<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;D0QNSX49eyp7ImA9WhdUE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334</id><updated>2011-09-30T16:36:38.063+07:00</updated><category term="Payudara" /><category term="Orgasme" /><category term="Penyakit Seks" /><category term="Masturbasi" /><category term="Sex  And the City 2" /><category term="Menstruasi" /><category term="Cerita Seks dewasa" /><category term="Sexual Position" /><category term="Penis" /><category term="Cegah Kehamilan" /><category term="Sex Magazine" /><category term="Sex Articles" /><category term="G-Spot" /><category term="cerita sex" /><category term="Hubungan Seks" /><category term="Tante  girang" /><category term="Vagina" /><category term="Therapy Sex" /><category term="Sex Accecories" /><category term="Viagra" /><category term="Online Adult Dating" /><category term="Free Sex" /><category term="Alat Kontrasepsi" /><title>Cerita Sex Dewasa, Cerita Bugil Tante Girang, Foto Cewek Bugil</title><subtitle type="html">situs cerita sex dewasa terbaru di lengkapi dengan gambar cewek telanjang alias bugil dan ngentot</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://sex-id.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://sex-id.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>336</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/CeritaSexDewasa" /><feedburner:info uri="ceritasexdewasa" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;AkcMQnw6fyp7ImA9WhZUEkk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-8418213715875308561</id><published>2011-06-05T11:28:00.000+07:00</published><updated>2011-06-05T11:28:03.217+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-05T11:28:03.217+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>cerita bugil smu bonus foto smu bugil</title><content type="html">cerita bugil smu bonus foto smu bugil-RENA GADIS SMU YG MENGGAIRAHKAN&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembaca sekalian perkenalkan nama ku Roy sampai sekarang aku masih melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Magelang. &lt;br /&gt;
Umur ku masih 20 tahun. Cerita ini berawal ketika aku dan teman ku Ronald, Jefry dan rudi yg senang bermain game online ataupun sekedar bermain internet, membuka sebuah game centre dan warnet yg terletak di daerah Magelang utara. Pada dasarnya sih kami membuka usaha itu cuman iseng-iseng aja. Yah dari pada nga ada kerjaan ataupun malah menghabiskan uang untuk main game atau main internet di tempat lain, mendingan buat sendiri toh bias nambah nambah uang buat jajan dan beli rokok. &lt;br /&gt;
Belum lama usaha kami buka, kami seperti setengah kaget dan senang. &lt;br /&gt;
Bagaimana kami tidak senang, kebanyakan user kami adalah cewek- cewek SMU dengan postur tubuh yg sangat mempesona, bahkan bisa di ibarat kan buah apple yg siap di petik. Dan juga masih banyak gadis-gadis muda yg main ke tempat kami. Dengan keramahan teman-teman yg selalu sopan dan romantis dalam&amp;nbsp; melayani pelangan, yah kami memang cukup professional. Bahkan postur tubuh kami dah wajah kami juga cukup lumayan mungkin itu juga salah satu factor yg membuat mereka tertarik untuk selalu datang berkunjung. &lt;br /&gt;
Di antara gadis-gadis yg masih segar itu ada satu yg sangat istimewa di mataku dan teman- temanku. Nama nya Rena dia cukup cantik, bukan hanya cantik, luar biasa mungkin dan istimewa tentu nya. Terkadang dia datang dengan Karina, Monica dan Cindy teman-teman rena yg juga tidak kalah cantik, tapi lebih istimewa Rena tentu nya.dan akhir nya suatu kesempatan, dia datang sendiri ke tempat kami. Ketika dia baru duduk aku sapa, &lt;br /&gt;
"loh temen nya mana Rena", &lt;br /&gt;
dia hanya menjawab, &lt;br /&gt;
"dah pada balik, pada mau les katanya". &lt;br /&gt;
Lalu aku berbalik ke mejaku dan berusaha mencuri-curi untuk sekedar melihat lekuk tubuh nya dari balik monitor computerku. &lt;br /&gt;
15 menit sudah aku memandang nya, eh dia membalas pandangan ku, &lt;br /&gt;
aku kaget juga jangan- jangan dia marah, eh dia malah tersenyum. &lt;br /&gt;
Karena penasaran dia sedang apa aku mencoba melakukan remote anything ke computernya, yah kami biasanya menyebutnya dengan kata-kata SPY, gitu deh bahasa gaulnya.aku kaget juga setelah tau bahwa dia membuka situs-situs yg berhubungan dengan sex dan pornografi. Mukaku memerah, entah suka atau benci, tp yg jelas kaget sekali. Dengan nekat kucoba mendekati computernya, lalu kutanya dia, &lt;br /&gt;
"hayooooo Rena lagi buka apa", &lt;br /&gt;
Karena tanpa persiapan dia langsung kelabakan seperti di anak ayam kehilangan induk nya dan dengan cepat dia menutup kolom situs- situs tersebut. Tapi dengan cepat aku menjawab, &lt;br /&gt;
"nga papa lah ama gue ini, nyantai aja lagi". &lt;br /&gt;
Langsung saja muka dia memerah, entah malu atau takut. &lt;br /&gt;
lalu dia menjawab, &lt;br /&gt;
"emang nya tadi Roy liat Rena lagi buka apa?", tanyanya. &lt;br /&gt;
"liatlah, nga perlu ke sini juga Roy bias liat dari computer roy ", &lt;br /&gt;
jawab ku sambil mengedipkan mata, lalu dia tertawa kecil dan tersenyum manis seperti gadis yg masih polos. Lalu dengan cepat aku tidak menyia nyiakan kesempatan ini aku langsung berkata, &lt;br /&gt;
"mau di temenin nga Rena biar Roy cariin situs2 yg lebih bermutu". &lt;br /&gt;
Dia diam sejenak lalu menjawab, &lt;br /&gt;
"ya udah Roy duduk di sebelah Rena aja", &lt;br /&gt;
katanya lembut penuh arti. &lt;br /&gt;
Waduh bakalan seru nih batin ku, untung aja temen-temen ku yg lain pada bermain basket di dekat situ, jadi semuanya lancar tanpa hambatan. Kami sempet ngobrol sejenak, dan dari situ ku ketahui bahwa dia anak pejabat di kota ini, dalam batin ku aku berkata wah ternyata anak pejabat neh. &lt;br /&gt;
Lalu mulai kucarikan dia situs situ porno yg belum pernah dia lihat, &lt;br /&gt;
kulihat raut muka nya berubah seperti cacing kepanasan tangannya tak bisa diam, aku lihat dia sangat terangsang dengan gambar-gambar dan video yg aku carikan lewat internet. Wah cepet honey dia batinku, &lt;br /&gt;
lalu tak kubiarkan dia hanya melihat saja, lalu aku berbisik, &lt;br /&gt;
"Ren dari pada liat, punya ku nganggur neh, kan sayang klo di diemin", ia kaget kukira dia marah. &lt;br /&gt;
Eh ternyata dia malah lansung memegang senjataku yg dari tadi sudah on ketika aku duduk di sebelah nya, kontan saja aku kaget dan senang. Lalu dengan cepat aku juga merangsang dia dengan memegang payudara yg sangat indah itu dari belakang. &lt;br /&gt;
Untung warnet lagi sepi batinku dalam hati, aneh nya saat itu tak ada satupun pelanggan yg datang, yah mungkin di karenakan hujan yg cukup deras. Kulihat dia kurang puas memegang senjataku jika terhalang oleh celana pendek ku, lalu dia mencoba memelorotkan celana ku hingga batang kemaluan ku bisa dalam posisi enak untuk di kocok oleh tangan nya yg lembut itu.dan dia berkata, &lt;br /&gt;
"Roy punya kamu gede juga ya", &lt;br /&gt;
Aku hanya terdiam. &lt;br /&gt;
Tanpa sadar aku sangat menikmatinya, &lt;br /&gt;
hingga aku hampir berteriak "ah uchhhh ahhh terus Ren" lalu Rena dengan cepat menutup mulutku dengan ciuman bibir nya yg lembut dan sangat sensual itu. Wah untung sepi coba klo banyak orang tadi di sini bakalan berabe batin ku. Setelah dia puas dia mencium bibirku, &lt;br /&gt;
dia melanjut kan dengan menciumi kemaluan ku, sungguh luar biasa gadis anak pejabat yg masih polos ini melakukan hal- hal dalam sex yg sangat mengairahkan. &lt;br /&gt;
Aku di buat sangat puas oleh nya bahkan aku dibuat tak berdaya, &lt;br /&gt;
10 menit kemudian aku mengangkat kepalanya dan aku bisikan mesra di telinga nya, Ren gantian masak kamu terus yg muasin aku kamu kan belom puas, dia tersemyum pertanda iya. Langsung saja aku puaskan dia di antara sekat-sekat yg menjadi pembatas di antara computer computer di warnet ini. Dia kulihat sangat menikmati permainan ku, &lt;br /&gt;
aku mencoba sedikit membuka baju nya untuk melepas Bh nya. &lt;br /&gt;
Karena kami melakukan nya di tempat umum aku mencoba untuk menahan diriku untuk tidak mencoba menelanjanginya, sehingga aku tetap merangsang payudaranya di balik seragam sekolah nya, tanpa bisa melihat payudaranya yg berukuran 34 b itu. Dia terdengar mendesah lembut dan sangat sexy, &lt;br /&gt;
"ah ah..u ah..hhhhhh.ahhhhh" terdengar dari mulut nya. &lt;br /&gt;
Berkali kali ku pilin putting nya dia mengelinjang hebat sekali,dan merancau tidak karuan. &lt;br /&gt;
"ah uh. roy terus sayanggggg...royyy...a hhhhhh". &lt;br /&gt;
Setelah merangsang buah dada nya aku langsung mencoba mengelus vagina nya dengan jari ku, karena dia memakai rok SMUsehingga tidak sulit untuk melakukan nya.Kurasakan vagina nya sudah sangat basah di karenakan rangsangan ku di buah dada nya tadi, bulu-bulu kemaluanya juga kuraba, wow sangat rapi batin ku. Aku berusaha tidak memasukan jari ku ke vagina nya karena dia masih perawan. &lt;br /&gt;
Kucoba merangsang dia lewat gesekan-gesekan lembut di tangan ku, &lt;br /&gt;
kurasakan badannya kejang dan keringat keluar dari seragam sekolah nya yg tanpa memakai Bh itu. &lt;br /&gt;
Dia berulang kali mendesah, &lt;br /&gt;
"Roy ampunnNn Roy sayang YUyy nikmatttTTttt.........". &lt;br /&gt;
Padahal itu Baru kugesek dengan tangan bagaimana klo kumasukan senjataku ke dalam vagina nya batin ku. &lt;br /&gt;
Setelah 10 menit melakukan itu dia berteriak. &lt;br /&gt;
"ahhhhHH..hhhhh SSSshhhhhh", &lt;br /&gt;
dan seketika itu juga dia mengalami orgasme pertamanya. &lt;br /&gt;
Kemudian dia terkulai lemas di pelukanku, sambil membelai dia aku membenarkan posisi celanaku dan dia juga mencoba membenarkan letak posisi seragam dan rok nya itu. &lt;br /&gt;
Lalu aku mengambilkan air minum untuk dia lalu berkata, &lt;br /&gt;
"yah gitu aja dah jebol gimana klo ML bisa-bisa Rena nga bisa bangun 2 hari gara-gara kehabisan stamina dong". Candaku. &lt;br /&gt;
Lalu dia menjawab, &lt;br /&gt;
"eh enak aja kan tadi baru training, jadi ya butuh pelatihan dolo kayak tadi". &lt;br /&gt;
Aku hanya tertawa kecil, eh malah dia langsung bilang Roy mau njarain Rena yang lebih expert lagi nga, klo mau abis ini aja kita pergi mau nga tanya nya. Sejenak aku berpikir tapi langkah langkah kaki datang menuju tempat itu dan kulihat wajah wajah teman-teman ku muncul, diantaranya Ronald, Jefry dan Rudi. &lt;br /&gt;
Langsung saja kusapa, &lt;br /&gt;
"abis basket kalian", &lt;br /&gt;
dengan tersenyum Jefry hanya menjawab, &lt;br /&gt;
"dari pada ngurusin basket mendingan ngurusin Rena". &lt;br /&gt;
Mereka pun semua tertawa dan kulihat Rena juga tersenyum nakal dan berusaha menunggu jawabanku. Lalu setelah teman- teman ke belakang aku bisikan ke telinga Rena ya udah tar gue ajarain yg lebih hot lagi ya, Rena tersenyum dan aku pergi berkemas untuk pergi bersama dengan rena. &lt;br /&gt;
Setelah itu kami pergi dengan meminjam mobil milik Ronald. &lt;br /&gt;
Dalam perjalanan aku bertanya, &lt;br /&gt;
"mau kemana ini Ren", &lt;br /&gt;
dia menjawab. &lt;br /&gt;
"di rumah Rena aja kan Papa Mama sedang pergi ke Jakarta kak Adi sedang ke Jogja", &lt;br /&gt;
aku kaget dan berkata, &lt;br /&gt;
"bener nih di rumah mu", &lt;br /&gt;
"iya bener" katanya. &lt;br /&gt;
Setelah kami sampai di rumah nya aku kaget juga dengan rumah nya yg besar seperti istana itu wah gede banget rumah nya dan juga indah. &lt;br /&gt;
Setelah memarkir mobil ku aku di bimbing Rena untuk masuk ke rumah nya.Wah tampak nya dia terlihat tidak sabar. &lt;br /&gt;
Lalu aku menunggunya mandi sambil nonton tv dan menikmati hidangan yg sangat enak, kayak Raja nih batin ku. &lt;br /&gt;
Setelah dia selesai mandi, ia menghampiri ku hanya dengan memakai handuk yg dia balutkan di tubuh nya, ketika melihat nya, &lt;br /&gt;
tenggorokanku seperti tidak dapat menelan kue-kue yg tadi aku makan, dan dengan segera Rena mengambil jus jeruk yg ada di meja kamar nya lalu meminumnya, setelah itu mencium bibir ku dan mengalirkan jus jeruk yg telah dia minum tadi seolah-olah induk yg memberikan makan anak-anak nya. &lt;br /&gt;
Setelah itu dia membuka handuk nya yg tadi membungkus tubuh nya yg putih mulus dan sexy itu. wah payudara nya benar-benar luar biasa kencang dan besar, tak kusangka anak SMU kelas tiga sudah sematang, bulu-bulu halus yg ketika di warnet tadi aku pegang, aku bisa melihatnya dengan jelas. Sungguh pemandangan yg luar biasa. &lt;br /&gt;
Tanpa segan-segan lagi dia memintaku untuk men servicenya. &lt;br /&gt;
Dia berkata, &lt;br /&gt;
"ayo kok malah diem katanya mau ngajarin", &lt;br /&gt;
ucapnya, &lt;br /&gt;
aku berkata kamu &lt;br /&gt;
"kamu cantik banget Ren tubuh mu juga sexy". &lt;br /&gt;
Tanpa menunggu dia bicara langsung saja kubenamkan kepalaku di payudaranya itu dan mencoba untuk merangsang salah satu bagian sensitife itu, lalu dia mulai mendesah seperti tadi, &lt;br /&gt;
"ah OuchHhh uhhhhhh Ahhhhhh........", &lt;br /&gt;
dia sangat menikmatinya bahkan sesekali dia menjambak rambut ku, &lt;br /&gt;
kulihat payudaranya sangat kencang dan kenyal sekali sesekali aku meremas-remas nya dan aku pun juga sangat menikmatinya, payudara yg indah. Lalu kuteruskan dengan menciumi bagian kewanitaan nya, &lt;br /&gt;
dia terlihat memejamkan mata sangat menikmatinya, dan dia meremas remas payudaranya sendiri mencoba merangsang tubuh nya sebaik mungkin. ketika clitoris nya ku hisap-hisap dia sangat kewalahan dan berteriak-teriak, &lt;br /&gt;
"roy aduhh Enak ah ouchhhh ahhhHh uhh". &lt;br /&gt;
5 menit kemudian, giliran dia merangsang diriku.kulihat dia mengocok penisku dengan lembut dan menghisapnya bagaikan permen lollipop yg sangat manis, &lt;br /&gt;
"ohh ahhhhhhh hahhhh", &lt;br /&gt;
aku sangat menikmatinya, dia menjilati batang kemaluan dan tidak ketinggalan buah zakar ku juga ikut dia hisap. &lt;br /&gt;
Aku sudah tak bias berkata apa apa lagi selain menikmati permainanya. Ketika aku hampir memuntahkan laharku aku mencoba melepaskan senjataku dari hisapan nya dan gengamannya, lalu kubaringkan dia diranjangnya dan aku berbicara mesra, &lt;br /&gt;
"tahan ya sayang, pertama-tama sakit tp nanti juga enak kok", &lt;br /&gt;
kataku. Dia mengangguk pertanda iya. Kucoba membobol vagina nya ternyata sangat sulit, pada usaha pertama melesat dan setelah ku &lt;br /&gt;
oleskan kream di vaginanya, pada usaha ketiga aku berhasil memasukan separo penis ku ke dalam kemaluannya. &lt;br /&gt;
Dia menjerit kesakitan, &lt;br /&gt;
"Royy sakitT Royyyyyy ampunnNnNnnnnn", &lt;br /&gt;
jerit nya, tapi aku tetap melakukannya dan bless seluruh batang kemaluan ku sekarang berada di dalam nya bersamaan dengan percak-percak darah keperawanannya. &lt;br /&gt;
Kubiarkan diam sejenak supaya vaginanya terbiasa menerima kehadiran benda asing itu, setelah kurasakan vaginanya bisa menerima penisku, kucoba menarik maju mundur. &lt;br /&gt;
Jeritan sakit yg tadi dia ucapkan berganti dengan desahan- desahan wanita yg sedang mengalami persetubuhan yg sangat nikmat.dan tidak henti- henti nya dia selalu mendesah dan setengah berteriak. &lt;br /&gt;
"ah terus Roy Sayang kocok terus bikin Rena puas ah ouchhhhh shhhhh terus kocok jangan berhenti sayangggg... ", &lt;br /&gt;
rancau nya, aku juga sangat menikmati denyutan-denyutan di dalam vaginanya itu, gerakan menghisap yg sangat nikmat sekali di alami oleh penis ku kemudian aku membalikan posisinya supaya kami bisa melakukan doggy style. &lt;br /&gt;
Lalu ku suruh dia berdiri dan bersandar di depan kaca meja rias nya dan kumasukan senjataku dari belakang sehingga aku bisa menikmati keindahan tubuh nya dan payudaranya serta paras cantik wajahnya dari kaca tersebut. &lt;br /&gt;
15 menit kejadian itu berlangsung ku dengar dia berteriak, &lt;br /&gt;
"ahhhh roy aku keluarrrrrrrrrrr.......", &lt;br /&gt;
oh tampak nya dia baru saja mendapatkan orgasme pertamanya. &lt;br /&gt;
Kucabut penisku dari dalam vaginanya dan membiarkan Rena istirahat sebentar. &lt;br /&gt;
Setelah cukup istirahat.dia mengajakku untuk melanjutkan nya di kamar mandinya yg seperti kolam renang itu karena sangat luas. &lt;br /&gt;
Kontan saja Karena terburu nafsu aku langsung tancap gas dan segera memasukan penis ku ke dalam vagina nya yg merah merekah itu. &lt;br /&gt;
aku sangat menikmati guyuran shower yg membasahi tubuh kami,seolah-olah membasahi jiwa yg kekeringan akan kehausan sex. &lt;br /&gt;
Rena terus merancau dan akhirnya aku sangat merasakan kenikmatan yg luar biasa, penis ku yg dari tadi di sedot kurasakan sangat membengkak dan mencapai klimaks sampai ubun-ubun rasanya, &lt;br /&gt;
aku berteriak, &lt;br /&gt;
"Rena aku mauuuuuuu keeee luuu arrrrrrrrrrrrrrrrrr mauuu diii kelluariinnn dii mannna.jeritku menahan nikmat", &lt;br /&gt;
dia sambil ngos-ngosan bilang &lt;br /&gt;
"di dalam ajjjaaaaa", &lt;br /&gt;
lalu aku berkata, &lt;br /&gt;
" nga papa rennn", &lt;br /&gt;
rena menjawab, &lt;br /&gt;
"laggiii masaaaaaa tiiiidakkk suburrrrrr", &lt;br /&gt;
dan rena juga tampak merancau lagi dan berteriak, &lt;br /&gt;
"yaaaa uuu daaa hhhhh kii taaa ssssaaammaa saaammaaaaaaaaaaa aaaaa". &lt;br /&gt;
Aku tak dapat menahan lagi dan jebolah pertahananku kusemburkan maniku di dalam vaginanya dia juga tampak mencapai orgasme keduanya. &lt;br /&gt;
Setelah itu dia masih menjilati kemaluanku dan membersihkan sisa-sisa &lt;br /&gt;
maniku, lalu kami mandi bersama. &lt;br /&gt;
Setelah selesai aku pamit pulang, aku pamit dengan mengecup kening Rena dan berkata pelajaran nya udah cukup kan, dia hanya tersenyum dengan lembut sungguh seperti gadis yg sangat polos dan berkata, &lt;br /&gt;
"Roy besok kesini ya ajak Ronald, Jefry ama Rudi, jangan lupa loh ". &lt;br /&gt;
Aku cukup bingung kok ngajak yg lain segala ya batin ku. &lt;br /&gt;
Lalu selepas jam 6 malam esok nya kami ber 4 berkunjung ke rumah rena. Betapa kaget nya kami ketika di sana kami di sambut dengan mesra oleh keempat gadis yg sangat cantik di antaranya Karina, &lt;br /&gt;
Monica, Cindy dan Rena tentunya, lalu tanpa basa-basi lagi mereka berkata. &lt;br /&gt;
"wah wah kak roy jahat kok kita kita kemaren nga di ajak sech yg di ajak cumin Rena aja,nga suka ya ma kita kita ", &lt;br /&gt;
kontan saja aku sendiri kaget. &lt;br /&gt;
Dan teman temanku juga ikutan binggung, &lt;br /&gt;
lalu tanpa rasa malu rena &lt;br /&gt;
"menjawab roy kemaren ma aku ML loh". &lt;br /&gt;
Aku kaget kenapa dia membuka rahasiaku tapi sebelum aku sempat bicara rena menjawab &lt;br /&gt;
"jadi hari ini Ronald, Jefry ama Rudi ngajarin Karina, Monica and Cindy, terus Rena tentunya ama roy dong", &lt;br /&gt;
katanya. &lt;br /&gt;
Tentu saja teman- teman ku nga jadi marah malah jadi senang, alu aku berkata dalam hati wah rejeki mereka juga neh. Lalu kami pergi ke daerah Kaliurang dah menyewa sebuah villa di sana dan melewati hari dan malam penuh akan nafsu, gairah dan kehausan akan sex. &lt;br /&gt;
Dan sampai sekarang jika ada waktu kami masih melakukan nya baik di kamar mandi warnetku, di rumah Rena, di hotel atau villa. &lt;br /&gt;
Bahkan sekarang banyak pelanggan wanita ku menjadi kekasih ku hanya untuk semalam/one night stand.begitu juga dengan teman-teman ku Ronald, Jefry dan Rudi mereka juga kalang kabut menerima order dari para wanita yg kesepian. Tapi atas dasar suka sama suka, maaf kami bukan Gigolo. &lt;br /&gt;
Sekian kisah ku lain kali aku lanjut kan dengan kisah ku dengan para pelanggan net ku, wilda, ima, susy dan masih banyak lagi, baik itu pengalaman sex party ataupun one on one &lt;br /&gt;
buat para cewek yg kesepian, silahkan hubungin aku lewat email ku aja pasti aku bantu jalan pemecahannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-8418213715875308561?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/FP6qaL6nBYY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8418213715875308561?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8418213715875308561?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/FP6qaL6nBYY/cerita-bugil-smu-bonus-foto-smu-bugil.html" title="cerita bugil smu bonus foto smu bugil" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/06/cerita-bugil-smu-bonus-foto-smu-bugil.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4DQHg-fCp7ImA9WhZUEkk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-1703405980374182981</id><published>2011-06-05T11:26:00.000+07:00</published><updated>2011-06-05T11:26:11.654+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-05T11:26:11.654+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tante  girang" /><title>cerita memek tante girang dan foto tante toge</title><content type="html">Hari ini Dewi menerima telepon dari suaminya yang baru saja kembali di Jakarta. Dari airport suaminya langsung menuju ke kantor, dalam perjalanan menuju ke kantor, ia menelepon Dewi memberitahukan bahwa ia sudah berada di Jakarta dan sedang dalam perjalanan menuju ke kantornya, ia menjelaskan kepada istrinya bahwa kepulangannya memang mendadak karena ada pertemuan dengan kliennya di Jakarta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi pun hanya mengiyakan saja tanpa memberikan komentar apapun, batinnya berkata ada di Jakarta ataupun tidak ada di Jakarta tidak ada pengaruhnya untuk dia, karena selama ini suaminya tidak pernah memberikan nafkah bathin untuknya, ia selalu mendapatkan nafkah bathin dari orang lain, jadi kalau suaminya di Jakarta malah membuat sulit Dewi untuk melakukan aktivitas seksnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rencana Dewi hari ini untuk menikmati batang kemaluan kenalan barunya menjadi batal karena telepon suaminya tadi, sementara ia merasakan lubang vaginanya sudah gatal ingin digaruk oleh penis lelaki lain, tapi apa daya suaminya ada di Jakarta, Dewi takut saat dia melakukan persetubuhan dengan kenalan barunya dan saat itu juga suaminya menelpon atau suaminya pulang lebih awal, bisa kacau nanti semuanya. Akhirnya Dewi membatalkan rencananya untuk pergi keluar pada hari ini, hatinya berkata biarlah akan kutunggu sampai suaminya pergi keluar kota lagi, baru kupuaskan dahaga bathinku ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siangnya Dewi betul-betul gelisah, dia betul-betul ingin sekali merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan lelaki, karena menahan desakan hasrat birahinya, kedua pipinya memerah. Dewi saat itu sedang duduk santai di ruang keluarga menonton TV tanpa sadar tangannya mulai mengusap-usap bibir vaginanya dari balik CDnya, saat itu Dewi mengenakan baju model baby doll, roknya sedikit terangkat sehingga CD putihnya terlihat dan pahanya yang putih mulus pun terlihat dengan jelas, Dewi yang sedang asyik masyuk tidak menyadari hal itu, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah batang kemaluan lelaki yang tegang dan besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usapan tangannya di kelentitnya membuat vaginanya mulai basah, Dewi mulai mendesah perlahan, menikmati belaian lembut tangannya di kelentit dan dibibir vaginanya, tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH silih berganti diremas-remas oleh tangan kirinya, ia membayangkan selingkuhannya sedang meremas-remas kedua payudaranya silih berganti dan ia juga membayangkan saat itu juga sedang dijilati kelentit dan vaginanya, vaginanya semakin basah, hasrat birahinya semakin memuncak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruangan keluarga itu letaknya cukup berjauhan dengan dapur dan ruang makan, jika sedang berada di dapur atau di ruang makan kegiatan apapun yang terjadi di ruang keluarga tidak akan terlihat dari dapur atau ruang makan, begitu pula sebaliknya, dan para pembantunya bila sudah selesai bebenah di ruangan keluarga atau di ruangan lainnya, mereka akan berkumpul di ruangan mereka. Ruangan itu terletak dekat dengan kamar mereka yaitu dekat dengan garasi mobil, jadi kegiatan Dewi saat ini tidak ada satu orang pun yang melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gejolak birahi Dewi semakin meningkat, desahannya semakin sering terdengar, kedua payudaranya yang tidak mengenakan BH sudah tidak tertutup apa-apa lagi, kedua putingnya sudah mengeras dan mencuat keluar, CDnya sudah melorot sampai paha, dan terlihat jari tengah tangan kanannya sudah berada dalam jepitan vaginanya, dan terlihat jari tengahnya sedang keluar masuk di lubang vaginanya, terlihat pantatnya naik-turun dari kursinya seiring dengan keluar masuk jari tengahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi yang sedang berusaha keras untuk mencapai puncak birahinya tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang menyaksikan aksinya. Kedua bola mata yang menyaksikan tingkah Dewi itu terbelalak, jantungnya berdegup kencang nafasnya memburu, pemandangan yang disaksikan oleh pemilik kedua bola mata itu, yang dalam mimpinyapun tidak pernah terbayangkan olehnya. Kedua payudara Dewi yang setengah terbuka dan kelihatan kedua putingnya dan sedang diremas-remas bergantian oleh tangan kirinya, kemudian di bawah ia melihat belahan bibir vagina Dewi yang kadang terlihat dan kadang tidak terlihat karena jari tengah tangan kanan Dewi sedang keluar masuk di lubang vaginanya itu, semua itu membuat si empunya mata tersebut berkali-kali menelan ludah, seumur hidupnya belum pernah ia menyaksikan pemandangan indah seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si empunya mata merasakan penisnya mulai mengeras melihat semua itu, hampir tanpa berkedip kedua matanya tertuju ketubuh Dewi, nafasnya semakin memburu melihat ulah Dewi, tubuh Dewi terlihat olehnya meregang-regang, penisnya semakin mengeras, terlihat celana pendeknya menggelembung oleh desakan penisnya yang seolah ingin keluar dari sekapan celana pendeknya, pada saat kepala Dewi mendongak ke belakang, kedua matanya yang setengah terpejam menangkap sesosok tubuh si empunya mata tadi. Dewi sungguh kaget sekali karena ada orang yang sedang menyaksikan ulah liarnya tersebut, aksi liar kedua tangannya berhenti seketika.&lt;br /&gt;
“Ehhh, Pono…addaaaaa…apaaa…sedaang apa kamuuu…,” Dewi berkata dengan terengah-engah, kaget dan jengkel karena puncak birahinya tidak terlampiaskan.&lt;br /&gt;
“Eeehhh…aaanuuuu…..aaanuuu…bu…,” Pono kaget mendengar teguran Dewi, karena saat itu dirinya sedang asyik melihat aksi nyonyanya tersebut.&lt;br /&gt;
Biarpun kaget tapi kedua mata Pono tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Dewi yang masih agak terbuka, hal ini tidak Dewi sadari karena ia kaget dengan kehadiran Pono di ruangan tersebut, yang hanya Dewi ingat lakukan saat ia berdiri dari kursinya tadi adalah CDnya yang ia benahi, sehingga saat ia berdiri berhadapan dengan Pono kedua payudaranya yang putih mulus itu masih terpampang dengan jelas di hadapan Pono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Anu..anu apa,” Dewi berkata kepada Pono dengan jengkel, karena malu dan karena gejolak birahinya tidak terlampiaskan.&lt;br /&gt;
“Eeehhh…ini..ini..,Bu. Sayaa…mau minta uang untuk beli bahan pembersih kolam, yang kita punya sudah habis,” Pono menjawab agak tergagap-gagap, dengan kedua matanya tetap tertuju ke arah payudara Dewi yang seolah-olah menantang ingin diremas.&lt;br /&gt;
“Pon, apa yang kamu lihat tadi, jangan sampai ada orang lain yang tahu, kalau sampai ada yang tahu, kamu saya pecat,” ancam Dewi, dan saat itu kedua mata Dewi melirik ke arah selangkangan Pono, dan ia melihat tonjolan di celana pendek Pono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pono betul-betul merasa ketakutan dan merasa bersalah dengan kelakuannya yang melihat tubuh Dewi yang setengah telanjang, tapi kedua matanya tidak pernah beranjak dari payudara Dewi yang menggantung dengan indahnya, payudara Dewi yang putih mulus dihiasi oleh kedua putingnya yang merah muda dan sudah menyembul keluar dan mengeras itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menimbang-nimbang dengan segala kemungkinannya, Dewi pun mengambil keputusan untuk melakukan “quickie sex” dengan Pono, lalu iapun memerintahkan Pono untuk duduk di sofa. Dewi tahu bahwa penis Pono sudah pasti sedang berdiri dengan gagahnya di balik celana pendeknya itu. Hati Dewi mulai ragu antara ingin menikmati sodokan batang kemaluan lelaki dengan takut akan suaminya pulang lebih awal, ia melirik jam dinding yang ada di ruangan tersebut, pukul 13.30 siang, hatinya membatin suaminya tidak mungkin pulang cepat, ia bisa melakukan “quickie sex” dengan Pono untuk meraih puncak kenikmatannya yang terganggu. Akhirnya nafsu birahinya mengalahkan akal sehatnya, Dewi pun mengambil keputusan untuk merasakan batang kemaluan Pono mengaduk-aduk lubang vaginanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iyyaaa…Bu..saya sumpah tidak akan cerita ke orang lain,” jawab Pono ketakutan.&lt;br /&gt;
“Duduk, kamu,” perintah Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pono menuruti perintah Dewi untuk duduk, iapun duduk di sofa yang ditunjuk oleh Dewi, dengan hati penuh kebingungan dan dengan tatapan mata yang tidak pernah terlepas dari payudara Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingat kamu jangan cerita kepada siapapun, cukup hanya kita berdua yang tahu masalah ini, hhhmmm ..,” ancam Dewi kembali sambil berjalan menghampiri yang sudah duduk di sofa, tanpa membuang waktu Dewipun mulai menurunkan celana pendek Pono sampai ke lutut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batang kemaluan Pono yang sudah tegang terangguk-angguk saat celana pendeknya terlepas, ternyata Pono pada saat itu tidak mengenakan CD, Dewi kaget karena ia tidak menyangka bahwa Pono tidak mengenakan CD, penisnya yang sudah sangat tegang sekali teracung-acung di hadapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ingat, Pon, apapun yang terjadi kamu jangan cerita kepada siapapun,” kembali Dewi berkata.&lt;br /&gt;
“Iyaah..bu…saaayyyaaa….jaanji…,” jawab Pono gagap, karena ia kaget akan aksi nyonyanya ini yang membuka celana pendeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia sendiri bingung, dalam hatinya berkata apa yang dikehendaki oleh nyonyanya ini, karena belum pernah selama ini ada perempuan yang melihat penisnya apalagi dalam keadaan tegang, Pono pun merasa malu karena nyonyanya sudah melihat penisnya yang tegang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan kanan Dewi segera meraih batang kemaluan Pono, iapun segera mengangkang di atas pangkuan Pono, sementara tangan kirinya meraih CDnya dan menarik salah satu pinggiran CDnya ke samping, sehingga belahan bibir vaginannya terlihat dengan jelas oleh Pono, Pono yang belum pernah melakukan hubungan badanpun dibuat bingung oleh aksi Dewi, dan saat Dewi mulai mengoles-oleskan kepala penisnya ke bibir vaginanya, Pono merasakan geli yang aneh saat kepala penisnya bersentuhan dengan bibir vagina Dewi, penisnya berdenyut-denyut. Tanpa membuang waktu Dewi segera menyelipkan batang kemaluan tersebut di bibir vaginanya dan ia mulai menekan pantatnya ke bawah dengan perlahan dan batang kemaluan Pono perlahan-lahan menyeruak masuk di lubang vagina Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ssleeeepppp…..bleeessss….bleeesss…..bleesss… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan-lahan penis Pono mulai melesak masuk di lubang memek Dewi dan akhirnya terbenam seluruhnya, Pono merasakan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah ia alami selama ini, rasa geli yang aneh menyelimuti dirinya, saat penisnya terjepit dalam lubang vagina Dewi, Pono merasakan penisnya seperti ada yang meremas-remas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ooouuuggghhhh…..,” Dewi melenguh saat lubang memeknya diterobos oleh penisnya Pono.&lt;br /&gt;
“Eeeeggghhhh……..,” Ponopun mengerang merasakan jepitan lubang vagina Dewi di penisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kepala sofa, Dewi perlahan-lahan mulai bergerak, menaik turunkan pantatnya, kedua payudaranyapun terguncang naik turun seiring dengan naik turun pantatnya. Pono yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa melotot melihat kedua payudara Dewi yang terombang-ambing di hadapan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaagghhh…eenaaakkk…Pon, kaamuuu…jangan melongo..saaaajjaa…ooogghhh… hisap kedduaaa…tetekku… remaaassss….remaaasss…,” Dewi mendesah keenakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pono yang mendengar perintah Dewi mulai melakukannya, kedua tangannya mulai meraih payudara Dewi yang sedang terombang-ambing itu, lalu ia meremas kedua payudara tersebut, karena belum pernah ia melakukan hal tersebut, Dewi merasakan remasan tangan Pono di kedua payudaranya agak kasar, tapi sensasi yang ditimbulkan oleh remasan kasar tangan Pono membuatnya merasakan hal baru, gairah birahinya yang sempat tertunda tadi mulai meningkat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulut Ponopun mulai bergantian menghisap-hisap kedua payudara Dewi, hisapan-hisapan mulut Ponopun tidak beraturan, Pono betul-betul menghisap tetek Dewi seperti ia menyedot minuman, akibatnya Dewi kembali merasakan sensasi yang berbeda daripada biasanya, hisapan-hisapan kuat Pono pada kedua teteknya membuat ia menggelinjang, Dewipun merasakan geli yang aneh di kedua payudaranya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pono yang belum pernah melakukan seks ini, merasakan kenikmatan yang luar biasa, kenikmatan yang belum pernah ia alami selama ini, mulutnya mendesah-desah di tengah kesibukannya menghisap-hisap payudara Dewi, matanya merem melek menikmati jepitan lubang vagina Dewi pada penisnya, Pono merasakan penisnya bergesekan dengan lubang vagina Dewi, ia merasakan geli yang luar biasa, penisnya semakin berdenyut dengan kuat dan semakin menegang, Dewi merasakan penis Pono yang semakin mengeras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi merasakan penis itu begitu tegang dan keras, dinding lubang vaginanya merasakan kekerasan penisnya Pono tersebut, cairan birahinya semakin banyak bercampur dengan cairan birahi Pono, akibatnya suara berdecak dari pertemuan dua kemaluan merekapun terdengar, menambah semangat Dewi untuk menaik-turunkan pantatnya. Dewi sudah lupa akan kemungkinan suaminya pulang cepat, yang ada sekarang ini Dewi betul menikmati sodokan-sodokan batang kemaluan Pono di vaginanya. Tak lama berselang Pono melenguh keras, penisnya berdenyut dengan keras, penisnya mulai menembakkan air maninya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Crreeeettt….creeettt….creeett……. air mani Pono berhamburan keluar membasahi lubang vagina Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouuuuggghhh….hhhmmmmmhhh….sssllrrppppp…ssslrrrppp p….hhhmmm…..,” Pono melenguh merasakan letupan-letupan lahar kenikmatannya yang sedang mengalir dari penisnya membasahi vagina Dewi sambil mulutnya tetap menghisap-hisap payudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi merasakan letupan-letupan air mani Pono di dinding vaginanya, ia tahu Pono sudah meraih puncak kenikmatannya, Dewipun semakin gencar menaik turunkan pantatnya, ia merasa takut akan tidak berhasil meraih puncak kenikmatannya, karena penisnya Pono sudah menyemburkan lahar kenikmatan, ia merasa takut bahwa sebentar lagi batang kemaluan Pono akan melemas setelah menyemburkan cairan kenikmatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oouuugghh…aaagghhh….ssshhhh..aaagghhh…sssshhhh…aa aaghhhh….. ,” Dewi mendesah keenakan merasakan lesakan batang kemaluan Pono di vaginanya dan merasakan hangat di dinding vaginanya akibat semburan air mani Pono. Pono merasa lemas saat penisnya menyemburkan tetes terakhir cairan kenikmatannya di lubang vagina Dewi, tapi mulutnya masih tetap menghisap-hisap payudara Dewi, penisnya masih berdenyut-denyut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi yang merasakan batang kemaluan Pono tidak menyemburkan cairan kenikmatannya lagi, merasa kaget karena penisnya Pono tidak mengalami perubahan, Dewi merasakan penisnya Pono masih keras dan tegang, biasanya batang kemaluan lelaki perlahan-lahan akan menciut setelah melepaskan cairan kenikmatannya, tapi tidak untuk penisnya Pono, penisnya Pono sudah berhenti mengeluarkan cairan kenikmatan tapi Dewi masih merasakan keras dan tegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pono yang berhasil meraih puncak kenikmatannya, dalam sekejap sudah kembali pulih, perlahan-lahan gairah birahinya kembali bangkit, dengan semangat 45 hisapan dan remasan di payudara Dewi semakin gencar, ia hanya merasakan sedikit ngilu di kepala penisnya, tapi lama-lama rasa ngilu itu hilang berganti dengan rasa nikmat. Pono memang belum berpengalaman dalam hal bersetubuh, tapi stamina tubuhnya terutama penisnya, betul-betul membuat takjub Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewipun semakin gencar menaik-turunkan pantatnya, dari lubang vaginanya perlahan-lahan keluar cairan putih yang bercampur dengan cairan bening, cairan itu keluar seiring dengan keluar masuknya batang kemaluan Pono di lubang vaginanya, lenguhan-lenguhan nikmat semakin sering terdengar dari mulut Dewi, sementara dari mulut Pono hanya terdengar dengusan-dengusan keenakan karena mulutnya masih sibuk dengan kedua payudara Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua manusia berlainan jenis ini sudah lupa dengan keadaan sekitarnya, yang mereka tahu hanyalah nikmatnya persetubuhan mereka ini, Dewipun sudah tidak perduli akan kemungkinan suaminya pulang lebih cepat, yang ia perdulikan hanyalah meraih puncak kenikmatannya, yang ia perdulikan hanyalah penisnya Pono yang sedang keluar masuk dalam lubang vaginanya. Kedua sosok tubuh mereka sudah basah dengan keringat, nafas keduanya pun terdengar memburu, kedua mata mereka merem-melek menikmati persetubuhan mereka ini, mereka berdua sudah lupa akan status mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oouughhh, Poonnn….kontolmu betul-betul enaaak….kkoontollmu…keras sekali… oougghh… shhhh….aaahh…sssshh.. aaaahhh…..,” Dewi mengerang keenakan merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan Pono di lubang vaginanya, Dewi merasakan batang kemaluan Pono tegang dan keras seperti kayu saja layaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhmmm…ssllrrppp….hhhmmmm…ssllrpppp….,” Pono bergumam keenakan sambil mulutnya tetap sibuk menghisap tetek Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Remasan tangan Pono di payudara Dewipun tidak pernah berhenti, tangannya meremas-remas kedua payudara Dewi dengan agak kasar. Dewipun menggelinjang akibat hisapan-hisapan kuat mulut Pono dan remasan-remasan kasar di payudaranya, sensasi yang agak sedikit kasar ini belum pernah dialami oleh Dewi, kedua puting payudaranya semakin mencuat keluar dan keras, Dewi semakin mengerang keenakan dibuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oouugghhh…aaaaaagghhh… hiisaaapp…Pooon, hissaaappp…kuaaatt..kuatt… yachhh…aaaghh…ssshhsss…oougghh.,” Dewi mengerang-ngerang merasakan kerasnya hisapan mulut Pono.&lt;br /&gt;
“Kaaammuuu…pernah melaakukaan ini..Pooonn….” tanya Dewi tanpa menghentikan genjotan pantatnya.&lt;br /&gt;
“Beeelumm…sssrrrlppp…Bu,…ssslrrpp…,”jawab Pono sambil asyik menghisap tetek Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Dewipun berganti posisi dari setengah berjongkok sekarang posisinya duduk di atas pangkuan Pono, sementara gerakkannya yang naik turun sekarang berganti dengan gerakkan maju mudur, kedua tangannyapun tidak berada di sandaran kepala sofa tetapi sekarang kedua tangannya sedang meremas-remas kepala Pono yang sedang asyik bermain di kedua payudaranya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tali baju Dewi pun sudah terlepas dari kedua pundak Dewi, akibatnya kedua payudaranya sudah tidak terhalang oleh apapun, sehingga kedua tangan Ponopun bebas meremas-remas kedua payudara tersebut. Pono memang baru pertama kali ini melakukan hubungan seks, tapi karena usia Pono yang masih sangat muda sehingga penisnya yang tadi sudah mengeluarkan sperma masih berdiri dengan gagahnya dan siap untuk bertempur kembali, yang kurang dari Pono hanya pengalaman saja, tapi untuk Dewi itu sudah cukup yang penting penisnya Pono keras dan tegang dan bisa mengobrak-abrik lubang vaginanya yang haus akan batang kemaluan lelaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhhhmmm…ssslrrppp…sssslrrppp…hhmmm….,” Pono masih asyik dengan aksi hisapannya di payudara Dewi, yang satu ia hisap yang satunya ia remas, kedua payudara Dewi bergantian dihisap dan diremas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouuughh…aaaaghhhh…ssshh…eenaaakk…Poon…eennaaakk.. nikmaattt sekali… terus hisaaaapp…reeemaaass….yaachhh…jangan berhentiiii…ouughhh..aaaagghh ….kontooolllmuuu….eenaaakkk…keeraaassss…….,” Dewi merintih-rintih menikmati semua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan maju mundur tubuh Dewi semakin cepat, Dewi merasakan kelentitnya geli-geli enak bergesekan dengan jembut Pono, remasan tangannya di kepala Pono semakin menjadi akibat hisapan dan remasan Pono di kedua payudaranya. Kepala Dewi bergoyang ke kanan dan ke kiri, mulutnya merintih-rintih keenakan, matanya merem melek menikmati sensasi persetubuhan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama berselang gerakan tubuh Dewi mulai tidak beraturan, tubuhnya mulai mengejut-ngejut, nampaknya puncak kenikmatannya akan segera ia rengkuh, tiba-tiba Dewi menekan pantatnya ke belakang seolah-olah ia ingin penisnya Pono masuk dengan biji pelernya di lubang vaginanya, dan... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sssrrrrr……srrrrrrrr…..ssssrrr…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memeknya menyemburkan cairan kenikmatannya, cairan hangat itu menyiram batang kemaluan Pono, Pono merasakan penisnya menjadi hangat oleh siraman cairan kenikmatan Dewi, Pono juga merasakan dinding vagina Dewi seolah meremas-remas penisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“OOuuuggggghhh….aakuuu….keluuuarrr…Pooonnn, aaaakuuu…aaagghh..enaakkk nikkmaaat….aaagghhh….,” erang Dewi menikmati puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Dewi mengejang, gerakannya terhenti, tangannya meremas kepala Pono dengan kuat, nafasnya tersengal-sengal, saat vaginanya meneteskan tetes terakhir dari cairan kenikmatannya, Dewipun melenguh panjang, dinding vaginanya masih berkedut-kedut, yang dirasakan oleh Pono seolah-olah meremas-remas penisnya. Dengan nafas yang masih memburu, Dewipun ambruk di atas pangkuan Pono, Pono hanya bisa diam, dia tidak tahu apa yang harus diperbuat, perlahan-lahan Dewi membuka matanya lalu berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu suudah keluar, Pon,” Tanya Dewi.&lt;br /&gt;
“Belum, Bu,”jawab Pono polos.&lt;br /&gt;
“Hhhmmmm kamu termasuk ayam pejantan juga,” Dewi berkata dengan genit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perlahan-lahan Dewi mulai menggerakkan tubuhnya lagi, pantatnya ia maju mundurkan, sehingga batang kemaluan Pono mulai kembali keluar masuk vagina Dewi. Sebetulnya Dewi sudah merasa puas dengan pencapaian puncak kenikmatannya ini, tapi karena dia tahu bahwa Pono belum berpengalaman, akhirnya ia mengambil keputusan untuk memuaskan penisnya Pono sampai mengeluarkan cairan kenikmatannya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pono merasakan kembali penisnya keluar masuk vagina Dewi, Dewi bergerak dengan cepat, ia ingin cepat-cepat menuntaskan permainan ini, karena hasrat birahinya sudah terpenuhi dia mulai sedikit khawatir akan kedatangan suaminya, tubuhnya maju mundur dengan cepat, penisnya Ponopun akibatnya keluar masuk dengan sangat cepat,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blleeesssss….sssrrrttt….bleeeessss…ssrtttttt…blees sss….sssrtttt…. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi memaju mundurkan pantatnya dengan cepat, batang kemaluan Ponopun keluar masuk di lubang vagina Dewi seiring dengan gerakan maju mundur, dengan gerakan Dewi yang cepat ini membuat Pono agak kesulitan menghisap payudara Dewi, sehingga yang bisa ia lakukan hanya meremas-remas payudara tersebut, dan suara erangan Ponopun mulai terdengar jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaaaghhh….ssshhhh…ooougghh….sssshhh… enaaakk…Bu…eenaaakkk…,” Ponopun mengerang kenikmatan, merasakan jepitan memek Dewi di penisnya.&lt;br /&gt;
“Ehhmmm…enaak…Pon…aaayoo…keluaaariinn…ceppaat…,” Dewipun mendesah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Dewi menghentak-hentak dengan cepat, goyangan pantatnya semakin bertambah cepat, batang kemaluan Pono semakin mengeras jadinya, Dewi merasakan batang kemaluan Pono seperti batang kayu yang dimasukkan ke dalam vaginanya, seluruh dinding vaginanya merasakan kerasnya batang kemaluan Pono tersebut, gairah birahinyapun menanjak dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouughh…Poon..Koontooollmmmu…..keeraasssss…seekaal liii…sssshhh…aaaggh nikmaaat betuulll…aaarrggghhh….aaakkuuu…ingin teruuusss…merasakannyaaaa oooohhhhh…..” Dewi merintih-rintih keenakan.&lt;br /&gt;
“Aaahhh…iiyaaaahh….mmmmmm….eeennaakkk….ooohhh…puny aa….ibuuu..juga enaaaak….,” Pono mengerang nikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi sibuk dengan goyangan dan maju mundur pantatnya sementara Pono sibuk dengan kedua belah tangannya yang meremas-remas kuat payudara Dewi. Nafas mereka berduapun terdengar memburu, puncak pendakian kenikmatan mereka sudah mulai di ambang pintu. Gerakan Dewipun semakin menggila dan liar, rintihan-rintihannya semakin terdengar, erangan Ponopun semakin sering terdengar, suara rintihan dan erangan mereka terdengar bergantian, diselingi dengan suara decakan akibat beradunya kedua kemaluan mereka, lubang vagina Dewi semakin banjir, batang kemaluan Ponopun semakin leluasa keluar masuk di lubang vagina Dewi, tanpa hentinya Dewi melenguh-lenguh keenakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Dewipun mulai bergerak tidak beraturan, tubuh Pono mulai terlihat mengejang, otot-otot di tangannya terlihat, puncak pendakian kenikmatan mereka akhirnya berhasil mereka rengkuh, dengan sekali hentak Dewi menekan dalam-dalam pantatnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ccrreeeeetttt….sssssrrrrrrr…ccreeetttt…creeeettttt…ssssrrrrrr….. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemaluan mereka berdua secara bersamaan menyemprotkan lahar kenikmatan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ooouugghhh…akuuu..keluaarrr..lagiiii…aaaagghhh…en aaakkk…nikmaattt…. kamuuu betul…betullll…perkaaassaaa….Pooon,” erang Dewi menikmati puncak pendakian kenikmatannya yang kedua kalinya.&lt;br /&gt;
“Hhhhhmmm…aaaaahh..ssshh…aaakuuu…jugaa….keluaarrr… Buuu,” Ponopun melenguh keenakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Dewipun ambruk kembali di pangkuan Pono, nafas keduanya terdengar memburu, perlahan-lahan batang kemaluan Pono mulai mengecil dan terlepas dari jepitan memek Dewi. Seiring terlepasnya batang kemaluan Pono dari lubang vagina Dewi kemudian mengalir cairan putih bercampur dengan cairan bening dan jatuh ke paha Pono. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah nafas mereka kembali normal, Dewi mengingatkan kembali ke Pono untuk tidak menceritakan kejadian barusan kepada siapapun dan ia juga mengingatkan Pono untuk kapanpun jika ia sedang ingin melakukan hubungan badan, Pono harus siap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewi juga menambahkan agar Pono bertingkah seperti biasanya saja, Pono hanya mengiakan kehendak nyonyanya tersebut, Pono berpikir alangkah bodohnya ia bila menceritakan hal tersebut ke orang lain yang bisa berakibat ia tidak dapat menikmati tubuh mulus nyonyanya lagi dan tidak bisa merasakan surga dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ponopun beranjak setelah mengenakan celananya menuju ke kamarnya, sementara Dewipun merapikan pakaian dan CDnya beranjak ke kamarnya, Dewi membersihkan badannya di kamar mandi, setelah selesai mandi Dewi mengambil daster satu tali yang mini, dalamannya ia hanya mengenakan CD saja tanpa BH, dan beranjak keluar kamarnya menuju ke ruangan keluarga dan menonton TV sambil menunggu kedatangan suaminya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-1703405980374182981?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/Dm0gomV8x70" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1703405980374182981?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1703405980374182981?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/Dm0gomV8x70/cerita-memek-tante-girang-dan-foto.html" title="cerita memek tante girang dan foto tante toge" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/06/cerita-memek-tante-girang-dan-foto.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUANQHo_fSp7ImA9WhZUEkk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-8999509249778280560</id><published>2011-06-05T11:23:00.000+07:00</published><updated>2011-06-05T11:23:11.445+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-05T11:23:11.445+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita sex abg di lengkapi foto telanjang</title><content type="html">cerita sex abg di lengkapi foto telanjang /bugil- Aku sedang membanting pantatku di jok belakang taxi, ketika dering HP-ku memanggil. Kuperhatikan jelas sekali bahwa ini nomor yang sama dari dua kali panggilan tadi. Tapi karena aku merasa tidak mengenalnya, aku sama sekali tidak menanggapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenapa tidak diangkat, Bang..?" tanya sopir taxi yang sekilas melihatku lewat spionnya.&lt;br /&gt;
"Buat apa. Paling-paling wartawan 'bodrek'. Menawarkan berita kemenanganku ini di koran kelas 'teri'-nya. Bosen aku berurusan dengan mereka..!" sahutku sambil kuperhatikan sekali lagi secara kilas dua medali emas dan piala juara favorit kejuaraan binaraga kelas junior ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taxi meluncur kencang membawaku pulang ke rumah kontrakanku di daerah Radio Dalam. Taxi masih melenggang di atas aspalan Sudirman ketika nomor HP itu muncul lagi di layar HP-ku. Berdering dan berdering minta diangkat. Terpaksa kali ini aku menerimanya dengan malas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hai Andre, sombong bener sih, nggak mau terima telponku. Kenapa..?"&lt;br /&gt;
"Sori Mbak. Ini siapa, dan ada apa..? Aku merasa nggak kenal anda."&lt;br /&gt;
