Sebelumnya, berbagai komunitas tersebut menggalang dana bantuan untuk pengungsi Merapi dan menyalurkan bantuan tersebut secara independen. Kemudian dalam pertemuan tersebut diputuskan untuk melakukan koordinasi penyaluran bantuan kepada pengungsi Merapi agar distribusinya lebih merata dan sesuai dengan keperluan pengungsi.
Untuk kemudahan distribusi bantuan tersebut, dibuat sebuah portal yang beralamat di http://jogjaonline.tumblr.com, yang nantinya akan berisi informasi-informasi terkait penampungan dan penyaluran bantuan.
Jika Anda memiliki pertanyaan terkait bantuan kepada pengungsi Gunung Merapi, silahkan langsung menghubungi Mbak Susan di nomer 0878.399.41886. Selanjutnya Mbak Susan akan meneruskannya kepada jaringan komunitas online di atas.
Mari kita bersama-sama meringankan beban para pengungsi tersebut.
Related: Bantuan untuk pengungsi Gunung Merapi.
]]>Melihat bahwa masih banyak pengungsi yang membutuhkan bantuan, kami berniat untuk mengirimkan bantuan lagi dalam waktu 24 jam ke depan. Selain dari anggota Cahandong sendiri, kami juga menerima bantuan dari rekan-rekan blogger di manapun Anda berada dalam bentuk uang yang bisa disalurkan ke nomer-nomer rekening berikut ini.
BCA:
No. Rekening 1260 4406 39
atas nama Yeni Setyawan
Mandiri:
No. Rekening 1050 0053 75062
atas nama Fakhrizal
BNI:
No. Rekening 0170 280 504
atas nama Fauzia Rahma
Nantinya uang ini akan digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan pengungsi dan kami kirimkan langsung ke posko-posko pengungsian dalam 24 jam ke depan. Sedangkan untuk bantuan yang dikirim setelah lewat 24 jam akan kami salurkan dalam bentuk sumbangan tahap selanjutnya.
Selain itu semua sumbangan akan kami catat dan kami laporkan secara transparan di blog ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kami.
Mari kita semua berdoa untuk semua korban dan pengungsi Merapi.
]]>
CahAndong bersama Jog-TUG mengundang kawan-kawan blogger semua untuk menghadiri Pesta Blogger Jogja 2010. Kapan? Hari Sabtu, 9 Oktober 2010. Pukul 19.00. Di Purna Budaya UGM.
Untuk datang tidak perlu bayar karena gratis. Cukup daftar lewat telepon Mbak Susan 0878.3994.1886 paling lambat 4 Oktober 2010 (no sms ya plis
).
Informasi lengkap ada di Blog Pesta Blogger Jogja 2010. Sampai ketemu di Purna Budaya.
]]>
Jika di postingan pertama kami diajak untuk melihat kondisi fisik Padang pasca gempa, maka di postingan kedua ini lebih banyak bercerita tentang kondisi psikis masyarakat Padang.
Hari Rabu 17 Maret, agenda CahAndong adalah menuntaskan agenda. Masih diantar oleh Pak Buya dan ditemani oleh Mbak Alfi dari Oxfam, kami diajak berkunjung ke salah satu SD di Pariaman. Salah satu kegiatan Oxfam di Padang-Pariaman adalah Public Health Promotion dan pembangunan sanitasi di sekolah-sekolah dasar. Sepanjang perjalanan, Mba Alfi, banyak bercerita mengenai apa itu Public Health Promotion. Cerita lebih detail mengenai kegiatan Oxfam bisa dilihat langsung diblog mereka.
Public Health Promotion bertujuan untuk mengkampanyekan kebiasaan personal hygiene seperti mencuci tangan dan membuang sampah pada tempatnya. Sasaran utamanya adalah para murid SD dengan alasan lebih mudah membentuk perilaku anak-anak daripada orang dewasa. Selain itu, akibat gempa adalah rusaknya fasilitas sanitasi seperti kamar mandi. Hal ini tentu saja berbahaya, karena dalam keadaan darurat bencana tanpa fasilitas sanitasi yang memadai, penyakit akan menyebar jauh lebih cepat.
Kami akhirnya sampai di SDN 01 Lima Koto Timur, Pariaman. SD ini terletak di pinggir jalan raya. Jangan membayangkan bangunan sekolah dengan gedung dengan halaman upacara. SDN 01 Lima Koto Timur ini berdiri dengan tembok dari tripleks dan beralas tanah. Tidak ada lapangan untuk upacara maupun olahraga. Sebagian dindingnya terbuka dan beratap seng. Bisa dibayangkan ketika proses belajar mengajar berlangsung, suara dari kelas tetangga pasti akan masuk bercampur dengan kelas lainnya.
Kami sempat berbincang-bincang dengan Ibu Wakil Kepala Sekolah, yang sayang sekali kami lupa namanya. Dari bincang-bincang tersebut terungkap bahwa akibat gempa sudah bisa ditangani dengan baik, dengan bantuan maupun swadaya. Anak-anak sendiri, walau kadang masih dihantui oleh trauma gempa tetapi sekarang mulai pulih dan proses belajar telah berlangsung lancar. Untuk anak-anak yang pada saat tersebut sedang menjelang Unas, persiapan berlangsung seadanya. Tapi dari pengamatan kami, wajah guru-guru tersirat optimisme. Begitu pula, optimisme itu terpancar dari anak-anak murid sekolah dasar tersebut.
Mengenai program Public Health Promotion, dari Oxfam sendiri hanya sekali datang ke SD 01 untuk mengajarkan cara mencuci tangan yang baik dan benar kepada murid-murid. Selebihnya, beberapa kali datang untuk mengingatkan anak-anak dengan lagu-lagu, sehingga lebih mudah terinternalisasi. Kamar mandi umum yang dibangun pun, diakui oleh guru setempat sangat membantu. Sayang, dalam penggunaannya terpaksa dibatasi aksesnya, karena jika tidak maka masyarakat sekitar juga turut menggunakan tapi tidak merawatnya. Setelah dipakai oleh umum, biasanya kamar mandi menjadi kotor, karena itu kamar mandi tersebut dikunci dan tiap guru memegang kuncinya.
Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat mengunjungi satu sekolah. Kebetulan sekolah yang kami kunjungi aksesnya mudah, karena terletak di pinggir jalan raya. Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang akesnya sulit, apakah seberuntung SDN 01 Negeri Koto Lima. Mengingat lokasi pengungsian yang kami kunjungi sebelumnya.
Sepulang dari SD 01 Negeri Koto Timur Pariaman, agenda terakhir adalah bertemu dengan teman-teman dari Kelompok Kerja Gender (KKG). Seperti yang telah disebutkan diatas, Oxfam menggunakan pendekatan gender dalam disaster management. Pemberdayaan perempuan di Padang dalam penanganan gempa dilihat masih perlu, walau di Padang sendiri kulturnya adalah matrilineal. Hal ini diakui oleh uda Ikhsan dan uni Yati dari KKG. Walaupun di Padang potensi perempuan sangat besar menilik dari kultur matrilenial mereka, tetapi seiring dengan perkembangan politik mengalami pengkebirian sehingga peran perempuan diakui hanya diwilayah domestik. Masih banyak terjadi, bias gender, apalagi dalam penanganan gempa ini. Teman-teman dari KKG berkeinginan, supaya perempuan lebih bisa berperan dan turut serta dalam pengambilan keputusan yang bersifat strategis.
Yang dilakukan KKG di Padang adalah:
Dari ngobrol-ngobrol dengan teman-teman dari KKG cukup membuka mata kami beberapa hal mengenai gender. Beberapa pencerahan yang saya dapet, diantaranya, lelaki dan perempuan memang berbeda. Untuk itu harus dibedakan, tetapi itu bukan alasan untuk kemudian meng-inferiorkan perempuan. Kedua, ternyata bias gender masih sangat kental bahkan di budaya yang matrilineal. Misal, contoh paling sederhana, dapur. Umumnya dapur dibangun di bagian paling belakang rumah, dan Cuma ada satu pintu keluar/masuk. Jika gempa/bencana melanda, perempuan sebagai pihak yang paling banyak menghabiskan waktu di dapur, akan mengalami kesulitan.
Teman-teman di KKG sendiri mengakui, walaupun bias gender masih kental di Padang, tetapi falsafah dan modal budaya membuat kerja mereka sedikit lebih ringan. Paling tidak selama waktu mereka di Padang, banyak perempuan yang berpotensi yang tampil di setiap acara yang diselenggarakan Oxfam.
CA Go West diakhiri di Padang dengan diajak Pak Buya, mengunjungi Masjid Ganting, masjid tertua di Padang yang dibangun akhir tahun 1800. Selumnya kami diajak sarapan khas Padang, katupek pitalah. Tak lupa kami menikmati kopi talua atau kopi telur, kopi yang diolah dengan cara khas Padang. Setelahnya, agenda berlanjut menjadi agenda pribadi. Oia, selama di Padang, kami banyak ditemani Desti Utami, blogger Padang. Terimakasih sekali ya Des
.
—ditulis oleh Medina
]]>
Siang itu (15/3) kami tiba di Bandara Internasional Minangkabau tepat saat adzan dzuhur berkumandang dari pengeras suara di setiap sudut ruangan. Kekhasan Minangkabau terasa sejak menginjakkan kaki di bandara yang tergolong megah ini, wanita berbaju kurung dan ukiran-ukiran khas Minang serta atap berbentuk runcing. Semua terkesan kokoh di bandara modern ini, tidak terlihat jejak-jejak bencana besar dari akhir September 2009 lalu.
Di luar pintu kedatangan supir dari Oxfam menyambut kami dengan ramah. Buya, panggilan supir kami, sambil menyetir bercerita pengalamannya saat gempa. Beliau memang tidak kehilangan anggota keluarganya, namun dampak bencana ini sungguh besar baginya.
“Bumi Minang menangis, namun kami tidak bisa menangis lagi karena begitu pedihnya derita yang ditanggung,” ungkap Buya.
Awalnya Buya terkesan hiperbolis karena kerusakan parah tidak terlihat sepanjang perjalanan kami. Namun ketika kendaraan mendekati Kodya Padang, gempa berkekuatan 7,9 SR tahun lalu itu mulai terlihat cabikannya. Banyak gedung, terutama kantor pemerintah, tidak hanya retak-retak namun roboh. Kantor Samsat, Dispenda, Bappeda, Telkom, Pengadilan Tinggi, Bank Mandiri, dan BCA mengalami kerusakan yang sangat parah. Ada juga pusat perbelanjaan berlantai empat di pinggir kota Padang mengalami rusak parah padahal baru saja soft opening selama seminggu.
Kunjungan Ke Lokasi Rawan Gempa
Setelah beristirahat semalam di hotel yang dikelola oleh sebuah SMK, di hari kedua kami menuju Kabupaten Padang Pariaman. Kabupaten ini merupakan wilayah yang kondisinya paling parah, karena merupakan jalur pergerakan gempa. Sebagian wilayahnya yang di pesisir pantai dan sebagian lagi di perbukitan membuat Padang Pariaman sulit dijangkau.
Setelah dua jam perjalanan tibalah kami di Nagari Gunung Padang Alai, sebuah perkampungan kecil yang terletak di Kecamatan V Koto Timur. Kondisi yang mengenaskan terlihat di sini. Rumah-rumah roboh dibiarkan belum dibangun, tenda-tenda darurat masih banyak berdiri walaupun sudah agak rapuh karena diterjang cuaca yang berganti-ganti. Beberapa ruas jalan yang terputus masih tertimbun tanah longsor dan terbelah karena gempa.
Menurut Nasir, tokoh masyarakat wilayah Ambacang Gadang Teluk Bayur, mereka terpaksa mengungsi ke beberapa daerah yang lebih datar dan tergolong aman karena daerah perbukitan tempat mereka berasal telah luluh lantah oleh gempa dan tanah longsor. 50 rumah dari wilayahnya rusak berat dan 5 bangunan tertimbun tanah serta 12 orang meninggal dunia.
Selama ini mereka masih bertahan di tenda-tenda darurat. Belum ada kunjungan dan bantuan dari pemerintah keluh Nasir. Dua minggu setelah gempa memang ada bantuan pangan yang dilemparkan dari helikopter. Pada masa darurat beberapa NGO berdatangan, tenda-tenda dibangun, jalan yang terputus oleh longsor mulai dibangun dan pencarian korban dimulai. Beberapa NGO memberikan penawaran bantuan untuk membangun kembali kampung mereka. Tetapi agak sulit diwujudkan karena sesuai prosedur beberapa NGO dan ketentuan pemerintah, hanya dapat dilakukan di kampung asal mereka sedangkan kampung asal mereka sudah tertimbun longsor. Mereka berinisiatif untuk membeli kavling tanah di daerah yang lebih datar dan dekat dengan sumber ladang dan kebun namun masih terkendala oleh biaya.
