<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>aneka tips menulis fiksi (cerpen, flash fiction), resensi novel, profil penulis fiksi &amp; dunia penerbitan Indonesia</title><link>http://indonovel.com</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/fiksiindonesia" /><description>Resensi novel - Indonovel.com</description><language>en</language><lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 04:33:25 PST</lastBuildDate><generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator><sy:updatePeriod xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">1</sy:updateFrequency><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/fiksiindonesia" /><feedburner:info uri="fiksiindonesia" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>fiksiindonesia</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:feedFlare href="http://add.my.yahoo.com/rss?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Ffiksiindonesia" src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/us/my/addtomyyahoo4.gif">Subscribe with My Yahoo!</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://feeds.my.aol.com/add.jsp?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Ffiksiindonesia" src="http://o.aolcdn.com/favorites.my.aol.com/webmaster/ffclient/webroot/locale/en-US/images/myAOLButtonSmall.gif">Subscribe with My AOL</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bloglines.com/sub/http://feeds.feedburner.com/fiksiindonesia" src="http://www.bloglines.com/images/sub_modern11.gif">Subscribe with Bloglines</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://fusion.google.com/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Ffiksiindonesia" src="http://buttons.googlesyndication.com/fusion/add.gif">Subscribe with Google</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.plusmo.com/add?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Ffiksiindonesia" src="http://plusmo.com/res/graphics/fbplusmo.gif">Subscribe with Plusmo</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Ffiksiindonesia" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><item><title>3 Nilai Plus Google+ Bagi Penulis Fiksi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/fiksiindonesia/~3/N7nztauZPm4/</link><category>penerbitan</category><category>google+</category><category>penulis fiksi</category><category>tips menulis fiksi</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Editor in Chief</dc:creator><pubDate>Tue, 19 Jul 2011 19:03:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=915</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p style="text-align: left;">Sudah saatnya <em>penulis fiksi</em> meninggalkan facebook dan beralih ke <strong>Google+</strong> !?</p>
<p style="text-align: left;"><a href="https://plus.google.com/117596073634212689557/posts"><img class="alignright size-full wp-image-1077" title="" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2011/07/g+.png" alt="tips promosi buku di google+, promosi buku di social media" width="172" height="197" /></a>Banyak penulis fiksi menggunakan social media untuk kepentingan <em>personal branding</em>, dan terutama untuk menjual produknya.</p>
<p style="text-align: left;">Produk itu sering dijumpai berbentuk buku, ebook, atau berupa jasa seperti kursus menulis dan editing.</p>
<p style="text-align: left;">Selama ini Facebook dan twitter menjadi pilihan utama untuk kedua kepentingan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi pilihan tersebut sepertinya bakal berubah pasca lahirnya <em>Google+</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Tanggal 28 Juni 2011 lalu pihak Google meluncurkan produk terbarunya; <em>Google+</em> (<strong>G+</strong>).</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri mendaftar pada tanggal 8 Juli dan lansung bereksperimen dengannya dalam 3 hari pertama.</p>
<p style="text-align: left;">Kesimpulan saya, inilah social media yang menjawab –<em>hampir</em>- semua kebutuhan penulis (<em>fiksi</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Facebook memiliki kekurangan sama banyaknya dengan aplikasi, game, dan iklan yang ada didalamnya.</p>
<p style="text-align: left;">Facebook juga terkenal abai melindungi privacy pengguna.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara twitter, kita tahu, 140 karakater adalah kelebihan sekaligus kekurangannya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Google+</em> sebagai pendatang baru mengambil semua sisi-sisi terbaik dari Facebook dan twitter sekaligus memperbaiki kekurangan keduanya.</p>
<p style="text-align: left;">Oke, anda mungkin berkata; Tapi saya sudah terlanjur memiliki akun facebook, twitter dan LinkedIn. G+ hanya berarti satu lagi kerepotan ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya menyarankan anda meninggalkan semuanya dan beralih penuh menggunakan <em>Google+</em> bila tak mau repot. Saya serius.</p>
<p style="text-align: left;">Berikut ini 3 nilai plus yang menjadi alasan saya merekomendasikan Google+ kepada para <em><a href="http://indonovel.com/kiat-menulis-cerita-fiksi-anak-wawancara-dengan-vanda-yulianti/" target="_blank">penulis fiksi</a></em>.</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Personal Branding</strong></h2>
<p style="text-align: left;"><em>Google+</em> selangkah lebih maju dalam membangun personal brand penggunanya ketimbang facebook dan twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita lihat twitter. Maksimal 140 karakter memungkinkan siapa saja bisa berkicau disana. Tak heran bila <em>liniwaktu</em> bergerak demikian cepatnya. Info ‘launching buku’ anda tenggelam hanya dalam hitungan menit ditengah keriuhan ratapan, umpatan kepada pemerintah, doa kepada Tuhan, atau ‘<em>tweeps yang budiman</em>’ (apa anda familiar dengan tweet ini?).</p>
<p style="text-align: left;">Facebook memang menyediakan fan page buat membangun basis pemggemar. Namun susah merawat halaman penggemar disaat bersamaan kita juga punya laman pribadi. Lagipula tampilan fan page hampir serupa dengan laman pribadi.</p>
<p style="text-align: left;">Google+ menyediakan halaman <strong>profil</strong> yang terdiri dari halaman <em>entri, ihwal, foto</em> dan <em>video</em>. Desain <a href="https://plus.google.com/117596073634212689557/about" target="_blank">Halaman <strong>ihwal</strong></a> (<em>about</em>) mendukung penuh upaya penggunanya dalam rangka membangun personal brand.</p>
<p style="text-align: left;">Anda bisa menuliskan tagline dibawah nama anda, misalnya anda menulis: <em>“Cerpenis, penulis buku XYZ, juga menyediakan jasa editing dan kursus menulis online 24 jam”.<strong> </strong></em>Tagline seperti itu memudahkan orang-orang mengidentifikasi personal brand anda dalam sekali tatap saja.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Google+</em> juga menyediakan ruang horizontal tepat dibawah tagline. Tempat dimana anda dapat memajang 5 foto secara berderet. Sebaiknya anda memanfaatkan fasilitas ini –misalnya- untuk memajang sampul buku, logo produk, award atau foto suasana kursus menulis yang pernah anda selenggarakan.</p>
