<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043</atom:id><lastBuildDate>Sat, 29 Feb 2020 05:43:37 +0000</lastBuildDate><category>Suku Kubu</category><title>Suku Kubu</title><description>Peduli Atas Nama Kemanusiaan</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Admin)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-4739010368928079392</guid><pubDate>Tue, 25 Oct 2016 15:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-25T08:34:01.115-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Siapa Saja Yang Boleh Dinikahkan Dalam Suku Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kebanyakan yang saya temui pada budaya menikah masyarakat Kabupaten Dharmasraya, adalah musim menikah, artinya hampir bersamaan ketika selesai lebaran haji, banyak undangan pernikahan yang sampai ke tangan saya, meski tidak bisa dikatakan “musim nikah” namun demikian umumnya yang saya temui pada masyarakat kampung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lalu masyarakat kampung punya tata cara sendiri, siapa laki-laki atau perempuan yang boleh dinikahkan, dan pada umumnya tentu saja syarat ini mengacu kepada ajaran agama dan adat istiadat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lalu pernah suatu kali salah seorang kawan saya dari Aceh bertanya, bagaimana suku kubu menikah? Siapa saja yang boleh mereka nikahkan? Adakah mereka (suku kubu) menikah dengan orang luar (orang kampung)?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bicara soal pernikahan dalam suku kubu memang sedikit butuh perhatian serius, mengapa demikian, pasalnya orang kubu itu sendiri tidak pernah mengundang saya untuk menghadiri acara pernikahan salah satu putra atau putri mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Karena itu soal pernikahan dalam suku kubu ini, bagaimana jika kita mulai dengan sebuah kisah percintaan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebutlah namanya mister X (Mr X), salah seorang kawan (orang kampung) yang pernah agak intens berhubungan dengan orang kubu, meski hubungan mereka itu hanyalah sebatas toke pengumpul dan penjual hasil hutan, namun disuatu kesempatan yang baik, Mr X memberikan sehelai kain panjang kepada salah seorang anak gadis suku kubu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Awalnya saya sendiri tidak begitu memerhatikan tentang pemberian Mr X tersebut, namun beberapa waktu setelah lebih dari empat bulan, mak Marni yang merupakan nenek dari anak gadis tersebut, sering bertanya kepada saya tentang Mr X.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dimana sekarang Mr X? Mengapa tidak pernah lagi terlihat diluar?” demikian selalu ditanyakan Marni setiap berjumpa dengan saya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anehnya tidak saja Marni yang bertanya kepada saya dan kawan-kawan saya yang lain, bahkan ibu si anak gadis ini juga bertanya, bapaknya, paman-pamannya juga menanyakan dimana Mr X.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada akhirnya saya mencoba menyimpulkan sesuatu, kain panjang merupakan sesuatu yang sakral bagi kebanyakan suku kubu, hal itu bisa dilihat dari berbagai perselisihan yang terjadi diantara mereka, dan kain panjang merupakan salah satu benda yang dijadikan denda atau mahar, barangkali Mr X tiada menyadari bahwa dengan memberikan sehelai kain panjang kepada gadis suku kubu, akan membuatnya bertanya selalu kapan si Mr akan datang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menyikapi contoh kisah diatas, sampailah saya pada suatu kesimpulan, bahwasanya bagi suku kubu tidak berpantang berhubungan dengan orang luar, dan barangkali dalam hal ini berhubungan khusus.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berhubungan dengan pertanyaan kawan saya dari Aceh, tentang siapa saja yang dinikahkan oleh suku kubu, maka saya coba merujuk kepada sebuah struktur kekerabatan suku kubu rombongan Amir yang pernah disusun oleh SSS pundi sumatera dan perkumpulan peduli Dharmasraya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berdasarkan struktur kekerabatan tersebut saya menemukan fenomena menarik, pasangan yang hidup bersama, misalnya Siroi, dalam silsilahnya Siroi adalah anak dari Marni, kemudian ada Penyiram yang merupakan bapak tiri Marni, tahun 2014 lalu saya menemukan Penyiram telah menikah dengan Siroi, dengan kata lain Siroi menikah dengan kakeknya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kemudian ada lagi Rusli, Rusli merupakan anak dari Amir sekaligus cucu bagi Penyiram, kemudian Rusli menikah dengan Sidar anak dari Penyiram, artinya Rusli menikah dengan tantenya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika sistim kekeluargaan suku kubu matrilinear, maka Amir, Marni, Usup dan Sidar, adalah saudara sekandung tetapi berlainan bapak, ibu mereka bernama Bungo Santun, dan didalam sistim kekeluargaan matrilinear suku minang, pernikahan saudara sekandung hampir tidak pernah terjadi, sepertinya tidak demikian dengan suku kubu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Usup sebelumnya menikah dengan Iroi dimana Iroi adalah anak kandung Marni, artinya Usup menikah dengan ponakannya sendiri, namun sekarang (2016) Usup tidak lagi bersama Iroi, dia telah pula menikah dengan perempuan rombongan suku kubu dari Muaro Bungo.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Melihat “pergaulan” yang sedikit aneh tersebut (aneh menurut saya) maka saya berkesimpulan, sepertinya tidak terdapat larangan tertentu yang sifatnya keras untuk menikahi seseorang sesama garis keturunan, atau karena semakin kecilnya jumlah komunitas suku kubu, sehingga mereka saling menikahkan sesama kerabat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tentang pernikahan ini saya teringat suatu kali, Ujang (dari rombongan Penyiram) pernah mengatakan disela perjalanan kami menuju Bulangan, dikalangan “orang dalam” (suku kubu), ada pula istilahnya kawin cigak (sejenis primata - monyet), artinya pernihakan tersebut tanpa disetujui oleh keluarga dari kedua belah pihak, lalu mereka pergi hidup bersama ditempat yang lain, bahkan bisa jadi tidak terjadi ijab kabul diantara mereka, yang demikian tersebut bagi orang luar seperti saya, disebut dengan “kumpul kebo”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Siapa Saja Yang Boleh Dinikahkan Dalam Suku Kubu&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCM/eltSSaIiwVoUh4FOgp7TGroHkB51XXA6QCLcB/s320/IMG_8854.JPG&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; title=&quot;Siapa Saja Yang Boleh Dinikahkan Dalam Suku Kubu&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;(Ilustrasi - Bujang Padek dan Gadih Bungo)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lalu saya sendiri memberikan istilah agar mudah diingat terkait ucapan Ujang tentang “kawin cigak”, dengan istilah “kumpul cigak”, meski pada kenyataannya cigak merupakan penganut mode poligami yang sukses .&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/siapa-saja-yang-boleh-dinikahkan-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCM/eltSSaIiwVoUh4FOgp7TGroHkB51XXA6QCLcB/s72-c/IMG_8854.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-5921603805573684520</guid><pubDate>Sat, 22 Oct 2016 03:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-22T09:54:07.104-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Suku Kubu Sisa Sampah Primitif Industri Hutan Dan Perkebunan</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semenjak saya dilahirkan di bumi nan fana ini, hingga dewasa seperti sekarang ini, hampir tidak pernah ditemukan bentuk primitif dalam setiap aspek kehidupan saya, mulai dari bangun tidur, proses saya mendapatkan makanan dan minuman, kemudian kemanapun saya akan pergi ada kendaraan yang sedia ditumpangi, pesawat, mobil, sepeda, kereta api, kapal dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi bentuk primitif itu sendiri bagi saya hanya saya kenal dari kamus bahasa indonesia, dan kamus berbagai bahasa lainnya, menurut beberapa kawan saya yang tamatan antropologi, untuk menemukan bentuk primitif yang sebenarnya dalam perspektif peradaban keduniawian sekarang, kita bisa mencobanya dengan cara menumpang hidup di komunitas suku-suku primitif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka dari itu hingga sekarang bentuk primitf yang saya kenal, adalah berdasarkan pengamatan dan penterjemahan langsung terhadap kehidupan suku kubu di Dharmasraya, sebagaimana yang pernah saya lihat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ternyata ketika saya mengamati kehidupan suku kubu itu sendiri, juga tidak saya temukan bentuk primitif yang sesungguhnya, mereka sekarang makannya beras dan untuk lauk pauknya barulah mereka memakan hasil buruannya, untuk perihal beras ini sepertinya mereka sangat konsumtif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku kubu tidak mencoba menanam padi sebagaimana yang dilakukan oleh orang luar, namun tentu saja kita bisa berasumsi dengan daging hewan buruanpun mereka bisa bertahan hidup, karena itu ketergantungan suku kubu terhadap hutan dan ketersediaan hewan buruan, adalah bagian dari budaya suku kubu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Budaya primitif suku kubu mungkin sudah tergerus oleh pola konsumtif mereka, dimulai semenjak mereka intens berinteraksi dengan orang luar, dan mengenal beras sebagai makanan pokoknya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk semua sumber daya yang terdapat di sepanjang wilayah penyebaran suku kubu, termasuk budaya suku kubu itu sendiri, kita sepertinya telah kehilangan satu, yakni budaya bertahan hidup suku kubu yang sesungguhnya, ketika mereka belum berinteraksi dengan orang luar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini salah satu dampak nyata &lt;i&gt;&lt;b&gt;deforestry&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; terhadap keberlangsungan hidup suku kubu, membasmi semua hal yang terdapat di dalam hutan, pohon, manusia dan budayanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adakah sesuatu yang salah terhadap budaya primitif suku kubu ini? Atas nama kemanusiaan tentu saja tidak ada yang salah, namun kita tentu pula mahfum, menghilangkan dengan sengaja tempat penghidupan suatu komunitas manusia, merupakan bagian dari penghilangan hak asasi mereka untuk hidup, di bumi manapun mereka tinggal mereka memiliki hak untuk hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tentang hak asasi manusia ini, seolah kita melupakan apa yang telah menjadi sebab, mengapa suku kubu sekarang tersebar di pinggir-pinggir jalan, dan terkadang meresahkan masyarakat luar karena mengemis dengan cara memaksa, semua itu akibat hak untuk dapat hidup di dalam pedalaman hutan riau, jambi dan sumatera barat sana, telah di hapuskan secara &quot;sistematis terselubung&quot;, atau mungkin ini sesuatu yang terlewatkan oleh pejuang HAM.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Suku Kubu Sisa Sampah Primitif Indutri Hutan Dan Perkebunan&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-NDqu6ju-eLI/WArdYb4tO5I/AAAAAAAAFBY/gGUu02DVY_I-zKXcac-92QmyYleCrgIPQCLcB/s320/Ancient%2Bmessage%2Bfor%2Bsingapore%2Band%2Bmalaysia.JPG&quot; title=&quot;Suku Kubu Sisa Sampah Primitif Indutri Hutan Dan Perkebunan&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku kubu di Kabupaten Dharmasraya, berasal dari hutan Provinsi Jambi, Marni (orang kubu) sendiri pernah mengatakan demikian kepada saya, karena mereka tidak paham dengan batas teritorial sebuah provinsi, bagi mereka ketika hutan di tempat asalnya di gerus oleh berbagai aktifitas industri, mereka berpindah ke hutan yang lain untuk mencari penghidupan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasrat manusia beradab terlampau tinggi sehingga tidak peduli, bahwasanya di dalam hutan juga terdapat kebudayaan manusia lain, meski kebudayaan ini diterjemahkan berbagai kamus sebagai budaya primitif.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka pada akhirnya saya sampai kepada sebuah kesimpulan sementara, budaya primitif tidak pernah mendapat tempat di sepanjang kawasan hutan tempat suku kubu terakhir tersisa, kesimpulan yang teramat kejam sesungguhnya, dimana hal itu mengartikan, saya, kita, dan semua manusia yang mengaku beradab disepanjang kawasan tersebut, membiarkan suatu kelompok manusia perlahan-lahan ditelan peradaban, tanpa sebuah solusi yang konsisten.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk hal apapun yang kita saksikan sekarang pada suku kubu, adalah budaya mereka yang baru, sebutlah apa saja, beras misalnya, beras mereka dapatkan dengan membelinya dari orang luar, sepeda motor, phonsel, brah, lipstik, vitamin untuk rambut rebonding, gelang emas, jam tangan, dan mobil yang mereka punya, hanya karena mereka tidak memiliki rumah tempat tinggal tetap, bukan berarti mereka berada dalam budaya primitif yang sesungguhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Diluar dari toleransi kebudayaan manusia diatas, jika seandainya suku kubu adalah sisa sampah hutan yang telah ditebang untuk kebutuhan pangan dan industri perkebunan, maka saatnya untuk memberikan sebuah solusi, layaknya sampah, harus ada tempat pembuangan yang sesuai agar tidak mengganggu ketentraman hidup manusia yang sudah beradab.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/suku-kubu-sisa-sampah-primitif-indutri.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-NDqu6ju-eLI/WArdYb4tO5I/AAAAAAAAFBY/gGUu02DVY_I-zKXcac-92QmyYleCrgIPQCLcB/s72-c/Ancient%2Bmessage%2Bfor%2Bsingapore%2Band%2Bmalaysia.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-3150531155706641816</guid><pubDate>Fri, 21 Oct 2016 02:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-20T19:41:58.259-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Ini Dia Konsekuensinya Meludah Dekat Orang Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Banyak yang bertanya tentang suku kubu di kabupaten Dharmasraya kepada saya, bagaimana kehidupan mereka, apa yang mereka sembah, dimana mereka tinggal, apa saja yang mereka makan, bagaimana cara mereka melahirkan anak, bagaimana pula cara mereka menikah, dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada intinya semua pertanyaan itu memiliki satu deskripsi makna, setidaknya ini menurut saya, entahlah kalau menurut Pandong Spenra, makna itu adalah, apakah mereka sama dengan manusia yang hidup di perkampungan?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suatu gambaran besar bisa saya jelaskan kepada pembaca, suku kubu di Kabupaten Dharmasraya, sistem budaya kekeluargaan mereka sama dengan suku minang, mereka menganut sistem matrilinear, keluarga berdasarkan garis keturunan ibu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk menjawab semua pertanyaan panjang yang tidak ada ujungnya itu, eloklah kita memulainya dari kepercayaan suku kubu, secara aklamasi mereka tidak pernah mengatakan percaya terhadap empat agama besar yang ada di Indonesia, selama saya pernah bergaul dengan suku kubu, saya juga tidak pernah menemukan mereka melakukan semacam ritual, atau sesembahan yang membuktikan mereka memeiliki ketuhanan, namun sesekali mereka pernah menyebut “dewo” atau dewa, entah itu maksudnya dewa apa, juga tidak jelas.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Ini Dia Konsekuensinya Meludah Dekat Orang Kubu&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBA/eNid-VsolLY9zU4KhSGQ9U49Tl0G6xOcQCLcB/s320/anak%2Bidar.JPG&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; title=&quot;Ini Dia Konsekuensinya Meludah Dekat Orang Kubu&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;(Idar dengan anaknya yang belum diberi nama)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun izinkanlah saya membagikan sesuatu yang sekiranya menarik untuk kita diskusikan, seringkali mereka (Suku Kubu), entah itu rombongan Marni, Penyiram, ataupun rombongan Yusuf, ketika mereka datang berkunjung ke posko perkumpulan peduli, selalu mengucapkan salam dalam bahasa arab, “Assalamualaikum”, hanya sampai disitu saja, tidak disambung dengan “Warahmatullahi wabarakathu”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Atau begini, ketika terjadi percakapan serius antara sahabat peduli dengan salah satu rombongan suku kubu, sering pula saya mendengar mereka mengatakan “MasyaAllah”, jika ceritera mereka tentang sesuatu yang dahsyat, atau “InsyaAllah” atau “Alhamdulillah” ketika mereka menyanggupi sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Barangkali kita tidak penting untuk dipikirkan tentang dari mana mereka mendapat kalimat-kalimat Arab, yang lumrahnya diucapkan oleh seorang muslim.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tapi bagi saya hal tersebut menarik untuk dilkaji, barangkali karena intens-nya hubungan mereka dengan “orang luar”, sehingga dengan sendirinya mereka mengikuti kebiasaan percakapan orang-orang muslim di kabupaten Dharmasraya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagi penduduk kampung Dharmasraya, orang kubu paling identik dengan yang satu ini, “Jangan meludah dekat orang kubu, nanti kau akan ikut dengan mereka dan tidak akan tahu lagi mana jalan pulang”, untuk yang satu ini saya pernah secara langsung blak-blakan kepada Marni menanyakan perihal tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Marni menjawabnya dengan memperlihatkan air muka kebencian, mungkin kebencian berketurunan yang ditanggung oleh suku kubu, untuk persepsi liar orang kampung tersebut, dan saya ingat betul sampai sekarang jawaban yang diberikan Marni.