<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559</id><updated>2024-10-24T07:10:57.888-07:00</updated><category term="IMPLEMENTASI KURIKULUM"/><category term="MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM"/><category term="Desain Kurikulum"/><category term="Evaluasi Implementasi KTSP"/><category term="Evaluasi Implementasi Kurikulum"/><category term="Evaluasi KTSP"/><category term="Evaluasi Pengembangan KTSP Suatu Kajian Konseptual"/><category term="Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran"/><category term="Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran (part 2)"/><category term="Hakikat Kurikulum"/><category term="Hakikat Pengembangan kurikulum"/><category term="Komponen KTSP"/><category term="Landasan IPTEK pengembangan kurikulum"/><category term="Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum"/><category term="Landasan Sosial Budaya Pengembangan Kurikulum"/><category term="Landasan filosofis"/><category term="Pembelajaran"/><category term="Pendekatan Pengembangan Kurikulum"/><category term="Pengembangan Dokumen Dua KTSP"/><category term="Pengertian Kurikulum"/><category term="Pengertian dan Karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)"/><category term="Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum"/><category term="Peran dan Fungsi Kurikulum"/><category term="Prinsip Pengembangan Kurikulum"/><category term="Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP"/><category term="Proses Penyusunan KTSP"/><category term="TUJUAN KTSP"/><title type='text'>MADRASAH HEBAT BERMARTABAT</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-184481759043467792</id><published>2012-04-18T22:47:00.002-07:00</published><updated>2019-08-07T20:25:11.970-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pembelajaran"/><title type='text'>Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;Kata pembelajaran merupakan terjemahan dari kata &lt;i&gt;instruction&lt;/i&gt;. Istilah ini banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Berkembangnya istilah ini dipengaruhi oleh aliran psikologi &lt;i&gt;kognitif-wholistik&lt;/i&gt;, yang menempatkan siswa sebagai subjek kegiatan. Perkembangan teknologi juga memiliki andil dalam mempengaruhi berkembangnya istilah pembelajaran, yaitu&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;bahwa perkembangan teknologi diasumsikan dapat mempermudah siswa dalam mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media, seperti media cetak, media audiovisual dan sebagainya. Dari sini paradigma peran guru menjadi berubah, dari sebagai sumber belajar ke perannya sebagai fasilitator dalam belajar mengajar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;Gagne (1992:3), menyatakan “&lt;i&gt;instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated&lt;/i&gt;”. Mengajar atau teaching adalah bagian dari pembelajaran. Peran guru di sini lebih ditekankan kepada bagaimana merancang berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan dan dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. Dalam hal ini Gagne lebih menekankan pada istilah pembelajaran dari pada mengajar , dengan alasan bahwa pembelajaran lebih memberikan dampak secara langsung bagi kegiatan belajar siswa. Pembelajaran mencakup kegiatan yang dapat dilakukan melalui media cetak, media gambar, program televisi dan lain sebagainya. Dengan demikian guru harus dapat memainkan peranannya dalam mengaransemen segala kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran siswa diposisikan sebagai subjek belajar yang memegang peran utama, karena itu setting proses belajar mengajar siswa dituntut beraktifitas secara penuh bahkan secara individual mempelajari bahan pelajaran. Dengan demikian perbedaan mendasar antara mengajar dan pembelajaran, adalah mengajar menempatkan guru sebagai pemeran utama memberikan informasi sedangkan pembelajaran guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, mengelola berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;Namun demikian dalam pembelajaran, bukan berarti guru harus kehilangan perannya sebagai pengajar, karena pada dasarnya konsep mengajar juga bermakna membelajarkan siswa. Istilah pembelajaran tidak berarti peran guru semakin mengecil, sedangkan peran siswa membesar. Guru tetap harus berperan secara optimal, demikian juga siswa. Perbedaan yang telah dikemukakan, hanya menunjukkan pada perbedaan tugas-tugas atau perlakuan guru dan siswa terhadap materi dan proses pembelajaran. Istilah pembelajaran menunjukkan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru, artinya tidak akan terjadi pembelajaran tanpa adanya perlakuan guru di sana. Yang membedakan dengan mengajar hanya perlakuannya saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;Bruce Weil (1980) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, Proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa, melalui penyediaan pengalaman belajar yang memberi latihan-latihan penggunaan fakta-fakta. Didasarkan pada teori Piaget, bahwa struktur kognitif akan tumbuh manakala siswa memiliki pengalaman belajar. karena itu proses pembelajaran menuntut siswa secara penuh untuk mencari dan menenmukan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari antara lain pengetahuan fisis, sosial, dan logika yang masing-masing memerlukan situasi yang berbeda dalam mempelajarinya. &lt;b&gt;Pengetahuan fisis&lt;/b&gt; adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu objek atau kejadian. Pengetahuan ini diperoleh melalui pengalaman indera secara langsung seperti memegang, mengangkat, mengukur dan sebagainya. melalui tindakan langsung tersebut anak membentuk struktur kognitif tentang objek. &lt;b&gt;Pengetahuan Sosial&lt;/b&gt; berhubungan dengan perilaku individu dalam sistem sosial atau hubungan antar manusia yang dapat memengaruhi interaksi sosial, seperti atutan, hukum, bahasa, dan lain sebagainya. Pengetahuan tersebut muncul dalam budaya masyarakat tertentu, sehingga dapat berbeda antara masyarakat satu dengan yang lain. pengetahuan ini tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan terhadap suatu objek, melainkan dengan interaksi seseorang dengan orang lain. Wadsworth (1989) menyatakan bahwa ketika anak melakukan interaksi dengan temannya, maka kesempatan untuk membangun pengetahuan sosial dapat berkembang. &lt;b&gt;Pengetahuan Logika&lt;/b&gt; berhubungan dengan berpikir matematis, yaitu pengetahuan yang dibentuk berdasarkan pengalaman dengan suatu objek dan kejadian tertentu. Pengetahuan ini didapat dari abstraksi berdasarkan koordinasi relasi atau penggunaan objek. Pengetahun logis hanya akan berkembang manakala anak berhubungan dan bertindak dengan suatu objek, meski objek yang dipelajarinya tidak memberikan informasi atau menciptakan pengetahuan matematis. Pengetahuan logis diciptakan dan dibentuk oleh pikiran individu itu sendiri, sedangkan objek yang dipelajarinya hanya bertindak sebagai media saja. Jneis-jenis pengatahuan itu memiliki karakteristik tersendiri, oleh karena itu pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh siswa mestinya berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Anak akan lebih baik mempelajari pengetahuan logika dan sosial dari temannya sendiri. anak akan lebih efektif bila belajar melalui pergaulan dan hubungan sosial, karena melalui hubungan sosial tersebut anak berinteraksi dan berkomunikasi, berbagi pengalaman dan lain sebagainya, yang memungkinkan mereka berkembang secara wajar.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/184481759043467792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/04/implementasi-kurikulum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/184481759043467792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/184481759043467792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/04/implementasi-kurikulum.html' title='Pembelajaran'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-7173800822338819975</id><published>2012-04-16T18:25:00.007-07:00</published><updated>2019-08-07T20:21:58.323-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="IMPLEMENTASI KURIKULUM"/><title type='text'>Implementasi Kurikulum Bagian 2</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2. Mengajar merupakan Proses Mengatur Lingkungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Pandangan mengajar sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan saat ini dianggap sudah tidak sesuai dengan keadaan, didasarkan pada beberapa alasan yang menuntut terjadinya perubahan paradigma dari mengajar sebagai menyampaikan materi pelajaran menjadi sebagi proses mengatur lingkungan   :&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Siswa bukan orang dewasa dalam bentuk mini, melainkan organisme yang sedang berkembang. Dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga mereka dapat menlaksanakan tugas perkembangannya dengan baik. Dalam era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi saat ini, tugas dan tanggung jawab guru menjadi lebih kompleks. Guru tidak hanya dituntut untuk lebih aktif mencari informasi yang diperlukan tetapi lebih dari itu harus pula menyeleksi informasi tersebut, sehingga dapat menunjukkan pada siswa informasi yang dianggap perlu dan penting untuk kehidupan mereka. Guru juga memiliki tugas untuk menjaga siswa agar tidak terpengaruh oelh berbagai informasi yang dapat menyesatkan dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Dengan kondisi ini, kemajuan teknologi menuntut perubahan peran guru. Guru tidak hanya berperan sumber belajar yang bertugas menyampaikan infromasi, lebih dari itu adalah sebagai pengelola sumber belajar untuk dimanfaatkan siswa itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Kedua,&lt;/span&gt; Abad pengetahuan dengan ledakan ilmu pengetahuan, mengakibatkan kecenderungan setiap orang tidak mungkin menguasai setiap cabang keilmuan, sehingga ini juga menjadi  dasar perubahan paradigma mengajar. Belajar bukan hanya sekadar menghafal informasi, menghafal rumus-rumus, tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk menguasai kemampuan berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; Perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, memungkinkan setiap orang bisa mendapatkan ilmu pengetahuan di mana dan kapan saja. Begitu banyak sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk menguasai materi pelajaran, mulai dari CD hingga internet. Dengan demikian dewasa ini terjadi kecenderungan perubahan tugas dan tanggung jawab guru dari sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai pengelola pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Keempat&lt;/span&gt;, Penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku manusia. Aliran behavioristik, yang menyatakan manusia sebagai organisme pasif mulai ditinggalkan orang, beralih pada aliran &lt;em&gt;kognitif wholistik&lt;/em&gt; yang menyatakan manusia sebagai organisme yang memiliki potensi yang menentukan perilaku manusia. Karena itu pendidikan bukan hanya sebagai kegiatan memberikan stimulus, tetapi usaha untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Siswa tidak lagi dianggap sebagai objek, tetapi sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengkonstruksi pengetahuannya. Pengetahuan bukan merupakan pemberian, tetapi dibangun oleh siswa sendiri.&lt;br /&gt;
Pengaturan lingkungan merupakan proses menciptakan iklim yang baik, seperti menata lingkungan, menyediakan alat dan sumber pembelajaran, dan lain sebagainya yang memungkinkan siswa betah dan merasa senang belajar sehingga mereka bisa berkembang secara optimal sesuai dengan bakat, minat, dan potensi yang dimilikinya. Dari sini istilah pengajar bergeser menjadi “pembelajaran”, yaitu sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa kea rah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa.&lt;br /&gt;
Konsep mengajar sebagai proses mengatur lingkungan memiliki karakteristik sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;a. Mengajar berpusat pada siswa (student centered) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Mengajar tidak ditentukan sesuai selera guru, melainkan sangat ditentukan oleh siswa sendiri. Apa yang hendak dipelajari, cara mempelajarinya, siswalah yang akan menentukan sendiri.  Siswa berkesempatan mengembangkan gaya belajarnya sendiri. Dengan demikian, peran guru berubah dari sebagai sumber belajar menjadi sebagai fasilitator, artinya guru lebih banyak sebagai orang yang membantu siswa untuk belajar. Tujuan utama mengajar adalah membelajarkan siswa. Kriteria keberhasilan proses mengajar tidak diukur dari sejauh mana siswa menguasai materi pelajaran, tetapi diukur dari sejauh mana siswa telah melakukan proses belajar. Guru berperan tidak hanya sebagai sumber belajar tetapi juga sebagai orang yang membimbing dan memfasilitasi agar siswa mau dan mampu belajar. Inilah yang dimaksud dengan student centered learning, siswa ditempatkan sebagai subjek belajar sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan yang dimilikinya. Oleh sebab itu materi yang seharusnya dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya harus memerhatikan setiap perbedaan siswa.&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;b. Siswa sebagai subjek belajar &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Siswa tidak dianggap sebagai organisme yang pasif yang hanya sebagai penerima informasi, akan tetapi dipandang sebagai organisme yang aktif, yang memiliki potensi untuk berkembang. Siswa adalah individu yang memiliki kemampuan dan potensi.&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;c. Proses pembelajaran berlangsung di mana saja &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Pembelajaran merupakan proses yang berorientasi kepada siswa karena itu ia berlangsung di mana saja dan kapan saja. Kelas bukanlah satu-satunya tempat belajar siswa. Siswa dapat memanfaatkan berbagai tempat belajar sesuai dengan kebutuhan dan sifat materi pelajaran. Siswa dapat menjadikan objek asli sebagai sumber belajarnya.&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;d. Pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Tujuan pembelajaran bukan penguasaan materi pelajaran melainkan proses untuk mengubah tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Karena itu, penguasaan materi pelajaran bukan akhir dari proses pengajaran, tetapi hanya sebagai tujuan perantara menuju pembentukan tingkah laku yang lebih luas, yaitu sejauhmana materi tersebut dapat membentuk pola perilaku siswa itu sendiri. Karena itu metode yang digunakan lebih bervariasi, seperti diskusi, penugasan, kunjungan dan lain sebagainya, tidak hanya sekedar dengan ceramah.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/7173800822338819975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/04/2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7173800822338819975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7173800822338819975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/04/2.html' title='Implementasi Kurikulum Bagian 2'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-4838206283237060692</id><published>2012-03-20T18:20:00.005-07:00</published><updated>2019-08-07T20:21:14.911-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="IMPLEMENTASI KURIKULUM"/><title type='text'>Implementasi Kurikulum Bagian 1</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Implementasi kurikulum pada dasarnya adalah proses mengajar yang dilakukan guru dan proses belajar yang dilakukan siswa di dalam maupun di luar sekolah. Implementasi kurikulum merupakan langkah yang mutlak harus dilaksanakan karena tanpa implementasi kurikulum rencana yang telah disusun tidak akan bermakna. Pada bagian ini akan dibahas mengenai sistem pembelajaran atau sistem belajar mengajar sebagai pelaksanaan implementasi kurikulum.&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;A. Konsep Dasar Mengajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1. Mengajar adalah Proses Menyampaikan Materi Pelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Mengajar merupakan terjemahan dari “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;teach&lt;/span&gt;” berasal dari bahasa Inggris kuno, yaitu &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;taecan&lt;/span&gt;, berarti &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;to teach&lt;/span&gt; (mengajar). Kata ini berasal dari bahasa Jerman kuno (Old Teutenic) &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;taikjan&lt;/span&gt;, berasal dari kata dasar&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; teik&lt;/span&gt;, memiliki makna “memperlihatkan”. Kata tersebut ditemukan juga dalam bahasa Sansekerta “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;dic&lt;/span&gt;”. Kata “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;dic&lt;/span&gt;” ini dalam bahasa Jerman Kuno dikenal dengan “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;deik&lt;/span&gt;”.  Kata “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;teach&lt;/span&gt;” berhubungan pula dengan kata “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;token&lt;/span&gt;” yang berarti tanda atau simbol. Kata “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;token&lt;/span&gt;” ini juga berasal dari bahasa Jerman kuno “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;taiknom&lt;/span&gt;”, yaitu pengetahuan dari &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;taikjan&lt;/span&gt;. Dengan demikian &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;token&lt;/span&gt; dan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;teach&lt;/span&gt; secara historis memiliki keterkaitan. Dilihat dari asal usul katanya berarti memperlihatkan sesuatu kepada seseorang melalui tanda atau simbol, penggunaan tanda atau symbol tersebut dimaksudkan untuk membangkitkan atau menumbuhkan respon mengenai kejadian, seseorang, observasi, penemuan, dan lain sebagainya. Selanjutnya definisi tersebut terus mengalami perkembangan.&lt;br /&gt;
Mengajar, secara deskriptif, diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan atau transfer ilmu dari guru kepada siswa. Namun transfer di sini tidak diartikan sebagai memindahkan, tetapi menyebarluaskan, dianalogkan dengan menyebarluaskan atau memindahkan api, sehingga transfer tersebut tidak menyebabkan ilmu guru berkurang justru akan semakin bertambah. Pengertian yang mungkin paling tepat adalah menanamkan ilmu pengetahuan, sebagaimana pendapat Smith (1987) bahwa mengajar adalah menanamkan ilmu pengetahuan atau keterampilan (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;teaching is importing knowledge or skill&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;
Sebagai proses menyampaikan atau menanamkan ilmu pengetahuan, mengajar memiliki karakteristik sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;a. Proses pengajaran berorientasi pada guru &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;(teacher centered)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru memegang peran yang sangat penting. Guru menjadi penentu segalanya, karena itu proses pengajaran biasanya hanya berlangsung ketika guru itu ada, tidak mungkin tanpa kehadiran guru. Di sini guru memiliki paling tidak tiga peranan, yaitu sebagai :&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Perencana, guru sebelum proses pengajaran guru harus menyiapkan berbagai hal yang diperlukan, seperti materi pelajaran, cara penyampaian dan sebagainya. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penyampai informasi, dalam hal ini guru seringkali menggunakan metode ceramah sebagai metode utama. Guru biasanya sudah merasa mengajar bila sudah melakukan ceramah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Evaluator, guru juga berperan dalam menentukan alat evaluasi keberhasilan belajar. Kriteria keberhasilan proses pengajaran diukur dari sejauhmana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;b. Siswa sebagai objek belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran, menempatkan peserta didik sebagai  objek yang harus menguasai materi pelajaran. Siswa merupakan organisme pasif, yang belum memahami atas apa yang seharusnya mereka pahami, sehingga dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru melalui pengajaran. Siswa berperan sebagai penerima informasi yang diberikan guru, Jenis informasi dan pengetahuan yang diberikan , terkadang tidak berpijak dari kebutuhan siswa, baik dari segi bakat maupun minat, tetapi bernagkat dari pandangan apa yang menurut guru dianggap baik dan bermanfaat. Sebagai objek belajar, kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat dan bakatnya, bahkan untuk belajar sesuai dengan gayanya sangat terbatas, karena segala sesuatu diatur dan ditentukan oleh guru.&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;c. Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Proses pengajaran dilangsungkan pada tempat tertentu, seperti di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat. Siswa belajar manakala ada kelas yang telah didesain sebagai tempat belajar, sehingga proses pengajaran sering terjadi sangat formal. Waktu juga diatur dengan ketat, melalui penjadwalan dengan menentukan alokasi waktunya. Cara mempelajarinya pun seperti bagian yang terpisah, seakan tidak ada kaitan antara materi satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;d. Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan ilmu pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Keberhasilan proses pengajaran diukur oleh sejauhmana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampiakan guru. Materi pelajaran adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang ditentukan sekolah, sedangkan mata pelajaran tersebut adalah pengalaman-pengalaman manusia masa lalu yang disusun secara sistematis dan logis yang kemudian diuraikan dalam buku-buku pelajaran dan selanjutnya isi tersebut yang harus dikuasai siswa. Terkadang siswa tidak perlu memahami kegunaan mempelajari materi tersebut. Oleh karena itu criteria keberhasilan ditentukan oleh penguasaan materi pelajaran, sehingga alat evaluasi yang digunakan biasanya adalah tes hasil belajar tertulis (paper and pencil test) yang dialksanakan secara periodik.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/4838206283237060692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/implementasi-kurikulum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4838206283237060692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4838206283237060692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/implementasi-kurikulum.html' title='Implementasi Kurikulum Bagian 1'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-6244424995040895312</id><published>2012-03-15T07:35:00.002-07:00</published><updated>2012-03-15T08:33:02.137-07:00</updated><title type='text'>Komponen Sistem Pembelajaran</title><content type='html'>Sebagai sebuah sistem, proses pembelajaran memiliki beberapa komponen yang satu dengan yang lain saling berinteraksi dan berinterelasi. Komponen-komponen tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;1. Tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tujuan merupakan komponen penting dalam sistem pembelajaran, karena tujuan mengandung arah pembelajaran. Tujuan menentukan kondisi siswa yang ingin dibentuk melalui proses tersebut. Tujuan dalam proses pembelajaran menempati posisi yang sangat penting, bagaikan jantung pada tubuh manusia. Ia merupakan komponen yang pertama dan utama dalam sistem pembelajaran. Indonesia, saat ini dengan KTSP nya mejadikan kompetensi sebagai tujuan, artinya bahwa tujuan yang diharapkan adalah siswa dapat menguasai sejumlah kompetensi yang tergambar dalam kompetensi dasar maupun dalam standar kompetensi. Kompetensi, menurut W. Gulo (2002) dipahami dengan kemampuan yang tampak atau sering disebut dengan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;performance&lt;/span&gt;. &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Performance (penampilan) &lt;/span&gt;dapat berbentuk tingkah laku yang dapat didemonstrasikan, dapat diamati, dilihat, dan dirasakan, dan dapat dalam bentuk yang tidak dapat dilihat, yang disebut kompetensi rasional yaitu kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kedua bentuk kompetensi tersebut saling berkaitan, yaitu bahwa kemampuan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;performance &lt;/span&gt;berkembang manakala kemampuan rasional meningkat. seorang berpengetahuan luas, akan menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan dengan yang berpengetahuan sedikit.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;2. Isi atau Materi Pelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks tertentu materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran, artinya sering terjadi proses pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian materi, yaitu apabila tujuan pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran. Dalam kondisi ini peran guru adalah sebagai sumber belajar, sehingga penguasaan materi menjadi tuntutan mutlak bagi guru. Adapun dalam setting pembelajaran berbasis kompetensi, tugas dan tanggung jawab guru bukan sebagai sumber belajar, karena itu materi pembelajaran seharusnya diambil dari berbagai sumber.&lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;3. Strategi atau Metode&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh komponen ini, karena bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa diimplementasikan melalui strategi dan metode yang tepat, komponen-komponen tersebut dapat kehilangan makna dalam proses mencapai tujuan. &lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;4. Alat dan Sumber&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski sebagai alat bantu, komponen ini juga memiliki peran yang penting, apalagi dalam zaman dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, alat-alat dan sumber sebagai hasil teknologi, memungkinkan siswa belajar dari mana saja dan kapan saja. Bahkan dengan adanya kemajuan ini peran guru bergeser dari perannya sebagai sumber belajar menjadi sebagai pengelola pembelajaran. Dengan penggunaan berbagai sumber ini kualiatas pembelajaran menjadi semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;5. Evaluasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi tidak hanya berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas kenerjanya dalam mengelola pembelajaran. Melalui evaluasi dapat dilihat kekurangan dalam pemanfaatan berbagai komponen sistem pembelajaran.&lt;br /&gt;Analisis terhadap kelima komponen tersebut akan sangat membantu dalam memprediksi keberhasilan proses pembelajaran.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/6244424995040895312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/komponen-sistem-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/6244424995040895312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/6244424995040895312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/komponen-sistem-pembelajaran.html' title='Komponen Sistem Pembelajaran'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-7905623050441096440</id><published>2012-03-14T03:30:00.006-07:00</published><updated>2012-03-14T16:18:54.442-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran (part 2)"/><title type='text'>Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran (part 2)</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap.html&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;a. Faktor Guru&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap.html&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;b. Faktor Siswa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;c. Faktor Sarana Prasarana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, seperti media pembelajaran, alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah dan lain sebagainya. sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, seperti gedung sekolah, ruang kelas, jalan sekolah, kamar kecil siswa dan lain sebagainya. Sarana prasarana akan sangat mendukung bagi terselenggaranya proses pembelajaran, bahkan ia adalah komponen yang sangat penting untuk keberhasilan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;keuntungan yang diperoleh ketika sarana prasarana tercukupi adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;pertama&lt;/span&gt;, sarana prasarana yang lengkap akan menumbuhkan gairah dan motivasi guru dalam mengajar, baik mengajar dalam artian sebagai proses penyampaian materi maupun sebagai proses mengatur lingkungan. Sarana prasarana yang lengkap memungkinkan guru untuk memilih segala sesuatu yang dapat mendukung keberhasilannya dalam melaksanakan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;kedua,&lt;/span&gt; Sarana prasarana yang lengkap dapat memberikan berbagai pilihan bagi siswa untuk belajar. Dengan sarana prasarana yang lengkap memungkinkan siswa dengan gaya belajar yang berbeda, dengan tipe yang berbeda-beda untuk menentukan pilihan dalam mereka belajar.