<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>my inspiration</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><pubDate>Tue, 7 Jan 2025 00:56:14 -0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://kisahteladanbaik.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Tujuan Hidayah</title><link>http://kisahteladanbaik.blogspot.com/2012/12/tujuan-hidayah.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 2 Dec 2012 17:44:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3482228444493085367.post-5944432778501357905</guid><description>&lt;strong style="font-size: 16px;"&gt;Tujuan Hidayah&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;
  Dengan mengkaji ayat-ayat al-Quran seperti "&lt;em&gt;Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk&lt;/em&gt;"(1),
 yang berbicara tentang Hidayah Takwini dengan jelas menunjukkan hidayah
 ini menunjukkan kepada ukuran atau kadar. Artinya, segala sesuatu dalam
 Hidayah Takwini bergerak sesuai dengan kadar yang telah ditentukan 
baginya dan tidak mungkin menentangnya. Gerakan ini apakah terkait 
dimensi individu atau sebagai kumpulan ciptaan mengarah pada ajal yang 
telah ditentukan. Karena Allah swt berfirman, "&lt;em&gt;Kami tiada 
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan 
dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan ...&lt;/em&gt;"(2)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Ajal yang ditentukan (&lt;em&gt;Ajal Musamma&lt;/em&gt;) ini dijelaskan dalam ayat-ayat lain. Sebagai contoh mengenai tibanya ajal yang ditentukan, Allah Swt berfirman, "&lt;em&gt;(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas ...&lt;/em&gt;"(3) Begitu juga dalam ayat, "&lt;em&gt;(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit ...&lt;/em&gt;"(4)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Sebagaimana tujuan dari Hidayah Takwini setiap makhluk adalah 
menyampaikannya kepada kesempurnaan yang sesuai dengan dirinya. Tujuan 
dari Hidayah Takwini seluruh ciptaan Allah adalah menyampikan 
kesempurnaan keberadaannya dan itu adalah alam akhirat dan terjadinya &lt;em&gt;Ma'ad&lt;/em&gt;
 (hari kebangkitan). Ketika semua ciptaan Allah ini sampai ke titik yang
 lain dari alam ciptaan Allah di bidang materi maka aktualisasinya 
berakhir dan di sini Hidayah Takwini berarti petunjuk kepada ciptaan 
Allah yang bersifat materi berakhir ketika mencapai kesempurnaannya.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Tapi terkait Hidayah Tasyiri'i, sesuatu yang membimbing manusia ke alam
 akhirat dan di jalur ini disampaikan dengan sejumlah pentakbiran dalam 
al-Quran. Terkadang disebut dengan &lt;em&gt;Sabil&lt;/em&gt; (jalan) seperti di ayat-ayat berikut:&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  "&lt;em&gt;Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.&lt;/em&gt;"(5)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  "&lt;em&gt;Orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.&lt;/em&gt;"(6)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  "&lt;em&gt;Dan
 orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar 
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya 
Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.&lt;/em&gt;"(7)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Penggunaan kata &lt;em&gt;Shirat&lt;/em&gt; (jalan) adalah yang terbanyak. Sebagai contoh dalam ayat tentang Nabi Musa dan Harun as, Allah Swt berfirman, "&lt;em&gt;Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus.&lt;/em&gt;"(8) Begitu juga tentang Nabi Ibrahim as, "&lt;em&gt;(lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.&lt;/em&gt;"(9)
 Nabi Muhammad Saw sendiri diperkenalkan dalam al-Quran sebagai pemberi 
hidayah ke jalan yang lurus. Allah Swt menjelaskan, "&lt;em&gt;... Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.&lt;/em&gt;"(10) Pada akhirnya ada perintah umum yang diajarkan kepada manusia untuk mencari hidayah lewat jalan yang lurus, "&lt;em&gt;Tunjukilah kami jalan yang lurus.&lt;/em&gt;" (11)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Dengan demikian, Hidayah Tasyri'i adalah menunjuki jalan yang mampu 
menunjuki seorang pesalik kepada keridhaan, pertemuan dengan Allah dan 
kebahagiaan akhirat.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Dengan kata lain, Hidayah Tasyri'i adalah bimbingan menuju jalan utama, yakni &lt;em&gt;Shirat Mustaqim&lt;/em&gt; dan jalan yang lurus ini yang disebut al-Quran sebagai agama yang benar seperti dalam ayat, "&lt;em&gt;Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar ...&lt;/em&gt;"(12)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Agama yang benar dan &lt;em&gt;Shirat Mustaqim&lt;/em&gt; ini mencakup akidah yang benar, sebagaimana lanjutan ayat sebelumnya, "&lt;em&gt;...
 Agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang
 musyrik." Begitu juga mencakup dimensi praktis dalam menyembah Allah 
Swt, "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya 
kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
 nyata bagi kamu", dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang 
lurus.&lt;/em&gt;"(13)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  Di sisi lain, agama yang benar merupakan tuntutan fitrah manusia yang disebutkan dalam ayat, "&lt;em&gt;Maka
 hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) 
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak 
ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi 
kebanyakan manusia tidak mengetahui.&lt;/em&gt;"(14)&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  
Kesimpulannya, Hidayah Tasyri'i manusia sesuai benar dengan fitrah 
manusia dan dapat dikatakan bahwa satu dari tujuan Hidayah Tasyri'i dan 
perintah agama adalah mengaktualisasikan pengetahuan fitri yang 
tersembunyi dalam jiwa manusia. Manusia di jalur keyakinan dan perbuatan
 serta melaksanakan hukum agama pada dasarnya tengah mengarungi batinnya
 dan mengaktualisasikan keutamaan batinya di dunia. Dari ucapan Imam Ali
 as dapat dimengerti bahwa tujuan utama pengutusan para nabi adalah 
menghilangkan tabir dari fitrah manusia.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  "Kemudian 
Allah mengutus rasul-rasul-Nya dari manusia, mengutus mereka satu 
persatu demi menuntut perjanjian fitrah manusia, mengingatkan manusia 
akan nikmat-nikmat Allah yang telah mereka lupakan, menyempurnakan 
hujjah Allah dengan tablig dan membangkitkan khazanah akal mereka yang 
terpendam ..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></item><item><title>Mengapa Dunia Islam Tidak Bersikap untuk Myanmar</title><link>http://kisahteladanbaik.blogspot.com/2012/10/mengapa-dunia-islam-tidak-bersikap.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 31 Oct 2012 19:51:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3482228444493085367.post-5164466450768522828</guid><description>&lt;h1 class="header-title"&gt;
&lt;span&gt;Mengapa Dunia Islam Tidak Bersikap untuk Myanmar&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;h3 class="header-title"&gt;
&lt;span&gt;Ayatullah Naser Makarim Shirazi menyatakan, "Pembunuhan Muslim Myanmar merupakan musibah besar bagi masyarakat Islam." &lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
  IRNA (31/10) Ayatullah Shirazi mengatakan, "Mengapa dunia Islam tidak bersikap?"&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Beliau menegaskan, "Mengapa Organisasi Kerjasama Islam dan masyarakat 
Arab tidak menggelar sidang dan memikirkan solusi untuk masalah ini?"&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Seraya menjelaskan bahwa sekelompok Buddhist menyerang warga Muslim 
tertindas Myanmar dan membunuh serta membakar rumah mereka, Ayatullah 
Shirazi mengatakan, "Para Buddhist, para pembunuh itu belajar dari 
aksi-aksi para Wahabi."&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  "Musuh-musuh Islam mengerahkan
 pasukan ke Suriah dan di sana mereka membantai umat Islam. Padahal aksi
 mereka ini tidak akan menghasilkan apapun," tutur beliau.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
 
 Jika ada satu orang yang tewas di masyarakat Barat, mereka akan berkoar
 sedemikian rupa hingga memekakkan telinga, akan tetapi tidak ada aksi 
apapun terhadap pembantaian terhadap Muslim Myanmar.&lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
  
Di bagian lain pernyataannya, Ayatullah Shirazi menjelaskan bahwa 
kesabaran adalah kriteria hamba yang mukmin. "Kesabaran akan membuka 
jalan yang rasional selama ketidaksabaran tidak mempengaruhi otak 
manusia."(IRIB Indonesia/MZ)&lt;br /&gt;
&lt;h1 class="header-title"&gt;
&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>suami adalah pakaian bagi istrinya dan istri juga adalah pakaian bagi suaminya.</title><link>http://kisahteladanbaik.blogspot.com/2012/08/suami-adalah-pakaian-bagi-istrinya-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 11 Aug 2012 10:13:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3482228444493085367.post-8969341331798844909</guid><description>&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Allah menghendaki agar pasangan suami-istri layaknya sepasang pakaian yang saling melengkapi, bukan saling merusak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam al-Quran disebutkan;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;h3&gt;أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ  لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ  كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ  فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا&lt;/h3&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;h2 style="color: black;"&gt;كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ&lt;/h2&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;br /&gt;
Artinya: "&lt;em&gt;Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; &lt;strong&gt;mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka&lt;/strong&gt;.  Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena  itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang  campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.&lt;/em&gt;" (QS. Al-Baqoroh [2]:187)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam  ayat tersebut Allah swt. menyebut bahwa suami adalah libas bagi  istrinya dan istri juga adalah Libas bagi suaminya. Kata “libas”  mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan,  ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;Penutup aib dan perhiasan&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Fungsi  pakaian adalah untuk menutup aurat tubuh (lihat QS.7:26).&amp;nbsp; Suami istri  adalah pakaian bagi pasangannya. Dengan demikian, suami istri adalah  penutup&amp;nbsp; "aurat" (baca: aib) bagi pasangannya. Fungsi pakaian juga  sebagai perhiasan (lihat QS.7:26). Perhiasan adalah sesuatu yang indah  dan berharga. Dengan memiliki dan atau memandang perhiasan mendatangkan  kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan. Suami adalah perhiasan bagi  istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah dilihat  istri dan juga sebaliknya. Suami merasa berharga bagi istrinya, dan pada  saat yang sama suami menghargai istrinya. Demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman dalam Surat Ali Imran [3]:14) yang artinya: &lt;em&gt;“Dijadikan  indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,  yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,  perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik  (surga).”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;b&gt;Sumber Ketrentraman&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Suami adalah sumber  ketentraman bagi istrinya. Istri juga adalah sumber ketentraman bagi  suaminya. Masing-masing merasa tentram dengan adanya pasangan dan dari  pasangannya. Serta masing-masing berusaha membuat tentram pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt; &lt;em&gt;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan  untukmu  isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan  merasa  tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan  sayang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat  tanda-tanda  bagi kaum yang berfikir.&lt;/em&gt;“(QS.Ar-Ruum [30]:21)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suami juga sumber kesenangan bagi istri. Begitu juga istri adalah sumber kesenangan bagi suami.&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;&lt;br /&gt;