<p style="text-align: left;">Masih pada <em>halaman Ihwal</em>. Dibawah deretan foto tersedia ruang pendahuluan, dimana G+ membolehkan pengguna untuk mendeskripsikan apa saja mengenai dirinya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Google+</em> melengkapi ruang ini dengan fitur yang mirip fitur note pada facebook, seperti; huruf tebal, miring, numbered/bullets list dan tautan/link.</p>
<p style="text-align: left;">Anda bisa menggunakan ruang itu untuk menulis judul buku yang telah anda terbitkan; menawarkan jasa <a href="http://indonovel.com/kursus-menulis-online-writing-course/" target="_blank">kursus menulis</a> dan editing; atau daftar award yang pernah anda peroleh.</p>
<p style="text-align: left;">Anda pun bisa menyisipkan link dengan anchor text yang mengarah ke halaman web-blog yang relevan dengan deskripsi anda itu. Misalnya anda mengarahkan pembaca menuju toko buku online yang menjual buku <a href="http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/" target="_blank">fiksi</a> anda.</p>
<p style="text-align: left;">Template halaman profil terlihat bersih dengan warna putih dominan. Hanya ada satu sidebar pada sebelah kanan layar dan steril dari iklan (setidaknya sampai hari ini).</p>
<p style="text-align: left;">Tersedia pula fitur Tautan pada samping kiri yang sejajar dengan Pendahuluan . <em>Google+</em> mempersilahkan anda memasang alamat blog, akun social media anda yang lain, atau link apa saja yang relevan dengan anda.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Lingkaran Pembaca (Penggemar)</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Saya menemukan banyak penulis –ternama- membuat fans page di facebook selain laman pribadi.</p>
<p style="text-align: left;">Fan page di facebook pada dasarnya berfungsi memisahkan penulis sebagai pribadi dengan penulis sebagai <em>‘merek’</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kedengarannya cukup merepotkan dari sisi perawatan.</p>
<p style="text-align: left;">Google+ rupanya memahami kerepotan itu. Anda tidak perlu membuat fan page terpisah.</p>
<p style="text-align: left;">Anda cukup membuat lingkaran khusus pada akun G+ anda, lalu memberinya nama –misalnya-; Lingkaran penggemar.  Selanjutnya anda tinggal memasukkan para pembaca atau fans anda ke dalamnya. Selesai. Hanya itu saja.</p>
<p style="text-align: left;">Fungsi lingkaran G+ memang dirancang memudahkan pengguna membagi konten (teks, foto, link &amp; video) hanya kepada orang-orang (lingkaran) yang relevan.</p>
<p style="text-align: left;">Konten anda tidak bisa dilihat  oleh orang-orang diluar lingkaran yang anda pilih. Tersedia opsi centang kepada lingkaran yang mana konten hendak dibagikan sebelum anda menekan tombol <strong>Berbagi</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengamati konsep Lingkaran ciptaan Google mrirp cara kita berhubungan dengan orang-orang dalam kehidupan nyata.</p>
<p style="text-align: left;">Secara alami manusia mengkategorikan, berinteraksi dan berkomunikasi kepada setiap orang dengan cara yang berbeda.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya, anda hanya membicarakan buku fiksi kepada mereka yang hobby membaca buku fiksi</p>
<p style="text-align: left;">Anda pun cenderung enggan berbagi informasi mengenai pekerjaan anda kepada yang bukan teman sekantor.</p>
<p style="text-align: left;">Nah, fitur lingkaran <em>Google+</em> bekerja dengan cara seperti itu.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Promosi Produk</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Belakangan facebook kurang nyaman setelah disesaki oleh kerumunan penjual.</p>
<p style="text-align: left;">Tidak ada ruang terpisah antara dinding publik vs dinding pribadi. Ini memungkinkan siapa saja yang ada dalam <em>friend list</em>  menandai nama anda saat menawarkan produk.</p>
<p style="text-align: left;">Google menutup keleluasaan tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Loh, kalau begitu tidak mungkin  saya mempromosikan novel terbaru saya?</p>
<p style="text-align: left;">Kebijakan G+ itu justru baik menurut saya. Sebaliknya anda dimudahkan mempromosikan buku atau ebook secara khusus kepada target-target tertentu saja (segmentatif).</p>
<p style="text-align: left;">Anda mestinya memakai konsep pemasaran yang berbeda, saat menawarkan buku kepada masing-masing orang (lingkaran), bukan ?</p>
<p style="text-align: left;">Apakah sama cara anda menjual buku kepada teman dekat dengan orang yang baru saja anda kenal ?</p>
<p style="text-align: left;">Selain itu promosi yang anda bagikan di G+ hanya tampil pada laman <em>Home</em>.  Konten anda tidak akan muncul pada halaman profil siapapun yang ada di lingkaran anda.</p>
<p style="text-align: left;">Situasi ini berbeda dengan yang kita temui di facebook.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kira Google+ mengutamakan konsep menang-menang antara penjual dengan konsumen.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu bagaimana caranya mempromosikan buku kepada para pengguna G+?</p>
<p style="text-align: left;">Minggu lalu saya iseng-iseng menulis sebanyak 1.470 kata  pada kotak berbagi. Ternyata bisa.  Saya pikir itu ruang promosi yang mustahil anda temukan di facebook, apalagi witter.</p>
<p style="text-align: left;">Anda cukup membagikan sinopsis buku terbaru anda kedalam <em>aliran</em>. Deskripsikan secara lengkap termasuk testimoni orang-orang yang telah membacanya.</p>
<p style="text-align: left;">Anda bisa menulis huruf tebal dan miring guna memberi tekanan pada kata atau kalimat kunci.</p>
<p style="text-align: left;">Membuat jarak antar paragraf pun cukup dengan menekan enter pada keyboard. Hampir tidak ada bedanya jika anda posting di blog.</p>
<p style="text-align: left;">Jujur saya mengakui analisa diatas masih sangat prematur.</p>
<p style="text-align: left;">Umur <em>Google+</em> sendiri belum cukup sebulan. Belum ada jaminan sosok <em>G+</em> akan permanen seperti yang terlihat sekarang ini.</p>
<p style="text-align: left;">Konon pihak Google masih menyimpan sejumlah kejutan. Semoga saja kejutan itu demi kepuasan pengguna belaka.</p>
<p><strong>PS</strong> :</p>
<p><span style="text-align: left;">Anda sudah punya akun google+ ? Jangan lupa melingkari </span><strong style="text-align: left;"><a style="text-align: left;" href="https://plus.google.com/117596073634212689557/about" target="_blank">Rusdianto</a> :)</strong><span style="text-align: left;"> </span></p>
