<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068</atom:id><lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 07:34:27 +0000</lastBuildDate><title>tour de java</title><description>&amp;quot;VISIT INDONESIA YEAR 2009&amp;quot; : Pariwisata Jogja &amp;amp; Jateng memang sungguh menarik, mari kita kaji bareng dan simak dengan seksama melalui blog ini.</description><link>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/</link><managingEditor>tourdejava@gmail.com (tourdejava)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/vhjs" /><feedburner:info uri="blogspot/vhjs" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Sports &amp; Recreation</media:category><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Religion &amp; Spirituality/Islam</media:category><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Society &amp; Culture/Places &amp; Travel</media:category><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Games &amp; Hobbies/Hobbies</media:category><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Kids &amp; Family</media:category><itunes:owner><itunes:email>www.tourdejava@gmail.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>&amp;quot;VISIT INDONESIA YEAR 2009&amp;quot; : Pariwisata Jogja &amp;amp; Jateng memang sungguh menarik, mari kita kaji bareng dan simak dengan seksama melalui blog ini.</itunes:subtitle><itunes:category text="Sports &amp; Recreation" /><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam" /></itunes:category><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="Places &amp; Travel" /></itunes:category><itunes:category text="Games &amp; Hobbies"><itunes:category text="Hobbies" /></itunes:category><itunes:category text="Kids &amp; Family" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-6920151369958239022</guid><pubDate>Thu, 22 Apr 2010 04:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-22T11:53:53.076+07:00</atom:updated><title>Situs Liyangan Diperkirakan Permukiman Zaman Mataram Kuno</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/S8_V2feE_8I/AAAAAAAAArY/8dIGE-idYJA/s1600/2429638240-situs-liyangan-diperkirakan-permukiman-zaman-mataram-kuno.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 330px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/S8_V2feE_8I/AAAAAAAAArY/8dIGE-idYJA/s320/2429638240-situs-liyangan-diperkirakan-permukiman-zaman-mataram-kuno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462820005161009090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;[Situs Liyangan Diperkirakan Permukiman Zaman Mataram Kuno] Situs Liyangan Diperkirakan Permukiman Zaman Mataram Kuno.


Temanggung (ANTARA) - Situs Liyangan yang ditemukan tahun 2008 di kawasan penambangan pasir Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jateng diperkirakan merupakan sebuah permukiman atau perdusunan zaman Mataram Kuno.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Kabupaten Temanggung, Bekti Prijono, di Temanggung, Rabu, mengatakan, hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta memperkirakan situs tersebut bukan merupakan candi besr tetapi sebuah perdusunan Mataram Kuno.

Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang dipimpin Baskoro telah melakukan penelitian pada 14-20 April 2010 di situs Liyangan.

Dugaan bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena ditemukan sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu.

Bekti menyebutkan, penemuan pertama berupa talud, yoni, arca, dan batu-batu candi. Penemuan selanjutnya sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang.

Temuan terakhir yang spektakuler, katanya, berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 m.

Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya.

Ia mengatakan, tim Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Hal ini berdasarkan pada lokasi yang dekat dengan temuan candi Hindu yang berada di sebelah barat pada jarak sekitar 50 meter.

"Ditemukannya profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi diperkirakan candi ini berasal dari abad sembilan Masehi. Diperkirakan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman," katanya.

Secara umum, katanya, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk.

Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi.

"Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. Indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, dan situs pertanian," katanya.
&lt;/div&gt;Sumber : Antara 21 april 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-6920151369958239022?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/uEDTeE-H4ck/situs-liyangan-diperkirakan-permukiman.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/S8_V2feE_8I/AAAAAAAAArY/8dIGE-idYJA/s72-c/2429638240-situs-liyangan-diperkirakan-permukiman-zaman-mataram-kuno.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><media:content url="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~5/LXiHMB1V-lU/2429638240-situs-liyangan-diperkirakan-permukiman-zaman-mataram-kuno.jpg" fileSize="8615" type="image/jpeg" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>[Situs Liyangan Diperkirakan Permukiman Zaman Mataram Kuno] Situs Liyangan Diperkirakan Permukiman Zaman Mataram Kuno. Temanggung (ANTARA) - Situs Liyangan yang ditemukan tahun 2008 di kawasan penambangan pasir Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ng</itunes:subtitle><itunes:author>www.tourdejava@gmail.com</itunes:author><itunes:summary>[Situs Liyangan Diperkirakan Permukiman Zaman Mataram Kuno] Situs Liyangan Diperkirakan Permukiman Zaman Mataram Kuno. Temanggung (ANTARA) - Situs Liyangan yang ditemukan tahun 2008 di kawasan penambangan pasir Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jateng diperkirakan merupakan sebuah permukiman atau perdusunan zaman Mataram Kuno. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Kabupaten Temanggung, Bekti Prijono, di Temanggung, Rabu, mengatakan, hasil penelitian tim Balai Arkeologi Yogyakarta memperkirakan situs tersebut bukan merupakan candi besr tetapi sebuah perdusunan Mataram Kuno. Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta yang dipimpin Baskoro telah melakukan penelitian pada 14-20 April 2010 di situs Liyangan. Dugaan bahwa situs tersebut sebuah perdusunan karena ditemukan sisa-sisa rumah berbahan kayu dan bambu. Bekti menyebutkan, penemuan pertama berupa talud, yoni, arca, dan batu-batu candi. Penemuan selanjutnya sebuah bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat sebuah yoni yang unik, tidak seperti umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang. Temuan terakhir yang spektakuler, katanya, berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 m. Selain itu juga ditemukan satu unit rumah kayu lain yang saat ini baru tampak pada bagian atapnya. Ia mengatakan, tim Balai Arkeologi memperkirakan kedua unit rumah itu merupakan bangunan rumah masa Mataram Kuno. Hal ini berdasarkan pada lokasi yang dekat dengan temuan candi Hindu yang berada di sebelah barat pada jarak sekitar 50 meter. "Ditemukannya profil klasik Jawa Tengah pada kaki candi diperkirakan candi ini berasal dari abad sembilan Masehi. Diperkirakan bangunan rumah tersebut berada dalam satu kompleks dengan candi dan kemungkinan merupakan satu zaman," katanya. Secara umum, katanya, potensi data arkeologi situs Liyangan tergolong tinggi berdasarkan indikasi, antara lain luas situs dan keragaman data berupa bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk. Selain itu, juga diperoleh informasi berupa struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi. "Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks. Indikasi sebagai situs permukiman, situs ritual, dan situs pertanian," katanya. Sumber : Antara 21 april 2010</itunes:summary><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2010/04/situs-liyangan-diperkirakan-permukiman.html</feedburner:origLink><enclosure url="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~5/LXiHMB1V-lU/2429638240-situs-liyangan-diperkirakan-permukiman-zaman-mataram-kuno.jpg" length="8615" type="image/jpeg" /><feedburner:origEnclosureLink>http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/S8_V2feE_8I/AAAAAAAAArY/8dIGE-idYJA/s1600/2429638240-situs-liyangan-diperkirakan-permukiman-zaman-mataram-kuno.jpg</feedburner:origEnclosureLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-5170779038993515088</guid><pubDate>Tue, 20 Apr 2010 16:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-20T23:43:49.400+07:00</atom:updated><title>Game Pentjak Silat</title><description>&lt;object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=5,0,0,0" width="481" height="481"&gt; &lt;param name="movie" value="http://www.dailyfreegames.com/images/files/Pencaksilat Game.swf?gameid="&gt; &lt;param name="quality" value="high"&gt; &lt;embed src="http://www.dailyfreegames.com/images/files/Pencaksilat%20Game.swf?gameid=" quality="high" type="application/x-shockwave-flash" pluginspage="http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi?P1_Prod_Version=ShockwaveFlash" width="400" height="281"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;
&lt;b&gt;Hosted by &lt;a href="http://www.dailyfreegames.com/"&gt;Daily Free Games&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-5170779038993515088?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/ssRzwXPCRcA/game-pentjak-silat.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2010/04/game-pentjak-silat.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-7175577638915359283</guid><pubDate>Tue, 20 Apr 2010 10:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-20T17:40:43.714+07:00</atom:updated><title>Kejayaan Nusantara Kuno</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:130%;" &gt;Kejayaan Nusantara Kuno&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="post-body entry-content"&gt;&lt;style&gt;.fullpost{display:inline;}&lt;/style&gt; &lt;p&gt;Masa lampau Indonesia sangat kaya raya. Ini dibuktikan oleh informasi  dari berbagai sumber kuno. Kali ini kami akan membahas kekayaan tiap  pulau yang ada di Indonesia. Pulau-pulau itu akan kami sebutkan menjadi  tujuh bagian besar yaitu Sumatera, Jawa, Kepulauan Sunda kecil,  Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.
&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumatera - Pulau  Emas&lt;/span&gt;
&lt;img style="width: 364px; height: 327px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3ME90eR_DI/AAAAAAAAAUw/FPV094YL0hw/s320/petasumatra.jpg" alt="" border="0" /&gt;
Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut  dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi  (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India  sebelum Masehi. Sumatera juga dikenal sebagai pulau Andalas.

Pada  masa Dinasti ke-18 Fir'aun di Mesir (sekitar 1.567SM-1.339SM), di  pesisir barat pulau sumatera telah ada pelabuhan yang ramai, dengan nama  Barus. Barus (Lobu Tua - daerah Tapanuli) diperkirakan sudah ada sejak  3000 tahun sebelum Masehi. Barus dikenal karena merupakan tempat asal  kapur barus. Ternyata kamper atau kapur barus digunakan sebagai salah  satu bahan pengawet mummy Fir'aun Mesir kuno.

Di samping Barus,  di Sumatera terdapat juga kerajaan kuno lainnya. Sebuah manuskrip Yahudi  Purba menceritakan sumber bekalan emas untuk membina negara kota  Kerajaan Nabi Sulaiman diambil dari sebuah kerajaan purba di Timur Jauh  yang dinamakan Ophir. Kemungkinan Ophir berada di Sumatera Barat. Di  Sumatera Barat terdapat gunung Ophir. Gunung Ophir (dikenal juga dengan  nama G. Talamau) merupakan salah satu gunung tertinggi di Sumatera  Barat, yang terdapat di daerah Pasaman. Kabarnya kawasan emas di  Sumatera yang terbesar terdapat di Kerajaan Minangkabau. Menurut sumber  kuno, dalam kerajaan itu terdapat pegunungan yang tinggi dan mengandung  emas. Konon pusat Kerajaan Minangkabau terletak di tengah-tengah galian  emas. Emas-emas yang dihasilkan kemudian diekspor dari sejumlah  pelabuhan, seperti Kampar, Indragiri, Pariaman, Tikus, Barus, dan Pedir.  Di Pulau Sumatera juga berdiri Kerajaan Srivijaya yang kemudian  berkembang menjadi Kerajaan besar pertama di Nusantara yang memiliki  pengaruh hingga ke Thailand dan Kamboja di utara, hingga Maluku di  timur.

Kini kekayaan mineral yang dikandung pulau Sumatera banyak  ditambang. Banyak jenis mineral yang terdapat di Pulau Sumatera selain  emas. Sumatera memiliki berbagai bahan tambang, seperti batu bara, emas,  dan timah hitam. Bukan tidak mungkin sebenarnya bahan tambang seperti  emas dan lain-lain banyak yang belum ditemukan di Pulau Sumatera.  Beberapa orang yakin sebenarnya Pulau Sumatera banyak mengandung emas  selain dari apa yang ditemukan sekarang. Jika itu benar maka Pulau  Sumatera akan dikenal sebagai pulau emas kembali.

&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawa - Pulau Padi&lt;/span&gt;
&lt;img style="width: 398px; height: 278px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3MEpC1E2zI/AAAAAAAAAUI/dLmOLeir8xY/s320/petajawa.jpg" alt="" border="0" /&gt;
Dahulu Pulau Jawa dikenal dengan nama JawaDwipa.  JawaDwipa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "Pulau Padi" dan  disebut dalam epik Hindu Ramayana. Epik itu mengatakan "Jawadwipa,  dihiasi tujuh kerajaan, Pulau Emas dan perak, kaya dengan tambang emas",  sebagai salah satu bagian paling jauh di bumi. Ahli geografi Yunani,  Ptolomeus juga menulis tentang adanya “negeri Emas” dan “negeri Perak”  dan pulau-pulau, antara lain pulau “”Iabadiu” yang berarti “Pulau Padi”.
Ptolomeus  menyebutkan di ujung barat Iabadiou (Jawadwipa) terletak Argyre  (kotaperak). Kota Perak itu kemungkinan besar adalah kerajaan Sunda  kuno, Salakanagara yang terletak di barat Pulau Jawa. Salakanagara dalam  sejarah Sunda (Wangsakerta) disebut juga Rajatapura. Salaka diartikan  perak sedangkan nagara sama dengan kota, sehingga Salakanagara banyak  ditafsirkan sebagai Kota perak.

Di Pulau Jawa ini juga berdiri  kerajaan besar Majapahit. Majapahit tercatat sebagai kerajaan terbesar  di Nusantara yang berhasil menyatukan kepulauan Nusantara meliputi  Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara,  Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Dalam catatan Wang  Ta-yuan, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain,  dan burung kakak tua. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah  putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan kunjungan biarawan  Roma tahun 1321, Odorico da Pordenone, menyebutkan bahwa istana Raja  Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

Menurut  banyak pakar, pulau tersubur di dunia adalah Pulau Jawa. Hal ini masuk  akal, karena Pulau Jawa mempunyai konsentrasi gunung berapi yang sangat  tinggi. Banyak gunung berapi aktif di Pulau Jawa. Gunung inilah yang  menyebabkan tanah Pulau Jawa sangat subur dengan kandungan nutrisi yang  di perlukan oleh tanaman.
Raffles pengarang buku The History of Java  merasa takjub pada kesuburan alam Jawa yang tiada tandingnya di belahan  bumi mana pun. “Apabila seluruh tanah yang ada dimanfaatkan,” demikian  tulisnya, “bisa dipastikan tidak ada wilayah di dunia ini yang bisa  menandingi kuantitas, kualitas, dan variasi tanaman yang dihasilkan  pulau ini.”

Kini pulau Jawa memasok 53 persen dari kebutuhan  pangan Indonesia. Pertanian padi banyak terdapat di Pulau Jawa karena  memiliki kesuburan yang luar biasa. Pulau Jawa dikatakan sebagai lumbung  beras Indonesia. Jawa juga terkenal dengan kopinya yang disebut kopi  Jawa. Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk  budidaya kopi. Jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin ataupun Afrika.
Hasil  pertanian pangan lainnya berupa sayur-sayuran dan buah-buahan juga  benyak terdapat di Jawa, misalnya kacang tanah, kacang hijau, daun  bawang, bawang merah, kentang, kubis, lobak, petsai, kacang panjang,  wortel, buncis, bayam, ketimun, cabe, terong, labu siam, kacang merah,  tomat, alpokat, jeruk, durian, duku, jambu biji, jambu air, jambu bol,  nenas, mangga, pepaya, pisang, sawo, salak,apel, anggur serta rambutan.  Bahkan di Jawa kini dicoba untuk ditanam gandum dan pohon kurma. Bukan  tidak mungkin jika lahan di Pulau Jawa dipakai dan diolah secara  maksimal untuk pertanian maka Pulau Jawa bisa sangat kaya hanya dari  hasil pertanian.

&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepulauan Sunda  kecil (Bali, NTB dan NTT) - Kepulauan Wisata&lt;/span&gt;
&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3ME-bcNHNI/AAAAAAAAAU4/GX-2BY7q0T8/s320/petasundakecil.jpg" alt="" border="0" /&gt;
Ptolemaeus menyebutkan, ada tiga buah pulau yang  dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India. Berdasarkan  informasi itu kemudian ahli-ahli ilmu bumi Eropa menggunakan kata Sunda  untuk menamai wilayah dan beberapa pulau di timur India. Sejumlah pulau  yang kemudian terbentuk di dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan  istilah Sunda pula yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda  Kecil. Kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau besar yang terdiri  dari Sumatera, Jawa, Madura dan Kalimantan. Sedangkan Sunda Kecil  merupakan gugusan pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, dan Timor.

Daerah  Kepulauan Sunda kecil ini dikenal sebagai daerah wisata karena  keindahan alamnya yang menakjubkan. Sejak dulu telah ada yang berwisata  ke daerah ini. Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke  Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi  keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti  di Bali datang sekitar abad 11. Pada tahun 1920 wisatawan dari Eropa  mulai datang ke Bali. Bali di Eropa dikenal juga sebagai the Island of  God.

Di Tempat lain di Kepulauan Sunda Kecil tepatnya di daerah  Nusa Tenggara Barat dikenal dari hasil ternaknya berupa kuda, sapi, dan  kerbau. Kuda Nusa tenggara sudah dikenal dunia sejak ratusan tahun  silam. Abad 13 M Nusa Tenggara Barat telah mengirim kuda-kuda ke Pulau  Jawa. Nusa Tenggara Barat juga dikenal sebagai tempat pariwisata  raja-raja. Raja-raja dari kerajaan Bali membangun Taman Narmada pada  tahun 1727 M di daerah Pulau Lombok untuk melepas kepenatan sesaat dari  rutinitas di kerajaan.

Daerah Sunda Kecil yang tidak kalah  kayanya adalah Nusa Tenggara Timur, karena di daerah ini terdapat kayu  cendana yang sangat berharga. Cendana adalah tumbuhan asli Indonesia  yang tumbuh di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Cendana dari Nusa Tenggara  Timur telah diperdagangkan sejak awal abad masehi. Sejak awal abad  masehi, banyak pedagang dari wilayah Indonesia bagian barat dan Cina  berlayar ke berbagai wilayah penghasil cendana di Nusa Tenggara Timur  terutama Pulau Sumba dan Pulau Timor. Konon Nabi Sulaiman memakai  cendana untuk membuat tiang-tiang dalam bait Sulaiman, dan untuk alat  musik. Nabi Sulaiman mengimpor kayu ini dari tempat-tempat yang jauh  yang kemungkinan cendana tersebut berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Kini  Kepulauan Sunda kecil ini merupakan tempat pariwisata yang terkenal di  dunia. Bali merupakan pulau terindah di dunia. Lombok juga merupakan  salah satu tempat terindah di dunia. Sementara itu di Nusa tenggara  Timur terdapat Pulau yang dihuni binatang purba satu-satunya di dunia  yang masih hidup yaitu komodo. Kepulauan Sunda kecil merupakan tempat  yang misterius dan sangat menawan. Kepulauan ini bisa mendapat banyak  kekayaan para pelancong dari seluruh dunia jika dikelola secara  maksimal.

&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kalimantan - Pulau  Lumbung energi&lt;/span&gt;
&lt;img style="width: 391px; height: 319px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3MEpZ193VI/AAAAAAAAAUQ/3XrkSZskBCA/s320/petakalimantan.jpg" alt="" border="0" /&gt;
Dahulu nama pulau terbesar ketiga di dunia ini  adalah Warunadwipa yang artinya Pulau Dewa Laut. Kalimantan dalam  berita-berita China (T’ai p’ing huan yu chi) disebut dengan istilah Chin  li p’i shih. Nusa Kencana" adalah sebutan pulau Kalimantan dalam  naskah-naskah Jawa Kuno. Orang Melayu menyebutnya Pulau Hujung Tanah  (P'ulo Chung). Borneo adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan  Belanda.

Pada zaman dulu pedagang asing datang ke pulau ini  mencari komoditas hasil alam berupa kamfer, lilin dan sarang burung  walet melakukan barter dengan guci keramik yang bernilai tinggi dalam  masyarakat Dayak. Para pendatang India maupun orang Melayu memasuki  muara-muara sungai untuk mencari lahan bercocok tanam dan berhasil  menemukan tambang emas dan intan di Pulau ini.

Di Kalimantan  berdiri kerajaan Kutai. Kutai Martadipura adalah kerajaan tertua  bercorak Hindu di Nusantara. Nama Kutai sudah disebut-sebut sejak abad  ke 4 (empat) pada berita-berita India secara tegas menyebutkan Kutai  dengan nama “Quetaire” begitu pula dengan berita Cina pada abat ke 9  (sembilan) menyebut Kutai dengan sebutan “Kho They” yang berarti  kerajaan besar. Dan pada abad 13 (tiga belas) dalam kesusastraan kuno  Kitab Negara Kertagama yang disusun oleh Empu Prapanca ditulis dengan  istilah “Tunjung Kute”. Peradaban Kutai masa lalu inilah yang menjadi  tonggak awal zaman sejarah di Indonesia.

Kini Pulau Kalimantan  merupakan salah satu lumbung sumberdaya alam di Indonesia memiliki  beberapa sumberdaya yang dapat dijadikan sebagai sumber energi,  diantaranya adalah batubara, minyak, gas dan geothermal. Hutan  Kalimantan mengandung gambut yang dapat digunakan sebagai sumber energi  baik untuk pembangkit listrik maupun pemanas sebagai pengganti batu  bara. Yang luar biasa ternyata Kalimantan memiliki banyak cadangan  uranium yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik tenaga nuklir.  Disamping itu Kalimantan juga memiliki potensi lain yakni sebagai  penyedia sumber energi botani atau terbaharui. Sumber energi botani atau  bioenergi ini adalah dari CPO sawit. Pulau Kalimantan memang sangat  kaya.

&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulawesi - Pulau besi&lt;/span&gt;
&lt;img style="width: 317px; height: 465px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3ME9rLMn4I/AAAAAAAAAUo/V6oZO9QodL8/s320/petasulawesi.jpg" alt="" border="0" /&gt;
Orang Arab menyebut Sulawesi dengan nama  Sholibis. Orang Belanda menyebut pulau ini dengan nama Celebes. Pulau  ini telah dihuni oleh manusia sejak 30.000 tahun yang lalu terbukti  dengan adanya peninggalan purba di Pulau ini. Contohnya lokasi  prasejarah zaman batu Lembah Besoa.

Nama Sulawesi konon berasal  dari kata ‘Sula’ yang berarti pulau dan ‘besi’. Pulau Sulawesi sejak  dahulu adalah penghasil bessi (besi), sehingga tidaklah mengherankan  Ussu dan sekitar danau Matana mengandung besi dan nikkel. Di sulawesi  pernah berdiri Kerajaan Luwu yang merupakan salah satu kerajaan tertua  di Sulawesi. Wilayah Luwu merupakan penghasil besi. Bessi Luwu atau  senjata Luwu (keris atau kawali) sangat terkenal akan keampuhannya,  bukan saja di Sulawesi tetapi juga di luar Sulawesi. Dalam sejarah  Majapahit, wilayah Luwu merupakan pembayar upeti kerajaan, selain  dikenal sebagai pemasok utama besi ke Majapahit, Maluku dan lain-lain.  Menurut catatan yang ada, sejak abad XIV Luwu telah dikenal sebagai  tempat peleburan besi.

Di Pulau Sulawesi ini juga pernah berdiri  Kerajaan Gowa Tallo yang pernah berada dipuncak kejayaan yang terpancar  dari Sombaopu, ibukota Kerajaan Gowa ke timur sampai ke selat Dobo, ke  utara sampai ke Sulu, ke barat sampai ke Kutai dan ke selatan melalui  Sunda Kecil, diluar pulau Bali sampai ke Marege (bagian utara  Australia). Ini menunjukkan kekuasaan yang luas meliputi lebih dari 2/3  wilayah Nusantara.

Selama zaman yang makmur akan perdagangan  rempah-rempah pada abad 15 sampai 19, Sulawesi sebagai gerbang kepulauan  Maluku, pulau yang kaya akan rempah-rempah. Kerajaan besar seperti  Makasar dan Bone seperti yang disebutkan dalam sejarah Indonesia timur,  telah memainkan peranan penting. Pada abad ke 14 Masehi, orang Sulawesi  sudah bisa membuat perahu yang menjelajahi dunia. Perahu pinisi yang  dibuat masyarakat Bugis pada waktu itu sudah bisa berlayar sampai ke  Madagaskar di Afrika, suatu perjalanan mengarungi samudera yang  memerlukan tekad yang besar dan keberanian luar biasa. Ini membuktikan  bahwa suku Bugis memiliki kemampuan membuat perahu yang mengagumkan, dan  memiliki semangat bahari yang tinggi. Pada saat yang sama Vasco da Gama  baru memulai penjelajahan pertamanya pada tahun 1497 dalam upaya  mencari rempah-rempah, dan menemukan benua-benua baru di timur, yang  sebelumnya dirintis Marco Polo.

Sampai saat ini Sulawesi sangat  kaya akan bahan tambang meliputi besi, tembaga, emas, perak, nikel,  titanium, mangan semen, pasir besi/hitam, belerang, kaolin dan bahan  galian C seperti pasir, batu, krikil dan trass. Jika saja dikelola  dengan baik demi kemakmuran rakyat maka menjadi kayalah seluruh orang  Sulawesi.

&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maluku - Kepulauan  rempah-rempah&lt;/span&gt;
&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3MEpi12oBI/AAAAAAAAAUY/0zi3XXEUqek/s320/petamaluku.jpg" alt="" border="0" /&gt;
Maluku memiliki nama asli "Jazirah al-Mulk" yang  artinya kumpulan/semenanjung kerajaan yang terdiri dari  kerajaan-kerajaan kecil. Maluku dikenal dengan kawasan Seribu Pulau  serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang  berlimpah. Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the  east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum  kedatangan Belanda, penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku  ‘Summa Oriental’ yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda  sebagai ‘the spices island’.

Pada masa lalu wilayah Maluku  dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala.  Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan  ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli  kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para  penjelajah sebagai Spice Islands.

Pada 4000 tahun lalu di  kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data  arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni,  kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski  dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi  setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti  cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat  di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad pertengahan (sekitar 1600  Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan  mahal di Eropa, melebihi harga emas.

Selain cengkeh,  rempah-rempah asal Maluku adalah buah Pala. Buah Pala (Myristica  fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan  Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah  dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting pada masa  Romawi. Melihat mahalnya harga rempah-rempah waktu itu banyak orang  Eropa kemudian mencari Kepulauan rempah-rempah ini. Sesungguhnya yang  dicari Christoper Columbus ke arah barat adalah jalan menuju Kepulauan  Maluku, ‘The Island of Spices’ (Pulau Rempah-rempah), meskipun pada  akhirnya Ia justru menemukan benua baru bernama Amerika. Rempah-rempah  adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama  mencapai India dan Maluku.
Kini sebenarnya Maluku bisa kembali  berjaya dengan hasil pertaniannya jika terus dikembangkan dengan baik.  Maluku bisa kaya raya dengan hasil bumi dan lautnya.

&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Papua - Pulau surga&lt;/span&gt;
&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3MEp8qEy0I/AAAAAAAAAUg/bN_kf7dZWms/s320/petapapua.jpg" alt="" border="0" /&gt;
Papua adalah pulau terbesar kedua di dunia. Pada  sekitar Tahun 200 M , ahli Geography bernama Ptolamy menyebutnya dengan  nama LABADIOS. Pada akhir tahun 500 M, pengarang Tiongkok bernama Ghau  Yu Kua memberi nama TUNGKI, dan pada akhir tahun 600 M, Kerajaan  Sriwijaya menyebut nama Papua dengan menggunakan nama JANGGI. Tidore  memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai PAPA-UA yang sudah  berubah dalam sebutan menjadi PAPUA. Pada tahun 1545, Inigo Ortiz de  Retes memberi nama NUEVA GUINEE dan ada pelaut lain yang memberi nama  ISLA DEL ORO yang artinya Pulau Emas. Robin Osborne dalam bukunya,  Indonesias Secret War: The Guerilla Struggle in Irian Jaya (1985),  menjuluki provinsi paling timur Indonesia ini sebagai surga yang hilang.

Tidak  diketahui apakah pada peradaban kuno sebelum masehi di Papua telah  terdapat kerajaan. Bisa jadi zaman dahulu telah terdapat peradaban maju  di Papua. Pada sebuah konferensi tentang lampu jalan dan lalulintas  tahun 1963 di Pretoria (Afrika Selatan), C.S. Downey mengemukakan  tentang sebuah pemukiman terisolir di tengah hutan lebat Pegunungan  Wilhelmina (Peg. Trikora) di Bagian Barat New Guinea (Papua) yang  memiliki sistem penerangan maju. Para pedagang yang dengan susah payah  berhasil menembus masuk ke pemukiman ini menceritakan kengeriannya pada  cahaya penerangan yang sangat terang benderang dari beberapa bulan yang  ada di atas tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu tersebut tampak secara  aneh bersinar setelah matahari mulai terbenam dan terus menyala  sepanjang malam setiap hari. Kita tidak tahu akan kebenaran kisah ini  tapi jika benar itu merupakan hal yang luar biasa dan harus terus  diselidiki.

Papua telah dikenal akan kekayaan alamnya sejak dulu.  Pada abad ke-18 Masehi, para penguasa dari kerajaan Sriwijaya,  mengirimkan persembahan kepada kerajaan China. Di dalam persembahan itu  terdapat beberapa ekor burung Cendrawasih, yang dipercaya sebagai burung  dari taman surga yang merupakan hewan asli dari Papua. Dengan armadanya  yang kuat Sriwijaya mengunjungi Maluku dan Papua untuk memperdagangkan  rempah – rempah, wangi – wangian, mutiara dan bulu burung Cenderawasih.  Pada zaman Kerajaan Majapahit sejumlah daerah di Papua sudah termasuk  dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Pada abad XVI Pantai Utara sampai  Barat daerah Kepala Burung sampai Namatota ( Kab.Fak-fak ) disebelah  Selatan, serta pulau – pulau disekitarnya menjadi daerah kekuasaan  Sultan Tidore.

Tanah Papua sangat kaya. Tembaga dan Emas  merupakan sumber daya alam yang sangat berlimpah yang terdapat di Papua.  Papua terkenal dengan produksi emasnya yang terbesar di dunia dan  berbagai tambang dan kekayaan alam yang begitu berlimpah. Papua juga  disebut-sebut sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Papua merupakan  surga keanekaragaman hayati yang tersisa di bumi saat ini. Pada tahun  2006 diberitakan suatu tim survei yang terdiri dari penjelajah Amerika,  Indonesia dan Australia mengadakan peninjauan di sebagian daerah  pegunungan Foja Propinsi Papua Indonesia. Di sana mereka menemukan suatu  tempat ajaib yang mereka namakan "dunia yang hilang",dan "Taman Firdaus  di bumi", dengan menyaksikan puluhan jenis burung, kupu-kupu, katak dan  tumbuhan yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Jika dikelola dengan  baik, orang Papua pun bisa lebih makmur dengan kekayan alam yang  melimpah tersebut.


Demikianlah sedikit tulisan mengenai  pulau-pulau di Indonesia yang sangat kaya. Dari tulisan tersebut  sebenarnya Indonesia sudah dikenal sebagai bumi yang kaya sejak zaman  peradaban kuno. Kita tidak tahu peradaban kuno apa yang sebenarnya telah  ada di Kepulauan Nusantara ini. Bisa jadi telah ada peradaban kuno dan  makmur di Indonesia ini yang tidak tercatat sejarah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;source:nagapasha
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-7175577638915359283?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/xUzsNmaiKA4/kejayaan-nusantara-kuno.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_TzhABRYWH3Q/S3ME90eR_DI/AAAAAAAAAUw/FPV094YL0hw/s72-c/petasumatra.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2010/04/kejayaan-nusantara-kuno.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-2565731959151946727</guid><pubDate>Thu, 22 Oct 2009 02:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-31T10:29:26.396+07:00</atom:updated><title>Journey to A Real Exotic Beach "Pantai Selatan"</title><description>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SuASF9y1U1I/AAAAAAAAAq8/LbVGixxsaw0/s1600-h/PhotoFunia-53e517.jpg"&gt;Alangkah terkejutnya saya , ternyata bule-bule suka dengan cerita anehku ini , dan memasukkan kisah ini di sebuah majalah dan jadi headline head line pula... ha..ha&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395332247286272850" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 280px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SuASF9y1U1I/AAAAAAAAAq8/LbVGixxsaw0/s320/PhotoFunia-53e517.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_7W-hMpYI/AAAAAAAAAqM/rDX3ARtD9f0/s1600-h/forbidden+beach.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395307250771076482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_7W-hMpYI/AAAAAAAAAqM/rDX3ARtD9f0/s320/forbidden+beach.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pernahkah anda membayangkan sebuah pantai yang indah tetapi sunyi dari wisatawan dan anda dapat berekspresi sesukanya di pantai itu.. ??&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
Bagaimana jika pantai itu ternyata tidak jauh dari tempat anda..?
Gambar ini diambil saat para wisatawan lain enjoy menikmati pantai kukup , saya mendaki 3 bukit karang kearah barat yang jarang dikunjungi dan menjumpai objek pantai yang sangat cantik dan sunyi....

Dipuncak bukit karang ke 3, a&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_7zzD3sQI/AAAAAAAAAqU/tQT3Z-kUrZw/s1600-h/kukup.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395307745911484674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_7zzD3sQI/AAAAAAAAAqU/tQT3Z-kUrZw/s320/kukup.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;nda akan disuguhi dengan pemandangan eksotik. Anda dan dapat menikmati sunset atau bahkan apabila berniat mengabadikan sunrise anda dapat mengambil dari posisi ini.. (tapi &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_5-p05tzI/AAAAAAAAAqE/3QQ8OGE6RU4/s1600-h/cakrawala.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395305733388089138" style="FLOAT: right; MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_5-p05tzI/AAAAAAAAAqE/3QQ8OGE6RU4/s320/cakrawala.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
alangkah menariknya apabila dibuat gondola antar bukit karang. atau bermain paralayang.. umpama berani seh..




Melanjutkan menyusur bibir pantai anda akan menemukan bongkahan karang yang membentuk gua..
G&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_8i0loT_I/AAAAAAAAAqc/tki5jtS_9Cc/s1600-h/gua+laut.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395308553775370226" style="FLOAT: right; MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; WIDTH: 312px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 233px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_8i0loT_I/AAAAAAAAAqc/tki5jtS_9Cc/s320/gua+laut.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;oa ini sebenarnya bukit karang yang tergerus ombak . saat surut anda bisa mandi dan berpose dibawahnya.
cukup aman dan tersembunyi kok.. or get naked

Saat senja menjelang berada di cakrawala membawa anda kesebuah sensasi tersendiri.

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_95VlIuHI/AAAAAAAAAqk/UQnlC6eji7c/s1600-h/dancing.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395310040100419698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_95VlIuHI/AAAAAAAAAqk/UQnlC6eji7c/s320/dancing.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sunset terlihat begitu indah....
tarian-tarian senjapun menggelitik hati untuk hadir dengan membawa kedamaian ke relung jiwa.





&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_-h0RwtQI/AAAAAAAAAqs/5DvPgNEWgJA/s1600-h/sang+penakluk.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395310735535420674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 316px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 237px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St_-h0RwtQI/AAAAAAAAAqs/5DvPgNEWgJA/s320/sang+penakluk.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
"Wasamsyi" Aku bercermin kepada matahari...
Saat terbit kedatanganya begitu dinanti...
Cahayanya membawa kehangatan dan memberi kehidupan di semesta...
ketika dipuncak ia di atas segalanya...
dan saat terbenam ia membawa kenangan mendalam....

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SuAUbLtWeNI/AAAAAAAAArE/PuzVeUs2INA/s1600-h/bukit+bintang+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395334810821884114" style="FLOAT: right; MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; WIDTH: 327px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 243px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SuAUbLtWeNI/AAAAAAAAArE/PuzVeUs2INA/s320/bukit+bintang+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat pulang ke jogja taklupa menyempatkan menikmati pemandangan di Bukit bintang tanjakan piyungan..

Lokasi ini cukup populer akhir-akhir ini sebagai lokasi alternatif melepas lelah setelah perjalanan berkelok dari pantai atau wonosari.


Saat ini terdapat beberapa warung makan yang berdiri di sisi jalan.
Jangan lupa bawa kamera dan abadikan perjalanan anda....

Thanks buat:
"AB3292WZ" ku dan Canon Powershoot

















&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;





&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-2565731959151946727?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/PUF6oHJwHE4/catatan-perjalanan-ke-forbidden-beach.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SuASF9y1U1I/AAAAAAAAAq8/LbVGixxsaw0/s72-c/PhotoFunia-53e517.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/10/catatan-perjalanan-ke-forbidden-beach.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-4621723913181275617</guid><pubDate>Wed, 21 Oct 2009 05:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-21T12:52:41.037+07:00</atom:updated><title>Petualangan Pendakian Tebing Andesit</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St6gZqyhqYI/AAAAAAAAAok/DRlZWawc7ek/s1600-h/IMG_1092.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St6gZqyhqYI/AAAAAAAAAok/DRlZWawc7ek/s320/IMG_1092.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394925766479817090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menatang......

menakjubkan.....


merinding.....&lt;/span&gt;







itu ungkapan pertama kali saat menyusur lokasi tebing andesit di kaliadem.  Untuk mencapai lokasi tebing andesit yang ada dalam &lt;a href="http://ceritapetualangan.blogspot.com/2009/02/cerita-jejak-petualangan.html"&gt;foto- foto&lt;/a&gt; di bawah kita harus berjalan kaki sekitar 1 km dari jalan aspal yang menuju ke Kali&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://ceritapetualangan.blogspot.com/"&gt;&lt;img style="margin: 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_begP6pYnvfM/SaftWPMHgOI/AAAAAAAAAJk/UbTf8YrTrS8/s200/CIMG3702.JPG" alt="Kalikuning jejak petualangan pic" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;adem menyusuri jalan setapak yang biasa dilewati oleh penduduk lokal untuk mencari rumput. Tiba di lokasi tebing andesit tersebut rasanya tenang banget karena suasana alam yang sepi dengan pemandangan kelok- kelok bentukan sungai tak berair dan tebing- tebing yang tinggi membuat kita ser&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://ceritapetualangan.blogspot.com/"&gt;&lt;img style="margin: 10px; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_begP6pYnvfM/SafrvVlmcJI/AAAAAAAAAJc/cz_eeibEHbs/s200/CIMG3715.JPG" alt=" Kalikuning jejak petualang pic" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;asa menemukan dunia baru.
Mendaki tebing -tebing andesit sempat kepikiran juga, namun mengingat badan tertalu gendut saya jadi mawas diri lah ... satu paket dengan lokasi ini ada kawasan  hulu Kalikuning terlihat sangat menyejukkan dengan banyaknya pepohonan di sekitarnya yang di dominasi oleh pohon- pohon pinus, serta hawa dingin dataran tinggi di lereng merapi ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-4621723913181275617?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/17ODEhDcZIw/petualangan-pendakian-tebing-andesit.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/St6gZqyhqYI/AAAAAAAAAok/DRlZWawc7ek/s72-c/IMG_1092.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/10/petualangan-pendakian-tebing-andesit.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-785492567444593134</guid><pubDate>Thu, 03 Sep 2009 09:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-03T16:16:32.831+07:00</atom:updated><title>Journey to Java missing  Dinasty</title><description>&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/dqrEMOITOZo&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/dqrEMOITOZo&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;

Apik tho..? menarik tho..? hayoo mau kemana lage...  ha..ha..ha....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-785492567444593134?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/jKJzqQYfnFo/journey-to-java-missing-dinasty.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/09/journey-to-java-missing-dinasty.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-5110108690797267818</guid><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 09:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-17T06:30:19.886+07:00</atom:updated><title>Cerita pilihan - Babad Tanah Jawa Bagian Pertama</title><description>&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;div align="center"&gt;
"Babad Tanah Djawi"&lt;/div&gt;
&lt;div style="TEXT-ALIGN: center;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagian Pertama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Gubahanipun&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;/&lt;/span&gt; digubah oleh
&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;L. VAN RIJCKEVORSEL&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;Directeur Normaalschool Muntilan&lt;/span&gt;

&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Kabantu/ &lt;/span&gt;dengan dibantu oleh
&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;R.D.S. HADIWIDJANA&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,255)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Guru Kweekschool Muntilan&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Pangecapan J.B. Wolters U.M.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
Groningen - Den Haag - Weltervreden – 1925
&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Pérangan Kang Kapisan
Babad Jawa Wiwit Jaman Indhu tumekané Rusaking Karajan Majapahit &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Abad 2 utawa 3 - Abad 16
&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;= Bagian Pertama&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204); FONT-STYLE: italic"&gt;Babad Jawa mulai dari jaman Hindu hingga runtuhnya Kerajaan Majapahit (abad 2 atau 3 hingga abad 16)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Bab 1 Karajan Indhu ing Tanah Jawa Kulon (wiwit abad 2 utawa 3)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,255)"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;= &lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Bab1 Kerajaan Hindu di Tanah Jawa Barat (abad 2 atau 3)&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;
Kang wus kasumurupan, karajané bangsa Indhu ana ing Tanah Jawa, kang dhisik dhéwé, diarani karajan "Tarumanagara" (Tarum = tom. kaliné jeneng Citarum).&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(51,102,255)"&gt;= Seperti sudah dikenal, kerajaan Hindu di Tanah Jawa yang petama kali bernama "Tarumanagara" (Tarum = tom, nama sungai Citarum).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

Karajan iku mau dhèk abad kaping 4 lan 5 wis ana, déné titi mangsaning adegé ora kawruhan.
Ratu ratuné darah Purnawarman. Mirit saka gambar gambar kembang tunjung kang ana ing watu watu patilasan, darah Purnawarman iku padha nganggo agama Wisnu.&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;= Kerajaan tersebut sudah dikenal pada abad 4 dan 5, sementara kapan berdirinya belum diketahui secara pasti. Raja-rajanya bergelar Purnawarman. Mengacu gambar kembang tunjung yang tertulis di beberapa prasasti, para raja Purnawarman tersebut beragama Wisnu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

Ing tahun 414 ana Cina aran Fa Hien, mulih saka enggoné sujarah menyang patilasané Resi Budha, ing tanah Indhu Ngarep mampir ing Tanah Jawa nganti 5 sasi.
Ing cathetané ana kang nerangaké mangkéné :&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;= Pada tahun 414 ada seorang Cina bernama Fa Hien, pulang dari ziarah tempat asal Budha di tanah India mampir ke tanah Jawa selama 5 bulan. Di dalam catatannya diterangkan seperti berikut: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102); FONT-STYLE: italic"&gt;1. Ing kono akèh wong ora duwé agama (wong Sundha), sarta ora ana kang tunggal agama karo dhèwèkné: Budha.&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102); FONT-STYLE: italic"&gt;2. Bangsa Cina ora ana, awit ora kasebut ing cathetané.&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102); FONT-STYLE: italic"&gt;3. Barengané nunggang prahu saka Indhu wong 200, ana sing dedagangan, ana kang mung lelungan, karepé arep padha menyang Canton.&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255); FONT-STYLE: italic"&gt;= 1. Di tempat ini banyak orang (orang Sunda) tidak beragama dan tidak ada seorangpun yang beragama sama dengan dirinya (Budha). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;2. Orang-orang Cina belum ada, karena tidak disebutkan dalam catatannya. &lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255); FONT-STYLE: italic"&gt;3. Penumpang yang bersama naik perahu dengannya dari India sebanyak 200 orang, ada yang bertujuan dagang, ada yang sekedar bepergian ke daerah "Canton".&lt;/span&gt;