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;d. Faktor Lingkungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dari faktor lingkungan ada dua faktor yang dapat memengaruhi proses pembelajaran, yaitu faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosial-psikologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Fakto organisasi kelas adalah mencakup jumlah siswa dalam satu kelas. Hal ini penting, karena organisasi kelas yang terlalu besar menajdikan pemeblajaran sebagai upaya pencapaian tujuan belajar kurang efektif. Besarnya kelompok belajar cenderung :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Sumber daya kelompok bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa sehingga waktu yang tersedia menjadi semakin sempit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Kelompok belajar menjadi kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada, seperti penggunaan waktu untuk diskusi, praktek, dan sebagainya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Kepuaasan belajar setiap siswa cenderung menurun, karena dengan besarnya jumlah kelompok belajar pelayanan yang dapat diberikan oelh masing-masing guru menjadi terbatas, perhatian guru juga akan menjadi terpecah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Perbedaan individu antar anggota semakin tampak, sehingga semakin sulit untuk mendapatkan suatu kesepakatan, di mana kelompok yang besar cenderung terpecah menjadi sub kelompok yang bertentangan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Anggota kelompok yang besar cenderung menimbulkan kondisi keterpaksaan bagi siswa untuk menunggu di saat harus bersama-sama maju mempelajari suatu materi pelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Banyak siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;Degan demikian jumlah anggota kelompok belajar yang besar menjadikan kurang menguntungkan dalam menciptakan iklim belajar mengajar yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Faktor selanjutnya dari dimensi lingkungan adalah faktor iklim sosial psikologis, yaitu keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim ini terjadi secara internal dan eksternal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Iklim sosial internal adalah hubungan antara orang yang terlibat di dalam sekolah,antara lain siswa dengan siswa, siswa dengan guru, sedangkan iklim sosial eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua, dengan lembaga kemasyarakatan dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sekolah yang memiliki hubungan yang harmonis baik secara internal akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, namun sebaliknya bila tidak harmonis maka akan berpengaruh negatif terhadap psikologis siswa, dan dengan hubungan eksternal yang baik akan menambah kelancaran program-program sekolah, khususnya proses pembelajaran sehingga upaya sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran akan mendapat dukungan dari pihak lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/7905623050441096440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap_14.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7905623050441096440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7905623050441096440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap_14.html' title='Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran (part 2)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-5493128182808552736</id><published>2012-03-13T02:45:00.006-07:00</published><updated>2012-03-14T16:20:42.374-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran"/><title type='text'>Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai sebuah sistem, pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;A. Faktor Guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Guru adalah faktor yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru strategi sebagus apapun tidak mungkin dapat diaplikasikan. Keberhasilan pelakasanaan pembelajaran sangat bergantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, tehnik,dan taktik pembelajaran. Masing-masing guru memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda-beda. Hal ini tentu memengaruhi baik dalam penyusunan strategi atau implementasi pembelajaran.&lt;br /&gt;Guru dalam pembelajaran memegang peran yang sangat penting, terlebih dalam pendidikan dasar keberadaannya tidak dapat digantikan oleh perangkat yang lain, sebab peserta didik adalah organisme yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan orang dewasa.&lt;br /&gt;Peran guru dalam pembelajaran tidak sebatas sebagai model atau teladan bagi siswa, tetapi juga berperan sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning). dari peran ini efektifitas suatu proses pembelajaran sangat bergantung padanya.&lt;br /&gt;Dunkin (1974) dalam Sanjaya (2008) menyatakan ada beberapa aspek yang memengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Teacher formative experience, mencakup jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka. Aspek ini mencakup tempat asal kelahiran guru termasuk suku, latar belakang budaya, adat istiadat, keadaan keluarga tempat guru berasal.&lt;br /&gt;Teacher training experiences, mencakup pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktifitas dan latar belakang pendidikan guru, seperti pengalaman latihan profesional, tingkatan pendidikan, pengalaman jabatan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Teacher properties, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru, seperti sikap guru terhadap profesinya, sikapnya terhadap siswa, kemampuan intelegensi guru, motivasi,kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran, termasuk dalam menyusun perencanaan pembelajaran, maupun kemampuan penguasaan materi.&lt;br /&gt;Selain itu pandangan guru terhadap mata pelajaran yang diajarkan juga dapat memengaruhi proses pembelajaran. Contoh, guru yang menganggap mata pelajaran yang diajarkannya sebagai mata pelajaran hafalan, akan berbeda dibandingkan dengan guru yang menganggapnya sebagai mata pelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, guru yang mengganggap suatu mata pelajaran sulit untuk dipelajari akan berpengaruh cara penyajian mata pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;B. Faktor Siswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siswa merupakan organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya masing-masing. Perkembangan yang terjadi adalah perkembangan seluruh aspek-aspek kepribadiannya, namun masing-masing memiliki tempo yang berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan dalam proses perkembangan dan perbedaan karakteristik lain pada diri masing-masing siswa ini turut memengaruhi proses pembelajaran. Faktor-faktor yang memengaruhi dari aspek siswa menurut Dunkin (Sanjaya:2008) meliputi :&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Pupil formative experiences,&lt;/span&gt; yaitu aspek latar belakang siswa, meliputi jenis kelamin, tempat kelahiran dan tempat tinggal siswa, tingkat sosial ekonomi siswa, kondisi keluarga asal siswa.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Pupil properties&lt;/span&gt;, yaitu faktor sifat yang dimiliki siswa mencakup kemampuan dasar, pengetahuan dan sikap. Hal ini tidak dapat disangkal bahwa masing-masing siswa memiliki tingkat kemampuan yang berbeda, ada yang tinggi, sedang maupun rendah. Siswa berkemampuan tinggi biasanya menunjukkan motivasi yang tinggi dalam belajar, perhatian dan serius dalam mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, siswa berkemampuan rendah seringkali menunjukkan sikap kurang motivasi belajar, tidak serius dalam mengikuti pembelajaran maupun dalam mengikuti pembelajaran maupun dalam penyelesaian tugas. Demikian halnya pengetahuan, sehingga menuntut perhatian maupun perlakuan yang berbeda-beda juga dalam kegiatan pembelajaran. Sikap dan penampilan siswa juga merupakan faktor yang memengaruhi pembelajaran, ada siswa yang sangat aktif&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; (hyperkinetic)&lt;/span&gt; , namun ada juga yang pendiam.&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut dapat digarisbawahi bawah kondisi siswa sangat memengaruhi dan bahkan sangat menentukan proses dalam interaksi pembelajaran, bahkan memengaruhi hasil dari proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;C. &lt;a href=&quot;http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap_14.html&quot;&gt;Faktor Sarana Prasarana&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;D. &lt;a href=&quot;http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap_14.html&quot;&gt;Faktor Lingkungan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/5493128182808552736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5493128182808552736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5493128182808552736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-berpengaruh-terhadap.html' title='Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Sistem Pembelajaran'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-7993264268856821872</id><published>2012-03-13T02:16:00.004-07:00</published><updated>2012-03-13T02:42:15.639-07:00</updated><title type='text'>Pengertian Sistem Pembelajaran</title><content type='html'>A. Pengertian Sistem Pembelajaran&lt;br /&gt;Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Sistem memiliki karakteristik sebagai berikut :&lt;br /&gt;pertama, setiap sistem pasti memiliki suatu tujuan&lt;br /&gt;kedua, sistem selalu mengandung suatu proses&lt;br /&gt;Sistem bukan hanya merupakan cara, tetapi ia mencakup keterlibatan seluruh komponen-komponen pembentuknya, yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Suatu sistem memiliki ukuran dan batas relatif. Dapat terjadi suatu sistem tertentu pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu sistem yang lebih luas.&lt;br /&gt;Pembelajaran yang dilaksanakan seorang pendidik, pada dasarnya adalah sebuah sistem, karena pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bertujuan, yaitu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai berbagai komponen.Hal ini perlu dipahami, karena melalui pemahaman terhadap sistem pembelajaran, minimal guru akan memahami tentang tujuan pembelajaran atau hasil yang diharapkan, proses kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan, pemanfaatn setiap kmponen dalam proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana mengetahui keberhasilan pencapaian tersebut.&lt;br /&gt;Pemahaman terhadap sistem juga bermanfaat untuk merancang atau merencanakan sustu proses pembelajaran. Perencanaan sendiri adalah merupakan proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan (Ely (1979) dalam Sanjaya (2008). Proses perencanaan pembelajaran yang sistematis memiliki beberapa keuntungan antara lain :&lt;br /&gt;Melalui sistem perencanaan yang matang guru akan terhindar dari keberhasilan secara untung-untungan.&lt;br /&gt;Melalui sistem perencanaan yang sistematis, setiap guru dapat menggambarkan berbagai hambatan yang mungkin akan dihadapi sehingga dapat menentukan berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.&lt;br /&gt;Melalui sistem perencanaan, guru dapat menentukan berbagai langkah dalam memanfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada untuk ktercapaia</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/7993264268856821872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/pengertian-sistem-pembelajaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7993264268856821872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7993264268856821872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/pengertian-sistem-pembelajaran.html' title='Pengertian Sistem Pembelajaran'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-7038276431476877992</id><published>2012-03-10T07:51:00.002-08:00</published><updated>2012-03-10T08:00:24.540-08:00</updated><title type='text'>Pengembangan RPP</title><content type='html'>&lt;b&gt;2. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Pengertian dan fungsi RPP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rencana
 Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah program perencanaan yang disusun 
sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses 
pembelajaran. RPP disusun berdasarkan silabus. dalam pembelajaran RPP 
sangat diperlukan, hal ini karena pembelajaran bukanlah sekedar 
menyampaikan materi, melainkan proses mengatur lingkungan supaya siswa 
belajar, sehingga setiap proses pembelajaran akan sangat bergantung pada
 tujuan, materi pelajaran serta karakteristik siswa sebagai subjek 
belajar. Dengan demikian pembelajaran perlu direncanakan secara matang 
oleh seorang guru, sebagai bagian tugas profesionalnya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Komponen-Komponen RPP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Merencanakan
 RPP pada dasarnya adalah merencanakan komponen-komponen pembelajaran 
yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu sistem pembelajaran. 
Dalam RPP minimal mengandung 5 komponen pokok, sebagaimana digariskan pada PP Nomor 19 Tahun 2005 Bab IV pasal 20 yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1) Tujuan Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam merumuskan tujuan pembelajaran ini, yang dilakukan adalah menjabarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK/KD) menjadi indikator hasil belajar. Hal ini disebabkan SK/KD telah ada dalam standar isi kecuali seandainya guru ingin mengembangkan kurikulum Muatan Lokal (mulok) maka penyusunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik daerah. Indikator hasil belajar adalah pernyataan perilaku yang memiliki dua syarat utama, yaitu bersifat &lt;i&gt;observable &lt;/i&gt;dan berorientasi pada hasil belajar.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2) Materi/ Isi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Materi berkenaan dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran. Materi harus digali dari berbagai sumber belajar sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai. Dlam KTSP materi dimungkinkan berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain, yang disebabkan perbedaan karakteristik masing-masing daerah.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3) Strategi dan Metode Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Strategi merupakan rancangan serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi. Karena itu keduanya tidak apat dipisahkan satu dengan yang lain.Penyusunan strategi dan metode harus memperhatikan tujuan yang hendak dicapai, apakah ia tujuan yang bersifat kognitif atau afektif, dsb juga harus memperhatikan materi yang akan diajarakan, apakah ia berupa data atau konsep dan sebagainya. Satu hal yang harus diperhatikan lagi adalah strategi dan metode yang disusun harus dapat mendorong peserta didik untuk beraktifitas sesuai dengan gaya belajarnya. Dalam PP No 19 tahun 2005 dinyatakan beberapa prinsip yaitu bahwa pembelajaran harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, memberikan ruang yang cukup untuk pengembangan prakarsa, kreatifitas sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4) Media dan sumber belajar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Media dalam pembelajaran adalah alat bantu untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Sedangkan sumber belajar adalah segala sesuatu yang mengandung pesan yang harus dipelajari sesuai dengan materi pelajaran. Penentuan kedua komponen ini harus sesuai dengan karakteristik peserta didik dan karakteristik daerah. Suatu media dan sumber belajar tidak mungkin cocok bagi semuruh peserta didik.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5) Evaluasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam KTSP, evaluasi bukan hanya sekedar untuk mengukur keberhasilan peserta didik dalam pencapaian hasil belajar, tetapi lebih dari itu juga untuk mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran yang dilakukan setiap peserta didik. Dengan demikian dalam RPP alat evaluasi yang digunakan tidak hanya tes, tetapi juga menggunkaan nontes dalam bentuk tugas, wawancara, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;CONTOH FORMAT RPP&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhes8izfRcwy1-4U427qJzKL0mUM4cHOzTZQebgM2V79b2CWVDh58J6ASfYhCRK4SXzcmRYjiKGkLGa-Jdca_4ZIfKJkJo7tGQQfeeaZaQZ2WkUOVtEg2EHqXWTvdn0BoBKG9Ms80jzNOw/s1600/RPP+gb.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhes8izfRcwy1-4U427qJzKL0mUM4cHOzTZQebgM2V79b2CWVDh58J6ASfYhCRK4SXzcmRYjiKGkLGa-Jdca_4ZIfKJkJo7tGQQfeeaZaQZ2WkUOVtEg2EHqXWTvdn0BoBKG9Ms80jzNOw/s320/RPP+gb.jpg&quot; width=&quot;244&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/7038276431476877992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7038276431476877992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/7038276431476877992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/2.html' title='Pengembangan RPP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhes8izfRcwy1-4U427qJzKL0mUM4cHOzTZQebgM2V79b2CWVDh58J6ASfYhCRK4SXzcmRYjiKGkLGa-Jdca_4ZIfKJkJo7tGQQfeeaZaQZ2WkUOVtEg2EHqXWTvdn0BoBKG9Ms80jzNOw/s72-c/RPP+gb.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-1620522584261150670</id><published>2012-03-03T07:30:00.012-08:00</published><updated>2012-03-04T19:12:07.371-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengembangan Dokumen Dua KTSP"/><title type='text'>Pengembangan Dokumen Dua KTSP</title><content type='html'>Dokumen dua KTSP berisi tentang silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;1. Pengembangan Silabus&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;a. Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Silabus adalah rancangan program pembelajaran satu atau kelompok mata pelajaran yang berisi tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai peserta didik, pokok materi yang harus dipelajari siswa serta bagaimana cara mempelajarinya dan bagaimana cara untuk mengetahui pencapaian kompetensi dasar yang telah ditentukan. silabus dapat digunakan sebagai pedoman bagi guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.&lt;br /&gt;Silabus memuat hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;font-weight: normal; &quot;&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Tujuan yang hendak dicapai oleh peserta didik melalui proses pembelajaran, berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) yang telah ditetapkan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;materi yang harus dipelajari siswa sehubungan dengan SKKD yang hendak dicapai. Ini berkaitan dengan penentuan pokok-pokok materi yang berhubungan dengan SKKD&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Cara yang dapat dilakukan agar SKKD yang telah ditetapkan dapat tercapai. Hal ini berkaitan dengan penentuan strategi dan metode pembelajaran, penetapan media pembelajaran yang bermuara pada pengalaman belajar yang harus dilakukan setiap peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Cara menentukan keberhasilan peserta didik dalam pencapaian kompetensi, yaitu berkaitan dengan perumusan indikator hasil belajar dan penetapan sistem evaluasi pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Silabus disusun sesuai dengan kondisi sekolah, sehingga dapat terjadi setiap sekolah memiliki silabus yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;b. Manfaat Silabus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style=&quot;font-weight: normal; &quot;&gt;&lt;li&gt;Bagi guru, silabus berguna sebagai pedoman dalam menyusun Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran, sebagai pedoman dalam penyelenggaraan suatu proses pembelajaran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi administrator, silabus dapat dijadikan rujukan dalam menentukan berbagai kebijakan sekolah, seperti penentukan skala prioritas dalam menyediakan sarpras.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagi pengawas, silabus bermanfaat untuk melakukan supervisi sekolah, seperti untuk memberikan bantuan dan layanan kepada guru yang mengalami kesulitan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;c. Prinsip Pengembangan Silabus&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;1. Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;2. Relevan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;3. Sistematis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;4. Konsisten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;5. Memadai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;6. Aktual dan Kontekstual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;7. Fleksibe&lt;/span&gt;l&lt;br /&gt;Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;8. Menyeluruh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;d. Unit Waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;font-weight: normal; &quot;&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Silabus mapel disusun berdasarkan seluruh waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;penyusunan silabus memerhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan SKKD untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;e. Pengembang Silabus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;silabus dapat dikembangkan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG) dan Dinas Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;f. Format Silabus&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPF8_AwmO5O-0dGVtXSWdPGCJPIVZwSl23y2JcV3iXr0u4ncUZYsvxc-OhOCBJuWB8mc7TMRaONSUAY6XD0WitfhSkIu2_Mj_PHLItEU3X9ENoB8J3DrPy9gLLmzSHw56oo61WUNwmqrU/s1600/silabus.jpg&quot; style=&quot;font-weight: normal; &quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 280px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPF8_AwmO5O-0dGVtXSWdPGCJPIVZwSl23y2JcV3iXr0u4ncUZYsvxc-OhOCBJuWB8mc7TMRaONSUAY6XD0WitfhSkIu2_Mj_PHLItEU3X9ENoB8J3DrPy9gLLmzSHw56oo61WUNwmqrU/s400/silabus.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5716245216615732098&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;g. Langkah-langkah penyusunan Silabus&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;1. Menentukan Identitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Identitas Silabus mencakup nama sekolah, mata pelajaran, kelas dan semester. Identitas berfungsi untuk memberikan informasi kepada guru tentang hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan silabus, misalnya berkaitan dengan karakteristik peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;2. Merumuskan Standar Kompetensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi adalah deskripsi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai setelah peserta didik mempelajari mata pelajaran tertentu pada jenjang pendidikan tertentu pula. Standar kompetensi telah ditentukan pada setiap mata pelajaran dalam Standar Isi, keculai pada mata pelajaran yang merupakan pengembangan dari sekolah maka standar kompetensi perlu dikembangkan oleh sekolah sesuai dengan mata pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;3. Menentukan Kompetensi Dasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi dasar merupakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang harus dicapai oleh peserta didik untuk menunjukkan bahwa mereka telah menguasai standar kompetensi yang telah ditentukan, oleh karena itu kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar kompetensi. Kompetensi dasar menjawab pertanyaan :&quot;kemampuan apa saja yang harus dimiliki siswa agar standar kompetensi dapat dicapai ?&quot;. Penetapan kompetensi dasar tidak harus selalu sesuai denga urutan yang ada dalam Standar Isi.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;4. Mengidentifikasi Materi Pokok/ Materi Pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Materi pokok harus dipilih sesuai dengan kompetensi dasar yang harus diacapai, karena materi pokok disusun untuk pencapaian tujuan. Untuk menyusun materi pokok perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;font-weight: normal; &quot;&gt;&lt;li&gt;potensi peserta didik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;relevansi dengan karakteristik daerah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kebermanfaatan bagi peserta didik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;struktur keilmuan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;merumuskan Kegiatan pembelajaran&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi&lt;br /&gt;Indikator pencapaian berfungsi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi dasar. Dengan demikian, indikator dirumuskan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun indikator :&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;font-weight: normal; &quot;&gt;&lt;li&gt;indikator dirumuskan dalam bentuk perubahan perilaku yang dapat diukur keberhasilannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;perilaku yang dapat diukur itu berorientasi pada hasil belajar bukan pada proses belajar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sebaiknya satu indikator mengandung satu bentuk perilaku&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;6. Menentukan penilaian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;penilaian merupakan suatu proses atau serangkaian kegiatan yakni kegiatan memperoleh, menganalisa dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. penilaian dapat dilakukan melalui ekgiatan tes dan nontes, tertulis maupun non tertulis.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;7. Menentukan alokasi waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penentuan alokasi waktu pada setiap kmptetensi dasar didasarkan kepada jumlah minggu efektif da alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; &quot;&gt;8. menentukan Sumber belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sumber belajar merupakan rujukan bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang brupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkunga fisik, alam, sosial, dan budaya. Sumber belajar ditentukan berdasarkan pada SKKD serta materi pokok pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaan kompetensi.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/1620522584261150670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/pengembangan-dokumen-dua-ktsp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1620522584261150670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1620522584261150670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/03/pengembangan-dokumen-dua-ktsp.html' title='Pengembangan Dokumen Dua KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPF8_AwmO5O-0dGVtXSWdPGCJPIVZwSl23y2JcV3iXr0u4ncUZYsvxc-OhOCBJuWB8mc7TMRaONSUAY6XD0WitfhSkIu2_Mj_PHLItEU3X9ENoB8J3DrPy9gLLmzSHw56oo61WUNwmqrU/s72-c/silabus.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-1341156850695129693</id><published>2012-02-28T07:23:00.002-08:00</published><updated>2012-02-28T08:03:07.454-08:00</updated><title type='text'>Dasar Penyusunan KTSP</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;KTSP dikembangkan di atas dua landasan pokok yaitu landasan empiris dan landasan formal.&lt;br /&gt;Landasan empiris pengembangan KTSP antara lain :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;li&gt;kenyataan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah dilihat dari sudut proses maupun hasil belajar. Dari segi proses pendidikan masih belum mampu mengembangkan manusia Indonesia secara utuh, disebabkan karena dalam pelaksanaannya masih berorientasi terhadap segi intelektualitas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Indonesia adalah negara yang sangat luas yang memiliki keragaman sosial budaya dengan potensi dan kebutuhan yang berbeda. Melalui KTSP diharapkan keanekaragaman daerah baik dari segi sosial, budaya, maupun kebutuhan daerah dapat terakomodasi dengan menempatkan sisi tersebut sebagai pertimbangan dalam pengembangan kurikulum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selama ini peran sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum masih bersifat pasif. Melalui KTSP diharapkan masyarakat berperan aktif dalam pengembangan kurikulum , karena KTSP disusun oleh sekolah dan masyarakat, sehingga masyarakat memiliki tanggung jawab terhadap pengembangan bahkan pengimplementasian kurikulum.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Landasan Formal KTSP adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 19; pasal 18 ayat 1,2 dan 3; pasal 32 ayat 1,2, dan 3; pasal 35 ayat 2; pasal 36 ayat 1,2,3 dan 4; pasal 37 ayat 1,2, dan 3; pasal 38 ayat 1 dan 2. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 1 ayat 5, 13, 14, 15; pasal 5 ayat 1 dan 3; pasal 6 ayat 6; pasal 7 ayat 1,2,3,4,5,6,7, dan 8; pasal 8 ayat 1, 2, dan 3; pasal 10 ayat 1, 2, dan 3; pasal 11 ayat 1, 2,3, dan 4; pasal 13 ayat 1, 2, 3, dan 4; pasal 16 ayat 1, 2, 3, 4, dan 5; pasal 17 ayat 1 dan 2; pasal 18 ayat 1, 2, dan 3; dan pasal 20. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah juga mengacu pada&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan PP tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dan secara teknis penyusunan KTSP  berpedoman kepada panduan yang disusun oleh Badan Standar NAsional Pendidikan (BSNP)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/1341156850695129693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/dasar-penyusunan-ktsp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1341156850695129693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1341156850695129693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/dasar-penyusunan-ktsp.html' title='Dasar Penyusunan KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-3110457629973376082</id><published>2012-02-08T23:16:00.007-08:00</published><updated>2012-02-23T08:10:03.112-08:00</updated><title type='text'>Pengembangan Dokumen Kurikulum.</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;KTSP terdiri atas dua dokumen. Dokumen pertama, memuat tentang acuan pengembangan KTSP memuat latar belakang, tujuan dan prinsip pengembangan, struktur dan muatan kurikulum, tujuan pendidikan,kalender pendidikan. Dokumen dua, memuat tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.