari basuhan yang kedua dan ketiga sama dengan basuhan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6.&lt;/b&gt; Yang serupa dengan menghilangkan najis : sepeti basuhan yang kedua dan ketiga pada saat menghilangkan najis, kedua basuhan tersebut tidak menghilangkan najis sedangkan bentuknya seperti basuhan yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bentuk-bentuk thoharoh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Wudlu&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Mandi&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Tayammum&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Menghilangkan Najis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Alat-alat yang digunakan untuk thoharoh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Air : jika air tersebut suci mensucikan (muthlak)&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Debu : jika debu tersebut suci&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Samak : jika kasat dan dapat menghilangkan sisa-sisa daging dan lemak dari kulit.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Batu untuk istinja : jika suci, keras, dapat menyingkirkan dan yang tidak dimuliakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;font color="red" &gt;[1]&lt;/font&gt; : Ta'rif-ta'rif yang lain adalah;&lt;br /&gt;
1. Menurut sifatnya : Hilangnya pencegah yang disebabkan hadats dan najis.&lt;br /&gt;
2. Menurut pekerjaan : Mengerjakan sesuatu yang dapat memperbolehkan melaksanakan sholat.&lt;br /&gt;
3. Ta'rif_nya imam Ibnu Hajar : Mengerjakan sesuatu yang bolehnya melaksanakan shalat tergantung padanya walaupun dari sebagian segi (seperti tayammum. Bolehnya melaksanakan sholat tidak bergantung pada tayammum kecuali jika tidak ada air secara hissi atau syar'i), atau mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan pahala semata yang bergantung padanya (seperti memperbaharui wudlu dan mandi jum'at).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; و الله اعلم &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/07/kitab-thoharoh.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-4689413438125891686</guid><pubDate>Thu, 10 Jun 2010 15:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-10T22:31:27.430+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Idghom</title><description>Idghom &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; الإدغام &lt;/font&gt; secara bahasa mempunyai arti memasukkan sesuatu kedalam sesuatu.&lt;br /&gt;
Sedang menurut istilah adalah mencampur dua huruf yang sama atau yang berdekatan makhrajnya atau yang sejenis menjadi satu huruf bertasydid yang dimana lidah hanya sekali terangkat ketika mengucapkan dua huruf tersebut.&lt;br /&gt;
Caranya yaitu huruf yang hendak di-idghom-kan (Al Mudghom) dijadikan seperti huruf yang di-idghom-i , maka huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ل &lt;/font&gt; pada contoh &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; و الشمس &lt;/font&gt; dijadikan huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ش &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faidah dari idghom ini adalah untuk meringankan bacaan karena beratnya lidah kembali kepada makhraj yang awal atau yang mendekati, maka orang arab memilih idghom untuk meringankan karena dengan idghom dirasa lebih mudah dari pada idhhar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syarat-Syarat Idghom&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1 .&lt;/b&gt; Syarat pada Al Mudghom ;&lt;br /&gt;
Al Mudghom harus bertemu dengan Al Mudghom Fiih dalam penulisan , baik itu bertemunya dalam satu kalimat maupun tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2 .&lt;/b&gt; Syarat pada Al Mudghom Fiih ;&lt;br /&gt;
Al Mudghom Fiih harus terdiri lebih dari satu huruf jika dalam satu kalimat.&lt;br /&gt;
Syarat ini memasukkan seperti contoh &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; خلقكم &lt;/font&gt; dan mengeluarkan seperti &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; رزقك &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sebab-Sebab Idghom&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1 . Al Tamatsul&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu dua huruf yang sama dalam makhraj dan sifatnya , seperti dua huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ب &lt;/font&gt; dalam firman Allah : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; نصيب برحمتنا ، و اذهب بكتابي &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2 . Al Tajanus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu dua huruf yang sesuai dalam makhrajnya tapi sifatnya berbeda-beda, seperti huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ت &lt;/font&gt; dengan &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ط &lt;/font&gt; . contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; و لتأت طائفة &lt;/font&gt;. Dan huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; د &lt;/font&gt; dengan &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ت &lt;/font&gt;. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; تكاد تميز &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3 . Al Taqarub&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu dua huruf yang makhrajnya berdekatan , seperti &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; د &lt;/font&gt; dengan &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; س &lt;/font&gt;, contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; قد سمع &lt;/font&gt;. Atau dua huruf yang sifatnya berdekatan seperti &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ت &lt;/font&gt; dengan &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ث &lt;/font&gt;, contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; كذبت ثمود &lt;/font&gt;. Dua huruf tersebut sifatnya berdekatan karena keduanya sama-sama mempunyai sifat Hams , Infitah , Istifal dan Ishmat, dan sama-sama tidak bersifat Istitholah , Shofir , Takrir dan Tafasysyi. Hanya saja huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ت &lt;/font&gt; bersifat Syiddah dan huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ث &lt;/font&gt; bersifat Rikhwah.&lt;br /&gt;
Maksud dari sifat yang berdekatan yaitu dua huruf yang sifatnya sebagian besar sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kesimpulannya Idghom ada tiga macam : Mutamaatsilain , Mutaqooribain dan Mutajanisain. Dari masing-masing ketiga idghom tersebut adakalanya Idghom Shaghir dan Idghom Kabir (dinamakan kabir karena banyak dijumpai).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1 . Mutamaatsilain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A . Shaghir :&lt;/b&gt; Dua huruf yang sama sifat dan makhrajnya, huruf yang pertama sukun, huruf yang ke dua berharakat. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; فما ربحت تجارتهم ، أن اضرب بعصاك الحجر &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B .&lt;/b&gt; Kabir : Dua huruf yang sama sifat dan makhrajnya, keduanya sama-sama berharakat. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; الرحيم ملك &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2 . Mutaqoribain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A . Shaghir :&lt;/b&gt; Dua huruf yang makhrajnya berdekatan, sifatnya berbeda-beda, huruf yang pertama sukun, huruf ke dua berharakat. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; قد سمع الله ، لقد جاءكم &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B . Kabir :&lt;/b&gt; Dua huruf yang makhrajnya berdekatan, sifatnya berbeda-beda, kedua huruf tersebut berharakat. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; من بعد ذلك ، و الصالحات طوبى &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3 . Mutajanisain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A . Shaghir :&lt;/b&gt; Dua huruf yang makhrajnya sama tapi sifatnya berbeda, yang pertama sukun, yang ke dua berharakat. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; اركب معنا ، و يتب فأولئك &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B . Kabir :&lt;/b&gt; Dua huruf sama makhrajnya, kedua-duanya berharakat. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; يعذب من يشاء &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hukum Idghom&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum dari Idghom Shaghir adalah ;&lt;br /&gt;
1 . Wajib&lt;font color="red"&gt;&lt;sup&gt;[*]&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt; jika merupakan Idgham Mutamatsilain.&lt;br /&gt;
2 . Jawaz jika merupakan Idghom Mutaqoribain dan Mutajanisain.&lt;br /&gt;
Adapun Idghom Kabir dengan macam-macamnya, khusus riwayatnya imam Susiy dari Abu 'Amr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
¤&lt;font color="red"&gt;&lt;sup&gt;[*]&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt; Akan tetapi jika huruf yang pertama adalah Ha' Saktah, dalam firman Allah :&lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ماليه هلك &lt;/font&gt;(surah Al Haaqqah) , maka dalam hal ini menurut semua Imam yang menetapkan huruf Ha' ada dua wajah : Idhhar dan Idghom, Yang awal lebih utama.&lt;br /&gt;
Dan lagi jika huruf yang pertama berupa huruf mad , contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; قالوا وهم ، في يوم &lt;/font&gt; maka wajib dibaca Idhhar agar mad nya tidak hilang karena di-idghom-kan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Tambahan&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada Idghom Mitslain yang terdapat dalam satu kalimat, imam Abu 'Amr tidak meng-idghom-kan kecuali dalam dua tempat, yaitu pada firman Allah : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; مناسككم &lt;/font&gt;(surah Al Baqarah) dan &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ما سلككم &lt;/font&gt;(surah Al Muddatstsir). Selain dua tempat ini imam Abu 'Amr membaca dengan Idhhar, seperti pada kalimat : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; جباههم ، وجوههم &lt;/font&gt; dll.&lt;br /&gt;
Adapun yang terdapat dalam dua kalimat, semuanya dibaca idghom kecuali &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; فلا يحزنك كفرهم &lt;/font&gt; , dan kecuali jika huruf yang pertama bertasydid atau tanwin atau Ta' Khithob atau Ta' Mutakallim, seperti : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; مس سقر ، غفور رحيم ، افأنت تسمع ، كنت ترابا &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pada Idghom Mutaqoribain dalam satu kalimat, imam Abu 'Amr meng-idghom-kan huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ق &lt;/font&gt; yang huruf sebelumnya berharokat kedalam huruf &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; ك &lt;/font&gt; dalam dlomir jama' mudzakar saja. Contoh : &lt;font size="5px" color="#fffdf0"&gt; خلقكم &lt;/font&gt;, dan membaca idhhar selain contoh tersebut.&lt;br /&gt;
Sedangkan yang terdapat dalam dua kalimat ada beberapa huruf khusus yang di-idghom-kan. Keterangan lengkapnya bisa dipelajari pada kitab-kitab qira'ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align='center'&gt;&lt;font size="5px" color="#eee8aa"&gt; و الله اعلم &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber :&lt;br /&gt;
1. Faidlu Al Khabir Wa Khalashatu Al Taqrir.&lt;br /&gt;
karya : Sayyid 'Alawi bin Sayyid 'Abbas Al Maliki.&lt;br /&gt;
2. Al Tashrih Al Yasir Fi 'Ilmi Al Tafsir&lt;br /&gt;
karya : KH. Muhammad Sya'rani Ahmadi , Kudus.&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/06/idghom.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-3021573287250293640</guid><pubDate>Fri, 04 Jun 2010 08:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-04T15:33:43.142+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Takhfiful Hamzah ( meringankan hamzah )</title><description>Huruf Hamzah makhrajnya adalah pangkal tenggorokan. Hamzah ini termasuk dari huruf ibdal dan ziyadah , tidak memiliki bentuk khusus dalam khoth atau tulisan, akan tetapi meminjam bentuk lainnya, sekali tempo meminjam bentuknya alif , seperti lafadh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; رأس &lt;/font&gt; . sekali tempo meminjam bentuknya Wawu , seperti lafadh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; يؤمنون &lt;/font&gt; . sekali tempo meminjam bentuknya Ya' , seperti &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; بئر &lt;/font&gt; . Dan sekali tempo tidak memiliki bentuk , seperti &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; دفء &lt;/font&gt; . Huruf Hamzah ini hanya bisa diketahui melalui Syakl (harokat) dan dari bibir ke bibir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Huruf Hamzah ini makhrajnya pada pangkal tenggorokan menjadikan huruf ini paling berat diucapkan maka orang arab bermacam-macam cara meringankan bacaan huruf ini, dan yang paling banyak meringankan bacaan hamzah ini adalah orang-orang Quraisy dan ahli Hijaz, oleh karena itu takhfif hamzah ini paling banyak diriwayatkan dari mereka, seperti  imam Ibnu Katsir, Nafi' dari riwayatnya Warsy , dan Abu 'Amr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Untuk Takhfif Hamzah ini ada empat cara , yaitu ;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Naql (memindah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu memindahkan harokatnya Hamzah kepada huruf mati (sukun) sebelumnya kemudian menghilangkan hamzahnya.&lt;br /&gt;
Tempatnya Naql , sebagaimana dalam kitab Al Taqrib , adalah ketika akhirnya kalimat berupa huruf sukun&lt;font color="red"&gt;&lt;sup&gt;[*]&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt; selain huruf mad&lt;font color="red" &gt;&lt;sup&gt;[**]&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt; dan huruf Liin , dan setelahnya akhir kalimat ada huruf hamzah qotho' di awal kalimat kedua. Dalam hal ini Imam Warsy memindahkan harokatnya hamzah kepada huruf sukun sebelumnya kemudian menghilangkan hamzahnya.&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
1 . &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; قد افلح &lt;/font&gt; (dengan difathahnya huruf " د " serta menggugurkan hamzah) .&lt;br /&gt;
2 . &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; من امن &lt;/font&gt; (dengan difathah Nun_nya lafadh من , serta menggugurkan hamzahnya) .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-&lt;font color="red" &gt;[*]&lt;/font&gt; = qoyyid sukun ini mengecualikan seperti : الكتاب أفلا&lt;br /&gt;
-&lt;font color="red" &gt;[*]&lt;/font&gt; = qoyyid huruf mad ini mengecualikan seperti : &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; يا أيها ، قالوا امنا ، في أنفسكم &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2 . Ibdal (mengganti)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu mengganti hamzah yang sukun dengan huruf mad yang sejenis dengan harokatnya huruf sebelum hamzah tersebut.&lt;br /&gt;
Jika harokatnya huruf sebelum hamzah sukun tersebut berupa harokat dlomah, maka hamzah tersebut diganti dengan huruf wawu.&lt;br /&gt;
Jika sebelumnya berupa harokat fathah maka diganti huruf alif.&lt;br /&gt;
Jika sebelumnya berupa harokat kasrah maka diganti huruf Ya'.&lt;br /&gt;
Tempatnya Ibdal menurut imam Warsy adalah ketika hamzah sukun jatuh pada tempatnya Fa' fi'il, seperti : &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; يومنون ، موتفكة ، إيذن لي ، تالمون &lt;/font&gt; , kecuali semua lafadh yang berasal (Musytaq) dari masdar &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; الإيواء &lt;/font&gt; , maka menurut imam Warsy hamzahnya tidak digantikan , dan hamzahnya tetap dibaca. Contoh : &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; مأوى ، تؤوى &lt;/font&gt; dll.&lt;br /&gt;