<p style="text-align: right;">copyright @2011 indonovel.com</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=N7nztauZPm4:BQedEPxlGsg:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/fiksiindonesia/~4/N7nztauZPm4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Sudah saatnya penulis fiksi meninggalkan facebook dan beralih ke Google+ !? Banyak penulis fiksi menggunakan social media untuk kepentingan personal branding, dan terutama untuk menjual produknya. Produk itu sering dijumpai berbentuk buku, ebook, atau berupa jasa seperti kursus menulis dan editing. Selama ini Facebook dan twitter menjadi pilihan utama untuk kedua kepentingan itu. Tapi pilihan [...]</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://indonovel.com/3-nilai-plus-google-bagi-penulis-fiksi/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">6</slash:comments><feedburner:origLink>http://indonovel.com/3-nilai-plus-google-bagi-penulis-fiksi/</feedburner:origLink></item><item><title>Cepat &amp; Praktis (5 Sumber Ide Menulis Flash Fiction)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/fiksiindonesia/~3/GTir_LEjQHc/</link><category>tips menulis flash fiction</category><category>100 kata</category><category>fiksi mini</category><category>flash fiction</category><category>tips menulis fiksi</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Editor in Chief</dc:creator><pubDate>Wed, 06 Jul 2011 09:05:26 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=827</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p style="text-align: left;">Dari mana-mana.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian jawaban yang kerap kita terima dari <em>penulis</em> senior untuk pertanyaan “ darimana <em>ide tulisan</em> datang ?”</p>
<p style="text-align: left;">Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh <em>Pallu Basa</em> terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’.</p>
<p style="text-align: left;">Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual <em>Pallu Basa</em> terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, 77 km<sup>2</sup>, bukan ? (sabar, saya akan memberikan alamat penjualnya diakhir postingan ini <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><em>Belum ketemu</em> <em>ide</em> lazim menjadi motif pertanyaan diatas.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kerap menjumpai pernyataan seperti itu. Termasuk dari diri saya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Pernyataan itu bermakna ganda. Kita tidak tahu tempat untuk menemukan ide atau, tahu tapi belum kesana ?</p>
<p style="text-align: left;">Masalah menjadi lebih rumit lagi bagi yang meyakini ide itu diciptakan, alih-alih ditemukan.</p>
<p style="text-align: left;">Ada waktu kita memerlukan sumber pasti untuk menemukan ide dengan cepat. Mereka yang getol ikut lomba menulis tentu paham urgensinya.</p>
<p style="text-align: left;">Atau dilain waktu, dorongan menulis demikian kuat namun kita bingung hendak menulis apa?</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimanapun, ide adalah modal dasar dari menulis (dan segala sesuatu).</p>
<p style="text-align: left;">Kita butuh ‘tempat-tempat’ pasti untuk didatangi saat membutuhkan ide. Tempat yang hampir selalu menyediakan ide buat kita. Tempat yang tidak pernah berkata ‘tidak ada’ untuk ide yang kita cari.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi dimana ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya tempat-tempat khusus semacam itu.</p>
<p style="text-align: left;">Saya telah menulis <em>flash fiction 100</em> kata sejak Maret 2010. Kadang-kadang ide tulisan hinggap begitu saja, seperti Newton kejatuhan buah apel. Kadang-kadang saya ‘menciptakannya’ lewat brainstorming.</p>
<p style="text-align: left;">Apel jatuh termasuk langka.</p>
<p style="text-align: left;">Brainstorming juga membutuhkan energi dan waktu lebih lama.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, disaat saya paceklik ide, saya punya tujuan pasti untuk didatangi.</p>
<p style="text-align: left;">Anda berminat ? Ini alamatnya:</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Kitab-Kitab Agama</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama (samawi atau bukan) menyediakan ide tak terbatas.</p>
<p style="text-align: left;">Keuntungannya, anda tak perlu bersusah payah mencari moral cerita -unsur yang mutlak hadir dalam sebuah cerita-,</p>
<p style="text-align: left;">Saya pikir kitab-kitab agama memang ditulis dalam rangka itu.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa cepat ?</p>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama banyak mengisahkan cerita yang lengkap.</p>
<p style="text-align: left;">Unsur-unsur pembangun cerita seperti <em>plot</em>, <em>karakter</em>, <em>konflik</em>, <em>setting</em> &amp; <em>resolusi</em> telah tersedia dalam kisah-kisah tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak menganjurkan anda menyalin penuh. Tapi anda hanya perlu sedikit waktu dan kreatifitas untuk memodifikasinya.</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ganti latar masa lalu dengan masa kini.</li>
<li>Ubah alur maju menjadi <em>flashback (dan sebaliknya)</em>.</li>
<li>Ubah sumber konflik. Misal sumber konflik adalah patung berhala, menggantinya dengan mobil, rumah atau harta benda yang berpotensi sama -untuk menjadi berhala-.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Penting diingat bahwa ada pakem yang mesti diindahkan bila kitab-kitab agama menjadi rujukan.</p>
<p style="text-align: left;">Agama sangat sensitif bagi -hampir- kita semua.</p>
<p style="text-align: left;">Sebaiknya berhati-hati menyebut nama karakter dan istilah-istilah resmi dalam institusi agama bersangkutan.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, naskah akhir anda tidak dalam rangka menafsirkan ulang moral cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam agama tertentu, moral kisah bersifat permanen. Yang kita lakukan hanya menyampaikan kembali moral kedalam bahasa yang lebih kini.</p>
<p style="text-align: left;">Perilaku ini mirip dengan praktik Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa melalui media kesenian lokal.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh <em>flash fiction</em> saya yang idenya bersumber dari kitab agama adalah <strong><em><a href="http://antojournal.com/2010/12/20/fiksi-mini-100-kata-iring-iringan-presiden/" target="_blank">Iring-iringan Presiden</a></em></strong>. Silahkan baca.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Folkfore dan Dongeng</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Metodenya sama persis dengan poin satu diatas. Anda hanya butuh usaha sedikit keras untuk menemukan sumber-sumber cerita yang orisinil.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak folkfore atau dongeng yang belum dipublikasikan secara tertulis.</p>
