<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Bang Yos 's</title>
	
	<link>http://cleonima.net</link>
	<description>Dream</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Apr 2013 02:25:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/cleonima/qZoa" /><feedburner:info uri="cleonima/qzoa" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Get Well Soon, Himawan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/8SCDQ_0-OhI/</link>
		<comments>http://cleonima.net/get-well-soon-himawan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Mar 2013 07:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Laka Lantas]]></category>
		<category><![CDATA[Office Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1596</guid>
		<description><![CDATA[U fuk Telah Membenamkan Matahari. AC Mobil Juga Telah Turun Derajat Celciusnya. Dalam kabin mobil, Ria yang kemarin duduk dibangku samping, mengabarkan kecelakan tragis yang menimpa sahabat kami ‘Himawan’. Saya yang sedang mengemudi, belum seberapa klik dengan cerita Ria. Maklum, saya termasuk orang yang tidak bisa membagi konsentrasi ketika sedang mengemudi. Apalagi, jika perhatian tersebut [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: red; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">U</span></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">fuk Telah Membenamkan Matahari. AC Mobil Juga Telah Turun Derajat Celciusnya.</span> Dalam kabin mobil, Ria yang kemarin duduk dibangku samping, mengabarkan kecelakan tragis yang menimpa sahabat kami <span style="font-variant: small-caps;">‘Himawan’.</span></p>
<p align="justify">Saya yang sedang mengemudi, belum seberapa klik dengan cerita Ria. Maklum, saya termasuk orang yang tidak bisa membagi konsentrasi ketika sedang mengemudi. Apalagi, jika perhatian tersebut mengharuskan sebuah konsentrasi tinggi pada sesuatu yang khusus; “berita kecelakaan” misalnya.</p>
<p align="justify">Simpang siur berita tersebut, mulai kronologi kejadian, tempat kejadian perkara (TKP) hingga kondisi Himawan pasca kecelakaan juga belum diketahui. Dalam benak saya waktu itu, Himawan hanya mengalami luka ringan yang tidak membahayakan. Saya pun menganggap insiden-insiden semacam itu, sudah biasa terjadi dijalan. Maklum, menurut guru mengemudi saya, Pak Yono, <i>“Penduduk Indonesia, sebagian besar kurang terdidik dalam berkendara. Hal itulah yang menyebabkan, Angka kecelakaan di negara ini sangat tinggi”.<span id="more-1596"></span></i></p>
<p align="justify">Namun begitu, ada satu hal yang membuat saya sedikit mengernyitkan dahi kemarin. Adalah kenyataan bahwa Anak sahabat saya tersebut —yang masih bayi— juga sedang dirawat di rumah sakit karena demam tinggi. Wuihh …</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Hari ini berbeda dengan kemarin, pagi ini, informasi sudah mulai terkuak. Walau masih belum seberapa jelas, namun beberapa informasi, mulai; kecelakaan itu adalah ‘peristiwa tabrak lari’; kecelakaan itu terjadi saat himawan yang sedang naik motor entah ditabrak, menabrak atau bersinggungan dengan mobil pick-up; fakta bahwa kecelakaan tersebut telah mengakibatkan beberapa organ tubuh Himawan, seperti; limpa yang pecah; liver terluka; 5 rusuk tulang iganya patah, hingga terjadi penggumpalan darah diparu-paru.</p>
<p align="justify">Lebih dramatis lagi, ternyata kecelakaan tersebut terjadi 5 menit dari lokasi RS yang merawat putranya tercinta. Benar, saat itu Himawan hendak berangkat ke kantor setelah sebelumnya menjaga anaknya yang sedang dirawat inap di RS Wava Husada. Tragis baginya, dalam perjalanan dari rumah sakit menuju kantor itulah kecelakaan terjadi.</p>
<p align="justify">Ada satu hal yang sulit dan tidak mungkin saya bayangkan. Bagaimana perasaan istrinya ketika mendapati 2 lelaki yang paling dia cintai (anak lelakinya dan suaminya) terbaring sakit. Untung saja, anaknya sudah bisa dibawa pulang kerumah. Andaikata belum, pasti sulit buatnya untuk memilih, menjaga anaknya atau suaminya.</p>
<p align="justify">Terlebih lagi, lokasi keduanya membentang sebuah jarak. Anaknya dirawat di <b>RS Wava Husada, Kepanjen-Malang</b> sedangkan Himawan di <b>Ruang ICU RS Lavalette, Malang</b>. Antara Kepanjen dan Kota Malang, membentang sebuah jarak, yang bagi kita mungkin hanya sejengkal. Tetapi saya yakin bagi mereka (istri dan keluarga Himawan) bak mengarungi samudra Indonesia.</p>
<p align="justify">Saya jadi teringat kecelakaan yang menimpa saya 2007 silam. Beruntung, kala itu situasinya tidak sepelik yang dihadapi Himawan sekarang. Saat itu, saya sudah membuat geger keluarga saya di Malang, Surabaya dan Kediri. Istri saya bahkan stress dan menangis tiap malam. Jika saat itu saja, sudah seperti itu, lalu bagaimana dengan keluarga Himawan sekarang?</p>
<p align="justify">Tanpa bermaksud mengahakimi, serta terlepas dari masalah siapa salah dan siapa benar, sulit sekali saya mengerti, apa yang sedang dipikirkan oleh sopir mobil yang menabrak himawan. Akankah dia bisa tidur nyenyak hingga mendengkur? Atau jangan-jangan dia sudah lupa atas kejadian itu.</p>
<p align="justify">Mungkin saja! Apalagi jika dia tidak mengetahui kalau orang yang ditabraknya kemarin adalah seorang Ayah yang harus menafkahi keluarganya, seorang Ayah yang sangat dibutuhkan oleh anaknya yang saat ini juga sedang terbujur sakit. Sekali lagi, ini terlepas dari siapa salah dan siapa benar.</p>
<p align="justify">Angkat topi buat sahabat dan rekan-rekan IT. Sampeyan semua benar-benar luar biasa. Ditengah-tengah situasi yang kurang bersahabat bagi sampeyan pun, kepedulian melalui “Doa bersama buat Himawan” kemaren pagi benar-benar haru. Kalian benar-benar sebuah kepongpong yang kuat dan unity yang dahsyat. Salut buat Anda semua teman …</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">Buat Himawan …</span></p>
<p align="justify">Bagi seorang pria, menjadi Ayah atau Bapak, bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang harus kita korbankan. Harta, tenaga bahkan nyawa.</p>
<p align="justify">Dalam Islam, seorang Ayah yang pergi keluar rumah untuk menafkahi Anak dan Istrinya, disejajarkan seperti pejuang yang pergi ke medan perang untuk membela Agamanya. Andai dia gugur dalam peperangan tersebut, surga langsung menantinya tanpa hisab. Semoga saja, cobaan ini bisa membuatmu lebih kuat.</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">Buat Anda yang merasa menabrak Himawan,</span></p>
<p align="justify">Semoga Tuhan mengampuni segala kesalahanmu baik yang disengaja ataupun tidak.</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">Good Luck Himawan, Get well soon ….</span></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2013, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/8SCDQ_0-OhI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/get-well-soon-himawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/get-well-soon-himawan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>‘Senopati, Panglima, dan Raja’ Brondong</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/29ItpKy_frQ/</link>
		<comments>http://cleonima.net/senopati-panglima-dan-raja-brondong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2013 07:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Office Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1569</guid>
		<description><![CDATA[M engawali Senin Pagi — Sekaligus Tulisan Pertama di 2013, Saya Manggut-Manggut Sambil Tertawa Kecil ketika membaca sebuah CC email yang mampir ke inbox. Email tersebut datang dari Anak Buah saya, yang ditujukan kepada seseorang dari fungsi lain dengan tujuan mengkonfirmasi kebenaran sebuah informasi. Sebetulnya nggak ada yang aneh apalagi rahasia dalam informasi tersebut. Bahkan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: red; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">M</span></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">engawali Senin Pagi — Sekaligus Tulisan Pertama di 2013, Saya Manggut-Manggut Sambil Tertawa Kecil</span> ketika membaca sebuah CC email yang mampir ke inbox. Email tersebut datang dari Anak Buah saya, yang ditujukan kepada seseorang dari fungsi lain dengan tujuan mengkonfirmasi kebenaran sebuah informasi.</p>
<p align="justify">Sebetulnya nggak ada yang aneh apalagi rahasia dalam informasi tersebut. Bahkan bisa dikatakan biasa-biasa saja. Sebuah informasi yang menerangkan bahwa <b>Si A</b> adalah karyawan dengan tingkatan tertentu, dengan jabatan yang juga tertentu. Anak buah saya pun mengkonfirmasinya dengan cara yang juga biasa-biasa saja.</p>
<p align="justify">Hanya, satu-satunya yang nggak biasa disini adalah cara saya menyoroti informasi tersebut. Salah satu misal; dalam informasi tersebut menampilkan informasi perihal <i>‘Mbak yu Lai-tu-mi’</i> dan <i>‘Kang Won-tu-no’</i> yang sudah berpangkat Panglima. Padahal, sepengetahuan saya, mereka berdua masih berusia sekitar 33 tahun. Sebuah usia yang masih masuk kategori brondong.<span id="more-1569"></span></p>
<p align="justify">Menilik keduanya pun (red. informasi), ada sesuatu yang luar biasa disini. Ada kontradiksi, saat potret kehidupan mempertontonkan lakon beberapa orang hebat di sebuah kerajaan yang hanya berpangkat Prajurit. Bahkan, nggak sedikit dari mereka yang berstatus prajurit kontrakan.</p>
<p align="justify">Saya saja yang sudah enam tahunan disini masih menjadi Senopati. Itu pun belum genap setahun. Yang lebih luar biasa lagi, ternyata saya masih terbilang untung. Beberapa Opa atau Oma di bagian lain, yang sudah puluhan tahun mengabdi, juga masih berpangkat prajurit.</p>
<p align="justify">Seringkali, potret klise ini menghadirkan drama dengan plot konflik yang serius, dimana seorang atasan sedang marah besar kepada anak buahnya yang hampir pensiun. Kita pasti berpendapat kalau itu hal yang biasa.</p>
