<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457</id><updated>2026-10-27T16:33:02.345-07:00</updated><category term="news"/><category term="Spiritual"/><category term="Download Software"/><category term="Download Film Series"/><category term="TV Online"/><category term="PC Game"/><category term="IKS PI Kera Sakti"/><category term="CCTV"/><category term="Disclaimer"/><category term="MP3"/><title type='text'>Copas</title><subtitle type='html'>(Blog ini catatan pribadi kumpulan beberapa sumber copas link dan tidak untuk disebarluaskan)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>187</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-4903944443555783955</id><published>2013-06-03T23:12:00.002-07:00</published><updated>2013-06-03T23:12:47.928-07:00</updated><title type='text'>DOA MUSTAJAB MEMBAKAR DAN MENGUSIR JIN</title><content type='html'>Kisah ini dituturkan oleh Imam Ibn Al-Qayyim (Murid Syaikh Ibnu 
Taimiyyah yang fatwa-fatwanya sering jadi rujukan Syaikh Muhammad bin 
Abdul Wahab “wahabi”) dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim 
Ath-Thayyib. Saya (admin) menganjurkan setiap umat muslim mempraktekkan 
tekhnik ruqyah untuk mengusir jin ini (ada banyak tekhnik lainnya yang 
akan saya “bocorkan” &lt;img alt=&quot;;)&quot; class=&quot;wp-smiley&quot; src=&quot;http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1129645325g&quot; /&gt;  ) .&lt;br /&gt;

Para peruqyah wahabi sudah sangat jamak menggunakan tekhnik DOA ini 
dengan hasil yang sangat MENAKJUBKAN dan bisa dicontoh oleh peruqyah 
lainnya…………………&lt;br /&gt;

&lt;span id=&quot;more-2032&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Tekhnik ini sangat bagus dan sangat syar’i dibandingkan dengan &lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;mengemis-ngemis&lt;/span&gt; minta bantuan khodam jin atau memakai jimat &lt;img alt=&quot;:)&quot; class=&quot;wp-smiley&quot; src=&quot;http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1129645325g&quot; /&gt; &lt;br /&gt;

Abu Nadhar Hasyim ibn Al-Qasim mengatakan, “Aku melihat dalam rumahku sesuatu makhluk, dan dia berkata kepadaku,&lt;em&gt; ‘Wahai AbuNadhar, menyingkirlah engkau dari dekat kami.’&lt;/em&gt;
 Hal itu sungguh menyulitkanku. Karena itu, aku menulis surat ke Kufah, 
kepada Ibn Idris,Al-Muharibiy, dan Abu Usamah. Al-Muharibiy membalas 
suratku dan menceritakan bahwa tali sebuah sumur di Madinah putus. Lalu 
beberapa orang mencoba turun untuk mengambilnya, tetapi tidak 
berhasil.Kemudian mereka meminta setimba air, dan membacakan beberapa 
bacaan, lalu menyiramkan air tersebut ke dalam sumur. Tiba-tiba keluar 
api&amp;nbsp; dari dalam sumur dan padam saat tiba di mulut sumur.” “Kemudian aku
 (Abu An-Nadhar) mengambil seember air, dan aku bacakan doa yang 
diberikan Al-Muharibiy, lalu aku siramkan air itu disudut-sudut 
rumah,tiba-tiba kudengar suara jeritan,&lt;strong&gt; &lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;em&gt;‘Engkau telah membakar kami, kami akan menyingkir dari dekatmu.’&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Doa itu adalah:&lt;br /&gt;

&lt;a href=&quot;http://metafisis.files.wordpress.com/2011/06/clip_35.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;aligncenter size-full wp-image-2034&quot; src=&quot;http://metafisis.files.wordpress.com/2011/06/clip_35.jpg?w=652&quot; title=&quot;Clip_35&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://metafisis.files.wordpress.com/2011/06/clip_36.jpg&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; class=&quot;aligncenter size-full wp-image-2035&quot; src=&quot;http://metafisis.files.wordpress.com/2011/06/clip_36.jpg?w=652&quot; title=&quot;Clip_36&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Artinya :&lt;br /&gt;

“Dengan nama Allah, kami berada di sore ini dengan nama Allah Yang 
tiada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya, dan dengan keagungan Allah
 Yang tidak bisa dikalahkan dan direndahkan. Dengan kekuasaan Allah Yang
 Maha Mencegah, kami berlindung, dan dengan seluruh nama-nama-Nya yang 
balk kami berlindung dart kejahatan iblis-iblis dan dart kejahatan 
setan-setan, baik dari golongan manusia maupun jin. Kami berlindung 
kepada Allah dari kejahatan segala sesuatu yang menampakkan diri dan 
menyembunyikan diri, dari kejahatan segala sesuatu yang keluar di malam 
hari dan bersembunyi di siang hari, dari kejahatan segala sesuatu yang 
menampakkan diri di siang hari dan bersembunyi di malam hari, .dan dari 
kejahatan segala sesuatu yang diciptakan-Nya, yang kotor dan yang 
bersih. Kami berlindung dari kejahatan Iblis dan pengikut-pengikutnya, 
dan dari kejahatan segala makhluk yang berada dalam kekuasaan-Mu. 
Sesungguhnya Tuhanku selalu menunjukkan jalan yang lurus. Aku berlindung
 kepada Allah dengan perlindungan yang dimohonkan oleh Musa, `Isa dan 
Ibrahim yang memenuhi janji, dari kejahatan segala sesuatu yang 
diciptakan-Nya, yang kotor dan yang bersih, dan dari kejahatan Iblis dan
 pengikut-pengikutnya, dan dari kejahatan segala sesuatu yang 
membangkang. Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha 
Mengetahui, dari kejahatan setan yang terkutuk &lt;em&gt;Dengan nama Allah; 
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Demi (rombongan) yang bersaf-saf 
dengan sebenar-benarnya. Dan Demi (rombongan) yang melarang dengan 
sebenar-benamya (dari perbuatan maksiat), dan demi (rombongan) yang 
membacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Tuhan langit
 dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, dan Tuhan tempat-tempat 
terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat 
dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. Dan telah memeliharanya (dengan 
se-benar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka. Setan-setan 
itu tidak dapat mencuri-dengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka 
dilempari dari segala penjuru, untuk mengusir mereka, dan bagi mereka 
siksaan yang kekal. Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang 
mencuri-curi (pembicaraan), maka dia dikejar oleh kilatan api yang 
cemerlang” (QS. &lt;/em&gt;Ash-Shaffat: 1-10).&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Aplikasi tekhnik ruqyah :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Baca Doa ini dengan khusyuk dan persiapan sempurna (berwudhu, tubuh 
suci dari hadats besar dan kecil) didalam seember air dicampur dengan 
garam , sewaktu membaca mulut kita didekatkan di air tersebut hingga 
sebagian ludah/hawa kita mengenai air tersebut, setelah membacanya lalu 
air tersebut di percikkan ditempat yang angker/ada gangguan jinnya (bisa
 dipercikkan melingkari tempat tersebut) / bisa juga langsung diguyurkan
 pada penderita gangguan jin, Insya Allah reaksinya keberhasilannya 
seketika (http://metafisis.wordpress.com)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/4903944443555783955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2013/06/doa-mustajab-membakar-dan-mengusir-jin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/4903944443555783955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/4903944443555783955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2013/06/doa-mustajab-membakar-dan-mengusir-jin.html' title='DOA MUSTAJAB MEMBAKAR DAN MENGUSIR JIN'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-4460245796980687887</id><published>2012-10-12T23:07:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T23:07:41.181-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>SHALAT KHAUF Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>Allah Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ 
مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا 
فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ 
يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ 
وَأَسْلِحَتَهُمْ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (Sahabatmu) lalu kamu 
hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan 
dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian 
apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan 
seraka&#39;at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk 
menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum 
bershalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap 
siaga dan menyandang senjata...” [An-Nisaa&#39;: 102].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tata Caranya&lt;br /&gt;
Al-Khaththabi rahimahullah berkata, &quot;Shalat khauf banyak ragamnya. Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah melakukannya pada keadaan dan cara 
yang berbeda-beda. Masing-masing disesuaikan agar shalat terlaksana 
lebih baik dan lebih mendukung untuk pengawasan musuh. Sekalipun tata 
caranya berbeda, namun intinya tetap sama. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melakukan shalat khauf satu raka’at 
bersama salah satu golongan, sementara golongan yang lain menghadap ke 
musuh. Kemudian golongan pertama berpaling dan menggantikan di tempat 
kawan-kawan mereka yang lain sambil menghadap ke arah musuh. Setelah 
itu, datanglah golongan kedua yang lalu shalat bersama Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam satu raka’at. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam 
salam dan golongan kedua pun meneruskan satu raka’at, begitu juga dengan
 golongan yang pertama.&quot; [2]&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;
2. Dari Sahl bin Abi Hatsmah Radhiyallahu anhu, &quot;Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam mengimami para Sahabatnya pada waktu shalat khauf. 
Beliau membariskan mereka di belakangnya menjadi dua shaff. Kemudian 
beliau shalat satu raka’at bersama shaff yang dekat dengannya (shaff 
pertama). Setelah itu, beliau berdiri dan terus berdiri hingga para 
Sahabat di shaff pertama merampungkan satu raka’at (yang tersisa secara 
sendiri-sendiri). Kemudian para Sahabat di shaff kedua maju, dan 
golongan yang berada di shaff pertama mundur ke belakang. Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengimami mereka (yang awal mulanya berada
 di shaff kedua) lalu duduk (dan menunggu) hingga mereka merampungkan 
satu raka’at (yang tertinggal). Kemudian beliau salam (beserta mereka).&quot;
 [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dari Jabir bin &#39;Abdillah Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Aku pernah 
shalat khauf bersama Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau 
membariskan kami dalam dua shaff. Satu shaff di belakang Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Sementara musuh berada di antara kami dan
 kiblat. Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertakbir, lalu kami semua 
bertakbir. Ketika beliau ruku&#39;, kami semua pun ruku&#39;, kemudian bangkit 
dari ruku’, kami pun melakukannya besama-sama. Kemudian beliau dan shaff
 terdepan menyungkur sujud. Sedangkan shaff terakhir tetap berdiri 
menghadap musuh. Tatkala Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan shaff 
terdepan selesai sujud lalu berdiri, shaff belakang pun sujud lalu 
berdiri. Kemudian shaff belakang maju ke depan dan shaff yang di depan 
mundur. Nabi Shallallaahu &#39;alaihi wa sallam ruku&#39;, dan kami semua pun 
ruku&#39;. Dan ketika bangkit dari ruku’, kami pun bangkit bersama-sama. 
Kemudian beliau dan shaff pertama yang sebelumnya pada raka’at pertama 
berada di belakang, menyungkur sujud. Sementara shaff kedua berdiri 
menghadap ke musuh. Saat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan 
shaff di belakang beliau selesai sujud, shaff belakang pun menyungkur 
sujud. Lalu Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam salam, dan kemudian kami 
pun salam bersama-sama.&quot;[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Syarh Shahiih Muslim oleh an-Nawawi (VI/126).&lt;br /&gt;
[2]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/573 no. 839)], ini adalah 
lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/429 no. 942), Sunan 
Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/118 no. 1230), Sunan at-Tirmidzi (II/39 
no. 561), dan Sunan an-Nasa-i (III/171).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/575 no. 841)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VII/422 no. 4131), dengan lafazh yang mirip.
 Sunan an-Nasa-i (III/170), dan Sunan at-Tirmidzi (II/40 no. 562).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Lafazh Shahiih Muslim], Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 
1456), Shahiih Muslim (I/574 no. 840), dan Sunan an-Nasa-i (III/175).&lt;br /&gt;
(http://almanhaj.or.id) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/4460245796980687887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-khauf-oleh-syaikh-abdul-azhim.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/4460245796980687887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/4460245796980687887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-khauf-oleh-syaikh-abdul-azhim.html' title='SHALAT KHAUF Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-3839123712301697622</id><published>2012-10-12T23:06:00.002-07:00</published><updated>2012-10-12T23:06:16.645-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>SHALAT DUA HARI RAYA Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>A. Hukumnya&lt;br /&gt;
Shalat dua hari raya wajib bagi laki-laki dan perempuan. Karena Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam senantiasa melaksanakannya serta 
memerintahkan orang-orang mendatanginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ummu &#39;Athiyah Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Kami diperintahkan 
untuk mengeluarkan para gadis dan wanita yang sedang dalam pingitan 
(untuk menghadiri shalat ‘Id).&quot;[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Hafshah binti Sirin, dia berkata, &quot;Dahulu, ketika hari raya, kami 
pernah melarang gadis-gadis kami keluar. Kemudian datanglah seorang 
wanita yang singgah di istana Bani Khalaf.(*) Aku pun lantas 
mendatanginya. Dia bercerita bahwa suami saudarinya pernah ikut perang 
bersama Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebanyak dua belas kali 
peperangan. Saudarinya juga pernah menyertainya berperang sebanyak enam 
kali peperangan. Dia berkata,&quot;Kami mengurusi orang-orang yang sakit dan 
mengobati orang-orang yang terluka.&quot; Dia berkata lagi,&quot;Wahai Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, bolehkah salah seorang di antara kami 
tidak keluar jika tidak memiliki jilbab?&quot; Beliau bersabda, &quot;Hendaklah 
saudarinya memakaikan jilbab kepadanya. Kemudian hendaklah mereka 
menyaksikan kebaikan dan do’a orang-orang yang beriman.&quot;[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Waktunya&lt;br /&gt;
Dari Yazid bin Khumair ar-Rahabi, dia berkata, “&#39;Abdullah bin Busr, 
Sahabat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, keluar bersama 
orang-orang pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Kemudian dia 
mengingkari keterlambatan imam. Dia berkata, ‘Dahulu kami selesai pada 
saat seperti ini, yaitu ketika tasbih.’” [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Keluar ke Tanah Lapang&lt;br /&gt;
Dari beberapa hadits terdahulu, diketahui bahwa tempat shalat ‘Id adalah
 tanah lapang, bukan masjid. Karena Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
keluar ke sana dan orang-orang setelah beliau pun melakukan hal yang 
sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah terdapat adzan dan iqamat?&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas dan Jabir bin &#39;Abdillah Radhiyallahu anhum, mereka 
berkata, &quot;Tidak pernah terdapat adzan pada waktu (shalat) hari raya 
‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha.”[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, “Tidak ada adzan, iqamat, seruan tertentu 
atau apa saja untuk shalat ‘Idul Fithri, baik ketika imam keluar, 
ataupun setelah selesai. Pada hari tersebut tidak ada adzan dan iqamat.&quot;
 [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Tata Cara Shalat ‘Id&lt;br /&gt;
Shalat ‘Id terdiri dari dua raka’at. Pada kedua raka’at tersebut 
terdapat dua belas takbir. Tujuh pada raka’at pertama setelah takbiratul
 ihram sebelum memulai bacaan, dan lima pada raka’at kedua sebelum 
memulai bacaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Amr bin Syu&#39;aib, dari ayahnya, dari kakeknya: &quot;Ketika melaksanakan
 dua shalat ‘Id, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertakbir 
tujuh kali pada raka’at pertama, dan lima kali pada raka’at 
terakhir.&quot;[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma: &quot;Pada waktu shalat ‘Idul Fitri dan 
‘Idul Adh-ha, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertakbir tujuh 
dan lima kali, selain dua takbir ruku&#39;.&quot;[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E. Surat Yang Dibaca&lt;br /&gt;
Dari an-Nu&#39;man bin Basyir: &quot;Pada waktu shalat dua hari raya dan shalat 
Jum’at, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam membaca sabbihisma 
rabbikal &lt;br /&gt;
a&#39;laa dan hal ataaka hadiitsul ghaasyiyah.&quot; [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Ubaidullah bin &#39;Abdillah, dia berkata, &quot;&#39;Umar keluar pada hari 
raya. Lantas dia mengirim surat ke Abu Waqid al-Laitsi yang isinya, 
&quot;Pada waktu hari raya seperti ini, (surat) apa yang dibaca Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ?&quot; Dia menjawab, &quot;(Surat) Qaaf dan 
Waqtarabat.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F. Khutbah Setelah ‘Id&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Aku pernah 
menghadiri shalat ‘Id bersama Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, 
Abu Bakar, &#39;Umar, dan &#39;Utsman Radhiyallahu anhum. Masing-masing 
melaksanakan shalat sebelum khutbah.&quot; [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
G. Shalat Sunnah Sebelum Dan Sesudahnya&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma : &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam shalat ‘Idul Fithri dua raka’at. Beliau tidak melakukan shalat 
sebelum dan sesudahnya.&quot;[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
H. Hal-Hal Yang Disunnahkan Pada Waktu Hari Raya&lt;br /&gt;
1. Mandi&lt;br /&gt;
Dari &#39;Ali Radhiyallahu anhu, dia ditanya tentang mandi, lalu dia 
berkata: &quot;(Ketika) hari Jum’at, hari &#39;Arafah, hari raya ‘Idul Fithri, 
dan ‘Idul Adh-ha.&quot;(*)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mengenakan Pakaian Terbaik&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah mengenakan pakaian merah bermotif 
pada waktu hari raya.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Makan Sebelum Keluar Pada Waktu Hari Raya ‘Idul Fithri&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Tidaklah Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam keluar di pagi hari raya Idul Fithri 
melainkan makan beberapa buah kurma terlebih dahulu.&quot; [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mengakhirkan Makan Ketika Hari Raya ‘Idul Adh-ha Hingga Makan dari Sembelihannya.&lt;br /&gt;
Dari Abu Buraidah Radhiyallahu anhu, &quot;Tidaklah Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam keluar di hari raya ‘Idul Fithri (untuk melakukan 
shalat ‘Id) melainkan makan terlebih dahulu. Dan tidaklah beliau makan 
pada waktu &lt;br /&gt;
hari raya ‘Idul Qurban kecuali setelah menyembelih.&quot; [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Menempuh Jalan yang Berbeda (Ketika Pergi dan Pulang)&lt;br /&gt;
Dari Jabir : &quot;Ketika hari raya, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengambil jalan yang berbeda.&quot;[15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Bertakbir pada Kedua Hari Raya&lt;br /&gt;
Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu 
mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan 
kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat ini berkenaan dengan ‘Idul Fithri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai &#39;Idul Adh-ha, Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang...” [Al-Baqarah: 203].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan firman-Nya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu 
mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu...” [Al-Hajj: 37]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu bertakbir pada hari raya ‘Idul Fithri semenjak keluar menuju tanah lapang sampai shalat akan ditegakkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Abi Syaibah rahimahullah berkata [16] , “Yazid bin Harun 
meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Abi Dzi&#39;b, dari az-Zuhri, ‘Ketika 
hari raya &#39;Idul Fithri, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam keluar 
sambil bertakbir hingga tiba di tanah lapang. Bahkan hingga ketika akan 
shalat. Seusai beliau shalat, beliau hentikan takbir.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Albani rahimahullah berkata,(*) &quot;Sanadnya shahih mursal. Diriwayatkan
 pula dari jalur lain, dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma secara marfu&#39;
 yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi (III/279), dari jalan &#39;Abdullah Ibnu 
&#39;Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nafi&#39;, dari &#39;Abdullah Ibnu &#39;Umar 
Radhiyallahu anhuma: &quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam keluar 
pada waktu dua hari raya bersama al-Fadhl bin &#39;Abbas, &#39;Abdullah bin 
&#39;Abbas, &#39;Ali, Ja&#39;far, al-Hasan, al-Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin 
Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman sambil mengeraskan tahlil dan takbir.
 Beliau menempuh jalan al-Hadzdzaa&#39;iin hingga tiba di tempat shalat. 
Tatkala selesai, beliau pulang melalui al- Hadzdzaa&#39;iin hingga sampai di
 rumah.&quot; Al-Baihaqi berkata, &quot;Riwayat ini lebih baik daripada yang 
pertama tadi.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya (al-Albani) berkata, &quot;Para perawinya terpercaya. Mereka adalah para
 perawi Muslim, kecuali &#39;Abdullah Ibnu &#39;Umar, yaitu al-&#39;Umari. 
Adz-Dzahabi berkata, &quot;Tepercaya tapi ada masalah dalam hafalannya.&quot; 
Adz-Dzahabi dan selainnya dalam rumusnya menyatakan bahwa dia termasuk 
perawi Muslim. Perawi semisal ini dapat dijadikan sebagai penguat. Dia 
adalah penguat yang bagus untuk hadits mursal dari az-Zuhri. Menurut 
saya hadits tersebut shahih, baik secara mauquf maupun marfu, wallahu 
a&#39;lam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu takbir hari raya ‘Idul Adh-ha dari shubuh hari &#39;Arafah hingga 
&#39;Ashar di akhir hari tasyriiq (13 Dzul Hijjah, yaitu saat terbenamnya 
matahari-ed.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits shahih dari &#39;Ali, Ibnu &#39;Abbas, dan Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhu.[17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lafazh takbir banyak ragamnya. ‘Riwayat Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhuma 
menyebutkan dengan lafazh genap. Dia bertakbir pada hari tasyriiq dengan
 lafazh, &quot;Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaah, Allaahu 
akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamd.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan lafazh tersebut (II/167) dengan sanad 
shahih. Akan tetapi dia menyebutkannya di tempat lain dengan sanad yang 
sama dengan takbir tiga kali. Al-Baihaqi (III/ 315) juga meriwayatkannya
 dari Yahya bin Sa&#39;id dari al-Hakam, yaitu Ibnu Farwah Abu Bakar dari 
&#39;Ikrimah dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma dengan takbir tiga kali. 
Sanadnya juga shahih.&quot;[18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/463 no. 
974)], Shahiih Muslim (II/605 no. 890), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (III/487 no. 1124), Sunan at-Tirmidzi (II/25 no. 537), Sunan Ibnu Majah
 (I/414 no. 1307), dan Sunan an-Nasa-i (III/180).&lt;br /&gt;
(*). Suatu tempat di Bashrah. Lihat Mu&#39;jamul Buldaan,-ed.&lt;br /&gt;
[2]. Muttafaq &#39;alaihi: [Al-Misykaah (no. 1431)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/469 no. 980).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1005)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/486 no. 1123), Sunan Ibni Majah (I/418 no. 1317). 
Tasbih adalah waktu ketika matahari telah naik, berlalunya waktu yang 
dimakruhkan untuk shalat, dan masuknya waktu shalat subhah, yaitu 
nafilah (sunnah). Lihat ‘Aunul Ma’buud (III/486).&lt;br /&gt;
[4]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/451 no. 960)], Shahiih Muslim (II/604 no. 886).&lt;br /&gt;
[5]. Cuplikan dari hadits sebelumnya pada riwayat Muslim.&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1057)], al-Misykaah (no. 1441), dan Sunan Ibnu Majah (I/407 no. 1279).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 639)], Shahiih Sunan Ibni Majah (no.
 1058), Sunan Ibni Majah (I/407 no. 1280), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (IV/6, 7 no. 37, 1138).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 644)], Shahiih Sunan Ibnu Majah (no.
 1281), Shahiih Muslim (II/598 no. 878), Sunan Abu Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/472 no. 1109), Sunan at-Tirmidzi (II/22 no. 531), Sunan 
an-Nasa-i (III/184), dan Sunan Ibnu Majah (I/408/1281), tanpa kalimat: 
&quot;Dan shalat Jum’at&quot;.&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/118)], Shahiih Sunan Ibnu Majah (no.
 106), Shahiih Muslim (II/607 no. 891), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (IV/15 no. 1142), Sunan at-Tirmidzi (II/23 no. 532), Sunan an-Nasa-i 
(III/183), dan Sunan Ibni Majah (I/408 no. 1282).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/453 no. 962)], Shahiih Muslim (II/602 no. 884).&lt;br /&gt;
[11]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/453 no. 
964)], Shahiih Muslim (II/606 no. 884), dan Sunan an-Nasa-i (III/193).&lt;br /&gt;
(*). Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[12]. Sanadnya jayyid: [Ash-Shahiihah (no. 1279)], al-Haitsami berkata 
dalam Majmaa&#39;uz Zawaaid (II/201), &quot;Ath-Thabrani meriwayatkannya dalam 
al-Ausath, dan para perawinya terpercaya.&quot;&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 448)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/446 no. 953), dan Sunan at-Tirmidzi (II/27 no. 541).&lt;br /&gt;
[14]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 447)], Shahiih Ibni 
Khuzaimah (II/341 no. 1426), dan Sunan at-Tirmidzi (II/27 no. 540), 
dengan lafazh:&quot;Sampai mengerjakan shalat.&quot;&lt;br /&gt;
[15]. Shahih: [Al-Misykaah (no. 1434)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/472 no. 986).&lt;br /&gt;
[16]. Shahih: [Ash-Shahihah (171)], (II/146).&lt;br /&gt;
(*). Al-Irwaa’ (III/123).&lt;br /&gt;
[17]. Diriwayatkan dari &#39;Ali bin Abu Syaibah (II/165), dari dua jalur. 
Salah satunya baik. Dari jalur ini pula al-Baihaqi meriwayatkan 
(III/314). Diriwayatkan pula semisalnya dari Ibnu &#39;Abbas c dengan sanad 
shahih. Al-Hakim juga meriwayatkan darinya serta Ibnu Mas&#39;ud z (I/300). 
Lihat Irwaa’ul Ghaliil (III/125).&lt;br /&gt;
[18]. Irwaa’ul Ghaliil (III/125).(Sumber : http://almanhaj.or.id)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/3839123712301697622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-dua-hari-raya-oleh-syaikh-abdul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3839123712301697622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3839123712301697622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-dua-hari-raya-oleh-syaikh-abdul.html' title='SHALAT DUA HARI RAYA Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-8682285189655373494</id><published>2012-10-12T23:05:00.000-07:00</published><updated>2012-10-12T23:05:12.095-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>SHALAT JUM&#39;AT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>Melaksanakan shalat Jum’at adalah fardhu &#39;ain bagi setiap muslim, 
kecuali lima orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak, orang sakit, atau 
musafir. Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ 
الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ 
ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat 
pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan 
tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu 
mengetahui.” [al-Jumu&#39;ah: 9].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ 
أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ 
مَرِيْضٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Shalat Jum’at dengan berjama&#39;ah wajib bagi setiap muslim kecuali empat 
orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang sakit.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Shalat Jum’at tidak wajib bagi musafir.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Anjuran Untuk Melaksanakannya&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ 
أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلِّيْ مَعَهُ غُفِرَ 
لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفُضِّلَ ثَلاَثَةَ 
أَيَّامٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa mandi, kemudian datang ke masjid untuk shalat Jum’at, lalu 
shalat (sunnah) semampunya. Setelah itu diam sambil mendengarkan khatib 
berkhutbah hingga selesai, lantas shalat berjama’ah bersamanya, maka 
diampunilah dosanya ketika itu hingga Jum’at yang akan datang, dan 
dilebihkan tiga hari.&quot;[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga darinya, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسِ، الْجُمُعَةُ إِلَـى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَـانُ 
إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ 
الْكَبَائِرُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Shalat lima waktu, dari (shalat) Jum’at ke (shalat) Jum’at yang lain, 
dan dari (puasa) Ramadhan ke (puasa) Ramadhan yang lain adalah penghapus
 dosa-dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut selama tidak melakukan 
dosa besar.&quot;[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peringatan agar tidak menyepelekannya&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, mereka berdua 
mendengar Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda di atas 
mimbar kayunya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَـاتِ أَوْ 
لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِنَ 
الْغَافِلِيْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hendaklah orang-orang benar-benar berhenti meninggalkan shalat Jum’at. 
Atau Allah akan menutup hati mereka sehingga mereka benar-benar menjadi 
orang-orang yang lalai.&quot;[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata kepada orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّيْ بِالنَّـاسِ، ثُمَّ أَحْرِقُ
 عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوْتَهُمْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku benar-benar ingin menyuruh seseorang agar mengimami manusia. 
Kemudian aku bakar rumah seluruh laki-laki yang meninggalkan shalat 
Jum’at.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Ja&#39;d adh-Dhamri Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَْنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at karena menyepelekannya, Allah akan menutup hatinya.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’at tanpa &#39;udzur, maka dia dicatat dalam golongan orang-orang munafik.&quot; [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Waktunya&lt;br /&gt;
Waktunya sebagaimana shalat Zhuhur, namun dibolehkan sebelumnya&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu : &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat Jum’at ketika matahari sedang tergelincir.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin &#39;Abdullah Radhiyallahu anhu, dia ditanya, &quot;Kapan 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat Jum’at?&quot; Dia menjawab, 
&quot;Setelah beliau melakukan shalat tersebut, lantas kami mendatangi 
unta-unta kami. Lalu kami menjalankannya sedang matahari 
tergelincir.&quot;[10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Khutbah&lt;br /&gt;
Hukumnya wajib. Karena beliau senantiasa melakukannya dan tidak pernah 
meninggalkannya sama sekali. Juga berdasarkan sabda beliau:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.&quot;[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Petunjuk beliau dalam khutbah&lt;br /&gt;
Beliau pernah bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنًَّ طُوْلَ صَلاَةِ الرَّجُلِِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ 
فِقْهِهِ، فَأَطِيْلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ 
الْبَيَانِ لَسِحْرًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya panjang shalat dan singkatnya khutbah seseorang 
menunjukkan kefaqihannya (kefahamannya). Maka panjangkan shalat dan 
persingkatlah khutbah. Sesungguhnya kata-kata yang indah ibarat sihir.&quot; 
[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin Samurah, dia berkata, &quot;Aku pernah shalat bersama Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam selama beberapa kali. Shalat dan khutbah 
beliau seimbang.&quot; [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin &#39;Abdullah Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Jika 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkhutbah, kedua mata beliau 
memerah, suaranya meninggi, dan semangatnya berkobar. Seolah-olah beliau
 memperingatkan pasukan sambil berkata, &quot;Musuh kalian akan datang pada 
pagi dan petang!&quot; [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Khutbatul Haajah&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengawali khutbah, nasihat, dan
 ceramah, serta berbagai pelajarannya dengan khutbah ini, yaitu yang 
dikenal dengan khutbatul Haajah. Bunyinya sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ 
وَنَعُوْذُ بِـاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
 مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ 
لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْـكَ 
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah. Kami memujinya, memohon 
pertolongan dan ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari 
kejahatan jiwa kami, serta keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa 
ditunjuki oleh Allah, maka tidak ada yang mampu menyesatkannya. Dan 
barangsiapa disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang mampu menunjukinya.
 Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan 
benar melainkan hanya Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku 
bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan 
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati 
melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali &#39;Imran: 102]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ 
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا
 وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
 ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan
 kamu dari jiwa yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; 
dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan
 yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) 
Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan 
silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.&quot; 
[An-Nisaa&#39;: 1].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا 
سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ 
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah 
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu 
dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan 
Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” 
[Al-Ahzaab: 70-71]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَمَّا بَعْدُ:&lt;br /&gt;
فَإِنًَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ 
مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ 
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ،
 وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah. Dan sebaik-baik 
petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. 
Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama). Karena 
setiap pekara yang diada-adakan adalah bid&#39;ah. Dan setiap bid&#39;ah adalah 
sesat. Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa merenungkan khutbah-khutbah Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam beserta para ٍSahabatnya, maka dia akan mendapatkan banyak 
pelajaran tentang petunjuk, tauhid, sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, 
pokok-pokok iman secara menyeluruh, dan dakwah ke jalan Allah. 
Begitupula nikmat-nikmat-Nya yang membuat para makhluk cinta kepada-Nya,
 juga hari pembalasan beserta adzab-adzab yang menakutkan. Terdapat juga
 perintah terhadap makhluk agar senantiasa berdzikir dan bersyukur 
kepada-Nya. Hal ini membuat mereka dicintai Allah. Sehingga mereka 
selalu ingat dengan keagungan Allah, sifat-sifat, dan asma&#39;-Nya yang 
membuat-Nya cinta kepada para hamba-Nya. Lalu mereka pun diperintahkan 
agar taat, bersyukur, dan berdzikir. Hal ini membuat mereka cinta 
kepada-Nya. Setelah itu para pendengar akan pulang dengan perasaan cinta
 kepada Allah, dan Allah pun mencintai mereka. Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam seringkali menyampaikan khutbah dengan al-Qur-an dan 
surat Qaaf.&quot; [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ummu Hisyam binti al-Harits bin an-Nu&#39;man Radhiyallahu anhu berkata, 
&quot;Tidaklah aku menghafal surat Qaaf melainkan dari lisan Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam saat menyampaikan khutbah dengan surat 
tersebut di atas mimbar.&quot; [16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Wajibnya diam dan larangan berbicara ketika khutbah berlangsung&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قُلْتَ لِصَـاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَاْلإِمَـامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika pada hari Jum’at, saat khatib sedang khutbah engkau berkata pada 
temanmu &quot;diam!&quot;, maka engkau telah mengucapkan kata yang sia-sia 
(perkataan yang bathil).&quot; [17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Kapankah seseorang dianggap masih mendapatkan shalat Jum’at?&lt;br /&gt;
Shalat Jum’at terdiri dari dua raka’at yang dikerjakan secara 
berjama’ah. Barangsiapa meninggalkan jama’ah shalat Jum’at karena memang
 tidak wajib baginya atau ada halangan, maka dia shalat Zhuhur empat 
raka’at. Barangsiapa mendapati satu raka’at shalat Jum’at bersama imam, 
maka dia telah mendapatkan shalat Jum’at. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلاَةِ الْجُمُعَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa mendapati satu raka’at dari shalat Jum’at, maka dia telah mendapatkan shalat.&quot; [18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat Jum’at&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ أَتَـى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا 
قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّـى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ 
يُصَلِّي مَعَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ 
اْلأُخْرَى وَفُضِّلَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, kemudian datang ke masjid untuk 
shalat Jum’at, lalu shalat (sunnah) semampunya. Setelah itu diam sambil 
mendengarkan khatib berkhutbah hingga selesai, lantas shalat berjama’ah 
dengannya, maka di-ampunilah dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang 
lain, dan dilebihkan tiga hari.&quot; [19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangsiapa datang sebelum shalat Jum’at dimulai, maka hendaklah shalat 
sunnah semampunya hingga imam tiba. Adapun yang pada zaman ini dikenal 
sebagai shalat sunnah qabliyyah Jum’at, maka tidak ada dasarnya sama 
sekali. Sesungguhnya yang dikenal adalah: &quot;Jika Bilal selesai adzan, 
maka Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam memulai khutbah. Tidak seorang 
pun melakukan shalat dua raka’at. Tidak pula terdapat adzan melainkan 
satu kali. Jadi, kapan mereka melakukan shalat sunnah tersebut?&quot; [20]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun seusai shalat Jum’at, maka boleh shalat empat atau dua raka’at sesuai keinginan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian telah melaksanakan shalat Jum’at, maka hendaklah shalat empat raka’at sesudahnya.&quot; [21]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhu : &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
tidak shalat setelah Jum’at hingga beliau pulang dan shalat dua raka’at 
di rumahnya.&quot;[22] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 942)], Shahiihul Jaami’ush 
Shaghiir (no. 3111), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/394 no. 
1054), ad-Daraquthni (II/3 no. 2), al-Baihaqi (III/172), dan Mustadrak 
al-Hakim (I/288).&lt;br /&gt;
[2]. Ad-Daraquthni (II/4 no. 4).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6062)], Shahiih Muslim (II/587 no. 857).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3875)], Shahiih Muslim 
(I/209 no. 233 (16)), dan Sunan at-Tirmidzi (I/138 no. 214), tanpa 
kalimat: “وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ (dan Ramadhan ke Ramadhan).”&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 5480)], Shahiih Muslim (II/591 no. 865), dan Sunan an-Nasa-i (III/88).&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 5142)], Shahiih Muslim (I/452 no. 652).&lt;br /&gt;
[8]. Hasan Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 923)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/377 no. 1039), Sunan at-Tirmidzi (II/5 no. 498), 
Sunan an-Nasa-i (III/88), dan Sunan Ibni Majah (I/357 no. 1125).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6144)], ath-Thabrani dalam ash-Shagiir (I/170 no. 422).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 960)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/386 no. 904), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/427 no. 1071), dan Sunan at-Tirmidzi (II/7 no. 501).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 597)], Shahiih Muslim (II/588 no. 858 (29)).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 262)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/111 no. 631).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2100)], Irwaa’ul Ghaliil (no. 618), Shahiih Muslim (II/594 no. 869).&lt;br /&gt;
[14]. Shahih: [Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 418)], Shahiih Muslim (II/591 no. 886), dan Sunan at-Tirmidzi (II/9 no. 505).&lt;br /&gt;
[15]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4711)], Irwaa’ul 
Ghaliil (no. 611), Shahiih Muslim (II/591 no. 866), dan Sunan 
at-Tirmidzi (II/9 no. 505).&lt;br /&gt;
[16]. Zaad al-Ma&#39;aad (I/116).&lt;br /&gt;
[17]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/414 no. 
934)], Shahiih Muslim (II/582 no. 851), Sunan an-Nasa-i (III/104), Sunan
 Ibni Majah (I/352 no. 1110), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/460 
no. 1099) secara ringkas, dan Sunan at-Tirmidzi (II/12 no. 5111) dengan 
lafazh yang mirip.&lt;br /&gt;
[18]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 911)], Sunan an-Nasa-i 
(III/112), dan Sunan Ibni Majah (I/356 no. 1110) dengan lafazh yang 
serupa.&lt;br /&gt;
[19]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 622)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir
 (no. 5999), Sunan an-Nasa-i (III/112), dan Sunan Ibni Majah (I/356 no. 
1121) dengan lafazh yang serupa.&lt;br /&gt;
[20]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6062)], Shahiih Muslim (II/587 no. 857).&lt;br /&gt;
[21]. Zaad al-Ma&#39;aad (I/118).&lt;br /&gt;
[22]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 625)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir
 (no. 640), Shahiih Muslim (II/600 no. 882), dan lafazh ini miliknya, 
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/481 no. 1118), dan Sunan 
at-Tirmidzi (II/17 no. 522).&lt;br /&gt;
[23]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (II/600 no. 822 (71))], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/425 no. 937), dalam riwayatnya tidak 
terdapat lafazh: &quot;Di rumahnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Adab-Adab Pada Hari Jum’at&lt;br /&gt;
1. Disunnahkan bagi orang yang hendak menghadiri shalat Jum’at agar mengamalkan beberapa hadits berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Salman al-Farisi, dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ 
مِنَ الطُّهْرِ، وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ 
بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْـرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ 
يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يَنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ، 
إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum’at, lalu bersuci dengan 
sebaik-baiknya. Setelah itu berminyak rambut atau memakai wangi-wangian 
dari rumahnya. Kemudian keluar (menuju masjid), tidak memisahkan antara 
dua orang, lalu shalat sunnah semampunya. Lantas diam ketika imam 
berkhutbah, melainkan diampuni dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang
 lain.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Barangsiapa mandi pada 
hari Jum’at, mengenakan baju terbaiknya, dan mengenakan minyak wangi, 
jika ada. Kemudian menghadiri shalat Jum’at dan tidak melangkahi 
orang-orang. Setelah itu shalat semampunya lantas diam ketika imam 
keluar hingga selesai shalat. Maka itu semua adalah penghapus dosa 
antara Jum’at itu dan Jum’at sebelumnya.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ 
الْمَسْجِدِ مَلاَئِكَةٌ يَكْتُبُوْنَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ مَنَازِلِهِمُ
 اْلأَوَّلُ فَاْلأَوَّلِ، فَإِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ طَوُوا الصُّحُفَ 
وَجَاؤُوْا يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ، وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ 
الَّذِيْ يُهْدِي بَدَنَةً، ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِي بَقَرَةً، ثُمَّ 
كَالَّذِيْ يُهْدِي الْكَبْشَ، ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِي الدَّجَاجَةَ، 
ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِي الْبَيْضَةَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika hari Jum’at tiba, maka sepada tiap pintu-pintu masjid terdapat 
para Malaikat. Mereka mencatat orang-orang berdasarkan kedudukan mereka.
 Yang datang pertama mendapat kedudukan pertama. Jika imam duduk, maka 
mereka menutup lembar catatan dan masuk untuk mendengar dzikir 
(khutbah). Perumpamaan orang yang datang di awal waktu ibarat orang yang
 berkurban dengan unta. Setelah itu seperti orang yang berkurban dengan 
sapi. Kemudian seperti orang yang berkurban dengan domba. Lalu seperti 
orang yang berkurban dengan ayam. Berikutnya lagi seperti orang yang 
berkurban telur.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Beberapa Dzikir Dan Do’a Yang Disunnahkan Pada Hari Jum’at:&lt;br /&gt;
a. Memperbanyak shalawat dan salam atas Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa salam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Aus bin Aus, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ مِنْ أَفْضَلَ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ 
آدَمُ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ، وَفِيْهِ الصَّعِقَةُ، 
فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ، فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ 
مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَكَيْفَ تُعْرِضُ 
عَلَيْكَ صَلاَتَنَا وَقَدْ أَرَمْتَ؟ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ k حَرَّمَ 
عَلَى اْلأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ اْلأَنْبِيَاءِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at. Pada hari 
itu Adam diciptakan dan diwafatkan. Pada hari itu pula sangkakala 
(kedua) ditiup dan manusia dimatikan (tiupan sangkakala pertama.-ed.) 
pada hari itu perbanyaklah mengucap shalawat atasku. Karena sesungguhnya
 shalawat kalian sampai kepadaku.&quot; Mereka bertanya, &quot;Wahai Rasulullah, 
bagaimana shalawat kami sampai kepada engkau, padahal jasad engkau telah
 rusak?&quot; Beliau bersabda, &quot;Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan
 bumi memakan (merusak) jasad para Nabi.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Membaca surat al-Kahfi&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id al-Khudri Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ النُّوْرُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka terdapat cahaya yang meneranginya di antara dua Jum’at.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Memperbanyak do’a sambil mengharap waktu yang mustajab&lt;br /&gt;
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اِثْنَتَـا عَشْرَةَ سَاعَةً، لاَ يُوْجَدُ فِيْهَا 
عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ k شَيْئًا إِلاَّ اَتَاهُ إِيَّاهُ، 
فَالْتَمِسُوْهَا آخِرَ سَـاعَةٍ بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hari Jum’at terdiri dari dua belas waktu. Tidak ada seorang hamba 
muslim pun yang saat itu meminta pada Allah melainkan Allah 
mengabulkannya. Carilah ia (waktu yang mustajab) di akhir waktu 
tersebut, yaitu setelah shalat &#39;Ashar.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Shalat Jum’at di masjid jami&#39;&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Dulu pada hari Jum’at 
orang-orang berbondong-bondong dari rumah-rumah mereka dan dataran 
tinggi...&quot;[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari az-Zuhri rahimahullah, &quot;Dahulu penduduk Dzul Hulaifah berkumpul 
bersama Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Padahal jaraknya enam 
mil dari Madinah.&quot;[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Atha&#39; bin Abi Rabbah rahimahullah, dia berkata, &quot;Dahulu penduduk Mina menghadiri shalat Jum’at di Makkah.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Hafizh berkata dalam at-Talkhish (II/55), &quot;Tidak ada riwayat yang 
mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengizinkan 
seseorang mendirikan shalat Jum’at di beberapa masjid di Madinah. Tidak 
pula di desa-desa terdekat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Hari raya (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha) bertepatan dengan hari Jum’at [10]&lt;br /&gt;
Jika hari raya terjadi (bertepatan) pada hari Jum’at, maka gugurlah 
kewajiban shalat Jum’at bagi yang telah melakukan shalat ‘Id.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi shalat ‘Id kemudian memberi keringanan dalam shalat Jum’at. 
Beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa ingin shalat, maka shalatlah.&quot;[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan agar imam mendirikan shalat Jum’at agar orang yang ingin 
melaksanakannya dan orang yang tidak shalat ‘Id melaksanakannya&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قَدِ اجْتَمَعَ فِـيْ يَوْمِكُمْ هذَا عِيْدَانِ، فَمَنْ شَـاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Pada hari ini telah berlangsung dua hari raya. Barangsiapa telah 
melakukan shalat ‘Id, maka dia boleh meninggalkan shalat Jum’at. Namun, 
kami akan melakukan shalat Jum’at.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 7736)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/370 no. 883).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6066)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/7 no. 339).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 775)], Shahiih Muslim 
(II/587 no. 850), Sunan an-Nasa-i (III/98), dan Sunan Ibni Majah (I/347 
no. 1092).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 889)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/370 no. 1034), Sunan Ibni Majah (I/345 no. 1085), 
dan Sunan an-Nasa-i (III/91).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 626)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir 
(no. 6470), Mustadrak al-Hakim (II/368), dan al-Baihaqi (III/249).&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: Abu Dawud, an-Nasa-i, dan al-Hakim meriwayatkan lafazh ini.
 Dia berkata: &quot;Shahih berdasarkan syarat Muslim [Shahih at-Targhiib (no.
 705)], Shahiih Muslim (II/584 no. 853).&lt;br /&gt;
[7]. Muttafaq &#39;alaihi: [Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/380 no. 
1042)], secara ringkas, ini adalah bagian dari hadits panjang yang 
diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/385 no. 902), 
dan Shahiih Muslim (II/ 581 no. 847).&lt;br /&gt;
[8]. Al-Baihaqi (III/175).&lt;br /&gt;
[9]. Al-Baihaqi (III/175).&lt;br /&gt;
[10]. Fiqhus Sunnah (I/267).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1082)], Sunan Abu Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/407 no. 1057), dan Sunan Ibni Majah (I/415 no. 
1310).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibnu Majah (no. 1083)], Sunan Abu Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/410 no. 1060), dan Sunan Ibni Majah (I/416 no. 
1311), dari hadits Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/8682285189655373494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-jumat-oleh-syaikh-abdul-azhim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/8682285189655373494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/8682285189655373494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-jumat-oleh-syaikh-abdul-azhim.html' title='SHALAT JUM&#39;AT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-3897665685897840786</id><published>2012-10-12T23:01:00.000-07:00</published><updated>2012-10-12T23:01:05.729-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>SHALAT ORANG YANG MELAKUKAN SAFAR Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>A. Orang yang Sedang Safar Wajib Mengqashar Shalat Zhuhur, &#39;Ashar, dan &#39;Isya&#39;&lt;br /&gt;
Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن 
تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ 
كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu 
mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. 
Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” [An-Nisaa&#39;:
 101]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ya&#39;la bin Umayyah, dia menanyakan ayat ini pada &#39;Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu. Dia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... jika kamu takut diserang orang-orang kafir...” [An-Nisaa: 101]&lt;br /&gt;
.&lt;br /&gt;
Padahal orang-orang sudah dalam keadaan aman. &#39;Umar berkata, &quot;Dulu, aku 
juga bingung dengan masalah ini sebagaimana kamu. Lalu aku menanyakannya
 pada Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Lantas beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ، فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Itu adalah shadaqah dari Allah untuk kalian. Maka, terimalah shadaqah-Nya.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Melalui lisan Nabi 
kalian, Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua 
raka’at ketika safar, dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Umar Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Shalat dalam safar dua 
raka’at, shalat Jum’at dua raka’at, shalat Idul Fithri dan Idul Adh-ha 
dua raka’at. Sempurna, tidak diqashar. Berdasarkan ucapan Muhammad 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Pertama kali, shalat 
diwajibkan dua raka’at. Kemudian hal ini ditetapkan bagi shalat dalam 
keadaan safar. Sedangkan pada saat mukim dikerjakan secara lengkap (4 
raka’at).&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Aku pernah menemani 
perjalanan Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, dan beliau tidak 
pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Pernah 
juga aku menyertai perjalanan Abu Bakar, dan dia juga tidak pernah 
shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Aku pun pernah
 bepergian bersama &#39;Umar, dan dia juga tidak pernah shalat lebih dari 
dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Aku juga pernah safar bersama 
&#39;Utsman, dia tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah 
mewafatkannya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya, pada Rasulullah benar-benar terdapat teladan yang baik bagi kalian...” [Al-Ahzaab: 21] [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Batasan Jarak Shalat Qashar&lt;br /&gt;
Para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda dalam menentukan 
batasan jarak diperbolehkannya mengqashar shalat. Sampai-sampai Ibnu 
al-Mundzir dan yang lainnya menyebutkan lebih dari dua puluh pendapat 
dalam masalah ini. Yang rajih (kuat) adalah, &quot;Pada dasarnya, tidak ada 
batasan jarak yang pasti. Kecuali yang disebut safar dalam bahasa Arab, 
yaitu bahasa yang digunakan Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam saat 
berkomunikasi dengan mereka (orang-orang Arab). Jika memang safar 
mempunyai batasan selain dari apa yang baru saja kami kemukakan, tentu 
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak akan lupa menjelaskannya. Para 
Sahabat pun tidak akan lalai menanyakan hal tersebut pada beliau 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Mereka juga tidak akan bersepakat untuk 
mengabaikan penukilan riwayat yang menjelaskan batasan tersebut kepada 
kita.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Tempat Diperbolehkannya Mengqashar Shalat&lt;br /&gt;
Mayoritas ulama berpendapat bahwa, disyari&#39;atkan mengqashar shalat 
ketika telah meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat 
tinggal. Ini adalah syarat. Dan tidaklah disempurnakan shalat (4 
raka’at) sampai memasuki rumah pertama (di dalam tempat tinggalnya). 
Ibnul Mundzir berkata, &quot;Aku tidak mengetahui bahwa Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam melakukan qashar dalam beberapa safarnya kecuali 
beliau telah keluar dari Madinah. Anas Radhiyallahu anhu berkata, &quot;Aku 
shalat Dzuhur empat raka’at bersama Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
di Madinah. Sedangkan di Dzul Hulaifah dua raka’at.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu 
kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia melakukan qashar hingga
 meninggalkan daerah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengqashar 
shalat.&quot;[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnul Qayyim berkata, &quot;Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak pernah
 mengatakan pada umat, ‘Janganlah seseorang mengqashar shalat jika 
tinggal lebih lama dari itu.’ Hanya kebetulan saja lama tinggal beliau 
bertepatan dengan masa tersebut.&quot;[9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seseorang berniat mukim, maka dia shalat secara lengkap setelah 
sembilan belas hari. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu
 anhu, &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tinggal selama sembilan belas
 hari sambil melakukan qashar. Jika kami melakukan safar selama sembilan
 belas hari, maka kami melakukan qashar. Dan jika lebih dari itu, maka 
kami menyempurnakan shalat.&quot; [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Menjama&#39; Dua Shalat&lt;br /&gt;
Sebab-sebabnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Safar&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Jika Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau 
akhirkan Zhuhur hingga waktu &#39;Ashar. Beliau turun dari kendaraannya lalu
 menjama&#39; keduanya. Dan jika matahari sudah tergelincir sebelum 
melakukan perjalanan, maka beliau shalat Zhuhur lalu naik kendaraan.&quot; 
[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Mu&#39;adz Radhiyallahu anhu: &quot;Saat terjadinya perang Tabuk, jika Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa salalm bepergian sebelum matahari tergelincir, 
beliau akhirkan Zhuhur sampai waktu &#39;Ashar. Kemudian beliau menjama&#39; 
kedua shalat tersebut. Jika bepergian sesudah matahari tergelincir, 
beliau menjama&#39; shalat Zhuhur dengan &#39;Ashar lalu berangkat. Bila 
bepergian sebelum Maghrib, beliau akhirkan Maghrib hingga menjama&#39;nya 
dengan &#39;Isya. Bila bepergian setelah Maghrib, beliau mengawalkan waktu 
&#39;Isya dan menjama&#39;nya dengan Maghrib.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih dari Mu’adz: &quot;Para Sahabat pernah bepergian bersama Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ketika perang Tabuk. Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam menjama&#39; shalat Zhuhur dengan &#39;Ashar, dan 
shalat Maghrib dengan &#39;Isya&#39;.&quot; Dia berkata lagi: &quot;Pada suatu hari beliau
 mengakhirkan shalat. Beliau keluar lalu shalat Zhuhur dan &#39;Ashar dengan
 dijama&#39;. Setelah itu beliau masuk. Tak lama kemudian beliau keluar lagi
 lalu shalat Maghrib dan &#39;Isya dengan dijama&#39;.&quot;[13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Hujan&lt;br /&gt;
Dari Nafi&#39; Radhiyallahu anhu, &quot;Jika &#39;Abdullah Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu 
anhuma mengumpulkan para amir (gubernur) antara Maghrib dan &#39;Isya&#39; 
ketika hujan, maka dia menjama&#39; shalat bersama mereka.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Hisyam bin &#39;Urwah: &quot;Ayahnya -&#39;Urwah-, Sa&#39;id bin al-Musayyib, dan 
Abu Bakar bin &#39;Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah 
al-Makhzumi pernah menjama&#39; shalat Maghrib dengan &#39;Isya&#39; pada suatu 
malam ketika hujan turun. Mereka menjama&#39; kedua shalat tersebut tanpa 
ada yang mengingkari.&quot; [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Musa bin &#39;Uqbah, &quot;Ketika turun hujan, ‘Umar bin &#39;Abdul &#39;Aziz pernah
 menjama&#39; shalat Maghrib dengan &#39;Isya&#39; di akhir waktu. Sedangkan Sa&#39;id 
bin al-Musayyib, &#39;Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin &#39;Abdurrahman, 
beserta para ulama zaman itu bermakmum di belakangnya. Namun, mereka 
tidak mengingkari perbuatan tersebut.&quot; [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah menjama&#39; shalat Zhuhur dengan 
&#39;Ashar, dan shalat Maghrib dengan &#39;Isya&#39;, tidak dalam keadaan takut 
maupun safar.&quot;[16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia juga berkata, &quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah 
menjama&#39; shalat Zhuhur dengan &#39;Ashar dan shalat Maghrib dengan &#39;Isya di 
Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan.&quot; [17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma memberikan indikasi bahwa menjama&#39; 
shalat ketika hujan sudah diketahui pada masa Nabi Shallallahu &#39;alaihi 
wa sallam. Jika tidak demikian, maka tidak ada gunanya menyebutkan 
kalimat &quot;tanpa hujan&quot; sebagai alasan dibolehkannya menjama&#39; shalat.&quot; 
[18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kebutuhan Mendesak&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah menjama&#39; shalat Zhuhur dengan 
&#39;Ashar di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun dalam perjalanan.&quot; 
Abu az-Zubair berkata, Lalu aku bertanya pada Sa&#39;id, ‘Kenapa beliau 
melakukannya?’ Dia menjawab, ‘Aku pernah bertanya hal yang sama kepada 
Ibnu &#39;Abbas. Lalu dia berkata, ‘Beliau tidak ingin memberatkan salah 
seorang pun dari umatnya.’&quot; [19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih dari Ibnu ‘Abbas, &quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah
 menjama&#39; shalat Zhuhur dengan &#39;Ashar, dan shalat Maghrib dengan &#39;Isya 
di Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan.&quot; Ibnu &#39;Abbas 
Radhiyallahu anhuma ditanya, &quot;Apa maksud di balik perbuatan beliau itu?&quot;
 Dia menjawab, &quot;Beliau tidak ingin memberatkan umatnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (V/219), &quot;Sejumlah imam 
berpendapat tentang bolehnya menjama&#39; shalat dalam keadaan mukim bagi 
orang yang tidak menjadikannya kebiasaan. Ini adalah pendapat Ibnu Sirin
 dan Asyhab, pengikut Imam Malik. Al-Khaththabi meriwayatkan pendapat 
ini dari al-Qaffal dan asy-Syasyi al-Kabiir, pengikut imam asy-Syafi&#39;i, 
dari Abu Ishaq al-Marwazi, dari mayoritas kalangan ahli hadits. Ibnul 
Mundzir juga memilih pendapat ini. Pendapat ini diperkuat oleh zhahir 
perkataan Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma : &quot;Beliau tidak ingin 
memberatkan umatnya.&quot; Dia tidak menyebutkan alasan sakit atau yang 
lainnya. Wallaahu a’lam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3762)], Shahiih Muslim 
(I/478 no. 686), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/64 no. 1187), 
Sunan an-Nasa-i (III/116), Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1065), dan Sunan 
at-Tirmidzi (IV/309 no. 5025).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 876)], Shahiih Muslim (I/479
 no. 687), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/124 no. 1234), Sunan 
an-Nasa-i (III/118), dan Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1068), tanpa 
kalimat terakhir.&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 871)], Sunan an-Nasa-i (III/183), dan Sunan Ibni Majah (I/338 no. 1063).&lt;br /&gt;
[4]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/569 no. 
1090)], Shahiih Muslim (I/478 no. 685), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (IV/63 no. 1186), dan Sunan an-Nasa-i (I/225).&lt;br /&gt;
[5]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/479 no. 689)], Sunan Abi Dawud
 (‘Aunul Ma’buud) (IV/90 no. 1211), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) 
(II/577 no. 1102), dan Sunan an-Nasa-i (III/123).&lt;br /&gt;
[6]. Al-Muhalla (V/21).&lt;br /&gt;
[7]. Fiqhus Sunnah (I/240, 241)]. Ucapan Anas Radhiyallahu anhu 
diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/569 no. 1089),
 Shahiih Muslim (I/480 no. 690), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/69
 no. 1190), Sunan at-Tirmidzi (II/29 no. 544), dan Sunan an-Nasa-i 
(I/235). Yang dimaksud dengan ucapan-nya: &quot;Di Dzul Hulaifah dua 
raka&#39;at,&quot; adalah shalat &#39;Ashar. Sebagaimana di-jelaskan oleh 
riwayat-riwayat lain, selain riwayat Shahiih al-Bukhari.&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1094)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/102 no. 1223).&lt;br /&gt;
[9]. Fiqhus Sunnah (I/241).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 575)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul 
Baari) (II/561 no. 1080), Sunan at-Tirmidzi (II/31 no. 547), Sunan Ibni 
Majah (I/341 no. 1075), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/97 no. 
1218), hanya saja dia mengatakan: &quot;Tujuh belas.&quot;&lt;br /&gt;
[11]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/583 no. 
1112)], Shahiih Muslim (I/489 no. 704), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (IV/58 no. 1206), dan Sunan an-Nasa-i (I/284).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1067)], Ahmad (Fat-hur 
Rabbaani) (V/120 no. 1236), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/75 no. 
1196), dan Sunan at-Tirmidzi (II/33 no. 551).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1065)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/72 no. 1194), Sunan an-Nasa-i (I/284), Muslim dan 
Ibnu Majah hanya meriwayatkan bagian pertama saja di Shahiih Muslim 
(I/490 no. 706), dan Sunan Ibni Majah (I/340 no. 1070).&lt;br /&gt;
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/40)], Muwaththa&#39; al-Imam Malik (hal. 102 no. 328).&lt;br /&gt;
[15]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/40)] dan al-Baihaqi (III/168, 169).&lt;br /&gt;
[16]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1068)].&lt;br /&gt;
[17]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1070)], Shahiih Muslim 
(I/489 no. 705), Sunan an-Nasa-i (I/290), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (IV/ 77 no. 1198), dengan tambahan kalimat terakhir.&lt;br /&gt;
[18]. Ucapan al-Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil (III/40).&lt;br /&gt;
[19]. Telah ditakhrij sebelumnya.&lt;br /&gt;
(Sumber :&lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt; http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/3897665685897840786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-orang-yang-melakukan-safar-oleh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3897665685897840786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3897665685897840786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-orang-yang-melakukan-safar-oleh.html' title='SHALAT ORANG YANG MELAKUKAN SAFAR Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-3005388157168365301</id><published>2012-10-12T22:58:00.002-07:00</published><updated>2012-10-12T22:58:26.978-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>SHALAT BERJAMA&#39;AH  Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>
A. Hukumnya&lt;br /&gt;
Hukum shalat berjama&#39;ah adalah fardhu ‘ain bagi pria yang telah terkena kewajiban shalat, kecuali ada halangan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ 
فَيُحْطَبُ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ 
رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَـالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ 
عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ يَعْلَمُ 
أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا أَوْ مِرْمَـاتَيْنِ 
حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ الْعِشَاءَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sesungguhnya aku bertekad 
untuk menyuruh seseorang agar mengumpulkan kayu bakar, lalu aku menyuruh
 shalat dan diserukan untuknya. Kemudian kusuruh seorang laki-laki 
mengimami manusia. Setelah itu kudatangi orang-orang yang tidak 
menghadiri shalat jama&#39;ah dan kubakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang
 jiwaku berada di tangan-Nya. Andai salah seorang di antara mereka tahu 
bahwa ia akan memperoleh sepotong daging gemuk dan dua kaki (daging) 
hewan berkuku belah yang baik, niscaya ia akan mendatangi shalat 
&#39;isya&#39;.&quot;[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam didatangi seorang laki-laki buta. Dia berkata, ‘Wahai 
Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mempunyai seorang pemandu yang 
menuntunku ke masjid.’ Kemudian dia meminta keringanan untuk shalat di 
rumahnya. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pun memberinya 
keringanan. Ketika dia berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata, 
&quot;Apakah engkau mendengar adzan shalat?&quot; Dia berkata, &quot;Ya.&quot; Beliau lantas
 berkata, &quot;Kalau begitu datanglah (untuk shalat berjama’ah).&quot;[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Barangsiapa yang suka 
bila kelak menemui Allah dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia 
senantiasa menjaga shalat-shalat (wajib) ini ketika diseru kepadanya. 
Sesungguhnya Allah telah mensyari&#39;atkan petunjuk kebenaran bagi Nabi 
kalian. Dan shalat berjama’ah termasuk petunjuk kebenaran. Jika kalian 
shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang ketinggalan ini 
shalat di rumahnya, maka kalian telah meninggalkan petunjuk Nabi kalian.
 Jika kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian, niscaya sesatlah kalian.
 Tidaklah seorang laki-laki berwudhu&#39; lalu ia menyempurnakan wudhu&#39;nya 
lantas ia menuju salah satu masjid, kecuali Allah mencatat setiap 
langkah yang ia jalani sebagai satu kebaikan. Dengan langkah itu Allah 
mengangkatnya satu derajat. Dan dengannya pula Allah menghapuskan satu 
keburukan darinya. Sungguh, telah kuamati keadaan kami (para Sahabat). 
Dan tidak ada yang ketinggalan dari shalat jama’ah melainkan orang 
munafiq yang telah dikenal kemunafikannya. Sungguh, dulu pernah ada 
seorang laki-laki yang diapit (dituntun) oleh dua orang laki-laki hingga
 didirikan pada shaff.”[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلاَ صَلاَةَ لَهُ، إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa mendengar adzan, kemudian tidak mendatanginya, maka tidak 
ada shalat baginya (tidak sempurna shalatnya-ed.) kecuali ia memiliki 
halangan.”[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Keutamaannya&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةُ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.”[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي 
بَيْتِهِ وَفِي سُوْقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضَعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ 
إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ 
لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ 
لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى 
لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ: 
&quot;اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ،&quot; وَلاَ يَزَالُ 
أَحَدُكُمْ فِيْ صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shalat seorang laki-laki dengan berjama&#39;ah lebih utama (dilipatgandakan
 ganjarannya) dua puluh lima kali lipat dibandingkan shalatnya di rumah 
dan di pasarnya. Karena jika dia berwudhu&#39; lalu menyempurnakan 
wudhu&#39;nya. Kemudian keluar menuju masjid hanya untuk shalat. Maka 
tidaklah ia melangkah kecuali dengan satu langkah itu derajatnya 
diangkat. Dan dengan langkah itu satu kesalahannya dihapuskan. Jika dia 
shalat, maka Malaikat senantiasa mendo’akannya selama dia berada di 
tempat shalatnya: ‘Ya Allah, selamatkanlah dia. Ya Allah, rahmatilah 
dia.’ Salah seorang di antara kalian senantiasa (dianggap) dalam shalat 
selama dia menunggu shalat.&quot;[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa salalm, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ نَزْلَهُ مِنَ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa pergi ke masjid lalu kembali, maka Allah menyediakan karunia-Nya dari Surga baginya saat pergi dan kembali.&quot;[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Apakah Wanita Juga Menghadiri Shalat Jama&#39;ah?&lt;br /&gt;
Dibolehkan bagi wanita mendatangi masjid dan mengikuti shalat jama&#39;ah. 
Dengan syarat menghindari hal-hal yang membangkitkan syahwat dan 
menimbulkan fitnah, seperti perhiasan dan parfum.[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ تَمْنَعُوْا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian mendatangi masjid. Sedangkan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بُخُوْرًا فَلاَ تَشْهَدْنَ مَعَنَا الْعِشَاءَ اْلآخِرَةَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wanita mana saja yang memakai wewangian, maka janganlah ia shalat &#39;Isya&#39; di waktu akhir bersama kami.&quot;[10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan darinya, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ، لكِنْ وَلْيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ.&lt;br /&gt;
“Janganlah kalian halangi para hamba wanita Allah menghadiri 
masjid-masjid Allah. Jika mereka hendak keluar juga, maka hendaknya 
mereka tidak mengenakan wangi-wangian.” [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.&lt;br /&gt;
Sekalipun wanita diperbolehkan mendatangi masjid, hanya saja shalat mereka di dalam rumah-rumah mereka lebih utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ummu Humaid as-Sa’idiyyah Radhiyallahu anha. Dia mendatangi 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah,
 sesungguhnya saya senang shalat bersamamu.” Beliau Shallallahu &#39;alaihi 
wa sallam berkata, “Sesungguhnya saya mengetahui bahwa engkau senang 
shalat bersamaku. Namun, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada 
shalatmu di kamarmu. Dan shalatmu di kamarmu lebih baik daripada 
shalatmu di tempat tinggalmu. Dan shalatmu di tempat tinggalmu lebih 
baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu 
lebih baik daripada shalatmu di masjidku.&quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Adab Berjalan ke Masjid&lt;br /&gt;
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ketika kami shalat 
bersama Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau mendengar 
suara gaduh orang-orang. Tatkala beliau selesai shalat, beliau bertanya,
 ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami mendatangi shalat 
dengan tergesa-gesa.’ Beliau bersabda, ‘Janganlah kalian melakukannya 
lagi. Jika kalian mendatangi shalat, maka bersikap tenanglah. Apa yang 
kalian dapati, maka shalatlah. Dan apa yang terlewatkan oleh kalian, 
maka sempurnakanlah.’”[13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا سَمِعْتُمُ اْلإِقَـامَةَ فَامْشَوْا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ 
بِالسَّكِيْنَةِ وَالْوِقَارِ، وَلاَ تَسْرَعُوْا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ 
فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kalian mendengar iqamat, maka datangilah shalat dengan tenang, 
santai, dan tidak tergesa-gesa. Apa yang kalian dapati, maka shalatlah. 
Dan apa yang kalian lewatkan, maka sempurnakanlah.” [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُـوْءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَـامِدًا
 إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَشْبِكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَإِنَّهُ فِيْ 
صَلاَةٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu&#39; lalu menyempurnakan 
wudhu&#39;nya. Kemudian keluar menuju masjid, maka janganlah ia menyilangkan
 jari-jemarinya, karena dia sedang dalam shalat.&quot;[15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Do’a keluar rumah&lt;br /&gt;
Bacaan yang diucapkan ketika keluar rumah.&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ قَالَ -يَعْنِي إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ- &quot;بِسْمِ اللهِ، 
تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ&quot;، 
يُقَالُ لَهُ: هُدِيْتَ وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ وَتَنَحَّى عَنْهُ 
الشَّيْطَانُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa yang ketika keluar rumahnya mengucap: ‘Dengan nama Allah, 
aku berserah diri kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari 
Allah.’ Maka dikatakan padanya, ‘Engkau telah diberikan petunjuk, 
tercukupi, terlindungi, dan syaitan menjauhimu.”[16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya ia tidur di rumah 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, ia menggambarkan shalat malam 
beliau. Dia berkata, “Lalu mu-adzin mengumandangkan adzan dan beliau 
keluar untuk shalat sambil mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِي نُوْرًا، وَفِيْ لِسَانِي نُوْرًا، 
وَاجْعَلْ فِيْ سَمْعِـي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِيْ بَصَرِي نُوْرًا، 
وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُوْرًا وَمِنْ أَمَـامِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ 
فَوْقِي نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِي نُوْرًا، اَللّهُمَّ أَعْطِنِي نُوْرًا.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, lisan, pendengaran, dan 
penglihatanku. Jadikanlah cahaya dari belakangku, depan, atas, dan 
bawahku. Ya Allah, berilah aku cahaya.” [17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Do’a masuk masjid&lt;br /&gt;
Bacaan yang diucapkan ketika memasuki masjid:&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah bin &#39;Amr bin al-&#39;Ash Radhiyallahu anhu, dari Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam : “Jika beliau masuk masjid beliau 
mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan Wajah-Nya Yang 
mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang terdahulu dari godaan syaitan yang 
terkutuk.” [18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Fathimah binti Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, ia 
berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam masuk masjid, 
beliau mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
بِسْمِ اللهِ، وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan Nama Allah. Semoga kesejahteraan tercurah atas Rasulullah. Ya 
Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukakan-lah pintu rahmat-Mu bagiku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan apabila keluar, beliau mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;بِسْمِ اللهِ، وَالسَّلاَمُ عَلى رَسُوْلِ اللهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan nama Allah. Semoga kesejahteraan tercurah atas Rasulullah. Ya 
Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukakan-lah pintu karunia-Mu bagiku.” 
[19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Shalat Tahiyyatul Masjid&lt;br /&gt;
Jika seseorang masuk masjid, maka dia wajib shalat dua raka’at sebelum duduk. &lt;br /&gt;
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah ia 
duduk terlebih dahulu sampai ia melaksanakan shalat dua raka’at.” [20]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya katakan bahwa hal ini wajib, disebabkan zhahir perintah dalam 
hadits di atas, dimana tidak terdapat indikasi yang memalingkannya dari 
zhahir tersebut. Kecuali hadits Thalhah bin &#39;Ubaidillah, &quot;Seorang Arab 
Badui menemui Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan rambut 
acak-acakan. Dia kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah 
kepadaku tentang shalat yang diwajibkan Allah bagiku.’ Beliau menjawab, 
&quot;Shalat lima waktu, kecuali jika engkau menambah (dengan shalat 
sunnah)…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Menurut saya, menjadikan hadits ini sebagai dalil bagi tidak wajibnya 
shalat yang baru saja disebutkan masih harus ditinjau kembali, karena 
apa yang terjadi pada awal pembelajaran tidak bisa dijadikan sebagai 
pegangan untuk memalingkan (wajibnya) perkara-perkara yang datang 
sesudahnya. Jika tidak demikian, maka kewajiban-kewajiban syari’at hanya
 terbatas pada shalat lima waktu yang disebutkan saja. Ini menyelisihi 
ijma&#39; dan meniadakan mayoritas ajaran agama. Yang benar adalah mengambil
 dalil yang terakhir jika memang ada dalil yang shahih. Setelah itu 
mengamalkan isinya, baik itu wajib, sunnah, atau yang semisalnya. Dalam 
masalah ini memang terdapat khilaf. Namun, inilah pendapat yang paling 
kuat dari dua pendapat yang ada.” [21]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai penguat kewajiban hukumnya adalah Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam memerintahkannya sekalipun imam sedang khutbah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Seorang 
laki-laki masuk (ke masjid) pada saat Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam
 sedang khutbah Jum’at. Lalu beliau bertanya, &quot;Hai Fulan, apakah engkau 
sudah shalat?&quot; Dia menjawab, &quot;Belum.&quot; Beliau berkata, &quot;Berdiri dan 
shalatlah.&quot;[22]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika memang tahiyyat boleh ditinggalkan pada suatu keadaan tersebut, 
maka pada saat ini dia boleh ditinggalkan. Karena orang tadi telah 
duduk, sedangkan shalat tersebut disyari&#39;atkan sebelum duduk. Dan juga 
karena orang tadi tidak mengetahui hukumnya. Ditambah lagi karena Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam memotong khutbahnya, berbicara dengannya, 
lalu menyuruhnya shalat tahiyyat. Sekiranya bukan karena perhatian 
beliau yang sangat besar terhadap tahiyyat pada semua waktu, niscaya 
beliau tidak akan menaruh perhatian sebesar ini.&quot; [23]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib.&quot;[24]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Malik bin Buhainah Radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata, “Rasulullah
 Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki sedang shalat 
dua raka’at pada saat iqamat telah dikumandangkan. Ketika Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam selesai, orang-orang lalu mengerumuninya. 
Kepada orang tadi Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata, 
‘Apakah shalat Shubuh empat raka’at? Apakah shalat Shubuh empat 
raka’at?’ [25]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Keutamaan mendapati takbir bersama imam&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ صَلَّى ِللهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِيْ جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ 
التَّكْبِيْرَةَ اْلأُوْلَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ 
النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa shalat jama&#39;ah ikhlas karena Allah selama empat puluh hari 
dengan mendapati takbir pertama, maka dibebaskan dari dua perkara: dari 
Neraka dan kemunafikan.&quot; [26]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangsiapa datang ke masjid sedangkan imam telah shalat&lt;br /&gt;
Dari Sa&#39;id bin al-Musayyib rahimahullah, dia berkata, “Seorang laki-laki
 dari kalangan Anshar sedang dalam keadaan sakaratul maut, lalu ia 
berkata, ‘Sesungguhnya aku akan memberitahu kalian sebuah hadits. Aku 
tidak memberitahu kalian kecuali hanya mengharap pahala dari Allah. Aku 
mendengar Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى 
الصَّلاَةِ، لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ الْيُمْنَى إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لَهُ 
حَسَنَةً، وَلَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ الْيُسْرَى إِلاَّ حَطَّ اللهُ عَنْهُ 
سَيِّئَةً، فَلْيَقْتَرِبْ أَحَدُكُمْ أَوْ لِيُبَعِّدْ، فَإِنْ أَتَى 
الْمَسْجِدَ فَصَلَّى فِيْ جَمَاعَةٍ غُفِرَ لَهُ، فَإِنْ أَتَى 
الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا بَعْضًا وَبَقِيَ بَعْضٌ صَلَّى مَا أَدْرَكَ 
وَأَتَمَّ مَا بَقِيَ، كَـانَ كَذلِكَ، فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ 
صَلَّوْا فَأَتَمَّ الصَّلاَةَ كَانَ كَذلِكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika salah seorang dari kalian wudhu&#39; lalu menyempurnakan wudhu&#39;nya. 
Setelah itu pergi keluar untuk shalat (berjama&#39;ah), maka tidaklah ia 
mengangkat kaki kanannya melainkan Allah Azza wa Jalla mencatat sebuah 
kebaikan baginya. Dan tidaklah ia me-letakkan kaki kirinya melainkan 
Allah Azza wa Jalla menghapuskan sebuah kesalahan darinya. Hendaklah 
salah seorang di antara kalian (memilih antara) memperpendek atau 
memperpanjang langkahnya. Jika dia datang ke masjid kemudian shalat 
berjama&#39;ah, maka diampunilah dosanya. Jika dia mendatangi masjid pada 
saat orang-orang telah menyelesaikan beberapa raka’at dan masih tersisa 
beberapa raka’at, lalu dia ikut shalat dan menyempurnakan raka’at yang 
tersisa, maka dia pun mendapat pahala seperti tadi. Jika dia mendatangi 
masjid pada saat orang-orang telah menyelesaikan shalat, lantas dia 
menunaikan shalatnya, maka dia pun mendapat pahala seperti tadi.&quot; [27]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ 
صَلَّوْا، أَعْطَاهُ اللهُ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلاَّهَا وَحَضَرَهَا، لاَ 
يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa wudhu&#39; lalu membaguskan wudhu&#39;nya. Kemudian menuju masjid 
tapi dia dapati orang-orang telah selesai shalat, maka Allah Azza wa 
Jalla memberinya pahala orang yang melaksanakan dan menghadiri shalat 
jama’ah tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.&quot; [28]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Memasuki shalat dengan mengikuti imam dalam keadaan apa pun&lt;br /&gt;
Dari ‘Ali bin Abi Thalib dan Mu’adz bin Jabal, mereka mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ وَاْلإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ اْلإِمَامُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian mendatangi shalat jama&#39;ah pada saat
 imam sedang berada pada suatu keadaan, maka hendaklah ia melakukan 
gerakan sebagaimana yang sedang dilakukan imam.&quot;[29]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapankah seseorang dianggap masih mendapatkan satu raka’at?&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ وَنَحْنُ سُجُوْدٌ فَاسْجُدُوْا، وَلاَ 
تَعَدُّوْهَا شَيْئًا، وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ 
الصَّلاَةَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kalian mendatangi shalat jama&#39;ah pada saat kami sedang sujud, maka
 sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at). Dan barangsiapa 
mendapati (imam) sedang ruku&#39;, maka dia mendapat satu raka’at shalat.&quot; 
[30]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang orang yang ruku&#39; sebelum sampai di shaff&lt;br /&gt;
Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, ia mendapati Nabi Shallallahu &#39;alaihi
 wa sallam sedang ruku&#39;, ia lantas ruku&#39; sebelum sampai di shaff. 
Kemudian Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam diberitahu akan hal 
tersebut. Lalu beliau bersabda, “Semoga Allah menambah semangatmu, namun
 janganlah engkau mengulanginya lagi.” [31]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Atha&#39; Radhiyallahu anhu, ia mendengar Ibnu az-Zubair berkhutbah di
 atas mimbar, “Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid pada 
saat orang-orang ruku&#39;, maka hendaklah dia ruku&#39; hingga masuk. Setelah 
itu, hendaklah dia berjalan sambil tetap ruku&#39; sampai tiba di shaff. 
Karena yang seperti itu adalah Sunnah.” [32]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Zaid bin Wahb rahimahullah, ia berkata, “Aku keluar bersama 
&#39;Abdullah -maksudnya, ‘Abdullah bin Mas’ud- dari rumahnya menuju masjid.
 Ketika kami sampai di pertengahan masjid, imam ruku’. ‘Abdullah lalu 
bertakbir dan ruku&#39;, lantas aku pun ikut ruku&#39; bersamanya. Setelah itu 
kami berjalan hingga sampai di shaff, ketika itu orang-orang tengah 
mengangkat kepala mereka. Pada waktu imam telah menyelesaikan shalatnya,
 aku bangkit. Aku mengira belum mendapat satu raka’at. &#39;Abdullah 
langsung menarik tanganku dan mendudukkanku. Kemudian dia berkata, 
“Sesungguhnya engkau telah mendapat satu raka’at.” [33]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/125 no. 
644)], ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (I/451 no. 651), dengan 
lafazh yang mirip. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/251 no. 544), 
Sunan Ibni Majah (I/259 no. 791), tidak terdapat kalimat terakhir pada 
riwayat ini, Sunan an-Nasa-i (II/107), dengan lafazh al-Bukhari.&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 320)], Shahiih Muslim (I/452 no. 653), Sunan an-Nasa-i (II/109).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 631)], Shahiih Muslim (I/453
 no. 654 (257)), Sunan an-Nasa-i (II/108), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/254 no. 546), Sunan Ibni Majah (I/255 no. 777).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 645)], Sunan Ibni Majah 
(I/260 no. 793), Mustadrak al-Hakim (I/245), al-Baihaqi (III/174).&lt;br /&gt;
[5]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/131 no. 
645)], Shahiih Muslim (I/450 no. 650), Sunan at-Tirmidzi (I/138 no. 
215), Sunan an-Nasa-i (II/103), Sunan Ibni Majah (I/259 no. 789).&lt;br /&gt;
[6]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/131 no. 
647)], Shahiih Muslim (I/459 no. 649), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/265 no. 555).&lt;br /&gt;
[7]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/148 no. 662), Shahiih Muslim (I/463 no. 669).&lt;br /&gt;
[8]. Fiqhus Sunnah (I/193).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 530)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/274 no. 563), Ahmad (Fat-hur Rabbaani) (V/195 no. 
1333).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2702)], Shahiih Muslim 
(I/328 no. 444), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XI/231 no. 4157), 
Sunan an-Nasa-i (VIII/154).&lt;br /&gt;
[11]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 529)], Sunan Abi Dawud
 (‘Aunul Ma’buud) (II/273 no. 561), Ahmad (Fat-hur Rabbani) (V/193 no. 
1328).&lt;br /&gt;
[12]. Hasan: [Ahmad (Fat-hur Rabbani) (V/198 no. 1337)], Shahiih Ibni Khuzaimah (III/95 no. 1689).&lt;br /&gt;
[13]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/116 no. 635)], Shahiih Muslim (I/421 no. 603).&lt;br /&gt;
[14]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/117 no. 
636)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/420 no. 602), Sunan 
Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/278 no. 568), Sunan at-Tirmidzi (I/205 
no. 326), Sunan an-Nasa-i (II/114), Sunan Ibni Majah (I/255 no. 775).&lt;br /&gt;
[15]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 316)], Sunan at-Tirmidzi 
(I/239 no. 384), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/268 no. 558).&lt;br /&gt;
[16]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6419)], Sunan Abi Dawud
 (‘Aunul Ma’buud) (XIII/437 no. 5073), Sunan at-Tirmidzi (V/154 no. 
3486).&lt;br /&gt;
[17]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 379)], Shahiih Muslim 
(I/530 no. 763 (191)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/230 no. 
1340).&lt;br /&gt;
[18]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 441)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/132 no. 462).&lt;br /&gt;
[19]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 625)], Sunan Ibni Majah (I/253 no. 771), Sunan at-Tirmidzi (I/197 no. 313).&lt;br /&gt;
[20]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[21]. Nailuul Authaar (I/364).&lt;br /&gt;
[22]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/407 no. 
930)], Shahiih Muslim (II/596/875), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/464 no. 1102), Sunan at-Tirmidzi (II/10 no. 508), Sunan Ibni Majah 
(I/1112 no. 353), Sunan an-Nasa-i (III/107). &lt;br /&gt;
[23]. [Shahiih Muslim dengan Syarh an-Nawawi (V/226)].&lt;br /&gt;
[24]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 263)], Shahiih Muslim 
(I/493 no. 710), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/143, 142 no. 
1252), Sunan at-Tirmidzi (I/264 no. 419), Sunan Ibni Majah (I/364 no. 
1151), Sunan an-Nasa-i (II/116).&lt;br /&gt;
[25]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/148 no. 
663)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/493 no. 711).&lt;br /&gt;
[26]. Hasan: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 200)], Sunan at-Tirmidzi (I/152 no. 241).&lt;br /&gt;
[27]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 527)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/270 no. 559).&lt;br /&gt;
[28]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 528), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/272 no. 560), Sunan an-Nasa-i (II/111).&lt;br /&gt;
[29]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 484)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 261), Sunan at-Tirmidzi (II/51 no. 588).&lt;br /&gt;
[30]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 468)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/145/875).&lt;br /&gt;
[31]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3565)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/267 no. 783), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/378 no. 67069), Sunan an-Nasa-i (II/118).&lt;br /&gt;
[32]. Sanadnya shahih: [Ash-Shahiihah (no. 229)].&lt;br /&gt;
[33]. Shahih: [Ash-Shahiihah (II/52)], al-Baihaqi (II/90)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;E. Perintah Meringankan Shalat Bagi Imam&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا صَلَّـى أَحَدُكُمْ لِلنَّـاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ 
الضَّعِيْفَ وَالسَّقِيْمَ وَالْكَبِيْرَ، فَإِذَا صَلَّى لِنَفْسِهِ 
فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, maka 
hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada yang lemah, 
sakit, dan orang tua. Namun, jika dia shalat sendirian, maka dia boleh 
memperpanjang sesuka hatinya. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Imam memperpanjang raka’at pertama&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pada waktu itu shalat 
Zhuhur telah ditegakkan. Lalu ada seorang yang pergi ke Baqi’ untuk 
buang hajat. Kemudian ia berwudhu’ lalu mendatangi shalat jama’ah 
sedangkan Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam masih berada pada 
raka’at pertama karena terlalu panjangnya.” [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Wajib mengikuti imam dan dilarang mendahuluinya&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّمَـا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ 
فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا، وَإِذَا رَفَعَ 
فَارْفَعُوْا...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika dia bertakbir, maka
 bertakbirlah. Jika dia sujud, maka sujudlah. Dan jika dia bangkit, maka
 bangkitlah…” [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَ مَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ 
يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ 
صُوْرَةَ حِمَارٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidakkah salah seorang di antara kalian takut jika Allah menjadikan 
kepalanya seperti kepala keledai bila dia mengangkat kepalanya sebelum 
imam melaksanakannya. Atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Siapakah yang berhak menjadi imam?&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu angu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوْا فِي 
الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوْا فِي 
السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوْا فِي 
الْقِرَاءَةِ سَوَاءً، فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ
 &lt;br /&gt;
الرَّجُلَ فِيْ سُلْطَانِهِ، وَلاَ يَقْعُدْ فِيْ بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling banyak hafal 
al-Qur-an di antara mereka. Jika dalam bacaan sama, maka yang paling 
tahu tentang Sunnah. Jika dalam Sunnah sama, maka yang paling dahulu 
berhijrah. Jika dalam hijrah sama, maka yang paling dahulu masuk Islam. 
Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam kekuasaannya. Dan 
janganlah menduduki tempat duduk yang khusus di rumah orang itu kecuali 
dengan izinnya.&quot;[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa pemilik rumah, imam tetap, atau yang 
semisal mereka lebih berhak menjadi imam daripada yang selain mereka 
kecuali setelah diizinkan. Dasarnya adalah sabda beliau Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِيْ سُلْطَانِهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam daerah kekuasaannya...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Imam anak-anak&lt;br /&gt;
Dari &#39;Amr bin Salamah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ketika terjadi 
penaklukan kota Makkah, setiap kaum berbondong-bondong masuk Islam. 
