<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>A New Day Has Come</title>
	
	<link>http://blog.galihsatria.com</link>
	<description>A Personal Blog of an IT guy, photographer, and also musician :))</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 04:37:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/galihsatria" /><feedburner:info uri="galihsatria" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Review: Liferay sebagai Pilihan Aplikasi Portal Web</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/KpMF1mCApDA/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/05/18/review-liferay-sebagai-pilihan-aplikasi-portal-web/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 04:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain Web]]></category>
		<category><![CDATA[ITisMyWorld]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3158</guid>
		<description><![CDATA[Tiga tahun yang lalu, saya sempat menyebutkan Liferay sebagai salah satu alternatif untuk menggantikan Microsoft Sharepoint dalam fungsinya sebagai aplikasi portal web. Dan hingga saat ini, saya sudah mengimplementasikan Liferay untuk website resmi pabrik tempat saya bekerja dan satu lagi untuk aplikasi internal. Pada artikel ini, saya ingin sedikit berbagi pengalaman mengenai Liferay ini. Liferay [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Website Liferay" href="http://www.liferay.com/" target="_blank"><img class="alignnone size-full wp-image-3161" title="liferay-logo_new2012" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/05/liferay-logo_new2012.png" alt="" width="278" height="80" /></a></p>
<p>Tiga tahun yang lalu, saya sempat menyebutkan Liferay sebagai salah satu <a href="http://blog.galihsatria.com/2009/06/26/solusi-alternatif-untuk-sistem-enterprise/">alternatif untuk menggantikan Microsoft Sharepoint dalam fungsinya sebagai aplikasi portal web</a>. Dan hingga saat ini, saya sudah mengimplementasikan Liferay untuk website resmi pabrik tempat saya bekerja dan satu lagi untuk aplikasi internal. Pada artikel ini, saya ingin sedikit berbagi pengalaman mengenai Liferay ini.</p>
<p>Liferay adalah engine berbasis Java yang ditujukan untuk pembuatan web portal. Memang jika dibandingkan engine-engine berbasis PHP, Liferay jauh kalah populer dibandingkan dengan WordPress, Drupal, dan Joomla. Tapi menurut saya, jika kita mencari engine portal berbasis Java terbaik, Liferay adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan dengan serius.</p>
<p><strong>Mengapa Liferay?</strong></p>
<p>Well, di pabrik saya, ada kebutuhan penyeragaman sistem dimana sebagian besar aplikasi berbasis Java. Kami memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan PHP, terutama menyangkut skalabilitas dan biaya maintenance yang luar biasa besar. Sehingga otomatis, engine-engine berbasis PHP yang terkenal itu dicoret dari daftar.</p>
<p>Kemampuan untuk melakukan design layout secara <em>on the fly</em> adalah kelebihan yang jarang dimiliki portal lain. Jadi kita bisa menambahkan portlet &#8212; isian konten &#8212; secara langsung dan bersifat WYSIWYG. Menambahkan ruang untuk blog, forum, galeri foto, file-file bisa tinggal drag-and-drop. Lalu beberapa template layout sudah disediakan pula oleh Liferay, satu kolom, dua kolom, atau <em>free style</em>.</p>
<p>Membuat custom themes juga cukup mudah, meskipun tidak semudah WordPress, tapi masih lebih mudah daripada Joomla apalagi Drupal. Template engine-nya berbasis Velocity, jadi yang biasa melakukan templating di Velocity dan Freemarker akan mudah melakukan custom. Ada empat bagian besar: header, navigation, main content, dan footer. Di main content itulah tempat portlet-portlet dipasang secara dinamis melalui antarmuka web.</p>
<p><strong>Lisensi</strong></p>
<p>Liferay bisa didapatkan secara bebas, baik versi binary maupun source code-nya untuk versi Community Edition. Untuk versi yang mendapatkan dukungan penuh dari vendor, disediakan versi Enterprise Edition. Dengan versi EE ini kita bisa membuat tiket support dari Liferay 24 jam. Dan team support-nya kebanyakan wanita-wanita muda berwajah imut seperti personnel SNSD. <img src='http://blog.galihsatria.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jangan harap versi CE dan EE sama saja. Curangnya Liferay, versi EE memiliki struktur database dan indeks yang berbeda, jadi harus dilakukan proses migrasi khusus dari versi CE ke EE. Jadi tidak bisa begitu saja gonta-ganti versi dengan menggunakan database yang sama.</p>
<p>Performance, antara CE yang sudah dituning dengan EE default, jauh lebih cepat EE. Pada beberapa fitur, saya menemukan bug di CE yang baru akan diberi <em>patch</em>-nya di rilis major berikutnya. Sementara bug tersebut tidak ditemukan sama sekali di EE. Hal inilah yang membuat kami memutuskan membeli lisensi Enterprise Edition dari yang awalnya hanya Community Edition.</p>
<p><strong>Wrap Up</strong></p>
<p>Jika saya dihadapkan pada project yang mengharuskan software-nya adalah free, maka saya akan lebih memilih WordPress, Joomla, atau Drupal. Saya masih belum menemukan rasa klik dengan Liferay, ada bagian-bagian tertentu yang saya merasa kurang sreg dengan Liferay.</p>
<p>Hal yang lain, Liferay adalah barang langka di Indonesia. Menemukan vendor lokal yang bisa men-support Liferay bukan perkara gampang. Saya pernah menghubungi beberapa vendor yang bisa menangani Liferay (macam Mondrian-nya Frans Thamura), tetapi tidak mendapatkan respon yang positif. Akhirnya kami memutuskan untuk mengembangkan sendiri secara internal dan langsung meminta support dari Liferay Asia Pacific.</p>
<p>Dibandingkan dengan Microsoft Sharepoint, di luar integrasinya dengan Microsoft Office, saya akan lebih memilih Liferay karena Liferay jauh lebih fleksibel untuk dicustom. Sharepoint memang memiliki Sharepoint Designer, tetapi sulit sekali membuat theme custom untuk Sharepoint. Padahal salah satu kebutuhan utama dari web portal adalah kemudahannya membuat tampilan custom yang indah.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/KpMF1mCApDA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/05/18/review-liferay-sebagai-pilihan-aplikasi-portal-web/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/05/18/review-liferay-sebagai-pilihan-aplikasi-portal-web/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Membuat Front-End Webserver dengan Apache Reverse Proxy dan Mod_Rewrite</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/GnDnTocyRyA/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/05/17/membuat-front-end-webserver-dengan-apache-reverse-proxy-dan-mod_rewrite/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 04:20:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain Web]]></category>
