<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>goro-goro</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Sat, 21 Sep 2024 12:02:54 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://sampriste14.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Panji Semirang Cerita rakyat dari Jawa Timur</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/07/panji-semirang-cerita-rakyat-dari-jawa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 6 Jul 2012 20:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-6880792377710508131</guid><description>Tersebutlah sebuah kerajaan bernama Jenggala, dengan putra mahkotanya bernama Raden Inu Kertapati. Dia berwajah rupawan, badannya tegap, dan sangat ramah kepada siapa saja, tanpa memandang status dan jabatannya. Dia sudah bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri Kerajaan Kediri.
Suatu waktu, Raden Inu Kertapati berangkat ke Kerajaan Kediri untuk menemui tunangannya. Rombongannya lengkap dengan perbekalan dan pengawal yang siap siaga.
Di tengah perjalanan, rombongan Raden Inu diberhentikan oleh gerombolan dari Negeri Asmarantaka yang dipimpin oleh Panji Semirang. Melihat ada orang yang menyuruhnya berhenti Raden Inu bersiap-siap seandainya harus bertempur. Akan tetapi gerombolan tersebut tidak menyerang mereka. Mereka hanya meminta Raden Inu untuk bertemu dengan pemimpinnya, Panji Semirang.
Tanpa rasa takut Raden Inu menemui Panji Semirang, yang menyambutnya dengan ramah, sehingga Raden Inu bertanya, “Rupanya engkau tidak seperti yang selama ini diceritakan orang-orang, wahai Panji Semirang?”. Panji Semirangpun mengatakan bahwa selama ini dia hanya mengundang rombongan untuk bertemu dengannya, siapa yang tidak berkenan, maka tidak dipaksa.
Akhirnya Raden Inu melanjutkan perjalanannya, setelah menceritakan bahwa dia sedang menuju Negeri Kediri, untuk menemui calon istrinya, Dewi Candra Kirana.
Radin Inu baru pertama kali bertemu dengan Panji Semirang. Namun selama pertemuan tersebut dia merasa seperti sudah mengenalnya sebelumnya, sehingga langsung merasa akrab. Hanya saja Raden Inu tidak dapat mengingat kapan dan di mana dia mengenal Panji Semirang. Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan Panji Semirang, Raden Inupun melanjutkan perjalanannya menuju Kediri.
Tiba di Kediri, rombongan Raden Inu disambut dengan meriah. Bahkan selir Raja Kediri bernama Dewi Liku yang memiliki putri bernama Dewi Ajeng ikut menyambut kehadiran Raden Inu Kertapati. Hanya saja Raden Inu tidak melihat kehadiran Dewi Candra Kirana. Ketika Raden Inu menanyakan keberadaan Dewi Candra Kirana, Dewi Ajeng mengatakan bahwa Dewi Candra Kirana menderita sakit ingatan dan sudah pergi lama dari kerajaan.
Mendengar keterangan kepergian Dewi Candra Kirana, Raden Inu kaget sekali sehingga jatuh pingsan. Iapun segera dibawa masuk ke dalam istana. Memanfaatkan kesempatan ini, dan dengan tipu muslihatnya, akhirnya Dewi Liku berhasil memperdaya Raja Kediri sehingga menikahkan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng. Menjelang acara pernikahan ini segala macam persiapan diperintahkan oleh Raja Kediri, pesta yang sangat meriah.
Rupanya rencana jahat Dewi Liku tidak berhasil. Tiba-tiba terjadi kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh persiapan pernikahan tersebut. Melihat kejadian tersebut, Raden Inu dan rombonganpun meninggalkan istana, dan setelah berada jauh dari istana, diapun tersadar dan teringat kembali dengan Dewi Candra Kirana, yang sangat mirip sekali dengan Panji Semirang. Dia berpikir bahwa bisa jadi Panji Semirang adalah Dewi Candra Kirana. Kemudian dia dan seluruh rombongannya menuju Negeri Asmarantaka, tempat Panji Semirang berada.
Rupanya Panji Semirang sudah meninggalkan negeri tersebut. Tanpa putus asa, Raden Inu mencari keberadaan Panji Semirang hingga akhirnya tibalah mereka di Negeri Gegelang, yang rajanya masih kerabat dari Raja Jenggala. Di Negeri Gegelang ini Radn Inu disambut dengan gembira. Rupanya, Negeri Gegelang sedang menghadapi kesulitan, yaitu sedang diganggu oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Lasan dan Setegal. Akhirnya, Raden Inu Kertapati bersama-sama dengan pasukan dari Negeri Gegelang menghadapi para perampok. Raden Inu mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi perampok tersebut, dan berhasil mengalahkannya hingga pimpinan perampok tersebut mati.
Pesta tujuh hari tujuh alam diadakan untuk menyambut kemenangan Raden Inu Kertapati dan pasukannya. Pada malam terakhir pesta tersebut Raja memanggil seorang ahli pantun, seorang pemuda bertubuh gemulai. Pantun yang dibawakannya berisi cerita perjalanan hidup Dewi Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati, hal yang membuat Raden Inu menjadi sangat penasaran sehingga akhirnya menyelediki siapa sebenarnya ahli pantun tersebut. Selidik punya selidik, rupa-rupanya ahli pantun tersebut memang adalah Panji Semirang alias Dewi Candra Kirana. Dewi Candra Kirana bercerita bahwa memang Dewi Liku yang membuatnya hilang ingatan hingga akhirnya keluar dari istana Daha. Dia disembuhkan oleh seorang pertapa yang memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit.
Setelah semua misteri terungkap jelas, akhirnya Raden Inu Kertapati kembali ke Negeri Jenggala untuk melangsungkan pernikahan meriah, dan menjadi sepasang suami istri yang hidup berbahagia.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cerita Kresna di India</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/cerita-kresna-di-india.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:39:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-8180417248173701876</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Nama Kresna didapat dalam Regweda. Diceritakan, Kresna muncul sebagai anak Dewaki yang pandai dan bijaksana. Ada lagi nama Kresna, nama seorang resi anak laki-laki Wiswaka. Dewa besar bernama Kresna bersama sepuluh ribu pengikut melakukan pengrusakan, kemudian dikalahkan oleh Indra. Dalam syair Weda diceritakan limapuluh ribu Kresna terbunuh. Dalam mitologi India diceritakan Kresna adalah pahlawan paling cemerlang, dewa paling populer. Ia adalah awatara Wisnu yang kedelapan, bahkan dikatakan jelmaan Dewa Wisnu. Kresna juga dikenala dalam banyak legenda dan fable, hidup dalam cerita epos. Kresna ikut mengambil bagian dalam cerita Mahabharata. Cerita-cerita pendek banyak yang mengangkat Kresna sebagai dewa.&lt;br /&gt;
Cerita Kresna berkembang pula dalam cerita Hariwamsa. Dalam kitab purana lebih banyak ceritanya, terutama dalam Bhagawatapurana. Dalam kitab itu kisah hidup Kresna sejak awal diceritakan secara teriinci dan disenngi bnaayak orang. kenakalan sejak kanak-kanak, kesalahan dn cerita cinta masa remaja amat menarik. Cerita awal kehidupan Kresna merupakan ciptaan baru, sedang cerita yang berkaitan dengan tokoh Pandawa lebih banyak berkembang.&lt;br /&gt;
Kresna berasal dari suku Yadawa, keturunan Yadu, salah satu anak Yayati. Suku Yadawa hidup sebagai penggembala, tinggal ditepi sungsi Yamuna, di Windawana barat. Pada waktu itu berkuasalh Kamsa raja Boja, anak Ugrasena. Setelah mengusir ayahnya, Kamsa memerintah Matura dekat Wrindawana. Ugrasena mempunyai saudara laki-laki bernama Dewaka. Dewaka mempunyai anak perempuan bernama Dewaki. Dewaki kawin dengan Wasudewa anak Sura, keturunan Yadu.&lt;br /&gt;
Kisah kelahiran Kresna dimuat dalam kitab Wisnupurana dan Mahabharata. Diceritakan dewa Wisnu mencabut dua helai rambut putih dan hitam. Rambut itu dimasukkan dalam rahim Rohini dan Dewaki. Hamillah dua isteri Wasudewa itu. Rohini melahirkan Balarama, Dewaki melahirkan Kresna atau Kesawa. Wasudewa adalah saudara Kunti isteri Pandu. Maka Kresna adalah saudara sepupu tiga saudara Pandawa.&lt;br /&gt;
Kresna anak periang dan besar di antara gembala. Kekuatan bahunya terkenal di tiga dunia. Ia membunuh raja Haya yang tinggal di hutan Yamuna, membunuh Danawa berwujud banteng dahsyat yang menakutkan, membunuh Pralambang, Naraka, Yamba, Pita, Asura dan Muru. Ia membunuh Kamsa yang dibnatu oleh Jarasanda. Bersama Balarama ia menghancurkan Sunaman saudara Kamsa dan raja Surasena. Kresna menang dalam sayembara bagi anak perempuan raja Gandara, mengalahkan Jarasanda, Sisupala, Samba dan menguasai kota para Ditya di tepi laut. Ia mengalahkan suku Angga dan Bangga. Di dasar laut ia megalahkan Waruna, di dasar bumi ia mengalahkan Pancajana dan memperoleh kerang Pancajanya. Bersama Arjuna memadamkan kemarahan Agni di hutan Kandawa dan memperoleh sanjata cakra. Ia mengacau Amarawati dengan kendaraan garuda, mengacau kota Indra dan melarikan Parijata.&lt;br /&gt;
Kresna manaklukana raja Boja dan melarikan Rukmini, kemudian diperistrinya. Ia menghancurkan orang-orang Gandara, mengalahkan anak Nagnajit dan membebaskan raja Sudarsana dari tahanan musuh. Ia membunuh Pandya dengan kepingan daun pintu, menghancurkan orang-orang Kalingga di Dantakura.&lt;br /&gt;
Kresna berhasil memulihkan kota Benares yang habis terbakar. Ia membunuh Ekalawya raja Nisada dan iblis Jamba. Bersama Balarama ia menaklukan raja Sunaman anak Ugrasena, kemudian menyerahkan kerajaan Mathura kepada Ugrasena. A menaklukan kota Sauba dan raja Salwa, dan memperoleh senjata Satagni yang sakti.&lt;br /&gt;
Kresna menolong Indra untuk mengalahkan Naraka yang melarikan anting-anting permata milik Aditi dan dibawa ke Pragjotrisna. Kresna berhasil menewaskan Muru dan Oga, kemudian Naraka. Anting-anting permata berhasil direbut kembali dari tangan Naraka.&lt;br /&gt;
Kresna adalah bangsawan Dwaraka, hadir dalm sayembara Drauoadi. Ia membantu memberi jawaban sayembara, sehingga Draupadi dapat diboyong oleh Arjuna.&lt;br /&gt;
Ketika Pandaw menguasai Indraprastha Kresna mengunjungi mereka dan ikut berburu ke hutan Kandawa. Di hutan itu Kresna dan Arjuna memihak Agni yang ingin membakar hutan. Tetapi dihalang-halangi oleh Indra. Agni memberi Cakra dengan nama Wajranaba dan gada bernama Kaumodaki. Indra dapat dikalahkan, Agni membakar hutan Kandawa.&lt;br /&gt;
Ketika Arjuna berkunjung ke Dwaraka diterima oleh Kresna dengan gembira. Pada waktu itu Arjuna jatuh cinta pada Subhadra, adik Kresna. Kresna menyetujui percintaan Subhadra dan Arjuna, tetapi Balarama menolak maksud Arjuna memperistri Subhadra.&lt;br /&gt;
Ketika Yudhisthira ingin menyelenggarakan upacara korban Rajasuya, Kresna menyarnkan agar ia menaklukan Jarasanda raja Magada. Jarasanda diserang dan tewas. Tindakan itu dilakukan sebagai balasan ketika Kresna dipaksa meninggalkan Mathur dan pindah ke Dwaraka. Kresna menghadiri upacara korban Rajasuya, ditempat itu bertemu Sisupala yang istrinya telah dilarikan oleh Kresna. Sisupala menghina dan bersikap keras. Kresna berang, Sisupala di cakra, putus kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tragedi Bangsa Yadawa (Jatidiri dan Sifat Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/tragedi-bangsa-yadawa-jatidiri-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:35:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-9040905740880147997</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Kresna menghadiri perjudian antara Yudhistira dengan keluarga Korawa. Ketika Draupadi dipertaruhkan dan kalah, ia ditarik oleh Duhsasana masuk ke balai agung. Duhsasana melucuti pakaian Draupadi, tetapi Kresna segera menggantikan pakaian yang dilepas itu. Karena kalah berjudi, Pandawa dibuang ke hutan. Setelah berakhir masa pembuangan bagi para Pandawa, Kresna hadir dalam perundingan dan menganjurkan penyelesaian secara damai. Kresna kembali ke Dwaraka, Arjuna dan Duryodhana mengikutinya. Masing-masing berusaha untuk menarik Kresna agar berpihak kepadanya. Kresna menolak ajakan mereka, ia tidak akan aktip dalam perang yang mungkin terjadi, sebab ia mempunyai hubungan saudara terhadap mereka. Ia mengajukan usul, agar mereka memilih antara pribadinya sebagai pendamping dan penggunaan pasukan perangnya. Pada waktu perundingan, Arjuna lebih dahulu datang, dan memilih Kresna. Raja Duryodhana dengan gembira memilih pasukan perang. Kelak Kresna menjadi sais Arjuna di medan perang.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Atas permintaan Pandawa, Kresna diminta pergi ke Hastina sebagai penengah, tetapi usaha Kresna tidak berhasil. Terpaksa mereka melakukan persiapan perang. Sebelum perang besar, Kresna bertindak sebagai sais kereta perang, ia menyampaikan sanjak suci Bhagawadgita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kresna amat berjasa dalam perang besar itu. Dua kesempatan Kresna menyarankan pada Pandawa. Ia membisikan kebohongan, agar Yudhistira membuyarkan keperkasaan Drona. Bhima disuruh menghancurkan paha Duryodhana. Setelah berpesan Kresna pergi ke Hastina menghadiri upacara korban Aswameda. Di Dwaraka Kresna mengumumkan larangan minum anggur. Kemudian bermunculan pertanda dahsyat dan menakutkan di seluruh masyarakat Dwaraka. Kresna menyuruh agar orang-orang pergi ke pantai daerah Prabasa, mohon agar dewa tidak marah. Mereka diijinkan minum anggur, tetapi hanya sehari. Mereka bermabuk-mabukan, akibatnya Pradyumna tewas bersama semua perwira Yadawa. Balarama bebas dari kemelut itu, kemudian meninggal dengan tenang di bawah sebatang pohon. Kresna terbunuh secara tidak sengaja oleh pemburu bernama Jaras. Kresna disangka rusa, lalau dipanah oleh pemburu itu. Arjuna pergi ke Dwaraka dan menyelenggarakan upacara berkabung bagi Kresna. Istri Kresna membakar diri di padang Kuruksetra.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber cerita lain menceritakan Kresna sebagai berikut: Beberapa bagian cerita Mahabharata menempatkan tokoh Kresna di bawah Mahadewa Siwah. Kresna sebagai pemuja Siwah, maka diperoleh berbagai hadiah dari Siwah dan Uma.