<p align="justify">Mungkin ada benarnya juga. Hanya saja, saya yang lahir sebagai orang Jawa murni merasa aneh melihat drama tersebut. Bukan apa-apa, andai yang marah-marah tersebut adalah orang yang seumuran, It’s Ok lah. Masalahnya, Sang Atasan adalah orang yang sebaya dengan anak lelakinya di rumah. Sekali lagi, mungkin sampeyan semua melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Entahlah …</p>
<p align="justify">Dahulu, kita beranggapan bahwa Senopati, Panglima dan Raja (baca: atasan) adalah orang yang memiliki banyak pengalaman dan sudah malang melintang di medan pertempuran yang panjang. Namun, kini rumus tersebut tak selalu berlaku mutlak. Makin banyak senopati, panglima atau bahkan raja muda yang membawahi satu atau bahkan beberapa batalyon sekaligus.</p>
<p align="justify">Dulu, sindrom bos muda hanya bisa dijumpai di perusahaan keluarga, yang notabene mempersiapkan anak-anaknya sebagai penerus roda usaha. Tetapi kini, makin banyak perusahaan profesional yang menempatkan generasi muda menduduki posisi manajerial. Ditempat saya bekerja contohnya.</p>
<p align="justify">Konsekuensi logis dari semua itu, Kita yang sudah telanjur nyaman mengerjakan sesuatu dengan sistem yang ada, akan merasa terganggu dengan kedatangan atasan yang membawa sistem kerja baru. Apalagi jika bos baru tersebut adalah seseorang yang berasal dari beberapa generasi di bawah Kita. Malu dong.</p>
<p align="justify">Saya jadi ingat, kata-kata saya kepada anak buah saya tentang ‘Menabung’. Saya selalu bilang pada mereka jika mereka bisa menerima dan mengambil pelajaran dari sebuah ketidakadilan (dalam karir, cinta, hidup, dll), maka pada saat itulah kita sedang ‘Menabung ‘. Dan biasanya, suatu saat nanti tabungan tersebut akan kita tarik tunai lengkap dengan bunga-bunganya.</p>
<p align="justify">Jadi, biarpun <b>Hidup Tak Semudah dan Segampang Cocot Mario Teguh</b> <i>(mengutip sebuah status dalam Facebook)</i>, sebaiknya kita mulai ‘Menabung’ ketimbang membuang waktu dengan memikirkan kenapa seseorang yang masih muda sudah lebih sukses daripada kita. Lebih baik kita meningkatkan kinerja dengan mempelajari kelebihan yang dia miliki dan menerapkannya pada diri kita agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.</p>
<p align="justify">Sekali lagi <span style="font-variant: small-caps;">“Hidup Tak Semudah dan Segampang Cocot Mario Teguh …” &#8230;</span></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2013, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/29ItpKy_frQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/senopati-panglima-dan-raja-brondong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/senopati-panglima-dan-raja-brondong/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kereta Api Eksekutif (Part 4: Huru – Hara Petugas Arsip)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/hvtUlQaaMnA/</link>
		<comments>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-4-huru-hara-petugas-arsip/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2012 13:04:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Naik Pangkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1516</guid>
		<description><![CDATA[A gustus Lalu Saya Meminta Tim “Hanunk” Berbondong ke Kantor Pusat, di Jakarta Saya sudah hafal ini: kantor pusat adalah lokasi yang paling menarik di setiap menjelang audit. Dan terkait dengan posisi saya yang baru, Saya pun tahu. Ke Jakarta lah cara terbaik untuk mendapatkan situasi terkini masalah kearsipan (baca: penataan arsip yang menyedihkan): map [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: red; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">A</span></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">gustus Lalu Saya Meminta Tim “Hanunk” Berbondong ke Kantor Pusat, di Jakarta</span> Saya sudah hafal ini: kantor pusat adalah lokasi yang paling menarik di setiap menjelang audit.</p>
<p align="justify">Dan terkait dengan posisi saya yang baru, Saya pun tahu. Ke Jakarta lah cara terbaik untuk mendapatkan situasi terkini masalah kearsipan (baca: penataan arsip yang menyedihkan): map dokumen yang campur aduk, file cabinet yang <em>over capacity</em>, karyawan yang ogah-ogahan menata arsip, atasan yang tak memperdulikan arsip-arsipnya, file-file di komputer yang nggak jelas lokasi foldernya, dan sejenisnya.</p>
<p align="justify">Karena itulah menjelang Regional Audit Kearsipan tahun ini, saya ditugaskan Bos Besar untuk meredupkan atau jika memungkinkan mematikan masalah-masalah yang “mengkilap” di mata tersebut. Targetnya adalah tidak ada lagi tumpukan file, tidak ada penggunaan Drive-C di komputer, dan jenis penderitaan lain seputar kearsipan.</p>
<p align="justify">Nggak main-main, Bos besar saya yang berkantor di Ibukota sempat bilang begini: <em>“Yosie …, kamu harus langsung berlari. Agustus harus beres …”</em> Maksudnya semua hal yang saya sebutkan di atas tersebut harus tuntas di bulan Agustus lalu.<span id="more-1516"></span>Nggak masalah sebenarnya. Ketika saya mensosialisasikan hal ini kepada Tim, mereka pun terlihat antusias menggunakan momentum sidak (baca: audit) tersebut untuk mendesak penghuni kereta agar menata arsipnya dengan rapi. Maklum …, selama ini “Arsip” menjadi hal yang dianggap nggak penting. Gampangannya menjadi <strong>“Sesuatu yang Nggak Dianggap …”<strong></strong></strong></p>
<p align="justify"><em>For your info only,</em> membenahi arsip di kereta api ini musuhnya banyak dan lengkap: luar, dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan kanan-luar dan kiri-luar. Stigma kepada saya dan tim yang dianggap kurang penting semakin melengkapi kronisnya masalah yang saya hadapi. Ditambah lagi dengan sempitnya waktu yang saya punya, membuat masalah yang sebenarnya sepele mendadak dangdut menjadi bertele-tele.</p>
<p align="justify">Secara kasat mata, saya hanya memiliki waktu sebulan untuk membereskan masalah-masalah tersebut. Dan secara kasat mata pula, waktu sebulan itu tidaklah benar-benar sebulan karena masih harus dikurangi dengan sepuluh hari libur lebaran (Lebaran Idul Fitri 1433 H jatuh pada bulan Agustus 2012).</p>
<p align="justify">Andaikata saja saya boleh berteriak, saya akan teriak dan bertanya kenapa pejabat sebelumnya diberi waktu setahun untuk membereskan itu semua? Bukankah semestinya saya juga diberi waktu yang sama?</p>
<p align="justify">Ya sudahlah … begitulah cerita kerja ikut orang. Hal-hal semacam itu biasanya akan ambigu untuk dibicarakan. Jangankan diperbincangkan, sekedar dibisikkan pun biasanya juga terlarang.</p>
<p align="justify">Singkatnya, saya mesti berpikir <em>“out of the box”</em> agar target itu bisa saya capai dalam waktu bersih yang hanya tiga mingguan. Sulit … jelas, susah … pastinya, tapi bisakan? <em>Absolutely yes …</em></p>
<p align="justify">Karena sudah terlanjur bilang BISA itulah, maka saya memerintahkan tim agar menghadirkan kerusuhan luar biasa di kantor pusat Jakarta dan Malang pada bulan September 2012. Kenapa koq harus kerusuhan —bukannya itu negatif— apa nggak cukup sekedar peringatan aja?</p>
<p align="justify">Ups … jangan salah! Kerusuhan yang saya maksud disini bukan dalam konotasi negatif. Kerusuhan yang akan saya hadirkan disini adalah kerusuhan yang perlu dan harus dilakukan agar penghuni kereta mengerti, sadar dan paham bahwa arsip mereka adalah hidup mereka. Saya hanya ingin berkata “Arsipmu adalah bukti kerja kerasmu …”.</p>
<p align="justify">Setelah berdikusi panjang lebar dengan berbagai pihak, Saya dan tim sepakat menamakan kerusuhan tersebut dengan <strong>“Huru-Hara Petugas Arsip”.</strong></p>
<p align="justify">Dampaknya tentu luar biasa …</p>
<p align="justify">Semisal akhir Agustus lalu. Situasi sempat memanas karena sebuah IOM <em>(Inter Office Memorandum)</em> tersebar melalui email. IOM yang dikirimkan oleh Bos besar saya di Jakarta ternyata ditanggapi sangat serius. Dari staff hingga Direktur. Tanggapannya pun beragam. Setuju, nggak setuju, bahkan setuju tapi dengan ngedumel. Semua tercermin dari banyaknya email dan telpon bernada komplain, omelan, dan beberapa sumpah serapah lainnya.</p>
<p align="justify">Suatu hari, tepatnya satu jam sebelum jam lima sore atau sebelum saya pulang, sebuah email datang dari atasan langsung saya yang melampirkan email berupa komplain keras dari salah satu direktur pemasaran dan penjualan.</p>
<p align="justify">Saya pun sempat meradang ketika membaca email tersebut. Bukan apa-apa, sebelum kami mengirimkan IOM tersebut, saya dan tim sudah susah payah, berkeringat bahkan sampe berdarah-darah hanya untuk memastikan semua komplain dalam email tersebut tidak terjadi.</p>
<p align="justify">Dan bukan saya saja yang marah, tetapi saya juga kena marah. Siapa lagi kalau bukan oleh Bos Besar. Beberapa laporan mingguan yang saya kirimkan semenjak Agustus dianggap palsu dan hanya bagus di atas kertas. Benarkah palsu … TENTU TIDAK. Laporan mingguan yang saya kirimkan itu adalah mirror dari kondisi dilapangan.</p>
<p align="justify">Untung saya tidak lantas terbawa dan larut dalam emosi. Untung saja saat masih menjadi penghuni Kereta Api kelas Ekonomi —dulu— saya sudah cukup dilatih dan digembleng untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Dan untung saja saya segera menyadari bahwa perubahan terkadang “menyebalkan” bagi sebagian orang.</p>
<p align="justify">Dan kalau saya pikir-pikir lagi, —memang— beberapa kebijakan sensitif yang saya berlakukan beberapa minggu terakhir itu cukup menyebalkan. Setidaknya bagi orang-orang yang “cuek bebek” terhadap tumpukan arsipnya atau nggak peduli blass … dengan file-file penting difoldernya. Bayangkan betapa besar gejolak dan resistensi yang mereka timbulkan.</p>
<p align="justify">Namun demikian genderang perang sudah ditabuh. Kendatipun ini sungguh berat dan makan perasaan, kebijakan dan peraturan itu tidak boleh stop. Kebijakan dan peraturan itu tetap harus di-<em>publish</em> dan dilaksanakan. Apapun resikonya. Seberapa pun luar biasa keras reaksi dari para penghuni kereta, peraturan/kebijakan ini harus TERUUUSSSSS …</p>