Dan menurut imam Warsy juga menggantikan hamzah yang difathah yang jatuh setelah dlommah dengan huruf Wawu, yang dimana hamzah tersebut terdapat pada tempatnya Fa' Fi'il , seperti : &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; مؤجلا ، مؤذن ، يؤاخذ &lt;/font&gt; .&lt;br /&gt;
Adapun imam yang lain dalam masalah ibdal ini ada beberapa pen-tafsil-an yang dapat dipelajari pada kitab-kitab qiro'ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3 . Tashil ( التسهيل ) (meringankan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu membaca hamzah yang kedua ( dari dua hamzah yang beriringan dalam satu kalimat ) dengan bunyi leburan antara hamzah dan huruf harokatnya hamzah. Contoh : &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; أئنا ، أئذا ، أئنكم ، أإله &lt;/font&gt; , ( tiap kalimat yang terdapat dua hamzah, hamzah yang pertama berharokat fathah dan yang kedua berharokat kasrah ). &lt;br /&gt;
Cara pembacaanya : hamzah yang kedua pada kalimat - kalimat tersebut dibaca antara hamzah dan Ya' . Ini adalah qira'ahnya imam Nafi' , Ibnu Katsir dan Abu 'Amr. Dan imam-imam ini juga membaca tashil antara hamzah dan wawu , jika hamzah yang kedua berharokat dlommah , contoh ; &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; أؤنبئكم &lt;/font&gt; .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kedua hamzah tersebut terdapat pada dua kalimat , maka ;&lt;br /&gt;
Imam Qolun dan Al Bazi &lt;br /&gt;
membaca tashil hamzah yang pertama dari dua hamzah yang dikasrah antara hamzah dan ya' , seperti kalimat ; &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; هؤلاء إن كنتم &lt;/font&gt; . Dan membaca tashil antara hamzah dan wawu dari dua hamzah yang di dlommah , seperti ; &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; أولياء أولئك &lt;/font&gt; .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau jika kedua hamzah tersebut terdapat dalam satu kalimat tetapi harokatnya kedua hamzah itu tidak kasrah , maka ;&lt;br /&gt;
Imam Nafi' , Ibnu Katsir dan Abu 'Amr membaca tashil pada hamzah yang kedua , seperti : &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; تفىء إلى ، و جاء أمة بالمؤمنين ، و نشاء أصبناهم ، و من الماء أو ، و ما مسني السوء إن &lt;/font&gt; . ‎&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4 . Isqoth ( الإسقاط ) (menggugurkan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
ketika terdapat dua hamzah beriringan yang harakatnya sama , baik dalam satu kalimat ( dihukumi satu kalimat : red ) seperti ; &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; أأنذرتهم ، أألد ، أأنت  &lt;/font&gt;  , atau dalam dua kalimat , seperti ; &lt;font color="#fffdf0"; size="5px" &gt; جاء أجلهم ، و من النساء إلا ، و أولياء أولئك &lt;/font&gt; , hamzah yang pertama pada contoh-contoh tersebut digugurkan (dihilangkan) dalam qira'ahnya imam Abu 'Amr.&lt;br /&gt;
Dalam masalah ini terdapat pentafsilan yang bermacam-macam yang bisa dipelajari pada kitab-kitab Qira'ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;و الله اعلم &lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/06/takhfiful-hamzah-meringankan-hamzah.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-6460162372061575811</guid><pubDate>Thu, 03 Jun 2010 15:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-03T23:56:40.805+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Mad</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; الأصل في هذا الباب ما نقله في النشر من حديث ابن مسعود ر ضى الله عنه ، و لفظه &lt;br /&gt;
كان ابن مسعود يقرئ رجلا فقرأ الرجل "‏ إنما الصدقات للفقراء و المساكين " مرسلة أى مقصورة . قال ابن مسعود : ‏ما هكذا أقرأنيها رسول الله صلى الله عليه و سلم . فقال : كيف أقرأكها يا أبا عبد الرحمن ؟ فقال : أقرأنيها " إنما الصدقات للفقراء و المساكين " فمدها .&lt;br /&gt;
قال ابن الجزري : هذا حديث جليل حجة و نص في هذا الباب ، رجال إسناده ثقات . رواه الطبراني في معجمه الكبير &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Arti Mad Dan Pembagiannya Menurut Ilmu Ushul Tafsir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mad secara bahasa artinya adalah tambah.&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut istilah adalah memanjangkan bacaan suatu huruf dari tiga huruf Mad melebihi kadarnya mad thobi'i.&lt;br /&gt;
Sebab dikatakan mad thobi'i, karena orang yang punya tabiat sehat dan normal tidak akan membacanya kurang dari batasnya dan tidak juga melebihi batasnya. Batasnya mad thobi'i ini adalah kira-kira satu alif atau dua harakat ketika washol maupun waqof. Jika dibaca kurang dari satu alif hukumnya haram syar'iy. Dan jika dibaca lebih dari satu alif hukumnya sangat makruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Huruf-Huruf Mad Dan Syarat-Syaratnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1 . Alif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Huruf Alif secara mutlak, tidak disyaratkan dengan sesuatu sebelumnya, karena huruf alif ini selamanya sukun dan huruf sebelumnya berharokat fathah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2 . Wawu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu huruf wawu yang di sukun ( mati )  yang huruf sebelumnya berharokat dlommah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3 . Ya'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Huruf Ya' yang di sukun ( mati ) yang dimana huruf sebelumnya di baca kasrah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nama lain dari huruf Wawu dan Ya'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Huruf Wawu dan Ya' ini jika berharakat ( fathah , dlommah maupun kasrah ) seperti &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; وعد ، يسر &lt;/font&gt; , maka kedua huruf ini disebut dengan huruf 'Illat ( علة ) saja.&lt;br /&gt;
Jika huruf wawu dan Ya' ini sukun dan huruf sebelumnya berharokat fathah, seperti &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; الغيب ، الغوث &lt;/font&gt; , maka disebut huruf Illat dan huruf Liin ( لين ) .&lt;br /&gt;
Jika kedua huruf ini sukun dan huruf sebelumnya berharokat yang sesuai dengan kedua huruf tersebut, seperti &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; قيل ، يقول &lt;/font&gt; , maka kedua huruf ini disebut dengan huruf Illat , Liin dan Mad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembagian Mad&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mad itu ada dua macam&lt;br /&gt;
1 . Mad asli atau yang disebut juga dengan Mad Thobi'i ;&lt;br /&gt;
yaitu mad yang tidak bergantung pada sebab akan tetapi cukup dengan adanya salah satu dari tiga huruf mad. Contoh : &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; نوحيها &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
Tandanya yaitu setelah huruf mad tidak terdapat huruf sukun dan hamzah. Panjangnya mad ini adalah satu alif atau dua harokat ( dua ketukan ).&lt;br /&gt;
Contoh : &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; قال ، يقول ، قيل ‎‎&lt;/font&gt; . Harokatnya huruf ق Pada tiga contoh ini adalah salah satu dari dua harokat yang disebutkan, dan huruf Alif pada lafadh قال , huruf Wawu pada lafadh يقول , dan huruf Ya' pada lafadh قيل , adalah harokat yang kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mad Far'iy ( الفرعي ) ( cabang )&lt;br /&gt;
Yaitu mad yang melebihi dari mad Ashli dikarenakan ada sebab.&lt;br /&gt;
-Sebab dari mad ini ada dua, yaitu Hamzah dan Sukun.&lt;br /&gt;
-Syaratnya harus terdapat salah satu dari tiga huruf mad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hukum Mad  Far'iy&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Wajib.&lt;br /&gt;
ini masuk pada Mad Muttashil &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; المد المتصل &lt;/font&gt; .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jaiz.&lt;br /&gt;
Bagian ada delapan macam;&lt;br /&gt;
2.1 : Mad Munfashil &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; ( المد المنفصل )&lt;/font&gt; . Contoh ; ياأيها&lt;br /&gt;
2.2 : Mad 'Aridl lil idghom &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt;( المد العارض للإدغام )&lt;/font&gt; .&lt;br /&gt;
2.3 : Mad 'Aridl Lil Waqfi &lt;br /&gt;
2.4 : lafadh yang harokat huruf hamzahnya di pindah ke huruf yang sukun sebelumnya hamzah menurut Imam yang memperbolehkannya, seperti lafadh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; الان &lt;/font&gt; di dua tempat dalam surah Yunus.&lt;br /&gt;
2.5 : Mad Badal ; contoh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; امنوا ، أوتوا ، إيمانا &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
2.6 : Mad Liin ; contoh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; شيء &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
2.7 : Mad Shilah ; contoh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; عليهم أأنذرتهم &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
2.8 : Mad Rum ; contoh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; هانتم أولاء &lt;/font&gt; , menurut Imam yang membaca tashil hamzahnya &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; أنتم &lt;/font&gt; dan memasukkan Alif sebelum Hamzah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 . Lazim&lt;br /&gt;
Bagian ini ada dua macam, yaitu Kilmi ( كلمي ) dan Harfi ( حرفي ) . masing-masing dari kilmi dan Harfi ini adakalanya Mutsaqqal dan Mukhoffaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk penjelasan lebih lanjut ada dalam Ilmu Tajwid...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mad Muttashil dan Mad Munfashil Serta Pembacaannya Menurut Imam Qurra'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mad Muttashil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu mad yang dimana huruf mad bertemu dengan dengan Hamzah dalam satu kalimat. Contoh &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; شاء ، سوء ، يضيء &lt;/font&gt; . Mad ini yang dinamakan mad Wajib karena semua Qurra' sepakat memanjangkan bacaannya dari zaman Rasululloh SAW sampai sekarang, dan tidak ada perbedaan diantara Qurra' dalam mad nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadar panjangnya mad muttashil menurut Imam Qurra';&lt;br /&gt;
1 . Warsy dan Hamzah : 3 alif atau 6 harokat.&lt;br /&gt;
2 . 'Ashim : 2 alif dan 2 1/2 alif.&lt;br /&gt;
3 . Ibnu 'Amir dan 'Ali Al kisa'i : 2 alif.&lt;br /&gt;
4 . Qolun , Ibnu Katsir dan Abu 'Amr : 2 alif dan 2 1/2 alif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mad Munfashil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Yaitu mad yang dimana huruf mad bertemu dengan Hamzah pada kalimat lain (huruf mad diakhir kalimat dan hamzah diawal kalimat yang lain) . Contoh : &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; بما أنزل الله ، قالوا امنا ، لا إكراه  &lt;/font&gt; . Mad ini yang dinamakan dengan mad Jaiz.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kadar panjangnya mad munfashil menurut imam Qurra';&lt;br /&gt;
1 . Warsy dan Hamzah 3 alif.&lt;br /&gt;
2 . 'Ashim : 2 dan 2 1/2 alif.&lt;br /&gt;
3 . Ibnu 'Amir dan Al kisa'i : 2 alif.&lt;br /&gt;
4 . Qolun dan Ad Duuri : 1 alif dan 1 1/2 alif.&lt;br /&gt;
5 . Ibnu Katsir dan Al susi : 1 alif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulannya Mad Muttashil dan Munfashil ini sama dalam hal penambahan panjangnya dan berbeda-beda dalam hal pengurangannya. Maka dalam dua mad ini tidak boleh lebih dari enam harokat, dan dalam mad muttashil tidak boleh kurang dari 3 harokat dan dalam mad munfashil tidak boleh kurang dari 2 harokat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua hukum dari mad munfashil ini hanya berlaku jika dalam keadaan washol, adapun jika dalam keadaan waqof pada huruf mad maka kembali pada hukum aslinya dan ziyadah mad nya jadi gugur karena hilangnya penyebab ziyadh tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tambahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ketika dua mad muttashil berkumpul dalam satu bacaan , seperti ; &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; و أنزل من السماء ماء &lt;/font&gt; , maka bagi qori' tidak diperbolehkan memanjangkan salah satunya sedang yang lain tidak, akan tetapi wajib menyamakan panjangnya pada keduanya. Jika yang pertama dibaca kira-kira 2 alif maka yang kedua tidak boleh dibaca melebihi dari 2 alif dan juga tidak boleh kurang dari 2 alif.&lt;br /&gt;
Begitu juga ketika dua mad munfashil berkumpul dalam satu bacaan, seperti ; &lt;font color="#fffdf0"; size="4px" &gt; و الذين يؤمنون بما أنرل إليك و ما أنزل من قبلك &lt;/font&gt; .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font color="#eee8a"; size="5px" &gt;و الله اعلم&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber :&lt;br /&gt;
1 . Faidlu al khobir wa kholashotu al taqrir&lt;br /&gt;
2 . Nihayatu Al qouli al mufidi fi 'ilmi al tajwidi&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/06/mad.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-3970558771495267898</guid><pubDate>Fri, 28 May 2010 13:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-02T22:31:39.844+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Imalah</title><description>&lt;b&gt;&lt;font color="#fffdf0" &gt;Pengertian Imalah &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Imalah&lt;/b&gt; berasal dari kata أمال - يميل - إمالة ( الرمح ) ‏ yang berarti memiringkan atau mencondogkan (tombak). Sedangkan secara istilah adalah mencondongkan bacaan fathah ke arah kasroh, atau mencondongkan alif ke arah ya'.&lt;br /&gt;
Dalam istilah ulama' ahli qira'ah imalah ini juga disebut dengan Imalah Kubro. Menurut ahli qira'ah ada juga istilah imalah shugro dan disebut juga dengan Taqlil atau baina baina , hanya saja Taqlil lebih mendekati fathah seperti bunyi &lt;u&gt;&lt;font color="#eee8aa" &gt;re&lt;/font&gt;&lt;/u&gt; pada kata &lt;b&gt;me&lt;u&gt;&lt;font color="#eee8aa" &gt;re&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;ka&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara imam qira'ah yang paling banyak membaca imalah adalah imam Hamzah dan Al Kisa'i baik dalam keadaan washol maupun waqof. Kedua imam ini membaca imalah pada ;&lt;br /&gt;
1. setiap huruf alif yang aslinya ya' baik dalam kalimat isim , seperti &lt;font size='3px' color='#eee8aa' &gt; موسى ، عيسى ، مثواكم ، مأواكم&lt;/font&gt; maupun dalam kalimat fi'il , seperti &lt;font size='3px' color='#eee8aa'&gt;سعى ، رمى ، يخشى &lt;/font&gt;.&lt;br /&gt;
2. pada kata &lt;font size='3px' &gt;أنى&lt;/font&gt; (Anna) yang bermakna &lt;font size='3px' &gt;كيفى / متى&lt;/font&gt; (yang digunakan untuk istifham).&lt;br /&gt;
3. Setiap huruf alif diakhir yang ditulis dengan Ya' , seperti &lt;font size='3px' &gt;متى ، بلى ، يا أسفى ، يا حسرتى ، عيسى&lt;/font&gt; dll , dari setiap alif yang ditulis dengan Ya' dalam mushaf 'utsmani , kecuali beberapa yang dikecualikan yang akan diterangkan nanti.&lt;br /&gt;
Berbeda dengan huruf wawu yang ditulis dengan alif , seperti &lt;font size='3px' &gt;الصفا ، عصا ، دعا ، خلا&lt;/font&gt; , maka tidak ada yang membaca imalah pada kalimat-kalimat tersebut karena untuk mengingatkan bahwa huruf yang ditulis dengan alif tersebut aslinya adalah Wawu .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan yang dikecualikan adalah &lt;font size='3px' color="#eee8aa"&gt;حتى ، إلى ، لدى ، على ، زكا&lt;/font&gt; . Kelima kalimat-kalimat ini adalah yang dikecualikan dari huruf-huruf yang ditulis dengan Ya'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain imam Hamzah dan Al Kisa'i tidak ada yang membaca dengan imalah kubro kecuali pada beberapa tempat. Kesimpulannya para ulama' ahli qira'ah dalam bab imalah dibagi jadi dua golongan;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color="#fffdf0" &gt;1.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt; Yang membaca imalah.&lt;br /&gt;