Pelatihan Rumah Tahan Gempa
Banyak pelajaran dari peristiwa gempa ini. Tidak hanya daerah aman yang mesti diperhatikan dalam membangun rumah, juga bentuk rumah aman gempa. Ini terkendala dengan persepsi bahwa rumah aman gempa membutuhkan biaya pembangunan yang tinggi. Kendala lain adalah terbatasanya pengetahuan tukang tentang pembangunan rumah aman gempa.
Untuk itu Oxfam bekerjasama dengan Build Change mengadakan pelatihan cuma-cuma rumah aman gempa dengan biaya ringan kepada para tukang dan mandor.
Cah Andong berkesempatan melihat secara langsung praktik lapangan tukang dalam membangun rumah aman gempa di Nagari Campago Kecamatan V Koto Kampung Dalam. Menurut Moslem, kordinator dari Build Change, pelatihan lebih banyak ditekankan pada praktik lapangan. Pemilihan material bangunan banyak menggunakan yang sudah banyak dikenal para tukang, murah dan bersifat ringan namun kokoh seperti seng, bambu dan kawat. Teknik-teknik yang diajarkan kepada para tukang kebanyakan bukan merupakan teknik yang baru di Indonesia. Sebagian tukang sudah mengetahui teknik-teknik tersebut namun tidak digunakan karena ketidaktauan fungsi dan kegunaannya.
Ali, tukang dari Campago, mengaku pelatihan ini sangat bermanfaat sekali baginya. Sebelum membangun rumah harus memperhitungkan biaya, tidak asal bangun. Perhitungan sudut-sudut juga menggunakan rumus tertentu yang ia dapatkan dari pelatihan ini sehingga rumah yang akan dibangun benar-benar kokoh.
Menurut Ali, pemerintah sebenarnya sudah ada niatan untuk membantu membangun kembali rumah-rumah yang rusak karena gempa, tetapi warga agak sedikit kecewa karena ketidakjelasan penggolongan “rusak” oleh pemerintah. Selain itu juga karena penyamarataan tanggungan yang diberikan kepada warga, misalnya rumah rusak berat akan dibuat rumah baru dengan fasilitas 2 buah kamar tidur padahal tidak semua warga yang rumahnya rusak berat membutuhkan 2 kamar tidur, bisa kurang bisa lebih. Mereka lebih memilih menginginkan uang sepenuhnya diberikan kepada warga, sehingga mereka bisa membangun sesuai dengan kebutuhan.
Skeptisme dilontarkan Mahmud, pemerintah seakan tidak peka terhadap kondisi mengenaskan dari warga mereka hanya memikirkan urusannya masing-masing. Di reruntuhan rumah malah terlihat baliho besar wajah para cagub untuk pemilihan bulan Juni nanti.
Banyaknya keluh kesah penduduk setelah gempa berlalu satu tahun menandakan masih banyak PR yang belum diselesaikan pemerintah. Pemerintah seharusnya lebih banyak berdiskusi dengan masyarakat dalam mengambil keputusan penanggulangan gempa. Kunjungan kami ke Sumatera Barat menyadarkan lagi bahwa kondisi di Sumatra Barat tidak ‘aman-aman saja’.
]]>Lomba Membatik dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori motif klasik dan kategori motif kotemporer. Masing-masing juara akan menerima hadiah berupa batik tulis spesial dari Ibu BRAy. Cakraningrat. Dan pemenangnya adalah Handoko untuk motif klasik, dan kawan-kawan Detik Forum Jogja untuk motif kotemporer.
Selamat ya! Hadiahnya bisa diambil pas Juminten tanggal 30 Oktober besok. Datang yaaa.
Selanjutnya adalah Lomba Mereview XL diikuti oleh 16 orang peserta. Walaupun lomba ini disponsori oleh XL, kawan-kawan blogger telah sukses menjadi jurnalis kerakyatan yang netral karena mampu menyampaikan pujian dan sekaligus kritik yang berimbang.
Setelah melalui proses penjurian tertutup oleh Mochammad Hardin (XL) dan Yahya Kurniawan (Wakil Blogger) maka diputuskan sebagai berikut:
Juara tiga akan mendapatkan tas laptop dianugerahkan ke KafeIn4u. Juara dua, yang akan mendapatkan paket Internet, jatuh ke Ivan Loviano untuk artikel Aku dan XL Selama Enam Tahun.
Adapun Juara satu Lomba Review XL berhadiah modem ZTE HSDPA jatuh ke Alle untuk tulisannya yang berjudul Lima Tahun Menjadi Pelanggan XL.
Selamat untuk semua pemenang! Serah terima hadiah akan kami hubungi lewat japr.
Kami sangat berterimakasih kepada XL karena memberi kesempatan bagi para narablog unuk menjadi jurnalis kerakyatan yang keren, dan juga kepada Ibu Ir. BRAy. Cakraningrat yang telah membuka berbagai wawasan baru tentang batik dan budaya nusantara.
]]>
Pesta Blogger Jogja 2009 pada hari Kamis (15/10) menutup rangkaian roadshow menuju Pesta Blogger 2009. Mengambil tempat di pendopo Jogja National Museum, acara ini dihadiri oleh ratusan blogger dan warga komunitas maya di sekitar Jogja, Solo, Magelang, Semarang. Kita juga mendapat tamu spesial dari Kalimantan, Bandung, dan Makasar! (Foto di atas diculik dari blognya Otakanan)
Malam itu dibuka dengan kesenian gejok lesung oleh ibu-ibu dari Nitiprayan. Ketujuh ibu-ibu itu memukul lesung padi dengan melodi harmonis yang bikin merinding. Dilengkapi nyanyian dalam bahasa Jawa, tiba-tiba aura JNM menjadi mistis.
Acara Pesta Blogger Jogja 2009 memang mempertajam tema “one spirit one nation”. Dalam pidato pembukanya, Momon menjelaskan bagaimana kota Jogja merupakan tempat bertemunya bermacam-macam budaya, dan satu-sama lain bisa hidup harmonis dan penuh toleransi.
Sebagai lambang gotong-royong untuk meraih kemakmuran dan kesejahteraan, wakil-wakil komunitas diundang untuk memukul lesung padi bersama-sama. Suara lesung yang membahana hingga ke ujung pendopo meresmikan dimulainya malam Pesta Blogger “mini”.
Satu Semangat, Satu Bangsa
Sebelum acara dibuka, peserta sudah bisa aktif menelisik sajian kebudayaan di venue. Ada pameran batik nusantara, dan “mBatik LIVE” dimana peserta dipersilahkan membatik dengan canting dan malam panas. Dan ternyata membatik itu tidak segampang yang kita kira. Tapi, walaupun susah, animo peserta untuk mencoba batik sangat tinggi. Ibu-ibu yang diundang khusus untuk memberi demo batik akhirnya harus turun panggung, supaya ada ruang lagi bagi para peserta yang haus ingin mencoba membatik.
Di sudut lain pendopo tersedia Pameran Kopi Nusantara yang didukung oleh Kedai Kopi. Konon, kopi Indonesia termasuk yang terbaik di dunia. Ada beberapa jenis kopi di sana seperti Gayo, Mandailing, Linthong, West Sumatra, Java Village, Dark Sumatra, Wamena, dan Toraja.
Tak lupa panitia juga menyiapkan pameran fotografi yang mengupas sisi lain Jogja.
Tercatat ada sekitar 200 orang di JNM. Beberapa tamu dari Jakarta nampak menghiasi JNM, ada Iman Brotoseno, Enda Nasution, Budi Putra, dan Ndoro Kakung. Tristram Perry yang mewakili Kedutaan Besar Amerika menitipkan tiga boks buku untuk melengkapi perpustakaan kampung.
Sepanjang malam hadirin bisa leluasa ngobrol ngalor-ngidul sambil ngemil jajanan pasar seperti puthu, kipo kotagede, dan klepon. Hidangan utama malam itu adalah nasi brongkos yang disajikan dengan pincuk dan nasi jinggo khas bali. Nasi brongkosnya (bukan nasi gudeg) enak banget, kuahnya gurih dan bumbunya pas; sementara nasi jinggo rasanya nendang banget. Lauknya yang terdiri dari suwiran ayam lombok, kering tempe, dan bakmi goreng; dimasak pedas dan spicy. Indonesia banget!
Gelar Kesenian Nusantara
Sembari acara kopdar berlangsung, panggung utama terus menerus dihiasi oleh kesenian nusantara untuk merayakan keragaman budaya Indonesia. Ada Tari Gambyong dari Jawa Tengah, lalu dilanjutkan dengan Tari Cendrawasih dari Bali.
Setelah diselingi presentasi akudanpohonku.com, acara disambung dengan tarian perang Hedung, dari Adonara, Flores. Tarian yang biasanya dimainkan untuk menyambut pahlawan ini dimainkan di lantai pendopo. Para mahasiswa dari Adonara ini mamainkan parangnya (parang asli!) ke kiri dan ke kanan. Untung gak ada yang kena! ![]()
Seketika setelah penari Adonara keluar dari pendopo, dipanggung langsung dilantunkan nyanyian khas Aceh. Tujuh penari laki-laki naik ke panggung, lalu menarikan tari Saman khas Gayo. Gerakan tari Saman yang tangkas dan rumit, memukau penonton dari awal sampai akhir.
Tari Dolo-Dolo
Acara ditutup dengan foto bersama seluruh pesera di panggung. Setelah itu, tiba-tiba musik Adonara berkumandang dan belasan pemuda-pemudi dari adonara menarik Mas Iman, Tristram Perry, dan Mas Enda untuk menari Dolo-dolo. Tak lama kemudian seluruh peserta ikut membentuk lingkaran dan mengikuti gerakan tari Dolo-dolo. Hentakan kaki hadirin mengiringi semangat kebersamaan yang menggema hingga ke mana-mana, seperti yang ditulis oleh Gudeg.net:
Bayangkan saja, tarian dan iringan musik yang sedang ditampilkan berasal dari Nusa Tenggara Timur, namun yang menari bergandengan menggunakan pakaian dari berbagai macam suku yang ada di Indonesia, ada yang memakai blangkon dan berbaju surjan Jawa, ada yang mengenakan ulos Batak, ada yang berikat kepala ala Bali, peci dan sarung ala Betawi, dan beberapa lagi lainnya, yang semua dengan akrab dan bergembira menari bersama.—Gudeg.net
Seusai acara, peserta dipersilahkan untuk mengambil bibit pohon mangga yang disedikan oleh panitia. Pohon yang sudah ditanam nantinya akan ditanam dan dipamerkan di situs akudanpohonku.com.
Seluruh peserta juga bisa mendapatkan domain dan hosting gratis dari Bakoel Hosting, dan akan dimumkan 15 November besok. Tidak kurang membagi-bagi suvenir, Panitia dan XL mengadakan lomba review XL yang akan ditutup tanggal 20 besok. Selain itu, hasil batikan yang terbaik akan mendapatkan batik tulis dari Ibu Ir. BRAy. Cakraningrat.
Kami senang bahwa acara Pesta Blogger Jogja 2009 selesai dengan baik. Suasana kebersamaan dan bangga karena dipersatukan oleh nusantara membuat kami merasa bahwa nantinya Indonesia akan dilimpahkan ke generasi yang tepat. Hidup blogger!
Panitia mengucapkan terima kasih atas dukungan sponsorship oleh Telkom, XL, dan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang telah mendukung acara ini. Selain itu, tanpa support yang luar biasa dari banyak sahabat, acara ini tidak bisa berjalan dengan baik. Terima kasih kami sebesar-besarnya kepada Ibu Ir. BRAy. Cakraningrat, Mas Mbak Loenpia, Jogja National Museum, Kedai Kopi, Pino, Teater Gadjah Mada, Sanggar Taman Pelajar Aceh , Gejok Lesung Nitiprayan, Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta UGM, Unit Tari Bali UGM, Keluarga Mahasiswa Adonara Yogya, dan Badan Pengawasan Aliran Sungai Opak Serayu Progo.
Dan, terima kasih besar untuk semuanya yang hadir dalam Pesta Blogger Jogja, tanpa Anda, acara ini akan hambar!
Tulisan-tulisan terkait Pesta Blogger Jogja:
Siapa sih yang ndak kepengen punya modem HSDPA gratis?
Nah, dalam rangka Pesta Blogger 2009 Chapter Jogja ini, Panitia Pesta Blogger Jogja dan XL ingin mengajak para pegiat blog di Jogja untuk menjadi jurnalis warga yang baik. Caranya dengan mengikuti lomba menulis review tentang layanan XL, terutama layanan internetnya. Tentu saja review yang bertanggung jawab yaa. ![]()
Hadiahnya “cuma” modem ZTE HSDPA 626! Lumayan banget kalau sering haus internet di jalan.
Untuk berpartisipasi, silahkan menulis review layanan XL di blog sampean. Kira-kira 100 hingga 300 kata. Lalu kirim nama, alamat rumah, dan alamat postingan sampean ke email pb09.jogja@gmail.com; selain itu postingan sampean juga mesti ngelink ke alamat ini.
Lomba ini dibuka mulai hari ini, dan ditutup tanggal 20 Oktober 2009. Cuma lima hari saja, jadi cepat-cepatlah menulis review yang bagus.
