<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8636078476998850818</id><updated>2024-11-05T18:50:32.428-08:00</updated><category term="Dongeng Fabel"/><title type='text'>Dongeng Anak Nusantara</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='https://topdongenganak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://topdongenganak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>nanang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05780045618916662155</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8636078476998850818.post-8901688476500626377</id><published>2019-09-11T08:53:00.000-07:00</published><updated>2019-12-05T22:48:33.078-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng Fabel"/><title type='text'>Kisah Kerbau dan Buaya</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://dongengku.com/&quot;&gt;Dongeng Fabel&lt;/a&gt; ini menceritakan tentang Kebaikan kerbau yang dibalas dengan kejahatan oleh Buaya. Yuk Simak kisah selengkapnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu ketika, di sebuah kampung terjadi banjir yang amat dahsyat. Akibat dari banjir itu banyak rumah yang hancur dan hanyut dibawa oleh derasnya air. Selain itu, banyak juga pepohonan yang tumbang dan hanyut dibawa oleh banjir itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat banjir itu terjadi, terdapat seekor buaya yang juga ikut terbawa arus air yang begitu deras. Buaya itu terbawa air hingga ke daratan yang jaraknya cukup jauh dari tepi sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLrAbXBr2d17gS0sqsFpkl1UhKlg89w4D0TAgbI1UyfEfMwzfkGjSg-iknOSmwqnlnCIAeDWh6_TNNH1-03KT96_HwKugpRtovgDw3oL2VDFh7seOiyn7o6oj3prR9CNsVxej-M-8sJp0/s1600/Kerbau+dan+Buaya.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;480&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLrAbXBr2d17gS0sqsFpkl1UhKlg89w4D0TAgbI1UyfEfMwzfkGjSg-iknOSmwqnlnCIAeDWh6_TNNH1-03KT96_HwKugpRtovgDw3oL2VDFh7seOiyn7o6oj3prR9CNsVxej-M-8sJp0/s640/Kerbau+dan+Buaya.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika hujan reda dan banjir mulai surut barulah buaya itu tersadar bahwa ia berada di daratan. Ketika hendak melangkah ternyata dia kesulitan karena pangkal ekornya tertimpa sebatang kayu sehingga ia tak dapat bergerak sedikit pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatinya sangat resah karena dia tidak dapat bergerak, sedangkan panas matahari sudah mulai menyengat, air yang semakin surut membuatnya tambah gelisah karena ia berada jauh dari sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keresahan itu, tiba-tiba datang seekor kerbau yang hendak pergi minum di sungai. Buaya itu melihat kedatangan kerbau, kemudian ia berteriak meminta tolong dengan kata-kata yang manis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wahai Kerbau sahabatku, tolonglah aku ini, sudah seharian penuh aku di sini disengat matahari, perutku pun sudah terasa lapar karena aku tak bisa makan dan minum. Aku tidak dapat bergerak karena pohon ini menindihku. Tolonglah aku wahai kerbau yang baik, angkatkan pohon kayu itu supaya aku dapat bergerak,&quot; Rayu Buaya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerbau itu pun memutar badannya, dan ia melihat ada sebatang pohon kayu besar menimpa sang Buaya. Lalu ia berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Maaf Buaya, sudah sering ketika aku dan teman-temanku hendak minum di sungai ini, kamu dan teman-temanmu selalu mengganggu kami. Aku tidak mau menolongmu karena sifatmu. Rasakanlah, dan tinggalah kamu di situ menanti nasibmu. Aku tidak mau melepaskanmu, karena jika kamu terlepas kamu pasti akan memangsaku.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wahai saudaraku, disaksikan oleh Allah Subhanahu Wataala dengan Rasul-rasulnya, saya berpesan kepada anak cucuku kelak bahwa mereka taka akan mengganggu semua binatang yang bernama kerbau, karena berkat pertolongan kerbaulah aku bisa selamat dari kematian,&quot; Bujuk Buaya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Baiklah, aku akan mengangkat kayu itu, tapi kau harus menepati janjimu,&quot; kata si Kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, kerbau pun mengangkat pohon kayu yang menindih buaya. Kemudian, kerbau hendak pergi meneruskan perjalanannya ke sungai untuk minum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun buaya itu berkata lagi, &quot;Hai sahabatku, sempurnakanlah pertolonganmu padaku karena aku tak dapat bergerak sedikit pun, seluruh tubuhku terasasakit karena tertindih kayu tadi. Bawalah aku turun ke air karena kau juga ingin minum di sungai itu bukan?