<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724</atom:id><lastBuildDate>Sun, 08 Mar 2026 08:24:26 +0000</lastBuildDate><category>Event and News</category><category>Tourism</category><category>art and culture</category><category>creative people</category><category>networking</category><category>festival lima gunung</category><title>BorobudurLinks</title><description>Cerita dari Magelang</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Day Milovich)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>275</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-42274839100790454</guid><pubDate>Wed, 20 Mar 2013 21:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-21T04:03:15.477+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>KAMPUNG DURIAN DI LERENG MERBABU. </title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ1CU-LDv1lEFn-KlpxG4zmweh3hlvynu3Pc6_9ZBHmjKjIq4gCee_JxtbhyphenhyphenTAYasiaGyM1byQNN52-TZwgX3qznBKK0cP1QTY5pLQFlaMPb68-5DwRuK75qkBfjPJp5PldJrmEgQDO_0/s1600/Dawet+Magelangan+foto.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGFE7QWt3-tfwbvI3tHM2tJbnF9RI7T39X2vwEjllFe3TKfKRFbyWbpOQ18QaxvIWHuVwuP5S_c2Tg1cvv9aSn3D3bCIAQnFnhr09vvK9g8hPfPDaO5WCQtCZNsXal9eAh29dNWvcKCxQ/s1600/Durian+Merbabu.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;183&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGFE7QWt3-tfwbvI3tHM2tJbnF9RI7T39X2vwEjllFe3TKfKRFbyWbpOQ18QaxvIWHuVwuP5S_c2Tg1cvv9aSn3D3bCIAQnFnhr09vvK9g8hPfPDaO5WCQtCZNsXal9eAh29dNWvcKCxQ/s320/Durian+Merbabu.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ1CU-LDv1lEFn-KlpxG4zmweh3hlvynu3Pc6_9ZBHmjKjIq4gCee_JxtbhyphenhyphenTAYasiaGyM1byQNN52-TZwgX3qznBKK0cP1QTY5pLQFlaMPb68-5DwRuK75qkBfjPJp5PldJrmEgQDO_0/s1600/Dawet+Magelangan+foto.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh: OLIVIA LEWI PRAMESTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 21 Maret 2013. &lt;/b&gt;Kendati hujan deras menyelimuti lereng Merbabu, namun puluhan mobil berplat luar kota Magelang tampak nongkrongdi kanan-kiri jalan. Hanya ingin mencicipi lezatnya durian Merbabu, mereka rela berjalan mondar-mandir untuk menemukan durian yang diinginkan.&lt;br /&gt;Rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan tampak dipadati orang. Pemandangan menarik hadir di situ, ada puluhan durian yang digelar di depan teras rumah. Berbagai ukuran durian tersedia dan pembeli bebas untuk memilihnya.&lt;br /&gt;Kampung Durian begitulah orang menyebutnya. Kampung yang terletak di Dusun Mantenan, Desa Giyanti, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang ini, tengah naik pamor berkat buah duriannya. Bahkan, akhir minggu (Jumat-Minggu (1/3), ribuan orang datang untuk menyaksikan festival durian yang diadakan di kampung tersebut. &lt;br /&gt;Menelisik sejarah penamaan Kampung Durian, Takyin, Kepala Dusun Mantenan, cukup memiliki peran penting. Kepada Tempo ia bercerita bahwa secara ekonomi dusun ini tergolong dusun miskin. Kurang lebih empat tahun lalu, ia mengajak warganya untuk menanam buah durian. &quot;Waktu itu saya mengajak warga untuk mencoba menanam buah durian supaya nantinya bisa dijual di pasar. Buah durian dipilih karena nenek moyang banyak meninggalkan pohonnya di lereng Merbabu ini,&quot; kata Takyin di rumahnya.&lt;br /&gt;Ide Takyin diterima dan setelah panen warga menjualnya ke pasar. Tak disangka, durian lereng Merbabu ini banyak diminati orang. Hingga akhirnya seiring meningkatnya jumlah pembeli di pasar, maka banyak warga lain yang tertarik menanam.&lt;br /&gt;&quot;Sejak itu durian Merbabu ini banyak dikenal, akhirnya banyak yang menjual di depan rumah mereka. Pemerintah setempat pun menamakan kampung kami kampung durian,&quot; katanya. &lt;br /&gt;Ketika ditanya apa nama durian dari lereng Merbabu ini, Takyin tidak bisa menjawab. Katanya, durian ini belum bernama. Hanya saja, durian lokal lereng Merbabu berbeda dengan durian lainnya. Ia melanjutkan, dari 135 Kepala Keluarga, sekitar 40 KK melakukan usaha ini. Alhasil pendapatan pun meningkat dan mereka bisa membangun rumah serta membeli kendaraan.&lt;br /&gt;&quot;Sejak kampung ini dinamakan kampung durian, warga mulai bercita-cita untuk menjadi wirausaha. Inilah impian saya yakni menjadikan warga di sini menjadi juragan,&quot; tambahnya. &lt;br /&gt;Martini, 30 tahun, penjual durian dari dusun tersebut mengatakan bahwa semenjak ia berjualan durian ekonomi keluarganya sangat terbantu. Ia biasa menjual durian dari Rp10.000-Rp40.000. Keuntungan yang ia peroleh bisa dikatakan cukup untuk biaya hidup karena mencapai Rp 3 jutaan per harinya. Ia pun mengaku membeli buah durian dari tetangganya sejak bunga. Untuk menunggu buah, lanjutnya, bisa mencapai 6 bulanan. &quot;Kampung ini ramai ketika musim durian tiba. Musimnya sekitar Februari-Maret ini. Ketika tidak musim ya sepi, dan kami tidak lagi berjualan,&quot; kata Martini.&lt;br /&gt;Hal senanda juga diungkapkan oleh pedagang lain , Sarwoti (60). Ia memiliki pohon durian sendiri. Dengan menjual dari harga Rp10.000,- hingga lebih dari Rp50.000,- ia bisa mengantongi laba hingga Rp 3 jutaan per harinya. Sayangnya, laba ini tidak dirasakan bila musim durian tidak datang. &lt;br /&gt;Pengunjung yang datang, seperti pasangan suami istri dari Temanggung, Andi(27) dan Pratiwi(25) mengatakan ketagihan dengan durian Merbabu. &quot;Justru rasa durian di sini enak maka saya rela datang. Daging buahnya tebal, dan isinya kuning seperti mentega. Pokoknya bikin ketagihan,&quot; ujar Andi Prayogo (27), warga Temanggung, ketika menawar harga durian, Minggu (3/3). &lt;br /&gt;Festival durian yang berlangsung di kampung durian ini diharapkan bisa membawa angin segar bagi kemajuan durian Merbabu. Kata Supangat,Ketua Teknik Pelaksana, festival ini diadakan untuk memperkenalkan durian Merbabu lebih luas dan memberikan varietas baru bagi durian di Indonesia &lt;b&gt;(TEMPO.com). &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2013/03/kampung-durian-di-lereng-merbabu.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGFE7QWt3-tfwbvI3tHM2tJbnF9RI7T39X2vwEjllFe3TKfKRFbyWbpOQ18QaxvIWHuVwuP5S_c2Tg1cvv9aSn3D3bCIAQnFnhr09vvK9g8hPfPDaO5WCQtCZNsXal9eAh29dNWvcKCxQ/s72-c/Durian+Merbabu.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3094291523587942617</guid><pubDate>Wed, 20 Mar 2013 20:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-21T04:03:45.023+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>SEGARNYA DAWET MAGELANGAN.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ1CU-LDv1lEFn-KlpxG4zmweh3hlvynu3Pc6_9ZBHmjKjIq4gCee_JxtbhyphenhyphenTAYasiaGyM1byQNN52-TZwgX3qznBKK0cP1QTY5pLQFlaMPb68-5DwRuK75qkBfjPJp5PldJrmEgQDO_0/s1600/Dawet+Magelangan+foto.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;159&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ1CU-LDv1lEFn-KlpxG4zmweh3hlvynu3Pc6_9ZBHmjKjIq4gCee_JxtbhyphenhyphenTAYasiaGyM1byQNN52-TZwgX3qznBKK0cP1QTY5pLQFlaMPb68-5DwRuK75qkBfjPJp5PldJrmEgQDO_0/s320/Dawet+Magelangan+foto.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Oleh: Ika Fitriana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 21 Maret 2013&lt;/b&gt;. Di tengah gempuran aneka jajanan modern saat ini, Dawet Magelangan masih tetap diminati masyarakat. Rasanya yang masih asli hasil racikan tradional membuat dawet ini tidak pernah ditinggalkan penggemarnya.&lt;br /&gt;
Semangkuk dawet yang konon sudah ada sejak 40-an tahun silam itu hanya dapat ditemukan di salah satu sudut Pasar Ngasem Kampung Djuritan Kota Magelang Jawa Tengah. Letaknya memang berada di gang sempit dengan lapak meja dan bangku sederhana, namun tidak pernah sepi dari pembeli.&lt;br /&gt;
Adalah Sukarti (55), penjual dawet legendaris itu yang selalu tersenyum ramah dan cekatan melayani pembeli. Perempuan paruh baya itu mengaku mewarisi resep Dawet Magelangan dari mendiang orangtuanya. Sampai sekarang, dia setia mempertahankan resep asli itu.&lt;br /&gt;
&quot;Resepnya dari orangtua saya dulu. Yang penting adalah doa dan usaha. Kami selalu berdoa kepata Tuhan minta kekuatan, karena Tuhanlah yang menentukan nasib kita ke depan,&quot; katanya saat ditanya apa yang menjadi rahasia keawetan Dawet Magelangan, Sabtu (2/3/2013).&lt;br /&gt;
Sukarti mengisahkan, sebelum di Pasar Ngasem, dahulu orang tuanya menjajakan dawet di pinggir jalan sekitar Pasar Rejowinangun. Namun, karena suatu hal mereka pun pindah ke Pasar Ngasem sampai sekarang.&lt;br /&gt;
&quot;Meskipun di sini tempatnya nylempit, tapi Alhamdulillah setiap hari pelanggan tetap banyak yang datang,&quot; ujarnya.&lt;br /&gt;
Sekilas, Dawet Magelangan tidak jauh berbeda dengan dawet pada umumnya. Seporsi dawet terdiri dari bermacam-macam bahan antara lain pleret, roti, cendol atau dawet, tape ketan, cincau hijau, gula jawa, dan santan segar. Semua dicampur menjadi satu mangkok ukuran sedang seharga Rp 2.000 per porsi.&lt;br /&gt;
&quot;Sehari bisa habis sekitar 1 kilogram tepung dan 1 kilogram cincau hijau,&quot; imbuh ibu tiga anak ini.&lt;br /&gt;
Pembeli baru akan merasakan perbedaan antara dawet ini dengan dawet lainnya ketika sudah mencicipinya. Rasanya manis alami dari gula jawa menambah cita rasa cincau kenyal yang asli terbuat dari daun cincau hijau serta dawet yang lembut tanpa bahan kimia apapun. Inilah yang membuat pelanggan selalu ingin kembali lagi.&lt;br /&gt;
Dari hasil berjualan dawet itu, Sukarti mampu menghidupi ketiga anaknya. Apalagi sejak suaminya meninggal beberapa tahun silam, ia hanya bisa berjualan dawet. Setiap hari ia berjualan dibantu oleh anak ketiganya, Santoso (28).&lt;br /&gt;
Legendaris&lt;br /&gt;
Bagus Priyana, salah satu pelanggannya mengatakan rasa Dawet Magelangan khas dan berbeda. Menurut dia, dawet itu&amp;nbsp; mempertahankan keaslian bahan membuat jajanan tersebut tetap digemari.&lt;br /&gt;
&quot;Tidak berlebihan kalau dawet ini tetap banyak penggemar meskipun makanan atau jajanan sekarang banyak sekali variasinya. Menurut saya sampai saat ini belum ada yang mampu menyamai kelezatannya,&quot; tuturnya.&lt;br /&gt;
Hal senada disampaikan Ahmet, warga Jakarta yang baru pertama kali mencicipi dawet itu. Ahmet mengaku tahu Dawet Magelangan dari kawannya yang tinggal di Kota Magelang.&lt;br /&gt;
&quot;Kebetulan saya sedang ada acara di Magelang, kemudian diceritakan kawan, kalau ada minuman dawet yang enak banget dan legendaris. Langsung saja saya sempatkan datang ke sini dan ternyata kawan saya tidak bohong. Enak, seger dan alami,&quot; ujarnya.&lt;b&gt; (Editor : Kistyarini/KOMPAS.com).&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2013/03/segarnya-dawet-magelangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ1CU-LDv1lEFn-KlpxG4zmweh3hlvynu3Pc6_9ZBHmjKjIq4gCee_JxtbhyphenhyphenTAYasiaGyM1byQNN52-TZwgX3qznBKK0cP1QTY5pLQFlaMPb68-5DwRuK75qkBfjPJp5PldJrmEgQDO_0/s72-c/Dawet+Magelangan+foto.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-488632165609233603</guid><pubDate>Wed, 26 Sep 2012 16:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-09-26T23:18:10.828+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>KINERJA WISATA INDONESIA DI BAWAH BRUNEI.</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;&amp;#45;-&quot;/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val=&quot;off&quot;/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:defJc m:val=&quot;centerGroup&quot;/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val=&quot;1440&quot;/&gt;
   &lt;m:intLim m:val=&quot;subSup&quot;/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val=&quot;undOvr&quot;/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizOmpiaGhGlxIc4qlEt6DsiKCGNbX4YQf6B3NIAh7qJ5fOtCLgbGDOVpmDGqCW1ea2m2lRXKtoWMQQrXU-T-qvc1XgRQhE1KC7XfFmF6nD4Z3rDU_FhlATPL589crD8J9juCJb9pwwC1U/s1600/Candi+Selogriyo+02.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizOmpiaGhGlxIc4qlEt6DsiKCGNbX4YQf6B3NIAh7qJ5fOtCLgbGDOVpmDGqCW1ea2m2lRXKtoWMQQrXU-T-qvc1XgRQhE1KC7XfFmF6nD4Z3rDU_FhlATPL589crD8J9juCJb9pwwC1U/s400/Candi+Selogriyo+02.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;mso-font-kerning: 18.0pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;mso-font-kerning: 18.0pt;&quot;&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt;&quot;&gt;SUPRIYANTO KHAFID.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;&lt;b&gt;Borobudurlinks,
26 September 2012.&lt;/b&gt; Daya saing kinerja pariwisata Indonesia masih berada di
bawah Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Pariwisata Indonesia hanya
lebih tinggi dari Vietnam, Filipina, dan Kamboja. Untuk tingkat dunia pada
2010, dari 139 negara, posisi Indonesia berada di urutan 74. Sedangkan Brunei
Darussalam ada di posisi 67, Singapura 10, dan Malaysia 35. Untuk tingkat Asia
Pasifik, dari 26 negara posisi Indonesia berada di urutan 13, Malaysia 7, dan
Singapura di urutan teratas.&lt;br /&gt;
Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Fathul Bahri, mengemukakan hal ini sewaktu berbicara di depan para
kepala dinas pariwisata dan pengurus asosiasi pelaku wisata se-Nusa Tenggara
Barat di Mataram, Rabu, 26 September 2012. &quot;Daya saing Indonesia kalah.
Perlu evaluasi &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; dan menyusun program,&quot; katanya.&lt;br /&gt;
Pada 2-3 Oktober 2012, Kementerian Pariwisata akan melakukan kordinasi nasional
untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia. Selain itu, perlu juga
melakukan evaluasi kinerja 13 kantor penghubung di 12 negara yang selama ini
dipekerjakan oleh Kementerian Pariwisata.&lt;br /&gt;
Ia memaparkan, selama periode Januari-Juli 2012, jumlah wisatawan yang datang
ke Indonesia mencapai 4,6 juta orang. Target kunjungan wisatawan mancanegara
2012 sebanyak 8 juta orang. Apabila dilihat dari perkembangan bulan per bulan
memang bertambah. Kalau Januari 2012 angkanya 652.692, Juni 2012 sebanyak
695.531 orang, dan pada Juli 2012 menjadi 701.200 orang. Tetapi di bulan
terakhir Juli 2012 itu dibanding Juli 2011 terjadi penurunan kunjungan
wisatawan 5,94 persen dari semula 745.451 orang.&lt;br /&gt;
Sebenarnya Indonesia yang memiliki 17.100 pulau, di antaranya 6.000
berpenghuni, memiliki 10 World Heritage Culture, seperti Candi Prambanan dan
Borobudur, komodo, Ujung Kulon, Sangiran, Taman Nasional Lorentz, Keris, Hutan
Tropical Sumatera, wayang dan irigasi subak di Bali. Oleh World Economic Forum
(WEF), peringkat Indonesia ditempatkan berada pada urutan 39 dari Cultural
Heritage dari 139 negara.&lt;br /&gt;
Fathul menambahkan keunggulan yang dimiliki Indonesia lainnya adalah
megabiodiversity. Ada sekitar 16 persen dari binatang reptil dan amfibi dunia
di Indonesia. Juga 35 spesies primata, 25 persen endemic (hanya ada di
Indonesia), 17 persen dari burung di dunia, 26 persen endemic, 121 spesies
kupu-kupu 44 persen endemic, dan 12 persen dari mamalia di dunia 36 persen
endemic.&lt;br /&gt;
Untuk Forest Diversity, daya saing sumber daya alam pada peringkat 17/139
negara (WEF) hutan tropis terbesar setelah Brazil. Nomor 51 taman nasional
serta merupakan negara megabiodiversity ke-3 setelah Brazil dan Zaire. Sekitar
59 persen daratan di Indonesia merupakan hutan tropis yang menjadi 10 persen
dari total luas hutan di dunia.&lt;br /&gt;
Adapun megapotensi Indonesia terdiri dari alam (natural), seperti &lt;i&gt;marine
based&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;land based&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;wild life&lt;/i&gt;. Budaya terdiri dari pusaka
budaya (&lt;i&gt;heritage sites&lt;/i&gt;), situs arkeologi dan sejarah, &lt;i&gt;living culture&lt;/i&gt;.
Juga &lt;i&gt;event&lt;/i&gt; yang terdiri dari festival budaya dan pesta olahraga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 2012 ini ada 10 mega-&lt;i&gt;event&lt;/i&gt; prioritas yang diikuti Indonesia, mulai
dari Travex ASEAN Tourism Forum di Manado 9-15 Januari 2012, JATA Travel
Showcase (JTS) di Tokyo Jepang, China International Travel Mart di Sanghai
China (Oktober) hingga World Travel Mart 5-8 November 2012 di London.&lt;br /&gt;
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu
Gita Aryadi, target kunjungan wisatawan ke NTB sebanyak 1 juta wisatawan akan
tercapai sampai akhir Oktober 2012 atau pertengahan November 2012.
&quot;Capaian ini semestinya pada 2015. Tapi kami pacu melalui Visit Lombok
Sumbawa 2012,&quot; ujarnya. Berbagai kegiatan MICE (&lt;i&gt;meeting, incentive,
convention, exhibition&lt;/i&gt;) telah dan akan diselenggarakan sampai 17 Desember
2012.&lt;br /&gt;
Meskipun demikian, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia NTB, Gusti
Lanang Patra, mengkawatirkan munculnya persaingan tidak sehat di antara hotel
di daerahnya &lt;b&gt;(TEMPO.Com).&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;mso-special-character: line-break;&quot; /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/09/kinerja-wisata-indonesia-di-bawah-brunei.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizOmpiaGhGlxIc4qlEt6DsiKCGNbX4YQf6B3NIAh7qJ5fOtCLgbGDOVpmDGqCW1ea2m2lRXKtoWMQQrXU-T-qvc1XgRQhE1KC7XfFmF6nD4Z3rDU_FhlATPL589crD8J9juCJb9pwwC1U/s72-c/Candi+Selogriyo+02.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3737811819636863514</guid><pubDate>Thu, 13 Sep 2012 19:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-09-14T03:01:52.859+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>PAKET WISATA YOGYA (+ BOROBUDUR) MAHAL.</title><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;&amp;#45;-&quot;/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val=&quot;off&quot;/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:defJc m:val=&quot;centerGroup&quot;/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val=&quot;1440&quot;/&gt;
   &lt;m:intLim m:val=&quot;subSup&quot;/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val=&quot;undOvr&quot;/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnqJQMR9eyp52-LvZ496hs7e3ZSgwGzCCLK70eKmLo3oAFTLyqjkr70UU2DxKUAbvDYfNJ2UUHOPYfK73T4-7ECkzyJgN-pnhPWZJNpAPqgGmHo_SxfnQcF6GbmBZmwFebYTVG9D5bVNE/s1600/FINAL+BOROBUDUR.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnqJQMR9eyp52-LvZ496hs7e3ZSgwGzCCLK70eKmLo3oAFTLyqjkr70UU2DxKUAbvDYfNJ2UUHOPYfK73T4-7ECkzyJgN-pnhPWZJNpAPqgGmHo_SxfnQcF6GbmBZmwFebYTVG9D5bVNE/s400/FINAL+BOROBUDUR.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;mso-font-kerning: 18.0pt;&quot;&gt;Oleh&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Muh Syaifullah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1;&quot;&gt;Borobudurlinks, 14 September 2012.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;color: #666666; font-size: 12.0pt;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Paket wisata dari luar
negeri ke Yogyakarta dinilai masih terlalu mahal. Bahkan lebih mahal daripada
paket wisata ke Bali dan Bandung. Padahal, wisatawan mancanegara yang datang ke
Yogyakarta jauh lebih sedikit daripada dua daerah tujuan wisata favorit itu.&lt;br /&gt;
Ketua Asita (Association of the Indonesia Tours and Travel) Daerah Istimewa
Yogyakarta Edwin Ismedi Himna menyatakan harga paket wisata yang lebih mahal
dari Bali dan Bandung itu membuat calon wisatawan tidak melirik Yogyakarta.
Bali dan Bandung menjadi primadona wisatawan asal Malaysia. &quot;Persaingan
destinasi wisata negara-negara Asean memprihatinkan,&quot; kata Edwin, Rabu 12
September 2012.&lt;br /&gt;
Mahalnya harga paket wisata itu sangat mempengaruhi kunjungan wisatawan asal
Malaysia. Pada tahun 2007-2008 memang banyak wisatawan asal Malaysia lumayan
banyak. Yaitu mencapai 3.000 orang per tahun. Kini hanya sekitar 1000 wisatawan
dari negeri jiran itu. &lt;br /&gt;
Contohnya, harga paket wisata dari Malaysia ke Yogyakarta per orang mencapai
1.280 Ringgit Malaysia. Harga itu berlaku untuk satu orang selama 3 hari 3
malam. Dibandingkan dengan harga paket wisata dari Malaysia ke Bali sangat jauh
lebih mahal. Paket wisata dari Malaysia ke Bali hanya 888 Ringgit Malaysia
saja. Harga itu berlaku untuk satu orang selama 4 hari 4 malam. &lt;br /&gt;
Selain harga paket wisata yang mahal, Yogyakarta juga masih kurang dalam
inovasi lokasi tujuan wisata. Seperti di Bandung ada destinasi wisata baru
sepeerti Transtudio. Sedangkan Yogyakarta belum mempunyai destinasi wisata baru
yang bisa menarik wisatawan untuk datang. &lt;br /&gt;
&quot;Harus ada wahana baru destinasi wisata, ini yang belum digarap di
Yogyakarta,&quot; kata Edwin. Sedangkan hiburan berbasis budaya yang sudah
rutin ada hanya Ramayana Balet saja. Sementara wisatawan butuh hiburan yang
berbasis budaya namun rutin dan lebih banyak lagi. &lt;br /&gt;
Menurut Deddy Parnowo Eryono, Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta,
mahalnya paket wisata itu salah satunya juga akibat dari naiknya harga tiket
masuk ke Candi Prambanan, Boko dan Borobudur. Padahal Borobudur dan Prambanan
menjadi icon penting dalam paket wisata yang wajib dikunjungi. &quot;Sejak Juli
lalu tiket masuk candi naik menjadi USD 25. Padahal objek wisata lainnya masih
murah,&quot; kata Deddy. &lt;br /&gt;
Ia berharap, pengelola candi itu meninjau kembali kebaikan harga tiket masuk.
Jika tidak, maka bisa saja agen perjalanan tidak memasukkan kunjungan ke candi
itu. Jika ada paket ke candi, maka wajib memberitahukan kepada calon wisatawan
supaya tidak ada keluhan wisatawan karena harga tiketnya mahal. &quot;Kesiapan
menerima tamu dan infrastruktur juga masih perlu diperbaiki,&quot; kata Deddy. &lt;br /&gt;
Sedangkan tarif kamar hotel, kata Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran
indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta itu, rata-rata sama dengan kota lainnya.
Bahkan pihaknya juga sudah mempunyai ketentuan sendiri. &lt;br /&gt;
Menurut Herriyadi Baliin, General Manager The Sahid Rich Jogja Hotel, soal
tarif kamar memang sudah ada keketentuan. Sehingga persaingan harga kamar untuk
menginap sudah diatur. &quot;Kalau paket harga kamar sudah standar dan sama
dengan kota-kota daerah tujuan wisata lainnya,&quot; kata dia. &lt;br /&gt;
Hotel Rosalia indah atau Ros In, merambah ke hotel kelas melati. Sebelumnya
sudah mengelola hotel bintang empat. &lt;br /&gt;
General Manager Rosalia Indah Hotel Umbulharjo Sutrisna menyatakan, hotel yang
dibangun di Jalan Veteran Yogyakarta ini merupakan hotel&lt;br /&gt;
melati dengan konsep budget. Harga kamarnya antara Rp250&lt;br /&gt;
ribu hingga Rp500 ribu. &lt;br /&gt;
&quot;Ini merupakan salah satu upaya mengembangkan pasar tamu, ada kelas
bintang dan banyak tamu yang memilih hotel kelas melati,&quot; kata dia &lt;b&gt;(Tempo.Com).
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br style=&quot;mso-special-character: line-break;&quot; /&gt;
&lt;br style=&quot;mso-special-character: line-break;&quot; /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/09/paket-wisata-yogya-borobudur-mahal.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnqJQMR9eyp52-LvZ496hs7e3ZSgwGzCCLK70eKmLo3oAFTLyqjkr70UU2DxKUAbvDYfNJ2UUHOPYfK73T4-7ECkzyJgN-pnhPWZJNpAPqgGmHo_SxfnQcF6GbmBZmwFebYTVG9D5bVNE/s72-c/FINAL+BOROBUDUR.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1386591033679320833</guid><pubDate>Wed, 15 Aug 2012 01:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-09-14T03:00:19.800+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>1 MILYAR WISATAWAN DI TAHUN 2012.</title><description>

&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7bw0QJYILV7aFWAxxppTcktByaQA2t57vXjeP3KbDFKFzOYSYasRA6QII_JV2vvX-Ef4nWxW4-AHVFJSzWV3HpQvH16zYT_qkHa7zCp8jEPD9LtzfM371R_OWZa6GK-sYTO-rIgD144U/s1600/Ayahbunda+mesra+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7bw0QJYILV7aFWAxxppTcktByaQA2t57vXjeP3KbDFKFzOYSYasRA6QII_JV2vvX-Ef4nWxW4-AHVFJSzWV3HpQvH16zYT_qkHa7zCp8jEPD9LtzfM371R_OWZa6GK-sYTO-rIgD144U/s400/Ayahbunda+mesra+01.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh Ni Luh Made Pertiwi F. 

&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 15 Agustus
2012.&lt;/b&gt; Coba bayangkan angka ini, di tahun 2012 diprediksi ada 1 miliar
wisatawan internasional. Hal ini berarti 1 miliar orang melakukan pergerakan
melintasi negara di bumi ini untuk pelesiran.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekretaris Jenderal
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Wardiyatmo
mengatakan bahwa pada tahun 2030 diprediksi wisatawan internasional akan
mencapai 1,8 miliar.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ini berarti selama 18 tahun,
pertumbuhannya hampir dua kali lipat,” ungkapnya saat menyampaikan sektor
pariwisata dalam forum G20 dan forum T20 kepada wartawan di Jakarta, Selasa
(14/8/2012).&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia menuturkan dalam forum G20
di Meksiko pada 18-19 Juni 2012 dibahas bahwa pariwisata sebagai salah satu
sektor yang memiliki kontribusi penting terhadap penciptaan lapangan kerja,
pertumbuhan ekonomi, dan penghidupan yang layak.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tahun ini, merupakan &lt;i&gt;milestone&lt;/i&gt;
(tonggak) bagi kepariwisataan global, tentunya juga bagi kita sendiri,” kata
Wardiyatmo.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam forum G20 tersebut
dibahas peranan penting pariwisata terhadap perekonomian suatu negara.
Indonesia sendiri menjadi satu-satunya negara anggota ASEAN yang bergabung
dalam G20. Seperti diungkapkan Wardiyatmo, G20 adalah sebuah forum kerja sama
ekonomi global.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Maju-mundurnya dunia
ditentukan oleh forum G20. G20 representasi PDB (produk domestik bruto) sebesar
80 persen dari perdagangan dunia,” tuturnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menariknya, dalam forum
tersebut, pariwisata dipandang penting dan memberikan peran tak hanya
pada&amp;nbsp;perekonomian dunia, tetapi juga peradaban dunia. Sehingga pariwisata
memberi efek pada pertumbuhan perekonomian, mengurangi kemiskinan, penyediaan
lapangan kerja, dan melestarikan lingkungan hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara itu, dalam forum T20
atau forum antara menteri-menteri pariwisata yang tergabung dalam G20 dibahas
beberapa poin penting seperti kesepakatan bahwa pariwisata adalah industri yang
pertama bangkit dari krisis.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pariwisata, lanjut Wardiyatmo,
dianggap mampu memulihkan situasi suatu negara pascakrisis seperti krisis alam,
krisis ekonomi, maupun krisis politik. Selain itu, pariwisata juga memberikan
kontribusi kepada pengembangan infrastruktur dan jasa pariwisata yang dapat
memberi keuntungan pada masyarakat lokal.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Kita lihat contohnya
Disneyland di Amerika Serikat. Itu tadinya hanya suatu atraksi wisata, tetapi
berkembang infrastrukturnya menjadi destinasi wisata, lengkap dengan&lt;a href=&quot;http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=9541__zoneid=0__cb=%7Brandom%7D__oadest=http://www.urbanesia.com//&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #67a50a;&quot;&gt; restoran &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;yang tumbuh
terus, lalu hotel, dan lainnya,” jelas Wardiyatmo.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Indonesia melalui
Kemenparekraf telah menetapkan target kunjungan wisatawan mancanegara di tahun
2012 sebesar 8 juta. Sedangkan target di 2013,&amp;nbsp;tambah Wardiyatmo,
direncanakan sebesar 9 juta. Sebagai gambaran, jumlah kunjungan wisatawan
internasional ke ASEAN di tahun 2011 mencapai 77,1 juta. Sebesar 7,6 juta di
antaranya berkunjung ke Indonesia (&lt;b&gt;Editor : &lt;/b&gt;I Made Asdhiana/Kompas.com).
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/08/1-milyar-wisatawan-di-tahun-2012.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7bw0QJYILV7aFWAxxppTcktByaQA2t57vXjeP3KbDFKFzOYSYasRA6QII_JV2vvX-Ef4nWxW4-AHVFJSzWV3HpQvH16zYT_qkHa7zCp8jEPD9LtzfM371R_OWZa6GK-sYTO-rIgD144U/s72-c/Ayahbunda+mesra+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-7208457917824174864</guid><pubDate>Fri, 03 Aug 2012 04:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-03T11:04:45.090+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>PARIWISATA PILAR EKONOMI MASADEPAN.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXMozuXOdBg-hGMb6O6JYwBLKgFQ98sy0aK6emCBPz-Rcm6-0w13XzxKg6gnl5jbHLXehbpwKGjskXyxYw_WQDXtF7IXSEkGo9wlWzCRZ63XkNLsQB0I__qy3w6_Fb-kbxiVRsx5Uili4/s1600/Lanskap+Budur+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXMozuXOdBg-hGMb6O6JYwBLKgFQ98sy0aK6emCBPz-Rcm6-0w13XzxKg6gnl5jbHLXehbpwKGjskXyxYw_WQDXtF7IXSEkGo9wlWzCRZ63XkNLsQB0I__qy3w6_Fb-kbxiVRsx5Uili4/s400/Lanskap+Budur+01.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Oleh Djauhari Oratmangun *).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;Borobudurlinks, 1 Agustus 2012.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt; Pertemuan tingkat menteri bidang pariwisata APEC di
Khabarovsk (24/7/12), kota paling timur Rusia menyisakan sebuah renungan baru.
Indonesia harus segera menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar
pembangunan ekonomi bangsa. Dalam persaingan sektor ini berlaku sebuah pepatah:
siapa cepat ia akan dapat.&lt;br /&gt;

Perdagangan dan investasi memang senantiasa menjadi dua sektor pendulang
pendapatan negara, namun signifikansi pariwisata sangat perlu diperhatikan
dengan seksama. Dalam sepuluh tahun terakhir, sektor pariwisata semakin
mengokohkan dirinya menjadi salah satu peraup devisa yang sangat penting di
negara-negara Asia Pasifik. Hal itu antara lain disebabkan oleh sebuah
kenyataan yang tidak bisa dibantah: pariwisata telah menjadi kebutuhan primer
masyarakat maju.&lt;br /&gt;

Dalam catatan World Travel and Tourism Council misalnya, selama kurun waktu
tahun 2010, ke-21 ekonomi APEC telah menarik 40 persen seluruh wisatawan dunia.
Selain itu, warga ekonomi APEC dalam waktu yang sama menyumbang 40 persen
wisatawan dunia. Ekonomi yang stabil, tingkat kenaikan pendapatan masyarakat
serta perbaikan infrastuktur di wilayah APEC menjadi dasar peningkatan sektor
turisme tersebut.&lt;br /&gt;

