<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DUMDR388eip7ImA9WhBbGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695</id><updated>2013-05-18T04:51:16.172+07:00</updated><category term="8 Minggu Ngeblog" /><title>EssiP </title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.essip.us/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>225</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/essip/GnAX" /><feedburner:info uri="essip/gnax" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;A0MERHo4fip7ImA9WhBUGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-5771617637562884962</id><published>2013-05-08T14:50:00.000+07:00</published><updated>2013-05-08T14:50:05.436+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-08T14:50:05.436+07:00</app:edited><title>Saya Hanya Perlu Dolan !</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-y3SQ7FlqM4M/UYoDgXat5DI/AAAAAAAACRE/2KJl7bl1u8A/s1600/Asean+Blogger.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-y3SQ7FlqM4M/UYoDgXat5DI/AAAAAAAACRE/2KJl7bl1u8A/s200/Asean+Blogger.jpg" width="171" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; float: left; font-family: Curlz MT; font-size: 55px; line-height: 40px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
ulu ada pikiran jika saya adalah orang yang tahan banting saat internetan. Mengenal&amp;nbsp; dunia yang satu ini juga butuh sebuah perjuangan. Harus rela berpancal ria untuk lebih mengintiminya. Menempuh puluhan kilo menuju warnet kota. Tujuannya satu, ingin berlama-lama berinternet dengan harga yang ramah dengan kantong saya. Itulah sedikit cerita di awal-awal saya mengenal dunia maya. Sebuah cerita yang pernah saya tulis lewat artikel berjudul &lt;a href="http://www.essip.us/2011/06/slobatsur.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Slobatsur&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Masa-masa dimana hanya internet dan internet saja yang ada dalam pikiran saya. Suatu kondisi yang membuat saya begitu mengingini akan sebuah profesi,&amp;nbsp; Satpam dunia maya !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, Sang Maha Pengabul Impian ternyata meluluskan pinta saya. Gelar idaman itu sekarang sudah tersematkan. Dunia maya sekarang seakan menjadi kehidupan kedua saya. Ya, satpam dunia maya, itulah pekerjaan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang bilang&amp;nbsp; sesuatu yang dilakukan berlebihan itu lama-lama akan memberi efek berupa bosan. Menurut saya bahagia itu lebih nikmat dirasa saat masih dalam impian. Sebab saat semua telah teraih, kadang sensasinya akan terasa biasa-biasa saja. Tak seindah di awal-awal mimpi kita. Bahkan seringkali terjadi bahagia itu justru membawa masalah baru bagi kita. Yah, semacam sisi lain yang harus dikorbankan, sebagai bayaran untuk kebahagian yang kita dapatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian halnya yang terjadi pada diri saya sekarang. Dulu saya berpikir&amp;nbsp; menjadi satpam itu akan terasa nyaman dilakoni. Hari-hari pun saya jalani dengan lebih banyak wira-wiri di dunia abstrak ini. Bahkan saya pun memfasilitasi kamar saya dengan 24 jam internet yang terus menyala. Seakan tak mau sedetikpun terlewat dari hingar bingar dunia maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sayang, segala kesenangan yang saya terima sepertinya harus ditebus pula dengan hilangnya sebagian sisi kehidupan saya. Dunia maya telah membuat saya lena. Membuat saya lupa dengan petualangan-petualangan saya di dunia nyata. Lupa rimba raya yang dulu sering saya hirup aromanya. Lupa nikmatnya naik kereta saat ke luar kota. Lupa harus menemukan Marpuah dengan segera. Ah, saya lupa segalanya. Ya, tiga tahun yang saya lakoni dengan lebih banyak memelototi layar mini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hari yang lalu ada sebuah tawaran pada saya. Menghadiri gawe akbar bernama Asean Blogger di Solo. Ah, serasa menjadi semacam obat penghilang penat yang sekarang dirasa. Ya, saya hanya sedang merasa jenuh saja dengan kondisi yang ada. Hanya butuh pereda kepenatan bernama dolan. Kesempatan yang tentu saja tak boleh saya lewatkan. Meredakan kepenatan dengan pencari pengalaman dan yang terpenting adalah bisa berbagi tawa dengan dulur-dulur dunia maya nantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga detik ini belum ada konfirmasi yang resmi dari majikan soal ijin cuti yang saya ajukan. Saya tahu ada unsur keberatan dari majikan. Tapi setidaknya saya sudah memberi solusi dengan mencari pengganti satpam saat liburan. . Sebab, jika terus dikondisikan sakau penat seperti sekarang, saya yakin akan berakibat fatal di kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lah terus piye andai bos besar tidak mengamini? Yo wis berangkat wae hehehe. Mungkin sudah waktunya bagi saya untuk segera pensiun dari satpam dunia maya. Yang jelas saya tak ingin menjadikan tubuh saya terus menerus menjadi mesin uang. Saya hanya sedang menuntut hak untuk sedikit melupakan rutinitas yang ada, itu saja.&amp;nbsp; Lah terus nanti kerja apa? Yo sulap saja kamar saya nanti jadi tempat kerja hahaha. Profesi kan hanya semacam status sosial saja. Intinya kan nyari duit. Asal halal dan diniati untuk mencari keberkahan apakah begitu penting arti dari sebuah status pekerjaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, yo wis sekarang waktunya saya berkemas untuk dolan. Solo, Jakarta, Bandung, Surabaya tunggu uluk salam saya disana ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/wK0HtXl9G8c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/5771617637562884962/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/05/saya-hanya-perlu-dolan.html#comment-form" title="33 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/5771617637562884962?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/5771617637562884962?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/wK0HtXl9G8c/saya-hanya-perlu-dolan.html" title="Saya Hanya Perlu Dolan !" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-y3SQ7FlqM4M/UYoDgXat5DI/AAAAAAAACRE/2KJl7bl1u8A/s72-c/Asean+Blogger.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>33</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/05/saya-hanya-perlu-dolan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UESX08eSp7ImA9WhBUFkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-5849905594824729338</id><published>2013-05-04T16:20:00.000+07:00</published><updated>2013-05-04T16:20:08.371+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-04T16:20:08.371+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="8 Minggu Ngeblog" /><title>#8MingguNgeblog 4 : Merah Yang Tak Membuat Marah</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BRo2InDYxc4/UYRxqm3ywgI/AAAAAAAACQM/sD-1hvrbLYk/s1600/smartfren+lemot.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="152" src="http://2.bp.blogspot.com/-BRo2InDYxc4/UYRxqm3ywgI/AAAAAAAACQM/sD-1hvrbLYk/s320/smartfren+lemot.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Tulisan ini diikutkan pada &lt;span style="color: red;"&gt;&lt;a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-minggu-keempat/"&gt;8 Minggu Ngeblog&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; bersama Anging Mammiri, minggu keempat.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; float: left; font-family: Curlz MT; font-size: 55px; line-height: 40px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;S&lt;/span&gt;aat masih SD bisa dikatakan saya memiliki prestasi yang lumayan moncer di sekolahan. Enam tahun perjalanan&amp;nbsp; di bangku dasar, semuanya saya lalui dengan prestasi.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Predikat Numero uno, seakan menjadi langganan bagi saya di setiap catur wulannya.&amp;nbsp; Bahkan&amp;nbsp; pernah pula saya mengukir sejarah prestasi nan gemilang&amp;nbsp; bagi SD tersebut. Sejarah, sebab saya menjadi satu-satunya siswa yang bisa mengukir prestasi indah hingga SD itu dinyatakan bubar oleh pemerintah. Gemilang, karena&amp;nbsp; sekolah pinggiran ternyata siswanya juga mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan. Yah, menjadi juara dua lomba mata pelajaran tingkat kabupaten. Setelah itu piye? Halaagh emboh.. Intine saya kecil ini pinter, tapi makin gede malah makin keblinger hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prestasi moncer itu saya rasa tak semata didapat dari sekolah saja. Justru Ibu yang menurut saya memberikan andil besar bagi prestasi pendidikan dasar saya. Ibu sudah menjadi semacam guru besar setelah guru-guru SD saya. Dengan metode pendidikan yang&amp;nbsp; untuk sekarang sepertinya sudah tak cocok lagi untuk diterapkan. Keras, disiplin juga sarat hukuman apabila saya melakukan kesalahan. Ibu tak segan memberi bentakan dan jeweran apabila saya terlihat sulit saja menerima pelajaran yang beliau berikan. Menangis seakan menjadi sebuah upeti wajib pada seorang Guru Besar bernama Ibu. Apakah saat itu saya menilai ibu kejam? Hmmm.. saya rasa tidak. Saya justru merasa menangis itu semacam doa sebelum belajar saja. Dengan menangis itu seakan membuka jalan pikiran untuk menerima sebanyak-banyaknya materi yang ibu berikan. Aneh kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Royal jeweran bukan berarti Ibu saya pelit dalam hal memberi penghargaan. Ibu atau yang biasa saya panggil Ning ini tak pernah lupa memberi semacam reward pada setiap prestasi saya. Bisa dipastikan setiap akhir catur wulan ada saja barang baru yang saya dapatkan. Meski hanya sebatas sepatu baru, tas ataupun baju, tapi bagi anak kecil macam saya dulu semua itu lebih dari segala-galanya. Harus saya&amp;nbsp; buru dan dapatkan setiap akhir catur wulan. Reward yang begitu menggiurkan tapi ada catatan dari Guru Besar yang harus saya camkan. &lt;i&gt;"Jangan nodai pelajaran sekolah&amp;nbsp; dengan warna merah"&lt;/i&gt;, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah di suatu ketika saya merasa kiamat datang sebelum waktunya. Seingat saya saat itu saya telah menginjak kelas lima.&amp;nbsp; Hal yang paling saya takuti ternyata terjadi hari itu. Mendapat nilai lima dari mata pelajaran yang kurang saya suka, matematika. Nilai yang sontak membuat mata saya memerah. Ya, ada angka lima pada buku pelajaran saya. Lima yang berarti merah. Warna merah yang bisa membuat Guru Besar rumah akan marah-marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa tiba-tiba saja saya punya niatan licik sesampai di rumah. Saya ingin menghilangkan jejak hasil ulangan yang baru saja saya dapatkan. Ya, saya tak mau Guru Besar marah gara-gara di buku pelajaran saya ada warna merah. Saya lenyapkan warna merah itu dengan menyobek halaman ulangan di buku pelajaran. Saya remas-remas dengan begitu rapi agar Ibu tak lagi menjumpai. Membuangnya begitu saja di bawah balai bambu di ruang dapur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar apes ! Sepandai-pandainya koruptor kelak akan tertangkap layar monitor. Pun demikian dengan saya, Ibu ternyata memergoki &lt;i&gt;lembaran aib&lt;/i&gt; itu. Dan eng.ing.eng.. apa yang terjadi saudara-saudara? hahaha. Saya tak begitu ingat apa yang diucapkan ibu ketika murka kala itu. Ibu sebenarnya tak begitu mempersoalkan tentang warna merah yang ada dalam buku pelajaran saya. Ibu hanya kecewa saja dengan kejujuran saya, itu saja. Dan satu hal yang paling saya ingat, saat itu punggung saya mendapat hadiah berupa memar dari lecutan tali sabuk Ibu. Lecutan yang tak hanya membuat saya menjadi seorang anak kecil yang trauma dengan warna merah. Tapi, sekaligus melecut saya untuk selalu menghindari warna itu muncul lagi di kertas ulangan saya. Yang hasilnya membuat saya meraih prestasi puncak saat kelas enam nantinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat besar seperti sekarang ini, warna merah tak lagi menjadi momok bagi saya. Justru merah&amp;nbsp; sekarang menjadi warna yang amat saya sukai dan selalu nanti. Bukan, saya bukanlah partisipan dari partai penyuka warna berani itu. Ini berhubungan dengan aktifitas yang saya lakoni tiap hari. Sebagai seseorang yang menjadikan dunia maya sebagai geliat hidupnya. Koneksi, itulah nyawa saya saat di dunia maya. Sebuah nyawa berupa warna merah yang selalu dinanti munculnya di grafik modem saya. Banyak warna merah itu berarti akan membuat senyum saya terlihat renyah. Sebaliknya, jarang atau bahkan tak sekalipun saya jumpai warna merah, hohohoho..tolong jangan salahkan saya kalau nanti marah-marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, saya akan marah seperti marahnya Guru Besar&amp;nbsp; saat memergoki saya berusaha melenyapkan warna merah. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/08e0H5i6RTM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/5849905594824729338/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/05/8minggungeblog-4-merah-yang-tak-membuat.html#comment-form" title="36 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/5849905594824729338?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/5849905594824729338?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/08e0H5i6RTM/8minggungeblog-4-merah-yang-tak-membuat.html" title="#8MingguNgeblog 4 : Merah Yang Tak Membuat Marah" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-BRo2InDYxc4/UYRxqm3ywgI/AAAAAAAACQM/sD-1hvrbLYk/s72-c/smartfren+lemot.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>36</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/05/8minggungeblog-4-merah-yang-tak-membuat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUHQXs4fyp7ImA9WhBUEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-4630264392241544292</id><published>2013-04-28T20:37:00.001+07:00</published><updated>2013-04-28T20:37:10.537+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-28T20:37:10.537+07:00</app:edited><title>#8MingguNgeblog 3 : Emak....</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Tulisan ini diikutkan pada &lt;a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-minggu-ketiga/" target="_blank"&gt;8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5IeLlBJA_3Q/UX0Urzur6NI/AAAAAAAACPU/-NZKTVnA_fI/s1600/banner8MIngguNGeblog.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-5IeLlBJA_3Q/UX0Urzur6NI/AAAAAAAACPU/-NZKTVnA_fI/s1600/banner8MIngguNGeblog.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Emak, Ning kemarin jatuh lagi....&lt;/blockquote&gt;
Ya Mak, tensi darah Ning turun lagi dan sudah diwanti-wanti untuk banyak istirahat, tapi Ning masih saja seperti emak. Masih saja tak mau menjadi beban, meski sekujur tubuh terasa kesakitan. Padahal sudah berkali-kali kukatakan, saat Ning sakit, sekecil apapun urusan biar&amp;nbsp; aku saja yang cukupkan. Tapi, Ning masih bandel saja. Seakan tak mau membuat repot anak-anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Mak, melihat Ning sore itu membuatku teringat saat-saat bersamamu dulu. Ya, kejadian malam itu. Saat Emak mengalami hal yang sama seperti Ning kemarin. Sama-sama jatuh dan juga mengaduh. Malam yang menjadi firasat jika sua kita di dunia hanya tinggal sesaat. Tapi Mak, justru sejak saat itulah aku merasa menjadi seorang lelaki terhormat. Yah, merasa terhormat karena bisa menemani juga&amp;nbsp; melayani hingga akhir hayatmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak malam itu aku benar-benar merasa menjadi sesuatu. Aku bangga menjadi seorang pelayanmu. Menjaga kedua kelopak mata agar selalu siaga dan tak terlalu lelap dalam tidur malamku. Menjadi seorang pengawal pribadi, agar kau tak terjatuh untuk kedua kali. Menuangkan segelas air saat kau merasa dahaga. Memijat lembut pundak dan punggungmu yang sudah semakin renta. Ah Emak, aku kangen suasana itu. Bahkan aku merasa kurang dan masih kurang saja melayanimu. Sebab, aku tahu apa yang kulakukan sangatlah tak setimpal dengan kasih sayang yang kau berikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mak,&amp;nbsp; tak sekalipun pernah kukecap lezatnya air kehidupan yang telah kau susukan. Tapi bagiku kaulah yang telah memberi aku kehidupan. Lelaki kecil terbuang yang kau rawat dengan limpahan kasih sayang. Tanpa pernah kau pedulikan tentang siapa aku dan darimana asal-usulku. Tidak seperti mereka Mak, yang masih saja mempertanyakan tentang status itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mak, aku tahu kau adalah perempuan yang tak bergelimang perhiasan bernama ilmu pengetahuan. Kau tak pernah mengenal tulis dan baca, tapi petuah bijakmu hingga kini selalu aku baca. &lt;a href="http://www.essip.us/2011/11/asal-jadi-daging.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;"Asal Jadi Daging"&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, prinsip hidupku yang kini telah mendarah daging. Tentang arti sebuah keberkahan hidup. Tentang bagaimana tubuh kita ditegakkan dengan tulang-tulang yang penuh halalan. Ah Mak, teori mencari rejekimu itu begitu sederhana, tapi mampu mengalahkan bertebal-tebal buku teori motivasi yang telah kubaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mak, maaf jika hingga akhir hayatmu aku masih belum mampu mempersembahkan matahari untukmu. Bukan Mak, bukan berarti aku tak sungguh-sungguh mengejar matahari itu. Aku hanya ingin memegang teguh amanahmu malam itu. Menjadi lelaki yang menemani Ning hingga kapan saja. Menjaganya agar tak kembali jatuh untuk kesekian kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarlah Mak, biarlah untuk sementara aku sendiri yang menjadi matahari itu. Biarlah aku menjadi matahari yang menyinari sekelilingnya, semampu yang aku bisa. Setidaknya aku bisa menjadi matahari bagi diriku sendiri, atau siapa saja yang mau kusinari.&amp;nbsp; Hingga nanti ada matahari yang benar-benar mau menyinari rumah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mak, ini aku lelaki kecilmu dulu. Malam ini hanya ingin mengatakan padamu.. Mak...Aku rindu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;* Ning : Panggilan untuk ibu Jember saya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;* Untuk bunga, jika saja ada yang bertanya tentang siapa aku. Bilang saja aku anak Ning dan Emakku, itu saja&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/3grk61BfI-8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/4630264392241544292/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/8minggungeblog-3-emak.html#comment-form" title="29 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4630264392241544292?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4630264392241544292?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/3grk61BfI-8/8minggungeblog-3-emak.html" title="#8MingguNgeblog 3 : Emak...." /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-5IeLlBJA_3Q/UX0Urzur6NI/AAAAAAAACPU/-NZKTVnA_fI/s72-c/banner8MIngguNGeblog.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>29</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/8minggungeblog-3-emak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYASXg_eCp7ImA9WhBVGE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-31561706136135986</id><published>2013-04-24T18:05:00.002+07:00</published><updated>2013-04-25T00:22:28.640+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-25T00:22:28.640+07:00</app:edited><title>Semangkuk Soto  222 Ala Essip</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-p2r6W3KVeYw/UXgUw0-R3DI/AAAAAAAACPE/NkSVKePbx0I/s1600/soto+essip.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-p2r6W3KVeYw/UXgUw0-R3DI/AAAAAAAACPE/NkSVKePbx0I/s320/soto+essip.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;222&lt;/b&gt; Deretan angka ini tiba-tiba mampir lagi di hadapan saya. 10 tahunan lalu &lt;i&gt;(eit dah umur saya berapa yak, hihihi)&lt;/i&gt; angka-angka ini begitu penting. Waktu itu saya menyandang nomor 2220 di dada, sebagai penanda keikutsertaaan saya dalam seleksi untuk jadi salah satu aparatur Negara, tapi hasilnya kok ya malah mengambil ekor dari nomor saya ”0” hehheh.. Nol? Iya, hasilnya kosong, saya gagal. Tapi, karena gagalnya saya waktu itulah, saya menjadi seperti sekarang ini, dan bersyukur, pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi saya sekarang ini, menyenangkan. karena di kehidupan saya setelah mengalami situasi nol itu tadi, ternyata banyak bertemu 2 pilihan yang sama-sama baik. Ya, hidup ini adalah tentang menjawab pilihan-pilihan kan? Mana yang kita pilih, itulah kemudian yang kita jalani, sampai bertemu dengan pilihan baru dan kita ikuti lagi pilihan baru itu, begitu seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
222, pagi ini saya bertemu lagi dengan angka ini, angka yang sama pentingnya dengan angka saya 10 tahun lalu. Kalau saat itu saya harus menyikuti seleksi untuk masuk sebuah instansi. Hari ini justru sayalah yang masuk sebuah &lt;i&gt;“instansi”&lt;/i&gt; untuk menyeleksinya. Hihihi , gak kok, gak seserius itu, bukan seleksi, tepatnya mereview nya, karena instansinya adalah sebuah blog.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulit, kata pertama yang keluar dari benak saya. Haha.. ya, begitu sulitnya mereview sebuah blog. Bukan perkara mengungkap apa keunggulan dan bagaimana kelemahannya saja, tapi menurut saya, mereview blog, sama dengan membaca tingkah laku, gerak-gerik, bahasa tubuh, sifat dan sikap seseorang. Siapa yang bisa? Kita, seperti diwajibkan &lt;i&gt;“menelanjangi”&lt;/i&gt; orang tersebut dan kemudian mengungkapkan detail ini dan itu tentang seseorang itu. Kenapa? Karena blog secara tidak langsung adalah penggambaran diri kita. Blog adalah gambar diri sang pemilik, administrator atau authornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan blog yang dengan semena-menanya meminta untuk dibedah itu adalah Essip.us, ya, blog yang sedang sahabat nikmati ini. Nikmati? Tentu saja. Layaknya semangkuk soto hangat, blog essip ini sangat pas dinikmati di segala suasana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Anda melihat tampilannya, begitu menggoda. Komposisi suwiran ayam, daun bawang, tauge, bihun dan ditambah taburan bawang diatasnya yang amat pas dan apik, serasa mengajak kita untuk mengayunkan sendok dan segera melahapnya. Begitulah essip, tampilan semangkuk soto sebanding lurus dengan tampilan essip. Sederhana, namun begitu menggoda. Apa yang disajikan komplit, dan tulisan-tulisanya dapat disantap oleh siapa saja, dengan rasa yang ringan, gurih dan menyegarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mangkok&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara kasat, mangkok adalah wadah. Ya, kalau berbicara blog, mangkok ini adalah Nama blog. Artinya, bagaimana kemudahan orang mengakses blog tersebut. Dari Namanya, tentu orang akan sangat mudah mengingat, Essip. Dalam keseharian kita, Sip berarti baik, bagus, jempolan. Ya, Mas Kopral, begitu saya menyebut empunya Essip ini, memang yahud dalam memilih nama untuk blognya. Menancapkan dalam ingatan orang-orang bahwa jika Anda masuk ke blog Essip, maka Anda telah masuk kawasan yang baik, area yang bagus, lingkungan yang top, karena Anda adalah orang-orang yang gak kalah essipnya. Ah, siapa yang gak mau diperlakukan sebegitu essipnya. Hehe&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Suwiran Ayam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika kita membaca menu, soto babat, sate kambing, soto ayam, dll. Tentunya kita akan dengan mudah menerka apa sih sajian utama menu itu, Ya, jika saya menyebut soto ayam, tentu saja Ayam lah sajian utamanya. Dan berbicara blog, maka suwiran ayam ini adalah tulisan atau postingan. Lagi-lagi, jika kita masuk ke essip, kita akan dibuat melongo tersedap-sedap, ah bahasa apa ini? Ini karena saking nya, hihih.. melongo karena tulisannya begitu empuk, enak dikunyah, begitu gurih, sangat meresap. Mengingat ayam, tentunya kita mengingat kampong. Ya, membaca tulisa essip ini kita seperti diajak menyelami pemikiran &lt;i&gt;“ngampung”&lt;/i&gt; namun sangat asik dan membumi. Seperti mempelajari pola tingkah orang-orang di lingkungan yang memang jauh dari perkotaan namun penuh kebersahajaan. Jika ayam kadang kala mengganggu karena terselip di gigi, begitu pula tulisan essip, kadang-kadang menyentil telinga dan rasa tapi sentilan itu kok ya ngangeni, sama dengan kangennya kita makan ayam, gak ada bosennya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bihun putih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Soto ayam yang bening gurih itu, tentunya kurang pas tanpa adanya bihun putih. Tidak ada bihun yang tampil sendirian dalam semangkuk soto, bihun selalu dating berombongan, rame-rame atau dalam satu kesatuan. Begitulah essip. Blog ini menjaga benar arti penting silaturahim, seperti bihun yang guyup rukun dalam satu mangkok untuk menghadirkan cita rasa istimewa, begitulah essip. Baku komentar di kolom kecil dalam setiap tulisan, terasa begitu membaur dan hangat, saat para penikmat menambahkan kecap manis berupa pujian, empunya menjawab tak kalah manisnya kadang diselingi canda. Atau saat ada yang menambahkan garam karena rasanya dirasa kurang, itu berarti tambahan saran, maka diterima pula dengan suka cita yang nantinya dijadikan sebagai perbaikan. Penggemar soto pun kadang menambah cuka asam, tapi empunya essip menikmati rasa asam itu sebagai penambah kesegaran dan menetralkannya dengan guyonan. Tapi ada juga yang suka menambahkan sambal pedas, kritikan semacam ini, ditanggapi dengan kepala dingin dan dicari penyelesaian secara bijak hingga rasa sajian tak jadi rusak dan tetap sedap disantap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daun bawang dan seledri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kedua daun hijau ini, adalah pelengkap soto yang paling menyegarkan mata. Warnanya yang hijau dengan rasa yang segar tentu berasa kurang jika tidak disajikan. Begitulah essip. Blog ini adalah blog hijau, artinya blog dengan author seorang pecinta alam. Bukan hanya kita yang berlabel pecinta alam saja yang bertanggung jawab atas alam kita, tetapi kita semua berkewajiban menjaga bumi kita ini, begitu semangat yang sering kali di gaungkan melalui essip. Semangat menjaga bumi, memelihara alam, dan mencintai lingkungan. Lewat postingan-postingannya, essip menyelipkan ajakan-ajakan positif tentang kecintaan pada alam. Essip jadi salah satu blog yang mengajak kita kembali ke alam dengan cara yang sederhana namun cerdas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bawang goreng&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bawang goreng adalah pelengkap. Tapi juga penyedap. Namun jika penambahan bawang goring itu telalu banyak, tentunya akan merusak rasa. Essip menyadari betul itu. Blognya clean, tak banyak pernak-pernik disana. Sadar benar bagaimana beratnya sebuah blog untuk diakses jika banyak tempelan template ini dan itu, maka empunya melepasnya, mengganti dengan tampilan yang sederhana, simple dan gak terkesan ruwet. Maka essip begitu memanjakan kecepatan koneksi Anda saat mengaksesnya dan juga memanjakan mata Anda dengan tampilan yang lapang, segar dengan proporsi yang pas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari buktikan, dan Anda akan sepakat dengan saya, rasanya tak berlebihan jika saya menyebut Essip adalah semangkok soto ayam yang pas disantap siapa saja kapan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, tak banyak kata, Silahkan menikmati semangkok sajian Soto ayam yang hangat, kaya manfaat dan berbagi cerita dengan para sahabat di Essip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Ditulis oleh &lt;a href="http://advertiyha.blogdetik.com/" target="_blank"&gt;Advertiyha&lt;/a&gt; untuk posting &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;Essip &lt;/b&gt; ke 222&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Z5T0UyK8gGw/UXe7m80w_1I/AAAAAAAACO0/g1XxyZMDTyk/s1600/iyah.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-Z5T0UyK8gGw/UXe7m80w_1I/AAAAAAAACO0/g1XxyZMDTyk/s200/iyah.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/nGwt3bRDv0Q" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/31561706136135986/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/semangkuk-soto-222-ala-essip.html#comment-form" title="59 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/31561706136135986?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/31561706136135986?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/nGwt3bRDv0Q/semangkuk-soto-222-ala-essip.html" title="Semangkuk Soto  222 Ala Essip" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-p2r6W3KVeYw/UXgUw0-R3DI/AAAAAAAACPE/NkSVKePbx0I/s72-c/soto+essip.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>59</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/semangkuk-soto-222-ala-essip.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEAESHwyfSp7ImA9WhBUFk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-4099470747000461761</id><published>2013-04-22T21:44:00.000+07:00</published><updated>2013-05-04T10:05:09.295+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-05-04T10:05:09.295+07:00</app:edited><title>Cerita Gumuk Untuk Keola dan Naima</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UHWS4gRfJTE/UXNyMGh-DUI/AAAAAAAACOs/49LdfS2Ukfw/s1600/gumukjember.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-UHWS4gRfJTE/UXNyMGh-DUI/AAAAAAAACOs/49LdfS2Ukfw/s320/gumukjember.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Untuk Keola dan Naima.....&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; float: left; font-family: Curlz MT; font-size: 55px; line-height: 40px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;J&lt;/span&gt;ika&amp;nbsp; kemarin kalian bertanya tentang sebuah tempat yang seru untuk jalan-jalan, mungkin tak seberapa banyak yang bisa Uncle sebutkan. Playland di mall tentu bukan sesuatu yang baru bagi Keola, yang isinya berbagai macam wahana macam bom-bom car dan aneka permainan menarik lainnya. Demikian pula&amp;nbsp; Sea World atau berendam di Wahana Air tentu merupakan sesuatu yang biasa buat Naima. Tapi tidak demikian halnya dengan Uncle. Masa kecil Uncle tidaklah seberuntung seperti kalian. Di jaman Uncle jarang sekali ditemukan tempat bermain yang seru seperti sekarang. Andaikan ada mungkin itu hanya sebatas komedi putar saja, yang ada saat pasar malam mengunjungi lapangan&amp;nbsp; desa kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga dengan permainan modern lainnya, bisa dikatakan semua itu menjadi sesuatu yang langka. Tak ada play station, apalagi bom-bom car. Paling-paling hanya sebuah &lt;i&gt;"gembot"&lt;/i&gt; dan harus mengantri pula saat ingin memainkannya. Itupun kalau beruntung. Jika tidak, ya terpaksa Uncle hanya bisa ikut tertawa menonton teman yang sedang seru memainkan &lt;i&gt;"gembot"&lt;/i&gt;nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jangan salah, sesuatu yang sederhana itulah yang membuat anak desa seperti Uncle bisa menemukan sendiri dunianya. Mengelilingi desa dengan bersepeda, itulah Bom-bom carnya. Tak kenal Water park apalagi sea world,&amp;nbsp; bukan berarti kami tak mampu menciptakan water park sendiri. Water park itu bernama kali, yang setiap sore bening airnya selalu membujuk kami untuk saling menceburkan diri. Itulah definsi seru bagi anak-anak desa. Tak harus mewah, tapi yang penting harus bisa memberi suasana seru yang wah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat beranjak dewasa dan menjadi seorang pencinta alam. Disitu Uncle belajar akan banyak hal. Salah satunya adalah tentang cara mencari pengalaman baru lewat petualang-petualangan seru. Bukan..bukan, Uncle bukanlah seorang petualang hebat seperti ayah Keke dan Nai. Isi kantong Uncle tak mampu melakukan petualangan-petualangan seru di tempat yang jauh. Hanya berpetualang slayaknya Uncle kecil dulu. Mencari kesenangan dengan bermain di alam sekitar. Dan salah satu tempat bermain itu adalah gumuk, yang biasa Uncle datangi di saat pikiran suntuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Ah Uncle, gumuk lagi..gumuk lagi. Kapan hari cerita gumuk, kemarin juga. Bosan ah!" &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya.ya Uncle tahu mungkin kalian akan protes saat gumuk saja yang dijadikan bahan cerita. Tapi sebentar, duduk manis dulu sayang. Biarkan dulu Uncle bercerita, setelah itu janji deh Uncle akan traktir pisang goreng kesukaan Naima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keke dan Nai, gumuk-gumuk itu sebenarnya bukan hanya semacam gundukan tanah saja. Tapi, juga pertanda jika negeri kita ini kaya dan langka. Ya&amp;nbsp; langka, karena formasi gumuk-gumuk itu hanya ditemukan di tiga tempat saja di dunia. Jepang, Tasikmalaya dan Jember, tempat tinggal Uncle.