Ayahku paling dulu masuk Islam di antara kaumnya. Tatkala dia tiba, dia 
berkata, &quot;Demi Allah, aku membawakan kalian sebuah kebenaran yang datang
 dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Kerjakanlah shalat ini pada 
waktu ini, dan kerjakanlah shalat itu pada waktu itu. Jika waktu shalat 
telah tiba, maka hendaklah salah seorang di antara kalian adzan. Dan 
hendaklah yang paling banyak bacaannya di antara kalian mengimami 
kalian. Lantas mereka mencari-cari, namun tidak seorang pun yang lebih 
banyak hafalan al-Qur-an dibandingkan aku. Karena aku pernah belajar 
langsung dari para kafilah. Mereka lantas menyuruhku maju ke hadapan 
mereka (untuk menjadi imam). Saat itu umurku enam atau tujuh tahun.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F. Orang yang Shalat Fardhu Bermakmum Kepada Orang yang Shalat Sunnah dan Sebaliknya&lt;br /&gt;
Dari Jabir: “Mu&#39;adz bin Jabal Radhiyallahu anhu pernah bermakmum kepada 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam lantas pulang dan mengimami 
kaumnya.”[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Yazid bin al-Aswad Radhiyallahu anhu : “Ketika masih muda, dia 
pernah bermakmum kepada Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. 
Tatkala selesai shalat, ternyata ada dua orang pria yang belum shalat 
sedang berada di sudut masjid. Lalu beliau memanggil mereka. Mereka 
kemudian datang dengan gemetaran. Beliau bertanya, ‘Apa yang menghalangi
 kalian untuk shalat berjama’ah dengan kami?’ Mereka menjawab, ‘Kami 
sudah shalat di tempat tinggal kami.’ Beliau berkata, ‘Janganlah kalian 
berbuat seperti itu, jika salah seorang di antara kalian telah 
menunaikan shalat di tempat tinggalnya, kemudian menjumpai imam yang 
belum shalat, maka shalatlah bersamanya. Karena shalat yang (kedua) itu 
adalah sunnah baginya.’” [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
G. Orang yang Mukim Bermakmum Kepada Orang yang Musafir dan Sebaliknya&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “‘Umar Radhiyallahu 
anhu mengimami penduduk Makkah shalat Zhuhur. Lalu dia salam pada 
raka’at kedua dan berkata, ‘Wahai penduduk Makkah, sempurnakanlah shalat
 kalian. Karena sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan (musafir).’” 
[9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
H. Jika Seorang Musafir Bermakmum Kepada Orang yang Mukim, Maka Dia Harus Menyempurnakan Shalatnya (Tidak Mengqashar-ed.)&lt;br /&gt;
Dari Musa bin Salamah al-Hudzali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku 
bertanya pada Ibnu ‘Abbas, ‘Bagaimana aku shalat jika berada di Makkah 
dan tidak berjama’ah dengan imam?’ Dia menjawab, ‘Dua raka’at. Itulah 
Sunnah Abul Qasim Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.’” [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Mijlaz, ia berkata, “Aku berkata pada Ibnu ‘Umar, ‘Seorang 
musafir mendapatkan dua raka’at (terakhir dari) shalat suatu kaum 
-maksudnya, orang-orang yang mukim-. Apakah cukup dua raka&#39;at itu 
ataukah dia shalat sesuai shalat mereka?’ Dia tertawa lalu berkata, ‘Dia
 harus mengikuti shalat mereka (tidak mengqashar).’” [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I. Jika Orang yang Mampu Berdiri Bermakmum Kepada Orang yang Duduk, Maka Dia Harus Duduk Sepertinya&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam pernah shalat di rumah beliau dalam keadaan sakit. 
Maka beliau shalat sambil duduk. Kemudian orang-orang shalat sambil 
berdiri di belakang beliau. Lalu beliau memberi isyarat pada mereka agar
 duduk. Ketika selesai, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّمَـا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا رَكَعَ 
فَارْكَعُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا، وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا 
فَصَلُّوْا جُلُوْسًا. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia ruku’, maka 
ruku&#39;lah. Jika dia bangkit, maka bangkitlah. Dan jika ia shalat sambil 
duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam pernah jatuh dari kudanya. Kulit tubuh sebelah kanan beliau 
terkelupas. Kami menjenguk beliau. Lalu datanglah waktu shalat. Beliau 
lantas mengimami kami sambil duduk. Kami pun shalat di belakang beliau 
sambil duduk. Tatkala selesai mengerjakan shalat, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّمَا جُعِلَ اْلإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَـبَّرَ 
فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا، وَإِذَا رَفَعَ فَارْفَعُوْا، 
وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُوْلُوْا: رَبَّنَـا 
وَلَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوْا قُعُوْدًا 
أَجْمَعُوْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya, imam itu diangkat untuk diikuti. Jika dia bertakbir, maka
 bertakbirlah. Jika dia sujud, maka sujudlah. Dan jika dia bangkit, maka
 bangkitlah. Jika dia mengucap, ‘سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ’, maka 
ucapkanlah, ‘رَبَّنَـا وَلَكَ الْحَمْدُ’. Dan jika dia shalat sambil 
duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
J. Makmum yang Sendirian Berdiri di Sebelah Kanan Sejajar dengan Imam&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Aku pernah menginap 
di rumah bibiku, Maimunah Radhiyallahu anha. Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam shalat &#39;Isya&#39; empat raka’at, lalu tidur. Kemudian 
beliau shalat lagi. Lalu aku berdiri di samping kiri beliau, lantas 
beliau menjadikan aku berada di sisi kanannya.&quot; [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
K. Dua Orang Makmum atau Lebih Berdiri di Belakang Imam&lt;br /&gt;
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam hendak shalat. Aku datang dan berdiri di samping kiri 
beliau. Lalu beliau memegang tanganku dan memutarku hingga mendirikanku 
di samping kanannya. Setelah itu Jabbar bin Shakhr Radhiyallahu anhu 
datang dan berdiri di samping kiri Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam. Lantas beliau memegang tangan kami berdua dan mendorong kami 
hingga beliau mendirikan kami di belakang beliau.&quot; [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
L. Makmum Wanita Berdiri di Belakang Imam&lt;br /&gt;
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi 
wa sallam pernah mengimaminya, ibu, dan bibinya.” Anas melanjutkan, 
&quot;Beliau mendirikanku di samping kanannya dan wanita di belakang kami.&quot; 
[15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
M. Wajib Meluruskan Shaff&lt;br /&gt;
Wajib bagi imam untuk tidak memulai shalat kecuali setelah shaff lurus. 
Dia harus menyuruh makmum meluruskannya. Hendaknya dia sendiri yang 
meluruskan shaff atau menyuruh orang lain agar meluruskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Luruskanlah shaff-shaff kalian. Karena lurusnya shaff termasuk kesempurnaan shalat.&quot;[16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Ketika hendak shalat, 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyentuh pundak-pundak kami 
sambil berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفُ قُلُوْبُكُمْ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Luruskan dan janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian turut berselisih...[17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari an-Nu&#39;man bin Basyir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Adalah 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam meluruskan shaff-shaff kami 
seakan-akan meluruskan anak panah, hingga kami benar-benar paham. Pada 
suatu hari beliau keluar untuk shalat. Ketika hampir takbir, beliau 
melihat seseorang yang membusungkan dadanya keluar dari shaff. Beliau 
lantas bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عِبَادَ اللهِ، لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wahai sekalian hamba Allah, hendaklah kalian luruskan shaff-shaff 
kalian atau Allah benar-benar akan memperselisihkan antara wajah-wajah 
kalian.&quot;[18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَقِيْمُوا الصُّفُوْفَ، وَحَـاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا 
الْخَلَلَ، وَلِيْنُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ
 لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ، وَمَنْ قَطَعَ 
صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Lurukan shaff, sejajarkan pundak, dan tutupilah celah-celah. Berlaku 
lembutlah terhadap tangan saudara-saudara kalian, dan jangan biarkan 
celah-celah untuk dimasuki syaitan. Barangsiapa menyambung shaff, maka 
Allah akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskan shaff, maka Allah 
akan memutusnya.&quot; [19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
رَصُّوْا صُفُوْفَكُمْ، وَقَارِبُوْا بَيْنَهَا، وَحَاذُوْا 
بِاْلأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنِّـيْ َلأَرَى 
الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Lurus dan rapatkanlah shaff, serta sejajarkanlah dengan leher. Demi 
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat syaitan 
memasuki celah-celah shaff seperti anak kambing hitam.&quot;[20]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana meluruskan shaff?&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَقِيُمُوْا صُفُوْفَكُمْ، فَإِنِّيْ أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Luruskanlah shaff-shaff kalian. Karena aku melihat kalian dari belakang punggungku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang di antara kami lantas menempelkan pundaknya dengan pundak temannya dan menempelkan kakinya dengan kaki temannya.[21]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
An-Nu&#39;man bin Basyir Radhiyallahu anhu berkata, &quot;Aku melihat seseorang 
di antara kami menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya.&quot;[22]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
N. Shaff Laki-Laki dan Wanita&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوُّلَهَا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sebaik-baik shaff laki-laki adalah yang paling depan, sedangkan yang 
paling buruk adalah yang paling belakang. Dan sebaik-baik shaff wanita 
adalah yang paling belakang, sedangkan yang paling buruk adalah yang 
paling depan.&quot; [23]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
O. Keutamaan Shaff Pertama dan Shaff Sebelah Kanan&lt;br /&gt;
Dari al-Barra&#39; bin &#39;Azib Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الصُّفُوْفِ اْلأَوَّلِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya mendo’akan rahmat bagi orang-orang yang berada di shaff pertama.&quot; [24]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih dari al-Barra’, dia berkata, &quot;Jika kami shalat di belakang 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, kami senang jika berada di 
sebelah kanan beliau. Beliau hadapkan wajahnya pada kami.&quot; Kemudian aku 
mendengar beliau mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
رَبِّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Rabb-ku, lindungilah aku dari &#39;adzab-Mu, di hari Engkau bangkitkan seluruh hamba-Mu.&quot; [25]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
P. Siapakah yang Berdiri Di Belakang Imam?&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas&#39;ud al-Anshari Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لِيَلِيَنِيْ مِنْكُمْ أُوْلُوا اْلأَحْلاَمِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِيْـنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hendaklah orang-orang yang pintar lagi berilmu di antara kalian berada 
di belakangku. Setelah itu orang-orang yang derajatnya di bawah mereka. 
Setelah itu orang-orang yang derajatnya di bawah mereka lagi.&quot; [26]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q. Dimakruhkannya Berbaris di Antara Tiang-Tiang&lt;br /&gt;
Dari Mu&#39;awiyah bin Qurah Radhiyallahu anhu, dari ayahnya, dia berkata, 
&quot;Dulu, pada zaman Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, kami 
dilarang berbaris di antara tiang-tiang (masjid). Kami benar-benar 
dikeluarkan dari tempat itu.&quot; [27]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini hanya dalam shalat jama’ah. Adapun jika sendirian, maka tidak 
masalah shalat di antara dua tiang dengan tujuan menjadikannya pembatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam, Usamah bin Zaid, &#39;Utsman bin Thalhah, dan Bilal 
memasuki Baitullah. Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam lama di sana 
kemudian keluar. Aku adalah orang pertama yang mengikutinya. Lalu aku 
bertanya pada Bilal, &quot;Di manakah beliau shalat?&quot; Dia menjawab, &quot;Di 
antara dua tiang terdepan.&quot;[28]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R. &#39;Udzur Untuk Meninggalkan Shalat Jama’ah&lt;br /&gt;
1, 2. Dingin dan hujan&lt;br /&gt;
Dari Nafi&#39;, &quot;Pada suatu malam yang dingin dan berhembus kencang, Ibnu 
&#39;Umar Radhiyallahu anhuma mengumandangkan adzan shalat. Dia mengucapkan,
 &quot;Hai manusia, shalatlah kalian dalam rumah-rumah kalian!&quot; Setelah itu 
dia berkata, &quot;Sesungguhnya jika malam dingin dan hujan, Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyuruh mu’adzin mengucapkan, &quot;Hai 
manusia, shalatlah kalian dalam di rumah-rumah kalian!&quot;[29]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Saat makanan dihidangkan&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَؤُوْ بِالْعَشَاءِ، وَلاَ يَعْجَلْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika makan malam salah seorang di antara kalian dihidangkan sedangkan 
iqamat telah dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam. Janganlah 
tergesa-gesa hingga dia menyelesaikan makannya.&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma pernah disuguhi makanan ketika iqamat 
telah dikumandangkan. Dia tidak mendatangi shalat hingga dia 
menyelesaikan makannya. Padahal dia benar-benar mendengar bacaan imam. 
[30]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Menahan dua hadats&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَـامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُ اْلأَخْبَثَيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak sempurna shalat ketika makanan telah dihidangkan. Tidak sempurna pula shalat orang yang menahan dua hadats.&quot; [31]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/199 no. 
703)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (I/341 no. 467), Sunan 
Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/11 no. 780), Sunan at-Tirmidzi (I/150 
no. 236), Sunan an-Nasa-i (II/94).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 930)], Shahiih Muslim (I/335 no. 454), Sunan an-Nasa-i (II/164).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/308 no. 411)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/173 no. 689), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/310 no. 587), Sunan at-Tirmidzi (I/225 no. 358), Sunan 
an-Nasa-i (III/98), Sunan Ibni Majah (I/392 no. 1238).&lt;br /&gt;
[4]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/182 no. 
691)], Shahiih Muslim (I/320 no. 427), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/330 no. 609), Sunan at-Tirmidzi (II/48 no. 579), Sunan an-Nasa-i 
(II/96), Sunan Ibni Majah (I/308 no. 961).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 316)], Shahiih Muslim 
(I/465 no. 673), Sunan at-Tirmidzi (I/149 no. 235), Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/ 289 no. 578), Sunan an-Nasa-i (II/76) dan Sunan 
Ibni Majah (I/313 no. 980). Dalam riwayat mereka disebutkan:&lt;br /&gt;
فَإِنْ كَانُوْا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَكْثَرُهُمْ سِنًّا &lt;br /&gt;
“Jika dalam hijrah sama, maka yang paling tua dalam usia.” Ini adalah riwayat Muslim.&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 761)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (VIII/22 no. 4302), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/293 no. 581), Sunan an-Nasa-i (II/80).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 387)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/192 no. 700), Shahiih Muslim (I/339 no. 
465), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/4 no. 776), Sunan an-Nasa-i 
(II/102).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 538)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/283 no. 571), Sunan at-Tirmidzi (I/140 no. 219), 
Sunan an-Nasa-i (II/112).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Tahqiq al-Arna-uth dalam Jaami&#39;ul Ushul (V/708)], Mushannaf &#39;Abdur-razzaq (no. 4369).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 571)], Shahiih Muslim (I/479 no. 688), Sunan an-Nasa-i (III/119).&lt;br /&gt;
[11]. Sanadnya shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 22)], al-Baihaqi (III/157).&lt;br /&gt;
[12]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/173 no. 
688)], Shahiih Muslim (II/309 no. 412), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/315 no. 591).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 540)], Shahiih Sunan Ibni Majah 
(no. 792), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/190 no. 697), ini 
adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (I/525 no. 763), Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/318 no. 596), Sunan at-Tirmidzi (I/147 no. 232), 
Sunan an-Nasa-i (II/104), dan Sunan Ibnu Majah (I/312 no. 973).&lt;br /&gt;
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 540)], Shahiih Muslim (I/458 no. 
660 (269)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/318 no. 595), dan Sunan
 Ibnu Majah (I/312 no. 975).&lt;br /&gt;
[15]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/192 no. 
700)], Shahiih Muslim (I/339 no. 465), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/4 no. 776), dan Sunan an-Nasa-i (II/102).&lt;br /&gt;
[16]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/324 no. 433)], ini adalah 
lafazh darinya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/209 no. 723), 
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/367 no. 654), dan Sunan Ibni Majah 
(I/317 no. 993).&lt;br /&gt;
[17]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 961)] dan Shahiih Muslim (I/323 no. 432).&lt;br /&gt;
[18]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3972)], Shahiih Muslim 
(I/324 no. 436 (128)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/363 no. 
649), Sunan at-Tirmidzi (I/143 no. 227), Sunan an-Nasa-i (II/89), dan 
Sunan Ibni Majah (I/ 318 no. 994). Maksudnya adalah, beliau 
bersungguh-sungguh dalam melurus-kan shaff hingga seolah-olah 
menjajarkan anak panah saking lurus dan ratanya (Shahiih Muslim dengan 
Syarh an-Nawawi (IV/207), cet. Qurthubah).&lt;br /&gt;
[19]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 620)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/365 no. 652).&lt;br /&gt;
[20]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 621)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/366 no. 653), dan Sunan an-Nasa-i (II/92).&lt;br /&gt;
[21]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 393)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/211 no. 725).&lt;br /&gt;
[22]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 124), hal. 184], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/211) secara mu’allaq.&lt;br /&gt;
[23]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 331)], Shahiih Muslim 
(I/326 no. 440), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/374 no. 664), 
Sunan at-Tirmidzi (I/143 no. 224), Sunan an-Nasa-i (II/93), dan Sunan 
Ibnu Majah (I/319 no. 1000).&lt;br /&gt;
[24]. Shahih: [Shahih Sunan Abu Dawud (no. 618)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/364 no. 650), dan Sunan an-Nasa-i (II/90), dengan 
lafazh: الصُفُوْفِ الْمُتَقَدِّمَةِ (shaff-shaff yang terdepan).&lt;br /&gt;
[25]. Shahih: [At-Targhiib (no. 500)] dan Shahiih Muslim (I/493, 492 no. 709).&lt;br /&gt;
[26]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 626)], Shahiih Muslim (I/323 
no. 432), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/371 no. 660), Sunan Ibni 
Majah (I/312 no. 976), dan Sunan an-Nasa-i (II/90).&lt;br /&gt;
[27]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 821)], Sunan Ibni Majah 
(I/320 no. 1002), Mustadrak al-Hakim (I/218), dan al-Baihaqi (III/104).&lt;br /&gt;
[28]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari, hal. 139] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/578 no. 504).&lt;br /&gt;
[29]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/156 no. 
666)], Shahiih Muslim (I/484 no. 697), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/391 no. 1050), dan Sunan an-Nasa-i (II/15).&lt;br /&gt;
[30]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/159 no. 
673)], Shahiih Muslim (I/392 no. 459), tanpa kalimat terakhir, dan Sunan
 Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (X/229 no. 3739).&lt;br /&gt;
[31]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 7509)], Shahiih Muslim 
(I/393 no. 560), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/190 no. 89).&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) &lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/3005388157168365301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-berjamaah-oleh-syaikh-abdul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3005388157168365301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3005388157168365301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-berjamaah-oleh-syaikh-abdul.html' title='SHALAT BERJAMA&#39;AH  Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-44139299767639289</id><published>2012-10-12T22:51:00.000-07:00</published><updated>2012-10-12T22:55:46.338-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>SHALAT-SHALAT SUNNAH Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>A. Keutamaannya&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ 
عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ 
فَسَدَتْ فَقَدْ خَـابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَةٍ 
شَيْئًا، قَـالَ الرَّبُّ تَبَـارَكَ وَتَعَالَى: اُنْظُرُوْا هَلْ 
لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ، فَيُكَمَّلُ بِهِ مَا انْتَقَصَ مِنَ 
الْفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى نَحْوِ ذَلِكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada 
hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka beruntung dan 
selamatlah dia. Namun, jika rusak, maka merugi dan celakalah dia. Jika 
dalam shalat wajibnya ada yang kurang, maka Rabb Yang Mahasuci dan 
Mahamulia berkata, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ 
Jika ia memiliki shalat sunnah maka shalat wajibnya disempurnakan oleh 
shalat sunnah tadi. Kemudian dihisablah seluruh amalan wajibnya 
sebagaimana tadi.” [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Disunnahkan Mengerjakannya di Rumah&lt;br /&gt;
Dari Jabir, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِـي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ 
لِبَيْتِهِ نَصِيْباً مِنْ صَلاَتِهِ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ 
مِنْ صَلاَتِهِ نُوْرًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika salah seorang di antara kalian telah menunaikan shalat di 
masjidnya, maka hendaklah ia memberi jatah shalat bagi rumahnya. Karena 
sesungguhnya Allah menjadikan cahaya dalam rumahnya melalui shalatnya.” 
[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
عَلَيْكُمْ بِالصَّلاَةِ فِي بُيُوْتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلاَةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kerjakanlah shalat (sunnah) di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat 
seseorang adalah yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat wajib.” [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Macam-Macamnya&lt;br /&gt;
Shalat sunnah ada dua bagian: Muthlaqah dan Muqayyadah&lt;br /&gt;
Muthlaqah adalah yang dikenal dengan sunnah rawatib, yaitu yang 
dikerjakan sebelum dan sesudah shalat wajib. Ia terdiri dari dua bagian:
 muakkadah (yang ditekankan) dan ghairu muakkadah (tidak ditekankan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Shalat sunnah muakkadah ada sepuluh raka’at&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku ingat sepuluh 
raka’at dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam : dua raka’at sebelum 
Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya. Dua raka’at sesudah Maghrib, dua 
raka’at sesudah ‘Isya&#39;, serta dua raka’at sebelum shalat Shubuh. Pada 
saat itulah Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa salalm tidak mau ditemui. 
Hafshah Radhiyallahu anhuma menceritakan padaku bahwa jika mu-adzin 
mengumandangkan adzan dan fajar (yang kedua) telah terbit, beliau shalat
 dua raka’at.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Dahulu Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam tidak pernah meninggalkan empat raka’at sebelum shalat Zhuhur, 
dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh.” [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Shalat sunnah ghairu muakkadah: Dua raka’at sebelum shalat ‘Ashar, Maghrib, dan &#39;Isya&#39;.&lt;br /&gt;
Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ، ثُمَّ قَـالَ فِي الثَّالِثَةِ: لِمَنْ شَاءَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di antara dua adzan (antara adzan dan iqamat-ed.) ada shalat, di antara
 dua adzan ada shalat.” Kemudian beliau berkata pada kali yang ketiga, 
“Bagi siapa saja yang menghendakinya.”[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan untuk menjaga empat raka’at sebelum shalat ‘Ashar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dahulu Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat empat raka’at sebelum shalat 
‘Ashar. Beliau memisahkan antara raka’at-raka’at tadi dengan mengucapkan
 salam pada para Malaikat muqarrabiin (yang didekatkan kepada Allah), 
dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan muslimin dan 
mukminin.” [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat raka’at sebelum ‘Ashar.” [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat yang mengabarkan bacaan Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam sebagian shalat tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يُقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ 
الْفَجْرِ، قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، وَقُلْ يَآ أَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dua surat yang paling baik dibaca pada dua raka’at sebelum Shubuh 
adalah qul huwallaahu ahad (al-Ikhlash) dan qul yaa ayyuhal kaafiruun 
(al-Kaafiruun). [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyalllahu &#39;anhu, ia berkata, “Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam membaca qul yaa ayyuhal kaafiruun 
(al-Kaafiruun) dan qul huwallaahu ahad (al-Ikhlash) pada dua raka’at 
sebelum Shubuh.” [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, “Pada dua raka’at shalat sunnah 
fajar, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah membaca: quuluu 
aamannaa billaahi wa maa unzila ilainaa, yaitu ayat dalam surat 
al-Baqarah pada raka’at pertama. Dan pada raka’at terakhir: aamannaa 
billaahi wasyhad bi annaa muslimuun.&quot; [11] (Ali ‘Imran: 52).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku tidak bisa 
menghitung berapa kali aku mendengar Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam membaca: qul yaa ayyuhal kaafiruun (al-Kaafiruun) dan qul 
huwallaahu ahad (al-Ikhlash) pada dua raka’at sesudah Maghrib dan dua 
raka’at sebelum shalat Shubuh.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 451, 452)], Sunan at-Tirmidzi (I/258 no. 411), Sunan an-Nasa-i (I/232).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 375)], Shahiih Muslim (I/239 no. 778).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/517 no. 
6113)], Shahiih Muslim (I/539 no. 781), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (IV/321 no. 1434) dan Sunan an-Nasa-i (III/198).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 440)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul 
Baari) (II/58/ no. 1180, 1180), ini adalah lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi 
(I/271 no. 431), dengan lafazh hampir serupa.&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1658)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (III/58 no. 1182), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/134 no. 1240) dan Sunan an-Nasa-i (III/251).&lt;br /&gt;
[6]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/110 no. 
627)], Shahiih Muslim (I/573 no. 838), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/162 no. 1269), Sunan at-Tirmidzi (I/120 no. 185), Sunan an-Nasa-i 
(II/28), Sunan Ibni Majah (I/368 no. 1162).&lt;br /&gt;
[7]. Hasan: Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 353)], Sunan at-Tirmidzi (I/269 no. 427).&lt;br /&gt;
[8]. Hasan: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 354)], Sunan at-Tirmidzi 
(I/270 no. 428), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/149 no. 1257).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 944)], Shahiih Ibni 
Khuzaimah (II/163 no. 1114), Ahmad (al-Fat-hur Rabbani) (IV/225 no. 
987), Sunan Ibni Majah (I/363 no. 1150).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 360)], Shahiih Muslim 
(I/502 no. 726), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/135 no. 1243), 
Sunan an-Nasa-i (II/156), Sunan Ibni Majah (I/363 no. 1148).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 905)], Shahiih Muslim (I/502
 no. 727), Sunan an-Nasa-i (II/155), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/137 no. 1246).&lt;br /&gt;
[12]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 355)], Sunan at-Tirmidzi (I/ 270 no. 429).&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SHALAT SUNNAH WITIR&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Hukum dan Keutamaannya&lt;br /&gt;
Shalat sunnah Witir termasuk sunnah muakkadah. Karena Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sangat menganjurkannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sesungguhnya shalat witir itu 
tidak wajib. Dan tidak sebagaimana shalat kalian yang wajib. Namun, 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat Witir kemudian berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوْا، فَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai ahlul Qur-an, shalat witirlah. Karena sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai orang yang shalat Witir.” [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Waktunya&lt;br /&gt;
Boleh mengerjakan shalat Witir setelah shalat &#39;Isya&#39; hingga terbit 
fajar. Sedangkan pada sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling 
utama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam pernah shalat witir pada setiap bagian malam, baik di 
awal waktu, pertengahan, ataupun akhir malam. Shalat Witir beliau 
selesai di waktu sahur.” [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan menyegerakan shalat witir pada awal malam bagi yang takut 
tidak bisa bangun pada akhir malam. Sebagaimana disunnahkan 
mengakhirkannya pada akhir malam bagi yang merasa yakin akan bangun di 
akhir malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’
 Dia menjawab: ‘Aku shalat Witir sebelum tidur.’ Beliau lalu bertanya 
pada ‘Umar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab, ‘Aku tidur 
kemudian shalat Witir.’” Dia (Abu Qatadah) berkata, “Beliau berkata 
kepada Abu Bakar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan hati-hati.’ Dan 
berkata kepada ‘Umar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan kekuatan.’ [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa
 sallam mengerjakan shalat, sedangkan aku tengah tidur terlentang di 
atas ranjang. Jika ingin shalat Witir, beliau membangunkan aku, dan aku 
pun shalat Witir.” [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Bilangan Raka’at dan Tata Cara Shalat Witir&lt;br /&gt;
Jumlah raka’at shalat witir paling sedikit adalah satu raka’at.&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَـى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shalat malam itu dikerjakan dua raka’at dua raka’at. Jika salah seorang
 di antara kalian khawatir akan masuk waktu Shubuh, maka hendaklah ia 
berwitir dengan satu raka’at sebagai penutup bagi shalat yang telah 
dikerjakan.”[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh berwitir dengan tiga, lima, tujuh, atau sembilan raka’at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam tidak pernah shalat lebih dari sebelas raka’at, baik 
pada bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Beliau shalat empat 
raka’at. Janganlah engkau tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian
 beliau shalat empat raka’at lagi. Dan jangan engkau tanyakan tentang 
baik dan panjangnya. Setelah itu beliau Shallallahu &#39;alaihi wa salalm 
shalat tiga raka’at.” [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam
 pernah shalat malam sebanyak tiga belas raka’at. Beliau berwitir dengan
 lima raka’at dan tidak duduk kecuali pada raka’at terakhir.” [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Darinya juga, ia berkata, “Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudhu&#39; 
untuk beliau. Lalu Allah membangunkan beliau pada malam hari sesuai 
dengan kehendak-Nya. Lalu beliau bersiwak dan berwudhu&#39;. Kemudian beliau
 shalat sembilan raka’at. Beliau tidak duduk kecuali pada raka’at 
kedelapan. Beliau berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a 
kepada-Nya. Setelah itu bangkit dan tidak salam. Lalu beliau berdiri dan
 mengerjakan raka’at yang kesembilan. Kemudian beliau duduk sambil 
berdzikir kepada Allah, memuji, dan berdo’a kepada-Nya. Lantas beliau 
mengucap salam dan memperdengarkannya kepada kami. Setelah itu beliau 
shalat dua raka’at sesudah salam sambil duduk. Itulah berjumlah sebelas 
raka’at, wahai anakku. Tatkala Nabiyyullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam
 semakin tua dan gemuk, beliau berwitir dengan tujuh raka’at. Lalu 
beliau mengerjakan shalat dua raka’at sebagaimana yang pertama. Itu 
semua berjumlah sembilan raka’at, wahai anakku.” [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika berwitir dengan tiga raka’at, maka membaca surat yang disebutkan dalam hadits berikut ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam membaca pada shalat witir: Sabbihisma 
Rabbikal A’laa (Al-A&#39;laa), Qul yaa ayuhal kaafiruun (Al-Kaafiruun), dan 
Qul huwallaahu Ahad (Al-Ikhlash), masing-masing untuk setiap 
raka’at.”[10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Qunut Dalam Witir&lt;br /&gt;
Dari al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ahuma, ia berkata, “Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengajariku bacaan yang kuucapkan pada 
shalat Witir:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَللّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ، 
وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ، 
وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِـيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، 
وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا 
وَتَعَالَيْتَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana Engkau menunjuki orang yang 
mendapat petunjuk-Mu. Jagalah aku sebagaimana Engkau menjaga orang yang 
mendapat penjagaan-Mu. Peliharalah aku sebagaimana orang yang mendapat 
pemeliharaan-Mu. Berkahilah apa yang Engkau berikan kepadaku. 
Lindungilah aku dari keburukan apa yang Engkau tetapkan. Karena 
sesungguhnya Engkaulah yang menetapkan, dan tidak ada sesuatu yang 
(dapat) mengatur-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang 
mentaati-Mu. Mahasuci dan Mahatinggi Engkau, ya Allah.” [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Sunnah, qunut ini dilakukan sebelum ruku’. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, ia berkata, 
“Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melaksanakan Qunut dalam 
shalat Witir sebelum ruku’.” [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak disyari&#39;atkan qunut dalam shalat wajib kecuali jika terjadi 
musibah dan bencana. Ketika itu, Qunut dilakukan setelah ruku’, dan 
tidak dikhususkan untuk shalat wajib tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Jika Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam hendak mendo’akan keburukan atau kebaikan bagi 
seseorang, maka beliau melaksanakan qunut setelah ruku’.” [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun qunut yang dilakukan pada shalat Shubuh secara terus menerus, maka itu adalah bid&#39;ah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana dijelaskan oleh para Sahabat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi 
wa sallam. Dari Abu Malik al-Asyja’i dari Sa’ad bin Thariq, ia berkata, 
“Aku berkata pada ayahku, ‘Wahai ayah, engkau pernah shalat di belakang 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan
 ‘Ali di Kufah ini kira-kira selama lima tahun. Apakah mereka melakukan 
qunut pada shalat Shubuh?” Dia berkata: “Wahai anakku, itu adalah 
perkara yang diada-adakan (bid’ah).” [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mustahil Rasulullah Shallallahu mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَللّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada setiap Shubuh setelah bangkit dari ruku&#39; sambil mengeraskan 
suaranya, lalu para Sahabat mengamininya, secara terus-menerus hingga 
beliau wafat. Lantas hal ini tidak diketahui umat sesudah beliau. Bahkan
 ditinggalkan oleh mayoritas umatnya, jumhur Sahabat, bahkan oleh mereka
 semua. Sampai-sampai seseorang dari kalangan Sahabat berkata, 
‘Sesungguhnya itu adalah perkara yang diada-adakan (bid’ah).’ 
Sebagaimana yang dikatakan oleh Sa’ad bin Thariq al-Asyja’i.” [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/214 no. 6410)], Shahiih Muslim (IV/2062 no. 2677).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 959)], Sunan Ibni Majah 
(I/370 no. 1169), Sunan at-Tirmidzi (I/282 no. 452), Sunan an-Nasa-i 
(III/229, 228), dalam dua hadits. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/291 no. 1403) secara marfu&#39;.&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/512 no. 745)], ini adalah 
lafazhnya, Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/486 no. 996), secara 
ringkas, Sunan an-Nasa-i (III/230), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/312 no. 1422) dan Sunan at-Tirmidzi (I/284 no. 456), dengan tambahan
 “di akhirnya.” Begitupula pada riwayat Abu Dawud.&lt;br /&gt;
[4]. Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 988)], Shahiih Ibni 
Khuzaimah (II/145 no. 1084), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/311 
no. 1421), Sunan Ibni Majah (I/379 no. 1202).&lt;br /&gt;
[5]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/487 no. 997)], Shahiih Muslim (I/511 no. 744).&lt;br /&gt;
[6]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/477 no. 
990)], Shahiih Muslim (I/516 no. 749), Sunan an-Nasa-i (III/227), Sunan 
at-Tirmidzi (I/273 no. 435), dengan lafazh serupa dan di dalamnya 
terdapat tambahan.&lt;br /&gt;
[7]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/33 no. 
1147)], Shahiih Muslim (I/509 no. 738), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (IV/218 no. 1327), Sunan at-Tirmidzi (I/274 no. 437).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 382)], Shahiih Muslim 
(I/508 no. 737), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/216 no. 1324), 
Sunan at-Tir-midzi (I/285 no. 457), dengan tambahan: &quot;pada raka&#39;at 
terakhir.&quot;&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1510)], Shahiih Muslim (I/512
 no. 746), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/219 no. 1328), Sunan 
an-Nasa-i (III/199).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1607)], Sunan at-Tirmidzi 
(I/288 no. 461), Sunan an-Nasa-i (III/236) dengan tambahan di awalnya.&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1647)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’-buud) (IV/300 no. 1412), Sunan at-Tirmidzi (I/289 no. 463), 
Sunan Ibni Majah (I/372 no. 1178) dan Sunan an-Nasa-i (III/248).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1266)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/352 no. 1414).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4655)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/226 no. 4560).&lt;br /&gt;
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 435)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbani) (III/472 dan VI/394), Sunan Ibni Majah (I/393/1241).&lt;br /&gt;
[15]. Zaadul Ma&#39;aad (I/271).&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
QIYAMUL LAIL (SHALAT MALAM)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat malam termasuk sunnah yang sangat dianjurkan. Ia termasuk ciri-ciri orang-orang yang bertaqwa. Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍآخِذِينَ مَا آتَاهُمْ 
رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا 
قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ 
يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman 
(Surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan 
kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia
 adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di 
waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada 
Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang 
meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” [Adz-Dzaariyaat: 
15-19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Malik al-Asy&#39;ari Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفًا يُرَى ظَاهِرُهَـا مِنْ بَاطِنِهَا 
وَبَاطِنِهَا مِنْ ظَاهِرِهَا، أَعَدَّهَا اللهُ تَعَالَى لِمَنْ أَطْعَمَ 
الطَّعَامَ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى 
بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya 
terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar. Allah Ta’ala
 menyediakannya bagi orang yang suka memberi makan, melunakkan 
perkataan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam pada saat manusia 
tidur.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Semakin Dianjurkan Pada Bulan Ramadhan&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu
 &#39;alaihi wa sallam menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa 
memberi perintah yang mewajibkan. Lalu beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.&lt;br /&gt;
“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan 
mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang 
telah lampau.” [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Bilangan Raka’atnya&lt;br /&gt;
Paling sedikit satu raka’at. Dan paling banyak sebelas raka’at. 
Sebagaimana telah disebutkan dalam perkataan ‘Aisyah Radhiyallahu 
anhuma, “Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak pernah shalat 
lebih dari sebelas raka’at, baik pada bulan Ramadhan ataupun di luar 
Ramadhan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Disyari&#39;atkan Melakukannya Secara Berjama&#39;ah Pada Bulan Ramadhan&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Pada suatu malam, Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat di masjid. Lalu orang-orang shalat 
dengan shalat beliau. Pada malam berikutnya beliau shalat lagi dan 
orang-orang kian bertambah banyak. Mereka kemudian berkumpul pada malam 
ketiga atau keempat, namun Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
tidak keluar menemui mereka. Ketika pagi tiba, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ 
إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Aku melihat apa yang kalian perbuat. Tidak ada yang menghalangiku untuk
 keluar menemui kalian. Hanya saja aku takut jika shalat tersebut 
diwajibkan atas kalian.’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu pada bulan Ramadhan.” [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Abdurrahman al-Qari, ia berkata, “Pada suatu malam di bulan 
Ramadhan, aku keluar bersama &#39;Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu 
menuju masjid. Ternyata orang-orang terpecah menjadi beberapa kelompok. 
Ada seorang laki-laki yang shalat sendirian, dan ada pula yang shalat 
dengan diikuti oleh beberapa orang. Lalu ‘Umar berkata, “Aku 
berpendapat, seandainya kukumpulkan mereka di bawah satu qari&#39; (imam), 
tentulah akan lebih baik. Kemudian dia membulatkan tekadnya dan 
mengumpulkan mereka di bawah Ubay bin Ka&#39;b. Pada suatu malam yang lain 
aku keluar bersamanya sedangkan orang-orang tengah shalat bersama imam 
mereka. ‘Umar berkata, ‘Ini adalah sebaik-baik bid’ah (perkara yang 
baru). Namun, orang-orang yang tidur pada saat ini lebih baik daripada 
yang sedang shalat’ -maksudnya, melaksanakan shalat di akhir malam lebih
 baik- karena saat itu orang-orang mengerjakannya di awal malam.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Disunnahkan Agar Seseorang Shalat dengan Isterinya (Keluarga) di Luar Bulan Ramadhan&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa’id, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَـا -أَوْ 
صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا- كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ 
كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika seorang laki-laki membangunkan isterinya di malam hari, lalu 
keduanya shalat -atau shalat dua raka’at secara berjama’ah-, niscaya 
Allah mencatat keduanya sebagai para hamba laki-laki dan perempuan yang 
banyak mengingat Allah.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E. Mengqadha Shalat Malam&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu, jika Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat malam karena 
sakit atau sebab lain, maka beliau shalat dua belas raka’at pada siang 
harinya.” [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Umar bin al-Khaththab, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ نَـامَ عَنْ حِزْبِهِ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ 
فَقَرَأَهُ مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ 
كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa tertidur sehingga tidak membaca wirid (shalat)nya di malam 
hari atau sebagian darinya, lalu membaca (melaksanakan)nya pada waktu 
antara shalat Shubuh dan shalat Zhuhur, maka dicatat sebagaimana ia 
membacanya di malam hari.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F. Dimakruhkan Meninggalkan Shalat Malam Bagi yang Telah Terbiasa Mengerjakannya&lt;br /&gt;
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata kepadaku:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wahai &#39;Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa 
mengerjakan shalat malam, sekarang dia meninggal-kan shalat malam.&quot; [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Hasan: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2123)].&lt;br /&gt;
[2]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/523 no. 759 (174))], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (IV/250 no. 2009), secara marfu&#39;. Sunan Abi 
Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/245 no. 1358), Sunan at-Tirmidzi (II/151 no. 
805), Sunan an-Nasa-i (IV/156).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [ Shahiih Muslim (I/524 no. 761)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/10 no. 1129), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (IV/247 no. 1360).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 986)], Muwaththa&#39; 
al-Imam Malik (hal. 85 no. 247), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) 
(IV/250 no. 2010).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1098)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/194 no. 1295), Sunan Ibni Majah (I/423 no. 1335).&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 4756)], Shahiih Muslim (I/515 no. 746 (140)).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1104)], Shahiih Muslim 
(I/515 no. 747), Sunan at-Tirmidzi (II/47 no. 578), Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/197 no. 1299), Sunan an-Nasa-i (III/259), Sunan 
Ibni Majah (I/426 no. 1343).&lt;br /&gt;
[8]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/37 no. 1152)], Shahiih Muslim (II/814 no. 1159 (185)).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SHALAT DHUHA (SHALAT AL-AWWAABIIN)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Pensyari’atannya&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kekasihku Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam mewasiatkan tiga perkara kepadaku: puasa tiga hari 
pada tiap bulan (tanggal 13, 14, 15 pada bulan Hijriyyah), dua raka’at 
shalat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Keutamaannya&lt;br /&gt;
Dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً، فَكُلُّ 
تَسْبِيْحَةٍ صَـدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ 
تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٍ 
بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٍ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِى 
مِنْ ذلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهَا مِنَ الضُّحَى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pada masing-masing ruas jari kalian terdapat hak shadaqah. Setiap 
tasbih adalah shadaqah. Setiap tahmid adalah shadaqah. Setiap tahlil 
adalah shadaqah. Setiap takbir adalah shadaqah. Memerintah kebaikan 
adalah shadaqah. Mencegah kemunkaran adalah shadaqah. Semua itu 
tercukupi dengan mengerjakan shalat Dhuha dua raka’at.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Bilangan Raka’atnya&lt;br /&gt;
Paling sedikit dua raka’at. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits tadi. Dan paling banyak delapan raka’at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ummu Hani&#39; Radhiyallahu anhuma, bahwa pada hari Fat-hu Makkah 
(penaklukan kota Makkah), Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mandi di 
rumahnya lalu shalat delapan raka’at.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Waktunya Yang Paling Utama&lt;br /&gt;
Dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam keluar menemui penduduk Quba&#39; yang sedang shalat 
Dhuha. Lalu beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلاَةُ اْلأَوَّبِيْنَ إِذَا رَمَضَتِ الْفِصَالُ مِنَ الضُّحَى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Waktu shalat al-awwaabiin (Dhuha) adalah ketika anak unta merasa kepanasan di pagi hari.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SHALAT SETELAH BERSUCI (SHALAT SUNNAH WUDHU)&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam
 berkata kepada Bilal ketika hendak shalat Shubuh, ‘Wahai Bilal, 
beritahulah aku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya) yang 
engkau kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku mendengar suara 
kedua sandalmu di hadapanku di Surga.’ Dia menjawab, ‘Tidaklah aku 
melakukan amalan yang paling kuharapkan (pahalanya). Hanya saja aku 
tidak bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat 
sunnah dengannya apa-apa yang telah ditetapkan bagiku untuk shalat.’” 
