<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" --><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>-- A New Day Has Come</title>
	<link>http://blog.galihsatria.com</link>
	<description>Kita tidak bisa mendapatkan semua keinginan kita agar bisa mensyukuri apa yang telah kita dapat...</description>
	<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 04:51:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/galihsatria" /><feedburner:info uri="galihsatria" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Buku Mencerminkan Kepribadian Kita</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/sglo3tQ3wss/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/03/05/buku-mencerminkan-kepribadian-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 04:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/03/05/buku-mencerminkan-kepribadian-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kasus pembunuhan berencana di novel Pembunuhan di Mesopotamia (Murder in Mesopotamia), Hercule Poirot mencoba menggali dan mengenal korban pembunuhan, Mrs. Leidner, dengan cara melihat-lihat koleksi bukunya. Hanya dengan dari koleksi buku Mrs. Leidner, Poirot bisa melukiskannya sebagai seorang yang mandiri, berkemauan keras, dan cenderung memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.
Jika Anda suka membaca, mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam kasus pembunuhan berencana di novel <em>Pembunuhan di Mesopotamia (Murder in Mesopotamia)</em>, Hercule Poirot mencoba menggali dan mengenal korban pembunuhan, Mrs. Leidner, dengan cara melihat-lihat koleksi bukunya. Hanya dengan dari koleksi buku Mrs. Leidner, Poirot bisa melukiskannya sebagai seorang yang mandiri, berkemauan keras, dan cenderung memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.</p>
<p>Jika Anda suka membaca, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa Anda akan memilih buku yang Anda suka untuk dibaca. Sedikit banyak, kita memilih buku yang membangkitkan minat dan ketertarikan. Saya menyukai cerita yang misterius dan dramatis, oleh karenanya rak buku saya banyak bertumpuk novel-novel thriller pembunuhan dengan variasi yang macam-macam. Agatha Christie memasukkan unsur psikologi. Sidney Sheldon menyajikan drama yang cepat yang memilukan. Sandra Brown memasukkan unsur romantisme yang tragis.</p>
<p>Meskipun sering dibilang melankolis, saya tidak terlalu menyukai novel-novel yang terlalu romantis dan <em>girly </em>macam seri Twilight. Dan entah kenapa hingga sampai saat ini saya tidak bisa tahu dimana enaknya baca seri Harry Potter yang sangat terkenal itu.</p>
<p>Disadari atau tidak, koleksi buku kita juga mencerminkan tingkat kecerdasan. Misalnya, orang yang koleksinya chiklite, teenlite, chicken soup tentu dinilai berbeda dengan mereka yang koleksinya sastra seperti Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Berbeda lagi dengan yang koleksinya buku-buku &#8212; asli bukan terjemahan &#8212; karya Dickens.</p>
<p>Mungkin setelah ini Anda bisa mengamati koleksi di rak buku Anda, atau membuka <em>account</em> Anda di Goodreads.com dan perhatikan apakah pendapat saya ini salah atau benar. Mari sharing di komentar di bawah atau trackback di blog Anda sendiri. ;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/03/05/buku-mencerminkan-kepribadian-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/03/05/buku-mencerminkan-kepribadian-kita/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Terinspirasi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/CX5NSB7ewXQ/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/03/03/terinspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cermin (Cerita Mini)]]></category>

		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/03/03/terinspirasi/</guid>
		<description><![CDATA[
Ilustrasi yang luar biasa ini saya temukan di sampul DVD Fur Elise: Bagatelles for piano by Ludwig van Beethoven yang dimainkan oleh Sthephanie McCallum. DVD ini berdurasi sekitar satu jam berisi 37 komposisi Bagatelle, dimana salah satunya adalah Bagatelle in A minor, Fur Elise yang terkenal itu.