<p align="justify">Managemen arsip. Kebijakan tersebut ibarat belati yang langsung mengenai ulu hati beberapa orang yang bisa dibilang penting. Nggak hanya sekedar penting tapi juga berposisi tinggi. Di sinilah tantangan terberatnya. Bukan perkara mudah meminta orang besar tersebut melakukan hal-hal yang sudah terlanjur dianggap sepele. Mengatur arsip contohnya.</p>
<p align="justify">Tapi seperti yang sudah saya ucap … “Genderang Perang Sudah Ditabuh …“ Bahwa ada hambatan dan kesulitan di sana-sini, adalah konsekwensi dari sebuah organisasi yang besar, yang kadang memang tidak lincah untuk berubah.</p>
<p align="justify">Dan lihat saja sekarang. Bulan Oktober 2012 ini menjadi tonggak perubahan. Dalam kurun kurang dari tiga bulan kami bisa dan mampu bertransformasi dengan lebih cepat. Bukan hanya dari sisi hasil kerja melainkan juga dari sisi cara kerja.</p>
<p align="justify">Bulan ini semua penghuni kerata api eksekutif di stasiun Jakarta dan Malang sudah terhubung kedalam folder kerja yang saling terkoneksi. Nggak sekedar terkoneksi, tapi juga tertata rapi dan terproteksi dengan baik sesuai kaidah keamanan informasi yang ada di kereta api ini.</p>
<p align="justify">Sudahkah sempurna? Belum. Ada yang kurang? Pasti. Tapi bagi saya hal tersebut bukanlah point utama. Yang terpenting adalah transformasi dari TIDAK ADA menjadi ADA … itulah hal terpenting yang perlu dicatat.</p>
<p align="justify">Cara kerja kami pun berbeda. Kami yang dulu seperti terkotakkan oleh beberapa hal abu-abu yang tidak jelas arah anginnya kini perlahan namun pasti mulai membuka diri dan gemar menebarkan senyum ceria.</p>
<p align="justify">Dulu … orang mungkin enggan dan ogah membicarakan sesuatu yang berbau manajemen arsip, alih-alih mengerjakannya. Sekarang, kami sampai kewalahan melayani permintaan mereka yang sangat cepat untuk menata arsip-arsip mereka.</p>
<p align="justify">Ternyata gebrakan terakhir yang kami beri judul “Huru-Hara Petugas Arsip“ mulai menunjukkan hasil. Setidaknya kami tidak perlu repot-repot mencari dan mengarahkan mereka, tapi mereka lah yang kini mencari dan mengejar-ngejar kami.</p>
<p align="justify">Tentu masih banyak yang harus dilakukan. Program automatisasi dan optimalisasi dokumen fisik kedalam sebuah aplikasi IT (sehingga mudah dicari dan dilihat kapan pun), membuat gudang arsip yang lebih besar lagi, mengurangi kerusakan dokumen, dan menata dokumen dengan lebih terinci adalah pekerjaan yang juga tidak mudah.</p>
<p align="justify"><em>Well …</em> Project manajemen kearsipan ini memang besar dan menantang. Hasil akhir project ini pun juga belum bisa diketahui karena Audit Regional baru bergulir November 2012. Keinginan manajemen dan pemilik dokumen pun amat khas dan njelimet. Tapi, pengalaman menarik dalam kerusuhan berjudul <strong>“Huru-Hara Petugas Arsip”</strong> ini telah menimbulkan optimisme yang besar untuk mampu melipatduakannya tahun depan.</p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012 &#8211; 2013, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/hvtUlQaaMnA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-4-huru-hara-petugas-arsip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-4-huru-hara-petugas-arsip/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Moving On to USA and KEDIRI</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/RDZfOoxqxNs/</link>
		<comments>http://cleonima.net/moving-on-to-usa-and-kediri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Sep 2012 14:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Farewell]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1469</guid>
		<description><![CDATA[S etelah Ayah Berkelana Selama 27 Tahun, Setelah Adik Kami yang Cantik Hadir Selama 2++ Tahun, setelah mereka menyatu dalam gelap terangnya hidup di Company ini, kini mereka berdua telah menuntaskan perjalanannya yang berliku dan hadir ke ingatan kami dalam bentuk kenangan dan cerita. Kenangan dan cerita seru pastinya. Hari ini, tanggal 1 September 2012, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: red; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">S</span></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">etelah Ayah Berkelana Selama 27 Tahun, Setelah Adik Kami yang Cantik Hadir Selama 2++ Tahun,</span> setelah mereka menyatu dalam gelap terangnya hidup di <em>Company</em> ini, kini mereka berdua telah menuntaskan perjalanannya yang berliku dan hadir ke ingatan kami dalam bentuk kenangan dan cerita. Kenangan dan cerita seru pastinya.</p>
<p align="justify">Hari ini, tanggal 1 September 2012, mereka berdua resmi menanggalkan seragam kebesaran mereka dan resmi pula menyandang status <strong>“EKS …”</strong></p>
<p align="justify">Upacara pelepasan mereka kemarin pun juga tergolong istimewa. Selain <span style="font-variant: small-caps;"><strong>Eyang Kakung</strong></span> yang melepas mereka langsung, juga karena upacara tidak dilakukan di break-out area <em>(tempat kami biasanya melepas teman-teman yang pergi)</em> melainkan Hotel Tugu. Sebuah hotel berbintang lima, diseputaran alun-alun bundar, Balai Kota Malang. Tentu semuanya istimewa. <em>Cause they are very special …</em></p>
<p><span id="more-1469"></span></p>
<p align="justify"><strong>Pak HARYONO</strong> misalnya. Bapak yang satu ini adalah sosok pemimpin yang tegas dan bersahaja. Sabar and <em>very smart</em>. Dia juga sosok yang santun dan profesional. Buat saya, beliau adalah satu dari empat orang yang telah merubah saya menjadi pribadi yang penuh warna.</p>
<p align="justify">Hanya membongkar kembali ingatan masa silam. Awal 2011, saya harus kehilangan orang pertama yang berpengaruh dalam karir saya yaitu <strong>Pak NURALIM.</strong> Beliau adalah sahabat sekaligus kakak yang punya andil dalam pembentukan karakter diri saya. Karakter itu juga, yang membuat saya kala itu tidak terpengaruh sedikit pun oleh kepergiannya.</p>
<p align="justify">Akhir 2011, saya kembali kehilangan orang kedua yaitu <strong>Pak HARI</strong>. Dan sekali lagi, saya harus kehilangan sosok inspiratif dalam pembentukan pribadi dan karir saya. Sebuah kehilangan besar kala itu.</p>
<p align="justify">Dan ketika 2012 baru menapaki akhir tangga ke-8, kembali saya harus merelakan orang ketiga yang selalu memberi spirit dalam hidup saya yaitu <strong>Pak HARYONO</strong>. Dan jujur saja … itu sungguh menyakitkan. Sulit membayangkan rekan-rekan saya di tempat sebelumnya tanpa beliau.</p>
<p align="justify">Berikutnya adalah kepergian adik kami <strong>NORMI.</strong> Bukan apa-apa. Perawakannya yang tidak terlalu tinggi —<em>Indonesia banget dech</em>— gaya dandananya yang selalu pas, tingkah lakunya yang slengek’an, akan selalu memiliki tempat tersendiri di sudut hati kami. Dia adalah segelintir cewek yang mampu dan bisa menjadi dirinya sendiri. Hhhmm &#8230;, jaman sekarang banyak sekali cewek yang berlomba-lomba untuk menjadi orang lain.</p>
<p align="justify">Saya pribadi melihatnya dari sudut yang umum-umum saja. Maklumlah, mungkin karena saya cowok. NORMI termasuk cewek yang biar pun gak mandi <em>or</em> dandan sudah kelihatan pesona kecantikannya. Simplenya, sejelek-jeleknya dia … masihlah lebih cantik dibandingkan cewek-cewek lainnya <em>(Hahaha … sorry ISTRIKU, dirimu tetaplah wanita tercantik dan terindah dalam hidupku)</em>.</p>
<p align="justify">Khusus buat NORMI &#8230;, jikalau sampeyan meninggalkan MALANG karena KEDIRI menawarkan penghasilan yang lebih tinggi, maka keputusan sampeyan untuk pergi adalah keputusan terhebat yang akan membuat sampeyan sejahtera secara ekonomi. Nggak cuman itu, karir sampeyan disana pastilah akan spektakuler. Itu doaku …</p>
<p align="justify">Hanya, jika sampeyan pergi karena merasa sudah tidak ada lagi <em>hope</em> di MALANG atau disini lebih jelek ketimbang KEDIRI, atau karena KEDIRI lebih ini dan itu … maka besar kemungkinan keputusan sampeyan buat pergi kesana akan menyisakan beberapa nadir penyesalan.</p>
<p align="justify">Sekedar sharing &#8230;, kerja bareng orang itu (baca: jadi pegawai) hanya ada dua situasi, <strong>&#8220;Nggak Enak&#8221; atau &#8220;Nggak Enak Banget&#8221;</strong>. Lain cerita kalau kamu punya usaha sendiri. So &#8230; jangan pernah mencari KEPASTIAN … Sampeyan tidak akan menemukan itu. Kepastian itu fatamorgana … dia nggak pernah ada. <em>Focus on your goal …</em> carilah <strong>PERUBAHAN YANG LEBIH BAIK</strong>. Kamu pasti menemukannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><center><span style="font-variant: small-caps;"><strong>Diorama Perpisahan Pak Haryono dan Normi</strong></span></center><br />

		<div class='et-image-slider et_sliderfx_fade et_sliderauto_true et_sliderauto_speed_4000 et_slidertype_images'>
			<div class='et-image-slides'>
				<div class='et-tabs-content-wrapper'>
					<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_1.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_2.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_3.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_4.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_5.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_6.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_7.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_8.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_9.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_10.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_11.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_12.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/09/MovingOn_Slide_640X443_13.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>
				</div>
			</div>
		</div> <!-- .et-image-slider -->
		</p>
<p><center>Fotografer: Hanunk, Rajafi, Model: All IT Crew</center></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">Finally …</span></p>