imam-imam yang membaca imalah ini juga dibagi dua lagi ;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color="#eee8aa" &gt;A.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt; yang sedikit membaca imalah , yaitu imam Ibnu 'Amir , 'Ashim dan Qolun . Meraka hanya membaca imalah pada tempat-tertentu saja.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color="#eee8aa" &gt;B.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt; Yang banyak membaca imalah , yaitu imam Warsy , Hamzah , Al Kitsa'i dan Abu 'Amr . Mereka ini banyak sekali membaca imalah , akan tetapi aslinya imam Hamzah dan Al Kisa'i imalahnya adalah imalah kubro , dan imam Warsy imalah shughro . Sedangkan imam Abu 'Amr diantara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color="#fffdf0" &gt;2.&lt;/font&gt;&lt;/b&gt; Yang tidak membaca imalah , yaitu imam Ibnu Katsir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" &gt;&lt;font color="#fffdf0" size="5px"&gt;و الله اعلم&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/05/imalah.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-526580948633788423</guid><pubDate>Sat, 22 May 2010 03:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-22T10:40:19.052+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Waqof Dan Ibtida'</title><description>Waqof secara bahasa artinya adalah berhenti atau menahan.&lt;br /&gt;
Sedangkan secara istilah adalah memotong atau menghentikan suara diakhir kalimat untuk mengambil nafas.&lt;br /&gt;
Waqaf ini bisa dilakukan dengan salah satu dari tiga cara; Sukun Murni, Isymam dan Rum.&lt;br /&gt;
Sedangkan Waqof itu sendiri ada empat macam;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Idlthirori ( اضطراري ) : &lt;/b&gt;ketika seorang qari' tepaksa berhenti dengan sebab kehabisan nafas, batuk, lupa dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Hukumnya : sebaiknya menyambungnya dengan memulai dari kalimat dimana dia berhenti jika kalimat tersebut patut dijadikan ibtida' (permulaan), jika tidak maka dari kalimat sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Intidhori ( انتظاري ) :&lt;/b&gt; ketika qari' ingin menggabungkan beberapa riwayat qira'ah dan waqaf pada satu kalimat untuk menyambung dengan qira'ah yang lainya.&lt;br /&gt;
3. Ikhtibari ( اختباري ) : ketika qari' diuji atau mengajarkan bagaimana caranya waqof pada tulisan mushaf 'Utsmani.&lt;br /&gt;
4. Ikhtiyari ( اختياري ) : ketika qari' memang sengaja berhenti tanpa adanya sebab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waqof ikhtiyari itu sendiri terbagi menjadi empat macam yang menjadi pokok pembahasan kali ini;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color="#eee8aa"&gt;1. Al Tam Al Mukhtar&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Waqof pada kalimat yang tidak mempunyai hubungan dengan kalimat sesudahnya baik secara lafadh maupun makna. Seperti waqof pada kalimat " &lt;font color='#'&gt;المفلحون&lt;/font&gt; " dalam surah Al Baqarah.&lt;br /&gt;
Hukumnya : baik waqof pada kalimat tersebut dan ibtida' pada kalimat sesudahnya.&lt;br /&gt;
Waqaf ini biasanya terdapat pada akhir ayat dan diakhir kisah atau cerita. Dan terkadang terdapat pada pertengahan ayat, seperti waqaf pada بعد إذ جاءني dalam ayat&lt;br /&gt;
لقد ‏اضلني عن الذكر بعد إذ جاءني - وكان الشيطان للإنسان خذولا ¤ الفرقان :5&lt;br /&gt;
Waqaf pada tempat tersebut adalah Waqaf Tam, karena akhir dari ucapannya orang dhalim. Kemudian Allah SWT berfirman : و كان الشيطان للإنسان خذولا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waqaf ini terkadang sangat disarankan (wajib)  untuk menjelaskan makna yang dimaksud, apabila disambung bisa menimbulkan kesalahan makna yang tidak dimaksudkan. Waqaf ini yang dinamakan waqaf Lazim oleh iman Al Sajawandi, sedang ulama' yang lain menamai Waqaf Wajib dan diberi tanda dengan &lt;font color='red'&gt;&lt;sup&gt;(م)‎&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt;. Contohnya seperti ;&lt;br /&gt;
لقد سمع الله قول الذين قالوا إن الله فقير و نحن أغنياء &lt;br /&gt;
Disini adalah waqaf Lazim, karena firman Allah سنكتب adalah khabar dari Allah tentang akan dicatat atas ucapannya mereka. Jika disambung bacaannya akan menimbulkan anggapan kalau kalimat سنكتب termasuk dari ucapannya mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#eee8aa'&gt;2. Al Kaafi&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Waqaf pada kalimat yang tidak ada hubungannya dengan kalimat sesudahnya secara lafadh ( I'rab ) tetapi masing ada hubungan dalam maknanya. Seperti waqaf pada ;&lt;br /&gt;
اليوم أحل لكم الطيبات &lt;br /&gt;
dan dilanjutkan kalimat sesudahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan antara hubungan ( التعلق ) secara lafadh ( اللفظي ) dan makna ( المعنوي ) adalah ;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A.&lt;/b&gt; Hubungan secara lafadh itu kalimat sesudahnya berhubungan dengan yang sebelumnya dalam segi I'rab_nya, seperti jadi sifat atau yang lainnya, dengan syarat kalimat yang sebelumnya merupakan kalimat yang sampurna.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B.&lt;/b&gt; Hubungan secara makna itu kalimat sesudahnya berhubungan dengan yang sebelumnya dalam segi makna atau artinya saja. Seperti ikhbar tentang keadaannya orang-orang mukmin dalam awal surah Al Baqarah, ikhbar ini tidak sampurna kecuali sampai pada  و ‏اولئك هم المفلحون. ( Al Baqarah : 5 )&lt;br /&gt;
kemudian ikhbar tentang orang-orang kafir sampurna sampai pada و لهم عذاب عظيم. (Al Baqarah : 6-7)&lt;br /&gt;
Dilanjutkan ikhbar tentang orang-orang munafiq sampurna sampai pada إن الله على كل شيئ قدير ‎. (Al Baqarah : 8-20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#eee8aa'&gt;3. Waqaf Al Hasan&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Waqaf pada kalimat yang berhubungan dengan kalimat sesudahnnya secara lafadh dan makna, dengan syarat kalimat tempat waqaf tersebut susunan kalimat (jumlah) nya sampurna. Seperti waqaf pada الحمد لله dan رب العالمين . waqaf pada kedua kalimat ini adalah baik, tetapi ibtida' (mulai) dengan kalimat sesudahnya tidak baik, karena lafadh رب dan الرحمن adalah dua sifat Allah SWT, dan sifat itu tidak bisa dipisahkan dari yang disifati (maushuf), kecuali jika pada awal ayat maka diperbolehkan. Jika waqaf ini terjadi tidak pada akhir ayat maka disunahkan memulai pada kalimat dimana dia waqaf, jika tidak dilakukan tidak berdosa. Jika waqaf ini terjadi pada akhir ayat maka diperbolehkan waqaf pada tempat tersebut dan ibtida' pada kalimat sesudahnya apabila tidak ada hubungan yang sangat kuat sekira kalimat itu belum sampurna, dan yang baik adalah disambung (washal). Waqaf ini juga dinamakan waqaf Shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#eee8aa'&gt;4. Waqaf Qabih &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Waqaf pada kalimat yang mempunyai hubungan dengan kalimat sesudahnya secara lafadh dan makna, sebelum sampurnanya kalimat, sehingga maksud atau artinya tidak bisa difahami atau menimbulkan kefahaman yang terbalik. Seperti waqaf pada mubtada' (pokok kalimat) tanpa khabarnya (sebutannya) pada kalimat الحمد لله . Waqaf pada Mudlof tanpa Mudlof ilaih pada kalimat بسم الله .&lt;br /&gt;
Qari' tidak boleh berhenti pada waqaf Qobih ini, kecuali karena darurat, seperti kehabisan nafas, bersin dan sebagainya. waqof ini dinamakan waqaf dlorurat. Begitu pula dengan pasti tidak boleh ibtida' pada kalimat sesudah waqof Qobih tersebut. Dan yang paling Qobih / buruk adalah waqof dan ibtida' pada kalimat yang menggambarkan kelainan makna yang dituju, seperti waqaf pada ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لقد سمع الله قول الذين قالوا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemudian ibtida' pada&lt;br /&gt;
إن الله فقير و نحن أغنياء&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waqaf Qobih ini bisa terjadi karena terpaksa atau sengaja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Jika waqofnya karena terpaksa karena kehabisan nafas dan sebagainya dan ibtida' pada kalimat sesudahnya tanpa meyakini maknanya, maka tidak berdosa jika mengetahui maknanya, karena niatnya adalah menceritakan orang yang mengucapkan kalimat tersebut, sedangkan qori' tidak meyakini maknanya, begitu juga qori' yang tidak tahu maknanya. Adapun jika meyakini maknanya maka dipastikan dia kufur, baik pada kalimat tersebut dia waqof maupun tidak.&lt;br /&gt;
2. Jika waqofnya dengan sengaja maka perlu diperhatikan : jika meyakini maknanya maka dia kufur, jika tidak maka tidak, akan tetapi yang pasti waqaf ini diharamkan karena menimbulkan makna yang tidak sesuai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#eee8aa'&gt;Macam-macam cara Waqof&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Al Taskin Al Mahdli ( Sukun Murni )&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah waqaf pada huruf yang berharakat menggunakan sukun dalam kadar waktu&lt;sup&gt;&lt;font color='red'&gt;[*]&lt;/font&gt;&lt;/sup&gt; yang biasa digunakan untuk mengambil nafas dengan niat memulai qira'ah.&lt;br /&gt;
Waqaf Al Taskin Al Mahdli ini adalah yang asli dalam Waqaf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- &lt;sup&gt;&lt;font color='red'&gt;[*] &lt;/font&gt;&lt;/sup&gt; = definisi ini digunakan untuk membedakan dengan Saktah, karena waktunya Saktah kurang / dibawah waktu untuk mengambil nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Al Isymam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah suatu ibarat dari mengumpulkan dua bibir tanpa mengeluar suara setelah membuang harokat, untuk memberikan isyarat bahwa harokat yang dibuang itu adalah Dlommah.&lt;br /&gt;
Faidah dari isymam ini adalah untuk membedakan antara huruf yang aslinya berharokat dan adanya sukunnya dikarenakan waqaf, dengan huruf yang selamanya disukun.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu Waqaf Isymam ini tidak bisa diketahui kecuali ada orang yang melihat gerakan bibirnya si Qari'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Al Rum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah ibarat dari melemahkan suara harokat hingga sebagian besar suara dari harokat itu hilang, sehingga orang yang dekat dengan Qari' yang mendengarkan dengan seksama dapat mendengar dengan lirih suara itu.&lt;br /&gt;
Faidah dari Al Rum ini adalah untuk menjelaskan harokat yang asli yang terdapat pada huruf yang diwaqofkan supaya jelas bagi yang mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='eee8aa'&gt;Tempat-tempat yang diperbolehkan menggunakan Al Taskin, Al Isyman dan Al Rum&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Huruf yang berharakat dengan Rafa' jika mu'rab atau berharakat dlommah jika mabni seperti &lt;font size='3px'&gt;نستعين ، عذاب ، عظيم &lt;/font&gt; dll, maka diperbolehkan waqaf dengan tiga cara diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Huruf yang berharakat dengan khafdli atau kasrah jika diwashalkan, seperti &lt;font size='3px'&gt; الرحمن الرحيم مالك يوم الدين &lt;/font&gt; , maka ditempat diperbolehkan waqaf dengan Al Taskin dan Al Rum saja, sedangkan Isymam tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Tempat yang Khususkan dengan Al Taskin Al Mahdli. Bagian ini terdapat pada beberapa tempat :&lt;br /&gt;
A. Ha' Ta'nits yang diwaqofkan dengan Ha'.&lt;br /&gt;
Contoh : &lt;font size='3px' &gt;الجنة ، الملائكة ، القبلة&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
Pada tempat ini tidak boleh diwaqofkan dengan Al Rum dan Al Isymam. Karena Ha' tidak berharakat jika diwashalkan, akan tetapi Ha' itu sebagai ganti dari huruf Ta' ( ت ).&lt;br /&gt;
Adapun yang ditulis dengan Ta' maka boleh diwaqafkan dengan Al Rum dan Al Isymam menurut imam yang me-waqofkan dengan Ta' karena itu adalah Ta' murni yang ditetapkan ketika washal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Huruf yang tetap sukun ketika diwashalkan seperti &lt;font size='3px' &gt;فلا تنهر ، ولا تمنن ، وانحر&lt;/font&gt;. Dan termasuk dalam pembagian ini adalah Mim Jama'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Huruf yang berharakat ketika washal dengan harakat baru, adakalanya karena harakat pindahan ( النقل ) seperti &lt;font size='3px' &gt;قل أوحى&lt;/font&gt; menurut imam Wasy, dan adakalanya karena bertemunya dua huruf sukun ( التقاء الساكنين ) seperti &lt;font size='3px' &gt;قم الليل&lt;/font&gt; , maka tidak diperbolehkan waqaf dengan Al Rum dan Al Isymam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Huruf yang ketika washal berharakat dengan fathah atau nashab yang tidak ditanwin, seperti &lt;font size='3px' &gt;العالمين ، المستقيم&lt;/font&gt; , pada tempat ini tidak diperbolehkan Al Rum dan Al Isymam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A'lam....&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;p align='center' &gt;Sumber : Faidlu Al Khabir Wa Khalashatu Al Taqrir&lt;br /&gt;
Karya : Al Sayyid 'Alawi Ibn Al Sayyid 'Abbas Al Maliki Al Makki</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/05/waqof-dan-ibtida.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-4088905597552606645</guid><pubDate>Thu, 13 May 2010 13:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-13T20:14:07.675+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Qurraa' Dan Huffaadh Dari Golongan Shahabat Dan Tabi'in</title><description>&lt;b&gt;Bab 2 Ilmu Tafsir Bagian 3 : Yang Berhubungan Dengan Sanad &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;Ke 5 dan 6 : Para Rawi Dan Huffadh Dari Golongan Shahabat Dan Tabi'in &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sebelas orang Qurra' dan Huffadh dari golongan Shahabat yang terkenal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. 'Ali bin Abi Thalib Al Hasyimi كرم الله وجهه&lt;br /&gt;
2. 'Utsman bin 'Affan Al Umawi رضى الله عنه&lt;br /&gt;
3. Ubay bin Ka'b Al Jazraji رضى الله عنه&lt;br /&gt;
4. Zaid bin Tsabit Al Anshari Al jazraji رضى الله عنه&lt;br /&gt;
5. 'Abdullah bin Mas'ud Al Hudzali رضى الله عنه&lt;br /&gt;
6. Abu Zaid Al Anshari رضى الله عنه&lt;br /&gt;
7. Abu Darda' ( 'Uwaimir / 'Amir bin Zaid ) Al Jazraji Al Anshari رضى الله عنه &lt;br /&gt;
8. Mu'adz bin jabal رضى الله عنه&lt;br /&gt;
9. Abu Hurairah ( 'Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausi ) رضى الله عنه&lt;br /&gt;
10. 'Abdullah bin 'Abbas رضى الله عنهما Al Hasyimi&lt;br /&gt;
11. 'Abdullah bin Saib Al Muththalibi رضى الله عنه &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga orang shahabat yang akhir ( Abu Hurairah, 'Abdullah bin 'Abbas dan 'Abdullah bin saib) ini mengambil / belajar qira'ah dari Ubay bin Ka'b رضى الله عنه .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam shahih Bukhari disebutkan&lt;br /&gt;
عن عبد الله بن عمرو : سمعت النبى صلى الله عليه و سلم يقول ؛ خذوا القران من أربعة : من عبد الله بن مسعود ، و سلم ، و معاذ ، و أبي بن كعب .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أنس قال : مات النبي صلى الله عليه و سلم و لم يجمع القران غير الأربعة : أبو الدرداء ، و معاذ بن جبل ، و زيد بن ثابت ، و أبو زيد .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Qurra' dan Huffadh dari golongan Tabi'in yang terkenal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Abu Ja'far Yazid bin Al Qa'qa'&lt;br /&gt;