Saya membayangkan, di sebuah sore yang hangat, Theresse Malfatti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2010/03/furelise.jpg" title="fur elise"><img src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2010/03/furelise.jpg" alt="fur elise" /></a></p>
<p>Ilustrasi yang luar biasa ini saya temukan di sampul DVD <em>Fur Elise: Bagatelles for piano by Ludwig van Beethoven</em> yang dimainkan oleh <em>Sthephanie McCallum</em>. DVD ini berdurasi sekitar satu jam berisi 37 komposisi Bagatelle, dimana salah satunya adalah <em>Bagatelle in A minor, Fur Elise</em> yang terkenal itu.</p>
<p>Saya membayangkan, di sebuah sore yang hangat, Theresse Malfatti sedang mencoba nada-nada yang baru dikenalnya. Mungkin semacam <em>G#m11 first inversion</em>. Ia tampil begitu anggun dan berkilau dalam riasan dan busana harian. Entah kenapa, saat itu nada-nada yang ia mainkan begitu merdu terdengar. Setiap ketukan nada yang ia bunyikan lewat jemarinya yang lembut serasa melayang-layang di udara, memenuhi ruangan. Penghayatan dan gairah terhadap musik begitu terasa.</p>
<p>Sang guru, Ludwig van Beethoven terhenyak. Bukan saja ia terkesan dengan suasana musikal yang sedang berlangsung, tetapi ia juga mengagumi kecantikan wajah muridnya yang telah mencuri hatinya. Seorang wanita muda yang lincah, ceria, dan berbakat yang sedang menari-narikan jari-jari lentiknya itu mempesonanya. Tanpa disadari oleh wanita itu, perlahan ia memperhatikannya dalam-dalam. Gelombang inspirasi menyerangnya. Satu bar dua bar ia tuliskan saat itu juga. Itulah nada awal rondo Bagatelle WoOp. 059: Fur Elise.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/03/03/terinspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/03/03/terinspirasi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Senja</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/om5jj3bRm-k/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/03/02/senja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 10:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<category><![CDATA[Landscape]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/03/02/senja/</guid>
		<description><![CDATA[
FLICKR
Lokasi: Sebelah RSUD Tulungagung, Jawa Timur
Canon Ixus 120 IS
Terkadang kita terpenjara dengan peraturan-peraturan yang kita definisikan sendiri. Misalnya dalam urusan foto ini saja. Saya seringkali tidak percaya diri untuk mempublikasikan foto tertentu di blog ini karena tidak berkonsep lah, atau cacat komposisi lah, dsb. Akhirnya malah tidak ada satu pun yang terpublikasi.
Jadi, kali ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2784/4401062208_0e1a38d16c.jpg" height="333" width="500" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/galih/4401062208">FLICKR</a><br />
Lokasi: Sebelah RSUD Tulungagung, Jawa Timur<br />
Canon Ixus 120 IS</p>
<p>Terkadang kita terpenjara dengan peraturan-peraturan yang kita definisikan sendiri. Misalnya dalam urusan foto ini saja. Saya seringkali tidak percaya diri untuk mempublikasikan foto tertentu di blog ini karena tidak berkonsep lah, atau cacat komposisi lah, dsb. Akhirnya malah tidak ada satu pun yang terpublikasi.</p>
<p>Jadi, kali ini saya publish foto ini. Jangan tanya apa konsepnya, konsepnya <em>just point and shoot!</em> Ini saya ambil di pertigaan rumah sakit RSUD Tulungagung waktu menjenguk sepupu saya, Zein, yang kena typhus. Tower yang terlihat itu adalah milik radio paling populer di seantero Tulungagung: Radio Josh (Suara Tulungagung Jaya FM).