Yèn mangkono dadi dalané dedagangan saka tanah Indhu Ngarep menyang tanah Cina pancèn ngliwati Tanah Jawa. Ing Tahun 435 malah wis ana utusané Ratu Jawa Kulon menyang tanah Cina, ngaturaké pisungsung menyang Maharaja ing tanah Cina, minangka tandhaning tetepungan sarta murih gampang lakuning dedagangan. &lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255); FONT-STYLE: italic"&gt;= Dengan demikian route perdagangan dari tanah India menuju Cina tentu akan melewati tanah Jawa. Pada tahun 435 ada utusan Ratu Jawa Barat ke negri Cina, menyampaikan pesan ke Maharaja di Cina untuk tanda persahabatan dalam rangka meningkatkan arus perdagangan.&lt;/span&gt;

Karajan Tarumanagara mau ora kasumurupan pirang tahun suwéné lan kepriyé rusaké.
Wong Indhu ana ing kono ora ngowahaké adat lan panguripané wong bumi, awit pancèn ora gelem mulangi apa apa, lan wong bumi uga durung duwé akal niru kapinterané wong Indhu.
Ewa déné meksa ana kaundhakaning kawruhé, yaiku mbatik lan nyoga jarit.
&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;= Kerajaan Tarumanegara tersebut tidak ketahuan berapa lama berdirinya dan bagaimana kejadian runtuhnya. Keberadaan pendatang dari India tidak merubah adat &amp;amp; tradisi orang-orang pribumi, karena memang tidak ada niatan mereka untuk mengajari serta orang pribumi belum mampu meniru kepintaran orang India. Namun ada beberapa kelebihan orang pribumi yang diketahui seperti keahlian batik &amp;amp; membuat kain jarit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Bab 2 Karajan Indhu ing Jawa Tengah (abad kaping 6)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
Mirit saka:
&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102); FONT-STYLE: italic"&gt;1. Cathetané bangsa Cina&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102); FONT-STYLE: italic"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;2. Unining tulisan tulisan kang ana ing watu watu lan candhi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102); FONT-STYLE: italic"&gt;3.Cathetané sawijining wong Arab, wis bisa kasumurupan sathithik sathithik mungguh kaananing wong Indhu ana ing Tanah Jawa Tengah dhèk jaman samono.&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Bab 2 Kerajaan Hindu di Tanah Jawa (abad 6)
Menurut data:
1. Catatan orang Cina
2. Pernyataan dalam prasasti-prasasti dan candi
3. Catatan seorang warga Arab, dengan demikian dapat diketahui dikit demi sedikit keadaaan masyarakat Hindu di Tanah Jawa Tengah pada jaman tersebut.&lt;/em&gt;

Nalika wiwitané abad kang kanem ana wong Indhu anyar teka ing Tanah Jawa Kulon.
Ana ing kono padha kena ing lelara, mulané banjur padha nglèrèg mangétan, menyang Tanah Jawa Tengah.
&lt;em&gt;= Ketika awal abad 6 ada orang Hindu datang di Tanah Jawa Barat. Diceritakan di tempat tersebut masyarakatnya sedang terkena wabah penyakit, yang mendorong mereka hijrah ke timur ke daerah Jawa Tengah.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Wong Jawa wektu samono, isih kari banget kapinterané, yèn ditandhing karo wong Indhu kang lagi neneka mau; mulané banjur dadi sor-sorané.
Wong Indhu banjur ngadegaké karajan ing Jepara.
&lt;em&gt;= Orang pribumi Jawa jaman tersebut masih ketinggalan jauh kepandaiannya dibanding orang-orang Hindu pendatang, makanya kebanyakan jadi abdinya. Orang-orang Hindu selanjutnya mendirikan kerajaan di Jepara.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Omah omah padunungané wong Jawa, ya wis mèmper karo omah omahé wong jaman saiki, apayon atep utawa eduk lan wis nganggo képang.
Enggoné dedagangan lelawanan karo wong Cina; barang dedagangané kayata: emas, salaka, gading lan liya liyané.
&lt;em&gt;= Kondisi rumah hunian pribumi Jawa sebenernya mirip dengan rumah jaman sekarang dengan atap ijuk dan dinding anyaman bambu. Banyak barang dagangan dengan orang Cina seperti wujud emas, perak, gading dan sebagainya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Cina cina ngarani nagara iku Kalinga, besuké, ya diarani: Jawa.
Karajan mau saya suwé saya gedhé, malah nganti mbawahaké karajan cilik cilik 28 (wolu likur).
Wong Cina uga nyebutaké asmané sawijining ratu putri: Sima; dikandakaké becik banget enggoné nyekel pangrèhing praja (tahun 674).
&lt;em&gt;= Orang Cina menyebut negri tersebut sebagai Kalinga untuk kemudian dinamai "Jawa". Kerajaan tersebut makin lama membesar hingga membawahi sejumlah 28 kerajaan kecil. Orang Cina pernah menceritakan nama seorang ratu bernama Sima yang dikenal sangat baik dalam pemerintahannya (tahun 674).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Tulisaning watu kang ana ciriné tahun 732, dadi kang tuwa dhéwé, katemu ana sacedhaké Magelang, nyebutaké, manawa ana ratu kang jumeneng, jejuluk Prabu Sannaha, karajané gedhé, kang klebu jajahané yaiku tanah tanah Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta lan bokmenawa Tanah Jawa Wétan uga klebu dadi wewengkoné karajan iku.
&lt;em&gt;= Tulisan di satu prasasti tahun 732 tergolong paling tua yang ditemukan dekat Magelang, menceritakan raja yang bertahta waktu itu bernama Prabu Sannaha, kerajaannya besar meliputi wilayah jajahan tanah Kedhu, Yogyakarta, Surakarta dan mungkin sebagigan jawa Timur masuk dalam pemerintahannya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Mirit caritané, karajan kang kasebut iku tata tentrem banget kaya kang kasebut ing tulisan kang katemu ana ing patilasan: Nadyan wong wong padha turu ana ing dalan dalan, ora sumelang, yèn ana bégal utawa bebaya liyané.
&lt;em&gt;= Sesuai cerita, kondisi kerajaan tersebut sangat sejahtera seperti tertulis dalam satu prasasti yang berbunyi "meskipun orang-orang tidur di jalanan, tidak merasa khawatir kalau ada perampok atau bahaya lainnya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Mirit kandhané sawijining wong Arab, dhèk tengah tengahané abad kang kaping sanga, ratu ing Tanah Jawa wis mbawahaké tanah Kedah ing Malaka (pamelikan timah).
&lt;em&gt;= Menurut cerita salah seorang warga Arab, di tengah abad 9 raja di Tanah Jawa sudah mampu memperluas kekuasaannya sampai tanah Kedah di Malaka (sumber tambang timah).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0)"&gt;Karajan ing dhuwur iki sakawit ora kawruhan jenengé, nanging banjur ana karangan kang katulis ing watu kang titi mangsané tahun 919, nyebutaké &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;karajan Jawa ing Mataram.&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0)"&gt;Jembar jajahané, mungguha saiki tekan Kedhu, Ngayogyakarta, Surakarta; mangloré tekan sagara; mangétané tekan tanah tanah ing Tanah Jawa Wétan sawatara.&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0)"&gt;Kuthané karan : &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Mendhangkamulan.&lt;/span&gt;
&lt;em&gt;= Kerajaan tersebut tidak diketahui pasti kapan berdirinya, namun dari tulisan prasasti tahun 919 menyebutkan nama kerajaan Jawa di &lt;strong&gt;Mataram&lt;/strong&gt;. Luas daerah kekuasaannya meliputi tanah Kedhu, Yogyakarta, Surakarta, hingga pesisir utara dan ke timur hingga Jawa TImur. Pusat ibukotanya bernama &lt;strong&gt;Medhangkamulan.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Wong Arab ngandhakaké, ana ratu Jawa mbedhah karajan Khamer (Indhu Buri).
Sing kasebut iki ayaké iya karajan Mataram mau. Kajaba Khamer, karajan Jawa iya wis mbawahaké pulo pulo akèh. Pulo pulo iku mawa gunung geni.
Karajan Jawa mau sugih emas lan bumbu crakèn. Wong Arab iya akèh kang lelawanan dedagangan.
&lt;em&gt;= Orang Arab menceritakan ada raja Jawa yang ekspansi hingga kerajaan Khamer (India selatan). Yang dimaksud sepertinya kerajaan Mataram tersebut. Selain Khamer, kerajaan tersebut juga membawahi banyak pulau sepanjang jalur gunung berapi. Kerajaan Jawa tersebut kaya akan emas dan bumbu rempah-rempah. Banyak bangsa Arab yang kerjasama dalam perdagangan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Sabakdané tahun 928 &lt;/span&gt;ora ana katrangan apa apa ing bab kaanané karajan Mataram.
&lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Kang kacarita banjur ing Tanah Jawa Wétan. Ayaké baé karajan Mataram mau rusak déning panjebluge gunung Merapi (Merbabu), déné wongé kang akèh padha ngungsi mangétan.&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Ing abad 17 karajan Mataram banjur madeg manèh, gedhé lan panguwasané irib iriban karo karajan Mataram kuna.&lt;/span&gt;
&lt;em&gt;= Setelah tahun 928, tidak ada keterangan apa-apa lagi tentang keadaan kerajaan Mataram. Cerita berikutnya berlanjut di Tanah Jawa Timur. Sepertinya kerajaan Mataram tersebut rusak akibat meletusnya gunung Merapi (Merbabu), dimana banyak orang yang hijrah mengungsi ke arah timur. Pada abad 17, kerajaan Mataram berdiri kembali, besar dan kekuasaannya mirip dengan Mataram kuno.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Agamané wong Indhu sing padha ngejawa rupa rupa. Ana ing tanah wutah getihe dhéwé ing kunané wong Indhu ngèdhep marang Brahma, Wisnu lan Syiwah, iya iku kang kaaranan Trimurti. Kejaba saka iku uga nembah marang déwa akèh liya liyané, kayata: Ganésya, putrané Bethari Durga.
Manut piwulangé agama Indhu pamérangé manungsa dadi patang golongan, yaiku:
- para Brahmana (bangsa pandhita)
- para Satriya (bangsa luhur)
- para Wesya (bangsa kriya)
- para Syudra (bangsa wong cilik)
&lt;em&gt;= Agama orang-orang Hindu beragam alirannya. Sesuai asal-usulnya penganut Hindu menyembah dewa Brahma, Wisnu dan Syiwa yang disebut sebagai Trimurti. Namun ada juga yang menyembanga dewa lainnya seperti Ganesya putra Bethari Durga. Sesuai dengan ajaran agama Hindu, derajat manusia dikelompokkan dalam 4 golongan yaitu:&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;- para Brahmana (para pendeta)&lt;/em&gt;
&lt;em&gt;- para Satriya (derajat luhur = para pemerintah, prajurit)&lt;/em&gt;
&lt;em&gt;- para Wesya (para pekerja)&lt;/em&gt;
&lt;em&gt;- para Syudra (rakyat jelata)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Piwulangé agama lan padatané wong Indhu kaemot ing layang kang misuwur, jenengé Wedha.
Kira kira 500 tahun sadurungé wiwitané tahun Kristen, ing tanah Indhu ana sawijining darah luhur peparab Syakya Muni, Gautama utawa Budha.
Mungguh piwulangé gèsèh banget karo agamané wong Indhu mau.
Resi Budha ninggal marang kadonyan, asesirik lan mulang muruk marang wong.
Kajaba ora nembah dewa dewa, piwulangé: sarèhné wong iku mungguhing kamanungsané padha baé, dadiné ora kena dipérang patang golongan.
&lt;em&gt;= Ajaran agama dan tata cara Hindu tertulis dalam kitab Weha. Kira-kira 500 sebelum tahun Kristen, di India ada leluhur bernama Syakya Muni, Gautama atau Budha. Ajarannya agak bertentangan dengan ajaran Hindu. Resi Budah tersebut menghindar atau meninggalkan urusan dunia tapi lebih untuk mengajari umat. Selain tidak menyembah dewa, ajarannya juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan jadi tidak setuju dengan pembagian derajat manusia menjadi 4 golongan.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Para Brahmana Indhu mesthi baé ora seneng pikire, mulané kerep ana pasulayan gedhé.
Ana ing tanah Indhu wong Budha mau banjur peperangan karo wong agama Indhu.
Wusana bangsa Budha kalah lan banjur ngili menyang Ceylon sisih kidul, Indu Buri, Thibet, Cina, Jepang.
&lt;em&gt;= Para Brahmana Hindu tentu saja tidak senang dengan pemikiran ini maka sering terjadi persengketaan. Di India sana, orang Budha banyak mendapat perlawanan dari penganut Hindu. Penganut Budha yang kalah kemudian hijrah ke Ceylon selatan, India selatan, Thibet, Cina dan Jepang.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Mungguh wong agama Indhu iku pangèdêpé ora padha. Ana sing banget olèhe memundhi marang Syiwah yaiku para Syiwaiet (ing Tanah Jawa Tengah); ana sing banget pangèdêpé marang Wisynu, yaiku para Wisynuiet (ing Tanah Jawa Kulon).
Kajaba saka iku uga akèh wong agama Budha, nanging ana ing Tanah Jawa agama agama iku bisa rukun, malah sok dicampur baé.
&lt;em&gt;= Sementara itu aliran Hindu juga tidak seragam. Ada yang lebih memuja Syiwa bernama Syiwaiet (di Jawa Tengah) dan ada yang lebih memuja Wisnu bernama Wisynuiet (di Jawa Barat). Selain itu banyak penganut Budha di tanah Jawa yang hidup rukun dengan berbagai penganut Hindu tersebut.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Petilasané agama Indhu mau saikiné akèh banget, kayata: &lt;/span&gt;
&lt;em&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;= Peninggalan agama Hindu banyak sekali seperti:
&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;- Candhi candhi ing plato Dieng (Syiwah), iku bokmenawa yasané &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;ratu darah Sanjaya.
= kompleks candi Dieng (Syiwa), sepertinya didirikan jaman raja Sanjaya&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGkpUkaUI/AAAAAAAAAjs/IPIkCZ21PpA/s1600-h/Candi+Dieng2.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370549782276499778" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 259px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGkpUkaUI/AAAAAAAAAjs/IPIkCZ21PpA/s400/Candi+Dieng2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;- Candhi ing Kalasan ana titi mangsané tahun 778, ayaké iki &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;candhi tuwa dhéwé (Budha), yasané ratu darah Syailendra. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;= Candi di Kalasan berdiri tahun 778, sebagai candi Budha tertua didirikan jaman raja Syailendra &lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGlJqdQjI/AAAAAAAAAj0/SmfxmnmGKlI/s1600-h/candi+kalasan2.png"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370549790958240306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 332px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 213px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGlJqdQjI/AAAAAAAAAj0/SmfxmnmGKlI/s400/candi+kalasan2.png" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;- Candhi Budha kang misuwur dhéwé, yaiku Barabudhur lan &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Mendut.&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;= Candi Budha yang terkenal yaitu Borobudur dan Mendut &lt;/span&gt;
&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGmAJYTqI/AAAAAAAAAkE/bFh_7o_8dKI/s1600-h/tanah+jawi-2.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370549805583453858" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 182px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGmAJYTqI/AAAAAAAAAkE/bFh_7o_8dKI/s400/tanah+jawi-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;- Candhi Prambanan (Syiwah). Ing sacedhaké Prambanan ana &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;candhi campuran Budha lan Syiwah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(153,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;= Candi Prambanan (Syiwa). Di dekat Prambanan banyak candi campuran aliran Budha dan Syiwa
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGmoCXhUI/AAAAAAAAAkM/MZduWzh0V00/s1600-h/candi_prambanan_1.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370549816291460418" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGmoCXhUI/AAAAAAAAAkM/MZduWzh0V00/s400/candi_prambanan_1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Bab 3 Karajan Ing Tanah Jawa Wétan(wiwitané abad 10 - tahun 1220)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;em&gt;= &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Bab 3 Kerajaan di Tanah Jawa Timur (awal abad 10 - tahun 1220)&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing dhuwur wus kasebutaké yèn Tanah Jawa Wétan, kabawah karajan Indhu ing Mataram; nanging wong Indhu kang manggon ana ing Tanah Jawa Wétan ora pati akèh, yèn katimbang karo kang manggon ing Tanah Jawa Tengah (Kedhu).
&lt;em&gt;= Sebelumnya disebutkan jika di Tanah Jawa Timur dibawah kerajaan Hindu Mataram, namun penganut Hindu yang tinggal di Jawa Timur tidak sebanyak yang tinggal di Tanah Jawa Tengah (Kedhu).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Marga saka iku wong Indhu kudu kumpul karo wong bumi, prasasat tunggal dadi sabangsa.
Ing wiwitané abad 10 ana pepatihing karajan Tanah Jawa Tengah aran Empu Sindhok lolos mangétan. Let sawatara tahun empu Sindhok mau jumeneng ratu ing Tanah Jawa Wétan, karajané ing Kauripan (Paresidhènan Surabaya sisih kidul).
Ambawahaké: Surabaya, Pasuruwan, Kedhiri, Bali bok manawa iya kabawah.
&lt;em&gt;= Oleh karena itu penganut Hindu musti kumpul dengan orang pribumi, untuk membentuk suatu bangsa/negri. Awal abad 10 ada seorang patih dari kerajaan Tanah Jawa Tengah bernama Empu Sindhok lolos ke daerah timur. Tidak lama kemudian Empu Sindhok bertahta sebagai ratu di Tanah Jawa Timur, kerajaannya bernama Kauripan (wilayah Surabaya selatan). kekuasaannya meliputi Surabaya, Pasuruan, Kediri, dan mungkin termasuk Bali.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Enggoné jumeneng ratu tekan tahun 944 lan iya jejuluk Nata ing Mataram.
Nata ing Mataram mau banget pangèdêpé marang agama Budha.
Empu Sindhok misuwur wasis enggoné ngerèh praja. Ana cathetan kang muni mangkéné: "&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Awit saka suwéning enggoné jumeneng ratu, marcapada katon tentrem; wulu wetuning bumi nganti turah turah ora karuhan kèhé."&lt;/span&gt;
&lt;em&gt;= Bertahta sebagai rata hingga tahun 944 dan bergelar Nata di Mataram. Nata di Mataram tersebut lebih dikenal beragama Budha. Empu Sindhok terkenal bijak dalam memerintah negri. Ada catatan yang berbunyi: "Karena terlalu lama bertahta jadi raja, kerajaan jadi sejahteram hasil panen sampai berlimpah ruah.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1010 Erlangga tetep jumeneng ratu, banjur nerusaké enggoné mangun paprangan lan ngelar jajahan.
&lt;em&gt;= Di tahun 1010 Erlangga bertahta jadi ratu, kemudian meneruskan perluasan daerah jajahannya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1037 enggoné paprangan wis rampung, negara reja, para kawula padha tentrem. Déné karatoné iya ana ing Kauripan. Sang Prabu Erlangga ora kesupèn marang kabecikaning para pandhita lan para tapa, kang gedhé pitulungané nalika panjenengané lagi kasrakat.
&lt;em&gt;= Pada tahun 1037 kegiatan peperangan selesai, negera aman sejahtera, rakyat tentram. Keratonnya berpusat di Kauripan. Prabu Erlangga tidak melupakan kebaikan para pendeta dan pertapa, yang sangat besar jasanya dalam sumbangsih pemikiran.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Minangka pamalesing kabecikané para pandhita, Sang Nata yasa pasraman apik banget, dumunung ing sikile gunung Penanggungan.
&lt;em&gt;= Sebagai balasan kebaikan para pendeta, sang Prabu mendirikan asrama yang bagus sekali di sekitar kaki gunung Penanggungan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Pasraman mau kinubeng ing patamanan kang luwih déning asri, lan rerenggané sarwa peni sarta endah. Saka ediné, nganti misuwur ing manca praja, saben dina aselur wong kang padha sujarah mrono.
&lt;em&gt;= Asrama tersebut dikelilingi taman asri lan hijau pemandangan yang indah. Karena keelokannya hingga terkenal ke luar kerajaan, hampir tiap hari banyak orang yang berkunjung ke sana.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Pangadilané Sang Nata jejeg. Wong désa kang nrajang angger angger nagara padha kapatrapan paukuman utawa didhendha. Kècu, maling, sapanunggalané kapatrapan ukum pati.
Sang Prabu enggoné nindakaké paprentahan dibantu ing priyagung 4, padha oleh asil saka pametuning lemah lenggahè.
&lt;em&gt;= Keadilan dijunjung tinggi oleh sang raja. Orang desa yang melanggar aturan negara mendapat hukuman atau denda. Perampok, maling dan sejenisnya dihukum mati. Sang Prabu dalam memerintah dibantu penasehat 4, yang memperoleh imbalan tanah selama pengabdiannya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Saka enggoné manggalih marang tetanèn yaiku pagawéyaning kawula kang akèh, Sang Nata yasa bendungan gedhé ana ing kali Brantas.
Sang Nata uga menggalih banget marang panggaotan lan dedagangan.
Kutha Tuban nalika samono panggonan sudagar, oleh biyantu akèh banget saka Sang Prabu murih majuning dedagangan lan lelayaran.
Sang Nata yèn sinéwaka lenggah dhampar (palenggahan cendhèk pesagi), ngagem agem ageman sarwa sutra, remané diukel lan ngagem cênéla.
Yèn miyos nitih dwipangga utawa rata, diarak prajurit 700.
Punggawa lan kawula kang kapethuk tindaké Sang Nata banjur padha sumungkem ing lemah (ndhodhok ngapurancang?).
&lt;em&gt;= Karena memikirkan pekerjaan rakyat banyak yaitu bertani, sang Prabu membangun bendungan besar di Kali Brantas. Sang prabu juga memperhatikan tentang perihal perdagangan. Tuban jaman tersebut menjadi pelabuhan yang banyak mendapat bantuan dari raja dalam memajukan dagang dan pelayaran. Sang prabu kalau sedang duduk di singgasana memakai busana serba sutra, rambutnya diukel dan memakai "cenela". Kalau pawai naik gajah atau kuda diiringi 700 prajurit. Punggawa dan rakyat jelata yang berpapasan dengan sang Prabu pada sujud di tanah sambil bersimpuh.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Para kawula padha ngoré rambut, enggoné bebedan tekan ing wates dhadha.
Omahè kalebu asri, nganggo payon gendhèng kuning utawa abang.
Wong lara padha ora tetamba mung nyuwun pitulunganing para dewa baé, utawa marang Budha.
Wong wong padha seneng praon lan lelungan turut gunung, akèh kang nunggang tandhu utawa joli. Dhèk samono wong wong iya wis padha bisa njogèt, gamelané suling, kendhang lan gambang. &lt;em&gt;= Rakyat jelata pada menata rambut, memakai pakaian kain sampai batas dada. Rumah-rumah sudah tergolong asri pakai atap genting kuning atau merah. Orang yang sakit tidak mencari obat tapi hanya minta pertolongan para dewa saja atau kepada Budha. Orang-orang banyak yang pergi berlayar atau pergi turun gunung, banyak yang naik tandu atau joli. Jaman tersebut orang-orang udah pada joget, musiknya pakai suling, kendang dan gambang.&lt;/em&gt;

Karsané Sang Prabu besuk ing sapengkeré kang gumanti jumeneng Nata putrané loro pisan, mulané kratoné banjur diparo: &lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Jenggala (sabageyaning: Surabaya sarta Pasuruwan) lan Kedhiri.&lt;/span&gt;
Déné kang minangka watesé: pager témbok kang sinebut "Pinggir Raksa", wiwit saka puncaking Gunung Kawi, mangisor, nurut kali Leksa banjur urut ing brangloré kali Brantas saka wétan mangulon tekan ing désa kang saiki aran "Juga", nuli munggah mangidul, terusé kira kira nganti tumeka ing pasisir.
Gugur gugurané tembok iku saiki isih ana tilasé, kayata ing sacedhaking kali Leksa, sakulon lan sakiduling kali Brantas, ing watesing afd. Malang lan Blitar.
&lt;em&gt;= Sesuai titah sang Prabu, sepeninggal dia yang jadi raja adalah 2 putranya langsung, maka keraton diabgi jadi 2 yaitu Jenggala (Surabaya &amp;amp; Pasuruan) dan Kediri. Sebagai batasnya adalah pagar tembok yang disebut "Pinggir Raksa", mulai dari puncak Gunung Kawi ke bawah, sepanjang alur Kali leksa terus mengikuti Kali Brantas dari timur ke barat hingga desa yang dinamai "Juga", kemudian naik ke selatan hingga pesisir selatan. Bekas tembok tersebut masih ada, seperti di dekat kali Leksa, di sebelah barat dan selatan Kali Brantas di perbatasan kota Malang dan Blitar.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Mungguhing babad Jawa jumenengé Prabu Erlangga kaanggep minangka pepadhang sajroning pepeteng, awit rada akèh caritané kang kasumurupan.
Kawruh kasusastran wis dhuwur. Layang layangé ing jaman iku tekané ing jaman saiki isih misuwur becik lan dadi teturutaning crita crita wayang.
Layang layang mau basané diarani: Jawa Kuna, kayata:
&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;1. Layang Mahabarata&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;2. Layang Ramayana lan Arjuna Wiwaha.&lt;/span&gt;
&lt;em&gt;= Untuk cerita babad Jawa, bertahtanya Prabu Elangga berjasa dalam membuka tabir kegelapan karena mulai banyak cerita lama yang diketahui. Ilmu kesusastraan tergolong sudah tinggi. Cerita-cerita jaman tersebut masih dikenal hingga kini terutama dalam crita wayang. Cerita tersebut berbahasa Jawa Kuno seperti:&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;em&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;1. Layang Mahabarata&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;
&lt;em&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;2. Layang Ramayana dan Arjuna Wiwaha&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Karajan Jenggala ora lestari gedhé, awit pecah pecah dadi karajan cilik cilik, marga saka diwaris marang putraning Nata; yaiku praja Jenggala (Jenggala anyar); Tumapel utawa Singasari lan Urawan.
&lt;em&gt;= Kerajaan Jenggala tidak bertahan lama karena pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil karena diwariskan lagi ke penerus raja yaitu Jenggala anyar, Tumapel atau Singasari dan Urawan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Karajan cilik cilik kang cedhak wates Kedhiri or suwé banjur ngumpul mèlu Kedhiri, liyané isih terus madeg dhéwé nganti tekan abad 13. Kerajan Kedhiri (Daha, Panjalu) mungguha saiki mbawahaké paresidhènan&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt; Kedhiri,&lt;/span&gt; sapérangané Pasuruwan lan Madiyun.
Kuthané ana ing kutha Kedhiri saiki. Karajan mau bisa dadi kuncara.
Ing wektu iku kasusastran Jawa dhuwur banget, nalika jamané &lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Jayabaya (abad 12) ngluwihi &lt;/span&gt;kang uwis uwis lan tumekané jaman saiki isih sinebut luhur, durung ana kang madhani.
&lt;em&gt;= Kerajaan kecil yang dekat dengan Kediri tidak lama kemudian bergabung dengan Kediri, yang lainnya masing-masing tetap berdiri sampai abad 13. Kerajaan Kediri (Daha, Panjalu) wilayahnya meliputi Kediri, Pasuruan dan Madiun. Pusat kotanya di Kediri juga. Kerajaan tersebut sempat jadi terkenal. Jaman tersebut kesusastraan Jawa sedang berjaya, ketika itu Jayabaya (abad 12) melebihi sastra sebelumnya bahkan hingga kini masih sangat terkenal belum ada yang menyaingi.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1104 ing kedhaton ana pujangga jenengé: &lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;Triguna utawa Managocna.&lt;/span&gt;
Pujangga iku sing nganggit layang Sumanasantaka lan Kresnayana.
Radèn putra utawa Panji kang kacarita ing dongèng kae, bokmenawa iya ratu ing Daha, kang jejuluk Prabu Kamesywara I. Jumeneng ana wiwitané abad kang kaping 12. Garwané kekasih ratu Kirana (Candra Kirana) putrané ratu Jenggala.
Ing mangsa iki ana pujangga jenengé Empu Dharmaja nganggit layang Smaradhana. Radèn Panji nganti saiki tansah kacarita ana lakoné wayang gedhog lan wayang topeng.
&lt;em&gt;= Pada tahun 1104 di keraton ada seorang pujangga bernama: Triguna atau Managocna. Pujangga tersebut mengarang sastra Sumanasantaka dan Kresnayana. Raden putra atau Panji yang diceritakan dalam dongeng in mungkin sekali adalah raja Daha/Kediri ini yang bergelar Prabu Kamesywara I. Bertahta semenjak awal abad 12. Permaisurinya adalah ratu Kirana (Candra Kirana) putrinya raja Jenggala. Pada masa tersebut ada juga pujangga bernama Empu Dharmaja mengarang sastra Smaradhana. Raden Panji hingga sekarang masih diceritakan dalam lakon wayang dedhog dan wayang topeng.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;Pujanggané Jayabaya aran Empu Sedah lan Empu Panuluh.&lt;/span&gt;
Empu Sedah ing tahun Saka 1079 (= 1157) methik sapéranganing layang Mahabarata, dianggit lan didhapur cara Jawa, dijenengaké layang Bharata Yudha.
Wong Jawa ing wektu iku wis pinter, wong Indhu kesilep, karajan Indhu wis dadi karajan Jawa
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Pujangganya Jayabaya adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh. Empu Sedah di tahun Saka 1079 (1157 Masehi) menggubah sebagian cerita Mahabarata diolah dan ditulis dalam bahasa Jawa dinamakan Bharata Yudha. Orang-orang Jawa jaman itu sudah pandai, orang-orang Hindu kalah bersaing sehingga kerajaan Hindupun beralih menjadi kerajaan Jawa.&lt;/em&gt;

&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;Bab 4 Ken Angrok Nelukaké Karajan Karajan Cilik(1220 - 1247)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Bab 4 Ken Arok menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil (1220 - 1247)&lt;/em&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204);font-family:trebuchet ms;" &gt;Ing tahun 1222 ana ratu ing Tumapel utawa Singasari, jenengé Ken Angrok.Critané Ken Angrok iki saka layang Pararaton. Ketemuné layang iki ana ing Bali dhèk tahun 1891.Ken Angrok lair ana ing sacedhaké Tumapel (Singasari), asal wong tani lumrah baé.Ken Angrok kacarita bagus rupané lan bisa nenarik katresnaning wong, nanging banget kareme marang pangaji aji lan wani marang penggawé luput. &lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Pada tahun 1222 ada raja di Tumapel atau Singasari bernama Ken Arok. Cerita Ken Arok tertulis dalam sastra Pararaton. Lembar sastra ini ditemukan di Bali pada tahun 1891. Ken Arok lahir di dekat Tumapel (Singasari) berasal dari keluarga petani biasa. Ken Arok diceritakan berwajah tampan dan bisa menarik perhatian orang, namun sangat menyukai barang aji-aji/jimat dan berani melawan kejahatan.&lt;/em&gt;

&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ing sawijining dina ana Brahmana ketemu karo dhéwékné, kandha yèn dhéwékné titising Wisnu. Anggoné kandha mangkono iku, awit Brahmana mau ngerti yèn Ken Angrok iku wong kang gedhé karepe lan kenceng budiné. Brahmana banjur golèk dalan bisané Ken Angrok kacedhak karo adipati ing kono, Sang Tunggul Ametung. Ora antara suwé kelakon Ken Angrok kaabdèkaké. Bareng wis mangkono, Ken Angrok banjur tansah golèk dalan kapriyé enggoné bisa ngendhih Sang Adipati, nggentèni jumeneng. Ketemuning nalar Ken Angrok banjur ndandakaké keris becik marang Empu Gandring. Sawisé keris dadi, katon becik temenan, nganti mitrané Ken Angrok aran Keboijo kepéncut kepéngin nganggo, banjur nembung nyilih: oleh. Saka senengé, keris mau saben dina dianggo sarta dipamèr pamèraké, dikandhakaké duwèké dhéwé.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;=&lt;em&gt; Suatu hari ada seorang Brahmana yang ketemu dia yang mengatakan bahwa dia adalah titisan dewa Wisnu. Alasan perkataan tersebut, karena Brahmana tersebut mengerti jika Ken Arok tersebut seorang berambisi kuat dan baik budi pekertinya. Brahmana tersebut kemudian mencarikan jalan agar bisa dekat dengan salah seorang adipati disana "Tunggul Ametung". Tidak lama kemudian Ken Arok diterima jadi abdi. Setelah itupun Ken Arok selalu mencari cara bagaimana bisa mengambil alih kekuasaan sang adipati. Tersirat di pikirannya untuk memesan keris kepada Empu Gandring. Setelah keris jadi kelihatan bagus hingga teman Ken Arok bernama Kebo ijo terpesona, kemudian dipinjamkannya keris tersebut ke Kebo ijo. Tiap hari keris tersebut dibawa pamer oleh temannya si Kebo ijo.&lt;/em&gt;

&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bareng wis sawatara dina Ken Angrok banjur nyolong kerisé dhéwé kang lagi disilih ing mitrané mau dianggo nyidra Sang Adipati. Kelakon séda, keris ditinggal ing sandhingé layon. Urusaning prakara: mitrané Ken Angrok sing kena ing dakwa, diputus ukum pati. Ken Angrok banjur bisa oleh Sang putri randaning Tunggul Ametung lan gumanti madeg adipati: Sang Putri asmané Ken Dhedhes. &lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204);font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;em&gt;= Suatu hari Ken Arok mencuri kerisnya sendiri dari si Kebo ijo untuk dipakai membunuh sang adipati. Setelah meninggal, kerispun ditinggal disamping mayat adipati. Alhasil temennya si Keboijo didakwa hukuman mati. Ken Arok kemudian menikahi janda Tunggul Ametung bernama Ken Dhedhes dan menggantikannya sebagai adipati. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQqeZ14rI/AAAAAAAAAlM/J9EdI5FKKMw/s1600-h/ken+dedes.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370560877541319346" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 139px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 203px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQqeZ14rI/AAAAAAAAAlM/J9EdI5FKKMw/s400/ken+dedes.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sasuwéné dicekel Ken Angrok negarané tata, reja, wong cilik banget sungkemé. Sawisé mbedhah karajan cilik cilik ing Jenggala, Ken Angrok banjur emoh kebawah Kedhiri, malah ing tahun 1222 mbedhah praja Kedhiri nganti kelakon menang, Ratu ing Kedhiri Prabu Kertajaya séda nggantung sabalané kang padha tuhu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Selama dalam pemerintahan Ken Arok, negri aman sejahtera, rakyat kecil banyak yang mengagungkannya. Setelah memperluas kekuasaannya di kerajaan-kerajaan kecil bekas Jenggala, Ken Arok tidak mau berdiri dibawah Kediri malahan di tahun 1222 dia mengambil alih kekuasaan raja Kediri. Raja Kediri Prabu Kertajaya mati gantung diri bersamaan pengikut setianya.
&lt;/em&gt;

&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204);font-family:trebuchet ms;" &gt;Kedhiri banjur ditanduri adipati kabawah Singasari. Bareng para ratu darah Empu Sindhok wis kalah kabèh karo Ken Angrok, Ken Angrok banjur jumeneng Ratu gedhé, jejuluk Prabu Rejasa, yaiku kang nurunaké para ratu ing Majapait. Kacarita Sang Retna Dhedhes nalika sédané adipati Tunggul Ametung wis ambobot. Bareng wis tekan mangsané, Sang Retna mbabar putra kakung, diparingi peparab Radèn Anusapati. Wiwit timur nganti diwasa Sang Pangéran ora ngerti yèn satemené dudu putrané Prabu Rejasa, nanging rumangsa yèn ora ditresnani ing Sang Prabu, béda banget karo rayi rayiné. Ing sawijining dina Anusapati kelair marang ibuné mangkéné: "Ibu, punapa, déné Kangjeng rama punika teka boten remen dhateng kula?" Sang Retna banget trenyuhing galih mireng atur sasambaté kang putra, wasana banjur keprojol pangandikané; kang putra dicritani lelakoné wiwitan tekan wekasan. Anusapati banget ing pangunguné, sanalika banjur duwé sedya males ukum, nanging isih sinamun ing semu. Keris yasané Empu Gandring disuwun, pawatané mung kepingin banget anganggo. Kang ibu lamba ing galih, keris diparingaké. Anusapati banjur nimbali abdiné kekasih, diparingi keris mau lan diweruhaké ing wewadiné. Benginé Sang Prabu séda kaprajaya ing duratmaka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Kediri kemudian diberi kekuasaan sebatas adipati dibawah Singasari. Setelah para raja darah keturunan empu Sindhok kalah dengan Ken Arok, Ken Arok kemudian bertahta menjadi raja besar bergelar Prabu Rejasa yang menurunkan garis raja-raja Majapahit. Diceritakan waktu meninggalnya adipati Tunggul Ametung, Ken Dhedhes sudah dalam keadaan hamil. Setelah tiba waktunya, dia melahirkan seorang putra diberi nama Raden Anusapati. Dari kecil hingga dewasa, sang pangeran tidak mengetahui kalau dia bukan putra kandung Prabu Rejasa, karena merasa tidak dicintai sang Prabu seperti halnya adik-adiknya, suatu hari pangeran bertanya kepada ibunya: "Ibu, apakah memang benar kanjeng Bapak tidak menyukai diriku". Sang Ibu yang terharu dengan keluh kesah pangeran, tanpa sengaja membocorkan cerita rahasia dari awal (kematian Tunggul Ametung) hingga akhir. Anusapati seketika jadi marah dan ingin membalaskan kematian ayah kandungnya, namun masih ditimbang-timbang. Keris yang dibikin Empu Gandringpun dimintanya dengan alasan pingin sekali memakai. Sang Ibu yang tidak tegapun memberikan keris itu kepadanya. Anusapati kemudian memanggil abdi kepercayaannya, untuk diberikan keris itu dan diberitahu rencana rahasianya. Malam harinya Sang Prabu meninggal di peraduannya.&lt;/em&gt;


&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204);font-family:trebuchet ms;" &gt;Layoné Sang Prabu dicandhi ana ing Kagenengan (cedhak Malang). Anusapati nggentèni jumeneng Nata. Anusapati jumeneng ora suwé, awit Radèn Tohjaya ngerti yèn Anusapati kang nyédani ramané, mulané sumedya males ukum lan iya kelakon. Tohjaya jumeneng Nata, nanging iya ora suwé. Tohjaya utusan mantriné aran Lembu Ampal, didhawuhi nyirnakaké kalilipé loro, yaiku: Ranggawuni, putrané Anusapati, lan nakdulure kang aran Narasingamurti; yèn ora bisa kelakon, Lembu Ampal dhéwé bakal kena ukum pati. Dumadakan ana sawijining Brahmana kang welas marang radèn loro, banjur wewarah saperluné. Satriya loro banjur ndhelik ana ing panggonané Panji Patipati. Lembu Ampal nggolèki radèn loro ora ketemu, banjur ora wani mulih, ngungsi marang Panji Patipati. Bareng ana ing kono mbalik ngiloni radèn loro, malah ngrembugi para punggawa kang ora cocog karo Tohjaya diajak ngraman, wasana kelakon, Sang Prabu nganti nemahi séda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Jenazah sang Prabu dimakamkan dalam candi di Kagenengan (dekat Malang). Anusapati yang menggantikan tahtanya. Namun Anusapati bertahta hanya sebenetar saja., karena Raden Tohjaya tahu bahwa Anusapati sebagai dalang kematian ayahandanya, makanya langsung berniat menuntut balas dan terjadilah. Tohjaya pun akhirnya menggantikan tahta kerajaan tapi tidak lama juga. Tohjaya menyuruh mantr-nyai (penasehat) Lembu Ampal untuk menyingkirkan 2 orang keturunan Anusapati yaitu Ranggawuni dan saudaranya Narasingamurti. Kalau sampai gagal, Lembu Ampal sendiri yang akan dihukum mati. Ternyata ada salah seorang Brahmana yang iba dengan nasib 2 orang putri tersebut berusaha menyelamatkan sambil mengajari ilmu. 2 putri tersebut sembunyi ditempatnya Panji patipati. Lembu Ampal mencari 2 putri tersebut tidak ketemu juga, kemudian tidak berani pulang lalu mengungsi di tempatnya Panji patipati. Sampai disana justru balik mendukung 2 putri tersebut, serta membujuk beberapa punggawa yang tidak cocok dengan Tohjaya untuk melawan, dan terjadilah. Sang Prabu Tohjayapun akhirnya meninggal.&lt;/em&gt;

&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ranggawuni jumeneng Nata ajejuluk Syri Wisynuwardhana nganti nakdhèrèké Narasinga.Nganti tekan ing séda priyagung loro mau rukun banget, nganti dibasakaké: "Kaya Wisynu lan kang raka Bathara Endra". Karatoné mundhak gedhé pulih kaya dhèk jamané Prabu Erlangga, malah jajahané wuwuh Madura. Sang Nata séda ing tahun 1268, layoné diobong kaya adat, awuné sing separo dicandhi ana ing Welèri, ditumpangi reca Syiwah, sing separo dipethak ana candhi Jago (Tumpang) nganggo reca Budha. Dadi tetéla ing wektu iku agama Syiwah karo Budha campur. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Ranggawuni naik tahta bergelar Syri Wisnuwardhana bersamaan dengan saudaranya Narasinga. Hingga meninggalnya dua orang bersaudara tersebut rukun terus seperti peribahasa "Seperti Wisnu dan saudaranya Bathara Endra". Keratonnya berkembang besar pulih sediakala seperti jaman Prabu Erlangga, kekuasaannya hingga Madura. Sang Ratu meninggal pada tahun 1268, jenazahnya dibakar sesuai adat/agamanya, abunya separuh disemayamkan di candi Weleri ditumpangi arca Dewa Syiwa, yang separuh lagi disemayamkan di candi Jago (Tumpang) dengan arca Budha. Hal ini juga sebagai tanda jaman tersebut agama Syiwa dan Budha campur jadi satu.&lt;/em&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;Bab 5 Jumenengé Kartanagara ing Tumapel (1268 - 1292)&lt;/span&gt;
&lt;em&gt;= Bab 5 Berdirinya Kartanagara di Tumapel (1268 - 1292)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ratu Singasari kang Kaping V, jumeneng mekasi. Sasédané Syri Wisynuwardhana pangéran pati jumeneng Nata, ajejuluk Prabu Kartanagara.
Sang Prabu manggalih marang kawruh kagunan, lan kasusastran, lan iya manggalih marang undhaking jajahan, nanging kurang ngatos atos, lan kersa ngunjuk nganti dadi wuru.
&lt;em&gt;= Ratu Singasari ke-V yang bertahta setelah meninggalnya Sri Wisnuwardhana adalah pangeran yang bergelar Prabu Kartanagara. Sang Prabu sangat memperhatikan kemajuan bidang seni dan kesusastraan, selain itu juga berpikiran untuk memperluas kekuasaaan namun bersifat kurang hati-hati, dan juga kebiasaan suka minum-minum hingga jadi kurus.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ana nayakaning praja aran &lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Banyak Widhe utama Arya Wiraraja,&lt;/span&gt; tepung becik lan Jayakatwang, adipati ing Daha. Satriya iku ora sungkem marang ratuné, malah wis sekuthon karo Jayakatwang, arep mbaléla. Dumadakan ana punggawa kang matur prakara iku, nanging Sang Prabu ora menggalih, Wiraraja malah diangkat dadi adipati ana ing Madura.
&lt;em&gt;= Salah seorang pembesar kerajaan bernama Banyak Widhe atau Arya Wiraraja, bersekutu dengan Jayakatwang adipati di Daha. Satria tersebut tidak mau tunduk dengan rajanya, malah jelas bersekutu dengan Jayakatwang untuk membangkang. Suatu hari ada punggawa kerajaan yang menyampaikan hal itu ke raja, tapi Sang Prabu tidak menghiraukan malah si Wiraraja diangkat sebangai adipati di Madura.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Pepatihe Sang Nata aran Raganatha rumeksa banget marang ratuné, nganti sok wani ngaturi pènget marang Sang Prabu ing bab kang ora bener. Nanging Sang Prabu ora rena ing galih, ora nimbangi rumeksaning patih setya iku, malah banjur milih patih liya kang bisa ngladèni karsané.
Patih wredha diundur, winisuda dadi: nayaka pradata, dadi wis ora campur karo prakara pangrèh praja. Patih anyar senengé mung ngalem marang ratuné lan ngladosi unjuk unjukan.
&lt;em&gt;= Patih kerajaan bernama Raganatha sangat prihatin sekali dengan posisi rajam, dan sering mengingatkan sesuatu hal yang tidak baik/kurang benar untuk sang Prabu. Tapi Sang Prabu tidak menghiraukan kesetiaaan patih tersebut, malah memilih patih lainnya yang bisa memuaskan kemauannya. Patih tersebut akhirnya diberhentikan dialihtugaskan menjadi hakim/pengatur perkara jadi tidak berhubungan lagi dengan perihal urusan kerajaan. Patih baru cuma bisa membuat senang sang raja dan melayani kebiasaan minum-minuman.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ana utusan saka ratu agung ing nagara Cina (Chubilai) dhawuh supaya &lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Prabu Kartanagara nyalirani dhéwé utawa wakilsuwana marang nagara Cina perlu caos bekti (tahun 1289).&lt;/span&gt; Sang Prabu duka banget. Bathuking Cina utusan digambari pasemon kang ora apik, nelakaké dukané Sang Prabu.
&lt;em&gt;= Ada satu utusan dari negri Cina (Chubilai) yang mengajak sang Prabu Kartanagara untuk berkunjung sendiri atau mengirim perwakilan ke negri Cina sebagai tanda hubungan baik (tahun 1289). Sang Prabu marah sekali. Jidat utusan Cina tersebut digambari dengan simbol/gambar yang tidak baik, sebagai tanda kemarahan sang Prabu.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Bareng tekan ing nagara Cina patrape ratu Jawa kang mangkono iku mau njalari dukané ratu binathara ing Cina, Ing tahun 1292 ana prajurit gedhé saka ing Cina arep ngukum ing kuwanéné wong Jawa. &lt;/span&gt;

