<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/atomfull.xsl" type="text/xsl" media="screen"?><?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css" type="text/css" media="screen"?><feed xmlns="http://purl.org/atom/ns#" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="0.3" xml:lang="ind"><title>Catatan Sawali Tuhusetya</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://sawali.info" /><tagline type="text/html" mode="escaped">tentang dunia pendidikan, bahasa, dan sastra</tagline><link rel="icon" href="http://www.feedburner.com/fb/images/pub/fb_pwrd.gif" type="image/gif" title="Catatan Sawali Tuhusetya" /><modified>1970-01-01T00:00:00+00:00</modified><generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/CatatanSawaliTuhusetya" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>1504048</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://www.feedburner.com</feedburner:feedburnerHostname><link rel="start" href="http://feeds.feedburner.com/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya" type="application/atom+xml" /><feedburner:emailServiceId>1868064</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://www.feedburner.com</feedburner:feedburnerHostname><entry><title>Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/416989107/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Budaya</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Opini</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Politik</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">keuangan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">krisis ekonomi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">krisis global</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-10-10T12:21:58-05:00</issued><modified>2008-10-10T12:21:58-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1339</id><summary type="text/html" mode="escaped">Dunia sedang gonjang-ganjing. Negeri Paman Syam yang selama ini menjadi poros kapitalisme global sedang terancam. Ibarat bangunan, pondasi utamanya mulai keropos, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ambruknya pilar-pilar penyangganya. Jika itu terjadi, bisa jadi dunia benar-benar akan mengalami “kiamat kecil”.
Namun, pemerintah dengan cepat mengeluarkan pernyataan agar rakyat tidak panik. Tapi tunggu dulu! Sebenarnya yang layak [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;&lt;img class="alignleft" title="beras" src="http://sawali64.googlepages.com/beras.jpg" alt="padi" width="121" height="121" /&gt;Dunia sedang gonjang-ganjing. Negeri Paman Syam yang selama ini menjadi poros kapitalisme global sedang terancam. Ibarat bangunan, pondasi utamanya mulai keropos, sehingga dikhawatirkan akan berdampak pada ambruknya pilar-pilar penyangganya. Jika itu terjadi, bisa jadi dunia benar-benar akan mengalami “kiamat kecil”.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, pemerintah dengan cepat mengeluarkan pernyataan agar rakyat tidak panik. Tapi tunggu dulu! Sebenarnya yang layak diimbau untuk tidak panik itu siapa? Rakyat, pejabat, atau pemilik modal?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari sekitar 220 juta penduduk negeri ini, sekitar 40 jutanya tersekap dalam ruang pengangguran dan kemiskinan. Kelompok ini jelas tak akan merasakan pengaruh kemungkinan terjadinya krisis global itu. Yang kebakaran jenggot, pastilah mereka yang sedang berada dalam lingkaran kekuasaan dan para pemilik modal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;#8220;Pemerintah minta rakyat jangan panik, tetapi pemerintah sendiri menjadi begitu sensitif dan mudah panik,&amp;#8221; kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo, sebagaimana dikutip &lt;a href="http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2008/10/10/54097/menkeu-terlihat-sekali-panik/" target="_blank"&gt;Inilah.com.&lt;/a&gt; Lebih lanjut Bambang menyebutkan bahwa kasus maju-mundur rencana membuka perdagangan BEI ini mencerminkan adanya otoritas bursa yang tidak akurat dan kurang cermat menghitung berbagai kemungkinan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Nah, lo! Rakyat yang tidak pernah berususan dengan BEI, jelas tidak akan merasakan dampak krisis keuangan yang bersumber dari Amrik itu. Selain itu, rakyat selama ini juga sudah biasa hidup menderita. Mereka memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang bisa sangat lentur terhadap setiap perubahan yang melanda dunia. Mereka bisa &amp;#8220;manjing ajur ajer” dan gampang menyesuaikan diri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Empu Tantular lewat kalimat Kakawin Sutasoma menggambarkan nilai-nilai kearifan lokal itu lewat idiom: “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” (Bermacam-macam sebutannya, tetapi Tuhan itu satu, tidak ada kebenaran yang mendua). Idiom ini, setidaknya menyiratkan makna dan prinsip religiositas yang telah menyatu ke dalam dinamika dan perjalanan hidup masyarakat di kalangan akar rumput. Tak berlebihan kalau mereka bisa bersikap luwes dan lentur dalam menghadapi setiap perubahan global; toleran, akomodatif, dan optimistik dalam memandang hidup dan kehidupan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meski demikian, makna hakiki yang tersirat di balik idiom warisan Sutasoma ini tak jarang mengalami pergeseran. Kita masih ingat betul kejadian pascareformasi. Tahun 1998 bisa dinggap sebagai “puncak” segenap perilaku anomali sosial yang pernah terjadi di negeri ini. Emosi gampang tersulut, amarah gampang menembus ubun-ubun, kekerasan pun menjadi jalan yang dianggap paling jitu dalam memanjakan “naluri” agresivitasnya. Permusuhan dan perang antaretnik; persaingan, kebencian, dan kecemburuan antar pemeluk agama, benar-benar telah menghancurkan pilar-pilar dan nilai kebenaran hakiki.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kita berharap semoga pemerintah benar-benar bisa menemukan solusi yang tepat sehingga krisis global yang menggoncangkan sekat-sekat perekonomian dunia itu tak berdampak pada merebaknya “krisis sosial” yang semakin parah. Kita sudah benar-benar lelah untuk berususan dengan konflik berbasiskan Sara dan primordialisme sempit. Kita juga terus berharap dan berdoa, semoga krisis global yang mengancam dunia itu bisa segera teratasi. ***&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Random Posts&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 27 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/27/malam-lebaran-antara-kebahagiaan/" title="Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup"&gt;Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup (61)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 15 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/15/romantika-logika-dan-religiusitas/" title="Romantika, Logika, dan Religiusitas"&gt;Romantika, Logika, dan Religiusitas (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Friday, 2 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/02/benarkah-dunia-pendidikan-kita-sedang-sakit/" title="Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang &amp;#8220;Sakit&amp;#8221;?"&gt;Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang &amp;#8220;Sakit&amp;#8221;? (38)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Monday, 19 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/19/reformasi-kultural-sebuah-indonesia/" title="Reformasi Kultural: Sebuah Indonesia yang Tertinggal"&gt;Reformasi Kultural: Sebuah Indonesia yang Tertinggal (38)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 10 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/10/menguji-validitas-blog-berdasarkan/" title="Menguji Validitas Blog Berdasarkan Standar Web"&gt;Menguji Validitas Blog Berdasarkan Standar Web (60)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 22 March 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/03/22/banner-baru-%e2%80%9cmenolong-mereka-yang-kelaparan%e2%80%9d/" title="Banner Baru “Menolong Mereka yang Kelaparan”"&gt;Banner Baru “Menolong Mereka yang Kelaparan” (23)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 28 November 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/11/28/korpri-dan-neofeodalisme-dalam-birokrasi/" title="Korpri dan Neofeodalisme dalam Birokrasi"&gt;Korpri dan Neofeodalisme dalam Birokrasi (2)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 5 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/05/guru-demo-tanya-kenapa/" title="Guru Demo, Tanya Kenapa?"&gt;Guru Demo, Tanya Kenapa? (4)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 16 February 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/02/16/bunga-rontok-sebelum-berkembang/" title="Sang Bunga Layu Sebelum Mekar"&gt;Sang Bunga Layu Sebelum Mekar (17)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tuesday, 23 October 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/10/23/fasisme-dalam-dunia-pendidikan-2/" title="&amp;#8220;Fasisme&amp;#8221; dalam Dunia Pendidikan"&gt;&amp;#8220;Fasisme&amp;#8221; dalam Dunia Pendidikan (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=N5VNM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=N5VNM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=6kfFm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=6kfFm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=k5x6M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=k5x6M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=Kkzxm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=Kkzxm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=pewGM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=pewGM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=eGl1m"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=eGl1m" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=FBYeM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=FBYeM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=Tgpnm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=Tgpnm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=1AsZM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=1AsZM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=w3JRm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=w3JRm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=WtmwM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=WtmwM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/10/11/kearifan-lokal-menghadapi-kemungkinan/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F10%2F11%2Fkearifan-lokal-menghadapi-kemungkinan%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/10/11/kearifan-lokal-menghadapi-kemungkinan/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/416151018/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Opini</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Pendidikan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">keluarga</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">kesetaraan gender</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-10-09T16:28:04-05:00</issued><modified>2008-10-09T16:28:04-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1336</id><summary type="text/html" mode="escaped">(Tiba-tiba saja saya jadi teringat senam poco-poco yang pernah melanda negeri ini. Banyak instansi yang menggelarnya sebagai ajang lomba. Tak sedikit kaum ibu yang menggandrunginya. Berikut ini sekelumit kisah fiktif tentang “Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender” dengan ragam bahasa santai dan “slengekan”; sekadar “jampi sayah” daripada ikut-ikutan mikir hiruk-pikuk bursa saham Asia yang jatuh terguling-guling. [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;&lt;img class="alignleft" title="senam" src="http://sawali64.googlepages.com/LKPJ-1.jpg" alt="lkpj" width="124" height="115" /&gt;(Tiba-tiba saja saya jadi teringat senam poco-poco yang pernah melanda negeri ini. Banyak instansi yang menggelarnya sebagai ajang lomba. Tak sedikit kaum ibu yang menggandrunginya. Berikut ini sekelumit kisah fiktif tentang “Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender” dengan ragam bahasa santai dan “slengekan”; sekadar “jampi sayah” daripada ikut-ikutan mikir hiruk-pikuk bursa saham Asia yang jatuh terguling-guling. Haks, apa hubungannya?)&lt;br /&gt;