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Baiklah, naiklah ke atas punggungku, aku akan membawamu turun ke sungai,&quot; kata kerbau itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun kerbau itu kemudian merendahkan tubuhnya, dan naiklah buaya itu di punggung kerbau. Mereka berjalan menuju tepi sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena merasa sangat lapar, sang Buaya menjadi lupa akan janjinya. Kemudian ia mempunyai maksud jahat. Buaya itu mencari akal agar bisa memakan kerbau itu. Hal itu tidak disadari oleh si kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesampai di pinggir sungai, Kerbau menurunkan Buaya dari punggungnya, &quot;Turunlah dari punggungku, Buaya,&quot; Kata kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Maaf kerbau, aku tidak dapat bergerak, bawalah aku jauh ke bawah sedikit di tempat air yang agak dalam, supaya tubuhku terasa segar karena seharian disengat panasnya matahari.&quot; kata buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerbau itu pun turun lagi dan masuk ke air hingga sampai batas lututnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Turunlah disini, sudah kuantar kau sampai di air yang agak dalam,&quot; kata kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mengapa kau tak membawa aku sedikit lagi ke bawah. Jangan takut, aku telah bersumpah tidak akan memakanmu.&quot; Kata Buaya itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, turunlah kerbau hingga air melewati perutnya. Tiba-tiba Buaya itu melompat dan berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;hai kerbau, kamu memang binatang yang tolol, mengapa kamu percaya begitu saja dengan kata-kataku? Padahal kamu sudah tahu, sejak dulu sampai sekarang, buaya dan kerbau itu bermusuhan. Sekarang kamu tak dapat melepaskan diri lagi, aku akan memakanmu, aku sudah sangat lapar,&quot; kata Buaya licik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;O, Buaya, inikah balasan yang kau berikan atas perbuatan baikku?&quot; kata kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tidak usah banyak bicara, sekarang kamu tidak bisa kemana-mana,&quot; Jawab Buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kalau memang demikian putuslah persahabatan diantara kita,&quot; kata Kerbau itu kecewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebelum buaya itu memakan kerbau, si kerbau meminta pendapat kepada sesuatu yang lewat di hadapan mereka tentang kejadian ini. Mereka kemudian bersepakat mendengarkan terlebih dahulu pendapat tiga sesuatu yang hanyut di sungai itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menunggu beberapa saat, lewatlah sebuah Nyiru tua yang telah robek-robek pinggirnya di hadapan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wahai nyiru, Coba katakan kepada kami, adakah perbuatan baik dibalas dengan kejahatan&quot; tanya kerbau kepada daun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Apa yang kamu katakan, Coba kamu lihat saya ini. Sewaktu aku masih baru,banyak yang menyukaiku. Aku dijadikan tempat menyimpan barang-barang,lalu aku dijunjung di atas kepala perempuan. Apabila gadis-gadis menampi beras, aku menari di tangan mereka. Nah sekarang, aku sudah tua dan robek sudah tidak berguna lagi bagi mereka, aku dilempar begitu saja di sungai, lalu hanyut terbawa air. Jadi, apa yang kamu katakan itu biasa saja bahwa perbuatan baik tidak selalu dibalas dengan kebaikan pula,&quot; jawab Nyiru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu hanyutlah nyiru itu dibawa oleh air, mendengar perkataan nyiru itu, Buaya merasa menang, &quot;Pasti kau akan kumakan kerbau,&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Belum tentu, kita lihat siapa yang akan lewat berikutnya&quot; kata kerbau itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian, hanyutlah dihadapan mereka selembar tikar tua yang juga sudah terkoyak-koyak sebagian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerbau itu pun menanyakan hal yang sama kepada tikar itu. Lalu tikar itu menjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mengapa kamu bertanya demikian? Apa kamu tidak melihat, akulah yang dikenai kata-katamu tadi. Sekarang aku sudah tua dan sobek, buruk dan busuk lagi, aku dibuang oleh manusia dan dihanyutkan di sungai. Dulu waktu aku masih baru, aku digulung baik-baik kemudian disimpan di tempat yang bersih. Jadi apa yang kau katakan itu adalah hal yang lumrah apabila perbuatan baik kita dibalas dengan kejahatan.&quot; jawab tikar tua itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar jawaban tikar tua itu, Buaya kembali merasa menang dengan sombongnya ia berkata, &quot;Kamu pasti akan kumakan, kerbau.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sabarlah sebentar wahai Buaya, kita tunggu sesuatu yang akan lewat berikutnya.&quot; Jawab kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu lewatlah seekor Pelanduk yang sedang minum di pinggir sungai. Sebenarnya pelanduk itu sudah lebih dulu melihat kerbau dan buaya di dalam sungai. Ia berpikir bahwa kerbau pasti dalam keadaan bahaya, oleh karenanya ia berniat ingin menolongnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerbau itu pun segera bertanya pada Pelanduk itu,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hai Pelanduk, coba katakan kepada kami, adakah perbuatan baik dibalas dengan kejahatan?