"Benar. Kita belum pernah saling kenal kok. Tapi aku selalu memantau kemajuanmu dalam bertanding binaraga. Pokoknya aku selalu mengikutimu kemana kamu berlaga memamerkan tubuhmu yang berotot kekar tapi indah dan seksi sekali itu. Aku senang sekali. Banyak teman-temanku yang mengidolakan dirimu lho Mas. Kupikir masa depanmu pasti cerah sekali di dunia binaraga. Gimana nih, kami mau kenalan lebih dekat lagi, juga foto-foto bersama atlet idola kami. Bagaimana Mas..?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sejenak berpikir. Siapa sih mereka? Apa maksudnya? Kalau aku tolak, aku merasa merendahkan atau menyepelekan apa yang namanya fans atau penggemar. Fans atau penggemar, apalagi wartawan itu adalah jalur yang tidak boleh kulawan. Mereka harus kurangkul dan akrabi. Begitu nasehat teman-teman seniorku di dunia olahraga yang banyak penggemarnya.&lt;br /&gt;
"Baiklah. Dimana ini kalian semua..?" tanyaku setelah menghelakan nafasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah daerah pemukiman elite disebutkan suara cewek itu. Permata Hijau. Aku segera minta sama sopir taxi segera meluncur ke alamat yang dituju. Kuperhatikan jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.45 tepat. Waktuku untuk istirahat. Tapi demi fans, aku rela membagi waktuku dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah mewah itu memang terlihat sepi, gelap, dengan halamanya yang terlihat teduh. Berlantai tiga dengan gaya arsitektur spanyol yang unik. Bergegas aku segera turun dan kuperhatikan sejenak taxi telah menghilang di tikungan jalan. Kembali aku perhatikan alamat rumah yang kutuju itu. Aku segera menyelinap masuk ke dalam halamannya setelah membuka sedikit pintu gerbangnya yang dari besi dicat hitam. Hujan mendadak turun dengan rintik-rintik. Berburu aku lari kecil menuju teras yang tinggi, karena aku mesti menaiki anak tangganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan 'ngiler' berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!" ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.&lt;br /&gt;
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.&lt;br /&gt;
"Ng.., maaf, belum kenalan..," gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.&lt;br /&gt;
"Oh ya, aku Tami..," sahutnya menjabat tanganku erat-erat.&lt;br /&gt;
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.&lt;br /&gt;
"Ayo pada kenalan..!" sambung Tami.&lt;br /&gt;
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lina..," ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.&lt;br /&gt;
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.&lt;br /&gt;
"Dimana mau foto-foto bersamanya..?" tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.&lt;br /&gt;
"Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?" sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.&lt;br /&gt;
"Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..," sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.&lt;br /&gt;
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bagaimana..?" tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.&lt;br /&gt;
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.&lt;br /&gt;
"Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?" kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.&lt;br /&gt;
"Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!" sahut Tami yang berdiri di belakangku.&lt;br /&gt;
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?" tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.&lt;br /&gt;
"Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!" sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.&lt;br /&gt;
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!" ujar Tami membentak.&lt;br /&gt;
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.&lt;br /&gt;
"Ahkk..!"&lt;br /&gt;
"Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!" bentak Dian tersenyum sinis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.&lt;br /&gt;
"Kamu memang seksi dan kekar..," ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.&lt;br /&gt;
"Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!" sahut Dian mengelus-elus pantatku.&lt;br /&gt;
"Sama dong. Tapi siapa duluan..?" sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.&lt;br /&gt;
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Diam dan diam, oke..?" kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.&lt;br /&gt;
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..," ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.&lt;br /&gt;
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.&lt;br /&gt;
"Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!" sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.&lt;br /&gt;
"Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!" ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.&lt;br /&gt;
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.&lt;br /&gt;
"Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!" teriak-teriak mulutku terangsang hebat.&lt;br /&gt;
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.&lt;br /&gt;
"Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!" ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.&lt;br /&gt;
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!" ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.&lt;br /&gt;
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.&lt;br /&gt;
"Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!" menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.&lt;br /&gt;
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hmm.. nikmat sekali. Enak..!" ucap Diam senang.&lt;br /&gt;
"Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!" sahut Lina.&lt;br /&gt;
"Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!" perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.&lt;br /&gt;
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.&lt;br /&gt;
"Siapa kalian ini sebenarnya..?" tanyaku memberanikan diri.&lt;br /&gt;
"Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!" bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!" perinta Tami mencambuki kakiku.&lt;br /&gt;
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.&lt;br /&gt;
"Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!" teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!" ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.&lt;br /&gt;
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.&lt;br /&gt;
"Ouh.. aduh.., aahhk..," teriakku mengerang sakit dan nikmat.&lt;br /&gt;
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.&lt;br /&gt;
"Diminum. Minum pipisku.. cepat..!" perintah Tami menanpar-nampar pantatku.&lt;br /&gt;
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Gantian..!"ujar Dian menggantikan posisi Tami.&lt;br /&gt;
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!" teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;
"Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!" menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cambuk kembali melecuti dadaku. Pokoknya tidak ada yang diam nganggur. Saat Tami menggagahiku, Lina mencambuk. Dian menetesi puting susuku dengan cairan lilin merah besar. Atau menyirami lilin panas itu ke anusku. Saking tidak kuatnya aku, kini aku jatuh pingsan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah berapa lama aku pingsan. Saat terbangun, banyak spermaku yang tercecer di perutku. Tidak ada rantai. Tidak ada lilin. Bahkan mereka juga tidak ada di sekitarku. Kemana mereka? Perlahan aku beranjak berdiri, tertatih-tatih mencari pakaianku. Tubuhku penuh barut bekas cambuk dan lilin mengering. Luar biasa sakit dan pedihnya tersisa kurasakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secarik kertas ditinggalkan mereka bertiga untukku. Kubaca dengan muak dan geram.&lt;br /&gt;
Trim atas waktumu. Tapi kami belum puas menikmatimu. Kami pasti datang lagi untuk kepuasan kami. Kami pergi karena ada mangsa baru yang lebih lemah tapi kuat seksnya. Kalau kamu tolak, kami edarkan videonya. Awas, kamu kini adalah 'anjing' seks kami. Trim. Sampai jumpa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-8999509249778280560?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/f3bx4RnWcY8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8999509249778280560?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8999509249778280560?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/f3bx4RnWcY8/cerita-sex-abg-di-lengkapi-foto.html" title="cerita sex abg di lengkapi foto telanjang" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/06/cerita-sex-abg-di-lengkapi-foto.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UFQn85fSp7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-8349461951488099749</id><published>2011-05-23T18:46:00.003+07:00</published><updated>2011-05-23T18:46:53.125+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:46:53.125+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita ngentot pacar temanku</title><content type="html">Namaku Erick, tentunya bukan nama asli dong. Aku tinggal di suatu kota yang kebetulan sering dijuluki sebagai kota kembang pengalamanku ini terjadi mungkin kira-kira 2 tahun yang lalu. Sebut saja Indi (bukan nama sebenarnya), dia adalah tunangan temanku yang bernama Edi (bukan nama asli) yang tinggal di Jakarta, yang mana pada waktu itu Edi harus keluar kota untuk keperluan bisnisnya. Oh ya, Edi ini punya adik laki-laki yang bernama Deni, di mana adiknya itu teman mainku juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau tidak salah, malam itu adalah malam minggu, kebetulan pada waktu itu aku lagi bersiap-siap untuk keluar. Tiba-tiba telpon di rumahku berbunyi, ternyata dari Deni yang mau pinjam motorku untuk menjemput temannya di stasiun kereta api. Dia juga bilang nitip sebentar tunangan kakaknya, karena di rumah lagi tidak ada siapa-siapa. Aku tidak bisa menolak, lagi pula aku ingin tahu tunangan temanku itu seperti bagaimana rupanya. Tidak lama kemudian Deni datang, karena rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumahku dan langsung menuju ke kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hei Rick..! Aku langsung pergi nih.. mana kuncinya..?" kata Deni.&lt;br /&gt;
"Tuh.., di atas meja belajar." kataku, padahal dalam hati aku kesal juga bisa batal deh acaraku.&lt;br /&gt;
"Oh ya Rick.., kenalin nih tunangan kakakku. Aku nitip sebentar ya, soalnya tadi di rumah nggak ada siapa-siapa, jadinya aku ajak dulu kesini. Bentar kok Rick..," kata Deni sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;
"Erick..," kataku sambil menyodorkan tanganku.&lt;br /&gt;
"Indi..," katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
"Busyeett..! Senyumannya..!" kataku dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku langsung berdebar- debar ketika berjabatan tangan dengannya. Bibirnya sensual sekali, kulitnya putih, payudaranya lumayan besar, matanya, hidungnya, pokoknya, wahh..! Akibatnya pikiran kotorku mulai keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Heh..! Kok malah bengong Rick..!" kata Deni sambil menepuk pundakku.&lt;br /&gt;
"Eh.. oh.. kenapa Den..?" kaget juga aku.&lt;br /&gt;
"Rick, aku pergi dulu ya..! Ooh ya Ndi.., kalo si Erick macem-macem, teriak aja..!" ucap Deni sambil langsung pergi. Indi hanya tersenyum saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sialan lu Den..!" gerutuku dalam hati. Seperginya Deni, aku jadi seperti orang bingung saja, serba salah dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Memang pada dasarnya aku ini sifatnya agak pemalu, tapi kupaksakan juga akhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mo minum apa Ndi..?" kataku melepas rasa maluku.&lt;br /&gt;
"Apa aja deh Rick. Asal jangan ngasih racun." katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;
"Bisa juga bercanda nih cewek, aku kasih obat perangsang baru tau..!" kataku dalam hati sambil pergi untuk mengambil beberapa minuman kaleng di dalam kulkas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya kami mengobrol tidak menentu, sampai dia menceritakan kalau dia lagi kesal sekali sama Edi tunangannya itu, pasalnya dia itu sama sekali tidak tahu kalau Edi pergi keluar kota. Sudah jauh-jauh datang ke Bandung, nyatanya orang yang dituju lagi pergi, padahal sebelumnya Edi bilang bahwa dia tidak akan kemana-mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Udah deh Ndi.., mungkin rencananya itu diluar dugaan.., jadi Kamu harus ngerti dong..!" kataku sok bijaksana.&lt;br /&gt;
"Kalo sekali sih nggak apa Rick, tapi ini udah yang keberapa kalinya, Aku kadang suka curiga, jangan-jangan Dia punya cewek lain..!" ucap Indi dengan nada kesal.&lt;br /&gt;
"Heh.., jangan nuduh dulu Ndi, siapa tau dugaan Kamu salah," kataku.&lt;br /&gt;
"Tau ah.., jadi bingung aku Rick, udah deh, nggak usah ngomongin Dia lagi..!" potong Indi.&lt;br /&gt;
"Terus mau ngomong apa nih..?" kataku polos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indi tersenyum mendengar ucapanku.&lt;br /&gt;
"Kamu udah punya pacar Rick..?" tanya Indi.&lt;br /&gt;
"Eh, belom.. nggak laku Ndi.. mana ada yang mau sama Aku..?" jawabku sedikit berbohong.&lt;br /&gt;
"Ah bohong Kamu Rick..!" ucap Indi sambil mencubit lenganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seerr..! Tiba- tiba aliran darahku seperti melaju dengan cepat, otomatis adikku berdiri perlahan- lahan, aku jadi salah tingkah. Sepertinya si Indi melihat perubahan yang terjadi pada diriku, aku langsung pura-pura mau mengambil minum lagi, karena memang minumanku sudah habis, tetapi dia langsung menarik tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada apa Ndi..? Minumannya sudah habis juga..?" kataku pura-pura bodoh.&lt;br /&gt;
"Rick, kamu mau nolongin aku..?" ucap Indi seperti memelas.&lt;br /&gt;
"Iyaa.., ada apa Ndi..?" jawabku.&lt;br /&gt;
"Aku.., Aku.. pengen bercinta Rick..?" pinta Indi.&lt;br /&gt;
"Hah..!" kaget juga aku mendengarnya, bagai petir di siang hari, bayangkan saja, baru juga satu jam yang lalu kami berkenalan, tetapi dia sudah mengucapkan hal seperti itu kepadaku.&lt;br /&gt;
"Ka.., Kamu..?" ujarku terbata-bata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum juga kusempat meneruskan kata-kataku, telunjuknya langsung ditempelkan ke bibirku, kemudian dia membelai pipiku, kemudian dengan lembut dia juga mencium bibirku. Aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan seperti itu. Walaupun ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, namun kalau yang seperti ini aku baru yang pertama kalinya merasakan dengan orang yang baru kukenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu lembut dia mencium bibirku, kemudian dia berbisik kepadaku, "Aku pengen bercinta sama Kamu, Rick..! Puasin Aku Rick..!" Lalu dia mulai mencium telinganku, kemudian leherku, "Aahh..!" aku mendesah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendapat perlakuan seperti itu, gejolakku akhirnya bangkit juga. Begitu lembut sekali dia mencium sekitar leherku, kemudian dia kembali mencium bibirku, dijulurkan lidahnya menjalari rongga mulutku. Akhirnya ciumannya kubalas juga, gelombang nafasnya mulai tidak beraturan. Cukup lama juga kami berciuman, kemudian kulepaskan ciumannya, kemudian kujilat telinganya, dan menelusuri lehernya yang putih bak pualam. Ia mendesah kenikmatan, "Aahh Rick..!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar desahannya, aku semakin bernafsu, tanganku mulai menjalar ke belakang, ke dalam t-shirt-nya. Kemudian kuarahkan menuju ke pengait BH-nya, dengan sekali sentakan, pengait itu terlepas. Kemudian aku mencium bibirnya lagi, kali ini ciumannya sudah mulai agak beringas, mungkin karena nafsu yang sudah mencapai ubun-ubun, lidahku disedotnya sampai terasa sakit, tetapi sakitnya sakit nikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rick.., buka dong bajunya..!" katanya manja.&lt;br /&gt;
"Bukain dong Ndi..," kataku. Sambil menciumiku, Indi membuka satu persatu kancing kemeja, kemudian kaos dalamku, kemudian dia lemparkan ke samping tempat tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia langsung mencium leherku, terus ke arah puting susuku. Aku hanya bisa mendesah karena nikmatnya, "Akhh.., Ndi." Kemudian Indi mulai membuka sabukku dan celanaku dibukanya juga. Akhirnya tinggal celana dalam saja. Dia tersenyum ketika melihat kepala kemaluanku off set alias menyembul ke atas. Indi melihat wajahku sebentar, kemudian dia cium kepala kemaluanku yang menyembul keluar itu. Dengan perlahan dia turunkan celana dalamku, kemudian dia lemparkan seenaknya. Dengan penuh nafsu dia mulai menjilati cairang bening yang keluar dari kemaluanku, rasanya nikmat sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah puas menjilati, kemudian dia mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. "Okhh.. nikmat sekali," kataku dalam hati, sepertinya kemaluanku terasa disedot-sedot. Indi sangat menikmatinya, sekali- sekali dia gigit kemaluanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Auwww.., sakit dong Ndi..!" kataku sambil agak meringis. Indi seperti tidak mendengar ucapanku, dia masih tetap saja memaju- mundurkan kepalanya. Mendapat perlakuannya, akhirnya aku tidak kuat juga, aku sudah tidak kuat lagi menahannya, "Ndi, Aku mau keluar.. akhh..!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indi cuek saja, dia malah menyedot batang kemaluanku lebih keras lagi, hingga akhirnya, "Croott.. croott..!"&lt;br /&gt;
Aku menyemburkan lahar panasku ke dalam mulut Indi. Dia menelan semua cairan spermaku, terasa agak ngilu juga tetapi nikmat. Setelah cairannya benar-benar bersih, Indi kemudian berdiri, kemudian dia membuka semua pakaiannya sendiri, sampai akhirnya dia telanjang bulat. Kemudian dia menghampiriku, menciumi bibirku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Puasin Aku Rick..!" katanya sambil memeluk tubuhku, kemudian dia menuju tempat tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai disana dia tidur telentang. Aku lalu mendekatinya, kutindih tubuhnya yang elok, kuciumi bibirnya, kemudian kujilati belakang telinga kirinya. Dia mendesah keenakan, "Aahh..!" Mendengar desahannya, aku tambah bernafsu, kemudian lidahku mulai menjalar ke payudaranya. Kujilati putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kiri, sambil kadang kupelintir putingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Okkhh..! Erick sayang, terus Rick..! Okhh..!" desahnya mulai tidak menentu. Puas dengan bukit kembarnya, badanku kugeser, kemudian kujilati pusarnya, jilatanku makin turun ke bawah. Kujilati sekitar pangkal pahanya, Indi mulai melenguh hebat, tangan kananku mulai mengelus bukit kemaluannya, lalu kumasukkan, mencari sesuatu yang mungkin kata orang itu adalah klitoris. Indi semakin melenguh hebat, dia menggelinjang bak ikan yang kehabisan air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian aku mulai menjilati bibir kemaluannya, kukuakkan sedikit bibir kemaluannya, terlihat jelas sekali apa yang namanya klitoris, dengan agak sedikit menahan nafas, kusedot klitorisnya. "Aakkhh.. Rick..," Indi menjerit agak keras, rupanya dia sudah orgasme, karena aku merasakan cairan yang menyemprot hidungku, kaget juga aku. Mungkin ini pengalaman pertamaku menjilati kemaluan wanita, karena sebelumnya aku tidak pernah. Aku masih saja menjilati dan menyedot klitorisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Rick..! Masukin Rick..! Masukin..!" pinta dia dengan wajah memerah menahan nafsu. Aku yang dari tadi memang sudah menahan nafsu, lalu bangkit dan mengarahkan senjataku ke mulut kemaluannya, kugesek-gesekkan dulu di sekitar bibir kemaluannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Udah dong Rick..! Cepet masukin..!" katanya manja.&lt;br /&gt;
"Hmm.., rupanya ni cewek nggak sabaran banget." kataku dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kutarik tubuhnya ke bawah, sehingga kakinya menjuntai ke lantai, terlihat kemaluannya yang menyembul. Pahanya kulebarkan sedikit, kemudian kuarahkan kemaluanku ke arah liang senggama yang merah merekah. Perlahan tapi pasti kudorong tubuhku. "Bless..!" akhirnya kemaluanku terbenam di dalam liang kemaluan Indri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aaakkhh Rick..!" desah Indi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaget juga dia karena sentakan kemaluanku yang langsung menerobos kemaluan Indi. Aku mulai mengerakkan tubuhku, makin lama makin cepat, kadang- kadang sambil meremas- remas kedua bukit kembarnya. Kemudian kubungkukkan badanku, lalu kuhisap puting susunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aakkhh.., teruss.., Sayangg..! Teruss..!" erang Indi sambil tangannya memegang kedua pipiku.&lt;br /&gt;
Aku masih saja menggejot tubuhku, tiba- tiba tubuh Indi mengejang, "Aaakkhh.. Eriicckk..!" Ternyata Indi sudah mencapai puncaknya duluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku udah keluar duluan Sayang..!" kata Indi.&lt;br /&gt;
"Aku masih lama Ndi..," kataku sambil masih menggenjot tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kuangkat tubuh Indi ke tengah tempat tidur, secara spontan, kaki Indi melingkar di pinggangku. Aku menggenjot tubuhku, diikuti goyangan pantat Indi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aakkhh Ndi.., punya Kamu enak sekali." kataku memuji, Indi hanya tersenyum saja.&lt;br /&gt;
Aku juga heran, kenapa aku bisa lama juga keluarnya. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat, kami masih mengayuh bersama menuju puncak kenikmatan. Akhirnya aku tidak kuat juga menahan kenikmatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aahh Ndi.., Aku hampir keluar..," kataku agak terbata-bata.&lt;br /&gt;
"Aku juga Rick..! Kita keluarin sama- sama ya Sayang..!" kata Indi sambil menggoyang pantatnya yang bahenol itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Goyangan pantat Indi semakin liar. Aku pun tidak kalah sama halnya dengan Indi, frekuensi genjotanku makin kupercepat, sampai pada akhirnya, "Aaakkhh.., Ericckk..!" jerit Indi sambil menancapkan kukunya ke pundakku.&lt;br /&gt;
"Aakhh, Indii.., Aku sayang Kamuu..!" erangku sambil mendekap tubuh Indi.&lt;br /&gt;
Kami terdiam beberap saat, dengan nafas yang tersenggal-senggal seperti pelari marathon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu hebat sekali Rick..!" puji Indi.&lt;br /&gt;
"Kamu juga Ndi..!" pujiku juga setelah agak lama kami berpelukan.&lt;br /&gt;
Kemudian kami cepat-cepat memakai pakain kami kembali karena takut adik tunangannya Indi keburu datang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-8349461951488099749?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/99JQd5A6IE4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8349461951488099749?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8349461951488099749?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/99JQd5A6IE4/cerita-ngentot-pacar-temanku.html" title="cerita ngentot pacar temanku" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-ngentot-pacar-temanku.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cDRnc5fyp7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-2322079672421103571</id><published>2011-05-23T18:44:00.000+07:00</published><updated>2011-05-23T18:44:37.927+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:44:37.927+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita bugil bersama-sama teman</title><content type="html">Suatu hari aku bangun pagi sekali, hari itu aku kuliah siang jam sebelas sementara jam di kamarku masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Maunya sih tidur lagi, tapi kantukku sudah hilang dan tidak bisa tidur lagi, mungkin gara-gara kemarin aku tidur terlalu awal, kira-kira setengah delapan malam. Ini adalah hari kedua aku sendirian di rumah, orang tuaku selalu sibuk, papa sedang mengurus bisnis di Malaysia ditemani mamaku yang kebetulan mau berobat di sana, sedangkan pembantuku satu-satunya juga sedang pulang kampung sejak lima hari yang lalu karena saudaranya meninggal. Janjinya sih sore ini dia akan kembali, yah kuharap begitulah karena aku cape sekali selama tiga hari ini harus mengurus makan dan beres-beres sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun turun ke bawah tanpa mengenakan apapun (ya, telanjang, sudah menjadi kebiasaanku bila di rumah tidak ada siapa-siapa aku selalu tak berbusana di rumah, rasanya nyaman dan sehat, bisa membuat darah mengalir lebih lancar), di dapur aku mengambil sebungkus mie keriting dan memasaknya. Setelah matang aku membawa sarapanku ke atas untuk menikmatinya di balkon kamarku. Sebelumnya aku terlebih dulu mengambil daster kuning-ku yang berdada rendah untuk menutupi tubuh polosku, walaupun ekshibisionis tapi aku harus tahu batasannya dong, kan ga enak kalau nanti keliatan tetangga sekitar kalau aku sembarang pamer tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunikmati sarapanku di serambi balkon sambil menikmati udara pagi yang segar, suasananya tenang dihiasi oleh kicau burung dan kupu-kupu beterbangan di taman bawah sana. Sehabis sarapan, aku menyalakan sebatang rokok sambil berdiri bersandar di balkon, beberapa orang yang sedang joging melintasi depan rumahku, salah satunya adalah Tante Lia, tetangga dan teman mamaku, beliau menyapaku dari jalan, akupun tersenyum dan membalas salamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah truk sampah berhenti di setiap rumah untuk melaksanakan tugas hariannya mengambil sampah. Tak lama kemudian, truk itu berjalan ke arah sini dan berhenti tak jauh dari rumahku. Seorang petugas sampah turun mengambil kantong-kantong sampah dari rumah di sekitar situ. Tukang sampah itu berbadan tinggi dan agak gemuk, usianya sekitar 30-an, mukanya bundar dengan hidung yang besar. Sambil mengisap rokok, kuperhatikan dia selama beberapa saat sedang mengangkat kantong sampah lalu melemparkannya ke bak truk. Pelan-pelan aku mulai mikir yang jorok-jorok, pagi-pagi gini niat isengku sudah timbul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pagi Non !” sapanya ketika melewati rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pagi Bang !” balasku “Eh…Bang tunggu bentar, di dapur masih ada lagi sampahnya nih, sebentar ya !”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mematikan rokokku dan turun sambil membawa piring dan gelas bekas sarapan tadi, setelah menaruhnya di pencucian aku langsung ke depan membuka pintu. Kebetulan tong sampah di dapur memang sudah penuh sesak, soalnya sejak mama pergi belum ada yang membereskannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bang-Bang, tolongin saya bisa ga, kan pembantu saya lagi ga ada, jadi sudah dua hari tuh sampah numpuk di dapur, bantu saya beresin dong yah, ntar saya kasih duit rokok deh !” pintaku dengan nada manja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhmmm, ok deh Non…mana sampahnya, biar Abang bantu beresin !” katanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku membukakan pagar dan mempersilakannya masuk, dia memperhatikanku terus sambil berjalan ke dalam, sesekali matanya mencuri-curi pandang ke belahan dadaku yang menantang di balik belahan dasterku yang rendah, entah dia tau atau tidak bahwa dibaliknya aku tidak memakai apapun lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sepi yah Non, sendirian di rumah nih ? lagi pada kemana ?” tanyanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya Bang, semua lagi keluar nih, sudah dari kemarin lusa sendirian” jawabku “Tuh Bang udah penuh gitu, tolong yah !” aku menunjuk pada tong sampah biru besar di dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si abang tukang sampah mengangkat tong besar itu, sedangkan aku menumpuk beberapa dus bekas makanan dan menampungnya di tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bang-bang, bentar dong, ini masih ada yang mau dimasukin, upss !!” dengan sengaja aku melonggarkan tanganku sehingga dus-dus itu terjatuh semua “Duh, sori nih Bang, udah saya yang beresin aja !”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun berjongkok dan menunduk memunguti dus-dus itu, dengan begini susuku terlihat jelas sekali dibalik potongan dasterku yang rendah dan lebar itu. Dia terbelakak melihat buah dadaku yang menggelantung indah, putingnya pun sekilas tersingkap dari balik dasterku. Aku tahu daritadi matanya terus tertumbuk ke daerah dadaku, tapi aku pura-pura cuek dengan terus membereskan dus itu, bahkan sengaja kutundukkan lagi tubuhku, sehingga makin terlihatlah keindahan di baliknya. Perlahan kulihat kakinya melangkah mendekatiku, lalu ikut jongkok, tapi bukannya membantu membereskan sampah malah menyusupkan tangan ke belahan dadaku mencaplok daging kenyal di baliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kurang ajar !” bentakku sambil menepis tangannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu ini tidak membuatnya mundur, dengan sigap ditangkapnya kedua tanganku, tubuhku diangkatnya hingga berdiri lalu dihimpit ke tembok di sebelahku. Sesungguhnya berontak dan jeritanku hanyalah pura-pura belaka untuk memanas-manasi nafsunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangannya yang kokoh dengan mudah mengunci dua pergelanganku lalu diangkat ke atas. Tangannya yang lain meremas dadaku dengan kasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan Bang…hentikan…eeengghh !” erangku meringis karena kerasnya remasan itu, tubuhku masih meronta pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Diam Non, Non sendiri kan yang mancing-mancing saya begini” katanya berani&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajahnya mendekatiku mencari-cari bibirku, aku menggeleng-geleng pura-pura menolak dicium olehnya, namun tetap saja akhirnya tidak bisa menghindar dari lumatan bibirnya. Aku bisa merasakan nafasnya yang menderu dan bau badannya yang tidak enak (maklum banyak bergaul dengan sampah), tapi birahi yang meninggi membuat semuanya terlupakan. Sebentar saja aku sudah memainkan lidahku membalas cipokannya. Tangannya mulai mengelus pahaku yang putih mulus sambil menyingkapi dasterku. Setelah meremas pantatku sejenak, tangannya lalu mengelus vaginaku yang berbulu lebat. Mataku membelakak ketika tangan itu meremas daerah segitigaku dengan jarinya sedikit masuk ke sana, desahan tertahan keluar dari mulutku yang sedang berciuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ga usah malu-malu Non, udah basah gini kok, ga pake apa-apa lagi, Non juga mau kan” seringainya mesum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melepaskan pergelanganku setelah aku berhenti meronta dan yakin telah menguasaiku. Dipelorotinya dasterku dari bahu kiri sehingga payudaraku kiriku kini terbuka sudah, bulat kencang dengan puting kemerahannya yang menantang. Dengan penuh nafsu dilumatnya benda itu sambil tangannya menggerayangi pantatku. Aku cuma bisa mendesah-desah dalam posisi berdiri sandaran ke tembok, putingku makin mengeras karena permainan mulutnya yang nakal. Tiba-tiba seseorang nongol di pintu dapur dan tercengang melihat adegan di depannya. Orang itu tak lain adalah temannya yang menyetir truk sampah, rupanya dia menunggu lama di truk sehingga turun untuk memanggil temannya agar segera kembali, eh…ternyata temannya itu sedang berasyik-ria denganku di dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wei…sialan lo, ngentot ga ngajak-ngajak, gua dibiarin sendiri di mobil !” kata si sopir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo masih pagi kok, kita istirahat aja sebentar, kapan lagi ngerasain amoy cantik gini !” ajak tukang sampah yang menggerayangiku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si sopir bergegas mendekati kami sambil melepaskan seragam dinas kebersihannya, tubuhnya lumayan berisi dengan kulit hitam terbakar matahari. Kini aku dihimpit dari depan-belakang oleh mereka, tubuhku bersandar pada si sopir yang mendekapku sambil meremasi payudara kiriku serta meraba-raba paha dan pantatku, sedangkan si temannya yang dipanggil Din menurunkan bahu kananku, maka kedua payudaraku tersingkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Din mengenyot payudara kananku dengan kencang sampai pipinya kembung kempot, tangannya mengelusi kemaluanku. Si sopir mulai menciumi belakang telingaku serta menggelikitik kupingku dengan lidahnya. Hal ini menyebabkan tubuhku menggeliat dan makin mendesah. Sambil menciumiku si sopir mengangkat dasterku yang telah berantakan, secara refleks aku mengangkat kedua tangan membiarkan satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhku lepas melalui kepalaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah, bener-bener rejeki nomplok nih bisa dapet cewek putih mulus gini !” sahut si sopir mengagumi tubuhku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya aku disuruh berlutut, lalu mereka membuka celananya di depanku. Aku sempat terpana melihat penis mereka yang sudah berdiri tegak, keduanya keras, berurat, dan hitam. Milik si sopir sedikit lebih panjang daripada punya si Din.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo Non, pilih aja mana yang mau diservis duluan” kata si sopir cengengesan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kugenggam kedua penis itu dan sengaja memainkannya dengan kocokan dan pijatan pada zakarnya agar nafsu kedua orang ini makin membara. Aku tersenyum nakal melihat reaksi keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuuhh…ohh…asoy banget kocokannya Non !” desah si Din&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai membuka lebar mulutku dan memasukkan penis Din ke dalamnya. Dengan penuh perasaan aku mengulum penis itu sambil tanganku mengocoki penis si sopir. Sesaat kemudian aku mengeluarkan penis si Din dan beralih ke si sopir, sepertinya servis mulutku membuatnya ketagihan, ia menahan kepalaku dengan tangannya seolah tak rela melepasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku gelagapan saat si sopir menyenggamai mulutku dengan beringas hingga akhirnya dia menyembur ke dalam mulutku, sebagian meleleh ke dagu, namun sebagian besar tertelan. Aku tidak sempat mempraktekkan teknik menyedotku yang lihai itu karena dia terus menyodok mulutku bahkan ketika keluar sampai tersedak aku dibuatnya, begitu kulepas emutanku aku langsung batuk-batuk dan meludahi sisa sperma itu dari mulutku. Sesaat aku bersimpuh di lantai meminum air yang disodorkan Bang Din dan mengatur kembali nafasku. Kemudian dia merebahkan tubuhku di lantai marmer yang dingin itu dan mencium dan menjamahnya dari wajah hingga berhenti di kemaluanku yang sudah basah, dia menjilat dan mengisapnya dengan lahap. Mulutku mendesis nikmat dan kedua paha mulusku mengapit kepalanya. Kulihat si sopir menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya, dia juga melihat-lihat isi kulkasku, kemudian diambilnya sekotak susu kecil Indomik dan kembali menghampiri kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oii-ooi…kita sarapan sambil ngentot yuk !” sahutnya seraya menggigit ujung kotak susu itu dan menyobeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditumpahkannya susu itu ke sekujur tubuhku sampai habis. Kurasakan dinginnya air susu dan lantai marmer pada tubuhku yang sudah memanas. Bagaikan menyantapku, keduanya menjilati dan mencium tubuhku yang sudah rasa susu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmuuahh…enak banget, jadi manis kaya orangnya !” komentar Din sambil menjilati vaginaku yang bersusu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sluurrpp…slurrp !” demikian suara mereka menikmati susu pada tubuhku, suara itu dimeriahkan oleh desahan dari mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini namanya susu campur, ada susu sapinya, ada susu ceweknya, hehehe….” kata si sopir setelah menghabiskan susu yang bercucuran di tubuh bagian atasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heh, tambah lagi dong susunya, udah mau habis nih !” pinta Din pada temannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beres Din, masih ada kok !” kembali si sopir membuka kulkas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kembali lagi tapi kali ini bukan dengan susu kotak melainkan whipping cream strawberry. Sepertinya dia tidak tahu makanan apa itu sehingga diapun bertanya padaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh…non, kalo yang ini apaan sih ? susu bukan, es krim juga bukan”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dasar udik !” kataku dalam hati, “itu namanya whipping cream Bang, biasanya buat makan sama buah” jelasku padanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hei, mendadak aku terpikir sebuah cara baru untuk menikmati oral seks. Maka kuminta Din untuk berdiri dan menyodorkan penisnya padaku. Lalu kebaluri penisnya yang hitam dengan whipping cream itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah….wah kontol saya mau diapain Non, asal jangan dimakan yah” katanya menanggapi tindakanku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kujawab hanya dengan membuka mulut dan memasukkan penis itu ke mulutku. Hhmmm…nikmat, penis rasa strawberry kesukaanku, kukulum-kulum seperti permen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuisap maju-mundur penis itu, pipiku sesekali menggembung tertekan kepala penisnya. Sementara aku menyepong, si sopir tak bosan-bosannya menggerayangiku dari belakang, payudaraku diremasi dan diputar-putar putingnya, vaginaku diusap-usap, dari permukaan jari-jari itu merambat masuk lebih dalam dan mengorek-ngoreknya. Yang membuatku tambah gila adalah ketika dia memain-mainkan biji klitorisku persis seperti yang dia lakukan terhadap putingku. Leher dan bahuku juga tidak luput dari cupangan-cupangan yang dilancarkannya hingga meninggalkan bekas cupangan dan ludah. Aku pun makin menggelinjang sambil terus mengeluarkan desahan-desahan tertahan.&lt;br /&gt;
Tiba-tiba si sopir mendekap pinggangku dan mengangkatnya ke atas, maka posisiku kini berdiri dengan badan atas menunduk 90 derajat. Tanpa melepas penis Bang Din, aku melingkarkan tangan pada tubuhnya sebagai penyangga. Dua jari si sopir telah membuka bibir vaginaku dan penisnya ditekan masuk ke dalamnya. Badanku mengejang beberapa detik ketika benda itu menerobos vaginaku. Selanjutnya si sopir memaju-mundurkan pinggulnya dengan ganas sambil melenguh keenakan merasakan jepitan otot-otot kemaluanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hhmmmhh…memeknya enak banget Non, seret dan basah !” serunya sambil meninggikan frekuensi genjotannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Servis mulutnya juga yahud, puas banget gua main sama cewek kaya gini, hahaha…!” timpal si Din sambil tertawa-tawa dan menggerayangi payudaraku yang menggantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tidak ingin cepat-cepat orgasme si Din menyuruhku melepaskan penisnya, kemudian tubuhku ditegakkan kembali, kini si sopir yang menyanggaku dengan dekapannya. Disenggamainya aku dalam posisi berdiri. Si Din memungut kemasan whiping cream dari lantai, lalu melumurinya pada kedua payudaraku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gua juga mau coba rasa cream strawberry ini, mmmhhh !” katanya lalu melumat payudaraku yang berlumuran whiping cream itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ssspp…ssrrpp…!” seluruh payudaraku dilumatnya, putingku dijilat dan dihisapnya, dinikmatinya kedua daging kenyal rasa strawberry itu seperti makan es krim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sensasi geli juga kurasakan pada lubang dan daun telingaku yang dijilati si sopir yang juga sedang menyetubuhiku dari belakang. Aku cuma bisa mendesah lirih dalam pelukan keduanya, membiarkan tubuhku diperlakukan sesuka mereka. Sekarang aku merasakan adanya desakan dari vaginaku yang ingin segera meledak sehingga aku merapatkan kedua paha meresapi kenikmatannya. Akhirnya aku klimaks diiringi erangan panjang, kakiku lemas sekali kalau saja tidak didekap si sopir pasti ambruk. Sebentar kemudian, dia menyusul menyiram rahimku dengan sperma hangat. Tak kubayangkan betapa banjirnya kemaluanku, cairan kewanitaanku plus spermanya meleleh keluar menyertai penis si sopir yang masih keluar-masuk dengan kecepatan menurun, daerah pangkal pahaku dan sekitarnya jadi basah oleh cairan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuhku melorot ke bawah mengikuti si sopir yang terduduk bersila di lantai. Kusandarkan kepalaku pada dadanya yang sedikit berbulu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nah, sekarang giliran gua !” sahut Din sambil meraih kakiku dan membentangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mulus penisnya meluncur masuk ke dalam vaginaku yang sudah basah kuyup. Suara kecipak cairan terdengar setiap kali dia hujamkan penisnya. Sodokannya makin lama makin bertenaga membuat tubuhku terguncang-guncang, akupun sudah kehilangan kendali diri, mataku membeliak-beliak, mulutku menceracau tak karuan mengerang dan mengeluarkan ucapan-ucapan erotis. Si sopir yang menopangku terus giat memijati payudaraku, putingku digesek-gesekkan dengan jarinya yang kasar, kadang dipilin dan kadang diemutnya. Penisnya yang mulai bangkit lagi terasa menyentuh punggungku. Dia menundukkan kepala mendekati mulutku hingga bertemu mulutnya. Kami bercumbu panas sekali, lidah kami saling beradu bak sepasang ular kawin. Lima belas menit kemudian Bang Din membekap badanku ke arahnya dan dia sendiri membaringkan dirinya di lantai, maka posisiku kini telungkup diatasnya. Dengan begitu pantatku menungging ke arah si sopir yang kini membasahi anusku dengan ludahnya dan menekan-nekankan jarinya di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aaakkhh…!!” aku merintih dan menghentikan goyanganku sejenak ketika si sopir memasukkan penisnya ke anusku., bahu Bang Din kucengkram erat-erat menahan rasa sakitnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya sangatlah menyesakkan ditusuk dua batang perkasa itu, terutama yang bagian anus. Kami bertiga mulai berpacu dalam birahi, rasa perih perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh. Sulit dilukiskan perasaanku waktu itu, pokoknya rasanya seperti melayang-layang dengan dilingkupi rasa nikmat yang luar biasa. Hal ini berlangsung selama duapuluh menit lamanya sampai suatu saat dimana tubuhku bergetar melepas suatu bentuk energi berupa orgasme dahsyat yang menyebabkan tubuhku berkelejotan, tangan dan kakiku terasa kejang-kejang, serta mulutku mengeluarkan erangan panjang. Mukaku memerah, keringat pun bercucuran membasahi badan kami, akhirnya akupun tergolek lemas di atas tubuh Bang Din setelah gelombang orgasme surut. Sementara itu kedua tukang sampah itu masih terus menggenjot vagina dan anusku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya Bang Din menegakkan tubuhku dan menarik lepas penisnya, kemudian dikocoknya batangnya yang masih tegak itu dekat mukaku, akhirnya cret…cret muncratlah cairan kental itu membasahi wajahku, karena semprotannya kencang dan deras, bukan cuma mukaku saja yang basah, rambut, leher dan payudaraku pun terkena cipratannya. Tak lama kemudian, si sopir pun mencabut penisnya dari anusku, dibiarkannya aku ambruk telentang di lantai. Dia berdiri di sampingku mengocok penisnya hingga menumpahkan isinya di badanku. Puas dan lelah kurasakan sekaligus pada saat bersamaan. Mereka tertawa-tawa melihatku yang terbaring di lantai sambil menggosok-gosokkan sperma ke tubuhku. Aku membalas senyuman nakal mereka sambil mengemut jariku yang belepotan sperma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara aku memulihkan tenaga, mereka mulai berpakaian lagi dan membereskan dus-dus yang berserakan tadi lalu membawa sampah-sampah itu ke truk. Beberapa menit kemudian Bang Din kembali dengan tong sampah yang sudah kosong, akupun bangkit dan memakai kembali dasterku untuk mengantarnya keluar rumahku. Setelah pamitan dan berterimakasih atas kesempatan emas dariku, truk itu mulai meluncur menjauhi rumahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeninggal mereka aku langsung mandi membersihkan badanku dari aroma persetubuhan barusan, kemudian kustel weker dan tidur sebentar mengisi tenaga untuk kuliah jam sebelas nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Korban Permainan Bapak Kost&lt;br /&gt;
0 comments | February 25, 2010&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuuh..nyebelin banget sih tuh aki-aki..” gerutu Mona sambil mengunci pintu kamar kostnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali hari ini ia sebel dengan Pak Mahmud, si bapak kostnya yang sering bersikap genit dan terkadang menjurus kurang ajar terhadap dirinya. Kejadiannya tadi saat dia pulang kantor berpapasan dengan Pak Mahmud yang sedang berusaha memaku sesuatu di dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sore pak..lagi ngapain pak..?” sapa Mona demi kesopanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh..mba Mona dah pulang..”sahut Mahmud dengan mata berbinar. “Kebetulan aku mau minta tolong sebentar bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mona yang mau buru-buru ke kamar terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apaan pak?” tanyanya sekenanya, kembali ia kesal melihat pandangan mata pak tua itu yang jelalatan ke arah dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini loh..kamu bisa pasangin lukisan ini ga kepaku yang dah saya pasang itu, takutnya tangganya goyang banget karena berat badan saya, maklum agak gendut gini ribet jadinya” katanya sambil cengengesan dan kembali pandangan matanya menyantap kulit leher Mona yang mulus.”nanti saya pegangin tangganya”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mona menyanggupi dan dia menaiki tangga yang memang sudah goyang itu, gadis itu baru sadar pas naik ke pijakan kedua bahwa tangga itu memiliki jarak yang cukup lebar antara pijakan-pijakannya, jadi saat kakinya naik ke pijakan kedua, dirinya yang saat ini menggunakan rok span ketat agak kesulitan dan roknya menjadi tertarik ke atas sehingga pahanya menjadi terbuka. Kejadian itu berulang lagi saat ia ke pijakan ketiga, bahkan jaraknya makin jauh sehingga pahanya makin terbuka lebih lebar. Mona mengutuk dalam hati, saat melirik Pak Mahmud yang dengan senyum mesumnya menikmati pahanya yang jenjang dan berkulit mulus bersih itu. Melihat pemandangan indah ini, Pak Mahmud merasa nafasnya sesak sama sesaknya dengan penisnya yang jadi menegang. Sungguh indah bentuk paha gadis ini dan ia dengan bebas bisa melihat dari dekat, ingin rasanya mengelus paha montok nan mulus itu, tapi ia menahan diri. Ia menyerahkan lukisan ke Mona untuk dipasang, tapi karena nyantolinnya masih agak tinggi maka gadis itu harus memasangnya dengan mengangkat tangannya setinggi mungkin, ia tidak sadar bahwa karena gerakannya itu blusnya yang pendek ikut tertarik ke atas sehingga terlihat kulit pinggangnya yang ramping sampai ke perut di bawah dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sengaja Pak Mahmud menggoyangkan tangganya sehingga memperlama dirinya untuk bisa menikmati pemandangan pinggang berkulit mulus gadis itu. Setelah selesai terpasang, Mona menurunkan kaki kirinya ke pijakan kedua yang ternyata tanpa sepengetahuannya telah dilonggarkan pakunya. Sambil terus menikmati paha Mona yang terbuka kembali, Pak Mahmud bersiap-siap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eiiihh…eiihh..” Mona menjerit kecil saat pijakannya lepas dan ia terjatuh ke belakang dan saat itu dengan sigap Pak Mahmud menangkapnya sehingga tidak sampai terjatuh lebih parah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merah muka gadis itu karena satu tangan yang menahan dirinya memegang tepat ke pantatnya dan sepertinya ia merasa tangan itu sedikit meremasnya. Dengan cepat ia menjauhkan badannya dari “pelukan” Pak Mahmud yang mengambil kesempatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Waduh, untung sempet saya pegangin mba nya, kalo ngga bisa berabe tuh..” ujar Pak Mahmud cengengesan yang masih menikmati hangatnya tubuh dan kenyalnya pantat Mona tadi walau sesaat tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mmm..iya pak, makasih..udah kan pak ya..” tukas Mona sambil ngeloyor pergi dengan diikuti pandangan Mahmud yang menikmati gerakan pinggul gadis yang montok itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmm..tunggu aja ntar ya..lo bakal kena ama gua” pikir pria tambun setengah tua ini dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah banyak planning yang kotor dan mesum darinya yang memang punya sedikit kelainan seks ini. Di dalam kamar, Mona masih sebel sama kejadian tadi. Sudah terlalu sering ia mendapat perlakukan atau kata-kata yang menjurus mesum dari bandot tua itu, tapi ia berusaha menahan diri mengingat bahwa tempat kost ini cukup murah dengan fasilitas yang ada juga ditambah lagi dengan lokasi yang di tengah kota dan dekat ke tempat kerja atau mau ke mana-mana. Maka ia memutuskan untuk tetap bertahan asalkan si mesum itu tidak terlalu kurang ajar. Bila ketemu pasti Mona merasa risih dan agak ngeri ngeliat mata Mahmud yang seperti menelanjangi sekujur tubuhnya, tapi terkadang selain ngeri dan risih gadis itu juga merasakan bangga dan senang karena kecantikan dan tubuhnya menjadi perhatian sampai seperti itu walau Mahmud bukan levelnya untuk bisa menikmati dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kali kalau berpapasan sama Mahmud dan berbincang-bincang, selalu saja tangannya tidak pernah diam menjamah, walau hanya menjamah pundak atau lengannya tetap saja gadis itu merasa risih karena sambil melakukan itu bapak kost itu merayu dengan kata-kata yang kampungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ahh..udahlah, ga penting juga..mendingan gua mandi” kata Mona dalam hati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil berkaca ia mulai melepas satu per satu kancing blusnya dan melepasnya sehingga bagian atasnya kini hanya tertutup BH biru muda yang susah payah berusaha menutupi payudara berukuran 34D itu. Dengan pinggang yang ramping, maka buah dada itu tampak sangat besar dan indah dan karena Mona rajin ke fitness makin tampak kencang dan padat. Sungguh merupakan idaman bagi semua laki-laki di dunia bagi yang dapat menikmatinya. Lalu ia melanjutkan dengan melepas rok span-nya ke bawah sehingga kini tubuh yang memiliki tinggi 168cm ini hanya ditutupi bra dan cd yang berwarna senada. Body yang akan membuat laki-laki rela untuk mati agar bisa mendapatkannya, memiliki kulit putih asia dan dihiasi dengan bulu-bulu halus nan lembut. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan dunia tiada tara. Mona melepas kaitan bra disusul dengan cd-nya yang segera dilemparkan ke ember tempat baju kotor. Ia memandang sejenak ke cermin, melihat payudaranya seperti “bernafas” setelah seharian dibungkus dengan bra. Gumpalan daging yang kenyal dan padat dengan puting berwarna coklat muda sungguh menggairahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auuh…” gadis itu sedikit merintih atau tersentak saat ia memegang kedua putingnya, serasa ada aliran listrik menyengat lembut dan menimbulkan rasa sensasi geli pada kemaluannya yang tanpa sadar tangan kirinya turun ke arah vaginanya dan sedikit membelainya.&lt;br /&gt;