[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SHALAT ISTIKHARAH&lt;br /&gt;
Disunnahkan bagi yang sedang menghadapi suatu masalah agar beristikharah
 (meminta petunjuk) kepada Allah Ta&#39;ala. Sebagaimana disebutkan dalam 
hadits berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam pernah mengajarkan kepada kami beristikharah dalam segala perkara
 sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat dalam al-Qur-an: ‘Jika
 salah seorang di antara kalian menghadapi perkara, maka shalatlah dua 
raka’at, selain shalat wajib. Kemudian ucapkanlah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ 
بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ
 وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ 
الْغُيُوْبِ. اَللّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ
 لِي فِي دِيْنِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ
 أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاقْدُرْهُ لِي. وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هذَا 
اْلأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِيْنِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي -أَوْ 
قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ- فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي 
عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, sesungguhnya aku minta petunjuk-Mu melalui ilmu-Mu. Aku 
memohon kekuatan dari-Mu melalui kekuatan-Mu. Aku memohon karunia-Mu 
yang agung. Karena Engkau-lah Yang Mahakuasa sedangkan aku tidak 
berdaya. Engkaulah Yang Mahatahu sedangkan aku tidak mengetahui. 
Engkaulah Yang Maha Mengetahui alam ghaib. Ya Allah, jika menurut-Mu 
perkara ini baik bagi agamaku, dunia, dan akhir kesudahanku -atau 
mengatakan: ‘Bagi dunia dan akhiratku.’- , maka takdirkanlah ia bagiku. 
Namun, jika menurut-Mu perkara ini buruk bagi agamaku, dunia, dan akhir 
kesudahanku -atau mengatakan: ‘Dunia dan akhiratku,’- maka jauhkanlah ia
 dariku dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan bagiku, apa 
pun ia, kemudian jadikanlah aku ridha terhadapnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, hendaknya ia menyebutkan keinginannya.[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 367)], Shahiih Muslim 
(I/499 no. 721), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/310 no. 1419).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 364)], Shahiih Muslim 
(I/499 no. 720), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/164 no. 1271).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/51 no. 
1176)], Shahiih Muslim (I/226 no. 336 (71)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (I/170 no. 1277), Sunan at-Tirmidzi (I/295 no. 472), Sunan 
an-Nasa-i (I/126).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 368) secara ringkas], Shahiih Muslim (I/516 no. 748 (144)).&lt;br /&gt;
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1136)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (XI/183 no. 6382), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/396 no. 1524), Sunan at-Tirmidzi (I/298 no. 478), Sunan Ibni Majah 
(I/440 no. 1383), Sunan an-Nasa-i (VI/80).&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SHALAT GERHANA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika terjadi gerhana bulan atau matahari disunnahkan mengumandangkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mari shalat berjama&#39;ah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Ketika 
terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam, maka diserukanlah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya shalat dilakukan secara berjama’ah.” [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika orang-orang telah berkumpul di masjid, maka imam shalat dua raka’at
 bersama mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Lalu 
beliau pergi ke masjid dan orang-orang pun berbaris di belakang beliau, 
kemudian beliau bertakbir. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
membaca dengan bacaan yang panjang. Lantas bertakbir dan melakukan ruku&#39;
 dengan panjang. Kemudian beliau mengucap: &quot; سَمِعَ اللهُ لِمَنْ 
حَمِدَهُ .&quot; Lalu bangkit dan tidak melakukan sujud. Setelah itu beliau 
membaca bacaan yang panjang, namun tidak sepanjang bacaan pertama. 
Kemudian bertakbir lalu melakukan ruku&#39; dengan ruku’ yang panjang namun 
tidak sepanjang ruku&#39; pertama. Setelah itu beliau mengucap: “سَمِعَ 
اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ Kemudian beliau sujud. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada raka’at kedua, beliau melakukan seperti pada raka’at pertama. 
Hingga beliau juga melakukan empat ruku&#39; dalam empat sujud dan matahari 
pun telah tampak kembali sebelum beliau selesai.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khutbah Setelah Shalat&lt;br /&gt;
Jika imam selesai salam, disunnahkan baginya berkhutbah di hadapan 
orang-orang. Menasihati mereka, mengingatkan, dan mendorong mereka untuk
 berbuat amal shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam shalat pada hari di mana terjadi gerhana matahari... kemudian dia
 menyebutkan tata cara shalat tersebut. Lalu melanjutkan, &quot;Kemudian 
beliau salam, sedangkan matahari telah tampak kembali. Beliau lantas 
berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau mengatakan bahwa gerhana 
matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan 
Allah. Tidaklah gerhana itu terjadi karena mati atau lahirnya seseorang.
 Jika kalian melihatnya, maka bergegaslah untuk shalat.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Asma&#39; Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam menyuruh membebaskan budak pada saat terjadi gerhana 
matahari.&quot;[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Musa, dia berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari. Tiba-tiba 
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdiri dengan terkejut. Beliau 
khawatir jika hari itu terjadi Kiamat. Beliau mendatangi masjid kemudian
 mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku&#39;, dan sujud yang terpanjang 
yang pernah aku lihat. Beliau lantas berkhutbah, “Ini adalah salah satu 
tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan oleh-Nya. Bukan lantaran mati 
atau lahirnya seseorang. Namun, dengan peristiwa itu Allah ingin 
menakuti para hamba-Nya. Jika kalian melihat hal itu terjadi, maka 
bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a, dan beristighfar 
kepada-Nya.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian secara lahiriyah dari sabda beliau Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam : “Maka bersegeralah... dan seterusnya,” menunjukkan wajibnya 
perbuatan tersebut. Jadi, hukum shalat gerhana adalah fardhu kifayah. 
Sebagaimana dikatakan Abu ‘Awanah dalam kitab Shahiihnya (II/398), 
&quot;Penjelasan tentang wajibnya shalat gerhana&quot; Kemudian di menyebutkan 
beberapa hadits shahih tentang masalah tersebut. Hal itu juga tampak 
dilakukan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahiihnya. Dia berkata 
(II/38), &quot;Bab perintah shalat ketika terjadi gerhana matahari dan 
bulan...&quot; Lalu dia menyebutkan sejumlah hadits berkenaan dengan masalah 
tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Hafizh berkata dalam Fat-hul Baari (II/527), “Pendapat Jumhur 
menyatakan bahwa ia adalah sunnah mu-akkadah. Abu ‘Awanah menyatakannya 
dalam kitab Shahiihnya sebagai perbuatan yang wajib. Dan saya tidak 
menjumpai pendapat seperti itu pada ulama selainnya. Hanya saja, apa 
yang diriwayatkan dari Malik bahwa beliau memperlakukannya sebagaimana 
shalat Jum’at. Dan az-Zain bin al-Munir menukil dari Abu Hanifah bahwa 
dia mewajibkannya. Begitupula beberapa pengarang kitab madzhab 
Hanafiyyah. Mereka menyatakannya sebagai hal yang wajib.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SHALAT ISTISQA&lt;br /&gt;
Jika hujan tidak turun, dan suatu daerah tertimpa kekeringan, maka 
disunnahkan keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa&#39; (memohon 
hujan). Kemudian seorang imam melakukan shalat dua raka’at bersama 
masyarakat. Setelah itu dia memperbanyak do’a dan istighfar sambil 
merubah letak syal (selendang)nya dan menjadikan bagian kanannya di atas
 bagian kirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abbad bin Tamim z, dari pamannya, &#39;Abdullah Zaid, dia berkata, 
“Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang untuk 
shalat Istisqa&#39;. Beliau menghadap ke kiblat lalu shalat dua raka’at dan 
membalik syalnya. Sufyan berkata, ‘Aku diberitahu al-Mas’udi dari Abu 
Bakr, dia berkata, ‘Beliau menjadikan bagian kanan dari syal tersebut di
 atas bagian kiri.’”[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan darinya, dia berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam ketika keluar untuk shalat Istisqa&#39;. Dia berkata, ‘Beliau lalu 
menghadapkan punggungnya ke arah para penduduk dan menghadap ke kiblat 
sambil berdo’a. Kemudian beliau merubah letak syalnya lantas shalat dua 
raka’at bersama kami. Beliau mengeraskan bacaannya pada kedua raka’at 
tersebut.&quot; [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 
1045), Shahiih Muslim (II/627 no. 910), Sunan an-Nasa-i (III/136).&lt;br /&gt;
[2]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 
1046)], Shahiih Muslim (II/619 no. 901 (3)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (IV/46 no. 1168), Sunan an-Nasa-i (III/130).&lt;br /&gt;
[3]. Ibid.&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 118)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/543 no. 1045).&lt;br /&gt;
[5]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/545 no. 
1059)], Shahiih Muslim (II/628 no. 912), Sunan an-Nasa-i (III/153).&lt;br /&gt;
[6]. Tamaamul Minnah (hal. 261), dengan sedikit pengubahan.&lt;br /&gt;
[7]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/515 no. 
1027)], ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (2)), 
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/24 no. 1149), Sunan at-Tirmidzi 
(I/34 no. 553), Sunan an-Nasa-i (II/155) dengan lafazh hampir serupa. &lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1029)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/514 no. 1025), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim 
(II/611 no. 894 (4)), dalam riwayatnya tidak terdapat kata: 
&quot;mengeraskan.&quot; Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/26 no. 1150).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SUJUD TILAWAH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam al-Muhalla (V/106, V/105), “Dalam 
al-Qur-an terdapat empat belas ayat sajdah. Yang pertama pada akhir 
surat al-A&#39;raf, kemudian ar-Ra&#39;d, an-Nahl, Subhaana, kaf ha ya &#39;ain 
shad, awal al-Hajj, pada akhir-akhir surat ini tidak terdapat ayat 
Sajdah, al-Furqaan, an-Naml, alif lam mim tanzil, shad, ha mim 
fushshilat, akhir wan najm, idzassamaa-un syaqqat pada ayat: ‘لاَ 
يَسْجُدُوْنَ’ kemudian di akhir surat iqra&#39; bismirabbikalladzi khalaq.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Hukum Sujud Tilawah&lt;br /&gt;
Ibnu Hazm melanjutkan, &quot;Sujud ini tidaklah wajib, namun ia adalah 
keutamaan (sunnah). Sujud ini dilakukan saat shalat wajib dan sunnah. 
Juga pada selain shalat di setiap waktu, ketika matahari terbit, 
tenggelam, maupun saat pertengahan. Baik menghadap ke kiblat maupun 
tidak. Baik dalam keadaan suci ataupun tidak.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya katakan, &quot;Sujud ini dikatakan sebagai keutamaan, bukan kewajiban 
karena Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah membaca ‘Wan Najm’ lalu
 sujud. [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zaid bin Tsabit pernah membacanya di hadapan Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa
 sallam tetapi beliau tidak sujud [2] untuk menunjukkan kebolehannya. 
Sebagaimana disebutkan al-Hafizh dalam Fat-hul Baari (II/555), Ibnu Hazm
 berkata (V/111), “Sujud ini boleh dilakukan tanpa bersuci dan tanpa 
menghadap ke kiblat karena ia bukanlah shalat. Nabi Shallallahu &#39;alaihi 
wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Shalat malam maupun siang dikerjakan dua raka’at dua raka’at.” [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kurang dari dua raka’at, maka bukanlah shalat. Kecuali ada nash
 yang menyatakan bahwa ia adalah shalat. Seperti satu raka’at pada 
shalat Khauf, Witir, dan shalat Jenazah. Tidak ada nash yang menyatakan 
bahwa sujud tilawah adalah shalat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Keutamaannya&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اِعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ 
يَبْكِي يَقُوْلُ: يَاوَيْلَهُ، أُمِرَ بِالسُّجُوْدِ فَسَجَدَ فَلَهُ 
الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُوْدِ فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika anak Adam membaca ayat Sajdah kemudian bersujud, maka syaitan 
menjauh darinya sambil menangis dan berkata, ‘Alangkah celakanya. Dia 
diperintah sujud kemudian bersujud, lalu ia mendapat Surga. Sedangkan 
aku diperintah sujud namun membangkang, lalu aku mendapat Neraka.’” [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Bacaan yang Diucapkan Ketika Sujud&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, Pada suatu malam Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam membaca (do’a) di saat sujud Qur-an, 
beliau membacanya berulang-ulang ketika sujud sajdah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wajahku bersujud pada Dzat Yang menciptakannya, serta membuka 
pendengaran dan penglihatannya dengan daya serta kekuatan-Nya.&quot;[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Jika Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sujud, beliau mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، أَنْتَ 
رَبِّي، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي شَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ 
اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, aku bersujud kepada-Mu, beriman kepada-Mu, dan berserah diri 
kepada-Mu. Engkaulah Tuhanku. Wajahku bersujud pada Dzat Yang membuka 
pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta.” 
[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku bersama Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Lalu datanglah seorang laki-laki. Lantas 
dia berkata, ‘Semalam aku bermimpi. Seakan-akan aku shalat menghadap ke 
pangkal pohon. Aku membaca ayat sajdah lalu bersujud. Kemudian pohon itu
 bersujud karena sujudku. Aku mendengar pohon tadi mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ احْطِطْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاكْتُبْ لِي بِهَا أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, hapuslah dosaku dengannya. Catatlah ia sebagai pahalaku. Dan jadikanlah ia simpananku di sisi-Mu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam membaca ayat Sajdah lalu bersujud. Dalam sujudnya 
beliau membaca do’a yang diceritakan laki-laki tadi tentang ucapan pohon
 tersebut.” [7] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sujud Syukur&lt;br /&gt;
Disunnahkan bagi orang yang memperoleh nikmat, terhindar dari bencana, 
atau menerima kabar gembira, agar bersujud. Sebagai wujud peneladanan 
kita terhadap Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu : “Jika Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam mendapat sesuatu yang menggembirakan atau merasa bahagia, beliau 
menyungkur sujud sebagai rasa syukur kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aala.”
 [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukumnya sama dengan hukum sujud tilawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/553 no. 
1070)], Shahiih Muslim (I/405 no. 576), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (IV/828 no. 1393), Sunan an-Nasa-i (II/160).&lt;br /&gt;
[2]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/554 no. 
1073)], Shahiih Muslim (I/406 no. 577), Sunan an-Nasa-i (II/160), Sunan 
Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/280 no. 1391), Sunan at-Tirmidzi 
(II/44/573).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1151)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/173 no. 1281), Sunan at-Tirmidzi (II/54 no. 594), 
Sunan Ibni Majah (I/419 no. 1322), Sunan an-Nasa-i (III/227).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 369)], Shahiih Muslim (I/87 no. 81).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1255)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/289 no. 1401), Sunan at-Tirmidzi (V/47 no. 577), 
Sunan an-Nasa-i (II/222).&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 866)], Shahiih Muslim (I/534
 no. 771), Sunan Ibni Majah (I/335 no. 1054), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/ 463 no. 746), Sunan at-Tirmidzi (V/149 no. 3481).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 865)], Sunan at-Tirmidzi (II/46 no. 576), Sunan Ibni Majah (I/334 no. 1053).&lt;br /&gt;
[8]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1143)], Sunan Ibni Majah 
(I/446 no. 1394), ini adalah lafazhnya, Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (VII/462 no. 2757), Sunan at-Tirmidzi (III/69 no. 1626).&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SUJUD SAHWI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan dalam riwayat bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah
 lupa dalam shalat. Terdapat juga riwayat shahih yang menyebutkan bahwa 
beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ فَذَكِّرُوْنِيْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian. Aku lupa 
sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku.”[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau mensyari&#39;atkan sujud sahwi bagi umatnya dalam beberapa hukum sebagaimana kami ringkaskan sebagai berikut:[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Jika bangkit dari raka’at kedua pada shalat wajib tanpa tasyahhud awal&lt;br /&gt;
Dari ‘Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah mengimami kami shalat wajib. Pada 
dua raka’at (pertama) beliau bangkit tanpa duduk (tasyahhud awal). 
Orang-orang lantas ikut berdiri mengikutinya. Ketika beliau telah 
menyelesaikan shalatnya, sedang kami menunggu beliau salam, beliau 
bertakbir lalu sujud dua kali dalam keadaan duduk. Setelah itu, beliau 
mengucapkan salam. [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari al-Mughirah bin Syu&#39;bah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا 
فَلْيَجْلِسْ، فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلاَ يَجْلِسْ وَيَسْجُدُ 
سَجْدَتَي السَّهْوِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian bangkit dari dua raka’at, dan belum
 berdiri dengan sempurna, maka hendaklah ia duduk. Namun, jika ia telah 
berdiri dengan sempurna, maka janganlah ia duduk. Dan hendaklah ia 
melakukan sujud sahwi dua kali.&quot;[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jika shalat lima raka’at&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhur lima raka’at. Lalu ada yang 
berkata pada beliau, ‘Apakah terjadi penambahan dalam shalat?’ Beliau 
berkata, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Engkau shalat lima raka’at.’ Beliau 
kemudian sujud dua kali setelah salam.” [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jika salam pada raka’at kedua atau ketiga&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam pernah salam pada raka’at kedua. Lalu berkatalah Dzul Yadain, 
&quot;Apakah engkau mengqashar shalat atau lupa, wahai Rasulullah?&quot; 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertanya, “Apakah benar yang 
dikatakan oleh Dzul Yadain?” Orang-orang menjawab, “Benar.” Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam lalu bangkit dan shalat dua raka’at lagi. 
Setelah itu beliau salam lalu bertakbir dan sujud sebagaimana sujudnya 
(dalam shalat), atau lebih panjang. Kemudian beliau bangun.&quot;[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam shalat ‘Ashar. Kemudian beliau salam pada raka’at 
ketiga lalu masuk ke rumahnya. Seorang laki-laki yang dipanggil 
al-Khirbaq lalu mendatanginya. Dia memiliki tangan yang panjang. Lalu 
dia menyebutkan apa yang telah beliau lakukan. Beliau lantas keluar 
dengan marah sambil menyeret selendangnya hingga tiba di tempat 
orang-orang. Beliau bertanya, ‘Apakah benar yang dikatakan orang ini?’ 
Mereka menjawab, ‘Ya.’ Kemudian beliau shalat satu raka’at kemudian 
salam. Setelah itu beliau sujud dua kali lalu salam lagi.” [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Jika lupa bilangan raka’at shalat&lt;br /&gt;
Dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, ia mengatakan bahwa ‘Abdullah berkata, 
“Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah shalat.” Ibrahim 
berkata: ‘Beliau menambah atau mengurangi [8].’ Ketika selesai salam, 
ada yang berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah telah terjadi 
perubahan dalam shalat?’ Beliau bertanya, ‘Mengapa?’ Mereka menjawab, 
‘Anda shalat sekian raka’at.’ Dia berkata, ‘Beliau lalu memutar kakinya 
dan menghadap Kiblat. Kemudian beliau sujud dua kali dan salam. Setelah 
itu beliau menghadap kami dan bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلكِنْ 
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيْتُ 
فَذَكِّرُوْنِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ &lt;br /&gt;
فِي صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ، فَلْيَتِمْ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya, jika terjadi sesuatu pada shalat, niscaya kalian aku 
beritakan. Akan tetapi aku hanyalah seorang manusia. Aku lupa 
sebagaimana kalian juga lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. Jika 
salah seorang di antara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah
 dia berusaha mencari mana yang benar. Lalu menyempurnakannya, setelah 
itu hendaklah dia sujud dua kali.” [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mencari yang benar,” bisa dengan cara mengingat-ingat apa yang telah ia
 baca dalam shalat. Bisa jadi dia ingat telah membaca dua surat dalam 
dua raka’at. Akhirnya dia mengetahui bahwa dia telah shalat dua raka’at,
 bukan satu raka’at. Terkadang dia teringat telah melakukan tasyahhud 
awal. Sehingga dia mengetahui bahwa dia telah shalat dua raka’at, tidak 
satu raka’at. Dan dia telah shalat tiga raka’at, bukan dua raka’at. 
terkadang, dia ingat telah mem-baca al-Faatihah saja pada satu raka’at 
dan juga raka’at berikutnya. Akhirnya dia sadar bahwa dia telah shalat 
empat raka’at, tidak tiga raka’at. Dan begitulah seterusnya. Jika dia 
mencari yang benar dengan cara mengambil yang lebih dekat pada yang 
benar, maka hilanglah keraguan tadi. Dalam masalah ini, tidak ada 
perbedaan antara menjadi imam ataupun shalat sendiri. [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia telah berusaha mencari yang benar, namun dia belum bisa 
menentukan suatu kecenderungan, maka dia harus menguatkan perkara yang 
yakin, yaitu yang paling sedikit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits 
berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِـيْ صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى؟ 
ثَلاَثًا أَوْ أَرْبَعًـا؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَـا 
اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ. فَإِنْ 
كَـانَ صَلَّى خَمْسًا شَفِعْنَ لَهُ صَلاَتُهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى 
إِتْمَامًا ِلأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika salah seorang di antara kalian ragu dalam shalatnya. Sehingga dia 
tidak tahu berapa raka’at yang telah dia kerjakan. Tiga raka’at ataukah 
empat raka’at. Maka hendaklah ia tepis keraguan itu, dan ikutilah yang 
dia yakini. Setelah itu, hendaklah dia sujud dua kali sebelum salam. 
Jika ternyata dia mengerjakan lima raka’at, maka dia telah menggenapkan 
shalatnya. Namun, jika dia mengerjakan empat raka’at, maka dua sujud 
tadi adalah penghinaan bagi syaitan.” [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Hukum Sujud Sahwi&lt;br /&gt;
Hukum sujud sahwi adalah wajib. Karena Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam memerintahkannya. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits 
tadi. Dan juga karena beliau senantiasa melakukannya ketika lupa. Beliau
 tidak pernah meninggalkannya sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Letak Sujud Sahwi&lt;br /&gt;
Pendapat yang paling baik adalah pembedaan antara menambah dan 
mengurangi, antara ragu dan berusaha mencari yang benar, juga antara 
ragu dan mengikuti yang diyakini. Semua nash-nash ini bisa diterapkan. 
Dan pembedaan ini sangat masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada yang kurang dalam shalat, seperti meninggalkan tasyahhud awal, 
maka shalat memerlukan penambahan. Agar shalat menjadi sempurna, maka 
penambahannya dilakukan sebelum salam. Karena salam adalah penutup 
shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika terjadi penambahan, seperti kelebihan satu raka’at -tidak pernah 
terkumpul dua tambahan dalam satu shalat-, maka sujud dilakukan setelah 
salam. Karena ia merupakan penghinaan bagi syaitan. Ia memiliki 
kedudukan sebagai satu shalat yang terpisah, yang dengannya shalat yang 
kurang menjadi sempurna. Sebab, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
menjadikan dua sujud seperti halnya satu raka’at.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupula jika dia ragu dan berusaha mencari yang benar, maka dia harus
 menyempurnakan shalatnya, dan kedua sujud tadi sebagai penghinaan bagi 
syaitan. Maka, kedua sujud tadi dilakukan setelah salam. Demikian pula 
ketika dia selesai salam, sedangkan sebagian shalatnya belum dikerjakan 
kemudian dia menyempurnakannya, maka dia telah menyempurnakan shalatnya 
tadi sedangkan salam pada shalat tersebut merupakan tambahan. Sujud 
dalam kondisi semacam ini dikerjakan setelah salam. Karena ia merupakan 
penghinaan bagi syaitan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun jika dia ragu dan tidak bisa menentukan mana yang benar, maka 
dalam kondisi semacam ini bisa jadi dia shalat empat raka’at atau lima 
raka’at. Jika dia shalat lima raka’at, maka kedua sujud tadi telah 
menggenapkan shalatnya. Dengan begitu dia seolah-olah shalat enam 
raka’at, bukan lima. Sujud ini dilakukan sebelum salam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat yang kita kuatkan ini merupakan penerapan dari semua 
hadits-hadits tadi. Tidak ada satu hadits pun yang ditinggalkan. 
Sekalipun dengan menggunakan kias yang benar dalam masalah yang tidak 
terdapat nashnya. Juga dengan mengaitkan yang bukan nash dengan nash 
yang mirip dengannya.[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Sujud Sahwi Karena Meninggalkan Salah Satu Sunnah&lt;br /&gt;
Barangsiapa meninggalkan salah satu sunnah karena lupa, maka dia harus sujud sahwi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasarnya adalah sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika terjadi kelupaan dalam shalat, maka harus sujud dua kali.” [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum sujud dalam kondisi ini adalah sunnah, bukan wajib. Agar far&#39;i (cabang) tidak bertambah dari hukum asalnya.[14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 2339)], Irwaa’ul Ghaliil (no. 339).&lt;br /&gt;
[2]. Fiqhus Sunnah (I/190).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/92 no. 
1224)], Shahiih Muslim (I/399 no. 570), Sunan an-Nasa-i (III/19), Sunan 
Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/347 no. 1021), Sunan at-Tirmidzi (I/242 
no. 389), Sunan Ibni Majah (I/381 no. 1206).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (II/109-110)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/350 no. 1023), Sunan Ibni Majah (I/381 no. 1208). Yang 
harus diperha-tikan adalah, dalam hadits tidak dibedakam antara bangkit 
yang lebih dekat ke berdiri sehingga dia harus berdiri atau lebih dekat 
ke duduk sehingga ia harus duduk. Yang benar adalah sebagaimana 
dijelaskan dalam hadits bahwa jika ia teringat sebelum berdiri dengan 
sempurna, maka dia harus duduk, sekalipun dia telah hampir berdiri 
secara sempurna.&lt;br /&gt;
[5]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/93 no. 
1226)], Shahiih Muslim (I/401 no. 572 (91)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/325 no. 1006), Sunan at-Tirmidzi (I/243 no. 390), Sunan 
Ibni Majah (I/380 no. 1205), Sunan an-Nasa-i (III/31).&lt;br /&gt;
[6]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/98 no. 
1228)], Shahiih Muslim (I/403 no. 573), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (III/311 no. 995), Sunan at-Tirmidzi (I/247 no. 397), Sunan an-Nasa-i 
(III/30), Sunan Ibni Majah (I/383 no. 1214).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1001)], Shahiih Muslim 
(I/404 no. 574), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/323 no. 1005), 
Sunan an-Nasa-i (III/ 26), Sunan Ibni Majah (I/384 no. 1215).&lt;br /&gt;
[8]. Ibrahim tadi ragu. Yang benar adalah beliau menambah. Sebagaimana 
di-sebutkan oleh Ibnul Atsir dalam kitab Jaami&#39;ul Ushuul (V/541).&lt;br /&gt;
[9]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/503 no. 
401)], Shahiih Muslim (I/400 no. 572), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/326 no. 1007), Sunan an-Nasa-i (III/31), Sunan Ibni Majah (I/382 
no. 1211).&lt;br /&gt;
[10]. Majmuu&#39; al-Fataawaa karya Ibnu Taimiyyah (XXIII/13).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 632)], Shahiih Muslim 
(I/400 no. 571), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/330 no. 1011), 
Sunan an-Nasa-i (III/27).&lt;br /&gt;
[12]. Majmuu&#39; al-Fataawaa (XXIII/24).&lt;br /&gt;
[13]. Hasan: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 917)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/357 no. 1025), Sunan Ibni Majah (I/385 no. 1219).&lt;br /&gt;
[14]. As-Sailuul Jarraar (I/275).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/44139299767639289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-shalat-sunnah-oleh-syaikh-abdul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/44139299767639289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/44139299767639289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/shalat-shalat-sunnah-oleh-syaikh-abdul.html' title='SHALAT-SHALAT SUNNAH Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-3822569100834968091</id><published>2012-10-12T22:48:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T22:48:31.959-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Dimakruhkan Dalam Shalat, Diperbolehkan Dalam Shalat Dan Yang Membatalkan Shalat</title><content type='html'>TATA CARA SHALAT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F. Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Shalat:&lt;br /&gt;
1. Bermain-main dengan pakaian atau anggota badan tanpa keperluan&lt;br /&gt;
Dari Mu&#39;aiqib Radhiyallahu anhu : &quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam berkata kepada orang yang mengusap debu ketika sujud, ‘Jika 
engkau melakukannya, maka cukup sekali saja.’&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Berkacak pinggang&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
نُهِيَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصَرًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dilarang shalat sambil berkacak pinggang.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mengangkat pandangan ke langit&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ 
الدُّعَاءِ فِي الصَّلاَةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ 
أَبْصَارُهُمْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hendaklah orang-orang berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit 
ketika berdo’a dalam shalat atau mata mereka akan tersambar.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Menoleh tanpa keperluan&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Aku bertanya kepada 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tentang menoleh dalam shalat. 
Lalu beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ia merupakan sebuah curian yang dilakukan syaitan terhadap shalat seorang hamba.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Memandang pada sesuatu yang memalingkan&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
shalat dengan mengenakan pakaian yang ada tandanya. Kemudian beliau 
bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
شَغَلَتْنِيْ أَعْلاَمُ هذِهِ، اِذْهَبُوْا بِهَـا إِلَى أَبِيْ جَهْمٍ، وَأْتُوْنِـيْ بِأَنْبِجَانِيَّةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tanda pada pakaian ini telah menyibukkanku. Bawalah ia ke Abu Jahm dan 
bawakan aku anbijaniyyah (pakaian tebal dari wol yang tidak ada 
tandanya).&quot;[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sadl dan menutup mulut&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلاَةِ وَأَنْ يَغْطِيَ الرَّجُلُ فَاهُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melarang sadl dan menutup mulut ketika shalat.&quot;[6] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syamsul Haq berkata dalam &#39;Aunul Ma&#39;buud (II/347): Al-Khaththabi 
berkata: As-sadl adalah menjulurkan pakaian hingga menyentuh tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan dalam an-Nailul Authaar: Abu &#39;Ubaidah berkata tentang makna 
as-sadl adalah menjulurkan pakaian tanpa menyatukan kedua sisinya ke 
depan. Jika disatukan ke depan, maka tidak dinamakan sadl. Pengarang 
kitab an-Nihaayah berkata: Maknanya adalah berkemul dengan pakaiannya 
dan memasukkan kedua tangan dari dalam lalu ruku&#39; dan sujud dalam 
keadaan seperti itu. Ini berlaku pada gamis dan jenis pakaian yang lain.
 Ada pula yang mengatakan: meletakkan bagian tengah sarung di atas 
kepala dan menjulurkan kedua tepiannya ke kanan dan ke kiri tanpa 
meletakkannya di atas kedua bahu. Al-Jauhari berkata: sadala tsaubahu 
yasduluhu sadlan, dengan dhammah artinya arkhahu (menjulurkannya). Tidak
 masalah mengartikan hadits pada semua arti ini, karena sadl mengandung 
banyak arti. Membawa kalimat yang mengandung banyak arti pada semua 
maknanya adalah madzhab yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Menguap&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَلتَّثَـاؤُبُ فِي الصَّلاَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَـاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah sebisa mungkin.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Meludah ke arah kiblat atau ke kanan&lt;br /&gt;
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
 قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ 
يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، 
فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى
 ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat, maka 
sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta&#39;ala berada di hadapannya. Maka 
janganlah ia meludah ke arah depan atau ke kanan. Hendaklah ia meludah 
ke sebelah kiri di bawah kaki kirinya. Dan jika terlanjur keluar, maka 
hendaklah ia tumpahkan ke pakaiannya.&quot; Beliau kemudian melipat bajunya 
satu sama lain.[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Menyilangkan jari-jemari&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ 
فِي صَلاَةٍ حَتَّى يَرْجِعَ، فَلاَ يَقُلْ هكَذَا، وَشَبَكَ بَيْنَ 
أَصَابِعِهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian wudhu&#39; di rumahnya kemudian 
mendatangi masjid, maka dia berada dalam sebuah shalat hingga pulang. 
Janganlah ia melakukan seperti ini.&quot; Beliau menyilangkan jari-jemarinya.
 [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Menggulung rambut dan pakaian&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ، لاَ أَكِفَّ شَعْرًا وَلاَ ثَوْبًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh (anggota sujud) dan tidak menggulung rambut maupun pakaian.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Mendahulukan kedua lutut daripada kedua tangan ketika sujud&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian hendak sujud, maka janganlah turun 
sebagaimana unta menderum. Hendaklah ia letakkan kedua tangannya sebelum
 kedua lututnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Membentangkan kedua tangan (menempel dengan lantai) ketika sujud&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اِعْتَدِلُوْا فِـي السُّجُوْدِ، وَلاَ يَبْسُطُ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ اِنْبِسَاطَ الْكَلْبِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bersikaplah pertengahan ketika sujud, dan janganlah salah seorang di 
antara kalian membentangkan tangannya sebagaimana anjing.&quot; [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Shalat ketikan hidangan sudah disajikan atau menahan buang air besar dan kecil&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Aku mendengar Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلاَ وَهُوَ يُدَافِعُهُ اْلأَخْبَثَانِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak (sempurna) shalat ketika hidangan sudah disajikan, dan tidak 
(sempurna) pula shalat orang yang menahan buang air besar atau kecil.&quot; 
[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Mendahului imam&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ 
يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ 
صُوْرَةَ حِمَارٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidakkah salah seorang di antara kalian takut, Allah menjadikan 
kepalanya seperti kepala keledai bila dia mengangkat kepalanya sebelum 
imam. Atau menjadikan rupanya seperti rupa keledai.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
G. Hal-Hal Yang Diperbolehkan Dalam Shalat&lt;br /&gt;
1. Berjalan untuk keperluan&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam pernah shalat di dalam rumah sedangkan pintunya 
tertutup. Lalu aku datang dan minta dibukakan. Kemudian beliau berjalan 
dan membukakan pintu untukku. Setelah itu beliau kembali ke tempat 
shalatnya. ‘Aisyah menyifatkan bahwa pintu tersebut berada di arah 
Kiblat.&quot; [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Menggendong anak kecil&lt;br /&gt;
Dari Abu Qatadah: &quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah 
shalat sambil menggendong Umamah, puteri Zainab binti Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan Abu al-&#39;Ash bin ar-Rabi&#39;. Jika beliau 
berdiri, beliau menggendongnya. Namun jika sujud, beliau meletakkannya.&quot;
 [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Membunuh al-aswadain (kalajengking dan ular)&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu : &quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa
 sallam menyuruh agar membunuh dua binatang hitam dalam shalat, yaitu 
kalajengking dan ular.&quot; [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Menoleh dan memberi isyarat untuk keperluan&lt;br /&gt;
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam menderita sakit. Lalu kami shalat di belakang beliau 
yang shalat dalam keadaan duduk. Kemudian beliau menoleh dan melihat 
kami berdiri. Ke-mudian beliau mengisyaratkan kepada kami (untuk duduk),
 lalu kami pun duduk.&quot;[16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Meludah di baju atau mengeluarkan sapu tangan dari saku&lt;br /&gt;
Dalilnya telah disebutkan dalam hadits Jabir tentang larangan meludah ke arah kiblat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Memberi isyarat untuk menjawab salam&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah bin &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam keluar menuju Quba&#39; untuk shalat di sana. 
Tak lama kemudian datanglah orang-orang Anshar dan mengucapkan salam 
kepada beliau yang sedang shalat. Lalu aku berkata pada Bilal, 
&quot;Bagaimana engkau melihat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
menjawab salam ketika mereka memberi salam kepada beliau padahal beliau 
sedang shalat?&quot; Dia berkata, &quot;Beliau memberi isyarat seperti ini.&quot; Dia 
membuka telapak tangannya. Ja&#39;far bin &#39;Aun (perawi hadits) pun membuka 
telapak tangannya. Ia jadikan bagian dalamnya menghadap ke bawah dan 
bagian luarnya ke atas.&quot;[17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Mengucapkan tasbih bagi laki-laki dan bertepuk tangan bagi wanita jika terjadi sesuatu dalam shalat&lt;br /&gt;
Dari Sahl bin Sa&#39;d Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَا لَكُمْ حِيْنَ نَابَكُمْ شَيْءٌ فِي الصَّلاَةِ 
أَخَذْتُمْ فِي التَّصْفِيْقِ، إِنَّمَا التَّصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ، مَنْ 
نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ فَلْيَقُلْ: سُبْحَانَ اللهِ، فَإِنَّهُ لاَ 
يَسْمَعُهُ أَحَدٌ حِيْنَ يَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهِ إِلاَّ الْتَفَتْ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wahai manusia, kenapa jika terjadi sesuatu dalam shalat kalian bertepuk
 tangan? Sesungguhnya bertepuk tangan adalah untuk wanita. Barangsiapa 
menemui kejadian dalam shalatnya, hendaklah ia mengucapkan: 
subhaanallah. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mendengarnya ketika
 ia mengucap: subhaanallah melainkan ia telah berpaling...[18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Mengingatkan imam&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma : &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam mengerjakan suatu shalat lalu membaca surat dan bacaannya 
tercampur (keliru). Ketika selesai beliau berkata pada Ubay, &quot;Apakah 
engkau shalat bersama kami?&quot; Dia berkata, &quot;Ya.&quot; Beliau berkata, &quot;Lalu, 
apakah yang menghalangimu (untuk membenarkan bacaanku tadi?&quot; [19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Mencolek kaki orang yang sedang tidur&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Aku menyelonjorkan 
kakiku pada kiblat Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang sedang 
shalat. Jika sujud, beliau mencolekku dan aku pun mengangkatnya. Jika 
beliau berdiri aku menyelonjorkannya lagi.&quot; [20]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.Menahan orang yang ingin lewat di depannya&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Aku mendengar Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ
 أَحَدٌ أَنْ يُجْتَـازُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِي نَحْرِهِ، 
فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian shalat menghadap ke sesuatu yang 
menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian seseorang hendak lewat 
di depannya, maka doronglah pada lehernya. Jika dia menolak, maka 
perangilah (lawanlah) dia. Karena sesungguhnya dia adalah syaitan.&quot; [21]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Menangis&lt;br /&gt;
Dari &#39;Ali Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Tidak ada seorang penunggang 
kuda pun di antara kami pada hari perang Badar selain al-Miqdad. Aku 
tidak melihat seorang pun di antara kami melainkan sedang tidur (malam).
 Kecuali Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau shalat sambil 
menangis di bawah sebuah pohon hingga Shubuh.&quot; [22]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
H. Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat&lt;br /&gt;
1. Yakin adanya hadats&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abbad bin Tamim Radhiyallahu anhu, dari pamannya: “Ada seseorang 
yang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tentang 
sesuatu (hadats) yang seolah-olah terjadi dalam shalatnya. Lalu beliau 
bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ يَنْفَتِلْ -أَوْ لاَ يَنْصَرِفْ- حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Janganlah ia membubarkan (membatalkan shalatnya) atau berpaling hingga dia mendengar suara atau mencium bau.&quot;[23]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Meninggalkan salah satu rukun atau syarat dengan sengaja atau tanpa alasan&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada orang yang buruk shalatnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kembali dan shalatlah, karena engkau belum shalat.&quot; [24]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga perintah beliau terhadap orang yang pada punggung telapak kakinya 
terdapat sedikit bagian yang tidak terkena air wudhu’ agar mengulang 
wudhu&#39; dan shalatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Makan dan minum dengan sengaja&lt;br /&gt;
Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, &quot;Para ahlul ilmi sepakat bahwa orang
 yang makan atau minum dengan sengaja ketika shalat wajib, maka dia 
wajib mengulang shalatnya.[25] &quot; Begitupula pada shalat sunnah menurut 
jumhur (mayoritas ulama. Karena apa yang membatalkan shalat wajib, juga 
membatalkan shalat sunnah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Berbicara dengan sengaja bukan untuk kemaslahatan shalat&lt;br /&gt;
Dari Zaid bin Arqam, dia berkata, &quot;Dulu kami berbicara dalam shalat. 
Seseorang di antara kami bercakap-cakap dengan kawan di sebelahnya yang 
sedang shalat. Hingga turunlah ayat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
.وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘... Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu&#39;.’ 
[Al-Baqarah: 238]. Kami pun diperintah diam dan dilarang berbicara.&quot; 
[26]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Tertawa&lt;br /&gt;
Ibnul Mundzir rahimahullah menukil ijma&#39; bahwa tertawa membatalkan shalat.&lt;br /&gt;
6. Lewatnya perempuan baligh, keledai, atau anjing hitam di antara orang yang shalat dan tempat sujudnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قَـامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يَسْتُرُهُ إِذَا كَانَ 
بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ. فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ 
يَدَيْهِ مِثْلَ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلاَتَهُ 
الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ اْلأَسْوَد.ُ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang dari kalian shalat, maka dia terbatasi jika di 
hadapannya terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan. Jika di
 hadapannya tidak terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan, 
maka shalatnya terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/79 no. 
1207)], Shahiih Muslim (I/388 no. 546 (49)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/223 no. 934), Sunan at-Tirmidzi (I/235 no. 377), Sunan 
Ibni Majah (I/327 no. 1026), dan Sunan an-Nasa-i (III/7).&lt;br /&gt;
[2]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/88 no. 
1220)], Shahiih Muslim (I/387 no. 545), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (III/223 no. 94), Sunan at-Tirmidzi (I/237 no. 381), dan Sunan 
an-Nasa-i (II/127).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 343)], Shahiih Muslim (I/321 no. 429), dan Sunan an-Nasa-i (III/39).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7047)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/234 no. 751), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/178 no. 897), dan Sunan an-Nasa-i (II/8).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2066)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/234 no. 752), Shahiih Muslim (I/391 no. 556), Sunan 
Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/182 no. 901), Sunan an-Nasa-i (II/72), 
dan Sunan Ibni Majah (II/1176 no. 3550).&lt;br /&gt;
[6]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 966)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/347 no. 629), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 376), 
pada kalimat pertama saja. Sunan Ibni Majah (I/310 no. 966), pada 
kalimat kedua saja.&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3013)], Sunan 
at-Tirmidzi (I/230 no. 368), dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/61 no. 920).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shahiih Muslim (IV/2303 no. 3008)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/144 no. 477).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 445)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/206).&lt;br /&gt;
[10]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/301 no. 
822)], Shahiih Muslim (I/355 no. 493), Sunan at-Tirmidzi (I/172 no. 
275), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/166 no. 883), Sunan Ibni 
Majah (I/288/892), dan Sunan an-Nasa-i (II/212) dengan lafazh serupa.&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7509)], Shahiih Muslim
 (I/393 no. 560), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/160 no. 89).&lt;br /&gt;
[12]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/182 no. 
691)], ini adalah lafazhnya. Shahiih Muslim (I/320 no. 427), Sunan Abi 
Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/330 no. 609), Sunan an-Nasa-i (II/69), dan 
Sunan Ibni Majah (I/308 no. 961).&lt;br /&gt;
[13]. Hasan: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1151)], Sunan at-Tirmidzi 
(II/56 no. 598), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/190 no. 910), dan
 Sunan an-Nasa-i (III/11).&lt;br /&gt;
[14]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/590 no. 
