<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573</id><updated>2026-03-14T08:43:30.042-07:00</updated><category term="Sekolahku"/><category term="tip komputer"/><title type='text'>firmansopian</title><subtitle type='html'>mencoba sedikit berbagi &amp;amp; berarti ( &amp;#39; - &amp;#39; )</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-8831177809971169848</id><published>2010-05-30T02:57:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T19:08:05.266-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Pengertian Silogisme</title><content type='html'>SILOGISME&lt;br /&gt;A. Pengertian silogisme&lt;br /&gt;Silogisme adalah suatu pengambilan kesimpulan, dari dua macam keputusan (yang mengandung unsur yang sama, dan salah satunya harus universal) suatu keputusan yang ketiga, yang kebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya.&lt;br /&gt;Contoh: Semua manusia pasti akan meninggal&lt;br /&gt;Tono adalah manusia&lt;br /&gt;Jadi : Tono pasti akan meninggal&lt;br /&gt;Putusan-putusan yang menjadi sumber putusan terakhir disebut premisse. Priemisse&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;yang wilayahnya umum disebut premisse mayor, sedangkan yang wilayahnya tidak/kurang umum disebut presmisse minor. Adapun putusan yang ditarik dari premisse ini desebut konklusi atau kesimpulan. Kedua premisse itu sering disebut juga antesedens. Sedangkan konklusi lalu dinamai konsekwens.&lt;br /&gt;B. Hukum-hukum silogisme&lt;br /&gt;Supaya silogisme dapat merupakan jalan pikiran yang baik ada beberapa hukum dalam silogisme. Hukum tersebtu bukanlah buatan para ahli-pikir, tapi hanya dirumuskan oleh para ahli itu. Di bawah ini hukum-hukum yang menyangkut term-term antara lain :&lt;br /&gt;1. Hukum pertama. Silogisme tidak boleh lebih atau kurang dari tiga term. Kurang dari tiga term berarti bukan silogisme. Jika sekiranya ada empat term, apakah yang akan menjadi pokok perbandingan, tidak mungkinlah orang membandingkan dua hal denga dua hal pula, dan lenyaplah dasar perbandingan.&lt;br /&gt;2. Hukum kedua. Term antara atau tengah (medium) tidak boleh masuk (terdapat) dalam kesimpulan. Term medium hanya dimaksudkan untuk mengadakan perbandingan dengan term-term. Perbadingan ini terjadi dalam premis-premis. Karena itu term medium hanya berguna dalam premis-premis saja.&lt;br /&gt;3. Hukum ketiga. Wilayah term dalam konklusi tidak boleh lebih luas dari wilayah term itu dalam premis. Hukum ini merupakan peringatan, supaya dalam konklusi orang tidak melebih-lebihkan wilayah yang telah diajukan dalam premis. Sering dalam praktek orang tahu juga, bahwa konklusi tidak benar, oleh karena tidak logis (tidak menurut aturan logika), tetapi tidak selalu mudah menunjuk, apa salahnya itu.&lt;br /&gt;4. Term antara (medium) harus sekurang-kurangnya satu kali universal. Jika term antara paticular, baik dalam premis mayor maupun dalam premis minor, mungkin saja term antara itu menunjukkan bagian-bagian yang berlainan dari seluruh luasnya. Kalau demikian term antara, tidak lagi berfungsi sebagai term antara, dan tidak lagi menghubungkan atau memisahkan subyek dengan predikat.&lt;br /&gt;Contoh : Beberapa pengusaha pembohong&lt;br /&gt;Amir adalah pengusaha&lt;br /&gt;Amir adalah pembohong.&lt;br /&gt;Sedangkan hukum-hukum yang menyangkut premis-premis (keputusan-keputusan) antara lain :&lt;br /&gt;a. Jika kedua premis (mayor dan minor) positif, maka kesimpulannya harus positif juga.&lt;br /&gt;b. Kedua premis tidak boleh negatif, sebab term antara (medium) tidak lagi berfungsi sebagai penghubung atau pemisah subyek dengan predikat. Dalam silogisme sekurang-kurangnya subyek atau predikat harus dipersamakan oleh term antara (medium)&lt;br /&gt;Contoh : Batu adalah bukan binatang&lt;br /&gt;Anjing adalah bukan batu&lt;br /&gt;Anjing adalah bukan binatang.&lt;br /&gt;c. Kedua premis tidak boleh particular. Sekurang-kurangnya satu premis harus universal. Kalau tidak, berarti melanggar hukum c, d bagian hukum-hukum term.&lt;br /&gt;Contoh : Ada orang kaya tidak tentram hatinya&lt;br /&gt;Ada orang jujur bukan orang kaya&lt;br /&gt;Orang jujur tidak tentram hatinya.&lt;br /&gt;d. Kesimpulan harus sesuai dengan premis yang paling lemah. Keputusan particular adalah keputusan yang lemah dibandingkan dengan keputusan universal. Keputusan negatif adalah keputusan yang lemah dibandingkan dengan keputusan positif karena itu jika ada satu premis particular, maka kesimpulan harus particular. Jika salah satu premis negatif, maka kesimpulannya harus negatif. Jika salah satu premis negatif dan particular, maka kesimpulannya harus negatif dan particular juga. Kalau tidak akan terjadi ketidak beresan lagi dalam kesimpulan.&lt;br /&gt;C. Bentuk silogisme&lt;br /&gt;Mengingat menurut bentuknya, bahwa ada putusan negatif, maka ada juga gambaran S = M, M ≠ P, jadi S ≠ P . dengan demikian silogisme dibagi ke dalam empat bentuk. Perbedaan pada masing-masing bentuk terlihat pada perobahan letak medium dalam premis mayor maupun dalam premis minor. Empat macam bentuk silogisme adalah :&lt;br /&gt;1. M – P&lt;br /&gt;S – M&lt;br /&gt;S – P&lt;br /&gt;2. P – M&lt;br /&gt;S – M&lt;br /&gt;S – P&lt;br /&gt;D. Kekeliruan Berfikir&lt;br /&gt;1. Kesesatan-Kesesatan dalam Penalaran&lt;br /&gt;Menalar adalah berpikir dengan tepat. Oleh karena hanya manusia saja yang mampu berpikir, maka menalar itu obyeknya juga manusia. Manusia itu didalam kegiatannya berusaha mengolah apa yang dapat diketahui dengan indera untuk sampai pada suatu kebenaran. Dengan demikian sasaran dari penyelidikan penalaran itu adalah manusia.&lt;br /&gt;Untuk sampai pada suatu ketepatan bernalar, terdapat rambu-rambu yang sangat perlu diperhatikan, agar tidak terjadi kesesatan.&lt;br /&gt;Kesesatan penalaran dapat terjadi pada siapa saja, bukan karena kesesatan dalam fakta-fakta, tetapi dari bentuk penarikan kesimpulan yang sesat, karena tidak dari premis-premis yang menjadi acuannya.&lt;br /&gt;2. Kemungkinan Kesesatan Berpikir Deduktif&lt;br /&gt;A. Kesesatan Yang Bersifat Semantik atau Ambiguitas (Ambiguity)&lt;br /&gt;a.1. Kesesatan-kesesatn Ambiguitas&lt;br /&gt;1. Kesesatan Ekuivoka. Suatu kesesatan karena anggapan bahwa kata-kata selalu dapat dipakai dalam pengertian yang sama sedangkan sebenarnya terdapat ambiguitas.