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Keke dan Nai punya tempat bermain favorit, pun demikian dengan gumuk itu. Tak hanya sebatas tempat bermain favorit Uncle atau anak-anak kecil lainnya. Tapi juga menjadi tempat bermain bagi burung dan satwa-satwa kecil yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sayang, tempat bermain langka itu sekarang sedang terancam keberadaannya. Berbagai macam peralatan berat nampak tengah bersiap mencabut gumuk-gumuk yang ada. Bahkan salah satu perusahaan tambang besar pun sudah berminat membiayai rencana mereka. Tapi sssst.. jangan bilang siapa-siapa ya, ini rahasia loh. Pokoknya ini rahasia antara Keke, Nai dan Uncle saja .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keke dan Nai sayang, pernahkah kalian mendengar pelajaran tentang manusia yang menjadi khalifah bagi buminya? Menjadi seorang penguasa yang berhak mempergunakan segala isi bumi yang dia tinggali. Tapi itu bukan berarti kita harus serakah dengan mengeruk habis-habisan isi bumi, tanpa peduli generasi nanti. Ya, masih ada khalifah generasi di depan nanti yang juga berhak menikmati isi dunia selayaknya kita. Tapi sudahlah, tiada guna berdebat dengan orang-orang pintar itu. Makanya sengaja kupilih Keke dan Nai untuk mendengar cerita tentang gumuk itu. Sebab Uncle rasa nurani kecil seperti kalian pasti lebih bijaksana dibanding mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini di 22 April, tepat di Hari Bumi, sengaja kuceritakan gumuk itu untukmu hai Keola dan Naima. Agar kalian tahu, jika seiring usia kalian yang semakin bertumbuh besar, semakin gencar pula konsiprasi yang dilakukan orang-orang pintar. Di sudut sana banyak tempat bermain anak-anak kota dibuat, tapi disini justru satu persatu&amp;nbsp; tempat bermain anak-anak desa dibabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk Keola dan Naima, mungkin hanya lewat tulisan saja yang bisa Uncle lakukan untuk membela gumuk-gumuk itu. Selebihnya hanya bisa berdoa semoga nurani orang-orang pintar itu bisa terbuka. Namun&amp;nbsp; jika suatu hari nanti rencana mereka benar-benar teramini, Ya sudahlah..Uncle tak bisa berbuat apa-apa lagi. Setidaknya Uncle pernah menuliskan padamu jika &lt;i&gt;kota seribu gumuk&lt;/i&gt; itu benar-benar ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Salam Lestari Keola Naima !&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/qvl_8SahF3E" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/4099470747000461761/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/cerita-gumuk-untuk-keola-dan-naima.html#comment-form" title="31 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4099470747000461761?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4099470747000461761?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/qvl_8SahF3E/cerita-gumuk-untuk-keola-dan-naima.html" title="Cerita Gumuk Untuk Keola dan Naima" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-UHWS4gRfJTE/UXNyMGh-DUI/AAAAAAAACOs/49LdfS2Ukfw/s72-c/gumukjember.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>31</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/cerita-gumuk-untuk-keola-dan-naima.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YBQno7eip7ImA9WhBVFEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-6226040830253183642</id><published>2013-04-20T05:05:00.000+07:00</published><updated>2013-04-20T05:39:13.402+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-20T05:39:13.402+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="8 Minggu Ngeblog" /><title>#8MingguNgeblog 2 : Bukan Jember, Moyen-Chari, Chad</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-CsZKlnSdbGE/UXDrWqKLIgI/AAAAAAAACOI/raTYivEUcI4/s1600/Lambang_Jember.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-CsZKlnSdbGE/UXDrWqKLIgI/AAAAAAAACOI/raTYivEUcI4/s200/Lambang_Jember.png" width="164" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Tulisan ini diikutkan pada &lt;a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-bersama-anging-mammiri/"&gt;8 Minggu Ngeblog&lt;/a&gt; bersama Angin Mammiri, minggu kedua.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; float: left; font-family: Curlz MT; font-size: 55px; line-height: 40px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;A&lt;/span&gt;da semacam kejanggalan yang seringkali saya temui di jejaring sosial Facebook. Saat melihat profil Facebooker yang kebetulan sekota dengan saya, disitu biasanya kejanggalan itu saya temukan. Sebuah kesalahan saat menyantumkan info kota asal di profil akun FB mereka. &lt;b&gt;Jember, Moyen-Chari, Chad&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;Djember, Moyen-Chari, Chad&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awalnya saya anggap itu adalah hal yang biasa saja.&amp;nbsp; Kesimpulan saya&amp;nbsp; mereka benar-benar tak tahu atau tak mau tahu menahu dengan kejanggalan yang ada di profil FB-nya. Atau, bisa saja mereka sengaja mencantumkan sebuah informasi yang salah, agar jejaring pribadi mereka nampak lebih keren dari lainnya. Namun, setelah berulangkali saya lihat kejanggalan itu ada di banyak akun para Facebooker Jember, membuat saya penasaran untuk mencari info lebih lanjut perihal daerah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari info yang saya dapat melalui &lt;strike&gt;Google&lt;/strike&gt; suport center dunia maya, Djember atau Jember yang tercantum di Facebook itu bukanlah nama kota kecil yang saya cintai ini. Keduanya memiliki nama yang sama, tapi Jember saya jauh-jauh lebih keren dan hebat dari Jember di Facebook itu. Betapa tidak, kota saya terletak di negeri yang dikatakan sebagai &lt;i&gt;"tanah surga"&lt;/i&gt;, bukanlah Jember yang ada di negeri kering yang dikurung gurun Sahara. Yah, Jember di Facebook itu terletak di&amp;nbsp; Chad. Negara yang dijuluki sebagai &lt;i&gt;"jantung mati Afrika"&lt;/i&gt;. Nah loh kenapa masih ada yang &lt;i&gt;ngeyel&lt;/i&gt; saja mencantumkan Jember, Moyen-Chari, Chad di profil Facebooknya? Sekedar koreksi saja deh buat teman-teman Facebooker Jember. Pilih Indonesia atau Chad di Afrika? hehehe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit sekali informasi yang saya dapat tentang daerah bernama Jember ini. Hanya posisi letak geografisnya di peta satelit. Selebihnya hanya berupa info jika Jember, Moyen-Chari, Chad, adalah sebuah daerah perbukitan di distrik&amp;nbsp; Moyen-Chari dengan populasi penduduk yang rendah sekali. Lantas apa hubungan Jember Indonesia dengan Jember Afrika? Hohoho, bukan seorang blogger dong ah jika tak bisa menghubung-hubungkan apa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Jember, Moyen-Chari, Chad dikatakan memiliki kondisi geografis berupa perbukitan. Pun demikian halnya dengan Jember saya. Disini banyak sekali ditemui bukit-bukit kecil atau biasa di sebut gumuk. Bahkan saking banyaknya, kota kecil ini dijuluki dengan &lt;i&gt;"Kota Seribu Gumuk"&lt;/i&gt;. Sebuah maha karya Illahi yang begitu unik di negeri ini, karena hanya Jember dan Tasikmalaya saja yang memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut penelitian, bentang alam unik merupakan bekas lelehan lava dan lahar dari letusan gunung Raung beberapa ribu tahun silam.&amp;nbsp; Karena teori itulah gumuk-gumuk besar terlihat lebih banyak dijumpai di kecamatan yang relatif dekat dengan gunung Raung. Sedang wilayah jember yang lebih jauh dari Raung macam kecamatan tempat saya, memiliki gumuk-gumuk yang relatif lebih kecil. Salah satu diantara gumuk-gumuk itulah yang menjadi tempat dolan favorit saya dan pernah saya singgung dalam tulisan berjudul &lt;a href="http://www.essip.us/2012/07/sukmo-ilang-andai-saja-kau-mampu-aku.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;"Sukmo Ilang, Andai Saja Kau Mampu Kubeli"&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.essip.us/2012/07/sukmo-ilang-andai-saja-kau-mampu-aku.html" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-udukRzgtipc/UXHFb-GqCSI/AAAAAAAACOg/n-lXSkFDbPg/s400/langgarkecil.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Fungsi gumuk-gumuk itu tak hanya sebatas sebagai pemanis kontur Jember saja, tapi lebih dari itu. Sebagai tandon hujan sekaligus&amp;nbsp; filter air bersih yang saat kemarau sangat dibutuhkan. Sebagai paru-paru kota,&amp;nbsp; juga berfungsi sebagai lahan konservasi bagi sekawanan satwa kecil macam burung, kera dan mamalia kecil lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jember bisa dikatakan sebagai daerah lembah, karena terletak diantara dua perbukitan besar yaitu Argopuro dan Kumitir. Kondisi geografis inilah yang membuat Jember berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa angin puting beliung, yang beritanya beberapa waktu yang lalu bisa kita lihat di layar kaca. Disinilah fungsi dari gumuk-gumuk kecil itu, sebagai pemecah konsentrasi laju angin agar bisa sedikit terkurangi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sayang, seiring perkembangan jaman tameng angin alami itu satu persatu mulai dibeslah dari muka bumi. Ini soal urusan perut ! itu kata mereka. Lagi-lagi sisi ekonomi dijadikan dalih untuk membabi buta mengeksploitasi gumuk-gumuk itu. Ya..ya orang-orang pintar itu menjadikan gumuk sebagai makanan empuk agar pundi-pundi uangnya semakin gemuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nlTWar4bPjQ/UXHFB-0OQHI/AAAAAAAACOY/HMbi6b8pZhs/s1600/gumuk.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://2.bp.blogspot.com/-nlTWar4bPjQ/UXHFB-0OQHI/AAAAAAAACOY/HMbi6b8pZhs/s400/gumuk.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://siwildant.blogspot.com/2012/10/eksploitasi-gumuk-jember.html" target="_blank"&gt;Sumber gambar&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Dulur blogger, itulah sekilas cerita tentang sisi unik dari kota saya. Jember, Jawa Timur Indonesia, bukan Jember, Moyen-Chari, Chad di Afrika. Kota kecil yang tak hanya berisi cerita &lt;i&gt;ngunduh mantu&lt;/i&gt; Anang-Ashanty saja. Tak jua isinya Jember Fashion Carnaval yang gemanya telah mendunia. Namun adapula sisi sunyi penuh ironi berupa gumuk-gumuk tereksploitasi.&amp;nbsp;Jember hingga&amp;nbsp; detik ini tengah berjuang mempertahankan julukannya. Kota kecil itu saat ini hanya menunggu jawaban saja. Yah, sebuah jawaban tentang seribu gumuk yang tetap lestari, atau justru sebaliknya berangsur hilang lalu punah dari muka bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga saja kau masih mampu mempertahankan wajah manismu itu, hai kota kecilku? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/0tIObFljAmA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/6226040830253183642/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/8minggungeblog-2-bukan-jember-moyen.html#comment-form" title="34 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6226040830253183642?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6226040830253183642?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/0tIObFljAmA/8minggungeblog-2-bukan-jember-moyen.html" title="#8MingguNgeblog 2 : Bukan Jember, Moyen-Chari, Chad" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-CsZKlnSdbGE/UXDrWqKLIgI/AAAAAAAACOI/raTYivEUcI4/s72-c/Lambang_Jember.png" height="72" width="72" /><thr:total>34</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/8minggungeblog-2-bukan-jember-moyen.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0cGR3w4eCp7ImA9WhBVE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-4438272979705406339</id><published>2013-04-17T20:43:00.003+07:00</published><updated>2013-04-19T14:03:46.230+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-19T14:03:46.230+07:00</app:edited><title>Jika Saya Tua Nanti.....</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a class="blogg-button blogg-primary" href="http://www.blogger.com/home" role="button" title="Buka daftar blog Anda"&gt;&lt;img alt="Buka daftar blog Anda" class="blogg-button-image" src="data:image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABUAAAAVCAYAAACpF6WWAAAAAXNSR0IArs4c6QAAAAZiS0dEAP8A/wD/oL2nkwAAAAlwSFlzAAALEwAACxMBAJqcGAAAALNJREFUOMvd1FENwyAUhWEkIGESkFAJk4CESsAJEiYBCZOABCT8exhpWHeBldKXneT0qfkKlFwFqNl9P3KAG+CBRD0RcIBWQj5QwHSwfZ4SvKF5hUfADW6hnvHYGppOoKGGSrkLW3PCe+kIugpo7ZiWX9GRpCtQ/gdNQGg0jqBGNQLoCtxEPbA0ansrjVecqZsEhhLVeZSdvfhmP091/tIw+DWki79qgUfnOpVdy2Fdbn9qX+VXrFlwawHZAAAAAElFTkSuQmCC" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-_o1uNK1dEgA/UW6Bksyoa1I/AAAAAAAACN4/4xdDoRhaGs4/s1600/kartun+tua.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-_o1uNK1dEgA/UW6Bksyoa1I/AAAAAAAACN4/4xdDoRhaGs4/s200/kartun+tua.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: blue; float: left; font-family: Curlz MT; font-size: 55px; line-height: 40px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;M&lt;/span&gt;embaca tulisan &lt;a href="http://www.eviindrawanto.com/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;mbak Evi&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; yang berjudul &lt;a href="http://www.eviindrawanto.com/2013/02/menyiapkan-hobby-untuk-hari-tua/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Menyiapkan Hobby Untuk Hari Tua&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, seakan memberi pertanyaan pada kita semua.&amp;nbsp; Tentang hobby apa yang nanti kita lakoni saat menapak usia senja? Sebuah pertanyaan yang mungkin belum terpikirkan oleh kita semua. Sebab, bisa jadi selama ini kita menganggap jika tua itu menjadi urusan nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-masing dari kita tentu mendambakan sebuah kehidupan yang nyaman saat tua nanti. Tak kurang sandang, pangan atau papan. Anak-anak kita sudah terlihat mapan. Demikian pula dengan cucu-cucu kita, tawanya seakan memberi semacam hiburan saat kita tua nanti. Ah, sebuah gambaran indah yang tentunya saya atau pun anda mengingini nanti terjadi. Tapi, apakah hanya itu saja yang nanti kita lakoni? Hanya diam dan melihat kanan kiri kita semakin berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sedia payung sebelum hujan"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, mungkin itu sebuah ungkapan yang coba dititipkan mbak Evi lewat tulisannya. Tua adalah sebuah perkara yang tak sedetikpun bisa kita tunda. Tapi bukan berarti saat tua tiba hanya menanti saja yang bisa dilakukan. Yah, hanya mengantri dan menanti giliran nama kita dipanggil-panggil di &lt;a href="http://www.essip.us/2013/01/suara-corong-masjid-itu.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;corong masjid&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; dekat rumah kita. Padahal mungkin saja kita bisa membingkai hari tua itu dengan sesuatu yang lebih bermakna. Semacam hobby misalnya yang kita lakukan hingga timer kehidupan kita benar-benar dihentikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua hal yang selama ini yang coba saya siapkan sebagai &lt;i&gt;investasi dolanan&lt;/i&gt; saat saya tua nanti. Itupun jika Sang Pemilik Nyawa menghendaki saya finish di usia tua. Menjadi blogger dan seorang pencinta alam, itulah dua hal yang sekarang coba saya siapkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blogger, dunia yang satu ini sebenarnya masih belum lama saya geluti. Saat ini saya sedang berproses untuk mencintai dunia yang satu ini. Belum banyak pula kontribusi yang saya berikan bagi perikehidupan dunia maya. Kecuali terus berupaya menjaga irama grafik naik turunnya konsistensi saya dalam menulis. Tiada target muluk-muluk yang saya inginkan saat menjadi seorang blogger. Kecuali satu, saya ingin menjadi legenda sekaligus investor, itu saja. Yah, melegendakan diri sendiri lewat sebuah catatan. Semacam investasi nostalgia yang bisa saya putar kembali saat tua nanti. Tapi entahlah, saya tak pernah bisa menebak perkara yang membolak-balikkan hati. Sebab bisa saja saat ini saya berteriak lantang, tapi besok justru blogsphere&amp;nbsp; tak lagi dipedulikan. Doakan saya bisa istiqomah nulis hingga tua ya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pun demikian di kehidupan saya sebagai pencinta alam. Masih belum banyak pula kontribusi yang saya berikan. Saya pernah berpikir bagaimana menciptakan sebuah formula kegiatan pencinta alam yang bisa dilakukan selamanya. Saya tak mau kelak saya hanya menjadi seorang mantan pencinta alam. Tapi saya ingin label itu harus terus ada hingga akhir hayat saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, sekarang ada sebuah media berkegiatan yang mungkin bisa saya lakoni hingga tua nanti. &lt;a href="http://pelepah.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;PELEPAH&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, itulah kegiatan yang sekarang coba saya rintis bareng adik-adik pencinta alam saya. Berkarya lewat jalan memulung diantara tetumpukan sampah. Ya, hanya memulung itulah hobby yang sekarang coba saya cintai dan&amp;nbsp; gadang-gadang bisa dilakoni hingga tua nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, itulah dua kegiatan yang sekarang terus saya jaga konsistensinya. Menulis dan memulung itulah hobby yang&amp;nbsp; ingin saya lakoni hingga tua nanti. Bagaimana dengan anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Artikel ini untuk membuat huru-hara &lt;a href="http://www.eviindrawanto.com/2013/04/first-give-away-jurnal-evi-indrawanto/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;First Giveaway Jurnal Evi Indrawanto&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.eviindrawanto.com/2013/04/first-give-away-jurnal-evi-indrawanto/" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="180" src="http://3.bp.blogspot.com/-bQjuwVbwikU/UW6ljKfRmTI/AAAAAAAACOA/AsXsuWw3n-Q/s320/BANNER-EVIINDRAWANTO1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Note : Hoi dulur-dulur, yuk kita rame-rame meriahkan hajatan &lt;a href="http://www.eviindrawanto.com/2013/04/first-give-away-jurnal-evi-indrawanto/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;mbak Evi&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, Hanya mengeluarkan review atau opini di artikel-artikel mbak Evi loh, kita berpeluang mencicipi manisnya gula aren organik pilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk info lebih jelasnya silakan kunjungi &lt;a href="http://www.eviindrawanto.com/2013/04/first-give-away-jurnal-evi-indrawanto/"&gt;&lt;b&gt;Eviindrawanto.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/vAIQT28hblQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/4438272979705406339/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/jika-saya-tua-nanti.html#comment-form" title="42 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4438272979705406339?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4438272979705406339?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/vAIQT28hblQ/jika-saya-tua-nanti.html" title="Jika Saya Tua Nanti....." /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-_o1uNK1dEgA/UW6Bksyoa1I/AAAAAAAACN4/4xdDoRhaGs4/s72-c/kartun+tua.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>42</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/jika-saya-tua-nanti.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUANR3g7fSp7ImA9WhBWGUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-2690652767233502655</id><published>2013-04-15T04:00:00.000+07:00</published><updated>2013-04-15T04:09:56.605+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-15T04:09:56.605+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="8 Minggu Ngeblog" /><title>#8MingguNgeblog 1 : Gardu Kecil itu Rumah  Kedua Saya</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Tulisan ini diikutkan pada &lt;a href="http://angingmammiri.org/8-minggu-ngeblog-bersama-anging-mammiri/"&gt;8 Minggu Ngeblog&lt;/a&gt; bersama Angin Mammiri, minggu pertama.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; float: left; font-family: Curlz MT; font-size: 55px; line-height: 40px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;A&lt;/span&gt;ndai saja saya lahir di tahun 60-an, mungkin saya masih bisa mencicipi suasana kereta api hilir mudik di depan rumah. Ya, rumah saya didirikan berdampingan dengan lahan milik PJKA. Bahkan pekarangan rumah saya merupakan tanah sewa dari jawatan ular besi milik negara. Makanya tak heran jika posisi rumah saya nampak berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Posisinya terlihat miring menghadap arah barat daya, karena mungkin dulu dibangun menyesuaikan dengan tata letak rel kereta yang ada di depannya. Unik, sekaligus sebagai tanda jika rumah saya usianya jauh lebih tua dari rumah di sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WryiSkWUq_w/UWqocUQsWqI/AAAAAAAACNE/V03_-v7NHb8/s1600/Foto-0104.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-WryiSkWUq_w/UWqocUQsWqI/AAAAAAAACNE/V03_-v7NHb8/s320/Foto-0104.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Banyak diantara rumah-rumah yang berdiri di pinggir bekas rel itu difungsikan sebagai rumah kontrakan saja. Mungkin&amp;nbsp; saja para pemiliknya&amp;nbsp; berpikir secara ekonomis dengan tak membangun rumah mereka secara megah. Sebagai antisipasi tentunya agar mereka tak terlalu merugi manakala&amp;nbsp; pihak PJKA kelak meminta kembali lahannya. Kondisi inilah yang juga membuat unik&amp;nbsp; kampung saya. Sebab bisa dipastikan hampir setiap tahunnya kampung saya kedatangan warga baru. Bahkan saat mengambil gambar sekitar rumah sore tadi, saya baru sadar jika tetangga pas samping kanan adalah seorang bidan. Padahal bisa dikatakan tetangga tersebut sudah menghuni rumah itu seminggu yang lalu. Entahlah, kok bisa tetangga itu tak terdeteksi radar saya?. Apa jadinya ya andai teroris yang menjadi tetangga saya saudara-saudara? hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0McVO8QRGtU/UWq66IL5ZtI/AAAAAAAACNU/fVLoIODCv5c/s1600/Foto-0101.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-0McVO8QRGtU/UWq66IL5ZtI/AAAAAAAACNU/fVLoIODCv5c/s320/Foto-0101.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Satu hal lagi yang membuat unik adalah jalan paving yang membelah kampung saya. Ya, baru saja jalan kecil itu dihiasi dengan paving baru. Melanjutkan proyek beberapa tahun sebelumnya yang hanya melakukan pemavingan&amp;nbsp; kurang dari separuh panjang jalan yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bilang unik, bahkan lucu mengenai proyek paving jalan satu ini. Betapa tidak, proyek paving yang pertama dikerjakan mulai dari ujung jalan selatan dan berhenti beberapa meter sebelum depan rumah saya. Di proyek kemarin, giliran ujung jalan sebelah utara yang menjadi titik awal pengerjaannya. Jika dipikir proyek tersebut harusnya sudah rampung, dengan hasil pavingan yang tersambung dengan proyek sebelumnya. Justru sesuatu yang aneh terjadi. Lagi-lagi pemavingan berhenti kira-kira beberapa meter sebelum depan rumah.Unik kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa saya curiga? Jelas saya curiga. Sebagai warga saya juga merasa iri melihat kondisi yang terjadi. Tapi sudahlah,&amp;nbsp; wong cilik tentunya hanya bisa menjadi penonton saja di negeri para pesulap ini. Nikmati saja segala pertunjukan simsalabim yang ada. Yah, setidaknya jalan tak berpaving itu bisa menjadi penanda jika nanti dulur-dulur dari &lt;a href="http://angingmammiri.org/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Makassar&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; bingung mencari rumah saya hehe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-T44dy3gRiNk/UWrbUcSJXiI/AAAAAAAACNg/Si7wo6gI9yQ/s1600/Foto-0099.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-T44dy3gRiNk/UWrbUcSJXiI/AAAAAAAACNg/Si7wo6gI9yQ/s320/Foto-0099.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Putus? atau sengaja diputus?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
Satu&amp;nbsp; lagi yang menjadi penanda rumah saya adalah sebuah bangunan kecil mirip poskamling. Letaknya di depan rumah saya dan dulu menjadi semacam tempat &lt;i&gt;jagongan&lt;/i&gt; para warga. Awalnya bentuk bangunan ini sederhana. Hanya berupa balai bambu tanpa bilik sekat dengan atap genteng seadanya. Karena lama tak difungsikan dan terawat dengan baik, akhirnya saya dan teman-teman merenovasi bangunan itu. Memperluas ukurannya, memberi bilik sekat dari bambu dan melantainya dengan semen. Sekret arek P.A ! begitulah orang-orang sekitar biasa menyebutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-zcZTtAMq0eA/UWrnxEOmFZI/AAAAAAAACNw/hlFp720LBig/s1600/Foto-0102.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-zcZTtAMq0eA/UWrnxEOmFZI/AAAAAAAACNw/hlFp720LBig/s320/Foto-0102.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di tempat itulah saya dan adik-adik saya belajar tentang sebuah dunia bernama pencinta alam. Bekas gardu warga itu sekarang menjadi naungan kami untuk berkarya. Begitu sederhana, tapi bagi kami sarat akan makna. Bangunan kecil itu sudah menjadi semacam rumah kedua dari masing-masing kami. Tempat kami saling berbagi suka, duka dan sekaligus berkarya melalui sebuah media bernama &lt;a href="http://pelepah.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;sampah&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak yang bilang sekretariat kami begitu nyaman digunakan sebagai tempat untuk melepas lelah karena pekerjaan. Bahkan banyak diantara mereka yang sengaja datang ke tempat ini untuk sekedar menumpang tidur saat jam istirahat kerja tiba. Mereka bilang suasana sejuknya begitu ampuh untuk membujuk mata segera terpejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat sore hari biasanya kami&amp;nbsp;&amp;nbsp;sering&amp;nbsp; nongkrong bareng di sekretariat tercinta. Secangkir kopi untuk bersama, sambil menanti pemandangan yang selalu dinanti saat malam menjelang tiba. Bukan..bukan sunset menawan yang kita nantikan, tapi cuma kelelawar yang kita tunggu untuk keluar. Yah, ribuan kelelawar yang nampak keluar dari sebuah gedung tinggi, itulah yang menjadi kesukaan kami saat sore hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gedung tinggi itu dimiliki oleh seorang pengusaha sarang burung walet. Terlihat jauh lebih tinggi dari gedung-gedung di sekitarnya dan pernah menjadi kontroversi di kampung saya. Sebuah rumor yang beritanya sampai&amp;nbsp; pula muncul di headlines Metro TV. Berita tentang sebuah wabah penyakit yang dicurigai datang dari virus walet. Sempat sedikit memanas dan hampir saja warga mencoba menutup paksa gedung kala itu. Hingga muncul pernyataan dari pihak dinas kesehatan, jika penyakit yang menyerang warga itu ditimbulkan oleh virus &lt;span class="st"&gt;&lt;i&gt;Chikungunya.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ONaTZ6n7XxU/UWrnt_Ntq4I/AAAAAAAACNo/BwUUF_Y0qlQ/s1600/Foto-0105.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-ONaTZ6n7XxU/UWrnt_Ntq4I/AAAAAAAACNo/BwUUF_Y0qlQ/s320/Foto-0105.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, itulah sedikit cerita tentang sekitar rumah saya. Bagaimana dengan sekitar rumah anda?&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/TRg9NVTYJKU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/2690652767233502655/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/gardu-kecil-itu-rumah-kedua-saya.html#comment-form" title="40 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/2690652767233502655?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/2690652767233502655?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/TRg9NVTYJKU/gardu-kecil-itu-rumah-kedua-saya.html" title="#8MingguNgeblog 1 : Gardu Kecil itu Rumah  Kedua Saya" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-WryiSkWUq_w/UWqocUQsWqI/AAAAAAAACNE/V03_-v7NHb8/s72-c/Foto-0104.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>40</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/gardu-kecil-itu-rumah-kedua-saya.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0EHQX88eCp7ImA9WhBWFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-3323813969876060766</id><published>2013-04-08T23:20:00.001+07:00</published><updated>2013-04-10T04:07:10.170+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-10T04:07:10.170+07:00</app:edited><title>Roda itu Masih Berputar</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-eWHEInsjCV8/UWKyik6DCaI/AAAAAAAACLQ/U9fyAF3C0UA/s1600/Roda.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-eWHEInsjCV8/UWKyik6DCaI/AAAAAAAACLQ/U9fyAF3C0UA/s1600/Roda.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: brown; float: left; font-family: WildWest; font-size: 50px; line-height: 40px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;U&lt;/span&gt;ntuk kamu yang baru saja menghapus bulir bening itu. Masihkah kau ingat tentang cerita kita beberapa waktu yang lalu? Saat kita sama-sama susuri jalanan kota kecil itu. Kau dan aku di motor yang sama, menuju suatu tempat yang telah kita sepakati. Nikmati malam minggu itu layaknya remaja saja. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Tentunya kau masih ingat kan tentang secuil cerita perjalanan kita? Tentang tragedi&amp;nbsp; di pertigaan lampu merah itu. Saat tiba-tiba saja seorang pria berseragam menghentikan laju motor kita. Mengggiring kita berdua menuju sebuah pos jaga. Mendakwa dengan membacakan sederet pasal yang sama sekali tak aku dengarkan. Tilang ! itulah vonis mereka buatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu ada semacam ketakutan yang kulihat dari bola matamu. Mungkin saja kamu khawatir aku akan melakukan aksi nekat saja di pos jaga itu. Saat aku mencecar vonis mereka dengan bermacam protes yang kulontarkan. Bukan, bukan maksudku untuk menentang para pria berseragam itu. Bukan pula aku tak mau patuh pada aturan main yang berlaku. Aku hanya ingin menuntut sedikit keadilan pada diri kita. Ya, sedikit keadilan saja. Kenapa mereka terlihat diam saat kutunjukkan lalu lalang motor-motor lain yang tak disertai pengaman? Entahlah, kurasa mungkin malam itu memang menjadi hari naasku. Sebab, sengotot apapun protesku hasilnya akan sama juga. Yah, mesti mengisi kantong mereka dengan uang kas agar kita berdua bisa lepas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika bercerita tentang kisah kita sepertinya tak ubahnya seperti tragedi lampu merah itu. Kita pernah sama-sama mencoba memautkan rasa dalam satu bahtera cinta. Sama-sama memiliki keinginan dan tujuan sama agar semua itu tak hanya sebatas angan. Sayang, ada sesuatu yang selanjutnya menghadang langkah kita layaknya pria berseragam itu. Semacam tembok kokoh yang menjadi pembatas cinta kita. Meski kita pernah sama-sama mencoba robohkan tembok kokoh itu. Hasilnya masih sama saja. Tembok itu masih kokoh berdiri, bahkan semakin menjulang dan menghalangi jari jemari kita untuk saling bergandengan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah pula aku mencoba melakukan semacam protes. Mempertanyakan tentang keadilan yang harus kita terima. Namun akhirnya kusadar jika semua itu hanya sia-sia saja. Ah, andai saja melakukan kompromi pada kondisi semudah bernegoisasi dengan polisi. Andai saja&amp;nbsp; tembok kokoh itu bisa dibeli dengan selembar I Gusti Ngurah Rai, mungkin sekarang kita sudah gapai tujuan yang dulu sama-sama diidamkan .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sudahlah, kurasa ini yang disebut takdir, tapi itu bukan berarti perjalanan kita juga turut berakhir. Selama masih ada bahan bakar bernama usia, tentu saja roda itu akan terus berputar. Laju kehidupan kita akan terus bergulir, hingga nanti masa kita berakhir. Denganmu atau tanpamu roda itu pasti akan terus berjalan. Pun demikian tanpaku, kurasa kau pun akan mampu menjalani hari-harimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa hanya butuh rasa ikhlas saja menerima kenyataan yang ada. Selebihnya kita hanya perlu membiasakan&amp;nbsp; sesuatu yang baru muncul dalam hidup kita selanjutnya. Yah, membiasakan diri untuk tak lagi mengangankan semua impian kita, itu saja. Selebihnya kita harus&amp;nbsp; terus membuka hati untuk siapa saja. Sudi pula mempersilakan jika saja ada diantara mereka yang ingin mencoba menjadi nakhoda atau membonceng di bahtera cinta kita. Sebab, bisa jadi salah satu diantaranya&amp;nbsp; kelak akan menjadi teman sejati perjalanan kita. Semoga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/CuWB4xZBFDQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/3323813969876060766/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/roda-itu-masih-berputar.html#comment-form" title="35 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/3323813969876060766?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/3323813969876060766?