]]>
Pesta Blogger 2009 Chapter Jogja sudah semakin dekat.
Pagi harinya, tepatnya pukul 9 pagi, akan diadakan Blogshop di Lab Komputer PPTIK (Puskom) UGM, Jl Pancasila, Bulaksumur. Rekan-rekan yang sudah terdaftar silahkan langsung menuju ke tempat. Peserta dipersilahkan membawa laptop jika lebih nyaman memakai laptop sendiri. Lokasi PPTIK UGM dapat dilihat di Google Map.
Sore harinya akan diadakan acara kopdar bertajuk Pesta Blogger Jogja 2009. Kawan-kawan blogger yang sudah mendaftar lewat telpon dan menerima email konfirmasi, jangan lupa untuk datang ke Jogja National Museum pada tanggal 15 Oktober 2009, pada pukul 18.30 WIB. Lokasinya juga bisa dilihat di Google Map
Biar tambah semarak, datangnya memakai dress code Pesta Blogger 2009 Chapter Jogja: BUSANA NUSANTARA—busana yang bisa membuat para blogger bangga menjadi seorang Indonesia. Bawa pula kamera buat foto-foto dan handphone untuk membikin laporan pandangan mata ke Twitter dan Plurk.
Selain itu, jika ada buku anak-anak yang tidak terpakai, bisa dibawa pada saat acara. Buku-buku tersebut akan digunakan untuk melengkapi perpustakaan kampung.
Mohon doa restu dari kawan-kawan blogger supaya Kota Gudeg Pelajar ini bisa menutup rangkaian Road to Pesta Blogger 2009 dengan baik. Sampai ketemu di PB 2009 Chapter Jogja.
NB: Kalau sudah mendaftar melalui telepon tetapi belum mendapat konfirmasi, dapat mengirim email ke pb09.jogja@gmail.com.
]]>Mohon doa restu agar CahAndong bisa terus meramaikan dan mengisi dunia blog.
]]>
Kamis 15 Oktober minggu depan, adalah giliran bagi Jogja untuk menutup rangkaian Road to Pesta Blogger 2009. Artinya, setelah blogshop di Malang, Semarang, Bandung, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Medan, Surabaya, dan Palembang (besok Kamis); maka Jogja akan menjadi gong simponi menuju Pesta Blogger 2009 di Jakarta.
Panitia Pesta Blogger dan panitia Kota Gudeg akan menyelenggarakan dua kegiatan. Pertama adalah Blogshop yang diselenggarakan di Lab Komputer Universitas Gadjah Mada dan disponsori oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat. Sama seperti sebelumnya, dalam blogshop ini para peserta akan menjajal membuat blog sendiri, dan praktek langsung saat itu juga.
Untuk menjadi peserta blogshop, mohon mendaftar melalui email ke pb09.jogja@gmail.com, dengan mencantumkan nama, alamat, nomer telepon, dan pekerjaan. Kursinya ndak banyak, jadi buruanlah mendaftar.
Malamnya adalah acara Pesta Blogger Jogja yang merupakan ajang kopi darat bagi kawan-kawan narablog di Jogja, Solo, Magelang, Klaten, dan sekitarnya. Kopdar ini mengambil tempat di Jogja National Museum, Wirobrajan. Acaranya apa saja? Macem-macem mas mbak! Nggak wangun dan nggak nendang kalau disebutkan sekarang, jadi mendingan dolan saja ke Pesta Blogger Jogja minggu depan, tepatnya:
Hari/Tanggal: Kamis, 15 Oktober 2009
Pukul : 18.30
Tempat : Jogja National Museum (Gedung ISI Lama), Jl. Amri Yahya 1, Wirobrajan, Jogjakarta 55181
Nah, kawan-kawan yang berminat datang Pesta Blogger Jogja sebaiknya cepet-cepet mendaftarkan diri. Telepon saja Mas Alan di nomor 0274 923.9499 (jangan di SMS ya
) untuk mendaftar. Jangan lupa untuk siap sedia menyebutkan nama lengkap, nomor telepon, email dan alamat blog. Tapi sebelumnya kami mohon maaf, karena tempatnya ndak seluas lapangan bal-balan, undangannya agak terbatas. Jadi, walaupun batas akhir pendaftaran itu Jumat siang besok tanggal 9 Oktober 2009, mendaftar lebih dini itu lebih aman.
Ada yang ngganjel atau ingin ditanyakan? Silahkan hubungi Mas Alan yang murah senyum di nomor 0274 923.9499.
Sampai ketemu di Jogja!
]]>
Be there…
]]>
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan, begitu banyak pahala dan ampunan yang dijanjikan. Sehingga banyak orang memanfaatkan momen ramadhan ini untuk meningkatkan ibadah maupun saling berbagi dengan sesamanya, tidak terkecuali CahAndong. Maka dari itu digagaslah acara CahAndong BerSabar (Sahur Bareng).
CahAndong bersabar ini bukan sembarang sahur bersama, karena sekalian berbagi makanan sahur dengan mereka yang kurang beruntung seperti gelandangan, tukang becak, tukang sampah dan lain lain. Acara cahandong bersabar ini diadakan 2 kali yaitu pada jumat 4 September 2009 dan 11 September 2009, setelah Juminten.
Pada tanggal 4 September, rute yang dilalui adalah sepanjang Jalan Mangkubumi, Tugu Jogja ke selatan.
Sedangkan Pada tanggal 11 september, targetnya adalah di sekitar Stasiun Lempuyangan.
Walaupun para jelata sudah membagikan makanan di sepanjang jalan menuju lokasi, ternyata beberapa kali kami keduluan. Beberapa tukang becak di daerah tersebut telah mendapat hidangan sahur dari komunitas lain yang kebetulan mengadakan acara yang sama. Dengan demikian para jelata harus mengarahkan mesin motor ketempat-tempat yang belum terjangkau. Tapi tidak apa. Semakin banyak orang yang perduli akan lebih baik.
Memang tidak banyak yang telah kami berikan, Hanya sekedar melatih diri supaya lebih peka dan perduli terhadap sekeliling kita.
]]>Wisata Blogger. Ya, ini adalah nama dari event yang diselenggarakan pada tanggal 24-25 Juli 2009. Penyelenggaranya adalah Komunitas Blogger Wonosobo yang ternyata baru akan dilaunching tepat pada malam harinya perayaan HUT Wonosobo. Malam itu(24/07), dalam sarasehan bersama Bupati dengan berbagai komunitas blog di Pendopo Bupati Wonosobo, diperkenalkanlah Wonosobo Blogger Community.
Keseluruhan acara dalam Wisata Blogger ini adalah wisata. Sesuai dengan namanya, peserta diajak untuk mengunjungi acara dan objek wisata yang ada di wonosobo. Antara lain,
Kirab HUT Wonosobo
Kirab HUT Wonosobo merupakan sebuah acara pesta rakyat. Bentuk cermin masyarakat dalam mensyukuri atas nikmat yang diberikan. Acaranya berupa upacara. Bupati, pegawai, prajurit dan segenap rakyatnya berkumpul di alun-alun kota. Upacara seremonial lengkap dengan pakaian jawa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Diakhir upacara, berbagai hasil bumi lokal, jajanan dan makanan dibagikan serta diperebutkan oleh masyarakat setempat.
Pusat Kerajinan Batik Sapuran
Siapa yang menyangka ternyata di pelosok desa wonosobo(menuju ke lokasi butuh perjuangan, jalannya yang tidak terawat serta lokasi yang cukup jauh), tepatnya desa talunombo, kecamatan Sapuran, terdapat industri kerajinan batik. Industri batik ini mulai ada sejak tahun 1992 yang pada awalnya hanya memproduksi setengah jadi. Tapi sekarang, pusat kerajinan batik di desa ini sudah dapat menghasilkan produk batik sudah jadi dengan motif khasnya daun Carica dan Purwaceng. Di pusat kerajinan batik ini, kami berkesempatan untuk melihat hasil batik serta proses pembuatan batik tersebut.
Pemandian Air Hangat, Kalianget
Karena wonosobo merupakan dataran tinggi dengan sisa-sisa gunung vulkanik di masa lalu, terdapat juga pemandian air hangat, Kalianget. Silahkan jika berkunjung ke Wonosobo untuk berkunjung ke Kalianget.
Launching Wonosobo Blogger Community
Bertempat di Pendopo Bupati Wonosobo dengan dihadiri oleh Bupati Wonosobo dan jajarannya, Wonosobo Blogger Community di-launching. Tampak hadir juga manusia kursi pesta blogger, Iman Brotoseno, Paman Tyo dan Mas Happy dari dagdigdug. Acara ramah tamah pun berlangsung antara berbagai komunitas yang hadir saat itu. Tak lupa, CahAndong sekali lagi menyerahkan jelatanya, Sita untuk menghibur peserta yang hadir dan berduet dengan Pak Bupati(melupakan Fickry yang ikut menyumbangkan suaranya).
Wisata Dieng, Puncak Sikunir
Masih sedikit diantara kita yang mengetahui Puncak Sikunir ini. Sehingga membuat kami penasaran bertanya-tanya perihal puncak ini. Informasi yang kami terima, di Sikunir ini pengunjung bisa melihat sunrise serta Gunung –gunung di sekitarnya. Sebelum menuju puncaknya, terdapat desa yang letaknya tertinggi di Pulau Jawa. Bisa dibayangkan bagaimana excitednya kami ketika mengetahuinya. Sayangnya, untuk menuju puncak, pengunjung harus berjalan kaki kurang lebih 15 menit melalui jalan setapak yang terjal. Bagi yang tak terbiasa naik gunung, akan sedikit kesulitan. Mungkin pemerintah setempat bisa mengemas objek wisata ini seperti Pananjakan Bromo. Satu lagi, di Sikunir ini terdapat telaga. Jika diamati sekilas, telaganya hampir mirip dengan Danau Toba berikut Pulau Samosirnya.
Telaga Warna
Setelah menghabiskan waktu melihat sunrise, wisata berlanjut ke Telaga Warna. Masih di kawasan Dieng, Telaga Warna merupakan salah satu objek wisata favorit. Dinamakan telaga warna karena pada waktu-waktu tertentu, warna dari telaga berubah-ubah. Ini tergantung dengan ganggang yang ada di telaga ini. Di Telaga Warna ini juga banyak terdapat wisata spiritual. Yang pada momen-momen tertentu, tempat ini banyak didatangi para peziarah dan para pencari spiritualitas bagi yang meyakininya.
Candi Arjuna
Rombongan pun berlanjut ke Candi Arjuna. Lokasinya tak jauh dari Telaga Warna. Tak banyak yang bisa diketahui dari Candi ini, karena tidak ada Guide yang mendampingi. Kami pun menikmati kumpulan Candi-candi ini dengan berfoto ria dan menghirup segarnya udara pegunungan.
Telaga Menjer
Setelah dari kawasan Dieng, perjalanan pun masih berlanjut. Kali ini menuju ke Telaga Menjer. Sebuah telaga yang sunyi, dingin dan rerindangan pohon yang tampak sejuk. Di sini kami hanya berbincang-bincang di pinggir telaga. Ada juga beberapa peserta Wisata Blogger yang mengitari telaga dengan menggunakan perahu motor. Huh, tenang sekali telaga ini.
Wisata Kuliner, Penutup Acara
Mendekati akhir dari rangkaian acara Wisata Blogger, kami diajak untuk mencicipi Mie Ongklok. Makanan khas Wonosobo. Kalau ke Wonosobo tidak mencicipi mie ongklok ini, sudah pasti rugi sekali. setelah menikmati mie ongklok ini, berakhirlah rangkaian acara dari Wisata Blogger ini. Panitia menutupnya secara resmi. Acara berlangsung dengan santai serta sedikit pemaparan dari pihak sponsor. Setelah itu, menuju ke toko oleh-oleh. Membeli jajanan khas lainnya, seperti manisan carica atau purwaceng.
Dalam rangkaian acara Wisata Blogger ini, sungguh mengesankan. Panitia tampak yang sangat siap menjamu rekan-rekan blogger, tak ketinggalan pemerintah setempat yang sangat mendukung sepenuhnya akan acara ini. Rekan-rekan blogger diperlakukan layaknya tamu dan dijamu dengan ramah tamah hangat layaknya seorang saudara. Itu yang kami rasakan ketika dalam rangkaian acara. Dapat lebih mengenal alam dan budaya Wonosobo lebih dekat.
Tak lupa kami ucapkan terimakasih atas undangannya. Serta ucapan selamat kepada teman-teman Wonosobo blogger Community atas launchingnya. Semoga kegiatannya berjalan dan langgeng terus serta dapat ikut bersinergi dengan komunitas-komunitas blogger lainnya. Jujur, kami sangat berkesan dan menikmatinya dalam mengikuti acara ini.
]]>Dua jelata yang pertama adalah Mas Adi dan Mbak Kian, mereka mengikat janji pada tanggal 7 Juni 2009 di kediaman Mbak Kian di daerah Klaten. Karena lokasi yang kurang kami kenal, rombongan jelata yang dinahkodai Peter gagal mencapai lokasi tepat waktu, padahal kami sudah menggunakan GPS pun Google Maps.
Akhirnya, jam 14.00 kami mencapai TKP, ketika kedua mempelai sudah siap melepas busana ![]()