		<category><![CDATA[ITisMyWorld]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3123</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu front-end webserver? Jadi singkat cerita, kita memiliki sebuah (atau banyak) application server yang menangani banyak aplikasi. Banyak application server yang berjalan di port yang berbeda, misalnya Tomcat jalan di 8080, Weblogic jalan di 7001, lalu ada misalnya IIS untuk menjalankan teknologi .net framework. Permasalahannya, ini menjadikan struktur URL-nya jadi jelek, misalnya http://server.example:7001, http://server.example:8001. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa itu front-end webserver? Jadi singkat cerita, kita memiliki sebuah (atau banyak) application server yang menangani banyak aplikasi. Banyak application server yang berjalan di port yang berbeda, misalnya Tomcat jalan di 8080, Weblogic jalan di 7001, lalu ada misalnya IIS untuk menjalankan teknologi .net framework.</p>
<p>Permasalahannya, ini menjadikan struktur URL-nya jadi jelek, misalnya http://server.example:7001, http://server.example:8001. Struktur URL yang cantik itu hanya bisa didapat jika web server berjalan mendengarkan di port 80. Lha, dari sekian banyak application server itu, siapa yang akan mendapatkan port kehormatan? Harus diundi terlebih dahulu?</p>
<p><strong>Front-End dan Back-End Web Server</strong></p>
<p>Solusi agar semua kebagian adalah membuat satu webserver yang mendengarkan port 80, yang berfungsi sebagai forwarder/dispatcher request, untuk meneruskannya ke application yang benar. Karena ada webserver yang ditaruh di depan sebagai forwarder dan webserver di belakang sebagai pemroses request, maka model seperti ini disebut front-end webserver dan back-end webserver. Seperti gambar di bawah ini kira-kira:</p>
<p><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/05/webserver.png"><img class="alignnone size-full wp-image-3145 aligncenter" title="webserver" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/05/webserver.png" alt="" width="470" height="429" /></a></p>
<p>Webserver yang saya gunakan sebagai front-end adalah Apache. Dia mendapatkan port kehormatan 80 agar bisa diakses langsung dengan &#8220;normal&#8221; (http://server.example). Kemudian, berbagai web server dari berbagai platform hidup di belakangnya, misalnya Oracle Weblogic di port 7001 (http://server.example:7001), Apache Tomcat di port 8080 (http://server.example:8080), dan IBM Websphere di port 8888 (http://server.example:8888).</p>
<p>Yang saya inginkan adalah, semua client (Macintosh, Desktop PC, dan Laptop PC) mengakses semua application server melalui port 80 dengan nama-nama cantik berikut ini:</p>
<ul>
<li>http://weblogic.example/wls, untuk aplikasi wls yang ada di Weblogic port 7001</li>
<li>http://tomcat.example/tomcat, untuk aplikasi tomcat yang ada di Tomcat port 8080</li>
<li>http://websphere.example/ws, untuk aplikasi ws yang ada di Websphere port 8888</li>
</ul>
<p>Segala akses yang langsung ke application server tidak diperbolehkan (tapi di posting ini, saya tidak menyertakan setting firewall-nya ya!).</p>
<p>Jadi bagaimana setup-nya? Hal yang perlu dilakukan adalah: (1) Setup DNS record untuk mengarah ke webserver, (2) Setup Apache, Virtual Host, (3) Setup Apache, Reverse Proxy, (4) Setup Apache, Mod Rewrite. Mari kita mulai.</p>
<p><strong>Setup DNS Record</strong></p>
<p>Anyway, urusan DNS record adalah urusan DNS server <img src='http://blog.galihsatria.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  &#8211; Apapun tipe DNS Server Anda, konsepnya adalah mengarahkan subdomain tadi ke IP Address web server dimana Apache port 80 berada. Anda juga bisa memasukkan entri ini di file /etc/hosts, atau kalau di Windows, C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts. Misalnya, IP Address tempat Apache port 80 adalah 192.168.10.2, maka, entri di file hosts (atau di DNS server) kira-kira sbb:</p>
<p><code> weblogic.example 192.168.10.2<br />
tomcat.example 192.168.10.2<br />
websphere.example 192.168.10.2<br />
</code></p>
<p><strong>Setup Apache: Virtual Host</strong></p>
<p>Masing-masing dari subdomain perlu diberikan Virtual Host tersendiri agar Apache tahu harus memproses setiap request yang datang ke subdomain yang tepat. Anyway, menurut saya, Apache adalah webserver yang paling fleksibel kalau urusan Virtual Host ini. Jadi, buatlah entri di file setting Apache di httpd.conf seperti di bawah ini:</p>
<p><code> &lt;VirtualHost *&gt;<br />
ServerAdmin galih.satriaji@server.example<br />
ServerName weblogic.example<br />
ServerAlias www.weblogic.example<br />
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"<br />
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined<br />
&lt;/VirtualHost&gt;<br />
</code></p>
<p>Blok kode ini akan memberitahu Apache untuk menggunakan setting-setting yang ada di bawah VirtualHost weblogic.example setiap kali ada request yang mengarah ke alamat URL weblogic.example. Setting ini tentu saja belum cukup karena si Apache belum diberitahu harus memproses file-file-nya dimana. Nah, karena si Apache ini kita gunakan hanya sebagai Front-End, maka pemrosesan request akan diteruskan oleh Apache ke Application Server di belakangnya (Back-End). Di sini yang perlu dilakukan adalah setup Reverse Proxy dan redirectornya.</p>
<p><strong>Setup Apache: Reverse Proxy</strong></p>
<p>Agar bertindak sebagai front-end, pada setting VirtualHost di atas perlu ditambahkan setting reverse proyx yang memberitahu Apache untuk meneruskan request ke application server di belakangnya.</p>
<p><code> &lt;VirtualHost *&gt;<br />
ServerAdmin galih.satriaji@server.example<br />
ServerName weblogic.example<br />
ServerAlias www.weblogic.example<br />
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"<br />
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined<br />
<strong>ProxyRequests off</strong><br />
<strong> ProxyPass / http://192.168.10.2:7001/</strong><br />
<strong> ProxyPassReverse / http://192.168.10.2:7001/</strong><br />
&lt;/VirtualHost&gt;<br />
</code><br />
Sudah cukup? Belum, setting ini hanya akan meneruskan request dari http://weblogic.example ke http://192.168.10.2:7001/ saja. Padahal yang dituju adalah http://192.168.10.2:7001/wls. Kita perlu menambahkan sebuah redirector, agar nantinya setiap URL yang diketik http://weblogic.example akan diredirect menjadi http://weblogic.example/wls. Proses redirecting dari port 80 ke 7001 dilakukan secara implisit, tidak mengubah struktur URL yang terlihat oleh user. Jadi tambahannya menjadi seperti ini:</p>
<p><code> &lt;VirtualHost *&gt;<br />
ServerAdmin galih.satriaji@server.example<br />
ServerName weblogic.example<br />
ServerAlias www.weblogic.example<br />