<p align="justify">Berjuta terima kasih dan selamat saya ucapkan buat Sampeyan berdua. Semoga kepergian sampeyan ini membawa perubahan terbaik buat semuanya. Bukan hanya buat sampeyan … tapi juga buat kami semua yang masih disini. Semoga kita semua yakin dan percaya bahwa <strong>“Esok kan masih Ada …”</strong>.</p>
<p align="justify">Spesial buat Pak HARYONO … <em>thank’s for everthing</em> ya pak. Berkat bapak saat ini saya bisa merasakan empuknya kursi Kereta Api Eksekutif. <em>It’s because of you …</em></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;"><strong>Good Luck Pak Har dan Normi, Keep On Moving &#8230;</strong></span></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012 &#8211; 2013, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/RDZfOoxqxNs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/moving-on-to-usa-and-kediri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/moving-on-to-usa-and-kediri/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Met Lebaran Bro …</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/X7hQ--Aq2yU/</link>
		<comments>http://cleonima.net/met-lebaran-bro/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Aug 2012 06:32:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1466</guid>
		<description><![CDATA[T idak Banyak yang bisa Saya ucap Hari Ini selain Thank You &#8230; kepada Allah SWT. Karena rahmat dan karuniaNya hari ini saya dipertemukan secara bersamaan dengan adik-adik, keponakan dan yang terpenting kedua orang tua saya. Situasinya pun jauh lebih baik dan menyenangkan jika dibandingkan dengan satu or dua tahun lalu. Kondisi ekonomi kami sekeluarga [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: red; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">T</span></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">idak Banyak yang bisa Saya ucap Hari Ini selain Thank You &#8230; kepada <b>Allah SWT</b>.</span> Karena rahmat dan karuniaNya hari ini saya dipertemukan secara bersamaan dengan adik-adik, keponakan dan yang terpenting kedua orang tua saya.</p>
<p align="justify">Situasinya pun jauh lebih baik dan menyenangkan jika dibandingkan dengan satu or dua tahun lalu. Kondisi ekonomi kami sekeluarga yang alhamdulillah membaik, kesehatan kami yang prima, kesejahteraan keluarga kami yang luar biasa, adalah warna ceria pada lebaran kali ini. Memang satu dua hal masih tidak sesuai harapan, tetapi itu kami anggap sebagai discount kehidupan yang masih bisa ditoleransi dan diatasi.</p>
<p align="justify">Raut bahagia terlihat dari wajah Mama hari ini. Fakta bahwa semua anak-anaknya berkumpul dalam satu momen Idul Fitri sudah terlaksana. <i>For your info only</i>, tiga or empat lebaran sebelumnya kami tidak pernah lengkap. Kalau nggak adik pertama saya yang berlebaran di Bali, yaa &#8230; adik kedua saya yang berlebaran di Kalimantan. Atau Saya yang berlebaran di Kediri.<span id="more-1466"></span>Malam ini kira-kira pukul 19:45, saya akan bertolak menuju Kediri. Kota itu menjadi kota yang paling dirindukan oleh istri saya semenjak Ramadhan tiba. Bapak dan Ibu di sana jauh-jauh hari sudah berkeluh kesah kangen. Tentu saja kerinduan mendalam pada anak bontotnya (istri saya) dan kedua cucunya Nesha dan Raka (putri dan putra saya). Semoga Allah SWT memberikan kelancaran dan keselamatan buat kami, agar kami sekeluarga bisa berangkat dan pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">Met Lebaran 1433 H, Mohon Maaf Lahir Bathin &#8230;</span></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012 &#8211; 2013, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/X7hQ--Aq2yU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/met-lebaran-bro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/met-lebaran-bro/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rindu Mudik setelah 67 Tahun Merdeka</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/8W1u1CPYYtU/</link>
		<comments>http://cleonima.net/rindu-mudik-setelah-67-tahun-merdeka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Aug 2012 17:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[HUT RI]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1459</guid>
		<description><![CDATA[K alau di Jakarta Hari-hari ini diwarnai oleh Ribuan Warganya yang Mulai Kabur, pun demikian dengan Kota Malang yang mendadak padat karena diserbu penghuni lawasnya dari rantau. Setidaknya itulah yang terlihat dari jalanan dan terminal pagi ini. Ramai … nampak mengalami lonjakan. Jalanan sudah diwarnai beberapa mobil yang mengangkut koper dan dos-dos karton besar, sementara [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: red; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">K</span></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">alau di Jakarta Hari-hari ini diwarnai oleh Ribuan Warganya yang Mulai Kabur,</span> pun demikian dengan Kota Malang yang mendadak padat karena diserbu penghuni lawasnya dari rantau.</p>
<p align="justify">Setidaknya itulah yang terlihat dari jalanan dan terminal pagi ini. Ramai … nampak mengalami lonjakan. Jalanan sudah diwarnai beberapa mobil yang mengangkut koper dan dos-dos karton besar, sementara Terminal Arjosari Malang juga sudah penuh sesak dipadati oleh para penumpang.</p>
<p align="justify">Saya sendiri baru akan mudik ke Kota Kediri, pas malam di hari lebaran pertama. Kota itu memang bukan kota kelahiran saya, melainkan tanah tumpah darah istri saya. Jadinya, mudik ke Kediri adalah hal yang biasa banget buat saya karena kota tersebut nyaris tidak menghadirkan kenangan tersendiri di sudut hati saya. Paling-paling kehadiran saya kesana termotivasi untuk merasakan kembali pecel punten, bakmie kuah kediri yang khas karena dimasak dengan arang atau beli tahu kediri yang sudah beken itu.</p>
<p align="justify">Hal berbeda tentu saja dirasakan istri saya. Semenjak memasuki bulan Ramadhan, dia menderita sakit yang teramat sangat kronis. Parahnya penyakit tersebut hanya bisa disembuhkan pas Idul Fitri. Menilik gejalanya, dia menderita penyakit &#8220;el mal de corazón&#8221; (Spanyol); &#8220;nótós alógós&#8221; (Yunani); atau dalam bahasa Indonesianya adalah “rindu mudik”.<span id="more-1459"></span>Yups &#8230; istri saya lah yang paling intens mempersiapkan lebaran, bahkan semenjak hari pertama puasa. Beberapa rencana sudah dia buat, mulai dari varian kue yang akan dihidangkan, oleh-oleh yang akan dibawa ke Kediri, hidangan apa saja yang akan disantap pas lebaran, sampai tiket bus menuju Kediri sudah di book persis di hari ke-3 ramadhan.</p>
<p align="justify">Walau aktifitas-aktifitas tersebut selalu rutin kami lakukan setiap tahunnya, namun ada yang berbeda pada persiapan mudik kali ini. Sedari pagi saya melihat beberapa anak berseragam sekolah bersliweran di jalan. Pastilah mereka tidak sedang ikut mudik &#8230;, lha wong mudik kok pake seragam sekolah. Saya baru ingat kalau hari ini, Jum’at, 17 Agustus 2012 Bangsa Indonesia sudah Merdeka 67 tahun lamanya. Dan itu yang menjadi alasan, kenapa banyak anak berseragam sekolah bersliweran di jalan pagi ini. Tentu saja mereka sedang mengikuti Upacara Peringatan HUT RI ke-67.</p>
<p align="justify">Saya sendiri &#8230; tidak ikut upacara. Seharian ini, saya sibuk mempersiapkan lebaran dan mudik ke Kediri. Mulai dari membeli beberapa hal buat Mama, membeli pesanan Sari Apel buat mertua, beras buat zakat dan sandal buat para keponakan. “can you believe that &#8230;” itu butuh seharian. Teriknya matahari dan riuhnya pertokoan atau pasar membuat aktifitas hari ini berasa sangat melelahkan.</p>
<p align="justify">Meski nggak ikut upacara, bukan berarti saya dingin dan biasa-biasa saja dengan ultah Negeri tercintaku ini. Ada berjuta rasa bangga dalam diri yang sulit sekali diungkapkan dengan apapun. Gambar atau juga tulisan &#8230;, rasanya tidak cukup untuk mendekripsikan semuanya.</p>
<p align="justify">Saya selalu marah dan kecewa tatkala Timnas Indonesia kalah dari siapapun. Saya masih benci ketika batik, lagu rasa sayange, pulau sipadan dan ligitan, diakui dan dirampas paksa oleh Malaysia. Saya juga sangat berang ketika ada pemain atau pelatih bulutangkis Indonesia yang lebih memilih bermain atau melatih untuk negara lain. Setidak-tidaknya &#8230;, kulit saya ini masih merinding kala mendengar Lagu Indonesia Raya berkumandang.</p>
<p align="justify">Semua itu saya yakini masih bisa dijadikan tanda bahwa <strong>“INDONESIA”</strong> masih sesuatu banget dalam jiwa dan raga saya. Dan bukan karena saya lebih memilih mempersiapkan mudik ketimbang ikut upacara lantas saya diadili sebagai pemuda yang tidak nasionalis, tetapi lebih kepada setiap orang memiliki cara berbeda dalam menunjukan rasa nasionalismenya..</p>
<p align="justify">Seorang pedagang akan menunjukkan nasionalismenya dengan menjual produk-produk dalam negeri, seorang guru akan menunjukkan nasionalismenya dengan mendidik secara profesional generasi penerus bangsa, dan masih banyak lagi ragam orang menunjukkan nasionalismenya.</p>
<p align="justify">Yang terpenting dari semua itu adalah sema harus dilakukan dengan mengusung semangat <strong>“SATU NUSA SATU BANGSA”</strong>.</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">So &#8230; Indonesiaku, Selamat Ulang Tahun yang ke-67, Semoga Engkau Selalu Jaya dan Semakin Merdeka Dalam Segala Bidang Tentu Saja Merdeka Sebagai Bangsa yang Hebat dan Kuat. Dirgahayu Indonesiaku &#8230;</span></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012 &#8211; 2013, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/8W1u1CPYYtU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/rindu-mudik-setelah-67-tahun-merdeka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/rindu-mudik-setelah-67-tahun-merdeka/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kereta Api Eksekutif (Part 3: Menghargai Masa Lalu)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/4vhrquI1iZs/</link>
