<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>DeDakwah Jakarta d'Blog</title>
	
	<link>http://dedakwah.wordpress.com</link>
	<description>Merajut Ukhuwah Mengusung Dakwah Islamiyah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Jan 2010 04:03:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="dedakwah.wordpress.com" port="80" path="/?rsscloud=notify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0895fb5b28b030563d9a1f1d91734989?s=96&amp;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>DeDakwah Jakarta d'Blog</title>
		<link>http://dedakwah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dedakwah.wordpress.com/osd.xml" title="DeDakwah Jakarta d'Blog" />
	
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/dedakwah" /><feedburner:info uri="dedakwah" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://dedakwah.wordpress.com/?pushpress=hub" /><feedburner:emailServiceId>dedakwah</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>This Blog Is Under Contructions</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/dedakwah/~3/xmXeYvfy6Ec/</link>
		<comments>http://dedakwah.wordpress.com/2010/01/18/this-blog-is-under-contructions/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 04:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ddiijak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedakwah.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf, blog ini dalam masa percobaan&#8230; Terima Kasih www.dewandakwahjakarta.or.id<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=40&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon maaf, blog ini dalam masa percobaan&#8230; Terima Kasih <a href="http://dewandakwahjakarta.or.id" target="_blank">www.dewandakwahjakarta.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedakwah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedakwah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedakwah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedakwah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedakwah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedakwah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedakwah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedakwah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedakwah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedakwah.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=40&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedakwah.wordpress.com/2010/01/18/this-blog-is-under-contructions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d36e9daf39490c9a350dc2b7ee08691?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ddiijak</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://dedakwah.wordpress.com/2010/01/18/this-blog-is-under-contructions/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menyibak Tabir Seputar Karomah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/dedakwah/~3/bK9WOL2rtMI/</link>
		<comments>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/menyibak-tabir-seputar-karomah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 10:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ddiijak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agustus 2009]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[karomah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedakwah.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Termasuk yang masih hangat menjadi bahan pembicaraan hingga saat ini adalah tentang karomah. Bermula dari zaman Wali Songo sebagai penyebar Islam di Jawa sebelum kedatangan Belanda ke nusantara. Wali Songo diyakini oleh beberapa kalangan memiliki kesaktian yang luar biasa dan tidak masuk akal. Kesaktian inilah yang disebut-sebut sebagai karomah dari Allah Ta&#8217;alaa. Namun, benarkah kesaktian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=38&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" title="karomah" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ehOAzS-pprFyxM:http://khairulu.blogsome.com/images/Image05.jpg" alt="" width="137" height="103" />Termasuk yang masih hangat menjadi bahan pembicaraan hingga saat ini adalah tentang karomah. Bermula dari zaman Wali Songo sebagai penyebar Islam di Jawa sebelum kedatangan Belanda ke nusantara. Wali Songo diyakini oleh beberapa kalangan memiliki kesaktian yang luar biasa dan tidak masuk akal. Kesaktian inilah yang disebut-sebut sebagai karomah dari Allah Ta&#8217;alaa. Namun, benarkah kesaktian Wali Songo termasuk dari karomah yang diberikan Allah?<span id="more-38"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu manhaj <em>Ahlus sunnah wal jama&#8217;ah</em> adalah meyakini ada-nya karomah dari Allah Ta&#8217;alaa. Karomah, bukanlah istilah yang asing di telinga kaum muslimin. Ia merupakan bagian dari agama ini. Karomah yang dimaksud adalah kejadian di luar tabiat manusia yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa do&#8217;a, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karomah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (<em>Syarhu Ushulil I&#8217;tiqad</em> 9/15 dan <em>Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah</em> 2/298  karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : &#8220;Dan termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah meyakini adanya Karomah para wali dan apa-apa yang Allah perbuat dari ke-luarbiasaan melalui tangan-tangan mereka baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat (mengetahui hal-hal yang tersembunyi), bermacam-macam keluarbiasaan (kemampuan) atau pengaruh-pengaruh&#8221;. (Syarah Aqidah Al Wasithiyah, Hal.207)</p>
<p style="text-align:justify;">
Karomah merupakan perkara yang telah tsabit (tetap) secara     nash baik Qur&#8217;an maupun     Sunnah, bahkan dalam wujud nyatanya. Karomah hanya   diberikan kepada hamba &#8211; hamba -Nya yang benar-benar beriman   serta bertaqwa kepada-Nya,         yang disebut dengan wali Allah. (Q.S. Yunus [10]: 62-63). Syaikh As Sa&#8217;di dalam tafsirnya <em>Taisirul Karimir Rahman</em> menjelaskan :  &#8220;Dalam ayat ini Allah mengkhabarkan tentang keadaan wali-wali-Nya dan sifat-sifat mereka, yaitu: &#8220;Orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya  dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk. Kemudian mereka merealisasikan keimanan mereka dengan melakukan ketaqwaan dengan cara melakukan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya&#8221;. Oleh karena itu tidaklah mudah untuk menyebut seseorang menjadi wali Allah apalagi memiliki karomah. Hal ini banyak terjadi di kalangan sufi. Mereka dengan mudah menjuluki seseorang (guru mereka) dengan sebutan wali Allah, lantaran memiliki hal-hal yang luar biasa.  Imbasnya, terjadilah sikap fanatik yang berlebihan, penghormatan hingga pengkultusan yang sejatinya itu adalah hak preogatif Allah semata.</p>