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/CuWB4xZBFDQ/roda-itu-masih-berputar.html" title="Roda itu Masih Berputar" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-eWHEInsjCV8/UWKyik6DCaI/AAAAAAAACLQ/U9fyAF3C0UA/s72-c/Roda.png" height="72" width="72" /><thr:total>35</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/roda-itu-masih-berputar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUHRHs6fCp7ImA9WhBWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-8550701799801481745</id><published>2013-04-05T17:02:00.001+07:00</published><updated>2013-04-05T17:03:55.514+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-04-05T17:03:55.514+07:00</app:edited><title>Jadilah Ikan yang Pintar</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-WIrXJczX0z0/UVp1qd6DniI/AAAAAAAACLI/ucyDoIhroHU/s1600/Ikan+pintar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-WIrXJczX0z0/UVp1qd6DniI/AAAAAAAACLI/ucyDoIhroHU/s200/Ikan+pintar.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue; float: left; font-family: Comic Sans MS; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;H&lt;/span&gt;ingga hari ini memancing masih menjadi salah satu hiburan favorit saya. Ketika penat mulai melanda saat itulah biasanya&amp;nbsp; kesenangan yang satu ini saya lakukan. Maklum, saya bukanlah orang kantoran. Tentunya sulit sekali jika ingin menikmati week end layaknya mereka.&amp;nbsp; Melancong ke aneka tempat wisata. Plesiran ke luar kota yang tentunya membutuhkan banyak dana. Dan, memancing inilah solusi yang ramah buat isi kantong saya. Murah, meriah dan yang paling penting adalah sama-sama memberikan sensasi yang wah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makin hari memancing sepertinya sudah menjadi hiburan yang tak murah lagi. Betapa tidak, dulu seingat saya memancing itu adalah perkara yang gampang dilakukan. Tinggal lari ke kali sebelah, atau menuju saluran irigasi tengah sawah, beberapa jam saja kita bisa pulang melangkah gagah. Itulah sensasi dari memancing. Pulang bak pahlawan dari medan laga. Tersenyum bangga dengan harta rampasan berupa ikan-ikan hasil tangkapan. Sayang, semua itu sekarang hanya menjadi nostalgia masa kecil saja. Sungai-sungai itu tak lagi berisi ikan yang melimpah ruah. Yang ada hanya genangan comberan saja, tempat lalu lalang karnaval sampah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada alternatif lain untuk mengail ikan, tapi yang ini butuh dana tambahan. Menuju kolam pemancingan, mencari peruntungan dengan ikan-ikan yang telah disediakan. Namun jangan salah, kolam pemancingan bukanlah jaminan jika ikan-ikan itu mudah kita dapatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan sekarang itu jauh lebih pintar. Tak lagi mudah terbujuk aneka macam umpan yang disuguhkan. Lumut, cacing, tempe, jelas itu makanan ndeso bagi mereka. Sebab, makanan modern macam roti dan biskuit saja mereka indahkan. Membuat saya curiga jangan-jangan para ikan sekarang&amp;nbsp; sudah membentuk paguyuban. Ya..ya semacam konsiprasi berjemaah untuk emoh mencaplok umpan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat musim mencari ikan tiba saat itulah banyak muncul para pemancing di masyarakat kita. Para pemancing kepentingan yang menyuguhkan aneka umpan yang menggiurkan. Tujuannya hanya satu, agar si ikan mau mencaplok umpannya untuk memuluskan keinginan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakalanya mereka menggunakan umpan sederhana macam mengail ikan dengan cacing. Bingkisan sembako, amplop berisi angpao, atau mengisi kas perkumpulan pengajian kampung, itulah umpan para pemancing kelas teri. Saat ajang pilkades tiba biasanya pemancing yang satu ini kita temui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa umpan para pemancing kelas kakap? Hmm, kalau yang satu ini lain lagi. Umpan mereka tak lagi berupa materi siap saji, tapi kadang bisa membuat para ikan terlena hati. Umpan itu biasanya mereka tebarkan melalui janji-janji bombastis untuk membawa perubahan yang lebih manis. Saat musim pilkada, caleg atau kepala negara, saat itulah para pemancing nampak begitu mesra dengan para ikannya. Bahkan ada pula diantaranya yang nampak menikmati secangkir kopi bareng rakyat di warung pasar yang dia kunjungi. Apakah setelah musim mencari ikan mereka tetap mau melakukan itu? Halaagh, seribu satu jika ada yang mau seperti itu !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, semoga saja masyarakat akar rumput macam kita semakin pintar saat musim&amp;nbsp; ikan tiba. Menjadi ikan yang tak sekedar &lt;i&gt;"hleb"&lt;/i&gt; saja mencaplok umpan yang ada. Sebab, saat musim ikan itulah sebenarnya kita adalah raja. Seorang raja yang berhak menentukan mahal tidaknya suara kita. Jangan sampai kita menjadi ikan murahan. Yah, menjadi seorang pendukung yang begitu fanatik, gara-gara terbuai bujuk rayu pemancing yang terlihat begitu simpatik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hidup umpan, eh ikan !&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/jLKbDPjCjQM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/8550701799801481745/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/04/jadilah-ikan-yang-pintar.html#comment-form" title="36 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8550701799801481745?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8550701799801481745?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/jLKbDPjCjQM/jadilah-ikan-yang-pintar.html" title="Jadilah Ikan yang Pintar" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-WIrXJczX0z0/UVp1qd6DniI/AAAAAAAACLI/ucyDoIhroHU/s72-c/Ikan+pintar.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>36</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/04/jadilah-ikan-yang-pintar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcBRnw-eip7ImA9WhBXEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-6932506815698351281</id><published>2013-03-24T22:35:00.000+07:00</published><updated>2013-03-25T11:34:17.252+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-25T11:34:17.252+07:00</app:edited><title>Di Titik Angka Tiga-tiga</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-k_PQK1ctVxU/UU7bNYxvLFI/AAAAAAAACKY/a0OKKDJqG00/s1600/33_mineros_6.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-k_PQK1ctVxU/UU7bNYxvLFI/AAAAAAAACKY/a0OKKDJqG00/s320/33_mineros_6.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;b&gt;"Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga"&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
Pernahkan anda mendengar kalimat di atas? Sebuah ungkapan yang sering kali diperbincangkan muda mudi kita. Tiga konsep hidup manusia yang begitu ideal menurut saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="stevevai" id="vanhalen"&gt;
Dunyo kathut, surgo iso nunut&lt;br /&gt;
&lt;div class="rumpun"&gt;
Dunia dipegang, surga bisa numpang&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu menggiurkan bukan? Sangat manusiawi tentunya jika saya atau anda pun mengingini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muda, tua dan mati,&amp;nbsp; itulah tiga hal yang harus saya perhatikan dalam hidup ini. TIGA, bisa jadi akan menjadi TItik GAwat jika menyiakan modal yang ada. Atau sebaliknya menjadi TItik GAyeng alias menggembirakan jika modal itu sebaik-baiknya dimanfaatkan. Modal itu adalah modal paling berharga yang dipunya setiap manusia. Modal itu bernama usia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang bilang jika rata-rata usia hidup manusia jaman sekarang tak jauh dengan usia Rasul. Di kisaran enam puluhan. Kalau pun ada yang lebih, mungkin itu semacam bonus dari langit. Jika berpatokan dengan usia hidup Rasul, itu artinya separuh jatah pulsa hidup di dunia sudah saya lewati. Kini saya sedang berada di titik angka yang begitu istimewa, &lt;b&gt;angka tiga-tiga&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di titik angka tiga-tiga itu berarti saya sedang ada di medium kehidupan saya di dunia. Jika saja si Pemilik Jiwa menghendaki usia saya sepanjang usia Rasul-Nya, itu berarti masih ada jatah beberapa tahun lagi yang harus saya tuntaskan. Jika disiakan itu berarti saya harus bersiap berada di TItik GAwat. Sebuah titik dimana saya harus berhadapan dengan aneka gugatan pidana dari hakim akhirat. Sebaliknya, jika mampu memanfaatkan kredit tambahan usia dari Tuhan, mungkin kelak saya bisa di posisi Titik GAyeng itu. Gayeng karena bisa sedul-sedul kretek di istana langit sana dengan begitu anteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas apa yang harus dilakukan agar bisa berada di zona aman yang di damba manusia itu? Mungkin dengan terus berusaha menjadi seseorang dengan kondisi tiga hal seperti kalimat di atas. &lt;b&gt;"Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga&lt;/b&gt;".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Muda foya-foya&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Salah satu hal yang saya syukuri dalam hidup ini adalah saat terlahir menjadi orang yang tak terlalu bergelimang materi. Sebab, andai saja saya terlahir dari keluarga yang bergelimang harta, itu akan membuat saya menjadi pribadi lupa diri yang suka berfoya-foya dalam urusan duniawi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup sederhana secara tak langsung mengajarkan pada diri saya untuk lebih prihatin dan peduli kondisi kanan kiri. Yah, menjadi seorang muda yang berfoya-foya untuk terus berkarya. Itu yang saya ingini hingga kreditan usia saya lunas nanti. Berfoya dengan menghambur-hamburkan segenap potensi yang saya punyai untuk terus berbagi. Semampunya saya ingin terus berkarya hingga usia senja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syukurlah saya berkenalan dengan dua hal yang mendukung niatan saya tadi. Pencinta alam dan menjadi Blogger, itulah media saya untuk berfoya-foya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Tua kaya raya&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Menikmati masa tua dengan hidup bercukupan, tentu menjadi dambaan setia insan. Apalagi bisa melihat anak cucu kita bisa hidup mapan. Ah, semuanya tentu pula menginginkan. Pun demikian halnya dengan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi seorang tua yang kaya raya, bukan berarti harus bergelimang harta. Kaya menurut saya adalah sebuah kondisi dimana kita merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita punyai. Merasa cukup pangan, papan, sandang, tabungan, keturunan atau internetan. Itulah versi kaya menurut saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bekerja, itulah yang harus dilakoni jika ingin menjadi tua kaya raya nanti. Tentu saja bekerja dengan senantiasa mengharap ridhonya. Selalu menjaga agar jalan dalam mencari rejeki itu tidak melenceng ke jalur kiri. Jangan sampai harta itu malah menjadi semacam penyakit saat tua nanti, gara-gara saya mengabaikan keberkahan saat mencari rejeki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kaya raya menurut versi saya, dan saat ini saya sedang berproses meraihnya. Yah, gak harus memiliki deposito yang bernilai jutaan, tapi setidaknya saya tak bingung jika Marpuah nanti meminta mahar sapi sejodoh beserta kandangnya hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Mati masuk surga&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Mati, sebuah perkara yang tak&amp;nbsp; bisa dihindari barang sedetikpun. Sebuah teka-teki yang tiada pernah kita duga datangnya. Demikan halnya dengan saya, tak pernah tahu di angka berapa kredit hidup saya terlunasi. Yang saya tahu banyak hal di perjalanan menuju angka tiga-tiga yang telah saya siakan. Tentang interaksi saya dengan Sang Pencipta. Tentang berapa rakaat saya yang terlewat. Juga tentang berapa nafsu dunia yang membuat saya lena.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang saya tahu sekarang saya juga tengah berproses mengejar ketertinggalan yang ada. Menjaga agar kaki saya tak kembali terperosok ke lobang kesalahan yang sama. Menjadikan hitam masa lalu sebagai pelajaran untuk menatap masa depan yang lebih terang benderang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saja jutaan umat mendamba janji Tuhan bernama surga. Impian saya sederhana saja. Tak terlalu mengharap surga itu. Tapi, mencoba memanfaatkan perpanjangan usia yang Tuhan berikan dengan melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan. Yah, kebaikan yang mungkin bisa menyelamatkan saya untuk tak berlama-lama di neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, mungkin itu tiga keinginan dan impian saya di titik angka tiga-tiga. Berkarya, bekerja tanpa lupa mengagungkan Asma-Nya hingga tutup usia. Bagaimana dengan anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.fitrian.net/"&gt;MAMA CAL-VIN&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://princessdija.blogspot.com/"&gt;LITTLE DIJA&lt;/a&gt;, &lt;b&gt;DAN&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.acacicu.com/"&gt;ACACICU&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-R03npK6Zuhc/UU8c16x1GMI/AAAAAAAACKg/46hjMy0B2Y0/s1600/logo+nature.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="http://3.bp.blogspot.com/-R03npK6Zuhc/UU8c16x1GMI/AAAAAAAACKg/46hjMy0B2Y0/s200/logo+nature.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;style type="text/css"&gt;
.stevevai{margin:0 auto;text-align:left;font-size:normal;color:blue;overflow:hidden}.rumpun{background:#fff; color:brown;font-size: 1em; font-family:'arial';font-size:1em;}#vanhalen{position:relative;}#vanhalen img{-webkit-transition: opacity;-webkit-transition-timing-function: ease-out;-webkit-transition-duration: 500ms;}#vanhalen .rumpun{position:absolute;top:0;left:0;opacity: 0;-webkit-transition: opacity;-webkit-transition-timing-function: ease-out;-webkit-transition-duration: 500ms;}#vanhalen .rumpun:hover{autowidth:0px; autoheight:0px;margin:0 auto;width:900px;height:200px;opacity: 4.9;-webkit-transition: opacity;-webkit-transition-timing-function: ease-out;-webkit-transition-duration: 500ms;}
&lt;/style&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/1NbHP4PmTSg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/6932506815698351281/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/03/di-titik-angka-tiga-tiga.html#comment-form" title="44 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6932506815698351281?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6932506815698351281?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/1NbHP4PmTSg/di-titik-angka-tiga-tiga.html" title="Di Titik Angka Tiga-tiga" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-k_PQK1ctVxU/UU7bNYxvLFI/AAAAAAAACKY/a0OKKDJqG00/s72-c/33_mineros_6.png" height="72" width="72" /><thr:total>44</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/03/di-titik-angka-tiga-tiga.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEYBQX4_eip7ImA9WhBQGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-1002209722328285576</id><published>2013-03-21T15:54:00.000+07:00</published><updated>2013-03-21T18:42:30.042+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-21T18:42:30.042+07:00</app:edited><title>The Old and The New Photos : Hanya Nemu Satu</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;T&lt;/span&gt;umbuh besar di jaman serba teknologi&amp;nbsp; itu merupakan anugerah. Betapa tidak, teknologi tak hanya mempermudah segala pekerjaan yang dilakukan manusia. Tapi,&amp;nbsp; bisa pula kita manfaatkan untuk membuat semacam investasi nostalgia. Yah, berupa kenangan macam tulisan, foto atau video yang tentunya sangat berharga saat diputar kembali di usia senja nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tidak demikian halnya dengan saya. Masa kecil saya tentunya tak dihiasi gemerlap teknologi seperti sekarang ini. Saya besar pada sebuah keadaan yang begitu rumit&amp;nbsp; dijelaskan dalam bentuk tulisan. Otak saya tak akan mampu memutar ulang memori masa kecil itu. Pun demikian dengan kenangan yang mungkin bisa dinikmati secara visual. Nyaris tak ada yang bisa diselamatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada foto yang menceritakan kenangan antara saya dan mamak. Apalagi foto bareng bapak, ah mungkin itu akan menjadi sesuatu yang langka dan sangat berharga apabila sekarang saya bisa menemukannya. Yang saya ingat dulu Ibu sangat marah, ketika ada yang mengatakan saya hanya anak pungut orang&amp;nbsp; rumah, itu saja. Selebihnya saya tumbuh menjadi anak kecil yang tak bisa mengenali saudara-saudaranya. Menjadi remaja yang mencoba mencari asal usulnya, lalu menyadari jika keputusan Illahi itulah jalan terbaik buat masa depan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semalam saya mencoba mencari kembali investasi nostalgia itu. Hasilnya masih tetap sama, tiada yang bisa saya ketemukan. Kalau pun ada mungkin hanya &lt;a href="http://www.essip.us/2012/03/blog-post.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;sebatas foto buram&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; dan foto-foto kenangan yang nyaris tak bergambar. Syukurlah, saya masih bisa menemukan sebuah foto masa kecil dari ijasah TK dulu.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://akulozz.blogspot.com/"&gt;&lt;img  onmouseout="this.src='https://lh6.googleusercontent.com/-f_jrzrBJGbc/UUpwaoWJ6wI/AAAAAAAACJw/KEvM2VyxYmU/w220-h315-p-o-k/Lozzkecil.jpg' " onmouseover="this.src='https://lh5.googleusercontent.com/-JGggKJEisxA/UUpwaSxJ9hI/AAAAAAAACJo/SghmOmliXUw/s390/Lozzbesar.jpg'" src="https://lh6.googleusercontent.com/-f_jrzrBJGbc/UUpwaoWJ6wI/AAAAAAAACJw/KEvM2VyxYmU/w220-h315-p-o-k/Lozzkecil.jpg" width="200" height="250"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nah terus foto barunya mana? Coba arahkan cursor mouse ke foto itu deh. Lihat metamorfosis lelaki kecil itu hingga sekarang. Piye? emang tak seberapa tampan kan? hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda Yati. Hmmm, bicara tentang blogger yang satu ini sepertinya saya terlebih dulu mengenal beliau dari sebuah lirik lagu. Lagu itu berjudul &lt;i&gt;"Untuk Bunda"&lt;/i&gt;, yang masuk dalam album Tamasya &lt;a href="http://www.essip.us/2011/04/album-save-tree-3.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Save the Tree #3&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; Penciptanya Masbro Acacicu, isinya menceritakan tentang seorang perempuan yang masih eksis berkarya meski menapak usia senja. Mungkin karena sudah terbiasa menyanyikan lagu itu membuat saya penasaran dengan sosok perempuan yang disebut-sebut di dalamnya. Nah, lewat jejaring sosial FB akhirnya saya berteman dengan Bunda Yati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemanan kami semakin akrab. Saya pun pernah menjadi guru private Bunda Yati yang ketika itu kerajingan memulung recehan dari dunia maya.&amp;nbsp; Nah, saat saya mulai berkancah di dunia blogging, Bunda Yati pun coba saya iming-imingi untuk melakukannya. Saat itulah saya tahu jika Bunda Yati adalah sosok yang harusnya bisa dijadikan motivasi buat kaum muda. Jika menuntut ilmu itu tak mengenal batasan waktu. Saya pun pernah memberikan ruang tersendiri untuk beliau di blog ini. Dengan&amp;nbsp; artikel berjudul &lt;a href="http://www.essip.us/2011/07/semangat-lozz.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Semangat.. Lozz !&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; , sebagai apresiasi karena beliau secara tak langsung memberi semangat saat gairah berkarya saya dilanda lemah syahwat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MISCELLANEOUS,&amp;nbsp;&lt;/b&gt; blog ini usianya lebih tua dari ESSIP. Seingat saya dulu blog tersebut hanya berisi artikel formula cara mencari rejeki di dunia maya, lengkap dengan banner kelap kelipnya. Alhamdulillah, Miscellaneous sekarang bukan lagi blog lapak, tapi menjadi rumah mungil Bunda Yati dengan aneka tulisan yang gurih dan enak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang kritik dan saran untuk Miscellaneous. Yang pertama mungkin soal nama. Menurut saya nama URLnya terlalu panjang dan kurang mudah diingat. Tanda hubung dalam nama tersebut juga terasa kurang aduhai dipandang mata. Bundayati.blogspot.com dan Yatirachmat.blogspot.com kayaknya masih ada deh Bun. Kenapa tak memakai salah satu nama itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk tulisan, saya rasa essip markosip kok tulisannya. Bunda Yati juga sudah berkali-kali berkarya melalui beberapa buku antologi. Sebuah prestasi yang hebat, karena tak semua blogger bisa melakukannya, termasuk saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kritik, Saya sering melihat Bunda sering mumet perkara tampilan blognya. Udah deh, Bunda Yati fokus aja membuat tulisan-tulisan yang ciamik. Perkara perkara pernak-pernik tampilan blog biar saya nanti yang rapikan. Tapi eits jangan minta yang aneh-aneh ya, soalnya saya bukan ahli script HTML, tapi cuma tukang pasang template blog saja hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunda Yati sering kali curhat dan mengeluh soal artikelnya yang kalah dalam sebuah kompetisi. Hmm, maaf ya Bun, jika anak onlinemu ini kurang setuju. Menurut saya keberanian kita dalam berlaga dalam sebuah lomba itu sudah menunjukkan jika kita bermental juara. Dan setiap tulisan yang dibuat, itulah artikel juara. Menang kalah hanya soal keberuntungan saja. Yah, beruntung karena ada manusia bernama juri yang kepincut dengan tulisan kita. Menang tak boleh terlalu membusung dada, sebab bisa saja juri salah dalam membuat keputusannya. Kalah juga tak harus terlalu kecewa, sebab bagaimana kita harus kecewa jika tanpa piala saja kita sudah menjadi juara? Terus saja menulis Bunda, teruslah menjadi inspirasi dan motivasi bagi yang muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat ultah buat Miscellaneous. Seger waras selalu buat Bunda Yati Rachmat. Semoga kelak anak-anak onlinemu di Jember bisa dolan ke sana tuk melantunkan &lt;i&gt;"Untuk Bunda"&lt;/i&gt; langsung di hadapan anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
We lophe yu pull Bundaaaa..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Foto dan tulisan untuk memeriahkan pada &lt;a href="http://goodcrab-personal.blogspot.com/2013/03/giveaway-pertamaku-untuk-ultah-blog.html" target="_blank"&gt;GiveAway - Pertamaku untuk Ultah Blog MISCELLANEOUS&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lx7Wru35pPE/UUrJriifkDI/AAAAAAAACKA/O1gA9fHXXNk/s1600/Bunda+Yati.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="155" src="http://3.bp.blogspot.com/-lx7Wru35pPE/UUrJriifkDI/AAAAAAAACKA/O1gA9fHXXNk/s200/Bunda+Yati.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/GFfqI8U-mrU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/1002209722328285576/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/03/the-old-and-new-photos-hanya-nemu-satu.html#comment-form" title="53 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/1002209722328285576?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/1002209722328285576?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/GFfqI8U-mrU/the-old-and-new-photos-hanya-nemu-satu.html" title="The Old and The New Photos : Hanya Nemu Satu" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-lx7Wru35pPE/UUrJriifkDI/AAAAAAAACKA/O1gA9fHXXNk/s72-c/Bunda+Yati.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>53</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/03/the-old-and-new-photos-hanya-nemu-satu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0IBQX47fip7ImA9WhBQFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-4870781497594256425</id><published>2013-03-19T00:59:00.000+07:00</published><updated>2013-03-19T00:59:10.006+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-19T00:59:10.006+07:00</app:edited><title>Menculik Akin</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3Wq9ze5EGFM/UUcCgFPmKiI/AAAAAAAACH4/xLjLNciekAM/s1600/301618_425314577562964_527519613_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-3Wq9ze5EGFM/UUcCgFPmKiI/AAAAAAAACH4/xLjLNciekAM/s320/301618_425314577562964_527519613_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;S&lt;/span&gt;abtu sore ada pesan singkat dari &lt;a href="http://apikecil.wordpress.com/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Api Kecil&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; yang mengabarkan&lt;b&gt; &lt;/b&gt;bahwa &lt;a href="http://try2bcoolnsmart.wordpress.com/2013/03/18/tour-de-jatim/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Kakaakin&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;, seorang blogger asal Borneo sedang dalam perjalanan menuju Jember. Segera saya tidak lanjuti berita mendadak itu. Saya kontak Kakaakin untuk mengetahui posisi terakhir dia. Di ujung telpon sana dikabarkan jika dia sekarang sudah berada di daerah Probolinggo. Yang artinya sekitar tiga jam lagi dia sudah sampai di&amp;nbsp; kota saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sempat bingung sebab kebetulan saat itu mendapat giliran piket malam hari. Yang berarti kemungkinan saya tak bisa menemani Akin saat tiba nanti. Syukurlah tuan majikan mau memberi free pass, dengan jaminan salah satu adik pencinta alam saya sebagai sandera. Menggantikan tugas saya malam itu sebagai satpam dunia maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas maghrib segera saya meluncur ke kota Jember. Saya perkirakan Kakaakin saat itu sudah tiba di terminal Jember &lt;i&gt;( Tawang Alun ). &lt;/i&gt;Ternyata tepat dugaan saya, di layar ponsel saya membaca sebuah pesan singkat yang berisi &lt;i&gt;"Selamat datang di kota Jember"&lt;/i&gt;, ya..ya perawat cantik itu telah tiba di kota kecil saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menemukan keberadaan Kakaakin bukanlah perkara yang sulit bagi saya. Sebab, sesampai di terminal saya langsung bisa kenali sosoknya.&amp;nbsp; Kakaakin yang ditemani adik sepupunya ternyata saat itu sudah terlebih dahulu ditemukan oleh salah satu familinya yang di Jember. Nah dari sini sedikit permasalahan terjadi, sebab tante Akin menyarankan untuk terlebih dahulu menuju kediamannya. Di sebuah daerah yang bisa dikatakan jaraknya jauh dari tujuan kopdar, yaitu Panaongan, kediaman &lt;a href="http://www.acacicu.com/2013/03/kopdar-bareng-kakaakin.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Masbro&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Setelah terjadi tarik ulur, akhiranya si tante menyerah, dengan syarat mengajak makan terlebih dahulu di pusat kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah kenapa harus makan di kota? begitu pikir saya, sebab untuk menuju kota tentu saja saya harus melewati beberapa pos jaga polisi. Bahaya ! sebab saat saya membonceng Akin tanpa tudung tudung kepala berkendara alias helm. Jika ditanya kenapa Akin tak menumpang mobil Tantenya saja ? Hahaha entahlah, tanya aja dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syukurlah, dengan jalan berkendara menyamar di sela-sela mobil yang lalu lalang, kami bisa sampai di kota tanpa terkena tilang. Sesampai di tempat makan, berkali-kali SMS saya terima dari dulur-dulur di Panaongan. Mempertanyakan tentang keberadaan kami saat itu. Seakan tak sabar, karena mungkin mereka merasa lama menunggu kami tiba. Saya pun membalas jika sedang mencari strategi untuk menculik Akin dari tangan tantenya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negoisasi kembali dilakukan, dengan tujuan Akin segera diijinkan menuju Panaongan. Saya maklumi jika Tante Akin nampak sedikit mengkhawatirkan keponakannya pergi dengan pria yang cuma dia kenal dari dunia maya. Alhamdulillah, si tante akhirnya memperbolehkan kami pergi. Tak lupa dia memberi kami alamat rumahnya, sebagai bekal kami jika kebingungan saat pulang nanti. Sebuah coretan denah yang sebenarnya saya tak begitu tahu letaknya. Sebuah taktik&amp;nbsp; ala &lt;i&gt;"yes madam"&lt;/i&gt; terpaksa dilakukan, agar si tante segera membiarkan kami pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami pun segera pergi dari tempat makan itu. Menuju Panaongan yang mungkin orang-orangnya sudah tak sabar menunggu. Apes, ternyata kebohongan yang baru saja saya buat berbuah kualat. Baru saja kami meninggalkan tempat makan, ternyata di depan bertemu harus dengan sempritan. Seorang petugas memaksa kami harus terdampar di pos jaga hahaha. Tapi, sudahlah tak usah dibahas kejadian menjengkelkan itu. Yang jelas malam itu saya telah melakukan sebuah pembelian rokok termahal dalam hidup saya. Ya, sebatang rokok Marlboro pak polisi harus saya barter dengan selembar I gusti ngurah rai yang saya punyai hihihi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, untuk selanjutnya biarkan deretan foto ini yang menceritakannya.&lt;br /&gt;
&lt;div class="gallery"&gt;
&lt;a class="p1" href="https://lh3.googleusercontent.com/-N0ENEdq1gw0/UUcTQLeKL3I/AAAAAAAACIY/DjqiYkNE6Eo/s548/480545_425314894229599_2112593639_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="p2" href="https://lh3.googleusercontent.com/-9veFbDnCSPE/UUcTQFuYHII/AAAAAAAACIU/bLgHpTX9TdY/s548/531710_425315797562842_534475185_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="p3" href="https://lh5.googleusercontent.com/-7lUC84U9HjI/UUcTRSo3GSI/AAAAAAAACIw/6CKbUiOoHIM/s548/578502_425316157562806_1164846142_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="p4" href="https://lh5.googleusercontent.com/-6phDPnl8nfg/UUcTRVi_RHI/AAAAAAAACIs/jq4jSrbZRns/s548/735242_425315234229565_1966222120_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="p5" href="https://lh4.googleusercontent.com/-nCfU5mjamc0/UUcWpj1hmEI/AAAAAAAACJM/5feOH2-4Hy4/s548/576011_425316687562753_1106185441_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="p6" href="https://lh5.googleusercontent.com/-Wnf3k--Zi38/UUcTQzA71zI/AAAAAAAACIg/BaFRq_Qzgio/s548/549918_425317084229380_552756293_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a class="p7" href="https://lh5.googleusercontent.com/-1UQHh3Qjr1g/UUcXfjMYOCI/AAAAAAAACJU/XOsHQbbrV-A/s548/205403_425313997563022_131306872_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="images"&gt;
&lt;img alt="" class="n1" src="https://lh3.googleusercontent.com/-N0ENEdq1gw0/UUcTQLeKL3I/AAAAAAAACIY/DjqiYkNE6Eo/s548/480545_425314894229599_2112593639_n.jpg" /&gt;&lt;img alt="" class="n2" src="https://lh3.googleusercontent.com/-9veFbDnCSPE/UUcTQFuYHII/AAAAAAAACIU/bLgHpTX9TdY/s548/531710_425315797562842_534475185_n.jpg" /&gt;&lt;img alt="" class="n3" src="https://lh5.googleusercontent.com/-7lUC84U9HjI/UUcTRSo3GSI/AAAAAAAACIw/6CKbUiOoHIM/s548/578502_425316157562806_1164846142_n.jpg" /&gt;&lt;img alt="" class="n4" src="https://lh5.googleusercontent.com/-6phDPnl8nfg/UUcTRVi_RHI/AAAAAAAACIs/jq4jSrbZRns/s548/735242_425315234229565_1966222120_n.jpg" /&gt;&lt;img alt="" class="n5" src="https://lh4.googleusercontent.com/-nCfU5mjamc0/UUcWpj1hmEI/AAAAAAAACJM/5feOH2-4Hy4/s548/576011_425316687562753_1106185441_n.jpg" /&gt;&lt;img alt="" class="n6" src="https://lh5.googleusercontent.com/-Wnf3k--Zi38/UUcTQzA71zI/AAAAAAAACIg/BaFRq_Qzgio/s548/549918_425317084229380_552756293_n.jpg" /&gt;&lt;img alt="" class="n7" src="https://lh5.googleusercontent.com/-1UQHh3Qjr1g/UUcXfjMYOCI/AAAAAAAACJU/XOsHQbbrV-A/s548/205403_425313997563022_131306872_n.jpg" /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;
Dulur blogger, itulah sekilas tentang cerita saya dalam rangka menculik Kakaakin saat kopdar. Nah, kira-kira ada yang mau saya culik pas kopdaran seperti Kakaakin hehe. Santai saja, yang jelas saya sekarang sudah mempersiapkan segala sesuatunya jika terpaksa menjadi penculik lagi. Yah, setidaknya saya harus meyediakan helm cadangan, agar tak terjadi lagi kejadian seorang satpam dunia maya terdampar di pos jaga polisi jalan raya hahaha..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matur nuwun Akin !&lt;/div&gt;
&lt;style type="text/css"&gt;
 /* common styling */
.gallery {width:700px; height:75px; margin:25px auto;position:relative; background:#fff;}
.gallery a {display:inline-block; width:100px; height:75px; position:relative; z-index:100; background:url(zoooom/trans.gif);}
.gallery .images {width:70px; height:75px; position:absolute; left:0; top:0; z-index:50;}
.gallery .images img {display:block; width:98px; border:2px solid #fff; position:absolute; top:0; opacity:0.7; filter: alpha(opacity=70); 
-moz-transition: 0.5s ease-in-out;
-ms-transition: 0.5s ease-in-out;
-o-transition: 0.5s ease-in-out;
-webkit-transition: 0.5s ease-in-out;
transition: 0.5s ease-in-out;
}
.images .n1 {left:0; z-index:10;}
.images .n2 {left:100px; z-index:20;}
.images .n3 {left:200px; z-index:30;}
.images .n4 {left:300px; z-index:40;}
.images .n5 {left:400px; z-index:30;}
.images .n6 {left:500px; z-index:20;}
.images .n7 {left:600px; z-index:10;}