516)], Shahiih Muslim (I/385 no. 543), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/185 no. 904), dan Sunan an-Nasa-i (II/45).&lt;br /&gt;
[15]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 1147)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/41 no. 869).&lt;br /&gt;
[16]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1145)], Shahiih Muslim 
(I/309 no. 413), Sunan an-Nasa-i (III/9), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/313 no. 588).&lt;br /&gt;
[17]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 820)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/195 no. 915).&lt;br /&gt;
[18]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/107 no.
 1234)], Shahiih Muslim (I/316/421), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/216 no. 926).&lt;br /&gt;
[19]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 803)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/175 no. 894).&lt;br /&gt;
[20]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/80 no. 
1209)], ini adalah lafazhnya, serta Shahiih Muslim (I/367 no. 512 
(272)), dengan lafazh serupa.&lt;br /&gt;
[21]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 638)] dan Shahiih Muslim (I/362 no. 505 (259)).&lt;br /&gt;
[22]. Sanadnya shahih: [Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (XXI/36 no. 225)], dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/52 no. 899).&lt;br /&gt;
[23]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/237 no. 
137)], Shahiih Muslim (I/272 no. 361), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(I/299 no. 174), Sunan Ibni Majah (I/171 no. 513), dan Sunan an-Nasa-i 
(I/99).&lt;br /&gt;
[24]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/267, 277
 no. 793)], Shahiih Muslim (I/298 no. 397), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/96-93 no. 841), Sunan at-Tirmidzi (I/186-185 no. 301), 
Sunan an-Nasa-i (II/125).&lt;br /&gt;
[25]. Al-Ijma&#39; hal. 40.&lt;br /&gt;
[26]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/383 no. 539)], Sunan 
at-Tirmidzi (I/252 no. 4003), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/227 
no. 936), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/72 no. 1200), dan 
Sunan an-Nasa-i (III/18), pada kedua riwayat terakhir ini tidak terdapat
 kalimat: &quot;Dan kami dilarang ber-bicara.&quot;&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/3822569100834968091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/dimakruhkan-dalam-shalat-diperbolehkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3822569100834968091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3822569100834968091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/dimakruhkan-dalam-shalat-diperbolehkan.html' title='Dimakruhkan Dalam Shalat, Diperbolehkan Dalam Shalat Dan Yang Membatalkan Shalat'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-8529698034824490674</id><published>2012-10-12T22:46:00.006-07:00</published><updated>2012-10-12T22:46:58.551-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Dzikir Dan Do’a Yang Disyari&#39;atkan Setelah Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>E. Dzikir Dan Do’a yang Disyari&#39;atkan Setelah Shalat&lt;br /&gt;
1. Dari Tsauban Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Jika Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam selesai shalat, beliau beristighfar tiga 
kali dan mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَـارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَام.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Allah, Engkaulah Pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Walid berkata, &quot;Aku berkata pada al-Auza&#39;i: &quot;Bagaimana istighfar 
itu?&quot; Dia berkata: &quot;Ucapkanlah [1]: &quot;أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ 
اللهَ.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dari Abu az-Zubair, dia berkata, &quot;Dulu, ketika Ibnu az-Zubair selesai salam pada akhir shalat, dia mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ 
وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ حَوْلَ وَلاَ 
قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ 
إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ 
الْحَسَنُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ 
كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada 
sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia
 Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan 
dengan (pertolongan) Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi 
melainkan Allah. Kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya 
nikmat, anugerah, dan pujian yang baik. Tidak ada ilah yang berhak 
diibadahi melainkan Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun
 orang-orang kafir benci.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berkata, &quot;Dahulu Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bertahlil dengan do’a tersebut pada akhir setiap shalat.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dari Warrad bekas budak al-Mughirah bin Syu&#39;bah, dia berkata, 
&quot;Al-Mughirah bin Syu&#39;bah menulis surat kepada Mu&#39;awiyah, bahwa 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam jika selesai shalat dan salam, 
beliau mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ 
وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَللّهُمَّ لاَ 
مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ 
ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah. Tidak ada
 sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya-lah segala kerajaan dan bagi-Nya segala 
pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala se-suatu. Ya Allah, tidak ada yang
 menghalangi apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang mampu memberi 
apa yang Engkau tahan. Tidaklah bermanfaat bagi pemilik kekayaan. Karena
 dari-Mu-lah kekayaan itu.&quot; [3] *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Dari Ka&#39;b bin &#39;Ujrah, dari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa salalm, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مُعَقَّبَاتٌ لاَ يُخِيْبُ قَائِلُهُنَّ -أَوْ فَاعِلُهُنَّ- : ثَلاَثَ 
وَثَلاَثُوْنَ تَسْبِيْحَةٍ، وَثَلاَثُ وَثَلاَثُوْنَ تَحْمِيْدَةٍ، 
وَأَرْبَعُ وَثَلاَثُوْنَ تَكْبِيْرَةٍ، فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Do’a setelah shalat yang tidak akan merugi orang yang membacanya atau 
yang melakukannya: tigapuluh tiga tasbih, tigapuluh tiga tahmid, dan 
tigapuluh empat takbir, pada akhir setiap shalat.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ سَبَّحَ اللهَ ِفِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، 
وَحَمَّدَ اللهَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَكَبَّرَ اللهَ ثَلاَثًا 
وَثَلاَثِيْنَ، فَتِلْكَ تِسْعَةُ وَتِسْعُوْنَ، وَقَالَ: تَمَامُ 
الْمِائَةِ: &quot;لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ 
ْالْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،&quot; 
غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلُ زُبَدِ الْبَحْرِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa bertasbih kepada Allah tigapuluh tiga kali pada akhir 
setiap shalat, bertahmid kepada Allah tigapuluh tiga kali, dan bertakbir
 kepada Allah tigapuluh tiga kali, hingga semua itu mencapai sembilan 
puluh sembilan. Kemudian menyempurnakan seratus dengan membaca: &quot;Tidak 
ada ilah yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah. Tiada sekutu 
bagi-Nya. Bagi-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dan 
Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.&quot; Maka di-ampunilah dosa-dosanya 
meskipun sebanyak buih di lautan.&quot;[5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Dari Mu&#39;adz bin Jabal Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Pada suatu 
hari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam memegang tanganku dan 
berkata, ‘Wahai Mu&#39;adz, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar 
mencintaimu.’ Lalu aku berkata, &quot;Ayah-ibuku menjadi penebus engkau, demi
 Allah, sesungguhnya aku juga benar-benar mencintaimu.&quot; Beliau berkata, 
‘Wahai Mu&#39;adz, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu. Janganlah engkau 
tinggalkan untuk mengucapkan pada akhir tiap shalat: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِـيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa membaca ayat Kursi pada akhir tiap shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya masuk Surga kecuali mati.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad bin Ibrahim menambahkan dalam haditsnya: &quot;Dan (surat) Qul Huwwallahu Ahad.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Dari &#39;Uqbah bin &#39;Amir Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa salalm menyuruhku membaca al-mu&#39;awwidzat (surat 
al-Falaq dan an-Naas) pada setiap akhir shalat.&quot; [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhu. Dahulu, jika Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam selesai salam shalat Shubuh, beliau membaca:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 756)], Shahiih Muslim (I/414
 no. 591), Sunan at-Tirmidzi (I/184 no. 299), Sunan an-Nasa-i (III/68), 
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/377 no. 1499), dan Sunan Ibni Majah
 (I/300 no. 928).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1272)], Shahiih Muslim (I/415
 no. 594), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/372 no. 1493), dan Sunan
 an-Nasa-i (III/70).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/325 no. 
844)], Shahiih Muslim (I/414 no. 593), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(IV/371 no. 1491).&lt;br /&gt;
* Al-jadd adalah kedudukan atau bagian kekayaan. Maksudnya, hal itu 
tidak bermanfaat bagi pemiliknya jika ia tidak mempunyai amal shalih.&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1278)], Shahiih Muslim (I/418
 no. 596), Sunan at-Tirmidzi (V/144 no. 3473), dan Sunan an-Nasa-i 
(III/75).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 314)] dan Shahiih Muslim (I/418/597).&lt;br /&gt;
Catatan: Terdapat beberapa riwayat tentang jumlah dzikir. Pada Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/132/no. 6329), &quot;Sepuluh-sepuluh.&quot; Pada 
Shahiih Muslim (I/417/ no. 595 (143)), &quot;Sebelas-sebelas.&quot; Pada Sunan 
an-Nasa-i (III/76), Shahiih Sunan an-Nasa-i (1279), &quot;Duapuluh 
lima-duapuluh lima ditambah tahlil.&quot; Hendaknya orang yang shalat 
terkadang membaca bilangan yang ini dan ter-kadang membaca yang itu.&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7969)], Sunan Abi Dawud
 (‘Aunul Ma’buud) (IV/384 no. 1508), dan Sunan an-Nasa-i (III/53).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6464)] dan ath-Thabrani dalam ash-Shagiir (VIII/134 no. 7532).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1268)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/385 no. 1509), dan Sunan an-Nasa-i (III/68).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 753)], Sunan Ibni Majah 
(I/298 no. 925), dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (IV/55 no. 776).&lt;br /&gt;
(Sumber :&lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt; http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/8529698034824490674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/dzikir-dan-doa-yang-disyariatkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/8529698034824490674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/8529698034824490674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/dzikir-dan-doa-yang-disyariatkan.html' title='Dzikir Dan Do’a Yang Disyari&#39;atkan Setelah Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-3168564296935267424</id><published>2012-10-12T22:45:00.002-07:00</published><updated>2012-10-12T22:45:21.207-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Sunnah-Sunnah Shalat : Sunnah Perbuatan Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>2. Sunnah-Sunnah Perbuatan:&lt;br /&gt;
a. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram&lt;br /&gt;
Begitupula ketika ruku&#39;, i&#39;tidal, serta bangkit dari tasyahhud awal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma : &quot;Ketika memulai shalat, Rasulullah
 Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya setinggi bahu,
 begitupula saat takbir hendak ruku&#39;. Beliau juga mengangkat keduanya 
saat mengangkat kepala dari ruku&#39;.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari Nafi&#39;: &quot;Jika Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma memulai shalat, 
dia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku&#39;, dia 
angkat kedua tangannya. Dan saat mengucapkan: &quot;سَمِعَ اللهُ لِمَنْ 
حَمِدَهُ&quot; dia angkat kedua tangannya. Dan jika bangkit dari dua raka&#39;at,
 dia angkat kedua tangannya. Dia menisbatkannya kepada Nabi Allah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan mengangkat kedua tangan secara kadang-kadang ketika turun dan bangkit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Malik bin al-Huwairits: “Dia melihat Nabi Shallallahu
 &#39;alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dalam shalat ketika ruku&#39;,
 ketika mengangkat kepala dari ruku&#39;, ketika sujud, dan ketika 
mengangkat kepala dari sujud. Hingga beliau menyejajarkan kedua 
tangannya dengan bagian atas telinganya.” [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada&lt;br /&gt;
Dari Sahl bin Sa&#39;d, dia berkata, &quot;Dulu orang-orang diperintahkan agar 
masing-masing mereka meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya 
dalam shalat.&quot; Abu Hazim berkata, &quot;Aku tidak mengetahui melainkan hal 
itu dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari Wa-il bin Hujr, dia berkata, &quot;Aku shalat bersama Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Beliau meletakkan tangan kanannya di atas
 tangan kirinya di atas dada.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Melihat ke tempat sujud&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Ketika Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam memasuki Ka&#39;bah, tidaklah pandangannya 
bergeser dari tempat sujudnya. Hingga beliau keluar darinya.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Melakukan perbuatan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini ketika ruku&#39;&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Jika Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ruku&#39;, beliau tidak mendongakkan kepalanya
 dan tidak pula merundukkannya. Akan tetapi di antara keduanya.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari Abu Humaid ketika menggambarkan shalat Nabi Shallallahu &#39;alaihi
 wa sallam, dia berkata, &quot;Jika ruku&#39;, beliau tekankan kedua tangannya 
pada kedua lutut. Kemudian beliau rentangkan punggungnya dengan lurus.&quot; 
[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari Wa-il bin Hujr, &quot;Ketika Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ruku&#39;, beliau rentangkan jari-jemarinya.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Humaid: &quot;Ketika Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ruku&#39;,
 beliau letakkan kedua tangannya di atas lututnya seakan-akan 
mengenggamnya. Kemudian beliau merenggangkan (sedikit membengkokkan) 
kedua tangannya dan menjauhkannya dari lambung.&quot; [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e. Mendahulukan kedua tangan daripada kedua lutut ketika turun sujud&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang dari kalian sujud, maka janganlah men-derum 
sebagaimana menderumnya unta. Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya 
sebelum kedua lututnya.&quot; [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
f. Melakukan perbuatan sebagaimana yang disebut dalam hadits-hadits berikut ini ketika sujud&lt;br /&gt;
Dari Abu Humaid ketika menggambarkan shalat Nabi Shallallahu alaihi wa 
sallam, dia berkata: &quot;Jika sujud, beliau meletakkan kedua tangannya 
tanpa menggelarnya (di atas lantai) dan tidak pula menggenggamnya. 
Beliau hadapkan ujung jari-jemari kedua kakinya ke arah kiblat.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari al-Bara&#39;, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika engkau sujud, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu. Dan angkatlah kedua siku tanganmu.&quot; [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah bin Malik bin Buhainah Radhiyallahu anhu, &quot;Jika Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat, beliau rentangkan kedua tangannya 
hingga tampak putih kedua ketiaknya.&quot; [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Aku mencari Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang tadi bersamaku di ranjang. Lalu aku 
mendapatkannya sedang sujud sambil menggabungkan (merapatkan) kedua 
tumitnya dan menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat.&quot; [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Aku datang ke 
Madinah dan berkata, &quot;Sungguh aku akan melihat shalat Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; Dia kemudian menyebutkan beberapa hadits
 dan berkata, &quot;Kemudian beliau menyungkur sujud dan kepalanya berada di 
antara kedua telapak tangannya…&quot; [16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Jika Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sujud, beliau rapatkan jari-jemarinya.&quot; 
[17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari al-Barra&#39;, dia berkata, &quot;Jika Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
salalm sujud dan meletakkan kedua tangannya di atas lantai, beliau 
hadapkan kedua telapak tangan dan jari-jemarinya ke kiblat.&quot; [18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
g. Melakukan perbuatan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini ketika duduk di antara dua sujud&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Beliau menggelar (membentangkan) kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.&quot;[19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu ahuma, dia berkata, &quot;Termasuk sunnah shalat
 adalah menegakkan kaki kanan dan menghadapkan jari-jemarinya ke kiblat 
serta duduk di atas kaki kiri.&quot; [209]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Thawus rahimahullah, dia berkata, &quot;Kami berkata kepada Ibnu &#39;Abbas 
tentang duduk di atas kedua telapak kaki.&quot; Dia berkata, &quot;Itu termasuk 
sunnah.&quot; Kami berkata padanya, &quot;Tetapi kami memandangnya tidak pantas 
bagi laki-laki.&quot; Ibnu &#39;Abbas lalu berkata, &quot;Bahkan, itulah sunnah 
Nabimu.&quot; [21]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
h. Tidak bangkit dari sujud melainkan setelah duduk tegak&lt;br /&gt;
Dari Abu Qilabah, dia mengatakan bahwa kami diberitahu Malik bin 
al-Huwairits al-Laitsi, &quot;Dia melihat Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
sedang shalat. Jika beliau berada pada raka&#39;at ganjil dari shalatnya, 
beliau tidak bangkit melainkan setelah duduk tegak.&quot; [22]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
i. Bertumpu pada lantai ketika berdiri dari sebuah raka&#39;at&lt;br /&gt;
Dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dia berkata, &quot;Malik bin al-Huwairits 
mendatangi kami. Lalu dia mengimami kami shalat dalam masjid kami ini. 
Lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak ingin mengimami kalian dan 
tidak ingin shalat. Akan tetapi aku ingin menunjukkan pada kalian 
bagaimana aku melihat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat.’ 
Ayyub berkata, &quot;Aku berkata pada Abu Qilabah, &quot;Bagaimanakah shalat 
beliau?&quot; Dia berkata, &quot;Seperti shalat syaikh kita ini, yaitu &#39;Amr bin 
Salamah.&quot; Ayyub berkata, &quot;&#39;Amr bin Salamah menyempurnakan takbir. Jika 
mengangkat kepalanya dari sujud kedua, dia duduk dan bertumpu pada 
lantai kemudian berdiri.&quot; [23]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
j. Melakukan duduk pada dua tasyahhud sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini.&lt;br /&gt;
Dari Abu Humaid, dia berbicara tentang cara shalat Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam : &quot;Jika duduk pada dua raka&#39;at, beliau duduk di atas 
kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Dan jika duduk pada raka&#39;at 
terakhir, beliau masukkan kaki kirinya, menegakkan kaki yang satunya, 
dan duduk di atas pantatnya.&quot; [24]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma : &quot;Jika Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam duduk dalam shalat, beliau letakkan telapak tangan 
kanannya di atas paha kanannya. Beliau genggam semua jari-jemarinya dan 
menunjuk dengan jari yang dekat ibu jari (jari telunjuk). Dan beliau 
letakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya.&quot; [25]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Nafi&#39;, dia berkata: &quot;Jika &#39;Abdullah Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma 
duduk dalam shalat, dia letakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya.
 Dia menunjuk dengan jarinya dan mengikutinya dengan pandangannya. 
Kemudian dia berkata, &quot;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَهِيَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيْدِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bagi syaitan, ia memiliki pengaruh yang lebih dahsyat dari-pada besi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya jari telunjuk. [26]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/218 no. 
735)], Shahiih Muslim (I/292 no. 390 (22)), Sunan at-Tirmidzi (I/161 no.
 255), dan Sunan an-Nasa-i (II/122).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 663)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/222 no. 739), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/439 no. 727).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 104)], Sunan an-Nasa-i (II/206), dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaanii) (III/168 no. 493).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 402)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/224 no. 740), dan Muwaththa&#39; Malik 
(CXI/376).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (hal. 352)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/243 no. 479).&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 69)] dan Mustadrak al-Hakim (I/479).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shifatush Shalaah (111)], Shahiih Muslim (I/357/498), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/489/768).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shifatush Shalaah (no. 110)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul 
Baari) (II/305/ 828), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/427 no. 
717)&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shifatush Shalaah (no. 110)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/301/594).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 214)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/429/720), dan Sunan at-Tirmidzi (I/163 no. 259).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 746)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/70 no. 825), Sunan an-Nasa-i (II/207), dan Ahmad 
(al-Fat-hur Rabbaani) (III/276 no. 656).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 672)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/305 no. 828), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/427/718).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 126] dan Shahiih Muslim (I/356 no. 494).&lt;br /&gt;
[14]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/294 no. 
807)], Shahiih Muslim (I/356 no. 495), dan Sunan an-Nasa-i (II/212).&lt;br /&gt;
[15]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 126], Shahiih Ibni Khuzaimah (I/328 no. 654), dan al-Baihaqi (II/116).&lt;br /&gt;
[16]. Sanadnya Shahih: [Shahiih Ibni Khuzaimah (I/323 no. 641).&lt;br /&gt;
[17]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 23], Shahiih Ibni Khuzaimah (I/324 no. 642), dan al-Baihaqi (II/112).&lt;br /&gt;
[18]. Sanadnya Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 123] dan al-Baihaqi (II/113).&lt;br /&gt;
[19]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 302)], Shahiih Muslim 
(I/357 no. 498), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/489 no. 768).&lt;br /&gt;
[20]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1109)] dan Sunan an-Nasa-i (II/236).&lt;br /&gt;
[21]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 303)], Shahiih Muslim 
(I/380 no. 536), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/79 no. 830), dan 
Sunan at-Tirmidzi (I/175 no. 282).&lt;br /&gt;
[22]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 437)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/302 no. 823), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul
 Ma’buud) (III/78 no. 829).&lt;br /&gt;
[23]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 437)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/303 no. 824), al-Baihaqi (II/123), dan 
asy-Syafi&#39;i (al-Umm) (I/116). Asy-Syafi’i berkata, &quot;Inilah yang kami 
ambil. Kami menyuruh orang yang bangkit dari sujud atau duduk dalam 
shalat agar bertumpu pada lantai dengan kedua tangannya bersama-sama, 
karena mengikuti sunnah. Sebab, hal itu lebih menyerupai ketawadhu&#39;an 
dan lebih mudah bagi orang yang shalat. Selain itu juga lebih pas agar 
tidak terjungkal ke belakang atau hampir ter-jungkal. Kami membenci 
model bangkit mana saja selain itu. Namun dia tidak wajib mengulang dan 
tidak pula sujud sahwi.&quot; Al-Umm (I/117).&lt;br /&gt;
[24]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 448)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/305 no. 828).&lt;br /&gt;
[25]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 851)], Shahiih al-Imam 
Muslim (I/408 no. 580 (116)) dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/277/972).&lt;br /&gt;
[26]. Hasan: [Shifatush Shalaah hal. 140] dan Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (IV/15 no. 721).&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/3168564296935267424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/sunnah-sunnah-shalat-sunnah-perbuatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3168564296935267424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/3168564296935267424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/sunnah-sunnah-shalat-sunnah-perbuatan.html' title='Sunnah-Sunnah Shalat : Sunnah Perbuatan Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-6977071364118357914</id><published>2012-10-12T22:43:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T22:43:47.303-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Sunnah-Sunnah Shalat : Sunnah Ucapan Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>D. Sunnah-Sunnah Shalat&lt;br /&gt;
Sunnah-sunnah shalat terbagi dua; sunnah ucapan dan sunnah perbuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Sunnah-Sunnah Ucapan:&lt;br /&gt;
a. Membaca do’a istiftah&lt;br /&gt;
Do’a istiftah yang paling baik adalah yang diriwayatkan oleh Abu 
Hurairah Radhiyallahu anhu. Dia berkata, &quot;Jika Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat, beliau diam sejenak sebelum 
membaca (al-Faatihah). Aku berkata, &quot;Wahai Rasulullah, ayah ibuku 
menjadi penebusmu. Saya melihat Anda terdiam antara takbir dan membaca 
(al-Faatihah). Apakah yang Anda baca? Beliau berkata, &quot;Aku membaca:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ 
الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا 
يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللّهُمَّ اغْسِلْنِي 
مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ الْبَرَدِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosaku sebagaimana Kau jauhkan 
antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosaku 
sebagaimana kain putih tersuci dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari 
dari dosa-dosaku dengan salju, air, dan es (embun).&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Membaca isti&#39;adzah&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila kamu membaca al-Qur-an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” [An-Nahl: 98]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam: &quot;Jika hendak shalat, beliau membaca do’a istiftah 
lalu membaca: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;أَعُوْذُ بِـاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفَثِهِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dari 
syaitan yang terkutuk, dari bisikan, tiupan, dan godaannya.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Mengucapkan amin&lt;br /&gt;
Dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Jika Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam membaca: “وَلاَ الضَّالّيِنْ” beliau 
mengucap “آمِيْن” sambil mengeraskan suaranya.&quot;[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا أَمَّنَ اْلإِمَامُ فَأَمِّنُوْا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ 
تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ 
ذَنْبِهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika imam mengucap amin, maka ucapkanlah amin. Sesungguhnya orang yang 
ucapan aminnya bertepatan dengan ucapan amin para Malaikat akan diampuni
 dosa-dosanya yang telah lalu.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Membaca (surat) setelah al-Faatihah&lt;br /&gt;
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Pada dua raka&#39;at 
pertama shalat Zhuhur, Nabi Shallallahu &#39;alaihim membaca al-Faatihah dan
 dua surat. Beliau memanjangkan raka&#39;at pertama dan memendekkan raka&#39;at 
kedua. Terkadang beliau memperdengarkan (bacaan) ayatnya. Pada dua 
raka&#39;at pertama shalat &#39;Ashar beliau juga membaca al-Faatihah dan dua 
surat. Beliau memanjangkan raka&#39;at pertama shalat Shubuh dan memendekkan
 raka&#39;at kedua.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Pada dua raka&#39;at 
pertama shalat Zhuhur dan &#39;Ashar Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
membaca al-Faatihah dan surat. Beliau terkadang memperdengarkan (bacaan)
 ayatnya. Pada dua raka&#39;at terakhir beliau membaca al-Faatihah.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan membaca (surat) pada dua raka&#39;at terakhir, jika dilakukan secara temporer (kadang-kadang)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Abu Sa&#39;id: &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
membaca (surat) pada dua raka&#39;at shalat Zhuhur. Pada dua raka’at pertama
 sekitar tiga puluh ayat. Dan pada dua raka&#39;at terakhir sekitar lima 
belas ayat. Atau dia berkata, &quot;Separuhnya.&quot; Dan pada shalat &#39;Ashar pada 
dua raka&#39;at pertama setiap raka&#39;atnya membaca sekitar lima belas ayat. 
Sedang pada dua raka&#39;at terakhir sekitar setengahnya.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan mengeraskan bacaan dalam shalat Shubuh dan dua raka&#39;at 
pertama pada shalat maghrib dan &#39;isya&#39;. Serta memelankannya pada shalat 
Dzuhur dan &#39;Ashar, juga pada raka&#39;at ketiga dari shalat Maghrib dan dua 
raka&#39;at terakhir pada shalat &#39;Isya&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e. Membaca tasbih saat ruku&#39; dan sujud&lt;br /&gt;
Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Aku shalat bersama Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Dalam ruku&#39;nya beliau membaca: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mahasuci Rabb-ku Yang Mahaagung.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam sujudnya beliau membaca:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi.” [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Utbah bin &#39;Amir Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Jika Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ruku&#39;, beliau membaca:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Mahasuci Rabb-ku Yang Mahaagung dan dengan memuji-Nya,’ tiga kali&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika sujud membaca:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi dan dengan memuji-Nya,’ tiga kali.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
f. Menambah do’a bangkit dari ruku&#39;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan salah satu tambahan berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika suka, dibolehkan cukup sampai pada tambahan ini. Namun jika mau dibolehkan menyempurnakannya dengan ucapan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وُكُلُّنَا 
لَكَ عَبْدٌ، لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ
 وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Yang Maha berhak atas sanjungan dan kemuliaan. Serta Yang paling berhak
 atas ucapan seorang hamba. Dan kami semua adalah hamba-Mu. Tidak ada 
yang menghalangi apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang mampu 
memberi apa yang Engkau tahan. Sehingga tidak bermanfaatlah bagi pemilik
 kekayaan. Karena dari-Mu-lah kekayaan itu.&quot; [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;رَبَّنَـا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارِكًا 
فِيْهِ (مُبَارَكًا عَلَيِهِ)، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Rabb kami, bagi-Mu-lah segenap pujian yang baik dan penuh berkah. 
Sebagaimana yang disukai Rabb kami dan di-ridhai-Nya.&quot; [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
g. Membaca do’a di antara dua sujud&lt;br /&gt;
Dari Hudzaifah, dia berkata, &quot;Pada saat berada di antara dua sujud Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;رَبِّ اغْفِرْ لِيْ، رَبِّ اغْفِرْ لِيْ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Rabb-ku, ampunilah aku. Ya Rabb-ku, ampunilah aku.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Pada saat berada di 
antara dua sujud Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengucap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, cukupilah kekuranganku, tunjukilah aku dan karuniakanlah rizki kepadaku.&quot; [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
h. Mengucapkan shalawat atas Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam setelah 
tasyahhud awal. Berdasarkan perbuatan beliau Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam.&lt;br /&gt;
Dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, &quot;Dahulu kami menyiapkan 
siwak dan air wudhu&#39; untuk Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. 
Kemudian Allah membangunkan beliau pada malam hari menurut kehendak-Nya.
 Beliau kemudian bersiwak dan wudhu&#39; lalu shalat sembilan raka&#39;at tanpa 
duduk kecuali pada raka&#39;at ke delapan. Kemudian beliau berdo’a kepada 
Rabb-nya dan bershalawat atas Nabi-Nya. Setelah itu bangkit tanpa salam 
lalu (melanjutkan) shalat (raka’at) kesembilan lantas duduk. Kemudian 
memuji Rabb-nya, dan bershalawat atas Nabi-Nya, berdo’a, lalu salam... 
[14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
i. Membaca do’a baik setelah tasyahhud awal maupun kedua&lt;br /&gt;
Adapun pada tasyahhud awal, maka dalilnya adalah:&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa sesungguhnya Muhammad Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;إِذَا قَعَدْتُمْ فِيْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَقُوْلُوا: اَلتَّحِيَّاتُ 
للهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَـاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا 
النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلى 
عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ 
وَأَشْـهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. ثُمَّ لِيَتَّخِيْرَ 
أَحَدُكُمْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبُهُ إِلَيْهِ، فَلْيَدْعُ رَبَّهُ 
عزوجل.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika kalian duduk pada setiap dua raka&#39;at, maka ucapkanlah: ‘Segala 
penghormatan hanya bagi Allah. Begitupula seluruh pengagungan dan 
kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas engkau, wahai Nabi. 
Begitupula kasih sayang Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan 
kesejahteraan tercurahkan atas kita semua dan para hamba Allah yang 
shalih. Aku bersaksi tidak ada ilah yang layak diibadahi selain Allah. 
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’ Setelah 
itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memilih do’a yang paling 
ia sukai lalu hendaklah ia berdo’a kepada Rabb-nya Azza wa Jalla.&quot; [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan pada tasyahhud yang kedua, maka dalilnya adalah:&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ اْلآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ 
بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ،
 وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَـا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ 
الدَّجَّالِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian selesai dari tasyahhud akhir, maka 
hendaklah ia berlindung dari empat perkara: dari siksa Jahannam, siksa 
kubur, fitnah kehidupan dan fitnah kematian, serta kejahatan al-Masih 
ad-Dajjal.&quot; [16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
j. Mengucapkan salam yang kedua&lt;br /&gt;
Karena Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa salalm dulu mengucapkan dua kali 
salam. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu 
anhuma : &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengucap salam ke kanan dan
 ke kiri:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas kamu sekalian, begitu pula rahmat Allah dan berkah-Nya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurahkan kepada kamu sekalian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga tampaklah putih pipinya.&quot; [17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang beliau mengucapkan salam sekali saja, sebagaimana diriwayatkan
 dari &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma: &quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
mengucap salam dalam shalat dengan sekali salam dari depan wajahnya 
dengan sedikit miring ke sisi kanan.&quot; [18]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/227 no. 
744)], Shahiih Muslim (I/419 no. 598), Sunan Ibni Majah (I/264 no. 805),
 dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/485 no. 766).&lt;br /&gt;
[2]. Shahiih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 342)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/ 476 no. 760), dan Sunan at-Tirmidzi (I/153 no. 242).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 82)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/ 205 no. 920), dan Sunan at-Tirmidzi (I/157 no. 248).&lt;br /&gt;
[4]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/307 no. 410)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/262 no. 780), Sunan an-Nasa-i (II/144), 
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/211 no. 924), Sunan at-Tirmidzi 
(I/158 no. 250), dan Sunan Ibni Majah (I/277 no. 851).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 932)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/243 no. 759).&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 286)] dan Shahiih Muslim (I/333 no. 421 (155)). &lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 287)] dan Shahiih Muslim (I/334 no. 452 (157)).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1001)], Sunan an-Nasa-i 
(II/190), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/123 no. 857), Sunan 
at-Tirmidzi (I/164 no. 261).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 127)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/121 no. 856), al-Baihaqi (II/86).&lt;br /&gt;
[10]. Idem.&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 119].&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 731)] dan Sunan Ibni Majah (I/289 no. 897).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 732)], Sunan at-Tirmidzi 
(I/175 no. 283), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/87 no. 835), dan 
Sunan Ibni Majah (I/290 no. 898).&lt;br /&gt;
Catatan: pada riwayat Abu Dawud terdapat lafazh: “وَعَافِنِي (maafkanlah
 aku” sebagai ganti dari lafazh: “وَاجْبُرْنِي (cukupilah keluargaku)” 
dan dalam riwayat Ibnu Majah terdapat lafazh: “وَارْفَعْنِي (angkatlah 
derajatku)” sebagai ganti dari: “وَاهْدِنِي (tunjukilah aku).” 
Disunnahkan menggabungkan keduanya dan menambah: “وَعَافِنِي 
وَارْفَعْنِي”.&lt;br /&gt;
[14]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 390)] dan Shahiih Muslim (I/512 no. 746).&lt;br /&gt;
[15]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[16]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 306)], Shahiih Sunan Ibni 
Majah (no. 741), Shahiih Muslim (I/412 no. 588), Sunan Abi Dawud (‘Aunul
 Ma’buud) (III/273 no. 968), dan Sunan Ibni Majah (I/294 no. 909).&lt;br /&gt;
[17]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 878)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/288 no. 983), Sunan an-Nasa-i (III/62), Sunan Ibni
 Majah (I/296 no. 914), dan Sunan at-Tirmidzi (I/181 no. 294), tanpa 
kalimat terakhir.&lt;br /&gt;
[18]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 242)] dan Sunan at-Tirmidzi (I/182 no. 295).&lt;br /&gt;
(Sumber :&lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt; http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/6977071364118357914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/sunnah-sunnah-shalat-sunnah-ucapan-oleh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/6977071364118357914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/6977071364118357914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/sunnah-sunnah-shalat-sunnah-ucapan-oleh.html' title='Sunnah-Sunnah Shalat : Sunnah Ucapan Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-1057298826864075682</id><published>2012-10-12T22:41:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T22:41:40.444-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Kewajiban-Kewajiban Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>B. Kewajiban-Kewajiban Shalat&lt;br /&gt;
1. Takbir al-intiqal (takbir yang mengiringi perubahan gerakan) dan ucapan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Jika Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdiri hendak shalat, maka beliau 
bertakbir ketika berdiri. Kemudian bertakbir ketika ruku&#39;, kemudian 
mengucapkan: “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ (Allah mendengar orang yang 
memuji-Nya)” ketika mengangkat punggungnya dari ruku&#39;. Kemudian 
mengucapkan, &quot;رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (Rabb kami, untuk-Mu segala puji)&quot;
 sambil berdiri. Kemudian bertakbir ketika menyungkur sujud. Kemudian 
bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Kemudian bertakbir ketika 
bersujud. Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Kemudian 
melakukan semua itu pada semua shalatnya hingga selesai. Beliau 
bertakbir ketika bangkit dari raka&#39;at kedua setelah duduk (tasyahhud).&quot; 
[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga menyuruh orang yang tidak menyempurnakan shalatnya dan 
berkata, &quot;Sesungguhnya belumlah sempurna shalat seseorang dari manusia 
hingga ia berwudhu&#39; kemudian meletakkan air wudhu&#39;nya (tempat wudhu’nya)
 kemudian bertakbir dan memuji dan menyanjung Allah Azza wa Jalla. Lalu 
membaca (beberapa ayat) al-Qur-an sesuka hatinya. Kemudian mengucapkan: 
“اللهُ أَكْبَرُ (Allah Mahabesar).&quot; Kemudian ruku&#39; hingga persendiannya 
tenang. Lalu mengucapkan: “سَـمِعَ اللهُ لِـمَنْ حَـمِِدَه” hingga 
berdiri tegak. Kemudian mengucapkan: “اللهُ أَكْبَرُ”. Kemudian sujud 
hingga persendiannya tenang. Kemudian mengucapkan: “اللهُ أَكْبَـرُ” 
sambil mengangkat kepalanya hingga duduk tegak. Kemudian mengucap-kan: 
“اللهُ أَكْبَرُ”. Kemudian bersujud hingga tenang persendiannya. 
Kemudian mengangkat kepalanya lalu bertakbir. Jika dia melakukan itu, 
maka telah sempurnalah shalatnya.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tasyahhud awal&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa sesungguhnya 
Muhammad Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Jika kalian duduk pada
 setiap raka&#39;at, maka katakanlah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَلتَّحِيَّـاتُ للهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَـاتُ، اَلسَّلاَمُ 
عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَـاتُهُ، 
اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْـنَ، أَشْهَدُ 
أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْـهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ 
وَرَسُوْلُهُ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Segala penghormatan hanya bagi Allah. Begitu pula semua pengagungan dan
 kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpah-kan atas engkau, wahai Nabi. 
Begitu pula kasih sayang Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan 
kesejahteraan tercurahkan atas kita semua dan para hamba Allah yang 
shalih. Aku ber-saksi tidak ada ilah yang layak diibadahi selain Allah. 
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’ Setelah itu
 hendaklah salah seorang di antara kalian memilih do’a yang ia sukai. 
Lalu hendaklah ia menyeru Rabb-nya Azza wa Jalla dengannya (do’a itu).&quot; 
[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa salalm juga menyuruh orang yang buruk 
shalatnya dan mengatakan, &quot;Jika engkau duduk dalam pertengahan shalat, 
maka tenangkanlah dirimu, gelarlah paha kirimu kemudian 
bertasyahhudlah.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Wajib meletakkan sutrah (pembatas) di hadapannya jika hendak shalat. 
Pembatas itu untuk menghalangi orang yang lewat dan membatasi 
pandangannya dari melihat apa yang berada di baliknya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Sahl bin Abi Hatsmah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِِِِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلِيَدْنُ مِنهَا، لاَ يَقْطَعُ الشَّيطَانُ عَلَيْهِ صَلاَتَهُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian shalat, maka hendaklah shalat 
menghadap ke pembatas dan mendekat padanya agar syaitan tidak memutus 
shalatnya.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ 
يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Janganlah engkau shalat kecuali menghadap ke pembatas. Dan janganlah 
engkau biarkan seorang pun lewat di depanmu. Jika dia membantah, maka 
perangilah (lawanlah) ia. Karena sesungguhnya ia bersama syaitan.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembatas bisa berupa tembok, drum, tongkat yang dibenamkan, dan hewan 
tunggangan yang ditambatkan. Hendaklah ia shalat dengan menghadap ke 
sana. Ukuran minimalnya adalah seperti pelana tunggangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Musa bin Thalhah dari ayahnya, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ فَلْيُصَلِّ، وَلاَ يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذلِكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang telah meletakkan (pembatas) seukuran pelana di 
hadapannya, maka hendaklah ia shalat. Dan janganlah ia hiraukan siapa 
saja yang lewat di belakang (pembatas) itu.&quot; [8] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Jarak Kedekatan Antara Orang yang Shalat dan Pembatasnya&lt;br /&gt;
Dari Bilal Radhiyallahu anhu, dia mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَنَّهُ صَلَّّى وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِدَارِ نَحْوَ مِنْ ثَلاَثَةِ أَذْرَعِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat. Sedangkan antara dia dan tembok berjarak tiga siku (hasta).&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari Sahl bin Sa&#39;d Radhiyallahu anhu, dia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
كَانَ بَيْنَ مُصَلَّى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الْجِدَارِ مَمَرُّ الشَّاةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jarak antara tempat sujud Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dengan tembok adalah selebar jalan kambing.&quot; [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika telah meletakkan pembatas, maka janganlah membiarkan seorang pun lewat antara dia dan pembatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَـانَ يُصَلِّي 
فَمَرَّتْ شَاةٌ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَسَاعَاهَا إِلَى الْقِبْلَةِ حَتَّى 
أَلْزَقَ بَطْنَهُ بِالْقِبْلَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sedang shalat. Kemudian seekor 
kambing lewat di hadapannya, maka beliau pun mendahuluinya ke kiblat 
hingga beliau tempelkan perutnya ke kiblat.&quot; [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari Abu Sa&#39;id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلاَ يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ 
يَدَيْهَ، وَلْيَدْرَأُهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ 
فَإِنَّمَا هُوَ الشَّيْطَانُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika kalian shalat, maka janganlah membiarkan seorang pun lewat di 
depannya. Dan hendaklah ia tahan semampunya. Jika dia membangkang, maka 
perangilah (lawanlah), karena sesungguhnya ia adalah syaitan.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika tidak meletakkan pembatas, maka shalatnya dapat terputus oleh 
keledai, wanita, dan anjing hitam (yang lewat di depannya-ed.):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah bin ash-Shamit, dari Abu Dzar, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قَـامَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي، فَإِنَّهُ يُسْتَرَهُ إِذَا كَانَ 
بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ آخِرَةِ الرَّحْلِ. فَإِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ 
يَدَيْهِ مِثْلُ آخِرَةِ الرَّحْلِ فَإِنَّهُ يَقْطَعُ صَلاَتَهُ 
الْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ وَالْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ. قُلْتُ: يَا أَبَا 
ذَرٍّ مَا بَالُ الْكَلْبِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْكَلْبِ اْلأَحْمَرِ وَمِنَ 
الْكَلْبِ اْلأَصْفَرِ؟ قَالَ: يَا ابْنَ أَخِيْ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ 
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا سَأَلْتَنِيْ فَقَالَ: 
&quot;اَلْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang dari kalian shalat, maka dia terbatasi jika di 
hadapannya terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan. Jika di
 hadapannya tidak terdapat (pembatas) seukuran pelana hewan tunggangan, 
maka shalatnya terputus oleh keledai, wanita, dan anjing hitam.&quot; Aku 
berkata, &quot;Wahai Abu Dzarr, apa bedanya antara anjing hitam dengan anjing
 merah atau anjing kuning?&quot; dia berkata, &quot;Wahai anak saudaraku, aku 
pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
sebagaimana engkau bertanya kepadaku. Lalu beliau menjawab, &quot;Anjing 
hitam adalah syaitan.&quot; [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diharamkan lewat di depan orang yang sedang shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Juhaim Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، 
لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ 
يَدَيْهِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat mengetahui 
balasan yang menimpanya, niscaya berdiri selama empat puluh lebih baik 
baginya daripada lewat di depannya.&quot; [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembatas imam adalah pembatas bagi makmum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى أَتَـانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَـاهَزْتُ 
اْلاِحْتِلاَمَ وَرَسُـوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
يُصَلِّي بِالنَّاسِ بِمِنَى. فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيِ الصَّفِّ، 
فَنَزَلْتُ فَأَرْسَلْتُ اْلأَتَانِ تَرْتَعُ. وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ. 
فَلَمْ يُنْكِرْ ذلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku tiba dengan mengendarai unta betina. Sedangkan aku pada waktu itu 
telah baligh. Dan Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sedang 
mengimami manusia di Mina. Lalu aku lewat di depan shaff, maka aku turun
 dan melepaskan unta betina agar makan. Aku masuk shaff dan tak seorang 
pun mencelaku atas perbuatan itu.&quot; [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/272 no. 
289)], Shahiih Muslim (I/293 no. 392 (28)), dan Sunan an-Nasa-i 
(II/233).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 262)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/ 111 no. 631).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 763)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/99 dan 100 no. 842).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 336)] dan Sunan an-Nasa-i (II/238).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 766)] dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/102 no. 840).&lt;br /&gt;
[6]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 722)], Mustadrak al-Hakim 
(I/251), ini adalah lafazh darinya. Dan pada Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/388 no. 681), Sunan an-Nasa-i (II/62), dengan lafazh: &lt;br /&gt;
إِِِِذَا صلَّى أَحَدُكُمِ إِلَى سُتْرَةٍ... إلخ.&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 62)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/9 no. 800).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (339)], Shahiih Muslim (I/358 
no. 499), Sunan at-Tirmidzi (I/210 no. 334), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul
 Ma’buud) (II/380 no. 671), dengan lafazh serupa.&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 62)] dan Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/579 no. 506).&lt;br /&gt;
[10]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/574 no. 