***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pak Bodro geleng-geleng kepala menyaksikan ulah istrinya. Belakangan, Bu Bodro giat berlatih senam poco-poco. Jika hanya dua atau tiga kali seminggu, baginya tak masalah. Tapi hampir setiap sore, perempuan separo baya bertubuh gembrot itu selalu “kabur” dari rumah. Kewajiban rutin menghidangkan cem-ceman teh kesukaannya sudah dilupakan. Malam harinya, Bu Bodro segera mendengkur, lupa menghidangkan santap malam, apalagi melayani hasrat biologis yang sering datang tiba-tiba setiap kali Pak Bodro mencium bau ketiak istrinya itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meski demikian, Pak Bodro tak memiliki nyali menegur istrinya. Lelaki pensiunan pegawai Dinas Sosial itu paham betul tabiat istrinya yang antikritik, alergi nasihat, dan lebih senang didiamkan daripada diberi pepatah-petitih. Bisa-bisa terjadi perang “Bharatayudha” jika sampai Pak Bodro usil mengganggu kesenangannya. Yang dapat dilakukan Pak Bodro hanya membisu, menahan rasa masygul, menimbun kesabaran di rongga dada, sembari menahan kepalanya yang tiba-tiba terasa puyeng.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Suatu sore, Pak Bodro iseng-iseng jagongan dengan Pak Kentring, tetangga sebelah yang kebetulan tengah sibuk menyapu halaman.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Tumben, kok resik-resik sendiri, Pak? Ibunya anak-anak tindak ke mana?” tanya Pak Bodro memancing obrolan. Pak Kentring yang bertubuh tinggi kurus itu sejenak menghentikan aktivitasnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Alah, kayak Pak Bodro nggak tahu aja, kan tadi pergi bareng sama Bu Bodro.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Senam poco-poco?”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Lha iya, toh, Pak. Poco-poco kan lagi digandrungi ibu-ibu! Katanya sih, mereka sedang mematangkan tim untuk ikut lomba dengan hadiah total puluhan juta!”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Oh, begitu!”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Loh, memang Pak Bodro ndak dikasih tahu sama Ibu?”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pak Bodro terdiam. Tenggorokannya tercekat. Pertanyaan balik Pak Kentring serasa merajam ulu hatinya. Pak Bodro merasa serba salah. Jika Pak Kentring dapat menerima kesibukan baru istrinya, kenapa dirinya jadi uring-uringan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Loh, Pak Bodro kok malah diam?”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Emmm …. Anu, Pak, tiba-tiba saja telinga saya kok merasa enak mendengarkan musik poco-poco,” sahut Pak Bodro tergagap sekenanya. Dari arah rumah Bu RT, terdengar sayup-sayup musik poco-poco yang rancak dan ingar-bingar mengiringi vokal Jopie Latul yang melengking-lengking.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kedua lelaki separo baya itu terus terlibat obrolan santai. Diam-diam, Pak Bodro mengagumi sikap Pak Kentring yang mau bertukar peran dengan sang istri di rumah. Ketika Bu Kentring pergi, Pak Kentringlah yang membereskan semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci, menyeterika, menyapu, hingga memasak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Itu juga yang kami tanamkan kepada anak-anak, Pak. Pekerjaan di rumah itu bukan melulu urusan kaum perempuan. Lelaki pun harus belajar dan terbiasa untuk mengurus pekerjaan sumur dan dapur,” tegas Pak Kentring mengakhiri obrolan setelah melihat ibu-ibu yang barusan selesai berlatih senam poco-poco sudah tiba di rumah.&lt;br /&gt;
***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Obrolan santai dengan Pak Kentring dapat mencairkan rasa masygul yang belakangan ini membeku di dada Pak Bodro. Dengan wajah sumringah, dia bergegas menyambut kepulangan istrinya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Poco-poconya tadi ramai, Bu? Banyak yang ikut latihan?”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Alah, sekarang nggak usah poco-pocoan, bikin mangkel aja!” sahut Bu Bodro sewot. Pak Bodro tersentak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Loh, memangnya kenapa, Bu?”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Bu RT nggak adil. Masak saya yang setiap sore latihan, malah nggak dipilih jadi anggota tim lomba. Dasar gombal! Mereka yang malas latihan, gerakannya kaku, dan menyebalkan malah dipilih, huh! Jika gerakanku kurang luwes, mbok ya dibetulkan. Tidak lantas main coret begitu aja pada orang yang sudah susah-susah ikut latihan!”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Ya, biar toh, Bu. Nggak ikut lomba poco-poco juga nggak patheken saja, kok!”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Bukan itu masalahnya, Pak. Aku malu sama Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin, yang setiap sore berangkat sama-sama. Mereka pada dipilih, lha kok saya nggak. Apa itu nggak sama saja Bu RT melempari telur busuk ke wajah saya, hem? Pokoknya, saya protes sama Bu RT!”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Sudahlah, Bu. Terima saja keputusan Bu RT. Protes juga nggak bakalan menyelesaikan masalah. Ibu harus ikhlas!”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Tidak! Jika saya nggak diikutkan, saya menuntut agar Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin, juga harus dikeluarkan dari tim. Itu baru adil namanya. Sudah, Pak. Saya nggak mau berdebat, mau mandi!” sergah Bu Bodro sambil berjingkat menuju ke kamar mandi. Pintu dibanting keras-keras untuk melampiaskan kekecewaannya. Pak Bodro tergagap seraya mengelus dada. Sulit rasanya memberikan pengertian kepada istrinya itu. Jika suasana sudah “mencekam” demikian, Pak Bodro tak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;
***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di halaman rumah Bu RT, musik poco-poco yang khas kembali membahana. Dengan penuh semangat, ibu-ibu yang telah terpilih menjadi anggota tim lomba serentak menggerakkan tubuh mengikuti irama. Langkah kaki, goyang pinggul, dan gerak tangan mereka semakin rancak dan kompak. Tiba-tiba iringan musik terhenti. Mereka tersentak ketika melihat Bu Bodro dengan wajah memerah saga berdiri di depan Bu RT sambil berkacak pinggang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Saya protes, Bu RT. Kenapa saya nggak diikutkan dalam tim? Apa gerakan tubuh saya kurang luwes atau memang Bu RT tidak senang dengan saya, hem? Jika Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin saja diikutkan, kenapa saya tidak?”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Sabar. Bu, sabar! Bukan hanya saya yang mengambil keputusan itu, tapi juga ibu-ibu peserta yang lain, termasuk Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin.”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Betuuuuul …..,” sahut ibu-ibu yang lain serempak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Alasannya apa, ibu-ibu yang saya hormati? Apa lantaran tubuh saya yang gembrot begini atau kehadiran saya di kampung ini memang sudah tidak dikehendaki?”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Bukan, bukan  itu, Bu! Penyebabnya hanya lantaran Pak Bodro tidak berkenan jika Ibu menjadi anggota tim.”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tanpa ba-bi-bu, Bu Bodro segera balik kanan dan berjingkat menuju ke rumah. Pak Bodro yang tengah asyik menonton tayangan berita di televisi tersentak ketika mendengar pintu depan dibanting keras-keras. Pak Bodro segera berdiri. Belum sempat bertanya, Bu Bodro sudah mencecarnya dengan setumpuk caci-maki yang memerahkan telinga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pak Bodro hanya bisa termangu seperti keledai dungu. Dia membiarkan saja sang istri mengumbar amarah. Pak Bodro tidak tahu, apakah emosi istrinya yang gampang tersulut itu gara-gara demam poco-poco yang gagal menaikkan gengsi dan harga dirinya? Entahlah! ***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Keterangan: Gambar dicomot dari &lt;a href="http://images.google.co.id/images?q=kartun%20senam%20poco-poco&amp;amp;ie=UTF-8&amp;amp;oe=utf-8&amp;amp;rls=FlockInc.:en-US:official&amp;amp;client=firefox&amp;amp;um=1&amp;amp;sa=N&amp;amp;tab=wi" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Random Posts&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Tuesday, 1 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/01/bahasa-indonesia-antara-modernisasi-dan-jatidiri/" title="Bahasa Indonesia, antara Modernisasi dan Jatidiri"&gt;Bahasa Indonesia, antara Modernisasi dan Jatidiri (1)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 7 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/07/kopi-paste-perlukah-minta-izin/" title="Kopi-paste: Perlukah Minta Izin?"&gt;Kopi-paste: Perlukah Minta Izin? (39)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Monday, 7 April 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/04/07/setelah-memperoleh-sertifikat-pendidik-lalu-bagaimana/" title="Setelah Memperoleh Sertifikat Pendidik, Lalu Bagaimana?"&gt;Setelah Memperoleh Sertifikat Pendidik, Lalu Bagaimana? (37)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 20 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/20/sutardji-calzoum-bachri-maman-s-mahayana-dan-saut-situmorang/" title="Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang"&gt;Sutardji Calzoum Bachri, Maman S. Mahayana, dan Saut Situmorang (28)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 4 August 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/08/04/pendidikan-kita-hanya-mencetak-anak-mami/" title="Pendidikan Kita hanya Mencetak &amp;#8220;Anak Mami&amp;#8221;?"&gt;Pendidikan Kita hanya Mencetak &amp;#8220;Anak Mami&amp;#8221;? (6)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 26 March 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/" title="Mampukah Sekolah Menjadi &amp;#8220;Benteng&amp;#8221; Utama Apresiasi Sastra?"&gt;Mampukah Sekolah Menjadi &amp;#8220;Benteng&amp;#8221; Utama Apresiasi Sastra? (47)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 15 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/15/membangun-%e2%80%9cotonomi%e2%80%9d-pembelajaran-sastra/" title="MEMBANGUN “OTONOMI” PEMBELAJARAN SASTRA"&gt;MEMBANGUN “OTONOMI” PEMBELAJARAN SASTRA (3)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tuesday, 17 June 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/06/17/ritual-tapa-nyusup-ala-salyapati/" title="Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati"&gt;Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati (40)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 13 February 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/02/13/perselingkuhan-samba-dan-dewi-hagyanawati/" title="Perselingkuhan Samba dan Dewi Hagyanawati"&gt;Perselingkuhan Samba dan Dewi Hagyanawati (30)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Monday, 12 November 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/11/12/penerbitan-mandiri-dan-kopdar-mini/" title="Penerbitan Mandiri dan &amp;#8220;Kopdar Mini&amp;#8221;"&gt;Penerbitan Mandiri dan &amp;#8220;Kopdar Mini&amp;#8221; (2)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=6yeNM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=6yeNM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=1JoLm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=1JoLm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=Rxp4M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=Rxp4M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=u0Nkm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=u0Nkm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=iJQ6M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=iJQ6M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=pLmvm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=pLmvm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=bWUFM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=bWUFM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=pvgam"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=pvgam" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=n2WPM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=n2WPM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=hR1cm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=hR1cm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=SUNgM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=SUNgM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/10/10/goyang-poco-poco-dan-kesetaraan/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F10%2F10%2Fgoyang-poco-poco-dan-kesetaraan%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/10/10/goyang-poco-poco-dan-kesetaraan/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/414942062/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Kurikulum</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Opini</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Pendidikan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">kelulusan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">kompetensi siswa</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">KTSP</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">ujian nasional</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-10-08T11:09:09-05:00</issued><modified>2008-10-08T11:09:09-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1331</id><summary type="text/html" mode="escaped">Sudah bertubi-tubi dunia pendidikan di negeri ini menuai kritikan tajam dari para pakar, pengamat, dan pemerhati pendidikan. Salah satu persoalan mendasar yang gencar  dikritik adalah terlepasnya dunia pendidikan dari realitas sosial yang seharusnya menjadi persoalan inheren yang mengakar dan membudaya dalam ranah dunia pendidikan kita. Imbas yang muncul dari praktik pendidikan semacam itu adalah [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;Sudah bertubi-tubi dunia pendidikan di negeri ini menuai kritikan tajam dari para pakar, pengamat, dan pemerhati pendidikan. Salah satu persoalan mendasar yang gencar  dikritik adalah terlepasnya dunia pendidikan dari realitas sosial yang seharusnya menjadi persoalan inheren yang mengakar dan membudaya dalam ranah dunia pendidikan kita. Imbas yang muncul dari praktik pendidikan semacam itu adalah lahirnya output pendidikan kita yang dinilai berjiwa kerdil, tidak responsif, mau menang sendiri, keras kepala, dan kehilangan sifat-sifat kemanusiawian yang lain.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dunia pendidikan kita, meminjam istilah Paulo Freire, masih dijangkiti sifat nekrofilis (cinta kematian), bukannya menumbuhkan sifat biofilis (cinta kehidupan). Proses pendidikan yang terjadi di dunia persekolahan tidak lagi menampilkan semangat pembebasan peserta didik dari ketidakberdayaan, tetapi justru menjadi ruang untuk membelenggu kreativitas dan kebebasan sehingga gagal melahirkan manusia-manusia yang cerdas, kritis, kreatif, terampil, jujur, berkarakter, demokratis, dan responsif.