.gallery:hover a {width:36px; height:360px; margin-top:-140px;}
.gallery:hover a:hover {width:484px;}

.gallery:hover a:hover ~ .images img {box-shadow:0px 0px 10px rgba(0,0,0,0.7);}

.gallery:hover a.p1:hover ~ .images .n1 {width:480px; top:-140px; left:0; z-index:100; border:2px solid #fff; opacity:1; filter:alpha(opacity=100);}
.gallery:hover a.p1:hover ~ .images .n2 {width:360px; top:-95px; left:158px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}
.gallery:hover a.p1:hover ~ .images .n3 {width:270px; top:-60px; left:284px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p1:hover ~ .images .n4 {width:200px; top:-38px; left:390px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p1:hover ~ .images .n5 {width:150px; top:-18px; left:476px; z-index:60; opacity:0.5; filter:alpha(opacity=50);}
.gallery:hover a.p1:hover ~ .images .n6 {width:120px; top:-8px; left:542px; z-index:50; opacity:0.4; filter:alpha(opacity=40);}
.gallery:hover a.p1:hover ~ .images .n7 {width:98px; top:0px; left:600px; z-index:40; opacity:0.3; filter:alpha(opacity=30);}

.gallery:hover a.p2:hover ~ .images .n2 {width:480px; top:-140px; left:36px; z-index:100; border:2px solid #fff; opacity:1; filter:alpha(opacity=100);}
.gallery:hover a.p2:hover ~ .images .n3 {width:360px; top:-95px; left:194px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}
.gallery:hover a.p2:hover ~ .images .n4 {width:270px; top:-60px; left:320px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p2:hover ~ .images .n5 {width:200px; top:-38px; left:426px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p2:hover ~ .images .n6 {width:150px; top:-18px; left:512px; z-index:60; opacity:0.5; filter:alpha(opacity=50);}
.gallery:hover a.p2:hover ~ .images .n7 {width:120px; top:-8px; left:578px; z-index:50; opacity:0.4; filter:alpha(opacity=40);}
.gallery:hover a.p2:hover ~ .images .n1 {width:360px; top:-95px; left:0px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}

.gallery:hover a.p3:hover ~ .images .n3 {width:480px; top:-140px; left:72px; z-index:100; border:2px solid #fff; opacity:1; filter:alpha(opacity=100);}
.gallery:hover a.p3:hover ~ .images .n4 {width:360px; top:-95px; left:230px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}
.gallery:hover a.p3:hover ~ .images .n5 {width:270px; top:-60px; left:356px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p3:hover ~ .images .n6 {width:200px; top:-38px; left:462px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p3:hover ~ .images .n7 {width:150px; top:-18px; left:548px; z-index:60; opacity:0.5; filter:alpha(opacity=40);}
.gallery:hover a.p3:hover ~ .images .n1 {width:270px; top:-60px; left:0px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p3:hover ~ .images .n2 {width:360px; top:-95px; left:36px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}

.gallery:hover a.p4:hover ~ .images .n4 {width:480px; top:-140px; left:108px; z-index:100; border:2px solid #fff; opacity:1; filter:alpha(opacity=100);}
.gallery:hover a.p4:hover ~ .images .n5 {width:360px; top:-95px; left:266px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}
.gallery:hover a.p4:hover ~ .images .n6 {width:270px; top:-60px; left:392px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p4:hover ~ .images .n7 {width:200px; top:-38px; left:498px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p4:hover ~ .images .n1 {width:200px; top:-38px; left:0px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p4:hover ~ .images .n2 {width:270px; top:-60px; left:36px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p4:hover ~ .images .n3 {width:360px; top:-95px; left:72px; z-index:90; opacity:0.8; alpha(opacity=80);}

.gallery:hover a.p5:hover ~ .images .n5 {width:480px; top:-140px; left:144px; z-index:100; border:2px solid #fff; opacity:1; filter:alpha(opacity=100);}
.gallery:hover a.p5:hover ~ .images .n6 {width:360px; top:-95px; left:302px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}
.gallery:hover a.p5:hover ~ .images .n7 {width:270px; top:-60px; left:428px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p5:hover ~ .images .n1 {width:150px; top:-18px; left:0px; z-index:60; opacity:0.5; filter:alpha(opacity=50);}
.gallery:hover a.p5:hover ~ .images .n2 {width:200px; top:-38px; left:36px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p5:hover ~ .images .n3 {width:270px; top:-60px; left:72px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p5:hover ~ .images .n4 {width:360px; top:-95px; left:108px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}

.gallery:hover a.p6:hover ~ .images .n6 {width:480px; top:-140px; left:180px; z-index:100; border:2px solid #fff; opacity:1; filter:alpha(opacity=100);}
.gallery:hover a.p6:hover ~ .images .n7 {width:360px; top:-95px; left:338px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}
.gallery:hover a.p6:hover ~ .images .n1 {width:120px; top:-8px; left:0px; z-index:50; opacity:0.4; filter:alpha(opacity=40);}
.gallery:hover a.p6:hover ~ .images .n2 {width:150px; top:-18px; left:36px; z-index:60; opacity:0.5; filter:alpha(opacity=50);}
.gallery:hover a.p6:hover ~ .images .n3 {width:200px; top:-38px; left:72px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p6:hover ~ .images .n4 {width:270px; top:-60px; left:108px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p6:hover ~ .images .n5 {width:360px; top:-95px; left:144px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}