Sambil senyum-senyum sendiri, gadis itu membayangkan dada telanjangnya dan membusung ini selalu menjadi sasaran remasan dari Roy pacarnya yang tidak penah bosan juga mengulum puting dan menciumi kulit payudaranya yang mulus dan harum itu. Tidak percuma ia setiap 3 hari sekali memberikan lulur pada tubuhnya, terutama pada payudaranya yang sampai sekarang memiliki aroma yang memabukkan walaupun dalam kondisi berkeringat.&lt;br /&gt;
Mona menghela nafas panjang menahan gejolak birahi yang timbul, dan sekarang ia merasa ingin dilampiaskan. Padahal baru tadi malam ia berenang di lautan asmara yang menggelora dengan pacarnya. Ia merasa dirinya selalu saja haus akan belaian pacarnya, padahal hampir setiap ketemu mereka bercumbu dengan hot dan yang suka bikin ngiler adalah mengulum penis Roy sampe bisa keluar spermanya. Kini ia membayangkan ukuran penis Roy saja udah bikin deg-degan, ga sabar untuk ketemu dan mengemut-ngemut batang kemaluan yang kokoh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuuh..mending gua mandi aja deh, otak gua jadi kotor nih..”&lt;br /&gt;
Selesai mandi, sedikit terusir pikiran-pikiran tadi karena sudah tersiram air dingin. “Loh, kok ga bisa sih nih?” Mona sudah beberapa saat ngga bisa memutar kunci lemari bajunya, ia masih coba terus beberapa saat tapi masih ga bisa juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Duh, mesti minta tolong ama bandot itu dong” keluhnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untungnya masih ada baju di keranjang yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari. Tapi setelah memilih-milih, di keranjang baju itu hanya ada underwear 2 pasang dan baju-baju khusus tidur yang tipis dan seksi serta baju dalaman sexy seperti tanktop dan rok mini yang mininya 20 cm dari lutut. Dari pada pakai baju tidur tipis ia memilih rok mini dan tank top yang rendah belahannya. Sebelum ke Pak Mahmud, Mona memilih untuk makan malam dulu di ruang makan bersama, sambil makan ia menyalakan tv dan duduk di ujung sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehh..mba Mona baru makan ya..bapak temenin ya, ga baik cewe seseksi kamu makan sendirian” tiba-tiba si bandot itu muncul, dan langsung menyantap paha Mona yang disilangkan itu, sungguh mulus, lalu ia duduk di samping gadis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia pak..sekalian makan pak…terus sama minta tolong kok lemari baju saya ga bisa dibuka yah?” pinta Mona sambil menggeser menjauh dan berusaha dengan sia-sia menarik turun rok mininya. “buset tuh mataaaa…abis gua..” katanya dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ooo gitu, nanti saya periksa deeeh…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makasih ya pak”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mona buru-buru nyelesaiin makannya, saat tiba-tiba ia merasa dadanya bagian putingnya terasa gatal. Awalnya berusaha ditahan saja tapi makin lama makin meningkat rasa gatalnya, dan bukan itu saja kini ia merasakan hal yang sama pada vaginanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia masih berusaha menahan tapi sudah hampir tidak kuat, duduknya jadi gelisah dan ia berusaha menggoyangkan badannya agar rasa gatal itu hilang bergesekan dengan bahan bra-nya dan ia mempererat silangan kakinya. Tapi rasa gatalnya tidak berkurang, bahkan kini seluruh daging kenyal payudaranya terasa gatal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouuuhh..” akhirnya Mona tidak tahan dan ia menggaruk sedikit kedua payudaranya dengan tangannya, saat ia menggaruk terasa nyaman sekali karena gatalnya berkurang tapi sulit untuk berhenti menggaruk. Sambil memejamkan matanya karena keenakan menggaruk ia lupa ada Pak Mahmud di situ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa kamu? Kamu kegatelan yaah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuuhh…sssshh..ehm, i…iya pak..” terkejut Mona karena baru ingat ada si bandot di sampingnya, tapi ia terus menggaruk makin cepat dan karena tak tahan ia menggaruk juga ke pangkal pahanya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuuuuffh..ssshh…” aliran darah Mona berdesir cepat karena sensasi menggaruknya itu selain menghilangkan rasa gatal juga membuat birahinya tergelitik. “per..permisi pak..uuffh..” sambil terus menggaruk ia mau bangkit dari kursi tapi rasa gatal itu makin menghebat yang akhirnya dia hanya teduduk kembali sambil terus menggaruk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedetik ia melihat Mahmud hanya menonton dengan pandangan penuh nafsu setan ke dirinya yang terus menggaruk itu. Gadis itu mengutuk karena ia memberikan tontonan gratis kepada pria tua itu tanpa dapat mencegah. Gerakannya makin cepat dan tidak karuan karena kedua tangannya hanya bisa menggaruk 2 bagian dari 3 bagian tubuhnya yang terserang itu, kini rok mininya sudah tersingkap semua karena ia harus menggaruk liang kemaluannya sehingga memperlihatkan kedua pahanya yang jenjang dan berkulit putih mulus itu. Gadis itu terus merintih-rintih karena kini rasa gatalnya sepertinya tidak bisa digaruk hanya dengan garukan yang masih terhalang kaos dan bh untuk kedua payudaranya dan celana dalam tipisnya untuk vaginanya, tubuhnya serasa lemas karena rasa gatal dan birahinya yang kini membuat vaginanya menjadi basah dan ia merasa putingnya mengeras.&lt;br /&gt;
Pak Mahmud&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Misi pak…mau ke kamar dulu niiih..uuhh..” Kata Mona, tapi Pak Mahmud diam saja menghalangi jalan keluarnya. Rasanya ingin marah saja tapi rasa gatal itu menghalangi rasa marahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena akhirnya ia tidak tahan dan tidak bisa mencegah lagi, dengan serabutan dan cepat ia menarik tali tank topnya kebawah dan menarik turun branya sehingga kini buah dadanya telanjang yang segera ia menggaruk dengan cepat dua gunung indah itu terutama putingnya yang kini sudah mancung dan mengeras, kakinya bergerak blingsatan karena rasa gatal pada vaginanya makin menghebat. Pak Mamud tertawa dalam hati, ia menikmati melihat indahnya pemandangan di depannya itu, betapa buah dada Mona yang berbentuk bulat kencang itu tidak tertutup apapun serta baju Mona yang sudah tidak keruan. Senang ia melihat gadis yang cantik tapi sombong ini kini tampak tidak berdaya. Rencana awal ini berhasil dengan baik, yang ternyata ia telah mengganti kunci lemari baju Mona dan menaruh bubuk gatal pada pakaian dalam gadis itu dan sengaja memilihkan baju yang seksi tertinggal di luar lemari. Tangan Mona masih bergerak cepat berpindah-pindah mencoba menggaruk 3 bagian tubuh, makin lama makin menghebat dan dari mulutnya meracau tidak jelas. Dengan susah ia berusaha menggaruk vaginanya secara langsung tapi ia kesulitan karena harus menggaruk putingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya bantu ya sayang…” tanpa disuruh ia menarik turun celana dalam tipis Mona, sehingga sekarang terlihat “bibir” bawah tersebut yang dihiasi bulu-bulu halus. Tampak indah sekali dan menggairahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggeeh..ja..gan kurang ooouhh..”ia tidak dapat melanjutkan umpatannya karena ia menikmati garukan pada vaginanya walau ia harus berpindah lagi sambil merintih-rintih terus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia terkejut sesaat ketika tangan Pak Mahmud mengelus-elus pahanya, tapi ia tidak bisa memperdulikannya lagi yang penting ia harus terus menggaruk. Dengan leluasa Pak Mahmud menjelajahi lekuk liku tubuh montok itu tanpa penolakan, kulit pahanya terasa lembut dan daging paha sintal itu terasa kenyal dan hangat dalam usapannya. Karena belaian-belaian yang dilakukannya ini membuat Mona makin menggelinjang karena kini birahinya sudah melonjak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Biar ini aku yang bantu yaah..” dengan sigap jari-jari tangannya hinggap di vagina Mona dan menggeseknya dengan liar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouuuuhh…ss..stoopp…aiiieh…iyaa…ouuhh” ngga jelas Mona mau ngomong apa, sedetik ia tahu vaginanya sedang diobok-obok oleh orang yang dia sebel, tapi ia tidak tau dan tidak berdaya karena rasa gatal dan nafsunya yang memuncak sehingga dia tidak mampu menolak perbuatan Mahmud. Kini ia fokus menggaruk payudaranya, tidak hanya digaruk tapi juga diremas-remas dan memuntir-muntir putingnya sendiri. Dengan leluasa Mahmud menggesek-gesek bagian tubuh yang paling rahasia milik gadis itu. Hampir 5 menit kini liang vagina itu sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak karena gerakan jari-jari Mahmud yang sudah ahli itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“aaahh..jgn dilepas..ohh…pak..” jerit Mona saat tangan Mahmud mengangkat tangannya dari vaginanya yg sudah basah itu dan malah “cuman” mengelus-elus pahanya dan meremas pantatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa sayang..? kamu mau aku untuk terus mengobok-obok memek kamu..?” tanya Mahmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngeh..ngeh..iii yaaa paakk…ouufh..” diantara engahannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“kamu yakin..??”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“uuhh…ngeh…sssh..” ia hanya mengangguk&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“kamu mohon dong sama aku..paaak Mahmud sayang, tolong obok-obok memek saya…please saya mohon”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar perintah itu, sekejap Mona merasa malu dan marah tapi segera terganti kebutuhan body-nya yang sudah terbakar birahi secara aneh itu. Ia berusaha untuk tidak mengucapkan itu dengan terus menggaruk, tapi ia tidak kuat..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ouuh..ngeh..Pa..Pak Mahmud sssss….sayaaang, ooh..tol..long obok…obok me…nggeh…memek sayaaaa…pleeeeease…uuuff.. saya mohoooonn…” erang Mona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tentu sayang…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu dengan sigap jarinya menggerayangi bibir vagina Mona yang becek itu dan menggesek dengan cepat. Mona melenguh penuh nikmat sambil meregangkan badannya, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haaa..ternyata disitu yaaa…” dengan ahli ia memainkan jari itu pada g-spot tsb yang mengakibatkan Mona mendesah-desah. Gadis itu merasakan terbentuknya sensasi orgasme menanjak naik..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oouuhh…ja.nggaannn..” ia berusaha menahan dirinya, tapi gerakan jari Mahmud makin menggila dan terus menggila, ia sudah hampir tidak tahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menggigit bibirnya dan memejamkan matanya ia berusaha menahan klimaksnya, tidak mengira bahwa dirinya dapat dibuat klimaks oleh Mahmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouuuuuuhhhhhh….aaaiiiieeeeeeeeeee…..” dengan teriakan panjang Mona mencapai puncaknya dan tubuhnya menggetar keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cairan makin deras membahasai liang vaginanya, ia menikmati setiap detik sensasi luar biasa itu. Tubuhnya makin lemas dan pandangannya nanar. Ia tak mampu menolak saat Mahmud menunduk dan mencium bibirnya yang tipis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“mmmmmpphhh…..” Mona mengerang dan sulit menolak saat lidah Mahmud memasuki rongga mulutnya dan melilit-lilit lidahnya, bahkan tanpa sadar ia membalas ciuman itu. Sementara tangan Mahmud masih mengocok kencang dan gadis itu merasakan kembali orgasmenya mau menyeruak lagi..apalagi saat ciuman Mahmud berpindah mencium puting kirinya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Auukkh..ssttopp..ssssshh…ssshh..” tapi Mona malah membusungkan dadanya mempermudah Mahmud menikmati puting kerasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini rasa gatalnya sudah terganti dengan desakan nafu setan yang tidak pernah terpuaskan, tangannya yang bebas dituntun oleh Mahmud ke penisnya di balik sarungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“oouuh..bes..bessar banget ppaakk..” gumam Mona tanpa sadar saat merasakan batang hangat yang berdenyut-denyut dalam genggamannya, ia melirik ke arah batang kemaluan Pak Mahmud yang ternyata lebih besar dibanding milik pacarnya, pikiran nafsunya tanpa sadar membayangkan apakah ia mampu untuk mengulum penis itu dalam mulutnya atau membayangkan bagaimana rasanya bila penis itu menyerang vaginanya. Dengan birahinya yang terus membara dan terus dijaga geloranya oleh Mahmud, Mona dengan suka rela mengocok-ngocok penis raksasa Pak Mahmud itu, ia sudah tidak ingat akan bencinya dia terhadap pria tua berumur 60 tahun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahmud mulai mendesah-desah keenakan di antara kulumannya pada kedua puting Mona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“aaaaaaannggghhhhh…pppaaaakkhh……aaaaaaannggghh…” Mona mencapai klimaks sampai dua kali berturut-turut karena kocokan tangan Mahmud, matanya makin nanar dan bibir seksinya menyeringai seperti menahan sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang kamu isep punya bapak yaa..kamu kan jago kalo sama pacar kamu”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“ouuh..ngga ma..mau..ap…aauupphhh..mmmhh..” Mona yang lemas akibat klimaks tadi tak berdaya menolak saat Mahmud menarik lehernya membungkuk ke arah batang “monas” nya, tidak memperdulikan protes Mona yang ia tau hanya pura-pura karena sebenarnya sudah jatuh dalam genggamannya. Kini dengan dengan bibirnya yang seksi dan lidah yang hangat lembut itu mulai mengulum batang kemaluan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oooh..enak sayaaang…kamu memang jago..sssshh…kamu suka kan..?” tanyanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“mmmmmpph…sllluurpp..mmmmmm” hanya itu yang keluar dari mulut Mona, yang dengan semangat memainkan lidahnya menjilati dan menghisap penis Mahmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma dan rasa dari penis laki-laki itu telah menyihirnya untuk memberikan sepongan yang paling enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bapak tau..kamu cuman cewek sombong yang sebenarnya punya jiwa murahan dan pelacur…plaakk..!!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mona tersentak saat pantat bulatnya ditepak oleh Mahmud, mukanya merah dan marah tapi sebenarnya malah membuat dia makin terangsang dan makin cepat ia mem-blow job penis Mahmud. Belum pernah ia merasakan birahinya dibangkitkan dengan cara kasar ini, tapi ia tau bahwa ia sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kurang ajar nih aki-aki” gerutunya dalam hati dan ia menggigit gemas ke penis Mahmud yng membuatnya itu mengelinjang dan lidahnya makin cepat menyapu urat di bawah penis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo..sekarang kamu naikin penis aku..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa berucap Mona mulai menaiki ke atas tubuh tambun Mahmud, dengan deg-degan menanti penis besar itu ia menurunkan pinggulnya dengan dibantu tangan Mahmud yang memegang pinggangnya yang ramping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ooooh..” Mona mengerang saat ujung “helm” penis itu bersentuhan dengan bibir vaginanya dan mulai memasuki liang surga. Kembali ia mengerang menahan sedikit sakit saat baru masuk sedikit, liang vaginanya berusaha mengimbangi diameter penis Mahmud itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak kan sayang?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hmmmmm…nggh…” Mona hanya mengerang dan memjamkan mata menunggu penis itu membenam ke dalam vaginanya. Tapi Mahmud hanya menggesek-gesek liang vagina Mona itu dengan ujung kepala “meriamnya”. Gadis itu menggoyang-goyang pinggul seksinya dan berusaha menurunkan badannya, tapi Mahmud tetap menahan pinggulnya sehingga tetap belum dapat “menunggangi” penis Mahmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hemmm…kenapa sayang? Udah ga sabar yaa ngerasain kontol bapak?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Huuh?..nggeeeh…aa..paahh…” Mona ngga tau harus ngomong apa, masih tersisa gengsi pada dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hehehe..masih sok alim uuh..kamu ya..? Kalo kamu mau kontol bapak, kamu harus memohon dengan mengaku diri kamu itu cuman perek murahan dan lakukan dengan seksi..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“aaahh…sssh..kenapa mes..ti gitu paakk…pleaaase…” Mona sudah benar-benar terangsang dan tidak bisa berfikir jernih lagi, dalam pikirannya kini hanya penis Mahmud saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahmud mendengus dan seperti hendak memindahkan tubuh Mona di atasanya, merasa perbuatan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oouuh ooke..okeeh paaak…ngeh, tega bgt sih bapak…oouf paak, tolong masukin kontol ba..ngeehh..bapak ke memekku paak, entotin sayaaa ooh paakk…akkuu..memang cewe murahan yang sok suci..nggeh..pleease..paakk..akuuu mohooon…” pinta Mona memelas sambil meremas-remas kedua payudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hehehehe…kamu tergila-gila ya sama kontol bapak..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iyaa ppaakkh…please..aku ga tahaaan paakk…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kontol pacar kamu ga ada apa-apanya kan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“oouuh..jauuh pakkk..punya bapak lebih hebaat dan enaaaakk”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hehehe..good…ini dia hadiahnya..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahmud lalu menarik ke atas tubuh Mona dan menurunkannya kembali, dengan diiringi erangan Mona merasakan penis itu makin dalam masuknya dan sulit ia menahan diri untuk tidak klimaks yang keempat kalinya. Mona kembali menaikkan badannya dan menurunkan kembali sehingga sudah ¾ penis itu diemut vaginanya. Gerakannya diulangi berkali-kali, awalnya perlahan tapi makin lama makin cepat karena vaginanya sudah bisa “menerima” penis berukuran di atas rata-rata itu. Gadis itu sudah benar-benar dikuasai nafsu birahinya dan ia merasa terbang ke awang-awang merasakan gesekan-gesekan penis Mahmud dengan dinding vaginanya. Tidak sampai 5 menit Mona sudah merasakan akan keluar lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouuh..gilaaa..paaakkh..oouuuhhhhhhhhh..” Mona mencapai klimaksnya lagi dan ia terus bergerak naik turun menunggangi penis yang masih perkasa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buah dadanya yang besar menggantung itu bergerak naik turun mengikuti irama gerakan badannya, dengan nikmat Mahmud meraup gumpalan daging kenyal itu dan meremas-remasnya dengan gemas. Dengan liar ia terus menunggangi penis itu, diiring dengan bunyi “plok..plok..plok..plok..” yang makin cepat akibat beradunya badan Mona dengan perut buncit Mahmud. Hampir 15 menit Mona menikmati hunjaman-hujaman penis itu, dalam periode itu Mona sudah mencapai orgasme sampai 4x lagi, ia tidak dapat menahan untuk tidak melenguh dan berteriak nikmat. Pikirannya sulit untuk fokus bahwa ia telah dibuat klimaks oleh seorang laki-laki yang pantas jadi ayahnya. Ia merasa lemah sekali akan nafsu yang menguasainya, tapi sungguh terasa nikmat sekali yang tidak mampu ditolaknya. Mahmud juga sudah hampir mencapai puncaknya, penisnya telah mengeras sampai maksimal dah hal ini juga dirasakan oleh Mona, ia mempercepat gerakan naik turunnya yang menyebabkan buah dada montoknya bouncing naik turun makin cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Uuuaaahh…gilaaaaa…ooouuuhhh…” akhirnya Mahmud tidak dpt menahan lagi, spermanya muncrat seiring dengan klimaksnya yang ternyata berbarengan dengan klimaks yang sangat kuat dari Mona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahmud merasakan dinding vagina Mona yang hangat itu bergetar menambah kenikmatan klimaksnya. Dengan lunglai Mona turun dari tunggangannya dan rebah di samping Pak Mahmud yang juga masih merem melek habis menikmati tubuh gadis cantik dan sexy itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu memang hebat hebat cantik…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cukup pak..ngeh, aku ga tau kenapa bisa kaya gini tadi..ini harusnya gak terjadi, cukup sekali ini terjadi” Mona yang sudah mulai jernih pikirannya, ia kini sangat menyesali bahwa ia menyerahkan dirinya secara sukarela kepada Mahmud. Ia memutuskan untuk pindah kost dan kejadian tadi harus dikubur dalam-dalam, tidak boleh ada yang tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat Mona yang mulai membereskan bajunya dan hendak pergi, Mahmud bergerak cepat. Ia memegang leher belakang Mona yang sedang membungkuk hendak mengambil cdnya lalu dengan cepat membenturkannya ke meja kayu yang ada di depan mereka duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“uuuugghhh….” kerasnya benturan itu membuat ia setengah pingsan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“hehehe..ga secepat itu sayang..kamu akan jadi milikku..” Mahmud lalu menarik tangan Mona dan gadis itu pasrah saja dibawa dengan setengah sadar masuk ke kamar Mahmud. Lalu setelah melepas sisa bajunya, ia merebahkan tubuh telanjang yang masih lemas itu ke atas ranjangnya. Lalu ia mengikat kedua pegelangan kaki dan pergelangan tangan Mona ke ujung ranjang besi, sehingga kini tubuh telanjangnya itu dalam posisi kaki yang mengangkang lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“uuuh..apa-apaan inih…lepasin paak…”dengan suara masih serak dan lemah Mona berontak dengan percuma, ia mulai takut apa yang hendak dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat posisi dan kondisi Mona yang menggairahkan itu, Mahmud tidak tahan lagi ia membungkuk lalu menciumi payudara montok dan memainkan lidahnya mengecupi puting Mona yang sebentar saja langsung mengeras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ouuh..pak..! lepasin saya pak…kalo ngga sa…aauupphh…mmbbllllmmmmm…” Mona tidak dapat melanjuntukan omongannya karena ditutup lakban oleh Mahmud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini kesadaran Mona sudah mulai pulih, ia masih terus berusaha memberontak untuk melepaskan ikatan kaki dan tangannya tapi ikatan itu sungguh kuat. Ia mulai takut karena kini ia tidak berdaya dan berada dlm kekuasaan Mahmud. Pandangan matanya mengikuti Mahmud seperti mata kelinci yang sedang ketakutan melihat serigala yang akan memangsa, dan air matanya mulai meleleh di pipinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eeeiih..kenapa nangis cantik? Aku paling ga suka liat cewe nangis…tapi sekarang kita liat film dulu ya…”ujar Mahmud sambil memasang kabel menghubungkan dari handycam ke tv. Lalu ia mulai menyetelnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata Mona terbelalak kaget saat melihat tayangan video di layar tv, jantungnya serasa akan copot dan kepalanya tiba-tiba pusing mendadak melihat adegan per adegan dari video itu. Ternyata kejadian di sofa ruang tengah tadi semuanya direkam oleh Mahmud dari tempat tersembunyi, terlihat jelas saat ia melihat dirinya mulai merasakan gatal yang menyerang, mulai mencopoti bajunya dan sampai kejadian dia berhubungan sex dengan Mahmud. Perasaannya makin hancur saat ternyata Mahmud tidak hanya merekam dari 1 sudut saja, terdapat 4 handicam tersembunyi yang merekam seluruh kejadian. Bahkan saat ia memohon kepada Mahmud untuk mengobok-obok vaginanya dan pengakuan dia sebagai cewek murahan juga terdengar jelas. Wajah gadis yang cantik itu jadi pucat dan tubuhnya bergetar, ia sudah menduga apa yang akan diminta oleh Mahmud dengan adanya video itu. Perasaannya geram, marah, benci, takut dan lain-lain bercampur aduk, kini ia hanya dapat menangis. Terlihat jelas bagaimana wajahnya menunjukkan dirinya menikmati setiap detik permainan panas itu dengan aki-aki tambun yang sudah tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Percuma kau menangis..kini kamu akan merasakan akibatnya karena selama ini menjadi cewek sombong yang sok suci. Bapak tau apa yang kamu lakukan sama pacar kamu selama ini, nah..sekarang kamu harus nurut apa yang bapak mau, kalo ngga bapak jamin film ini akan nyebar kemana-mana, kamu ngerti…??” tegas Mahmud. Mona hanya mengangguk lemah dengan pandangan sayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang yang aku minta kamu tidak boleh nangis selama kamu melayani saya..bisa..?? kalo tetap nangis kamu akan terima hukuman yang berat..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali Mona hanya mengangguk dan berusaha menahan air matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa akan ada jalan keluar nantinya. Tanpa sadar ia membayangkan kejadian tadi, dan ia teringat akan ukuran penis Pak Mahmud yang memang di atas rata-rata. Dengan pikiran itu tanpa dapat dicegah terasa desiran-desiran halus di perutnya dan ia merasa putingnya agak mengeras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sayang…yang punya penis si Mahmud anjing itu..” pikirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mona melotot kaget saat Mahmud mengambil sesuatu dari lemari yang ternyata merupakan dildo vibrator yang berukuran panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahmud kini duduk di ranjang di dekat kakinya yang ngangkang itu, memperlihatkan vaginanya yang terbuka menantang, lalu ia mengusap dengan tangannya yang mengakibatkan Mona terhentak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kayanya udah basah nih..udah siap yah..” goda Mahmud, lalu ia membungkuk dan wajahnya kini sudah di depan liang surga milik gadis cantik itu, tiba-tiba Mona menggelinjang saat lidah Mahmud menciumi dan menjilati vaginanya. Untuk beberapa saat Mona menggelinjang-gelinjang, nafasnya kembali memburu dan pandangan matanya sayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ngggeehhhhhhhh…!” Mona menjerit dengan mulutnya yang tertutup lakban, saat Mahmud memasukkan dildo ke dalam lubang kemaluannya yang sudah basah dan ngilu itu dan terus mengerang karena dildonya makin dalam ditusukkannya. Kembali ia menggelinjang hebat saat Mahmud menyalakan vibartornyanya. Terasa sakit, tapi setelah beberapa menit rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang tergantikan dengan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan atau pernah ia bayangkan. Kini erangannya terdengar seperti rintihan kenikmatan diiringi dengusan nafasnya yang memburu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mona melenguh panjang dan pelan, merasakan tubuhnya makin panas dan terangsang. Rasa menggelitik di perut bag bawah makin menggila dan menggelora. Dengan rasa malu dan kaget, ia mencapai klimaksnya dengan sensasi yang luar biasa..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“nngggggghhhhh…mmmmmmmmmmhhhhh…..!!!!” Tubuh montoknya menegang sesaat ketika klimaksnya menyerang, pandangan matanya makin sayu. Tapi dildo itu tetap bergetar seperti mengoyak-ngoyak bag dalam vaginanya, dan rasa nikmat kembali dirasakan makin meningkat, nafasnya memburu dan kini pikirannya sudah tidak terkontrol, nafsu birahinya terus membara karena dildo itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Naah..kamu seneng aja ya ditemenin ama dildo bapak ya…tenang aja, getarannya akan makin keras kok udah saya setting dan bapak colokin ke listrik..hehehe..bapak mau bikin back up untuk film kamu tadi ya..” kata Mahmud, ia hanya ketawa melihat Mona memandangnya dengan tubuh telanjangnya yang menggeliat-geliat, tubuh montok yang tampak berkilat karena keringat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahmud makin tertawa karena Mona mengerang lagi karena telah orgasme untuk kesekian kalinya, lalu ia meninggalkan Mona yang terus mengerang-erang karena getaran dildo itu. Tidak terhitung berapa kali Mona dipaksa untuk orgasme, tubuhnya mengkilat karena basah oleh peluhnya, gadis itu merasa lemas sekali tapi dildo yang menancap di vaginanya memaksa dia untuk terus dirangsang. Akhirnya karena tidak kuat lagi, gadis malang itu jatuh pingsan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-2322079672421103571?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/H7HR1R50_Pk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/2322079672421103571?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/2322079672421103571?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/H7HR1R50_Pk/cerita-bugil-bersama-sama-teman.html" title="cerita bugil bersama-sama teman" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-bugil-bersama-sama-teman.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck4BQH48eyp7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-6960751387729404465</id><published>2011-05-23T18:42:00.005+07:00</published><updated>2011-05-23T18:42:31.073+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:42:31.073+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita bugil anak kost</title><content type="html">SARI ANAK KOST BARU&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini. &lt;br /&gt;
Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya. &lt;br /&gt;
Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran. &lt;br /&gt;
Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku. &lt;br /&gt;
Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari. Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang&amp;nbsp; lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu. &lt;br /&gt;
Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi- pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu. &lt;br /&gt;
Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari. Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang. &lt;br /&gt;
Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut. &lt;br /&gt;
Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya. Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam. &lt;br /&gt;
Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia. &lt;br /&gt;
"Met pagi.." kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya. &lt;br /&gt;
Kami hanya bertatapan. &lt;br /&gt;
Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu. &lt;br /&gt;
"Kok semalam sampai larut sih..?" tanyaku. &lt;br /&gt;
"Kok tak juga diantar seperti biasanya..?" tanyaku lagi sebelum dia menjawab. &lt;br /&gt;
"Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam." jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi. &lt;br /&gt;
"Semalam nggak terkejut ya melihatku..?" aku mencoba menyelidiki. &lt;br /&gt;
Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda- tanda nih, sombongnya hatiku. &lt;br /&gt;
Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30&amp;nbsp; meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50&amp;nbsp; X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang. &lt;br /&gt;
Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk. &lt;br /&gt;
Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman- teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah. &lt;br /&gt;
Aku harus siapkan semuanya. Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti. &lt;br /&gt;
Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan. &lt;br /&gt;
Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku. &lt;br /&gt;
Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku. Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat. &lt;br /&gt;
"Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!" desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari. &lt;br /&gt;
"Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohh.. aku mau keluar.. ohh.." desahku lagi sambil tetap berdiri. &lt;br /&gt;
Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya. &lt;br /&gt;
"Oohh Sari.. Uhh Sarii.., Saarrii.. Nikmat sekali..!" desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat- kuat. &lt;br /&gt;
Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku. &lt;br /&gt;
Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita- citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang. &lt;br /&gt;
Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput. &lt;br /&gt;
Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya. &lt;br /&gt;
"Ehh.., ehh..!" desis Sari menikmati cumbuanku. &lt;br /&gt;
"Ehh.., ehh..!" sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah- daerah sensitifnya. &lt;br /&gt;
Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis- desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana,&amp;nbsp; mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan. &lt;br /&gt;
Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak- lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku. Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat. &lt;br /&gt;
Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing- masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku. &lt;br /&gt;
Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah. &lt;br /&gt;
Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang. Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku. &lt;br /&gt;
Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit. &lt;br /&gt;
"Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!" pintanya. &lt;br /&gt;
Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme. Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing. &lt;br /&gt;
Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur. &lt;br /&gt;
Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku. Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari. &lt;br /&gt;
Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya. Semoga pengalamanku ini berguna buat sobat muda. &lt;br /&gt;
TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-6960751387729404465?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/L5SGwuWyjEc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/6960751387729404465?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/6960751387729404465?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/L5SGwuWyjEc/cerita-bugil-anak-kost.html" title="cerita bugil anak kost" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-bugil-anak-kost.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8MR3o9fSp7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-1312873022591099250</id><published>2011-05-23T18:41:00.001+07:00</published><updated>2011-05-23T18:41:26.465+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:41:26.465+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita bugil smp di lengkapi foto bugil</title><content type="html">Nama saya Maureen. Saya ingin membagi pengalaman pribadi saya pada penggemar dan pembaca situs Rumah Seks. Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Wajah saya biasa-biasa saja, tidak jelek juga tidak cantik.. lumayanlah. Umur saya 24 tahun, tubuh saya juga tidak terlalu proposional. Kakak saya sudah menikah semua dan saya baru saja melangsungkan pernikahan dua bulan yang lalu dengan laki-laki pilihan saya. Kami sangat bahagia sekali. Sebulan sesudah itu gejala-gejala kehamilan nampak dan saya positif hamil dengan usia kandungan 3 minggu. Suami saya tidak mengetahui kehamilan saya ini karena suami saya baru pergi ke Semarang untuk keperluan dinas yang ditugaskan oleh kantornya untuk waktu yang cukup lama, kurang lebih sekitar 4 sampai 5 bulan. Saya sempat protes keras karena kami baru saja melangsungkan pernikahan dan saya sedang menikmati keindahan seks yang selama ini saya bayangkan begitu enak dan sangat indah sekali dan memang itu semua terbukti, seks begitu enak, menyenangkan dan sangat indah sekali. Kejadian ini terjadi ketika saya memeriksa kandungan saya ke dokter kandungan yang terkenal di kota saya. Saya tidak mengetahui kalau dokter itu adalah teman SMP saya, saya baru sadar ketika Hendra menyapa saya, "Maureen.. kamu Maureen kan..?" sapanya. "Iya.." kata saya. "Masa kamu lupa dengan saya.. saya ini Hendra", sahutnya lagi. "Hendra.. mm.. ohh.. yah saya ingat kamu kan yang dulu sekolah di SMP*** (edited) itu bukan..?" jawabku. "Iya bener sudah inget sekarang..?" katanya lagi. "Iya.. iya.. hebat yah sekarang kamu sudah jadi dokter yang terkenal", kata saya lagi. Singkat cerita saya sudah berbaring siap untuk di periksa dan Hendra pun sudah bersiap dengan sarung tangan karet dan peralatan lainnya yang tidak saya ketahui namanya. Hendra mulai memegang dan menekan-nekan perut saya, saya hanya merasa kegelian saja sampai suatu ketika Hendra menyentuh secara tidak sengaja ke payudara saya dan secara refleks tangan saya menepisnya, tampak wajah Hendra merah dan beberapa kali meminta maaf kepada saya. "Tak.. apa-apa Hen saya tau kamu tidak sengaja", kata saya padahal saya sangat senang sekali karena sudah lama saya ingin berhubungan badan, sudah dua minggu saya tidak melakukannya. Lalu saya bertanya kepadanya, "Hen kalo misalnya dalam usia kandungan tiga minggu saya melakukan hubungan badan apakah tidak mengganggu janin dan keadaan saya..?" tanya saya. "Ohh.. tidak apa-apa asal tidak merasakan sakit dan rileks saja nikmati semuanya dan yang penting harus..(dia begitu menekankan kata harus) hati-hati sekali agar tidak menggangu janin", kata Hendra. Lalu dia mulai melihat keadaan liang kewanitaan saya karena saya mengeluh sering keluar lendir putih, saya tahu ini bukan tempatnya, seharusnya saya ke dokter kulit dan kelamin tapi tidak apa-apa deh siapa tahu dia mengerti sedikit banyak tentang hal itu, sewaktu dia menyentuh liang kemaluan saya terasa sangat enak sekali, tiba-tiba saja keinginan untuk melakukan hubungan seks kembali menggebu dan ketika dia memasukkan alat yang saya tidak tahu namanya ke dalam liang senggama saya, terasa sangat enak sekali dan saya sempat mendesah sedikit entah terdengar apa tidak oleh Hendra. Hendra mencabut alat itu dengan cepat saya tahan karena saya sangat menikmatinya dan saya mulai menggoyang-goyangkan tangan Hendra ke liang senggamaku, tampak wajahnya terheran-heran dan memerah, tampak juga keringatnya keluar. Lalu saya bertanya, "Hen kok.. mendadak kamu begitu tegang sekali, tolong Hen puaskan saya Hen, tolong soalnya saya sudah dua minggu tidak melakukannya.. kamu mau kan Hen.." tanya saya kepada Hendra, dia tidak menjawab hanya terdiam saja, tampak wajah merahnya dan keringatnya begitu deras. "Hen.. Hen.. kamu tidak apa-apa..?" tanya saya. Hendra mulai menjawab dengan tersendat-sendat, "Ti.. ti.. ti..dakk aa..ku tidak apa-apa..!" katanya tapi wajahnya yang tegang, keringatnya tidak dapat ia sembunyikan. Lalu saya bertanya lagi, "Hen.. kamu mau kan puaskan saya, saya ingin sekali Hen.. saya sudah lama tidak melakukannya", pinta saya kepada Hendra, ia masih tersendat-sendat lalu berkata, "Tapi Reen.. saya tidak bisa", jelas Hendra, saya mulai melirik kejantanannya. Wah.. ternyata sudah tegang, lalu saya remas-remas untuk memberinya rangsangan. Hendra mulai menikmatinya dan dia pun mulai berani menggoyangkan tangannya di liang kewanitaan saya, sayaa pun mulai mendesah karena merasa enak dan melayang. Hendra mulai mencium saya dan lidah kami saling hisap lalu saya buka reitsleting celananya dan baju dokternya saya buka. Hendra tidak terlalu susah saat membuka baju saya karena baju saya telah dibuka oleh Hendra sebelumnya sewaktu memeriksa saya tadi, tinggal membuka bra saya saja, yang tidak saya sangka Hendra sudah membenamkan wajahnya di liang kewanitaan saya. "Ohh.. ohh.. sungguh enaknya", desah saya, Hendra tampak asyik memainkan klitoris saya dan tangannya tidak ketinggalan memainkan puting dan payudara saya. Setelah puas lalu giliran saya mengulum batang kemaluannya yang lumayan besar (kenapa saya sebut besar karena saya tidak mengetahui besarnya kemaluan pria, yang saya tahu hanya punya suami saya) mulai dari menjilat hingga menghisapnya. Hendra sangat menikmati sekali hisapan saya, yang terdengar hanya desahan nikmat, "Ssstt.. ahh.. emm.. ohh.. enak sekali Maureen enak.. kamu sungguh pinter sayang.. ohh.." tak ketinggalan tangannya memainkan liang kewanitaan dan puting susu saya, jempol dan jari telunjuknya memainkan klitoris saya sedangkan jari tengahnya masuk, karena makin lama semakin cepat Hendra memainkan jari tangannya, saya pun sudah mau keluar dan tak lama dari itu saya berteriak, "Hen.. ohh.. sstt.. saya keluarr.. Hen.. ohh enak sekali.." tanpa sadar saya menggit batang kemaluan Hendra karena saya bagai tak sadarkan diri, Hendra pun berteriak keras sekali, "Aaawww.. sakit", "Sorry.. sorry.. saya tidak sengaja", saya pun tak bisa menahan tawa saya. Lalu kami melanjutkan kembali permainan seks kami. "Hen.. masukkan sekarang saja, saya sudah tidak tahan lagi.." lalu dengan bimbingan saya, saya mulai mengarahkan batang kemaluannya ke pintu liang kewanitaan saya yang sudah basah oleh cairan dan ludah Hendra itu hingga membuat liang kewanitaan saya licin. Lalu Hendra menempelkan kepala kemaluannya ke pintu kewanitaan saya yang tampak merah, dia mulai mengayunkan pantatnya ke depan tapi aneh sekali tidak bisa masuk entah karena terlalu licin atau memang punya Hendra terlalu besar, dia mulai membuka bibir kemaluan saya dengan kedua tangannya, dengan begitu lubang kewanitaan saya terbuka lebar dan dia mulai mengarahkan batang kemaluannya, dengan satu sentakan saja batang kemaluannya sudah masuk. "Aduhh.. sakit Hen.." lalu Hendra mengambil sesuatu seperti cairan atau minyak, saya tidak mengetahuinya secara jelas dan Hendra pun mulai menggerakkan pantatnya maju mundur. "Ooohh.. uuhh.. hhmm.. sstt.." desahku. "Ayo terus sayang.. terus.. oohh.. kamu pinter.. Hen terus.. Hen.. terus sayang.. oohh.." Hendra pun kelihatannya tidak mau kalah, dia terus mendesah keenakkan, "Ooohh.. liang kewanitaan kamu masih sempit yah.. oohh.. enak sekali.. uuhh.. terus goyangkan pinggul kamu Reen.. terus sayang.. oohh.. sstt.." Tak lama kemudian saya hendak keluar lagi. "Hen.. cepat.. Hen.. goyang lebih cepat lagi.. lebih cepat Hen.." dan, "Ooohh.. Hen.. saya keluuarr lagi.." saya mendesah panjang dan mengejang untuk beberapa saat sambil kakiku dilingkarkan di perutnya. Hendra pun mencabut batang kemaluannya dan bertanya pada saya, "Reen kamu sudah pernah melakukan anal belum..?" tanya Hendra. "Belum pernah.." jawab saya, "Habis kelihatannya sakit sich", lanjutku. "Ohh yah sudah nggak apa-apa kalau begitu kita rubah yah dengan dogdy style", bisiknya. Lalu saya menungging dan Hendra mulai menusukkan batang kemaluannya dan sekarang ini kelihatannya Hendra tidak mengalami kesulitan untuk memasukkan batang kemaluannya, tampaknya Hendra sudah mau keluar karena goyangannya begitu cepat dan, "Ooohh.. aahh.. sstt.. uuhh.." Hendra pun menyemprotkan air maninya ke dalam liang kewanitaan saya, tak lama kemudian saya pun keluar untuk ketiga kalinya dan kami pun terkulai lemas bersamaan dengan datangnya kenikmatan yang tiada tara ini. Batang kemaluan Hendra masih terbenam di dalam liang kewanitaan saya. Sesudah batang kemaluan Hendra mengecil saya melakukan kembali oral kepadanya, membersihkan sisa-sisa air mani dan cairan yang saya hasilkan dan kami pun berbenah diri sambil membersihkan diri. "Hen.. terima kasih yah.. kamu sudah memuaskan saya kamu hebat Hen." Hendra pun mengucapkan terima kasih kepada saya karena dia telah dipuaskan oleh saya. Hendra lalu menuliskan resep untuk saya, sewaktu saya hendak membayarnya dia menolak dengan alasan yang tadi itu sudah merupakan bayaran yang sangat mahal katanya. "Kalau begitu.. yah sudah", pikir saya. Saya pun pulang dan sewaktu saya melewati ruang tunggu ada beberapa pasien yang menunggu, rupanya tadi saya bercinta dengan Hendra cukup lama dan saya baru menyadarinya, "Ah.. cuek saja", pikir saya. Saya sering bercinta dengan Hendra sejak waktu itu tetapi sesudah suami saya pulang saya tidak pernah bercinta lagi dengannya. Jika dari para pembaca ada yang ingin berkenalan silakan kontak saya. TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-1312873022591099250?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/RRc54NGAJWY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1312873022591099250?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1312873022591099250?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/RRc54NGAJWY/cerita-bugil-smp-di-lengkapi-foto-bugil.html" title="cerita bugil smp di lengkapi foto bugil" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-bugil-smp-di-lengkapi-foto-bugil.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkABR3syfCp7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-2744559586592609223</id><published>2011-05-23T18:39:00.000+07:00</published><updated>2011-05-23T18:39:16.594+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:39:16.594+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>pelacur profesional cantik</title><content type="html">Kenalkan namaku Indah. Umurku 24 tahun. Statusku bersuami dengan 2 orang anak. Pekerjaanku pelacur. Tetapi nanti dulu, jangan mencemoohku dulu. Saya bukan pelacur kelas Kramat Tunggak apalagi Monas di Jakarta atau Gang Dolly di Surabaya. Saya seorang pelacur profesional. Oleh karena itu tarip pemakaian saya juga tidak murah. Untuk short play sebesar US$ 200, dengan uang muka US$ 100 dibayar saat pencatatan pesanan dan kekurangannya harus dilunasi sebelum pengguna jasa saya sebelum menaiki tubuh saya. Jelasnya, sebelum kunci kamar tempat berlangsungnya permainan dikunci. Short play berlangsung 1 jam, paling lama 3 jam, tergantung stamina customer. Kalau sesudah 1 jam, sudah merasa capai, dan tidak memiliki lagi kekuatan untuk ereksi, apalagi untuk ejakulasi, artinya permainan sudah usai. Semua kesepakatan ini tertulis dalam tata cara pemakaian tubuh atau jelasnya lagi tata cara persewaan kemaluan saya. Ini sudah penghasilan bersih, sudah merupakan take home pay. Saya tidak mau tahu soal sewa kamar, minum, makan malam dan sebagainya. Semua aturan ini saya buat dari hasil pengalaman menjadi pelacur selama 3 tahun (saya berniat berhenti menjadi pelacur dua tahun lagi, bila modal saya sudah cukup). Saya tidak pernah diskriminasi, apakah pembeli saya itu seorang pejabat atau konglomerat. Pokoknya ada uang kemaluan saya terhidang, tak ada uang silakan hengkang. More money more service, no money no service. Biasanya para langganan yang sudah ngefans betul pada saya masih memberi tips. Setelah persetubuhan selesai, saya akan menanyakan, “Bapak (atau Mas) puas dengan layanan saya?” Jawabnya bisa macam-macam. “Luar biasa!” mengatakan demikian sambil menggelengkan kepalanya. Atau ada yang menganggukkan kepala, “Biasa!”