Di tahun 2011, sektor perjalanan dan wisata (travel &amp;amp; tourism) akan
memberikan sumbangan devisa sebanyak 8,3 persen dari seluruh GDP, atau senilai
3,22 triliun dolar AS. Diperkirakan, dalam waktu sepuluh tahun kedepan,
wisatawan dari ekonomi APEC akan tumbuh rata-rata sebanyak 4,7 persen setahun
dan itu akan merupakan 3,9 persen dari seluruh ekspor APEC, atau pada kisaran
750 miliar dolar AS. Jadi, pariwisata telah menjadi &#39;komoditi ekspor&#39; utama
APEC&lt;br /&gt;

Dipastikan, persaingan untuk meraup wisatawan akan terus meningkat dari waktu
ke waktu sebab kesadaran setiap negara tentang pentingnya pariwisata sebagai
pilar pembangunan ekonomi semakin meningkat. Lihat saja tayangan &#39;iklan&#39; di
berbagai media elektronik global untuk mendagangkan kesiapan sektor
pariwisatanya dalam rangka meraup devisa wisatawan mancanegara. Tidak
mengherankan kalau bisnis yang terkait dengan wisatawan semakin marak dan
booming di ekonomi APEC. Tengok saja perkembangan dari industri hotel, agen
perjalanan, maskapai penerbangan hingga restoran dan tempat-tempat hiburan.&lt;br /&gt;

Maklumlah, tahun lalu saja sektor perjalanan dan wisata di ekonomi APEC ini
telah mampu menyedot 120 juta pekerja, atau merupakan 8,4 persen dari seluruh
pekerja di wilayah Asia Pasifik. Sebuah angka yang cukup fantastis dan lahan
yang amat basah bagi penciptaan lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;

Sebenarnya perkembangan sektor pariwisata itu sangat mudah didentifikasi dengan
mata yang telanjang. Sekarang, siapapun yang bepergian ke tujuan wisata utama
di negara-negara Asia Pasifik, tidak hanya bertemu dengan orang Jepang atau
Korea yang dikenal senang berwisata tetapi juga wisatawan Tiongkok sudah
berkelana ke seluruh dunia dan hadir dengan kantong yang cukup tebal. Di China
sendiri, jutaan wisatawan dari berbagai negara datang dengan segala kemudahan
transportasi, terjangkaunya tarif hotel hingga pelayanan yang prima. Mau servis
yang harga mahal hingga murah semua tersedia.&lt;br /&gt;

Bukan hanya itu, dua dekade lalu, pergi ke negara jiran Malaysia dan Singapura
bagi warga kita merupakan impian. Sekali bertandang bisa menjadi bahan
perbincangan selama 10 tahun. Namun kini, banyak sekali WNI yang berkunjung ke
Singapura hanya untuk berbelanja dan melakukannya sebulan sekali. Penerbangan
yang murah serta bebasnya pajak fiskal bandara serta terjangkaunya tarif hotel
di tempat tujuan menjadikan wisata ini semakin menarik. Wisatawan yang paling
banyak alias jawara nomor satu ke Singapura adalah WNI.&lt;br /&gt;

Bagi Rusia sendiri, negara yang sebenarnya relatif baru terbuka dalam satu
dekade belakangan, melancong merupakan sebuah kebutuhan dan prestis. Dalam
setahun, sekitar 30 juta warganya melancong ke berbagai belahan dunia untuk
melihat dan menikmati kehidupan baru. Setiap tahun tidak kurang 2 juta warganya
pasti bertamasya ke Mesir, 2,5 juta ke Turki, 300 ribu ke Thailand, dan sekitar
100 ribu ke Indonesia. Pantai dan alam yang indah merupakan tujuan utama dan
menjadi mimpi-mimpi mereka setiap malam.&lt;br /&gt;

Bukan hanya itu, kini tempat-tempat wisata utama dunia sudah mulai mengalami
pergeseran. Wisata tidak melulu melihat sesuatu yang bersifat kuno seperti
piramid dan gereja St. Basil atau barang antik sebagaimana menara Eiffel.
Wisatawan sekarang sudah menyasar pada hal-hal yang dulu dianggap tidak eksotik
seperti bekelana di hutan, menaklukkan gunung, atau mencicipi kulineri yang
sama sekali asing di lidah mereka. Semakin tidak diketahui, semakin asyik
merasakannya. Sifat manusia sebagai makhluk ingin serba tahu akan hal-hal baru
semakin menonjol.&lt;br /&gt;

Pertanyaannya adalah: di mana Indonesia sekarang dan apakah langkah-langkah
kita sudah cukup untuk dapat bersaing dalam dunia pariwisata yang semakin ketat
ini? Kalau dilihat dari sisi statistik pendapatan, sektor pariwisata memang
sudah nongkrong di tempat cukup terhormat. Sejak tahun 2008, sektor ini
merupakan pengeruk devisa nomor empat atau lima setelah minyak dan gas, kelapa
sawit, batubara dan karet. Tahun 2009 misalnya, pendapatan sektor ini sebesar
6,3 miliar dolar dan tahun berikutnya 7,6 miliar dolar. Devisa dari pariwisata
di atas garmen, barang-barang elektrik, tekstil, pulp and paper, makanan, kayu
dan barang-barang kimia.&lt;br /&gt;

Khusus tahun 2011 yang lalu, kunjungan turis asing ke Indonesia berjumlah 7,6
juta dan diperkirakan telah memberikan kontribusi pendapatan negara sebanyak
8,5 miliar dolar. Sedangkan target pada 2012 sebanyak 8 juta turis dan 2015
sebesar 10,5 juta turis asing. Mereka berkunjung ke Indonesia utamanya untuk
melihat alam, budaya, berpetualangan dan wisata pantai.&lt;br /&gt;

Dari data yang ada menunjukkan beberapa negara memiliki prospek yang sangat besar
dalam memberikan kontribusi pendapatan nasional. Wisatawan Tiongkok misalnya,
tahun lalu meningkat hampir 40 persen, dari Timur Tengah bertambah 20 persen,
dari India sebesar 11 persen, dari Rusia naik 5 persen dan Jepang melonjak 4
persen. Data-data ini semata-mata hanya menunjukkan bahwa di antara ekonomi
APEC peningkatan wisatawan sangat cepat dan Indonesia memiliki peluang untuk
maraupnya di masa-masa mendatang.&lt;br /&gt;

Kalau ditelaah lebih jauh, maka sebenarnya perkembangan pariwisata Indonesia
masih perlu dipacu agar sebanding dengan perkembangan wisata internasional,
khususnya ekonomi APEC. Selama kurun waktu 2004 hingga 2010, kontribusi sektor
turisme terhadap GDP nasional pada kisaran 3 persen saja. Tertinggi pada tahun
2004 sebesar 3,8 persen dan terendah pada tahun 2010 sebesar 3,05 persen.
Meskipun angka ini tidak merepresentasikan turunnya nilai raupan dolar, namun
tetap saja belum sejalan dengan pertumbuhan di ekonomi APEC yang telah mencapai
8,3 persen (2011).&lt;br /&gt;

Hal yang layaknya perlu menjadi perhatian bersama adalah mengenai infrastuktur
dan servis dunia kepariwisataan. Dalam pandangan saya, tujuan wisata yang tidak
terlalu elok namun memiliki infrastruktur dan jasa penunjang yang memadai maka
akan mendatangkan turis lebih banyak dibanding tempat wisata indah namun miskin
infrastuktur. Di ASEAN misalnya, Angkor Watt bisa dikunjungi sekitar 1,5 juta
wisatawan asing pertahun sedangkan Borobudur yang notabene jauh lebih elok dan
memikat tertatih-tatih mengejar angka tersebut. Pantai Huahin di Thailand
disesaki oleh ratusan ribu turis mancanegara per tahun, sedangkan pantai
Natsepa di teluk Ambon yang butiran pasirnya begitu bercahaya kurang dilirik
oleh wisatawan asing.&lt;br /&gt;

Indonesia adalah salah satu negeri yang diberi anugerah keelokan alam, budaya
dan perilaku masyarakatnya merupakan daya tarik tanpa batas bagi bangsa lain
untuk menikmatinya. Namun mengingat infrastuktur, jasa dan mungkin sense of
ownership masyarakat yang belum optimal maka jumlah turis ke Indonesia bisa
jadi kalah dengan beberapa negara kecil dengan warga sangat sedikit dengan alam
tak seindah Indonesia. Kesadaran bahwa pariwisata sebagai salah satu pilar
pembangunan ekonomi bangsa harus segera dibangun oleh pemerintah, masyarakat
madani dan seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;

Untuk mencapai tujuan tersebut memang perlu ongkos yang tidak sedikit, atau
dalam pepatah Jawa Jer Basuki Mowo Beo alias tidak ada gratisan. Tapi apa sih
yang tidak bisa kalau ada kesungguhan? Semua sangat tergantung kita. Dengan
niat yang kuat, planning yang baik dan eksekusi yang fokus maka menjadikan
pariwisata sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi bangsa adalah
sebuah keniscayaan.&lt;br /&gt;

Ingat, Indonesia dengan alam yang begitu indah di katulistiwa adalah &#39;zamrud&#39;
yang dianugerahkan Tuhan YME kepada bangsa. Gurauan bahwa Tuhan &#39;tersenyum&#39;
sewaktu menciptakan alam Indonesia mungkin ada benarnya. Untuk itu merupakan
sebuah amanah untuk memikat warga dunia &#39;tersenyum&#39; saat berkunjung ke &#39;Zamrud
Katulistiwa&#39; sehingga kantong mereka bocor dan bekontribusi bagi devisa negara.
Inilah yang disebut &#39;tourism economy&#39;. Inilah saatnya, jangan ditunda lagi (
detikNews).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;*) Djauhari Oratmangun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt; adalah alumnus FE UGM dan kini sebagai
Dubes LBBP untuk Rusia dan Belarusia.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/08/pariwisata-pilar-ekonomi-masadepan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXMozuXOdBg-hGMb6O6JYwBLKgFQ98sy0aK6emCBPz-Rcm6-0w13XzxKg6gnl5jbHLXehbpwKGjskXyxYw_WQDXtF7IXSEkGo9wlWzCRZ63XkNLsQB0I__qy3w6_Fb-kbxiVRsx5Uili4/s72-c/Lanskap+Budur+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4192210354760043961</guid><pubDate>Sat, 23 Jun 2012 21:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-24T04:45:57.001+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">art and culture</category><title>RINDU WAISAK KULTURAL.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNS2S1MuHqQ_rTU0X1vG_JLasGC6CXAEloM0g84XGLXQYXHlCTjkqz6h_nJ6aFvdqbBae4rPKRmYR2UcwVcEvX2raFLTg4fdxxD24baFRfz8GtzyuSHGBA7I5YvCDDumGcxfQwgWKFQuo/s1600/Menerbangkan+lampion+01.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNS2S1MuHqQ_rTU0X1vG_JLasGC6CXAEloM0g84XGLXQYXHlCTjkqz6h_nJ6aFvdqbBae4rPKRmYR2UcwVcEvX2raFLTg4fdxxD24baFRfz8GtzyuSHGBA7I5YvCDDumGcxfQwgWKFQuo/s640/Menerbangkan+lampion+01.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh Mualim M Sukethi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 20 Juni 2012.&lt;/b&gt; Ketika
kecil, tahun 1960-70-an, saya termasuk anak yang selalu menanti-nanti perayaan
Waisak. Saat itu pemahaman tentang perbedaan agama belum merasuk benak
anak-anak. Sehingga saya bisa menerima perayaan Waisak seperti halnya menghadapi
perayaan Lebaran Iedul &amp;nbsp;Fitri. Dalam
benak saya saat itu, Waisak identik dengan perayaan alias pesta desa. Ada
ribuan manusia berkumpul, ada prosesi ribuan obor, ada upacara meriah, tontonan
bermacam-macam kesenian, hingga berbagai jajanan di sekitar candi Mendut dan
Borobudur.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat itu, kami kakak beradik,
selalu menyempatkan diri menginap di rumah kakek di Desa TukSongo, kira-kira 2
km sebelah selatan Candi Borobudur. Selama 2-3 hari menginap di rumah kakek,
kami berkesempatan menonton rangkaian acara Waisak, termasuk berbagai acara
kesenian rakyat yang dimainkan warga desa di sekitar candi. Berbagai kesenian
yang dimainkan antara lain Jathilan, Rodhat, Kubrosiswo, Wayang Kulit atau
Wayang Wong, hingga Topeng Ireng. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Khusus Topeng Ireng, kesenian
itu masih tampil dalam bentuk aslinya. Para pemainnya berkostum sederhana, ala
kesatria Jawa, plus topeng berwarna hitam. Sekujur tubuh mereka juga berwarna
hitam &amp;nbsp;karena diolesi &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;langes &lt;/i&gt;– debu hasil pembakaran yang
biasa menempel pada peralatan dapur.Belum seperti sekarang ini, yang didominasi
kostum ala Indian Amerika. Tarian ini memang asli ciptaan warga TukSongo
bernama Ahmat Sujak, yang kebetulan adik kakek kami.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kami juga bergaul dengan para
biksu dan pendeta Budha yang berkunjung atau menginap di rumah kakek kami. Saat
itu sekitar Borobudur belum banyak hotel atau penginapan. Sehingga para biksu
dan pengunjung Waisak banyak yang&amp;nbsp;
menginap di rumah penduduk sekitar Borobudur. Kami sangat terkesan oleh
sosok-sosok &amp;nbsp;berkepala plonthos dengan
jubah kuning atau coklat itu, yang melintas atau mondar-mandir di jalanan desa
sekitar candi.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebuah kenangan indah yang
sulit dilupakan……&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya menikmati acara Waisak
kembali saat saya menjadi mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tahun
1980-an. Selain bertujuan mempelajari aspek-aspek kebudayaan, saya juga mencoba
menyerap nilai-nilai Budhisme. Maklum saat itu saya juga sedang gemar-gemarnya
mempelajari spiritualisme berbagai agama dan kepercayaan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kini, beberapa tahun terakhir
ini, saya kembali mendatangi candi di lembah Pegunungan Menoreh ini saat Waisak
tiba. Bahkan pada saat Waisak terakhir, beberapa hari lalu, saya menikmatinya
bersama keluarga. Kami sekeluarga juga sempat mengunjungi Sendangsono, situs
ziarah bagi umat Katholik. Saya ingin berbagi dengan mereka tentang indahnya
kehidupan keberagaman (agama dan kebudayaan) di wilayah berpanorama indah ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keluarga saya cukup terkesan
oleh beberapa acara Waisak kali ini. Terutama ketika menyaksikan pelepasan
ribuan lampion saat puncak puja semedhi Waisak di pelataran candi Borobudur. Bayangkan….ribuan
lampion memenuhi udara malam di atas Borobudur. Ribuan lampion yang terus
membumbung tinggi itu seakan-akan membentuk jembatan cahaya menuju bulan
purnama yang bulat sempurna. Kebetulan saat itu juga sedang berlangsung
fenomena super-moon, atau posisi bulan terdekat dengan bumi.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun bagi saya pribadi,
rasanya ada yang hilang dengan perayaan Waisak kali ini. Waisak yang penuh
nuansa kebudayaan, atau sebutlah Waisak Kultural, seperti masa kecil saya, kini
tak bisa dijumpai lagi. Rangkaian acara yang berlangsung, seperti penyambutan
api dan air suci berlangsung datar. Paritha (doa) dan kidung-kidung suci
dibacakan atau dinyanyikan dengan dingin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhp9CSXaHAN0bVZDQ-M47TuikX_mFU57oPZ-d9shAOGCkDECf6rcETVlK8VYtFM5RSfU0osfNKAUbkZWrzEaNH7nJASKRMvJVrEyXtqzYrq5kzEQ1tcna7qDiv6WPXE5a_IGnAB5A4sv7g/s1600/kirab+waisyak+01.jpg&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhp9CSXaHAN0bVZDQ-M47TuikX_mFU57oPZ-d9shAOGCkDECf6rcETVlK8VYtFM5RSfU0osfNKAUbkZWrzEaNH7nJASKRMvJVrEyXtqzYrq5kzEQ1tcna7qDiv6WPXE5a_IGnAB5A4sv7g/s320/kirab+waisyak+01.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bahkan puja semedhi, sebagai
puncak acara Waisak, terlaksana relative tanpa sentuhan seni sama sekali. Selain
renungan, semedhi, atau wejangan, memang ada paduan suara. Tapi sajian olah
suara yang menyanyikan lagu-lagu pujaan bagi Sang Budha, termasuk himne Walubi
ciptaan Hartati Murdaya, Ketua Walubi, itu tergolong berkualitas rendahan.
Sekelas dengan koor ibu-ibu tingkat RT/RW di Magersari, kampung di mana saya
dibesarkan di kota Magelang. Apalagi kualitas soundsystem-nya juga menyedihkan.
Yang cukup mengesankan secara estetik, hanya acara pelepasan lampion. Itu pun
karena dukungan setting candi Borobudur dan purnama yang spektakular.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dulu, kirab berlangsung
khidmat, serta menyajikan keindahan tersendiri, karena dihiasi ribuan obor
peserta yang harus melewati jalanan gelap antara Mendut-Borobudur. Kini ribuan
massa itu berjalan tak beraturan penuh atribut organisasi dalam bentuk bendera
dan spanduk, menyerupai barisan kampanye partai politik.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berbicara tentang politik,
ternyata dalam beberapa tahun terakhir, tak bisa dilepaskan dari perayaan
Waisak, khususnya sejak era reformasi. Kalau pada masa Orde Baru, hegemoni
Negara sangat kuat, sehingga gejolak politik tak terasa. Namun sejak era
reformasi, politisasi Waisak nampak terbuka. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Walubi (Perwalian Umat Budha),
yang diketuai Hartati Murdaya, berusaha menguasai hajat tahunan umat Budha itu
bagi ambisi politiknya. Ia memobilisasi kekuatan ekonominya sebagai pengusaha
terkemuka. Antara tahun 2002-2004, ia mengerahkan buruh yang bekerja di
beberapa perusahaannya untuk menghadiri Waisak. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ia juga ‘menyulap’ warga sekitar
Borobudur, sesaat menjadi umat Budha. Bahkan banyak yang bersedia digunduli dan
dijubahi sebagai biksu, padahal mereka muslim, “ kata Ariswara Soetomo,
budayawan Borobudur, saat saya temui di antara acara Waisak. Selain mendapat
honor sebagai figuran budhis, masyarakat juga mendapat penghasilan tambahan
dengan menyewakan kamar dan menyediakan makanan bagi ribuan peziarah baru itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun ‘honeymoon’ itu hanya
berlangsung sesaat, lanjut Ariswara. Begitu berhasil menduduki jabatan sebagai
Ketua Umum Walubi, Hartati menghentikan mobilisasi massa itu. Ia juga
menghentikan kebiasaan umat Budha menginap di rumah penduduk. Ia memborong
tanah di sekitar candi, membangun wisma atau vihara, dan rombongannya diinapkan
di situ. Bahkan untuk kebutuhan konsumsi, ia membangun dapur umum di dekat
candi Mendut.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Relatif tak banyak&amp;nbsp; distribusi ekonomi saat Waisak berlangsung, “
tambah Ariswara. Tentang hal ini juga diiyakan oleh Andrie Topo, seniman
performens, yang sejak 6 bulan lalu tinggal di samping selatan candi Borobudur.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menjelang Waisak kemarin,
Andrie melihat banyak pemuda menganggur. Kebanyakan mereka hanya jadi tukang
parkir di sekitar candi. Ketika ditanya apa mereka tak dilibatkan secara resmi
dalam kepanitiaan Waisak selama ini ?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Ndak mas. Kami hanya kebagian
sampah yang ditinggalkan turis-turis Waisak itu, “ kata salah seorang pemuda
yang tinggal di sekitar rumah Andrie. Seniman berambut gimbal itu kemudian
berinisiatif membuka stand (tenda) menjual berbagai kerajinan dan lukisan yang
berhasil ia kumpulkan dari seniman dan pengrajin yang bersimpati. Hasilnya
dibagi dan jadi tambahan penghasilan bagi para pemuda di sekitar rumahnya itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seniman dan budayawan setempat
juga tak pernah dilibatkan dalam hajat spiritual sekaligus cultural itu. “Kami
tak pernah dilibatkan, “ kata Umar Chusaini, Ketua KSBI (Komunitas Seniman
Borobudur Indonesia). Padahal komunitas beranggotakan puluhan seniman itu
tergolong paling aktif mengadakan berbagai kegiatan senibudaya, baik di dalam
mau pun di luar candi Borobudur.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Dulu bersama warga desa
Wanurejo kami sering mengadakan acara budaya berbarengan Waisak. Tapi kemudian
berhenti, karena panitia Waisak ndak pernah bantu apa-apa, “ tambah Umar.
Ketidakhadiran seniman dan budayawan ini nampak jelas pada penanganan berbagai
acara Waisak, yang miskin dari citarasa dan sentuhan artistic. Padahal dalam
sejarah kebudayaan, olah spiritual atau ritual apa pun tak bisa dilepaskan dari
unsure kesenian.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Waisak sekarang ini lebih
mengedepankan seremonial-nya, atau Waisak seremonial, “ kata Ariswara.
Unsur-unsur spiritualnya juga mulai memudar oleh kepentingan seremonial yang
berbau politis, lanjut pemilik Hotel Rajasa, yang berada tepat di samping
tembok komplek Borobudur itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Situasi&amp;nbsp; sekarang ini menumbuhkan jarak sosio-kultural
antara perayaan Waisak dengan masyarakat sekitar. Masyarakat merasa tidak
mendapat manfaat apa-apa, atau sekedar mendapat remah-remah dari kehadiran
ribuan peziarah tahunan itu. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apalagi secara ekonomi, selama
ini keberadaan industri pariwisata Borobudur juga dianggap tidak berkontribusi
bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. Sekarang ini, dari segi kesejahteraan,
posisi Kecamatan Borobudur berada di peringkat 19 dari 22 kecamatan seluruh
Kabupaten Magelang. Ironis.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sesungguhnya hal ini, secara
politik, kurang menguntungkan bagi Hartati mau pun bagi umat Budha secara umum.
Mestinya Hartati masih membutuhkan dukungan masyarakat sekitar, khususnya dalam
perebutan pengaruh antara Walubi dengan KSI (?), organisasi Budhis lain yang
dipimpin para pendeta.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perasaan tidak dilibatkan pada
akhirnya mengikis rasa memiliki terhadap Borobudur. Ini yang lebih berbahaya.
Perasaan itu bisa tumbuh menjadi anti Borobudur, seperti yang diperlihatkan
oleh beberapa warga yang tergolong Islam puritan. Atau resistensi terhadap
berbagai proyek pengembangan Borobudur. Kalau hal ini digarap bagi kepentingan
tertentu, situasi Borobudur bisa ‘meledak’ menjadi bom politik yang
mengguncangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perlu diingat, selain pernah
diledakkan secara fisik, masyarakat pernah berkeinginan agar Borobudur menjadi
wilayah Provinsi Jogyakarta. Keinginan terakhir itu jelas didorong oleh
minimnya perhatian pemerintah &amp;nbsp;serta PT
Taman Wisata Borobudur. Dibandingkan masyarakat Jogyakarta yang relative lebih
sejahtera. Padahal salah satu sumber kesejahteraan itu berasal dari pariwisata.
yang jelas sangat tergantung pada keberadaan Borobudur. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mestinya situasi yang tidak
menguntungkan ini secepatnya bisa disadari. Pemerintah dan umat Budha
secepatnya harus merangkul dan membangun kembali kebersamaan untuk menjaga dan
melindungi candi Borobudur. Tidak semata-mata untuk kepentingan spiritual umat
Budha, tapi juga untuk pengembangan sosio-cultural masyarakat pendukungnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin jalan kebudayaan bisa
ditempuh. Dengan tersalurnya ekspresi kebudayaan, rasa memiliki terhadap Borobudur
dan Waisak diharapkan tumbuh di kalangan masyarakat. Syukur-syukur kalau
pelibatan secara kebudayaan itu serta merta meningkatkan ekonomi dan
kesejahteraan. Pasti masyarakat akan berterimakasih dan welcome terhadap
perayaan Waisak dan kehadiran ribuan umat Budha itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Waisak itu bukan berarti
kesedihan. Bukankah pada relief candi tergambar suasana riang gembira oleh
berbagai kesenian dalam setiap ritual agama Budha, “ Ariswara mengingatkan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau hal itu bisa terjadi,
rasanya bukan hanya rasa rindu terhadap Waisak cultural yang terobati. Tapi
juga harmoni dalam kehidupan masyarakat Borobudur bisa terjaga, serta
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang meningkat signifikan. Semoga !
&lt;b&gt;(bolinks@2012)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;(CATATAN: Tulisan ini dalam
edisi cetak sudah dimuat di ‘Suara Gemilang’, majalahnya Diskominfo Kabupaten
Magelang, edisi Mei 2012.).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/06/rindu-waisak-kultural.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNS2S1MuHqQ_rTU0X1vG_JLasGC6CXAEloM0g84XGLXQYXHlCTjkqz6h_nJ6aFvdqbBae4rPKRmYR2UcwVcEvX2raFLTg4fdxxD24baFRfz8GtzyuSHGBA7I5YvCDDumGcxfQwgWKFQuo/s72-c/Menerbangkan+lampion+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-490242561123251183</guid><pubDate>Sun, 13 May 2012 08:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-24T04:46:48.929+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>STREET JAZZ DI MAGELANG.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggxnLvonL8gfhRsV92vCSWHmFtsJJAfOFyVDgTO1GdkEXjh9NQJgr9hcScmkYL5pVPI25mtyXH2wRwIv1X4aoxvEZYjqF4c-nFjaM1UD_2UqxBSq8cnJcW4hcqwc0SDJLYsJxmfC5HTek/s1600/Mtr+lintas+panggung+03.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggxnLvonL8gfhRsV92vCSWHmFtsJJAfOFyVDgTO1GdkEXjh9NQJgr9hcScmkYL5pVPI25mtyXH2wRwIv1X4aoxvEZYjqF4c-nFjaM1UD_2UqxBSq8cnJcW4hcqwc0SDJLYsJxmfC5HTek/s640/Mtr+lintas+panggung+03.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh MyAsa Poetika.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 13 Mei 2012.&lt;/b&gt; Malam
minggu (12/5) kemarin udara dingin di Magelang berubah lumayan hangat. Hal ini
disebabkan oleh hadirnya kelompok music jazz ‘Swing Line’, yang menghibur
khalayak dalam acara ‘Djarum MLD STREET JAZZ’. Hajatan yang tergolong
‘mini-concert’ itu berlangsung pukul 19.00 – 21.00, di jalanan samping
Mapolres Alun-alun Selatan Kota Magelang. Beberapa lagu jazz standard seperti
‘Girl From &amp;nbsp;Ipanema’ dan ‘Fly to The
Moon’, serta sekitar sepuluh lagu lainnya dinyanyikan oleh duet penyanyi Sherly
dan Itok. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Acara yang pertama kalinya
diadakan di Magelang, ini adalah bagian dari empat pertunjukan serupa setiap
Sabtu malam. Selain di Magelang, acara serupa juga diadakan di Alun-alun
Temanggung. Hanya selang waktu, Di Temanggung berlangsung jam 16.00-18.00,
sementara di Magelang satu jam kemudian.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Upaya Djarum MLD menghadirkan
hiburan ini pantas diapresiasi. Jazz tampil lebih membumi, tak membedakan kelas
penontonnya. Sebagian besar pengunjung adalah warga yang hanya mampu berekreasi
menikmati malam minggu sambil menikmati hidangan angkringan di Alun-alun.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi penempatan panggung
dengan penonton yang&amp;nbsp; dipisahkan oleh
jalanan dengan lalulintas yang lumayan padat rasanya pantas dipertanyakan. Apa
yang mau dicapai ?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penonton yang berdiri atau duduk
di antara sesaknya warung angkringan dan parkir motor di sebrang Mapolres,
sebetulnya merasa kurang nyaman dengan kondisi ini. Selain pandangan terganggu
oleh lalu lalang kendaraan dan klakson yang kadang-kadang melengking, juga asap
kenalpot pastilah kurang oke bagi kesehatan. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bisa dibayangkan, saat solo
flute mengalun lembut, tiba-tiba ditimpa lengkingan klakson. Atau saat penyanyi
mulai bergoyang, pandangan penonton terhalang deretan mobil dan motor yang
tersendat karena lampu merah menyala. Apa boleh buat,….di tengah situasi
Magelang yang miskin hiburan kondisi seperti ini sudah lumayan menghibur. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sesungguhnya masyarakat
Magelang pernah memiliki gelaran jazz&amp;nbsp;
yang lebih nyaman, yakni ketika acara rutin yang digelar MJC (Masyarakat
Jazz Community) dan warung ‘Kucing Gunung’ masih berlangsung setiap Jumat dan
Sabtu malam. Namun entah kenapa tontonan yang mengasyikkan itu terhenti.
Dengar-dengar ada larangan dari Pemkot Magelang, karena dianggap berpotensi
terjadinya kerusuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau benar, alasan itu tentu
mengada-ada. Sebab kendati ditonton hingga ratusan orang, sebagian besar anak
muda, tapi pertunjukannya relative berlangsung tertib. Tak ada alcohol dan
narkoba yang bisa ditemukan pada anak-anak muda itu, yang biasanya mudah
memancing emosi dan kerusuhan. Yang ada adalah kegembiraan karena bisa
berekspresi serta saling menghibur.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggxnLvonL8gfhRsV92vCSWHmFtsJJAfOFyVDgTO1GdkEXjh9NQJgr9hcScmkYL5pVPI25mtyXH2wRwIv1X4aoxvEZYjqF4c-nFjaM1UD_2UqxBSq8cnJcW4hcqwc0SDJLYsJxmfC5HTek/s1600/Mtr+lintas+panggung+03.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggxnLvonL8gfhRsV92vCSWHmFtsJJAfOFyVDgTO1GdkEXjh9NQJgr9hcScmkYL5pVPI25mtyXH2wRwIv1X4aoxvEZYjqF4c-nFjaM1UD_2UqxBSq8cnJcW4hcqwc0SDJLYsJxmfC5HTek/s320/Mtr+lintas+panggung+03.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertanyaan selanjutnya, kenapa
tontonan ini bisa mendapat ijin dan berlangsung lancar ? Sementara gelaran &amp;nbsp;di ‘Kucing Gunung’ (depan Gedung Wanita, jalan
Veteran)&amp;nbsp; dilarang ? Apakah karena
tontonan ini diusung Djarum MLD yang pasti punya duit dan bisa membayar
pungutan, sementara acara di ‘Kucing Gunung ‘ pasti gratisan karena murni
swadaya komunitas music ? Siapa yang bisa memberi jawaban ? &lt;b&gt;(bolinks@2012).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/05/street-jazz-di-magelang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggxnLvonL8gfhRsV92vCSWHmFtsJJAfOFyVDgTO1GdkEXjh9NQJgr9hcScmkYL5pVPI25mtyXH2wRwIv1X4aoxvEZYjqF4c-nFjaM1UD_2UqxBSq8cnJcW4hcqwc0SDJLYsJxmfC5HTek/s72-c/Mtr+lintas+panggung+03.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-523481890278601076</guid><pubDate>Sat, 05 May 2012 10:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-13T15:05:16.445+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>HUT Kota Magelang 2012: MASIH SEKEDAR ASAL RAME.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKe_XnjEfm9hR785hKrU3zGmFAg3Ow6KLJVVHTX9rgDbsaeIz4nltWDlpv4NBV6w7O3tGaVpt_5CL4lE22icKMxHgIYDE1Yq_Kiv556WUqVmYURMqAvbg3g2l-kIo2nQcNoeWRp2a9Zww/s1600/Panggung+Mubazir.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;296&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKe_XnjEfm9hR785hKrU3zGmFAg3Ow6KLJVVHTX9rgDbsaeIz4nltWDlpv4NBV6w7O3tGaVpt_5CL4lE22icKMxHgIYDE1Yq_Kiv556WUqVmYURMqAvbg3g2l-kIo2nQcNoeWRp2a9Zww/s400/Panggung+Mubazir.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh Mualim M Sukethi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 22 April 2012.&lt;/b&gt;
Dua tahun lalu saya membuat catatan tentang HUT Kota Magelang 2010 yang memuat
kritik cukup keras terhadap perhelatan itu. Tahun 2011 saya tidak membuat catatan
karena tak sempat menonton hajat tahunan itu. Rupanya hal itu mengundang protes
Gepeng Nugroho, yang menjadi pengarah program HUT tahun 2010. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tidak adil. Karena karya saya
dikritik habis, sementara karya pengganti saya tidak dikritik, “ kata seniman
produktif itu. Untuk itu, maka catatan ini saya anggap sebagai jawaban atas
permintaan Gepeng.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun saya harus meminta maaf
kepada Gepeng karena saya telah melewatkan suguhan utama acara HUT Kota
Magelang, yaitu garapan sendratari yang mengangkat kisah terjadinya kota
Magelang. Saya sendiri berusaha nonton acara itu. Tapi karena situasi alun-alun
yang tidak pro rakyat,&amp;nbsp; membuat saya
malas untuk terus&amp;nbsp; menikmati seremoni
tahunan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang saya maksud tontonan
tidak pro rakyat adalah adanya pagar barikade di sebelah kiri panggung, yang
memisahkan rakyat dengan pejabat atau tamu kehormatan lainnya, dan menempatkan
rakyat sebagai manusia pinggiran yang tak berhak menikmati tontonan secara
layak. Apa enaknya nonton pertunjukan dari samping panggung, panas, berjubelan
lagi ?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Padahal seingat saya, mBilung
Sarawita (Ketum DKKM, Dewan Kesenian Kota Magelang), sebelum menjabat Ketum
DKKM adalah orang yang terobsesi untuk menghilangkan pagar pembatas yang
menjadi sekat antara pejabat dan rakyat, khususnya dalam pagelaran wayang kulit
yang selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari HUT Kota Magelang. Apakah
kritik terhadap adanya pagar pembatas itu tak berlaku untuk acara utama atau
acara selain wayang kulit ? Atau kritik terhadap masalah itu hanya berlaku
ketika yang bersangkutan dalam posisi sebagai rakyat ? Begitu menjadi pejabat
lupa bahwa rakyat yang paling berhak menikmati suguhan hiburan itu justru
terpinggirkan oleh barikade itu ?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya hanya membaca Koran
keesokan harinya, yang seperti biasa tidak mengulas esensi pertunjukan itu.
Tapi lebih mengedepankan pernyataan mBilung Sarawita, yang menyatakan kalau ia
ingin meluruskan sejarah Magelang berdasarkan situs Mantyasih, bukan legenda
Syeh Subakir. Ia juga mengaku berusaha menghilangkan gaya kratonan, dengan
meniadakan parade kereta kencana dan kostum raja-raja saat upacara berlangsung.
Dengan alasan Magelang tidak pernah ada tradisi kerajaan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDuUDz2hRSCY2JwsfrD3Pe6QJMbA9VEL2HK8FNqVPQ74ibPlxnGWBS81TtfK2zCjeylOEbHC5yTEwgKf-4MZo-CvWIv-NFyxsBJ9fGwcOdxReFuDE9lOhQvrvIBRPDL-q_8gmEDsJ9_N0/s1600/Massa+potensial.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDuUDz2hRSCY2JwsfrD3Pe6QJMbA9VEL2HK8FNqVPQ74ibPlxnGWBS81TtfK2zCjeylOEbHC5yTEwgKf-4MZo-CvWIv-NFyxsBJ9fGwcOdxReFuDE9lOhQvrvIBRPDL-q_8gmEDsJ9_N0/s320/Massa+potensial.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya pribadi berterimakasih
terhadap upaya untuk membumikan HUT Kota Magelang. Sehingga kita berharap
hajatan budaya itu lebih populis.&amp;nbsp; Namun seingat
saya, gugatan terhadap konsep borjuis-feodal dalam upacara HUT Magelang sudah
saya lakukan lewat tulisan 2 tahun lalu. Tentu gugatan saya itu didasari
tinjauan sosio-historis dan filosofis terhadap sejarah dan perkembangan kebudayaan
di Magelang. Rasanya belum pernah ada gugatan sejenis baik tertulis mau pun
lisan sebelum tulisan saya itu (lihat ‘HUT KOTA MAGELANG: QUO VADIS ?’, di &lt;a href=&quot;http://www.borobudurlinks.com/&quot;&gt;www.borobudurlinks.com&lt;/a&gt;).&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;Selain tidak sempat menonton sendratari,
saya juga tidak mengikuti semua rangkaian acara yang berlangsung sebulan penuh
itu. Selain tak punya waktu, hampir semua acara itu juga sekedar acara
ramai-ramai orang berultah, seperti lomba tenis, gerakjalan atau gowes bareng, atau
parade mobil antiq, &amp;nbsp;dll. Saya menganggap
semua itu bukanlah acara budaya yang mengkedepankan nilai. Apalagi dalam
konteks pengembangan pariwisata.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin benar rangkaian acara
HUT Kota Magelang kali ini, khususnya yang berlangsung tanggal 15 April 2012,
di Alun-alun, berlangsung meriah. Ukurannya tentu jumlah penonton yang relative
membludag, memenuhi alun-alun dan jalanan sekitarnya. Namun itu semua sekedar
mencerminkan hausnya masyarakat Magelang terhadap hiburan. Apapun tontonan yang
mengesankan riuh ramai meriah pasti akan ditonton. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara estetik ataupun dalam
konteks pengembangan pariwisata belum ada terobosan yang berarti. Pada puncak
acara tanggal 15 April, itu alun-alun sebagai ikon kota justru nampak sangat
semrawut. Saya curiga tak ada konsep atau grand-design tentang penataan kembali
ruang public seperti alun-alun bagi kepentingan hajat budaya, yang menyatukan
kepentingan upacara, tontonan, pasar, parade, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang fotografer senior yang
saya temui di hajatan itu juga mengeluhkan hal serupa. “Saya tak bisa mengambil
gambar dengan bagus. Kamera diarahkan kemana saja, yang tertangkap kondisi yang
semrawut, “ katanya sembari memberi contoh ikon-ikon alun-alun seperti patung
Diponegoro dan watertoren yang tenggelam oleh panggung, bendera merah putih,
dan umbul-umbul sponsor.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendapat itu ditimpali
fotografer yang lebih muda, “Ketika gambar rencana tata letak&amp;nbsp; dipresentasikan, saya sudah bilang kalau akan
menyulitkan fotografer mendapatkan gambar bagus “.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya juga perlu mengkritisi
adanya panggung megah di tengah alun-alun. Selain dari segi estetika agak norak,
panggung itu hanya berfungsi untuk kepentingan upacara (jam 09-11 pagi).
Sesudahnya langsung dibongkar. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah tidak lebih baik
seandainya panggung dan peralatan soundsystem yang sudah disewa, tentu dengan
harga mahal itu, dimanfaatkan seoptimal mungkin ? Bukan sekedar 2-3 jam. Toh
harga sewanya dihitung sehari. Apabila panggung itu bisa dimanfaatkan
sehari-semalam, tentu gairah ekspresi senibudaya masyarakat muda Magelang bisa
terwadahi. Kalau iya, maka puluhan band indie dan seni modern lainnya akan
merasa terwadahi ekspresinya lewat hajatan setahun sekali ini. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti kita ketahui betapa
menyedihkan nasib band-band indie yang tergabung dalam Magma (Magelang Music
Mania) atau MJC (Magelang Jazz Community), yang hingga kini tak memiliki tempat
memadai sekedar berekspresi, setelah dilarang manggung di area Kucing Gunung
setiap sabtu-minggu malam. Saya rasa Magelang tak hanya berisi grup atau
komunitas kelurahan seni tradisional semata. Seperti yang diberi kesempatan
bermain dan memenuhi jadwal HUT, baik di -kelurahan atau pun pada parade
budaya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tentang parade budaya sendiri,
kiranya perlu klarifikasi apakah yang dimaksud parade budaya atau pawai
pembangunan ? Memang selama ini tak ada batasan ketat antara dua hajatan yang
biasa diadakan saat HUT Kota atau ’17 Agustusan’. Parade budaya, seperti yang
sudah berlangsung selama ini, menempatkan karya-karya senibudaya seperti tari,
music, busana, dan adat istiadat sebagai sajian utama. Sedangkan pawai pembangunan,
yang lahir sebagai glorifikasi hasil pembangunan di masa ordebaru, lebih
mengkedepankan hasil-hasil pembangunan sebagai materi utamanya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kerancuan arak-arakan yang
disebut parade budaya saat HUT Kota Magelang kemarin adalah mencampuradukkan
dua materi di atas. Jadi jangan heran kalau penonton disuguhi keanggunan mobil
hias yang ditumpangi ‘Putri Pariwisata Indonesia 1011’, disusul putri-putri
cantik ber’batik carnival’, kemudian diakhiri mobil hias yang memajang motor
Suzuki dengan SPG nangkring di atasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pelaksanaan parade budaya juga
tergolong amatiran. Rute parade yang membingungkan penonton, juga terkesan
sekedar suguhan bagi elit Magelang yang mendapat hak duduk manis di ‘panggung
walikota’ (istilah panitia). Panggung itu didirikan di sisi timur alun-alun, sementara
rakyat dibiarkan mengokupasi trotoar dan jalanan sekitar panggung itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain menutup instalasi huruf
baja berbunyi Magelang, yang kini menjadi ikon baru melengkapi &amp;nbsp;watertoren dan patung Diponegoro, panggung itu
juga&amp;nbsp; nampak overlapping dengan deretan
tiang bendera dan spanduk sponsor. Maka konfigurasi yang indah antara patung
Diponegoro, beringin, watertoren, dan masjid Agung, bisa dikatakan hancur
total.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mestinya kalau panggung itu
harus ada, untuk memenuhi ego elite Magelang yang masih butuh panggung
kehormatan, maka bisa didirikan di jalur lambat depan eks ‘Magelang Theatre’. Dengan
demikian para tamu terhormat itu bisa menikmati parade dengan latar alun-alun
dan segenap ikon-ikonnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rakyat juga bisa menikmati
parade dengan nyaman, tak harus berjubelan saling berebut tempat di depan. Karena
bisa duduk nyaman di trotoar pinggir alun-alun yang lebih tinggi dari jalanan.
Sementara penonton yang sederet dengan panggung walikota juga terbatasi oleh
jalur lambat, dan memungklinkan masyarakat lebih tertib dalam menonton. Sebab
ketertiban itu syarat mutlak agar para kontingen parade bisa secara leluasa
menampilkan atraksinya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada parade budaya kemarin
atraksi masing-masing kontingen memang diadakan di depan panggung walikota ini.
Jadi kontingen yang sudah menyiapkan diri sejak pagi dari mulai di depan gedung
Wanita (jalan Veteran) hanya unjuk kebolehan di area sepanjang 30 meter ini.
Itu pun tidak semua kontingen. Sebab banyak juga kontingen yang tidak
menyiapkan atraksi, seperti rombongan PNS Kota Magelang yang tampil seadanya,
sekedar menampilkan baju batiknya dengan gaya yang letoy.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Atau penampilan Putri
Pariwisata yang sekedar berdiri menangkupkan tangan di dada, atau
melambai-lambaikan tangan ke arah penonton. Sayang mobil hias bertabur bunga
plastic itu tak dilengkapi sound system atau music yang memadai. Maka
penampilan putri cantik itu terasa dingin tak ada pesona atau gebyar layaknya
putri yang dielu-elukan massa.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Kok garing banget
penampilannya, “ kata Hartono (49 th), warga Keplekan,&amp;nbsp; yang sore itu menonton parade bersama istri
dan anaknya. Ungkapan ‘garing’ yang dilontarkan bapak itu terasa tepat dalam
menggambarkan jalannya parade secara keseluruhan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penampilan atraksi
masing-masing peserta terasa seadanya. Tak ada unsur-unsur spektakel&amp;nbsp; atau pembesaran layaknya sebuah pertunjukan
jalanan (street performance). Mungkin tak ada seorang pengarah pertunjukan
(show director- SD) yang mengarahkan parade ini. Atau kalau toh ada, bisa
dipastikan SD yang dipakai&amp;nbsp; bukanlah yang
tergolong professional.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekedar diketahui, ketika
‘Parade Budaya Nusantara’ diadakan pertama kalinya, di awal pemerintahan SBY,
panitia menggunakan SD sekaliber Sardono Kusumo, art-director dan penata tari
terkemuka. Baru 2-3 tahun kemudian, setelah polanya terbentuk, jabatan SD itu
bisa dipegang seniman lain yang lebih muda. Setahu saya, jabatan SD itu
kemudian diteruskan oleh teman-teman dari Teater Koma, Jakarta.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiadaan pengarahan itu juga
terjadi pada rute yang ditempuh peserta. Ada yang meneruskan parade dan atraksinya
kearah jalan Pemuda. Tapi banyak juga yang langsung berbelok kanan ke arah
Mapolres. Seperti rombongan ‘Batik Carnival’ yang rombonganya berjalan tak
beraturan dan kemudian bubar serta beristirahat di depan kantor polisi itu.
Mungkin kecapean setelah dari pagi menyiapkan diri.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Banyak warga masyarakat yang
menunggu parade di sepanjang jalan pemuda harus menelan kekecewaan, karena
hanya satu-dua kontingen yang melewati jalan utama kota itu. Ini juga bukti
bahwa hajatan ini sebenarnya ditujukan untuk siapa ? Sekedar untuk elite
Magelang yang duduk nyaman di panggung walikota, atau bagi rakyat yang menyemut
di sekitar alun-alun dan jalan Pemuda ?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk itu kita harus berterimakasih
pada kontingen drum-band Akademi Militer (Akmil). Drum-band legendaries itu dengan
gagah an indah berkeliling Alun-alun, jalan Pemuda, jalan Tidar, jalan Tentara
Pelajar (Bayeman), hingga kembali ke Alun-alun. Masyarakat sedikit terhibur
oleh kehadiran drum-band yang anggotanya banyak menggunakan kostum harimau itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang menyedihkan, tentu,
tiadanya ciri khas, keunikan, atau sesuatu yang pantas ditonjolkan &amp;nbsp;dari acara tahunan Kota Magelang ini. Atau
menurut pakar komunikasi pemasaran, tiada branding yang ditawarkan. Kalau
Jember Carnival terkenal dengan street-fashion-nya, atau Solo termasyur dengan
‘Batik Carnival’nya, lalu Magelang apa ?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau kini Magelang mau
mengangkat batik sebagai brand bagi parade kotanya, tentu harus memperhitungkan
bahwa ‘batik carnival’ sudah dimiliki atau identik dengan Solo. Hal ini yang
sempat diperhitungkan oleh Jogya, yang juga merasa batik sebagai identitas
budayanya. Namun karena malu dicap sebagai epigon alias pengekor, kemudian
Jogya menanggalkan batik dan memilih karnaval malam (nite-carnival) dengan tema
‘bhineka tunggal ika’. Karnaval malam itu dinilai cukup berhasil. Bahkan pada
pelaksanaannya yang pertama kali tahun lalu, telah menobatkan kontingen
Borobudur (PT Taman Wisata Borobudur) sebagai penampil terbaiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Okelah…kalau Magelang tidak
malu dicap menjadi pengekor, maka sebagai pengekor yang baik mestinya harus
bisa menampilkan sajian yang mengungguli Solo. Untuk itu pastilah diperlukan
kiat, kaidah, garapan yang rancak dan profesional. Tidak mustahil, kalau
branding&amp;nbsp; itu berhasil, serta diimbangi
pengembangan pariwisata lainnya, Magelang akan dikenang sekaligus menjadi salah
satu tujuan wisata yang penting selaras potensi yang dimilikinya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi kalau sekedar asal rame
seperti kesan yang saya tangkap, paling banter hajatan budaya dan pariwisata
itu akan ditulis di koran-koran local, lalu dengan mudah dilupakan. Tak akan
tercatat sebagai agenda budaya yang penting. Kunjungan wisata juga tak akan
meningkat sesudahnya. Wuss…wuss..bablas angine, kata (alm) Basuki dalam sebuah
iklan obat masuk angin…. lewat begitu saja…he he&lt;b&gt; (bolinks@2012). &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/05/hut-kota-magelang-2012-masih-sekedar.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKe_XnjEfm9hR785hKrU3zGmFAg3Ow6KLJVVHTX9rgDbsaeIz4nltWDlpv4NBV6w7O3tGaVpt_5CL4lE22icKMxHgIYDE1Yq_Kiv556WUqVmYURMqAvbg3g2l-kIo2nQcNoeWRp2a9Zww/s72-c/Panggung+Mubazir.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2577355779889277795</guid><pubDate>Sat, 05 May 2012 09:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-05T16:13:15.961+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>BERHARAP PADA SAUDARA CHINA.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;h3 class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;

