<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836</atom:id><lastBuildDate>Mon, 07 Oct 2024 03:54:55 +0000</lastBuildDate><category>Story 'bout Me</category><category>Kuliahhhh...</category><category>My Idols...</category><category>Tentang Mereka...</category><category>My Journey</category><category>My Around The...</category><category>My Book</category><category>My Novels</category><category>VivaVlog</category><title>Khansaisme</title><description></description><link>http://marykhans.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>79</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-8740038731163100091</guid><pubDate>Wed, 30 Nov 2011 06:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T18:44:41.678-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">VivaVlog</category><title>HIV/AIDS Bukan Akhir Dari Segalanya</title><description>&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuw_WQyjhbchjllnD-2lCuFDtR5taqwCU7FEZRbPw2CKhJorxAVVxMqUfXJOmV2chB2e-XrZgYcW_Q27LBKivhwHZl2bnTVhdiHzSJcEsUMtTHKHasa5facAySsvOHByKUzZIYaW9bOyQ/s1600/TRB-201105-0006882-300x200.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 300px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuw_WQyjhbchjllnD-2lCuFDtR5taqwCU7FEZRbPw2CKhJorxAVVxMqUfXJOmV2chB2e-XrZgYcW_Q27LBKivhwHZl2bnTVhdiHzSJcEsUMtTHKHasa5facAySsvOHByKUzZIYaW9bOyQ/s320/TRB-201105-0006882-300x200.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680669652628959602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;


&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sendiri, terkucilkan, dicerca, dan dicemooh. Itulah hal-hal yang terlintas dalam benak saya mengenai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Mereka yang hidup dengan "pergaulan bebas” (free sex, narkoba, homoseksual). Ya, itu memang tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga 100% benar, karena selain hal tersebut, masih banyak cara penularan HIV/AIDS yang bahkan jauh dari istilah “pergaulan bebas”. Mungkin terdengar aneh, karena meski menyadarinya, tapi tak ada sedikit pun usaha dan kontribusi yang saya lakukan untuk menghapus kesendirian mereka yang terkucilkan, tercerca, dan dicemooh masyarakat. Secara singkatnya saya menyadari namun tak beraksi. Setidaknya hal itu terjadi sebelum akhir tahun 2010.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;










&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" id="fullpost" &gt;





&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Saya ingat betul, saat itu di bulan Desember 2010. Dalam sebuah launching novel seorang musisi beraliran underground di Bandung. Bisa dibayangkan bukan, sebuah musik beraliran metal yang sebenarnya sama sekali tidak membuat saya tertarik untuk mendengarkannya. Tapi entah mengapa saya mau saja untuk memenuhi ajakan seorang teman untuk datang pada acara yang dihadiri oleh pemuda-pemuda punk itu. Mungkin satu-satunya alasan adalah karena saya mencintai buku, dan saya suka membaca. Sampai akhirnya seusai acara saya berkenalan dengan seorang vokalis band underground. Dalam sesi ini saya cukup antusias dan penasaran dengan pemuda berusia 28 tahun yang badannya dipenuhi hiasan tato.&lt;/p&gt;











&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Perkenalan diakhir tahun dengan pemuda itu seolah membuat beberapa pemikiran dalam otak saya berubah. Pemuda dengan badan penuh tato, rambut berjambul, dan gaya bicaranya yang cukup apa adanya atau boleh dibilang ceplas ceplos itu adalah Ginan. Dimata saya dia adalah seorang pemuda penuh semangat yang benar-benar membuat saya mengernyitkan dahi sebelum akhirnya berkata “WOW!” dan bahkan tak pernah membuat saya berpikir bahwa dia adalah seorang dengan HIV Positif.&lt;/p&gt;


&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBfZopxnOKkLtaEP0NofA8FYEbzSoyRpAeobsV8UCKcxMdXQ-atfeUuA2GXSdBRDFeSlcKAMRmYraxkWW4xQA-3wIqBdLv1r3d5LEKn2Sst0m8vgtzPTSAdL7MvkXDfFbJqTeCYGdL1ng/s1600/297260_2483989463151_1355054248_2855929_1334240750_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBfZopxnOKkLtaEP0NofA8FYEbzSoyRpAeobsV8UCKcxMdXQ-atfeUuA2GXSdBRDFeSlcKAMRmYraxkWW4xQA-3wIqBdLv1r3d5LEKn2Sst0m8vgtzPTSAdL7MvkXDfFbJqTeCYGdL1ng/s320/297260_2483989463151_1355054248_2855929_1334240750_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680682406782176530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;









&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sejak hari itu saya mulai mencari informasi mengenai siapa sebenarnya pemuda itu, semangat seorang Ginan seolah menular pada saya. Dengan berbekal pada masa lalu yang boleh dibilang “suram”, kini dia tercatat sebagai salah satu pendiri Rumah Cemara, sebuah komunitas “bantuan sebaya” yang bergerak dalam hal rehabilitasi dan Orang Dengan HIV/AIDS di Jawa Barat. Selain itu, untuk mensosialisasikan HIV/AIDS pada masyarakat pun ditunjukkan dengan banyak prestasi dalam bidang sepakbola yang diukir oleh Ginan bersama Rumah Cemara nya. &lt;/p&gt;








&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Diawal tahun 2011 ada kabar yang saya terima dari Rumah Cemara mengenai tim sepakbolanya. Prestasi mereka akhirnya menarik perhatian panitia sebuah ajang pertandingan sepakbola dunia di Paris yang bertajuk Homeless World Cup.&lt;/p&gt;











“Wow, itu amat menakjubkan!” ungkap saya sembari mencoba mendatangi markas Ginan dan kawan-kawannya di daerah Geger Kalong Bandung, untuk mengkonfirmasi kebenaran berita itu.











&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Tapi sayang, meski prestasi itu memang cukup membanggakan, mengingat Rumah Cemara menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia, tapi tim sepakbola itu tidak memperoleh dukungan finansial dari pemerintah Indonesia.&lt;/p&gt;


&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigMMbVVL2mfmSkmaK0ZmlaKfV8D2R2k6zOUptOUuyZUW6yINzKX9DBiEuqswI0yTXO2TkowYGifNvBMXsHURxcFs1-RTpnCjX-ASJfi77PILYerJNJUbiLdP_QrOTLKhRqS1Z7QTP2jTg/s1600/298559_2483979182894_1355054248_2855890_260214087_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigMMbVVL2mfmSkmaK0ZmlaKfV8D2R2k6zOUptOUuyZUW6yINzKX9DBiEuqswI0yTXO2TkowYGifNvBMXsHURxcFs1-RTpnCjX-ASJfi77PILYerJNJUbiLdP_QrOTLKhRqS1Z7QTP2jTg/s320/298559_2483979182894_1355054248_2855890_260214087_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680682413228764034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;






&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Miris!&lt;/p&gt;










&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Itulah hal yang kemudian muncul dalam benak saya. Saya pun kembali mengingat mengenai bagaimana pandangan masyarakat di Indonesia saat ini, termasuk saya yang memang masih sangat kental dengan stigma negatif terhadap ODHA. Kita menyadari betul hal itu, namun sangat minim tindakan nyata kita untuk membantu menghilangkan stigma itu.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Semangat dari Ginan dan kawan-kawannya untuk terus berusaha mencari cara agar mereka dapat memenuhi undangan pertandingan di Paris itu amat membuat saya tercengang. Mulai dari pengajuan proposal kepada beberapa instansi pemerintah yang hanya menghasilkan “Doa dan Restu”, penggalangan koin kepedulian, konser amal, pameran foto, dan lain sebagainya itu layak mendapat acungan jempol.&lt;/p&gt;

&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-S_sDU7zf5tiE5E38SfUnF5cREJD7O-UmiRfKJB6FvRTj7K2QWNSzKdAmrbV4Zsh1hLrSlAlilCv5aQM3wWUddXrkNVHUwSgFvA-SXZedmE0lERWEnWmFIuLZorWmoXZhDa_NMzjpkwA/s1600/315818_1967088380522_1342298389_31811056_365325_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-S_sDU7zf5tiE5E38SfUnF5cREJD7O-UmiRfKJB6FvRTj7K2QWNSzKdAmrbV4Zsh1hLrSlAlilCv5aQM3wWUddXrkNVHUwSgFvA-SXZedmE0lERWEnWmFIuLZorWmoXZhDa_NMzjpkwA/s320/315818_1967088380522_1342298389_31811056_365325_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680682407064204658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Melihat dan menyadari itu, rasanya sangat tidak berguna jika saya yang sudah berpikir bahwa “Kesadaran tanpa aksi itu sama dengan bohong!”.&lt;/p&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Andai saya seorang milyuner, mungkin akan saya tanggung semua finansial yang dibutuhkan oleh mereka.” tapi sayangnya saya jelas bukan seorang milyuner, melainkan hanya seorang mahasiswi yang hobi menulis dan membaca saja.&lt;/p&gt;














&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dengan penuh semangat, akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah tulisan yang kiranya dapat mengubah cara pandang masyarakat, memberitahu pada khalayak bahwa ada sebuah semangat besar dari mereka yang selama ini dikucilkan, dan bahkan hanya dianggap sampah masyarakat. Ada pergerakan untuk sebuah perubahan dan upaya untuk menghapuskan stigma negatif terhadap ODHA melalui sepakbola, mereka bukanlah manusia-manusia yang harus dihindari, dan pembuktian bahwa HIV/AIDS bukanlah akhir dari segala-galanya.&lt;/p&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ada rasa senang saat mendapati tulisan saya dimuat dalam sebuah media massa, dan beberapa teman yang semula tak tahu tentang prestasi dari komunitas Rumah Cemara, kini menjadi tahu dan mulai menanyakan atau mencari tahu mengenai apa itu HIV/AIDS, cara penyebarannya, dan apa sih yang dapat kita lakukan untuk membantu menghapus stigma negatif pada ODHA.&lt;/p&gt;










&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kecil dan sedikit, mungkin itulah hal yang dapat saya lakukan untuk mewujudkan bagaimana kepedulian saya terhadap ODHA. Bahkan saya tak bisa membantu secara finansial.&lt;/p&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Sudah santai saja, nanti juga ada jalannya kalau memang kita ditakdirkan untuk berlomba di Paris!” ungkap salah seorang teman pada saya yang saat itu merasa tak begitu dapat membantu banyak untuk komunitas itu.&lt;/p&gt;













&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Semangat seolah kembali menyeruak jika saya berkunjung dan berbincang dengan teman-teman di komunitas. Terlebih jika melihat tim sepakbola Rumah Cemara berlatih dan bertanding di lapangan. Mereka sama sekali tak pernah menunjukkan bahwa mereka adalah ODHA yang selama ini dicap “Tak berumur panjang” dan “Berfisik lemah”.&lt;/p&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Mereka saja penuh semangat, kenapa saya tidak!” tegasku pada diri sendiri saat teringat bagaimana perjuangan Ginan dan teman-temannya untuk tetap berprestasi melawan stigma negatif.&lt;/p&gt;













&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Saya tahu, masih banyak cara untuk membantu mereka!”
Pada bulan Mei 2011, saya iseng melihat sebuah website tentang festival film dokumenter di sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta.&lt;/p&gt;














&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Senyum kembali mengembang, semangat sepertinya kembali membuncah saat mengetahui festival film dokumenter yang tahun 2011 ini mengangkat tema “Bagimu Indonesia”. Dengan ide dasar semangat dan prestasi ODHA yang tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia, meski mereka akan bertanding membawa nama Indonesia di kancah internasional itulah saya mengajukan proposal pembuatan film dokumenter.&lt;/p&gt;















&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Tujuan utama saya bukanlah untuk menjadi pemenang, mengingat pengalaman saya di dunia film amatlah sedikit, tapi yang utama adalah memberitahu masyarakat bahwa Orang Dengan HIV/AIDS tidak harus dihindari, dicerca dengan tatapan nyinyir, dan cemoohan. Bahwa mereka bisa loh membuat prestasi bagi Indonesia, meski pemerintah Indonesia sendiri belum mewujudkan secara nyata kepeduliannya.&lt;/p&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Saya bersyukur bahwa saya dapat mempresentasikan proposal saya pada juri, meski benar saja tidak lolos menjadi salah seorang pemenang. Tapi yang cukup menegangkan adalah saat ada seorang juri yang terus berpendapat bahwa pertandingan sepakbola yang dilakukan oleh ODHA sebagai salah satu media sosialisasi itu justru akan menjadi media penularan virus HIV/AIDS.&lt;/p&gt;














&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Bagaimana jika terluka atau tergores, berdarah, dan menempel atau kontak fisik lainnya. Hal itu amat konyol jika orang-orang sehat yang turut bertanding melawan tim ODHA itu tertular.” Ungkap salah seorang juri pada saya saat interview proposal film dokumenter beberapa bulan lalu itu. Dan saat itu rasanya jantung ini berdegup kencang, meski banyak argumen yang terlontar, tapi saya kembali gigit jari bahwa saya belum berhasil meyakinkan seorang juri itu mengenai ODHA yang tak perlu dihindari.&lt;/p&gt;
















&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Setelah usai kompetisi film itu, saya kembali member kabar kepada Ginan dan teman-temannya bahwa saya belum menang untuk membawa Rumah Cemara.&lt;/p&gt;











&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Do the best and let God do the rest!” kalimat itu terlontar dari Ginan. Saya pun kembali bersyukur bahwa setidaknya saya sudah bisa sedikit berargumen menyuarakan keinginan saya untuk turut serta menghapuskan stigma negatif terhadap ODHA.&lt;/p&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Selang beberapa minggu dari hasil festival film itu, saya mendapat kabar dari seorang teman bernama Kheista di Rumah Cemara, ia memberitahu bahwa ada sebuah variety show yang akan menjadikan tim sepakbola Rumah Cemara sebagai bintang tamu mereka. Rasa senang kembali membuncah, terlebih saat tahu bahwa dalam variety show yang penuh motivasi itu Ginan dan tim sepakbolanya mendapatkan bantuan dana finansial untuk melaju ke pertandingan di Paris.&lt;/p&gt;













&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Tuhan selalu membuka jalan untuk setiap umatnya yang mau berusaha.” Itulah satu-satunya hal yang hingga kini saya amat percayai.&lt;/p&gt;










&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Usaha menghapus stigma negatif terhadap ODHA terus terngiang dan membutuhkan aksi yang benar-benar nyata, memulainya dari hal yang kecil, dari hal yang mampu kita lakukan, dan memulai dari diri sendiri itulah yang penting, karena saya hanya mampu menulis, maka saya pun menulis.&lt;/p&gt;












&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Virus HIV/AIDS memang harus dihindari, tapi bukan berarti kita menghindari Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) itu, dan HIV/AIDS bukanlah akhir dari segala-galanya. Respect! Semangat!!!&lt;/p&gt;

**** khansakuu


















Following Print

&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6PGY33kfuTxjEn9VSXmUFFQIrK0h8nsF8RFkxu0bXIbDGD7wt6CV8RhrRR_SpFBj3VVOLsMEy0HmtwTj7xMwIcEEfs3fWLGnqhS7KNrc6R3G5P1nuIHxng1jOWWjbpp0ueONK6AlVQSI/s1600/postingan.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 191px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6PGY33kfuTxjEn9VSXmUFFQIrK0h8nsF8RFkxu0bXIbDGD7wt6CV8RhrRR_SpFBj3VVOLsMEy0HmtwTj7xMwIcEEfs3fWLGnqhS7KNrc6R3G5P1nuIHxng1jOWWjbpp0ueONK6AlVQSI/s320/postingan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680689561830165538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;

Posting Print
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEgGWf0sjNEz_b_N-qZ4U_kkYKs9DGV6ZOy8M97VbJCOGK2NpiF4XK4otFZo1zIMh8JHd5Tiii494LFMSM3kxZwxF-N-ZyDQCE79Nx0_pUkHzzg4uxT6ln1pG_Wo6_jAyVncmijWKZcJ4/s1600/GoVlog+Following.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 183px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEgGWf0sjNEz_b_N-qZ4U_kkYKs9DGV6ZOy8M97VbJCOGK2NpiF4XK4otFZo1zIMh8JHd5Tiii494LFMSM3kxZwxF-N-ZyDQCE79Nx0_pUkHzzg4uxT6ln1pG_Wo6_jAyVncmijWKZcJ4/s320/GoVlog+Following.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5680689560884546786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;


























FOTO: dokumentasi Rumah Cemara dan Eddy Sukmana


Bandung-Jawa Barat



&lt;/span&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2011/11/hapus-stigma-negatif-mulai-detik-ini.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuw_WQyjhbchjllnD-2lCuFDtR5taqwCU7FEZRbPw2CKhJorxAVVxMqUfXJOmV2chB2e-XrZgYcW_Q27LBKivhwHZl2bnTVhdiHzSJcEsUMtTHKHasa5facAySsvOHByKUzZIYaW9bOyQ/s72-c/TRB-201105-0006882-300x200.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-8285249188443352815</guid><pubDate>Thu, 17 Jun 2010 15:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T18:46:42.174-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Journey</category><title>Cerita ke Gunung Gede</title><description>&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Hari ini aku pikir aku akan kembali rajin masuk kuliah. Setelah beberapa hari kemarin giat membolos karena bepergian ke luar kota. Tapi ternyata aku salah, hari ini aku berburu dengan waktu. Antara mengikuti mata kuliah Feature dan Dokumenter, dan persiapanku untuk melancong ke gunung bersama teman-teman kampus.