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Siapapun manusianya yang hidup di dunia ini, tidak senang jika seseorang meludah didekatnya, kami paham orang meludah dekat kami, karena kami bau, kotor, dan menjijikan”, kata Marni sambil membuang muka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lanjut Marni, “Cobalah kalau si Ad sendiri, ada orang yang meludah didekatmu, apa si Ad tidak tersinggung”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nah mereka sepenuhnya menyadari, dan saya Hakkul yakin mereka mengalami semacam sakit hati turun temurun, ketika “orang luar” meludah didekat mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sisi kemanusiaan dari Marni menggelegak ketika saya tanyakan pertanyaan yang sensitif tersebut, dia bangkit memperlihatkan harga dirinya, bahwa mereka tidak menerima orang-orang meludah dekat mereka, lantaran busuknya, kumuhnya, joroknya, dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan menurut saya pribadi “Meludahi orang kubu ini”, salah satu pasal mengapa mereka jarang berhasil menjual hasil kebun mereka kepada orang luar, Marni di tanah sebidang pesudongnya menanam aneka macam sayuran dan buah-buahan, meski hasil kebunnya melimpah, jarang bahkan mungkin tidak pernah mau dibeli oleh orang-orang kampung, ketika mereka berniat menjualnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hal itu karena begitu dalamnya dogma yang tertanam didalam jiwa orang-orang kampung, bahwa atas kekumuhan, kejorokan, dan bau busuk mereka, sehingganya sayur mayur yang ditanam oleh orang-orang kubu tidak layak untuk dibeli dan dikonsumsi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sejauh ini hal-hal yang diperjualbelikan orang kubu dengan orang luar, hanyalah produk langka hutan yang tidak semua orang kampung sanggup mengerjakannya, semisalnya rotan, manau, mantiko landak, buah jernang, trenggiling, kulit beruang, kulit harimau, dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lalu saya sampai pada suatu kesimpulan, mengapa NGO dan LSM yang sibuk dengan urusan kubu ini tidak menyentuh akar persoalan suku kubu, akar persoalan yang paling mendasar bagi mereka di Dharmasraya, yakni mereka tidak diterima oleh “orang luar”, interaksi sosial mereka dengan orang luar telah dibatasi oleh indera penciuman.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Katakanlah kita pesimis terhadap tersedianya kawasan hutan untuk hidupnya manusia-manusia kubu ini, lantaran tuntutan negara penjajah dan persoalan pangan orang-orang luar, lalu disisi lain mereka dipaksa untuk hidup seperti budaya orang-orang luar, dengan realita seperti “Meludah dekat orang kubu” ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mau dibawa kemana suku primitif kubu Dharmasraya ini? Apakah mereka tidak lagi menjadi bagian dari kekayaan kabupaten Dharmasraya dan negara Indonesia umumnya?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/ini-dia-konsekuensinya-meludah-dekat.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://1.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBA/eNid-VsolLY9zU4KhSGQ9U49Tl0G6xOcQCLcB/s72-c/anak%2Bidar.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-495969228039671486</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2016 17:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-18T10:57:58.513-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Menikah Dengan Gadis Suku Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;kompas musafir&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-g2AZEDZXsTI/U-RkRL17aqI/AAAAAAAACmM/-eR1iHirhbg/s1600/w+(Mobile).png&quot; title=&quot;dewi &quot; width=&quot;214&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&quot;Indahnya pernikahan kami akan kurasa sampai ke Alam akhirat&quot; tak berlebihan rasanya aku meumpamakan demikian. mengapa tidak, semenjak kami menikah hingga detik nafasku kini tak pernah ada pertengkaran diantara kami, sama sekali tiada pernah, telah lima belas tahun usia pernikahan kami. Aku hendak berbagi dengan kawan-kawan semua tentang lima belas lima tahun pernikahan kami melalui beberapa paragrap ini&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai pemuda yang pernah mengecap pendidikan Universitas wajar kiranya aku melakukan lalu memilih sesuatu menurut tuntutan ijazah sarjanaku, demikian juga dalam hal pasangan hidup, bertemu dengan seorang gadis, berkenalan lalu tak lama kemudian menikahinya, maunya demikian alur hidup yang aku hendaki. Namun takdir berkata lain, aku melangkahi proses berkenalan, sebab berkenalan itu aku menikah. Menikahi seorang gadis keturunan kubu, telah Muslim dan berasal dari keluarga baik-baik.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti yang kawan-kawan pernah baca, suku Kubu merupakan salah satu suku primitif yang dilindungi negara. pada kebanyakan, suku ini hidup di Rimba raya pedalaman, yang tersebar di beberapa penjuru dalam wilayah provinsi Jambi. Namun ada beberapa kelompok dari mereka yang telah tinggal menetap, dengan tradisi yang telah banyak disesuaikan dengan adat istiadat penduduk setempat, bisa dikatakan sudah agak moderen. Benar kawan, dengan salah satu dari merekalah aku menikah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tahun 1995 Sebuah perusahaan swasta terkemuka membuka areal perkebunan baru di wilayah kabupaten Merangin Jambi, aku menjadi salah satu pekerjanya, sebagai Mandor kebun. Satu Tahun hidup dan bekerja di pedalaman rimba seperti itu sangat membosankan tentunya, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, untuk menghilangkan kejenuhan aku dan kawan-kawan lain yang masih bujang sering &lt;i&gt;batandang&lt;/i&gt; kerumah penduduk setempat, walau agak jauh dari Camp kami. Dari kebiasaan &lt;i&gt;batandang&lt;/i&gt; inilah aku mendapat kesempatan &quot;langka&quot; melihat, memandang (sambil mematikan gerak waktu) kemudian mengaguminya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Siti Hindun namanya, panggilan Siti, anak salah seorang mantan Kepala suku Kubu, harus aku terangkan namanya kawan, meski dalam tradisi suku kubu menyebut nama seseorang yang sudah meningga merupakan hal yang tabu. Suku kubu ditempatku bekerja umumnya menyembunyikan anak perawannya dari pandangan orang asing, aku orang asing bagi mereka yang secara kebetulan melihatnya dibalik jendela waktu itu. Kawan tahulah seperti apa lelaki, tak baik jatuh cinta maunya ingin segera bertemu, namun hal itu tak mudah dilakukan di sini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasil diskusiku dengan kawan-kawan di-Camp memutuskan agar aku langsung menemui salah seorang paman Siti Hindun. Tanpa menunggu jerawat tumbuh subur, tiga hari setelah itu aku batandang kerumah pamannya, Bujang Unting namanya, menyampaikan maksud ingin berkenalan dengan ponakannya, tak berlama-lama dengan obrolan pembuka setelah itu aku mengatakan maksud tujuanku, beliau terdiam sejenak, kemudian sambil mengusap muka tiga kali Bujang Unting berultimatum &quot;kalau kau hendak berkenalan dengan ponakanku, Kau harus sedia menikahinyo&quot;. Keputusan pak Unting membuatku mati kartu, dipenghujung kunjungan aku keluarkan As wajik bahwa empat hari lagi aku kan datang memberikan jawaban. Antara gelora asmara dan ancaman menikah dengan “&lt;i&gt; Kubu ditirai jendela&lt;/i&gt;” membuat mata tak sudi pejam kala malam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Begitulah awal mulanya, hari kedua setelah kunjungan itu, dengan perhitungan yang matang, aku kabarkan ke kampung, kepada Ayah, Bunda dan ninik mamak bahwa aku hendak menikahi gadis kampung sini, lengkap dengan latar belakang keluarga Mendiang pak dusun yang telah muslim. Alhamdulillah keluarga dikampung tak banyak &lt;i&gt;cincong&lt;/i&gt;, mereka setuju.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Empat hari kemudian aku kembali kerumah pak dusun menyampaikan kesanggupanku menikahinya. &quot;Aku Bersedia Menikah dengannya, Pak&quot;, kataku, Bujang Unting menepati janjinya lalu dia memperkenalkanku dengan ponakannya. Pada mulanya aku memaklumi Siti tak menjawab semua pertanyaanku, mungkin dia masih malu sebab aku orang asing baginya. lama kelamaan aku terbiasa dengan caranya yang hanya menggangguk setiap aku tanya, setelah keluar dari rumah paman Siti pikiranku mulai terganggu dengan caranya yang tidak satupun membalas interaksi sosialku, namun semuanya kusimpan saja didalam hati. janji telah diikat, sebagai Pria sejati aku harus memenuhi janji itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;28 Februari 1996 keluargaku datang meminang kerumah pak dusun, dalam situasi tak mengenal seperti apa keadaan Siti, Proses peminangan tidak terlalu rumit dan terlalu lama karena pada dasarnya tradisi meminang suku kubu hampir mirip dengan sukuku di Minang. Tiga bulan setelah acara meminang kami menikah, aku membawa Siti ke Camp perkebunan. Malam pertama itulah aku menyadari ternyata Siti mengalami kelainan pada lidahnya, sehingga dia tidak bisa bicara dengan baik, Oh .. Bisu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika aku coba urut ternyata dari sinilah &quot;&lt;b&gt;Indahnya pernikahan kami akan kurasa sampai ke Alam akhirat&lt;/b&gt;&quot; itu bermula. Sauh diangkat bahtera mulai berlayar, diatasnya aku sang Mualim dan gadis bisu yang ikut serta kemana kompasku membawa bahtera. Walau cacat, Siti ternyata seorang wanita cerdas. Kami mengawali hari pertama dengan bahasa isyarat, simbol komunikasi paling bermakna yang pernah kukenal. Kawan boleh membayangkan gerak apa yang aku lakukan ketika menerangkan huruf “A, B, C” atau “1, 2, 3” kepada Siti sewaktu aku mengajarinya bentuk huruf dan angka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Siti menguasai tulisan dan angka setelah dua bulan kemudian, ketika aku kesulitan memahami maksud gerak jari-jari lentiknya, dengan segera dia mengambil pulpen dan kertas untuk menulis “mengapa aku tak membawa perlengkapan sholat ke kebun tempat aku mengawas”. Tuhan telah Memberikan yang terbaik untukku yaitu bahasa isyarat dan kebisuan, lalu istriku tercinta mempertajam mata hatiku melalui gerak jari dan air mukanya, kalau ku cerminkan dengan zaman sekarang ini, bahasa isyarat ini mungkin tak banyak yang menguasai. Seiring dengan pandainya Siti menulis dan membaca, dia mulai menuliskan hal-hal lain yang menurutnya indah, seperti desiran angin yang terdengar di celah dedaunan pohon, atau sajak sederhana, dan catatan belanja.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;kehidupan Rumah tangga kami jauh dari yang namanya omelan, tawa &lt;i&gt;ngakak&lt;/i&gt; dan mempergunjingkan tetangga sebelah. Siti menyampaikan semua maksudnya dengan dua bahasa tadi, kepada tetangga dan semua orang yang berkomunikasi dengannya, kalau suatu saat presiden RI tersesat dikampung ini dan meminta pertolongan istriku untuk menunjukkan jalan semoga saja bapak presiden tidak tersingung dengan bahasa istriku.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Siti mengerti benar cara menyembuhkan keletihanku sepulang kerja, setelah menyuguhkan segelas jahe panas, digiringnya tanganku kehalaman belakang, duduk di pale-pale sambil memijit pundakku, lalu kemudian dia mengeluarkan secarik kertas, bahasa tulisan yang telah dibuatnya hari itu. Untuk kawan aku tunjukkan sebagian tulisannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“... &lt;b&gt;di depanmu lembah hijau membentang, rumah-rumah mungil di lereng perbukitan, sayup-sayup tapi sampai gesekan biola menjadi paduan sempurna di saat angin-angin menghembuskan nafasnya yang lembut. mari kita rebahkan sejenak kepala ini&lt;/b&gt; ...”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesuai skalanya aku mengagumi semua tulisannya. Cintanya tak bisa ku ungkap dengan bahasa lisan tak bisa ditakar dengan &lt;i&gt;tenung&lt;/i&gt; namun jelas bagi mata hati. agak Sekalipun, tiada pernah dia langgar sesuatu yang aku larang. Gerak tangan menyatukan kami setiap hari, dekat semakin dekat dan semakin dekat lagi, begitulah kira-kira cinta yang tak kuasa dilisankan istriku.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kecuali bahasa lisan istriku Siti wanita yang normal, dua tahun setelah menikah Siti melahirkan seorang bayi perempuan nan cantik dan normal. Melalui beberapa lembar kertas kami sepakat memberinya nama Sri indreswari.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mendidik dan membesarkan seorang anak bukanlah perkara yang mudah, terlebih dengan keadaan istiku yang demikian. Sri tumbuh dalam bahasa isyarat dan lisan, sesuatu yang membuatnya merasa beruntung dari anak-anak lain seusianya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hingga cerita ini ditulis oleh Zulfadli, kami telah di Anugerahi lima orang anak yang mana semuanya lahir dengan normal. Kepada Penguasa Jagad Raya syukurku yang tak terhingga, aku di Anugerahi seorang istri bisu, Amanah yang akan kujaga sampai mati. Dengan demikian setidaknya istriku jauh dari sifat menggosipkan infotaiment atau membicarakan kekurangan orang-orang disekitarnya. Kalau saja Tuhan menjodohkan gadis Buta waktu itu, aku bersedia menjadi mata untuknya, menempuh hidup di dunia nan berlumur dosa ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lembah Bunian&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Fadli. 17 Desember 2010&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/menikah-dengan-gadis-suku-kubu.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://3.bp.blogspot.com/-g2AZEDZXsTI/U-RkRL17aqI/AAAAAAAACmM/-eR1iHirhbg/s72-c/w+(Mobile).png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-1887522064698152185</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2016 17:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:05:28.319-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Manusia kerdil</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di Kubang Gajah Orang-orang mengartikan “Orang Bunian” saling berbeda, penduduk lokal Ibul mengartikan dengan sosok mahluk halus hidup di hutan memiliki kehidupan tersendiri dan punya kemampuan membawa manusia biasa kedalam kehidupannya, disalah satu camp disini mereka memaknai “Orang Bunian” sebagai orang yang bertubuh pendek kerdil telapak kaki mereka terbalik, seluruh tubuhnya dipenuhi bulu-bulu hitam yang lebat, pengertian yang ini tidak jauh berbeda dengan yang diakui orang-orang sungai penuh di Kerinci Jambi, dalam kehidupannya di rimba merekalah yang mengembalakan Babi hutan, di camp lain orang-orang memaknai “Orang Bunian” seperti sosok manusia biasa, bentuk tubuh maupun tinggi badannya, namun ciri khususnya mereka tidak memiliki lekukan di atas bibirnya, terlepas dari semua pengertian itu, bagiku “Orang Bunian” seperti yang aku saksikan beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-NDqu6ju-eLI/WArdYb4tO5I/AAAAAAAAFBg/hsVUdbdFQFc8TyOtZsor6fOniHyPASRwACPcB/s320/Ancient%2Bmessage%2Bfor%2Bsingapore%2Band%2Bmalaysia.JPG&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;(Ilustrasi)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pagi itu cuaca cerah, langit biru dihias awan gemawan putih berarak, aku dan beberapa kawan lainnya pergi melihat areal perkebunan di perbatasan hutan, perkebunan sawit seluas enam ratus hektar ini berbatasan dengan belantara hutan di setiap ujungnya, kami berangkat ketika mentari beranjak sepenggala dengan mobil double gardan kami menelusuri jalan tanah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bulan November hujan sering turun membuat becek jalan di perkebunan, beruntung kendaraan kami dirancang untuk medan berat, melalui beberapa tanjakan dan turunan licin tidak terlalu bermasalah, diujung tikungan berbatasan dengan hutan kami berhenti, pemandangan yang tidak biasa kami temui, sebelumnya sebelah kanan jalan itu merupakan pokok sawit yang sedang berbuah pasir dengan tanahnya yang landai, dalam tatanan perkebunan tempatku bekerja disini merupakan Blok VI, namun hari itu kami tidak melihat sebatangpun pokok sawit tumbuh disana, pokok-pokok sawit itu telah berganti dengan sebuah perkampungan kecil, rumah-rumah mungil beratap rumput benalu dengan cerobong asapnya, berjejer rapi diantara pepohonan, rumput-rumput hijau seperti permadani yang dibentangkan, jalannya berbatu putih berliku seperti ular hingga ke ujung hutan, lama kami tak berkedip mata menyaksikan perubahan yang mendadak itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ini dia yang disebut kampung Bunian” ucap salah seorang mandor.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;kampung Bunian!! baru sekali ini kudengar&quot;, aku tak paham maksud mandor itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak seorangpun dari kami yang meneruskan awal pembicaraan itu, masing-masing sibuk dengan pemandangan nan indah dihadapan mereka, dari atas jalan berbukit kami menyaksikan anak-anak bunian berlari-lari riang di halaman rumah mereka, tawa kecil mereka terdengar riuh damai sekali tampaknya. Kami tak sadar dua orang bertubuh pendek mendekati kami yang sedang hanyut dalam pikiran masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hendak kemana dunsanak!”, terdengar suara sapaan dari arah belakang kami.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kami berkeliling memeriksa perkebunan kami”, aku menjawab spontan sapaan itu sambil berusaha menyembunyikan rasa penasaranku.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kami mengetahui lebih banyak tentang hutan ini, kalau sanak mau biar kami mengantar”, kata pria dengan topi pandan hijau.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kawan-kawanku yang lain tak terusik dengan kedatangan dua pria berpakaian aneh itu, salah seorangnya memakai topi dari anyaman rumput dengan hiasan bulu burung dibelakangnya, pria dengan topi daun pandan terlihat lebih muda, bau badan mereka aneh, aku mencoba menyembunyikan rasa penasaranku terhadap penampilan mereka, lalu memberanikan diri bertanya sambil menunjuk kearah perkampungan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kampung apa ini?”,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ini kampung kami, kampung orang Bunian kami menjaga kampung ini”, ujar pria bertopi rumput.