&lt;br /&gt;2. Kesesatan Amfiboli. Amfiboli itu merupakan kesalahan dalam susunan kalimat atau proposisi. Seluruh argument terkena penafsiran ganda. Penafsiran ganda seperti itu menyebabkan ketidak jelasan karena susunan kalimatnya begitu sulit dipahami. Untuk keraguan, sering kali ditempuh jalan dengan membuat pertanyaan terhadap kalimat yang disusun itu.&lt;br /&gt;3. Kesesatan Komposisi. Kesesatan itu mungkin sekali terjadi, bila kata atu sekumpulan kata yang disebut. Term di dalam satu bagian dipandang &quot;secar distributive&quot;, dan pada bagian lain term sebagai akibatnya adalah bahwa uraian penjelas yang disusun itu berangkat dari pola piker &quot;masing-masing&quot; atau particular, dipergunakan secar distributive itu berfungsi sebagai proposisi individual. Proposisi individual adalah suatu proposisi yang menyatakan masing-masing anggota suatu golongan dan secara individual.&lt;br /&gt;4. Kesesatan dalam Pembagian. Kesesatan ini berkebalikan dari kesesatan komposisi, yang telah dibicarakan di atas. Kesesatan ini karena orang menganggap apa yang benar bagi keseluruhan, juga benar bagi setiap orang secara individual. Suatu kebenaran yang berlaku bagi keseluruhan terjadi juga akan benar bagi bagian-bagiannya. Sebaliknya terjadi pula apa yang tidak benar bagi keseluruhan juga dianggap tidak benar bagi bagian-bagiannya.&lt;br /&gt;5. Kesesatan Aksentuasi&lt;br /&gt;Semula berarti bahwa kata-kata yang ambiguitas yaitu pengertiannya akan berbeda, bila aksen ataupun tekanan dalam bicaranya berbeda pula. Sehingga aksen itu yang menyebabkan ambiguitas.&lt;br /&gt;B. Kesesatan Yang Bersifat Materiil&lt;br /&gt;1. Kesesatan Aksidensia&lt;br /&gt;Aksidensia adalah hal-hal yang ditambahkan ke dalam hal ang substansial (hakikat). Aristoteles dengan teori 10 kategorialnya, mengajarkan tentang 1 substansi dan 9 aksidensia bagi semua yang &quot;ada&quot;. Kesesatan ini biasa terjadi karena orang mengira bahwa apa yang dianggap benar dalam substansi itu, juga benar dalam aksidensinya atau sifat-sifastnya, maupun keadaan-keadaan yang eksistensinya secara kebetulan (aksidensi). Sedangkan setiap subyek tertenu itu mempunyai cirri-ciri khusus yang telah menjadi kodratnya sejak adanya eksistensi diri dan yang membedakannya dengan subyek lain.&lt;br /&gt;2. Kesesatan sebaliknya tentang aksidensia. Kesesatan terjadi oleh karena kebenaran yang hanya kebetulan (aksidensia), dianggapnya sebagai hal yang kebenarannya substansial.&lt;br /&gt;3. Kesesatan tentang Hal-hal yang Tidak Relevan. Kesesatan tentang hal-hal yang tidak relevan sering kali disengaja guna membangkitkan emosi atau mengalihkan perhatian seseorang ataupun sekelompok orang dari masalah yang dipersoalkan. Hal seperti ini sering dipergunakan untuk memperdayakan lawan bicara. Cara penyajiannya yang sering meyakinkan, tertapi faktanya justru sangat kabur ataupun bukan yang sedang dibahas. Keterpedayaan seseorang atau sekelompok orang itu karena memang sudah tidak tahu lagi bagaimana akan membantah suatu pernyataan.&lt;br /&gt;C. Kesesatan Berdasarkan Anggapan yang Tidak Benar&lt;br /&gt;c.1. Kesesatan Karena Menganggap Bahwa Kebenarnnya telah terbukti&lt;br /&gt;Sering pula disebut sebagi &quot;petition principii&quot; atau &quot;fallacy of begging the question&quot;.&lt;br /&gt;Kesesesatan ini terjadi oleh karena tidak memberi bukti yang seharusnya diterangkan dalam proses penalarannya. Pembicara hanya mengulang-ulangi pernyataannya itu dengan kata-kata lain yang sama artinya. Sangatlah disayangkan bahwa dengan demikian itu, ia yakin telah menciptakan kemajuan-kemajuan dalam penalaran.&lt;br /&gt;c.2. Kesesatan karena sebab yang salah&lt;br /&gt;Tidak jarang kesesatan ini sulit dibedakan dengan kesesatan dalam induksi, yang menyatakan &quot;post hoc propter ohc&quot;. Post hoc propter artinya adalah sesuatu memang terjadi setelahnya, tetapi bukanlah sebagai akibatnya.&lt;br /&gt;Kesesatan ini dapat terjadi, karena adanya anggapan, bahwa lebih dari satu peristiwa yang terjadi secara berturut-turut, lalau dianggap mempunyai hubungan sebab akibat.&lt;br /&gt;c.3. Kesesatan atas dasar konsekuensi ataupun atas dasar nonsequitur&lt;br /&gt;Dalam pengertian yang luas, nonesequitur itu bisa diartikan suatu argumen non-selogisme. Suatu kesimpulan yang ditarik, tidak berdasarkan premis-premis, ataupun seandainya dari premis, namun premisnya tidak relevan. Meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa kesimpulan itu benar.&lt;br /&gt;c.4. Kesesatan berdasarkan pertanyaan yang kompleks&lt;br /&gt;Pengajuan pertanyaan yang kompleks dan bersifat pancingan, sehingga jawabnnya dapat mengandung salah satu pengakuan, atau juga mungkin dua-duanya sebagai pengakuan, yang sebenarnya hal itu tidak dikehendaki oleh yang ditanyai. Hal semacam itu sering kali dilakukan untuk merugikan dirinya dalam suatu pemeriksaan.&lt;br /&gt;3. Kemungkinan Kesesatan Perpikir Induktif&lt;br /&gt;A. Kesesatan Dalam Pengamatan&lt;br /&gt;1. Pengamatan yang tidak lengkap. Bahwa pengamatan yang telah dilakukan itu tidak lengkap memang besar sekali peluangnya, hal itu sering kali disebabkan karena terbatasnya waktu dan dana. Atau memang sengaja hanya memperhatikan hal-hal tertentu yang relevan saja.&lt;br /&gt;2. Pengamatan yang tidak teliti. Sering kali para ilmuwan menghadapi jalan buntu dalam membenarkan cara kerja induktif yang akan diterapkan dalam ilmu pengetahuan itu.&lt;br /&gt;Ketatnya logika deduktif dipakai oleh Popper untuk memperlihatkan cara kerja ilmu alam yang bentuk perjalanannya secara induktif. Dasarnya sederhana, yang dapat dicontohkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;B. Kesesatan Dalam Penggolongan&lt;br /&gt;1. Penggolongan yang tidak lengkap&lt;br /&gt;2. Penggolongan yang tumpang tindih&lt;br /&gt;3. Penggolongan yang campur aduk&lt;br /&gt;C. Kesesatan Dalam Penentuan Hipotesis&lt;br /&gt;1. Hipotesis yang meragukan. Sebenarnya ada suatu keinginan bahwa di dalam menyusun hipotesis itu, kita memperoleh kebebasan sebesar-sebesarnya, namun bila tidak memperhatikan pedoman yang telah ditentukan, dapat mengakibatkan kekeliruan.