Opsss..., parahnya lagi kuliah yang harusnya dimulai pukul 13.30 wib itu harus diundur menjadi pukul 15.00 wib (dosennya telat berlebihan tuh). Jadi, sedikit mengesalkan jika inget hal kayak gini, dosen telat kita tungguin, eh kalo mahasiswa telat disuruh tutup pintu dari luar a.k.a nggak boleh masuk (tapi bukan untuk dosen matkul ini kok...hehe).

Balik lagi ke acara melancong ke gunung yang tadi sempet aku singgung dikit...dikit banget.

Kadang aku pikir diriku cukup nggak punya perhitungan. Mengingat baru bermalam sehari di Bandung (setelah balik dari Surabaya) aku sudah memutuskan untuk ikut pergi mendaki gunung Gede (infonya aku dapet hari kamis, dari temanku yang juga nggak sengaja cerita). Yups..., tanpa nunggu lama lagi, hari kamis itu juga aku langsung mendaftarkan diri buat ikut ke gunung Gede yang letaknya di provinsi Jawa Barat.

Berangkat dari Kampus...


&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Bandung, Jum’at 4 Juni 2010&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Sore hari sekitar pukul 17.00 wib, beberapa mahasiswa dan seorang dosen di Kampus melepas kepergian 9 orang mahasiswa yang hendak mendaki Gunung Gede dengan sebuah do’a.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Setelah do’a dan salam-salaman yang bagiku kadang terkesan aneh itu, kami bersembilan (Jack, Feri, Maula, Boim, Hugo, Icos, Pepy, Putri, Khansa) langsung meluncur dengan angkot ijo. Yaaa..., sedikit tawar-menawar dengan si sopir angkot berbadan gempal itu, akhirnya kami memperoleh kesepakatan harga sebesar 7 ribu rupiah untuk sampai langsung ke terminal Leuwipanjang.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Sepanjang perjalanan angkot yang kami naiki cukup sempit, mengingat tas-tas besar yang kami bawa. Aslinya di angkot berulangkali aku menguap, menahan kantuk yang cukup menggila (abis akhir-akhir ini memang tidurku sangat kurang... hehe matapun bengkak mirip sby..:D), tapi aku terus memaksa mataku untuk melek, apalagi kalo ngedengerin cerita anak-anak di dalam angkot yang memperdebatkan waktu kepulangan kami, bolos kuliah yang kami niatkan (matakuliah MPK 1), obrolan Jack, Feri, dan Boim mengenai perijinan pendakian ke gunung yang sedikit...ehmmm...ehmm.... tapi semua obrolan kami terhenti di perempatan Tegalega, saat seorang pengamen menghampiri angkot yang kami naiki, dan menyanyikan sebuah lagu dari Krispatihh dengan suaranya yang cukup mencengangkan kami.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;17.30 wib... kami sampai diterminal Leuwipanjang, tapi kami sengaja minta diturunkan di pinggir jalan yang berjarak beberapa meter dari terminal, karna kalo di dalam terminal kami akan dipusingkan dengan calo-calo terminal yang cerewet. Hingga adzan magrib berbunyi, kami masih menunggu bis yang akan mengantarkan kami ke Cianjur. Beberapa bis lewat dan kami belum mendapati bis yang sesuai dengan tujuan kami, sampai akhirnya bis yang kami maksud melintas di depan kami. Wew...lagi-lagi kami melakukan tawar-menawar sampai mendapat kesepakatan harga per orang 13 ribu rupiah untuk bisa menaiki bis berAC itu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;@ d’ Bus...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Gilllaaa!!! Batinku dalam hati saat memasuki bis itu. Bau balsem menyambut hidungku. Benar-benar perjalanan yang kurang membuat nyaman sampai akhirnya bapak-bapak pemakai balsem yang duduk persis di belakangku itu turun.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Masalah balsem yang mengganggu itu beres, tapi kini muncul lagi pengganggu. Seorang wanita paruh baya yang hendak pergi ke Kebon Jeruk itu mengomel pada kondektur bis, karena merasa tak diberitahu bahwa bis yang ia tumpangi itu berputar melewati puncak (yang intinya memutar lebih jauh sebelum sampai ke Kebon Jeruk).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Plis dong bu, makanya kalo mau naik tanya dulu!!!” gerutuku dalam hati sembari menatap lekat-lekat wanita yang masih mengomel sendiri itu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Kondektur nggak mungkin memberitahu satu per satu penumpang kan... atau mungkin dia lalai...!!!” wanita itu tiba-tiba menatapku, mungkin dia berpikir aku mendukungnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;@ Kaki Gunung Putri... dan rumah Omen...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Haaaaa....., bis yang aneh itu akhirnya berhasil mengantarkan kami ke (???). dari tempat pemberhentian angkot, kami meluncur lagi menuju kaki gunung Putri. Oia, kali ini kami kembali dikenai biaya angkot 7 ribu rupiah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Ada lelucon yang muncul dari Boim. Cowok berjenggot itu membuat pernyataan bahwa ‘tingkat ketinggian akan mempengaruhi kecerdasan manusia’ alias menambah tingkat kebodohan seseorang. Hahaha..... (aku tertawa, tanpa berpikir bahwa aku juga akan terjebak dengan pernyataan itu).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Hari sudah malam, aku lupa dengan jamku. Yang jelas udara disana sudah terasa dingin. Gerimis pun turun saat seorang teman Boim yang tak sengaja ditemuinya menawarkan tempat untuk kami bermalam. Akhirnya niat semula kami yang akan mulai mendaki pukul 24.00 itu dibatalkan, dan kami pun menerima tawaran Omen untuk bermalam di rumahnya dan memulai perjalanan pagi-pagi buta.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Pukul 24.00 wib, aku pikir aku akan sulit terpejam jika tidur di rumah orang. Tapi, aku kembali salah..., aku tertidur dan terbangun saat sebuah alarm handphone bernyanyi. Wah..., aslinya aku kadang takut berbagai kebiasaan buruk saat tidur terbongkar (soalnya kalo tidurkan nggak sadar..) tapi yang jelas ada yang ngorok paling keras malam itu...(hahaha...sapa yaa...wkwkwk).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Pukul 03.00 wib, antre...antre...antre kamar mandi... disini nih Pepy lah yang paling lama bergelut di kamar mandi. Entah ketiduran lagi, ato nggak berani pegang air yang super dingin...ato apalah.... sampai akhirnya pemuda Timor Leste itu keluar dari kamar mandi dengan keadaan selamat tak kurang satu apapun...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Memulai perjalanan... Aku yang memuakkan...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Pukul 04.00 wib, kami bersembilan memulai perjalanan menapaki kaki Gunung Putri, menuju Gunung Gede. Pagi itu udara dingin, dingin sekali, dan aku pikir itu adalah cuaca ternikmat untuk tidur...haha...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Dengan semangat kami berpamitan pada Omen yang telah berbaik hati menampung kami selama beberapa jam untuk tidur.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Aku rasa aku cukup bersemangat...ya...aku pikir, hingga beberapa langkah menuju pos penjaga aku merasakan mataku mulai gelap, kakiku terasa berat untuk diajak melangkah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Aku pusing!” seruku pada Feri yang berjalan tepat di belakangku.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Memalukan dan mamuakkan!” aku pikir jika aku harus menyadari bahwa aku pusing, lemah, dan konyol.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Sejenak aku berpikir bahwa aku harus berjalan terus, paling pantang bagiku untuk menyerah sebelum semua hal yang kulakukan selesai.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Udah kalian duluan aja, nanti aku nyusul!” pintaku pada Feri dan Pepy yang menemaniku di belakang, aku nggak tega dua orang itu ketinggalan jauh dari rombongan yang lain yang sudah berjalan lebih dulu di depan..&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Nggak! Nggak bisa gitu dong!” ujar Feri.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Hee.... disini aku sadar dan yakin bahwa kebersamaan memang hal yang penting. Rasa peduli terhadap sesama dan sifat seseorang mungkin akan lebih tercermin disaat-saat seperti ini. Ya..., aku menyadarinya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Semangat lagiii...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Sampai akhirnya di dekat mata air, kami bersembilan kembali berkumpul. Memasak sarapan pagi untuk menambah tenaga perjalanan yang masih panjang.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Pukul 06.30 wib, kami kembali berjalan meski sudah makan, tapi aku masih belum merasakan diriku yang sebenarnya, aku masih sedikit sempoyongan, menerima uluran tangan teman lain untuk membantuku berjalan (ini adalah hal paling anti kulakukan..., ya menerima uluran tangan cowok) tapi apa boleh buat, aku muak. Tapi, aku cukup beruntung menemukan sebatang kayu (aslinya yang nemu Icos) yang bisa sedikit membantuku berjalan lebih baik... haha...atau aku hanya tersugesti.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Pos 1 berhasil kami lewati, entah jam berapa saat itu (aku sudah tak peduli dengan jam dan waktu).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Ayo semangat!!!” batinku dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Semangat!!!” tegasku kemudian pada diriku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Semuanya balik kediri sendiri sih, kalo kamu pikir kamu bisa..., ya kamu pasti bisa!” hee...kurang lebih begitulah yang aku dengar dari Boim, pemuda yang cukup akrab dengan gunung itu kadang punya kalimat yang memotivasi juga ternyata.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Semangat...semangat...semangat!!! Mungkin itu adalah kata-kata mujarabku untuk perjalanan kali ini. Aku kembali bersemangat.... yaa...aku pikir aku menemukan diriku yang tadi bersembunyi sejenak di kaki gunung.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Orang-orang yang kami temui di tengah gunung...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Di gunung, mungkin sebagian besar orang memakai baju berwarna gelap, atau senada dengan hutan. Mungkin hal ini dilakukan agar baju yang kita pakai tak kelihatan kotor-kotor amat. Tapi, nggak berlaku buat wanita bernama Endah yang kami temui di hutan. Dia dengan rapihnya memakai baju berwarna merah cerah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Meskipun naik gunung, kita harus tetep gaya dong!” ujarnya dengan ramah pada kami.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Tak hanya bercerita mengenai baju atau dresscode mendaki yang keren, dia juga menceritakan mengenai perjalanannya ke beberapa gunung yang ada di Indonesia, dan tak lupa ia menceritakan mengenai hobi berfotonya yang aku pikir sama dengan kami bersembilan...haha....&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Selain wanita ramah itu, kami juga bertemu dengan pendaki-pendaki lain... meski nggak ada yang seramah wanita itu, tapi aku merasakan di dalam hutan kami semua teras dekat, saling menyapa, saling memberi salam saat berpapasan, bahkan ada yang berbaik hati memberikan pengobatan saat temanku Putri mengalami keram kaki.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Senang sekali, ini adalah kali pertamaku kembali berjalan-jalan di gunung, setelah lepas SMA dan tidak termasuk saat ospek kampus kan...hehe...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Mulai mengeluh...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Mengeluh!&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Kadang hal itu tanpa sengaja kami lakukan, tapi aku senang jika ada orang yang mengatakan bahwa kita hampir sampai, meski aslinya masih lama. Tapi buatku itu akan menjadi semacam motivasi yang menambah semangat. Haha..., aku terlalu senang dibodohi...weee....&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Kelelahan perjalanan terobati saat kami sampai di Suryakencana, padang edelweis yang menyejukkan mata. Di tempat itulah kami mendirikan tenda untuk kami bermalam, tapi belum sempat kami sampai di tempat pendirian tenda, hujan sudah turun menyambut kedatangan kami.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Hujan di gunung... so cold huh!!!&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Hoooo...., air hujan di gunung itu segera membasahi tubuh kami, meski kami mengenakan jas hujan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Pipiku keram!!!” ujarku masih dengan semangat pada Jack yang terlihat menggigil. Haaa..., hanya keram pipi, tapi semuanya kunikmati. Dan beruntungnya aku, aku bisa menikmati buah arbei yang tumbuh di sekitar tempat kami mendirikan tenda.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Mau arbei!” tawarku pada Jack, Putri, dan Hugo yang menggigil tak karuan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Haaa..., aku seperti tak melihat keadaan saja merasa senang saat teman yang lain menggigil kedinginan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Semangat heh!!!” batinku.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Saat itu aku memperhatikan sebagian besar teman-temanku kedinginan dengan baju mereka yang hampir basah semua, tapi aku melihat ketenangan saat Boim terus bernyanyi dan berceloteh tak karuan sembari mendirikan tenda bersama-sama dalam kedinginan. Setidaknya itu akan memberikan semangat bagi teman yang lainnya, yaa...selain buah arbei yang asam itu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Malam tiba..., kami terlelap dalam tenda-tenda kecil kami yang berwarna orange.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Gagal Sunrise...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Sunrise..., hoooo..., kmi melewatkannya. Meski sudah bangun saat jam empat, tapi aku nggak keluar dari tenda. Jack yang mencoba membangunkan Hugo, Icos, dan Pepy (mereka niatnya mau melihat sunrise) pun nggak berhasil membuat mereka bangun.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Alhasil, kami melewatkan sunrise..., huuuu..., hanya terima mendengar teriakan orang-orang dari puncak gunung. Aku pun terlelap kembali di dalam kantong tidur yang wangi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Pagi di Suryakencana...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Foto-foto...haaaa..., itu kayaknya jadi agenda utama perjalanan ke gunung deh. Di balik dinginnya kabut pagi, kami mulai bergerilya dengan kamera kami (terutama ni buat Hugo, Pepy, ma Icos). Berbeda dengan Putri yang lebih lihai difoto...haaa...narsislah buat cewek itu wajib, sedang di sela-sela tenda pagi itu, Maula sibuk menjadi koki dadakan dan menyiapkan sarapan pagi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Kali ini sarapan pagi di Suryakencana, dengan menu utama nasi, mie goreng yang aslinya dari mie rebus, kornet goreng, ikan asin, sambel kecap. Wow... menu yang cukup lengkap di tengah gunung yang dingin. Kami rasa kami cukup lahap dalam urusan makan, meski nasinya terasa sedikit keras alias belum mateng sempurna, tapi buat kami saat itu adalah hal terenak.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Mengingat saat itu para cewek (aku dan Putri) nggak banyak membantu bahkan sama sekali tak membantu dalam urusan memask, jadi kami putuskan untuk membantu dalam urusan mencuci piring (kita nggak pake deterjen loh.., ini bukan jorok, tapi mencintai lingkungan). Wkwkwkwk... tapi jangan salah, dalam urusan mencuci piring, kami berdua menjunjung tinggi narsisme (minta difoto terus pas nyuci piring ^_^v).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;(setelah nyuci piring, aku lupa meninggalkan handuk Jack di toilet...heee...maaf gan!!)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Goes to the top of the mount Gede...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Foto-foto di padang edelweis... udah, ngejemur pakaian basah... udah, sarapan... udah, dan saatnya membenahi tenda dan semuanya. Kami berjalan kembali menuju puncak gunung, tapi cuaca rada sedikit nggak bersahabat lagi. Gerimis seolah menyuruh kami untuk bergegas ke puncak sebelum hujan turun.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Perjalanan kami terasa semakin tinggi, seperti diketahui bahwa semakin kita berada di ketinggian, nafas kita terasa semakin pendek saja. Hah.. heh... hoh...!!! Kali ini Putri berjalan sedikit nggak bersemangat, seolah memulai perjalanan dari awal.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Ayo Put, semangat!!!” teriakku dan semua teman.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Dengan penuh semangat akhirnya kami sampai di puncak gunung, tapi sayangnya kami nggak dapat memperoleh pemandangan indah yang seharusnya kami dapatkan kalo saja kabut tak menutup puncak gunung. Tapi, syukurlah misi penancapan bendera bidik terlaksana dengan baik (entah apa sekarang masih nampang ya tuh bendera di puncak sana..).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Balik heh.... Turun gunung!!!&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Wew..., rasanya malas sekali buat turun dari puncak gunung kalo inget perjalanan naik yang penuh perjuangan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Perjalanan turun memang terasa lebih ringan (karna badan tertarik oleh gravitasi bumi). Beberapakali kami beristirahat, memakan biskuit, minum teh, dan memasukkan berbagai jenis makanan yang mungkin dapat membantu menambah tenaga kami. Tapi, diperjalanan pulang ini kami nggak membawa banyak air, karena kami melewati cukup banyak sumber air, dan serunya kami melewati sebuah lintasan yang disebut ‘Turunan Setan’ atau ‘Tanjakan Setan’ untuk yang naik. Nah sebelum kami melintasi turunan setan ini, Hugo menyempatkan diri untuk membaca sebuah puisi karya Soe Hok Gie yang judulnya Mandalawangi Pangrango. Menyentuhlah ni puisi, kalo inget sama Gie yang juga suka mendaki gunung dan menghembuskan nafas terakhirnya di gunung.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Kami melanjutkan perjalanan, hujan kembali turun saat kami tiba di sumber air panas dan berpapasan dengan rombongan lain yang hendak naik gunung.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Aku inget, di rombongan itu ada seorang cewek yang menyempatkan buat sholat di tengah perjalanannya (heee... jadi malu, aku bahkan lupa buat sholat... sorry God! Alasan aja kalo aku bilang tempatnya nggak mendukung...hee).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Di sebelah sumber air panas itu kami beristirahat sejenak, karna perjalanan harus dilanjutkan sebelum hari gelap (paling nggak sebelum gelap kami harus sudah melewati aliran air panas... soalnya jalannya curam dan licin, kebayang kalo udah gelap..wew lah..).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Setelah melintasi sumber air panas yang beneranm panasnya, kami tiba di hutan montana (itu nama tipe hutan menurut klasifikasi jenis pohonnya... dijelasin loh sama Boim). Di Montana, niatnya kami mau masak ato makan dululah, tapi sayangnya ujan berasa makin deres, lagian nggak ada tempat yang lebih layak buat masak, selain toilet bekas yang bakal ngebuat nafsu makan ilang. Jadi, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Panyangcangan (sebuah pos peristirahatan yang jaraknya lumayan jauh dari montana) setelah menyiapkan senter dan memakai jas hujan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Opss..., sayang senter yang kubawa ternyata sudah nggak layak buat dipake (cahayanya nggak lebih bersinar dari kunang-kunang yang malam itu berseliweran di hutan). Aku memutuskan untuk mengikuti langkah beberapa teman yang membawa senter. Dengan cepat aku memilih berjalan di belakang Boim, Maula, dan Hugo, sedangkan Jack, Feri, Icos, Pepy, dan Putri berjalan beberapa meter di belakang. Sesekali kami berhenti, duduk-duduk di tengah gelapnya hutan yang dingin, berceloteh mengenai banyak hal yang membantu kami menghilangkan rasa lelah.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Kami bersembilan mulanya berjalan secara bersamaan, tapi entah kenapa kami selalu saja terbagi menjadi dua rombongan, masing-masing ada yang di depan dan di belakang.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Tapi, kalo menyinggung masalah di belakang ni, aku cukup pede buat jalan di belakang. Sampai di tengah jalan, aku tak cukup berani juga buat berada di belakang, apalagi kalo sadar rombongan kedua yang di belakangku cukup jauh jaraknya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Haaa...., akhirnya setelah perjalanan panjang menuju Panyangcangan, kami (aku, Boim, Maula, dan Hugo) bisa kembali menikmati biskuit.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Yang lebih dulu sampe di pos, masak aja dulu!” pesan Jack itu kami ingat dengan baik. Jadi sesampainya di pos Panyangcangan, kami segera mengeluarkan kompor.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;“Arrrrggghhh!!!” parahnya kompor dan bahan makanan ada, tapi sayang gas nya nggak ada, alias ada di tas Pepy. Tapi kita cukup beruntung, karna di pos itu juga ada sebuah rombongan yang sedang beristirahat dan baiknya mereka mau memberikan gas pada kami. Lucunya, rombongan itu ternyata sedang kebingungan mencari air bersih untuk minum, jadi kami yang mempunyai cukp air pun saling bertukar (barter) dengan mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Mentang-mentang di hutan, kita pun menganut sistem simbiosis mutualisme yang cukup baik.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Satu setengah jam, kami menunggu teman kami yang lain (Jack, Ferio, Icos, Pepy, dan Putri) yang belum juga sampai di pos. Merasa sedikit khawatir, was-was, dan beberapa hal yang aneh mengingat jalanan yang gelap dan licin. Tapi, syukurlah mereka datang juga, salutnya lagi mereka membawa seorang wanita dan pemuda yang keadaannya tak begitu baik buat berjalan (sakitlah).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Setelah beristirahat cukup, kami kembali berjalan, kali ini sudah sangat dekat dengan kaki gunung. Di Cibodas akhirnya kami mengakhiri perjalanan gunung kami, beristirahat di sebuah warung yang menyediakan tempat untuk tidur.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;(wew..., aku lupa nggak ngisi kotak amal di warung Bule itu...maaf Bule).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Back to Bandung...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Baliklah ke Bandung, kami naik angkot dengan ongkos standar (tiga rebu) untuk turun ke jalan raya tempat pemberhentian bis. Kali ini kami naik bis ekonomi tanpa AC, tapi parahnya tarif yang diberikan sama aja dengan tarif bis berAC.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Aku lupa jam berapa kami meluncur dari Cibodas, tapi yang jelas kami sampai di Bandung (kampus) saat hari sore, sekitar pukul 17.00 wib.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;Haaa...., tiba di kampus, saatnya berbagi cerita... wkwkwkwk....serulah...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;kalo mau ngintip photo", ada di blognya Hugo.. http://hugorepeat20.multiply.com/photos/album/13/bukan_untuk_jadi_pendaki (belum minta ijin sama yang empunya blog ni)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;* Kalo ada yang kurang, salah, keliru, ato berlebihan kasih tau yaa.., semoga someday bisa naik gunung bareng lagi kawan segunung..:))&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;....Disana kita belajar, mencoba menyayangi alam lebih dari biasanya...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;....Mencoba bekerjasama, saling menghargai, dan lebih peduli pada sesama...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;....Benar,,, disana banyak hal yang dapat diserap...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;....Alam menyediakan semuanya...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;....Bertahan...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;....Mencoba menginstal diri dari polusi perkotaan...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;