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Saya paham bapak-bapak berdua lebih mengetahui banyak tentang hutan ini daripada kami, jika benar bapak bersedia, tidak masalah menghantarkan kami berkeliling”, jawabku membiasakan diri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rekanku yang lain tidak banyak tingkah, bahkan tidak berpendapat sedikitpun ketika dua orang Bunian itu ikut serta berkeliling, mobil kembali melaju menyusuri jalan kebun, cuaca tidak terlalu panas tidak pula terlalu dingin, sejuk seperti angin pagi, telah jauh berkendara akhirnya kami sampai di penghujung kebun, kali ini kondisi jalan tanah dipenuhi akar-akar melintang, pohon-pohon besar berjuntai akar pula, burung-burung ramai berbunyi, jalan yang kami lalui kali ini berada dalam kerindangan pohon, cahaya matahari jatuh ke tanah seperti batangan kayu bengkok, membentuk bayangan ranting pohon dan daun.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekitar setengah jam perjalanan mobil berhenti di depan sebuah pondok, aku dan beberapa rekan menuju pondok tepi jalan itu, entah apa tujuan kami singgah kepondok itu, jelasnya ketika rekanku yang lain mengingatkan tentang dua orang penghantar kami tadi, aku kembali ke mobil untuk mengajak keduanya singgah ke pondok, tapi aneh, di mobil aku tak menjumpai kedua penghantar tadi, mereka hilang entah kemana, kejadian itu tidak kuberi tahu kepada rekanku, selesai bertamu di pondok itu barulah salah seorang mandor  bertanya kemana kemana perginya dua orang berpakaian aneh tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kepergian dua orang Bunian tadi tidak terlalu menjadi pembicaraan dalam perjalanan pulang, kami kembali ke camp melewati jalan semula, sekitar sepuluh menit perjalanan masih dalam kawasan hutan yang sama kami tidak lagi menjumpai akar-akar pohon yang melintang dijalan, selain aku tidak ada yang menyadari bahwa jalan pulang yang kami tempuh itu tidak lagi sama seperti sediakalanya, padahal kami tidak mengambil jalan lain selain jalan yang tadi, baru menjadi pertanyaan besar ketika kami memasuki areal blok VI kebun, kami tidak lagi menjumpai kampung Orang Bunian di pinggir jalan itu seperti waktu kami memulai perjalanan tadi, kawan-kawan saling bertanya tapi tak satupun yang tahu jawabannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lama aku termenung memikirkan kejadian malam itu, kulihat jam malam menunjukkan pukul dua dinihari, kemudian aku merasa seluruh tubuhku dingin, keringat sebesar bulir jagung tak henti menetes di dahiku, tak sampai sepuluh menit tubuhku bermandi keringat dingin, mimpi bertemu kampung Bunian dan Orang-orang Bunian itu membuat mataku sulit dipejamkan hingga fajar pagi menyingsing.&lt;br /&gt;&lt;a class=&quot;dmca-badge&quot; href=&quot;http://www.dmca.com/Protection/Status.aspx?ID=68a0f3de-c0c2-4f1f-9817-64ddc8ba6754&quot; title=&quot;DMCA.com Protection Status&quot;&gt; &lt;img alt=&quot;DMCA.com Protection Status&quot; src=&quot;//images.dmca.com/Badges/DMCA_badge_trn_60w.png?ID=68a0f3de-c0c2-4f1f-9817-64ddc8ba6754&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;script src=&quot;//images.dmca.com/Badges/DMCABadgeHelper.min.js&quot;&gt; &lt;/script&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/manusia-kerdil.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-NDqu6ju-eLI/WArdYb4tO5I/AAAAAAAAFBg/hsVUdbdFQFc8TyOtZsor6fOniHyPASRwACPcB/s72-c/Ancient%2Bmessage%2Bfor%2Bsingapore%2Band%2Bmalaysia.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-167678333564810508</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2016 17:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:07:40.737-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Suku Rimba Dan Pecinta Ketulusan</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menyikapi Kehidupan Orang Rimba (Suku Anak Dalam) sebagai bagian dari sebuah keutuhan sosial masyarakat, sepatutnya sama ketika kita menyikapi soal-soal pada masyarakat lain, demikian pula dalam memenuhi keadilan terhadap mereka, Suku Anak Dalam atau dikenal Orang rimba (berikutnya disebut Orang Rimba) pun harus mendapat perlakuan yang adil, lalu pada situasi lain negara seharusnya menunjukan pula keberpihakan mereka dalam mencerdaskan Orang Rimba ini, dalam tatanan pemerintahan daerah khususnya –sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat –  sekali lagi seyogianya Orang Rimba mendapat perlakuan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s320/anak%2Bidar.JPG&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;(Ilustrasi)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kabupaten Dharmasraya dalam waktu yang cukup lama sebelum ini, disisa-sisa Hutannya, telah pula menjadi tempat bernaung hidup bagi Orang Rimba ini, kawasan hutan yang menyempit membuat mereka terus berjalan mencari penghidupan baru, harapan baru, jauh dan jauh sehingga jauh pula dari perhatian pemerintah daerahnya, memperjuangkan nasib Marjinal yang sedang dilakoni orang rimba, sama mulianya dengan cita-cita pendiri bangsa ini, menjadi bangsa yang Merdeka seutuhnya, maka dari itu tidak ada pembenaran atas argumen atau kesepakatan yang menjurus kepada pembodohan terhadap Orang Rimba, baik itu dalam segi Administratif ataupun ke-Akademikan, seperti banyak yang kita temukan sekarang ini, orang rimba hanya menjadi objek yang bisa di perjual belikan atau manusia unik dan langka yang hendak punah, atau tenaga kerja murah yang bisa di sewakan kepada perusahaan-perusahaan yang sedang menguras perut Bumi Dharmasraya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Agak sedikit rumit menemukan ketulusan atas apa yang di sepakati antara orang rimba dengan pemangku kepentingan tertentu, dalam kesepakatan dagang misalnya, orang rimba dikenal sebagai orang-orang yang tidak jujur, atau katakanlah suka menipu, tapi kita tidak boleh pula takut menetapkan bahwa sebagian besar kepunahan Satwa langka di kabupaten Dharmasraya adalah karena pembodohan disengaja yang dilakukan orang-orang  cerdas terhadap orang rimba itu, tiga ratus limapuluh ribu rupiah harga Trenggiling perkilonya, orang-orang cerdas dengan sengaja melakukan perburuan terhadap Satwa yang dilindungi itu dengan memanfaatkan kelihaian orang rimba dalam berburu, belum lagi terhadap satwa lindungan lainnya, seperti Harimau, Kijang, Rusa dan lain sebagainya. Apakah orang rimba punnya kesadaran Akademik/Administratif tentang Satwa-satwa yang dilindungi itu, jawabannya tidak, sebab bagi orang rimba satwa-satwa itu tidak lebih dari hewan buruan yang menjadi salah satu sumber karbohidrat bagi keberlangsungan hidup mereka, dan tidak butuh pembunuhan dalam jumlah banyak, dalam kisah yang seperti ini jelas tidak ada pertukaran kecerdasan antara orang rimba dengan mitra bisnisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mungkin tidak mudah pula melakukan pembenahan, agar kecerdasan dan keadilan itu seutuhnya juga menjadi milik orang rimba, sebagaimana yang dituangkan dalam batang tubuh Undang Undang Dasar 45, mencerdaskan kehidupan bangsa, aneka kepentingan berlaga menghalangi jalan kecerdasan, berikut keadilan versi negara, untuk sampai di pondok-pondok orang rimba. Sebagai keadilan misalnya, orang rimba tidak diberitakan pernah memenangkan sebuah perkara atas sangketa Hutan yang menjadi tulang punggung hidup mereka di Kabupaten baru ini, kalaupun ada itu hanya cerita heroik yang sedang hijrah mencari tempat, dan cerita kemenangan itu pun atas kerja keras perkumpulan pecinta ketulusan (Mungkin) dalam mempertahankan hak hidup orang rimba, sedang pihak pemangku kepentingan selalu punya ratusan ribu cara untuk memenangkan kembali perkara itu. Melakukan pembenahan kecerdasan dan keadilan untuk semua itu tidak boleh pesimis, segelap apapun jalan dalam memeratakan kecerdasan, keadilan versi negara ini, selalu saja ada orang-orang baik yang akan menjadi Utusan Tuhan dalam menengahi perseteruan kasta ini. Mulailah menentukan sikap dari sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam Domainnya kabupaten Dharmasraya masih sangat remaja, dan sejarah sedang berlangsung, para pecinta ketulusan merekam kejadian ketidakadilan terhadap Orang Rimba, andaipun rekaman itu menjadi sulit berlaku dalam jubah Hukum tapi fakta nurani –Keadilan pemikiran yang sedang diketuai Hakim hati– berbicara lantang dalam sunyi jenak, ketika palu keputusan dipukul tercipta keputusan sakral yang kemudian bertransformasi kedalam sebuah tipologi “telah terjadi KEBIADABAN terhadap orang-orang rimba itu yang dilakukan oleh si bla..bla..” demikian yang diputuskan Hakim terhadap perkara yang baru saja diselesaikannya. Nasib Orang Rimba mungkin tidak selesai ketika itu, tapi kecerdasan dan keadilan akan menguap menjadi tetes-tetes embun yang menyirami rumput kering, tidak lagi dalam versi negara tentunya kecerdasan dan keadilan itu, tapi lebih dekat dalam versi rumput yang sedang menyerap nasib-nasib Orang Rimba itu, lalu siapa pecinta ketulusan itu, merekalah pangeran-pangeran muda yang sedang bersiap menggantikan kekuasaan Raja lalim dengan cara mereka sendiri. Apakah Indonesia akan menjadi Angker setelah itu, ambigu tentunya tapi yang jelas keputusan itupun ada ditangan para putra/i mahkota itu sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;dmca-badge&quot; href=&quot;http://www.dmca.com/Protection/Status.aspx?ID=68a0f3de-c0c2-4f1f-9817-64ddc8ba6754&quot; title=&quot;DMCA.com Protection Status&quot;&gt; &lt;img alt=&quot;DMCA.com Protection Status&quot; src=&quot;//images.dmca.com/Badges/DMCA_badge_trn_60w.png?ID=68a0f3de-c0c2-4f1f-9817-64ddc8ba6754&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;script src=&quot;//images.dmca.com/Badges/DMCABadgeHelper.min.js&quot;&gt; &lt;/script&gt;/div&amp;gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/suku-rimba-dan-pecinta-ketulusan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s72-c/anak%2Bidar.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-6895932332566584143</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2016 17:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:22:15.508-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Suku kubu ikut pemilu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div align=&quot;JUSTIFY&quot; style=&quot;margin-bottom: 0in;&quot;&gt;Untuk pertama kalinya dalam sejarah Dharmasraya, SAD (Suku Anak Dalam) yang hidup dan menetap di wilayah sekitar hutan kabupaten dharmasraya, memenuhi hak pilih dalam pemilihan calon legislatif. dari pantauan dilapangan sekitar 30 orang komunitas Suku Anak dalam (SAD) memenuhi TPS 9, berlokasi di kecamatan IX koto kenagarian Banai, rombongan suku anak dalam yang diketuai oleh bapak penyiram bersama istri dan anak-anaknya datang ke lokasi TPS sekitar pukul 11.00 WIB, lokasi TPS disesuaikan sedemikian rupa oleh PPS sehingga TPS 9 khusus untuk komunitas suku anak dalam diadakan di pinggiran hutan yang mudah diakses oleh komunitas suku anak dalam, dari 30 orang rombongan suku anak dalam hanya sebanyak 16 orang yang berhak melakukan pemilihan, mereka tersebut adalah pria dewasa dan perempuan dewasa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Usup (40) ketika ditanya tentang proses pemilihan ini, mengaku ini adalah pertama kalinya mereka dari komunitas suku anak dalam melakukan pencoblosan dalam pemilihan umum, kesulitan yang dihadapi yusup dalam melakukan pemilihan karena dia tidak tahu membaca, dalam keterbatasan tersebut rombongan suku anak dalam tetap percaya diri dalam menentukan pilihannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s320/anak%2Bidar.JPG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&#39;&#39;Ini pertama kalinya kami dari &quot;orang dalam&quot; memilih dalam pemilihan kegiatan pemilihan umum, harapan kami ini adalah percobaan mudah-mudahan untuk maso yang akan datang kami diberi kesempatan lagi untuk melakukan pemilihan umum&#39;&#39;, jelas Usup.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bupati Dharmasraya Adi gunawan berkesempatan menyaksikan proses pemilihan oleh komunitas suku anak dalam, merasa bangga untuk pertama kalinya dalam sejarah demokrasi nasional di kabupaten dharmasraya komunitas suku terpencil &quot;suku anak dalam&quot; mendapat hak pilih, beginilah seharusnya demokrasi, kata Adi gunawan, tidak hanya untuk masyarakat yang dikenal sudah memiliki peradaban, demokrasi juga harus dirasakan oleh orang-orang pedalaman yang notabenenya hidup sederhana dan sepenuhnya bergantung hidup pada hasil hutan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Ini adalah TPS khusus untuk komunitas suku anak dalam, untuk kedepan secara bertahap kita akan terus lakukan pembinaan terhadap suku anak dalam, bagi saya ini sesuatu yang luar biasa yang dilakukan komunitas suku anak dalam, kita tahu hingga kini mereka hidup nomaden dan pada kesempatan ini mereka bersedia melakukan salah satu dari bagian demokrasi, yaitu menentukan pilihan mereka dalam pemilihan umum, untuk pemilihan berikutnya mereka juga akan diikut sertakan, pokoknya ini adalah sesuatu yang positif dari pendampingan yang kita lakukan selama ini&quot;, Ungkap Adi gunawan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Karena hampir semua pemilih dari suku anak dalam kesulitan dalam membaca, terlihat panitia pemungutan suara agak sedikit kerepotan dalam membimbing mereka, seperti bagaimana cara menusukan paku di kertas suara, kemudian memasukan surat suara sesuai dengan nama kotak suara. Meski agak kesulitan terlihat panitia TPS dengan sabar membimbing rombongan suku anak dalam satu persatu dalam proses pemilihan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seluruh proses pemungutan suara khusus untuk komunitas suku anak dalam tersebut berlangsung hingga pukul 13.00 WIB, masyarakat disekitar nagari Banai juga ikut antusias, terlihat cukup ramai juga masyarakat menyaksikan &#39;&#39;suku anak dalam&#39;&#39; menentukan pilihan dalam pemilihan calon legislatif tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/suku-kubu-ikut-pemilu.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s72-c/anak%2Bidar.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8877941312226627895</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2016 17:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:21:28.131-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Kearifan lokal Dharmasraya. Episode suku Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Marni dan kelompoknya sudah mendiami hutan di kabupaten Dharmasraya selama turun temurun, sebagai bagian dari komunitas suku kubu Marni dan keluarga besarnya mempunyai ikatan yang erat dengan hutan belantara.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setiap hari mereka mencari bahan makanan dalam rimba, apapun yang bisa dijadikan makanan, dari jenis hewan seperti babi, biawak, monyet, ular, beruang, landak, trenggiling, bahkan Harimaupun menjadi bagian menu makanan mereka, keahlian mereka dalam berburu tidak ada yang mampu menandingi di Kabupaten Dharmasraya, apalagi jika dibandingkan dengan saya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain hewan buruan Marni dan kelompoknya juga mencari buah-buahan hutan, salah satu yang sangat populer dan paling mereka senangi adalah &quot;Buah jerenang&quot; (Daemonorops draco resin), atau dikenal juga dengan buah rotan, untuk orang seperti saya sulit menemukan buah ini didalam rimba. Buah jerenang memiliki nilai jual yang tinggi dipasaran gelap, bisa dipastikan buah ini salah satu sumber penghasilan terbesar bagi suku kubu di Dharmasraya, suatu ketika pernah saya tanyakan berapa nilai jual buah jerenang, Marni menjawab satu kilonya mencapai harga satu juta rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bertahun-tahun kelompok suku kubu hidup dan berkembang didalam rimba Dharmasraya, akibat perkembangan tersebut dari keterangan Marni dan data yang saya peroleh sekarang kelompok Marni sudah terpecah menjadi lima kelompok, perpecahan tersebut salah satunya disebabkan karena konflik internal akibat semakin sempitnya ruang berburu untuk suku Kubu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selama lebih kurang satu tahun setengah saya mengamati kehidupan suku Kubu di Dharmasraya, saya temukan sistematika yang menarik dari kebiasaan hidup mereka yang berpindah-pindah, sistematika perpindahan yang memicu pada musim buah-buahan hutan, dan saya sepakat menamakan ini salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh suku Kubu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bulan Juli di rimba Dharmasraya curah hujan relatif rendah, pada bulan ini buah jerenang sedang masa berputik, kawasan hutan Dharmasraya yang berbatasan dengan kabupaten Solok selatan telah ramai &quot;di lintasi&quot; anak laki-laki rombongan suku Kubu guna mencari rumpun rotan yang sedang berputik, pada bulan ini &quot;kafilah&quot; suku Kubu yang menemukan rumpun rotan yang berputik biasanya memberi tanda diareal sekitarnya, jika memungkinkan beberapa orang dari mereka akan mendirikan &quot;Sudung&quot; sembari menjaga rumpun rotan dari kelompok lain.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s320/anak%2Bidar.JPG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sementara itu laki-laki yang lain meneruskan perjalanan mencari rumpun yang lain, pencarian itu terkadang sampai memasuki wilayah kabupaten Sawahlunto sijunjung dan kabupaten Solok, manakala ditemukan rumpun terakhir dua atau tiga orang dari mereka juga melakukan hal yang sama yaitu menjaga rumpun rotan hingga musim panen buah pada bulan September, diperkirakan radius pencarian mereka sekitar 150 Km persegi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Buah jerenang mulai siap petik pada awal atau pertengahan bulan September, mereka yang berada dititik terakhir paling jauh mulai memetik buah jerenang, secara estafet mereka mengikuti jalur kedatangan sampai bertemu lagi dengan rumpun pertama. Proses panen buah jerenang tersebut bisa berlangsung hingga akhir bulan Desember.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada periode panen buah jerenang ini biasanya potensi konflik antar kelompok maupun dalam kelompok itu sendiri sangat tinggi, bahkan perpecahan dalam kelompok juga paling banyak terjadi pada musim ini. Bahkan tidak jarang pula demi mendapatkan hasil yang maksimal dua kelompok saling menikahkan putra-putrinya yang sudah cukup umur.