&lt;br /&gt;2. Hipotesis yang bertentangan dengan fakta. Hipotesis disusun sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi dan bukan spekulasi&lt;br /&gt;D. Kesesatan-kesesatan Dalam Penentuan Sebab&lt;br /&gt;Bila ada 2 peristiwa atau lebih terjadi secara berturut-turut maka tidak selamanya merupakan &quot;sebab akibat&quot; dan tidak selamanya mesti &quot;memiliki hubungan&quot;.&lt;br /&gt;1. Analisis yang tidak cukup Antedennya. Untuk mendukung suatu analisis agar mudah mendapat pengukuhan, haruslah dilakukan dengan menyebutkan anteseden-anteseden secara lengkap dan mereduksi factor-faktor yang tidak relevan. Bila tidak demikian maka kesimpulan yang diambil tidak akan merupakan akibat atau tidak ditarik dari antesedennya.&lt;br /&gt;2. Analisis tanpa perbedaan-perbedaan. Bila membuat analisis tentan perbedaan-perbedaan tetapi justru tidak mengemukakan perbedaan-perbedaannya maka analisisnya tidak sah. Terutama bila menggunakan metode ataupun perbandingan.&lt;br /&gt;3. Keseiringan untuk sementara yang kebetulan. Hal-hal yang terjadi secara seiring kali menimbulkan kesesatan dalam menafsirkan atau dalam usaha untuk memahaminya. Kesesatan ini oleh karena tergoda oleh metode berpikir sebab akibat.&lt;br /&gt;4. Generalisasi yang tergesa-gesa. Kesesatan ini sebenarnya sederhana. Oleh karena hanya merupakan penyimpulan yang berkelebihan dari yang dapat dijamin oleh bukti yang diajukan. Mungkin catatan peristiwa atau faktanya belum tuntas tetapi telah menyusun kesimpulan secara final.&lt;br /&gt;E. Kesesatan Analogi&lt;br /&gt;Kesesatan dalam analogi itu banyak dilakukan oleh suku-suku primitive pada masa-masa silam. Mereka belum mampu membedakan secara tajam barang-barang yang satu dengan yang lainnya. Menurut logikanya, barang-barang yang serupa itu tidak ada satu sama lain.Kesesatan itu akan tampak bila diterapkan penyusunan analogi tentang sifat-sifat manusia.&lt;br /&gt;F. Kesesatan Dalam Statistik&lt;br /&gt;1. Sampling yang tidak mewakili populasi. Bentuk generalisasi yang sangat tergesa-gesa dalam statistic adalah bentuk kesesatan utama. Kesesatan ini terjadi karena sampling yang diambil tidak mewakili populasi, sehingga generalisasinya juga tidak benar.&lt;br /&gt;2. Penerapan gejala individual yang tidak bersifat umum. Kesesatan ini berwujud salah tafsir statistic yang lazimnya berlaku bagi orang awam.&lt;br /&gt;3. Kepercayaan kepada statistic. Hasil perhitungan statistic merupakan suatu ketelitian dan kecermatan serta mengikuti metode analisis yang telah terbukti dan pasti. Stastik mempergunakan juga istilah-istilah tertentu seperti : mean, penyimpangan, korelasi yang dapat dipercaya dan pasti. Namun demikian statistic itu tidak dapat melepaskan diri dari probalitas dan kadar sebenarnya menunjukkan suatu derajat kemungkinan tertentu.&lt;br /&gt;4. Kesesatan korelasi secara kebetulan. Kesesatan ini dapat terjadi, karena ada gejala korelasi sementara yang penyebabnya persamaan waktu ataupun persamaan kepentingan namun dipercaya sebagi sesuatu yang dianggap mempunyai korelasi riil.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/8831177809971169848/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-silogisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/8831177809971169848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/8831177809971169848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-silogisme.html' title='Pengertian Silogisme'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-4072837759320988505</id><published>2010-05-30T02:42:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T02:44:07.024-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Daftar Pustaka</title><content type='html'>&lt;h3 class=&quot;post-title entry-title&quot;&gt; &lt;a href=&quot;http://yournursing.blogspot.com/2009/08/contoh-daftar-pustaka.html&quot;&gt;Contoh  daftar pustaka&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;span class=&quot;post-author vcard&quot;&gt; &lt;/span&gt;  &lt;ol type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Barry PD. (1998). &lt;i&gt;   Mental Health and Mental  Illness&lt;/i&gt;. Philadelphia: Lippincott-Raven    Publishers.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Ellis, J.R.,  Nowlis,    E.A. &amp;amp; Bens, P.M. (1996). &lt;i&gt;Modules for basic nursing  skills&lt;/i&gt;.    (six edition). Philadelphia: Lipicont-Reven Publisher&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Jhonson,  Marion.,    Meridean Maas. (2000). Nursing Outcomes Classification  (NOC). St. Louis:    Mosby.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Kozier, B., Erb.,    &amp;amp; Oliver, R.  (2004),  &lt;i&gt;Fundamental of nursing; consept, process    and practice&lt;/i&gt;,  (fourth edition) California: Addison-Wesley Publishing    CO &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;McCloskey,  Joanne    C., Bullechek, Gloria M. (1996). Nursing Interventions  Classification    (NIC). St. Loui: Mosby.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;NANDA. (2005).  Nursing    Diagnoses: Definitions &amp;amp; Classification 2005-2006.  Philadelphia:    NANDA International.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Potter, P.A.  &amp;amp;    Perry, A.G.  (1996). &lt;i&gt;Fundamentals of Nursing: Concept,  Process    &amp;amp; Practice&lt;/i&gt;. (third edition). St. Louis: Mosby-Year  Book&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Perry, A.G. &amp;amp;    Potter, P.A. (1994). &lt;i&gt;Clinical  Nursing Skills &amp;amp; techniques&lt;/i&gt;    (third edition). St. Louis:  Mosby-Year Book.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Stuart, Gail Wiscarz    &amp;amp; Sundeen, Sandra  J. (1995). &lt;i&gt;Prinsiples &amp;amp; Practice of Psychiatric    Nursing&lt;/i&gt;.  St Louis: Mosby Year Book.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Taylor C, Lilis    C, LeMone. P.  (1997). &lt;i&gt;Fundamental of Nursing: The Art and Science    of Nursing  Care&lt;/i&gt;. Philadelphia: Lippinott-Raven Publishers.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times New Roman; font-size: 100%;&quot;&gt;Wong DL.,  (1995). &lt;i&gt;   Nursing Care of Infants and Children&lt;/i&gt;. St Louis: Mosby  Year Book.