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/03/02/senja/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/03/02/senja/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tentang Emoticon Senyum :)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/Wjmy1sCUwP0/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/02/22/tentang-emoticon-senyum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 08:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/02/22/tentang-emoticon-senyum/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu elemen komunikasi yang sangat penting yang tidak ada dalam komunikasi berbasis teks adalah tidak adanya ekspresi/mimik wajah. Tanpa adanya ekspresi, sebuah tulisan bisa ditafsirkan dengan sangat berbeda oleh masing-masing pembaca &#8212; tergantung suasana hati si pembaca. Kata-kata yang mengumpat, namun jika itu diucapkan dengan raut wajah jenaka jelas akan menjadi candaan yang hangat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu elemen komunikasi yang sangat penting yang tidak ada dalam komunikasi berbasis teks adalah tidak adanya ekspresi/mimik wajah. Tanpa adanya ekspresi, sebuah tulisan bisa ditafsirkan dengan sangat berbeda oleh masing-masing pembaca &#8212; tergantung suasana hati si pembaca. Kata-kata yang mengumpat, namun jika itu diucapkan dengan raut wajah jenaka jelas akan menjadi candaan yang hangat, yang sayangnya bisa ditafsirkan berbeda jika itu ditulis di chat room. Sudah berkali-kali kesalahpahaman yang ada di chat room.</p>
<p>Penyedia layanan <em>chatroom </em>seperti Y!M dan arena mengobrol santai macam Plurk menyediakan <em>emoticon </em>&#8211; gambar icon yang menggambarkan ekspresi yang berhubungan dengan kalimat yang ditulis &#8212; untuk membantu melukiskan ekspresi. Tidak banyak membantu, tetapi cukup berguna. Saya bilang tidak membantu karena tafsir emoticon itu sendiri pun juga berbeda-beda bagi setiap orang.</p>
<p>Ambil contoh icon senyum yang berkode :) itu  [<img src="http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/1.gif" height="18" width="18" />]. Tentu ini artinya senyum simpul yang tidak sampai keluar gigi. Tapi baik di Y!M dan Plurk, saya menafsirkannya dengan sedikit berbeda. Saya mengartikannya: senyum yang menyembunyikan sesuatu dan sifatnya serius, bijaksana, mengalah, senyum maklum, dan semacamnya. Kadang-kadang cukup menjengkelkan melihat orang di chatroom tersenyum dengan cara ini. Senyum ini jauh dari keceriaan, bertolak belakang dengan senyum jahil yang kelihatan gigi dan berkode :D (mringis) [<img src="http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/4.gif" height="18" width="18" />].</p>
<p>Tetapi di situlah menariknya komunikasi lewat dunia maya. Adalah suatu hal yang bisa dimengerti jika seseorang bisa berperan sebagai pribadi yang benar-benar berbeda di dunia maya. Seseorang yang sangat pemalu dan introvert bisa menjadi begitu ceria dan akrab dengan teman-teman mayanya &#8212; karena ia tidak harus menunjukkan ekspresi yang sesungguhnya, ia hanya diwakili oleh emoticon-emoticon yang bisa diartikan apa saja oleh setiap orang.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah ini akan berlanjut hingga nanti ketika era jaringan pita lebar (<em>broadband</em>) telah benar-benar menyentuh semua lapisan masyarakat pengguna internet Indonesia. Apa jadinya jika orang bisa saling melihat wajah melalui <em>videoconference</em>? Ah, mungkin saya akan kehilangan peran yang sekarang begitu saya nikmati di dunia maya ha ha ha&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/02/22/tentang-emoticon-senyum/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/02/22/tentang-emoticon-senyum/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Framework dan Tumpukan Masalah yang Menyertainya</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/1idujSF2COc/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/02/15/framework-dan-tumpukan-masalah-yang-menyertainya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 10:06:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<category><![CDATA[Desain Web]]></category>

		<category><![CDATA[Design Pattern]]></category>