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Apa?? Apa yang engkau katakan itu? Pendengaranku sudah berkurang, aku sudah tuli, kesinilah, naiklah sedikit kesini agar aku bisa mendengar,&quot; kata pelanduk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka naiklah kerbau itu sedikit yang diikuti oleh Buaya di belakangnya. Kerbau itu mengulang pertanyaannya, &quot;Hai pelanduk, adakah kau dengar bahwa perbuatan baik dibalas dengan kejahatan?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelanduk itu menjawab &quot;Apa sebenarnya yang kamu tanyakan itu, aku sudah katakan bahwa pendengeranku sudah berkurang, aku tak mendengar apa yang kau katakan itu, Naiklah, naiklah sedikit lagi barulah engkau bicara,&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerbau itu pun naik ke pinggir, kemudian ia bertanya lagi seperti yang ia tanyakan tadi. tetapi jawaban pelanduk tetap sama, hingga akhirnya pelanduk menyuruh kerbau naik hingga ke pinggir sungai. Sementara buaya tetap terus mengikuti langkah kerbau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa terasa kerbau sudah naik ke daratan, dan Si Buaya sudah tidak bisa lagi mengikutinya. Lalu berteriaklah Pelanduk, &quot;Melompatlah kau Kerbau, agar kau terhindar dari tipuan Buaya&quot;,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerbau selamat dari cengkraman Buaya itu. Dan Buaya itu pun tak menyangka kalau mangsanya akan terlepas begitu saja. Lalu si Pelanduk dan Kerbau lari ke dalam hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/8901688476500626377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/8901688476500626377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://topdongenganak.blogspot.com/2019/09/kisah-kerbau-dan-buaya.html' title='Kisah Kerbau dan Buaya'/><author><name>nanang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05780045618916662155</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLrAbXBr2d17gS0sqsFpkl1UhKlg89w4D0TAgbI1UyfEfMwzfkGjSg-iknOSmwqnlnCIAeDWh6_TNNH1-03KT96_HwKugpRtovgDw3oL2VDFh7seOiyn7o6oj3prR9CNsVxej-M-8sJp0/s72-c/Kerbau+dan+Buaya.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8636078476998850818.post-6315801838724935384</id><published>2019-09-11T08:01:00.002-07:00</published><updated>2019-09-11T08:01:34.718-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng Fabel"/><title type='text'>Kisah Burung Bangau dan Ikan</title><content type='html'>Pada suatu hari, Burung bangau hendak pergi mencari makan. Ia biasanya memangsa ikan yang ada di sawah. Sampailah Burung Bangau di sawah dan di situ terdapat tebat yang agak dalam tempat ikan-ikan berkumpul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burung bangau mendekati tebat itu lalu menghalau ikan dengan kakinya. Ikan-ikan pun berlarian sehingga dengan sangat mudah burung bangau menangkap dengan paruh panjangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1TstvuKsbc5GeAc6eNhpX8ReBckCba3fjF2AMnnHmVwAq8d1bRW15viytaeJVWZD7YwQNSsQ3oPQ3a8GqCPBds4fgCc3mNsN8Ofmf8v2dJC0jVqk3Eq9_mzB2W58ZX5HUd411XNTsMYE/s1600/Burung+bangau+dan+ikan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;640&quot; data-original-width=&quot;960&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1TstvuKsbc5GeAc6eNhpX8ReBckCba3fjF2AMnnHmVwAq8d1bRW15viytaeJVWZD7YwQNSsQ3oPQ3a8GqCPBds4fgCc3mNsN8Ofmf8v2dJC0jVqk3Eq9_mzB2W58ZX5HUd411XNTsMYE/s400/Burung+bangau+dan+ikan.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ketika hendak memakan ikan yang didapatnya, tiba-tiba ikan-ikan itu mengajak bicara sanga Bangau. Ikan itu meminta agar mendengarkan cerita yang sangat bagus dan menarik. Burung bangau itu pun bertanya &quot;Cerita apakah itu?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Silakan dengar sekarang&quot; Jawab ikan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kaki burung bangau adalah pemukul tambur yang bagus. Sayap bangau bagaikan tenunan lebar dan indah. Perut bangau laksana kawat emas yang halus kekuing-kuningan. Mata bangau bagaikan gasing emas yang berputar dengan lunlainya. Paruh bangau tak ubahnya ujung tombak emas berkilauan.&quot; Puji Ikan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ikan menyanjung-nyanjung burung bangau itu, maka burung bangau menjadi lengah. Lalu ikan yang sudah ada di paruhnya terlepas dan lari masuk ke dalam tebat ikan. Ikan ini lari masuk ke bawah embarau (penahan tanah dari kayu) pada tebat itu. karena marahnya, burung bangau ini lalu mengejar dan menjangkau ikan itu ke bawah lubang itu dengan kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, karena kakinya terkait di lubang itu dan tidak lepas lagi, maka ia pun mati lemas. Maka ikan itu pun selamat karena terpelas dari bahaya maut dan musuhnya sudah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/6315801838724935384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/6315801838724935384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://topdongenganak.blogspot.com/2019/09/kisah-burung-bangau-dan-ikan.html' title='Kisah Burung Bangau dan Ikan'/><author><name>nanang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05780045618916662155</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1TstvuKsbc5GeAc6eNhpX8ReBckCba3fjF2AMnnHmVwAq8d1bRW15viytaeJVWZD7YwQNSsQ3oPQ3a8GqCPBds4fgCc3mNsN8Ofmf8v2dJC0jVqk3Eq9_mzB2W58ZX5HUd411XNTsMYE/s72-c/Burung+bangau+dan+ikan.