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/4072837759320988505/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/daftar-pustaka_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/4072837759320988505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/4072837759320988505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/daftar-pustaka_30.html' title='Daftar Pustaka'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-7043453175884598241</id><published>2010-05-30T02:36:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T19:10:21.596-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Pengertian Term</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;span&gt;Pengertian     “Term” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;   *   Term  adalah suatu kata atau suatu kumpulan kata yang  merupakan ekspressi  verbal dari suatu pengertian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;   *   Bagian dari proposisi yang berfungsi sebagai subyek  atau predikat,  serta  dapat berfungsi sebagai  penghubung antara dua proposisi yang disebut  premis  dalam sebuah silogisme. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;   *   Tidak semua kata atau kumpulan kata adalah term,  meskipun setiap term  itu adalah kata atau kumpulan  kata. Alasannya: tidak semua kata atau &lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;  kumpulan kata  pada dirinya sendiri  merupakan ekspressi verbal dari   pengertian,  dan bahwa tidak semua kata pada dirinya  sendiri berfungsi  sebagai subyek atau predikat dalam  suatu proposisi.       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     *   Term  adalah kata atau sejumlah kata yang dapat berdiri  sendiri. Jenis  kata seperti itu disebut kata kategorimatis.  Mis. : bunga,  burung,  pohon (term  tunggal), orang tua  asuh, pencinta lingkungan hidup (term  majemuk).  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     *   Ada jenis kata yang tidak bisa berdiri sendiri, baik  sebagai subyek  maupun predikat. Ini disebut kata   sinkategorimatis. Mis. : tetapi, beberapa, karena, dengan  cepat.  Pada dirinya sendiri kata-kata ini tidak merupakan  ekspressi verbal  dari pengertian,  dan karena itu tidak  merupakan term.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;      *   Kata-kata sinkategorimatis itu selalu tergantung pada  kata-kata  kategorimatis  untuk membentuk sebuah term.  Ump.: kata “berjalan” (kategorimatis,  term),  “dengan  cepat” (sinkategorimatis, bukan term). Tapi “berjalan   dengan cepat” mengungkapkan suatu pengertian baru, dan karena  itu  dapat berfungsi sebagai term dalam sebuah  proposisi.      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; 2. Kata dan  Pengertian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     Kata  adalah pernyataan lahiriah dari pengertian.     Namun  kata tidak sama dengan pengertian. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     *   Kata yang sama sering menunjukkan pengertian yang  berbeda.  Mis.: pasang,  bulan, kabur.     *   Kata yang berbeda mengungkapkan pengertian yang  sama :  ongkos-biaya,  sebab-karena, kendala-rintangan.     *   Kata-kata yang tepat sering sukar ditemukan untuk  mengungkapkan pengertian   yang ingin disampaikan.     *   Kata yang kita maksudkan mengekspressikan pengertian  tertentu, dalam  pikiran orang lain dihubungkan dengan  pengertian yang lain dari  yang  kita maksudkan.       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;   Arti dari  setiap kata dapat dilihat dari dua sudut: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     -   Sebagai yang berdiri sendiri (lepas dari fungsinya dalam  kalimat) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;      -   Dilihat dari sudut fungsinya dalam kalimat yang  kongkrit (supposisi  term =  arti khusus  term dalam  kalimat yang tertentu, dipandang dari  sudut arti, isi  dan luasnya). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     - Dalam  kenyataan sehari-hari sering suatu kata tertentu  harus dicari artinya  dalam kaitan dengan fungsinya  dalam kalimat yang menggunakan kata  tersebut.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; 3. Jenis-jenis  Term &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     *   Dalam kaitan dengan pengertian (arti yang  dikandungnya)           -   Term  Univok (satu kata, satu pengertian) : karyawan,    pelanggan, guru,  manager.           -  Term  Ekuivok (satu kata, lebih dari satu pengertian):     genting,  bulan,  bait, pasar.           -  Term  Analog (satu kata, pengertian bisa sama bisa       berbeda): ada,  suap, sehat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     *   Dalam kaitan dengan jumlah kata           -  Term  Tunggal : gunung, manusia, kejahatan.   -  Term  Majemuk : Kereta api, lapangan sepak     bola, CEO, TQM, BKIA,  KPKPN. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; *  Term  ditinjau  dari luasnya: Term        Singular: mengatakan tentang satu hal tertentuTerm        Partikular: mengatakan tentang sebagian Term        universal: mengatakan tentang seluruh luasnya.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     *   Berdasarkan sifatnya Term        Distributif: berlaku untuk setiap anggotaTerm        Kolektif: berlaku pada sesuatu sebagai satu      kesatuan  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;     *   Berdasarkan fungsinya dalam proposisi dan silogisme Term        subyekTerm        predikatTerm        menengah / terminus medius  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/7043453175884598241/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-term-term-adalah-suatu-kata.