<p style="text-align:justify;">
Pada hakekatnya setiap mukmin yang bertaqwa adalah wali Allah Ta&#8217;alaa. Hanya saja, tingkatan mereka berbeda tergantung kepada ketaqwaaan mereka dan keimanan mereka. Siapa saja yang beriman dan ketaqwaannya sempurna, maka kedudukannya di sisi Allah Ta&#8217;alaa tinggi dan karamah-Nya lengkap. Pemimpin para wali adalah para rasul dan para nabi. Dan sesudah mereka adalah kaum Mukminin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul <em>Al Furqon Baina Auliya&#8217;ir Rohman wa Auliya&#8217;us Syaithan</em>, Hal. 34 mengatakan: &#8220;Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah saw, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta&#8217;alaa berfirman: &#8220;Katakanlah: &#8216;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu&#8217;.&#8221;(Q.S. Ali Imran [3]: 31)</p>
<p style="text-align:justify;">Di masyarakat, wali adalah gelar yang memiliki prestise tinggi. Orang yang sudah mencapai derajat wali, maka segala tindakan dan ucapannya bak titah raja, harus diterima dan dilaksanakan meski tak jarang melanggar syariat. Mestinya keadaan ini tidak terjadi bila masyarakat paham bahwa tidak semua orang yang dianggap sebagai wali adalah wali Allah. Inilah kesalahan yang seharusnya kita hapus sejak dahulu.</p>
<p><strong>Bentuk-bentuk Karomah</strong><br />
1. Karomah yang diberikan kepada Maryam. (Q.S. Ali Imran [3] : 37)<br />
Imam ibnu katsir menyebutkan :&#8221;Ayat ini menjadi dalil akan adanya karomah bagi para wali Allah dan hal ini juga telah disebutkan dalam nash-nash sunnah yang mutawatir. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/36)<br />
2. Ashabul Kahfi (Penghuni gua) yang ditidurkan Allah selama 390 tahun.  (Q.S. Al kahfi [18]: 25)<br />
3. Karomah yang terjadi pada kedua orang tua seorang anak yang dibunuh oleh Nabi khidir ketika bersama dengan Nabi Musa as. (Q.S. Al kahfi [18]: 74)<br />
4. Karomah pada suara Umar bin Khattab ra yang didengar oleh pasukannya.<br />
Saat itu Umar bin Khaththab ra berkhutbah di atas mimbar Rasulullah saw, tiba-tiba ia berkata &#8220;Hai Sariyah, ke gunung! Hai Sariyah, ke gunung!&#8221; Umar bin Khaththab ra memberi pengarahan kepada komandan pasukan yang bernama Sariyah, dan Sariyah pun mendengar suara Umar bin Khaththab. Kemudian pasukan bergerak ke gunung. Itu adalah kemenangan mereka, dan kekalahan musuh-musuh mereka, kaum musyrikin. Ketika Sariyah pulang ke Madinah, ia bercerita kepada Umar bin Khaththab dan para sahabat, bahwa ia mendengar suara Umar bin Khaththab yang diucapkan di atas mimbar Rasulullah saw.</p>
<p><strong>Pandangan Manusia tentang Karomah</strong><br />
<em>Pertama,</em> kelompok yang mengingkari adanya karomah, di antaranya yaitu: Jahmiyah, Mu&#8217;tazilah&#8217; dan sebagian dari Asy&#8217;ariyah. Mereka berdalil dengan syubhat-syubhat yang dilandasi dengan akal mereka yang rendah. Mereka mengatakan: &#8220;Bahwa terjadinya karomah itu hanya merupakan perkara yang akan menjadikan kesamaran antara nabi dengan para wali dan antara wali dengan Dajjal.&#8221; Mereka inilah ahli tafrith, (terlalu meremehkan) wujud karomah, padahal ia ada dan sudah terjadi.<br />
<em>Kedua,</em> Orang-orang yang bersikap ifrath (berlebih-lebihan) dalam menetapkan karomah yaitu dari kalangan para &#8220;Sufi&#8221; dan &#8220;Penyembah kubur&#8221;, yang menganggap segala keluarbiasaan itu sebagai karomah, tanpa memperhatikan keadaan pelakunya atau pemiliknya.<br />
<em>Ketiga,</em> Orang-orang yang benar-benar mengimani dan  membenarkan adanya karomah, serta mereka tetapkan karomah tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah.<br />
Seorang Muslim yang benar-benar beriman akan menyatakan bahwa Allah Ta&#8217;alaa mempunyai wali-wali dari hamba-hamba-Nya. Wali-wali itu Dia pilih untuk beribadah kepada-Nya, menjadikan mereka taat kepada-Nya dan memberikan karomah-karomah-Nya kepada mereka.</p>
<p><strong>Karomah atau Tipu daya Syetan </strong><br />
Di samping karomah ada juga tipu daya syetan yang hampir serupa dengan karomah. Tipu daya tersebut dapat berupa kesaktian, kekuatan ghaib, dan hal-hal luar biasa serta mustahil yang semuanya bersumber dari syetan. Imam Asy Syafi&#8217;i rahimahullah berkata: &#8220;Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti (tuntunan) Rasulullah saw.&#8221; (<em>A&#8217;lamus Sunnah Al Manshurah</em>, Hal. 193)<br />
Inilah yang banyak menipu kaum muslimin, dengan anggapan bahwa itu termasuk karomah. Padahal justru tidak ada kaitannya sama sekali karena hakikatnya  itu adalah ahwal as syaithaniyah (perbuatan syetan). Hal ini seperti yang terjadi pada tokoh-tokoh sufi yang kerap bersinggungan dengan dunia mistis. Tidak menutup kemungkinan terjadi pula pada Wali Songo (meski hingga kini kisahnya masih simpang siur dan tidak jelas).  <em>Wallahu a&#8217;laam</em></p>
<p><a href="http://www.kacahati.tk/"><strong>Muttaqin Salam</strong></a><br />
Mahasiswa <a href="http://www.stidnatsir.ac.id/">STID M. Natsir</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedakwah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedakwah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedakwah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedakwah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedakwah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedakwah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedakwah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedakwah.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedakwah.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedakwah.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=38&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/menyibak-tabir-seputar-karomah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d36e9daf39490c9a350dc2b7ee08691?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ddiijak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ehOAzS-pprFyxM:http://khairulu.blogsome.com/images/Image05.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">karomah</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/menyibak-tabir-seputar-karomah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Memaknai Ramadhan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/dedakwah/~3/FonrPkndAyA/</link>