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8636078476998850818.post-7225535286471932875</id><published>2019-09-07T08:34:00.002-07:00</published><updated>2019-12-05T22:49:03.356-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng Fabel"/><title type='text'>Kancil dan Buaya Bagian 2 : Jembatan Berduri</title><content type='html'>Pada &lt;a href=&quot;https://dongengku.com/&quot;&gt;cerita kancil &lt;/a&gt;sebelumnya, Buaya mati diserbu oleh penduduk kampung karena dikelabui oleh Kancil. Kabar kematian Buaya itu sampai ke telinga kawan-kawannya. Mereka sangat marah dan geram ketika tahu bahwa kematian temannya itu disebabkan oleh perbuatan Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5llkrZAx4oNIzKLWmQFfT-ale_31WcE3-paLziEiQQFuhwhIMZXOcolBJ6gW2DVpi6ovV30k6twbYQkepe023xSntdbSibtjweaRyl_i6CfPxXmIRGFTj6SaDb7hRjaume1f_2_Qkd-g/s1600/kancil+dan+buaya.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;640&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5llkrZAx4oNIzKLWmQFfT-ale_31WcE3-paLziEiQQFuhwhIMZXOcolBJ6gW2DVpi6ovV30k6twbYQkepe023xSntdbSibtjweaRyl_i6CfPxXmIRGFTj6SaDb7hRjaume1f_2_Qkd-g/s640/kancil+dan+buaya.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita harus membalas dendam.” Kata salah satu Buaya.&lt;br /&gt;
Gaduhlah para buaya yang lain. Hati mereka panas dibakar dendam. Gigi mereka gemeletuk menahan marah.&lt;br /&gt;
“Kita cari Kancil sekarang juga!” kata Buaya yang paling besar.&lt;br /&gt;
Semua setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai hari itu, semua buaya mengintai dari balik semak-semak, siapa tahu Kancil minum atau melintas di sungai tempat mereka hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Kancil tenang-tenang saja. Dia sama sekali tidak tahu bahwa para buaya sedang mengincarknya. Sedikit pun Kancil tidak mengubah cara hidupnya. Dia masih suka bermain-main kesana kemari, makan dan minum semaunya. Dimana dia haus, jika disitu ada air, diminumlah air itu tak peduli air sungai atau air telaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, tanpa disadari, Kancil melewati sungai tempat para Buaya menunggu-nunggu kedatangannya. Mengetahui mangsanya mendekat, para buaya lebih waspada. Jangan sampai Kancil tahu bahwa dia sedang diintai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa banyak menimbulkan suara, mereka mengepung Kancil dari berbagai penjuru. Kancil masih asyik minum. Meskipun sudah cukup banyak minum, hausnya seperti tak mau hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti dikomando, satu persatu buaya yang mengepung Kancil menampakkan diri. Bukan main kagetnya Kancil. Secara refleks, Kancil segera bergerak untuk melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sayang terlambat. Secepat kilat, buaya-buaya itu mendekat. Bahkan beberapa Buaya sudah membuka mulutnya lebar-lebar seperti memamerkan gigi-giginya yang besar dan tajam. Beberapa buaya lain mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Kancil sudah terkepung ia tetap berusaha mencari celah untuk berlari. Di menengok ke tas, ke arah semak-semak. Ternyata di situ pun sudah ada buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil semakin terdesak dan tidak bisa bergerak kemanapun. Buaya-buaya yang penuh dendam itu siap untuk melumatnya habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yah.. kalian sudah siap bertempur rupanya. Aku menyerah. Rasanya tidak berguna juga aku melawan kalian karena kalian bukan lawan tandingku.” Kata Kancil kepada para Buaya itu.&lt;br /&gt;
Kancil yang cerdik segera menemukan akal. Tak berapa lama kemudian, ia menghitung jumlah Buaya yang mengepungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah seekor buaya angkat bicara.&lt;br /&gt;
“Buat apa kau menghitung segala?”&lt;br /&gt;
Dengan berusaha tetap tenang kancil menjawab:&lt;br /&gt;
“Aku hanya ingin tahu, berapa jumlah kalian.”&lt;br /&gt;
“Lihat kawan-kawan, sudah terkepung masih saja berlagak dia..” kata salah satu Buaya.&lt;br /&gt;
Lalu Buaya-buaya itu tertawa dengan bangga.&lt;br /&gt;
“sekarang saatnya kita habisi dia,” kata seekor buaya.&lt;br /&gt;
“Biar langsung aku telan saja,” kata buaya yang lain.&lt;br /&gt;
“Jangan, jangan langsung ditelan. Serahkan saja padaku, biar dia merasakan kibasan ekorku,” kata yang lain lagi.&lt;br /&gt;
“bagaimana kalau diserahkan kepadaku saja. Biar aku kunyah-kunyah tubuhnya itu,” kata buaya yang tubuhnya tidak begitu besar.&lt;br /&gt;
“serahkan saja padaku,” seru yang satunya lagi.&lt;br /&gt;