. Tetapi ini yang sering, tanpa berkata sepatahpun memberikan lembaran ratusan ribuan dua atau tiga lembar. Untuk tarip long-play atau all night, tergantung kesepakatan saja, namun tidak akan kurang dari enam ratus dolar. Itu tentang tarip. Sekarang tentang service. Saya akan menuruti apa saja yang diminta oleh pelanggan (customer) selama hal itu tidak merusak atau menyakiti tubuh saya atau tubuh pelanggan. Dengan mulut, oke, begitu juga mandi kucing atau mandi susu yaitu memijati tubuh pelanggan dengan buah dada saya yang putih dan montok, juga oke-oke saja. Tetapi bersetubuh sambil disiksa, atau saya harus menyiksa pasangan saya, saya akan menolak. Tiga tahun menjadi pelacur telah memberikan pengalaman hidup yang besar sekali dalam diri saya. Saya mempunyai buku catatan harian tentang hidup saya. Saya selalu menulis pengalaman persetubuhan saya dengan bermacam-macam orang, suku bangsa bahkan dengan laki-laki dari bangsa lain (Afrika, India, Perancis, dan lain-lain). Tetapi kalau selama tiga tahun saya menggeluti profesi saya itu lahir dua orang anak manusia, (masing-masing berumur 2 tahun 3 bulan dan satunya lagi 1 tahun), tentunya saya tidak bisa bahkan tidak mungkin mengetahui siapa bapak masing-masing anak itu. Cobalah dihitung, kalau dalam seminggu saya disetubuhi oleh minimal 10 orang, dalam 1 bulan ada 30 orang yang memarkir kemaluannya di kemaluan saya (1 minggu saat menstruasi, saya libur). Tetapi ini tidak berarti anak itu tanpa bapak. Resminya anak itu adalah anak Pak Hendrik (nama samaran). Dia adalah boss tempat saya secara resmi bekerja. Seorang notaris dan sekarang sedang merintis membuka kantor pengacara. Pekerjaan resmi (pekerjaan tidak resmi saya adalah pelacur) ini cocok dengan pendidikan saya. Saya, mahasiswa tingkat terakhir Fakultas Hukum salah satu universitas swasta, jurusan hukum perdata. Tetapi nantinya saya kepingin menjadi notaris, seperti Pak Hendrik ini. Sebetulnya saya ditawari Pak Hendrik untuk menangani kantor pengacara yang akan didirikannya tadi. Tetapi saya tidak mau. Menurut persepsi saya (mudah-mudahan persepsi saya salah) dunia peradilan di negeri kita masih semrawut. Mafia, nepotisme, sogok, intimidasi masih kental mewarnai dunia peradilan kita. Dari yang di daerah sampai ke Mahkamah Agung (ini kata majalah Tempo loh). Tetapi sudahlah itu bukan urusan saya. Lalu darimana saya kenal dengan Pak Hendrik? Itu terjadi pada tahun pertama saya menjadi pelacur. Waktu itu saya hamil 2 bulan. Kebetulan Pak Hendrik mem-booking saya. Setelah selesai menikmati tubuh dan kemaluan saya sepuasnya, saya muntah-muntah. Itu terjadi waktu saya bangun pagi. Dia bertanya apa saya hamil. Saya jawab iya. Lalu dia bertanya siapa bapaknya. “Ya entahlah”, jawab saya. Waktu itulah dia menawari pekerjaan untuk saya, kesediaan untuk secara resmi menjadi suami saya dan tentunya melegalisir bayi yang akan saya lahirkan. Saya tidak tahu bagaimana dia mengurus tetek bengeknya di kantor catatan sipil dan bagaimana dia dapat menjinakkan isterinya. Yang jelas setelah itu tiap hari Selasa dan Kamis saya berkantor di kantor Pak Hendrik. Lalu apa keuntungan Pak Hendrik? Ya pasti ada. Tiap hari Selasa dan Kamis, dia akan sarapan kedua. Mulai dari menciumi, meraba-raba badan dan buah dada, dan terakhir menyutubuhi. Kadang-kadang saya malah tidak sempat bekerja karena selalu dikerjai oleh suami saya tersebut. (Bangunan yang dipakai sebagai kamar kerja Pak Hendrik dan saya terpisah dengan bangunan untuk ruang kerja stafnya). Wajah saya memang cantik. Tinggi dan berat serasi, bahkan berat badan di atas angka ideal, namun terkesan seksi. Buah dada cukup besar, tetapi tidak kebesaran seperti perempuan yang menjalani operasi plastik dengan mengganjal buah dadanya dengan silikon. Kata orang saya cukup seksi tetapi dari sikap dan penampilan sehari-hari juga terkesan cerdas. Singkat kata, kalau ada perempuan laku disewa Rp 1,6 juta sekali pakai, bayangkan sendiri bagaimana penampilan, penghidangan dan rasanya. Baiklah terakhir saya ceritakan tentang pengawal saya, atau bodyguard saya. Namanya Mulyono. Saya biasa memanggilnya Dik Mul, karena memang usianya baru 21 tahun, tiga tahun lebih muda dari saya. Orangnya tinggi, atletis dengan potongan rambut cepak, dan penampilannya seperti militer. Konon katanya, sehabis lulus SLTA Mulyono pernah mengikuti tes masuk di AKMIL, tetapi jatuh pada tes psikologi tahap 2. Orangnya sopan (asli dari Klaten, Jawa Tengah) dan disiplin, dia juga sangat loyal pada saya (saya sudah sering mengetes kesetiaannya tersebut). Mulyono sudah saya anggap adik sendiri. Menjadi sopir pribadi, mengurus pembayaran kontrak, mengatur waktu kerja, melindungi dari berbagai pemerasan oknum keamanan dan sebagainya, pokoknya seperti sekretaris pribadi. Hanya saja dia tidak tinggal serumah dengan saya. Saya kontrakkan dekat dengan rumah saya. Selain itu dia masih mengikuti kuliah di Universitas Terbuka, Fakultas Hukum. Lalu berapa gajinya? Itu rahasia perusahaan. Tetapi yang jelas, sebagai seorang penjaga putri cantik, atau penjaga kebun wisata, sekali waktu dia saya beri kesempatan untuk mencicipi atau menikmati keindahan kebun itu. Mula-mula dia memang menolak. Itu terjadi pada suatu malam minggu di rumah. Dia saya panggil, saya minta dia memijati badan saya. Dia menurut. Saya hanya mengenakan gaun malam tipis dengan celana dalam dan BH yang siap dilepas. Mula-mula kaki saya dipijatnya pelan-pelan, enak sekali rasanya. Rasanya tangannya berbakat untuk memijit. Kemudian naik ke betis, yang kiri kemudian yang kanan. “Dasternya ditarik ke atas saja Dik Mul”, kata saya waktu dia mulai memijat bokong. Saya sengaja memancing nafsu seksnya sedikit demi sedikit. Sementara nafsu saya sudah mulai terbangun dengan pemijatan pada bokong tadi. Bokong saya diputar-putar, dan nafsu seks saya semakin bertambah. Terus pemijatan pada pinggang, lalu punggung. Pada pemijatan di punggung kancing BH saya lepas, sehingga seluruh punggung dapat dipijat secara merata tanpa ada halangan. Waktu Mulyono memijat leher, dia terlhat sangat berhati-hati. Setelah saya membalikkan badan, Mul akan memulai memijat dari kaki. Tetapi saya mengatakan agar dari atas dulu. Rupanya dia bingung juga kalau dari atas mulai darimana kepala atau leher, padahal dada saya sudah terbuka sehingga kedua bukit kembar yang putih dan kekar itu terbuka dan merangsang yang melihatnya. Belum sampai dia menjawab pertanyaan saya, saya sudah mengatakan, “Dik Mul, Mbak Indah dicium dulu yach!” “Ach enggak Mbak jangan.” “Lho kenapa? Dik Mul nggak sayang sama Mbak ya?” Tanpa menunggu jawaban, saya sambar leher Mul, saya peluk kuat-kuat, saya cium bibirnya. Dengan kedua kaki saya, tubuhnya saya telikung, saya sekap. Dia terlihat gelagapan juga. Lama leher dan kepala Dik Mul dalam dekapan saya. Rasanya seperti mengalahkan anak kecil dalam pergulatan karena Dik Mul ternyata diam saja. Baru setelah lima menit, Dik Mul memberikan perlawanan. Pelukan saya lepaskan. Dia mulai mencium lembut pipi saya, turun ke dagu, lalu dada, di antara kedua buah dada saya. Disapunya dengan bibirnya semua daerah sensitif di sekitar mulut, dada dan leher. Saya menikmati benar ciuman ini. Apalagi setelah bibirnya turun ke bawah di sekitar pusat, pangkal paha dan sekitar kemaluan saya. Tanpa saya sadari tubuh saya meliuk-liuk, mengikuti dan menikmati rangsangan erotis yang mengalir di seluruh tubuh. Kemaluan saya mulai basah, menanti sesuatu yang akan masuk. Setelah puas diciumi, saya berbisik, “Dik Mul, masukkan sekarang kemaluannya ya! Saya sudah nggak tahan…” Dia lalu berdiri dan mulai melepaskan, baju, celana, kaus baju dan terakhir celana dalamnya. Kini penisnya terlihat utuh putih kehitaman, dengan semburat urat-urat kecil di sekitar pangkalnya. Ujungnya seperti ujung bambu runcing, lebih panjang bagian bawah. Penis itu mencuat ke atas, membentuk sudut lebih kurang 30 derajat dengan bidang horisontal. Pelan-pelan penis itu mulai ditelusupkan di antara bibir kemaluan saya. Setelah itu ditarik secara pelan-pelan. Kemaluannya dan kemaluan saya dapat diibaratkan dua kutub magnit, pergesekannya membangkitkan arus listrik yang merambat dari kemaluan keseluruh tubuh, juga dari kemaluannya dan memberikan rasa nikmat yang sangat kepada pasangan yang sedang ber-charging tersebut. Gosokan kemaluan Mulyono yang semakin cepat membuat seluruh tubuh saya seperti terkena listrik. Kemaluan saya terasa berdenyut meremas kemaluan Mulyono. Saya orgasme, dan ini terulang lagi beberapa kali, multi orgasme. Makin lama rangsangan itu semakin meningkat. Bersetubuh dengan Mulyono memang saya rasakan agak lain. Biasanya saya bersikap meladeni kepada para pelanggan, tetapi dengan Mulyono saya seperti diladeni, dipuaskan rasa haus saya. Gerakan keluar-masuk kemaluannya yang lambat, ciuman disekitar buah dada yang terkadang diselingi dengan menghisap-hisap putingnya, dan reaksi menggeliat-geliatnya tubuh saya, seperti suatu pertunjukkan slow motion yang mengasyikkan. Dan ketika saraf tubuh saya tak lagi kuat menampung muatan listrik itu, saya berbisik, “Dik Mul, tembak sekarang ya!” Dan Mulyono mempercepat gesekan kemaluannya, sampai pada puncaknya kakinya mengejang. Bersama itu pula saya peluk kuat-kuat tubuh Mulyono. Inilah puncak persetubuhanku dengan Mulyono. Teman-teman, sekian dulu perkenalan saya yang panjang lebar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-2744559586592609223?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/TkzkjulW0qU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/2744559586592609223?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/2744559586592609223?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/TkzkjulW0qU/pelacur-profesional-cantik.html" title="pelacur profesional cantik" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/pelacur-profesional-cantik.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkEBRn84eSp7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-1777345322930572951</id><published>2011-05-23T18:37:00.005+07:00</published><updated>2011-05-23T18:37:37.131+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:37:37.131+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita bugil lidya dan fotonya</title><content type="html">Kenikmatan Jepitan 'Susu' Lydia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan. Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat lagi menutup pintu kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarku yang disertai dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.&lt;br /&gt;
"Ko, loe baru pulang yah?" gelegar suara Voni memaksa mataku untuk menatap asal suara itu.&lt;br /&gt;
"iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?" jawabku sewot sambil mengucek mataku.&lt;br /&gt;
"Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru tiba dari Bandung" jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya "Hai, namaku Riko"&lt;br /&gt;
"Lydia" jawabnya singkat sambil tersenyum kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil membalas senyumannya yang manis itu, mataku mendapati sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, walaupun dengan perawakan sedikit montok namun kulitnya yang putih bersih seakan menutupi bagian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu" celetuk Voni kepada Lydia.&lt;br /&gt;
"Oh.."&lt;br /&gt;
"Nah, sekarang kan loe berdua udah tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag.." kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menanggapi perkataan Voni barusan dengan kembali tersenyum ke Lydia.&lt;br /&gt;
"Cantik juga sepupu Voni ini" pikirku dalam hati.&lt;br /&gt;
"Lydia ke Jakarta buat liburan yah?" tanyaku kepadanya.&lt;br /&gt;
"Iya, soalnya bosen di Bandung melulu" jawabnya.&lt;br /&gt;
"Loh, memangnya kamu nggak kuliah?"&lt;br /&gt;
"Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, males sih kuliah."&lt;br /&gt;
"Rencananya berapa lama di Jakarta?"&lt;br /&gt;
"Yah.. sekitar 2 minggu deh"&lt;br /&gt;
"Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga "&lt;br /&gt;
"Oke deh"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku. Aku memandang punggung Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti tubuhnya yang agak bongsor itu sambil membayangkan dadanya yang juga montok itu. Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke ranjang dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ko, bangun dong"&lt;br /&gt;
Aku membuka kembali mataku dan mendapatkan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ada apa sih?" tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan.&lt;br /&gt;
"Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jam berapa masih belom mandi!"&lt;br /&gt;
Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.&lt;br /&gt;
"Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?"&lt;br /&gt;
"Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren"&lt;br /&gt;
"Aduh Voni.. kan bisa besok.."&lt;br /&gt;
"Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan mandiku tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni.&lt;br /&gt;
"Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan di layar komputerku sepertinya mulai kabur di mataku.&lt;br /&gt;
"Gila, udah jam 1, tugas sialan ini belum selesai juga" gerutuku dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tok.. Tok.. Tok.." bunyi pintu kamarku diketok dari luar.&lt;br /&gt;
"Masuk!" teriakku tanpa menoleh ke arah sumber suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi dengan keras sehingga membuatku akhirnya menoleh juga. Kaget juga waktu kudapati ternyata yang masuk adalah Lydia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Eh maaf, tutupnya terlalu keras" sambil tersenyum malu dia membuka percakapan.&lt;br /&gt;
"Loh, kok belum tidur?" dengan heran aku memandangnya lagi.&lt;br /&gt;
"Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur"&lt;br /&gt;
"Voni mana?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;
"Dari tadi udah tidur kok"&lt;br /&gt;
"Gue dengar dari dia katanya elo lagi buatin tugasnya yah?"&lt;br /&gt;
"Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih"&lt;br /&gt;
"Emang ngetikin apaan sih?" sambil bertanya dia mendekatiku dan berdiri tepat disamping kursiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak menjawabnya karena menyadari tubuhnya yang dekat sekali dengan mukaku dan posisiku yang duduk di kursi membuat kepalaku berada tepat di samping dadanya. Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya memakai baju tidur model tanpa lengan. Sewaktu dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya, aku dapat melihat pula sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Busyet.. loe harum amat, pake parfum apa nih?"&lt;br /&gt;
"Bukan parfum, lotion gue kali"&lt;br /&gt;
"Lotion apaan, bikin terangsang nih" candaku.&lt;br /&gt;
"Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?" tanyanya sambil tersenyum kecil.&lt;br /&gt;
"Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya"&lt;br /&gt;
"Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agak terkejut juga aku mendengar pertanyaan itu.&lt;br /&gt;
"Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih.." pikirku dalam hati.&lt;br /&gt;
"Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?" tanyaku iseng.&lt;br /&gt;
"Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?"&lt;br /&gt;
"Gue cium loe ntar" kataku memberanikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa kusangka dia melangkah dari sebelah kiri ke arah depanku sehingga berada di tengah-tengah kursi tempat aku duduk dengan meja komputerku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Beneran berani cium gue?" tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil.&lt;br /&gt;
"Wah kesempatan nih" pikirku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang sehingga kini aku berdiri persis di hadapannya.&lt;br /&gt;
Sambil mendekatkan mukaku ke wajahnya aku bertanya " Bener nih nggak marah kalo gue cium?"&lt;br /&gt;
Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa pikir panjang lagi aku segera mencium lembut bibirnya. Lydia memejamkan matanya ketika menerima ciumanku. Kumainkan ujung lidahku pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar ketika bertemu. Sentuhan erotis yang kudapat membuat aku semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang. Dengan mata masih terpejam dia menurut ketika kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area dadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan ke punggungnya sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja kulepas begitu aku temukan. Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup dadanya dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susunya yang besar namun sayang tidak begitu kenyal sehingga terkesan sedikit lembek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puting susunya yang mungil tak luput dari serangan lidahku. Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja. Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku dan selangkangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku sewaktu menyedot bergantian dari toket kiri ke toket kanannya, namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuatku tak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika aku hendak melepas celananya, tiba-tiba saja dia menahan tanganku.&lt;br /&gt;
"Jangan Riko!"&lt;br /&gt;
"Kenapa?"&lt;br /&gt;
"Jangan terlalu jauh.."&lt;br /&gt;
"Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih.."&lt;br /&gt;
"Pokoknya nggak boleh" setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulihat dua susunya bergantung dengan anggunnya di hadapanku.&lt;br /&gt;
"Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?" tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian.&lt;br /&gt;
Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu, pikirku mungkin saja dia berubah pikiran.&lt;br /&gt;
Tetapi ternyata dia kemudian menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat.&lt;br /&gt;
Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lyd.. mau keluar nih.." lirih kataku sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan ini.&lt;br /&gt;
"Bentar, tahan dulu Ko.."jawabnya sambil melepaskan kocokannya.&lt;br /&gt;
"Loh kok dilepas?" tanyaku kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susunya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas. Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Enak nggak Ko?" tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.&lt;br /&gt;
"Gila.. enak banget Sayang.. terus kocok yang kencang.."&lt;br /&gt;
Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali memutar arah ke bagian belakang untuk merasakan pantatnya yang lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh.. ohh.." desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya.&lt;br /&gt;
Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.&lt;br /&gt;
"Lyd.. aku keluar.."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian area dadanya. Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku memandang nanar ke Lydia yang saat itu bangkit berdiri dan mencari tissue untuk membersihkan bekas spermaku. Ketika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi dia bertanya&lt;br /&gt;
"Kamu seneng nggak"&lt;br /&gt;
Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Voni" katanya memperingatkanku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang tadi kulempar entah kemana.&lt;br /&gt;
"Iyalah.. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lydia kembali hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu.&lt;br /&gt;
"Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo" ujarnya sebelum membuka pintu.&lt;br /&gt;
"Thanks yah Lyd.. besok kesini lagi yah" balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kejadian yang barusan berlalu, mimpi apa aku semalam bisa mendapat keberuntungan seperti ini. Tak sabar aku menunggu besok tiba, siapa tahu ternyata bisa mendapatkan lebih dari ini. Mungkin saja suatu saat aku bisa merasakan kenikmatan dari lubang surga Lydia, yang pasti aku harus ingat untuk menyediakan kondom di kamarku dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-1777345322930572951?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/OQoCSkky14Y" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1777345322930572951?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1777345322930572951?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/OQoCSkky14Y/cerita-bugil-lidya-dan-fotonya.html" title="cerita bugil lidya dan fotonya" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-bugil-lidya-dan-fotonya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkICRnYyeCp7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-8608917707602607142</id><published>2011-05-23T18:36:00.003+07:00</published><updated>2011-05-23T18:36:07.890+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:36:07.890+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita ngetot dengan tante girang</title><content type="html">Aku kebetulan ada tugas di Jakarta, berangkat tanggal 1 Februari 2001. Aku pergi ke sana naik kereta eksekutif. Ah enaknya udara AC di kereta, begitu duduk aku langsung ngantuk. Tapi tidak disangka di sampingku ternyata duduk seorang cewek yang bukan main cantiknya. "Selamat siang Mbak?" kataku basa-basi. "Siang Mas," kata si cewek pendek. Setelah meletakkan tas di rak atas kepala, aku pun duduk di samping si cantik itu. Biar lebih detail aku perinci penampilan si cewek ini. Wajah mirip Tia Ivanka dan bodinya mirip Nafa Urbach, putih hidung mancung, alis mata tebal (bukan buatan lho), bibir sensual, dagu indah, leher jenjang. Terus ukuran dadanya, aku belum kelihatan karena dia memakai blazer warna hitam. Sambil menghabiskan waktu di perjalanan, kubaca majalah favoritku, Liga Italia. Emang sih aku ini termasuk maniak bola. Eh rupanya majalahku ini pembawa keberuntungan, karena si cewek cantik itu ternyata tertarik dengan bacaanku ini. "Mas, seneng bola ya?" tanya si cantik. "Iya Mbak, kok tanyanya gitu, apa Mbak juga seneng olahraga bola," tanyaku juga. Dan ternyata memang dia senang bola jadi kami ngobrol banyak tentang bola. "Mas kerja apa di Jakarta?" tanya si cantik. "Saya kerja di kantor pengacara," kataku. Pembicaraan kami semakin jauh dan dia menawarkan untuk janjian pergi hari Sabtu malam Minggu di Jakarta. Nah ini dia deh, aku langsung saja tangkap peluang untuk tahu lebih jauh tentang si cantik ini. Malam itu ternyata kereta yang kunaiki baru sekitar jam 7:00 malam kurang tiba di Jakarta. "Mas pulangnya naik apa, kalo nggak dijemput ikut saya aja," kata si cantik itu. "Saya belum tau deh naik apa, ya naik taksi aja kan banyak," kataku. "Udah ikut aja saya, nanti biar diantar supir saya," desak si cantik lagi. Akhirnya aku dari Gambir naik mobil si cantik. Setelah sampai di ujung gang aku minta turun di situ. "Oke ya sampai ketemu, besok saya akan telepon kamu," kataku pada si cantik. "Malam Mas, sampai besok ya," balasnya. Paginya aku harus bangun pagi-pagi karena mau pergi ke kantor atasanku. Nah setelah selesai meeting di kantor, aku langsung telepon cewek cantik kemarin. "Hallo, bisa bicara dengan Vivi," kataku. "Dari siapa ini," tanya sebuah suara wanita. "Ini dari Sony, teman Vivi dari Malang," kata aku supaya si Vivi tidak lupa. "Hi Mas, apa kabar, dan gimana acara kami malam ini," jawab Vivi. "Saya sih udah siap jemput kamu sekarang," kataku. "Ya langsung aja Mas kalau gitu." Aku langsung meluncur ke rumah Vivi. Gila benar, ternyata rumah si Vivi ini besar dan mobilnya selusin. "Wah kamu malam ini beda sekali ya, kelihatan lebih sederhana tapi tetep wah.." kataku sambil jelalatan melihat badannya yang ternyata wah wah wah. "Ah Mas Sony bisa saja, saya kan emang begini ini," kata Vivi merendah. "Gini-gini juga bikin pusing saya nih," kataku menggoda. Eh ternyata si cantik itu mencubit lenganku. "Mas Sony juga paling bisa deh, kemarin katanya karyawan biasa, kok mobilnya Mercy yang baru." "Oh itu, itu mobil dinas kok?" kataku. "Ah Mas ini bisa aja, masak mobil dinas Mercy baru sih.." katanya sambil mencubitku. Malam itu kami ke restoran mewah. Selesai makan kami ke pub. "Mas, kalo Vivi minum banyak, nggak pa-pa kan?" tanya si cantik. "Untuk kesehatan sih jangan, tapi kalau sekali-sekali terserah kamu, masak saya melarang, nanti kamu bilang emangnya elu siapa." "Nggak maksudnya Mas Sony nggak pa-pa ngeliat Vivi minum banyak." "Oh itu sih oke, saya ini nggak banyak ngatur dan 'possesive' ke cewek, yang penting jangan reseh ya!" kataku ke Vivi sambil kupegang dan belai kepalanya. "Kalo gitu kita minum aja Tequila," teriak Vivi. "Aduh ampun deh, kalo minum itu, nanti kalau saya juga teler siapa yang anter," tanyaku. "Ya kita nggak usah pulang, kita nginep aja di hotel sebelah." "Hah, kamu serius nih.." "Iya bener, kenapa sih, kok kamu belum ngerti juga kalo saya dari kemarin di kereta udah memperhatikan kamu," kata Vivi sambil menggalayut ke badanku. Uh mati deh aku, disosor sama cewek cantik yang umurnya cukup jauh di bawahku. "Ya kalo kamu bilang gitu saya ikut aja, tapi kamu nggak nyesel dan emang sadar kan ambil keputusan ini," kataku sekali lagi untuk meyakinkan diriku sendiri. "Yes darling, I've decided and never regret," kata Vivi sambil memelukku dengan sebelah tangannya. Dan malam itu aku minum mungkin sekitar 12 gelas kecil Tequila, dan Vivi menenggak tidak kurang dari 6 gelas. Kami berdua sudah mulai tinggi karena kebanyakan minum. "Vi, pulang aja ya, mumpung saya masih bisa nyetir." "Iya deh pulang aja, biar bisa lamaan berduaan sama Mas Sony," jawab Vivi manja. Di mobil Vivi sudah tidak bisa menahan diri lagi. "Mas, Vivi nggak tahan nih." "Kamu mau muntah ya," tanyaku. "Bukan.. bukan itu, tapi itu tuh, nggak tahan itu," tangannya dengan jahil menunjuk-nujuk ke pangkal pahaku. "Vivi buka ya," katanya dan tanpa menunggu aba-aba, tangannya segera menggerayangi reitsleting celanaku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang masih setengah tidur. Dengan perlahan tapi pasti, dilahapnya seluruh batanganku ke dalam mulutnya yang seksi. Dimainkannya ujung batangku dengan lidahnya. Aku merasakan batangku mengeras dan semakin mengeras. "Vi, aduh gimana nih sekarang, kamu tanggung jawab lho," kataku menggodanya. "Ya udah deh cari aja hotel," kata Vivi sambil terus mengocok batangku, dan dengan tangan satunya dia meremas-remas payudaranya sendiri. Hotel pun pilihannya jatuh di Hotel ****(edited) Menteng Prapatan. Kami berdua naik ke kamar sudah agak sempoyongan tapi ditegak-tegakkan supaya kelihatannya sehat. Setibanya di kamar Vivi menyempatkan menelepon ke adiknya. "Vin, ini aku nginep di Hyatt ****(edited) kamar 900, bilangin bokap ya!" Aku begitu datang dari kamar mandi mengenakan handuk saja, langsung ditubruk dan handuknya ditarik si cantik yang ganas itu. Sambil mencium dada, perut dan sekujur tubuhku, Vivi dengan tergesa-gesa melepas bajunya dan melemparkannya ke penjuru kamar. Begitu terlepas BH yang menutupi dadanya yang padat itu, terlihat payudaranya yang putih padat dengan putingnya yang terlihat kecil mencuat karena terangsang. Disambarnya batanganku yang sudah tegang karena melihat keganasan dan tubuh Vivi yang indah itu. Sambil menaik-turunkan mulutnya mengikutipanjangnya batangku, tangan kanan Vivi mengusap dan mempermainkan klitoris dan sekitar bulu kemaluannya sendiri, serta sesekali terdengar erangan dari mulutnya yang terus menghisap batangku. Capek dengan kegiatannya, si cantik itu menjatuhkan badannya ke tempat tidur sambil mengangkat kedua kakinya ke atas. Tangan kirinya membelai rambut kemaluannya sendiri, dan tangan kanannya mempermainkan lipatan-lipatan kulit klitoris di kemaluannya. Aku melihat Vivi seperti itu, langsung ikut membelai bulu kemaluannya yang halus. Kujilat putingnya yang menonjol kecil tapi keras, kujelajahi perutnya yang kencang, kumainkan ujung lidahku di sekitar pusarnya. Dan terdengar erangan Vivi, "Egghh, uhh.." Langsung kuhujamkan ujung lidahku ke lubang kemaluannya yang sudah basah, dengan kedua jempolku, kudorong ke atas lipatan klitorisnya, kupermainkan ujung lidahku di sekitar klitoris itu, "Uuhh, egghh, ahh.." teriak Vivi. Karena tidak tahan lagi, langsung saja kumasukan batang kemaluanku yang dari tadi sudah sangat keras. Dan ternyata basahnya kemaluan Vivi tidak mengakibatkan rasa licin sama sekali, karena lubangnya masih terasa sempit dan sulit ditembusnya. Begitu terasa seluruh batang kemaluanku masuk di dalam jepitan lubang kemaluan Vivi, perlahan-lahan kupompa keluar dan masuk lubangnikmat itu. Belum terlalu lama aku memompa kemaluan Vivi, tiba-tiba, "Aaahh, uugghh.." teriak Vivi, rupanya dia sudah orgasme. Aku mempercepat gerakan dan teriakan Vivi semakin menjadi-jadi, lalu kuhentikan tiba-tiba sambil menekan dan memasukkan batang kemaluanku sedalam-dalamnya kelubang kemaluannya. "Oh.. Oh.. Oh.. that was so nice darling, let's make another," katanya. Kubalikkan badannya telungkup ke tempat tidur, dan dari belakang kupompa lagi keluar masuk lubang kemaluannya yang ketat itu, kurebahkan badanku menempel ke punggung Vivi dan kugerakkan pinggulku secepatnya. "Uh.. uh.. uh.. uh.. aduh Mas enak sekali.. aahh.." teriak Vivi lagi karena orgasme yang kedua. Tapi kali ini aku tidak stop, karena aku juga sudah merasakan denyutan yang memuncak di sepanjang batangku. Dan dengan kecepatan penuh kupompa keluar masuk lubang kemaluan ketat itu. Diiringi erangan yang semakin menjadi-jadi dari Vivi, akhirnya aku juga mencapai klimaksnya. Paginya karena hari Minggu, aku tidak terlalu resah untuk bangun pagi. Apalagi aku sekarang sedang menginap di ****(edited) bersama Vivi. Waktu aku bangun kulihat jam di meja samping tempat tidur, eh baru jam 8:00 pagi. Kepala masih nyut-nyutan, dan kamar masih gelap sekali, tapi aku tetap bangun dan ke kamar mandi. Setelah sikat gigi dan "nyetor saham", aku langsung ke tempat tidur lagi dan masuk ke balik selimut. "Emm, Mas kok pagi-pagi sudah bangun sih. Uuhh.. tangan kamu tuh dingin, jangan nempel-nempel dong!" kata Vivi protes. Tapi tanpa menghiraukan protes Vivi, aku tetap menempelkan badanku ke badan Vivi yang juga telanjang bulat. Dari belakang kupeluk badannya yang padat berisi, dengan tangan kananku, kuraba buah dadanya yang menonjol. Aku memainkan jari-jariku di sekitar putingnya yang terasa menonjol kecil. Kurasakan badan Vivi menggeliat sedikit tapi kemudian diam kembali. Kulanjutkan lagi rabaanku ke daerah perut menuju rambut-rambut halus di sekitar kemaluannya. Perlahan-lahan kuusap-usap rambut-rambuit itu, dan di balik rambutnya kuraba dan mainkan klitoris Vivi. "Emm, ehh, Mas, uhh, Mas, ya itu di situ enak, terus ya," kata Vivi tiba-tiba. Tanpa terasa, batangku mulai mengeras lagi. Tidak pikir lama-lama langsung kutempelkan pinggulku ke pantat Vivi. Terasa batang kemaluanku tepat di belahan pantat Vivi. Tanganku tetap kumainkan di daerah kemaluannya, dan aku bisa merasakan kemaluannya mulai basah. Segera kuarahkan ujung batangku ke lubang kemaluan Vivi. "Aghh.." erang Vivi saat ujung batangku agak dengan paksa menusuk ke liang kemaluannya. Kugenjot batang kemaluanku sampai akhirnya.. "Akhh.." erang Vivi rupanya dia sudah sampai. Vivi melepas batang kemaluanku dari lubang kemaluannya, dan memintaku untuk tidur terlentang. Lalu dengan perlahan lagi, dia naik ke atas badanku dan mulai memasukkan batang kemaluanku yang tadinya sudah hampir mencapai puncaknya. Vivi menghadap ke arahku, sehingga terlihat wajahnyayang cantik serta buah dadanya yang menonjol besar. Pinggul Vivi meliuk-liuk menimbulkan rasa enak dan ngilu di sepanjang dan ujung batang kemaluanku yang terjepit erat di antara kemaluan Vivi. Kuraih buah dada Vivi dan kuremas-remas. "Ohh, yes, yes, yah terus Mas, oouhh enaknya, ya.." teriak Vivi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya secara membabi buta. Rambutnya yang agak panjang terlihat menyabet ke kiri dan ke kanan. dan tak lama kemudian kami pun mencapai puncak secara bersamaan. Begitulah kisahku bersama Vivi, dan sejak saat itu aku sering melakukan percintaan yang melelahkan sekaligus menyenangkan bersama Vivi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-8608917707602607142?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/wNCxQkd51qs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8608917707602607142?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8608917707602607142?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/wNCxQkd51qs/cerita-ngetot-dengan-tante-girang.html" title="cerita ngetot dengan tante girang" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-ngetot-dengan-tante-girang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMBQXo5eip7ImA9WhZVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-1451332196580190843</id><published>2011-05-23T18:34:00.001+07:00</published><updated>2011-05-23T18:34:10.422+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-23T18:34:10.422+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita sex bos dan karyawan</title><content type="html">Cerita ini kubuat semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman, dimana kejadian yang kualami ini sungguh-sungguh terjadi kurang lebih setahun yang lalu. Sengaja nama tempat-tempat yang pernah ada, kusamarkan karena tidak enak dengan karyawan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku adalah seorang pimpinan sebuah Biro Perjalanan Wisata yang terhitung masih baru di negara ini. Panggil saja aku Pram. Aku seorang laki-laki yang masih bujangan walau umurku sudah 32 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama aku menjalankan perusahaan ini, aku merekrut beberapa karyawan yang layaknya perusahaan travel tentu banyak wanitanya. Salah satu karyawanku itu sebutlah namanya Esther, adalah tangan kananku dalam menjalankan roda perusahaan ini. Dia cukup berpengalaman di bidang marketing dan operasional. Orangnya cantik, putih, berumur sekitar 28 tahun. Pertama aku meng-interview dia kujabat tangannya, "Selamat siang, perkenalkan nama saya Pram, Pramono."&lt;br /&gt;
Dia pun menyebutkan namanya, "Esther.." dengan nada suaranya yang agak serak, yang bagiku terdengar seksi.&lt;br /&gt;
"Boleh saya lihat CV anda?" tanyaku.&lt;br /&gt;
"Silakan Pak," sahutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun mulai bertanya seperti layaknya pimpinan perusahaan yang sedang meng-interview calon karyawannya.&lt;br /&gt;
"Sepertinya anda cukup pengalaman di bidang travel, sudah berkeluarga ?" tanyaku penuh selidik.&lt;br /&gt;
"Sudah Pak," jawabnya singkat.&lt;br /&gt;
Lalu ditambahkan, "Saya sudah berputra satu."&lt;br /&gt;
"Ooo.. Oke anda diterima, kapan anda mulai bergabung dengan kami?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;
"Mungkin minggu depan, bagaimana Pak?" jawabnya, sambil memainkan matanya yang indah.&lt;br /&gt;
"Hmm.. boleh, selamat ya.." kataku sambil menjabat tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah, Esther sejak itu menjadi karyawanku, dimana sewaktu marketing aku selalu mengajak dia. Dia pun kelihatan senang kalau aku mengajaknya keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari seringnya kami keluar bersama entah kenapa dia sering memancing omongan kearah yang lebih pribadi. Sampai akhirnya pada suatu saat aku terkejut begitu mengetahui dia ternyata sudah bercerai dengan suaminya. "Hah?! pantas aku nggak pernah melihat suami kamu.." aku hanya bisa geleng-geleng kepala. "Yah, beginilah kehidupan saya Pak, saya janda dengan anak satu, maafkan saya Pak, selama ini saya berbohong pada Bapak." Esther menyahut dengan tetesan air mata di pipinya. Aku tidak tahan dengan pemandangan itu, lalu kubelai rambutnya, entah setan dari mana aku memeluk dirinya. Ternyata dia pun malah menghamburkan tubuhnya di dadaku, dengan tangisnya yang semakin kencang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu aku semakin dekat dengan Esther, tapi tetap aku menjaga hubungan kami itu dari karyawan lain. Dimana kalau kami sedang berdua, dia memanggilku dengan sebutan, "Mas". Tapi kalau ada karyawan lain dia tetap memanggilku, "Pak".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai sebulan kemudian, aku ditemani Esther kerja lembur di kantor. Kurang lebih pukul 8 malam, aku istirahat sambil duduk di sofa yang ada di ruanganku. Saat itu Esther terlihat cantik dengan rok mini dipadu blazer coklatnya. "Mas, ayo cepet pulang, Rian kasian di rumah," rengeknya. Oh ya, Rian itu adalah putra dari suaminya dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Iya.. ya sebentar aku capek nih," aku menjawab sambil tersenyum, lalu kutarik tangannya agar duduk di sebelahku. Kami pun terlibat obrolan tentang masa lalunya, yang memancing tangisnya pecah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sudahlah, kamu berhak melanjutkan hidup kamu, jangan kamu sia-siakan, kamu masih punya tanggung jawab terutama dengan Rian, iya kan?" hiburku sambil memeluknya.&lt;br /&gt;
Perlahan kucium rambutnya yang harum itu, kukecup bibirnya. Esther pun membalas disertai air matanya yang masih menetes di pipinya. Entah kenapa aku semakin berani dengan mengecup lehernya, Esther pun hanya merintih kegelian, tapi dibiarkan saja aku terus menjelajahi seantero lehernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tadinya aku berpikir, sudah sekian lama dia tidak mendapatkan sentuhan laki-laki masak sih dia tidak ada keinginan untuk itu? Sambil deg-degan tanganku mencoba meraih kancing blazernya. Yess! Ternyata dia hanya merintih, "Ouhh.. Masss.." malah tangannya meraba pahaku. Mendapat respon seperti itu aku menjadi kegirangan, satu-satu kubuka kancing blazernya, dan kulihat blouse dalamnya yang ternyata berwarna kuning juga, tapi sangat transparan, sehingga terlihat BH yang berwarna hitam itu menerawang di balik blouse-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulihat matanya meredup seolah mengharap aku bertindak lebih jauh. "Iya sayang aku tau, kamu sudah lama kan tidak pernah mendapat sensasi seperti ini?" aku berkata dalam hati. Pelan-pelan kancing blouse itu kubuka, tidak sampai satu menit terbuka semua kancing itu. Entah pura-pura atau apa Esther tiba-tiba menutup blouse yang sudah terlanjur terbuka itu.&lt;br /&gt;
"Kenapa?" tanyaku keheranan.&lt;br /&gt;
"Hmm.. malu, malu Mas.." jawabnya.&lt;br /&gt;
"Aku tau sayang, kamu sebenarnya menginginkannya kan?" tanyaku yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia cuma diam, dan tanpa menunggu jawaban dari Esther, perlahan kusingkirkan tangannya dari dua bukit kembar yang masih tertutup kain segitiga hitamnya. Sambil kembali aku melumat bibirnya kutelusupkan jariku di celah BH-nya. Dan, tanpa kesulitan kutemukan tonjolan daging di puncak buah dadanya yang ternyata sudah keras. Karena jari-jariku kejepit BH yang mungkin kesempitan buatnya, kupaksakan keluar buah dadanya yang kanan keluar dari balik BH-nya. Benar juga dugaanku, BH yang kutaksir 34 itu ternyata masih agak kesempitan, karena begitu bukit daging itu menyeruak keluar besarnya kurang lebih sebesar jeruk bali, dengan putingnya yang merah kehitaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mas dibuka saja, nanti BH-ku rusak," kata Esther tiba-tiba.&lt;br /&gt;
Pucuk dicinta ulam pun tiba! gumamku. Karena pengalamanku yang sudah menggauli sekian banyak wanita, kalau hanya membuka BH dengan satu tangan sih mudah saja. Dan, kedua buah dada Esther sekarang terpampang tepat di depan wajahku. "Boleh?" aku bertanya seolah minta ijin darinya. Esther hanya tersenyum, dan dua detik kemudian bibirku sudah menyentuh puting susunya sebelah kanan sedang tangan kananku beroperasi pada yang satunya. Perlahan kumainkan lidahku di tonjolan puting susunya sambil kutarik-tarik dengan bibirku. Sedang tanganku sibuk memilin-milin dan meremas buah dada yang satunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba pecahlah rintihan nafsu keluar dari mulut Esther. "Ouuhhh.. Masss.. terus.." Entah sadar atau karena kebiasaan dengan suaminya dulu, Esther mendaratkan tangannya di atas selangkanganku. Dan tanpa diminta dia langsung meremas-remas tonjolan di balik reitsleting celanaku. Kontan daging panjang di balik celanaku itu membengkak. Aku berpikir tidak adil, kalau dia sudah berani memegang kemaluanku, kenapa aku cuma di sekitar dadanya? Aku pun mengarahkan tanganku yang tadi memainkan buah dadanya, ke pahanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah karena refleks atau apa, Esther pun seperti membuka jalan dengan membuka kedua pahanya. Otomatis rok kuning mini miliknya ikut terkuak. Dari cuma mengelus pahanya, tanganku pun menjalar ke atas sampai menyentuh secarik kain yang menutupi bukit pubis di selangkangannya. Perlahan kuelus bukit kecil itu. "Mass.. Ouughh.." rintihan Esther terdengar semakin keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara mulutku masih asyik mengulum dan mengenyot puting Esther, jemariku rasanya tidak betah kalau hanya mengelus secarik celana dalamnya. Kutelusupkan jari-jariku masuk dari pinggir celana dalam Esther yang ternyata berwarna hitam juga. Dan, begitu menyentuh daging di balik celana dalamnya, jari-jariku disambut dengan kehangatan dan kelembaban yang dikeluarkan oleh kemaluannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada tiga menit aku mengelus bibir kemaluan Esther, perlahan dari bawah ke atas, terus bergantian, sampai tiba-tiba saja dia berdiri dan, "Mas.. ehmm sebentar ya?" ternyata dia melorotkan sendiri celana dalamnya, lalu dibuang begitu saja di lantai. Aku hanya melongo memperhatikan kelakuannya, "Aku takut celanaku basah.." sahutnya malu-malu. Aku pun tersenyum dibuatnya. "Iya nih belum apa-apa sudah lengket tanganku." godaku. Wajah Esther merah sambil mencubit perutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Curang! Mas Pram curang! celana Mas belum dibuka." gerutunya cemberut yang dibuat-buat.&lt;br /&gt;
"Ya udah, so mau kamu gimana?" tanyaku pura-pura nggak ngerti.&lt;br /&gt;
"Iiihhh.. norak! Ayo dong dibuka!" rengeknya manja.&lt;br /&gt;
Aku cuma terkekeh dibuatnya, tapi aku pun menuruti kemauannya. Sambil dibantu Esther, celana panjangku akhirnya lepas. Sekarang aku cuma memakai celana dalam.&lt;br /&gt;
"Yang ini? Belum!" dia menunjuk ke arah celana dalamku.&lt;br /&gt;
"Usaha dong.." jawabku sekenanya. Tapi Esther cuma memandang tonjolan daging panjang yang masih tersimpan rapi di balik celana dalamku. Tangannya kembali menyentuh tonjolan tersebut. Diurut perlahan dari bawah ke atas, dan pada ujungnya dia memainkan jarinya sedemikian rupa sampai aku merem melek dibuatnya, "Hmmm.. yahh.. ouffsshhh.. pintar kamu Ther.." gantian aku dibuatnya merintih keenakan. Sementara mulut dan bibirnya memagut leherku dengan lembutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, "Aku buka ya?" tanya Esther.&lt;br /&gt;
Aku cuma mengangguk, "Terserah kamu sshhh.. mau diemut juga boleh.. oouuhh.." kataku disertai rintihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedetik kemudian mencuatlah batang kemaluanku dengan gagahnya. Sambil terus mengurut dan meremas-remas kemaluanku, Esther memuji kemaluanku, "Wahhh.. pantas..!"&lt;br /&gt;
Aku heran, "Apanya yang pantas?"&lt;br /&gt;
"Nggak Mas, tapi jangan marah ya? Aku sering membayangkan itunya Mas Pram kalau lagi tegang, soalnya sering kalau ininya Mas Pram lagi tegang aku nggak sengaja ngeliat.." katanya sambil meremas agak kuat kemaluanku.&lt;br /&gt;
"Kan nggak kelihatan?" tanyaku heran.&lt;br /&gt;
"Iya! Tapi kelihatan kok kalau punya Mas Pram gedeeee.. banget! Menuh-menuhin bungkusnya. Tuh liat tuh sampe tanganku aja nggak muat megangnya." Sahutnya penuh nafsu yang tertahan.&lt;br /&gt;
"Apa lagi kalau.. kalau.. mmmm.." omongannya terputus.&lt;br /&gt;
"Apa..?" tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;
"Nggak, apa lagi kalau.. masuk ke sini.." sambil tangannya menunjuk ke arah liang kemaluannya sendiri.&lt;br /&gt;
"Ke mana Sayang? hmm? ke sini?" sahutku sambil tanganku menyingkap roknya dan kembali meraba bukit kemaluan Esther yang tercukur rapi itu.&lt;br /&gt;
"Ssstt.. ouhhh.. yahhh.. oufsshh.." kembali dia merintih pelan.&lt;br /&gt;
"Kuemut ya Sayang?" tanpa menunggu jawaban dariku, Esther langsung membuka lebar mulutnya dan, "Ouuhh.. Godd!" aku merintih nikmat karena kepala kemaluanku sudah dalam jepitan bibir Esther yang terlihat seksi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara lidah Esther memainkan kepala kemaluanku, aku sibuk dengan jariku memainkan bagian puncak dari lubang kemaluannya, yang di situ bertengger daging kecil klitorisnya yang sudah amat tegang. Esther begitu mahir dengan permainan mulutnya yang naik turun yang mengeluar-masukkan batang kemaluanku di mulutnya. Aku terbuai dihempas badai kenikmatan dengan hisapan dan emutan Esther di seluruh kemaluanku. Sambil mataku tertutup, aku membayangkan, yahh.. pantas saja dia janda, tentu pintar membuat pasangannya kelonjotan begini! Tapi aku pun saat itu juga berpikir, aku pun juga piawai kalau hanya membuat wanita kelojotan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah 10 menit berlalu, kuangkat kepala Esther dan otomatis batang kemaluanku tercabut dari keganasan permainan mulut dan bibirnya. Kulihat batang kemaluanku basah oleh air liur Esther.&lt;br /&gt;
"Ada apa Mas? nggak enak ya?" tanyanya khawatir.&lt;br /&gt;
Aku tersenyum, "Nggak.. enak kok, tapi pengen gantian aja," jawabku singkat.&lt;br /&gt;
Esther masih keheranan dengan sikapku, lalu dia kusuruh merebahkan tubuhnya di sofa merah di ruanganku itu.&lt;br /&gt;
"Mau ngapain Mas.." tanya Esther belum hilang keheranannya, tapi dia mau menuruti kehendakku dengan merebahkan tubuhnya di sofa.&lt;br /&gt;
Aku cuma tersenyum lalu, "Coba deh ya?" jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai mengecup lututnya yang terjuntai ke lantai, sementara rok mininya kutarik ke atas, hingga terpampanglah selangkangan Esther yang polos dan sangat menggairahkan itu. Perlahan kutelusuri paha kanannya dari lutut bagian luar kemudian masuk ke arah belakang lututnya terus merangkak naik. Lantas paha yang satunya pun tidak luput dari kecupan bibir dan jilatan lidahku, perlahan naik ke arah bukit kemaluannya disertai erangan dan rintihannya yang terputus-putus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tersadar akan apa yang akan kulakukan, dia berujar, "Mas, ehhh.. Mas.. jangan!" sambil kedua telapak tangannya menutupi selangkangannya dan kedua pahanya dirapatkan.&lt;br /&gt;
"Kenapa Sayang..?" tanyaku.&lt;br /&gt;
Dia bangkit, "Jangan Mas.. soalnya kan.." dia tidak melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;
"Kenapa.." aku menunggu jawabannya.&lt;br /&gt;
"Soalnya.. Soalnya punyaku bau.." jawabnya malu-malu.&lt;br /&gt;
"Masa sih? Mana sini aku cobain, bau apa nggak!" kataku sambil berusaha merebahkan tubuhnya kembali di sofa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali Esther menuruti kehendakku merebahkan tubuhnya di sofa, tapi selangkangannya masih tertutup rapat dan tangannya masih menelungkupi bagian kemaluannya. Kembali lidah dan bibirku menelusuri bagian atas pahanya, sampai akhirnya bibirku menyentuh tangannya yang tetap tidak mau minggir itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mas.. ouhhh Mas.. jangan Mas.. punyaku bau Sayang.. jangan dong.. ouh sshhh.. aku malu.." katanya sambil terus diiringi rintihannya.&lt;br /&gt;
"Hmmm.." Aku cuma bergumam sambil terus menciumi tangannya. Perlahan namun pasti, akhirnya kedua telapak tangan Esther mau juga minggir dan berganti mengelus-elus pipiku. Sementara kedua pahanya masih tertutup rapat seolah belum mau memberi kesempatan pada lidahku untuk mencicipi lubang surga yang dimiliki Esther ini. Kusapu terus dengan lidahku daerah lipatan pubis Esther yang ditumbuhi bulu-bulu tercukur rapi itu. Mulai tercium aroma kemaluan wanita yang khas yang biasanya merebak jika wanita semacam Esther ini didera nafsu birahi yang hebat. Aku sangat yakin lubang kemaluan Esther ini pasti paling tidak sudah mengeluarkan beberapa tetes cairan pelumas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sadar atau tidak atau memang Esther sudah amat menginginkannya, dengan sedikit tenaga dari tanganku akhirnya perlahan terbuka juga kedua pahanya yang sudah 10 menit tertutup rapat. Dan semakin menyeruaklah bau harum yang khas yang dikeluarkan dan ditebarkan oleh cairan yang keluar dari lubang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua paha Esther belum terbuka maksimal, jadi bentuk kemaluannya masih terlihat garis lurus dengan bibir labia mayora di lubang kemaluannya masih menutupi misteri yang ada di situ. Sedikit demi sedikit kuresapi kebasahan yang melekat di bibir kemaluan Esther. Oh Tuhan, akhirnya aku bisa menikmati kemaluan Esther yang sudah sekian lama kuimpikan. Semakin lebar tanpa sadar Esther membuka pahanya, perlahan semakin terkuaklah bibir luar kemaluan Esther memperlihatkan lubang yang mulai menganga yang di atas pucuk kemaluan itu ada secuil daging kecil bertengger dengan indahnya seolah bergetar tak sabar menunggu keliaran dari lidah dan mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, "Ouhhh.. Mas.. God! Yahh..! esstthh.." dari mulut Esther pecah rintihan keras begitu lidahku menjelajahi bagian dalam lubang kemaluannya, terus kusentil klitoris yang sedari tadi mengharapkannya. Setiap milimeter apa yang ada di liang kemaluan Esther tidak ada yang terlewati, kujilat dan terus kujilati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang jemari di tangan Esther hanya bisa mengelus rambutku. Esther tambah kelonjotan saat lidahku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dan menjilati tonjolan-tonjolan daging yang ada di dalam sana. Lalu kembali lidahku menjilati bibir bagian dalam kemaluannya terus ke atas sampai menyentuh klitorisnya. Ada 5 menit aku memainkan klitorisnya. Sementara erangan Esther makin keras dan tubuhnya semakin bergetar hebat. Aku pun mengimbanginya dengan mulai menggigit-gigit kecil bibir kemaluannya dengan bibir dan gigiku. "Mass.. kamu hebat Sayang.. ouuhh yess.. Goddd.. terus.. ouufff.. Mas Pram.. sshhh.. yaahh.. teruss Sayang.."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali ke arah daging kecil itilnya, bibirku mulai menghisap klitoris Esther di dalam mulutku, sambil diemut-emut seperti layaknya ngemut permen. Klitoris yang ada di dalam mulutku itu kuemut dengan lembut sementara lidahku memainkannya di dalam. "Yahhh.. terusss.. hisap itilku.. Ouuff ssh.. yang kuat Masss.. terus.. yahh begitu.. oouuhh Mas.. Mas Prammm.. aku belum pernah seenak ini Masss.. Aduuhhh.. pintar banget sih Mass.. Godd.." rintihan Esther seperti memberi semangat buatku untuk terus menjilati dan menghisap itilnya lebih kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh Esther berkelonjotan ke sana ke mari, sementara jari-jarinya menjambak rambutku, dan di sela-sela lidahku yang makin ganas dan liar menghisap dan mengemut klitorisnya, tiba-tiba, "Sruutt.. sruttt.. gleekk.. sruutt.. sruuttt.." entah dari mana datangnya tiba-tiba mulutku dibanjiri cairan yang begitu banyaknya sampai aku kewalahan untuk menghindarinya karena Esther sekarang bukan lagi menarik-narik rambutku, tapi malah berusaha membenamkan wajahku di lubang kemaluannya dengan menekan kuat kepalaku pada selangkangannya, sementara kedua pahanya menjepit kuat kepalaku. "Teruss.. Sayang.. aduhh.. yahhh.. dikit lagi.. oouuhhh Goddd.. essshhh.. sedikit lagi Masss.. aduuhh nikmat sekali.. essttt.. ouufff.."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sreettt.. srrr.. seeerrttt.. glekk serrr.. gllekk.." mau tidak mau cairan yang disemburkan dari lubang kemaluan Esther itu kutelan, karena memang kepalaku oleh Esther dibenamkan di liang kemaluannya serta dijepit dengan kuat oleh kedua pahanya. Entah sudah berapa kali Esther menyemburkan cairan kenikmatan yang keluar membanjir masuk ke dalam mulutku. Dan entah berapa kali aku menelannya. Karena setiap kuhisap klitorisnya, saat itu pula cairan itu menyembur kuat masuk ke dalam mulutku terus masuk ke dalam kerongkonganku yang berarti otomatis tertelan olehku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi entah kenapa aku begitu menyukai rasa cairan yang dikeluarkan oleh lubang kemaluan Esther ini, jadi aku malah tambah bernafsu untuk menghisap habis cairan yang terus membanjiri di dalam mulutku. Aroma cairan yang keluar dari kemaluan Esther ini sungguh beda dari wanita yang pernah kucicipi. Rasa dan aromanya begitu harum, gurih dan rasanya tidak ada rasa dan aroma cairan di dunia ini yang seenak dan segurih yang dimiliki Esther ini. Mungkin setelah sekitar 10 kali semburan, cairan itu tidak terlalu kuat lagi menyembur, hanya berupa tetesan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu Esther pun sedang menikmati multi orgasmenya yang panjang dengan rintihan dan erangan yang tidak putus-putusnya. Sampai 3 menit kemudian, dia pun mengendorkan jepitan pahanya di kepalaku dan melepaskan cengkeraman tangannya juga di kepalaku. Aku yang tadi sulit bernafas, sekarang bisa mengambil nafas lega, dan kupandangi lubang kemaluan Esther yang terlihat merah dan sangat basah, di situ masih terlihat tetesan cairan yang tadi begitu derasnya menyerbu mulutku. Kulihat juga sofa di bawah selangkangan Esther basah ternoda oleh sisa cairan yang masih terus menetes. Kupikir ketimbang mengotori sofaku, kutampung sisa cairan yang masih menetes itu dengan kembali menjilati lubang kemaluan Esther. Kontan Esther merengek, "Mass.. udah Sayang.. aduuhhh.. Gelii.. oouuhh.. ouufff.. ssttt.. Geli Sayang.. udah dong.. aduh enak Mas.. aduhh.. aku nafsu lagi nih.."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia menarik tubuhku dan langsung mencium bibirku dengan ganasnya, padahal di mulutku masih banyak sisa cairannya sendiri. Aku pun berusaha menolaknya, seperti mengetahui pikiranku, Esther menimpali, "Hmmm.. enak juga cairanku ya Mas? Gurih ya?" dia terlihat mengecapkan mulutnya seperti mencicipi masakan yang luar biasa lezatnya. Aku pun menjawab, "Esther, betul-betul deh cairan kamu ini bener-bener luar biasa enaknya. Kayaknya nggak ada deh di dunia ini yang bisa menandingi kelezatan dan kegurihan yang dikeluarkan kemaluan kamu.." aku setengah merayu. Dia cuma memelukku manja, namun beberapa saat kemudian kulihat dari kedua mata Esther keluar air, (air mata?) "Aduuh Mas Pram, aku belum pernah mengalami sensasi yang barusan kamu berikan padaku, aku nggak mau pisah Mas.. jangan tinggalkan aku ya? Pleasee.. kawini aku, Mas.." dia berkata sambil sesunggukan berurai air mata, dan tangannya menyeka mulutku dengan tissue dari kebasahan yang tadi membanjiri mulutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulihat jam sudah pukul 9:30 malam, "Ayo sayang kita pulang, kasihan Rian menunggu kamu di rumah." bisikku. Lalu kami pun merapikan pakaian dan pulang menuju rumah Ester.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu Esther menjadi Sephiaku dan kami pun sering mengulangi kejadian tersebut hingga akhirnya kami berpisah karena Esther telah dinikahi oleh orang lain. Begitulah nasib manusia, jodoh benar-benar berada di Tangan yang Kuasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-1451332196580190843?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/kiOc1CgqRbk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1451332196580190843?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1451332196580190843?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/kiOc1CgqRbk/cerita-sex-bos-dan-karyawan.html" title="cerita sex bos dan karyawan" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-sex-bos-dan-karyawan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EFQ3gyeip7ImA9WhZVEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-1830954988447299418</id><published>2011-05-22T16:13:00.000+07:00</published><updated>2011-05-22T16:13:32.692+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-22T16:13:32.692+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>nikmatnya kontol besar orang arab</title><content type="html">Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.&lt;br /&gt;
Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.&lt;br /&gt;
Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.&lt;br /&gt;
Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.&lt;br /&gt;
Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.&lt;br /&gt;
Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.&lt;br /&gt;
Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.&lt;br /&gt;
Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.&lt;br /&gt;
” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.&lt;br /&gt;
Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.&lt;br /&gt;
“Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.&lt;br /&gt;
“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.&lt;br /&gt;
Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.&lt;br /&gt;
“Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku.&lt;br /&gt;
Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, “Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw”.&lt;br /&gt;
“Anis,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.&lt;br /&gt;
Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.&lt;br /&gt;
“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;
“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.&lt;br /&gt;
kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.&lt;br /&gt;
Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.&lt;br /&gt;
Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.&lt;br /&gt;
Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.&lt;br /&gt;
Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.&lt;br /&gt;
“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.&lt;br /&gt;
Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.&lt;br /&gt;
“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.&lt;br /&gt;
“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.&lt;br /&gt;
Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.&lt;br /&gt;
Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.&lt;br /&gt;
Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.&lt;br /&gt;
Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.&lt;br /&gt;
Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.&lt;br /&gt;
Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.&lt;br /&gt;
Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.&lt;br /&gt;
Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.&lt;br /&gt;
Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.&lt;br /&gt;
Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.&lt;br /&gt;
“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.&lt;br /&gt;
Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.&lt;br /&gt;
Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.&lt;br /&gt;
Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.&lt;br /&gt;
Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.&lt;br /&gt;
15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.&lt;br /&gt;
“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.&lt;br /&gt;
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.&lt;br /&gt;
Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.&lt;br /&gt;
Semenit kemudian..&lt;br /&gt;
“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.&lt;br /&gt;
Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.&lt;br /&gt;
“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”&lt;br /&gt;
Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.&lt;br /&gt;
“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.&lt;br /&gt;
Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.&lt;br /&gt;
“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.&lt;br /&gt;
“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.&lt;br /&gt;
Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!&lt;br /&gt;
“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”&lt;br /&gt;
“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.&lt;br /&gt;
Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.&lt;br /&gt;
Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.&lt;br /&gt;
“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.&lt;br /&gt;
“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.&lt;br /&gt;
Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.&lt;br /&gt;
Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.&lt;br /&gt;
“Hmmhh..,” ia bergumam.&lt;br /&gt;
“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.&lt;br /&gt;
Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.&lt;br /&gt;
“I want more, honey!” kataku.&lt;br /&gt;
kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.&lt;br /&gt;
Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.&lt;br /&gt;
Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.&lt;br /&gt;
“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.&lt;br /&gt;
Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.&lt;br /&gt;
“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.&lt;br /&gt;
Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.&lt;br /&gt;
Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.&lt;br /&gt;
Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;
Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.&lt;br /&gt;
Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.&lt;br /&gt;
Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.&lt;br /&gt;
“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”&lt;br /&gt;
Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.&lt;br /&gt;
Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;
Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.&lt;br /&gt;
Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.&lt;br /&gt;
Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.&lt;br /&gt;
Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.&lt;br /&gt;
Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.&lt;br /&gt;
kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.&lt;br /&gt;
“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.&lt;br /&gt;
Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.&lt;br /&gt;
Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.&lt;br /&gt;
Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.&lt;br /&gt;
Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.&lt;br /&gt;
kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.&lt;br /&gt;
“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.&lt;br /&gt;
“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.&lt;br /&gt;
Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.&lt;br /&gt;
“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.&lt;br /&gt;
Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.&lt;br /&gt;
Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.&lt;br /&gt;
Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.&lt;br /&gt;
Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.&lt;br /&gt;
Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.&lt;br /&gt;
kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.&lt;br /&gt;
Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.&lt;br /&gt;
Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.&lt;br /&gt;
Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.&lt;br /&gt;
Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.&lt;br /&gt;
Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.&lt;br /&gt;
“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”&lt;br /&gt;
“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”&lt;br /&gt;
Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.&lt;br /&gt;
Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.&lt;br /&gt;
Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.&lt;br /&gt;
Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.&lt;br /&gt;
Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;
“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.&lt;br /&gt;
“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.&lt;br /&gt;
Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.&lt;br /&gt;
Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis, arabian Girl who has passion as like as Arabian horse.&lt;br /&gt;
HOME&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-1830954988447299418?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/uSiUUz_j5vc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1830954988447299418?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1830954988447299418?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/uSiUUz_j5vc/nikmatnya-kontol-besar-orang-arab.html" title="nikmatnya kontol besar orang arab" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/nikmatnya-kontol-besar-orang-arab.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0IFRXo4eCp7ImA9WhZVEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-3920624570093584349</id><published>2011-05-22T16:11:00.002+07:00</published><updated>2011-05-22T16:11:54.430+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-22T16:11:54.430+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita ngentot karena melihat cewek telanjang</title><content type="html">Aku, Celana Dalam dan Bra&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seorang jejaka 22th, setamat SMU disebuah kota kecil yang terkenal akan reognya aku langsung merantau ke Jakarta hingga sekarang, aku bekerja di sebuah hotel di kawasan Blok M jakarta, menjadi seorang petugas laundry. Sudah 1 tahun lamanya aku dibagian itu, tapi sungguh sampai saat ini aku begitu menikmati pekerjaanku, kenapa? padahal gajiku tak bisa disebut cukup. Pas sebulan habis, emang sih kalau yang namanya duit itu tidak akan pernah ada kata 'cukup' deh..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama kali aku bekerja, aku mendapatkan posisi sebagai petugas kebersihan kamar hotel, saat itulah cerita ini dimulai, terus terang aku bukan si jelek atau si tampan, tapi sedap dipandang mata kata ibuku (boleh dong memuji diri sendiri), keluargaku bukan "orang berpunya" dan aku juga tak pandai berkata-kata, mungkin itu pula sebabnya aku jadi sering kikuk, minder kalau bertemu dengan seorang wanita, apalagi wanita itu cantik dan aku tertarik padanya, duh! pasti aku tak ubahnya sebuah patung yang bisa berkeringat!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa ditebak, bahwa aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran! ah kacian deh gue, tapi tunggu dulu! bukan berarti aku tidak tertarik dengan sex, justru libidoku termasuk tinggi, dibuktikan saat aku membersihkan sebuah kamar yang dihuni oleh pasangan pria dan wanita, pastilah orang lain akan geli melihatku, karena rudalku mengeras, membatu, membesar tanpa terkendali membayangkan pergumulan penuh birahi diantara mereka, hingga aku tidak bisa bekerja dengan posisi berdiri tegak, badanku agak membungkuk bukan karena sopan, tapi aduh! malu kalau ketahuan horny.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari aku membersihkan kamar hotel yang dihuni 4 orang ABG yang sedang berlibur di Jakarta, mereka berasal dari pulau Sulawesi, wuih! kulit mereka putih bersih bersinar, tinggi 160an membuat mereka terlihat semampai dengan berat 47an, lincah, cantik, aih sungguh menggemaskan dengan usia meranum. 'Sweetseventen'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siang itu mereka sudah melesat ke mall, meninggalkan kamar dengan berbagai atribut ABGnya yang berserakan diseantero kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah anak manja! apa susahnya sih merapikan barangnya sendiri," pikirku sambil geleng kepala, setelah kurapikan kamarnya, tiba saatnya aku membersihkan kamar mandi.&lt;br /&gt;
"Hah, berantakan juga rupanya!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlihat baju-baju bergoyang-goyang di belakang pintu kamar mandi saat aku masuk ke dalam dan kututup pintu kamar mandinya, goyangan itu membuat celana dalam dan BH yang berada di balik baju-baju itu tersembul menggoda, berwarna cerah dan bermotif lucu-lucu. Sikat gigi, sabun mandi, handuk tergeletak begitu saja, mereka benar-benar ingin bersenang-senang hingga tak ada waktu buat sedikit merapikan kamar, "Toh akan ada yang membereskan," begitu mungkin pikirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua sudah kembali ke tempatnya, kecuali baju kotor, CD dan BH aku biarkan di gantungan, 'malu ah!' menyentuhnya, seakan ada getaran aneh, seakan-akan mereka sendiri yang dihadapanku, tetapi kemudian rasioku bekerja menyadarkanku bahwa itu hanyalah seonggok pakaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hei! kenapa malu, meskipun kau cium pun tak akan berteriak!" begitu bunyi kepalaku saat memandang segitiga-segitiga lucu dan kacamata mungil penutup dada itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat aku memandangnya lagi, dan mulai tergoda untuk menjamahnya, tanpa sadar tanganku bergerak meraihnya untuk sekedar mengelusnya, tanganku bergetar hebat saat memegangnya lalu tiba-tiba muncul perasaan horny yang meluap-luap hingga aku mulai mengendus, mencium celana dalam warna putih yang berhiaskan bunga-bunga kecil itu dengan birahi yang menggelora. Ooh! betul-betul birahiku memuncak saat kuhirup dalam-dalam aroma kewanitaan para gadis belia itu, kupenuhi rongga dadaku seakan tak ingin kusisakan ruang kosong paru-paru ini tanpa wangi tubuh dan keringat sedap yang menempel di CD dan BH itu. Kakiku terasa lemas sementara batangku semakin mengeras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuremas-remas dengan gemas dan sekali lagi kuhirup dalam-dalam kesegaran aroma keringat yang melekat erat di celana dalam dan BH itu, aku jadi ingat saat para gadis itu bererobik tadi pagi, "mmhh.. Mmhh aah ssh.. " aku bernafas dengan hidung tertutup kain berenda itu, secuil aroma pipis menambah rasa birahiku menjadi-jadi, seakan aku benar-benar melumat vagina para gadis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku semakin larut dengan fantasiku, celana dalam dan BH kotor yang digantungan sebanyak 4 pasang plus baju-baju kotor dengan wangi badan penuh sensasi gadis remaja membalut seluruh tubuhku yang tanpa sadar sudah polos telanjang! Benar!, seolah aku bersetubuh dengan mereka, berempat sekaligus, aku tersandar di dinding kamar mandi sambil mengusap-usapkan ke penisku dengan lembut celana dalam tipis itu bergantian dengan tangan kiriku sambil terus beronani, tangan kananku membenamkan BH dengan bau asam keringat yang segar itu ke hidungku, sementara kaos-kaos centil yang saat dipakai akan memamerkan ketiaknya yang putih bersih dan tak cukup untuk menutupi keindahan perut dan pusar pemakainya itu kututupkan diseluruh tubuhku yang terus bergetar hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulihat bagian CD yang menyempit diselangkangan, terdapat noda-noda samar dan lendir bening tipis diatasnya, kuhirup dengan nikmat! kujilat, kuhisap seolah menjilat vaginanya dengan gemas, agak asin rasanya. Kulahap dengan ganas, kutarik, kugigit, oohh nikmatnya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kubentangkan CD yang mungil itu dan kutempelkan bagian selangkangan penutup vagina itu di penisku, woow! besarnya kotolku terlihat tak sebanding dengan lebar penutup vagina dibagian bawah celana dalam itu, rudalku terlihat terlalu besar untuk ukuran selangkangan para gadis itu, nafsuku menjadi meledak membayangkan begitu sesaknya jika rudalku memasuki vaginanya! tiba-tiba badanku bergetar hebat, sensasi yang luar biasa!!, penisku tak kuasa menahan muntahan lahar kenikmatan yang berdenyut-denyut mendesak keluar itu dan "Ah..! ah! nikmat sekali!". Terasa berliter-liter melesat keluar dibarengi sengatan gairah birahi dan terus kukocok-kocokkan serta kugesek-gesekkan rudalku pada celana dalam dan BH itu hingga getaran yang menyerang seluruh tubuhku membuat diriku terkejang-kejang tak terkendali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peluhku berluncuran diseluruh tubuhku, lemas, lega, bercampur aduk membuat rasa sensasi yang luar biasa di benakku, kubiarkan nafasku yang memburu perlahan berangsur normal, setelah beberapa menit terkulai lemas, aku mulai bangun, beranjak merapikan baju-baju kotor para gadis itu yang ikut terlempar berserakan saat aku mencapai orgasme hebat, kubersihkan ledakan dan ceceran lahar yang menempel pada CD dan BH dengan tissue agar tersamar, bagaimanapun aku tak ingin mereka tahu bahwa 'daleman' mereka telah kujadikan bulan-bulanan alat pemuas nafsu birahi dan yang pasti supaya mereka tidak curiga sehingga aku tetap bisa leluasa "menikmati" celana dalam dan BH kotor mereka selama menginap di hotel tempatku bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itulah aku menjadi tergila-gila untuk menciumi celana dalam kotor para gadis, katakanlah ada seorang gadis dengan bodi aduhai, cantik, menarik dan saat duduk roknya terbuka sampai terlihat celana dalamnya atau pada pantatnya terlihat garis celana dalamnya maka aku tidak terlalu tertarik padanya, yang ada di pikiranku justru,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Andai aku bisa menciumi, menjilati, merasakan kelembutan celana dalamnya ah.. Betapa nikmatnya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celana dalam yang menjadi korbanku pun semakin banyak berjatuhan, aku semakin terobsesi untuk merasakan segala tipe cewek lewat celana dalam dan BHnya, aku merasa sudah ' merasakan' seorang wanita hanya dengan mencumbu dalemannya, bukankah celana dalam dan BH adalah barang yang paling pribadi? seolah dengan mendapatkannya aku pun telah menikmati tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari wanita pribumi sampai dengan wanita bule kuperkosa dalemannya, ada yang aku ambil dari kopernya, cantelan kamar mandi, dan sebagainya. Aku tidak tertarik jika wanita itu sedang mens (soalnya enggak ada aromanya, pake softex sih), sehabis atau sebelum mens juga males! kurang menggairahkan aromanya, wanita yang habis ditiduri (merasa didahului), gemuk!, terlalu jorok, yang jelas aku suka yang sehabis dipakai wanita muda dan model CD atau BHnya tidak aneh-aneh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga yang paling aku sukai adalah cara penyimpanannya karena kadang CD atau BH setelah dipakai dan belum dicuci tersebut disimpan rapi jali, tersembunyi sekali, menjadikan aku berdebar-debar saat mencarinya, ada sensasi tersendiri setelah agak susah mencarinya. Pernah suatu ketika aku mencarinya sampai isi tas aku ubek-ubek, ada duit 10 jeti disimpan disitu, ah tapi aku tak tertarik tuh! Gile ya.. Aku lebih senang si segitiga itu! Akhirnya tetap juga tidak aku temukan, hingga aku baru tahu, ternyata dia memakai segitiga yang dibikin dari kertas tissu yang banyak dijual di swalayan, waah! Dan dibuang di tempat sampah, ini juga aku tidak suka, aku lebih suka kain biasa yang mungkin di benakku terlintas bahwa celana dalam tissue tidak mempunyai nilai historis, pakai sekali langsung buang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaanku semakin parah saat aku bertugas di laundry, yang tadinya aku perlu mengetahui siapa pemilik celana dalam dan BH itu, agar pada saat berfantasi benar-benar nyata, maka sekarang celana dalam dan BH wanita siapapun asal ukurannya tidak besar, tidak sedang haid, dan baru saja dipakai, menjadi santapanku saat membongkar laundry bag. Aku mempunyai ruangan tersendiri yang bisa kukunci, sehingga aku dengan santainya membawa celana dalam dan BH itu keruanganku, biasanya kulakukan saat malam hari, wah kadang ada belasan celana dalam dan BH dalam semalam! berwarna-warni, menggairahkan! sampai-sampai aku perlu membuat catatan dahulu, supaya tidak tertukar-tukar saat mengembalikan ke dalam keranjangnya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku semakin bertambah berani dengan menyemprot CD dan BH itu dengan lahar kenikmatanku (toh pemiliknya tidak bakalan tahu), aku merasa puas saat melihat CD dan BH yang tak berdaya itu berbasah-basah dengan spermaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah semua itu aneh? Apakah kebiasaan itu bisa hilang setelah aku berpacaran atau menikah? Ah.. Sudahlah yang penting sekarang libidoku tersalurkan supaya tidak jerawatan dan tidak menjadi pemerkosa yang sebenarnya. Aku merasa dengan daleman wanita untuk beronani perasaanku menjadi lebih santai (mungkin karena tidak akan ada penolakan, protes atau semacamnya, merasa bebanku lebih ringan karena tidak ada pihak yang dirugikan toh aku bermain dengan fantasi, lebih pribadi karena aku lebih tahu fantasi apa yang kusukai, aku merasa cukup hanya dengan mendapatkan 'daleman' wanita, serasa aku berhasil melumat kewanitaanya tanpa harus berkenalan, pendekatan dan sebagainya, mungkin karena aku suka minder dihadapan mereka ya? Dan yang pasti lebih murah! karena tinggal nyomot aja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-3920624570093584349?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/yj6qrTXLODU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3920624570093584349?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3920624570093584349?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/yj6qrTXLODU/cerita-ngentot-karena-melihat-cewek.html" title="cerita ngentot karena melihat cewek telanjang" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-ngentot-karena-melihat-cewek.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MARnw_fSp7ImA9WhZVEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-3243209393666897187</id><published>2011-05-22T16:10:00.002+07:00</published><updated>2011-05-22T16:10:47.245+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-22T16:10:47.245+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita seks adik dan kakaknya yang cantik</title><content type="html">Adik Dapat, Kakak Juga Dapat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah permainan cintaku dengan Evi sore itu, kami jadi sering melakukannya apabila ada kesempatan. Kadang kami bercinta di Kamar Evi dan kadang di kamarku. Evi yang masih berusia 22 tahun itu bercerita tentang hilangnya kegadisannya oleh pacarnya ketika masih SMA. Menurut ceritanya dia dijebak pacarnya untuk minum-minum ketika perayaan ulangtahunnya yang ke 17. Ketika dia mulai mabuk dia dibawa pacarnya dan di perkosa di hotel. Tragisnya dia diperkosa secara bergantian oleh 2 orang teman pacarnya saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paginya setelah sadar dia di antar pulang dan pacar maupun kedua temannya menghilang entah kemana. Setelah lulus SMA akhirnya dia memutuskan untuk kuliah di Bali jurusan hotel dan tourisme. Sejak kuliah di Bali pun dia sudah beberapa kali melakukan sex dengan beberapa teman kuliah-nya. Hubungan kami pun cuma sebagai teman, tidak lebih, hubungan kami berdasarkan suka sama suka. Mungkin karena usia ku yang lebih muda. Hanya saja aku dapat previlege untuk tubuhnya kapan saja aku mau. Hubunganku dengan Evi pun tidak diketahui oleh Silvi kakaknya yang sudah bekerja di salah satu hotel di kawasan Jimbaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silvi, tidak kalah cantiknya dengan Evi. Keduanya memiliki kulit yang putih bersih. Silvi lebih dewasa dalam pembawaan dan enak juga diajak ngobrol. Karena Silvi juga cantik aku sering bercanda dengan Evi mengatakan ingin tahu rasanya bila berhubungan dengan Silvi. Evi kadang tertawa dan kadang marah kalo aku berkata begitu. Walau marah, Evi akan hilang kemarahannya kalau kucumu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti halnya sore itu, Ketika aku baru pulang kuliah, kulihat kamar Evi terbuka tetapi tidak ada orang didalamnya. Karena situasi kost yang sepi akupun masuk ke kamarnya dan mendengar ada yang sedang mandi dan akupun menutup pintu kamar Evi. Sudah seminggu lebih aku menginap di Denpasar karena sedang ujian akhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yang ada dikamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Vi, lagi mandi yah? tanyaku basa-basi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka.&lt;br /&gt;
"Mandi kucing kan kamu Vi mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki." Rayuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Vi, ingat film yang dulu kita tonton kan. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan penisku ini Vi. Aku akan cium vaginamu sampai kau menggelinjang puas dan memohon agar aku memasukkan penisku".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi". Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika gorden kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Setelah aku menutup gorden akupun berbalik. Dan ternyata, yang ada dalam kamar mandi itu adalah Silvi, kakak Evi, yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan bathrope berwarna pink dan duduk diatas tempat tidur dengan kaki bersilang dan terlihat dari belahan bathropenya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaki yang putih terawat, betisnya yang indah terlihat terus hingga ke pahanya yang putih, kencang dan seksi sangat menantang sekali untuk dielus. Belum lagi silangan bathrope di dadanya agak kebawah sehingga terlihat dada putih dan belahan payudaranya. Kukira ukuran Branya sedikit lebih besar dari Evi, karena aku belum pernah menyentuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Evi sedang ke Yogya, dia sedang Praktek kerja selama 2 bulan" Kata Silvi sambil memainkan tali bathrope-nya.&lt;br /&gt;
"Jadi selama ini kamu suka make love ya sama Evi, padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama adikku"&lt;br /&gt;
"Maaf Mbak, aku gak tahu kalo yang didalam itu Mbak Silvi" Kataku sambil mataku memandang wajah Silvi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rambutnya yang hitam sepundak tergerai basah. Dada yang putih dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang putih mulus dan kencang hingga betis yang terawat rapih. Kalau menurutku Silvi boleh mendapat angka 8 hingga 8,5.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Lalu kalo bukan Mbak kenapa?, Kamu enggak mau mencium Mbak, buat Mbak puas, memandikucingkan Mbak seperti yang kamu bilang tadi?" Tanya Silvi memancingku.&lt;br /&gt;
"Aku sih mau aja Mbak kalo Mbak kasih" Jawabku langsung tanpa pikir lagi sambil melangkah ke tempat tidur. Sebab sebagai laki-laki normal aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada dan putih mulus yang sangat menggoda.&lt;br /&gt;
"Kamu sudah lama make love dengan Evi, Ren?" Tanya Silvi ketika aku duduk di sebelah kirinya. Aku tidak langsung menjawab, setelah duduk di sebelahnya aku mencium wangi harum tubuhnya.&lt;br /&gt;
"Tubuh Mbak harum sekali", kataku sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silvi menggeliat dan mendesah ketika lehernya kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah. Silvi pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat Silvi semakin hangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya dan meraba payudaranya yang kenyal. Sambil terus berciuman kuusap dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras dan putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sambil terus melumat bibirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh Silvi di tempat tidur sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya. Setelah tubuh Silvi rebah, perlahan mulutku pun turun ke lehernya dan tanganku pun menarik tali pengikat bathrope-nya. Setelah talinya terlepas kubuka bathropenya. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sebentar lagi, karena aku belum pernah tubuh Silvi tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Payudaranya yang putih dan tegak menantang berukuran 36 C dengan puting yang sudah naik sangat menggairahkan. Pinggang yang langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin Silvi baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hh" Desah Silvi membuyarkan lamunanku, Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi terhenti karena mengagumi keindahan tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kulumat bibir Silvi sambil tanganku mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan Silvi pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya dan menciumi payudaranya dengan leluasanya. Payudaranya yang kenyal pun mengeras ketika aku mencium sekeliling payudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling vaginanya dahulu untuk memancing reaksi Silvi. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki Silvi pun merapat. Terus kuelus paha Silvi hingga akhirnya perlahan tanganku pun ditarik oleh Silvi dan diarahkan ke vaginanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Elus dong Ren, Biar Mbak ngerasa enak Ren" Ucapnya sambil mendesah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bibir vagina Silvi sudah basah ketika kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bibir kemaluan Silvi, dan Silvi pun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di payudaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh, terus Ren", Pinggulnya makin bergyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakn basah.&lt;br /&gt;
"Ohh Ren enak sekali Ren", desah Silvi makin hebat dan goyangan pinggulnya makin cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan kedua jariku dan desahan serta goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh Ren", Silvi pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya dan jariku masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Remasan tangan Silvi di kepalaku semakin kencang, Silvi seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan dan kakinya pun mengendur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali dan terasa tidak nyaman karena masih tertekan oleh celana jeansku. Setelah aku tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula seluruh badan Silvi ada di atas tempat tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan posisi ini aku bisa melihat vagina Silvi yang merah dan indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tapi harum sekali. Kukira Silvi selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh Ren, enak Ren", racau Silvi. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yang harum dan jilatanku. Desahan Silvi pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya. Evi pun menggelinjang hebat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terus Ren", desahnya. Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tnagnku pun bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya oun bergerak tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan Silvi pun menalami orgasme yang kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh Ren, aku keluar Ren", aku pun merasakan cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir Silvi yang sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama kami berciuman, dan perlahan posisi penisku sudah berada tepat didepan vaginanya. Sambil terus menciumnya kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan Silvi yang semula berada disamping bergerak ke arah penisku dan menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Besar juga punya kamu Ren, panjang lagi" Ucap Silvi di sela-sela ciuman kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil masih berciuman aku melepaskan CDku sehingga tangan Silvi bisa leluasa mengocok penisku. Setelah lima menit akupun menepis tangan Silvi dan menggesekkan penisku dengan bibir vaginanya. Posisi ini lebih enak dibandingkan dikocok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan aku mulai mengarahkan penisku kedalam vaginanya. Ketika penisku mulai masuk, badan Silvi pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali tetapi nikmat. Lobang vaginanya lebih sempit dibandingkan Evi, atau mungkin karena lubang vaginanya belum terbiasa dengan penisku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh Rensha.. Begitu sayang, enak sekali sayang" Racaunya ketika penisku bergerak maju mundur. Pinggul Silvi pun semakin liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh.." desahnya semakin menjadi. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku semakin cepat pula goyangan pinggul Silvi. Kaki Silvi yang menjuntai ke bawah pun bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan kami ada di atas tempat tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah seluruh badan ada diatas tempat tidur, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku pun bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ren.. Kamu hebat Ren.. Terus Ren.. Penis kamu besar keras dan panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih cepat lagi Ren.." begitu racau Silvi di sela kenikmatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Vagina Slvi memang lebih enak dari Evi adiknya. Lebih sempit sehingga penisku sangat menikmati berada di dalam vaginanya. Goyangan Silvi yang makin liar, desahan yang tidak beraturan membuatku semakin bernafsu dan mempercepat gerakanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mbak aku mau keluar Mbak" Kataku.&lt;br /&gt;
"Di dalam aja Ren biar enak" desah Silvi sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar dari vaginanya sedikitpun.&lt;br /&gt;
"Ahh" Desahku saat aku memuntahkan semua cairanku kedalam lubang rahimnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Silvi menekan pantatku sambil pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya pun terpejam. Aku pun mencium bibir Silvi. Dengan posisi badanku masih diatasnya dan penisku masih dalam vaginanya. Mata Silvi terbuka, dia membalas ciuman bibirku hingga cukup lama. Badannya basah oleh keringatnya dan juga keringatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu hebat Ren, aku belum pernah sepuas ini sebelumnya" Kata Silvi.&lt;br /&gt;
"Mbak juga hebat, vagina Mbak sempit, legit dan harum lagi." Ucapku.&lt;br /&gt;
"Memang vagina Evi enggak" senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;
"Sedikit lebih sempit Mbak punya dibanding Evi" jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Tampaknya Silvi masih ingin melanjutkan lagi pikirku.&lt;br /&gt;
"Penis kamu masih keras Ren?" tanya Silvi sambil memutar pinggulnya.&lt;br /&gt;
"Masih, Mbak masih mau lagi?" tanyaku&lt;br /&gt;
"Mau tapi Mbak diatas ya" Kata Silvi.&lt;br /&gt;
"Cabut dulu Ren"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah dicabut, mulut Silvi pun bergerak dan mencium penisku, Silvi mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan vaginanya padaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan Silvi, vagina Silvi yang harum membuatku melupakan Evi sementara waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari itu sejak pukul lima sore hingga esok paginya aku bercinta dengan Silvi, entah berapa kali kami orgasme. Dan itu pun berlangsung hampir setiap malam selama Evi belum kembali dari Praktek Kerjanya di yogya selama 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Evi tidak ada kucumbu saja kakaknya dulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-3243209393666897187?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/ePqFX20_69I" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3243209393666897187?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3243209393666897187?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/ePqFX20_69I/cerita-seks-adik-dan-kakaknya-yang.html" title="cerita seks adik dan kakaknya yang cantik" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-seks-adik-dan-kakaknya-yang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QMQn89fCp7ImA9WhZVEEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-5082737201081787205</id><published>2011-05-22T16:09:00.002+07:00</published><updated>2011-05-22T16:09:43.164+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-22T16:09:43.164+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Seks dewasa" /><title>cerita ngentot dengan tukang becak bertubuh kasar</title><content type="html">Pada suatu hari aku dapat tugas mendadak keluar kota yaitu ke kota Genteng Banyuwangi, dengan catatan besok sudah harus ada dikota tersebut, entah bagaimana caranya untuk bisa sampai kesana. Maka dengan berat hati dan penuh dengan keterpaksaan, setelah pulang kerja sekitar pukul 18.00 aku pulang dari tempat kerjaku menuju ketempat kostku yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dengan tubuh lunglai, lemas, males yang semuanya bercampur aduk, apalagi aku harus berangkat seorang diri tanpa ada rekan yang menyertaiku. Setelah sampai ditempat kost, aku mandi dan segera ganti baju untuk siap berangkat dan sebelumnya aku berkemas dengan membawa beberapa potong pakaian untuk berjaga-jaga kalau tugasku disana tidak dapat selesai dalam waktu sehari. Setelah semuanya beres, maka segera kukunci kamar tempat kostku dan segera kulangkahkan kakiku menuju jalan raya untuk menyetop angkot yang akan membawaku ke terminal bus Arjosari-Malang, setelah sampai diterminal bus antar kota sekitar pukul 19.00 malam, aku segera memilih bus jurusan Probolinggo, dan sebelumnya dalam hati aku juga penginnya berniat untuk naik bus secara estafet yaitu dari Malang ke Probolinggo, Probolinggo ke Jember dan Jember baru ke Genteng. Setelah kupilih bus dengan tujuan yang kuinginkan, maka segera aku naik bus Akas dengan tujuan Probolinggo, aku memang sengaja tidak memilih bus Patas karena perjalanan malam hari tidak seberapa pengap disamping itu tidak seramai kalau perjalanan siang hari. Setelah aku menikmati perjalanan kurang lebih dua jam sekitar pukul 21.00, sampailah aku diterminal bus Banyuangga-Probolinggo, aku pindah kebus yang ada di depannya bus yang baru kutumpangi agar tidak antri terlalu lama, kebetulan bus yang ada di depan bus yang baru kutumpangi adalah bus Tjipto dengan jurusan Jember, dalam perjalanan kali ini aku dapat tempat duduk paling depan sendiri sebelah kiri dekat pintu depan sehingga tempat di depanku agak luang sehingga aku dapat meluruskan kakiku. Dan aku segera terlelap dalam perjalanan kali ini setelah terlebih dulu aku membayar ongkos tiket ke Jember. Perjalanan berlalu selama kurang lebih dua jam pula, sekitar pukul 23.00 sampailah aku di terminal Tawangalun-Jember dan akupun segera ikut menunggu dengan beberapa orang yang juga ingin melanjutkan perjalanan ke arah Banyuwangi. Tidak berapa lama kemudian datanglah bus Akas dengan tujuan Denpasar lewat Banyuwangi, aku segera naik bus tersebut dengan perasaan yang sudah ngantuk, lelah akan tetapi aku ingin rasanya segera sampai ditempat tujuan. Dalam perjalanan ini cukup banyak juga penumpangnya dan rata-rata tujuan mereka adalah Denpasar atau Banyuwangi, setelah menikmati perjalanan yang tidak begitu menyenangkan sekitar dua jam, maka sampailah kekota tujuanku yaitu Genteng, maka aku segera bersiap-siap untuk turun diterminal Genteng, karena hari sudah menjelang pagi maka bus tidak masuk ke dalam terminal akan tetapi hanya berhenti ditepi jalan depan terminal. Pada saat itu yang turun disana hanya beberapa orang saja termasuk diriku, setelah kakiku menginjakkan tanah maka beberapa abang becak datang menyerbu untuk saling berebut penumpang yang baru turun dari bus, mungkin ada sekitar lima atau enam orang abang becak yang mengerubuti aku, akan tetapi aku hanya menggelengkan kepala yang berarti bagi mereka aku tidak berniat untuk naik becak mereka, akan tetapi ada satu abang becak yang dengan gigihnya mengikuti aku walaupun aku sudah melangkahkan kakiku beberapa langkah dari kerumunan abang becak tersebut. Kulihat sepintas abang becak yang mengejarku tadi, masih muda, berbadan kekar dan lumayan ganteng untuk ukuran abang becak, maka aku mengiyakan saja ketika dia menawarkan diri untuk mengantarkan aku mencari tempat menginap. Dalam perjalanan menuju hotel yang menjadi tempat tujuanku, maka terjadi percakapan yang biasa-biasa saja sebagai basi-basi, hingga sampailah di depan hotel yang menjadi tempat tujuanku, segera kubayar ongkosnya, dan pada saat itulah aku baru menyadari kalau tampilan abang becak yang satu ini begitu seksi dengan celana jeans belelnya yang lutut kiri dan kanan sengaja disobek dan yang terlebih membuatku dag dig dug adalah disebelah bawah kantong kirinya juga sobek yang lumayan lebar sehingga aku bisa melihat pangkal pahanya yang kekar itu dan hal ini makin membuatku jadi salah tingkah dan segera ada perasaan yang berdesir dalam hatiku untuk mencari berbagai cara dan alasan untuk bisa menggaetnya malam itu. Maka aku bertanya kepadanya. “Abis ini mau kemana?” tanyaku sekenanya. “Yah, mau balik di depan terminal lagi sambil nunggu penumpang” “Kalau aku mau pakai kamu lagi gimana? Sebabnya tadi aku belum makan” “Yah, nggak apa-apa saya tunggu saja” “Gini aja aku pesan kamar dulu ke dalam, kamu tunggu dulu di depan yaa” “Hmm,” gumannya tidak jelas. Setelah aku menemui resepsionis dan sudah mendapatkan kamar yang kuinginkan maka aku kembali keluar untuk menemui abang becak tadi dan dia kuajak masuk dengan alasan aku mau mandi dulu. Dengan rada segan-segan akhirnya dia mau juga masuk ke dalam kamarku setelah sebelumnya dia memarkir becaknya dihalaman hotel dan kepada room boy yang mengantarkan aku kekamar kubilang kalau aku mau keluar lagi untuk cari makan dengan menggunakan jasa becaknya sehingga aku dengan leluasa mengajaknya masuk ke dalam kamar. Setelah sampai di kamar, kusuruh dia untuk mandi, akan tetapi dia menolak dengan alasan sudah malam dan dingin airnya, maka segera kubuka keran air hangat dan kusuruh dia untuk merasakan hangatnya air dan dengan sedikit rayuan gombal kalau air hangat dapat menyegarkan tubuh yang sedang capek, kemudian dia mau. Dengan segera dia memasuki kamar mandi dan aku segera membereskan barang bawaanku setelah sekitar lima menit dia didalam kamar mandi, aku mengetoknya dari luar dengan alasan biar cepet selesai kalau mandinya bersamaan dan ternyata dia tidak keberatan dengan segera dibukanya slot kamar mandi dan aku segera masuk. Kudapati dia sudah telanjang bulat sambil menggosok badannya dengan sabun yang tersedia disana. Karena pada waktu itu dia menghadap ketembok maka aku tidak bisa melihat penisnya yang ingin segera kulihat karena dengan panampilannya yang seksi itu membuatku merangsang, maka aku segera melangkahkan kaki menuju bak mandi yang berarti aku membelakanginya setelah kuguyur badanku dengan beberapa gayung air hangat, kubalikan tubuhku menghadapnya untuk meminta sabun dari darinya dan barulah pada saat itu aku bisa melihat penisnya yang lumayan panjang dalam keadaan biasa, sehingga tanpa terasa penisku langsung tegak lurus dan diapun juga melihatnya dan komentarnya penuh dengan arti. “Lho, koq ngaceng penis sampeyan?” katanya. “Iyoo, ndelok penismu sing dowo itu opo,” jawabku juga sekenanya. “Hehehehe” “Koq iso dowo koyok ngene iki diapakno sih,” tanyaku lagi. “nDisik sering dikom karo teh anget,” jawabnya lagi. Dengan penuh ketidak sabaran segera kuraih penisnya yang panjang menggantung itu dan dia diam saja, sambil kukocok perlahan-lahan dan mulai terlihat reaksinya dengan sedikit mengeras dan makin mengeras dan terlihat makin panjang lagi sampai diatas pusarnya beberapa mili. “Ah, wong podo lanange koq dulinan penis,” katanya lagi. “Enggak opo-opo, aku seneng nek ndelok penis sih dowo ngene,” jawabku. “Nek gelem emuten pisan opoo,” katanya lagi. Tanpa dikomando dua kali maka segera jongkok di depan selakangannya dan kuselomot tuh penis yang sudah tegang mengacung itu sambil sesekali kusiran dengan air hangat dari bak kamar mandi. Dan dia hanya berdiri sambil diam mematung sambil sesekali mendesis keenakan dan mengelus-elus kepalaku Setelah permaian berjalan sekitar seperempat jam didalam kamar mandi dan itu baru pemanasan saja, karena belum ada tanda-tanda dia akan mencapai puncak kenikmatannya. Maka kamipun meraih handuk yang tersedia didalam kamar mandi dan segera mengeringkan badan kami masing-masing dan menuju ketempat tidur dengan ukuran yang cukup besar untuk dipakai berguling-guling dua orang. Setelah kutelentangkan dia ditempat tidur dan dia menurut saja tanpa ada perlawanan dan penolakan, maka segera kucumbui dia mulai dari cuping telinganya, ke arah pipinya kemudian bibirnya, mula-mula dia diam saja akan tetapi lama kelamaan dia mulai merespon semua kegiatanku untuk mencumbuinya, kemudian kuturunkan lagi kelehernya, dan terus menjulur kebawah lagi ke arah ketiaknya dan kucium aroma yang membuatku makin terangsang, yaitu aroma laki-laki jantan dengan baunya yang sangat khas sekali. Mungkin kalau dalam keadaan biasa aku akan merasa jijik untuk menjilati ketiak yang berbulu dan berbau, akan tetapi pada pagi hari itu hilang sudah perasaan jijik dan lain sebagainya yang ada hanya rangsangan demi rangsangan yang makin membuatku mabuk kepayang. Terus cumbuanku kuteruskan ke arah putingnya yang berwarna hitam kecoklatan dan ditumbuhi beberapa bulu yang cukup panjang-panjang, kemudian kuteruskan lagi ke arah pusarnya dengan cara memasukan lidahku ke dalam lubang pusarnya dan dia mengelinjang-ngelinjang kegelian sambil mendesah penuh dengan kenikmatan. Kemudian kuarahkan cumbuan bibirku ke arah pinggangnya dan terus turun kebawah lagi ke arah jembutnya yang tumbuh dengan kasar dan kaku itu terus kukulum ujung penisnya yang hitam tegar itu dan menjulang tegak sepanjang sejengkal tanganku yang kukira-kira panjangnya sekitar 20 cm. Kuemut dengan memasuk-keluarkan dengan mulutku terus dan kudengar rintihan makin keras dan mendesis-desis seperti ular yang sedang mencari mangsa. Setelah cukup lama aku menyelomoti penisnya, segera kuambil lotion yang sudah kupersiapkan disebelah tempat tidur, kemudian kuolesi lubang anusku dengan lotion dan segera aku merangkak ke atasnya dan mulai berusaha untuk memasukan penisnya yang panjang itu ke dalam lubang kenikmatanku, setelah semua penisnya masuk sampai pangkalnya aku segera menaik turunkan bokongku dan dia rupanya masih menikmati permainan sex yang sebelumnya belum pernah dia dapatkan, setelah cukup lama aku naik turun diatas penisnya yang tegak mengacung itu, akhirnya dia memintaku untuk melepaskannya dan menyuruhku untuk telentang dan sambil mengangkat kedua belah kakiku ke atas pundaknya kemudian dia mulai menunduk dan memasukkan penisnya yang masih tegang mengacung itu ke dalam lubang kenimatanku sambil terus mengenjotnya dan kurasakan batang penisnya yang panjang itu sampai ke dalam perutku yang menyodok-nyodok dengan liarnya sambil melenguh-lenguh diantara desisan kenikmatan yang dia rasakan. “Aaahh, aauucchh” “Ayoo teruss ggooyaanngg” “Yaahh” “Uuuhhaahh” “AAaauucchh” Dan gerakan maju mundurnya makin lama makin cepat sampai akhirnya dia tersungkur diatas dadaku sambil merasakan puncak kenikmatannya dengan mengeluarkan pejuh yang sangat banyak dalam lubangku yang sampai kurasakan meleleh keluar dari antara lubang anusku dan penisnya yang masih tertancap dalam lubangku, cukup lama dia memeluk aku dan sambil tersenyum dia berkata, “Enak ee,” katanya. Kemudian dia bangkit dari pelukanku dan kemudian dia menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mandi lagi dengan air hangat, kalau sebelumnya dia masuk ke dalam kamar mandi dengan mengunci pintunya maka untuk kali ini pintu kamar mandi dibiarkannya dalam keadaan terbuka dan kulihat dia sedang mencuci penisnya dengan air hangat dan kuawasi dia dari tempat tidur, sedangkan aku pada saat itu masih belum mendapatkan kepuasan dengan mengecrotkan pejuhku. Aku maklum akan hal itu karena yang kuhadapi sekarang itu bukanlah seorang gay akan tetapi seorang lekong asli yang sama sekali tidak mengenal hubungan sesama jenis, sehingga mungkin dia tidak mengerti kalau dalam hubungan seperti harus take and give atau harus saling memuaskan lawan mainnya. Kemudian akupun bangkit dari tempat tidurku dengan penisku masih ngaceng penuh karena belum keluar pejuhku, kususul dia kekmar mandi untuk mengguyur tubuhku dengan air hangat pula dan kulihat dia sudah selesai mandi dan sudah mengeringkan badannya dan mulai memakai celdalnya atau Cd-nya dan celana pendek kolor warna abu-abu, kemudian dia rebahan diatas tempat tidur sambil telentang. Setelah selesai dari kamar mandi aku menyusulnya rebahan diatas tempat tidur namun aku masih dalam keadaan telanjang bulat dan penisku sudah mulai surut dari ngacengnya. Kamipun mengobrol sambil menanyakan identitas kami masing-masing. Dari obrolan itu baru kuketahui kalau namanya adalah Giman, dia adalah orang asli kota itu dan dia sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang baru berumur sekitar tiga tahun dan dia memulai pengalaman sexnya dengan seorang wanita sejak kelas dua SMU yaitu sekitar umur 16-17 tahun, dan kadang-kadang dia juga suka jajan dengan perempuan jalanan kalau dia mempunyai kelebihan uang dari hasil narik becaknya. Dan ketika kutanya tentang bagiamna rasanya pengalaman sek yang baru dia rasakan tadi lalu katanya, “Luwih enak,” katanya. “Enak apane,” tanyaku penasaran. “Luwih seret, luwih keset dibandingno main karo wong wedok,” katanya polos. “Nek ngono gelem maneh yoo?” pancingku. “Hmm,” gumamnya. Dia tidak mengatakan sesuatu akan tetapi pandangan matanya mempunyai arti tersendiri bagiku, maka segera kuraih kembali penisnya yang sudah lemas dibalik celana pendeknya yang cukup ketat itu dan kuelus-elus lagi dengan perlahan-lahan, sambil kugesek-gesek dan mulai tampak reaksinya dengan makin bertambah panjang dan mengerasnya kembali penisnya, kemudian kulorot celana pendeknya dan ketika itu penisku kembali tegang mengacung kembali kemudian kuraih tangannya untuk memegang penisku. Mulanya dia canggung dan segan akan tetapi akhirnya dia mau juga mengocok penisku akan tetapi tidak seprofesional sparing partnerku yang benar-benar gay, terus kulorot kembali CD-nya dan kulihat penisnya yang panjang menjulang sudah mengacung kembali, kuemot kembali dengan posisi 69, walaupun begitu aku tidak memintanya untuk menghisap penisku karena aku tahu dia pasti akan menolaknya karena belum biasa, akan hal itu tidak menjadi masalah bagiku, dengan kocokan yang tidak teratur pada penisku hal itu sudah cukup untuk membuat rangsangan pada diriku makin meningkat, setelah cukup lama aku mengemotnya maka segera kuminta dia untuk bangkit dari tidurnya dan segera menindih tubuhku dan kubimbing penisnya yang panjang tegak mengacung itu memasuki lubang anusku. “Aaahh” “Aaayyoo teeruss genjot,” pintaku. “Hmm” Makin lama gerakannya makin cepat dan menggila kekanan kekiri sehingga kurasakan desakan penisnya menusuk kekanan dan kekiri didalam anusku sampai akhirnya kembali kudengar lenguhannya diiringi dengan muncratnya pejuhnya. “AAaaoocchh enaakk,” katanya. “Ssseeddaapp” “Aaahh nniikkmmaatt” Sebelum dia melepaskan penisnya dari lubangku dan masih kurasakan kehangatan dan denyutan penisnya, maka segera aku mengocok penisku makin lama makin cepat sambil diawasinya sampai aku akhirnya melenguh. “Aaauucchh” Jrot.. Jrot.. Jrott Pejuhku muncrat diatas dadaku, kemudian kudekap dia, sampai cukup lama sambil penisnya yang sudah mulai melemas tertancap dilubangku, dua ronde sudah permainan yang dilakukannya pada diriku, setelah dia bangkit dari dekapanku kulihat pejuhku yang tadinya muncrat didadaku, terlihat pula lelerannya didadanya karena dekapanku tadi kemudian segera dia menuju ke kamar mandi lagi dan kudengar siraman air mengguyur tubuhnya. Sejenak kemudian aku menyusulnya ke dalam kamar mandi dan kami mandi bersama saling menggosok, saling menyabun dan sekali-kali tangan nakalku memegang penisnya yang sudah tidak tegang lagi akan tetapi masih cukup panjang, setelah selesai berpakaian kami ngobrol sebentar, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi lebih, dan diapun mohon pamit sambil kuberikan tips tambahan dan kubisikkan. “Aku pengin main ngene maneh,” kataku. “Kapan?” tanyanya. “Nek, aku nang kene maneh,” jawabku. “Iyoo, tak enteni yoo,” sambungnya lagi. Dia segera keluar dari kamarku dan aku segera mengunci kamarku dari dalam dan merebahkan badanku dengan rasa yang sangat puas dan segera tertidur dengan pulasnya sambil tersenyum dan sekitar pukul 07.00 pagi aku segera bangun, mandi dan bersiap-siap untuk menuju tempat tugasku. Ketika sebulan berikutnya aku ke Genteng lagi dengan jam yang sama dan aku berharap dapat bertemu kembali dengannya, akan tetapi tidak kutemukan dia, walaupun aku berdiri ditepi jalan di depan terminal cukup lama. Dimanakah kamu Gimanku? Apakah kamu sudah lupa dengan janjimu atau mungkin kamu tak ingin menemuiku lagi karena memang kamu bukan gay?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-5082737201081787205?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/wrU5Q3XK-I8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/5082737201081787205?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/5082737201081787205?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/wrU5Q3XK-I8/cerita-ngentot-dengan-tukang-becak.html" title="cerita ngentot dengan tukang becak bertubuh kasar" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-ngentot-dengan-tukang-becak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMGSHs7cCp7ImA9WhZXFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-1247243343777126808</id><published>2011-05-06T13:13:00.003+07:00</published><updated>2011-05-06T13:13:49.508+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-06T13:13:49.508+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tante  girang" /><title>tante selvy 2</title><content type="html">Ternyata memang benar kalo menunggu itu pekerjaan yang membosankan. Waktu rasanya berputar sangat lama. Namun aku di paksa untuk bersabar demi mendapatkan pengalaman baru dalam dunia birahi. Sejujurnya, aku belum pernah melakukan yang namanya hubungan seks. Paling jauh aku Cuma pernah peting doang dengan mantan pacarku. cerita seks sedarah terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setengah jam berlalu tante selvy keluar dari kamar. Wow sangat seksi. Ia mengenakan daster hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Rambut panjang nya di biarkan tergerai. Kulihat dadanya membusung. Di pundak terlihat melintang tali bh&amp;nbsp; warna putih. Aku bangkit dari sofa. Tante selvy kemudian mengajakku kesebuah kamar. Kamar itu menurut tante selvy biasa di pakai jika ada tamu. Jika gita menginap biasanya juga menggunakan kamar ini. -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam kamar tante selvy&amp;nbsp; mengganti lampu dengan warna lebih temarau. Suasana romantis menghiasi pelukan kami&lt;br /&gt;