		<comments>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/memaknai-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 10:09:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ddiijak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agustus 2009]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedakwah.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Momentum Ramadhan ini sangat mahal. Mahal dari sudut nilai, mutu dan kualitas, yang sayang sekali jika lewat begitu saja tanpa bekas dan makna yang berarti. Mahal karena Ramadhan dengan paket amal yang ada di dalamnya bisa menyapu bersih dosa 11 bulan sebelumnya. Bahkan dihitung seperti puasa setahun penuh jika disempurnakan lagi dengan puasa Syawwal. Karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=33&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignright" style="border:0 none;" title="ramadhan" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:7mWrO-N0uzccHM:http://masedys.blog.uns.ac.id/files/2009/08/selamat-menyambut-ramadhan.jpg" alt="" width="124" height="109" />Momentum Ramadhan ini sangat mahal. Mahal dari sudut nilai, mutu dan kualitas, yang sayang sekali jika lewat begitu saja tanpa bekas dan makna yang berarti. Mahal karena Ramadhan dengan paket amal yang ada di dalamnya bisa menyapu bersih dosa 11 bulan sebelumnya. Bahkan dihitung seperti puasa setahun penuh jika disempurnakan lagi dengan puasa Syawwal. Karena itu, kehadiran Ramadhan dengan paket optimalisasi amaliah-nya oleh para pengurus masjid, para ustadz, imam rawatib dan para jama&#8217;ah benar-benar harus dimaksimalkan, jangan sampai masjid terkalahkan oleh tayangan TV dan siaran radio.</p>
<p style="text-align:justify;">Ramadhan juga mahal dari sudut sejarah, sebab pada awalnya Ramadhan ini adalah bulan hadiah terkait dengan terbatasnya umur ummat Muhammad saw dan lemahnya fisik ummat akhir zaman, karena itu ada konsep rukshah dalam puasa bahkan dijadikan sebagai tebusan kesalahan <em>(kaffarah)</em>, di mana hal ini tidak terdapat dalam syari&#8217;at Nabi terdahulu. Dengan malam 1.000 bulan yang mampu membayar 83 tahun usia semakin menambah mahal nilai puasa Ramadhan, yang selayaknya memacu kita untuk tidak melewatkan detik-detik Ramadhan berlalu begitu saja.  <span id="more-33"></span></p>
<div style="text-align:justify;"><strong>Ketika Ramadhan Menjelang </strong><br />
Para ahli ilmu menyimpulkan dari hadits-hadits shahih tentang datangnya Ramadhan, seperti âtakum ramadhân syahrun mubârak, <em>idzâ kânat awwalu laylah min ramadhân </em> (Shahihul Jami&#8217; No.:55,759) bahwa boleh hukumnya mengadakan acara persiapan menyambut bulan suci Ramadhan dalam rangka semarak syi&#8217;ar dan gaung syari&#8217;at. Saling berkirim tahni&#8217;ah (menyapa), menjalin silaturahim dan tali kekerabatan, termasuk berbagi sedekah pada mustahiq-nya. Persiapan ini penting, untuk menyambut  tamu  agung Ramadhan pembawa nikmat; nikmat pahala, maghfirah,  rezeki  dan  kemudahan urusan. Di sinilah  Ramadhan  bisa kita harapkan menjadi medan pembebasan yang  paling ampuh dari jilatan api neraka, di mana  semua  orang  tak ada  yang  luput  dari  jilatannya.<br />
(Q.S. Maryam [19]:71-72).</div>
<div style="text-align:justify;">Imam Ibnu Qudamah, faqih Hanabilah kelahiran Palestina dalam Juz III Al Mughni membolehkan. Demikian pula, Imam Ibnu Rajab dalam Latha&#8217;iful Ma&#8217;arif-nya. Syaikh Fauzan dalam A<em>l Muntaqa</em>-nya, membolehkan dengan alasan keumuman surat Yunus [10]:58 didukung prilaku salafus-shalih. Ucapan selamatnya Thalhah bin Ubaidillah  t terhadap Ka&#8217;ab bin Malik dan dua sahabatnya  terkait diterimanya  tobat  ketiga  sahabat  ini seperti  dikisahkan  dalam  surah  at Taubah dan as-Shahihaein membuat  Imam   Ibnul   Qayyim   Al Jauziyah berkesimpulan serupa, yaitu boleh, dan tidak mengapa.</div>
<div style="text-align:justify;">Persiapan Ramadhan menjadi penting dalam upaya menertibkan simbol-simbol kesyirikan dan kemaksiatan sebagai realisasi dari hadits <em>&#8220;wa shuffidati&#8217;s-syayâthîn&#8221; </em> (dan syetan-syetan pun dirantai). Pemerintah sebagai ulil-&#8217;amri dengan dukungan masyarakat luas dan dunia usaha agar menghormati kesucian bulan ramadhan. Dari pengalaman beberapa kasus, tidak jarang terjadi kesalah-pahaman penguasa hiburan ketika masyarakat bertindak untuk mengawal Perda No 10 Tahun 2004 dan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta No 98 Tahun 2004, di mana klub-klub malam, diskotik, tempat judi, tempat mesum dan sejenisnya harus ditutup.</p>
<p><strong>Kesiapan Konsepsional</strong><br />
Seperti diketahui, Ramadhan ini datang membawa banyak makna. Ramadhan ingin mewarnai kita, ingin men-sibghah para <em>sha&#8217;imin</em>. Warna apa yang kita inginkan, apa standar target yang kita mau, semuanya bergantung pada konsep yang kita pahami tentang Ramadhan. Inilah yang disebut oleh Imam Bukhari (194-256 H) dalam kitab Shahihnya dengan <em>al-&#8217;ilmu qablal-qauli wal-&#8217;amal</em>, ilmu sebelum berkata dan berbuat. Atau imanan wahtisaban dalam hadits-hadits puasa.<br />
Dengan konsepsi dasar ini para sha&#8217;imin bisa melakukan revolusi nilai, yaitu menyulap haus dan lapar menjadi obat, kurang tidur seperti ribath fisabilillah, infaq sedekah menjadi investasi akhirat. Dengan konsep dasar ini juga para sha&#8217;imin melakukan adaptasi keutamaan, bahwa se-liar apapun nafsu seseorang harus tunduk pada aturan Ramadhan. Termasuk bagaimana membuang malas  dengan  tekun  (al-judd), menyulap bosan dengan semangat (al-hirsh), lesu dengan gairah (ghirah) dan seterusnya. Ramadhan harus mendikte nafsu dan membalutnya dengan paket amaliah, amalan seribu bulan.</div>
<div style="text-align:justify;">Setelah kesiapan konsepsional sebagai bentuk pengamalan al-ilmu qablal &#8216;amal tadi, persiapan selanjutnya yang tidak bisa kita remehkan adalah al-ikhlash wal-ittiba&#8217;. Sebab tidak sedikit orang shalih mengeluh terhadap sulitnya melaksanakan bab niat. Campur tangan syetan dalam merayu orang mu&#8217;min, mencemarkan dan menebarkan virus syahwat dan syubhat ikut memperparah sulitnya mendapatkan ilmu ikhlas dalam ibadah. Imam Ibnu Abi Syaibah pada Juz-8 kitab Al-Mushannaf-nya menceritakan Umar bin Khatthab ra pernah mendengar untaian do&#8217;a seorang Sahabat, &#8220;<em>Allahumma&#8217;j-&#8217;alni mina&#8217;l-qali</em>l,&#8221; Ya Allah kumpulkan aku bersama golongan hamba-Mu yang sedikit. Mendengar do&#8217;a orang ini Khalifah Umar t terkejut, beliau bertanya, &#8220;ma hadza&#8217;d-du&#8217;a ?, Apa maksud do&#8217;amu itu? Sahabat itu menjawab, maksud do&#8217;aku itu adalah firman Allah Ta&#8217;alaa : <em>wa qalilun min &#8216;ibadiya&#8217;s-syaku</em>r (Q.S. Saba&#8217; [34]:13).</p>
<p><strong>Paket Amaliah Ramadhan </strong><br />
Detik-detik Ramadhan yang sangat berharga ini harus dipergunakan seoptimal mungkin, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Sebab Ramadhan itu adalah <em>ayyâman ma&#8217;dûdât</em>, waktunya cuma 29 atau 30 hari. Menjadikan Ramadhan sebagai madrasah taqwa, musim pahala dan ampunan dengan berbagai paket program yang sudah disusun oleh ahlul ilmi harus mendapat <em>support</em> dari jama&#8217;ah masjid dan rumah tangga muslim.<br />