2. 'Abdurrahman bin Hurmuz Al A'raj&lt;br /&gt;
3. Mujahid bin Jabr&lt;br /&gt;
4. 'Atha' bin Yasar&lt;br /&gt;
5. Ibnu Abi Rabah&lt;br /&gt;
6. Said bin Jubair&lt;br /&gt;
7. 'Ikrimah (budaknya Ibnu 'Abbas) Al Hasyimi Al Madani&lt;br /&gt;
8. Aswad bin Yazid Al Kufi&lt;br /&gt;
9. Hasan Al Bashri&lt;br /&gt;
10. Zirru bin Hubaisy Al Asadi&lt;br /&gt;
11. 'Alqamah bin Qais Al Nakha'i Al Kuufi&lt;br /&gt;
12. Masruq bin Al Ajda' Al Hadamani&lt;br /&gt;
13. 'Abiidah bin Qais Al Silmani ( Ibnu 'Amr, diberi kinayah "Abu Muslim" )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang disebutkan diatas adalah nama-nama dari shahabat dan tabi'in yang menjadi pijakannya Qurra' Sab'ah yang qira'ahnya Mutawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sanad-sanadnya Al-Quraa' Al-Sab'ah yang muttashil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A.&lt;/b&gt; Imam Nafi' :&lt;br /&gt;
Belajar qira'ah dari 70 orang Tabi'in, diantaranya; &lt;br /&gt;
1. Yazid bin Qa'qa'&lt;br /&gt;
2. Syaibah&lt;br /&gt;
 bin Nashshaah (bekas hamba Ummy Salamah R.A)&lt;br /&gt;
3. 'Abdurrahman bin Hurmuz Al A'raj&lt;br /&gt;
4. Muslam bin Jundab&lt;br /&gt;
Ke-empat orang ini belajar dari 'Abdullah bin 'Abbas dan Abu Hurairah. 'Abdullah dan Abu Hurairah belajar dari Ubay bin Ka'b. Ubay bin Ka'b dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B.&lt;/b&gt; Ibnu Katsir :&lt;br /&gt;
Belajar qira'ah dari 'Abdullah bin Saib Al Makhzumi. 'Abdullah bin saib dari 'Abdullah bin 'Abbas. 'Abdullah bin 'Abbas dari Ubay bin Ka'b, 'Umar bin Al Khaththab dan Zaid bin Tsabit. Ubay, 'Umar dan Zaid dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;C.&lt;/b&gt; Abu 'Amr :&lt;br /&gt;
Belajar dari beberapa Tabi'in, diantaranya; Mujahid dan Sa'id bin Jubair. Mujahid dan Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas. Ibnu 'Abbas dari Ubay bin Ka'b. Ubay bin Ka'b dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;D.&lt;/b&gt; Ibnu 'Amir :&lt;br /&gt;
Belajar dari Mughirah bin Abi Syihab Al Makhzumi, dari 'Utsman bin 'Affan, dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
Ada yang mengatakan Ibnu 'Amir belajar langsung kepada 'Utsman bin 'Affan tanpa pelantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;E.&lt;/b&gt; 'Aashim :&lt;br /&gt;
Belajar dari 'Abdullah bin Hubaib Al Sullami. 'Abdullah bin Hubaib dari lima orang shahabat;&lt;br /&gt;
1. 'Utsman bin 'Affaan&lt;br /&gt;
2. 'Ali bin Abi Thalib&lt;br /&gt;
3. Ubay bin Ka'b&lt;br /&gt;
4. 'Abdullah bin Mas'ud&lt;br /&gt;
5. Zaid bin Tsabit&lt;br /&gt;
ke-lima shahabat ini dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;F.&lt;/b&gt; Hamzah :&lt;br /&gt;
Belajar dari Abi Muhammad Salman bin Mahran Al A'masy, dari Yahya bin Watsab Al Asadi, dari 'Alqamah, dari Ibnu Mas'ud, dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;G.&lt;/b&gt; 'Ali Al Kisa'i :&lt;br /&gt;
Belajar dari Hamzah, (sanadnya sudah disebutkan diatas). Dan juga belajar dari 'Isa bin 'Umar, dari Thalhah bin Musharrif, dari  An Nukha'i, dari 'Alqamah, dari Ibnu Mas'ud, dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A'lam....&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;br /&gt;
1. Faidlu Al Khabir Wa Khalashatu Al Taqrir.&lt;br /&gt;
karya : Sayyid 'Alawi bin Sayyid 'Abbas Al Maliki.&lt;br /&gt;
2. Al Tashrih Al Yasir&lt;br /&gt;
Fi 'Ilmi Al Tafsir&lt;br /&gt;
karya : KH. Muhammad Sya'rani Ahmadi , Kudus.</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/05/qurraa-dan-huffaadh-dari-golongan.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-2097503770766228907</guid><pubDate>Sun, 09 May 2010 18:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-10T01:20:46.262+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Qira'ah - Qira'ahnya Nabi</title><description>4 : QIRA'AH-QIRA'AHNYA NABI صلى الله عليه و سلم&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Abu 'Abdillah Al Hakim An Naisaburi dalam kitabnya "Al Mustadrak" mengumpulkan hadits-hadits Shahih Bukhari dan Muslim dalam satu bab berisi qira'ah-qira'ahnya Nabi صلى الله عليه و سلم , dalam kitab itu Al Hakim mengeluarkan hadits dari berbagai jalan / rawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dari Al A'masy, dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah, bahwasanya Nabi membaca&lt;br /&gt;
ملك يوم الدين tanpa memaka alif.&lt;br /&gt;
Ini adalah qira'ahnya Abi 'Amr, Ibnu 'Amir, Hamzah, Ibnu Katsir dan Nafiq. Sedangkan 'Ashim dan Al Kisa'i membaca dengan alif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dari Ibrahim bin Sulaiman Al Katib, dari Ibrahim bin Thahman, dari Al 'Ala' bin Abdurrahman, dari ayahnya Al 'Ala' (Abdurrahman) dari Abu Hurairah : bahwasannya Nabi membaca " اهدنا الصراط المستقيم " menggunakan Shad ( ص ).Ini adalah qira'ah jumhur ulama selain Qunbul dan Khalaf. Qunbul membaca الصراط menggunakan Sin , dan Khalaf menggunakan Isymam (mencampur shad dan zay sekira keluar diantaranya huruf yang bukan shad dan bukan zay).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit dari ayahnya Kharijah (yakni; Zaid bin Tsabit) bahwasannya Nabi membaca " فرهن مقبوضة " ( faruhunun maqbudlotun ) dalam surah Al Baqarah dengan dibaca dlommah pada huruf Ra dan Ha. Ini adalah qira'ahnya imam Ibnu Katsir dan Abi 'Amr, dan yang lainnya membaca " فرهان مقبوضة " dengan Ra dibaca kasrah, Ha dibaca fathah dan menetapkan alif setelah Ha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, bahwasannya Nabi membaca " كيف ننشزها " menggunakan Zay. Ini adalah qira'ahnya Hamzah, Al Kitsa'i, 'Ashim dan Ibnu 'Amir Asy Syami. Sedang yang lainnya membaca " ننشرها " menggunakan Ra sebagai gantinya Zay.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Dengan sanad dari Dawud bin Muslim bin 'Abbad Al Makki, dari ayahnya, dari 'Abdillah Ibnu Katsir Al Qari', dari Mujahid, dari Ibnu 'Abas, dari Ubay ; bahwasanya Nabi membaca &lt;br /&gt;
" و اتقوا يوما لا تجزى نفس عن نفس شيأ "&lt;br /&gt;
menggunakan Ta' Ta'nits.&lt;br /&gt;
Dan membaca &lt;br /&gt;
" و لا يقبل منها شفاعة و لا يؤخذ منها عدل "&lt;br /&gt;
menggunakan Ya'. Qira'ah ini adalah qira'ahnya imam tujuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Dengan sanad dari Dawud bin Al Hashin dari 'Ikrimah dar Ibnu 'Abbas; bahwasannya Nabi SAW membaca : و ما كان لنبى أن يغل dengan huruf Ya' di fathah (dan huruf Ghain di Dlomah (mabni fa'il) ). Ini adalah qira'ahnya Ibnu Katsir, Abi 'Amr dan 'Ashim. Sedang yang lainnya dengan huruf Ya' di Dlomah dan huruf Ghain di fathah (mabni maf'ul).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Sanad dari Az Zuhri, dari Anas RA, bahwasannya Nabi SAW membaca ;&lt;br /&gt;
و كتبنا عليهم &lt;br /&gt;
فيها أن النفس بالنفس و العين بالعي  &lt;br /&gt;
(surah Al Ma'idah) dengan dibaca Rafa' (pada huruf Nun-nya العين yang pertama). Ini adalah qira'ahnya Al Kitsa'i, sedang yang lainnya membaca Nashab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Dengan sanad dari Humaid bin Qais Al A'raj, dari Mujahid, dari Ibnu 'Abbas, dari Ubay bin Ka'b, bahwasannya Nabi SAW membacakan kepada Ubay bin Ka'b &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" و ليقولوا درست " (surah Al An'am) dengan huruf Sin dibaca sukun dan huruf Ta' dibaca fathah. Ini adalah qira'ahnya Nafi', Hamzah, Al Kisa'i dan 'Ashim. Ibnu Katsir dan Abu 'Amr membaca " دارست " dengan tambahan huruf Alif setelah huruf Dal, huruf Sin di sukun dan huruf Ta' di fathah. Sedang Ibnu 'Amir membaca tanpa huruf Alif, huruf Sin di fathah dan huruf Ta' di sukun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Dari Abdurrahma bin Ghanm Al Asy'ari, dari Mu'adz, bahwasannya Nabi SAW membacakan kepada Mu'adz " هل تستطيع ربك " (surah Al Ma'idah) dengan huruf Ta' (dan Nashab-nya lafadh ربك‎ , jadi maf'ul). Ini adalah qira'ahnya Al Kitsa'i, sedang yang lainnya dengan huruf Ya' ( يستطيع ) dan lafadh ربك dibaca Rafa'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Dari 'Abdullah bin Thawus, dari ayahnya Abdullah, dari Ibnu 'Abbas; bahwasannya Nabi SAW membacakan kepada Ibnu 'Abbas : لقد جاءكم رسول من أنفسكم dengan fathah-nya huruf Fa'.&lt;br /&gt;
Sebagaimana dalam Rauh Al Ma'ani, ini adalah qira'ahnya Ibnu 'Abbas dan Ibnu Mahishin dan Az Zuhri. Itu adalah Af'al Tafdlil dari lafadh An Nafasah. Sedangkan Qurra' As Sab'ah membaca dengan Dlommah-nya huruf Fa', jama' dari lafadh نفس .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Dari Abi Ishaq As Sabi'i, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu 'Abbas : bahwasannya Nabi SAW membaca : و كان أمامهم ملك يأخذ كل سفينة صالحة غصبا . (surah Al Kahfi) . Ini adalah qira'ahnya Ibnu 'Abbas dan Ibnu Jubair, dan ini adalah qira'ah yang Syadz. Sedangkan Qurra' As Sab'ah membaca dengan kalimat وراءهم‎ dan tanpa kalimat صالحة &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Dari Al Hakam bin 'Abdul Malik, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Imran bin Al Hashin: bahwasannya Nabi SAW membaca : وترى الناس سكرى و ما هم بسكرى . ( surah Al Hajj ). &lt;br /&gt;
(kedua lafadh سكرى dibaca dengan huruf Sin di fathah, Kaf di Sukun, Ra' di fathah), Ini adalah qira'ahnya dua bersaudara, yaitu Hamzah dan Al Kisa'i. Sedang yang lainnya membaca dengan Sin di Dlommah, Kaf di fathah dengan huruf Alif setelahnya kaf, mengikuti wazan فعالى pada kedua lafadh tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Dari Ammar bin Muhammad, dari Al A'mas, dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah, sesungguhnya Nabi membaca : فلا تعلم نفس ‏ما أخفى لهم من قرات أعين . (surah As Sajdah).( قرات أعين : ‎‎dibaca dengan shighat jama‎'‎ pada kedua lafadh tersebut) .Sebagaimana dalam Rauhul Ma'ani, ini adalah qira'ahnya 'Abdullah, Abu Darda', Abu Hurairah, 'Aun dan Al 'Uqaili. Sedangkan Qurra' Sab'ah membaca " قرة أعين " dengan shighat Mufrad.&lt;br /&gt;
Dan Nabi membaca " و اتبعتهم ذريتهم ". (surah Ath Thur). واتبعتهم dengan Ta' Ta'nits, dan ذريتهم dibaca Rafa'. Ini adalah qira'ahnya As Sab'ah selain Abu 'Amr. Sedangkan Abu 'Amr membaca " و أتبعناهم ذرياتهم " , dengan Hamzah Qatha' yang dibaca fathah, huruf Ta' dan 'Ain dibaca sukun, Nun di fathah dengan huruf Alif setelahnya. Ini adalah qira'ah kedua yang disebutkan dalam kitab An Nuqayah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Dari Al Jahdari, dari Abu Bakar, bahwa Nabi SAW membaca &lt;br /&gt;
" متكئين على رفارفا خضر و عباقري حسان ".&lt;br /&gt;
Ini (sebagaimana yang dikatakan oleh Al Alusi) adalah qira'ahnya 'Utsman bin 'Affan RA, Nashr bin Al Jahdari, Malik bin Dinar, Ibnu Mahishin, Zuhair Al Furqubi dan yang lainnya. " رفارف " dengan shighat jama' ghairu munsharif, dan " و عباقري " huruf Qaf di Kasrah dan Ya' ber-Tasydid dan di baca fathah. Sedangkan Qurra' Sab'ah membaca dengan shighat mufrad pada kedua lafadh tersebut ( رفرف dan عبقري ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#eee8aa'&gt;Wallahu A'lam..... &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;font color='#fffdf0'&gt;Sumber : فيض الخبير و خلاصة التقرير&lt;br /&gt;
karya : As Sayyid 'Alawi ibn As Sayyid 'Abbas Al Maliki Al Makki&lt;/font&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/05/qiraah-qiraahnya-nabi.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-8211096680724350488</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 16:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-08T15:38:37.104+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Al-Mutawatir Al-Ahadi Dan Al-syaadz</title><description>Pada bab 2 ini yang berhubungan dengan sanad ada enam macam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;Bagian 1, 2, dan 3 adalah Al Mutawatir, Al Ahadi dan Asy Syaadz&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;1. AL MUTAWATIR&lt;/font&gt;&lt;/b&gt; adalah qira'ah yang diriwayatkan oleh sekelompok orang yang tidak dimungkinkan adanya kesepakatan berbohong dari sesamanya .&lt;br /&gt;
Qira'ah itu adalah qira'ah sab'ah (tujuh bacaan) yang dinisbatkan kepada tujuh orang imam.&lt;br /&gt;
Selain qira'ah yang Mutawatir ini, tidak bisa dipakai dalam hal yang berhubungan dengan hukum, kecuali qira'ah yang berlaku seperti tafsir seperti qira'ahnya Ibnu Mas'ud ;&lt;br /&gt;
وإن كان رجل يورث كلالة أو امرأة و له أخ أو أخت " من أم "&lt;br /&gt;
Qira'ah ini adalah tafsir dari ayat kalalah yang diawalnya surah An Nisa'.&lt;br /&gt;
Jika qira'ah selain mutawatir ini tidak berlaku sebagai tafsir maka ada dua pendapat, ada yang mengatakan qira'ahnya bisa digunakan dan ada yang mengatakan tidak bisa digunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nama-nama tujuh imam qira'ah dan pe-rawi-nya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Nafi' :&lt;/b&gt; qari' madinah, wafat 169 H.&lt;br /&gt;
Imam yang meriwayatkan darinya&lt;br /&gt;
1.1. Qolun : 120 - 205 H&lt;br /&gt;
1.2. Warsy : 110 - 197 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Ibnu Katsir :&lt;/b&gt; qari' Makkah, 45 - 120 H&lt;br /&gt;
Imam yang meriwayatkan darinya&lt;br /&gt;
2.1. Al Bazi : 170 - 250 H&lt;br /&gt;
2.2. Qunbul : 195 - 291 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Abu 'Amr :&lt;/b&gt; qari' Bashrah, 68 - 145 H&lt;br /&gt;
Imam yang meriwayatkan darinya&lt;br /&gt;
3.1. Ad Duri : wafat 246 H&lt;br /&gt;
3.2. As Susi : wafat 264 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Ibnu 'Amir :&lt;/b&gt; qari' Syam, 21 - 118 H&lt;br /&gt;
Imam yang meriwayatkan darinya&lt;br /&gt;
4.1. Hisyam : 153 -254 H&lt;br /&gt;
4.2. Ibnu Dzakwan : 173 -242 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. 'Ashim :&lt;/b&gt; qari' Kufah, wafat 127 H&lt;br /&gt;
Imam yang meriwayatkan darinya&lt;br /&gt;
5.1. Syu'bah : 95 - 193 H&lt;br /&gt;
5.2. Hafsh : 90 - 180 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Hamzah :&lt;/b&gt; qari' Kufah, 80 - 153 H&lt;br /&gt;
Imam yang meriwayatkan darinya&lt;br /&gt;
6.1. Khalaf : 150 - 229 H&lt;br /&gt;
6.2. Khallad : wafat 220 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. 'Ali Kisa'i :&lt;/b&gt; qari' Kufah, wafat 189 H&lt;br /&gt;
Imam yang meriwayatkan darinya&lt;br /&gt;
7.1. Abu Al Harits : wafat 240 H&lt;br /&gt;
7.2. Hafsh - Ad Duri : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;2. AL AHADI&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Ahadi adalah qira'ah yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih tetapi tidak sampai pada hitungan mutawatir. Seperti qira'ahnya tiga orang imam&lt;br /&gt;
1. Ya'qub (Abu Ja'far bin Abi Ishaq Al Hadlromi) wafat 205 H. Mengambil qira'ah dari Abi Al Mundzir salam bin sulaiman Ath Thawil.&lt;br /&gt;
2. Abu Ja'far (Yazid bin Qa'qa'), wafat 130 H. Mengambil qira'ah dari Ibnu 'Abbas dan Abu Hurairah.&lt;br /&gt;
3. Khalaf (Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Tsa'lab), wafat 229 H. Mengambil qira'ah dari Sulaim, Ya'qub bin khulaifah Al A'syi, Abi Zaid "Sa'id bin Aus dan Abban Al 'Aththar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan termasuk juga dalam qira'ah ahadi adalah qira'ahnya shahabat yang shahih sanadnya. Karena tidak ada prasangka kalau qira'ahnya shahabat menurut pendapatnya sendiri.&lt;br /&gt;