&lt;br /&gt;A. Pengembangan dokumen satu KTSP&lt;br /&gt;Sebagaimana telah disebutkan, dokumen satu terdiri atas 4 bab, yakni pendahuluan, tujuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum, serta kalender pendidikan.&lt;br /&gt;BAB 1 Pendahuluan&lt;br /&gt;Pada bab pendahuluan diuraikan mengenai latar belakang, tujuan, dan prinsip pengembangan KTSP.&lt;br /&gt;a. Latar belakang&lt;br /&gt;Pada latar belakang dikemukakan alasan-alasan perlunya disusun KTSP untuk sekolah yang meliputi dua alasan, yakni alasan rasional dan dasar hukum penyusunan KTSP. Alasan rasional berisi untuk menjawab pertanyaan berkaitan dengan mengapa KTSP perlu disusun, dipandang dari sudut visi dan misi sekolah, kekhasan sekolah yang bersangkutan serta harapan-harapan dalam pengimplementasian KTSP.&lt;br /&gt;Adapun alasan yang berhubungan dengan dasar hukum adalah berbagai ketentuan yang tercantum dalam perundang-undangan seperti Undang-Undang No 20 tahun 2003, Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;b. Tujuan pengembangan dan fungsi KTSP&lt;br /&gt;Tujuan pengembangan KTSP dirumuskan adalah untuk menjawab tentang apa kegunaan dan fungsi KTSP untuk setiap orang yang terlibat dalam proses pendidikan, khususnya untuk guru.&lt;br /&gt;c. Prinsip-prinsip pengembangan KTSP&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip pengembangan KTSP disusun dengan mengacu pada peraturan perundangan dan kebijakan yang telah menjadi pedoman yang berlaku, khususnya PP Nomor 19 Tahun 2005. yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, serta kepentingan peserta didik dan lingkungannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Beragam dan terpadu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Relevan dengan kebutuhan kehidupan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyeluruh dan bersinambungan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Belajar sepanjang hayat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;BAB 2. Tujuan pendidikan&lt;br /&gt;a. Tujuan pendidikan&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan dirumuskan dengan selalu mengacu pada Undang-undang no. 20 tahun 2003, pasal 3, yaitu Tujuan Pendidikan Nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, serta ketrempilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.&lt;br /&gt;Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berahlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;b. Visi dan misi sekolah&lt;br /&gt;Visi sekolah&lt;br /&gt;Visi adalah sasaran akhir yang terukur dan realistis sesuai dengan potensi sekolah yang bersangkutan. Visi merupakan sasaran yang dirumuskan oleh berbagai komponen sekolah yang dapat dijangkau, sehingga kurikulum yang dikembangkan adalah untuk mencapai sasaran yang telah dirumuskan. Visi menjawab &quot;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;apa yang ingin dicapai oleh sekolah&lt;/span&gt;&quot;&lt;br /&gt;Adapun misi sekolah adalah berkenaan sebagi jawaban atas pertanyaan &quot;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencapai visi sekolah&quot;.&lt;/span&gt; Misi harus dapat menggambarkan kondisi dan suasana yang dibangun dalam mencapai suatu visi.&lt;br /&gt;Contoh Visi :&lt;br /&gt;a. Mendidik siswa yang dapat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai agama&lt;br /&gt;b. Mendidik siswa yang mempunyai kemampuan akademik yang tinggi untuk dapat bersaing dan dapat mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi&lt;br /&gt;c. Mendidik siswa yang memiliki keterampilan sesuai dengan minat dan bakatnya sebagai bekal untuk hidup dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Contoh Misi sekolah&lt;br /&gt;a. Menciptakan dan menumbuhkan kedisiplinan dalam belajar dengan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;b. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.&lt;br /&gt;c. Dan sebagainya&lt;br /&gt;BAB. 3 Struktur dan muatan kurikulum&lt;br /&gt;A. Mata pelajaran&lt;br /&gt;1. Kelompok mata pelajaran&lt;br /&gt;Mengacu pada PP Nomor 19 TAhun 2005 tentang SNP, kurikulum untuk pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah mencakup :&lt;br /&gt;a. Kelompok mata pelajaran agama dan ahlak mulia&lt;br /&gt;b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian&lt;br /&gt;c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi&lt;br /&gt;d. Kelompok mata pelajaran estetika dan&lt;br /&gt;e. Kelompok mata pelajara jasmani, olah raga, dan kesehatan&lt;br /&gt;2. Struktur kurikulum&lt;br /&gt;Struktur Kuirkulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.Kedalaman muatan kurikulum dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum.Kompetensi tersebut mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Struktur Kurikulum meliputi :&lt;br /&gt;a. Struktur kurikulum SD/MI&lt;br /&gt;Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaranyang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjWYR3YXYOYJUuL-WKZV2WPMsrEUK83j6E4-d28eNbaDqhfl7wPeRlb7O02r7QLZSLPGsQWiPbXHp_k67gCMUKGeFtTMfDsx48g69Tt4qIR_WtOEjdeOGqK_ZTkk_jxR-G7lF_-4tfCu8/s1600/SDMI1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 302px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjWYR3YXYOYJUuL-WKZV2WPMsrEUK83j6E4-d28eNbaDqhfl7wPeRlb7O02r7QLZSLPGsQWiPbXHp_k67gCMUKGeFtTMfDsx48g69Tt4qIR_WtOEjdeOGqK_ZTkk_jxR-G7lF_-4tfCu8/s400/SDMI1.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711468067828871442&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;b. Struktur kurikulum SMP/MTS&lt;br /&gt;Struktur kurikulum SMP/MTs meliputi substansi pembelajaran yangditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun mulaiKelas VII sampai dengan Kelas IX&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1LTyngzriWF7hUPTUGQsxyCLTxy-i1epWLhuKF4nLRq4h4i9itO7p3-k4r3cs0SMTbF18PoyDg8_BygNKcQsTSLAbc7Ga4uNbRUTy7D38yepldLJJpQ7dhPuyqUHQkj3E-BJo6TH5ayc/s1600/smp2.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 393px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1LTyngzriWF7hUPTUGQsxyCLTxy-i1epWLhuKF4nLRq4h4i9itO7p3-k4r3cs0SMTbF18PoyDg8_BygNKcQsTSLAbc7Ga4uNbRUTy7D38yepldLJJpQ7dhPuyqUHQkj3E-BJo6TH5ayc/s400/smp2.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711468461302349042&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;c. Struktur kurikulum SMA/MA&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Kelas X&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvgSrIQBZxOuw_nlesk8VVbQ7mqChP1Twj_Gt6SeJ7_qaAWca-ON3-YER_S2C2FdRw4deaPppx2AofF-FsEDVYu-wvOyXmRfdg337JKoQPYhWTyQdqLSQQ5YJNzrFUVQKZf_GsfNtQb7Q/s1600/smaX3.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 331px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvgSrIQBZxOuw_nlesk8VVbQ7mqChP1Twj_Gt6SeJ7_qaAWca-ON3-YER_S2C2FdRw4deaPppx2AofF-FsEDVYu-wvOyXmRfdg337JKoQPYhWTyQdqLSQQ5YJNzrFUVQKZf_GsfNtQb7Q/s400/smaX3.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711469016662623346&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;text-align: left; &quot;&gt;Kelas XI dan XII Jurusan IPS&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGBJzJfrzEobLZ-oTLbPrXNf5pAsQdEq5BpK61LnDkn-DvW_OH3nOH6GDAjPmBQ-1w5Fmf7t6bmS2WRMEe0ZW1jMZ3rygYSmackPch0y0LTrb7DosycGb8VMxXGrqe57546Ns1OgmWYjU/s1600/smaips41.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 382px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGBJzJfrzEobLZ-oTLbPrXNf5pAsQdEq5BpK61LnDkn-DvW_OH3nOH6GDAjPmBQ-1w5Fmf7t6bmS2WRMEe0ZW1jMZ3rygYSmackPch0y0LTrb7DosycGb8VMxXGrqe57546Ns1OgmWYjU/s400/smaips41.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711469320941695826&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Kelas XI dan XII Jurusan IPA &lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRlj-hL7xENnrz2g8FqxBYa2Asxwq8U4VPWPWs6UOtbHk03PL6CSHZqi9iFMKESGPaA6qxih8ir2AUlSriBUAauOUOKI507D3CJFx6jeJwm8uF5Nw4CD5cJiPi_u_GVom7a2HkuwAk8PI/s1600/smaipa5.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 347px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRlj-hL7xENnrz2g8FqxBYa2Asxwq8U4VPWPWs6UOtbHk03PL6CSHZqi9iFMKESGPaA6qxih8ir2AUlSriBUAauOUOKI507D3CJFx6jeJwm8uF5Nw4CD5cJiPi_u_GVom7a2HkuwAk8PI/s400/smaipa5.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711469680082444130&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Kelas XI dan XII Jurusan Bahasa&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn80sYwPhpFpb4c4uJqv1dbtZqR_ZUvLQZfacq4pGsUPUwqMyqje7-ZccGacZLEMc_937WAwQO_BfLP5hVzcqOZSqjngmP-mTBJLngZI8d6XSPZg_l9oj1WEbJf1570__EnxK6jP8KhEc/s1600/smabhs6.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 390px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn80sYwPhpFpb4c4uJqv1dbtZqR_ZUvLQZfacq4pGsUPUwqMyqje7-ZccGacZLEMc_937WAwQO_BfLP5hVzcqOZSqjngmP-mTBJLngZI8d6XSPZg_l9oj1WEbJf1570__EnxK6jP8KhEc/s400/smabhs6.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711470896281394514&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Kelas XI dan XII MA Jurusan Keagamaan&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpsSZip1bUgwhsCIVlI-BU8M1P_sTP5kXd9LxvV3W5EUlJ4TeBH4vWccd7smzm1KWhpfSjzLxzkDiW1oIFlezfKHiiDePUAiWhreWcB1Qdtvth7xRHeH0IkDSZe-ypODsvKxs3vgpNvhw/s1600/ma+agama7.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 385px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpsSZip1bUgwhsCIVlI-BU8M1P_sTP5kXd9LxvV3W5EUlJ4TeBH4vWccd7smzm1KWhpfSjzLxzkDiW1oIFlezfKHiiDePUAiWhreWcB1Qdtvth7xRHeH0IkDSZe-ypODsvKxs3vgpNvhw/s400/ma+agama7.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711471250339731490&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;d. Struktur kurikulum Pedidikan Kejuruan&lt;br /&gt;Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina yang tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri. Struktur kurikulum pendidikan kejuruan dalam&lt;br /&gt;hal ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kurikulum SMK/MAK berisi mata pelajaran wajib, mata pelajaran Kejuruan, Muatan Lokal, dan Pengembangan Diri seperti tertera pada Tabel 8.&lt;br /&gt;Mata pelajaran wajib terdiri atas Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Seni dan Budaya, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, dan Keterampilan/Kejuruan. Mata pelajaran ini bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam spektrum manusia kerja.&lt;br /&gt;Mata pelajaran Kejuruan terdiri atas beberapa mata pelajaran yang bertujuan untuk menunjang pembentukan kompetensi kejuruan dan pengembangan kemampuan menyesuaikan diri dalam bidang keahliannya.&lt;br /&gt;Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas, potensi daerah, dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan program keahlian yang diselenggarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.&lt;br /&gt;Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pembentukan karier peserta didik. Pengembangan diri bagi peserta didik SMK/MAK terutama ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan bimbingan karier.&lt;br /&gt;Struktur kurikulum SMK/MAK meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama tiga tahun atau dapat diperpanjang hingga empat tahun mulai kelas X sampai dengan kelas XII atau kelas XIII. Struktur kurikulum SMK/MAK disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVdkge2-sMrPMKf1tcz7aROVNX9I4uHMnZN6qgnqDzW1Xb3nlFgXUxZcmsbWnuN3-STQHbWTloPlA_k7eYpLXjl04J0mAgmsR4Ui1Uwn-a8Nd68bs5lTirSkTEar-LVF43KsVVP4AF1Ds/s1600/SMKMAK8.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 310px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVdkge2-sMrPMKf1tcz7aROVNX9I4uHMnZN6qgnqDzW1Xb3nlFgXUxZcmsbWnuN3-STQHbWTloPlA_k7eYpLXjl04J0mAgmsR4Ui1Uwn-a8Nd68bs5lTirSkTEar-LVF43KsVVP4AF1Ds/s400/SMKMAK8.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5711471840402246818&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keterangan notasi&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Durasi waktu adalah jumlah jam minimal yang digunakan oleh setiap program keahlian. Program keahlian yang memerlukan waktu lebih jam tambahannya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sama, di luar jumlah jam yang dicantumkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terdiri dari berbagai mata pelajaran yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan setiap program keahlian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jumlah jam Kompetensi Kejuruan pada dasarnya sesuai dengan kebutuhan standard kompetensi kerja yang berlaku di dunia kerja tetapi tidak boleh kurang dari 1044 jam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ekuivalen 2 jam pembelajaran.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;B. Muatan lokal&lt;br /&gt;Dalam hal muatan lokal terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi antara lain :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Muatan Lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;materi muatan lokal tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Substansi mata pelajaran muatan lokal dapat ditentukan oleh satuan pendidikan,tidak terbatas pada mata pelajaran keterampilan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bentuk penilaian muatan lokal bersifat kuantitatif (angka)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap sekolah dapat melaksanakan lebih dari satu jenis setiap semester sesuai dengan minat siswa dan karakterstik sekolah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;setiap siswa dapat mengikuti lebih dari satu kegiatan muatan lokal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pembelajaran muatan lokal dapat dilaksanakan oleh guru mata pelajaran, atau tenaga ahli dari luar sekolah yang memiliki kemampuan relevan dengan substansi mulok.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;setiap guru muatan lokal harus mengembangkan silabus dan rencana pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;C. Kegiatan pengembangan diri&lt;br /&gt;Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai  bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling  berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pembentukan karier peserta didik. Untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.&lt;br /&gt;D. Pengaturan beban belajar&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB,SMP/MTs/SMPLB baik kategori standar maupun mandiri, SMA/MA/SMALB /SMK/MAKkategori standar.Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan olehSMP/MTs/SMPLB kategori mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori standar.Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) digunakan olehSMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran pada sistem paket dialokasikansebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Pengaturan alokasi waktu untuk setiapmata pelajaran yang terdapat pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajarandapat dilakukan secara fleksibel dengan jumlah beban belajar yang tetap. Satuanpendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggusecara keseluruhan. Pemanfaatan jam pembelajaran tambahan mempertimbangkankebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi, di samping dimanfaatkan untukmata pelajaran lain yang dianggap penting dan tidak terdapat di dalam struktur kurikulumyang tercantum di dalam Standar Isi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalamsistem paket untuk SD/MI/SDLB 0% - 40%, SMP/MTs/SMPLB 0% - 50% danSMA/MA/SMALB/SMK/MAK 0% - 60% dari waktu kegiatan tatap muka mata pelajaranyang bersangkutan. Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dankebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alokasi waktu untuk praktik, dua jam kegiatan praktik di sekolah setara dengan satu jamtatap muka. Empat jam praktik di luar sekolah setara dengan satu jam tatap muka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alokasi waktu untuk tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidakterstruktur untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK/MAK yang menggunakan sistem SKSmengikuti aturan sebagai berikut.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;(1) Satu SKS pada SMP/MTs terdiri atas: 40 menit tatap muka, 20 menit kegiatanterstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;(2)Satu SKS pada SMA/MA/SMK/MAK terdiri atas: 45 menit tatap muka, 25 menitkegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;E. Ketuntasan belajar&lt;br /&gt;Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Satuanpendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkatkemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalampenyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteriaketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan idea&lt;br /&gt;F. Kenaikan kelas dan kelulusan&lt;br /&gt;Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Kriteria kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait.Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus darisatuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompokmata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian,kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dankesehatan;c. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan danteknologi; dand. lulus Ujian Nasional&lt;br /&gt;G. Penjurusan&lt;br /&gt;Penjurusan dilakukan pada kelas XI dan XII di SMA/MA. Adapun kriteria penjurusan diatur oleh direktorat teknis terkait&lt;br /&gt;H. Pendidikan kecakapan hidup&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/ SMALB, SMK/MAK dapatmemasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapansosial, kecakapan akademik dan/atau kecakapan vokasional.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pendidikan kecakapan hidup dapat merupakan bagian integral dari pendidikan semua matapelajaran dan/atau berupa paket/modul yang direncanakan secara khusus.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidikan kecakapan hidup dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yangbersangkutan dan/atau dari satuan pendidikan formal lain dan/atau nonformal&lt;br /&gt;Kalender pendidikan&lt;br /&gt;A. Jumlah minggu dan hari efektif&lt;br /&gt;Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menentukan alokasi waktu pembelajaran dijelaskan dibawah ini ;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tentukan pada bulan apa kegiatan belajar dimulai dan bulan apa berkhir pada semester pertama dan kedua&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentukan jumlah minggu efektif pada setiap bulan setelah diambil mingggu-minggu ujian dan hari libur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentukan hari belajar efektif dalam setiap minggu. Misalnya bagi sekolah yang menentukan belajar dimulai dari hari senin sampai jumat berarti hari efektif adalah 5 hari kerja, sedangkan sekolah yang menentukan hari belajar dari senin sampai sabtu, berarti jumlah hari efektif kerja adalah 5 hari.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;B. Perencanaan program tahunan&lt;br /&gt;Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk dapat mngembangkan program tahunan adalah ;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Lihat berapa jam alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran dalam seminggu dalam struktur kurikulum seperti yang telah ditetapkan pemerintah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Analisis beberapa minggu efektif dalam setiap semester seperti yang telah kita tetapkan dalam gambaran alokasi waktu efektif.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;C. Rencana program semester&lt;br /&gt;Cara pengisian format diatas adalah sebagai berikut ;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tentukan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang ingin dicapai. Dalam hal ini guru tidak perlu merumuskan SK dan KD, sebab semuanya sudah ditentukan dalam standar isi (SI), yakni pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang sudah kita kenal, kecuali kalau kita memang diharuskan merumuskan SK dan KD sendiri, misalnya dalam merumuskan kurikulum muatan lokal (MULOK)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lihat program tahunan yang telah kita susun untuk menentukan alokasi waktu atau jumlah jam pelajaran dalam setiap SK dan KD itu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentukan pada bulan dan minggu keberapa proses pembelajaran KD itu untuk dilaksanakan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/3110457629973376082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/pengembangan-dokumen-kurikulum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/3110457629973376082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/3110457629973376082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/pengembangan-dokumen-kurikulum.html' title='Pengembangan Dokumen Kurikulum.'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjWYR3YXYOYJUuL-WKZV2WPMsrEUK83j6E4-d28eNbaDqhfl7wPeRlb7O02r7QLZSLPGsQWiPbXHp_k67gCMUKGeFtTMfDsx48g69Tt4qIR_WtOEjdeOGqK_ZTkk_jxR-G7lF_-4tfCu8/s72-c/SDMI1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-148812013585931138</id><published>2012-02-07T23:49:00.000-08:00</published><updated>2012-02-08T00:39:30.954-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Proses Penyusunan KTSP"/><title type='text'>Proses Penyusunan KTSP</title><content type='html'>Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan KTSP :&lt;br /&gt;1. Analisis Konteks&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mengidentifikasi Standar Isi (SI) dan Standar kemampuan Lulusan sebagai sumber dan acuan penyusunan KTSP&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menganalisis kondisi yang ada dari satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya dan program-program&lt;/li&gt;&lt;li&gt;menganalisis peluang dan tantangan yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitar, komite sekolah, dewan pendidikan, dinas pendidikan, asosiasi profesi, dunia industri dan dunia kerja, sumber daya alam dan sosial budaya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;2. Mekanisme Penyusunan&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;a. Tim Penyusun&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Tim penyusun KTSP pada tingkat dasar dan menengah (SD, SMP, SMA, dan SMK terdiri atas guru, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, dengan melibatkan komite sekolah dan narasumber serta pihak terkait lainnya. Untuk SD dan SMP supervisi dilakukan oleh Dinas tingkat Kabupaten yang bertanggung jawab terhadap Pendidikan , sedangkan untuk SMA dan SMK supervisi dilakukan oleh Dinas tingkat Provinsi yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;Sementara itu untuk MI, MTs, MA dan MAK Tim penyusun terdiri dari guru, konselor, dan kepala Madrasah sebagai ketua merangkap anggota, dengan melibatkan komite sekolah dan narasumber, dan pihak lain yang terkait. Adapun supervisi dilakukan oleh kementerian Agama.&lt;br /&gt;Tim penyusun KTSP pada tingkat satuan pendidikan khusus (SDLB, SMPLB, dan SMALB) terdiri atas guru, konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota, dengan melibatkan komite sekolah dan narasumber serta pihak terkait lainnya. Untuk SD dan SMP supervisi dilakukan oleh Dinas tingkat Provinsi yang bertanggung jawab di bidang Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;b. kegiatan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Penyusunan KTSP merupakan bagian dari perencanaan sekolah/madrasah. Kegiatan dapat berbentuk rapat kerja dan atau lokakarya sekolah/madrasah yang diselenggarakan dalam jangka waktu sebelum tahun pelajaran baru.&lt;br /&gt;Kegiatan penyusunan KTSP meliputi penyiapan dan penyusunan draft, review, serta finalisasi, pemantapan dan penilain. langkah yang lebih rinci dari masing-masing kegiatn diatur dan diselenggarakan oleh tim penyusun.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;c. Pemberlakuan &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dokumen KTSP pada SD, dan SMP, dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah setelah mendapat pertimbangan komite sekolah dan diketahui oleh dinas tingkat kabupaten/ kota yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan, sementara untuk SMA dan SMK oleh Dinas tingkat Provinsi yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;Dokumen KTSP pada MI, MTs, MA, dan MAK dinyatakan berlaku oleh kepala madrasah setelah mendapat pertimbangan komite sekolah dan diketahui oleh Kementerian Agama yang menangani urusan pemerintahan bidang Agama.&lt;br /&gt;Dokumen KTSP pada SDLB, SMPLB,dan SMALB, dinyatakan berlaku oleh kepala sekolah setelah mendapat pertimbangan komite sekolah dan diketahui oleh dinas tingkat Provinsi yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/148812013585931138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/proses-penyusunan-ktsp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/148812013585931138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/148812013585931138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/proses-penyusunan-ktsp.html' title='Proses Penyusunan KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-1351876867911545774</id><published>2012-02-06T17:12:00.000-08:00</published><updated>2012-02-07T23:48:03.459-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Komponen KTSP"/><title type='text'>Komponen KTSP</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komponen KTSP :&lt;br /&gt;KTSP sebagai sebuah pedoman kurikulum memiliki empat komponen, yaitu&lt;br /&gt;1. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah mengacu pada tujuan umum pendidikan. Dalam PP Nomor 19 tahun 2005 pasal 26 menyatakan tujuan pendidikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;li&gt;Tujuan Pendidikan jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup&lt;br /&gt;mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tujuan pendidikan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tujuan pendidikan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tujuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Struktur Program dan muatan KTSP&lt;br /&gt;Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kelompok mata pelajaran estetika;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan atau kegiatan pembelajaran sebagaimana dinyatakan dalam PP Nomor 19 tahun 2005 pasal 7 :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B,SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga, dan kesehatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/ SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa,matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal yang relevan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB/Paket B, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan/atau teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB/Paket C, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran estetika pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/Paket C, SMK/ MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan pada SD/MI/SDLB/ Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olahraga, pendidikan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;3. Kalender Pendidikan&lt;br /&gt;Dengan pemberlakuan KTSP, Satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memerhatikan kalender pendidikan sebagaimana dalam Standar Isi.&lt;br /&gt;4. Silabus dan rencana pembelajaran&lt;br /&gt;Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. berdasarkan silabus guru dapat mengembangkannya menjadi Rancangan pelaksanaan Pembelajarn (RPP) yang akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/1351876867911545774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/komponen-ktsp-ktsp-sebagai-sebuah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1351876867911545774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1351876867911545774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/komponen-ktsp-ktsp-sebagai-sebuah.html' title='Komponen KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-4378508102376784677</id><published>2012-02-03T00:45:00.000-08:00</published><updated>2012-02-03T01:08:46.687-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP"/><title type='text'>Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP</title><content type='html'>Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;li&gt;1.Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, serta kepentingan peserta didik dan lingkungannya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Prnsip ini mengandung makna bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya dalam usahanya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian KTSP mengarah pada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered), dan di sisi lain KTSP harus memerhatikan potensi dan kebutuhan daerah tempat tinggal peserta didik, karena pendidikan pada hakikatnya adalah upaya mempersiapkan anak didik agar mampu hidup dan mengembangkan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;li&gt;2.Beragam dan terpadu.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pengembangan KTSP harus memerhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, perbedaan Agama, suku, budaya, sosial, ekonomi bahkan perbedaan gender. KTSP mencakup substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lkal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna.&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;li&gt;3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;KTSP harus dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan , teknologi dan seni, didasarkan pada kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi,dan seni selalu berkembang secara dinamis.