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"<br />
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined<br />
ProxyRequests off<br />
ProxyPass / http://192.168.10.2:7001/<br />
ProxyPassReverse / http://192.168.10.2:7001/<br />
<strong>&lt;Location /&gt;</strong><br />
<strong> RedirectMatch ^/$ /wls/</strong><br />
<strong> &lt;/Location&gt;</strong><br />
&lt;/VirtualHost&gt;<br />
</code></p>
<p>Nah, ini kasusnya setiap URL weblogic.example akan menjadi weblogic.example/wls. Seakan-akan web server nya ada di port 80, menggunakan Apache. Padahal, Apache hanya meneruskan saja ke server Weblogic yang ada di port 7001.</p>
<p>Pertanyaan satu milyarnya, bagaimana membuat URL yang benar-benar implisit, weblogic.example tanpa harus diredirect ke /wls? Jadi weblogic.example akan terlihat tetap weblogic.example, meskipun lokasinya di back-end server adalah http://192.168.10.2:7001/wls/? Di sini, kita perlu satu teknologi lagi bernama URL Mod Rewrite dari Apache.</p>
<p><strong>Setup Apache: URL Rewriting</strong></p>
<p>Apache memiliki teknologi penulisan kembali URL yang memungkinkan seorang webmaster mengubah-ubah struktur URL tanpa harus mengubah apa yang terlihat di browser-nya user. Jadi URL yang simpel, indah, dan mudah dihapalkan user bisa tetap dipertahankan meskipun aplikasi memerlukan struktur URL yang ruwet. Contoh gampangnya ya WordPress ini, dia membuat URL dengan simpel misalnya http://blog.galihsatria.com/2012/05/front-end yang aplikasinya sebenarnya memerlukan URL yang ruwet seperti http://blog.galihsatria.com/post.php?permalink=front-end&amp;year=2012&amp;month=05.</p>
<p>Nah, supaya URL weblogic.example tetap diam (tapi sebenarnya di-forward ke weblogic.example:7001/wls), kita memerlukan tambahan setting untuk URL rewrite. Diperlukan kemampuan mengenai <em>regular expression</em> tingkat dewa di sini, tapi sebenarnya tinggal Googling aja bisa. Saya menemukan settingan di bawah ini dari hasil bertanya ke Eyang Google:</p>
<p><code> &lt;VirtualHost *&gt;<br />
ServerAdmin galih.satriaji@server.example<br />
ServerName weblogic.example<br />
ServerAlias www.weblogic.example<br />
ErrorLog "logs/weblogic.example.err.log"<br />
CustomLog "logs/weblogic.example.log" combined<br />
ProxyRequests off<br />
ProxyPass / http://192.168.10.2:7001/<br />
ProxyPassReverse / http://192.168.10.2:7001/<br />
<strong>RewriteEngine on</strong><br />
<strong> Options +FollowSymLinks</strong><br />
<strong> RewriteRule ^(.*+)$ /wls/$1 [L,QSA]</strong><br />
&lt;/VirtualHost&gt;<br />
</code><br />
<strong>Penutup</strong></p>
<p>Tentu saja Anda harus mengaktifkan modul-modul Apache untuk mengaktifkan setting-setting di atas, yaitu modul Virtual Host, Mod Proxy, dan Mod Rewrite. Ini adalah settingan yang sudah saya tes jalan di webserver saya untuk mengaplikasikan model front-end dan back-end ini. Apakah ini juga akan jalan di server Anda, belum tentu &#8212; besar kemungkinan tidak :p. Selamat mencoba dan jangan lupa di share kalau sudah berhasil!</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/GnDnTocyRyA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/05/17/membuat-front-end-webserver-dengan-apache-reverse-proxy-dan-mod_rewrite/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/05/17/membuat-front-end-webserver-dengan-apache-reverse-proxy-dan-mod_rewrite/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengapa Tidak Boleh Lebih Dari 30%?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/_YOum1utRE4/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/05/16/mengapa-tidak-boleh-lebih-dari-30/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 06:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Financial Planning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3141</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua perencana keuangan dan buku-buku personal finance management mematok besaran maksimal cicilan hutang adalah sekitar 30%. Sudah termasuk cicilan untuk hutang produktif (cicilan rumah dsb) dan hutang konsumtif (kartu kredit, gadget, dsb). Mengapa tidak boleh? Salah satu sebabnya adalah karena kebutuhan kita lainnya masih terlalu banyak. Kita perlu makan, bayar tagihan operasional hidup (sewa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir semua perencana keuangan dan buku-buku personal finance management mematok besaran maksimal cicilan hutang adalah sekitar 30%. Sudah termasuk cicilan untuk hutang produktif (cicilan rumah dsb) dan hutang konsumtif (kartu kredit, gadget, dsb). Mengapa tidak boleh?</p>
<p>Salah satu sebabnya adalah karena kebutuhan kita lainnya masih terlalu banyak. Kita perlu makan, bayar tagihan operasional hidup (sewa rumah, listrik, air, telepon, belanja bulanan, dkk), perlu beli baju baru, beli sepatu, nonton film 3D di bioskop, nge-mall, dll. Manusiawi kok. Belum lagi kalau ada keinginan lain seperti beli gadget dan hanphone terbaru. Sedemikian banyak kebutuhan itu harus bisa kita penuhi dengan 70% penghasilan saja. Cukup? Bahkan seringkali tidak. Bayangkan jika porsi kewajiban lebih dari 30%, tak heran kalau rekening tabungan kita macam <em>dispatcher saja</em> &#8211; aliran uangnya lewat saja.</p>
<p>Saya tidak suka punya hutang, bahkan mau ambil kredit rumah aja masih mikir-mikir (saya tahu pasti ini turunan dari bapak saya). Teman saya ada yang bilang pas saya ingin beli gadget (dan mau nabung dulu), &#8220;Buat apa nabung kalau bisa nyicil?&#8221;</p>
<p>Well, apalagi untuk hutang konsumtif, secara psikologis efeknya sangat tidak menyenangkan buat saya. Saya pernah beli lensa wide saya yang Sigma 10-20 mm HSM dengan cara cicilan 0% selama enam bulan. Rasa punya barang baru paling banter cuma sebulan dua bulan, tapi rasa ngutangnya sampai setengah tahun sendiri. And for me, that hurts.</p>
<p>Nabung sebenarnya juga hampir sama gak enaknya sama nyicil. Tapi untuk kebutuhan tersier yang tidak ada pun kita masih bisa hidup enak, keinginan itu bisa direm sedikit. Tadi pagi tiba-tiba saya mendapatkan justifikasi sempurna untuk beli gadget, tapi seperti biasa, duitnya belum ada. Mau jual saham, IHSG lagi maen perosotan yang tentu saja lebih cocok buat beli ketimbang jualan (<em>tapi anehnya biasanya pas gajian ntar IHSG sudah balik, ketinggalan kereta lagi</em>).</p>
<p>Nah, ketimbang besok ke toko sambil nyodorin kartu buat digesek, saya lebih suka memendam keinginan itu. Toh semua justifikasi itu bisa dilakukan oleh laptop saya. Namanya keinginan impulsif, bisa jadi pas duitnya terkumpul, keinginan itu sudah mereda. Bisa diarahkan ke sesuatu yang lebih baik, buat bayar zakat misalnya.</p>