&lt;em&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;= Setelah sampai di negri Cina, perlakuan balik ratu Jawa tersebut membuat marah raja di CIna. Pada tahun 1292 ada brigade besar prajurit Cina yang akan membalas kelakuan buruk raja Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;


&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Wiraraja sasuwéné ana ing Madura isih ngrungok ngrungokaké apa kang kalakon ana ing Singasari, lan iya weruh uga yèn ing wektu iku prajurit Singasari dilurugaké menyang Sumatra.
Wiraraja ngajani Jayakatwang akon nangguh mbedhah Singasari, mumpung nagara lagi kesisan bala. Jayakatwang ngleksanani, lan Singasari kelakon bedhah. Ratu lan patihé katungkep ing mungsuh isih terus unjuk unjukan baé (wuru), mulané ora rekasa pinurih sédané.
&lt;/span&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Wiraraja selama di Madura senantiasa memperhatikan perkembangan kondisi di Singasari, dan pernah tahu juga ketika banyak prajurit Singasari dikirim ke Sumatra. Wiraraja bersekongkol dengan Jayakatwang untuk mengkudeta Singasari mumpung kerajaan sedang kekurangan bala prajurit. Jayakatwang mendukung dan Singasaripun bisa ditaklukkan. Raja dan patihnya meskipun sudah tertangkap masih saja dengan kebiasaan minum-minuman, makanya cepat menemui ajalnya.&lt;/em&gt;

&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQp7kL1BI/AAAAAAAAAlE/A6PCSbRlTvg/s1600-h/candi-singoari.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370560868189459474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 360px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 270px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQp7kL1BI/AAAAAAAAAlE/A6PCSbRlTvg/s400/candi-singoari.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
Radèn Wijaya, wayahè Narasinga, nuli umangsah ngetog kaprawiran mbelani nagara lan ratuné, nanging wis kaslepek karoban wong Daha, mulané banjur kepeksa ngoncati, mung kari nggawa bala 12, genti genti nggéndhong Sang Putri garwané Radèn Wijaya, putrané Prabu Kartanagara. Lampahè Radèn Wijaya sasentanané nusup angayam alas.
Kalebu wilangan 12 iku ana satriyané loro, putrané Wiraraja, duwè atur marang Gustiné supaya ngungsi menyang Madura.
Sang Pangéran mauné ora karsa, nanging suwé suwé nuruti. Ana ing Madura ditampani kalawan becik. Rembugé Wiraraja, Radèn Wijaya diaturi suwita menyang Daha. Wiraraja sing arep nglantaraké.
&lt;em&gt;= Raden Wijaya cucunya Narasinga, tiba waktunya menunjukkan ke-perwiraannya membela negri dan rajanya, tapi sudah terlanjur terkungkung di Daha, maka dengan terpaksa dia melarikan diri dengan membawa prajurit 12 orang, untuk bergantian mengusung sang putri istri Raden Wijaya yaitu putra Prabu Kartanagara. Ruang lingkup persembunyian Raden Wijaya berada di area hutan alas. Dalam 12 prajurit tersebut ada 2 orang satria putra Wiraraja, yang membujuk Raden Wijaya untuk mengungsi ke Madura. Sang pangeran semula tidak mau, tapi lama-kelamaan turut juga. Di Madura mereka disambut dengan baik. Pembicaraan dengan Wiraraja raden Wijaya ditawari untuk balik ke Daha. Wiraraja yang akan mengawalnya.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Yèn wis kelakon suwita Radèn Wijaya diaturi nyetitèkaké para punggawa ing Daha, sapa sing kendel utawa jirih, tuhu utawa lamis. Yèn wis antara suwé diaturi nyuwun tanah tanah Trik, dibabada banjur dienggonana.
Radèn Wijaya nurut ing pitudhuh, lan iya kelakon suwita ing Daha.
Kacarita pasuwitané kanggep banget, amarga saka pinteré nuju karsa, lan saka pinteré olah gegaman; wong sa Daha ora ana sing bisa ngalahaké.
&lt;em&gt;= Jikalau sudah menghadap raja, raden Wijaya disuruh menceritakan siapa saja punggawa di Daha yang berani atau takut, patuh atau membangkang. Tidak lama kemudian dia akan ditawari tanah yang dibabad untuk ditinggali. Raden Wijaya menurutinya dan bersedia menghadap ke Daha (pusat kota Singasari). Diceritakan waktu menghadap sangat terkesan sekali, karena kepintarannya berdiplomasi dan kepintarannya memakai senjata, orang se-Daha tidak ada yang bisa mengalahkan.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Kabèh piwulangé Wiraraja ditindakaké, dilalah Sang Prabu teka dhangan baé, malah bareng tanah Trik wis dibabad, Radèn Wijaya nyuwun manggon ing kono iya dililani.
Kacarita nalika babade tanah Trik mau, ana wong kang methik woh maja dipangan, nanging rasané pait. Awit saka iku désa ingkono mau banjur dijenengaké Majapait.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Semua nasehat Wiraraja dilakukan, kebetulan sang Prabu juga bersikap baik saja, ketika tanah baru sudah dibabad, raden Wijaya minta untuk tinggal disana juga disetujui. Diceritakan waktu babad tanah baru tersebut, ada salah seorang yang metik buah "maja" untuk dimakan, tapi rasanya "pahit". Dari situlah desa tersebut kemudian dinamakan "Majapahit".&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Bareng Radèn Wijaya wis manggon ing Majapait, rumangsa wis wayahè tata tata males ukum, ngrusak kraton Daha, ananging Wiraraja akon sabar dhisik, awit isih ngenteni prajurit saka nagara Cina kang arep ngukum wong Singasari.
Karepe Wiraraja arep ngréwangi Cina baé dhisik, besuké arep mbalik mungsuh Cina. Wiraraja banjur boyong sakulawargané lan saprajurite menyang Majapait ngumpul dadi siji karo Radèn Wijaya.
&lt;em&gt;= Setelah raden Wijaya tinggal di Majapahit, merasa sudah waktunya siap-siap membalas untuk menyerang keraton Daha, tetapi Wiraraja mengingatkannya untuk bersabar, karena masih menunggu prajurit dari negri Cina yang akan menghukum Singasari. Karepe Wiraraja mau membantu orang Cina terlebih dulu, baru kemudian balik memusuhi mereka. Wiraraja kemudian memboyong semua keluarga dan prajuritnya ke Majapahit, berkumpul dengan raden Wijaya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;Bab 6 Karajan Melayu&lt;/span&gt;
&lt;em&gt;= Bab 6 Kerajaan Melayu&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing Bab 5 ana critané Prabu Kartanagara enggoné anjangka undhaking jajahané.
Ana ing tanah Sumatra kelakon bisa oleh jajahan. Ing ngisor iki crita sathithik tumraping karajan karajan ing tanah Melayu.
&lt;em&gt;= Pada bab 5 diceritakan Prabu Kartanagara dalam hal keinginannya memperluas daerah jajahan. Di tanah Sumatra sebagian berhasil dijajah. Di bawah ini penggalan cerita beberapa kerajaan di tanah Melayu&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Kacarita ratu ing Funan, kira kira ing sajroning abad 3 ngelar jajahan, ngelun tanah Sumatra, Jawa lan liya liyané, ayaké ratu iku kang yasa reca reca ing tanah Pasémah.
Ing abad kapitu ana golonganing para pangéran saka ing Indhu Buri, padha manggon ing sakiwa tengening Palembang, banjur ngedegaké nagara gedhé, jenengé karajan çrivijaya (= Syriwijaya, sinebut ing bangsa Cina nagara: Sambotsai).
&lt;em&gt;= Diceritakan raja di Funan, sekitar abad ke-3 melebarkan daerah jajahan hingga ke tanah Sumatra, Jawa dan lainnya, kemungkinan raja tersebut yang memprakarsai pembuatan arca-arca di Pasemah. Abad ke-7 kemudian mendirikan kerajaan besar bernama Sriwijaya (atau dalam bahasa Cina sebagai "Sambotsai")&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ratu ratuné padha darah Warman, isih dumunung sanak karo darah Purnawarman ing Tanah Jawa dhèk abad 4 - 5, apadéné darah Mulawarman ing Kutai lan Bornéo dhèk watara tahun 400. &lt;em&gt;=Raja-rajanya bergelar Warman, masih terkait persaudaraan dengan keturunan Purnawarman di Jawa sekitar abad 4-5, maupun trah Mulawarman di Kutai dan Borneo sektiar tahun 400 Masehi.&lt;/em&gt;

Nagara çrivijaya jajahané kira kira Sumatra sisih kidul lan tengah, Malaka, Kamboja lan malah tekan Tanah Jawa. Ing tahun 686 ratu agung ing negara çrivijaya nglurugi Tanah Jawa, awit Tanah Jawa ora tuhu pangèdhêpé marang çrivijaya. Sajroning abad 10 prajurit Jawa genti nglurugi çrivijaya, menang, nanging ora suwé çrivijaya bisa kombul manèh.
&lt;em&gt;= Negri Sriwijaya tersebut kekuasaannya meliputi Sumatra area selatan dan tengah, Malaka, Kamboja hingga tanah Jawa. Pada tahun 686 ratu agung Sriwijaya menduduki tanah Jawa, karena Tanah Jawa tidak patuh dengan kemauan Sriwijaya. Sekitar abad 10, kemudian prajurit Jawa gantian menduduki Sriwijaya, menang tapi tidak lama kemudian Sriwijaya bangkit lagi.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Praja iku ajeg enggoné nglakokaké utusan marang Naréndra ing Cina.
Ing sajroning abad 12 lan 13 nagara gedhé çrivijaya pecah dadi karajan cilik cilik.
&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Darah Warman&lt;/span&gt; jumeneng ana ing tanah kang sinebut tanah: "&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Melayu" yaiku saikiné Jambi.&lt;/span&gt; Rèhning pasisiré tanah Melayu kono akèh rerusuh, wongé akèh kang padha ngungsi marang tanah pagunungan kang loh, ana ing kono padha dedhukuh.
&lt;em&gt;= Selama berjaya, sering kali dikirim utusan persahabatan ke negri Cina. Pada abad 12 dan 13, kekuasaan Sriwijaya terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Trah Warman tetap berkuasa di daerah "Melayu" yang sekarang dikenal sebagai "Jambi". Dikarenakan di sepanjang tanah pesisir Melayu tersebut sering terjadi kerusuhan, maka banyak orang mengungsi ke tanah pegunungan yang subur kemudian mereka membentuk kampung-kampung.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Bareng Tanah Jawa gedhé panguwasané, Prabu Kartanagara (1268 - 1292) kalakon bisa ngrusak kutha Paséi, lan ngejegi Jambi, Palembang, Riouw sarta kutha kutha akèh ing Bornéo apadéné pulo pulo ing Moloko.
Ing saantaraning tahun 1275 lan 1293 wong Jawa nglurugi tanah pagunungan Jambi mau yaiku tanah kang besuké aran Menangkabau. Lurugan iku diarani: Pamalayu.
&lt;em&gt;= Pada waktu kerajaan Jawa kekuasaannya membesar dibawah Prabu Kartanagara (1268 - 1292) yang berhasil menguasai kota Pasei, menduduki Jambi, Palembang, Riau dan kota-kota di Kalimantan maupun pulau Maluku. Antara tahun 1275 dan 1293, orang Jawa yang menduduki tanah pegunungan Jambi tersebut yang kemudian dinamakan Minangkabau. Peristiwa pendudukan tersebut dinamai "Pamalayu".&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1268 Prabu Kartanagara angganjar reca marang ratu ing Dharmmaçraya (Darmasraya) uga dumunung ing tanah Jambi, ing saikiné ora adoh karo Sungai Lansat.
Karajan iku ing besuké kalebu jajahan Majapait, rajané darah Warman jejuluk Tribuwana (Mauliwarman) kagungan garwa bangsa Melayu, kang putriné (putrané putri) ayaké dai garwané Radèn Wijaya biyèn.
&lt;em&gt;= Tahun 1268, Prabu kartanagara menghadiahi arca kepada raja Darmasraya serta kekuasaan di tanah Jambi, yang sekarang tidak jauh adri Sungai Lansat. Kerajaan tersebut masuk dalam jajahan Majapahit, rajanya bergelar Warman bernama Tribuwana (Mauliwarman) punya permaisuri bangsa melayu, dan anak putrinya diperistri oleh Raden Wijaya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Sang Raja Tribhuwana mèlu karo bangsa Jawa nglurugi tanah Padhang Hulu.
Miturut carita Melayu, lurugan mau ora oleh gawé, mung marga saka klebu ing gelar, kalah enggoné adu kebo, mulané kuthané banjur jeneng &lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Menangkabau &lt;/span&gt;iku.
&lt;em&gt;= Sang raja Tribuwana kerjasama dengan kerajaan Jawa untuk menduduki tanah Padang hulu. Sesuai cerita melayu, pendudukan tersebut tidak membuahkan hasil, namun karena dalam pagelaran sayembara kalah dalam adu kerbau, maka kotanya sekarang dinamakan Menangkabau.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ana raja wewengkoné karajan Dharmmaçraya jejuluk Adityawarman nagarané ing Malayupura, kang ing tahun 1347 wus merdika, ambawa pribadhi, iku nglurugi Menangkabau, nanging ora nganti dadi perang, malah banjur diangkat dadi raja ing kono, awit pancèn dianggep bangsa Melayu. Jumenengé ana ing Menangkabau wiwit tahun 1347 tekan 1375, kecrita ing kawicaksanané lan pinteré nyekel praja.
&lt;em&gt;= Ada raja yang berkuasa di kerajaan Darmasraya bergelar Adityawarman, negrinya di Malayupura, pada tahun 1347 sudah merdeka kemudian berambisi menduduki Minangkabau namun tanpa dengan peperangan, malah kemudian diangkat menjadi raja disana, karena dianggap asli bangsa Melayu. Bertahta di Minangkabau mulai rahun 1347 hingga 1375, yang terkenal dengan kebijaksanaannya dan kepandaiannya mengurus kerajaan.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Tumeka sapréné Sang Adityawarman sarta nayakané loro kang aran Papatih Sabatang lan Kyai Katumanggungan isih dipundhi pundhi marang bangsa Menangkabau.
Sapungkuré Sang Aditya wis ora ana raja ing Menangkabau kang kecrita.
Negarané pecah pecah, ing saiki isih akèh titiké, mungguh ing kaluhuraning para raja Jawa asal Indhu, ana ing tanah Menangkabau kono, luwih luwih tumraping basa lan sastrané.
Darah raja raja kuna ing Menangkabau mau enteke durung lawas, kang pungkas pungkasan putri, sédané lagi saiki baé.
&lt;em&gt;= Hingga kini sang Adityawarman dan kedua putranya bernama Papatih Sabatang dan Kyai Katumanggungan masih diagung-agungkan masyarakat Minangkabau. Setelah sang Aditya tidak ada lagi cerita penguasa raja di Minangkabau. Negrinya terpecah-pecah, kini masih banyak dijumpai bekas tanda kekuasaannya serta berkat keluhuran raja Jawa, warisan bahasa dan sastra Minangkabau masih terjaga. Penerus darah raja-raja kuno di Minangkabau tersebut belum lama punah, yang terakhir adalah seorang putri yang baru saja meninggal.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1377 kutha Sanbotsai ing tanah Palembang rinusak ing balané Prabu Ayamwuruk.
Kang kuwasa ing tanah Palembang kasebut jeneng Arya Damar nurunaké Radèn Patah (+/- tahun 1500). Awit saka ambruking karaton Majapait, Palembang iya katut apes, besuké kalah karo Banten.
&lt;em&gt;= Tahun 1377, kota Sambotsai di Palembang dirusak oleh bala tentara Prabu Hayamwuruk. Yang berkuasa di Palembang waktu itu adalah Arya Damar yang menurunkan Raden Patah (sekitar tahun 1500). Karena imbas runtuhnya keraton Majapahit, Palembang juga ikutan kalah dalam berperang melawan Banten.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Kaluhuraning Tanah Jawa ana ing Sumatra sisih kidul kono tumekané dina iki uga iya isih akèh tilas tilasé.
&lt;em&gt;= Keluhuran tanah Jawa di Sumatera bagian selatan hingga kini masih banyak dijumpai bekas/tanda petisalannya.&lt;/em&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJngULlrI/AAAAAAAAAkU/93DzqtpOqbE/s1600-h/tanah+jawi-3.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370553129933444786" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 303px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJngULlrI/AAAAAAAAAkU/93DzqtpOqbE/s320/tanah+jawi-3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJn8zDP_I/AAAAAAAAAkc/SGyz2Yi1veg/s1600-h/regol-majapahit2.gif"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370553137579114482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 241px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJn8zDP_I/AAAAAAAAAkc/SGyz2Yi1veg/s320/regol-majapahit2.gif" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,102)"&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Bab 7 Perang Cina lan Adegé Karajan Majapait (1292)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
&lt;em&gt;= Bab 7 Perang Cina dan berdirinya Kerajaan Majapahit (1292)&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tengah tengahané tahun 1292 Maharaja Choebilai sida ngangkataké wadya bala menyang ing Tanah Jawa perlu arep ngukum Prabu Kartanagara. Ana ing pacekan (Surabaya) prau Jawa kalah, nuli bala Cina arep nglurugi Daha, kang dikira panggonané Kartanagara (kang nalika iku wis séda).
&lt;em&gt;= Pada pertengahan tahun 1292 Maharaja Choebilai (Kubilai Kan) menggelar pasukan menuju Tanah Jawa untuk menghukum Prabu Kartanagara. Di Surabaya pasukan laut kerajaan Jawa kalah, bala tentara Cina akan menduduki kota Daha tempat kediaman Kartanagara (yang waktu tersebut sudah wafat).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Kacarita Radèn Wijaya dhèk jaman samono wus wiwit mbalela marang Jayakatwang ratu ing Daha. Sarèhné duwè pangarep arep bisaa ditulungi ing Cina numpes ratu ing Daha, mulané Radèn Wijaya banjur gawé gelar ethok ethok arep teluk marang sénapati Cina.
&lt;em&gt;= Diceritakan raden Wijaya pada jaman tersebut sudah berniat membangkang terhadap raja Kayakatwang di Daha. Dengan keinginan untuk bisa mendapat pertolongan Cina melawan raja di Daha, maka raden Wijaya berpura-pura tunduk dan mendukung panglima Cina.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Kabeneran ora let suwé Majapait, panggonané Radèn Widjaya ditempuh ing wong Daha, Radèn Wijaya éntuk pitulungané wong Cina bisa menang.
Wasana ing tahun 1293 kutha Daha dikepung ing balané Shih Pih lan Radèn Wijaya, Daha bedhah, ratuné kacekel, pèni pèni raja pèni dijarah rayah, Radèn Wijaya nulungi putri putri, putrané Prabu Kartanagara digawa oncad menyang Majapait.
&lt;em&gt;= Kebetulan tidak lama kemudian Majapahit (tempat raden Wijaya) mendapat pertolongan Cina melawan orang Daha dan menang. Pada tahun 1293, kota Daha dikepung oleh pasukan Shih Pih dan prajurit raden Wijaya, rajanya ditangkap, kekayaan raja dijarah, raden Wijaya menolong putri-putri dan putra Prabu Kartanagara untuk dibawa ke Majapahit.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ora antara suwé, marga saka akalé Wiraraja, Radèn Wijaya bisa ngusir prajurit Cina.
Wondéné prajurit mau, senadyan kesusu susu meksa isih bisa anggawa barang rayahan, pengaji mas satengah yuta tail lan tawanan wong satus saka Daha.
&lt;em&gt;= Tidak lama kemudian karena siasat dari Wiraraja, raden Wijayapun berhasil mengusir pasukan Cina. Meskipun para prajurit Cina tersebut buru-buru mengundurkan diri, tapi berhasil membawa barang jarahan, kekayaan emas setengah juta tail dan tawanan 100 orang dari Daha.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Radèn Wijaya banjur jumeneng Nata ing Majapait,
jejuluk Kertarejasa Jayawardhana utawa Brawijaya I (tahun 1294 - 1309)
&lt;em&gt;= Raden Wijaya kemudian bertahta sebagai raja majapahit bergelar Kertarejasa Jayawardhana atau Brawijaya I (tahun 1294-1309).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQpKGNGdI/AAAAAAAAAk0/sV3KfL7BHXQ/s1600-h/lambang_majapahit1.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370560854910376402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 340px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 333px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQpKGNGdI/AAAAAAAAAk0/sV3KfL7BHXQ/s400/lambang_majapahit1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
Sawisé jumeneng Nata, Sang Prabu anggeganjar marang sakabèhing kawula kang mauné labuh, marang panjenengané. Wiraraja dibagèhi tanah Lumajang sauruté.
&lt;em&gt;= Setelah bertahta, sang prabu membalas kebaikan para pengikut yang mendukung dirinya. Wiraraja dikasih bagian tanah Lumajang sekitarnya.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Putriné Kartanagara papat pisan dadi garwané Sang Prabu, lan isi ana garwa paminggir siji saka tanah Melayu aran Sri Indresywari. Saka garwa paminggir iki Sang Prabu kagungan putra R. Kaligemet, kang besuké nggentos kaprabon, ajejuluk Jayanégara, saka Prameswari Sang Prabu peputra putri loro.
&lt;em&gt;= Putri Kartanagara 4 orang diperistri langsung oleh sang Prabum dan ada permaisuri pertama dari tanah Melayu bernama Sri Indresywari. Dari istri pertama sang prabu mendapatkan putra Raden Kaligemet yang nantinya menggantikan tahtanya bergelar Jayanegara, dari Prameswari sand prabu mendapat keturunan 2 orang (putra dan putri).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1295 R. Kalagemet lagi yuswa sataun wis diangkat dadi pangéran pati lan dadi ratu ing Kedhiri, ibuné kang ngembani nyekel praja Kedhiri. Ing nalika panjenengané Prabu Kertarejasa Jayawardhana iku, Tanah Jawa karo Cina becik manèh, perdagangané gedhé, wong Cina teka ing Tanah Jawa nggawa mas, salaka, merjan, sutra biru, sutra kembang kembangan, bala pecah lan dandanan wesi.
&lt;em&gt;= Pada tahun 1295, raden Kalagemet yang baru berusia 1 tahun sudah diangkat jadi pangeran pati sebagai raja di Kediri, ibunya yang bertugas membawahi kerajaan Kediri. Pada masa Prabu Kertarejasa Jayawardhana, hubungan tanah Jawa dan Cina baik sekali, perdagangan sangat ramai, orang Cina berkunjung ke tanah Jawa membawa emas, perak, merjan, sutra biru, sutra kembangan, barang pecah belah dan aneka kerajinan logam.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Saka ing Tanah Jawa, Cina kulak: beras, kopi kapri, rami, bumbon crakèn luwih luwih mrica, barang barang mas utawa salaka, bangsa dandanan kuningan utawa tembaga, tenunan kapas lan sutra, welirang, gading, cula warak, kayu warna warna, manuk jakatuwa lan barang nam naman.
&lt;em&gt;= Dari tanah Jawa, orang Cina membeli beras, kopi kapri, serat rami, bumbu-bumbu terutama merica, barang emas maupun perak, aneka barang logam kuningan dan tembaga, tenun kapas dan sutra, belerang, gading, cula, kayu warna-warni, burung kakatua dan barang tenun tradisional.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing Tanah Jawa ing wektu iku akèh palabuhan ramé, kayata: Tuban, Sedayu; Canggu.
Nalika jamané ratu iki ing bawah karaton Majapait kena dibasakaké ungsum kraman.
Para satriya kang mèlu lara lapa dhèk jamané Radèn Wijaya saiki ora oleh ati, awit Sang Prabu mung anggega aturing nayakané kang aran Mahapati, wasana para satriya mau banjur genti genti padha ngraman, nanging temahan asor jurite.
Ing tahun 1328 Sang Prabu séda, dicidra ing dukun kang didhawuhi ambedhel salirané.
&lt;em&gt;= Di tanah Jawa waktu itu banyak pelabuhan yang ramai seperti: Tuban, Sedayu dan Canggu. Pada jaman pemerintahan raja ini, bisa diumpamakan musim "kraman = pembangkangan". Para satria yang dulunya susah payah bersama raden Wijaya kini tidak memperoleh hati (perhatian), karena Sang Prabu hanya percaya pada penasehatnya bernama Mahapati, sehingga para satria tersebut pada bergantian membangkang . Pada tahun 1328 sang Prabu wafat, karena dicelakai dukun yang disuruh mengobati dirinya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Sasédané Prabu Jayanégara kang gumanti sadhèrèké putri, kang sesilih Bhreng Kauripan banjur jejuluk Jayawisynuwardhani. Sang nata dewi krama oleh satriya, kekasih Kartawardhana, misuwur pinter, sregep lan jejeg penggalihé. Sang Pangéran diangkat dadi panggedhéning jaksa lan oleh lungguh bumi Singasari sawewengkoné.
&lt;em&gt;= Sepeninggal Prabu Jayanegara yang menggantikan dirinya adalah saudara putrinya yang turunan Bhreng Kauripan, bergelar Jayawisnuwardhani. Sang ratu putri menikah dengan Kartawardhana yang terkenal pintar, rajin dan lurus tekadnya. Sang pangeran diangkat jadi jaksa agung yang mengatur wilayah Singasari sekitarnya.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Gajahmada&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt; &lt;/span&gt;dadi warangkaning ratu. Karepe Gajahmada arep nungkulaké satanah Jawa kabèh lan pulo pulo sakiwatengené. Ora let suwé yaiku tahun 1334 Sumbawa lan Bali bedhah banjur kabawah marang Majapait, mangka Bali nalika samana wis mbawahaké Lombok, Madura, Blambangan lan Sélebes sabagéyan.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Gajahmada menjadi tulangpunggung/patih sang ratu. Gajahmada berniat untuk menguasai seluruh tanah Jawa dan pulau sekitarnya. Tidak lama kemudian tahun 1334, Sumbawa dan Bali diambil alih kerajaan Majapahit, dimana Bali waktu itu sudah membawahi Lombok, Madura, Blambangan dan sebagian Sulawesi.&lt;/em&gt;
&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQpoAYQDI/AAAAAAAAAk8/jSrgeCcSVQE/s1600-h/arca_gajah_mada1.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370560862939004978" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 190px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 204px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogQpoAYQDI/AAAAAAAAAk8/jSrgeCcSVQE/s400/arca_gajah_mada1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
Sénapatining prajurit kang ngelar jajahan ing sajabaning Jawa aran Nala.
Ing tahun 1334 Sang Raja putri mbabar miyos kakung diparabi Ayam Wuruk, kang banjur dijumenengaké Nata, nanging isih diembani kang ibu nganti tekan tahun 1350.
&lt;em&gt;= Panglima prajurit yang memimpin ekspansi keluar Jawa bernama Nala. Tahun 1334, sang ratu putri melahirkan putra yang diberinama Ayam Wuruk, yang langsung menggantikannya namun tugas kerajaan masih diambilalih ibunya hingga tahun 1350.&lt;/em&gt;

&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Bab 8 Ayam Wuruk, Syri Rajasanagara,&lt;/span&gt; &lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Ratu kang kaping IV ing Majapait (tahun 1350 - 1389)&lt;/span&gt;
&lt;em&gt;= Bab 8. Ayam Wuruk, Stri Rajasanagara, raja IV Majapahit (1350 - 1389)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Awit saking gedhéné lelabuhané Patih Gajahmada, nagara Majapait saya suwé saya misuwur kuwasané. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Prabu Ayam Wuruk tetep jumeneng ratu agung binathara ngerèh sapepadhaning ratu. Sang Nata krama oleh nakdhèrèke piyambak kang wewangi Retna Susumnadewi.
&lt;em&gt;= Berkat tekad Patih Gajahmada, negara Majapahit makin lama makin luas kekuasaannya. Apalagi jaman bertahtanya Prabu Ayam Wuruk. Sang Prabu memperistri saudaranya sendiri yang bernama Retna Susumnadewi.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Para santanané padha ginadhuhan tanah dhéwé dhéwé ing samurwaté. Déné kuwajibané para santana utawa adipati mau ing mangsa kang wus ditamtokaké kudu ngadhep ing panjenengané Nata, mulané kabèh padha duwè dalem becik becik ana ing Majapait, muwuhi asrining nagara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;= Para adipati mendapatkan tanah sewaan masing-masing. Kewajiban mereka pada waktu/masa tertentu diharuskan menghadap raja, maka semuanya mempunyai hubungan baik dengan pusat raja Majapahit untuk menjamin keutuhan negara.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing jaman iku ana pujangga kraton aran "Prapanca" (Budha).
Ing tahun 1365 pujangga iki nganggit layang kang aran Nagarakertagama.
Ana manèh pujangga aran Empu Tantular nganggit layang &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Arjunawiwaha.
&lt;em&gt;= Pada jaman tersebut ada pujangga keraton bernama empu Prapanca (Budha). Pada tahun 1365, pujangga tersebut mengarah sastra bernama "Negarakertagama". Adalagi pujangga bernama empu Tantular yang mengarang sastra "Arjunawiwaha".&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Majapait ing wektu iku emèh mbawahaké satanah Indhiya Wétan kabèh, kayata: Tanah Jawa Wétan lan Tengah, Sumatra, wiwit Lampung tekan Acih (Perlak), Bornéo (Banjarmasin), Sélebes (Banggawai, Salaiya, Bantaiyan), Florès (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparoning Malaka lan sabageyaning Nieuw Guinéa.
&lt;em&gt;= Majapahit waktu itu hampir membawahi seluruh tanah selatan India mulai dari Tanah Jawa (timur dan tengah), Sumatra (mulai Lampung sampai Aceh (Perlak)), Borneo (Banjarmasin), Sulawesi (Banggawai, Salaiya, Bantaiyan), Flores (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparuh Malaka dan sebagian Papua new guinea.&lt;/em&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Tanah Sundha ora ditelukaké. Kang jumeneng ratu ana ing tanah Sundha mau ajejuluk Prabu Wangi, putrané putri dilamar Prabu Ayam Wuruk iya dicaosaké, ananging Prabu Wangi banjur pasulayan karo Patih Gajahmada, nganti dadi perang. Prabu Wangi séda ing paprangan lan akèh punggawané kang mati ana paprangan; ewadéné tanah Sundha ora dibawah Majapait, isih madeg dhéwé ing saterusé.
&lt;em&gt;= Tanah Sunda tidak ditaklukkan. Raja yang bertahta waktu itu adalah Prabu Wangi, putrinya dilamar Prabu Ayam Wuruk diberikan, tapi Prabu Wangi berselisih paham dengan Patih Gajahmada hingga perang. Prabu Wangi wafat dalam peperangan dan banyak pengawalnya yang mati dalam perang tersebut, namun tanah Sunda tetap tidak ambil Majaphit, dibiarkan berdiri sendiri.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing Jaman samono paro ajar utawa pandhita (agama Budha utawa Syiwah) mèlu nindakaké paprentahan nagara, mulané padha diparingi lungguh bumi dhéwé dhéwé kang diarani bumi: Pradikan.
&lt;em&gt;= Jaman tersebut para pandeta (Budha maupun Syiwa) banyak yang ikut dalam pemerintahan negara, maka diberi wilayah sendiri yang disebut sebagai bumi Pradikan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Padésan ing sakubenging candhi utawa padhépokaning para pandhita lumrahè uga dadi bumi pradikan, wongé diwajibaké jaga lan ngopèni candhi padhépokan mau.
Kawula liyané padha kena pajeg prapuluhan (saprapuluhing pametuning buminé), lan kena ing pagawéyan gugur gunung lan sapepadhané.
Pajeg rajakaya, pajeg panggaotan lan tambangan ing wektu samono iya wis ana.
Pametoning praja gedhé banget, perlu kanggo ragad perang lan kanggo kapraboning Sang Nata sarta kanggo yeyasan nagara, kayata: kraton, gedhong gedhong, pasanggrahan pasanggrahan lan liya liyané.
&lt;em&gt;= Perkampungan yang dilingkupi candi atau padepokan para pandita juga disebut bumi pradikan, penduduknya berkewajiban menjaga dan melestarikan candi/padepokan tersebut. Penduduk juga dikenakan pajak bumi 1/10 pada waktu panen. Pajak hasil bumi, pajak penggaotan (kerajina?) dan tambang sudah ada pada jaman tersebut. Penghasilan kerajaan besar sekali, selain diperuntukkan biaya perang juga untuk menjalankan pemerintahan raja dan yayasan/kepemilikan negara seperti kraton, gedung, pesanggrahan dan lainnya.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing nagara Majapait wis akèh omah kang becik becik, payoné sirap, déné omah kang lumrah padha apager gedhég, ananging ing jero racaké ana pethiné watu kang santosa perlu kanggo nyimpen barangé kang pangaji. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;= Di Majapahit sudah banyak rumah-rumah bagus, atap sirap (genting?), dimana umumnya rumah berpagar tinggi, didalamnya aja arca atau peti batu untuk menyimpan barang aji/kramat.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Wong wong dhèk jaman samono padha doyan nginang, senengané padha tuku bala pecah saka juragan Cina, pambayare nganggo dhuwit sing diarani Kèpèng. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;em&gt;= Orang jaman itu suka nginang, senang belanja barang pecah belah dari Cina dan memakai uang yang disebut Kepeng.&lt;/em&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJoqabp4I/AAAAAAAAAks/-GmZamcxUt0/s1600-h/koin+Majapahit-2.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370553149823887234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJoqabp4I/AAAAAAAAAks/-GmZamcxUt0/s320/koin+Majapahit-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJoY-OmqI/AAAAAAAAAkk/I93k77leGdw/s1600-h/koin+Majapahit-1.jpg"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370553145142188706" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 243px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogJoY-OmqI/AAAAAAAAAkk/I93k77leGdw/s320/koin+Majapahit-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;
Wong lanang padha ngoré rambut, wong wadon gelungan kondhé. Wiwit enom wong wong padha nganggo gegaman keris, lan gegaman iku kerep diempakaké.
Wong yèn mati jisime diobong, yèn sing mati iku bangsa luhur utawa wong sugih bojo bojoné (randha randhané) padha mèlu obong.
&lt;em&gt;= Laki-laki pada memanjangkan rambut, perempuan gelungan konde. Mulai dari muda, orang senang memakai senjata keris dan sering dipakai untuk beradu. Orang mati dibakar jasadnya, jika yang mati bangsa luhur atau orang-orang kaya, istri-istrinya juga ikut dibakar.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt; &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ora adoh saka nagara ana papan kanggo adu adu kéwan utawa uwong utawa kanggo karaméyan liya liyané. Papan iku arané "Bubat"
Sang Nata kerep lelana tinggal nagara, ing Blambangan sauruté iya tau dirawuhi.
&lt;em&gt;= Tidak jauh dari pusat kerajaan ada tempat untuk adu binatang ataupun orang untuk keramaian. Tempat tersbut dinamakan "Bubat"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Prakara perdagangan iya dadi gedhé banget, awit saka majuning lelayaran kagawa saka kèhing nagara nagara kang kabawah ing Majapait sing kelet letan sagara.
Bab kagunan, kayata: ngukir ukir sapepadhané, kombule ing Tanah Jawa Wétan dhèk pungkasané abad kang katelulas, lan ing wiwitané abad kang pat belas, mung baé panggawéné reca reca kang apik apik iku nganggo tuntunaning wong Indhu utawa nurun kagunan Indhu.
&lt;em&gt;= Perdagangan berkembang pesat, karena majunya dunia pelayaran hingga manca negara dibawah kekuasaan Majapahit yang dibatasi samudera. Perihal benda milik seperti ukir-ukiran pernah terkenal di Jawa timur di akhir abad-13 atau awal abad 14, namun tata cara pembuatan arca-arca yang bagus tersebut mengikuti tuntunan orang Hindu.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Cekaking carita: Nalika panjenengané Prabu Ayam Wuruk iku, Majapait lagi unggul unggule, samubarang lagi sarwa onjo. Prabu Ayam Wuruk tilar putra kakung miyos saka selir asma "Bhre Wirabhumi" jumeneng Nata ana ing bagéyan kang wétan. Déné kang nggentèni keprabon Majapait putra mantuné Sang Nata, ajejuluk Wikramawardhana (tahun 1389 - 1400).
&lt;em&gt;= Singkat cerita: Ketika bertahtanya Prabu Ayam Wuruk, Majapahit sedang jaya-jayanya dalam segala bidang. Prabu Ayam Wuruk menurunkan putra dari perkawinannya dengan selir bernama "Bhre Wirabhumi" yang turut bertahta di wilayah timur. Yang menggantikan Ayam Wuruk adalah putra mantunya bernama Wikramawardhana (tahun 1389 - 1400)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1400 Sang Prabu sèlèh keprabon, kersané arep mandhita, ananging sapengkeré Sang nata, putra lan sentanané padha rebutan nggentèni keprabon. Prabu Wikramawardhana banjur kapeksa kundur jumeneng ratu manèh nganti tekan tahun 1428.
Sajroning jumeneng sing kèri iki Sang Prabu nerusaké merangi santanané kang wus kabanjur ngraman nalika Sang Prabu jengkar saka kraton.
&lt;em&gt;= Tahun 1400 sang Prabu turun tahta berkeinginan untuk jadi pendeta, namun sesudahnya putra dan sanak saudaranya berebutan untuk menggantikan tahta. Prabu Wikramawadhana terpaksan kembali lagi untuk bertahta hingga tahun 1428. Selama lanjut bertahta ini, sang Prabu terus memerangi santana (saudara?) yang terlanjur membangkang ketika dia keluar kraton.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Rèhning perang iki nganti suwé dadi nganakaké kapitunan akèh lan karusakan gedhé, awit teluk telukan ing tanah sabrang banjur padha wani mbangkang wus ora gelem kabawah Majapait.
Tataning kawula iya banjur rusak. Prakara patèn pinatèn wis dadi lumrah.
Akèh wong main lan adu jago totohané gedhéni.
&lt;em&gt;= Karena perang yang lama ini berakibat pada rusaknya sistem kerajaan, daerah jajahan di tanah seberang banyak yang membangkang dan tidak tunduk lagi ke Majapahit. Sistem sosial juga rusak. Perkara saling membunuh sudah jadi hal lumrah. banyak orang main adu jago dengan taruhan tinggi.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing tahun 1428 - 1447 kang jumeneng nata ratu putri jejuluk Retna Dewi Suhita, putrané Prabu Wikramawardhana saka garwa paminggir. Terusé banjur banjur Prabu Kertawijaya (1447 - 1452) lan manèh Prabu Bhra Hiyang Purwawisyesa (1456 - 1466), Pandan Salas (1446 - 1468), banjur Prabu Bhrawijaya V (1468 - 1478).
&lt;em&gt;= Pada tahun 1428 - 1447 yang bertahta adalah putri prabu Wikramawardhana bergerlar Retna Dewi Suhita, hasil perkawinannya dengan istri selir. Raja selanjutnya adalah Prabu Kertawijaya (1447-1452), kemudian Prabu Bhra Hiyang Purwawisesa (1456-1466), Pandan Salas (1446-1468) dan Prabu Brawijaya V (1468-1478).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Mungguh babade ratu ratu kang wekasan iki ora terang, mulané ora disebutaké.
Ana ratu ing nagara Keling (salor wétané Kedhiri, sakidul kuloné Surabaya) jejuluk Prabu Ranawijaya Giridrawardhana ngelar jajahan nelukaké Jenggala, Kedhiri lan uga mbedhah Majapait (tahun 1478).
Bedhahè Majapait iku kuthané ora dirusak, awit ing tahun 1521 lan 1541 nagara Majapait isih kecrita kutha kang gedhé.
&lt;em&gt;= Cerita tentang raja-raja terakhir ini tidak begitu jelas, maka tidak disebutkan. Ada raja di negara Keling (utara timur Kediri, baratdaya Surabaya) bergelar Prabu Ranawijaya Giridrawardhana yang ekspansi menaklukkan Jenggala, Kediri dan menguasai Majapahit (1478). Penguasaan Majapahit tersebut, kotanya tidak dirusak, makanya ditahun 1521 dan 1541, Majapahit masih diceritakan sebagai kota besar.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Suwé suwé kutha Majapait dadi rusak, awit wong wongé kang ora seneng kaerèh ing kraton liya, padha genti genti ninggal negarané, nglèrèg marang tanah Bali.
Saiki Majapait mung kari patilasan baé, awujud pager bata tilas mubeng lan tilas gapura (Candhi Tikus, Bajang Ratu).
&lt;em&gt;= Lama-lama kota Majapahit jadi rusak, karena penduduknya tidak senang diperintah raja laini maka pada meninggalkan negrinya menuju tanah Bali. Sekarang Majapahit tinggal patilasan saja, berwujud lingkaran pagar batu-bata dan tilas gapura (candi Tikus, Bajang Ratu). &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Isih sajroning jaman Majapait, agama Islam wis mlebu saka sathithik, saya suwé saya bisa ngalahaké dayaning agama Indhu ana ing Jawa Wétan.
&lt;em&gt;= Selama jaman Majapahit, agama Islam sudah mulai berkembang sedikit demi sedikit dan pada akhirnya mengalahkan pamor agama Hindu di Jawa Timur.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Mungguh kaananing tanah Sundha ing wektu iku ora pati kasumurupan.
Sawisé krajan Tarumanagara dhèk abad 4 lan 5, mung ana kang kacarita krajan Sundha ing tahun 1030 nagarané kira kira ing Cibadhak. Enggoné ora ana wong manca kang mlebu mrono, marga saka kèhing bajag kang padha nganggu gawé ing sauruting pasisir.
&lt;em&gt;= Disisi lain cerita tentang tanah Sunda jaman tersebut juga tidak jelas. Setelah kerajaan Tarumanegara abad 4 dan 5, cuma ada cerita kerajaan Sunda di tahun 1030 lokasinya disekitar cibadhak. Orang-orang manca malas datang kesana karena sering diganggu perompak disepanjang pesisir pantai.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;Ing Priyangan sisih wétan ana krajané aran Galuh, kang ngadegaké ayaké ratu aran Pusaka, ratu liyané jejuluk Wastukencana lan Prabu Wang(g)i.
&lt;em&gt;= Di Priangan timur ada kerajaan bernama Galuh yang rajanya bernama Pusaka, raja lain yang pernah dikenal bernama Wastukencana dan Prabu Wangi.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,204,204)"&gt;ing tahun 1433 Sang Ratu Dewa iya Raja Purana, ngadegaké kutha anyar aran Pakuan (Batutulis). Karajan iki aran Pajajaran. Tulisan kang ana ing watu kono nerangaké manawa Sang Prabu yasa segaran. Pajajaran semuné krajan rada gedhé lan ngerèhaké Cirebon barang.
&lt;em&gt;=Di tahun 1433,sang Ratu Dewa /raja Purana mendirikan kota baru bernama Pakuan (Batutulis). Kerajaan itu bernama Pajajaran. Tulisan dalam beberapa prassati menyebutkan bahwa sang raja senang berlayar. Pajajaran juga dikenal sebagai kerajaan yang lumayan besar kekusaaannya hingga Cirebon.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;
---- 00 -----
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-size:100%;" &gt;"Babad Tanah Djawi"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;gubahan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;L. VAN RIJCKEVORSEL&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;, Directeur Normaalschool Muntilan&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-size:85%;" &gt; &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&amp;amp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,0,0)"&gt; R.D.S. HADIWIDJANA&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;, Guru Kweekschool Muntilan&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-size:85%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,153)"&gt;Pangecapan J.B. Wolters U.M.&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-size:85%;" &gt; Groningen - Den Haag - Weltervreden – 1925
&lt;/span&gt;

&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-size:85%;" &gt;
by zainal arifin suwito
Copyright @October-2009
&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-size:100%;" &gt;
&lt;/span&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;


















&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-5110108690797267818?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/-vXE2MKx3VQ/cerita-pilihan-babad-tanah-jawa.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SogGkpUkaUI/AAAAAAAAAjs/IPIkCZ21PpA/s72-c/Candi+Dieng2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/08/cerita-pilihan-babad-tanah-jawa.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-2068019355433668775</guid><pubDate>Thu, 09 Jul 2009 06:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-23T06:15:26.272+07:00</atom:updated><title>Masyarakat Angkringan, Penggagas Akulturasi Budaya</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWSp3LhPWI/AAAAAAAAAiM/Vs38FPUaqa0/s1600-h/A.tampak+Depan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 301px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWSp3LhPWI/AAAAAAAAAiM/Vs38FPUaqa0/s400/A.tampak+Depan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356348579711630690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

JOGJA.. kata lima huruf yang memiliki banyak keunikan. Banyak hal bisa ditemui di  "Jogja",  kata yang akan melambungkan pikiran dan membawa kita ke suasana yang nyaman,eksotik dan penuh keramahan.