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kisah hidup Kresna yang terkenal terutama pada masa kanak-kanak dan masa remaja. Banyak diungkapkan dalam kitab Purana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ramalan Narada dikatakan kepada Kamsa, bahwa kelak akan lahir anak laki-laki dari Dewaki, kemudian akan menghancurkan dan menaklukan kerajaan Kamsa. Untuk mencegah bahaya itu Kamsa menahan Dewaki di istananya. Dewaki adalah anak perempuan saudara laki-laki Kamsa. Enam anak yang dilahirkan Dewaki dibunuh oleh Kamsa. Pada kehamilan yang ke tujuh bayi itu inkarnasi Wisnu, dan secara luar biasa dipindahkan dari kandungan Dewaki ke kandungan Rohini istri ke dua Wasudewa. Bayi yang lahir diberi nama Kresna. Bayi itu mempunyai seuntai rambut aneh tumbuh di dada. Para dewa berusaha menyelamatkan bayi luar biasa itu. Para penjaga istana diguna-guna sehingga tertidur, kancing pintu dilepas, Wasudewa mendukung bayi dibawa lari ke Mathura. Mereka sampai di tepi sungai Yamuna, menyeberang ke rumah Nanda. Nanda itu seorang gembala, isterinya bernama Yasoda. Pada malam itu juga Yasoda baru melahirkan bayi perempuan. Wasudewa menukarkan bayi Balarama dan Kresna dengan bayi Yasoda. Bayi Yasoda diserahkan kepada Dewaki. Kamsa tahu tipu muslihat Wasudewa, lalu menyuruh agar setiap bayi luar biasa dibunuhnya. Wasudewa dan Dewaki dilepas dari istana, karena dianggap tidak berbahaya lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nanda membawa bayi bersama Yasoda, Rohini, dan Balarama pergi ke Gokula. Di tempat itu Balarama dan Kresna menjadi dewasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak kanak-kanak sampai masa dewasa dua anak itu gemar bermain dan bercanda. Kekuatan mereka sangat menakjubkan, namanya menjadi terkenal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kamsa selalu berusaha mencari kematian Kresna. Iblis betina bernama Putana beralih rupa menjadi perempuan cantik, ia ditugaskan untuk membunuh Kresna. Putana berhasil menemui pengasuh Kresna dan menjadi inang pengasuh. Sewaktu Putana menyusui Kresna, anak itu kuat-kuat menghisap air susu, sehingga Putana tewas. Iblis lain berusaha untuk menggilas dengan pedati, pedati ditendang, hancur berantakan. Iblis bernama Triwarata beralih rupa menjadi angin pusar, terbang membawa Kresna. Kresna memaksa angin kembali ke daratan dengan keras, iblis menjadi hancur dan tewas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu hari Kresna memecahkan tempayan berisi susu dan keju. Susu dan keju habis dimakannya. Yasoda marah besar, Kresna diikat dengan seutas tali pada sebuah tempayan besar. Kresna menarik tempayan itu, tali pengikat menyangkut dua pohon besar. Tumbanglah pohon itu bersama akar-akarnya. Orang-orang menyebut Kresna dengan nama Damodhara.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sang Petualang (Jatidiri dan Sifat Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/sang-petualang-jatidiri-dan-sifat.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:34:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-8756520927821749747</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Kresna pernah berkelahi dengan ular besar Kaliya yang tinggal di sungai Yamuna. Ular tersebut dipaksa pergi dari sungai tersebut.&lt;br /&gt;
Pada waktu para gadis pemerah susu sedang mandi, Kresna melarikan pakaian mereka, lalu memanjat pohon. Dengan telanjang gadis-gadis itu mengejar dan merebut pakaian mereka.&lt;br /&gt;
Kresna membujuk agar Nanda dan para gembala berhenti memuja Indra, mereka disuruh memuja gunung Gowardana. Kresna mengangkat gunung Gowardana dan ditopang dengan jari tangannya, kemudian untuk berlindung selama tujuh hari. Karena kehebatannya itu Kresna mendapat sebutan Gowardanadhara dan Tungisa. Sebagai pelindung lembu, Indra menyatakan puas hati, lalu memberi sebutan Upendra.&lt;br /&gt;
Pada waktu Kresna menginjak masa dewasa, para gadis penggembala jatuh cinta kepadanya. Ia mengawini tujuh atau delapan di antara mereka., tetapi isteri yang pertama dan sangat disayangi hanyalah Rada. Pada masa kehidupannya itu Kresna digambarkan dengan rambut berombak, sebuah seruling ditangannya. Salah satu acara pengisi waktu Kresna sering menari bersama Rada, para gadis lain ikut menari di sekelilingnya. Tarian itu bernama Mandalanritya atau Rasamandala.&lt;br /&gt;
Kamsa selalu mengirimkan iblis untuk mengganggu Kresna. Pernah disuruhnya Arista dan Kesin dalam wujud banteng dan kuda untuk membunuh Kresna. Setelah usaha Kamsa gagal, Balarama dan Kresna diundang supaya datang ke Mathura untuk menghadiri beberapa acara pertandingan. Kamsa telah bersiap-siap untuk menghancurkannya. Balarama dan Krersna menerima undangan itu, lalu pergi ke Mathura. Sampai di batas kota mereka berjumpa tukang cuci abdi Kamsa. Cucian ditumpahkan, Balarama dan Kresna dicacimaki. Tukang cuci dibunuh, pakaian yang baik diambil lalu dipakainya.&lt;br /&gt;
Kresna berjumpa Kubya, gadis bungkuk yang membawa minyak jebad. Gadis itu dibuatnya dapat berdiri tegak.&lt;br /&gt;
Balarama dan Kresna menghadiri upacara pertandingan. Kresna membunuh Chamura pendekar raja Mathura. Kemudian berhasil membunuh Kamsa. Ugrasena diminta naik tahta kembali. Kresna tinggal di Mathura belajar seni berperang kepada Sandipani.&lt;br /&gt;
Kresna pergi ke neraka menjemput enam saudaranya yang dibunuh oleh Kamsa sewaktu masih bayi. Bayi-bayi itu setelah menikmati susu ibu, lalu naik ke nirwana.&lt;br /&gt;
Kresna pernah membunuh iblis bernama Pancajana yang menyerang anak gurunya. Iblis itu tinggal di laut dalam wujud kerang. Kresna menggunakan kerang untuk terompet dan diberi nama Pancajanya.&lt;br /&gt;
Kedua isteri Kamsa adalah anak perempuan Jarasanda raja Magada. Raja Magada itu mengumpulkam pasukan untuk menyerang Mathura, tetapi dapat dikalahkan oleh Kresna. Delapanbelas kali raja Magada berusaha untuk membunuh Kresna, tetapi tidak pernah berhasil. Raja itu dapat dikalahkan oleh Kresna.&lt;br /&gt;
Musuh baru bernama Kalayawana mengancam Kresna. Kresna merasa tidak mampu, lalu pindah ke Guzarat dan membangun kota Dwaraka. Selama bermukim di Dwaraka, Kresna melarikan Rukmini dan memperisterinya. Rukmini anak raja Widarba itu telah ditunangkan dengan Sisupala. Kisah lain yang menceritakan perkawinan Kresna. Seorang perwira Yadawa bernama Satrajit mempunyai permata indah bernama Syamantaka. Kresna sangat mencintainya. Pengawasan permata itu diserahkan kepada Prasena. Tetapi Prasena kemudian meninggal karena seekor singa hutan. Singa dibunuh oleh Jambawat raja beruang. Satrajit mendakwa Kresna melarikan permata. Untuk membersihkan diri Kresna masuk ke hutan untuk menyelidiki kematian Prasena. Kresna bertemu Jambawat dan berhasil merebut permata. Kemudian Kresna memperistri Jambawati anak perempuan Jambawat, dan juga memperisteri Satyaboma anak Satrajit.&lt;br /&gt;
Kresna mempunyai isteri 16.000 lebih dan beranak 180.000 anak laki-laki. Dari Rukmini lahir anak laki-laki bernama Pradyumna dan anak perempuan bernama Carumati. Perkawinannya dengan Jambawati beranak Samba, dengan Satyaboma beranak sepuluh anak laki-laki.&lt;br /&gt;
Indra datang kepada Kresna minta bantuan untuk menumpas iblis Naraka. Kresna bersedia, lalu pergi ke kerajaan Naraka. Mula-mula berhasil membunuh iblis Muru penjaga kota, kemudian membunuh Naraka.&lt;br /&gt;
Kresna berkunjung ke istana Indra bersama Satyaboma, atas usul Satyaboma, Kresna mencabut pohon Parijata yang termashur, berasal dari buih air laut. Pohon itu Saci isteri Indra. Saci mengadu kepada Indra. Indra menyusun kekuatan untuk merebut pohon itu, tetapi tidak berhasil, bahkan kalah melawan Kresna.&lt;br /&gt;
Pradyumna mendapatkan anak laki-laki bernama Arimuda. Arimuda dicintai oleh Usa anak Bana. Usa minta bantuan sahabatnya untuk melarikan Arimuda dan Kresna. Balarama dan Pradyumna berusaha menyelamatkannya. Bana dibantu Siwa dan Skanda menghadang mereka. Kresna dengan senjata bius membuat Siwa menjadi lengah. Siwa berhasil dikalahkannya. Skanda cedera, Bana bertempur dengan gigih, akhirnya luka parah. Atas permintaan Siwa, Bana diampuninya, Arimuda dilepaskannya.&lt;br /&gt;
Panudraka adalah laki-laki keturunan tokoh bernama Wasudewa. Karena ia keturunan Wasudewa yang sama nama dengan ayah Kresna, lalu membuat lambang-lambang Kresna. Ia bersekutu dengan raja Kasi atau Benares. Kresna membunuh Panudraka dan meluncurkan senjata cakra yang bernyala-nyala untuk membinasakan negara Kasi.&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; line-height: 17px;"&gt;Kresna sungguh terkenal dan mempunyai banyak sebutan atas hubungan keluarga, petualangan dan watak pribadinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kresna dalam Kesastraan Jawa Kuna (Jatidiri dan Sifat Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/kresna-dalam-kesastraan-jawa-kuna.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:33:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-6095788678505960473</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
Cerita kelahiran dan masa remaja Kresna dimuat dalam kakawin Kangsa (Naskah Kirtya No. 844) Basudewa raja Mathura menguasai bangsa Yadu, Wresni dan Andhaka. Basudewa mempunyai saudara nak-sanak bernama Kangsa yang lahir dari rasaksi Pragamini, keturunan Lawana. Setelah menjadi raja Kangsa amat kejam, menindas bangsa Yadu. Wisnu menjelma lewat Dewaki atau Raiwati isteri kedua Basudewa, Basuki lewat Rohini isteri Basudewa yang pertama. Cerita dalam kakawin Kangsa atau Kresnandaka selanjutnya menceritakan kehidupan Kresna pada masa kecil dan remaja. Kangsa menerima ramalan Narada, bahwa kelak Kangsa akan mendapat musibah yang berasal dari anak yang sekarang masih dalam kandungan. Kangsa percaya akan ramalan Narada itu, lalu menyuruh semua perempuan yang sedang mengandung harus dibunuhnya. Isteri Basudewa yang sedang mengandung dapat diselamatkan sehingga mereka tidak terbunuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dua isteri Basudewa melahirkan anak. Rohini lebih dahulu melahirkan Baladewa, kemudian Dewaki melahirkan Kresna. Kangsa selalu ingat ramalan Narada, maka ia berusaha membunuh Kresna dan Baladewa. Kangsa menugaskan raksasi Nanakotana untuk berhias seperti manusia cantik, dan supaya menjadi inang di Mathura. Inang itu supaya berusaha membunuh Kresna dengan menyusukannya pada buah dadanya yang sudah dioles dengan bisa. Ketika menyusui inang itu digigit susunya oleh Kresna, dan mati seketika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wahru mengetahui usaha Kangsa yang amat kejam itu. Isteri Basudewa dan dua anaknya diungsikan ke Gobraja daerah Magadha, dititipkan kepada Antagupta dan Ayaswadha. Peternak lembu itu memelihara Baladewa dan Kresna dengan rasa cinta kasih seperti anaknya sendiri. Sepuluh tahun di Magadha dua anak itu tumbuh menjadi remaja yang sakti, tampan dan menarik banyak anak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kangsa ingat ramalan Narada, lalu menaklukkan Magadha yang dikuasai bangsa Yadu. Ia berusaha menemukan anak Basudewa yang telah lama bersembunyi, lalu akan mengadakan adu raksasa melawan bangsa Yadu di Magadha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Basudewa mengutus Wabhru agar datang ke Gobraja, memberi tahu kepada Antagupta tentang usaha Kangsa. Kresna dan Baladewa tahu rencana pertandingan di Magadha itu. Mereka berdua ingin melihatnya. Antagupta melarang, tetapi mereka bersikeras untuk datang menyaksikan pertandingan itu. Mereka meninggalkan Gobraja menuju ke kerajaan Magadha. Perjalanan mereka diserang buaya. Buaya berhasil dibunuh oleh Kresna, kemudian berubah menjadi bidadari. Bidadari itu bernama Puspakindama, ia merasa diruwat, lalu menyampaikan rasa terima kasih, dan menyerahkan Cakra Sudarsana kepada Kresna. Setelah menerima senjata mereka meneruskan perjalanan. Sewaktu menyeberang sungai Saraswati mereka diserang ular naga. Ular naga berhasil dibunuh oleh Baladewa. Ular naga mati dibawa arus sungai. Kemudian naga itu kembali datang, mengaku utusan Anantabhoga, bernama Jambuwana, menyerahkan senjata dahsyat bernama Langghyala. Baladewa menerima senjata. Mereka berdua meneruskan perjalanan ke Magadha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selama menyusuri kota Magadha, Kresna menyembuhkan wanita bongkok menjadi tegak. Wanita itu bernama Samantara, abdi Wabhru. Kedatangan Baladewa dan Kresna diserang oleh raksasa, tetapi semua raksasa dapat dikalahkannya. Mereka berdua menyusup di kelompok orang-orang Yadu.Basudewa dan Wabhru gembira melihat kehadiran Kresna dan Baladewa. Kresna dan Baladewa berhasil membunuh sejumlah besar raksasa. Kangsa mengamuk, tetapi akhirnya mati terbunuh oleh senjata Cakra. Semua raksasa dimusnahkan oleh Kresana dan Baladewa. Para dewa ikut bergembira. Indra datang ke Magadha, menghidupkan orang-orang Yadu yang mati dibunuh oleh prajurit Kangsa (sumber bacaan: Naskah Kakawin Kangsa atau Kresnandhaka, naskah Kirtya Singaraja nomor 844).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerita Kresnayana karangan Mpu Triguna, berisi perkawinan Kresna dan Rukmini. Rukmini anak Bismaka raja Kundina hendak dikawinkan dengan Suniti raja Cedi. Perkawinan itu atas persetujuan raja Bismaka, tetapi Prthukirti ibu Rukmini, menginginkan bermenantu Kresna raja Dwarawati, kemenakan Prthukirti sendiri. Pada malam menjelang hari perkawinan Kresna dengan bantuan ibu Rukmini dan abdinya, serta kesiapan prajurit Yadu dan Wrsni yang dipimpin oleh Baladewa, Kresna berhasil mengalahkan raja Cedi dan prajuritnya, serta menaklukan Rukma kakak Rukmini, Kresna kawin dengan Rukmini dan diboyong ke Dwarawati. Perkawinan mereka dianugerahi anak bernama Pradyumna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cerita perkawinan Kresna dengan Rukmini juga dimuat dalam cerita Hariwangsa karangan Mpu Panuluh. (Sumber Bacaan: 1. Kakawin Kresnayana karangan Empu Triguna, naskah Leiden LOR 8393. 2. Kakawin Hariwangsa karangan Mpu Panuluh, naskah Kirtya No. 721. 3. Kalangwan karangan PJ.Zoetmulder h.317-323 dan h. 355-362)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam cerita Adiparwa disebutkan, bahwa Kresna adalah penjelmaan Sang Hyang Aditya, Baladewa penjelmaan Sang Hyang Wasuki. Pradyumna anak Kresna, penjelmaan Sang Hyang Smara (adiparwa h. 64)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam beberapa bagian cerita Adiparwa menceritakan keakraban persaudaraan Kresna dengan Pandhawa. Pertemuan Kresna dengan Pandhawa sejak Arjuna memperoleh Drupadi melalui sayembara. Kresna dan Baladewa menemui Yudhisthira, dan mengaku, bahwa mereka masih saudara sepupu. Sebab Kunthi itu adik Basudewa. Semula Kresna mendengar berita kematian Pandhawa karena terbakar atas tipu muslihat Duryodana. Tiba-tiba ia melihat orang sakti memenangkan sayembara. Kesaktian Arjuna menjadi penyebab Kresna tahu, bahwa Pandhawa masih hidup. Maka Kresna dan Baladewa membuktikan perkiraannya, ternyata benar. Mereka menemui dan menyatakan kegembiraannya. (Adiparwa h. 181-182). Kemudian pada hari persiapan perkawinan Drupadi dan Pandhawa, Kresna datang lagi menyerahkan pesumbang berupa emas manikam, kain indah, gajah dan kuda (Adiparwa h.187)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jatidiri dan Sifat Kepemimpinan Kresna</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/jatidiri-dan-sifat-kepemimpinan-kresna.