<p style="text-align: left;">Kakek nenek kita adalah rujukan terbaik. Anda cukup menangkap <strong>plot</strong> dan <strong>moral ceritanya</strong>, selebihnya akan diurus oleh kreatifitas alami anda sebagai penulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/2011/03/25/flash-fiction-gali-lubang-tutup-lubang/" target="_blank">Gali Lubang Tutup Lubang</a></strong> contoh <em>flash fiction</em> yang saya adaptasi dari folkfore.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Lirik Lagu</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Banyak lirik lagu dilatarbelakangi kisah utuh. Liriknya mengandung unsur-unsur pembangun cerita seperti karakter, setting, konflik dan resolusi.</p>
<p style="text-align: left;">Penekanannya, sekali lagi adalah kehadiran moral cerita. Lirik lagu yang tidak mengandung pesan yang kuat tidak termasuk dalam kategori ini.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh; <em>Living on the jet plane</em> punya Jhon Denver; <em>Last Kiss</em> dari Pearl Jam; dan tentu saja <em><strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/20/message-in-a-bottle-fiksi-mini-100-kata/" target="_blank">Message In The Bottle </a></strong></em>karya musisi favorit saya, Sting. Saya menulis satu <em>flash fiction</em> dengan judul yang sama dengan lagu itu. Silahkan cermati.</p>
<h2><strong>4. </strong><strong>Fiksi Lama</strong></h2>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Setiap tulisan hanya menceritakan tulisan sebelumnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kutipan diatas ada benarnya. Tapi mereka yang gegabah mengartikannya secara harfiah punya istilah yang lebih tepat, yaitu plagiat (<em>DodolPreeetDodolPreeet !</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Mereproduksi karya lama punya kelebihan tersendiri. Apalagi karya legendaris.</p>
<p style="text-align: left;">Selain numpang ngetop, penulis tidak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan latar belakang cerita. Pembaca telah punya bayangan atas cerita dimaksud  Hal ini tentu saja menguntungkan bagi penulis flash fiction yang dibatasi oleh kuota maksimal <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Disini anda hanya perlu memodifikasi. Bahkan penafsiran ulang atas cerita itu sah-sah saja.</p>
<p style="text-align: left;">‘Manipulasi’ pengetahuan pembaca atas cerita bersangkutan dengan cara; Memutarbalikkan plot, mereposisi karakter (antagonis menjadi protagonis) dan atau merevisi ending cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya contoh <em>flash fiction</em> untuk kasus ini. silahkan anda membaca <strong><a href="http://antojournal.com/2011/03/30/flash-fiction-gadis-penjual-korek-api/" target="_blank">Gadis Penjual Korek Api</a></strong> dan <strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/29/flash-fiction-dijual-sepatu-bayi-belum-pernah-dipakai/" target="_blank">For Sale; Baby shoes. Never worn</a></strong>.</p>
<h2><strong>5. </strong><strong>Humor Warung Kopi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Saya punya kebiasaan berkumpul dengan teman-teman diwarung kopi saat senja.</p>
<p style="text-align: left;">Lelucon &amp; anekdot dari obrolan warung kopi banyak menyuplai gagasan untuk flash fiction saya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kasus anda, warung kopi boleh berganti kafe, kampus, klub, pos ronda atau rumah tetangga.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap orang mestinya punya pengalaman lucu. Kita perlu <strong><em>prihatin</em></strong> dengan siapa saja yang menjalani hidupnya terlalu serius – <em>bandingkan Gus Dur dengan presiden yang sekarang</em>&#8211;.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kira jarang ada teman anda yang tidak punya simpanan cerita lucu dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align: left;">Anda hanya perlu menggalinya dengan memancing pembicaraan. Mereka dengan senang hati akan membagikannya kepada anda.</p>
<p style="text-align: left;">Kapan waktu anda boleh heran mengetahui, betapa manusia sangat bahagia saat menertawakan dirinya sendiri ?</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menggemari<a href="http://indonovel.com/11-seri-tips-menulis-flash-fiction-100-kata-lengkap" target="_blank"> <em>flash fiction</em> </a>bertema humor. Namun saya membatasi humor berdasarkan pengalaman pribadi si penutur saja. Humor-humor kutipan, populer dan klise, tidak termasuk dalam kasus ini.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/19/fiksi-mini-100-kata-bayar-dobel/" target="_blank">Bayar Dobel</a></strong> satu dari banyak <em>flash fiction</em> saya yang bersumber dari humor warung kopi. Silahkan disimak.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengatakan 5 sumber diatas <strong><em>cara cepat &amp; praktis menemukan ide menulis flash fiction</em></strong>, oleh sebab segala unsur pembangun cerita umumnya telah disediakan oleh sumber dimaksud, yaitu; <em>plot</em>, <em>karakter</em>,<em> setting</em>, <em>konflik</em> dan <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Boleh dikata kita hanya perlu menuliskannya kembali.</p>
<p style="text-align: left;">Oh, yah. Apakah anda masih penasaran dengan <em>Pallu Basa</em> paling enak di Kota Makassar ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya merekomendasikan warung <em>Pallu Basa</em> yang berlokasi di sudut Jl. Onta – Jl. Veteran Utara.</p>
<p style="text-align: left;">Anda tahu, lidah tak pernah bohong.</p>
<p style="text-align: right;">copyright @2011 indonovel.com</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=GTir_LEjQHc:YLEMPvsWDnM:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/fiksiindonesia/~4/GTir_LEjQHc" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Dari mana-mana. Demikian jawaban yang kerap kita terima dari penulis senior untuk pertanyaan “ darimana ide tulisan datang ?” Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh Pallu Basa terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’. Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual Pallu Basa terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, [...]</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">8</slash:comments><feedburner:origLink>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/</feedburner:origLink></item><item><title>Blog Bukan Koran  (5 Kiat Mengemas Fiksi Online)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/fiksiindonesia/~3/3giWfGjQXyA/</link><category>penerbitan</category><category>tips menulis cerpen</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Editor in Chief</dc:creator><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 12:27:28 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=795</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p style="text-align: left;">Cara  anda mengemas <strong><em>cerpen</em></strong> untuk blog mestilah berbeda dengan cara koran mempublikasikannya.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa ?</p>
<p style="text-align: left;">Karena karakteristik pembaca kedua media itu banyak berbeda.</p>
<p>Penggemar fiksi akan membaca cerpen anda pada harian Kompas Minggu dengan –antara lain-alasan;</p>