Sisi Kuliner di jogja begitu beragam, salah satunya The Phenomena of Angkringan.  Dari bagian ini  muncul gagasan berdirinya  Angkringan ++ Jl.Paingan III Kampus SADHAR III yang hadir untuk  mendeskripsikan vesri Angkringan yang identik dengan makanan murah namun berkualitas versus view dan suasana nyaman ala resto.  
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SrlZkvX-yJI/AAAAAAAAAoc/rXkn7_oMmZA/s1600-h/Angkringan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 424px; height: 315px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SrlZkvX-yJI/AAAAAAAAAoc/rXkn7_oMmZA/s320/Angkringan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384433317225351314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
OK...bagi rekan-rekan yang ingin mencoba  silakan  berkunjung  ke  tempat kami....


&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWXqn159FI/AAAAAAAAAiU/cCh8E5Jc47Y/s1600-h/A.nikmat+nasgor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 239px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWXqn159FI/AAAAAAAAAiU/cCh8E5Jc47Y/s320/A.nikmat+nasgor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356354090332451922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
Nasi Goreng Telur : 5500                  
Ayam Bakar +Nasi  : 5500                  
Omlete            : 5000                  
Intel , Tante                              

Kopi Legit:2000
Kopi Tarik,Teh Tarik
Juice
Es Teh    : 1500

Angkringan di konsep resto..? mmmmph...kenapa tidak!!

Apakah Angkringan harus identik dengan kumuh, dipinggir jalan dan bau asap..? Saya kurang setuju. angkringan seharusnya bisa dinikmati dengan santai disuasana yang nyaman, tidak bising dan sejuk. yang terpenting adalah suasana intens dan relaxs bareng temen ngobrol ngalor ngidul bisa dilakukan tanpa ada gangguan dan yang pasti &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MURAH&lt;/span&gt;.

Mengapa angkringan begitu akrap ditemui  dijogja dan penting?! Keberadaan angkringan saat ini penting karena menjadi wahana sosialisasi dan perkembangan budaya. Sebagaimana diketahui JOGJA adalah kota majemuk dan masyarakat jogja terbiasa bergaul,bersosialisasi  dengan mahasiswa atau masyarakat luar daerah di tempat yang bernama ANGKRINGAN
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWa4WdZd2I/AAAAAAAAAic/-kmwv6l8gAE/s1600-h/A.gubuk+Derita.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWa4WdZd2I/AAAAAAAAAic/-kmwv6l8gAE/s320/A.gubuk+Derita.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356357624719308642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWebIt0v5I/AAAAAAAAAik/_vhRMCB63nw/s1600-h/A.nasgor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 218px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWebIt0v5I/AAAAAAAAAik/_vhRMCB63nw/s320/A.nasgor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356361520860413842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

Pesan bagi pengelola angkringan di seluruh JOGJA, mari kita masyarakatkan angkringan JOGJA dengan lebih variatif dengan mengutamakan faktor Higenis menu dan tempat saji.
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWgDCDAMSI/AAAAAAAAAis/D-5oj3IX0Iw/s1600-h/A.memasak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWgDCDAMSI/AAAAAAAAAis/D-5oj3IX0Iw/s320/A.memasak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356363305776591138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
Jangan sampai wahana budaya ini dikenal sebagai tempat yang kumuh.
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;JOGJA = ANGKRINGAN &lt;/span&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kita adalah pioneer dan fasilitator Budaya Jogja 15 sampai 20 tahun lagi..!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-2068019355433668775?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/6lTPscR3AQo/masyarakat-angkringan-penggagas.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SlWSp3LhPWI/AAAAAAAAAiM/Vs38FPUaqa0/s72-c/A.tampak+Depan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/07/masyarakat-angkringan-penggagas.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-8484346257423182526</guid><pubDate>Sat, 04 Jul 2009 05:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-04T12:27:37.355+07:00</atom:updated><title>Yang Unik dari Jogja-Bagian 2</title><description>





&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520078593 -1073717157 41 0 66047 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} p 	{margin-top:7.5pt; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:7.5pt; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:9;color:black;"    lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.  "Becak  sebagai satu dari  Identitas Jogja"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7kQIsbm7I/AAAAAAAAAhI/CnK6dH0Cqgk/s1600-h/IMG_3882.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7kQIsbm7I/AAAAAAAAAhI/CnK6dH0Cqgk/s400/IMG_3882.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354467972852980658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;Seperti halnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;andong (kereta berkuda),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikawasan kota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jogja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga terdapat kendaraan ramah lingkungan yaitu becak (tenaga pedal manusia).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kendaraan roda tiga ini&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;mudah ditemukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disekitar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;area&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jalan utama dikota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jogja seperti kawasan Malioboro, Jl Mangkubumi (Tugu), stasiun, hingga kawasan sekitar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keraton Jogja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Buat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Anda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sedang berkunjung ke Jogja,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjumpai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;becak-becak berkeliaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disekitar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;area&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahkan aksesnya terkadang hingga didalam gang-gang khusus misalnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;area Prawirotaman. Mengapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jarang dijumpai di tempat lain, ...jawabannya jelas pertama karena disana pusat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pariwisata Jogja sepanjang Malioboro hinga Keraton, kedua ditempat lain terutama kondisi topografi yang naik-turun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tentu akan memberatkan para penarik becak untuk mengayuh pedal, dan ketiganya memang hanya area tertentu yang sengaja diijinkan untuk beroperasinya becak ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan disediakan jalur lambat khusus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perlu disyukuri juga bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keberadaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kendaraan tradisional di kota ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;justru dilestarikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mendukung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;program pariwisata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jogja,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di Jakarta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimana di era 90-an&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;justru diberangus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena alasan memacetkan lalulintas kota.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7lHRRvGJI/AAAAAAAAAhg/QIiE7nfAwhw/s1600-h/terminal+becak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 230px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7lHRRvGJI/AAAAAAAAAhg/QIiE7nfAwhw/s320/terminal+becak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354468920049735826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;Memang tidak hanya Jogja,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kota lain juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terdapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kendaraan becak seperti halnya di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Purwokerto, Solo, Surabaya dll.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya di Jogja &amp;amp; Solo saja, dimana identitas becak diangkat sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;salah satu faktor&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendukung pariwisata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memikat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wisatawan yang memang ingin menikmati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suasana santai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan mengunjungi obyek wisata maupun berbelanja di sekeliling kota yang kebetulan mempunyai kesamaan identitas Keraton sebagai pusat budaya ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Perhatian pemerintah daerah dalam hal ini menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kunci&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam melestarikan eksistensi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kendaraan tradisional ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sepertinya hanya di 2 kota ini...disediakan jalur lambat di sepanjang jalur protokol&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akses&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kendaraan lambat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sepeda, becak maupun andong.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7lG1_zGHI/AAAAAAAAAhQ/0GdCULfyakg/s1600-h/IMG_3884.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 221px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7lG1_zGHI/AAAAAAAAAhQ/0GdCULfyakg/s320/IMG_3884.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354468912726743154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;Buat Anda yang sedang jalan-jalan ke Jogja,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;boleh dicoba naik becak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terutama disekitar kawasan Malioboro – Jogja. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Memang tarif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;naik becak dilokasi ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak tertera&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jelas...karena tidak punya speedometer,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tergantung kemampuan Anda untuk menawar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagai gambaran untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jarak dekat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya disepanjang jalur Malioboro aja...untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengunjungi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gerai toko kaos/batik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mungkin Anda perlu merogeh kocek Rp 5000.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun kalau Anda ingin berkeliling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hingga kawasan Keration atau membeli&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh-oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di kawasan Bakpia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Patok...paling tidak tarifnya Rp 15000 – 20000.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang tidak dipungkiri di kawasan ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7lHKqA6DI/AAAAAAAAAhY/rowCA-bbzrI/s1600-h/IMG_3885.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 222px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7lHKqA6DI/AAAAAAAAAhY/rowCA-bbzrI/s320/IMG_3885.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354468918272518194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;terjalin kerjasama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara penarik becak/andong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan para pemilik gerai kaos/butik. Bahkan terkadang ada tukang becak yang berani menawarkan tarif rendah dengan berharap mendapat komisi dari pemilik toko karena mengantar penumpang kesana, namun tetap saja mereka berani ambil resiko jika ternyata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penumpangnya tidak berbelanja.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;
&lt;/p&gt;




&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;
&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;Ada keasyikan tersendiri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagi siapapun itu yang bisa merasakan nikmatnya naik becak. Mungkin sejalan pepatah Jawa &lt;i style=""&gt;(alon-alon asal kelakon)&lt;/i&gt;, siapapun yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mencoba naik becak akan tersugesti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk merasakan suasana santai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lepas dari kepenatan aktivitas harian, seolah-olah waktu berjalan lambat tanpa diuber-uber setoran. Apalagi ada slogan khusus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;”Every day is Sunday in Jogja”...so lengkap kalau sudah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suasana Jogja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cocok untuk melepas penat terutama buat para eksekutif muda &amp;amp; keluarga yang sehari-harinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disibukkan dengan aktivitas di kota-kota besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nOlmd__I/AAAAAAAAAhw/W8Yo0L8OPz4/s1600-h/IMG_3889.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nOlmd__I/AAAAAAAAAhw/W8Yo0L8OPz4/s400/IMG_3889.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354471244787744754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nOY4j8aI/AAAAAAAAAho/0EtUmlN5nns/s1600-h/becak+parkir2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 283px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nOY4j8aI/AAAAAAAAAho/0EtUmlN5nns/s400/becak+parkir2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354471241373970850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;Sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;becak khas Jogja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mempunyai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ciri khusus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terutama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;corak design-nya dibanding becak tempat lain termasuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Solo – Surakarta.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain body-nya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agak lumayan besar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;anda bisa melihat corak khusus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibagian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penutup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;roda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;depan samping kiri-kanan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dibuat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sengaja menggembung diluarnya umumnya dihiasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tekstur lukisan sederhana, tulisan iklan atau sekedar nama pemiliknya.&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nPJFncmI/AAAAAAAAAiA/NLsTj_hWzJU/s1600-h/IMG_3876.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nPJFncmI/AAAAAAAAAiA/NLsTj_hWzJU/s400/IMG_3876.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354471254313628258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nO8fNJ6I/AAAAAAAAAh4/AP6bF84MOic/s1600-h/IMG_3881.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7nO8fNJ6I/AAAAAAAAAh4/AP6bF84MOic/s400/IMG_3881.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354471250931296162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Copyright @July-2009&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"   lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;by zainal arifin suwito
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:9;color:black;"    lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-8484346257423182526?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/W37E8E5TdUw/yang-unik-dari-jogja-bagian-2.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk7kQIsbm7I/AAAAAAAAAhI/CnK6dH0Cqgk/s72-c/IMG_3882.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/07/yang-unik-dari-jogja-bagian-2.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-8492970502070121962</guid><pubDate>Tue, 09 Jun 2009 09:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-04T06:33:20.310+07:00</atom:updated><title>As Hommy As Angkringan ++</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Si4y3FkslqI/AAAAAAAAAe0/dGLlVG4k77U/s1600-h/angkringan.j2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 282px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Si4y3FkslqI/AAAAAAAAAe0/dGLlVG4k77U/s400/angkringan.j2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345265729705645730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Si4tKoebyiI/AAAAAAAAAes/VOS3sxfiY2Q/s1600-h/angkringan.j2.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;As Hommy As Angkringan ++&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sembari mengkaji Jogja Tempoe Doeloe masa-masa Dinasti Mataram Hindu, silahkan menyempatkan diri menikmati hidangan sederhana di Angkringan++.
Jl.Paingan III No.88 Depan Kampus Sanata Dharma III Ringroad Utara Jogja

Lokasi dengan panorama sawah padi tersaji lesehan di gazebo sambil menikmati Ayam bakar khas Jogja..Kopi..
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Si4tKoebyiI/AAAAAAAAAes/VOS3sxfiY2Q/s1600-h/angkringan.j2.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ayam Bakar Khas Jogja ala Angkringan ++&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk6TQpo8kuI/AAAAAAAAAhA/rrnNfICrSJk/s1600-h/Ayam_Bakar_by_funkynia.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 314px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sk6TQpo8kuI/AAAAAAAAAhA/rrnNfICrSJk/s320/Ayam_Bakar_by_funkynia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354378921254884066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
Ayam bakar merupakan khasanah kuliner khas asli nusantara, bahan dasarnya adalah daging ayam. ya jelas to za.. namanya juga ayam bakar.! Variasi masakan berbahan dasar daging ayam paling populer saat ini adalah  fried chicken  yang dipopulerkan Kolonel D. Sanders  dan telah mendunia. Oleh karena itu sebagai bagian dari masyarakat jogja, Angkringan ++ berusaha mempopulerkan masakan khas indonesia tersebut minimal diatas kepopuleran sajian fried chicken. Sebagaimana telah diketahui bahwa Khasanah kuliner di Nusantara ini sangat lengkap, bermacam-macam tempat memiliki spesial bumbu, proses pembuatan dan tata penyajian  yang nantinya menyuguhkan citarasa khas masakan Indonesia.  Tak mau ketinggalan Angkringan ++ menyajikan menu andalan ayam bakar khas jogja.


Visit and Taste ....
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-8492970502070121962?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/SqLYrwut6qM/as-hommy-as-angkringan.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Si4y3FkslqI/AAAAAAAAAe0/dGLlVG4k77U/s72-c/angkringan.j2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/06/as-hommy-as-angkringan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-1579576524674049676</guid><pubDate>Sat, 30 May 2009 10:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-30T11:08:28.269+07:00</atom:updated><title>Yang Unik dari  Jogja - Bagian 1</title><description>&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFKcjWeXMI/AAAAAAAAAdM/u6x10myjNOA/s1600-h/sambisari+v4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341632487424416962" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 394px; cursor: pointer; height: 250px; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFKcjWeXMI/AAAAAAAAAdM/u6x10myjNOA/s400/sambisari+v4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFK01iH10I/AAAAAAAAAdU/9ZjUbvvDdNQ/s1600-h/sambisari+v3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341632904621971266" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 400px; cursor: pointer; height: 300px; text-align: center;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFK01iH10I/AAAAAAAAAdU/9ZjUbvvDdNQ/s400/sambisari+v3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;


&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;1. “Misteri peradaban yang hilang.., kisah dibalik Candi Sambisari”&lt;/strong&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya lahir dan dibesarkan di perkampungan dekat keberadaan Candi Sambisari., namanya dusun Tempelsari. Cerita ke masa lalu di tahun 1980-an, waktu kecil saya sering diajak orang tua ke pasar Prambanan melalui proyek pemugaran candi ini. Karena seringnya melewati kedua &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;candi ini, seringkali sejak kecil saya bertanya dalam hati dengan misteri candi dibawah permukaan tanah ini dan saya bandingkan dengan kemegahan candi Prambanan yang sudah berdiri kokoh sejak silam. “Kenapa candi ini bisa terkubur Candi Prambanan tidak, ada apa kejadian dibalik itu, dan kenapa pula tidak ada prasasti/bukti peninggalan jelas dari penguasa jaman dulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Pertanyaan tidak berhenti disitu,...biasanya peninggalan budaya tidak terlepas dari warisan sejarah/budaya dari nenek moyang dulu hingga sekarang....lihat aja masyarakat Bali yang masih bisa terlihat jelas asal usul peradabannya. Sungguh beda kondisinya dengan disi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ni atau Jogja umumnya...tidak terlihat sama sekali warisan budaya/keahlian masyarakat silam yang terwariskan ke generasi kini khususnya seni pahat/patung. Alasan memang jelas....dalam tatanan budaya Jawa sempat terjadi peleburan budaya seiring dengan masuknya pengaruh baru agama Islam yang menggeser kepercayaan Hindu/Budha sejak jaman dulu. Bahkan itupun tercermin dari evolusi nilai-nilai budaya yang melekat dengan tradisi kerajaan Hindu/Budha masa lalu...kemudian dikenal adanya Mataram Hindu...yang kemudian berevolusi menjadi Mataram Islam sejak masa pemerintahan Panembahan Se&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;nopati (th 1575 Masehi berpusat di Kotagede), kemudian Kasultanan Yogyakarta dari pemerintahan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I th 1755 Masehi) hingga Hamengkubuwono X saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFLxi_IuGI/AAAAAAAAAdc/0ShhaO8TbK0/s1600-h/candi+sambisari7.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341633947615410274" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 247px; cursor: pointer; height: 386px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFLxi_IuGI/AAAAAAAAAdc/0ShhaO8TbK0/s320/candi+sambisari7.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke cerita candi Sambisari...hampir tidak ada cerita turun temurun dari para leluhur tentang asal muasal candi ini...dari penguasa siapa atau kerajaan apa masa itu. Kalau penasaran boleh dicrosscheck dengan bertanya ke masyarakat sekitar situ tentang asal muasal candi ini....rata-rata mereka juga tidak tahu, yang masih ingatpun paling cerita penemuan kembali situs candi ini. Adalah Karyowinangun, seorang petani yang berjasa dalam penemuan situs candi ini di tahun 1966. Kejadian langka dialaminya, ketika sedang mengayunkan cangkulny&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;a ke tanah sawah dan membentur sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Sebelumnya petani disitupun merasa aneh juga, dengan keberadaan banyak tikus di sawah mereka dan belum diketahui darimana asal sarangnya. Setelah kejadian itu, dinas Purbakala menetapkan area persawahan Karyowinangun sebagai suaka Purbakala dan memulai pekerjaan penggalian (ekskavasi) serta pemugaran. Baru di tahun 1987, setelah 21 tahun Candi Sambisari inipun selesai dipugar dan mulai bisa dikunjungi. Sekarang ini, kita beruntung bisa menikmati keindahan candi warisan ini yang masih &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;meninggalkan misteri siapa penguasa yang memprakarsai pembuatannya waktu itu, Hal ini dikarenakan belum jelas keberadaan bukti otentik prasasti yang menjelaskan asal muasal candi ini....So tidak salah kalau aku menyebutnya ini suatu misteri....entah sampai kapan.

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;**Misteri bagian-1**&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
Oh ya....bagi yang belum tahu keberadaan Candi Sambisari, for yo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ur info candi ini terletak sekitar 10 km sebelah timur Jogja, persisnya lewat jalan Jogja-Solo menuju ke arah Prambanan, setelah pertigaan bandara Adi Sucipto ada jalan kecil menuju ke utara kurang lebih 3 km (trus ikutin aja papan petunjuknya).

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFOzZJYQSI/AAAAAAAAAds/8mwSJZ96PJY/s1600-h/patung.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341637277868638498" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; width: 315px; cursor: pointer; height: 283px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFOzZJYQSI/AAAAAAAAAds/8mwSJZ96PJY/s320/patung.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sesuai dengan dokumentasi di ruang informasi, arca-arca yang ditemukan melambangkan agama yang melatarbelakangi berdirinya Candi Sambisari adalah Hindu Siwaistis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sedangkan tahun dibangunnya candi ini masih belum diketahui secara pasti. Namun jika ditinjau dari arsitektur dan jenis batuan yang digunakan, diperkirakan candi ini didirikan pada abad ke-9. Adanya penemuan lempengan emas bertuliskan huruf Paleograf yang merupakan tulisan pada awal abad ke-9 memperkuat interpretasi ini. Nah untuk raja/pemerintahan siapa pada waktu itu juga masih misteri, namun dari prasasti Wanua III tahun 908 tentang raja-raja dinasti Mataram Hindu, raja yang memerintah antara tahun 828 - 846 Masehi adalah Rakai Garung. Namun belum tentu candi ini dibangun oleh raja yang memerintah saat itu.

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFPLJWDJuI/AAAAAAAAAd0/0KdUumwFYUk/s1600-h/Sambisari-9.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341637685943674594" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 400px; cursor: pointer; height: 292px; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFPLJWDJuI/AAAAAAAAAd0/0KdUumwFYUk/s400/Sambisari-9.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFPt4tamUI/AAAAAAAAAd8/RMBTDHBtBlo/s1600-h/Sambisari-10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341638282773698882" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 400px; cursor: pointer; height: 290px; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFPt4tamUI/AAAAAAAAAd8/RMBTDHBtBlo/s400/Sambisari-10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFQCRb8juI/AAAAAAAAAeE/nm27-d6xrtw/s1600-h/Sambisari-11.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341638633008697058" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 400px; cursor: pointer; height: 288px; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFQCRb8juI/AAAAAAAAAeE/nm27-d6xrtw/s400/Sambisari-11.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFQuwf7EKI/AAAAAAAAAeM/qIu3dBs2iCw/s1600-h/makara.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341639397261119650" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 320px; cursor: pointer; height: 203px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFQuwf7EKI/AAAAAAAAAeM/qIu3dBs2iCw/s320/makara.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Candi ini terdiri dari sebuah candi induk yang menghadap ke barat dan 3 buah candi perwara (candi pendamping) di bagian depannya. Candi induk berukuran 13,65 x 13,65 meter dengan tinggi 7,5 meter sedangkan candi perwara kira-kira berukuran 5 x 5 meter. Di bagian candi induk terdapat sebuah tangga masuk dengan hiasan Makara di kanan kirinya. Terdapat relief manusia berperut buncit &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;seolah-olah menyangga Makara. Di rongga mulut Makara terdapat patung semacam singa tapi kepalanya manusia dengan jenggot panjang.

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFSBDXOZ8I/AAAAAAAAAeU/A_12UYREHjM/s1600-h/Sambisari-14.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341640811074185154" style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 320px; cursor: pointer; height: 228px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFSBDXOZ8I/AAAAAAAAAeU/A_12UYREHjM/s320/Sambisari-14.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Begitu memasuki gerbang, dijumpai badan candi yang berupa ruangan berukuran 5 x 5 meter&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; dengan selasar selebar sekitar 2,5 meter mengelilingi candi. Di selasar ini kami menemukan batu pipih dengan tonjolan di atasnya sebanyak 12 buah, masing-masing 8 buah berbentuk lingkaran dan 4 buah berbentuk persegi. Pada dinding badan candi, terdapat relung-relung yang berisi relief Agastya di sebelah selatan, Ganesha di sebelah timur (belakang), dan Dewi Durga di sebelah utara.

Di dalam ruangan terdapat Lingga yan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;g berada di atas Yoni yang merupakan simbol seksualitas laki-laki dan wanita. Lingga merupakan representasi dari alat kelamin laki-laki dan Yoni merupakan representasi alat kelamin wanita. Lingga ini juga merupakan lambang Siwalingga, khususnya kemaluan Dewa Siwa. Hal ini yang mendasari interpretasi penganut kepercayaan di waktu itu adalah Hindu Siwaistis.

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFS9y7cYOI/AAAAAAAAAek/Uy0Fc6fdvuU/s1600-h/lingga-yoni.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341641854634713314" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 459px; cursor: pointer; height: 308px; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFS9y7cYOI/AAAAAAAAAek/Uy0Fc6fdvuU/s400/lingga-yoni.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;


&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan membandingkan beberapa situs purbakala peninggalan peradaban Jawa Kuno yang juga dijumpai disekitarnya yaitu Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Prambanan dan lainnya, menunjukkan waktu itu sudah terjalin hubungan harmonis antar keberagaman umat beragama. Candi Kalasan yang terletak +/- 6 km disebelah timur Candi Sambisari adalah candi dengan latar belakang Buddha tertua yang ditemukan di Jawa Tengah, dibangun pada tahun 778 oleh Rakai Panangkaran sebagai bentuk &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;penghormatan kepada Dewi Tara. Candi Sari yang terletak beberapa ratus meter dari Candi Kalasan, diperkirakan dibangun pada masa yang sama sebagai asrama para pendeta Buddha.

Selanjutnya kawasan Candi Lara Jonggrang Prambanan dari awal dikenal sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia. Disekitar Prambanan juga ditemukan 3 gugusan candi, yaitu : Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu yang berlatar belakang Buddha. Jadi bisa dibayangkan kan…betapa harmonisnya kerukunan antar umat beragama pada waktu itu.
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;**Misteri bagian ke-2****&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya lebih tertarik untuk mengetahui misteri keberadaan Candi Sambisari ini sendiri, yang berada 6.5 meters dibawah permukaan tanah. Dari berbagai penelitian memang letusan Gunung Merapi-lah yang diketahui sebagai penyebab utama terpendamnya bangunan candi ini. Seperti diketahui letak candi ini berada sekitar 30 km dari pusat erupsi Merapi...jadi diperkirakan material yang menimbun adalah aliran lahar dingin yang akan diulas lebih lanjut. Kenapa lahar dingin....pertama karena jaraknya yang lumayan jauh dari pusat erupsi dan yang kedua situs-situs yang ditingalkan tidak rusak parah, bayangkan saja kalau yang menimbun aliran lava&amp;amp;lahar panas....sudah pasti kita tidak akan menemukan bentuk warisan candi seperti sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam khayalan saya...masyarakat dulu akan memilih tinggal hidup di sekitaran sumber kehidupan yaitu air....air yang mengalir tentulah sungai. Mengapa? Jangan dibandingkan dengan keadaan sekarang dimana orang bisa mengebor tanah untuk mendapatkan air...jaman dulu tentu teknologi ini belum ada.. jadi orang akan lebih memilih tinggal disekitar sungai untuk sumber kehidupan mereka ter&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;masuk untuk bisa bertani dan beternak.

Dimasa kecil, saya sering bermain dan explore banyak hal dengan bermain di sungai dan persawahan dekat kampung saya. Adalah Kali Kuning dengan air nan jernih... Jadi saya bisa bayangkan orang akan mencari minumpun disini, mencari ikan, mengairi sawah semua bersumber dari sungai ini. Saat ini...anda bisa menjumpai aliran sungai ini disebelah barat lokasi candi, mengalir dari lereng Merapi ke selatan. Perkiraan melalui aliran sungai ini pula, aliran lahar dingin Merapi produk erupsi hebat jama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;n dulu mampu menimbun keberadaan candi ini. Dalam pengamatan saya....dibagian tebing sungai Kali Kuning yang berbatasan dengan kampung saya, terdapat lapisan soil berada sekitar 3 meter dari permukaan yang menandakan 2 produk lapisan pengendapan yang berbeda dan dimungkinkan lapisan atas merupakan produk aliran lahar dahsyat waktu itu...

Hal ini diperkuat juga dengan penemuan lapisan lahar Merapi setebal tiga meteran di situs Wonoboyo, sekitar tahun 1990-an di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jateng. Selama beberapa kali penggalian di sana, pakar arkeologi Balar Yogya dan Suaka Peninggalan Sejarah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;dan Purbakala Jateng, menemukan perhiasan emas, pecahan gerabah, serta struktur bangunan yang menunjukkan bekas hunian yang memiliki tanaman pekarangan di kedalaman lapisan tersebut" kata Siswanto yang lulusan biologi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;LETUSAN hebat Gunung Merapi, menurut Nurhadi, sebenarnya tercatat dalam sejarah kuno Indonesia. Misalnya, laporan RW van Bemmelen, menyebutkan suatu letusan heb&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;at merapi, hingga melenyapkan sebagian puncak dan membuat pergeseran lapisan tanah ke arah baratdaya, antara lain membentuk Gunung Gendol karena membentur lempengan Pegunungan Menoreh. (The Geology of Indonesia, 1949)

Letusan disertai gempa bumi, banjir lahar, hujan abu dan batu-batuan sangat mengerikan. Bencana alam ini mungkin merusak ibu kota Medang dan banyak daerah permukiman di Jawa Tengah, sehingga oleh rakyat dirasakan sebagai pralaya atau kehancuran dunia. (Boechar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;i, Some Consideration on the Problem of the Shift of Mataram's Center, 1976) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
Letusan diduga terjadi di masa pemerintahan Rakai Sumbah Dyah Wawa seperti tertoreh dalam beberapa prasasti buatan sekitar tahun 928. "Bencana alam besar ini terkenal dengan sebutan pralaya atau kehancuran dunia," ujar Nurhadi. "Beberapa pakar epigrafi yang menafsir dari kalimat prasasti kuno, menduga setelah peristiwa pralaya itulah, kaum kerabat raja dan pejabat tinggi kerajaan Mataram Kuno mengungsi ke arah timur," ujar Nurhadi. Mengapa para leluhur Mataram Kuno memilih mengungsi ke&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Jawa Timur, karena di daerah ini sudah dikenal ada penguasa daerah yang tunduk kepada Mataram, yaitu daerah Kanuruhan, Pu Sindok membangun ibu kota baru, yaitu di Tamwlang. Sesuai dengan landasan kosmologis kerajaan, maka kerajaan baru itu dianggap sebagai dunia baru ... masa pemerintahan dan cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana." (Sejarah Nasional Indonesia, 1985)
&lt;em&gt;
Sumber:&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;- “Mysteries of the Ancient Java – Episode 1”, transkrip video dokumenter Produksi: Galeri Video Foundation, 2006) by Dwi Sriningsih, 31 mei, 2008
- “Kuburan Candi dan Pralaya Gunung Merapi”, artikel Kompas, Jumat, 23 Februari 2001&lt;/em&gt;

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;**Misteri b&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;agian ke-3**&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lanjut menguak misteri berikutnya adalah evolusi erupsi Gunung Merapi sendiri. Seperti dituturkan oleh Dr Ir Sari Bahagiarti Kusumayudha MSc (Dekan Fakultas Teknologi Mineral UPN Yogyakarta) di Kompas, Sabtu 22 April 2006; Gunung Merapi dikenal atraktif karena tidak pernah tidur nyenyak, waktu istirahat biasanya 3-5 tahun lalu giat lagi. Bahkan, terkadang siklusnya hanya dua tahun saja seperti terjadi pada tahun 1994-1998, atau 1980-1984.
Dulu, 1.000 tahun yang lalu (1006 Masehi), menurut pene&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;liti terdahulu Van Bemmelen (1949) Merapi dikabarkan pernah meledak dahsyat. Akibat dari letusan ini, sebagian puncak runtuh, melorot, dan longsor ke arah barat daya, tertahan oleh Perbukitan Menoreh, kemudian membentuk gundukan-gundukan bukit yang dikenal sebagai Bukit Gendol. Hipotesis letusan dahsyat Merapi 1.000 tahun silam ini masih menjadi perdebatan para ahli. Namun, pada kenyataannya hingga kini tak seorang pun mampu menyebut angka tahun secara pasti kapan letusan besar masa lampau itu terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Benarkah pernah ada letusan besar Merapi? Di dusun-dusun Kadisoka, Kedulan, dan Sambisari (Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta) terdapat candi-candi kuno peninggalan masa Dinasti Mataram Hindu, yang ketika diketemukan terkubur oleh endapan lahar dan abu vulkani&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;k setebal 6-8 meter. Di tempat-tempat tersebut dapat diju&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mpai lapisan endapan abu vulkanik yang ketebalannya 20-60 sentimeter. Sementara itu, di daerah Borobudur tebal lapisan abu dan pasir vulkanik mencapai 200 sentimeter. Letusan kecil tidak mungkin menghasilkan lapisan abu setebal itu.

Aktivitas Merapi pada abad ke-9-11 disinyalir menjadi salah satu pendorong berpindahnya pusat kebudayaan Mataram ke Jawa Timur. Letusan-letusan Merapi masa lalu juga pernah menguruk danau yang dahulu mengitari Candi Borobudur. Konon, semula candi Buddha tersebut dibangun di tengah danau dan digambarkan bak ceplok bunga teratai di tengah kolam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Merapi mengalami evolusi dalam masa hidupnya. Tipe letusannya berubah-ubah. Pada awalnya magma Merapi encer, bersifat basa, dan mobilitas cukup tinggi. Ketika itu tipe letusannya efusif, tidak meledak, hanya melerkan lava dalam volume besar. Kemudian sifat magma berangsur-angsur berubah menjadi lebih kental, lebih asam, dan mobilitasnya merendah. Tipe erupsinya berselang-seling antara efusif dan eksplosif (meledak). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada perkembangan terakhir, magma Merapi menjadi sangat kental, tekanan gas rendah, dan pergerakannya sangat lamban. Karena kentalnya, maka ketika mencapai perm&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ukaan, magma akan mengonggok di sekitar mulut kawah membentuk kubah lava (Kusumayudha, 1988, Newhall &amp;amp; Bronto, 1995, Camus et al, 2000).

Gundukan kubah lava sewaktu-waktu dapat gugur oleh desakan dari dalam. Guguran itu menghasilkan aliran piroklastik yang dikenal sebagai awan panas atau wedus gembel (karena penampilannya bergulung-gulung berwarna kelabu kelam, bergerak cepat, seperti sekawanan domba menuruni lereng). Erupsi seperti ini yang disebut sebagai tipe Merapi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gunung Bibi di lereng timur Merapi merupakan endapan lava hasil kegiatan Merapi paling primitif (Proto Merapi). Sementara itu, Gunung Turgo dan Gunung Plawangan di Kaliurang merupakan produk Merapi berikutnya (Merapi Tua).

Berbeda dengan Merapi Tua dan Merapi Primitif yang menghasilkan endapan lava sangat tebal, Merapi yang lebih muda memproduksi endapan lava yang tipis-tipis, lahar hujan, dan piroklastik fraksi halus (tuf atau abu vulkanik). Letusan Merapi Musakini (2.000 tahun) pada umumnya ke arah barat, barat daya, dan selatan. Sebelumnya, letusan Merapi diduga ke segala arah.
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengutip artikel Kapa85 uniga malang: hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wirakusumah (1989), Berthommier (1990), Newhall &amp;amp; Bronto (1995) dan Newhall et al (in press). Wirakusumah (1989) membagi Geologi Merapi menjadi 2 kelompok besar yaitu Merapi Muda dan Merapi Tua. Penelitian yang dilakukan sesudahnya semakin merinci unit-unit stratigraf! di Merapi.

Secara garis besar sejarah G. Merapi dapat dibagi menjadi 4 bagian (Berthommier, 1990).
&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PRA MERAPI (lebih dari 400.000 tahun yang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; lalu)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
Sebelum terbentuk Gunung Merapi, pada masa ini sudah terdapat apa yang sekarang nampak sebagai Gunung Bibi, gunung basaltik andesit, yang terletak di lereng timur Merapi, termasuk di daerah Boyolali. Walaupun sama sepeni lava Merapi berjenis basalt-andesitik, batuan gunung Bibi berbeda dari batuan Merapi, karena tidak mengandung orthopyroxen. Puncak Bibi mempunyai ketinggian sekitar 2050 meter di atas muka laut. Lokasi ini dapat dicapai melalui desa Cepogo naik ke arah Merapi. Jarak datar antara puncak Bibi dan puncak Merapi sekitar 2.5 kilometer. Karena umurnya yang jauh lebih tua darl gunung Merapi bukit ini telah mengalami alterasi yang kuat, contoh batuan segar sudah sulit sekali ditemukan. Umurnya diperkirakan sekitar 700.000 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;MERAPI TUA (60.000 sampai 8000 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada masa ini mulal lahir Gunung Merapi dan merupakan fase awal dari pembentukannya. Kerucut G. Merapi belum terbentuk sempurna. Produk erupsinya bervariasi. Ekstrusi awalnya berupa lava basaltik yang membentuk Gunung Turgo dan Plawangan berumur sekitar 40.000 tahun. Produk aktivitasnya terdiri dari batuan dengan komposisi andesit basaltik; dari awanpanas, breksiasi lava dan lahar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;


&lt;strong&gt;MERAPI PERTENGAHAN (8000 sampai 2000 tahun yang lalu)&lt;/strong&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terjadi beberapa lelehan lava andesitik yang menyusun bukit Batulawang dan Gajahmungkur, yang saat ini nampak di lereng utara Merapi. Batuannya terdiri dari aliran lava, breksiasi lava dan awan panas. Aktivitas Merapi dicirikan dengan letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; juga terjadi letusan eksplosif dengan "debris-avalanche" (sebagaimana terjadi di Mount St. Helens, dalam skala kecil), ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal-kuda dengan panjang 7 kilometer, lebar 1-2 kilometer dengan beberapa bukit di lereng barat. Pada periode ini terbentuk Kawah Pasarbubar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;MERAPI BARU (2000 sampai sekarang)&lt;/strong&gt;
Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; yang saat ini disebut sebagai Gunung Anyar. Aktivitas Merapi terdiri dari aliran basalt dan andesit lava, awanpanas serta letusan magmatik dan phreatomagmatik. Kubah lava menjadi pusat aktivitas Gunung Merapi sampai saat ini.

Batuan dasar dari G. Merapi diperkirakan berumur Merapi Tua. Sedangkan Merapi yang sekarang ini berumur sekitar 2000 tahun. Letusan besar dari G. Merapi terjadi di masa lalu yang dalam sebaran materialnya telah menutupi Candi Sambisari yang terletak + 23 km dari G. Merapi. Newhall et al (in press) juga menyatakan bahwa akibat letusan besar di masa lalu dari G. Merapi, mat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;erial hasil letusannya diperkirakan telah membendung K. Progo yang kemudian membentuk danau. Namun demikian, waktu dari letusannya masih diperdebatkan.