.gallery:hover a.p7:hover ~ .images .n7 {width:480px; top:-140px; left:216px; z-index:100; border:2px solid #fff; opacity:1; filter:alpha(opacity=100);}
.gallery:hover a.p7:hover ~ .images .n1 {width:100px; top:0px; left:0px; z-index:40; opacity:0.3; filter:alpha(opacity=30);}
.gallery:hover a.p7:hover ~ .images .n2 {width:120px; top:-8px; left:33px; z-index:50; opacity:0.4; filter:alpha(opacity=40);}
.gallery:hover a.p7:hover ~ .images .n3 {width:150px; top:-18px; left:72px; z-index:60; opacity:0.5; filter:alpha(opacity=50);}
.gallery:hover a.p7:hover ~ .images .n4 {width:200px; top:-38px; left:108px; z-index:70; opacity:0.6; filter:alpha(opacity=60);}
.gallery:hover a.p7:hover ~ .images .n5 {width:270px; top:-60px; left:144px; z-index:80; opacity:0.7; filter:alpha(opacity=70);}
.gallery:hover a.p7:hover ~ .images .n6 {width:360px; top:-95px; left:180px; z-index:90; opacity:0.8; filter:alpha(opacity=80);}
&lt;/style&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/9cZxzGe9wbw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/4870781497594256425/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/03/menculik-akin_19.html#comment-form" title="70 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4870781497594256425?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4870781497594256425?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/9cZxzGe9wbw/menculik-akin_19.html" title="Menculik Akin" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-3Wq9ze5EGFM/UUcCgFPmKiI/AAAAAAAACH4/xLjLNciekAM/s72-c/301618_425314577562964_527519613_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>70</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/03/menculik-akin_19.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUAAQnc6cSp7ImA9WhBQE0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-2313170524042836512</id><published>2013-03-15T14:33:00.002+07:00</published><updated>2013-03-15T18:42:23.919+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-15T18:42:23.919+07:00</app:edited><title>Untuk Roy Suryo</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Ixa-p8xqAyo/UUGuj76jbII/AAAAAAAACHk/H7I8jbCpWv0/s1600/kartun-roy-suryo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-Ixa-p8xqAyo/UUGuj76jbII/AAAAAAAACHk/H7I8jbCpWv0/s200/kartun-roy-suryo.jpg" width="190" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;S&lt;/span&gt;edianya sejak dini hari tadi saya berniat untuk belajar menulis puisi. Maklum, empunya hati sedang dilanda gairah yang tak biasa. Suasana yang tepat pula untuk menulis &lt;a href="http://www.essip.us/2012/02/puisi-anti-biasa-diantara-rasa-yang-tak.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;sesuatu yang tak biasa&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Meski saya tahu&amp;nbsp; hasilnya mungkin&amp;nbsp; tiada seindah&amp;nbsp; buah karya sastrawan. Tapi saya sudah bertekad setidaknya hari ini&amp;nbsp; bisa membuat sesuatu yang selama ini sulit dilakukan. Yah, sebuah puisi &lt;i&gt;nyastra&lt;/i&gt; ala jalanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala sesuatu sudah dipersiapkan. Segelas kopi hangat disandingkan sebagai teman penyemangat. Anggaran &lt;i&gt;linting sugesti&lt;/i&gt; pun sengaja saya naikkan dari bandrol biasanya. Tujuannya hanya satu, mungkin dengan semakin nikmat rasa asap yang dihisap, akan semakin encer pula inspirasi untuk menulis sesuatu yang mendayu-dayu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sayang, percuma saja pernak-pernik pendukung itu disediakan. Sebab selanjutnya bukan kenyamanan yang didapat, tapi rasa mangkel yang terasa sangat. Niatan membuat tulisan yang puitis meski berakhir dengan dramatis. Gara-gara laju koneksi menurun begitu drastis. Saya melihat ada deretan garis-garis yang nampak tak sedap dipandang mata. Dan satuatu hal yang paling saya benci, sedikit sekali warna merah yang yang saya jumpai. Yah, warna merah yang menjadi denyut nadi aktifitas saya di dunia maya.&amp;nbsp; Seolah menegaskan jika saat itu saya di larang keras&amp;nbsp; internetan !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dirasa ini bukanlah kejadian sekali ini. Mungkin&amp;nbsp; sudah berhari-hari saya&amp;nbsp; mengalami. Padahal kewajiban udah ditunaikan dengan membayar upeti bulanan. Sayang, semua malah&amp;nbsp; berbalas rasa tak nyaman. Ingin rasanya saya membuat semacam laporan keluhan. Tapi, saya coba menahan diri. Saya takut di ujung telpon sana nanti akan terdengar suara nan sexy lalu menghipnotis saya dengan kalimat saktinya.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Harap bersabar ya pak, masih ada pembenahan pada provider kami"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
Arrrgh.. pasti kalimat sakti itu yang dijadikan tameng mereka. Kalimat yang begitu ampuh meredam semua keluhan. Menjawab semua keluhan pelanggan dengan dalih pembenahan. Ingin rasanya saya lapor kantor Menkominfo saja. Tapi, oh no.no, rasanya saya sudah jera &lt;i&gt;wadul&lt;/i&gt; ke kementrian &lt;i&gt;Si Jenggot Naga&lt;/i&gt; yang sekarang menjadi penguasanya. Tapi bentar dulu.. sepertinya saya teringat seseorang yang mungkin bisa menyelesaikan masalah saya. Yah, salah satu ahli internet nomer wahid di negeri ini. &lt;i&gt;Si brengos flamboyan&lt;/i&gt; yang nampak selalu di depan saat mencuat skandal buka-bukaan. Roy Suryo ! yah itu dia orang yang saya maksudkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mas Roy Suryo, sebelumnya saya ucapkan selamat atas rujuknya kembali timnas kita. Sebuah acungan jempol&amp;nbsp; buat anda, karena di saat sebagian orang menganggap anda sebagai dagelan, justru anda menjawabnya dengan kejutan menggembirakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mas Suryo kita sama-sama tahu jika negeri ini tempatnya netter-netter hebat. Situs sekelas Facebook saja mungkin akan menjadi jejaring sosial kacangan, jika para netter kita enggan untuk memainkan. Masih ingatkah anda dengan heboh hacker yang terjadi kemarin? Tentang seorang pemuda yang meretas situs kepala negara? Ya, pemuda itu adalah tetangga kampung saya. Seorang pemuda yang tak mempunyai latar belakang pendidikan TI, tapi sanggup membuat coretan di situs orang nomer satu negeri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, untuk menguasai teknologi internet, saya rasa tak mesti memiliki ijasah tinggi. Sebab, internet itu sebenarnya cuma soal kemauan untuk belajar. Juga soal kebiasaan untuk menggunakan. Tapi, bagaimana bangsa kita bisa belajar tenang jika medianya tak memberi kenyamanan? Saya rasa regenerasi untuk menjadi ahli semacam Roy Suryo pun&amp;nbsp; turut tersendat jika didukung koneksi internet yang lambat. Sebenarnya saya pun ingin menjadi seperti anda. Menjadi seorang yang ahli di bidang dunia maya, tapi bagaimana saya bisa berproses untuk menjadi ahli, jika saat hendak belajar saja hanya warna putih&amp;nbsp; yang muncul di layar mini ini?&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;b&gt;Gundulmu iku, emang dipikir gampang menangani masalah koneksi internet di negeri ini? Kok kamu neko-neko aja mintanya&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
Entahlah mas Roy,&amp;nbsp; mungkin masyarakat akar rumput macam saya terkesan tak pernah puas menuntut orang-orang seperti anda. Tapi, sejatinya kami hanya butuh sesuatu yang sederhana saja. Hanya butuh sebuah rasa nyaman berkegiatan di negeri yang dikatakan sudah lama menghirup udara kemerdekaan. Seorang petani hanya butuh pupuk tersedia kapan saja dan harga gabah tak dinilai begitu murah. Ibu rumah tangga mungkin berharap harga BBM tak melambung tinggi, agar kepul asap dapurnya bisa stabil sesuai yang diingini. Pun demikan dengan netter seperti saya, hanya butuh koneksi yang memadai, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau boleh jujur laju internet kita tak jua hanya mengendus, tapi juga mahal untuk ditebus. Mungkin karena kepandaian para marketing provider itu mengkamulufasekan masalah koneksi internet kita seakan wajar-wajar saja. Mengaburkan lemotnya internetan dengan memberi paket gratis bermain Facebookan. Padahal kita semua tahu jika internet itu bukan hanya Facebook saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin itulah yang menjadi PR bagi orang-orang yang mempunyai skill berlebih seperti anda di negeri ini. Tak harus muluk-muluk membuat program internet yang hentak menggelegar ke angkasa. Tapi cukup berikan kami akses internet yang memadai layaknya negara-negara tetangga kami. Murah, meriah dan saat digunakan juga tak membuat kami marah-marah. Tapi eits, jangan lakukan dulu membuat progam internet gratis dalam waktu dekat ini, sebab saya masih butuh warnet untuk mengais rejeki.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;b&gt;Hoi Roy Suryo itu kan Menpora, bukan Menkominfo ndul ! Enggak salah tuh laporannya? &lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
Loh status saya kan masih lajang, apa saya tak pantas untuk disebut lagi sebagai pemuda hahaha. Saya kan juga pemuda yang ingin eksis berkarya di dunia maya? Lagipula&amp;nbsp; Roy Suryo kan juga ahli TI,&amp;nbsp; tentu juga tahu letak masalah lemotnya internet di negeri ini. Jika saya salah mungkin ada baiknya kita berkaca pada mereka yang kemarin menganggap anda dagelan. Roy Suryo seorang&amp;nbsp; ahli internetan mana bisa&amp;nbsp; menangani masalah bal-balan? itu kata mereka.&amp;nbsp; Tapi lihat ! ternyata pihak yang bersitegang di PSSI&amp;nbsp; sekarang bisa saling bergandeng tangan. Jadi apa saya salah jika sambat ke Roy Suryo tentang lemotnya koneksi internet kita? Ah saya rasa kadangkala kita terlalu terburu&amp;nbsp; mengatakan segala sesuatu itu salah, padahal mungkin saja sesuatu yang menurut kita salah itulah solusi buat masalah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yo wis lah, mungkin saya akhiri saja tulisan bernada mangkel ini hahaha. Saya takut nanti akan semakin mblarah kesana-sini. Sebab hari ini saya berpotensi membuat tulisan dengan nada emosi. Setidaknya saya lega karena bisa melampiaskan rasa mangkel ini dengan sesuatu yang positif. Daripada saya melakukan aksi&amp;nbsp; anarki dengan membanting modem ini. Atau melakukan tindakan tak terpuji dengan menyumpahi sang pemilik provider di status jejaring pribadi. Jangan sampai nanti ada kehebohan di dunia maya. Yah, berita heboh tentang pemilik provider yang menuntut seorang netter stres yang memakai koneksi internetnya yang tak kunjung beres.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup internet Indonesia.. Jangan lemot lagi ! &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;sumber gambar : http://beritajogja.co.id/&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/s_fC4r-YnTY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/2313170524042836512/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/03/untuk-roy-suryo.html#comment-form" title="41 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/2313170524042836512?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/2313170524042836512?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/s_fC4r-YnTY/untuk-roy-suryo.html" title="Untuk Roy Suryo" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-Ixa-p8xqAyo/UUGuj76jbII/AAAAAAAACHk/H7I8jbCpWv0/s72-c/kartun-roy-suryo.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>41</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/03/untuk-roy-suryo.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UARXk9eyp7ImA9WhBQEkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-1569949232381518660</id><published>2013-03-08T23:24:00.001+07:00</published><updated>2013-03-14T18:07:24.763+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-14T18:07:24.763+07:00</app:edited><title>Awas Ilate Mlintir</title><content type="html">
&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;K&lt;/span&gt;adang aku mikir nganu opo wong-wong iku ampe' kedanan nang boso &lt;strike&gt;Inggris&lt;/strike&gt; Londo. Padahal yen dipikir-pikir Indonesia iki negeri sing sugih budoyo lan boso. Nang Jowo wae isine macem-macem bahasa, macem Sundo, Jowo Tengahan, Ngapak, Meduro, Suroboyoan, Osing lan akeh maneh sing perlu dilestarikno.&amp;nbsp; Tapi, sayang akeh wonge dewe sing malah luwih ndisikno boso londone ketimbang boso daerahe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah kadang akeh istilah sing rasane durung perlu digawe londo tapi dipekso mlebu nang bosone dewe. Contoh wae sarapan diganti breakfast. Belonjo diganti shoping. Rapat diganti meeting. Kan lucu rek&amp;nbsp; krungune, cuma sarapan nang warung pojok wae ngomonge breakfast in the corner little shop. Belonjo lombok nang pasar dadi chili shoping in the market. Rapat RT malah dadi &lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;neighborhood meeting hahaha. Iso-iso ilate awak dewe mlintir loh lek mekso ngucapno boso Londo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;Asline ora ono salahe awak dewe belajar boso Londo, tapi boso Indonesia karo boso daerahe dewe kudu tetep sing nomer siji nang ati. Lah misal dudu awak dewe, terus sopo maneh sing ngelestarikno boso-boso iku? Ojo sampe' loh dulur isitlah &lt;i&gt;"nuwun sewu"&lt;/i&gt; utowo &lt;i&gt;"matur nuwun"&lt;/i&gt; diklaim bangsa lain.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;Awak dewe kabeh sebenare perlu ngiri bongso liyo macem Jepang, Korea, India utowo Thailand. Aksara daerahe wae iso mendunia. Lah nganu opo Jowo karo boso daerah liyane ora iso pisan? Jawabane cuma siji soale wong-wonge dewe kurang cinta karo bosone dewe. Yuk, mulai saiki awak dewe kabeh nglestarikno boso daerahe dewe-dewe. Lan tetep dadikno boso Indonesia dadi boso persatuane bangsa sing dibanggakno.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eldgy-j8Hs8/UToLXqQQO1I/AAAAAAAACG0/Ea1yW6O6m0k/s1600/385671_3411462538879_1609754314_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="351" src="http://4.bp.blogspot.com/-eldgy-j8Hs8/UToLXqQQO1I/AAAAAAAACG0/Ea1yW6O6m0k/s400/385671_3411462538879_1609754314_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span class="hps"&gt;Lek perlu gawe coro macem aku pas omong karo bule nang jagat maya. Ora ngurus wong bule bingung, sing penting boso Jowo karo Indonesia iso melanglang jagat maya haha.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div id="at"&gt;
&lt;div class="attab" onclick="showHideAT()"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="atcontent"&gt;
&lt;div style="background: white;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Awas Lidahnya Melintir&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang saya berpikir buat apa orang-orang itu sampai tergila-gila dengan bahasa Inggris. Padahal jika dipikir-pikir Indonesia ini adalah negeri yang kaya budaya dan bahasa. Di Pulau Jawa  saja isinya bermacam bahasa, macam Sunda, Jawa Tengahan, Ngapak, Madura, khas Surabaya, Osing dan banyak lagi yang perlu dilestarikan. Tapi, sayang banyak orang kita sendiri yang lebih mendahulukan bahasa Inggrisnya daripada bahasa daerahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah rasanya banyak istilah yang belum perlu dibakukan Inggris tapi dipaksa masuk ke bahasa kita. Contoh saja sarapan diganti breakfast. Belanja diganti shoping. Rapat diganti meeting. Kan lucu kedengarannya, cuma sarapan di warung pojok saja bilang brekfast in the corner little shop. Belanja cabe di pasar jadi Chili shoping in the market. Rapat RT malah jadi neighborhood meeting haha. Bisa-bisa lidah kita melintir loh kalau memaksakan mengucap bahasa Inggris.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya tiada salahnya kita belajar bahasa Inggris , tapi bahasa daerah sendiri tetap harus yang jadi nomer satu di hati Lah misal bukan kita sendiri, trus siapa lagi yang perlu melestarikan bahasa-bahasa itu? Jangan sampai loh saudara istilah &lt;i&gt;"nuwun sewu"&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;"matur nuwun"&lt;/i&gt; diklaim bangsa lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita semua harusnya perlu iri dengan bangsa lain macam Jepang, Korea, India atau Thailand. Aksara daerahnya saja bisa mendunia. Lah kenapa Bahasa Jawa dan bahasa daerah lainnya tidak bisa juga?. Jawabannya cuma satu, karena orang-orang kita sendiri kurang cinta dengan bahasa mereka sendiri. Yuk, mulai sekarang kita semua melestarikan bahasa daerah sendiri-sendiri. Dan tetap menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa yang dibanggakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau perlu pakai cara seperti saya saat omong dengan bule di dunia maya. Enggak peduli orang bule bingung, yang penting bahasa Jawa dan Indonesia bisa melanglang ke jagat maya haha.

&lt;/div&gt;
&lt;div align="right"&gt;
&lt;a href="javascript:void(0);" onclick="showHideAT()"&gt;"&lt;span style="color: #f1c232;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;"&lt;a href="javascript:void(0);" onclick="showHideAT()"&gt;&lt;img alt="close" border="0" src="http://pdfpresenter.sourceforge.net/img/close_button.png" title="Buka Terjemahan" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Note : klik tombol untuk terjemahannya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;
var at = document.getElementById("at");
at.style.top = (-200-at.offsetWidth).toString() + "px";
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;
&lt;a href="javascript:void(0);" onclick="showHideAT()"&gt;&lt;img alt="cbox" border="0" src="http://www.pardesi.org/ottawa/images/Click-here-button.gif" title="Click here to open Guest Book" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;
&lt;style type="text/css"&gt;
#at{
position:fixed;
right:20px;
z-index:+1000;
}
* html #at{position:relative;}
.attab{
height:50px;
width:30px;
float:left;
cursor:pointer;
background:url();
}
.atcontent{
float:left;
border:2px solid #999;
background: white;
-moz-border-radius-topleft:15px;
-moz-border-radius-topright:15px;
-moz-border-radius-bottomleft:15px;
-moz-border-radius-bottomright:15px;
padding:10px;
-moz-box-shadow: 0px 2px 5px 0px grey;
}
&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;
function showHideAT(){
var at = document.getElementById("at");
var w = at.offsetWidth;
at.opened ? moveAT(0, -200-w) : moveAT(20-w, 0);
at.opened = !at.opened;
}
function moveAT(x0, xf){
var at = document.getElementById("at");
var dx = Math.abs(x0-xf) &gt; 25 ? 35 : 1;
var dir = xf&gt;x0 ? 1 : -1;
var x = x0 + dx * dir;
at.style.top = x.toString() + "px";
if(x0!=xf){setTimeout("moveAT("+x+", "+xf+")", 10);}
}
&lt;/script&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;Posingan ini&amp;nbsp; untuk memeriahkan &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.niarningrum.com/2013/02/aku-cinta-bahasa-daerah-giveaway.html" target="_blank"&gt;&lt;b style="color: blue;"&gt; Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-bOp8RYQHHMU/UToQoz3LnmI/AAAAAAAACG8/mRRJMmA3RYc/s1600/banner-giveaway-aku-cinta-bahasa-daerah-ala-niar-ningrum.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="250" src="http://2.bp.blogspot.com/-bOp8RYQHHMU/UToQoz3LnmI/AAAAAAAACG8/mRRJMmA3RYc/s320/banner-giveaway-aku-cinta-bahasa-daerah-ala-niar-ningrum.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/E6la7eLYSE4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/1569949232381518660/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/03/awas-ilate-mlintir.html#comment-form" title="51 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/1569949232381518660?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/1569949232381518660?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/E6la7eLYSE4/awas-ilate-mlintir.html" title="Awas Ilate Mlintir" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-eldgy-j8Hs8/UToLXqQQO1I/AAAAAAAACG0/Ea1yW6O6m0k/s72-c/385671_3411462538879_1609754314_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>51</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/03/awas-ilate-mlintir.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8GRX8ycCp7ImA9WhBREkk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-8652866511107650193</id><published>2013-03-02T23:11:00.002+07:00</published><updated>2013-03-03T00:20:24.198+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-03T00:20:24.198+07:00</app:edited><title>Uncle Tak Seberapa Tampan dan Keponakan</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;F&lt;/span&gt;oto di bawah ini diambil dengan media kamera ponsel Samsung C3322. Berlokasi di pelataran depan rumah saya sendiri. Dengan seorang model tak seberapa tampan yang tentunya tak asing bagi emak-emak di dunia maya hahaha. Model satunya&amp;nbsp; bernama Rega, seorang model cilik pendatang baru, yang juga keponakan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Skenario dalam foto menceritakan&amp;nbsp; Rega yang tengah asyik menjadi seorang juru mudi&amp;nbsp; layang-layang dan &lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Uncle Lozz&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; yang jadi co-pilotnya. &lt;i&gt;(untuk pengguna Mozilla arahkan cursor mouse untuk melihat foto lainnya)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div id="info"&gt;
&lt;div id="container"&gt;
&lt;div class="lower"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="lozz" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-qmmcD707kEw/UTGQuhq6_lI/AAAAAAAACCM/BZ37xlb_8hY/s400/Foto-0086.jpg" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="upper"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="essip" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-argY1SfLkgY/UTIB7C-gBpI/AAAAAAAACCc/VcA11-ou1AY/s1600/CutPicture.com_2013-Mar-02_08_41_12.jpg" width="300" /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir saban sore si Rega bermain layang-layang di depan rumah saya. Pada awalnya dia hanya melihat saja cara orang dewasa saat menerbangkannya. Kadang dia hanya menjadi co-pilot yang tugasnya memegang gulungan benang di samping penerbang layang-layang. Hingga pada suatu hari, Rega saya tawari untuk menerbangkan layang-layangnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya si Rega nampak kesulitan saat menerbangkan layang-layangnya. Entah berapa kali layang-layang Rega tak sukses melakukan lepas landas di udara. Nyungsep di genteng tetangga, nyantol di tiang listrik, atau kadang nyangsang di pohon mangga. Itulah tragedi yang selalu ada saat Rega menjalani latihan sebagai penerbang layang-layang sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini si Rega telah berhasil mengantongi lisensi terbang dari saya. Dia sudah lihai menerbangkan layang-layangnya sendiri. Bahkan sekarang si Rega seringkali menembak jatuh layang-layang yang dipiloti&amp;nbsp; lawan. Padahal bisa dikatakan usia mereka jauh-jauh lebih tua dibanding usia Rega.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentunya dibutuhkan sebuah sinergi yang cantik antara kaum tua dan generasi muda. Harus ada dukungan satu sama lainnya. Yang tua berfungsi sebagai &lt;i&gt;"begawan bijak"&lt;/i&gt; yang mau memberi kesempatan kamu muda mengambil peranan. Sebaliknya yang muda jangan sampai berleha. Harus berfungsi pula sebagai garda depan untuk membangun bangsa. Tentunya tanpa harus mengabaikan petuah bijak yang lebih tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sayang, negeri ini sepertinya masih saja kurang memberikan jam terbang buat kaum muda. Kalaupun ada mereka hanya mau memberikan tongkat estafet ke dinasti mereka sendiri. Hanya kepada kalangan muda dari kolega dan keluarga. Yah, hanya untuk mengekalkan raja-raja baru dari kalangan mereka saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang muda masih belum mampu ! Yang muda masih minim pengalaman ! itu kata mereka ! Padahal jika mereka mau seperti halnya saya, memberikan kendali layang-layang kepada Rega. So pasti nuansa negeri ini lebih berwarna dan tak hanya berisi muka-muka lama saja. Memberi kesempatan kepada yang muda untuk latihan dan terjun langsung di lapangan. Memposisikan diri di samping mereka layaknya saya memegang gulungan benang&amp;nbsp; di samping Rega untuk memberi arahan tentang cara menerbangkan layangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat hasilnya ! Rega ternyata juga mampu menerbangkan layang-layangnya sendiri. Bocah berumur tiga tahun itu ternyata mampu melakukannya. Disaat orang-orang dewasa dan anak-anak yang lebih tua menyepelakan kemampuannya. Justru sekarang Rega&amp;nbsp; bisa pandangi layangannya terbang ke langit tinggi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, kenapa saya malah mblarah ngalor ngidul bak layangan putus ya hahaha. Padahal ini kan hanya kontes foto, bukan kontes artikel. Intinya yuk&amp;nbsp; kita sama-sama mengambil peranan menurut fungsi kita masing-masing. Jika merasa tua, sekali dua kali mencoba terjun ke langgang saya rasa itu tak masalah. Tapi, jika hanya ingin mengekalkan diri duduk di tahta yang megah, hmmm saya pikir lambat laun yang muda pun akan menjadi gerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pun demikian untuk kaum muda. Jangan hanya diam menunggu apalagi pasrah. Teruslah untuk mengeksploitasi kemampuan dalam diri kita. Sambil terus belajar dari pengalaman yang lebih tua. Insya ALLAH, kelak kita akan sama-sama melihat layang-layang bercorak merah putih menjulang gagah di angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup layang-layang, Merdeka !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Postingan ini untuk memeriahkan kontes Potret Laki-laki dan Dunia Anak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;a href="http://deyfikri.com/"&gt;Ibu Fauzan&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://nchiehanie.com/"&gt;Mama Olive&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;a href="http://ceritabudi.wordpress.com/"&gt;Papanya Cintya-Agas&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;style type="text/css"&gt;
#container {position: relative; height: 430px; width: 350px; margin: 0 auto;
-webkit-perspective: 800px;
-moz-perspective: 800px;
}
#container div {position:absolute; left:0; top:0; width:305px; height: 420px; padding: 10px; background:grey;
-ms-border-radius: 10px;
-moz-border-radius: 10px;
-webkit-border-radius: 10px;
border-radius: 10px;

-webkit-transition: 1.5s ease-in-out;
-moz-transition: 1.5s ease-in-out;
-ms-transition: 1.5s ease-in-out;
-o-transition: 1.5s ease-in-out;
transition: 1.5s ease-in-out;
}
#container div.lower {font-family: verdana, arial, sans-serif; background:black;
background: -moz-linear-gradient(-45deg, grey, black 50%, grey 100%);
background: -webkit-gradient(linear, 0 0, 100% 100%, from(black), color-stop(50%, #a86), color-stop(100%, black));
-moz-transform-style: preserve-3d;
-moz-backface-visibility: hidden;
-webkit-transform-style: preserve-3d;
-webkit-backface-visibility: hidden;
-moz-transform: rotateY(-180deg);
-webkit-transform: rotateY(-180deg);
}
#container div.lower h1 {font-size:20px; padding:0; margin:0; color:black; line-height:40px;}
#container div.lower p {font-size:11px; padding:0; margin:0; color:black; line-height:20px;}
#container div.lower a {color:black;}

#container div.upper {
-moz-transform-style: preserve-3d;
-moz-backface-visibility: hidden;
-webkit-transform-style: preserve-3d;
-webkit-backface-visibility: hidden;
background: -moz-linear-gradient(-45deg, black, #8a7 50%, #463 100%);
background: -webkit-gradient(linear, 0 0, 100% 100%, from(#463), color-stop(50%, #8a7), color-stop(100%, #463));
}
#container div.upper img {border:0px solid black;}

#container:hover div.lower {
-moz-transform: rotateY(0);
-webkit-transform: rotateY(0);
}
#container:hover div.upper {
-webkit-tr`nsform: rotateY(180deg);
-moz-transform: rotateY(180deg);
}

&lt;/style&gt;