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:32:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-4678836695085012173</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika Arjuna menggembara di hutan bertemu dengan Kresna di gunung Raiwataka. Mereka menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh golongan Yadu, seraya mendengarkan kemerduan suara gamelan. Dalam pesta itu Arjuna melihat Subhadra adik Baladewa. Arjuna terpesona melihat kecantikan Subhadra. Kresna tahu, bahwa Arjuna tertarik kepada Subhadra, lalu disuruh melarikannya. Setelah Arjuna berhasil melarikan Subhadra, Baladewa marah, merasa dihina oleh Arjuna. Kresna menahan kemarahan Baladewa. Dikatakannya bahwa Arjuna telah menebus emas kawin dengan kesaktiannya. Baladewa dan Kresna kalah sakti dan tidak akan menang melawan kesaktian Arjuna. Akhirnya Baladewa menyetujui perkawinan Arjuna dengan Subhadra. Perkawinan berlangsung di Dwarawati. Perkawinan mereka dianugerahi anak bernama Abhimanyu (Adiparwa: 202-205)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kresna dan Arjuna membantu pembakaran hutan Khandawa. Setelah Kresna mengunjungi perkawinan Drupadi dengan Pandhawa, ia bersama Arjuna pergi berjalan-jalan menyusuri sungai Yamuna. Di tepi sungai itu mereka mengadakan pesta makan dan minum. Kemudian datanglah berahmana mengaku bernama Agni. Kresna dan Arjuna akan menjamu berahmana itu. Berahmana menolak untuk dijamu, ia minta bantuan Kresna dan Arjuna untuk membakar hutan Khandawa. Ia selalu gagal membakar hutan itu, karena dihalangi oleh dewa Indra yang bersekutu dengan naga Taksaka. Kresna dan Arjuna sanggup membantu, tetapi minta diberi senjata sakti. Berahmana memberi senjata yang mereka minta. Arjuna diberi panah Mahaksaya Mahesadi dan Sang Hyang Soma memberi tempat anak panah yang tidak pernah habis bila anak panah dilepaskannya. Ia diberi juga senjata Sanggacakra. Kresna diberi cakra Bajranabha, panah sakti bila dipanahkan anak panahnya kembali kepada pemanahnya. Sebuah gada Komodaki diberikan kepada Kresna untuk kelengkapan senjatanya. Mereka berdua telah siap, Sang Hyang Agni mulai membakar hutan Khandawa. Sang Hyang Indra berusaha memadamkan kobaran api. Sang Hyang Yama, Baruna, Waisrawana, Aswino, Dhata, Twasta, Angsa, Mrtya, Aryana, Mitra, Pusa, dan Bhaga membantu usaha Hyang Indra. Mereka beradu kesaktian senjata dengan Kresna dan Arjuna. Kemudian didengar suara yang mengatakan bahwa naga Taksaka sudah meninggalkan hutan Khandawa dan bertempat di Kuruksetra. Biarlah Kresna dan Arjuna menjaga Hutasana penjelmaan Narayana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sang Hyang Indra dan para dewa meninggalkan hutan Khandawa. Sang Hyang Agni dengan bebas membakar hutan seisinya. Maya anak Wiswakarma minta hidup kepada Kresna. Kresna pun memberi hidup kepada Maya karena ia tidak pernah membunuh orang yang minta hidup kepadanya. Arjuna menolong naga Aswasena. Empat ekor burung puyuh bebas dari kobaran api.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam cerita Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Kresna berpihak kepada Pandawa. Sebelum perang terjadi Kresna diminta bantuannya oleh Pandawa untuk mengusulkan agar Suyodhana mau membagi dua kerajaan Hastina. Kresna pun menyanggupinya, lalu berangkat dari Wirata menuju ke Hastina, dihantar oleh Satyaki. Setiba di Kuruksetra kresna berrtemu dengan Parasurama, Kanwa, Janaka dan Narada. Mereka berempat akan membantu Kresna. Mendengar berita kedatangan Kresna di Hastina, Dhrestarastra menyuruh agar orang-orang menghias jalan dan menebarkan kain-kain indah. Bhisma berseru agar rakyat menyambut kedatangan Kresna dengan ramah tamah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anjuran itu disanggah Sakuni, Karna dan Suyodhana. Mereka menganggap Kresna berpihak kepada Pandawa. Kedatangan Kresna disambut dengan enam rasa makanan lezat dan bunyi tabuh-tabuhan yang amat merdu. Kresna tidak datang di tempat raja Suyodhana, tetapi menuju tempat Dhrestarastra. Di tempat itu Kresna bertemu dengna Drona, Bhisma, Krepa, Salya, Widura, Karna dan Dhrestarastra. Kresna dijamu bermacam-macam makanan lezat, emas dan manikam. Kemudian Suyodhana datang bersama pembawa makanan jamuan untuk Kresna. Kresna menolak jamuan Suyodhana sebab tujuan kedatangan dan perundingan belum tercapai. Suyodhana marah atas sikap Kresna yang menolak jamuannya. Kresna meninggalkan tempat pertemuan, diantar Widura menuju ke tempat tinggal Kunti. Kunti amat gembira menerima kedatangan Kresna sebagai wakil Pandawa. Widura sepaham dengan rencana Kresna. Suyodhana kecewa, lalu berunding dengan Dusasana, Sakuni dan Karna. Karna membakar hati warga Korawa supaya benci kepada Kresna yang berpihak kepada Pandawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suyodhana minta agar Widura memanggil Yuyutsu, Krepa, Sakuni, Karna dan raja-raja sekutunya, kemudian minta kehadiran Kresna. Para dewa yang menjelma sebagai resi datang menghadiri perundingan. Kresna membuka perundingan dengan memandang Dhrestarastra. Ia berkata kepada Suyodhana, ia atas nama Pandawa minta separo kerajaan Hastina, Dhrestarastra setuju dan menerima permintaan Kresna. Suyodhana diam dan berpaling kepada Dusasana, Sakuni dan Karna. Mereka bertiga bergeleng kepala, pertanda tidak setuju. Ramaparasu, Kanwa, Narada dan Janaka berpihak kepada usul Kresna. Drona dan Bhisma menyetujui usul Kresna demi kebahagiaan bersama. Widura dan Sanjaya ikut menyetujuinya, demikian juga permmaisuri Dhrestarastra.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suyodhana menolak usul Kresna, bahkan mengusir Kresna untuk meninggalkan tempat perundingan. Raja Hastina menyuruh Karna, Sakuni dan Dusasana untuk bersiap-siap menyerang Kresna. Mereka bertiga mempersiapkan prajurit Korawa. Dhrestarastra dan permaisuri berusaha membujuk Suyodhana, tetapi tidak termakan nasihatnya. Bahkan semakin berkobar kemarahannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Satyaki memberi tahu, bahwa prajurit Korawa telah siap menyerang Kresna, tetapi prajurit Yadu telah siap melawannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kresna meninggalkan tempat perundingan, lalu berdiri di halaman, bertiwikrama membesarkan diri sebesar Kalamretyu, menundukkan bahwa ia jelmaan dewa Wisnu. Kresna yang dahsyat itu melangkah dan menyerang seperti singa. Bumi bergetar hebat, orang Korawa cemas ketakutan. Karna menjadi pucat, Suyodhana, Yuyutsu dan Wikarna jatuh pingsan. Drona, Bhisma dan Narada menghadap Kresna, minta agar berhenti marah dan minta kedamaian dunia. Bila Korawa hancur, tidak akan terpenuhi idam-idaman Bhima, Dropadi tidak akan bersanggul jika tidak jadi mandi darah warga Korawa. Redalah kemarahan Kresna, kembali ke wujud semula.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kresna dalam Pewayangan(Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/kresna-dalam-pewayanganjati-diri.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:31:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-3188353035808460912</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah medan pertempuran Baratayuda Kresna menasihati Harjuna&lt;br /&gt;
agar menuntaskan peperangan walaupun harus menghadapi saudaranya.&lt;br /&gt;
Nasihat tersebut lebih dikenal dengannama Bagawadgita.&lt;br /&gt;
(lukisan tinta di atas kertas tahun 2006 karya Herjaka HS)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kresna kembali menemui Kunthi, melapor hasil perundingan, bahwa Suyodhana menginginkan perang. Kunthi berpesan agar Kresna menyuruh Pandhawa untuk melakukan kewajiban sebagai Pahlawan dan mempertaruhkan jiwanya. Kresna minta pamit, diantar oleh Widura, Sanjaya dan Yuyutsu. Karna mengikutinya. Kresna membujuk agar Karna berpihak kepada Pandawa, tetapi Karna menolaknya. Karna ingin mengukur kesaktian melawan Arjuna. Kemudian Karna minta pamit, berjanji akan bertemu di medan perang.&lt;br /&gt;
Kresna kembali ke Wirata, memberi tahu hasil perundingannya dengan Suyodhana. Pandawa bersiap-siap untuk berperang.&lt;br /&gt;
(Bharatayudha Z.II.8-16 s.d Z.III.1-18)&lt;br /&gt;
Cerita kematian Kresna dimuat dalam cerita Mosalaparwa, suku Wresni dan Yadu musna dalam perang saudara. Pokok cerita itu demikian : Bagawan Wisawamitra, Kanwa dan Narada berkunjung ke Dwarawati. Mereka dilihat oleh suku Yadu. Sarana dan Samba datang menghadap. Samba berhias dan berdansa seperti wanita, mengaku isteri Babhru, minta agar dianugerahi anak. Sang Bagawan berkata, bahwa mereka berdua menghina para bagawan. Dikatakannya, bahwa isteri Babhru itu sebenarnya adalah Samba anak Kresna. Sang bagawan mengutuk, suku Yadu akan mati oleh gada yang lahir dari kandungan perut Samba. Baladewa dan Kresna tidak akan ikut mati, mereka tidak bersalah, Kresna akan mati oleh si Jara, Baladewa akan mati masuk ke samodera. Setelah mengutuk para bagawan itu meninggalkan Dwarawati. Orang-orang Yadu gelisah, memberitahu kepada Kresna, tetapi Kresna tenang saja, tidak mau berusaha membebaskan kutukan itu.&lt;br /&gt;
Gada besi lahir dari perut Samba. Gada diberikan kepada Ugrasena. Ugrasena mengikirnya, serbuk besi dibuang ke samodera. Serbuk besi tumbuh menjadi gelagah dan rumput, hidup subur di sepanjang pantai.&lt;br /&gt;
Ketika terjadi perang saudara di tubuh suku bangsa Wresni dan Yadu, mereka menggunakan gada yang berasal dri gelagah itu. Perang dahsyat itu menyebabkan suku Wresni dan Yadu musnah. Samba, Pradyumna, Carudesna, Aniruddha meninggal dunia. Kresna bersama Babhru dan Daruki mencari Baladewa. Mereka melihat Baladewa duduk bersandar pada pohon, melakukan yoga, Naga putih bermulut merah keluar dari mulut Baladewa.Taksaka, Kumuda, Sundarika, Hrada dan Durmukha menyongsong mereka, terutama sang Baruna. Kemudian mereka masuk kembali ke dasar bumi. Kresna bertemu dengan maharaja Basudewa dan Rohini. Karena suku Wresni telah musnah, Kresna minta diri pergi ke permandian Prabhasa. Ia melihat bangkai orang-orang suku Wresni berserakan. Kresna bersedih lalu pergi masuk ke hutan, tidur pada pohon, berbuat yoga. Tiba-tiba Jara anak raja Basudewa, adik Kresna datang memburu binatang. Kresna dilihat oleh Jara, dikira binatang, lalu dipanahnya. Kresna berubah menjadi Wisnumurti. Jara menangis memeluk kaki sang Kesawa, kemudian ikut naik ke sorga. Para bidadara dan bidadari menyambut kedatangan Wisnu ( Mosalaparwa, dalam sekar sumur 1958: 112 – 117).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;Kresna dalam Pewayangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Cerita Kresna dalam Pewayangan merupakan perkembangan cerita Kresna yang berasal dari cerita di India lewat perkembangan cerita Jawa kuna. Kresna sebagai tokoh simbolik bagi manusia, maka cerita kehidupannya disesuaikan dengan kehidupan manusia sebenarnya. Yaitu mengenai kelahiran, perkawinan dan masalah hidup dan kehidupannya. Demikian juga tokoh Kresna, ia juga diangkat sebagai tokoh seperti manusia, dan ia termasuk tokoh penting dan banyak mendapat perhatian dari masyarakat pecinta pewayangan.&lt;br /&gt;
Dalam bab ini akan dimuat cerita Kresna mengenai kelahiran, perkawinan dan cerita lan yang menampilkan Kresna sebagai tokoh utama. Cerita bersumber pada cerita pewayangan yang banyak dipentaskan lewat pertunjukan wayang kulit, dan telah didokumentasikan dalam bentuk cerita pakem pewayangan atau dalam bentuk ringkasan isi, sekedar menjadi bahan ulasan dalam peneletian ini.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;Cerita Kelahiran Nayarana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Nayarana adalah nama lain dari Kresna. Biasanya nama Nayarana dikenakan pada diri Kresna ketika ia masih muda atau jejaka. Di bawah ini cerita kelahiran Nayarana yang dimuat dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa dan cerita lakon yang berjudul Wisnu Nitis. Dalam cerita tersebut dikisahkan, Darmayona raja di negara Ngambarretna mempunyai anak perempuan cantik rupawan, bernama Ugraini. Kecantikan Ugraini termashur di negara sekeliling, maka banyak raja yang ingin memperisterinya. Di antaranya raja Darmaji dari kerajaan Ngindratma. Raja Darmaji telah mengajukan surat lamaran. Lamaran raja Darmaji diterima. Ugraini diserahkan kepadanya, bila pelamar dapat menyerahkan Mahkota Bathara Rama yang sekarang dimiliki oleh raja Ditya Kresna, raja di kerajaan Dwarawati.&lt;br /&gt;
Raja Darmaji telah menerima syarat permintaaan raja Darmayona. Raja itu lalu akan berusaha mencarinya. Raja Darmayona pergi ke pertapaan Repat kepanasan menemui Bagawan Anipita, menanyakan titisan Bathara Rama yang lahir di Marcapada. Raja mengharap anak perempuannya diperisteri oleh titisan Bathara Rama. Bagawan Anipita mempunyai anak angkat bernama Badraini. Sang bagawan pernah memperoleh petunjuk dewa, bahwa kelak Badraini akan melahirkan anak titisan Bathara Rama. Ia ingin menyerahkan Badraini kepada Basudewa untuk diperisterikannya. Keinginan itu dikatakan kepada raja Darmayona.&lt;br /&gt;
Darmayona ingin menyerahkan anaknya pula. Bagawan Anipita dan raja Darmayona bersama-sama pergi ke Mandura. Mereka menghadap raja Basudewa, dan menyampaikan keinginan mereka.&lt;br /&gt;
Ugraini dan Badraini diserahkan kepada raja Basudewa. Raja Basudewa menerima dengan senang hati, mereka berdua diperisterinya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lahirnya Kangsa (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/lahirnya-kangsa-jati-diri-kepemimpinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:30:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-6699078406317707715</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Darmaji berusaha mencari mahkota Bathara Rama, lalu pergi ke kerajaan Dwarawati. Ketika raja Darmaji datang, raja Dwarawati, Ditya Kresna sedang dihadap oleh Patih Muksamuka, Murkabumi, Muksala, Karungkala dan Gelapsara. Ditya Kresna menyapa dan bertanya maksud kedatangan Darmaji. Raja Darmaji meminta mahkota Bathara Rama yang dipakai Ditya Kresna. Namun Ditya Kresna tidak mau memberikannya, maka terjadilah perkelahian. Raja Darmaji mati karena digigit, dan putus perutnya.&lt;br /&gt;
Angsawati, isteri pertama Basudewa, cemburu akibat kehadiran Ugraini dan Badraini. Ia berusaha membunuh mereka namun gagal. Pada suatu malam Angsawati bertemu dengan raja Gorawangsa yang menyamar sebagai raja Basudewa. Angsawati tidak mengira bahwa yang dijumpainya adalah Basudewa palsu. Namun Angsawati menyambut dengan senang hati. Pertemuan Angsawati dengan Basudewa palsu berkepanjangan, akhirnya Angsawati hamil. Raja Basudewa sungguhan tidak mengetahui hal itu. Ia tidak mengerti bahwa isterinya hamil karena Gorawangsa. Pada bulan ketujuh, raja hendak mengadakan selamatan. Sang raja dan para pegawai istana hendak berburu ke hutan. Basusena bertugas menunggu kerajaan.&lt;br /&gt;