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/7043453175884598241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/7043453175884598241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-term-term-adalah-suatu-kata.html' title='Pengertian Term'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-5943040303317321288</id><published>2010-05-30T02:32:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T02:40:41.253-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Pengertian Premis</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Premis&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adalah putusan atau proposisi yang sudah diketahui, yang dalam gabungan dengan premis lainnya dapat ditarik kesimpulan yang mengandung gagasan atas ide sebagaimana termuat dalam premis-premis tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Contoh :  Semua Kambing bukan Kuda&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/5943040303317321288/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-premis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/5943040303317321288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/5943040303317321288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-premis.html' title='Pengertian Premis'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-1037997011524376729</id><published>2010-05-30T02:30:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T02:40:52.329-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Pengertian Proposisi</title><content type='html'>Dalam &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Logika&quot; title=&quot;Logika&quot;&gt;logika&lt;/a&gt;  modern, suatu &lt;b&gt;preposisi&lt;/b&gt; adalah apa yang dihasilkan dengan  mengucapkan suatu &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimat&quot; title=&quot;Kalimat&quot;&gt;kalimat&lt;/a&gt;. Dengan kata lain, hal ini merupakan arti  dari kalimat itu, dan bukan &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimat&quot; title=&quot;Kalimat&quot;&gt;kalimat&lt;/a&gt;  itu sendiri. Kalimat yg berbeda dapat mengekspresikan proposisi yang  sama, jika artinya sama.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/1037997011524376729/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-proposisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/1037997011524376729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/1037997011524376729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-proposisi.html' title='Pengertian Proposisi'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-2983305851210363316</id><published>2010-05-30T02:21:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T19:11:32.312-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Pengertian Entimem</title><content type='html'>&lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Entimem atau Enthymeme berasal dari bahasa Yunani “en” artinya di  dalam dan “thymos” artinya pikiran adalah sejenis sylogisme yang tidak  lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk  menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem, penghilangan bagian dari  argumen karena diasumsikan dalam penggunaan yang lebih luas, istilah  &quot;enthymeme&quot; kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan argumen yang &lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt; tidak  lengkap dari bentuk selain silogisme.&lt;sup id=&quot;cite_ref-0&quot; class=&quot;reference&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Entimem#cite_note-0&quot;&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Menurut Aristoteles yang ditulis dalam Retorika, sebuah &quot;retorik  silogisme&quot; adalah bertujuan untuk pembujukan yang berdasarkan  kemungkinan komunikan berpendapat sedangkan teknik bertujuan untuk pada  demonstrasi &lt;sup id=&quot;cite_ref-1&quot; class=&quot;reference&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Entimem#cite_note-1&quot;&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;atau dapat dikatakan Entimem&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;  adalah silogisme yang diperpendek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;Rumus  &lt;/span&gt;Entimem  &lt;/p&gt; &lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;PU  : Semua A = B : Pegawai yang baik tidak  pernah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;                                   datang  terlambat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;PK  :                        : Nyoman pegawai  yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;S     :                        : Nyoman  tidak pernah datang &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;                                  terlambat   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style=&quot;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Entimem&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;&quot; &gt;:  Nyoman tidak pernah datang terlambat &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:100%;&quot;  &gt;                  karena ia pegawai yang  baik&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p face=&quot;arial&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/2983305851210363316/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-entimem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/2983305851210363316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/2983305851210363316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-entimem.html' title='Pengertian Entimem'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-4333121591590083449</id><published>2010-05-29T22:28:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T19:12:13.161-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Pengertian Generalisasi</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari  fenomena individual menuju kesimpulan umum.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Contoh:&lt;/p&gt; &lt;table class=&quot;plainlinks ombox ombox-notice&quot; style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td class=&quot;mbox-image&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td class=&quot;mbox-text&quot; style=&quot;&quot;&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Tamara_Bleszynski&quot; title=&quot;Tamara Bleszynski&quot;&gt;Tamara Bleszynski&lt;/a&gt; adalah bintang &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Iklan&quot; title=&quot;Iklan&quot;&gt;iklan&lt;/a&gt;, dan  ia berparas cantik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Nia_Ramadhani&quot; title=&quot;Nia  Ramadhani&quot;&gt;Nia Ramadhani&lt;/a&gt; adalah bintang iklan, dan ia berparas  cantik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;table class=&quot;plainlinks ombox ombox-notice&quot; style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td class=&quot;mbox-image&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td class=&quot;mbox-text&quot; style=&quot;&quot;&gt;Generalisasi: Semua bintang sinetron  berparas cantik.