&lt;strong&gt;Sejarah letusan&lt;/strong&gt;
Sudah tidak terhitung berapa kali Merapi meletus, baik besar maupun kecil. Letusan-letusan Merapi yang membawa korban jiwa, yang tercatat dalam buku data dasar Gunungapi Indonesia (1979), antara lain terjadi pada tahun 1672, menghasilkan awan panas dan banjir lahar hujan yang menelan 300 jiwa manusia. Diduga tipe letusan ketika itu adalah Plinian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahun 1930-1931 Merapi meletus dengan tipe Plinian, menghasilkan aliran lava, piroklastika, dan lahar hujan, dengan korban 1.369 orang meninggal. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahun 1954, kegiatan Merapi menghasilkan awan panas, hujan abu dan lapili, korban 64 orang meninggal.
Pada tahun 1961, terjadi aliran lava, awan panas, hujan abu, dan bahaya sekunder berupa banjir lahar hujan, enam orang meninggal sebagai korban. Pada saat itu Magelang dan sekitarnya sempat remang-remang dibalut abu dan debu vulkanik.
Pada tahun 1969, terjadi letusan cukup besar, ada awan panas letusan, guguran kubah lava, hujan abu, dan bom gunung api, korban manusia tiga orang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Letusan tahun 1972-1973 termasuk tipe volkano, menghasilkan semburan asap hitam setinggi tiga kilometer di atas puncak, hujan pasir dan kerikil di Pos Babadan, guguran awan pijar ke Kali Batang sejauh tiga kilometer.
Pada hari Selasa, 22 November 1994, sekitar pukul 10.00 selama lebih kurang dua jam Merapi mengeluarkan wedus gembel-nya ke arah Kali Boyong, menelan 67 korban manusia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Februari 2001, Merapi giat lagi. Seperti biasanya, aktivitasnya ini berupa guguran kubah lava membentuk awan panas. Arah guguran pada waktu itu ke selatan-barat daya. Kepulan wedus gembel-nya terlihat dari Kecamatan Depok yang berjarak 25 kilometer dari puncak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kali ini Mei 2006, Merapi aktif bergolak lagi...dengan ak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;tifitas kurang lebih seperti tahun 2001.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Sumber:
- “Sejarah, Evolusi dan Letusan Merapi” artikel Kompas, Sabtu 22 April 2006, Dr Ir Sari Bahagiarti Kusumayudha MSc Ketua Penyelenggara Volcano International Gathering 2006; Dekan Fakultas Teknologi Mineral UPN Yogyakarta&lt;/em&gt;



&lt;span style="font-style: italic;"&gt;English version: on going &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;(by zainal arifin suwito)&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Copyright @May-2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;





&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;2. Keris sebagai warisan leluhur dan budaya asli Jawa&lt;/strong&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Keris berasal dari Kepulauan Jawa dan keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan abad ke-14. Senjata ini terbahagi kepada tiga bahagian, yaitu mata, hulu dan sarung. Keris sering dikaitkan dengan kuasa mistik oleh orang Melayu pada zaman dahulu. Antara lain, terdapat ke&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;percayaan bahwa keris mempunyai semangatnya yang tersendiri. &lt;/span&gt;

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVh3VXffpI/AAAAAAAAAgA/9f1-rsBw5CI/s1600-h/keris1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 338px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVh3VXffpI/AAAAAAAAAgA/9f1-rsBw5CI/s400/keris1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351791335456079506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;
Keris menurut amalan Melayu tradisional perlu dijaga dengan cara diperasapkan pada masa-masa tertentu, malam Jumat misalnya. Ada juga amalan mengasamlimaukan keris sebagai cara untuk menjaga logam keris dan juga untuk menambah bisanya. Ada pepatah yang menyatakan : "Penghargaan pada seseorang tergantung karena busananya." Mungkin pepatah itu lahir dari pandangan psikolog yang mendasarkan pada kerapian, kebersihan busana yang dipakai seseorang itu menunjukkan watak atau karakter yang ada dalam diri orang itu.Di kalangan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya untuk suatu perhel&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;atan tertentu, misalnya pada upacara perkawinan, para kaum prianya harus mengenakan busana Jawi jangkep (busana Jawa lengkap). &lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkViQZ5XplI/AAAAAAAAAgI/qNpFjXT02aQ/s1600-h/keris2.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 264px; height: 328px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkViQZ5XplI/AAAAAAAAAgI/qNpFjXT02aQ/s400/keris2.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351791766168643154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Dan kewajiban itu harus ditaati terutama oleh mempelai pria, yaitu harus menggunakan/memakai busana pengantin gaya Jawa yaitu berkain batik, baju pengantin, tutup kepala (kuluk) dan juga sebilah keris diselipkan di pinggang. Mengapa harus keris? Karena keris itu oleh kalangan masyarakat di Jawa dilambangkan sebagai symbol "kejantanan." Dan terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupaka&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;n lambang pusaka. &lt;/span&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Pandangan ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat Jawa dulu, bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu dari menyatunya unsur lelaki dengan unsur perempuan. Di dunia ini Allah Swt, menciptakan makhluk dalam dua jenis seks yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Kepercayaan pada filsafat agraris ini sangat mendasar di lingkungan keluarga besar Karaton di Jawa, seperti Karaton Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan lain-lain. Kepercayaan itu mulanya dari Hinduisme yang pernah dianut oleh masyarakat di Jawa. Lalu muncul pula kepercayaan tentang bapa angkasa dan ibu bumi/pertiwi. Yang juga dekat dengan keperc&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;ayaan filsafat agraris di masyarakat Jawa terwujud dalam bentuk upacara kirab pusaka pada menjelang satu Sura dalam kalender Jawa dengan mengkirabkan pusaka unggulan Karaton yang terdiri dari senjata tajam: tombak pusaka, pisau besar (bendho). Arak-arakan pengirab senjata pusaka unggulan Karaton berjalan mengelilingi komplek Karaton sambil memusatkan pikiran, perasaan, memuji dan memohon kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, untuk beroleh perlindungan, kebahagiaan, kesejahteraan lahir dan batin. &lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Fungsi utama dari senjata tajam pusaka dulu adalah alat untuk membela diri dari serangan musuh, dan binatang atau untuk membunuh musuh. Namun kemudian fungsi dari senjata tajam seperti keris pusaka atau tombak pusaka itu berubah. Di masa damai, kadang orang mengguna&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;kan keris hanya sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran saat temu pengantin. Maka keris pun dihias dengan intan atau berlian pada pangkal hulu keris. Bahkan sarungnya yang terbuat dari logam diukir sedemikian indah, berlapis emas berkilauan sebagaikebanggaan pemakainya. Lalu, tak urung keris itu menjadi komoditi bisnis yang tinggi nilainya. &lt;/span&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Tosan Aji atau senjata pusaka itu bukan hanya keris dan to&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;mbak khas Jawa saja,melainkan hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki senjata tajam pusaka andalan,seperti rencong di Aceh, badik di Makasar, pedang, tombak berujung tig (trisula), keris bali, dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Ketika Sultan Agung menyerang Kadipaten Pati dengan gelar perang Garudha Nglayang, Supit Urang, Wukir Jaladri, atau gelar Dirada Meta, prajurit yang mendampingi menggunakan senjata tombak yang wajahnya diukir gambar kalacakra. Keris pusaka atau tombak pusaka yang merupakan pusaka unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsure batu meteorid yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada Sang Maha Pencipta Alam (Allah SWT) dengan suatu upaya spiritual oleh Sang Empu. Sehingga kekuatan spiritual Sang Maha Pencipta Alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;. Pernah ada suatu pendapat yang berdasarkan pada tes ilmiah terhadap keris pusaka dan dinyatakan bahwa keris pusaka itu mengeluarkan energi/kekuatan yang tidak kasat mata (tak tampak dengan mata biasa). Yang menarik hati adalah keris yang dipakai untuk kelengkapan busana pengantin pria khas Jawa. Keris itu dihiasi dengan untaian bunga mawar melati yang dikalungkan pada hulu batang keris. Ternyata itu bukan hanya sekedar hiasan, melainkan mengandung makna untuk mengingatkan orang agar jangan memiliki watak beringas, emosional, pemarah, adigang-adigung-adiguna, sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri seperti watak Harya Penangsang. &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Kaitannya dengan Harya Penangsang ialah saat Harya Penang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;sang berperang melawan Sutawijaya, karena Penangsang pemarah, emosional, tidak bisa menahan diri, perutnya tertusuk tombak Kyai Plered yang dihujamkan oleh Sutawijaya. Usus keluar dari perutnya yang robek. Dalam keadaan ingin balas dendam dengan penuh kemarahan Penangsang yang sudah kesakitan itu mengalungkan ususnya ke hulu keris di pinggangnya. Ia terus menyerang musuhnya. Pada suatu saat Penangsang akan menusuk lawannya dengan keris Kyai Setan Kober di bagian pinggang, begitu keris dihunus, ususnya terputus oleh mata keris pusakanya. Penangsang mati dalam perang dahsyat yang menelan banyak korban. Dari peristiwa itulah muncul ide keris pengantin dengan hiasan untaian bunga mawar dan melati. &lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Tosan aji atau senjata pusaka seperti tombak, keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang luar biasa kepada pemilik atau pembawanya. Orang menyebut itu sebagai piyandel, penambah kepercayaan diri, bahkan keris pusaka atau tombak pusaka yang diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu mengandung kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu. Namun manakala kepercayaan sang raja itu dirusak oleh perilaku buruk sang adipati yang diberi keris tersebut, maka keris pusaka pemberian itu akan ditarik/diminta kembali oleh sang raja. &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyara&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;kat Jawa diartikan secara filosofi sebagai hubungan akrab, menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup di dunia. Maka lahirlah filosofi "manunggaling kawula – Gusti", bersatunya abdi dengan rajanya, bersatunya insan kamil dengan Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, sehingga kehidupan selalu aman damai, tentram, bahagia, sehat sejahtera. Selain saling menghormati satu dengan yang lain masing-masing juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar. Namun demikian, makna yang dalam dari tosan aji sebagai karya seni budaya nasional yang mengandung pelbagai aspek dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya,kini terancam perkembangannya karena aspek teknologi sebagai sahabat budayanya kurang diminati ketimbang aspek legenda dan magisnya. &lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Empu Dari Zaman Ke Zaman&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;
Dua arti dalam istilah empu, pertama dapat berarti sebutan kehormatan misalnya Empu Sedah atau Empu Panuluh. Arti yang kedua adalah ‘Ahli’ dalam pembuatan ‘Keris’. Dalam kesempatan ini, Empu yang kami bicarakan adalah seseorang yang ahli dalam pembuatan keris. Dengan tercatatatnya berbagai nama ‘keris’ pastilah ada yang membuat. Pertama-tama yang harus diketahui adalah tahapan zaman terlahirnya ‘keris’ itu, kemudian meneliti bahan keris, dan ciri khas sistem pembuatan keris. Ilmu untuk&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt; kepentingan itu dinamakan ‘Tangguh’. Dengan ilmu tangguh itu, kita dapat mengenali nama-nama para Empu dan hasil karyanya yang berupa bilahan-bilahan keris, pedang, tombak, dan lain-lainnya. Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:
&lt;strong&gt;1. Kuno (Budho) tahun 125 M – 1125 M&lt;/strong&gt;
meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Penggiling Wiraradya, Kahuripan dan Kediri.
&lt;strong&gt;2. Madyo Kuno (Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;
Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.
&lt;strong&gt;3. Sepuh Tengah (Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M&lt;/strong&gt;
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.
&lt;strong&gt;4. Tengahan (Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M&lt;/strong&gt;
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram
&lt;strong&gt;5. Nom (Muda) tahun 1614 M. Sampai sekarang&lt;/strong&gt;
Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta. &lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Pada setiap zaman kerajaan itu terdapat beberapa orang Eyang yang bertugas untuk menciptakan keris. &lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Keris-keris ciptaan Empu itu setiap zaman mempunyai ciri-c&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;iri khas tersendiri. Sehingga para Pendata benda pusaka itu tidak kebingungan. Ciri khas terletak pada segi garap dan kwalitas besinya. Kwalitas besi merupakan ciri khas yang paling menonjol, sesuai dengan tingkat sistem pengolahan besi pada zaman itu, juga penggunaan bahan ‘Pamor’ yang mempunyai tahapan-tahapan pula. Bahan pamor yang mula-mula dipergunakan batu ‘meteor atau batu bintang’ yang dihancurkan dengan menumbuknya hingga seperti tepung kemudian kita mengenali titanium semacam besi warnanya keputihan seperti perak, besi titanium dipergunakan pula sebagai bahan pamor. Titanium mempunyai sifat keras dan tidak dapat berkarat, sehingga baik sekali untuk bahan pamor. Sesuai dengan asalnya di Prambanan maka pamor tersebut dinamakan pamor Prambanan. Keris dengan pamor Prambanan dapat dipastikan bahwa keris tersebut termasuk bertangguh Nom. Karena diketemukannya bahan pamor Prambanan itu pada jaman Kerajaan Mataram Kartasura (1680-1744). &lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Keris Diakui Dunia&lt;/strong&gt;
Setelah wayang pada tahun 2003, &lt;strong&gt;kini giliran keris Indonesia&lt;/strong&gt; diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia yang mesti dilestarikan. &lt;strong&gt;Pengakuan UNESCO di Paris 25 November 2005&lt;/strong&gt; itu tentu merupakan percikan berita segar di tengah serba keterpurukan Indonesia akhir-akhir ini. &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Keris, seperti juga teater Kabuki dari Jepang, pentas tradisional India— Ramlila yang mengetengahkan epik Ramayana—Samba dari Brasil, Mak Yong dari Melayu, ”Masih&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt; hidup dan dihayati, tradisi masih berlanjut. Berbeda dengan budaya samurai di Jepang yang kini sudah mati,” ungkap Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) Koichiro Matsuura, yang ditemui Kompas pekan lalu, beberapa saat setelah menyerahkan sertifikat pengakuan UNESCO itu kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta. &lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Jadi jelas sudah...kalau keris merupakan budaya asli bangsa Indonesia,..jadi kita patut melestarikannya paling tidak dengan memahami asal-usulnya. Jangan sampai nanti ada negara lain yang mengakuinya gara-gara kita sendiri tidak mengetahui history-nya. &lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;”Lewat momentum penghargaan UNESCO ini mestinya kita menata kembali pandangan tentang keris,” ungkap Ir Haryono Haryoguritno, pakar keris yang memimpin tim riset pustaka dan lapangan juga diskusi selama setahun sejak Agustus 2004. &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Laporan keris&lt;/strong&gt;
Setelah mendatangi komunitas perkerisan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, dan Lombok, Haryono yang dibantu Waluyo Wijayatno dari perkumpulan penggemar keris Damartaji dan warga negara Indonesia asal Australia, Gaura Mancacaritadipura, merangkumnya dalam sebuah laporan tebal untuk UNESCO. Juga diserahkan film budaya perkerisan yang berdurasi 10 menit serta 120 menit. Kalau selama ini banyak media cetak maupun elektronik lebih sering mengekspos ”pandangan-pandangan miring” yang dihubungkan dengan mistik buruk keris (dalam sinetron-sinetron perdukunan), maka menurut Haryono, semestinya kini Indonesia juga menyadari betapa dunia ternyata menghargai warisan budaya nenek moyang yang dalam beberapa kesempatan sering disingkirkan oleh bangsa Indonesia sendiri. &lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Keris selama ini dipandang dekat dengan dunia perdukunan, sementara negeri tetangga, Singapura, malah sudah lebih dulu memakai identitas keris sebagai kebanggaan mereka. Maskapai penerbangan negeri ini, Singapore Airlines, memakai Kris Lounge sebagai ruang tunggu VIP bagi para penumpangnya di bandar udara. Atau &lt;strong&gt;KrisFlyer,&lt;/strong&gt; sebuah layanan bagi mereka yang sering menggunakan jasa maskapai tersebut. KrisMagazine untuk majalah mereka, dan KrisShop untuk layanan jualan suvenir mereka di pesawat. Adalah tanggung jawab masyarakat Indonesia untuk mulai menyadari dan melestarikan warisan leluhur ini...paling tidak dengan mengenalkan informasi secara benar kepada generasi penerus maupun orang lain tentang asal muasal maupun keberagaman jenis Keris dalam khazanah budaya Nusantara.&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;
&lt;strong&gt;Karya Agung&lt;/strong&gt;
UNESCO memandang keris memiliki nilai luar biasa sebagai karya agung ciptaan manusia. Selain berakar dalam tradisi budaya dan sejarah masyarakat Indonesia, keris juga masih berperan sebagai jati diri bangsa, sumber inspirasi budaya, dan masih berperan sosial di masyarakat. Jika usulan wayang sampai empat kali dikembalikan laporannya—sebelum diakui sebagai warisan dunia 2003—usul&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;an keris langsung diterima.
&lt;strong&gt;”Indonesia perlu bangga,” ungkap Matsuura,&lt;/strong&gt; yang sempat mengoreksi cara seorang pejabat Indonesia menarik sebilah keris dari warangkanya itu. Sekarang pertanyaannya bagaimana dengan kita....?

&lt;strong&gt;Anatomi atau &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a title="Ricikan Keris" href="http://njowo.wikia.com/wiki/Ricikan_Keris"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Ricikan Keris&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Anatorni keris dikenal juga dengan istilah ricikan keris. Berikut ini akan diuraikan anatorni keris satu persatu :&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;1. &lt;strong&gt;Ron Dha,&lt;/strong&gt; yaitu ornamen pada huruf Jawa Dha.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;2. &lt;strong&gt;Sraweyan,&lt;/strong&gt; yaitu dataran yang merendah di belakang sogogwi, di atas ganja.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;3. &lt;strong&gt;Bungkul,&lt;/strong&gt; bentuknya seperti bawang, terletak di tengah-te&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;ngah dasar bilah dan di atas ga~qa.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;4. &lt;strong&gt;Pejetan,&lt;/strong&gt; bentuknya seperti bekas pijatan ibu jari yang terletak di belakang gandik.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;5. &lt;strong&gt;Lambe Gajah,&lt;/strong&gt; bentuknya menyerupai bibir gajah. Ada yang rangkap dan Ietaknya menempel pada gandik.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;6. &lt;strong&gt;Gandik,&lt;/strong&gt; berbentuk penebalan agak bulat yang memanjang dan terletak di atas sirah cecak atau ujung ganja.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;7. &lt;strong&gt;Kembang Kacang,&lt;/strong&gt; menyerupai belalai gajah dan terletak di gandik bagian atas.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;8.&lt;strong&gt; Jalen&lt;/strong&gt;, menyerupai taji ayam jago yang menempel di gandik.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;9. &lt;strong&gt;Greneng,&lt;/strong&gt; yaitu ornamen berbentuk huruf Jawa Dha ( ) yang berderet.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;10. &lt;strong&gt;Tikel Alis,&lt;/strong&gt; terletak di atas pejetan dan bentuknya rnirip alis mata.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;11. &lt;strong&gt;Janur,&lt;/strong&gt; bentuk lingir di antara dua sogokan.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;12. &lt;strong&gt;Sogokan depan,&lt;/strong&gt; bentuk alur dan merupakan kepanjangan dari pejetan.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;13&lt;strong&gt;. Sogokan belakang,&lt;/strong&gt; bentuk alur yang terletak pada bag&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;ian belakang.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;14. &lt;strong&gt;Pudhak sategal,&lt;/strong&gt; yaitu sepasang bentuk menajam yang keluar dari bilah bagian kiri dan kanan.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;15. &lt;strong&gt;Poyuhan,&lt;/strong&gt; bentuk yang menebal di ujung sogokan.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;16. &lt;strong&gt;Landep,&lt;/strong&gt; yaitu bagian yang tajam pada bilah keris.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;17. &lt;strong&gt;Gusen,&lt;/strong&gt; terletak di be!akang landep, bentuknya memanjang dari sor-soran sampai pucuk.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;18. &lt;strong&gt;Gula Milir,&lt;/strong&gt; bentuk yang meninggi di antara gusen dan kruwingan.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;19. &lt;strong&gt;Kruwingan,&lt;/strong&gt; dataran yang terietak di kiri dan kanan adha-adha.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;20. &lt;strong&gt;Adha-adha,&lt;/strong&gt; penebalan pada pertengahan bilah dari bawah sampal ke atas. &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;
&lt;/span&gt;&lt;div&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Kekuatan Simbolik Keris Terletak pada "Pamor"&lt;/strong&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Keris tidak dapat terpisahkan dengan peradaban Jawa. Dalam pandangan masyarakat Jawa, keris merupakan salah satu pusaka kelengkapan budaya. Kekuatan simbolik keris dipercayai masyarakat Jawa terletak pada pamor, yaitu bahan campuran pembuatan keris berupa besi meteor. Jenis bahan ini mengandung unsur besi dan nikel.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;"Pamor adalah benda berasal dari angkasa. Di antara besi pamor terkenal adalah 'pamor Prambanan'. Disebut demikian karena meteor ini jatuh di daerah Prambanan sekitar tahun 1784 di masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwana III di Surakarta," demikian kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Timbul Haryono MSc dalam pidato pengukuhannya di depan Rapat Senat Terbuka UGM, Sabtu (27/4). Dosen Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya dan Pascasarjana UGM itu membawakan pidato berjudul "Logam dan Peradaban Manusia dalam Perspektif Historis- Arkeologis". &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkmNMT196RI/AAAAAAAAAg4/gZFGzvhT5j4/s1600-h/keris.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 256px; height: 341px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkmNMT196RI/AAAAAAAAAg4/gZFGzvhT5j4/s320/keris.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352964874731120914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Dikatakan Timbul, pamor tersebut sampai sekarang masih disimpan di Keraton Surakarta dan diberi nama Kiai Pamor. Penelitian laboratoris terhadap meteor itu menunjukkan kandungan unsurnya adalah 94,5 persen besi dan 5 persen nikel. Jenis batu pamor lainnya adalah pamor Luwu yang asalnya dari Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Berdasarkan bahan pembuatan keris, proses pembuatan keris peradaban Jawa secara simbolik identik dengan konsep persatuan "bapa akasa-ibu pertiwi". Bahan besi diperoleh dari perut Bumi (Ibu Pertiwi) dan bahan pamor adalah meteor jatuh dari angkasa (bapa akasa). Keduanya kemudian disatukan menjadi senjata keris &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;MAKNA DESIGN KERIS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjdCz8OgI/AAAAAAAAAgw/TY1wpyQDGyI/s1600-h/Tilam_Upih_008.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 304px; height: 241px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjdCz8OgI/AAAAAAAAAgw/TY1wpyQDGyI/s320/Tilam_Upih_008.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351793082821786114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;PULANG GENI&lt;/strong&gt; merupakan salah satu dapur keris yang populer dan banyak dikenal karena memiliki padan nama dengan pusaka Arjuna. Pulang Geni bermakna Ratus atau Dupa atau juga Kemenyan. Bahwa manusia hidup harus berusaha memiliki nama harum dengan berperilaku yang baik, suka tolong menolong dan mengisi hidupnya dengan hal-hal atau aktifitas yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dengan berkelakuan yang baik dan selalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, tentu namanya akan selalu dikenang walaupun orang tersebut sudah meninggal. Oleh karena itu, Keris dapur Pulang Geni umumnya banyak dimiliki oleh para pahlawan atau pejuang.&lt;/span&gt;


&lt;/div&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjczJeboI/AAAAAAAAAgo/afCdbXpGIXw/s1600-h/singobarong_kembar005.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 304px; height: 248px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjczJeboI/AAAAAAAAAgo/afCdbXpGIXw/s320/singobarong_kembar005.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351793078617140866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;KIDANG SOKA&lt;/strong&gt; memiliki makna Kijang yang berduka. Bahwa hidup manusia akan selalu ada Duka, tetapi manusia diingatkan agar tidak terlalu larut dalam duka yang dialaminya. Kehidupan masih terus berjalan dan harus terus dilalui dengan semangat hidup yang tinggi. Keris ini memang memiliki ciri garap sebagaimana keris tangguh Majapahit. Tetapi melihat pada penerapan pamor serta besinya, tidak masuk dikategorikan sebagai keris yang dibuat pada jaman Majapahit. Oleh karena itu, dalam pengistilahan perkerisan dikatakan sebagai keris Putran atau Yasan yang diperkirakan dibuat pada jaman Mataram. Kembang Kacang Pogog&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;semacam ini umumnya disebut Ngirung Buto. &lt;/span&gt;


&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjcv2g_9I/AAAAAAAAAgg/4C0hw6omjWY/s1600-h/Sengkelat_09.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 302px; height: 345px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjcv2g_9I/AAAAAAAAAgg/4C0hw6omjWY/s320/Sengkelat_09.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351793077732310994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;SABUK INTEN,&lt;/strong&gt; merupakan salah satu dapur keris yang melambangkan kemakmuran dan atau kemewahan. Dari aspek filosofi, dapur Sabuk Inten melambangkan kemegahan dan kemewahan yang dimiliki oleh para pemilik modal, pengusaha atau pedagang pada jaman dahulu. Keris Sabuk Inten ini menjadi terkenal, selain karena legendanya, juga karena adanya cerita silat yang sangat populer berjudul Naga Sasra Sabuk Inten karangan Sabuk Inten karangan S.H. Mintardja pada tahun 1970-an. &lt;/span&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;NAGA SASRA&lt;/strong&gt; adalah salah satu nama Dapur Keris Luk 13 dengan Gandik berbentuk kepala Naga yang badannya menjulur mengikuti sampai ke hampir pucuk bilah. Salah satu Dapur Keris yang paling terkenal walaupun jarang sekali dijumpai adanya keris Naga Sasra Tangguh tua. Umumnya keris dapur Naga Sasra dihiasi dengan kinatah emas sehingga penampilannya terkesan indah dan lebih berwibawa. Keris ini memiliki gaya seperti umumnya keris Mataram Senopaten yang bentuk bilahnya ramping seperti keris Majapahit, tetapi besi dan penerapan pamor serta gaya pada wadidhangnya &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjcbNXXlI/AAAAAAAAAgQ/T4vT23m81Ow/s1600-h/luk7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 304px; height: 286px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SkVjcbNXXlI/AAAAAAAAAgQ/T4vT23m81Ow/s320/luk7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351793072191004242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;menunjukkan ciri Mataram Senopaten. Sepertinya berasal dari era Majapahit akhir atau bisa juga awal era Mataram Senopaten (akhir abad ke&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;15 sampai&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;awal abad ke 16). Keris ini dulunya memiliki kinatah Kamarogan yang karena perjalanan waktu, akhirnya kinatah emas tersebut hilang terkelupas. Tetapi secara keseluruhan, terutama bilah masih bisa dikatakan utuh. Keris Dapur Naga Sasra berarti Ular yang jumlahnya seribu (beribu-ribu) dan juga dikenal sebagai keris dapur Sisik Sewu. Dalam budaya Jawa, Naga diibaratkan sebagai Penjaga. Oleh karena itu banyak kita temui pada pintu sebuah Candi ataupun hiasan lainnya yang dibuat pada jaman dahulu. Selain Penjaga, Naga juga diibaratkan memiliki wibawa yang tinggi. Oleh karena itu, Keris dengan dapur Naga Sasra memiliki nilai yang lebih tinggi daripada keris lainnya.&lt;/span&gt;

&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;SENGKELAT,&lt;/strong&gt; adalah salah satu keris dari jaman Mataram Sultan Agung (sekitar awal abad ke 17). Dapur Keris ini adalah Sengkelat. Pamor keris sangat rapat, padat dan halus. Ukuran lebar bilah lebih lebar dari keris Majapahit, tetapi lebih ramping daripada keris Mataram era Sultan Agung pada umumnya. Panjang bilah 38 Cm, yang berarti lebih panjang dari Keris Sengkelat Tangguh Mataram Sultan Agung umumnya. Bentuk Luk nya lebih rengkol dan dalam dari pada keris era Sultan Agung pada umumnya. Gonjo yang digunakan adalah Gonjo Wulung (tanpa pamor) dengan bentuk Sirah Cecak runcing dan panjang dengan buntut urang yang nguceng mati. Kembang Kacang Nggelung Wayang. Jalennya pendek dengan Lambe Gajah yang lebih&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;panjang dari Jalen. Sogokan tidak terlalu dalam dengan Janur yang tipis tetapi tegas sampai ke pangkal bilah. Wrangka keris ini menggunakan gaya Surakarta yang terbuat dari Kayu Cendana. &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;RAGA PASUNG, atau Rangga Pasung&lt;/strong&gt; memiliki makna sesuatu yang dijadikan sebagai Upeti. Dalam hidup di dunia, sesungguhnya hidup dan diri manusia ini telah diupetikan kepada Tuhan YME. Dalam arti bahwa hidup manusia ini sesungguhnya telah diperuntukkan untuk beribadah, menyembah kepada Tuhan YME. Dan karena itu kita manusia harus ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini sesungguhnya semu dan kesemuanya adalah milik Tuhan YME. &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;BETHOK BROJOL,&lt;/strong&gt; adalah keris dari tangguh Tua juga. Keris semacam ini umumnya ditemui pada tangguh Tua seperti Kediri/Singosari atau Majapahit. Dikatakan Bethok Brojol karena bentuknya yang pendek dan sederhana tanpa ricikan kecuali Pijetan sepeti keris dapur Brojol. &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;PUTHUT KEMBAR,&lt;/strong&gt; oleh banyak kalangan awam disebut sebagai Keris Umphyang. Padahal sesungguhnya Umphyang adalah nama seorang mPu, bukan nama dapur keris. Juga ada keris dapur Puthut Kembar yang pada bilahnya terdapat rajah dalam aksara Jawa kuno yang tertulis “Umpyang Jimbe”. Ini juga merupakan keris buatan baru, mengingat tidak ada sama sekali dalam sejarah perkerisan dimana sang mPu menuliskan namanya pada bilah keris sebagai Label atau “trade mark” dirinya. Ini merupakan kekeliruan yang bisa merusak pemahaman terhadap budaya perkerisan. Puthut, dalam terminologi Jawa bermakna Cantrik, atau orang yang membantu atau menjadi murid dari seorang Pandhita / mPu pada jaman dahulu. Bentuk Puthut ini konon berasal dari legenda tentang cantrik atau santri yang diminta untuk menjaga sebilah pusaka oleh sang Pandhita. Juga diminta untuk terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bentuk orang menggunakan Gelungan di atas kepala, menunjukkan adat menyanggul rambut pada jaman dahulu. Bentuk wajah, walau samar tetapi masih terlihat jelas guratannya. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dapur Puthut mulanya dibuat oleh mPu Umpyang yang hidup pada era Pajang awal. Tetapi inipun masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Pajang,&lt;/strong&gt; dalam buku Negara Kertagama yang ditulis pada jaman Majapahit, disebutkan adanya Pajang pada jaman tersebut. Oleh karena itu, sangat sulit untuk mengidentifikasi, apakah keris dengan besi Majapahit tetapi juga ada ciri keris Pajang bisa dikatakan tangguh Pajang – Majapahit, yang berarti keris buatan Pajang pada era Majapahit akhir (?). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Keris Lurus SUMELANG,&lt;/strong&gt; dalam bahasa Jawa bermakna kekhawatiran atau kecemasan terhadap sesuatu. Sedangkan Gandring memiliki arti setia atau kesetiaan yang juga bermakna pengabdian. Dengan demikian, Sumelang Gandring memiliki makna sebagai bentuk dari sebuah kecemasan atas ketidaksetiaan akibat adanya perubahan. Ricikan keris ini antara lain : gandik polos, sogokan satu di bagian depan dan umumnya dangkal dan sempit, serta sraweyan dan tingil. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa keris dapur Sumelang Gandring termasuk keris dapur yang langka atau jarang ditemui walau banyak dikenal di masyarakat perkerisan. (Ensiklopedia Keris : 445-446). Konon salah satu pusaka kerajaan Majapahit ada yang bernama Kanjeng Kyai&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Sumelang Gandring. Pusaka ini hilang dari Gedhong Pusaka Keraton. Lalu Raja menugaskan mPu Supo Mandangi untuk mencari kembali pusaka yang hilang tersebut. Dari sinilah berawal tutur mengenai nama mPu Pitrang yang tidak lain juga adalah mPu Supo Mandrangi. (baca : Ensiklopedia Keris : 343-345). &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;TILAM UPIH,&lt;/strong&gt; dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk tidur. Diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga agar anak-cucunya nanti bisa memperoleh ketenteraman dan kesejahteraan dalam hidup berumah tangga.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Sedangkan Pamor ini dinamakan &lt;strong&gt;UDAN MAS TIBAN.&lt;/strong&gt; Ini karena terlihat dari penerapan pamor yang seperti tidak direncanakan sebelumnya oleh si mPu. Berbeda dengan kebanyakan Udan Mas Rekan yang bulatannya sangat rapi dan teratur, Udan Mas Tiban ini bulatannya kurang begitu teratur tetapi masih tersusun dalam pola 2-1-2. Pada tahun 1930-an, yang dimaksud dengan pamor Udan Mas adalah Pamor Udan Mas Tiban yang pembuatannya tidak direncanakan oleh sang mPu (bukan pamor rekan). Ini dikarenakan pamor Udan Mas yang rekan dicurigai sebagai pamor buatan (rekan). Tetapi toh juga banyak keris pamor udan mas rekan yang juga merupakan pembawaan dari jaman dahulu.&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Oleh banyak kalangan, keris dengan Pamor Udan Mas dianggap memiliki tuah untuk memudahkan pemiliknya mendapatkan rejeki. Dengan rejeki yang cukup,diharapkan seseorang bisa membina rumah tangga dan keluarga lebih baik dan sejahtera.Lar GangSir konon merupakan kepanjangan dari GeLAR AgeMan SIRo yang memiliki makna bahwa Gelar atau jabatan dan pangkat di dunia ini hanyalah sebuah ageman atau pakaian. Suatu saat tentu akan ditanggalkan. Karena itu jika kita memiliki jabatan/pangkat atau kekayaan, maka janganlah kita SOMBONG dan TAKABUR (Jawa = Ojo Dumeh).&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Jangan mentang-mentang memiliki kekuasaan, pangkat dan jabatan atau kekayaan, maka kita bisa seenaknya sendiri sesuai keinginan kita tanpa memikirkan kepentingan orang lain. &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Dalam dunia keris terdapat tiga kelompok pandangan yang berbeda. Pandangan pertama yang berkembang bahwa :&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;1. Keris adalah hasil kebudayaan, kagunan, atau kesenian.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;2. pandangan kedua yang telah sejak lama berkembang di kalangan masyrakat (Jawa), secara umum lebih meyakini bahwa &lt;strong&gt;keris merupakan senjata pusaka dikarenakan daya gaib atau tuah yang dimilikinya.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;3. pandangan ketiga yang berkembang di kalangan yang sangat terbatas, &lt;strong&gt;keris merupakan pusaka dengan berbagai variasi pemaknaannya dan dinyatakan dengan istilah-istilah yang hanya dikenali oleh kalangan tersebut.Terutama makna-makna sosial, historis, filosofis, etis dan religius-mistis. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Dari ketiga pandangan diatas dapat kita ketahui bahwa keris merupakan karya agung yang harus dilestarikan. Karena jika dilihat dari kacamata desain, sebuah keris memiliki berbagai keunikan yang sangat spesifik. Terbukti dengan penamaan setiap lekuk yang begitu detail disetiap bagiannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Jika ditilik dari makna yang terkandung pada sebilah keris, disitu tercermin kearifan lokal terutama masyarakat jawa yang menjadikan keris sebagai simbol kekuatan sekaligus mewakili karakter yang memilikinya. Desain keris mempunyai kekuatan tersendiri dalam membentuk kearifan lokal yang selanjutnya bisa menjadi indicator kebudayaan di suatu tempat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sumber : " Makalah  karya Warto, kandidat dosen jurusan Dakwah STAIN Purwokerto
by zainal arifin suwito
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Copyright @June-2009&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-1579576524674049676?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/_qbCTwbBRQs/yang-unik-dari-jogja.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SiFKcjWeXMI/AAAAAAAAAdM/u6x10myjNOA/s72-c/sambisari+v4.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/05/yang-unik-dari-jogja.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-4414425228419914716</guid><pubDate>Sat, 25 Apr 2009 10:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-26T11:49:21.424+07:00</atom:updated><title>Karimunjawa..Paradise Near Central Java</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPifE_3DNI/AAAAAAAAAck/wpJANfcVZYg/s1600-h/coral_reef.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPifE_3DNI/AAAAAAAAAck/wpJANfcVZYg/s320/coral_reef.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328851807654841554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;JIKA Anda seorang yang suka berwisata, cobalah berkunjung ke Pulau Karimunjawa, 75 kilometer (km) utara Jepara, Jawa Tengah (Jateng). Dipastikan, Anda tak akan pernah melupakan pesona pulau tersebut.
Betapa tidak, pulau ini memiliki keragaman kekayaan alam yang sangat memesona. Pulau Karimunjawa ibarat 'surga' buat para pelancong. Berbagai objek wisata menarik bisa Anda nikmati di sini.
Nama Karimunjawa sebenarnya sudah dikenal sejak zaman Sunan Muria, salah satu tokoh penyebar agama Islam. Sunan Muria melihat pulau-pulau di Karimunjawa terlihat samar-samar dari Pulau Jawa. Krimun sendiri dalam bahasa Jawa berarti samar.

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPcsc1dpFI/AAAAAAAAAcc/KLsKF5kJc7o/s1600-h/centraljawamap.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPcsc1dpFI/AAAAAAAAAcc/KLsKF5kJc7o/s320/centraljawamap.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328845440322217042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pulau Karimunjawa merupakan kawasan terpencil. Pulau ini terletak sekitar 45 mil laut atau 75 km arah utara Kota Jepara. Pulau Karimunjawa dikelilingi oleh 27 pulau. Luasnya mencapai 107.225 hektare (ha) dengan luas daratan sekitarnya 7.120 ha.

Di antara pulau-pulau itu, hanya lima pulau yang dihuni, yakni Pulau Karimunjawa, Pulau Menjangan, Pulau Genting, Pulau Kemujan, dan Pulau Parang. Jumlah penduduk yang berada di lima pulau itu kurang lebih 7.900 jiwa, sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni.

Pulau Karimunjawa merupakan desa nelayan yang cukup makmur, penduduknya sangat ramah. Sebagian besar nelayannya memiliki motor keluaran terbaru.

Meski berada di daerah terpencil, Anda tidak akan terisolasi bila berada di daerah ini. Sebab, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng telah menjadikan pulau ini sebagai kawasan wisata. Di sini terdapat sarana telekomunikasi dan dermaga.

Di Pulau Karimunjawa, Anda bisa mengunjungi sejumlah objek wisata yang menarik. Di antaranya, Pulau Menjangan Kecil, Menjangan Besar, Tanjung Gelam, Legon Lele, Genting, Kembar, Parang, Cemara, dan Krakal.

&lt;b&gt;Buana Katulistiwa&lt;/b&gt;- Tujuh pulau di Karimunjawa konon sedang "digarap" oleh perusahaan properti asing &lt;i&gt;VA Real Estate&lt;/i&gt; untuk disewakan untuk tujuan kepariwisataan di wilayah itu. Ada yang lacur mengecam dengan menuding rencana ini sebagai upaya untuk menjual wilayah Indonesia, tapi sebagian lain merestuinya sebab hanya menyewa saja, daripada mubazir.  &lt;p&gt;Tujuh pulau yang akan disewa dalam bentuk hak guna usaha itu, adalah Pulau Bengkoang (92 ha), Pulau Geleang (30 ha), Pulau Kembar (11,2 ha), Pulau Kumbang (8,8 ha), Pulau Katang (2,8 ha), Pulau Krakal Kecil (2.8 ha) dan Pulau Krakal Besar (2,8 ha).&lt;/p&gt;   &lt;div&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;"Pulau-pulau ini bukan dijual, tapi disewakan dalam bentuk hak guna usaha di sektor pariwisata, agar keberadaan pulau-pulau itu tidak mubazir. Harap diingat, dari 13.000 pulau kita, banyak yang belum digarap, bahkan belum diberi nama," kata anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, Marzuki Achmad, di Jakarta, baru-baru ini&lt;/p&gt; Objek wisata yang terdapat di pulau ini beraneka ragam. Selain menampilkan keindahan alam, di sini Anda juga dapat menikmati wisata bahari seperti berlayar, selancar air, ski air, berenang, berjemur di pantai pasir putih atau menyelam. Anda juga dapat berkemah dan berwisata budaya.

Pulau Karimunjawa dan 22 pulau di sekitarnya merupakan kawasan taman wisata nasional eco-tourism yang kini dikembangkan Departemen Kehutanan. Sejak 1988, kawasan itu menjadi kawasan taman laut.

&lt;strong&gt;Biota laut&lt;/strong&gt;
&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Di pulau ini Anda bisa menikmati kekayaan alam bawah laut yang beragam seperti terumbu karang dan rumput laut dengan biota laut yang beraneka ragam (sekitar 242 spesies ikan hidup di perairan Kepulauan Karimunjawa).
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfLsrXOziEI/AAAAAAAAAcE/26oU-92Webc/s1600-h/peta-karimun.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 303px; height: 221px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfLsrXOziEI/AAAAAAAAAcE/26oU-92Webc/s320/peta-karimun.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328581538847361090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
Untuk melihat terumbu karang atau ikan-ikan hias, Anda tidak perlu menyelam. Anda bisa menyaksikan keindahan bawah laut itu dengan mata telanjang, sebab air laut di pulau ini sangat jernih.


Tidak afdol apabila ke Karimunjawa tanpa menikmati keindahan bawah lautnya.. Pertanyaanya bagaimana orang awam bisa menyelam dengan aman  dan terlatih sehingga tidak merusak terumbu karangnya. ..? &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPipXBE6hI/AAAAAAAAAcs/1esnsN5mUEA/s1600-h/img_1562.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 257px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPipXBE6hI/AAAAAAAAAcs/1esnsN5mUEA/s320/img_1562.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328851984290474514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Anda bisa browshing ke  http://marinedivingclub.wordpress.com, sebuah wadah perkumpulan pecinta olah raga selam dan konsern cukup lama di daerah karimunjawa. Uniknya ini adalah perkumpulan mahasiswa jadi ngga mentingin profit dari pelatihan selam, karena memasyarakatkan olahraga selam bagi mereka akan menyadarkan semakin banyak masyarakat untuk peduli pada terumbu karang.

Untuk Pengunjung yang ingin berkunjung dari pulau satu ke pulau lain Anda dapat menggunakan perahu-perahu nelayan atau perahu motor &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPm3E8bsqI/AAAAAAAAAdE/daTdD4YN_eM/s1600-h/MDC+nglatih.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 264px; height: 197px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPm3E8bsqI/AAAAAAAAAdE/daTdD4YN_eM/s320/MDC+nglatih.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328856618003837602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yang khusus disewakan. Ongkos sewa perahu motor bisa mencapai Rp150.000 per hari.
Dari pelabuhan di Karimunjawa ke Pulau Menjangan yang hanya sekitar 10 menit Anda bisa menikmati suasana alam yang sangat indah. Sepanjang perjalanan Anda dapat menikmati segarnya udara laut dan indahnya pemandangan bukit di sekitar pulau tersebut.

Di pulau ini Anda juga bisa menikmati anak ikan hiu dan kura-kura yang sedang berenang di sebuah kolam penangkaran milik nelayan dengan mata telanjang. Anda juga bisa mendayung perahu kecil dengan kapasitas lima orang milik nelayan ke laut pinggir layaknya nelayan yang tengah berperahu. Pasir putih serta nyiur melambai membuat siapa pun yang sedang menikmati keindahan pulau ini serasa ingin terus berada di pulau ini sambil menikmati terbit dan tenggelamnya matahari.

Keindahan pasir putih dan deburan ombak juga bisa Anda nikmati di Tanjung Gelam, sebuah kawasan pelepasan elang langka jenis perut putih. Kawasan ini merupakan kawasan tidak berpenghuni, tempat elang-elang tersebut bisa menikmati ke habitat aslinya. Selain itu, kawasan ini memiliki tipe hutan yang lengkap hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi ini juga kaya dengan ikan yang merupakan makanan utama elang-elang laut.

Taman Nasional Karimunjawa memiliki tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah, padang lamun, alga, hutan pantai, hutan mangrove, dan terumbu karang. Tumbuhan yang menjadi ciri khas Taman Nasional Karimunjawa yaitu dewodaru (Crystocalyx macrophyla) yang terdapat pada hutan hujan dataran rendah.

Di sini juga terdapat satwa darat yang umum dijumpai antara lain rusa, kera ekor panjang, 40 jenis burung seperti pergam hijau (Ducula aenea), elang laut perut putih, betet, penyu sisik, penyu hijau, dan ular edhor. Burung elang laut perut putih merupakan satwa yang terancam punah di dunia.

Di sekitar Pulau Kemujan terdapat bangkai kapal Panama Indono yang tenggelam pada 1955. Kapal itu menjadi habitat ikan karang dan cocok untuk lokasi penyelaman.
Bila Anda belum puas menikmati objek wisata di sini, Anda dapat menginap. Di pulau ini tersedia 16 home stay dengan uang sewa yang terjangkau. Anda cukup mengeluarkan Rp60.000 per malam plus makan sehari tiga kali.

Untuk mencapai Pulau Karimunjawa ada beberapa alternatif. Misalnya dari Semarang, yang berjarak sekitar 110 km dari Karimunjawa, akan menempuh perjalanan selama 3,5 jam. Transportasi yang digunakan dengan menggunakan kapal cepat Kartini.