Ulama'-ulama' berbeda pendapat apakah tiga orang imam diatas termasuk dalam golongan Mutawatir apa tidak?, menurut pendapat yang ashah sebagaimana pendapatnya ulama'-ulama' Ilmu Ushul, tiga imam termasuk dalam golongan Mutawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;3. ASY SYAADZ&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Asy Syaadz&lt;/b&gt; adalah qira'ah yang diriwayatkan dengan sanad yang tidak masyhur karena asing sanadnya atau lemah isnadnya. Seperti qira'ahnya tabi'in.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur'an tidak boleh dibaca dengan qira'ah yang Ahadi dan syaadz baik didalam shalat maupun diluar shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syarat-syarat memastikan ke-Qur'aniyah_an-nya terhadap qira'ah-qira'ah yang Masyhur.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Isnadnya qira'ah shahih sebab ittishal (bersambung) isnadnya, rawi-nya tsiqah (bisa dipercaya) , rawi-nya sangat teliti dan pe-rawi-nya masyhur / terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Sesuai dengan lafadh / bahasa arab meskipun hanya dari satu segi dari beberapa segi qa'idah bahasa arab. Seperti kalimat " وأرجلكم " (wa arjulikum) dengan dibaca jar. Berbeda jika tidak sesuai dengan tata bahasa arab, maka tidak dianggap sebagai Al-Qur'an, karena Al-Qur'an bersih dari lahn (perubahan i'rab).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sesuai dengan rasm (tulisan) mushaf 'Usmani walaupun ihtimal. Contohnya seperti "  مالك يوم الدين " , pada kalimat مالك ditulis disemua mushaf dengan membuang huruf alif.&lt;br /&gt;
Berbeda Jika tidak sesuai dengan rasm 'Usmani meskipun isnad-nya shahih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan sesuai mushaf 'Usmani adalah sesuai dengan salah satu Mushaf-mushaf 'Usmani, seperti bacaan yang terdapat dalam satu mushaf 'Usmani tapi tidak terdapat pada mushaf 'Usmani yang lainnya. Contohnya seperti qira'ahnya Ibnu 'Amir " قالوا اتخذ الله ولدا‎ "‎‎ dalam surah Al Baqarah tanpa menggunakan huruf wawu ( و ) , dan " و بالزبر و بالكتاب " dengan menetapkan wawu pada keduanya. Kedua qira'ah tersebut terdapat pada Mushaf Asy Syami.&lt;br /&gt;
Dan contohnya lagi qira'ahnya Ibnu Katsir " تجرى من تحتها الانهار " diakhir surah Bara'ah dengan tambahan Min ( من ), qira'ah ini terdapat pada Mushaf Al Makki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh yang sanad qira'ahnya tidak sah;&lt;br /&gt;
إنما يخشى الله من عباده العلماء ..... الأية&lt;br /&gt;
pada lafadh الله ( Allahu ) dibaca rafa', dan lafadh العلماء ( Al 'ulamaau ) dibaca Nashab.&lt;br /&gt;
Kebanyakan qira'ah-qira'ah yang Syaadz adalah sanadnya dlo'if.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh qira'ah yang sah tapi tidak sesuai tata bahasa arab, dan ini sangat jarang sekali seperti qira'ah yang diriwayatkan dari imam Nafi' ; (( معائش )) dengan huruf hamzah, sedangkan yang benar adalah (( معايش )) dengan huruf ya'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh yang tidak sesuai dengan khath 'usmani seperti qira'ahnya Ibnu 'Abbas&lt;br /&gt;
وكان أمامهم ملك يأخذ كل سفينة صالحة غصبا&lt;br /&gt;
dengan mengganti kalimah أمام dari kalimah وراء dan menambah kalimah صالحة .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur'an dan Al-Qira'at adalah dua hakekat yang berbeda,&lt;br /&gt;
Al-Qur'an adalah Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, sedang Al-Qiraat Adalah perbedaan lafadh-lafadhnya wahyu dalam huruf-hurufnya dan sifat-sifatnya huruf-huruf tersebut, seperti bacaan takhfif, tasydid dan yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mushaf-Mushaf yang disalin oleh 'Usman رضى الله عنه&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Al Makki&lt;br /&gt;
2. Asy Syami&lt;br /&gt;
3. Al Bashri&lt;br /&gt;
4. Al Kuufi&lt;br /&gt;
5. Al Madani Al 'Am ( mushaf yang dibawa 'Usman dari tempatnya menyalin ke tempat tinggalnya )&lt;br /&gt;
6. Al Madani Al Khash ( mushaf yang disimpan 'Usman untuk dirinya sendiri ), mushaf ini yang disebut dengan Mushaf Al Imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang mengatakan berjumlah delapan dengan penambahan Mushaf Al Bahrain dan Mushaf Al Yamani. Dan aja juga yang mengatakan bahwa 'Usman juga meluluskan sebuah mushaf ke Mesir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallaahu A'lam.....&lt;/b&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/05/bab-2-ilmu-tafsir-yang-berhubungan.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-3871679860540258946</guid><pubDate>Thu, 06 May 2010 15:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-06T22:59:06.571+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Tempat Dan Waktu Turunnya Al-Qur'an Bagian 3</title><description>&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;Ke 10 : ASBABUN NUZUL &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bab ini banyak sekali ulama'-ulama' yang membuat kitab tersendiri, diantaranya yang paling terkenal adalah karya imam Al Wahidi, As Suyuthi dengan kitabnya yang bernama "LUBABUN NUQUL FI ASBABIN NUZUL" , dan Ibnu Al Madini gurunya iman Bukhari. Sedangkan manfaat dari mengetahui asbabun nuzul ini diantaranya adalah ;&lt;br /&gt;
1. Mengetahui hikmah dari disyari'atkan suatu hukum.&lt;br /&gt;
2. Mengetahui makna dan menghilang kemusykilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asbabun nuzul yang diriwayatkan dari shahabat dengan sanad yang muttashil maka hukumnya adalah sebagai hadits yang marfu', jika tidak dengan sanad yang muttashil maka hukumnya sebagai hadits yang munqathi'. Sedangkan yang diriwayatkan dari tabi'in dengan sanad yang muttashil hukumnya sebagai hadits mursal, jika tidak dengan sanad yang muttashil hukumnya Mardud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara contoh Asbabun Nuzul ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Cerita kebohongannya orang-orang munafiq ( qishshatul ifqi) yang terkenal dalam shahih Bukhari, Muslim dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ayat tentang sa'i.&lt;br /&gt;
Dalam shahihain disebutkan;&lt;br /&gt;
عن عائشة : كان الأنصار قبل أن يسلموا يهلون لمناة الطاغية ، وكان من أهل لها يتحرج أن يطوف بالصفا و المروة ، فسألوا عن ذاك رسول الله صلى الله عليه و سلم ، فأنزل الله تعالى : " إن الصفا و المروة من شعائر الله " ... إلى قوله تعالى " فلا جناح عليه أن يطوف بهما "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan didalam shahih Bukhari dari 'Ashim bin Sulaiman&lt;br /&gt;
" 'Ashim berkata : "Aku bertanya kepada Anas tentang Shafa dan Marwah? Anas berkat : kami (orang-orang anshar) mengira shafa dan marwah adalah dari jahiliyah, ketika islam datang kami meninggalkannya, kemudian Allah menurunkan " إن الصفا و المروة من شعائر الله  " &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ayat Hijab&lt;br /&gt;
4. Ayat tentang shalat dibelakang Maqam Ibrahim. &lt;br /&gt;
Dalam shahih Bukhari&lt;br /&gt;
عن أنس قال ، قال عمر : وافقت ربي في ثلاث : قلت : يا رسول الله ، لو اتخذنا مقام إبراهيم مصلى ، فنزلت : و اتخذوا من مقام إبراهيم مصلى . وقلت : يا رسول الله ، إن نساءك يدخل عليهن البر و الفاجر ، فلو أمرتهن أن يحتجبن ، فنزلت اية الحجاب &lt;font color‎=‎‎'red‎'‎&gt;[*]&lt;/font&gt;. و اجتمع على رسول الله صلى الله عليه و سلم نساؤه في الغيرة ، فقلت لهن : عسى ربه إن طلقكن أن يبدله أزواجا خيرا منكن ، فنزلت كذلك &lt;font color='red'&gt;&lt;sup&gt;[**]&lt;/sup‎&gt;‎ &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;font color='red'&gt;&lt;sup&gt;[*]&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt; : Surah Al Ahzab.&lt;br /&gt;
&lt;font color='red'&gt;&lt;sup&gt;[**]&lt;/sup&gt;&lt;/font&gt; : Surah At Tahrim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;Ke 11 : Surah Yang Pertama Diturunkan &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surah Al-Qur'an yang pertama kali diturunkan di Makkah menurut pendapat yang ashah adalah surah Al 'Alaq kemudian Al Muddatstsir, sesuai dengan hadits Bukhari, Muslim dan yang lainnya tentang permulaan wahyu yang diriwayatkan dari Sayyidah 'Aisyah ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن عائشة أنها قالت : أول ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه و سلم من الوحي الرؤيا الصالحة في النوم ، و كان لا يرى رؤيا إلا جاء مثل فلق الصبح ...... الخ الحديث.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ada yang mengatakan yang pertama diturunkan adalah Al Muddatstsir kemudian baru Al 'Alaq. Sebagaimana hadits Bukhari dan Muslim; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبي سلمة بن عبد الرحمن : سألت جابر بن عبد الله : أي القران أنزل قبل ؟ قال : " يا أيها المدثر " . قلت : أو اقرأ باسم ربك ؟ قال : أحدثكم بما حدثنا رسول الله صلى الله عليه و سلم : إنى جاورت بحراء فلما قضيت جوار نزلت فاستبطنت الوادي ، فنوديت ، فنظرت أمام و خلفى ، و عن يمينى و عن شمالى ، ثم نظرت إلى السماء ، فإذا هو ( يعنى جبريل ) فأخذتنى رجفة ، فأتيت خديجة ، فأمرتهم فدثروني ، فأنزل الله تعالى : " يا أيها المدثر قم فأنذر ".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ulama' yang menganut pendapat pertama menjawab haditsnya Jabir ini dengan hadits yang juga diriwayatkan Bukhari Muslim;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن أبى سلمة عن جابر : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم و هو يحدث عن فترة الوحي ، فقال (الراوى) في حديثه (حديت جابر) : فبينما أنا أمشى إذ سمعت صوتا من السماء ، فرفعت رأسي ، فإذا الملك الذى أتاني بحراء جالس على كرسي بين السماء و الأرض ، فرجعت فقلت : زملونى زملونى ، فدثرونى . فأنزل الله تعالى : " يا أيها المدثر ".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabdanya Nabi " فإذا الملك الذى أتاني بحراء " menunjukkan kalau kisah ini terjadi setelah peristiwa di gua hira' yang dimana peristiwa di gua hira' itu diturunkan surah Al 'Alaq.&lt;br /&gt;
Sedangkah surah yang pertama diturunkan diMadinah adalah surah At Tathfif kemudian Al Baqarah, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عن إبن عباس رضى الله عنهما ، أول ما نزل بالمدينة : ويل للمطففين ثم البقرة .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;12 : Surah Yang Terakhir Diturunkan&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini terdapat banyak pendapat tentang surah apa yang terakhir diturunkan;&lt;br /&gt;
1. Pendapat pertama Ayat Kalalah yang diakhirnya surah An Nisa' seperti yang disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari haditsnya Barra' bin 'Azib.&lt;br /&gt;
2. Pendapat kedua Ayat Riba dalam surah Al Baqarah, seperti yang diriwayatkan imam Bukhari dari Ibnu 'Abbas dan iman Al Baihaqi dari sayyidina 'Umar.&lt;br /&gt;
إن اخر ما نزل هو قوله ‏تعالى : يا ‏أيها الذين امنوا اتقوا الله و ذروا ما بقى من الربا إن كنتم مؤمنين&lt;br /&gt;
3. Pendapat ketiga Ayat &lt;br /&gt;
واتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت و هم لا يظلمون.&lt;br /&gt;
seperti yang diriwayatkan imam An Nasa'i dan yang lainnya dari haditsnya Ibnu 'Abbas.&lt;br /&gt;
4. Pendapat ke empat Akhir surah Bara'ah&lt;br /&gt;
لقد جاءكم رسول من أنفسكم ......... الخ السورة&lt;br /&gt;
seperti yang diriwayatkan Al Hakim dari Ubay bin Ka'b.&lt;br /&gt;
5. Pendapat ke lima Surah An Nashr seperti yang diriwayatkan imam Muslim dari Ibnu 'Abbas.&lt;br /&gt;
6. Pendapat ke enam surah yang terakhir diturunkan adalah surah Bara'ah, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Al Barra' رضى الله عنه .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;tambahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Yang terakhir turun di Makkah surah Al Mu'minun, Waqila surah Al 'Ankabut.&lt;br /&gt;
2. Yang terakhir turun di Madinah surah Bara'ah.&lt;br /&gt;
3. Ayat pertama tentang perang &lt;br /&gt;
أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا&lt;br /&gt;
diriwayatkan oleh Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak.&lt;br /&gt;
4. Ayat tentang khamr yang pertama turun&lt;br /&gt;
يسئلونك عن الخمر و الميسر&lt;br /&gt;
diriwayatkan oleh Ath Thayalisi.&lt;br /&gt;
5. Yang pertama turun tentang hidangan di Makkah ayat Al An'am&lt;br /&gt;
قل لا أجد فيما أوحى إلى محرما ...... الاية&lt;br /&gt;
6. Surah pertama yang terdapat sujud Tilawahnya adalah surah An Najm. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A'lam......&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Faidlul Khabir Wa Khalashatut Taqrir.&lt;br /&gt;
Karya : Al 'Alim Al 'Allamah Assayyid 'Alawi ibnu Assayyid 'Abbas Al Maliki Rahimahumallahu...</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/05/tempat-dan-waktu-turunnya-al-quran.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-8059365029822942463</guid><pubDate>Fri, 30 Apr 2010 14:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-01T07:23:05.558+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Tempat Dan Waktu Turunnya Al-Qur'an Bagian 2</title><description>&lt;b&gt;&lt;font color="#fffdf0"&gt;Ke 5 Dan 6 : AL LAILI &amp; AN NAHARI&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AL LAILI&lt;/b&gt; adalah ayat / surah yang diturunkan pada waktu malam hari.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AN NAHARI&lt;/b&gt; adalah ayat / surah yang diturunkan pada waktu siang hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sebagian contoh dari Al Laili&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Surah Al Fat_hu dari awal surah sampai ayat ke 20&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" انا فتحنا لك فتحا مبينا ¤.... إلى قوله تعالى...  و لتكون اية للمؤمنين و يهديكم صراطا مستقيما ¤ "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari yang sanadnya sampai kepada Zaid bin Aslam dari ayahnya Zaid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ayat Qiblat Surah Al Baqarah ayat 144&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" فول وجهك شطر المسجد الحرام "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Maka hadapkanlah wajahmu kearah Masjidilharam"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits yang menerangkan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Umar;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" بينما الناس بقباء في صلاة الصبح إذ جاءهم ات فقال : إن النبي صلى الله عليه وسلم قد أنزل عليه قران ، و قد أمر أن يستقبل القبلة .... "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ketika orang-orang di Quba' pada waktu shalat shubuh tiba-tiba ada orang yang mendatangi mereka kemudian berkata "Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه و سلم telah diturunkan kepadanya Al-Qur'an, dan Nabi diperintahkan untuk menghadap Qiblat" "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Surah Al Ahzab ayat 59&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" يا أيها النبي قل لأزواجك و بناتك و نساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن . ذالك ادني ان يعرفن فلا يؤذين . وكان الله غفورا رحيما ¤‎ ‎"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana hadits riwayat imam Bukhari dari Sayyidah 'Aisyah رضى الله عنها ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" خرجت سودة بعد ما ضرب الحجاب لحاجتها ، وكانت امرأة جسيمة لا تخفي على من يعرفها ، فراها عمر ، فقال : يا سودة ، أما و الله ما تخفين علينا، فانظري كيف تخرجين . قالت : فانكفأت إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم و إنه ليتعشى ، و في يده عرق، فقالت : يا رسول الله ، خرجت لبعض حاجتي ، فقال لي عمر كذا و كذا ، فأوحى الله إليه ثم رفع عنه و إن العرق في يده ما وضعه. فقال :إنه قد أذن لكن أن تخرجن لحاجتكن "&lt;br /&gt;
‎ رواه البخاري عن عائشة ‎&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ayat tsalatsah (Surah At Taubah ayat 118&lt;br /&gt;