		<comments>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-3-menghargai-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Aug 2012 15:42:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Naik Pangkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1440</guid>
		<description><![CDATA[R uangan Ini Mengingatkan Saya pada 10 Januari 2007, ketika saya bingung dan kikuk dengan suasana kantor baru (kantor saya sekarang). Maklum, selama ini tidak pernah sekalipun saya bekerja didalam ruangan yang khusus buat saya. Ber–AC, dilengkapi kursi empuk nan nyaman, kursi tamu, dan juga beberapa laci dan almari dibelakang tempat duduk saya. For your [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: red; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">R</span></p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">uangan Ini Mengingatkan Saya pada 10 Januari 2007,</span> ketika saya bingung dan kikuk dengan suasana kantor baru (kantor saya sekarang). Maklum, selama ini tidak pernah sekalipun saya bekerja didalam ruangan yang khusus buat saya. Ber–AC, dilengkapi kursi empuk nan nyaman, kursi tamu, dan juga beberapa laci dan almari dibelakang tempat duduk saya.</p>
<p align="justify"><em>For your info only</em>, itu adalah satu dari sekian kenikmatan yang saya dapati semenjak resmi menjadi salah satu Manager di Kereta Api Eksekutif ini.</p>
<p align="justify">Sekedar <em>flashback</em>, setelah bekerja hampir enam tahun di sebuah perusahaan swasta nasional di Kota Pahlawan Surabaya tahun 2007 silam, saya memutuskan pindah ke perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Selain karena lokasi kantor berada di kota kelahiran saya yaitu Malang, juga karena Istri dan semua keluarga besar saya berada di Malang. Kedua hal itulah yang menjadi alasan utama saya keluar kala itu.</p>
<p><span id="more-1440"></span></p>
<p align="justify">Saat itu, layar harapan pun saya bentangkan lebar-lebar. Mulai dari target memiliki momongan dalam waktu dekat <em>(saat itu; saya sudah menikah enam bulan dan belum dikaruniai momongan)</em>, punya bisnis sendiri, dan mimpi-mimpi indah lainnya. Singkat cerita, saya berbulan madu dengan gegap gempitanya suasana hati pasca pindah kerja.</p>
<p align="justify">Pun begitu dengan hari ini. Perubahan tiket dari golongan 6 menjadi golongan 7, mengharuskan banyak hal berubah drastis. Mulai dengan cara saya bekerja hingga perlakuan rekan dan sahabat di Kantor. Semuanya berubah. Selain ruang kerja pribadi, paling ketara adalah hak dan otoritas saya untuk memerintah dua orang sahabat yang —karena tuntutan profesionalisme— harus menjadi bawahan saya.</p>
<p align="justify"><em>“Can you imagine that …!”</em> Dari yang biasa ngomel saat diperintah, tiba-tiba mesti bijak dalam memerintah. Dari yang biasa ngedumel saat dimarahi, tiba-tiba mesti santun dan sopan saat memarahi. Dari yang biasa dikejar-kejar target, sekonyong-konyong mesti professional dan realistis saat memberikan target. Meski kikuk, saya memahami itu semua sebagai konsekuensi logis yang harus saya terima dan hadapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><center><span style="font-variant: small-caps;"><strong>Ruangan Kerja Baru</strong></span></center><br />

		<div class='et-image-slider et_sliderfx_fade et_sliderauto_true et_sliderauto_speed_4000 et_slidertype_images'>
			<div class='et-image-slides'>
				<div class='et-tabs-content-wrapper'>
					<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/08/Kereta1_Slide_640X350.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/08/Kereta2_Slide_640X350.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/08/Kereta3_Slide_640X350.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/08/Kereta4_Slide_640X350.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>

		<div class='et_slidecontent et-image-slide'><img src="http://cleonima.net/wp-content/uploads/2012/08/Kereta5_Slide_640X350.jpg" alt="" width =640 height=443 /><span class='et-image-overlay'> </span></div>
				</div>
			</div>
		</div> <!-- .et-image-slider -->
		</p>
<p><center>Fotografer: Rajafi, Model: Saya sendiri, Camera: Canon EOS 60D</center></p>
<p align="justify"><em>So far so good …</em> Tidak terlalu banyak hal yang mesti saya adaptasikan. Semuanya normal dan nyaris sama. Mungkin kesombongan saja yang sedikit menakutkan saya dengan perubahan ini.</p>
<p align="justify">Bukannya tanpa alasan saya cukup <em>worried</em> dengan kesombongan dan ego saya. Dahulu, saat saya pindah dari kantor lama ke kantor baru, kesombongan lah yang mengotori niat baik saya untuk pindah.</p>
<p align="justify">Dari yang semula pengen dekat dengan istri dan keluarga besar, entah gimana ceritanya mendadak berubah menjadi pengen membuktikan bahwa kepindahan saya ke perusahaan baru adalah sebuah keputusan paling benar karena perusahaan baru tersebut jauh lebih baik dari sisi gaji, benefit, fasilitas dan kesejahteraan. <strong>LEBIH PASTI</strong> istilah yang lagi ngetrend sekarang.</p>
<p align="justify">Bahkan saat menjawab pesan singkat dari beberapa teman lama, terlalu sering saya bercerita dan berpendapat bahwa tempat lama saya bekerja, tidak sebagus dan sehebat sekarang. Nggak jarang saya membanding-bandingkan kesejahteraan yang saya terima disana dengan disini. Lebih inilah … lebih itulah …. dan segala sesuatu yang lebih lainnya.</p>
<p align="justify">Paling parah adalah ketika saya menyebut sebuah nominal laba bersih tempat kerja lama yang tidak sebanding dengan tempat kerja baru. Saat itu, dengan sombong saya berkata bahwa perusahaan tersebut nggak lama lagi akan kolaps alias gulung tikar. Sungguh sebuah statement bodoh, sombong dan sok tau.</p>
<p align="justify">Kesombongan saya terus berlanjut hingga memasuki minggu-minggu pertama saya bekerja ditempat baru. Dengan pongah, saya menceritakan beberapa hal yang tidak sepatutnya saya ceritakan.</p>
<p align="justify">Sampai pada suatu saat, senior saya di kantor kala itu bercerita panjang lebar tentang sesuatu diluar kerjaan. Tentang kisahnya saat masih di BUMN yang managementnya amburadul. Proses recruitmentnya pun cukup unik, “yang penting bisa baca Al-qur’an” katanya.</p>
<p align="justify">Biar managementnya amburadul, seringkali dia mendapatkan “uang abu-abu” untuk ini dan itu. Singkat cerita, beliau merasa tidak cocok dan memutuskan pindah kerja. Sampailah beliau ditempat yang sama dengan saya bekerja saat ini.</p>
<p align="justify">Diakhir ceritanya itulah beliau memberi nasehat yang terus saya ingat hingga kini. Begini kira-kira nasihat beliau …</p>
<p align="justify"><em>“Yos … BUKAN karena saat ini kamu dapat sesuatu yang lebih baik dibandingkan saat masih di perusahaan lama, itu artinya perusahaan lama mu dulu lebih jelek, TETAPI lebih kepada saat kamu masuk kesini, kamu bisa dan mampu menunjukkan bahwa kamu adalah person yang qualify dan mumpuni dalam bidangmu”</em> kata beliau dengan muka dan nada serius.</p>
<p align="justify">Saat itu saya diam dan tertegun mendengar beliau bicara. Saya coba merenungkan ucapan beliau yang sepertinya ingin menyentil saya.</p>
<p align="justify"><em>“Andaikata dulu —saat masuk ke perusahaan lama— situasinya sama seperti saat ini —saat kamu masuk kesini— aku sangat yakin kamu pasti akan mendapatkan benefit, kesejahteraan, dll dengan lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari yang saat ini kamu terima disini”</em> katanya melanjutkan.</p>
<p align="justify"><em>“Apa yang hari ini, saat ini, kamu peroleh disini, semua itu karena kamu telah berhasil memperbaiki dirimu menjadi lebih baik; mulai dari skill, kedewasaan, pengalaman dan banyak hal lainnya. Dan menurutmu, dari mana kamu bisa berbenah sebanyak itu kalau bukan dari perusahaan lama tempat kamu bekerja dulu.”</em> Ucapnya sambil tersenyum.</p>
<p align="justify">Ucapan itulah yang langsung membuat saya yakin kalau beliau memang ingin mengingatkan saya. Tentu saja mengingatkan saya tentang semua kesombongan saya selama ini.</p>
<p align="justify">Teman …, apa yang sampeyan nikmati hari ini —selain juga karena ketetapan Allah SWT, sebenarnya adalah buah dari apa yang sampeyan perjuangkan di waktu lampau. Semuanya …, tak terkecuali karir dan juga pekerjaan.</p>
<p align="justify">Termasuk peningkatan jabatan saya sekarang. Segala kenikmatan yang saya rasakan sekarang diperoleh melalui perjalanan panjang penuh liku. Perjuangan di sekolah, perjuangan sebagai staff bergaji kecil, perjuangan sebagai staff senior bergaji menengah hingga perjuangan saat menjadi supervisor yang bergaji lumayan. Semua memiliki peran sesuai porsinya masing-masing.</p>
<p align="justify">Dan karena hal itu pula, jangan sampai kita meremehkan apalagi menghina masa lalu kita termasuk didalamnya tempat kita dulu pernah bekerja. Sejelek-jeleknya tempat itu, kita pernah mendapat asupan rizki yang InsyaAllah halal dari Allah SWT. Sejelek-jeleknya tempat itu kita pernah mendapatkan kehormatan sebagai seorang karyawan alih-alih dibilang Nganggur.</p>
<p align="justify">Sangat mungkin juga, dari tempat yang jelek itu, sampeyan bisa membayar cicilan rumah, membeli beras, membeli susu bayi, dan beberapa kebutuhan yang menjadi pokok sendi-sendi kehidupan sampeyan. Semua pernah terpenuhi dari tempat yang jelek itu.</p>
<p align="justify">Hanya karena kini tempat itu goyang diterpa angin, atau limbung dalam transisi kehidupan, bukan berarti tempat itu buruk dan jelek. Bukankah dalam perjalanannya, sebuah kapal kerap kali diterpa angin kencang bahkan hingga badai. Toh pada akhirnya, dengan semangat dan keteguhan hati para awaknya, kapal tersebut tetap menepi dan merapat ke pelabuhan dengan menebarkan senyum kebahagiaan para penumpanganya. Badai pasti berlalu.</p>