Pada suatu malam Basusena berkeliling di istana. Waktu tiba di tempat tinggal Angsawati ia mendengar suara tamu pria di kamar. Setelah dilihat, nampak bahwa pria dalam kamar itu adalah Basudewa. Setelah Basusena lama memandang, Basudewa nampak seperti raksasa. Basudewa palsu diserang, terjadilah perkelahian. Basusena mengenakan senjata, lalu Basudewa palsu berubah menjadi Gorawangsa. Raksasa Gorawangsa lari kembali ke negara Jadingkik.&lt;br /&gt;
Basusena kembali ke hutan, melapor peristiwa yang terjadi di istana. Dikatakannya, Angsawati berbuat serong dengan raksasa. Raja Basudewa marah, Basusena disuruh membawa Angsawati ke hutan, untuk kemudian membunuh dan mengambil hatinya. Bila hati Angsawati berbau busuk berarti bayi dalam kandungan bukan anaknya, sedangkan bila berbau harum berarti bayi itu anak Basudewa.&lt;br /&gt;
Basusena menjalankan perintah raja Basudewa. Angsawati dibawa ke tengah hutan dan dibunuhnya. Hatinya diambil, dan setelah dicium ternyata berbau busuk. Basusena membawa hati itu kepada sang raja. Karena hati tersebut berbau busuk, raja percaya bahwa bayi dalam kandungan bukanlah anaknya.&lt;br /&gt;
Bathara Wisnu, Dewi Sri dan Bathara Basuki mengelilingi dunia guna mencari titisan raja Watugunung. Diketahuinya, raja Gorawangsa adalah titisan raja Watugunung. Maka Bathara Wisnu meminta Bathara Basuki agar menitis kepada raja Basudewa, untuk mengalahkan raja Gorawangsa. Bathara Wisnu kembali ke kahyangan. Kepada Bathara Guru, ia minta ijin untuk menitis ke dunia, untuk membunuh titisan raja Watugunung. Bathara Guru memberi ijin, dan memberi tugas kepada Bathara Wisnu untuk mengadu ayah melawan anak, mengadu sesama saudara. Namun Bathara Wisnu tidak boleh ikut berperang, hanya diperkenankan terlibat dalam pembicaraan.&lt;br /&gt;
Bathara Wisnu menerima tugas tersebut tetapi mengajukan permintaan. Permintaan itu ialah bagi mereka yang bermusuhan supaya diperkenankan naik ke surga, supaya dirinya diperkenankan duduk di dua belah pihak, dan supaya disertai Bathara Basuki untuk bersama menitis ke dunia. Bathara Guru mengabulkan permintaan tersebut, lalu menyuruh Bathara Narada agar keberanian Wisnu dijelmakan kepada Arjuna. Sedang Bathara Wisnu diminta menjelma menjadi putra Basudewa.&lt;br /&gt;
Bathara Wisnu turun ke dunia bersama Dewi Sri. Senjata Cakranya dititipkan kepada awan yang dijaga dua dewa. Bathara Wisnu berpesan, bahwa senjata itu hanya boleh diambil Narayana. Selain Nayarana, tidak seorang pun berhak mengambilnya.&lt;br /&gt;
Raja Basudewa telah mempunyai putra. Ugraini telah melahirkan anak laki-laki berkulit putih, titisan Bathara Basuki. Anak itu diberi nama Kakrasana. Bathara Wisnu dan Dewi Sri merasuk ke jiwa raja Basudewa. Saat mereka merasuk, Basudewa bermimpi melihat matahari dan bulan. Matahari dan bulan itu kemudian bersatu.&lt;br /&gt;
Anak Angsawati yang dibawa raja Gorawangsa diberi nama Kangsa. Setelah dewasa Kangsa menanyakan, siapa ibunya. Gorawangsa menjelaskan bahwa ibunya bernama Angsawati, isteri Basudewa raja Mandura. Tetapi ibunya telah meninggal dunia, dibunuh oleh Basusena atas perintah raja Basudewa. Mendengar penjelasan Gorawangsa itu Kangsa ingin membalas kematian ibunya. Gorawangsa berpesan agar Kangsa menemui pamannya yang bernama Arya Prabu, adik Angsawati. Kangsa meninggalkan Jadingkik menuju ke Mandura.&lt;br /&gt;
Di Mandura Kangsa menemui Arya Prabu, lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Arya Prabu berjanji akan membantunya. Mereka berdua menghadap raja Basudewa yang sedang dihadap Basusena dan warga Mandura. Kangsa menyampaikan maksud kedatangannya, yakni ia akan membalas kematian ibunya. Terjadilah perkelahian antara Kangsa dengan Basusena. Basusena kalah, lalu melarikan diri. Raja Basudewa dimasukkan ke dalam penjara. Gorawangsa datang bersama pasukan raksasa. Kangsa lalu menduduki tahta kerajaan Mandura.&lt;br /&gt;
Basudewa berhasil melarikan diri bersama dengan Badraini yang sedang hamil dan Kakrasana yang masih kanak-kanak. Perjalanan mereka terhalang oleh Bengawan Erdura. Bathara Sakra datang menolong dan menyeberangkan mereka. Basudewa diminta mengungsi ke kademangan Widarakandang. Sang Bathara memberi tahu bahwa kelak Badraini akan melahirkan dua anak. Anak-anak itu agar diberi nama Narayana dan Endhang Panangling. Setelah berpesan, Bathara Sakra menghilang, kembali ke Kahyangan. Kedatangan Basudewa, Badraini dan Kakrasana di Widarakandhang diterima oleh demang Antagopa dan isterinya. Di Widarakandhang Badraini melahirkan seorang bayi laki-laki dan dua orang perempuan, yang berkulit hitam. Sesuai pesan Bathara Sakra, Basudewa memberi nama kedua anaknya, Nayarana dan Endhang Panangling. Sedangkan Badraini memberi nama yang seorang lagi, Sumbadra. Tiga anak itu diasuh oleh Ki Antagopa dan Ni Sagopi.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Penjelmaan Wisnu (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/penjelmaan-wisnu-jati-diri-kepemimpinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:28:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-2527001366967602681</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Di dalam pembicaraan dengan Harya Prabu Rukma dan Ugrasena, Raja Basudewa menyatakan kesedihannya karena memikirkan dambaan ketiga isterinya yang sangat ingin segera melahirkan anak. Karena rasa prihatin tersebut, sang raja semakin tekun bersemadi. Pada suatu saat Dewa memberi petunjuk agar raja berburu ke hutan Kumbina. Di hutan itulah raja akan memperoleh sarana bagi isteri-isterinya agar segera mengandung dan berputra. Patih Yudawangsa mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan perburuan. Sementara Harya Rukma dan Ugrasena diperintahkan mempersiapkan prajurit pengawal raja.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah semuanya siap, patih dan prajurit diperintah supaya mendahului berangkat ke hutan. Raja meninggalkan singgasana, masuk istana menemui keiga isterinya yaitu, Rohini, Dewaki atau Mahendra dan Mahera. Setelah memberi tahu mengenai rencana perburuan ke hutan Kumbina, kepada semua isteri-isterinya, raja segera berpamitan berangkat berburu diiringi para senapati dan prajurit.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara Raja Basudewa berangkat berburu, dikisahkan di negeri Gowagra daerah pulau Nusabarong, seorang raja raksasa bernama Gorawangsa, bercerita perihal mimpinya kepada Suratrimantra, Ditya Suksara dan manggala negara. Raja bermimpi tidur bersama dengan isteri Basudewa, raja Mandura, yang bernama Mahera. Ditya Suksara diminta ke negara Mandura, menyelidiki kebenaran mimpinya, apakah di negara Mandura ada putri bernama Mahera, isteri raja yang sangat cantik dan memikat. Ditya Suksara menjunjung perintah raja, lalu berangkat ke Mandura diiringi barisan prajurit raksasa menuju ke negara Mandura.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di tengah perjalanan prajurit Gowagra bertemu dengan prajurit Mandura yang menuju ke hutan. Maka terjadila perang. Prajurit raksasa tidak mampu melawan, lalu mereka menyimpang jalan. Selanjutnya prajurit Mandura berkumpul di pesanggrahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di tempat lain, Pandhu bersama punakawan menghadap Bagawan Abyasa di pertapaan Saptaharga. Pandhu bertanya kepada sang bagawan tentang ilham dari dewa yang diterimanya. Diceritakan bahwa Pandhu akan memperoleh anak jelmaan Wisnu. Dijelaskan oleh Bagawan Abiyasa bahwa penjelmaan Hyang Wisnu ke dunia tersebut dapat dibaratkan bunga jatuh ke bumi. Mahkota bunganya jatuh pada putra Basudewa, sedangkan sari bunganya jatuh pada putra Pandhu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain menjelaskan mengenai hal penjelmaan, Bagawan Abyasa memberikan banyak nasihat dan ajaran kepada Pandhu, yang intinya agar Pandhu meninggalkan pertapaan dan kembali ke negara karena sesungguhnya pertapaan bukan tempat raja. Bagi seorang raja yang senang tinggal di hutan, ibarat burung gagak menjenguk tempat pengasingan, tidak baik akibatnya. Pandhu dan punakawan minta pamit, meninggalkan pertapaan, dan kembali ke negara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ditya Suksara datang ke tengah hutan Gowagra. Ia membeberkan rencana kerja kepada prajurit yang mengiringnya. Para raksasa disuruh mengganggu prajurit Basudewa yang berburu di hutan Kumbina. Setelah membagi tugas, Ditya Suksara masuk ke istana Mandura untuk menyelidiki keberadaan Mahera, isteri Basudewa. Setelah penyelidikannya dianggap cukup, Ditya Suksara kembali ke negara Gowagra, melapor kepada raja tentang isteri Basudewa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sepeninggal Ditya Suksara datanglah Pandhu bersama punakawan. Raksasa-raksasa mencegat mereka, tetapi dapat dihalau Pandhu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di Kahyangan Hyang Narada dihadap oleh Hyang Endra, Hyang Brahma, Hyang Bayu, Hyang Sambo, Hyang Wisnu dan Hyang Basuki. Hyang Narada menyampaikan perintah Hyang Gurunata, agar supaya Hyang Wisnu menjelma ke dunia bersama Bathara Laksmanasadu. Karena dahulu kala sewaktu Rama memerintah Ngayodya telah dijanjikan kelak akan menjelma ke dunia bersama Laksmana maka sekarang janji itu digenapi. Hyang Wisnu menjelma bersama Hyang Laksmanasadu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun penjelmaan mereka tidak bisa langsung, harus dengan perantara. Untuk itu Hyang Wisnu menjelma dalam wujud harimau putih, sedangkan Hyang Laksmanasadu dalam wujud ular naga. Hyang Basuki ingin ikut menjelma bersama Hyang Laksmanasadu. Hyang Brahma dan para dewa menyetujuinya. Lalu mereka bertiga turun ke dunia menuju hutan Kumbina.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Basudewa bersama Harya Prabu Rukma dan Ugrasena yang sudah berada di tengah daerah perburuan sedang membicarakan keberadaan dan perilaku binatang di tempat tersebut.. Tiba-tiba datang prajurit memberi tahu, bahwa di daerah perburuan datang harimau putih bersama ular naga. Raja Basudewa turun mendekat ke tempat harimau dan ular naga. Tanpa diduga, cepat bagai kilat, harimau dan ular naga tersebut menyerangnya dengan berani. Raja menghindar, lalu melepaskan panah. Panah tepat mengenai sasaran, dan tubuh harimau tersebut tergolek. Keajaiban terjadi, tubuh harimau segera menghilang. Jasmaninya merasuk ke tubuh Mahendra, isteri Basudewa, dan ruhnya masuk ke tubuh Kunthi, isteri raja Pandhu. Kemudian ular naga menyerang tapi mati terkena panah. Tubuh ular juga menghilang berubah wujud menjadi Hyang Basuki dan Hyang Laksmanasadu, dan merasuk kepada Rohini, isteri Basudewa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Basudewa heran karena peristiwa itu. Ia berdiri dan bermenung, ada sesuatu yang mengusik hatinya bahwa di istana terjadi sesuatu. Tanpa membuang waktu, Raja Basudewa menugaskan Harya Prabu Rukma supaya kembali ke istana dan memeriksa dengan teliti apa yang terjadi di istana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika pada suatu sore, Raja Gorawangsa sedang berbincang-bincang dengan Suratimantra tentang Ditya Suksara yang diutus ke Mandura, tiba-tiba Ditya Suksara datang, memberi hormat, lalu bercerita tentang kecantikan Mahera, isteri Basudewa. Diceritakan bahwa sekarang saat yang tepat untuk melakukan siasat, karena raja Basudewa dan prajurit tidak sedang di istana, namun tengah berburu di hutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Gorawangsa amat gembira lalu ingin segera pergi ke kerajaan Mandura. Namun sebelum berangkat, tiba-tiba Togog dan Sarawita datang dan melaporkan bahwa banyak prajurit raksasa mati di tangan Pandhu. Raja Gorawangsa tidak menghiraukan kematian para prajurit raksasa. Yang ada dalam pikirannya hanyalah isteri raja Mandura, yaitu Mahera. Maka Gorawangsa segera menyamar dalam rupa dan wujud Basudewa, dan pergi ke istana Mandura. Ditya Suksara mengikutinya dan mengawasi dari kejauhan.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mendung Kelabu di Langit Mandura (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/mendung-kelabu-di-langit-mandura-jati.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:27:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-8320479789645144277</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Di antara tiga isteri Basudewa yang cantik-cantik, yaitu Dewi Rohini, Dewi Dewaki dan Dewi Mahera, Dewi Maheralah yang paling mempunyai daya tarik. Oleh karenanya banyak raja yang mengincar Dewi Mahera. Dewi Mahera meyadari akan hal itu, namun ia tidak tahu pasti kejadian yang akan menimpa dirinya. Di suatu sore ketika sedang berbincang-bincang dengan para abdi, Dewi Mahera mengatakan sedih, selalu berdebar-debar, cemas dan khawatir akan keselamatan suaminya, raja Basudewa, yang sedang berada dalam perburuan. Dalam suasana yang demikian itu tiba-tiba datang Basudewa palsu. Mahera terkejut, sebab kedatangan raja tidak seperti biasanya yang memakai upacara penyambutan. Rasa heran Dewi Mahera belum terjawab, ketika Basudewa palsu berkata, bahwa ia tiba-tiba ingat isterinya dan merindukannya, ia ingin segera pulang dan mencumbu sepuasnya. Dewi Mahera tidak dapat berbuat banyak, walaupun perasaannya mengatakan lain, namun yang dihadapi adalah Basudewa, suaminya. Maka akhirnya mereka berdua melepas rasa rindu sebagai suami isteri.