<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Penyejuk Hati</title><description>Kisah-kisah jiwa yang suci dan Perjalanan rohani...</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Kang Deds)</managingEditor><pubDate>Fri, 8 Nov 2024 22:41:09 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Kisah-kisah jiwa yang suci dan Perjalanan rohani...</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Makna Ihsan Menurut Syech Siti Jennar</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2014/05/makna-ihsan-menurut-syech-siti-jennar.html</link><category>Syekh Siti Jenar</category><category>Tarekat</category><category>Tasauf</category><category>wali</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 1 May 2014 07:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-6749711247611488277</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;
"I&lt;/span&gt;tulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oleh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pribadi adalah pancaran roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Mengenal Nama Syekh Siti Jenar</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2014/04/mengenal-nama-syekh-siti-jenar.html</link><category>Syekh Siti Jenar</category><category>Tarekat</category><category>Tasauf</category><category>wali</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Fri, 25 Apr 2014 10:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-1709607542955969024</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpWs3fGbN-rEoFcD8x9xelXBIcUlVxzQqLb48h9Xm53WMPkncY6ld1USD71P6UABIpZbci6WR9RFIWLq00vcNwLBCVQmTMvBVhm0UkD6YYuzdApjp6-ucjAwL4hIYeGTh8OXdok2Rlye-9/s1600/jenn+copy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpWs3fGbN-rEoFcD8x9xelXBIcUlVxzQqLb48h9Xm53WMPkncY6ld1USD71P6UABIpZbci6WR9RFIWLq00vcNwLBCVQmTMvBVhm0UkD6YYuzdApjp6-ucjAwL4hIYeGTh8OXdok2Rlye-9/s1600/jenn+copy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;S&lt;/span&gt;yekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Asal Usul Syekh Siti Jenar&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817), dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing......
Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Padepokan Giri Amparan Jati....
Setelah diasuh oleh Ki Danusela samapai usia 5 tahun, pada sekitar tahun 1431 M, Syekh Siti Jenar kecil (San Ali) diserahkan kepada Syekh Datuk Kahfi, pengasuh Pedepokan Giri Amparan Jati, agar dididik agama Islam yg berpusat di Cirebon oleh Kerajaan Sunda di sebut sebagai musu(h) alit [musuh halus].&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Padepokan Giri Amparan Jati ini, San Ali menyelesaikan berbagai pelajaran keagamaan, terutama nahwu, sharaf, balaghah, ilmu tafsir, musthalah hadist, ushul fiqih dan manthiq. Ia menjadi santri generasi kedua. Sedang yg akan menjadi santri generasi ketiga adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah baru datang ke Cirebon, bersamaan dgn pulangnya Syekh Siti Jenar dari perantauannya di Timur Tengah sekitar tahun 1463, dalam status sebagai siswa Padepokan Giri Amparan Jati, dgn usia sekitar 17-an tahun.....
Pada tahun 1446 M, setelah 15 tahun penuh menimba ilmu di Padepokan Amparan Jati, ia bertekad untuk keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Sebagai titik pijaknya, ia bertekad untuk mencari “sangkan-paran” dirinya.
Tujuan pertmanya adalah Pajajaran yg dipenuhi oleh para pertapa dan ahli hikmah Hindu-Budha. Di Pajajaran, Syekh Siti Jenar mempelajari kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya Majapahit. Inti dari kitab Catur Viphala ini mencakup empat pokok laku utama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak adal lagi sesuatu yg ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dgn Dia Yang Hampa, Dia Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dgn “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yg meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’ fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yg bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”. 
Dari Pajajaran San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, menemui Aria Damar, seorang adipati, sekaligus pengamal sufi-kebatinan, santri Maulana Ibrahim Samarkandi. Pada masa tuanya, Aria Damar bermukim di tepi sungai Ogan, Kampung Pedamaran.
Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448-1450 M. bersama Aria Abdillah ini, San Ali mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan alam semesta yg dijabarkan dari konsep “nurun ‘ala nur” (cahaya Maha Cahaya), atau yg kemudian dikenal sebagai kosmologi emanasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari Palembang, San Ali melanjutkan perjalanan ke Malaka dan banyak bergaul dgn para bangsawan suku Tamil maupun Malayu. Dari hubungan baiknya itu, membawa San Ali untuk memasuki dunia bisnis dgn menjadi saudagar emas dan barang kelontong. Pergaulan di dunia bisnis tsb dimanfaatkan oleh San Ali untuk mempelajari berbagai karakter nafsu manusia, sekaligus untuk menguji laku zuhudnya ditengah gelimang harta. Selain menjadi saudagar, Syekh Siti jenar juga menyiarkan agama Islam yg oleh masyarakat setempat diberi gelar Syekh jabaranta. Di Malaka ini pula, ia bertemu dgn Datuk Musa, putra Syekh Datuk Ahmad. Dari uwaknya ini, Syekh Datuk Ahmad, San Ali dianugerahi nama keluarga dan nama ke-ulama-an Syekh Datuk ‘Abdul Jalil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Pencerahan Rohani di Baghdad&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah mengetahui bahwa dirinya merupakan salah satu dari keluarga besar ahlul bait (keturunan Rasulullah), Syekh Siti Jenar semakin memiliki keinginan kuat segera pergi ke Timur Tengah terutama pusat kota suci Makkah.....
Dalam perjalanan ini, dari pembicaraan mengenai hakikat sufi bersama ulama Malaka asal Baghdad Ahmad al-Mubasyarah al-Tawalud di sepanjang perjalanan. Syekh Siti Jenar mampu menyimpan satu perbendaharaan baru, bagi perjalanan rohaninya yaitu “ke-Esaan af’al Allah”, yakni kesadaran bahwa setiap gerak dan segala peristiwa yg tergelar di alam semesta ini, baik yg terlihat maupun yg tidak terlihat pada hakikatnya adalah af’al Allah. Ini menambah semangatnya untuk mengetahui dan merasakan langsung bagaimana af’al Allah itu optimal bekerja dalam dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inilah pangkal pandangan yg dikemudian hari memunculkan tuduhan dari Dewan Wali, bahwa Syekh Siti Jenar menganut paham Jabariyah. Padahal bukan itu pemahaman yg dialami dan dirasakan Syekh Siti Jenar. Bukan pada dimensi perbuatan alam atau manusianya sebagai tolak titik pandang akan tetapi justru perbuatan Allah melalui iradah dan quradah-NYA yg bekerja melalui diri manusia, sebagai khalifah-NYA di alam lahir. Ia juga sampai pada suatu kesadaran bahwa semua yg nampak ada dan memiliki nama, pada hakikatnya hanya memiliki satu sumber nama, yakni Dia Yang Wujud dari segala yg maujud.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesampainya di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak ini pula, Syekh Siti Jenar bersentuhan dgn paham Syi’ah Ja’fariyyah, yg di kenal sebagai madzhab ahl al-bayt.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dgn Baik tradisi sufi dari al-Thawasinnya al-Hallaj (858-922), al-Bushtamii (w.874), Kitab al-Shidq-nya al-Kharaj (w.899), Kitab al-Ta’aruf al-Kalabadzi (w.995), Risalah-nya al-Qusyairi (w.1074), futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam-nya Ibnu ‘Arabi (1165-1240), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111), dan al-Jili (w.1428). secara kebetulan periode al-jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun. Sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yg masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan sebenarnya Syekh Siti Jenar-lah yg pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sementara itu para wali anggota Dewan Wali menyebarluaskan ajaran Islam syar’i madzhabi yg ketat. Sebagian memang mengajarkan tasawuf, namun tasawuf tarekati, yg kebanyakkan beralur pada paham Imam Ghazali. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada 3 kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakhaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak. Masyarakat yg dibangunnya nanti dikenal sebagai komunitas Lemah Abang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari sekian banyak kitab sufi yg dibaca dan dipahaminya, yg paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Alahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awamil (Manusia Sempurna dalam Pengetahuan tenatang sesuatu yg pertama dan terakhir). Ketiga kitab tersebut, semuanya adalah puncak dari ulama sufi Syekh ‘Abdul Karim al-Jili.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terutama kitab al-Insan al-Kamil, Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teologi-sufi Syekh Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili, disamping itu karena proses pencarian spiritualnya yg memiliki ujung pemahaman yg mirip dgn secara praktis/’amali-al-Hallaj; dan secara filosofis mirip dgn al-Jili dan Ibnu ‘Arabi.
Syekh Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yg digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yg terpenting, memiliki banyak kemiripan dgn pengalaman rohani yg sudah dilewatkannya, serta yg akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yg banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yg digelar diberbagai sama’ khana. Sama’ khana adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khana mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad ke-9 (Schimmel; 1986, hlm. 185). Pada masa itu grup musik sufi yg terkenal adalah al-Qawwal dgn penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yg menyelubunginya telah tersingkap. Dgn ini seseorang akan menjadi berbeda dgn umumnya manusia); dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajaliyat melalui Roh al-haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yg membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Syekh Siti Jenar mendapatkan kenyataan memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.
Bahkan setiap kali ia melantunkan dzikir dikedalaman lubuk hatinya dgn sendirinya ia merasakan denting dzikir dan menangkap suara dzikir yg berbunyi aneh, Subhani, alhamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni (mahasuci aku, segala puji untukku, tiada tuhan selain aku, maha besar aku, sembahlah aku). Walaupun telinganya mendengarkan orang di sekitarnya membaca dzikir Subhana Allah, al-hamduli Allahi, la ilaha illa Allah, Allahu Akbar, fa’buduhu, namun suara yg di dengar lubuk hatinya adalah dzikir nafsi, sebagai cerminan hasil man ‘arafa bafsahu faqad ‘arafa Rabbahu tersebut. Sampai di sini, Syekh Siti Jenar semakin memahami makna hadist Rasulullah “al-Insan sirri wa ana sirruhu” (Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya).
Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar sama dgn ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tsb mengalami nasib yg baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari perenungannya mengenai dunia nafsu manusia, hal ini membawa Syekh Siti Jenar menuai keberhasilan menaklukkan tujuh hijab, yg menjadi penghalang utama pendakian rohani seorang salik (pencari kebenaran). Tujuh hijab itu adalah lembah kasal (kemalasan naluri dan rohani manusia); jurang futur (nafsu menelan makhluk/orang lain); gurun malal (sikap mudah berputus asa dalam menempuh jalan rohani); gurun riya’ (bangga rohani); rimba sum’ah (pamer rohani); samudera ‘ujub (kesombongan intelektual dan kesombongan ragawi); dan benteng hajbun (penghalang akal dan nurani).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ingsun, Allah dan Kemanunggalan (Syekh Siti Jenar)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. “Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
Allah, kang murba amisesa.”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pernyataan Syekh Siti Jenar diatas secara garis besarnya adalah: “Pernyataan roh yg bertemu-hadapan dgn Allah, yg menyembah Allah, yg disembah Allah, yg meliputi segala sesuatu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yg maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yg disebut mir’ah al-haya’ (cermin yg memalukan). Bagi orang yg sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yg menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai Rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;2 “Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera."&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yg jika sudah diminta oleh yg empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yg siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yg bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulanan, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib memimpin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karena hanya Dialah yg menunjukkan semua budi baik. Jadi pancaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan nama-NYA.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;3.“Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sunsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya?"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa Pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan batu, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yg artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.”
Dari pernyataan itu nampak Syekh Siti Jenar memandang alam makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Kedua hal tersebut merupakan barang baru ciptaan Tuhan yg sama-sama akan mengalami kerusakan atau tidak kekal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada sisi lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tsb mempunyai muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar manusia yg utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maka mikrokosmos manusia, tidak lain adalah Blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.....
Baginya Manusia terdiri dari jiwa dan raga yg intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (Sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yg dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yg suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah......
Sedangkan rohnya yg menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;4. “Segala sesuatu yg terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai hal yg dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yg mengatakan bahwa yg baik dari Allah dan yg buruk dari selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan dari luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situ lah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yg dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-NYA, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil "Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (Qs.Ash-Shaffat:96)", yg maknanya Allah yg menciptakan engkau dan segala apa yg engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yg terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yg terlempar dari tangan saya itu adalah berdasarkan kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil "Wa ma ramaita idz ramaita walakinna Allaha rama (Qs.Al-Anfal:17)", maksudnya bukanlah engkau yg melempar, melainkan Allah jua yg melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-‘adzimi. Rosulullah bersabda “La tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi", yg maksudnya tidak akan bergerak satu dzarah pun melainkan atas idzin Allah.”