“Dijadikan  indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,  yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,  perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik  (surga).&lt;/em&gt;” (QS. Ali Imran[3]:14)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;“Dan orang-orang yang  berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami  dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami  imam bagi orang-orang yang bertakwa.&lt;/em&gt;” (QS.Al-Furqaan [25]:74)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua  ayat itu menyebutkan kata “wanita” dan “istri” saja, tidak menyebutkan  kata “pria” dan “suami”. Seolah-olah dua ayat tersebut hanya ditujukan  dan berlaku untuk pria dan suami. Meskipun kata “pria” dan “suami” tidak  disebutkan, kedua ayat di atas juga ditujukan dan berlaku bagi para  wanita dan istri, sehingga bisa dipahami juga sebagai berikut;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suami  merasa senang, gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap istrinya dari  sikap, perilaku, kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanan istrinya  ketika berhubungan dengan istrinya dalam segala aktivitas sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada  saat yang sama suami juga harus membuat istrinya merasa senang,  gembira, puas, bahagia dan nikmat terhadap dirinya dari sikap, perilaku,  kata-kata, ekspresi, penampilan dan pelayanannya dalam setiap  kesempatan dan aktivitas rumah tangga (bukan hanya ketika membutuhkannya  saja dan bukan hanya ketika di atas ranjang saja). Demikian juga  sebaliknya, istri merasakan hal yang sama terhadap suaminya dan berbuat  hal yang sama kepada suaminya.&lt;br /&gt;
Al-Quran Berjalan&lt;br /&gt;
Ada kisah seorang suami yang bisa menjadi tauladan bagi seluruh alam. Namanya Mumammad, yang diagungkan umat Islam sedunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkisah,  suatu hari,&amp;nbsp; Siti Aisyah, sangat khawatir. Ketika menjelang subuh  Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah lalu keluar membuka  pintu rumah rumah. Betapa terkejutnya ketia dia mendapati suaminya,  yang tak lain Rasulullah Muhammad sedang tidur di depan pintu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mengapa  engkau tidur di sini?," ujar Aisyah. Nabi Muhammmad menjawab, "Aku  pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku  tidak mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah  akhlaq Muhammad. Beliau bahkan tak pernah menyebut panggilan istirnya  dengan panggilan buruk. Sebaliknya, beliau memanggil istri-istrinya  dengan panggilan yang indah-indah.&amp;nbsp; Aisyah adalah istri Nabi yang sering  mendapatkan sapaan&amp;nbsp; "&lt;em&gt;ya khumairah&lt;/em&gt;" (wahai gadis berpipi  kemerah-merahan). Begitulah Nabi, ia selalu memanggil istrinya dengan  sapaan indah. Tak hanya Aisyah, bahkan untuk semua istri-istrinya,  beliau selalu memanggil dengan panggilan indah dan menyenangkan perasaan  mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ada akhlaq suami di dunia ini yang seindah akhlaq  Muhammad. Karena itulah, Siti Aisyah pernah mengatakan,&amp;nbsp; akhlaq Muhammad  itu sebagai “&lt;em&gt;khuluquhu al-Qur'an&lt;/em&gt;” (al-Qur'an yang sedang berjalan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi  sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan para suami, "Berhati-hatilah  kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir  tentangnya."&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka. *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">11</thr:total></item><item><title>Kepemimpinan Umar bin Khattab r.a</title><link>http://kisahteladanbaik.blogspot.com/2012/04/kepemimpinan-umar-bin-khattab-ra.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 13 Apr 2012 10:19:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3482228444493085367.post-7817234361217707884</guid><description>Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan  kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas,  disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang  menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran,  menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang  paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah  Abu Bakar As Siddiq.&lt;br /&gt;
Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya.  Seorang tokoh besar setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq.  Pada masa kepemimpinannya kekuasaan islam bertambah luas. Beliau  berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian  barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.&lt;br /&gt;
Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah,  penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin  Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam  menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran  Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil  memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga,  dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan  Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang  maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Islam  menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam  tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.&lt;br /&gt;
Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah  kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab  naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran  Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab.  Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan  Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung  Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan  mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin  Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai  sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat.  Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat  mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.&lt;br /&gt;
Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam  masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud  berkata, ”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi  timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi  timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat  dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar  bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau  menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk  mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam,  membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang  melakukan sholat sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga  peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan,  membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan,  menetapkan hukuman cambuk bagi peminum “khamr” (minuman keras) sebanyak  80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta  pegawai dan juga konsep yang lainnya.&lt;br /&gt;
Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati.  Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha  untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat  Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang  terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari  kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul  jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.”  Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab berkata, ”Seandainya ada  anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut  diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”&lt;br /&gt;
Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang,  Beliau berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh  kaum muslimin kenyang memakannya…&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang  pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda  pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan  demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan  kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum’at  hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.&lt;br /&gt;
Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh  kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah SWT. Sehingga  jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika  kelak dia wafat.&lt;br /&gt;
Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan  pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha  Nabi SAW. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah  bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman  bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan  berkata, aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati.  Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan  melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah  ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Repost by : &lt;a href="http://www.blogger.com/goog_1474049288"&gt;Pengobatan hepatitis&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.obatherbalasamurat.biz/2012/03/pengobatan-hepatitis/"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></item><item><title>Saat Penjaga Arasy Lupa Dengan Bacaan Tasbih dan Tahmidnya</title><link>http://kisahteladanbaik.blogspot.com/2012/04/kisah-hikmah-dari-anjing-kecil.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 12 Apr 2012 10:05:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3482228444493085367.post-5044108167155527120</guid><description>Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kakbah, baginda  mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim!  Ya Karim!” Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”&lt;br /&gt;
Orang itu berhenti di satu sudut Kakbah dan menyebutnya lagi “Ya  Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi  “Ya Karim! Ya Karim!”&lt;br /&gt;
Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang  dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum  pernah di lihatnya.&lt;br /&gt;
Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja  mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena  ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad  Rasulullah.”&lt;br /&gt;
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu  berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”&lt;br /&gt;
“Belum,” jawab orang itu.&lt;br /&gt;
“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum  pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum  pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.&lt;br /&gt;
Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”&lt;br /&gt;
Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya  kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi  SAW.&lt;br /&gt;
Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;
Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu  seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu.  Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya  kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi  seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi  membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita  menakutkan bagi yang mengingkarinya.”&lt;br /&gt;
Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit,  lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu  dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona  dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di  Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil  maupun yang besar.”&lt;br /&gt;
Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab  itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan  membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat  perhitungan denganNya.”&lt;br /&gt;
Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan  dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran  magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan  memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan  kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa  dermawanNya.”&lt;br /&gt;
Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun  menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu  sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.&lt;br /&gt;
Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad,  Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah  engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy  lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang  katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya,  juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan  semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”&lt;br /&gt;
Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Bibliografi dan Latar Belakang Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq ra</title><link>http://kisahteladanbaik.blogspot.com/2012/02/bibliografi-dan-latar-belakang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 2 Feb 2012 12:19:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3482228444493085367.post-82749386933000539</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Nama Saiyidina Abu  Bakar Al-Siddiq R.A. adalah tidak asing lagi bagi sekelian ummat Islam,  baik dahulu mahupun sekarang. Dialah manusia yang dianggap paling  teragung dalam sejarah Islam sesudah Rasulullah S.A.W. Kemuliaan  akhlaknya, kemurahan hatinya dalam mengorbankan harta benda dan  kekayaannya, kebijaksanaannya dalam menyelesaikan masalah ummat,  ketenangannya dalam menghadapi kesukaran, kerendahan hatinya ketika  berkuasa serta tutur bahasanya yang lembut lagi menarik adalah sukar  dicari bandingannya baik dahulu mahupun sekarang. Dialah tokoh sahabat  terbilang yang paling akrab dan paling disayangi oleh Rasulullah S.A.W.