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harya Prabu Rukma, yang diperintah raja untuk pulang dan mengawasi istana, datang mengelilingi istana. Ketika sampai di Keputren ia menjadi heran sebab raja Basudewa berada di istana Keputren. Lama ia berpikir, kemudian tumbuh rasa curiga. Harya Prabu Rukma berseru, memanggil-manggil isteri raja dari luar. Maka terjadilah pertengkaran mulut antara Basudewa palsu dengan Harya Prabu Rukma. Setelah yakin bahwa Basudewa yang masuk di Keputren tersebut adalah Basudewa palsu atau penjahat, menyeranglah Harya Prabu Rukma. Terjadilah perkelahian hebat. Harya Prabu Rukma melepaskan anak panah. Terkena anak panah tersebut, seketika hilanglah wujud Basudewa dan menjadi Gorawangsa. Maka Gorawangsa mengamuk di kerajaan Mandura. Namun pada akhirnya raja rasaksa itu mati terbunuh oleh panah Harya Prabu Rukma. Ditya Suksara turun dari angkasa, menyerang Harya Prabu Rukma. Tapi raksasa itu terkena panah rantai, tidak dapat bergerak, lalu menyerah kepada Harya Prabu Rukma. Harya Prabu Rukma memanggil patih Yudawangsa, lalu melaporkan peristiwa yang telah terjadi di istana tersebut. Patih Yudawangsa heran dan merasa bersalah karena sampai tidak tahu bahwa negara telah kedatangan musuh yang menyamar. Selanjutnya Harya Prabu Rukma mengikat dan membawa Ditya Suksara ke hutan perburuan untuk menghadap raja Basudewa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Basudewa sedang berbicara dengan Ugrasena tentang ilham dari dewa. Tidak lama kemudian datanglah Harya Prabu Rukma dengan membawa tawanan Ditya Suksara. Segala yang terjadi di kerajaan diceritakan kepada raja. Raja mengusut kehadiran Ditya Suksara di kerajaan Mandura. Ditya Suksara menceritakan kedatangan raja Gorawangsa yang ingin memperisteri raja Basudewa yang bernama Dewi Mahera. Ia minta ampun dan minta hidup. Bila ia tidak dibunuh, ia berjanji akan menyerahkan pusaka gada besi kuning kepada raja Basudewa. Raja Basudewa berkenan di hati. Ditya Suksara diberi ampun dan disuruh kembali ke negaranya. Kemudian raja segera pulang ke negara Mandura. Harya Prabu Rukma dan prajurit berbondong-bondong meninggalkan hutan untuk kembali ke kerajaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Basudewa dihadap oleh para abdi istana. Para abdi dimintai keterangan tentang kejadian di dalam istana Keputren. Akhirnya diketahui hanya Mahera yang terkena kejahatan Gorawangsa. Raja menugaskan Harya Prabu Rukma untuk membunuh Mahera. Mahera dibawa ke hutan, diikuti dua abdi. Setelah sampai di hutan, Harya Prabu Rukma tidak sampai hati untuk membunuhnya. Mahera tidak bersalah, maka hanya ditinggalkannya di dalam hutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harya Prabu Rukma kembali ke istana menghadap raja Basudewa. Dilaporkannya bahwa Mahera telah dibununhnya. Tiba-tiba datang Ditya Suksara menyerahkan gada pusaka. Raja berkenan. Ditya Suksara kembali ke negaranya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prajurit Gorawangsa kemudian datang menyerang kerajaan Mandura. Ugrasena ditugaskan memusnahkan para prajurit raksasa itu. Maka musuh pun tidak ada lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Basudewa hidup tenteram bersama dua isteri serta sanak saudaranya di Mandura.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KRESNA Kawin (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/kresna-kawin-jati-diri-kepemimpinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:26:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-3464515191949113640</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Kresna dikenal mempunyai tiga isteri, yaitu Rukmini, Setyaboma dan Jembawati. Namun ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa Kresna juga beristeri Pertiwi. Rupanya pendapat itu berbaur dengan cerita perkawinan Wisnu dengan Pertiwi.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bab ini akan dibeberkan tiga cerita perkawinan Kresna, yaitu perkawinan Kresna dengan Rukmini, yang dikenal dengan judul Narayana Maling atau Kresna Kembang. Perkawinan Kresna dengan Setyaboma yang dikenal dengan judul Kresna Pujangga atau Alap-alapan Setyaboma. Perkawinan Kresna dengan Jembawati, yang sering diberi judul Narayana Krama.Berikut ini ringkasan isi cerita tentang perkawinan Kresna.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;1.perkawinan kresna dengan Rukmini&amp;nbsp;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;Bismaka, raja Kumbina, mempunyai anak perempuan bernama Rukmini. Rukmini gadis cantik rupawan, sehingga banyak raja dan ksatria yang datang melamarnya. Namun lamaran itu belum diterima olehnya, sebab Rukmini jatuh cinta kapada Narayana yang sampai saat itu belum melamarnya. Rukmini dilamar juga oleh Pendeta Drona melalui Drona jatuh cinta kepada Rukmini, putri Prabu Bismaka, raja Kumbina, hingga terbawa dalam mimpinya. (karya herjaka HS 1842/2008) raja Duryudana, tetapi Rukmini berkeberatan. Untuk menolak lamaran Duryudana, Rukmini mengajukan sayembara. Bila Pendeta Drona dapat menjelaskan makna ungkapan “Sejatining Lanang” dan “Sejatining Wadon,” Rukmini sanggup diperisterinya. Rukmini berpendirian siapa yang mengerti makna ungkapan itu, itulah suaminya. Raja Bismaka mengumumkan pendirian Rukmini itu sebagai sayembara kepada semua pelamar, termasuk raja Duryodana. Rukmana, anak raja Bismaka, disuruh memberi tahu kepada raja Duryudana di Ngastina. Setelah mendengar sayembara yang diminta oleh Rukmini, Pendeta Drona ingin menjelaskan ungkapan sayembara itu. Pendeta Drona berkata, bila ia berhasil mempersunting Rukmini, kerajaan Kumbina akan bersatu dengan Ngastina. Keluarga Pandhawa tidak akan minta bagian kerajaan Ngastina, karena hubungan persaudaraan mereka semakin erat. Raja Duryudana amat senang, maka keinginan Pendeta Drona didukung sepenuhnya. Pendeta Drona diijinkan pergi ke Kumbina, sejumlah warga Korawa disuruh membantunya. Pendeta Drona dan warga Korawa datang di Kumbina. Mereka dipimpin oleh raja Duryudana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Bismaka duduk di atas singgasana, dihadap oleh Patih Bisawarna, para menteri, hulubalang dan pembesar negara. Tengah mereka berbicara datanglah putra raja yang bernama Rukmana, kembali dari Ngastina dan Ngamarta. Rukmana melapor bahwa telah menjalankan tugas perintah raja, memberi tahu tentang sayembara kepada raja Duryudana dan mengundang kehadiran keluarga Pandhawa. Tidak lama kemudian Yudhistira, Bima, Nakula dan Sadewa datang menghadap raja. Arjuna tidak ikut hadir, karena bertugas menjaga negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Bismaka memberitahu rencana perkawinan Rukmini dengan Pendeta Drona. Raja berkata, Rukmini sanggup diperisteri Pendeta Drona, bila teka–tekinya tepat ditebak maknanya. Sebelumnya warga Pandhawa telah tahu rencana perkawinan Rukmini dengan Pendeta Drona itu, maka kedatangan mereka telah membawa harta pesumbang berupa emas, ratna manikam dan pakaian kebesaran putri saja buatan Arjuna. Setelah selesai penyambutan, raja Bismaka dan Yudhisthira masuk ke istana. Bima, Nakula dan Sadewa diantar Rukmana ke balai peristirahatan. Mereka berjauhan dengan tempat tinggal warga Korawa. Kemudian Rukmana naik kuda memeriksa persiapan perhelatan, penghiasan istana dan kota sekitarnya. Narayana berbincang-bincang dengan adiknya, Sumbadra. Sumbadra menyatakan kesedihan hatinya karena telah beberapa malam kakaknya selalu pergi sampai jauh malam. Narayana menjawab bahwa kepergiannya untuk berkunjung ke rumah para pegawai dan terhibur oleh macam-macam pertunjukan. Setiap Narayana hendak pergi, menangislah Sumbadra. Narayana menghiburnya, berlagu tembang kawi, bercerita kecantikan bidadari dan cerita yang lain. Setelah Sumbadra lengah tertidur, pergilah Narayana ke Kumbina, sedng Udawa disuruh menjaga adiknya. Bagawan Abyasa di Wukir Retawu, duduk di wisma Wiyatasasana, dihadap para siswa. Sang Bagawan sedang menguraikan Aji Jaya Kawijayan. Tiba-tiba Arjuna datang bersama panakawan. Arjuna menghormat, lalu menyampaikan berita tentang sanak saudara dan rencana perkawinan putri Kumbina. Diceritakan bahwa sanak saudara telah hadir di Kumbina, dan Arjuna ingin menyepi di Wukir Retawu. Bagawan Abyasa tidak menyetujui sikap Arjuna itu. Disuruhnya Arjuna supaya menyusul ke Kumbina. Sang Bagawan yang bijaksana itu berkata, bahwa tidak lama lagi akan terjadi perang saudara. Arjuna terkejut mendengar kata sang bagawan, dikiranya akan terjadi perang Baratayuda. Ia mohon diri, Bagawa Abyasa merestuinya. Arjuna dan panakawan meninggalkan pertapaan Wukir Retawu, menuju ke Kumbina. Di tengah hutan, mereka berjumpa dengan dua raksasa besar lagi dahsyat. Raksasa itu disuruh raja Wanasasomah untuk mencari dging manusia atas keinginan isteri raja yang hamil muda. Arjuna hendak ditangkap, sehingga terjadilah perkelahian hebat. Arjuna melepaskan panah, dua raksasa musnah, menjadi dewa Kamajaya dan bidadari Ratih. Arjuna datang menyembahnya. Kamajaya memberi tahu tentang perang yang akan terjadi. Yang terjadi bukan perang Baratayuda, tetapi Pandhawa dan Korawa akan terlibat di dalamnya. Setelah berpesan, Kamajaya dan Ratih naik ke Kahyangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel ini diambil dari Kresna dikenal mempunyai tiga isteri, yaitu Rukmini, Setyaboma dan Jembawati. Namun ada sebuah cerita yang menyebutkan bahwa Kresna juga beristeri Pertiwi. Rupanya pendapat itu berbaur dengan cerita perkawinan Wisnu dengan Pertiwi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bab ini akan dibeberkan tiga cerita perkawinan Kresna, yaitu perkawinan Kresna dengan Rukmini, yang dikenal dengan judul Narayana Maling atau Kresna Kembang. Perkawinan Kresna dengan Setyaboma yang dikenal dengan judul Kresna Pujangga atau Alap-alapan Setyaboma. Perkawinan Kresna dengan Jembawati, yang sering diberi judul Narayana Krama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini ringkasan isi cerita tentang perkawinan Kresna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Perkawinan Kresna dengan Rukmini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismaka, raja Kumbina, mempunyai anak perempuan bernama Rukmini. Rukmini gadis cantik rupawan, sehingga banyak raja dan ksatria yang datang melamarnya. Namun lamaran itu belum diterima olehnya, sebab Rukmini jatuh cinta kapada Narayana yang sampai saat itu belum melamarnya. Rukmini dilamar juga oleh Pendeta Drona melalui Drona jatuh cinta kepada Rukmini, putri Prabu Bismaka, raja Kumbina, hingga terbawa dalam mimpinya. (karya herjaka HS 1842/2008) raja Duryudana, tetapi Rukmini berkeberatan. Untuk menolak lamaran Duryudana, Rukmini mengajukan sayembara. Bila Pendeta Drona dapat menjelaskan makna ungkapan “Sejatining Lanang” dan “Sejatining Wadon,” Rukmini sanggup diperisterinya. Rukmini berpendirian siapa yang mengerti makna ungkapan itu, itulah suaminya. Raja Bismaka mengumumkan pendirian Rukmini itu sebagai sayembara kepada semua pelamar, termasuk raja Duryodana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rukmana, anak raja Bismaka, disuruh memberi tahu kepada raja Duryudana di Ngastina. Setelah mendengar sayembara yang diminta oleh Rukmini, Pendeta Drona ingin menjelaskan ungkapan sayembara itu. Pendeta Drona berkata, bila ia berhasil mempersunting Rukmini, kerajaan Kumbina akan bersatu dengan Ngastina. Keluarga Pandhawa tidak akan minta bagian kerajaan Ngastina, karena hubungan persaudaraan mereka semakin erat. Raja Duryudana amat senang, maka keinginan Pendeta Drona didukung sepenuhnya. Pendeta Drona diijinkan pergi ke Kumbina, sejumlah warga Korawa disuruh membantunya. Pendeta Drona dan warga Korawa datang di Kumbina. Mereka dipimpin oleh raja Duryudana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Bismaka duduk di atas singgasana, dihadap oleh Patih Bisawarna, para menteri, hulubalang dan pembesar negara. Tengah mereka berbicara datanglah putra raja yang bernama Rukmana, kembali dari Ngastina dan Ngamarta. Rukmana melapor bahwa telah menjalankan tugas perintah raja, memberi tahu tentang sayembara kepada raja Duryudana dan mengundang kehadiran keluarga Pandhawa. Tidak lama kemudian Yudhistira, Bima, Nakula dan Sadewa datang menghadap raja. Arjuna tidak ikut hadir, karena bertugas menjaga negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Bismaka memberitahu rencana perkawinan Rukmini dengan Pendeta Drona. Raja berkata, Rukmini sanggup diperisteri Pendeta Drona, bila teka–tekinya tepat ditebak maknanya. Sebelumnya warga Pandhawa telah tahu rencana perkawinan Rukmini dengan Pendeta Drona itu, maka kedatangan mereka telah membawa harta pesumbang berupa emas, ratna manikam dan pakaian kebesaran putri saja buatan Arjuna. Setelah selesai penyambutan, raja Bismaka dan Yudhisthira masuk ke istana. Bima, Nakula dan Sadewa diantar Rukmana ke balai peristirahatan. Mereka berjauhan dengan tempat tinggal warga Korawa. Kemudian Rukmana naik kuda memeriksa persiapan perhelatan, penghiasan istana dan kota sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Narayana berbincang-bincang dengan adiknya, Sumbadra. Sumbadra menyatakan kesedihan hatinya karena telah beberapa malam kakaknya selalu pergi sampai jauh malam. Narayana menjawab bahwa kepergiannya untuk berkunjung ke rumah para pegawai dan terhibur oleh macam-macam pertunjukan. Setiap Narayana hendak pergi, menangislah Sumbadra. Narayana menghiburnya, berlagu tembang kawi, bercerita kecantikan bidadari dan cerita yang lain. Setelah Sumbadra lengah tertidur, pergilah Narayana ke Kumbina, sedng Udawa disuruh menjaga adiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagawan Abyasa di Wukir Retawu, duduk di wisma Wiyatasasana, dihadap para siswa. Sang Bagawan sedang menguraikan Aji Jaya Kawijayan. Tiba-tiba Arjuna datang bersama panakawan. Arjuna menghormat, lalu menyampaikan berita tentang sanak saudara dan rencana perkawinan putri Kumbina. Diceritakan bahwa sanak saudara telah hadir di Kumbina, dan Arjuna ingin menyepi di Wukir Retawu. Bagawan Abyasa tidak menyetujui sikap Arjuna itu. Disuruhnya Arjuna supaya menyusul ke Kumbina. Sang Bagawan yang bijaksana itu berkata, bahwa tidak lama lagi akan terjadi perang saudara. Arjuna terkejut mendengar kata sang bagawan, dikiranya akan terjadi perang Baratayuda. Ia mohon diri, Bagawa Abyasa merestuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arjuna dan panakawan meninggalkan pertapaan Wukir Retawu, menuju ke Kumbina. Di tengah hutan, mereka berjumpa dengan dua raksasa besar lagi dahsyat. Raksasa itu disuruh raja Wanasasomah untuk mencari dging manusia atas keinginan isteri raja yang hamil muda. Arjuna hendak ditangkap, sehingga terjadilah perkelahian hebat. Arjuna melepaskan panah, dua raksasa musnah, menjadi dewa Kamajaya dan bidadari Ratih. Arjuna datang menyembahnya. Kamajaya memberi tahu tentang perang yang akan terjadi. Yang terjadi bukan perang Baratayuda, tetapi Pandhawa dan Korawa akan terlibat di dalamnya. Setelah berpesan, Kamajaya dan Ratih naik ke Kahyangan.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menantu Kresna Titisan Wisnu (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/menantu-kresna-titisan-wisnu-jati-diri.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:25:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-9840836582321362</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Raja Bismaka duduk di atas singgasana, dihadap oleh Yudhistira, Bima, Nakula, Sadewa serta para menteri Negara Kumbina. Tidak beberapa lama, datanglah raja Duryodana mengawal Pendeta Drona, untuk melamar Dewi Rukmini. Raja menerima kedatangan mereka dengan hormat. Setelah mengutarakan maksudnya, Raja Bismaka memohon agar wakil dari pelamar yang dipimpin oleh Duryodana menebak makna teka-teki sayembara. Pendeta Drona menjelaskan makna teka-teki. Jawaban Pendeta Drona dianggap benar oleh raja Bismaka. Pendeta Drona disambut oleh raja, supaya masuk ke Taman Keputren, dikawal oleh Rukmana.