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terlepas dari bermacam konflik yang terjadi pada musim panen buah jerenang, hal yang paling mendasar adalah mereka tidak akan sembarangan menebang dan mencemari kawasan yang ditumbuhi rumpun rotan. Seperti Permata, setiap suku Kubu akan menjaga kawasan tersebut dengan baik dan dengan berbagai cara agar tidak diketahui oleh siapapun selain dari anggota kelompoknya, saya percaya terkadang beberapa dari mereka menakuti saya untuk tidak pergi ke kawasan yang dirahasiakan itu dengan menceritakan keganasan hewan buas yang terdapat didalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bersambung ...&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/kearifan-lokal-dharmasraya-episode-suku.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s72-c/anak%2Bidar.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8104892399071115061</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2016 17:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:20:23.114-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Sejarah Baru Dharmasraya</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kehidupan manusia pedalaman sering kali menjadi perhatian khusus bagi dunia internasional, salah satunya suku pedalaman yang hidup di seputaran kawasan rimba kabupaten Dharmasraya, dialah suku Kubu atau dikenal juga dengan Suku Anak Dalam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penduduk dikabupaten Dharmasraya lebih akrab menyebutnya dengan &quot;Orang Kubu&quot;, untuk selanjutnya dalam pembahasan topik kali ini di tulis juga dengan nama &quot;Orang Kubu&quot;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCU/pu6FboDCyYEKCH4TPXxTrNvJSskmM9bLACPcB/s320/IMG_8854.JPG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;Tidak banyak catatan yang menjelaskan asal usul kehidupan &quot;Orang Kubu&quot;, namun keberadaannya ditengah masyarakat lebih dominan mengenai sikap diskriminatif, sehingga terkadang sikap tersebut seakan menjadikan Orang Kubu sesuatu yang harus dijauhi atau bahkan lebih ekstrim lagi harus di usir dari perkampungan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai subjek yang memiliki jarak pemisah dengan masyarakat, Orang Kubu punya ketergantungan yang sangat tinggi terhadap hutan dan hasil hutan, apalagi dalam kehidupan Orang kubu mereka tidak mengenal istilah kepemilikan tanah, sebab menurut mereka hutan dan hasilnya adalah milik mereka, milik bersama orang-orang di suku Kubu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada tanggal 9 April 2014, sejarah pertama tercatat di kabupaten Dharmasraya provinsi Sumatera Barat. suku Kubu mulai membuka diri dengan urusan administratif kenegaraan, yaitu mereka ikut dalam pemilihan calon legislatif. Sebanyak enam belas orang dari suku Kubu, pada pukul sepuluh mendatangi TPS 9 untuk ikut mencoblos memilih wakil rakyat yang akan menduduki kursi legislatif, peristiwa langka tersebut di saksikan pula oleh pucuk pimpina kabupaten Dharmasraya Ir. H Adi Gunawan, selaku Bupati kabupaten Dharmasraya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang Kubu yang terlibat dalam pemilihan itu sangat terkendala dengan membaca, sehingga petugas agak sedikit direpotkan dalam proses tersebut. Seperti dijelaskan oleh Bupati Dharmasraya Adi Gunawan, TPS (Tempat Pemungutan Suara) 9 merupakan TPS khusus yang disediakan oleh KPU, dan TPS tersebut berada ditepi pinggiran hutan sehingga mudah dijangkau oleh suku Kubu. Kegiatan tersebut berlangsung hingga pukul dua belas siang, selesai mencoblos rombongan Orang kubu kembali masuk hutan. Yusup salah seorang dari suku Kubu mengaku, bahwa mereka berharap proses seperti ini akan dilanjutkan lagi pada pemilihan umum berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/sejarah-baru-dharmasraya.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCU/pu6FboDCyYEKCH4TPXxTrNvJSskmM9bLACPcB/s72-c/IMG_8854.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8947408598978960135</guid><pubDate>Tue, 18 Oct 2016 17:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-18T10:48:14.723-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Suku Kubu - Melangun dan Kawin Cigak</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hari itu tanggal 3 Agustus 2014, disela liburan lebaran kami bertemu dengan rombongan suku Kubu pimpinan Penyiram diskeitar kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT. SMP (Incasi Raya Group), rombongan yang berjumlah sekitar 30 orang tersebut sedang melakukan prosesi “Melangun”, berpindah dari pemukiman mereka di batang bakur, jarak Batang bakur dengan kawasan perkebunan PT. SMP tersebut sekitar tujuh jam berjalan kaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepindahan mereka dikarenakan salah seorang anak dari Idar meninggal dunia dalam perjalanan mereka menuju dukun berobat, setahu saya anak yang meninggal tersebut belum diberi nama kendati usianya sudah menginjak sekitar satu tahun setengah, sebagaimana diterangkan Udin salah satu rombongan Penyiram, prosesi Melangun saat ini kemungkinan tidak akan selama prosesi melangun pada saat kawasan hutan mereka masih luas dan lebat, kata kalau dulu melangun biasa mereka lakukan selama empat tahun lebih kurang, kalau sekarang mungkin tidak akan selama itu, jelas Udin. &lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;video&quot;&gt;&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/0Z-wnjqoZqk&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Kawasan hutan Dharmasraya yang semakin berkurang membuat ruang gerak mereka semakin sempit, sehingga tidak memungkinkan lagi untuk berpindah lebih jauh ketika mereka melakukan prosesi Melangun, ketika saya Tanya budaya suku kubu yang satu ini (Melangun) seperti dijelaskan udin, kematian antara orang luar (Orang koto) dengan orang dalam (suku Kubu) sangat jelas perbedaannya disni, orang luar akan menguburkan kematian didalam tanah, semantara itu suku kubu akan membuat “Singkap” berbentuk sebuah menara, didalam singkap itu mereka meletakkan mayat yang meninggal, singkap ini dibuat sejauh mungkin ditengah hutan. Proses perlakuan terhadap mayat seperti ini hampir mirip dengan yang dilakukan suku Toraja di Sulawesi sana, hanya saja suku kubu tidak melakukannya didinding bukit batu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya audiensi cukup lama dengan Udin, perihal kematian dan perkawinan suku kubu di Dharmasraya ini. Terkait dengan perkawinan suku kubu juga mengenal istilah yang berkonotasi negative, seperti “kawin cigak”. Orang luar (orang kota) memberikan istilah kawin lari, terhadap pasangan yang melakukan perkawinan tanpa persetujuan keluarga atau perkawinan yang disebabkan hal negative lainnya, sementara itu suku Kubu menamakan perkawinan seperti dimaksud diatas dengan nama “kawin Cigak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawin cigak menurut udin, merupakan perkawinan yang tidak mengikuti adat istiadat suku Kubu, perkawinan yang dilakukan secara adat harus dihadiri oleh pemimpin masa dan penghulu/ninik mamak semua kelompok suku kubu, jika  seorang gadis hendak menikah maka orang tuanya akan membayar kepada pemimpin masa dan ninik mamak pihak pengantin laki-laki , pembayaran tersebut akan dijatuhkan sebagai hutang bagi pengantin laki-laki yang akan dibayarnya selama hidup bersama dengan istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2Fgoo.gl%2FQ7ZjMa&amp;amp;container=blogger&amp;amp;gadget=a&amp;amp;rewriteMime=image%2F*&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;kompas musafir&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://goo.gl/Q7ZjMa&quot; title=&quot;sudong bujang padek&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dari penjelasan udin tersebut maka bisa saya simpulkan, kawin Cigak merupakan istilah kumpul kebo dalam suku Kubu, karena perkawinan seperti ini tidak satupun mengikuti aturan adat suku Kubu, lebih jelasnya Udin mengatakan “Mereka kawin atas kesepakatan mereka berdua, saja.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Artikel terkait budaya suku kubu :&lt;br /&gt;1. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2014/04/kearifan-lokal-dharmasraya-episode-suku.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;kearifan lokal suku kubu&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;2. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2014/04/suku-kubu-ikut-pemilu.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Pemilu pertama suku Kubu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2011/02/bisu.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Menikah dengan gadis suku kubu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2013/01/dragons-blood-on-dharmasraya.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Darah Naga di pemukiman Suku Kubu&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/suku-kubu-melangun-dan-kawin-cigak.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/0Z-wnjqoZqk/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-5002210522828150281</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 18:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:16:28.546-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Hutan Setumpak</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pagi itu matahari belum sepenuhnya memanaskan tanah bumi, burung-burung terdengar ramai berkicau di balik sosok hutan, aneka ragam kicaunya, rumput ilalang dipinggir jalan masih bermandi embun pagi ketika Bujang bagak berjalan sendiri menuju kampung Sungai Besar, jalannya tidak tergesa, sorot matanya tajam seperti hendak menembus kabut yang masih menyelimuti punggung bukit kubang gajah, para peladang dari kampung telah banyak pula berselisih jalan dengan Bujang bagak, mereka yang masih mengingat Bujang bagak ikut menyapa, tapi dijawab dengan dingin, ketajaman matanya seakan tak surut oleh sapaan itu, beberapa waktu lalu salah seorang kerabat Bujang bagak mengabarkan sepetak hutan miliknya telah di tumbang penduduk Sungai Besar, sebab itu pulalah Bujang bagak memutuskan untuk keluar dari hutan huniannya yang berjarak seratus kilometer lebih dari kampung Sungai Besar, demi mendengar kabar yang sangat meremehkannya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku menurunkan laju motor, menatap punggung bujang bagak sambil terus memperhatikan gerak langkahnya, sadar seseorang memerhatikan punggungnya Bujang Bagak berpaling mendapatiku pelan-pelan mengendarai motor, agar tak menimbulkan curiga berlarut aku menyapanya. Bujang bagak adalah salah seorang kepala suku kubu di pedalaman Riau, hidup dalam jumlah kelompok yang banyak, nomaden, mereka berpindah pindah ketika salah seorang dari sukunya meninggal mereka akan mencari hutan baru, hidup dari berburu dan bertanam sayur-sayuran, setiap hari hutan tempat mereka menggantung hidup berkurang, yang aku tahu suku primitif ini hanya menjadi ladang penelitian bagi kalangan akademis tertentu dari dalam dan luar negeri, kebijakan melindungi mereka dari kepunahan tidak pernah bergaung sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hendak kemana sanak sepagi ini”, sapaku.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bujang bagak masih mengernyitkan kening menatap kearahku, air mukanya mencoba mengingat, tapi tak berhasil karena memang itu pertama kali dia berjumpa denganku, meski aku telah lama tau dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Oh, aku nak ke kampung Sungai Besar, sanak hendak kemano, tampaknyo kito searah”, jawab Bujang Bagak dengan logat melayu Jambi..&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Iyo, aku ni searah dengan sanak, cuman jalanku tak sampai ke kampung aku sampai ke Milhona je”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kalau baitu bolelah aku menumpang, sampai ke Milhona pun tak apo”, ujar Bujang Bagak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Boleh lah..”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bujang Bagak berkendara bersamaku menuju camp Milhona, kabut pagi mengiring kami, sisa-sisa hujan semalam membuat jalan berlumpur, sehingga jalan menuju camp tidak mudah, berkali-kali ban motor terpeleset. Diatas motor Bujang Bagak menceritakan maksudnya, ia hendak membuat perhitungan dengan salah seorang penduduk kampung yang telah keji menumbang setumpak hutan, aku tak tahu banyak ujung pangkal permasalahan Bujang Bagak, dari ceritanya jelas dia dianiaya oleh tindakan penduduk kampung itu, di ranah hukum suku kubu sulit untuk di masukan hitungan, sekalipun mereka hidup dan tinggal dinegara berdaulat, dalam persoalan yang dihadapi Bujang Bagak kali ini misalnya, zahirnya bolehlah dia merasakan hutan setumpak itu kepunyaan dia dan sukunya, ketika hutan setumpak itu di tebangi orang-orang yang mengaku beradab, harga diri Bujang Bagak diinjak-injak, bagaimana aku harus menjelaskan padanya bahwa tidak satupun ninik mamak kampung yang boleh menebang hutan sebab ini adalah hutan lindung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Puluhan tahun lalu Kubang Gajah merupakan tempat suaka Gajah, dihutan itu para Gajah hidup tentram, tiada kesulitan bagi kawanan Gajah untuk mencari makan, ratusan ekor jumlahnya tapi sekarang sisanya bisa dihitung jari, miris hati melihat secara langsung kepunahan mereka, dalam perjalanan menuju camp itu aku hanya berkata-kata dalam hati, aku paham Bujang Bagak hutan ini sebenarnya bukan milik mereka, tapi milik suku kamulah yang jelas-jelas bergantung hidup darinya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kalau orang tu tak bisa diajak damai, aku potong Talingonyo”, suara dendam Bujang Bagak membuyar lamunanku.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ah, jangan sampai begitu keras sanak, bawolah baetong baik-baik dulu, apo sanak dah tau siapo ughangnyo?”, jawabku pula.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Belum, tapi mudah bagiku nak tau sipao ughangnyo”,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku diam saja tak melanjutkan, segan pula terlalu dalam mengikuti persolan Bujang Bagak, sekitar setengah jam kami sampai di camp Milhona, sepi, pekerja telah berada di tempak mereka masing-masing, aku tawarkan Bujang Bagak mengopi di kedai Ana, dia tak menolak, dalam hatiku bersyukur ini kesempatan pertama untuk aku menanyakan langsung kepada kepala suku kubu tentang kehidupan mereka yang sesungguhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bujang Bagak membuka cerita;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Puluhan tahun lalu, ketika Kubang Gajah masih perawan orang-orang PT.TBS menciptakan parit besar di sepanjang perbatasan kebun perusahaan itu, parit itu sebagai bagian dari pencegahan agar Gajah tidak memakan pokok-pokok kelapa sawit dan kopra, banyak biaya dikeluarkan untuk pembuatan parit itu tapi usaha itu tak pernah berhasil.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kehidupan kami berawal di pedalaman Jambi, hutan disana terus ditebang pada akhirnya kami terus berjalan sampai ke daerah Kubang Gajah ini, disini kami menempati setumpak hutan tepat di persimpangan, kemudian hari orang-orang balok menamakan persimpangan itu “Simpang Kubu”, hidup diatas pondok beratap terpal dan jerami daun, ketika orang-orang asing mulai berdatangan hutan dibelakang kami mulai ditebang lalu pada akhirnya kami harus mencari daerah baru sebab tak banyak lagi hewan yang bisa diburu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang-orang PT.IPA secara resmi (Mungkin) pernah melakukan penebangan kayu disini, jenis Meranti dan jenis lainnya, tidak semua jenis kayu yang mereka tebang, namun pembalok yang datang setelah itu menumbang habis semuanya tanpa pilih-pilih.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku semakin semangat mendengar cerita Bujang Bagak, dan tak tahan untuk bertanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;”Apo pernah orang-orang datang untuk mengajar mambaco di suku sanak?”,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hm,Seingat awak dulu”, Bujang Bagak mencoba mengingat,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“O, iyo, dulu pernah ado tapi dio dak mengajar dak, cuman belajar baso kami lah”,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku biarkan dia mengingat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“A, iyo, baru ku ingat dulu pernah ado puan yang datang ke kami, nyo mengajar anak-anak mambaco, tapi sudah tu pai ntah kemano”,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Berapo lamo orang itu di camp sanak?”, tanyaku.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dak lamo dak, cuman sebenta etongan bulan jugo, memangnyo ado apo dengan dio tu?”, Bujang Bagak penasaran.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sejak orang tu pergi ado anak-anak dari suku sanak yang sekolah atau bisa baco tulis”, aku memancing penasaran Bujang Bagak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Nan pandai baco ado, tapi nan masuk sikola dak”, jawabnya pula.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sanak suka dak orang-orang seperti mereka tu datang ke suku sanak?”,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kalau kami ni apolah, banyak kawan tu baik”, jawaban Bujang Bagak singkat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku Kubu punya pandangan yang menarik soal penyakit, aku tidak terlalu banyak tahu istilah-istilah dalam perdukunan, mereka menyelesaikan perkara penyakit dengan mistik, dalam masalah mistik ini suku kubu sangat dikenal penduduk luar, tak satupun orang kampung sudi meremehkan kemampuan mereka menggunakan mistik untuk berbagai keperluan, memanfaatkan tanaman hutan, aku coba menyederhanakan keterangan Bujang ketika dia menceritakan filosopinya mengobati penyakit.