Dengan harga Rp60 ribu per orang untuk kelas bisnis, Anda sudah bisa menikmati perjalanan sambil menikmati lagu-lagu yang diputar oleh petugas kapal. Kapal ini berangkat ke Karimunjawa seminggu dua kali. Dari Semarang Kartini ini berangkat pada Jumat, Sabtu, dan Senin. Sedangkan dari Karimunjawa kapal berkapasitas 168 orang berangkat pada Minggu.

Sedangkan dari Jepara kapal ini berangkat pada Senin dan Minggu. Dari Pelabuhan Karimunjawa menuju Pulau Karimunjawa Anda bisa menyewa mobil, ojek, atau becak. Nah, minggu ini, mungkin Anda dan keluarga bisa mulai merencanakan berlibur di Pulau Karimunjawa.
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;( Diolah dari berbagai sumber)
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-4414425228419914716?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/hxSAUA1GUVU/karimunjawaparadise-near-central-java.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SfPifE_3DNI/AAAAAAAAAck/wpJANfcVZYg/s72-c/coral_reef.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/04/karimunjawaparadise-near-central-java.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-7870233275384386981</guid><pubDate>Fri, 10 Apr 2009 23:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-11T07:42:10.440+07:00</atom:updated><title>Tour de JAVA  presents “ Yogyakarta Tourism-Day2 ”</title><description>&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ini semua tentang Jogja.... &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dari kita...untuk semua...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;It’s truly all about Jogja....
from us....for all of you..&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Hari 2: Wisata pantai Selatan-part 2
Pantai Baron-Kukup-Krakal-Wediombo (Gunu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;g Kidul&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt; area)&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Day 2: South ocean tour-part 2
Pantai Baron-Kukup-Krakal-Wediombo (Gunung Kidul area)&lt;/span&gt;

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_gWjqtyzI/AAAAAAAAAUw/EY4L_8R2xXI/s1600-h/day-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 471px; height: 367px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_gWjqtyzI/AAAAAAAAAUw/EY4L_8R2xXI/s400/day-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323219962711362354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_ZyBMOerI/AAAAAAAAATA/QWRpTIZUQu8/s1600-h/day-2.jpg"&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pantai Baron dan Kukup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Pantai ini terletak di Kabupaten Gunung Kidul jarak sekitar 40 km sebelah tenggara kota Yogyakarta lewat Jl. Wonosari. Sepanjang jalan menuju lokasi terdapat pemandangan morfologi Pegunungan Selatan dan persis sebelum masuk kawasan pantai banyak terdapat pepohonan kelapa nan rindang. Pantai Baron sebenarnya berupa teluk muara dari aliran sungai dibawah batu karang. Wisatawan dapat mandi dalam air sungai jernih ini atau sekedar menikmati jalan-jalan dipantai waktu air laut surut. &lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bersebelahan persis terdapat pantai Kukup sebagai mata rantai dari kunjungan rekreasi ke pantai Baron , sebab jarak diantara kedua pantai tersebut kurang lebih hanya 1 km. D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ibandingkan pantai Baron yang berpasir coklat kehitaman, maka pantai Kukup berpasir putih kekuning-kuningan sebagai product erosi/abrasi batuan karbonat. Disini terdapat goa-gua karang yang teduh, serta beberapa daratan tengah laut  hasil erosi terumbu karang.
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_a5XqSW9I/AAAAAAAAATY/MKh5sTkyvCA/s1600-h/Baron-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 355px; height: 229px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_a5XqSW9I/AAAAAAAAATY/MKh5sTkyvCA/s320/Baron-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323213963713993682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_bn5ADAXI/AAAAAAAAATg/-c_9UiJKpnI/s1600-h/baron.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 352px; height: 239px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_bn5ADAXI/AAAAAAAAATg/-c_9UiJKpnI/s320/baron.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323214762937614706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;
English version:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;" &gt;1. Baron and Kukup beach&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baron and Kukup beach are part of Gunung Kidul tourism places located around 40km to the southeast of Yogyakarta town via  Jl. Wonosari.  Along the road to reach the location is nice view of Southern mountain morphology and just before reach the beach there will be a lot of coconuts  trees.  Baron beach actually an ocean gulf as the end of river which flowing underground of karst morphology. People can take bath in this  fantastic river which contain of fresh water or enjoy to look over the coastal especially when low tidal happened. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adjacent  Baron beach is  Kukup beach which normally people visited it as one package tour, due to the distance in between approximately 1 km only. Compared to Baron beach which having a dark brown coastal sand, in Kukup beach we can see a nice view of yellowish coastal plain as product of carbonate reworked/abrassion. There are a lof of  small caves inside  reef wall  and also isolated island as part of  ancient reef which has been eroded by sea waves. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_imI8997I/AAAAAAAAAVI/V43IotWTLfg/s1600-h/Kukup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_imI8997I/AAAAAAAAAVI/V43IotWTLfg/s400/Kukup.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323222429441324978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_iWIovcOI/AAAAAAAAAU4/KiA6UYtj__w/s1600-h/Kukup2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_iWIovcOI/AAAAAAAAAU4/KiA6UYtj__w/s400/Kukup2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323222154478579938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_joQ3F8_I/AAAAAAAAAVo/pUYbmtEqGaw/s1600-h/Kukup3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 290px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_joQ3F8_I/AAAAAAAAAVo/pUYbmtEqGaw/s400/Kukup3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323223565435532274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_i5BuVCPI/AAAAAAAAAVg/1W6YYDv6clY/s1600-h/IMG_3723.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_i5BuVCPI/AAAAAAAAAVg/1W6YYDv6clY/s400/IMG_3723.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323222753918388466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_izztNCiI/AAAAAAAAAVY/2G5QqrDOBhg/s1600-h/IMG_3711.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_izztNCiI/AAAAAAAAAVY/2G5QqrDOBhg/s400/IMG_3711.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323222664256227874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Pantai Krakal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Pantai Krakal dapat dicapai melalui jalan sepanjang 6 km dari kawasan pantai Kukup, sehingga pantai Krakal merupakan mata rantai perjalanan setelah mengunjungi pantai Baron dan Kukup. &lt;/span&gt;

&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Pantai Krakal merupakan pantai yang paling indah, diantara seluruh hamparan pantai di sepanjang kawasan ini, pantai ini akan dibangun menjadi kawasan pantai dan perkampungan wisatawan, khususnya wisatawan asing, semacam tourist resort Nusa Dua di pulau Bali. Pantai Krakal, bentuknya landai, berpasir putih, terhampar sepanjang lebih dari 5 km. Pantai ini menerima panas matahari dari pagi hingga petang hari sepanjang tahun. Angin laut yang terhembus sangat sejuk, ombaknya cukup besar.&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:78%;"  &gt;
English version:&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;2. Krakal beach&lt;/span&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Then part of sequence tour to Baron &amp;amp; Kukup beach is to visit Krakal beach which located around 6 km from Kukup.&lt;/span&gt;

&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Krakal beach would be the one of the most beautiful beach at surrounding this area, since this place have a nice view and will be developed some resorts similar in Nusa Dua, Bali. Similar with Kukup beach, there is a white sand widespread along 5 km of the coastal beach length (product of carbonate erosion), but in here there is special phenomena of some isolated land karsts view inside the sea which make a view similar to Tanah Lot, Bali. This place is really part of tropic beach, the sea waves are strong enough and the wind flow is relatively cool. Please enjoy it.&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kDIRxqmI/AAAAAAAAAVw/0lZpactvBUY/s1600-h/Krakal3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kDIRxqmI/AAAAAAAAAVw/0lZpactvBUY/s400/Krakal3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323224026987997794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kJwv4dfI/AAAAAAAAAV4/sBF01KnrKwI/s1600-h/Krakal2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 255px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kJwv4dfI/AAAAAAAAAV4/sBF01KnrKwI/s400/Krakal2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323224140930905586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kQ_2R0WI/AAAAAAAAAWA/BGTMEL6cUkY/s1600-h/Krakal1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 237px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kQ_2R0WI/AAAAAAAAAWA/BGTMEL6cUkY/s400/Krakal1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323224265243349346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;3. Pantai Wediombo&lt;/span&gt;
&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pantai Wediombo merupakan pantai yang masih alami dengan panoramanya yang sangat indah, terletak di desa Jepitu Kecamatan Girisubo + 46 km diarah Tenggara kota Wonosari. Keunikannya pantai ini berbentuk teluk dan landai dengan hamparan pasir putih yang membentang luas tampak dikelilingi perbukitan kapur dan pepohonan yang rindang di sepanjang pantai. Pemandangan alam perbukitan dan Pantai yang dapat dilihat secara terbuka baik dari atas (dataran dan perbukitan) maupun dari pesisir pantai, sehingga memungkinkan bagi wisatawan untuk menikmati panorama sunset yang sempurna.&lt;/span&gt;

&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Melalui Pantai Gremeng sebelah Timur pantai Wediombo terdapat Pulau Kalong (sebuah pulau kecil yang dihuni ribuan kalong) yang dapat dicapai dengan Tracking melalui jalan setapak + 1,5 Km.&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;English version:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Pantai Wediombo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt; &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Wediombo beach is typical natural beach with it’s own nice view, located at desa Jepitu Kecamatan Girisubo + 46 km to the Southeast from Wonosari. This location actually a gulf with widespread of white coastal plain and bounded with carbonate hill &amp;amp; mountain.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;The natural view of mountain and beach can be enjoy seen both from top&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;or&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;below (from coastal plain), plus visitors really can see the perfect sunset&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;from this area.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Close to this location at the estern part, there is a Kalong island at Gremeng beach &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(small island which having its population of thousands bats) can be reached by tracking traveling &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;+ 1,5 Km distance.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kn0bdJuI/AAAAAAAAAWI/459aKrO6N78/s1600-h/wediombo1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 299px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kn0bdJuI/AAAAAAAAAWI/459aKrO6N78/s400/wediombo1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323224657315047138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kuRz3yDI/AAAAAAAAAWQ/g8clLHrojv8/s1600-h/wwediombo2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 252px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_kuRz3yDI/AAAAAAAAAWQ/g8clLHrojv8/s400/wwediombo2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323224768281298994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_k0urmK0I/AAAAAAAAAWY/gpVWluXm3_g/s1600-h/wwediombo3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 299px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_k0urmK0I/AAAAAAAAAWY/gpVWluXm3_g/s400/wwediombo3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323224879110433602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-size:85%;" &gt;---- Copyright @ 04-2009 ---&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;





&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-7870233275384386981?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/S-yW9YUfGfw/tour-de-java-presents-yogyakarta_11.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_gWjqtyzI/AAAAAAAAAUw/EY4L_8R2xXI/s72-c/day-2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/04/tour-de-java-presents-yogyakarta_11.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-2026291018138163048</guid><pubDate>Fri, 10 Apr 2009 01:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-12T15:09:43.774+07:00</atom:updated><title>Tour de JAVA  presents “ Yogyakarta Tourism-Day1 ”</title><description>&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;
&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:S&lt;/style&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} -&lt;/style&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ini semua tentang Jogja.... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p  style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;dari kita...untuk semua...&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Berawal dari dokumentasi pribadi tentang perjalanan wisata untuk mengenal Jogja seisinya...termasuk wisata kuliner tentunya...kami coba rangkum dalam bentuk cerita dan panduan wisata singkat dalam &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;web ini, untuk dishare buat semuanya..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;So, buat rekan-rekan yang ingin mengenal Jogja dan menikmati wisatanya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;please enjoy aja untuk menyemak cerita-cerita dari kami ini....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;English version:&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:blue;"   lang="IN"&gt;It’s truly all about Jogja....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:blue;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;from us....for all of you..&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Just initiate from our personal documentation about tourism &amp;amp; travelling to know all about Jogja...including kuliner tourism...we try to summarize the story and may be as a &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tour guidence through this web, to be shared for all of you..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;span&gt;So, for you which plan to traveling and tour around Jogja,  please enjoy to read our following stories....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_odgBd4MI/AAAAAAAAAWg/pM8eMQoh_5c/s1600-h/day-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 447px; height: 348px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_odgBd4MI/AAAAAAAAAWg/pM8eMQoh_5c/s400/day-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323228878085152962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:blue;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;Wisata pantai Selatan part 1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pantai Depok-Gumuk pasir selatan-Parang Kusumo-Parangtritis (Bantul area)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Tips perjalanan ke pantai sebaiknya dibuat pas untuk suasana pagi hari atau sore hari. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jika ingin mencapai semua tujuan wisata diatas berarti dilakukan dari pagi hari. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Tujuan pertama adalah Pantai Depok ditempuh dengan perjalanan +/- 26 km dari pusat kota jogja ke arah pantai selatan via Jl. Parangtritis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebelum loket pintu masuk kawasan Parangtritis, belok ke barat +/- 2.5 km.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;
&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;1- &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;Pantai Depok&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="IN"&gt;Suasana pantai ini selain menyajikan nuansa alam pantai dengan hamparan endapan pasir yang terbawa oleh Kali Opak plus deburan ombak khas pantai selatan, juga santapan khas hidangan laut yang ditangkap nelayan setempat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Menu makanan bisa langsung pilih sendiri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari jenis ikan laut, udang, cumi etc, ingin belanja sendiri di pasar tradisional setempat silakan...mau titip dibelikan pihak warung boleh saja,..plus kita bisa pesan pingin dimasak seperti apa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini ciri khas yang sedikit membedakan dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wisata pantai selatan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Tarif ikan laut, udang dsb..lumayan murah apalagi kalau pinter nawar.....untuk jasa pengolahan relatif murah juga. Intinya masih ringan dikantong lah....sebagai gambaran waktu itu kami berenam menyantap aneka makanan laut ikan bawal 1 kg (6 ekor), udang&amp;amp;cumi 10 ons kita beli sendiri tidak sampai Rp 50 ribu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jasa pengolahan/masak untuk jadi udang goreng tepung, cumi asam manis, bawal bakar, dengan ragam minuman segar 5 tempurung kelapa muda, 2 es teh manis &amp;amp; 3 wedang ronde habisnya cuma Rp 170 ribu. Jadi relatif kan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Yang penting makan kenyang...sambil menikmati sepoi-sepoi angin laut plus pemandangan deburan ombaknya....sungguh luar biasa....mak yuuzz&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"   lang="IN"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;English version:
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-style: italic; font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:blue;"&gt;South ocean Tour &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:blue;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;(beach tourism)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pantai Depok-Gumuk pasir selatan-Parang Kusumo-Parangtritis (Bantul area)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Just a tip, it’s better to have a beach tourism in the morning or evening. If we plan to reach all those destinations, it should begin the traveling from morning. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;First destination is Pantai depok located +/- 26 km from central of town to the southern part via Jl. Parangtritis. Before entering&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;boarding pas ticket, it should go to the west +/- 2.5 km.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:130%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:navy;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;1- &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;Depok beach&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;Beside having a natural beach view with lose sand deposit over coastal plain from Opak river, plus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beachcomber as a Pantai selatan phenomena, this side &lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-style: italic;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;also offer a special seafood menu from local traditional sailors. We can select the seafod menu from typical fishes, shrimps, squids etc by buying with our selves or just entrust to someone there to buy...then we can order what kind of cooking we want. This is really a specific difference compare to other tourism at Pantai Selatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;The price is relatively cheep....furthermore if we can do a good bargaining....then the price for cooking service is also cheep. It’s really not expensive...as an example at that time we are 6 persons bought 1kg Bawal fish, 10 ons of shrimps&amp;amp;squids..all less than Rp 50,000.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cooking service to prepare a flour friend shrimps, cumi asam manis, grilled fish with all drinks of 5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;coconut drinks, 2 ice tea &amp;amp; 3 hot ronde, all is Rp 170,000.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;So..it’s relatively&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;cheep...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:navy;"   lang="IN"&gt;The important thing is we can satiated with all sea food menu while enjoy the beach view and the wind from the sea...it’s really amazing...mak yuuz&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_o_NpZkTI/AAAAAAAAAWo/MDT5DmibnCE/s1600-h/100_4026.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_o_NpZkTI/AAAAAAAAAWo/MDT5DmibnCE/s400/100_4026.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323229457267921202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:261.75pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\Users\w\AppData\Local\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="pantai depok-1"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_pRRDX4TI/AAAAAAAAAWw/CebRkbNVdvU/s1600-h/100_4025.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_pRRDX4TI/AAAAAAAAAWw/CebRkbNVdvU/s400/100_4025.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323229767419814194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_phPSsTRI/AAAAAAAAAW4/qCILBpEnbP0/s1600-h/pantai+depok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_phPSsTRI/AAAAAAAAAW4/qCILBpEnbP0/s400/pantai+depok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323230041825103122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_pxJJOzbI/AAAAAAAAAXA/OH_27L2Ncvg/s1600-h/pantai+depok2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 397px; height: 298px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_pxJJOzbI/AAAAAAAAAXA/OH_27L2Ncvg/s400/pantai+depok2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323230315052715442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"   lang="IN"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd6iWmPjkuI/AAAAAAAAARM/d8sgQsUYSeE/s1600-h/pantai+depok2.jpg"&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;2- &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;Gumuk pasir pantai selatan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Lokasi obyek wisata ini ada disepanjang route dari Pantai depok menuju Parang tritis, disebelah barat berbatasan dengan Muara Kali Opak dan di timur berbatasan dengan Pegunungan Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Nuansa alam khas daerah ini menyajikan hamparan gurun pasir yang tiada duanya di kawasan Indonesia khususnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi kalau pingin lihat gurun pasir ya ndak usah jauh-jauh ke Timur Tengah atau Afrika sana...berat diongkos kan...lagian puanas buanget kan, disini ada kok miniaturnya. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Obyek ini juga sebagai laboratorium alam yang sering diamati oleh kalangan scientist baik geologist, geografi maupun disiplin ilmu lainnya, bahkan sering dipakai untuk latihan manasik haji sebelum berangkat ke Arab untuk menyesuaikan iklim disana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: verdana;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-family: verdana;font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"   lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;Endapan pasir lepas yang terbawa oleh Kali Opak terbawa ke darat oleh hempasan gelombang pantai selatan....trus terbawa lagi oleh angin laut nan kencang...jadi deh hamparan gurun pasir nan indah...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;English version:
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms; font-style: italic;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:navy;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;2- &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;Mini desert of South ocean (pantai selatan)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;This tourism side is located along route from Pantai depok to Parang tritis beach, the border at western part is end of Opak river then the border at eastern part is Southern mountain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;There is a specific natural phenomena which having a nice view of sand dunes as the only one in Indonesia. So if we want to see a real desert...shouldn’t go to middle east or Africa,...expensive...and it’s a real hot there,..because in here there is a miniatur of similar natural view. This place is also used as natural laboratorium for scientific people like&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;geologist,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;geographic and other dicipline sciences, evenmore in here many moslem people conducted a physical training before doing Hajj at Arab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;to suite the actual climate there.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The lose sand materials are transported by Opak river then deposited surrounding coastal plain by active strong wave from Pantai selatan,..then carried out by  sea wind to the land..so finally is generated a nice view of this sand dunes.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_qPLF7sfI/AAAAAAAAAXI/f2RVQmxNoVA/s1600-h/100_4044.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_qPLF7sfI/AAAAAAAAAXI/f2RVQmxNoVA/s400/100_4044.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323230830971826674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_qcKIuFkI/AAAAAAAAAXQ/hd6wZBSI1Ds/s1600-h/100_4054.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_qcKIuFkI/AAAAAAAAAXQ/hd6wZBSI1Ds/s400/100_4054.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323231054053381698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_qmk4Li4I/AAAAAAAAAXY/ySp_0wF30vg/s1600-h/100_4064.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_qmk4Li4I/AAAAAAAAAXY/ySp_0wF30vg/s400/100_4064.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323231233030458242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;3.Parangkusumo&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Menuju Parangtritis singgah dulu ke pantai Parangkusumo, pantai ini terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis mempunyai keindahan alam dan fenomena tersendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Satu fenomena disini terdapat 2 batu besar yang sekelilingnya di pagar beton. Tempat yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar tersebut dikenal dengan nama Cepuri. Konon ceritanya menurut Surakso Sudarmo (50) sebagai salah satu juru kunci Cepuri, batu karang tersebut dulunya sebagai petilasan Panembahan Senopati dan tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul penguasa laut selatan.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;" &gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:#38B63C; 	mso-text-animation:none; 	text-decoration:none; 	text-underline:none; 	text-decoration:none; 	text-line-through:none;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cepuri merupakan tempat yang penting untuk acara yang bersifat adat dan spiritual khususnya acara labuhan. Setiap memasuki tahun baru kalender Jawa hampir selalu dilakukan acara ritual labuhan yang dikenal sebagai ritual satu Syuro. Benda yang mau dilabuh harus dimasukan ke Cepuri dan didoakan oleh para juru kunci sebelum benda tersebut di buang kelaut. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pengunjung tidak boleh seenaknya keluar masuk wilayah petilasan Panembahan Senopati ini. Mereka diharuskan melepas alas kakinya sebelum memasuki wilayah Cepuri dan tidak boleh berisik. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pengunjung sebagian besar peziar&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGHV4CbZPI/AAAAAAAAAF8/Lqd5tIhciHs/s1600-h/parangkusumo-2.jpg"&gt; &lt;/a&gt;ah yang berasal dari berbagai daerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;English version:
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms; font-style: italic;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;3.Parangkusumo&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Before reach Parangtritis it is better to see first Parangkusumo beach which located in west part of Parangtritis since this place having it’s own nice view and phenomenas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;One phenomena in here, there are 2 misterious big stones inside covered palisade. The name of this mystic place is “Cepuri”. According to relieance of local people there and also story from old gate keeper of this place Surakso Sudarmo (50), those 2 stones were meditation place of Panembahan Senopati and special place also to meet with Ratu Kidul.
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-size:85%;" &gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cepuri is special place to conduct some traditional and ritual activities, especially ritual “labuhan”. Almost in every Javanese new year, there is labuhan ritual which has been known as “ritual satu Syuro”.  Before thrown to the sea, all ritual things should be brought to Cepuri to get special ritual. To enter Cepuri area, people should follow the special instructions there, in example not allow to use shoes/ sandals etc. Most of the visitors are pilgrims from &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; citizen and other town area.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:navy;"   &gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_rN2lPY0I/AAAAAAAAAXo/FK9YlE4Yas4/s1600-h/parangkusumo2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_rN2lPY0I/AAAAAAAAAXo/FK9YlE4Yas4/s400/parangkusumo2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323231907797754690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_rCpNvieI/AAAAAAAAAXg/_4heivDim3E/s1600-h/parangkusumo3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_rCpNvieI/AAAAAAAAAXg/_4heivDim3E/s400/parangkusumo3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323231715230976482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_rXo0FUYI/AAAAAAAAAXw/ST9xEIpH0pg/s1600-h/Parangkusumo-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_rXo0FUYI/AAAAAAAAAXw/ST9xEIpH0pg/s400/Parangkusumo-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323232075900604802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;4.Parang Wedang&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Parang Wedang, Sumber Air Panas AlamiParang Wedang adalah sumber air panas mineral yang menyembur atau memancar keluar. Di Parang Wedang juga tersedia tempat untuk mandi. Air mineral konon dapat menyembuhkan segala macam penyakit kulit. Kamar mandi disediakan disini, para pengguna dikutip uang sewa Rp. 1500 sekali mandi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd6mPaQL4NI/AAAAAAAAASo/hemugNNWIqw/s1600-h/Parang+wedang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd6mPaQL4NI/AAAAAAAAASo/hemugNNWIqw/s320/Parang+wedang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322874593273962706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;English version:
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-style: italic; font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p  style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:navy;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;4. Parang Wedang&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: arial;font-size:85%;color:navy;"  &gt;Before reach Parangtritis beach, there is another location Parang wedang as a natural hot spring with mineral contain especially sulphur. There are some facilities to take a bath in here. The water is believed as an alternative way to recover skin diseases. The tariff to use the bathroom only Rp 1500 -.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="color:navy;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: left;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;5- &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;Pesisir Parangtritis&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Lokasi obyek wisata ini terletak +/- 26 km disebelah selatan kota Yogyakarta via Jl. Parangtritis. Tempat ini &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;sudah terkenal sejak lama tidak hanya sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wisata pantai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;denan fenomena ombak besarnya dan hamparan pasir pantai luas, tetapi juga ada sejarah tersendiri di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;K&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;ompleks Parangtritis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;terdiri dari pantai Parangtritis sendiri, Parangkusumo dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;dataran tinggi Gembirowati sebagai kombinasi morfologi alam pantai dan karst (karbonat). Terdapat pemandangan indah pasir pantai luas yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;terhampar dari barat dibatasi Muara Kali Opak dan di timur oleh Pegunungan Selatan (pegunungan karst).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: courier new;"&gt;
&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Ada tempat khusus berupa kolam alami yang terbentuk dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelapukan (pelarutan) batuan karbonat. Tempat ini telah diketemukan dan dikembangkan sejak Sultan Hamengku Buwono VII&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Satu keunikan lagi disini...Anda bisa menikmati panorama sepanjang pantai dengan naik dokar yang disewakan orang setempat tarif Rp 15,000 – 20,000&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;English version:&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cw%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p  style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;5. Parangtritis beach&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:85%;"&gt;Parangtritis beach is located +/- 26 km to the southern part of &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; town via Jl. Parangtritis. This place already known by everyone, not only as beach tourism place which having a spectacular beach comber and widespread of coastal sand deposits, but&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;also has its own history. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:85%;"&gt;Parangtritis complex consists of Parangtritis beach, Parangkusumo and Gembirowati high land, all is combination of beach and karst morphology.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;There is a nice view of lose sand deposit over coastal plain from west limited by Opak river to the east (reach Southern mountain karst).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p face="trebuchet ms" style="font-style: italic; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:85%;"&gt;There is also specific place of natural pool which was formed due to karst (carbonate) weathering phenomena. This place was discovered and developed by Sultan Hamengku Buwono VII.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="color: rgb(0, 0, 102); text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;One more as unique phenomena in here,…you can enjoy the natural beach view along the coastal by driving the dokar (traditional vehicle) with tariff Rp 15,000 – 20,000.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_scnIHe2I/AAAAAAAAAYA/cp--xQxCeXI/s1600-h/Parangtritis2.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_scnIHe2I/AAAAAAAAAYA/cp--xQxCeXI/s400/Parangtritis2.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323233260858735458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_sPfUdkPI/AAAAAAAAAX4/TBfLPStF49o/s1600-h/parangtritis-beach-yogyakarta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_sPfUdkPI/AAAAAAAAAX4/TBfLPStF49o/s400/parangtritis-beach-yogyakarta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323233035424731378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_tlqQgqHI/AAAAAAAAAYo/a42B4nvml5Q/s1600-h/parangtritis2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 245px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_tlqQgqHI/AAAAAAAAAYo/a42B4nvml5Q/s400/parangtritis2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323234515829696626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_td8tIVII/AAAAAAAAAYg/NSVMsg2kVEw/s1600-h/Parangtritis4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 298px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_td8tIVII/AAAAAAAAAYg/NSVMsg2kVEw/s400/Parangtritis4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323234383342621826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_stTwJLzI/AAAAAAAAAYQ/I5J_yS1ZbsA/s1600-h/parangtritis5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_stTwJLzI/AAAAAAAAAYQ/I5J_yS1ZbsA/s400/parangtritis5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323233547715686194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_s7Vhr-oI/AAAAAAAAAYY/9-Zq4hXZg-U/s1600-h/Parangtritis3.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 291px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_s7Vhr-oI/AAAAAAAAAYY/9-Zq4hXZg-U/s400/Parangtritis3.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323233788710091394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-family:trebuchet ms;" &gt;
--- Copyright @04-2009 ---&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"   lang="IN"&gt;&lt;u&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:10;color:navy;"   &gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:navy;"   lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-2026291018138163048?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/o3J3Z7Is47U/tour-de-java-presents-yogyakarta.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/Sd_odgBd4MI/AAAAAAAAAWg/pM8eMQoh_5c/s72-c/day-1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2009/04/tour-de-java-presents-yogyakarta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-7326932533433055596</guid><pubDate>Tue, 16 Dec 2008 11:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-27T18:17:13.692+07:00</atom:updated><title>Amazing Jogja (Wisata Candi)</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;CANDI BOROBUDUR&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGAf9iMCKI/AAAAAAAAAEU/jGZ3_oE6jK4/s1600-h/260px-Borobudur-perfect-buddha.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeL0vJkZUI/AAAAAAAAAM0/F21inh2VA2M/s1600-h/260px-Borobudur-perfect-buddha.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280342826241254722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 260px; CURSOR: hand; HEIGHT: 299px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeL0vJkZUI/AAAAAAAAAM0/F21inh2VA2M/s400/260px-Borobudur-perfect-buddha.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Borobudur adalah salah satu monumen kuno yang terbaik yang dilestarikan dari seluruh dunia bahkan merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Monumen ini adalah kuil budha yang terbesar di seluruh dunia dan telah diklaim sebagai hasil budaya manusia yang paling sering dikunjungi lebih dari sejuta wisatawan baik domestik maupun luar negeri sampai saat ini. Gaya arsitek dari candi inipun tidak ada yang menyerupai di seluruh dunia. Struktur yang terisnpirasi menggambarkan mikro kosmos yang seringkali timbul menjadi suatu pertanyaan, misalnya kapan, dengan cara apa, berapa lama dan oleh siapa cagar alam ini telah dibangun. Jawaban yang tepat sampai saat ini masih meninggalkan misteri karena tidak ada dokumen tertulis sampai saat ini. Berdasarkan prasasti yang ditemukan oleh peneliti, dicatat bahwa Candi Borobudur dibangun antara abad ke delapan ketika Samaratungga - raja dari dinasti Syailendra memerintah di Jawa Tengah. Arti dari Borobudur masih tidak jelas. Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau biara. Sedangakan Budur mengingatkan kita dengan kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Dengan kata lain, Borobudur berarti Biara di atas bukit. Borobudur penuh dengan ornamen filosofis dimana menyimbolkan secara gamblang tentang kesatuan dari perbedaan jalur yang dapat diikuti untuk mencapai tujuan hidup yang paling pokok.Relif yang terukir di dinding candi memberitahukan keindahan dalam mempelajari hidup. Dengan kata lain, Borobudur memiliki jiwa seni, filosofis dan bud&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGA3aR9_FI/AAAAAAAAAEc/sK9bHywyl4g/s1600-h/300px-Borobudur_scenery_1.jpg"&gt; &lt;/a&gt;aya.Banyak &lt;a title="Teori" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teori"&gt;teori&lt;/a&gt; yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "&lt;a title="Gunung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung"&gt;gunung&lt;/a&gt;" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa &lt;a title="Etimologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Etimologi"&gt;etimologi&lt;/a&gt; rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata &lt;a title="Vihara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vihara"&gt;vihara&lt;/a&gt;, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari &lt;a title="Bahasa Sansekerta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sansekerta"&gt;bahasa Sansekerta&lt;/a&gt; yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam &lt;a title="Bahasa Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Bali"&gt;bahasa Bali&lt;/a&gt; yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah &lt;a title="Biara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Biara"&gt;biara&lt;/a&gt; atau &lt;a title="Asrama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asrama"&gt;asrama&lt;/a&gt; yang berada di tanah tinggi.Sejarawan &lt;a title="J.G. de Casparis (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=J.G._de_Casparis&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;J.G. de Casparis&lt;/a&gt; dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada &lt;a title="1950" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1950"&gt;1950&lt;/a&gt; berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti &lt;a title="Syailendra" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syailendra"&gt;Syailendra&lt;/a&gt; bernama &lt;a title="Samaratungga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samaratungga"&gt;Samaratungga&lt;/a&gt; sekitar &lt;a title="824" href="http://id.wikipedia.org/wiki/824"&gt;824 M&lt;/a&gt;. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu &lt;a title="Pramodhawardhani" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pramodhawardhani"&gt;Pramudawardhani&lt;/a&gt;. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abadCandi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah &lt;a title="Stupa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stupa"&gt;stupa&lt;/a&gt; utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab &lt;a title="Mahayana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahayana"&gt;Mahayana&lt;/a&gt;. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan &lt;a title="Bodhisattva" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bodhisattva"&gt;Bodhisattva&lt;/a&gt; yang harus dilalui untuk mencapai &lt;a title="Penerangan sempurna (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Penerangan_sempurna&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;kesempurnaan&lt;/a&gt; menjadi Buddha.Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai &lt;a title="Nirwana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nirwana"&gt;nirwana&lt;/a&gt;. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGCG0nS5rI/AAAAAAAAAEk/YDvd6dlOdiY/s1600-h/Karmawibhangga_Borobudur.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada &lt;a title="Raja Thailand" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Thailand"&gt;Raja Thailand&lt;/a&gt;, &lt;a title="Chulalongkorn (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Chulalongkorn&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Chulalongkorn&lt;/a&gt; yang mengunjungi &lt;a title="Hindia Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda"&gt;Hindia Belanda&lt;/a&gt; (kini Indonesia) pada tahun &lt;a title="1896" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1896"&gt;1896&lt;/a&gt; sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk &lt;a title="Punden berundak (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Punden_berundak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;punden berundak&lt;/a&gt;, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur &lt;a title="Mandala" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mandala"&gt;mandala&lt;/a&gt;.Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok &lt;a title="Lego" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lego"&gt;Lego&lt;/a&gt; yang bisa menempel tanpa lemsetiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa &lt;a title="Bahasa Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa"&gt;Jawa Kuna&lt;/a&gt; yang berasal dari &lt;a title="Bahasa Sansekerta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sansekerta"&gt;bahasa Sansekerta&lt;/a&gt; daksina yang artinya ialah &lt;a title="Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timur"&gt;timur&lt;/a&gt;. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita &lt;a title="Jataka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jataka"&gt;jātaka&lt;/a&gt;.Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar. 1460 pigura secara runtutan, Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan &lt;a title="Pahala (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pahala&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;pahala&lt;/a&gt;. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (&lt;a title="Samsara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Samsara"&gt;samsara&lt;/a&gt;) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.LalitawistaraMerupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah sela&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeM0wPeDLI/AAAAAAAAAM8/fGJEUL4nEI4/s1600-h/Karmawibhangga_Borobudur.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280343926046067890" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeM0wPeDLI/AAAAAAAAAM8/fGJEUL4nEI4/s400/Karmawibhangga_Borobudur.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut &lt;a title="Dharma" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dharma"&gt;dharma&lt;/a&gt; yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.Jataka dan AwadanaJataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab &lt;a title="Diwyawadana (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Diwyawadana&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Diwyawadana&lt;/a&gt; yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.GandawyuhaMerupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;CANDI PRAMBANAN&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGEOSEH5yI/AAAAAAAAAFE/rEC_mbA6WB0/s1600-h/pr.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeNcIrzalI/AAAAAAAAANE/KaBDYh1IJEo/s1600-h/prambanan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280344602622257746" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 205px; CURSOR: hand; HEIGHT: 143px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeNcIrzalI/AAAAAAAAANE/KaBDYh1IJEo/s400/prambanan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, dan terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Prambanan terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak. Renovasi candi ini dimulai pada tahun 1918, dan sampai sekarang belum selesai. Bangunan utama baru diselesaikan pada tahun 1953. Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja. Sekarang, candi ini adalah sebuah situs warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan. Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m. Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil. Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta. Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya. Arca Durga jug&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeN1XptpWI/AAAAAAAAANM/1O-41_bL_98/s1600-h/800px-Gate_to_Prambanan_complex.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280345036136752482" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeN1XptpWI/AAAAAAAAANM/1O-41_bL_98/s400/800px-Gate_to_Prambanan_complex.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Untuk lengkapnya bisa melihat di artikel Loro Jonggrang. Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu. Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi oral. &lt;/div&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;Candi Rara Jonggrang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeOUIbkVXI/AAAAAAAAANU/L95Zm9HrgBk/s1600-h/pr1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280345564626834802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 333px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeOUIbkVXI/AAAAAAAAANU/L95Zm9HrgBk/s400/pr1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi &lt;a title="Hindu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu"&gt;Hindu&lt;/a&gt; terbesar di &lt;a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;. Candi ini terletak di pulau &lt;a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa"&gt;Jawa&lt;/a&gt;, kurang lebih 20 km timur &lt;a title="Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta"&gt;Yogyakarta&lt;/a&gt;, 40 &lt;a title="Kilometer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kilometer"&gt;km&lt;/a&gt; barat &lt;a title="Surakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surakarta"&gt;Surakarta&lt;/a&gt; dan 120 km selatan &lt;a title="Semarang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Semarang"&gt;Semarang&lt;/a&gt;, persis di perbatasan antara &lt;a title="Provinsi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi"&gt;provinsi&lt;/a&gt; &lt;a title="Jawa Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah"&gt;Jawa Tengah&lt;/a&gt; dan &lt;a title="DIY" href="http://id.wikipedia.org/wiki/DIY"&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;/a&gt;. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten &lt;a title="Sleman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sleman"&gt;Sleman&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Klaten" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Klaten"&gt;Klaten&lt;/a&gt;.Candi ini dibangun pada sekitar tahun &lt;a title="850" href="http://id.wikipedia.org/wiki/850"&gt;850&lt;/a&gt; Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: &lt;a title="Rakai Pikatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Pikatan"&gt;Rakai Pikatan&lt;/a&gt;, raja kedua wangsa &lt;a title="Mataram I" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mataram_I"&gt;Mataram I&lt;/a&gt; atau &lt;a title="Rakai Watukura Dyah Balitung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Watukura_Dyah_Balitung"&gt;Balitung Maha Sambu&lt;/a&gt;, semasa wangsa &lt;a title="Sanjaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sanjaya"&gt;Sanjaya&lt;/a&gt;. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusakPada tahun 1733 Masehi, candi ini ditemukan oleh C.A Lons seorang berkebangsaan Belanda, kemudian pada tahun 1855 Masehi Izerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. beberapa saat kemudian Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang sungai Opak. Pada 1902-1903 Van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun &lt;a title="1918-1926 (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=1918-1926&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;1918-1926&lt;/a&gt;, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis, sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali.Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.Sekarang, candi ini adalah sebuah &lt;a title="Situs Warisan Dunia UNESCO" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Warisan_Dunia_UNESCO"&gt;situs&lt;/a&gt; yang dilindungi oleh &lt;a title="UNESCO" href="http://id.wikipedia.org/wiki/UNESCO"&gt;UNESCO&lt;/a&gt; mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi pe&lt;a title="Perang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perang"&gt;perangan&lt;/a&gt;.Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di &lt;a title="Asia Tenggara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia_Tenggara"&gt;Asia Tenggara&lt;/a&gt;, tinggi bangunan utama adalah 47m.Kompleks candi ini terdiri dari 8 &lt;a title="Kuil" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kuil"&gt;kuil&lt;/a&gt; atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil.Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang &lt;a title="Trimurti" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Trimurti"&gt;Trimurti&lt;/a&gt;: Batara &lt;a title="Siwa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Siwa"&gt;Siwa&lt;/a&gt; sang Penghancur, Batara &lt;a title="Wisnu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wisnu"&gt;Wisnu&lt;/a&gt; sang Pemelihara dan Batara &lt;a title="Brahma" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brahma"&gt;Brahma&lt;/a&gt; sang Pencipta.Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah &lt;a title="Mata angin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mata_angin"&gt;mata angin&lt;/a&gt;. Sementara yang pertama memuat sebuah &lt;a title="Arca" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arca"&gt;arca&lt;/a&gt; Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca &lt;a title="Durga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Durga"&gt;Durga&lt;/a&gt;, sakti atau istri Batara Siwa, &lt;a title="Agastya (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Agastya&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Agastya&lt;/a&gt;, gurunya, dan &lt;a title="Ganesa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ganesa"&gt;Ganesa&lt;/a&gt;, putranya.Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Untuk lengkapnya bisa melihat di artikel &lt;a title="Loro Jonggrang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Loro_Jonggrang"&gt;Loro Jonggrang&lt;/a&gt;.Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu &lt;a title="Nandini" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nandini"&gt;Nandini&lt;/a&gt;, &lt;a title="Wahana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wahana"&gt;wahana&lt;/a&gt; Batara Siwa, sang &lt;a title="Angsa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Angsa"&gt;Angsa&lt;/a&gt;, wahana Batara Brahma, dan sang &lt;a title="Garuda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda"&gt;Garuda&lt;/a&gt;, wahana Batara Wisnu.Lalu &lt;a title="Relief" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Relief"&gt;relief&lt;/a&gt; di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan &lt;a title="Wiracarita" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wiracarita"&gt;wiracarita&lt;/a&gt; &lt;a title="Ramayana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana"&gt;Ramayana&lt;/a&gt;. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan &lt;a title="Kakawin Ramayana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Ramayana"&gt;Kakawin Ramayana&lt;/a&gt; Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut &lt;a title="Perwara (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perwara&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;perwara&lt;/a&gt;. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu &lt;a title="Lingga (arca)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lingga_(arca)"&gt;Lingga&lt;/a&gt; batara Siwa, sebagai lambang kesuburun. &lt;/div&gt;