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src="http://sawali64.googlepages.com/UANSMP.jpg" width="250" alt="uan" /&gt;Bertahun-tahun dunia persekolahan kita terpasung dalam ruang hafalan-hafalan teori dan rumus, tidak ”membumi”, tidak ada upaya serius untuk membawa para siswa didik mampu menerjemahkan berbagai ranah keilmuan yang diperoleh ke dalam realitas sosial. Pendidikan menjadi tercerabut dari problem riil yang seharusnya mereka jawab dan selesaikan. Model pendidikan demikian oleh Paulo Freire dikritik sebagai banking education, yaitu suatu model pendidikan yang tidak kritis karena hanya diarahkan untuk domestifikasi, penjinakan, dan penyesuaian realitas sosial dengan keadaan penindasan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang lebih memprihatinkan, para murid kian kehilangan sentuhan problem riil yang dihadapi bangsa dan masyarakatnya saat-saat mendekati ujian nasional. Anak-anak digiring ke dalam ruang karantina untuk ”dicekoki” berbagai soal yang diperkirakan akan muncul dalam ujian. Mereka diperlakukan bagaikan ”keranjang sampah” yang harus menampung semua tumpahan hafalan teori dan rumus dari sang guru. Guru terpaksa berbuat demikian karena tak sanggup melepaskan diri dari ”tekanan” kepala sekolah demi menjaga gengsi dan citra sekolah. Keberhasilan guru hanya diukur berdasarkan kemampuannya dalam mentransfer pengetahuan yang dimiliki kepada siswa didik dalam menghadapi ujian. Guru yang serius mengoptimalkan diri mengajak siswa melakukan curah pikir dan berinteraksi secara terbuka sehingga mampu mengidentifikasi dan menganalisis berbagai problem sosial dan kebangsaan secara bebas dan kritis justru tidak mendapatkan tempat di ruang sekolah. Proses pembelajaran semacam itu dianggap akan menjadi penghambat keberhasilan siswa dalam menghadapi soal-soal ujian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam kondisi yang demikian itu, bagaimana mungkin dunia persekolahan kita mampu melahirkan manusia-manusia yang cerdas, kritis, dan responsif? Bagaimana mungkin siswa didik kita tergugah kesadarannya untuk belajar mengenali berbagai problem riil yang mencuat dalam kehidupan sosial?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;UN Antirealitas?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Salah satu penyebab tercerabutnya problem sosial dalam dunia persekolahan kita adalah kehadiran soal-soal UN dari tahun ke tahun yang antirealitas, (nyaris) tak pernah menyentuh persoalan-persoalan sosial yang mampu menantang dan menggugah siswa untuk berolah pikir dan berolah rasa. Mereka tidak pernah ditradisikan dan dibudayakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai persoalan sosial dan kebangsaan yang muncul secara riil di atas panggung kehidupan sosial.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Generasi muda bangsa ini tampaknya sengaja “dimandulkan” dari karakter kreatif dan demokratis agar kelak menjadi generasi “robot” yang gampang dikendalikan oleh pihak penguasa. Jika “kecurigaan” ini benar, nyata-nyata telah terjadi pelanggaran serius dan sistematis terhadap fungsi pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam pasal 3 UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas. Dalam pasal itu secara eksplisit disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagaimana mungkin bisa menjadi generasi kreatif dan demokratis kalau mereka tidak pernah ditradisikan untuk berpikir terbuka, dialogis, dan kritis? Bagaimana mungkin anak-anak  bangsa ini bisa berpikir terbuka, demokratis, dan kritis kalau UN hanya menampilkan soal-soal pilihan ganda yang tidak pernah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan daya nalar dan daya kritisnya?&lt;br /&gt;
Mengapa UN penting dipersoalkan ketika dunia persekolahan kita dinilai telah gagal melahirkan generasi bangsa yang cerdas, kritis, kreatif, terampil, jujur, berkarakter, dan responsif?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Secara jujur harus diakui, UN selama ini masih diyakini oleh para guru sebagai tujuan dan sasaran akhir kelulusan siswa. Guru akan dianggap sukses dan bergengsi jika berhasil membawa siswanya menuju “terminal” akhir kelulusan dan akan divonis telah gagal menjalankan tugas apabila banyak siswanya yang “ndhongkrok” alias tidak lulus. Itulah sebabnya, banyak guru yang merasa “alergi” ketika ditawari untuk mengajar di kelas terakhir atau kelas III. Mereka merasa lebih nyaman dan tanpa beban jika mengajar di kelas I atau II. Sebaliknya, guru yang mengajar di kelas terakhir sering kali harus “senam jantung” dan stres, terutama saat-saat mendekati ujian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk mempertahankan gengsi, guru di kelas terakhir sering kali menempuh berbagai cara agar siswanya bisa lulus dengan prestasi yang baik; entah dalam bentuk les, pemadatan materi, atau drill soal-soal. Semakin banyak “dicekoki” soal-soal UN tahun sebelumnya, siswa dianggap dalam kondisi “siap tempur” menghadapi UN. Tak ayal lagi, suasana pembelajaran semacam itu semakin jauh dari nilai-nilai edukatif dan makin kering dari sentuhan problem-problem sosial yang mestinya “dibumikan” dan diakrabkan dalam dunia peserta didik. Bahkan, praktik pendidikan semacam itu dinilai sangat bertentangan dengan tujuan diselenggarakannya pendidikan formal di negara mana pun karena akan menyebabkan terjadinya proses penyempitan kurikulum.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang lebih ironis, UN selama ini sepertinya hanya diperlakukan semacam upacara ritual tahunan –meminjam istilah Syamsir Alam (2005)&amp;#8211; tanpa memberikan pengaruh berarti terhadap upaya pembinaan, pengelolaan, dan pelaksanaan pendidikan pada tingkat sekolah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Masukan berupa informasi pendidikan yang diperoleh lewat UN hanya diperlakukan sebagai barang pajangan dan menjadi dokumen mati. Selain itu, instrumen UN &amp;#8211;soal-soal pilihan ganda, misalnya&amp;#8211; yang digunakan pun sebenarnya masih menyimpan berbagai pertanyaan mendasar yang menuntut pembuktian, khususnya menyangkut metodologi, terutama pada saat melakukan interpretasi terhadap hasil skor tes dan pemanfaatannya agar sesuai dengan tujuan diselenggarakannya UN. Sudah benar-benar sahihkah instrumen UN tersebut digunakan untuk mengukur kemampuan siswa yang sesungguhnya? Bisakah soal-soal pilihan ganda yang dinilai telah “mereduksi” makna kurikulum dijadikan sebagai satu-satunya instrumen untuk memperoleh informasi pencapaian terhadap proses pendidikan yang sudah dilakukan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Therapi Kejut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Negeri kita sudah kenyang pengalaman menyelenggarakan UN. Bertubi-tubi pula masukan dan kritik dari banyak kalangan dilontarkan. Namun, pengalaman, masukan, dan kritik itu seolah-olah dianggap angin lalu yang tak memiliki imbas apa pun terhadap dinamika dunia pendidikan. UN hanya menjadi ritual tahunan yang menjenuhkan; boros beaya, bikin guru stres,  kondisi kelas sarat ketegangan, murid-murid pun hanya menjadi penghafal kelas wahid yang “buta” terhadap persoalan sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kini, sudah saatnya dipikirkan upaya serius untuk mewujudkan UN yang benar-benar mampu memotret kompetensi siswa sekaligus mampu menjadi pengendali mutu pendidikan secara nasional. Paling tidak, ada tiga hal penting dan mendasar yang perlu dilakukan agar UN benar-benar mampu menjadi “therapi kejut” dalam upaya memicu peningkatan mutu pendidikan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, soal-soal UN harus mampu memotret kompetensi siswa secara utuh dan komprehensif. Fakta menunjukkan, selama ini belum semua kompetensi siswa bisa terpotret melalui UN. Memang benar, beberapa ranah dan kompetensi siswa bisa diujikan secara praktik melalui ujian sekolah. Namun, adakah jaminan bisa 100% nihil dari rekayasa dan manipulasi? Apalagi, muncul asumsi, jangan sampai ujian sekolah menjadi penghambat kelulusan siswa. Jika memang ujian praktik di sekolah masih diperlukan, lembaga independen yang direkrut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) harus terlibat dan bekerja optimal sejak ujian praktik/sekolah digelar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;tindak tegas pihak-pihak tertentu yang nyata-nyata terbukti melakukan kecurangan dan pelanggaran terhadap pelaksanaan UN. Misalnya, hampir setiap tahun terdengar berita kebocoran soal UN, tetapi hampir tidak pernah terdengar tindak lanjut dan sanksi yang ditimpakan kepada para “pencoleng” dunia pendidikan itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, harus ada sinergi antara UN dan praktik pembelajaran yang berlangsung di sekolah. Diakui atau tidak, UN yang berlangsung selama ini telah menjadi penghambat serius bagi para guru yang ingin melibatkan siswa secara intens dan total dalam praktik pendidikan yang dialogis, terbuka, dinamis, menarik, dan menyenangkan melalui sajian materi yang menantang dan menggugah kesadaran mereka terhadap persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. Namun, idealisme guru semacam itu terpaksa terbonsai akibat munculnya soal-soal UN yang sarat hafalan teori dan miskin daya nalar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kita sangat berharap, dunia persekolahan kita –meminjam istilah Paulo Freire&amp;#8211; dapat menjadi alat pembebasan yang sanggup menciptakan ruang bagi anak-anak bangsa untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis terhadap berbagai problem sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan. Tujuannya? Agar kelak generasi masa depan negeri ini mampu mengartikulasikan proses transformasi sosial secara arif, matang, dan dewasa; terbebas dari perilaku instan, korup, hipokrit, keras kepala, dan mau menang sendiri. ***&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Tulisan Terkait:&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 6 February 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/02/06/ujian-nasional-dan-kekuasaan-hegemoni-negara/" title="Ujian Nasional dan Kekuasaan Hegemoni Negara"&gt;Ujian Nasional dan Kekuasaan Hegemoni Negara (24)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Friday, 19 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/19/pendampingan-penyusunan-ktsp/" title="Pendampingan Penyusunan KTSP"&gt;Pendampingan Penyusunan KTSP (71)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 30 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/30/ujian-nasional-un-jalan-terus/" title="Ujian Nasional (UN) Jalan Terus?"&gt;Ujian Nasional (UN) Jalan Terus? (56)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 22 June 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/06/22/refleksi-pasca-ujian-nasional/" title="Refleksi Pasca-Ujian Nasional"&gt;Refleksi Pasca-Ujian Nasional (23)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 3 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/03/selamat-jalan-slamet-pambudi/" title="Selamat Jalan, Slamet Pambudi!"&gt;Selamat Jalan, Slamet Pambudi! (22)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Friday, 2 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/02/benarkah-dunia-pendidikan-kita-sedang-sakit/" title="Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang &amp;#8220;Sakit&amp;#8221;?"&gt;Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang &amp;#8220;Sakit&amp;#8221;? (38)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 29 December 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/12/29/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/" title="Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya"&gt;Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya (3)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 15 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/15/menggugat-ujian-nasional-yang-antirealitas/" title="Menggugat Ujian Nasional yang Antirealitas"&gt;Menggugat Ujian Nasional yang Antirealitas (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 15 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/15/perubahan-kurikulum-di-tengah-mitos-globalisasi/" title="Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi"&gt;Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi (6)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=64AQM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=64AQM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=dXVym"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=dXVym" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=GepEM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=GepEM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=QF2pm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=QF2pm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=hL6IM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=hL6IM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=okHvm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=okHvm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=qGTsM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=qGTsM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=KMSUm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=KMSUm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=4YaSM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=4YaSM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=Wnmkm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=Wnmkm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=DNB1M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=DNB1M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/10/08/dunia-pendidikan-realitas-sosial/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F10%2F08%2Fdunia-pendidikan-realitas-sosial%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/10/08/dunia-pendidikan-realitas-sosial/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/412536733/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Bahasa</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Budaya</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Opini</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Pendidikan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">bahasa Indonesia</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">gejala tutur</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-10-06T01:37:38-05:00</issued><modified>2008-10-06T01:37:38-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1328</id><summary type="text/html" mode="escaped">Oktober telah ditetapkan sebagai Bulan Bahasa. Tentu saja, bukan semata-mata alasan historis untuk mengenang saat-saat heroik ketika para pendahulu negeri ini berhasil menetapkan bahasa Indonesia (BI) sebagai bahasa nasional melalui ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Namun, lebih daripada itu, untuk membumikan budaya bertutur, baik lisan maupun tulisan, secara baik dan benar, sesuai dengan konteksnya.