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Nama  sebenar Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq adalah Abdullah Bin Qahafah.  Sebelum Islam, beliau adalah seorang saudagar yang tersangat kaya serta  datangnya dan keluarga bangsawan yang sangat dihormati oleh masyarakat  Quraisy. Bahkan sebelum memeluk Islam lagi, Abu Bakar telah terkenal  sebagai seorang pembesar Quraisy yang tinggi akhlaknya dan tidak pernah  minum arak sebagaimana yang lazimnya dilakukan oleh pembesar-pembesar  Quraisy yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Dan segi umur,  Saiyidina Abu Bakar R.A. adalah dua tahun lebih muda dan Rasulullah  S.A.W. dan telah menjalin persahabatan yang akrab dengan baginda Rasul  lama sebelum Rasulullah S.A.W. menjadi Rasul. Beliaulah tokoh sahabat  besar yang dianggap paling banyak sekali berkorban harta benda untuk  menegakkan agama Islam di samping Nabi Muhammad S.A.W. Kerana besarnya  pengorbanan beliau itulah Rasulullah S.A.W. pernah mengatakan bahawa  Islam telah tegak di atas harta Siti Khadijah dan pengorbanan Saiyidina  Abu Bakar R.A. Adapun gelaran Al-Siddiq yang diberikan kepadanya itu  adalah kerana sikapnya yang selalu membenarkan apa sahaja kata-kata  mahupun perbuatan Nabi Muhammad S.A.W. Dalam hal ini elok kita petik  suatu kisah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud yang dicenitakan  sendiri kepadanya oleh Saiyidina Abu Bakar, tentang bagaimana Saiyidina  Abu Bakar R.A. memeluk agama Islam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Kata  Saiyidina Abu Bakar R.A. ketika menceritakan suatu kisah mengenai  dirinya kepada Ibnu Mas'ud, "Aku pernah mengunjungi seorang tua di  negeri Yaman. Dia rajin membaca kitab-kitab dan mengajar banyak murid.  Dia berkata kepadaku:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Aku kira tuan datang dari Tanah Haram.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Benar, “jawabku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Aku kira tuan berbangsa Quraisy?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Benar,” ujarku lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Dan apa yang aku lihat, tuan dan keluarga Bani Taiyim?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Benarlah begitu,” tambahku selanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Orang  tua itu terus menyambung, katanya, "Ada satu lagi hal yang hendak aku  tanyakan dari tuan, iaitu tentang diri tuan sendiri. Apakah tak  keberatan jika aku lihat perutmu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Maka  pada ketika itu aku pun berkata, "Aku keberatan hendak memperlihatkan  selagi tuan tidak nyatakan kepadaku perkara yang sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Maka  ujar orang tua itu, "Aku sebenarnya melihat dalam ilmuku yang benar  bahawa seorang Nabi Allah akan diutus di Tanah Haram. Nabi itu akan  dibantu oleh dua onang sahabatnya, yang seorang masih muda dan seorang  lagi sudah separoh umur. Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam  segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam sebarang kesusahan.  Sementara yang separoh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus, ada  tahi lalat di perutnya dan ada suatu tanda di paha kirinya. Apalah  salahnya kalau tuan perlihatkan kepadaku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Maka  sesudah dia berkata itu aku pun membuka pakaianku lalu orang tua itu  pun melihatlah tahi lalat hitam di atas bahagian pusatku seraya berkata,  "Demi Tuhan yang menguasai Kaabah, tuanlah orangnya itu!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Kemudian  orang tua itu pun memberi sedikit nasihat kepadaku. Aku tinggal di  Yaman untuk beberapa waktu kenana mengurusi perniagaanku dan sebelum  meninggalkan negeri itu aku sekali lagi pergi menemui orang tua tersebut  untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Kemudian dia lalu  bertanya, "Bolehkah tuan menyampaikan beberapa rangkap syairku?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Boleh sahaja, “jawabku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Setelah  itu aku pun membawa pulang syair-syair itu ke Mekah. Setibanya aku di  Mekah, para pemuda bergegas datang menemuiku seraya berkata, "Adakah  engkau tahu yang sudah terjadi? Maka ujarku pula, "Apakah yang terjadi  itu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Jawab mereka,  "Si yatim Abu Talib kini mengaku menjadi Nabi! Kalaulah tidak mengingat  engkau hai Abu Bakar, sudah lama kami selesaikan dia. Engkaulah  satu-satunya yang kami harapkan untuk menyelesaikannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Kemudian  aku pun meminta mereka pulang dahulu sementara aku sendiri pergi  menemui Muhammad. Setelah menemuinya aku pun mengatakan, "Wahai  Muhammad, tuan telah mencemarkan kedudukan keluarga tüan dan aku  mendapat tahu tuan terang-terang telah menyeleweng dari kepercayaan  nenek moyang kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Maka ujar baginda, "Bahawa aku adalah Pesuruh Allah yang diutuskan untukmu dan untuk sekelian ummat!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Aku pun bertanya kepada baginda, "Apa buktinya?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Jawabnya, "Orang tua yang engkau temui di Yaman tempoh hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Aku menambah lagi, "Orang tua yang mana satukah yang tuan maksudkan kerana ramai orang tua yang aku temui di Yaman itu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Baginda menyambung, "Orang tua yang mengirimkan untaian syair kepada engkau!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Aku terkejut mendengarkannya lalu bertanya, "Siapakah yang telah memberitahu tuan, wahai sahabatku?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Maka ujar baginda, "Malaikat yang pernah menemui Nabi-nabi sebelumku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Akhirnya  aku berkata, "Hulurkan tangan tuan, bahawa dengan sesungguhnya aku naik  saksi tiada Tuhan yang kusembah melainkan Allah, dan tuan (Muhammad)  sebenarnya Pesuruh Allah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Demikianlah  kisah indah yang meriwayatkan bagaimana Islamnya Saiyidina Abu Bakan  Al-Siddiq. Dan memanglah menurut riwayat beliau merupakan lelaki yang  pertama yang beriman kepada Rasulullah S.A.W.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Keislaman  Saiyidina Abu Bakan Al-Siddiq R.A. telah membawa penganuh besar di  kalangan kaum bangsawan Quraisy kerana dari pengaruh keislamannya itulah  maka beberapa orang pemuda&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bangsawan Quraisy seperti  Saiyidina Uthman Bin Affan, Abdul Rahman Bin Auf, dan Saad Bin Waqqas  menuruti jejak langkahnya. Semenjak beliau memeluk Islam, Saiyidina Abu  Bakan R.A. telah menjadi pembela Islam yang paling utama serta seorang  sahabat yang paling akrab serta paling dicintai oleh Rasulullah S.A.W.  