“Padaku saja” seru yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buaya-buaya itu pun berebut ingin membalas dendam kematian teman mereka. Suara mereka penuh kemarahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar kemarahan mereka, Kancil menggigil ketakutan.&lt;br /&gt;
“Habislah aku sekarang.” Pikirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ketenangan yang dibuat-buat, Kancil bicara.&lt;br /&gt;
&quot;Wah, wah, wah, bel urn apa-apa kalian sudah bertengkar. Ada yang ingin melumat aku dengan ekor, ada yang ingin mengunyah-ngunyah, ada yang ini, ada yang itu. Kalian ini memang benar-benar hanya mementingkan diri sendiri. Tidak mau ingat yang lain,&quot; kata Kancil dengan suara dikeraskeraskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Apa kau bilang?&quot; kata buaya yang paling besar.&lt;br /&gt;
&quot;Lihat, sudah jelas tinggal menunggu ajal, masih saja berpidato,&quot; kata buaya yang paling dekat dengan Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buaya-buaya itu kembali tertawa.&lt;br /&gt;
Di tempatnya, Kancil tetap berusaha tenang.&lt;br /&gt;
&quot;Jujur saja, tadi waktu ke sini aku ragu-ragu. Aku tahu, ini tempat kumpul kalian. Kalau ke sini, sama seperti menyerahkan diri. Tapi tak apalah . Daripada dimangsa Harimau. Aku lebih rela dimangsa kalian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi masalahnya sekarang ini jumlah kalian banyak, bahkan terlalu banyak. Bagaimana kalian bisa membagi tubuhku dengan adil dan rata kalau jumlah kalian sebanyak ini. Apalagi, kulihat kalian berebut seperti itu ... &quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Wah, temyata kau benar-benar banyak omong. Sudah mau mati pun, kau masih banyak omong.&quot;&lt;br /&gt;
Kancil pun tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Terserah apa kata kalian. Sekarang aku hanya ingin tanya: bagaimana kalian mau membagi adil tubuhku yang kecil ini, sementara jumlah kalian begitu banyak dan saling berebut pula...” kata Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar jawaban Kancil, buaya-buaya itu berpikir. Mereka saling berpandangan.&lt;br /&gt;
“Benar juga kata Kancil.” Mereka berkata dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;lya, Kancil benar, bagaimana caranya?&quot; kata salah satu buaya, tak jelas yang mana.&lt;br /&gt;
&quot;Betul, bagaimana caranya?&quot; sahut buaya yang lain, juga tak jelas yang mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebentar kemudian, ramailah buaya-buaya itu dengan pertanyaan &quot;bagaimana&quot;. Tak satu pun bisa menjawab. Semua mencoba memikirkan jalan keluamya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil merasa menang.&lt;br /&gt;
&quot;Lihat, kalian sendiri tak tahu jawabannya.&quot; Kata Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para buaya masih sibuk mencari jalan keluar. Sunyi.&lt;br /&gt;
&quot;Aku ada usul?&quot; tanya Kancil memecahkan kesunyian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsentrasi berpikir pun buyar. Pecahlah kegaduhan.&lt;br /&gt;
&quot;Bagaimana usulmu?&quot;&amp;nbsp; Tak jelas siapa yang bertanya, tapi semua seperti setuju&lt;br /&gt;
dengan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Ya, bagaimana usulmu?&quot; kata buaya yang paling besar.&lt;br /&gt;
&quot;Ehm, begini ... &quot;kata Kancil mencoba menarik perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para buaya menunggu.&lt;br /&gt;
&quot;o, maaf, tapi maksudku begini. Mmh, bagaimana kalau aku saja yang menentukan soal pembagian tubuhku. Maksudku, siapa mendapat apa, begitu. Bagaimana, setuju?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para buaya saling berpandangan.&lt;br /&gt;
&quot;Siapa mendapat apa, itu maksudnya bagaimana?&quot; sahut salah satu Buaya.&lt;br /&gt;
&quot;Iya, ngomonglah yang jelas. Jangan berbelit-belit.&quot; Para buaya kembali menunjukkan ketidaksabaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wah, bahaya ini, pikir Kancil.&lt;br /&gt;
&quot;Maksudku begini: akulah yang akan menentukan siapa yang akan mendapat bagian kepalaku, siapa yang mendapat mengeluarkan air liur. Terbayang sudah bagaimana mereka akan merasakan daging Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Lalu, bagaimana cara kau membagi-bagi dagingmu yang cuma secuil itu?&quot;&lt;br /&gt;
Kancil tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bukan soal secuilnya, tapi soal adilnya. Kalau kalian yang membagi, aku yakin pasti tidak akan adil. Siapa yang kuat akan mendapat bagian yang besar. Nah, untuk menunjukkan siapa yang kuat berarti kalian harus berkelahi dulu. Iya,&#39;kan? Bayangkan, hanya untuk mendapatkan dagingku yang kalian bilang cuma secuil ini, kalian harus berkelahi dulu ... &quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diam-diam beberapa buaya kagum pada Kancil.&lt;br /&gt;
&quot;Benar-benar pintar dia,&quot; begitu kata buaya terse but dalam hati.&lt;br /&gt;
&quot;Bagaimana dengan usulku? Setuju?&quot; Buaya-buaya itu berpandangan, seperti saling bertanya.&lt;br /&gt;