&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" id="fullpost" &gt;....Benar kata seorang teman, bahwa disanalah tempat seseorang memperlihatkan, dan menunjukkan karakter diri yang sebenarnya... &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;


&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/06/cerita-ke-gunung-gede.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-6386310399358616722</guid><pubDate>Tue, 08 Jun 2010 15:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T18:46:56.047-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Journey</category><title>Melancong lagi...</title><description>&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;
&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: arial;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:595.3pt 841.9pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:35.4pt;  mso-footer-margin:35.4pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wow....
Akhirnya kesampean juga pergi ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sendirian, setelah mengalami beberapa pertimbangan dalam kebimbangan seorang Khansaisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Naik Kereta Lagi…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perjalananku dimulai pada pukul 06.00 setelah kereta kelas ekonomi (kereta bertarif super ekonomis yang jadi transportasi andalanku). Sejenak aku membayangkan bagaimana perjalananku hari itu (27 Mei 2010), yang akan memakan waktu 18 jam. Aku sempat berfikir apakah hari itu kereta akan penuh sesak, karena tanggal 28 adalah peringatan hari raya waisak (sekaligus libur panjang). &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;Tapi, untung saja perkiraanku meleset. Aku mengalami perjalanan yang cukup menarik di kereta ekonomi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;Duduk di sampingku, sebuah keluarga yang membawa balita berumur 4 tahun (seumuran dengan adiku). Dan hal yang membuatku tercengang dari gadis kecil ini adalah ukuran tubuhnya yang boleh dibilang gemuk, tapi tak heran juga karena bocah bernama Elsa itu sangat suka makan (sepanjang perjalanan bocah itu terus membeli jajan dan makan) jadi wajar aja kalo badannya tambun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;Perjalananku ternyata masih panjang saat kereta berhenti di Solo, menurunkan Elsa dan keluarganya. Kini aku sendirian di bangku penumpang yang berkapasitas 6 orang itu. Kereta terasa semakin sepi, tapi para pedagang asongan masih terus hilir mudik menjajakan barang dagangannya, sesekali ada yang menawariku, hingga akhirnya seorang pedagang buku duduk di depanku. Pria paruh baya itu menwarkan buku dagangannya padaku, tapi aku segera menggelengkan kepala. Tak lama kemudian pria itu menanyakan tujuanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;”Surabaya!” jawabku singkat, aku tak mencoba memperpanjang obrolan itu, sampai akhirnya pria itu sibuk dengan handphone dan obrolan dengan sesama pedagang asongan yang juga ikut duduk di bangku penumpang di sebelah bangkuku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;”Parah!” Cuma itu yang ada dalam benakku saat para pedangan asongan itu saling curhat mengenai dagangannya yang tak begitu laku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;Hari itu pedagang buku bahkan hanya dapat menjual satu buah buku, dengan harga 7 ribu rupiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;”Dengan penghasilan yang aku pikir jauh dari cukup, bagaimana mereka bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka? Mengingat saat ini kebutuhan hidup semakin mahal. Jadi mungkin ini yang menjadi alasan mengapa harga barang-barang (makanan, minuman, dll) yang dijajakan oleh para pedagang asongan mahal (jauh diatas normal).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;To be continued...
&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;"  lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;
&lt;/span&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/06/melancong-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-3634680088390994155</guid><pubDate>Tue, 08 Jun 2010 13:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-02T18:47:07.001-08:00</atom:updated><title>Khansaisme's Holiday... yeah HOLIDAY...</title><description>&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Wow....&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Akhirnya kesampean juga pergi ke Surabaya sendirian, setelah mengalami beberapa pertimbangan dalam kebimbangan seorang Khansaisme.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Perjalananku dimulai pada pukul 06.00 setelah kereta kelas ekonomi (kereta bertarif super ekonomi yang jadi transportasi andalanku)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/06/khansaismes-holiday-yeah-holiday.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-4030628958878614202</guid><pubDate>Sat, 08 May 2010 11:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-08T05:12:16.766-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Journey</category><title>Petualangan Di Negeri Terindah..</title><description>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;

&lt;/span&gt;



&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;



&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;




&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;





&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;






&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0); FONT-STYLE: italic"&gt;...s'moga judulnya sesuai..atau disesuaikan..:D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;


&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" equiv="Content-Type"&gt;


&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;


&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;







&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cclient8%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cclient8%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cclient8%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;







&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;












&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini mengenai perjalananku. Menuju Ibu kota tercinta. Orang bilang disana ramai, orang bilang disana adalah hutan belantara, orang bilang disana semua bisa terjadi, yang kaya bisa jadi miskin, bahkan yang miskin bisa jadi tambah miskin. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jakarta. Yang jelas kota itu menyimpan banyak cerita. Ingin rasanya aku membuktikan semuanya di kota itu, kota metropolitan yang menjadi sarang para koruptor. Tapi aku tak begitu peduli kata orang, yang ingin kulakukan adalah mengunjungi tempat-tempat bersejarah di negeriku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;

&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sampai akhirnya, tiba saat yang telah kurencanakan. Pukul 23.30 wib, aku seorang diri, melangkah menaiki sebuah kereta api kelas ekonomi, menembus malam yang lumayan dingin. Selama tak lebih dari lima jam, melalui lebih dari lima stasiun kereta api, mulai dari Kiaracondong hingga Jakarta Kota. &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468868070221458738" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfQkM-IWdIEV8zy12AZKwpImkY-evoz1omQXyKZAdJXRYqAI3IXxSjOAhjfhM5a1ff52Z7JwRVQVQ_hYI8QQS_1zqaqWRwZAOytgtmzQkl4E2M0pQ5LNcDmAtJ-PSjEOrQD0CThNinEW4/s320/CRIM0002.JPG" border="0" /&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Bangun Mba!” seru seorang anak kecil membangunkanku dari tidur yang tak begitu nyenyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Nanti kebawa ke Daop!” lanjut anak berbaju kumal itu padaku yang masih mencoba menyesuaikan pandanganku ke sekelilingku yang sepi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Iyah!” sahutku menyadari bahwa semua penumpang kereta sudah turun di stasiun pemberhentian terakhir ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Makasih ya!” ucapku pada bocah lelaki yang kini sedang sibuk memunguti sampah botol plastik yang banyak tercecer di kolong-kolong bangku kereta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Iya, sama-sama!” sahut bocah itu dengan logat Jakarta nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ini pukul 04.00 wib, jantungku berdetak kencang, saat kakiku mulai melangkah memasuki peron di Stasiun Jakarta Kota. Sejenak tadi aku merasa senang dan gugup, karena ini adalah kali pertamaku melakukan perjalanan ke Jakarta seorang diri. Aku pun kembali teringat berbagai kata orang yang membuatku penasaran, tapi sepertinya ada beberapa kata orang yang tak begitu benar bagiku. Setidaknya aku mengingat bahwa masih ada anak kecil, yang tadi membangunkanku, menurutku itu luar biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suara adzan berbunyi. Dari bangku peron, aku melangkah menuju mushola, membersihkan diri, dan berdoa sejenak memohon keselamatan dari-Nya. Sebelum aku melanjutkan perjalananku berkeliling kota Jakarta, membuktikan berbagai kata orang, dan melihat hal unik yang mungkin akan kutemui di ibu kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Museum di sebelah mana?” tanyaku pada petugas peron.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Terus lurus ke depan! Tapi, belum buka jam segini!” jawab pria berseragam biru dongker itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;“Iya, makasih!” sahutku pendek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="FONT-WEIGHT: bold; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;







&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" equiv="Content-Type"&gt;







&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;







&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;







&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cclient8%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cclient8%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cclient8%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;







&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;







&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ffcc33;"&gt;Goes to Monumen Nasional&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku segera keluar dari area stasiun yang lumayan ramai itu. Tujuanku yang pertama memang museum, tapi sepagi ini memang belum buka. Jadi kuputuskan saja menuju Monas, saat kulihat sebuah halte busway yang jaraknya hanya beberapa meter dari stasiun. Dengan uang dua ribu lima ratus rupiah, aku bisa sampai di Monas dengan menggunakan bus Transjakarta yang pagi itu masih sepi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;




&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mengingat saat itu adalah hari minggu, halaman Monas sangat ramai oleh orang yang berlari pagi. Hmmm..., Monumen Nasional, apa yang kuingat mengenai monumen kebangggaan Indonesia itu yah? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;


&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468865033910913458" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 242px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdQv-HhYZdCiVlythsoC3mfMf0Ba0Fmi4LhQMNUM725MscYE0H8ipX1L0DQdI9UBWxXWInpZJ7xmQ6MT-Me3hCOnBrW67k083LihVdZ5rvOGpYSUPMBbUPNUnC1_S8bZ5Gz1Zkh2izKRM/s320/CRIM0044.JPG" border="0" /&gt;







&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapi yang aku ingat pasti, monumen ini dibangun oleh Ir.Soekarno, dan ada sebongkah emas di ujung menara itu. Kta orang, kalau kita ke Jakarta, rasanya kurang afdol kalau kita tidak pergi ke Monas. Ya..., kali ini aku setuju dengan kata orang itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;







&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dengan ransel hijauku, aku berkeliling area Monas yang ramai. Kata seorang pedagang air mineral, setiap minggu tempat ini selalu ramai oleh para muda-mudi, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;keluarga, dan para pedagang yang menjajakan dagangannya untuk menemani pengunjung berolahraga, atau yang hanya sekedar cuci mata saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;







&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Menapaki Sejarah di Kota Tua&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Setelah matahari mulai terik, aku segera teringat kembali pada museum yang kemungkinan sudah buka. Akupun kembali menaiki busway, melalui halte harmoni, glodok, sawah besar, dan beberapa halte busway lainnya yang dengan teratur menaik turunkan penumpangnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Tak begitu lama untukku sampai di Museum, tapi kali ini aku harus membayar tiga ribu lima ratus sebagai pengganti tiket bus Transjakarta, mengingat hari mulai siang. Setibanya di halte Stasiun Kota, aku segera berjalan menuju Kota Tua, tempat Museum Sejarah Jakarta berada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Selain untuk membuktikan kata orang, salah satu ketertarikanku mendatangi Jakarta adalah sejarah. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki keunikan dalam hal sejarah, dan salah satunya berada di Jakarta. Sepertihalnya di kota-kota besar lainnya, sepertihalnya di Semarang, atau Bandung, Jakarta memiliki Kota Tua yang dahulu menjadi pusat kemasyarakatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Kota Tua di Jakarta yang dahulu bernama Batavia ini memiliki beberapa gedung dan museum yang cukup memukau mataku. Mulai dari Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah), Museum Keramik, Museum Wayang, Gedung Dasaad Musin Concern, Gedung Pos, Kafe-kafe, Pelabuhan, dll. Melihat keunikan arsitektur dan panorama Kota Tua, tak aneh jika beberapa sudut tempat itu dijadikan sebagai tempat pemotretan dan pengambilan gambar sebuah shooting. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Tapi sayang, di Kota Tua ada Dasaad Musin Concern, sebuah gedung milik konglomerat Agus Dasaad yang keadaannya sudah tidak terawat, mungkin karena status gedung itu yang tak dimasukkan dalam cagar budaya. Padahal kalau dilihat-lihat, gedung berlantai tiga itu sangat berpotensi jika diperbaiki dan difungsikan lebih baik daripada sekedar menjadi tempat biliard dan sarang penyamun.