<p align="justify"><em>Just to remind you …,</em> itulah hidup. Selalu ada kejutan di setiap tikungan-tikungannya. Kita tak pernah tau apa yang menanti disana. Jadi jangan sombong dan takabur. Masa depan tetaplah masa depan. Ia akan selalu menjadi misteri dan teka-teki. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan hari ini dengan sebaik-baiknya. Nggak perlulah kita menyentil kejelekan masa lalu, menghina perusahaan lama, atau mengkerdilkan gaji kita di masa lalu.</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">Semua ada waktunya. Bersabarlah dan tetap semangat …</span></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012 &#8211; 2013, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/4vhrquI1iZs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-3-menghargai-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-3-menghargai-masa-lalu/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kereta Api Eksekutif (Part 2: The New Journey)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/9NKFej97whg/</link>
		<comments>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-2-the-new-journey/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2012 13:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Naik Pangkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1422</guid>
		<description><![CDATA[A da yang Menarik Perhatian Saya di Bulan Juli ini. Fakta tentang kembali terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadhan 1433 H? Hidup yang kian menekuk pinggang? Naiknya harga beberapa komoditas di bulan Ramadhan? Dan masih banyak lagi. Minggu-minggu ini, saya juga terkejutkan oleh satu hal. Apa itu? Adalah meningkatnya peran saya dalam kereta api ini. Posisi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: #10fdfa; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">A</span>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">da yang Menarik Perhatian Saya di Bulan Juli ini.</span> Fakta tentang kembali terjadinya perbedaan penentuan awal Ramadhan 1433 H? Hidup yang kian menekuk pinggang? Naiknya harga beberapa komoditas di bulan Ramadhan? Dan masih banyak lagi.</p>
<p align="justify">Minggu-minggu ini, saya juga terkejutkan oleh satu hal. Apa itu? Adalah meningkatnya peran saya dalam kereta api ini. Posisi terakhir saya sebagai buruh pemegang tiket golongan 6, yang bertahun-tahun sebelumnya berurusan dengan kebijakan dan proses bisnis perkereta-apian, tiba-tiba saja naik menjadi penumpang kelas eksekutif yang menggenggam tiket golongan 7 dan harus fasih bicara tentang perlunya kita menata dan mengatur dokumen secara proper. Sungguh lompatan yang penuh dengan spekulasi.</p>
<p align="justify">Sekedar mengabarkan —tanpa sedikitpun bermaksud sombong— bahwa ternyata Saya lah yang akhirnya terpilih dan dipercaya oleh Kepala stasiun dan wakilnya untuk memegang Tiket Kereta Api Eksekutif golongan 7 yang sebulan lalu kami bertiga perebutkan (secara positif) dalam sebuah ajang seleksi <a href="http://cleonima.net/2012/06/kereta-api-eksekutif-part-1/" title="Kereta Api Eksekutif (Part-1)" target="_blank">(klik disini)</a>.</p>
<p align="justify">Hasil itu pula yang membuat saya merasa sedikit nggak enak dengan rekan senasib seperjuangan di gerbong ini. Beragam reaksi tersirat dari raut muka mereka. Ada yang sepertinya mendukung, ada juga yang rasa-rasanya kurang bisa memahami. Mungkin saya salah, bisa jadi itu hanyalah perasaan saya belaka, saya sendiri tidak tau pasti.</p>
<p align="justify">Nun jauh disana, beberapa rekan yang bahkan sudah berbeda kereta api sekali pun mempertanyakan keputusan itu secara sembunyi-sembunyi. Tentu yang dipertanyakan adalah “Kenapa koq SAYA? Koq bukan Si-A atau Si-B, bukankah Si-A dan atau Si-B secara teknis lebih jago daripada Saya?” Begitu kira-kira pertanyaan mereka.</p>
<p align="justify">Semua itu membuat saya semakin belajar bahwa sebenarnya manusia itu bodoh dan sombong. Bodoh karena menganggap rizki (baca: promosi jabatan) itu adalah sesuatu yang bisa dihitung secara matematis dan teknis serta sombong dengan merasa dirinyalah yang terbaik, terhebat dan terbagus, hingga beranggapan kalau —AKU— yang seharusnya mendapatkan promosi jabatan, bukan —DIA.</p>
<p align="justify">Saya pun berusaha memahaminya sebagai sebuah kewajaran yang amat sangat manusiawi. Memang, dinamika hidup terkadang menghadirkan percikan-percikan api. Tak jarang, percikan-percikan itu terhembus angin hingga membara.</p>
<p align="justify">Kalau sudah demikian, saya lebih baik memposisikan diri sebagai air tenang yang dingin tanpa berusaha sedikitpun menanggapi atau mengkonfrontir. Saya jadi ingat status facebook Jonru Ginting, founder sekaligus pengajar di Sekolah Menulis Online [dot] com berikut:</p>
<blockquote><p align="justify"><b>“Pengamen di jalanan, menyanyikan satu lagu diberi upah Rp. 1.000 atau sering tidak dapat apapun. Penyanyi papan atas, menyanyikan lagu yang sama, dengan durasi yang sama, dibayar puluhan bahkan mungkin ratusan juta rupiah. INTINYA, kita dibayar bukan karena APA yang kita kerjakan, bukan berdasarkan berat ringannya pekerjaan tersebut, tapi berdasarkan <b>NILAI DIRI KITA</b> di mata orang lain.”</b></p>
</blockquote>
<p align="justify"><i>Well</i> …, seperti cerita dalam tulisan saya sebelumnya, hal ini hanya menyoal “sesuatu” yang disebut <i>Opportunity</i>. Ketika dia hadir, Sampeyan hanya punya dua pilihan sulit, yaitu <i>“Take it or Leave it”</i>.</p>
<p align="justify">Kedua hal tersebut sulit karena mengandung resiko. Keduanya semakin beresiko karena waktu untuk memutuskan itu semua nyaris tidak ada. Hal tersebut yang terjadi pada saya. Karena itu, berbekal “Bismillah …” di campur sedikit NEKAT, akhirnya <i>“I take this opportunity”</i> dengan segala hal abu-abu didalamnya.</p>
<p align="justify"><b>Mengutip HABIS Dahlan Iskan dalam pidatonya tentang kepemimpinan selepas dilantik menjadi Menteri BUMN, bahwa:</b></p>
<p><i>
<p align="justify">Menjadi pemimpin itu dianggap enak. Menjadi pemimpin itu dianggap bisa berkuasa.</p>
<p align="justify">Tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa untuk bisa menjadi pemimpin yang baik sebenarnya harus pernah membuktikan dirinya pernah menjadi orang yang dipimpin.</p>
<p align="justify">Ketika menjadi orang yang dipimpin itu, dia juga bisa menjadi orang yang dipimpin dengan baik. Artinya untuk bisa menjadi pemimpin yang baik harus pernah menjadi anak buah yang baik.</p>
<p align="justify">Saya meragukan seseorang yang ketika menjadi anak buah tidak baik, dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Menjadi anak buah yang baik itu adalah anak buah yang loyal tetapi juga kritis. Anak buah yang patuh tetapi juga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik. Anak buah yang selalu bisa memberikan jalan keluar kepada atasannya. Anak buah yang bisa memberikan pemecahan masalah bagi atasannya. Bukan anak buah yang selalu merepotkan atasannya, anak buah yang selalu membikin masalah pemimpinnya dan anak buah yang selalu memberikan persoalan bagi pemimpinnya.</p>
<p align="justify">Jadi ketika menjadi anak buah, dia harus bisa menjadi anak buah yang baik, bukan menjadi bagian persoalan dari pemimpinnya, tetapi menjadi problem solver bagi pemimpinnya.</p>
<p align="justify">Nah… kalau seseorang itu pernah menjadi anak buah yang baik, dan dalam kurun waktu yang cukup, maka kelak ketika dia naik menjadi pemimpin, dia akan bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena seorang pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik, maka dia bisa mengetahui bagaimana rasanya pernah menjadi anak buah.</p>
<p align="justify">Dengan demikian dia bisa tahu apa saja yang diperlukan anak buah dan bagaimana perasaan anak buah. Jadi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik.</p>
<p></i></p>
<p align="justify">Isi pidato di atas rasanya pas untuk menggambarkan perubahan peran saya di kereta api ini. Saya yang selama ini —secara definitif— selalu menjadi <b>“ANAK BUAH”</b>, per 1 Agustus 2012 besok resmi mendapat tugas memimpin sebuah bagian kecil dari satu Kereta Api Eksekutif bertaraf internasional.</p>
<p align="justify">Karena yang saya pimpin hanyalah sebuah bagian yang kecil, maka saya pun hanya bisa disebut <b>BOS KECIL</b>. Status sebagai <b>ANAK BUAH</b> pun tidak serta merta hilang. Bahkan, saya pun tidak hanya dituntut menjadi <b>BOS KECIL</b> yang hebat, tetapi juga mesti menjadi </b>ANAK BUAH</b> yang loyal sekaligus kritis terhadap bos-bos saya yang lebih besar.</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">Jadi Teman …,</span></p>
<p align="justify">Pada kesempatan ini mohon doa sampeyan semua agar saya bisa menjalani peran baru saya ini dengan semangat, tabah, amanah dan tentunya barokah. Mohon juga doanya agar saya tidak lantas menjadi lupa dengan segala kenikmatan dari sesuatu yang disebut <b>“PROMOSI JABATAN”</b>.</p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/9NKFej97whg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-2-the-new-journey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-2-the-new-journey/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Marhaban Ya Ramadhan 1433 H</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/M__twxUq8eE/</link>
		<comments>http://cleonima.net/marhaban-ya-ramadhan-1433-h/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2012 14:34:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1392</guid>
		<description><![CDATA[R amadhan dalam Empat Kata? Kalender, Tarawih, Mahal dan Ngabuburit. Itulah image yang saya simpan dalam hati setiap kali memasuki Bulan Suci Ramadhan. Bagaimana tidak, nggak afdol rasanya jika ramadhan tidak diawali dengan perbedaan penentuan awal puasa. Sungguh nggak enak dipandang, jika ramadhan tidak disertai dengan iring-iringan jamaah sholat tarawih. Nggak lengkap pula rasanya, jika [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; color: #10fdfa; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-top: 15px; padding-right: 5px; font-family: arial;">R</span>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;">amadhan dalam Empat Kata? Kalender, Tarawih, Mahal dan Ngabuburit.</span> Itulah image yang saya simpan dalam hati setiap kali memasuki <a href="http://cleonima.net/2012/07/marhaban-ya-ramadhan-1433-h/" title="Bulan Suci Ramadhan">Bulan Suci Ramadhan</a>.</p>