Sebagai [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;&lt;img class="alignright" title="sintaibi" src="http://sawali64.googlepages.com/cintai.jpg" alt="cintai1" width="200" height="110" /&gt;Oktober telah ditetapkan sebagai Bulan Bahasa. Tentu saja, bukan semata-mata alasan historis untuk mengenang saat-saat heroik ketika para pendahulu negeri ini berhasil menetapkan bahasa Indonesia (BI) sebagai bahasa nasional melalui ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Namun, lebih daripada itu, untuk membumikan budaya bertutur, baik lisan maupun tulisan, secara baik dan benar, sesuai dengan konteksnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebagai bahasa nasional, BI telah melewati rajutan sejarah yang panjang sejak difungsikan sebagai &lt;em&gt;lingua franca&lt;/em&gt; dan bahasa resmi hingga menjadi bahasa komunikasi di tingkat global. Sudah delapan dasawarsa BI hidup, tumbuh, dan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban bangsa. Namun, tidak seperti perjalanan dan dinamika manusia yang makin lama makin menemukan kematangan dan “kesempurnaan” hidup, BI justru mengalami pembusukan. &lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt; pembusukan yang dilakukan oleh media, baik cetak maupun elektronik. Tak dapat disangkal lagi, media memiliki daya sugesti dan persuasi yang begitu kuat terhadap publik. Bahkan, saat ini tidak sedikit orang yang memiliki ketergantungan informasi terhadap media. Tak berlebihan kalau dikatakan bahwa bahasa media memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap penggunaan bahasa publik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Penggunaan satuan bahasa tertentu yang terus berulang dalam sebuah media tak jarang diyakini sebagai bentuk yang tepat sehingga publik bersikap latah untuk tak segan-segan menirunya. Contoh yang paling gampang, misalnya kata “dimassa” (=dipukuli), seperti dalam kalimat: “Pencopet yang tertangkap itu dimassa beramai-ramai oleh penduduk kampung”. Dalam struktur BI, awalan (bukan kata depan) “di-“ yang melekat pada nomina (kata benda) yang berfungsi untuk membentuk verba (kata kerja) hampir tidak pernah ditemukan. Kita tak pernah mengenal bentuk verba dirumah, dibatu, dibola, dan semacamnya. Demikian juga penggunaan kata penunjuk jamak “para” yang seharusnya tak perlu lagi digunakan di depan nomina jamak, seperti “para politisi” atau “para kritisi” yang seharusnya “para politikus” atau “para kritikus”.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak hanya dalam bentukan kata, kesalahan logika pun masih sering terjadi dalam penggunaan bahasa di media. Seorang pemandu acara TV, misalnya, tak jarang menggunakan tuturan: “Kepada Bapak …. waktu dan tempat kami persilakan …” yang seharusnya akan lebih efektif dan masuk akal jika diganti menjadi “Bapak …. kami persilakan untuk menyampaikan sambutan”. Bukankah yang dipersilakan untuk berbicara itu orangnya, bukan waktu dan tempatnya?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, pembusukan yang dilakukan oleh kaum elite di berbagai lapis dan lini yang seharusnya menjadi anutan sosial dalam berbahasa. Di tengah kultur masyarakat kita yang cenderung paternalistis, kaum elite, diakui atau tidak, telah menjadi “kiblat” publik dalam berbahasa. Kita masih ingat ketika Soeharto dengan gaya pelafalannya yang khas; mengubah lafal /a/ menjadi /ə/; bawahannya beramai-ramai menirunya sebagai  penghormatan dan sekaligus “keterkekangan” dalam bentuk tuturan. Yang lebih memprihatinkan gejala pelafalan yang salah kaprah semacam itu terus berlanjut hingga ke tingkat RW/RT sehingga warga masyarakat menganggapnya sebagai lafal yang benar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Ketiga, &lt;/em&gt;pembusukan akibat merebaknya gejala tuturan &lt;a href="http://sawali.info/2008/06/28/gejala-tutur-indon-english-dan-uu-kebahasaan/" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;Indon-English&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; yang dilakukan, entah dengan sengaja atau tidak, oleh para pejabat “kontemporer” kita yang saat ini tengah berada dalam lingkaran kekuasaan dan kaum menengah ke atas. Di tengah era kesejagatan, ketika dunia sudah menjadi sebuah perkampungan global, proses campur-kode antara bahasa Indonesia dan bahasa asing memang musthail bisa kita tolak kehadirannya. Bahkan, proses campur-kode semacam itu akan mampu memperkaya bentuk-bentuk kebahasaan dan kosakata bahasa kita. Namun, alangkah naifnya jika proses campur-kode semacam itu tidak lagi mengindahkan konteks tuturan. Kita makin tak peduli kepada siapa dan dalam situasi bagaimana kita bertutur sehingga tak jarang menimbulkan kesalahpahaman.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, dalam pemahaman awam saya, perlu mempertimbangkan konteks tuturan. Artinya, ketika berbicara dalam suasana santai dan akrab, misalnya, tidak salah kalau kita menggunakan bahasa “gado-gado”, asalkan komunikatif dan efektif. Namun, ketika berbicara dalam suasana resmi, akan lebih baik dan benar jika kita menggunakan bahasa baku sesuai dengan fungsi bahasa kita sebagai bahasa resmi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya tak tahu pasti, kapan pembusukan itu berawal dan kapan akan berakhir. Berbahasa sangat erat kaitannya dengan budaya sebuah generasi. Kalau generasi negeri ini kian tenggelam dalam kubangan pembusukan yang lebih dalam, agaknya BI akan makin sempoyongan dalam memanggul bebannya sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi. Dalam kondisi demikian, diperlukan pembinaan sejak dini kepada generasi masa depan negeri ini agar mereka tak ikut-ikutan mewarisi pembusukan itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Gejala pembusukan semacam itu jelas perlu dicermati sebagai agenda penting dalam &lt;a href="http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/" target="_blank"&gt;Kongres Bahasa Indonesia IX&lt;/a&gt; yang akan digelar di Jakarta pada 28 Oktober 2008. Kita tetap berharap, BI menjadi salah satu “ikon” bangsa yang membanggakan anak-anak negeri ini sehingga kelak mereka sanggup mencintai bahasa nasional dan negaranya; tidak lagi terjebak ke dalam sikap latah, apalagi hanya sekadar mengumbar retorika dan slogan belaka. ***&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Tulisan Terkait:&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Friday, 18 July 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/07/18/menjadikan-sekolah-sebagai-basis-2/" title="Menjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis)"&gt;Menjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis) (45)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 28 June 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/06/28/gejala-tutur-indon-english-dan-uu-kebahasaan/" title="Gejala Tutur Indon-English dan UU Kebahasaan"&gt;Gejala Tutur Indon-English dan UU Kebahasaan (36)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 29 December 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/12/29/diskusi-kelompok-terbimbing-model-tutor-sebaya/" title="Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya"&gt;Diskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya (3)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=tqrZM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=tqrZM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=PQFlm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=PQFlm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=N9O7M"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=N9O7M" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=LqW0m"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=LqW0m" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=jhRMM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=jhRMM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=qNLtm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=qNLtm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=n8duM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=n8duM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=jBdrm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=jBdrm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=OIprM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=OIprM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=SmVom"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=SmVom" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=HmDcM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=HmDcM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/10/06/mencermati-pembusukan-penggunaan/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F10%2F06%2Fmencermati-pembusukan-penggunaan%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/10/06/mencermati-pembusukan-penggunaan/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/410179188/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Budaya</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Pendidikan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Tradisi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">kekerabatan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">silaturahmi</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-10-03T06:38:20-05:00</issued><modified>2008-10-03T06:38:20-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1306</id><summary type="text/html" mode="escaped">Usai sudah ritual Lebaran itu. Yang sempat mudik, pasti sudah bertemu dan bersilaturahmi dengan saudara dan sanak-kerabatnya di kampung halaman. Rasa rindu yang selama ini menggumpal di dada tertumpahkan sudah. Ada selingan pesta kecil, canda, dan tawa; berkumpul bersama dengan orang tua dan sanak-kerabat dalam suasana yang sarat sentuhan nilai keakraban dan persaudaraan. Selalu saja [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;Usai sudah ritual Lebaran itu. Yang sempat mudik, pasti sudah bertemu dan bersilaturahmi dengan saudara dan sanak-kerabatnya di kampung halaman. Rasa rindu yang selama ini menggumpal di dada tertumpahkan sudah. Ada selingan pesta kecil, canda, dan tawa; berkumpul bersama dengan orang tua dan sanak-kerabat dalam suasana yang sarat sentuhan nilai keakraban dan persaudaraan. Selalu saja ada romantisme masa silam yang hadir di balik ritual Lebaran itu. Masa lalu yang khas anak-anak kembali terbentang dalam layar memori kita. Seringkali sebuah pertanyaan sentimentil pun menggoda nurani kita. “Benarkah masa kecil saya dulu ada di sini?” Aha …, sebuah pertanyaan yang terkesan cengeng, tapi seringkali kita tak punya kesanggupan untuk menolaknya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img class="alignleft" title="mudik2" src="http://sawali64.googlepages.com/arusmudik2.jpg" alt="mudik" width="300" height="203" /&gt;Namun, ritual Lebaran juga tak sebatas meninabobokan kita ke dalam bentangan romantisme masa silam semata. Ada nilai-nilai kekerabatan hakiki yang perlu terus digali dan ditumbuhsuburkan. Ini artinya, Lebaran juga bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk menanamkan nilai-nilai silaturahmi kepada anak-anak kita. Bagaimana kita mesti bersikap kepada kedua orang tua, sanak-kerabat, tetangga, atau handai taulan, merupakan wujud pendidikan nyata yang bisa langsung diteladani dan diterapkan oleh anak-anak kita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Apa yang akan terjadi kalau anak-anak tak pernah kita pertemukan dengan orang tua yang sekaligus juga kakek-nenek anak-anak kita? Apa juga yang akan terjadi kalau anak-anak tak pernah kita pertemukan dengan sanak-kerabat dan handai taulan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak salah kalau ada yang mengatakan bahwa hidup itu ibarat “mampir ngombe” (mampir minum) dalam sebuah pengembaraan yang jauh. Hidup kita konon begitu singkat untuk selanjutnya mesti melanjutkan perjalanan panjang hingga menggapai batas-batas “misteri” yang telah ditentukan oleh Sang Maha Berkehendak. Dalam pemahaman awam saya, sungguh tidak menguntungkan kalau dalam hidup yang begitu singkat itu kita gagal menghidupkan tali silaturahmi sebagai salah satu akar kekerabatan yang perlu terus dijaga dan diabadikan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seiring dengan bertambahnya (atau berkurang?) usia, anak-anak juga memiliki dunianya sendiri. Kelak, mereka juga akan jadi orang tua seperti kita. Alangkah tidak nyamannya kalau dalam situasi seperti itu, tali persaudaraan dalam hubungan kekerabatan tiba-tiba tak lagi dapat tersambung akibat kelalaian kita dalam mempertautkan tali kekerabatan. Lebaran idealnya memang perlu dijadikan sebagai momentum untuk menghidupkan tali kekerabatan itu. Lebih-lebih berdasarkan kacamata religi, silaturahmi tak hanya sebatas mengadakan pertemuan keluarga untuk selanjutnya saling mengenal hubungan kekerabatan, seperti kakek, paman, bibi, atau keponakan. Akan tetapi, juga bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai akhlak dan budi pekerti. Dalam konteks demikian, sangat beralasan kalau banyak orang yang rela berpayah-payah diri melakukan mudik Lebaran dengan membawa “pasukan anak-anak” ke kampung halaman demi mempertautkan tali silaturahmi dan kekerabatan itu.  