Rasulullah saw sendiri  dalam   9 kali Ramadhan, tak pernah sedetik pun menyia-nyiakan peluang emas Ramadhan. Ketekunan Rasulullah dalam amaliah Ramadhan mengalahkan kencangnya tiupan angin. Rasulullah saw adalah <em>ajwadun-nass bil-khai</em>r, khususnya di bulan suci Ramadhan. Nabi tadarus Qur&#8217;an bersama malaikat Jibril,  Nabi saw menjemput lailatul Qadar dengan I&#8217;tikaf di masjid, bahkan sampai 20 hari di tahun wafatnya. Nabi saw bahkan berperang dan meraih banyak kemenangan dalam bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh &#8216;Aisyah g, bahwa para Sahabat jika masuk bulan Ramadhan membebaskan tawanan dan berbagi rezki pada fakir miskin yang wujudnya pada hari ini bisa dalam bentuk sedekah awal puasa, acara buka puasa bersama, sahur bersama, saling tukar <em>ta&#8217;jilan</em> dengan tetangga, hadiah lebaran dan sejenisnya.</div>
<div style="text-align:justify;">Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa posisi Ramadhan melebihi obat bagi pasien, air bagi ikan, udara bagi makhluk hidup, hujan bagi petani. Yang kumpulan airnya  akan  berlalu  begitu  saja  jika tidak segera dibendung, dialirkan, dan dimanfaatkan biar menumbuhkan benih-benih kebaikan baru. Berbuah taqwa seperti yang menjadi pembuka dan penutup ayat puasa di Al Baqarah:183 dan 187, l<em>a&#8217;allakum tattaqun</em> dan la&#8217;allahum yattaqun. Sungguh sangat celaka dan sangat merugi sekali, mereka yang masih punya umur bertemu Ramadhan, tapi menyia-nyiakan turunnya ampunan Allah. Saat itu Nabi saw naik mimbar, beliau bersabda: &#8220;Malaikat Jibril baru saja mendatangiku, ia berkata: malang nian orang yang mendapati Ramadhan, sedang ia tidak dapat bagian apa-apa, dalam riwayat lain, ia tidak dapat ampunan dan perlindungan dari jilatan api neraka.&#8221; (Shahih Targhib:997,1679,2491). <em>Marhaban Ya Ramadhan </em></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Abu Taw Jieh Rabbani</strong></div>
<div style="text-align:justify;">Anggota Dewan Majlis Fatwa Dewan Da&#8217;wah Pusat</div>
<div style="text-align:justify;">(admin/cbe/syamsul)</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedakwah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedakwah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedakwah.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=33&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/memaknai-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d36e9daf39490c9a350dc2b7ee08691?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ddiijak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:7mWrO-N0uzccHM:http://masedys.blog.uns.ac.id/files/2009/08/selamat-menyambut-ramadhan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ramadhan</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/memaknai-ramadhan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Menggapai Kebahagiaan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/dedakwah/~3/U_lRW3UkKWE/</link>
		<comments>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/menggapai-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 10:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ddiijak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agustus 2009]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[agustus]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dedakwah.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat &#8220;kebahagiaan&#8221; adalah kalimat yang mulia, bukan kalimat yang hampa tiada makna, bukan kalimat yang mati, tiada arti. &#8220;Kebahagiaan&#8221;, adalah kondisi kehidupan dan kematian yang didambakan oleh setiap insan, di Barat maupun di Timur, di Utara maupun di Selatan.Namun, di dalam menggapai kebahagiaan ini, ummat manusia (dalam kenyataannya) berbeda-beda. Sebagian di antara mereka telah menggapainya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=29&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="border:0 none;" title="bahagia" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:WcimsM805C3VYM:http://1.bp.blogspot.com/_P6VzVoXU4dc/Sk7aqqA68GI/AAAAAAAAAu0/5caIayE-WlE/s400/bahagia.gif" alt="" width="116" height="113" />Kalimat &#8220;kebahagiaan&#8221; adalah kalimat yang mulia, bukan kalimat yang hampa tiada makna, bukan kalimat yang mati, tiada arti. &#8220;Kebahagiaan&#8221;, adalah kondisi kehidupan dan kematian yang didambakan oleh setiap insan, di Barat maupun di Timur, di Utara maupun di Selatan.Namun, di dalam menggapai kebahagiaan ini, ummat manusia (dalam kenyataannya) berbeda-beda. Sebagian di antara mereka telah menggapainya, sebagian yang lain sedang mencari, namun ada pula di antara mereka yang telah mencarinya namun tidak pernah menjumpai, sampai ajal (maut) datang merenggut nyawanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhan Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mengerti tentang seluk beluk ciptaannya, telah memberi petunjuk tentang bagaimana seseorang bisa menggapai kebahagiaan itu, Dalam surat An-Nisa&#8217; 125 Allah Ta&#8217;alaa berfirman : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya (way of life-nya) dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.<span id="more-29"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di ayat 125 surat An Nisa&#8217; tersebut, Allah Ta&#8217;alaa dengan jelas memberikan tuntunan, bahwa orang yang paling baik kehidupannya (paling bahagia way of life-nya) adalah :<br />
1. Orang yang  selalu  men- yerahkan dirinya  secara  penuh  kepada  Allah Ta&#8217;alaa.<br />
2. Orang yang selalu berbuat baik (kapan saja dan di mana saja)<br />
3. Orang yang selalu mengikuti jejak langkah Nabi Ibrahim u secara lurus (tidak belok ke kanan maupun ke kiri).<br />
Orang yang bisa memenuhi tiga hal tersebut di atas, pasti akan menjadi kekasih Allah (dikasihi) oleh Allah, sebagaimana Allah kasih kepada  Nabi  Ibrahim u.  Dan  orang yang dikasihi oleh Allah, pasti ia akan bahagia, kapan saja, di mana saja. Oleh karena itu, Rasulullah saw pernah bersabda :<br />
“Sungguh ajaib kondisinya orang yang beriman itu, sesungguhnya kondisinya selalu dalam keadaan baik dan hal yang demikian, tak mungkin bisa dicapai kecuali oleh orang yang beriman. Ketika ia dalam keadaan yang menggembirakan, ia bersyukur, maka syukur itu baik bagi dia. Dan ketika dalam keadaan yang menyusahkannya, ia bersabar, maka sabar itu baik bagi dirinya.<br />
(H.R. Muslim)</p>
<p>Jadi orang yang bahagia adalah orang yang selalu terkendali oleh Allah Ta&#8217;alaa, karena ia telah menyerahkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Setiap insan, pasti akan mengalami suatu kondisi di mana ia harus bersedih, merasa susah dan gundah, namun apabila hal tersebut terkendali oleh Allah Ta&#8217;alaa, maka yang bersangkutan akan merasa bahwa bebannya pasti akan diringankan, oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.<br />