Sebagai memperlihatkan kecintaan baginda terhadap Saiyidina Abu Bakar  R.A., dapat kita ketahui dan satu dialog yang terjadi antara baginda  Rasul dengan Amru Bin Al As. Amru seorang sahabat Rasulullah S.A.W.  pernah suatu hari menanyakan Rasul, "Siapakah di antara manusia yang  paling tuan sayangi? Baginda menjawab, "Siti Aisyah, dan kalau laki-laki  adalah bapanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Selain  daripada itu Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq R.A. adalah seonang sahabat  yang terkenal kerana keteguhan imannya, cendas akal, tinggi akhlak,  lemah lembut dan penyantun. Rasulullah S.A.W. pernah menyanjungi  sahabatnya itu dengan sabdanya, "Jika ditimbang iman Abu Bakar Al-Siddiq  dengan iman sekelian ummat maka berat lagi iman Abu Bakar. Demikian  teguhnya iman Saiyidina Abu Bakar R.A. demi apakala kita memperhatikan  pengertian yang terkandung pada sabda Rasulullah S.A.W. mengenai dirinya  itu. Gelaran AlSiddiq yang dibenikan orang terhadap diri Saiyidina Abu  Bakar R.A. adalah lantaran memandang sikap serta pendiriannya yang teguh  dalam membenarkan serta membela diri Rasulullah S.A.W. Andainya  sekelian ummat manusia akan mendustakan Muhammad S.A.W. Abu Bakar R.A.  akan pasti pula tampil dengan penuh keyakinan untuk membelanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Tidak  beberapa lama setelah memeluk agama Islam, Saiyidina Abu Bakar yang  terkenal sebagai saudagar yang kaya itu telah meninggalkan  perdagangannya dan meninggalkan semua usaha peribadi lain-lainnya lalu  menyerahkan segenap kekayaan dan jiwa raganya untuk melakukan penjuangan  menegakkan Islam bersama Nabi Muhammad S.A.W. sehingga oleh kerana  kegiatannya maka Agama Islam mendapat kemegahan dengan Islamnya beberapa  pemuda Quraisy yang lain seperti yang telah disebutkan itu. Beliau  telah mengorbankan seluruh hanta bendanya untuk menebus orang-orang yang  ditawan, orang-orang yang ditangkap atau disiksa. Selain danpada itu  beliau juga telah membeli hamba-hamba yang kemudian dimerdekakannya.  Salah seorang hamba yang dibelinya lalu kemudian dibebaskan yang paling  terkenal dalam sejarah ialah Bilal Bin Rabah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Tatkala  Nabi Muhammad selesai melakukan Isra' dan Mikraj segolongan orang yang  kurang mempercayai apa yang telah dikhabarkan Rasulullah S.A.W. telah  pergi menemui Saiyidina Abu Bakan R.A. untuk mendengarkan apa  pendapatnya tentang dakwaan Muhammad S.A.W.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;itu. Tujuan  kedatangan mereka mendapatkan Abu Bakar R.A. tidak lain dengan prasangka  tentunya Abu Bakar R.A. kali ini akan mendustakan kisah yang tidak  masuk akal pada fikiran mereka itu. Setelah pertanyaan itu disampaikan  kepada Abu Bakar R.A. lalu beliau pun berkata, "Adakah Muhammad berkata  begitu? Sahut mereka, "Benar! Maka ujar Saiyidina Abu Bakar R.A. "Jika  Muhammad berkata begitu maka sungguh benarlah apa yang diceritakan itu.  Lalu mereka pun terus menyambung, "Engkau percaya hai Abu Bakar bahawa  Muhammad sampai ke tanah Syam lebih sebulan perjalanan pulang, di malam  semalam tadi? Maka sahut Abu Bakar sungguh-sungguh, "Benar! Aku percaya!  Malah lebih dari itu aku percaya kepadanya. Aku percaya akan berita  dari langit&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yg diberitakannya baik pada waktu siang  mahupun di waktu malam! Demikian hebatnya sambutan sahabat yang paling  utama itu. Kerana tegas dan teguhnya iman beliau terhadap agama yang  dibawa oleh Muhammad dan terhadap apa yang dikhabarkan oleh baginda maka  beliau telah diberi oleh Rasulullah S.A.W. dengan gelaran Al-Siddiq,  entinya yang benar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Dan  memanglah tidak menghairankan sekali sikap Abu Bakar itu. Beliau telah  kenal akan Muhammad S.A.W. bukan sehari dua, melainkan sudah boleh  dikatakan seumur manusia. Beliau tahu bahawa sahabatnya itu berkata  benar, tak pernah bohong; orang amin. Mustahil baginda akan khianat  kepada pengikutnya yang pencaya kepadanya. Beliau mengimani sahabatnya  itu Pesuruh Allah Yang Maha Kuasa, menerima wahyu danipada Tuhannya.  Beliau sudah bertahun-tahun mengikutkan petunjuk yang diwahyukan oleh  Allah kepada sahabatnya itu maka telah teguhlah iman dalam hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Tatkala  keadaan kekejaman orang-orang musynikin Quraisy terhadap kaum Muslimin  yang sedikit jumlahnya di Mekah semakin hebat dan membahayakan, Nabi  Muhammad S.A.W. telah mengadakan permusyuaratan di rumah Saiyidina Abu  Bakar R.A. untuk mencari jalan keluar daripada kesulitan yang sedang  dihadapi oleh pihak kaum Muslimin. Ketika itulah Rasulullah S.A.W.  menjelaskan kepada Saiyidina Abu Bakar R.A. bahawa Allah S.W.T. telah  memerintahkan baginda supaya melakukan hijrah ke Madinah serta meminta  Saiyidina Abu Bakar R.A. supaya menemaninya dalam peristiwa hijrah  tersebut. Dengan perasaan gembira tanpa sedikit kebimbanganpun Saiyidina  Abu Bakar R.A. menyambut permintaan Rasulullah S.A.W.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Dari  pintu belakang rumah Saiyidina Abu Bakar R.A. Rasulullah S.A.W.  bersama-sama Saiyidina Abu Bakar menuju ke Gunung Tsaur dan bersembunyi  di gua yang diberi nama Gua Tsaur. Pada saat suasana amat kritis,  Saiyidina Abu Bakar R.A. diserang rasa kegelisahan dan cemas kerana  khuatir kalau-kalau musuh dapat mengetahui di mana Rasulullah sedang  bensembunyi, maka pada saat itu turun ayat suci Al Quran dari Surah  Taubah yang isinya memuji Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq, sebagai orang  kedua sesudah Nabi s,a.w. dalam Gua Tsaur. Dalam pada itu Rasulullah  S.A.W. pun mengerti akan situasi dan kegelisahan sahabatnya itu yang  oleh kerananya Rasul berkata, "Apakah yang menggelisahkanmu, bukankah  Allah menemani kita?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Kemudian  Rasulullah S.A.W., diriwayatkan berkata selanjutnya untuk menghilangkan  kebimbangan Saiyidina Abu Bakar, "Kiranya mereka masuk juga ke dalam  gua ini kita masih dapat melepaskan diri dari pintu belakang itu, ujar  Rasul sambil menunjukkan ke belakang mereka. Saiyidina Abu Bakar R.A.  pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya beliau bila dilihatnya pintu  belakang yang ditunjuk oleh Rasul itu, padahal pintu tersebut tadinya  tidak ada sama sekali. Sebenarnya kebimbangan Abu Bakar R.A. tatkala di  dalam gua itu bukanlah kerana takutkan nyawanya akan diragut oleh pihak  musuh tetapi yang lebih dibimbangkannya ialah keselamatan jiwa baginda  Rasul. Beliau pernah berkata, "Yang saya bimbangkan bukanlah mengenai  diri saya sendiri, kalau saya terbunuh, yang tewas hanyalah seorang  manusia biasa. Tapi andaikata tuan sendiri dapat dibunuhnya maka yang  akan hancur ialah satu cita-cita yang suci murni. Yang akan runtuh ialah  keadilan dan yang akan tegak pula ialah kezaliman.