Sumber : Wikipedia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-7326932533433055596?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/PdZD6JCGOx4/amazing-jogja-wisata-candi.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeL0vJkZUI/AAAAAAAAAM0/F21inh2VA2M/s72-c/260px-Borobudur-perfect-buddha.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/12/amazing-jogja-wisata-candi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-49483524284116372</guid><pubDate>Tue, 16 Dec 2008 10:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-27T18:11:49.195+07:00</atom:updated><title>Amazing Jogja( Wisata Pusat Kota)</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;KERATON&lt;/span&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280332330471982722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 404px; CURSOR: hand; HEIGHT: 234px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeCRzXLBoI/AAAAAAAAALM/xb91gUkLKOI/s400/TDM96_0480a-1.gif" border="0" /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Keraton atau dalam bahasa aslinya disebut Karaton berlokasi di pusat kota Jogjakarta. Karaton artinya tempat dimana raja dan ratu tinggal, atau dalam kata lain Kadaton yang artinya sama. Dalam pembelajaran tentang budaya Jawa, arti ini mempunyai arti filosofis yang sangat dalam. Arsitektur istana ini adalah Sultan Hamengkubuwono I sendiri, yang merupakan pendiri dari kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda- Dr.Pigeund dan Dr.Adam yang menganggapnya sebagai "arsitek dari saudara Pakubuwono II Surakarta".Ada beberapa bagian dari wilayah Keraton, salah satunya adalah Pintu Gerbang Donopratopo yang berarti "seseorang yang baik selalu mem&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGDM5C8UFI/AAAAAAAAAE0/e_8jQeRFp14/s1600-h/kraton1.gif"&gt; &lt;/a&gt;berikan kepada orang lain dengan sukarela dan mampu menghilangkan hawa nafsu". Dua patung raksasa yang terdapat di samping, salah satunya menggambarkan kejahatan dan yang lain menggambarkan kebaikan. Hal ini berarti "Anda harus dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang jahat ". Bukan hanya ini, anda juga dapat menyaksikan pe&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYMjx_H2wI/AAAAAAAAAPE/a7DSd8xUTeU/s1600-h/kraton-4.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284425021618903810" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 276px; CURSOR: hand; HEIGHT: 184px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYMjx_H2wI/AAAAAAAAAPE/a7DSd8xUTeU/s200/kraton-4.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ninggalan budaya dari kerajaan Keraton yang lain seperti North Alun-alun, South Alun-alun, Siti Hingil , Kemandungan, Regol Gadungmlati, Regol Brojonolo, Bangsal Witono, Bangsal Manguntur Takil, Bangsal Trajumas, Bangsal Kencono, Pavilion Praba Yeksa, Gedong kuning. Di dalam Keraton terdapat museum yang dipersembahkan kepada almarhum Sultan Hamengkubuwono IX, ayah dari Sultan Hamenggkubuwono X yang merupakan Sultan saat ini. Sultan Hamengkubuwono IX adalah seorang figur politisi yang terkenal dan merupakan pemimpin Indonesia. Dorongan dan kontribusinya kepada Republik Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan dihormati dan dikenal oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Jogjakarta pernah menjadi ibukota Indonesia (1946-1949) dan diresmikan melalui Undang-Undang menjadi daerah khusus yang sama dengan propinsi. Museum ini memamerkan salinan berharga dari Pusaka yang sakral, hadiah dari kerajaan asing, gamelan, kereta kerajaan dan beberapa foto keluarga kerajaan dan susunan keluarga&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280332855952323922" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 347px; CURSOR: hand; HEIGHT: 221px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeCwY7ctVI/AAAAAAAAALU/ni6AHAtRFv4/s400/tm.gif" border="0" /&gt;
&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;TAMANSARI&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Ketika anda ke Tamansari, jangan lupa ke Istana Ait Tamansari. Terletak lebih kurang 400 meter dari komplek Keraton Yogyakarta sekitar 10 menit jalan kaki ke pasar burung dari halaman Kemandungan Selatan (Magangan). Tamansari berarti Taman yang indah, dimana zaman dahulu merupakan tempat rekreasi bagi Sultan Yogyakarta beserta kerabat istana. Kini, Tamansari dapat dikunjungi oleh masyaratan umum. Mulai dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Di kompleks ini terdapat tempat yang masih dianggap sakral di lingkungan Tamansari, yakni Taman Ledoksari dimana tempat ini merupakan tempat peraduan dan tempat pribadi Sultan. Diantara bangunan yang menarik adalah Sumur Gemuling yang beru&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeC5EabWZI/AAAAAAAAALc/w-bleVk8SWk/s1600-h/sum_gumuling.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280333005063936402" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 228px; CURSOR: hand; HEIGHT: 194px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeC5EabWZI/AAAAAAAAALc/w-bleVk8SWk/s400/sum_gumuling.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;pa bangunan bertingkat 2 dengan lantai bagian bawahnya terletak di bawah tanah. Di masa lampau, bangunan ini merupakan semacam surau tempat Sultan melakukan ibadah sholat. Bagian ini dapat dicapai melalui lorong bawah tanah. Di bagian lain masih banyak lorong bawah tanah yang lain, yang merupakan jalan rahasia, dan dipersiapkan sebagai jalan penyelamat bila sewaktu-waktu kompleks ini mendapat serangan musuh. Di sebelah Utara kompleks Tamansari terletak pasar Ngasem (sering disebut Pasar Burung) tempat jual-beli binatang unggas (burung indah, burung penyanyi, merpati bekisar dan lain-lain). Selain obyek wisatanya, Tamansari juga memiliki pontensi lain yang dapat diunggulkan. Batik lukis merupakan salah satu produk asli dari Tamansari yang telah dikenal oleh masyarakat luas. Dari asal katanya, batik lukis merupakan suatu metode melukis dengan memanfaatkan atau menggunakan prinsip-prinsip membatik. Seperti halnya pada membatik, pembuatan batik lukis ini juga menggunakan peralatan-peralatan seperti: canting, malam, pewarna dan sebagainya. Selain itu juga prosesnya hampir sama dengan membatik, akan tetapi lebih variatif sesuai dengan kreatifitas pelukis. Semakin kompleks warna yang digukan, maka semakin lama pula proses pembuatannya. Apabila tertarik untuk belajar, di sana banyak terdapat course center yang menawarkan proses belajar dari tingkat pemula hingga tingkat ahli/mahir, dan dari berbagai aliran seperti naturalisme, primitif, klasik, realisme, surealisme, ekspresionisme dan sebagainya sesuai keinginan. Proses pembelajarannya bervariasi, mulai dari 1 sampai 2 hari apabila Anda hanya ingin mengenal teknik dasarnya saja, hingga berminggu-minggu apabila Anda ingin menguasai teknik membatik hingga detail-detailnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280334121760218482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeD6EbkXXI/AAAAAAAAALk/4GtHTAnTWyQ/s400/Jalan_malioboro_-_Jogjakarta.jpg" border="0" /&gt;
&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;MALIOBORO&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGFBaBdwfI/AAAAAAAAAFU/IrBys7p-JRc/s1600-h/fwell_malioboro1.gif"&gt;&lt;/a&gt;Kawasan wisata belanja Malioboro merupakan pusat keramaian di tengah kota Yogya sepanjang dua kilometer, dengan jajaran toko, kedai suvenir kaki lima. Kawasan ini selalu padat oleh berbagai kendaraan, becak, dan sepeda. Para wisatawan tidak akan kuatir untuk dapat menikmati pula hari-hari liburannya di kota Jogja hingga larut malam sekalipun. Dapat dinikmati hidangan-hidangan di warung lesehan di sepanjang jalan Malioboro, makanan yang disediakan dan ditawarkan dari jenis makanan khas Yogya yaitu nasi gudeg dan ayam goreng dan juga makanan Padang, ChinesseFood dan lain sebagainya. Di kawasan Malioboro terdapat satu Mall terbesar di Kota Jogja yaitu Mall Malioboro, di sekitar Malioboro juga terdapat berbagai macam hotel dan tempat penginapan.Di ujung jalan kawasan Malioboro terdapat Pasar Beringharjo, tempat warga Yogya mencari kebutuhan pangan dan juga bahan batik dengan harga yang sangat murah sepanjang hari. Benteng Vredeburg yang dibangun pada jaman penjajahan belanda kini telah direnovasi, dan terdapat di ujung jalan Malioboro. Benteng ini juga menyimpan banyak sejarah dari perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda. Benteng Vredeburg juga merupakan salah satu alternatif para wisatawan untuk berkunjung. Dengan dikelilingi taman yang asri dan tak jarang diadakan suatu acara seni di sekitar pelataran parkir Benteng Vredeburg. Sebenarnya Malioboro adalah jalan yang menghubungkan Monumen Tugu kepada Kerajaan Sultan. Bagi masyarakat yang tinggal di Jogja, Malioboro dikenal sebagai bagian kota yang ramai karena kebanyakan kegiatan ekonomi di sepanjang jalan dimana institusi pemerintahan propinsi berada. Di siang hari Malioboro penuh dengan kegiatan bisnis. Kita dapat dengan mudah menemukan "andhong", alat angkutan atau becak. &lt;/div&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280334595472592546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 275px; CURSOR: hand; HEIGHT: 171px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeEVpJZjqI/AAAAAAAAALs/R6Go6tIH8JM/s400/w.jpg" border="0" /&gt;

&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;KIDS FUN PARK&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGFl8lJwJI/AAAAAAAAAFc/p-afyGzEMG0/s1600-h/w.jpg"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
Taman Rekreasi Anak dan keluarga, berlokasi di Jl.Wonosari km 10 Piyungan Bantul, Yogyakarta yang dikelola oleh PT. Produk Rekreasi Yogyakarta.Terdapat banyak anekan permainan anak yang ditawarkan sebagai hiburan rekreatif bagi anak dan keluarga. Taman ini juga dilengkapi dengan souvenir shop, bus kids Fun utnuk pengunjung kafe, panggung pertunjukan dan lain-lain. &lt;/div&gt;

&lt;div align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280335439668796770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 153px; CURSOR: hand; HEIGHT: 101px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeFGyBdXWI/AAAAAAAAAL0/-9rO1TeL5K0/s400/gbloka.jpg" border="0" /&gt;
&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;GEMBIRA LOKA&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;Gembira Loka adalah sebuah kebun binatang yang terletak di daerah aliran sungai Gajah Wong. Pada awalnya dimulai dari beberapa hewan macan tutul yang berhasil ditangkap penduduk setempat karena mengganggu desa dan sebagian berasal dari lereng merapi yang hutannya terbakar akibat awan panas.Kebun binatang Gembira loka kini memiliki koleksi binatang yang cukup lengkap. Setiap tahunnya ada tambahan penghuni. Sudah beberapa kali binatang gajah melahirkan anaknya, juga binatang langka Komodo telah menetaskan telur&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STF-xbMr5aI/AAAAAAAAAD0/gTGXQO-6rRY/s1600-h/gbloka.jpg"&gt; &lt;/a&gt;nya.Di Gembira Loka orang dapat bersuka ria dengan santai menggunakan perahu boad yang disediakan di telaga tersebut. Disamping dapat menikmati bermacam-macam jenis pohon yang tumbuh melengkapi keberadaan kebun raya yang merupakan taman mini yang menawan. Sayang pasca gempa 2006 silam , banyak kondisi bangunan dan kandang yang memprihatinkan. &lt;/div&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;PURAWISATA&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGF77NRU0I/AAAAAAAAAFk/2sL0mZVeehc/s1600-h/ji.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;


&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280337141617498434" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 337px; CURSOR: hand; HEIGHT: 192px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeGp2RpmUI/AAAAAAAAAMc/ThaqHpBAKeE/s400/ji.jpg" border="0" /&gt;

&lt;div align="justify"&gt;Taman Wisata Purawisata PURAWISATA merupakan tempat rekreasi terlengkap di Daerah Istimewa Yogyakarta di Jl. Brigjen Katamso Jogja. Purawisata memiliki beberapa pilihan arena yaitu: Taman Wisata Ria, Sendratari Ramayana (Open Air Theatre) dan Jimbaran Restaurant.&lt;/div&gt;

&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280337801435365826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeHQQSfQcI/AAAAAAAAAMs/dAMcuizUDyA/s400/sk1.jpg" border="0" /&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;Pasar Kembang (SARKEM)&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGLHZbaTpI/AAAAAAAAAG8/3EeqQ2RG070/s1600-h/sk1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;Pasar Kembang atau bisa disingkat Sarkem adalah sebuah lokalisasi WTS yang terletak di kota Yogyakarta. Lokalisasi ini terletak tidak jauh dari jalan Malioboro.di seputar stasiun tugu dan berkembang seiring pembangunan jalur rel kereta api pada masa kolonial belanda. Yang cukup aneh kenapa prostitusi berkembang dimulai dari jalur kereta ya…? Please use the baloon ok when needed… and keep your family from AIDS. &lt;/div&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280336610808811538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 285px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeGK82_0BI/AAAAAAAAAMM/ISmYAo2GsiA/s400/museumkekayon-1.jpg" border="0" /&gt;
&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;Museum Wayang Kekayon&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;
Prof Dr dr KPH Soejono Prawirohadikusumo, SpS,SpKj(K) selaku pendiri dan ketua yayasan museum, beliau mendapatkan inspirasi untuk mendirikan Museum Wayang di Yogyakarta pada saat beliau menyaksikan museum-museum di Belanda sekitar tahun 1967. Pada waktu itu beliau sedang menempuh pendidikan S2 di Belanda. Sepulangnya dari Belanda, kerabat Puro Pakualaman ini mulai mengumpulkan wayang sedikit demi sedikit dan membangun Museum Wayang hingga selesai pada tahun 1987 yang ditandai dengan Surya Sengkala "Kekayon Siyaga Angesti Wiyata". Museum itu diresmikan oleh Gubernur DIY pada waktu itu K.G.P.A.A. Paku Alam VIII pada tanggal 5 Januari 1991. Kurang lebih 90% koleksi Museum Way&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeGWqPALQI/AAAAAAAAAMU/IUwNinFJZZg/s1600-h/museumkekayon-2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280336811967655170" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 280px; CURSOR: hand; HEIGHT: 232px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeGWqPALQI/AAAAAAAAAMU/IUwNinFJZZg/s400/museumkekayon-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ang merupakan koleksi pribadi, selebihnya merupakan hibah dan titipan dari para pecinta seni pewayangan. Tujuan Pendirian, Museum Wayang Kekayon Yogyakarta adalah preservasi kebudayaan nasional, khususnya kebudayaan wayang dan hal-hal yang terkait dengan tujuan tersebut. Sebagai tujuan wisata, museum itu memiliki fungsi pendidikan, wahana penelitian , dan rekreasi. Bangunan, Kompleks Museum Wayang Kekayon Yogyakarta terdiri atas : Kompleks Museum terdiri atas 1 (satu) ruang auditorium dengan fasilitas audio visual digunakan untuk penjelasan awal bagi pengunjung serta sepuluh unit bangunan museum. Gedung induk dengan arsitektur khas Jawa lengkap dengan kuncung, pendapa, longkang, peringgitan, ndalem dengan sarean tengahnya. Gedung Pendapa yang luas dapat dipergunakan untuk berbagai macam acara yaitu pernikahan, pertemuan, latihan kesenian, dan paket wisata makan malam sambil menyaksikan pergelaran wayang, Sejarah Indonesia dalam taman, mulai dari kompleks manusia purba dua juta tahun yang lampau hingga kompleks patung Proklamasi 1945,Halaman yang asri dikelilingi tanaman langka serta hutan wisata. Fasilitas wisata lainnya yaitu sasana cinderamata, parkir yang luas dan teduh, dan kafe . Koleksi, Museum Wayang Kekayon memiliki koleksi ribuan jenis wayang dari seluruh kawasan Nusantara dan mancanegara yang terdapat di dalam sepuluh unit bangunan museum yang terdiri atas : Wayang Purwa gaya Yogyakarta, Wayang Purwa gaya Surakarta, Wayang Madya dan Gedhog, Wayang Klithik, Krucil, dan Beber, Wayang Madura, Dupara, Kartasuran, Kidang Kencana, dan lain-lain, Wayang Bali, Suluh, Golek Menak, Golek Tengul, dan lain-lain, Wayang Jawa, Tutur, Diponegaran, Golek Cepak, Sejati, dan lain-lain, Aneka Topeng, Yogya, Bali &amp;amp; aneka kesenian tradisional, Wayang Kontemporer, Wayang Thailand, Amerika, India, dan lain-lain, Wayang satu abad, khusus Kraton, dan lain-lain Koleksi masterpiece adalah wayang kulit seratus kurawa dan koleksi yang unik lainnya adalah hubungan zodiak/ bintang anda dengan tokoh wayang &lt;/p&gt;
&lt;p align="center"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280337411270638674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 284px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeG5iz9_FI/AAAAAAAAAMk/FbguVUfEpkM/s400/panggungkrapyak-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;Panggung Krapyak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p align="justify"&gt;
Tempat Berburu Raja-Raja YogyakartaTerletak di Krapyak, Panggungharjo, Sewon. Bahan bangunan yang digunakan batu bata berplester, dengan u kuran panjang 17,60 m, lebar 15 m, tinggi 10 m. Bangunan Panggung Krapyak mempunyai 4 (empat), bauh pintu pada masing-masing sisinya. Didalam ruangan tersebut terdapat dinding tembok yang membentuk ruangan-ruangan . Bangunan ini terdiri dari dua tingkat. Untuk menuju tingkat atas terdapat lubang untuk memasang tangga disisi ruang barat laut (tangga tersebut sekarang sudah hilang). Kondisi bangunannya cukup terawal. Di sebelah timur panggung Krapyak terdapat sebuah kolam yang sering disebut dengan umbul. Kondisi bangunannya sudah rusak karena tidak terawat , terbuat dari bata yang dilepas. Panggung Krapyak merupakan lokasi perburuan bagi raja – raja Kasultanan.
&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280336035085255666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 278px; CURSOR: hand; HEIGHT: 216px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeFpcHzg_I/AAAAAAAAAL8/U37kOuSJhB8/s400/sendangkasihan-1.jpg" border="0" /&gt;
&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;SENDANG KASIHAN&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p align="justify"&gt;
Petilasan Sunan KalijagaLokasi Sendang Kasihan secara administratif terletak di Dusun Kasihan, Kalurahan Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Tepatnya berada sekitar 1,5 km di sebelah barat pabrik gula Madukismo. Lokasi ini dapat dijangkau dari perempatan Kasihan (ring road selatan) lurus ke selatan kurang lebih 1 kilometeran.Sendang Kasihan ini memiliki keistimewaan karena airnya tidak pernah kering. Mata air yang muncul dari dalam tanah pun bening. Sendang ini bila diamati dari timur akan tampak gambaran keseluruhannya seperti pohon beringin. Akan tetapi jika diamati dari arah barat maka akan tampak gambaran seperti sebentuk kendi.Legenda, menurut sumber setempat timbulnya sumber air yang kemudian menjadi Sendang Kasihan ini konon oleh karena tuah tongkat milik Sunan Kalijaga. Diceritakan bahwa dalam pengembaraannya waktu itu Sunan Kalijaga tiba di daerah Kasihan. Di daerah ini ia membutuhkan air yang bersih. Oleh karena ia tidak mendapatkan sumber air yang dimaksud, ia pun menancapkan tongkatnya ke atas tanah. Setelah tongkat itu dicabut, maka keluarlah sumber mata air yang jernih dan kemudian terkumpul dalam cekungan dan kemudian terkenal dengan nama Sendang Kasihan. Menurut cerita tutur setempat Sendang Kasihan ada kaitan erat dengan cerita Rara Pembayun (putra Panembahan Senapati), sebelum masuk ke wilayah Mangir, bersama pengiringnya mandi dan mencuci muka di sendang ini. Proses penyucian diri di sendang ini konon memberi dampak bagi kencantikan Rara Pembayun. Air sendang ini membuat wajah dan tubuh tampak lebih muda, bersinar, dan menimbulkan daya pikat yang luar biasa. Oleh karena itu Sendang Kasihan ini sering disebut juga dengan nama Sendang Pengasihan. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
&lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280336379505643378" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeF9fMBj3I/AAAAAAAAAME/omMRVYcaucY/s400/g.jpg" border="0" /&gt;
&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Masjid Soko Tunggal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Terletak di sebelah kiri (sisi Selatan) dari plaza (jalan masuk) yang menuju ke gapura depan Tamansari dan hingga kin masih dipergunakan untuk tempat beribadah umat Islam.Keistimewaan dari masjid ini terletak pada soko guru (tiang penyangga utama) nya yang hanya berjumlah satu buah dan ditopang oleh batu penyangga lazimnya disebut Umpak, yang berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyokro Kusuno dari Kerajaan Mataram Islam. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sumber : ( forum.detik.com)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-49483524284116372?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/F6L3t18iPak/amazing-jogja-wisata-pusat-kota.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeCRzXLBoI/AAAAAAAAALM/xb91gUkLKOI/s72-c/TDM96_0480a-1.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/12/amazing-jogja-wisata-pusat-kota.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-2350846923011726786</guid><pubDate>Sat, 13 Dec 2008 01:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-27T18:15:55.653+07:00</atom:updated><title>Amazing Jogja (Wisata  Pantai)</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;PARANGTRITIS &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYAG23qNyI/AAAAAAAAAOc/mqXSfk-XEYQ/s1600-h/P+tritis-2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284411330574038818" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYAG23qNyI/AAAAAAAAAOc/mqXSfk-XEYQ/s320/P+tritis-2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Komplek Parangtritis sejak dulu sudah terkenal, tidak saja sebagai tempat rekreasi pantai yang memiliki hamparan pasir luas, tetapi juga terkenal sebagai tempat yang memiliki berbagai peninggalan sejarah. Komplek Parangtritis terdiri dari Pantai Parangtritis, Parangkusumo dan dataran tinggi Gembirowati.Konon asal mula Parangtritis di ambil dari keadaan alam yang terdiri dari batu-batu karang dimana dari atas salah satu tempat di tebing pegunungan yang terdiri dari batuan kapur, yang selalu meneteskan air kebawah, menyerupai tritis. Karena air tersebut mengandung zat kapur , maka batu-batu karang makin bertambahn besar . Terbentuklah kolam dengan air yang sangat jernih, yang saat ini telah dibangun sebuah kolam renang yang cuk&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd92O3CTyI/AAAAAAAAAKc/TKmqBxv43ZI/s1600-h/parangtritis.jpg"&gt;&lt;/a&gt;up bagus. Kolam ini diketemukan dan dipelihara oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Di kompleks ini juga terdapat beberapa obyek lain yang menarik untuk dilihat. Kompleks wisata ini dapat dicapai melalui dua jalur. Jalur pertama lewat jembatan Kretek, yang kedua lewat Imogiri dan Siluk .

&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;PANTAI BARON DAN KUKUP&lt;/span&gt;

&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd-LwJi-YI/AAAAAAAAAKk/w6nKahXD-d4/s1600-h/9-1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYCoOyAb5I/AAAAAAAAAOk/8Rehyzeu2kQ/s1600-h/krakal-2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284414102951718802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 258px; CURSOR: hand; HEIGHT: 207px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYCoOyAb5I/AAAAAAAAAOk/8Rehyzeu2kQ/s200/krakal-2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai ini terletak di Kabupaten Gunung Kidul. Untuk mencapai, terlebih dahulu kita harus mencapai kota Wonosari . Ibukota Kabupaten Gunung kidul yang terletak lebih kurang 40 km dari kota Yogyakarta, Prasarana jalan yang menuju ke kota Wonosari ini cukup baik, jalan berkelok-kelok naik turun melintasi beberapa daerah yang indah pemandangannya.Jarak Kota Wonosari dengan pantai Baron kurang lebih 20 km, dengan dipenuhi oleh pohon kelapa. Teluk ini merupakan muara dari aliran sungai dibawah batu karang yang airnya cukup jernih. Ombak pantai Baron agak besar, tetapi para pengunjung masih dapat berenang-renang di pantai ini samapi batas yang diperkenankan, yang di tanda dengan rentangan kawat yang membentang sepanjang diatas teluk itu. Berwisata ke pantai Kukup, merupakan mata rantai dari kunjungan rekreasi ke pantai Baron , sebab jarak diantara kedua pantai tersebut lebih kurang hanya 1 km saja , bilamana pantai Baron berpasir hitam, maka pasir pantai Kukup ini lain keadaannya, yakni berpasir putih kekuning-kuningan. Goa-gua karang yang teduh, serta ikan hias air laut banyak didapati didaerah ini dan sangat memikat para wisatawan untuk melihat laut Indonesia yang sangat mempesona.

&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;PANTAI KRAKAL&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYEPWT74QI/AAAAAAAAAOs/v3bLLPCgyJQ/s1600-h/krakal-3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284415874499600642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 271px; CURSOR: hand; HEIGHT: 230px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYEPWT74QI/AAAAAAAAAOs/v3bLLPCgyJQ/s200/krakal-3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai Krakal dapat dicapai melalui jalan sepanjang 6 km dari kawasan pantai Kukup, sehingga pantai Krakal merupakan mata rantai perjalanan setelah mengunjungi pantai Baron dan Kukup.Pantai Krakal merupakan pantai yang paling indah, diantara seluruh hamparan pantai di sepanjang pulau jawa, pantai ini akan dibangun menjadi kawasan pantai dan perkampungan wisatawan, khususnya wisatawan asing, semacam tourist resort Nusa Dua di pulau Bali. Pantai Krakal, bentuknya landai, berpasir putih, terhampar sepanjang lebih dari 5 km. Pantai ini menerima panas matahari dari pagi hingga petang hari sepanjang tahun. Angin laut yang terhembus sangat sejuk, ombaknya cukup besar.

&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;PARANG WEDANG&lt;/span&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd-nVmGspI/AAAAAAAAAK0/dQ1YCdNzeEI/s1600-h/parangwedang-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280328302392160914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd-nVmGspI/AAAAAAAAAK0/dQ1YCdNzeEI/s400/parangwedang-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Parang Wedang, Sumber Air Panas AlamiParang Wedang adalah sumber air panas mineral yang menyembur atau memancar keluar. Di Parang Wedang juga tersedia tempat untuk mandi. Air mineral konon dapat menyembuhkan segala macam penyakit kulit. Kamar mandi disediakan disini, para pengguna dikutip uang sewa Rp. 1500 sekali mandi. &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;



&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;PANTAI PARANGKUSUMO&lt;/span&gt;

&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGG82xmtQI/AAAAAAAAAF0/pkb5FVgzmLM/s1600-h/parangkusumo-1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd-5YBlwKI/AAAAAAAAAK8/9pNyZlWHUrE/s1600-h/parangkusumo-2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280328612281958562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd-5YBlwKI/AAAAAAAAAK8/9pNyZlWHUrE/s400/parangkusumo-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai ini terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis mempunyai keindahan alam yang tidak kalah dengan pantai Parangtritis. Selain itu di dekat pantai ini terdapat 2 batu karang yang sekelilingnya di pagar beton. Tempat yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar tersebut dikenal dengan nama Cepuri. Menurut Surakso Sudarmo (50) sebagai salah satu juru kunci Cepuri, batu karang tersebut dulunya sebagai petilasan Panembahan Senopati dan tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul penguasa laut selatan. Cepuri merupakan tempat yang penting untuk acara yang bersifat adat dan spiritual contohnya acara labuhan. Benda yang mau dilabuh harus dimasukan ke Cepuri dan didoakan oleh para juru kunci sebelum benda tersebut di buang kelaut. Para pengunjung tidak boleh seenaknya keluar masuk wilayah petilasan Panembahan Senopati ini. Mereka diharuskan melepas alas kakinya sebelum memasuki wilayah Cepuri dan tidak boleh berisik. Para pengunjung sebagian besar peziar&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGHV4CbZPI/AAAAAAAAAF8/Lqd5tIhciHs/s1600-h/parangkusumo-2.jpg"&gt; &lt;/a&gt;ah yang berasal dari berbagai daerah. Mereka datang dengan berbagai niat, ada yang ingin cepat dapat jodoh, ingin kaya, tambah wibawa dan sebagainya. “ Tapi perlu saya garis bawahi tempat ini bukan sebagai tempat pemujaan. Biasanya sebelum mereka melakukan ‘lelaku’ dan berdoa, saya selalu menghimbau bahwa Cepuri ini hanyalah tempat dan sarana untuk berdoa. Dan para pengunjung meminta sesuatu bukan pada batu ini tetapi dengan Tuhan Yang Maha Esa,” tutur Surakso Kardiyo (59) salah satu Juru Kunci Cepuri kepada Bantulbiz.com. Tempat yang dibuka setiap hari dan paling ramai pengunjungnya pada malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon ini masih menyimpan banyak misteri. Seperti dituturkan oleh pemimpin juru kunci Cepuri, banyak para peziarah mengalami kesurupan. Sebagian besar dikarenakan mereka melanggar aturan dan mempunyai niat-niat yang jelek. “ Ini membuktikan kebesaran Tuhan dan sebagai isyarat untuk manusia agar tidak sombong serta tidak bersifat ‘adigang, adigung, adiguna’ terhadap seluruh ciptaan Tuhan,” nasehat Surakso Tarwono sebagai pemimpin juru kunci Cepuri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;PANTAI WEDIOMBO&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd_MWnH1CI/AAAAAAAAALE/8JSo3CiiO1M/s1600-h/pantai_wedi_ombo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280328938320024610" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 211px; CURSOR: hand; HEIGHT: 148px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUd_MWnH1CI/AAAAAAAAALE/8JSo3CiiO1M/s400/pantai_wedi_ombo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai Wediombo merupakan pantai yang masih alami dengan panoramanya yang sangat indah, terletak di desa Jepitu Kecamatan Girisubo + 46 km diarah Tenggara kota Wonosari. Keunikannya pantai ini berbentuk teluk dan landai dengan hamparan pasir putih yang membentang luas tampak dikelilingi perbukitan kapur dan pepohonan yang rindang di sepanjang pantai. Pemandangan alam perbukitan dan Pantai yang dapat dilihat secara terbuka baik dari atas (dataran dan perbukitan) maupun dari pesisir pantai, sehingga memungkinkan bagi wisatawan untuk menikmati panorama sunset yang sempurna. Melalui Pantai Gremeng sebelah Timur pantai Wediombo terdapat Pulau Kalong (sebuah pulau kecil yang dihuni ribuan kalong) yang dapat dicapai dengan Tracking melalui jalan setapak + 1,5 Km. &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;PANTAI GLAGAH&lt;/span&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMSu5jBCqI/AAAAAAAAAKE/-hwwqZnWvSk/s1600-h/Glagah-1t.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279083785139325602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 113px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMSu5jBCqI/AAAAAAAAAKE/-hwwqZnWvSk/s320/Glagah-1t.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah dataran pantai yang lapang akan segera menyapa jika berkunjung ke Pantai Glagah. Kelapangan dataran pantai ini memberi anda kesempatan untuk merentangkan pandangan ke seluruh penjuru. Merentang pandangan ke depan, anda bisa melihat garis horizo&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMS3pCf1-I/AAAAAAAAAKM/rwofIsWpUVo/s1600-h/Glagah-3t.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279083935326787554" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 157px; CURSOR: hand; HEIGHT: 145px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMS3pCf1-I/AAAAAAAAAKM/rwofIsWpUVo/s320/Glagah-3t.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;n maha panjang yang mempertemukan langit dan lautan. Sementara keindahan kelokan garis pantai akan memanjakan mata bila mengalihkan pandangan ke barat atau timur.Dataran pantai yang lapang dan garis pantai yang panjang juga memberikan anda sejumlah lokasi alternatif untuk melihat keindahan pemandangan pantai. Masing-masing lokasi seolah memiliki nuansa yang berbeda walau masih terletak dalam satu kawasan. Di setiap lokasi itu, anda bisa menikmati seluruh keindahan pantai dengan leluasa, sama sekali tak ada karang-karang raksasa yang kadang menghalangi pandangan mata.Lokasi pertama yang sangat tepat untuk melihat pemandangan pantai adalah sebuah lokasi yang akan dijadikan pelabuhan beberapa tahun ke depan. Anda bisa menjumpainya bila telah sampai di belokan pertama dari pos retribusi, tandanya adalah sebuah plang bertuliskan PP. Pertemuan aliran sungai dengan ombak lautan yang penuh harmoni bisa disaksikan dengan menaiki sebuah gardu pandang yang terdapat di sana.Sepanjang lokasi pertama hingga beberapa ratus meter ke arah barat, anda bisa menjumpai sebuah laguna dengan aliran air yang menuju ke arah muara sungai. Laguna ini membagi kawasan pantai menjadi dua, lokasi yang masih ditumbuhi oleh beberapa tumbuhan pantai dan rerumputan dan lokasi gundukan pasir yang langsung berbatasan dengan lautan. Anda bisa menyeberang ke lokasi gundukan pasir melewati jalan penghubung yang terletak tak jauh dari muara sungai.Berjalan lebih ke barat, anda bisa menyaksikan aktivitas warga sekitar dan beberapa wisatawan memancing ikan. , mereka tampak berdiri dan berbaris, berderet mengikuti garis pantai sambil memegang peralatan memancingnya. Daerah pantai yang cukup landai memberi anugerah ikan dalam jumlah yang cukup besar. Sejumlah kios yang menjajakan sea food juga terdapat, menyajikan beragam menu yang pantas untuk dicoba.Selain pemandangan pantai yang indah, Pantai Glagah juga memiliki beragam fasilitas wisata pantai. Salah satu adalah area motor cross yang terletak persis di pinggir pantai dengan luas yang cukup besar, memberi kepuasan bagi anda penggemar olahraga ini. Sementara itu, jalan beraspal yang menghubungkan pantai Glagah dengan pantai-pantai lain bisa dimanfaatkan sebagai arena olah raga sepeda pantai.Anda bahkan bisa menikmati fasilitas agrowisata pantai dengan mengunjungi perkebunan Kusumo Wanadri. Di sana, anda bisa mengamati proses budidaya beragam tanaman obat mujarab, seperti buah naga dan bunga roselle. Selain itu, anda juga bisa menyewa gethek, kano dan bebek dayung yang bisa digunakan untuk tur menyusuri laguna atau sekedar menyeberang lewat jembatan kayu menuju lokasi gundukan pasir di tepi pantai.Lelah berkeliling, anda bisa beristirahat di gubug lesehan dalam kawasan areal perkebunan Kusumo Wanadri. Sejumlah menu makanan dan minuman eksotik pantas untuk dicoba. Anda bisa mencicipi jus buah naga yang menyegarkan dan dikenal mampu menyembuhkan beragam penyakit, atau memesan es sirup bunga roselle yang mampu melepas dahaga sekaligus menetralisir beragam jenis racun dalam tubuh.Untuk menikmati keseluruhan keindahan pemandangan pantai Glagah, anda bisa melaju melintasi dua alternatif jalan. Pertama, berjalan ke selatan melewati jalan Bantul dan berbelok ke kanan menuju jalur Bantul - Purworejo setelah sampai di Palbapang. Kedua, berjalan ke barat melewati lintasan jalan Yogyakarta - Wates - Purworejo dan berbelok ke kiri setelah menjumpai plang menuju Pantai Glagah. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi untuk lebih mudah mengaksesnya.Perjalanan ke pantai ini tak sesulit perjalanan menuju pantai di wilayah Gunung Kidul. Jalan-jalan yang dilalui cenderung datar dan tak banyak tanjakan sehingga anda bisa menempuhnya sambil bersantai. Lintasan menuju kota Purworejo itu juga menghubungkan Pantai Glagah dengan pantai-pantai lain di Kabupaten Kulon Progo. Jadi, sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, anda bisa mengunjungi pantai-pantai lain setelahnya. &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;PANTAI CONGOT&lt;/span&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGL68pR8sI/AAAAAAAAAHE/jV23sV2jaug/s1600-h/Congot-1t.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMT_B0GD5I/AAAAAAAAAKU/axFMCk-ZM9I/s1600-h/Congot-2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279085161747976082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMT_B0GD5I/AAAAAAAAAKU/axFMCk-ZM9I/s320/Congot-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai Congot adalah pantai wisata yang paling tepat dikunjungi setelah bertandang di Pantai Glagah. Kedua pantai itu berjarak sangat dekat dan dihubungkan oleh jalan beraspal halus yang bahkan cukup mudah ditempuh menggunakan sepeda. Terletak di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Pantai Congot menjadi pusat kegiatan warga sekitar yang menggantungkan hidup dengan mencari ikan.Keindahan pemandangan bisa dijumpai bahkan selagi anda masih dalam perjalanan menuju pantai ini. Sepanjang jalan yang menghubungkan Wates dengan Pantai Congot, anda bisa bisa menyaksikan hamparan sawah hijau dan aktivitas warga desa di Kulon Progo yang umumnya menjadi petani. Seperti dataran dekat pantai di wilayah lain, jalan-jalan menuju Pantai Congot juga dihiasi oleh deretan pohon kelapa.Pantai Congot memiliki pesona tersendiri dibanding pantai-pantai lainnya sebab nuansa nelayan dan perikanannya yang begitu kuat. Di sepanjang garis pantainya, anda bisa melihat aktivitas warga sekitar dan wisatawan lokal memuaskan kegemaran memancing. Di sudut lain, terdapat para nelayan yang tengah menjala ikan di tepi pantai, menghancurkan cangkang rajungan yang melekat di jala ataupun membersihkan perahu.Hiruk pikuk para nelayan dengan rentetan aktvititas hariannya bisa disaksikan bila anda berkunjung pada jam yang tepat. Pagi hari, biasanya para nelayan berangkat menuju lautan dengan menggunakan perahu-perahu bermotor yang dimilikinya. Sementara menjelang siang, para nelayan biasanya telah kembali membawa ikan hasil tangkapan yang kemudian disetor ke tempat pelelangan ikan wilayah setempat.Menuju tempat pelelangan ikan, anda bisa melihat aktivitas para wanita nelayan yang membersihkan ikan hasil tangkapan dan menjualnya kepada beberapa pembeli. Sementara aktivitas jual beli berlangsung di tempat pelelangan ikan, pria-pria nelayan biasanya sibuk membersihkan kapal dan menghancurkan rajungan yang biasa melekat pada jala dan seringkali membuatnya sobek. Seluruhnya berlangsung dari tengah hari hingga menjelang sore.Bila menggemari aktivitas memancing atau mencari ikan, anda bisa memuaskannya di pantai ini. Cukup membawa peralatan memacing, anda sudah bisa menjajal peruntungan untuk mendapat ikan. Bila tak memiliki alat pancing, anda bisa menggunakan jala kecil dan menyusuri tepi pantai untuk mencari ikan. Berkunjung dengan rekan dan memancing bersama pasti akan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan mengakrabkan.Meski tak begitu banyak jumlahnya, sejumlah warga sekitar membuka warung kecil yang menjajakan sea food sebagai menu utamanya. Menikmati hidangan sambil melihat aktivitas para nelayan tentu memberikan nuansa berbeda dibanding jika menikmatinya di restaurant tengah kota. Bau sedap ikan goreng dan bakar akan segera menyergap hidung ketika hidangan tengah dimasak, mengundang selera untuk segera menikmatinya.Usai menikmati aktivitas nelayan dan menikmati hidangan sea food, anda bisa berjalan ke barat untuk menikmati pemandangan muara Sungai Bogowonto. Anda bisa berdiri di bangunan jetty (semacam tanggul) yang berada di tepian hilir sungai atau batu-batuan di tepian muaranya. Pertemuan air tawar sungai dan air asin laut inilah yang membuat wilayah tepi Pantai Congot kaya beragam jenis ikan. Di muara sungai itulah, beragam jenis ikan terdapat dalam jumlah yang cukup banyak.Untuk berkunjung ke Pantai Congot, anda tak perlu membayar biaya tambahan. Kunjungan ke pantai ini sudah termasuk dalam tiket wisata menuju Pantai Glagah. Letak Pantai Congot yang sangat dekat dengan Pantai Glagah tentu cukup menjadi alasan untuk mengunjunginya. Nuansa nelayan dan perikanan yang begitu kuat menjadikan pantai ini tetap memiliki kekhasan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;PANTAI DEPOK&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYF7kgxJNI/AAAAAAAAAO0/F04NKj-4IfQ/s1600-h/pantai+depok-3.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284417733737391314" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 250px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYF7kgxJNI/AAAAAAAAAO0/F04NKj-4IfQ/s200/pantai+depok-3.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Diantara pantai-pantai lain di wilayah Bantul, Pantai Depok-lah yang tampak paling dirancang menjadi pusat wisata kuliner menikmati sea food. Di pantai ini, tersedia sejumlah warung makan tradisional yang menjajakan sea food, berderet tak jauh dari bibir pantai. Beberapa warung makan bahkan sengaja dirancang menghadap ke selatan, jadi sambil menikmati hidangan laut, anda bisa melihat pemandangan laut lepas dengan ombaknya yang besar.Nuansa khas warung makan pesisir dan aktivitas nelayan Pantai Depok telah berkembang sejak 10 tahun lalu. Menurut cerita, sekitar tahun 1997, beberapa nelayan yang berasal dari Cilacap menemukan tempat pendaratan yang memadai di Pantai Depok. Para nelayan itu membawa hasil tangkapan yang cukup banyak sehingga menggugah warga Pantai Depok yang umumnya berprofesi sebagai petani lahan pasir untuk ikut menangkap ikan.Sejumlah warga pantai pun mulai menjadi "tekong", istilah lokal untuk menyebut pencari ikan. Para tekong melaut dengan bermodal perahu bermotor yang dilengkapi cadik. Kegiatan menangkap ikan dilakukan hampir sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari tertentu yang dianggap keramat, yaitu Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Di luar musim paceklik ikan yang berlangsung antara bulan Juni - September, jumlah hasil tangkapan cukup lumayan.Karena jumlah tangkapan yang cukup besar, maka warga setempat pun membuka Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang kemudian dilengkapi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) bernama Mina Bahari 45. Tempat pelelangan ikan di pantai ini bahkan menerima setoran ikan yang ditangkap oleh nelayan di pantai-pantai lain. Saat YogYES berkunjung, tempat pelelangan ini tengah ramai dikunjungi oleh para wisatawan.Seiring makin banyaknya pengunjung pantai yang berjarak 1,5 kilometer dari Parangtritis ini, maka dibukalah warung makan-warung makan sea food. Umumnya, warung makan yang berdiri di pantai ini menawarkan nuansa tradisional. Bangunan warung makan tampak sederhana dengan atap limasan, sementara tempat duduk dirancang lesehan menggunakan tikar dan meja-meja kecil. Meski sederhana, warung makan tampak bersih dan nyaman.Beragam hidangan sea food bisa dicicipi. Hidangan ikan yang paling populer dan murah adalah ikan cakalang, seharga Rp 8.000,00 per kilogram, setara dengan 5 - 6 ekor ikan. Jenis ikan lain yang bisa dinikmati adalah kakap putih dan kakap merah dengan kisaran harga Rp 17.000,00 - Rp 25.000,00 per kilogram. Jenis ikan yang harganya cukup mahal adalah bawal, seharga Rp 27.000,00 - Rp 60.000 per kilogram. Selain ikan, ada juga kepiting, udang dan cumi-cumi.Hidangan sea food biasanya dimasak dengan dibakar atau digoreng. Jika ingin memesannya, anda bisa menuju tempat pelelangan ikan untuk memesan ikan atau tangkapan laut yang lain. Setelah itu, anda biasanya akan diantar menuju salah satu warung makan yang ada di pantai itu oleh salah seorang warga. Tak perlu khawatir akan harga mahal, setengah kilo ikan cakalang plus minuman hanya dijual Rp 22.000,00 termasuk jasa memasak.Puas menikmati hidangan sea food, anda bisa keluar pantai dan berbelok ke kanan menuju arah Parangkusumo dan Parangtritis. Di sana, anda akan menjumpai pemandangan alam yang langka dan menakjubkan, yaitu gumuk pasir. Gumuk pasir yang ada di pantai ini adalah satu-satunya di kawasan Asia Tenggara dan merupakan suatu fenomena yang jarang dijumpai di wilayah tropis. Di sini, anda bisa menikmati hamparan pasir luas, bagai di sebuah gurun.Gumuk pasir yang terdapat di dekat Pantai Depok terbentuk selama ribuan tahun lewat proses yang cukup unik. Dahulu, ada beragam tipe yang terbentuk, yaitu barchan dune, comb dune, parabolic dune dan longitudinal dune. Saat ini hanya beberapa saja yang tedapat, yaitu barchan dan longitudinal. Angin laut dan bukit terjal di sebelah timur menerbangkan pasir hasil aktivitas Merapi yang terendap di dekat sungai menuju daratan, membentuk bukit pasir atau gumuk.Untuk menikmati hidangan laut sekaligus pemandangan gumuk pasir ini, anda bisa melalui rute yang sama dengan Parangtritis dari Yogyakarta. Setelah sampai di dekat pos retribusi Parangtritis, anda bisa berbelok ke kanan menuju Pantai Depok. Biaya masuk menuju Pantai Depok hanya Rp 4.000,00 untuk dua orang dan satu motor. Bila membawa mobil, anda dikenai biaya Rp 5.000,00 plus biaya perorangan.