(Dari &#39;Magelang Night Carnival&#39;).&lt;/h3&gt;
&lt;h3 class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;

&lt;/h3&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA9k_v0h6pD1SiKowT27sC2Yte_DwHASloygWR9zeXCFY9PpAbRWic_Ez7jZwnzi02QInI3Ml-b96c3wTL0WyvbJf-Ou3TxXNdDAzQaok0rsRV1Jebd6g2MifvlFN9TdO_SdA-xxciGSs/s1600/MNC+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;277&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA9k_v0h6pD1SiKowT27sC2Yte_DwHASloygWR9zeXCFY9PpAbRWic_Ez7jZwnzi02QInI3Ml-b96c3wTL0WyvbJf-Ou3TxXNdDAzQaok0rsRV1Jebd6g2MifvlFN9TdO_SdA-xxciGSs/s400/MNC+01.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh Mualim M Sukethi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 30 April 2012.
&lt;/b&gt;Tidak semua sajian acara HUT Kota Magelang 2012 berujung pada pesimisme.
Setidaknya masih ada “Magelang Night Carnival” (MNC), yang berlangsung pada
Sabtu malam,&amp;nbsp; 21 April 2012, di sepanjang
jalan Pemuda, Magelang. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Merujuk pada judulnya kita
pantas curiga acara ini juga sekedar mengekor ‘Jogya Nite Carnival 2011’ (JNC).
Namun kalau kita menarik sejarah pada awal 1960-an, permainan barongsay atau
liong samsy seringkali diselenggarakan malam hari di sepanjang Pecinan, yang
kini disebut jalan Pemuda itu. Apalagi kalau melihat materi utama MNC yang
dipenuhi unsur atau sajian budaya China, maka kecurigaan sekedar mengekor JNC
pantas dikesampingkan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin lebih tepat kalau MNC adalah
revitalisasi tradisi budaya China di Magelang. Hal ini sesuai dengan pengakuan Jimmy
Lo, Ketua Panitia MNC, yang mengakui kalau acara ini merupakan inisiatif warga
keturunan China Magelang. Inisiatif ini sebagai respon atas permintaan Walikota
Sigit Widyonindito agar warga keturunan ikut memeriahkan HUT kota di mana
mereka tinggal.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara obyektif hajatan MNC
tergolong sukses. Pesertanya cukup banyak memenuhi sepanjang jalan Pemuda yang
menjadi rute karnaval. Bahkan barongsay yang katanya panjangnya 100 meter ikut
menjadi peserta. Penontonnya pun berjubel memenuhi trotoar hingga meluber ke
jalanan sepanjang jalan utama Kota Magelang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun secara subyektif, dari
kacamata saya, masih banyak kekurangan yang harus dibenahi untuk bisa dikatakan
sukses. Atraksi jalanan (street-performance) yang menjadi sajian utama
berlangsung kurang optimal. Tiga titik arena yang menjadi arena atraksi, yakni
di sekitar patung Adipura, pertigaan Tengkon, dan jalan Alun-alun Timur terlalu
banyak dijubeli penonton, sehingga peserta tak leluasa unjuk kebolehannya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di tiga titik itu juga tak
dipersiapkan sarana teknik sebagai pendukung atraksi. Tak ada tata-lampu atau
pengeras suara tambahan yang disediakan panitia untuk memberikan efek keindahan
dan pembesaran yang dibutuhkan atraksi jalanan. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hanya beberapa peserta,
khususnya yang bertumpu pada mobil hias, yang telah memperhitungkan sarana
teknis itu. Mereka memenuhi mobil itu dengan lampu warna-warni sehingga
terlihat indah dan menarik perhatian.&amp;nbsp;
Tata suaranya pun tergolong bagus dan berkapasitas besar sehingga mampu
mengimbangi riuh rendah penonton, bahkan memancing penonton untuk mendatangi
mobil hias itu. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun kalau didekati keindahan
mobil hias itu nampak semu. Karena bunga yang digunakan untuk menghias bodi
mobil ternyata hanya bunga plastic atau kertas. Hal ini tentu tak sejalan
dengan slogan ‘Magelang Kota Sejuta Bunga’ yang dicanangkan Pemkot Magelang.
Tentang hal ini akan saya tulis secara khusus.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEie0NF0XxHC-RzvfW6xr-4wB9ejDV7mbNG565Qsg-FCVSVMAnkPXwAtfd__0keCH4eZl51oTM1uPBWeuzzH1HJVpb9mkz1fJmJlvRV2lHvHX8Ey0i939lpj1clv7ayEIVdRlGZ44VM1lJI/s1600/Barongsay+terpanjang.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEie0NF0XxHC-RzvfW6xr-4wB9ejDV7mbNG565Qsg-FCVSVMAnkPXwAtfd__0keCH4eZl51oTM1uPBWeuzzH1HJVpb9mkz1fJmJlvRV2lHvHX8Ey0i939lpj1clv7ayEIVdRlGZ44VM1lJI/s320/Barongsay+terpanjang.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terlepas dari berbagai
kekurangan yang ada, hajatan MNC ini pantas menjadi harapan. Kalau dikembangkan
secara tepat maka MNC bisa menjadi hajat budaya yang mampu menjadi branding
bagi Kota Magelang, dan bersaing dengan kota-kota lain seperti Jember Carnival
dan Solo Batik Carnival.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa nilai positif yang
menjadi asset MNC antara lain:&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;* Partisipasi warga keturunan China Magelang
sebagai penyelenggara dan peserta utama MNC. Seperti kita ketahui, selama rezim
Soeharto berkuasa&amp;nbsp; 32 tahun, warga
keturunan China bisa dibilang pasif dalam segala hal, khususnya dalam bidang
politik social kebudayaan. Keikutsertaan itu tentu tak hanya sebagai peserta,
tapi juga dalam hal pendanaan yang selama ini menjadi masalah bagi komunitas
senibudaya di Magelang. Praktis tak pernah ada dana bantuan pemkot bagi
kelangsungan dan pengembangan senibudaya di kota gethuk itu. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi dengan
‘turun gunungnya’ saudara-saudara China ini kita bisa berharap kelangsungan MNC
akan terjamin.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;* Partisipasi warga dan komunitas senibudaya yang
cukup beragam, khususnya beberapa satuan TNI seperti Armed dan Kostrad yang
menurunkan tim barongsay-nya. Ini menarik. Selama ini militer dianggap hanya
berurusan dengan budaya kekerasan. Maka dengan terjunnya mereka bersenibudaya
maka diharapkan hati nurani para tentara itu menjadi lebih lembut, dan bisa
lebih mengkedepankan aspek kemanusiaan dalam menangani masalah
keamanan/pertahanan, khususnya ketika harus berhadapan dengan rakyatnya
sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
Suatu ketika
saya berharap, sedulur-sedulur serdadu itu tak hanya memainkan barongsay. Tapi
juga sigap dalam menarikan Topeng Ireng atau Soreng. Sebaliknya, saudara CVhina
kita itu tak hanya jadi panitia atau menyediakan dana, tapi juga turun langsung
sebagai peserta atau penari barongsaynya. Tidak seperti sekarang ini, sebagian
besar penari barongsay-nya adalah pribumi termasuk para serdadu itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
Fenomena ini
menarik dicermati. Bagaimana kebudayaan China bangkit kembali di Indonesia,
tapi pelakunya justru para pribumi. Jangan-jangan suatu ketika, saudara-saudara
China itu harus belajar pada para pribumi kalau mau menari barongsay atau bermain
‘Opera Beijing’.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
Saya jadi
teringat suatu kelompok wayang orang di Solo, yang anggotanya justru China
semua. Pembauran itu sungguh-sungguh terjadi lewat jalur kebudayaan. Kalau itu
terjadi….wah batapa indahnya hidup berkeberagaman di Magelang.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp; * &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ribuan penonton yang memenuhi jalan Pemuda
ketika MNC berlangsung. Dalam konteks komunikasi pemasaran, ribuan atau
berjubelnya penonton adalah potensi untuk menjaring sponsor. Apabila banyak
sponsor terjaring alias dana terkumpul secara memadai, maka hajatan ini bisa
diadakan secara kontinyu dan professional. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan
demikian pendanaan yang mengandalkan kelompok tertentu, dalam hal MNC adalah
warga keturunan China, bisa dikurangi kalau tak bisa dihilangkan.
Penyelenggaraan MNC nantinya bisa lebih independen.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah segenap potensi itu
dikembangkan dan dikelola secara baik, maka beberapa pengembangan yang
semestinya dilakukan antara lain;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;* Pembenahan sarana teknis seperti tata-lampu dan
tata-suara, setidaknya di tiga titik yang digunakan peserta beratraksi.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;* Dekorasi bernuansa China di sepanjang jalan
Pemuda. Saya masih ingat, dulu awal th 60-an, toko-toko di Jalan Pemuda
memasang lampion saat pesta barongsay berlangsung. Di antara lampion itu juga
tergantung angpao (bingkisan, biasanya berisi uang). Lalu dalam atraksinya para
barongsay itu mencaplok angpao itu. Sungguh…kenangan yang indah.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;* Tiga titik arena beratraksi harus dibenahi,
khususnya dari serbuan penonton. Kalau perlu dipagari agar peserta bisa
beratraksi secara optimal.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
Pagar ini
tentu fungsinya berbeda dengan pagar saat sendratari atau wayang kulit
berlangsung di alun-alun, yang membatasi atau membedakan (hak menonton) antara
elit dan rakyat.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;* Hajatan ini akan semakin komplit kalau
unsur-unsur budaya China yang lain juga ditampilkan. Seperti parade kuliner
China. Mungkin bisa memanfaatkan jalanan sepanjang Tengkon atau jalan Jenggala
menjadi semacam ‘Kya-Kya’ di Surabaya, atau gang Lombok di Semarang. Dua tempat
itu menjadi ikon kuliner apabila wisatawan mengunjungi kedua kota itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Budaya China yang juga pantas dihidupkan kembali
adalah pementasaran ‘Wayang Po Te Hi’ dan tari-tarian China di klentheng Liong
Hok Bio. Pementasan wayang golek China dan taria-tarian &amp;nbsp;itu dulu rutin dipentaskan, sebelum dilarang
oleh rezim orde-baru yang melarang unsur-unsur budaya China berkembang di
Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;* Promosi yang efektif dan murah, yang tak hanya
ditujukan bagi warga Magelang sendiri. Tapi juga bagi masyarakat luas, bahkan
hingga ke luar negeri. Toh saat ini, kita bisa melakukan promosi dan
sosialisasi secara tepat guna lewat berbagai media social (online) yang
terbukti murah dan efektif.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .25in; text-align: justify;&quot;&gt;
Sesungguhnya
keterlibatan saudara China Magelang dalam pengembangan kebudayaan sudah
berlangsung beberapa tahun terakhir ini. Salah satu lokomotif kebangkitan
senirupa Indonesia, khususnya di tahun 2000-an, adalah China-China Magelang.
Selain Oei Hong Djien (OHD) yang mendirikan ‘Museum Senirupa Indonesia’ yang
dianggap terbesar di dunia, puluhan kolektor dan kolekdol (art-dealer) yang
notabene adalah China Magelang, yang memiliki peran penting dalam bisnis
senirupa Indonesia sekarang ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .25in; text-align: justify;&quot;&gt;
Kebetulan,
dalam di bulan April 2012, ini para kolektor dan kolekdol itu ikut
‘merayakannya’ HUT OHD dan peresmian museum ke 3-nya, dalam bentuk ‘Magelang
Arts Event’ (MAE). Event senirupa besar-besaran itu mewujud dalam bentuk
pameran bersama yang berlangsung di sekitar 10 museum dan galeri yang ada di
kota dan kabupaten Magelang. Lebih 200 karya dan perupa ikut meramaikan hajat
budaya yang tergolong terbesar di Indonesia itu. Wah….&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .25in; text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi kalau
seluruh acara yang berlangsung di bulan April bisa terintegrasi secara kompak,
pastilah ‘April Extravaganza’ ini akan mengangkat pamor Magelang di bidang
kebudayaan di level nasional. Demikian pula, dalam konteks pengembangan
pariwisata, tak mustahil Magelang akan mendapat brand sebagai ‘Kota Wisata
Senibudaya’. Dan kita pantas berharap turis-turis local mau pun manca akan
berbondong-bondong menyambangi kota tercinta ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .25in; text-align: justify;&quot;&gt;
Namun, yang
perlu diingatkan, kita juga jangan sampai terlena, atau keenakan karena
kegiatan kebudayaan di Magelang terus-menerus mengandalkan saudara China.
Jangan sampai kita dicap hanya pinter ‘nadah’, dan kemudian secara kebudayaan
dikendalikan oleh saudara-saudara kita itu. Seperti yang terjadi dengan elite
politik, termasuk pemkot Magelang, yang banyak disinyalir dikendalikan ‘lima
naga’ &lt;b&gt;(bolinks@2012). &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .25in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .25in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/05/berharap-pada-saudara-china.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgA9k_v0h6pD1SiKowT27sC2Yte_DwHASloygWR9zeXCFY9PpAbRWic_Ez7jZwnzi02QInI3Ml-b96c3wTL0WyvbJf-Ou3TxXNdDAzQaok0rsRV1Jebd6g2MifvlFN9TdO_SdA-xxciGSs/s72-c/MNC+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5980100433544800496</guid><pubDate>Sat, 05 May 2012 08:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-13T15:12:08.489+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>YANG UTAMA YANG TERABAIKAN.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhO6efDd1VEtdiXcv7-wMDSCLhAZ_zAZUNgNrzWFdlXOtZ5ORe9w2v3AMo2CB5Hg9VL_XBjMRooVU1I8EE61quyX0WA7PuCH1keJFP15mXYYZ-yefcL6NAlPBLukbdTPCmc7O4zspTZxM8/s1600/Pameran+Foto+Tua.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhO6efDd1VEtdiXcv7-wMDSCLhAZ_zAZUNgNrzWFdlXOtZ5ORe9w2v3AMo2CB5Hg9VL_XBjMRooVU1I8EE61quyX0WA7PuCH1keJFP15mXYYZ-yefcL6NAlPBLukbdTPCmc7O4zspTZxM8/s400/Pameran+Foto+Tua.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;h3 class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;