Bagaimana dengan &lt;em&gt;Sampeyan&lt;/em&gt;?***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keterangan: Gambar diambil dari &lt;a href="http://images.google.com/imgres?imgurl=http://img213.imageshack.us/img213/2905/mudikmacetnj5.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://andreasap.multiply.com/journal%3F%26page_start%3D140&amp;amp;h=499&amp;amp;w=737&amp;amp;sz=243&amp;amp;hl=en&amp;amp;start=39&amp;amp;sig2=Uez1AiVfHqsA6rarohHOXQ&amp;amp;um=1&amp;amp;usg=__g0f5jP0N4z7wcEk5zKBMi5QzmG0=&amp;amp;tbnid=eDyngM6LTQFdNM:&amp;amp;tbnh=95&amp;amp;tbnw=141&amp;amp;ei=k-7lSJa4LJb-swLH8tylCg&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Darus%2Bmudik%26start%3D20%26ndsp%3D20%26um%3D1%26hl%3Den%26sa%3DN" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Tulisan Terkait:&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Friday, 26 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/26/refleksi-menjelang-lebaran/" title="Refleksi Menjelang Lebaran"&gt;Refleksi Menjelang Lebaran (99)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Monday, 22 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/22/nofollow-free-plugin-yang-ramah/" title="Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung"&gt;Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung (117)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 20 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/20/tag-award-antara-silaturahmi/" title="Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi"&gt;Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi (97)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 13 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/13/spam-karma-memang-sadis/" title="Spam Karma Memang Sadis!"&gt;Spam Karma Memang Sadis! (59)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Friday, 6 June 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/06/06/pasang-surut-menyusuri-kompleks-blogosphere/" title="Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere"&gt;Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere (41)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=1dLeM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=1dLeM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=N2I6m"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=N2I6m" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=A87WM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=A87WM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=wUYsm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=wUYsm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=CnklM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=CnklM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=2Tjxm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=2Tjxm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=SPioM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=SPioM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=kGGYm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=kGGYm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=su8vM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=su8vM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=6ToDm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=6ToDm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=ybwZM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=ybwZM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/10/03/makna-kekerabatan-di-balik-mudik-2/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F10%2F03%2Fmakna-kekerabatan-di-balik-mudik-2%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/10/03/makna-kekerabatan-di-balik-mudik-2/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/406029419/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Budaya</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Tradisi</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-09-29T00:39:54-05:00</issued><modified>2008-09-29T00:39:54-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1295</id><summary type="text/html" mode="escaped">Kami sekeluarga mengucapkan:
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
MINAL AIDIN WALFAIZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Kepada sahabat-sahabat bloger dan pengunjung yang merayakannya. Semoga  Idul Fitri tahun ini benar-benar mampu membawa kita kembali kepada fitrah-Nya. Khusus kepada sahabat-sahabat bloger, saya pribadi mohon maaf terhadap semua kesalahan yang saya lakukan, baik ketika memberikan komentar, merespon komentar, atau [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;&lt;img class="alignleft" title="idulfitri" src="http://sawali64.googlepages.com/banner_lebaran_1.jpg" alt="banner" width="260" height="250" /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Kami sekeluarga mengucapkan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;MINAL AIDIN WALFAIZIN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kepada sahabat-sahabat bloger dan pengunjung yang merayakannya. Semoga  Idul Fitri tahun ini benar-benar mampu membawa kita kembali kepada fitrah-Nya. Khusus kepada sahabat-sahabat bloger, saya pribadi mohon maaf terhadap semua kesalahan yang saya lakukan, baik ketika memberikan komentar, merespon komentar, atau lupa tidak sempat &lt;em&gt;blogwalking &lt;/em&gt;karena sesuatu hal.  Semoga di hari yang fitri dan penuh kemenangan ini rajutan tali silaturahmi menjadi lebih kuat dan kokoh, amiin.&lt;/strong&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Salam silaturahmi,&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Sawali Tuhusetya dan Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h3&gt;Random Posts&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 10 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/10/kesadaran-kolektif-yang-terkoyak/" title="Kesadaran Kolektif yang Terkoyak "&gt;Kesadaran Kolektif yang Terkoyak  (41)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Friday, 28 December 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/12/28/quo-vadis-kurikulum-pendidikan-kita-sebuah-refleksi-akhir-tahun/" title="Quo Vadis Kurikulum Pendidikan Kita (Sebuah Refleksi Akhir Tahun)"&gt;Quo Vadis Kurikulum Pendidikan Kita (Sebuah Refleksi Akhir Tahun) (6)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 24 February 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/02/24/mitos-dan-selubung-masa-silam-tabir-penulisan-cerpen/" title="Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen"&gt;Mitos dan Selubung Masa Silam: Tabir Penulisan Cerpen (41)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Monday, 21 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/21/perlukah-pengarang-melakukan-pemberontakan/" title="Perlukah Pengarang Melakukan &amp;#8220;Pemberontakan&amp;#8221;?"&gt;Perlukah Pengarang Melakukan &amp;#8220;Pemberontakan&amp;#8221;? (21)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tuesday, 1 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/01/kang-panut/" title="Kang Panut"&gt;Kang Panut (1)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 18 August 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/08/18/sastra-dan-anomali-sosial-generasi-muda-masa-kini/" title="Sastra dan Anomali Sosial Generasi Muda Masa Kini"&gt;Sastra dan Anomali Sosial Generasi Muda Masa Kini (12)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tuesday, 1 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/01/pengakuan/" title="Pengakuan"&gt;Pengakuan (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 15 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/15/perubahan-kurikulum-di-tengah-mitos-globalisasi/" title="Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi"&gt;Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi (6)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Monday, 5 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/05/guru-ngeblog-apa-untungnya/" title="Guru Ngeblog: Apa Untungnya?"&gt;Guru Ngeblog: Apa Untungnya? (39)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Thursday, 1 November 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/11/01/bang-kempul-bergaya-selebritis-sebuah-refleksi/" title="Bang Kempul Bergaya Selebritis: Sebuah Refleksi"&gt;Bang Kempul Bergaya Selebritis: Sebuah Refleksi (4)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=MXhcL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=MXhcL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=54a1l"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=54a1l" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=fHQsL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=fHQsL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=h76dl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=h76dl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=nz1DL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=nz1DL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=iOkvl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=iOkvl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=Bk8ML"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=Bk8ML" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=GHsBl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=GHsBl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=zFTML"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=zFTML" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=f7AHl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=f7AHl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=qrxTL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=qrxTL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/09/29/selamat-hari-raya-idul-fitri-1429/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F09%2F29%2Fselamat-hari-raya-idul-fitri-1429%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/09/29/selamat-hari-raya-idul-fitri-1429/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/404699675/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Bahasa</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Budaya</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Esai</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Opini</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Pendidikan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Politik</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Sastra</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">apresiasi puisi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">lebaran</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-09-27T09:09:00-05:00</issued><modified>2008-09-27T09:09:00-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1292</id><summary type="text/html" mode="escaped">Entah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif.
Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;&lt;img class="alignleft" title="sitor" src="http://sawali64.googlepages.com/sitor.png" alt="sitor situmorang" width="254" height="350" /&gt;Entah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari sisi &lt;em&gt;stylistika&lt;/em&gt;, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski demikian, saya tak ingin membedahnya dari sisi &lt;em&gt;stylistika&lt;/em&gt;. Saya justru lebih tertarik untuk menelaahnya dari aspek muatan isi yang saya anggap “liar” dan imajinatif itu. Saya juga tak menggunakan pendekatan atau teori sastra tertentu, tetapi lebih pada upaya penafsiran dan pemaknaan dari sudut pandang pribadi saya sebagai seorang penikmat dan pencinta puisi yang ingin saya kaitkan dengan momentum lebaran yang sebentar lagi akan datang menjenguk kita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kalau kita perhatikan dengan saksama, larik pendek itu tak bisa dipisahkan dari judulnya. Secara sederhana, puisi tersebut bisa kita parafrasekan menjadi : //Pada malam lebaran, ada rembulan di atas kuburan//.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ya, ya, ya. Dalam penafsiran awam saya, setidaknya ada tiga frasa dan kata kunci yang hendak ditekankan oleh penyair kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu, yakni “malam lebaran”, “rembulan”, dan “di atas kuburan”. Dari sisi logika, larik puisi ini jelas absurd, mustahil, dan tak masuk akal. Rembulan tak mungkin muncul pada malam lebaran, bukan? Namun, sesungguhnya larik tersebut tak bisa hanya sebatas kita maknai secara harfiah. Ada nilai-nilai kehidupan yang serba kontradiktif yang hendak didedahkan sang penyair.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lebaran, sebagaimana dipahami banyak orang, merupakan saat penuh kebahagiaan setelah sebulan lamanya berhasil menjalankan ibadah puasa. Hampir semua orang tenggelam dalam hiruk-pikuk kemeriahan menyambut saat-saat “pembebasan” itu. Semua orang, apa pun pangkat dan kedudukannya, baju politik warna apa pun yang dipakai, atau status sosial keseharian apa pun yang disandangnya, (nyaris) semuanya tak melewatkan momentum yang sarat berkah dan maghfirah itu. Tak salah kalau Sitor Situmorang menggunakan kata simbolik “bulan” sebagai ikon kebahagiaan dan kemeriahan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, ada yang lupa bahwa di balik kemeriahan dan kebahagiaan pada malam lebaran itu, ada juga ketragisan hidup. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang masih harus “berpuasa” dan mengalami kelaparan pada saat hari “pembebasan” itu. Mereka tak bisa mudik dan terlibat dalam hiruk-pikuk penyambutan lebaran di kampung halaman. Situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan “memaksa” mereka untuk meniadakan momentum lebaran dalam “kamus” hidupnya. Mereka hanya bisa mendengarkan gema suara takbir yang terdengar pilu; tak ubahnya menikmati lengkingan orkestra yang tragis dan menyayat nurani. Tak salah juga kalau Sitor Situmorang menggunakan frasa “di atas kuburan”.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Begitulah, idealnya lebaran juga perlu dijadikan sebagai momentum untuk saling berbagi dan bersilaturahmi, khususnya kepada mereka yang bernasib kurang beruntung. Konon, di balik kekayaan dan penghasilan yang kita miliki ada hak juga bagi fakir miskin dan anak-anak telantar. Bahkan, mereka yang suka mengemplang dan mencuri harta rakyat dan negara, lebaran perlu dimaknai sebagai momentum pertobatan untuk mengembalikan kekayaan yang mereka peroleh secara tidak sah kepada negara, tanpa harus menunggu diserbu KPK. Cara semacam ini akan lebih terhormat daripada dipaksa harus memakai seragam koruptor versi KPK.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bisa jadi, penafirsan “selengekan” semacam ini jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Sitor Situmorang. Namun, sebagai genre sastra, puisi yang multitafsir bisa dimaknai secara personal oleh apresiannya. &lt;em&gt;Sampeyan &lt;/em&gt;memiliki penafsiran yang berbeda? ***&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Tulisan Terkait:&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Monday, 25 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/25/saya-sedang-mencari-tuhan/" title="Saya Sedang Mencari Tuhan"&gt;Saya Sedang Mencari Tuhan (59)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 10 October 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/10/10/kembali-ke-fitrah/" title="Kembali Ke Fitrah"&gt;Kembali Ke Fitrah (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=hRzBL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=hRzBL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=wGXll"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=wGXll" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=igAGL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=igAGL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=T2vbl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=T2vbl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=OnTSL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=OnTSL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=ldiUl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=ldiUl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=AIeKL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=AIeKL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=ZNRnl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=ZNRnl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=8mUML"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=8mUML" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=uqpSl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=uqpSl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=0WmpL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=0WmpL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/09/27/malam-lebaran-antara-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F09%2F27%2Fmalam-lebaran-antara-kebahagiaan%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/09/27/malam-lebaran-antara-kebahagiaan/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Refleksi Menjelang Lebaran</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/403806285/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Blog</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Budaya</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Kearifan Lokal</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Pendidikan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Tradisi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">hedonisme</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">kekerasan</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">konsumtivisme</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">silaturahmi</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-09-26T02:49:54-05:00</issued><modified>2008-09-26T02:49:54-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1277</id><summary type="text/html" mode="escaped">Lebaran sudah menjadi tradisi dan budaya di negeri ini. Tak tahu pasti, sejak kapan tradisi dan budaya itu berlangsung. Yang jelas, lebaran sudah menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat, lengkap dengan segala romantisme dan asesorisnya, khususnya di kalangan umat Islam. Ada sebagian masyarakat berkeyakinan bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa; dari kata dasar “lebar” [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;&lt;a href="http://celotehan.com"&gt;&lt;img class="alignleft" src="http://sawali64.googlepages.com/kartu_lebaran.jpg" alt="idulfitri" /&gt;&lt;/a&gt;Lebaran sudah menjadi tradisi dan budaya di negeri ini. Tak tahu pasti, sejak kapan tradisi dan budaya itu berlangsung. Yang jelas, lebaran sudah menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat, lengkap dengan segala romantisme dan asesorisnya, khususnya di kalangan umat Islam. Ada sebagian masyarakat berkeyakinan bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa; dari kata dasar “lebar” yang artinya selesai. Kata lebar, kemudian mendapatkan akhiran -an untuk menandai adanya sebuah aktivitas budaya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah lebaran dijelaskan seperti berikut ini.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lebaran&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;n&lt;/em&gt; hari raya umat Islam yg jatuh pd tgl 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idulfitri.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Kalau pengertian ini dikaitkan dengan lebaran yang berasal dari bahasa Jawa bisa dimaknai sebagai momentum selesainya umat Islam menjalankan ibadah puasa yang dirayakan dengan menggelar acara halal-bihalal; saling bermaafan; sebagai media untuk mempererat silaturahmi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebagai sebuah aktivitas budaya, lebaran memiliki banyak ragam dan bentuk penyambutan. Bagi anak-anak, lebaran bisa dimaknai sebagai momentum untuk mendapatkan “angpau” alias bonus khusus dari orang tua dan sanak-saudara. Sedangkan, bagi orang tua, lebaran bisa dimaknai sebagai momentum untuk memberikan sentuhan perhatian dan kasih sayang yang “istimewa” kepada anak, tetangga, dan sanak famili.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari sisi spiritual, lebaran sebenarnya mengandung dua kekuatan komunikasi. Pertama, komunikasi secara vertikal sebagai bentuk kepasrahan dan penyerahan diri secara total kepada Sang Pencipta melalui laku ibadah puasa sebulan lamanya. Kedua, komunikasi secara horizontal sebagai wujud pernyataan sikap sosial dan kemanusiaan terhadap sesamanya. Tak berlebihan jika banyak orang yang rela bersusah-payah melakukan mudik dengan menempuh perjalanan yang jauh dan merepotkan. Ada semacam “kewajiban moral” bagi pemudik untuk bertemu dengan orang tua dan sanak-saudaranya di kampung setelah hampir setahun lamanya mereka tak bisa bertemu dan bersilaturahmi dalam suasana lebaran yang khas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di kalangan pemilik modal, lebaran sudah pasti disambut dengan cara yang berbeda lagi. Mereka tak segan-segan menaikkan harga barang-barang kebutuhan hidup jauh melambung di atas harga hari-hari biasa. Masyarakat yang sudah demikian rendah daya belinya, seringkali tak berdaya untuk menolak karena memang sangat membutuhkannya. Tak peduli bagaimanapun caranya, yang penting mereka bisa berlebaran melalui pesta, lengkap dengan segala atribut kemeriahannya. Sungguh tidak afdol rasanya kalau lebaran tanpa baju baru dan hidangan serba lengkap.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang lebih repot, lebaran tak jarang dijadikan sebagai ajang untuk unjuk status sosial dan pengakuan sebuah kehormatan. Mereka yang berduit suka berbagi-bagi zakat kepada para fakir miskin melalui kemasan “spektakuler”. Puluhan ribu fakir miskin diminta kumpul di sebuah tempat untuk antre menerima zakat orang kaya yang baik hati itu. Tak bisa dibayangkan bagaimana suasana yang terjadi ketika ribuan orang berkumpul di sebuah tempat yang kurang nyaman dan leluasa untuk bergerak. Maka, yang terjadi kemudian adalah sebuah pemandangan ala kaum kanibal dengan hukum rimbanya. Mereka yang kuat, sudah pasti akan mendapatkan jatah lebih dahulu, sedangkan mereka yang lemah dan tak berdaya, hanya bisa menunggu, bahkan harus menjadi korban sia-sia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berbagi zakat memang merupakan hal wajib bagi mereka yang mampu menunaikannya. Lebih-lebih bagi orang kaya Namun, menjadi lain persoalannya ketika zakat sudah tereduksi oleh sifat-sifat naif melalui unjuk status sosial, gengsi, dan kehormatan. Akan lebih arif dan bijak jika zakat semacam itu disalurkan secara langsung ke rumah saudara-saudara kita yang bernasib kurang beruntung. Selain “nguwongke”, juga untuk menghindarkan mereka dari perangkap “karnaval kemiskinan” yang kurang manusiawi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di tengah situasi ekonomi yang kurang menguntungkan, kemeriahan lebaran tidak semata-mata dilihat dari aneka warna baju baru dan hidangan serba lengkap, tetapi lebih pada pemaknaan esensinya sebagai hari kemenangan setelah berhasil menjinakkan hawa nafsu sebulan lamanya. Sungguh naif rasanya jika ramadhan justru diakhiri degan berbagai aktivitas konsumtivisme, bahkan juga hedonisme, yang seringkali justru membuat hawa nafsu dan selera rendah kita kembali terpicu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lebaran juga akan lebih bermakna jika dijadikan sebagai momentum untuk memperkokoh kembali rajutan silaturahmi yang selama ini nyaris tenggelam dan koyak-moyak oleh berbagai macam persoalan sosial yang begitu rumit dan kompleks. Pihak-pihak yang berseteru dan bersengketa dalam sebuah ajang kekerasan, dendam, dan kebencian, perlu segera islah dan saling menyatakan permohonan maaf, untuk selanjutnya saling berangkulan dalam suasana yang penuh keharuan, sarat dengan sentuhan nilai kemanusiaan dan persaudaraan. Jika ini dilakukan secara kolektif oleh segenap komponen bangsa, sungguh, hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan itu bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Nah, berkaitan dengan momentum lebaran tahun ini, perkenankan saya dan keluarga mengucapkan:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H, MINAL AIDIN WAL FAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Semoga Allah berkenan mengembalikan kita kepada fitrah-Nya. Amiin.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Tulisan Terkait:&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Friday, 3 October 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/10/03/makna-kekerabatan-di-balik-mudik-2/" title="Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran"&gt;Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran (109)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Monday, 22 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/22/nofollow-free-plugin-yang-ramah/" title="Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung"&gt;Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung (117)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 20 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/20/tag-award-antara-silaturahmi/" title="Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi"&gt;Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi (97)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 13 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/13/tayangan-tv-yang-bias-gender/" title="Tayangan TV yang Bias Gender"&gt;Tayangan TV yang Bias Gender (47)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 27 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/27/refleksi-menjelang-ramadhan/" title="Refleksi Menjelang Ramadhan"&gt;Refleksi Menjelang Ramadhan (88)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Friday, 22 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/22/tragedi-pasca-pesta-karnaval/" title="Tragedi Pasca-Pesta Karnaval"&gt;Tragedi Pasca-Pesta Karnaval (33)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 13 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/13/spam-karma-memang-sadis/" title="Spam Karma Memang Sadis!"