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCU/pu6FboDCyYEKCH4TPXxTrNvJSskmM9bLACPcB/s320/IMG_8854.JPG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku menganggapnya objektif sebab Bujang Bagak adalah orang yang dituakan disukunya, kelompok suku kubu Bujang Bagak meyakini ketika seorang anak demam itu merupakan ketaguran setan, anak-anak bermain di tempat yang dihuni setan lalu salah seorang anak setan terluka atau terkencingi oleh anak-anak, setelah itu anak setan sakit, orang tua si pesakit itu tak membiarkan anaknya sakit begitu saja, maka disapanyalah anak-anak yang melukai atau yang mengencingi itu, lalu anak manusia itu jatuh sakit, badannya panas hingga beberapa hari, kalau tak segera diobati bisa saja berakhir kepada kematian. Bujang Bagak akan membacakan mantera lalu menyediakan beberapa pucuk daun-daun atau buah, sesajen kecil itu diletakkan di tempat anak-anak manusia tadi bermain, hari berikutnya demam panas anak itu akan turun.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bujang Bagak meyakini sesajen itu adalah syarat yang akan digunakan setan untuk mengobati anak setan yang terlukai atau terkencingi itu, lalu melalui mantera Bujang Bagak setan itu pula yang akan mengobati anak manusia yang terkena demam panas, begitulah cara kerja yang diyakini Bujang Bagak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sederhana dan mengagumkan, Bujang Bagak yang tidak mengenal huruf abjad itu memperlakukan alamnya dengan hormat, dia begitu meyakini hidup itu bukan untuk saling menyakiti kepada yang haluspun demikian.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kalau musuh tu mudah nak caghi, tapi kawan nan baik susah”, kata Bujang Bagak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Aku tumpahkan kopi sanak ni sudah tu kito balawan gi, hah, kan mudah tu caghi musuh”, lanjut Bujang Bagak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perbincangan kami yang tidak terlalu lama itu menumbuhkan kedekatan baru antara aku dan Bujang Bagak, dikedai Ana Bujang Bagak membeli beberapa bungkus rokok, kami mengakhiri pertemuan itu dengan saling menukar nomor Phonsel, aku dan Bujang Bagak berjanji akan menjadi kawan yang baik, saling tolong menolong.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Langit siang itu mendung, pertanda sebentar lagi hujan lebat akan turun, aku bersama seorang kawan bermaksud mengunjungi camp Bujang Bagak sore itu, tapi di halang hujan yang benar-benar lebat sehingga jalanan tak bisa di lalui.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hutan setumpak kepunyaan Bujang Bagak dan sukunya terakhir kulihat telah gundul dan telah dibakar, selama lima hari api tidak padam dihutan itu, malam itu aku dan lek Min memandang pasrah melihat bagian kehancuran itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;....&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dikutip dari catatan &quot;Pulau-pulau asap&quot;, by Fadli.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/hutan-setumpak.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCU/pu6FboDCyYEKCH4TPXxTrNvJSskmM9bLACPcB/s72-c/IMG_8854.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-1433690013801135070</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 18:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-17T11:06:30.941-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Mencari Jejak Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pagi Jumat pukul 9.30 WIB, kami berangkat dari Posko PEDULI menunggang kuda merah Revo, menuju hutan sebalah barat kabupaten Dharmasraya tujuan kami mencari Suku Anak Dalam yang bermukim di &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Genah&lt;/i&gt; (Pondok)dalam rimba, sekaligus menyampaikan pesan mak Marni kepada sanak saudaranya di rimba sana, pencarian ini sekaligus Orientasi medan sebelum kami melakukan kegiatkan “Sahabat Belajar anak Rimba”. &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://goo.gl/Jp60J8&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;kompas musafir&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://goo.gl/Jp60J8&quot; style=&quot;cursor: move;&quot; target=&quot;_blank&quot; title=&quot;kompas musafir&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Erna (7) salah seorang anak Suku Anak Dalam telah dirawat seminggu lebih di Rumah Sakit Pulau Punjung, ketika kami menjemputnya di Bulangan Erna dalam keadaan yang sangat lemah lalu kami memawanya kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif (Maunya begitu), seminggu sudah Erna berada dalam penanganan Medis keadaannya semakin membaik namun belum diketahui kapan pastinya dibolehkan keluar dari rumah sakit, Minggu kedua berikutnya keadaan Erna kembali Buruk, HB darahnya turun drastis menjadi enam, hal ini membuat dokter anak merujuk Erna ke rumah sakit Umum M.Djamil Padang, pada hari minggunya Erna diberangkatkan ke Padang bersama dua orang kawan kami yang lain. Tinggallah beberapa orang dari anak-anak Peduli yang mengurus hal lain di posko, termasuk aku. Sepeninggalan kawan-kawan itu aku bersama seorang teman melanjutkan rencana, mengunjungi Genah-genah Suku Anak Dalam di beberapa titik lokasi. Salah satu titik pencarian kami adalah kecamatan IX Koto, kampung Silago dan Padang Hilalang.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah seorang kawan lokasinya di Kecamatan IX Koto, kecamatan itu berbatasan dengan kabupaten solok dan kabupaten solok selatan, sebelah barat kabupaten Dharmasraya ini masih di &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;huni&lt;/i&gt; hutan lebat, rimbanya masih asri banyak hewan yang masih hidup disana, tapi sepertinya hutan itu tidak lama lagi akan di hantam habis pula seperti yang diberitakan di beberaa media lokal, bahwa di kecamatan itu akan dibuka pertambangan bijih Besi.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Siang selesai Sholat Jumat kami sampai di Silago, ibu kecamatan IX Koto, kuda merah kami terus melaju hingga kampung Padang Hilalang, lokasi &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Genah&lt;/i&gt; Suku Anak Dalam yang kami temui disana sepertinya sudah lama ditinggal, kayu-kayu yang dijadikan tonggak genah telah pula berpucuk, tidak di temui jejak kemana arah mereka melangkah, pada akhirnya kami harus bertanya kepada penduduk yang kebetulan berpasan dengan kami, jawaban mereka pun beragam, ada yang menyebutkan ke arah hutan Buga, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;batang&lt;/i&gt; Sipotau, hingga kawasan hutan PT. BRM.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Jejak Suku Anak Dalam mulai kabur, hari beranjak gelap, dalam senja kami menyisir jejak mereka hingga blok C pedalaman transmigrasi padang hilalang, nihil, keterangan dari penduduk disana mengatakan mereka beranjak dua hari yang lalu dari hutan di belakang sebuah rumah penduduk, mereka menuju batang Simpola, hingga azan Magrib kami telah mendapat informasi keberadaan mereka di hutan sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten solok selatan atau mungkin telah masuk ke pedalaman solok selatan. batang Potau (Sungai Potau) harus ditempuh dengan berjalan kaki, waktu kami tidak selapang itu untuk mengikuti jejak, jelang malam kami beranjak dari Padang Hilalang, kembali ke arah semula kami masuk, tepatnya di kampung Banai.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Haji Ramandes kami menginap malam itu, keadaan itu dipilih untuk menghemat pengeluaran juga, malam itu orang-orang sedang ramai di rumahnya, rupanya sedang mengerjakan pembangunan rumah. Dirumah Ramandes kami menyusun rencana bahwa besok kami akan berangkat ke sungai Botung, pedalaman kampung Silago sebelah selatan, kata penduduk yang kami tanyai sungai itu bersebelahan dengan kawasan transmigrasi Padang Hilalang, asumsi kami diperkuat oleh beberapa penduduk Padang Hilalang yang mengaku melihat mereka ke arah sungai Botung. &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari sabtu/11 februari 2012, kami menembus kabut tipis yang masih bermanja di helai ranting ranting pohon hutan, setelah menembus hutan lebat itu hasilnya nihil juga, kami tidak menemukan jejak apa-apa.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Rencana berikutnya kami melakukan pencarian ke pedalaman PT.BRM, tidak ada informasi apapun sebelumnya, kami berasumsi areal BRM merupakan salah satu tempat perpindahan Suku Anak Dalam, setelah melewati dua pos penjaga, jelang siang kami sampai di salah satu kedai dalam areal pertanaman Akasia PT.BRM, kami singgah sebentar memesan dua gelas kopi, menanyakan kepada pekerja setempat tentang keberadaan suku anak dalam di areal perkebunan tersebut, tapi nihil juga, informasi apapun tentang Suku Anak Dalam tidak pernah berdengung di camp-camp pekerja, di kedai itu juga aku tahu bahwa areal perkebunan Akasia itu berada dalam wilayah teritorial kabupaten Solok Selatan.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;video&quot;&gt;&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/0Z-wnjqoZqk&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Sekitar setengah jam kemudian kami berangkat, memutuskan untuk menyusuri jalan hingga penghujung jalan baru, Truck trailer lalu lalang disepanjang jalan tanah menyisakan debu-debu kuning menyesakkan mata dan dada, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;kuda merah&lt;/i&gt; melaju kearah selatan hingga ke jembatan batang sipotau, tapi itu bukan ujung jalan, hingga areal pertanaman akasia terkahir kami memutuskan untuk mengikuti jalan baru yang sedang di kerjakan PT.BRM tersebut, menurut informasinya jalan itu akan di tembus hingga ke solok selatan, tidak tahu pasti di kampung mana tepatnya ujung jalan itu.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kiri kanan jalan baru itu terpasang papan peringatan dari dinas kehutanan, yang menjelaskan bahwa kawasan tersebut berada dalam status kawasan lindung, kalau dikatakan aneh, mungkin, di kawasan hutan lindung bisa di bangun jalan untuk perkebunan, kendatipun tujuan jalan itu adalah akses ke areal yang diberi izin oleh negara kepada pihak swasta untuk mengolahnya menjadi kebun, tapi tidak ada jaminan kawasan sekitarnya atau bagian pedalaman akan ditebangi juga oleh pihak-pihak lain. Lebih tepatnya ini mungkin salah satu strategi pihak swasta untuk memperluas areal perkebunan mereka sembari mengulur waktu untuk sekian tahun mendatang.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan kami menemukan aneka macam alat-alat berat, siang sabtu cuaca panas tampak operator alat berat bermalas-malas dalam ruang kendali mesin, salah seorang operator yang kami temui mengaku tidak pernah melihat kemah Suku Anak Dalam, dari logat bahasanya ku tahu bapak itu berasal dari Sumatera Utara, dalam penjelasannya semua pengerjaan jalan itu bekerja sama dengan PT.RAPP Pekan Baru, kami terus hingga keujung jalan, dihujung jalan jawaban operator lain yang kami tanyai tetap sama, tidak pernah melihat keberadaan Suku Anak Dalam.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang dibawah jembatan sungai Sipotau aku melihat Excavator sedang bekerja memindahkan tumpukan Batu, tapi itu tidak menarik perhatianku, sejumlah ibu-ibu yang sedang mendulang emas di bawah excavator yang sedang beroperasi itulah yang mengundang kami untuk turun kebawah jembatan, mengambil beberapa gambar dan menanyakan beberapa hal kepada ibu-ibu itu.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Puas bertanya jawab dengan perempuan-perempuan tangguh itu kami melanjutkan perjalanan pulang, pencarian suku anak dalam selama dua hari itu nihil, tapi dalam hati aku tetap berniat untuk menyampaikan pesan mak marni kepada mereka, jika hari itu kami tidak menemukan mereka pada hari lain kami akan membuat jadwal untuk mengulang pencarian tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/mencari-jejak-kubu.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/0Z-wnjqoZqk/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-3378435559935746203</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 17:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-17T10:59:49.495-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Dragon&#39;s Blood On Dharmasraya</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Jernang (&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Daemonorops draco resin&lt;/i&gt;) atau dikenal juga dengan Buah jernang, di pasaran internasional di kenal pula dengan istilah Dragon’s Blood, dan berbagai istilah lainnya, buah jernang diperoleh dari jenis tanaman Rotan, buah ini tumbuh liar di belantara rimba, getah buah jernang merupakan salah satu bahan dasar pewarna dengan kualitas yang sangat baik, untuk alasan itu pula getah jernang dibandrol dengan harga yang cukup mahal di pasaran internasional, belum banyak laporan yang menyatakan buah ini atau jenis rotan yang menghasilkan buah jernang ini di budidayakan secara luas oleh masyarakat. Di Dharmasraya getah jernang di perkenalkan oleh orang-orang dari suku Kubu, hingga populer pula di kalangan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Orang Terang&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;video&quot;&gt;&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/0Z-wnjqoZqk&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Pola hidup suku kubu yang sangat tergantung dengan hasil hutan menjadikan buah jernang layaknya emas merah, mereka menjaga kawasan-kawasan yang ditumbuhi oleh rotan penghasil buah jernang dengan sangat ketat. Jernang bermusim sekali setahun, pada bulan awal tahun jenis rotan penghasil jernang mulai berputik, biasanya suku kubu akan panen buah jernang pada pertengahan tahun. Seperti diterangkan Isa salah seorang dari kelompok suku Kubu, saat ini buah jernang juga di cari &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;orang terang&lt;/i&gt; karena harganya yang cukup tinggi di pasaran, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Toke &lt;/i&gt;(pedagang pengumpul)&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt; &lt;/i&gt;pengumpul jernang menghargai setiap gram dalam harga yang bervariasi, dalam istilah orang kubu &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;samato&lt;/i&gt; atau &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;duomato&lt;/i&gt;, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;samato&lt;/i&gt; getah jernang dihargai seratus ribu rupiah, jika sampai &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;sepuluhmato&lt;/i&gt; (senilai 1 kg) getah jernang di hargai satu juta sampai satu juta duaratus ribu rupiah, bervariasi tergantung harga yang ditetapkan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Toke&lt;/i&gt;, jelas Isa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://goo.gl/2S3sHl&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;kompas musafir&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;227&quot; src=&quot;https://goo.gl/2S3sHl&quot; title=&quot;jernang&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Di Indonesia darah naga (getah jernang) dipasarkan secara gelap, tidak ada aturan yang jelas tentang harga getah jernang ketika dipasarkan ditingkat internasional, menurut pengakuan salah seorang penjual getah jernang lintas negara yang tidak bersedia disebutkan namanya, mereka menjual “darah naga” sekilonya lima juta rupiah dipasar internasional, harga ini juga relatif berubah-ubah, China merupakan salah satu nagara langganan mereka, bahkan tidak jarang pula pedagang dari India meminta “darah naga” dalam jumlah banyak, dengan harga yang lebih tinggi lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Buah jernang sangat berharga oleh Suku kubu, dari perkembangan yang terjadi di Dharmasraya, dua kelompok suku kubu yakni kelompok Bujang Bagak dan kelompok Isa pada bulan November 2012 lalu melakukan aksi unjuk rasa ke PT.BRM, salah satu alasannya karena ladang Jernang mereka telah ditumbang habis oleh PT.BRM, dalam aksi tersebut dua kelompok suku kubu meminta ganti rugi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Orang-orang suku kubu mengolah Buah jernang menjadi getah jernang dengan proses yang sangat sederhana, menggunakan sebuah keranjang terbuat dari anyaman rotan yang mereka sebut &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Mbung &lt;/i&gt;atau &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Ambung&lt;/i&gt;, dalam ambung buah jernang di ekstrak dengan cara dipukul-pukul, getah yang keluar ditampung dalam wadah plastik kemudian dijemur dibawah terik matahari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;literatur taksonomi tumbuhan menerangkan, di dalam getah jernang mengandung senyawa dracoresen (11%), draco resinolanol (56 %), draco alban (2,5 %) sisanya asam benzoate dan asam bensolaktat. Getah jernang biasanya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya sebagai campuran obat diare, disentri dan pembeku darah akibat luka, sebagai bahan baku pewarna porselen, pewarna marmer, bahan baku lipstick, serbuk untuk gigi, penyakit asma, sipilis, berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido) serta banyak kegunaan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;Dari sekian banyak kegunaan tersebut membuat “Darah Naga” dibandrol dengan harga tinggi dipasaran, meski hingga kini belum ada kejelasan tentang pasaran getah jernang dari pemerintah, namun buah jernang merupakan salah satu aset budidaya pertanian yang cukup baik untuk dikembangkan, dan Dharmasraya merupakan salah satu daerah penghasil Dragon’s Blood untuk pasaran lokal dan internasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;;&quot;&gt;(Data dikutip dari berbagai sumber : Taksonomi Tumbuhan, wikipedia, dan lain-lain) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/dragons-blood-on-dharmasraya.