		<category><![CDATA[Developer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/02/15/framework-dan-tumpukan-masalah-yang-menyertainya/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah agak lama tidak terlibat dalam sebuah project yang sangat intens dengan coding dan saya merasa rindu karenanya. Saya sudah cukup banyak tahu dan mencoba bermacam framework seperti Spring, Hibernate, Webwork, Struts, Seam, IceFaces (Java sudah jenuh dengan framework ya?). Saya bukan programmer yang tahu terlalu dalam dengan tumpukan framework tersebut dan tidak terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah agak lama tidak terlibat dalam sebuah <em>project </em>yang sangat intens dengan <em>coding </em>dan saya merasa rindu karenanya. Saya sudah cukup banyak tahu dan mencoba bermacam <em>framework </em>seperti Spring, Hibernate, Webwork, Struts, Seam, IceFaces (Java sudah jenuh dengan framework ya?). Saya bukan programmer yang tahu terlalu dalam dengan tumpukan framework tersebut dan tidak terlalu tahu bagaimana memanfaatkan mereka dengan benar. Izinkan saya meletakkan ego saya dengan berkata bahwa saya tidak terlalu paham dengan konsep <em>MVC (Model View Controller)</em>.</p>
<p>Saya pernah gagal dalam merancang sebuah <em>software </em>dengan tumpukan framework MVC, dimana di sisi model menggunakan Hibernate sebagai ORM (Object Relational Model), di sisi view menggunakan Struts/Webwork, sedangkan Spring menangani sisi controller-nya. Singkatnya, dengan begitu tumpukan framework yang besar, permasalahan datang karena batasan-batasan framework, bukan karena proses bisnisnya. Akhirnya, banyak energi yang harus dihabiskan untuk memenuhi syarat-syarat cukup yang diwajibkan framework.</p>
<p>Seharusnya dengan perancangan, desain, dan perencanaan yang baik hal itu tidak terjadi. Janji-janji framework dimana proses skalabilitas dan perawatan akan lebih mudah menjadi janji palsu belaka. Nyatanya proses tambal sulam menjadi sedemikian besar. Apakah dengan framework tersebut proses pengerjaan akan menjadi lebih cepat? Mungkin jika project-nya begitu besar iya, tapi dengan skala kecil, akan ada waktu yang dihabiskan untuk membuat sistem dasar dimana semua framework berjalan dan saling bekerja sama dengan baik sebelum menyentuh ke proses bisnis intinya.</p>
<p>Akhirnya saya begitu merindukan PHP. <em>PHP from scratch</em>. PHP tanpa framework. PHP yang dengan begitu buruknya menangani variabel dan nilai <em>null </em>karena pemesanan blok <em>memory </em>tanpa deklarasi. Dan itulah yang saya lakukan. Semua saya gabung jadi satu. <em>Query </em>ke database, validasi, HTML, Javascript, semua dalam satu file PHP yang besar. Saya hanya memakai <em>library</em> kecil-kecil saja tanpa framework besar yang bertumpuk-tumpuk. Cukup merepotkan, tapi saya fokus dan hanya dihadapkan pada permasalahan inti, bukan masalah-masalah yang ditimbulkan karena penggunaan framework yang tidak benar.</p>
<p>Pelajaran moral yang saya dapatkan: tidak semua permasalahan harus menggunakan solusi framework yang besar. Kadang-kadang, sebuah permasalahan lebih efektif jika dikerjakan dengan cara &#8220;gila&#8221; tanpa aturan seperti ini. Permasalahan selesai, dan ada banyak orang yang lebih mengerti dengan cara dasar (karena mudah) dan sulit mengerti cara framework karena <em>learning curve</em>-nya jauh-jauh lebih panjang. Lebih mudah mendelegasikan pekerjaan.</p>
<p>Anda boleh menyebut saya <em>programmer </em>yang buruk karena tidak patuh terhadap kaidah suci MVC. Toh, saya mungkin tidak akan kembali lagi ke dunia ini, ha ha ha ha&#8230;</p>
<p><em>PS: Saya jadi ingat tulisan-tulisan beberapa tahun yang lalu waktu masih memuja MVC hehe.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/02/15/framework-dan-tumpukan-masalah-yang-menyertainya/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/02/15/framework-dan-tumpukan-masalah-yang-menyertainya/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sinergi dan Harmoni</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/PkVGNM0g3Xk/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/02/14/sinergi-dan-harmoni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/02/14/sinergi-dan-harmoni/</guid>
		<description><![CDATA[
FLICKR
Lokasi: Plaza Senayan, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS
Apa jadinya jika tahun baru Imlek bersamaan dengan hari kasih sayang Valentine? Plaza Senayan dengan cerdik menyatukan keduanya dengan pernik khas Tiongkok dengan dicampur warna pink khas Valentine. Saya kagum rupanya cantik juga dua warna yang berbeda ini jika disatukan.