<p>Sama halnya jika cicilan hutang itu lebih dari 30%. Meskipun cicilan itu untuk aset produktif yang bisa mengungkit (<em>leverage factor</em>) harta kita menjadi sekian kali lipat. Tapi tetap saja efek psikologisnya, kurang dari 70% penghasilan yang tersisa, mungkin sebagian besar habis untuk kebutuhan pokok. Belum ada bagian untuk kebutuhan sekunder apalagi tersier. Akhirnya merasa penghasilan kurang, efek lebih jauhnya, bekerja menjadi tidak nyaman karena merasa kurang dihargai secara finansial.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/_YOum1utRE4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/05/16/mengapa-tidak-boleh-lebih-dari-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/05/16/mengapa-tidak-boleh-lebih-dari-30/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Nyaris Realtime, Transfer dengan SKN</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/FhJe1FXCXwU/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/05/08/nyaris-realtime-transfer-dengan-skn/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 02:18:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3135</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan terakhir ini, saya baru tahu ternyata Bank Mandiri mematikan fasilitas transfer real time-nya (RTGS &#8211; Real Time Gross Settlement). Bukan dimatikan sih, tapi diberi pesan kalau jumlah limit yang ditransfer tidak mencukupi batas minimal. Beberapa kali saya mencoba transfer ke rekening ibu saya di BRI, diberi pesan yang sama. Ternyata si Nilla mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan terakhir ini, saya baru tahu ternyata Bank Mandiri mematikan fasilitas transfer real time-nya (RTGS &#8211; Real Time Gross Settlement). Bukan dimatikan sih, tapi diberi pesan kalau jumlah limit yang ditransfer tidak mencukupi batas minimal. Beberapa kali saya mencoba transfer ke rekening ibu saya di BRI, diberi pesan yang sama. Ternyata si <a href="http://nilla.keritikentang.com">Nilla</a> mengalami hal yang sama, dia bilang kalau batas minimal transfer Bank Mandiri lewat RTGS sekarang adalah Rp. 50 juta.</p>
<p>Well, tentu peraturan ini untuk mengarahkan nasabah supaya menggunakan metode SKN (Sistem Kliring Nasional) yang berbiaya lebih murah. Bank Mandiri memasang tarif sepertiga lebih murah ketimbang sistem RTGS. Permasalahannya adalah, SKN ini terlanjur dipersepsikan sebagai sistem yang lambat, bahkan ada yang bilang kalau lewat jamnya, tiga hari bisa baru nyampe. Nah, tentu saja orang sekarang lebih memilih yang lebih mahal tapi langsung sampai daripada sistem yang kurang lebih mirip wesel tiga hari baru sampai.</p>
<p>Apa sih bedanya SKN dan RTGS? Jika RTGS, proses <em>settlement </em>dilakukan satu per satu transaksi dan sesegera mungkin. Sedangkan SKN, setiap transaksi dikumpulkan dahulu lalu pada periode tertentu BI mengkreditkan dana transfer ke bank penerima. Dari sinilah muncul persepsi kalau lewat jam angkut terakhir di hari Jumat, dana bisa baru sampai di hari Senin pada saat <em>angkutan</em> berikutnya.</p>
<p>Nah, dengan adanya peraturan batas minimal transfer untuk RTGS, mau tidak mau masyarakat dipaksa untuk memakai SKN yang lebih murah. Dan sekarang BI telah meningkatkan pelayanan sistem SKN ini dengan memperbanyak jam angkut. Yaitu tiap dua jam mulai pukul 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00 dengan waktu operasional pukul 08:00-16:00. Sehingga diharapkan sistem ini kecepatannya sudah mendekati RTGS atau <em>close to the real time</em>.</p>
<p>Saya sendiri kemarin sudah mencobanya untuk melakukan top up reksadana. Saya melakukan transfer SKN dari rekening saya di Bank Mandiri ke rekening Panin Dana Maksima di Deutsche Bank AG. Saya melakukannya melalui Internet Banking pukul 09:47 dengan harapan dana itu akan diangkut pada jam 10. Pada pukul 10:15, saya mendapatkan pemberitahuan dari CS-nya Panin bahwa dana sudah diterima dan akan segera dieksekusi proses top-up-nya.</p>
<p>Referensi:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.infobanknews.com/2012/02/bi-perbaiki-sistem-kliring-nasional/">BI Perbaiki Sistem Kliring Nasional</a></li>
<li><a href="http://www.infobanknews.com/2012/04/bi-percepat-penyelesaian-transaksi-kliring/">BI Percepat Penyelesaian Transaksi Kliring</a></li>
<li><a href="http://www.infobanknews.com/2012/02/biaya-lebih-murah-dari-rtgs-bi-berharap-nasabah-beralih-ke-sknbi/">Biaya Lebih Murah dari RTGS, BI Berharap Nasabah Beralih ke SKNBI</a></li>
</ul>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/FhJe1FXCXwU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/05/08/nyaris-realtime-transfer-dengan-skn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/05/08/nyaris-realtime-transfer-dengan-skn/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>1000</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/kc8DZQaw_8E/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/05/05/1000/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 14:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Melankolis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3131</guid>
		<description><![CDATA[Tujuh setengah tahun. Seribu artikel. [sepuluh menit berlalu tanpa kalimat. speechless] Mau tidak mau saya mengenang masa-masa awal saya ngeblog untuk kesekian kalinya. Agak lucu, karena saat itu saya tidak mau disebut blogger, saya seorang penulis diary yang mungkin jaman sekarang disebut galauers. Sok-sok&#8217;an romantis, nulis puisi, menjadi secret admirer karena merasa menjadi bukan sosok yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tujuh setengah tahun. Seribu artikel.</strong></p>
<p><em>[sepuluh menit berlalu tanpa kalimat. speechless]</em></p>
<p>Mau tidak mau saya mengenang masa-masa awal saya ngeblog untuk kesekian kalinya. Agak lucu, karena saat itu saya tidak mau disebut blogger, saya seorang penulis diary yang mungkin jaman sekarang disebut <em>galauers</em>. Sok-sok&#8217;an romantis, nulis puisi, menjadi <em>secret admirer</em> karena merasa menjadi bukan sosok yang menarik. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang maniak pemrograman yang suka ngulik rumus Matematika Diskret 20 senti di bawah matanya?</p>
<p><em>Time flies, people changes.</em> Nampaknya cuma saya yang masih tidak banyak berubah, masih menulis apa yang ingin ditulis di sini. Kadangkala saya merasa waktu terlalu cepat berlari, dari weekend ke weekend, dari Senin ke Senin, seperti mimpi saja. Dan catatan blog inilah yang mengingatkan saya kalau waktu telah berlari.</p>
<p>Topik bahasan, masih gado-gado seperti dulu. Dan mungkin karena itulah saya masih bisa <em>ngramut</em> blog ini sampai sekarang. Dari jaman isinya pemrograman mlulu, lalu merengek-rengek di kategori Melankolis karena tidak tahu bagaimana menarik hati perempuan. Pindah ke Jakarta, mengejar apa yang dinamakan karier, menekuni fotografi, bosan dengan fotografi menekuni musik. Melanjutkan sekolah S2, minatnya pindah ke Finance dan pasar modal. Lalu sampai di titik jenuh lagi. Ya balik lagi ke titik awal, nulis suka-suka, sesempatnya, sesukanya.</p>