&quot;Baiklah, &quot;kata buaya yang bertubuh paling besar, &quot;kami terima usulmu. Lalu, bagaimana caramu membagi dagingmu yang cuma secuil itu dengan adil?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil tertawa kecil.&lt;br /&gt;
&quot;Oo, itu bukan perkara susah buatku. Sekarang berjajarlah kalian dari pinggir sini ke pinggir sana. Aku akan menghitung kalian sambil menyebutkan bagian tubuhku yang menjadi jatah kalian. Bagaimana? Kalau setuju, berjajarlah kalian ... &quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa dikomando lebih jauh, berjajarlah buaya-buaya itu. Kancil mencari daun-daunan dan kulit kayu untuk membungkus kakinya. Kalau tidak dibungkus, kakinya tentu akan luka-luka kena duri di tubuh buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Bayangkan, aku harus menginjak-injak tubuh mereka yang jumlahnya banyak itu. Bisa habis kakiku dibuatnya, &quot;kata Kancil pada diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah buaya-buaya itu berjajar, mulailah Kancil menghitung dengan cara melompat-lompat di atas rubuh buaya yang berjajar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Satu, kau, karena kau paling besar, mendapat kepalaku. Dua, karena kau kecil, cukup kaki kiri bagian depan. Tiga, kau kaki kanan bag ian belakang. Empat, kau paha bagian atas. Lima, kau paha bagian bawah. Enam . .. &quot; begitu kata Kancil seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melompat dan melompat di atas punggung buaya hingga akhimya sampai ke tepian sebelah sana. Dari punggung buaya terakhir, Kancil melompat ke daratan. Maka, selamatlah dia sampai di seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;&#39;Terima kasih kawan-kawanku yang baik. Kau telah menolongku menyeberang. Dadaa, sampai jumpa lagi. .. . &#39;&#39;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahulah buaya-buaya itu, mereka ditipu Kancil. &quot;Awas kau, Kancil. Kalau ketemu lagi, akan kulumat&lt;br /&gt;
habis tubuhmu yang secuil itu,&quot; kata buaya yang paling besar dengan geram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/7225535286471932875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/7225535286471932875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://topdongenganak.blogspot.com/2019/09/kancil-dan-buaya-bagian-2-jembatan.html' title='Kancil dan Buaya Bagian 2 : Jembatan Berduri'/><author><name>nanang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05780045618916662155</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5llkrZAx4oNIzKLWmQFfT-ale_31WcE3-paLziEiQQFuhwhIMZXOcolBJ6gW2DVpi6ovV30k6twbYQkepe023xSntdbSibtjweaRyl_i6CfPxXmIRGFTj6SaDb7hRjaume1f_2_Qkd-g/s72-c/kancil+dan+buaya.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8636078476998850818.post-4482447042759863354</id><published>2019-09-07T08:31:00.000-07:00</published><updated>2019-09-07T08:31:30.148-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng Fabel"/><title type='text'>Dongeng Anak Kancil dan Buaya Bagian 1</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
Suatu hari, setelah berjalan lama keliling hutan mencari makanan, Kancil merasa sangat haus. Ia pun mencari sungai untuk minum. Sesampai di pinggir sungai ia turun dan langsung minum air untuk melepaskan dahaganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZEmvtDdEDzPoLS7W-Qb8IIRrrgbyK1-aLu_V9nEEOHD9EP8CMSUtcgnWu7G3q5aA3Dn0z-eLZhFihdPrAsVOptGYVa34aVQIbNjFRnHQ3fJc006sQfOOdrTWvNuK1Riv7M-chSw3Ekic/s1600/kancil+dan+buaya.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;dongeng kancil dan buaya&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;640&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZEmvtDdEDzPoLS7W-Qb8IIRrrgbyK1-aLu_V9nEEOHD9EP8CMSUtcgnWu7G3q5aA3Dn0z-eLZhFihdPrAsVOptGYVa34aVQIbNjFRnHQ3fJc006sQfOOdrTWvNuK1Riv7M-chSw3Ekic/s640/kancil+dan+buaya.jpg&quot; title=&quot;kancil dan buaya&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sedang asik minum, tiba-tiba datang seekor buaya. Kancil pun terkejut ketika melihat ada seekor buaya ada didepannya dengan mulut menganga. Lalu buaya itu mengibaskan ekornya kesana kemari, seolah-olah memperingatkan Kancil untuk tidak coba-coba melarikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kali ini kau tidak akan lepas dariku,” kata Buaya.&lt;br /&gt;
“Baiklah, aku menyerah. Mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Tapi, maukah engkau memberiku kesempatan untuk sekedar menyelesaikan minumku, aku haus sekali,” kata Kancil.&lt;br /&gt;
“Oh.. Silahkan.. silahkan saja, Tuan Kancil” jawab Buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil pun bersiap-siap untuk minum kembali.&lt;br /&gt;
“Jujur saja, sebenarnya aku masih belum lapar,” gumam Buaya.&lt;br /&gt;
Gumam yang cukup keras itu terdengar oleh Kancil. Kancil tersedak karena terkejut. Dia berhenti minum dan menoleh kepada Buaya yang kini jaraknya semakin dekat.&lt;br /&gt;
“Kalau belum lapar, kenapa kau mau memakanku” kata Kancil.&lt;br /&gt;