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rukmini menjadi kebingungan dan bersedih hati. Ia menganggap jawaban Pendeta Drona tidak benar, maka ia menangis di hadapan ibunya. Ia tidak bersedia dikawinkan dengan pendeta tua itu. Rukmana datang menghantar Pendeta Drona, Rukmini lari ketakutan. Rukmana kembali menghadap raja. Pendeta Drona hendak memeluk permasuri raja yang dikiranya Rukmini. Permaisuri pun lari menyembunyikan diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rukmini meninggalkan istana Keputren, masuk ke Taman. Di Taman ia melihat Narayana, lalu didekatinya untuk minta perlindungan. Rukmini bercerita bahwa dirinya tidak bersedia diperisteri Pendeta Drona, karena ia telah jatuh cinta kepada Narayana. Narayana menyambut dengan senang hati dan sanggup melindunginya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendeta Drona tiba di Taman. Narayana menyongsongnya dalam wujud raksasa besar. Narayana tiwikrama, melangkah menyergap sang pendeta. Pendeta Drona lari ketakutan, menghadap raja Bismaka dan berkata bahwa raksasa besar masuk di Taman dan membawa lari Rukmini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Bismaka mendengar laporan peristiwa dalam istana, lalu meminta bantuan Yudhistira dan Duryodana. Warga Korawa dan Pandhawa berusaha melawan raksasa besar itu. Raksasa mengamuk, Patih Sengkuni lari bersama warga Korawa. Yudhistira didorong-dorong maju menyerang, tetapi hanya diam, berdiri memandang lawannya. Bima cepat-cepat menyambut raksasa, sehingga sang raksasa mundur sembunyi di Taman. Bima pun menyerang tapi raksasa menghilang. Bima merusak Taman, mencari raksasa. Pandhawa dan Korawa yang hadir di Kumbina tidak mampu melawan raksasa besar itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Bismaka berunding dengan Yudhistira, mereka menyayangkan ketidak hadiran Harjuna. Nakula disuruh mencarinya lalu kembali ke Ngamarta. Arjuna sedang menghadap Kunthi, lalu diberitahu oleh Nakula hal-ikhwal yang terjadi di Kumbina. Arjuna diminta menolong keselamatan negara Kumbina. Arjuna dan Nakula pin berangkat bersama menuju Kumbina.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Bismaka menyambut kedatangan Arjuna. Setelah diberitahu maksud panggilannya, Arjuna pergi ke taman, tempat raksasa bersembunyi. Terjadilah perkelahian antara Arjuna dan Raksasa. Raksasa menghilang, dan dikabarkan mati oleh Arjuna..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Duryodana tahu bahwa raksasa itu sebenarnya Kresna, lalu menyuruh agar Korawa menggempur Randhukumbala di Dwarawati. Sumbadra dan Udawa sedang asyik membicarakan kepergian Narayana. Warga Korawa datang menyerang, tetapi diusir oleh Udawa. Kemudian Arjuna datang menemui mereka berdua. Arjuna minta agar Udawa mencari Narayana, sebab akan dikawinkan dengan Rukmini di Kumbina. Sepeninggal Udawa ke Kumbina, Arjuna bercerita kepada Sumbadra bahwa Narayana mati dibunuhnya, karena melakukan pencurian di Kumbina. Sumbadra marah, lalu Arjuna diserangnya. Arjuna menyerah lalu diikat dan dibawa ke Kumbina. Sumbadra hendak menuntut kematian Narayana. Arjuna dan Rukmini harus dihukum mati karena mereka penyebab kematian kakaknya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Udawa menemui Kakrasana, lalu diajak pergi ke Kumbina, menunggui perkawinan Narayana dan Rukmini. Mereka menuju ke Kumbina.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumbadra menghadap raja Bismaka, menyerahkan Arjuna. Ia menuntut hukuman mati bagi Arjuna dan Rukmini. Raja menerima tuntutan Sumbadra, lalu disuruh menghadap permaisuri raja, minta agar Rukmini diserahkan kepadanya. Permaisuri raja menjawab bahwa Rukmini bersembunyi di Taman. Sumbadra datang ke Taman membawa keris terhunus. Dilihatnya Rukmini sedang duduk bersedih hati di Taman. Sumbadra mendekatinya, minta agar Rukmini menyerahkan diri. Setelah mengerti kedatangan dan maksud Sumbadra, Rukmini menyerah dan minta segera dibunuh. Ketika keris hendak ditikamkan ke dada Rukmini, Narayana datang menahannya. Sumbadra tercengang, Narayana ternyata tidak mati. Narayana minta agar Sumbadra dan Rukmini meninggalkan Taman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Duryodana datang menemui raja Bismaka, minta agar Pendeta Drona segera dikawinkan dengan Rukmini. Permaisuri berkata bahwa Rukmini tinggal di Taman. Warga Korawa pergi ke Taman tetapi tidak menemukan Rukmini, karena Rukmini dibawa lari Narayana. Warga Korawa mengamuk, Bima diminta memadamkan amukan itu. Warga Korawa berhasil diusir pergi dari Kumbina. Arjuna disuruh mencari Rukmini. Setelah bertemu, maka Arjuna, Rukmini dan Sumbadra menghadap raja Bismaka. Raja telah dihadap oleh Kakrasana, Yudhistira, Bima, Nakula, Sadewa dan warga Kumbina. Rukmini ditanya oleh raja, sungguhkah ia jatuh cinta kepada Narayana. Permasuri bercerita, bahwa telah lama anak perempuannya menerima balasan cinta dari Narayana. Permaisuri menginginkan menantu jelmaan Wisnu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kakrasana atas nama orang tua dan saudara minta maaf atas kesalahan adiknya. Kemudian, minta kerelaan raja untuk memperisterikan Rukmini dangan Narayana.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Perkawinan Narayana dengan Setyaboma (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/perkawinan-narayana-dengan-setyaboma.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:24:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-701899934398583293</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal;"&gt;Setyajid, raja Lesanpura, duduk di atas singgasana, dihadap oleh Setyaki, Setyadarma dan pegawai istana. Raja memberitahu rencana perjodohan Setyaboma dengan Pendeta Drona di Sokalima. Tengah mereka berbicara datanglah Patih Prabawa, utusan dari kerajaan Mandura, menyampaikan surat dari Prabu Baladewa.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
Isi surat menerangkan bahwa Erawati, istri raja Baladewa, jatuh sakit. Sekarang ia beristirahat di pesanggrahan Randhukumbala. Setyaboma didambakan kehadirannya untuk menjenguk Erawati. Patih Prabawa kembali ke Mandura. Raja Setyajid menemui permaisuri yang sedang duduk bersama Setyaboma. Raja memberi tahu tentang kabar Erawati yang sedang sakit, dan minta agar Setyaboma datang menjenguknya. Setyaboma dengan senang berangkat ke Randhukumbala. Setyaki dan Setyadarma mengiringnya.&lt;br /&gt;
Dikisahkan, raja Dwarawati yang bernama Yuda Kalakresna sedang jatuh cinta kepada Setyaboma. Raja itu menulis surat lamaran. Raksasa Kalarumba diperintahkan untuk menyampaikannya kepada raja Setyajid. Kalarumba berangkat, dikawal Togog dan Sarawita. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan rombongan Lesanpura yang akan pergi ke Randhukumbala. Maka terjadilah perselisihan, raksasa Kalarumba lalu menyimpang, masuk ke hutan. Mereka takut menghadapi amukan Setyaki. Rombongan Lesanpura berlanjut ke Randhukumbala.&lt;br /&gt;
Telah lama Pamade tinggal di pertapaan Wukir Retawu. Bagawan Abiyasa menyuruh agar Pamade kembali ke Ngamarta. Pamade menurut perintah sang bagawan, lalu mohon restu berangkat ke Ngamarta. Para panakawan mengawalnya. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan prajurit raksasa Dwarawati yang dipimpin oleh Kalarumba. Mereka saling bertanya, berselisih dan terjadilah perkelahian. Raksasa kalah. Togog dan Sarawita pun kembali ke Dwarawati.&lt;br /&gt;
Setyaboma dan rombongan tiba di pesanggrahan Randhukumbala. Mereka disambut oleh raja Baladewa. Setyaboma disuruh masuk ke istana keputren menemui Erawati, sedang Setyaki ditemui oleh raja Baladewa sendiri. Setelah masuk di istana keputren, Setyaboma terkejut bercampur takut, sebab yang dijumpai sakit bukan Erawati, melainkan Narayana. Setyaboma akan lari, tetapi ditahan Narayana. Narayana berkata bahwa sangat sayang bila Setyaboma yang gadis remaja akan dikawinkan dengan Pendeta Drona yang tua itu. Setyaboma jatuh cinta kepada Narayana. Mereka duduk berdampingan dan berjanji saling mencintai.&lt;br /&gt;
Sementara itu Setyaki mabuk oleh minuman sehingga tidak mengetahui peristiwa yang terjadi. Setelah sadar dan mengetahui tipu muslihat raja Baladewa dan Narayana, Setyaki pun menjadi marah. Ia hendak menyerang raja Baladewa. Raja Baladewa mengatakan bahwa tipu muslihat itu dilakukan demi terbebasnya Setyaboma dari tangan Korawa. Setyaki tidak setuju dengan akal demikian itu. Raja Baladewa diserangnya, tetapi sang raja berusaha menghindari perselisihan. Ketika Setyaki melihat Setyaboma duduk berdampingan dengan Narayana, hilanglah rasa marahnya. Ternyata Setyaboma mencintai Narayana. Ia menghormat dan minta maaf. Setyaki diutus ke Ngastina agar memberitahu kepada warga Korawa bahwa perkawinan Setyaboma harus melalui sayembara. Siapa yang mampu mengalahkan raja Baladewa dan mematahkan dua lengannya diperbolehkan memperistri Setyaboma.&lt;br /&gt;
Setyaki segera pergi ke Ngastina, menyampaikan sayembara yang harus dipenuhi oleh raja Duryudana dan Pendeta Drona. Kemudian Setyaki kembali ke Randhukumbala. Raja Duryodana mengijinkannya, beberapa warga Korawa disuruh membantunya. Setelah tiba di Randhukumbala, Pendeta Drona mengajukan permintaan bahwa para Korawalah yang mewakilinya. Raja Baladewa menerima usul Pendeta Drona. Ia menyuruh warga Korawa mengeroyoknya tapi ternyata Raja Baladewa tidak terkalahkan.&lt;br /&gt;
Pendeta Drona pun lari ke Ngamarta, menghadap raja Yudhistira. Pendeta Drona minta kesediaan Bima untuk mewakilinya mengikuti sayembara mengalahkan raja Baladewa. Raja Yudhistira mengijinkan, dan Bima menyanggupinya. Mereka meninggalkan Ngamarta, dan pergi menuju ke Randhukumbala. Pamade menyertainya. Raja Baladewa menerima kedatangan Bima, lalu mereka beradu kesaktian. Lama mereka berkelahi, akhirnya capai dan jatuh pingsan. Narayana dan Sumbadra datang dan menangisi Baladewa. Sedangkan Pamade menangisi Bima.&lt;br /&gt;
Tengah mereka bertangisan datanglah penjaga istana keputren, lalu memberi tahu bahwa Setyaboma dilarikan Raseksi. Baladewa dan Bima sadar, lalu mereka berunding untuk mengejar pencuri. Pamade ditugaskan mencari pencuri itu. Bima dan Narayana mengikutinya.&lt;br /&gt;
Setyaboma telah berhasil dibawa sampai Negara Dwarawati oleh Raseksi Rini. Kemudian diserahkannya kepada raja Yuda Kalakresna. Setyaboma disuruh masuk ke istana. Ketika masuk di istana, ternyata Narayana telah datang dan siap menyambutnya. Setyaboma disimpan dalam cincin Narayana. Raja Yuda Kalakresna menyerangnya, tetapi akhirnya mati terbunuh. Prajurit Dwarawati mengamuk namun dapat dipadamkan oleh Bima dan Pamade. Sang Hyang Narada datang, menjunjung perintah Sang Hyang Girinata, agar Narayana naik tahta di Dwarawati dengan gelar Prabu Kresna. Sang Hyang Narada kembali ke Kahyangan.&lt;br /&gt;
Narayana, Bima dan Pamade kembali ke Lesanpura dan menyerahkan Setyaboma kepada raja Setyajid. Raja mengijinkan putrinya, Setyaboma, dipersunting oleh Narayana.&lt;br /&gt;
Raja Duryodana yang kecewa lalu memerintahkan warga Korawa menyerang Lesanpura dan merebut Setyaboma. Serangan prajurit Korawa dilawan oleh Pamade dan Bima, maka seketika musuh kembali ke Ngastina.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Perkawinan Narayana dengan Jembawati (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/perkawinan-narayana-dengan-jembawati.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:23:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-7317755954096408111</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para Pandhawa hidup menyamar di Wanamarta. Yudhisthira menyamar sebagai brahmana Dwijakangka, Bima menjadi algojo bernama Jagalbilawa, Arjuna menjadi guru tari bernama Kandhiwratnala, Nakula menjadi pemelihara kuda bernama Pinten atau Dama, Sadewa menjadi gembala bernama Tangsen atau Granti. Mereka membuka hutan bersama-sama atas perintah dan ijin Raja Wiratha. Di tengah hutan Arjuna ditemui oleh Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih. Ia diberi tahu bahwa penyamaran Pandhawa telah diketahui oleh Korawa. Arjuna harus berhati-hati. Kemudian Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih kembali ke Cakrakembang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arjuna bersama panakawan mengelana di hutan. Mereka bertemu dengan Narayana dan Udawa. Narayana bercerita tentang tapanya di tepi Bengawan Kantha, dan telah memperoleh wahyu, anugerah Sang Hyang Jagadpratingkah. Narayana hendak melanjutkan perjalanan ke Gandamadana, hendak menolong Resi Jembawan yang menderita sedih. Arjuna heran mendengar keinginan Narayana. Narayana bercerita, sejak akan bertapa ia telah melamar Jembawati, anak sang resi itu. Sekarang Jembawati hilang, mungkin dibawa lari oleh Raja Trisancaya, raja negara Sriwedari. Meskipun Jembawati telah dilamar oleh Narayana, tetapi Resi Jembawan dan Trijatha ingin memberikan Jembawati kepada raja Trisancaya, sebab ia pernah berhutang budi. Narayana mengajak Arjuna untuk mencari Jembawati. Arjuna menyanggupi. Udawa disuruh kembali ke Widarakandhang untuk memberi tahu kepada Kakrasana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Narayana dan Arjuna tiba di negara Sriwedari. Mereka masuk ke taman. Raja Trisancaya sedang merayu Jembawati. Jembawati tidak menyambut cinta Raja Trisancaya. Ia menyiapkan keris di tangan. Bila dijamah ia ingin bunuh diri. Raja Trisancaya amat kecewa, lalu berusaha menakut-nakuti Jembawati. Setelah tidak berhasil Raja Trisancaya pergi. Seorang abdi perempuan ditugaskan untuk menungguinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Trisancaya menemui Patih Pramastha, minta agar dicarikan harimau putih untuk menakut-nakuti Jembawati. Narayana mengetahui rencana raja itu. Ia lalu menyamar, berubah wujud menjadi harimau putih. Arjuna diminta menjadi gembala harimau itu. Harimau berjalan di hutan dikawal oleh Arjuna. Mereka berjumpa dengan Patih Prawastha dan pegawai istana. Arjuna pun ditanya nama dan asal harimau itu. Arjuna menjelaskan bahwa harimau itu bernama Narasinga, binatang peliharaan Basudewa, raja Mandura. Harimau diminta untuk Raja Trisancaya, dan akan diminta bantuan supaya membujuk Jembawati agar mau menjadi permaisuri raja. Arjuna menyanggupinya. Arjuna dan Narasinga dibawa masuk ke kerajaan Sriwedari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harimau