<p>Teman-teman. Ini yang menarik. Seorang blogger, secuek-cueknya, semalas-malasnya ia <em>blogwalking</em>, akan selalu mengharapkan sedekah komen. Itu tanda kalau blognya masih ada yang baca. Tanda apresiasi. Dan sampai sekarang, hanya sedikit teman-teman lama blog yang masih <em>keep in touch</em>. Datang dan pergi.</p>
<p>Mbak Rina dari Cilacap adalah salah satu yang paling berkesan. Meskipun ia sekarang sudah tidak pernah mengunjungi dunia internet lagi, saya masih dapat kiriman <em>blast </em>SMS lebarannya tiap tahun. Sayang waktu kemarin ke Cilacap, tak sempat ketemu. Moga-moga aja nomor teleponnya nggak ganti.</p>
<p>Atau dengan blogger ini yang sekarang menjadi teman akrab &#8212; saking konsistennya bertukar komentar dari dulu sampai sekarang. Jejak tulisannya pertama kali di blog ini adalah tanggal 18 Juli 2006. Ia bilang, <em>&#8220;Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.&#8221;  </em>Itu di postingan yang jika saya baca sekarang pun masih ikutan <em>trenyuh</em> dan ingat kejadian di tepi sungai di Moyoketen, Tulungagung, enam tahun silam. Ia (si tokoh di postingan itu) bertanya dengan lembut waktu itu, <em>&#8220;Apakah Galih ingin aku menjauh dan tidak dekat lagi?&#8221;</em></p>
<p>Atau dengan perempuan ini, salah satu sumber inspirasi saya waktu itu, yang karenanya saya membuat buku pertama saya, <a href="http://blog.galihsatria.com/2010/11/09/kembali-ke-masa-silam-secangkir-kopi-java/">Secangkir Kopi Java</a>. Ia berkomentar begini, <em>&#8220;ya&#8217;apa yen sampaen nggawe buku mas, mengko aku dadi editor lan produsere :p (Bagaimana kalau kamu membuat buku mas, nanti aku jadi editor dan produsernya :p)&#8221;</em>. Tertanggal 18 Juni 2006. Apa yang bisa dilakukan seorang anak muda <em>freak</em> untuk menyatakan perasaannya? Lahirlah buku 100 halaman PDF itu. Tapi ya siapa yang mengerti dengan model komunikasi nggak umum begitu? Hehehe&#8230;</p>
<p>Begitulah, saya cenderung menertawakan diri saya sendiri karena blog ini merekamnya dengan begitu detail. Mungkin lima tahun lagi, saya di umur 30-an akan menertawakan saya yang sedang menulis sekarang ini. Blog adalah autobiografi yang jujur menceritakan kembali kehidupan penulisnya dari tahun ke tahun.</p>
<p><em>[speechless lagi]</em></p>
<p>Saya tidak tahu kenapa kok saya merayakan tulisan ke-1000 ini dengan begitu melankolisnya. Mungkin karena aslinya blog ini melankolis sih. Ini hanyalah salah satu <em>milestone</em>, tonggak waktu, seperti orang yang sedang berulang tahun.</p>
<p>Naah, supaya agak ceria, saya ingin bagi-bagi hadiah. Kali ini hadiahnya agak lebih serius. Saya barusan menyelesaikan naskah setebal 129 halaman. Seperti jaman dulu waktu menulis Secangkir Kopi Java, saya menulis topik yang menjadi ketertarikan saya saat ini: personal finance management. Judulnya &#8220;Merencanakan Keuangan Pribadi dengan GNUCash&#8221;. Saya sedang mengusahakan itu diterbitkan di nulisbuku.com (saya sudah upload naskahnya tadi sore), supaya saya bisa mengirimkan hadiah ini secara fisik ke teman-teman. Bukan <em>e-book</em> lho.</p>
<p><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/05/cover-gnucash-thumb.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3132" title="cover-gnucash-thumb" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/05/cover-gnucash-thumb.jpg" alt="" width="200" height="289" /></a></p>
<p>Siapa yang dapet? Biarkan <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Multiply-with-carry">pseudo random generator algorithm</a></em> yang akan menentukannya!</p>
<p>^_^</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/kc8DZQaw_8E" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/05/05/1000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/05/05/1000/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tentang Firas dan Zarah (Novel Partikel)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/LckktxzW5-c/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/05/03/tentang-firas-dan-zarah-novel-partikel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 02:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Intermezzzo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3128</guid>
		<description><![CDATA[Zarah adalah nama tokoh dalam novel Supernova terakhir Dee: Partikel. Sedangkan Firas adalah ayahnya Zarah. Mereka berdua adalah ilmuwan sejati yang memiliki gagasan-gagasan gila (seperti ilmuwan pada umumnya). Firas adalah ilmuwan yang ngefans berat sama teori Darwin, bahwa manusia berasal dari evolusi kera/orang utan. Terbukti bahwa 97% DNA Orangutan mirip dengan DNA manusia. Kemudian, ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Zarah adalah nama tokoh dalam novel Supernova terakhir Dee: Partikel. Sedangkan Firas adalah ayahnya Zarah. Mereka berdua adalah ilmuwan sejati yang memiliki gagasan-gagasan gila (seperti ilmuwan pada umumnya).</p>
<p>Firas adalah ilmuwan yang ngefans berat sama teori Darwin, bahwa manusia berasal dari evolusi kera/orang utan. Terbukti bahwa 97% DNA Orangutan mirip dengan DNA manusia. Kemudian, ada makhluk dari dimensi lain yang menculik manusia kera itu dan dikarantina di suatu tempat &#8212; yang disimbolkan sebagai surga Firdaus. Tiba-tiba manusia itu mengetahui rahasia reproduksi yang membuat mereka bisa berkembang biak di luar kendali makhluk dimensi lain itu &#8212; yang disimbolkan sebagai &#8220;buah pengetahuan&#8221; terlarang yang dimakan Hawa. Akhirnya manusia dikembalikan ke bumi &#8212; yang disimbolkan manusia dikeluarkan dari surga Firdaus.</p>
<p>Dewi Lestari, melalui tokoh Firas dan Zarah, secara halus mengritik banyak hal tentang kehidupan beragama. Bagaimana Zarah dikucilkan dan dicap atheis di sekolah. Termasuk ketika Abah, kakek Zarah, malah naik pitam ketika Zarah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang lugas tentang keimanan. Abah malah menampar Zarah ketika Zarah berkata, &#8220;Bahkan kalaupunTuhan itu ada&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Firas dan Zarah, seperti banyak ilmuwan yang lain, gagal memahami esensi ketidaktahuan sebagai pengetahuan. Zarah gagal memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya pada setiap penciptaan-Nya dan terus memburu jawaban-jawaban ilmiah yang dingin dan logis.</p>
<p>Ilmu pengetahuan sangat banyak dibahas di Al-Qur&#8217;an. Coba tengok Al-Baqarah 212, Yunus 24, Luqman 27, Ar-Rum 21-27, 46, 48, 49 dst. Dan yang bikin menohok, banyak ayat-ayat yang ditutup dengan kalimat, <em>&#8230; yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir</em>. Atau di ayat yang lain dengan pertanyaan yang diulang-ulang, <em>Apakah kamu tidak mendengar? Apakah kamu tidak memperhatikan?</em></p>