“benar kamu belum pernah boy” kata tante beberapa centi meter di wajahku&lt;br /&gt;
“bener tan. Makanya minta di ajarin”&lt;br /&gt;
“tante nggak mau ngajarin. Ikutin aja naluri kamu. Tante ingin di setubuhi kamu, gimanapun kamu mau”&lt;br /&gt;
Aku pun mulai bekerja. Yang pertama dengan menciumi dan memeluk tubuh tante selvy. Kemudian membuka celana dalamnya. Lidahku sempat bermain-main sebentar di memeknya sebelum akhirnya membuka daster dan Bh hingga bugil total. aku sendiri pakaianku hingga tersisa celana dalam. Kettka deru nafas birahi tante selvy semakin menggebu. Aku membimbingnya ke atas kasur. Tante selvy telenjang seksi. Kembali aku bermain main di payudara montok itu. menelusuri setiap jengkal kulitnya. Hingga menjilat nikmat belahan memek.&amp;nbsp; -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
“agh……boy……oghhhh……iya …..”&lt;br /&gt;
Sekali lagi aku mendapat pengalaman baru menjamah memek cewek. Kini Gua yang di cari-cari pria itu berada dihadapanku. Ada rumput tebal&amp;nbsp; membuat pemandangan itu semakin menawan&amp;nbsp;&amp;nbsp; tante selvy mengelinjang. Suaranya sangat menggairahkan .opghhhh…..agh……..iya disitu…….agh……terus sayang…….&lt;br /&gt;
Aku juga sempat membalikan tubuh tante selvy hingga ia tengkureb. Posisi begini juga tidak kalah mendebarkan aku menindih dari belakang dan menikmati keindahan dan wangi tubuhnya. Beberapa menit berlalu aku tak tahan ingin segera menggenjotnya. Maka akupun membuka celanaku, ada cairan putih telah meleleh di lubang kontolku. Tante selvy membalikan badan, ia sempat melihat tajam kea rah kontolku. Aku kembali mencumbunya. Kemudian aku bangkit dan siap menghujam kan kontoklku ke memek tante selvy. -cerita seks sedarah terbaru panas- -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tante selvy membuka pahanya lebar. Hingga aku dengan mudah bergerak maju. Bles….bless…bles…. aghh….aku meringins menahan nikmat.&amp;nbsp; Tante selvy juga mendesis pelan….oghhhhh……agh……Ku dorong lagi bless……bles….ooooooooo.oghhhhhhh suara tante merintih panjang. Pelan-pelan aku menggenjot. Akhirnya aku dapat merasakan yang namanya ngentot memek perempuan. &lt;br /&gt;
Aku merobohkan tubuh dalam tubuhnya. Sekarang tubuhnya sedang menindih tubuh tante selvy. &lt;br /&gt;
Aku bergerkan maju mundur. Kedua tanganku beraksi. Begitu juga dengan lidahku.&lt;br /&gt;
Oghhhh……aghh…… tante enak sekali tan…..&lt;br /&gt;
“Oghhh….. agg……..oghh…… kasih tau tante kalo mau keluar sayang…….” Bisik tante selvy .&amp;nbsp; -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
Aku terus memacu. Gerakan semakin lama semakin cepat. Begitu juga suara tante selvy, semakin keras dan menggairahkan. Hingga&amp;nbsp; hanya kurang dari sepuluh menit kontolku sudah berkedit….kedut….oghh……&lt;br /&gt;
“tante ….tante aku mau keluar tan…….oghh……oghhh….”&lt;br /&gt;
“sebentar sayang……oghhhhh…….iya sayang….ayo,,,,,,,,,”&lt;br /&gt;
tante –tante……aku keluar….tante…oghhh….agg……ogghh,…..crot…..crott……..aku spermaku mioncat. Kedua Tangan tante selvy memegang kelapaku. Bibirnya kami berpaguta. Lalu seketika tante selvy menjerit……aggghhhhhh…….aghh….egghhhhhhhh…….rambutku di jambak keras. Sementara kedua kakinya melingkar di tubuhku……aghhhhhhhhh……egghhhhhh………. Tante keluar sayang……oghhh…..&amp;nbsp; perlahan goyangan tante selvy semakin melambat. Aku biarkan beberapa saat tubuhku di atas tubuhnya.&amp;nbsp; Tante selvy&amp;nbsp; menciumiku. “enak sekali sayang…tante senang boy……”&lt;br /&gt;
“makasih tantte “ bisikku&amp;nbsp; -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
“tante juga makasih boy. Tante udah lama gak berhubungan badan. mungkin ada kali setahun. Suami tante udah gak pernah nyentuh tante lagi.”&lt;br /&gt;
“masasih tan”&lt;br /&gt;
“bener boy. Sebelumnya juga jarang-jarang. Udah lama sekali tante gak orgasme distusuk burung lelaki. Paling paling sesekali masturbasi sendiri. Eh ternyata masih ada juga burung yang masuk ke sarang tante ” tante selvy tersenyum manja &lt;br /&gt;
“burungnya nakal ya tan, sarang orang di masukin juga”&lt;br /&gt;
“emang.”&lt;br /&gt;
“tapi yang punya sarang gak marah kan”&lt;br /&gt;
“marah kalo Cuma satu kali….” Tante selvy memeluk erat dan menciumiku. Aku juga membalas. Kontolku yang sudah lemas keluar dari memek tante selvy. Kami berpelukan di ranjang dengan sprei yang telah acak-acakan. -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
“gimana rasanya tadi”tanya tante selvy&lt;br /&gt;
“enak…………”&lt;br /&gt;
“apanya yang enak” goda tante “kamu tahu yang bikn tante menikmati banget permainan&amp;nbsp; tadi”&lt;br /&gt;
“apa?”&lt;br /&gt;
“burung kamu keras banget. panjang lagi. tembakannya kenceng….”&lt;br /&gt;
Aku senang mendengar ucapan tante selvy. &lt;br /&gt;
“tan, mau lagi” aku merapatkan kontolku yang sudah keras ke bokong tante selvy.&lt;br /&gt;
Tante selvy rupanya paham. Ia sempat melirih ke arah kontolku.&lt;br /&gt;
“bersihin dulu yuk. Biar enak gak licin”&lt;br /&gt;
Dan apa yang terjadi?. Tentu saja malam itu aku kembali menggauli tante selvy. Usai permainan kedua. Aku mengatakan ingin menginap di rumahnya. Tante selvy tidak keberatan. Setelah permainan ketiga kami sama-sama tidur. Aku bangun jam 7 pagi dan langsung ngentot tante selvy di dapur. Setelah mandi dan sarapan pagi serta istirahat sebentar. Tante selvy lah yang minta di entot di kasur. Sebelum pulang jam 1 siang aku juga mendapat hidangan penutup ngentot lagi di sofa. -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
Begitulah cerita&amp;nbsp; birahiku dengan tante selvy yang berawal dari patah hati oleh keponakannya, gita..&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; -cerita seks sedarah terbaru panas-&lt;br /&gt;
--------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-1247243343777126808?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/db1TxkU0Jf0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1247243343777126808?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1247243343777126808?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/db1TxkU0Jf0/cerita-seks-sedarah-terbaru.html" title="tante selvy 2" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-seks-sedarah-terbaru.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQBSXo6fip7ImA9WhZXFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-7604999122247846414</id><published>2011-05-06T13:12:00.001+07:00</published><updated>2011-05-06T13:12:38.416+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-06T13:12:38.416+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tante  girang" /><title>ngentot tante selvy 1</title><content type="html">Cerita seks tante girang terbaru.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Inilah kisah yang aku sendiri mengerti. Berawal dari mabuk kepayang dengan gadis bernama Gita, tiba –tiba aku masuk dalam pengalaman ngentot wanita. Beginilah cerita lengkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boy, panggil saja namaku begitu, berusia 26 tahun dengan tinggi 170 cm, dengan perawakan kata orang atletis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku jatuh cinta pada teman lama semasa sma dulu, namanya gita, usia gita sama denganku 26 tahun. Dia adalah adalah gadis cantik primadona semasa sekolah dulu. setelah sekian lama tidak berjumpa, secara tidak sengaja aku bertemu dengannya di sebuah mall. Dari sana pucuk-pucuk cinta itu mulai tumbuh. Apalagi ketika gita banyak bercerita tentang kisah cintanya&amp;nbsp; kandas. Harapan meraih hatinya seperti terbuka lebar bagiku. Apalagi gita juga seperti memberi lampu hijau ketika dalam perbincangan di telp dan&amp;nbsp; beberapa kali jalan bareng. Tapi, status gita belum menjadi pacarku, karena aku belum pernah mengatakan rasa cintaku padanya. - Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam minggu aku membuat janji dengan gita, rencananya mau nonton film ke bioskop. Dengan semangat 98 aku berangkat dari rumah selepas magrib. &lt;br /&gt;
Kupacu sepeda motorku jarum jam tak mau menunggu, maklum rindu. Traffick light ku lewati . lampu merah tak peduli, jalan terus. Di depan ada polantas, wajahnya begitu buas, tangkap aku…pritt…priittt…..pritt…. Tawar menawar harga pas, tancap gas……&lt;br /&gt;
Sampai rumah gita pukul setengah delapan kurang, maksud hati ingin mencari kebahagian namun justru kecewa yang ku dapatkan. Di rumah gita&amp;nbsp; ada seorang pria yang ternyata&amp;nbsp; pacarnya&amp;nbsp; yang sedang berusaha merajut kembali hubungan mereka. -Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesak nafasku, keringat dingin keluar dalam suasana malam yang tidak panas. Kikuk aku berada di ruang itu. Serba salah tingkahku. Tidak ada kata yang keluar dari mulut kami bertiga. Hanya sesekali ucapan basa-basi yang keluar dari mulut pacarnya gita yang aku tidak begitu semangat untuk menjawabnya. Gita sempat kedalam mengambilkan air minum untukku. Tapi begitu dia kembali aku minta izin untuk pulang. Aku juga minta di panggilkan mamanya untuk pamit. Tapi waktu mamanya gita menemui di ruang ini, yang keluar tidak sendiri. Ada seorang wanita setengah baya yang sangat mirip dengannya usia nya sekita 45 tahun. Namanya tante Selvy, dia adalah adik kandung mamanya rita. Aku sempat berkenalan dengannya&amp;nbsp; -Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“loh kok pulang, bukannya baru sampe” kata mamanya gita&lt;br /&gt;
“iya tan,&amp;nbsp; mau kerumah&amp;nbsp; teman” kataku berbohong.&lt;br /&gt;
“eh tunggu..tunggu…..tante ikut kedepan boleh kan” kata tante selvy “kak, aku gak jadi nginep deh” lanjut tante selvy kepada mamanya gita&lt;br /&gt;
“kamu ini gimana sih, tadi mau nginep sekarang nggak” kata mamanya gita&lt;br /&gt;
“iya nih tante, plin plan gitu” sambar gita&lt;br /&gt;
“lain kali aja”&lt;br /&gt;
masih menahan kecewa yang mendalam aku meninggalkan rumah gita dengan membonceng tante selvy. --Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya hanya berniat sampai jalan raya, tapi ketika tante selvy mengetahui aku tidak punya acara kemana-mana, tante selvy memintaku untuk terus mengantar sampai rumah. Aku tidak keberatan. Ternyata Asyik juga aku ngobrol dengan tante selvy untuk sedikit melupakan tentang gita, tapi ketika pembicaraan mengarah kepada gita, hatiku jadi kalap lagi. Secara pasti aku mempercepat laju sepeda motor hingga tante selvy ketakutan. &lt;br /&gt;
“boy jangan cepet cepet, tante takut” &lt;br /&gt;
Permintaan tante selvy tidak ku gurbris. Aku seperti kesetanan. Tante selvy berpegangan erat kepadaku. Sampai-sampai dia berkata ‘cukup boy. cukup, tante mau turun aja”&lt;br /&gt;
Permintaan turun tante selvy akhirnya membuatku memperlambat laju sepeda motor. -Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai dirumah tante selvy ia sempat menarik nafas panjang. “ya ampun&amp;nbsp; boy, untung tidak terjadi apa-apa. Coba kalo tadi kecelakaan”&lt;br /&gt;
Ketika aku ingin tancap gas lagi, tante selvy menahanku.&lt;br /&gt;
“jangan dulu boy. Kamu mesti tahan emosi kamu.&amp;nbsp; kita ngobrol dulu di dalam. Tante takut kamu kayak tadi. Bisa bisa pulang bawa nama aja kamu”&lt;br /&gt;
Aku menolak. Tapi tante selvy memaksa. Katanya demi kebaikanku.&lt;br /&gt;
.karena memang tante selvy memaksa, akhirnya aku luluh juga&amp;nbsp; masuk kerumahnya dia.&lt;br /&gt;
Didalam rumah ternyata tidak ada siapa-siapa. Suami tante selvy ternyata sedang mengantarkan anak-anak liburan ke rumah neneknya di jawa. Pantas saja tadi tante selvy berniat nginap di rumah gita. -Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya tante selvy tahu perasaanku. Setengah jam aku di nasihatinya&amp;nbsp; agar aku tidak putus asa karena gita. Akhirnya kamipun berbincang akrab. Tante selvy sangat menyenangkan sampai perbicanganpun sudah tidak seputar gita lagi.&lt;br /&gt;
“memang tadinya mau&amp;nbsp; kemana boy?”&lt;br /&gt;
“loh kok tante ngonong gita lagi sih” aku protes&lt;br /&gt;
“iya deh nggak….nggakk…..nggak anak manis..” tante selvy mencandai sambil mengelus-ngelus rambutku.&lt;br /&gt;
“mau makan boy”&lt;br /&gt;
“nggak ah tante.” Aku menolak kemudian aku melanjutkan “tadinya sih mau nonton Tan. Nonton sama tante aja yuk”&lt;br /&gt;
“nonton ama tante. Ngaco kamu, tante udah tua gini”&lt;br /&gt;
“emang ada yang ngelarang. Kan nggak ada” aku mendebat&lt;br /&gt;
“kalo mau nonton tuh banyak vcd punya Sandi, anak tante ini seneng banget koleksi film hollywood”&lt;br /&gt;
Tante selvy masuk ke kamar anaknya. Di bawanya beberapa keeping vcd bajakan. Dari judulnya memang itu film-film baru Hollywood.&lt;br /&gt;
Akhirnya aku setuju untuk nonton vcd. Tapi tempatnya pindah ke ruang tengah. Di sofa kami berdua nonton film bersama tante selvy. &lt;br /&gt;
Dalam film itu ada adegan sangat&amp;nbsp; panas. cewek cantik sedang bermain seks dengan lawan mainnya. Memang tidak terlihat adegan tusuk-tusukan alam kelamin, tapi gerakan-gerakan erotis dalam&amp;nbsp; keadaan bugil sangat mendebarkan jantung dan membangkitkan si otong. -Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melirik tante selvy yang duduk di sampingku.&lt;br /&gt;
“kamu seneng lihat film kaya gini boy”&lt;br /&gt;
“hehehe…..” aku hanya nyengir “tante sendiri gimana?”&lt;br /&gt;
Tante selvy tidak menjawab.&lt;br /&gt;
“bagus ya tan maen nya?”&lt;br /&gt;
“kamu ini” sekali lagi tante selvy mengelus rambutku. “pasti kamu sudah pernah ngelakuinnya”&lt;br /&gt;
“belum tan, kali tante mau ngajarin” jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;
“kalo yang begituan nggak usah di ajarin bisa sendiri”&lt;br /&gt;
Adegan ranjang film Hollywood berakir. Aku mengambil remot control dan memutar ulang adengan panas tadi.&lt;br /&gt;
“dasar anak muda” celetuk tante selvy &lt;br /&gt;
Aku hanya mesem saja, karena memang belum puas dengan adengan panas yang hanya sebentar itu. ketika adengan itu usai,.tanganku memeganng lengan tante selvy &lt;br /&gt;
“tan, ajarin saya dong” aku memelas. Dengan Tatap mata penuh harap. Aku mengelus ngelus&amp;nbsp; lengan tante selvy kemudian kepala ku rebah dan mencimum lengan tante selvy.&lt;br /&gt;
Tante selvy kembali mengelus rambutku.”jangan ngawur kamu boy. Tante sudah tua”&lt;br /&gt;
Aku sedikit bergerak. Kugerakan kepalaku bersandar di dada tante selvy&amp;nbsp; layaknya seperti anak kecl yang sedang bermaja-manja pada nyokapnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; -Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jreng….jreng….kontolku semakin ngaceng. Dua bukit kembar di belakang menjadi sandaranku. Sementara tante selvy terus mengelus rambutku. Aku berdiri sebenar kemudian aku duduk di pangkuan tante selvy. Ke peluk tubuhnya&amp;nbsp; lembut. Sementara kepala berada di dadanya. Aghhh…bener bener sangat merangsang. Hingga tangaku tak kuasa membelai dan kemudian meremas toket tante selvy. -Cerita seks tante girang terbaru-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“boy nakal kamu boy”&lt;br /&gt;
Aku tidak menpedulikan omongannya. Tanganku terus bergerak dengan membuka dua kancing baju yang terpasang disana. Setelah ku buka ku keluarkan toket dari baliknya. Owww…. Dua bukit kembar besar menantang di hadapanku. Aku mencium dan menghisap putting susunya.&lt;br /&gt;
“oghhhh……boy……aghhh…..nakal kamu……eghh…..”&lt;br /&gt;
Aku semakin berani dengan mempermainkan toket indah tante. Bahkan lidah sudah bergerilya keleher dan dan kadang mencium bibirnya.&lt;br /&gt;
“oghhh&amp;nbsp; boy…kamu bikin tante ke pengen sayang….”&lt;br /&gt;
Sedang asyik aku mencumbu tante selvy, tiba-tiba ada dering telepon. Aku menghentikan aksi sementara tante selvy menerima telepon. Telepon itu ternyata datang dari anaknya yang mengabarkan bahwa mereka telah sampai di rumah neneknya di jawa.&lt;br /&gt;
Selagi tante selvy berjalan mendekat, aku telah bangkit. Dan langsung memeluk tante selvy. Dengan posisi berdiri seperti ini&amp;nbsp; tanganku bebas bergerilya hinggak bokong paha dan tente toket tidak pernha ketinggalan.&lt;br /&gt;
Kedua tangan tante selvy memegang kepalaku. “iya boy tante mau. Tapi tante mandi dulu”&lt;br /&gt;
Aku sempat mencegah niat tante selvy untuk mandi. Tapi tante selvy meminta ku untuk bersabar.&lt;br /&gt;
Bersambung -&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-7604999122247846414?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/lrNDo3vvR4A" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/7604999122247846414?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/7604999122247846414?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/lrNDo3vvR4A/cerita-seks-tante-girang-terbaru.html" title="ngentot tante selvy 1" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/05/cerita-seks-tante-girang-terbaru.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUCRnY5eyp7ImA9WhZTFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-3344889949449716514</id><published>2011-03-19T14:04:00.000+07:00</published><updated>2011-03-19T14:04:27.823+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-19T14:04:27.823+07:00</app:edited><title>cerita seks melayu</title><content type="html">Ini adalah pengalaman pribadiku yang benar-benar terjadi. Semua nama orang dan tempat di sini benar-benar ada. Aku mohon maaf kepada anda yang namanya terdapat dalam kisah ini. Aku terpaksa membeberkan identitas anda sebenarnya di sini sebab menurutku, jika kisah ini menggunakan nama samaran rasa-rasanya ada yang kurang. Kisah ini diawali dengan pendaftaran diriku di Adult Friend Finder yang ada di internet. Aku mengetahui Adult Friend Finder dari temanku yang terlebih dulu menjadi anggotanya. Alamat homepage Adult Friend Finder ada di http://adult.friendfinder.com Jika ada pembaca yang ingin mencobanya, silakan. Aku mendaftarkan diriku dengan gratis kok. Setelah terdaftar di Adult Friend Finder dan mengirimkan profilku ke mereka, aku memperoleh banyak respon dari orang-orang yang menanggapi profil diriku tersebut. Dari sekian banyak respond melalui e-mail tersebut, hampir semua berisikan surat-surat gombal dari cowok-cowok. Ternyata hanya ada segelintir cewek yang mengirimkan e-mail respond kepadaku. Satu di antaranya yang membuatku tertarik adalah seorang cewek dari Indonesia juga. Dia tinggal di Bali. Namanya Sinta. Usianya 30 tahun. Meskipun ia jauh lebih tua daripada aku, tapi aku salut pada keberaniannya menghubungiku lewat e-mail. Kemudian aku membalas e-mail-nya ke alamat e-mail yang diberikannya kepadaku, s..@h.. Siapa tahu saja Mbak Sinta benar-benar serius dalam menghubungiku. Eh, nyatanya, memang nasib sedang mujur, beberapa hari kemudian datang e-mail balasan dari Mbak Sinta ke mailbox-ku. Ia mengajakku ke tempatnya di Denpasar. Wah, kupikir, kan Denpasar jauh dari Jakarta, kota tempat tinggalku. Lagipula, duit dari mana untuk membiaya kepergianku ke Denpasar? Apalagi dalam masa krisis moneter seperti sekarang ini? Ah, tapi sebaiknya kuhubungi Mbak Sinta aja. Siapa tahu ia punya pemecahan atas ajakannya itu. Kebetulan dalam e-mail-nya yang baru ini, Mbak Sinta mencantumnya nomor teleponnya. Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi nomor telepon tersebut, 0361-2xx. Wow, ternyata nyambung! "Halo, selamat pagi." Terdengar suara lembut seorang wanita di seberang sana. "Selamat pagi. Bisa saya bicara dengan Mbak Sinta?" "Ya, saya sendiri. Dengan siapa ini saya bicara?" "Eh, Mbak Sinta. Ini Susi dari Jakarta!" "Susi? A**** (edited) Susi H**** (edited)?" Mbak Sinta menyebutkan nama lengkapku. "Bener, Mbak." "Kenapa, Sus? Kok tumben kamu telepon saya." "Begini, Mbak. Mengenai ajakan Mbak ke Bali, sebenarnya saya mau aja. Tapi masalahnya saya nggak punya biaya. Maklum lah, Mbak, lagi jamannya krismon begini." "Mmm.. Begini deh, Sus. Kamu datang aja ke tempat saya. Untuk biaya pesawatnya kamu pinjam aja dulu dari siapa. Nanti akan saya ganti deh, Sus." Dalam hati, aku girang bercampur heran mendengar jawaban dari Mbak Sinta ini. Kok jaman sekarang ada orang yang sebaik Mbak Sinta. Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa maksud Mbak Sinta mengajakku menjumpainya di Bali. Akhirnya kukatakan kepada Mbak Sinta bahwa aku butuh waktu beberapa hari untuk memikirkan hal ini terlebih dahulu. Namun kenyataannya, tidak sampai memakan waktu berhari-hari. Sore harinya, aku memutuskan untuk memenuhi ajakan Mbak Sinta. Setelah menelepon Mbak Sinta sekali lagi, lalu memesan tiket pesawat ke Denpasar, aku pun berkemas-kemas. Dan, siaplah aku ke Bali keesokan paginya. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih sedikit, akhirnya pesawat Garuda yang kutumpangi mendarat dengan mulus di bandara Ngurah Rai, Denpasar. Setelah aku turun dari pesawat dan tiba di terminal kedatangan, aku mencari-cari Mbak Sinta yang katanya akan menjemputku setibanya di bandara. Akhirnya aku melihat seorang wanita cantik yang berusia sekitar 30-an seperti Mbak Sinta. Yah, mungkin saja dia benar-benar Mbak Sinta. "Maaf, Mbak Sinta?" Aku bertanya kepada wanita itu. Ia tersenyum. "Susi ya." Ternyata ia benar Mbak Sinta. Ia menjabat tanganku. "Bagaimana, Sus, perjalanannya?" "Yah, nggak kerasa, Mbak. Habis baru juga take off dari Cengkareng, belum sempet nafas, sudah harus mendarat di sini." Mbak Sinta tertawa mendengar candaku. "Yuk deh, Sus, kita makan dulu." "Oke deh, Mbak. Saya juga sudah lapar nih." Lalu kami berdua pergi dengan mobil Mbak Sinta ke kota Denpasar yang letaknya tak jauh dari bandara dan kami makan siang di sebuah restoran terkenal di sana. Aku heran. Tampaknya hampir semua orang yang ada di restoran tersebut mengenal Mbak Sinta. Mereka tersenyum dan menyapa Mbak Sinta. Tetapi wajah mereka menunjukkan keheranan melihat aku yang sedang bersamanya. Namun aku segera diperkenalkan oleh Mbak Sinta kepada mereka. Ternyata orang Bali ramah-ramah juga ya. Setelah kenyang makan, kami berputar-putar sejenak mengelilingi kota Denpasar yang padat dengan kendaraan itu. Akhirnya, jam tiga siang, kami pergi ke tempat kediaman Mbak Sinta, tempat aku akan menginap selama di Bali. Dan kami pun tiba di rumah Mbak Sinta. Tempatnya tidak begitu besar, tapi resik dan tertata rapi. "Sus, sekarang kamu istirahat dulu aja. Sementara di kamar Mbak. Nanti akan Mbak siapkan kamar untuk kamu. Mbak mau pergi dulu ya, ada pekerjaan. Jangan pergi ke mana-mana lho. Nanti kamu nyasar." Aku mengangguk. Setelah melepas kepergian Mbak Sinta dengan mobilnya, aku membereskan barang-barang bawaanku dan membawanya ke kamar Mbak Sinta. "Ah, nyamannya berbaring di spring bed berukuran double yang empuk ini, apalagi di kamar yang sejuk berpendingin udara", batinku saat kurebahkan tubuhku yang penat di atas ranjang milik Mbak Sinta. Hhmm.. Alangkah harumnya bantalnya. Beberapa menit kemudian, saking lelah dan mengantuk, aku pun jatuh terlelap tanpa sempat mengganti pakaian dahulu. Wah, mungkin karena begitu lelah setelah berjalan-jalan hampir seharian, tak terasa hampir empat jam aku tertidur pulas tanpa gangguan. Jam dinding berdentang tujuh kali saat aku bangkit dari tempat tidur. Langit sudah gelap, tapi suasana rumah itu masih sepi. Ah, Mbak Sinta pasti belum pulang sejak tadi siang. Ih, rasanya badan gatal nih belum mandi. Kulepaskan pakaian luarku, sehingga aku hanya mengenakan BH dan celana dalam. Aku membungkuk dan mencari-cari handuk, pakaian ganti, dan peralatan mandi lainnya dari koperku. Ah, mana ya, sabun cair Biore yang kubawa. Ini dia! Saat kuambil botol sabun cair itu, tiba-tiba ia mencelat dari tanganku dan jatuh ke lantai masuk ke bawah meja rias Mbak Sinta. Sial, umpatku. Lalu kujulurkan tanganku ke bawah meja rias untuk mengambil botol sabun cair itu. Tapi tanganku tertumbuk sebuah benda seperti sebuah buku. Kuambil benda tersebut dan tentu saja botol sabun cairku juga dari kolong meja. Oh, ternyata album foto milik Mbak Sinta. Kenapa ya, album foto bisa ada di kolong meja rias? Apa mungkin jatuh dan Mbak Sinta tidak mengetahuinya? Kutunda niatku untuk ke kamar mandi. Kubuka satu persatu halaman album foto yang kelihatannya masih cukup baru itu. Ya ampun! Aku terkejut. Kututup mulutku dengan tanganku sewaktu aku melihat isi album foto tersebut. Ada foto di mana Mbak Sinta telanjang bulat dan puting susunya sedang dikulum oleh seorang pria yang tidak terlihat wajahnya. Kemudian di foto yang lain, Mbak Sinta tampak sedang bersetubuh dengan seorang pria bule setengah baya. Dan ada lagi beberapa foto lain yang gambarnya "seram-seram". Misalnya ada Mbak Sinta yang sedang dalam posisi 69 dengan seorang gadis bermata sipit. Keduanya dalam keadaan bugil. Lalu ada lagi foto yang menampakkan Mbak Sinta yang masih mengenakan pakaian dalam memasukkan kelima jarinya ke dalam liang senggama seorang wanita Indonesia yang kira-kira sebaya dengannya. Dan kuperhatikan, kesemua foto itu diambil di tempat tidur yang sempat kutiduri tadi. Astaga! Apakah Mbak Sinta seorang..? Aku tidak mau melanjutkan prasangkaku itu. Takut-takut nanti aku salah duga. Tapi foto-foto ini kan jadi buktinya. Seketika itu juga, tubuhku serasa gatal sekali. Barangkali ini hanya perasaanku saja setelah melihat foto-foto ini. Aku bergegas ke kamar mandi. Setelah menanggalkan seluruh pakaianku. Kunyalakan shower, lalu aku mandi di bawahnya sambil bernyanyi-nyanyi. Ah, sejuknya mandi dengan air dingin saat tubuh lelah seperti saat ini! Karena derasnya shower kunyalakan dan begitu kerasnya suara nyanyianku, sehingga aku tidak mendengar suara mobil yang masuk ke pekarangan rumah Mbak Sinta dan suara Mbak Sinta yang memanggil-manggilku, yang akhirnya masuk ke dalam rumah menggunakan kunci cadangan yang selalu dibawanya ke mana-mana. Uh, segarnya tubuhku setelah mandi dengan puas diguyur shower selama 15 menit. Kukenakan kaus oblong tanpa lengan dan celana pendek warna-warni dari bahan katun. Aku kembali ke kamar tidur Mbak Sinta. "Heh, Mbak Sinta, sudah pulang. Kok saya nggak dengar sih?" "Kamu sih mandi apa nyelam, Sus?" Aku tertawa. "Sus, kamu pasti sudah melihat ini?" sambung Mbak Sinta sambil menunjukkan album foto yang tadi kulihat-lihat. Ya ampun! Aku lupa menaruhnya kembali di tempatnya semula, di kolong meja rias. "I.. iya Mbak", kataku takut-takut, kuatir kalau Mbak Sinta marah. Tapi Mbak Sinta malah tersenyum. "Kamu pasti sudah tahu sebenarnya saya ini apa dan siapa? Ya, benar, Sus. Saya memang seorang wanita panggilan. Tapi jangan salah, saya bermain cinta tidak pernah untuk uang, melainkan hanya untuk kesenangan dan kepuasan seksual belaka. Jadi jangan samakan saya dengan pelacur yang menerima bayaran atas servisnya. Saya sama sekali tidak pernah dibayar oleh teman-teman tidur saya." Aku mengangguk-angguk mendengarkan penuturan Mbak Sinta. Hatiku sedikit miris mengetahui bahwa teman baruku ini seorang wanita panggilan. "Dan saya adalah seorang biseks, Sus. Saya bisa bermain dengan pria maupun wanita, tapi saya lebih suka dengan wanita, sebab lebih aman, dan biasanya sesama wanita tidak terlampau saling menuntut." Aku seperti tersedak karena pengakuan Mbak Sinta ini. Batinku, apakah aku sekarang akan dijadikan salah satu kekasih lesbian Mbak Sinta? Wah, celaka tigabelas. Jangankan lesbian, berhubungan seks normal dengan laki-laki saja aku belum pernah. Aku masih perawan. "Memang, saya tertarik pada kamu setelah membaca profil kamu di Friend Finder dan membaca seluruh isi e-mail dari kamu, Sus. Saya belum pernah berhubungan dengan orang yang jauh lebih muda seperti kamu. Jadi sekarang terserah kamu, Sus. Kalo kamu nggak mau ya nggak apa-apa. Saya nggak akan memaksa kamu. Kita jadi teman biasa aja, oke. Tapi perlu kamu tahu, Sus, saya telanjur suka sama kamu." Kupikir-pikir, tidak ada salahnya aku mencoba-coba berhubungan dengan Mbak Sinta. Lagipula karena sama-sama wanita, pasti lebih aman. Di samping itu kita berdua sama-sama saling menyukai. Tapi bedanya, aku menyukai Mbak Sinta ibarat seorang adik terhadap kakaknya. Sebaliknya Mbak Sinta menyukaiku sebagai kekasihnya. Akhirnya dengan pelan, kuanggukkan kepalaku. Mbak Sinta pun tersenyum. Ia mengulurkan tangan kanannya mengajakku mendekat menghampirinya. Aku dan Mbak Sinta duduk saling berhadapan di atas ranjang. Wajah kita amat berdekatan. Dengan segera, Mbak Sinta memagut bibirku yang merekah di depannya. Lidahnya mempermainkan lidahku. Aku pun membalas mengulum lidahnya dengan hangat. Terasa sebuah perasaan aneh mengalir di sekujur tubuhku saat lidah kita saling bersentuhan. Apakah ini yang dinamakan nafsu birahi? Sementara mulutnya masih terus melumat bibirku yang ranum, tangan Mbak Sinta mulai meluncur ke bawah ke arah dadaku. Ia menyingkapkan kaus oblongku ke atas, sehingga tampaklah dua bukit indah mempersona di dadaku yang berukuran rata-rata tetapi padat dan berisi tanpa tertutupi selembar benangpun. Memang aku terbiasa di rumah setelah mandi sore tidak pernah memakai BH untuk menyangga payudaraku. Mbak Sinta menyuruhku berbaring tertelentang di atas ranjang. Jari-jarinya yang lentik menyusuri lekukan celah di antara kedua bukit kembar di dadaku. Kemudian naik ke atas ke puncak salah satu bukit tersebut dan berhenti di tonjolan kecil dikelilingi lingkaran coklat tua yang semakin tinggi mengeras. Dengan ahlinya, Mbak Sinta memilin-milin puting susuku yang semakin lama memang semakin menegang itu. Sementara tangan satunya turun lagi ke arah bawah perutku. Dengan dua kali tarikan, dipelorotkannya celana pendekku yang menggunakan tali kolor dan celana dalamku. Kini, terpampanglah kemaluanku yang ditumbuhi oleh rambut-rambut tipis berwarna kehitaman yang masih segar. Melihat daerah vitalku ini, Mbak Sinta semakin bergairah. Mulutnya yang kini tengah menjilati kedua puting susuku secara bergantian, semakin bertubi-tubi melumat pentil kenikmatanku itu. Puting susuku yang tinggi menjulang itu habis dikulum oleh mulut Mbak Sinta. Gelitikan lidahnya pada ujung puting susuku membuatku menggerinjal-gerinjal sembari mendesah-desah kecil. "Uuh.. Mbak.. Mbak Sin.. Aahh.." Rasa kenikmatan menjalar sampai ke ubun-ubunku. Apalagi setelah lumatan mulut Mbak Sinta berubah menjadi gigitan-gigitan kecil dan gemas pada puting susuku. Lalu ia kembali menjilati dan sekali-kali mengisap dan menyedot puting susuku dengan bunyi yang merangsang. Karena rangsangan yang sedemikian hebatnya ini membuat puting susuku memerah keras dan kurasakan ada cairan bening mengalir keluar dari lorong kewanitaanku. "Ouuhh.." Aku menjerit cukup panjang tatkala jari telunjuk tangan kanan Mbak Sinta mempermainkan klitorisku yang terletak di bagian atas gerbang kewanitaanku. Diusap-usapnya dengan penuh perasaan daging kecil kemerahan tersebut. Semakin membuatku menaik-turunkan pantatku dengan irama yang tak menentu. Dan kewanitaanku menjadi semakin basah dan licin. Lidah Mbak Sinta sekarang pun berpindah menyusuri setiap bagian mulut liang kewanitaanku. Tak ada yang terlewatkan olehnya. Dijilatinya pula daging kecil pembawa nikmat milikku. Kemudian lidahnya dijulurkan masuk ke dalam lubang kenikmatanku hingga sampai sepertiga lidahnya tertelan oleh liang kewanitaanku yang berdenyut-denyut, mengerut dan mengembang. Dijilatinya dinding liang kewanitaanku itu yang semakin lama semakin dibanjiri cairan kenikmatan. Sekonyong-konyong, Mbak Sinta menghentikan kegiatannya. Tangannya menggapai-gapai membuka laci meja riasnya. Diambilkan sebuah benda lonjong dan agak panjang berwarna hitam dari dalam laci. "Kamu tahu benda apa ini, Sus?" Aku menggeleng. Mbak Santi menekan tombol kecil berwarna merah di pangkal benda tersebut. Benda itupun dengan mengeluarkan bunyi pelan "Nguungg.." bergetar dan ujungnya meliuk-liuk seperti tubuh ular. "Aaahh.. Mbak Sintaa.. Jangaann..!" Teriakanku terlambat. Benda hitam tersebut sudah disodokkan oleh Mbak Sinta ke dalam liang kewanitaanku dengan susah payah, mengingat liang kewanitaanku yang masih sempit dan belum pernah terjamah. Makin lama makin dalam masuknya, sampai benda itu hampir masuk semuanya di dalam lorong senggamaku yang terus berdenyut-denyut. Mula-mula aku merasakan sakit yang luar biasa di selangkanganku. Akan tetapi lama kelamaan, getaran dan liukan-liukan yang ditimbulkan oleh benda lonjong tersebut mengakibatkan sensasi kenikmatan yang tak tertandingi oleh hal manapun di dunia ini. Secara tak sadar, secara refleks, aku memutar-mutarkan pantatku mengimbangi liukan benda yang sedang melakukan penetrasi dalam kewanitaanku itu. Dan Mbak Sinta pun mulai mendorong dan menarik benda hitam tersebut di dalam liang kewanitaanku. Tambah lama tambah cepat. Dan putaran pantatku juga semakin cepat pula. Akhirnya dengan mendelik-delik aku mengejan. "Aaahh.." Dengan lengkingan panjang, kumuntahkan seluruh cairan bening berwarna putih yang sejak tadi antre untuk keluar dari liang kewanitaanku. Dibarengi dengan darah yang juga mengalir dari sumber yang sama, menandakan selaput daraku robek. Dan dengan terengah-engah aku membisikkan sesuatu di telinga Mbak Sinta. "Mbak, sa.. saya.. lelah sekali.." Aku pun jatuh tertidur. Mbak Sinta tersenyum melihat keadaanku. Ah, kamu curang, Sus, batinnya, kamu sudah keluar, aku membuka baju pun belum. Perlahan-lahan tanpa menimbulkan bunyi, Mbak Sinta bangkit berdiri dan menanggalkan rok dan celana dalamnya. cerita seks melayu Lalu sambil berdiri, ia memasukkan benda hitam panjang yang dipegangnya ke dalam liang kewanitaannya sendiri dengan mudahnya, sebab liang kewanitaannya memang sudah cukup lebar, akibat seringnya dipenetrasi oleh teman-teman bermain cintanya. Dengan sekali sodokan, benda hitam itu sudah hampir masuk semuanya ke dalam kewanitaan Mbak Sinta, menyisakan hanya dua sentimenter saja untuk tempat tangan memegang. Dengan ketrampilan yang tinggi, Mbak Sinta mempermainkan benda nikmat tersebut di dalam liang sorganya sendiri. Diputar-putarnya serta digesek-gesekkan benda itu dengan kecepatan yang mengagumkan. Makin lama makin cepat namun tetap berirama, diiringi oleh gerakan tubuh Mbak Sinta yang seperti terhentak-hentak lalu terhuyung-huyung. "Ouuhh.. Ahh.. Uuuhh..!" Mbak Sinta menjerit-jerit keras, tetapi tidak cukup keras untuk membuatku terjaga. Sementara tangannya tetap membabi-buta di lorong senggamanya. Dan bertambah cepat saja disertai dengan tubuh Mbak Sinta yang makin terhuyung-huyung. Akhirnya, Mbak Sinta terjerembab lunglai di lantai dengan wajah penuh kepuasan. Tangannya masih memegang benda lonjong hitam yang basah kuyup oleh cairan bening kenikmatan yang mengalir dari liang kewanitaannya. Dan Mbak Sinta pun menyusulku terlelap, di lantai. Tiga malam aku menginap di rumah Mbak Sinta. Dan pada setiap malam itu pula aku dan Mbak Sinta mengulangi permainan cinta kita. cerita seks melayu Dan aku pun menjadi mahir melakukannya, sehingga aku dapat memberikan pelayanan dan mengimbangi permainan Mbak Sinta. Dengan demikian kedua belah pihak sama-sama terpuaskan. Hari ini, satu bulan sudah sejak aku kembali ke Jakarta, dan satu bulan sudah aku meninggalkan Mbak Sinta, meskipun kita masih sering berhubungan lewat e-mail maupun pesawat telepon. Aku pun merindukannya. Dan sepertinya aku kini tidak begitu tertarik lagi pada laki-laki. Apakah ini yang dinamakan telah tumbuh benih-benih cinta dengan kaum sejenis? Apakah aku telah berubah menjadi seorang lesbian? Help me, please!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cerita seks melayu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-3344889949449716514?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/aScSYxd-wjg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3344889949449716514?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3344889949449716514?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/aScSYxd-wjg/cerita-seks-melayu.html" title="cerita seks melayu" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2011/03/cerita-seks-melayu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQCSH04eip7ImA9Wx5VEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-2999734712548361741</id><published>2010-10-04T17:16:00.000+07:00</published><updated>2010-10-04T17:16:09.332+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-04T17:16:09.332+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>Ngentot Memek Tante Mia Gara2 Paha Mulus</title><content type="html">&lt;a href="http://geulis.tk/Cerita+Ngentot+Memek/Ngentot+Tanteku++Obat+Perangsang"&gt;cerita  ngentot Memek Tante&lt;/a&gt;- Hari-hari belakangan aku sering berkhayal tentang&amp;nbsp; tante mia, istri om ku, om darta. Banyak pikiran ngeres di otak datang tiap malam. Mulai dari keinginan melihat keindahan tubuh telanjangnya, mengelus paha mulus nya, meremas toket besar nya, ingin melihat bentuk memek dan menjilati, sampai dengan keinginan bercumbu dan bercinta di atas kasur, yang kemudian berakhir dengan menumpahkan sperma di memek tante mia.&lt;br /&gt;
Bertahun-tahun tante mia menjadi bagian dari keluarga besar kami sejak menikah dengan om darta tidak pernah terlintas aku pikiran itu datang, Kini saat tante mia berusia 42 tahun dengan dua putri cantik hasil cetakan memeknya pikiran bejatku muncul. Hal itu berawal dari ketidaksengajaan&amp;nbsp; melihat paha mulus tante mia yang sedang tiduran di rumah nenek akibat dari rok yang sedikit tersibak keatas. Dan mungkin juga karena aku sudah cukup dewasa[20 tahun] serta telah merasakan nikmatnya ngentot memek. Yah, memek pacarku, indri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir tiap malam pikiran ngeres itu datang, bahkan sekarang jika aku ngocok kontol, tante mia lah yang jadi bahan fantasi. Lebih gila dari itu jika aku ngentot indri, aku&amp;nbsp; membayangkan tante mia sedang melayaniku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam obrolan tak penting dengan teman-teman kuliah di pinggir jalan,&amp;nbsp; ide menggarap tantr mia itu muncul semakin besar. Hal itu ketika seorang teman dengan bangganya bercerita tentang keberhasilan&amp;nbsp; merenggkuh kegadisan sang pacar berkat bantuan obat perangsang. Tindakan gila itu katanya terpaksa di lakukan karena selama mereka berkencan, pacarnya selalu tidak mau di ajak bercinta dengan alasan ingin mempertahankan keperawanan sampai pernikahan. Dasar gila itu temanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngentot tante mia dengan obat perangsang? Ah ini ide gila. Banyak resiko negative akan timbul jika tindakanku ketahuan kelak. Tapi, memberi obat perangsang sebagai jalan aku menjelajahi tubuh tante mia, melihat memeknya, meremas dan mengisap&amp;nbsp; buah dada, meraba paha mulus, sampai menelanjangi tante mia, ini yang sedang kupersiapkan serius.&lt;br /&gt;
Pencurian Referensi tentang obat perangsang dari seorang teman sudah cukup jelas di otakku, mulai dari merek obat perangsang, harga&amp;nbsp; tidak mahal sehingga tidak perlu membohongi nyokap pura-pura minta uang untuk beli buku, sampai dengan teknik mencampurkannya kepada makanan/minuman. Sekarang tinggal waktu yang tepat untuk beraksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari aku di suruh nyokap mengantarkan uang kepada tante mia, katanya uang arisan. Tak taulah gimana cerita nya nyokap bisa bergabung dengan kelompok arisan dengan warga di sekitaran rumah tante mia. Bagiku, ini adalah kesempatan untuk menjalankan aksi.&lt;br /&gt;
Sebernanya aku disuruh ke rumah tante mia setelah pulang kuliah, tapi karena pertimbangan banyak hal, jadilah aku bolos kuliah dan langsung menuju rumah tante mia. Sehingga jam setengah sembilan aku sudah berada di depan rumahnya.&lt;br /&gt;
‘lo, Alan, kok udah datang, kata mama kamu ntar siang’ tante mia kaget dengan kedatanganku.&lt;br /&gt;
‘hehe…aku bolos tan, males&amp;nbsp; ke kampus dosen nya gak asyik’ aku pura-pura. sementara Tante mia menggeleng kepala sampai tersenyum manis.&lt;br /&gt;
‘jangan bilang sama mama ya tan’&lt;br /&gt;
‘tapi sekali ini aja kan, besok-besok tante laporin’ tante mia dengan nada penuh canda.&lt;br /&gt;
‘ok tan, setuju. Makasih’&lt;br /&gt;
Aku masuk ke rumah tante mia. Sudah ku perkirakan hanya dia sendiri dirumah. Dua putrinya sedang sekolah, sementara om darta sang suami sedang bekerja. Beginilah kehidupan tante mia, seorang full ibu rumah tangga. Dan saat itu pun dia sedang masak, jadi aku dan tante mia ngobrol di dapur setelah serah terima uang arisan selesai. Dan tentu saja sambil otakku terus berpikir keras bagaimana bisa mencampur obat perangsang ini dengan&amp;nbsp; minuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah acara masak memasak selesai tante mia pun mandi. Sementara aku ruang tengah&amp;nbsp; untuk nonton tv. Tapi buka tv yang jadi konsenku, tapi aku mulai mencari peluang untuk menuangkan obat perangsang ini. rumah tante mia memang sudah seperti rumahku sendiri. aku bebas menyantap makanan atau minuman di sana, atau kesana kemari tanpa kaku, kecuali kamar tante mia tentunya. Aku membuka kulkas , memperhatikan meja makan untuk mecanri sarana mencampur obat perangsang. Tapi tidak ada sreg dengan hatiku.&lt;br /&gt;
Setelah selesai mandi dan berpakaian tante mia bergabung dengan ku nonton tv. Aku duduk di sofa bersama tante mia. satu toples kue dan teh manis menemani kami ngobrol akrab.&lt;br /&gt;
‘tambah teh manisnya lan’ tante mia menawarkan&amp;nbsp; ketika melihat minumannku habis.&lt;br /&gt;
‘ga usah tan’ jawabku ‘ tante gak suka minum teh yah’ aku makin mencari celah.&lt;br /&gt;
‘kadang-kadang aja, Cuma kalo sekarang tante lagi rajin minum susu kalsium. biar tulang gak keropos.&amp;nbsp; maklum udah tua’&lt;br /&gt;
‘wah tante udah ke makan iklan neh’ candaku&lt;br /&gt;
‘mungkin juga , tapi bener juga kan, kalsium bagus buat tulang’ kata tante mia ‘o iya, tante lupa hari ini belum minum, kamu mau lan’ katanya sambil berlalu&lt;br /&gt;
‘gak ah’&lt;br /&gt;
Tante mia kembali dengan segelas susu putih kalsium, kami pun kembali ngobrol kesana kemari. Kini sasaran ku jelasl; susu kalsium ini lah yang akan jadi tempat mencampur obat perangsang.. &lt;br /&gt;
dag dig dug jantung ku berdebar berharap tante mia meninggalkanku untuk memberi kesempatan menuangkan obat perangsang kedalam susu kalsium. Dan tenyata benar adanya. Tante mia kebelakang entah apa tujuanya. Dengan cepat kubuka tas, kumabil obat perangsang yang telah ku masukan ke dalam botol air mineral. siapapun akan menyanggka jika melihat botol itu adalah air mineral yang dijual bebas, padahal isinya telah ku ganti dengan obat perangsang yang hanya beberpa mili liter itu. Jika tante mia melihat botol itu pasti akan mengira kalu aku kuliah bawa air minum, padahal aku gak pernah bawa. Hanya saja aku sering lihat teman-teman cewek membawa air minum di tasnya.kalau ke kampus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya perlu bebera detik aku tuangkan obat perangsang ke dalam susu kalsium tante mia. Tapi efek jantungku benar-benar dahsyat, jantungku berdebar semakin kencang, keras sekali, seperti mau meledak. Percampuran antara&amp;nbsp; harapan, cemas, dan takut terjadi sesuatu yang diluar perkiraan. Hingga tak terasa jidatku mengeluarkan keringat. Sambil menanti tante mia kembali bersamaku.&lt;br /&gt;
‘tante gak kemana-mana kan hari ini’ &lt;br /&gt;
‘tiap hari emang tante gak kemana-mana, emang nya kenapa?’&lt;br /&gt;
‘ya nggak tan, barangkali tante mau pergi, jadi keganggu aku numpang bolos disini’&lt;br /&gt;