Suguhan yang datang bertubi-tubi dan semilirnya angin di pekarangan yang rimbun benar-benar melepaskan penat kami. Setelah berfoto untuk membuktikan bahwa pernikahan mereka bukan hoax, kami akhirnya pamit pulang.
Satu minggu kemudian, Si Manis Banjir Kanal Timur Kaligawe membuktikan bahwa ngeblog memang bisa mendatangkan jodoh, bukan hanya uang belaka.
Mendapatkan pinangan dari Yudhistira, Fany tidak melepaskan kesempatan begitu saja. Meski perkenalan hanya dilakukan di trotoar jalanan, tak membuat mereka gentar untuk mengikat janji. 12 Juni 2009, menikahlah mereka.

Pernikahan mereka dikacaukan dengan datangya blogger dari berbagai penjuru mata angin, sehingga mungkin layak ditasbihkan sebagai acara pra pesta blogger 2009.
Selamat kepada para pengantin baru!
]]>
Salah satu komunitas blogger di Yogyakarta mengundang sampean semua untuk meramaikan talkshow bertajuk “Curhat Asmara Pasangan Blogger”. Sampean ndak usah datang pake jas atau sanggulan, lha wong ini talkshownya santai-santai aja kok. Cuma sekadar bersua-sua ria sambil mendengarkan kawan-kawan kita ngoceh di panggung. ![]()
Acaranya adalah hari Jumat depan (12/6), abis maghrib (18.30 WIB). Tempatnya di JEC, Jogja. Tepatnya di dalam arena Festival Komputer Indonesia. Kami tunggu di tempat ya!
]]>
Keberangkatan
Untuk memeriahkan dan menghebohkan acara ini, dari CahAndong diberangkatkanlah 20 orang jelata. Ada tiga kloter, kloter pertama berangkat duluan pake Prameks, dan disusul kloter kedua. Mengapa kloter kedua tidak bareng kloter pertama? Tak lain, tak bukan, karena kloter kedua telat. Bagaimana dengan kloter ketiga? Tenang, kloter ketiga muncul di babak 2. Sabar.
Sampai di sana, rombongan jelata langsung ke Radio Prambors Solo untuk wawancara on-air. Sesudah 2 jam berwawancara yang heboh dan melelahkan, para jelata diarahkan ke taman bermain di Sriwedari. Di sana mereka bermain Boom Boom Car dan masuk rumah hantu sampai lapar.
Padahal langit mulai gerimis. Dan tak lama kemudian mak byur hujan deres. Padahal acara launching masih lama.
Bestik Hardjo
Maka diputuskanlah untuk menjajal Bestik Jawa Hardjo yang legendaris. Dengan becakan, rombongan tolol itu sampai juga ke Bestik yang ngetop itu. Lokasinya dekat Sarkem Solo, yang tidak memiliki konotasi negatif seperti layaknya Sarkem Jogja. Oiya! Bestiknya enak dan cocok banget dimakan saat hujan. Apalagi bestik lidah.
Beberapa menit kemudian kloter tiga datang menyusul ke Bestik Hardjo.
Usai dari Bestik Hardjo kami langsung ke venue, yakni di Loji Gandrung alias rumah dinas Walikota. Tempatnya bagus, bangunan kolonial. Di sana teman-teman Bengawan sudah berkumpul. Ada juga teman-teman dari Loenpia, TPC, Ponorogo, Nggresik, dan Gunungkelir dll. Terlihat juga Paman Tyo, Enda Nasution, Iman Brotoseno, dan Ndoro Kakung berkeliaran. Heboh sekali yak!
Launching Bengawan
Acarapun dimulai. Kedua MC-nya lucu dan Solo banget. Ada yang tahu siapa nama mereka? Kemudian, banyolan dari MC disambung dengan sambutan dari Om Bloentank Poer. Kurnia yang mewakili Bengawan juga memaparkan banyak kisah tentang komunitasnya.
Bintang malam itu tentu saja adalah paparan dari Pak Jokowi, Walikota Solo yang kabarnya gemar mentamanisasi kota Solo. Tapi prestasi beliau bukan pada tamanisasi, tapi pada tata kota dan relokasi pasar. Saya pribadi setuju sekali pandangan Pak Jokowi bahwa pasar tradisional adalah kekuatan ekonomi mandiri, yang semestinya dipelihara, bukan dibinasakan oleh aparat. Dalam merelokasi pasar Jokowi tidaklah menggunakan cara keras dan arogan, melainkan pendekatan persuasif. Akan tetapi faktor sosial-budaya masyarakat juga berperan di sini, pendekatan yang sama mungkin tidak serta merta diterapkan di daerah lain.
Acara launching disambung dengan makan malam bakmi jawa dan diiringi musik kroncong yang Solo banget. Teman-teman dari Ponorogo memberi oleh-oleh kepada Bengawan berupa topeng reog. Awalnya dari CahAndong akan memberi kenang-kenangan berupa Choro, tetapi urung. Maka jelatapun mempersembahkan Sita Sekali (saudara dekat Tika Banget) untuk menyanyikan sebuah lagu jazz. Sambutannya sangat baik, bahkan tanpa diminta Sita sudi menyanyi dua lagu. Penontonpun ikhlas menyaweri Sita dengan uang seribuan. Syahdan Sri Baginda Anangku sangat terpesona hingga sudi menyempatkan diri untuk berfoto dengan Sita.