)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" وعلى الثلاثة الذين خلفوا حتى اذا ضاقت عليهم الارض بما رحبت و ضاقت عليهم انفسهم و ظنوا ان لا ملجأ من الله إلا إليه ثم تاب عليهم ليتوبوا . إن الله التواب الرحيم "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan terhadap tiga orang&lt;sub&gt;&lt;font color='red'&gt;[*]&lt;/font&gt;&lt;/sub&gt; yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana dalam haditsnya imam Bukhari dari haditsnya Ka'b.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;font color='red'&gt;[*]&lt;/font&gt; Tiga orang itu adalah Hilal bin Umayyah Al Waqifi dari bani Waqif, Murarah bin Ar Rabi' Al 'Amiri dari bani 'Amr bin 'Auf, Ka'b bin Malik As salami. Ketiga orang ini semuanya dari dari golongan Anshar. Mereka disalahkan ketika tidak mau ikut berperang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#'&gt;Ke 7 dan 8 adalah ASH SHAIFI &amp; ASY SYITA'I &lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ash Shaifi&lt;/b&gt; adalah ayat yang diturunkan ketika musim panas.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Asy Syita'i&lt;/b&gt; adalah ayat yang diturunkan ketika musim hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh ayat ASH SHAIFI adalah ayat Kalalah yang ada diakhirnya surah An Nisa', ayat 176.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة ان امرؤ هلك ليس له ولد و له اخت فلها نصف ما ترك " الأية &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang Kalalah). Katakanlah, "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuan itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya..." "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari sayyidina 'Umar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sedangkan ayat kalalah yang diawal surah An Nisa' termasuk dalam ayat Asy Syita'i. &lt;br /&gt;
Contoh ayat Asy Syita'i yang lain adalah surah An Nur ayat 11 sampai 20.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"إن الذين جاؤا بالإفك عصبة منكم.. " إلى قوله تعالى " وأن الله رؤف رحيم "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sebagaimana hadits imam Bukhari dari Sayyidah 'Aisyah رضى الله عنها&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" قالت عائشة : فوالله ما رام رسول الله صلى الله عليه و سلم مجلسه ، و لا خرج أحد من أهل البيت ، حتى أنزل عليه ، فأخذه ما كان يأخذه من البرحاء ، حتى إنه ليتحدر منه مثل الجمان من العرق ، وهو في يوم شات ، من ثقل القول الذى ينزل عليه " رواه البخاري&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#fffdf0'&gt;9 : AL FIRASYI&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AL FIRASYI&lt;/b&gt; adalah ayat yang diturunkan ketika Nabi صلى الله عليه و سلم ditempat tidur, baik Naik dalam keadaan tidur atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh Al Firasyi adalah ayat tsalatsah yang sudah disebutkan diatas. Ayat itu diturunkan ketika Rasulullah tidur dirumah istrinya yang bernama Ummi Salamah (Hindun binti Abi Umayyah Al Makhzumiyah).&lt;br /&gt;
Dan yang disamakan dengan Al Firasyi adalah ayat / surah yang turunnya seperti mimpi, seperti surah Al Kautsar, karena mimpinya para Nabi merupakan wahyu. Meskipun matanya tidur tapi hatinya tetap terjaga. Didalam Shahih Muslim disebutkan ;&lt;br /&gt;
" عن أنس رضى الله عنه : بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم بين أظهرنا في المسجد ، إذ أغفى إغفاءة ، ثم رفع رأسه مبتسما ، فقلت : ما أضحكك يا رسول الله ؟ فقال : نزلت علي انفا سورة ، فقرأ : ( بسم الله الرحمن الرحيم ، إنا أعطيناك الكوثر ، فصل لربك و انحر ، إن شانئك هو الأبتر ) "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A'lam......&lt;/b&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/04/tempat-dan-waktu-turunnya-al-quran.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-1402615219562685052</guid><pubDate>Fri, 30 Apr 2010 07:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-15T13:34:07.513+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Bab 1 : Tempat Dan Waktu Turunnya Al-Qur'an Bagian 1</title><description>&lt;b&gt;Hal-hal yang berhubungan dengan waktu dan tempat turunnya Al-Qur'an semuanya ada dua belas macam, yaitu&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#eee8aa'&gt;Yang pertama dan kedua adalah Makkiyah Dan Madaniyah&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Makkiyah&lt;/b&gt; adalah surah atau sebagian besar dari surah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun turunnya tidak di Makkah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Madaniyah&lt;/b&gt; adalah surah atau sebagian besar dari surah yang turunnya setelah hijrah meskipun turunnya tidak di Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ayat yang diturunkan dalam perjalanan hijrah juga termasuk dalam Madaniyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang mengatakan kalau Makkiyah adalah yang diturunkan diMakkah dan Madaniyah adalah yang diturunkan diMadinah. Menurut definisi ini maka ada ayat yang tidak Makkiyah dan juga tidak Madaniyah, yaitu surah yang diturunkan dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Seperti firman Allah ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" لو كان عرضا قريبا و سفرا قاصدا لاتبعوك... الاية "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat ini diturunkan ketika Nabi صلى الله عليه و سلم berada di Tabuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manfaat dari mengetahui Makkiyah dan Madaniyah ini diantaranya adalah untuk mengetahui penanggalan naasikh ( الناسخ / ayat yang menggantikan ayat yang lain ) dari yang mansukh ( المنسوخ / ayat yang digantikan ). Dan untuk mengetahui urutan turunnya Al-Qur'an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. Ciri-ciri Makkiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Setiap surah yang ada kalimat " يا أيها الناس " dan tidak ada kalimat " يا أيها الذين امنوا ".&lt;br /&gt;
2. Setiap surah yang ada kata " كلا ".&lt;br /&gt;
3. Setiap surah yang mengandung kisah Nabi Adam dan iblis selain surah Al Baqarah.&lt;br /&gt;
4. Setiap surah yang menyebutkan orang-orang munafik selain surah Al 'Ankabut.&lt;br /&gt;
5. Setiap surah yang diawali dengan huruf muqatta'ah kecuali surah Al Baqarah dan Ali Imran. Sedangkan surah Ar Ra'du terjadi perbedaan pendapat.&lt;br /&gt;
6. Setiap surah yang mengandung sajadah&lt;br /&gt;
7. Setiap surah yang berisi seruan kepada tauhid dan celaan terhadap kemusyrikan dan budaya jahiliyah, khabar surga dan ancaman neraka, berisi kisah-kisah nabi dan kaum yang dibinasakan, kata-katanya pendek dan singkat mempunyai arti yang dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. Ciri-ciri Madaniyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Setiap surah yang terdapat kalimat " يا أيها الذين امنوا"&lt;br /&gt;
2. Setiap surah yang mengandung hukum-hukum,  muamalah, seruan ibadah, ayatnya panjang-panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surah Al-Qur'an kesemuanya ada 114 surah. Sedangkan surah yang termasuk Madaniyah ada 29 surah menurut pendapatnya imam Suyuthi. Selebihnya adalah Makkiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Surah Makkiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1.Al Fatihah  2.Al An'am  3.Al A'raf  4.Yunus  5.Hud  6.Yusuf  7.Ibrahim  8.Al Hijr  9.An Nahl ‎ 10.Al Isra'  11.Al Kahfi  12.Maryam  13.Thaha  14.Al Anbiyaa'  15.Al Mu'minun  16.Al Furqan  17.Asy syu'araa'  18.An Naml  19.Al Qashash  20.Al 'Ankabut  21.Ar Ruum  22.Luqman  23.As Sajdah  24.As Saba'  25.Fathir  26.Yasin  27.Ash Shaaffaat  28.Shaad  29.Az Zumar  30.Al Mukmin  31.Fushshilat  32.Asy Syura  33.Az Zukhruf  34.Ad Dukhan  35.Al Jaatsiyah  36.Al Ahqaaf  37.Qaaf  38.Adz Dzariyaat  39.Ath Thuur  40.An Najm  41.Al Qamar  42.Ar Rahman  43.Al Waqi'ah  44.Al Mulk  45.Al Qalam  46.Al Haaqqah  47.Al Ma'arij  48.Nuh  49.Al Jin  50.Al Muzzammil  51.Al Muddatstsir  52.Al Insan  53.Al Mursalat  54.An Naba'  55.An Naazi'at  56.'Abasa  57.At Takwir  58.Al Infithaar  59.Al Muthaffifin  60.Al Insyiqaq  61.Al Buruj  62.Ath Thariq  63.Al A'laa  64.Al Ghasyiyah  65.Al Fajr  66.Al Balad  67.Asy Syams  68.Al Lail  69.Adl Dluha  70.Al Insyirah 71.At tiin  72.Al 'Alaq  73.Al Bayyinah  74.Al 'Adiyat  75.Al Qariah  76.At Takatsur  77.Al 'Ashr  78.Al Humazah  79.Al Fiil  80.Quraisy  81.Al Maa'un  82.Al Kautsar.  83.Al Kafirun  84.Al Lahab  85.Al Ikhlash&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Surah Madaniyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1.Al Baqarah  2.Ali Imran  3.An Nisa'  4.Al Ma'idah  5.Al Anfal  6.At Taubah  7.Ar Ra'du  8.Al Hajj  9.An Nuur  10.Al Ahzab  11.Muhammad  12.Al Fath  13.Al Hujurat  14.Al Hadid  15.Al Mujadilah  16.Al Hasyr  17.Al Mumtahanah  18.Ash Shaff  19.Al Jumu'ah  20.Al Munafiquun  21.At Taghaabun  22.Ath Thalaq  23.At Tahrim  24.Al Qiyamah  25.Al Qadr  26.Al Zalzalah  27.An Nashr  28.Al Falaq  29.An Naas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;font color='#eee8aa'&gt;ke 3 dan ke 4 adalah Hadlori dan Safari&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hadlori&lt;/b&gt; adalah ayat yang diturunkan dirumah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Safari&lt;/b&gt; adalah ayat yang diturunkan dalam perjalanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Contoh ayat Safari adalah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. ayat tayammum dalam surah Al Ma'idah ayat 6 ;&lt;br /&gt;
" ياأيها الذين امنوا إذا قمتم إلي الصلاة........ الاية "&lt;br /&gt;
Ayat ini diturunkan didaerah bernama Dzati jaisy atau Baida' (dzul hulaifah; nama tempat dekat madinah) dalam rombongan onta dari perang Muraisi' (yang dikenal dengan perang bani Mushthali') ketika Sayyidah 'Aisyah رضى الله عنها kehilangan kalungnya sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dari sayyidah 'Aisyah. Kejadian itu pada bulan Sya'ban tahun 6 atau 5 atau 4 Hijriyah (ada tiga qoul dalam masalah ini).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Surah Al Fat_hu diturunkan di Kira' Al Ghamim sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari dari Zaid bin Aslam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ayat &lt;br /&gt;
" واتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله ثم توفي كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون "&lt;br /&gt;
Diturunkan di Mina pada waktu haji wada'. Seperti yang diriwayatkan imam Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ayat &lt;br /&gt;
" امن الرسول بما انزل إليه من ربه والمؤمنون .........  " إلى اخر سورة البقرة&lt;br /&gt;
sampai akhir surah Al Baqarah.&lt;br /&gt;
Ayat ini diturunkan ketika Fathu Makkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Surah Al Anfal dan ayat &lt;br /&gt;
" هذان خصمان ..... " إلي قوله تعالى " الحميد "&lt;br /&gt;
Keduanya diturunkan ketika perang Badar, seperti yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Sa'ad bin Abi waqash. Sedangkan ayat " هذان خصمان " sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Bukhari diturunkan Pada Hamzah bin 'Abdul Muththalib dengan dua sahabatnya (sayyidina 'Ali dan 'Ubaidah bin Al Harits) dan 'Utbah bin Rabi'ah dengan dua temannya (Syaibah bin Rabi'ah dan walid bin 'Utbah) ketika perang tanding waktu perang badar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Surah An Nahl Ayat 126 sampai akhir surah&lt;br /&gt;
" وان عاقبتم فعاقبوا بمثل ما عوقبتم به..... " إلى اخر السورة&lt;br /&gt;
ayat ini diturunkan di uhud sebagaimana diriwayatkan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail dan musnadnya imam Bazzar dari haditsnya Abu Hurairah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Ayat &lt;br /&gt;
" اليوم أكملت لكم دينكم ... " إلى قوله تعالى " دينا "&lt;br /&gt;
Diturunkan ketika haji wada' seperti yang disebutkan dalam Shahih Bukhari yang diriwayatkan dari sayyidina Umar رضى الله عنه .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah sebagian dari contoh ayat safari. Untuk ayat-ayat safari, imam Suyuthi dalam kitabnya "At Tahbir" menyebutkannya secara lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A'lam....&lt;/b&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/04/bab-1-tempat-dan-waktu-turunnya-al.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-4770946283856150278</guid><pubDate>Thu, 29 Apr 2010 17:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-30T14:50:32.130+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ilmu Ushul Tafsir</category><title>Muqaddimah Ilmu Tafsir</title><description>&lt;b&gt;Defini Ilmu Tafsir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Tafsir atau Ilmu Ushul Tafsir adalah ilmu yang membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur'an dari segi turunnya, sanadnya, penyampaiannya, lafadz-lafadznya, makna-makna yang berhubungan dengan lafadz dan hukum-hukum dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
Berdasarkan definisi diatas, Ilmu Tafsir ini terbagi jadi lima puluh lima macam yang terkumpul dalam enam bab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Definisi Al-Qur'an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur'an adalah kalam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم untuk i'jaz (melemahkan) hanya dengan satu surah dari kalam tersebut.&lt;br /&gt;
Dari definisi "yang diturunkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم " ini mengecualikan kalam yang diturunkan kepada Nabi-Nabi yang lain seperti taurat, injil, zabur dan kitab-kitab / mushaf yang lainnya. Dan dari definisi "untuk i'jaz" mengecualikan hadits-hadits rabbani / hadits qudsi seperti hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" أنا عند ظن عبد بي "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama mutaakhirin ada yang menambahkan definisi "yang dibuat ibadah dengan membacanya", penambahan definisi ini untuk mengecualikan mansuhut tilawah ( ayat yang dihapus / digantikan bacaannya ) yaitu ayat :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" الشيخ و الشيخة اذا زنيا فارجموهما البتة نكالا من الله ¤ و الله عزيز حكيم "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits yang menerangkan mansuhut tilawah diatas diriwayatkan oleh imam Malik didalam kitabnya Al Muwaththa'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Definisi Surah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surah adalah potongan /kelompok dari Al-Qur'an yang diberi nama khusus dengan ajaran dari Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang minimalnya tiga ayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Definisi Ayat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat adalah jumlah / kumpulan dari kalimat-kalimatnya Al-Qur'an yang dibedakan dengan fashal ( akhir ayat ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara para ulama' terjadi perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya mengutamakan suatu ayat dan mengalahkan ayat yang lain ( المفاصلة ‎). Sebagian ada yang membolehkan hal itu, dan pendapat ini yang diikuti oleh sebagian besar ulama seperti imam Ibnu 'abdi salam, Al Baihaqi dan Ibnu Al 'Arabi karena adanya dalil-dalil yang menerangkan tentang hal itu seperti haditsnya imam Bukhari ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" أعظم سورة في القران الفاتحة " &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Agung-agungnya surah didalam Al-Qur'an adalah Al Fatihah"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan haditsnya imam Muslim;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" أعظم اية في القران اية الكرسي  "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Agung-agungnya ayat dalam Al-Qur'an adalah ayat kursi"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga haditsnya imam Attirmidzi;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" سيدة اي القران اية الكرسي ، و سنام القران البقرة "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pemimpinnya ayat-ayat Al-Qur'an adalah ayat kursi, dan puncak tertingginya Al-Qur'an adalah Al Baqarah"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebagian ulama menolak tentang mengutamakan ayat satu dan mengalahkan yang lainnya. Ulama yang menolak ini beralasan "Supaya tidak terjadi kesalah fahaman terdapat kekurangan pada ayat yang dikalahkan"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Yang diharamkan dari Al-Qur'an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Diharamkan membaca Al-Qur'an dengan bahasa 'Ajam (selain bahasa selain arab), karena menghilangkan i'jaz nya Al-Qur'an yang dimana i'jaz adalah tujuan diturunkannya Al-Qur'an.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu orang yang tidak mampu berbahasa arab boleh menterjemahkan dzikir-dzikir dalam shalat tapi tidak boleh menterjemahkan bacaan Al-Qur'annya, akan tetapi pindah menggunakan gantinya bacaan Al-Qur'an. Jika tetap menggunakan tarjamah Al-Qur'an dalam shalatnya, maka shalatnya tidak sah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Haram membaca Al-Qur'an dengan makna yang sesuai ( بالمعني ) meskipun boleh meriwayatkan hadits dengan makna karena menghilangkan i'jaz yang menjadi tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an.&lt;br /&gt;