&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;li&gt;4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Kurikulum dikembangkan untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan. termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan dan dunia kerja. pengembangan keterampilan pribadi, berpikir, sosial, dan akademik, serta vokasional merupakan suatu hal yang harus disiapkan melalui KTSP.&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;li&gt;5. Menyeluruh dan bersinambungan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan dan berkelanjutan antar semua jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;li&gt;6. Belajar sepanjang hayat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;KTSP mengarah pada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaanpeserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antar unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan memerhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang dan arah pengembangan manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;&lt;li&gt;7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;KTSP dikembangkan dengan memerhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan Nasional dan daerah harus selalu berjalan seiring sejalan dan saling mengisi dan memberdayakan dalam kerangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memerhatikan semboyan Bhineka Tunggal Ika.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/4378508102376784677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/prinsip-prinsip-pengembangan-ktsp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4378508102376784677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4378508102376784677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/prinsip-prinsip-pengembangan-ktsp.html' title='Prinsip-Prinsip Pengembangan KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-4024855240343303374</id><published>2012-02-02T19:05:00.000-08:00</published><updated>2019-08-07T20:14:03.451-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="TUJUAN KTSP"/><title type='text'>Tujuan KTSP</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum tujuan KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan. Namun secara umum dapat dirtincikan sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola, dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Melalui KTSP penentu kualitas sekolah benar-benar tergantung pada kemandirian setiap sekolah dalam menggali dan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang dimilikinya. KTSP memberikan kesempatan kepada setiap sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan daerahnya dan sesuai dengan karakteristik sekolah itu sendiri. sekolah dituntut melakukan isnisiatif dalam menggali secara mandiri berbagai potensi dan sumber daya untuk mendukung programnya termasuk kurikulum yang dikembangkannya. Karena itu itu setiap komponen sekolah dari kepala sekolah hingga guru-guru dituntut untuk lebih aktif dan kreatif melakukan berbagai upaya agar semua kebutuhan sekolah terpenuhi.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Sebagai kurikulum operasional KTSP menuntut keterlibatan masyarakat secara penuh, sebab tanggung jawab pengembangan kurikulum tidak lagi berada di pemerintah, akan tetapi berada di tangan sekolah, sementara itu berkembangnya sekolah itu sendiri, sangat bergantung pula pada seberapa besar keterlibatan masyarakat terhadap sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Meningkatkan kompetensi yang sehat antarsatuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Dengan KTSP sekolah tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum yang telah diatur oleh pusat, tetapi juga sebagai pengambil keputusan tentang pengembangan dan implementasi kurikulum. Dengan KTSP sekolah diharapkan berlomba satu dengan yang lain dalam menyusun program kurikulum sekaligus berlomba dalam implementasinya, sehingga tercipta persaingan antar sekolah menuju pencapaian pendidikan yang lebih bermutu.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/4024855240343303374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/secara-umum-tujuan-ktsp-adalah-untuk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4024855240343303374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4024855240343303374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/02/secara-umum-tujuan-ktsp-adalah-untuk.html' title='Tujuan KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-2734589365847634855</id><published>2012-01-29T22:24:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T17:28:48.318-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengertian dan Karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)"/><title type='text'>Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Pengertian dan Karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kurikulum menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai kurikulum yang  digunakan di Indonesia saat ini adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. KTSP merupakan penyempurnaan sistem Pendidikan Nasional Indonesia yang telah ada yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), karena dianggap bahwa kurikulum KBK memiliki kekurangan yang menonjol. Perbedaan KTSP dengan KBK adalah terutama pada sifatnya yang desentralistik yang memberikan kepada lembaga di daerah untuk mengembangkan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Namun sebagai suatu kontrol terhadap Mutu pendidikan, dan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam diharuskan selalu mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangakan kurikulum.&lt;br /&gt;Selanjutnya menurut BSNP (2007) KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi Dinas Pendidikan atau Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota yang sekarang menjadi Kantor Kementerian Agama kabupaten/ Kota untuk pendidikan dasar dan Kantor Wilayah Provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan&lt;br /&gt;berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP,serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah.&lt;br /&gt;Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh Dinas Pendidikan Provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. Sebagai sebuah kurikulum KTSP memiliki Karakteristik sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dilihat dari desainnya KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari; &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;pertama&lt;/span&gt; struktur program KTSP yang memuat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik. Setiap mata pelajaran yang harus dipelajari itu, selain sesuai dengan nama-nama disiplin ilmu, juga telah ditentukan jumlah jam pelajarannya, &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;kedua&lt;/span&gt; kriteria keberhasilan KTSP lebih banyak diukur dari kemampuan siswa menguasai materi pelajaran. Hal ini dapat dilihat dari sistem kelulusan yang ditentukan oleh standar minimal penguasaan isi pelajaran seperti yang diukur dari hasil ujian nasional. Soal-soal dalam UN itu lebih banyak bahkan seluruhnya menguji kemampuan kognitif siswa dalam setiap mata pelajaran. Walaupun dianjurkan kepada setiap guru menggunakan sistem penelitian proses misalnya dengan portofolio, namun pada akhirnya kelulusan siswa ditentukan oleh sejauh mana siswa menguasai materi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu. Hal ini dapat dilihat dari prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP yang menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari dan menumbuhkan sendiri materi pelajaran melalui berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran yang disarankan, misalnya melalui CTL, inkuiri, pembelajaran portofolio, dan lain sebagainya. Demikian juga secara tegas dalam struktur kurikulum terdapat komponen pengembangan diri yakni komponen kurikulum yang menekankan kepada aspek pengembangan minat dan bakat siswa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KTSP adalah kurikulum yang mengakses kepentingan daerah. Hal ini tampak pada salah satu prinsip KTSP, yakni berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Maka KTSP adalah kurikulum yang dikembangkan oleh daerah. Bahkan, dengan program muatan lokalnya, KTSP didasarkan kepada keberagaman kondisi, sosial, budaya yang berbeda masing-masing daerahnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KTSP merupakan kurikulum teknologi,. Hal ini dapat dilihat dari adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang kemudian dijabarkan pada indikator hasil belajar, yakni sejumlah perilaku yang terukur sebagai bahan penelitian. Wina Sanjaya (2008:130-131)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dengan karakteristik tersebut, dapat dikatakan bahwa KTSP adalah kurikulum yang memuat semua unsur desain kurikulum. Meski demikian, walaupun desain kurikulum semua unsur desain mewarnai KTSP, akan tetapi desain KTSP sebagai desain kurikulum berorentasi pada pengembangan disiplin ilmu atau desain kurikulum subjek akademis tampak lebih dominan. Hal ini tampak jelas dari ketatnya pengaturan nama- nama disiplin ilmu serta kriteria keberhasilan setiap siswa dalam mempelajari kurikulum&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/2734589365847634855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/pengertian-dan-karakteristik-kurikulum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/2734589365847634855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/2734589365847634855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/pengertian-dan-karakteristik-kurikulum.html' title='Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-4310499350263877066</id><published>2012-01-19T00:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T00:37:35.995-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM"/><title type='text'>Model Pengembangan Kurikulum</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;MODEL OLIVA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oliva berpandangan bahwa model kurikulum harus bersifat simple, komprehensif dan sistematik. Pengembangan kurikulum menurut Oliva terdiri dari 12 komponen yang saling berkaitan, yang pokok-pokoknya digambarkan sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;12 Komponen yang harus dikembangkan adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan, yang semuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa, dan analisis kebutuhan masyarakat,&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Analisis kebutuhan masyarakat di mana sekolah berada, kebutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan sekolah. Sumber kurikulum berasal dari komponen 1 dan 2 ini, komponen 1 berisi pernyataan-pernyataan yang bersifat umum dan sangat ideal, sedangkan komponen 2 mengarah kepada tujuan yang lebih khusus.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komponen ke-3 dan ke-4 berisi tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum yang didasarkan kepada kebutuhan yang ada pada komponen 1 dan 2&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komponen ke-5 adalah bagaimana mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komponen ke-6 dan 7 mulai menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum dan tujuan khusus pembelajaran&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah menetapkan tujuan, selanjutnya menetapkan strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan seperti yang terdapat pada komponen ke-8&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komponen ke -9a adalah melakukan studi awal tentang kemungkinan strategi atau tehnik penilaian yang akan digunakan&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selanjutnya diteruskan pada komponen ke-10 yaitu mengimplementasikan strategi pembelajaran.&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah strategi diimplementasikan, kemudian kembali pada komponen ke-9 yaitu komponen ke-9b untuk menyempurnakan alat atau tehnik penilaian, dengan menerapkan komponen ke-9a kemudian ditambah atau direvisi setelah mendapatkan masukan dari implementasi kurikulum&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari penetapan alat dan tehnik penilaian itu, maka selanjutnya pada komponen ke-11 dan ke-12 dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran dan evaluasi kurikulum&lt;span oliva=&quot;&quot; menyatakan=&quot;&quot; bahwa=&quot;&quot; model=&quot;&quot; yang=&quot;&quot; dikembangkan=&quot;&quot; dapat=&quot;&quot; digunakan=&quot;&quot; dalam=&quot;&quot; beberapa=&quot;&quot; dimensi=&quot;&quot; yaitu=&quot;&quot; span=&quot;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oliva menyatakan bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan dalam beberapa dimensi yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Untuk penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus, misal penyempurnaan kurikulum atau dalam proses pembelajarannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam engembangkan program pembelajaran secara khusus.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/4310499350263877066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/model-pengembangan-kurikulum_19.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4310499350263877066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4310499350263877066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/model-pengembangan-kurikulum_19.html' title='Model Pengembangan Kurikulum'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-9027412793611750531</id><published>2012-01-15T23:21:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T23:44:56.437-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM"/><title type='text'>Model Pengembangan Kurikulum Hilda Taba</title><content type='html'>&lt;div  style=&quot;text-align: justify; font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Model Hilda Taba&lt;br face=&quot;times new roman&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Model Taba berbeda dengan model Tyler, yaitu bahwa dalam model ini lebih menitikberatkan kepada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Karena itu dikembangkan tahapan-tahapan dalam pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum biasanya dilakukan dengan metode deduktif, yaitu dimulai dari langkah penentuan prinsip-prinsip dan kebijakan dasar, merumuskan desain kurikulum, menyusun unit-unit kurikulum, dan mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Namun Hilda Taba tidak sependapat dengan metode tersebut, dengan alasan bahwa pengembangan kurikulum secara deduktif tidak dapat menciptakan pembaruan kurikulum, sehingga Taba mengembangkan kuirkulum, berbalik, dengan metode induktif. Langkah-langkahnya sebagai berikut :&lt;br face=&quot;times new roman&quot;&gt;&lt;br face=&quot;times new roman&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;1. Menghasilkan unit-unit percobaan (pilot unit) melalui langkah-langkah : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul  style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;font-family:times new roman;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Mendiagnosis kebutuhan, dengan menentukan kebutuhan-kebutuhan siswa melalui diagnosis tentang “gaps’, kekurangan (defeciences), dan perbedaan latar belakang siswa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Memformulasikan tujuan,&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Memilih isi, sesuai dengan tujuan yang dirumuskan, dan memperhatikan serta mempertimbangkan segi validitas dan kebermaknaan untuk siswa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt; Mengorganisasi isi, yaitu menyusun urutan kurikulum sehingga tampak pada tingkat atau kelas berapa sebaiknya kurikulum tersebut diberikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Memilih pengalaman belajar, untuk mecapai tujuan kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Mengorganisasi pengalaman belajar, dengan mengemas pengalaman-pengalaman belajar tersebut ke dalam paket-paket kegiatan. Di sini dianjurkan untuk mengajak siswa agar mereka memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan belajar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Menentukan alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan siswa, sehingga guru dapat menyeleksi berbagai tehnik yang dapat dilakukan untuk menilai prestasi siswa, berkaitan dengan pencapaian tujuan kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;font-size:100%;&quot; &gt;Menguji keseimbangan isi kurikulum, untuk melihat kesesuaian antara isi, pengalaman belajar, dan tipe-tipe belajar siswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;Menguji coba coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangak menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;c.Merevisi dan mengonsolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;d.Mengembangkan keseluruhan kerangka kuirkulum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;e.Implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji, yaitu dengan menyiapkan guru-guru melalui penataran-penataran, seminar dll, dan menyiapkan fasilitas dan alat-alat sesuai dengan tuntutan kurikulum.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/9027412793611750531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/model-hilda-taba-model-taba-berbeda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/9027412793611750531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/9027412793611750531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/model-hilda-taba-model-taba-berbeda.html' title='Model Pengembangan Kurikulum Hilda Taba'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-6427568165382097990</id><published>2012-01-15T18:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T23:21:37.473-08:00</updated><title type='text'>Model-Model Pengembangan Kurikulum</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center; font-weight: bold;&quot;&gt;Model-Model Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menurut Good (1972) dan Travers (1973) model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau system dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambing-lambang lainnya. Model bukan realitas, melainkan sebuah representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Model berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan. Nadler (1988) menjelaskan manfaat model adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia&lt;br /&gt;b. Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil onservasi dan penelitian&lt;br /&gt;c. Model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks&lt;br /&gt;d. Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan&lt;br /&gt;Dalam pengembangan kurikulum dikenal beberapa model yang dapat digunakan :&lt;br /&gt;1. Model Tyler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvQCig-QIdHoT0Z4jFmm1g2cpsF5xzvayN9_sXOhizxUxpZulMB2Kr5Yxc8-o3OZ9YZH8fWAZPNrb6qNbYpq-mvAkNasSk-1ZI6Ag1jY-79STMqY0Au4iYbi9l-GL_t6I2ApDf_ph8M9E/s1600/model+tyler+pengemb+kurku.png&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 129px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvQCig-QIdHoT0Z4jFmm1g2cpsF5xzvayN9_sXOhizxUxpZulMB2Kr5Yxc8-o3OZ9YZH8fWAZPNrb6qNbYpq-mvAkNasSk-1ZI6Ag1jY-79STMqY0Au4iYbi9l-GL_t6I2ApDf_ph8M9E/s400/model+tyler+pengemb+kurku.png&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5698126253419680386&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1.&lt;br /&gt;Model Tyler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tyler mengenalkan model ini dalam bukunya Basic Principles of Curriculum and Instruction. Dalam model Tyler ada empat hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;A. Menentukan Tujuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyusunan kurikulum, perumusan tujuan merupakan langkah pertama dan utama yang harus dikerjakan, karena tujuan merupakan arah atau sasaran pendidikan. Untuk merumuskan tujuan, menurut Tyler mengambil sumber dari siswa, studi kehidupan masa kini, disiplin ilmu, filosofis, dan psikologi belajar.&lt;br /&gt;Untuk merumuskan tujuan kurikulum sangat dipengaruhi oleh teori dan filsafat pendidikan serta model kurikulum yang dianut. Karena itu tentu terdapat perbedaan antara tujuan masing-masing model kurikulum, tetapi tujuan kurikulum apa pun bentuk dan modelnya pada dasarnya harus mempertimbangkan berbagai sumber untuk kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;B. Menentukan Pengalaman Belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman belajar merupakan aktifitas anak didik dalam berinteraksi dengan lingkungan. Tyler  menyatakan : “The term “Learning Experience” is not the same as the content with which acourse deals nor activities performed by the teacher. The term “learning experience” refers to the interaction between the learner and the external conditions in the environment to which he can react, learning takes place  through the active behavior of the student; it is what he does that he learns not what the teacher does.” Pengalaman belajar menunjuk pada aktifitas siswa di dalam proses pembelajaran, sehingga pertanyaan yang diajukan adalah “apa yang akan atau telah dikerjakan siswa” bukan “apa yang akan atau telah diperbuat guru”. Untuk itu pemahaman terhadap terhadap minat siswa, maupun latar belakang siswa sangat diperlukan. Untuk menentukan pengalaman belajar ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu :&lt;br /&gt;Pertama, pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai&lt;br /&gt;Kedua, setiap pengalaman belajar harus memuaskan siswa&lt;br /&gt;Ketiga, setiap rancangan pengalaman belajar sebaiknya melibatkan siswa&lt;br /&gt;Keempat, mungkin dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai tujuan yang berbeda.&lt;br /&gt;Adapaun bentuk pengalaman belajar dapat berupa :&lt;br /&gt;1.Pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa&lt;br /&gt;2.Pengalaman belajar untuk membantu siswa dalam mengumpulkan sejumlah informasi&lt;br /&gt;3.Pengalaman belajar untuk mengembangkan sikap sosial&lt;br /&gt;4.Pengalaman belajar untuk membantu mengembangkan minat&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;C. Mengorganisasi Pengalaman Belajar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengorganisasian pengalaman belajar merupakan langkah yang penting karena dengan pengorganisasian yang jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga menjadi pengalaman belajar yang nyata bagi siswa. Pengorganisasian ini dituangkan dalam bentuk unit mata pelajaran, maupun program. Ada dua jenis pengorganisasian :&lt;br /&gt;Pertama, pengorganisasian secara vertikal, yaitu menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat yang berbeda. Misalnya materi IPS kelas 4 dan kelas 5.&lt;br /&gt;Kedua, pengorganisasian secara horizontal, yaitu menguhubungkan pengalaman belajar antar bidang studi yang berbeda tetapi dalam jenjang yang sama, contoh : geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama.&lt;br /&gt;Dalam pengorganisasian ini terdapat tiga prinsip yag harus diperhatikan :&lt;br /&gt;1.Prinsip kontinuitas&lt;br /&gt;a.Prinsip yang bersifat vertikal, yaitu bahwa pengalaman belajar yang diberikan harus memiliki kesinambungan yang diperlukan untuk pengembangan pengalaman belajar selanjutnya.&lt;br /&gt;b.Prinsip bersifat horizontal, yaitu bahwa suatu pengalaman yang diberikan pada siswa harus memiliki fungsi dan bermanfaat untuk memperoleh pengalaman belajar dalam bidang lain.&lt;br /&gt;2.Prinsip urutan isi, yaitu setiap pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa harus memerhatikan tingkat perkembangan siswa.&lt;br /&gt;3.Prinsip integrasi&lt;br /&gt;Pokok bahasan dalam suatu mata pelajaran satu dikaitkan dengan mata pelajaran yang lain sehingga terbentuk pemahaman yang terintegrasi (holistik), misalnya dalam pengalaman belajar bidang matematika dapat dikaitkan dengan mata pelajaran ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;D. Evaluasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi merupakan hal yang penting karena dengan evaluasi dapat ditentukan apakah kurikulum yang digunakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah atau belu. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan evaluasi :&lt;br /&gt;Pertama , evaluasi harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.&lt;br /&gt;Kedua, evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu.&lt;br /&gt;Penilaian dalam evaluasi semestinya harus dapat membandingkan antara penilian awal sebelum siswa melakukan suatu program dengan setelah siswa melakukan program tersebut, sehingga tampak perubahan tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;Ada dua fungsi evaluasi :&lt;br /&gt;- Fungsi sumatif , yaitu Evaluasi digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik.&lt;br /&gt;- Fungsi formatif, yaitu evaluasi untuk melihat efektifitas proses pembelajaran&lt;/div&gt;&lt;/center&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/6427568165382097990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/model-model-pengembangan-kurikulum_15.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/6427568165382097990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/6427568165382097990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/model-model-pengembangan-kurikulum_15.html' title='Model-Model Pengembangan Kurikulum'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvQCig-QIdHoT0Z4jFmm1g2cpsF5xzvayN9_sXOhizxUxpZulMB2Kr5Yxc8-o3OZ9YZH8fWAZPNrb6qNbYpq-mvAkNasSk-1ZI6Ag1jY-79STMqY0Au4iYbi9l-GL_t6I2ApDf_ph8M9E/s72-c/model+tyler+pengemb+kurku.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-5246566079298731147</id><published>2012-01-11T23:59:00.000-08:00</published><updated>2012-01-12T00:00:03.741-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Evaluasi Implementasi KTSP"/><title type='text'>Evaluasi Implementasi KTSP</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 0, 0);&quot;&gt;Evaluasi Implementasi KTSP pada Aspek Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran di SMK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 102, 0);&quot;&gt;Oleh Sunarto Halim Untung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Guna mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, mengantisipasi perkembangan jaman, serta memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan maka sewajarnyalah bila kurikulum senantiasa direvisi. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) harus dikembangkan sesuai dengan satuan potensi/karakteristik daerah, karakteristik sosial budaya masyarakat setempat, serta peserta didik. Pola ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan kreativitas, objektivitas perencanaan pendidikan dan pembelajaran oleh guru. Kendati demikian implementasi KTSP masih banyak kendala diantaranya justru pada kompetensi guru. Timbul pertanyaan bagaimana mungkin KTSP berhasil diterapkan di sekolah jika para guru masih belum memahami konsep, substansi, dan mekanisme pelaksanaan KTSP. Jika masalah ini dibiarkan maka akan sia-sia apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan penentu kebijakan pendidikan, sehingga dalam konteks ini perlu dipahami pentingnya sebuah kesiapan yang harus dimiliki guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan di atas, diteliti melalui evaluasi implementasi KTSP pada aspek kompetensi pengelolaan pembelajaran dengan model perbandingan antara standar evaluasi dengan hasil observasi (standard vs observe). Subjek penelitian adalah guru Mata Diklat Teknik Gambar Mesin di SMKN 2 Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya sebagian (33%) tingkat ketercapaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru sesuai dengan rambu-rambu petunjuk penyusunan RPP KTSP di SMK. Pelaksanaan pembelajaran mencapai tingkat ketercapaian 52,371% sedangkan  pengelolaan pembelajaran secara utuh mencapai ketercapaian 60,17.5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.      Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum digunakan sebagai acuan penyelenggaraan pendidikan dan sekaligus salah satu indikator mutu pendidikan. Indonesia tercatat lima kali merevisi kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Revisi kurikulum tersebut bertujuan untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, guna mengantisipasi perkembangan jaman, serta memberikan guideline atau acuan bagi penyelenggaraan pembelajaran di satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum terbaru yang dikembangkan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) suatu model pengelolaan kurikulum yang dirancang mengikuti potensi dan karakteristik daerah, kondisi sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik. Kurikulum tingkat satuan pendidikan diharapkan membuat guru semakin kreatif, karena mereka dituntut harus meren-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;canakan sendiri materi pelajarannya untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Kurikulum yang selama ini dibuat dari pusat, menyebabkan kreatifitas guru kurang terpupuk tetapi dengan KTSP kreatifitas berkembang. Hanya saja sebagian besar guru tidak terbiasa untuk mengembangkan model– model kurikulum. Secara mandiri selama ini mereka diperintah untuk melaksanakan kewajiban yang sudah baku, yaitu kurikulum yang dibuat dari pusat (D.Zainal Mutaqin,2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan pelaksanaan KTSP di sekolah terletak pada tiga komponen yaitu unsur guru, unsur pengelolaan sekolah (kepala sekolah, komite sekolah, dan pelanggan pendidikan), dan birokrasi pendidikan. Untuk unsur guru, diperlukan beberapa kompetensi guru dulu memahami unsur keterlaksanaan KTSP. Unsur utama berkenaan dengan kompetensi pengelolaan pembelajaran. (D.Zainal Mutaqin,2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar, bahkan sangat menentukan berhasil-tidaknya peserta didik dalam belajar. Pengembangan KTSP menuntut kreatifitas guru dalam membentuk kompetensi pribadi peserta didik. Guru perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik, agar KTSP dapat dikembangkan secara efektif, serta dapat meningkatkan kualitas pembelajaran (Mulyasa, 2007:164)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi KTSP masih diwarnai minimnya sosialisasi dan persiapan guru. Sementara itu, fakta di lapangan yang penulis peroleh sebagai gambaran awal dari penelitian ini adalah para guru memiliki pemahaman yang berbeda– beda tentang KTSP. Hal ini dikarenakan untuk diklat dan pelatihan hanya guru-guru tertentu yang mengikutinya, sehingga hanya sebagian guru saja yang memahami KTSP tersebut, selain itu banyak sekali guru senior yang menganggap bahwa KTSP tersebut tidak ada bedanya dengan sistem pengajaran yang terdahulu, mereka terbiasa dengan pola pengajaran yang umum dilakukan (menggunakan metoda ceramah dalam pencapaian informasi) dan enggan mengganti pola pengajaran tersebut, dikarenakan pola yang terdahulu dianggap telah berhasil. Berdasarkan  fenomena tersebut, kemudian berkembang plesetan dikalangan guru; “Kurikulum Terserah Sekolah Panjenengan”. Misalnya, mereka bertanya bagaimana mungkin KTSP berhasil diterapkan di sekolah jika para guru masih juga mengalami kebingungan dalam menangkap konsep, substansi, dan mekanisme pelaksanaan KTSP. Dalam konteks ini perlu dipahami bahwa pentingnya sebuah kesiapan yang harus dimiliki guru. Berdasarkan penelaahan permasalahan di atas, maka studi penelitian ini berupaya mendeskripsikan evaluasi implementasi KTSP di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Bandung sebagai basis nasional dalam implementasi KTSP. Penelaahan hanya dilakukan pada masalah yang berkaitan dengan unsur guru, dan dibatasi pula pada Kesiapan guru dalam pengelolaan pembelajaran yang terdiri dari: menyusun rencana, pelaksanaan, evaluasi dan melaksanakan tindak lanjut hasil pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan penelitian diarahkan pada profil, khususnya implementasi  KTSP pada aspek kompetensi pengelolaan pembelajaran mata diklat teknik gambar mesin di SMK. Apakah sesuai dengan kompetensi pengelolaan pembelajaran yang ditetapkan dalam rambu-rambu KTSP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Landasan Teori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiapan sangat penting untuk memulai suatu pekerjaan, karena dengan memiliki kesiapan pekerjaan, apapun akan dapat teratasi dan dikerjakan dengan lancar dan hasil yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa prinsip kesiapan menurut Slameto (1995:117), adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Semua aspek perkembangan ini berinteraksi (saling mempengaruhi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untuk memperoleh manfaat dan pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.    Pengalaman-pengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesiapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.   Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam periode tertentu selama masa pembentukan dan masa perkembangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiapan guru dalam proses pembelajaran yang dilakukan sangat relevan dengan teori kematangan dan produktivitas pekerjaan dalam suatu organisasi. Heresy dan Banchard (Nono Caryono, 2005:17) mengemukakan konsep kematangan pekerja sebagai “ kemampuan dan kemauan (ability and willingness) orang–orang untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan prilaku mereka sendiri”. Dalam hal ini, Hersey dan Blanchard mengatakan bahwa variabel – variabel kematangan itu hendaknya dipertimbangkan dalam kaitanya dengan tugas tertentu yang perlu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kesiapan guru, maka seorang guru harus mengetahui tugas dan profil guru, peranan guru, kinerja guru, profesionallisme guru, standar pengembangan guru. Hal ini dimaksud agar setiap guru sebelum kelapangan melalui proses pembelajaran, dapat memiliki kesiapan pada kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui bahwa proses pembelajaran dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peran dan kompetensi seorang guru. Konsekuensinya seorang guru harus mampu menyiapkan dan meningkatkan peran dan kompetensinya. Guru yang berkopeten akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Peran dan kompetensi guru dalam proses pemelajaran meliputi banyak hal. Antara lain guru sebagai demonstrator, pengelola kelas, mediator dan fasilitator, dan evaluator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan atau kemampuan kerja (Balai Pustaka, 1985:503). Sedangkan menurut bernandi dan Russel dalam Febiyani (2003:22) menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja adalah hasil dari fungsi suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu selama priode tertentu atau perwujutan dari hasil perpaduan yang sinergis dan akan terlihat dari produktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP diberlakukan di Indonesia mulai tahun ajaran 2006/2007, menggantikan kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi). KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. KTSP diamanatkan oleh Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nsional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. KTSP berlaku pada jenjang pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama) dan menengah (Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan), dan disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.&lt;br /&gt;Kurikulum tingkat satuan pendidikan di sekolah dikembangkan dengan berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta paduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP, Zainal Mutaqin (2007).  Dalam komponen KTSP meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Tujuan Pendidikan Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Struktur dan Muatan Kurikulum (mata pelajaran. Muatan lokal, pengembangan diri, beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan kelas dan kelulusan, penjurusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Kalender pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Silabus dan RPP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sosialisasi dan Implementasi KTSP. Jakarta:Depdiknas, Januari 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode evaluasi implementasi yang dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan guru dalam meimpelemtasikan KTSP di SMKN 2 Bandung. Subjek penelitian adalah Guru diklat pada mata diklat Teknik Gambar Mesin di SMKN 2 Bandung.  Teknik Pengumpulan data yang dilakukan, yaitu: Studi lapangan (observasi), wawancara, dan studi dokumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, observasi yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, dan sebagainya. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 1). Reduksi data; 2). Penyajian  data; 3). Mengambil kesimpulan dan verifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generalisasi diambil setelah fakta yang merupakan fokus permasalahan penelitian, teramati di lapangan. Dalam penelitian ini, fakta-fakta yang terjadi di lapangan tentang implementasi/ pelaksanaan KTSP dibandingkan dengan standar implementasi/pelaksanaan KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Hasil Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi pengelolaan pembelajaran aspek yang diteliti adalah:  menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan melaksanakan proses pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk analisis dokumen RPP, wawancara, dan observasi langsung  dengan responden. Analisis dokumen RPP digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Komponen RPP terdiri dari tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metoda pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Kompetensi pengelolaan pembelajaran aspek awal yang diamati adalah susunan rencana pembelajaran (RPP), secara umum responden dalam menyusun RPP dilakukan secara tim. RPP yang dibuat kelompok guru dibandingkan dengan rambu-rambu petunjuk penyusunan RPP yang terdapat pada dokumen KTSP atau dibandigkan standar aspek perencanaan pembelajaran menurut KTSP di SMK. Begitu pula untuk Pelaksanaan Pembelajaran, dan akhirnya untuk keseluruhan Pengelolaan Pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian diperoleh Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat secara berkelompok dibandingkan dengan rambu-rambu petunjuk penyusunan RPP terdapat pada dokumen KTSP. Persentase pembuatan RPP berdasarkan observasi untuk responden adalah 33.3%. Responden dalam merumuskan tujuan pembelajaran hanya menggambarkan aspek psikomotor, tidak ada penjabaran kriteria kinerja, materi pembelajaran disusun bertahap berdasarkan tingkat kesukaran rendah ke tinggi tidak dirancang proporsional, tidak ada langkah-langkah pembelajaran (skenario), tidak dicantumkan penggunaan jenis media, dan tahap-tahap proses evaluasi tidak dijelaskan secara rinci  dalam dokumen RPP. Hasil observasi susunan RPP, tim guru diklat gambar teknik belum sesuai dengan petunjuk dokumen  KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan pembelajaran, pengumpulan data dilakukan dalam bentuk observasi langsung dengan responden, diketahui bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran guru diklat gambar teknik melaksanakan tanpa skenario RPP. Prosentase Pelaksanaan pembelajaran yang dibuat responden diperoleh hasil 52,371%. Umumnya tidak membuat kaitan materi ajar sebelumnya dengan materi yang akan diajarkan. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh responden adalah metoda ceramah, peran serta peserta diklat masih kurang, mobilitas posisi responden kurang di dalam kelas, hanya sedikit siswa yang bertanya dan merespon proses pembelajaran kepada guru diklat. Responden lebih banyak berada di depan peserta didik. Persentase pelaksanaan pembelajaran tanpa skenario RPP untuk responden di lapangan dapat digambarkan pada diagram berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan observasi susunan RPP dan observasi pelaksanaan pembelajaran, disimpulkan kompetensi pengelolaan pembelajaran memiliki nilai persentase 60,17.5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat kelompok guru dibandingkan dengan rambu-rambu petunjuk penyusunan RPP yang terdapat pada dokumen KTSP, diperoleh ketercapaian 33% dibandigkan standar aspek perencanaan pembelajaran menurut KTSP di SMK. Pelaksanaan pembelajaran diperoleh ketercapaian 52,371%. Sedangkan  Pengelolaan pembelajaran secara utuh diperoleh ketercapaian 60,17.5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arikunto, S.(1999) Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas. (2007). Materi sosialisasi dan Pelatian Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta: Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________. (2007). Standar Kompetensi Guru. Jakarta: Depdiknas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febiyani. (2003). Pengembangan Kualitas Kinerja Guru. Tesis Master pada FIP UPI Bandung: Tidak diterbitkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamalik, O. (1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moleong, Lexy. J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyasa, E.(2007) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Rosdakarya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasution, S.(1982).Asas-asas Kurikulum. Bandung: Jemmars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slameto. (1995). Belajar  dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudjana, N. (1989). Penelitian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugiyono. (2007). Metoda Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&amp;amp;D. Bandung: Alfabeta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supriadi. (1998). Educational Leadership. Tersedia: hhtp://artikel.us/amhasan.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syah, M. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainal Mutaqin, D.(2006). Seminar Pelaksanaan KTSP Di Sekolah. Bandung: Depdiknas Kota bandung&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/5246566079298731147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-implementasi-ktsp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5246566079298731147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5246566079298731147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-implementasi-ktsp.html' title='Evaluasi Implementasi KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-2475658698292826128</id><published>2012-01-11T23:53:00.001-08:00</published><updated>2012-03-04T22:50:14.318-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Evaluasi Implementasi Kurikulum"/><title type='text'>Evaluasi Implementasi Kurikulum</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(204, 102, 0);&quot;&gt;Evaluasi Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Atas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Oleh Dr. H. Azis Mahfuddin, M.Pd.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengembangan kurikulum yang sejalan dengan sistem pendidikan nasional, kebutuhan dan kondisi riil perlu diupayakan secara terus menerus bagi terwujudnya sumber daya manusia yang handal. Digunakannya kurikulum 2006 (KTSP),  merupakan upaya pembaharuan atau penyesuaian kurikulum yang didasarkan pada standar isi dan standar kompetensi lulusan yang diharapkan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Tujuan pendidikan pada KTSP pendidikan menengah diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pada tataran implementasi kurikulum secara umum,  implementasi KTSP meliputi pengembangan silabus dan RPP, pelaksanaan proses pembelajaran dan cara penilaiannya. Dalam konteks pelaksanaan kurikulum, hasil penilaian dapat diamati melalui indikator-indikator yang tercermin dalam rangkaian kegiatan pembelajaran, sebagai bentuk implementasi kurikulum. Untuk melihat sejauhmana keberhasilan dari implementasi kurikulum, sudah barang tentu membutuhkan waktu dan proses, karena hasil dari suatu proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang terus menerus dan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum masuk pada persoalan pokok dari tulisan ini, terlebih dahulu perlu dijelaskan sepintas mengenai pengertian kurikulum sebagai landasan untuk pembahasan selanjutnya. Pengertian kuri-kulum yang paling umum adalah seperangkat mata pelajaran yang ditetapkan untuk diajarkan di sekolah. Seringkali pula kurikulum diartikan sebagai materi atau bahan pelajaran dalam buku teks yang ditetapkan atau ditawarkan untuk diajarkan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian kurikulum ini begitu banyak dianut oleh orang awam, bahkan oleh banyak pendidik, sehingga jika berbicara tentang kurikulum (termasuk pe-ngembangannya), mereka mengasosiasikannya dengan mata pelajaran atau materi pelajaran. Seiring dengan itu, pedoman tertulis tentang mata pelajaran itu biasa pula dianggap kurikulum. Definisi lain diajukan Beauchamp (1975) yang melihat kurikulum sebagai “document to be used as a point of departure in instructional planning”. Di samping itu, Taba (1962) melihat kurikulum sebagai “plan for learning”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kurikulum sebagai materi pelajaran berkembang pada tahun dua puluhan sampai dengan awal tiga puluhan dengan munculnya tiga ketentuan, yaitu (1) kurikulum harus dilengkapi dengan pernyataan tentang objektif pengajaran dalam silabus, (2) silabus itu perlu diujicobakan di lapangan, dan (3) silabus itu perlu dievaluasi pelaksanaannya dan kemudian direvisi untuk perbaikan. Salah satu kelemahan dari konsep ini adalah belum kelihatan kaitan antar materi mata pelajaran dengan peserta didik. Konsep ini berkembang terus dengan terbitnya buku Caswell dan Campbell. Menurut Gress (1968) kedua pakar ini menemukan bahwa kesesuai-an antara kurikulum formal dengan implementasinya di sekolah sedikit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu mereka mengajukan kurikulum be-rupa pengalaman (learning experiences) yang benar-benar dimiliki peserta didik sebagai hasil implementasi dari kurikulum tertulis tersebut. Sejalan dengan pikiran ini, Zais (1976) mengemukakan bahwa “kalau kita mengevaluasi kurikulum, kita tidak cukup hanya mengevaluasi doku-men kurikulum itu saja, tetapi lebih dari itu mengevaluasi pengetahuan, keterampilan, sikap yang dimiliki peserta didik sebagai hasil dari implementasi kurikulum tertulis itu”. Kurikulum sebagai pengalaman belajar yang dirancang sekolah (planned learning experiences), merupakan konsep kurikulum yang banyak dianut para pakar pendidikan. Sebagian ahli menganggap bahwa pengertian kurikulum di atas terlalu luas, dan ada pula yang menganggap terlalu sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari adanya pro dan kontra mengenai berbagai konsep kurikulum yang dipaparkan para pakar tersebut di atas, yang paling penting adalah bahwa pengalaman belajar peserta didik  merupakan sesuatu yang dianggap paling relevan. Sebab konsep ini merupakan hasil langsung dari implementasi kurikulum sekolah, dan merupakan keinginan yang akan dicapai negara kita saat ini (baik kurikulum 2004 yang telah lalu maupun kurikulum 2006 sekarang ini). Walaupun begitu,  para peserta didik menyadari, bahwa peng-alaman yang diperolehnya di luar sekolah merupakan muatan yang tidak dapat diabaikan pada keberhasilan implementasi kurikulum formal. Kedua muatan kurikulum tersebut saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain. Atas dasar inilah, mengapa selalu ada upaya perubahan dan penyempurnaan kuriku-lum kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya itu patut dihargai, mengingat kondisi bangsa Indonesia saat ini sedang memasuki periode yang amat penting dalam rangkaian pembaharuan sistem pen-didikan nasional. Usaha keras perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas lu-lusan pada setiap jenjang pendidikan dengan mem-perhatikan masalah keter-kaitan dan kesepadanan. Untuk itu, diperlukan seperangkat kurikulum yang relevan dengan sistem pendidikan nasional dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha untuk mengembang-kan atau menyesuaikan kurikulum yang relevan dengan sistem pendidikan nasional, perlu diupayakan secara terus menerus. Minimal ada tiga alasan pokok mengapa usaha itu perlu dilakukan terus, yakni 1) adanya perubahan paradigma baru pendidikan; 2) adanya perubahan sosial budaya; ekonomi dan politik akibat pengaruh globalisasi, dan 3)  tuntutan terhadap peningkatan kualitas lulusan yang sangat diperlukan bagi terwujudnya sumber daya manusia yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsep  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan digunakannya kuri-kulum 2006 (KTSP),  perubahan kurikulum 2004 ke 2006, merupakan upaya pembaharuan atau pe-nyesuaian kurikulum yang didasarkan pada standar isi dan standar kompetensi lulusan yang diharapkan sejalan dengan kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya KTSP didasari oleh adanya Undang-undang Sisdiknas no. 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Disebutkan di dalamnya bahwa kurikulum pada dasarnya merupakan rencana pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tersebut meliputi tujuan pendidikan nasional yang  sesuai dengan kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan kurikulum dalam KTSP pada intinya mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar pendidikan nasional tersebut terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KTSP pada jenjang pendidikan menengah (SMA, MAN), disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada standar isi (SI)  dan standar kompetensi lulusan (SKL), serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Tuju-annya adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-undang Republik Indonesia no. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pada Bab 11 Pasal 3  dijelaskan bahwa “Pendidik-an nasional berfungsi  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada undang-undang tersebut,  KTSP dikembangkan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:  1) berpusat pada potensi, perkembangan, ke-butuhan, dan kepentingan peserta didik;  2) beragam dan terpadu;  3) tanggap terhadap perkembangan IPTEKS;  4) relevan dengan kebutuhan kehidupan;  5) komprehensif dan ber-kesinambungan;  6) belajar sepanjang hayat (life long education);  7) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan komponen-kom-ponen KTSP meliputi:  a) tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan;  b) struktur dan muatan kurikulum;  dan  c) kalender pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk KTSP tingkat pendidikan menengah (SMA), tujuan pendidikannya adalah meningkatkan ke-cerdasan, pengetahuan, ke-pribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut.  Struktur dan muatan kurikulum mencakup se-jumlah kelompok mata pelajaran, yakni mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu penge-tahuan dan teknologi, estetika, dan mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan. Mata pelajaran beserta alokasi waktu berpedoman pada struktur kurikulum yang tercantum dalam standar isi. Sementara muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah.  Hal-hal lainnya berkenaan pula dengan kegiatan pengembangan diri,  peng-aturan beban belajar,  ketuntasan belajar, kenaikan kelas dan kelulusan, penjurusan,  pendidikan ke-cakapan hidup,  dan pendidikan berbasis keung-gulan lokal dan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran implementasi kurikulum,  implementasi KTSP (kurikulum 2006) pada dasarnya adalah pengem-bangan silabus, pelaksanaan proses pembelajaran, sistem penilaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silabus merupakan rencana dan pedoman untuk melaksanakan pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan me-nerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan standar proses pendidikan yang disarankan oleh Badan Nasional Sstandar Nasional (BNSP).  Sedangkan sistem penilaian mencakup jenis ujian, bentuk soal dan pelaksanaannya. Tingkat keberhasilan yang dicapai peserta didik dilihat pada kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikuasai sesuai dengan standar kompetensi dan prosedur tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi persoalan adalah bagaimana mengem-bangkan silabus pembel-ajaran di SMA  agar sejalan atau sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam menghadapi masa depannya. Materi, strategi, media dan evaluasi seperti apa yang dibutuhkan dalam im-plementasi KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam usaha mengimplementasikan kuri-kulum 2006 (KTSP) dengan berbagai kompetensi yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Dirjen Dikdasmen Dr. Indra Djati Sidi pernah menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam tulisannya yang berjudul “Memper-timbangkan Paradigma Baru Bagi Pendidikan”. Ia menyarankan untuk masa depan agar para pendidik, demi perubahan dan tantangan zaman hendaknya dapat mengubah pola pikir dan perilaku dari mengajar (teaching) menjadi belajar (learning) yang berarti proses pendidikan yang dijalankan selama ini berubah menjadi “proses bagaimana belajar bersama antara guru dan peserta didik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, apa yang disampaikan oleh komisi internasional tentang pendidikan abad XXI yang dilaporkan pada UNESCO dengan topik “Belajar, Harta Karun di Dalamnya”. Menurut  M. Atar Semi (2000) komisi ini menegaskan bahwa pen-didikan di masa yang akan datang  harus dapat memampukan setiap orang menemukan, menggali, dan memperkaya potensi kreatif peserta didik untuk menyingkap harta karun yang ada dalam dirinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini memberikan isyarat kepada kita bahwa untuk mengembangkan atau me-nyesuaikan kurikulum di masa depan, kita perlu melakukan perubahan arah pendidikan, yakni dari pendidikan sebagai suatu porses yang dihayati seseorang untuk meraih tujuan khusus (seperti memperoleh keterampilan untuk meningkatkan  potensi ekonomis), ke arah pendidikan yang memfokus-kan pembangunan manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang menekankan pada belajar menjadi seseorang, misi utamanya adalah memberdayakan pe-serta didik untuk mengem-bangkan bakat atau talenta, dan mewujudkan potensi kreatif untuk menjalani kehidupan serta meraih tujuan pribadi masing-masing. Dalam hubungan itu, pengembangan atau pe-nyesuaian kurikulum hendak-lah dapat menghasilkan manusia berketrampilan, berpikir teratur, sistematis dan runtut, guna membentuk sifat kreatif dan mandiri, serta memiliki kepekaan sosial atau peduli lingkungan, menghargai perbedaan budaya, terampil dan tanggungjawab pribadi. Artinya kurikulum yang dikembangkan atau disesuai-kan itu harus dapat memberdayakan peserta didik untuk berpikir mandiri, kritis, dan dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampil-annya dalam kehidupan nyata sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, belajar (learning) mengimplisitkan bahwa pe-serta didik akan sangat berperan dalam mencapai kompentensi yang dituntut darinya. Ia harus berperan aktif, dan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator, bukan lagi pemegang otoritas  utama di kelas. Cara ini akan melahirkan peserta didik yang mandiri, kreatif, dan inovatif. ”Pencekokan” teori dan penghafalan sudah harus ditinggalkan, kalau mau mengutamakan learning on learn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, sasaran akhir lain dari penyempurnaan kuri-kulum adalah timbulnya perkembangan pribadi pe-rserta didik. Perkembangan pribadi ini merupakan akumulasi dari seperangkat pengalaman belajar yang menyertai materi pelajaran. Implikasinya ialah bahwa materi pelajaran merupakan “means”, bukan “ends” untuk mencapai tujuan yang lebih jauh, yaitu pengalaman peserta didik. Ini berarti bahwa pada tahap perencanaan kurikulum, materi pelajaran didesain untuk menimbulkan peng-alaman belajar yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap pelaksanaan kurikulum, berbagai ragam kegiatan belajar juga didesain untuk menimbulkan peng-alaman belajar. Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas proses belajar pada diri siswa, pada tahap evaluasi dicek apakah semua pengalaman belajar yang direncanakan untuk peserta didik telah tercapai. Hal yang sering ditemukan di lapangan adalah bahwa pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, yang menjadi fokus perhatian adalah materi pengajaran. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pengembangan kurikulum adalah untuk membuat peserta didik menguasai materi pelajaran sebanyak-banyaknya, bukan membantu mentransformasikan materi pelajaran agar menjadi pengalaman belajar yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, untuk meng-implementasikan kurikulum, diperlukan program pen-didikan. Program itu terdiri atas (1) program studi yang memuat budaya yang perlu diwariskan (cultural heritage) dan pembekalan pengetahuan (store of knowledge), (2) kegiatan belajar yang terdiri atas kegiatan-kegiatan peserta didik supaya apa yang mereka pelajari itu bermakna dan menjadi “milik” atau pengalaman mereka sendiri, dan (3) program bimbingan yang memberikan layanan kepada peserta didik agar tercapai kelancaran proses belajar-mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, setiap pengembang-an dan pengajaran harus berupaya peduli terhadap empat komponen kurikulum, yaitu (1) tujuan yang ingin dicapai, (2) materi dan pengalaman belajar yang perlu diberikan agar tujuan itu tercapai, 3) metodologi yang sesuai dengan kebutuhan, dan (4) evaluasi yang dapat mengukur hasil belajar siswa, berupa materi pelajaran dan pengalaman belajar. Oleh karena itu, setiap merancang pengajaran, keempat komponen tersebut perlu diperhatikan dengan baik dan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagaimana Mengevaluasi KTSP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melangkah maju ke arah evaluasi yang lebih tepat, sebaiknya keadaan di lapangan disurvey terlebih dahulu hal-hal yang berhubungan dengan: 1) karakterisitik peserta didik dan macam keterampilan atau pengetahuan yang  dibutuh-kan dan yang sudah dikuasai; 2) menyusun prototype silabus yang meliputi rincian materi pelajaran  dan peng-gunaannya yang ingin diliput oleh silabus tersebut; kemudian 3) menyusun silabus materi pelajaran dan urutan tesnya beserta instrument yang akan digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, hendaknya dikembangkan prosedur kelas yang meliputi antara lain metode dan teknik mengajar, penyusunan satuan pelajaran dan rencana mengajar mingguan, kemudian ditutup dengan evaluasi terhadap siswa, program dan metode atau teknik mengajar untuk menjadi masukan perbaikan materi pelajaran, apakah cocok antara kemampuan dengan tujuan atau tidak? Bila tidak, maka dilakukan perbaikan atau penyesuaian materi atau metodologi seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah lain yang perlu diperhatikan dalam pengem-bangan kurikulum 2006 (KTSP) adalah rambu-rambu pembelajarannya. Misalnya pembelajaran ditujukan untuk apa, diarahkan ke mana, tema yang digunakan untuk mencapai sasarannya ba-gaimana, bobot pembelajaran seperti apa, dan bagaimana memilih gradasi (tingkatan) bahan agar sesuai dengan tema yang dipilih, dan lain sebagainya. Prinsip dasar dalam penentuan rambu-rambu pembelajaran, se-baiknya diatur sefleksibel mungkin sehingga memung-kinkan setiap peserta didik maupun guru sebagai pengelola pembelajaran bisa  berkreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian (evaluasi) terhadap kurikulum memang me-rupakan suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan data-data atau informasi yang diperoleh melalui hasil pengukuran, apakah sifatnya kuantitatif atau kualitatif. Maksud evaluasi adalah memberi “nilai” tentang kualitas sesuatu, tidak hanya sekedar mencari jawaban terhadap pertanyaan tentang apa;  namun lebih diarahkan pada jawaban dari pertanyaan tentang “bagaimana atau seberapa jauh sesuatu proses atau hasil suatu program kurikulum (misalnya) dapat dicapai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pelaksanaan kurikulum, hasil penilaian dapat diamati melalui indikator-indikator yang ter-cermin dalam rangkaian kegiatan pembelajaran, se-bagai bentuk implementasi kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat sejauhmana keberhasilan dari implemen-tasi kurikulum, sudah barang tentu membutuhkan waktu dan proses, karena hasil dari suatu proses pembelajaran merupakan rangkaian ke-giatan yang terus menerus dan panjang. Karena itu evaluasi terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) seyogyanya di-lakukan setelah kurikulum tersebut berlangsung, paling tidak tiga sampai empat tahun. Dengan harapan semua satuan pendidikan sejak awal telah benar-benar mempersiapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beuchamp, Georg A. , (1975), Curriculum Theory, Tihrd Edition, The Kagg Press, Illions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brown, James Dean,  (1995),  The Element of Language Curriculum,  A Systematic Approach to Program Develop-ment,  Heinle &amp;amp; Heinle Publishers, U.S.