Sebaliknya apabila seseorang merasa sedih, gundah, susah dan sebagainya, kemudian tidak terkendali, maka akibatnya akan menjadi fatal, na&#8217;udzu billah min dzalik.<br />
Para pakar psikologi mengatakan bahwa kondisi yang seperti itu dinamakan &#8220;perplexity&#8221;, dan apabila tidak lekas ditangani, yang bersangkutan akan mengalami atau melaksanakan beberapa hal, antara lain : a. Bunuh diri, b. Lari ke Narkotika c. Depresi (dengan beberapa tindakan yang berbahaya untuk dirinya, atau orang lain, atau minimal harus dirawat di rumah sakit. Maka dengan uraian tersebut di atas, dapat dikatakan, bahwa seseorang supaya bisa hidup tenang dan bahagia, dia harus kembali kepada Allah dengan penuh penyerahan diri,  selalu  berbuat baik, dan  mengikuti  jejak  Nabi  Ibrahim u.<br />
Kebahagiaan tidak bisa dijamin oleh banyaknya harta kekayaan, sebagaimana tidak bisa dilakukan pula dengan kemiskinan; contoh-contoh kehidupan umat manusia di Barat maupun di Timur telah membuktikan benarnya paradigma tersebut di atas.</p>
<p>1. Christina Onassis<br />
Christina Onassis adalah pewaris satu-satunya dari ayahnya &#8220;Onassis&#8221;, sang Raja kapal, yang meninggal dunia dengan meninggalkan kekayaan beratus-ratus milyar US Dollar. Maka Christina Onassis adalah wanita terkaya di dunia pada zamannya. Dengan kekayaan yang demikian hebat, ternyata dia tidak bahagia. Ketika meninggal dunia, polisi mendapatkan catatan harian yang ditulis oleh Christina sendiri, di situ dia menyatakan &#8220;Aku sedang mencari kebahagiaan, namun aku tidak pernah menjumpainya.&#8221; Dia meninggal dalam keadaan tidak wajar, dan polisi menduga bahwa dia meninggal karena bunuh diri, dengan menelan obat yang over dosis.</p>
<p>2. Chung Mong Hun (Korea Selatan)<br />
Chung Mong Hun, adalah Direktur Utama PT. Hyundai Asan, adalah satu sayap perusahaan Hyundai Corporation (Hyundai Grup). Dia juga salah seorang pewaris kerajaan bisnis otomotif yang sangat terkenal &#8220;Hyundai&#8221;. Bisa dibayangkan betapa besar kekayaan materinya. Namun pada bulan Agustus 2003, dunia bisnis digemparkan oleh peristiwa bunuh dirinya. Dia bunuh diri dengan cara melemparkan diri dan terjun dari lantai 12 kantor Hyundai di Seoul (Korea Selatan).</p>
<p>3. Marimutu  Manimaren (Indonesia)<br />
Marimutu Manimaren, adalah salah seorang bos TEXMACO (salah satu perusahaan besar bertaraf internasional). Dihitung dari kekayaan materi, orang seperti dia, tentunya lebih dari cukup. Namun pada bulan Agustus 2003 yang lalu, media massa meliput peristiwa yang mengejutkan. Dia melemparkan diri dari salah satu hotel di Jakarta Selatan, dari lantai 56. Polisi menduga kuat bahwa dia bunuh diri.</p>
<p>4. Data di Polda Metro Jaya<br />
Data di Polda Metro Jaya tentang orang-orang yang bunuh diri, atau diduga bunuh diri, menunjukkan grafik naik (khususnya untuk wilayah DKI Jaya).<br />
A. Pada tahun 2002, sepanjang tahun, (dari Januari 2002 s/d Desember 2002), atau selama 12 bulan terjadi sebanyak 19 kasus<br />
B. Sedangkan di tahun 2003, yaitu dari Januari 2003 s/d September 2003 atau selama 9 (sembilan) bulan, terjadi sebanyak 116 kasus.</p>
<p>5. Roh Moo-Hyun, (Korea Selatan)<br />
Roh Moo-Hyun mantan Presiden Korea Selatan yang memerintah pada kurun waktu 2003-2008 yang sedang diperiksa karena dugaan korupsi jutaan dolar, menerjunkan diri hingga menemui ajal di sebuah pegunungan pada hari Sabtu, 23 Mei 2009. Seorang bekas pembantunya mengatakan Roh melompat dari satu tebing setelah meninggalkan sepucuk surat.<br />
Data seperti di atas, perlu dicermati dengan mendalam, karena yang bunuh diri bisa diduga dari  orang-orang yang kaya maupun yang miskin.<br />
Dengan pengertian lain, masalah iman atau agama dan penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, adalah masalah kunci, untuk mengatasi kekosongan jiwa, dan solusi satu-satunya adalah kandungan ayat dalam surat al-Fatihah :<br />
&#8220;Hanya kepada-Mu, wahai Allah, aku mengabdi, dan hanya kepada-Mu, wahai Allah, aku memohon pertolongan&#8221;. (Q.S. Al Fatihah [1] :5)</p>
<p>Abdul Wahid Alwi, MA<br />
Sekretaris Umum<br />
Dewan Da’wah Pusat</p>
<p style="text-align:justify;">(admin/cbe/awa)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedakwah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedakwah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedakwah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedakwah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedakwah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedakwah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedakwah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedakwah.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedakwah.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedakwah.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=29&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/menggapai-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d36e9daf39490c9a350dc2b7ee08691?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ddiijak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:WcimsM805C3VYM:http://1.bp.blogspot.com/_P6VzVoXU4dc/Sk7aqqA68GI/AAAAAAAAAu0/5caIayE-WlE/s400/bahagia.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bahagia</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/menggapai-kebahagiaan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pancasila Bukan Untuk Menindas Umat Islam</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/dedakwah/~3/KtiQree4S20/</link>
		<comments>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/pancasila-bukan-untuk-menindas-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 07:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ddiijak</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false" />
		<description><![CDATA[Bisa dikatakan, sejarah perjalanan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan tahun 1945 adalah sejarah pemaknaan dan penafsiran Pancasila. Berbagai kelompok dan aliran ideologi berusaha memberikan tafsir Pancasila, sesuai dengan aspirasi ideologisnya. Kaum Kristen, misalnya, mengembangkan model penafsiran sekular dan netral agama untuk Pancasila. Orde Lama mengembangkan penafsiran Pancasila ala ”nasakom” yang memadukan antara agama, nasionalis, dan komunis. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=1&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 155px"><img class=" " title="buku pancasila" src="http://www.adianhusaini.com/images/stories/cover_buku_pancasila_small.jpg" alt="" width="145" height="202" /><p class="wp-caption-text">Tulisan Terbaru tentang Pancasila</p></div>