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/0Z-wnjqoZqk/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8210135962235971639</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 17:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:19:40.960-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Dedaun nan Berbisik</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Empat mobil bergerak pelan beriringan mengarah ke pelosok kampung Laba Labe, jalan tanah berbatu diasapi debu berterbangan, jalan yang biasanya sepi itu, kali itu dibising deru mesin kendaraan pantul memantul di kehijauan Rimba dan tebing, Hor mengamati dengan cermat suara itu kemudian memanjat sebatang pohon, diatas dahan dicobanya memaku gerak kendaraan, pandangannya tak berkedip hingga iring-iringan itu hilang ditelan tikungan lebat, tak lama kemudian Hor berlari sekencang mungkin menuju &lt;i&gt;Genah&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; &lt;/i&gt;kakinya yang lincah melompat seperti anak kijang.&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCU/pu6FboDCyYEKCH4TPXxTrNvJSskmM9bLACPcB/s320/IMG_8854.JPG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Pagi menjelang siang itu &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt;&amp;nbsp; Orang Kubu sepi kaum lelaki, yang tinggal hanya perempuan dan anak-anak yang usianya lebih kecil dari Hor, selama &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt; tidak dihuni kaum lelaki Hor punya tanggung jawab melindungi kelompok itu dari &lt;i&gt;“kecurigaan”&lt;/i&gt;, kecepatan kaki Hor melambat di depan sebuah &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt;, terlihat Idar sedang asik menjalin manik-manik dari &lt;i&gt;biji&lt;/i&gt; &lt;i&gt;jali&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/i&gt;, melihat Hor Idar berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;“&lt;i&gt;Mangapo&lt;/i&gt; kamu lari”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;“Ado oto masuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;“Cubo kamu tengok di topian tu nak kemano ughang tu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Hor mencabut sebatang tombak lalu bergegas ke tepian sungai, mengamati siapa yang datang dan hendak kemana tujuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Sampai di tepian sungai Hor mengintai di atas sebatang pohon, sendiri matanya liar menangkap suara dan gerak dahan, lama dia disitu. sekitar satu jam dia tak mendengar tanda apa-apa, kemudian turun menyisir tepian sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Sepeninggalan Hor Idar dan perempuan lainnya bergegas memakai pakaian dan perhiasan yang mereka punya, pakaian dan perhiasan dipakai ketika mereka ke kampung atau menerima tamu dari “&lt;i&gt;Orang Luar&lt;/i&gt;” seperti yang diperkirakan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Iring-iringan empat buah mobil itu akhirnya tiba di kampung Laba Labe, setelah menembus rimba lebat dan jalan berlumpur, kampung Laba Labe yang dihuni lebih kurang&amp;nbsp; 52 kepala keluarga itu tampak sibuk mempersiapkan upacara penyambutan, &lt;i&gt;sesajen&lt;/i&gt; telah disiapkan di salah satu rumah penduduk guna menyambut kedatangan tamu agung itu, seperti yang di kabarkan wali nagari beberapa hari sebelum itu bahwa wakil bupati Dharmapada akan datang berkunjung ke kampung yang letaknya sangat terpelosok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Anak-anak Sekolah Dasar di dandani sedemikian rupa, hari itu kampung Laba Labe meriah, sebagian laki-laki tidak pergi ke ladang atau ke rimba mencari kayu balok, hari yang spesial itu akan di gunakan untuk menyampaikan keluhan masyarakat kepada salah seorang pengayom kabupaten Dharmapada itu, sementara itu tidak jauh dari kampung Laba Labe Hor sebenarnya juga sedang menanti iring-iringan itu di tepian sebuah sungai. Penantian yang bermakna lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Di &lt;i&gt;Genah &lt;/i&gt;Idar sibuk merapikan berbagai hal, kuali panci dan perkakas masak lain yang masih berisi sisa masakan pagi, Gadih Dewi yang lebih muda tiga tahun dari Hor sibuk pula membantu Idar mengemasi peralatan lain di sekitar &lt;i&gt;Genah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;i&gt;“&lt;/i&gt;Kito tak boleh tampak kumuh, bersihkan galonyo&lt;i&gt;”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;“Hayo cepat, sebelum mereka &lt;i&gt;tibo&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Kesibukan mendadak penghuni &lt;i&gt;Genah &lt;/i&gt;berlangsung beberapa lama sehingga tak&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;terasa matahari mulai tinggi, cahayanya menusuk ubun-ubun pepohonan, di Rimba yang lebat itu Hor menikmati penantiannya sambil melepas dahaga dengan minum air Sungai Sipotau, dia kembali ke posisi semula berjongkok di sebuah dahan, memasang pendengarannya yang tajam dan penghilatannya yang jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Setelah sekian lama mengintai tidak juga ada tanda-tanda iringan kendaraan itu mendekat, Harapan Hor mulai pudar, hingga siang itu iring-iringan kendaraan itu tidak jua menepi di jalan setapak menuju &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt; mereka, Hor mulai putus asa turun dari dahannya berjalan lunglai kembali ke &lt;i&gt;Genah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Menemui muka lusuh Hor, Idar paham tamu yang diharapkan itu tidak akan datang ke G&lt;i&gt;enah &lt;/i&gt;mereka, kembali dia menjalin biji jali untuk dijadikan perhiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http:/#&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;….(&lt;i&gt;be contiuned&lt;/i&gt;)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http:/#&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; : Sebutan Pondok bagi Suku Anak Dalam, istilah lainnya &lt;i&gt;Pesudongon&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;i&gt;Biji Jali&lt;/i&gt; &lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; : Biji dari tumbuhan famili padi-padian, tanaman ini banyak tumbuh liar di hutan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/dedaun-nan-berbisik.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/--mq569cGImA/WA96FFmLNzI/AAAAAAAAFCU/pu6FboDCyYEKCH4TPXxTrNvJSskmM9bLACPcB/s72-c/IMG_8854.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-7646730556629809793</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 17:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:18:46.499-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Orang Rimba, dibuai Janji</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ruang hidup Suku Anak Dalam (SAD) atau dikenal juga dengan orang rimba semakin menyempit, usaha memberikan ruang hidup dalam bentuk kesediaan kawasan hutan terus dilakukan oleh perkumpulan Peduli di Dharmasraya bekerjasama dengan SSS-Pundi Jambi. Dalam jumpa pers bersama sejumlah wartawan Nasional dan perkumpulan peduli di kediaman Bupati Adi Gunawan beberapa waktu lalu, Bupati menjelaskan Negara melalui kementrian koordinator kesejahteraan rakyat menyediakan dana sekitar 2,9 M untuk pelayana kesehatan bagi warga miskin, termasuk bagi komunitas Suku Anak Dalam di Dharmasraya.&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;212&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s320/anak%2Bidar.JPG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Dialog yang terjadi pada bulan Oktober yang lalu tidak membuahkan hasil yang signifikan sesuai dengan yang disampaikan Bupati Dharmasraya, terbukti hingga saat ini tidak satupun gerakan yang dilakukan pemda Dharmasraya terkait persoalan kemiskinan yang melilit kehidupan Suku Anak Dalam, apakah itu soal pendataan ataupun pelayanan kesehatan terhadap Suku Anak Dalam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Harbi (25) salah seorang anggota perkumpulan Peduli beberapa waktu lalu dalam kegiatan pendampingan pendidikan bagi SAD di hutan Bakur mengatakan, bahwa saat ini Gadih Bungo salah seorang anak dari komunitas Suku Anak Dalam sedang dalam perawatan terkait penyakit TB yang dideritanya, menurutnya kalau bukan mereka yang mendampingi gadih Bungo memeriksa kesehatan tentu akan banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi, dimana persyaratan berupa KTP atau surat keterangan lainnya tersebut tidak pernah dimiliki oleh kelompok SAD.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;“Dalam dua bulan terakhir ini kita tidak pernah mendapati petugas kesehatan mendata atau melakukan sesuatu terkait&lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;usaha pemda dalam memberikan layanan kesehatan kepada SAD, apalagi beberapa waktu lalu kami pernah menanyakan kepada salah seorang petugas kesehatan di Puskesmas Koto Besar, bahwasanya mereka tidak mendapatkan anggaran tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada SAD, apalagi lokasi kediaman SAD sangat jauh dan sulit dijangkau”, jelas Harbi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/orang-rimba-dibuai-janji.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-NsVzHdA5LBA/WAmAL9aJzgI/AAAAAAAAFBE/g5IGheHOUgQtA2TppJPmUXURN3j1uORVACPcB/s72-c/anak%2Bidar.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8994150738268607318</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 02:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-16T19:34:19.094-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Cara Ekstarksi Jernang Oleh Suku Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku Kubu atau yang lebih populer dikenal dengan suku anak dalam (SAD), merupakan suku pedalaman yang menggantungkan seluruh hidupnya dari hasil hutan, baik itu hewan liar sebagai buruan, buah-buahan hutan dan “&lt;i&gt;hal-hal lain&lt;/i&gt;” yang diproduksi oleh hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai suku yang memanfaatkan hasil hutan, salah satu tanaman yang dimanfaatkan suku kubu sebagai sumber pendapatan adalah buah rotan, atau lebih dikenal dengan buah jernang, dalam bahasa latinnya dikenal dengan nama “&lt;i&gt;Daemonorops Draco&lt;/i&gt; BL”, dikalangan pasar gelap dikenal dengan istilah “Darah Naga” dan banyak istilah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Buah jernang dimanfaatkan sebagai bahan mentah berbagai produk, diantaranya untuk obat-obatan, bahan pewarna, dan lain sebagainya, di pasar gelap hasil ekstrak buah ini diekspor ke berbagai Negara, ke China, India, Malaysia, dan Jepang, karena pemasaran getah jernang tidak diatur oleh Negara Indonesia, harga getah ini dibandrol antara Rp 700.000/kg s/d Rp 1.000.000/kg, tergantung kualitas yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanaman rotan penghasil buah jernang bagi suku kubu sangat sensitive, mengingat pesaing mereka dalam mendapatkannya tidak hanya dari sesama kalangan suku kubu, namun juga dari orang luar (masyarakat kampung), karena itu biasanya ketika musim buah jernang suku kubu sibuk didalam hutan dan mereka semakin sulit ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendampingan suku kubu yang dilakukan perkumpulan peduli kabupaten Dharmasaraya bersama SSS-Pundi Jambi, mencatat berbagai perkembangan dan fenomena kehidupan suku ini di hutan pedalaman Dharmasraya, salah satunya cara mereka mengolah buah jernang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selama pendampingan hampir tidak pernah terdengan suku kubu melakukan budidaya rotan penghasil buah jernang ini, mak Marni salah seorang dari komunitas suku kubu pernah mengatakan, sulit untuk membudidayak rotan penghasil jernang ini, sebab belum tentu setiap bibit yang ditanam tersebut menghasilkan buah jernang, karena itu yang bisa mereka lakukan hanyalah menjaga agar tumbuhan tersebut tidak ditebang, dan “menjaganya” dari pandangan orang luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Karena banyaknya pesaing dari orang luar, biasanya kelompok suku kubu lebih awal menjaga “permata” mereka ini, dimana biasanya musim jernang pada bulan September – Desember, mereka mulai berpindah masuk lebih dalam kehutan pada bulan agustus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Studi penelitian yang dilakukan Totok K Waluyo, &lt;i&gt;Teknik Ekstraksi Tradisional Dan Analisis Sifat-Sifat Jernang Asal Jambi&lt;/i&gt;, menyatakan jernang adalah resin yang merupakan hasil sekresi buah rotan jernang, resin tersebut menempel dan menutupi bagian luar buah rotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ekstraksi buah jernang oleh suku kubu biasanya dilakukan dengan cara ekstraksi kering, berikut ini cara ekstraksi buah jernang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Cara ekstraksi buah jernang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Alat dan bahan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ambung (keranjang rotan), kayu penumbuk, lembaran plastic untuk penampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1.       Buah jernang dilepaskan dari tandannya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2.       Buah jernang kemudian dimasukkan kedalam ambung&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3.       Kemudian ditumbuk perlahan-lahan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4.       Jernang yang keluar melalui celah-celah ambung ditampung dengan plastik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Serbuk hasil ekstraksi dimasukkan kedalam plastik, lebih kurang tiga puluh menit hasil ekstraksi akan mengeras dan menggumpal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak semua jenis rotan menghasilkan buah jernang, rotan yang menghasilkan buah jernang diantaranya adalah, &lt;i&gt;Daemonorops draco&lt;/i&gt; BL.; &lt;i&gt;D. draconcellus&lt;/i&gt; BECC.; &lt;i&gt;D. mattanensis&lt;/i&gt; BECC.; &lt;i&gt;D. micrantus &lt;/i&gt;BECC.; &lt;i&gt;D. motleyi&lt;/i&gt; BECC.; &lt;i&gt;D. propinquess &lt;/i&gt;BECC.; &lt;i&gt;D. rubber &lt;/i&gt;BL.; &lt;i&gt;D. sabut &lt;/i&gt;BECC.;&lt;i&gt; D. micracanthus &lt;/i&gt;BECC. dan lain-lain Jenis-jenis tersebut tersebar di pulau Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu), Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Cara Ekstraksi Jernang Suku Kubu&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;278&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-vC8ZHapXbrs/Vpakgm6AIBI/AAAAAAAAEUU/zR1xXTqtEOY/s640/prosesijernang.jpg&quot; title=&quot;Cara Ekstraksi Jernang Suku Kubu&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Credit :&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;- Tatok K Waluyo - TEKNIK EKSTRAKSI TRADISIONAL DAN ANALISIS SIFAT-SIFAT JERNANG ASAL JAMBI&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;- SSS - Pundi Jambi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;- Perkumpulan Peduli, Dharmasraya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/cara-ekstarksi-jernang-oleh-suku-kubu.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://1.bp.blogspot.com/-vC8ZHapXbrs/Vpakgm6AIBI/AAAAAAAAEUU/zR1xXTqtEOY/s72-c/prosesijernang.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8959441573293409801</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 02:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-16T19:31:32.049-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Dendam Suku Kubu Dalam Sebuah Cerita</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;“Tiga orang dukun sakti sedang memanggil-manggil anak cucu Suku Anak Dalam, panggilan itu telah diserukan selama bertahun-tahun silam, panggilan itu akan selalu diserukan hingga nantinya berkumpul &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2012/11/orang-rimba-dibuai-janji.html&quot;&gt;seluruh suku anak dalam&lt;/a&gt;, perkumpulan itulah hari yang dinanti oleh mereka, pada hari itu tidak satupun dari mereka yang merintih karena ketidakadilan, sebab keadilan sedang ditegakkan menurut tata cara yang sedang berlaku dalam hukum mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://2.bp.blogspot.com/-Bu4RUr3iPVk/VmjZuke2H2I/AAAAAAAAERE/DGHDZ563p2k/s1600/IMG_7424.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Dendam Suku Kubu Dalam Sebuah Cerita&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;424&quot; src=&quot;https://2.bp.blogspot.com/-Bu4RUr3iPVk/VmjZuke2H2I/AAAAAAAAERE/DGHDZ563p2k/s640/IMG_7424.JPG&quot; title=&quot;Dendam Suku Kubu Dalam Sebuah Cerita&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Sepuluh menit setelah mak Marni menceritakan kabar itu, bulu kudukku bergetar hebat, aku baru saja mendengar cerita menakutkan tentang keadilan rimba yang mereka yakini, ini cerita pertama yang diperdengarkan Marni padaku, di rimba sedang dipersiapkan sebuah perkara keadilan, perkara itu pula nanti yang akan mengayomi seluruh bangsa suku anak dalam dalam sebuah keadilan yang memang pantas untuk ditegakkan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Ketidakpercayaan terhadap orang luar telah tumbuh subur selama puluhan tahun, orang luar yang diyakini menguasai dengan baik peradaban berkali-kali mencoba mengajak suku anak dalam untuk berkembang seperti manusia beradab yang sesungguhnya, peradaban seperti apa yang sedang dipercaya orang luar sehingga mereka merasa pantas mengajak orang rimba untuk hidup seperti yang mereka yakini? Jarang kelompok orang luar ini yang benar-benar berhasil menanamkan Dogma seperti yang mereka inginkan, kebanyakan dari Suku Anak Dalam lebih menyukai hidup di rimba ketimbang hidup seperti orang luar, apakah karena orang luar terlampau sering &quot;menjual&quot; ke-primitifan mereka sehingga terlalu pahit bagi orang rimba untuk mengamini Dogma peradaban yang berkali-kali di &quot;injeksikan&quot; kedalam tatanan kehidupan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekat ketidakpercayaan itu akan selalu tercipta selama kebohongan menjadi penyangga dalam peradaban dunia luar yang sedang berkembang ini, besar kemungkinan akan lebih lebar lagi selama kebohongan itu menjadi jembatan penghubung antara orang luar dengan Suku Anak Dalam, kebohongan yang terlampau sering diperjualbelikan orang luar menurut Marni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kami &lt;i&gt;dak la picayo samo Ughang koto (red- sebutan orang luar bagi Marni)&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;apo sobab nan salamoko tak&lt;/i&gt; pernah ado &lt;i&gt;nan nampak dek&lt;/i&gt; kami, &lt;i&gt;katonyo nak bikinkan uma&lt;/i&gt; tapi &lt;i&gt;apo&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;dak do dak&lt;/i&gt; kami &lt;i&gt;jumpo sekokpun janji Ughang kota tu, janji-janji be&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sembilan detik selesai Marni bicara, aku seperti ditampar ratusan cambuk, ungkapan disela cerita Marni jelas-jelas menampik makna kehadiran kami saat itu termasuk sewaktu bersamanya selama dua minggu lebih dalam perawatan putri bungsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsep yang jelas tentang penanganan Suku Kubu atau yang lebih populer dengan nama Suku Anak Dalam di Dharmasraya tidak pernah direalisasikan Pemda, demikia pula dalam janji-janji politik kampanye calon kepala daerah, seakan mereka sekumpulan manusia yang tidak patut dipikirkan, nasib dan kehidupan mereka, seakan dogma peradaban yang sedang digeluti kabupaten yang berjumlah penduduk lebih kurang 191.277 jiwa ini melupakan sisi kemanusiaan yang sedang terjadi di pedalaman rimba Dharmasraya, kita luput dan meluputkannya, mereka marjinal dan dimarjinalkan begitulah keadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Lebih kurang lima belas menit kemudian Marni diam, aku mencerna kebungkamannya, hari-hari yang pernah kami lalui bersamanya di rumah sakit dan pendampingannya selama bertahun-tahun seperti gulungan film disinari lampu proyektor, sorot tajam mata mak Marni sebagai layarnya. Hal itu sekaligus menjadi pengingat bahwa aku atau kami punya jurang yang sangat lebar untuk dapat bersanak seperti panggilan yang biasa dilantunkan kelompok Suku Anak Dalam itu terhadap orang luar seperti kami.