Sayangnya malam sudah larut, gedung acara harus ditutup. Walaupun kami semua sudah beranjangsana-sini dengan teman-teman blogger, tapi rasanya masih kurang. Anjangsana dipindahkan ke parkiran depan Loji Gandrung, sampai diusir oleh petugas.
Petugas itu tidak sepenuhnya salah, karena waktu memang menunjukkan pukul 22.00. Yang termasuk larut untuk petugas keamanan, tapi masih pagi untuk jelata. Dem! Jalan-jalannya kurang! Kamipun sepakat untuk ngaso dulu sampai pukul 1 pagi. Abis itu jadwalnya adalah ke Gudeg Ceker Margoyudan yang legendaris.
Penutup
Usai dari acara ini kami merasa senang teman-teman blogger Solo sudah punya wadah baru yang nyaman. Kami mengucapkan selamat atas launchingnya, dan semoga kegiatannya lancar dan langgeng. Kami juga merasakan banyak pengalaman baru di Solo, dan sejujurnya, kami menikmatinya.

Rute awal Ziarah Wali Blogger adalah Surabaya - Malang - Ponorogo - Solo - Yogya - Gunungkelir - Kembali ke Surabaya. Salah satu komunitas Blogger di Yogyakarta, CAHANDONG, menerima kehormatan untuk menjamu tamu dari timur ini. Sebagai penyambutan akan digelar acara Masangin berjamaah. Demi menyesuaikan dengan nama utama kegiatan Ziarah Wali Blogger, maka kegiatan dinamakan Jamasan Wali Blogger 2009. Jamasan (Jamuan Masangin) Wali Blogger 2009 adalah kegiatan Masangin beramai-ramai di Alun-alun Kidul. Acara dimulai pada pukul 16.00 tepat sampai dengan selesai.

Acara Masangin itu sendiri adalah berjalan ke selatan melintasi dua pohon beringin tua yang ada di tengah lapangan Alun-alun Kidul. Dua pohon yang jaraknya adalah sekitar 15 meter tidak mudah dilewati, lho. Karena ketika berjalan itu mata harus dalam kondisi tertutup. Sesuai mitos yang beredar di kalangan masyarakat, apabila seseorang mampu melewati kedua pohon maka keinginana atau impiannya akan dikabulkan. Sedangkan jika gagal, maka jangan berharap banyak keinginannya akan dikabulkan. Tapi sekali lagi ini adalah mitos. Boleh percaya, tidak percaya pun silahkan.
Ayo, tunggu apalagi, demi membuktikan mitos ini mari Sabtu tanggal 24 Januari 2008, mulai pukul 16.00, kita berduyun-duyun ke Alun-alun Kidul Kraton Yogyakarta. Menjalin silaturahmi bersama bloger jawa Timur dan Jawa Tengah sambil nguri-uri kebudayaan Masangin.
]]>Kopdar masa-masa liburan dibuka oleh Mbak Ulan. Beliau yang datang bersama rombongan kantornya bergabung di acara Juminten. Kebetulan hari itu adalah Juminten Batik jilid II. Di hari yang sama, juga datang tamu dari Komunitas Bloger Bali (BBC) yaitu Fenny Funkylove. Fenny yang memang senang jalan-jalan itu, kali ini menghabiskan waktu liburan di kota Jogja. Bersama Fenny dan Ulan, kami menunggu berlalunya waktu yang melambat di malam hari di kota Jogja. Kemudian juminten ditutup dengan hidangan Gudeg Bulat yang legendaris (bagi CA) itu.
Minggu berikutnya, saat kami memberesi packing buku dari Gerakan 1000Buku, datanglah Mas Iman Brotoseno dan Sarah. Setelah membantu packing buku, kami pun lanjut ke area jumintenan di nol kilometer Jogja. Makan pagi buta kami laksanakan dengan khidmat di Bandeng Re-nata Jalan Solo. Esoknya, Antobilang dan Herman menikmati kesempatan bertemu Gusti Cakraningrat dan istri bersama dengan Mas Iman dan Sarah.
Di penghujung tahun ini CA juga mendapatkan berkah atas kunjungan Baginda Anangku yang sangat dinanti-nantikan. Anangku menyaru jadi jelata saat menghadiri acara Peluncuran Mukena Warna-warni di Karita menemani Ekowanz dan Choro. Siangnya makan siang di Ninit, ditemani Antobilang, Sandal, Gajahpesing dan Genthokelir. Sebelum hari gelap, kami memutuskan untuk menikmati sisa-sisa sore di Angkringan Tugu sambil menyeruput hangatnya teh manis gula batu. Makin malam, semakin banyak jalata bergabung. Choro, Pangsit, Tika, Herman, dan Wisnu Sanjaya datang mengerumuni Sang Nabi itu. Walaupun sang Nabi lebih banyak diam, mungkin sedang berkontemplasi, tapi kami senang akhirnya bisa bertemu Baginda di tanah jelata. Malamnya dilanjutkan ke Alun-alun kidul melihat Pertunjukan Wayang peringatan 1000 Hari meninggalnya Ki Dalang Hadi Sugito. Selanjutnya, Kang Totok Genthokelir mengajak Baginda Anangku, Gajahpesing, Andy MSE, dan Sandalian ke Gunung Kelir, di perbukitan Meroneh.
Para begawan BHI juga datang satu per satu ke tanah jelata. Sebut saja Pitik dan Endiks yang datang berdua dengan berkendara dari Kendal, Jawa tengah. Malam sebelum bertemu kami, mareka habis dari Puncak Suroloyo, entah cari apa, mungkin sementara boleh dianggap : mereka cari pengalaman. Akhirnya setelah berencana nongkrong di Jendelo dan tutup, maka kami menuju Empire untuk bergojek kere. Datang satu persatu, Choro, Pangsit, Herman, Ekowanz, Gunawan, Tika, Tito dan Memeth. Menjelang malam, Endiks dan Pitik pamit pulang kembali ke Semarang menemui Gita yang sudah kangen sama Pitik. Selain 2 begundal itu, masih ada Pito dan Yudi yang juga datang ke kota Jogja.
Belum lengkap semua kedatangan tamu-tamu itu kalau tanpa kedatangan Lelananging Jagad, Ndorokakung dan keluarga. Menikmati liburan bersma precil-precil, Ndoro masih menyempatkan untuk menjenguk jelata. Kami njuga sempat mempertemukan Ndoro dan Baginda Anangku. Terakhir, Ndorokakung dan keluarga sempat makan siang bersama di acara syukuran tahun baru yang diadakan oleh Mas Iman Brotoseno di Rumah Makan Timbul Roso, jelata yang hadir : Memeth, Alle, Ekowanz, Tika, Ijal, dan Annosmile. Malam tahun baru, saudara-saudara tua dari Loenpia juga datang mengunjungi Jogja. Ada Niningss, Stey, Wiwikwae, Evy, Hars, Pepeng, dan Ali.
Selain berita bahagia tersebut, ternyata masa liburan ini juga diwarnai beberapa berita menyedihkan. Diantaranya datang dari rekan kita : Minidor, salah satu rekan jelata yang pernah bertemu dengan para jelata saat masih senang nongkrong setiap malam di Goeboek. Ayahanda tercinta sedang tergolek koma di Rumah Sakit Bathesda Yogyakarta. Penyakit stroke sejak berbulan lalu, kembali menyerang minggu ketiga Desember. Nico, Antobilang, Gage, Alle, Leksa, Herman datang menjenguk sebagai sahabat. Mendoakan yang terbaik bagi semua.
Tak lama berselang, saat waktunya merakayakan Hari Natal, keluarga bloger kembali tertimpa cobaan. Adalah Paman Tyo, Ebess dan Tito yang bersedih lantaran kakak, kakak ipar dan pakde mereka meninggal dunia persis malam menjelang Natal. Kami yang kebetulan sedang menghabiskan malam macet di sekitaran Tugu segera datang melayat. Catat saja Tikabanget, Leksa, Ekowanz, Antobilang, Funkshit, Sandalian, dan Herman. Malamnya kami hanya bertemu Ebess dan Tito lantaran Paman Tyo sedang dalam perjalanan menuju Jogja. Sampai pukul 4 pagi, akhirnya kamiu undur diri dan melewatkan acara pemakaman pada siang harinya. Nico dan Tika berkesempatan untuk bertemu Paman Tyo saat acara pemakaman. Semoga Paman, Ebess dan Tito selalu diberi kesabaran untuk selalu menerima putusan takdir.
Kesedihan kamipun jadi semakin larut saat menerima berita bahwa Ibunda Manusia Super menderita sakit dan sedang di rawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo. Saat itu sang bunda sedang mengikuti ziarah agama. Manusia Super yang sampai di Jogja kemudian ditemui oleh Antobilang dan Ekowanz di bandara Adisutjipto dan kemudian menuju stasiun Maguwo untuk mengambil tiket kereta ke arah Solo. Setelah 2 hari tak sadarkan diri dan belum ada dokter yang merawat, akhirnya Ibunda dipindahkan ke Panti Rapih Yogyakarta. Hari ini adalah hari ke-6 Ibunda Manusia Super belum sadarkan diri. Mari kita berdoa untuk kebaikan bagi keluarga Manusia Super.
Ya, Tuhan memang pandai merangkai nasib manusia. Dia menciptakan kesenangan dan kesedihan datang berimpit. Saling melengkapi, tanpa sebuah syarat apapun.
Sekian laporan dari Kementrian Kopdar dan Kumpul-kumpul.
]]>
Dalam Pesta Blogger 2008 kemarin, komunitas blogger Jogja bernama CahAndong menerima Blogging for Society Award. Selain sejumlah uang, kami juga mendapatkan satu paket komputer baru merk HP Pavillion G3435D dari sponsor dan panitia Pesta Blogger 2008.
PC Deskop ini cukup mutakhir, lebih dari cukup untuk kebutuhan blogging dan dokumentasi. Dengan kapasitas harddisk yang cukup besar, PC ini dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan berkas-berkas dokumentasi kegiatan (seperti foto dan video) dan juga untuk menyusun dokumen-dokumen kegiatan. Yang cukup mengasyikan adalah karena PC ini dilengkapi dengan card reader, sehingga proses pemindahan gambar dari kamera ke PC bisa dilakukan dengan praktis.
Adanya sistem operasi serta beberapa aplikasi original yang sudah terinstal juga sangat memudahkan. Selain tidak harus berurusan dengan masalah hak cipta, aplikasi-aplikasi bawaan itu mampu memenuhi kebutuhan dasar pemakai PC sehari-hari.
Tentu saja kami sangat berterimakasih kepada HP dan panitia Pesta Blogger 2008 atas hadiah ini. Seperangkat komputer ini sedikit banyak akan membantu perkembangan CA menuju masa depan.
]]>
Hari Minggu, jelata kembali berkumpul di markas Sitisewu untuk mempersiapkan kunjungan pertama ke perpustakaan di dusun Gemer, Ngargomulyo, Dukun, Magelang di lereng gunung Merapi. Dua buah kardus segera diikat super-kencang dengan tali tambang sepanjang 10-an meter. Sementara jelata lainnya berpasangan mengendarai kuda besi, Nico dan Senafal memilih untuk ditemani kardus dalam perjalanan Jogja-Magelang. Sehingga formasi saat berangkat adalah : Saya dan Herman, Alle dan Amma, Funkhit soliter, Leksa soliter, Choro dan Peter, Senafal dan kardus, Nico dan kardus, serta Annosmile dan Memeth.