Contohnya seperti firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" و لباس التقوى ذلك خير "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kemudian digantikan dengan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" و لباس التقوى ذلك احسن "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata خير diganti dengan احسن yang mempunyai makna yang sama yaitu " Baik ".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Haram menafsiri Al-Qur'an bil ra‏‎'yi ( بالرأي ) ( menafsiri Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri ).&lt;br /&gt;
Rosulullah صلى الله عليه و سلم bersabda ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" من قال في القران برأيه او بما لا يعلم فليتبوأ مقعده من النار ( رواه أبو داود و الترمذي وحسنه ) "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Barang siapa berkata dalam Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri atau dengan sesuatu yang tidak diketahuinya maka tempatnya orang itu dineraka ( Diriwayatkan oleh imam Abu dawud dan Attirmidzi dan hadits ini dianggap sebagai hadits hasan oleh imam Attirmidzi"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk orang yang alim dengan kaidah-kaidah tafsir dan ilmu Al-Qur'an yang dibutuhkan maka menta'wil Al-Qur'an dengan ra'yu ini diperbolehkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perbedaan Tarjamah, Tafsir dan Ta'wil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Tarjamah adalah menjelaskan kalimat atau bahasa dengan bahasa lain baik bahasa yang digunakan itu sama atau berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; Tafsir adalah meyakini dan memastikan bahwa Allah Ta'ala menghendaki lafadh ini dengan makna ini, misalnya.&lt;br /&gt;
Maka tafsir ini tidak boleh kecuali dengan dalil dari Nabi صلى الله عليه و سلم atau dari shahabat yang menyaksikan turunnya wahyu. Oleh karena shahabat lah yang menyaksikan turunnya wahyu maka imam Al Hakim didalam kitab Al Mustadrak menetapkan bahwa tafsirnya shahabat secara mutlak ( baik didalam tafsirnya itu disebutkan asbabun nuzulnya atau tidak ) dihukumi hadits Marfu'.&lt;br /&gt;
Contoh tafsirnya shahabat yang disebutkan asbabun nuzulnya adalah perkataannya Jabir bin 'Abdillah رضى الله عنه &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" كانت اليهود تقول : من أتى امرأته من دبرها في قبلها ، جاء الولد أحول . فأنزل الله تعالى ( نساؤكم حرث لكم ) الاية " رواه مسلم.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Ta'wil adalah memenangkan salah satu dari dua kemungkinan tanpa memastikan dan meyakini kepada Allah. Maka ta'wil ini diampuni. Oleh karena itu sebagian shahabat dan ulama' salaf berbeda pendapat didalam menta'wil beberapa ayat, andaikan dalam beberapa ayat itu terdapat nash dari Nabi maka tidak akan ada beda pendapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Wallahu A'lam...&lt;/h3&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/04/muqaddimah-ilmu-tafsir.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-4353534577072514600</guid><pubDate>Thu, 29 Apr 2010 15:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-29T22:02:48.686+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Risalatul Mustahadloh</category><title>Bab Nifas</title><description>&lt;b&gt;Definisi Nifas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan sebelum melewati minimal masa suci. Jika darah itu tidak keluar sebelum &lt;a href=" "&gt; minimal masa suci &lt;/a&gt; maka wanita itu tidak ada nifasnya dan hanya diwajibkan mandi sebab wiladah / melahirkan. Apabila darah nifas itu tidak langsung keluar setelah wiladah selama belum melewati minimalnya masa suci dari melahirkan maka permulaan nifasnya dimulai dari keluarnya darah dan masa naqo' antara wiladah sampai keluarnya darah nifas tidak termasuk dalam hitungan sebagai nifas akan tetapi tetap masuk dalam hitungan 60 hari maksimalnya masa nifas, dan pada masa naqo' tersebut wanita yang baru melahirkan itu tetap diwajibkan shalat dan puasa. Jika shalat dan puasa ditinggalkan pada masa itu maka wajib diqodlo dan pada masa naqo' itu pula suaminya boleh menggaulinya karena masa itu dianggap sebagai masa suci baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Durasi Nifas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Minimalnya nifas adalah satu majjah ( istilah yang digunakan untuk waktu yang sebentar seperti lamanya waktu yang digunakan untuk meludah. [sak kecrotan:jawa] ).&lt;br /&gt;
-Maksimalnya 60 hari.&lt;br /&gt;
-Biasanya sekitar 40 hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jelasnya, nifas ini tidak bisa ditetapkan kecuali dengan empat syarat :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; Keluarnya darah harus setelah bersihnya kandungan dari melahirkan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt;  Keluarnya darah harus sebelum melewati 15 hari dari melahirkan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Ketika darah nifasnya berhenti keluar, tidak boleh ada jarak lebih dari 15 hari antara darah yang pertama dengan yang kedua. Jika dipisahkan jarak 15 hari lebih maka darah yang pertama adalah darah nifas dan darah yang kedua adalah haid.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Keluarnya darah tidak melebihi 60 hari dari melahirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarnya darah nifas yang melebihi 60 hari ini sama hukumnya dengan keluar darah haid yang melebihi 15 hari ( istihadloh ), sehingga perlu diketahui apakah wanita yang nifasnya melebihi 60 hari ini termasuk mubtadiah mumayyizah dalam nifas, atau mu'tadah ghairu mumayyizah atau yang lainnya. Untuk keterangan lengkapnya tentang istihadloh dalam nifas silahkan baca &lt;a href=" "&gt; Bab Istihadloh 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Usia Kandungan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Minimalnya usia kandungan adalah enam bulan lebih sedikit dengan hitungan 30 hari tiap bulannya. Maksimalnya usia kandungan adalah empat tahun. Dan normalnya adalah 9 bulan. Penghitungan ini dimulai dari dimungkinkannya pasang suami istri berkumpul setelah akad nikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Khatimatun.. Nas_alu Allaha Husnaha...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bacaan yang disunahkan ketika istri sakit hendak melahirkan&lt;br /&gt;
1. Ayat kursi&lt;br /&gt;
2. Ayat wa inna rabbakumullahu.... Dan seterus, akhirnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الذي ‏خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى علي العرش يغشي الليل النهار يطلبه حثيثا . والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره . ألا له الخلق والأمر تبارك الله رب العالمين.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Susah Annas&lt;br /&gt;
4. Surah Al falaq&lt;br /&gt;
5. Memperbanyak doa karbi, yaitu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‎&lt;br /&gt;
" لا اله الا الله العظيم الحليم ، لا اله الا الله رب العرش العظيم ، لا اله الا الله رب السموات و رب الأرض ورب العرش الكريم " &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan doa yunus.&lt;br /&gt;
yaitu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‎&lt;br /&gt;
" لا اله إلا انت سبحانك إني كنت من الظلمين  " &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;doa yang sebaiknya dibaca wanita hamil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" اللهم احفظ ولدي في بطني و اشفه ‏انت الشافي لا شفاء الا شفاؤك عاجلا لا يغادر سقما و انت خير مسؤل. اللهم صور ما في بطني صورة حسنة جميلة و ثبت قلبه إيمانا بك و برسولك. اللهم اخرجه من بطني وقت ولادته سهلا و تسليما لا معسرا و انفعني به في الدنيا و الأخرة ‏أمين. ‏و تقبل دعائ كما تقبلت دعاء نبيك سيدنا محمد صلى الله عليه و سلم. اللهم احفظ الولد ‏الذي اخرجت من عالم الظلم إلي علم النور و اجعله صحيحا كاملا عاقلا لطيفا حاذقا عالما عاملا مباركا من كلامك الكريم حافظا. اللهم طول عمره و صحح جسده و حسن خلقه و افصح لسانه و احسن صوته لقرأة القرأن و الحديث النبوي بجاه سيدنا محمد صلى الله عليه و سلم. و الحمد لله رب العالمين. " &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk bayi yang baru dilahirkan, disunahkan dibacakan adzan ditelinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya. Selain itu juga disunahkan dibacakan surah inna anzalna ditelinga kanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Selesai.....&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;h3&gt;Wallahu A'lam Bi Al_showab.....&lt;/h3&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/04/bab-nifas.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-4400801172341803125</guid><pubDate>Thu, 29 Apr 2010 14:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-29T21:58:35.608+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Risalatul Mustahadloh</category><title>bab istihadloh  bagian 2</title><description>&lt;b&gt;3. MU'TADAH MUMAYYIZAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Mu'tadah adalah wanita yang sudah pernah mengalami haid dan suci.&lt;br /&gt;
-Mumayyizah adalah yang bisa membedakan qowi dan dlo'if nya darah.&lt;br /&gt;
-Hukumnya adalah sesuai dengan kemampuannya membedakan sifatnya darah walaupun tidak sesuai dengan kebiasaannya tiap bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Contoh:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
- Januari : biasanya haid 5 hari tiap bulannya &lt;font color='#262626'&gt;1 2 3 4 5&lt;/font&gt; &lt;font color='#ffffff'&gt;6 7 8 10 - 30 &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
- Februari : &lt;font color='#262626'&gt;1 2 3 4 5 6 7 8 9 10&lt;/font&gt; &lt;font color='#ff0000'&gt;11 12 13 14 15&lt;font color='#'&gt; &lt;/font&gt; 20 25 30&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
-Maret : &lt;font color='#262626'&gt;1 2 3 4 5 6 7&lt;/font&gt; &lt;font color='#ff0000'&gt;8 9 10 15 20 25 30 &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukumnya : pada putaran pertama istihadloh yaitu pada bulan februari tidak wajib mandi kecuali setelah lewat 15 hari dan qodlo shalat dan puasa yang ditinggalkan setelah lewat dari adat kebiasaan haidnya, yaitu mulai tanggal 6 sampai 15. Kemudian pada putaran kedua yaitu pada bulan maret wajib mandi setelah melihat perubahan darah qowi menjadi dlo'if.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIRATUN LI 'ADATIHA QADRAN WA WAQTAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Mu'tadah = yang sudah pernah haid dan suci.&lt;br /&gt;
-Ghairu Mumayyizah = yang tidak bisa membedakan warnanya darah.&lt;br /&gt;
-Dzakiratu li 'adatiha qadran wa waktan = yang ingat akan kebiasaanya meliputi kadar dan waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukumnya : Haidnya dikembalikan kepada adat kebiasaanya tiap bulan baik kadar maupun waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
-Januari dan bulan sebelumnya kebiasaan haid 7 hari&lt;br /&gt;
-Februari : &lt;font color='#ff0000'&gt;1 2 3 4 5 8 13 15 17 18 &lt;/font&gt; ( keluar darah 18 hari dan tidak bisa membedakan warnanya, menurutnya darah yang keluar merah saja misalnya )&lt;br /&gt;
# Haidnya adalah 7 hari dan selebihnya istihadloh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH NASIYATUN LI 'ADATIHA QADRAN WA WAKTAN ( MUTAHAYYIRAH ) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya adalah wanita yang pernah haid dan suci tetapi tidak ingat akan adat kebiasaan haidnya baik kadar dan waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
contohnya ada seorang wanita keluar darah selama 20 hari dengan satu sifat, sedangkan dia lupa kadar haidnya, dan apakah haidnya itu diawal bulan, atau pertengahan bulan, atau diakhir bulan ?!&lt;br /&gt;
#Mutahayyirah ini tidak wajib mandi kecuali setelah 15 hari, kemudian wajib mandi setiap masuk waktu shalat karena kemungkinan sudah suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini dalam hukumnya seperti wanita yang haid di dalam keharaman bersetubuh, masuk area masjid jika khawatir mengotorinya, memegang dan membaca Al-Qur'an diluar shalat untuk berhati-hati, karena setiap hari yang dilaluinya kemungkinan waktu haid. Dan wanita ini juga hukumnya seperti wanita yang suci didalam masalah shalat, puasa, thawaf dan thalaq untuk hati-hati karena kemungkinan sudah suci. Dan diwajibkan mandi setiap waktu shalat jika hendak melakukan shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Untuk lebih lengkapnya tentang tata cara puasanya Mutahayyirah mohon untuk membaca kitab-kitabnya ulama' salaf atau buku-buku yang menjelaskan lebih detil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. MU'TADAH GHAIRU MUMAYYIZAH DZAKIRATUN LI 'ADATIHA QADRAN LA WAKTAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita yang ingat kadar adat haidnya akan tetapi tidak ingat waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh : seorang wanita mengatakan " haidku 5 hari pada sepuluh hari pertama , dan aku ingat pada hari pertama aku suci "&lt;br /&gt;
#hukumnya : hari ke enam dipastikan haid, hari pertama dipastikan suci sebagaimana 20 hari yang akhir. Hari ke dua sampai akhir hari ke 15 dimungkinkan haid dan suci bukannya naqo' / berhenti keluar darah. Hari ke tujuh sampai akhir hari ke sepuluh kemungkinan haid, suci dan juga naqo'. Maka yang dipastikan haid dihukumi haid dan yang dipastikan suci dihukumi suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jelasnya.&lt;br /&gt;
-Tgl 1 dipastikan suci&lt;br /&gt;
-tgl 2 3 4 5 kemungkinan haid dan suci&lt;br /&gt;
-tgl 6 dipastikan haid&lt;br /&gt;
-tgl 7 8 9 10 kemungkinan suci, haid dan juga naqo'&lt;br /&gt;
-tgl 11 sampai 30 dipastikan suci&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita ini pada waktu yang dimungkinkan haid dan suci hukumnya seperti wanita yang lupa akan kadar dan waktunya haid sebagaimana keterangan diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. MU'TADAH GHAIRU MUMAYYIZAH DZAKIRATUN LI 'ADATIHA WAKTAN LA QADRAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzakiratun li 'adatiha waktan la qadran ( yang ingat waktu adat kebiasaanya tapi tidak ingat kadarnya )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
contoh : seorang wanita mengatakan " Saya haid pada awal bulan tapi tidak ingat berapa lamanya "&lt;br /&gt;
#hukumnya : &lt;br /&gt;
- tgl 1 dipastikan haid&lt;br /&gt;
- tgl 2 sampai 15 dimungkinkan haid, suci juga naqo'&lt;br /&gt;