'nggak-nggak kok'&lt;br /&gt;
Dakdigdug jantung semakin keras ketika susu kalsium yang telah bercampur obat perangsang itu habis&amp;nbsp; di minum tante mia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘enak&amp;nbsp; banget&amp;nbsp; jadi artis, kawin cerai udah biasa’ kataku mengomentari acara infotainment yang sedang kami tonton.&lt;br /&gt;
Tante mia tertawa kecil mendengar celotehku. ‘eh gimana indri, kamu kok gak pernah cerita lagi sama tante’&lt;br /&gt;
‘baik-baik aja tan, kadang bosan juga sih, pengen cari lagi’&lt;br /&gt;
‘tapi jangan sampe nyakitin cewek kalo mao ganti pacar, sebelum kawin sih ga apa-apa’&lt;br /&gt;
‘itu dia masalahnya tan’&lt;br /&gt;
‘kenapa emang’&lt;br /&gt;
‘ah gak ah’&lt;br /&gt;
‘lo kok nggak’&lt;br /&gt;
‘rahasia dong tan’&lt;br /&gt;
‘pake rahasia-rahasia an sama tante’ &lt;br /&gt;
‘nanti tante cerita sama mama’&lt;br /&gt;
Tante mia tertawa kecil. ‘ya udah tante janji lagi gak lapor mama kamu’&lt;br /&gt;
‘ngomongin yang lain aja ah’&lt;br /&gt;
‘eh nggak, nggak, belum selesai’ tante mengoyak pahaku.’sekarang tante mau Tanya, kamu udah apain tuh indri’&lt;br /&gt;
‘emang di apain tan, gak ngerti’ aku belaga bego&lt;br /&gt;
‘hmm, jangan-jangan, kamu udah…..’ tante mia memainkan jari telunjuknya ‘jangan-jangan , hayo ngaku hehehe……’&lt;br /&gt;
‘ngaku apain sih tan’&lt;br /&gt;
‘kamu udah nidurin indri, bener kan’ tante mia sambil senyum &lt;br /&gt;
‘ah nggak….tante kok punya pikiran gitu sih’&lt;br /&gt;
‘ayo ngaku..’ tante mia mencubit pinggangku pelan dan tak melepaskan.&lt;br /&gt;
‘aduh sakit tante, geli nih…..’&lt;br /&gt;
‘ngaku gak…’&lt;br /&gt;
‘tante lepasin nih aduh, aduh……’ aku geli sambil tertawa-tawa&lt;br /&gt;
‘ngaku gak, biarin tante cubit sampe ngaku’&lt;br /&gt;
‘gak tan, nggak, belum di apa-apain. Aku memiringkan tubuhku berusaha melepaskan cubitan tante, kedua telapakak tanganku ku kugunakan untuk menutaup wajah yang mulai memerah menahan malu dan geli. Tante mia tidak melepas. Bahkan tangan kirinya berusaha melepas kedua telapak tangan di yang menutup wajah.&lt;br /&gt;
’ngaku nggak?’&lt;br /&gt;
‘iya tante, udah,udah tante, lepasin’&lt;br /&gt;
tante mia melepas cubitannya, tapi tidak di selesai disitu, sekarang ia mencubit kedua pipiki ckup keras.&lt;br /&gt;
’Keponakan tante udah nakal yah’&lt;br /&gt;
‘aduh tante…sakit nih’&lt;br /&gt;
‘biarin…..’&lt;br /&gt;
‘tante jangan bilang mama yah…aduh…aduh…’&lt;br /&gt;
Wajahku di jembreng tangan tante mia dengan jarak yang sangat dekat bahkan kadang bersentuhan membuat kontolku ngaceng.&lt;br /&gt;
Perlakuan ‘kejam’ tante mia berangsur menjadi seperti orang horny. tatapan mata serta gerak tubuhnya menandakan itu. Ku piker obat perangsang itu sudah mulai bekerja di tubuhnya, kurang lebih 30 menit setelah masuk ke tubuhnya.&lt;br /&gt;
Aku membalikan badan ke sandaran sofa untuk menyembunyikan mukaku yang memerah malu ini. tangan tante mia berusaha mengembalikan wajahku kea rah depan, aku bersikukuh dengan merapatkan wajah di sandaran sofa. Pergerakan tubuh tante mia ternyata terasa di bagian pungguku, ternyata tubuh tante mia sudah merapat dengan pungguku. Ah&amp;nbsp; kontolku semakin ngaceng saja mendapat gesekan benda empuk di belakang., kupastikan itu adalah toket tante mia yang berhimpit. &lt;br /&gt;
‘alan berbalik dong, masak tante di belakangin begini’ &lt;br /&gt;
Aku tidak mempedulikan, yang ada di pikiranku adalah tentang aksi lanjutan ini.&lt;br /&gt;
Tiba-tiba tante mia memelukku dari belakang, tangannya melingkar di perutku, sementara kepalanya berada di leherku. &lt;br /&gt;
Yes,yes. Berarti obat perangsang ini sudah&amp;nbsp; bener-bener bekerja. Aku membalikan wajahku&amp;nbsp; tante tak melepaskan tubuhnya berhimpitan. &lt;br /&gt;
‘lan…’&lt;br /&gt;
‘tante ga cerita sama mama kan’ aku pura-pura masih membahas tema tentang indri, padahal aku yakin betul pikiran tante sudah berpindah dan di masuki birahi efek dari obat perangsang.&lt;br /&gt;
‘alan, ah….’ Tante mia duduk di panggkuanku, dan membenamkan tubuhnya di dadaku, toket&amp;nbsp; besarnya menekan dalam di dadaku,&amp;nbsp; mulutnya meciumi leher Sementara kedua tangan memegang tanganku.&lt;br /&gt;
‘tante’ aku pura-pura kaget&lt;br /&gt;
Tante mia tidak berkata-kata lagi. Ia terus saja bergerila menciumiku dengan suara yang semakin parau. Aksi tante mia semakin liar ketika dia membuka kaos yang ku kukenakan.&lt;br /&gt;
‘tante’ hanya itu yang keluar dari mulutku.&lt;br /&gt;
‘tante pengen’&lt;br /&gt;
Aku mulai beraksi, tangan yang dari awal sudah gatal inging menjamah, langsung beraksi meremas toketnya. Uh, gede banget, empuk.&lt;br /&gt;
Tante mia tidak puas dengan dengan remasan tanganku, ia mengangkat tshirt, dan membuang begitu saja, kemudian dia melepas tali bh dan juga mencampakan kebelakang, toketnya kemudian di berikan kewajahku.. Cup cup mulutku langsung nyosor di putting toketnya. Toket putih besar dengan putting merah kehitam-hitaman menjadi mainan lidahku. Buas sekali memainkan toket tante mia, bahkan secara jujur aku lebih bernafsu dengan toket tante mia dari pada toket indri yang tidak terlalu besar itu.&lt;br /&gt;
Aku semakin liar, mendorong tante mia hingga telentang di sofa. Inilah tujuanku, menikmati setiap jengkal tubuh tante mia. Tindakan pertama yang kulakukan adalah melepas rok dan celana dalamnya, hingga tante mia telanjang bulat telentang pasrah di sofa siap menanti semu perilaku bejatku.&lt;br /&gt;
paha mulus tante mia menjadi sasaran utama, gara-gar paha mulus inilah aku melakukan aksi gila ini. aku menggerangi sertiap jengkal paha mulus tante mia, sedikit demi sedikit hingga telapak tanganku semakin dekat dengan daerah paling pribadi milik perempuan; memek tante mia. ada bukit indah dengan rerimbunan rambut hitam disana. cukup lebat. bermain jari-jari disana aku sangat terobesi dengan belahan indah memek dengan lorong yang memerah. &lt;br /&gt;
'eghhhh.....egghhhh.....eghhhh...' tante menggelinjang ketika tanganku berada di bibir memek itu.&lt;br /&gt;
sejenak aku meninggalkan memek tante mia. sasaranku kini adalah dua bukit kembar yang masih cukup membusung meski sedang telentang. dengan buas aku melumat puting toketnya sebelah kiri, meremas payudara kanan dengan tanganku.&lt;br /&gt;
gerakan mulut dan lidahku&amp;nbsp; semakin menjadi ketika aku menjejahi setiap centi tubuh molek tanteku itu. dari leher, turun kembali ke toket kemudian berangssur turun&amp;nbsp; ke memek. bermain main lidah di memek aku berlama-lama apalagi posisi kaki kiri tante mia sudah berada di atas sandaran sofa sehingga wilayan memek semakin terbuka.&amp;nbsp; tante mia terus mendesis. aghh.....aghhhhh.....eghh....ohhhhhhh........zzzzz......suara desisan itu membuatku semakin bernafus, kontolku semakin keras dan berdenyut dan secara reflex tangan kiriku melorotkan resleting celana dan mengeluarkan kontolku. tangan kiriku bekerja meremas dan&lt;a href="http://geulis.tk/Cerita+Ngentot+Memek/Ngentot+Tanteku++Obat+Perangsang"&gt; mengocok kontolku&lt;/a&gt;, sementara lidah lu terus menjilati memek tante mia, tangan kanan terus menjelajah dari paha kemudian ke toket dan memek secara bergantian.&lt;br /&gt;
oghhh.....oghh....aghh.......eghh.........tante mia terus saja mendesis dengan tangan tante yang kadang menjambak rambutku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dengan celana jeans yang ku pakai aku tidak leluasa mengocok kontolku, maka aku berniat melepaskannya. tapi sebelum itu ku lakukan aku sempat berpikir tentang keamanan rumah. maka ku gendong tante mia ke kamar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setibanya di kamar, langsung kubaringkan tante mia di kasur. aku pun buru-buru membuka celana jeansku dan celada dalamku. setelah aku telanjang bulat, aku langsung mencumbu tante mia di kasur. dan yang tak kalah nikmat adalah ketika tante mia telungkup dan aku menindih dari atas, kontolku berada di bokong tante mia.&lt;br /&gt;
tante mia memang sangat menggairahkan. suara parau yang membuatku ingin memasukan kontolku pada memeknya. tapi tidak, bukan itu tujuanku memberikannya obat perangsang. aku hanya ingin menikmati keindahan tubuhnya dan membuatya orgasme dengan lidahku, bukan ngentot memeknya dengan kontolku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sekamin lama aku mencumbu tante mia di kasur semakin aku ingin membenamkan kontolku ke memeknya, apalagi tante mia memohon untuk segera memasukan kontolku.....aghh.....udah.....oghhhh.... masukin....masukin...udah....aghhh.........tolong... masukin........&lt;br /&gt;
aku jadi semakin bingug dengan kontolku yang semakin berkedut ingin di jepit benda penuh nikmat;memek. dan kondisi itu sedang mendukung. memek merah merekah siap menerima meriman londonku ini.&lt;br /&gt;
dan memang akihirnya tak kuat dengan kondisi ini. ku masukan kontolku ke memek tante mia, bles...bless....bless......&lt;br /&gt;
aghhhhhhhhhhhhh......................tante mia melepas desahan panjang sambil matanya melongo menatapku yang terus menikmati setiap gerakan tante mia.&lt;br /&gt;
aghhh...............aghhhhhh.......suaraku juga semakin keras akibat kenikmatan tiada tara memasukan kontol di memek tante mia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setiap dorongan adalah kenikmatan, gerakan ku yang semula pelan-pelan dengan terus berusaha romatis semakin tidak terkendali dan cenderung cepat akibat suara tante mia yang juga semakin keras. aku terus bergerak maju mundur. betapa nikmat aku memompa memek tante mia. memeknya memang tidak sesempit kepunyaan indri, tapi aku sangat menikmati setiap gerakan tubuh dan desis suaranya.&amp;nbsp; tante mia, memang luar biasa. di usia yang tidak lagi muda dia sangat menggairakan bagi anak muda sepertiku.&lt;br /&gt;
'agh.....agh....agh...tante mau keluar....agh.....agh....tante mau keluar... '. suara tante mia terputus putus...;aghh..oghhhh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kupercepat gerakanku.menggenjot memeknya. hingga tiba-tiba tante mia mengejang hebat, kedua tangankua menjambak rambut dan kepalaku, sementara kedua kakinya melingkar di tubuhku.di ikuti bibirnya yang melumat bibirku dengan suara lolongan yang tersumbat di bibirku...eeegggh.........eghhhhh........eghhhhh ......... egggghhhhhh&lt;br /&gt;
aku yang sadar tante mia orgasme menghentikan gerakan. mundur, tapi kutekan lebih dalam kontolku ke memeknya........dan teryata benar, tante mia mengejang semakin hebat dengan gerakanku itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
nafas tante mia terengah-engah ketika ia melepas jambakan tangannya dan menurunkan linkar kakinya. tapi itu tidak lama karena tante mia kembali meranngkul kepalaku, 'tante udah keluar sayang.......'&lt;br /&gt;
aku senang sekali mendengar ucapan tante mia itu. aku senang bisa membuat wanita mendapat kepuasan seksual dariku. bagaimanapun juga aku menikmanti tubuh wanita bukan hanya menyalurkaa sperma ke memeknya, tapu juga ingin memberikan kebahagian atas nikmatnya orgasme dari bercinta.&lt;br /&gt;
Dan selanjutnya acara ngentot itu pun di akhiri dengan orgasme dari ku, tante mia masih bisa orgasme sekali lagi dan itu yang semakin membuat senang.&lt;br /&gt;
aku senang dan puas bisa ngentot memek tante mia, tapi selebihnya aku menyesali perbuatanku itu. Begitu juga dengan tante mia, ia menyesal dengan kejadian itu. meskipun katanya ia sangat menikmati bercinta denganku, tapi ia tidak mau lagi memberikan memeknya padaku apalagi buat orang lain. ia hanya ingin memberikan memeknya kepada suaminya om darta.&lt;br /&gt;
tamat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://geulis.tk/Cerita%20Dewasa%20Seru"&gt;cerita sex dewasa indonesia terbaru&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-2999734712548361741?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/5dWfdxraYnE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/2999734712548361741?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/2999734712548361741?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/5dWfdxraYnE/ngentot-memek-tante-mia-gara2-paha.html" title="Ngentot Memek Tante Mia Gara2 Paha Mulus" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2010/10/ngentot-memek-tante-mia-gara2-paha.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIAQnwzcCp7ImA9Wx5WEkk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-8342386011174047958</id><published>2010-09-23T19:55:00.004+07:00</published><updated>2010-09-23T19:55:43.288+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-23T19:55:43.288+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>Memek  china legit</title><content type="html">Aku punya seorang tetangga yang tinggal di seberang rumah. Namanya Ana, dan kupanggil Ci Ana, karena ia seorang wanita keturunan Chinese. Sebenarnya aku tidak suka pada gaya dan cara hidupnya yang menurutku ‘ngegampangin’ apa-apa. Ia suka memandang ringan pada semua hal. Termasuk hubungan dengan tetangga sekitarnya. Ci Ana ini sudah menikah dan punya anak satu, Rachel namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita tetanggaku ini memang orang yang bertipe mudah bergaul dan ia gampang akrab dengan siapa saja, termasuk dengan isteriku, Rini. Kadang aku muak bila Ci Ana ini sering memanggil orang dari kejauhan seperti memanggil seekor anjing. Tapi tidak apalah, pikirku, mungkin udah jadi kebiasaannya. Kalo denganku, aku sengaja tidak mau akrab. Entah kenapa. Mungkin karena aku tidak mau bergaul dengan sembarang orang atau karena memang aku tidak suka dengan tetanggaku yang tergolong baru pindah sekitar dua bulan yang lalu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar seminggu yang lalu, saat hendak berangkat ke kantor aku tanpa sengaja menengadah dan memperhatikan seseorang berjalan mendekati isteriku yang akan naik mobil kami. Kebetulan saat itu aku sudah ada dalam mobil dan hendak menginjak pedal gas. Ternyata si Ci Ana. Kebetulan ia hendak pergi ke arah yang berlawanan. Waktu lewat, kulihat ia mengenakan kaos hadiah dari produk cat “CATYLAC” dengan tulisan merah dan kaosnya itu amat tipis dengan warna dasar putih. Wah.. Buah dadanya itu lho. Tidak kusangka ia punya payudara yang besar. Kayaknya lebih besar dari punya isteriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang perjalanan ke kantor, badanku terasa panas dingin memikirkan payudaranya itu. Oh.. andaikata aku punya kesempatan.. aku ingin tidur dengannya.. atau paling tidak kalo dia tidak mau, aku akan memaksanya. Aku ingin menikmati payudaranya. Orangnya memang cantik, tinggi dan putih. Walau berkacamata, dapat kulihat wanita itu kelihatannya memiliki gairah seks yang tinggi. Entah hanya khayalanku saja atau memang demikian adanya. Rupanya kesempatan itu akhirnya datang juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua hari yang lalu, saat lingkungan tempat tinggal kami sedang sepi, terjadilah hal yang tidak kusangka-sangka. Saat aku pulang beristirahat pada sekitar pukul dua belas, seseorang wanita memanggilku. Waktu itu aku hendak menutup dan mengunci pintu pagar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Win..! Sini bentar, Win.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata Ci Ana. Kudekati dia di pintu pagar rumahnya lalu aku bertanya padanya dengan hati dag-dig-dug tak karuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada apa Ci?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil membuka pintu pagar ia menjawab, “Masuklah dulu.. ada sesuatu yang hendak aku bicarakan..”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa bertanya lebih lanjut, aku mengikutinya masuk ke dalam rumah (tentunya setelah pagar itu aku tutup dan kunci). Di ruang tamu, aku kemudian duduk dengan perasaan deg-degan. Sementara ia berjalan masuk ke kamarnya. Beberapa menit kemudian ia muncul dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mau tanya ini, Win.. kamu ‘kan pintar bahasa Inggris. Terjemahin ya, untuk aku. Kotak ini isinya kamu lihat sendiri aja deh..” ujarnya dengan wajah bersemu merah. Entah kenapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuraih kotak dan kertas yang berisi petunjuk tentang cara pemakaian benda di dalamnya. Kotaknya memang masih terbungkus rapih. Saat kubuka bungkusnya, aku kaget bukan kepalang. Tidak pikir benda apa, eh tidak tahunya itu alat kelamin pria alias penis palsu terbuat dari semacam plastik yang dapat digerakkan sesuai dengan kemauan pemakainya. Alat itu harus menggunakan arus listrik. Setelah kubaca petunjuknya, lalu kujelaskan pada Ci Ana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ci.. daripada Cici pakai alat ini, mendingan pake yang aslinya aja gimana.. Maaf, Ko Teddy (nama suaminya) ‘kan pasti mau tiap malam..” jawabku sambil memandangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah, Win.. dia jangan diharapin deh.. pulang malam terus.. Datang-datang pengennya tidur aja.. jadi gimana mau melakukan hubungan intim, Win.. sementara wanita kayak aku ‘kan butuh dicukupin juga dong kebutuhan biologisnya..” jawabnya enteng namun wajahnya masih terlihat bersemu merah. Ia pun tertunduk setelah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gimana kalo.. aku aja yang mencoba memuaskan Ci Ana..?” tanyaku tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak percaya dengan suaraku sendiri. Beraninya aku berkata begitu pada wanita tetangga yang sudah bersuami. Bisa repot nih jadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa kamu bilang? Enak aja kamu ngomong. Emang kamu mau dilemparin tetangga lain. Berselingkuh seperti itu nggak boleh tahu..!” jawab Ci Ana dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru sekarang aku melihatnya benar-benar marah. Menyesal juga jadinya. Beberapa lama kami pun berdiam diri. Lalu Ci Ana bangkit dari duduknya dan sepertinya ia hendak mengambilkan minum untukku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak usah repot-repot, Ci.. Sebentar lagi juga aku pulang..” ujarku mencoba merebut kembali hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak kusangka ia malah membalas, “Ngaco.. siapa yang mau ngambilin minum buat kamu.. aku mau minum sendiri kok.. Udah sana, pulang aja. Dan terima kasih udah terjemahin petunjuk alat itu..” jawabnya masih dengan nada ketus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun bangkit dari dudukku. Namun saat aku hendak berjalan keluar, tiba-tiba muncul ide jahatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan berjalan berjingkat-jingkat, kuikuti ke arah mana si Ci Ana berjalan. Rupanya ia menuju kamar tidurnya. Kebetulan jalan menuju pintu kamar, dibatasi oleh korden. Aku pun bersembunyi dibalik korden itu. Untunglah ia tidak menutup pintu kamar itu sama sekali. Kulihat ia membelakangiku, lalu pelan-pelan menarik kaos ketatnya ke atas dan menurunkan celana panjangnya. Rupanya ia mau mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu perlahan-lahan kudekati pintu kamar itu. Ci Ana mulai membuka BH dan celana dalamnya yang berwarna krem. Kemudian ia meraih jubah mandinya yang tergeletak di tempat tidur. Sebelum ia sempat menutupi tubuhnya yang telanjang, aku segera berlari dan menubruknya. Buk..! Ia terjatuh dengan keras ke tempat tidurnya yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aduh..! Lepaskan..! Win.., kok kamu belum pulang, hah..? Mau apa kamu..?” ujarnya kaget setengah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku mau buktikan bahwa alat punyaku lebih hebat dari penis buatan itu, Ci..” jawabku dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak.. nggak mau.. nanti kalo suamiku pulang gimana..?” tanyanya lagi dengan nada ketus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sudah berada di atas tubuhnya yang telanjang, tanpa buang waktu lagi, aku mengangkangkan kakinya, dan terlihatlah lubang vaginanya yang berwarna merah muda. Dengan cepat kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ci Ana perlahan-lahan mengendurkan perlawanannya. Dari tadi ia terus mendorongku supaya aku segera terjatuh dari tempat tidur. Kepalanya mulai bergerak ke sana kemari. Aku langsung mengincar buah dadanya yang besar dan padat. Putingnya kuhisap dan kujilat. Kanan dan kiri.. kanan dan kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suara tanda ia mulai terangsang mulai terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.. ah.. ah..” erangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masukkan sekarang Win.. aku sudah tidak tahan lagi.” ujarnya di tengah-tengah kenikmatan yang ia alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kontolku belum tegang, Ci.. dihisap, ya..!” ujarku sambil menyodorkan senjataku ke mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebetulan mulutnya sedang terbuka. Kaget juga jadinya dia. Aku memaju mundurkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Luar biasa hisapan mulutnya. Walaupun punyaku jadi basah, namun senjata andalanku itu langsung mengeras. Segera kutarik dari mulutnya. Sebenarnya, Ci Ana tidak rela melepaskan senjataku dari hisapan mulutnya. Ia mungkin ingin terus mengulumnya sampai air maniku muncrat ke dalam mulut dan kerongkongannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit kemudian, aku menyibak rambut kemaluannya yang tebal serta hitam. Bibir kemaluannya kusingkap dengan perlahan. Setelah mengetahui persis letak lubang senggamanya, kuarahkan penisku ke sana, dan dengan sekali hujaman, amblaslah penisku ke lubang surga dunia itu. Aku terus menghujamkan senjataku. Maju-mundur-maju-mundur.., bless.. ceplak.. cepluk.. memang lain rasanya bila bersetubuh dengan wanita yang sudah pernah melahirkan. Sepertinya penisku tidak menghadapi halangan berarti. Sementara Ci Ana mulai bereaksi dengan menggerakkan pantatnya secara memutar. Senjataku seperti dikocok-kocoknya dalam vaginanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah lima belas menit, namun pertarungan birahi kami belum juga usai. Kami pun kemudian berganti posisi. Ci Ana sekarang dengan posisi menungging. Aku bersiap menusuknya dari belakang. Kuarahkan senjataku ke mulut kemaluannya sekali lagi. Sementara tangan kanannya membuka mulut vaginanya dengan lebar. Bless.. bless.. bles.., penisku masuk dengan lancar dan pasti. Tangan kananku meraih pinggangnya, sementara tangan kiriku memain-mainkan payudara kirinya. Tampak kepalanya menengadah setiap kali tusukanku kuulangi. Tiba-tiba ia menjerit sambil kedua tangannya memegang kepala ranjang dengan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.. ah.. ah.. ah..!” rupanya ia orgasme, namun aku belum juga mencapai puncak. Memang aku lumayan perkasa kali ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ci Ana akhirnya bilang, “Win, kamu tiduran sok.. aku yang aktif sekarang.. biar sama-sama dong orgasmenya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah aku berbaring, ia meraih penisku yang amat keras dan tegak dan dihisapnya sambil jongkok di sebelah kananku. Ia juga menjilat dan mengulum batanganku. Duh.. duh.. duh.. seperti melayang di awan-awan aku dibuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah, sebentar lagi kalau kuteruskan bisa-bisa aku nyemprotin mani di mulutnya nih.” pikirku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu buru-buru aku menyuruhnya duduk di atas penisku. Ia pun memegang penisku dan dengan pelan-pelan duduk di atasnya sambil mengarahkan ke bibir vaginanya. Dan.. bles.. jeb.. bless.. jeb! Kulihat penisku seperti tenggelam dalam vaginanya. Aku hanya dapat merem melek jadinya. Ci Ana terus saja bergerak ke sana kemari. Naik-turun, kanan-kiri dan setelah beberapa saat ia melakukannya, aku merasakan ada sesuatu yang akan meledak dalam tubuhku. Segera saja aku bangkit sambil memeluk tubuhnya yang masih ada di atas selangkanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah.. ah.. ah.. ah.. crot..! Crot! Crot! Crot..! Crot..!” sebanyak sembilan kali semprotan maniku masuk ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesudah itu kami tiduran karena kelelahan. Ci Ana masih memeluk tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Win, aku sebenarnya sudah lama ingin berhubungan intim denganmu.. aku tahu kau punya senjata yang hebat. Jauh lebih hebat dari suamiku yang loyo. Cuma aku belum mendapatkan kesempatan untuk itu. Makanya aku pancing kau dengan alat penis buatan itu. Jadi jangan marah ya. Tadi aku bersuara ketus seolah-olah menolak kamu hanya permainan saja. Aku mau tahu seberapa tahan kamu melihat tubuh wanita sepertiku. Makanya aku tadi tidak menutup pintu kamar. Karena kutahu pasti kamu belum pulang dan kamu tidak akan pulang sebelum kamu bisa menaklukkanku..” ujarnya tiba-tiba sambil tangannya membelai pelan penis kebanggaanku yang sudah mulai mengecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak kusangka ia mengatakan itu. Memang benar dugaanku. Ternyata Ci Ana memang hiperseks. Ia mau dengan siapa saja dan kapan saja memuaskan hasrat seksnya yang menggebu-gebu. Duh gusti, enaknya punya tetangga seperti dia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-8342386011174047958?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/ddcz7lU5JTU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8342386011174047958?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8342386011174047958?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/ddcz7lU5JTU/memek-china-legit.html" title="Memek  china legit" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2010/09/memek-china-legit.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQBQHgyeyp7ImA9Wx5XFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-8572880718426520073</id><published>2010-09-16T15:39:00.000+07:00</published><updated>2010-09-16T15:39:11.693+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-16T15:39:11.693+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tante  girang" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>Bokong indahi ibu kost berkain batik</title><content type="html">&lt;a href="http://sex-id.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;Ngentot ibu kost cantik&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;- pada akhir bulan hari kamis Jam setengah delapan malam aku masuk&amp;nbsp; rumah ibu kost, maksudnya untuk membayar uang kost bulanan. rumah ibu kostku&amp;nbsp; letaknya bersebelahan dengan rumah kost yang ku tempati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah ku ketuk keluar sesosok &lt;a href="http://sex-id.blogspot.com/"&gt;wanita setengah baya &lt;/a&gt;yang sangat ku kenal, ibu Tamara, dialah ibu kostku selama satu tahun ini.&lt;br /&gt;
‘eh mas Boni, ayo masuk?’ &lt;br /&gt;
Sebenarnya aku agak risih di panggil mas oleh ibu Tamara, maklum usiaku baru 23 tahun sementara ibu Tamara sudah 45 tahun, setengah usia kami berbeda. Tapi sudah lah dia memanggil aku mas boni, beginilah adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘makaish bu’&amp;nbsp; Aku pun masuk ke rumah ibu Tamara dan duduk di ruang tamu&lt;br /&gt;
‘mas boni, Ngobrolnya di dalam aja yah. ibu lagi ini nih…’ ibu ksot tidak melanjutkan ucapannya&lt;br /&gt;
Aku kembali bangkit dari kursi tamu itu untuk mengikuti ke dalam, maksudnya ruang tengah, ruang keluarga yang ada tv nya, ruang ini tidak asing bagi ku atau anak-anak kost disana, karena kadang –kadang memang sering juga juga nonton tv sambil bayar kost,atau keperluan lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mataku sedikti nakal ketika aku berjalan di belakangnya melihat bokong ibu kost Tamara yang tampak besar. Yang membuat aku ngeres berat adalah dengan kain batik yang membungkus bokong itu. Sehingga nampak jelas gumpalan bokong besar itu&amp;nbsp; bergoyang-goyang kekiri dan kanan, dasar otak mupeng pikirku, dengan wanita setengah baya atau tante-tante aku sudah berpikir macam-macam tentang keindahan tubuh wanita. Ibu kost Tamara sendiri memakai baju model wanita yang aku sendiri tidak tahu namanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘ini bu, aku mau bayar kost’ to the point aku mengutarakan maksudku. Ketika bokongku sudah mendarat di sofa.&lt;br /&gt;
‘emang udah gajian mas’&lt;br /&gt;
‘udah bu hari ini’ kataku sambil meyodorkan beberapa lembar gocapan.&lt;br /&gt;
‘makasih yah mas boni’&lt;br /&gt;
‘harusnya saya yang makasih, udah boleh ngekost disini’&lt;br /&gt;
Kami berdua tersenyum.&lt;br /&gt;
‘oh iya ibu lupa belum buat minum, sebentar yah’&lt;br /&gt;
‘gak usah bu, saya gak lama kok’&lt;br /&gt;
‘ah biar aja’ &lt;br /&gt;
Tanpa mempedulikanlagi, ibu kost berjalan ke belakang. Sekali lagi aku lihat bongkahan bokong indah menggumpal berbalut kain batik, plus cetakan celana dalam terlihat dari keindahan bokong&amp;nbsp; bahenol itu.&lt;br /&gt;
Sementara ibu Tamara ke belakang, aku mengamati keadaan sekitar, ku lihat sebuah botol body lotion tergeletak di karpet permadani di depan tv itu, sementara aku duduk di sofa menghadap ke tv.&lt;br /&gt;
Ibu Tamara kembali menemui dengan segelasn teh manis. Dan meletakannya di meja, samping sofa tempat ku duduk.&lt;br /&gt;
‘sepi banget, pada kemana bu’ tanyaku.&lt;br /&gt;
Bu kost Tamara mengatakan bahwa suaminya sedang mengikuti pengajian, kegiatan rutin malam jumat yang di adakan oleh seorang syehk, katanya- di pinggiran kota. Sementara dua anaknya santi dan yoga, sedang ke rumah keponakannya/ sepupu anak-anaknya yang sedang mengadakan ulang tahun. Kini aku jadi mengerti kenapa rumah itu sep-sepi saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai meletakan the manis, ibu Tamara tidak duduk di kursi, malah duduk di karpet permadani di bawah.’ Maaf mas boni,&amp;nbsp; Ibu duduk di bawah,’&lt;br /&gt;
O iya bu nggak apa-apa’&lt;br /&gt;
Kami pun mulai ngorbrol&lt;br /&gt;
Ku lihat ibu Tamara mengambil body lotion yang tadi kulihat, menuangkan ke telapak tangan, kemudian mengosok-gosokan ke betisnya.&lt;br /&gt;
Mataku mau tidak mau menatap kegiatan bu Tamara itu, parahnya otakku ngeres kembali dengan keindahan betisnya, ah, ternyata betis bu Tamara sangat indah. Kemudian tangan bu Tamara mengurut lehernya sendiri &lt;br /&gt;
‘begini nih kalau udah tua, salah tidur dikit aja pada sakit, kayak orang keseleo’ katanya sambil menjelaskan ketika bangun tidur siang tadi lehernya pada sakit.&lt;br /&gt;
‘ah itu sih bukan urusan tua muda, saya juga sering salah tidur gitu’ aku meninpali.&lt;br /&gt;
‘’oh mas doni sering salah tidur juga’&lt;br /&gt;
‘bener bu, bahkan waktu itu sampai dua hari susah nengok, terpaksalah pergi ke tukang urut’&lt;br /&gt;
‘wah kalau ibu udah lama gak di urut, yah sejak ma ijah meninggal, gak pernah lagi diurut’ katanya sambil menjelaskan dulu ada tukang urut di sekitar sini nama nya ma ijah.&lt;br /&gt;
‘o…’ aku menganguk&lt;br /&gt;
‘pengen di urut sih, tapi disini gak ada tukang urut cewek, cak tarjo katanya pijatanya bagus, tapi mana boleh ibu ngurut disana sama bapak’&lt;br /&gt;
Aku mengganguk dan maklum, aku juga gak bakal rela pacarku di pijat-pijat sama lelaki, bisa berabe.&lt;br /&gt;
‘aduh jadi pengen di pijit lagi nih ibu, sama sendiri gak berasa’ katanya ‘mas doni bisa tolong pijitin leher ibu gak’&lt;br /&gt;
Sebenarunya aku mau saja, tapi karena mendengar ucapan ibu kost tadi tentang pijat memijat, aku jadi tidak berani, aku mebolak halus.&lt;br /&gt;
‘ah ibu, nanti&amp;nbsp; bapak tahu enggak&amp;nbsp; enak’&lt;br /&gt;
‘Cuma leher doong kok’&lt;br /&gt;
‘tetap aja bu, disangkanya ngapa-ngapain’&lt;br /&gt;
‘’kan gak ketahuan, bapak kalau pulang&amp;nbsp; jam dua belas lewat’ bu Tamara berdiri dan duduk di sampingku’ &lt;br /&gt;
Tanpa menunggu persetujuan, Bu Tamara memberikan body lotion kepadaku. sebentar aja mas, leher ibu pegel, sakit’&lt;br /&gt;
Aku mengambil body lotion dan meuangkan telapak tanganku. Aku merubh posisi duduk kearah bu Tamara yang sudah membelakangkiku.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;‘yang mana bu’&lt;br /&gt;
‘leher ibu mas’ jawan bu Tamara sambil tangannya mulai mengikat rambut panjangnya itu.&lt;br /&gt;
Oh my god, leher bu Tamara begiru bersih bersinar. Cuma leher kontolku jadi konak. Terlebih ketika tanganku mulai mengurut bergerak ke atas dan kebawah di leher bu Tamara.&lt;br /&gt;
‘enak mas urutannya’&lt;br /&gt;
Semakin lama aku semakin horny berat. Kontol semakin keras, konsentrasiku sedikit buyar, bahkan tanganku bergerak memijat pundak bu Tamara.&lt;br /&gt;
‘ah, oya enak disitu, mas doni tau aja, pundak ibu pegel’&lt;br /&gt;
‘iya bu, saya kalo potong rambuat di tukang pangkas disini enak banget, bahakan saya minta di pijitin pundaknya agak lama’&lt;br /&gt;
‘enak sekali mas, mungkin karena ibu udah lama gak di pijit kali. Yah’&lt;br /&gt;
Jujur saja, aku ingin sekali memijat bagian lain bu Tamara, paha, betis, toket, apalagi bokong besarnya yang masih mengenakan kain batik.&lt;br /&gt;
‘ yang mana lagi bu’ aku memancing supaya bu Tamara minta di pijit bagian lain..&lt;br /&gt;
Bu Tamara mebalikan badannya hingga menhadapku. ;kepala ibu mas boni’&lt;br /&gt;
Aku memijat kepala dan jidatnta, sesekali aku mataku melirik ke bawah, sedikit belahan payudara terlihat ketika kulihat dari atas.&lt;br /&gt;
Bu Tamara merubah posisi duduknya, hingga sekarang ia besandar di sofa’ &lt;br /&gt;
Egh…eghh kudengar pelan dari mulut bu Tamara ketika aku kembali memijat pundak, tapi dari arah depan. Aku semakin terangsang dengan suara itu, apalagi ketika kulirik kebawah, sedikit tersibak kesamping kain batik yang menutupi pahanya. Pemandangan serba tanggung ini membuatku blingsatan di kontol. Ingin sekali aku ngentot memek bu Tamara, tapi aku harus sadar, ini bukan memek garapanku yang sah.&lt;br /&gt;
‘udah yah bu,’ kataku takut lupa diri hingga memperkosa bu Tamara, selain itu juga aku ingin buru-buru onani dirumah.&lt;br /&gt;
‘capek yah mas’&lt;br /&gt;
‘gak sih bu, Cuma mau pulang aja, udah malam ’&lt;br /&gt;
Bu Tamara melirik jam dinding ‘jam sembilan juga belum, ntar aja dulu mas’&lt;br /&gt;
Entah apa yang ada di pikiran bu Tamara, ia malah merapatkan tubuhnya ke tubuhku.tangannya memijat pundaku, seolah bergantian ingin memijatku, badanku di putar oleh bu Tamara hingga kini aku bersandar di sofa. Aku diam saja, selain kontol yang semakin mengeras. Terranyata tak lama bu Tamara memijat pundal, berpindah kedada, kemudian turun hingga langsung meremas kontolku yang mengenakan celana pendek&amp;nbsp; ¾.&lt;br /&gt;
‘bu…..’hanya itu yang keluar dari mulutku&lt;br /&gt;
Bu Tamara mebuka resleting dan kancing celanaku, di keluarkan kontolku yang mengeras, plus setetes cairan putih di lubang kontol.&lt;br /&gt;
‘ada yang keluar’&lt;br /&gt;
Sambil malu-malu aku menjawab’ iya bu, saya terangsang banget waktu mijat ibu tadi’&lt;br /&gt;
Tangan bu Tamara me &lt;a href="http://sex-id.blogspot.com/"&gt;ngocok&lt;/a&gt; kontol ku naik turun, aku mengerang nikmat, tapi aku cepat sadar ketika rasa takut menghantui, bagaimana tidak, malam belum juga larur, pintu depan terbuka, bagaimana jika ada orang masuk melihat pemandangan ibu kost mengocok kontolku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu Tamara bangkit dari sofa, lalu tangannya bergerak melorotkan celana dalam dari balik kain batik. Pemandangan sensual luar biasa. Meski tidak sampai aku melihat memeknya, paha bu Tamara sudah membuat aku panas dingin.&lt;br /&gt;
‘ibu pengen mas’ katanya ketika ia duduk di pagnkuanku. Rasa takut bercampur rangsangan tingkat tingggi membuat dadaku berdebar kencang.&lt;br /&gt;
Bless….bles…..bles……kontolku di masuki memek bu Tamara.&lt;br /&gt;
‘aghh….aghhh……..agh… bu Tamara mendesis. Bokong nya naik turun. Aku tidak tinggal diam.aku meremas toket, tidak puas, aku mengangkat baju&amp;nbsp; Tamara, dua buag payudara besar dengan sedikti kendor terapit dib h hitam. Ku isap putignya, sementara tanganmu meremas bokong yang tetapo di bungkus kain batik.&lt;br /&gt;
Aghhh…..agh…..oghh………..&lt;br /&gt;
Aghh…oghh….eghhhh&lt;br /&gt;
Suara kami berdua beradu.&lt;br /&gt;
Lalu…&lt;br /&gt;
Agh….agh…..Agggggggggggggggggghhhhhhhhhh……………..ah..ah..ahh.. bu Tamara mengerang hebat. Lalu bibirbya melumat bivirku….aghhhh/………agh……..&lt;br /&gt;
Bu Tamara orgasme……&lt;br /&gt;
‘ibu udah keluar sayang……..giliran mas boni yah…..’&lt;br /&gt;
‘Dari belakang yah bu..’&lt;br /&gt;
‘terserah mas boni aja’&lt;br /&gt;
Aku meminta bu Tamara nungging. Ke dua lututnya betumpu disofa, sementara tanganya berpegangany di sandaran sofa.&lt;br /&gt;
Di lantai aku berdiri, celanaku sudah meloroh kelantai, hanya cd masih menempel dip aha, aku tidak mau membuka semua nya, untuk menjaga jika ada orang datang memanggil, bisa cepat-cepat mengenakan celana. Sementara itu, aku tidak melepas kain batik ibu Tamara, karena menurutuku sangat indah melihat wanita mengenakan kain batik di bokongnya.&lt;br /&gt;
Bles…bles….bles….. aku masukan kontolku ke memeknya. Oghhhh……aghhhhh…. Aku mengerang…. Begitu juga bu Tamara ia mengerang ketika ku sodokan kontolku.aghhhh…..agh……oghh….ngentot ibu dogy style sungguh nikmat, meski memeknya tidak sesempit memek pacarku, tapi bokong berkain batik ini sangat menggairahkan. Selain itu kepala yang begerak ke kiri dan kanan sangat menawan.&lt;br /&gt;
Bless…bles…..agh…………’ibu saya mau keluar…’&lt;br /&gt;
‘ayo…ayo….ogh……ibu juga…ogh…..….&lt;br /&gt;
Ogh ogh……….bu saya keluar….agh….aghh….saya keluar…….’&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; aku mengejang hebat, &lt;br /&gt;
Masih merasakan sisa-sisa orgasme, tiba-tiba ibu Tamara juga mengerang. Sambil kini bokongnya yang bergerak-gerak. Aku tahu dia sedang orgasme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bersambung&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cerita memek tante foto tante girang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memek cantik memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memek tante &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita memek tante foto tante &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita hot memek - download free files &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gambar foto memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita seks nikmatnya memek ibu mertua &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
situs foto foto cewek bugil indonesia cewek bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek asli indonesia gratis &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; galeri gambar cewek bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ayu azhari ayu azhari bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; galeri artis bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngentot foto artis bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek bandung 1&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; telanjang bugil ayu azhari &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngentot foto artis bugil ngentot &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bugil ngentot &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; artis lokal bugil telanjang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melayu bogel gadis bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto gambar telanjang dan bugil lindsay lohan terbaru&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gambar the virgin bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-8572880718426520073?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/jIVdP9jYBi8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8572880718426520073?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/8572880718426520073?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/jIVdP9jYBi8/bokong-indahi-ibu-kost-berkain-batik.html" title="Bokong indahi ibu kost berkain batik" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2010/09/bokong-indahi-ibu-kost-berkain-batik.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0AHRn8zeyp7ImA9Wx5XFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-948602513505324891</id><published>2010-09-16T15:28:00.000+07:00</published><updated>2010-09-16T15:28:57.183+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-16T15:28:57.183+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tante  girang" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>Memek Tante Ginta, Guru Private sex dan  Matematika - 2</title><content type="html">Seminggu setelah kejadianku ngentot dengan tante ginta, atau tepatnya pertemuan kedua terakhir masa les privatku habis, tante ginta tak bisa datang. Jam 6 sore Dia telepon, katanya sakit.&lt;br /&gt;
Aduh, gawat, padahal hari ini kunantikan untuk dapat bercinta lagi dengannya di sela-sela belajar, atau jika situasi tidak memungkinkan, aku hanya minta di kocok atau di sepong, yang penting spermaku muncrat, atau aku memainkan jari-jemari kedalam memek tante&amp;nbsp; ginta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan alasan aku punya PR yang tidak bisa kuselesaikan, aku minta izin ke nyokap untuk ke rumah tante ginta yang berada di kelurahan sebelah.. Nyokap melarang jika alasannya itu, tapi kalau niatnya untuk menjenguk aku di izinkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tak penting bagiku dengan alasan membola-balikan maksud bertemu tante ginta oleh nyokap, yang penting. aku ingin memeknya, atau paling tidak bisa memegang toketnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai di rumahnya aku hanya menemui tante ginta dan anaknya yang masih empat tahun, suami dan anak pertamanya sedang pergi entah kemana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“sakit apa tante?”&lt;br /&gt;
“Cuma demam do, semalam tante gak bisa tidur, badan lemes” jawab tante ginta sambil tiduran di kasur&amp;nbsp; yang di gelar di depan tv. Anaknya lari kesana kemari sambil mencandai kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tante ginta memintaku memijat kepala, pundak dan lengannya. Dengan senang hati itu kulakukan. Meski sebenarnya aku agak takut kalau suaminya datang. Tapi itu kutepis. Dasar kontol udah kenal memek, langsung aja&amp;nbsp; bangun. Mataku nanar melihat tubuh tante ginta tergolek dengan balutan daster di hadapanku.&lt;br /&gt;
“kamu kenapa do?” &lt;br /&gt;
“maksud tante?”&lt;br /&gt;
“hehehe….”tante ginta tertawa “ mata mu itu loh”&lt;br /&gt;
“maksud tante apa, aku ga ngerti”&lt;br /&gt;
“tapi tante ngerti apa yang di otak mu hehe…” sekali lagi tante tertawa&amp;nbsp; “tante senang bisa ketawa hari ini, dari kemarin tante gak bisa ketawa……”&lt;br /&gt;
“ah tante bisa aja………..”&lt;br /&gt;
“sini tante bisikin”&lt;br /&gt;
Aku merunduk&amp;nbsp; dan mendekatkan kupingku pada wajahnya &lt;br /&gt;
“mau di salurin ga?”&lt;br /&gt;
Aku diam tak menjawab. Malu rasanya. Tapi mau sih. Masalahnya apakah ini aman?. Ada bocah kecil yang masih melek. Belum lagi kalau suaminya datang. Bisa berabe.&lt;br /&gt;
“maya, ayo bobo….sayang…..udah malam….”tante ginta meminta anaknya untuk tidur. Dengan sedikit paksaan, tante ginta kini sedang ngelonin anaknya dengan posisi menyamping. Aku sendiri duduk&amp;nbsp; dibelakangnya sambil terus memijit pundak tante ginta. Karena gairahku udah membara, pijitanku pun gak karuan, bokong nungging tante ginta ku remas-remas. Sambil mataku celingukan ke arah anaknya yang sedang di tidurkan atau melongok ke pintu depan.&lt;br /&gt;
Tante ginta tak menolak ketika&amp;nbsp; sedikit demi sedikit posisi celana dalamnya ku acak-acak .“tan”&lt;br /&gt;
“ belum do. sebentar lagi”&lt;br /&gt;
Aku memang tidak sabar, pengen ngentot memek tante ginta.&lt;br /&gt;
Tante ginta ternyata orang sangat pengetian. Dia membalikan badannya ketika dirasa anaknya sudah tidur. Ia tarik tanganku untuk menyatukan tubuh kami dalam pelukan “entot tante sayang, tante pengen di bawah,” suara lembut menyisir teligaku. Tante ginta memintaku untuk tidak melepas semua celanaku, cukup kancing dan resleting saja, sementara tante ginta sudah melepas celana dalamnya dan di letakan di bawah kasur &lt;br /&gt;
Dengan celana yang hanya melorot membuat aku agak susah memasukan kontol ke memeknya. dan ketika kontolku berhasl masuk, hanya tiga&amp;nbsp; menit aku sudah orgasme.oghhh…..oggghhh….ku tahan eranganku.&amp;nbsp; Untunglah,tante ginta sangat pandai, sehingga, sebelum kontolku lemas total, ia bisa juga mencapai klimaks. Ternyata ngentot di campur rasa ketakutan, sangat nikmat meski hanya berlangsung sesaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam sembilan lewat , suami tante ginta belum juga pulang. Aku pun beranjak pamit pulang. Tante ginta bangun dari rebahannya untuk mengantarku kedepan.. Sebelum pintu depan di buka, tante ginta memeluk dan menciumki kemudian berbisik “makasih do, udah nengokin, tante seneng kamu datang”&lt;br /&gt;
“makasih juga tan uda ngasih&amp;nbsp; ini....…” tangaku meraba memeknya.&lt;br /&gt;
“kalau yang itu gak usah bilang makasih, tante juga senang di kasih kamu, sakit tante jadi baikan” tante ginta tersenyum “peluk tante yang kenceng sayang..”&lt;br /&gt;
Aku memeluk tante erat-erat, kontolku ngaceng lagi. &lt;br /&gt;
“ini apa do bangun lagi” &lt;br /&gt;
Aku tidak berkata-kata lagi, ketika tante membuka kancing celana dan resletingku., aku di dudukannya&amp;nbsp; di lantai dekat pintu. Setelah tante ginta tengak-tengok&amp;nbsp; keluar rumah dari kaca ia membuka celana dalamnya sendiri.&lt;br /&gt;
“ini bonus buat kamu do” &lt;br /&gt;
Dengan hanya pemanasan sekitar satu menit, kontolku kembali masuk memek tante ginta. Gerakan tante ginta turun naik, aku dengan leluasa dapat meremas toket dan&amp;nbsp; bokong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tante ginta memang luar biasa. Dia menservice dengan mesra di lantai. Spermaku muncrat lagi di memeknya, tante juga orgasme lagi. Setelah selesai tante ginta menarik memeknya dari kontolku, sperma mengalir kembali keluar dari dalam memek dan menempel sebagian di celanaku. biarlah sisa-sisa sperma ini ku bawa pulang tanpa di cuci.&lt;br /&gt;
.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
cerita memek tante foto tante girang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cantik memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita memek tante foto tante &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita hot memek - download free files &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gambar foto &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita seks nikmatnya memek ibu mertua &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
situs foto foto cewek bugil indonesia cewek bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bugil cewek asli indonesia gratis &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; galeri gambar cewek bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ayu azhari ayu azhari bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; galeri artis bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngentot foto artis bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bugil cewek bandung 1&lt;br /&gt;
bugil cewek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; telanjang bugil ayu azhari &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngentot foto artis bugil ngentot &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bugil ngentot &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; artis lokal bugil telanjang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melayu bogel gadis bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto gambar telanjang dan bugil lindsay lohan terbaru&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gambar the virgin bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-948602513505324891?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/nB831-jp0Q4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/948602513505324891?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/948602513505324891?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/nB831-jp0Q4/cerita-sex-ngentot-memek-wanita.html" title="Memek Tante Ginta, Guru Private sex dan  Matematika - 2" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2010/09/cerita-sex-ngentot-memek-wanita.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE4EQHY9fSp7ImA9Wx5XFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-6632340059383994459</id><published>2010-09-15T19:15:00.000+07:00</published><updated>2010-09-15T19:15:01.865+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-15T19:15:01.865+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>Ngentot Cewek Premium Call 0809</title><content type="html">Namaku yoga, usia 26 tahun- Jumat jam sembilan malam aku baru keluar dari kantor, Uh&amp;nbsp; melelahkan. Dari pagi pekerjaan&amp;nbsp; terus mengejar&amp;nbsp; tak memberiku kesempatan istirahat. Beginilah kalau perusahaan baru pindah kantor. Gedung baru yang di tempati seperti belum menyatu dengan jiwa kami para karyawan. Maka hari jumat&amp;nbsp; itu pekerjaan menjadi terasa berat, makanya aku dan beberapa teman di wajibkan lembur untuk menghindari penumpukan pekerjaan di hari senin nanti. &lt;br /&gt;
Keluar dari kantor tidak membuat badanku segar, penderitaan seakan bertambah ketika kulihat jalanan macet, laju kendaraan tersendat, kaya semut dalam antrian, beginilah Jakarta, bikin stress. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pada pusing&amp;nbsp; kuputusan untuk mampir di sebuah warung rokok gerobak pinggir jalan yang jaraknya 200 meter dari gedung tempat perusahaan ku berada.&amp;nbsp; Sepeda motor ku parkir di dekat gerobak rokok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segelas softdrink mengalir ke tenggorokan, rasanya cukup menyegarkan apalagi jika kuingat air minum di kantor sudah habis sejak sore tadi, gara-gara supplier&amp;nbsp; air minum ngambek karena tagihan bulan kemaren belum di bayar, di tambah lagi jarak antar yang semakin jauh melengkapi alasan si supplier tidak menjadwalkan pengiriman air ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebatang rokok mild ku menemani melepas lelah. Aku pu ngobrol dengan tukang rokok gerobak itu, dari sana ku ketetahui jika gerobak rokonya hanya keluar pada malam hari supaya tidak kena garuk petugas kamtib. ujang si tukang rokok itu ternyata sudah akrab dengan keganasan polisi pamong praja yang memang sok kaya jagoan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami asyik ngobrol kulihat belasan cewek keluar pintu gerbang sebuah gedung. Rata-rata usia mereka masih muda, paling Cuma 20-30, meski kuperkirakan ada juga yang di atas 30-an.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘karyawan mana itu jang’ aku bertanya pada ujang sabil terus memperhatikan gerak langkah mereka, ada sebagin yang berjalan seperti menuju jembatan penyeberangan, ada juga yang berdiri berbaris dipinggir jalan saja sperti orang lagi nunggu bis, dan memang mereka lagi pada nunggu bis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘itu,&amp;nbsp; 0809’&lt;br /&gt;