Eksistensi manusia yg manunggal ini akan nampak lebih jelas peranannya, dimana manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yg menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, kemana af’al itu dipancarkan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;5. “Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yg cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketahuilah juga apa yg dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dgn seorang manusia biasa seperti yg lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, Gusti dan kawula lenyap, yg tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam ADA sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dgn tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yg menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yg sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yg terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yg kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar menyatakan dgn tegas bahwa dirinya sebagaiTuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu hal yg selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zoetmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, dimana roh suci terjerat badan wadag yg dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yg menguburkan kebenaran sejati dan berusaha menguburkan kesadaran Ingsun Sejati...&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpWs3fGbN-rEoFcD8x9xelXBIcUlVxzQqLb48h9Xm53WMPkncY6ld1USD71P6UABIpZbci6WR9RFIWLq00vcNwLBCVQmTMvBVhm0UkD6YYuzdApjp6-ucjAwL4hIYeGTh8OXdok2Rlye-9/s72-c/jenn+copy.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sasahidan Syekh Siti Jenar…</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2014/04/sasahidan-syekh-siti-jenar.html</link><category>Syekh Siti Jenar</category><category>Tarekat</category><category>Tasauf</category><category>wali</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 10 Apr 2014 08:04:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-9168673410888083917</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;
I
&lt;/span&gt;nilah sebuah terjemahan dari salah satu peninggalan Syech Siti Jennar&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;“Aku angkat saksi di hadapan Dzat-Ku sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku, dan Aku angkat saksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku, sesungguhnya yg disebut Allah Ingsun diri sendiri (badan-Ku), Rasul itu Rahsa-Ku, Muhammad itu cahaya-Ku, Akulah Dzat yg hidup tidak akan terkena mati, Akulah Dzat yang selalu ingat tidak pernah lupa, Akulah Dzat yg kekal tidak ada perubahan dalam segala keadaan, (bagi-Ku) tidak ada yg samar sesuatupun, Akulah Dzat yang Maha Menguasai, yang Kuasa dan Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benerang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Aku yg meliputi sekalian alam dengan kodrat-Ku.”
&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Pendapat-pendapat lain tentang pemahaman dari pengalaman dan perjalanannya, anda bisa lacak di dalam berbagai karya klasik atau buku lama...yaitu..:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Serat Dewaroetji, Tan Khoen Swie, Kediri, 1928&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Serat Gatolotjo, Tan Khoen Swie, Kediri, 1931&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Serat Kebo Kenanga, Tan Khoen Swie, Kediri&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Serat Soeloek Walisongo, Tan Khoen Swie&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Serat Tjebolek, terbitan van Dorp&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Serat Tjentini, terbitan Bat. Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 4 Jl, Batavia, 1912-1915&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Kitab Wedha Mantra, bunga rampai ajaran para wali yang dihimpun oleh Sang Indrajit, diterbitkan oleh Sadu Budi Solo. PAda tahun 1979 sudah mengalami cetak ulang yg ke-12&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Suluk Walisanga, karya R. Tanojo yg di dalamnya memuat dialog-dialog antara Syekh Siti Jenar dengan Anggota Dewan Walisanga, gubahan dari karya Sunan Giri II.&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Wejangan Walisanga, dihimpun oleh Wiryapanitra, diterbitkan oleh TB. Sadu Budi Solo, sekitar tahun 1969&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Banyak pihak yang konroversi bahkan menyesatkannya terhadap pendapat-pendapat Beliau terutama di kalangan ahli Syariah, juga sebagian dari kalangan ahli Tarekat. Padahal terkadang metoda-metodanya banyak juga yang memakainya walau tidak disadari.....&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Nasehat Rasulullah SAW Terhadap Ali Bin Abi Thalib RA</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2014/03/nasehat-rasulullah-saw-terhadap-ali-bin.html</link><category>Nasehat</category><category>Sahabat</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 27 Mar 2014 07:41:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-4765041646917778</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;
Y
&lt;/span&gt;a Ali,&lt;br /&gt;
Tidak ada Kefakiran yang lebih hebat dari pada kebodohan,&lt;br /&gt;
tidak ada harta yang lebih berharga dari pada akal,
tak ada kesepian yang lebih sunyi dari pada ujub (kagum pada diri sendiri),&lt;br /&gt;
tak ada kekuatan yang lebih kuat dari pada musyawarah,&lt;br /&gt;
tak ada iman yang lebih hebat dari pada keyakinan,&lt;br /&gt;
tak ada wara’ yang lebih baik dari pada menahan diri,&lt;br /&gt;
tidak ada keindahan selain budi pekerti
dan&lt;br /&gt;
tidak ada ibadah yang melebihi tafakur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya Ali,&lt;br /&gt;
Bahwa segala sesuatu itu ada penyakitnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Penyakit bicara adalah bohong,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit ilmu adalah lupa,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit ibadah adalah riya,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit budi pekerti adalah memuji diri,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit berani adalah agresif,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit pemurah adalah menyebut-nyebut pemberian,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit cantik adalah sombong,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit bangsawan adalah bangga,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit malu adalah lemah,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit mulia adalah menonjolkan diri,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit kaya adalah kikir,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;penyakit royal adalah berlebih-lebihan
dan penyakit agama adalah hawa nafsu.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya Ali,&lt;br /&gt;
Apabila engkau disanjung orang dihadapan mu,
maka bacalah kalimat ini:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari pada apa yang mereka katakan.
Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui,
dan janganlah aku di siksa tentang apa-apa yang mereka telah ucapkan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Penyejuk Hati</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2014/02/penyejuk-hati.html</link><category>Nasehat</category><category>Penyejuk Hati</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 13 Feb 2014 10:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-3675245030455348333</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;
R
&lt;/span&gt;asulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;&amp;nbsp;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 6416)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bacalah berulang kalam dari Rabb yang mulia di atas berikut maknanya&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Setelahnya, apa yang kamu pahami dari kehidupan dunia?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Masihkah dunia membuaimu? Masihkah angan-anganmu melambung tuk meraih gemerlapnya? Masihkah engkau tertipu dengan kesenangannya?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam Tafsir-nya, “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan akhir kesudahannya dan kesudahan penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan terjadi pada anak-anak dunia . Engkau dapati mereka menghabiskan waktu-waktu dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan melengahkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun janji (pahala dan surga, –pent.) dan ancaman (adzab dan neraka, –pent.) yang ada di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai permainan dan gurauan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah daripada membuangnya untuk sesuatu yang manfaatnya sedikit.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan, “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan permisalan bagi dunia dengan hujan yang turun di atas bumi. Suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan hewan. Hingga ketika bumi telah memakai perhiasan dan keindahannya, dan para penanamnya, yang cita- cita dan pandangan mereka hanya sebatas dunia, pun terkagum-kagum karenanya. Datanglah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akhirnya tanaman itu layu, menguning, kering dan hancur. Bumi kembali kepada keadaannya semula, seakan- akan belum pernah ada tetumbuhan yang hijau di atasnya. Demikianlah dunia. Tatkala pemiliknya bermegah-megahan dengannya, apa saja yang ia inginkan dari tuntutan dunia dapat ia peroleh. Apa saja perkara dunia yang ia tuju, ia dapatkan pintu-pintunya terbuka. Namun tiba-tiba ketetapan takdir menimpanya berupa hilangnya dunianya dari tangannya. Hilangnya kekuasaannya… Jadilah ia meninggalkan dunia dengan tangan kosong, tidak ada bekal yang dibawanya kecuali kain kafan….” (Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 841)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkisah, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;&amp;nbsp;أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;&amp;nbsp;لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tatkala orang-orang yang utama, mulia lagi berakal mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan dunia, mereka pun enggan untuk tenggelam dalam kesenangannya. Apatah lagi mereka mengetahui bahwa Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia penuh kezuhudan dan memperingatkan para shahabatnya dari fitnah dunia. Mereka pun mengambil dunia sekedarnya dan mengeluarkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak- banyaknya. Mereka ambil sekedar yang mencukupi dan mereka tinggalkan yang melalaikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pun memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti sore. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adapun dalam perbuatan, beliau radhiyallahu ‘anhuma merupakan shahabat yang terkenal dengan kezuhudan dan sifat qana’ahnya (merasa cukup walau dengan yang sedikit) terhadap dunia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pemuda Quraisy yang paling dapat menahan dirinya dari dunia adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala`, hal. 3/211)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibnu Baththal rahimahullahu menjelaskan berkenaan dengan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas, “Dalam hadits ini terdapat isyarat untuk mengutamakan sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan mengambil perbekalan secukupnya. Sebagaimana musafir tidak membutuhkan bekal lebih dari apa yang dapat mengantarkannya sampai ke tujuan, demikian pula seorang mukmin di dunia ini, ia tidak butuh lebih dari apa yang dapat menyampaikannya ke tempat akhirnya.” (Fathul Bari, 11/282)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata memberikan penjelasan terhadap hadits ini, “Janganlah engkau condong kepada dunia. Jangan engkau jadikan dunia sebagai tanah air (tempat menetap), dan jangan pula pernah terbetik di jiwamu untuk hidup kekal di dalamnya. Jangan engkau terpaut kepada dunia kecuali sekadar terkaitnya seorang asing pada selain tanah airnya, di mana ia ingin segera meninggalkan negeri asing tersebut guna kembali kepada keluarganya.” (Syarhu Al-Arba’in An- Nawawiyyah fil Ahadits Ash-Shahihah An-Nabawiyyah, hal. 105)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيْرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ: مَا يُبْكِيْكَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيْمَا هُمَا فِيْهِ وَأَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. فَقَالَ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا اْلآخِرَةُ؟&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah .” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabinya:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;ادْعُ اللهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ فَارِسَ وَالرُّوْمَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لاَ يَعْبُدُوْنَ اللهَ. وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik- baik) mereka di dalam kehidupan dunia &amp;nbsp;?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Demikianlah nilai dunia, wahai saudariku. Dan tergambar bagimu bagaimana orang- orang yang bertakwa lagi cendikia itu mengarungi dunia mereka. Mereka enggan untuk tenggelam di dalamnya, karena dunia hanyalah tempat penyeberangan… Di ujung sana menanti negeri keabadian yang keutamaannya tiada terbandingi dengan dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: x-large;"&gt;&amp;nbsp;مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, “Makna hadits di atas adalah pendeknya masa dunia dan fananya kelezatannya bila dibandingkan dengan kelanggengan akhirat berikut kelezatan dan kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel di jari bila dibandingkan dengan air yang masih tersisa di lautan.” (Al-Minhaj, 17/190)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lihatlah demikian kecilnya perbendaharaan dunia bila dibandingkan dengan akhirat. Maka siapa lagi yang tertipu oleh dunia selain orang yang pandir, karena dunia takkan dapat menipu orang yang cerdas dan berakal. (Bahjatun Nazhirin, 1/531)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(sumber: qurandansunnah.wordpress.com)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Makna Syahadatain (Arti "Laa Ilaaha Illa llah dan Muhammadarrosululloh")</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2013/10/mana-syahadatain-arti-la-ilaha-illalloh_19.html</link><category>Ma'na Syahadatain</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Sat, 19 Oct 2013 07:42:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-690058600514663321</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8732786516945091596" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8732786516945091596" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8732786516945091596" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8732786516945091596" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;
O
&lt;/span&gt;rang yang mengucapkan syahadat tanpa memahami dan mengamalkan isinya, maka kesaksiannya itu kan sia-sia dan tidak memberi manfaat kepadanya. Masih banyak umat Islam yang belum memahami makna syahadat. Sehingga mereka bersedia menerima dan menetapkan peribadatan kepada selain Alloh. Mereka bahkan memutarbalikan hakikat makna syahadat. Mereka tidak merasa bahwa perbuatan mengkeramatkan kuburan, jimat, bautu-batuan, bahkan menuhankan manusia dalah perbuatan sesat yang bertentangan dengan syahadat. Watak orang-orang musyrik dahulu dan sekarang sebenarnya sama. Mereka sama-sama mengingkari orang-orang yang menyeru ke jalan Alloh. Watak semacam ini dinamakan jahil terhadap makna syahadat. Dewasa ini di penjuru dunia watak seperti ini sudah menggejala, inilah yang dinamakan jahiliyah modern. Mereka bersyahadat, tetapi seruan dan tingkah lakunya menyimpang dari aturan Alloh.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Kita tentu tidak ingin menjadi anggota barisan orang orang yang jahil terhadap makna syahadat. Untuk itu kita harus terus berusaha mendalami, memahami dan mengamalkan syahadatain yang selalu kita ikrarkan. Syahadatain berarti dua kalimat syahadah, yaitu syahadah uluhiyah dan syahadah risalah. Mari kita kaji makna atau arti dari kalimat syahadat :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Syahadah Uluhiyah Laa Ilaaha Illalloh. (47:19, Hadits) :&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;“Barang siapa mati dan ia mengetahui bahwa tiada ilah selain Alloh, maka ia masuk surga.” (HR. Muslim) 
”Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Alloh.” (47:19)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Uraian makna dan fungsi dari kalimat Laa Ilaaha Illalloh adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;Laa &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/b&gt;      : &lt;/b&gt;berfungsi sebagai kata “penolakan/meniadakan”.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;Ilaaha&lt;/b&gt;  : &lt;/b&gt;berfungsi sebagai kata “yang ditolak/ditiadakan”&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Illa &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;       : berfungsi sebagai kata “pengukuhan”.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;Alloh &amp;nbsp;&lt;/b&gt;    : &lt;/b&gt;berfungsi sebagai kata “yang dikukuhkan”.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Penolakan
segala bentuk “ilah” diikuti dengan pengukuhan Alloh sebagai satu-satunya
“Ilah”.Jika kita mengikrarkan Laa ilaha Illalloh dalam diri kita maka tumbuhlah
:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Al-Baro’ (berlepas diri / bersih diri).&lt;/b&gt; 
yang berarti : mengingkari, memusuhi, memutuskan hubungan, dan membenci; sehingga akan menghancurkan setiap bentuk ilaah (selain Alloh). 