<p><em>pertama,</em> Jaminan mutu (lazimnya). <em>Cerpen</em> itu merupakan hasil seleksi dari ratusan naskah yang dikirim dari seluruh Indonesia pada minggu bersangkutan.</p>
<p><em>Kedua</em>, hanya ada satu cerpen. <em>Ketiga</em>, Membaca media cetak membutuhkan perhatian penuh. Jarang ditemui orang membaca lebih dari satu judul koran pada saat bersamaan.</p>
<p style="text-align: left;">Situasi berbeda terlihat pada cerpen di media online. Internet memanjakan pembaca dengan beragam pilihan.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap hari ribuan karya <em>fiksi</em> terbit melalui blog, situs pewarta warga, atau social media.</p>
<p style="text-align: left;">Hanya dengan menekan mouse, pembaca bisa membuka jendela tab baru tanpa menggerakkan kepala.</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita asumsikan kita bukan penulis populer dan belum punya pembaca setia. Bagaimana kita bisa menonjol diantara ribuan karya fiksi tersebut ?</p>
<h2><strong>Kenali karakteristik Pembaca Fiksi Online</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Pembaca yang sama di media cetak akan berbeda perilakunya dihadapan media online. Polah itulah yang penting kita kenali.</p>
<p style="text-align: left;">Suka tidak suka, penulis fiksi perlu beradaptasi dengan karakteristik pengguna internet. Penulis fiksi tak perlu malu meniru cara penayangan artikel non fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja tanpa mengorbankan cita rasa dan mengubah seni bahasa menjadi karya jurnalistik.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway dan para pengikut <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway" target="_self">teori gunung es</a>-nya mungkin tidak akan kesulitan berdaptasi dengan internet.</p>
<p style="text-align: left;">Gaya penulisan Hemingway yang sederhana, lugas, kalimat pendek, dan paragraf pendek dianggap paling mendekati selera pengguna media online.</p>
<p style="text-align: left;">Namun bagaimana dengan yang bukan ?</p>
<p style="text-align: left;">Anda hanya perlu sedikit sentuhan dalam pengemasannya.</p>
<h2><strong>5 Kiat Mengemas Cerpen Untuk Media Online</strong></h2>
<h3><strong> </strong><span><strong>Judul ; Camkan Aturan 80/20</strong></span></h3>
<p>Dunia publikasi mengenal aturan 80/20. Rata-rata 8 dari 10 orang akan membaca judul, tetapi hanya 2 dari 10 yang akan terus membaca isi.</p>
<p style="text-align: left;">Judul adalah ‘janji’. Pembaca mengharapkan judul sebagai ‘kunci’ untuk mereka-reka isi cerita.  Semakin anda berjanji, semakin pembaca penasaran untuk menebak isi cerita, semakin besar peluang mereka meneruskan.</p>
<p style="text-align: left;">Ini hanya permainan ‘menggoda pasangan’. Seperti gadis di pesta topeng yang menampilkan mata namun menutupi seluruh wajah.</p>
<p style="text-align: left;">Penelitian menunjukkan bahwa judul yang kuat terdiri dari 8 kata atau kurang.</p>
<p style="text-align: left;">Selain itu, pemakaian <strong>kata benda</strong> sebagai judul juga cenderung lebih menarik perhatian. Pada dasarnya manusia suka hal yang kongkrit ketimbang abstrak, bukan ? Tak ada salahnya anda mencoba anjuran ini.</p>
<p style="text-align: left;">Coba simak cerpen <em>Charles</em> karya Shirley Jackson, atau <strong><span style="color: #3366ff;"><a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway" target="_blank"><span style="color: #0000ff;"><em>Kucing Kehujanan</em> karya Ernest Hemingway</span></a></span></strong>. Keberadaan si <em>Charles</em> dan <em>kucing</em> dalam judul itu punya daya tarik yang kuat. Lalu bandingkan dengan –misalnya- judul; <em>Sepi Mengoyak Rindu.</em></p>
<h3><em> </em><strong><strong>Paragraf Pertama Cukup 2 &#8211; 4 Baris</strong></strong></h3>
<p style="text-align: left;">Jangan terburu-buru menyesaki pembaca dengan paragraf pembuka yang panjang, atau mereka akan pergi.</p>
<p style="text-align: left;">Umumnya netizen membaca paragraf pertama masih dalam rangka mengambil keputusan, terus membaca atau berhenti. Mereka ingin menentukan keputusan dengan segera, tanpa membuang waktu.</p>
<p style="text-align: left;">Paragraf pendek adalah jawabannya.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis senior menasehatkan untuk mengetengahkan konflik dan atau menghadirkan salah seorang karakter pada pembuka. Nasehat itu terbukti manjur. Cobalah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Aku menjauh dari trotoar, berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah tengadah, lalu dari tengah jalan, seraya mengatupkan kedua tangan agar membentuk corong di sekitar mulut, aku berteriak sekeras-kerasnya: “Teresa!” (paragraf pertama cerpen Teresa oleh Italo Calvino)</p>
</blockquote>
<h3><strong><strong>Panjang Berkisar 100 – 1.000 Kata</strong></strong></h3>
<p style="text-align: left;"><em>Cerpen</em> lazim ditemui di Indonesia dalam kisaran 1.000 – 2.100 kata (6-8 halaman kwarto, spasi ganda). Itu persyaratan standar dari editor koran hari minggu.</p>
<p style="text-align: left;">Jumlah itu dianggap cukup memenuhi definisi klasik dari cerpen, yakni; <em>Cerita pendek harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk</em> (Edgar Allan Poe, 1846).</p>
<p style="text-align: left;">Boleh jadi definisi ini erat kaitannya dengan kebiasaan membaca koran sambil duduk diatas kloset.</p>
<p style="text-align: left;">Namun saya sendiri sangsi bisa menahan mata pembaca di hadapan PC atau notebbok untuk menatap lebih dari 1.000 kata..</p>
<p style="text-align: left;">Terlepas dari kepiawaian anda menulis alur cerita, menggerakkan cursor terus menerus bergulir kebawah cukup menggangu konsentrasi.</p>
<p style="text-align: left;">Kriteria cerpen yang bagus tidak mensyaratkan panjang pendeknya tulisan ?</p>
<h3><strong>Memberi Jeda</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Biarkan pembaca menarik nafas. Tips ini bagus untuk cerpen dalam kisaran 1.000 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Potong cerita dengan gambar atau ilustrasi yang relevan dengan isi cerpen.</p>
<p style="text-align: left;">Paragraf yang pendek dan pemakaian format rata kiri akan memperbanyak ruang putih dalam tubuh tulisan. Tampilan ini cenderung menyegarkan mata.</p>
<h3><strong>Menghapus Iklan dan Link</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Cerpen sejatinya bukan konten pemasaran. Hindari menempatkan iklan (teks atau banner) dalam tubuh postingan. Meski website/blog anda bertujuan komersil. Iklan hanya akan memecah perhatian dan menggangu kenyamanan.</p>
<p style="text-align: left;">Orang membaca cerpen untuk rekreasi dan bukan untuk membeli produk . Lagipula, kecil peluang mengharapkan pembaca cerpen mengklik iklan –misalnya- shampo, bukan ?</p>
<p style="text-align: left;">Hal yang sama berlaku untuk penyisipan link ke halaman yang tidak relevan.</p>