‘0809 apaan’ aku bertanya&lt;br /&gt;
‘itu premim call’&lt;br /&gt;
‘oo…..’bibirku manyun, kepala ku manggut-manggut mendengar jawaban ujang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
0809…., aha, nomor ini sangat popular di kalangan playbol kabel. Layanan yang banyak di kritik orang karena bisa membuat bengkak jumlah tagihan telepon. sudah banyak cerita yang saya baca tentang layanan ini. Aku sendiri tidak pernah mencoba, dan tidak pernah tertarik untuk menelepon pada layanan premium call 0809. itu adalah layanan pembodohan&amp;nbsp; dan pemerasan terorganisasi berkedok layanan premium. Meskipun anti pati pada layanan premium call 0809,&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesekali mataku singgah pada iklan premium call 0809 di Koran, yang memang iklan mereka&amp;nbsp; gak ada matinya itu.&amp;nbsp; Iklan premium call 0809 yang selalu memajang cewek hot dengan toket yang mengundang selera. Di tambah lagi dengan kata-kata yang bikin orang tergerak untuk menghubungi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘emang kantornya disini jang?’ aku bertanya&lt;br /&gt;
‘iya, tuh di atas’ ujang menunjuk gedung yang cukup tinggi itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika&amp;nbsp; asyik ngobrol dengan si ujang tentang premum call itu, ternyata salah satu dari rombongan cewek premium call 0809 mendatangi kami. Maksudnya gerobak rokok si ujang.&lt;br /&gt;
‘teh botol, jang’&lt;br /&gt;
Ujang dengan sigap mengambil teh botol dari kotak, membuka tutupnya, menambahkan sedotan, lalu memberikan pada &lt;a href="http://sex-id.blogspot.com/"&gt;cewek premium call 0809&lt;/a&gt; tadi.&lt;br /&gt;
‘baru pulang lis’&lt;br /&gt;
‘iya, jang’&lt;br /&gt;
Lis, begitu ujang memanggil, entah apa kelanjutannya, lisa,&amp;nbsp; lisda, atau apa aku gak tahu, aku hanya menebak-nebak.&lt;br /&gt;
‘kok gak pulang bareng yanti’&lt;br /&gt;
‘aku mau kerumah euis . Tapi mikir juga ngeliat jalan macet kayak gini’&lt;br /&gt;
Kulihat ujang dan cewek premium call cukup akrab. mungkin mereka sudah lama kenal, di mungkinkan lagi dengan bahasa&amp;nbsp; logat mereka serupa, logat sunda. Ku dengar beberapa kali bahasa sunda mereka keluar dengan meski beberapa kata yang bercampur bahasa indo betawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘numpang aja sama dia, satu arah’ kata ujang ‘mas&amp;nbsp; boleh ada yang numpang’ ujang berkata padaku.&lt;br /&gt;
Sompret, dalam hatiku kepada ujang. Belum juga minta persetujuan dariku sudah tawarin pada cewek premium call 0809.&lt;br /&gt;
‘emang pulang kemana mba’ tanyaku&lt;br /&gt;
Cewek premium call&amp;nbsp; 0809 menunjuk tempat tujuan.&amp;nbsp; Tidak masalah ketika tujuannya searah denganku. Aku menyanggupi. Apalagi ketika ujang memberikan solusi jitu; meminjamkam helm cetok yang di ambil dari gerobaknya. Helm yang menurut ujang titipan orang kantor. Kami pun berkenalan dengan cewek premium call itu yang ternyata bernamal Lilis, bodynya langsing , kulitnya bersih dengan rambut sebahu, usianya kuperkirakan belum sampe 25 tahun. atau beda-beda tipis denganku Yang berusia 26 tahun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam setengah sepuluh lewat&amp;nbsp; aku meluncur membawa lilies. Jalanan masih agak tersendat, tapi justru itu yang membuat kami leluasa ngobrol. Apalai lilies tak segan mendekatkan kepalanya di atas pundakku, seperti orang yang sudah lama kenal. Yang bikin nikmat adalah toketnya menempel di tubuhku. Biarlah biar kata gak bisa di raba dan dilihat tapi sudah cukup buat si otong bangun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari obrolan itu ku ketahui tujuaannya adalah tempat kost euis, adik kandungnya. Sementara ia sendiri ngekost tidak jauh dari kantor itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan dengan lilies sangat menyenangkan, aku pun jadi cepat akrabnya. Bahkan aku dengan senang hati menganratkan langsung ke rumah kost euis. Padahal dia Cuma numpang sampe halte bus yang biasanya di turun jika naik patas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘’dari pada kamu naek ojeng masuknya.’ aku beralasan ketika keluar dari jalan raya dan memasuki gang menuju tempat kost euis.&lt;br /&gt;
‘jadi enak nih’ kata lilies dalam nada senang plus canda&lt;br /&gt;
‘tanggung dikit lagi’ aku menimpali&lt;br /&gt;
‘emang sih yang nanggung gak enak, harus tuntas’&lt;br /&gt;
‘apaan tuh lies’&lt;br /&gt;
‘tau apaan’ lilies ngakak, aku sempat menoleh ke wajahnya dan memang dia girang banget rupanya. Dasar cewek 0809.&lt;br /&gt;
‘o.. bener-bener.’ Aku berseru&lt;br /&gt;
‘nanggung apa coba?’ &lt;br /&gt;
‘kamu apa coba’&lt;br /&gt;
‘ye.. kamu dulu’&lt;br /&gt;
‘kamu dulu’&lt;br /&gt;
‘ga ah kamu dulu’&lt;br /&gt;
‘ok. Ok….’ Jawabku sambil geli menahan tawa. ‘kalo lagi gituan lies hehehe…’&lt;br /&gt;
‘dasar otak ngeres, yoga.yoga…hik…hik…hik..…’lilies pun kembali tertawa.&lt;br /&gt;
‘sekarang kamu apa coba’&lt;br /&gt;
‘emmmm……..samma….hehehe….’&lt;br /&gt;
Aku terpingkal-pingkal mendengar jawabannya. Lilies pun demikian. &lt;br /&gt;
Bahkan aku sampai tidak memperhatikan ada polisi tidur, hingga motorku sempat oleng.&lt;br /&gt;
‘aduh-aduh…. perutku jadi sakit. becanda mulu sih ah’ celoteh lilies tanpa bisa meredam tawa.&lt;br /&gt;
Sampai di depan rumah kost euis, geliran lilies yang memintaku tidak langsung pulang. Bahkan di masih bingung mau ngienap atau nggak di rumah kost euis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamar kost euis berada di lantai 2.&amp;nbsp; Ketika pintu di ketuk yang munculnya seorang wanita berparas cantik mirip dengna lilies. Tapi posturnya lebih pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami pun masuk ke dalam kamar kost. Dua tempat tidur kecil berada di kiri dan kanan. Yang kiri ada sebujur wanita sedang tidur-tiduran. Namuanya Linda. Dia teman kost euis. aku ngobrol&amp;nbsp; dengan Linda di kamar kost sementara. lilies dan eus sedang ngobrol internal antar mereka di depan kamar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lilies masuk kamar, sementara euis ngeloyor pergi. ‘euis mau kemana, tunggu?’&lt;br /&gt;
Tidak ada jawabn dari euis, mungkin gak kedengaran. Linda beranjak dari tempat tidur mengejar euis, tingallah kami berdua di kamar kost. Aku duduk di kursi di depan meja rias, sementara lilies di tempat tidur.&lt;br /&gt;
‘emang mau kemana si euis?’ aku bertanya pada lilies&lt;br /&gt;
‘beli air’&lt;br /&gt;
‘buat aku’&lt;br /&gt;
‘ih pede amat sih’ tukas lilies ngeledek.&lt;br /&gt;
‘hehehe….’ Aku tertawa senang ‘ya kali aja namanya juga tamu. Kalo bener kan bisa milih. Soalnya kalo jadi tamu&amp;nbsp; Minuman standarnya kan teh manis atau teh botol. Jarang ngasih nyediain sprite , fanta atau coca cola gitu’&lt;br /&gt;
‘dasar tamu songong’&lt;br /&gt;
‘biarin’&lt;br /&gt;
Dan ternyata bener, ketika euis datang, dia membawa dua botol teh botol untuk ku dan lilies. Sementara Linda entah ngelabab kemana.&lt;br /&gt;
‘tuh benerkan’ aku berseru&lt;br /&gt;
‘euis, dia maunya sprite’&lt;br /&gt;
‘udah biarin aja aja ga pa pa’ kataku&lt;br /&gt;
‘tunggu sebentar’&lt;br /&gt;
Euis kembali keluar.untuk nukar minuman.&lt;br /&gt;
‘bukannya biarn aja, dah nanggung’&lt;br /&gt;
Hok hok..hok..hek……brr.. lilies tersedak. Aduh..aduh….aduh dia tartawa…..&lt;br /&gt;
‘syukurin’ aku meledek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lilies menaruh botol di meja. Dan yang membuat aku kaget di duduk di panggkuanku. Kejadian tidak terduga ini ternyata terbuat dari kata baru saja ku katakan ‘nanggung’. Jadi dia spontan ingat dengan kelakar lucu tadi di motor soal serba tanggung yang selalu di plesetkan di urusan ngentot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Bibirnya melumat bibirku. Aku melayani. Tannganku bergerak meraba toket berbungkus kaos itu. Ah…emhh..emh…sedot,,sedot…cup cup. Sedang hot kami berciuman datang euis membawa sprite untukku.&lt;br /&gt;
Aksi berhenti, wajahku merah menahan malu. Euis&amp;nbsp; senyum-senyum melihat adengan tadi. Sementara lilies tak menampakan apa-apa selain mata birahi yang masih terlihat.&lt;br /&gt;
Lilies menydodorkan sprite kepadaku yang langsung ku teguk ‘‘ayo lanjutin, aku nonton boleh kan’&lt;br /&gt;
‘linda?’ Tanya lilies&lt;br /&gt;
Lagi nonton tv di bawah, biar kata juga gapapa’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lilies meminta euis memperhatikan keadaan, terutama pintu. Lalu diapun membuka celana jeansnya yang di kenakan, kemudian kaos, bh dan yang terakhir celana dalam. Oh lilies bugil gadis premium call 0809 yang baru beberpa jam ku kenal itu bugil di depanku. Tidak hanya itu, di langsung berbaring telentang di kasur menanti untuk di entot.&lt;br /&gt;
Ow lilies sang gadis premium call ngangkang memperlihatkan memek yang di tumbuhi jembut yang tidak begitu tebel.&amp;nbsp; Keatas toketnya cukup besar, ku taksir ukuran bhnya 34.&lt;br /&gt;
‘gak mau?’&lt;br /&gt;
‘aman kok’ kata euis ketika aku meliriknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kikuk, heran, bercampur penasaran, plus rasa takut jika di ketahui seluruh peghuni kost sini. Belum lagi euis disitu, bearti aku ngentot di liatin orang. Aku gak pernah ngetot di liatin tonton orang.&lt;br /&gt;
Kesempatan tidak datang dua kali, yes, ku hampiri lilies, tangannku mengelu pah mulus, menjalar keatas, singgah sebentar di memek. Aksi lanjutan memekmya ku jilati, sementara tanganku meremas toketnya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
‘buka baju’ lilies meminta ku membuka kaos&lt;br /&gt;
Aku menuruti permintan lilies, ku tanggalkan semua pakaian hingga akupun bugil di atas kasur. Aku mencumbu lilies. Mengerangi seluruh tubuh, mencium, melumat sambil menindih.&lt;br /&gt;
Sebenarnya aku ingin berlama-lama melakukan pemanasan ini. Tapi berhubung kondisi medan tempur yang belum ku kenal segera ku lakukan aksi utaman. Ngentot memek, Ngentot memek cewek premium call 0809..&lt;br /&gt;
Bless…bles…ah..ah…ahh.,,,,,&lt;br /&gt;
Ogh…egh…aw…aw….&lt;br /&gt;
Suara rintihan pelan dari mulutku dan mulutnya. Pelan saja aku begerak maju mundur. Menikmati setiap gerakan kekiri dan kanan lilies, cewek premium call 0809.&lt;br /&gt;
Lilies memang berpengalaman soal ngesex., dia membalkikan badanku, hingga aku kini di bawah yang di pompa sama memeknya.&lt;br /&gt;
Karena posisi di bawah ini, aku jadi bisa melihat sosok euis di dekat pintu. Oh, ternyata dia sedang meremas toketnya sendiri sambil matanya tak berkedip&amp;nbsp; nonton&amp;nbsp; lagnsung bokep dengan judul yoga ngentot cewek premium call 0809... &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika bergumul aku sempat berbisik kepada lilies untuk mengajak euis masuk dalam permainan. Tapi ketika lilies menyampaikan maksudnya, euis menjawab tidak bisa karena sedang haid. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu aku berhasil menyelesaikan permainan sampai orgasme, begitu juga lilies, cewek premium call 0809 bisa orgasme, gak ada yang serba nannggung, harus tuntas, gak boleh di gantung, kalo horny harus di salurin.&lt;br /&gt;
Lilies memutuskan untuk menginapo di kost euis, sementara aku pulang kerumah dengan badan segar setelah membuang sperma di memek cewek premium call 0809. tak perlu menelepon ke premium call 0809, tapi akses langsung ke memeknya,&lt;a href="http://sex-id.blogspot.com/"&gt; memek cewek&lt;/a&gt; operator premium call 0809.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersambung. ke cerita seks memek cewek premium call bag 2&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-6632340059383994459?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/JMZ_4z24ZGE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/6632340059383994459?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/6632340059383994459?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/JMZ_4z24ZGE/ngentot-cewek-premium-call-0809.html" title="Ngentot Cewek Premium Call 0809" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2010/09/ngentot-cewek-premium-call-0809.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UHQ3w9eip7ImA9Wx5XEkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-3409151712132638917</id><published>2010-09-11T20:20:00.001+07:00</published><updated>2010-09-11T20:20:32.262+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-11T20:20:32.262+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tante  girang" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>Memek Tante Ginta, Guru Private sex dan  Matematika</title><content type="html">&lt;a href="http://sex-id.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;Memek Tante girang&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; -tante ginta adalah guru privatku untuk mata pelajaran matematika, dan&amp;nbsp; &lt;a href="http://sex-id.blogspot.com/"&gt;guru privat&amp;nbsp; sex&lt;/a&gt;., umurnya sekitar 30 tahun. Posturnya tidak terlalu tinggi,&amp;nbsp; terbilang subur, namun tetap saja guru privatku menarik mata, karena bodinya masih berbentuk, ada lekukan-lekukan yang memukau mata. &lt;br /&gt;
Tante ginta sendiri tidak lulus sma karena keburu hamil ketika masih di kelas 3 sma, makanya dia menjadi guru private untuk menunjang kebutuhan hidup dari suaminya yang berpenghasilan paspasan. Dengan ijazah smp ia sadar tidak laku mencari pekerjaan , beruntunglah dia pandai matematika. Ketika sekolah, Sehingga ia lebih memilih jadi guru privat anak sd atau smp, termasuk aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku dodo masih duduk di kelas dua smp. Boleh di kata, aku bego soal matematika. Makanya aku di sediakan les private sama nyokap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua bulan aku cukup bersemangat di ajarin tante ginta. Tiap malan selasa dan malam jumat tante ginta datang ke rumah. Waktunya jam 7 malam sampe jam 9 malam. Tempatnya: di ruang khusus...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Toketnya yang besar sering membuatku mataku sering mencuri pandang. Betisnya yang indah jika pakai rok sangat menawan di lihat.&amp;nbsp; Obrolannya yang&amp;nbsp; menyenangkan mengakrabkanku dengannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari bokap nyokap dan adik pergi ke belanja, aku malas ngikut,. jadilah. Aku nunggu rumah dan belajar dari guru privtaku tante ginta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru setengah jam&amp;nbsp; bu ginta mengajariku, aku minta udahan. “udah aja yah tante, aku capek”&lt;br /&gt;
“loh kok, baru aja mulai kok capek”&lt;br /&gt;
“mumpung ga ada mama, boleh kan aku males-malesan”&lt;br /&gt;
“jangan gitu dong do, ntar kalo gak bisa juga matematika, tante merasa bersalah sama mama kamu”&lt;br /&gt;
“sekali aja tan”&lt;br /&gt;
Tante ginta bingung. Sejenak dia merenung. “ayo belajar lagi do, tante gak enak, ntar ketahuan, udah di bayar nggak mau ngajarin kamu”&lt;br /&gt;
“percuma deh tan, aku lagi males” aku bertahan “gini aja deh, tante tetap aja disini sampai jam sembilan, supaya kalau papa&amp;nbsp; sama mama pulang dikiranya aku tetap belajar”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tante ginta menyerah. Dia menuruti permintaanku. Akhirnya kami ngobrol aja kesana kemari. di sofa sambil nonton tv.&amp;nbsp; nungguin jam sembilan, saat jadwal les habis.&lt;br /&gt;
“gimana rasanya kamu mau punya adik lagi?”tanya tante ginta, yang rupanya dia udah tahu kalau nyokapku lagi hamil tiga bulan&lt;br /&gt;
“kalau adik masih kecil sih enak, lucu. Tapi kalau udah gede malah berantem terus kaya sekarang” kataku, aku punya adik kelas 6 sd.&lt;br /&gt;
”tante sendiri masih pengen punya anak lagi?”&lt;br /&gt;
“nggak ah, dua aja udah cukup”&lt;br /&gt;
“kalau pengen gak punya anak lagi, maen nya harus pakai kondom ya tan?” aku bertanya polos.&lt;br /&gt;
tante ginta tertawa&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;“kenapa tante ketawa?”&lt;br /&gt;
“kamu lucu banget….” tante ginta terus ketawa &lt;br /&gt;
“bener kan tante?”&lt;br /&gt;
“ya gak mesti pake kondom, kan ada alat kontrasepsi yang lain” tante ginta menjelaskan tentang macam-macan alat kontrasepsi.&lt;br /&gt;
Aku manggut-manggut paham.&lt;br /&gt;
“udah ah. Ngomongin yang lain aja”&lt;br /&gt;
Aku terus mencecar pertanyaan tentang seks/sex kepada tante ginta. Dengan agak berat tante ginta menjawab pertanyaanku..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari demi hari terus berlalu, aku semakin dekat dengan tante ginta, tak terasa, sudah lima bulan&amp;nbsp; lebih aku mendapat pelajaran private dari guru tante ginta. Hingga pada suatu hari jadwal private&amp;nbsp; yang seharunya pada jumat malam dirubah pada sabtu sore.; perubahan itu atas permintaan nyokap untuk menghindari aku kelayaban di malam minggu, pasalnya bonyok dan adikku pergi ke rumah nenek, aku di suruh jaga rumah dengan pengawasan bu guru ginta sambil belajar. Dan pada saatnya aku mogok belajar.&lt;br /&gt;
“paling empat kali lagi tante ngasih les kamu, kamu&amp;nbsp; mogok lagi”&lt;br /&gt;
“tapi kan sekarang udah banyak ngerti, makasih ya tante, aku sekarang udah banyak ngerti matematika” secara repleks aku rebahkan tubuhku kepangkuan&amp;nbsp; tante ginta, damai tenang dan hangat.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Cukup lama aku ngorbrol di pangkuan tante ginta, sampai akhirnya&amp;nbsp; tangan tante ginta mengelus kontolku. Aku kaget menatap matanya. &lt;br /&gt;
“tante sering lihat burung kamu bangun setiap dekat tante” penyataan itu meluncur dalam balutan senyum. Jari-jari lembut tante ginta melepas resleting celanaku.&lt;br /&gt;
“tante…..”&lt;br /&gt;
“kenapa sayang…”&lt;br /&gt;
“aku malu… tan”&lt;br /&gt;
Tante ginta mengankat kepalaku. Dia bangkit dari sopa dan melepas kaos yang ia kenakan.&amp;nbsp; menyusul&amp;nbsp; kemudian celana panjang dan bh. Sensaional, surprise, dan entah kata apa lagi yang tepat untuk menggambarkan kejadian tak terduga itu.&lt;br /&gt;
Mataku melongo tak berkedip. Dan ketika tante ginta meraih tangan meminta&amp;nbsp; kamar, aku mengajak ke kamarku.&lt;br /&gt;
Di kamar, pakaianku di lucutinya satu persatu hingga aku polos.&lt;br /&gt;
“mau tante ajarin sayang” bisik tante di telingaku&lt;br /&gt;
Aku mengganguk. Wajah tante ginta mengendus leher dan dan wajahku, tangan kanannya mengelus kontolku mesra. Tangan kirinya mimbimbingku untuk meremas toketnya. Ogghhhhh……………….ogg…….&lt;br /&gt;
Aku di dudukan di atas kasur. Sementara tante girang jongkok di lantai&amp;nbsp; tengah mengisap kontolku.&lt;br /&gt;
“tante…..ogh….aghhh….oghh…. tante…” kontolku berkedut di jilatin tante ginta.&lt;br /&gt;
“nikatin do, nikmatin sayang….”&lt;br /&gt;
“ogghhhh…………….aghhhh………agh…………”&lt;br /&gt;
“tante….tante…..oghhh…….oghhhh……….”crot…crot.crot….berulang ulang sperma ku muncrat di mulut tante ginta. Tante ginta menyadarai mulutnya di banjiri lahar panas. Ia tak lagi mengisapku, mulutnya hanya mangap dan menempelkan kontolku di bibirnya . Apa lacur, semprotanku terlampau keras hingga tak semuanya masuk ke mulut dan sebagian bertebaran di wajahnya. inilah pertama kali aku muncratkan sperma dengan bantuan orang lain, tepatnya tante ginta, wanita setengah baya.&lt;br /&gt;
Ogh…..aghhhhh…..oghh…….aku senang sekali menuntaskan libido. &lt;br /&gt;
“enak do?” tante ginta tersenyum&lt;br /&gt;
“iya tante..tapi..tapi itu banyak di wajah tante….”aku menunjuk sperma yang sedikit menempel di pipi ,hidung dan jidatnya.&lt;br /&gt;
.tante ginta menyeka wajahnya dengan tisu . “sekarang. gantian yah don”&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;posisi berganti.&amp;nbsp; Tante ginta merebahkan badannya di pinggir kasur dan aku jongkok di lantai. Tante ginta memintaku untuk membuka celana dalamnya, menjilati memeknya. okh…baru kali ini aku melihat memek wanita dewasa. indahnya memek dahsyat……&lt;br /&gt;
Oghhh….oghhhh………….agh……………..oghhh……….tante ginta merintih, suaranya merdu, kepalanya berdlinjang ke kiri dan kanan.&amp;nbsp; tanganya bergerak sesuka hati, kadang memegang kepalaku, dan kadang meremas toketnya sendiri, aku sendiri, lagi asik membuka lebar lebar memeknya dengan kedua tanganku dan menjilati dengan ganas&lt;br /&gt;
Oghh……………agh…………..ogh………….agh………………..&lt;br /&gt;
Tante ginta bangkit. Ia menarik ku ke atas kasur. Aku ciuminya bertubi-tubi.dan ketika ia sadar kontolku sudah berdiri tegak. Tante ginta memasukan kontolku ke memeknya. aghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………………………..lolongan panjang tante ginta berbarengan dengan masuknya seluruh kontolku bles…..blessss……tante ginta begerak turun naik. Agghhhhhhhhh …………kini aku sadar, nikmatnya ngentot memek pertama kali,,,memek seorang wanita setengah baya, guru privatku. tante gintam bukan tante girang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oghhhh…..aghhhhhhh……&lt;br /&gt;
Ayo don……ayo……&lt;br /&gt;
Oghhhhhhhhhhhh………ogh….;;;;;;;;;;;;;&lt;br /&gt;
“tante….tante………..aku mau……………lagi……….mau…………” kembali kontolku merasa akan nyembur……………..&lt;br /&gt;
“ayo ngga papa……oghh…….oghhh…………..”&lt;br /&gt;
“tante…..eeeee” crot….crot…..crot………………..&lt;br /&gt;
“aghhhh………egggggghhhhhhhhhhhhhh…………….egggghhhhhhhhhhhhh………….awwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwwww” &lt;br /&gt;
Sekelurnya spermaku, tante ginta juga klimak. Tante ginta ternyata bisa membarengi puncak permainan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku senang, tante ginta tersenyum. Pengalaman berhubungan intim pertama yang sangat berkesan dengan istri orang lain. guru privat matematika, guru privat sex..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersambung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
****************&lt;br /&gt;
cerita memek tante foto tante girang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memek cantik memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memek tante &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita memek tante foto tante &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita hot memek - download free files &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gambar foto memek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; cerita seks nikmatnya memek ibu mertua &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
situs foto foto cewek bugil indonesia cewek bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek asli indonesia gratis &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; galeri gambar cewek bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ayu azhari ayu azhari bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; galeri artis bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngentot foto artis bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek bandung 1&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; telanjang bugil ayu azhari &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ngentot foto artis bugil ngentot &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bugil ngentot &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; artis lokal bugil telanjang &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melayu bogel gadis bugil &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto gambar telanjang dan bugil lindsay lohan terbaru&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; gambar the virgin bugil &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; foto bugil cewek..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-3409151712132638917?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/UyzVommiD8c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3409151712132638917?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/3409151712132638917?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/UyzVommiD8c/memek-tante-ginta-guru-private-sex-dan.html" title="Memek Tante Ginta, Guru Private sex dan  Matematika" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2010/09/memek-tante-ginta-guru-private-sex-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUEER3g4eCp7ImA9Wx5QFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251370344814782334.post-1236702619573151505</id><published>2010-09-05T15:00:00.000+07:00</published><updated>2010-09-05T15:00:06.630+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-05T15:00:06.630+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cerita sex" /><title>Ngintip Ibu Kost Ngentot Jadi Kepengen Memeknya</title><content type="html">Setelah 3 tahun nganggur akibat PHK akhirnya aku mendapatkan pekerjaan kembali dan aku diterima disebuah perusahaan swasta yang ditempatkan di Yogya yang berjarak sekitar 250 km dari kota asalku. Untuk sementara karena gaji yang masih kecil dan aku tidak mendapatkan fasilitas perumahan dari kantor, aku harus meninggalkan istri dan anaku yang masih berumur 5 tahun dirumah mertuaku dan aku harus kos. Sebulan sekali aku pulang, biasanya hari Jumat malam setiap awal bulan setelah terima gaji. Akupun harus mencari kos yang bayarnya miring. Setelah mencari2 akhirnya aku mendapatkan sebuah keluarga yang memiliki rumah khas Yogya yang cukup besar dengan 4 buah kamar dan ditinggali hanya sepasang suami istri. Anak tunggal mereka kuliah di Jakarta. Mereka menyewakan kamarnya dengan harga yang cukup murah. Karena mereka menerima aku hanya untuk menemani mereka yang hanya berdua dengan pertimbangan aku sudah berkeluarga sehingga disini hanya aku yang kos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Subroto adalah nama pemilik kosku yang akrab dipanggil dengan pak Broto adalah seorang pegawai negri sipil berusia 52 tahun. Sebenarnya dia lebih mirip serang anggota TNI karena bertubuh tinggi (182 cm) kekar dan berkumis tebal. Diusianya sekarang badannya masih kekar. Tampangnya sangar tapi orangnya ramah dan baik bahkan suka bercanda. Istrinya yang akrab di panggil bu Broto adalah seoarang ibu rumah tangga biasa yang sudah berusia 46 tahun. Orangnya lembut. Wajahnya biasa2 saja tapi karena kulitnya yang kuning bersih dia masih kelihatan menarik walau bentuk tubuhnya sudah tidak ramping lagi tapi perutnya tidak terlihat buncit layaknya ibu2 seusia dia mungkin karena tingginya yang 162 cm dan dia rajin minum jamu jawa. Kelihatannya mereka adalah pasangan yang serasi dan merekapun sangat baik terhadapku membuat aku betah kos dirumah mereka sehingga tidak terasa sekarang sudah bulan ke enam aku kos disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu hari Sabtu sekitar pukul 01.40 aku terbangun karena berasa mau pipis dan akupun melangkah ke kamar mandi yang letaknya agak dibelakang. Hampir semua lampu dirumah ini dipadamkan kecuali diruang makan yang menyala itupun hanya lampu yang 5 watt. Saat aku menoleh bagan depan rumah, mataku tertuju pada sinar lampu yang agak terang yang keluar dari celah pintu kamar bapak dan ibu Broto yang sedikit terbuka. Timbul isengku ingin melihat apa yang terjadi didalam kamar itu. Akupun menunda kekamar mandi dan pelan2 mendekati celah pintu yang sedikit terbuka itu. Di dalam kamar ternyata aku melihat pak Broto dan istrinya sama2 telanjang. Rupanya mereka akan melakukan hubungan suami istri. Entah aku ketinggalan episode awalnya atau tidak, aku ngga tahu, aku ngga melihat mereka melakukan warming up. Yang aku lihat adalah saat posisi bu Broto sudah telentang memperlihatkan tubuhnya yang masih mulus walau tidak langsing lagi dengan gundukan memek yang tertutup bulu jembut yang lebat sedang suaminya sudah berlutut diantara kedua pahanya dengan memegangi kemaluannya yang berukuran sesuai tubuhnya yang tinggi besar untuk diarahkan ke memek bu Broto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kagum dengan ukuran kemaluan pak Broto, akupun berdebar menunggu permainan mereka yang aku yakin seru. Aku membayangkan bu Broto bakalan menjerit2 kenikmatan kayak di film2 bokep saat senjata pak Broto beraksi dan diam2 burungkupun mulai naik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Broto mulai menempelkan kemaluannya ke memek istrinya "Pelan2 aja ya pak, biar lama..." terdengar pelan suara bu broto saat saat kemaluan pak Broto menempel di memeknya dan dibalas dengan anggukan suaminya dan pak Brotopun terus menekan masuk kemaluannya dan.......aaaahhhhh......terdengar suara mereka bersamaan.&lt;br /&gt;
Sesaat pak Broto menahan kemaluannya didalam memek istrinya. Sesaat kemudian dia mulai pelan2 memaju mundurkan pantatnya yang disambu dengan desisan istrinya....sssh....sshh....mungkin belum lebih 15 x pak Broto secara pelan2 mengayunkan pantatnya dan tiba2 dia mempercepat dan semakin cepat gerakannya dan diapun mengerang panjang .....hhhgghh....aku nda kuat deee...aahh.... sambil menekankan pantatnya rapat2 kememek istrinya sebentar kemudian tubuh pak Broto ambruk diatas tubuh istrinya. Aku melihat bu Broto agak kesal dan mencubit pantat pak Broto tapi dia ngga protes apa2, mungkin adat yang membuat seperti ini. Akupun kecewa karena pertunjukannya hanya sebentar dan akupun segera melangkah pelan menuju kamar mandi untuk kencing dan kembali tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jam 8 pagi aku baru bangun karena hari Sabtu aku libur kerja. Akupun langsung ke wastafel untuk gosok gigi. Pak Broto sudah berangkat kerja di kamar mandi ada bu Broto yang sedang mandi. Ketika aku selesai gosok tiba2 dari kamar mandi terdengar suara bu Broto " Aduuhhh...." Akupun segera mendekati pintu kamar mandi dan dari luar aku bertanya ke bu Broto " Kenapa bu ? "&lt;br /&gt;
" Oh nda apa2 de Budi, cuma daster sama pakaian dalam ibu yang jatuh dan kesiram air...." jawab bu Broto dari dalam kamar mandi&lt;br /&gt;
" Ooh, saya kira ada apa....." akupun segera menjauh dari pintu untuk melanjutkan nyeduh kopi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesaat kemudian bu Broto keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk yang agak kekecilan ditubuhnya dan tangannya memegangi ikatannya takut lepas. Biasanya dia tidak pernah melakukan ini, keluar kamar mandi selalu sudah memakai daster, makanya dia setengah berlari apalagi saat melihat aku sedang nyeduh kopi didapur dia semakin gugup dan sambil menunduk dia tersipu " maaf..maaf de Budi".&lt;br /&gt;
Saking gugupnya dia tidak melihat ada bangku kecil didepanya dan ....brukk!!...aduh!!....dan bu Brotopun sempoyongan hampir terjatuh dan tentu saja dia melepaskan tangannya dari handuknya untuk menggapai pegangan agar tidak jatuh, tentu saja handuknya terlepas dari tubuhnya. Secara refleks aku yang ada didepan bu Broto menangkap tubuh telanjang bu Broto dan akupun memeluk tubuh sintal bu Broto. Tinggi kami hampir sama dan wajahnya pas didepan wajahku. Sesaat aku dapat melihat dengan jelas wajah cemas bu Broto yang sudah mulai ada kerutan di sekitar matanya tapi masih menarik dan bu Brotopun mulai sadar kalau dia telanjang dan hendak melepaskan diri, tapi aku malah mengetatkan pelukanku dan aku memberanikan diri mengecup bibirnya&lt;br /&gt;
" De Budi ! apa yang kamu lakukan, kamu jangan kurang ajar.." dia marah dan memberontak hendak melepaskan pelukanku tapi aku semakin ketat memeluknya&lt;br /&gt;
" Bu, saya tahu yang terjadi semalam antara ibu dengan bapak...." kataku&lt;br /&gt;
" Maksudmu ?" bu Broto berhenti berontak dan memandangku penuh selidik&lt;br /&gt;
" Ibu semalam kecewa sama bapak, karena bapak selesai duluan tapi ibu entah malu atau tidak berani untuk protes sehingga ibu hanya memendam kekecewaan. Apa setiap kali selalu begitu bu ? " tanyaku pelan. Entah dia malu atau memang memendam lama kekecewaan dan sesuai yang aku katakan tiba2 dia menangis dan malah memeluku dan aku hanya membiarkan dia mengis di bahuku, setelah bisa menguasai diri melepaskan pelukannya dan akupun tidak menahannya lagi sehingga dia dapat memungut handuknya yang terlepas dan menutupkannya kembali ke tubuhnya, dia bilang :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" Aku memang nda pernah merasakan kenikmatan sex. Hanya bapak yang selalu merasa puas karena dia selalu selesai duluan, bagaimana kalau istri de Budi ? " Aku ngga menjawab tapi kembali aku menarik tubuh bu Broto dan mencium bibirnya kini dia ngga melawan tapi juga tidak membalas ciumanku tapi saat mulai mencium dan menjilat bagian bawah telinganya dia agak mendesis dan saat aku kembali mencium bibirnya dia mulai membalas tapi agak kaku. Sambil berciuman pelan2 aku membimbing dia kekamarku dan dia tersadar saat aku rebahkan tubuh sintalnya ke kasurku dan melepaskan ciumanku " De Budi mau ngapain ? "&lt;br /&gt;
Dengan tidak melepaskan pelukanku aku berbisik didekat telinga bu Broto " Saya mau membuat ibu merasakan kenikmatan sex "&lt;br /&gt;
" Tapi ibu sudah tua de Budi.." protesnya&lt;br /&gt;
" Tapi ibu belum terlambat untuk menikmatinya..." kataku sambil tanganku membuka ikatan handuknya sehingga nampaklah tubuh telanjang bu Broto.&lt;br /&gt;
Akupun segera membuka pakaianku. Payudarnya walau agak kendor masih menarik bahkan terasa lembut saat aku merabanya dan pelan2 lidahku mulai menjilati payudara bu Broto, mata bu Broto terpejam menikmatinya dan kedua tangannya ditelentangkan memperlihatkan ketiaknya yang mulus. Bergantian aku menjilati payudaranya sambil tanganku mengelus2 gundukan jembutnya. Kedua paha panjang dan gempalnya mulai dibuka dan jarikupun mulai merayap ke dalam memeknya yang mulai becek dan pahanya semakin lebar dibuka sambil mulutnya mendesis....ssshh....ssshh...hhhhh....mengikuti gerakan jariku.&lt;br /&gt;
Ciumanku mulai merayap turun ke perutnya ....aaahhh..... dia menahan geli bercampur nikmat saat lidahku aku mainkan dipusarnya dan kedua tangan memegangi kepalaku dan lidahku terus merayap ke gundukan jembutnya, tiba2 dia bangun dan menahan kepalaku " Mau diapain ? " tanyanya. Aku kembali hanya tersenyum sambil mencium pipinya dan berbisik " Aku mau buat ibu terbang" dan dengan lembut aku baringkan kembali bu Broto dan kembali aku mainkan lidahku digundukan jembutnya tapi aku tidak langsung menjilati klitnya aku hanya menjilati selangkangannya. Memeknya semakin becek dan akupun mulai menjilati klitnya.....aaahhh.....tertahan suara bu Broto sambil kedua tangannya memegangi kepalaku pantatnya terus goyang mengikuti gerakan lidahku di klitnya, pantatnya diangkat tinggi2 dan kedua tangannya kuat2 memegangi kepalaku bahkan kadang menjambak rambutku apalagi saat lidahku dengan cepat berputar diklitnya dan dia menekan kuat2 kepalaku ke memeknya, aku tahu dia mau orgasme, makanya aku terus putar dengan cepat lidahku di klitnya, tiba2 tubuhnya bergetar dan sesaat kemudian aku rasakan ada cairan hangat membasahi daguku dan tubuh bu Brotopun diam, perlahan aku angkat kepalaku dan aku lihat nafas bu Broto terengah2 dadanya naik turun dengan cepat tapi mulutnya tersenyum padaku. " Baru sekali ini aku merasakan enaknya orgasme " Katanya sambil memelukku " Ayo sekarang gantian de Budi "&lt;br /&gt;
" Ibu pernah ngisep burung bapak ?" tanyaku&lt;br /&gt;
" Ngga pernah karena kalau diisep bapak cepat sekali keluarnya....."&lt;br /&gt;
" Bagaimana kalau coba punya saya, tapi jangan dihina ya, ounya saya ngga sebesar punya bapak...." candaku dan bu Broto hanya tertawa kecil sambil mendorong tubuhku dan diapun mulai menyedot2 burung, masih kaku caranya tapi lama2 dia mulai memakai lidahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akupun ngga mau diam, aku tarik paahanya agar memeknya berada diatas mulut dan akupun bisa menjilati memeknya yang sudah becek jadi semakin becek bahkan sampai mengalir ke hidungku akupun semakin bernafsu menjilati memeknya dan demikian juga bu Brotopun. Ketika dia semakin kencang mengoyangkan pantatnya dimulutku dan akupun semakin bernafsu aku minta dia segera memasukan burungku dengan posisi dia diatas dan karena kami sudah sangat bernafsu hanya 5 menit kemudian kami bersamaan keluar dan bu Broto orgasme dengan sangat hebat dengan posisi dia diatas sampai dia berteriak kuat2.&lt;br /&gt;
Acara seperti ini menjadi rutin setiap Sabtu pagi, yakni disaat aku libur dan pak Broto pergi bekerja. &lt;br /&gt;
----------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perselingkuhanku dengan bu Broto sudah berlangsung mulus selama 3 bulan. Kami sepakat, untuk menjaga keamanan nasional, kami melakukannya hanya setiap Sabtu pagi disaat aku ngga pulang kampung. Kini bu Broto melakukannya sudah tidak sungkan2 lagi. Lebih gilannya lagi setiap Jumat malam Sabtu aku diminta mengintip dia bersetubuh dengan suaminya. Untuk memperlihatkan bahwa dia ngga pernah orgasme dengan suaminya yang hanya sebentar dan langsung tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti halnya yang kami lakukan Sabtu pagi ini. Kami melakukan dengan penuh nafsu. Permainan bu Broto kini semakin berani, dia sudah mulai mahir memainkan lidahnya dikemaluanku. Diapun sudah ngga malu2 lagi mendesah keenakan dan mengerang disaat orgasme. Untung rumah sepi jadi suara kami tidak terdengar oleh siapa2. Hampir dua jam kami melakukannya pagi ini. Aku sampai dua kali ejakulasi sedangkan bu Broto lebih dari 6 x.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai kami melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan hanya bertelanjang bulat. Baru saja kami menutup kamar mandi, tiba2 terdengar agak keras orang mengetuk pintu. Aku terkejut, "Wah, jangan2 pak Broto pulang, tapi kok suara Vespanya ngga kedengaran..." Aku langsung memakai celana pendek dan kaosku dan segera keluar kamar mandi, sedang bu Broto tetap didalam pura2 sedang BAB. Baru selangkah dari pintu kamar mandi kembali terdengar TOK, TOK, TOK !!&lt;br /&gt;
Kini suaranya lebih keras dari yang pertama, " Ya.. sebentar " teriaku sambil berlari kearah pintu depan dan saat aku melewati kamar bu Broto yang berantakan aku sempatkan menutup pintunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu depan segera aku buka (ternyata kami lupa menguncinya) dan didepan pintu ternyata berdiri seorang wanita berwajah manis berkulit bersih (sedikit lebih gelap dari warna kulit bu Broto) mengenakan celana jeans ketat yang membungkus pantat dan paha yang masih indah dengan paduan baju longggar berwarna krem dengan assesori ikat pinggang besar. Dari wajahnya, usianya sekitar diatas 40 an. Disampingnya ada sebuah koper pakaian. Kayaknya baru datang dari luar kota.&lt;br /&gt;
" Mana mbak Tati (nama bu Broto) ?! " tanyanya agak keras, seperti orang kesal.&lt;br /&gt;
" Maksud mbak bu Broto ? beliau sedang dikamar mandi, mbak siapa ya ? " tanyaku masih mencoba bersopan santun.&lt;br /&gt;
" Saya Resti adiknya mas Broto yang dari Surabaya " jawabnya ketus.&lt;br /&gt;
" Oh, eh silakan masuk mbak Resti.." aku agak gugup dan mempersilakannya masuk.&lt;br /&gt;
" Siapa de Budi ? " tiba2 bu Broto berteriak dari belakang setelah keluar dari kamar mandi dan melangkah keluar " Waah ada tamu jauh to, loh Res, kamu mau datang kok ngga kasih kabar dulu biar kami jemput, de Budi ini Resti adik kandung satu2nya pak Broto, Resti ini Budi yang kos disini...eh de Budi tolong bawain kopornya mbak Resti ke kamar tengah. " mereka pun berpelukan saling menyapa dan akupun menenteng kopor mbak Resti ke kamar tengah selanjutnya aku kekamar mandi dan pura2 tiduran membiarkan mereka saling kangen2an akhirnya akupun tertidur beneran bangun2 ketika ada yang mengetuk pintu kamarku " de Budi, de Budi..." suara pak Broto memanggilku dan melihat jam dinding baru jam 11.17 padahal biasanya pak Broto pulang sekitar jam 1, aku kaget dan bingung " Wah ada apa lagi nih, jangan2 pak Broto tahu hubunganku dengan istrinya dan dia panggil adiknya untuk menyelesaikannya...wah gawat nih " pikirku bingung tapi tanganku tetap membuka pintu kamarku " Wah maaf nih de Budi bapak ngganggu istirahatnya, anu...bapak mau ke Cirebon sama atasan bapak sampai hari Rabu dan ditunggu di Terminal, tolong anterin bapak ya de Budi, nanti Vespanya de Budi bawa pulang. " kata pak Broto dan membuat hatiku lega,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" Bisa, bisa pak sebentar saya cuci muka dan ganti baju dulu..." jawabku spontan.&lt;br /&gt;
" Ya de Budi makan dulu saja baru kita berangkat..."&lt;br /&gt;
Setelah mengantar pak Broto aku ngga langsung pulang, tapi nonton bioskop dulu, pulang2 jam 5.30 sore dan langsung mandi, aku sekilas melihat bu Broto dan mbak Resti lagi ngobrol sambil nonon TV.&lt;br /&gt;
" De Budi sini dulu de " bu Broto memanggilku dari dalam saat aku keluar dari kamar mandi.&lt;br /&gt;
" Ya sebentar bu, " jawabku sambil masuk kamar dan menyisir rambutku kemudian mendekati mereka yang sedang duduk disofa panjang yang memang satu2nya tempat duduk depan TV.&lt;br /&gt;
" Ini, Resti mau bicara denganmu" kata bu Broto begitu aku berdiri didekat mereka dan aku lihat mbak Resti yang mengenakan piyama batik dan kelihatan lebih segar dari ketika dia datang, menggeser duduknya supaya aku bisa duduk disampingnya dan dia sekarang berada ditengah. " Silakan duduk disini de Budi " dan akupun duduk disampingnya.&lt;br /&gt;
" Begini de Budi, saya adalah teman dari kecil dengan mbak Tati, usia kami hanya beda 1 tahun, saya lebih muda dan saya menganggap dia sebagai kakak kandungku sendiri dan diantara kami sudah ngga ada lagi rahasia2an dan mas Broto juga mengenal mbak Tati ini sejak kecil walaupun mereka tidak akrab. Saya tahu, mbak Tati ini orangnya sangat setia pada suami..." kata mbak Resti begitu aku duduk disebelahnya dan kata2 terakhirnya yang terputus membuatku berdebar2 dan aku hanya bisa diam menanti lanjutannya.&lt;br /&gt;
" Saya benar2 bingung dan kaget dia bisa berselingkuh dengan de Budi..." kembali kata2nya terhenti dan matanya tajam menatapku yang kaget dan kebingungan.&lt;br /&gt;
" Mmmaksud mbak...? " aku pura2 bloon dan mataku minta bantuan ke bu Broto, tapi dia asyik nonton TV.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
" Saya tahu apa yang terjadi tadi pagi karena pintu depan lupa dikunci begitu juga kamar tidur yang terbuka sehingga aku bisa nonton adegan seru kalian dan tadinya aku ngga percaya sama mbak Tati tapi tadi kami sudah ngobrol dan ternyata kami mempunyai masalah yang sama . " lanjut mbak Resti&lt;br /&gt;
" Sudah 2 tahun lebih suamiku menderita diabetes kronis dan dia sudah ngga bisa berbuat apa2 denganku..." suara mbak Resti mulai pelan&lt;br /&gt;
" Sekarang aku mau buat kesepakatan dengan de Budi, aku akan diam tidak melaporkan ke mas Broto tapi de Budi harus melakukan yang sama seperti de Budi melakukan mbak Tati, mau ? "&lt;br /&gt;
Kembali mataku minta pertolongan bu Broto, kali ini dia menolongku, sambil tersenyum dia mengangguk2an kepalanya tanda setuju tapi timbul keisenganku sama mbak Resti.&lt;br /&gt;
" Terus saya harus berbuat apa ? " aku pura2 bertanya&lt;br /&gt;
Tiba2 mbak Resti mendekati telingaku dan berkata pelan " aku juga ingin dipuaskan seperti mbak Tati tadi pagi " tangan kanannya langsung mengelus kemaluanku yang hanya mengenakan celana pendek tanpa CD. Tangan kananku langsung menarik pinggangnya sehingga mbak Resti duduk dipangkuanku dan mbak Resti langsung menciumi bibirku tanpa ada perasaan risih ada bu Broto disampingnya, sedangkan bu Broto hanya pura2 batuk " ehem...ehem...dah sana didalam..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi mbak Resti ngga nggubris dia terus mencium bibirku penuh nafsu terdengar dari nafasnya yang memburu, aku melirik ke bu Broto dan dia nampak tegang sambil pura2 nonton TV tapi matanya sebentar2 melirik kearah kami. Aku yakin baru kali ini dia melihat secara langsung sepasang laki2 dan perempuan berciuman dengan penuh nafsu apalgi kini mbak Resti sudah membuka baju piyamanya dan pantatnya terus digayang2kan di kemaluanku, ternyata dia ngga pakai bra sehingga payudaranya yang berkuran sedang dan sudah mulai turun menantang untuk diraba dan dihisap, sesaat aku perhatikan ada yang berbeda dengan punya bu Broto, puting payudara mbak Resti masih kecil kayak wanita yang belum punya anak, tangan kananku mulai meraba payudaranya ternyata masih kenyal. "...aahh..." desahnya disaat tanganku meraba payudaranya dan tangan kirinya membantu menekan tanganku supaya aku meremas lebih keras payudaranya, tangan kanannya menarik kepalaku supaya aku menghisap payudara kirinya dan desahannyapun makin keras disaat lidahku menjilat2 di putingnya. Sambil menjilat mataku melirik bu Broto yang semakin gelisah tapi aku ngga peduli lidahku terus aku mainkan di payudara mbak Resti dan membuat dia semakin bernafsu. Kini dia turun dari pangkuanku dan berlutut didepanku dan tangannya langsung melorotkan celana pendeku hingga terlepas dan tentu sala kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung menyembul keluar sebentar mbak Resti mengelus2 kemaluanku dan dia menarik sedikit posisi duduku supaya lebih melorot dan dia mengarahkan mulutnya kearah biji pelerku dan lidahnya bermain2 disini, permainan lidah mbak Resti lebih berpengalaman dari bu Broto terasa lebih halus demikian juga saat lidahnya mulai bermain dibatang kemaluanku sampai aku ngga bisa nahan suara kenikmatanku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"...aagghhh..." dan ketika sambil menahan nikmat tanganku meraih tangan bu Broto yang sedari tadi terlihat hanya tegang aku merasakan tangannya sedikit gemetar dan saat dia menoleh kearahku aku melihat mukanya agak merah, ngga tahu apa karena malu atau nafsu atau karena keduanya. Sebentar bu Broto memandangku dan aku menarik tangannya supaya dia lebih mendekat kearahku dan diapun menggeser duduknya dan aku bisa meraih bahunya kemudian mencium bibirnya yang juga gemetar tapi dia langsung membalas ciumanku dan nafasnya makin memburu saat tangan kananku meraih payudaranya yang juga tanpa bra dan kami bertigapun sudah sangat dibakar nafsu birahi.&lt;br /&gt;
Sesaat kemudian kami bertiga sudah tidak ada lagi yang mengenakan pakaian dan sudah pindah kekamar bu Broto, yang lebih agresif adalah mbak Resti, mungkin karena sudah lebih dari 2 tahun dia ngga dipuaskan suaminya jadinya sekarang seperti kehausan. Kini dia sudah berbaring di tempat tidur dan minta aku menyetubuhinya, tapi aku mau membuat dia lebih bernafsu supaya cepat orgasme karena ku masih menghadapi lawan satunya yakni bu Broto. Aku memang merangkak keatas tubuh mbak Resti sedang bu Broto kembali sebagai penonton, aku hanya mencium sesaat bibirnya kemudian lidahku merayap ke payudaranya sebenta bermain dikedua payudaranya sambil tangan kananku mengelus gundukan memeknya yang berbulu tipis, jilatanku merayap keperutnya dan bermain dipusarnya kemudian ke selangkangannya tapi aku ngga menjilat memeknya membuat mbak Resti penasaran, aku justru membalikan tubuh mbak Resti supaya tengkurap dan aku menciumi punggungnya terus turun ke kedua bongkahan pantatnya disini kadang aku menggigit pelang pantatnya membuat desahannya semakin keras aplagi saat lidahku mulai bermain dipaha bagian dalamnya dengan sedikit gigitan kecil membuat dia mengangkat pantatnya minta memeknya yang sudah sangat basah untuk dijilat dan tidak langsung menjilat memeknya aku terus menjilat bagian samping luar memeknya dan ini membuat pantatnya lebih tinggi terangkat dan pahanya lebih lebar terbuka dan akupun mulai memasukan kepalaku diantara kedua pahanya sambil mengadah keatas menghadap memeknya dan mulai menjilat klitnya dan cairan kentalnyapun makin banyak keluar sampai menetes ke daguku. Kedua tangan mbak Resti meremas sprei dan mulutnya terus mendesis bagai ular tiba2 tangannya menarik paha bu Broto dan mulutnya langsung menyergap memek bu Broto yang juga sudah basah, tiba2 mulut mbak Resti mengerang dan pantatnya memeknya ditekankan kuat2 ke mulutku sambil badannya bergetar "..bbud aku kkluarr.." dan dagukupun semakin basah tersiram lendir mbak Resti yang banyak mengeluarkan lendir. Sesaat diapun tergeletak dikasur dengan nafas memburu sedang bu Broto yang dari tadi juga sudah naik nafsunya oleh jilatan maut mbak Resti langsung naik diatas tubuhku memasukan kemaluanku ke liang memeknya dan langsung menggoyang dari atas. Ruapanya mbak Resti ingin membuat sensasi lain dia kembali bangun dan meraih payudara bu Broto dan langsung menghisapnya membuat bu Broto berteriak kecil menahan nikmat dan tangan kiriku yang nganggur langsung mengarah ke memek mbak Resti yang sedikit terbuka dan langsung aku masukan kedalamnya, memek mbak Resti sangat licin akibat orgasme tadi dan akibat sentuhan jariku dimemeknya nafsu mbak Resti bangkit lagi dan diapun menjilat payudara bu Broto dengan sangat bernafsu membuat bu Broto semakin tinggi melambung dan sebentar kemudian goyangannya semakin liar dan semakin liar dan diapun mencapai klimaksnya dan ambruk yang segera diaganti mbak Resti . Kali ini mbak Resti memperlihatkan kemahirannya diatas ranjang dimenggoyang dengan lembut tapi pasti membuat kemaluanku seakan dipijat2 dan dan membuat aku tidak tahan untung rupanya mbak Resti bukan pemain yang lama diapun sudah tidak beraturan goyangannya dan akhirnya aku keluar duluan disusul beberapa detik kemudian mbak Restipun orgasme. Dan kamipun tertidur kecapaian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251370344814782334-1236702619573151505?l=sex-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/CeritaSexDewasa/~4/TcqsuBl4Z-Y" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1236702619573151505?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/2251370344814782334/posts/default/1236702619573151505?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/CeritaSexDewasa/~3/TcqsuBl4Z-Y/ngintip-ibu-kost-ngentot-jadi-kepengen.html" title="Ngintip Ibu Kost Ngentot Jadi Kepengen Memeknya" /><author><name>Admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03709993719011850845</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://sex-id.blogspot.com/2010/09/ngintip-ibu-kost-ngentot-jadi-kepengen.html</feedburner:origLink></entry></feed>

