Terus terang saya tidak terlalu perduli dengan siapa yang akan menjadi presiden, selama dia bisa menjaga kehormatan negara ini dari intimidasi negara tetangga, dan mampu untuk memajukan penelitian rakyat, dan tidak mudah tunduk kepada negara-negaraan besar, maka saya akan mendukungnya sepenuh hati.
Yang pasti saya tidak akan memilih seorang banci untuk memimpin negara ini.
Semoga rakyat Indonesia sudah semakin dewasa dan memilih sesuai dengan hati nurani mereka masing-masing. Tidak lagi mudah di beli dengan uang, apalah arti uang 50 ribu atau bahkan 100 ribu rupiah bila kita harus menderita selama 5 tahun ke depan.
![]()
Ini hanya sedikit berita yang baik tentang Libya dan Khadafi, yang mungkin hanya sedikit dari kita yang tau. Membaca list di bawah ini, saya menjadi terenyuh, ternyata Khadafi tidak seburuk yang mereka beritakan selama ini.
Apakah Libya akan menjadi lebih baik dengan jatuhnya Kadhafi? Hanya waktu yang bisa menentukan.
Cerita yang semula saya anggap mitos atau urband legend ternyata benar adanya.
Bila pengemudi kontainer menabrak seseorang dan orang tersebut masih hidup dalam keadaan sekarat atau cacat, maka pengemudi kontainer akan memundurkan kontainernya sehingga orang tersebut di tabrak dual kali dan memastikan agar orang tersebut benar benar mati.
Kejam? Sadis? Memang begitulah kenyataannya.
Tujuan dari pengemudi kontainer menabrak mari korbannya adalah agar perusahaan kontainernya tidak rugi besar. Bila orang yang di tabrak meninggal, maka kompensasi yang di berikan sedikit, beda bila korbannya dalam keadaan cacat, maka perusahaan kontainer harus membayar dana kompensasi yang cukup besar.
Bukan salah supir kontainer juga, karena dia di perintahkan untuk itu oleh perusahaan. Bila tidak, maka dia akan mendapatkan kesulitan.
Kejam? Benar!
Sadis? Benar!
Tapi itulah hidup.
Bila dulu timnas kita biasanya hanya bertengger sebagai juru kunci, sekarang bisa maju sampai final, dan bahkan kemungkinan menjadi juara.
Luar biasa.
Segala atribut timnas di buru, mulai dari kaos, jaket, dan rompi semua di cari. Bila mereka tidak mampu untuk beli yang asli, mereka pun akan mencari yang murah asal mereka bisa ikut berbangga mengunakan baju timnas jagoan mereka.
Salah satu pasar traditional tempat memcari baju timnas adalah pasar Tanah Abang Jakarta. Mulai dari depan sampai belakang, hampir di padati oleh penjual baju timnas, baju Garuda kata para pedagang.
Semuanya gara-gara sepakbola.
Maju terus tim sepak bola nasional Indonesia. Semoga akan terus berjaya, bukan hanya di kawasan regional tapi juga di dunia.
Kali ini saya benar-benar bangga.
Walaupun dengan acak adulnya kepengurusan PSSI ditambah dengan ngototnya seseorang untuk tetap berada di pengurusan PSSI walau banyak pihak dari dalam dan bahkan luar negri meminta dia mundur, tim nasional Indonesia mampu bangun dari keterpurukan dan mampu menjadi tim yang di perhitungan di daerah regional bahkan mungkin internasional.
Baik pemain lokal seperti Firman, Bepe dan pemain hasil naturalisasi seperti Gonzales telah menunjukan perjuangan kerasnya untuk mampu mengalahkan tim-tim lain. Sikap ngotot mulai di tunjukan oleh mereka yang biasa nya jarang terjadi sebelumnya.
Hal ini juga tidak lepas dari pelatih yang pelit senyum, tapi sangat menujukan kelasnya dalam melatih pasukan tim nasional.
Sangat di sesalkan pemberitaan oleh media yang hanya terfokus oleh salah seorang pemain, dan tidak menyeluruh kesemua tim. Seakan-akan keberhasilan tim nasional hanya keberhasilan dia semata.
Saya sempat malu ketika membaca ketika SBY menanyakan asal dari Gonzales, dan di jawab dengan pasti oleh Gonzales, dari Indonesia. Kelihatan seorang Gonzalez lebih nasionalis dari kebanyakan kita.
Kalah atau menang adalah hal yang biasa, yang membedakannya adalah bagaimana cara kita menuju kesana.
Hiduplah Indonesia Raya.
Posted from WordPress for Android