dan Arjuna diterima oleh sang raja. Arjuna diminta untuk mengajarkan tari kepada isteri selir Raja Trisancaya dan adik raja bernama Ambarwati. Narasinga ditugaskan membujuk Jembawati, supaya bersedia menjadi permaisuri raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jembawati sedang asyik berbicara dengan para abdi. Tiba-tiba melompatlah harimau putih mendekatinya. Jembawati dan para abdi berteriak ketakutan tetapi mereka tidak mau lari. Jembawati bahkan ingin mati dimakan harimau karena ia tidak mau diperisteri Raja Trisancaya. Narasinga mengerang dan menyapanya. Jembawati heran lalu mendatangi harimau itu dengan tenang. Ia semakin heran setelah Narasinga bersikap seperti manusia. Narasinga ditanya alasan kehadirannya ke Sriwedari. Dijawab olehnya bahwa ia ingin mengabdi raja. Raja Trisnancaya dipuji dan disanjungnya. Dikatakan sang raja sungguh baik hati, ambek paramarta. Sungguh bahagia puteri yang diangkat menjadi permaisuri raja. Jembawati menjawab, ia tidak ingin diperisteri sang raja. Lebih baik mati daripada melayani sang raja. Narasinga meyalahkan sikap Jembawati yang demikian itu. Bila Jembawati menginginkan tanpa selir, Narasinga sanggup mengusulkan agar selir raja diusir dari istana. Jembawati tidak ingin mengusir para selir, tetapi ia juga tidak mau diperisteri raja, sebab ia telah bertunangan kepada Narayana. Narasinga menanggapi bahwa Narayana adalah seorang pemuda jelek, bukan keturunan raja. Ia keturunan orang hina, anak Antagopa di Desa Widarakandang, pekerjaannya menggembala ternak. Sedang Trisancaya adalah keturunan raja yang berkuasa di Ngalengka. Bukankah Jembawati itu cucu Wibisana, Raja Singgelapura. Sudah selayaknya bila Jembawati menjadi isteri Trisancaya. Sangat keliru bila ingin bersuami Narayana penggembala kambing itu. Jembawati menjawab bahwa cintanya kepada Narayana bermodal cinta sejati. Ia tidak mau bermuka dua, lebih baik mati bila urung bersuami Narayana. Narasinga melanjutkan kata-kata bujukannya. Ia mengaku lebih mengerti asal-usul Narayana, dan mengaku abdi tersayang di kerajaan Mandura. Disarankan agar Jembawati mau diperisteri Raja Trisancaya, agar kelak tdak menyesal, sebab Narayana tidak mungkin membahagiakan hidupnya. Jembawati tetap pada pendiriannya. Ia ingin bersuami Narayana meskipun bukan raja, dan ia tidak ingin minta segala sesuatu kepadanya. Sungguh besar cinta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jembawati kepada Narayana, tidak mungkin terbeli dengan emas dan kekayaan. Narasinga terlihat marah. Ia berkata akan menelannya, akan memakan tulang-tulangnya dan meminum darahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Narasinga mengerang. Para abdi ketakutan, menangis dan meminta agar tuan puterinya mau diperisteri Raja Trisancaya. Jembawati tetap tenang dan berkata kepada Narasinga bahwa ia ikhlas dimakan, sebab sudah demikian itu tekadnya. Namun sebelum dimakan ia berpesan agar Narasinga memberi tahu kepada Narayana bahwa cintanya kepada Narayana tidak luntur oleh keduniawian dan bahaya yang datang dari kerajaan Sriwedari, tidak akan gugur karena jasa-jasa Raja Trisnancaya kepada ayahnya. Cinta kasihnya kepada Narayana tidak akan pudar oleh ancaman harimau yang amat buas. Jembawati minta ijin akan bersemedi sebelum dimakan harimau itu. Selama bersamadi ia akan berdoa, semoga Narayana mendapat isteri yang lebih cantik dan selalu selamat. Setelah selesai bersamadi ia bersedia untuk dimakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jembawati bersamadi, Narasinga mendekatinya dalam rupa Narayana, lalu mencubit dan mencolek dagu Jembawati. Jembawati tidak menghiraukan, dirasanya Narasinga mencium hendak memakan dirinya. Para abdi tersenyum memandang adegan romantis itu. Jembawati membuka mata, tidak terlihat lagi harimau Narasinga. Yang dipandang hanyalah Narayana kekasih dan jantung hatinya. Mereka pun asyik berwawan asmara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Trisnancaya datang, Narayana telah berubah menjadi Narasinga. Jembawati duduk berpegang Narasinga seraya mengusap-usap leher harimau itu. Raja ini melihatnya lalu berkata bahwa dirinya kalah bagus, tidak dicintai oleh Jembawati. Narasinga berkata bahwa tidak lama lagi sang putri akan menyerah kepada raja, sanggup diperisterinya. Raja berkenan lalu pergi meninggalkan taman.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arjuna dicintai oleh selir raja Trisnancaya. Ambarwati, adik raja pun juga jatuh cinta kepada Arjuna. Hal itu diketahui oleh sang raja. Ketika Arjuna bercumbu dengan Ambarwati, sang raja marah. Arjuna dilempar tombak, maka terjadilah perkelahian. Gempar di istana Sriwedari. Para panakawan membela keselamatan tuannya. Prajurit Sriwedari membantu perang. Narasinga mengambil kesempatan keluar dan menyerang prajurit Sriwedari. Prajurit Sriwedari lari tunggang langgang dan mencari persembunyian.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Narasinga kembali menjadi Narayana, kemudian bersama Jembawati, Arjuna dan Panakawan lari meninggalkan kerajaan Sriwedari, menuju ke pertapaan Gandamadana. Kedatangan Jembawati, Narayana dan Arjuna disambut oleh Resi Jembawan dan Trijatha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sang Hyang Narada datang bersama bidadari di pertapaan. Kedatangan mereka atas perintah Sang Hyang Jagadnata untuk mengawinkan Jembawati dengan Narayana. Resi Jembawan menyerah dengan kehendak Dewa. Perkawinan dan perjamuan mempelai dirayakan di Gandamadana. Setelah upacara Sang Hyang Narada dan para bidadari kembali ke kahyangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Trisnancaya bersama prajurit berusaha menyerang Gandamadana dan merebut Jembawati. Tetapi Arjuna dan Kakrasana berhasil mengusir musuh kembali ke negaranya.&lt;/div&gt;
\ � j   � A ��� rjuna. Setelah selesai penyambutan, raja Bismaka dan Yudhisthira masuk ke istana. Bima, Nakula dan Sadewa diantar Rukmana ke balai peristirahatan. Mereka berjauhan dengan tempat tinggal warga Korawa. Kemudian Rukmana naik kuda memeriksa persiapan perhelatan, penghiasan istana dan kota sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Narayana berbincang-bincang dengan adiknya, Sumbadra. Sumbadra menyatakan kesedihan hatinya karena telah beberapa malam kakaknya selalu pergi sampai jauh malam. Narayana menjawab bahwa kepergiannya untuk berkunjung ke rumah para pegawai dan terhibur oleh macam-macam pertunjukan. Setiap Narayana hendak pergi, menangislah Sumbadra. Narayana menghiburnya, berlagu tembang kawi, bercerita kecantikan bidadari dan cerita yang lain. Setelah Sumbadra lengah tertidur, pergilah Narayana ke Kumbina, sedng Udawa disuruh menjaga adiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagawan Abyasa di Wukir Retawu, duduk di wisma Wiyatasasana, dihadap para siswa. Sang Bagawan sedang menguraikan Aji Jaya Kawijayan. Tiba-tiba Arjuna datang bersama panakawan. Arjuna menghormat, lalu menyampaikan berita tentang sanak saudara dan rencana perkawinan putri Kumbina. Diceritakan bahwa sanak saudara telah hadir di Kumbina, dan Arjuna ingin menyepi di Wukir Retawu. Bagawan Abyasa tidak menyetujui sikap Arjuna itu. Disuruhnya Arjuna supaya menyusul ke Kumbina. Sang Bagawan yang bijaksana itu berkata, bahwa tidak lama lagi akan terjadi perang saudara. Arjuna terkejut mendengar kata sang bagawan, dikiranya akan terjadi perang Baratayuda. Ia mohon diri, Bagawa Abyasa merestuinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arjuna dan panakawan meninggalkan pertapaan Wukir Retawu, menuju ke Kumbina. Di tengah hutan, mereka berjumpa dengan dua raksasa besar lagi dahsyat. Raksasa itu disuruh raja Wanasasomah untuk mencari dging manusia atas keinginan isteri raja yang hamil muda. Arjuna hendak ditangkap, sehingga terjadilah perkelahian hebat. Arjuna melepaskan panah, dua raksasa musnah, menjadi dewa Kamajaya dan bidadari Ratih. Arjuna datang menyembahnya. Kamajaya memberi tahu tentang perang yang akan terjadi. Yang terjadi bukan perang Baratayuda, tetapi Pandhawa dan Korawa akan terlibat di dalamnya. Setelah berpesan, Kamajaya dan Ratih naik ke Kahyangan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Permusuhan Narayana dengan Kangsa (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/permusuhan-narayana-dengan-kangsa-jati.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:22:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-7860308516861478601</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kresna banyak terlibat dalam beberapa cerita, berkedudukan sebagai tokoh sampingan, tokoh pelengkap dan tokoh utama. Berikut ini beberapa cerita yang melibatkan Kresna sabagai tokoh utama. Cerita permusuhan Narayana dengan Kangsa dimuat dalam beberapa cerita atau lakon. Antara lain dalam cerita Kangsadewa, Kangsa Adu Jago dan Kangsa Adu-adu. Isi ketiga cerita itu hampir sama, yaitu cerita sejak Kangsa merebut atau meminta Kerajaan Mandura dari kekuasaan Basudewa. Kemudian kerajaan itu berhasil direbut kembali oleh Kakrasana (nama Baladewa sewaktu muda) dan Narayana (nama Kresna sewaktu muda). Isi ringkas yang dimuat dalam cerita Kangsadewa sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Pada suatu ketika Raja Basudewa pergi berburu ke Hutan Kumbina. Sepeninggal raja ke hutan, datanglah raja Gorawangsa dari Negara Guwabarong yang menyamar wujud Basudewa masuk ke istana Mandura. Basudewa palsu tersebut berhasil memikat isteri Basudewa asli yang bernama Maherah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dikisahkan bahwa Basudewa yang sedang dalam medan perburuan di hutan berhasil membunuh harimau putih dan naga. Namun hati Sang Raja merasa tidak enak, lalu menyuruh Harya Prabu Rukma kembali ke istana untuk menyelidiki jika ada hal-hal yang tidak beres. Ternyata benar apa yang dikhawatirkan Raja Basudewa. Istana keputrian kemasukan penjahat yang menyamar sebagai Basudewa dan berhasil menggauli Maherah. Basudewa palsu berhasil dimusnahkan oleh Harya Prabu Rukma sehingga kembali berwujud Gorawangsa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harya Prabu Rukma kembali ke hutan Kumbina, melapor peristiwa yang terjadi di istana. Setelah mengerti perbuatan Gorawangsa dengan Maherah, raja Basudewa menyuruh agar Maherah dibunuhnya. Harya Prabu Rukma mendapat tugas untuk membunuhnya. Maherah dibawa ke hutan. Namun setelah sampai di hutan, Harya Prabu Rukma tidak sampai hati membunuh Maherah, lalu ditinggalkannya ia di tengah hutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sepeninggal Harya Prabu Rukma, Bagawan Anggawangsa datang dan membawa Maherah ke Pertapaan Wisarengga. Di pertapaan, Maherah melahirkan bayi laki-laki berujud raksasa. Setelah melahirkan, Dewi Maherah meninggal dunia. Bayi itu diberi nama Kangsa, yang dipelihara sampai dewasa. Setelah dewasa Kangsa menanyakan ayahnya kepada Bagawan Anggawangsa. Sang Begawan menerangkan bahwa Kangsa adalah anak Maherah, isteri raja Mandura. Diceritakan bahwa ibu Kangsa meninggal setelah melahirkan, dan Kangsa dipungut oleh Bagawan Anggawangsa. Kemudian Kangsa diminta pergi ke Mandura. Suratimantra yang berkuasa di Guwabarong hendak membalas kematian Gorawangsa, ingin menghancurkan kerajaan Mandura. Ia kemudian menyiapkan prajurit untuk menyerang kerajaan Basudewa. Kangsa sampai di Gowardana dan berjumpa dengan Ugrasena. Kangsa berkata ingin menghadap raja Basudewa. Dengan kata-kata manis Ugrasena berjanji akan menghantar Kangsa menghadap raja, tetapi diminta supaya mengusir musuh yang menyerang kerajaan Mandura. Kangsa menyanggupinya. Ia lalu pergi melawan perajurit Suratimantra. Setelah Suratimantra tahu yang dihadapi Kangsa, ia mengira Kangsa adalah anak Gorawangsa. Suratimantra menyerah tanpa berperang, lalu dibawa menghadap Basudewa. Ugrasena bercerita tentang musuh yang datang dan pimpinan perajurit bernama Suratimantra menyerah kalah. Basudewa gentar menghadapi Kangsa. Kangsa diaku anak dan dinobatkan menjadi Adipati Sengkapura bergelar Kangsadewa, sedangkan Suratimantra diangkat menjadi patih di Sengkapura.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adipati Kangsadewa tahu bahwa raja Basudewa mempunyai tiga anak bernama Kakrasana, Narayana dan Bratajaya. Mereka diasuh oleh Demang Antagopa dan Nyai Sagopi di Widarakandang. Adipati Kangsadewa menyuruh Kala Akura dan para prajurit untuk menyerang Widarakandang, dan menangkap tiga anak Basudewa. Prajurit Sengkapura yang dipimpin oleh Kala Akura menyerang Widarakandhang. Kebetulan Kakrasana dan Narayana sedang pergi ke pertapaan. Demang Anantagopa ditangkap dan dibunuh, namun Bratajaya dan Larasati berhasil dibawa lari oleh Nyai Sagopi. Nyai Sagopi, Bratajaya dan Larasati berjumpa Arjuna. Mereka minta perlindungan. Raksasa yang mengejar mereka musnah oleh Arjuna. Setelah bebas dari serangan raksasa mereka sepakat untuk mencari Kakrasana dan Narayana. Kangsadewa ingin merebut tahta kerajaan Mandura. Suratimantra menyarankan agar mengajak mengadu manusia. Suratimantra sanggup menjadi jago, dan taruhannya negara. Kangsadewa menyetujui usul Suratimantra, lalu berkirim surat kepada raja Basudewa. Dalam surat itu Kangsadewa mengajak mengadu jago, taruhannya negara. Basudewa gentar menghadapi Kangsadewa, sehingga tanpa dipertimbangkan permintaan Kangsadewa disanggupinya. Harya Prabu Rukma diminta pergi mencari jago. Harya Prabu Rukma menyanggupinya, lalu mohon pamit akan mencari anak Pandhu. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Bratasena yang sedang mencari Arjuna. Bratasena dibujuk oleh Harya Prabu Rukma untuk menjadi jago melawan Suratimantra. Bratasena pun sanggup diajak ke Mandura.