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tiga tahun lagi, Negeri ini akan perang besar-besaran, sekarang ini anak cucu Suku Anak Dalam sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat perkumpulan, tahun ketiga itu kekacauan besar akan terjadi peperangan demi ketidakadilan, permusnahan dan bencana kemanusiaan lainnya, setelah itu Pintu Kubu akan terbuka, semua anak cucu Suku Anak Dalam berkumpul lalu memasuki Pintu Kubu, gerbang Pintu Kubu dijaga tiga orang dukun sakti, saat keadilan ditegakan semua yang tidak bertalian darah dengan Suku Anak Dalam akan dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bulu kudukku merinding mendengar dongeng itu. kecamuk yang sedang berdering di pemikiran Marni, adakah cerita itu bagian terlemah darinya untuk berlindung dari kami yang sejatinya menurut Marni adalah &lt;i&gt;&lt;b&gt;Orang luar&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; atau ini adalah sebuah dendam yang tiada kuasa lagi ia tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/search/label/Catatan%20perjalanan&quot;&gt;catatan - perjalanan.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;* Disumbangkan oleh Perkumpulan Peduli Dharmasraya dan SSS-Pundi-Jambi,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;* Ditulis oleh Zulfadli Adha (Kawan Kompas Musafir Group)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;* Foto - Zulfadli Adha (In Memmorial Collection-Suku Kubu Dharmasraya )&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/dendam-suku-kubu-dalam-sebuah-cerita.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://2.bp.blogspot.com/-Bu4RUr3iPVk/VmjZuke2H2I/AAAAAAAAERE/DGHDZ563p2k/s72-c/IMG_7424.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-205771706224691417</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 02:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-16T19:29:37.883-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Menyigi Sisi Kemanusian Dan Diskriminatif Suku Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekitar tiga tahun yang lalu (2011/2012 - &lt;i&gt;terhitung dari tahun 2015&lt;/i&gt;), suku kubu kelompok Penyiram berladang di sekitar kawasan hutan Banai, kelompoknya waktu itu berjumlah sekitar 10 KK, membuka hutan dan bertanam karet serta jenis tanaman perkebunan lainnya, suku pedalaman yang berdomisili di sepanjang sisa kawasan hutan Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, dan Jambi ini, seakan “dikutuk” untuk terus mendapat diskriminasi sosial dari lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-fn5Icq6WR_s/VnHThmlmbXI/AAAAAAAAALc/Vus7CttdmIU/s1600/Idar%2Bdan%2Banak%2Bgadisnya%2Byang%2Bbelum%2Bpunya%2Bnama.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Menyigi Sisi Kemanusian Dan Diskriminatif Suku Kubu&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-fn5Icq6WR_s/VnHThmlmbXI/AAAAAAAAALc/Vus7CttdmIU/s640/Idar%2Bdan%2Banak%2Bgadisnya%2Byang%2Bbelum%2Bpunya%2Bnama.jpg&quot; title=&quot;Menyigi Sisi Kemanusian Dan Diskriminatif Suku Kubu&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;(Foto : Idar dan anak perempuannya yang belum memiliki nama)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Mulanya tindakan mereka membuka areal perkebuna tersebut tidak terlalu bermasalah, lama kelamaan dikemudian hari baru terdengar isu-isu yang menyatakan tindakan suku kubu tersebut tidak direstui Ninik mamak dan penghulu kenagarian (&lt;i&gt;&amp;nbsp;Setingkat desa&lt;/i&gt;) Banai, pasalnya kawasan tersebut merupakan kawasan ulayat ninik mamak Banai, dan dari dahulu suku kubu sudah menjadi bahan untuk menakut-nakuti anak-anak nakal yang tidak bisa diatur oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ketika ditelusuri lebih lanjut, ditemukan beberapa point yang dinilai penting untuk dicermati&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;1.       Suku Kubu dinilai masyarakat setempat sebagai orang liar.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Liar dalam pengertian disini adalah segala sesuatu yang berkonotasi negative disandangkan oleh masyarakat terhadap mereka, misalnya : pencurian buah durian yang diklaim oleh warga setempat sebagai milik mereka, sementara pada prinsipnya pohon Durian yang tumbuh di dalam hutan dan dijadikan pemukiman oleh suku kubu susah untuk diidentifikasi sebagai milik siapa, kecuali pada areal tersebut terdapat bekas ladang peninggalan kakek moyang terdahulu, pada kenyataannya saya sendiri pernah berkunjung ke salah satu pohon Durian yang pernah di jadikan lokasi Sudung suku kubu, jaraknya lebih kurang tujuh jam berjalan kaki dari pinggiran hutan, melewati hutan lebat mendaki bukit dan menyebrangi sungai, analisa saya tidak mungkin orang kampung akan bersedia menunggui pohon durian yang sudah sangat jauh kedalam rimba lebat tersebut, ditambah lagi hewan Buas yang siap mengintai.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Suku kubu, jika miss and mister pernah ke Kabupaten Dharmasraya, atau ke Jambi, biasanya identik dengan bedil yang tersandang dipundaknya, bedil rakitan ini digunakan oleh suku kubu (Suku Anak Dalam) ketika berburu di hutan, kebiasaan mereka yang tidak tinggal menetap, terkadang kemana pergi bedil akan selalu dibawanya, melewati pemukiman penduduk atau pasar, sehingga masyarakat yang melihatnya merasa ketakutan, mereka belum tentu mahfum jika dijelaskan oleh aparat hukum soal aturan kepemilikan senjata.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;2.       Penilaian yang keliru tentang kepemilikan hutan&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku kubu dimanapun posisi kastanya adalah suku yang sangat menggantungkan hidup dari hasil hutan, mereka (Suku Kubu) meyakini bahwa hutan adalah kehidupan mereka, tidak satupun yang memiliki hutan kecuali mereka yang hidup menetap dan memperlakukan hutan dengan penuh penghormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengalaman pribadi saya dengan salah seorang kelompok penyiram bernama Yusup, kepada saya Yusup pernah mengatakan “Jika betul hutan ini adalah kepunyaan ninik mamak, coba dia tumbuhkan agak sebatang pohon, kalau betul mereka yang punya hutan ini mengapa mereka tidak tinggal dihutan ini, satu pohonpun tidak ada yang bertuliskan nama “ninik mamak” kampung, bagaimana bisa dikatakan hutan ini milik mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penilaian seperti ini tentu tidak bermaksud mengesampingkan tatanan adat Minangkabau yang dianut oleh penduduk Banai ataupun penduduk disekitar kawasan hutan tempat tinggal suku kubu, dimana dalam tatanan adat minang ada yang dikenal dengan kepemilikan tanah ulayat, pada kenyataannya suku kubu tidak mengerti cara Ninik mamak mengklaim memiliki tanah ulayat jauh sampai kepedalaman Rimba sana, bahkan dengan sangat mungkin hutan pedalaman tersebut belum pernah dijamah oleh Ninik Mamak yang dinisbahkan sebagai pemilik tanah ulayat, jelas Yusup.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bagaimanapun dilema yang terjadi diseputar Rimba yang dihuni oleh suku kubu, nilai penting yang tidak boleh kita lupakan adalah, bahwa dengan semakin berkurangnya jumlah luasan hutan di Kabupaten Dharmasraya sesungguhnya ruang hidup suku kubu semakin sempit, mereka adalah suku pedalaman yang sepenuhnya hidup bergantung pada hutan.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Situasi seperti ini mungkin biasa saja bagi kita selaku “Orang luar”, namun tentu ada konsekuensi berikutnya ketika sekelompok suku sudah tidak lagi memiliki tempat untuk mencari penghidupan, konsekuensi sosial yang bisa berbentuk apa saja bahkan tidak tertutup kemungkinan konsekuensi tersebut akan berdampak pula kepada tatanan sosial yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mari kita bijak menyikapi persoalan ini, terutama pemerintah daerah selaku perpanjangan tangan Negara dan masyarakat Kabupetan Dharmasraya khususnya, belakangan ini presiden Jokowi telah pula datang dan memberikan perhatian khusus kepada suku kubu atau suku anak dalam yang ada di kabupaten Sarolangun, Jambi, APBD sebesar Rp 5,2 milyar akan digelontorkan untuk menyelesaikan persoalan suku kubu ini, kemudian bupati Sarolangun Cek Endra sudah pula mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan suku anak dalam ini, kita tentunya berharap hal yang sama juga dilakukan di Kabupaten Dharmasraya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dua hal lainnya yang akan selalu menjadi fenomena menarik ketika kita berbicara tentang sisi kemanusiaan untuk diskriminatif suku kubu ini, adalah hutan suku kubu dan hutan “Orang luar”, kami telah pula melihat sepintas lalu, hutan suku kubu penting untuk menjaga agar kehidupan suku pedalaman ini tetap berlangsung, sementara itu hutan “Orang luar” harus ditumbang karena pertambahan populasi penduduk dan tuntutan ekonomi, dan pada akhirnya kami sepakat menambahkan satu istilah lagi “Hutan untuk konglomerat perkebunan”, hutan yang ketiga ini paling banyak mengancam kehidupan, baik orang luar, suku kubu dan satwa endemik yang bermukim didalamnya, karena kepemilikannya yang luas terkadang tidak menyisakan tempat untuk berbagi ruang dengan suku kubu, satwa liar, dan masyarakat disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Mereka tidak meminta untuk dilahirkan sebagai Suku Kubu ..” demikian kata Pandong Spenra pada suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;* Sumber&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;- Catatan - Zulfadli Adha&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;- SSS - Pundi (Jambi)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;- Pandong Spenra - Fasilitator untuk Suku Kubu Dharmasraya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;- Antaranews - berita :&amp;nbsp;Bantuan Presiden Jokowi untuk Suku Anak Dalam terealisasi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;- Foto - In Memorial Suku Kubu - &amp;nbsp;Zulfadli Adha (Fadli Photography)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/menyigi-sisi-kemanusian-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://3.bp.blogspot.com/-fn5Icq6WR_s/VnHThmlmbXI/AAAAAAAAALc/Vus7CttdmIU/s72-c/Idar%2Bdan%2Banak%2Bgadisnya%2Byang%2Bbelum%2Bpunya%2Bnama.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8332153724125781270</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 02:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-16T19:27:02.734-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Kubu Ini Memilih Merdeka Seutuhnya</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Empat mobil bergerak pelan beriringan mengarah ke pelosok kampung Lubuk Labu, jalan tanah berbatu diasapi debu berterbangan, jalan yang biasanya sepi itu, kali itu dibising deru mesin kendaraan pantul memantul di kehijauan rimba dan tebing, Hor mengamati dengan cermat suara itu kemudian memanjat sebatang pohon, diatas dahan dicobanya memaku gerak kendaraan, pandangannya tak berkedip hingga iring-iringan itu hilang ditelan tikungan lebat, tak lama kemudian Hor berlari sekencang mungkin menuju &lt;i&gt;Genah (*1) &lt;/i&gt;kakinya yang lincah melompat seperti anak kijang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pagi menjelang siang itu &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt;  Orang Kubu sepi kaum lelaki, yang tinggal hanya perempuan dan anak-anak yang usianya lebih kecil dari Hor, selama &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt; tidak dihuni kaum lelaki Hor punya tanggung jawab melindungi kelompok itu dari “kecurigaan”, kecepatan kaki Hor melambat di depan salah satu &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt;, terlihat Idar sedang asik menjalin manik-manik dari biji &lt;i&gt;jali (*2)&lt;/i&gt;, melihat Hor Idar berhenti.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“&lt;i&gt;Mangapo&lt;/i&gt; kamu lari”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“&lt;i&gt;Ado oto &lt;/i&gt;masuk”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Cubo kamu tengok di &lt;i&gt;topian tu&lt;/i&gt; nak &lt;i&gt;kemano ughang tu&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hor mencabut sebatang tombak lalu bergegas ke tepian sungai, mengamati siapa yang datang dan hendak kemana tujuan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sampai di tepian sungai Hor mengintai di atas sebatang pohon, sendiri, matanya liar menangkap suara dan gerak dahan, lama ia disitu. sekitar satu jam ia tak mendengar tanda apa-apa, kemudian turun menyisir tepian sungai.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sepeninggalan Hor, Idar dan perempuan lainnya bergegas memakai pakaian dan perhiasan yang mereka punya, pakaian dan perhiasan dipakai ketika mereka ke kampung atau menerima tamu dari “Orang Luar” seperti yang diperkirakan saat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Iring-iringan empat buah mobil itu akhirnya tiba di kampung Lubuk Labu, setelah menembus rimba lebat dan jalan berlumpur, kampung Lubuk Labu yang dihuni lebih kurang  52 kepala keluarga itu tampak sibuk mempersiapkan upacara penyambutan, sesajen telah disiapkan di salah satu rumah penduduk guna menyambut kedatangan tamu agung itu, seperti yang di kabarkan wali nagari beberapa hari sebelum itu bahwa wakil bupati Dharmapada akan datang berkunjung ke kampung yang letaknya sangat terpelosok itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anak-anak Sekolah Dasar di dandani sedemikian rupa dengan pakaian adat, hari itu kampung Lubuk Labu meriah, sebagian laki-laki tidak pergi ke ladang atau ke rimba mencari kayu balok, hari yang spesial itu akan di gunakan untuk menyampaikan keluhan masyarakat kepada salah seorang pengayom kabupaten Dharmapada itu, sementara itu tidak jauh dari kampung Lubuk Labu Hor sebenarnya juga sedang menanti iring-iringan itu di tepian sebuah sungai. Penantian yang bermakna lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt; Idar sibuk merapikan berbagai hal, kuali panci dan perkakas masak lain yang masih berisi sisa masakan pagi, Gadih Dewi yang lebih muda tiga tahun dari Hor sibuk pula membantu Idar mengemasi peralatan lain di sekitar &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kito tak boleh tampak kumuh, bersihkan &lt;i&gt;galonyo&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hayo cepat, sebelum mereka tibo, &lt;i&gt;yoh ..&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kesibukan mendadak penghuni &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt; berlangsung beberapa lama sehingga tak terasa matahari mulai tinggi, cahayanya menusuk ubun-ubun pepohonan, di rimba yang lebat itu Hor menikmati penantiannya sambil melepas dahaga dengan minum air Sungai Sipotau, dia kembali ke posisi semula berjongkok di sebuah dahan, memasang pendengarannya yang tajam dan penghilatannya yang jernih.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah sekian lama mengintai tidak juga ada tanda-tanda iringan kendaraan itu mendekat, Harapan Hor mulai pudar, hingga siang itu iring-iringan kendaraan itu tidak jua menepi di jalan setapak menuju &lt;i&gt;Genah &lt;/i&gt;mereka, Hor mulai putus asa turun dari dahannya berjalan lunglai kembali ke &lt;i&gt;Genah&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menemui muka lusuh Hor, Idar paham tamu yang diharapkan itu tidak akan datang ke &lt;i&gt;Genah &lt;/i&gt;mereka, kembali ia menjalin biji jali untuk dijadikan perhiasan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adegan kisah diatas merupakan sekelumit perilaku suku kubu manakala hendak menerima tamu orang luar, jika dikatakan mereka jorok, kumuh, namun disisi lain mereka mengerti pula dengan malu, malu ini tentu malu dalam perspektif orang luar, dan malu itu mereka sesuaikan dengan keadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Malu terlihat kumuh oleh orang luar, padahal ketika saya dan kawan-kawan berkunjung ke sudong mereka tiada pernah terlihat bergegas merapikan sesuatu, babi yang sudah di potong, ular yang sedang dikuliti, biawak yang siap dipanaskan dalam panci, atau monyet yang sedang dibakar, berserakan saja letaknya, mungkin mereka sedang beranggapan kami sudah sedikit menjadi bagian dari kebiasaan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku Kubu dalam bingkai kenegaraan Indonesia merupakan sekelompok komunitas adat yang menjadi objek, setidaknya saya memahaminya demikian, pelbagai usaha dilakukan terkait suku kubu, usaha tersebut tentu saja usaha untuk memperjuangkan nasib kehidupan suku kubu, hampir tidak pernah saya mendengar usaha memperbaiki taraf kehidupan mereka itu dilakukan oleh aparatur pemerintah daerah setempat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Paling banyak yang memperjuangkan hak hidup suku kubu ini dilakukan oleh LSM, dengan sumber dana dari Negara pendonor, atau bagian dari hutang luar negeri, intinya suku kubu merupakan sekelompok komunitas adat yang sedang terancam hidupnya, dan harus segera dilakukan tindakan penyelamatan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aktifis dan pekerja kemanusiaan terlihat sibuk membuat kesimpulan, tindakan apa yang paling tepat dan ampuh untuk menyelamatkan kehidupan suku terpencil ini, berbagai teori dan kurikulum digelontorkan dalam berbagai tindakan uji coba, sementara itu kehidupan suku kubu setiap hari semakin terjepit.