&gt;Spam Karma Memang Sadis! (59)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 9 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/09/demokrasi-yang-sehat-kapan-terwujud/" title="Demokrasi yang Sehat: Kapan Terwujud?"&gt;Demokrasi yang Sehat: Kapan Terwujud? (47)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 12 July 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/07/12/membangun-peradaban-yang-sensitif/" title="Membangun Peradaban yang Sensitif terhadap Seni dan Budaya"&gt;Membangun Peradaban yang Sensitif terhadap Seni dan Budaya (32)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 6 July 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/07/06/tak-ada-lagi-alasan-untuk-mengebiri/" title="Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra!"&gt;Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra! (63)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=oIa0L"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=oIa0L" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=UBVQl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=UBVQl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=7evgL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=7evgL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=hkc1l"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=hkc1l" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=OSmWL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=OSmWL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=DfgAl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=DfgAl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=O3lcL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=O3lcL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=XdmWl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=XdmWl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=QixNL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=QixNL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=y8EXl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=y8EXl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=TrBLL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=TrBLL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/09/26/refleksi-menjelang-lebaran/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F09%2F26%2Frefleksi-menjelang-lebaran%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/09/26/refleksi-menjelang-lebaran/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Di manakah Allah ?</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/403806288/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-09-25T13:16:10-05:00</issued><modified>2008-09-25T13:16:10-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1266</id><summary type="text/html" mode="escaped">Pada masa sekarang ini, di mana banyak diantara kaum muslimin yang sudah sangat menyepelekan masalah aqidah shahihah yang merupakan masalah paling pokok dalam agama ini, maka akan kita dapati dua jawaban yang batil dan kufur dari pertanyaan “Dimana Alloh?”. Yang pertama mereka yang mengatakan bahwasanya Alloh ada dalam diri setiap kita? Dan kedua yaitu yang [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;Pada masa sekarang ini, di mana banyak diantara kaum muslimin yang sudah sangat menyepelekan masalah aqidah shahihah yang merupakan masalah paling pokok dalam agama ini, maka akan kita dapati dua jawaban yang batil dan kufur dari pertanyaan &lt;em&gt;“Dimana Alloh?”&lt;/em&gt;. Yang pertama mereka yang mengatakan bahwasanya Alloh ada dalam diri setiap kita? Dan kedua yaitu yang mengatakan Alloh ada di mana-mana atau di segala tempat?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Seorang Budak Pun Tahu Dimana Alloh&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketahuilah wahai Saudaraku, pertanyaan &lt;em&gt;“Dimana Alloh?”&lt;/em&gt; adalah pertanyaan Rosululloh &lt;em&gt;shollallohu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; kepada seorang budak perempuan kepunyaan Mu’awiyah bin Hakam As Sulamiy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya. &lt;em&gt;“Beliau bertanya kepada budak perempuan itu, ‘Dimanakah Alloh?’ Jawab budak perempuan, ‘Di atas langit’ Beliau bertanya lagi, Siapakah aku? Jawab budak perempuan, ‘Engkau adalah Rosululloh’, Beliau bersabda, ‘Merdekakan dia! Karena sesungguhnya dia seorang mu’minah (perempuan yang beriman)’.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim dan lainnya)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maka perhatikanlah dengan seksama masyarakat tersebut, yang mana Rosululloh &lt;em&gt;shollallohu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; berjihad bersama mereka, aqidah mereka sempurna (merata) hingga pada para penggembala kambing sekalipun, yang mana perjumpaan (pergaulan) mereka dengan Rosululloh &lt;em&gt;shollallohu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; sangat sedikit, seperti penggembala kambing ini. Kemudian bandingkanlah dengan realita kaum muslimin sekarang ini, niscaya akan kita dapatkan perbedaan yang sangat jauh.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Keyakinan di mana Alloh termasuk masalah besar yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya yaitu penetapan sifat &lt;em&gt;Al-’Uluw&lt;/em&gt; (sifat ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwa Dia di atas seluruh mahluk), ketinggian yang mutlak dari segala sisi dan penetapan &lt;em&gt;Istiwa’&lt;/em&gt; (bersemayam)-Nya di atas &lt;em&gt;Al-’Arsy&lt;/em&gt;, berpisah dan tidak menyatu dengan makhluk-Nya sebagaimana yang diyakini oleh kaum &lt;em&gt;Wihdatul Wujud&lt;/em&gt;, yang telah dikafirkan oleh para ulama kita yang dahulu dan sekarang. Dan dalil-dalil yang menunjukkan penetapan sifat ini sangatlah banyak, sangat lengkap dan jelas, baik dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ijma’, akal dan fitrah sehingga para ulama menganggapnya sebagai perkara yang bisa diketahui secara mudah oleh setiap orang dalam agama yang agung ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil-Dalil Al Qur’an&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, &lt;em&gt;“(Robb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”&lt;/em&gt; (Thoha: 5). Dan pada enam tempat dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, &lt;em&gt;“Kemudian Dia Istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy.”&lt;/em&gt; (Al-A’raf: 54). &lt;em&gt;‘Arsy&lt;/em&gt; adalah makhluk Alloh yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas, &lt;em&gt;“Dan ‘Arsy tidak seorang pun dapat mengukur berapa besarnya.”&lt;/em&gt; (Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, sanadnya Shahih). Ayat ini jelas sekali menunjukkan ketinggian dan keberadaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas langit serta menutup jalan untuk meniadakan atau menghilangkan sifat ketinggian-Nya atau mentakwilkannya. Para ulama Ahlus Sunnah pun sepakat bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala ber-istiwa’ di atas &lt;em&gt;‘Arsy&lt;/em&gt;-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa mempertanyakan bagaimana cara/&lt;em&gt;kaifiyat&lt;/em&gt; &lt;em&gt;istiwa’&lt;/em&gt;-Nya. Dan perlu diketahui bahwa penetapan sifat ini sama dengan penetapan seluruh sifat Alloh yang lainnya, yaitu harus berjalan di atas dasar penetapan sifat Alloh sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil-Dalil As Sunnah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah juga sangat banyak, di antaranya adalah sabda Rosululloh &lt;em&gt;shollallohu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;“Tidakkah kalian percaya padaku sedangkan aku adalah kepercayaan Yang berada di atas langit. Datang kepadaku wahyu dari langit di waktu pagi dan petang.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhori-Muslim). Rosululloh &lt;em&gt;shollallohu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; juga bersabda, &lt;em&gt;“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Rahman, sayangilah siapa saja yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh Yang berada di atas langit.”&lt;/em&gt; (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al-Albani). Begitu pula dengan hadits pertanyaan Rosululloh kepada budak perempuan yang telah disebutkan di atas. Imam Adz-Dzahabi berkata setelah membawakan hadits budak perempuan di atas, &lt;em&gt;“Demikianlah pendapat kami bahwa setiap orang yang ditanyakan di manakah Alloh, dia segera menjawab dengan fitrahnya, ‘Alloh di atas langit!’ Dan di dalam hadits ini ada dua perkara yang penting; Pertama disyariatkannya pertanyaan, ‘Dimana Alloh?’ Kedua, disyariatkannya jawaban yang ditanya, ‘Di atas langit’. Maka siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia mengingkari Al-Musthofa shollallohu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;“. (&lt;em&gt;Mukhtashor Al-’Uluw&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Akan tetapi realita kaum muslimin sekarang amat sangat memprihatinkan. Pertanyaan ini justeru telah menjadi sesuatu yang ditertawakan dan jarang dipertanyakan oleh sebagian jama’ah-jama’ah dakwah di zaman ini? Ataukah justru pertanyaan ini telah menjadi bahan olok-olokan semata? Ataukah kaum muslimin sekarang ini telah memahami pentingnya berhukum dengan hukum yang diturunkan Alloh, meskipun mereka menyia-nyiakan hak Alloh? Maka kapankah Alloh akan mengizinkan untuk melepaskan, membebaskan dan memerdekakan kita dari orang-orang kafir yang menghinakan dan merendahkan kita sebagaimana telah dibebaskannya seorang wanita dari hinanya perbudakan setelah ia mengenal dimana Alloh?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Konsekuensi Jawaban yang Keliru&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Alangkah batilnya orang yang yang mengatakan bahwasanya Alloh berada di setiap tempat atau Alloh berada di mana-mana karena konsekuensinya menetapkan keberadaan Alloh di jalan-jalan, di pasar bahkan di tempat-tempat kotor dan berada di bawah makhluk-Nya. Kita katakan kepada mereka, &lt;em&gt;“Maha Suci Alloh dari apa-apa yang mereka sifatkan.”&lt;/em&gt; (Al-Mu’minun: 91). Dan sama halnya juga dengan orang yang mengatakan bahwasanya Alloh ada dalam setiap diri kita (??) karena konsekuensinya Alloh itu banyak, sebanyak bilangan makhluk? Maka aqidah seperti ini lebih kufur daripada aqidahnya kaum Nashrani yang mengakui adanya tiga tuhan (trinitas). Lebih-lebih lagi mereka yang mengatakan bahwa Alloh tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang karena hal ini berarti Alloh itu tidak ada (??) maka selama ini siapa Tuhan yang mereka sembah? Adapun orang yang “diam” dengan mengatakan, &lt;em&gt;“Kami tidak tahu Dzat Alloh di atas ‘Arsy atau di bumi”&lt;/em&gt; mereka ini adalah orang-orang yang memelihara kebodohan. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mensifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat yang salah satunya adalah bahwa ia &lt;em&gt;istiwa’&lt;/em&gt; (bersemayam) di atas &lt;em&gt;‘Arsy&lt;/em&gt;-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan &lt;em&gt;“Kami tidak tahu”&lt;/em&gt; nyata-nyata telah berpaling dari maksud Alloh. Pantaslah jika Imam Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, tentunya setelah ditegakkan hujjah atas mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dalil Fitrah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebenarnya tanpa adanya &lt;em&gt;dalil naqli&lt;/em&gt; tentang keberadaan Alloh di atas, fitrah kita sudah menunjukkan hal tersebut. Lihatlah jika manusia berdo’a khususnya apabila sedang tertimpa musibah, mereka menengadahkan wajah dan tangan ke langit sementara gerakan mata mereka ke atas mengikuti isyarat hatinya yang juga mengarah ke atas. Maka siapakah yang mengingkari fitrah ini kecuali mereka yang telah rusak fitrahnya? Bahkan seorang artis pun ketika ditanya tentang kapan dia mau menikah maka dia menjawab, &lt;em&gt;“Kita serahkan pada Yang di atas!”&lt;/em&gt; Maka mengapa kita tidak menjawab pertanyaan &lt;em&gt;“Dimana Alloh?”&lt;/em&gt; dengan fitrah kita? Dengan memperhatikan kenyataan ini, lalu mengapa kita lebih sibuk menyatukan suara kaum muslimin di kotak-kotak pemilihan umum sementara hati-hati mereka tidak disatukan di atas aqidah yang shahih? Bukankah persatuan jasmani tidak akan terwujud bilamana ikatan hati bercerai-berai? Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, &lt;em&gt;“Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati-hati mereka berpecah-belah.”&lt;/em&gt; (Al-Hasyr: 14). Hanya kepada Alloh-lah kita memohon perlindungan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Penulis: Abu Ibrohim Hakim&lt;br /&gt;