496)], Shahiih Muslim (I/364/508), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/389 no. 682), dengan lafazh serupa.&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 64)] dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/20 no. 827).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 338)] dan Shahiih Muslim (I/326 no. 505).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 719)], Shahiih Muslim 
(I/365 no. 510), Sunan an-Nasa-i (II/63), Sunan at-Tirmidzi (I/212 no. 
337), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/394 no. 688).&lt;br /&gt;
[14]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/584 no. 
510)], Shahiih Muslim (I/363 no. 507), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/393 no. 687), Sunan at-Tirmidzi (I/210 no. 235), Sunan an-Nasa-i 
(II/66), dan Sunan Ibni Majah (I/304 no. 945). &lt;br /&gt;
[15]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/361 no. 504)], Sunan Abi 
Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/403 no. 701), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul 
Baari) (I/571 no. 493), dengan tambahan: “بِمِنَى إِلَى غَيْرِجِدَارِ 
(di Mina tanpa menghadap ke tembok).” Riwayat ini tidak menafikan selain
 tembok. Karena sudah dikenal bahwa termasuk kebiasaan Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam adalah beliau tidak shalat di lapangan terbuka 
melainkan meletakkan (menancapkan) tombak di hadapannya.&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/1057298826864075682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/kewajiban-kewajiban-shalat-oleh-syaikh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1057298826864075682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1057298826864075682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/kewajiban-kewajiban-shalat-oleh-syaikh.html' title='Kewajiban-Kewajiban Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-1194532155756619551</id><published>2012-10-12T22:40:00.000-07:00</published><updated>2012-10-12T22:40:06.322-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Rukun-Rukun Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>A. Rukun-Rukun Shalat&lt;br /&gt;
Shalat memiliki beberapa kewajiban dan rukun yang hakekat shalat itu 
tersusun darinya. Sehingga, jika satu rukun saja tertinggal, maka shalat
 tersebut tidak terealisir dan secara hukum tidak di-anggap (batal). 
Berikut adalah rukun-rukunnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Takbiratul ihram&lt;br /&gt;
Dari &#39;Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مِفْتَـاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُوْرُ، وَتَحْرِيْمُهَـا التَّكْبِيْرُ، وَالتَّحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kunci shalat adalah bersuci. Pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah salam.&quot;[1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata pada orang yang buruk shalatnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah.&quot; [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Berdiri bagi yang mampu saat mengerjakan shalat wajib&lt;br /&gt;
Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu&#39;.” [Al-Baqarah: 238]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam shalat sambil berdiri. Beliau 
juga menyuruh &#39;Imran bin Hushain untuk mengerjakan yang demikian. Beliau
 berkata kepadanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلِّ قَـائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Shalatlah sambil berdiri. Jika engkau tidak bisa, maka (shalatlah) 
sambil duduk. Jika tidak bisa, maka (shalatlah) dengan (tidur) miring 
(yaitu di atas tubuh bagian kanan dengan wajah menghadap kiblat.-ed.&quot; 
[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Membaca al-Faatihah pada setiap raka&#39;at&lt;br /&gt;
Dari &#39;Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بَفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca fatihatul kitab (al-Faatihah).&quot;[4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyuruh orang yang buruk shalatnya 
untuk membacanya kemudian berkata, &quot;Kemudian lakukanlah yang seperti itu
 pada seluruh shalatmu.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4, 5. Ruku&#39; secara thuma&#39;ninah (tenang)&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah Ta&#39;ala:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, ruku&#39;lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah 
Rabb-mu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” 
[Al-Hajj: 77]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada orang yang buruk shalatnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَعِنَّ رَاكِعًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kemudian ruku&#39;lah hingga kau merasa tenang dalam ruku&#39;mu.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6, 7. Berdiri tegak setelah ruku&#39; sambil thuma&#39;ninah di dalamnya&lt;br /&gt;
Dari Abu Mas&#39;ud al-Anshari Radhiyallahu anhuma. Dia mengatakan bahwa 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, &quot;Tidak diganjar 
shalat seseorang yang tidak menegakkan punggungnya dalam ruku&#39; dan 
sujud.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga berkata kepada orang yang buruk shalatnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kemudian bangkitlah hingga kau tegak berdiri.&quot; [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8, 9. Sujud dan thuma&#39;ninah di dalamnya&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, ruku&#39;lah kamu, sujudlah kamu...” [Al-Hajj: 77]&lt;br /&gt;
.&lt;br /&gt;
Juga sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa salalm terhadap orang yang buruk 
shalatnya, &quot;Kemudian bersujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam 
sujudmu. Lalu bangkitlah hingga engkau thuma’ninah dalam dudukmu. Lantas
 bersujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujudmu.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggota sujud:&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Abbas, dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظَمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ 
وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ، وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ 
وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku diperintah untuk bersujud di atas tujuh tulang: di atas dahi, 
-sambil menunjuk ke hidungnya-, kedua tangan, kedua lutut, serta ujung 
jari-jemari kedua kaki.&quot; [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dari Ibnu &#39;Abbas, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يُصِيْبُ أَنْفَهُ مِنَ اْلأَرْضِ مَا يُصِيْبُ الْجَبِيْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak (sempurna) shalat orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah sebagaimana menempelkan dahinya.&quot; [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10, 11. Duduk di antara dua sujud serta thuma&#39;ninah padanya&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, &quot;Tidak diganjar 
shalat seseorang yang tidak menegakkan (meluruskan) punggungnya dalam 
ruku&#39; dan sujud.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga berdasarkan perintah beliau pada orang yang buruk shalatnya agar 
melakukan hal ini, sebagaimana telah dibicarakan dalam pembahasan sujud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Tasyahhud akhir&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Sebelum diwajibkan tasyahhud, dulu kami mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَلسَّلاَمُ عَلَـى اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَـى جِبْرِيْلَ 
وَمِيْكَـائِيْلَ،&quot; فَقَـالَ رَسُـوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ : لاَ تَقُوْلُوْا هكَذَا، وَلكِنْ قُوْلُوْا: اَلتَّحِيَّاتُ 
للهِ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas Allah. Semoga kesejahteraan 
terlimpahkan atas Jibril dan Mikail.&quot; Lalu Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam bersabda, &#39;Janganlah kalian mengucapkan seperti itu. 
Tapi ucapkanlah, &#39;Segala penghormatan... [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan:&lt;br /&gt;
Riwayat paling shahih tentang tasyahhud adalah riwayat Ibnu Mas&#39;ud 
Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam mengajariku tasyahhud secara langsung sebagaimana mengajariku 
surat al-Qur-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;التَّحِيَّاتُ للهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ
 أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ 
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ 
إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Segala penghormatan hanya bagi Allah. Begitupula seluruh pengagungan 
dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas engkau, wahai Nabi.
 Begitu pula kasih sayang Allah dan berkahNya. Mudah-mudahan 
kesejahteraan tercurahkan atas kita semua dan para hamba Allah yang 
shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain 
Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.&quot;[13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan lain:&lt;br /&gt;
Sabda beliau:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اََلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas engkau, wahai Nabi. Begitupula kasih sayang Allah dan barakah-Nya.&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Hafizh berkata dalam al-Fat-h (II/314), &quot;Terdapat pada sejumlah jalur
 hadits Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu ini adanya konsekuensi perbedaan antara
 zaman beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam (dan kita) sehingga (pada 
waktu itu) diucapkan dengan lafazh kalimat langsung. Adapun (zaman) 
selanjutnya, maka diucapkan dengan lafazh tidak langsung. Dalam kitab 
&quot;al-&#39;Isti&#39;dzan&quot; pada Shahiih al-Bukhari dari jalur Abu Ma’mar, dari Ibnu
 Mas&#39;ud. Setelah menyebutkan hadits tasyahhud dia berkata, &quot;Beliau 
(masih) berada di antara kami. Ketika beliau meninggal, kami 
mengucapkan: “اَلسَّلاَمُ، يَعْنِيْ عَلىَ النَّبِيِّ (semoga 
kesejahteraan terlimpahkan, -maksudnya- atas Nabi), maksudnya kepada 
Nabi.&quot; Seperti itulah disebutkan dalam al-Bukhari. Abu &#39;Awwanah juga 
mengeluarkannya dalam kitab Shahiihnya. Begitu pula as-Siraj, 
al-Jauzaqi, Abu Nu&#39;aim al-Ashbahani, dan al-Baihaqi dari berbagai jalur 
menuju Abu Nu&#39;aim guru al-Bukhari. Di situ disebutkan dengan lafazh, 
&quot;Ketika beliau meninggal, kami mengucapkan &quot;اَلسَّلاَمُ عَلَى 
النَّبِيِّ&quot; tanpa lafazh: يعنى (maksudnya). Begitupula riwayat Abu Bakr 
bin Abi Syaibah dari Abu Nu&#39;aim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As-Subki berkata dalam Syarh al-Minhaaj setelah menyebutkan riwayat ini 
dari jalur Abu &#39;Awwanah secara sendiri, &quot;Jika benar ini dari Sahabat, 
maka menunjukkan bahwa kalimat langsung dalam salam setelah Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak wajib. Maka dikatakan: “اَلسَّلاَمُ 
عَلَى النَّبِيِّ”. Saya berkata (al-Hafizh), “Riwayat tersebut shahih 
tidak diragukan lagi. Saya telah menemukan jalur lain yang menguatkan. 
&#39;Abdurrazzaq berkata, &quot;Ibnu Juraij memberitahu kami, dia berkata, &#39;Atha’
 memberitahuku bahwa dulu semasa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
masih hidup para Sahabat mengucapkan: “اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَـا 
النَّبِيُّ”. Ketika beliau sudah meninggal, mereka mengatakan: 
“اَلسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ”. Ini adalah sanad yang shahih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Albani berkata dalam Shifatush Shalaah (hal. 126), &quot;Itu pasti 
berdasarkan petunjuk langsung dari beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.
 Hal ini juga diperkuat oleh riwayat &#39;Aisyah Radhiyallahu anhuma yang 
menyatakan bahwa dia mengajari mereka tasyahhud dalam shalat: 
“اَلسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ” diriwayatkan as-Siraj dalam Musnadnya 
(II/1/9) dan Mukhallash dalam al-Fawaa-id (I/54/11) dengan dua sanad 
yang shahih dari ‘Aisyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Shalawat atas Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam setelah tasyahhud akhir&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Fadhalah bin &#39;Ubaid al-Anshari: &quot;Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang sedang 
shalat. Dia tidak memuji dan mengagungkan Allah. Tidak pula bershalawat 
atas Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Dia lalu pergi. Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam lantas berkata, &quot;Orang ini terlalu 
tergesa-gesa.&quot; Kemudian beliau memanggilnya lalu berkata kepadanya dan 
kepada selainnya, &quot;Jika salah seorang di antara kalian shalat, hendaklah
 ia memulai dengan sanjungan dan pujian pada Rabb-nya lalu bershalawat 
atas Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Setelah itu dia boleh berdo’a 
sesuka hatinya.&quot; [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, &quot;Seorang laki-laki 
datang dan duduk di depan Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, 
sedangkan kami berada di sisi beliau. lalu dia berkata, &quot;Wahai 
Rasulullah, adapun mengucap salam atas engkau, maka kami sudah tahu. 
Lalu bagaimanakah kami bershalawat atas engkau jika kami bershalawat 
atas engkau dalam shalat-shalat kami? Semoga Allah mencurahkan 
keselamatan-Nya atas engkau?&quot; Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, &quot;Beliau terdiam
 hingga kami berharap laki-laki itu tak pernah menanyainya (seperti 
itu).&quot; Beliau kemudian berkata, &quot;Jika kalian bershalawat atasku, maka 
ucapkanlah: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ اَلنَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ...&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, Nabi yang buta huruf, serta kepada keluarga Muhammad...” [15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan:&lt;br /&gt;
Kalimat shalawat Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang terbaik adalah 
yang diriwayatkan Ka&#39;b bin &#39;Ujrah, dia mengatakan bahwa kami berkata, 
&quot;Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui atau mengenal bagaimana 
mengucap salam atas engkau. Lalu bagaimana dengan shalawatnya?&quot; beliau 
berkata, &quot;Ucapkanlah: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ 
عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللّهُمَّ بَارِكْ 
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ 
إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad,
 sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. 
Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan Mahaagung. Serta berilah berkah 
kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah 
memberikan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan 
Mahaagung.” [16]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Salam&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مِفْتَـاحُ الصَّلاَةِ الطَّهُوْرُ، وَالتَّحْرِيْمُهَا التَّكْبِيْرُ، وَالتَّحْلِيْلُهَا التَّسْلِيْمُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kunci shalat adalah bersuci. Pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah salam.&quot;[17] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 222)], Sunan 
at-Tirmidzi (I/5 no. 3), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/88 no. 61),
 dan Sunan Ibni Majah (I/101 no. 270).&lt;br /&gt;
[2]. Telah disebutkan takhirjnya.&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3778)], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/587 no. 1117). Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/233 no. 939) dan Sunan at-Tirmidzi (I/231 no. 369). &lt;br /&gt;
[4]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/236 no. 
756)], Shahiih Muslim (I/295 no. 394), Sunan at-Tirmidzi (I/156 no. 
247), Sunan an-Nasa-i (II/137), Sunan Ibni Majah (I/273 no. 837), dan 
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/42 no. 807), dengan tambahan: &quot;Dan
 begitulah seterusnya.&quot; Hal ini tidak terdapat pada riwayat selainnya.&lt;br /&gt;
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[6]. Ibid.&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 71)], Sunan an-Nasa-i 
(II/183), Sunan at-Tirmidzi (I/165 no. 264), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/93 no. 840), dan Sunan Ibni Majah (I/282 no. 870).&lt;br /&gt;
[8]. Telah berlalu takhrijnya&lt;br /&gt;
[9]. Telah berlalu takhrijnya.&lt;br /&gt;
[10]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) 
(II/297/812)], Shahiih Muslim (I/354/230-490), dan Sunan an-Nasa-i 
(II/209).&lt;br /&gt;
[11]. Shahiih: [Ad-Daraquthni (I/348/3). Al-Albani menyebutkannya dalam &quot;Shifatu ash-Shalaah.&quot; Hal. 123.&lt;br /&gt;
[12]. Shahiih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 319)], Sunan an-Nasa-i (III/40), ad-Daraquthni (I/350 no. 4), dan al-Baihaqi (II/138).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 319)], Sunan an-Nasa-i (III/40), ad-Daraquthni (I/350 no. 4), dan al-Baihaqi (II/138).&lt;br /&gt;
[14]. Sanadnya Shahih: [Shifatush Shalaah (no. 128). Cet. Maktabah 
al-Ma&#39;arif], Sunan at-Tirmidzi (V/180 no. 3546), dan Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/354 no. 1468). &lt;br /&gt;
[15]. Sanadnya Hasan: [Shahiih Ibni Khuzaimah (I/351 dan 352 no. 711)].&lt;br /&gt;
[16]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/152 no. 
6357)], Shahiih Muslim (I/305 no. 406), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (III/264 no. 963), Sunan at-Tirmidzi (I/301/482), Sunan Ibni Majah 
(I/293 no. 904), dan Sunan an-Nasa-i (III/47).&lt;br /&gt;
[17]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) &lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/1194532155756619551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/rukun-rukun-shalat-oleh-syaikh-abdul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1194532155756619551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1194532155756619551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/rukun-rukun-shalat-oleh-syaikh-abdul.html' title='Rukun-Rukun Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-8510315772021468557</id><published>2012-10-12T22:37:00.004-07:00</published><updated>2012-10-12T22:37:48.895-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Tata Cara Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>Jika Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, 
beliau menghadap ke arah Kiblat dan berdiri mendekat ke pembatas 
(sutrah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan sesungguh-nya setiap orang hanya mendapat (balasan) berdasarkan niatnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam memulai shalat dengan ucapan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَللهُ أَكْبَرُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Allah Mahabesar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau mengangkat kedua tangannya lalu meletakkan yang kanan di atas 
yang kiri di atas dada. Beliau mengarahkan pandangannya ke tanah (tempat
 sujud). Kemudian membuka bacaan dengan berbagai macam do’a (do’a 
istiftah), beliau memuji, menyanjung dan memuliakan Allah. Kemudian 
beliau memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang 
terkutuk (ta’awwudz). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian membaca:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tidak nyaring.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian membaca al-Faatihah dengan berhenti pada tiap-tiap ayat 
(tartil). Seusai membaca al-Faatihah, beliau mengucapkan: “Aamiin,” 
dengan menjaharkan (mengeraskan) dan memanjang-kan suaranya. Setelah 
membaca al-Faatihah, beliau membaca surat lainnya. Terkadang 
memanjangkannya, dan terkadang memendekkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengeraskan bacaan pada shalat 
Shubuh dan dua raka&#39;at pertama dari shalat Maghrib dan ‘Isya&#39;. Serta 
memelankan bacaan pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, raka’at ketiga dari shalat
 Maghrib serta dua raka’at terakhir dari shalat ‘Isya&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga mengeraskannya pada shalat Jum’at, dua Hari Raya, Istisqa&#39;, dan Gerhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menjadikan dua raka&#39;at terakhir lebih pendek dari dua raka&#39;at 
pertama kira-kira separuhnya, sekitar lima belas ayat, atau mencukupkan 
dengan al-Faatihah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian jika beliau selesai membaca, beliau diam sejenak. Setelah itu 
beliau mengangkat kedua tangannya, bertakbir, dan ruku&#39;. Beliau letakkan
 kedua telapak tangannya pada kedua lutut lalu meregangkan 
jari-jemarinya. Beliau tekankan kedua tangannya pada kedua lututnya 
seakan-akan menggenggamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau regangkan kedua sikunya ke samping sambil meratakan dan 
meluruskan punggungnya. Hingga andaikata dituangkan air di atasnya, 
niscaya air itu tetap tenang (tidak tumpah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berdiam agak lama saat ruku&#39; dan mengucapkan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ (ثَلاَثًا)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mahasuci Engkau, wahai Rabb-ku Yang Mahaagung.” (Diucapkan sebanyak tiga kali).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rukun ini beliau mengucapkan banyak macam dzikir dan do’a. 
Terkadang mengucapkan ini, terkadang pula yang itu. Beliau melarang 
membaca al-Qur-an dalam ruku&#39; dan sujud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu beliau mengangkat punggungnya dari ruku’ sambil mengucapkan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Allah mendengar orang yang memuji-Nya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika i’tidal ini beliau mengangkat kedua tangannya sambil membaca: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Rabb kami, hanya bagi-Mu-lah segala pujian.&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang beliau membaca do’a lebih dari itu. Kemudian beliau bertakbir dan menyungkur sujud. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau meletakkan kedua tangannya di atas tanah sebelum kedua lututnya. 
Beliau bertelekan pada kedua telapak tangannya dan membuka (lengan)nya. 
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam merapatkan jari-jemarinya dan 
menghadapkannya ke Kiblat. Beliau meletakkan sejajar dengan kedua 
bahunya dan terkadang sejajar kedua telinganya. Beliau menempelkan 
hidung dan dahinya ke tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظَمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ 
وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ، وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ 
وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang: dahi -sambil 
menunjuk hidungnya dengan tangan- kedua tangan dan kedua lutut, serta 
ujung jari-jemari kedua kaki.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga pernah mengatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يُصِيْبُ أَنْفَهُ مِنَ اْلأَرْضِ مَا يُصِيْبُ الْجَبِيْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak (sempurna) shalat orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah sebagaimana menempelkan dahinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berdiam sejenak dalam sujudnya sambil mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى. (ثَلاَثًا)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi.” (Diucapkan tiga kali) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang beliau juga membaca berbagai macam dzikir dan do’a, terkadang 
ini dan terkadang itu. Beliau memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dan
 memperbanyak do’a pada rukun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian beliau mengangkat kepala sambil bertakbir, lantas menggelar 
kaki kirinya dan mendudukinya (duduk iftirasy) dengan tenang. Beliau 
tegakkan telapak kaki kanannya sambil menghadapkan jari-jari telapak 
kaki kanan tersebut ke Kiblat. Lalu beliau mengucapkan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِـي وَارْحَمْنِى، وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, cukupilah kekurangan-ku, 
angkatlah derajatku, tunjukilah aku, maafkanlah aku, dan berilah rizki 
kepadaku.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian beliau bertakbir dan melakukan sujud kedua sebagaimana yang pertama lalu mengangkat kepalanya sambil bertakbir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian bangkit duduk tegak di atas kaki kirinya hingga tulang-tulang 
kembali pada tempatnya semula (duduk istirahat). Kemudian bangkit ke 
raka&#39;at kedua dengan bertumpu pada tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau melakukan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama. Hanya saja beliau melakukannya lebih singkat daripada yang pertama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian beliau duduk tasyahhud seusai raka&#39;at kedua. Jika shalat 
terdiri dari dua rak&#39;at, maka duduk iftirasy sebagaimana duduk di antara
 dua sujud. Begitupula pada raka&#39;at kedua dari shalat yang berjumlah 
tiga atau empat raka&#39;at. Jika beliau duduk tasyahhud, beliau letakkan 
telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dan meletakkan telapak 
tangan kirinya di atas paha kirinya. Beliau buka tangan kirinya dan 
menggenggamkan tangan kanannya di atas paha kanannya sambil menunjuk 
dengan jari telunjuknya dan memusatkan pandangan padanya. Jika beliau 
mengangkat telunjuknya, beliau menggerak-gerakkannya dan berdo’a 
dengannya. Beliau bersabda, &quot;Dia memiliki (pengaruh) yang lebih dahsyat 
terhadap syaitan daripada besi.” Maksudnya telunjuk tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau lantas membaca tahiyyat pada setiap dua raka&#39;at. Beliau 
bershalawat bagi dirinya sendiri pada tasyahhud awal maupun yang 
seterusnya. Dan beliau mensyari&#39;atkan hal ini pada umatnya. Dalam 
shalatnya beliau mengucapkan banyak do’a yang beraneka ragam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau kemudian mengucap salam sambil menoleh ke kanan dan mengucap: 
&quot;اَلسَّـلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ (semoga kesejahteraan dan 
rahmat Allah terlimpahkan atas kamu sekalian.&quot; Begitupula pada yang 
kiri. Beliau terkadang menambah kalimat &quot;وَبَرَكَاتُهُ (dan berkah-Nya)&quot;
 pada salam pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Diringkas dari Shifatu Shalaatin Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, karya Syaikh al-Albani.&lt;br /&gt;
(Sumber :&lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt; http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/8510315772021468557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/tata-cara-shalat-oleh-syaikh-abdul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/8510315772021468557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/8510315772021468557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/tata-cara-shalat-oleh-syaikh-abdul.html' title='Tata Cara Shalat Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-4657463712216815495</id><published>2012-10-12T22:35:00.000-07:00</published><updated>2012-10-12T22:35:02.670-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>SYARAT-SYARAT SAHNYA SHALAT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>Agar shalat menjadi sah, disyaratkan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;
A. Mengetahui Masuknya Waktu&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [An-Nissa&#39;: 103].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak sah shalat yang dikerjakan sebelum masuknya waktu ataupun setelah keluarnya waktu kecuali ada halangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Suci dari Hadats Besar dan Kecil&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا 
وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ 
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, 
maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah 
kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu
 junub maka mandilah...” [Al-Maa-idah: 6].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hadits Ibnu &#39;Umar, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُوْرٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Allah tidak menerima shalat (yang dikerjakan) tanpa bersuci.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Kesucian Baju, Badan, dan Tempat yang Digunakan Untuk Shalat&lt;br /&gt;
Dalil bagi disyaratkannya kesucian baju adalah firman Allah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan Pakaianmu bersihkanlah.” [Al-Muddatstsir: 4].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلْيُقَلِّبْ نَعْلَيْهِ، 
وَلِيَنْظُرْ فِيْهِمَا فَإِنْ رَأَى خَبَثًا، فَلْيَمْسَحْهُ بِاْلأَرْضِ 
ثُمَّ لِيُصَلِّ فِيْهِمَا.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, maka hendaklah 
ia membalik sandal dan melihatnya. Jika ia melihat najis, maka hendaklah
 ia menggosokkannya dengan tanah. Kemudian hendaklah ia shalat 
dengannya.&quot;[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun dalil bagi disyaratkannya kesucian badan adalah sabda Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada &#39;Ali. Dia menanyai beliau tentang 
madzi dan berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wudhu&#39; dan basuhlah kemaluanmu.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau berkata pada wanita yang istihadhah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اِغْسِلِيْ عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّيْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Basuhlah darah itu darimu dan shalatlah.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun dalil bagi sucinya tempat adalah sabda Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya di saat seorang Badui kencing 
di dalam masjid:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَرِيْقُوْا عَلى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Siramlah air kencingnya dengan air satu ember.” [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan:&lt;br /&gt;
Barangsiapa telah shalat dan dia tidak tahu kalau dia terkena najis, 
maka shalatnya sah dan tidak wajib mengulang. Jika dia mengetahuinya 
ketika shalat, maka jika memungkinkan untuk menghilangkannya -seperti di
 sandal, atau pakaian yang lebih dari untuk menutup aurat- maka dia 
harus melepaskannya dan menyempurnakan shalatnya. Jika tidak 
memungkinkan untuk itu, maka dia tetap melanjutkan shalatnya dan tidak 
wajib mengulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Abu Sa&#39;id: “Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam pernah
 shalat lalu melepaskan kedua sandalnya. Maka orang-orang pun turut 
melepas sandal-sandal mereka. Ketika selesai, beliau membalikkan badan 
dan berkata, &#39;Kenapa kalian melepas sandal kalian?&#39; Mereka menjawab, 
&#39;Kami melihat Anda melepasnya, maka kami pun melepasnya.&#39; Beliau 
berkata, &#39;Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan mengatakan bahwa pada 
kedua sandalku terdapat najis. Jika salah seorang di antara kalian 
mendatangi masjid, maka hendaklah membalik sandalnya dan melihatnya. 
Jika dia melihat najis, hendaklah ia gosokkan ke tanah. Kemudian 
hendaklah ia shalat dengannya.&#39;”[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Menutup Aurat&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid...” [Al-A&#39;raaf: 31].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu, tutupilah aurat kalian. Karena mereka dulu thawaf di Baitullah dengan telanjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah haidh (baligh) kecuali dengan mengenakan penutup kepala (jilbab).” [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aurat laki-laki antara pusar dan lutut. Sebagaimana dalam hadits ‘Amr 
bin Syu&#39;aib Radhiyallahu anhum, dari ayahnya, dari kakeknya, secara 
marfu’:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Antara pusar dan lutut adalah aurat.” [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jarhad al-Aslami, ia berkata, “Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
lewat ketika aku mengenakan kain yang tersingkap hingga pahaku terlihat.
 Beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
غَطِّ فَخِذَكَ فَإِنَّ الْفَخِذَ عَوْرَةٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tutuplah pahamu. Karena sesungguhnya paha adalah aurat.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan bagi wanita, maka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya dalam shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wanita adalah aurat.” [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga sabda beliau:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah pernah haidh (baligh) kecuali dengan mengenakan kain penutup.&quot; [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E. Menghadap ke Kiblat&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah Ta’ala: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu 
(sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya...” [Al-Baqarah:
 150].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam terhadap orang yang buruk dalam shalatnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِعِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika engkau hendak shalat, maka berwudhu&#39;lah dengan sempurna. Kemudian menghadaplah ke Kiblat...” [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh (shalat) dengan tidak menghadap ke Kiblat ketika dalam keadaan 
takut yang sangat dan ketika shalat sunnat di atas kendaraan sewaktu 
dalam perjalanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan...” [Al-Baqarah: 239].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Menghadap ke Kiblat atau tidak menghadap ke sana.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafi&#39; berkata, “Menurutku, tidaklah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma 
menyebutkan hal itu melainkan dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.” 
[13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah mana 
saja dan shalat Witir di atasnya. Namun, beliau tidak shalat wajib di 
atasnya.” [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan:&lt;br /&gt;
Barangsiapa berusaha mencari arah Kiblat lalu ia shalat menghadap ke 
arah yang disangka olehnya sebagai arah Kiblat, namun ternyata salah, 
maka dia tidak wajib mengulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Amir bin Rabi’ah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah 
bersama Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan 
di suatu malam yang gelap dan kami tidak mengetahui arah Kiblat. Lalu 
tiap-tiap orang dari kami shalat menurut arahnya masing-masing. Ketika 
tiba waktu pagi, kami ceritakan hal itu pada Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam. Lalu turunlah ayat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“... maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah...” [Al-Baqarah: 115].”[15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F. Niat&lt;br /&gt;
Hendaklah orang yang ingin shalat meniatkan dan menentukan shalat yang 
hendak ia kerjakan dengan hatinya, misalnya seperti (meniatkan) shalat 
Zhuhur, ‘Ashar, atau shalat sunnahnya [16]. Tidak disyari’atkan 
mengucapkannya karena Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak pernah 
mengucapkannya. Jika Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdiri untuk 
shalat, beliau mengucapan, “Allaahu Akbar,” dan tidak mengucapkan apa 
pun sebelumnya. Sebelumnya beliau tidak melafazhkan niat sama sekali, 
dan tidak pula mengucapkan, “Aku shalat untuk Allah, shalat ini, 
menghadap Kiblat, empat raka’at, sebagai imam atau makmum.” Tidak juga 
mengucapkan, “Tunai atau qadha&#39;...” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini semua adalah bid&#39;ah. Tidak seorang pun meriwayatkannya dengan sanad 
shahih atau dha&#39;if, musnad atau pun mursal. Tidak satu lafazh pun. Tidak
 dari salah seorang Sahabat beliau, dan tidak pula dianggap baik oleh 
Tabi’in, ataupun Imam yang empat. [17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[2]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[3]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[4]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/42, dan 
428 no. 331)], Shahiih Muslim (I/261 no. 333), Sunan at-Tirmidzi (I/82 
no. 125), Sunan Ibni Majah (I/203 no. 621), Sunan an-Nasa-i (I/184).&lt;br /&gt;
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.&lt;br /&gt;
[6]. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/353 no. 636).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 534)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/345 no. 627), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 375) dan
 Sunan Ibni Majah (I/215 no. 655).&lt;br /&gt;
[8]. Hasan: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 271)], diriwayatkan oleh ad-Daraquthni, Ahmad, dan Abu Dawud.&lt;br /&gt;
[9]. Shahih lighairihi: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 269)], Sunan at-Tirmidzi 
(IV/197 no. 2948), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XI/52 no. 3995), 
lihat perkataan Ibnul Qayyim t tentang masalah ini dalam Tahdziibus 
Sunan (XVII/6).&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6690)] dan Sunan at-Tirmidzi (II/ 319 no. 1183).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 534)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/345 no. 627), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 375) dan
 Sunan Ibni Majah (I/ 215 no. 655).&lt;br /&gt;
[12]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/36 no. 6251)], Shahiih Muslim (I/298 no. 397).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Muwaththa’ al-Imam Malik (126/442)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (VIII/199 no. 4535).&lt;br /&gt;
[14]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih Muslim (I/487 no. 700 (69))], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/575 no. 1098), secara mu’allaq.&lt;br /&gt;
[15]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 835)], Sunan at-Tirmidzi 
(I/216 no. 343), Sunan Ibni Majah (I/326 no. 1020), dengan lafazh 
serupa, begitu pula pada al-Baihaqi (II/11).&lt;br /&gt;
[16]. Talkhiish Shifat ash-Shalaah, karya Syaikh al-Albani, hal. 12.&lt;br /&gt;
[17]. Zaadul Ma&#39;aad (I/51).(Sumber :&lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt; http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/4657463712216815495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/syarat-syarat-sahnya-shalat-oleh-syaikh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/4657463712216815495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/4657463712216815495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/syarat-syarat-sahnya-shalat-oleh-syaikh.html' title='SYARAT-SYARAT SAHNYA SHALAT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-1259009216009316266</id><published>2012-10-12T22:31:00.004-07:00</published><updated>2012-10-12T22:31:55.212-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Apa Yang Harus Diucapkan Ketika Mendengar Adzan Dan Iqamat</title><content type='html'>ADZAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Apa Yang Harus Diucapkan Ketika Mendengar Adzan dan Iqamat.&lt;br /&gt;
Disunnahkan bagi yang mendengar adzan dan iqamat untuk mengucapkan sebagaimana yang diucapkan muadzin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang
 diucapkan muadzin.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, “Jika muadzin 
mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka hendaklah salah 
seorang di antara kalian (juga) mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu 
akbar.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha 
illallaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ 
Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar 
Rasulullaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar 
Rasulullaah.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Hayya &#39;alash shalaah.’
 Maka ia mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’ Kemudian 
jika mu-adzin mengucapkan, ‘Hayya &#39;alal falaah.’ Maka ia mengucapkan, 
‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’ Kemudian jika muadzin 
mengucapkan, ‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Maka ia mengucapkan, 
‘Allaahu akbar, Allaahu akbar.’ Kemudian jika muadzin mengucapkan, ‘Laa 
ilaaha illallaah.’ Maka ia mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ dengan 
hati yang tulus, maka dia akan masuk Surga.&quot;[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangsiapa mengucapkan sebagaimana ucapan mu-adzin, atau ketika muadzin
 mengucapkan hayya &#39;alatain (&quot;Hayya &#39;alash shalaah&quot; dan &quot;hayya &#39;alal 
falaah&quot;), ia mengucapkan, &quot;Laa haula walaa quwwata illaa billaah,&quot; atau 
menggabungkan antara apa yang diucapkan oleh muadzin dan hauqalah (&quot;Laa 
haula walaa quwwata illaa billaah.&quot;), maka dia telah berbuat benar insya
 Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika muadzin selesai adzan dan iqamat serta pendengar telah menjawabnya,
 maka hendaklah mengucapkan apa yang ada dalam dua hadits berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah bin &#39;Amr, dia mendengar Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ 
صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ صَلَّى اللهُ بِهَا 
عَلَيْهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، فَإِنَّهَا 
مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ 
اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ 
الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika kalian mendengar mu-adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia 
ucapkan. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena barangsiapa yang 
bershalawat untukku sekali, maka dengannya Allah akan bershalawat 
untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah kepada Allah 
untukku. Ia adalah sebuah tempat di Surga yang tak diraih kecuali oleh 
seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap ia adalah 
aku. Barangsiapa memintakan untukku wasilah kepada Allah, maka dia layak
 mendapat syafa&#39;atku.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ قَالَ عِنْدَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: &quot;اَللّهُمَّ رَبَّ هذِهِ 
الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَـائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا 
اَلْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ
 وَعَدْتَهُ،&quot; حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan, ‘Ya Allah, Rabb 
seruan yang sempurna ini serta shalat yang didirikan hammad wasilah dan 
keutamaan. Tempatkanlah ia pada kedudukan yang mulia sebagaimana Kau 
janjikan.’ Maka dia layak mendapat syafa&#39;atku pada hari Kiamat.” [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan:&lt;br /&gt;
Disunnahkan bagi seorang muslim agar memperbanyak do’a antara adzan dan iqamat. Karena do’a pada waktu itu dikabulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَلدُّعَاءُ لاَيُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Do’a antara adzan dan iqamat tidak ditolak.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E. Hal yang Disunnahkan Bagi Mu-adzin [6] &lt;br /&gt;
Disunnahkan bagi mu-adzin untuk mengikuti hal-hal berikut:&lt;br /&gt;
1. Mengharap wajah Allah dengan adzannya, maka janganlah ia mengambil upah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Utsman bin Abi al-&#39;Ash Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku 
berkata, &#39;Wahai Rasulullah, jadikanlah aku imam bagi kaumku&#39;. Beliau 
bersabda, &#39;Engkau adalah imam mereka. Ikutilah orang yang terlemah di 
antara mereka (jadikan ia sebagai patokan-ed.), dan angkatlah seorang 
mu-adzin yang tidak mengambil upah dari adzannya.&quot; [7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Suci dari hadats besar dan kecil&lt;br /&gt;
Sebagaimana yang telah diulas dalam pembahasan &quot;hal-hal yang disunnahkan wudhu&#39; di dalamnya.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Berdiri menghadap Kiblat&lt;br /&gt;
Ibnul Mundzir berkata, “Telah disepakati bahwa berdiri saat 
mengumandangkan adzan termasuk sunnah. Karena adzan tersebut menjadi 
lebih terdengar. Dan termasuk sunnah adalah menghadap kiblat saat 
mengumandangkan adzan. Karena para mu-adzin Rasulullah Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam dulu adzan sambil menghadap Kiblat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Menolehkan kepala dan lehernya ke kanan saat mengucapkan, &quot;Hayya 
&#39;alash shalaah,&quot; dan ke kiri saat mengucapkan: &quot;Hayya &#39;alal falaah.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Juhaifah, dia melihat Bilal sedang adzan. Dia berkata, “Aku mengikuti mulutnya ke sana kemari saat adzan.”[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Memasukkan dua jarinya ke telinga&lt;br /&gt;
Berdasarkan perkataan Abu Juhaifah Radhiyallahu anhu, “Aku melihat Bilal
 sedang adzan sambil memutar dan mengikuti mulutnya ke sana kemari. 
Sedangkan kedua jarinya ada di dalam kedua telinganya.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Mengeraskan suaranya ketika menyeru&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, “Tidaklah jin, 
manusia, dan yang lainnya mendengar suara mu-adzin melainkan akan 
memberikan kesaksian baginya di hari Kiamat.” [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F. Berapa Lamakah Jarak Antara Adzan dan Iqamat?&lt;br /&gt;
Antara adzan dan iqamat sebaiknya dipisahkan waktu yang cukup untuk 
persiapan menghadiri shalat. Itulah tujuan disyari&#39;atkannya adzan. Jika 
tidak demikian, hilanglah hikmahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Baththal berkata [11], “Tidak ada batasan dalam hal ini kecuali 
kepastian tentang masuknya waktu dan berkumpulnya orang-orang yang 
hendak shalat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
G. Dilarang Keluar dari Masjid setelah Adzan&lt;br /&gt;
Dari Abu Sya&#39;tsa&#39;, dia berkata, “Kami pernah duduk-duduk di masjid 
bersama Abu Hurairah Radhiyallahu anhu maka mu-adzin pun mengumandangkan
 adzan. Lantas ada seorang laki-laki yang bangkit dan berjalan keluar 
masjid. Kemudian Abu Hurairah mengikutinya dengan pandangannya hingga ia
 keluar masjid. Lalu Abu Hurairah berkata, &#39;Orang ini telah mendurhakai 
Abul Qasim (Nabi Muhammad). Shallallahu &#39;alaihi wa sallam&#39;”[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
H.Adzan dan Iqamat Untuk Shalat yang Terlewatkan&lt;br /&gt;
Barangsiapa tertidur dari shalatnya atau lupa, maka disyari&#39;atkan baginya untuk adzan dan iqamat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kisah 
tertidurnya Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan para Sahabatnya pada 
suatu perjalanan hingga shalat Shubuh terlewatkan. Bahwasanya Nabi 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyuruh Bilal (untuk adzan dan iqamat), 
lalu Bilal pun adzan dan iqamat.&quot;[13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika shalat yang terlewatkan lebih dari satu, maka adzan sekali dan iqamat untuk setiap shalat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Ibnu Mas&#39;ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, 
&quot;Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah 
Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dari mengerjakan empat shalat pada hari 
berlangsungnya perang Khandaq. Hingga berlalulah malam menurut kehendak 
Allah. Maka beliau menyuruh Bilal untuk adzan kemudian iqamat lalu 
shalat Zhuhur. Kemudian iqamat lalu shalat ‘Ashar. Kemudian iqamat lalu 
shalat Maghrib. Kemudian iqamat lalu shalat ‘Isya&#39;.&quot;[14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/90 no. 
661)], Shahiih Muslim (I/288 no. 383), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/224 no. 518), Sunan at-Tirmidzi (I/134 no. 208), Sunan Ibni Majah 
(I/238 no. 720), dan Sunan an-Nasa-i (II/23).&lt;br /&gt;
[2]. Telah berlalu takhrijnya.&lt;br /&gt;
Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (II/169 no. 495), Shahiih Muslim (I/289 
no. 385) dan Sunan Abi Dawud (Aunul Ma’buud (II/228 no. 523)].&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 198)], Shahiih Muslim 
(I/288 no. 384), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/225 no. 519), 
Sunan at-Tirmidzi (V/ 247 no. 3694) dan Sunan an-Nasa-i (II no. 25).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 243)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul 
Baari) (II/94 no. 614), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/231 no. 
525), Sunan at-Tirmidzi (I/136 no. 211), Sunan an-Nasa-i (II/27) dan 
Sunan Ibni Majah (I/239 no. 722).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 489)], Sunan at-Tirmidzi 
(I/137 no. 212) dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/224 no. 517).&lt;br /&gt;
[6]. Fiqhus Sunnah (I/99).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 497)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/234 no. 527), Sunan an-Nasa-i (II/23) dan Sunan 
Ibni Majah (I/ 236 no. 714), kalimat terakhir berasal darinya.&lt;br /&gt;
[8]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/114 no. 
634)], Shahiih Muslim (I/360 no. 503), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/219 no. 516), Sunan at-Tirmidzi (I/126 no. 197) dan Sunan an-Nasa-i 
(II/12). Adapun menggerakkan dada, maka tidak ada dasarnya sama sekali 
dalam Sunnah. Tidak pula disebutkan dalam hadits-hadits tentang 
menggerakkan leher. Sebagaimana disebutkan dalam Tamaamul Minnah hal. 