(dari pameran ‘Magelang Tempo
Doeloe 2012’).&lt;/h3&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;Oleh Mualim M Sukethi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 30 April 2012.
&lt;/b&gt;Rasanya kita semua pantas memberikan apresiasi kepada rekan Bagus Priyana alias
Agung Dragon, pemuda Magelang yang terobsesi dengan hal-hal berbau heritage
menyangkut kota Magelang. Selain menjadi ketua VOC (Komunitas Sepeda Tua),
Agung juga menjadi aktivis komunitas ‘Magelang Kota Toea’, yang setiap tahun
mengadakan pameran ‘Magelang Tempo Doeloe’. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Atas kerja keras yang
dilakukan Agung Cs, pameran ‘Magelang Tempo Doeloe’ yang sudah berlangsung
sejak 2009 itu dapat terlaksana secara kontinyu. Kali ini pameran yang selalu
mengambil lokasi sekitar watertoren, alias menara air yang menjadi ikon
alun-alun Kota Magelang, berlangsung dari tanggal 26-29 April 2012.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8sot0evBVnWPLenOExzTYdK1zs8ylsQgiEF4IQwG-xhhW4zLh5-984yFwsVLxzPrcmTEo3GjYqBY2QSMcin8Lf_p2VhVnT4nZ9LGf-WPiqIARzO8QSV1eCdw8B6twE84yJdVxiiqaseI/s1600/Tampilan+Foto+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;171&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8sot0evBVnWPLenOExzTYdK1zs8ylsQgiEF4IQwG-xhhW4zLh5-984yFwsVLxzPrcmTEo3GjYqBY2QSMcin8Lf_p2VhVnT4nZ9LGf-WPiqIARzO8QSV1eCdw8B6twE84yJdVxiiqaseI/s200/Tampilan+Foto+01.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain foto-foto bangunan dan
situs lainnya yang pernah ada atau didirikan di Magelang, pameran itu juga
menampilkan berbagai barang antic seperti sepeda dan alat transportasi kuno
lainnya, mesin-mesin jahit, wayang onthel, dan lain-lain. Tentu, tak
ketinggalan berbagai kerajinan dan kuliner mewarnai pameran itu. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang sangat disayangkan,
gethuk sebagai ikon kuliner Magelang yang paling fenomenal justru tak mendapat
tempat. Gethuk juga tak nampak pada pameran produk yang diadakan selama &amp;nbsp;perayaan HUT Kota Magelang di Alun-alun
sepanjang April 2012. Padahal kalau kita menengok kota-kota lain, mereka sangat
bangga untuk memamerkan makanan khas atau unggulan daerahnya di setiap hajatan
yang diadakan di kota-kota itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak lupa, selain pameran,
acara ini juga menampilkan berbagai kesenian tradisi dan kesenian lain yang
dianggap ‘tempo doeloe’. Seni tradisi seperti Topeng Ireng dan music keroncong
itu ditampilkan lewat panggung yang cukup megah di samping pohon beringin yang
berada di tengah Alun-alun. Panggung itu juga dimanfaatkan untuk acara
pendukung lain seperti ‘Remboeg Kota Toea’, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain apresiasi tentu saya
tak akan lupa menyampaikan kritik, suatu peran yang dengan sadar saya lakukan,
agar pameran semacam ini semakin baik pelaksanaannya di masa depan. Secara umum
pameran ini cukup berhasil. Mampu mengundang berbagai kalangan untuk
menyaksikannya. Kita juga pantas berharap pengunjung memperoleh manfaat dalam
mengenal sejarah kotanya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhny-xXd_fradwI2w3t23_4NgMvD8kWC2-Lsub-hFfFu0fAZsyC10IyZ0PaRJAOzTWMZ8orYT8okVxK7_QBn8uHlvekDRZnEe09c1lv4uhNeJBmU8tSbt95XiDuDHUIZ9xJbqIw3yWQLDg/s1600/Pameran+Sepeda+Tua.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhny-xXd_fradwI2w3t23_4NgMvD8kWC2-Lsub-hFfFu0fAZsyC10IyZ0PaRJAOzTWMZ8orYT8okVxK7_QBn8uHlvekDRZnEe09c1lv4uhNeJBmU8tSbt95XiDuDHUIZ9xJbqIw3yWQLDg/s320/Pameran+Sepeda+Tua.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun yang justru pantas
disayangkan adalah perlakuan panitia terhadap materi utama pameran, yakni
penampilan foto-foto Magelang tempo dulu, yang disajikan secara apa adanya.
Sangat jauh dari kaidah pameran umumnya. Foto-foto yang berjumlah ratusan itu
hanya ditempel pada panel-panel berlatar gedheg (anyaman bambu), yang kemudian
ditutup plastic murahan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin penggunaan panel
gedheg itu dimaksudkan agar pameran ini terkesan akrab lingkungan. Itu boleh
saja. Namun perlakuan terhadap foto tetap harus memenuhi standard pameran.
Mestinya foto-foto itu dibingkai secara layak. Cropping sembarangan berbentuk
segitiga di sudut kiri foto, sekedar menempatkan stempel ‘Magelang Kota Toea’,
juga sangat mengganggu. Komposisi foto jadi rusak.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain terkesan kumuh,
tampilan foto itu juga tak disertai keterangan atau informasi tentang
keberadaan bangunan atau situs yang berada di dalam foto. Ada satu-dua info
memang, tapi jauh dari memadai untuk menjelaskan foto-foto itu berkaitan dengan
sejarah kota Magelang.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau tampilan yang seadanya
itu dilakukan 3-4 tahun lalu, ketika Bagus cs memulai acara pameran ini, saya
bisa memaklumi. Karena saat itu hampir tak ada dana dikucurkan oleh Panitia HUT
Kota Magelang terhadap acara ini. Namun kini situasinya pasti berbeda. Kalau
panitia bisa membangun panggung megah, mestinya bisa memperlakukan foto-foto
itu lebih elegan, karena dana pasti ada.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya sendiri kurang tahu
kenapa panitia abai terhadap kondisi foto-foto yang bisa dianggap obyek utama
pameran ini. Mungkin karena sebagian besar panitia bukan seniman, sehingga penghargaan
terhadap karya (seni) juga kurang. Bagi mereka lebih penting kesan gemebyar
dari ramainya saung-saung dan panggung yang megah, daripada substansi pameran
yaitu penampilan foto-foto itu sendiri. (&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Sore
harinya, masih hari pertama pameran, ketika saya balik ke pameran karena harus
menemui seseorang, salah satu panel foto itu telah berdiri doyong… nah lho ?&lt;/i&gt;
).&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya sempat bertanya kepada
Mbilung Sarawita, Ketum DKKM (Dewan Kesenian Kota Magelang), tentang hal ini.
Namun tak mendapat jawaban semestinya. Ia hanya menjawab: “Kami juga kesulitan
menampilkan foto-foto itu…mestinya bisa tampil lebih elegan “.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya juga sempat
mempertanyakan, kenapa panggung megah itu tak diisi oleh kesenian yang lebih
beragam ? Kenapa hanya Topeng Ireng atau music keroncong ? Kenapa teman-teman
MJC (jazz) atau Magma (pop/rock) tak diberi kesempatan mengisi acara ?
Pertanyaan ini sesungguhnya juga merujuk pada pemanfaatan panggung utama yang
hanya digunakan saat upacara HUT berlangsung.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mbilung menjawab, kesenian
yang ditampilkan pada acara ini yang terkesan ‘tempo doeloe’ sesuai tema acara.
Saya sempat menyanggah, ‘tempo doeloe’ itu berdasarkan ukuran apa ? Apakah
Topeng Ireng berkostum Indian Amerika dengan syair-syair Islam, yang baru lahir
awal 1960-an, itu lebih tua dari musik jazz ? Pak Ketum hanya menjawab dengan
senyum kecilnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari senyum itu, saya
menangkap kesan panitia HUT Kota Magelang telah terjebak pada pemahaman yang
keliru tentang seni tradisi dan sejarah kesenian, atau lebih jauh lagi tentang
pembinaan kesenian secara umum. Apakah sebuah kota semata-mata hanya perlu
menghidupi seni tradisi (tradisi siapa dan yang mana) ? Apakah yang dianggap
seni modern lalu pantas diabaikan ? Lalu ekspresi pendukung seni modern, yang
sebagian besar anak-anak muda itu harus disalurkan ke mana ? Karena dalam
keseharian mereka juga tak memiliki sarana untuk menyalurkan ekspresi itu ?&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau acara ini dianggap
penting, dan akan diteruskan di tahun-tahun mendatang, saya berharap foto-foto
itu diperlakukan semestinya. Diberi sentuhan grafis lebih baik, termasuk
mencantumkan informasi yang memadai, dan label yang tak mengganggu. Dibingkai
secara elegan. Disimpan dan dirawat dengan baik, karena saya yakin pemanfaatan
foto-foto itu tak hanya untuk acara HUT Kota Magelang saja. Saya yakin banyak
kesempatan lain di mana foto itu dibutuhkan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Carikan sponsor atau beasiswa
buat Bagus Priyana, yang memiliki obsesi terhadap masalah heritage Magelang,
untuk melakukan penelitian sehingga mendapatkan informasi memadai tentang
keberadaan foto-foto itu serta sejarah kota Magelang. Tentu informasi ini bisa
dimanfaatkan pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk Disporabudpar Kota
Magelang. Karena setahu saya, data tentang kota tua yang ada di Disporabudpar
kurang memadai dan banyak yang salah.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Darimana dana untuk membingkai
dan meneliti sejarah foto-foto itu ? Yang pasti dari Disporabudpar, pihak yang
paling berkepentingan. Saya yakin dana untuk kepentingan itu bisa diusahakan
dari APBD, kalau memang benar Kota Magelang akan diarahkan menjadi kota (jasa)
wisata. Lha wong memberangkatkan grup Topeng Ireng ke Festival Bali dengan
biaya lebih 100 juta rupiah saja bisa, kok membingkai foto dan membiayai riset
tidak bisa.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hal itu bisa menjadi program
DKKM. Lembaga itulah yang seharusnya memfasilitasi adanya dana untuk
kepentingan ‘Magelang Tempo Doleloe’. Jadi DKKM punya program kongkrit yang bermanfaat
dan bisa dibanggakan. Bukan sekedar dana atau program yang parsial atau sekedar
hajat tahunan…atau dang-kadang, kata tetangga saya yang orang Madura.
&lt;b&gt;(bolinks@2012).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/05/yang-utama-yang-terabaikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhO6efDd1VEtdiXcv7-wMDSCLhAZ_zAZUNgNrzWFdlXOtZ5ORe9w2v3AMo2CB5Hg9VL_XBjMRooVU1I8EE61quyX0WA7PuCH1keJFP15mXYYZ-yefcL6NAlPBLukbdTPCmc7O4zspTZxM8/s72-c/Pameran+Foto+Tua.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5802056862628683090</guid><pubDate>Sat, 05 May 2012 08:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-05T15:12:40.160+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>KOTA SEJUTA BUNGA (PLASTIK).</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6gBqnvwyJZzSc5M1Op62N2TieY2LMB9n9VempD8_1dKmw5f5CjcRlR_cAm924vPUsEMgiPA7fC75poSL7RSgBd74JPY2KT6JAeU1QiuYyR6b-ry6Z_MWPCz_pPWjzbcJ1oc38Ya1sS2g/s1600/Seremoni+Sejuta+Bunga+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6gBqnvwyJZzSc5M1Op62N2TieY2LMB9n9VempD8_1dKmw5f5CjcRlR_cAm924vPUsEMgiPA7fC75poSL7RSgBd74JPY2KT6JAeU1QiuYyR6b-ry6Z_MWPCz_pPWjzbcJ1oc38Ya1sS2g/s400/Seremoni+Sejuta+Bunga+01.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh Mualim M Sukethi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 30 April 2012.
&lt;/b&gt;Sore itu, 14/4, Jalan Pemuda Magelang macet total. Ternyata di ujung jalan,
mulai depan Toko Mustika hingga perempatan Tugu Adipura, jalanan diokupasi
separo untuk hajatan menyambut Putri Indonesia Pariwisata. Tugu itu dihias
berbagai macam bunga, sesuai dengan tulisan ‘Magelang Kota Sejuta Bunga’ yg
terpampang besar di samping tugu. Eiit..nanti dulu, ternyata slogan “Sejuta
Bunga’ itu manipulative alias menipu. Karena hiasan ratusan kuntum bunga yang
nampak indah itu sebagian besar adalah bunga plastic dan sejenisnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terdorong rasa penasaran, saya
mencoba menyusuri kota untuk menemukan kuntum bunga sebagai peneguh slogan yang
terkesan gagah itu. Ternyata saya hanya menemukan beberapa gerumbul bunga kana
dan bogenvil di taman (RTH) di pinggir jalan A.Yani (Menowo). Bunga kana juga
saya temukan di taman kecil menuju rumah dinas walikota.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Soal bunga plastic dan kertas
itu juga muncul saat ‘Parade Budaya’ dan ‘Magelang Nite Carnival’, beberapa
hari kemudian. Hampir semua kendaraan hias dipenuhi bunga plastic atau kertas…
Tentu dengan slogan ‘Kota Sejuta Bunga’ menolok mata tanpa rasa bersalah.
Bahkan mobil hias Putri Pariwisata juga dipenuhi bunga plastic. Kecantikan putri
itu jadi nampak semu karena bunga-bunga artificial itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS4dQjqvGrCUEBtL8VLHJ4r0kkCTVPUvDMwTsd4mKSP9ezzbRUyeIzc2boE595ZTYPq3bnxtJRAEyjguaS8SOcEt_Z4bFQZG4wdWdg9rBhHlwILgyb44bZVQ1BqphoLIf6j-hF8s6CDPU/s1600/Putri+&amp;amp;+bunga+plastik.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS4dQjqvGrCUEBtL8VLHJ4r0kkCTVPUvDMwTsd4mKSP9ezzbRUyeIzc2boE595ZTYPq3bnxtJRAEyjguaS8SOcEt_Z4bFQZG4wdWdg9rBhHlwILgyb44bZVQ1BqphoLIf6j-hF8s6CDPU/s320/Putri+&amp;amp;+bunga+plastik.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari media local yang
mewartakan HUT Kota Magelang 2012, ternyata bersamaan rangkaian acara ultah, itu pemkot Magelang mencanangkan “Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga’.
Mungkin karena hanya pencanangan, pemkot dan lembaga pendukungnya tidak merasa
bersalah kalau menampilkan bunga plastic dan sejenisnya. Padahal bagi pecinta
lingkungan sejati, plastic yang tak bisa diurai adalah musuh utama lingkungan
hidup. Tren masa kini bagi masyarakat yang akrab lingkungan adalah mengurangi
pemakaian plastic dalam pola hidup sehari-hari.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin bagi jajaran aparat
yang tak paham makna lingkungan hidup itu, toh ada beberapa tahapan dari mulai
penanaman, penyemaian, dan sebagainya hingga benar-benar kota itu bertabur
bunga. Itu maunya……dan kita pantas berharap hal itu dapat terlaksana.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya sendiri sudah mendengar
dan membaca tentang slogan ‘Magelang Kota Sejuta Bunga’ itu. Paling tidak sejak
Desember 2011, saat terakhir saya ke Magelang. Mestinya masih cukup waktu
seandainya pemkot berniat mewujudkan tahapan awal realisasi slogan itu. Minimal
mewarnai ruang public atau RTH, seperti Alun-alun, Taman Badakan, Taman Menowo,
sebagai percontohan taman bunga.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan cara itu masyarakat
didorong untuk bergerak menanami halaman rumahnya atau ruang terbuka di sekitar
lingkungannya dengan tanaman bunga. Sebab sekarang ini, secara umum,&amp;nbsp; budaya menanam bunga mungkin bukan budaya
masyarakat dan pemkot Magelang.&amp;nbsp; Lihat
saja, ruang terbuka hijau (RTH) yang semakin menipis di kota itu. Mungkin
karena berada di ketinggian, sehingga iklimnya berhawa sejuk, maka masyarakat
selama ini kurang memerlukan tanaman sebagai pelindung sengatan panas atau
penghasil oksigen.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyiD888p4JXa5O8IS2eEnoAB65i1qzW_r1OAmvb4bPnFQvSWonjnjN-bBCSe0jkAbz5CpFD7NEpqmY9bi1Zdi7sS_YftGodcM5SgC1_MwLdTIxlRyE1s4EprnETgGYTEtdYdLkBMmkRqk/s1600/Bunga+plastik.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;164&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyiD888p4JXa5O8IS2eEnoAB65i1qzW_r1OAmvb4bPnFQvSWonjnjN-bBCSe0jkAbz5CpFD7NEpqmY9bi1Zdi7sS_YftGodcM5SgC1_MwLdTIxlRyE1s4EprnETgGYTEtdYdLkBMmkRqk/s320/Bunga+plastik.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi jangan heran kalau
sesungguhnya RTH yang ada di Kota Magelang tinggal Alun-alun, Badakan, dan
Gunung Tidar. Itu pun bukan kreasi atau produk pemerintahan kota Magelang.
Alun-alun dan Badakan adalah warisan pemerintah colonial Belanda. Sedangkan
Gunung Tidar adalah hibah dari Akademi Militer (Akmil). &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa ruang public justru
‘dijual’ kepada swasta dan jadi bangunan yang hanya bisa dinikmati elit
Magelang, atau menjadi bangunan ekonomi yang gagal. Seperti Taman Gladiol yang
berubah jadi komplek rumah mewah. Atau komplek shooping centre yang gagal
mengundang warga untuk bershooping-ria. Atau bekas Terminal Tidar yang
‘ngonggrok’ karena gagal jadi komplek pertokoan. Kalau masyarakat Magelang,
atau LSM-nya, cukup kritis, mestinya proses ‘penjualan’ atau pemindah- tanganan
sarana public itu ke tangan swasta pantas dipertanyakan atau digugat.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi bapak-ibu yang merasa
mempunyai Magelang, bunga palstik bukan awalan yang mendidik. Itu artificial
dan manipulative. Jangan-jangan nanti masyarakat berbondong-bondong menghiasi
rumah dan halaman dengan bunga plastic meniru para pejabat dan elitenya &lt;b&gt;(bolinks@2012).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/05/kota-sejuta-bunga-plastik.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6gBqnvwyJZzSc5M1Op62N2TieY2LMB9n9VempD8_1dKmw5f5CjcRlR_cAm924vPUsEMgiPA7fC75poSL7RSgBd74JPY2KT6JAeU1QiuYyR6b-ry6Z_MWPCz_pPWjzbcJ1oc38Ya1sS2g/s72-c/Seremoni+Sejuta+Bunga+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2972978341527794795</guid><pubDate>Wed, 25 Apr 2012 11:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-24T04:46:48.923+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tourism</category><title>KUPAT KENANGAN.</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVcqcFXSqpDWjvD_XtazCYh89eU_g1syICh1oT_NTsSqGUWqxaUe5ZtclXTiWHHaeNdwdtfEQmGeppLehf6y4xO7MOB0SAQ4i7pcdWNfc1AkePgtV6AdpazxujZuBWs3OAkqZcooct5LU/s1600/Kupat+Pojok.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVcqcFXSqpDWjvD_XtazCYh89eU_g1syICh1oT_NTsSqGUWqxaUe5ZtclXTiWHHaeNdwdtfEQmGeppLehf6y4xO7MOB0SAQ4i7pcdWNfc1AkePgtV6AdpazxujZuBWs3OAkqZcooct5LU/s1600/Kupat+Pojok.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh Putu Fajar Arcana.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 25 April 2012&lt;/b&gt;. Mbah Setu (80) dapat giliran jaga petang hari. Meski sudah uzur, perempuan generasi kedua pewaris warung Tahu Pojok ini tetap cekatan menghitung uang kembalian pembeli. Bersama keringkihan usianya, sejarah jatuh bangun usaha kupat tahu seperti terpapar, sampai kini menjadi makanan khas di kota Magelang, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;Di ujung Jalan Tentara Pelajar, dekat alun-alun kota Magelang, sekarang terdapat empat warung kupat tahu. Bahkan di beberapa ruas jalan kota itu, kini juga bertebaran warung dan restoran yang memasang tulisan penarik minat, ”kupat tahu magelang’’.&lt;br /&gt;Bisa jadi memang di antara riuh kegembiraan para pedagang merayakan perubahan kupat tahu dari yang dijajakan secara pikulan ke restoran bergengsi, banyak yang melupakan mendiang Mbah Sodoriyo. Kakek dari Indri Nilamsari (32), ahli waris ketiga Tahu Pojok, ini ibarat ”nenek moyang’’ kupat tahu, makanan berbumbu dan berbahan sederhana tetapi mencuat menjadi ”identitas’’ kota Magelang.&lt;br /&gt;Dulu, kata Mbah Setu, mertuanya (Mbah Sodoriyo) berjualan kupat tahu di alun-alun kota. ”Kira-kira tahun 50-an keliling mikul, terutama di alun-alun,” tuturnya. Mbah Setu sendiri tak begitu tahu mengapa menu ini kemudian diburu oleh para pelancong. Padahal kupat tahu magelang hanya terdiri dari ketupat, tahu, kol, tauge, dan seledri yang disiram kuah kacang tanah dan kecap.&lt;br /&gt;Seingat Mbah Setu, Tahu Pojok pernah dua kali masuk istana kepresidenan. ”Di zaman Pak Harto, kami pernah dipanggil ke istana berjualan kupat tahu…,” ujar Mbah Setu. Ia tampak riang ketika menceritakan pengalamannya.&lt;br /&gt;Di malam bergerimis, Selasa (3/4/2012) itu, warung Tahu Pojok penuh dengan pembeli. Mbah Setu pamit karena harus istirahat. Keesokan harinya, siang belum begitu sempurna, pengunjung pun sudah padat. Lima orang pekerja di warung itu hilir-mudik melayani pembeli. Tak jelas lagi, ini sudah jam makan siang atau masih makan pagi. ”Pokoknya hampir selalu ramai,” kata Indri, anak bungsu dari pasangan Ahmad Danuri dan Mbah Setu.&lt;br /&gt;Menurut ceritanya, leluhur Indri sebelum mangkal di Jalan Tentara Pelajar, berjualan secara pikulan berkeliling kota. Lalu karena Mbah Sodoriyo mulai tua, ia bersama anaknya, Ahmad Danuri, mencoba membuat bangunan warung dari seng di Jalan Tentara Pelajar. ”Sampai sekarang orang Magelang menyebutnya ngesengan, artinya cari kupat tahu di sini,” kata Indri.&lt;br /&gt;Ciri warung&lt;br /&gt;Menu yang disajikan Tahu Pojok, cerita Indri, sama saja dengan warung-warung kupat tahu yang lain. Makanan ini berintikan sayuran seperti kol dan tauge yang ditebar di atas potongan ketupat, lantas disiram kuah kacang berkecap. Ada terkecap rasa pedas-pedas cabai dan bawang putih. Itu karena pada saat penyajiannya cabai dan bawang putih diulek langsung di atas piring. Rasa pedas itu seperti diserap oleh tahu panas nan lembut yang dipotong-potong. Kress...!!!&lt;br /&gt;Satu porsi kupat tahu hanya terdiri dari sepotong ketupat dan sepotong tahu. Istimewanya, aroma gorengan tahu setengah matang benar-benar menantang rasa lapar. ”Selain bahannya dari tahu magelang, gorengnya juga pakai anglo, baranya itu yang memberi aroma berbeda,” kata Indri.&lt;br /&gt;Selama buka pukul 09.30 sampai 21.00 warung ini menghabiskan setidaknya 150 buah ketupat dan 300 potong tahu. Setiap dua hari sekali, tutur Indri, setidaknya ia menggoreng 50 kilogram kacang sebagai bahan dasar kuah kupat tahu. ”Adonan kacang dan kecap yang sudah digiling dikentalkan. Kita siram dengan air panas untuk menjadikannya kuah,” ujar Indri.&lt;br /&gt;Tahu Pojok sebagaimana umumnya warung-warung di Jawa menyajikan hampir seluruh menu di atas meja. Meja tempat para pembeli menyantap kupat tahu harus berbagi dengan deretan menu pelengkap makan seperti tempe goreng, tahu isi, sate udang, dan berbagai macam kerupuk.&lt;br /&gt;Di meja sisi kanan, Tahu Pojok menyediakan seperangkat toples berisikan sirup, cendol, cincau hijau, potongan roti, dan santan. Seluruh menu ini bisa dikombinasikan menjadi es campur, es cendol, es cincau hijau, es roti, atau sekoteng yang hangat.&lt;br /&gt;Dengan sajian menu seperti itu, untuk sekali makan paling-paling menghabiskan tak lebih dari Rp 15.000. ”Kan seporsi kupat tahu cuma Rp 9.000, barusan naik dari Rp 8.500. Naiknya dari dulu cuma berani Rp 500,” kata Indri. Pengeluaran Rp 15.000 itu sudah terhitung minum dan menu-menu tambahan lainnya.&lt;br /&gt;Meski hanya berupa warung kecil dan tampak seadanya, Tahu Pojok terbiasa melayani pesanan dalam jumlah besar. Bahkan tak jarang, kata Indri, mereka menyiapkan pesanan untuk menu resepsi kawinan sampai ke Jakarta. ”Kalau di kota Magelang sudah sering kateringan, ke Jakarta ya beberapa kali, cuma pesanannya minimal 1.500 porsi,” katanya.&lt;br /&gt;Kupat tahu punya keuntungan karena diperlakukan sebagai menu ”antara” kudapan dan makanan utama. Kalau makan, memang kenyang, tetapi cepat membuat lapar untuk rata-rata perut orang Indonesia. Lantaran itulah, tak jarang konsumen yang bolak-balik sampai tiga kali dalam sehari untuk menyantap kupat tahu. Itu mungkin juga soalnya memang masalah perut yang tak merasa kenyang jika tak makan nasi.&lt;br /&gt;Tetapi sesungguhnya ada yang lebih penting dari itu. Kupat tahu ibarat menu yang tumbuh bersama geliat kota Magelang, yang berlembah-lembah di sekitar Kali Progo. Oleh karena itu, menyantap kupat tahu seperti mengunyah sejarah yang kemudian mengendap ke dalam kenangan setiap orang yang berkunjung ke Magelang (&lt;b&gt;KOMPAS). &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/04/kupat-kenangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVcqcFXSqpDWjvD_XtazCYh89eU_g1syICh1oT_NTsSqGUWqxaUe5ZtclXTiWHHaeNdwdtfEQmGeppLehf6y4xO7MOB0SAQ4i7pcdWNfc1AkePgtV6AdpazxujZuBWs3OAkqZcooct5LU/s72-c/Kupat+Pojok.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1610090258996298672</guid><pubDate>Wed, 25 Apr 2012 11:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-05T16:26:32.974+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>BANJIR KARYA SENIRUPA DI MAGELANG.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj79DBJRHSCYJk4DN_aZg31qh6h4AIVErgx-kGsKog3vrhlSlheE0IKZkKSHPmCU6viw9iNuqbbQpb3O9N9ml30iy88a3bnPmD_Tl67pCGmZNt-CU90A9y1n86QsQdaqlVLawzoP1pMKUY/s1600/MusOHD+tpk+dpn+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj79DBJRHSCYJk4DN_aZg31qh6h4AIVErgx-kGsKog3vrhlSlheE0IKZkKSHPmCU6viw9iNuqbbQpb3O9N9ml30iy88a3bnPmD_Tl67pCGmZNt-CU90A9y1n86QsQdaqlVLawzoP1pMKUY/s1600/MusOHD+tpk+dpn+01.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh Sakya Suu Kyi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 20 April 2012.&lt;/b&gt;
Mendampingi peresmian Museum OHD yang baru (building 3), serta merayakan hari
ulang tahun dr Oei Hong Djien (OHD) yang ke 73 tahun, ratusan perupa berkelas
nasional memamerkan karya-karyanya di berbagai galeri dan museum yang ada di
kota dan kabupaten Magelang. &amp;nbsp;Selain 5
maestro senirupa Indonesia yang karyanya dipajang di Museum OHD, sejumlah lebih
200 perupa itu berpameran dalam hajatan budaya bertajuk ‘ Magelang Arts Event
2012’ (MAE), sepanjang bulan April 2012.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau ditambah dengan perupa
yang karyanya dipajang di Museum OHD yang lama (building 1 dan 2), maka MAE
2012 bisa dikategorikan pameran bersama terbesar yang diikuti perupa Indonesia.
Mestinya MURI (Museum Rekor Indonesia) mencermati hal ini, dan memberi
penghargaan khusus. Penghargaan itu akan melengkapi dua pencapaian yang
diperoleh saat MAE berlangsung, yaitu ‘Museum Pertama Di Dunia yang Dibangun
dari Bekas Gudang Tembakau’ untuk Museum OHD, dan ‘Pembukaan Pameran Senirupa
Terunik karena Dilakukan Seekor Gajah’ yang didapat Galeri Limanjawi,
Borobudur, Kabupaten Magelang. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;“Jumlah galeri yang ikut dan jumlah perupanya
yang mencapai ratusan, mungkin hanya bisa ditandingi beberapa pameran besar di
luar negeri, “ kata OHD ketika disodori fakta-fakta itu. Sementara Deddy PAW,
perupa asli Magelang, sedikit mengkoreksi: “Kalau event di dalam negeri yang
bisa menandingi mungkin pameran &#39;ExpoSign&#39; di Jogya. Jumlah galeri dan perupa yang
ikutserta juga sangat banyak”. Saat MAE, Deddy ikut meramaikan dalam bentuk
pameran tunggal bertajuk “Let’s Talk About Apple”.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hajatan budaya luar biasa ini
seharusnya menjadi berkah tersendiri bagi warga Kota Magelang dan sekitarnya,
yang kebetulan di bulan April ini sedang berulang tahun yang ke 1105. Lewat
pameran besar ini warga Magelang bisa menikmati ratusan karya senirupa
berkualitas tinggi, bahkan beberapa dianggap terbaik di Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Dari karya yang tersaji
masyarakat Magelang bisa mempelajari sejarah dan keragaman karya senirupa modern
Indonesia. Tak ada warga kota lain yang seberuntung kota Magelang mendapat
berkah menikmati karya terbaik bangsanya. Yang selama ini hanya bisa dinikmati
warga kota besar semacam Jakarta, Jogya, Bali, dan lainnya, “ kata OHD ketika
menyambut peresmian museum.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berikut adalah daftar museum, galeri,
dan peserta pameran yang ikut meramaikan MAE 2012.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGMqNk0deJMWPe-IZheQF4TFjNNp4GEVXEt5qqjoN8ud-IJdxI8d1NBOSOlJ9XH_LyYqDxTxkhpaGCK5vwilgVhKRD2LSweCmOEXUi1HduNzj9I7whQJAmcozBz3YTiBfG8YizfMciva8/s1600/Nude+by+Soedjojono.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGMqNk0deJMWPe-IZheQF4TFjNNp4GEVXEt5qqjoN8ud-IJdxI8d1NBOSOlJ9XH_LyYqDxTxkhpaGCK5vwilgVhKRD2LSweCmOEXUi1HduNzj9I7whQJAmcozBz3YTiBfG8YizfMciva8/s640/Nude+by+Soedjojono.jpg&quot; width=&quot;307&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;01.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“BACK TO BASIC’.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;MUSEUM OHD (building 03),&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Jalan Jenggolo No 14 Kota
Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;5 April – 5 Juli 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada pameran bertajuk ‘Back To
Basic’, yang berlangsung mulai 5 April hingga 5 Juli 2012, itu dipamerkan
karya-karya lukis, patung, dan sketsa dari 5 maestro senirupa modern Indonesia,
yaitu Affandi, Soedjojono, Hendra Gunawan, Widayat, dan Soedibio.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut penilaian OHD, kelima
pelukis itu merupakan pelukis terbaik di era senirupa Indonesia modern. Di
antara karya yang dipamerkan terdapat karya Affandi ‘Bistro in Paris’ (1953),
yang memenangkan hadiah dalam Biennale Venezia 1954, sebuah pameran bergengsi
di dunia. Penghargaan itu merupakan penghargaan bergengsi dunia pertama yang
diperoleh pelukis Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;02.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“MODERN &amp;amp; CONTEMPORERY
FINE ARTS OF INDONESIA”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;MUSEUM OHD (building 01 &amp;amp;
02).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Jalan Diponegoro No. 74 Kota
Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Setiap hari sepanjang tahun.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;Di 2 bangunan museum yang
terletak di belakang kediaman OHD itu terpajang ratusan lukisan, patung, dan
instalasi, yang merupakan sebagian dari 2000 karya seni koleksinya. Secara
berkala ratusan karya seni itu diganti atau di rotasi. Karena selain dipajang
di 3 musiumnya, koleksi OHD juga sering dipamerkan di berbagai event senirupa,
baik di dalam mau pun di luar negeri.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di museum yang ke 01,
tersimpan ratusan karya yang tergolong ‘Modern Art of Indonesia’. Pelukis yang
termasuk golongan ini adalah Raden Saleh, Lee man Fong, Affandy, Soedjojono,
Hendra Gunawan, Widayat, Trubus, Doelah, Soedjono Kerton, Nyoman Gunarsa, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di museum yang ke 02, diisi
ratusan karya pelukis muda yang tergolong ‘Contemporary Art of Indonesia’,
seperti karya Ivan Sagita, Nasirun, Nyoman Masriadi, Agus Suwage, Heri Dono,
S.Tedy, Deddy PAW, dll. Selain lukisan di museum 02 ini juga terdapat puluhan patung
dan instalasi yang menarik, termasuk patung figure OHD dalam berbagai gaya, hadiah
para seniman muda itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;03.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“OUR TRIBUTE TO A MENTOR”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;GARIS ArtSpace.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gedung TRIBAKTI. JL. Jend
Sudirman, Kota Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;5-7 April 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di gedung serbaguna milik Grup
New Armada, ini sekitar 30 perupa nasional memamerkan karya-karyanya dalam
pameran berjudul ‘ Our Tribute to a Mentor’.&amp;nbsp;
Pameran yang dimaksudkan sebagai penghargaan bagi OHD ini diikuti oleh
Edhie Sunarso, Sunaryo, Made Wianto, FX Harsono, Ivan Sagita, Yani Mariani,
Heri Dono, Nasirun, Entang W, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain pameran bersama juga
diadakan diskusi dengan menghadirkan beberapa kritikus dan curator
internasional, antara lain: Lorenzo Rudolf, Magnus Renfew, Pearl Lam, Kwok Kian
Chen, Dr Helena Spanjaard, dan OHD sendiri. Bertindak sebagai moderatot adalah
Patricia Chen.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;04.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“THIS IS MING”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;ALEXANDER MING MUSEUM,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;JL. P Diponegoro (dpn SPBU)
Kota Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3 April – 1 Mei 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di museum miliknya sendiri
ini, Alexander Ming, memamerkan sekitar 12 karyanya yang terdiri lukisan,
patung, hingga desain kursi. Kursi memang menjadi obyek yang tak henti-hentinya
menginspirasi karya-karya pelukis kelahiran Magelang ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tampaknya Ming sedang menyuguhkan
aroma kedigdayaan kursi. Kanvas-kanvas itu dikalahkan oleh dinamika obyek yang
kuat. Kursi-kursi Ming bukan sekedar memberitahukan kita tentang obyek