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali, “ (60:4)&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Al-Wala’ (loyalitas)&lt;/b&gt; 
yang berarti : thoat, membela, mendekati, mencintai;  sehingga membangun/menetapkan Alloh semata yang dituju/diibadahi. 
 “ llah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (2:257). 
“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (7:196)&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Dengan menghancurkan semua bentuk “ilah”, dan menetapkan Alloh semata yang diibadahi,  kita bisa meraih “ikhlas” yang sejati sebagai syarat mutlak diterimanya amall serta benteng utama dari serangan syaitan yang menyesatkan  (15:39-40). Berpihak kepada selain Alloh atau memalingkan diri kepada selain Alloh adalah sama dengan mengadakan tandingan terhadap-Nya dan merupakan tindak kejahatan akidah dan menyesatkan. Na’udzubillahi min dzalik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b style="text-align: justify;"&gt;AL-ILAAHU :&lt;/b&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt; Memiliki beberapa ma’na sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Yang diharapkan.   wajib diberikan padanya loyalitas.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yang ditakuti.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yang diibadahi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yang wajib diberikan padanya ketaatan&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yang diikuti. (al ma’bud)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yang wajib diberikan padanya otoritas&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Yang dicintai.&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Jika kita ber-ilaah kepada Alloh berarti yang diharapkan, yang ditakuti, yang diikuti dan yang dicintai hanyalah Alloh :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Seseorang yang menyatakan laa ilaaha illalloh berarti hanya Alloh-lah yang menjadi harapannya (3:8-9).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berpegang pada Laa ilaaha illalloh tidak akan takut kecuali pada Alloh (9:18). Takut godaan syetan, takut kepada binatang buas, kepada api dan lain sebagainya yang membahayakan keselamatannya adalah ketakutan yang naluriah, tetapi bila takut itu sudah menguasai diri seseorang sehingga mengarahkan dan mengendalikan dan menguasainya mengalahkan rasa takutnya pada Alloh berarti bertentangan dengan Laa ilaha illalloh.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seseorang yang berikrar Laa ilaha illalloh dituntut untuk taat dan mengikuti kehendak-kehendak atau aturan  Alloh.(4:60, 33:36). Walaupun kehendak-kehendak Alloh itu tidak kita sukai. (2:216).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bila kita ber-ilah kepada Alloh berarti kita menyerahkan kecintaan yang paling utama hanya untuk Alloh.(9:24). ”Tidak ada kesenangan dan kenikmatanyang sempurna bagi hati kecuali dalam kecintaan kepada Alloh dan bertaqorub (mendekatkan diri) kepada-Nya dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya. Kecintaan tak akan terjadi kecuali dengan berpaling dari kecintaan kepada selain-Nya. Inilah hakikat laa ilaaha illalloh. Inilah millah Ibrahim AS dan semua Nabi dan Rasul.” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
Dari uraian diatas “ilah” dapat didefinisikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Sesuatu yang mendominasi hati dengan rasa cinta, takut, harap dan semisalnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sesuatu yang dianggap penting/dipentingkan oleh manusia sedemikian rupa sehingga ia membiarkan dirinya dikuasai/didominasi oleh sesuatu tersebut.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Masih banyak penyimpangan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sesuatu yang dijadikan “ilaah”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; selain Alloh oleh para manusia :
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Hawa nafsu (45:23).
 &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berhala (16:20).
 &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jin   (72:6, 6:100).
 &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Manusia : Nabi, Ulama’,&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rahib-rahib, dll (9:31).
 &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Thoghut (4:60-61, 2:257), dll&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian lebih kita pelajari bahwa yang dimaksud “Laa ilaha Ilalloh” memiliki arti atau mencakup beberapa pengertian sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Tiada pencipta selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada pemberi rizki selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada pemilik/pengasa mutlak selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada pembuat hukum selain Alloh&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada pemerintah selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada yang dicintai selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada yang ditakuti selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada yang diharapkan selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada yang memberi manfaat dan madhorot selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada yang menghidupkan dan mematikan selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada mengabulkan permohonan selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada yang dimintai perlindungan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada daya dan kekuatan selain dari Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada yang diagungkan selain Alloh&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dimohon pertolongannya&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
Syahadah risalah &amp;nbsp;Muhammadurrasululloh :
Merupakan pengakuan terhadap Muhammad SAW sebagai duta Alloh bagi alam semesta serta ikrar kesiapan untuk menjadikan beliau sebagai “uswah” (contoh) dalam kehidupan. Konsepsi Wala’ dan Baro’ :&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
&lt;li&gt;Alloh &amp;nbsp;==&amp;gt;&amp;nbsp;sumber nilainya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rasululloh ==&amp;gt; contoh pelaksanaanya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mu’min  ==&amp;gt; pelaksananya.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;
Bagaimana cara menghancurkan ilaah selain Alloh dan membangun/menetapkan Alloh semata yang dituju/diibadahi adalah dengan ittiba’ (mengikut) kepada Muhammad Rasululloh.(33:21, 3:31).&lt;/span&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ubai bin Ka'ab</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2013/02/ubai-bin-kaab.html</link><category>Sahabat</category><category>Ubai Bin Ka'ab</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Sun, 10 Feb 2013 09:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-4127749508823706676</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Katakanlah : Ia kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan kalian perbuatan kawannya sendiri..!"(Qs. Al An'am :65)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;U
&lt;/span&gt;bai bin Ka'ab adalah warga Anshar dari suku Kharaj, ikut dalam perjanjian 'Aqabah dan perang badar dan peperangan lainnya.Beliau mempunyai derajat yang mulia dikalangan Muslimin angkatan pertama. Beliau termasuk perintis penulis wahyu dan surat-surat dan juga termasuk golongan terkemuka dalam penghafalan Al Qur'an, membaca dan memahami ayat-ayatnya. 
Pada suatu hari Rasulullah Saw mengatakan kepadanya : &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Wahai ubai bin Ka'ab! Saya dititahkan untuk menyampaikan Al Qur'an padamu ". Ubai maklum bahwa Rasulullah hanya menerima perintah dari wahyu.., maka dengan harap-harap cemas ia bertanya "Wahai Rasulullah, Ibu bapakku menjadi tebusan anda! Apakah kepada anda disebutkan namaku?" Ujar Rasulullah "Benar! Namamu dan turunanmu ditingkat tertinggi...!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seorang muslim yang mempunyai kedudukan seperti ini dihati Nabi saw pastilah seorang muslim yang amat agung. 

Setelah Rasulullah wafat, Ubai bin Ka'ab tetap setia dan tekun baik dalam beribadat, teguh dalam beragama dan utama dalam keluhuran budi. Disamping itu tiada henti-hentinya beliau menjadi pengawas kaumnya. Diingatkannya mereka akan masa-masa Rasulullah masih hidup, diperingatkan keteguhan iman mereka, sifat zuhud, perangai dan budi pekerti mereka. Diantara ucapannya yang agung adalah &lt;i&gt;" Selagi kita bersama Rasulullah tujuan kita satu...., Tetapi setelah ditinggalkan beliau tujuan kita bermacam-macam ada yang ke kiri dan ada yang kekanan...!"&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengenai dunia ubai bin Ka'ab mernah menuliskannya sebagi berikut : &lt;i&gt;" Sesungguhnya makanan manusia itu sendiri dapat diambil sebagai perumpaan bagi dunia, biar dikatakannya enak atau tidak, tetap yang penting menjadi apa nantinya ..?".&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian kaum muslimin mulai menyeleweng dengan menjilat kepada pembesar-pembesar mereka, ia tampil dan melepaskan kata-katanya yang tajam : &lt;b&gt;&lt;i&gt;" Celakalah mereka, demi Tuhan mereka celaka dan mencelakan! Tetapi saya tidak menyesal dengan nasib mereka, hanya saya sayangkan adalah kaum muslimin yang celaka disebabkan mereka…!"&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ubai bin Ka'ab selalu menangis setiap teringat akan Allah dan hari akhir, setiap ayat Al Qur'an yang didengarnya menggetarkan hatinya. Dan beliau sangat merasa berduka tak terlukiskan setiap mendengar ayat :&lt;i&gt;"Katakanlah : Ia kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan kalian perbuatan kawannya sendiri..!"(Qs. Al An'am :65)&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yang paling dicemaskan oleh Ubai bin Ka'ab terhadap ummat adalah datangnya suatu genarasi ummat yang bercakar-cakaran sesama mereka. Beliau selalu memohon keselamatan kepada Allah dan berkat karunia dan rahmatNya sehingga beliau menemui Tuhannya dalam keadaan beriman,aman dan tentram. 