<p style="text-align:justify;">Bisa dikatakan, sejarah perjalanan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan tahun 1945 adalah sejarah pemaknaan dan penafsiran Pancasila. Berbagai kelompok dan aliran ideologi berusaha memberikan tafsir Pancasila, sesuai dengan aspirasi ideologisnya. Kaum Kristen, misalnya, mengembangkan model penafsiran sekular dan netral agama untuk Pancasila. Orde Lama mengembangkan penafsiran Pancasila ala ”nasakom” yang memadukan antara agama, nasionalis, dan komunis. Orde Baru muncul dengan jargon koreksi total terhadap Orde Lama dan menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal, ideologi bangsa, dan pedoman moral bangsa. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)  sempat dijadikan sebagai model tafsir tunggal terhadap Pancasila. Penataran-penataran Pancasila digalakkan. Toh, akhirnya, penafsiran dan penarapan Pancasila semacam itu didikoreksi oleh generasi berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hingga kini, setelah 10 tahun lebih era reformasi berjalan, banyak pihak masih terus mencari-cari rumusan baru tentang model penafsiran Pancasila. Bahkan, tidak sedikit yang mulai khawatir akan masa depan Pancasila.  Namun, sebagian masih terus menggebu-gebu mengangkat dan menjadikan Pancasila sebagai ”alat pemukul” terhadap aspirasi umat Islam di Indonesia. Setiap ada peraturan atau perundang-undangan yang diperuntukkan bagi orang Islam di Indonesia, langsung dituduh dan dicap sebagai ”anti-Pancasila” dan ”anti-NKRI”.<span id="more-1"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah Tabloid Kristen, Reformata edisi 103/2009, misalnya,  kembali mempersoalkan penerapan syariat Islam di Indonesia. Para anggota DPR yang sedang menggodok RUU Makanan Halal dan RUU Zakat dikatakan akan meruntuhkan Pancasila dan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”Para pihak yang memaksakan kehendaknya ini, dengan dalih membawa aspirasi kelompok mayoritas, saat ini telah berpesta pora di atas kesedihan kelompok masyarakat lain, karena ambisi mereka, satu demi satu berhasil dipaksakan. Entah apa jadinya negara ini nanti, hanya Tuhan yang tahu,” demikian kutipan sikap Redaksi Tabloid tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Tabloid Kristen Reformata edisi 110/2009 kembali mempersoalkan penerapan syariat Islam bagi umat Islam di Indonesia. Edisi kali ini mengangkat judul sampul: “RUU Diskriminasi Segera Disahkan.”  Yang dimaksudkan adalah RUU Makanan Halal yang akan disahkan oleh DPR. Tabloid yang terbit menjelang Pilpres 2009 ini, menulis pengantar redaksinya sebagai berikut: “Kita memerlukan presiden yang tegas dan berani menentang segala intrik atau manuver-manuver kelompok tertentu yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Ketika kelompok ini merasa gagal memperjuangkan diberlakukannya ”Piagam Jakarta”, kini mereka membangun perjuangan itu lewat jalur legislasi. Mereka memasukkan nilai-nilai  agama mereka ke dalam peraturan perundang-undangan. Kini ada banyak UU yang mengarah kepada syariah, misalnya UU Perkawinan, UU Peradilan Agama, UU Wakaf, UU Sisdiknas, UU Perbankan Syariah, UU Surat Berharga Syariah (SUKUK), UU Yayasan, UU Arbitrase, UU Pornografi dan Pornoaksi, dan lain-lain. Apa pun alasannya, semua ini bertentangan dengan prinsip dasar negeri ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sikap kaum Kristen – dan juga sebagian warga Indonesia lainnya – yang sangat gigih menolak segala hal yang berbau Islam di Indonesia sangat mengherankan. Bahkan, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), induk kaum Katolik di Indonesia, telah mengirimkan surat kepada para capres ketika itu. Isinya sebagai berikut: ”Untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami menganjurkan kepada presiden dan wakil presiden terpilih untuk membatalkan 151 peraturan daerah ini dan yang semacamnya serta tidak pernah akan mengesahkan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan konstitusi Republik Indonesia.”</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan hanya Perda-perda yang dianggap berbau syariat Islam yang dipersoalkan. Pihak Kristen juga masih mempersoalkan UU Perkawinan yang telah berlaku di Indonesia sejak tahun 1974. Aneh juga, kalau UU tentang Sisdiknas yang sudah disahkan oleh DPR dan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono tahun 2003 juga terus dipersoalkan, dan dianggap oleh kaum Kristen sebagai hal yang bertentangan dengan Pancasila.</p>
<p style="text-align:justify;">Benarkah pemahaman Pancasila versi kaum Kristen tersebut?  Jika ditelusuri, sikap kaum Kristen terhadap Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana dipaparkan dalam buku terbaru karya Dr. Adian Husaini ini, masih belum banyak bergeser banyak dari pandangan dan sikap kaum penjajah Belanda. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, pihak Kristen sudah berhasil memaksakan kehendaknya, sehingga pada 18 Agustus 1945, ”tujuh kata” (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) dihapus dari Piagam Jakarta. Umat Islam ketika itu terpaksa menerima, untuk menjaga keberlangsungan Negara Merdeka yang baru saja diproklamasikan satu hari sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, Piagam Jakarta kemudian dikembalikan oleh Bung Karno dalam Dekrit 5 Juli 1959. Jadi, Piagam Jakarta adalah dokumen yang sah yang di masa Bung Karno juga dijadikan sebagai konsiderans sejumlah produk perundang-undangan. Anehnya, begitu memasuki era Orde Baru,  Piagam Jakarta justru dijadikan ”momok” dan barang haram yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan berbangsa dan bernegara.  Di masa itu, orang yang menjadikan Piagam Jakarta sebagai landasan hukum dicap sebagai bagian dari ekstrim kanan. Di dalam buku Strategi Politik Nasional karya Ali Moertopo, (Jakarta: CSIS, 1974), digariskan strategi politik Orde Baru di bidang ideologi: ”&#8230;Demikian pula usaha-usaha untuk menyelewengkan Pancasila ke arah kanan dengan memasukkan Piagam Jakarta sebagai dokumen hukum, dan secara lebih ekstrim untuk mendirikan negara Islam, juga telah diatasi, khususnya dalam Sidang MPRS ke-V meskipun di sana-sini masih disebut-sebut tentang Piagam Jakarta.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, menurut Ali Moertopo yang pernah menguasai politik Orde Baru pada dekade 1970-an, usaha memasukkan Piagam Jakarta sebagai dokumen hukum disebut sebagai upaya untuk menyelewengkan Pancasila. Cara pandang yang a-historis dan tidak konstitusional seperti ini masih saja dipakai oleh sebagian kalangan tertentu. Ini adalah akibat kesalahpahaman terhadap  Pancasila. Sayang sekali, para tokoh Kristen di Indonesia, masih belum bersedia menerima kenyataan sejarah dan hak konstitusional umat Islam, sehingga terus memproduksi pemahaman yang keliru, dan dalam beberapa hal bisa meningkatkan kebencian dan kecurigaan terhadap kaum Muslim di Indonesia, sehingga sering keluar ungkapan untuk memisahkan diri dari NKRI.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh pemahaman Pancasila yang sekularistik dan netral agama diterapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&amp;K) periode 1977-1982, Dr. Daoed Joesoef. Tokoh CSIS ini menuliskan dalam memoarnya bahwa semasa menjabat Menteri P&amp;K ia telah berusaha keras meyakinkan Presiden Soeharto agar negara Indonesia membuat pemisahan yang tegas antara agama dan negara. Meskipun seorang Muslim, Daoed menolak untuk mengucapkan salam Islam. Alasannya, ia bukan menterinya orang Islam saja dan Indonesia juga bukan negara Islam.  ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, dan lain-lain, bukan Negara Agama dan pasti bukan Negara Islam,” kata Daoed Joesoef.</p>