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Pernyataan &quot;semua bintang sinetron berparas cantik&quot; hanya memiliki  kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Contoh kesalahannya:&lt;/p&gt; &lt;table class=&quot;plainlinks ombox ombox-notice&quot; style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td class=&quot;mbox-image&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td class=&quot;mbox-text&quot; style=&quot;&quot;&gt;Omas juga bintang iklan, tetapi tidak  berparas cantik.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;table style=&quot;font-family: arial;&quot; id=&quot;toc&quot; class=&quot;toc&quot;&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-family:arial;font-size:100%;&quot;  &gt;Macam- macam Generalisasi&lt;/span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3  style=&quot;font-weight: normal;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;editsection&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Generalisasi_sempurna&quot;&gt;Generalisasi sempurna&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar  penyimpulan diselidiki.&lt;/p&gt; &lt;table class=&quot;plainlinks ombox ombox-notice&quot; style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td class=&quot;mbox-image&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td class=&quot;mbox-text&quot; style=&quot;&quot;&gt;Contoh: sensus penduduk&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;h3  style=&quot;font-weight: normal;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;editsection&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Generalisasi_tidak_sempurna&quot;&gt;Generalisasi  tidak sempurna&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena  yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum  diselidiki.&lt;/p&gt; &lt;table class=&quot;plainlinks ombox ombox-notice&quot; style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td class=&quot;mbox-image&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt; &lt;td class=&quot;mbox-text&quot; style=&quot;&quot;&gt;Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di  Indonesia senang memakai celana pantalon.&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;h4  style=&quot;font-weight: normal;font-family:arial;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;editsection&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Prosedur_pengujian_generalisasi_tidak_sempurna&quot;&gt;Prosedur pengujian  generalisasi tidak sempurna&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt; &lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran  apabila melalui prosedur pengujian yang benar.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:&lt;/p&gt; &lt;ol style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;li&gt;Jumlah sampel yang diteliti terwakili.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sampel harus bervariasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak  umum.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/4333121591590083449/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-generalisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/4333121591590083449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/4333121591590083449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-generalisasi.html' title='Pengertian Generalisasi'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-350170564824584140</id><published>2010-05-29T22:24:00.000-07:00</published><updated>2010-05-29T22:28:05.123-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Pengertian Analogi</title><content type='html'>&lt;strong class=&quot;selflink&quot;&gt;Analogi&lt;/strong&gt; dalam ilmu bahasa adalah  persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang  lain.&lt;br /&gt;Analogi merupakan salah satu proses &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Morfologi&quot; title=&quot;Morfologi&quot;&gt;morfologi&lt;/a&gt;  dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada.&lt;br /&gt;Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan  karyawan-karyawati.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/350170564824584140/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-analogi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/350170564824584140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/350170564824584140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/pengertian-analogi.html' title='Pengertian Analogi'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-8343680362232998856</id><published>2010-05-29T22:18:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T19:12:45.582-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Hubungan Kausal</title><content type='html'>Hubungan Kausal adalah penalaran yg diperoleh dari gejala gejala yg  saling berhubungan. contoh ; ” &lt;em&gt;tombol ditekan, akibatnya bel  berbunyi.” atau, &lt;/em&gt; &lt;p&gt;Hubungan kausal (kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang &lt;em&gt;dharuri&lt;/em&gt;  dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian  memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan  eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya,  merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan  sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari  ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan  apapun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada dua macam hubungan klausal yg umum yakni :&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;~ Sebab Akibat&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ssebab Akibat pada intinya berpola A dan menyebabkan B. Selain itu,  Pola A dapat Menyebabkan B,C,D dll. Jadi efek dari peristiwa bisa  menjadi akibatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;contoh :&lt;em&gt; Lemparan anak itu menyebabkan Mangga jatuh.