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Tasawuf</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/04/tasawuf.html</link><category>Tasawuf</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Tue, 3 Apr 2012 12:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-8251043051239479094</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;dikutip dari tetangga sebelah &lt;span style="color: blue;"&gt;soni69.tripod.com/artikel/tasawuf.htm,&lt;/span&gt; untuk lebih menyemarakkan khazanah dakwah bilqolam dan memudahkan para pencari penyejuk hati yang sedang galau.&lt;b style="color: blue;"&gt; Selamat Menikmati.....&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="stylekoran"&gt;T  &lt;/span&gt;ujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;ASAL KATA SUFI &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa. &lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Saf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. &lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Ahl al-Suffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah, (pelana) sebagai bantal. Ahl al-Suffah, sungguhpun tak mempunyai apa-apa, berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. &lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara semua pendapat itu, pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Jadi, sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w.150 H).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;ASAL-USUL TASAWUF &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai, walaupun untuk sementara, berhati baik, pemurah dan suka menolong.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Filsafat sufi juga demikian. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang suci, tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih dari filsafat Yunani, pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tapi, sama dengan Pythagoras, dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor, dan tak dapat kembali ke Tuhan. Selama masih kotor, ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. Kalau sudah bersih, ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh, sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. Sesudah bercerai dengan tubuh, roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. Tapi, konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini, memang terdapat dalam tasawuf Islam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari agama Buddha, pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad, yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita perlu mencatat, agama Hindu dan Buddha, filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada, tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan, "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil."&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a, tetapi berseru, agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Dengan kata lain, ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. Tentang dekatnya Tuhan, digambarkan oleh ayat berikut, "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan, maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. al-Baqarah 115). Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh, untuk menjumpainya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia, "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. Qaf 16). Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri. Karena itu hadis mengatakan, "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya."&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mencari Tuhan, sufi tak perlu pergi jauh; cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi, "Bukanlah kamu yang membunuh mereka, tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. al-Anfal 17).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disini, sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut, "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, dan melalui mereka Aku-pun dikenal."&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu, dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad, persatuan manusia dengan Tuhan, hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud, kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan; dan inilah hakikat tasawuf. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Terhinanya Seorang Penghianat</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/terhinanya-seorang-penghianat.html</link><category>Nasehat</category><category>Terhinanya Seorang Penghianat</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Tue, 20 Mar 2012 23:40:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-9089594391206403227</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Anas ra. Mereka berkata, Nabi saw, bersabda “Setiap penghianat, pada hari kiamat nanti mempunyai sebuah bendera yang bertuliskan “Inilah Penghianatan Fulan”. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dalam hadits lain disebutkan. Dari Abu Sa’ad Al-Khudriy ra. Bahwa Nabi saw. Bersabda: “Setiap penghianatan pada hari kiamat nanti mempunyai sebuah bendera yang ditancapkan di belakangnya, kemudian dengan bendera itu ia ditarik ke atas sesuai dengan penghianatannya. Ingatlah tiada penghianatan yang lebih jahat melebihi pemimpin rakyat yang berkhianat. (HR. Muslim)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8Lc0T4eGcKMLCMzWNUUKrkwgI3s1H0UwMjiQgftmrElPMHX5gDhouVywGko8Av6R9dsVKM8sGGQtCQx8ERAuhwOUwNYXuBUC8nE6T7b7QpmehZa3iVNcZnZHmmqu9G41tDTZQXWoYAZoA/s1600/penggal.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8Lc0T4eGcKMLCMzWNUUKrkwgI3s1H0UwMjiQgftmrElPMHX5gDhouVywGko8Av6R9dsVKM8sGGQtCQx8ERAuhwOUwNYXuBUC8nE6T7b7QpmehZa3iVNcZnZHmmqu9G41tDTZQXWoYAZoA/s200/penggal.jpeg" height="95" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="stylekoran"&gt;D&lt;/span&gt;ikutip dari kitab “Mawa’izul Asfuriyah yang ditulis oleh Syekh Mohammad bin Abi bakar, sebuah cerita menarik  pada  zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengutus dua puluh orang tentaranya melaksanakan tugas rahasia kesebuah negara musuh. Malangnya, dalam dalam melaksanakan tugas tersebut, pasukan ini berhasil ditawan musuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiga orang dari tentara itu dibawa ke hadapan raja untuk diadili dan dijatuhkan hukuman. Ketika orang pertama yang ditawan itu dipanggil menghadap sang raja, pilihan yang berat pun disodorkan kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Jika kamu ingin selamat, kamu harus kembali kepada agama nenek moyangmu. Jika kamu bersedia maka kamu berhak memilih tiga hadiah yang telah aku persiapkan, yaitu kedudukan, harta dan wanita,” ujar sang raja dengan suara yang tegas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Orang pertama itu pun menjawab, “Aku tidak mau memilih ketiganya. Aku menolak semuanya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendengar jawaban itu, sang raja menjadi murka. Ia menyuruh para algojonya untuk memenggal kepalanya. Ketika kepala orang itu dipenggal, dan kepalanya tergeletak diatas lantai, terjadilah peristiwa yang menakjubkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atas kekuasaan Allah swt. Kepala yang mengucurkan darah itu bisa berputar dan menuliskan sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi:&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai, maka masuklah kamu kedalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam syurga-Ku”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selesai menuliskan ayat tersebut, kepala lelaki itu diam tergeletak dengan wajah yang jernih dan bercahaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian sang raja memanggil orang kedua untuk diberikan tawaran yang sama, bahkan dengan sombongnya sang raja memperlihatkan nasib orang pertama yang telah dipenggal kepalanya karena menolak untuk kembali kepada ajaran agama nenek moyangnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Apakah kamu bersedia?” tanya sang raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Tidak” jawab orang kedua dengan tegas. Maka ketika itu dipenggallah kepanya, dengan ajaib pula kepala itu pun seperti kepala orang pertama dan menuliskan sebuah ayat,&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Maka dia berada dalam kehidupan yang diridhai.”&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Dia pun akhirnya meninggal dengan wajah yang bening bercahaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari ketiga lelaki yang ditawan itu, kini tinggal seorang saja yang masih hidup. Lelaki itu pun dipanggil dan ditawari hal yang sama. Ternyata lelaki ini menerima tawaran sang raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akan tetapi seorang menteri mengajukan keberatan kepada rajanya itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Wahai baginda,  aku meragukan penerimaan orang ini. Aku khawatir kalau  ini hanya satu siasat saja. Kepada kedua temannya saja dia berani berkhianat, apalagi kepada kita sebagai musuhnya,”  ungkap sang menteri mengemukakan keberatannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya sang raja memutuskan untuk menguji lelaki itu. Diambilnya lagi seorang tawanan yang lain, kemudian lelaki itu disuruh membunuh tawanan yang tidak lain adalah kawannya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanpa ragu-ragu, lelaki itu memenuhi perintah dari sang raja dengan membunuh temannya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melihat kejadian tersebut, sang raja pun akhirnya percaya kepada ucapan menterinya. Maka ia memerintahkan agar kepala lelaki itu pun dipenggal saat itu juga.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya kepala lelaki itu pun mengucurkan darah di lantai dan berputar-putar menuliskan kalimat,&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Apakah kamu hendak merubah nasib orang-orang yang sudah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang-orang yang berada di dalam api neraka?”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah menuliskan kalimat itu dengan darahnya sendiri, kepala lelaki penghianat itu pun berhenti berputar. Tampak jelas sekali wajahnya menakutkan, hitam dan tanpa cahaya. &lt;i&gt;Naudzubillahi min dzalik..&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8Lc0T4eGcKMLCMzWNUUKrkwgI3s1H0UwMjiQgftmrElPMHX5gDhouVywGko8Av6R9dsVKM8sGGQtCQx8ERAuhwOUwNYXuBUC8nE6T7b7QpmehZa3iVNcZnZHmmqu9G41tDTZQXWoYAZoA/s72-c/penggal.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Islam, Iman, dan Ihsan</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/islam-iman-dan-ihsan.html</link><category>dan Ihsan</category><category>Iman</category><category>Islam</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Fri, 16 Mar 2012 09:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-929854999766452976</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;رواه مسلم&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="stylekoran"&gt;D&lt;/span&gt;ari Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata,” Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam ” Rasulullah menjawab,”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata,”Engkau benar,” kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Iman” Rasulullah menjawab,”Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk” Orang tadi berkata,” Engkau benar” Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Ihsan” Rasulullah menjawab,”Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Orang itu berkata lagi,”Beritahukan kepadaku tentang kiamat” Rasulullah menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” selanjutnya orang itu berkata lagi,”beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya” Rasulullah menjawab,” Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.” Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab,” Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah berkata,” Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadis riwayat al-lmam Muslim (Hadis riwayat Muslim, kitab al-iman, no: 9 dan 10, al-Tirmizi, kitab al-iman, no:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2535, beliau berkata: hadis ini hasan shahih, al-Nasaa’ie, kitab al-iman, no: 4904, 4905, Abu Dawud, kitab al-sunnah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;no:4075, Ibn Majah, kitab al-muqaddimah, no: 62 dan 63, Ahmad, musnad&lt;span style="font-size: large;"&gt; العشرة المبشرین&lt;/span&gt; , no: 346).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: cyan;"&gt;&lt;a href="http://al-hadits.net/syarah-arbain-nawawiyah/hadits-2-islam-iman-dan-ihsan/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Penjelasan Hadits &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hati dan Tentaranya</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/hati-dan-tentaranya.html</link><category>Hati dan Tentaranya</category><category>Imam Gozali</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Tue, 13 Mar 2012 09:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-6857739408386161680</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="stylekoran"&gt;&lt;br /&gt;
K&lt;/span&gt; etahuilah bahwa tubuh bagaikan kota, dan akal bagaikan seorang raja yang mengatur kota itu. Kekuatan yang berupa indera lahiriyah dan bathiniyah ibarat tentara dan pembantu-pembantunya. Sementara anggota-anggota tubuh bagaikan rakyatnya. Sedangkan nafsu yang cenderung pada kejahatan (al-ammarah bissu’), yaitu nafsu syahwat dan amarah, bagaikan musuh yang terus menerus melakukan perlawanan terhadap kekuasaanya dan berusaha membinasakan rakyatnya. Sehingga tubuhnya bagaikan benteng, jiwanya sebagai penanggung jawab yang bertugas menjaga dan mengamankannya. Jika ia bersungguh-sungguh dalam berjuang memerangi dan menundukkan musuh, serta memaksa musuh-musuhnya itu untuk menuruti kehendaknya yang baik dan terpuji, maka ia kembali ke hadirat Allah Swt. dalam keadaan terpuji. Sebagaimana firman Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;:&lt;br /&gt;