Saya sadar betul, bahwa Valentine adalah produk kapitalis yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4033/4355745465_98d8619a4e.jpg" height="333" width="500" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/galih/4355745465/">FLICKR<br />
</a>Lokasi: Plaza Senayan, Jakarta Selatan<br />
Canon Ixus 120 IS</p>
<p>Apa jadinya jika tahun baru Imlek bersamaan dengan hari kasih sayang Valentine? Plaza Senayan dengan cerdik menyatukan keduanya dengan pernik khas Tiongkok dengan dicampur warna pink khas Valentine. Saya kagum rupanya cantik juga dua warna yang berbeda ini jika disatukan.</p>
<p>Saya sadar betul, bahwa Valentine adalah produk kapitalis yang diciptakan oleh pemasar dengan memanfaatkan sedikit sejarah agama. Tetapi ketimbang ribut-ribut berdebat tentang boleh dan tidaknya perayaan Valentine, saya memilih ikut menyebarkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat saya. Bikin puisi, bercerita tentang cinta, bersimfoni Fur Elise yang menyayat hati, mengajak burung-burung bernyanyi, dan mengajak bunga-bunga tersenyum.</p>
<p>Untuk ketiga kalinya, keinginan saya datang ke kelenteng (satu di Kembang Jepun, dua di Petak Sembilan) untuk memotret event Imlek gagal lagi. Saya harap nanti ketika perayaan Cap Go Meh, kelenteng di Tulungagung bikin event sehingga saya tetap bisa memotret pas mudik nanti.</p>
<p>Untuk pembaca saya yang setia,<em><br />
Be my valentine, I wish you a happy new year</em>, <em> zhù ni xin nián kuài lè</em><br />
:)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/02/14/sinergi-dan-harmoni/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/02/14/sinergi-dan-harmoni/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Looking in the Eyes of Love</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/21tTwmq85EA/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/02/09/looking-in-the-eyes-of-love/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 16:56:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<category><![CDATA[Melankolis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/02/09/looking-in-the-eyes-of-love/</guid>
		<description><![CDATA[
FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 &#124; Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Mereka mungkin tidak pernah mengungkapkan rasa cinta lagi setelah sekitar setengah abad hidup bersama. Mereka mungkin tidak sadar bahwa zaman telah berubah begitu cepat, bahwa mereka dulu harus menunggu berhari-hari untuk menerima kertas bertuliskan pena tinta hitam yang rapi dibungkus amplop cokelat berprangko [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4045/4343982696_09bcddfd91.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/galih/4343982696/">FLICKR</a><br />
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat<br />
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR</p>
<p>Mereka mungkin tidak pernah mengungkapkan rasa cinta lagi setelah sekitar setengah abad hidup bersama. Mereka mungkin tidak sadar bahwa zaman telah berubah begitu cepat, bahwa mereka dulu harus menunggu berhari-hari untuk menerima kertas bertuliskan pena tinta hitam yang rapi dibungkus amplop cokelat berprangko Rp. 5 untuk menerima ungkapan cinta. Sekarang, bahkan tak perlu menunggu menit untuk menerima ucapan cinta dan sayang.</p>
<p>Tetapi mereka masih sadar satu hal, saat dimana waktu dan takdir mempertemukan mereka. Di bawah pohon <em>Leucaena glauca</em> itulah, perjalanan cinta abadi mereka dimulai.</p>
<p>Tidak. Tidak ada yang berubah. Bahkan kulit yang telah keriput itu masih sehalus dan semulus dulu waktu senyum semanis madu menghiasi pipi yang merona merah. Tidak. Tidak ada yang berubah. Mata yang telah mengapur kabur itu masih setajam dulu. Punggung yang telah bungkuk itu masih sekuat dulu.</p>
<p>Tidak. Mereka bukan menolak kenyataan bahwa usia telah menggerogoti tubuh tua mereka. Cinta sejati tak akan pernah lapuk dimakan waktu. <em>They&#8217;re looking in the eyes of love.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/02/09/looking-in-the-eyes-of-love/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/02/09/looking-in-the-eyes-of-love/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Apa sih yang Enggak Buat Cinta?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/jynQcBItaLg/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/02/07/apa-sih-yang-enggak-buat-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 04:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<category><![CDATA[Daily Photos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/02/07/apa-sih-yang-enggak-buat-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[
FLICKR
Lokasi: Debenhams, Supermall Lippo Karawaci, Tangerang
Canon Ixus 120 IS
Iklan yang buat saya akan sangat menggelitik bagi para cowok-cowok eksmud kelas atas. Masak berat sih ngeluarin duit sejuta untuk selembar lingerie untuk kekasihmu? Mungkin kira-kira itu pesan yang ingin diteriakkan Debenhams Department Store kepada mereka yang sedang lewat.