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Ucapan  antara dua orang sahabat tatkala dalam gua itu ada tersebut dalam Al  Quran dalam Surah Al Baqarah ayat 40: "Kalau kamu tidak menolongnya  (Muhammad) ketika dia diusir oleh orang-orang kafir (dan kampung  halamannya), dalam keadaan berdua orang sahaja di dalam suatu gua, Di  kala itu dia (Muhammad) berkata kepada sahabat karibnya (Abu Bakar):  Jangan engkau berdukacita; sesungguhnya Tuhan bersama kita. Tuhan  menurunkan ketenanganNya kepadanya, dan dikuatkannya dengan tentera yang  tidak kamu lihat. Dan Tuhan menjadikan perkataan orang yang kafir itu  paling rendah dan perkataan Tuhan itu yang amat tinggi. Dan Tuhan Maha  Kuasa dan Bijaksana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Demikian  satu lagi keistimewaan Saiyidina Abu Bakar AL Siddiq sebagai seorang  sahabat yang sama-sama mengalami kesukaran dan kepahitan bersama-sama  Rasulullah dalam menyampaikan seruan Islam. Saiyidina Abu Bakar R.A.  tidak bercerai jauh dengan baginda Rasul sepanjang hidupnya dan  menyertai semua peperangan yang dihadapi oleh baginda. Beliau bukan  sahaja berjuang menegakkan Agama Islam dengan segenap jiwa raganya  bahkan juga dengan harta kekayaannya. Sungguh beliaulah yang paling  banyak sekali berkorban harta untuk menegakkan Agama Islam. Bahkan  seluruh kekayaannya telah habis dipergunakannya untuk kepentingan  penjuangan menegakkan kalimah Allah. Di kalangan para sahabat beliaulah  tergolong orang yang paling murah hati dan dermawan sekali.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Dalam  Perang Tabuk misalnya, Rasulullah S.A.W. telah meminta kepada sekelian  kaum Muslimin agar mengorbankan hartanya pada jalan Allah. Tiba-tiba  datanglah Saiyidina Abu Bakar R.A. membawa seluruh harta bendanya lalu  meletakkannya di antara dua tangan baginda Rasul. Melihat banyaknya  harta yang dibawa oleh Saiyidina Abu Bakar R.A., bagi tujuan jihad itu  maka Rasulullah S.A.W. menjadi terkejut lalu berkata kepadanya:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Hal  sahabatku yang budiman, kalau sudah semua harta bendamu kau korbankan  apa lagi yang akan engkau tinggalkan buat anak-anak dan isterimu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Pertanyaan  Rasulullah S.A.W. itu dijawab oleh Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dengan  tenang sambil tersenyum, ujarnya. "Saya tinggalkan buat mereka Allah  dan RasulNya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Demikianlah  kehebatan jiwa Saiyidina Abu Bakar AlSiddiq, suatu contoh kemurahan  hati yang memang tidak dijumpai bandingannya di dunia. Memandangkan  besarnya pengorbanan beliau terhadap Islam maka wajarlah kalau  Rasulullah bersabda bahawa tegaknya Agama Islam itu adalah lantaran  hanta benda Siti Khadijah dan juga Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq.  Tepatlah juga tatkala baginda bersabda bahawa kiranya iman seluruh ummat  ditimbang bersama iman Saiyidina Abu Bakar R.A. maka berat lagi iman  Saiyidina Abu Bakar R.A. Beliau memang manusia luar biasa kebesarannya  yang telah ditakdirkan oleh Allah S.W.T. untuk menjadi teman akrab  Rasulullah s.a.w&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Pada  suatu ketika di saat Rasulullah membaca khutbah yang antara lain  menyatakan bahawa kepada seseorang hamba Allah ditawarkan untuk memilih  dunia dan memilih ganjaran yang tersedia di sisi Allah, dan hamba Allah  tersebut tidak akan memilih dunia, melainkan memilih apa yang tersedia  di sisi Tuhan... Maka ketika meñdengar khutbah Nabi demikian itu  Saiyidina Abu Bakar R.A. lalu menangis tersedu-sedu, kenana sedih dan  terharu sebab beliau mendengar dan mengerti bahawa yang dimaksud dalam  isi khutbah tersebut ialah bahawa umur kehidupan Rasul di dunia ini  sudah hampir berakhir. Demikian kelebihan Saiyidina Abu Bakar R.A. di-  banding dengan para sahabat yang lain kerana beliaulah yang mengetahui  bahawa umur Rasul hampir dekat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Keunggulan  beliau dapat dilihat dengan jelas selepas wafatnya Rasulullah S.A.W. di  kala mana ummat Islam hampir-hampir menjadi panik serta tidak percaya  kepada kewafatannya. Bahkan sahabat besar Saiyidina Umar Al Khattab  sendiri telah diselubungi kekacauan fikiran dan tampil ke muka umum  sambil mencabar dan mengugut sesiapa sahaja yang berani mengatakan  baginda telah wafat. Ujar Umar r.a., "Rasulullah tidak wafat, dia hanya  pergi menghadap Allah sahaja seperti perginya Nabi Musa yang telah  menghilangkan diri dan kaumnya selama empat puluh hari, kemudian pulang  semula kepada kaumnya setelah diheboh-hebohkan wafatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Ketika  kegawatan itu berlaku Saiyidina Abu Bakar sedang berada di suatu  kampung Al-Sunnah. Tatkala berita kewafatan Rasulullah itu sampai  kepadanya, beliau dengan segera menuju ke Madinah. Di sana beliau dapati  ramai orang sedang benkumpul mendengarkan pidato Saiyidina Umar Al  Khattab tadi. Tanpa lengah-lengah lagi Saiyidina Abu Bakar terus ke  rumah puterinya Siti Aisyah dan di sanalah beliau dapati tubuh  Rasulullah S.A.W. terbujur di satu sudut rumah. Beliau lantas membuka  wajah Rasulullah dan mengucupkannya, sambil benkata, "Wahai, betapa  cantiknya engkau ketika hidup dan betapa cantiknya engkau ketika mati!  Kemudian beliau pun keluar mendapatkan orang ramai yang sedang dalam  panik itu lalu berkata dengan nada yang keras:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Wahai  kaum Muslimin! Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad  telah mati. Tetapi barang siapa yang menyembah Allah maka Allah  selama-lamanya hidup tidak mati. Seraya menyambung membacakan sepotong  ayat dari Al Qur'an:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Muhammad  itu tidak lebih dari seorang rasul seperti rasul-rasul yang terdahulu  darinya. Jika ia mati atau terbunuh patutkah kamu berundur ke belakang.  Sesiapa yang surut ke belakang, dia tidak akan membahayai Allah sedikit  pun dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang  bersyukur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Sejurus  sahaja mendengar ayat itu, Saiyidina Umar Al Khattab pun terus rebah  hingga barulah beliau dan orang ramai Islam yang telah mendengar  pidatonya tadi mendapat kepastian bahawa Rasulullah sudah wafat. Kaum  Muslimin tentunya telah pernah dengar ayat ini sebelumnya, kerana ayat  itu telah turun semasa peperangan Uhud, ketika Rasulullah S.A.W. telah  diberitakan mati terkorban dan menyebabkan banyak pejuang-pejuang Islam  berundur ke Madinah. Tetapi mereka tidaklah memahami maksud ayat ini  seperti yang difahami oleh Saiyidina Abu Bakar R.A. Ini jelas  membuktikan kecerdasan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq dalam memahami  Islam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Ketika  Rasulullah S.A.W. wafat, baginda memang tidak meninggalkan pesan tentang  siapa yang patut menggantikan baginda sebagai Khalifah ummat Islam.  