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas, (2004), Kuri-kulum Berbasis Kom-petensi, Pendidikan Pra-sekolah, Dasar dan Menengah,  Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan, S. Hamid,  (1988),  Evaluasi Kurikulum,  Departemen Pendidikan dan Kebudayan Direk-torat Jenderal Pendidikan Tinggi,  Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miller, John P. &amp;amp; Seller , Wayne,  (1985), Curri-culum,  Perspective and Practice, Longman Inc. New York &amp;amp; London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schubert, William H., Curriculum; Perspective, Paradigm, and Possibi-lity, William H. Schubert,  NewYork.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaodih, Nana Sukmadinata, (2002), Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya,  Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Willes, John &amp;amp; Bondi, Joseph,  (1989),  Curriculum Develop-ment,  A. Guide to Practice, Merrill  Publishing Company,  Columbus,  Ohio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zais, Robert, S. (1976),  Curriculum: Principles and Foundation,  Harper &amp;amp; Row Publisher,  New York&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/2475658698292826128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-implementasi-kurikulum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/2475658698292826128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/2475658698292826128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-implementasi-kurikulum.html' title='Evaluasi Implementasi Kurikulum'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-1441369956046180023</id><published>2012-01-11T23:08:00.001-08:00</published><updated>2012-03-04T22:50:11.313-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Evaluasi KTSP"/><title type='text'>Evaluasi KTSP</title><content type='html'>&lt;center style=&quot;font-size: 100%; &quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 102, 0); font-size: 85%; font-family: arial; font-weight: bold; &quot;&gt;EVALUASI KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; &quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div class=&quot;title&quot;&gt;&lt;h2 style=&quot;font-size: 100%; text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0); font-family: arial; &quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;oleh Dr. Hermana Somantrie, MA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style=&quot;font-size: 100%; text-align: center; &quot;&gt;&lt;strong style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 153);font-size:100%;&quot;&gt;http://hipkin.or.id/?cat=3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Prinsip utama evaluasi kurikulum adalah evaluasi kurikulum yang  komprehensif, evaluasi yang sistematik mencakup seluruh aspek kurikulum,  demikian pula dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sudah  banyak sekolah yang telah mengimplementasikan KTSP, baik yang  dikembangkan secara mandiri maupun dengan cara mengadopsi atau  mengadaptasi KTSP yang telah dibuat oleh pihak lainnya. Setelah melewati  suatu periode waktu tertentu, KTSP perlu dievaluasi agar kekuatan dan  kelemahannya dapat teridentifikasi. Hasil dari evaluasi tersebut dapat  digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi penyempurnaan KTSP di masa  yang datang atau sebagai informasi yang dapat digunakan bagi perumusan  kebijakan pendidikan khususnya kurikulum.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; &quot;&gt;&lt;strong&gt;A. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; &quot;&gt;Evaluasi terhadap kurikulum (&lt;em&gt;curriculum evaluation&lt;/em&gt;)  dilakukan untuk mengetahui sejauhmana kekuatan dan kelemahan suatu  kurikulum. Di Amerika Serikat, misalnya, evaluasi kurikulum dianggap  sebagai suatu aktivitas yang sangat penting karena hasilnya dapat  digunakan bagi upaya peningkatan mutu dan pembaharuan dalam bidang  pendidikan. Mengingat begitu pentingnya evaluasi kuri-kulum, The  American Evaluation Association telah mengeluarkan satu set kode etik  bagi para evaluator dalam bidang pendidikan yang dinamakan dengan “the  Guiding Principles for Evaluators”.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: &lt;em&gt;(1) &lt;strong&gt;Systematic Inquiry&lt;/strong&gt;: Eva-luators conduct systematic, data based inquiries about whatever is being evaluated; (2) &lt;strong&gt;Competence&lt;/strong&gt;: Evaluators provide competent per-formance to stakeholders; (3) &lt;strong&gt;Integrity/Honesty&lt;/strong&gt;: Evaluators ensure the honesty and integrity of the entire evaluation process; (4) &lt;strong&gt;Respect for People&lt;/strong&gt;:  Evaluators respect the security, dignity and self-worth of the  respondents, program participants, clients, and other stakeholders with  whom they interact; and (5) &lt;strong&gt;Responsibilities for General and Public Welfare&lt;/strong&gt;:  Evaluators articulate and take into account the diversity of interests  and values that may be related to the general and public welfare&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Dengan adanya kode etik semacam itu, evaluasi kurikulum yang  dilakukan oleh para evaluator yang handal akan menghasilkan informasi  kekuatan dan kelemahan kurikulum yang akurat dan obyektif.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;B. Kebijakan dan Teori&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;1. Kebijakan Evaluasi KTSP &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang kita kenal sekarang  ini dalam dunia pendidikan di Indonesia, adalah kurikulum operasional  yang disusun dan diimplementasikan sendiri oleh satuan pendidikan atau  sekolah. KTSP mulai diperkenalkan pada tahun 2006 seiring dengan  pemberlakuan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang  menjadi acuan utama dalam pengembangan KTSP.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Sejak saat itu sudah banyak sekolah yang telah mengimplementasikan  KTSP, baik yang dikembangkan secara mandiri maupun dengan cara  mengadopsi atau mengadaptasi KTSP yang telah dibuat oleh pihak lainnya.  Setelah melewati suatu periode waktu tertentu, KTSP perlu dievaluasi  agar kekuatan dan kelemahannya dapat teridentifikasi. Hasil dari  evaluasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi  pe-nyempurnaan KTSP di masa yang datang atau sebagai informasi yang  dapat digunakan bagi perumusan kebijakan pendidikan khususnya berkenaan  dengan kurikulum.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Secara kebijakan sebagai-mana yang dinyatakan dalam Undang-Undang  Nomor 20 Tahun 2003, evaluasi kurikulum merupakan salah satu aktivitas  evaluasi pendidikan karena kurikulum merupakan salah satu komponen  pendidikan. Hal itu tampak dalam pernyataan Pasal 1 Ayat (21) yang  menjelaskan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian,  penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen  pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai  bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Dalam pasal-pasal selanjut-nya tampak sangat jelas bahwa evaluasi  kurikulum dianggap sebagai aktivitas evaluasi pendidikan yang sangat  penting sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 57 dan Pasal 58.  Selengkapnya, pernyataan pasal-pasal tersebut adalah: (a) Pasal 57 Ayat  (1) menyatakan bahwa evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu  pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara  pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan; Ayat (2) menyatakan  bahwa evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program  pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan,  dan jenis pendidikan; dan (b) Pasal 58 Ayat (1) menyatakan bahwa  evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk  memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik  secara berkesinambungan; Ayat (2) menyatakan bahwa evaluasi peserta  didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga  mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk  menilai pencapaian standar nasional pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Berdasarkan hal-hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi  kurikulum mempunyai makna sebagai: (1) unsur pengendali mutu, (2)  bentuk akuntabilitas, (3) program evaluasi pendidikan, (4) pemantauan  proses, kemajuan, dan perbaikan program pendidikan, (5) aktivitas yang  dilakukan oleh lembaga yang mandiri, dan (6) program yang harus  diselenggarakan secara berkala, menyeluruh, trans-paran, dan sistemik  untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;2. Teori Evaluasi Kurikulum &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Prinsip utama dari evaluasi kurikulum yaitu bahwa untuk evaluasi  kurikulum yang komprehensif harus secara sistematik mencakup seluruh  aspek yang berkaitan dengan kurikulum. Sejumlah teoriti-kus menawarkan  model-model untuk evaluasi kurikulum yang telah mereka kembangkan,  antara lain sebagaimana yang diuraikan berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;a. Model Tyler &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Model penilaian kurikulum yang dikembangkan oleh Tyler (1950) dinamakan dengan &lt;em&gt;Goal Attainment Model&lt;/em&gt;.  Langkah-langkah pendekatan penilaian Tyler adalah: (1) Mulai dengan  penentuan tujuan penilaian. Tujuan ini harus menyatakan dengan jelas  materi yang akan dinilai dalam kurikulum; (2) Memilih, mengubah, atau  menyusun alat penilaian dan menguji obyektivitas, realibilitas, dan  validitas alat tersebut; (3) Gunakan alat penilaian untuk memperoleh  data; (4) Bandingkan data yang diperoleh dengan hasil penilaian  sebelumnya yang memperoleh data; (5) Analisa data untuk menentukan  kekuatan dan kelemahan dari kurikulum dan jelaskan alasan dari kekuatan  dan kelemahan tersebut; dan (6) Gunakan data untuk membuat perubahan  yang dianggap perlu dalam kurikulum.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;b. Model Bloom, Hastings, dan Madaus &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Bloom, Hastings, dan Madaus (1971) dalam penilaian kurikulum  me-ngembangkan model pe-nilaian sumatif dan formatif. Perbedaan pokok  diantaranya sumatif dan formatif adalah (1) tujuan, (2) waktu, dan (3)  tingkat generalisasi. Penilaian formatif adalah penilaian terhadap  kualitas kurikulum yang dilakukan setiap saat atau terus menerus selama  proses pelaksanaan kurikulum berlangsung. Hasil penilaiannya digunakan  sebagai data pelengkap dalam penilaian akhir keseluruhan pelaksanaan  kurikulum. Sebaliknya, penilaian sumatif adalah penilaian menyeluruh  yang dilakukan terhadap kualitas kurikulum pada akhir suatu periode  pelaksanaan program kurikulum. Hasil penilaiannya digunakan sebagai  pertimbangan akhir terhadap keberhasilan pelaksanaan kurikulum.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;c. Model Stufflebeam &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Stufflebeam (1971) dikenal dengan model penilaian yang ia namakan &lt;em&gt;(1) context evaluation, (2) input evaluation, (3) process evaluation, and (4) product evaluation&lt;/em&gt;, atau lebih populer dengan singkatan CIPP Model Evaluation. &lt;em&gt;Context evaluation &lt;/em&gt;adalah penilaian yang dilakukan terhadap segala hal yang menjadi &lt;em&gt;precede &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;antecedent &lt;/em&gt;(pendahulu) suatu program dan memiliki implikasi keberhasilan atau kegagalan dalam menjalankan program tersebut. &lt;em&gt;Input evaluation &lt;/em&gt;adalah penilaian yang dilakukan terhadap segala hal yang mendukung ter-selenggaranya suatu program. &lt;em&gt;Process evaluation &lt;/em&gt;adalah penilaian yang dilakukan terhadap aspek-aspek implementasi suatu program. &lt;em&gt;Product evaluation &lt;/em&gt;adalah penilaian yang dilakukan terhadap hasil atau &lt;em&gt;outcome &lt;/em&gt;atau capaian suatu program.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;d. Model Stake &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Stake (1967) mengembang-kan suatu model penilaian kurikulum dengan nama &lt;em&gt;Continguency-Conngruence Model (CCM&lt;/em&gt;) atau sering juga disebut dengan &lt;em&gt;Countenance Model&lt;/em&gt;.  Perhatian utama dalam model Stake adalah hubungan antara tujuan  penilaian dengan keputusan berikutnya berdasarkan sifat data yang  dikumpulkan. Stake melihat adanya ketidaksesuaian antara harapan penilai  dan guru. Menurut Stake penilaian yang dilakukan oleh guru tidak akan  sama hasilnya dengan penilaian yang dilakukan oleh ahli penilaian.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Model CCM dimaksudkan guna memastikan bahwa semua data dikumpulkan  dan diolah untuk melengkapi informasi yang dapat digunakan oleh pemakai  data. Hal ini berarti bahwa penilai harus mengumpulkan data deskriptif  yang lengkap tentang hasil belajar murid dan data pelaksanaan  pengajaran, dan hubungan antara kedua faktor tersebut. Di samping itu  juga, jugment data harus dikumpulkan. Stake mengartikan judgment data  adalah data yang berasal dari pertimbangan berbagai ahli mata pelajaran  dan kelompok masyarakat yang berkepen tingan dengan kurikulum.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;e. Model Provus &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Provus (1971; 1972) mengembangkan suatu pen-dekatan yang  menggabung-kan penilaian dengan teori management. Model ini mencerminkan  asumsi Provus bahwa penilaian kurikulum hendaknya memenuhi dua tujuan:  (1) melengkapi suatu proses untuk pengembangan kurikulum; dan (2)  melengkapi suatu cara penilaian manfaat suatu kurikulum.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Provus menamakan model penilaiannya dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;the discrepancy evaluation model&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Model ini membedakan antara pe-laksanaan atau kenyataan dan patokan. Perbedaan tersebut oleh Provus dinamakan &lt;em&gt;discrepancy &lt;/em&gt;(perbedaan  antara dua hal yang harusnya sama). Provus menyarankan bahwa  karakteristik model penilaian diskrepansi antara standar dan realitas  ditandai dengan 5 karakteristik: (1) design, (2) installation, (3)  process, (4) product, dan (4) cost.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;C. Metodologi Evaluasi Kurikulum &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Para evaluator harus secara hati-hati menentukan meto-dologi evaluasi  kurikulum karena hal itu akan menentukan kualitas in-formasi yang  diperlukan dari sasaran penilaian. Beberapa pertanyaan berikut ini perlu  dipertimbangkan agar penilaian kurikulum meme-nuhi ketentuan ilmiah  yang berlaku pada umumnya:&lt;/p&gt; &lt;ul style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;li&gt;What is the evaluation design?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Why was this one chosen?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What are the limits of this design?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;How were instruments selected?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Are they the most appropriate available for these students, this curriculum?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;How can validity and reliability be demon-strated?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Were instruments developed by the staff?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What was the develop-ment process?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What was done to ensure the validity and reliability of the instruments?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Were instructors trained to administer, score, and interpret the results of the testing instruments?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;How was this done?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What was the schedule for data collection?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;When were instruments administered?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Were all students measured, or were sapling procedures used?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What other types of information were collected, by whom, and when?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;What was the purpose of the various data collected (e.g., context indicators, implementation indicators)?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;D. Ruang Lingkup Evaluasi Kurikulum &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Cakupan evaluasi kurikulum sangat tergantung pada informasi yang  diinginkan atau dihasilkan dari penyelenggaraan evaluasi. Oleh karena  itu, cakupan dapat berskala luas atau berskala sempit. Namun demikian,  cakupan minimal yang dapat dijadikan sebagai acuan adalah sebagaimana  yang diuraikan di bawah ini.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Objectives—&lt;/strong&gt;clarity; limits achievable and suitable for evaluation.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Contents—&lt;/strong&gt;appropriate levels for the students;  modern integration with other elements; achieving the objectives,  infusing variety and information dissemination so that it is able to  cope with the individual differences. Some elements used for evaluation  of content include: probing, teachers’ reports, meetings, and views of  inspectors, parents, as well as specialists.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Methods of teaching and educational aids—&lt;/strong&gt;asking  students and teachers about the efficiency appropriate to the methods  through questionnaires, observations, surveys, studies, and other  evaluating teaching aids.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Evaluating students—&lt;/strong&gt;there are targeted classes to ensure achieving the objectives through essays, trends, achievement and attitude tests.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Evaluating teachers—&lt;/strong&gt;teachers are evaluated with  regard to their efficiency, extent of achieving and imple-menting the  curriculum, weakness in scientific and methods of teaching aspects,  knowledge and information. They are evaluated by: inspectors, reports,  student opinions, self-evaluation, written tests to discover  competencies.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;E. Pemanfaatan Temuan Evaluasi Kurikulum &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Temuan atau &lt;em&gt;findings &lt;/em&gt;adalah jantungnya dari seluruh proses  evaluasi kurikulum. Temuan akan sangat ditentukan oleh metodologi yang  digunakan dalam evaluasi kurikulum. Jika instrumen yang digunakan  relevan, sahih, dan valid, temuan tidak perlu diragukan lagi  otentisitasnya dan dapat digunakan untuk berbagai kepentingan. Temuan  dapat dimanfaatkan antara lain untuk berikut ini.&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;li&gt;To provide us with a database of information regarding pedagogical processes.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;To provide us with information and to facilitate decision-making regarding the curriculum and its elements.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The outcomes of evaluation are the basis for developing and modifying the curriculum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;To discover ways of learning and finding the points of strength and weakness in the curriculum.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;To show students a productive pathway to learning.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;To discover the students’ areas of strengths and weaknesses.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;To discover the aspects of teaching that require greater focus and efforts.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;To share with teachers all they need to &lt;strong&gt;learn &lt;/strong&gt;to teach students better.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;strong&gt;F. Pelaporan Hasil Evaluasi &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;Ketika menulis laporan hasil evaluasi kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;font-size: 100%; text-align: justify; &quot;&gt;&lt;li&gt;Address all points specified in the funding agency’s guidelines,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Avoid using technical terms or jargon,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Write in the active voice,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Use a visually appealing format, including tables and figures,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organize the findings around objectives or evaluation questions,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Be objective, reporting both positive and negative findings. Provide plausible explanations wherever possible,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Speculate about findings only when the data or reasoned arguments justify such conjectures,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Acknowledge the pitfalls encountered,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Write one report that will meet the needs of various audiences,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Solicit comments on the draft report from various audiences, and Present oral evaluation report(s) before finalizing the written document&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/1441369956046180023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-ktsp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1441369956046180023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/1441369956046180023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-ktsp.html' title='Evaluasi KTSP'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-5419546301413658712</id><published>2012-01-11T22:05:00.001-08:00</published><updated>2012-03-04T22:50:02.752-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Evaluasi Pengembangan KTSP Suatu Kajian Konseptual"/><title type='text'>Evaluasi Pengembangan Kurikulum</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 51, 0); font-size: 100%; &quot;&gt;Evaluasi Pengembangan KTSP Suatu Kajian Konseptual&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 153, 0);&quot;&gt;oleh Prof. Dr. Said Hamid Hasan, MA.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Evaluasi  kurikulum KTSP  diarahkan pada beberapa sasaran, diantaranya  tingkat pemahaman ide dan prinsip pengembangan KTSP;  keberhasilan pengembangan dokumen  KTSP dan keberhasilan  KTSP. Fokus evaluasi diarahkan pada ide,pengembangan dokumen, pelaksanaan KTSP dan hasil belajar.Untuk  menentukan tingkat keberhasilan   pengembangan KTSP secara komprehensif  digunakan  dua dimensi , yaitu dimensi nilai dan dimensi arti. Evaluasi dimensi nilai berkaitan dengan keunggulan  intrinsik KTSP tanpa mempersoalkan lingkungan mana  KTSP dilaksanakan, sedangkan dimensi arti  berkaitan dengan nilai pengaruh KTSP terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 2003) maka kebijakan pendidikan terutama dalam pengembangan kuri-kulum di Indonesia mengalami perubahan mendasar. Perubahan men-dasar tersebut berupa wewenang mengembangkan, mengelola dan melaksanakan pendidikan dan kurikulum. Setelah UUSPN 2003 berlaku, wewenang mengem-bangkan, mengelola dan melaksanakan pendididkan tidak lagi sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah pusat tetapi sudah berbagi dengan pemerintah daerah. Sistem desentralisasi pendidikan yang dibangun oleh UUSPN 2003 merupakan konsekuensi dari perubahan sistem pemerintahan dari peme-rintahan sentralistis ke otonomi daerah dan pendidikan adalah aspek pelayanan pemerintah pusat yang didelegasikan ke pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang kurikulum, UUSPN 2003 menetapkan adanya ketentuan yang menjadi wewenang peme-rintah pusat dan pemerintah daerah. Pasal 35 UUSPN  2003 menetapkan bahwa pemerintah pusat menentukan standar nasional yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Standar nasional diartikan sebagai suatu kualitas atau kondisi minimal yang harus ada. UUSPN 2003 menentapkan delapan standar nasional meliputi standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Pada saat sekarang Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional baru menetapkan dua standar nasional yaitu standar isi dan standar kompetensi lulusan. Standar lain belum ditentukan dan sewajarnya ditetapkan segera karena satu standar berkaitan dengan standar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UUSPN 2003 pasal 36 menetapkan berbagai per-syaratan pengembangan kurikulum. Kurikulum yang dikembangkan harus me-ngacu kepada standar nasional dan diarahkan untuk mewujudkan tujuan pen-didikan nasional dan dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski pun demikian, kurikulum yang dikembangkan harus memperhatikan kepentingan peserta didik, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, agama, dan kehidupan bangsa dalam dunia internasional. Pasal 37 UUSPN 2003 menetapkan isi kurikulum yang harus ada pada setiap kurikulum yang dikembang-kan sekolah berbentuk berbagai label mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan pelaksanaan UUSPN 2003 ditetapkan melalui peraturan pemerintah (PP) peraturan menteri (Permen). Pada tahun 2006, Mendiknas mengeluarkan Permen nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI)  dan Permen nomor 23 tahun 2005 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Sebelum kedua Permen tersebut, Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 (PP 19 tahun 2005) tentang Badan Standar Nasional sebagai tindak lanjut pasal 35 ayat (4) UUSPN 2003. Pada saat sekarang baru satu PP dan tiga Permen tersebut yang dihasilkan Pemerintah sebagai peraturan pelaksana dalam pengembangan kuri-kulum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kajian Teori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Evaluasi Kurikulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak definisi mengenai evaluasi yang telah dikemukakan para akhli. Secara akademik dapat dikatakan bahwa filosofi keilmuan yang dianut seseorang berpengaruh besar terhadap pengertian evaluasi yang dikemukakan. Worthen dan Sanders (1987:23) menjelaskan masalah ini dengan mengatakan ”the image the evaluator holds of evaluation work: its responsibilities, duties, uniqueness, and similarities to related endeavors” yang membedakan definisi eva-luasi yang satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, keanekaragaman definisi evaluasi tidak berarti bahwa tidak ada persamaan di antara definisi-definisi tersebut.  