<p align="justify">Bagaimana tidak, nggak afdol rasanya jika ramadhan tidak diawali dengan perbedaan penentuan awal puasa. Sungguh nggak enak dipandang, jika ramadhan tidak disertai dengan iring-iringan jamaah sholat tarawih. Nggak lengkap pula rasanya, jika ramadhan tidak diikuti oleh kenaikan harga beberapa komoditas seperti telur, beras, minyak, dll. Dan tentu saja ramadhan nggak akan pernah berasa indah tanpa suasana ngabuburit.</p>
<p align="justify">Memasuki minggu ketiga di bulan Juli, suasana jalan, pasar, masjid, makam dan rumah-rumah warga, diwarnai oleh geliat umat Islam dalam menyambut kedatangan <a href="http://cleonima.net/2012/06/kereta-api-eksekutif-part-1/" title="Bulan Suci Ramadhan">Bulan Suci Ramadhan 1433</a> H. Ada yang bergotong-royong membersihkan masjid dan makam, ada yang membersihkan semak belukar di halaman rumah masing-masing, dan banyak pula yang berbelanja ini dan itu untuk keperluan “Punggahan Poso”, sebuah istilah jawa yang berarti selamatan untuk memperingati awal puasa.</p>
<p><span id="more-1392"></span></p>
<p align="justify">Di kampoeng  saya, Perbedaan Awal Puasa menjadi <i>trending topic</i>. Banyak dari kami yang bingung mau puasa hari apa. Bukan karena kami saling fanatik dengan salah satu ormas Islam, melainkan kami benar-benar dibuat bingung oleh perbedaan tersebut.</p>
<p align="justify">Pada akhirnya kami semua sepakat memilih tanggal 19 Juli 2012 untuk menyelenggarakan “punggahan poso” sementara puasanya menunggu pengumuman resmi dari pemerintah. Tentu saja semua itu dilaksanakan dengan tetap memberikan kebebasan kepada masing-masing warga untuk memilih kapan mereka akan berpuasa. Nggak ada paksaan …</p>
<p></br><br />
<center><span style="font-variant: small-caps;"><b>Ramadan Song with Zaky (Nasheed)</b></span></center><br />
<iframe width="640" height="360" src="http://www.youtube.com/embed/KgGtt-BmVx4" frameborder="0" allowfullscreen></iframe><br />
<center>Video Karya: Subhi Alshaik, Dipublikasikan di: Youtube</center><br />
<br /></br></p>
<p align="justify">Di bulan ini juga, biasanya akan banyak orang-orang yang “mendadak religius”. Maksudnya, adalah mereka yang biasanya jarang atau bahkan nggak pernah ke masjid, tiba-tiba saja jadi rajin ke masjid. Mereka yang nggak pernah datang ke pengajian tiba-tiba aja rajin ikut pengajian. Atau juga orang-orang yang tadinya pelitnya minta maaf kala menyedekahkan seribu rupiah, tiba-tiba saja jadi dermawan dan penuh ikhlas mengeluarkan sepuluh ribu rupiah.</p>
<p align="justify">Bukannya sok kritikus, tapi itulah fenomena terfaktual yang selalu saya dapati di bulan suci ramadhan. Menurut saya, banyak orang tiba-tiba mau cari muka di depan Gusti Allah, dengan mendadak rajin sowan ke masjid, datang ke pengajian, sedekah, dll. Mentang-mentang karena <a href="http://cleonima.net/2012/06/kereta-api-eksekutif-part-1/" title="Bulan Suci Ramadhan">bulan suci ramadhan</a>.</p>
<p align="justify">Tenang, saya ndak ada maksud sedikitpun nyindir atau menyakiti siapapun. Ngapain juga saya sok nyindir-nyindir segala, wong saya sendiri rasa-rasanya juga termasuk orang yang seperti itu.</p>
<p align="justify">Saya ini cuman mau mengingatkan diri saya pribadi dan juga kita semua agar di <a href="http://cleonima.net/2012/06/kereta-api-eksekutif-part-1/" title="Bulan Suci Ramadhan">Bulan Suci Ramadhan 1433 H</a> ini, kita lebih teguh dan beriman. Lebih khusuk beribadah. Lebih kuat berpuasa. Jangan sampai kita ini beribadah hanya di awal-awal saja. Jangan sampai kita ini hanya menjadi orang Islam setahun sekali. Yaitu, orang-orang yang merasa Islam hanya di bulan Ramadhan. Tapi, setelah Ramadhan lewat, ya sudah lupa lagi. Ndak rajin beribadah dan ke masjid lagi. Itulah maksud saya sebenarnya. Tapi ya sudahlah … semua balik ke diri kita masing-masing kok.</p>
<p align="justify">Selain fenomena “mendadak religious”, fenomena lain di awal ramadhan adalah selalu ditandai dengan kenaikan harga beberapa komoditas terutama daging sapi, beras, gula, telur ayam, daging ayam, dan bawang putih. Simak saja laporan <a href="http://regional.kompas.com/read/2012/07/16/03031522/Naik.Harga.Jelang.Ramadhan.Sudah.Jadi.Tradisi" title="Kenaikan harga beberapa komoditas menjelang bulan suci ramadhan" target="_blank">Kompas edisi 16 Juli 2012</a> berikut ini:</p>
<p align="justify">”Harga daging sapi bukannya naik lagi, tetapi loncat. Baru setengah bulan harganya sudah naik lagi jadi Rp 80.000 per kilogram,” kata Sadam (55), pedagang sapi di Pasar Koja, Jakarta Utara, Minggu. Padahal, biasanya harga daging sapi sekitar Rp 70.000 per kg.</p>
<p align="justify">Di Kota Semarang, Jawa Tengah, kini harga beras medium Rp 8.100 per kg dari harga beberapa hari sebelumnya Rp 7.600 per kg. Di kota Jember, harga telur ayam saat ini mencapai Rp 19.000 per kg, padahal pada hari biasa harganya Rp 12.000-Rp 13.000 per kg. Sementara harga bawang putih sekitar Rp 14.000 per kg dari sebelumnya sekitar Rp 8.000 per kg.</p>
<p align="justify">Yach … mau bagaimana lagi, itulah fenomena teraktual yang hampir selalu terjadi di setiap <a href="http://cleonima.net/2012/06/kereta-api-eksekutif-part-1/" title="Bulan Suci Ramadhan">bulan suci ramadhan</a>. Sekali lagi, mentang-mentang karena bulan Ramadhan maka semuanya jadi aji mumpung.</p>
<p align="justify">Di antara semua fenomena tersebut, mungkin inilah fenomena yang paling saya gemari. Apalagi kalau bukan suasana ngabuburit. Di kota kelahiran saya Malang, ngabuburit identik dengan aneka kuliner dan jajanan khas ramadhan. Takjil istilahnya. Taruh kata Es Dawet, Es Belewah, dan beberapa makanan lain bisa Sampeyan jumpai di jam-jam tersebut.</p>
<p align="justify">Saya dan istri termasuk orang-orang yang suka jajan berwisata kuliner. Maklumlah, saya dan istri biasanya agak malas untuk menyiapkan hidangan buka puasa. Bagi kami, pergi ke tempat-tempat ngabuburit yang semakin mewabah dimana-mana jauh lebih ekonomis dan cepat. Yach … itung-itung sedekah ke warung-warung lah. He … he …, mumpung bulan ramadhan.</p>
<p align="justify">Ada sebuah puisi yang tiba-tiba pengen saya tulis untuk menyambut datangnya <a href="http://cleonima.net/2012/06/kereta-api-eksekutif-part-1/" title="Bulan Suci Ramadhan">Bulan Suci Ramadhan 1433 H</a> ini. Simak yach …</p>
<blockquote><p align="justify"><b>Dear Ramadhan,</b></p>
<p></br></p>
<p align="justify">Engkau adalah sekuntum hari yang wangi, Bertelaga bening dialiri deras Air maghfiroh, Gemercikmu dzikir dan tadarrus, Bertepian doa penuh kepasrahan hati</p>
<p></br></p>
<p align="justify">Aku bagai seekor ikan yang berenang mensunyikan nafsu, Berharap sirip-sirip rapuh jiwa ini tak patah sia-sia</p>
<p></br></p>
<p align="justify"><b>Dear Ramadhan,</b></p>
<p></br></p>
<p align="justify">Engkau sungguh rahasia dengan menyembunyikan lapar dan dahaga, Tak sekedar itu,Engkau mengajakku bertegur sapa dengan Allah SWT, Melalui permadani tarawih dan Malam Lailatul Qodar</p>
<p></br></p>
<p align="justify">Dear Ramadhan,</p>
<p></br></p>
<p align="justify">Aku sungguh merindukanmu, Di hamparan cakrawala bertebar angin pengampunan,Rakhmat dan segala kebaikan.</p>
</blockquote>
<p align="justify">Begitulah bulan ramadhan. Sebuah bulan yang selalu menghadirkan cerita dengan segala pernak-perniknya. Bulan yang selalu membuat saya ingat, betapa beruntungnya saya yang masih diberi kesempatan hingga detik ini untuk bertemu kembali.</p>
<p align="justify">Oleh karenanya, saya mewakili diri saya sendiri, istri saya <span style="font-variant: small-caps;"><b>Retno Sulistiawati</b></span>, putri saya <span style="font-variant: small-caps;"><b>Nesha</b></span>, serta putra saya <span style="font-variant: small-caps;"><b>Raka</b></span>, mohon maaf atas semua kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Semoga di bulan yang penuh pengampunan dan rakhmat ini, kita bisa meningkatkan kualitas ibadah hingga akhir ramadhan. Semoga kita menjadi insan yang bersih dan senantiasa kembali menjadi fitrah. Amien …</p>
<p align="justify"><span style="font-variant: small-caps;"><b>Marhaban ya Ramadhan 1433H, Marhaban ya Kareem …</b></span></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/M__twxUq8eE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/marhaban-ya-ramadhan-1433-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/marhaban-ya-ramadhan-1433-h/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kereta Api Eksekutif (Part-1)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/cleonima/qZoa/~3/Cgv7AAaZWOM/</link>
		<comments>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jun 2012 15:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bang Yos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[About Me]]></category>
		<category><![CDATA[Benefit & Remunerasi]]></category>
		<category><![CDATA[Naik Pangkat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cleonima.net/?p=1344</guid>
		<description><![CDATA[Mengutip Wicaksono dalam Blognya — Ndorokakung.com Dua minggu lalu, Saya agak terkaget ketika menerima panggilan Pak Bos. “Wah, ada yang nggak bener ini.” Pikir saya saat itu. Dugaan saya, beliau ingin mengetahui ihwal kerjaan saya yang berbulan – bulan mangkrak di tempatnya Ndoroputri? Memang, kerjaan saya yang itu bisa dibilang nggantung alias nggak jelas juntrungannya. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="font-variant: small-caps;">Mengutip Wicaksono dalam Blognya — Ndorokakung.com</span></p>
<p>
		<div class='et_quote quote-center'>
			<div class='et_right_quote'>
				Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana ….