-tgl 16 sampai akhir bulan dipastikan suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
masa yang dipastikan haid atu suci maka dihukumi dengan hukumnya masing-masing dan masa yang dimungkinkan haid, suci dan naqo' hukumnya seperti wanita yang lupa waktu dan kadarnya haid sebagaimana sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain istihadloh yang terjadi pada haid, istihadloh juga bisa terjadi pada nifas. Dan hukumnya istihadloh pada nifas sama seperti istihadloh pada haid. Dan berikut ini pembagian istihadloh yang terjadi pada nifas :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mubtadiah mumayyizah&lt;br /&gt;
hukumnya dikembalikan kepada kemampuannya membedakan qowi dan dlo'ifnya darah jika darah qowi tidak melebihi 60 hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mubtadiah ghairu mumwayyizah&lt;br /&gt;
hukumnya dikembalikan ke minimalnya nifas yaitu waktu yang sebentar ( majjatun ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mu'tadah mumayyizah&lt;br /&gt;
hukumnya dikembalikan kepada kemampuan membedakan darah tidak kepada adat kebiasaannya nifas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mu'tadah ghairu mumayyizah dzakiratun lil wakti wal qadri&lt;br /&gt;
hukumnya dikembalikan kepada adat kebiasaan nifasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Mu'tadah ghairu mumayyizah nasiyatun lil wakti wal qadri ( mutahayyirah )&lt;br /&gt;
hukum nifas cuma sebentar dan setelah itu wajib mandi tiap shalat fardlu sampai genap 60 hari kemudian wudlu tiap shalat fardlu.&lt;br /&gt;
Akan tetapi mutahayyirah dalam nifas sulit tergambarkan.. ( Al-Taqrirat al-sadidah fi al-masaili al-mufidah, hal : 170 )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hal-Hal Yang Harus Dikerjakan Wanita Istihadloh Ketika Hendak Mengerjakan Shalat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&lt;/b&gt; wajib bersuci dari najis ( darah dan yang lainnya ).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&lt;/b&gt; wajib menyumbat tempat keluarnya darah dengan kapas atau yang lainnya kecuali jika merasa sakit dengan hal itu atau sedang berpuasa, karena hal itu bisa membatalkan puasa. Dan juga wajib pakai pembalut jika menyumbat saja tidak cukup.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; wajib cepat-cepat ambil wudlu setelah point nomer dua. Dan syaratnya harus setelah masuk waktu shalat.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; wajib cepat-cepat shalat dan tidak boleh menundanya, kecuali jika menundanya itu untuk kemaslahatan shalat, seperti menjawab adzan, dan menunggu jama'ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A'lam.....&lt;/b&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/04/bab-istihadloh-bagian-2.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-7178556576829710174</guid><pubDate>Thu, 29 Apr 2010 14:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-29T21:59:39.386+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Risalatul Mustahadloh</category><title>Bab Istihadloh bagian 1</title><description>Istihadloh adalah darah yang keluar tidak pada masa haid dan nifas yang disebabkan oleh penyakit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Darah istihadloh itu sendri terdiri dari lima warna &lt;br /&gt;
1. Hitam ( aswad ) &lt;br /&gt;
2. Merah ( ahmar ) &lt;br /&gt;
3. Merah kekuning-kuningan ( asyqar ) &lt;br /&gt;
4. Kuning ( asfar ) &lt;br /&gt;
5. Keruh ( akdar ) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kelima warna darah tersebut, darah istihadloh juga dibedakan dengan beberapa sifat &lt;br /&gt;
1. Adakalanya tidak kental &lt;br /&gt;
2. Adakalanya tidak berbau tajam &lt;br /&gt;
3. Adakalanya tidak dengan dua sifat diatas ( berarti kental sekaligus berbau tajam ) &lt;br /&gt;
4. Adakalanya tidak dengan salah satu sifat diatas ( berart kental tapi tidak berbau atau tidak kental tapi berbau ) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari penggolongan warna dan sifat diatas, darah yang paling kuat ( qowi ) adalah warna hitam kemudian merah lalu merah kekuning-kuningan dan seterusnya. Darah yang berwarna merah ini lemah ( dlo'if ) jika dibandingkan warna hitam, kuat jika dibandingkan merah kekuning-kuningan. Merah kekuning-kuningan lemah dibanding merah tapi kuat jika dibanding kuning. Darah yang kental lebih kuat dari yang tidak kental. Darah yang mempunyai dua sifat lebih kuat dari pada yang mempunyai satu sifat. Jika dua darah mempunyai sifat yang seimbang seperti darah warna hitam tanpa sifat pendamping dan merah dengan sifat kental atau berbau tajam maka haidnya adalah yang lebih dahulu keluar dan yang keluar terakhir adalah istihadloh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penggolongan Wanita Yang Istihadloh&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Mubtadiah Mumayyizah&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Mubtadiah = wanita yang baru pertama kali istihadloh. &lt;br /&gt;
-Mumayyizah = wanita yang bisa membedakan kuat dan lemahnya darah istihadloh. &lt;br /&gt;
-Hukumnya = darah yang kuat adalah haid dan yang lemah istihadloh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghukuman ini dengan syarat : &lt;br /&gt;
1. Darah qowi tidak kurang dari minimalnya masa haid. &lt;br /&gt;
2. Darah qowi tidak lebih dari maksimalnya masa haid. &lt;br /&gt;
3. Darah dlo'if tidak kurang dari minimalnya masa suci. &lt;br /&gt;
4. Darah dlo'if keluarnya harus berturut-turut tidak boleh diselingi darah qowi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi maka wanita itu cacat syarat dari syarat-syaratnya tamyiz. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Contoh Mubtadiah Mumayyizah yang memenuhi syarat :&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Darah qowi keluar lebih dahulu &lt;br /&gt;
.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Tanggal &lt;font color='#262626'&gt;1 &lt;br /&gt;
2 3 4&lt;/font&gt; &lt;font color='red'&gt;5 6 7 8 10 15 20 25 30&lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
# Haidnya adalah 4 hari sejak pertama keluar darah hitam dan selebihnya adalah istihadloh. &lt;br /&gt;
&lt;font color='#262626'&gt; ¤ket : karena background blog ini hitam maka untuk menunjukkan warna hitam digunakan warna ini &lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Darah lemah keluar lebih dahulu &lt;br /&gt;
tgl &lt;font color='#ff0000'&gt;1 2 3 4 5 10 15 20 25&lt;/font&gt; &lt;font color='#262626'&gt;26 27 28 29 30&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
# Haidnya adalah 5 hari pada masa keluarnya darah hitam, masa keluarnya darah merah adalah istihadloh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Darah dlo'if kurang kurang dari minimalnya masa suci dan keluarnya tidak terus menerus &lt;br /&gt;
&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
tgl &lt;font color='#262626'&gt;1 2 3 4 6 8 10&lt;/font&gt; &lt;font color='#red'&gt;11 12 13 15 18 19 20&lt;/font&gt; &lt;font color='#ffffff'&gt;21 22 23 25 28 29 30&lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
# Haidnya adalah 10 hari yang pertama. 10 hari kedua pada waktu keluar darah merah adalah istihadloh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;font color='#ffffff'&gt;¤ warna putih = suci&lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Ikutnya naqo' ( tidak keluar darah ) kepada hukum haid karena naqo' diantara dua darah haid serta darah dlo'if tidak kurang dari minimal masa suci dan darah qowi tidak kurang dari minimal masa haid dan tidak lebih dari maksimalnya haid.&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Tgl &lt;font color='#262626'&gt;1&lt;/font&gt; &lt;font color='#ffffff'&gt;2 3&lt;/font&gt; &lt;font color='#262626'&gt;4&lt;/font&gt; &lt;font color='#ffffff'&gt;5 6 7 8 10 15 20 25 30&lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
# Haidnya adalah 4 hari waktu keluar darah hitam beserta naqo' diantaranya, selebihnya istihadloh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Kumpulnya darah qowi, dlo'if serta yang paling dlo'if yang memenuhi syarat. &lt;br /&gt;
&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
tgl &lt;font color='#262626'&gt;1 2 3 4 5&lt;/font&gt; &lt;font color='#red'&gt;6 7 8 9 10&lt;/font&gt; &lt;font color='#ff4500'&gt;11 12 13 14 15&lt;/font&gt; &lt;font color='#ffff00'&gt;16 17 18 19 20&lt;/font&gt; &lt;font color='#fff'&gt;21 22 23 25 28 30&lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
# Haidnya adalah selain darah kuning karena lebih kuat dari warna kuning. &lt;br /&gt;
&lt;font color='#ff4500'&gt;¤ ket : yang ditunjukkan warna ini adalah darah berwana merah kekuning-kuningan.&lt;/font&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mubtadiah Mumayyizah ini wajib mandi setelah haidnya lewat 15 hari sejak pertama keluar darah pada bulan pertama istihadloh dan wajib mengqodlo shalat-shalat yang ditinggalkan pada hari dimana darah yang keluar dihukumi istihadloh. Pada bulan kedua dan seterusnya wajib mandi ketika melihat perubahan darah qowi menjadi dlo'if dan bekas-bekas darah qowi sudah tidak ada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Contoh Mubtadiah Mumayyizah yang tidak memenuhi syarat :&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Darah qowi kurang dari minimal masa haid &lt;br /&gt;
-tgl &lt;font color='#262626'&gt;1 (keluar darah Selama 20 jam)&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
-tgl &lt;font color='#ff0000'&gt;2 3 4 5 10 15 20 25 30 &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Darah qowi melebihi maksimal masa haid&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
-tgl &lt;font color='#262626'&gt;1 2 3 4 5 8 12 14 16 18&lt;/font&gt; &lt;font color='#ff0000'&gt;19 20 21 22 24 28 29  30&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Darah dlo'if kurang dari minimal masa suci dan   &lt;br /&gt;
keluarnya darah terus menerus.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
tgl &lt;font color='#262626'&gt;1 2 3 4 5 6 7&lt;/font&gt; &lt;font color='#ff0000'&gt;8 9 10 12 14 16 18 20 21&lt;/font&gt; &lt;font color='#262626'&gt;22 23 24 26 28 30&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;
# Darah dlo'if keluar selama 14 hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Darah dlo'if keluar tidak berturut-turut selama   &lt;br /&gt;
15 hari. Sehari qowi, sehari kemudian dlo'if, &lt;br /&gt;
besoknya lagi qowi, begitu terus sampai akhir &lt;br /&gt;
bulan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada empat contoh diatas haidnya adalah sehari &lt;br /&gt;
semalam dan sucinya 29 hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanbih :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mubtadiah mumayyizah yang tidak memenuhi &lt;br /&gt;
syarat ini ( dan juga mubtadiah ghoiru &lt;br /&gt;
mumayyizah yang insya Allah akan diterangkan &lt;br /&gt;
nanti ) pada bulan pertama wajib mandi ketika &lt;br /&gt;
sudah lewat 15 hari dan qodlo shalat hari-hari &lt;br /&gt;
yang dihukumi istihadloh. Pada bulan kedua dan &lt;br /&gt;
seterusnya wajib mandi ketika sudah lewat sehari   &lt;br /&gt;
semalam dari awal keluar darah. Kemudian jika &lt;br /&gt;
ternyata pada pertengahan bulan sebelum &lt;br /&gt;
melewati 15 hari darahnya sudah tidak lagi keluar   &lt;br /&gt;
/ suci maka semua darah yang keluar pada bulan &lt;br /&gt;
itu dihukumi haid dan wajib mandi lagi. Adapun &lt;br /&gt;
mandinya yang pertama tadi setelah lewat sehari &lt;br /&gt;
semalam tidak sah karena ternyata masih dalam &lt;br /&gt;
masa haid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. MUBTADIAH GHOIRU MUMAYYIZAH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu wanita yang melihat darah hanya dengan satu sifat saja ( hanya melihat warna merah saja misalnya ) . Begitu juga mubtadiah mumayyizah yang tidak memenuhi syarat , hukum haidnya adalah sehari semalam dan sucinya 29 hari jika ingat waktu pertama keluar darah. Jika tidak ingat maka hukumnya seperti MUTAHAYYIRAH yang insya Allah akan diterangkan nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu A'lam.....&lt;/b&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/04/bab-istihadloh.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7791503148221212521.post-626287065618661858</guid><pubDate>Mon, 12 Apr 2010 11:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-13T20:37:10.535+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Risalatul Mustahadloh</category><title>Perkara-Perkara Yang Di Haramkan Ketika Haid Dan Nifas Bagian II</title><description>&lt;b&gt;4.  Menyentuh Dan Memegang Al-Qur'an &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang biasa digunakan adalah surah Al-Waqi'ah 79&lt;br /&gt; &lt;font color='#eee8aa'&gt; (  لا يمسه إلا المطهرون  ) &lt;/font&gt; &lt;br /&gt;&lt;font color='#fffaf0'&gt; " Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba Allah yang disucikan " &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan menyentuh bukan hanya dengan telapak tangan saja tapi seluruh anggota badan walaupun ada penghalangnya sekira yang dikerjakan itu disebut menyentuh menurut istilah. jika menyentuh saja diharamkan apalagi memegang dan membawa Al-Qur'an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Masuk Kedalam Masjid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita haid dilarang masuk kedalam masjid walaupun hanya sekedar lewat / berlalu jika dikhawatirkan darah haidnya menetes dan mengotori masjid. Tapi jika yakin darahnya tidak sampai menetes dan mengotori masjid maka hukumnya makruh. Hadits yang menerangkan larangan wanita haid masuk masjid adalah hadits yang  diriwayatkan oleh Abu dawud yang artinya &lt;font color='#fffaf0'&gt; '' Aku tidak halalkan masjid bagi orang yang haid dan junub '' &lt;/font&gt; ( HR.  Abu Dawud dari 'Aisyah ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Thawaf&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik itu thawaf rukun seperti thawaf ifadloh atau thawaf wajib seperti thawaf wada' ( perpisahan / pamitan ),  maupun thawaf sunnah seperti thawaf qudum. hadits yang menerangkan larangan ini adalah hadits yang  diriwayatkan oleh imam Hakim yang artinya &lt;font color='#fffaf0'&gt; " Thawaf itu seperti shalat, hanya saja Allah menghalalkan berbicara ketika thawaf. maka barang siapa yang berbicara maka jangan berbicara kecuali yang baik " &lt;/font&gt; ( HR. Al hakim ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Jima' / Bersetubuh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersetubuh ketika haid diharamkan walaupun darah  haidnya sudah berhenti keluar (suci) sebelum mandi jinabat. dalil yang digunakan adalah Alqur'an surah Al_Baqarah ayat 222  dan hadits yang diriwayatkan imam Muslim yang artinya &lt;font color='#fffaf0'&gt; " Lakukanlah apa saja kecuali bersetubuh " &lt;/font&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Thalaq / cerai &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalaq pada waktu haid ini dinamakan thalaq bid'i yaitu ketika suami menceraikan istrinya pada waktu haid yang sebelumnya sudah disetubuhi. thalaq pada keadaan ini  diharamkan akan tetapi thalaqnya sah ( jadi ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Wallahu A'lam.....&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;</description><link>http://untuknaily2.blogspot.com/2010/04/perkara-perkara-yang-di-haramkan-ketika_12.html</link><author>noreply@blogger.com (untuknaily2)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>