Separuh perjalanan pertama adalah jalanan ramai menyebalkan melawan kendaraan-kendaraan besar yang menuju ke arah Semarang, namun sisa perjalanannya sangat menyenangkan. Pemandangan sepanjang jalan yang penuh sawah menghijau, membuat perjalanan terasa lebih cepat. Sekali rombongan berhenti untuk foto-foto dan makan siang. Di sebuah pertigaan yang sudah sangat dekat desa Ngargomulyo, kami menemukan Nasi Resah yang menjadi menu pembasmi rasa lapar durjana. Jelatawan-jelatawati yang sudah kelaparan menyantap Nasi Resah ditemani lauk kerupuk. Cuma Alle yang memilih lotis buah sebagai menu makan siang.
Perjalanan dilanjutkan ke dusun Gemer yang letaknya hanya 7-8 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Sayangnya, kabut tebal menutup hampir seluruh badan gunung sehingga kami tidak bisa menyaksikan pemandangan yang lebih baik. Walaupun begitu, bentangan sawah serta udara sejuk sudah bisa menjadi pelipur lelah setelah perjalanan jauh.
Motor kami parkir di rumah salah satu penduduk yang mengurusi perpustakaan di dusun tersebut, yaitu Pak Giyanto yang sehari-harinya juga mengajar di desa setempat. Karena yang bersangkutan belum pulang mengajar, maka kami bersilaturahmi ke beberapa pengurus perpustakaan lainnya. Sambil menyusuri lorong-lorong antar rumah berdinding batu, bertemu dengan para pencari kayu, pencari rumput serta bertemu banyak anjing-anjing bersliweran, kami menikmati udara lereng pegunungan yang sejuk.
Sebelumnya, sebagai info, di dusun Gemer sudah ada perpustakaan. Meski belum menempati bangunan permanen, atau masih numpang di rumah penduduk, namun perpustakaan ini sudah berjalan, Walaupun kemudian, minimnya pengawasan serta masih rendahnya kesadaran untuk menjaga koleksi, membuat perpustakaan di dusun ini pun pasang surut. Di sebuah petak lahan, sudah terkumpul pasir, batu dan beberapa sak semen untuk membangun sebuah bangunan permanen agar perpustakaan lebih terorganisir dengan baik. Rencananya awal tahun ini, jika tak ada aral bangunan sudah bisa ditempati dan berfungsi sebagai perpustakaan. Kami pun berniat untuk datang ke sana membantu jika berkesempatan waktu yang longgar.
Sementara itu, koleksi buku yang kami antar dititipkan di rumah penduduk yang sebelumnya juga sudah mengurusi perpustakaan. Ke depannya kami berharap keterlibatan CA di perpustakaan ini bukan hanya kirim-selesai. Namun ada sebuah program berkelanjutan untuk ikut membangun budaya membaca di kalangan warga sekitar. Beberapa opsi yang sudah diwacanakan yaitu story-telling yang kisahnya diambilkan dari koleksi perpustakaan setempat, menonton film edukatif, atau pengumpulan karya menulis. Ide terakhir berasal dari Pakde Mbilung, dengan harapan perpustakaan ini tak hanya mengasah budaya membaca, tapi sekaligus budaya menulis.
Setelah menyerahkan koleksi buku, kami pun melanjutkan pulang ke Jogja sebelum gelap.
]]>
Menurut Wikipedia, wayang sudah dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi ketika masyarakat nusantara memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar.
Dari jenisnya saja bisa disebutkan Wayang Kulit (Wayang Kulit, Wayang Sasak), Wayang Kayu (Wayang Golek), Wayang Beber, Wayang Orang, dan Wayang Suket. Dari berbagai jenis tersebut memang tidak semuanya bisa berkembang secara seiring sejalan, karena zaman akan menentukan pilihannya. Wayang Kulit dan Wayang Golek yang memiliki kemampuan bertahan di tengah gempuran hiburan masyarakat sebagai tuntutan perubahan zaman.
Pada perkembangannya, wayang kulit di nusantara sangat beragam walaupun cukup berkembang pesat di pulau Jawa-Bali. Di antara jenis wayang kulit yang ada di tanah air antara lain Wayang Jawa Yogyakarta, Wayang Jawa Surakarta, Wayang Kulit Gagrag Banyumasan, Wayang Bali, Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan), Wayang Palembang (Sumatera Selatan), Wayang Betawi (Jakarta), Wayang Cirebon (Jawa Barat), Wayang Madura (sudah punah), Wayang Sasak Lombok, Wayang Purwa Bali dan Wayang Siam.