pemikiran, namun juga pesan-pesan luhur, “ tulis Mikke Susanto, seorang
kritikus senirupa, pada catalog yang menyertai pameran ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;05.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“THE MAGELANG COLLECTIONS”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;SYANG ArtSpace,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;JL. MT Haryono No. 2, Kota
Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2 April – 2 Mei 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaBY0WWBcxKvic3WmESpEsAd5_Y2J19T3lVUxeGwOIBqNqhFNqn-2Uoti_tKnchtRjPvLqgnUA96mF8UPhgZS-VpunHlsCzSuluM-E9YDmPaV9Lf7RYDz29DWW61mDOAXVX1iiVykHMnE/s1600/Karya+Nyoman+Gunarsa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaBY0WWBcxKvic3WmESpEsAd5_Y2J19T3lVUxeGwOIBqNqhFNqn-2Uoti_tKnchtRjPvLqgnUA96mF8UPhgZS-VpunHlsCzSuluM-E9YDmPaV9Lf7RYDz29DWW61mDOAXVX1iiVykHMnE/s640/Karya+Nyoman+Gunarsa.jpg&quot; width=&quot;344&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kali ini para kolektor
senirupa Magelang unjuk diri. Mereka memamerkan koleksi terbaiknya dalam
pameran berjudul ‘The Magelang Collections’. Beberapa lukisan terbaik karya Lee
man Fong, Affandy, Sunaryo, Ivan Sagita, Nyoman Gunarsa, Andre Tanama, dll,
memenuhi galeri milik Ridwan Muljosudarmo ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa kolektor papan atas
dari Magelang yang berpartisipasi antara lain: OHD, David Hermanjaya, Chris
Dharmawan, Ajip Rosidi, Deddy Irianto, David Joe Dozan, Slamet Santosa, dll. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;05.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“AGATHOS”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;LANGGENG GALLERY,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;JL. Cempaka (dpn Hotel Puri
Asri), Kota Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;5 April – 5 Mei 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Galeri milik Deddy Irianto,
kali ini, memamerkan karya-karya Andre Tanama. Setidaknya ada 8 lukisan dan
patung karya perupa muda dari Jogyakarta itu memenuhi bagian depan galeri yang
menyatu dengan kediaman Deddy. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, di bagian belakang
galeri, juga tersaji karya-karya perupa kontemporer koleksi Deddy, antara lain
karya Tisna Sanjaya, Agus Suwage, S Teddy, Dolorosa Sinaga, FX Harsono, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;06. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“MAGELANG YOUNG COLLECTORS”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;RUMAHKU ART CAFÉ,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Puri Cendrawasih Kav 5 (dpn
Hotel Oxalis) Kota Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2 April – 10 Mei 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain kolektor-kolektor mapan
yang berpameran di Syang ArtSpace, beberapa kolektor muda dari Magelang, juga
tak ketinggalan memamerkan koleksinya. Mereka antara lain: Ronnie S, Haryanto,
Peter Agus Wijaya, Budi Cahyadi, Tedy Ariono, Rudi Setiawan, dan Like Sanjaya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain bisa menikmati sajian
karya seni berkualitas, pengunjung juga bisa menyicipi berbagai menu lezat
unggulan café ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;07.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“NATURE AND HARMONY”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;ED’s GALLERY,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudur Golf, JL. Gatot
Subroto, Kota Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;4 – 11 April 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Eddy Soetrisno, anggota DPRD
Kota Magelang, juga dikenal sebagai pembina beberapa pelukis Magelang. Kali ini
pemilik ED’s Galerry ini memamerkan karya 2 perupa muda asli Magelang, yaitu
Nurfuad dan M.Husain. Belasan karya 2 perupa itu terpajang di lantai 2 gedung
utama yang terletak di kompleks Borobudur Golf Magelang.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;08.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“KEMBAR MAYANG”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Museum H Widayat,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;JL. Letnan Tukiyat No. 32,
Mungkid, Kab. Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;6 April – 6 Mei 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak kurang dari 170 perupa
berpartisipasi dalam pameran berjudul ‘Kembar Mayang’ ini. Sebagian besar
adalah perupa alumni ISI (d/h ASRI) Jogyakarta, sekaligus murid dari almarhum
H.Widayat. Jumlah ini juga merupakan rekor tersendiri, perupa sebanyak itu
berpameran bersama di satu museum atau galeri.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa adalah perupa muda
papan atas Indonesia, seperti Ivan Sagita, Bunga Jeruk, Melodia, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;09.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“BRAVE ART”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;LImanjawi Art House,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Tingal Kulon, Wanurejo,
Borobudur, Kab Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1 April – 9 Mei 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZGeE5X366NmtYBDyU9oj5zsqo2EzVs3b_RYDXSlclYChvVNxFOMi6Mm8wRdr-Z4sWWOPfTpbavkuY3KydtgfvksXW-hjRagg4L7sxp3yGKbKdglbTXBk5eAQYuLEelPgJNaQ1mqJH7Hw/s1600/Pameran+Limanjawi+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZGeE5X366NmtYBDyU9oj5zsqo2EzVs3b_RYDXSlclYChvVNxFOMi6Mm8wRdr-Z4sWWOPfTpbavkuY3KydtgfvksXW-hjRagg4L7sxp3yGKbKdglbTXBk5eAQYuLEelPgJNaQ1mqJH7Hw/s640/Pameran+Limanjawi+01.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebanyak 7 perupa yang berasal
dari Magelang, Wonosobo, dan Jogyakarta berpameran bersama di Limanjawi Art
House. Mereka adalah Awi Ibanezia, M Ghovir, Tunarno, Damtoz Andreas, Budi
Widaryanto, Katirin, dan Klowor Waldiono.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang unik, pameran bertajuk
‘Brave Art’ ini dibuka oleh seekor gajah piaraan Taman Wisata Candi Borobudur.
Gajah bernama Melia itu membuka pameran sekaligus melukis di atas kanvas. Ide
yang unik ini mendapat anugrah dari MURI sebagai ‘Pameran yang dibuka gajah
pertama kali di Indonesia’.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;10.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“BEAUTY OF LIFE”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Amanjiwo Art Room,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Amanjiwo Resort, Majaksingi,
Borobudur, Kab Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3 Maret – 30 Juni 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dua perupa muda dari Magelang,
Cipto Purnomo dan Yogi Setyawan, memamerkan karya-karyanya di hotel prestius
yang terletak di kaki Pegunungan Menoreh ini. Sekedar diketahui beberapa
selebritas dunia pernah menginap di hotel ekslusif ini, sebut saja David
Beckam, Richard Gere, Richard Chamberlain, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;11.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;“LETS TALK ABOUT APPLE”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TUKSONGO Visual Art House,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;JL Randu Alas No.99, Tuksongo,
Borobudur, Kab Magelang.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3 April – 9 Mei 2012.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDKdHrTitsjceKa7vCMgClk9UnfxMp6XkziSxgBGFs4J8UewEAok75-vLZULqmWCs816LxLjOTJErsRD4zR8fOi7Bm0CKyxbzU-6YPnxK6Kaw8-guwsHAVrfBr7-zAUXDaSHoh0sh0J08/s1600/Karya+PAW+03.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDKdHrTitsjceKa7vCMgClk9UnfxMp6XkziSxgBGFs4J8UewEAok75-vLZULqmWCs816LxLjOTJErsRD4zR8fOi7Bm0CKyxbzU-6YPnxK6Kaw8-guwsHAVrfBr7-zAUXDaSHoh0sh0J08/s1600/Karya+PAW+03.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Deddy PAW, pelukis asli
Magelang, ini memamerkan puluhan karyanya di galeri miliknya sendiri. Lukisan
berukuran besar yang menampilkan &amp;nbsp;unsur
atau ikon Budhis , seperti candi, stupa, atau biksu Budha, dipadukan dengan
simbul-simbul mencitrakan buah apel, yang menjadi ciri khas perupa lulusan IKJ
ini, tampak mendominasi ruang galeri yang tak terlalu luas ini.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Letak galeri yang cukup
strategis, antara candi Borobudur dengan hotel Amanjiwo, rupanya cukup menarik
turis-turis penghuni hotel itu untuk mampir. Pada akhirnya, beberapa lukisan
yang terkesan provokatif karena obyek, ukuran, dan teknisnya yang kuat, itu
berpindah tangan ke tangan turis-turis berkantong tebal itu.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Sudah laku lima, “ aku Deddy,
ketika penulis mengunjunginya sekitar seminggu setelah pameran dibuka. Hasil
yang luar biasa di tengah lesunya pasar senirupa tanah air 3 tahun terakhir
ini. Turis dari hotel Amanjiwo juga memborong beberapa lukisan yang dipamerkan
di Limanjawi Art House dan Museum Widayat.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain berbagai pameran
senirupa, MAE juga dimeriahkan oleh kehadiran puluhan penyair nasional dan
internasional. Adalah ‘Rumah Buku DUNIA TERA’ pimpinan Dorothea Rosa Herliany,
penyair terkemuka &amp;nbsp;asli Magelang, yang
punya hajat budaya ini. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain membaca puisi selama 2
malam di Taman Lumbini, Komplek Candi Borobudur, puluhan penyair itu juga
beranjangsana ke Museum OHD, Pesantren API Tegalrejo, Toko Emas Mustika, hingga
dusun Gejayan di Kecamatan Pakis Magelang. Penulis yang hadir dalam pertemuan
para penyair dengan warga dusun Gejayan, sempat menikmati kehebatan para
penyair itu, yang secara spontan membacakan puisi atau berperformen mengimbangi
pertunjukan tari dan music yang disuguhkan warga dusun yang tergabung dalam
‘Komunitas Lima Gunung’ itu. Warga dusun pimpinan Lurah Riyadi, itu menyajikan
beberapa nomor tarian antara lain Gupolo Gunung, Kipas Mego, Geculan Bocah,
dll.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anda mungkin membayangkan,
dunia kebudayaan Magelang akan hiruk pikuk oleh kehadiran ratusan karya
senirupa serta puluhan penyair dari dalam dan luar negeri. Ternyata tidak. Tidak
ada relevansi antara kehadiran karya dan seniman nasional/internasional dengan
partisipasi masyarakat local Magelang.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang dihadiri oleh ratusan
pengunjung hanya pembukaan Museum OHD. Ratusan tamu yang terdiri dari perupa,
seniman, wartawan, kritikus, kolektor, dan kolekdol, praktis memenuhi koridor
dan ruang museum yang terletak di jantung kota Magelang itu. Namun kalangan
senibudaya Magelang sendiri hampir tak terlihat.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada pembukaan museum yang
berlangsung tanggal 5 April 2012, itu selain dari kalangan birokrat karena
mengiringi kehadiran walikota Magelang dan wakilnya, dari kalangan seniman
budayawan Magelang yang hadir adalah Sutanto Mendut, Rosa dan suaminya Damtoz
Andreas, Deddy PAW, Umar Chusaini, Sutrisman, Mualim Sukethi, dan Yefta Tandio.
Mereka, selain seniman adalah aktivis yang selama ini menghidupkan kehidupan
kebudayaan Magelang di level nasional/internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seniman Magelang lain,
khususnya kalangan perupanya, tak ada yang terlihat hadir. Bahkan aktivis DKKM
(Dewan Kesenian Kota Magelang) pun tak nampak batang hidungnya. Ternyata tak
hanya pada pembukaan museum OHD. Pada pameran lainnya, yang berlangsung di
puluhan galeri, itu hampir tak kelihatan para seniman Magelang itu. Setidaknya
hal itu terlihat dari sepinya pengunjung di galeri atau museum itu, juga dari
buku tamu yang tak mencatat nama-nama seniman Magelang.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah para seniman Magelang
itu tak merasa perlu belajar dari event besar yang baru pertama kalinya
berlangsung di Magelang ini ? Apakah seniman Magelang juga tak perlu membangun
jaringan dengan kalangan seniman dan lingkungan senibudaya yang lebih luas ?
Apakah betul adanya anggapan bahwa seniman Magelang ibarat hidup sebagai ‘katak
di bawah tempurung ? Wallahualam bisowab &lt;b&gt;(bolinks@2012).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/04/banjir-karya-senirupa-di-magelang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj79DBJRHSCYJk4DN_aZg31qh6h4AIVErgx-kGsKog3vrhlSlheE0IKZkKSHPmCU6viw9iNuqbbQpb3O9N9ml30iy88a3bnPmD_Tl67pCGmZNt-CU90A9y1n86QsQdaqlVLawzoP1pMKUY/s72-c/MusOHD+tpk+dpn+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Magelang, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.481253 110.213799</georss:point><georss:box>-7.5442269999999994 110.134835 -7.418279 110.292763</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3282438549988354607</guid><pubDate>Wed, 25 Apr 2012 11:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-25T18:06:45.632+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">art and culture</category><title>MERUNUT SENI LUKIS INDONESIA MODERN.</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8sPOd8Ptf__3jclOlgtiaHyBvnHgCX6xWl10zWohK31Mah4u4n4kIavuI15dN1kl9pm1_k6OjAQlieXT79VTtmz8eCKJjlKz92xOc4T7FnBTN70KwSKUXSYQjhmjVSKeNfS3dhRQtRns/s1600/Pameran+OHD+new+01.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;444&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8sPOd8Ptf__3jclOlgtiaHyBvnHgCX6xWl10zWohK31Mah4u4n4kIavuI15dN1kl9pm1_k6OjAQlieXT79VTtmz8eCKJjlKz92xOc4T7FnBTN70KwSKUXSYQjhmjVSKeNfS3dhRQtRns/s640/Pameran+OHD+new+01.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh PUTU FAJAR ARCANA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 20 April 2012&lt;/b&gt;. Di tengah kegalauan seni kontemporer yang tak juga menemukan “bahasa: untuk mepresentasikan dirinya, Museum OHD Magelang menerobos dengan menggelar pameran lima pelukis yang mewakili era seni modern. Pelukis seperti Affandi, S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Soedibio, dan Widayat dianggap sebagai peletak dasar-dasar seni lukis yang kemudian berkembang di Indonesia.&lt;br /&gt;Pameran bertajuk ‘Back to Basic’ yang digelar 5 April hingga 31 Juli 2012 dikaitkan dengan beberapa peristiwa kebudayaan, yang bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada peristiwa-peristiwa di sekitar dunia seni rupa berikutnya. Oei Hong Djien, pendiri Museum OHD, pada 5 April lalu menggelar pembukaan museumnya secara resmi dan pada tanggal itu pula ia berulang tahun ke-73. Museum OHD sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1997 berupa dua bangunan di halaman rumah tinggal Oei Hong Djien.&lt;br /&gt;Di tempat berbeda digelar pembukaan pameran A Tribute to Mentor di Garis Art Magelang, Jawa Tengah. Pameran ini menggelar karya-karya para perupa, seperti Edhi Soenarso, Paul Husner, Made Wianta, Ronald Manulang, Edi Sunaryo, Sunaryo serta beberapa perupa lainnya. Dan yang penting digarisbawahi, seluruh peristiwa kebudayaan itu berlangsung di kota kecil bernama Magelang dengan dihadiri ratusan seniman, kurator, kolektor, pemilik galeri, wartawan seni, dan pencinta seni yang selama ini menggerakkan “industri” seni rupa di Tanah Air. Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito diberi tugas membuka gembok Museum OHD yang dibangun dari bekas gudang tembakau itu.&lt;br /&gt;Oei Hong Djien (OHD) tahu pasti bahwa ia selalu dianggap “patron” dalam segala “perilaku” keseniannya di kalangan para pemilik galeri dan kolektor. Bahkan, ba¬nyak yang menganggap OHD “mahaguru” dalam mempraktikkan jurus-jurus ilmu seni untuk mengapresiasi lukisan. Sederhananya, apa pun yang dikoleksi OHD secara terbuka akan diikuti oleh para kolektor lainnya.&lt;br /&gt;Situasi industri seni rupa kontemporer dewasa ini, menurut OHD, sama sekali sudah tidak sehat. Seni pewacanaan (cerita) yang dihidupkan dalam seni kontemporer justru makin menjauhkan kesenian dari unsur-unsur estetika sebagai jalan untuk menemukan keindahan yang hakiki. “Se-karang seni kita terlalu banyak bercerita. Karyanya sendiri jauh dari harapan. Inilah yang harus dikoreksi,” kata OHD di Magelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KEMBALIKAN INGATAN.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;Pameran karya para perintis seni lukis modern Indonesia dengan sekitar 150 karya ini, menurut OHD, setidaknya akan mengembalikan ingatan kita pada peran unsur “rasa” di dalam proses penciptaan dan apresiasi. Karya-karya Hendra Gu¬nawan bahkan menunjukkan bagaimana jalan kesenian menjadi presentasi ideologi. Dan ideologi kerakyatan sekitar tahun 1940-an dipegang dengan amat teguh oleh Affandi, S. Soedjojono, terutama Hendra Gunawan, sebagai konsep dasar untuk bekerja. Karya Soedjojono, seperti Face of the Freedom Fighters atau karya Hendra berjudul Rice Harvest, sudah cukup menjadi bukti keberpihakan secara ideologis kepada semangat kerakyatan.&lt;br /&gt;Pada Soedibio unsur-unsur kerakyatan itu diolah dalam bentuk surealistik seperti terdapat pada karya Beneath the Death Angel. Ia memvisualkan penghukuman terhadap rakyat yang keji. Bahkan, sebelum rakyat benar-benar mati, seekor burung gagak sudah bernyanyi di atas tiang gantungan.&lt;br /&gt;Karya-karya kelima maestro ini di mata OHD tidak saja kaya dalam visualisasi, tetapi lebih-lebih telah membawa semangat zaman. Semangat atau spirit karya yang lugas semacam ini membuat kita mudah menandai dan memberinya konteks ruang dan waktu. Bisakah. hal semacam itu diterakan kepada karya-karya kontemporer? Kalaupun bisa, kemungkinan kita akan menemui banyak kesulitan. Karya-karya kontemporer lebih banyak lahir dari dorongan personal yang kemudian hanya samar-samar memperhatikan kon¬teks ruang dan waktu.&lt;br /&gt;Kemandegan dan kehancuran industri seni lukis kontemporer diakui OHD tidak saja lantaran kerapuhan pijakan estetik, tetapi lebih disebabkan ketakberdayaan elemen-elemen penggerak seni untuk me¬masuki pusaran seni rupa dunia. Seni rupa China, tambahnya, justru diapresiasi lebih dahulu oleh Barat. “Sesudahnya barulah para kolektor China yang memberinya harga tinggi,” kata OHD. Apresiasi Barat yang begitu tinggi terhadap seni rupa China bukan sesuatu yang serta-merta. “Itu karena China menempatkan orang-orangnya di pusat-pusat seni rupa dunia,” tambah¬nya.&lt;br /&gt;Pameran kelima tokoh penting dalam perjalanan seni lukis Indonesia modern ini membuat kita menoleh ulang tentang se¬jarah, yang barangkali “terkubur” rerun¬tuhan realitas. OHD secara pribadi telah sejak lama memburu karya-karya para maestro itu dengan tenaga, waktu, dan dana yang tidak sedikit. Ia bahkan seorang diri “mengembara” ke Rio de Janeiro, Brasil, untuk “memulangkan” 30 karya maestro dengan modal 20.000 dollar AS. “Pasti uang itu tidak cukup untuk membayar seluruh karya, tetapi orang memberikan saya,” kata OHD.&lt;br /&gt;Kini karya-karya itu bisa dinikmati se¬cara terbuka di Museum OHD lengkap dengan puluhan sketsa dan drawing karya Hendra Gunawan yang jarang diketahui orang. Pameran ini setidaknya menjadi titik tolak untuk melakukan koreksi terhadap perjalanan seni rupa kontemporer Indonesia, yang kata OHD, telanjur dihargai secara semena-mena. “Kini sudah bergelimpangan korban-korbannya. Saatnya melakukan koreksi,” kata OHD (KOMPAS).&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/04/merunut-seni-lukis-indonesia-modern_25.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8sPOd8Ptf__3jclOlgtiaHyBvnHgCX6xWl10zWohK31Mah4u4n4kIavuI15dN1kl9pm1_k6OjAQlieXT79VTtmz8eCKJjlKz92xOc4T7FnBTN70KwSKUXSYQjhmjVSKeNfS3dhRQtRns/s72-c/Pameran+OHD+new+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-8383350483651867362</guid><pubDate>Wed, 25 Apr 2012 10:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-25T17:53:18.130+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">creative people</category><title>PERBURUAN DAN KEGILAAN OEI HONG DJIEN.</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s1600/OHD+02.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s1600/OHD+02.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Oleh PUTU FAJAR ARCANA&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Borobudurlinks, 20 April 2012.&lt;/b&gt; OHD Museum, hari
itu, mema­merkan karya lima maestro pe­lukis Indonesia: Affandi S. Soedj­ojono,
Hendra Gunawan, Widayat, dan Soedibio. Meski memamerkan ratusan karya, itu
hanya 2-3 persen dari koleksi benda seni yang dimiliki dokter Oei Hong Djien
(OHD). Pameran di museum menjadi istimewa tidak saja karena kehadiran begitu
banyak pencinta seni dari sejumlah negara dan kota, tetapi ia juga menyajikan
koleksi-koleksi langka yang jarang dilihat publik. OHD Mu­seum, misalnya,
mengeluarkan puluhan sketsa dan drawing yang dikerjakan Hendra Gunawan selama
berada di penjara. Di sana juga terdapat karya-karya Affandi, Hendra, dan
Widayat yang di­buru OHD sampai bertualang seorang ke Rio de Janeiro, Brasil.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Lukisan berjudul “Leda and the An” karya kubistik
Widayat diburu OHD tahun 1994 ke Brasilia. “Waktu itu saya dapat 30 lukisan
dari keluarga seorang duta besar yang pernah tugas di Jakarta, tapi saya cuma
punya uang 20.000 dollar AS, mana cukup. Sisanya saya cicil kemudian,” kata
OHD, Selasa (3/4).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Kami berbincang di teras belakang rumahnya di Jalan
Diponegoro 74, Magel­ang, di mana terdapat dua bangunan museum lain. Museum
pertama diba­ngun tahun 1997 untuk menyimpan karya-karya old master dan museum kedua
resmi berdiri tahun 2006 untuk menyimpan karya-karya kontemporer Indonesia.
Mendung yang menggantung langit Magelang mulai turun menjadi gerimis.
Samar-samar Gunung Sumbing di ufuk barat membentuk garis yang jauh.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Banyak orang mengecap Anda
orang yang nekat?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Ya (tertawa sampai
terkekeh-kekeh). Saya pergi seorang diri ke Brasil, bukan untuk pelesiran,
melainkan memburu lukisan Indonesia yang dibawa ke negeri itu. Eh, punya
uangnya cuma 20.000 dollar AS. Mana mungkin bisa beli lukisan 30 biji dengan
uang segitu. Tapi saya malah diberi bonus sketsa drawing. Saya cicil sisanya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Berapa harga sesungguhnya waktu
itu?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Wah, sudah lupa. Sudah
lama itu tahun 1994.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Konon dulu juga Anda suka
mencicil kalau beli lukisan. Benar?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Ha-ha-ha, Affandi itu
lebih dari seorang bankir. Waktu itu kalau saya pinjam uang dari bank untuk
beli lukisan pasti tidak bisa. Lukisan Affandi bisa saya cicil sampai setahun,
ha-ha-ha. Dan semua uang yang saya belikan lukisan itu dari tembakau. No
tobacco no art, ha-ha-ha.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Sejak meninggalkan studi
spesialis patologi di The Catholic University, Nijmegen, Belanda, karena
orangtuanya meninggal, OHD mengaku mulai belajar berbisnis tembakau. Ia seperti
dipaksa keadaan. Bisnis tembakau adalah bisnis warisan yang sudah dimulai sejak
nenek moyangnya datang dari Xiamen, China ke Magelang pada tahun 1680-an.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;“Saya tidak pernah belajar
soal tembakau dari ayah saya. Saya belajar dari para bakul yang sejak dulu
memasok tembakau. Di sini kalau mau hidup makmur harus berbinis tembakau,” kata
OHD.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Karena kemudian dikenal berprofesi sebagai grader
(pencium tembakau), OHD seperti “meninggalkan” profesi dokternya walaupun ia
masih sempat membantu misi Katolik di Temanggung dan sebuah poliklinik. “Tetapi,
saya tidak pernah benar-benar berpraktik sebagai dokter, praktiknya malah
grader dengan ribuan monster atau sampel tembakau,” katanya. Kelak pekerjaan “mencium”
aroma tembakau dan kekuatannya menganalisis saat belajar spesialis pa­tologi
diakui OHD sangat berguna saat dia menimbang sebuah lukisan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Bagaimana Anda
menghubungkan an­tara bisnis tembakau, grader, dan lu­kisan?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Oh, sudah jelas, tanpa
tembakau saya tidak bisa beli lukisan. Waktu pertama mengoleksi lukisan tahun
1965 itu, uangnya juga dari tembakau. Bahkan, sekarang gudang tembakau yang
dulu dipakai turun-temurun kini berubah ja­di OHD Museum. Kerja sebagai grader
membuat saya memiliki panca indra yang peka. Penciuman dan mata harus tajam. Di
sekitar Magelang ini terdapat tembakau berkualitas baik dan mahal. Sering kali
ada pedagang yang men­campur dengan tembakau luar. Kalau kita cium, aromanya
berbeda. Jadi tidak hanya lukisan, tembakau juga ada yang palsu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Bagaimana Anda bisa tahu
bahwa sebuah lukisan palsu?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Sekarang banyak sekali
lukisan Af­fandi, Hendra, Soedjojono, dan Widayat yang dipalsu. Kalau sudah
tahu aslinya pasti tahu lukisan yang palsu. Yang jual lukisan palsu belum tentu
juga tahu kalau lukisan itu palsu karena terkadang mereka dapat dari orang
lain.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Anda dianggap patron oleh
para ko­lektor yang lebih muda. Jika Anda mem­beli satu karya seorang pelukis,
lalu ramai-ramai mereka juga membelinya. Benar begitu?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Itu mungkin dahulu sebelum
ada ba­lai lelang, apa yang saya koleksi jadi laku. Sekarang yang tentukan
pasar (lukisan) itu balai lelang. Zaman itu bagi saya sudah lewat. Di balai
lelang bisa terjadi macam-macam. Itu pasar terbuka seni rupa, apa pun bisa
terjadi, penggorengan (juga) bisa terjadi. Saya tidak ada ar­tinya. Misalnya
dalam pameran ini saya kemukakan jago baru Soedibio, padahal orang hanya tahu
sedikit tentang dia. Saya masukkan dalam top five artist mungkin akan
mempengaruhi minat orang terhadap Soedibio. (Saya) bukan mengerek harga. Itu
bentuk apresiasi saja. Tetap penentu harga itu balai le­lang, lho.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Dalam soal mengoleksi lukisan ada yang menyamakan
kegilaan Anda dengan Bung Karno. Pendapat Anda?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Bung Karno juga, kan, dekat dengan seniman. Dulu
ada yang ke sini karena menikah (maksudnya jual lukisan karena butuh uang).
Sekarang anaknya sudah delapan. Saya tidak pernah mau memanjakan pelukis. Kalau
jelek tak akan saya beli. Kalau tidak punya yang bagus, tapi butuh uang, saya
pinjami saja atau saya perkenalkan mereka kepada teman-teman kolektor lain.
Mungkin ada yang suka.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Apakah boleh dibilang kini
Anda memiliki koleksi terlengkap seni lukis Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Kalau dibilang terlengkap
mungkin tidak, tetapi kalau dipakai untuk mempelajari seni rupa Indonesia
cukuplah. Apalagi sekarang seniman banyak, tidak mungkin mengoleksi karya
mereka semua. Cukup komprehensif dan ada gambaran tentang seni rupa Indonesia.
Ini kan, seharusnya dilakukan oleh negara, tetapi para pejabatnya cuma bilang
biar saja para kolektor yang melakukannya. Kami fasilitasi saja, katanya.
Seharusnya pemerintah itu bangun museum nasional yang lengkap atau beri
insentif pajak kepada para pemilik museum se­perti di Singapura. Jangan malah
di­pajakin.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Saran Anda kepada negara? &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Sebenarnya keliru kalau
sekarang diprioritaskan untuk stabilitas politik dan ekonomi. Nah, akhirnya
malah politik kita tidak stabil, ekonomi juga banyak korupsi, kan? Kalau kebudayaan
digerakkan dalam membangun sendi-sendi moralitas mungkin hasilnya bisa berbeda.
Pada awalnya para seniman bekerja bukan untuk duit. Pak Widayat kalau sudah
suka orang, dia bisa berikan begitu saja lukisannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;KOLEKSI.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Oei Hong Djien mulai
mengoleksi lukisan sekitar 30 tahun lalu. Kini di tiga museum dan gudangnya di
Magelang setidaknya telah terkumpul lebih dari 2.000 karya seni berupa lukisan,
patung dan karya instalasi. Selain mengoleks karya-karya Affandi, Soedjojono,
Hendra Gunawan, Widayat, dan Soedibio OHD juga memiliki karya Raden Saleh,
Walter Spies, Rudolf Bonnet, Theo Mier, Lee Man Fong, Nyoman Gunarsa, Hans Snel,
Made Wianta, dan Popo Iskandar. Ia juga mengoleksi karya-karya kontemporer,
seperti karya Entang Wiharso, Nasirun, Heri Dono, Eddie Hara, Agus Suwage, Ugo
Untoro, Tisna Sanjaya, Masriadi, Rudi Mantofani, Handiwirman, serta banyak
pelukis lain. Sebagian dari karya itu diburu OHD di sejumlah lelang dunia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Anda banyak membeli karya
mahasiswa. Bagaimana Anda tahu satu lukisan pantas dikoleksi?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Ini kan soal rasa, tidak
pakai rasio. Memang ada hal yang subyektif. Karakter seniman itu pegang peranan
penting, tak hanya talenta. Yang paling berperan itu intuisi. Ini lahir karena pengalaman.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Apa yakin lukisan yang Anda koleksi nanti
pelukisnya jadi besar?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Dalam mengoleksi ada unsur avon turir,
nyerempet-nyerempet bahaya, tapi tidak ngawur. Kita harus punya pendirian,
tidak ikut-ikutan. Bahwa keliru itu manusiawi, jangan disesalkan. Kalau kita
keliru, oh itu uang kuliah, pel­ajarannya itu dari kesalahan-kesalahan. Kalau
ada yang mengaku tidak meng­alami ini, bohong. Mengoleksi itu bukan nama,
melainkan karya. Prinsipnya, da­ripada mengoleksi karya Affandi yang jelek
lebih baik mengoleksi karya pelukis muda yang bagus. Kalau mengoleksi nama itu
artinya kita ikut-ikutan, la­ma-lama jadi kolekdol (istilah pelesetan dari kata
kolektor dan bahasa jawa didol atau dijual—membeli untuk dijual lagi). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Kenapa Anda tidak jatuh
jadi ko­lekdol?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Karena saya senang, jangan
sesekali melepas karya terbaik. Kita yang tentukan mana yang terbaik, harus yakin.
Ujiannya saat kita pamerkan. Saya punya guest book selama 30 tahun. Itu diisi oleh
orang-orang yang saya anggap mengerti. Itu juga jadi rahasia belajar. Kalau
segala sesuatu kita jalankan dengan senang dan ada passion, segalanya akan
berbuah. Umur saya sudah 73 tahun, di dunia seni sudah termasuk yang paling
senior, tetapi tetap sehat. Sekarang semua orang menoleh ke Magelang, kan?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Bagaimana Anda melihat dunia
seni rupa kita sekarang ini?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Sekarang ada koreksi
pasar. Dulu boom seni rupa era 2007-2009 dipacu oleh boom seni rupa kontemporer
China, lalu sini ikut-ikutan. Banyak yang kemudian melukis ala China dan laku tinggi.
Balai lelang gila, banyak pelukis muda laku, pelukis tua dilupakan. Balai lelang
memang orientasinya uang. Tetapi begitu terjadi krisis di Amerika dan Eropa,
semua &amp;nbsp;berguguran. Korban banyak, seniman
dan para kolektor yang dulu beli mahal. Nah, sekarang ada koreksi kembali ke
old master. Maka, pameran ini saya beri judul “Back Basic”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Situasinya saat koreksi
itu seperti apa, sih?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Tak ada yang percaya
bubble itu akan pecah. Pengertian terhadap uang saat itu sudah tidak benar.
Uang Rp 20 juta itu besar. Kemarin itu seniman muda hargai karyanya segitu,