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsep penyelamatan seperti apa yang sebenarnya sedang di suntikkan kepada suku kubu ini, andaikan pangendum tampun dikatakan berhasil didiajarkan cara hidup seperti orang luar, seberapa besar pengaruhnya untuk mengajak komunitas suku ini berada dalam pola hidup seperti orang luar, bahkan terkadang pola itu hanya menghasilkan nada-nada sumir tentang eksploitasi kehidupan suku terpencil.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsekuansi dari laju pertambahan jumlah penduduk selalu menuntut kebutuhan untuk ruang hidup yang lebih besar, ini mungkin konsep dasar dari bertahan hidup bagi orang luar, dari konsep ini pula hutan sebagai suatu areal bebas dibuka untuk melanjutkan kehidupan itu sendiri, disisi lain hutan sebagai satu-satunya penyangga kehidupan suku kubu semakin tergerus oleh orang luar, kita tentu pernah mendengar di berbagai media tentang konflik lahan antara suku kubu dengan orang luar, sebagai bentuk perang dalam bertahan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku Kubu dalam tatanan adatnya memilih tidak terjajah dari apa yang disebut dengan era moderenisasi, tatanan adatnya tidak pula membuat mereka ingin memiliki rumah mewah atau villa mewah di dalam hutan, villa mereka hanya lembaran daun dan terpal yang mereka sebut dengan &lt;i&gt;sudong&lt;/i&gt;, sungguh suku kubu adalah suku yang merdeka seutuhnya, terkadang hanya kita saja yang memaksakan kehendak agar mereka tinggal menetap dalam sebuah rumah bedengan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka (Suku Kubu) telah memilih untuk tidak terjajah dalam sebuah kesatuan Negara, ketika hutan di klaim oleh Negara sebagai miliknya, suku kubu sudah terlebih dahulu menjaga hutan dan isinya semenjak zaman nenek moyang mereka, atau bahkan mungkin ketika itu belum ada yang namanya Negara Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yusup salah seorang dari komunitas suku kubu pernah menyindir saya, “Kalau memang iyo hutan ini milik kepunyaan ninik mamak, cubo tunjukkan agak sebatang pohon nan ado mereknyo ninik mamak, cubo tunjukkan sejak bilo dio tinggal di hutan menjago hutan ko”, sebuah sindiran yang akan saya ingat seumur hidup dari seorang teman yang berasal dari suku kubu, yang sedang menjadi objek dunia tentang perilaku adat dan kehidupan mereka, sementara itu nun jauh di negeri paman sam sana orang-orang sibuk evaluasi tentang program sertifikasi tanah indonesia, dan penggunaan hutang luar negeri mereka untuk melancarkan urusan sertifikasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Kubu Ini Memilih Merdeka Seutuhnya&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;424&quot; src=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-fcePpz4CoQ4/U9733Uv5CkI/AAAAAAAAChg/PdtNbEG3MbI/s640/alpo.jpg&quot; title=&quot;Kubu Ini Memilih Merdeka Seutuhnya&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Genah *1 : Sebutan Pondok bagi Suku Anak Dalam, istilah lainnya Pesudongon&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Biji Jali *2 : Biji dari tumbuhan famili padi-padian, tanaman ini banyak tumbuh liar di hutan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/kubu-ini-memilih-merdeka-seutuhnya_16.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://3.bp.blogspot.com/-fcePpz4CoQ4/U9733Uv5CkI/AAAAAAAAChg/PdtNbEG3MbI/s72-c/alpo.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8227544999782214312</guid><pubDate>Mon, 17 Oct 2016 02:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-10-16T19:10:46.588-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Antara Kepedulian Dan Menjual Kemiskinan</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tak terbilang waktu dan jarak mereka menghuni pedalaman rimba sumatera, entah dari mana pula muasalnya mengapa mereka disebut dengan nama kubu, dan masyarakat Dharmasraya pada umumnya memanggil mereka dengan Suku Kubu, entah itu maksudnya untuk merendahkan atau sebaliknya, namun yang pasti setiap nama mereka disebut pikiran orang-orang tertuju kepada sekumpulan manusia bau kotor dan tidak beragama.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penting untuk pembaca garis bawahi, bagi saya menamakan Suku Kubu dalam tulisan ini  sesekali tidak bermaksud untuk merendahkan dan menghinakan mereka, karena menurut saya pribadi tidak ada kata yang bermakna “Hina” dan “Kotor”, dari kosa kata “Suku Kubu” itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Antara Kepedulian Dan Menjual Kemiskinan&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;https://2.bp.blogspot.com/-Bu4RUr3iPVk/VmjZuke2H2I/AAAAAAAAERI/Hi7-coY_J5Ugzj7HwseVsyYKhr9DstUVACPcB/s400/IMG_7424.JPG&quot; title=&quot;Antara Kepedulian Dan Menjual Kemiskinan&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adat istiadat dan budaya mereka juga tidak terlalu banyak yang memahami, satu hal yang pasti bagi kami atau lebih tepatnya bagi saya, mereka –Suku Kubu- berpantang sekali menyebut nama orang-orang dari komunitas mereka yang sudah meninggal, lebih dari pada itu kabur, tentang apa agama mereka, bagaimana hukum perkawinan mereka, dan mengapa mereka tidak sudi tinggal menetap disuatu tempat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hanya sedikit sekali yang mereka bagi dengan kami, menurut Pandong Spenra, menipu adalah salah satu cara mereka untuk bertahan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Baiklah kita lupakan sajalah tentang apa yang mereka bagi ataupun mengapa mereka berdusta, sekarang mari kita lihat situasi nasional, pendapatan masyarakat nasional, dan cara masyarakat nasional bertahan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hutan-hutan di sepanjang pulau sumatera sedang menghadapi serangan konversi massal, baik itu dari pemodal, dari masyarakatnya dan dari konglomerat negara tetangga yang menumpang berkebun di tanah pertiwi ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apakah ini yang disebut dengan penjajahan terorganisir dari berbagai kalangan, ataupun teknik bertahan hidup yang baru agar hari esok bisa makan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang-orang beradab ini begitu rakus menjamah hutan, dan melupakan ada keseimbangan sosial lain yang musti juga dijaga, yakni kehidupan orang-orang kubu atau penggiat LSM menyebutnya dengan nama Suku Anak Dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kabupaten Dharmasraya juga tidak luput dari serangan konversi perkebunan ini, hutan tempat suku kubu hidup dan berkehidupan, lambat laun menjadi semakin sempit.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya takut untuk membahasakan bahwa mereka (Suku Kubu) menjadi tumpuan hidup para pekerja sosial, untuk setiap isu yang diperjualbelikan kepada negara pendonor, alangkah naifnya setiap rasa kepedulian yang dimiliki setiap orang, harus dimaknakan dengan persepsi negatif, dan menjadi perdebatan panjang tidak berkesudahan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suku Kubu ini ada dan mereka menjalani hidup dengan budaya mereka sendiri, di kedalaman rimba yang sedang menjalani konversi ke perkebunan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekumpulan pemuda di Kabupaten Dharmasraya yang menamakan mereka perkumpulan peduli, Mei 2012 lalu mencoba mengorbankan waktu tenaga dan pikiran untuk mengajarkan anak-anak rimba ini membaca dan berhitung.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Simaklah video dibawah ini betapa cerianya kehidupan anak-anak rimba suku kubu, dan betapa senangnya mereka belajar menulis berhitung dan membaca.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;video&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/FaiBsrAUaWU&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penting untuk saya jelaskan mereka mengorbankan waktu dan tenaga, bukan menumpang hidup untuk setiap derita yang sedang melanda suku kubu, kegiatan tersebut disupport oleh PNPM Peduli SSS Pundi Sumatera dan pemerintahan setempat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka sekumpulan pemuda-pemudi ini mencoba menyampaikan hal pertama yang disampaikan didalam Kitab Suci Al-Quran, yakni Iqro’, bacalah, dengan harapan semoga ketika mereka mulai membaca, “teranglah” bagi suku kubu semesta ini, dan &quot;teranglah&quot; mereka dari membaca setiap ancaman yang datang melalui kebijakan politik, dan &quot;teranglah&quot; bagi mereka untuk bagaimana mereka harus bertahan hidup tanpa harus menipu,  dan tentunya dengan harapan terbesar semoga Allah memberikan kekuatan kepada seseorang untuk mengajak mereka kepada jalan Islam, jalan keselamatan di dunia dan akhirat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk anda yang sedang membaca tulisan ini, untuk anda yang membenci dan menilai negatif setiap program kegiatan penggiat sosial ini, jika boleh kita berandai, seandainya anda terlahir sebagai bagian dari suku kubu, dengan segala konsekuensi pengetahuan dan budaya yang dimiliki orang kubu, apa yang akan anda lakukan?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekiranya ini adalah suatu keberuntungan, maka keberuntungan itu adalah anda terlahir sebagai “orang luar” yang menurut anda memiliki peradaban tinggi, sedangkan mereka hidup dan berkehidupan dengan segala keseimbangan yang ada di dalam rimba lebat, sebagai manusia yang beradab, apakah mereka harus diselamatkan atau dimusnahkan?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Manusia beradap menghadapi ancaman kelangkaan pangan, maka manusia kubu juga menghadapi ancaman kelangkaan pangan untuk setiap hutan yang ditebang dan dikonversi ke kapitalis perkebunan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian pendapat singkat dari saya, sampai jumpa ditulisan yang lain, salam.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/antara-kepedulian-dan-menjual-kemiskinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://2.bp.blogspot.com/-Bu4RUr3iPVk/VmjZuke2H2I/AAAAAAAAERI/Hi7-coY_J5Ugzj7HwseVsyYKhr9DstUVACPcB/s72-c/IMG_7424.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3797954513443150043.post-8528302239201979560</guid><pubDate>Sun, 16 Oct 2016 08:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-04-15T20:03:25.922-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Suku Kubu</category><title>Tanah Ulayat Untuk Suku Kubu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekitar tiga tahun lalu (2011 - 2012) yang lalu suku kubu kelompok Penyiram berladang di sekitar kawasan hutan Banai, kelompok yang berjumlah sekitar 10 KK tersebut membuka hutan dan bertanam karet serta jenis tanaman perkebunan lainnya, mulanya tindakan mereka membuka areal perkebuna tersebut tidak terlalu bermasalah, kemudian hari baru terdengar isu-isu yang menyatakan tindakan tersebut tidak di restui Ninik mamak dan penghulu kenagarian Banai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-xLYnMAczNBk/U-LbcGrgb8I/AAAAAAAACiM/ephWnH3dm1o/s1600/kubu1.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Tanah Ulayat Untuk Suku Kubu&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-xLYnMAczNBk/U-LbcGrgb8I/AAAAAAAACiM/ephWnH3dm1o/s400/kubu1.JPG&quot; style=&quot;cursor: move;&quot; title=&quot;Tanah Ulayat Untuk Suku Kubu&quot; width=&quot;266&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Pasalnya kawasan tersebut merupakan kawasan ulayat ninik mamak Banai.  Ketika ditelusuri lebih lanjut, ditemukan beberapa point yang dinilai penting untuk dicermati.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Suku Kubu dinilai masyarakat setempat sebagai orang liar. Liar dalam pengertian disini adalah segala sesuatu yang berkonotasi negative disandangkan oleh masyarakat terhadap mereka, misalnya : pencurian buah durian yang diklaim oleh warga setempat sebagai milik mereka, sementara pada prinsipnya pohon Durian yang tumbuh di dalam hutan dan dijadikan pemukiman oleh suku kubu susah untuk di identifikasi sebagai milik siapa, kecuali pada areal tersebut terdapat bekas ladang peninggalan kakek moyang terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya saya sendiri pernah berkunjung ke salah satu pohon Durian yang pernah di jadikan lokasi Sudung suku kubu, jaraknya lebih kurang tujuh jam berjalan kaki dari pinggiran hutan, melewati hutan lebat mendaki bukit dan menyeberangi sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa saya tidak mungkin orang kampung akan bersedia menunggui pohon durian yang sudah sangat jauh kedalam rimba lebat tersebut, ditambah lagi hewan Buas yang siap mengintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;2.       Penilaian yang keliru tentang kepemilikan hutan : Suku kubu dimanapun posisi kastanya adalah suku yang sangat menggantungkan hidup dari hasil hutan, mereka (Suku Kubu) meyakini bahwa hutan adalah kehidupan mereka, tidak satupun yang memiliki hutan kecuali mereka yang hidup menetap dan memperlakukan hutan dengan penuh penghormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi saya dengan salah seorang kelompok penyiram bernama Yusup. Kepada saya Yusup pernah mengatakan “Jika betul hutan ini adalah kepunyaan ninik mamak, coba dia tumbuhkan agak sebatang pohon, kalau betul mereka yang punya hutan ini mengapa mereka tidak tinggal dihutan ini, satu pohonpun tidak ada yang bertuliskan nama “ninik mamak” kampong, bagaimana bisa dikatakan hutan ini milik mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian seperti ini tentu tidak bermaksud mengesampingkan tatanan adat Minangkabau yang dianut oleh penduduk Banai, dimana dalam tatanan adat minang ada yang dikenal dengan kepemilikan tanah ulayat, pada kenyataannya suku kubu tidak mengerti cara Ninik mamak mengklaim memiliki tanah ulayat jauh sampai kepedalaman Rimba sana, bahkan dengan sangat mungkin hutan pedalaman tersebut belum pernah dijamah oleh Ninik Mamak yang dinisbahkan sebagai pemilik tanah ulayat, jelas Yusup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun dilema yang terjadi diseputar &lt;b&gt;Rimba &lt;/b&gt;yang dihuni oleh suku kubu, nilai penting yang tidak boleh kita lupakan adalah, bahwa dengan semakin berkurangnya jumlah luasan hutan di kabupaten Dharmasraya sesungguhnya ruang hidup suku kubu semakin sempit.  Situasi seperti ini mungkin biasa saja bagi kita selaku “&lt;b&gt;Orang luar&lt;/b&gt;”, namun tentu ada konsekuensi berikutnya ketika sekelompok suku sudah tidak lagi memiliki tempat untuk mencari penghidupan, konsekuensi sosial yang bisa berbentuk apa saja bahkan tidak tertutup kemungkinan konsekuensi tersebut akan berdampak pula kepada tatanan sosial yang lainnya.  Mari kita bijak menyikapi persoalan ini, terutama pemerintah daerah selaku perpanjangan tangan Negara dan masyarakat Kabupetan Dharmasraya khususnya.  &lt;b&gt;“Mereka tidak meminta untuk dilahirkan sebagai Suku Kubu ..”&lt;/b&gt; kata pandong spenra pada suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Artikel terkait budaya suku kubu :&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://images.dmca.com/Badges/DMCA_badge_trn_60w.png?ID=68a0f3de-c0c2-4f1f-9817-64ddc8ba6754&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;DMCA.com Protection Status&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;//images.dmca.com/Badges/DMCA_badge_trn_60w.png?ID=68a0f3de-c0c2-4f1f-9817-64ddc8ba6754&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;1. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2014/04/kearifan-lokal-dharmasraya-episode-suku.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;kearifan lokal suku kubu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2014/04/suku-kubu-ikut-pemilu.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Pemilu pertama suku Kubu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2011/02/bisu.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Menikah dengan gadis suku kubu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2013/01/dragons-blood-on-dharmasraya.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Darah Naga di pemukiman Suku Kubu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;a href=&quot;http://kompasmusafir.blogspot.com/2014/08/suku-kubu-melangun-dan-kawin-cigak.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Budaya Melangun dan Kawin Cigak &lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;script src=&quot;//images.dmca.com/Badges/DMCABadgeHelper.min.js&quot;&gt; &lt;/script&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>https://suku-kubu.blogspot.com/2016/10/tanah-ulayat-untuk-suku-kubu.html</link><author>noreply@blogger.com (Admin)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://1.bp.blogspot.com/-xLYnMAczNBk/U-LbcGrgb8I/AAAAAAAACiM/ephWnH3dm1o/s72-c/kubu1.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>