&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;




&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468865056372449586" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 244px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjq5hn8aQESaPHSOZ7-40z1wIu4NBkDKX2Dly7Zu36qlnCYA-AMM97kjInTcNskpL4MuugADhH1VFL1jqEXuw4_3f-KlBbf3bsDbLQJm0LhbqKu0MsUdyCVHhfdF2On3WE-9IrQ026Wgs/s320/CRIM0097.JPG" border="0" /&gt;Pasar Kota Tua&lt;/span&gt;




&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;




&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;




&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;




&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;




&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468865071252003314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCfhvTI-msbjp61ouXXsjRegO07JYTKcvvT4h7JAQqQCJKHp8jKZ6Noy-u2sc_Nd9qkx6eE3BVudcJrhaFJFs92PyYuRL2zgPXeuJKPYJ0aiWWqXZPWvZg1_3ZnOf-sUEuh7F1RDTTWoE/s320/CRIM0061.JPG" border="0" /&gt; Museum Sejarah Jakarta (Ms. Fatahillah)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;


&lt;/span&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;


&lt;/span&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;


&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;


&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468865042819538130" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 243px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjggp_WUhIhHDHftC9aJDR8F5pRE6bMf8ykKffZ51-5ewWbNJRQm6iUXZs8jnpi9DemvBAGYR5oC9DmE9ffN_Taoxdp11fK1A9gegVrHa4mjtUP10qC85vzXVHLCl23XvTZm7vDwQxsXAM/s320/CRIM0077.JPGg.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Gedung Dasaad Musin Concern&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;


&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;

&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468868080484766722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivJcYfDdJ1wVrcvI5IR0AnW2kg4VErw57ec-BLfkbXSvw6tlkATK0yJ0QoWHUP9J73MjCJ36WoUiv2cBnMUiJ80oS9gw-NwH6qZAfpnctBHyiYRCgJNFdyp6Yh604ejk7K_bnn0dmCFZY/s320/CRIM0065.JPG" border="0" /&gt;Wisata sepeda onthel di Kota Tua
&lt;/span&gt;



&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;



&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;



&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Mengintip Rusa di Kebun Raya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Siang sudah mulai tiba, saat itu jam di dinding stasiun sudah menunjukkan pukul 11.30 wib. Rasanya cukup lama aku berkeliling Kota Tua. Aku pikir aku akan kembali lagi ke Bandung, tapi beberapa detik kemudian aku mengurungkan niatku saat kudengar mengenai keberangkatan kereta rel listrik (KRL) Jakarta-Bogor yang hendak berangkat. Meski diluar rencana, tapi akhirnya kuputuskan untuk membeli tiket KRL yang hanya dua ribu lima ratus rupiah. Sebuah tiket yang sangat terjangkau untuk perjalanan kelas ekonomi yang terbilang nyaman.
Setelah keluar dari pusat informasi pariwisata, Kebun Raya Bogor adalah tempat tujuanku selanjutnya, tentunya setelah aku berpikir sesaat mengenai apa yang akan aku lakukan di kota hujan itu. Dari stasiun Bogor jaraknya tak begitu jauh, jadi kuputuskan untuk berjalan kaki saja di kota yang pertama kali aku pijaki itu.
Sayangnya, aku sore itu tak bisa masuk ke Kebun Raya, jadi terpaksalah aku hanya melihat keindahan rusa-rusa istana itu dari celah pagar. Di sekitar Kebun Raya bahkan ada yang menjual wortel, bagi pengunjung yang
ingin memberi makan rusa-rusa yang berkeliaran dengan nyamannya. Tak hanya itu, karena disana kita juga dapat berkeliling kota dengan menggunakan delman dan becak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;


&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;



&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;



&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468865063605560242" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFGUySnUczD-p5k0AEohjGH-LkIK9UARF6dganN7HhyJHl0XunjKFc8OckwWYbD0KlUO90SdNEj2SbmvaYaIV-033lUxMh721cF_NBfX0ywlv1XZT40YqjezCLKQNOvQodPBLJC5Pajg4/s320/CRIM00002.JPG" border="0" /&gt; Rusa-rusa di Kebun Raya Bogor
&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468868051751307522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM-gUgHqMD0UHESaPCC9EXZk2BGmy36v5HZWaPmpkfWxBaxJNaS53X4DRIA8ZCKQ1xi-BlmEyS_XAnLK3lzTpT4fZ7jsW3y1LO57zrTHxMAfG-oHkFbDn5btqzrvJcDOtKfUv40Hr21GU/s320/CRIM00010.JPG" border="0" /&gt;


&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;


&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Back To Bandung....&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;
Rasanya kakiku sudah mulai protes saat aku menyadari bahwa hari sudah mulai sore. Aku bergegas bangkit dari taman Kebun Raya dan berjalan kembali menuju Stasiun Bogor. Tapi, sebelum sampai di stasiun, tiba-tiba aku tertarik untuk menyusuri sebuah pasar yang cukup ramai, hanya sekedar untuk melihat-lihat dan mencoba cemilan khas Bogor sebelum aku kembali ke Bandung.
Tak begitu lama, aku menunggu kereta yang hendak mengantarku pulang, tapi sayangnya dari Bogor tak ada kereta yang langsung membawaku ke Bandung, jadi terpaksa aku singgah dahulu di Sukabumi. Dari Sukabumi, aku beralih menggunakan bis antarkota yang membawaku kembali ke Bandung tepat pada pukul 23.45 wib.
Benar-benar melelahkan. Mungkin itulah yang aku rasakan, tapi sayangnya kelelahanku hari itu tak dapat tergantikan oleh apapun. Karena aku mendapatkan kesenangan dan kepuasan yang jauh lebih besar. Bagiku setiap perjalananku adalah sebuah kesenangan yang bernilai tinggi, setidaknya itu adalah anugerah akan pengalaman yang dapat menjadi pelajaran bagiku... Dalam 24 jam aku berkeliling kota, melihat setiap keunikan yang dimiliki Indonesia.
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Now I can say that Indonesia is a wonderful country...
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost" style="FONT-WEIGHT: bold;font-family:verdana;" &gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;

</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/05/petualangan-di-negeri-terindah.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfQkM-IWdIEV8zy12AZKwpImkY-evoz1omQXyKZAdJXRYqAI3IXxSjOAhjfhM5a1ff52Z7JwRVQVQ_hYI8QQS_1zqaqWRwZAOytgtmzQkl4E2M0pQ5LNcDmAtJ-PSjEOrQD0CThNinEW4/s72-c/CRIM0002.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-4891387104844788528</guid><pubDate>Tue, 27 Apr 2010 14:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-27T08:07:16.814-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tentang Mereka...</category><title>Aku Mengeluhkanmu... Bukan Hanya Aku...</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Birokrasi... Temanku menyebutnya begitu...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Yang jelas bagiku ini hanya formalitas... dan ucapan semata yang bisa dipungkiri...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kata Mereka ini yang dinamakan ATURAN!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mungkin ini kali kesekian aku dan beberapa temanku merasa kecewa dan dikecewakan oleh sebuah peraturan. Okelah kalau ada yang bilang peraturan ada untuk dilanggar! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku sepertinya mulai setuju dengan istilah itu, at least itu yang seharusnya kulakukan dari dulu..!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bukan tanpa alasan, karena aku merasa kecewa dan dikecewakan oleh sebuah aturan yang ditetapkan oleh sebuah sistem. Aku pikir aku layak menuntut hakku atas apa yang telah kulakukan, dan aku pikir mereka layak melaksanakan kewajiban mereka atas apa yang telah kulakukan. Bukannya malah melempar tanggungjawab mengenai hal yang sebenarnya sepele ini!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Okelah, aku enggan mengungkit apa hak yang layak kudapatkan, mungkin aku tak begitu patut dan pantas untuk menuntut ini. Tapi sayangnya, ini bukanlah kali pertamaku merasa kecewa (bukan hanya sekedar hak dan kewajiban) karena ini sudah menyangkut konsistensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku bukan manusia sempurna, tapi aku selalu berusaha agar tetap konsisten, aku bahkan pernah lalai dengan kewajibanku, dan aku pun berusaha untuk tidak ngotot menuntut hakku... Aku bersabar dengan konsekuensi yang kudapatkan...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku pikir aku cukup teliti, dan dapat bertindak sportif dengan lembaga ini. Tapi, ada sebagian kecil orang dari dalam sistem ini yang selalu saja tak bertindak konsisten dengan apa yang diucapkannya (mungkin aku dapat mengatakan bahwa dia adalah seorang manusia).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Manusia itu tak luput dari kekeliruan!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Oke!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku memahaminya, dan aku mencoba mengerti. Tapi apa jadinya kalau keluputan itu sering sekali terjadi (tak hanya sekali atau dua kali).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Aku jadi berpikir, ini lupa atau dilupakan???”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku bilang begini dia bilang bukan, atau dia bilang tidak, atau dia bilang tidak begitu, dan beberapa kalimat elakan lain yang kadang membuatku terdiam dan menelan ludah sebelum akhirnya tersenyum tak percaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Oh, iya gitu?” shit, itu salah satu kalimat yang pernah keluar dari bibir manisnya...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Hello!!! Kamana wae atuh???” Jangan-jangan orang ini selalu kehilangan nyawanya saat mengucapkan suatu kalimat, jadi pas dikonfirmasi lagi dia tak akan pernah ingat dengan apa yang diucapkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Ada ya orang kayak gini, dan parahnya dilestarikan pula!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Lupa memang kadang menjadi alasan jitu seseorang untuk berlindung dari kewajiban dan tanggung jawabnya!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Yaa... gimana lagi kalau orang udah berkata “LUPA”... I can’t do anything... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebenarnya aku hanya ingin satu hal dari bagian kecil sistem ini. Cobalah untuk konsisten dengan apa yang diucapkan, cobalah untuk bertanggungjawab dengan apa yang diucapkan... apa aku harus menyediakan alat perekam setiap kali aku berbicara padamu? Apa harus selalu ada saksi jika berbicara dengan orang ini.. Pasalnya bukan hanya aku yang merasa bahwa kau adalah makhluk yang tak konsisten dengan ucapanmu... BUKAN HANYA AKU...!!! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dan untuk seorang yang kuhormati dan mungkin menganggapku sebagai seorang kawan, ‘Saya harap anda tidak akan pernah lagi mengambil alih kesalahan seseorang... itu mengecewakan sekali! Biarlah kesalahan itu menjadi miliknya bukannya diambil alih begitu, karna itu tak akan pernah melatih kinerjanya sebagai seorang pekerja!’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 

&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/04/aku-mengeluhkanmu-bukan-hanya-aku.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-7118690682755621767</guid><pubDate>Wed, 14 Apr 2010 17:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-14T11:19:11.718-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Around The...</category><title>'Kenikmatan’ Korupsi Merajalela di Negeriku</title><description>&lt;span class="fullpost"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Korupsi memiliki arti pembusukan... tapi, akan lebih layak jika korupsi disebut sebagai suatu hal busuk yang penuh kenikmatan. Apakah yang menguatkan anggapan ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Indonesia menempati posisi cukup mentereng dalam jajaran negara terkorup. Cukup membuat kita miris dan menelan ludah untuk menerima kenyataan ini. Bagaimana tidak kalau dari sebuah data Indonesia memang berada dalam posisi sepuluh besar negara terkorup di dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak heran, seperti halnya saja sekarang, rakyat di negeri ini sedang dibuat tercengang kembali dengan kasus korupsi. Korupsi, lagi-lagi korupsi... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mengenai kasus korupsi yang memunculkan nama Gayus Tambunan ini, kalau boleh mengingat, betapa sering iklan layanan masyarakat menghimbau dan menanamkan dengan kuat bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;‘Orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bijak harus taat membayar pajak’, tapi apa jadinya kalau uang rakyat yang berasal dari pajak itu dikorupsi oleh pihak-pihak tertentu dan menggunakannya untuk memperkaya diri mereka pribadi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masyarakat kecewa, mungkin begitulah sedikit gambaran akan perasaan rakyat di Indonesia. Kita menyadari bahwa masyarakat Indonesia saat ini, mayoritas masih berada dalam keadaan ekonomi menengah kebawah. Mereka tak mudah mencoba memenuhi kewajibannya dengan membayar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pajak, mulai dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pertambahan nilai (PPn),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan berbagai tetekbengek pajak yang ditetapkan dan dikeluarkan pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lepas dari itu,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebenarnya bibit korupsi di bumi ini mungkin sudah mendarah daging dan menjadi budaya yang tak dapat lepas dari sifat tamak manusia. Merasa tak pernah cukup akan suatu hal yang dimilikinya, merasa serba kurang meski sudah diberi kekayaan lebih, atau korupsi memang suatu hal biasa yang sudah menjadi rahasia umum. Bagaimana tidak kalau korupsi ini memang layak disebut sebagai rahasia umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya berani menjamin, dalam sebuah instansi perusahaan baik yang kecil ataupun yang besar, pemerintah ataupun swasta, para pelaku perusahaan itu pasti tak pernah luput dari hal yang bernama ‘korupsi’. Jika tak mempunyai buktinya, coba saja tanyakan pada hati nurani masing-masing. Dan parahnya, sebuah tindakan korupsi ini pasti dilakukan secara beramai-ramai, layaknya suatu sistem jaringan yang saling mendukung. Setiap pihak yang terlibat memiliki perannya masing-masing yang berfungsi melancarkan suatu tindakan korupsi, dan setiap pihak itu juga akan mendapatkan bagiannya masing-masing. Ibaratnya hal seperti ini adalah suatu bentuk kerjasama yang negatif. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari hal yang tak diinginkan, misalnya jika ada pihak tertentu yang tidak puas dengan apa yang diterimanya, merasa kepepet, atau pihak tersebut memang masih memiliki sikap idealis yang tinggi. Maka ia akan membuka mulut, mengungkapkan tindakan-tindakan korupsi tersebut pada khalayak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kembali lagi pada contoh kasus Gayus Tambunan. Setelah Gayus ditangkap, maka bermunculanlah tersangka-tersangka berikutnya yang juga menerima ‘kenikmatan’ uang panas tersebut dan jelas berada dibalik kasus korupsi ini. Mulai dari petugas pajak, Jaksa, Hakim, bahkan Polisi pun ternyata ada yang terlibat dalam sistem jaringan korupsi ini. Meski akhirnya Gayus dinyatakan bebas, dan hal ini jelas menambah kecurigaan publik akan suatu kerjasama dalam tindakan korupsi yang melibatkan orang-orang penting yang enggan juga terseret dalam kubangan daftar tersangka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ya..., ini adalah rahasia umum. Apabila satu orang melakukan korupsi, maka untuk menutupi atau membuat tindakannya itu tetap berjalan mulus, maka mau tak mau dia harus rela berbagi ‘kenikmatan’ dengan pihak-pihak lain yang dapat menjadi ‘ancamannya’, dan begitulah seterusnya. Sebuah kerjasama yang layak mendapat acungan sepuluh jempol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setidaknya hal seperti ini sudah kita ketahui sejak terbongkarnya kasus korupsi yang dilakukan oleh Soeharto (Alm) semasa pemerintahannya. Banyak sekali pejabat yang turut terciprati ‘kenikmatan’ korupsi yang dilakukan oleh ‘Bapak Pembangunan’ ini, dan banyak sekali kesengsaraan rakyat yang dibuat oleh tindakan pemimpin orde baru yang fenomenal dengan alasan ‘sakit’nya jika hendak dilakukan pemerikasaan polisi atau sidang di pengadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Meski saat ini pemeriksaan demi pemeriksaan terus dilakukan terhadap para tersangka kasus korupsi dan pencucian uang itu, tapi ujung-ujungnya mungkin kisah korupsi akan berakhir dengan hambar, dengan ending yang tak jelas, menggantung, bahkan tak ada penyelesaian yang tegas dan berarti. Karena hingga saat ini jarang sekali penyelesaian kasus korupsi yang memuaskan dapat khalayak, atau hal ini memang tak pernah menjadi konsusmi publik secara luas. Sehingga kasus-kasus besar itu menguap dengan sendirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bibit korupsi memang bertumbuh terlalu subur di negeri tercinta ini, sulit sekali menemukan keidealisan dalam diri seseorang. Mungkin boleh dibilang, selama darah manusia masih berwarnah merah dan mata manusia masih hijau dengan duit, maka ketamakan manusia akan terus bersemayam, akan terus berkembang dengan berbagai kecerdikannya yang melebihi kancil, atau loncatannya yang melebihi tupai. Sulit sekali memberantas hal ini hingga ke dasarnya, jika bukan karena kesadaran sendiri. Karena meski manusia sudah tahu bahwa korupsi adalah hal yang tak layak dilakukan dan memang tak seharusnya dilakuakan, tapi tetap saja hal itu penuh ‘kenikmatan’ yang membuat pelakunya ketagihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 
</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/04/kenikmatan-korupsi-merajalela-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-8659448692115472767</guid><pubDate>Wed, 14 Apr 2010 16:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-14T10:15:02.270-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>Help Me God...</title><description>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Tuhan tolong aku...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;

















Cuma itu yang dapat kuucapkan dan kupinta dari-Nya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Aku mulai mencoba untuk realistis dan kembali berlogika untuk hal ini. Aku pikir cukup sekali saja aku terjatuh dengan memalukan, dan untuk selanjutnya jangan sampai aku terjatuh kembali karena hal yang sama, ditempat yang sama pula. Meski kakiku mulai goyah kembali, tapi please jangan biarkan aku terjatuh Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;


















Kadang aku masih berfikir apakah ini yang terbaik dalam hidupku?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;















Dan tak jarang pula aku masih berharap dengan indah mengenai sebuah harapan yang manis dan nyaris sempurna. Tapi, dengan cepat logikaku bergerak dan menepis harapan yang aku pikir sudah mulai kosong. Tak hanya itu, dahhulu aku masih menginginkan sebuah keajaiban dan mukjizat yang besar akan semua ini, tapi kini aku mulai realistis bahwa semuanya tak seperti apa yang kuinginkan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;















&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;Tapi, kenapa hingga detik ini aku masih berkutat di kubangan ini?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;














Meski aku menyadari akan ketakutanku yang tak bertepi, tapi kenapa aku tak mampu beranjak dari sini?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;















Logikaku memperhitungkan bahwa aku hanya tinggal menunggu waktu yang terbaik bagiku, tapi kenapa aku tak juga bisa melihat warna lain yang dapat membawaku pergi dari kegelapan ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;














Ini terlalu melelahkan, dan aku mulai merasa muak dengan semua omong kosong ini, aku pun mulai takut bahwa aku akan terjebak selamanya dalam hal ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;















Apa yang kubicarakan?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;










Ini semua mengenai perasaanku yang berlebihan terhadap makhluk ciptaan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:130%;"&gt;















Ya Allah..., bantu aku melupakannya... kuikhlaskan untuk pergi jika ini yang terbaik bagi kami...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;


&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/04/help-me-god.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-4519890855327492313</guid><pubDate>Wed, 14 Apr 2010 15:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-14T09:46:07.068-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>Berpuitis</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini kembali terasa menyesakkan saja.
Hari ini kembali membingungkan saja.
Hari ini kembali aku menguntai harapan yang sempat kuputuskan untuk kuakhiri.