dulu karyanya cuma puluhan-ratusan ribu saja. Itu yang kemudian jadi
malapetaka. Sejarah kariernya saja belum ada. Kendalanya kalau telanjur mahal
di pasar akan sulit masuk museum internasional. Seharusnya masuk museum itu,
kan, target berkarya. Ini juga kadang kesalahan galeri, yang penting harga
mahal.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Tumbuhnya banyak galeri tahun
1990-an, ada atau tidak perannya seni rupa kita?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Galeri tumbuh luar biasa.
Dulu Affandi kalau pameran urus sendiri di Balai Budaya Jakarta. Setiap boom muncul
galeri baru. Sekarang semua pakai kurator. Akibatnya, biaya jadi tinggi. Dunia
seni rupa jadi terdiri dari berbagai elemen, seperti seniman, kolektor, art dealer,
balai lelang, pengontrol, art critic, penerbit buku, dan kurator. Semua punya
fungsi sendiri. Kalau semua dijalankan dengan benar, itu bagus. Tapi, kan,
banyak yang overlapping. pekerjaan galeri diambil balai lelang, banyak kurator
jadi pemilik galeri. Kalau sudah begitu, kan, susah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Konon karya-karya kita bagus,
kok tidak bisa menginternasional seperti pelukis China?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;(OHD mohon izin menerima telepon.
Suaranya melengking dan keras. Rupanya ia sedang mengurus pengiriman buku dari
Jakarta yang akan diluncurkan pada saat pembukaan OHD Museum. Kira-kira 10
menit kemudian menutup teleponnya).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Ya, karya-karya
kontemporer China lebih dulu diapresiasi oleh kolektor-kolektor luar daripada
di dalam negerinya. Itu apa sebabnya? Sudah sejak dulu pewacanaan tentang
lukisan China kontemporer dilakukan oleh para tual China yang duduk sebagai board
member (anggota dewan) museum-museum internasional. Nah, kita tidak ada itu.
Kalau kita mau maju, celah-celah harus direbut.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;OHD kemudian menawari kami
untuk berkeliling museum. Ia disertai menantunya yang kini duduk sebagai Direktur
OHD Museum, Letty Surjo, memandu kami untuk menyusuri lintasan sejarah seni
rupa Tanah Air. Setiap karya punya cerita, terutama ikhwal yang menyangkut
lika-liku perburuannya. OHD memang gila!(KOMPAS).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s1600/OHD+02.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;224&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s320/OHD+02.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s1600/OHD+02.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;224&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s320/OHD+02.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s1600/OHD+02.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;224&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s320/OHD+02.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;OEI HONG DJIEN &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Symbol; font-style: normal;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Lahir: Magelang, 5 April 1939 &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Symbol; font-style: normal;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Pendidikan:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1964 lulus dokter
Universitas Indonesia, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1966-1968 Spesialisasi
Patologi Anatomi di The Catholic University, Nijmegen, Belanda&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Symbol; font-style: normal;&quot;&gt;·&lt;span style=&quot;font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;Pekerjaan:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: .4in; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1964-1966 dan 1968-1992
Relawan pelayanan medis Katolik di Temanggung, Parakan, dan Ma­gelang (Jawa
Tengah).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: .4in; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1968 Mewarisi bisnis
tembakau dan menjadi “grader”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: .4in; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 1994-2009 Menjadi kurator Mu­seum
H. Widayat, Magelang.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: .4in; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2001-2005 Honorary Advisor Singapore
Art Museum.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: .4in; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2005-2009 Board Member Singa­pore
Art Museum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: .4in; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2010-sekarang Advisor The
Natio­nal Art Gallery Singapore&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.6pt; tab-stops: .4in; text-align: justify; text-indent: -.2in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 2011-sekarang Pembina
Yayasan Biennale Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 35.45pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/04/perburuan-dan-kegilaan-oei-hong-djien_25.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNaUzR3C9WbbNpSX4PKtyy9Q318iRzCPnFKJGKs0RlUTP4p1x2f72jCMKnEfb5ftjtMiSHXBE5Ikk2jzqkclEYD_e8b44ZCqOJiq2Sv4sN0qQVmThPason-OJ1DElzWFylO7x9dhxNjrc/s72-c/OHD+02.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5768105452292486602</guid><pubDate>Mon, 23 Apr 2012 05:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-25T17:34:52.378+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>SILANG BUDAYA DI GEJAYAN, MAGELANG.</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;center&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMYoOuV2LIP3ExbYEOn82lCA1JSLtrcxX3Uz9eZE9MNoXyATJ2VlzfZ4G24jfHzMLKD9V3Y0FjaZNMLgsQ04G3GrjLbLp8Zkh0Phu4C4pRjS901T8MzApyUeHoxXPKXV_YS71NxI_0N8w/s1600/Lintasbudaya+Gejayan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMYoOuV2LIP3ExbYEOn82lCA1JSLtrcxX3Uz9eZE9MNoXyATJ2VlzfZ4G24jfHzMLKD9V3Y0FjaZNMLgsQ04G3GrjLbLp8Zkh0Phu4C4pRjS901T8MzApyUeHoxXPKXV_YS71NxI_0N8w/s400/Lintasbudaya+Gejayan.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh Myasa Poetika.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Borobudurlinks, 21 April 2012.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Siang itu saya melintas di daerah Kopeng, dataran tinggi antara Salatiga dan  Magelang. Setelah menikmati pemandangan yang cukup menawan sepanjang lereng Merbabu itu, saya memutuskan untuk mampir ke dusun Gejayan, Banyusidi, Pakis, Kabupaten Magelang. Di dusun ini tinggal seorang teman, aktivis kebudayaan sekaligus Lurah Desa bernama Riyadi.
Sesampainya di dusun yang permai itu, ternyata sedang berlangsung hajatan budaya. Siang itu, warga dusun yang tergabung dalam ‘Komunitas Lima Gunung’ (KLG), sedang menjamu tetamu istimewa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para tamu yang jumlahnya puluhan orang itu ternyata adalah para penyair yang datang dari dalam dan luar negeri. Rombongan yang menaiki 3 bus ukuran sedang itu dipimpin oleh Silke Behl, penggiat budaya berasal dari Jerman. Saya sendiri cukup mengenal Silke dan suaminya Duddy, ketika sering berkumpul di Bengkel Teater Rendra, di Depok Jawa Barat, hampir 30 tahun lalu.
Para penyair itu berkumpul di Magelang dalam rangka pembacaan puisi bertajuk ‘Forum Penyair Internasional-Indonesia (FPII) 2012’. Magelang adalah salah satu kota yang dikunjungi para penyair itu, selain Pekalongan, Malang, dan Surabaya. ‘Rumah Buku Dunia Tera’ pimpinan Dorothea Rosa Herliany (Rosa), penyair asli Magelang, bertindak selaku tuan rumah selama 42 penyair itu di Magelang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari 42 penyair itu, 17 penyair berasal dari manca Negara, yaitu dari Jerman, India, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Zimbabwe, Belanda, Denmark, Islandia, Australia, Selandia Baru, dan Makedonia. Sisanya dari dalam negeri yaitu dari Bali, Madura, Bekasi, Yogyakarta, Surabaya, Ngawi, Jakarta, Rembang, Malang, Tangerang, Depok, Makassar, Bandung, dan Papua.
Selama di Magelang, para penyair itu sempat mengadakan pembacaan puisi dan bertemu berbagai lapisan masyarakat Magelang. Pembacaan puisinya secara resmi berlangsung 2 malam, bertempat di Taman Lumbini, komplek Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Selain itu mereka juga mengunjungi Museum OHD (Oei Hong Djien), Seminari Mertoyudan, membaca puisi di Toko Emas Mustika, serta bertemu komunitas santri di pesantren API Tegalrejo. Kunjungan ke dusun Banyusidi  adalah acara terakhir sebelum meneruskan perjalanan menuju Pekalongan.
Ketika saya tiba acara baru saja dimulai.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di sebuah pelataran yang cukup lebar,  berdiri sebuah panggung yang terbuat dari bambu berhias dedaunan dan batang pohon cabe yang dirangkai sedemikian rupa. Rangkaian serupa juga menghiasi gazebo di sisi pelataran tempat para tamu berteduh dari sengatan matahari. 
Kesadaran dan ketrampilan warga dusun memanfaatkan materi untuk mendirikan bangunan yang berkaitan dengan hajatan seni pantas diacungi jempol. Sesungguhnya warga desa lain, khususnya yang tergabung di KLG telah banyak melakukan hal itu. Mereka juga banyak menciptakan kostum yang berasal dari hasil olah pertanian mereka. Mungkin inilah embrio dari kecenderungan ‘seni kembali ke alam’ alias eco-art. Ini bisa menjadi ciri khas yang unik, sekaligus menjadi branding bagi kesenian Magelang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebuah tarian menyambut para tamu itu. Saya lupa nama tarian itu. Yang pasti tarian tradisional itu dimainkan oleh delapan pemuda  menggunakan kostum loreng hitam putih dengan topeng butho dan rambut panjang berjuntai. Musik perkusif, karena memang berasal dari instrument tabuhan, mengiringi gerak-gerak dinamis bahkan garang dari tubuh kekar para penari itu.
Tepuk tangan meriah menimpali berakhirnya tarian itu. Setelah diseling sambutan dari Rosa, para tamu pun unjuk kebolehan. Seorang penyair dari Afrika Selatan membacakan puisinya dengan gaya penyanyi rap. Ia juga menari dengan menggerakan kakinya ke kanan ke kiri mengikuti irama soreng yang ditabuh warga dusun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah selama sekitar 2,5 jam para penyair dan warga dusun secara selang seling menyajikan puisi dan tari karya mereka. Beberapa nomor tarian tradisional yang menjadi unggulan dusun Gejayan disajikan secara apik, antara lain Soreng, Kipas Mego, Gupolo, dan Geculan Bocah. Sementara para penyair itu, selain membaca puisi dengan berbagai gaya, juga menyajikan performens yang mengundang decak kagum.
Seorang penyair berkulit hitam berbadan kekar mirip petinju kelas berat, menari dengan penuh gairah. Tubuhnya yang kekar tak mengurangi gerakan lentur dan liat dalam merespon irama soreng yang penuh tenaga. Sesudahnya, penyair dari Makedonia membacakan puisinya sembari menabuh bass-drum menimpali music perkusi yang ditabuh warga dusun.
Kekaguman tak habis-habis dilontarkan para penyair melihat kefasihan warga dusun menampilkan tari dan music yang berasal dari khasanah tradisi mereka. Mereka terpesona menyaksikan anak-anak berusia 5-10 tahun menampilkan gerak-gerak penuh tenaga bak warok jawara dalam ‘Geculan Bocah’. Tubuh mereka yang relative kecil menjadi lucu ketika mereka harus menampilkan gerak berotot seorang warok.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para penyair itu juga seakan tak percaya, ketika menyaksikan tari ‘Kipas Mego’. Ternyata para perempuan cantik itu adalah ibu-ibu warga dusun yang beberapa waktu lalu memasak masakan dan menyajikannya sebagai makan siang mereka.
Penyair dari dalam negeri pun tak kalah mempesona. Seorang penyair dari Bali membacakan puisi diawali dengan teriakan melolong bak serigala memecah malam. Ia didampingi penyair lain yang menarikan gerakan abstrak penuh tenaga seiring music trunthung yang ditabuh warga dusun. Penyair Madura Zawawi Imron mengungkapkan kesannya lewat puisi pendek yang tak kalah indahnya. “Banyusidi cintaku, Banyusidi senyummu. Jejak kutinggalkan di sini, tapi senyummu kubawa pergi,&quot; demikian Zawawi mengungkapkan kesannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di antara kegembiraan para penyair dan warga dusun, saya pun larut dalam kegembiraan serupa. hususnya ketika bertemu teman lama penyair Afrizal Malna, teman lama yang bersama-sama ikut menggerakan dialog budaya di ibukota antara tahun 80-90an. “Gimana kesehatanmu kamerad ?”, sapanya seperti biasa. Padahal cukup lama kami tak bertemu, mungkin sekitar 10 tahun.
Kami lalu larut dalam nostalgia masa lalu. Selain berkesenian, bersama dengannya dan beberapa seniman lain, kami sempat turun ke jalan dan menggalang dukungan ketika reformasi tahun 1998 berlangsung. Kami bersama menggelar mimbar rakyat di Taman Ismail Marzuki, ketika mahasiswa tergusur dari Senayan. Mimbar rakyat yang berlangsung sekitar 6 bulan itu cukup memiliki pengaruh signifikan dalam arus perubahan politik social ketika itu.
Kegembiraan yang mewarnai hajat silang budaya sore itu berubah menjadi kesedihan, ketika acara berakhir dan mereka harus berpisah satu sama lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah menari bersama, para penyair dan warga dusun saling berpelukan. Beberapa penyair itu nampak meneteskan airmata. 
Menyaksikan silang budaya dan relasi social yang terjadi antara para penyair internasional itu dengan warga dusun sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Warga dusun alias petani sederhana itu tentu berbeda kelas social ekonomi budayanya dibanding para tamu yang sebagian besar berasal dari Negara mapan Eropa, Australia, dan Afrika. Namun mereka tak terkesan minder atau berjarak oleh perbedaan itu.
Mereka bergaul lepas tanpa beban. Bahasa yang berbeda tak menjadi kendala. Tentu, kesenian dan kebudayaan yang menyatukan mereka. Pepatah ‘seperti katak di bawah tempurung’ sepertinya tak berlaku bagi warga dusun Gejayan. Tidak seperti saudara-saudara mereka yang berada di kota. Yang seringkali enggan masuk dalam pergaulan nasional/internasional yang banyak berlangsung di Magelang dan sekitarnya &lt;b&gt;(bolinks@com).
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/04/silang-budaya-di-gejayan-magelang_23.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMYoOuV2LIP3ExbYEOn82lCA1JSLtrcxX3Uz9eZE9MNoXyATJ2VlzfZ4G24jfHzMLKD9V3Y0FjaZNMLgsQ04G3GrjLbLp8Zkh0Phu4C4pRjS901T8MzApyUeHoxXPKXV_YS71NxI_0N8w/s72-c/Lintasbudaya+Gejayan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2475366426382983684</guid><pubDate>Mon, 26 Mar 2012 22:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-27T05:19:55.680+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>CANDI BOROBUDUR BERI INSPIRASI PENYAIR DUNIA.</title><description>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeLyNi5AOwvngmZ-uNtJ1P8-URO76kBaOKWX7yUy_MCn-eAD7XkoJnBx8qtl0o0t2Bh_w6An-iuUk4Vq5nF-8pWBcufG4NNGNtFHfAyqOnKAgqqN7sMCwwaeJNZDhS9WpAJP41aXgglR8/s1600/FINAL+BOROBUDUR.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeLyNi5AOwvngmZ-uNtJ1P8-URO76kBaOKWX7yUy_MCn-eAD7XkoJnBx8qtl0o0t2Bh_w6An-iuUk4Vq5nF-8pWBcufG4NNGNtFHfAyqOnKAgqqN7sMCwwaeJNZDhS9WpAJP41aXgglR8/s320/FINAL+BOROBUDUR.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5724333704512456018&quot; /&gt;&lt;/a&gt; Foto: Deddy PAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Borobudurlinks, 27 Maret 2012.&lt;/span&gt; PT Taman Wisata Candi Borobudur mengharapkan, Borobudur yang juga peninggalan peradaban dunia di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu memberikan inspirasi para penyair dunia melalui pembacaan puisi mereka awal April 2012.&lt;br /&gt;&quot;Harapan kami, Borobudur memberikan banyak inspirasi kepada mereka,&quot; kata General Manager PT TWCB Pujo Suwarno di Borobudur, Senin.&lt;br /&gt;Puluhan penyair berasal dari berbagai negara dan kota-kota besar di Indonesia akan membacakan puisi mereka di Taman Lumbini kompleks Candi Borobudur pada 1-2 April 2012 dalam tajuk &quot;Forum Penyair Internasional-Indonesia (FPII). Mereka terdiri atas 17 penyair luar negeri dan 10 dalam negeri.&lt;br /&gt;Ia mengharapkan, kegiatan itu semakin membuat Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 masa pemerintahan Dinasti Syailendra di antara Kali Elo dengan Progo itu dikenal di kalangan penyair.&lt;br /&gt;Pembacaan puisi oleh penyair dunia di tempat itu, katanya, sebagai momentum budaya yang penting.&lt;br /&gt;&quot;Sebagai wujud bahwa Borobudur layak untuk apresiasi dan ruang aktualisasi budaya,&quot; katanya.&lt;br /&gt;Pihaknya menyambut positif kegiatan tersebut karena banyak manfaat positif termasuk menyangkut kepentingan kepariwisataan Candi Borobudur pada masa mendatang.&lt;br /&gt;&quot;Termasuk menguatkan pengembangan kepariwisataan malam Candi Borobudur. Jadi harus didukung,&quot; katanya.&lt;br /&gt;Ketua Panitia Penyelenggara FPII Magelang Dorothea Rosa Herliany mengatakan, kegiatan itu rangkaian pembacaan puisi oleh para penyair dunia di empat kota di Indonesia yakni Magelang (1-3 April 2012), Pekalongan (4-6 April), Malang (7-9 April), dan Surabaya (10-12 April).&lt;br /&gt;Jumlah seluruh penyair yang terlibat pada acara tersebut sebanyak 42 orang yang terdiri atas 17 berasal dari beberapa negara dan 25 beberapa kota di Indonesia.&lt;br /&gt;Penyair mancanegara antara lain berasal dari Jerman, Amerika Serikat, Zimbabwe, Belanda, Swedia, Denmark, Islandia, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, dan Makedonia. Penyair Indonesia antara lain berasal dari Bali, Bogor, Madura, Bekasi, Surabaya, Yogyakarta, Bekasi, dan Rembang.&lt;br /&gt;&quot;Yang di Magelang, 17 penyair luar negeri dan 10 dalam negeri. Di lain kota, rata-rata seperti itu komposisinya. Jadi, penyair Indonesia di empat kota beda-beda,&quot; kata Rosa yang juga pengelola &quot;Rumah Buku DuniaTera&quot; Borobudur itu.&lt;br /&gt;Ia juga mengatakan, para penyair dunia itu juga akan mengunjungi Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Seminari Menengah Mertoyudan Kabupaten Magelang, dan Museum OHD Kota Magelang yang dikelola oleh kolektor lukisan Oei Hong Djien. Mereka juga akan beraudiensi dengan Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dan kalangan pengusaha kota setempat.&lt;br /&gt;Selain itu, katanya, mereka ke Gunung Merbabu di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang untuk mengikuti Pesta Kesenian Rakyat oleh para seniman petani setempat.&lt;br /&gt;&quot;Kegiatan ini bagian dari program kerja sama sastra antarnegara dengan harapan melahirkan karya besar dunia,&quot; kata Dorothea Rosa Herliany &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(Jodhi Yudono/Kompas.com).&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/03/candi-borobudur-beri-inspirasi-penyair.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeLyNi5AOwvngmZ-uNtJ1P8-URO76kBaOKWX7yUy_MCn-eAD7XkoJnBx8qtl0o0t2Bh_w6An-iuUk4Vq5nF-8pWBcufG4NNGNtFHfAyqOnKAgqqN7sMCwwaeJNZDhS9WpAJP41aXgglR8/s72-c/FINAL+BOROBUDUR.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-2656417176932731990</guid><pubDate>Mon, 26 Mar 2012 15:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-26T22:43:20.553+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>SEPEKAN MENYAPA DENGAN CINTA  (Catatan Kegiatan Book in Love 2012).</title><description>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZ3gGHjjc18L5rOqlUOH_5XOtlBLa6DhiesBY_7a9uGzZe5OZbYetIchvPI0YyoRVzzZOjwFunJNe3MSqHIbojoFz3tQiptoRM3be1eJpNBenCAwDSLWfWcv1rQep3qIwP_exSgG_YdMg/s1600/Poster+Awal.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZ3gGHjjc18L5rOqlUOH_5XOtlBLa6DhiesBY_7a9uGzZe5OZbYetIchvPI0YyoRVzzZOjwFunJNe3MSqHIbojoFz3tQiptoRM3be1eJpNBenCAwDSLWfWcv1rQep3qIwP_exSgG_YdMg/s320/Poster+Awal.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5724231209491477330&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Oleh Khalimatu Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 26 Maret 2012.&lt;/span&gt; Februari dan cinta. Di bulan Februari, ada sebagian orang yang secara khusus melakukan perayaan cinta. Ada pula sebagian lain yang menolak mentah-mentah dan bahkan membuat perayaan tandingan.&lt;br /&gt;Pro kontra yang tak habis-habis itu justru secara tidak langsung menunjukkan bahwa Februari dan cinta adalah keidentikan yang langgeng dari waktu ke waktu. Dari pandangan sederhana itulah kemudian ide Book in Love muncul sebagai sebuah usaha memanfaatkan secara positif limpahan energi cinta di bulan Februari. Book in Love diusung sebagai sebuah tema kegiatan yang diharapkan dapat secara khusus mewadahi kecintaan masyarakat Magelang Raya terhadap buku dan secara umum menjadi sarana menjalin komunikasi serta jaringan. Book in Love diwujudkan dalam bentuk bazar buku selama sepekan yang akan diisi dengan rangkaian acara variatif setiap harinya.&lt;br /&gt;Book, Baru dan Berbeda&lt;br /&gt;Komunitas BBL yang sebelumnya dikenal dengan nama Borobudur Movie Links (BML), untuk pertama kali mengusung konsep ‘Book’ alih-alih ‘Movie’. Pemilihan konsep buku, secara umum dikarenakan sifat buku itu sendiri yang universal, sama halnya dengan cinta. Sementara secara khusus, keputusan itu sebenarnya didorong oleh semangat komunitas balita ini untuk mencoba hal yang baru.&lt;br /&gt;Namun rupanya tidak mudah menjalankan sesuatu diluar kebiasaan. Persiapan jelang Book in Love relatif berbeda dengan persiapan lima kegiatan yang pernah dihelat sebelumnya. Kali ini BBL harus bekerja ganda, yakni mempersiapkan bazar, berikut acara-acara pengisi setiap harinya.&lt;br /&gt;Selama sebulan konsep telah dipersiapkan. Dalam perjalanannya, BBL harus menghadapi berbagai tantangan. Diantaranya, BBL telah merencanakan agenda kompetisi menggambar dan musikalisasi puisi untuk memeriahkan Book in Love. Namun karena berbagai kendala waktu dan tenaga, pada akhirnya agenda kompetisi terpaksa dibatalkan.&lt;br /&gt;Tantangan yang paling berat terletak pada ranah supervisi. Pada perhelatan kali ini BBL benar-benar bekerja secara mandiri. Mualim M Sukethi selaku pembina komunitas berhalangan untuk secara intensif menemani dan memberi arahan seperti yang dilakukan pada kegiatan-kegiatan sebelumnya.&lt;br /&gt;Rasa pesimis sempat muncul. Namun, mengingat jatuh adalah hal yang biasa dalam proses belajar, ketakutan pun coba disingkirkan jauh-jauh. BBL mencoba bangkit dan terus melangkah.&lt;br /&gt;Persembahan Cinta Sepekan&lt;br /&gt;Sesuai rencana, pada 13-19 Februari Book in Love digelar. Bertempat di Syang Art Space Magelang, bazar buku dibuka setiap hari pukul 09.00-20.00 WIB. Dan seperti yang telah dijanjikan, Book in Love mempersembahkan acara demi acara yang berbeda tiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiVwcuQN-usnCWK6y7wSPLDNX7ubo_6KzIKZB-CjtpZ73mY85jVdYMn_PCE6BxYg_ipElejBn7zmLi7S2-zhZt1zvZ_XeYdfkYWMZG6tokCV2oxcQIUpdKVlHiCTMoZVvti4s1-Oh07SU/s1600/Foto+dpn+banner.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiVwcuQN-usnCWK6y7wSPLDNX7ubo_6KzIKZB-CjtpZ73mY85jVdYMn_PCE6BxYg_ipElejBn7zmLi7S2-zhZt1zvZ_XeYdfkYWMZG6tokCV2oxcQIUpdKVlHiCTMoZVvti4s1-Oh07SU/s320/Foto+dpn+banner.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5724231467534248450&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian acara dimulai pada hari Senin (13/2). Dalam acara tersebut, Ginanjar Teguh Iman selaku koordinator acara secara resmi membuka Book in Love. Acara pembukaan itu juga dimeriahkan oleh penampilan teatrikal dari Bengkel Seni Universitas Tidar Magelang (UTM). Pentas yang dibawakan berjudul Arjuna Mencari Cinta, arahan sutradara Weq.&lt;br /&gt;Pada hari Selasa (14/2) diadakan pemutaran film Ada Apa dengan Cinta secara gratis dan terbuka untuk umum. Pemutaran film tersebut ditujukan untuk memberikan apresiasi terhadap salah satu film cinta legendaris Indonesia yang sarat dengan muatan sastra. Pembagian doorprize berupa buku turut memeriahkan acara tersebut.&lt;br /&gt;Diskusi bersama penulis skenario Haryanto Corakh dilakukan pada hari berikutnya, Rabu (15/2). Dalam acara tersebut, narasumber lulusan Institut Kesenian Jakarta itu menceritakan mengenai pengalaman kepenulisannya. Ia juga mengenalkan beberapa karyanya, antara lain naskah skenario film yang dibukukan dengan judul Unlimited Love serta calon novelnya yang berjudul Irene dan Piano.&lt;br /&gt;Untuk kedua kalinya pada hari Kamis (16/2) Book in Love kembali melakukan pemutaran film. Judul film yang diputar adalah Kambing Jantan yang diangkat dari novel laris Raditya Dika. Pemutaran film ini merupakan wujud apresiasi terhadap kesuksesan buku-buku karya Raditya Dika yang mampu menyedot perhatian masyarakat hingga akhirnya diangkat ke layar emas.&lt;br /&gt;Pada hari Jumat tanggal (17/2) Book in Love menghadirkan Brilliant Yotenega, pendiri nulisbuku.com -sebuah lembaga self-publishing online. Dalam diskusi gratis dan terbuka untuk umum itu, Ega bercerita banyak soal lembaga yang ia dirikan tersebut. Misi pendirian nulisbuku.com ia akui memiliki tujuan agar semua orang dapat menerbitkan buku secara mudah dan gratis. Siapapun yang memiliki karya baik tulisan atau apa saja yang hendak dibukukan dapat dengan mudah mengunggahnya di nulisbuku.com. Selanjutnya, nulisbuku.com akan menerbitkannya dalam bentuk buku dengan jumlah sesuai pesanan dan tanpa perlu terikat kontrak. Penulis juga dapat menentukan harga sendiri. Dalam kesempatan itu, Ega juga memaparkan rencananya untuk menghelat Nulisbuku Award, dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;Tiga orang penulis Magelang bercerita tentang karya mereka dalam acara bertajuk ‘Book Launch Penulis Magelang’, Sabtu (18/2). Mereka adalah Ginanjar Teguh Iman, Lucia Dayu dan Andika ‘John’ Manggala. Acara dibuka dengan pementasan drama yang dikutip dari salah satu cerita dalam antologi cerpen Cerita Hujan karya Ginanjar Teguh Iman. Drama dilanjutkan dengan pelantunan soundtrack Cerita Hujan ciptaan Ginanjar Teguh Iman sendiri.&lt;br /&gt;Secara berurutan, John dan Dayu bercerita tentang karya dan pengalaman kreatif mereka dalam menulis. Berbicara mengenai novel berjudul ‘Soegito Times’ yang ia luncurkan pada hari itu, John mengaku mendapat banyak inspirasi dari ayahnya, Soegito. Dalam novel pertamanya tersebut ia menjadikan gambaran ayahnya sebagai tokoh utama yang dikisahkan sebagai pengagum ideologi NAZI. John yang awalnya merasa kurang percaya diri untuk menerbitkan karyanya itu merasa terwadahi dengan adanya Book in Love.&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjq4XNQ7A8ChBAMAcDJH5QKz2ahtmJUUzI-Aa_EgBnkSS6M_p3nUFQ3HbyP-KyAhb4_r7iGw46FUhfdcx251hUI9tKsM9QZtz8g71quc4ZFDg2vQ30tvpJKXCItJnqlED3XqlbFi_ue3t0/s1600/Pentas+seni+01.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjq4XNQ7A8ChBAMAcDJH5QKz2ahtmJUUzI-Aa_EgBnkSS6M_p3nUFQ3HbyP-KyAhb4_r7iGw46FUhfdcx251hUI9tKsM9QZtz8g71quc4ZFDg2vQ30tvpJKXCItJnqlED3XqlbFi_ue3t0/s320/Pentas+seni+01.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5724231742698607186&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Lucia Dayu adalah seorang wanita asli Magelang yang telah menerbitkan lima buah novel melalui nulisbuku.com. Baginya buku adalah bayi. Memiliki buku adalah perayaan bagi penulisnya. Menulis sebuah buku ia akui merupakan kenikmatan tersendiri. “Menulis itu menyembuhkan,” ujarnya. Kini, dengan beberapa teman ia tengah mengembangkan Nulis Buku Club yang dalam waktu delat akan mengadakan suatu proyek menulis tentang Magelang. Melalui Book in Love, ia tak lagi merasa kesepian karena dapat bertemu teman-teman dengan kegemaran yang sama.&lt;br /&gt;Selepas Book Launch bersama penulis Magelang, pukul 15.00 acara dilanjutkan dengan Open Mic Stand Up Comedy. Acara ini merupakan yang pertama kalinya di Magelang. Sebanyak tujuh orang comic tampil dalam acara tersebut. Ketujuh comic ini tergabung dalam Komunitas Stand Up Comedy Magelang yang digagas oleh Gilang Riski Habibullah. Bersama pembawa acara jenaka Didon Debora, acara komedi cerdas ini mampu menggugah gelak tawa dari pengunjung yang hari itu membanjiri Syang Art Space.&lt;br /&gt;Pada hari terakhir, Sabtu (19/2) Book in Love menghadirkan dua penulis novel dari GagasMedia. Mereka adalah Christian Simamora dan Orizuka. Sebelum kedua penulis tersebut menceritakan pengalaman kepenulisannya, para pengunjung terlebih dulu dihibur dengan penampilan jazz akustik Rosewood Band yang dipunggawai oleh lima orang siswa SMA N 2 Magelang. &lt;br /&gt;Berbagi seputar pengalaman menulis fiksi, Christian dan Orizuka menyatakan bahwa menulis fiksi itu seksi dan menyenangkan. Sebab, menulis fiksi tak memiliki pakem-pakem yang kaku. Dalam tulisan fiksi, seorang penulis dapat dengan leluasa menuangkan seluruh imajinasinya. Namun, menumpahkan imajinasi tidak juga dapat dikatakan sebagai hal yang mudah. Imajinasi pun harus dapat tersampaikan dengan baik dan masuk akal meski sebenarnya apa yang kita tulis sama sekali bukanlah suatu kenyataan. “Untuk menjadi penulis fiksi yang baik, seseorang harus menjadi pembohong yang baik dalam tulisannya,” ujar Christian.&lt;br /&gt;Sebagai fiction editor, Christian juga membagi beberapa tips kepada penulis pemula agar karya mereka bisa lolos seleksi editor dan diterbitkan. Poin penting yang harus diperhatikan adalah bahwa penulis harus mengirimkan sinopsis cerita yang baik. Karakteristik sinopsis yang baik adalah memiliki alur cerita yang jelas, judul yang baik dan mematuhi persyaratan teknis yang diajukan oleh penerbit.&lt;br /&gt;Temu penulis GagasMedia tersebut sekaligus menjadi acara terakhir dalam rangkaian kegiatan Book in Love Magelang 2012. Sepekan sudah BBL -sebuah komunitas balita yang tengah belajar merangkak, mencoba menyapa Magelang Raya dalam cinta. Ya, energi cinta di bulan Februari yang diolah sedemikian rupa ternyata mampu mempertemukan BBL dengan relasi-relasi baru yang menakjubkan. Pada akhirnya, Book in Love menjadi sepekan yang penuh pelajaran berharga serta sebuah pengalaman tak mudah dilupakan &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(bolinks@2012).&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/03/sepekan-menyapa-dengan-cinta-catatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZ3gGHjjc18L5rOqlUOH_5XOtlBLa6DhiesBY_7a9uGzZe5OZbYetIchvPI0YyoRVzzZOjwFunJNe3MSqHIbojoFz3tQiptoRM3be1eJpNBenCAwDSLWfWcv1rQep3qIwP_exSgG_YdMg/s72-c/Poster+Awal.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-3062360837672894809</guid><pubDate>Fri, 20 Jan 2012 07:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-21T07:31:40.824+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">networking</category><title>KRITIK MEDIA ALA GRABAG-TV.</title><description>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiutKv0mG2uow18xLPiR2bj5MxBSZkf4uKQc8vIwQM6dJVu2wbN00yqbk-is4ksX1s9hV2OGPUIpAppI67Os9x09pg0woLmNMygLwWX53Ia16ALCtCzjV2fBU4KaDH4nJX9Wt_zKoc1AHc/s1600/GTV+Foto+02.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiutKv0mG2uow18xLPiR2bj5MxBSZkf4uKQc8vIwQM6dJVu2wbN00yqbk-is4ksX1s9hV2OGPUIpAppI67Os9x09pg0woLmNMygLwWX53Ia16ALCtCzjV2fBU4KaDH4nJX9Wt_zKoc1AHc/s400/GTV+Foto+02.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5699873202528924114&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yudha Hadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 19 Januari 2012. Diawali dengan minimnya penerimaan saluran pemancar televisi di wilayah Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang pada tahun 2004, membuat Hartanto yang telah pensiun dari kesibuannya bergabung dengan sebuah rumah produksi film di Jakarta, berkeinginan mengembangkan televisi Komunitas di Grabag yang merupakan kampung halamannya.