				<span class='et_quote_additional_sign'></span>
			</div>
			<span class='et_quote_sign'></span>
		</div>
	<br />
<br /></br></p>
<p align="justify">Dua minggu lalu, Saya agak terkaget ketika menerima panggilan Pak Bos. <i>“Wah, ada yang nggak bener ini.”</i> Pikir saya saat itu.</p>
<p align="justify">Dugaan saya, beliau ingin mengetahui ihwal kerjaan saya yang berbulan – bulan mangkrak di tempatnya Ndoroputri? Memang, kerjaan saya yang itu bisa dibilang nggantung alias nggak jelas juntrungannya. Ndoroputri yang antik dan luar biasa kolot membuat kerja bareng dia seperti kerja bareng tembok alias nggak kelar – kelar.</p>
<p align="justify">“Wah, kalau memang iya soal itu, jelas ndak bener. Ngomong apa dia sama Pak Bos!?” Tanya saya dalam hati.</p>
<p align="justify">Terus terang saya patut khawatir. Terakhir kali, Ndoroputri marah – marah dengan berbagai tuduhan kepada saya. Lha sekarang dia mau ngapain lagi? Bingung saya &#8230;</p>
<p align="justify">Begitu sampai di ruangan Pak Bos, saya langsung duduk di sebuah kursi tepat di depan beliau. Karakter Pak Bos yang selalu serius dalam hal apapun membuat saya semakin tambah bingung.</p>
<p align="justify"><i>“Ada apa ya Pak …?”</i> Tanya saya memberanikan diri.</p>
<p align="justify">“Ini Yos …, kamu mau nggak naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif?</span> Tanya beliau sambil tersenyum.</p>
<p align="justify">Lharrr …,</p>
<p align="justify">Ternyata bukan soal Ndoroputri. Saya yang kembali terkaget dengan pertanyaan tersebut, spontan aja menjawab:</p>
<p align="justify"><i>“Ya maulah Pak, wong ditawari naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> kok nggak mau”</i> jawab saya sederhana.</p>
<p align="justify">Pakai logika aja lah, selama menjadi buruh, saya hanya berhak untuk naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Ekonomi</span>. Untung – untungan juga saya masih berhak dapat tempat duduk karena kebetulan saya memegang tiket kelas 6. Beberapa teman yang tiketnya kelas 5 atau lebih rendah terpaksa harus berdiri, bersabar, dan tabah dengan penderitaan.</p>
<p><span id="more-1344"></span></p>
<p align="justify">Nah, ketika Pak Bos nawarin saya naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> pastilah langsung saya terima. Lha wong itu tiketnya kelas 7. Di stasiun ini, meminta kenaikan kelas tiket dari 6 ke 7 itu bukan main susahnya. Jangankan kelas 6 ke 7, minta kenaikan kelas dari 3 ke 4 yang nyata – nyata sama buruhnya saja, seperti menaikkan Jendral bintang lima. Ribetnya minta maaf …</p>
<p align="justify">Melihat saya antusias saat menerima tawarannya Pak Bos melanjutkan bicaranya:</p>
<p align="justify"><i>“Tapi ini Yos …, tiketnya cuman ada satu, sedangkan yang berminat ada tiga orang.”</i> Kata Pak Bos kemudian …</p>
<p align="justify">Saat Pak Bos mengatakan itu saya diam dan tidak menjawab. Suasana sempat hening sebelum akhirnya Pak Bos melanjutkan bicaranya:</p>
<p align="justify"><i>“Yaa… ginilah Yos, menurutku kamu ambil saja peluang ini. Karena ini opportunity yang lebih baik. Maksudku, pasti lebih baik dari sisi benefit, upah, dan fasilitasnya. Soal tiketnya yang cuman satu, aku yakinlah kamu bisa bersaing. Lha wong aku tau persis kemampuan kamu …!!</i> Kata beliau memberikan semangat. Mungkin Pak Bos tau kalau saya sedang di landa sedikit kegalauan.</p>
<p align="justify"><i>“Gitu yaa Pak, OK dech … saya ambil.”</i> Jawab saya. .</p>
<p align="justify">Begitulah kira – kira percakapan saya dengan Pak Bos dua minggu lalu. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Pak Bos ternyata memanggil saya untuk menawarkan sebuah <i>opportunity</i> naik Kereta Api Eksekutif. Sebuah <i>opportunity</i> yang akhir – akhir ini seperti menjauh dari semua buruh di stasiun ini.</p>
<p align="justify">Naik Kereta Api Eksekutif adalah impian beberapa buruh. Biasanya ketika ada <i>opportunity</i> seperti itu peminatnya akan sangat banyak. Karena banyak, maka haruslah dilakukan seleksi. Nggak mungkin juga kalau semua buruh naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span>. Bisa – bisa keretanya berhenti karena kehabisan bahan bakar untuk jalan.</p>
<p align="justify">Dan sejujurnya, naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> adalah Obsesi Malu – Malu saya. Dari dalam hati ini, sungguh senangnya andai bisa naik kereta api tersebut. Rasanya aneh, kalau saya bilang saya sama sekali nggak pengen naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span>. <i>Muna’ gitu loh ….</i></p>
<p align="justify">Untuk sekedar diketahui, di stasiun ini hanya pemegang tiket kelas 7 keatas saja yang bisa naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span>. Mereka pun nggak bisa lagi disebut buruh, karena buruh jatahnya ya naik Kereta Api kelas Ekonomi. Seperti saya sekarang ini.</p>
<p align="justify">Naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> tentu saja banyak enaknya. Mulai dari diberikannya fasilitas mobil untuk mengantarkan Sampeyan dari rumah ke stasiun maupun sebaliknya. Mobil yang diberikan juga bukan mobil sewaan. Mobil ini akan berstatus milik Sampeyan pribadi (BPKB, Kuitansi, dll) yang dibeli oleh pihak Stasiun dengan cara kredit. Program kreditnya pun menarik. Seingat saya, pembayaran kredit mobil itu terbagi menjadi 30% potong gaji per bulan Sampeyan dan 70% sisanya dibayar oleh Stasiun. Cukup lumayan, mengingat plafon kreditnya berkisar 150 Juta hingga 180 Jutaan.</p>
<p align="justify">Belum lagi jika ada bonus hasil penjualan tiket. Kalo Kereta Api Ekonomi bonusnya sebesar presentase dari Upah dan itu selalu dibawah 100%. Sedangkan <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> biasanya sebesar perkalian upah, jelek &#8211; jeleknya sekali upah lah. Masih ada lagi fasilitas lain seperti peningkatan fasilitas kesehatan saat di rumah sakit, dan lain sebagainya. Singkat kata, naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> lebih banyak enaknya.</p>
<p align="justify">Namun demikian, fasilitas dan benefit tersebut tidaklah gratis. Banyak sekali pengorbanan bathin dan otak yang harus Sampeyan ikhlaskan. Mulai dari lembur, uang makan, bonus kehadiran, dll. Singkat kata, otak dan bathin Sampeyan akan bekerja lebih keras dan Sampeyan akan dipaksa terus – terusan menghela nafas panjang.</p>
<p align="justify">Ups, kok jadi ngalor ngidul …</p>
<p align="justify">Intinya, setelah pembicaraan dengan Pak Bos Minggu lalu serta kenyataan bahwa tiket naik <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> yang tidak serta – merta menjadi milik saya, maka Saya masih harus bersaing dengan 2 kandidat buruh lainnya.</p>
<p align="justify">Dan salah satu yang menarik adalah minggu lalu. Kamis minggu kemarin, saya bertemu wawancara dengan kepala stasiun dan wakilnya melalui <i>video conference meeting</i>. Jarak membentang antara saya di Malang dengan mereka di Jakarta membuat janji bertemu itu harus di tempuh dengan media elektronik. <i>But it’s Ok …</i></p>
<p align="justify">Hasil <i>interview</i> itu pun kurang lebih bagus. Beliau – beliau yang cenderung mempertanyakan sisi strategis ketimbang teknis membuat sesi <i>interview</i> itu bak siaran langsung acara <i>Jakarta Lawyers Club</i> di salah satu stasiun TV swasta nasional. Berbagai analisa, <i>point of view</i> saya terhadap Kereta Api ini, serta visi dan misi saya menjadi pembicaraan hangat. Mereka pun memberikan <i>challenge</i> kepada saya tentang strategi saya untuk perubahan yang lebih baik di dalam kereta tersebut. </p>
<p align="justify">Tanpa bermaksud mendahului atau <i>over confidence,</i> saya berkeyakinan telah mengeluarkan semua yang saya tahu tentang <span style="font-variant: small-caps;">Kereta Api Eksekutif</span> tersebut. Bukan berarti saya yakin pasti dapat tiketnya, tapi andaikata bukan saya sekalipun yang dapat tiketnya — melainkan buruh lain — saya pastikan akan legowo karena telah  melakukan yang terbaik (menurut saya). </p>
<p align="justify">Kembali mengutip Wicaksono dalam blognya — Ndorokakung.com, sekaligus untuk menghentikan sejenak cerita saya: <i>“Selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan. Kita tak pernah tahu apa gerangan yang menunggu di sana ….”</i></p>
<p style='text-align:left'>&copy; 2012, <a href='http://cleonima.net'>Bang Yos</a>. All rights reserved. </p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/cleonima/qZoa/~4/Cgv7AAaZWOM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://cleonima.net/kereta-api-eksekutif-part-1/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss><!-- Dynamic page generated in 0.446 seconds. --><!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2013-04-26 16:06:07 -->