Artikel www.muslim.or.id&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Update:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hina sekali diriku ini sampe2 ngga ada cara lain buat berdakwah&amp;#8230;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mendzalimi orang lain (pak sawili) untuk &amp;#8216;dipinjem&amp;#8217; sebentar websitenya buat menyebarkan Hujjah para ahlusunnah&amp;#8230;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ini penting Pak&amp;#8230; krn Jutaan umat Muslim percaya pada Aqidah yg Bathil bahwa Allah ada di mana2&amp;#8230; bahkan Kaum sufi ketika ditanya Allah di mana ? dia menjawab ada di dalam Hatiku&amp;#8230; AAKHHHHHHHH  TOLONg lah hamba2 mu yg tidak mengerti ini&amp;#8230;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mari kita serahkan jawabannya kepada Allah dan Rasulullah, yg tahhu di mana Allah&amp;#8230;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;SIAPA YG BILANG ALLAH ITU ADA DI ATAS LANGIT KE TUJUH (DI ATAS ARSY) ??? ya Allah sendiri yg bilang&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;trus, siapa yg bilang ALLAH ITU DEKAT ??  YA ALLAH sendiri&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;keduanya dikabarkan ALLAH melalui firmannya &amp;#8230;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lalu, datang sekelomp[ok orang dikemudian hari yg lebih menggunakan logikanya, ketimbang dalil2 yg disepakati Ulama (Quran dan hadits)&amp;#8230;&amp;#8230;&amp;#8230;&amp;#8230;&amp;#8230;&amp;#8230;&amp;#8230;.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Random Posts&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Friday, 4 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/04/perubahan-paradigma-pendidikan/" title="Perubahan Paradigma Pendidikan"&gt;Perubahan Paradigma Pendidikan (10)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 15 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/15/perubahan-kurikulum-di-tengah-mitos-globalisasi/" title="Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi"&gt;Perubahan Kurikulum di Tengah Mitos Globalisasi (6)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 16 August 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/08/16/dirgahayu-negeriku/" title="Dirgahayu Negeriku!"&gt;Dirgahayu Negeriku! (55)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 23 April 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/04/23/petaka-di-balik-cupumanik-astagina/" title="Petaka di Balik Cupumanik Astagina"&gt;Petaka di Balik Cupumanik Astagina (21)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 10 October 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/10/10/kembali-ke-fitrah/" title="Kembali Ke Fitrah"&gt;Kembali Ke Fitrah (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Thursday, 12 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/12/ancaman/" title="Ancaman"&gt;Ancaman (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 21 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/21/arogansi-tumenggung-wilmuna/" title="Arogansi Tumenggung Wilmuna"&gt;Arogansi Tumenggung Wilmuna (38)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 15 July 2007 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2007/07/15/korpri-dan-mutu-pelayanan-publik/" title="Korpri dan Mutu Pelayanan Publik"&gt;Korpri dan Mutu Pelayanan Publik (0)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 28 June 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/06/28/gejala-tutur-indon-english-dan-uu-kebahasaan/" title="Gejala Tutur Indon-English dan UU Kebahasaan"&gt;Gejala Tutur Indon-English dan UU Kebahasaan (36)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 2 January 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/01/02/mampukah-sertifikasi-guru-mendongkrak-mutu-pendidikan/" title="MAMPUKAH SERTIFIKASI GURU MENDONGKRAK MUTU PENDIDIKAN?"&gt;MAMPUKAH SERTIFIKASI GURU MENDONGKRAK MUTU PENDIDIKAN? (4)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=yctiL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=yctiL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=w6zGl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=w6zGl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=3gsJL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=3gsJL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=lBP1l"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=lBP1l" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=QI8ML"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=QI8ML" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=zc3ql"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=zc3ql" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=cTHYL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=cTHYL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=5DBDl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=5DBDl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=133zL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=133zL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=ESm4l"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=ESm4l" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=2QeWL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=2QeWL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/09/26/di-manakah-allah/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F09%2F26%2Fdi-manakah-allah%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/09/26/di-manakah-allah/</feedburner:origLink></entry><entry><title>Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam”</title><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feeds.feedburner.com/~r/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya/~3/402271274/" /><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Blog</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Opini</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Refleksi</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">blog</dc:subject><dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">hacker</dc:subject><author><name>Sawali Tuhusetya</name></author><issued>2008-09-24T19:04:26-05:00</issued><modified>2008-09-24T19:04:26-05:00</modified><id>http://sawali.info/?p=1261</id><summary type="text/html" mode="escaped">Sebenarnya saya kurang begitu paham terhadap dunia para hacker. Konon, mereka adalah orang-orang yang cerdas. Rasa ingin tahunya terhadap dunia komputer dan internet melebihi batas-batas kewajaran, sehingga apa pun mereka lakukan demi “memanjakan” naluri rasa ingin tahunya itu. Untuk membuktikan “kecerdasannya”, para hacker tak henti-hentinya melakukan inovasi dan terobosan baru di dunia IT. Jelas menjadi [...]</summary><content type="text/html" mode="escaped">&lt;p&gt;Sebenarnya saya kurang begitu paham terhadap dunia para hacker. Konon, mereka adalah orang-orang yang cerdas. Rasa ingin tahunya terhadap dunia komputer dan internet melebihi batas-batas kewajaran, sehingga apa pun mereka lakukan demi “memanjakan” naluri rasa ingin tahunya itu. Untuk membuktikan “kecerdasannya”, para hacker tak henti-hentinya melakukan inovasi dan terobosan baru di dunia IT. Jelas menjadi sebuah kebanggaan jika temuan-temuannya berhasil menjadi ikon kecanggihan dalam dunia komputer dan internet. Dari sisi ini, keberadaan seorang hacker jelas akan membawa peradaban menjadi lebih maju dan modern.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, persoalannya menjadi lain ketika kecerdasan yang dimilikinya bukan digunakan untuk memberikan kemaslahatan umat manusia, melainkan justru untuk membangun sebuah kebanggaan semu yang menyengsarakan orang lain. Saya lebih suka menyebutnya dengan hacker “hitam”; tak ubahnya seorang cracker yang suka melakukan kejahatan “kemanusiaan” lewat kecerdasan yang dimilikinya dalam mendayagunakan piranti komputer dan internet.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Begitulah yang telah terjadi. Saya dan beberapa sahabat bloger, seperti &lt;a href="http://oktasihotang.com/2008/09/24/blog-ini-kena-deface/" target="_blank"&gt;Mas Okta Sihotang&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://nindityo.com/" target="_blank"&gt;Mas Nindityo&lt;/a&gt;, atau &lt;a href="http://www.izandi.com/" target="_blank"&gt;Mas Izandi&lt;/a&gt;, bahkan mungkin juga sahabat-sahabat bloger yang lain, mau atau tidak, dipaksa menyaksikan kejahatan seorang hacker “hitam” yang tega men-deface web dan blog, termasuk blog saya mulai 24 September 2008 dini hari. Blog jadi tak bisa diakses. Yang muncul adalah wajah seperti berikut ini!&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;img class="aligncenter" title="hacker" src="http://sawali64.googlepages.com/hacked.jpg" alt="hack" width="500" height="277" /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dua kali Mas Adipati Kademangan mengirimkan email yang baru saya baca sekitar pukul 13.30 sepulang dari sekolah yang mengabarkan tentang blog saya yang di-hack itu. Namun, lantaran sedang geram terhadap ulah hacker hitam itu, saya tak sempat melakukan aktivitas apa pun kecuali berusaha untuk menormalkan kembali blog yang telah berubah wajah itu. Mas Nindityo berkali-kali melakukan kontak via HP. Arghhhh…. Benar-benar kelewatan ulah begajulan si hacker hitam itu. &lt;a href="http://moharifwidarto.com/" target="_blank"&gt;Kang Kombor&lt;/a&gt; pun juga menanyakan nasib blog saya itu via SMS. Bahkan, &lt;a href="http://sapimoto.com/index.php/2008/09/sawaliinfo-hacked-by-jamaycka/" target="_blank"&gt;Mas Sapimoto&lt;/a&gt; malah lebih dahulu membuat postingan khusus tentang nasib blog saya yang telah hancur wajahnya itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Iseng-iseng saya mencoba melihat file .php lewat ftp. Haks, ternyata banyak file yang telah hancur. Banyak kode rahasia yang muncul di sana. Dengan sendirinya, kode-kode tag html/xhtml blog telah hancur. Semua file indeks.php yang terdapat dalam&lt;br /&gt;
{blog_folder}, {blog_folder}\wp-admin, {blog_folder}\wp-includes, {blog_folder}\wp_content, {blog_folder}\wp_content\themes, {blog_folder}\wp_content\themes\{other_theme_folders}, atau {blog_folder}\wp_content\plugins\wp-table, semuanya telah berubah.&lt;br /&gt;
Walhasil, saya pun terpaksa membuang file indeks yang telah dihancurkan oleh “petualang gelap” itu, kemudian menggantinya dengan file-file asli wordpress versi 2.6.2 yang saya gunakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ini pelajaran berharga, tetapi pahit buat saya. Untuk mengantisipasi ulah hacker hitam yang bisa datang kapan saja itu, agaknya kita perlu mem-back-up file-file penting, termasuk theme yang telah dimodifikasi agar sewaktu-waktu kita tak terlalu repot. Saya yang lalai melakukan back-up, akhirnya harus kelabakan sendiri karena masih harus mencari-cari file-file pengganti, mencari dan menginstal theme baru seperti yang sekarang saya gunakan. Benar-benar capek! Untung saja arsip postingan masih utuh; tak ada satu pun yang rusak. Semoga para hacker “hitam” yang telah membuat sengsara banyak orang itu diberikan pencerahan menuju jalan kebenaran. ***&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Tulisan Terkait:&lt;/h3&gt;
&lt;ul class="related_post"&gt;
&lt;li&gt;Monday, 22 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/22/nofollow-free-plugin-yang-ramah/" title="Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung"&gt;Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung (117)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 20 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/20/tag-award-antara-silaturahmi/" title="Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi"&gt;Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi (97)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 10 September 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/09/10/menguji-validitas-blog-berdasarkan/" title="Menguji Validitas Blog Berdasarkan Standar Web"&gt;Menguji Validitas Blog Berdasarkan Standar Web (60)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Friday, 25 July 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/07/25/dihajar-komentar-spam/" title="Dihajar Komentar SPAM"&gt;Dihajar Komentar SPAM (50)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Saturday, 5 July 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/07/05/bahasa-blog-antara-gaya-dan-kepentingan-2/" title="Bahasa Blog: Antara Gaya dan Kepentingan Ekspresi"&gt;Bahasa Blog: Antara Gaya dan Kepentingan Ekspresi (53)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 1 June 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/06/01/setelah-berpindah-server/" title="Setelah Berpindah Server"&gt;Setelah Berpindah Server (35)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunday, 11 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/11/diskusi-buku-dan-peluncuran-kumcer/" title="Diskusi Buku dan Peluncuran Kumcer"&gt;Diskusi Buku dan Peluncuran Kumcer (64)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wednesday, 7 May 2008 &amp;#8212; &lt;a href="http://sawali.info/2008/05/07/kopi-paste-perlukah-minta-izin/" title="Kopi-paste: Perlukah Minta Izin?"&gt;Kopi-paste: Perlukah Minta Izin? (39)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=gQBOL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=gQBOL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=Vd44l"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=Vd44l" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=TwEHL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=TwEHL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=RDpAl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=RDpAl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=aisnL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=aisnL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=f4iXl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=f4iXl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=z75NL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=z75NL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=wxhsl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=wxhsl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=PhwXL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=PhwXL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=MQddl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=MQddl" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?a=nkejL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/feedburner/CatatanSawaliTuhusetya?i=nkejL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</content><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://sawali.info/2008/09/25/mengantisipasi-ulah-hacker-%e2%80%9chitam%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetItemData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya&amp;itemurl=http%3A%2F%2Fsawali.info%2F2008%2F09%2F25%2Fmengantisipasi-ulah-hacker-%25e2%2580%259chitam%25e2%2580%259d%2F</feedburner:awareness><feedburner:origLink>http://sawali.info/2008/09/25/mengantisipasi-ulah-hacker-%e2%80%9chitam%e2%80%9d/</feedburner:origLink></entry><feedburner:awareness>http://api.feedburner.com/awareness/1.0/GetFeedData?uri=feedburner/CatatanSawaliTuhusetya</feedburner:awareness></feed>