<p style="text-align:justify;">Daoed Joesoef juga meminta agar di Istana Negara diselenggarakan Perayaan Natal Bersama, bukan hanya Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam memoarnya yang berjudul Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran (2006), Daoed Joesoef menjabarkan secara panjang lebar gagasan dan harapannya agar Indonesia menjadi negara yang netral secara agama, sebagaimana Turki. Ia berharap Presiden Soeharto bersikap seperti Mustafa Kemal Ataturk, Bapak sekular Turki. Tapi, harapannya kandas. Presiden Soeharto hanya mengangkatnya sebagai Menteri P&amp;K satu periode saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah contoh pemahaman tentang Pancasila yang netral agama.  Untuk meminggirkan aspirasi dan hak konstitusional umat Islam, selama beberapa dekade dikembangkan berbagai ragam penafsiran Pancasila yang sekular dan ”netral-agama”.  Pancasila diletakkan dalam bingkai konsep sekular. Setiap ada usaha kaum Muslim untuk menerapkan agamanya pada level kemasyarakatan dan kenegaraan, maka akan serta merta dituduh telah menyimpang dari Pancasila.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal, sejarah kelahiran Pancasila dan bunyi teks Pembukaan UUD 1945 – yang hanya beda 7 kata dengan Piagam Jakarta, dan merupakan sumber naskah Pancasila  – sebenarnya sangat kental dengan nuansa pandangan-dunia atau pandangan-alam Islam (Islamic worldview), bukan pandangan dunia sekular atau ateis. Para tokoh Islam yang terlibat dalam perumusan Pancasila, seperti KH Wahid Hasjim (NU), Haji Agus Salim, Abdul Kahar Muzakkir, dan Abikoesno Tjokrosoejoso, Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah) dan sebagainya, berhasil mempengaruhi rumusan tersebut, sehingga seharusnya mampu mencegah penggunaan Pancasila sebagai alat pemukul aspirasi umat Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan para tokoh Islam, bahwa Pancasila – khususnya Ketuhanan Yang Maha Esa &#8212; adalah konsep Tauhid, tetap tidak berubah. Dalam satu makalahnya yang berjudul “Hubungan Agama dan Pancasila” yang dimuat dalam buku Peranan Agama dalam Pemantapan Ideologi Pancasila, terbitan Badan Litbang Agama, Jakarta 1984/1985, Rais Aam NU, KH Achmad Siddiq, menyatakan:  “Kata “Yang Maha Esa” pada sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) merupakan imbangan tujuh kata yang dihapus dari sila pertama menurut rumusan semula. Pergantian ini dapat diterima dengan pengertian bahwa kata “Yang Maha Esa” merupakan penegasan dari sila Ketuhanan, sehingga rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” itu mencerminkan pengertian tauhid (monoteisme murni) menurut akidah Islamiyah (surat al-Ikhlas). Kalau para pemeluk agama lain dapat menerimanya, maka kita bersyukur dan berdoa.”</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dengan para tokoh Islam, para tokoh Kristen di Indonesia selama beberapa dekade telah memberikan tafsir Pancasila yang netral agama. Terkait dengan tema Pancasila dan Agama, tokoh Katolik Prof. Dr. N. Drijarkoro S.J. dalam Seminar Pancasila I di Yogyakarta pada tanggal 16-20 Februari 1959, membuat sejumlah kesimpulan, bahwa: “Negara yang berdasarkan Pancasila bukanlah negara agama, tetapi bukan negara profan, sebab dengan Pancasila, kita berdiri di tengah-tengah. Tugas negara yang berdasarkan Pancasila hanyalah memberi kondisi yang sebaik-baiknya pada hidup dan perkembangan religi. Dengan demikian oleh negara dapat dihindari bahaya-bahaya yang dapat timbul bila agama dan negara dijadikan satu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya dikatakan oleh Drijarkoro S.J: “Negara yang berdasarkan Pancasila bukanlah negara yang sekular, karena mengakui dan memberi tempat pada religi. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa negara itu adalah negara agama, sebab negara tidak mendasarkan diri atas sesuatu agama tertentu. Negara yang berdasarkan Pancasila adalah negara yang “potentieel religieus” artinya memberikan kondisi yang sebaik-baiknya bagi kehidupan dan perkembangan religi. Jadi negara Pancasila itu tidak bersikap indifferent terhadap religi. Perumusan Ketuhanan Yang Maha Esa harus dipandang menurut keyakinan bangsa kita yakni sebagai monotheisme.”</p>
<p style="text-align:justify;">Di masa Orde Lama, ketika dekat dengan PKI, Bung Karno pernah menjadikan Manipol/USDEK sebagai tafsir resmi Pancasila. Keduanya merupakan satu kesatuan, sambil membuat perumpamaan kesatuan antara al-Quran dan hadits. Dikatakan  oleh Soekarno:  “Quran dan hadits shahih merupakan satu kesatuan, maka Pancasila dan Manifesto Politik dan USDEK pun merupakan satu kesatuan. Quran dijelaskan oleh hadits, Pantjasila dijelaskan dengan Manifesto Politik serta intisarinya yang bernama USDEK. Menifesto Politik adalah pemancaran daripada Pancasila! USDEK adalah pemancaran daripada Pancasila. Manifesto Politik, USDEK dan Pancasila adalah terjalin satu sama lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">Di masa Orde Baru, Pancasila dijadikan sebagai asas tunggal bagi Ormas dan Orpol. Juga, dikembangkan tafsir Pancasila model P4. Akhirnya, sejarah membuktikan, Pancasila terpuruk bersama Orde Baru. Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali, dalam bukunya yang berjudul ”Negara Pancasila” (2009) menjelaskan serangkaian kekeliruan penafsiran Pancasila dan akibatnya sekarang: ”Sejarah selanjutnya dapat kita simak. Pancasila yang telah direbut negara justru kedodoran ketika menjelaskan perilaku pemerintahan. Masyarakat tidak mampu mengontrol, karena kebenaran dan kontrol ideologi hanya milik negara. Padahal, Pancasila belum mampu berkembang menjadi ”ideologi ilmiah” atau apa pun yang dapat dipertandingkan dengan ideologi-ideologi besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Keinginan Pancasila untuk membumi malah kontraproduktif menjadi indoktrinasi. Pancasila kemudian tersudut, dikeramatkan, dimonopoli, dan dilindungi dengan tindak kekerasan. Pancasila yang keropos itu akhirnya mengalami nasib naas; jatuh tersungkur bersama rezim Orde Baru. Masyarakat menjadi trauma dengan Pancasila. Dasar negara ini seolah dilupakan karena hampir identik dengan rezim Orde Baru. Tragedi demikian seperti mengulang pengalaman tiga dekade sebelumnya. Sejarah berulang.