&lt;br /&gt;Ide tersebut langsung ia kembangkan sendiri di tengah kesibukannya menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), baik dari proses shooting, reportase hingga editing digarap sendiri. Bahkan penyiarannya pun ia kerjakan sendiri.&lt;br /&gt;Laki-laki yang pernah memperoleh penghargaan berupa penata suara film terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) ini mengatakan, memang saat awal mengudara sempat mengalamikendala perijinan di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng karena juklak dan juknis tentang perundang-undangan TV komunitas saat itu belum ada. “Akhirnya kita dipersilakan mengudara namun jangan sampai mengganggu siaran lain,” ujarnya.&lt;br /&gt;Kebetulan, lanjutnya, di kantor kecamatan Grabag terdapat pemancar yang bisa menerima mareley stasiun TVRI. Sehingga kita diberikan ijin pihak kecamatan untuk memanfaatkannya,” kata Hartanto.&lt;br /&gt;Setelah siaran perdana di tahun 2004, kata Hartanto, secara terus menerus setiap hari dari pukul 06.00 hingga 07.00 ternyata banyak warga yang tertarik dan ikut bergabung dengan Grabag TV. Namun karena banyaknya kesibukan, akhirnya dilakukan evaluasi bahwa siaran hanya dilakukan dua jam pada pukul 15.00-17.00.&lt;br /&gt;Penentuan jam tersebut juga didasarkan pada jadwal aktifitas masyarakat. Yakni memberikan hiburan sekaligus pengetahuan yang mendidik di tengah kerinduan masyarakat akan oase, kesenian dan nuansa bebas dari komersil, dan murni dari masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam jangkauannya, lanjutnya, Grabag TV memang hanya mampu memancar jernih hingga radius 2,5 kilometer. Namun, setidaknya pancaran tersebut mampu menyerap sekitar 50 persen dari wilayah Kecamatan Grabag.&lt;br /&gt;Hartanto mengatakan, bahwa tujuan didirikannya Grabag TV adalah memiliki tiga kepentingan. Pertama sebagai literasi media atau memberikan sikap kritis pada media televisi, kedua untuk memberikan hiburan dan edukasi yang bermutu pada masyarakat , dan ketiga untuk membatasi waktu menonton TV yang cenderung membuang waktu untuk hiburan yang kurang mendidik dan mengurangi waktu untuk sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhcpP_mqxDUkJTtFpkP30sG7Egbxv1d4UgCoADtAXoWwwG9suK9-LjyKYXb90dv6hnoC4URrto5qD7n8EHSIBWSD-8nhuMa10PJ3kIN8b3JvBK5_RTlpz3ZZYJPDkRB1ujhT3vAdzbyqA/s1600/Foto+GrabagTV+01.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhcpP_mqxDUkJTtFpkP30sG7Egbxv1d4UgCoADtAXoWwwG9suK9-LjyKYXb90dv6hnoC4URrto5qD7n8EHSIBWSD-8nhuMa10PJ3kIN8b3JvBK5_RTlpz3ZZYJPDkRB1ujhT3vAdzbyqA/s320/Foto+GrabagTV+01.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5699876056869579874&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, lanjutnya, kenyataannya saat ini pemerintah pusat kurang menyetujui keberadaan TV komunitas dengan alasan memboroskan frekuensi. Dan dihawatirkan TV ini menjadi media yang mampu menimbulkan provokasi dan kerusuhan di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;“Yang menjadi masalah adalah masyarakat masih menganggap bahwa TV komunitas tidak memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, padahal TV ini adalah milik warga,” katanya.&lt;br /&gt;Kemudian pada tahun 2008, telah dialihkan dari saluran VHF ke UHF, karena VHF akan digunakan untuk TV digital. Setahun kemudian, tepatnya tahun 2009, digelarlah kongres Asosiasi Televisi Komunitas yang dihadiri sebanyak 27 komunitas dari Jawa dan Aceh dan tokoh-tokoh dunia broadcasting di Indonesia. &lt;br /&gt;Secara bersamaan, ia juga mendapatkan bantuan secara swadaya dari masyarakat berupa bangunan studio yang terbuat dari bambu seluas 6x9 meter beserta control room seluas 3x6 meter yang berdiri di atas tanah pribadi miliknya di Dusun Ponggol, Desa Grabag, Kecamatan Grabag. Peralatan broadcasting juga mendapatkan bantuan dari rekan-rekannya yang ada di Jakarta dan Yogyakarta. Ia juga ditetapkan sebagai Komisiaris Utama atau Ketua Dewan Penyiaran Grabag TV.&lt;br /&gt;Dalam reportasenya, kata Hartanto, Grabag TV menitik beratkan pada bidang kearifan lokal di sekitar Grabag berupa kesenian, pendidikan, dan pertanian. Pada tahun 2009, Grabag TV juga masuk nominator dalam ajang Eagle Awards dengan judul Dunia Kecil Dalam Kotak yang diselenggarakan Metro TV.&lt;br /&gt;Memang sejak tahun 2011, mengalami kendala penyiaran karena ada pembatasan dari pemerintah. Untuk kegiatan perharinya, lebih diisi oleh para siswa SMK jurusan multimedia dari berbagai daerah di Indonesia yang melakukan Prakter Kerja Lapangan (PKL) dan belajar di studio tersebut.&lt;br /&gt;“Namun mulai awal 2012, kita sudah mendapatkan ijin lagi, dan nanti akan kembali mengudara seperti sebelumnya. Kita juga memiliki agenda akan membuat video magazine agar masyarakat bisa melihat lebih luas tentang Grabag,” katanya.&lt;br /&gt;Grabag TV, hampir seluruh crew yang berkecimpung di dalamnya adalah masyarakat sekitar yang bergabung dengan sukarela. Mereka berasal dari kalangan buruh, petani, dan pedagang. Hanya ada 10 orang yang menjadi crew tetap.&lt;br /&gt;Ke depan, lanjutnya, ia berharap Grabag TV benar-benar mampu menyajikan hiburan yang mengandung edukasi yang diambil dari sekitar masyarakat Grabag dan dikemablikan lagi untuk masyarakat Grabag.&lt;br /&gt;“Harapan utama saya sebenarnya ke depan adalah Grabag TV mampu mengimbangi TV swasta yang berkembang melalui komersialisasi dan cenderung minim nilai edukasi,” harap Hartanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT. &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdpIWtQIDqcAOJrWCOGrZE6ugn3PQG2FETciR4mGfKVEw-qXeyMXBNruZhocFkdsi0GM2878-6ySFjRXCXHjgiAkmZ0Fbn3CdwpWQHoC74tXrnbE0MMk2NmwCvFnG9Nmd15gmrC8BZXno/s1600/GrabagTV.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdpIWtQIDqcAOJrWCOGrZE6ugn3PQG2FETciR4mGfKVEw-qXeyMXBNruZhocFkdsi0GM2878-6ySFjRXCXHjgiAkmZ0Fbn3CdwpWQHoC74tXrnbE0MMk2NmwCvFnG9Nmd15gmrC8BZXno/s320/GrabagTV.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5699873847936122450&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekdes Grabag, Ibnu Budi Sutopo mengatakan, keberadaan Grabag TV sudah dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat sejak lama. Dibuktikan pada tahun 2007 telah dimanfaatkan untuk media informasi pemilihan kepala desa (pilkades) secara langsung (Live). Mulai dari pendaftaran peserta, tes seleksi, masa kampanye, hingga saat pemilihan berlangsung.&lt;br /&gt;Sehingga masyarakat sekitar Grabag sudah bisa melihat langsung siaran televisi tanpa mendatangi lokasi. Bahkan, para calon Kades juga tidak datang langgsung ke lokasi pemilihan, melainkan bisa menyaksikannya di rumah.&lt;br /&gt;“Masyarakat tidak perlu berbondong-bondong melihat langsung, sehingga keamanan bisa terjamin. Karena pada saat pemilihan Kades sebelumnya sempat ada aksi masa hingga merusak gerbang Balai Desa Grabag,” katanya.&lt;br /&gt;Sampai sekarang lanjutnya, juga setiap ada acara-acara desa dan di kecamatan juga disiarkan langsung, seperti upacara bendera, dan lain-lain. Selain itu, juga bisa dimanfaatkan untuk memberikan pengumuman pada warga tentang pemilu, pertanian, dan pembuatan KTP.&lt;br /&gt;Ibnu mengatakan, saat ini untuk produksinya lebih dijalankan oleh para peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari berbagai SMK jurusan Multimedia dari berbagai daerah di Indonesia. Karena para peserta biasanya mengikuti PKL selama tiga hingga enam bulan, dan menginap di komplek Grabag TV yang memang telah disediakan penginapan.&lt;br /&gt;“Biasanya juga sering anak-anak PKL yang lalu-lalang di sekitar kantor kecamatan dan balaidesa untuk melakukan praktek broadcasting,” ujarnya.&lt;br /&gt;Untuk pengembangan Grabag TV, pihaknya juga pernah mengajukan ke pemerintah daerah untuk pengembangannnya. Namun tidak pernah ada respon.&lt;br /&gt;“Pernah diusulkan ke pemerintah daerah agar diberi anggaran untuk pengembangan tapi tidak pernah ada tanggapan. Kebetulan yang ikut di sana atau crewnya adalah relawan yang tidak dibaya. Sehingga untuk produksi pastinya membutuhkan biaya,” kata Ibnu.(Dikutip dari http://www.reportaseoriginal.blogspot.com).&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2012/01/kritik-media-ala-grabag-tv.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiutKv0mG2uow18xLPiR2bj5MxBSZkf4uKQc8vIwQM6dJVu2wbN00yqbk-is4ksX1s9hV2OGPUIpAppI67Os9x09pg0woLmNMygLwWX53Ia16ALCtCzjV2fBU4KaDH4nJX9Wt_zKoc1AHc/s72-c/GTV+Foto+02.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-5974060564427105649</guid><pubDate>Tue, 15 Nov 2011 11:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-15T18:07:26.575+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">art and culture</category><title>PASAR REJOWINANGUN: SEBUAH KISAH KLASIK*.</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqTr5B2FUCZwjXTcmFRXLX-ApgOYuG-GoqxXal1eHsxxmZFE-BbZIfC7mQQlIYUIV3IUb_wqp4Sp1m_ylHbcgKdlxbbMOltWENFdtiqfJ8hJ2wgcjl1syySWAlXqWJf1Z2hPZsAhyphenhyphenWGvE/s1600/Psr+tempo+dulu+01.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 215px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqTr5B2FUCZwjXTcmFRXLX-ApgOYuG-GoqxXal1eHsxxmZFE-BbZIfC7mQQlIYUIV3IUb_wqp4Sp1m_ylHbcgKdlxbbMOltWENFdtiqfJ8hJ2wgcjl1syySWAlXqWJf1Z2hPZsAhyphenhyphenWGvE/s320/Psr+tempo+dulu+01.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5675176852215581986&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Oleh Khalimatu Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 14 November 2011. &lt;/span&gt;Ada banyak kenangan tentang masa lalu. Dari banyak kenangan yang saya miliki, ada satu kenangan yang belum bisa saya lupakan. Saya pernah tersesat di suatu pasar, di kota tempat saya tinggal. Menariknya kenangan itu tidak hanya terletak pada kejadian tersesatnya semata, tapi juga bahwa pasar tempat saya tersesat itu merupakan pasar yang memberi arti cukup besar baik bagi keluarga saya maupun masyarakat di kota saya tinggal. Kenangan itu menjadi semakin mahal tatkala pada tahun 2008 pasar itu terbakar dan selanjutnya tak bisa lagi dijumpai dalam wujud yang sama. Dalam tulisan ini saya akan mengurai memori saya dengan pasar itu, Pasar Rejowinangun namanya.&lt;br /&gt;Saya masih mengenakan seragam TK saat tersesat di Pasar Rejowinangun Kota Magelang -kota di mana saya tinggal sebelum berhijrah ke Yogyakarta. Sebenarnya saat itu saya hanya perlu berjalan lurus dari kios ‘A’ ke kios ‘B’ yang jaraknya tak lebih dari lima puluh meter, tapi saya kehilangan arah. Saya yang masih berusia lima tahun merasa sangat ketakutan. Dalam benak saya, lorong-lorong pasar menjelma labirin yang membingungkan.&lt;br /&gt;Hari itu, saya pergi ke pasar bersama ibu saya. Saya memang sering diajak beliau ke pasar untuk berbelanja atau sekedar menemui Nenek yang kebetulan juga berdagang di sana. Ketika itu, kami hendak pulang. Ibu meminta saya berpamitan dengan Nenek sementara beliau menunggu di kios Nenek yang lain (ada dua orang Nenek yang berjualan di Pasar Rejowinangun). Hanya dari kios roti ke kios gerabah yang bertetangga, saya tersesat sampai deretan kios ikan asin yang lumayan jauh jaraknya.&lt;br /&gt;Cukup lama saya berputar-putar dalam pasar. Saya bingung harus bertanya pada siapa. Pun jika saya bertanya, saya yakin tak kan ada yang bisa membantu saya, sebab saya tidak tahu nama lengkap kedua Nenek saya itu, yang saya tahu, saya memanggilnya dengan sebutan Mbah Uti dan Mbah Ndut. Lama kelamaan, kaki saya letih berjalan tanpa arah. Saya ingin menangis, tapi syukurlah, sebelum itu terjadi, Mbah Ndut telah datang tergopoh-gopoh menemukan saya. Kami pun berpelukan.&lt;br /&gt;Seperti banyak orang Magelang lainnya, sebagian keluarga saya menggantungkan hidupnya di Pasar Rejowinangun. Pasar Rejowinangun adalah pasar tradisional yang terbilang cukup besar. Ia dapat menampung ribuan pedagang berikut menjadi sarana transaksi yang selalu ramai tiap harinya. Lebih jauh lagi, saya akan bercerita tentang sejarah dan perkembangan Pasar Rejowinangun serta artinya bagi keluarga saya khususnya dan masyarakat Magelang pada umumnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awal Berdiri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari obrolan dengan salah seorang anggota Komunitas Kota Toea, saya mendapatkan informasi bahwa pernah ada jalur kereta api di Magelang yang resmi dioperasikan oleh perusahaan kereta api Nederlansch Indische Spoorweg Maatshappij (NIS) pada tanggal 1 Juli 1899. Kereta tersebut mengangkut hasil-hasil bumi berupa tembakau, kopi, sayuran, jagung, beras dan ubi-ubian ke kota-kota besar seperti Yogyakarta dan Semarang.&lt;br /&gt;Berdirinya Pasar Rejowinangun berkaitan erat dengan keberadaan stasiun kereta di Kelurahan Rejowinangun. Saat itu, sambil menunggu ‘spoor kluthuk’ atau  kereta api berbahan bakar jati datang, para penumpang yang membawa hasil bumi menjajakan dagangannya. Hal ini dilakukan karena mereka khawatir dagangan segera membusuk. Jual beli dilakukan baik dengan uang maupun barter. Lambat laun, moda-moda transportasi pun bermunculan di sana, membuat situasi semakin ramai. Stasiun kereta pun berkembang menjadi sebuah pasar.&lt;br /&gt;Tidak ada data valid kapan secara resmi Pasar Rejowinangun dibentuk. Namun, dari peta kuno tahun 1923, tampak Rejowinangun telah berdiri sebagai pasar modern pada masanya. Barangkali gambarannya mirip pasar desa dengan konstruksi kayu, atap genting, dan lincak bambu sebagai tempat berjualan.&lt;br /&gt;Perbaikan dan pengembangan fisik kota yang agak besar dimulai pada tahun 1964-1965. Kios-kios dan kantor pasar dibangun di Rejowinangun. Wujud Rejowinangun pun menjadi jauh lebih baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Arti Rejowinangun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berawal dari rutinitas membantu orang tuanya di pasar, tahun 1930-an kakek buyut saya mendirikan usaha sendiri berupa kios buah di Pasar Rejowinangun. Karena pertimbangan mudah busuk dan seringnya terjadi paceklik, pada tahun 1965 beliau melakukan manuver mengganti komoditas dagangnya dengan tembakau, roti kering dan berbagai macam emping.&lt;br /&gt;Tahun 1979, adik nenek saya, Musyarofi Zarkasyi dan istrinya Mulyati Musyarofi -yang selanjutnya saya panggil Mbah Ndut, mewarisi kios kakek buyut saya. Tak jauh dari kios mereka, nenek kandung saya, Munirah Zarkasyi –yang biasa saya sebut Mbah Uti, membeli sebuah kios dan berjualan gerabah serta peralatan rumah tangga. Dari kios itulah beliau menghidupi sembilan anaknya, salah satunya Nur Hasanah, ibu saya.&lt;br /&gt;Tahun 1993 saya lahir. Di masa kecil, saya sering sekali berkunjung ke pasar. Di antara kunjungan-kunjungan ke pasar itulah kemudian terjadi peristiwa tersesat yang hingga kini masih membekas dalam ingatan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKUduZ0knBl10vRoeoV_bAq-IHkmhqOFxGejdfIQCQXK-2u3XW_7tJ67HaIie6eqonRT1G7oiEacF0FjeqRACWjbyM51vYFzkCdFs0qZ2vz645XxcvydvbnEsqO6VxKl_n_lKRQX-FazQ/s1600/Stanplat+dulu+01.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 221px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKUduZ0knBl10vRoeoV_bAq-IHkmhqOFxGejdfIQCQXK-2u3XW_7tJ67HaIie6eqonRT1G7oiEacF0FjeqRACWjbyM51vYFzkCdFs0qZ2vz645XxcvydvbnEsqO6VxKl_n_lKRQX-FazQ/s320/Stanplat+dulu+01.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5675177208221280178&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seiring saya tumbuh besar, semakin jarang saya pergi ke pasar. Hingga suatu hari, di suatu malam akhir bulan Juni 2008 (saat itu saya berusia 15 tahun), langit Magelang tampak membara. Api melahap pasar yang konon terbesar se-eks Karesidenan Kedu itu. Kota Magelang yang tenang pun gempar.&lt;br /&gt;Berbagai usaha memadamkan api dilakukan, mulai dari menggunakan jasa pemadam kebakaran hingga cara konservatif dengan bergotong royong mengambil air dari selokan terdekat. Tapi hampir tak ada yang bisa diselamatkan. Dalam sekejap, 1500-an pedagang kehilangan kios berikut barang dagangan mereka. Sebuah musibah yang luar biasa. Melihat kejadian itu, Nenek dan keluarga besar saya hanya bisa ikhlas.&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, relokasi pasar ke Sentra Ekonomi Lembah Tidar (kaki Bukit Tidar Magelang) dilakukan. Namun agaknya relokasi itu gagal lantaran lokasinya kurang strategis dan tidak didukung dengan sarana transportasi yang memadai.&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, tahun 2010, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam sebuah komunitas pelajar berinsiatif membuat suatu video dokumenter tentang Pasar Rejowinangun. Kami melakukan survei langsung ke pasar, wawancara dengan para pedagang dan pihak-pihak terkait. Dari situlah saya bisa merasakan betapa berartinya Pasar Rejowinangun bagi masyarakat Magelang.&lt;br /&gt;Menurut data yang berhasil kami kumpulkan, hampir semua unsur masyarakat Magelang mengharapkan Pasar Rejowinangun segera dibangun kembali. Para pedagang mengungkapkan kekecewaannya kepada pemerintah atas ketidaksigapan mereka dalam membangun kembali Pasar Rejowinangun. Pemerintah dianggap lamban dan membiarkan para pedagang terkatung-katung dalam nasib tak tentu dengan kerugian yang tak mampu diatasi.&lt;br /&gt;Para pedagang pun berasosiasi dalam kelompok-kelompok kepentingan yang melakukan upaya mempercepat pembangunan pasar. P3RM (Paguyuban Pedagang Pasar Rejowinangun Magelang) salah satunya. Mereka melakukan berbagai usaha diplomasi dengan pemerintah untuk mencari solusi percepatan pembangunan pasar. Tak ketinggalan, mahasiswa-mahasiswa lokal juga tergerak untuk melakukan aksi. Beberapa kali sudah mereka melakukan demonstrasi. Para seniman menunjukkan kepedulian mereka dengan melakukan ritual yang mereka sebut sebagai ‘Ruwatan Pasar’ dengan tujuan untuk membersihkan Rejowinangun dari anasir-anasir negatif.&lt;br /&gt;Namun hingga tiga tahun pasca terbakarnya, Rejowinangun tak kunjung dibangun. Janji-janji pembangunan pasar yang digunakan sebagai slogan politik dalam kampanye pemilihan Walikota Juli 2010 lalu, tak lebih dari sekedar retorika belaka. Tuan Walikota Terpilih yang menjanjikan pembangunan pasar di 100 hari pemerintahannya ingkar janji. Hingga kini, para pedagang terus berusaha secara mandiri untuk tetap bertahan hidup di atas semua polemik itu.&lt;br /&gt;Kehilangan Rejowinangun adalah kehilangan satu mata rantai penting dari roda perekonomian Magelang yang telah mapan selama seratusan tahun. Kini, masyarakat harus menghadapi pola-pola ekonomi baru dengan segala konsekuensinya. Di sisi lain, Rejowinangun sebagai bagian hidup yang tumbuh berkembang bersama masyarakat menorehkan arti tersendiri bagi tiap-tiap wong Magelang. Bagi saya, kenangan serta emosi yang tercipta dari sana akan senantiasa menjadi sebuah kisah klasik yang tak mudah dilupa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Krapyak, 11 November 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*Penulis anggota ‘borobudur MOVIE links’, unit kegiatan film borobudurlinks.com. Tulisan ini adalah tugas MK Sejarah Sospol Indonesia, Jurusan Sospol UGM).&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2011/11/pasar-rejowinangun-sebuah-kisah-klasik.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqTr5B2FUCZwjXTcmFRXLX-ApgOYuG-GoqxXal1eHsxxmZFE-BbZIfC7mQQlIYUIV3IUb_wqp4Sp1m_ylHbcgKdlxbbMOltWENFdtiqfJ8hJ2wgcjl1syySWAlXqWJf1Z2hPZsAhyphenhyphenWGvE/s72-c/Psr+tempo+dulu+01.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1599653095543524110</guid><pubDate>Tue, 08 Nov 2011 15:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-12T14:01:45.098+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">art and culture</category><title>BERIKAN YANG TERBAIK, RESEP ROY GENGGAM.</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhesR1-oseemCOcK8czkAysodKdzV4J6gMWrwvOZrtI23jNOA-krJmJnDQkujDlsmABvCpf3AEjTagDmRH9-GACaKn0S7hHTJlnTkJEoGZkvoeqifxvFBGJ1T40iOkfnP47ywjgo-xVV0k/s1600/Profil+RG.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 320px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhesR1-oseemCOcK8czkAysodKdzV4J6gMWrwvOZrtI23jNOA-krJmJnDQkujDlsmABvCpf3AEjTagDmRH9-GACaKn0S7hHTJlnTkJEoGZkvoeqifxvFBGJ1T40iOkfnP47ywjgo-xVV0k/s320/Profil+RG.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672653627492982002&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Oleh: Sakya Suu Kyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 8 November 2011.&lt;/span&gt; Roy Genggam nampak terpana di depan beberapa lukisan Affandy. Dengan serius sambil sesekali memotret, fotografer kondang, itu mengamati ratusan koleksi senirupa di Museum OHD (Oei Hong Djien) Magelang. “Saya sampai keluar keringat dingin menyaksikan lukisan-lukisan ini, “ katanya. Yang pasti fotografer yang dulu bercita-cita menjadi pelukis ini sangat terkesan oleh karya senirupa  koleksi Museum OHD yang dianggap terbaik di Indonesia itu. &lt;br /&gt;Memang sebelum memulai acara ‘Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam’, 29 Oktober 2011, panitia dari ‘borobudur MOVIE links’ (BML) sempat membawa rombongan Roy bersama tim Nikon   mengunjungi museum yang bisa jadi ikon baru kota Magelang itu. “Kami sengaja membawanya ke Museum OHD. Untuk menunjukkan bahwa Magelang layak disebut kota kebudayaan, bukan hanya kota militer, “ kata Mualim Sukethi, Pembina BML, yang pagi itu berfungsi sebagai pemandu.&lt;br /&gt;Kekaguman yang sama nampak pada wajah sekitar 100 hadirin yang memenuhi lantai 2 Syang ArtSpace, Magelang, yang jadi lokasi ‘Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam’. Khususnya saat fotografer jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu menampilkan karya-karyanya lewat proyeksi OHP. &lt;br /&gt;“Ternyata hampir semua iklan yang terpampang di media cetak mau pun out-door itu hasil jepretan Roy Genggam, “ kata Kusumawardhani, interior-designer, yang khusus datang dari Bandung untuk mengikuti acara ini.  Terlihat di layar OHP deretan produk dan bintang iklan terkenal tampil satu persatu. &lt;br /&gt;Tak hanya terhadap karya-karyanya, peserta juga sangat terkesan terhadap penampilan Roy sebagai seminaris. Ia membeber banyak persoalan fotografi dan menjawab pertanyaan dengan fasih. “Roy sangat menguasai masalah fotografi hingga ke detailnya, baik  teknik mau pun estetik, “ tambah Kusumawardhani, jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah belajar fotografi pada seorang fotografer terkenal di Bandung.&lt;br /&gt;Dalam sarasehan sepanjang 5 jam (13.30-18-30) itu berbagai persoalan fotografi dibahas secara tuntas, dari masalah teknis, estetik, manajemen, hingga personalitas, yang dianggap sebagai factor yang harus dikuasai bagi seseorang yang ingin berkarir sebagai fotografer professional. Sungkono, fotografer senior Magelang, misalnya, mempertanyakan teknik pemotretan high-light. Ia menunjuk contoh foto-art ‘Mercy C-300’ karya Roy, dimana semua obyek, latar belakang, serta asesorisnya berwarna putih. Roy pun menjelaskan teknik pemotretan ‘white on white’ dengan gamblang dan detail.&lt;br /&gt; “Sebetulnya saya sudah lama mengenal nama Roy Genggam, sejak ia banyak memotret interior. Tapi baru kali ini bisa jumpa secara langsung. Dan saya puas atas penjelasannya yang gamblang tadi, “ kata fotografer berambut perak itu. “Yang pasti, saya berterimakasih pada borobudurlinks yang telah mendatangkan fotografer sekelas Roy ke Magelang, “ sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdip35TzPW65GwO9_PDY16GgNCsI8oQj_W7mfXMShXzT8gk6AzceJ10SlNLQ__1mIZJ1CYpLYNyMeLJOC1GXw03YEOzFslnoTqWybLhyphenhyphenK7i7aTCgFnc-b9xQX6zFJLzFdkq3NkZsCCid4/s1600/Suasana+seminar+Roy+01.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdip35TzPW65GwO9_PDY16GgNCsI8oQj_W7mfXMShXzT8gk6AzceJ10SlNLQ__1mIZJ1CYpLYNyMeLJOC1GXw03YEOzFslnoTqWybLhyphenhyphenK7i7aTCgFnc-b9xQX6zFJLzFdkq3NkZsCCid4/s320/Suasana+seminar+Roy+01.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672784880258766866&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bahkan untuk kasus sebaliknya, ‘black on black’, Roy memeragakannya lewat workshop. Ia dibantu Solihin dan Eko, 2 asistennya, membuat ruang sedehana lewat sekat-sekat kain hitam-puitih. Di tengahnya di atas meja yang juga dialasi kain hitam diletakkan beberapa botol berbagai jenis, yang juga dicat hitam. Dengan hanya menggunakan dua lampu flash sederhana, maka bisa dihasilkan foto konfigurasi berbagai botol hitam yang bentuk botolnya tergaris melalui cahaya tipis. Sederhana namun tetap artistic.&lt;br /&gt;“Kuncinya pada light-meter. Kendati kamera digital saat ini banyak menawarkan menu pengaturan cahaya, tapi aku lebih percaya pada akurasi yang dihasilkan light-meter, “ kata Roy sembari mengukur beberapa sudut cahaya menggunakan pengukur intensitas cahaya itu. “Sekarang ini setiap seminar selalu kutanya siapa peserta yang memiliki lightmeter. Jawabnya hanya satu-dua. Padahal semestinya fotografer professional memiliki alat ini “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;PORTOFOLIO.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roy juga berbagi lewat pengalamannya dari mulai sebagai fotografer majalah hingga menduduki posisi sebagai fotografer papan atas. Selepas menempuh studi di IKJ, Roy sempat menjadi fotografer tetap di majalah ASRI dan Laras, keduanya majalah interior. Masing-masing selama 2 tahun.&lt;br /&gt;“Setelah cukup dikenal, saya memutuskan keluar dari dunia press, dan membangun karir sebagai fotografer professional, “ cerita Roy, yang terkenal perfeksionis ini. Roy memulainya lewat studio kecil &quot;Genggam Photography&#39; yang dikelolanya di rumah kontrakan di daerah Tebet, Jakarta Selatan. &lt;br /&gt;Kehadiran Roy di dunia fotografi komersial cukup mengejutkan. Dibantu seorang desainer grafis yang cukup ternama, Roy menerbitkan sebuah kalender 6 halaman yang menampilkan karya-karya awalnya, baik berupa foto produk mau pun art-foto.  Mengejutkan karena saat itu belum pernah ada seorang fotografer membuat kalender pribadi. Apalagi karya-karya yang terpampang cukup meyakinkan sebagai fotografer professional.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Dnka9MhTBgroPPEjk5cAiu6ckNe4eLosb6ATaY-v9b2iegV7Ekc2WA40v_eSr8JeyDLm6wxh0ebaEpMOLwBAzfA_-ZvikuBQo8ULwAD_VgbjCKXSrVk0sm6COYMOLM_8qbAvBMSQ_vg/s1600/Roy+n+Akbar+dpn+Afandi.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2Dnka9MhTBgroPPEjk5cAiu6ckNe4eLosb6ATaY-v9b2iegV7Ekc2WA40v_eSr8JeyDLm6wxh0ebaEpMOLwBAzfA_-ZvikuBQo8ULwAD_VgbjCKXSrVk0sm6COYMOLM_8qbAvBMSQ_vg/s320/Roy+n+Akbar+dpn+Afandi.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672785525167902482&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak creative dan art-director biro iklan yang menyambut kehadiran Roy. Order memotret pun mengalir. “Tapi mereka juga kaget. Ternyata karya-karya fotografi itu dihasilkan dari studio kecil yang terletak di gang sempit, “ kenangnya. Bahkan, cerita Roy, para pelanggan di awal karirnya itu mau berjalan kaki masuk gang menuju studionya, karena mobil mereka harus parkir di pinggir jalan raya.&lt;br /&gt;Sejak itu Roy merasa PD untuk ‘menawarkan’ dirinya lewat portofolio. Maka setiap tahun mengalirlah portofolio dirinya, yang selalu dikerjakannya bersama desainer ternama. Setiap tahun nama dan karyanya juga selalu tercantum dalam ‘Art Director Index of Photography’, sebuah buku yang berisi nama-nama fotografer komersial kelas dunia.&lt;br /&gt;Beberapa karya fotonya dimuat dalam buku-buku ‘Pro Lighting’ terbitan Rotovisio Switzerland. Foto-foto  karya Roy juga digunakan untuk presentasi ‘Hasselblad 50 th’, di Cologne Fotokina 1998. Pada tahun yang sama pula, salah satu fotonya memenangkan sayembara foto Hasselblad International, yang memberinya hadiah berupa kamera medium Hasselblad berlapis emas.&lt;br /&gt;“Tanpa banyak bicara, lewat portofolio atau buku semacam itu, client mengetahui kualitas karya kita, “ tegas Roy. Selain itu agar namanya tetap berkibar, sesekali  Roy juga masih bersedia memotret untuk kepentingan media cetak. Terutama majalah interior, gaya hidup, dan kuliner, dengan alasan media-media itu masih mengandalkan foto-foto bagus sebagai kekuatan visualnya.&lt;br /&gt;Beberapa grup media besar seperti KKG (Kelompok Kompas Gramedia) juga memanfaatkan Roy untuk memberikan pembekalan bagi para fotografer muda yang baru bergabung. Dan kini Nikon, salah satu merk  yang mengendalikan pasar kamera di Indonesia, tak mau ketinggalan memanfaatkan keahliannya untuk memberikan seminar di beberapa kota.&lt;br /&gt;Pencapaian Roy itu ternyata tak mengagetkan bagi Mualim Sukethi, sahabat karibnya sejak kuliah di IKJ. Menurut Pembina BML ini, Roy sudah menunjukkan bakatnya yang kuat di bidang fotografi. “Ketika kuliah dulu Garin Nugroho selalu memercayai Roy sebagai cameraman film-filmnya, “ kata Mualim, yang dulu juga satu kelompok kerja praktek dengan Roy dan Garin.&lt;br /&gt;Roy juga dikenal sebagai fotografer yang tak gampang puas. Upayanya untuk mengembangkan diri kiranya pantas menjadi suri tauladan. &quot;Saya pernah nonton pameran yang diadakan APPI (Asosiasi Photographer Profesional Indonesia), yang anggotanya fotografer top di Jakarta seperti Darwis Triadi, Artli, Kayus Mulia, dll. Ketika yang lain masih asyik motret model atau lanskap, Roy sudah memamerkan art-foto dengan teknik air-brush.  Sesuatu yang baru bagi dunia fotografi di Indonesia. Karena saat itu belum ada teknik digital, masih analog, &quot; ungkap Mualim tentang kelebihan sahabatnya itu.&lt;br /&gt;Dan ketika teknologi digital masuk Indonesia, Roy berusaha mempelajarinya secara otodidak. &quot;Hampir tiap pagi saya mendahului datang ke studio. Sedikitnya 1-2 jam saya mempelajari photoshop dan lain-lain teknologi digital photography, &quot; cerita Roy tentang kerja kerasnya saat itu.&lt;br /&gt;Bagi Mualim, pencapaian yang pantas diketahui dari seorang Roy Genggam adalah posisinya sebagai satu diantara fotografer komersial termahal dan terlaris di Indonesia. Yang unik, banyak produk atau brand besar yang sebenarnya satu jenis usaha, tapi mereka bisa mempercayai pemotretan iklannya pada satu fotografer. &lt;br /&gt;&quot;Tak ada conflict of interest di situ, &quot; papar Mualim, semebari menyebut beberapa contoh brand atau produk seperti: Bank Mandiri, Bank BNI, hingga Citibank.&lt;br /&gt;Apalagi yang harus dimiliki dan disiapkan seorang fotografer agar bisa mencapai kelas professional seperti Roy Genggam ?&lt;br /&gt;“Dukungan tim manajemen yang juga professional, “ jawab Roy yakin, sembari menyebut istrinya yang bernama Artie R Genggam sebagai manajernya yang handal. Selain istrinya, di dalam tim manajemen ‘Genggam Photography’ juga bergabung beberapa tenaga kerja yang professional di bidangnya, seperti desainer grafis, art-director, hair stylish, penata busana, asisten, dll. Dengan jajaran tim pendukung yang professional itu Roy bisa lebih focus dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas.&lt;br /&gt;Selain itu pencapaian Roy juga didukung oleh perangkat fotografi terbaik yang ia gunakan. Beberapa distributor kamera atau lighting-system merk  terkemuka berlomba-lomba mendekati Roy agar menggunakan perangkat yang mereka pasarkan. Ada yang sekedar meminjami agar mendapat kesan bahwa produknya sudah digunakan Roy Genggam, dan imej perangkat itu diharapkan terangkat di mata fotografer lainnya. Ada juga yang memberikan diskon besar agar Roy membelinya.&lt;br /&gt;“Sekarang ini di Jakarta studio kami dianggap yang terbesar dan terlengkap untuk keperluan foto komersial, “ jelas Roy ketika memperlihatkan beberapa kesibukan ‘behind the camera’ di studionya kepada peserta sarasehan. Beberapa peserta sempat terhenyak mendengar kehebatan perangkat yang dimiliki Roy serta berapa harganya.