“Ho..ho..ho.. jangan khawatir tuan Kancil, biarpun tidak lapar, dalam perutku masih ada cukup ruangan untukmu” Jawab Buaya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil mencoba untuk tertawa.&lt;br /&gt;
“Kau bisa bercanda juga rupanya,” kata Kancil.&lt;br /&gt;
“Sudahlah! Jangan banyak bicara. Selesaikan saja minummu!” bentak Buaya.&lt;br /&gt;
Kancil merasa takut juga dengan bentakkan Buaya itu. Lalu ia pun mencari akal agar bisa melepaskan diri dari Buaya itu. Dia mulai menghitung-hitung jarak antara dia dan Buaya sudah begitu dekat. Kalau mencoba melarikan diri, itu tidak mungkin. Sedikit saja bergerak mencurigakan, ekor Buaya yang panjang dan tajam itu tentu akan dengan mudahnya menyabet tubuh Kancil.&lt;br /&gt;
Sambil berpikir, Kancil mencoba mengulur-ulur waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehm, Buaya, tahukah kamu, seperti halnya binatang lain, aku juga punya keluarga. Aku punya istri dan anak.” Kata Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksudmu dengan punya istri dan anak?” tanya Buaya sambil membuka mulutnya, seperti ingin memperlihatkan ketajaman gigi-giginya yang baru saja diasah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat gigi buaya itu, Kancil terbelalak dan bulu kuduknya mulai berdiri. Ia membayangkankan betapa sakitnya jika dikunyah oleh Buaya itu. Ia memejamkan mata dan hatinya seperti terbang.&lt;br /&gt;
Buaya mendehem dan mengulang pertanyaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Heh.. apa yang kau maksud dengan punya anak dan istri?” Tanya Buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil tidak langsung menjawab, tetapi kembali minum.&lt;br /&gt;
“Begini” kata Kancil sambil berkumur-kumur lalu menyemburkan air kumurannya itu di dekat Buaya seperti mengejek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buaya kelihatan tersinggung.&lt;br /&gt;
“O, maaf, tidak sengaja,” kata Kancil pura-pura kikuk.&lt;br /&gt;
“Maksudku begini,” kata Kancil lagi, “Aku tahu bahwa akhinya aku memang akan menjadi santapanmu. Tapi tidak sekarang. Kau tahu, kalau aku harus mati sekarang, bagaimana dengan nasib istri dan anakku. Sedangkan aku, anak dan istriku sudah bersepakat kalau memang salah satu diantara kami harus mati, labih baik mati semuanya. Jadi, jadi..”&lt;br /&gt;
“Jadi apa? Tanya Buaya kesal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi.. kalau memang aku harus menjadi mangsamu, maka anak istriku harus menjadi mangsamu juga. Itu sudah kesepakatan kami. Maksudku, mangsalah kami bertiga. Dengan begitu, kami tidak hanya akan mati bersama-sama, tapi juga terkubur bersama-sama di tempat yang sama pula. Sungguh itu janji kami.” Kata Kancil mengiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Makin banyak omong kau ini Kancil. Mau bicara apa kau sebenarnya, Hah..?” Kata Buaya semakin kesal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maksudku, mengapa tidak kita jemput saja istri dan anakku, biar kami semua menjadi mangsamu.” Kata Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar jawaban itu, Buaya sangat senang sekali. Terbayang dalam pikirannya tiga ekor kancil akan segera menghuni perutnya. Oh betapa sedapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, mari kita jemput anak dan istrimu.” Kata Buaya itu.&lt;br /&gt;
“Jadi benar kau ingin memangsa aku dan keluargaku?” Tanya Kancil pura-pura keheranan.&lt;br /&gt;
“Lho, bukankah kau yang tadi bilang, kalau kau harus jadi mangsaku begitu juga keluargamu?” Jawab Buaya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil pura-pura sedih. Wajahnya menunduk.&lt;br /&gt;
“Maksudku, maksudku tadi aku hanya mencoba mengharap belas kasihmu. Ternyata kau benar-benar ingin memangsa kami” Kata Kancil memelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buaya pun tertawa. Terlihat giginya yang besar dan tajam.&lt;br /&gt;
“Ho..ho..ho.. Kancil.. Kancil, kau pikir semuanya bisa kau tipu seperti itu. Aku tidak. Kalau kau bilang kau dan seluruh nenek moyangmu mau menjadi mangsaku, aku malah senang. Apa kau pikir aku sedih karena dengan begitu di hutan ini tak akan ada lagi bangsa kancil. Masa bodoh. Apa peduliku? Itu bukan urusanku. Yang penting sekarang kau sudah ada di depan mulutku. Artinya, kau sudah disediakan untuk menjadi santapanku. Jangan coba-coba berpikir untuk lari. Kau tahu apa guna ekorku ini, hah?” Kata Buaya itu dengan bangganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi kau benar-benar mau memangsaku?” Kata Kancil mengiba.&lt;br /&gt;
“Bukan hanya kau, tapi juga anak dan istrimu. Sekarang, mari kita jemput mereka. Tiga mangsa sekaligus, ehm.. betapa sedapnya..” Kata Buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil seperti mendapat titik terang.&lt;br /&gt;
“Jadi, aku harus menjemput istri dan anakku sekarang? Sendiri?” tanya Kancil.&lt;br /&gt;