Ragam jenis wayang dari seluruh nusantara itu akan ditampilkan di Festival Wayang Indonesia II pada tanggal 13 hingga 16 Desember 2009 di Taman Budaya Yogyakarta. Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) menggelar festival tiga tahunan ini yang merupakan puncak dari festival tingkat kabupaten hingga provinsi dan kemudian nasional.
Bagi yang berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya (yang gemar nonton wayang, tentunya) pasti tidak asing lagi dengan Wayang Kulit Gaya Solo dan Yogya karena boleh disebut keduanya memiliki eksistensi cukup baik. Tapi bagi yang ingin merasakan sensasi dari pakeliran wayang lain bisa mengamati jadwal untuk menyaksikan misalnya Wayang Sasak Lombok, Wayang Palembang, Wayang Banjar atau Wayang Golek.
Mari datang ke sana, tak perlu malu untuk mencari tahu tentang khazanah budaya adiluhung bangsa. Cuma ada waktu 4 hari saja untuk itu. Bumi gonjang ganjing… langit kelap kelip!
]]>
Jam 5 sore tanggal 6 Des 08, kembali saya, annots, mas hadi, kang dodong, mas sandal dan mas pengki berkumpul untuk mengantarkan kambing ke rumah mba memeth didaerah sitisewu dan dusun depok, gilangharjo, pandak, bantul. Gerimis menemani perjalanan kami sore itu ke dusun depok. Medan yang gelap, jalanan yang berkelok, tak rata dan berbatu serta tanjakan dan turunan yang sedikit curam nan licin membuat adrenalin kami terpacu dan membangunkan jiwa adventure kami. Sekitar 1/2 8 malam, sampailah kami di rumah Pak Aris . Dari beliaulah saya mendapatkan informasi tentang dusun ini. Tak lama kemudian datang Pak Tukijo, takmir masjid sekaligus penanggung jawab penyelenggara kurban. Setelah serah terima kambing yang diwakilkan pak tukijo dari pihak dusun dan saya dari pihak CA, kami memutuskan untuk segera balik ke yogya.
8 des 08. cuaca pagi itu tak mendukung. Awan kelabu bergelayut tanpa malu-malu. Namun, mendung yang tak bersahabat dan rintik gerimis yang mulai jatuh ke bumi tak menyurutkan langkah serta semangat dari para Jelataers (saya, Alle, Annots, Nico, Choro, Mas hadi, Bang Kailani, kang dodong, Sandal) yang berkumpul di KM 0 untuk eksekusi kambing di Dusun Depok. Agenda hari itu adalah Dokumentasi dan tentu saja jeng-jeng.
pada kunjungan sebelumnya, dari Pak Tukijo kami mendapatkan informasi bahwa dusun ini mempunyai tempat yang bersejarah yang pantang dilewatkan. Dan demi melihat pemandangan yang menarik, asik lagi eksotik, ditemani Pak Aris kami menelusuri setiap jengkal tanah dusun tersebut. dan Semakin sempurnalah euforia kenarsisan tim kambing ceria.

capek jalan-jalan, kami dipersilahkan menikmati sajian makanan yang membuat cacing cacing diperut kami kekenyangan.

setelah itu baru kami pamit pulang.
]]>
Pada hari minggu 30 Desember, CahAndong mendapat undangan istimewa untuk mengikuti Sarasehan bersama teman-teman Blogger Solo. Dengan semangat mblasuk-mblasuk ala Jeng-jeng Matriphe, tiga jelata CahAndong—Wisnu, Anto, dan saya—dikirimkan dari Stasiun Tugu Jogja untuk mendarat di Stasiun Purosari Solo.
Soto Triwindhu
Sampai di Solo waktu masih menunjukkan jam delapan pagi, sementara acara sarasehan masih nanti jam 13. Maka kami memutuskan untuk menuju istana Mangkunegara naik becak. Sampai disana, Mangkunegaran memang belum buka, jadi kami blasukan dulu untuk mencari soto ngetop yang katanya sangat dekat dengan kompleks Mangkunegara. Namanya Soto Triwindhu, karena dekat dengan Pasar Triwindhu, pusatnya barang tribal di Solo.

Warung soto itu sederhana, tapi emperannya dijejali mobil-mobil bagus (sebuah indikator popularitas tempat makan). Citarasa sotonya memang unik. Walaupun labelnya soto sapi, tapi kuahnya yang hangat ada aroma amis ikan. Seperti soto gagrak Jogja, Soto Triwindhu terasa segar dan ringan, cocok untuk sarapan. Kami juga mencicipi empalnya, tapi tidak terasa istimewa dan sepertinya bukan andalan warung ini.
Kraton Mangkunegaran
Kenyang oleh Soto, kami bergegas menuju ke Mangkunegaran. Jangan tertipu dengan tampilan pintu masuk Istana Mangkunegaran yang seperti SD Inpres. interior dalamnya sangat cantik. Berbeda dengan Kraton Jogja yang rata-rata menggunakan ornamen tradisonal Jawa, Kraton Mangkunegaran banyak mengakulturasi ornamen dan bentuk-bentuk barat dan oriental. Warna yang dominan adalah turquoise cerah dengan aksen emas. Penggunaan warna yang bukan warna dasar adalah sebuah pilihan yang sangat modern untuk jamannya.
Keindahan arsitektur istana ini dilengkapi dengan display koleksi keluarga kraton, seperti cincin emas, kristal, senjata yang sebagian besar pemberian dari banyak negara seperti Belanda, Ceko, dan Jepang, beberapa abad yang lalu. Saya takjub, raja-raja itu bisa menjalin komunikasi ke luar negeri sedemikian baik, padahal mereka cuma punya moda transportasi kapal. Kita yang bisa mengakses blog, email, dan instant messaging; seharusnya bisa lebih hebat daripada mereka.

Berkunjung di Mangkunegaran pada hari Minggu bukanlah waktu yang tepat, karena pada hari itu tidak ada pertunjukan gamelan (pertunjukan tari diadakan tiap hari Rabu). Tapi tanpa hiburan itupun, kami sudah sangat terhibur oleh narasi ibu pemandu yang sangat personal dan tidak textbook, sangat klop dengan suasana istana yang kasual dan tidak kebanyakan aturan. Di akhir tur, kita juga berfoto-foto sepuasnya di taman belakang yang sangat homy dan asri.
Batik & Radyapustaka
Usai tur Mangkunegaran, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Batik Laweyan. Sebelum ke sana, kami menyempatkan untuk mencicipi sebuah hidangan benama Cabo Rambak. Konon ini adalah makanan orang miskin, terbuat dari irisan kupat tipis2 yang diberi bumbu pecel dari biji wijen, lalu dimakan dengan kerupuk rambak.

Kampung Batik Laweyan ternyata tidak begitu mengesankan, walaupun sign-systemnya sangat bagus, tapi isinya lebih banyak toko batik. Selain toko, kami tidak menemukan aktivitas yang membuat turis betah berlama-lama di situ. Maka kami melanjutkan perjalanan ke Museum Batik Danar Hadi. Di sana kami juga kecewa, karena pada hari Minggu tidak ada demo membatik. Nampaknya hari Minggu bukan waktu yang tepat untuk mengunjungi Solo.
Oleh karena waktu sudah hampir menunjukkan jam 12, kami memutuskan untuk menuju tempat sarasehan (di Solo Grand Mall) berjalan kaki sambil menikmati suasana Solo yang merupakan saudara kota Jogja. Di tengah jalan kami melewati museum Radya Pustaka yang koleksi arca-nya pernah dicuri.
Dengan tiket masuk yang sangat murah (Rp 2500), memang tidak ada guide yang disediakan untuk menemani kami di Radya Pustaka. Sangat disayangkan, karena museum ini menyimpan banyak sekali barang-barang antik bisu, yang hanya bisa bercerita sejuta kisah melalui narasi pemandu wisata. Ada vas bunga dari Napoleon Bonaparte, senjata-senjata kuno, patung arca dan logam Hindu. Kami juga berkesempatan melihat arca yang dulu pernah dicuri. Saya sangat menyayangkan pengelolaan museum ini, harta karun tak ternilai itu dilindungi dengan pengamanan yang sangat minimal.

Sarasehan Blogger Solo
Sejenak berputar-putar di Radyapustaka, kami segera berjalan lagi menuju SGM sambil menelusuri citywalk Solo yang baru. Di SGM kami mampir dulu mencicipi Nasi Kebuli lalu bergegas ke Hik Speedy di mana acara sarasehan itu diadakan. Di sana saya bertemu Dony Alfan, Fauzan Sigma, Danoe, Mas Blontank, Mas Andy, Sha, Soraya, Pak Didi, Pak Hepi, Tyo Kecil, dan banyak lainnya.