Iklan ini begitu elegannya sehingga saya memerlukan berhenti sebentar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4035/4336723122_3fde76fea1.jpg" height="500" width="334" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/galih/4336723122/">FLICKR</a><br />
Lokasi: Debenhams, Supermall Lippo Karawaci, Tangerang<br />
Canon Ixus 120 IS</p>
<p>Iklan yang buat saya akan sangat menggelitik bagi para cowok-cowok eksmud kelas atas. Masak berat sih ngeluarin duit sejuta untuk selembar <em>lingerie </em>untuk kekasihmu? Mungkin kira-kira itu pesan yang ingin diteriakkan Debenhams Department Store kepada mereka yang sedang lewat.</p>
<p>Iklan ini begitu elegannya sehingga saya memerlukan berhenti sebentar untuk mengamatinya. Bahkan sempat bertanya-tanya apa arti <em>&#8220;What&#8217;s not to love&#8221;</em>. Mulai penempatannya yang di depan sebuah foto pria tampan yang memakai setelan jas, tipografinya, pemilihan kata, hingga posisi grafis <em>lingerie</em>-nya.</p>
<p>Iklan ini memang hanya akan mengusik pria-pria berduit, tapi bukankah memang itu segmen pasar Debenhams? Ini tentang kelas sosial, ini tentang harga diri, bahwa demi menyenangkan hati sang kekasih, berapapun tidak masalah. Jika efeknya adalah sebuah kecupan di pipi dengan bisikan, &#8220;terima kasih, sayang&#8221;, apalah arti sejuta dua juta untuk sekadar lingerie? Iya nggak? :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/02/07/apa-sih-yang-enggak-buat-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/02/07/apa-sih-yang-enggak-buat-cinta/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Jejak Langkah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/voO9pgp7Ux0/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/02/03/jejak-langkah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 10:07:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<category><![CDATA[Melankolis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/02/03/jejak-langkah/</guid>
		<description><![CDATA[
FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 &#124; Nikkor AF-S 55-200 mm
Sayangku, langkah kita akan sangat panjang
Aku belum melihat ujung perjalanan kita
Semuanya masih gelap, kabur
Aku bahkan tak tahu kemana langkah kita akan berujung
Ke sungai, ke muara?
Ke ujung lembah?
Sementara waktu tanpa ampun menghukum kita
Meniup jejak-jejak langkah kaki kita
Menanggalkan butir-butir sisa usia
Terbentang berserakan,
Halangan rintangan di depan kita
Izinkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4005/4327624634_4cf402f7a5.jpg" /></p>
<p align="center"><a href="http://www.flickr.com/photos/galih/4327624634/">FLICKR</a><br />
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat<br />
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm</p>
<p><em>Sayangku, langkah kita akan sangat panjang<br />
Aku belum melihat ujung perjalanan kita<br />
Semuanya masih gelap, kabur<br />
Aku bahkan tak tahu kemana langkah kita akan berujung</em></p>
<p><em>Ke sungai, ke muara?<br />
Ke ujung lembah?</em></p>
<p><em>Sementara waktu tanpa ampun menghukum kita<br />
Meniup jejak-jejak langkah kaki kita<br />
Menanggalkan butir-butir sisa usia</em></p>
<p><em>Terbentang berserakan,<br />
Halangan rintangan di depan kita</em></p>
<p><em>Izinkan aku menggenggam tanganmu<br />
Kuatkan aku, dukung aku<br />
Berdua kita menggapai tujuan<br />
Demi masa depan kita&#8230;</em></p>
<p>Catatan Kaki:<br />
Nampaknya kerudung telah menjadi tren fashion, tidak hanya sekadar identitas seorang wanita muslimah <strike>yang alim</strike>. Saya banyak menemui pasangan muda-mudi seperti ini sedang memadu kasih di Kebun Raya. Untuk kalian yang sedang dilanda asmara, saya persembahkan puisi ini untuk merayakan bulan kasih sayang. Dengan penuh cinta! :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/02/03/jejak-langkah/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/02/03/jejak-langkah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengenal Musik Klasik: Fur Elise</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/galihsatria/~3/6SgW6J9NwRk/</link>
		<comments>http://blog.galihsatria.com/2010/01/31/mengenal-musik-klasik-fur-elise/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 09:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Satria</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.galihsatria.com/2010/01/31/mengenal-musik-klasik-fur-elise/</guid>
		<description><![CDATA[