150.&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 264)] dan Sunan at-Tirmidzi
 (I/126 no. 197), dia berkata: &quot;Hadits Hasan Shahiih.&quot; Hal ini diamalkan
 oleh ahlul ilmi. Mereka menyunnahkan mu-adzin memasukkan kedua jarinya 
ke dalam kedua telinganya saat adzan.&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 625)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/87 no. 609) dan Sunan an-Nasa-i (II/12).&lt;br /&gt;
[11]. Al-Hafizh menyebutkannya dalam Fat-hul Baari (II/106).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 249)], Shahiih Muslim 
(I453 no. 655), Sunan an-Nasa-i (II/29), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/240 no. 532) dan Sunan at-Tirmidzi (I/131 no. 204). Menurut
 dua riwayat terakhir, ditegas-kan bahwa peristiwa itu terjadi di waktu 
‘Ashar.&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 420)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/106 no. 432).&lt;br /&gt;
[14].Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 638)], Sunan at-Tirmidzi (I/115 no. 179), Sunan an-Nasa-i (I/279).(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/1259009216009316266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/apa-yang-harus-diucapkan-ketika.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1259009216009316266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1259009216009316266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/apa-yang-harus-diucapkan-ketika.html' title='Apa Yang Harus Diucapkan Ketika Mendengar Adzan Dan Iqamat'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-1112142679423747351</id><published>2012-10-12T22:28:00.004-07:00</published><updated>2012-10-12T22:28:47.172-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>ADZAN Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>A. Hukum Adzan&lt;br /&gt;
Adzan adalah pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan lafazh yang khusus [1]. Hukumnya adalah wajib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Malik bin al-Huwairits, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika telah tiba (waktu) shalat, maka hendaklah salah seorang dari 
kalian mengumandangkan adzan untuk kalian. Dan hendak-lah yang paling 
tua di antara kalian mengimami kalian.&quot;[2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam memerintahkan adzan, dan perintah mengandung pewajiban sebagaimana yang telah diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya ketika Nabi Shallallahu &#39;alaihi 
wa sallam bersama kami untuk memerangi sebuah kaum, tidaklah beliau 
berperang hingga datangnya pagi. Beliau menunggu, jika mendengar adzan, 
beliau tidak memerangi mereka. Sebaliknya, jika tidak mendengar adzan, 
maka beliau menyerang mereka.&quot; [3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Keutamaan Adzan&lt;br /&gt;
Dari Mu&#39;awiyah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِنَّ الْمُؤَذِّنِيْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya para mu-adzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari Kiamat.” [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdurrahman bin &#39;Abdillah bin &#39;Abdirrahman bin Abi Sha&#39;sha&#39;ah 
al-Anshari kemudian al-Mazini dari ayahnya, dia mengabarkan bahwa Abu 
Sa&#39;id al-Khudri berkata kepadanya, “Sungguh aku melihat engkau menyukai 
kambing dan gurun (pedalaman). Jika engkau berada di antara kambingmu 
atau di gurunmu, maka adzanlah untuk shalat dan keraskanlah suaramu 
dengan seruan itu. Karena sesungguhnya tidaklah jin, manusia, dan 
lain-lain mendengar suara mu-adzin melainkan mereka akan memberikan 
kesaksian baginya di hari Kiamat.&quot; Abu Sa&#39;id melanjutkan, &quot;Aku 
mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Tata Cara Adzan&lt;br /&gt;
Dari &#39;Abdullah bin Zaid bin &#39;Abdi Rabbih, dia berkata, “Ketika 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah sepakat untuk menabuh 
lonceng, padahal beliau membencinya karena menyerupai kaum Nasrani, aku 
bermimpi berpapasan dengan seorang pria di malam hari. Ia mengenakan dua
 pakaian hijau sambil membawa lonceng. &#39;Aku berkata kepadanya, “Wahai 
hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng?” Ia bertanya, “Apakah yang 
kau perbuat dengannya?&quot; Aku menjawab, &quot;Kami menggunakannya untuk menyeru
 shalat.&quot; Dia berkata, &quot;Maukah kau kutunjuki (cara) yang lebih baik dari
 itu?&quot; Aku berkata: &quot;Tentu.&quot; Dia berkata, &quot;Katakanlah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ، أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ الله.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله، أَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ. لاَ اِلهَ إِلاَّ الله.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agak lama kemudian dia melanjutkan, &quot;Kemudian jika engkau hendak mendirikan shalat (mengumandangkan iqamat) engkau mengucapkan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ الله، أَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ، لاَ اِلهَ إِلاَّ الله.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pagi tiba, aku mendatangi Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa 
sallam dan kuberitahukan kepada beliau tentang apa yang telah kulihat 
(dalam mimpi). Lalu Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, 
“Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar insya Allah.” Kemudian beliau 
menyuruh adzan. Dan Bilal budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar 
mengumandangkan adzan dengan (lafazh tersebut).[6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan agar mu&#39;adzin menggabungkan dua takbir dalam satu nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, “Jika mu&#39;adzin 
mengatakan, ‘Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.’ Maka hendaklah seorang di 
antara kalian mengatakan, ‘Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.’ Kemudian jika 
mengatakan, ‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ Maka dia mengatakan, 
‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah.’ ...&quot; [7] Di sini terdapat isyarat yang
 jelas bahwa muadzin menggabungkan setiap dua takbir dalam satu nafas. 
Dan pendengar juga menjawab seperti itu. [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkannya at-Tarjiil (Pengulangan).&lt;br /&gt;
At-tarjiil adalah mengucapkan kembali dua kalimat syahadat dengan suara 
keras sebanyak dua kali, setelah pengucapan dua kalimat syahadat 
sebanyak dua kali dengan suara yang pelan. [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Mahdzurah, bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
mengajarinya adzan (dengan cara) ini, “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. 
Asyhadu allaa ilaaha illallaah, Asyhadu allaa ilaaha illallaah. Asyhadu 
anna Muhammadar Rasulullaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah.” 
Kemudian mengulang dan mengucapkan, “Asyhadu allaa ilaaha illallaah, 
Asyhadu allaa ilaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah, 
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah. Hayya &#39;alash Shalaah. dua kali. 
Hayya &#39;alal Falaah. dua kali. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha 
illallaah.” [10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
At-Tatswib (*) Pada Adzan Shubuh Pertama.&lt;br /&gt;
Dari Abu Mahdzurah, bahwa Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
mengajarinya adzan, di dalamnya terdapat lafazh, “Hayya &#39;alal falaah, 
hayya &#39;alal falaah. Ash-shalatu khairun minan nauum, Ash shalatu khairun
 minan nauum.” Pada (adzan) awal Shubuh. (Lalu dilanjutkan dengan) 
“Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaah.” [11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Amir ash-Shan&#39;ani berkata dalam Subulus Salaam (I/120): Ibnu Ruslan 
berkata, “At-Tatswib hanya disyari&#39;atkan pada adzan Shubuh pertama. 
Karena ia berfungsi membangunkan orang tidur. Adapun adzan kedua 
berfungsi memberitahukan masuknya waktu dan seruan untuk shalat.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan adzan pada awal waktu dan mendahulukan khusus untuk shalat Shubuh.&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin Samurah, dia berkata, “Bilal adzan jika matahari telah 
tergelincir, dan dia tidak mengurangi (sedikit pun dari lafazh adzan). 
Dan dia tidak iqamat hingga Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam keluar. 
Jika beliau keluar, maka dia mengumandangkan iqamat ketika melihatnya.&quot; 
[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu &#39;Umar Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
bersabda, “Sesungguhnya Bilal adzan di malam hari, maka makan dan 
minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan.” [13]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah menjelaskan hikmah mendahulukan
 adzan Shubuh dari waktunya dengan sabdanya, “Janganlah adzan Bilal 
menghalangi salah seorang dari kalian dari sahur. Karena sesungguhnya 
dia adzan -atau beliau bersabda: menyeru di malam hari agar orang yang 
shalat malam di antara kalian kembali (istirahat) dan juga untuk 
membangunkan orang yang tidur di antara kalian.” [14]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Fiqhus Sunnah (I/94).&lt;br /&gt;
[2]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/111 no. 631)], Shahiih Muslim (I/465 no. 674).&lt;br /&gt;
[3]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/89/610)],
 ini adalah lafazhnya, dan Shahiih Muslim (I/288 no. 382), dengan makna 
serupa.&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6645)], Shahiih Muslim (I/290 no. 387).&lt;br /&gt;
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 625)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/87 no. 609), dan Sunan an-Nasa-i (II/12).&lt;br /&gt;
[6]. Hasan shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 469)], Ahmad 
(al-Fat-hur Rabbaani) (III/14 no. 244), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (II/169 no. 495), Sunan at-Tirmidzi (I/122 no. 189), secara ringkas, 
dan Sunan Ibni Majah (I/232 no. 706).&lt;br /&gt;
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 527)], Shahiih Muslim (I/289 
no. 385), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/228 no. 523).&lt;br /&gt;
[8]. Syarh Muslim karya an-Nawawi (III/79).&lt;br /&gt;
[9]. Ibid.&lt;br /&gt;
(*). Tatswib adalah mengucapkan &quot;Ash-Shalaatu khairun minan naum&quot; ed&lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 191)], Shahiih Muslim (I/287 no. 379).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 628)], Sunan an-Nasa-i (II/7).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 503)] Ahmad (al-Fat-hur 
Rabbaani) (III/35 no. 283) ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (I/423 
no. 606), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/241 no. 533), dengan 
lafazh serupa. Dan makna &quot;tidak mengurangi&quot; adalah &quot;Tidak meninggalkan 
lafazhnya sedikit pun.&quot; Demikianlah pendapat asy-Syaukani dalam Nailul 
Authaar (II/31).&lt;br /&gt;
[13]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/104 no. 622)], dan Shahiih Muslim (II/768 no. 1092 (38)).&lt;br /&gt;
[14]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/103 no. 
621)], Shahiih Muslim (II/768 no. 1093), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (VI/472 no. 2330).&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/1112142679423747351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/adzan-oleh-syaikh-abdul-azhim-bin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1112142679423747351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1112142679423747351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/adzan-oleh-syaikh-abdul-azhim-bin.html' title='ADZAN Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-2574798668781483637</id><published>2012-10-12T22:22:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T22:22:28.003-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>WAKTU-WAKTU SHALAT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi</title><content type='html'>N. Waktu-Waktu Dilarangnya Shalat&lt;br /&gt;
Dari &#39;Uqbah bin &#39;Amir Radhiyallahu anhu, ia berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبَرَ فِيْهِنَّ 
مَوْتَانَـا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، 
وَحِيْـنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّـى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، 
وَحِيْنَ تَضَيَّفَ الشَّمْسُ لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiga waktu yang Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melarang kami 
shalat atau mengubur orang-orang mati kami pada saat itu: ketika 
matahari terbit hingga naik, ketika pertengahan siang hingga matahari 
tergelincir, ketika matahari condong ke barat hingga tenggelam.&quot; [1]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah menjelaskan alasan dilarangnya 
shalat dalam waktu-waktu ini melalui perkataan beliau kepada &#39;Amr bin 
&#39;Abasah: “Kerjakanlah shalat Shubuh. Kemudian hentikanlah shalat hingga 
matahari terbit dan naik. Karena sesungguhnya ketika terbit, matahari 
berada di antara dua tanduk syaitan. Pada waktu itu orang-orang kafir 
sujud kepada matahari. Setelah itu shalatlah, karena sesungguhnya shalat
 tersebut disaksikan dan dihadiri. Hingga bayangan naik setinggi tombak.
 Kemudian hentikanlah shalat. Karena waktu itu Jahannam bergolak. Jika 
bayangan telah condong ke barat, maka shalatlah, karena sesungguhnya 
shalat itu dihadiri dan disaksikan. Hingga engkau shalat &#39;Ashar. 
Kemudian hentikanlah shalat hingga matahari terbenam. Karena 
sesungguhnya ia terbenam di antara dua tanduk syaitan. Dan ketika itu 
orang-orang kafir sujud kepada matahari.” [2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
O. Dikecualikan dari Larangan Ini Waktu dan Tempat Tertentu&lt;br /&gt;
Adapun waktu, adalah ketika matahari berada tepat di atas pada hari Jum&#39;at:&lt;br /&gt;
Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَتَطَهَّرَ مَـا اسْتَطَاعَ 
مِنْ طُهْرٍ وَيُدَهِّنُ مِنْ دُهْنٍ أَوْ يَمُسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ، 
ثُمَّ يَخْـرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا 
كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتْ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ، إِلاَّ غُفِرَ 
لَهُ، مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum&#39;at, lantas bersuci 
sebaik-baiknya, mengenakan minyak rambut, atau mengenakan minyak wangi 
rumahnya. Kemudian keluar dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu 
shalat sunnah semampunya. Setelah itu ia diam ketika imam berkhutbah, 
melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jum&#39;at yang satu dengan 
Jum&#39;at yang lain.&quot;[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau menganjurkan shalat sunnah semampunya dan tidak melarang kecuali 
setelah keluarnya imam. Oleh sebab itu, banyak ulama terdahulu, di 
antaranya &#39;Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, yang kemudian 
diikuti oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal, mengatakan bahwa keluarnya imam 
menghentikan shalat, dan khutbahnya menghentikan perkataan. Mereka 
menjadikan keluarnya imam sebagai penghalang shalat, bukan pertengahan 
siang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pengecualian tempat adalah, Makkah -semoga Allah menambah 
kemuliaan dan keagungannya-. Karena Allah Ta&#39;ala telah melebihkannya 
dengan kemuliaan dan keagungan. Shalat di sana tidak ada yang 
dimakruhkan pada waktu-waktu tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam : “Wahai Bani &#39;Abdi
 Manaf, janganlah kalian menghalangi siapa pun yang melakukan thawaf dan
 shalat di Baitullah ini kapan saja. Baik malam maupun siang hari.&quot; [4]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat yang dilarang pada waktu-waktu tersebut adalah shalat sunnah 
murni yang tidak ada sebabnya. Pada waktu-waktu ini diperbolehkan untuk 
mengqadha shalat-shalat yang terlewatkan, baik wajib maupun sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalilnya adalah berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لاَكَفَّرَةَ لَهَا إِلاَّ ذلِكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Barangsiapa lupa terhadap suatu shalat, maka hendaklah ia shalat ketika
 ingat. Tidak ada kaffarat baginya kecuali (shalat) itu.&quot; [5]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat setelah selesai wudhu&#39; juga boleh untuk dilakukan kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalilnya adalah berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, di 
mana Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berkata pada Bilal ketika 
Shubuh, “Wahai Bilal, beritahulah aku amalan yang paling engkau harapkan
 (pahalanya) yang engkau kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku 
mendengar suara kedua sandalmu berada di depanku dalam Surga.&quot; Bilal 
menjawab, &quot;Tidaklah aku melakukan suatu amalan yang paling kuharapkan 
(pahalanya). Hanya saja, tidaklah aku bersuci, baik saat petang maupun 
siang, melainkan aku shalat sunnah dengannya.&quot; [6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diperbolehkan juga shalat tahiyyatul masjid.&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk hingga shalat dua raka&#39;at.&quot;[7]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
P. Dilarang Shalat Sunnah setelah Fajar Terbit dan Sebelum Shalat Shubuh.&lt;br /&gt;
Dari Yasar bekas budak Ibnu &#39;Umar, dia berkata, “Ibnu &#39;Umar melihatku 
sedang shalat setelah fajar terbit. Lalu dia berkata, &#39;Wahai Yasar, 
sesungguhnya Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam keluar menemui 
kami ketika kami sedang melakukan shalat ini. Kemudian beliau bersabda, 
&#39;Hendaklah orang yang hadir di antara kalian memberitahu yang tidak 
hadir. Janganlah kalian shalat setelah fajar kecuali dua raka&#39;at.&#39;&quot; [8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q. Dilarang Shalat Sunnah setelah Iqamat&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika iqamat shalat sudah dikumandangkan, maka tidak ada shalat selain shalat wajib.&quot; [9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R. Tempat-Tempat Dilarangnya Shalat&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
فُضِّلْتُ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيْتُ جَوَامِعُ الْكَلِمِ، 
وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ 
اْلأَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً، 
وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّوْنَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku dilebihkan atas para Nabi dengan enam perkara: (1) aku diberi 
ucapan yang singkat dan penuh makna, (2) aku ditolong dengan rasa takut 
(musuh atasku), (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, (4) bumi 
dijadikan sarana bersuci dan masjid untukku, (5) aku diutus untuk 
seluruh makhluk, dan (6) para Nabi ditutup denganku.&quot;[10]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua bumi adalah masjid selain yang dikecualikan dalam beberapa hadits di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jundub bin &#39;Abdillah al-Bajali Radhiyallahu anhu, dia berkata, 
“Lima hari sebelum Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam meninggal 
aku mendengar beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَـانَ قَبْلَكُمْ كَـانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ 
أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا 
الْقُبُرْرَ مَسَـاجِدَ، إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذلِكَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan 
kubur-kubur para Nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. 
Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid. 
Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu.’&quot;[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Sa&#39;id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
اَلأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Semua bumi adalah masjid kecuali kubur dan kamar mandi.&quot; [12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari al-Barra&#39; bin &#39;Azib Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwasanya 
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ditanya tentang shalat di 
penderuman unta. Beliau menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لاَ تُصَلُّوْا فِي مَبَارِكِ اْلإِبِلِ فَإِنَّهَا مِنَ الشَّيَاطِيْنِ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Janganlah kalian shalat di penderuman unta. Karena ia termasuk syaitan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan beliau ditanya tentang shalat di penambatan kambing. Beliau menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
صَلُّوْا فِيْهَا فَإِنَّهَا بَرَكَةٌ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Shalatlah di situ, karena ia adalah barakah.&quot; [13] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, 
Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia 
Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, 
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 
2007M]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote&lt;br /&gt;
[1]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1233)], Shahiih Muslim 
(I/568 no. 831), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (VIII/481 no. 3176), 
Sunan at-Tirmidzi (II/247 no. 1035), Sunan an-Nasa-i (I/275), dan Sunan 
Ibni Majah (I/486 no. 1519).&lt;br /&gt;
[2]. Shahih: [Al-Misykaah (no. 1042)], dan Shahiih Muslim (I/570 no. 832).&lt;br /&gt;
[3]. Shahih: [At-Targhiib (no. 689)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/370 no. 883).&lt;br /&gt;
[4]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1036)], Sunan Ibni Majah 
(I/398 no. 1254), Sunan at-Tirmidzi (II/178 no. 869), dan Sunan 
an-Nasa-i (V/223).&lt;br /&gt;
[5]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/70 no. 
597)], Shahiih Muslim (I/477 no. 684), dan dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/113 no. 438). Pada riwayat lain tidak disebutkan kalimat 
&quot;Tidak ada kaffarat baginya kecuali itu,&quot; sebagaimana diriwayatkan dalam
 Sunan an-Nasa-i (I/293), Sunan at-Tirmidzi (I/114 no. 187), dan Sunan 
Ibni Majah (I/227 no. 696).&lt;br /&gt;
[6]. Telah berlalu takhrijnya.&lt;br /&gt;
[7]. Muttafaq &#39;alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (III/48 no. 
1163)], Shahiih Muslim (I/495 no. 714), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud)
 (II/133 no. 463), Sunan at-Tirmidzi (I/198 no. 315), Sunan Ibni Majah 
(I/324 no. 1013), dan Sunan an-Nasa-i (II/53).&lt;br /&gt;
[8]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 5353)], dan Sunan Abi 
Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/158 no. 1264). At-Tirmidzi meriwayatkan 
secara singkat dengan lafazh: &quot;Tidak ada shalat setelah fajar kecuali 
dua raka&#39;at.&quot; (I/262 no. 417).&lt;br /&gt;
[9]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 945)], Shahiih Muslim (I/493
 no. 710), Sunan at-Tirmidzi (I/264 no. 419), Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (IV/ 142 no. 1252), Sunan an-Nasa-i (II/116), dan Sunan Ibni 
Majah (1/364 no. 1151). &lt;br /&gt;
[10]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 257)], dan Shahiih Muslim (I/371/523).&lt;br /&gt;
[11]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 286)], dan Shahiih Muslim (I/377 no. 532).&lt;br /&gt;
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 606)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (II/158 no. 488), Sunan Ibni Majah (I/246 no. 745), dan
 Sunan at-Tirmidzi (I/199 no. 316).&lt;br /&gt;
[13]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7351)], dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/159 no. 489).&lt;br /&gt;
(sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;) </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/2574798668781483637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/waktu-waktu-shalat-oleh-syaikh-abdul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/2574798668781483637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/2574798668781483637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/waktu-waktu-shalat-oleh-syaikh-abdul.html' title='WAKTU-WAKTU SHALAT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-1668368235674905451</id><published>2012-10-12T22:16:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T22:16:37.551-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>HUKUM IJTIHAD DALAM ISLAM DAN SYARAT-SYARAT MUJTAHID Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</title><content type='html'>Pertanyaan&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum ijtihad dalam
 Islam? Dan apa syarat-syarat mujtahid (orang yang berijtihad)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban&lt;br /&gt;
Ijtihad dalam Islam adalah mengerahkan kemampuan untuk mengetahui hukum 
syar&#39;i dari dalil-dalil syari&#39;atnya. Hukumnya wajib atas setiap orang 
yang mampu melakukannya karena Allah telah berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.&quot; [An-Nahl : 43, Al-Anbiya&#39; : 7]&lt;br /&gt;
.&lt;br /&gt;
Orang yang mampu berijtihad memungkinkannya untuk mengetahui yang haq 
dengan sendirinya, namun demikian ia harus memiliki ilmu yang luas dan 
mengkaji nash-nash syari&#39;at, dasar-dasar syari&#39;at dan pendapat-pendapat 
para ahlul ilmi agar tidak menyelisihi itu semua. Di antara manusia, ada
 golongan para penuntut ilmu (thalib &#39;ilm) yang hanya mengetahui sedikit
 ilmu tapi telah menganggap dirinya mujtahid (mampu berijtihad), 
akibatnya ia menggunakan hadits-hadits umum yang sebenarnya ada 
hadits-hadits lain yang mengkhususkannya, atau menggunakan hadits-hadits
 yang mansukh (dihapus) karena tidak mengetahui hadits-hadits nasikhnya 
(yang menghapusnya), atau menggunakan hadits-hadits yang telah 
disepakati ulama bahwa hadits-hadits tersebut bertolak belakang dengan 
zhahirnya, atau tidak mengetahui kesepakatan para ulama. Fenomena 
semacam ini tentu sangat berbahaya, maka seorang mujtahid harus memiliki
 pengetahuan tentang dalil-dalil syari&#39;at dan dasar-dasarnya. Jika ia 
mengetahuinya, tentu bisa menyimpulkan hukum-hukum dari dalil-dalilnya. 
Di samping itu, ia pun harus mengetahui ijma&#39; para ulama sehingga tidak 
menyelelisihi ijma&#39; tanpa disadarinya. Jika syarat-syarat ini telah 
terpatri dalam dirinya, maka ia bisa berijtihad. Ijtihad bisa juga 
dilakukan seseorang dalam suatu masalah saja, yang mana ia mengkaji dan 
menganalisa sehingga menjadi seorang mujtahid dalam masalah tersebut, 
atau dalam suatu bab ilmu, misalnya bab thaharah saja, ia mengkaji dan 
menganalisanya sehingga menjadi seorang mujtahid dalam masalah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Fatwa Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HUKUM MEMBERI FATWA DAN SYARAT MUFTI (PEMBERI FATWA)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Memberi fatwa sudah 
memasyarakat, sampai-sampai yang kecil pun memberi fatwa. Kami mohon 
penjelasan tentang syarat-syarat fatwa dan pemberi fatwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban&lt;br /&gt;
Para salaf seringkali menolak memberi fatwa karena agungnya perkara ini 
dan besarnya tanggung jawab serta takut berbicara atas nama Allah tanpa 
ilmu, karena pemberi fatwa itu adalah yang menyampaikan kabar dari Allah
 dan menjelaskan syari&#39;at-syari&#39;at-Nya. Jika berbicara atas nama Allah 
tanpa ilmu, maka telah ter-jerumus ke dalam sesuatu yang mengarah kepada
 syirik. Simak-lah firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;la.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Katakanlah, &#39;Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang 
nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak 
manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah 
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan 
(mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu 
ketahui&quot; [Al-A&#39;raf : 33]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala telah menyebutkan tentang 
berbicara atas nama Allah yang dipadu dengan syirik. Dalam ayat lain 
disebutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan 
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya 
ituakandimintapertanggunganjawabnya..&quot; [Al-Isra : 36]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka hendaknya seseorang tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa, tapi 
pelan-pelan, menghayati dan mengkaji. Jika waktunya sempit, hendaklah 
masalahnya dialihkan kepada orang lain yang lebih tahu agar anda selamat
 dari berbicara atas nama Allah tanpa ilmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Allah telah mengetahui niat anda yang ikhlas dan keinginan untuk 
kemaslahatan, maka anda akan sampai ke martabat yang anda inginkan dari 
fatwa anda. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan 
menunjukinya dan mengangkat derajatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang jahil (awam/tidak tahu) yang memberi fatwa tanpa ilmu, berarti 
menyesatkan. Orang jahil yang mengatakan, &quot;Saya tidak tahu&quot; berarti tahu
 kadar dirinya serta bersikap jujur. Adapun orang jahil yang 
mensejajarkan dirinya dengan para ulama, bahkan lebih mengagungkan 
dirinya daripada mereka, maka ia akan sesat dan menyesatkan, bahkan akan
 salah dalam suatu masalah yang sebenarnya diketahui oleh penuntut ilmu 
yang pemula sekali pun, maka hal ini bahayanya sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Majmu&#39;atu Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, juz 3, hal. 354-355]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah 
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa 
Terkini,Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit 
Darul Haq](sumber:&lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt; http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/1668368235674905451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/hukum-ijtihad-dalam-islam-dan-syarat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1668368235674905451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1668368235674905451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/hukum-ijtihad-dalam-islam-dan-syarat.html' title='HUKUM IJTIHAD DALAM ISLAM DAN SYARAT-SYARAT MUJTAHID Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-222415772920242824</id><published>2012-10-12T22:11:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T22:11:55.500-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>TIDAK ADA ISTILAH KULIT DALAM AGAMA Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</title><content type='html'>
Pertanyaan.&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bagaimana hukum 
syari&#39;at tentang orang yang mengatakan bahwa mencukur jenggot dan 
memendekkan pakaian merupakan kulit dan bukan dasar agama, atau tentang 
orang yang menertawakan orang yang melakukannya ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaba.&lt;br /&gt;
Ungkapan ini sangat berbahaya dan merupakan kemungkaran yang besar. 
Tidak ada istilah kulit dalam agama, tapi semuanya adalah isi, kebaikan 
dan perbaikan. Agama terbagi menjadi pokok dan cabang. Masalah jenggot 
dan memendekkan pakaian merupakan masalah cabang, bukan pokok, namun 
demikian, tidak boleh menyebut sesuatu di antara perkara-perkara agama 
sebagai kulitnya. Dikhawatirkan orang yang mengatakan ungkapan semacam 
itu akan terjebak ke dalam pengurangan dan olokan sehingga menyebabkan 
keluar dari agama. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Katakanlah, Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya 
kamu selalu berolok-olok ? Tidak usah kamu minta ma&#39;af, karena kamu 
kafir sesudah beriman&quot;. [At-Taubah : 65-66]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk
 memelihara jenggot, membiarkannya tumbuh dan menyuburkannya serta 
memotong kumis dan memendekkannya. Yang seharusnya adalah mentaatinya 
dan mengagungkan perintah dan larangannya dalam segala perkara. Abu 
Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan, bahwa para ulama telah sepakat bahwa 
memelihara jenggot dan memotong kumis termasuk perkara yang 
diperintahkan. Adalah kebinasaan dan kerugian serta akibat yang buruk 
bagi yang bermaksiat terhadap Allah dan RasulNya. Begitu pula 
meninggikan pakaian hingga di atas mata kaki, merupakan perkara yang 
diperintahkan, berdasarkan sabda nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Bagian yang melebihi mata kaki yang tertutup pakaian, maka 
termpatnya di neraka&quot;. [Hadits Riwayat Al-Bukahri dalam Shahihnya, kitab
 Al-Libas 5787]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga berdasarkan sabdanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Tiga golongan yang Allah tidak berbicara kepada mereka di 
hari kiamat, tidak pula memandang kepada mereka serta tidak mensucikan 
mereka dan bagi mereka adzab yang pedih : Yang mengungkit-ngungkit 
pemberian dan yang mempromosikan barang dagangannya dengan sumpah 
palsu&quot;.[Hadits Riwayat Muslim dengan Shahihnya, kitab Al-Iman 106]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga bersabda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret 
pakaiannya karena sombong&quot;. [Muttafaq Alaih : Al-Bukhari dalam kitab 
Al-Libas 5783, Muslim dalam kitab Al-Libas 2085]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya seorang muslim bertakwa kepada Allah, meninggikan pakaiannya,
 baik itu gamis, kain atau celana, dan tidak melebihi mata kakinya. Yang
 lebih utama adalah antara pertengahan betis dan mata kaki. Jika isbal 
(melabuhkan ujung pakaian melebihi mata kaki) itu dilakukan dengan rasa 
sombong, maka dosanya lebih besar lagi. Jika dilakukan karena 
meremehkan, bukan karena sombong, maka ia seorang yang mungkar dan 
berdosa, tapi dosanya tidak seperti orang yang sombong. Tidak diragukan 
lagi, bahwa isbal bisa menjadi sarana menuju kesombongan, walaupun 
pelakunya mengatakan bahwa ia melakukannya bukan karena sombong. Lain 
dari itu, karena ancaman yang tersebut dalam sejumlah hadits bersifat 
umum. Dari itu tidak boleh meremehkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kisah Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu anhu yang berkata kepada kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya salah satu ujung kainku melorot, kecuali bila aku memeganginya&quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena rasa 
sombong&quot;. [Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam kitab Al-Libas 5784]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian ini yang terjadi pada Ash-Shiddiq, ia selalu menjaganya dan 
berusaha menepatinya. Sedangkan orang yang sengaja mengulurkan 
pakaiannya (hingga melebihi mata kakinya), ia tercakup dalam ancaman 
tersebut, tidak seperti Ash-Shidiq. Tentang isbal ini, di samping adanya
 ancaman sebagaimana yang telah disebutkan di atas tadi, ada keburukan 
lainnya, yaitu berlebihan, mudah terkena kotoran dan najis serta 
menyerupai wanita. Semua ini wajib dihindari oleh setiap muslim. Hanya 
Allahlah yang kuasa memberi petunjuk dan hanya Dia-lah petunjuk kepada 
jalan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Majalah Ad-Da&#39;wah, nomor 1608, Syaikh Ibn Baz]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari bukuAl-Fatawa Asy-Syar&#39;iyyah Fi Al-Masa&#39;il Al-Ashriyyah 
Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi 
Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq]&lt;br /&gt;
(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/222415772920242824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/tidak-ada-istilah-kulit-dalam-agama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/222415772920242824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/222415772920242824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/tidak-ada-istilah-kulit-dalam-agama.html' title='TIDAK ADA ISTILAH KULIT DALAM AGAMA Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-1860340100700012116</id><published>2012-10-12T22:05:00.001-07:00</published><updated>2012-10-12T22:05:34.959-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Apakah Tepat Pertanyaan Yang Disampaiakn : Mana Dalilnya ?? Dan Mengapa Begini ?!</title><content type='html'>APAKAH TEPAT PERTANYAAN YANG DISAMPAIKAN : MANA DALILNYA ?? DAN MENGAPA BEGINI ?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meluruskan masalah-masalah itu sulit sekali. Mungkin ada yang 
berlebih-lebihan atau meremehkan dalam menanggapinya. Khususnya orang 
yang hidup dalam waktu yang lama dalam amalan tertetntu. Bagi mereka 
telah tampak bahwa perkara itu ada penyimpangan dan syara&#39; menolak, 
tetapi mereka tetap berpaling dan kembali berbuat yang lebih parah dari 
yang lalu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sebagai pelajaran bagi kita sekarang dan yang akan datang, bila 
membahas suatu masalah dituntut adanya dalil dalam rangka membersihkan 
taqlid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum muslimin hidup dalam waktu yang panjang. Mereka tidak mengenal 
selain madzhab Fulan dan madzhab Fulan, madzhab empat, madzhab ahlus 
sunnah wal jama&#39;ah dan atau madzhab yang menyimpang dari ahlus sunnah 
wal jama&#39;ah. Adapun yang bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala 
adalah generasi yang telah disaksikan kebaikannya (Salafush Shalih). 
Kemudian berlalu masa tersebut, sampai zaman Ibnu Taimiyah dan 
murid-muridnya. Mereka menyeru kaum muslimin kepada keharusan untuk 
kembali kepada pemahaman Salafush Shalih dalam hal bersandar kepada 
Al-Kitab dan As-Sunnah. Tidak diragukan bahwa da&#39;wah Ibnu Taimiyah dan 
murid-muridnya mempunyai pengaruh yang bagus. Tetapi pada masa itu 
peranannya sangat kecil dan kejumudan berfikir menguasai beberapa orang 
terutama orang-orang awam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah generasi yang dibangunkan oleh Ibnu Taimiyah kaum muslimin 
kembali kepada kejumudan dalam memahami fiqih, kecuali pada akhir-akhir 
ini. Banyak sekali ulama yang memperbaharui da&#39;wahnya untuk menggerakkan
 dan membangunkan manusia untuk kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah. 
Diantara ulama yang telah mendahului kita dalam hal ini adalah Syaikh 
Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau telah menyeru untuk ittiba&#39; (mengikuti)
 kepada Al-Qur&#39;an dan As-Sunnah. Melihat keadaan penduduk Nejd yang 
aqidah keberhalaannya telah menguasai negeri mereka maka Syaikh Muhammad
 bin Abdul Wahab berusaha dengan gigih memeperbaiki tauhid mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabiat manusia kemampuannya terbatas. Mereka tidak sanggup memerangi 
semua kehinaan sebagaimana yang mereka katakan. Karena itu da&#39;wah beliau
 bertumpu pada da&#39;wah penyebaran tauhid dan memerangi kesyirikan serta 
keberhalaan. Sehingga sampailah da&#39;wah yang bagus ke dunia Islam. 
Walaupun antara beliau dan lawannya terjadi peperangan yang sangat 
disesalkan. Ini adalah sunnatullah pada makhlukNya dan kamu tidak akan 
dapat menemui perubahan sunatullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat ini telah banyak ulama yang memperbaharui da&#39;wahnya kepada 
Al-Kitab dan As-Sunnah. Banyak sekali kebangkitan yang nampak dari 
bebagai kalangan di negeri-negeri Arab. Tetapi sangat disesalkan sekali 
negara-negara ajam (non Arab) masih nyenyak dalam tidurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelemahan bangsa Arab sebagaimana saya tunjukkan tadi, adalah bahwa 
sebagian mereka masih sepotong-sepotong dalam memahami Islam. Ada yang 
mengetahui sebagian tetapi bodoh pada bagian yang lain. Maka kita lihat 
seorang laki-laki umum, yang tidak faham sesuatu sedikitpun apabila 
bertanya kepada orang alim tentang suatu masalah, dia berkata apa 
hukumnya ? Sama saja, apakah jawabannya tidak ada atau larangan, dia 
tergesa-gesa menuntut apa dalilnya ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak selalu orang alim itu dapat memberikan dalil. Suatu dalil bisa 
diambil dengan cara istimbat (mengeluarkan dari sumbernya melalui 
ijtihad untuk menetapkan suatu hukum) dan iqtibas (mengambil faidah dari
 sumbernya), belum tentu secara jelas dan lugas dalam Al-Qur&#39;an dan 
As-Sunnah. Seperti masalah ini, penanya hendak mengetahui 
sedalam-dalamnya dengan menanyakan &quot;Apa Dalilnya ?&quot; Seharusnya penanya 
tahu diri, apakah dia itu ahli dalil atau tidak ? Apa dia telah 
mempunyai pengenalan dalil yang maknanya umum dan khusus, mutlaq dan 
muqayyad, nasikh dan mansukh ? Sedang dia tidak faham sedikitpun 
terhadap pengenalan tersebut. Apakah tepat pertanyaan yang disampaikan..
 &quot;Apa Dalilnya ??!! Dan mengapa begini ?!&quot;. Kami katakan tentang hukum 
tarian perempuan di depan suaminya, atau di depan saudara perempuannya 
sesama muslimah, bisa jadi boleh, bisa jadi dilarang ! Dan juga tarian 
laki-laki, dia menghendaki dalil diatas itu. Pada hakekatnya kami tidak 
menemukan dalil yang jelas dan gamblang dari Rasulullah Shallallahu 
alaihi wa sallam. Dasar tersebut ditemukan dengan istimbat, penelitian 
dan pemahaman. Karena itu kami katakan, tidaklah setiap masalah harus 
dijelaskan dalilnya secara rinci, sehingga mudah dipahami oleh setiap 
muslim. Baik itu orang umum yang buta baca tulis, atau penuntut ilmu. 
Tidak harus begitu untuk setiap pertanyaan. Karena itulah Allah 
Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Bertanyalah kepada Ahlul ilmi jika kalian tidak tahu&quot; [An-Nahl : 43]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara contoh ekstrim yang telah saya tunjukan tadi, manusia yang 
paling jahil akan menjadi penentang dalil. Kebanyakan manusia yang 
menisbatkan dirinya dalam da&#39;wah kepada Al-Kitab dan As-Sunnah 
menyangka, bahwa orang yang berilmu itu apabila ditanya suatu masalah, 
dia harus menjawab dengan firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala (Al-Qur&#39;an) 
dan sunnah Rasulullah Shallallahu allaihi wa sallam (As-Sunnah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku (Al-Albani) menjawab bahwa ini tidak wajib. Hal ini merupakan salah 
satu dari faedah-faedah berintima (cenderung) kepada Salafus Shalih. 
Jalan mereka dan fatwa-fatwa mereka merupakan dalil bagi perbuatan yang 
telah saya jelaskan. Jadi wajib menyebutkan dalil ketika masalah itu 
menuntut adanya dalil. Tapi tidak wajib bagi setiap pertanyan harus 
dijawab dengan : Kata Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala begini atau kata 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam begini&#39; . Terlebih masalah ini 
merupakan masalah hukum yang rumit dan penuh perselisihan di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Artinya : Bertanyalah kepada Ahlul ilmi jika kalian tidak tahu&quot;.[An-Nahl : 43]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah secara umum. Tidak ada kewajiban kecuali bertanya kepada 
orang yang kalian duga ahli ilmu. Jika telah dijawab, wajib bagi kalian 
untuk mengikutinya. Kecuali bila engkau dengan jawaban yang syubhat dari
 seorang ahli ilmu lainnya, sebaiknya engkau jelaskan yang syubhat itu. 
Sedangkan orang alim tersebut wajib berusaha dengan kemampuan ilmunya 
untuk menghilangkan kesyubhatan yang telah tampak pada penanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ringkasnya tarian wanita di depan suaminya dengan batasan yang telah 
disebut adalah boleh. Adapun tarian wanita di depan anak-anak perempuan,
 maka ada dua kemungkinan juga, sebagaimana tariian perempuan di depan 
suaminya. Jika tariannya tidak diiringi dengan kegemaran dan hanya 
merupakan bagian dari lambaian tangannya, dimana tidak disertai 
gerakan/ayunan pantat atau sejenisnya yang bisa menggerakkan syahwat 
atau menimbulkan syubhat. Tarian ini tidak apa-apa, jika memang benar 
namanya tarian. Apabila terdapat hal-hal selain yang disyaratkan di 
atas, maka larangan merupakan hukum asal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disunting dari sebagian jawaban dari pertanyaan Tarian Seorang Wanita 
dan Laki-laki kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Majalah
 Al-Ashalah 8/15 Jumadil Akhir 1414H hal. 73. Edisi Indonesia 25 Fatwa 
Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah Muhaimin 
Abu Najiah, Semarang 1955, dan judul artikel oleh admin]
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/1860340100700012116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/apakah-tepat-pertanyaan-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1860340100700012116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1860340100700012116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/apakah-tepat-pertanyaan-yang.html' title='Apakah Tepat Pertanyaan Yang Disampaiakn : Mana Dalilnya ?? Dan Mengapa Begini ?!'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-2344900155718243340</id><published>2012-10-12T21:32:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T21:32:46.876-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>BEDA SALAF DENGAN SALAFI SEBUAH MAKAR UNTUK MENJATUHKAN MANHAJ SALAFI  Oleh Abu Ahmad As-Salafi</title><content type='html'>TAQDIM&lt;br /&gt;
Di antara karakateristik ahli bid’ah dari masa ke masa bahwasanya mereka
 selalu mencela dan mencoreng citra Ahli Sunnah wa Jama’ah untuk 
menjatuhkan umat dari al-haq. Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata : “Ciri 
ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar’ (Ahlu Sunnah hlm. 24). Al-Imam 
Abu Utsman Ash-Shobuni rahimahullah berkata : “Tanda yang paling jelas 
dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa sunnah
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melecehkan dan 
menghina ahli Sunnah dan menamakan ahli Sunnah dengan Hasyawiyah, 
Jahalah, Dhohiriyyah, dan Musyabbihah” [Aqidah Salaf Ashabul Hadits, 
hlm. 116]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara deretan buku-buku “hitam” yang mencela Salafiyyin dan Dakwah 
Salafiyyah adalah buku Beda Salaf dengan Salafi yang beredar baru-baru 
ini di tanah air, buku ini sarat dengan syubhat-syubhat yang sangat 
berbahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menunaikan kewajiban kami dalam nasehat kepada kaum muslimin dan 
membela dakwah yang haq maka dengan memohon pertolongan kepada Allah 
Subhanahu wa Ta’ala akan kami paparkan studi kritis terhadap buku ini 
agar menjadi kewaspadaan dan peringatan bagi kita semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENULIS DAN PENERBIT BUKU&lt;br /&gt;
Judul asli buku ini adalah Kasyful Haqa’iq Al-Khafiyyah Inda Mudda’is 
Salafiyyah, ditulis oleh Mu’tab bin Suryan Al-Ashimi, diterjemahkan oleh
 Wahyuddin dan Abu Ja’far Al-Indunisy, dan diterbitkan oleh Media 
Islamika Solo cetakan pertama Agustus 2007&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai catatan bahwa terjemahan dari kitab asli buku ini hanya sampai 
hlm. 88, adapun hlm. 89-223 adalah tambahan dari penerbit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MENYEBARKAN KERAGUAN “MANHAJ TASHNIF”&lt;br /&gt;
Tashnifunnas (klasifikasi manusia) yaitu menisbahkan pelaku bid’ah 
kepada kebid’ahannya, menisbahkan pendusta kepada kedustaannya, dan 
menisbahkan seorang yang dijarh kepada jarhnya sebagaimana di dalam 
kitab-kitab jarh wa ta’dil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis telah menyebarkan keragu-raguan terhadap manhaj tashnif ini 
dengan menyebutnya sebagai tugas iblis!! (hlm. 45), dan dia sebut 
sebagai fitnah!! (hlm.58).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal tashnif ini adalah haq tidak ada keraguan di dalamnya, Ahli 
Sunnah wal Jama’ah telah sepakat atas shahihnya penisbatan orang yang 
dikenal dengan suatu kebid’ahan kepada bid’ahnya sebagaimana diketahui 
oleh setiap orang yang mau menelaah kitab-kitab salaf. Barangsiapa yang 
dikenal dengan bid’ah Qodar maka dia dikatakan Qodari, barangsiapa yang 
dikenal dengan bid’ah Khowarij maka dia dikatakan Khoriji, barangsiapa 
yang dikenal dengna bid’ah Irja’ maka dia dikatakan Murji’, barangsiapa 
yang dikenal dengan bid’ah Rofdh maka dia dikatakan Rofidhi, dan 
seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tashnif ini juga terdapat dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam seperti penisbahan kelompok pengingkar takdir kepada bid’ah 
mereka sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Qodariyyah adalah Majusinya umat ini, jika mereka sakit maka janganlah 
kalian menjenguk mereka, dan jika mereka mati maka janganlah kalian 
melawat mereka’ [Diriwaytkan Abu Dawud dalam Sunannya 4/222 dan 
dihasankan Syaikh Al-Albany dalam Shahihul Jami’ : 4442]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga kelompok Khowarij yang diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang banyak sekali yang 
mencapai derajat mutawatir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tashnif ini juga terdapat di dalam perkataan para Salafush Shalih dari 
kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para imam, seperti 
riwayat dari Abu Umamah bahwasanya dia menafsirkan firman Allah 
Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka 
menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada 
mereka” [Al-An’am : 159]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tafsirkan abahwa mereka adalah Khowarij. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/197]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdullah bin Abi Aufa –salah seorang sahabat- berkata : “Semoga Allah 
Subhanahu wa Ta’ala melaknat Azariqoh! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala 
melaknat Azariqoh! Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah 
mengabarkan kepada kami bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka”. 