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;~ &lt;/em&gt;Akibat sebab&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dampak merupakan akibat, menyimpulkan sebab.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;contohnya : &lt;em&gt;Sani ke Dokter dikarnakan sakit.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/8343680362232998856/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/hubungan-klausal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/8343680362232998856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/8343680362232998856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/hubungan-klausal.html' title='Hubungan Kausal'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-8486435649392296792</id><published>2010-05-29T22:10:00.000-07:00</published><updated>2011-09-03T19:13:11.196-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sekolahku"/><title type='text'>Penalaran Induktif &amp; Deduktif</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;postContent&quot;&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penalaran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;adalah proses berpikir yang bertolak dari &lt;em&gt;pengamatan indera&lt;/em&gt; (observasi  empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan  pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk &lt;em&gt;suatu proposisi&lt;/em&gt; &lt;em&gt;–  proposisi&lt;/em&gt; yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang  diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru  yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut &lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;menalar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut  dengan &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;premis&lt;/span&gt; (&lt;em&gt;antesedens&lt;/em&gt;)  dan hasil kesimpulannya disebut dengan &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;konklusi&lt;/span&gt; (&lt;em&gt;consequence&lt;/em&gt;). Untuk memperoleh  pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Penalaran Deduktif&lt;/span&gt; dan &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Penalaran Induktif&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penalaran Deduktif&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu &lt;em&gt;peristiwa umum&lt;/em&gt;,  yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada  suatu kesimpulan atau pengetahuan &lt;em&gt;baru yang bersifat lebih khusus&lt;/em&gt;.  Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi  operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk  memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori  tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di  lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep  dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Contoh&lt;/span&gt; : yaitu  sebuah sistem &lt;em&gt;generalisasi&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Laptop adalah barang eletronik dan membutuhkan daya listrik untuk  beroperasi,&lt;br /&gt;DVD Player adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk  beroperasi,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Generalisasi : semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk  beroperasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penalaran Induktif&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;adalah suatu penalaran yang berpangkal dari &lt;em&gt;peristiwa  khusus&lt;/em&gt; sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu  kesimpulan atau pengetahuan &lt;em&gt;baru yang bersifat umum&lt;/em&gt;. Dalam hal  ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.  Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki  konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari  pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu  gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak  tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan  kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan  generalisasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Contoh&lt;/span&gt; : Masyarakat  Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah  kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media  hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial  dan penanda status sosial&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Korelasi Penalaran Deduktif dan Induktif&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;kedua penalaran tersebut seolah-olah merupakan cara berpikir yang  berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari  teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan &lt;em&gt;lingkaran yang  tidak terpisahkan&lt;/em&gt;. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita  sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang  mengandaikan teori.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran  tersebut dapat digunakan &lt;em&gt;secara bersama-sama dan saling mengisi&lt;/em&gt;,  dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan  metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika. Upaya menemukan  kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran  induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan &lt;em&gt;reflective  thinking&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;berpikir refleksi&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk  menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam  menalar dapat dipenuhi.