<p>Ayat-ayat tersebut seperti mengingatkan saya yang bebal dan tidak melihat apa yang sebenarnya terlihat mencolok mata<em></em>. Memang dalam beberapa titik, ada hal yang tidak bisa dijelaskan karena ketidakmampuan manusia itu sendiri. Abu Bakar ra. pernah berkata, <em>pengetahuan untuk mengetahui ketidaktahuan adalah pengetahuan</em>. Manusia hanya diberi pengetahuan yang amat sedikit, dan seharusnya manusia cukup tahu diri karenanya.</p>
<p>Zarah adalah satu contoh dari orang yang gagal mendapatkan esensi ilmu pengetahuan. (Apa esensinya, menurut saya adalah untuk memahami kebesaran Allah SWT melalui ciptaan-ciptaan-Nya). Ia hanya terhenti pada titik kekaguman dan pemujaannya kepada alam semesta, tidak terus mencari ke sumber pencipta alam semesta itu.</p>
<p>Sayang sih, padahal dia kan cantik. Ukuran bra-nya 34C lho&#8230; <em>*halah! apa hubungannya*</em></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/LckktxzW5-c" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/05/03/tentang-firas-dan-zarah-novel-partikel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/05/03/tentang-firas-dan-zarah-novel-partikel/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jalan-Jalan ke Bandung</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/wciRlUBrW9k/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/05/01/jalan-jalan-ke-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 22:37:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3125</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah beberapa kali ke Bandung, beberapa kali menginap sampai seminggu di Bandung, tetapi selalu berhubungan dengan urusan pekerjaan &#8212; project, meeting, training, dll. Saya suka kota Bandung. Sudah lama saya ingin ke Bandung tidak karena urusan pekerjaan, tapi belum sempat saja. Sampai kemarin saya tiba-tiba diajak seorang aktivis jejaring sosial untuk mengikuti Festival TIK [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah beberapa kali ke Bandung, beberapa kali menginap sampai seminggu di Bandung, tetapi selalu berhubungan dengan urusan pekerjaan &#8212; project, meeting, training, dll. Saya suka kota Bandung. Sudah lama saya ingin ke Bandung tidak karena urusan pekerjaan, tapi belum sempat saja. Sampai kemarin saya tiba-tiba diajak seorang aktivis jejaring sosial untuk mengikuti Festival TIK di Poltek Telkom Bandung. Tanpa pikir panjang saya iya-in aja.</p>
<p>Anyway saya sendiri lebih menikmati perjalanannya ketimbang acaranya. Seminarnya sendiri tidak menarik buat saya. Ada talkshow dari Kemenkominfo tentang dampak Facebook dan Twitter. Agak lucu buat saya bapak-bapak pejabat itu &#8220;dipaksa&#8221; harus mengerti social media karena tuntutan pekerjaan. Saya bilang begitu soalnya terkesan <em>those things are not on their blood</em>. Beda misalnya jika Pak Nukman Luthfie yang suruh bicara soal social media, karena ia sendiri aktivis yang sehari-hari ngetwit.</p>
<p>Terus ada saja peserta talk show yang membuat &#8220;panggung sendiri&#8221;. Terlihat dari antusiasme-nya, pertanyaan-nya yang sudah disusun seminggu (atau sebulan) sebelumnya, dan pernyataan-pernyataannya yang memang dibuat menarik perhatian dan tepuk tangan. Walah, akhirnya saya kembali meneruskan baca novel Partikel-nya Dee saja. Untung semua hal ini sudah saya antisipasi &#8212; jadi kalau ada teman-teman yang lihat ada orang asyik sendiri di belakang, khusyuk membaca lembar demi lembar, tanpa sedikitpun memperhatikan acara talkshow, itulah saya hehe&#8230;</p>
<p>Seminar berikutnya dari Pak Onno W Purbo yang membahas tentang OpenBTS. Pembahasannya terlalu <em>telco</em> buat saya yang berlatar belakang <em>computer science</em>. Saya akan lebih tertarik jika pembahasannya lebih umum, lebih strategis, dan yang seru tentu membahas masalah perizinan dan dinamika dengan operator lokal. Demo yang dilakukan seperti demo membuat software berbasis SOA dengan BPEL tetapi audiens-nya orang awam dan programmer pemula.</p>
<p>Sore hari, syukurlah, saya diajak teman-teman dari Flickr Bandung untuk <em>street hunting</em> di Jalan Braga. Semacam menyambut fotografer dari Jakarta? Wah, saya tersanjung. Disana ketemu beberapa teman yang selama ini cuma tahu hasil karyanya di Flickr. Saya suka kopdar &#8212; karena itu termasuk silaturahmi, tetapi saya tidak terlalu suka kopdar besar, terorganisir, dan membawa agenda-agenda tersendiri. Saya akan buat satu essay khusus tentang <em>street hunting</em> ini di photoblog saya.</p>
<p>Malam hari itu Bandung kembali diguyur hujan. Karena memang tidak rencana untuk menginap (saya hanya bawa tas kamera doang ga bawa baju ganti), saya kembali ke Jakarta memakai XTrans terakhir ke Kartika Chandra. Sopirnya kayak dikejar setan tol Cipularang, berangkat jam 10 malam, sampai Pancoran jam setengah 12 saja. Jakarta tentu saja masih belum tidur malam itu.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/wciRlUBrW9k" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/05/01/jalan-jalan-ke-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/05/01/jalan-jalan-ke-bandung/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Dream Theater Live in Jakarta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/S5Xx4JIFLPA/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/04/22/dream-theater-live-in-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 14:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3113</guid>
		<description><![CDATA[A Dramatic Turn of Events Tour, tur dunia band progresif rock dari Amerika bernama Dream Theater, mampir ke Indonesia, live di Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, semalam. Saya pikir hampir setiap anak muda yang suka musik rock mestinya mengenal band ini. Apalagi anak band, pegang gitar listrik, dan jika dia memilih Ibanez sebagai gitarnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dream_Theater">A Dramatic Turn of Events Tour</a>, tur dunia band progresif rock dari Amerika bernama Dream Theater, mampir ke Indonesia, live di Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, semalam. Saya pikir hampir setiap anak muda yang suka musik rock mestinya mengenal band ini. Apalagi anak band, pegang gitar listrik, <del>dan jika dia memilih Ibanez sebagai gitarnya</del>, dia tentu mendewakan John Petrucci.</p>
<p>Saya kenal Dream Theater waktu SMA, waktu sekolah saya mengadakan festival band. Menyaksikan band teman sekelas memainkan <em>Under a Glass Moon</em>. Sebagai tokoh yang tidak populer di kelas (basket ga bisa, main musik pun baru belajar gitar), sepertinya keren sekali melihat teman-teman beraksi di atas panggung &#8212; dan tentu saja digandrungi cewek-cewek.</p>