<p style="text-align: left;">Ada kawan yang mengatakan; Cerpen adalah seni. Cerpen jangan disamakan dengan artikel non fiksi, apalagi patuh pada aturan-aturan publikasi yang mengekang.</p>
<p style="text-align: left;">Lima tips diatas bukan kekangan. Bagaimanapun, kesemuanya berawal dari kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak punya tendensi mengintervensi anda. Cerpen adalah seni kata-kata dan setiap cerpenis punya gaya tersendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Tetaplah pada gaya <strong><em>menulis fiksi</em></strong> anda sembari beradaptasi dengan karakteristik pembaca media tempat anda mempublikasikan cerpen.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, tidak ada konvensi dalam <em>fiksi</em>. Aturan pertama untuk menarik perhatian pembaca adalah dengan menulis cerita yang bagus. Aturan itu masih tetap berlaku.</p>
<p style="text-align: left;">Tips ini mustahil serta merta mengubah <em>cerpen </em>buruk menjadi bagus.</p>
<p style="text-align: left;">Lima tips diatas hanya berfungsi menjaga perhatian dan membantu pembaca tetap merasa nyaman sampai akhir cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Anda punya pengalaman berbeda ? Saya harap anda bersedia membagikannya pada kolom komentar dibawah ini.</p>
<p style="text-align: right;">copyright @indonovel.com</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=3giWfGjQXyA:QDFWP-VdgOM:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/fiksiindonesia/~4/3giWfGjQXyA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Cara  anda mengemas cerpen untuk blog mestilah berbeda dengan cara koran mempublikasikannya. Mengapa ? Karena karakteristik pembaca kedua media itu banyak berbeda. Penggemar fiksi akan membaca cerpen anda pada harian Kompas Minggu dengan –antara lain-alasan; pertama, Jaminan mutu (lazimnya). Cerpen itu merupakan hasil seleksi dari ratusan naskah yang dikirim dari seluruh Indonesia pada minggu bersangkutan. [...]</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://indonovel.com/5-kiat-mengemas-cerpen-untuk-media-online/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">16</slash:comments><feedburner:origLink>http://indonovel.com/5-kiat-mengemas-cerpen-untuk-media-online/</feedburner:origLink></item><item><title>Fiksi Kini; Online atau Mati!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/fiksiindonesia/~3/lE47IOlviCw/</link><category>penerbitan</category><category>fiksi online</category><category>lanskap fiksi indonesia</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Editor in Chief</dc:creator><pubDate>Fri, 17 Jun 2011 17:00:44 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=754</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p style="text-align: left;">Kehadiran internet telah mengubah lanskap dunia <em>fiksi</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Diakui atau tidak, media online kini lebih banyak merepresentasikan wajah dunia fiksi.</p>
<p>Tingkat ketergantungan para pelaku dunia fiksi terhadap media online, pun tampaknya semakin tinggi.</p>
<p style="text-align: left;">Saya memprediksi media online akan lebih banyak menentukan masa depan dunia <em>fiksi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Pelaku dunia fiksi yang kini masih ‘menolak’ beradaptasi dengan internet hanya punya 2 pilihan; <em>Online atau mati!</em></p>
<h2><strong>Selamat Datang di Era Fiksi Online</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Pada awalnya media online hanya menjadi media publikasi alternatif. Baik bagi penulis senior, terkhusus penulis pemula.</p>
<p style="text-align: left;">Media online hadir menjawab ketidakmampuan media cetak mewadahi luapan minat publik <strong><em>menulis fiksi</em></strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Seiring waktu, media online ternyata membawa perubahan besar-besaran dalam dunia menulis fiksi. Perubahan positif, tentu saja.</p>
<p style="text-align: left;">Sekarang kita bisa menyaksikan munculnya beragam aktifitas pelaku dunia fiksi yang dulu mustahil terjadi di era media tradisional.</p>
<p style="text-align: left;">Perubahan-perubahan itu  bahkan ada yang telah mengubah beberapa aturan main yang berlaku selama ini.</p>
<p style="text-align: left;">Siapkah anda menghadapi perubahan itu ?</p>
<p style="text-align: left;">Berikut daftar 5 perubahan yang sempat saya inventarisir. Semoga bermanfaat bagi anda, khususnya yang berkecimpung di dunia fiksi :</p>
<h3><strong>1. </strong><strong>Menerbitkan buku fiksi cukup dari rumah</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Publik sebelumnya sudah familiar dengan <em>self publishing</em>. Sebuah proses penerbitan dimana penulis sekaligus –kadang- merangkap sebagai editor, pemodal, penerbit, pencetak, distributor dan penjual dari bukunya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Internet kemudian datang menawarkan fitur yang lebih mudah dan murah. <em>Online self publishing</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Online self publsiing</em> (OSP) adalah fasilitas online yang ditawarkan oleh situs tertentu kepada penulis yang hendak menerbitkan bukunya secara independen.</p>
<p style="text-align: left;">Segala proses penerbitan berbasis online, dari awal sampai akhir. Penulis cukup mengunggah naskahnya pada template yang telah disediakan.</p>
<p style="text-align: left;">Situs bersangkutan kemudian mencetaknya hanya bila ada pembeli (print on demand), meski itu cuma 1 eksemplar saja.</p>
<p style="text-align: left;">Ada banyak situs penyedia jasa OSP. Yang populer untuk tingkat global adalah <strong>lulu.com</strong> besutan Bob Young yang eksis sejak tahun 2002.</p>
<p style="text-align: left;">Bersyukurlah kita karena Oktober 2010 kemarin telah hadir layanan serupa di Indonesia bernama <strong><a href="http://indonovel.com/7-keunggulan-online-self-publishing-sistem-print-on-demand-2" target="_blank">nulisbuku.com</a></strong> yang dimotori oleh <strong><a href="http://indonovel.com/aulia-halimatussadiah-a-writerpreneur" target="_blank">Aulia Halimatussadiah</a></strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Akankah penerbit mainstream ramai-ramai beralih ke model OSP? kita tunggu saja.</p>
<h3><strong>2. </strong><strong>Media online menghidupkan kategori fiksi mini</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Media cetak (koran dan majalah) di masa lalu enggan menyediakan kolom untuk <em>fiksi mini</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Koran hanya memuat fiksi pendek, misalnya <em>cerpen </em>dalam kisaran 1.000 kata. Paling banter cerita mini (cermin) dalam kisaran 500 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Media online datang dan mengubah aturan main  Segala jenis kategori fiksi diwadahi.</p>