&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki  seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah  premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi  sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti  penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan  berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang  dijadikan sebagai premis tepat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/8486435649392296792/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/penalaran-induktif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/8486435649392296792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/8486435649392296792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2010/05/penalaran-induktif.html' title='Penalaran Induktif &amp; Deduktif'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2472809174192497573.post-1347655153594978928</id><published>2009-06-08T22:22:00.001-07:00</published><updated>2011-09-03T19:13:44.619-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tip komputer"/><title type='text'>Melindungi Usaha Dari Kejahatan Cyber</title><content type='html'>&lt;h4 style=&quot;font-weight: normal; font-family: georgia;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Penelitian yang dlakukan oleh Verizon Communications yang dikeluarkan pada bulan April ini menunjukkan bahwa sepertiga dari kasus gangguan keamanan, terjadi di perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bentuk-bentuk ancaman yang terus berkembang, para pelaku usaha kecil dapat mengambil langkah-langkah dasar berikut untuk mengurangi resiko ancaman cyber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Cisco, melalui &lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt; Pudja Unggul Kartiman, Direktur SMB Cisco Indonesia memberikan tips agar terhindar dari kejahatan &lt;em&gt;cybe&lt;/em&gt;r tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Langkah 1&lt;/strong&gt;: Perlakukan Keamanan Bisnis Anda, Seperti Layaknya Bisnis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;      Dalam hal pemilihan perangkat keras, pengguna harus melangkah lebih maju jika perusahaan memiliki informasi yang harus dilindungi. Secara keseluruhan, fitur keamanan yang dirancang untuk pengguna rumahan, tidak dapat menyamai atau bahkan mendekati fitur keamanan yang dimiliki oleh perangkat keras yang diperuntukkan bagi perusahaan paling kecil sekali pun. Bahkan perangkat keras untuk kelas bisnis yang tidak menerapkan keamanan sebagai fungsi utamanya, misalnya sebuah router, sudah dapat menyediakan berlapis perlindungan untuk mengamankan jaringan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2&lt;/strong&gt;: Lindungi Perimeter Lingkungan Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Fungsi dari firewall adalah untuk menjaga gerbang antara jaringan perusahaan dengan dunia luar. Karena itu, perlindungan firewall jelas merupakan keharusan. Sayangnya sekarang ini banyak perusahaan kecil yang tidak terlalu memperhatikan perimeter minimum pada lingkungan kerja yang harus dilindungi dari ancaman cyber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firewall juga dapat berfungsi sebagai penjaga daftar pengunjung, dengan hanya membolehkan data dari domain yang bersih untuk memasuki jaringan kantor. Fitur ini akan sangat berguna untuk melindungi jaringan dari serangan malware yang berasal situs berbahaya dan masuknya email yang seakan-akan berasal dari sumber yang diijinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Langkah 3&lt;/strong&gt;: Tetap Update&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menciptakan malware adalah orang-orang pintar. Setiap teknologi keamanan baru muncul dan dapat menghalangi usaha mereka, selanjutnya mereka akan mengubah taktik sampai merasa berhasil.&lt;br /&gt;Sebagai contoh yang mudah, mari kita lihat perkembangan spam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, jika perangkat keamanan yang perusahaan pakai telah mengeluarkan versi terbaru, maka perusahaan harus mengevaluasinya terlebih dahulu dan idealnya kemudian mengaplikasikannya. Dengan begini, maka perusahaan secara berkelanjutan memperbarui sistem keamanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Langkah 4&lt;/strong&gt;: Teliti&lt;br /&gt;  &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Ancaman berbahaya seperti Botnets yang menguasai komputer dan kemudian tanpa sepengetahuan penggunanya mengirimkan spam, seringkali sulit dilacak dan tidak banyak meninggalkan jejak. Botnets terbaik bekerja tanpa sepengetahuan pengguna, karena tandanya hanyalah kecepatan prosesor berjalan sedikit lebih lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi ancaman seperti ini, perusahaan harus lebih sering memonitor log, yang biasanya perusahaan kecil tidak menjalankannya. Perhatikan lalu-lintas jaringan yang terjadi. Awasi lalu-lintas jaringan yang melintas ke alamat IP di mana dalam kondisi normal tidak terjadi, misalnya lokasi negara yang tidak pernah berhubungan secara bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menanggulangi ancaman seperti Botnets, vendor penyedia sistem keamanan menyediakan update dan patch untuk diaplikasikan di perusahaan. Tetapi kembali, perusahaan tetap harus teliti memeriksa lalu-lintas jaringannya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Langkah 5&lt;/strong&gt;: Lindungi Diri dari Karyawan Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman tidak hanya berasa dari luar, tapi juga bisa bersumber dari karyawan perusahaan sendiri. Ancaman yang bersumber dari karyawan sendiri isa saja karena karyawan tersebut memiliki pengetahuan minimum mengenai keamanan sehingga secara tidak sengaja membahayakan jaringan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara yang disarakan adalah memberikan akses terbatas kepada masing-masing karyawan ke dalam jaringan perusahaan sesuai dengan wewenang dan lingkup kerja mereka. Dengan begini, maka dapat mengurangi resiko karyawan akan melakukan hal lain di luar lingkup kerjanya melalui komputer tempat mereka bekerja. (okezone.com)                &lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://firmansopian.blogspot.com/feeds/1347655153594978928/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2009/06/melindungi-usaha-dari-kejahatan-cyber.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/1347655153594978928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2472809174192497573/posts/default/1347655153594978928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://firmansopian.blogspot.com/2009/06/melindungi-usaha-dari-kejahatan-cyber.html' title='Melindungi Usaha Dari Kejahatan Cyber'/><author><name>firmansopian</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09171386742861276770</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>