Berktalah perawi darinya : “Azariqoh saja atau Khowarij semuanya?” Dia 
berkata : “Bahkan Khowarij semuanya” [Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam 
Musnadnya dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam 
Dhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam Sufyan bin Uyainah berkata tentang Ismail bin Humaid : “Dia 
adalah Baihasi”. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Baihasiyyah adalah nama
 sebuah kelompok Khowarij dari kelompok Shofariyyah yang memandang 
wajibnya memberontak kepada para pemimpin yang curang” [Lihat Tahdzibut 
Tahdzib 1/305]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam Abu Dawud berkata tentang Ishaq bin Robi’:”Dia adalah Qodari’ [Lihat Tahdzibut Tahdzib 1/203]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tashnifunnaas adalah hal yang disepakti oleh umat ini dan bukanlah perkara yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KONTRADIKSI PENULIS&lt;br /&gt;
Penulis begitu sinis terhadap manhaj tashnif tetapi dia sendiri 
memakainya, di dalam hlm. 71-72 dari bukunya ini dia klasifikasi 
lawan-lawannya menjadi 6 kelompok : (1). Al-Hasadah (orang-orang yang 
hasad), (2), Al-Qo’adah[1] (orang-orang yang tidak memiliki peran di 
dalam dakwah), (3). Al-Murtaziqoh (para pencari kesenangan pribadi), 
(4). Al-Muqallidun (orang-orang yang taklid), (5). Al-Makhdu’un 
(orang-orang yang terpedaya), dan (6). An-Naqimun (para pembalas 
dendam)!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami katakan :”Duhai alangkah miripnya hari ini dengan kemarin, dahulu 
Muhammad Surur membagi lawan-lawannya menjadi 6 tingkatan penghambaan : 
(1) George Bush presiden Amerika. (2). Para penguasa di negeri-negeri 
Arab. (3). Para pembantu penguasa negeri-ngeri Arab dari para menteri, 
para penasehat, dan yang lainnya. (4, 5,dan 6) adalah para pejabat 
tinggi di kementrian. Kemudian dia katakan bahwa para ulama Saudi 
seperti Syaikh Bin Baz rahimahullah, Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dan
 Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidhahullah sebagai budak-budak budaknya 
budak dan majikan mereka adalah orang Nasrani!!! [Majalah As-Sunnah 
Al-Britaniyyah, edisi 26 Jumada Ula 1413H, hlm. 2-3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hati mereka serupa . sesungguhnya kami telah menjelaskan tanda-tanda kakuasaan Kami kepada kaum yang yakin” [Al-Baqarah : 118]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan lihatlah bagaimana teman-teman Muhammad Surur dari kelompok 
Quthbiyyin membagi para ulama menjadi ulama yang faham waqi’ dan ulama 
yang tidak fawah waqi’, mereka merendahkan dan melecehkan para ulama 
Salafiyyin dengan mengatakan bahwa mereka bukanlah rujukan kaum muslimin
 karena mereka tidak faham waqi’ (realita) sebagaimana dikatakan oleh 
Salman dalam Majalah Al-Ishlah Emirat Arab edisi 223 28/1, dan 
Abdurrahman Abdul Khaliq dalam kitabnya Khuthuth Roisiyah Liba’tsil 
Ummah Islamiyyah hlm. 73-78 (Lihat Madarikun Nazhar hlm. 271 dan Jama’ah
 Wahidah hlm. 40). Di sisi lain mereka membagi ulama menjadi ulama 
sulthon (ulama penguasa) dan sulthonul ulama yaitu kelompok mereka 
sebagaimana dikatakan oleh Aidh Al-Qorni di dalam Qoshidahnya yang 
berjudul Da’il Hawasyi Wakhruj (tinggalkanlah para antek penguasa dan 
keluarlah)!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kami katakan bahwa penulis bersikap plin-plan dalam menyikapi 
tashnif, jika tashnif dirasa merugikannya maka dia tolak, dan jika 
dirasakan menguntungkannya maka dia pakai. Hal seperti inilah yang 
dilakukan oleh para ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu, mereka 
mengklasifikasi manusia semau mereka sesuai dengan hawa nafsu mereka, 
mereka mengklasifikasi para ulama menjadi ulama politik dan ulama haidh 
dan nifas!. Di sisi lain tatkala para ulama sunnah mentashnif 
(mengklasifikasi) para gembong mereka kepada masing-masing kebid’ahan 
mereka maka dengan serentak mereka marah dan membabi buta, mereka 
sebarkan keragu-raguan kepada umat tentang masalah tashnif yang haq 
dengan maksud untuk melindungi nama dan kedudukan gembong-gembong 
mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MENYEBARKAN KEBENCIAN TERHADAP ISTILAH SALAFI DAN SALAFIYYAH&lt;br /&gt;
Penulis begitu getol di dalam menyebarkan kebencian terhadap nisbah 
salafi dan salafiyyah, dia katakan bahwa nisbah as-salafi atau al-atsari
 sebagai suatu kesombongan! (hlm. 42). Bahkan dia buat manusia ngeri 
memakai istilah salafi dengan dia katakan bahwa para pengaku salafi 
adalah pelaku kejahatan! (hlm.74).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal tidak ada yang lebih membanggakan seorang muslim dari 
menisbahkan diri kepada salaf, lafadz salafiyyah atau salafi tidaklah 
digunakan oleh para ulama Ahli Sunnah kecuali dalam kebaikan, lihatlah 
dalam kitab-kitab para ulama terutama dalam kitab-kitab biografi mereka 
tidaklah menyebut salaf atau salafi melainkan sebagai pujian, begitu 
sering para ulama menyebutkan biografi seseorang dan menyebutkan di 
antara manaqibnya adalah karena dia berjalan diatas manhaj salafi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Tidak ada cela 
bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menisbahkan diri kepadanya, 
dan membanggakannya, bahkan wajib diterima semua itu darinya dengan 
kesepakatan ulama. Karena sesungguhnya madzhab salaf adalah haq, jika 
dia sesuai dengan salaf secara lahir dan batin, maka dia seperti seorang
 mukmin yang di atas kebenaran secara lahir dan batin” [Majmu Fatawa 
4/149]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Hafidz Adz-Dzahabi rahimahullah sering menyebutkan nisbah kepada salaf (as-salafi) ketika menyebutkan biografi para ulama.:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a) Ketika menyebutkan biografi Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawi dalam Siyar 
A’lamin Nubala 13/183 berkata : “Aku tidaklah mengetahui Ya’qub 
Al-Fasawi kecuali seorang salafi”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b). Ketika menyebutkan biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrani beliau 
berkata : “Dia adalah seorang yang beragama, baik, dan seorang salafi” 
[Mu’jam Syuyuh 843]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c). Ketika menyebutkan biografi Al-Imam Daruquthni beliau mengatakan 
:”Dia tidak pernah masuk sama sekali dalam ilmu kalam dan jadal, bahkan 
dia adalah seorang salafi’ [Siyar 16/457]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d) Ketika menyebutkan biografi Abu Thohir As-Silafi beliau mengatakan 
:”As-Silafi diambil dari kata As-Salafi yaitu yang berjalan di atas 
madzhab salaf” [Siyar 21/6]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
e). Ketika menyebutkan biografi Al-Hafidzh Ibnu Sholah rahimahullah 
beliau mengatakan : “Dia adalah seorang salafi, bagus aqidahnya ..” 
[Tadzkirotul Huffadz 4/1431]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan merupakan hal yang dimaklumi bahwa kelompok-kelompok bid’ah sangat 
menjauhi intisab kepada salaf, sampai-sampai kelompok yang mengaku 
beraqidah salaf pun juga menjauhi dan menghindari penisbatan kepada 
salaf, inilah syi’ar ahli bid’ah dari masa ke masa sebagaimana dikatakan
 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Syi’ar ahli bid’ah 
adalah tidak mau ittiba’ kepada salaf” [Majmu Fatawa 4/100]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok-kelompok bid’ah ini mengetahui bahwasanya dengan meninggalkan 
intisab kepada salaf maka mereka dengan leluasa menghukumi segala 
sesuatu dengan akal mereka, perasaan mereka dan eksperimen-eksperimen 
mereka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah realita yang menujukkan keagungan takdir Allah Subhanahu wa 
Ta’ala, agar nampak jelas dakwah yang haq dari setiap kebatilan yang 
hendak menyerupainya, dan agar dakwah yang haq murni dari segala macam 
kotoran hendak mencampurinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEMBUAT OPINI BAHWA PARA ULAMA MEMBENCI NISBAH SALAFI DAN SALAFIYYAH&lt;br /&gt;
Penulis banyak menukil perkataan para ulama yang mengesankan bahwa para 
ulama tersebut tidak suka kepada nisbah As-Salafi, Al-Atsari, 
As-Salafiyyah dan yang semisalnya. Nukilan-nukilan ini harus dicek ulang
 karena kedustaan adalah ciri khas dari setiap ahli bid’ah, Al-Imam Ali 
bin Harb Al-Maushili berkata :”Setiap ahli hawa (pengekor hawa nafsu) 
selalu berdusta dan tidak peduli dengan kedustaannya!” (Diriwayatkan 
oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah hlm. 123) Di antara 
nama-nama yang dicatut oleh penulis dari para ulama adalah Syaikh Abdul 
Aziz bin Baz rahimahullah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin 
rahimahullah, dan Syaikh Shalih Al-Fauzan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal kenyataan yang sebenarnya bahwa para ulama yang disebut 
nama-namanya di atas selalu mengajak manusia agar ittiba’ kepada manhaj 
salafi sebagaimana di dalam nukilan-nukilan berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya :”Apa yang engkau katakan terhadap orang 
yang memberi nama dengan As-Salafi dan Al-Atsari, apakah hal itu 
termasuk tazkiyah?” Beliau rahimahullah menjawab :”Kalau memang benar 
dia Atsari (menapaki atsar pendahulunya) atau Salafi (mengikuti 
pemahaman Salaf As-Shalih) maka tidak mengapa, semisal apa yang 
dikatakan para salaf, mereka mengatakan ‘Fulan Salafi, Fulan Atsari’, 
ini adalah sebuah tazkiyah yang seharusnya, tazkiyah yang wajib’ 
[Muhadhoroh dengan tema Haq Al-Muslim tgl. 16/1/1423H di Thoif]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah :”Penamaan 
dengan As-Salafiyah apabila memang benar maka tidak mengapa, namun 
apabila cuma sekedar pengakuan belaka, maka tidak boleh menamakan dengan
 As-Salafiyyah karena ia tidak berada pada manhaj Salaf” [Al-Ajwibah 
Mufidah. 15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah datang suatu pertanyaan kepada Syaikh Shalih Al-Fauzan 
hafidhahullah yang berbunyi :”Apakah salafiyyah adalah suatu hizb 
(kelompok) dan apakah menisbahkan diri kepadanya adalah hal yang 
tercela?” Maka beliau menjawab :”Salafiyah adalah Firqotun Najiah 
(kelompok yang selamat) mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, bukan 
suatu hizb yang dinamakan sekarang sebagai kelompok-kelompok atau 
partai-partai, sesungguhnya dia adalah suatu jama’ah, jama’ah yang 
berjalan di atas sunnah.. maka Salafiyyah adalah jama’ah yang berjalan 
di atas madzhab Salaf dan di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam dan para sahabatnya, dan dia bukanlah salah satu kelompok dari
 kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jama’ah 
yang terdahulu dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan 
terus berlanjut terus menerus di atas kebenaran dan nampak hingga hari 
Kiamat sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam” [Dari kaset yang berjudul At-Tahdzir Minal Bida’]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan termasuk mereka juga (para ulama yang membolehkan penisbahan 
tersebut) Syaikh Al-Fadzil Ali bin Nasir Faqihi di dalam kitabnya 
Al-Fath Al-Mubin Bir –Rod Ala Naqd Abdillah Al-Ghumari Likitabil Arbain”
 [Lihat Kun Salafiyan Alal Jaddah 44]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MENCOMOT FATWA-FATWA ULAMA YANG SEJALAN DENGAN KEPENTINGAN MEREKA&lt;br /&gt;
Diakhir buku penerbit menambahkan lampiran-lampiran buku mereka ini yang
 dua kali lipat dibandingkan dengan buku aslinya, di antara 
lampiran-lampiran tersebut terdapat Fatwa Lajnah Daimah yang mengkritik 
sebagian tulisan dari Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, yang pada 
hari-hari ini Hizbiyyun begitu semangat di dalam menebarkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap para hizbiyyun ini sangat mengherankan sekali, karena sepanjang 
sejarah perjalanan mereka baru kali ini mereka begitu antusias untuk 
menukil sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia. Tempo hari mereka 
menuding para ulama Saudi hanyalah ulama haid dan nifas, tidak paham 
realita, antek-antek CIA, ulama penguasa, dan sederet tuduhan-tuduhan 
keji yang lainnya!. Kemudian hari ini dengan serempak mereka menukil 
sebuah fatwa dari para ulama Saudi Arabia dan menyebarluaskannya?!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan Fatwa Lajnah Daimah ini kami nukilkan tanggapan dari 
Syaikh Dr Husain bin Abdul Aziz Alu Syaikh –Imam Masjid Nabawi dan Qadhi
 di Pengadilan Tinggi Madinah Nabawiyyah- di dalam ceramah beliau yang 
berjudul Ala Thoriqi Sunnah pada tanggal 5 Rabi’ul Awwal 1422H : “Yang 
kami yakini dan yang kami pertanggung jawabkan dihadapan Allah 
bahwasanya Syaikh Ali hafidhahullah dan gurunya –Syaikh Al-Albani 
rahimahullah- paling jauh di antara manusia dari madzhab Murji’ah 
–sebagaimana telah kami katakan sebelumnya. Syaikh Ali –demikian juga 
Syaikh Al-Albani rahimahullah- -jika dikatakan kepadanya : Apakah 
defenisi iman? Tidak akan kita dapati dalam ucapannya perkataan Murji’ah
 yang mengatakan bahwa amalan tidak masuk dalam keimanan. Bahkan 
nash-nash Syaikh Al-Albani rahimahullah menashkan bahwa defenisi iman 
adalah :”Keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan amalan 
dengan anggota tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan 
kemaksiatan” [Lihat Tanbihat Mutawaimah hal. 553-557]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENUTUP&lt;br /&gt;
Inilah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari sebagian bantahan 
terhadap syubhat-syubhat buku ini, yang intinya bahwa buku ini hendak 
menjatuhkan manhaj tashnif untuk mengaburkan antara ahli Sunnah dan ahli
 bid’ah dan sekaligus menjauhkan manusia dari manhaj Salafush Shalih. 
Semoga Alah Subhanahu wa Ta’ala selalu meneguhkan kita di atas sunnah 
dan menjauhkan kita dari semua kebid’ahan. Amin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 8, Th. Ke-7 1429/2008. 
Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : 
Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]&lt;br /&gt;
_______&lt;br /&gt;
Footnote &lt;br /&gt;
[1]. Di dalam terjemahnya tertulis Al-Uqdah, ini adalah kekeliruan dari penerjemah&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;(Sumber : &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/&quot;&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/2344900155718243340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/beda-salaf-dengan-salafi-sebuah-makar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/2344900155718243340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/2344900155718243340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/beda-salaf-dengan-salafi-sebuah-makar.html' title='BEDA SALAF DENGAN SALAFI SEBUAH MAKAR UNTUK MENJATUHKAN MANHAJ SALAFI  Oleh Abu Ahmad As-Salafi'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-5944555830160003549</id><published>2012-10-12T21:24:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T21:24:37.959-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Download Audio Kajian (Dari Berbagai Sumber) </title><content type='html'>&lt;strong&gt;Download Audio Kajian (Dari Berbagai Sumber) :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/2009/09/14/ustadz-abdul-barr/&quot;&gt;Ustadz Abdul Barr&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/08/02/ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/&quot;&gt;Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/15/ustadz-abdul-haq/&quot;&gt;Ustadz Abdul Haq&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/16/ustadz-abdul-muthi-al-maidani/&quot;&gt;Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/09/28/ustadz-abdul-qadir-al-atsari/&quot;&gt;Ustadz Abdul Qadir Al Atsari&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/12/ustadz-abdullah-al-bughury/&quot;&gt;Ustadz Abdullah Al Bughury&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/2010/11/14/ustadz-abdullah-amin/&quot;&gt;Ustadz Abdullah Amin&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/03/30/ustadz-abdullah-saleh-hadromi/&quot;&gt;Ustadz Abdullah Saleh Hadromi&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/01/15/ustadz-abdullah-taslim/&quot;&gt;Ustadz Abdullah Taslim&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/16/ustadz-abdullah-zaen/&quot;&gt;Ustadz Abdullah Zaen&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/09/29/ustadz-abu-abdil-muhsin-firanda-andirja/&quot;&gt;Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/16/ustadz-abu-abdurrahman-abdul-aziz-as-salafy/&quot;&gt;Ustadz Abu Abdurrahman Abdul Aziz As Salafy&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/17/ustadz-abu-faqih-muhammad/&quot;&gt;Ustadz Abu Faqih Muhammad&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/23/ustadz-abu-hamzah-yusuf/&quot;&gt;Ustadz Abu Hamzah Yusuf&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/12/ustadz-abu-haydar-as-sundawy/&quot;&gt;Ustadz Abu Haydar As Sundawy&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/07/24/ustadz-abu-ihsan-al-atsary/&quot;&gt;Ustadz Abu Ihsan Al Atsary&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/23/ustadz-abu-isa/&quot;&gt;Ustadz Abu Isa&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/29/ustadz-abu-karimah-askariy-bin-jamal-al-bugisiy/&quot;&gt;Ustadz Abu Karimah ‘Askariy Bin Jamal Al Bugisiy &lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/15/ustadz-abu-qotadah/&quot;&gt;Ustadz Abu Qotadah&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/23/ustadz-abu-umar-basyir/&quot;&gt;Ustadz Abu Umar Basyir&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/2009/02/15/ustadz-abu-ubaidah-yusuf-as-sidawi/&quot;&gt;Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as Sidawy&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/09/27/ustadz-abu-zubeir-al-hawary/&quot;&gt;Ustadz Abu Zubeir Al Hawary&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/2010/06/17/download-audio-ustadz-agus-tanaya/&quot;&gt;Ustadz Agus Tanaya&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/01/10/ustadz-ahmad-rofii/&quot;&gt;Ustadz Ahmad Rofi’i&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/07/ustadz-ahmad-sabiq/&quot;&gt;Ustadz Ahmad Sabiq&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/24/ustadz-ali-basuki/&quot;&gt;Ustadz Ali Basuki&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/20/ustadz-ali-musri/&quot;&gt;Ustadz Ali Musri&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/02/01/ustadz-ali-saman/&quot;&gt;Ustadz Ali Saman&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/20/ustadz-anas-burhanuddin/&quot;&gt;Ustadz Anas Burhanuddin&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/2010/11/21/ustadz-anwar-zein/&quot;&gt;Ustadz Anwar Zein&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/10/18/ustadz-abu-mushlih-ari-wahyudi/&quot;&gt;Ustadz Ari Wahyudi&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/20/ustadz-arifin-badri/&quot;&gt;Ustadz Arifin Badri&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/20/ustadz-arifin-riddin/&quot;&gt;Ustadz Arifin Riddin&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/01/26/ustadz-aris-munandar/&quot;&gt;Ustadz Aris Munandar&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/08/02/ustadz-armen-halim-naro-rahimahullah/&quot;&gt;Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/09/14/ustadz-aunur-rofiq-bin-ghufron/&quot;&gt;Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/09/28/ustadz-badrusalam/&quot;&gt;Ustadz Badrusalam&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/01/01/ustadz-dzulqornain/&quot;&gt;Ustadz Dzulqornain&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/01/01/ustadz-kholid-syamhudi/&quot;&gt;Ustadz Kholid Syamhudi&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/24/ustadz-maududi-abdullah/&quot;&gt;Ustadz Maududi Abdullah&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/29/ustadz-mubarok-bamuallim/&quot;&gt;Ustadz Mubarok Bamu’allim&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/09/26/ustadz-muhammad-abduh-tuasikal/&quot;&gt;Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/16/ustadz-muhammad-umar-as-sewed/&quot;&gt;Ustadz Muhammad Umar As Sewed&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/12/07/ustadz-muhammad-zaki/&quot;&gt;Ustadz Muhammad Zaki&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/09/17/ustadz-nurdin-al-bukhori/&quot;&gt;Ustadz Nurdin Al Bukhori&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/2010/06/17/ustadz-subhan-bawazier/&quot;&gt;Ustadz Subhan Bawazier&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2009/02/01/ustadz-usamah-mahri/&quot;&gt;Ustadz Usamah Mahri&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/11/23/ustadz-yazid-bin-abdul-qadir-jawwas/&quot;&gt;Ustadz Yazid Bin Abdul Qodir Jawas&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;http://alqiyamah.wordpress.com/audio/2008/10/04/ustadz-zainal-abidin/&quot;&gt;Ustadz Zainal Abidin&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;strong&gt;TOP DOWNLOAD :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Ustadz Armen Halim Naro&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ustadz Yazid Bin Abdul Qodir Jawwas (http://alqiyamah.wordpress.com) &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/5944555830160003549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/download-audio-kajian-dari-berbagai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/5944555830160003549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/5944555830160003549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/download-audio-kajian-dari-berbagai.html' title='Download Audio Kajian (Dari Berbagai Sumber) '/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-1219714513091404089</id><published>2012-10-12T21:12:00.003-07:00</published><updated>2012-10-12T21:16:23.730-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Malaikat - Manusia Dan Jin Tidak Dapat Mengetahui Yang Ghaib, Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf</title><content type='html'>Istilah “penampakan” kian akrab di telinga masyarakat kita 
akhir-akhir ini. Bagaimana pandangan syariat menyoroti hal ini? 
Bagaimana pula dengan keyakinan bahwa sebagian manusia bisa menge&lt;span id=&quot;more-737&quot;&gt;&lt;/span&gt;tahui hal-hal ghaib? Simak bahasan berikut!&lt;br /&gt;
Mempercayai hal-hal yang ghaib merupakan salah satu syarat dari benarnya keimanan. Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. 
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا 
رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ 
إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ. 
أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ&lt;br /&gt;
“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, 
petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada 
yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang 
Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab 
(Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah 
diturunkan sebelummu. Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) 
akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, 
dan merekalah orang-orang yang beruntung. ” (Al-Baqarah: 1-5)&lt;br /&gt;
Ghaib 
adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia, 
seperti surga, neraka dan apa yang ada di dalamnya, alam malaikat, hari 
akhir, alam langit dan yang lainnya yang tidak bisa diketahui manusia 
kecuali bila ada pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala. (Lihat 
Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/53)&lt;br /&gt;
Alam jin dan wujud jin dalam bentuk 
asli seperti yang telah Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala ciptakan adalah ghaib 
bagi kita. Namun golongan jin dapat berubah-ubah bentuk –dengan 
kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala– dan amat mungkin bagi mereka 
melakukan penampakan, sehingga kita dapat melihatnya dalam wujud yang 
bukan aslinya. Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari 
suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. ” (Al-A’raf: 27)&lt;br /&gt;
Dari
 Abu As-Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah, beliau bercerita bahwa dirinya 
pernah berkunjung ke rumah Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu &#39;anhu, 
katanya: “Aku mendapatinya tengah mengerjakan shalat, akupun duduk 
menunggunya hingga beliau selesai. Tiba-tiba aku mendengar adanya 
gerakan pada bejana tempat minum yang ada di pojok rumah. Aku menoleh ke
 arahnya dan ternyata ada seekor ular. Aku segera meloncat untuk 
membunuhnya, namun Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar aku duduk. 
Ketika ia selesai dari shalatnya, ia menunjuk ke sebuah rumah yang ada 
di kampung itu sambil berkata: ‘Apakah engkau lihat rumah itu?’ ‘Ya,’ 
jawabku. Ia kemudian menuturkan, ‘Dahulu yang tinggal di rumah itu 
adalah seorang pemuda yang baru saja menjadi pengantin. Kala itu kami 
berangkat bersama Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam ke Khandaq 
dan pemuda itupun ikut bersama kami. Saat tengah hari, pemuda itu 
meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam untuk 
pulang menemui istrinya. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam 
mengizinkannya sambil berpesan: ‘Bawalah senjatamu karena aku khawatir 
engkau bertemu dengan orang-orang dari Bani Quraidhah. ’ Pemuda itu 
mengambil senjatanya, kemudian pulang menemui istrinya. Setibanya di 
rumah, ternyata istrinya sedang berdiri di antara dua daun pintu. Ia 
mengarahkan tombaknya kepada istrinya untuk melukainya karena merasa 
cemburu karena istrinya berada di luar rumah. Istrinya berkata 
kepadanya: “Tahan dulu tombakmu, dan masuklah ke dalam rumah sehingga 
engkau akan tahu apa yang menyebabkan aku sampai keluar rumah!”&lt;br /&gt;
Pemuda
 itu masuk, dan ternyata terdapat seekor ular besar yang melingkar di 
atas tempat tidur. Pemuda itu lantas menghunuskan tombaknya dan 
menusukkannya pada ular tersebut. Setelah itu, ia keluar dan menancapkan
 tombaknya di dinding rumah. Ular itu (yang belum mati, red. ) 
menyerangnya dan terjadilah pergumulan dengan ular tersebut. Tidak 
diketahui secara pasti mana di antara keduanya yang lebih dahulu mati, 
ular atau pemuda itu. ’&lt;br /&gt;
Abu Sa’id radhiallahu &#39;anhu melanjutkan 
ceritanya: ‘Kami menghadap Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan 
melaporkan kejadian itu kepadanya dan kami sampaikan kepada beliau: 
‘Mohonlah kepada Allah agar menghidupkannya demi kebahagiaan kami. ’ 
Beliau menjawab: ‘Mohonlah ampun untuk shahabat kalian itu!’&lt;br /&gt;
Selanjutnya
 beliau bersabda: ‘Sesungguhnya di Madinah terdapat golongan jin yang 
telah masuk Islam, maka jika kalian melihat sebagian mereka –dalam wujud
 ular– berilah peringatan tiga hari. Dan apabila masih terlihat olehmu 
setelah itu, bunuhlah ia, karena sebenarnya dia adalah setan. ” (HR. 
Muslim no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah)1&lt;br /&gt;
Para Rasul Tidak Mengetahui yang Ghaib&lt;br /&gt;
Telah disebutkan sebelumnya
 bahwa sekumpulan jin datang kepada Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, 
kemudian mendengarkan bacaan Al-Qur`an. Ketika itu Nabi Shallallahu 
&#39;alaihi wa sallam tidak mengetahui kehadiran mereka kecuali setelah 
sebuah pohon memberitahunya –dan Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala Maha Kuasa 
untuk menjadikan pohon dapat berbicara– seperti yang disebutkan Al-Imam 
Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu &#39;anhu.
 Ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib kecuali 
yang telah Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala kabarkan. (Nashihati li Ahlis 
Sunnah Minal Jin)&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
قُلْ لاَ أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ 
الْغَيْبَ وَلاَ أَقُوْلُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا 
يُوْحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي اْلأَعْمَى وَالْبَصِيْرُ أَفَلاَ 
تَتَفَكَّرُوْنَ&lt;br /&gt;
“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan 
Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak 
pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak 
mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. ’ Katakanlah: ‘Apakah 
sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak 
memikirkannya?” (Al-An’am: 50)&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala juga berfirman:&lt;br /&gt;
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ 
اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ 
وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ
 يُؤْمِنُوْنَ&lt;br /&gt;
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan 
tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan 
sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan 
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak 
lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi 
orang-orang yang beriman’. ” (Al-A’raf: 188)&lt;br /&gt;
Para Malaikat Tidak Mengetahui yang Ghaib&lt;br /&gt;
Kendatipun para malaikat
 adalah mahluk yang dekat di sisi Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala, namun untuk
 urusan ghaib ternyata mereka pun tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu 
wa Ta&#39;ala berfirman saat pertama kali hendak menciptakan manusia:&lt;br /&gt;
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ 
خَلِيْفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ 
الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي 
أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ. وَعَلَّمَ آدَمَ اْلأَسْمَاءَ كُلَّهَا 
ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِي بِأَسْمَاءِ 
هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ 
لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ&lt;br /&gt;
“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: 
‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. ’ 
Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
 orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, 
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan 
Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu 
tidak ketahui. ’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
 seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu 
berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang 
orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada 
yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.
 Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’. ” 
(Al-Baqarah: 30-32) Kaum Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib&lt;br /&gt;
Banyak 
sekali orang yang tertipu dan keliru kemudian mengira jika bangsa jin 
mengetahui yang ghaib, terutama bagi mereka yang terjun dalam kancah 
sihir dan perdukunan. Akibatnya, kepercayaan dan ketergantungan mereka 
terhadap jin sangatlah besar sehingga menggiring mereka kepada 
kekufuran. &lt;br /&gt;
Padahal Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala dengan tegas telah mementahkan anggapan ini dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ 
إِلاَّ دَابَّةُ اْلأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ 
تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا 
لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ&lt;br /&gt;
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang
 menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan 
tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau 
sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam
 siksa yang menghinakan. ” (Saba`: 14)&lt;br /&gt;
Manusia Tidak Dapat Mengetahui Alam Ghaib&lt;br /&gt;
Jika para rasul yang 
merupakan utusan Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala dalam menyampaikan 
syariat-Nya kepada manusia tidak mengetahui hal yang ghaib sedikitpun, 
maka sudah tentu manusia secara umum tidak ada yang dapat mengetahui 
alam ghaib atau menjangkau batasan-batasannya. Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala
 hanya memerintahkan agar mengimani perkara yang ghaib dengan keimanan 
yang benar. &lt;br /&gt;
Keyakinan seperti ini agaknya sudah mulai membias. 
Apalagi saat ini banyak sekali orang yang menampilkan dirinya sebagai 
narasumber untuk urusan-urusan yang ghaib, mampu menjawab 
pertanyaan-pertanyaan terkait dengan masa depan seseorang, dari mulai 
jodoh, karir, bisnis, atau yang lainnya. &lt;br /&gt;
Kata ‘dukun’ barangkali 
sekarang ini jarang didengar dan bahkan serta merta mereka akan menolak 
bila dikatakan dukun. Dalihnya, apalagi kalau bukan seputar “Kami tidak 
meminta syarat-syarat apapun kepada anda”, “Kami tidak menyuruh memotong
 ayam putih”, dan sebagainya. Padahal praktek seperti itu adalah praktek
 dukun juga. Bedanya, dukun sekarang ini berpendidikan sehingga bahasa 
yang digunakannya pun bahasa-bahasa ilmiah, sehingga mereka jelas enggan
 disebut dukun. &lt;br /&gt;
Tak ada seorang pun yang dapat melihat dan 
mengetahui perkara ghaib, menentukan ini dan itu terhadap sesuatu yang 
belum dan akan terjadi di masa datang. Jika toh bisa, itu semata-mata 
bantuan dan tipuan dari setan, sehingga dusta bila itu dihasilkan dari 
latihan dan olah jiwa. &lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوْهُ إِلاَّ 
فَرِيْقًا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ 
سُلْطَانٍ إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِاْلآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ 
مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌ&lt;br /&gt;
“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya
 terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian 
orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap 
mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman
 kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang hal 
itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu. ” (Saba`: 20-21)&lt;br /&gt;
Ada 
pula sebagian manusia yang memiliki aqidah rusak, di mana mereka 
meyakini adanya sebagian orang yang keberadaannya ghaib dari pandangan 
manusia, dan biasanya identik dengan orang-orang yang dianggap telah 
suci jiwanya. Mereka mengistilahkannya dengan roh suci atau rijalul 
ghaib. &lt;br /&gt;
Ketahuilah bahwa tidak ada istilah manusia ghaib. Tidak ada 
pula istilah rijalul ghaib di tengah-tengah manusia. Rijalul ghaib itu 
tiada lain adalah jin. Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا&lt;br /&gt;
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia 
meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka 
jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. ” (Al-Jin: 6) 
(Lihat Qa’idah ‘Azhimah, hal. 152)&lt;br /&gt;
Alam ghaib tetaplah ghaib, sesuatu
 yang tidak bisa diketahui dan dilihat manusia kecuali apa yang telah 
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala beritakan. &lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلاَّ مَنِ 
ارْتَضَى مِنْ رَسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ 
خَلْفِهِ رَصَدًا&lt;br /&gt;
“(Dia adalah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak 
memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada 
rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan 
penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. ” (Al-Jin: 26-27)
 Kunci-kunci Ghaib adalah Milik Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala Semata&lt;br /&gt;
Sesungguhnya
 tak ada seorangpun yang mengetahui perkara ghaib dan hal-hal yang 
berhubungan dengannya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala. Dan Allah 
Subhanahu wa Ta&#39;ala telah banyak menegaskan hal ini dalam Al-Qur`an. 
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُوْنَ أَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ&lt;br /&gt;
“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang 
mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak 
mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. ” (An-Naml: 65)&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;
إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ 
وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ 
غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ 
خَبِيْرٌ&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang 
Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang 
ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan 
pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang 
dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha 
Mengetahui lagi Maha Mengenal. ” (Luqman: 34)&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala juga berfirman:&lt;br /&gt;
ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ&lt;br /&gt;
“Yang demikian itu ialah Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. ” (As-Sajdah: 6)&lt;br /&gt;
Dalam ayat lainnya:&lt;br /&gt;
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ&lt;br /&gt;
“Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa 
sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa 
yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’. ” (Al-Baqarah: 33)&lt;br /&gt;
Banyak
 sekali dalil-dalil yang berhubungan dengan masalah ini. Namun mungkin 
yang disebutkan di sini, sudah dapat mewakili bahwa Allah-lah yang 
mengetahui hal ihwal alam ghaib. Sedangkan manusia, tak ada yang bisa 
mengetahui dan melihatnya kecuali apa-apa yang telah Allah Subhanahu wa 
Ta&#39;ala kuasakan. &lt;br /&gt;
Mudah-mudahan semua uraian-uraian di atas bermanfaat bagi kita semua. Amin yaa Mujiibas sa`iliin. &lt;br /&gt;
Wal ’ilmu ‘indallah. &lt;br /&gt;
1 Terjadi perbedaan pendapat dalam hal membunuh ular yang berada di 
rumah. Sebagian ulama berpendapat bahwa pemberian peringatan terlebih 
dahulu itu hanya berlaku di Madinah, adapun di tempat selainnya bisa 
langsung dibunuh. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik, dan yang dikuatkan 
oleh Al-Maziri. Sebagian yang lain berpendapat bahwa pemberian 
peringatan terlebih dahulu bersifat umum, bukan hanya di Madinah. 
Kecuali ular Al-Abtar yakni yang berekor pendek dan Dzu Thufyatain, yang
 mempunyai dua garis lurus berwarna putih di punggungnya, boleh langsung
 dibunuh walaupun di rumah. (ed)&lt;br /&gt;
Sumber : www. asysyariah. com</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/1219714513091404089/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/malaikat-manusia-dan-jin-tidak-dapat_12.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1219714513091404089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/1219714513091404089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/10/malaikat-manusia-dan-jin-tidak-dapat_12.html' title='Malaikat - Manusia Dan Jin Tidak Dapat Mengetahui Yang Ghaib, Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf'/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5545590007476336457.post-337828432010820987</id><published>2012-09-24T02:37:00.001-07:00</published><updated>2012-09-24T02:38:19.075-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Spiritual"/><title type='text'>Kajian Audio Video Ustadz Abdul Hakim Abdat </title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;format_title&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/images/formats/tematik.png&quot; title=&quot;Kajian Tematik&quot; /&gt; Kajian Tematik&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/69-kajian-ustadz-abdul-hakim-abdat-campuran.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Kajian Ustadz Abdul Hakim Abdat - Campuran&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/hakim-campuran.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/69-kajian-ustadz-abdul-hakim-abdat-campuran.html&quot;&gt;
                            Kajian Ustadz Abdul Hakim Abdat - Campuran                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                   &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/70-tasfiyah-dan-tarbiyah.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Tasfiyah dan Tarbiyah&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/tasfiyah.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/70-tasfiyah-dan-tarbiyah.html&quot;&gt;
                            Tasfiyah dan Tarbiyah                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;format_title&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/images/formats/folder_video.png&quot; title=&quot;Kajian Video&quot; /&gt; Kajian Video&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/127-lau-kaana-khairan-la-sabaquuna-ilaihi.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Lau Kaana Khairan La Sabaquuna Ilaihi&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/laukaana.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/127-lau-kaana-khairan-la-sabaquuna-ilaihi.html&quot;&gt;
                            Lau Kaana Khairan La Sabaquuna Ilaihi                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/7-telah-datang-zamannya.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Telah Datang Zamannya&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/zamannya.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/7-telah-datang-zamannya.html&quot;&gt;
                            Telah Datang Zamannya                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/8-kembali-kepada-al-quran-dan-as-sunnah-.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah &quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/quran.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/8-kembali-kepada-al-quran-dan-as-sunnah-.html&quot;&gt;
                            Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah                              &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/118-kehujahan-hadits-dalam-islam.html&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Kehujahan Hadits dalam Islam&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/hujah_hadits.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/118-kehujahan-hadits-dalam-islam.html&quot;&gt;
                            Kehujahan Hadits dalam Islam                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/96-indahnya-hidup-di-dalam-sunnah.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Indahnya Hidup di dalam Sunnah&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/indahnya%20-sunnah.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/96-indahnya-hidup-di-dalam-sunnah.html&quot;&gt;
                            Indahnya Hidup di dalam Sunnah                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/6-mengenal-imam-bukhari.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Mengenal Imam Bukhari&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/bukhari.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/6-mengenal-imam-bukhari.html&quot;&gt;
                            Mengenal Imam Bukhari                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/101-indahnya-pernikahan.html&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Indahnya Pernikahan&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/indahnya_nikah.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/101-indahnya-pernikahan.html&quot;&gt;
                            Indahnya Pernikahan                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/105-fiqh-para-sahabat-dalam-memahami-al-quran-dan-assunnah.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Fiqh para sahabat dalam memahami Al-Qur&#39;an dan Assunnah&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/fiqh-sahabat.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/105-fiqh-para-sahabat-dalam-memahami-al-quran-dan-assunnah.html&quot;&gt;
                            Fiqh para sahabat dalam memahami Al-Qur&#39;an dan Assunnah                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/119-pentingnya-ilmu-sebelum-beramal.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Pentingnya Ilmu Sebelum Beramal&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/amal.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/119-pentingnya-ilmu-sebelum-beramal.html&quot;&gt;
                            Pentingnya Ilmu Sebelum Beramal                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/124-perjalanan-kehidupan-imam-ahmad-bin-hambal.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Perjalanan Kehidupan Imam Ahmad bin Hambal&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/biografi-imam-ahmad.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/124-perjalanan-kehidupan-imam-ahmad-bin-hambal.html&quot;&gt;
                            Perjalanan Kehidupan Imam Ahmad bin Hambal                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/126-bahaya-hadits-dhoif-dan-maudhu.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Bahaya HAdits Dhoif dan Maudhu&#39;&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/hadits_palsu.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/126-bahaya-hadits-dhoif-dan-maudhu.html&quot;&gt;
                            Bahaya HAdits Dhoif dan Maudhu&#39;                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/128-mereka-bertanya-tentang-manhaj-salaf.html&quot;&gt;
                    &lt;img alt=&quot;Mereka Bertanya Tentang Manhaj Salaf&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/tanya-salaf.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/128-mereka-bertanya-tentang-manhaj-salaf.html&quot;&gt;
                            Mereka Bertanya Tentang Manhaj Salaf                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/106-firqah-firqah-sesat-di-dalam-islam.html&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Firqah-firqah Sesat di dalam Islam&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/firqoh_sesat.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/106-firqah-firqah-sesat-di-dalam-islam.html&quot;&gt;
                            Firqah-firqah Sesat di dalam Islam                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/104-keutamaan-para-sahabat-nabi.html&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Keutamaan Para Sahabat Nabi&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/ketamaan_shabat.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/104-keutamaan-para-sahabat-nabi.html&quot;&gt;
                            Keutamaan Para Sahabat Nabi                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;data&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;120&quot;&gt;&lt;a class=&quot;image&quot; href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/125-mencintai-hadits-nabi.html&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Mencintai Hadits Nabi&quot; class=&quot;image_115_llista&quot; src=&quot;http://ahsan.tv/components/com_muscol/helpers/image.php?file=/home2/dokumenn/public_html/ahsan.tv/images/albums/cinta_rasul.jpg&amp;amp;width=115&quot; /&gt;                &lt;/a&gt;
            &lt;/td&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;div class=&quot;album_name&quot;&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;a href=&quot;http://ahsan.tv/kajian/A/4-ustadz-abdul-hakim-bin-amir-abdat/125-mencintai-hadits-nabi.html&quot;&gt;
                            Mencintai Hadits Nabi                             &lt;/a&gt;
                        &lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td&gt;&lt;div class=&quot;artist_name&quot;&gt;
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat                   &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;right&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;rating&quot;&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;40%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                        &lt;td align=&quot;left&quot; width=&quot;60%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;details&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
        &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
            &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;
                    &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
                        &lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; style=&quot;width: 100%px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;label_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;value_detailed_album&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;/td&gt;
                    &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
            &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/td&gt;
         &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/feeds/337828432010820987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/09/kajian-audio-video-ustadz-abdul-hakim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/337828432010820987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5545590007476336457/posts/default/337828432010820987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahmad-faudzi.blogspot.com/2012/09/kajian-audio-video-ustadz-abdul-hakim.html' title='Kajian Audio Video Ustadz Abdul Hakim Abdat '/><author><name>Ciung Wanara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08791990354575414329</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi255fA0P-MGhAPsmCRB9AfzNZB8oZ2WblkObhaZcGKy8klPRn972LU9w6ktFsdKcfbXADgW3LSM3QqVK7vRAiXAj3LfkBlWqFif9vLpMy2CX15ua61UOAEExg2lhfgN_M/s220/o.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>