Worthen dan Sanders (1987) menggunakan beberapa kriteria untuk membedakan dan melihat persamaan di antara definisi yang pernah dikemukakan para akhli. Antara lain mereka mengemukakan “diverse conceptions of educational evaluation”, “origins of alternative views of evaluation”, “philosophical and ideological differences”,  “methodological backgrounds and preferences”, “different metaphors of evaluation”, “responding to different needs in education”, “practical considerations” (Worthen dan Sanders, 1987:41-59). Hal-hal tersebut menurut keduanya merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam naskah akademik ini, evaluasi diartikan sebagai usaha sistematis mengum-pulkan informasi mengenai  suatu KTSP untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan penentuan nilai dan arti KTSP tersebut dalam suatu konteks tertentu. Adanya tambahan konteks ini sangat penting karena manfaat dan kebermaknaan suatu KTSP[1] selalu dibatasi oleh waktu, kepentingan peserta pendidik, masyarakat dan bangsa yang dilayani KTSP tersebut. Suatu KTSP yang sesuai untuk suatu konteks waktu tertentu belum tentu sesuai untuk waktu  dan peserta yang lain walau pun diberlakuakn di tempat/ satuan pendidikan yang sama. Oleh karena itu suatu KTSP pendidikan termasuk kurikulum, selalu berubah sesuai dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh kurun waktu dimana KTSP itu direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KTSP juga terbatas oleh konteks ruang. Suatu yang dianggap baik untuk wilayah geografis tertentu belum tentu sesuai untuk wilayah geografis lainnya. Oleh karena itu dalam menentukan nilai dan arti suatu KTSP, evaluasi tidak dapat dilepaskan dari konteks ruang geografis mana KTSP itu dilaksanakan. Adanya konsep mengenai differensiasi dan multikultural memberikan petunjuk yang kuat bahwa evaluasi harus memperhatikan dimensi ruang sebagai suatu konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan konsep multikultural maka konteks lain yang berpengaruh terhadap kegiatan evaluasi adalah peserta didik. Suatu KTSP dikembangkan untuk peserta didik atau sekelompok peserta didik tertentu dalam lingkungan geografis, budaya, dan waktu tertentu. Oleh karenanya evaluasi harus memperhatikan karakteristik peserta didik ini sebagai suatu konteks penting dalam evaluasi. Evaluasi yang tidak memperhatikan konteks ini akan memberikan hasil kajian yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks lain yang harus diperhatikan dalam evaluasi adalah filsafat dan teori yang digunakan. Ketika suatu KTSP menggunakan filsafat esensialis maka evaluasi harus memperhatikan karakteristik filosofi ini serta pemanfaatannya untuk jenjang pendidikan tertentu, satuan pendidikan tertentu, atau bahkan persyaratan tertentu yang menjadi ciri khas filsafat ini. Demikian pula ketika sebuah KTSP menggunakan filsafat lainnya. Ketika suatu KTSP menggunakan teori konstruksi sosial maka evaluasi proses belajar atau hasil belajar harus memberikan penilaian dan arti berdasarkan karakteristik konstruktivisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian nilai (merit) dalam suatu evaluasi berkenaan dengan keunggulan intrinsik KTSP tersebut tanpa mempersoalkan keterkaitan-nya dengan lingkungan mana KTSP tersebut dilaksanakan atau disebut juga dengan istilah ”context free evaluation”  atau ”value of its own, implicit, inherent, independent of any possible applications” (Guba dan Lincoln, 1985:39). Ke-unggulan KTSP pendidikan  tersebut dievaluasi ber-dasarkan kriteria yang dikembangkan dari KTSP itu sendiri. Seorang evaluator yang bekerja dengan rumusan ini akan menilai sebuah KTSP pendidikan dari keunggulan-keunggulan yang dimiliki secara teoritik dan KTSP praktik. Berbagai komponen KTSP pendidikan tersebut dinilai sebagai sesuatu yang harus dibandingkan dengan ke-unggulan filosofi dan teori yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian pemberian arti (worth)[2] dalam evaluasi lebih mengarah kepada makna atau nilai pengaruh yang diberikan suatu KTSP terhadap lingkungan. Ini merupakan evaluasi terhadap dampak dalam istilah yang dikemukakan oleh Cronbach. Guba dan Lincoln memberikan penekanan khusus pada arti sebagai karakteristik dari definisi evaluasi yang mereka kemukakan. Suatu KTSP yang dievaluasi,  meritnya mungkin saja sangat baik. KTSP tersebut memiliki berbagai keunggulan dan kesesuaian filosofi, desain mau pun berbagai aspek lainnya. Permasalahan yang dikaji dalam worth (arti) ialah apakah dalam pelaksanaan KTSP tersebut bekerja sebaik yang direncanakan dan memberikan dampak yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya , Guba dan Lincoln (1985:41-42) menulis tentang ”merit” (nilai) dan ”worth” (arti) dengan istilah evaluasi intrinsic dan evaluasi extrinsic. Mereka menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In one sense, both merit and worth are variable. While merit is an estimate of intrinsic value and would therefore seem to be an immutable property of the entity whose merit is being assessed, it is clear that persons competent to judge merit may differ among themselves both in stating indicators of merit and in assessing the merit of any particular entity of those indicators. . . …………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Similarly,one may ask how one determines characteristics of worth and then assess a particular entity on them. How does one tell whether a curriculum is appropriate to the learning ability of the youngsters exposed to it? How does one tell whether this particular language arts curriculum possesses worthwhile characteristics?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dunia pendidikan Indonesia yang menempatkan wewenang pengembangan program, kurikulum dan kebijakan di jenjang pemerintah pusat dan pemerintah daerah maka kajian nilai (merit) dan arti (worth) sangat diperlukan. Ketika suatu program, kurikulum dan kebijakan dikembangkan untuk satu satuan pendidikan bukan tidak mungkin program, kurikulum dan kebijakan tersebut mengambil contoh dan model dari yang dikembangkan di negara lain, di wilayah pendidikan lain, atau merupakan kesepakatan bersama pada tingkat kota atau kabupaten yang berbeda karakteristik masyarakatnya. Dalam konteks seperti ini maka program, kurikulum, dan kebijakan tadi  tidak sepenuhnya memperhatikan karakteristik daerah dan dampak mungkin merupakan sesuatu yang menjadi masalah. Kalau pun program, kurikulum, dan kebijakan  untuk satuan pendidikan tertentu sepenuhnya di-kembangkan oleh guru dan komite sekolah di suatu satuan pendidikan dan hasil evaluasi yang berkenaan dengan nilai menunjukkan bahwa KTSP tersebut sangat baik, evaluasi yang bersangkutan dengan worth (arti) tetap diperlukan. Evaluasi tetap harus mempertanyakan apakah KTSP yang telah dikembangkan dan di-laksanakan menunjukkan ada bukti-bukti empirik adanya dampak terhadap masyarakat dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, istilah ”merit” dan ”worth”  bukan istilah baru. Tulisan Stufflebeam dan kawan-kawan dalam buku mereka yang berjudul ”Educational Evaluation” telah menggunakan istilah tersebut. Tetapi mereka tidak memasukkan keduanya sebagai atribut penting suatu evaluasi. Scriven (1978) dalam tulisannya yang berjudul ”Merit vs. Value” telah pula menggunakan keduanya untuk evaluasi. Beberapa sarjana dalam bidang evaluasi tidak membahas  keduanya secara mendalam tetapi lebih banyak menempatkan  “merit” dan “worth” sebagai dimensi evaluasi yang saling melengkapi. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil evaluasi yang komprehensif, dimensi “merit” dan “worth” menjadi dimensi yang digunakan dalam menetapkan kebijakan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ruang Lingkup Evaluasi Pengembangan KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur dan proses pengembangan KTSP berbeda dari pengalaman Indonesia selama ini dalam mengembangkan kurikulum. Hal ini bukan disebabkan oleh penerapan model kurikulum berbasis kom-petensi tetapi lebih disebabkan penggunaan pendekatan standard dalam pendidikan (Burke, (Ed.) (1995); Tucker dan Codding (1998) dan oleh kewenangan satuan pendidikan dalam pengembangan KTSP. Jika pada masa sebelumnya satuan pendidikan menerima kurikulum lengkap dari pemerintah pusat pada saat sekarang sekolah harus melengkapi berbagai kom-ponen kurikulum yang telah ditetapkan pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  diagram di atas terlihat bahwa kebijakan pengembangan kurikulum di Indonesia terdiri atas dua jenjang yaitu jenjang nasional dan jenjang satuan pendidikan. Kebijakan ini menggambarkan bahwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram berikut menggam-barkan keseluruhan proses pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian penting yang secara nasional dianggap penting dan harus menjadi patokan pengembangan kurikulum di seluruh wilayah Indonesia, haruslah ditentukan secara nasional. Oleh karena itu dalam diagram tersebut dinyatakan bahwa analisis kebutuhan masyarakat untuk menentukan kualitas yang harus dikembangkan kurikulum dilakukan pada tingkat nasional. Hal ini bersesuaian dengan pengertian standar dan gerakan standar dalam literatur bahwa standar bukan kurikulum tetapi merupakan bagian penting yang menjadi pedoman pengembangan suatu kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengembangan kurikulum menghasilkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Kedua standar ini telah dinyatakan berlaku resmi melalui Peraturan Menteri Diknas yaitu Permen Diknas nomor 22 dan Permen Diknas nomor 23, masing-masing pada tahun 2005. Dalam tulisan ini pengembangan kurikulum pada tingkat nasional dianggap sebagai sesuatu yang di luar fokus kajian evaluasi kurikulum yang dikemukakan sekarang. Permasalahan yang terkait dengan ide pengembangan kurikulum  yaitu apakah pokok-pokok pikiran yang dimaksudkan dalam SKL, SI, dan beberapa ketentuan pengembangan KTSP difahami oleh para pengembang KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jenjang satuan pen-didikan proses pengembang-an dokumen KTSP dilakukan oleh setiap satuan pendidikan. Pengembangan pada jenjang ini adalah merupakan finalisasi ke-seluruhan kegiatan konstruksi dokumen kurikulum karena pada jenjang dan unit satuan pendidikan ini para pengembang kurikulum harus menempatkan berbagai komponen yang telah ditetapkan Pemerintah Pusat ditambah dengan unsur yang harus dikembangkan oleh pengembang KTSP. Unsur-unsur tersebut adalah mengembangkan materi mata pelajaran muatan lokal dan kepribadian, ditambah ketetapan mengenai jumlah sks final untuk setiap mata pelajaran. Artinya, pada jenjang satuan pendidikan inilah suatu dokumen KTSP dinyatakan final. Dalam ketetapan yang dikeluarkan oleh BSNP dikatakan bahwa dokumen KTSP baru dianggap sah apabila ditandatangani oleh Kepala Sekolah dan Ketua Komite Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan ketetapan pada Permen nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.    Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.    Beragam dan terpadu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,  teknologi, dan seni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaat-kan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.   Relevan dengan  kebutuhan kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan kurikulum dilakukan dengan   me-libatkan pemangku kepentingan (stake-holders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan  kemasyarakatan, dunia usaha dan  dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi,  keterampilan  berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan voka-sional merupakan kenis-cayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.    Menyeluruh dan berkesinambungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara ber-kesinambungan antar semua jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.     Belajar sepanjang hayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum diarahkan kepada proses pengem-bangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.    Seimbang antara ke-pentingan nasional dan kepentingan daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepenting-an nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pemahaman dan kemampuan pengembang KTSP dalam menerapkan kedelapan prinsip ini harus menjadi bagian dari kajian evaluasi KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tujuan Evaluasi Pengembangan KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan evaluasi kurikulum KTSP adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.         Menentukan tingkat pemahaman para pengembang KTSP mengenai ide kurikulum yang dikembangkan di tingkat nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.        Menentukan tingkat pemahaman dan ke-trampilan pengembang KTSP mengenai prinsip-prinsip pengembangan KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.         Menentukan tingkat keberhasilan pengembangan dokumen KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.        Menentukan tingkat pelaksanaan KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.         Menentukan tingkat keberhasilan KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima tujuan evaluasi yang dikemukakan di atas berbeda-beda satu  sama lainnya sesuai dengan kepentingan dan waktu ketika seseorang/lembaga melakukan evaluasi. Kelima tujuan evaluasi yang dikemukakan di atas bukanlah merupakan keseluruhan yang harus digunakan dalam setiap kegiatan evaluasi. Kelima tujuan tersebut di atas dapat digunakan secara terpisah tergantung pada fokus kajian dan pemanfaatan hasil evaluasi (utility).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pemahaman para pengembang KTSP mengenai ide kurikulum adalah sesuatu yang kritikal dalam menentukan keberhasilan pengembangan dokumen dan implementasi KTSP. Tanpa pemahaman yang baik mengenai ide kurikulum yang dikembangkan di tingkat nasional maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Sangat besar kemungkinan KTSP yang dikembangkan tidaklah sesuai dengan pemikiran para pengembang ide kurikulum. Pemahaman tersebut ditandai oleh pemahaman mengenai arti kurikulum berdasarkan kompetensi, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi (SI) bagi pengembangan KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentukan tingkat pemahaman dan ketrampilan yang dimiliki para pengembang KTSP mengenai prinsip-prinsip pengembangan KTSP adalah aspek kedua proses pengembangan KTSP yang kritikal. Sesuai dengan panduan yang diterbitkan BSNP maka KTSP haruslah dikembangkan berdasarkan delapan prinsip yaitu berpusat pada potensi dan kepentingan peserta didik, beragam dan terpadu, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, relevan dengan kebutuhan hidup, menyeluruh dan berkesinambungan, relajar sepanjang hayat, dan seimbang antara kepentingan nasional dan daerah. Para pengembang KTSP tidak saja harus memahami setiap prinsip tersebut serta implikasi terhadap pengembangan dokumen KTSP tetapi juga harus memiliki keterampilan menerapkan prinsip tersebut dalam mengembangkan dokumen KTSP dan implementasi KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentukan tingkat keber-hasilan pengembangan dokumen KTSP ádalah fokus penting berikutnya. Evaluasi KTSP harus dapat menentukan apakah dokumen KTSP yang telah dikembangkan statu satuan pendidikan (dalam hal ini sekolah) telah memenuhi berbagai patokan yang telah dipersyaratkan. Tentu saja dokumen KTSP tersebut ádalah hasil dari pekerjaan yang dilakukan para pengembang (guru) ber-dasarkan pedoman dan kemampuan yang mereka miliki. Meski pun demikian, sesuatu yang harus diingat bahwa berbagai faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan statu dokumen kurikulum tidak dapat diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan dokumen KTSP tersebut para pengembang harus pula mengembangkan materi muatan lokal yang harus dilemas menjadi mata pelajaran dan materi pendidikan kepribadian yang tidak dilemas dalam bentuk mata pelajaran. Evaluasi harus dapat mengungkapkan proses pengembangan muatan lokal dan kepribadian: bagaimana satuan pendidik mengidentikasi materi muatan lokal dan mengemasnya menjadi mata pelajaran serta kemudian memasukkannya dalam struktur kurikulum yang telah ditetapkan pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetukan tingkat keber-hasilan pelaksanaan KTSP terdiri atas dua fokus. Fokus pertama berkenaan dengan pengembangan silabus oleh para guru. Fokus kedua ádalah pelaksanaan dalam proses pembelajaran di kelas. Pengembangan silabus dapat dikatakan sebagai suatu bagian dari implementasi KTSP tetapi dapat juga dipandang sebagai suatu bagian dari pengembangan dokumen KTSP. Dalam tulisan ini, pengembangan silabus dianggap sebagai bagian dari implementasi karena silabus  dapat saja dilakukan oleh guru yang tidak terlibat dalam pengembangan KTSP. Banyak guru yang tidak diikutsertakan dalam pengembangan suatu do-kumen KTSP karena berbagai faktor seperti jumlah guru yang banyak dari suatu mata pelajaran, dana yang tersedia tidak mencukupi, per-timbangan agar kelas-kelas dapat terus berproses selama dokumen KTSP disusun, kepemimpinan kepala sekolah, dan sebagainya. Dalam pengembangan KTSP di banyak satuan pendidikan silabus dikembangkan lebih lanjut menjadi RPP tetapi ini bukanlah sesuatu yang menjadi tuntutan BSNP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran di kelas merupakan fokus yang teramat penting. Posisi penting tersebut disebabkan oleh dua hal. Pertama, proses pembelajaran di kelas merupakan kegiatan aktualisasi dari dokumen kurikulum atau kurikulum sebagai rencana. Dokemen kurikulum yang paling dekat dengan proses pelaksanaan ádalah yang dinamakan silabus. Bagaimana rencana yang telah dikembangkan dalam silabus tersebut dilaksanakan merupakan keputusan evaluasi yang sangat diperlukan dalam mengkaji keberhasilan pelaksanaan KTSP secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, posisi penting proses pembelajaran tersebut disebabkan oleh kedudukan proses sebagai pengalaman belajar nyata (observed curriculum) terhadap hasil belajar. Dalam situasi mana pun, hasil belajar yang dimiliki peserta didik adalah hasil dari pengalaman belajar yang diikutinya dan bukan pengaruh dari kurikulum sebagai dokumen. Berbagai faktor lain memang berpengaruh pula terhadap hasil belajar tetapi dalam konteks evaluasi kurikulum dan pengembangan kurikulum maka hasil belajar adalah pengaruh langsung dari implementasi kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi memang suatu kegiatan yang sangat kompleks. Berbagai faktor yang muncul saat pelaksanaan proses pembelajaran berpengaruh terhadap pelaksanaan dari apa yang sudah dirancang dalam dokumen kurikulum. Faktor-faktor seperti kondisi pribadi guru, kondisi peserta didik, lingkungan kelas, suasana sekolah pada hari itu, ketersediaan perlengkapan dan sumber belajar  akan memberikan pengaruhnya yang cukup menentukan dalam implementasi suatu dokumen kurikulum. Tentu saja berbagai faktor tersebut tidak boleh lepas dari fokus evaluasi dan diperhitungkan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan KTSP secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan tingkat keber-hasilan atau kegagalan KTSP merupakan suatu per-timbangan yang bersifat menyeluruh. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan mengenai hasil belajar yang diperoleh peserta didik, berbagai hasil kajian pada dimensi sosialisasi, dan proses kemudian dilakukan judgment berdasarkan kriteria yang ada untuk menentukan tingkat keberhasilan tersebut.  Keberhasilan itu dapat saja bersifat keberhasilan dalam dimensi nilai (merit) tetapi juga dapat yang berkenaan dengan aspek arti (worth) suatu KTSP. Tujuan evaluasi dalam memberikan per-timbangan pada kedua dimensi tersebut berkaitan dengan pengertian evaluasi KTSP sebagaimana yang dikemukakan oleh Tyler (1949), Guba dan Lincoln (1985), Orient (1993), Longstreet dan Shane (1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fokus Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ruang lingkup pengembangan KTSP dan tujuan evaluasi yang telah dikemukakan maka fokus evaluasi pengembangan KTSP adalah berkenaan dengan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Ide kurikulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Pengembangkan dokumen KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Pelaksanaan KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Hasil Belajar KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus evaluasi pada pemahaman ide kurikulum adalah  sesuatu yang banyak menentukan keberhasilan pengembangan dokumen KTSP. Ide kurikulum yang dimaksudkan di sini adalah ide tentang pendekatan standar dan kompetensi yang digunakan. Standard-based curriculum dan competency-based curriculum memiliki ciri yang berbeda dari knowledge-base curriculum. Perbedaan yang mencolok adalah dari cara mengembangkan standar dan pengaruhnya terhadap kompetensi, pemilihan konten kurikulum, dan organisasi konten kurikulum. Dalam konteks ini maka pemahaman para pe-ngembang KTSP  terhadap ide kurikulum dirinci dalam berbagai hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman mengenai standard-based curriculum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman pengertian kompetensi dan karak-teristik kurikulum berbasis kompetensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman pengertian SKL dan kedudukan SKL dalam pengem-bangan KTSP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman SI meliputi Kerangka dasar, Struktur  kurikulum, Beban belajar, Kalender pendidikan, SK dan KD mata pelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan sosialisasi ide kurikulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi tentang pemahaman mengenai standard-based curriculum akan memberikan dasar bagi para pengembang kurikulum untuk memiliki frame pengembangan KTSP secara lebih baik terutama berkaitan dengan pengertian tujuan, konten, dan organisasi konten KTSP. Hal yang sama pentingnya dengan pemahaman tentang standar adalah pemahaman mengenai kompetensi dan karakteristik kompetensi serta kaitannya antara standar dengan kompetensi. Kedua pendekatan ini memiliki persamaan yang kuat dalam pengertian konten kurikulum dan organisasi konten kurikulum tetapi antara keduanya berbeda secara prinsipiil dalam tingkat abstraksi dan kedalaman. Oleh karena itu para pengembang KTSP haruslah memiliki pemahaman mengenai keterkaitan berbagai istilah yang digunakan seperti standar kompetensi lulusan, standar kompetensi, dan kompetensi dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi tentang Standar Isi diperlukan karena Standar Isi adalah frame yang harus digunakan dalam pe-ngembangan KTSP. Berbagai struktur dan ketentuan kurikulum terdapat dalam Standar Isi. Hal-hal yang terkait dengan penerapan sistem semester dan beban kerja yang diukur dan dikemas dalam satuan kredit semester merupakan hal-hal yang tak dapat dilepaskan sebagai aspek penting dari Standar Isi yang harus dikaji oleh evaluasi disamping aspek-aspek lain yang sudah disebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan sosialisasi maka fokus tersebut dapat dirinci dalam aspek-aspek waktu pelaksanaan, efektivitas pelaksanaan, dana, peserta, asesmen hasil, dan  evaluasi program. Pemahaman dan kemampuan para pengembang KTSP dan guru dalam menerapkan KTSP tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaan sosialisasi ide kurikulum. Keberhasilan pelaksanaan ide kurikulum sangat ditentukan oleh keberhasilan sosialisasi dan oleh karenanya kegiatan sosialisasi adalah bagian yang sangat kritikal dan tidak boleh dibabaikan oleh kegiatan evaluasi KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus evaluasi mengenai pengembangan dokumen KTSP ditujukan untuk menentukan apakah dokumen KTSP sudah dikembangkan sesuai dengan ide kurikulum dan prinsip pengembangan kurikulum. Dokumen kurikulum KTSP adalah rencana satuan pendidikan tersebut untuk mengembang-kan pengalaman pendidikan bagi para peserta didik. Karakteristik dokumen KTSP yang memberikan ke-sempatan setiap satuan pendidikan mengembangkan pemikiran kependidikannya bahkan boleh berbeda dari satuan pendidikan lain didaerahnya adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Keluarbiasaan itu disebabkan karena para pemikir pendidikan di satuan pendidikan tersebut memiliki kebebasan yang lebih baik dibandingkan pada masa sebelumnya. Keluarbiasaan itu menantang para pemikir pendidikan di sebuah satuan pendidikan untuk memahami dan memiliki kemampuan mengembangkan sebuah dokumen kurikulum berdasarkan ide kurikulum yang ditetapkan pemerintah pusat. Ini adalah pengetahuan dan ketrampilan baru bagi banyak guru, jika tidak dapat dikatakan seluruh guru, dalam pengembangan kurikulum. Oleh karena itu evaluasi kurikulum harus memberikan perhatian yang cukup dan luas terhadap proses dan hasil dari pengembangan dokumen KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fokus ini evaluasi pengembangan KTSP harus memperhatikan hal-hal berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)        berbagai istilah yang terdapat dalam ide dan prinsip pengembangan KTSP,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)        pemahaman dan ke-trampilan mengembangkan berbagai komponen dokumen KTSP,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)        pemahaman dan ke-terampilan mengembangkan kompetensi dalam komponen tujuan, bahan, proses, dan hasil belajar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)       pemahaman dan kemampuan mengembangkan konten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e)        pemahaman dan ke-trampilan mengembangkan materi muatan lokal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f)         kemampuan mengevaluasi keterkaitan satu komponen dengan komponen lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g)        proses pengembangan dokumen KTSP,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h)        dana yang tersedia dan digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i)          waktu yang digunakan untuk pengembangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j)          evaluasi proses pe-ngembangan dokumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi pelaksanaan KTSP adalah fokus evaluasi KTSP yang secara konseptual tidak terlalu berbeda dari evaluasi implementasi kurikulum pada umumnya. Perbedaan yang mendasar hanyalah pada jarak antara para pengembang KTSP dan para pelaksana yang sangat dekat bahkan dapat dikatakan tidak ada jarak, dibandingkan dengan pengembangan kurikulum sebelumnya yang berlaku di Indonesia.  Para pengembang KTSP adalah guru dan pelaksana kurikulum adalah mereka juga dan sejawat mereka. Oleh karena itu komunikasi antara mereka yang terlibat dalam pengembangan dokumen KTSP dengan mereka yang tidak terlibat diharapkan sangat intensif dan lebih terbuka. Lagi pula, dengan kedudukan sebagai sejawat maka kesenjangan dalam bahasa ketika menyampaikan apa yang sudah dikemas dalam dokumen KTSP diharapkan tidak terjadi. Meski pun demikian tentu saja sosialiasi semacam ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan sosialisasi yang diperlukan antara para pemikir kurikulum tingkat nasional dengan para pengembang KTSP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek-aspek yang perlu mendapatkan perhatian evaluasi pelaksanaan KTSP adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a)    Sosialisasi sejawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)   Pengembangan silabus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c)    Bantuan Profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)   Dana pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e)    Fasilitas Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f)    Sumber Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g)   Proses Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h)   Asesmen hasil belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi mengenai hasil belajar KTSP berkenaan dengan hasil belajar peserta didik baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap, kreativitas, dan kemampuan menerapkan apa yang sudah dipelajari di sekolah dalam kehidupan di masyarakat. Aspek pe-ngetahuan, sikap, ketrampilan (intelektual dan lainnya), kreativitas, dan kemampuan menerapkan hasil belajar di masyarakat merupakan evaluasi hasil belajar KTSP yang sangat serius. Hal ini dikatakan serius karena hasil ini akan digunakan untuk menentukan apakah ide kurikulum berbasis standar dan kompetensi berhasil dan jika berhasil pada tingkat mana dalam mengembangkan kemampuan yang diiden-tifikasi pada awal proses pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kenyataan yang harus diakui adalah bahwa SKL yang tercantum dalam Permen nomor 23 tahun 2005 adalah pengembangan lebih lanjut dari kompetensi yang dihasilkan ketika pemerintah mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi di awal tahun 2000 sampai tahun 2004. Oleh karena itu memang terjadi beberapa kelemahan konseptual dalam rumusan standar tersebut sehingga apabila ada kesulitan membedakan SKL tersebut dengan kompetensi maka hal tersebut bukan sesuatu yang men-cengangkan. Meski pun demikian, secara konseptual keberhasilan KTSP harus diukur dari SKL dan ukuran itu harus berkenaan dengan dua komponen konten yang ada pada rumusan standar yaitu substansif, sikap, dan keterampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dipaparkan penulis dalam makalah ini adalah fokus-fokus yang dapat dikaji dalam suatu evaluasi KTSP. Fokus-fokus tersebut dikembangkan berdasarkan pendekatan fidelity sehingga tidak terlepas dari apa yang ada pada suatu KTSP. Meski pun demikian, banyak fokus lain yang tidak dibahas dalam makalah ini tetapi dapat ditambahkan oleh mereka yang tertarik untuk melakukan evaluasi pengembangan KTSP. Fokus tentang prosedur dan pengembangan SKL dan Standar Isi serta kaitannya dengan prosedur dan penerapan kualitas yang diperlukan masyarakat di masa depan tidak dibahas dan dapat dijadikan fokus evaluasi pengembangan KTSP bagi peminat.  