<p style="text-align: left;">Sekarang ini portofolio bacaan fiksi telah diperkaya dengan hadirnya kategori fiksi mini. Berkat media online, semakin sedikit pembaca yang belum tahu apa itu fiksi mini 100 kata (<strong><em><a href="http://antojournal.com" target="_blank">flash fiction</a></em></strong>) dan fiksi mini 140 karakter (<strong><a href="http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction" target="_blank">tweetfiction</a></strong>) yang populer melalui twitter.</p>
<h3><strong>3. </strong><strong>Kritik fiksi menjadi keniscayaan</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Media online memungkinkan pembaca untuk menilai karya dan berdiskusi lansung dengan penulisnya.  Kemewahan yang mustahil diberikan oleh media cetak.</p>
<p style="text-align: left;">Media online, misalnya blog, menyediakan kolom komentar dibawah konten bagi pembaca untuk memberikan tanggapan secara real time.</p>
<p style="text-align: left;">Proses umpan balik tersebut, disisi lain berdampak positif bagi peningkatan mutu tulisan si penulis.</p>
<h3><strong>4. </strong><strong>Fiksi sebagai industri mulai tumbuh</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Industri terkait dunia tulis menulis sekarang tidak lagi melulu penerbitan.</p>
<p style="text-align: left;">Media online berperan besar dalam menggairahkan kembali kinerja unit-unit jasa pendukung, seperti agen naskah, editor, ghost writer, desainer sampul dan isi, konsultan pemasaran, serta situs-situs penyedia layanan promosi.</p>
<p style="text-align: left;">Internet memberikan kemudahan mengingat segala proses transaksi jasa itu berbasis online.</p>
<p style="text-align: left;">Salah satu industri yang cukup menggeliat belakangan ini adalah jasa kursus menulis online. Baik yang kelas reguler maupun bersifat privat (les).</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, pemicunya adalah faktor kemudahan proses belajar mengajar yang berlansung secara online.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya  seseorang yang berdomisili di Makassar bisa belajar pada penulis senior di Jakarta tanpa perlu meninggalkan rumah..</p>
<h3><strong>5. </strong><strong>Konstelasi pasar buku fiksi berubah</strong></h3>
<p><span style="text-align: left;">Media online memperkukuh posisi pembeli buku sebagai raja. Pembaca cenderung merujuk media online sebelum mengambil keputusan jadi membeli buku atau tidak. </span></p>
<p><span style="text-align: left;">Pembaca mulai terbiasa mencari resensi, ulasan komprehensif, mengenai </span><em style="text-align: left;">novel</em><span style="text-align: left;"> atau </span><em style="text-align: left;">kumcer</em><span style="text-align: left;"> terbitan terbaru sebelum berjalan ke toko buku. </span></p>
<p><span style="text-align: left;">Testimoni dan sinopsis cerita di sampul belakang dianggap sudah tidak memadai lagi.  </span></p>
<p><span style="text-align: left;">Saat ini ada banyak situs-situs komunitas pembaca buku fiksi di dunia maya. Dari komunitas-komunitas itulah, pembaca bisa memperoleh rekomendasi dan informasi seputar </span><em style="text-align: left;">novel </em><span style="text-align: left;">atau </span><em style="text-align: left;">kumcer </em><span style="text-align: left;">terbaru dan berkualitas.</span></p>
<p><span style="text-align: left;">Buku indie, penerbit kecil dan penerbit bermodal besar, punya peluang yang sama menembus pangsa pasar. </span></p>
<p><span style="text-align: left;">Media online mengubah aturan main pemasaran buku dengan menggratiskan biaya promosi.  </span><em style="text-align: left;">Social media </em><span style="text-align: left;">(facebook &amp; twitter) terbukti ampuh sebagai alat pemasaran. </span></p>
<p><span style="text-align: left;">Melalui media sosial, penulis bisa lansung menyapa calon pembeli dengan pendekatan yang lebih personal dan tersegmentasi. </span></p>
<p><span style="text-align: left;">Mengandalkan –semata-mata- modal besar dalam promosi tidak lagi siginifikan pengaruhnya di era internet.</span></p>
<p style="text-align: left;">Hasil pengamatan saya diatas boleh jadi sangat subjektif.</p>
<p style="text-align: left;">Saya harap itu bisa jadi awal untuk kita memulai diskusi pada kolom komentar dibawah ini.</p>
<p style="text-align: left;">Atau anda berniat menambahkan ?</p>
<p style="text-align: right;">copyright @2011 indonovel.com</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=lE47IOlviCw:2yVvVLRFCA8:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/fiksiindonesia/~4/lE47IOlviCw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Kehadiran internet telah mengubah lanskap dunia fiksi. &amp;#160; Diakui atau tidak, media online kini lebih banyak merepresentasikan wajah dunia fiksi. Tingkat ketergantungan para pelaku dunia fiksi terhadap media online, pun tampaknya semakin tinggi. Saya memprediksi media online akan lebih banyak menentukan masa depan dunia fiksi. Pelaku dunia fiksi yang kini masih ‘menolak’ beradaptasi dengan internet [...]</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://indonovel.com/fiksi-online-indonesia/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">4</slash:comments><feedburner:origLink>http://indonovel.com/fiksi-online-indonesia/</feedburner:origLink></item><item><title>3 Tips Menulis Fiksi Pendek (Rahasia Dibalik Nobel Hemingway)</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/fiksiindonesia/~3/wCEuQT13KmY/</link><category>cara menulis cerpen</category><category>hemingway</category><category>tips menulis fiksi</category><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Editor in Chief</dc:creator><pubDate>Wed, 15 Jun 2011 14:00:35 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=736</guid><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[<p style="text-align: left;">Hanya satu manusia dimuka bumi yang memperoleh nobel sastra setiap tahunnya.</p>
<p style="text-align: left;">Pada tahun 1954, manusia itu bernama <em>Ernest Miller Hemingway</em> (1899-1961).</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway adalah peletak standar <em>fiksi</em> Amerika.  Dia sukses meninggalkan pengaruh luar biasa bagi fiksi dunia. Erza Pound bahkan menjulukinya sebagai ‘Penulis prosa dengan gaya terbaik di dunia’.</p>
<p style="text-align: left;">Apa rahasia dibalik pencapaian sukses Hemingway ?</p>
<p style="text-align: left;">Jawabnya, kesederhanaan !</p>
<h2><strong><strong>Menulis Sederhana</strong></strong></h2>
<p style="text-align: left;">Sederhana itu jenius. Lihatlah produk-produk teknologi penemuan manusia. Semuanya diciptakan untuk menyederhanakan persoalan dan mengeluarkan manusia dari kerumitan hidup.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu apa sebutan bagi para penemu itu ?</p>
<p style="text-align: left;">Jenius, tentu saja. Hal yang sama berlaku bagi produk kerajinan kata-kata.</p>
<p style="text-align: left;">Sekarang ini termasuk langka menemukan kesederhanaan dalam <em>fiksi pendek</em> di tanah air.</p>