Namun sayang, aku tak mampu mengakhirinya, aku tak mampu bertahan untuk hal ini.

Betapa lemahnya seorang aku dalam menghadapi hal seperti ini, aku malu.
Kembali aku menghujat, kembali aku bertanya, dan kembali lagi aku menangis untuk hal yang belum juga kumengerti.
Meski aku sering bertanya apakah kau mengerti, tapi aku sendiri sejujurnya tak mengerti, dan aku ingin mengerti.

*** Cukup baikkah aku berpuitis?

Entahlah, aku tak begitu dapat mengerti sebuah puisi dan sastra, meski beberapa orang mengatakan bahwa aku penganut sastra yang lumayan, tapi aku sendiri tak mengerti. Karena yang aku tau hanyalah bagaimana mengungkapkan suatu hal dengan baik, meski ukuran baik terlalu relatif bagi sebagian orang.

Suatu ketika saat aku merasa hatiku sakit dan kecewa, otakku pun tiba-tiba menjadi cukup lihai merangkai kata. Pernah suatu siang aku hampir dibuat menangis oleh seorang pria (mungkin aku sudah layak menyebutmu sebagai seorang pria bukan). Ingin sekali siang itu aku mengeluarkan jurus karateku yang sempat diajarkan ayah padaku, ingin sekali aku mendobrak pintu yang menghalangiku, dan ingin sekali aku menghantamkan kepalanku di tubuh pria itu. Tapi sayang, aku tak dapat melakukannya, hatiku tak mengijinkannya. Aku hanya menghela dan menghembuskan nafasku untuk mengatur kesabaranku.

Sampai akhirnya, dengan penuh ketenangan aku dapat mengucapkan sebuah kalimat puitis (I think) di hadapan pria itu, lebih tepatnya kalimat puitis yang penuh sindiran. Mungkin kata-kataku terasa lebih jauh diterima oleh hatinya daripada aku mengeluarkan tenagaku untuk menghajarnya.

Benar memang sebuah pepatah yang mengatakan bahwa lidah terkadang lebih tajam dari pada pedang. Yeah... I believe it... karena banyak sekali hal besar yang terjadi karena lidah, karena ucapan, dan karena perkataan... So...keep Ur Tongue...

&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/04/berpuitis.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-8831389404339568633</guid><pubDate>Mon, 15 Mar 2010 14:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-15T08:06:03.855-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>Keegoisanku Tentang CINTA...</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa menit tadi aku membaca sebuah tulisan dalam blog yang ku follow, lucu rasanya membaca kalimat demi&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kalimat yang hampir semuanya mengagungkan &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;cinta&lt;/span&gt;, memuntahkan masalah cintanya dalam tulisan yang cukup menarik.








Hmmmmm,,,, rasanya aku jadi tertarik buat mengingatkan Khansaisme mengenai sebuah kisah percintaan yang lama tak kuumbar.









Cintaku masih yang dulu, masih tentang '&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Patung Lilin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;'. Tentang kebisuannya, keanehannya, dan semua hal yang membuatku makin penasaran. Hingga detik ini pun aku tetap begitu, tetap seperti dulu, tetap melihatnya, tetap bodoh, dan terdiam di hadapannya. Mungkin memang benar, kami berdua sama-sama mengalami &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);font-size:130%;" &gt;'Autismelove Acut&lt;/span&gt;'... Hanya diam dalam keadaan cinta kami yang membisu.





Fiuuuhhhh,,, never mind lah,,, aku nggak begitu pandai menulis kalimat puitis ataupun segala hal yang berbau cINtA... That's very" difficult to me,,,very freak.... Tapi,buat beberapa orang CINTA itu adalah hal menakjubkan yang diagung-agungkan...




&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;But for me LOve's &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Freak.&lt;/span&gt;..may be....aku berniat memasukan Cinta dalam &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Tujuh Keajaiban Dunia...&lt;/span&gt;hahaha....&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;







Mungkin karena aku nggak begitu pandai mengungkapkan cintaku dan aku juga nggak begitu tertarik buat mendalami masalah CInta,,,yang penuh dengan keanehan... yang kadang nggak &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;logis&lt;/span&gt;, nggak&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; realistis&lt;/span&gt;,,,terparahnya adalah nggak &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;rasional&lt;/span&gt;...









Payahnya aku hanya dapat menguatarakan keegoisanku tentang cinta....paling nggak aku memiliki Kasih buat sesamaku.... I hope...^o^
&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/03/better-than-love.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-2442270105422927309</guid><pubDate>Tue, 23 Feb 2010 14:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-23T07:04:19.298-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>Ini Jawabanku Untuk Pertanyaan Yang Akan Muncul Setelah Hari Ini</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Maaf...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Cuma itu satu kata yang dapat kuungkapkan untuk orang-orang yang telah kubuat kecewa.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mungkin aku memang terlalu mengecewakan bagimu, bagi kalian, dan bagi mereka. Tapi aku tak bisa lagi membohongi diriku, aku tak bisa lagi bersikap manis seperti yang kalian inginkan. Mungkin aku terlalu egois, terlalu, menyedihkan, dan terlalu tak menghargai suatu hal. Tapi aku lebih takut jika aku terlalu munafik menghadapi diriku sendiri, aku takut aku hanya membohongi diriku, aku takut aku tak jujur pada diriku sendiri.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sampai detik ini, aku rasakan aku terlalu kotor,,, &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;terlalu tak layak, dan banyak lagi hal terlalu yang membuatku mengambil keputusan ini.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Aku ingin membuka mataku akan dunia yang kutempati ini, aku ingin lebih banyak belajar, dan mempersiapakan diriku menjadi lebih baik untuk seseorang yang telah menungguku, untuk seseorang yang akan menemaniku di akhir nafas hidupku, untuk seseorang yang kiranya akan menerima diriku apa adanya, dengan segala kekurangan dan mungkin kelebihanku. &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Aku tak ingin lagi mengecewakannya, aku tak ingin bercela dimatanya (meski aku tak bisa), aku ingin memperbaiki semuanya mulai detik ini.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Untuk itu, jangan bertanya padaku mengapa, apa, kemana, dimana, bagaimana...dan segudang kalimat tanya yang enggan kujawab. Mungkin tulisan ini akan membantuku menjawab semua pertanyaan yang pasti akan muncul di hari esok, lusa, lusanya lusa,,,atau waktu-waktu setelah hari ini.&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/02/ini-jawabanku-untuk-pertanyaan-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-4513641639868630032</guid><pubDate>Wed, 17 Feb 2010 04:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:24:22.645-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Journey</category><title>Kereta Ekonomi Berlanjut...</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Tut...Tut...Tut...









Suara kereta api masih menderu, dan aku masih duduk dengan arah berlawanan dengan laju kereta itu...Hmmmmm,,,entah jam berapa ini???
Aku mulai nggak nyambung dengan arlojiku yang masih setia menggantung. Sesekali aku menguap dan memejamkan mata, sepertinya tidur ayamku mulai menghantui lagi.

Opsss,,, selembar amplom mengagetkanku.

Seorang anak kecil menyodorkan selembar amplop berukuran tak lebih dari 6x15 cm, amplop yang cukup kumal jika disebut sebagai amplop berwarna putih.
Aku segera mengambil amplop yang tergeletak di lengan kiriku, ada yang menarik di balik amplop itu.

Ada sebuah tulisan yang menggelitikku. Tenang, aku masih ingat beberapa kalimat yang tertulis dengan huruf sambung itu, begini bunyinya.

"Ibu-ibu, bapak-bapak, kakak-kakak. Mohon sedekahnya, buat membantu saya yang putus sekolah"
... Ikhsan...




&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;What????&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;








&lt;span class="fullpost"&gt;
ku hanya mengernyitkan dahi melihat urutan tulisan yang ditulis dengan huruf sambung khas orang dewasa. Modus apa ini?... menggunakan belas kasihan untuk seorang anak kecil, yang diutus oleh orang yang dewasa...cih!!! Mengeksploitasi anak-anak ni...Tapi, buat apa aku menggerutu, toh aku tak berniat mengisikan uang pada amplop yang kini hanya kugeletakkan saja di depan meja kecilku.





Terlalu pelit, atau terlalu banyak berfikir mengenai 'apa manfaatnya uang yang kuberikan itu'... Mungkin ada seseorang yang pernah berkata padaku, kalo kita mau memberikan bantuan pada seseorang, ya berikanlah dengan ikhlas, jangan memikirkan hal yang negatif tentang orang itu...maka dengan ijin Allah uang itu akan bermanfaat juga buat orang yang diberi.


Nah, kalo sudah begini susah ni urusannya. dari pada mikir negatif dan ujung-ujungnya nggak ikhlas, mendingan ga' usah ngasih sekalian...(Pemikiran dangkal seorang Khansaisme)


Whatever lah,, anak-anak itu hanya korban dari keadaan, dan kembali lagi...semuanya itu demi perut...perut...dan perut...


Jadi inget bunyi salah satu pasal di UUD RI 1945,,,"Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara"....


Sepertinya aku tahu kalo itu semua bulshit...a.k.a omong kosong belaka...a.k.a...pemikiran ideal yang sulit atau bahkan enggan untuk direalisasikan...malah kalo mau dibilang ni,,,beberapa waktu lalu di sebuah berita televisi, ada sebuah pengakuan seorang anak jalanan yang ditangkap oleh sebuah lembaga sosial (satpol pp) yang mengurusi rehabilitasi anak-anak jalanan. Mereka mengakui bahwa disana bukannya menjadi lebih baik, justru malah menjadi lebih kacau dengan berbagai perlakuan kasar yang diterima dan dilakukan oleh sesama penghuni panti rehab dan juga keterkungkungan yang diberlakukan di lembaga itu.




Miris...Pisunlah...





Berbeda dengan pengakuan seorang mantan anak jalanan yang malah kehidupannya menjadi lebih baik saat mereka berada di sebuah rumah singgah (rumah singgah ini bukan milik pemerintah)...



Hal ini membuktikan bahwa pemerintah kurang berhasil memelihara mereka,,,justru pemeliharaan dari sesama malah lebih berhasil...



Opsss....kok jadi ngelantur kesini yak,,,,ckckck...

Tak apalah,,,buat kasih tau juga mengenai bagaimana pemerintah memelihara rakyatnya yang heterogen ini...



Hmmm,,,sepertinya perutku terlalu sakit untuk melanjutkan tulisan ini...ini pasti karena makanan pedas yang akhir" ini membuat ususku perih,,,melilit dan berteriak takkaruan.... bentar yak,,,di pause dulu...
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/02/kereta-ekonomi-berlanjut.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-7888154224165137441</guid><pubDate>Tue, 16 Feb 2010 18:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:26:17.977-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Journey</category><title>Ini Kereta Ekonomi,,,Semua Dapat Ditemui Disini</title><description>&lt;div align="justify"&gt;06022010












&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;12.30 wib&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;











Sedikit membuatku mengerutkan dahi saat memasuki area stasiun. Tapi, aku pikir ini akan menjadi hari penuh petualangan,,ehhhmmmm sedikit petualangan tepatnya.

Loket pembelian tiket yang sudah mulai sepi saat terdengar suara yang menggema keluar dari speaker yang dipasang di sepanjang koridor stasiun. Speaker itu meneriakkan tentang kedatangan kereta kelas ekonomi yang berangkat dari Jakarta menuju Kroya. Ops...sebentar lagi aku akan terlambat...(pikirku).

Dengan segera aku menghampiri lubang loket yang dijaga oleh seorang wanita berjilbab, wanita itu menanyakan tujuanku dan aku pun segera menjawab 'Kroya', tanpa menunggu lama wanita itu menyodorkan selembar tiket berwarna peach, sembari berkata 'Dua puluh ribu'.

Ok..., aku segera mengeluarkan dua lembar sepuluh ribuan dan pergi meninggalkan loket.







"Pelayanan yang biasa saja!" batinku sembari menyusuri koridor stasiun, menuju rel kereta api di jalur 3. Di sudut koridor, sebelum aku berbelok ke jalur 3, seorang gadis tomboy menatapku tanpa berkedip.






"Ada yang salah denganku?" tanyaku heran sembari membalas tatapan gadis itu padaku. Di sebelah gadis tomboy itu, akhirnya aku menyadari ada seorang gadis yang lebih feminim yang masih mengenakan seragam SMA.

Gadis itu pun turut menatapku yang siang itu hanya mengenakan kaos hitam, celana pendek hitam, dan sebuah sepatu kanvas yang sengaja kuinjak bagian tumitnya.






"Wah,,dilema dunia yang hampir kiamat!" celetukku dalam hati menyaksikan kedua makhluk itu. Mungkin aku terlalu mengambil kesimpulan sepihak, tapi tingkah dua gadis itu mengingatkanku pada problematika dunia yang menjadi salah-satu pertanda kiamat.






"Ingat cerita Nabi Lut?...I think like this..."











&lt;span class="fullpost"&gt;



12.35 wib
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;










Perjalananku berlanjut, tanpa menunggu lama sebuah kereta api datang dari arah barat stasiun, memasuki gerbang stasiun dan siap memuat puluhan penumpang yang sudah menunggunya di sepanjang jalur pemberangkatan.

Dengan tas ransel yang kubawa, aku tak kesulitan untuk menaiki kereta api, dan memang tak pernah. Pertama memasuki kereta api yang cukup longgar itu, aku disambut dengan aroma toilet yang tak begitu mengenakkan... seperti layaknya aroma wc umum di terminal bus antar kota.


Gerbong terakhir ke tiga, aku memilih memasuki gerbong itu. Dan karena aku bukan tipe pemilih yang rumit, aku langsung saja duduk di bangku yang kosong, sepertinya tak ada penghuninya. Mungkin terbayang jika aku berjalan menyusuri gerbong kereta api hanya untuk memilih tempat duduk favorit. It's namanya membuang waktu.

Aku duduk menghadap ke barat, dan itu artinya aku duduk mundur berlawanan dengan arah kereta, dan bagi sebagian orang itu sangat tidak mengenakkan, karena sebagian orang itu akan merasa pusing jika terduduk mundur dalam kendaraan.Tapi, beruntung bagiku, aku tak mengalami hal itu.

Kereta terdiam di stasiun selama tak lebih dari 10 menit. Aku hanya diam, menatap ke luar jendela. Di seberang kereta yang kunaiki, aku melihat kedua cewek yang tadi menatapku itu masih duduk berduaan di sudut koridor stasiun.








"Dasar!" seruku lirih, aku hanya menggelengkan kepala dan mengalihkan pandanganku pada tiga makhluk yang sepertinya tak kalah menarik dengan dua gadis itu.

Aku bingung menyebut ketiga makhluk itu. Tiga orang pria berbadan kekar, dengan kulitnya yang tak begitu putih, malah boleh dibilang cowok-cowok itu cukup macho dan berotot, andai saja mereka bertiga tak mengenakan rok mini dan dandanan menornya yang menegaskan bahwa mereka adalah 'Banci'.

"Tiga banci kaleng!" akhirnya itulah sebutan yang kumiliki untuk tiga makhluk itu, saat kulihat sebuah kecrekan tutup botol yang masing-masing ada di tangan makhluk itu. Fenomena macam apa ini???

Demi tuntutan perut, atau mereka memang seorang waria???

Kalo boleh menghakimi, mungkin aku akan berkata bahwa 'mereka masih memiliki potensi untuk memiliki pekerjaan yang lebih baik, menjadi tukang bangunan, atau menjadi kuli panggul, daripada menjadi waria, banci kaleng, atau hal semacamnya..."

Miris sekali melihat seorang pria yang harusnya bersikap selayaknya pria, ini justru berjalan melenggak-lenggok, memamerkan lekuk tubuhnya yang kekar, lengkap dengan polesan bedak dan lipstik yang super menor.

Ini fenomena yang biasa, semua terjadi karena tuntutan ekonomi, tuntutan untuk tak mengemis, tuntutan untuk memenuhi isi perut.

Aku hanya bisa menelan ludah, merasa prihatin, bersimpati tanpa dapat memberikan empati bagi mereka.