Tidak banyak musik klasik yang menawan hati para pecinta musik awam yang notabene lebih menyukai musik populer. Di antara yang sedikit itu, saya yakin Fur Elise adalah salah satunya. Komposisi ini terkenal berkat nada awalnya yang melegenda, teng tung teng tung teng ting tong teng tung&#8230;. Ditulis oleh komponis besar Ludwig van Beethoven yang tuna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2010/01/furelise.jpg" title="furelise.jpg"><img src="http://blog.galihsatria.com/wp-content/uploads/2010/01/furelise.jpg" alt="furelise.jpg" height="333" width="500" /></a></p>
<p>Tidak banyak musik klasik yang menawan hati para pecinta musik awam yang notabene lebih menyukai musik <span style="font-style: italic">pop</span>uler. Di antara yang sedikit itu, saya yakin <span style="font-style: italic">Fur Elise</span> adalah salah satunya. Komposisi ini terkenal berkat nada awalnya yang melegenda, <span style="font-style: italic">teng tung teng tung teng ting tong teng tung&#8230;</span>. Ditulis oleh komponis besar Ludwig van Beethoven yang tuna rungu, Fur Elise adalah komposisi musik yang luar biasa, baik bagi para penikmat maupun pemain.</p>
<p style="font-weight: bold">Detail</p>
<p>Jika anda pernah melihat partitur aslinya, pada partitur itu tertulis <span style="font-style: italic">Fur Elise, Bagatelle in A minor, WoO 59.</span> <span style="font-style: italic">Bagatelle</span>, maksudnya pendek dan berprogresi secara tidak terduga. Fur Elise dimulai dengan nada-nada yang lembut, mengalun, melenakan di bagian pertama kemudian terpecah menjadi progresi yang mengejutkan dan tak terduga di bagian kedua dan ketiga.</p>
<p>Bentuk komposisi seperti ini dinamakan rondo. Dalam <span style="font-style: italic">rondo</span>, tema pertama dimainkan, kemudian tema kedua diperkenalkan dan dikembangkan. Sebelum tema ketiga masuk, komposisi kembali lagi ke tema pertama dan akhirnya diakhiri kembali di tema pertama setelah melalui tema ketiga yang tak terduga.</p>
<p><span style="font-style: italic">A minor </span>tentu saja adalah kunci dasar yang dimainkan. Dalam musik modern, tanda kunci (<span style="font-style: italic">key signature</span>) A minor tidak terlalu dikenal karena nada dasar ini sama saja dengan nada dasar C yang terkenal. A minor adalah bentuk sedih dari tangga nada C mayor.</p>
<p><span style="font-style: italic">WoO 59</span>, ini seperti tanda air yang saya tulis dalam setiap karya foto saya. O adalah <span style="font-style: italic">opus</span> (bahasa Latin) yang kira-kira berarti karya. Masalahnya, Beethoven hanya menomori karyanya hanya untuk karya-karya besar dan penting saja seperti misalnya <span style="font-style: italic">grand symphonies</span> atau piano sonata. Karya yang lebih kecil seperti Fur Elise ini tidak memiliki nomor opus/karya, sehingga orang memberikan tanda untuk Fur Elise sebagai WoO: tanpa nomor karya.</p>
<p style="font-weight: bold">Siapa Elise Sebenarnya?</p>
<p>Pertanyaan yang sangat menarik tentu saja adalah misteri nama Elise di komposisi ini. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa Elise adalah kekeliruan &#8212; seharusnya adalah <span style="font-style: italic">Fur Therese </span>&#8211; karena buruknya tulisan tangan Beethoven. Hal ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa pada saat itu ada wanita bernama Therese Malfatti yang merupakan salah satu wanita yang menolak lamaran seorang Ludwig van Beethoven. Hingga masa meninggalnya, Beethoven tidak pernah menikah. Kasih tak sampai.</p>
<p>Andai tulisan itu memang benar Elise, bukan Therese, Elise akan selalu menjadi misteri yang akan menghidupkan imajinasi para penikmat musik klasik.</p>
<p>Saat saya memainkan bagian pertama Fur Elise, saya bisa merasakan lewat jari-jari saya, membayangkan seorang wanita cantik bernama Elisa yang begitu mempesona seorang laki-laki. Mereka berteman baik, kenangan akan masa lalu yang hadir di antara mereka berdua. Hari-hari yang begitu berwarna. Namun tiba-tiba sesuatu datang merusak semuanya, memadamkan sebuah harapan akan cinta yang bersambut. Cinta yang tak berbalas. Hingga cinta itu berakhir dalam sebuah kesedihan.</p>
<p>Itulah Fur Elise di imajinasi saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.galihsatria.com/2010/01/31/mengenal-musik-klasik-fur-elise/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://blog.galihsatria.com/2010/01/31/mengenal-musik-klasik-fur-elise/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