&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/vjW-AugI-3A" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/8652866511107650193/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/03/uncle-tak-seberapa-tampan-dan-keponakan.html#comment-form" title="45 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8652866511107650193?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8652866511107650193?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/vjW-AugI-3A/uncle-tak-seberapa-tampan-dan-keponakan.html" title="Uncle Tak Seberapa Tampan dan Keponakan" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-qmmcD707kEw/UTGQuhq6_lI/AAAAAAAACCM/BZ37xlb_8hY/s72-c/Foto-0086.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>45</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/03/uncle-tak-seberapa-tampan-dan-keponakan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ak8BQ348eSp7ImA9WhBQFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-7796354158407064535</id><published>2013-02-28T18:40:00.001+07:00</published><updated>2013-03-18T22:00:52.071+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-03-18T22:00:52.071+07:00</app:edited><title>Jakarta, Kelak Aku Akan Kembali</title><content type="html">
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img border="0" height="201" src="http://3.bp.blogspot.com/-hacAxTV4IvE/US4LtZxu7aI/AAAAAAAACAo/4paSjJNmHf4/s320/Monas.jpg" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;B&lt;/span&gt;anyak yang bilang&amp;nbsp; orang tua kandung saya adalah seorang perantau sejati. Jauh sebelum orang-orang di kampung berduyun-duyun mengadu nasib di Jakarta seperti sekarang, bapak&amp;nbsp; sudah terlebih dulu merasakan pahit legitnya ibukota. Mereka bilang jika bapak dulu merantau ke Jakarta dengan menumpang kereta barang. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari almarhum bapak, sebab bertemu beliau saja bisa dikatakan kurang dari jumlah jari&amp;nbsp; tangan. Hingga akhir hayatnya dikabarkan jika bapak menyambung hidupnya di ibukota dengan menjadi penjual ikan hias di kawasan Jalan Pramuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pun demikan dengan almarhumah Mamak saya. Dulu mamak pernah bercerita jika beliau memulai kehidupan rantaunya sejak usia belia. Menyabung nasib dengan menjadi pembantu dari satu rumah ke rumah lainnya. Hingga perjuangan beliau membuahkan hasil. Yah, mamak pernah mempunyai usaha sendiri. Sebuah kantin kecil yang juga pernah saya dolani. Kantin kecil itu terletak di pinggir sebuah gedung megah, belakang Museum Gajah. Saya tak tahu nama gedung itu apa. Yang saya tahu artis Primus dan binaragawan Ade Rai nampak sering keluar masuk di dalamnya, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sedikit cerita tentang kedua orang tua kandung saya. Keduanya perantau sejati dan sama-sama menghabiskan lebih dari separuh usia jauh dari kampung halamannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya"&lt;/i&gt;, ungkapan itu sepertinya tak berlaku pada diri saya. Meski dialiri darah perantau sejati,&amp;nbsp; jiwa itu sepertinya tak ada dalam diri saya. Namun, setidaknya ada sedikit pengalaman yang bisa saya dapatkan saat kurang lebih dua tahun menjadi kaum urban. Merantau pada sebuah kota yang menjadi magnetnya para pengejar mimpi. Di kota tempat berdiri sebuah &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.essip.us/2011/05/di-balik-tembok-pembatas-itu.html" style="color: red;" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;"Tembok Pembatas"&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;yang pernah saya ceritakan pada &lt;a href="http://vania./"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Vania&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kota yang telah memberikan udaranya untuk saya hirup pertama kali dengan merdeka. Yah, saya mencoba mengejar mimpi itu di tanah kelahiran saya sendiri, Jakarta !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mulai perjalanan itu seperti halnya bapak. Sama-sama menumpang kereta api. Sama-sama pula menggenggam sebuah mimpi. Tapi, saya lebih beruntung dari bapak. Kereta api saya lebih mewah dari yang bapak tumpangi. Kelas ekonomi berbandrol tiga puluh delapan ribu. Kereta itu difasilitasi tempat tidur di bawah jok kursi. Beralas koran agar baju kita tak bercampur sampah dan kotoran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Jakarta saya bekerja pada sebuah mega proyek salah satu perumahan terbesar di Indonesia. Berkumpul dengan orang-orang yang bekerja bak mesin yang terus berputar, agar proyek itu segera kelar. Meski saya bekerja sebagai asisten paman. Seorang seniman patung yang lumayan ternama. Tapi, semua itu sama saja. Sedikit beda kasta, tapi pekerjaannya sama seperti mereka. Sama-sama menjadi kuli, yang menjadikan pasir dan semen sebagai teman mesra sehari-hari.&lt;br /&gt;
Merantau itu menurut saya adalah seni mengatur pendapatan yang telah kita kantongi. Tentang cara kita menyeimbangkan jumlah penghasilan dengan biaya hidup di kampung orang. Tentang bagaimana kita bisa menyisihkan duit tanpa harus mengencangkan sabuk perut dengan begitu melilit. Merantau itu bukan semata mencari pengalaman di negeri orang. Tapi, juga mencari modal materi yang bisa kita jadikan sayap usaha saat kembali ke kampung kita sendiri. Hal itulah yang saya lupakan. Mungkin karena euforia gemerlap ibukota membuat terlupa dengan tujuan awal saya. Sekarang dapat hari ini sikat! Hingga saat pulang baru tersadar jika tiada sepeserpun hasil kerja yang bisa dibanggakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merantau itu juga tentang mental kita untuk senantiasa hidup betah jauh dari rumah. Inilah yang tak saya punyai. Saya adalah pribadi yang sulit melupakan hal-hal yang telah menjadi kebiaasaan. Keluarga di rumah, teman-teman dan kehidupan kampung halaman, itulah yang sulit saya lupakan. Mungkin terdengar cengeng dan tak lelaki banget. Tapi, ini soal balas budi pada keluarga yang telah membesarkan saya seperti sekarang ini. Tentang rasa cinta saya tanpa harus menjauh dari mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah di suatu ketika saya putuskan tak mudik saat lebaran tiba. Alasannya sederhana, saya menunggu upah kerja yang tak kunjung tiba. Saat itulah saya merasa betapa berharga arti keluarga di kampung sana. Benar adanya jika Jakarta adalah tanah kelahiran. Tapi, bagi saya Jember adalah nafas kehidupan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat lebaran memasuki hari kedua, akhirnya saya putuskan pulang. Tanpa&amp;nbsp; peduli lagi dengan gaji yang tak kunjung datang. Meninggalkan nuansa lebaran megapolitan yang sepi bak kuburan. Yah, kembali menuju kota kecil itu lagi. Berkumpul bersama keluarga yang saya cintai. Sejak itulah saya merasa kapok untuk merantau lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maafkan aku Jakarta jika&amp;nbsp; tak bisa lagi berkarya bersamamu. Maaf jika sekarang kupilih kota kecil ini menjadi labuhan&amp;nbsp; berkarya hingga menutup mata nanti. Jangan khawatir kelak aku akan kembali melakukan reuni denganmu. Tapi bukan, bukan kembali menjadi seorang perantau seperti dulu. Mungkin hanya menjadi seorang pemantau. Yah, hanya sekedar memantau saja, apakah kamu masih mengenaliku seperti awal mula?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Artikel ini untuk menyemarakkan giveaway &lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://catatan-millati.blogspot.com/2013/02/giveaway-gendu-gendu-rasa-perantau.html" target="_blank"&gt;Gendu-gendu rasa perantau&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Sumber gambar &lt;a href="http://www.lazuardibirru.org/berita/news/jakarta-aman-dari-teroris/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;DISINI&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;