Acara ini diadakan oleh komunitas Kentingan dan didukung oleh Telkom. Ada banyak diskusi, baik soal blog, tanggung jawab blogger, hingga bagaimana membentuk komunitas. Ada sebuah antusiasme untuk berkomunitas di antara para peserta. Antobilang dan saya yang bergantian maju ke panggung) tidak bisa banyak memberi ‘kuliah’ tentang komunitas, karena tiap komunitas memerlukan proses yang bercirikan budaya lokal. Kami hanya bisa bercerita sedikit pengalaman di CahAndong, bagaimana ‘organisasi’ kami yang tanpa struktur. Saya juga sempat bercerita sedikit tentang Cerpenista.
Tapi saya senang dan salut dengan kawan-kawan di Solo yang telah berinisiatif membuat komunitas yang lebih rekat dan memberikan manfaat. Esok hari kita perlu jalan-jalan bareng dan bikin kegiatan bareng!
Adem Ayem
Usai dari acara sarasehan kami diculik Mas Blontank untuk makan di Gudeg Adem Ayem. Berbeda dengan gudeg jogja yang kuahnya coklat tua, versi Adem Ayem menganut gagrak Solo yang kuahnya krem muda dengan rasa gurih yang lebih dominan. Konon, Gusdur kalau ke Solo selalu mampir ke resto ini. Adem Ayem sendiri sudah berekspansi ke Jogja, tapi sepertinya kurang populer di masyarakat.
Makan gudeg dan berfoto-foto sekaligus menutup perjalanan ke Solo ini. Kami pulang dengan badan lelah, perut kenyang, dan hati gembira.
—oleh Herman
]]>
Berkat rekomendasi dari Anda semua, akhirnya dewan juri dari PKBI Jogja dan CahAndong menseleksi tiga blog yang menerima PKBI Blog Award. Blog-blog hebat tersebut adalah:
Ketiga blog itu dinilai paling memiliki warna kepedulian dan secara konsisten mendiskusikan isu-isu penting yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi, gender, HAM dan HIV/AIDS. Pemenang 1 akan diundang ke Jogja untuk menerima penghargaan ini langsung, bertepatan dengan peringatan Hari AIDS sedunia pada tanggal 1 Desember.
Panitia PKBI Blog Award mengucapkan selamat kepada Mas Oka, Mbak Widari, dan Mbak Titiana atas prestasinya. Harapan kami, penghargaan ini akan semakin memicu blogger-blogger lain untuk terus menulis dan berkarya melalui blognya masing-masing. Melalui penghargaan ini, kami ingin blog terus maju menelusuri arus perubahan.
]]>
Dalam acara Pesta Blogger 2008 pada hari Sabtu 22 November kemarin, komunitas CahAndong dari Jogja menerima penghargaan ‘Blogging For Society Award’.
Mewakili seluruh jelata CahAndong, dengan penuh kerendahaan hati, saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang besar ini. Kami akan berpikir lebih keras dan berusaha lebih ulet untuk memenuhi amanah berat dari Anda.
Komunitas ini selalu terinspirasi oleh komunitas-komunitas lain. Kawan-kawan di BHI yang tiap Jumat malam menggelar kumpul-kumpul, membuat kami ikut-ikut mengadakan pertemuan pada hari yang sama. Kepedulian luar biasa mereka terhadap isu-isu sosial, membuat kami selalu tertantang untuk mengadakan kegiatan serupa di CahAndong.
Demikian juga kawan-kawan di Loenpia yang sudah seperti kakak bagi CahAndong. Kami selalu tergugah oleh keakraban dan kehangatan para blogger Semarangan itu. Seperti juga layaknya seorang kakak, mereka juga menularkan kebiasaan buruk: nyampah di milis adalah kebiasaan Loenpia yang menular ke CahAndong.
Dan kami harus memasang empat jempol untuk komunitas-komunitas hebat bernama BBC, TuguPahlawan, Globber Ngalam, Batagor, AngingMamiri, Wongkito, Angkringan, Lesehan, dan komunitas lain yg tak dapat disebutkan namanya satu-persatu (karena banyak banget). Suatu saat kita perlu kerja bareng rame-rame.
Tak lupa jelata CahAndong mengucapkan terima kasih kepada Ndoro Kakung sang ketua panitia Pesta yang menyenangkan itu (saya memanggilnya ketua aja yah, manusia kursi udah basi!). Juga lima bintang untuk Mas Iman, Enda, Hanny, Balibul, Indri, Chika, dan Dimas Novriandi selaku panitia inti. Pestanya asyik banget!
Setelah riuh menjadi sepi, dan debu-debu telah tidur kembali, saya rasa ini waktu yang tepat untuk kembali duduk dan merenung, apa lagi yang bisa dikembalikan para blogger kepada masyarakat. Saya yakin anugrah ini tidak akan membuat CahAndong merasa paling hebat. Saya yakin, kita baru akan hebat ketika telah melakukan hal-hal baik bersama-sama.
]]>
Jogja dibikin gempar gara-gara lima blogger top dari mancanegara menyempatkan singgah ke kota pelajar. Kedatangan rombongan ini adalah bagian dari Roadtrip Pesta Blogger 2008. Mereka adalah Jeff Ooi (anggota parlemen Malaysia), MrBrown (Bapak Blogger Singapura), Mike Aquino (kontributor About.com dari Filipina, Mark Tafoya (blogger kuliner dari AS), dan Anthony Bianco (blogger pelancong berkebangsaan Australia).
Pada hari pertama mereka diajak melihat kemegahan Candi Prambanan yang juga merupakan rumah untuk jelata Annots. Usai melihat-lihat, kelima tamu itu diboyong ke Batik Luwes untuk belajar membatik. MrBrown sempat mempertontonkan hasil batiknya, dan hasilnya masih belepotan! But its a good start man!
Malamnya mereka disuguh dengan hidangan nasi kuning, sate dan bebek bakar bersama beberapa blogger Jogja. Antusiasme mereka untuk saling bertukar cerita membuat malam itu ramai dan cair. Mark memuji Indonesia yang walaupun penduduknya sangat beragam, tapi bisa hidup bersama dengan rukun. Soal peran blog bagi masyarakat, Jeff Ooi yakin kalau blog adalah piranti untuk mempromosikan demokrasi. Dia juga sedikit menyentuh isu hubungan Indonesia-Malaysia yang memburuk akhir-akhir ini. “Walaupun kulit kita berbeda tetapi hati kita sama,” ujarnya. (Komentar-komentar yang lain dapat sampean dengarkan di blognya Thomasarie)
Supaya mereka tidak lupa dengan kota yang konon berhati nyaman ini, para jelata CahAndong menyantuni kelima blogger itu dengan beberapa cindera mata yang merangkum ciri budaya Jogja, yaitu Blangkon, Topeng, miniatur Gamelan, dan miniatur Wayang Kulit. Kesemuanya dikemas dengan tas dari Batik dan kain blaco.
Sepulangnya dari acara makan malam, bis yang mengangkut para pelancong itu dibajak oleh para jelata tolol. Kemudian mereka diturunkan di depan bunderan UGM untuk meneruskan perjalanan pulang menggunakan Becak. Itung-itung menikmati kehidupan malam kota Jogja menggunakan kendaraan bertenaga manusia. Rally becak itu diiringi oleh para jelata yang bersepeda onthel, bermotor, dan bermobil. MrBrown yang kocak telah membagi rekaman rally itu rekamannya di sini.

Dan acara hari pertama usai setelah Jeff, MrBrown, Mike, Mark, dan Anthony sampai di hotel dan dilepas oleh para jelata dengan penuh cinta.

NB: laporan hari kedua menyusul yaaa.
Baca juga:
Setiap jaman memiliki wabahnya sendiri-sendiri. Penghuni abad pertengahan menyaksikan wabah pes telah melenyapkan 75 juta nyawa manusia. Awal abad 21, Flu Spanyol merayap ke seluruh penjuru dunia dan merenggut 25 juta nyawa.
Setiap jaman juga mengalami titik-titik perubahannya sendiri. Magna Charta dilahirkan pada tahun 1215 menandai berakhirnya kekuatan absolut monarki Inggris, dan merintis gagasan demokrasi modern. Tahun 1689 Parlemen Inggris meratifikasi Bill of Rights, yang selanjutnya menjadi landasan atas perlindungan hak asasi manusia.
Tiap negara selalu mengalami masalah dan tantangan, sesuai jaman dan eranya. Kita tidak luput dari permasalahan itu; baik sosial, tenaga kerja, kesehatan, pendidikan atau yang lainnya. Permasalahan ini sedemikian rumit, hingga mustahil diselesaikan oleh satu orang atau satu kelompok. Kita memerlukan berbagai solusi untuk mengatasinya.
Kali ini Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jogja bekerja sama dengan CahAndong akan menganugerahkan PKBI Award kepada blog-blog yang peduli terhadap wacana kesehatan reproduksi, gender, HAM dan HIV/AIDS.
Anugerah blog dipilih karena, PKBI melihat kendala penanggulangan masalah tersebut di lapangan tidak hanya ada pada masyarakat, yang tidak mengetahui maksud dari kesehatan reproduksi atau HIV. Tetapi juga karena nihilnya pemahaman bahwa kesehatan reproduksi merupakan hak dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu PKBI terdorong untuk memberikan penghargaan kepada blog-blog yang peduli dengan wacana tersebut, secara menyeluruh.
Nah jika sampean tahu ada blog yang penuh passion mengulas wacana kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, gender, dan HAM; silahkan rekomendasikan blog tersebut melalui email ke pkbi.award@gmail.com. Cukup cantumkan nama pemilik blog, alamt url blog, dan (kalau ada) alamat untuk menghubungi blogger tersebut (biar panitia gampang mengkontak si penerima award).
Tenggat waktu untuk merekomendasikan adalah tanggal 20 November 2008. Kalau masih bingung, sampean bisa cek info selengkapnya di blog PKBI Award.
]]>
Pada suatu malam yang lengas tempo hari, saya mendapat pesan singkat dari seorang kawan:
TPC akan berULTAH tgl 10 Nov. Kami dari panitia meminta kesediaan rekan-rekan komunitas utk mengucapkan ungkapan selamat ULTAH kepada TPC melalui media blog komunitas.
Saya terhenyak, dalam lalu-lalang dinamika CahAndong, saya melewatkan perkembangan arek-arek di Surabaya sana. Komunitas Tugu Pahlawan telah menempuh satu tahun pertamanya! Atas permintaan sang teman itu, mewakili semua anggota CahAndong, saya mengucapkan SELAMAT ULTAH! Bagaimanapun juga satu tahun adalah masa penting, karena interaksi pada masa-masa itu menentukan warna dan bentuk sebuah komunitas. Adalah sebuah kesungguhan besar komunitas TPC bisa berjalan sejauh ini.
Komunitas memang sebuah himpunan yang aneh. Berbeda dengan organisasi atau perusahaan, komunitas sangat sangat cair. Orang bebas datang dan pergi. Tiap orang boleh menyumbang warna komunitas itu. Satu-satunya yang merekatkan mereka, satu sama lain, adalah sebuah kepedulian yang sama.
Lalu bagaimana satu komunitas bisa solid dan yang lain tidak? Dalam buku besutan Scott Peck dijelaskan bahwa sebuah komunitas yang ‘matang’ haruslah melalui empat tahap alami yaitu: Pseudo Community, Kekacauan, Kekosongan, dan True Community.
Tahap pertama, Pseudo Community, terjadi ketika tiap orang di komunitas itu berusaha saling ramah dan main aman. Setiap orang berusaha menunjukkan kepribadiannya yang paling menarik.
Tahap Kekacauan terjadi ketika waktu dan proses telah mengijinkan tiap anggota untuk menampilkan sisi mereka yang lain. Perbedaan-perbedaan yang muncul sering menciptakan konflik dan perseteruan.
Tahap kekacauan akan diikuti dengan tahap Kekosongan, di mana tiap orang mulai berusaha memperbaiki kekacauan dan mengobati luka-luka, karena mereka telah mengakui luka dan kekecewaan yang mereka alami.
Tahap terakhir adalah tahap True Community. Kematangan telah mencapai komunitas ini dan ditandai dengan adanya rasa tepa-selira serta kemauan untuk mendengarkan dan mengerti kebutuhan anggota-anggota yang lain. Komunitas matang akan terbiasa membicarakan perbedaan dengan kearifan. Komunitas yang telah matang, tidaklah dipimpin oleh sejumlah individu, melainkan tiap individu menjadi pemimpin komunitas itu.
Mestinya ini adalah proses yang lama. Hitungannya tidak cuma bulan atau tahun, tapi banyak tahun. Teman-teman CahAndong, Wongkito, dan Tugu Pahlawan yang berulang-tahun baru melalui sepotong tahapan-tahapan itu. Demikian juga teman-teman dari Loenpia, Batagor, Blogor, BHI, Angin Mamiri, Palanta, dan BBC. Proses ini memang berat, tapi bahwa prosesnya akan menyenangkan itu pasti.
]]>