“Oh.. tentu saja tidak. Kalau aku membiarkan kau pergi sendiri, kau pasti kabur. Tidak, itu tidak akan terjadi. Kita menjemput bersama-sama. Aku akan mengawalmu..” Jawab Buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, tapi Buaya, kau kan tahu aku tak pandai berenang. Bagaimana aku bisa menjemput istri dan anakku dengan cepat.” Kata Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitu saja kok repot. Ayo, cepat naik ke atas punggungku. Katakan saja, kemana arahnya.”&amp;nbsp; Kata Buaya itu sambil membayangkan menyantap tiga ekor Kancil sekaligus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Kancil pun melompat ke atas punggung Buaya. Ia segera mencari tempat yang nyaman di punggung Buaya itu agar tidak tertusuk duri-duri buaya yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buaya pun melaju dengan cepat mengikuti alur sungai. Kancil terus menunjukkan arah kepada Buaya sambil menikmati pemandangan sepanjang sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terasa sudah jauh jarak yang mereka tempuh.&lt;br /&gt;
“Cil, jauh sekali rumahmu!” tiba-tiba Kancil dikejutkan suara Buaya.&lt;br /&gt;
Kancil benar-benar menikmati tamasya di atas punggung Buaya. Hatinya menertawakan kebodohan Buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, memang, rumahku sangat jauh. Apa boleh buat, aku memang harus pergi jauh untuk sekedar mencari makan.” Jawab Kancil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan, beberapa kali mereka bertemu buaya lain. Dengan lagak yang dibuat-buat, Kancil melambai kepada buaya-buaya itu. Tentu saja buaya-buaya itu keheranan. Bagaimana mungkin Kancil bisa bertengger di punggung buaya dan melaju dengan nyamannya.&lt;br /&gt;
Setelah beberapa lama berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“bagaimana, masih jauh cil?” Tanya Buaya lagi.&lt;br /&gt;
“O, masih, O maaf tunggu sebentar. Sampai dimana ini ya? O, tidak, sedikit lagi. Nanti di tempat yang banyak semak-semaknya, menepilah ke kiri. Rumahku tak jauh dari situ.” Kata Kancil.&lt;br /&gt;
Akhirnya sampailah mereka di tempat yang mereka tuju. Buaya pun menepi dan Kancil turun dari punggung Buaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Stop!”&lt;br /&gt;
“Sudah?” Tanya Buaya.&lt;br /&gt;
“Sudah!” jawab Kancil.&lt;br /&gt;
Agak terkejut Buaya ketika dilihatnya Kancil sudah ada di depannya.&lt;br /&gt;
“Sebentar, kau tunggu disini. Biar aku saja yang menjemput anak dan istriku.” Kata Kancil.&lt;br /&gt;
“Baiklah” Kata Buaya tanpa menaruh rasa curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil pun menuju kesebuah tempat. Sebenarnya tempat yang disebutkan Kancil itu adalah sebuah perkampungan pemukiman manusia. Begitu sampai di tempat itu, Kancil langsung lari ke tempat orang-orang kampung biasa berkumpul. Sengaja ingin menarik perhatian mereka. Kancil berlari sedemikian rupa dihadapan orang-orang kampung itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usahanya pun berhasi. Orang-orang yang melihat kehadiran Kancil kaget. Kemudian salah seorang dari mereka berteriak-teriak kemudian disusul oleh yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei.. itu Kanci, Kancil. Tangkap.. Tangkap.. dialah yang suka mencuri ketimun kita. Tangkap, tangkap, ayo!” seru orang-orang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kancil pura-pura bingung. Kemudian ia berlari ke pinggir sungai di tempat Buaya menunggu. Kancil berputar-putar di sekitar itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu salah seorang penduduk akhirnya melihat Buaya.&lt;br /&gt;
“Hai.. itu Buaya.. awas.. Buaya!!”&lt;br /&gt;
“Mana..Mana..?” tanya yang lain.&lt;br /&gt;
“Tangkap saja, tangkap.” Seru mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penduduk pun mengepung Buaya.&lt;br /&gt;
“Ayo Tangkap. Ambil kayu!” Ambil Batu Besar!” “Ambil tombak” seru mereka bersahutan.&lt;br /&gt;
Tak lama kemudian orang-orang kampung berdatangan dengan membawa kayu, tombak, batu dan golok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa Buaya sadari, ia terkepung oleh penduduk. Rasanya sia-sia Buaya itu menghindar. Lalu, beramai-ramai para penduduk mengeroyok buaya. Ada yang melemparinya dengan batu, ada yang menombak, dan ada pula yang memukulnya dengan batu besar. Tak lama buaya itu pun tak berkuti.&lt;br /&gt;
Akhirnya kali ini Kancil yang cerdik lolos dari santapan Buaya yang serakah itu.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/4482447042759863354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='https://www.blogger.com/feeds/8636078476998850818/posts/default/4482447042759863354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='https://topdongenganak.blogspot.com/2019/09/dongeng-anak-kancil-dan-buaya-bagian-1.html' title='Dongeng Anak Kancil dan Buaya Bagian 1'/><author><name>nanang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05780045618916662155</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZEmvtDdEDzPoLS7W-Qb8IIRrrgbyK1-aLu_V9nEEOHD9EP8CMSUtcgnWu7G3q5aA3Dn0z-eLZhFihdPrAsVOptGYVa34aVQIbNjFRnHQ3fJc006sQfOOdrTWvNuK1Riv7M-chSw3Ekic/s72-c/kancil+dan+buaya.jpg" height="72" width="72"/></entry></feed>