Speaker di stasiun kembali bergema, mengingatkan kereta kelas ekonomi itu untuk beranjak pergi.
Aku mengorek saku celana pendekku, meraih selembar tiket yang tadi kumasukkan tanpa aturan. Waktu keberangkatan kereta api cukup tepat waktu, dan kalo boleh kubilang sangat tepat waktu, yaitu pukul 12.45 wib.













12.45 wib
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;











Meyakinkan diri bahwa aku akan pulang ke rumah, ke kampung halamanku, ke kota yang berada di pesisir pantai utara jawa. Setidaknya aku merasa tenang kalo aku merasa seyakin ini untuk bepergian. Tak seperti dua bulan lalu, karena merasa ragu dan bingung, aku pun merelakan tiket kereta apiku hangus tak berguna dan memilih untuk turun dari kereta untuk membatalkan niat kepergianku.

Kini aku duduk di sudut gerbong, kusri yang kududuki berhadapan dengan kursi lain, kursi yang lebih panjang dari kursi yang kududuki, dan kursi di depanku itu memuat dua orang pria paruh baya. Seorang pria naik dari stasiun yang sama denganku dan dia membawa sebuah sepeda kecil untuk ukuran anak 4 tahun. Sedangkan pria yang satu yang lebih tua, telah berada di kereta lebih lama, mungkin dia naik dari sebuah stasiun yang ada di Jakarta. Pria yang lebih tua bertanya pada pria di sebelahnya yang baru meletakkan sepeda kecilnya di samping kursi yang kududuki.

"Baru?" Tanya pria yang rambutnya sudah setengah botak.

"Ia!" Jawab pria paruh baya yang mengenakan sebuah celana panjang berwarna coklat dengan kaos berwarna senada.

"Berapa?" Lanjut Pria yang lebih tua dengan logat Jawa Tengah yang cukup kental.

"Murah! Buatan China!" Sahut pria yang tak tampak membawa tas atau barang bawaan lain selain sepeda kecilnya itu.

"Owh! Tapi lumayanlah!"

"Ia, kalau buatan sendiri mahal!" jawab pria berambut ikal dengan senyumannya yang ramah.

Aku terdiam, menyaksikan percakapan dua pria di sebrang kursiku. Otakku langsung bekerja dengan cepat, mengingat sebuah artikel yang kuajukan pada sebuah mata kuliah beberapa minggu lalu. Dalam artikel itu aku membahas mengenai beberapa dampak yang terjadi akibat perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan China.

Mungkin yang aku saksikan ini adalah salah satu dampak kecil dari perjanjian itu. Mengingat produk China yang membanjiri pasaran Indonesia ini memiliki sebuah keunggulan yang sulit dikalahkan. Harganya yang super duper murah, jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas konsumtif, menginginkan barang bagus, harga murah, dan kadang tak begitu peduli dengan kualitasnya. dan produk China mampu memenuhi semua kriteria itu. Yeah,,, sepertinya produk China akan semakin menggila di Indonesia.















13.15 wib&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;











Otakku terlalu lelah melihat semua hal yang kutemui, mungkin jika aku terus bertahan membuka mata dan telingaku, aku akan merasa mual karena puluhan informasi yang masuk secara bertubi-tubi. Karena itu, aku memilih untuk memejamkan mataku, dan mencoba tak mendengarkan puluhan orang yang berbicara secara bersamaan.

Aku tertidur sejenak, meski aku yakin kalo itu bukanlah tidur yang nyaman. Mengingat kata orang, kereta api kelas ekonomi adalah kereta yang rawan dengan makhluk bernama 'PENCOPET', so...aku terus memeluk ransel hijau army ku dan meyakinkan diriku bahwa semua barang bawaanku berada pada posisi yang aman dan tak mungkin terjangkau oleh tangan jahil pencopet.

Oia, di kendaraan umum seperti ini aku selalu berharap tak pernah ada orang yang mengajakku berbicara, dan mengobrol, entahlah...bukannya karena aku sombong atau apa. Tapi aku paling tidak nyaman berbicara dengan orang yang baru kukenal, aku pun malas untuk berbasa-basi memulai sebuah percakapan yang kadang tak jelas juntrungannya. Mungkin itu hal negatif yang terus kupelihara, dan sebaliknya, aku lebih senang diam dengan diriku, memperhatikan keadaan sekitarku dan merekamnya dalam memoriku.Mungkin Karena itulah aku paling tidak senang diajak ngobrol oleh orang yang baru kukenal dan memulai pembicaraan, karena itu sangat mengganggu konsentrasiku untuk memperhatikan orang lain.










14.05 wib
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;







Waktu terasa cepat berlalu,setelah menembus pegunungan yang mengitari Bandung, kereta akhirnya sampai di stasiun Cibatu, yang berada di kabupaten Garut.

Aku terbangun dari tidur ayamku,,kulihat pria paruh baya yang lebih muda itu berpamitan kepada pria yang lebih tua, mereka menggunakan salam seperti pria-pria yang biasa kulihat (Hmmm,,, setidaknya pria berbeda dengan wanita yang penuh dengan senyuman dan basa-basi). Pria paruh baya itu mengangkat sepedanya dan segera keluar dari kereta.

Rasanya semakin longgar saja kereta yang masih akan melanjutkan pearjalanannya ke Jawa Tengah. Meski suara riuh pedagang asongan masih terus ada, bahkan semakin ramai, tapi so far...dapat membuat nyamanlah.

Tapi ada yang selalu kupikirkan mengenai pedagang asongan itu, mereka selalu mondar-mandir dari gerbong yang satu ke gerbong yang satunya lagi, dan bolak-balik dari depan ke belakang, menawari penumpang satu per satu, di kanan dan kiri... selalu saja begitu. Meski banyak penumpang yang sudah ditawari dan menolaknya, tapi pedagang-pedagang asongan itu terus saja menawarinya lagi...lagi...dan lagi...

Apa mereka mempunyai ingatan yang rendah untuk mengingat penumpang yang telah menolaknya, atau mereka tak mengerti..

Inilah dilema pada pedagang asongan yang kadang dipandang remeh, bahkan tak dipandang sama sekali oleh sebagian orang, mereka kadang dianggap pengganggu kenyamanan saja.

Tapi, mungkin ada satu hal yang harus dianggap dan

dipandang mengenai para pedangang asongan itu, bahwa mereka adalah tipe-tipe manusia pekerja yang tak pernah putus asa. Mempunyai kesabaran yang cukup baik (meski tak semuanya) untuk menghadapi para penumpang kereta api yang angkuh, sombong, dan merasa diri mereka memiliki derajat lebih tinggi dari para pedagang asongan itu (ini juga tak semuanya...).






Ceritaku masih berlanjut.... anggap saja aku mengajak kalian semua mudik bersamaku...hehe...Aku masih memiliki cerita mengenai bocah lelaki bernama Ikhsan...Si Bongkok yang melintas,,,kisah 3 Banci kaleng yang kembali terulang...Pengemis ngesot...Lagu Wali dan Tukang Telur Asin....
Haha...banyak kejadian yang aneh,,,lucu,,,dan segudang pertanyaan mengenai kereta api kelas ekonomi...

&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/02/ini-kereta-ekonomisemua-dapat-ditemui.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-7265047080498054609</guid><pubDate>Mon, 08 Feb 2010 16:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:27:24.603-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Journey</category><title>Ini Kelas Ekonomi,, Semua Dapat Ditemui Di Sini..</title><description>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;06022010


&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;"&gt;12.30 wib&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Sedikit  membuatku mengerutkan dahi saat memasuki area stasiun. Tapi, aku pikir  ini akan menjadi hari penuh petualangan,,ehhhmmmm sedikit petualangan  tepatnya.

Loket pembelian tiket yang sudah mulai sepi saat  terdengar suara yang menggema keluar dari speaker yang dipasang di  sepanjang koridor stasiun. Speaker itu meneriakkan tentang kedatangan  kereta kelas ekonomi yang berangkat dari Jakarta menuju Kroya.  Ops...sebentar lagi aku akan terlambat...(pikirku).

Dengan segera  aku menghampiri lubang loket yang dijaga oleh seorang wanita berjilbab,  wanita itu menanyakan tujuanku dan aku pun segera menjawab 'Kroya',  tanpa menunggu lama wanita itu menyodorkan selembar tiket berwarna  peach, sembari berkata 'Dua puluh ribu'.

Ok..., aku segera  mengeluarkan dua lembar sepuluh ribuan dan pergi meninggalkan loket.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

"Pelayanan  yang biasa saja!" batinku sembari menyusuri koridor stasiun, menuju rel  kereta api di jalur 3. Di sudut koridor, sebelum aku berbelok ke jalur  3, seorang gadis tomboy menatapku tanpa berkedip.
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Ada yang salah  denganku?" tanyaku heran sembari membalas tatapan gadis itu padaku. Di  sebelah gadis tomboy itu, akhirnya aku menyadari ada seorang gadis yang  lebih feminim yang masih mengenakan seragam SMA.

Gadis itu pun  turut menatapku yang siang itu hanya mengenakan kaos hitam, celana  pendek hitam, dan sebuah sepatu kanvas yang sengaja kuinjak bagian  tumitnya.
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Wah,,dilema dunia yang hampir kiamat!" celetukku dalam  hati menyaksikan kedua makhluk itu. Mungkin aku terlalu mengambil  kesimpulan sepihak, tapi tingkah dua gadis itu mengingatkanku pada  problematika dunia yang menjadi salah-satu pertanda kiamat.
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Ingat  cerita Nabi Lut?...I think like this..."

&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;"&gt;12.35 wib&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Perjalananku  berlanjut, tanpa menunggu lama sebuah kereta api datang dari arah barat  stasiun, memasuki gerbang stasiun dan siap memuat puluhan penumpang  yang sudah menunggunya di sepanjang jalur pemberangkatan.

Dengan  tas ransel yang kubawa, aku tak kesulitan untuk menaiki kereta api, dan  memang tak pernah. Pertama memasuki kereta api yang cukup longgar itu,  aku disambut dengan aroma toilet yang tak begitu mengenakkan... seperti  layaknya aroma wc umum di terminal bus antar kota.


Gerbong  terakhir ke tiga, aku memilih memasuki gerbong itu. Dan karena aku bukan  tipe pemilih yang rumit, aku langsung saja duduk di bangku yang kosong,  sepertinya tak ada penghuninya. Mungkin terbayang jika aku berjalan  menyusuri gerbong kereta api hanya untuk memilih tempat duduk favorit.  It's namanya membuang waktu.

Aku duduk menghadap ke barat, dan  itu artinya aku duduk mundur berlawanan dengan arah kereta, dan bagi  sebagian orang itu sangat tidak mengenakkan, karena sebagian orang itu  akan merasa pusing jika terduduk mundur dalam kendaraan.Tapi, beruntung  bagiku, aku tak mengalami hal itu.

Kereta terdiam di stasiun  selama tak lebih dari 10 menit. Aku hanya diam, menatap ke luar jendela.  Di seberang kereta yang kunaiki, aku melihat kedua cewek yang tadi  menatapku itu masih duduk berduaan di sudut koridor stasiun.
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Dasar!"  seruku lirih, aku hanya menggelengkan kepala dan mengalihkan  pandanganku pada tiga makhluk yang sepertinya tak kalah menarik dengan  dua gadis itu.

Aku bingung menyebut ketiga makhluk itu. Tiga  orang pria berbadan kekar, dengan kulitnya yang tak begitu putih, malah  boleh dibilang cowok-cowok itu cukup macho dan berotot, andai saja  mereka bertiga tak mengenakan rok mini dan dandanan menornya yang  menegaskan bahwa mereka adalah 'Banci'.

"Tiga banci kaleng!"  akhirnya itulah sebutan yang kumiliki untuk tiga makhluk itu, saat  kulihat sebuah kecrekan tutup botol yang masing-masing ada di tangan  makhluk itu. Fenomena macam apa ini???

Demi tuntutan perut, atau  mereka memang seorang waria???

Kalo boleh menghakimi, mungkin aku  akan berkata bahwa 'mereka masih memiliki potensi untuk memiliki  pekerjaan yang lebih baik, menjadi tukang bangunan, atau menjadi kuli  panggul, daripada menjadi waria, banci kaleng, atau hal semacamnya..."

Miris  sekali melihat seorang pria yang harusnya bersikap selayaknya pria, ini  justru berjalan melenggak-lenggok, memamerkan lekuk tubuhnya yang  kekar, lengkap dengan polesan bedak dan lipstik yang super menor.

Ini  fenomena yang biasa, semua terjadi karena tuntutan ekonomi, tuntutan  untuk tak mengemis, tuntutan untuk memenuhi isi perut.

Aku hanya  bisa menelan ludah, merasa prihatin, bersimpati tanpa dapat memberikan  empati bagi mereka.

Speaker di stasiun kembali bergema,  mengingatkan kereta kelas ekonomi itu untuk beranjak pergi.
Aku  mengorek saku celana pendekku, meraih selembar tiket yang tadi  kumasukkan tanpa aturan. Waktu keberangkatan kereta api cukup tepat  waktu, dan kalo boleh kubilang sangat tepat waktu, yaitu pukul 12.45  wib.

&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;"&gt;12.45 wib&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Meyakinkan  diri bahwa aku akan pulang ke rumah, ke kampung halamanku, ke kota yang  berada di pesisir pantai utara jawa. Setidaknya aku merasa tenang kalo  aku merasa seyakin ini untuk bepergian. Tak seperti dua bulan lalu,  karena merasa ragu dan bingung, aku pun merelakan tiket kereta apiku  hangus tak berguna dan memilih untuk turun dari kereta untuk membatalkan  niat kepergianku.

Kini aku duduk di sudut gerbong, kusri yang  kududuki berhadapan dengan kursi lain, kursi yang lebih panjang dari  kursi yang kududuki, dan kursi di depanku itu memuat dua orang pria  paruh baya. Seorang pria naik dari stasiun yang sama denganku dan dia  membawa sebuah sepeda kecil untuk ukuran anak 4 tahun. Sedangkan pria  yang satu yang lebih tua, telah berada di kereta lebih lama, mungkin dia  naik dari sebuah stasiun yang ada di Jakarta. Pria yang lebih tua  bertanya pada pria di sebelahnya yang baru meletakkan sepeda kecilnya di  samping kursi yang kududuki.

"Baru?" Tanya pria yang rambutnya  sudah setengah botak.

"Ia!" Jawab pria paruh baya yang mengenakan  sebuah celana panjang berwarna coklat dengan kaos berwarna senada.

"Berapa?"  Lanjut Pria yang lebih tua dengan logat Jawa Tengah yang cukup kental.

"Murah!  Buatan China!" Sahut pria yang tak tampak membawa tas atau barang  bawaan lain selain sepeda kecilnya itu.

"Owh! Tapi lumayanlah!"

"Ia,  kalau buatan sendiri mahal!" jawab pria berambut ikal dengan  senyumannya yang ramah.

Aku terdiam, menyaksikan percakapan dua  pria di sebrang kursiku. Otakku langsung bekerja dengan cepat, mengingat  sebuah artikel yang kuajukan pada sebuah mata kuliah beberapa minggu  lalu. Dalam artikel itu aku membahas mengenai beberapa dampak yang  terjadi akibat perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan China.

Mungkin  yang aku saksikan ini adalah salah satu dampak kecil dari perjanjian  itu. Mengingat produk China yang membanjiri pasaran Indonesia ini  memiliki sebuah keunggulan yang sulit dikalahkan. Harganya yang super  duper murah, jelas menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat  Indonesia yang mayoritas konsumtif, menginginkan barang bagus, harga  murah, dan kadang tak begitu peduli dengan kualitasnya. dan produk China  mampu memenuhi semua kriteria itu. Yeah,,, sepertinya produk China akan  semakin menggila di Indonesia.

&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;"&gt;13.15 wib&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Otakku terlalu lelah melihat  semua hal yang kutemui, mungkin jika aku terus bertahan membuka mata dan  telingaku, aku akan merasa mual karena puluhan informasi yang masuk  secara bertubi-tubi. Karena itu, aku memilih untuk memejamkan mataku,  dan mencoba tak mendengarkan puluhan orang yang berbicara secara  bersamaan.

Aku tertidur sejenak, meski aku yakin kalo itu  bukanlah tidur yang nyaman. Mengingat kata orang, kereta api kelas  ekonomi adalah kereta yang rawan dengan makhluk bernama 'PENCOPET',  so...aku terus memeluk ransel hijau army ku dan meyakinkan diriku bahwa  semua barang bawaanku berada pada posisi yang aman dan tak mungkin  terjangkau oleh tangan jahil pencopet.

Oia, di kendaraan umum  seperti ini aku selalu berharap tak pernah ada orang yang mengajakku  berbicara, dan mengobrol, entahlah...bukannya karena aku sombong atau  apa. Tapi aku paling tidak nyaman berbicara dengan orang yang baru  kukenal, aku pun malas untuk berbasa-basi memulai sebuah percakapan yang  kadang tak jelas juntrungannya. Mungkin itu hal negatif yang terus  kupelihara, dan sebaliknya, aku lebih senang diam dengan diriku,  memperhatikan keadaan sekitarku dan merekamnya dalam memoriku.Mungkin  Karena itulah aku paling tidak senang diajak ngobrol oleh orang yang  baru kukenal dan memulai pembicaraan, karena itu sangat mengganggu  konsentrasiku untuk memperhatikan orang lain.