<p>Ternyata pas kuliah, saya menemukan banyak lagu-lagu Dream Theater dari album-album Images and Words, Scene from Memory, Octavarium, hingga album terbarunya sekarang, Dramatic Turns of Events.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-01.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3115" title="DT-01" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-01.jpg" alt="" width="550" height="367" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><small><em>Build Me Up, Break Me Down, dari album Dramatic Turn of Events</em></small></p>
<p>Saya ini suka berbagai macam musik, mulai pop mellow, rock metal, ballads, musik klasik, jazz, sampai campur sari dan langgam gamelan. Salah satu yang ingin saya lihat langsung sebenarnya adalah Bon Jovi dan Guns n Roses. Suvenir abad ke-20. GNR sudah lama bubar, dan Bon Jovi personelnya sudah pada tua. Maka Dream Theater adalah kesempatan langka. Saya bela-belain tidak nonton Java Jazz Festival 2012 dan menombokkan budgetnya dengan selembar tiket kelas Festival untuk konser Dream Theater: 2012 World Tour  - Live in Jakarta.</p>
<p>Keluarnya Mike Portnoy sebagai icon Dream Theater memang membuat sebagian ciri Dream Theater menghilang. Tapi penggantinya, Mike Mangini, punya ciri khas sendiri. Gebukannya lebih mantap, dan ia bisa lebih menyatu dengan band &#8212; tidak seperti Portnoy yang sering mendominasi. Jadi formasi Dream Theater yang tampil semalam adalah James LaBrie (vokal), John Petrucci (gitar), John Myung (bass), Jordan Rudess (keyboard), dan Mike Mangini (drum).</p>
<p>Jordan Rudess, selain dengan keyboard <del>Kurzweil</del>Korg-nya yang khas, juga membawa Haken Continuum Fingerboard-nya. Itu sih cerita lama. Yang baru adalah adanya iPad di sebelah keyboardnya yang di tangannya bisa mengeluarkan suara-suara yang indah. Selama ini saya berpikir aplikasi alat musik di iPad hanya sebagai main-main saja.</p>
<p>John Petrucci, <del>dengan gitar Ibanez-nya</del>, tampil sempurna. Dream Theater memang band &#8220;sekolahan&#8221; &#8212; disiplin dan tidak banyak ulah. Jadi jangan harap ada aksi banting gitar di sini, atau memetik gitar dengan lidah. Tapi melihatnya secara langsung dari dekat &#8212; dari jarak 15 meteran &#8212; membuat saya yakin kalau Petrucci ini masih manusia. Kalau lihat permainannya, yang ada hanya takjub saja. Kalau kata James LaBrie waktu memperkenalkan John Petrucci, &#8220;the most talented, gifted guitar player&#8221;.</p>
<p>Uniknya, si LaBrie ini berkomentar <em>mak jleb</em> soal Jakarta: traffic. Dia bilang, <em>God! </em>betapa susahnya dari satu tempat ke tempat lain dengan lalu lintas yang gila-gilaan. Bahkan di pintu masuk venue ini! Iya sih, EO-nya sepertinya kelas kacangan membiarkan penonton berdesak-desakan masuk ke venue. Padahal tiket paling murahnya 700-900 ribu pre sale untuk kelas Festival. Kabarnya, tiket go show kelas Festival sampai 1,2 juta.</p>
<p>Saya akan bilang, konser Dream Theater ini akan saya kenang lama sekali. Saya tidak terlalu suka nonton konser, apalagi kalau lihat harga tiketnya. Tetapi adalah pengalaman tersendiri nonton di kelas festival, berdiri, berjingkrak-jingkrak, mengacungkan jari, menggoyangkan tangan, teriak-teriak walau suara sendiri tidak terdengar kalah sama hentakan drum dan raungan gitar. Kuping budeg, jantung rasanya berdentam-dentam! See you again in Indonesia, Dream Theater!</p>
<p style="text-align: center;"> <a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-02.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3116" title="DT-02" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-02.jpg" alt="" width="550" height="367" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><small><em> The Spirit Carries On, dari album Scene from Memory</em></small></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-03.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3117" title="DT-03" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-03.jpg" alt="" width="550" height="367" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><small><em>Dream Theater, full team. Dari kiri ke kanan: John Petrucci, Mike Mangini, James Labrie, Jordan Rudess, dan John Myung</em></small></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-04.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3118" title="DT-04" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/DT-04.jpg" alt="" width="550" height="367" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><small><em>Footprint :p. Setelah konser usai. Sesak napas karena banyak anak-anak muda bodoh merokok di ruangan tertutup dan minim oksigen ini</em></small></p>
<p><em>Dream Theater Dramatic Turn of Events Tour</em><br />
<em> Live in Jakarta, 21 April 2012</em><br />
<em> Mata Elang International Stadium, Ancol</em><br />
<em> Foto-foto: Saya</em><br />
<em> Kamera: Panasonic Lumix DMC F-3</em></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/S5Xx4JIFLPA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/04/22/dream-theater-live-in-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/04/22/dream-theater-live-in-jakarta/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bicaralah Secara Denotatif, Wahai Kaum Wanita</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/XZjTpmKrSSQ/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/04/21/bicaralah-secara-denotatif-wahai-kaum-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 09:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3111</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan Balikpapan-Jakarta dengan pesawat Garuda GA517 dari bandara Sepinggan selepas shalat Jumat itu menyenangkan. Bukan karena cuacanya yang mendung, tidak pula karena makanannya yang tambah mirip makanan kereta Gajayana. Tidak karena suara bariton kapten pesawat yang tidak bisa basa-basi tapi kewajiban prosedur memaksanya berceloteh tentang ketinggian, suhu, dan cuaca. Juga bukan pula karena mbak-mbak pramugari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjalanan Balikpapan-Jakarta dengan pesawat Garuda GA517 dari bandara Sepinggan selepas shalat Jumat itu menyenangkan. Bukan karena cuacanya yang mendung, tidak pula karena makanannya yang tambah mirip makanan kereta Gajayana. Tidak karena suara bariton kapten pesawat yang tidak bisa basa-basi tapi kewajiban prosedur memaksanya berceloteh tentang ketinggian, suhu, dan cuaca. Juga bukan pula karena mbak-mbak pramugari khas Garuda: make up yang tidak natural untuk menyembunyikan umur sehingga membuatnya mirip boneka bertopeng, senyum yang terlatih yang membuat saya berpikir, &#8220;orang ini hanya ramah ketika bekerja, pasti jutek kalau sudah turun dari pesawat&#8221;. Jauh dari kesan keramahan khas Indonesia yang disimbolisasi seragamnya yang mirip kebaya dan telapak tangannya yang mengatup ketika mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Oh iya, setiap kali kita akan turun pesawat, mbak pramugari itu kan bilang &#8220;terima kasih&#8221; sambil tersenyum ramah, tapi jarang lho membalas tatapan tulus saya yang berkata, &#8220;terima kasih&#8221;. Seperti robot saja, mungkin karena kebanyakan penumpang juga super cuek. Penumpang-penumpang yang mahasibuk yang bahkan sudah bertelepon dan ber-BBM dengan entah siapa waktu masih di pesawat.</p>