&lt;br /&gt;“Dengan semua ini kami bisa memberikan kualitas karya terbaik, sekaligus juga pelayanan terbaik, “ tegas Roy tentang resep terpenting keberhasilannya sebagai fotografer professional. Kualitas karya terbaik, menurut ayah 3 anak, ini tidak hanya meningkatkan tarif dirinya sebagai fotografer. Tapi juga kebanggan dan kehormatan. “Saya termasuk sedikit fotografer yang tak mau menurunkan harga, di tengah persaingan harga dengan banyaknya fotografer muda yang pasang harga murah, “ imbuh Roy.&lt;br /&gt;Tentang pelayanan ‘Genggam Photography’, seorang AE (Account Executive) dari agensi iklan terkemuka yang tak mau disebut namanya memberikan kesaksian “Bekerja di studio Roy bagi saya terasa berekreasi atau bermain-main. Selain tempatnya nyaman, di situ tersedia berbagai permainan seperti meja bilyar, mini-soccer, dan mainan anak-anak. Jadi selama menunggu camera set-up, kami bisa memuaskan naluri rekreasi kami, “ kata perempuan manis, yang kebetulan juga dibesarkan di Magelang itu.&lt;br /&gt;Masalahnya bagi fotografer di daerah, perangkat terbaik itu tidak tersedia. Apakah dengan perangkat sederhana bisa menghasilkan karya berkualitas ?&lt;br /&gt;“Bisa ! Kuncinya yaitu prinsip untuk memberikan yang terbaik bagi client, “ tegas Roy. Hal itu diperlihatkan lewat workshop sederhana yang diberikan Roy menjelang akhir sarasehan &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2011/11/berikan-yang-terbaik-resep-roy-genggam.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhesR1-oseemCOcK8czkAysodKdzV4J6gMWrwvOZrtI23jNOA-krJmJnDQkujDlsmABvCpf3AEjTagDmRH9-GACaKn0S7hHTJlnTkJEoGZkvoeqifxvFBGJ1T40iOkfnP47ywjgo-xVV0k/s72-c/Profil+RG.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-4709874531923956324</guid><pubDate>Sun, 06 Nov 2011 22:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-07T05:14:36.628+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">art and culture</category><title>DIBALIK MITOS PARA MAESTRO.</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXb5oWhCDmigg1FB4NGnpiG3sYsXkieiTodp8cgNmHpwzHyRnnQoJDBjouu4TO_98TEc7ReYZs4bY8L4RmKR6lDOx5wofGJT903Gg6nPT6r_A2qv-XTl-K7TBqPBsXCKqOwp0owUqFBEE/s1600/Foto+bersama+diskusi.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXb5oWhCDmigg1FB4NGnpiG3sYsXkieiTodp8cgNmHpwzHyRnnQoJDBjouu4TO_98TEc7ReYZs4bY8L4RmKR6lDOx5wofGJT903Gg6nPT6r_A2qv-XTl-K7TBqPBsXCKqOwp0owUqFBEE/s320/Foto+bersama+diskusi.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672008837031658194&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Oleh: MyAsa Poetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks.com, 6 November 2011. &lt;/span&gt; Anton Larenz merasa terganggu oleh beberapa film para maestro senirupa yang lebih banyak dibumbui dengan mitos-mitos sehingga bisa menyesatkan penontonnya. Sementara Deddy PAW meminta pada pihak-pihak yang berkompetan untuk secepatnya mendokumentasikan para maestro senirupa Indonesia yang kini sudah mendekati uzur. Sedangkan Ridwan Muljosudarmo meminta agar perupa muda di Magelang tak hanya meniru gaya hidup eksentrik para maestro, tapi lebih mengutamakan untuk meniru perjuangan para maestro itu.&lt;br /&gt;Demikian pokok-pokok pikiran yang mengemuka selama diskusi ‘Menyimak Maestro’, yang berlangsung sebagai penutup ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’, 28 Oktober 2011, di Syang ArtSpace, Magelang. Diskusi yang berlangsung sekitar 2,5 jam itu dihadiri oleh sekitar 20 orang. Hadirin yang mengikuti berasal dari kalangan yang cukup beragam: guru, fotografer, ibu rumah tangga, pelajar dan mahasiswa. Dari kalangan senirupa Magelang sendiri tak banyak yang hadir.&lt;br /&gt;“Teman-teman KSBI (Komunitas Seni Borobudur Indonesia, yang anggotanya kebanyakan perupa, Red.) tak bisa datang karena sedang mengerjakan borongan ratusan lukisan pesanan hotel, “ kata Serli, salah satu anggota KSBI, yang datang ke acara diskusi bersama Piyu, onthelis yang juga hobi menggambar.  “Soalnya ‘kejar tayang’ mas, akhir bulan ini mesti kelar…he he, “ tambah Serli.&lt;br /&gt;Pekan film yang berlangsung sejak 25 Oktober 2011, itu memutar beberapa film tentang kehidupan para maestro senirupa dunia, seperti Picasso, Rembrant, Frida Kahlo, Mondigliani, dan Basquiat. “Sebetulnya kami juga ingin menyaksikan film tentang maestro dari Indonesia. Tapi setahu kami belum ada film maestro senirupa Indonesia, “ kata Gilang Riski Habibullah, koordinator acara, dengan nada menyesal.&lt;br /&gt;Tentang acara pekan film ini, Anton Larenz memuji. “Acara ini cukup menarik. Apalagi diadakan di kota kecil Magelang. Setahuku acara semacam ini bahkan belum pernah diadakan di Indonesia, “ kata kurator berkebangsaan Jerman itu. &lt;br /&gt;Menurut Larenz, belajar dari film tentulah menarik. Karena lewat film kehidupan para maestro itu bisa dilihat secara utuh. Tak hanya ketika para maestro itu berada di panggung sukses, tapi juga ketika mengawali kehidupannya sebagai perupa tak dikenal yang penuh penderitaan. Namun kurator sekaligus anthropolog itu memperingatkan agar para penonton mencermati sejauh mana film-film itu menyodorkan fakta-fakta seputar kehidupan para maestro. &lt;br /&gt;“Karena disajikan lewat film secara dramatic, maka bumbu-bumbu dan mitos-mitos seringkali menjadi lebih penting dari fakta kehidupan para maestro itu, “ kata anthropolog yang lama bermukim di Sumatera Barat itu, sehingga cukup fasih berbahasa Indonesia. Larenz menunjuk pada film cerita tentang Basquiat dan Frida Kahlo, yang cukup banyak mengungkap kehidupan di luar karir ke dua perupa itu. Khususnya kehidupan liar kedua perupa, seperti pengungkapan kehidupan seks dan keterlibatan mereka dengan narkoba.&lt;br /&gt;Tentang film Picasso, Larenz justru memuji keterlibatan pelukis itu dalam pergolakan politik Spanyol. Film documenter tentang Picasso yang diputar memang mengungkap keterlibatan pelukis yang terkenal dengan gaya kubisme itu sebagai anggota partai komunis. Picasso juga terlibat dalam berbagai gerakan perdamaian dunia. Karya-karyanya yang terkenal seperti ‘Guernica’, ‘’Pembantaian di Korea’, hingga ‘Dove of Peace’, dengan jelas memperlihatkan sikap Picasso dalam mengangkat problem kemasyarakatan dan politik.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig_uFYTVxLrRzIdKSrbemsh4Qpsu2Xvh0dM4NvIXygxfVaYH_eqlEZtwhd9y-yQ2-0DEbFA2RFvxgctn-tqSeChN_Kmv_TFW9vTlZNXSPF9WlFhwQEYz1O_Q_3pJoz51KBGjnhvSQbh2Q/s1600/nONTON+TRAILLER+FILM.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEig_uFYTVxLrRzIdKSrbemsh4Qpsu2Xvh0dM4NvIXygxfVaYH_eqlEZtwhd9y-yQ2-0DEbFA2RFvxgctn-tqSeChN_Kmv_TFW9vTlZNXSPF9WlFhwQEYz1O_Q_3pJoz51KBGjnhvSQbh2Q/s320/nONTON+TRAILLER+FILM.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672009087578941458&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Di awal kemerdekaan dulu, banyak pelukis Indonesia yang terlibat dalam politik. Bukan kebetulan kalau mereka juga memilih bergabung dengan partai komunisatau gerakan sosialis, karena keberpihakan mereka pada penderitaan rakyat, “ kata Larenz sembari menyebut nama-nama pelukis terkenal seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, Affandy, hingga Joko Pekik. Sedangkan Mualim Sukethi, Pembina BML, yang saat itu menjadi moderator diskusi, menambahkan nama Semsar Siahaan, perupa yang aktif dalam gerakan politik jalanan saat orde baru berkuasa.&lt;br /&gt;Namun banyak juga perupa yang sekedar meniru gaya hidup nyentrik seniman dunia itu. “Misalnya sekedar berambut gondrong, bertato, berpakaian aneh-aneh, atau memakai narkoba, “ kata Ridwan Muljosudarmo, kolektor dan pemilik Syang ArtSpace. &lt;br /&gt;Ridwan menceritakan pengalamannya bergaul dengan berbagai kalangan senirupa, khususnya di Jogyakarta. Para perupa itu seringkali menemui dirinya dan mengeluh kalau tidak punya uang buat beli cat atau kanvas saat ditanya mana karyanya. “Tapi kalau diberi uang, bukannya dibelikan kanvas atau cat untuk melukis. Justru buat mabuk-mabukan, “ kisah pengusaha konstruksi itu lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;YAYASAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan untuk mendokumentasikan maestro senirupa Indonesia dirasakan sangat mendesak. Hal itu diungkapkan oleh perupa Magelang yang eksis secara nasional, Deddy PAW. “Saat ini ada beberapa perupa Indonesia yang usianya di atas 70 th, seperti Edi Sunarso (pematung, red) dan Srihadi Sudarsono.  Peranan mereka yang cukup penting dalam sejarah senirupa Indonesia mestinya mendapat perhatian pemerintah dan kalangan senirupa dengan mendokumentasikannya dalam bentuk film, “ ujar perupa lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.&lt;br /&gt;Sementara Mualim menambahkan, tak hanya dari kalangan perupa yang pantas didokumentasikan. Pribadi atau orang-orang yang berjasa bagi pengembangan senirupa Indonesia juga layak didokumentasikan. “Seperti Oei Hong Djien (OHD) yang usianya juga melebihi 70 th kiranya pantas didokumentasikan, mengingat peranannya yang penting bagi dunia senirupa. Khusus untuk OHD, pemerintah kota Magelang layak untuk member ipenghargaan dalam bentuk pendokumentasian itu, “ usul Mualim. &lt;br /&gt;Nurfuad, perupa Magelang, mengusulkan agar para kolektor besar dan perupa yang sudah mapan mempelopori upaya pendokumentasian itu. “Orang-orang seperti Pak Ridwan atau Mas Deddy mungkin bisa memulai untuk memulai pembuatan proyek  dokumentasi itu, “ kata perupa yang kini juga terlibat dalam proyek borongan pesanan hotel itu. &lt;br /&gt;Menanggapi hal itu, Mualim mengusulkan untuk membuat sebuah lembaga berbentuk yayasan yang khusus bertugas melakukan proyek pendokumentasian itu. Menurut produser film/TV yang dulu pernah membuat dokumentasi video perupa Hardi dan salah satu instalasi Semsar Siahaan, melalui yayasan bisa dilakukan penggalangan dana bagi keperluan itu.&lt;br /&gt;“Yayasan bisa melakukan pameran atau lelang senirupa karya perupa yang bersimpati dengan upaya ini. Hasilnya bisa digunakan untuk membiayai proyek pendokumentasian ini, “ tambah Mualim. Mantan aktivis Dewan Kesenian Jakarta, itu juga menambahkan kalau kalangan perupa juga bisa membiayai pendokumentasian dirinya. Caranya ?&lt;br /&gt;“Saya dulu mendokumentasikan Hardi dan Semsar. Saya tidak dibayar dalam bentuk uang, tapi dibayar dengan lukisan, “ cerita Mualim, yang merasa menyesal proyek idealis itu tak dilanjutkan. Di akhir diskusi, Mualim mengusulkan agar kalangan senirupa Magelang memulai upaya itu, dengan proyek awal pendokumentasian OHD. Semoga ! &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2011/11/dibalik-mitos-para-maestro.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXb5oWhCDmigg1FB4NGnpiG3sYsXkieiTodp8cgNmHpwzHyRnnQoJDBjouu4TO_98TEc7ReYZs4bY8L4RmKR6lDOx5wofGJT903Gg6nPT6r_A2qv-XTl-K7TBqPBsXCKqOwp0owUqFBEE/s72-c/Foto+bersama+diskusi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1422581389552974604</guid><pubDate>Sun, 06 Nov 2011 21:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-07T04:44:26.864+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">art and culture</category><title>OHD: “JADIKAN MAGELANG KOTA KEBUDAYAAN !”.</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiV29GHzryAkHd5tRoE88n_U2Ynwmfck_6rbTrhV3cbzGZZ67Djl1IqYgy69ZNlKyoAdtDkunOY5lBfexE8npEajFPpA1GXw7EMKsKjAfo3fPEW1j5kINyUO6xPtj4oxUB1XjLjvnI5IL4/s1600/OHD+nikmati+LL.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 180px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiV29GHzryAkHd5tRoE88n_U2Ynwmfck_6rbTrhV3cbzGZZ67Djl1IqYgy69ZNlKyoAdtDkunOY5lBfexE8npEajFPpA1GXw7EMKsKjAfo3fPEW1j5kINyUO6xPtj4oxUB1XjLjvnI5IL4/s320/OHD+nikmati+LL.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5671996929123468642&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Oleh: MyAsa Poetika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borobudurlinks, 6 November 2011.&lt;/span&gt; “Pekan Film Senirupa Magelang 2011” telah terlaksana dengan baik dan  lancar. Hajatan budaya yang berlangsung antara tanggal 25-28 Oktober 2011, itu relative menarik banyak kalangan. Pada malam pembukaan misalnya, sekitar 100 pengunjung memenuhi lantai atas Syang Art Space Magelang, tempat berlangsungnya acara yang diadakan oleh ‘borobudur MOVIE links’ (BML) ini. Tampak seniman dan tokoh-tokoh masyarakat menikmati jalannya acara, antara lain: Oey Hong Djien (kolektor), Sutrisman (Akademi Magelang), Tanto Mendut (K5G), Deddy PAW (perupa), Umar Khusaini (KSBI), Edi Wahyanto (Ka.Disporabudpar), serta Mualim Sukethi (borobudurlinks.com).&lt;br /&gt;Dalam sambutannya Oey Hong Djien alias OHD  kembali mengingatkan tentang posisi Magelang sebagai kekuatan yang diperhitungkan kalangan senirupa Indonesia, bahkan dunia. “Tahun depan, sekitar 70 kolektor dunia akan mengunjungi Magelang, khususnya ke museum saya, “ kata pemilik ‘Museum OHD’, sebuah museum senirupa Indonesia yang dianggap terbesar dan terbaik di dunia.&lt;br /&gt;OHD juga bercerita, ia pernah mengunjungi beberapa museum di Amerika dan memborong beberapa kaset video/film senirupa. Tapi ketika diputar di Indonesia ternyata tidak bisa. “Ternyata kasest-kaset itu tidak bisa diputar karena beda system antara Amerika (NTSC) dan Indonesia (PAL), “ tambah dokter yang hampir tak pernah berpraktek itu.&lt;br /&gt;Tentang penyelenggaraan pekan film senirupa, OHD sempat memuji. Selain bermanfaat sebagai media pembelajaran bagi kalangan senirupa Magelang, acara semacam ini juga bisa jadi alternative hiburan bagi masyarakat. “Mualim itu kreatif.  Saat Magelang tidak punya gedung bioskop, ia mengadakan pekan film. Penonton yang rindu nonton film bisa nonton di sini. Sekaligus nonton film bagus dan menikmati  lukisan bagus…gratis pula, “ imbuhnya.&lt;br /&gt;Bagi Mualim Sukethi, produser film/TV nasional yang jadi pembina BML, pekan film kali ini memiliki arti lain karena diadakan sebagai rangkaian 4 program dalam satu bulan. Seperti diketahui, selain ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011”, di bulan September-Oktober 2011, ini BML juga mengadakan ‘Workshop dan Diskusi Film Bersama Mustafa Davis’, “Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam”, dan ‘Pameran Fotografi oleh Fotografer Magelang’.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzqGHZlJCxhfNRS38T47wMrojflNQoY5Om6einVXGkn6Q4lOdwyvTbvJYKrpRpOmM8oGKdpmeZFh7EoYD7Jm9XaXP0-9mFVHK4f1r71I_SMM0i9YUM6SPd8jp-bcqQXU3O1_8RPt07fLw/s1600/Deddy+PAW+dkk.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzqGHZlJCxhfNRS38T47wMrojflNQoY5Om6einVXGkn6Q4lOdwyvTbvJYKrpRpOmM8oGKdpmeZFh7EoYD7Jm9XaXP0-9mFVHK4f1r71I_SMM0i9YUM6SPd8jp-bcqQXU3O1_8RPt07fLw/s320/Deddy+PAW+dkk.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672000250254368930&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Saya perlu memberikan apresiasi khusus kepada teman-teman muda Magelang yang bergabung di BML. Komunitas yang sebagian besar siswa/I SMU itu telah berhasil menyelenggarakan beberapa event bertaraf nasional, bahkan internasional, “ kata jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang kini sedang mempersiapkan seri documenter sejarah Islam di Indonesia berjudul ‘Wali Songo’ dan ‘Para Kyai’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;RUWATAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pembukaan yang berlangsung dari jam 19.30 hingga 23.30 itu juga dimeriahkan oleh ‘Lepizt Legits’, grup music reggae dari Magelang yang sedang naik daun. Kumpulan 8 pemuda/I yang dikomandani Fiena (vocal) itu mampu membius pengunjung hingga akhir acara. Bahkan, setelah tokoh-tokoh Magelang meninggalkan arena, sebagian besar penonton muda berjoget ala ‘anak pantai’ mengiringi lagu-lagu berirama reggae namun berlirik Indonesia dan Jawa itu.&lt;br /&gt;“Anak-anak muda itu adalah penggemar fanatic kami. Mereka selalu hadir ke manapun kami manggung, “ kata Fiena, vokalis cewek yang juga laris sebagai MC di sekitar Magelang itu.&lt;br /&gt;Keterlibatan grup music reggae itu merupakan salah satu bukti keberhasilan BML menyatukan berbagai potensi budaya yang dimiliki Magelang. Ketika pekan film pendek yang lalu, BML menampilkan sajian music jazz, sumbangan komunitas ‘Magelang Jazz Community’ (MJC). Sebelumnya Eka Pradaning menampilkan tarian tunggal saat pembukaan pekan film documenter. &lt;br /&gt;“Dalam setiap event yang kami adakan, kami berusaha merangkul komunitas atau warga Magelang yang memiliki potensi. Mereka pun rela bergabung di acara kami, kendati tidak kami beri imbalan semestinya, “ kata Gilang Riski Habibullah, Koordinator Utama program pekan film ini. &lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqv-ceuPl0aaWdPz6oPQcd4TQQduFyN_pTNPlyV3PrfnV0zC_YXY7ddZG9Prf3mINGhywfy20rlPXmCHtFT1V8Whs1zfDlkqGELajVmwNIefy9kbEP6jGAvmAihqTZI4jTY8B8LaK_BjQ/s1600/Perform+Andri+cs+dpn+patung+03.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqv-ceuPl0aaWdPz6oPQcd4TQQduFyN_pTNPlyV3PrfnV0zC_YXY7ddZG9Prf3mINGhywfy20rlPXmCHtFT1V8Whs1zfDlkqGELajVmwNIefy9kbEP6jGAvmAihqTZI4jTY8B8LaK_BjQ/s320/Perform+Andri+cs+dpn+patung+03.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672000903321611426&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjelang program dibuka secara resmi, yang rencananya akan dilakukan oleh Widodo (79), seniman patung asli Magelang, penonton dikejutkan oleh bunyi semacam sangkakala. Bunyi lenguhan panjang itu menandai keluarnya dua orang performer dari pintu belakang Syang ArtSpace. &lt;br /&gt;Seorang lelaki yang membunyikan terompet dari tanduk kerbau jantan, wajahnya beroles bedak warna hijau, mengenakan baju loreng tentara berselempang kain dan asesoris lainnya, bergerak melintas ruang acara. Di belakangnya, seorang  perempuan berbalut kain putih dengan beberapa asesoris, berlenggang lenggok sambil mendendangkan bait-bait tembang Jawa.&lt;br /&gt;Andri Topo dan Aning Purwa, sejoli performer, itu rupanya sedang memerankan kesatria dan dewi kebudayaan. Di tangan mereka juga tertenteng dua buku besar yang terbuka. Dari dalam buku, Andri dan Aning mengambil selebaran dan membagikannya kepada penonton. Selebaran itu berisi narasi tentang perjuangan para kesatria dalam menegakkan kebudayaan sebagai bagian paling penting sejarah kemanusiaan.&lt;br /&gt;Dua performer itu seakan menjadi ‘pucuk lampah’, diiringi seluruh penonton keluar meninggalkan ruang acara. Rupanya mereka menuju taman tempat berdirinya patung Tentara Pelajar yang tepat berada di depan Syang ArtSpace. Sesampai di taman, kedua performer itu meneruskan gerak-gerak teateral di sekeliling patung. Tubuh mereka meliuk-liuk, memeluk dan memanjat tatakan dan tubuh patung. Kadang meloncat menghentak diiringi bunyi perkusi yang ditabuh satu-satu oleh seseorang.&lt;br /&gt;Lampu taman dimatikan, sehingga cahaya beberapa obor yang mengelilingi patung menimbulkan bayangan yang bergerak membalut patung yang  biasanya tampak berdiri angkuh dan mengesankan kekerasan itu. Sementara Andri menggeliat teateral sambil sesekali meniup terompetnya, Aning menaiki tatakan patung dan satu persatu menempelkan replica bunga pada sekujur patung yang bisa dijangkaunya. Sesekali Aning juga berteriak yang menyiratkan suatu puisi sedang dibacakan.&lt;br /&gt;Setelah sekitar 10 menit gerak-gerak teateral itu dipersembahkan kedua performer, tibalah saatnya orasi budaya yang akan disampaikan oleh Widodo, sekaligus membuka secara resmi ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’. Namun setelah dipanggil berkali-kali, kakek yang mengaku sebagai kreator patung Tentara Pelajar itu tak muncul. Panitia pun sibuk mencari ke sekitar patung, tapi tak menemui sosok lelaki kurus berambut putih itu.&lt;br /&gt;Akhirnya panitia memutuskan meminta OHD untuk memberikan orasi dan membuka program, menggantikan Widodo. OHD maju dan berdiri di bawah patung didampingi Andri dan Aning. “Aksi teateral ini menggambarkan bahwa kekerasan yang menjadi karakter tentara telah diperlembut dengan tempelan dan taburan bunga. Mari kita ubah kesan Magelang hanya sebagai kota tentara, tapi jadikan Magelang sebagai kota kebudayaan, “ teriak OHD menggunakan speaker TOA yang disediakan pantia.&lt;br /&gt;Saat itu dari arah selatan muncul Widodo diiringi seorang panitia. Rupanya laki-laki tua itu ditemukan sedang menikmati gorengan di sebuah warung di dekat bekas bioskop Bayeman. Ia langsung digelandang ke depan patung, berdiri di samping OHD. Kolektor legendaries itu langsung meminta Widodo menceritakan proses pembuatan patung dan keterlibatan dirinya.&lt;br /&gt;“Saya mau berkata jujur. Saya ingin membuat pengakuan. Saya bukan pembuat patung ini. Patung ini dibuat oleh tim dari Jogya. Saya hanya menyiapkan tatakannya, yang kini telah diubah, dan menyiapkan tamannya, “ kata Widodo dengan muka menunduk. Pengakuan ini sempat mengejutkan sebagian pengunjung yang mendengarnya.&lt;br /&gt;Mualim Sukethi yang punya gagasan menampilkan sosok Widodo tak kurang terkejutnya. Pemilik portal borobudurlinks.com itu mengaku bertemu dengan Widodo sekitar 2 bulan sebelum program pekan film diadakan. “Ketika bertemu dengan Pak Widodo di rumah seorang guru SMK, ia diperkenalkan sebagai pembuat patung Tentara Pelajar. Ia juga menceritakan perjalanan karirnya sebagai seniman patung, hingga dipanggil oleh Bagus Panuntun (Walikota Magelang saat itu, red) untuk membuat patung ini, “ cerita Mualim.&lt;br /&gt;Menurut produser Didi Kempot itu, cerita Widodo cukup dramatis sehingga memunculkan gagasan untuk mengangkat kisah patung itu serta memperkenalkan siapa pembuatnya bagi warga Magelang. “Tadinya kami bermaksud menjadikan acara ini  semacam tribute buat seniman senior yang telah berjasa bagi Magelang, seperti ketika kami meminta Ki Sambi (pencipta wayang gethuk, Red) membuka pekan film documenter beberapa bulan lalu, “ lanjut Mualim dengan muka kecut menahan malu. &lt;br /&gt;“Tapi hal ini cukup manusiawi. Bagian dari manusia yang berusaha menampilkan eksistensinya. Kendati dengan cara yang keliru….., “ lanjut pembina BML, sembari berjanji untuk menelusuri siapa sesungguhnya pembuat patung yang kini menjadi ikon jalan Tentara Pelajar (d/h. Bayeman) itu &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(bolinks@2001).&lt;/span&gt;.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2011/11/ohd-jadikan-magelang-kota-kebudayaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiV29GHzryAkHd5tRoE88n_U2Ynwmfck_6rbTrhV3cbzGZZ67Djl1IqYgy69ZNlKyoAdtDkunOY5lBfexE8npEajFPpA1GXw7EMKsKjAfo3fPEW1j5kINyUO6xPtj4oxUB1XjLjvnI5IL4/s72-c/OHD+nikmati+LL.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3818790214649075724.post-1594868268974494612</guid><pubDate>Tue, 25 Oct 2011 10:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-25T18:07:49.203+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Event and News</category><title>SARASEHAN FOTOGRAFI BERSAMA ROY GENGGAM.</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_kylkR7j-uC9Tn_avHItiL-rq9nmDTn4upaXXgQOE0fsUArY3kgxjg7A5fXyz75Mxd8ceWTTX-SEwFUpdyhHxUVBtWoFtzYEkouIPgsW565z7bB-1Puukt0ZuXAT71YZBRViXHLket6s/s1600/Roy+n+ular.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_kylkR7j-uC9Tn_avHItiL-rq9nmDTn4upaXXgQOE0fsUArY3kgxjg7A5fXyz75Mxd8ceWTTX-SEwFUpdyhHxUVBtWoFtzYEkouIPgsW565z7bB-1Puukt0ZuXAT71YZBRViXHLket6s/s320/Roy+n+ular.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667383159489709090&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Oleh: Khalimatu Nisa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Borobudurlinks, 25 Oktober 2011.&lt;/span&gt; Atas undangan Borobudur Movie Links (BML), Roy Genggam akan hadir di Syang Art Space Jalan MT Haryono 2 Magelang pada Sabtu (29/10) dalam acara yang bertajuk “Sarasehan Fotografi Bersama Roy Genggam”. Dalam acara tersebut akan diberikan sebuah workshop bertema “Foto Produk dengan Peralatan Sederhana &amp; Art Photography” serta diskusi dengan topik “Fotografi Bukan Hanya Gaya Hidup, tapi Jalan Hidup”. Pada intinya, Roy yang dianggap fotografer professional papan atas itu akan berbagi ilmu dengan para fotografer dan orang-orang yang tertarik belajar fotografi di Magelang.&lt;br /&gt; Acara ini diselenggarakan tepat setelah acara “Pekan Film Seni Rupa Magelang 2011” yang digelar BML pada 25-28 Oktober di tempat yang sama. Sebetulnya acara ini tidak teragendakan sebagai kegiatan BML, tapi peluang untuk ‘berbagi’ dengan seorang fotografer sekelas Roy Genggam amat saying untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;“Kendati harus bekerja keras tapi kami tidak mau kehilangan kesempatan itu, “ kata Andrie Trismanto, yang kali ini kebagian peran sebagai coordinator panitia. “Selain kami memetik manfaat, teman-teman fotografer Magelang bisa sekalian menimba ilmu, khususnya bagaimana menjadi fotografer professional, “ tambah mahasiswa IT-UMM itu.&lt;br /&gt;Mendengar kabar tersebut, sahabat-sahabat BML atau &lt;span style=&quot;font-style:italic;&quot;&gt;blinkers&lt;/span&gt; terutama mereka yang memiliki hobi di bidang fotografi langsung menyambutnya dengan antusias. Antusiasme tersebut kemudian mendapat tanggapan positif dari DKKM (Dewan Kesenian Kota Magelang). Dukungan positif itu berupa kesepakatan antara DKKM dan BML untuk menyelenggarakan pameran foto gratis demi menyemarakkan kehadiran Roy Genggam. Rencananya, pameran tersebut akan dilangsungkan selama tiga hari, yaitu 28-30 Oktober di Syang Art Space.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhT9Mhhyphenhyphen-fU8ZFnf3tukuT-v7P3Jbb334QF-1iTkIGuspO27xNaoENYsS9E6fzRRHVOY8pYoQxStV-iJQ5ou5wjo9BCIf3idTF1zXHjpkYPsOzQln8B5LWrSkkzvp49nXmSl3-UAbqSq3w/s1600/Bank-Mandiri.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 154px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhT9Mhhyphenhyphen-fU8ZFnf3tukuT-v7P3Jbb334QF-1iTkIGuspO27xNaoENYsS9E6fzRRHVOY8pYoQxStV-iJQ5ou5wjo9BCIf3idTF1zXHjpkYPsOzQln8B5LWrSkkzvp49nXmSl3-UAbqSq3w/s200/Bank-Mandiri.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667383599368763586&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adalah MBilung Sarawita (Ketua DKKM) dan Begawan Prabu  (anggota BML) yang bertindak sebagai eksekutor pameran tersebut. Mereka mengundang fotografer-fotografer asli Magelang (Kota maupun Kabupaten) untuk mengirimkan karya-karya terbaiknya. Ajang ini tentunya akan menjadi sarana ekspresi dan apresiasi terhadap karya-karya fotografer Magelang -yang jumlahnya relatif banyak, dan lebih luas lagi, diharapkan bisa merangkum kebersamaan antara insan film, fotografi dan seni-budaya pada umumnya, -seperti yang dituturkan oleh Mbilung Sarawita.&lt;br /&gt; Diakui bagi BML, -komunitas yang memiliki basis film, acara ini menjadi sebuah kesempatan untuk mempelajari ‘dunia lain’ yaitu fotografi, sekaligus meluaskan jaringan baik lokal maupun nasional. Setelah sebelumnya berbagi dengan teman-teman perupa dan pemerhati senirupa lewat  ‘Pekan Film Senirupa Magelang 2011’.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBZ7uDmoBA7qNlTd64WALCjjRvfay5MN0sLd5ZyDKT3q96Cu04zTz1ZH_FpdZ95c-afg0pDhZelgFGQkRHbwhUG4pCERnvz4TWVzmuLyGzomk7P30Qo6fxeN1xG4rA5QmbUl2RUaOO12Q/s1600/Ultra-Mimi-pantai-FINAL-FINAL.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBZ7uDmoBA7qNlTd64WALCjjRvfay5MN0sLd5ZyDKT3q96Cu04zTz1ZH_FpdZ95c-afg0pDhZelgFGQkRHbwhUG4pCERnvz4TWVzmuLyGzomk7P30Qo6fxeN1xG4rA5QmbUl2RUaOO12Q/s200/Ultra-Mimi-pantai-FINAL-FINAL.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667384045650346898&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;KENAPA ROY GENGGAM ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa yang tak tahu Roy Genggam? Fotografer kondang ini cukup tersohor namanya setelah banyak malang melintang di dunia forografi. Ia yang merupakan jebolan Sinematografi IKJ  ini telah menciptakan banyak karya fotografi yang luar biasa. Sejak ia memutuskan menjadi freelance fotografer pada 1989 dan mendirikan studio kecil ‘GENGGAM’ setahun kemudian, banyak penghargaan berhasil ia peroleh. Beberapa karya fotonya dimuat dalam buku-buku Pro Lighting terbitan Rotovisio Switzerland. Beberapa foto karya Roy juga digunakan untuk presentasi Hasselblad 50 th di Cologne Fotokina thn 1998. Pada tahun yang sama pula, salah satu fotonya memenangkan sayembara foto Hasselblad Indonesia. Kini, ia masih setia di ranah yang sama dengan melayani fotografi komersil yang sangat variatif, mulai dari arsitektur, automotif, food dan still life hingga belakangan ini lebih banyak people fotografi.&lt;br /&gt;Mualim M Sukethi, Pembina BML yang sekaligus teman kuliah Roy di IKJ punya pandangan khusus tentang sahabatnya ini. “Sejak kuliah bakat fotografi Roy memang menonjol. Jadi ketika memutuskan menjadi fotografer maka ia berhasil menempatkan dirinya menjadi salah satu fotografer terbaik untuk commercial-photography di Indonesia, “ komentar Mualim. “Yang juga unik, selain dianggap fotografer termahal untuk iklan, tapi Roy juga tergolong paling laris. Banyak produk atau brand kelas nasional dan internasional yang menjadi kliennya, “ tambah Mualim, yang ketika kuliah di IKJ dulu, satu kelomppok kerja dengan Roy dan Garin Nugroho.&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaZY1wuFlp4pwPIh2sKzPQX_uh17Em-3mOHRXV-hU4OdAJYjcX8xxDZl6tZgCulv2QXBGqT983vCReXq4gn40usAJ_4ZkaNN7ixH8cP8nIH6LadbzfJYb0Q1Xo5ZdYlynBKUC3O4HPiiM/s1600/-Vitazone-fs.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaZY1wuFlp4pwPIh2sKzPQX_uh17Em-3mOHRXV-hU4OdAJYjcX8xxDZl6tZgCulv2QXBGqT983vCReXq4gn40usAJ_4ZkaNN7ixH8cP8nIH6LadbzfJYb0Q1Xo5ZdYlynBKUC3O4HPiiM/s200/-Vitazone-fs.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667384490734245922&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kini Roy dikontrak oleh Nikon Indonesia sebagai instruktur dalam berbagai seminar dan workshop fotografi yang diadakan di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Jogyakarta, Malang, dll.  Tadinya Nikon tidak ada niat menjadwalkan workshop di Magelang. Namun Mualim memaksa sahabatnya untuk mampir dan mengadakan sarasehan di Magelang.&lt;br /&gt;“Sebetulnya sudah lama saya ingin mengundang Roy. Tapi terbentur waktu, karena jadwal pemotretan dia sangat padat. Jadi begitu tahu ia akan mengadakan  seminar di Semarang, saya tawarkan untuk mampir ke Magelang. Dan iya menyetujuinya, “ cerita Mualim tentang proses kedatangan Roy yang akan membawa rombongan sekitar 8 orang, termasuk tim Nikon.&lt;br /&gt;Yang pantas diketahui, di kota-kota lain untuk mengikuti seminar yang diadakan Nikon harus membayar. Setidaknya peserta harus merogoh kocek sebesar Rp 150 – 250 ribu untuk menjaring ilmu dari fotografer yang juga pehobi reptile itu. Di rumahnya Roy memelihara ratusan ular dan berbagai jenis reptile lainnya seperti kura-kura, buaya, dll.&lt;br /&gt;“Khusus untuk Magelang tak dipungut biaya alias gratis. Maka manfaatkanlah kesempatan ini, “ kata Andrie Trismanto memungkasi perbincangannya &lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;(bolinks@2011).&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Powered by &lt;a href=&#39;http://modusgetar.blogspot.com&#39;&gt;Day Milovich&lt;/a&gt;. Anda bisa &lt;a href=&#39;http://feeds.feedburner.com/borobudurlinks&#39;&gt;baca dari ponsel&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&#39;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=borobudurlinks&amp;amp;loc=en_US&#39;&gt;berlangganan gratis via email&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://borobudurlinks.blogspot.com/2011/10/sarasehan-fotografi-bersama-roy-genggam.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_kylkR7j-uC9Tn_avHItiL-rq9nmDTn4upaXXgQOE0fsUArY3kgxjg7A5fXyz75Mxd8ceWTTX-SEwFUpdyhHxUVBtWoFtzYEkouIPgsW565z7bB-1Puukt0ZuXAT71YZBRViXHLket6s/s72-c/Roy+n+ular.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>