<p style="text-align: left;">Karya baru dan penulis baru boleh lahir tiap hari. Namun lagi-lagi menyuguhi pembaca dengan <em>cerpen</em> penuh ornamen dan kalimat berbunga-bunga (salah satunya adalah saya).</p>
<p style="text-align: left;">Kita tahu <em>cerpen</em> bukan puisi, tapi kalimat puitis kerap tampil di sekujur tulisan.  Cerpen sejatinya prosa naratif fiktif. Kata prosa sendiri berakar dari bahasa latin ‘<em>prosa</em>’, yang artinya ‘<em>terus terang’</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menemukan banyak karya berfokus pada keindahan kalimat. Alih-alih pada cerita dan pada pesan yang hendak disampaikan.</p>
<p style="text-align: left;">Kalimat yang seyogyanya hanya media bercerita berbalik memegang kendali. Parade pilihan kata (diksi) merajai tulisan, meski bukan itu tujuan utama <em>menulis cerpen</em>. Kalimat melupakan tugasnya sebagai penyampai pesan. Pesan yang seharusnya jelas ke tangan pembaca pun berubah rumit dan bias.</p>
<h2><strong><strong>Tiga Rahasia Menulis Fiksi Hemingway</strong></strong></h2>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Ernest<em> &#8216;Papa&#8217; </em>Hemingway sedari awal melawan ‘gaya rumit’ penulis abad ke-19. <em>Papa</em> berfokus pada cerita (pesan yang ingin disampaikan) dan menghindari kebingungan pembaca.</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Kalimat yang tidak berkontribusi penting dianggap ‘kotoran’. Harus dibuang.</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;"><em>Papa</em> memilih kata lugas yang lansung menuju ke titik sasaran. Anda masih ingat dengan <strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/29/flash-fiction-dijual-sepatu-bayi-belum-pernah-dipakai/" target="_blank">novel 6 kata</a></strong> : <em>For Sale; babys shoes. Never worn.</em></div>
<p style="text-align: left;">Lalu bagaimana cara Hemingway menyederhanakan tulisan ?</p>
<h3><strong>1. </strong><strong>Kalimat Singkat</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Penulis yang baik berusaha memudahkan pembaca menangkap pesan cerita. Untuk itu <em>Hemingway</em> menyarankan memakai kalimat-kalimat pendek. Kalimat panjang berarti anda memakai tanda koma terlalu banyak.</p>
<p style="text-align: left;">Kalimat pendek rata-rata berjumlah 10 kata atau kurang  Pangkas kata sifat dan kata keterangan yang tidak ekonomis. Biasakan memilih kata ‘dan’ ketimbang tanda ‘koma’.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh sederhana kalimat pendek umumnya berpola S-P-O.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa kalimat pendek ?</p>
<p style="text-align: left;">Otak manusia punya keterbatasan dalam mencerna kalimat panjang dan lebih mudah menyerap informasi dalam bentuk kalimat pendek.</p>
<p style="text-align: left;">Kalimat majemuk menunjukkan kesulitan penulis merumuskan gagasannya.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca tidak peduli seberapa kaya kosa kata anda. Pembaca akan berhenti bila merasa tidak bisa terhubung dengan <em>cerpen</em> anda.</p>
<h3><strong>2. </strong><strong>Paragraf Pendek</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Idealnya tiap paragraf hanya berisi satu ide pokok. Cara ini membantu pembaca mencerna informasi.</p>
<p style="text-align: left;">Otak manusia menerima informasi yang lebih baik ketika itu dipecah menjadi potongan kecil.</p>
<p style="text-align: left;">Paragraf pendek tercipta dengan sendirinya bila kita menulis dengan jelas dan mudah dimengerti.</p>
<p style="text-align: left;">Paragraf panjang tercipta bila penulis tergoda untuk menunjukkan kepada pembaca, betapa luas pengetahuan yang dimilikinya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em>-fiksi <em>Papa</em> terlihat memotong dengan cepat dari satu adegan ke adegan yang lain (sinematik). Ini membuat deskripsi dan narasi minim jatah dalam karya <em>fiksi Hemingway</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Papa</em> menghindar memberitahu segala hal yang dia tahu kepada pembaca. <em>Papa</em> memberi tahu kurang dari yang sebenarnya dia tahu. Secara khusus, <em>Papa</em> menggambarkan teknik ini dalam teori ‘gunung es’;</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><em>1/8 fakta-fakta keras melayang di atas air. Sementara 7/8 bagian cerita berupa struktur pendukung, lengkap dengan simbolisme, berada jauh di kedalaman.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;"><em>Papa</em> pada dasarnya menceritakan apa yang tokoh-tokohnya lakukan (adegan) dan katakan (dialog). Bukan apa yang mereka pikir dan rasakan.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan kata lain, <em>Papa</em> memberitahu pembaca tanpa benar-benar <em>memberi tahu</em> mereka  Show don’t tell!</p>
<h3><strong>3. </strong><strong>Kalimat Positif</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Kalimat positif mudah dicerna. Pada dasarnya itu adalah cara mengatakan tentang sesuatu secara lansung daripada memilih mengatakannya dengan cara berlawanan. Contohnya :</p>
<p style="text-align: left;">Kalimat positif : Pedagang K5 <strong>menolak</strong> rencana penggusuran.</p>
<p style="text-align: left;">Kalimat negatif : Pedagang K5 <strong>tidak menerima</strong> rencana penggusuran.</p>
<p style="text-align: left;">Kalimat positif terasa lebih ringan dan memudahkan pembaca memahami ide-ide yang direpresentasikan.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway" target="_blank">Teknik menulis Hemingway</a></strong> bukan konvensi dalam dunia <strong>fiksi</strong>. Sebagai varian seni (bahasa), penilaian atas karya <em>fiksi</em> semata soal selera.</p>
<p style="text-align: left;">Jadi, pelajari tekniknya dan sesuaikan dengan ‘suara’ anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut anda ?</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:-BTjWOF_DHI"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:-BTjWOF_DHI" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?a=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:gIN9vFwOqvQ"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/fiksiindonesia?i=wCEuQT13KmY:LskrJX56HO4:gIN9vFwOqvQ" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/fiksiindonesia/~4/wCEuQT13KmY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded><description>Hanya satu manusia dimuka bumi yang memperoleh nobel sastra setiap tahunnya. Pada tahun 1954, manusia itu bernama Ernest Miller Hemingway (1899-1961). Hemingway adalah peletak standar fiksi Amerika.  Dia sukses meninggalkan pengaruh luar biasa bagi fiksi dunia. Erza Pound bahkan menjulukinya sebagai ‘Penulis prosa dengan gaya terbaik di dunia’. Apa rahasia dibalik pencapaian sukses Hemingway ? Jawabnya, [...]</description><wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/feed/</wfw:commentRss><slash:comments xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/">14</slash:comments><feedburner:origLink>http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/</feedburner:origLink></item></channel></rss>