&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;"&gt;14.05 wib&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

Waktu terasa  cepat berlalu,setelah menembus pegunungan yang mengitari Bandung,  kereta akhirnya sampai di stasiun Cibatu, yang berada di kabupaten  Garut.

Aku terbangun dari tidur ayamku,,kulihat pria paruh baya  yang lebih muda itu berpamitan kepada pria yang lebih tua, mereka  menggunakan salam seperti pria-pria yang biasa kulihat (Hmmm,,,  setidaknya pria berbeda dengan wanita yang penuh dengan senyuman dan  basa-basi). Pria paruh baya itu mengangkat sepedanya dan segera keluar  dari kereta.

Rasanya semakin longgar saja kereta yang masih akan  melanjutkan pearjalanannya ke Jawa Tengah. Meski suara riuh pedagang  asongan masih terus ada, bahkan semakin ramai, tapi so far...dapat  membuat nyamanlah.

Tapi ada yang selalu kupikirkan mengenai  pedagang asongan itu, mereka selalu mondar-mandir dari gerbong yang satu  ke gerbong yang satunya lagi, dan bolak-balik dari depan ke belakang,  menawari penumpang satu per satu, di kanan dan kiri... selalu saja  begitu. Meski banyak penumpang yang sudah ditawari dan menolaknya, tapi  pedagang-pedagang asongan itu terus saja menawarinya lagi...lagi...dan  lagi...

Apa mereka mempunyai ingatan yang rendah untuk mengingat  penumpang yang telah menolaknya, atau mereka tak mengerti..

Inilah  dilema pada pedagang asongan yang kadang dipandang remeh, bahkan tak  dipandang sama sekali oleh sebagian orang, mereka kadang dianggap  pengganggu kenyamanan saja.

Tapi, mungkin ada satu hal yang harus  dianggap dan

dipandang mengenai para pedangang asongan itu,  bahwa mereka adalah tipe-tipe manusia pekerja yang tak pernah putus asa.  Mempunyai kesabaran yang cukup baik (meski tak semuanya) untuk  menghadapi para penumpang kereta api yang angkuh, sombong, dan merasa  diri mereka memiliki derajat lebih tinggi dari para pedagang asongan itu  (ini juga tak semuanya...).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;

&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ceritaku masih berlanjut....  anggap saja aku mengajak kalian semua mudik bersamaku...hehe...Aku  masih memiliki cerita mengenai bocah lelaki bernama Ikhsan...Si Bongkok   yang melintas,,,kisah 3 Banci kaleng yang kembali terulang...Pengemis  ngesot...Lagu Wali dan Tukang Telur Asin....
Haha...banyak kejadian  yang aneh,,,lucu,,,dan segudang pertanyaan mengenai kereta api kelas  ekonomi...
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/02/ini-kelas-ekonomi-semua-dapat-ditemui.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-1299570816567514104</guid><pubDate>Thu, 28 Jan 2010 15:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:32:45.761-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>THANKS BUAT TANGANNYA...</title><description>&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;
This week's full with &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;problem&lt;/span&gt; n &lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;miracle&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;,,wowwwww,,,,cukup menkjubkan sih mengalami minggu ini. Meski banyak kejadian yang membuatku hampir terjatuh, tapi untung saja ada tangan kuat yang dapat menopangku dan membantuku untuk berdiri dan bangkit. Mungkin aku harus berterimakasih pada pemilik tangan itu, pada apa yang telah ia lakukan untukku. Karena, meski hanya sebuah tangan, tapi tanpanya aku yakin aku tak mampu.


&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;Terlalu berlebihan kah? &lt;/span&gt;

Entahlah, sepertinya Khansaisme sedang mengidap sebuah Lebayisme...sebuah reaksi berlebihan karena suatu hal yang sebenarnya sangat berlebihan,,,,HOhhhhh...sepertinya hidup ini sekarang penuh dengan hal lebay yang memuakkan.

Oia, aku belum bisa melakukan apapun pada pemilik tangan itu, karena aku tau kalo aku tak akan mampu memberikan apapun untukmu, mungkin tak akan pernah bisa aku membalas kebaikan mu....wah...pemilik tangan yang membuat tidurku lelap. Karena terlalu lelap, akhir-akhir ini pun aku sering kesiangan...PAYAH...!!!


&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tangan...Tangan...Tangan...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
Aku ingin memegangmu lagi, karena aku baru sadar bahwa kau adalah tangan terhalus yang pernah kusentuh. Beberapakali aku pernah menyentuh tangan yang lain, tapi aku tak merasa nyaman dengan tangan itu.

Aku masih ingat ada sebuah tangan yang mengulur padaku, tapi tangan itu menghilang saat akan kusentuh.

Ada lagi sebuah tangan yang memberikan sebuah lukisan padaku, tapi aku tau tangan itu terlalu kotor, kasar, dan besar...dan itu sangat tidak membuatku nyaman.

Ada lagi tangan yang membelai jemariku dengan lembut, tapi aku sadar kalo tangan itu terlalu dingin, bahkan sedingin es di dalam freezer, dan aku yakin kalo aku akan membeku karenanya.

&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dan kini aku menemukan tanganmu, tangan yang hangat, halus, bersih, dan kuat, meski tidak terlalu besar. Dan semua itu membuatku merasa nyaman, bahkan saat aku menghadapi saat-saat teraneh seperti saat ini...thanks...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/01/thanks-buat-tangannya.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-3472987093335980361</guid><pubDate>Thu, 21 Jan 2010 17:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:32:45.761-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>Kemungkinan atau Kemunafikan???</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Aku tak pernah mau dan tak pernah ingin hidup di dunia mereka...
Karna aku tau hidupku adalah hidupku...bukan dia atau mereka...



Mungkin egois,,,egois sekali malah...

&lt;span style="font-style: italic;"&gt;But...Whatever &lt;/span&gt;lah...

Aku selalu melangkah dengan langkah zig zag ku yang tak monoton...
Aku pikir ini hidupku...



Aku melangkah dengan langkah yang kadang membuat mereka tak mengerti...



Bahkan aku saja kadang tak mengerti dengan langkahku sendiri...



&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It's my way...for my life...



&lt;/span&gt;Hingga akhirnya langkahku mengantarkan aku pada ujung tebing yang curam...

Ada sebuah jurang yang telah menantiku dengan terjal...

Aku tau bebatuan di bawah sana pasti akan menyambutku dengan penuh kesakitan...

Aku tau jika benturan itu terjadi mungkin dalam hitungan detik jantungku akan berhenti memompa darah dalam tubuhku...


Aku tau semuanya...


Karena aku juga tau...


JIka aku melangkah mundur dan berbalik,,,aku hanya akan menemui dunia yang penuh kemunafikan....

Apa yang harus aku lakukan???

Apa aku harus tetap melangkah ke depan dengan semua kemungkinan itu...

Atau melangkah mundur dan berbalik arah seperti seorang pengecut...yang hanya dapat menemui kemunafikan...

&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/01/kemungkinan-atau-kemunafikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-8226129748411199217</guid><pubDate>Sat, 16 Jan 2010 17:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:37:45.129-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Around The...</category><title>TENTANG SEMINAR NASIONAL KEBEBASAN VS KERAHASIAAN  YANG MENGGELIITIK IDEALISME MAHSISWA JURNALISTIK</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEBEBASAN PERS DALAM BAYANG-BAYANG RUU RAHASIA NEGARA
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bertempat di gedung rektorat Universitas Padjadjaran Bandung. Seminar yang digelar pada hari sabtu, 16 Januari 2010.

Sungguh menarik tema yang diangkat dalam seminar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik UnPad ini, rasanya dengan mengetahui judulnya saja membuat idealisme para mahasiswa jurnalistik terbangun. Apalagi saat menyaksikan penampilan pembacaan puisi karya Soe Hok Gie yang memang dikenal sebagai mahasiswa yang idealis pada masanya...wah nampaknya aroma-aroma idealisme mahasiswa sedang dibangkitkan kembali nih...^^


Mengingat saat ini dunia jurnalisme, pers, dan media massa sedang berada dalam masa kebebasan dan kejayaannya, maka perlulah kita sedikit menahan nafas kebebasan kita dengan sebuah selingan RUU Rahasia Negara...



&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pada awalnya saya nggak ngerti apa yang disebut dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold; font-style: italic;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;'RAHASIA NEGARA' &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...Kok bisa sih rahasia negara ada undang-undangnya...!_!....&lt;/span&gt; 




&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Rahasia Negara adalah rahasia tentang informasi,  benda dan kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh Presiden berdasarkan undang-undang, yang apabila diketahui oleh pihak yang tidak berhak dapat membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;




&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);font-size:180%;" &gt;Fakta Sosiologis&lt;/span&gt;

--- Setiap negara memiliki rahasia negara yang harus dilindungi untuk kepentingan nasionalnya.
--- 64 tahun NKRI mempertahankan eksistensinya.

--- Negara ini telah mengenyam dinamika pahit-getirnya pengalaman akibat rongrongan beragam kelompok kekuatan dari dalam negeri yang ingin menghancurkan NKRI.

--- Tidak jarang kelompok kekuatan dari dalam negeri ini di dalangi dan difasilitasi oleh kekuatan-kekuatan asing. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(Prof.DR.Agus Brintosusilo.SH)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;




&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Contoh kasus kebocoran Rahasia Negara:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;(Prof.DR.Agus Brintosusilo.SH)&lt;/span&gt;

-- Kasus Letkol J.B. Soesdarjanto, yang terlibat kegiatan mata-mata/menjual dokumen Rahasia Negara kepada agen mata-mata Rusia. Letkol J.B. Soesdarjanto dituduh telah menjual informasi rahasia tentang hydrografi dan oceanography kepada Asisten Atase Militer Uni Soviet, Sergei Egorov. (Tahun 1982)


-- Kasus yang melibatkan Chaerul Amri, Ichsan Umar dan Marzuki Sani, ahli geologi serta SF, seorang karyawan Biro Mineral Resources. Mereka semua ditahan karena dituduh menjual Rahasia Negara berupa foto-foto pemetaan udara Irian Jaya kepada PT. Freeport dan PT. Esso. (1990)


-- Kasus penyadapan Australia terhadap komunikasi Indonesia, yang dilakukan dalam kurun waktu 8 bulan yakni sejak Februari 1999 – Oktober 1999, yakni saat sedang hangat-hangatnya kasus Timor Timur untuk melakukan jajak pendapat, dimuat dalam salah satu artikel di Surat Kabar Sydney Morning Herald edisi 14 Maret 2002.


-- Kasus Widjanarko Report, yakni kasus didapatnya Arsip Kopkamtib oleh Dake, orang asing. Arsip Kopkamtib ini adalah arsip proses verbal kesaksian Kol. KKO Bambang Setijono Widjanarko (Ajudan Presiden Soekarno) ketika diperiksa oleh anggota Tim Pemeriksa Pusat, Letkol CPM S. Soegiarjo dan AKBP Azwir Nawie pada tanggal 3, 21, 38 dan 31 Oktober 1970 serta tanggal 2 - 4 dan 6 - 9 Nopember 1970. Menurut Dake (1973) arsipnya didapat “from people who undoubtedly had access to the military investigation records but could not be closely identified with the top leadership surrounding Soeharto”. Arsip tersebut oleh Dake dijadikan tumpuan dalam menulis disertasinya yang berjudul In the Spirit of the Red Banteng: Indonesia Communists between Moscow and Peking, 1959 - 1965. Arsip tersebut menurut pihak ANRI pada dasarnya adalah arsip dinamis yang tertutup (rahasia) buat umum apalagi untuk orang asing.




&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Namun, apakah akan efektif jika undang-undang itu ada di Indonesia?

&lt;/span&gt;Itu adalah pertanyaan yang terus menerus ada, dan sepertinya belum menemukan jawaban yang tepat. Karena bukan tak mungkin kalau undang-undang ini diberlakukan, justru akan semakin menguatkan posisi para petinggi yang menyalahgunakan wewenang atau kekuasaannya...



&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kalo dilihat dari sisi pemerintah sih itu efektif dan sangat penting...tapi kacamata PERS berkata lain dan tak sependapat dengan pemerintah meskipun tetap menganggap bahwa undang-undang itu memang penting...tapi apa jadinya kalau undang-undang itu berlaku,,,??? Maka masa-masa pers mungkin akan kembali ke masa orde baru dan lama yang mencekam dan tak memberikan ruang demokrasi untuk rakyat...&lt;/span&gt;


Tapi, sayang...saat ini pun saya pribadi sangat menyayangkan dengan keadaan dunia pers dan jurnalistik yang penuh dengan &lt;span style="font-family: lucida grande; color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;PELANGGARAN ETIKA&lt;/span&gt; dan muatan komersil dari pada pemberian informasi... media dan segala tetek bengeknya seolah-oleh menghalalkan segala cara hanya untuk menaikan oplah mereka, keuntungan mereka secara komersil, atau bahkan meningkatkan rating mereka agar dapat terus bertahan dalam bisnis media massa saat ini dengan semua pelanggaran ETIKA yang ada.



Dan kalau sudah seperti ini, idealisme kita sebagai mahasiswa pun masih dipertaruhkan dan idealisme kita sebagai jurnalis pun telah tergadaikan oleh lembaran rupiah semata...It's so Ironic,,,dunia pers benar-benar berada dalam bayang-bayang kelam undang-undang yang tak jelas juntrungannya... Buat apa repot-repot menrancang dan menyusun undang-undang kalau rakyat Indonesia sendiri punya pepatah kuat yang berbunyi &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0); font-family: times new roman;font-size:180%;" &gt;'PERATURAN ADA UNTUK DILANGGAR'&lt;/span&gt;... karena bukan tak mungkin yang melanggar peraturan itu adalah pembuat aturannya itu sendiri... dan pada faktanya itulah yang akan dan telah terjadi... Show Must Go On... Tapi dengann satu syarat...Seorang jurnalis harus menaati semua&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ETIKA JURNALISTIK&lt;/span&gt;.

Impian Gie akan sebuah negeri yang ideal sepertinya memang tak akan pernah terwujud...


&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan...&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Soe Hok Gie...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;

&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2010/01/tentang-seminar-nasional-kebebasan-vs.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-7454564242157425663</guid><pubDate>Wed, 30 Dec 2009 19:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:32:45.766-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>...Untitled...</title><description>Pagi yg cukup dingin di penghujung tahun 2009. Hari ini, hari terakhir d tahun yg cukup indah ini. Banyak sukacita dan duka yg tlah dilalui.


Banyak do'a, dan harapan yg akan dipanjatkan hari ini, banyak rencana yg ingin diwujudkan ditahun depan...Semoga berkat, karunia, dan penyertaan-Nya slalu ada untuk kita...Amin..</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/12/untitled.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-5113795602992213623</guid><pubDate>Mon, 07 Dec 2009 11:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:32:45.766-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>I'm 21...</title><description>&lt;p&gt;...It's simple for me,,,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin menurutku begitu, tapi nggak buat mereka. Selalu menganggapku sebagai anak kecil, padahal aku ini udah cukup dewasa (I think). Apa aku harus memajang jumlah usiaku di dahiku???&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar mereka tak meremehkanku seperti anak SMP atau beruntunglah kalo dianggap anak SMA,,,tapi lebih merasa dihargai lagi kalo kalian menganggapku sebagai aku... &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku merasa malu jika kau memegang kepalaku,,, membelainya,,, mengacak-acak tatanan rambutku yang sebenernya memang acak-acakan... itu adalah hal memuakkan yang membuatku merasa seperti anak kecil... Entah apa maksud kelakukan konyol itu...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Simple aja sih mauku,,, karna aku ngerti mauku adalah egois,,, tapi kau dan mereka lebih egois jika membuatku dan memperlakukan aku seperti anak-anak terus...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Come On,,,I'm 21 ... I think U know it...&lt;/p&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/12/im-21.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-5665328740754359430</guid><pubDate>Wed, 11 Nov 2009 07:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:32:45.766-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>Silence...</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Hari ini kamu diam,,,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Diam lagi seperti patung...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bingung!!!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rasanya cuma itu yang ada dalam otakku mengenai dirimu,,,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berada di dekatmu,,,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi terasa sangat jauh darimu...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bisa melihatmu dengan jelas,,,&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mencium aroma tubuhmu...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menatap jelas setiap guratan yang ada di wajahmu...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku sama sekali tak mampu menyentuhmu...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kau terlalu fana...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti manusia hologram yang tak dapat kusentuh...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada dinding tebal yang membatasi gerakku untuk meraihmu...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dinding es yang kau bangun dengan sangat kokoh...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Makin membuatku tak dapat menyentuhmu...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa kau tak kedinginan di dalam sana???&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa kehidupan nyata tak membuatmu tertarik???&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa kau benar-benar ada???&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Atau kau hanyalah imajinasiku yang tak mampu kukendalikan...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/11/silence.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-5856083508928908213</guid><pubDate>Sat, 24 Oct 2009 15:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:37:45.129-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">My Around The...</category><title>Gelaran Bandung Blossom dan Perfect 9 nya 99ers</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bandung (24-10-2009); Hujan kayaknya emang nggak bisa menghentikan kemeriahan Bandung Blossom yang digelar tadi pagi... ada parade kendaraan hias dan karnaval yang meriah...meski hujan mengguyur kota Bandung dengan cukup derasnya tapi untung saja semarak Perfect 9 yang melanjutkan parade Bandung Blossom dapat terlaksana... Meriah!!! Nggak salah deh kalo Bandung emang dapet julukan kota kembang,,,sok liat aja tema yang dimuat buat kedua acara heboh itu...FULL COLOR...