Tetapi setelah lama berbincang kaum Muslimin dengan suara ramai memilih  Saiydina Abu Bakar Al-Siddiq sebagai Khalifah setelah namanya itu  dicalunkan oleh Saiyidina Umar Ibnul Khattab R.A. Pemilihan ini tentulah  tepat sekali kerana pada pandangan kaum Muslimin memang beliaulah yang  paling layak sekali memegang kedudukan itu memandangkan  kelebihan-kelebihannya dari para sahabat yang lain. Apatah lagi  beliaulah yang pernah ditunjuk oleh baginda Rasul semasa hayatnya untuk  menggantikan baginda sebagai imam sembahyang tatkala baginda sedang  uzur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Setelah  dipilih oleh sebahagian besar ummat ketika itu Saiyidina Abu Bakar  Al-Siddiq pun memberikan ucapannya yang terkenal yang antara lainnya  baginda berkata:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Wahai  sekelian ummat! Aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku ini  bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Sebab itu jika  pemerintahanku baik, maka sokonglah, tetapi jika tiada baik, maka  perbaikilah. Orang yang lemah di antara kamu adalah kuat pada sisiku  hingga aku harus menolongnya mendapatkan haknya, sedang orang yang kuat  di antara kamu adalah lemah pada sisiku, hingga aku harus mengambil hak  orang lain yang berada di sisi nya, untuk dikembalikan kepada yang  berhak semula. Patuhilah kepadaku selama aku patuh kepada Allah dan  RasulNya. Akan tetapi jika aku mendurhakai Allah, maka kamu sekelian tak  harus lagi patuh kepadaku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Aku  dipilih untuk memimpin urusan ini padahal aku enggan menerimanya. Demi  Allah aku ingin benar kalau ada di antaramu orang yang cekap untuk  urusan ini. Ketahuilah jika kamu meminta kepadaku agar aku berbuat  sebagai yang telah dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. sungguh aku tidak  dapat memperkenankannya, Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang  dapat kurnia wahyu dari Tuhan, kerana itu baginda terpelihara dari  kesalahan-kesalahan, sedang aku ini hanyalah manusia biasa yang tidak  ada kelebihannya dari seorangpun juga di antara kamu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Ini  adalah satu pembaharuan dalam pemerintahan yang belum pernah dikenali  oleh rakyat jelata kerajaan Rome dan Parsi yang memerintah dunia barat  dan timur ketika itu. Baginda telah mematuhi manifesto politiknya.  Baginda hidup seperti rakyat biasa dan sangat tidak suka didewa-dewakan.  Adalah diriwayatkan bahawa pada satu masa ada orang memanggilnya, "Ya  Khalifah Allah! Baginda dengan segera memintas cakap orang itu dengan  katanya:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Saya bukan Khalifah Allah, saya hanya Khalifah RasulNya!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Adalah  diriwayatkan bahawa pada keesokan harinya iaitu sehari setelah baginda  terpilih sebagai Khalifah, Saiyidina Abu Bakar R.A. kelihatan membawa  barang perniagaannya ke pasar. Beberapa orang yang melihat itu lalu  mendekati baginda, di antaranya Abu Ubaidah Bin Janrah. Sahabat besar  itu mendekati baginda seraya berkata, "Urusan Khalifah itu tidak boleh  dicampuri dengan berniaga! Lalu Abu Bakar R.A. bertanya, "Jadi dengan  apakah aku hidup, dan bagaimana aku membelanjai rumah tanggaku? Demikian  sedihnya nasib yang menimpa Saiyidina Abu Bakar R.A. sebab walaupun  kedudukannya sebagai Kepala Negara namun belum ada lagi ketetapan untuk  bagi seseorang kepala pemenintah Islam memperolehi gaji dari harta  kerajaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Keadaan  ini mendapat perhatian dari para sahabat lalu mereka menentukan  tunjangan secukupnya buat baginda dan buat keluarga baginda yang diambil  dari Baitul Mal. Kemudian itu baharulah Khalifah Abu Bakar meninggalkan  usaha perniagaannya kerana hendak memusatkan seluruh tenaganya untuk  mengembangkan agama Islam dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai  seorang Khalifah. Semasa hertugas sebagai Khalifah ummat Islam baginda  hanya menerima peruntukan sebanyak enam ribu dirham sahaja setahun iaitu  kira-kira lebih kurang 1,200 dolar sahaja setahun. Peruntukan itu tidak  dibelanjakannya untuk keperluan dirinya malahan sebelum wafatnya  baginda telah memerntahkan supaya pendapatannya itu diserahkan kembali  kepada Baitul Mal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Kebijaksanaan  Abu Bakar R.A. juga ternyata dalam polisinya menyamakan pemberian elaun  kepada orang-orang yang berhak agar mereka tidak dipisahkan oleh  jurang-jurang perbezaan yang jauh agar tidak lahir satu golongan yang  mendapat kedudukan yang lebih istimewa dan golongan-golongan yang lain.  Sedangkan baginda sendiri hanya mengambil sekadar keperluan-keperluan  asasi buat diri dan keluarganya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Sebelum  baginda wafat, kepada Saiyidina Umar Al Khattab baginda telah  mewasiatkan agar jangan menghiraukan jenazahnya nanti bila baginda  pulang ke rahmatullah, melainkan haruslah dia segera mengirim bala  tentera ke Iraq untuk membantu Al Muthanna yang sedang bertempur di Iraq  itu. Saiyidina Abu Bakar R.A. tidak lupa mengingatkan Saiyidina Umar  R.A. apa yang dikerjakannya di waktu Rasulullah wafat dan bagaimana  cintanya kepada Rasul dan perhatiannya kepada jenazah baginda yang suci  itu tidak mengabaikannya dan melaksanakan kewajipan biarpun yang  demikian itu amat berat bagi jiwanya. Dengarlah antara lain kata-katanya  kepada Umar Ibnul Khattab R.A.:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;"Dengarlah  hai Umar! Apa yang akan kukatakan ini dan laksanakanlah. Aku mengharap  akan kembali ke hadrat Allah hari ini sebab itu sebelum matahari terbit  pada esok hari engkau hendaknya telah mengirim bala hantuan kepada Al  Muthanna. Janganlah hendaknya sesuatu bencana bagaimana pun besarnya  dapat melupakan kamu dan urusan agama dan wasiat Tuhan. Engkau telah  melihat apa yang telah ku lakukan tatkala Rasulullah wafat sedang  wafatnya Rasulullah itu adalah satu bencana yang belum pernah manusia  ditimpa bencana yang sebesar itu. Demi Allah, andaikata di waktu itu aku  melalaikan perintah Allah dan RasulNya, tentu kita telah jatuh dan  mendapat siksaan Allah, dan pasti pula kota Madinah ini telah jadi  lautan api.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Dalam  masa pemerintahannya yang singkat Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq yang  memerintah hanya dalam masa dua tahun sahaja itu telah meletakkan asas  pembangunan sebuah pemenintahan Islam yang teguh dan kuat setelah  berjaya mengatasi berbagai macam masalah dalam negeri dengan segala  kebijaksanaan dan kewibawaannya. Baginda telah memenuhi segenap  janji-janjinya dan dalam masa dua tahun pemerintahannya itu telah  terbentuk rantai sejarah Islam yang merupakan lembaran-lembaran yang  abadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; text-align: justify;"&gt;Sungguh  kehidupan Saiyidina Abu Bakar Al-Siddiq adalah penuh dengan nasihat,  penuh dengan ajaran serta kenang-kenangan yang indah mulia. Selama dua  tahun pemerintahannya itu baginda telah berjaya menyusun tiang-tiang  pokok dan kekuatan Islam. Baginda telah membangunkan kekuatan-kekuatan  yang penting bagi memelihara kepercayaan kaum Muslimin dan bagi  memelihara keagungan Agama Islam. Bahkan baginda telah mengakhiri  riwayat pemerintahan yang dipimpinnya dengan menundukkan sebahagian  daripada negeri Syam dan sebahagian daripada negeri Iraq, lalu pulang ke  rahmatullah dengan dada yang lapang, ketika umur baginda menginjak 63  tahun. Baginda dikebumikan di samping makam Rasulullah S.A.W. di Masjid  Madinah. Semoga riwayat serta penjuangan baginda menjadi contoh ibadat  yang murni bagi sekelian kaum Muslimin.&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item></channel></rss>