&lt;div dir="rtl"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (٩٥)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar," (Q.S. Annisa : 95)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Tetapi jika ia melepaskan bentengnya dan menyia-nyiakan rakyatnya, maka ia akan mendapatkan kecaman dan malapetaka, serta akan mendapat azab di sisi Allah di hari kiamat kelak. Pada saat itu, kepadanya dikatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Wahai pengembala jelek, kamu telah makan daging dan minum susu, sementara kamu tidak pernah mencari gembalaanmu yang tersesat dan tidak juga pernah mengobati gembalaanmu yang patah tulang, maka hari ini saya marah dan menghukum kamu”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;-Keajaiban Hati Imam Gojali-&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengapa Harus Bersaudara</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/mengapa-harus-bersaudara.html</link><category>Mengapa Harus Bersaudara</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 8 Mar 2012 08:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-2783652138820570322</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diantara kenikmatan besar yang dikaruniakan Allah kepada kita adalah nikmat persaudaraan iman. Hati yang berserakan dan bertentangan menjadi satu di atas landasan kesatuan iman. Sehingga didapatkan orang yang tua menyayangi yang muda dan yang muda pun menghormati yang tua.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Kaum mukminin seperti satu person, jika kepalanya sakit maka seluruh tubuh pun merasakan demam dan tidak bisa tidur” (HR. Muslim)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div dir="rtl"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: x-large;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (١٠٢)وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.(102)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.)103)" -Ali Imran 102-103-&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ (٦٢)وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٦٣)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan Para mukmin, (62)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman yaitu Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang.). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.(63)" -Al-Anfal 62-63-&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persaudaraan tersebut Allah karuniakan kepada kaum mukminin yang bertaqwa dan bertpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Allohu 'Alam.....)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hakekat Cinta</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/hakekat-cinta.html</link><category>Hakekat Cinta</category><category>Puisi Sufi</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Wed, 7 Mar 2012 00:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-4444682423036984284</guid><description>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/mahabbah-cinta-rabiah-al-adawiyah.html#more"&gt;&lt;i&gt;Dari Mahabbah Cinta Rabia'ah Al-Adawiyah&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau&lt;br /&gt;
Karuniakan kepadaku di dunia ini,&lt;br /&gt;
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu&lt;br /&gt;
Dan apa pun yang akan Engkau&lt;br /&gt;
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,&lt;br /&gt;
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu&lt;br /&gt;
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengabdi kepada Tuhan&lt;br /&gt;
bukan karena takut neraka&lt;br /&gt;
Bukan pula karena mengharap masuk surga&lt;br /&gt;
Tetapi aku mengabdi....&lt;br /&gt;
Karena cintaku pada-Nya&lt;br /&gt;
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu&lt;br /&gt;
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya&lt;br /&gt;
Dan jika aku menyembah-Mu&lt;br /&gt;
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya&lt;br /&gt;
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,&lt;br /&gt;
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu&lt;br /&gt;
yang abadi padaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah buruknya,&lt;br /&gt;
Orang yang menyembah Allah&lt;br /&gt;
Lantaran mengharap surga&lt;br /&gt;
Dan ingin diselamatkan dari api neraka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya surga dan neraka tak ada&lt;br /&gt;
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyembah Allah&lt;br /&gt;
Lantaran mengharap ridha-Nya&lt;br /&gt;
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya&lt;br /&gt;
Sudah cukup menggerakkan hatiku&lt;br /&gt;
Untuk menyembah-Mu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulit menjelaskan apa hakikat cinta&lt;br /&gt;
Ia kerinduan dari gambaran perasaan&lt;br /&gt;
Hanya orang yang merasakan dan mengetahui&lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin&lt;br /&gt;
Engkau dapat menggambarkan&lt;br /&gt;
Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang&lt;br /&gt;
dari hadapan-Nya, walau ujudmu&lt;br /&gt;
Masih ada karena hatimu gembira yang&lt;br /&gt;
Membuat lidahmu kelu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andai cintaku&lt;br /&gt;
Di sisimu sesuai dengan apa&lt;br /&gt;
Yang kulihat dalam mimpi&lt;br /&gt;
Berarti umurku telah terlewati&lt;br /&gt;
Tanpa sedikit pun memberi makna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan, semua yang aku dengar&lt;br /&gt;
di alam raya ini, dari ciptaan-Mu&lt;br /&gt;
Kicauan burung, desiran dedaunan&lt;br /&gt;
Gemericik air pancuran&lt;br /&gt;
Senandung burung tekukur&lt;br /&gt;
Sepoian angin, gelegar guruh&lt;br /&gt;
Dan kilat yang berkejaran&lt;br /&gt;
Kini......&lt;br /&gt;
Aku pahami sebagai pertanda&lt;br /&gt;
Atas keagungan-Mu&lt;br /&gt;
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu&lt;br /&gt;
dan ..........&lt;br /&gt;
Sebagai kabar berita bagi manusia&lt;br /&gt;
Bahwa tak satu pun ada&lt;br /&gt;
Yang menandingi dan menyekutui-Mu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;dikutip dari &lt;i&gt;Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, terbitan Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/mahabbah-cinta-rabiah-al-adawiyah.html</link><category>Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah</category><category>Puisi Sufi</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Mon, 5 Mar 2012 22:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-6795226292262647309</guid><description>Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta&lt;br /&gt;
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu&lt;br /&gt;
Cinta digenggam walau apapun terjadi&lt;br /&gt;
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula&lt;br /&gt;
Liku-liku cinta, terkadang bertemu surga&lt;br /&gt;
Menikmati pertemuan indah dan abadi&lt;br /&gt;
Tapi tak jarang bertemu neraka&lt;br /&gt;
Dalam pertarungan yang tiada berpantai......&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta&lt;br /&gt;
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu&lt;br /&gt;
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu&lt;br /&gt;
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir&lt;br /&gt;
Hingga Engkau ku lihat&lt;br /&gt;
Baik untuk ini maupun untuk itu&lt;br /&gt;
Pujian bukanlah bagiku&lt;br /&gt;
Bagi-Mu pujian untuk semua itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu&lt;br /&gt;
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu&lt;br /&gt;
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip&lt;br /&gt;
Manusia terlena dalam buai tidur lelap&lt;br /&gt;
Pintu pintu istana pun telah rapat&lt;br /&gt;
Tuhanku, demikian malam pun berlalu&lt;br /&gt;
Dan inilah siang datang menjelang&lt;br /&gt;
Aku menjadi resah gelisah&lt;br /&gt;
Apakah persembahan malamku, Engkau terima&lt;br /&gt;
Hingga aku berhak mereguk bahagia&lt;br /&gt;
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,&lt;br /&gt;
Demi kemahakuasaan-Mu&lt;br /&gt;
Inilah yang akan selalu ku lakukan&lt;br /&gt;
Selama Kau beri aku kehidupan&lt;br /&gt;
Demi kemanusian-Mu,&lt;br /&gt;
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu&lt;br /&gt;
Aku tak akan pergi berlalu&lt;br /&gt;
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;dikutip dari &lt;i&gt;Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, terbitan Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jangan Meremehkan Dosa Kecil</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2012/03/jangan-meremehkan-dosa-kecil.html</link><category>Jangan Meremehkan Dosa Kecil</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Sun, 4 Mar 2012 17:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-6640698494782255516</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud, Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil karena bila berkumpul pada seseorang akan menghancurkan dirinya.” Dan, sesungguhnya Rasulullah SAW membuat perumpamaan, bagaikan suatu kaum yang turun ke suatu lembah, lalu hadir pemimpin kaum itu dan menyuruh setiap orang membawa satu potong kayu kecil dan terkumpullah setumpuk kayu yang banyak lalu dibakar sehingga bisa membakar apa saja yang dilempar ke dalamnya.(HR Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Ghazali berkata, “Dosa-dosa kecil saling menarik sahingga pada akhirnya orang mukmin  bisa mengahancurkan pokok keimanannya.” ( Faidhul Qadir juz II hal 127). Para ulama terdahulu sudah mewaspadai bahaya dosa-dosa kecil dan besar sehingga mereka berusaha menjauhinya. Bahkan, mereka melihat dosa-dosa kecil sebagai dosa besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Ghazali menambahkan, dosa kecil menjadi besar karena menganggap kecil dosa tersebut atau karena dilakukan secara terus-menerus. Bila seseorang menganggap yang kecil sebagai dosa besar maka menjadi kecil di hadapan Allah. Dan, sebaliknya bila menganggap dosa sebagai dosa kecil maka dianggap besar di hadapan Allah. Karena, orang menganggap dosa sebagai besar karena adanya penolakan hati untuk melakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anas ra berkata, “Sesungguhnya kamu sekalian melakukan amalan yang menurut kamu lebih kecil dari rambut, padahal kami di masa Nabi menganggapnya sebagai dosa-dosa besar. Rasulullah menegaskan dalam hadisnya bahwa  seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sehingga mati. Dia tidak memberi makan minum dan tidak membiarkan kucing memakan dari tumbuhan di tanah.” (HR Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karenanya, bila seorang menganggap remeh  dosa-dosa kecil maka imannya sudah terkontaminasi dan hilanglah kewibawaannya karena selalu menganggap kecil segala sesuatunya. (Faidhul Qadir juz III hal 127).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dosa kecil bisa menjadi perusak iman karena dua hal; banyaknya dosa kecil terkadang bisa menjadi malapetaka iman. Dan, menganggap remeh dosa kecil akan menjadi dosa besar di hadapan Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah muhasabah. Seperti dikatakan Ibnu Masud, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan dia duduk dan di atasnya ada gunung yang khawatir akan menindihnya, tetapi orang kafir melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di atas hidungnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada dua hal yang menyebabkan dosa-dosa kecil menjadi berbahaya. Pertama, jumlahnya yang menumpuk hingga membawanya pada kehancuran. Kedua, menganggap remeh dosa-dosa kecil dan Allah menganggapnya sebagai dosa besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sikap yang kedua, bermujahadah dan terus berusaha melawan godaan setan. Ketiga, mengetahui akibat negatif dosa yang akan menimbulkan ketidaktenteraman hati, kesengsaraan, dan siksa neraka yang pedih. Keempat, menjauhi semua penyebab dosa dengan cara menjaga pandangan mata, lisan, dan kemaluan.  Wallahu a’lam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber : replubika.co.id, Oleh: Prof Dr KH Achmad Satori Ismail&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>DIANTARA PESAN-PESAN SAYIDINA ALI KARAMALLAHU WAJHAH :</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2011/06/diantara-pesan-pesan-sayidina-ali.html</link><category>Pesan-Pesan Sayidina Ali Karamallahu Wajhah :</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Sat, 11 Jun 2011 14:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-5982060267655788190</guid><description>&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Cukuplah bila aku merasa mulia karena Engkau sebagai Tuhan bagiku dan cukuplah bila aku bangga bahwa aku menjadi hamba bagiMu. Engkau bagiku sebagaimana yang aku cintai, maka berilah aku taufik sebagaimana yang Engkau cintai.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, karena sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa. Bagaimanakah amalan itu hendak diterima?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Janganlah seseorang hamba itu mengharap selain kepada Tuhannya dan janganlah dia takut selain kepada dosanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kecantikan bukan terletak pada pakaian yang dipakai tetapi ia bergantung kepada keelokan akhlak dan budi pekerti. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Alangkah buruknya kepapaan, kalau aku mengadu aku malu, kalau aku berdiam diri aku binasa &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jangan berkawan dgn orang yang tamak karena pada zahirnya ia ingin membahagiakanmu tapi hakikatnya dia akan mencelakan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jauhilah berteman dengan pembohong karena ia boleh menjadikan orang yang dekat lari daripadamu dan sebaliknya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Janganlah berkawan dengan orang yang bakhil karena ia akan melupakanmu di waktu kamu sangat memerlukannya dan jauhilah bersahabat dengan orang yang suka berbuat jahat karena ia tidak malu untuk menjualmu dengan harga yang sangat murah &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hanya lidah yang mau berdusta dan berbohong. Namun pandangan mata, ayunan kedua belah tangan, langkah kedua belah kaki dan pergerakan tubuh atau seluruh anggota badan akan menafikan apa yang diucapkan oleh lidah &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai kapanpun dia tidak akan menjadi orang yang berani &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kekayaan yg sebenar ialah akal , kepapaan yg sebenar ialah rusak akal . Sepi yang sebenarnya ialah kagum dengan diri sendiri dan kemuliaan yang sebenar ialah akhlak yg baik. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, bersolat dan berjihad. Apabila mati orang yang berilmu, maka terdapat suatu kekosongan selain oleh penggantinya (yang berilmu juga) &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Siapa yang dilantik menjadi pemimpin  maka dia hendaklah mengajar dirinya terlebih dahulu sebelum mengajar orang lain. Dan dia hendaklah mempercantik setiap tindak tanduknya seharian sebelum mempercantik orang lain dengan lidahnya. Dan siapa yang mengajar dirinya sendiri serta memperelokkannya lebih layak untuk mendapat kemuliaan daripada mereka yang mengajar dan memperelokkan manusia yang lain&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagi setiap nikmat ada kunci yang membukanya dan ada kunci yang akan menutupnya yang mana kunci pembukanya adalah sabar dan kunci penutupnya adalah malas &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kemarahan orang yang berakal dilihat pada tindak tanduknya dan kemarahan yang ada pada orang bodoh itu dapat dilihat melalui perkataannya. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apabila kamu merasa letih karena berbuat kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan yang dilakukan akan terus kekal. Dan sekiranya kamu gemar dengan dosa maka sesungguhnya kegemaran itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dua nikmat yang sering dilupakan ialah kesehatan dan keselamatan. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peliharalah iman kamu dengan memperbanyak sedekah,bentenglah hartamu dengan mengeluarkan zakat dan tolaklah gelombang bencana bala dengan sentiasa berdoa kepada Allah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Saidina Ali berkata:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; “Wahai manusia, jagalah wasiatku. Jika kamu memegangnya erat-erat dengan sungguh-sungguh sehingga kamu dapat melaksanakannya, niscaya akan dapat keuntungan yang lebih besar darinya. Wasiat itu adalah :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Hendaklah kamu tidak berharap kecuali kepada Tuhanmu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hendaklah kamu tidak takut kecuali kepada dosa-dosamu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hendaklah kamu tidak malu untuk belajar jika tidak tahu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hendaklah orang yang alim berkata : “Aku tidak tahu, “ apabila dia memang tidak tahu.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Saidina Ali r.a berkata :&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tiada solat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu'.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur'an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara' (memelihara diri dan hati-hati dari dosa).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang- menyayangi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya, siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya, siapa yang hilang harga dirinya, berarti dia tidak wara', sedang orang yang tidak wara' itu berarti hatinya mati.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Pesan Hasan Basri</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2011/04/pesan-hasan-basri.html</link><category>Pesan Hasan Basri</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Sat, 2 Apr 2011 13:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-8829666533260684551</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasan Bashri (632-321) dianggap oleh golongan sufi sebagai orang pertama yang membicarakan dan mengajarkan tentang tasawuf. Butir-butir  ajarannya antara lain sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Perasaan takutmu sehingga bertemu dengan hati yang tentram lebih baik dari perasaan tentrammu, yang kemudian menimbulkan takut.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dunia adalah negeri tempat beramal. Barangsiapa yang bertemu dengan dunia dalam rasa benci kepadanya atau zuhud, akan berbahagialah dia dan beroleh faedah dalam persahabatan itu. Tetapi barang siapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya dan perasaannya tersangkut kepadanya, akhirnya dia akan sengsara. Dia akan terbawa kepada suatu masa yang tidak dapat tertahankan deritanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tafakur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat membawa kepada meninggalkan kejahatan itu. Barang yang fana walau bagaimanapun banyaknya, tidaklah dapat menyamai barang yang baqa (kekal), walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari dunia yang cepat datang dan cepat pergi ini, dan yang penuh dengan tipuan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dunia  ini bagaikan seorang  janda tua yang telah bungkuk dan telah banyak bergaul dengan laki-laki.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang yang beriman berduka cita pada pagi hari dan berdka cita pada waktu sorenya, karena ia hidup diantara dua ketakutan. Takut mengenang dosa yang telah lampau, apakah gerangan azab balasan yang akan ditimpakan Tuhan kepadanya, dan takut memikirkan ajal yang masih tinggi, karena tahu bahaya yang sedang mengancamnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Patutlah orang insaf bahwa mati sedang mengancamnya, dan kiamat akan menagih janjinya, dan dihadapan Allah ia akan diadilinya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Banyak duka cita di dunia akan memperteguh semangat amal saleh.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>TASBIH</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2011/01/tasbih.html</link><category>TASBIH</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Fri, 7 Jan 2011 15:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-4382327917046277530</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata Ibnu Abbas : “Saat Allah menciptakan ‘Arasy, para malaikat disuruh mengangkatnya, tetapi mereka tidak kuat karena beratnya, lalu mereka disuruh mengucapkan : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“SUBHANALLOH”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; mendadak menjadi ringan (dan mereka kuat mengangkatnya). Sesudah itu para malaikat membacanya terus menerus, tiada hentinya. Kemudian saat Adam diciptakan ia bersin (disuruh membaca : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“ALHAMDULILLAH”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Sesudah ia membacanya, maka Allah menjawab : “&lt;i&gt;&lt;b&gt;YARAMUKALLAHH”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dan karena rahmat itulah AKU menciptakan kalian (manusia).&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata Malaikat : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Inilah kalimat mulia lagi baik, yang tidak layak diabaikan, lalu direntetkan denga kalimat pertama, menjadi : “SUBHANALLAHI WAL HAMDU LILLAH”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dan mereka membacanya tiada putus-putusnya, hingga Allah mengutus Nabi Nuh as. Karena kaum Nabi Nuh as, adalah manusia pertama pencipta patung-berhala, maka diserukan kepada Nabi Nuh as dan kaumnya agar membaca : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“LAAILAAHA ILLALLAH”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; agar memperoleh ridla Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata para malaikat: “&lt;i&gt;&lt;b&gt;Inilah kalimat keiga yang besar dan baik, lalu disusun dengan dua kalimat tersebut di atas, sehingga mereka membacanya tiada putus-putusnya:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; “&lt;i&gt;&lt;b&gt;SUBHANALLAHI WALHAMDU LILLAHI WALAAILAAHA ILLALLAH”.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian Allah mengutus Nabi Ibrahim dengan berkorban, yang ditebusnya dengan domba, sewaktu ia melihat domba tersebut membaca : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“ALLAHU AKBAR”,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; karena gembiranya melihat nikmat Allah itu. Dan para Malaikat menganggapnya &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Ini kalimat keempat”, yang sungguh besar dan baik, hingga disusun menjadi bacaan: “SUBHANALLAHI WALHAMDULILLAH, WALA ILAAHAA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR”,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Sampai pada saat Jibril menyampaikannya kepada Nabi saw, beliau kagum seraya membaca : “LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAHHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIIM”, Sahut Jibril, susulah dengan kalimat sebelumnya, sehingga akhirnya sempurna menjadi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“SUBHAANALLAHI WALHAMDU LILLAHI WALAA ILAAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL  ADHIIM”.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Shabar Terhadap Musibah</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2010/12/shabar-terhadap-musibah.html</link><category>SHABAR</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Fri, 10 Dec 2010 15:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-4744220509626926575</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Nabi Sulaiman ditinggalkan putranya, ia sangat sedih, lalu datanglah dua malaikat (menghiburnya dengan mendramakan kenyataan yang dialami olehnya), seakan punya urusan (sengketa). Malaikat pertama berkata: Sang raja, aku menanam biji (sudah tumbuh baik) tapi belum kunikmati hasilnya, tahu-tahu dicabut oleh orang ini. Ia menyatakan kebenaran pengaduan orang pertama, bertanya pada orang kedua: kenapa kau lakukan? Jawabnya : &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Aku berjalan menuju jalan raya, ditengah-tengahnya ada tanaman kurang sedap dipandang mata, lalu dipindahkan ke kanan-kiri jalan, tidak tahunya diantaranya ada tanaman orang ini yang kucabut, lalu Nabi Sulaiman bertanya: Kenapa menanam di tengah jalan, tidaktahukah kamu bahwa setiap orang memerlukannya? Jawab Malaikat: Kenapa kau harus sedih dan duka atas kematian anakmu, tidak sadarkah bahwa : Mati adalah jalan menuju akherat?. Kemudian ia taubat, tidak lagi duka berlebihan atas kematian anaknya (demikian hadits dari Abu Darda)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditengah perjlanan, Ibnu Abbas memperoleh berita tentang kematian putrinya, lalu ia membaca : “Innalillahi wa Inna ilaihi raaji’un”. Dan berkata: “Aurat yang ditutupi oleh Allah dan beban yang Dia selesaikan, serta pahala yang Ia datangkan bagiku, kemudian turun dari kendaraannya melakukan shalat 2 raka’at, katanya: Kami melakukan perintah Allah dalam ayat :&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Jadikanlah shabar dan shalat sebagai penolongmu………” (Al-baqarah: 45)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ucapkanlah : &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Inna lillai wa Inna ilaihi raaji’un”.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Ketika seseorang darimu tali sandalnya putus, karena itu termasuk musibah”. (Alhadits).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nabi saw. Bersabda : Barang siapa ditimpa musibah lalu membaca: Inna lillahi wa inna ilahi raaji’un” seperti yang diperintahkan Allah, dan berdoa : Ya Allah berilah pahala bagiku, dalam musibah ini, dan gantilah yang lebih baik, maka Allah memberinya (yang lebih baik). Umi Salamah berkata: lalu ketika Abu Salamah (suaminya) meninggal Aku baca doa tersebut, tetapi teringat siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah, tahu-tahu Allah menggantikannya, Nabi saw. Yang mengawininya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memukul paha sewaktu ditimpa musibah, menggugurkan pahalana, dan yang dianggap sabar adalah pada pukulan pertama (mengekangnya), sedang besarnya pahala sesuai dengan besar kecilnya musibah, dan yang membaca “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un”, Allah pasti menambah pahala baru, seperti saat terjadinya musibah”. (HR.  Shalim Muhammad dengan sanadnya Annas bin Malik).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></item><item><title>Takwa Yang  Dipertunjukkan  Abu Bakar</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2010/11/takwa-yang-dipertunjukkan-abu-bakar.html</link><category>Abu Bakar</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Sat, 27 Nov 2010 14:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-480956826123918521</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-ZinLyyIa45gByzMU3gLnxIH1ktJddroQfRX9UOWMQBpISDIBidRDZtmam-R1e2WNwajLEuyWOGcx_SU_4NgLrGYLgiWXDazXYXNWGP4r6rqqhEfHLsHnGPFbVJ00qt8m00hmfvs-cQAj/s1600/abu.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-ZinLyyIa45gByzMU3gLnxIH1ktJddroQfRX9UOWMQBpISDIBidRDZtmam-R1e2WNwajLEuyWOGcx_SU_4NgLrGYLgiWXDazXYXNWGP4r6rqqhEfHLsHnGPFbVJ00qt8m00hmfvs-cQAj/s200/abu.gif" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ragu lagi bahwa Abu Bakar r.a. merupakan manusia yang paling tinggi mertabatnya dikalangan para sahabat. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menyampaikan berita gembira mengenai kedudukannya yang utama diantara penguni-penghuni syurga  yang maha mulia.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Nama Abu Bakar akan diseru disegenap pintu syurga dan dialah pengikutku yang pertama akan memasukinya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian perasaan takutnya kepada Allah s.w.t. tetap bertakhta dikalbunya. Dia sering berkata: "Alangkah baiknya kalau aku menjadi sebatang pohon  yang ditebang dan dijadikan kayu api" Kadang-kadang dia berkata: "Alangkah baiknya kalau aku ini sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternakan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari dia telah pergi kesebuah taman dimana ia lihat seekor burung sedang berciap-ciap. Katanya: "Wahai burung! Sungguh bertuah kamu. Kau makan minum dan bertebangan dibawah naungan pohon-pohon  kayu tanpa merasa  takut tentang hari perkiraan  Aku ingin menjadi seperti engkau,wahai burung."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rabi'ah Aslami r.a.hu telah bercerita:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Pada suatu hari saya berselisih  dengan Abu Bakar. Selagi  pertengkaran itu berjalan, dia telah mengeluarkan sepatah perkataan kasar terhadap saya. Dengan serta-merta itu juga, dia telah menyadari akan kesalahannya itu lalu berkata: "Wahai saudara, balaslah aku dengan perkataan yang lebih kasar."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya enggan berbuat demikian. Dia memaksa  saya supaya menggunakan perkataan kasar tadi dan berkata hendak mengadukan perkara itu kepada Nabi Muhammad s.a.w. Saya tetap tidak mau mengalah. Dia lalu bangun dan meninggalkan saya. Beberapa orang dari saudara  saya yang menyaksikan peristiwa tadi berkata: "Aneh betul orang itu, dia yang melakukan kesalahan dan dia pula hendak mengadu kepada Nabi Muhammad s.a.w. untuk diadili.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya dengan segera menjawab: " Kamu tahukah siapa dia? Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya berarti menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. dan menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. berarti menyinggung Allah s.w.t., kalau perbuatan aku menyinggung Allah s.w.t., siapakah gerangannya yang akan menyelamatkan aku?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya pun bangun lantas pergi menghadap Nabi Muhammad s.a.w. kepada Nabi Muhammad s.a.w. saya bercerita apa yang telah terjadi. Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Keengganan kamu mengeluarkan kata-kata keasar  itu sudah  pada tempatnya, tetapi untuk mengeluarkan penderitaan batinnya, kamu sekurang-kurangnya dapat berkata: "Semoga Allah s.w.t mengampuni kamu wahai Abu Bakar."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitulah takwa yang telah dipertunjukkan oleh Abu Bakar. Keengganannya menerima pembalasan dialam akhirat menyebabkan dia memaksa Rabiah Aslami supaya mengambil tindakan balas terhadapnya. Kekesalannya dan penderitaan batinnya akibat kesalahannya itu sedemikian rupa sehingga dia sanggup menceritakan segala-galanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan harapan Nabi Muhammad s.a.w. dapat menolong. Bagaimanakah pula perasaan kita, ummat Islam kini selepas melakukan kesalahan yang seperti diatas? Kita seringkali melakukan kesalahan tanpa perasaan takut akan pembalasan sama ada didunia atau pun diakhirat nanti.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-ZinLyyIa45gByzMU3gLnxIH1ktJddroQfRX9UOWMQBpISDIBidRDZtmam-R1e2WNwajLEuyWOGcx_SU_4NgLrGYLgiWXDazXYXNWGP4r6rqqhEfHLsHnGPFbVJ00qt8m00hmfvs-cQAj/s72-c/abu.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Bunda Siti Hajar</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2010/11/bunda-siti-hajar.html</link><category>Bunda Siti Hajar</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Tue, 16 Nov 2010 18:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-7927083405012027249</guid><description>&lt;div style="-moz-background-inline-policy: -moz-initial; background: none repeat scroll 0% 0% rgb(255, 255, 255); border: 1px solid rgb(192, 192, 192); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt0Rm9Y99nTm2WrLqXGE5yOb5lvFWjAqgUpsn0grhJMebwrnWe4mZTpk_Ay3kOKl2tPqQtjRkLO6JJANmHUa7USy9-u-6v385_lTweMPf_hg99xSO95siuVMRIVRI9M-IdxC9_w3BlWEjB/s1600/ibu.jpg.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt0Rm9Y99nTm2WrLqXGE5yOb5lvFWjAqgUpsn0grhJMebwrnWe4mZTpk_Ay3kOKl2tPqQtjRkLO6JJANmHUa7USy9-u-6v385_lTweMPf_hg99xSO95siuVMRIVRI9M-IdxC9_w3BlWEjB/s1600/ibu.jpg.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: small;"&gt;B&lt;/span&gt;etapa mesra panggilan ayah dan anak di saat suasana demikiam mencekam dan mendebarkan dan harusnya penuh haru itu. Betapa ikhlas mereka untuk memenuhi perintah Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita melakukan flashback lebih jauh lagi ke belakang, untuk mengingat bahwa sesungguhnya ada seorang tokoh IBU, yang sangat berperan dalam proses &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;pendidikan usia dini yang sudah disiapkan Allah SWT kepada Nabi Ismail, yaitu Bunda Siti Hajar. Sesuatu yang sangat perlu -- tapi jarang kita angkat -- agar dengannya bisa menjadi pembelajaran bagi kita dalam mendidik anak dan generasi masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering betul disampaikan bahwa "semua Nabi adalah pria" tapi kita sering lupa, atau sengaja melupakan bahwa sesungguhnya di banyak kisah para Nabi tersimpan atau tersembunyi cerita keteladanan atas peran kaum perempuan yang mengandung pembelajaran dan hikmah untuk kita renungkan dan teladani. Sayang sekali sering kita luput untuk menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita membayangkan kejadian mengharukan yang terjadi ribuan tahun lalu, ketika seorang Ibu bernama SITI HAJAR, yang tidak lagi muda, bersama suami bernama IBRAHIM dan anak bayinya bernama ISMAIL tiba di tempat yang kini bernama Mekah di tengah terik matahari di padang pasir tandus tanpa persediaan makanan dan minuman memadai. Dalam keadaan galau tiba-tiba sang suami pamit dan berjalan pergi untuk meninggalkan sang istri dan anak bayi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siti Hajar pun heran dan memperhatikan sikap suaminya dan bertanya; "Hendak kemanakah engkau suamiku? "Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua ditempat yang sunyi dan tandus ini?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun. Ia tetap melangkah meninggalkan istri dan anaknya. Siti Hajar pun bertanya lagi; "hendak kemanakah engkau Ibrahim? Sampai hatikah engkau meninggalkan aku dan anak bayimu di tengah padang tandus ini?" Lagi-lagi tidak dijawab oleh Nabi Ibrahim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siti Hajar kemudian bertanya sambil menangis: "Apakah ini perintah dari Allah?" Barulah Nabi Ibrahim menjawab; "ya." Dan Siti Hajar pun diam, tak bertanya lagi, dan dengan rela melepas suami meninggalkan dirinya dan anak bayinya tanpa siapa-siapa menemani kecuali keyakinan atas Ke-Maha-Kuasaan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ditinggal pergi, ia berikhtiar mencari air untuk anak bayi yang kehausan dengan lari dari Safa ke Marwah. Kemudian Allah memunculkan keajaiban dengan pancaran air Zam-zam di dekat Sang Bayi. Pelajaran keihklasan dari seorang Ibu dan keyakinan dan sikap tawakkal akan ke-Maha-Kuasaan Allah menjadi pelajaran untuk mendidik generasi kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didikan penuh keikhlasan dan kepasrahan dari Ibundanya ini memberi pengaruh positif atas keikhlasan Nabi Ismail menerima perintah Allah melalui ayah kandungnya sendiri untuk menyembelihnya. Bisa kita bayangkan kalau Siti Hajar tetap merengek dan minta ditemani oleh Nabi Ibrahim AS. Atau kalau beliau dengan penuh kejengkelan dan rasa frustrasi mendidik dan membesarkan anaknya Ismail dengan marah-marah dan membentak atau mencaci ketika ditinggal pergi oleh suami tercinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepatuhannya pada suami yang diyakini menjalankan perintah Ilahi: "sami'na wa atho'na, saya dengar dan saya patuhi." Ketegaran menerima tanggung jawab dalam kondisi yang sangat berat, walau sendirian dan tak punya apa-apa. Berharap dan bertawakkal hanya kepada Allah karena meyakini bahwa suami berangkat karena perintah Allah.&amp;nbsp; Yakin Allah akan menjaga dan memberi mereka rezeki. Berusaha dan berikhtiar terus sehingga dari tempat yang tandus memancar air Zam-zam, dari tiada menjadi ada,dan berlimpah. Setelah ribuan tahun meninggal, amalannya (berupa Sai dari Safa ke Marwah) tetap diikuti oleh jutaan orang, dan peningalannya berupa sumur Zam-zam bermanfaat untuk jutaan orang dari berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga kita bisa bisa mendidik generasi masa depan dengan mengambil pelajaran dari ketaqwaan nabi Ibrahim AS, kesabaran Nabi Ismail AS dan ketabahan dan keikhlasan dan sikap tawakkal Bunda Siti Hajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;&lt;i&gt;sumber: http://marwahdaud.multiply.com&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt0Rm9Y99nTm2WrLqXGE5yOb5lvFWjAqgUpsn0grhJMebwrnWe4mZTpk_Ay3kOKl2tPqQtjRkLO6JJANmHUa7USy9-u-6v385_lTweMPf_hg99xSO95siuVMRIVRI9M-IdxC9_w3BlWEjB/s72-c/ibu.jpg.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Wali Songo</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2010/11/wali-songo.html</link><category>Wali Songo</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 11 Nov 2010 15:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-8989992813460603781</guid><description>&lt;div style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: rgb(255, 255, 255) none repeat scroll 0% 0%; border: 1px solid rgb(192, 192, 192); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIhKD3vojmzzzHnL33GkF5RSMR4pHEjYUn5bRhZVzeUxquAE4YDkHQZWXefi_CuyJ2gWHqAmmeDlXRAAd-0ItFQFhj8dC-0fOuvkTqXPZJ1ZbRduBI5kGzBb6BiTpoYbQbC33i8wbZMuOE/s1600/wali.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIhKD3vojmzzzHnL33GkF5RSMR4pHEjYUn5bRhZVzeUxquAE4YDkHQZWXefi_CuyJ2gWHqAmmeDlXRAAd-0ItFQFhj8dC-0fOuvkTqXPZJ1ZbRduBI5kGzBb6BiTpoYbQbC33i8wbZMuOE/s1600/wali.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur, menjelang bulan Ramadhan itu. Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak. Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian terjemahan bebas inskripsi di nisan pualam makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai anggota Wali Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekalipun Malik Ibrahim tidak termasuk dalam jajaran Wali Songo, masih menurut Hoessein, jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah Wali Songo berasal dari kata ”wali” dan ‘’songo”. Kata wali berasal dari bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias kekasih Tuhan. Kata songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada wali yang termasuk anggota Wali Songo –yang terdiri dari sembilan orang– dan ada wali yang bukan anggota ”dewan” Wali Songo. Konsep ”dewan wali” berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Figur para wali –sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ”kepustakaan” tutur– selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya orang berpendapat, yang terhisab ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, komposisi Wali nan Sembilan ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Wali Songo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang, Soekmono tak menyodorkan argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman orang dan menggoyahkan syariat Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, Wali Songo juga ditafsirkan sebagai sebuah lembaga, atau dewan dakwah. Istilah sembilan dirujukkan dengan sembilan fungsi koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Teori ini diuraikan dalam buku Kisah Wali Songo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua penulis itu merujuk pada kitab Kanz Al-’ulum karya Ibn Bathuthah. Mereka menjelaskan, sebagai lembaga dewan dakwah, Wali Songo paling tidak mengalami lima kali pergantian anggota. Pada periode awal, anggotanya terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad Al-Kubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil, Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasanuddin, Aliyuddin, dan Syekh Subakir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada periode kedua, Raden Rakhmad (Sunan Ampel), Sunan Kudus, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sunan Bonang masuk menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Malik Israil, Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin –yang wafat. Pada periode ketiga, masuk Sunan Giri, menggantikan Ishaq yang pindah ke Pasai, Aceh, dan Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada periode keempat, Raden Patah dan Fatullah Khan masuk jajaran Wali Songo. Kedua tokoh ini menggantikan Ahmad Jumad Al-Kubra dan Muhammad Al-Magribi yang wafat. Sunan Muria menduduki lembaga Wali Songo dalam periode terakhir. Ia menggantikan Raden Patah, yang naik tahta sebagai Raja Demak Bintoro yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Analisis tersebut secara kronologis mengandung banyak kelemahan. Contohnya Sunan Ampel, yang diperkirakan wafat pada 1445. Dalam versi ini disebutkan, seolah-olah Sunan Ampel masih hidup sezaman dengan Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Padahal, Sunan Kudus hidup pada 1540-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang merupakan guru Sunan Kalijaga, yang berputra Sunan Muria. Bagaimana mungkin Sunan Ampel hidup sezaman dengan Sunan Muria? Lagi pula, tokoh Wali Songo yang disebut dalam buku ini –Aliyuddin, Ali Akbar, dan Fatullah Khan– bukan wali terkenal di Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama mereka jarang ditemukan dalam historiografi tradisional, baik berupa serat maupun babad. Padahal, di Jawa terdapat puluhan naskah kuno berupa babad, hikayat, dan serat, yang mengisahkan para wali. Sebagian besar babad juga menggambarkan, Wali Songo hidup dalam kurun waktu yang bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para wali, menurut versi babad, dikisahkan sering mengadakan pertemuan di Masjid Demak dan Masjid ”Sang Cipta Rasa” (Cirebon). Di sana mereka membicarakan berbagai persoalan keagamanan dan kenegaraan. Kisah semacam ini, antara lain, dapat dibaca di Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Tanah Jawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Babad Cirebon, misalnya, mewartakan bahwa pada 1426, para wali berkumpul di Gunung Ciremai. Mereka mengadakan musyawarah yang dipimpin Sunan Ampel, membentuk ”Dewan Wali Songo”. Sunan Gunung Jati ditunjuk selaku wali katib, atau imam para wali. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Syekh Maulana Magribi, Sunan Bonang, Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Syekh Lemah Abang, Syekh Betong, dan Sunan Majagung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah dengan Sunan Gunung Jati, jumlah wali itu malah menjadi 10 orang. Nama-nama Wali Songo yang tertulis di Babad Cirebon tersebut berbeda dengan yang tersurat di Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, yang berasal dari Jawa Tengah, tidak ditemukan nama Syekh Betong dan Syekh Majagung. Sebagai gantinya, akan dijumpai nama Sunan Giri dan Sunan Drajat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, peran Wali Songo jelaslah tak sebatas di bidang keagamaan. Mereka juga bertindak selaku anggota dewan penasihat bagi raja. Bahkan, Sunan Giri membentuk dinasti keagamaan, dan secara politis berkuasa di wilayah Gresik, Tuban, dan sekitarnya. Ia mengesahkan penobatan Joko Tingkir sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, setelah kekuasaan Raja Demak surut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,” tulis De Graaf dan Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa. ”Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,” kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu menambahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ”Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,” tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ”Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,” tulis De Graaf, yang dijuluki ”Bapak Sejarah Jawa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain Sunan Tembayat –menurut versi Babad Tanah Jawi– Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di rumah beratap gribik –anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika Ki Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan. Semuanya kebagian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir: Ya-Qowiyyu (Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Gribik itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat. Dari menara masjid, kue apem disebarkan para santri sambil berzikir, Ya-Qowiyyu…. Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah Ki Ageng Gribik hanyalah satu dari sekian banyak mitos tentang para wali. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Makam mereka masih tetap merupakan tempat yang sangat dihormati. Pada kurun abad ke-16 hingga abad ke-17, keturunan para wali juga memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELAMA 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri –yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6 x 5 meter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri mengajarkan agama Islam. Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ”Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,” kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum ”putihan”, aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ”Aliran Tuban” –Sunan Kalijaga cs– ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ”ketua” para wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan. Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas wilayahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu. Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari pertapa sakti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;sumber dari kumpulan dongeng kang Rico &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIhKD3vojmzzzHnL33GkF5RSMR4pHEjYUn5bRhZVzeUxquAE4YDkHQZWXefi_CuyJ2gWHqAmmeDlXRAAd-0ItFQFhj8dC-0fOuvkTqXPZJ1ZbRduBI5kGzBb6BiTpoYbQbC33i8wbZMuOE/s72-c/wali.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Fatimah Az-Zahra Radhiyallohu 'anha</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2010/11/fatimah-az-zahra-radhiyallohu-anha.html</link><category>Fatimah Az-Zahra</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 4 Nov 2010 13:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-2407143979689921013</guid><description>&lt;div style="background: none repeat scroll 0% 0% rgb(255, 255, 255); border: 1px solid rgb(192, 192, 192); padding: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggbS0BsBhJ2cWzDlBBXYfKbkb_jEfNjb3AdLXRPiHKgrOH0HqnNAs_bNMC7VQR6EgoMsbSV8fCN9Acg8U64gKzIxKCflQI1rZhVIrVAkbuYguK7dcpBI9BAKAeEOtqO9FvXz_zIf8RNHdJ/s1600/fatimah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggbS0BsBhJ2cWzDlBBXYfKbkb_jEfNjb3AdLXRPiHKgrOH0HqnNAs_bNMC7VQR6EgoMsbSV8fCN9Acg8U64gKzIxKCflQI1rZhVIrVAkbuYguK7dcpBI9BAKAeEOtqO9FvXz_zIf8RNHdJ/s200/fatimah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Suatu hari masuklah Rasulullah s.a.w. menemui anakandanya Fathimah az-zahra ra. Didapatinya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah s.a.w. bertanya pada anakandanya, "Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Rasulullah s.a.w. tidak menyebabkan matamu menangis". &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Fathimah ra. berkata, "Ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan anakanda menangis". Lalu duduklah Rasulullah s.a.w. di sisi anakandanya. Fathimah ra. melanjutkan perkataannya, "Ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta 'Ali Karomallohu wajhah&amp;nbsp; (suaminya) mencarikan anakanda seorang jariah (pembantu) untuk menolong anakanda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". Mendengar perkataan anakandanya ini maka bangunlah Rasulullah s.a.w. mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w. meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anaknya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah s.w.t. dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Rasulullah s.a.w. berkata kepada gilingan tersebut, "Berhentilah berputar dengan izin Allah s.w.t.", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah s.w.t. yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "Ya Rasulullah s.a.w. , demi Allah s.w.t. Tuhan yang telah menjadikan Baginda s.a.w. dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah Baginda s.a.w. menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah s.w.t.suatu ayat yang bermaksud:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Maka hamba takut, ya Rasulullah s.a.w. kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "Bergembiralah kerana engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam syurga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Rasulullah s.a.w. bersabda kepada anakandanya, "Jika Allah s.w.t. menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah s.w.t. menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh-Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah s.w.t. menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;"Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah s.w.t. menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah s.w.t. akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah s.w.t. akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;"Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku doakan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahawa ridha suami itu daripada Allah s.w.t. dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah s.w.t.?. Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah s.w.t. akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah s.w.t. mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t. yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga, dan Allah s.w.t. akan mengkurniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah s.w.t. akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah s.w.t. akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah s.w.t. untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah s.w.t. akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "Teruskanlah 'amalmu maka Allah s.w.t. telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang". Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah s.w.t. akan memberinya minuman dari sungai-sungai syurga dan Allah s.w.t. akan meringankan sakaratulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman syurga serta Allah s.w.t. akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggbS0BsBhJ2cWzDlBBXYfKbkb_jEfNjb3AdLXRPiHKgrOH0HqnNAs_bNMC7VQR6EgoMsbSV8fCN9Acg8U64gKzIxKCflQI1rZhVIrVAkbuYguK7dcpBI9BAKAeEOtqO9FvXz_zIf8RNHdJ/s72-c/fatimah.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>HASUD, DENGKI DAN IRI</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2010/11/hasud-dengki-dan-iri_01.html</link><category>DENGKI DAN IRI</category><category>HASUD</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Mon, 1 Nov 2010 10:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-9073719232984716272</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;border: 1px solid #c0c0c0; background: #ffffff;padding: 10px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;"Dengki dan hasud keduanya dapat menghapus amal kebaikan seperti api membakar kayu"&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (Al-Hadits)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan dengan sana serupa, Ibrahim bin Iliyah bin Ubbad bin Ishak dari Abdurrahman bin Mu'awiyah, katanya : Nabi saw. bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga perkara, seseorang tidak dapat selamat darinya, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Prasangka buruk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Hasud&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Rasa khawatir (tidak memperoleh sesuatu)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Shahabat bertanya: Ya Rasul, dengan cara apa menyelamatkannya? Jawabnya :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ketika rasa sahud menyelinap di hatimu, jangan kau turuti berlanjut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Ketika kau berprasangka buruk kepada seseorrang, jangan kau selidiki sampai terbukti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Ketika kau khawatir tidak memperoleh (kebaikan), maka berusahalah hingga tercapai (pantang mundur)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Ketika dalam hatimu terselip rasa hasud, maka jangan dibuktikan dalam alam kenyetaan (lahiriah), sebab Allah akan memeaafkan selama hasud itu belum diucapkan dan dilakukan. Dan ketika berprasangka buruk, maka jangan berusaha mencari faktanya yang nantinya jika ketemu akan jadi permusuhan dan jika tidak benar maka akan menjadi fitnah, kemudian ketika punya niat untuk sesuatu yang baik, lalu memdengar suara burung atau firasat/mimpi (yang menurut umum itu pertanda buruk) menjadikan ragu/melelmahkan, maka sampaikan niat/tujuan itu hingga berhasil dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasululloh saw. adalah orang yang senang pada yang optmis dan membenci orang yang pesimis, ataupun licik, sebab sifat semacam itu adalah warisan jahiliyah, kita berharap dan berlindung hanya kepada Allah semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Janganlah saling membenci, saling menghasud, dan jangan pula menipu (pura-pura meneawar barang untuk menjatuhkan lain), maka jadilah hamba Allah yang akur (bersaudara)". hadits dari Abu Hurairah..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hai anak-anakku, mawas dirilah, lenyapkan rasa hasud, dan dengki sebab hal itu akibatnya akan membahayakan dirimu secara nyata, sebelum dinyatakan pada musuhmu". (Psan Mu'awiyah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada kejahatan melebihi hasud, karena sebelum hasud itu mengena sasarannya, terlebih dahulu 5 bencana menimpa penghasud (orang yang hasudnya), yaitu:&lt;br /&gt;
1. Hatinya selalu kacau.&lt;br /&gt;
2. Ditimpa bala' (cabaan) yang tiada pahala baginya.&lt;br /&gt;
3. Seburuk-buruk celaan.&lt;br /&gt;
4. Dimarahi Tuhan.&lt;br /&gt;
5. Tidak mendapat taufik Allah SWT.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>DZIKIR</title><link>http://penyejukhatikita.blogspot.com/2010/10/dzikir.html</link><category>DZIKIR</category><author>noreply@blogger.com (Kang Deds)</author><pubDate>Thu, 21 Oct 2010 15:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8732786516945091596.post-55207076284551193</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;border: 1px solid #c0c0c0; background: #ffffff;padding: 10px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda :&lt;br /&gt;
“Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah swt, serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?” Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dzikir kepada Allah swt.” (H.r. Baihaqi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga sampai  martabat-martabat dzikirmu.&lt;br /&gt;
Sang Nabi saw, bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Yang paling utama aku ucapkan, aku dan ucapan para Nabi sebelumku adalah &lt;span style="color: #000099;"&gt;Laa Ilaaha Illallaah…”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap maqom  dzikir ada kualifikasi martabat tertentu, baik  dzikir bersuara (jahr) maupun yang tersembunyi (khafy). Semula adalah dzikir Lisan, kemudian dzikir Jiwa (Nafs), kemudian dzikir Qalbu, lalu dzikir Ruh, lantas dzikir Sirr (rahasia ruh), kemudian dzikir rahasia (khafi), lalu dzikir paling rahasia (akhfal khafy).&lt;br /&gt;
Dzikir Lisan adalah dzikir, di mana dengan dzikir itu mengingatkan qalbu yang alpa pada dzikrullah Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Dzikir Jiwa (Nafs) adalah dzikir yang terdengar oleh huruf maupun suara, tetapi terdengar oleh rasa dan gerak-gerik dalam batin.&lt;br /&gt;
Dzikir Qalbu adalah aktifitas qalbu dengan segala apa yang tersembunyi di dalamnya dari pancaran Kemaha-agungan dan Kemaha-indahanNya.&lt;br /&gt;
Dzikir ruh, tersimpul pada penyaksian cahaya-cahaya Tajalli Sifat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzikir Sirr, adalah fokusnya ketersingkapan rahasia-rahasia Ilahiyah.&lt;br /&gt;
Dzikir Khafy adalah menyelaraskan cahaya-cahaya Kemaha indahan Dzat Ahadiyah di posisi yang benar.&lt;br /&gt;
Sedangkan Dzikir Akhfal Khafy adalah memandang pada hakikat Haqqul Yaqin, dan tak ada yang tampak kecuali hanya Allah Ta’ala, sebagaimana firmanNya :&lt;br /&gt;
“Maka sesungguhnya Dia Maha Tahu yang rahasia dan yang lebih tersembunyi (Thaha : 7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang paling total dibanding setiap panji dzikir, dan lebih pangkal dari segala tujuan.&lt;br /&gt;
Perlu diketahui, di sana ada sisi Ruh lain yang lebih lembut disbanding ruh-ruh yang ada yang disebut dengan Thiflul Ma’aany, yaitu suatu kelembutan yang memotivasi seluruh orientasi menuju kepada Allah swt. Para Ulama Sufi menegaskan, “Ruh ini tidak bersemai pada setiap orang namun lebih bersemai pada kalangan khusus, sebagaimana firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;
“Allah mempertemukan ruh dari perintahNya pada orang yang dikehendaki dari kalangan hamba-hambaNya.” (Ghafir: 15)&lt;br /&gt;
Ruh tersebut yang berkelindan secara lazim dengan Alam Qudrat dan Musyahadah di alam hakikat, sehingga sama sekali tidak berpaling kepada selain Allah swt, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw :&lt;br /&gt;
“Dunia itu haram bagi ahli akhirat, dan akhirat itu haram bagi ahli dunia, dan keduanya haram bagi Ahlullah.” (Ad-Daylamy)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan jalan Wushul kepada Allah Ta’ala, melalui peneladanan jejak secara fisik di Jalan yang Lurus melalui hukum syariat, baik malam maupun siang. Sedangkan di satu sisi, harus melanggengkan dzikir kepada Allah Ta’ala, sebagai keharusan yang mesti dilakukan oleh para pencari, sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;
“Yaitu orang-orang yang berdzikir kepada Allah baik ketika berdiri dan ketika duduk dan ketika tidur, dan bertafakkur…” (Ali Imron: 191)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimaksud dengan berdiri adalah dzikir di siang hari, dan makna “duduk” adalah dzikir di malam hari. Begitu pula ketika dalam tidur, dalam suasana tergenggam Ilahi, terhamparkan keleluasaan jiwanya, ketika sehat, sakit, kaya, miskin, mulia dan abadi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syeikh Abdul Qadir Al Jilany&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-8130542058401092";
/* 728x90, created 4/21/09 */
google_ad_slot = "1467460405";
google_ad_width = 728;
google_ad_height = 90;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>