<p>Eh, saya bukan mau cerita soal pelayanan Garuda, tapi soal in-flight entertainment-nya. Saya memilih nonton film drama Korea, tanpa pakai head-set. Soalnya saya takut kadung nangis-nangisan, film dihentikan paksa karena sudah mau mendarat. Jadi saya menikmati tokoh ceweknya yang berwajah imut, berkulit putih mulus, bertubuh langsing. Sosok yang bakal diidam-idamkan semua pria untuk dimiliki, sekaligus segala hal yang dimiliki cewek itu diidam-idamkan semua wanita. Saya hanya mengikuti ceritanya dari subtitle ganda yang tampil di layar &#8211; Mandarin dan Bahasa Inggris.</p>
<p>Ceritanya sih template, seorang gadis perawat rumah sakit yang jatuh cinta dengan dokternya. Seorang dokter muda sukses di puncak karier, bebas finansial, berwajah tampan dengan potongan rambut gaya terbaru, tubuh tinggi langsing. Profil yang menjadi impian setiap wanita. Masalahnya adalah, si gadis itu sedang berjuang menyembuhkan patah hati karena baru saja diputus oleh pria romantis. Pria itu awalnya seorang pria sederhana yang membuatkan puisi, membuatkan lagu dengan gitarnya. Gadis yang masih lugu polos itu pun <em>klepek-klepek</em>. Sampai akhirnya seorang produser film menemukan si cowok yang tiba-tiba menjadi bintang besar. Dan kisah cinta itupun kandas di tengah jalan.</p>
<p>Singkat cerita, sepuluh menit menjelang pesawat posisi landing, si gadis menyadari cintanya akan kabur ke Beijing melanjutkan riset bersama seorang dokter cantik yang ambisius yang juga mencintai sang dokter. Si gadis memburu cintanya di airport, dan jadilah adegan mirip film AADC waktu Cinta mengejar Rangga. Si Rangga, eh, si dokter itu akhirnya muncul sambil memeluk si gadis, dengan background pesawat yang sedang boarding, si dokter cantik, dan satpam bandara yang siap menangkap si gadis.</p>
<p>Setelah emosi terluapkan, si dokter itu berkata, &#8220;Kalau kamu meminta aku tinggal di sini, akan kutinggalkan risetku di Beijing. I will stay here with you.&#8221;</p>
<p>Tapi apa yang dikatakan si gadis, setelah segala hal yang dilakukannya menembus keamanan bandara, &#8220;Pergilah ke Beijing. Jangan lihat aku lagi!&#8221; Ia berkata begitu sambil menangis. Ia tak mau egois, meskipun ia cinta mati ke dokter itu, ia ingin pria yang dicintainya itu berkembang dalam kariernya. Ia juga ingin membuktikan kalau dia bisa tegar, tak bisa dibunuh oleh cinta.</p>
<p>Siapapun yang melihat ekspresi si gadis akan mengerti kalau gadis itu tak ingin si pria itu pergi. Tapi seperti yang akan dilakukan semua pria, dokter itu menurut apa yang disuruh di gadis. Si dokter naik pesawat ke Beijing.</p>
<p>Begitulah, saya rasa, hampir semua pria tidak bisa melihat apa maksud tersembunyi dari kata-kata wanita yang seringkali bertolak belakang. Atau minimal saya deh! Saya paling nggak bisa melihat maksud konotasi dari setiap perkataan wanita, apalagi jika saya sedang jatuh cinta. Efek kimia jatuh cinta itu sering membuat saya jauh lebih bodoh dari yang aslinya sudah bodoh. Melakukan tidakan bodoh. Berkata bodoh. Membuat blunder tidak perlu.</p>
<p>Lha, kok jadi curcol, ehehehe.. Ya pokoknya begitu deh. Pesan moralnya: kembali ke judul.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/XZjTpmKrSSQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/04/21/bicaralah-secara-denotatif-wahai-kaum-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/04/21/bicaralah-secara-denotatif-wahai-kaum-wanita/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Project Reklame</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/aAjOCYRY0ws/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2012/04/08/project-reklame/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 04:25:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/?p=3104</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya sempat mengeluh di Twitter kalau saya bosan dengan foto-foto saya yang itu-itu saja. Seperti seorang seniman yang mengalami masa kering ide, saya juga mengalami hal itu sehingga fotoblog saya biarkan tidur selama lebih dari dua bulan. Saya suka memotret landscape, arsitektural, rekaman kejadian (yang saya sebut once upon a time), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu saya sempat mengeluh di Twitter kalau saya bosan dengan foto-foto saya yang itu-itu saja. Seperti seorang seniman yang mengalami masa kering ide, saya juga mengalami hal itu sehingga fotoblog saya biarkan tidur selama lebih dari dua bulan.</p>
<p>Saya suka memotret landscape, arsitektural, rekaman kejadian (yang saya sebut <em>once upon a time</em>), dan bunga-bungaan (makro). Tiba-tiba saya merasa foto-foto saya menjadi kusam, kurang bening. Saya selalu iri melihat foto-foto yang menampilkan cerahnya pagi dengan warna-warna cerah: biru, hijau, dengan pencahayaan yang sempurna.</p>
<p>Tadi pagi, waktu menyusuri jalur Sudirman-Thamrin di Car Free Day, saya menemukan ide yang lama saya lupakan. Saya sudah lama ingin mengoleksi iklan-iklan dalam bentuk reklame, poster, dan baliho di jalan. Dulu sekali waktu blog masih ngetren kalau nggak salah ada blog niche yang khusus membahas itu. Sekarang tentu saja sudah mati blognya (emang berapa biji blog niche yang masih hidup?).</p>
<p><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/reklame.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3105 aligncenter" title="reklame" src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2012/04/reklame.jpg" alt="" width="500" height="460" /></a></p>
<p>Saya memulai topik baru di <a href="http://foto.galihsatria.com/topics/reklame/">http://foto.galihsatria.com/topics/reklame/</a>. Tentu saja kategori lainnya akan menggeliat kembali seiring dengan passion motret yang tiba-tiba meledak bangun ini. Khusus &#8220;Daily Photos&#8221;, saya akan khususkan untuk fotografi mobile. Foto-foto yang asal jepret tanpa pakai mikir. Pokoknya, <em>Don&#8217;t think, just shoot!</em></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/galihsatria/~4/aAjOCYRY0ws" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2012/04/08/project-reklame/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2012/04/08/project-reklame/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>