Para pengunjung perfect 9 berwarna-warni mengenakan baju full color (tapi ada juga yang nggak pake...hehe!!!) cukup dengan membayar tiket masuk 10 ribu rupiah, kita udah disajiian berbagai hiburan musik yang keren,,,ada Maryjane yang romantis buat malem mingguan, Rosemary band yang beraliran skatepunk, Lia sang jebolan AFI, Naif...dll pokoknya keren-keren...Oia yang paling keren adalah hasil penjualan tiket @ avenue akan disumbangkan pada korban gempa di Jawa Barat...





Happy B'day Bandung 199...



Happy B'day 99ers radio yang ke 9....



Perfect!!!&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/10/gelaran-bandung-blossom-dan-perfect-9.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-7349134723217320450</guid><pubDate>Wed, 26 Aug 2009 03:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:45:23.886-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>TooLong!</title><description>Lama.., rasanya lama sekali tak mengunjungi Khansaisme. 
Yang pasti sudah banyak kejadian yg terjadi dan menimpa Khansaisme,..Mulai dari perseteruan yang terjadi dgn teman-temannya, perjuangan untuk mempertahankan dan menunjukkan betapa kuatnya arti sbuah persahabatan, keberhasilan sbuah rekayasa mini, hingga perpisahan yang memang tak mampu dicegah, sampai pd masalah percintaan yg rumit (katanya mirip cerita' dalam komik serial cantik Jepang,..Haha) dan forbidden lov yg menghinggap. 
Fiuhh! Sangat menantang hidup itu, tapi tetap ada semangat di dalamnya, karena semangat yang tak pernah padam dalam diri Khansaisme akan membuat smua harapan dan impian menjadi kenyataan dan masalah pun beres. SEMANGAT^^</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/08/toolong.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-6910538587303059654</guid><pubDate>Sun, 12 Jul 2009 12:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:45:23.887-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story 'bout Me</category><title>My PoeM-Cara Cinta</title><description>Cara Cinta///





Sebuah cinta tak harus diucapkan
Sebuah cinta adalah sesuatu yang harus diungkapkan
Meski tanpa kata-kata
Tapi dari belaian lembut dan dekapan hangatnya
Perasaan cinta dapat tersampaikan

Denyut cinta dapat kau rasakan
Alirannya membahagiakan …
Desirannya terkadang menyedihkan…
Dan detakannya terkadang menyakitkan
Selalu saja ada tawa untuk cinta

Tapi cinta mempunyai cara berbeda untuk setiap makhluk
Bias cinta hanya akan terasa di hati yang penuh cinta</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/07/my-poem.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-133197928667441263</guid><pubDate>Wed, 08 Jul 2009 14:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:38:46.435-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kuliahhhh...</category><title>The Power Of Dream</title><description>&lt;div&gt;

&lt;div&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%; mso-ansi-language: INfont-family:Arial;font-size:18;" lang="IN"  &gt;The Power of Dream&lt;?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Menulis.., terkadang kata kerja itu terdengar berat untuk dilakukan. Padahal pada dasarnya menulis merupakan suatu hal yang dapat dilakukan oleh semua orang, bahkan untuk orang yang buta huruf pun dapat menulis. Contohnya saja Hillary Clinton, meski wanita itu tidak buta huruf, tapi dia tak punya cukup waktu untuk menulis meski banyak sekali ide briliant yang dapat ditulisnya. Tapi, Hillary Clinton mempunyai seorang juru tulis yang dapat membantunya untuk menuangkan segala ide dan gagasan cemerlangnya dalam sebuah buku dan tulisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Jadi, menulis itu berawal dari ide yang pastinya dimiliki oleh semua orang. Hanya saja setiap orang memiliki berbagai macam cara untuk menuangkan idenya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Nah, khusus untuk ini kita akan mengetahui bagaimana sih cara menuangkan ide melalui tulisan, dan menghilangkan pandangan bahwa menulis itu rumit dan susah, tapi kita akan menegaskan bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;So Easy and Enjoy...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Kekuatan Mimpi Yang Tak Pernah Habis Dalam Menulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;First Step to Writing&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Menulis merupakan suatu seni yang berawal dari ide, yang pasti dapat dimiliki dan dimunculkan oleh semua orang melalui berbagai cara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Ide itu yang kemudian dapat dijadikan sebuah judul, tema, hingga terciptalah sebuah tulisan, namun seperti pernah dinyatakan bahwa ‘Tak ada yang mutlak dalam dunia tulis menulis, kecuali kemauan untuk menulis’ (-&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;writing is easy&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Nah, sekarang kita gali yuk...dari mana saja sih ide itu bisa datang&lt;&lt;&lt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Semua orang pasti pernah mengalami hal ini,,,,Yups, mimpi! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Mimpi merupakan keinginan alam bawah sadar manusia yang terkadang tak dapat untuk diungkapkan dalam kehidupan nyata. Jadi, mustahil sekali jika seseorang tak punya mimpi dan tak pernah bermimpi dalam hidup dan tidurnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Bagi saya pribadi, mimpi merupakan aset dan inspirasi terbesar yang saya miliki, karena dari mimpi saya mendapatkan berbagai ide yang jarang terpikirkan dalam keadaan terbangun dan sadar. Tapi, bukan berarti saya manusia pemimpi loh!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;The Dream’s Come True&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Ketika kita memimpikan hal yang menurut kita unik, dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan, baik cerpen, novel atau apapun. Sebaiknya saat kita terbangun dan kita masih mengingatnya, kita harus cepat-cepat menulisnya&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;sebelum kita&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;lupa. Mungkin kita tak perlu menulisnya dengan detail, tapi cukup tuliskan saja poin-poin pentingnya dalam lembar tulisan yang biasa kita gunakan, bisa&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;buku, note, atau bahkan langsung di komputer atau laptop.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Misalnya saja, saya pernah bermimpi hal yang cukup mustahil namun cukup menarik. Beberapa bulan lalu saya bermimpi dapat menjelajahi waktu dengan menggunakan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;teleportasi, &lt;/i&gt;cukup menyenangkan bisa memimpikan hal itu. Saat bangun tidur saya sedikit menyesal, karena saya menyadari bahwa itu hanyalah bunga tidur yang mustahil untuk saya wujudkan, namun karena menurut saya sangat menarik. Jadi, langsung saja saya tulis sebuah cerita mengenai seorang gadis remaja yang dapat melakukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;teleportasi.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Meski sangat mengkhayal, tapi itulah kekuatan&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt; &lt;/span&gt;mimpi yang imajinatif. Hal itu dapat dijadikan ide/gagasan utama untuk memulai menulis, mungkin kita dapat menghasilkan tulisan yang sangat imajinatif dan fantastis dengan memanfaatkan kekuatan mimpi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Tapi, bagi penulis pemula biasanya masih lekat dengan penyakit narsis. Kita sering menggambarkan diri kita sebagai peran utama dalam setiap cerita/tulisan yang kita buat, khususnya cerita fiksi. Tapi tak dipungkiri juga bahwa cara ini sangat jitu untuk membuat tulisan semakin hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Second Step To Writing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Setelah kita mempunyai tema atau ide utama yang menarik, kita dapat langsung memulai menulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Tuangkanlah apa saja yang ingin kita tulis dalam tulisan kita, saat kita mulai menulis, kita akan merasa membuat dunia baru yang dapat kita rancang dan kita buat semau kita. Namun dalam hal ini kita juga harus dapat bertanggung jawab dengan apa yang kita tulis. Yang terutama dalam menulis adalah tidak boleh membuat sebuah profokasi yang tidak benar akan suatu hal, tapi itu berlaku untuk tulisan nonfiksi, sedangkan untuk tulisan fiksi kita mempunyai kebebasan yang lebih besar dan jauh lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Namun, jika kita merasa kesulitan untuk mulai menulis meskipun kita sudah mempunyai ide, kita dapat menggunakan sebuah tongkat pemandu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Seseorang pernah mengatakan bahwa sebuah ide dapat kita jadikan pohon ide yang memiliki banyak cabang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Pohon ide itu berbentuk &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;mind maping&lt;/i&gt;, dengan membuat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;mind maping&lt;/i&gt; kita akan membuat menulis menjadi lebih mudah dan tetap terfokus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;How To Make Mind Maping???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Mula-mula kita menuliskan ide utama yang kita miliki, kemudian kita tuliskan hal/ide-ide lain yang berhubungan dengan ide utama itu. Setelah dari ide-ide ke-dua, kita tuliskan lagi id-ide ke-tiga, begitulah seterusnya. Maka setelah jadi kita akan tahu betapa banyaknya ide yang timbul dari ide utama itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = v ns = "urn:schemas-microsoft-com:vml" /&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" stroked="f" filled="f" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t"&gt;&lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;v:formulas&gt;&lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;&lt;v:path gradientshapeok="t" extrusionok="f" connecttype="rect"&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;o:lock aspectratio="t" ext="edit"&gt;&lt;/o:lock&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape style="Z-INDEX: -2; POSITION: absolute; TEXT-ALIGN: left; MARGIN-TOP: 39.65pt; WIDTH: 414pt; HEIGHT: 225pt; MARGIN-LEFT: 0px; LEFT: 0px" id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;v:imagedata title="Mind Maping" src="file:///C:\DOCUME~1\frenz4\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg"&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Hal ini sama saja dengan mengembangkan ide atau tema yang akan memperkaya tulisan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; DISPLAY: block; HEIGHT: 230px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356101426585667074" border="0" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCnFnEHylyTcz_7r1j7VBMxgnVZQo8nV24JwlUiFhuOxM_CYgG-9GGQ2JwsK7Bp8nGgOt9BZE2DErXxBB7FpGrvZX589GCe0kK7TV5390KBWY1W1Y5FCFfRsYQ6NCQoe7niRU0bRu-2WA/s320/Mind+Maping.jpg" /&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Nah, mudah kan???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Mind maping, selain memudahkan kita dalam mengembangkan ide, ternyata juga dapat membantu kita untuk menemukan ide baru yang mungkin akan jauh lebih baik dari ide awal kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Menulis Menulis dan Menulis...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Mulai menggoreskan sebuah kata, menyusun kata menjadi kalimat, hingga akhirnya menjadi sebuah tulisan yang cantik dan menarik untuk dibaca. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Setelah menemukan ide dari mimpi, membuat pohon ide..., sekarang saatnya kita membuat kerangka tulisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Pembukaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Untuk menulis sebuah cerita fiksi, kita bisa memulainya dengan pembukaan. Bagian pembuka cerita ini sangat penting, karena saat pembukaannya menarik pasti akan membuat pembaca penasaran dengan bagian selanjutnya. Dalam pembukaan, biasanya kita bisa memperkenalkan para tokoh dalam isi cerita dan memberikan gambaran mengenai ‘Apa sih cerita yang akan dibaca ini’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Konflik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Kemudian kita bisa melanjutkannya dengan isi cerita, untuk membuat sebuah tulisan semakin menarik, kita jangan sampai lupa untuk memuat konflik. Selain sebagai bumbu jitu, konflik juga bisa disebut nyawa cerita yang mampu membuat cerita yang kita tulis itu hidup. Hal yang terpenting dari sebuah konflik adalah harus logis dan realistis, karena meskipun yang kita tulis adalah cerita fiksi yang imajinatif, tapi jika konflik yang dimuat memuat unsur relistis dan logis, maka tulisan akan lebih tampak real. Hingga akhirnya setelah membaca tulisan kita pembaca akan bertanya-tanya dalam hatinya ‘Apa bener ya???”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Mengakhiri Cerita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Setelah melalui konflik menegangkan yang menjadi puncak cerita, kita haruslah mengakhiri cerita dengan menarik dan berkesan bagi pembaca. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Ending yang menarik, berkesan, dan tidak mudah ditebak. Itu adalah cara mengakhiri cerita dengan jitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Ayo,,,wujudkan mimpimu dalam dunia menulismu,,,so easy,,,so real,,,and enjoy!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Sumber:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: Arial; mso-ansi-language: INfont-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;-&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Seri Komunikasi Praktis (Fiksi) oleh Hadi Purnama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-INDENT: -0.25in; MARGIN: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="FONT-FAMILY: Arial; mso-ansi-language: INfont-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-list: Ignore"&gt;-&lt;span style="FONT: 7pt 'Times New Roman'"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Writing is easy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: center; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Nih,,,Yang Nulis ‘The Power Of Dream’&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 202px; DISPLAY: block; HEIGHT: 320px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356100927502048194" border="0" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicRrk1m_2ibRsW0xoCCmp0mqWIArF8j1VP9ACw2NuMlCy0b7zJAK1_IsloEOkQ92hECMdqFg9tV_rAu7zzTiBajc1piOI_KtE_EVc3EyssNVvUApU2axsRr2_WWPE6JNJ8VY0R9AycFB0/s320/Khans1.JPG" /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;v:shape style="Z-INDEX: -1; POSITION: absolute; TEXT-ALIGN: left; MARGIN-TOP: -0.55pt; WIDTH: 135pt; HEIGHT: 212.05pt; MARGIN-LEFT: 0px; LEFT: 0px" id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" wrapcoords="-120 0 -120 21524 21600 21524 21600 0 -120 0"&gt;&lt;v:imagedata title="Khans1" src="file:///C:\DOCUME~1\frenz4\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg"&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;?xml:namespace prefix = w ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:word" /&gt;&lt;w:wrap type="tight"&gt;&lt;/w:wrap&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Khansa Maria, lahir di Cilacap pada tanggal 15 November 1988. Sebagai anak pertama, meskipun cewek, tapi harus tetap menjadi anak yang bertanggung jawab dan dapat menjadi contoh baik bagi dua adiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify; LINE-HEIGHT: 150%; MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;Sejak SMP sangat senang dengan pelajaran Bahasa Indonesia, apalagi kalo disuruh mengarang...,hmmm seneng banget!!! Karena seneng berimajinasi dan bermimpi, gadis yang tingginya tak lebih dari 155 cm ini selalu mempunyai imajinasi yang baginya unik dan berbeda dengan orang di sekitarnya. Tapi, nggak kerasa sekarang udah jadi mahasiswi di Stikom Bandung, dan ngambil jurusan jurnalistik pula, jadi nggak boleh terlalu banyak berkhayal...bisa-bisa karya jurnalistik yang dihasilkan semuanya khayalan...hahaha... Semangat!!! Bangun dari tidurmu dan wujudkan mimpimu di dunia nyata...Semangat!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="MARGIN: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN;font-family:Arial;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/07/power-of-dream_08.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCnFnEHylyTcz_7r1j7VBMxgnVZQo8nV24JwlUiFhuOxM_CYgG-9GGQ2JwsK7Bp8nGgOt9BZE2DErXxBB7FpGrvZX589GCe0kK7TV5390KBWY1W1Y5FCFfRsYQ6NCQoe7niRU0bRu-2WA/s72-c/Mind+Maping.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2045231437978379836.post-2205378169954028751</guid><pubDate>Fri, 15 May 2009 11:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-16T21:38:46.435-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kuliahhhh...</category><title>Katak dan Kodok</title><description>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;Katak dan Kodok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Katak adalah Kodok. Keduanya sama &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;? Opsss, sayang sekali salah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Selama ini kita selalu menyebut katak atau kodok, padahal dua nama itu adalah milik dua jenis hewan yang berbeda.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meski begitu, keduanya sama-sama hidup di darat dan di air, dan keduanya termasuk dalam amphibia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Sekarang, mari kita membedakan antara Katak dan Kodok…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Katak alias Bangkong yang dalam bahasa Inggris disebut &lt;i style=""&gt;toad, &lt;/i&gt;adalah hewan amphibia yang paling dikenal oleh orang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Adik-adik biasanya menyukai hewan berbentuk lucu yang mempunyai hobi melompat-lompat ini. Sedangkan Kodok, dalam bahasa Inggris disebut Frog. Berbedakan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kedua jenis hewan ini memang bentuknya mirip. Tapi ada ciri-ciri fisik yang bisa membantu kita membedakan Katak dan Kodok. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kodok bertubuh pendek, ukuran tubuhnya terkadang gempal atau kurus, Kodok memiliki punggung agak bungkuk, berkaki empat dan tidak mempunyai ekor atau disebut &lt;i style=""&gt;anura &lt;/i&gt;(an- tidak, ura-ekor). Selain itu kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Sebaliknya, katak atau bangkong mempunyai kulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, bahkan terkadang kulitnya kering, dan kaki belakangnya seringkali pendek, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Namun kedua istilah nama hewan ini sering pula dipertukarkan penggunaannya....tapi...karena kita sekarang sudah tahu perbedaannya, maka kita dapat menggunakan nama yang tepat untuk hewan yang tepat pula ya....!!!!
&lt;/p&gt;</description><link>http://marykhans.blogspot.com/2009/05/katak-dan-kodok.html</link><author>noreply@blogger.com (Khansa Maria)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>