&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;PANTAI DRINI&lt;/span&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeQsJ2Pb-I/AAAAAAAAANc/kZRvkQnlJM4/s1600-h/Drini-1t.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280348176347262946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 141px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUeQsJ2Pb-I/AAAAAAAAANc/kZRvkQnlJM4/s400/Drini-1t.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai Drini terletak di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 1 km kearah timur dari Pantai Sepanjang. Keistimewaan pantai ini terdapat pulau karang yang tumbuh pohon Drini dan konon kayunya dapat dipakai sebagai penangkal ular berbisa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber : (forum.detik.com)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-2350846923011726786?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/gwYZ8Rx7RS0/parangtritis-komplek-parangtritis-sejak.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYAG23qNyI/AAAAAAAAAOc/mqXSfk-XEYQ/s72-c/P+tritis-2.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/12/parangtritis-komplek-parangtritis-sejak.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-8514748348816845817</guid><pubDate>Sat, 13 Dec 2008 01:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-27T18:01:40.803+07:00</atom:updated><title>MERAPI ( KALIURANG,KALI ADEM, MBAH MARIJAN)</title><description>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279079422798842546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMOw-j_yrI/AAAAAAAAAJk/lix74KHlbSw/s400/Kaliurang-1.jpg" border="0" /&gt;
Gunung Merapi, merupakan satu satunya gunung berapi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya kurang lebih 30 kilometer, sebelah Utara kota Yogyakarta dan puncaknya berupa &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMRtlMzVcI/AAAAAAAAAJ8/EF7-44TEznw/s1600-h/2-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279082662985946562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 167px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMRtlMzVcI/AAAAAAAAAJ8/EF7-44TEznw/s320/2-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dataran pasir yang tidak rata, seluas lebih kurang 4 hektar, dengan beberapa lubang kepundan yang satu sua diantaranya selalu mengepulkan asap tebal, menandai gunung Merapi masih aktif bekerja.Bilamana gunung ini menunjukan kedahsyatan erupsinya, masyarakat Yogyakarta dapat menyaksikan gumpalan asapnya yang berwarna putih kelabu atau ke&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGABo5vMvI/AAAAAAAAAEM/APoDnAkVqkA/s1600-h/2-1.jpg"&gt; &lt;/a&gt;hitaman-hitaman mengepul keatas yang dari kejauhan nampak seperti timbunan bulu domba. Akan tetapi bilaman gungung itu dalam keadaan "tenang", pesonanya demikian memukau, sehingga merangsang para remajayang ingin berpetualang mendaki gunung dan para pecinta olahraga mendaki gunung untuk menaklukan puncaknyaBagi yang kurang berminat melakukan pendakian sampai ke puncak masih dapat memuaskan hasrat hatinya untuk mengagumi kedahsyatan yang indah dari gunung Merapi ini, dari daerah Bebeng yang terletak lebih kurang 2 kilometer disebelah tenggara daerah Kaliurang, atau bisa juga melihat dari daerah Turi, lebih kurang 5 km disebelah barat daerah Kaliurang, jika ingin menyaksikan puncak Merapi dari kejauhan secara jelas, dapat digunakan teropong pengamat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi di Plawangan
&lt;div align="justify"&gt;

&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;KALIURANG &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284420837250390658" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 269px; CURSOR: hand; HEIGHT: 345px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SVYIwN_7WoI/AAAAAAAAAO8/HoZDs6RquZc/s320/kaliurang4-air+terjun.JPG" border="0" /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;
Pada lereng gunung Merapi, didekat pegunungan Pelawangan terhampar kota mungil Kaliurang yang berhawa sejuk, yang jauhnya lebih kurang 25 km dari kota Yogyakarta. Sejak Zaman penjajahan Belanda, daerah ini memiliki pemandangan indah, serta memiliki berbagai fasilitas rekreasi yang memadai.Kini Kaliurang telah menjadi lebih menarik lagi dengan telah dibangun dan dikembangkannya berbagai sarana rekreasi dan berbagai fasilitas lain, seperti kolam renang, hutan rekreasi, taman hiburan dan arena olahraga. Vila, bungalow, pesanggrahan dan berbagai sarana penginapan, yang beberapa diantaranya memiliki fasilitas untuk keperluan konvensi (konperensi, seminar, rapat-rapat, lokakarya, penataran) dan rumah-rumah makan. Bagi kalangan remaja dan pramuka, Kliurang merupakan tempat yang populer, karena di daerah ini tersedia juga bumi perkemahan, jalur jalur jelajah lintas alam dan pemandangan alam dan pemandangan alam yang indah yang menggugah rasa romantis kita &lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;BEBENG, KALI KUNING, MBAH MARIJAN&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMQ17Lke7I/AAAAAAAAAJ0/L9axc5Bfzr4/s1600-h/IMG_1076.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279081706813684658" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 248px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMQ17Lke7I/AAAAAAAAAJ0/L9axc5Bfzr4/s320/IMG_1076.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lokasi ini berada di sisi timur lereng Merapi, dapat ditempuh dari jalur simpang tinga pakem via Merapi Golf atau dari Cangkringan.  sekitar 30 Km dari pusat kota.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berada di ketinggian, lokasi ini menyajikan tempat wisata yang sejuk. Saat terjadi erupsi Merapi yang menelan korban jiwa di bunker kali adem , lokasi wisata Bebeng banyak dipenuhi batu-batu Vulkanik.  berdekatan dengan desa Kinahrejo tempat Juru Kunci Merapi tinggal ( Mbah Marijan " Rosa-rosa") bebeng menjadi salah satu pilihan wisata sekaligus mengenang tragedi erupsi beberapa tahun yang lalu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber lain : ( forum.detik.com)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-8514748348816845817?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/OC_BLdrHAqA/merapi-kaliurangkali-adem-mbah-marijan.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUMOw-j_yrI/AAAAAAAAAJk/lix74KHlbSw/s72-c/Kaliurang-1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/12/merapi-kaliurangkali-adem-mbah-marijan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-263642571059853667</guid><pubDate>Fri, 12 Dec 2008 10:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-21T00:59:23.448+07:00</atom:updated><title>AMAZING JOGJA ( WISATA SPIRITUAL)</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:courier new;font-size:180%;"  &gt;( WISATA SPIRITUAL)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI_RbXn-YI/AAAAAAAAAIk/shgCnds6PT4/s1600-h/makamimogiri-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278851281868814722" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 351px; height: 231px; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI_RbXn-YI/AAAAAAAAAIk/shgCnds6PT4/s400/makamimogiri-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:courier new;font-size:180%;"  &gt;IMOGIRI&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGHurHOMTI/AAAAAAAAAGE/IFjw-bVG41I/s1600-h/makamimogiri-1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Makam Imogiri, Komplek Makam Raja-Raja MataramMakam Imogiri merupakan komplek makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya. Kompleks ini berada di Ginirejo Imogiri. Makam ini didirikan oleh Sultan Agung antara tahun 1632 - 1640M merupakan bangunan milik keraton kasultanan. Raja Mataram yang pertama dimakamkan di Imogiri yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. Beliau yang memutuskan bahwa Imogiri menjadi makamnya kelak setelah beliau wafat. Hingga saat ini Raja Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta yang wafat dimakamkan di sini. Musim liburan banyak wisatawan lokal berkunjung ke Makam Imogiri selain berziarah sambil menikmati pemandangan yang indah pegunungan selatan Yogyakarta. Pada bulan Soro menurut kalender jawa dilaksanakan upacara pembersihan "nguras" Padasan Kong Enceh. Komplek Makam Imogiri ini terdapat berbagai bangunan dan benda-benda keramat hingga saat ini masih terawat. Kontruksi bangunan aslinya terbuat dari batubata. Bangunan - bangunan yang ada di komplek makam lmogiri adalah : Masjid, Masjid ini terdapat di dalam komplek makam , merupakan masjid tradisional yang di bangun kira-kira pada masa Sultan Agung . secara umum bangunanya masih asli hanya pada bagian serambinya saja yang mengalami perubahan yaitu pada bagian lantainya. Masjidnya beratap sirap , tetapi kini bagian atasnya dilapisi seng. sehingga atap, sirap hanya bisa dilihat dart dalam masjid saja. Unsur kekunoan lain pada masjid ini adalah pawestren dan kolam di halaman depan . Pada serambi masjid terdapat tubuh (Bedeng), besar dengan diameter 99 cm, panjang 146 cm. Menurut juru kunci makam tabuh ini di buat semasa dengan masjid. Unsur asli yang lain adalah saka guru dari kayu jati yang di sangga umpak persegi dari batu kali. Mihrap berupa relung pada dinding barat, dan mimbar berhias ukir-ukiran diantaranya ada yang manyerupai kala.&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGIGeIOgZI/AAAAAAAAAGM/pjaQKnZ-EhY/s1600-h/makamimogiri-2.jpg"&gt; &lt;/a&gt;Gapura, Di Komplek makam im terdapat empat buah pintu gerbang: Kori supit urang , berbentuk gapura bentar yaitu gapura yang berbentuk seperti candi terbelah, tanpa atap dan tanpa daun pintu. ukuran panjang 220 cm. lebar 150 cm, dan terbuat dan batu bata . Pada bagian kaki terdapat hiasan giometris. Di sebelah menyebelah kori supit urang ada dua padhasan, dengan lapik berhias tumpal. Regol Sri Manganti I, berbentuk paduraksa yaitu gapura yang mempunyai atap dan daun pintu Biasanya gapura seperti ini merupakan gerbang untuk memasuki halaman yang dinilai sakral. Terbuat dari batu putih,tetapi sekarang dilapisi semen.tangganya berukuran 12,70 x 3,60 m dibuat dari Pasangan bata. Daun pintu dan kayu jati dihias dengan dua bidang besar berbentuk belah ketupat, berisi ukiran bermotif tumbuh-tumbuhan. Di bawah ambang atas pintu ada Latiyu (ambang atas pintu yang berundak-undak), bertingkat lima terbuat dari kayu. Dibelakangya terdapat angka-angka jawa. Regol Sri Manganti II, berbentuk paduraksa, akan tetapi pada gerbang ini intensitas pola hiasanya berkurang ( lebih sedikit ), terdapat Latiyu bertingkat tujuh dan berhias pola bunga-bungaan di bagian tengahnya. Di balik Latiyu terdapat angka-angka Jawa. Gapura Papak, merupakan gerbang menuju ke makam Sultan Agung yang terletak di halaman terakhir / halaman 1V. Didekat gapura im terdapat susunan batu yang disebut pelenggahan yang digunakan Sultan Agung untuk memandang laut selatan. Kelir, Yaitu sebuah bangunan pagar tembok yang berfungsi sebagal kelir atau aling-aling pintu gerbang.Disini terdapat empat kelir yaitu: Kelir gapura supit urang, panjangnya 4,40m,lebar O,60m, terbuatdari batu bata dan batu yang disusun tanpa semen Kelir Regol Sri Manganti I, berukuran 4,3 5 x 0,40 m juga dibangun dari dari bata tanpa semen Bagian atapnya polos, sedang bagian bawah dialasi dengan 17 bidang berbentuk segi empat dan Segi enam. Kelir Regol Sri Manganti II, dibuat dari bata berukuran 4 x 0,20 m, hiasanya berupa bidang bidang berukiran pola Geometris yang diselingi pola tumbuhan. Kelir Gapura Papak, terdiri dari susunan batu putih berbentuk huruf L. Kelir ini samasekali tidak b&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUJAX2mShZI/AAAAAAAAAIs/EqpjsDV56Ro/s1600-h/makamimogiri-2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278852491768923538" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 233px; height: 190px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUJAX2mShZI/AAAAAAAAAIs/EqpjsDV56Ro/s320/makamimogiri-2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;erhias. Padasan, Padasan merupakan tempat berwudlu / bersuci. Disini terdapat 6 buah padasan yaitu, 2 buah terdapat di luar gerbang supit urang dan 4 buah terdapat dihalaman Kamandhungan dan biasanya disebut enceh atau Kong. Dua buah enceh yang berada di timur tangga regol Sri Manganti 1 dinamai Kyai Mendhung dan Nyai Siyem. Kedua enceh ini merupakan persembahan dari raja Ngerum (Turki) dan Siyem (Thailand). Sedang yang berada, di sebelah barat tangga bernama Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti, berasal dari Aceh dan Palembang. Enceh-enceh ini diisi setahun sekali pada hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon yang pertama di bulan Suro dengan upacara tradisi khusus. Nisan, Nisan sama artinya dengan makam . Bahan pembuat nisan di komplek makam ini antara lain adalah batu andesit, bata, dan batu pualam . Nisan untuk wanita biasanya bagian atasnya tumpul atau membulat , nisan untuk pria bagian atasnya runcing. Nisan-nisan di komplek makam ini di bagi dalam 8 (delapan) kelompok makam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278853269237993826" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 282px; height: 165px; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUJBFG5XEWI/AAAAAAAAAI0/WtzfBky58uU/s320/makamsyehmaulanamaghribi-1.jpg" border="0" /&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:courier new;" &gt;Makam Syeh Maulana Maghribi&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;Syeh Maulana Maghribi adalah seorang saudagar Arab yang giat menyebarkan agama Islam di tempat-tempat yang disinggahi, menetap di daerah ini hingga wafatnya. Makamnya terletak di atas bukit. Untuk sampai ke atas harus melalui tangga bata selebar 1,90 m. Dari tempat ini bila memandang ke arah selatan akan terlihat pemandangan indah kawasan Pantai Parangtritis. Selain makam juga terdapat tempat sesaji, tempat istirahat dan tempat penjaga. Disini juga ditemukan batu-batu candi, Sendang Beji, sumur tua, dan serumpun bambu yang disebut Pring Sentono. Acara vang biasa dilakukan di tempat ini adalah bersih makam, Ziarah, dan tirakatan malam Satu Suro. Pengelolaanya ditangani pihak Kraton Yogyakarta.&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;div align="center"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278856437480003186" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 333px; height: 203px; text-align: center;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUJD9hhHlnI/AAAAAAAAAJM/k_HN5LJ5LWE/s400/makamkiagengselohening-1.jpg" border="0" /&gt;

&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:180%;" &gt;Makam Ki Ageng Selohening &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:180%;" &gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Makam Ki Ageng Selohening yang merupakan kerabat kerajaan Majapahit terletak di atas Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek. Makam ini mulai dikeramatkan orang sekitar tahun 1927 sedangkan cungkupnya dibangun tahun 1961. Ziarah ke makam ini biasanya dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon, Jumat Kliwon dan malam 1 Suro.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278857186323925986" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 324px; height: 336px; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUJEpHLbC-I/AAAAAAAAAJU/qhlJ27qbAQM/s400/petilasankeratonkotagede-1.jpg" border="0" /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:180%;" &gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:180%;" &gt;Petilasan Panembahan Senopati&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kotagede yang sering disebut juga Sargede terletak kurang lebih lima kilometer di sebelah tenggara Yogyakarta. Di kawasan ini wisatawan dapat mengunjungi makam Raja-raja Mataram seperti Sutowijoyo atau Ngabei Loring Pasar, pendiri Kerajaan Mataram yang kemudian digelari Panembahan Senopati. Ada juga makam yang unik dari Ki Ageng Mangir, yaitu menantu dan sekaligus musuh Panembahan Senopati. Jasadnya dimakamkan diluar kompleks. Seratus meter dari makam terdapat sebuah batu yang disebut ‘Watu Gilang’, yaitu batu yang digunakan oleh Panembahan Senopati untuk menghantam kepala Ki Ageng Mangir hingga tewas. Bagi yang ingin masuk ke dalam makam harus mengenakan pakaian tradisional yang dapat disewa di tempat itu juga. Makam Raja-raja di Kotagede dibuka setiap hari Senin jam 10.00 sampai 12.00, dan hari Jumat. Di sana terdapat gerbang yang anggun, kolam yang penuh dengan Clarius Melanodermas dan kura-kura kuning yang telah berumur ratusan tahun, masyarakat meyakini bahwa kura-kura tersebut ajaib dan keramat Kompleks makam berada dalam lingkungan pagar tembok berbahan batu putih dan batu bata. Kompleks makam terbagi dalam 3 bagian, yaitu Masjid, makam dan sendang. Masjid terletak di bagian Timur, makam di bagian Barat dan sendang di bagian Barat Daya. Ketiga bagian tersebut dibatasi oleh pagar tembok dan dihubungkan dengan gapura. Pada halaman pertama ini terdapat prasasti yang berbunyi: Kanjeng Panembahan Senopati, Bertahta Kerajaan Mataram, Tahun Djinawal : 1509 Tahun Masehi : 1579, Kubur Kotagede Selain itu juga terdapat bangunan yang disebut dengan Bangsal Duda dengan. Halaman Kedua, di halaman ini terdapat 4 buah bangunan, yaitu bangunan di sudut Tenggara, Timur laut, Barat laut dan Barat Daya. Halaman Ketiga, terdapat bangunan utama yang terdiri dari 3 buah bangunan yang disebut Bangsal Prabayaksa, Bangsal Witana dan Bangsal Tajug. Bangsal Prabayaksa merupakan bangunan berdinding tembok di dalam bangsal ini terdapat 72 makam yang dibuat dengan bahan marmer berwarna putih, yaitu antara lain makam Panembahan Senopati, Sultan Sedo Krapyak, Sultan Sepuh, Pangeran adipati Pakualam I, ki Ageng Mangir, PA II, PA III, dan PA IV Khusus untuk makam Ki Ageng Mangir, sebagian berada di luar bangunan dan sebagian berada di dalam bangunan. angsal Witana, di dalam bangsal witana ini terdapat 4 buah makam dari bahan marmer, yaitu makam Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Juru Mertani. Bangsal Tajug, di dalam bangunan terdapat 3 buah makam, yaitu makam Nyai Ageng Nis, Pangeran Jayaprana dan Datuk Palembang. Selain bangunan utama terdapat bangunan cungkup yang lain dengan ukuran yang lebih kecil, yang berada di sebelah Timur bangunan utama. Cungkup tersebut berisi makam-makam keturunan Pangeran Pakualam I Terletak di Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantu tepatnya di sebelah Selatan Pasar Kotagede.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="trebuchet ms" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber : (forum.detik.com)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:180%;" &gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-263642571059853667?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/MJwaRZWsK38/amazing-jogja-wisata-spiritual.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI_RbXn-YI/AAAAAAAAAIk/shgCnds6PT4/s72-c/makamimogiri-1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/12/amazing-jogja-wisata-spiritual.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-4600734474276229741</guid><pubDate>Fri, 12 Dec 2008 10:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-27T18:21:55.312+07:00</atom:updated><title>AMAZING JOGJA (WISATA GOA)</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;AMAZING JOGJA (WISATA GOA)&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family:courier new;font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;GUA SELARONG&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGIhBQR8oI/AAAAAAAAAGU/5qD6KbxR4CE/s1600-h/guaselarong-1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;


&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI9ENX_B7I/AAAAAAAAAIE/GiHOT1YWgGM/s1600-h/guaselarong-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278848855750674354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 252px; CURSOR: hand; HEIGHT: 196px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI9ENX_B7I/AAAAAAAAAIE/GiHOT1YWgGM/s320/guaselarong-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gua Selarong, Markas Gerilya Pangeran DiponegoroKawasan objek wisata ini memiliki pemandangan alam yang indah serta cocok untuk digunakan sebagai Bumi Perkemahan (Camping Ground). Di masa lampau gua ini digunakan sebagai markas gerilya PangeranDiponegoro dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda pada tahun 1825–1830. Pangeran Diponegoro pindah ke Gua Selarong setelah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh Belanda. Gua Selarong berlokasi sekitar 14 km arah utara Yogyakarta tepatnya di kecamatan Pajangan dan berada di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon jambu biji yang merupakan khas dari objek tersebut. Di sekitar gua Selarong terdapat sentra kerajinan kayu yang menghasilkan patung, topeng dan lain-lain. Pemerintah Kabupaten Bantul sedang mengembangkan kawasan Gua selarong sebagai objek agrowisata dengan tanaman klengkengnya.

&lt;span style="font-family:courier new;font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;GOA CERME&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/STGI7xR4poI/AAAAAAAAAGc/C4-2Mu7D3b4/s1600-h/guacerme-2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI9SJHArnI/AAAAAAAAAIM/qUZlsbKkbzs/s1600-h/guacerme-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278849095123906162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 246px; CURSOR: hand; HEIGHT: 209px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI9SJHArnI/AAAAAAAAAIM/qUZlsbKkbzs/s320/guacerme-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Gua Cerme, Keindahan Stalagtit dan Stalagmit Goa Cerme pada awalnya adalah tempat pertemuan yang digunakan oleh Walisongo untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Jawa. Kata ‘Cerme’ berasal dari kata ‘ceramah’, pembicaraan yang diadakan selama pertemuan dalam membahas rencana mendirikan Masjid Besar di Demak, sebuah kota di utara Jawa Tengah. Terletak di desa Selopamioro Kecamatan Imogiri 20 km arah selatan dari Yogyakarta. Panjang goa seluruhnya kurang lebih 1,5 km dan berakhir pada sebuah sendang di wilayah Panggang, tepatnya di desa Ploso, Giritirto, Kabupaten Gunungkidul. Rata rata kedalaman aliran air sekitar 1 hingga 1,5 meter. Selain goa utama ada goa lain yang lebih kecil dimana dahulu digunakan untuk tempat meditasi seperti goa Dalang. Goa Ledhek, goa Badhut, dan goa Kaum. Pada hari Senin atau Selasa wage banyak pengunjng datang untuk meminta berkah Tuhan dengan mengadakan upacara syukuran. Pada masa liburan, banyak pelajar dan kaum muda berkunjung ke temapat ini. Sepanjang lorong di goa Cerme terdapat sebuah panggung yang dulu digunakan untuk tempat pertemuan. Untuk mencapai gerbang depan goa, seseorang harus mendaki 759 meter tangga. Lebih baik jika pengunjung menghubungi Juru Kunci atau penjaga goa terlebih dahulu untuk mendapatkan keterangan atau informasi yang tepat. Goa ini termasuk goa yang panjang dan dalam. Jalan untuk mencapai lokasi ini sangat baik dan jarak tempuh sekitar 20 km. Pemandangan menuju ke Goa Cerme dari desa terakhir sangat bagus. Pada siang hari, jika udara cerah, kota Yogyakarta terlihat indah dan pada malam hari bisa melihat kota dalam gemerlap lampu. Daya tarik utama dari Goa cerme ini adalah keindahan stalagtit dan stalagmit serta adanya sungai bawah tanah dan kelelawar yang banyak bergelantungan di dalam gua. Kondisi di dalam goa tanpa lampu penerangan gelap gulita dan lantai goa digenangi oleh air tanah, yang pada musim penghujan airnya akan pasang (naik), tetapi pada musim kemarau airnya surut. Pada umumnya, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke goa Cerme menghabiskan waktu antara 3 sampai 5 jam di lokasi.
&lt;/div&gt;

&lt;span style="font-family:courier new;font-size:180%;color:#3333ff;"&gt;GOA KISKENDO&lt;/span&gt;


&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI9hp0KMhI/AAAAAAAAAIc/FUDrAleyknw/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278849361601245714" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 227px; CURSOR: hand; HEIGHT: 159px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI9hp0KMhI/AAAAAAAAAIc/FUDrAleyknw/s400/1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Merupakan goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1.200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk, dari bentuk serta keadaannya sangat serupa dengan apa yang tersirat dalam legenda Istana Goa Kiskendo (yang merupakan fragmen dari cerita Ramayana), tempat tinggal raksasa Mahesasura yang berkepala kerbau dan lembusura yang berkepala sapi. Dalam kisah pewayangan , di tempat ini terjadi pertempuran antara Subali - Sugriwa dengan raja Mahesasura dan patih Lembusura yang menghuni goa ini.Di samping itu keadaan - keadaan geologis dari goa - goa yang ada di daerah berbatu kapur (lime - stone), di dalam goa Kiskendo ini terdapat banyak stalaktit dan stalagmit yang aneh namun indah bentuknya. Di dalam goa ini mengalir sungai dibawah tanah yang dalam cerita pewayangan, dan dalam pertempuran antara Subali - Sugriwa dan Mahesasura - Lembusura, mengalirkan air berwarna merah dan putih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber : forum.detik.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-4600734474276229741?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/1gIhGXEBCzA/amazing-jogja-wisata-goa.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SUI9ENX_B7I/AAAAAAAAAIE/GiHOT1YWgGM/s72-c/guaselarong-1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/12/amazing-jogja-wisata-goa.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-3318936972380252255</guid><pubDate>Thu, 20 Nov 2008 05:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-11T07:40:14.891+07:00</atom:updated><title>Wisata Religius Di Seputar Semarang</title><description>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;DEMAK &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kota Wali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;

Kota Demak sendiri yang berimage sebagai Kota Wali masih relatif kuat nuansa religiusnya. di jalur Pantura sekitar 30 menit perjalanan dari kota semarang. Didalamnya terdapat lokasi wisata religius Masjid Demak dan Makam Raden Patah Terletak di seputar Jantung kota Demak , Masjid Kadilangu dan makam Sunan Kalijaga di daerah Kadilangu Demak .

&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;MASJID DEMAK&lt;/span&gt;

Perkembangan kebudayaan Islam di pulau Jawa berawal dari berdirinya kerajaan Demak. Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa yang juga merupakan pusat perkembangan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada saat itu. Tepatnya berpusat pada Masjid Agung Demak sebagai pusat penyebaran agama Islam. Tempat tersebut sampai saat ini masih merupakan salah satu lokasi yang sering dikunjungi wisatawan sebagai rentetan dari ‘Ziarah Wali Songo’, peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.



&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSUCD8v7sVI/AAAAAAAAACk/TIvq6aOx_XE/s1600-h/DSC01569.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270621205777068370" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSUCD8v7sVI/AAAAAAAAACk/TIvq6aOx_XE/s200/DSC01569.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Masjid Demak dibangun pada masa wali songo dan dijadikan sebagai pusat penyebaran agama islam . Yang menarik dari bangunan ini selain nilai historis tinggi sebagai pusat penyebaran agama adalah legenda tentang dibangunnya Masjid Demak , yang konon salah satu tiang ( Soko) bangunan Masjid dibangun dari “Tatal” ( Sisa Gergaji ).





&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;KOMPLEKS MAKAM KADILANGU&lt;/span&gt;



&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSUEQgPPeVI/AAAAAAAAACs/YY6z1tuiyvk/s1600-h/masjid+sunan+kalijaga.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270623620485314898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 176px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSUEQgPPeVI/AAAAAAAAACs/YY6z1tuiyvk/s200/masjid+sunan+kalijaga.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kompleks makam Kadilangu merupakan kawasan pemakaman dari makam Sunan Kadilangu beserta keturunannya. Karena dulunya kompleks ini merupakan pondok pesantren dari sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam, maka setelah Sunan Kalijaga wafat dan dikubur di situ, kawasan tersebut menjadi sebuah kompleks pemukiman dari para murid dari sunan Kalijaga, yang akhirnya menjadi sebuah perkampungan Islam kadilangu

Bentuk makam dari sunan Kalijaga sendiri, merupakan sebuah bangunan dengan bentuk atap berupa atap tajuk, yang di dalamnya terdapat makam Sunan, dengan bentuk bangunan menyerupai bentuk dari masjid agung Demak, dengan memiliki atap yang terdiri dari 2 lapis, dan di atas atap tersebut terdapat sebuah cungkup. Pada dinding dari makam Sunan Kalijaga tersebut terdapat ukir-ukiran yang memenuhi sepanjang dinding bangunan. Sedangkan letak dari bangunan makam tersebut terdapat pada tengah-tengah kompleks makam Kadilangu.

Sedangkan untuk kebudayaan yang masih menjadi tradisi dan berkembang pada Kadilangu sendiri, yaitu Grebeg Besar, yaitu sebuah perayaan menyambut bulan besar, pada penanggalan Hijriyah, perayaan itu berupa arak-arakan besar yang berakhir di makam Sunan Kalijaga di Kadilangu dengan kegiatan utama berupa upacara penjamasan (pensucian) senjata peninggalan-peninggalan dari Sunan Kalijaga yang tersimpan di makam Kadilangu .

( disusun dari berbagai sumber) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-3318936972380252255?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/90Ki2aca3Es/wisata-religius-di-seputar-semarang.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSUCD8v7sVI/AAAAAAAAACk/TIvq6aOx_XE/s72-c/DSC01569.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/11/wisata-religius-di-seputar-semarang.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-4644516161873019946</guid><pubDate>Thu, 20 Nov 2008 04:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-27T11:07:38.139+07:00</atom:updated><title>Salah satu pilihan lokasi outbound di wilayah semarang</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Objek wisata Pemandian air panas ( Hot spring water) Ngelimut.
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTuhEwa0sI/AAAAAAAAABk/jktcpZQJ_Es/s1600-h/Foto(241).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270599715910243010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTuhEwa0sI/AAAAAAAAABk/jktcpZQJ_Es/s320/Foto(241).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lokasi ini berada di kawasan hutan lindung Gonoharjo Boja berjarak sekitar 30 menit arah barat perjalanan dari pusat kota semarang. Selain menjadi objek tujuan wisata pegunungan, lokasi ini memiliki daya tarik tersendiri sebagai lokasi untuk kegiatan&lt;span style="color:#3366ff;"&gt; Outbond&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;wisata keluarga&lt;/span&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Restoran, kolam pemancingan tersedia bagi pengunjung. Masakannya juga lumayan enak khas semarang.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTzsvGW20I/AAAAAAAAAB0/dDFnGB9gyF4/s1600-h/Foto(252).jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SST3xfDiDJI/AAAAAAAAACU/Fdvi57q4s8w/s1600-h/Foto(243).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270609893452287122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 147px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SST3xfDiDJI/AAAAAAAAACU/Fdvi57q4s8w/s200/Foto(243).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beragam permainan kreatif bias dilakukan didalamnya, selain memiliki area terbuka yang luas lokasi ini disediakan pula penginapan yang representative ( berbentuk rumah adat ) . lokasi ini juga dilengkapi dengan kolam renang, kolam renang air panas serta flaying fox. Hanya sayang tidak dilengkapi sawah atau perangkat untuk wisata aktivitas tradisonal.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SST3B1AxbfI/AAAAAAAAACM/ZpQJJsVpy0A/s1600-h/Foto(232).jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SST3B1AxbfI/AAAAAAAAACM/ZpQJJsVpy0A/s1600-h/Foto(232).jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTzsvGW20I/AAAAAAAAAB0/dDFnGB9gyF4/s1600-h/Foto(252).jpg"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTzsvGW20I/AAAAAAAAAB0/dDFnGB9gyF4/s1600-h/Foto(252).jpg"&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SST3B1AxbfI/AAAAAAAAACM/ZpQJJsVpy0A/s1600-h/Foto(232).jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTzsvGW20I/AAAAAAAAAB0/dDFnGB9gyF4/s1600-h/Foto(252).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270605413813246786" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 128px; CURSOR: hand; HEIGHT: 93px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTzsvGW20I/AAAAAAAAAB0/dDFnGB9gyF4/s200/Foto(252).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTxb0DWziI/AAAAAAAAABs/qtTsYOtvJFk/s1600-h/Foto(249).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270602924061806114" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 129px; CURSOR: hand; HEIGHT: 92px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTxb0DWziI/AAAAAAAAABs/qtTsYOtvJFk/s200/Foto(249).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SST45YvjntI/AAAAAAAAACc/TgAVpwfimXk/s1600-h/IMG_0744.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270611128708472530" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 129px; CURSOR: hand; HEIGHT: 94px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SST45YvjntI/AAAAAAAAACc/TgAVpwfimXk/s200/IMG_0744.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTzsvGW20I/AAAAAAAAAB0/dDFnGB9gyF4/s1600-h/Foto(252).jpg"&gt;&lt;/a&gt;Dingiiin......
Sejuk.....
Relaxs.........&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;
Sebagai bahan pertimbangan apabila berkunjung ke semarang, tidak ada salahnya menikmati fasilitas-fasilitas yang disediakan di objek wisata ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTzsvGW20I/AAAAAAAAAB0/dDFnGB9gyF4/s1600-h/Foto(252).jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-4644516161873019946?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/ooLDm7394wc/salah-satu-pilihan-lokasi-outbound-di.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SSTuhEwa0sI/AAAAAAAAABk/jktcpZQJ_Es/s72-c/Foto(241).jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/11/salah-satu-pilihan-lokasi-outbound-di.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-1942322324151394029</guid><pubDate>Mon, 10 Nov 2008 09:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-10T17:26:27.184+07:00</atom:updated><title>Gumuk Pasir (Sand Dune)</title><description>&lt;div&gt;

&lt;div&gt;
&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgIvXX4jaI/AAAAAAAAABE/cKgScHEDMXE/s1600-h/jenis+sapuan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266969374030859682" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgIvXX4jaI/AAAAAAAAABE/cKgScHEDMXE/s400/jenis+sapuan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;

 &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a title="Permanent Link to Gumuk Pasir , Morfologi hasil ukiran angin" href="http://rovicky.wordpress.com/2008/06/09/gumuk-pasir-sand-dune/" rel="bookmark"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Gumuk Pasir (Sand Dune), Morfologi hasil ukiran angin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;Gumuk Pasir atau Sand Dune merupakan sebuah bentukan alam karena proses angin disebut sebagai bentang alam eolean (eolean morphology). Angin yang membawa pasir akan membentuk bermacam-macam bentuk dan tipe gumuk pasir.
Bentang alam (morphology) ini sering dijumpai di daerah gurun. Namun menariknya walaupun Indonesia ini beriklim tropis yang banyak hujan ternayat ada juga daerah di Indonesia yang memiliki bentang alam yang unik ini. &lt;/div&gt;

&lt;div align="justify"&gt;
&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Pantai Selatan Jawa.&lt;/span&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgJKlFSO5I/AAAAAAAAABM/jXn2nFvojwQ/s1600-h/gumuk.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266969841567415186" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgJKlFSO5I/AAAAAAAAABM/jXn2nFvojwQ/s320/gumuk.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pantai berpasir di sebelah selatan Jogjakarta hingga sebelah Selatan Kebumen satu-satunya t&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgFEi4VIfI/AAAAAAAAAAU/IT18grtcQIc/s1600-h/gumuk.jpg"&gt;&lt;/a&gt;empat di Indonesia yang memiliki bentang alam atau memiliki topografi eolean ini.
Yang sering menjadi pertanyaan adalah, “mengapa ada pasir sebanyak itu, padahal kebanyakan daerah di Indonesia ini dipenuhi dengan hutan dan pepohonan ?”
Jawabannya ternyata juga unik. Dari segi geologi tentunya sulit mendapatkan daerah yang suangat kering di Indonesia ini. Lah wong daerahnya selalu terkena hujan. Walaupun banyak penggundulan hutan tetapi toh itu bukan penyebab terbentuknya daerah gurun looh. Penggundulan hutan menyebabkan longsoran dan juga banjir saja. &lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3366ff;"&gt;Darimana pasir-pasir itu ?&lt;/span&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgJ9kaOdWI/AAAAAAAAABU/dSGEY-DO7P0/s1600-h/peta+gumuk.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266970717560141154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 190px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgJ9kaOdWI/AAAAAAAAABU/dSGEY-DO7P0/s320/peta+gumuk.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgF0U2WirI/AAAAAAAAAAc/9VJCLC5ABDk/s1600-h/peta+gumuk.bmp"&gt;&lt;/a&gt;Kalau melihat peta lokasi disebelah ini, dapat dilihat bahwa ada satu sungai utama yang besar yang menoreh bukit-bukit dan gunung-gunung dan akhirnya membawa material dari gunung-gunung api yang masih aktif, yaitu Sungai Progo. Sungai Progo merupakan sungai utama yang membawa hasil gerusan batubatuan volkanik yang berasal dari Gunung Merapi-Merbabu. Juga hasil penorehan di gunung-gunung Sidoro disebelah barat laut.
Bongkahan-bongkahan serta pasir -pasir itu dibawa oleh sungai-sungai ini dari ujung puncak gunung ,,,, nggelundung sebagai bongkah-bongkah … kemudian terbawa menjadi pecah sebagai kerikil … terus ngglundung lagi dan pecah menjadi butiran-butiran pasir-pasir. Sebagian masih ada yang terendapkan namun tentusaja ada yang jauuh yang terbawa arus sungai.
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgGqKvumfI/AAAAAAAAAAk/fiuAuJr8mBQ/s1600-h/cara+terbentuk.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266967085718608370" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 202px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgGqKvumfI/AAAAAAAAAAk/fiuAuJr8mBQ/s320/cara+terbentuk.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Coba tengok gambar sungai disebelah ini. Sumbernya berasa dari gunung disebelah utaranya. Bukit ini akhirnya tertoreh oleh air hujan dan akhirnya dibawa ke laut dan diendapkan sebagai endapan delta di muaranya.
Secara mudah delta terbentuk karena proses-proses sungai ini. Delta merupakan tempat penumpukan material-material yang dibawa oleh sungai. Karena di muara sungai arusnya sudah sangat lemah maka seluruh barang bawaan sungai ini ditaruh saja di mulut sungai.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Kenapa tidak terbentuk delta di selatan Jawa ini ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgLYRximJI/AAAAAAAAABc/k4ViAuuictw/s1600-h/jenis+sapuan.2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266972275925751954" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 279px; CURSOR: hand; HEIGHT: 283px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgLYRximJI/AAAAAAAAABc/k4ViAuuictw/s320/jenis+sapuan.2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Disinilah uniknya laut selatan. Kalau di Balikpapan dimana lautnya berhadapan dengan Selat Makassar yang alun ombaknya tenang, maka disana terbentuk delta yang disebut dengan Delta Mahakam. Sedangkan di selatan Pulau Jawa ini alun atau ombaknya sangat kuat sehingga batuan atau sedimen pasir yang barusaja diendapkan akan terkena ombak. Oleh sebab itu karena ombaknya sangat besar, maka diselatan disekitar muara Sungai Progo tidak ada delta yang terbentuk hal ini disebabkan semua sedimennya di acak-acak lagi oleh gempuran laut selatan.
Jadi pasir yang sudah sampai di pinggir laut tadi tidak tertumpuk di mulut sungai tetapi disebarkan ke kiri kanan selebar hingga 50-60 Km. Mulai dari Pantai Parang Tritis di selatan Jogja, Pantai Samas, hingga pantai Congot di sebelah baratnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgHMwa5ovI/AAAAAAAAAAs/Mq_BGzVcaTs/s1600-h/peta+udara.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266967679947350770" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 241px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgHMwa5ovI/AAAAAAAAAAs/Mq_BGzVcaTs/s320/peta+udara.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah gunung api yang ada disebelah selatan Pulau Jawa ini sangat aktif. Terutama saat ini Gunung Merapi yang selalu mengeluarkan material berupa batu, kerikil dan pasir. Material-material pasir inilah yang menjadikan pantai selatan ini Jogja sangat kaya dengan pasir.
Bagaimana terbentuknya gumuk-gumuk pasir yang indah ini ?
Setelah disendapkan di pinggir pantai, tentusaja air lau hanya menahannya dengan ombaknya yang sangat kuat. Namun juga angin dari Samodera Hindia juga sangat kuat. Angin inilah yang akhirnya mendistribusikan kembali ke utara. Angin dari laut selatan ini yang menatah dan mengukir akhirnya menjadi arsitektur-arsitektur alam di Pantai Selatan Jogja.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Terbentuknya bukit pasir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;

&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgHu_mIMHI/AAAAAAAAAA0/es9oOUBYkMI/s1600-h/irisan+gumuk.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266968268136525938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 236px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgHu_mIMHI/AAAAAAAAAA0/es9oOUBYkMI/s320/irisan+gumuk.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau gunung-gunung itu terbentuk akibat muntahan lahar dan lava. Sedangkan bukit-bukit gamping itu akibat terangkatnya batuan-batuan ini oleh gaya tektonik, gumuk-gumuk pasir ini sedikit demi sedikit dikumpulkan dan dibangun oleh angin. Ya oleh angin !
Angin yang berhembus cukup kuat ini akhirnya mengumpulkan pasir-pasir ini membentuk dune (gumuk pasir) seperti disebelah ini.


&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgICimtfWI/AAAAAAAAAA8/7c8qMSaXO9Y/s1600-h/dm.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266968603951725922" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 151px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgICimtfWI/AAAAAAAAAA8/7c8qMSaXO9Y/s320/dm.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
Keindahan bukit ini tidak hanya bentuknya tetapi juga tekstur-tekstur permukaan yang unik akibat hembusan angin. Banyak ragam bentukan indah ini bisa dinimati di Pantai Selatan Jogja hingga pantai selatan Kebumen sepanjang 50-60 Km !


&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-1942322324151394029?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/f4Bj6FkqETk/gumuk-pasir-sand-dune.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRgIvXX4jaI/AAAAAAAAABE/cKgScHEDMXE/s72-c/jenis+sapuan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/11/gumuk-pasir-sand-dune.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4517521110905235068.post-4776329965531108021</guid><pubDate>Mon, 10 Nov 2008 04:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-10T11:43:03.256+07:00</atom:updated><title>Amazing Parangtritis and Depok beach</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRe6smN9EBI/AAAAAAAAAAM/Y0oGELFIXKI/s1600-h/perangtritis.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266883564569169938" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 221px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRe6smN9EBI/AAAAAAAAAAM/Y0oGELFIXKI/s320/perangtritis.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Yogyakarta tourism...
It’s truly all about Jogja....
from us....for all of you..&lt;/span&gt;

Just initiate from our personal documentation about tourism &amp;amp; travelling to know all about Jogja...including kuliner tourism...we try to summarize the story and may be as a tour guidence through this web, to be shared for all of you..

So, for you which plan to traveling and tour around Jogja, please enjoy to read our following stories....


Day 1:Tourism pantai Selatan (South ocean)
Pantai Depok-Gumuk pasir selatan-Parang Kusumo-Parangtritis-Pantai Krakal-Kukup-Pantai Baron

Just a tip, it’s better to have a beach tourism in the morning or evening. If we plan to reach all those destinations, it should begin the traveling from morning.

First destination is Pantai depok located +/- 26 km from central of town to the southern part via Jl. Parangtritis. Before entering boarding pas ticket, it should go to the west +/- 2.5 km.
- Pantai Depok
Beside having a natural beach view with lose sand deposit over coastal plain from Opak river, plus beachcomber as a Pantai selatan phenomena, this side also offer a special seafood menu from local traditional sailors. We can select the seafod menu from typical fishes, shrimps, squids etc by buying with our selves or just entrust to someone there to buy...then we can order what kind of cooking we want. This is really a specific difference compare to other tourism at Pantai Selatan.

The price is relatively cheep....furthermore if we can do a good bargaining....then the price for cooking service is also cheep. It’s really not expensive...as an example at that time we are 6 persons bought 1kg Bawal fish, 10 ons of shrimps&amp;amp;squids..all less than Rp 50,000. Cooking service to prepare a flour friend shrimps, cumi asam manis, grilled fish with all drinks of 5 coconut drinks, 2 ice tea &amp;amp; 3 hot ronde, all is Rp 170,000. So..it’s relatively cheep... &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;The important thing is we can satiated with all sea food menu  while enjoy the beach view and the  wind from the sea...it’s really amazing...mak yuuzz&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4517521110905235068-4776329965531108021?l=mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/vhjs/~3/jno-gqz20F8/amazing-parangtritis-and-depok-beach.html</link><author>www.tourdejava@gmail.com</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_DYrVRRew_G8/SRe6smN9EBI/AAAAAAAAAAM/Y0oGELFIXKI/s72-c/perangtritis.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://mostbeautifulplaceinjava.blogspot.com/2008/11/amazing-parangtritis-and-depok-beach.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