&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/B6Jp3mk7EuE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/7796354158407064535/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/02/jakarta-kelak-aku-akan-kembali.html#comment-form" title="56 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/7796354158407064535?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/7796354158407064535?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/B6Jp3mk7EuE/jakarta-kelak-aku-akan-kembali.html" title="Jakarta, Kelak Aku Akan Kembali" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-hacAxTV4IvE/US4LtZxu7aI/AAAAAAAACAo/4paSjJNmHf4/s72-c/Monas.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>56</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/02/jakarta-kelak-aku-akan-kembali.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UBSHY7cSp7ImA9WhBSFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-8703201523407340537</id><published>2013-02-21T20:39:00.002+07:00</published><updated>2013-02-22T20:54:19.809+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-22T20:54:19.809+07:00</app:edited><title>Apa Perlu Sampah Diperingati?</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a class='lightbox' href="http://2.bp.blogspot.com/-V07QIa-MniE/USXaPL6S1PI/AAAAAAAAB98/v7qAJz8gQ6M/s1600/pedulisampah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-V07QIa-MniE/USXaPL6S1PI/AAAAAAAAB98/v7qAJz8gQ6M/s320/pedulisampah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;J&lt;/span&gt;ika saja&amp;nbsp; ditanya kenapa saya tak begitu peduli budaya Valentine yang dirayakan di bulan Februari. Mungkin saya akan menjawabnya sederhana. &lt;b&gt;Saya hanya merasa iri !&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya iri kenapa&amp;nbsp; saat Valentine menjelang tiba, orang-orang&amp;nbsp; terlihat asyik membicarakannya. Saling perang argumen lewat status jejaring sosial masing-masing. Justru membuat budaya Valentine yang awalnya biasa-biasa saja, menjadi luar biasa karena terlalu banyak memperbincangkannya.&amp;nbsp; Padahal di bulan ini ada satu hari lagi yang sepertinya lebih patut dirayakan, tanpa perlu lagi diperdebatkan. Tanpa harus bersusah payah menyiapkan kado berupa cokelat atau gula-gula sebagai tanda cinta. Tapi, di hari itu kita pun berbicara soal cinta. Yah, tentang cinta kita pada alam raya. Tentang rasa peduli kita pada &lt;i&gt;"sesuatu"&lt;/i&gt; yang kadang dianggap remeh, bahkan sering kita lupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuatu itu bernama SAMPAH. Hari itu adalah Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Februari, tepat hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berawal dari tragedi longsor &lt;i&gt;"gunung sampah"&lt;/i&gt; Leuwigajah delapan tahun silam. Akhirnya&amp;nbsp; 21 Februari dijadikan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Bukan hanya sebatas memperingati tragedi yang merenggut kurang lebih 200 jiwa itu saja, tapi sebagai bentuk peringatan bagi kita semua jika persoalan sampah adalah sesuatu yang tak bisa ditunda-tunda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga hari ini sampah masih dianggap sebagai persoalan sepele bagi masyarakat kita. Rasa apatis pada diri pribadi itu pun akhirnya berkembang menjadi sebuah kebiasaan berjamaah di masyarakat kita. Sebuah kebiasaan kolektif untuk tak membuang sampah pada tempat semestinya. Padahal jika dipikir saat penghujan tiba sampah mereka seakan menjadi &lt;i&gt;"the rising star"&lt;/i&gt; yang menjulang ke angkasa media. Jakarta, ibukota yang dikatakan tempatnya aneka kemegahan, seakan lumpuh bak kubangan. Hujan dan sampah, itulah yang disebut-sebut sebagai biang kejadian itu semua. Padahal letak kesalahan itu pada diri kita sendiri. Tentang cara kita mempersiapkan payung kala hujan tiba. Juga tentang perlakuan pada sampah-sampah yang kita dihasilkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas apa yang harus dilakukan untuk memperingati hari peduli sampah ini? Apa kita harus membuat sebuah gerakan sehari memungut sampah-sampah yang ada? Hmm.. jika seperti itu yang dilakukan, lantas apa beda kita dengan mereka yang merayakan Valentine karena ikut-ikutan? Saling berbagi cokelat setahun sekali. Lalu pergi dan lupa begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permasalahan sampah sebenarnya terletak pada kesadaran dan disiplin saja. Tentang kesadaran pribadi untuk membuang sampah pada tempat semestinya, hingga akhirnya menjadi kebiasaan dan budaya pada masyarakat kita. Mungkin hari ini bisa kita awali dengan memberikan sebuah perlakuan khusus pada sampah-sampah kita sendiri. Lalu kita tularkan ke kanan kiri secara terus menerus, yang akhirnya bisa menjadi sebuah kesadaran secara global.&amp;nbsp; Jika mau anda pun mungkin bisa berkreasi dengan sampah-sampah itu. Yah, mencoba sedikit berpikir tentang cara agar sampah yang dianggap tak berguna itu bisa memberi manfaat bagi kita&lt;br /&gt;
.&lt;br /&gt;
Dulur blogger, Yuk mulai sekarang kita budayakan disiplin dengan sampah kita, tanpa harus menunggu 21 Februari tiba. Sebab, penanganan sampah bukan hanya sebatas tugas dari aktifis lingkungan atau petugas kebersihan saja. Tapi, juga menjadi tanggung jawab kita semua, karena dari kita pula sampah-sampah itu ada. Tak harus menjadi relawan yang memungut sampah-sampah di jalan layaknya &lt;a href="http://www.essip.us/2011/11/dear-pahlawanku-untuk-pak-sariban.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Sariban&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Tapi, setidaknya mulai hari ini kita mau lebih peduli dan menahan diri untuk tak membuang sembarangan sampah-sampah itu lagi.&amp;nbsp; &lt;b&gt;Salam lestari !&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tembusan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel ini saya persembahkan juga buat para calon Presiden, Gubernur, Bupati, Caleg, atau siapa saja penyelenggara negara. Bisakah sampean tak hanya sibuk membersihkan &lt;i&gt;"sampah-sampah negara&lt;/i&gt;" saja, tapi apa sampean juga mampu menularkan kebiasaan membersihkan sampah yang baik dan benar pada masyarakat anda. Selamat Hari Sampah Nasional !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/0OQQjfJqjCU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/8703201523407340537/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/02/apa-perlu-sampah-diperingati.html#comment-form" title="52 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8703201523407340537?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8703201523407340537?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/0OQQjfJqjCU/apa-perlu-sampah-diperingati.html" title="Apa Perlu Sampah Diperingati?" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-V07QIa-MniE/USXaPL6S1PI/AAAAAAAAB98/v7qAJz8gQ6M/s72-c/pedulisampah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>52</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/02/apa-perlu-sampah-diperingati.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQMRH4yfip7ImA9WhBSF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-4410063039247577658</id><published>2013-02-15T21:23:00.001+07:00</published><updated>2013-02-24T18:46:25.096+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-24T18:46:25.096+07:00</app:edited><title>Kata Saya Ini Narsisis Artistik</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;D&lt;/span&gt;ari informasi yang saya dapatkan melalui sebuah forum, kata-kata Narsis itu berasal dari mitilogi Yunani. Tentang hikayat&amp;nbsp; seorang pemuda bernama Narsissus. Pemuda ini memiliki raut yang sangat tampan dan memiliki kebiasaan suka memuji diri sendiri. Selain tampan, Narcissus dikatakan memiliki hati yang tak mudah takluk oleh bujuk rayu para wanita. Berkali-kali para wanita menawarkan cinta buat dia, berkali-kali itu pula dia menolaknya. Hingga pada suatu ketika, seorang wanita bernama Echo mengutuknya saat cintanya ditolak oleh Narsissus. Dikisahkan akibat kutukan itu si Narsissus hanya memiliki rasa cinta pada bayangan dia sendiri di air kolam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut&amp;nbsp; psikologi definisi narsis itu adalah sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi 
obsesi dan hasrat pada diri sendiri untuk mengabaikan orang lain, egois,
 serta tidak memperdulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi,
 dan ambisinya sendiri. Atau kalau diringkas narsis itu over cuek alias &lt;i&gt;ora ngurus&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa narsis itu menurut saya perlu, sepanjang digunakan dengan porsi tak berlebihan.&amp;nbsp; Ketika seseorang mengalami krisis kepercayaan diri, mungkin saat itulah rasa narsis dibutuhkan. Sebaliknya jika digunakan dengan dosis berlebih, so pasti akan memberikan efek tak baik pada seseorang. Egoisme tingkat tinggi dan ujung-ujungnya akan membuat seseorang memiliki sifat tinggi hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, kali ini dapat undangan&amp;nbsp; Giveaway dari Una dengan tema &lt;a href="http://www.sittirasuna.com/2013/01/narsisis-artistik-giveaway" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Narsisis Artistik&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Intinya kita disuruh memajang foto senarsis mungkin dan memiliki cita rasa seni menurut versi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya beberapa hari ini saya merencanakan membuat sebuah foto unik untuk menyemarakkan gawe Una. Konsep foto saya rencananya akan berpose menunggang seekor kebo. Sebab, dengan tampang tak seberapa tampan sudah selayaknya jika foto saya meski didukung properti yang unik agar memiliki nilai artistik. Berhubung kebo disini sangat langka, yo wis terpaksa saya pajang aja foto-foto koleksi lama. Poko'e &lt;i&gt;ora ngurus&lt;/i&gt; orang lain bilang foto tersebut tak memiliki nilai Narsisis Artistik. &lt;b&gt;&lt;i&gt;(sorot gambar untuk memperjelas)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a class="zoom" title="Image Description Here"  href="http://3.bp.blogspot.com/-rwsnYmYUyOA/UR43dM3xgZI/AAAAAAAAB6o/PNjoBVLOvWU/s1600/nyemplung.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-rwsnYmYUyOA/UR43dM3xgZI/AAAAAAAAB6o/PNjoBVLOvWU/s200/nyemplung.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a class="zoom" href="http://1.bp.blogspot.com/-oTlBySwgiK0/UR44JkkRhRI/AAAAAAAAB64/DW4fSIe5Byk/s1600/nyungsep.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-oTlBySwgiK0/UR44JkkRhRI/AAAAAAAAB64/DW4fSIe5Byk/s200/nyungsep.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Skenarionya sih ingin membuat foto levitasi ala &lt;a href="http://www.niarningrum.com/2013/02/photowalk-arek-levitasi-hore-surabaya.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Niar Ningrum&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Tapi berhubung dibatasi pengetahuan soal dan alat pendukung foto levitasi, Jadi yo seperti ini hasilnya. Bukan foto melayang macam levitasi, tapi foto nyemplung dan nyungsep di kali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a class="zoom" href="http://3.bp.blogspot.com/-W_sE32ZsWbs/UR46hlLqvNI/AAAAAAAAB7A/-bf9bt56GhA/s1600/197039_1022243729902_8179_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-W_sE32ZsWbs/UR46hlLqvNI/AAAAAAAAB7A/-bf9bt56GhA/s200/197039_1022243729902_8179_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang istimewa dari foto di atas. Kecuali sedikit perlakuan efek black white dan properti berupa sepeda pancal pinjaman. Tapi eits jangan salah. Foto itu pernah jadi juara dua loh pada kontes foto di sebuah situs jejaring sosial. Ceritanya pernah saya posting di artikel &lt;a href="http://www.essip.us/2011/02/pokoe-melu.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;"Poko'e Melu"&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. 
&lt;br /&gt;
Entahlah, saya sendiri tak habis pikir kenapa juri malah memilih foto itu. Padahal foto bule-bule pesaing menurut saya sangat artistik dibanding foto itu. Nah, menurut anda dari sisi mana sih nilai artistik foto saya itu? Tampang modelnya yang tak seberapa tampan? Sepeda pancal pinjamannya? atau sendal jepitnya? hahaha.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a class="cloud-zoom" href="http://4.bp.blogspot.com/-Oco6UFo0AnE/UR499fr0QXI/AAAAAAAAB7I/k--cKL_hK0I/s1600/199163_1022242609874_2483_n.jpg" imageanchor="1" rel="softFocus: true, position:'inside', smoothMove:1"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-Oco6UFo0AnE/UR499fr0QXI/AAAAAAAAB7I/k--cKL_hK0I/s320/199163_1022242609874_2483_n.jpg" width="236" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ini foto saya paling mahal ! sebab, untuk mencari latar belakang foto seperti itu harus bercapek-capek mendaki dulu &lt;i&gt;"Atap Pulau Jawa"&lt;/i&gt; Mahameru. Posenya sih klasik, cuma gambar orang dengan style two fingers yang kuno. Tapi, latar belakang ledakan vulkanisnya itu loh yang membuat Una aja ngiri :p.
&lt;br /&gt;
&lt;a  class="cloud-zoom"   href="http://1.bp.blogspot.com/-X8C-Dt21KZs/UR5CRWlAL_I/AAAAAAAAB7Q/xyDoZXfaOdk/s1600/30059_1365116341503_1162535_n.jpg" imageanchor="1" rel="softFocus: true, position:'inside', smoothMove:1"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-X8C-Dt21KZs/UR5CRWlAL_I/AAAAAAAAB7Q/xyDoZXfaOdk/s320/30059_1365116341503_1162535_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;br /&gt;
Nah kalau foto yang terakhir ini foto bonus aja. Sebenarnya itu foto unpublish alias tidak boleh dikonsumsi oleh calon-calon Marpuah. Iso mati aku rek pasarane hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp;"&lt;span style="color: #3d85c6;"&gt;Postingan ini dipartisipasikan di&lt;/span&gt; &lt;a href="http://www.sittirasuna.com/2013/01/narsisis-artistik-giveaway.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Narsisis-Artistik Giveaway&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;."&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/n0Zz9lEaQtQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/4410063039247577658/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/02/kata-saya-ini-narsisis-artistik.html#comment-form" title="59 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4410063039247577658?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/4410063039247577658?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/n0Zz9lEaQtQ/kata-saya-ini-narsisis-artistik.html" title="Kata Saya Ini Narsisis Artistik" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-rwsnYmYUyOA/UR43dM3xgZI/AAAAAAAAB6o/PNjoBVLOvWU/s72-c/nyemplung.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>59</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/02/kata-saya-ini-narsisis-artistik.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUBQHw8fCp7ImA9WhBTGUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-8441188647407068630</id><published>2013-02-07T20:34:00.000+07:00</published><updated>2013-02-15T15:50:51.274+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-15T15:50:51.274+07:00</app:edited><title>Habis Muntab Terbitlah Senang</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a class="zoom" href="http://1.bp.blogspot.com/-VIQa1RQHPRg/URCH8iUc1EI/AAAAAAAABzA/edVsYwMU_vQ/s1600/marah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="155" src="http://1.bp.blogspot.com/-VIQa1RQHPRg/URCH8iUc1EI/AAAAAAAABzA/edVsYwMU_vQ/s200/marah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: black; float: left; font-family: Times New Roman; font-size: 50px; line-height: 30px; padding-right: 2px; padding-top: 5px;"&gt;J&lt;/span&gt;ika dirasa dinamika suasana hati itu bak cuaca yang sulit diprediksi akhir-akhir ini.&amp;nbsp; Wajah langit yang nampak&amp;nbsp; terang benderang bisa jadi mendadak berubah hitam kelam. Lalu, tanpa menunggu lama dia pun memuntahkan segala isi yang ada di dalam awan, tanpa sungkan. Sebaliknya kadang orang yakin hujan sebentar lagi akan menyapa mereka. Segala sesuatu&amp;nbsp; pun sudah dipersiapkan agar terhindar&amp;nbsp; ciprat air dari atas sana. Namun seringkali hujan malah terlihat malu-malu. Bisa jadi hujan tak ingin kembali disalahkan. Atau, mungkin saja dia sudah jenuh mendengar teriakan dari orang-orang di bawah sana yang ribut karena kebanjiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pun demikian dengan grafik naik turunnya suasana hati. Tiada bisa diprediksi kapan datang dan kapan berlalu pergi. Selama kita hidup, fluktuasi hati akan terus saja terjadi. Suka atau duka kadang bisa muncul begitu saja. Seakan memberi sebuah kejutan pada hati ini, tanpa bisa kita dihindari.&lt;br /&gt;
--------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebagian orang&amp;nbsp; Sabtu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu. Ada yang bilang Sabtu itu adalah salah satu nikmat menjadi orang kantoran. Pada hari itu mereka bisa sedikit berleha-leha, karena hanya menghabiskan rutinitas kerja hanya dengan separuh masa. Namun, tidaklah demikian dengan seorang satpam dunia maya seperti saya. Rutinitas akhir pekan serasa panjang dan melelahkan untuk dilakukan, sebab di hari itu saya mendapat jatah giliran jaga siang.&amp;nbsp; Sebagai &lt;a href="http://www.essip.us/2011/01/manusia-nokturnal.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;manusia nokturnal&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; saya lebih menikmati rutinitas pekerjaan kala malam hari. Panas, lelah, lapar, ngantuk, selalu saja menemani ketika saya bertugas di siang hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabtu kemarin, di kira-kira tiga perempat rutinitas jaga siang yang saya jalani, terlihat sebuah mobil mewah berhenti di depan warnet. Muncul seorang nyonya separuh baya dari dalamnya, lalu dia nampak bergegas menuju meja kerja saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"bu haji ada mas?"&lt;/i&gt;, tanya dia dengan sorot mata&amp;nbsp; tak bersahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejenak saya berpikir tentang cara wanita itu bertanya pada saya. Kenapa harus nampak urat lehernya jika hanya ingin bertanya keberadaan nyonya majikan saya? Saya pun menjawab jika nyonya majikan sedang pergi ke pusat kota. Wanita itu nampak kesal karena mungkin saja merasa nyonya majikan meleset dari janjinya. Dia pun terlihat ingin melampiaskan semua rasa kesalnya kepada saya. Dengan menggerutu dia berondong saya dengan aneka pertanyaan. Tentang jam berapa nyonya majikan datang, kapan berangkat, dengan siapa, itulah pertanyaan yang dia ajukan dengan nada curiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa tak ingin berlama-lama melayani kicauan sang nyonya,&amp;nbsp; saya mempersilakan dia untuk mencari langsung nyonya majikan ke rumahnya, dengan cara sehalus-halusnya. Sungguh saya tak menyangka jika&amp;nbsp; kali ini nyonya itu berbicara dengan nada setengah membentak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;"Kamu itu bagaimana, tadi bilang enggak ada. Sekarang saya disuruh mencari ke rumahnya!".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, serasa ada godam seratus kati yang menghantam batok kepala ini. Rasanya saya ingin bangkit dari kursi yang saya duduki. Terus terang saya paling tidak suka dibentak seseorang. Apalagi untuk sebuah kesalahan yang tak saya lakukan. Syukurlah saya masih bisa mengendalikan emosi, karena setelahnya si nyonya beranjak pergi dari hadapan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya saya lanjutkan kembali sisa jam piket sore itu. Tentunya dengan atmosfer hati yang tak cerah lagi. Apa karena saya&amp;nbsp; seorang tukang sapu, hingga dia memperlakukan saya seperti itu? Apa karena saya dianggap hanyalah bawahan temannya, hingga dia boleh melakukan apa saja sesukanya? Itulah kecamuk hati dan aneka pikiran mendramatisir yang saya rasakan. Sebenarnya saya bukanlah penganut teori anti-kemapanan. Tapi, saya tidak suka bahkan mungkin benci dengan seseorang yang merasa berlebih dalam hal materi, lalu memperlakukan orang lain&amp;nbsp; di bawahnya dengan sesuka hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selang beberapa menit kemudian seorang Diskotik&lt;i&gt; (gadis toko cantik)&lt;/i&gt; menghampiri meja kerja&amp;nbsp; &lt;i&gt;"Wew Marpuah!", &lt;/i&gt;teriak saya dalam hati. Gadis itu lalu menyodorkan selembar kertas&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dan menjelaskan satu persatu tentang produk yang ada di dalamnya. Promosi produk yang sama sekali tidak saya perhatikan, karena saya lebih peduli dengan senyum yang dia sodorkan. Yah, senyuman itu serasa ampuh membuat saya lupa akan insiden dengan sang nyonya. Meski sesaat, tapi begitu efektif membuat asap kemarahan yang mengepul di telinga saya menjadi tersumbat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Diskotik&lt;/i&gt; itu berlalu pergi, berganti majikan besar yang kemudian menghampiri.&amp;nbsp; Dia sodorkan beberapa lembar rupiah sebagai tanda upah. Kali ini giliran Soekarno-Hatta&amp;nbsp; yang nampak memberi senyum manisnya hanya untuk saya. Begitu sepadan dan sama-sama manis dengan senyum yang tadi disodorkan si gadis. Sebuah nikmat yang nilainya lebih dan jauh melebihi empuknya kursi mobil mewah sang nyonya tadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa pulang melangkah ringan dengan dipayungi suasana hati yang riang. Sembari membawa oleh-oleh berupa satu senyum gadis yang penuh pesona dan enam lembar Soekarno-Hatta yang ada di saku celana. Bukan itu saja, sesampai di rumah ada sebuah bingkisan yang sedari pagi&amp;nbsp; terlihat sudah menanti. Setelah dibuka isinya adalah&amp;nbsp; tali asih buat &lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Uncle Lozz&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; karena beruntung mendapat bronze medal di pagelaran &lt;a href="http://ictwatch.com/internetsehat/2013/01/09/isba-sesi-35-bronze/" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;ISBA&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Lagi-lagi&amp;nbsp; saya harus mengucap puji hamdalah kali ini. Awalnya muntab, tapi kini justru saya rasakan aneka nikmat yang terasa mantab. Datang secara tak terduga. Seakan memberi sebuah kejutan dalam pernak-pernik kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, menurut saya hidup ini hanya tinggal melakoni skenario dari Sang Sutradara. Sebagai aktor tugas kita mungkin hanya bisa melakukan sebuah improvisasi. Melakukan sedikit editing agar lakon hidup ini berakhir dengan happy ending. Syukur-syukur jika saat diputar ulang di akhirat nanti, film kita bisa menggapai puncak &lt;i&gt;"box office"&lt;/i&gt; tertinggi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang Sang Sutradara menyisipkan &lt;i&gt;script ujian&lt;/i&gt; pula dalam lakon kehidupan kita. Tujuannya satu, agar kita semakin lihai saja menjadi pemerannya. Namun sayang, kita atau mungkin saya kadang tak mau sabar saat melakoni &lt;i&gt;script ujian&lt;/i&gt; itu. Bahkan kadangkala lupa jika &lt;i&gt;script ujian &lt;/i&gt;itu hanya sepersekian kecil dari script-script lain&amp;nbsp; dalam kehidupan ini. Script itu bernama nikmat ! Yah, nikmat bernapas, makan, tertawa, atau mungkin nikmat ngupil, serta nikmat-nikmat lain yang jumlahnya tiada tara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga saja kita selalu sabar dalam menjalani &lt;i&gt;script ujian &lt;/i&gt;yang ada di tangan masing-masing. Sabar saat bertemu dengan gesekan-gesekan kecil macam yang terjadi antara saya dengan sang nyonya. Ikhlas nrimo pula manakala kita dapati benturan hebat dalam kehidupan ini. Jangan sampai kita menjadi seorang hamba yang berprasangka jika Sang Sutradara melakukan ketidakadilan pada peran kita. Semoga kita selalu ingat, jika ALLAH itu Sang Maha Pemberi Kejutan. Yah. kejutan-kejutan yang diberikan saat kita usai menjalani ujian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, yuk kita sama-sama belajar menikmati &lt;i&gt;script ujian&lt;/i&gt; dalam peran kita masing-masing. Melakoninya dengan senyuman, dan selalu yakin jika setelahnya akan turun bingkisan dari langit sebagai kejutan bagi kita semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;"Artikel ini turut menyemarakkan Give Away Perdana &lt;b&gt;&lt;a href="http://diary-bububil.blogspot.com/2013/01/give-away-perdana-o.html"&gt;Dellafirayama&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;, seorang ibu labil yang tidak suka warna &lt;b&gt;hitam&lt;/b&gt; dan &lt;span style="color: lime;"&gt;hijau&lt;/span&gt;"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/rmjPhohAagc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/8441188647407068630/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/02/habis-muntab-terbitlah-senang.html#comment-form" title="50 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8441188647407068630?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8441188647407068630?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/rmjPhohAagc/habis-muntab-terbitlah-senang.html" title="Habis Muntab Terbitlah Senang" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-VIQa1RQHPRg/URCH8iUc1EI/AAAAAAAABzA/edVsYwMU_vQ/s72-c/marah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>50</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/02/habis-muntab-terbitlah-senang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUFRX8_fyp7ImA9WhNaEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-8617563238242718238</id><published>2013-01-27T01:50:00.000+07:00</published><updated>2013-01-27T02:06:54.147+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-01-27T02:06:54.147+07:00</app:edited><title>Suara Corong Masjid Itu....</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-qUK9pxEGjhE/UQEnVn4MMEI/AAAAAAAABuU/skP5K0zonqc/s1600/484881_4715752825321_906309747_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-qUK9pxEGjhE/UQEnVn4MMEI/AAAAAAAABuU/skP5K0zonqc/s320/484881_4715752825321_906309747_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Lagi-lagi corong masjid itu berbunyi kembali. &amp;nbsp;Bukan, kali ini bukan datang dari suara adzan. Senandung kalam illahi,&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; lima kali sehari tiada henti diserukan. Bukan pula berisi pengumuman, jika hari ini kampungku mendapat giliran listrik padam. Orang bilang suara itu adalah &lt;i&gt;"siaran Innalillahi"&lt;/i&gt;. Sebagai pertanda jika ada salah satu dari kami yang pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak tahu kenapa &lt;i&gt;"siaran innalillahi"&lt;/i&gt; itu sekarang seringkali&amp;nbsp; terdengar. Padahal, rasanya belum terlalu lama nama Emak disebut-sebut di dalamnya. Kini, entah giliran siapa lagi yang harus memenuhi panggilan-NYA. Yang aku tahu saat ini aku juga sedang berada dalam daftar tunggu itu. Menunggu giliran namaku untuk dipanggil nanti. Meski hingga detik ini aku masih saja merasa belum siap menghadapinya. Tapi, mau atau tidak mau, suka ataupun tak suka, kelak &amp;nbsp;namaku pasti akan dipanggil pula melalui corong masjid itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dirasa hidup ini berjalan begitu singkatnya. Sepertinya baru kemarin aku masih menjadi seorang bocah. Lelaki kecil yang gemar bermain ciprat air kali. Bertelanjang dada dengan riangnya.&amp;nbsp; Kadang pula nampak polos tiada sehelai benang, tanpa malu-malu. Kini lelaki kecil itu telah menjadi seorang lelaki dewasa, yang masih saja mau terbujuk nafsu dunia. Sekarang lelaki kecil itu&amp;nbsp; nampak pula begitu mesra berteman bisikan di kanan kirinya. Namun sayang, kadang lelaki itu lebih suka mengamini bujuk telinga kiri, dan tak mengindahkan bisik bidadari yang muncul di telinga kanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah bisik rayu yang selalu tawarkan legit duniawi. Memburuku secara bertubi-tubi, tanpa ampun. Dengan segala&amp;nbsp; cara&amp;nbsp; hingga aku mau terpedaya. Tiada henti menyerang titik-titik fitrah dari berbagai&amp;nbsp; arah. Setiap waktu cuma itu yang dia lakukan. Sebab, hanya satu sebenarnya yang dia kehendaki. Aku mau mengangkat bendera putih tinggi-tinggi, itu saja. Selebihnya dia hanya tertawa lepas saat melihatku telah berlaku culas. Lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan rasa sesal juga noda sebagai kenangan buatku. Yah, sebuah noda yang&amp;nbsp; kini menghias di pundak kiriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Duh GUSTI, harus dengan cara apa kubasuh semua noda yang telah ada. Harus bagaimana pula kukikis semua kerak di hati ini hingga habis. Ah, andai saja di dunia ada penyedia pulsa hidup manusia, mungkin aku akan membeli satu saja voucher geseknya. Agar &amp;nbsp;bisa menambah masa aktif usiaku, serta bangkit dari keterpurukan masa lalu itu. Tapi, kurasa itu adalah hal yang sia-sia belaka. Maut pasti kan datang tanpa perlu kita menjemput. &amp;nbsp;Menjadi tua adalah sebuah perkara yang tak sedetikpun kita mampu menghentikannya.&lt;br /&gt;
----------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
note : Met milad mbak Arie aka &lt;b&gt;&lt;a href="http://godeksfamily.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Mimi Radial&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. Semoga &amp;nbsp;sisa usiamu penuh barokah. Seperti halnya obrolan kita tempo hari yang lalu, aku berharap semoga kau bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya &lt;i&gt;"jalan sorga"&lt;/i&gt; yang ada di kanan kirimu. Maaf jika tak ada kado spesial yang bisa kuhadiahkan. Mungkin hanya sebuah video sederhana saja yang mampu kuberikan. Sebagai tanda jabat tangan hangat dari seorang sahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sengaja kok aku membuatmu &lt;i&gt;nesu&amp;nbsp;&lt;/i&gt;karena tak turut perhelatan GA ultahmu. Bukan, bukan berarti aku tak mau larut dalam keceriaan hari jadimu. Tapi, aku hanya ingin menjadi seorang sahabat yang tak hanya ada saat kau ceria tertawa. Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan di hari isi ulang usiamu, terlebih buat diriku sendiri. Yah, sebagai renungan bersama, jika dengan bertambahnya usia, itu berarti akan semakin dekat pula corong masjid itu akan memanggil-manggil nama kita.&lt;br /&gt;
&lt;div id="at"&gt;
&lt;div class="attab" onclick="showHideAT()"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="atcontent"&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;div style="background: black;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center"&gt;
&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="375" src="http://www.youtube.com/v/WLGKNT28-hg?modestbranding=1&amp;amp;autoplay=0" width="600"&gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&lt;a href="javascript:void(0);" onclick="showHideAT()"&gt;&lt;img alt="close" border="0" src="https://lh5.googleusercontent.com/-1oVKdX-p1Z4/UQQofxJJqAI/AAAAAAAABvA/ESqEU62gjXY/s31/close_button.png" title="Click here to Close Cbox" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;
var at = document.getElementById("at");
at.style.top = (-200-at.offsetWidth).toString() + "px";
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;
&lt;a href="javascript:void(0);" onclick="showHideAT()"&gt;&lt;img alt="cbox" border="0" src="https://lh4.googleusercontent.com/-HL8BhI555Pg/UQQofxLMtDI/AAAAAAAABu8/SRlop1nPT4A/s45/Click-here-button.gif" title="Click here to open Guest Book" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;style type="text/css"&gt;
#at{
position:fixed;
right:330px;
z-index:+1000;
}
* html #at{position:relative;}
.attab{
height:100px;
width:30px;
float:left;
cursor:pointer;
background:url();
}
.atcontent{
float:left;
border:2px solid #999;
b`ckground: grey;
-moz-border-radius-topleft:15px;
-moz-border-radius-topright:15px;
-moz-border-radius-bottomleft:15px;
-moz-borddr-radius-bottomright:15px;
padding:10px;
-moz-box-shadow: 0px 2px 5px 0px grey;
}
&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;
function showHideAT(){
var at = document.getElementById("at");
var w = at.offsetWidth;
at.opened ? moveAT(0, -200-w) : moveAT(20-w, 0);
at.opened = !at.opened;
}
function moveAT(x0, xf){
var at = document.getElementById("at");
var dx = Math.abs(x0-xf) &gt; 25 ? 35 : 1;
var dir = xf&gt;x0 ? 1 : -1;
var x = x0 + dx * dir;
at.style.top = x.toString() + "px";
if(x0!=xf){setTimeout("moveAT("+x+", "+xf+")", 10);}
}
&lt;/script&gt;
&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/rbvWVRbKxU0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/8617563238242718238/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/01/suara-corong-masjid-itu.html#comment-form" title="35 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8617563238242718238?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/8617563238242718238?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/rbvWVRbKxU0/suara-corong-masjid-itu.html" title="Suara Corong Masjid Itu...." /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-qUK9pxEGjhE/UQEnVn4MMEI/AAAAAAAABuU/skP5K0zonqc/s72-c/484881_4715752825321_906309747_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>35</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/01/suara-corong-masjid-itu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MEQXY6fyp7ImA9WhNbEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-6646038859138692989</id><published>2013-01-13T02:24:00.000+07:00</published><updated>2013-01-14T04:10:00.817+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-01-14T04:10:00.817+07:00</app:edited><title>Apa Itu Salah?</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8_PZmHyd9I8/UPGkS-ZknJI/AAAAAAAABt4/Cg2WLWsenvI/s1600/Image4329.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-8_PZmHyd9I8/UPGkS-ZknJI/AAAAAAAABt4/Cg2WLWsenvI/s320/Image4329.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk kamu yang baru saja mengecup mesra secarik kain itu. Juga untuk kamu yang menjadikan abu-abu sebagai warna kebanggaanmu. Tanpa terasa kita kembali ke titik awal putaran masa yang baru. Tak terasa pula hampir tujuh tahun kisah perjalanan kita. Bersama, bersaudara dan berkarya di bawah naungan atap yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masihkah kalian ingat&amp;nbsp; saat dulu sama-sama kita letakkan pondasi cinta itu.&amp;nbsp; Tak semua bibir mau memberi senyum indahnya. Bahkan beberapa mata nampak memandang penuh curiga. Ada pula diantaranya yang berkata, jika untuk mempertahankan tiangnya saja kita tak akan kuasa. Tapi, lihat sekarang sayang ! Tiang persaudaraan itu masih kokoh terpancang. Rumah karya kita masih berdiri seperti semula. Salam lestari sayup pula masih terdengar dari dalamnya. Kadang terdengar lantang. Kadang pula terdengar lirih sumbang. Meski tak bisa kita pungkiri, ada pula diantara kita yang berlalu pergi. Berlari, tanpa alasan tinggalkan gelanggang kita berjuang. Mencari kehidupan baru yang menurut mereka lebih menawarkan kelezatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu ada resah ketika&amp;nbsp; kalian mendengar kata &lt;i&gt;"sampah"&lt;/i&gt;. Aku merasa ada ragu saat berkali-kali masih saja kubisikkan kalimat itu ditelingamu. Tapi,&amp;nbsp; bendera sudah dikibarkan sayang. Pantang bagi kita untuk turunkan. Lagipula aku sudah terlanjur cinta dengan dunia pencinta alam ini. Jadi, sampai kapanpun aku tiada pernah jera untuk menggandeng tanganmu bersamaku. Biar bagaimanapun kalian adalah adik-adikku. Amanat Tuhan buat aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang bilang dunia kita berdamping begitu mesra dengan petualangan. Kurasa perjalanan hidup ini itulah sebenar-benarnya petualangan. Tentang cara kita mempergunakan kredit usia&amp;nbsp; yang singkat untuk sesuatu yang manfaat. Tentang&amp;nbsp; menjadi seorang khalifah alam raya yang tak sebatas menikmati isinya, tapi juga mau berkarya di dalamnya. Jika&amp;nbsp; memiliki kepandaian,&amp;nbsp; pergunakan anugerah itu semata untuk kebaikan. Jika kaya, cobalah berkarya dengan harta yang dipunya. Lantas, bagaimana halnya jika kita terlahir dari keluarga yang tak bergelimang harta? Hmm, jangan berkecil hati sayang. Kurasa kita masih punya harta yang lain. Sesuatu yang nilai bandingannya melebihi harta apapun di dunia. Harta itu bernama akal. Ya, itulah modal berharga kita untuk beramal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa aku &lt;strike&gt;belum&lt;/strike&gt; bukanlah bagian dari orang-orang mapan itu. Tapi, bukan berarti pula aku harus menjadi seorang yang papa dalam hal berkarya. Aku hanya pencari rejeki yang mengais sen demi sen&amp;nbsp; lewat sebuah layar mini. Jadi apa salah jika kulakukan hal yang sama di dunia nyata? Mengais sampah-sampah itu sebagai bagian dari karya kita. Apa ada yang salah jika kita&amp;nbsp; pilih berkarya diantara tetumpukan sampah? Jika saja &lt;i&gt;"kotoran"&lt;/i&gt; yang menjadi alasan bagi kita untuk enggan, cobalah untuk menelaah kalam sebaik-baiknya insan. Bukankah telah disebutkan bahwa di dalam kebersihan itu ada separuh iman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi seorang pencinta alam handal tak harus hafal teori survival. Survival kita adalah tentang bagaimana cara bertahan tanpa harus memberi beban. Sebuah teori sederhana agar kita tetap tumbuh, mempunyai tunas yang baru&amp;nbsp; tanpa harus menjadi benalu. Aku sama sekali tak bermufakat, jika kita menjadi generasi yang suka menyodor-nyodorkan proposal dana ke meja pejabat. Justru aku merasa bangga, karena hingga detik ini kita masih belum terkontaminasi pernak-pernik iklan apalagi bendera partisan. Apapun yang terjadi aku tak akan&amp;nbsp; mau, jika kalian dijadikan sayap kepentingan bagi siapa saja. Itulah teori survival menurutku. Bertahan hidup mandiri, mencukupi diri sendiri tanpa harus membebani, sekaligus memanfaatkan semua potensi untuk semampunya memberi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak piawai ilmu navigasi darat, bukan berarti pula kita tak bisa menjadi hebat. Bukan..bukan berarti aku menganggap remeh teori hebat nan &lt;i&gt;njlimet&lt;/i&gt; itu. Terus terang aku pernah mempelajarinya, tapi kemudian sengaja&amp;nbsp; melupakannya. Alasanku sederhana saja, tak mungkin kiranya seumur hidup aku akan mempergunakannya. Navigasi itu menurutku adalah hati nurani. Tentang bagaimana menjaga setiap langkah kita agar senantiasa lurus di jalurnya, itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usah gelisah meski kita tak megah. Usah lara meski kita tak sama dengan mereka. Tutup saja telinga kalian dari teriakan yang nyata-nyata melemahkan. Biar saja kita berkarya di atas tetumpukan sampah, daripada hanya menjadi &lt;i&gt;"sampah"&lt;/i&gt;, yang hanya tergolek diam dan pasrah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang,&amp;nbsp; kalian masih ingat kan sebuah senandung yang tiap hari kita dendangkan. Perihal seorang bidadari kecil yang masing-masing kita punyai. Bidadari penyelamat yang senantiasa menuntun kaki-kaki kita.&amp;nbsp; Jadi, kenapa kita enggan melangkah, jika &lt;a href="http://www.reverbnation.com/keluargatamasya/song/15450268-ustad-bidadari-kecil" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;bidadari kecil&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;di hatimu berbisik itu tidak salah?&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/M5jrZMwgjsw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/6646038859138692989/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2013/01/apa-itu-salah.html#comment-form" title="86 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6646038859138692989?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6646038859138692989?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/M5jrZMwgjsw/apa-itu-salah.html" title="Apa Itu Salah?" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-8_PZmHyd9I8/UPGkS-ZknJI/AAAAAAAABt4/Cg2WLWsenvI/s72-c/Image4329.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>86</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2013/01/apa-itu-salah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEYER3Yzeip7ImA9WhNVF08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-5377859467393568043</id><published>2012-12-28T20:45:00.001+07:00</published><updated>2012-12-29T02:15:06.882+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-12-29T02:15:06.882+07:00</app:edited><title>Apa Yang Kau Cari, Hai Pendaki?</title><content type="html">&lt;div class="separatnr" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2KEKdn87jW0/UIk35MIXk8I/AAAAAAAABnA/tEIS3pRGC68/s1600/12933_1183456080110_1639493372_454193_6534002_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-2KEKdn87jW0/UIk35MIXk8I/AAAAAAAABnA/tEIS3pRGC68/s320/12933_1183456080110_1639493372_454193_6534002_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