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, bagaimana sebenarnya pemahaman Pancasila yang tepat?  Buku yang ditulis Dr. Adian Husaini ini membuktikan besarnya pengaruh Pandangan Dunia atau Pandangan Alam Islam (Islamic worldview) terhadap Pembukaan UUD 1945, meskipun telah dikurangi tujuh kata (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya).  Perdebatan-perdebatan seru di BPUPK dan PPKI membuktikan ketangguhan dan kejeniusan para tokoh Islam dalam memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam rumusan dasar negara. Kegagalan mereka dalam mewujudkan sebuah negara berdasar Islam secara ekspilit, tidak mengurangi semangat juang mereka untuk tetap menjadikan Pembukaan UUD 1945 – yang didalamnya terkandung Pancasila – sebagai konsep dasar negara yang bermakna Tauhid. I.J Satyabudi, seorang penulis Kristen, mengakui: “Umat Kristen dan Hindu harus gigit jari dan menelan ludah atas kekalahan Bapak-bapak Kristen dan Hindu ketika menyusun Sila Pertama ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan hanya itu. Rumusan sila kedua dari Pancasila (Kemanusiaan yang adil dan beradab) juga berhasil diamankan dari pandangan-dunia sekular.  Jika sebelumnya, dalam sidang BPUPK, Soekarno dan M. Yamin mengusulkan rumusan ”Peri-kemanusiaan” dalam Pancasila, maka para tokoh Islam di Panitia Sembilan, yaitu KH Wahid Hasjim, Haji Agus Salim, Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Abdul Kahar Muzakkir, berhasil memasukkan dua kata kunci dalam Islam, yaitu kata adil dan adab dalam rumusan sila kedua tersebut. Dua kata itu merupakan istilah kunci dalam Islam (Islamic basic vocabulary) dan hanya bisa dimaknai dengan tepat jika merujuk kepada makna yang ada dalam kosa kata Islam.  Dalam buku ini, diuraikan secara panjang lebar bagaimana makna dua istilah itu dalam Islam, dengan merujuk terutama pada pendapat KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU,  dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana Islam memandang Pancasila? Prof. Kasman Singodimedjo, tokoh Islam yang juga anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, memberikan pandangan lugas:  “Bahwa Islam mempunyai kelebihan dari Pancasila, maka hal itu adalah baik, pun baik sekali untuk/bagi Pancasila itu sendiri dan pasti tidak dilarang oleh Pancasila, bahkan menguntungkan Pancasila, karena Pancasila akan dapat diperkuat dan diperkaya oleh Islam.”<br />
Pada akhirnya, Prof. Kasman mengingatkan, bahwa yang lebih menentukan adalah kenyataan di lapangan. Jika umat Islam menginginkan Islam tegak di bumi Indonesia, maka mereka harus berjuang keras melaksanakan dakwah di dalam realitas kehidupan. Jauh sebelum penjajah Kristen datang ke Nusantara, Islam telah dipeluk oleh mayoritas penduduk di Kepulauan Nusantara. Islam telah menjadi pandangan dunia yang dominan di wilayah ini. Meskipun bukan sebuah rumusan formal dari sebuah konsep negara berdasarkan Islam, tetapi Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 tidak bisa dimaknai sembarangan sebagai konsep sekular dan netral agama yang ditujukan untuk menindas atau mengeliminasi hak-hak konstitusional umat Islam Indonesia.<br />
Pada sisi lain, umat Islam Indonesia saat ini perlu memahami sejarahnya dengan baik, khususnya sejarah perjuangan para pejuang Islam, baik sebelum masa kemerdekaan maupun masa sesudahnya.  Para pejuang itu telah mengalami dinamika perjuangan yang keras dan panjang yang kemudian menemukan titik solusi dan kompromi pada tataran realitas perjuangan.  Upaya untuk menegakkan Islam di Indonesia telah dilakukan oleh generasi demi generasi yang datang silih berganti. Hasil-hasil perjuangan mereka harus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Di negara Indonesia saat ini, dengan dasar Pancasila – sebagaimana dirumuskan dan dipahamkan oleh para tokoh Islam pendiri NKRI &#8212; begitu luas tersedia ruang untuk berjuang. Umat Islam leluasa sekali membuat sekolah Islam, radio Islam, TV Islam, rumah sakit Islam, Bank Islam, dan sebagainya. Jangan sampai ada seorang yang karena tidak mampu  mengelola sekolahnya dengan baik, lalu menyatakan, bahwa sekolahnya gagal karena Indonesia bukan merupakan negara Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah Pancasila dengan berbagai ragam dan kontroversi sepanjang sejarahnya yang diungkapkan secara menarik dalam buku karya Dr. Adian Husaini ini. Silakan baca dan renungkan secara mendalam isi buku ini!  Buku ini membuktikan bahwa ternyata masih banyak yang perlu digali dan dipelajari dari khazanah sejarah perjuangan Islam di Indonesia. Buku ini juga membawa pesan penting: tidak patut ada yang merasa seolah-olah selama ini belum pernah ada orang atau kelompok yang memperjuangkan Islam secara sungguh-sungguh di Indonesia; dan sekarang, barulah dia atau kelompoknya saja yang benar-benar memperjuangkan Islam secara sungguh-sungguh di Indonesia.  Anggapan semacam itu tentu saja keliru.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, belajarlah dari sejarah dengan sungguh-sungguh. Pelajari bagaimana para pejuang Islam dulu telah berjuang selama ratusan tahun di Indonesia, agar cita-cita yang tinggi dan mulia tidak berujung pada kegagalan. Tidak patut seorang mukmin disengat ular pada lobang yang sama!  Untuk itu, bacalah buku Pancasila bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam.  Baca dulu, baru bicara! <em>Wallahu a’lam bish-shawab. </em>(admin/cse/adianhusaini.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dedakwah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dedakwah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dedakwah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dedakwah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dedakwah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dedakwah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dedakwah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dedakwah.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dedakwah.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dedakwah.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dedakwah.wordpress.com&blog=9348892&post=1&subd=dedakwah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/pancasila-bukan-untuk-menindas-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d36e9daf39490c9a350dc2b7ee08691?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ddiijak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.adianhusaini.com/images/stories/cover_buku_pancasila_small.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buku pancasila</media:title>
		</media:content>
	<feedburner:origLink>http://dedakwah.wordpress.com/2009/09/06/pancasila-bukan-untuk-menindas-umat-islam/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>