Fokus besar tentang pengembangan dokumen dan pelaksanaan KTSP oleh satuan pendidikan mengalahkan fokus lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai metodologi apalagi penerapan model evaluasi kurikulum tidak dibahas mengingat keterbatasan waktu seminar dan keluasan ruang lingkup tersebut. Meski pun demikian, dapat dikemukakan bahwa pendekatan metodologi yang dipikirkan adalah pendekatan kuantitatif ketika hasil evaluasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menjadi masukan kebijakan pada tingkat kota/kabupaten atau propinsi dan apalagi untuk tingkat nasional. Sedangkan metodologi kualitatif terutama dalam bentuk studi kasus dianjurkan untuk kajian evaluasi yang hasilnya akan menjadi masukan bagi satuan pendidikan yang bersangkutan. Tentu saja, model studi kasus ganda (multiple case study) dapat digunakan jika masukan hasil evaluasi digunakan bagi para pengembang KTSP di beberapa sekolah yang dijadikan evaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Botcheva, L., White, C.R., dan Huffman, L.C. (2002). Learning Culture and Outcomes Measure-ment Practice in Community Agencies. The American Journal of Evaluation, 23, 4: 421-434&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brecher, C., Silver, D., Searcy, C. and Weitzman, B.C. (2005). Following the Money: Using Expenditure Analysis as an Evaluation Tool. American Journal of Evaluation, 26, 2: 166-188&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burke, J. (Ed.) (1995). Competency Based Education and Training. London: The Falmer Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carr, J.F. dan Harris, D.E. (2001). Suceeding with Standards: Linking Curriculum, Assessment, and Action Planning. Alexandria, VA: Asso-ciation for Supervision and Curriculum De-velopment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chen, Huey-Tsyth (2005). Practical Evaluation: Assessing and Improving Planning, Implementa-tion, and Effectiveness. Thousand Oaks: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinterfor (2001). Competen-cy-based Curriculum Design. Available at http://www.ilo.org, tanggal 24 Januari 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conley, D. (1999). Statewide Strategies for Implemen-ting Competency-based Admissions Standards. Denver: State Higher Education Executive Officers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Constantino, T.E. dan Greene, J.C. (2003). Reflections on the Use of  Narrative in Evaluation. The American Journal of Evaluation, 24, 1: 35-50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crew, Jr. R.E. dan Anderson, M.R. (2003). Accountability and Performance in Charter Schools in Florida: A Theory-Based Evaluation. The American Journal of Evaluation, 24, 2: 189-212&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cronholm, S dan Goldkuhl, G. (2003). Strategies for Information Systems Evaluation – Six Generic Types. Electronic Journal of Information Systems Evaluation, Vol. 6, 2: 65-74. Academic Conferences Limited. Availabe at www.ejise.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daugherty, R. (1995). National Curriculum Assessment: Review of Policy 1987 – 1994. London: The Palmer Press&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Davidson, E.J. (2005). Evaluation Methodology Basics: The Nuts and Bolts of Sound Evaluation. Thousand Oaks: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De Stefano,L. (1992). Evaluating Effectiveness: a Comparison of Federal Expectations and Local Capabilities for Evaluation Among Federally Funded Model Demonstration Evaluans. Educational Evaluation and Policy Analysis, 14, 2: 175-180.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ellison, C.M. (2004). Talent Development Professi-onal Development Evaluation Model:  A Paradigm Shift, dalam Co-Constructing a Contextually Responsive Evaluation Framework: The Talent Development Model of School Reform (Eds. Thomas, V.G. dan Stevens, F.I.). New Direction for Eva-luation., Number 101&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feller, I. (2002). Performance Measurement Redux. The American Journal of Evaluation, 23, 4: 435-452&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gall, M.D. (1981). Handbook for evaluating and selecting curriculum material. Boston: Allyn and Bacon, Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guba,E.G. dan Lincoln,Y.S. (1981). Effective evaluation: Improving the usefulness of evaluation results through responsive and naturalistic approach. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harbour,J.L. (1997). The Basics of Performance Measurement. New York: Quality Resources.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Longstreet, W.S. dan H.G. Shane (1993). Curri-culum for a new millenium. Boston: Allyn and Bacon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madaus, G.F., Scriven, M.S. dan Stufflebeam, D.L. (Eds)(1983). Evaluation Models: Viewpoints on Educational and Human Services Evaluation. Boston: Kluwer-Nijhoff Publishing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McCormick, R. dan James, M. (1983). Curriculum Evaluation in Schools. London: Croom Helm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McDavid, J.C. dan Hawthorn, L.R.L. (2006). Evaluan Evaluation and Performance Measurement: an Introduction to Practice. Thousand Oaks: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McLaughlin, M.W. dan Phillips, D.C. (1991). Evaluation and Education: at Quarter Century. Chicago, Illinois: National Society for the Study of Education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McNeil, J.D. (1977), Curriculum: a compre-hensive introduction. Boston: Little, Brown and Company.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melrose, M. (1996). Encouraging Transac-tional and Critical Models of Curriculum Evaluation. Different Approaches: Theory and Practice in Higher Education. Proceedings HERDSA Conference 1996. Perth, Western Australia, 8-12 July. Available at: http://www.herdsa.org.au/confs/1996/melrose.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neuber, K.A. dan kawan-kawan (1980). Needs Assessment: A Model for Community Planning. Sage Human Services Guides, Volume 14. Beverly Hills: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Print, M. (1989). Curriculum development and design. Wellington: Allen &amp;amp; Unwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Picciotto, R. (2003). Inter-national Trends and Development Evaluation: The Need for Ideas. The American Journal of Evaluation, 24, 2: 227-234&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raggart,P. dan G. Weiner (1985). Curriculum and assessment: some policy issues. Oxford: Pergamon Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rossi,P.H. dan H.E. Freeman (1990). Evaluation: a Systematic Approach. Newbury Park: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanders, J.R. (chair)(1994), The Evaluan Evaluation Standards, 2nd Ed., Thousand Oaks: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scriven, M. (1991). Evaluation Thesaurus, 4th Ed., Thousand Oaks: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silverman, D. (1993). Interpreting Qualitative Data: Methods for Analysing Talk, Text and Interaction. London: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skilbeck, M. (Ed.)(1984). Reading in school-based curriculum development. London: Harper and Row.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Storange, J.H. dan V.M.Helm (1992). A Perfomance Evaluation System for Professional Support Personnel. Educational Evaluation and Policy Analysis, 14, 2: 175-180.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supovitz, J.A. dan Taylor, B.S. (2005). Systemic Education Evaluation: Evaluating the Impact of Sustemwide Reform in Education. American Journal of Evaluation, 26, 2: 204-230.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanner, D. dan L.N. Tanner (1980). Curriculum development. Theory into practice. New York: Macmillan Publishing House.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torres, R.T., Preskill, H.S., dan Piontek, M.E. (1996). Evaluation Strategies for Commu-nicating and Reporting: Enhancing Learning in Organi-zations. Thousand Oaks: Sage Publications&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tucker, M.S. dan J.B. Codding (1998). Standards for Our Schools: How to Set Them, Measure Them, and Reach Them. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warren, J.R., Jenkins, K.N. dan Kulick, R.B. (2006). High School Exit Examinations and State-Level Completion and GED Rates, 1975 Through 2002. Edu-cational Evaluation and Policy Analysis, 28, 2: 131-152&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warwick, D. (1975). Curriculum structure and design.  London: University of London Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Worthen, B.R. dan Sanders, J.R. (1987). Educational Evaluation: Alternative Approaches and Prac-tical Guidelines. New York &amp;amp; London: Longman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zais, R.S. (1976) Curriculum: principles and foundations. New York: Harper and Row Publishers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] KTSP adalah sesuatu yang dievaluasi dapat berbentuk suatu program pendidikan, kurikulum, atau kebijakan pendidikan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Istilah lain yang digunakan untuk worth adalah value, pay-off, extrinsic, context determined value&lt;/div&gt;&lt;/class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/5419546301413658712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-pengembangan-kurikulum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5419546301413658712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5419546301413658712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/evaluasi-pengembangan-kurikulum.html' title='Evaluasi Pengembangan Kurikulum'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-4615563407530642636</id><published>2012-01-11T18:40:00.001-08:00</published><updated>2019-08-07T20:25:37.339-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Desain Kurikulum"/><title type='text'>Desain Kurikulum</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
DESAIN KURIKULUM&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desain kurikulum adalah rancangan, pola, atau model kurikulum. Dari dasar kata tersebut mendesain kurikulum berarti menyusun rancangan atau menyusun model kurikulum sesuai dengan visi dan misi sekolah/madrasah. Para ahli di bidang kurikulum mengemukakan bermacam-macam desain kurikulum. Diantaranya adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eisner dan Vallance (1974) membagi desain menjadi lima jenis, yaitu model pengembangan proses kognitif, kurikulum sebagai teknologi, kurikulum aktualisasi diri, kurikulum rekonstruksi sosial, dan kurikulum rasional akademis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mc Neil (1977) membagi desain kurikulum menjadi empat yaitu model kurikulum humanistis, kurikulum rekonstruksi sosial, kurikulum teknologi, dan kurikulum Subjek akademik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saylor, Alexander, dan Lewis (1981) membagi desain kurikulum menjadi kurikulum subject matter, kurikulum teknologi, kurikulum sebagai proses, kurikulum sebagai fungsi sosial, dan kurikulum yang berdasarkan minat individu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Brennan (1985) mengembangkan tiga jenis  model desain kurikulum yaitu, kurikulum berorientasi pada tujuan (the objective model), model proses, dan model kurikulum yang didasarkan kepada analisis situasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Longstreet dan Shane (1993) membagi desain kurikulum ke dalam empat desain yaitu desain kurikulum berorientasi pada masyarakat, desain kurikulum berorientasi pada anak, desain kurikulum yang berorientasi pada pengetahuan, dan desain kurikulum yang bersifat eklektik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari perbedaan-perbedaan tersebut Sanjaya (2008) mengemukakan empat macam desain kurikulum, yang kita kaji sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Desain Kurikulum Disiplin Ilmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Longstreet (1993) menyatakan bahwa kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berorientasi atau berpusat pada pengetahuan (the knowledge centered design), didesain berdasarkan struktur ilmu, sehingga disebut juga sebagai kurikulum subjek akademik dengan penekanan pada pengembangan intelektual anak didik. Para ahli berpandangan bahwa desain ini berfungsi untuk mengembangkan proses kognitif atau kemampuan berpikir melalui latihan menggunakan gagasan atau melakukan penelitian ilmiah (Mc. Neil, 1990).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat tiga bentuk organisasi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Subject Centered Curriculum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam organisasi ini, bahan atau isi kurikulum disusun dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah dan tidak saling berhubungan satu sama lain seperti mata pelajaran sejarah, fisika, matematika, dll. Kurikulum ini disebut juga separated subject curriculum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Correlated Curriculum,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Correlated Curriculum mata pelajaran tidak disajikan secara terpisah, tetapi mata pelajaran-mata pelajaran yang memiliki kedekatan atau yang sejenis dikelompokkan sehingga menjadi suatu bidang studi (broadfield), seperti fisika, biologi, dan kimia dikelompokkan dalam bidang studi IPA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Integrated Curriculum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada organisasi yang menggunakan model integrated, nama-nama mata pelajaran atau bidang studi sudah tidak nampak. Belajar berangkat dari suatu pokok masalah yang harus dipecahkan. Maslah tersebut dinamakan unit. Belajar berdasarkan unit ini, bukan hanya menghafal sejumlah fakta, tetapi juga mencari dan menganalisa fakta sebagai bahan untuk memecahkan masalah. Belajar dengan model ini diharapkan dapat mengembangkangkan seluruh aspek diri anak didik, seperti sikap, emosi atau keterampilan, tidak hanya aspek intelektual mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Desain Kurikulum Berorientasi pada Masyarakat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desain ini didasarkan pada asumsi bahwa tujuan dari sekolah adalah untuk melayani kebutuhan masyarakat, sehingga kebutuhan masyarakat harus dijadikan dasar dalam menentukan isi kurikulum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat tiga perspektif desain kurikulum berorientasi pada masyarakat yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Perspektif status quo (the status quo perspective)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rancangan ini diarahkan untuk melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat. Dalam perspektif ini kurikulum merupakan perencanaan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik sebagai persiapan menjadi orang dewasa yang dibutuhkan dalm kehidupan masyarakat. Yang dijadikan dasar adalah aspek-aspek penting kehidupan masyarakat. Tokoh aliran ini adalah  Franklin Bobbit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Perspektif reformis (reformist perspective)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perspektif ini kurikulum dikembangkan untuk lebih meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri. Kurikulum ini menghendaki peran serta masyarakat secara total dalam proses pendidikan. Pendidikan berperan untuk merubah tatanan masyarakat. Baik pendidikan formal maupun non formal harus mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata. Tokoh perspektif ini adalah Paulo Freire dan Ivan Illich.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Perspektif masa depan (the futurist perspective)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perspektif ini seirng dikaitkan dengan kurikulum rekonstruksi sosial, yang menekankan pada proses mengembangkan hubungan antara kurikulum dengan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat. Model ini lebih mengutamakan kepentingan sosial dari pada kepentingan individu. Setiap individu harus memahami masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan, untuk kemudian mengembangkan masyarakatnya sendiri. Tokoh perspektif ini adalah Harold Rug.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Desain Kurikulum Berorientasi pada Siswa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desain ini didasarkan pada asumsi bahwa pendidikan adalah untuk membantu anak didik, sehingga tidak boleh terlepas dari kehidupan anak didik. Kurikulum yang berorientasi pada siswa menekankan pada siswa sebagai sumber isi kurikulum, karena itu segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum tidak boleh lepas dari kehidupan anak didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desain berorientasi pada anak didik dapat dilihat minimal dalam dua perspektif yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Perspektif kehidupan anak di masyarakat (the child –in- society perspective)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada perspektif ini kurikulum mengharapkan materi kurikulum yang dipelajari di sekolah serta pengalaman belajar, didesain sesuai dengan kebutuhan anak sebagai persiapan agar mereka dapat hidup di masyarakat. Anak dituntut bukan mempelajari berbagai konsep yang bersifat abstrak, melainkan teori atau konsep yang dihubungkan dengan kehidupan nyata, sehingga apa yang dipelajari di sekolah relevan dengan kenyataan di masyarakat. Tokoh perspektif ini adalah Francis Parker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Perspektif psikologis (the psychological curriculum perspective).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perspektif psikologis desain kurikulum yang berorientasi pada siswa, sering diartikan sebagai kurikulum yang bersifat humanistic, yang muncul sebagai reaksi terhadap proses pendidikan yang hanya mengutamakan segi intelektual. Karena itu dalam perspektif ini, tugas dan tanggung jawab pendidikan di sekolah bukan hanya mengembangkan segi intelektual anak didik saja, tetapi harus mengembangkan seluruh pribadi anak didik sehingga dapat membentuk manusia utuh. Kurikulum humanistic menekankan pada integrasi, yaitu kesatuan pribadi secara utuh antara intelektual, emosional, dan tindakan. Kriteria keberhasilan dalam perspektif ini adalah ditentukan oleh perkembangan anak supaya menjadi manusia yang terbuka dan berdiri sendiri. Proses pembelajaran yang baik adalah manakala memberikan kesempatan kepada anak didik untuk tumbuh berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Desain Kurikulum Teknologis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model desain kurikulum teknologis difokuskan pada efektifitas program, metode, dan bahan-bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan. Teknologi memengaruhi kurikulum dalam dua sisi, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt;sisi penerapan hasil-hasil teknologi yaitu perencanaan yang sistematis dengan menggunakan media atau alat dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan alat-alat tersebut adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Dengan penerapan hasil-hasil teknologi sebagai alat, diharapkan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penerapan teknologi sebagai suatu sistem, yaitu menekankan pada penyusunan program pembelajaran dengan menggunakan pendekatan system yang ditandai dengan perumusan tujuan khusus sebagai tujuan tingkah laku yang harus dicapai. Proses pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Keberhasilan pendidikan diukur dari sejauh mana iswa dapat menguasai atau mencapai tujuan khusus tersebut. Pada sisi kedua ini penerapan teknologi bukan mengenai alat tetapi bagaimana merancang implementasi kurikulum dengan pendekatan sistem.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mc Neil (1990) menyatakan bahwa tujuan kurikulum teknologi ditekankan kepada pencapaian perubahan tingkah laku yang dapat diukur, karena itu tujuan umum dijabarkan pada tujuan-tujuan yang khusus. Tujuan lebih banyak ditentuakan dari setiap mata pelajaran, dan jarang dari tujuan kemasyarakatan.  Semua siswa diharapkan tuntas dalam menguasai tujuan pengajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum teknologis memiliki ciri-ciri :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt;pergorganisasian materi kurikulum berpatokan pada rumusan tujuan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;materi kurikulum disusun secara berjenjang&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;materi kurikulum disusun dari mulai yang sederhana menuju yang kompleks.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Keberhasilan kurikulum teknologi memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;li&gt;kesadaran akan tujuan yaitu anak didik perlu memahami bahwa pembelajaran diarahkan untuk mencapai tujuan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;dalam pembelajaran anak didik diberi kesempatan memraktekkan kecakapan sesuai dengan tujuan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;siswa perlu diberi tahu hasil yang telah dicapai, karena itu siswa perlu menyadari apakah pembelajaran sudah dianggap cukup atau masih perlu bantuan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/4615563407530642636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/desain-kurikulum_11.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4615563407530642636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/4615563407530642636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/desain-kurikulum_11.html' title='Desain Kurikulum'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5963265957622324559.post-5745542150257669161</id><published>2012-01-10T21:21:00.001-08:00</published><updated>2019-08-07T20:17:31.837-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendekatan Pengembangan Kurikulum"/><title type='text'>Pendekatan Pengembangan Kurikulum</title><content type='html'>A. Pendekatan Pengembangan Kurikulum&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pendekatan merupakan titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Sehingga bila dikaitkan dengan kurikulum, pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum sendiri memiliki makna yang cukup luas. Sukadinata (2000) mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum adalah penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikulum yang telah ada (curriculum improvement). Di satu sisi pengembangan kurikulum merupakan penyusunan seluruh perangkat kurikulum mulai dari dasar, struktur dan sebaran mata pelajaran, garis-garis besar program pengajaran, hingga pedoman pelaksanaannya (macro curriculum), dan di sisi lain berkenaan dengan penjabaran kurikulum (GBPP) yang telah disusun pusat menjadi rencana dan persiapan mengajar yang lebih khusus, yang dikerjakan oleh guru, seperti penyusunan Rencana Tahunan, caturwulan, satuan pelajaran, dan sebagainya (micro curriculum).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Dengan melihat dua cakupan pengembangan kurikulum,  ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangannya. Pertama, pendekatan top down atau pendekatan administratif, yaitu pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah, dan kedua adalah pendekatan grassroot, yaitu pengembangan kurikulum dari bawah ke atas, yang diawali oleh inisiatif dari bawah kemudian disebarluaskan pada tingkat dan skala yang lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;color: rgb(51 , 51 , 255);&quot;&gt;1. Pendekatan Top Down&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pengembangan kurikulum pada pendekatan ini muncul dari pejabat pendidikan atau para administrator atau pemegang kebijakan pendidikan seperti dirjen atau Kepala Kantor Wilayah. Semacam garis komando, pengembangan kurikulum kemudian diteruskan ke bawah, sehingga pendekatan ini disebut juga line staff model. Pendekatan ini biasa digunakan Negara yang memiliki sistem pendidikan sentralisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum dengan pendekatan ini adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pertama : pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Anggota tim biasanya terdiri dari pejabat di bawahnya, seperti pengawas pendidikan, ahli kurikulum dsb. Tim pengarah ini bertugas merumuskan konsep dasar, garis-garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah pendidikan, dan tujuan umum pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Kedua : menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun tim pengarah. Anggota tim ini adalah para ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, ditambah dengan guru-guru senior yang sudah berpengalaman. Tim ini bertugas merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan umum, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran dan alat bantu petunjuk evaluasi, serta menyusun pedoman pelaksanaan kurikulum untuk guru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Ketiga : bila kurikulum sudah selesai disusun oleh tim atau kelompok kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan atau revisi. Bila perlu kurikulum tersebut akan diujicoba , dievaluasi, dan disempurnakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Keempat : para asministrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah disusun tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Dari langkah-langkah tersebut tampak bahwa inisiaif pengembangan kurikulum berasal dari pemegang kebijakan pendidikan, sedangkan guru hanya bertugas sebagai pelaksanakurikulum yang telah ditentukan oleh para pemegang kurikulum, sehingga disebut pendekatan dengan system komando.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;color: rgb(51 , 51 , 153);&quot;&gt;2. Pendekatan Grass roots&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pada pendekatan grass roots,inisiatif pengembangan kurikulum dimulai dari lapangan  atau dari guru-guru sebagai implementator, kemudian menyebar pada wilayah yang lebih luas, karena itu pendekatan ini disebut pendekatan dari bawah ke atas. Pendekatan ini lebih banyak digunakan untuk penyempurnaan kurikulum (curriculum improvement), walaupun terkadang juga digunakan dalam pengembangan kurikulum baru (curriculum construction).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Dalam pelaksanaanya terdapat dua syarat yang harus dipenuhi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pertama : kurikulum yang dikembangkan bersifat lentur sehingga memberikan kesempatan kepada setiap guru secara terbuka untuk memperbarui atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Kedua : guru memiliki sikap professional yang tinggi disertai kemampuan yang memadai, yang ditandai dengan keinginan untuk mencoba dan mencoba sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan kinerjanya, selalu menambah pengetahuan dan wawasannya, untuk menacapai kesempurnaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Adapun langkah-langkah untuk melaksanakan pendekatan ini adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pertama : menyadari adanya masalah, karena pendekatan ini biasanya diawali dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Kedua : mengadakan refleksi, yaitu dengan mengkaji literatur yang relevan misalnya dengan membaca buku, jurnal hasil penelitian, internet, diskusi, wawancara dsb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Ketiga : mengajukan hipotesis atau jawaban sementara, dengan memetakan berbagai kemungkinan munculnya masalah dan cara penanggulangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Keempat : menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan. Penentuan di sini juga disertai dengan kajian terhadap berbagai hambatan yang akan terjadi sehingga lebih dini untuk dapat diatasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Kelima : mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus menerus hingga masalah yang dihadapi dapat terpecahkan. Di sini bisa dilakukan dengan diskusi antar teman sejawat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Keenam : membuat dan menyusun laporanhasil pelaksanaan pengembangan melalui grassroot. Langkah ini penting dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga memungkinkan dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain sehingga hasil pengembangan tersebut semakin tersebar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pada pedekatan ini guru berperan lebih dari sekedar pelaksana kurikulum, bahkan peran guru sebagai implementator perubahan dan penyempurnaan kurikulum sangat menentukan, sedangkan administrator tidak lagi berperan sebagai pengendali pengembangan, tetapi hanya sebagai motivator dan fasilitator.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Pendekatan ini dimungkinkan pada negara dengan system pendidikan yang desentralisasi, sebab kebijakan pendidikan tidak ditentukan oleh pusat, tetapi ditentukan oleh daerah bahkan oleh sekolah, karena itu, untuk memperoleh kualitas lulusan sekolah, dapat terjadi persaingan antar sekolah atau antar daerah.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://willzen.blogspot.com/feeds/5745542150257669161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/pendekatan-pengembangan-kurikulum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5745542150257669161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5963265957622324559/posts/default/5745542150257669161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://willzen.blogspot.com/2012/01/pendekatan-pengembangan-kurikulum.html' title='Pendekatan Pengembangan Kurikulum'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>