Lewat obrolan virtual itu&amp;nbsp; kau bertanya tentang petualangan-petualanganku. Tentang seberapa banyak puncak tinggi yang pernah kugagahi. Juga tentang seberapa luas rimba raya yang telah kucumbui. Selebihnya kau hanya bercerita tentang petualanganmu saja, tanpa titik koma. Padahal jika bisa kau&amp;nbsp; tatap mataku saat itu, tentu kau akan tahu jika sebenarnya aku enggan mendengar ceritamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa belas tahun yang lalu aku juga sama sepertimu kawan. Ketika secarik kain berwarna ungu itu baru saja melingkar di leherku. Saat benak ini hanya dipenuhi oleh satu obsesi. Mendaki, mendaki dan mendaki, itu saja. Namun, di tengah perjalanan akhirnya aku baru sadar akan sesuatu. Tak harus menjadi seorang pencinta alam, jika kau hanya ingin berpetualang! Sebab, mendaki sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya aku atau kamu, tapi juga mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan,&amp;nbsp; puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat&amp;nbsp; pulang, dan kembali berkumpul dengan keluarga?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kawan, mendaki itu bukan sebatas menumpuk dokumentasi di situs jejaring pribadi. Bukan pula ajang pembuktian sebagai seorang pencinta alam yang jantan. Jika itu saja yang ada dalam pikiranmu, kurasa kau masih belum memahami esensi dari mendaki. Dari setiap cucuran keringat, disitu ada mutiara hikmat. Dalam setiap perjalanan, disitu pula ada makna pelajaran tentang kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kau dirundung gila tenar dan sanjung. Cobalah untuk berdiri di puncak tinggi itu. Lihat kawan, adakah sorak sorai tepuk tangan penonton yang mengitarimu. Adakah spanduk &lt;i&gt;"selamat datang"&lt;/i&gt; yang menyambutmu? Mungkinkah pula ada sebuah tropi yang bisa kau angkat tinggi-tinggi sebagai tanda kemenanganmu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kau di puncak tinggi itu, mungkin saja kau merasa lebih tinggi dari segalanya. Coba tengok di sekelilingmu. Kanan, kiri dan juga&amp;nbsp; yang ada di atasmu. Lihat, bandingkan dirimu dengan bentang alam yang menghampar di sana. Bayangkan dirimu ada diantaranya, itulah sebenarnya dirimu. Kau tak lebih hanyalah sebuah noktah yang mungkin tak nampak jika ditatap dari kejauhan. Masihkah kau merasa lebih tinggi? Jadi, kenapa kita merasa seakan mampu memegang matahari? Bukankah &lt;a href="http://www.essip.us/2011/05/masih-ada-langit.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;di atas langit masih ada langit&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; kawan? Tak mungkin&amp;nbsp; kita mampu menggapai matahari itu. Bahkan untuk menatapnya saja, kau tak akan kuasa oleh silaunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berada di puncak yang paling tinggi, bukan berarti kita telah menjadi pemenang sejati.&amp;nbsp; Jangan lupa kawan, semakin tinggi tempat kita berdiri, semakin kencang pula angin yang menerpa di kanan kiri. Posisi tinggi dalam kehidupan bukanlah jaminan tidur kita akan menjadi aman sekaligus nyaman. Sebab, bisa jadi ada angin dari luar sana yang akan menerpamu secara bertubi-tubi. Sekencang-kencangnya, tanpa kau sadari dari arah mana datangnya. Bahkan acapkali angin itu mencoba menjatuhkanmu hingga posisi serendah-rendahnya. Tapi, santai saja kawan. Bukan itu yang perlu kamu takuti. Jadikan saja ikhlas dan sabar sebagai tameng&amp;nbsp; untuk menahan terpaan angin di luaran sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuhanya takut&amp;nbsp; hembusan angin kecil dalam diri yang justru akan menggoyahkan kaki penopang kita berdiri. Tiupan angin dalam hati bernama sombong, riya' dan dengki, itulah yang harus kita waspadai. Jangan biarkan tiupan itu semakin berhembus, menerobos dinding hati ini. Sebab, jika itu menjadi kebiasaan, bisa jadi akan menjadi sindrom saat usia senja nanti. Saat rambutmu telah dipenuhi uban, kau masih saja sibuk berebut pujian. Saat keriput mulai membalut kulitmu, kau pun masih saja bernafsu memburu jempol-jempol itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kawan, bukan berarti aku antipati pada kata-kata mendaki. sebab, hingga hari ini petualangan itu masih kusenangi. Mungkin saja aku sedang jemu untuk melakukannya. Seperti halnya kejemuanku pada dunia abstrak yang sedang kulakoni lewat layar mini ini. Mungkin ada baiknya kita berbincang tentang hal yang lain saja. Sesuatu yang lebih pencinta alam tentunya. Tentang &lt;a href="http://www.essip.us/2011/02/periculum-in-mora.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;periculum in mora&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Atau tentang alam raya yang butuh sentuhan sayang dari tangan kita. Kenapa kita enggan perbincangkan&amp;nbsp; jernih sungai yang sekarang berubah bak comberan? Kenapa kita tak berdiskusi lagi tentang burung-burung yang enggan bernyanyi kala pagi hari?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin lain waktu kubiarkan ransel gunung itu kembali memijat lembut punggungku. Mungkin lain hari aku akan kembali mendaki sepertimu. Tapi, tentu saja bukan bermaksud untuk menjadi yang lebih tinggi, atau mungkin meninggi. Sebab, mendaki itu kulakoni 'tuk sekedar &lt;i&gt;mengasorkan diri&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Lestari !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Note : Hari ini lantunan &lt;a href="http://www.reverbnation.com/keluargatamasya/song/15446123-endoq-santai-saja-kawan" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;"santai saja kawan"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; terasa lebih merdu dibanding kicauan sekerumunan burung di semak belukar itu. :)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/r1X2bahndHg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/5377859467393568043/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2012/12/apa-yang-kau-cari-hai-pendaki.html#comment-form" title="35 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/5377859467393568043?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/5377859467393568043?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/r1X2bahndHg/apa-yang-kau-cari-hai-pendaki.html" title="Apa Yang Kau Cari, Hai Pendaki?" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-2KEKdn87jW0/UIk35MIXk8I/AAAAAAAABnA/tEIS3pRGC68/s72-c/12933_1183456080110_1639493372_454193_6534002_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>35</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2012/12/apa-yang-kau-cari-hai-pendaki.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMMQXg7fyp7ImA9WhNTGUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-6994699574235781522</id><published>2012-10-20T10:02:00.000+07:00</published><updated>2012-10-23T15:54:40.607+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-10-23T15:54:40.607+07:00</app:edited><title>Lagu Anak itu Tak Membodohiku</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OZ3cpAS1rPY/UIZbOhG6clI/AAAAAAAABmo/PZrYzKSH-u8/s1600/Lagu+anak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-OZ3cpAS1rPY/UIZbOhG6clI/AAAAAAAABmo/PZrYzKSH-u8/s1600/Lagu+anak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp; &lt;/div&gt;
Ada yang menarik ketika kemarin saya mencari bahan untuk blog &lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;lagu anak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; saya. Banyak sekali saya melihat artikel-artikel yang intinya mengkritik lirik lagu-lagu anak yang sudah tak asing lagi bagi indera dengar kita. Entah saya tidak tahu darimana sumber artikel-artikel itu. Setahu saya artikel itu lumayan banyak beredar di blog-blog. &lt;i&gt;(coba search kata kunci "lagu anak pembodohan &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;pembodohan lagu anak")&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya cuma heran kenapa artikel itu justru digemari sebagai bahan copas di beberapa blog. Padahal menurut saya isinya hanyalah sebuah opini yang mengada-ada saja. Menghakimi tanpa menyertakan sebuah alasan yang valid dan masuk akal. Sangat disayangkan juga adanya sebuah label &lt;b&gt;&lt;i&gt;"pembodohan"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; di dalamnya. Seakan lagu-lagu itu benar-benar akan membuat bodoh anak kecil jika menyanyikannya. Sebuah sikap yang tidak menghargai karya anak negeri sendiri. Lebih parah lagi adapula yang mengutuk pencipta lagu serta guru TK karena dianggap membodohi mereka selama ini lewat lagu anak-anak tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yo wis lah, jika mereka&amp;nbsp; punya opini sendiri, demikian pula halnya saya. Sebagai blogger tentu saja kita diharuskan untuk bisa memberikan sebuah informasi yang seminim mungkin jauh dari kesalahan. Meluruskan, jika ada sesuatu yang bengkok. Dan, saling memberikan urun rembug jika ada sebuah permasalahan yang belum bisa kita pecahkan layaknya persoalan &lt;a href="http://www.essip.us/2012/10/cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;tawuran&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang sekarang kita hadapi. Nah, di artikel ini saya pun akan memberikan opini&amp;nbsp; mengenai semua kritikan pada lagu-lagu anak tersebut. Seobyektif mungkin dan&amp;nbsp; tentunya hanya berasal dari copas otak saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dia beberapa lagu anak yang dikatakan memperbodoh itu. &lt;i&gt;(silakan klik judulnya jika ingin mendengar dan melihat lirik lagunya)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2011/06/balonku-ada-lima.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Balonku &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Banyak yang mempertanyakan kenapa tiba-tiba muncul balon berwarna hijau?. Berarti balonnya ada enam dong bukan lima?. Hehehe coba dengerin lagi deh lagu &lt;i&gt;"Balonku"&lt;/i&gt; dengan lirik yang benar. Jelas aja bingung bin mumet, lah liriknya aja diganti dari yang semula berwarna hijau sekarang diganti merah. Hanya kebiasan salah kaprah dalam menyanyikan saja menurut saya permasalahannya. Penyanyi jazz Tompi juga salah loh dalam menyanyikannya. Intinya menurut saya yang membikin bingung itu kita sendiri, karena salah dalam menyanyikan lirik lagunya. Mungkin kita terpengaruh juga dengan lagu &lt;i&gt;"Pelangi"&lt;/i&gt; yang menyebutkan warna merah di awal salah satu liriknya,. Kemudian menjadi kebiasaan yang kita lakukan juga di lagu &lt;i&gt;"balonku"&lt;/i&gt;. Piye? masih ngeyel saja nyanyi &lt;i&gt;"balonku"&lt;/i&gt; pakai warna merah? Yo wis silakan bermumet ria aja hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2012/10/bintang-kecil.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Bintang Kecil&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Ada yang menganggap aneh lagu ini karena menceritakan bintang yang muncul di langit yang biru. Padahal bintang biasanya muncul saat malam hari atau ketika langit berwarna hitam. Lah jelas aneh dong, wong lagi-lagi liriknya dirubah saat menyanyikan. Mungkin pula karena lagi-lagi terpengaruh lagu &lt;i&gt;"pelangi"&lt;/i&gt;, lirik yang semula berbunyi &lt;i&gt;"di langit yang tinggi"&lt;/i&gt; berubah menjadi &lt;i&gt;"di langit yang biru"&lt;/i&gt;. Masih tak percaya? Silakan anda lihat rima lirik lagu &lt;i&gt;"bintang kecil"&lt;/i&gt;, kira-kira lebih sreg mana pakai&lt;i&gt; "tinggi"&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;"biru"&lt;/i&gt;?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2011/06/aku-seorang-kapiten.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Aku Seorang Kapiten&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Lagu ini dikatakan tidak konsisten dalam menulis lirik lagunya. Pada bait pertama menceritakan seorang kapiten dengan pedang panjang, kemudian di bait ke dua menceritakan tentang sepatunya. Mereka mempertanyakan inkonsistensi lirik lagu itu. Menceritakan pedang atau sepatu?. Menurut saya jawabannya terletak pada judul lagu itu, &lt;i&gt;"Aku seorang kapiten"&lt;/i&gt;. Yah, lagu itu menceritakan sosok penampilan seorang kapiten, bukan sepatu atau pedang panjang. Tidak ada yang salah kok dengan liriknya. Masih tetap konsisten karena menceritakan seorang kapiten yang mempunyai pedang panjang, dan saat dia berjalan berbunyi prok prok prok. Hingga karena gagahnya dia bangga menyebut &lt;i&gt;"Aku seorang kapiten"&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2012/03/bangun-tidur.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Bangun Tidur&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Katanya lagu ini akan membuat anak tidak memprogam tugasnya secara baik dan selalu terburu-buru. Seakan para pengkritik menuntut agar lagu tersebut menyebutkan detail demi detail aktifitas pagi yang dilakukan anak. Hmm. menurut saya dalam menciptakan sebuah lagu tentunya pencipta harus mampu bercerita dalam bentuk seringkas mungkin tapi mengena kepada sasarannya. Lah kalau lagu &lt;i&gt;"bangun tidur"&lt;/i&gt; saja kita diharuskan menyebut satu persatu aktifitas anak saat pagi hari, bagaimana halnya dengan sebuah lagu cinta milik orang dewasa?. Wah bisa jadi sandiwara radio dong nanti lagunya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2011/06/naik-gunung.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Naik-naik ke Puncak Gunung&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Di sebutkan jika lagu ini bisa membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi. Sebab, pada awal lagu terkesan memberi semangat untuk mendaki gunung, namun kemudian menjadi bingung dan hanya malpu toleh kanan kiri melihat pohon cemara karena jalanan yang tajam saat mendaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sarankan para pengkritik untuk masuk pencinta alamdan belajar ilmu psikologi alam bebas. Dalam pendakian memang dibutuhkan sebuah konsentrasi tinggi, tapi diperlukan pula sebuah improvisasi agar kita tak merasa terbebani dengan beratnya perjalanan kita. Salah satu cara adalah dengan melayangkan pandangan menikmati pemandangan di kanan kiri&amp;nbsp; ketika perjalanan. Yah, dengan melihat pemandangan kiri kanan yang digambarkan pohon cemara itu membuat kita menjadi termotivasi untuk mendaki, bukan malah sebaliknya. Anda tidak percaya? Monggo, kapan-kapan kita naik gunung bareng dan sama-sama membuktikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2011/06/naik-kereta-api.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Naik Kereta Api&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Lagu ini dikatakan akan memberi efek anak doyan gratisan.&amp;nbsp; Lebih lucu lagi disebut-sebut jika PJKA rugi besar gara-gara efek dari lagu ini. Cobalah anda cermati lirik "&lt;i&gt;keretaku tak berhenti lama"&lt;/i&gt;. Apakah menurut anda itu kereta api beneran atau hanya kereta api mainan?. Apakah masuk akal seorang anak kecil memiliki kereta api sungguhan?. Sebenarnya jika kita mencermati, lagu itu justru mengajarkan nilai kedermawanan pada seorang anak. Yaitu dengan memperbolehkan teman-temannya naik kereta api dia tanpa harus membayar. Bukankah itu perilaku seorang dermawan?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada yang tanya lah rutenya itu kan bener rute kereta api sungguhan? Hehehe berpikir dalam bingkai kanak-kanak dong pret!. Berimajinasi liar lah laksana anak-anak kecil, mau B`ndung, Surabaya atau Ujung Kulon&amp;nbsp; sekalipun, itu kan hanya imajinasi anak-anak ketika bermain kereta api. Bukan malah sebaliknya mengada-ada dengan mengatakan PJKA akan rugi gara-gara lagu ini. Tanya deh pak masinis atau kondektur kereta, apakah mereka menggratiskan penumpangnya gara-gara ketika kecil mendengarkan lagu ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2012/08/pok-ame-ame.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Pok Ame Ame&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Ini jelas lagu dewasa dan bukan konsumsi anak-anak! itu kata para pengkritik lagu ini. Hehehe yang ngeres sebenarnya lagunya apa yang ngritik ya? Cobalah anda bayangkan ketika kecil dulu, ketika anda mendengar kalimat minum susu apakah itu anda anggap sebagai aktifitas seksual? Atau jika sekarang saya menulis&lt;i&gt; "jika pagi hari saya minum jamu, jika malam hari saya minum susu"&lt;/i&gt;. Apakah anda mengartikan tulisan itu jika saya sedang melakukan aktifitas seksual? Jelas ya ! kalau pikiran anda ngeres hehehe. Cobalah kembali cermati rima lagu itu, saya rasa anda pasti tahu jika sebenarnya lagu itu wajar-wajar saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2012/01/nina-bobo.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Nina Bobo&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Diartikel itu ditulis bahwa psikolog mengatakan jika sdkian tahun anak-anak Indonesia diajak tidur dengan cara &lt;i&gt;"mengancam"&lt;/i&gt;. Hmm.. para emak tentu sudah paham bagaimana sulitnya menidurkan anak kecil mereka. Menyuruh anak kecil tentu saja tak semudah yang kita kira. Ada hukum sebab akibat yang biasanya harus kita jelaskan dulu agar mereka patuh dengan perintah orang tuanya. Jika anak belajar malas tentu akan tidak naik kelas. Jika anak durhaka pada orang tua maka jadinya akan celaka. Demikian pula dengan lagu itu. Sebuah bujukan sekaligus menjelaskan efek jika mereka tak lekas tidur yaitu digigit nyamuk. Menurut saya itu hanya sebuah stimulan agar mereka lekas tidur, bukanlah ancaman pada anak. Lain halnya jika lirik itu berbunyi &lt;i&gt;"Kalau tidak bobo' digigit emak"&lt;/i&gt; atau "&lt;i&gt;Kalau tidak bobo' digampar bapak"&lt;/i&gt; itu baru namanya ancaman. Heran, sebenarnya psikolog mana sih yang omong gitu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://lagubocah.blogspot.com/2012/04/burung-kutilang.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Burung Kutilang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Katanya lagu ini menyesatkan,&amp;nbsp; karena tidak mengajarkan realita pada anak. Seekor burung kutilang harusnya berbunyi cuit.cuit.cuit bukan trililili yang lebih identik dengan bunyi orang. Hehehe saya sarankan deh mulai sekarang para pengkritik itu agar tak membaca novel lagi seumur hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah karya seni tentunya harus bisa memberikan sebuah daya imajinasi tinggi bagi para penikmatnya. Coba bayangkan apa jadinya sebuah novela tanpa bumbu sastra. Apakah kita akan terus memprotes jika ada tulisan yang tak sesuai dengan realita secara gamblang, misal pada kalimat "&lt;i&gt;wajahmu secerah rembulan"?&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;"Tatapanmu membuat hatiku dag dig dug ser"&lt;/i&gt;. Begitu pula halnya dengan sebuah lagu, tak bisa tentunya kita harus memaksakan sebuah lirik sesuai dengan realitanya secara kongrit. Jangankan pada lagu anak-anak yang penuh dengan imajinasi tinggi, pada lagu orang dewasa pun mungkin saya bisa mengkritik dengan membenturkannya pada realita secara makjleb. Pada lagu Noah misalnya, bisa saja saya mengatakan jika Ariel itu seorang waria, karena menyanyikan lirik berbunyi &lt;i&gt;"karena separuh aku dirimu"&lt;/i&gt; hehe. Cobalah nikmati karya seni itu dengan penuh imajinasi, itu saja masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menikmati lagu anak-anak tentunya kita tak bisa memaksakan pola pikir dan idealisme kita sebagai orang dewasa. Cobalah kembali ke masa kecil kita dulu agar kita bisa memahami arti dari lagu anak-anak itu. Jika dikatakan lagu anak itu melakukan pembodohan, justru saya merasa jika merekalah yang telah membuat bodoh dirinya sendiri. Jika lagu anak-anak itu dianggap melakukan penyesatan, Hmm.. saya lebih setuju jika artikel merekalah yang justru telah mencoba menyesatkan para pembacanya. Sebab, seiring bertambahnya usia, kita pasti tahu jika lagu anak-anak itu sebenarnya adalah sebuah hiburan bukan pembodohan. Sekarang saya tanya jika anda menonton komedi macam OVJ apakah itu disebut pembodohan? Padahal OVJ itu hanya sebatas keterpura-puraan dan anda menikmatinya kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, tanggung rasanya jika sikap kritis itu ditujukan pada lagu anak-anak itu. Jika kita memang peduli dengan perkembangan generasi anak bangsa, harusnya kita mengkritisi saja para orang tua yang telah merecoki anak mereka dengan lagu-lagu orang dewasa. Bukan malah sebaliknya, melakukan aksi copas berjamaah, padahal isi artikelnya hanyalah sebatas opini mengada-ada. Jadilah blogger yang punya prinsip dan percayalah dengan tulisan anda sendiri!. &lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/bYePPfKAqB8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/6994699574235781522/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2012/10/lagu-anak-itu-tak-membodohiku_20.html#comment-form" title="65 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6994699574235781522?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/6994699574235781522?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/bYePPfKAqB8/lagu-anak-itu-tak-membodohiku_20.html" title="Lagu Anak itu Tak Membodohiku" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-OZ3cpAS1rPY/UIZbOhG6clI/AAAAAAAABmo/PZrYzKSH-u8/s72-c/Lagu+anak.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>65</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2012/10/lagu-anak-itu-tak-membodohiku_20.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMNQn0_eyp7ImA9WhNTGUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5665134967141490695.post-490333031851716161</id><published>2012-10-15T19:44:00.003+07:00</published><updated>2012-10-23T15:54:53.343+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-10-23T15:54:53.343+07:00</app:edited><title>Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran</title><content type="html">Apa..? Hari gini masih ada yang tawuran? Jadul banget lah yaw. Hari gini masih ada yang rusuh dan main keroyokan? gak keren ah. Lah, lantas apa saya gak pernah &lt;strike&gt;ikut&lt;/strike&gt; ikutan tawuran? Pernah dong ah, namanya aja pernah jadi &lt;a href="http://www.essip.us/2012/10/pilih-hero-atau-coro.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;coro&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; hehe. Tapi, itu dulu banget. Jaman jahiliyah saya ketika&amp;nbsp; masih SMA. Masa dimana saya hanya mengandalkan dengkul ketimbang otak dan lebih mengutamakan emosi daripada nurani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang bilang tawuran itu sebuah proses di usia remaja untuk mencari jati diri. Hmm. saya sepakat jika usia remaja adalah sebuah fase&amp;nbsp; untuk mengekspresikan darah muda mereka. Tapi, jika dilampiaskan dalam bentuk tawuran? Saya rasa ada yang salah dalam pola kehidupan masyarakat kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas siapa yang harus disalahkan?. Hmm, saya rasa semua mungkin perlu melakukan sebuah koreksi diri atas fenomena tawuran yang masih sering terjadi. Sebab, segala sesuatu yang menjadi fenomena dalam masyarakat kita tentunya akibat dari pengaruh kanan kirinya. N`h, sebagai orang yang pernah &lt;strike&gt;ikut&lt;/strike&gt; ikutan tawuran, saya mencoba untuk sedikit urun rembug tentang cara mencegah dan menanggulangi tawuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Figuritas&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Ada istilah &lt;i&gt;"kebo nyusu gudel", &lt;/i&gt;mungkin seperti itulah istilah bagi usia remaja. Sebuah proses bagi dia untuk meniru dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Para remaja itu sebenarnya butuh figur yang bisa mengarahkan aktifitas darah mudanya ke arah positif. Tapi, lihatlah yang terjadi sekarang? Para tokoh dan orang-orang pintar yang harusnya bisa menjadi kebo untuk diambil susu oleh gudelnya, justru malah memberikan sebuah contoh yang kurang baik pagi masyarakat akar rumput kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat saja yang terjadi sekarang. Kisruh PSSI yang tak kunjung henti. Cicak V.s Buaya yang makin melegenda. Gontok-gontokan, sikut sana sikut sini dan banyak hal lagi perilaku para tokoh yang tak patut untuk ditiru. Secara fisik mungkin mereka tak nampak melakukan tawuran, tapi secara intelektual saya rasa mereka sudah bisa dikatakan tawuran. Belum lagi ulah oknum mahasiswa, eksponen masyarakat yang seharusnya bisa memberi tauladan dalam mengekspresikan aspirasinya. Ternyata kadang melakukan aksi anarki yang mengatasnamakan demokrasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin sudah waktunya pagi para tokoh itu untuk memberikan tontonan elegan dan santun buat masyarakat kita. Sudah waktunya pula bagi teman-teman mahasiswa untuk meracik sebuah aksi jalanan yang lebih simpatik. Jika pemerintah saja sikut-sikutan, so pasti rakyatnya hobby tawuran. Jika saja orang-orang pintar banyak bertingkah, apa salah jika akar rumput ikut berulah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Media&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Salah satu pengarah perilaku kehidupan masyarakat khususnya remaja adalah media. Ambil contoh sederhana saja Facebook, yang secara tidak langsung merubah perilaku remaja kita. Begitu halnya dengan media kita, terutama televisi dan industri perfilman. Disinilah fungsi lembaga sensor untuk bijak memilah mana tayangan yang layak dikonsumsi oleh masyarakat sesuai dengan budaya ketimuran kita. Bukan hanya sebatas konten porno saja, tapi tayangan yang sarat hedonis, kebarat-baratan dan penuh kekerasan untuk dikaji ulang ketika hendak dipertontonkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula halnya dengan industri televisi, film dan sinteron. Tak hanya mengejar profit dan rating tinggi saja, tapi juga mau peduli dengan pendidikan moral bangsa. Membuat tayangan-tayangan yang bisa kembali &lt;i&gt;"nguripi ati"&lt;/i&gt; sekaligus mengarahkan emosi penontonnya ke arah kebaikan. Jika saja dulu ada sinetron ACI atau Keluarga Cemara yang digandrungi masyarakat dan remaja, kenapa sekarang tidak? Ah, andai televisi dan industri film/sinetron tidak egois dan mau mengalah. Barang tiga bulan saja mau menayangkan tontonan-tontonan yang penuh teladan, saya rasa akan berefek positif bagi perilaku masyarakat kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Salah satu kekurangan sistem UNAS dalam pendidikan kita adalah sebuah kecenderungan bagi sekolah untuk terus menggenjot IQ siswanya. Namun, di satu sisi ada sebuah kecerdasan yang sekarang sepertinya diabaikan atau malah dilupakan yaitu Emotional Quotient. Sebuah kecerdasan menggunakan perasaan untuk memadukan pikiran dan tindakan. Disinilah fungsi eskul untuk memberikan pelajaran EQ tersebut kepada siswa. Dengan harapan agar terjadi sebuah keseimbangan kecerdasan antara IQ dan EQ pada siswa.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya melihat banyak sekolah yang sekarang sudah mengabaikan eskul siswanya. Kalau pun masih ada itu hanya sebatas dibiarkan hidup tanpa terlalu mempedulikannya. Kenapa sekolah melakukan hal itu? Alasannya klasik, biar siswa cuma fokus belajar dan sekolah bisa lulus 100% !&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada baiknya sekolah-sekolah menghidupkan kembali eskul mereka yang telah mati suri. Sebagai wadah ekspresi positif para siswanya sekaligus mengajarkan EQ yang mungkin kurang diberikan ketika di dalam kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Fanatik Berlebihan&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Sebagian besar tawuran diawali dengan hal-hal sepele akibat konflik individu. Akibat sebuah provokasi, kemudian yang lainnya ikut-ikutan tawuran. Dulu saya pernah mengalami menyerang sekolah&amp;nbsp; sendiri gara-gara membela teman genk beda sekolah yang terlibat masalah dengan salah satu siswa lain jurusan di sekolah saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fanatik buta dan berlebihan itulah yang terjadi pada saya. Betapa tidak, karena rasa &lt;strike&gt;solidarisme&lt;/strike&gt; fanatik pada kelompok, saya telah menyerang almamater sendiri. Padahal jika dipikir secara rasional sebenarnya itu bukan masalah saya dan mungkin pula bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Yah, sebuah fanatik&amp;nbsp; buta dan berlebihan pada kelompoknya ikut pula mendorong seseorang melakukan tawuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fanatik pada kelompok mungkin sah-sah saja, tapi jika berlebihan itu akan berbahaya. Hanya akan menimbulkan kecintaan pada kelompok sendiri dan membenci sekaligus ingin mendominasi kelompok lainnya. Sudah waktunya bagi kita merubah pola pikir fanatik yang ada pada diri kita. Jika Islam mengenal konsep Rahmatan Lil Alamin, kenapa pada pribadi dan kelompok kita tak bisa pula mengaplikasikannya? Fanatik dengan jalan mendominasi dan berusaha selalu di depan dalam hal kebaikan. Coba bayangkan andai saja kampung anda terkenal fanatik dengan budaya menanam pohon. Atau SMA anda terkenal dengan siswa yang fanatik memungut sampah? Hmm. saya pikir itulah salah satu bentuk Fanatik Lil&amp;nbsp; Alamin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Kurang Perhatian&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Masa remaja adalah masa dimana eksistensi mereka ingin diperhatikan. Namun, kadang mereka menunjukkannya dengan jalan yang salah. Balapan liar dan genk mungkin itu salah satu contohnya. Saya rasa semua itu terjadi karena mereka mendapat kurang perhatian dalam keluarga mereka. Uang tak sepenuhnya bisa mengganti wujud kasih sayang. Demikian halnya fasilitas tak selamanya akan membuat anak-anak anda akan&amp;nbsp; puas. Perhatian penuh kasih sayang lah yang sebenarnya ingin mereka dapatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cobalah dampingi putera puteri anda. Jalin komunikasi yang hangat. Selalu kontrol perilaku mereka, tapi carilah strategi agar anda tak nampak melakukan sebuah bentuk pengekangan. Jika melihat anak anda mempunyai kelompok bermain, sekali-kali undang mereka. Bikin acara yang bernuansa hangat dan penuh kekeluargaan. Jika perlu cobalah menjadi layaknya sahabat tua bagi mereka. Tanamkan perasaan "&lt;i&gt;sungkan"&lt;/i&gt;, karena dengan itu anda akan lebih mudah mengarahkan mereka ke jalur sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Kurang Kerjaan&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Ada istilah &lt;i&gt;"tak kenal maka tak sayang"&lt;/i&gt;, Jika anda sayang mungkin anda tak akan menyerang. Jika pernah melakukan sinergi tentu saja akan mudah memahami. Disinilah pentingnya sebuah organisasi kemasyarakatan agar mereka bisa saling bersinergi, memahami dan berkarya bersama ke arah positif. Yah, masyarakat harus punya wadah untuk berkegiatan. Sebab, tawuran itu adakalanya dilakukan oleh mereka yang kurang kerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin pemerintah perlu menggalakkan kembali organisasi kemasyarakatan macam Karang Taruna, Kerukunan Warga, Pengajian, kelompencapir atau mungkin Pencinta Alam agar mereka punya kerjaan dan gak sempat mikirin tawuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Hukum yang Jelas&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Segala bentuk pelanggaran tentunya harus ada tindakan hukum yang tegas agar tidak kembali dilakukan. Disinilah peran aparat untuk bisa menegakkan hukum setinggi-tingginya. Tawuran mungkin bisa dianggap sebagai tindak kenakalan remaja, tapi jika sudah memakan korban jiwa saya rasa itu sudah masuk perkara kriminal. Berikan sebuah hukum yang jelas kepada pelaku tawuran. Tak cukup hanya sebatas peringatan, tapi harus ada hukuman yang bisa memberikan efek jera pada yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal lagi,&amp;nbsp; perlu juga mencari aktor intelektual dibalik semua aksi tawuran dan beri mereka hukum seberat-beratnya. Yah, merekalah sebenarnya provokator di balik semua tawuran itu. Oknum-oknum&amp;nbsp; pembawa virus tawuran di negeri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulur blogger, mungkin itu sekilas urun rembug saya tentang cara mencegah dan menanggulangi tawuran. Namun, semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika anda mengaku manusia modern, so pasti tak akan mengulangi lagi budaya jadul itu. Yuk, sudah waktunya bagi kita untuk bersama-sama tawuran dalam hal yang positif. Melakukan gerakan secara sporadis ke arah yang postif. Silakan fanatik kepada kelompok, tapi dengan cara yang unik dan simpatik. Sah-sah saja mempunyai keinginan mendominasi diri, tapi senantiasa jadilah yang terdepan dalam hal kebaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Artikel&amp;nbsp; ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://tamanblogger.com/blogging/konteskuis/kontes-unggulan-indonesia-bersatu-cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran" target="_blank"&gt;Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran&lt;/a&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VZtqhQs5pCI/UHwEq6q4vrI/AAAAAAAABls/MK5QBZ0Zuo4/s1600/RI-Bersatu-300x203.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-VZtqhQs5pCI/UHwEq6q4vrI/AAAAAAAABls/MK5QBZ0Zuo4/s1600/RI-Bersatu-300x203.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/essip/GnAX/~4/R4WIGn3-yTs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.essip.us/feeds/490333031851716161/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.essip.us/2012/10/cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran.html#comment-form" title="51 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/490333031851716161?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5665134967141490695/posts/default/490333031851716161?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/essip/GnAX/~3/R4WIGn3-yTs/cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran.html" title="Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran" /><author><name>Lozz Akbar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01213154398246365819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/-rhnUP3RCD14/UB1vrG9Ki4I/AAAAAAAABKQ/R9pOSm--p-I/s220/Foto-0007.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-VZtqhQs5pCI/UHwEq6q4vrI/AAAAAAAABls/MK5QBZ0Zuo4/s72-c/RI-Bersatu-300x203.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>51</thr:total><feedburner:origLink>http://www.essip.us/2012/10/cara-mencegah-dan-menanggulangi-tawuran.html</feedburner:origLink></entry></feed>