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Rama Nitis (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/rama-nitis-jati-diri-kepemimpinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:19:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-2684021361964200780</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; line-height: 18px;"&gt;Darmakusuma duduk dihadap oleh Kresna, Wrekodara, Nakula, Sadewa, Samba dan Satyaki. Mereka membicarakan nasib Gathotkaca. Tiba-tiba Gathotkaca jatuh dari angkasa. Mengerang kesakitan, ia merangkak menghadap raja Darmakusuma. Kemudian Harjuna datang. Raja meminta agar Arjuna segera menolong Gathotkaca. Arjuna pun mengambil anak panah yang bersarang di perut Gathotkaca dengan anak panah pula. Maka Gathotkaca sembuh kembali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 18px;"&gt;Kresna ingat perjanjian yang diberikan oleh Ramawijaya dan Lesmana. Ia lalu minta ijin pergi bersama Arjuna ke Pancawati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="line-height: 18px;"&gt;Di Pancawati, Ramawijaya, Lesmana dan Sugriwa tengah menanti kedatangan Anoman. Kemudian Anoman datang bersama Resi Brangtalaras. Ramawijaya minta kesediaan sang resi untuk menyembuhkan penyakit Sinta. Sang resi mendekati Sinta. Setelah diusap dahinya, sembuhlah penyakit Sinta. Lalu Sinta diserahkan kepada Ramawijaya. Resi Brangtapernali datang menghadap Ramawijaya. Dalam pertemuan itu Ramawijaya ingin menghadiahkan kerajaan Pancawati kepada Resi Brangtalaras sebagai upah pengobatan. Maka Resi Brangtalaras pun menjadi raja, sedangkan Resi Brangtapernali menjadi patihnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Brangtalaras duduk di balai penghadapan, kemudian Cocakrawun datang menghadap, melapor kedatangan musuh dari Ngamarta. Patih Brangtapernali diminta menyambut kedatangan musuh. Maka Patih Brangtapernali terjun perang melawan warga Pandhawa. Ternyata Wrekodara, Arjuna Gathotkaca dan Satyaki tidak mampu melawan amukan Brangtapernali. Kresna segera datang menolong, dan senjata Cakra dilepaskan. Terkena Cakra, Brangtapernali berubah menjadi Srikandi. Raja Brangtalaras datang bersama Sinta. Kemudian Kresna melepaskan cakra. Terpanah Cakra, Brangtalaras berubah menjadi Sumbadra. Sedangkan Sinta lenyap setelah dicakra, menyatu dalam tubuh Sumbadra.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bathara Guru, Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Sambu dan Korawa berunding di Kahyangan. Bathara Guru menugaskan Bathara Narada supaya turun ke Marcapada. Anoman disuruh bertapa di Kendalisada, Wibisana diminta memerintah negara Singgela, sedangkan raja Sugriwa dan prajuritnya diminta agar masuk ke api korban, masuk ke Nirwana. Bathara Narada pun turun ke Marcapada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ramawijaya, Lesmana, Wibisana, Sugriwa, Anoman dan Anggada berbicara tentang persahabatan mereka dengan raja Brangtalaras dan Brangtapernali. Tengah mereka berbicara, datanglah Cocakrawun yang memberi tahu bahwa Brangtalaras dan Brangtapernali hilang di medan perang. Demikian juga Sinta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ramawijaya marah, lalu pergi ke medan perang. Kresna menyambut kehadiran Ramawijaya. Terjadilah perkelahian, tetapi tidak ada yang kalah. Ramawijaya ingat, pernah berjanji akan bersatu dengan manusia jelmaan Wisnu. Maka Ramawijaya bersatu dengan Kresna. Lesmana membela Ramawijaya, lalu berperang melawan Arjuna. Akhirnya Lesmana menyatu bersama Arjuna. Ternyata Arjuna tidak sanggup bersatu dengan Lesmana sehingga Lesmana dilepas dan menjelma ke dalam Baladewa. Tapi kemudian Lesmana lepas dari Baladewa, dan ingin menjelma kembali pada Arjuna. Arjuna sanggup menerima, tetapi menolak sikap wadatnya.Anoman bergulat dengan Gathotkaca. Bathara Narada datang melerai, Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Kemudian Bathara Narada menemui Wibisana dan menyuruh supaya menjaga negara Singgela. Setelah damai, semua perajurit dan warga Pandhawa oleh Kresna diminta kembali ke Ngamarta.Raja Darmakusuma dihadap oleh Kresna, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, Gathotkaca dan Satyaki. Mereka menyambut kehadiran Sumbadra dan Srikandi.Sugriwa dan prajurit kera yang setia datang menyerang kerajaan Ngamarta. Wrekodara, Gathotkaca dan Satyaki ditugaskan mengusir perajurit kera itu. Sang Hyang Narada datang menemui perwira prajurit kera. Mereka dikumpulkan kemudian disuruh masuk ke perapian agar masuk nirwana. Kera-kera kecil banyak yang mati oleh prajurit Ngamarta yang dipimpin oleh Wrekodara.Kerajaan Ngamarta telah aman dan tenteram. Raja Darmakusuma mengadakan pesta besar bersama warga Pandhawa.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Wahyu Makutharama (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/wahyu-makutharama-jati-diri.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-762987078332777600</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Duryodana raja Ngastina duduk di atas singgasana, dihadap oleh Baladewa raja Mandura, Basukarna, Pendeta Drona, Patih Sakuni dan beberapa pegawai kerajaan Ngastina. Mereka membicarakan wahyu yang akan turun ke dunia. Raja Duryodana ingin memperoleh wahyu itu, lalu minta agar Adipati Karna bersedia mewakili untuk mencarikannya. Adipati Karna bersedia, lalu pergi bersama Patih Sakuni dan beberapa warga Korawa meninggalkan istana. Prajurit Korawa ikut mengawal perjalanan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kresna menjadi pertapa bernama Bagawan Kesawasidi, bertempat di pertapaan Kutharunggu. Sang Bagawan dihadap oeh Anoman, Resi Maenaka, Yaksendra dan Gajah Setubanda. Adipati Karna dan Patih Sakuni datang menghadap sang Bagawan, minta Wahyu Makutharama yang sekarang ada pada Bagawan Kesawasidi. Bagawan Kesawasidi mengaku bahwa wahyu tidak ada pada dirinya. Adipati Karna tidak percaya, maka terjadilah perselisihan. Adipati Karna menyerang, tetapi dilawan oleh Yaksendra dan Yajagwreka. Bagawan Kesawasidi tidak senang melihat pertengkaran itu, maka Resi Anoman diminta melerainya. Adipati Karna melepas panah Wijayandanu, tapi panah ditangkap oleh Resi Anoman. Panah diserahkan kepada Bagawan Kesawasidi. Adipati Karna putus asa, tidak melanjutkan perkelahian. Bagawan Kesawasidi menyalahkan sikap Anoman. Resi Anoman merasa salah, lalu minta petunjuk. Resi Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Resi Anoman kemudian kembali ke Kendhalisada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arjuna dan panakawan menjelma menjadi seorang begawan, dan sekarang ingin bersatu dengan Hyang Suksma Kawekas. Selama bersamadi ia mendapat petunjuk agar menemui Bagawan Kesawasidi. Bagawan Wibisana menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Ia minta penjelasan cara mempersatukan diri dengan Hyang Suksma Kawekas. Bagawan Kesawasidi keberatan untuk menjelaskannya, lalu terjadi perkelahian. Bagawan Kesawasidi dipanah Wibisana dengan panah pemberian Ramawijaya. Seketika Bagawan Kesawasidi berubah menjadi raksasa besar dan dahsyat. Bagawan Wibisana menghormat dan minta ampun. Bagawan Kesawasidi kembali ke wujud semula, lalu bersamadi. Bagawan Wibisana ikut bersamadi. Setelah selesai, Bagawan Kesawasidi minta agar Bagawan Wibisana membuka jalan untuk air suci. Bagawan Wibisana mendapat air suci, lalu akan kembali ke sorga. Di tengah perjalanan ia melihat penderitaan suksma Kumbakarna. Suksma Kumbakarna mengganggu suksma Wibisana. Maka suksma Kumbakarna disuruh mencari Wrekodara di Marcapada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wrekodara mencari saudara-saudaranya. Di tengah jalan ia digoda oleh suksma Kumbakarna. Wrekodara marah, mengamuki Kumbakarna yang kadang-kadang tampak, kadang-kadang hilang. Akhirnya suksma Kumbakarna masuk ke betis Wrekodara sebelah kiri. Kemudian Wrekodara pun melanjutkan perjalanan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arjuna menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Bagawan Kesawasidi tahu bahwa Arjunalah yang pantas ditempati Wahyu Makutharama. Bagawan Kesawasidi memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Rama kepada Wibisana yang disebut Hasthabrata. Setelah selesai memberi wejangan dan ajaran, Bagawan Kesawasidi menyerahkan senjata Kunta kepada Arjuna. Arjuna menerima Kunta, menghormat, lalu pergi mendapatkan Karna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arjuna menemui Karna, menyerahkan senjata Kunta. Karna menerima senjata, kemudian berkata ingin memiliki Wahyu Makutharama. Arjuna mejelaskan makna wahyu itu, dan berkata bahwa dirinya yang memilikinya. Karna ingin merebut wahyu tersebut, maka terjadilah perkelahian di antara mereka. Karna merasa tidak mampu lalu mengundurkan diri. Arjuna kembali ke pertapaan Kutharunggu. Wrekodara telah datang menghadap Bagawan Kesawasidi. Tiba-tiba datang dua kesatria bernama Bambang Sintawaka dan Bambang Kandhihawa. Mereka ingin menaklukkan Bagawan Kesawasidi dan Arjuna. Akhirnya terjadi perang tanding. Bagawan Kesawasidi melawan Bambang Sintawaka, Arjuna melawan Bambang Kandhihawa. Bagawan Kesawasidi berubah menjadi Kresna, Bambang Sintawaka menjadi Sembadra, dan Bambang Kandihawa menjadi Srikandi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka senang dapat bertemu dan bersatu kembali, kemudian kembali ke negara, berkumpul di Ngamarta.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Brandal Kresna  (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/brandal-kresna-jati-diri-kepemimpinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:17:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-8306187961959342945</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kresna raja Dwarawati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Samba, Wresniwira, Patih Udawa dan pegawai istana. Mereka membicarakan kepergian Harjuna dari Madukara. Kresna ingin berkunjung ke Ngamarta. Patih Udawa diminta mempersiapkan kepergian raja. Kresna meninggalkan balai penghadapan lalu masuk istana, memberi tahu rencana kepergiannya kepada para isteri. Rukmini, Jembawati dan Setyaboma menyambut kedatangan Kresna. Di hadapan para istrinya, Kresna menyampaikan berita tentang kepergian Arjuna dan rencana kunjungan ke Ngamarta.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arwah tokoh Ngalengka turun ke Marcapada lagi. Raja Dasakumara duduk di balai penghadapan, dihadap oleh Indrajit, Trisirah dan pegawai raksasa. Raja ingin beristeri Retna Dewi Puspitawara, anak Darmamuka raja Slagaima. Indrajit diberi tugas mencarikan putri raja itu. Indrajit menyanggupinya. Ia menugaskan Kala Wahmuka, Kala Pradiyu dan Kala Bisana untuk melamar ke Slagaima. Sedangkan Raja Dasakumara pergi mencari raja Kresna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Darmamuka raja Slagaima berbincang-bincang dengan putra raja bernama Jayapuspita, Patih Jayasudarna dan para pembesar kerajaan. Mereka membicarakan lamaran raja Dasakumara. Jayapuspita ditugaskan mencari perlindungan. Di pertengahan jalan mereka bertemu dengan utusan dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian, tetapi Jayapuspita menyimpang jalan mencari selamat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Arjuna tengah bertapa di gunung Candhirinengga, dengan nama Bambang Madusekti. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma datang. Mereka berdua minta kesediaan Bambang Madusekti untuk melindungi Kerajaan Slagaima. Bambang Madusekti menyanggupinya lalu berangkat, dikawal oleh para punakawan. Jayapuspita dan Patih Jayasudarma menyertainya. Di tengah hutan mereka dihadang oleh raksasa dari Tawanggantungan. Terjadilah perkelahian. Raksasa dapat dikalahkan oleh Bambang Madusekti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bambang Madusekti tiba di Slagaima, menghadap raja Darmamuka. Setelah bertanya Bambang Madusekti masuk ke istana, menghadap permaisuri raja, kemudian diperkenalkan dengan Retna Puspitawara, putri raja Darmamuka. Bambang Madusekti menyatakan bersedia saat diminta raja memperisteri putrinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Indrajit duduk bersama Trisirah, Trikaya, Narataka, Dewataka dan Yaksadewa. Kemudian datanglah Wijamantri dan Tejamantri. Mereka memberi tahu bahwa prajurit raksasa musnah oleh Bambang Madusekti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Darmamuka duduk di atas singgasana, dihadap oleh Jayapuspita, Patih Jayasudarma dan Bambang Madusekti. Tiba-tiba terjadilah huru-hara di luar istana. Api berhamburan di angkasa. Bambang Madusekti minta pamit untuk memadamkan api itu. Raja mengijinkannya. Bambang Madusekti matek aji, hujan turun, api pun padam. Bambang Madusekti tahu bahwa musuh datang dari angkasa. Ia lalu mengangkasa. Musuh diserang dengan panah Bajra, maka lenyaplah musuh dari Tawanggangtungan. Setelah aman Bambang Madusekti mohon pamit berkelana ke hutan bersama punakawan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di pertapaan Candhana Sapilar, Bagawan Sidikwacana dihadap oleh Endang Mutyara. Endang Mutyara bercerita kepada sang bagawan, bahwa ia bermimpi bertemu dengan Bambang Madusekti. Ia minta dicarikan dengan pria yang ditemui dalam mimpi itu. Bagawan Sidikwacana meninggalkan pertapaan hendak mencari Bambang Madusekti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perjalanan Bagawan Sidikwacana tiba di hutan. Ia bertemu dengan Bambang Madusekti. Sang bagawan bercerita tentang mimpi anaknya, lalu minta kesediaan Bambang Madusekti ikut ke Candhana Sapilar. Mula-mula Bambang Madusekti tidak mau, namun setelah tersekap oleh sang bagawan ia menyerah dan bersedia diajak ke pertapaan. Di pertapaan ia dipertemukan dengan Endang Mutyara. Bambang Madusekti jatuh cinta, dan mau mengawininya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yudhistira raja Ngamarta berbicara dengan Wrekodara, Nakula dan Sadewa tentang kepergian Arjuna. Raja Dwarawati datang memberitahu bahwa kepergian Arjuna untuk keperluan perkawinan. Kresna ingin mencari Arjuna, sepekan kemudian Wrekodara diminta menyusul ke kerajaan Slagaima. Setelah berpamitan Kresna menuju kerajaan Slagaima. Di tengah perjalanan Kresna dikejar raja Dasakumara. Kresna lari, lalu masuk pertapaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bambang Madusekti menghadap Bagawan Sidik Wacana, minta pamit akan ke kerajaan Slagaima. Ia memberi tahu kepada sang bagawan, bahwa isterinya telah mengandung. Bila telah lahir ia minta agar anaknya diberi nama Bambang Nilasuwarna. Sepeninggal Bambang Madusekti dan para panakawan, Kresna datang menghadap sang bagawan. Sang bagawan berkata bahwa Bambang Madusekti pergi ke kerajaan Slagaima. Raja Dasakumara datang di pertapaan mencari Kresna. Sang bagawan berkata bahwa di pertapaan tidak ada Kresna. Raja Dasakumara marah, sang bagawan diserangnya. Raja Dasakumara mati terkena pusaka Bagawan Sidikwacana.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sang Hyang Yamadipati turun ke Marcapada bersama Dewi Sari Monglang. Mereka menemui bangkai Dasakumara. Dewi Sari Monglang minta agar Dasakumara hidup lagi. Sang Hyang Yamadipati menghidupkan Dasakumara. Maka Dasakumara pun hidup lagi lalu mendekati Dewi Sari Monglang. Sang Hyang Yamadipati dan Dewi Sari Monglang ketakutan, lalu lari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kresna berhasil mendahului perjalanan Bambang Madusekti. Ia mencegat Bambang Madusekti, terjadi perdebatan. Kresna marah atas kepergian Bambang Madusekti (Arjuna) tanpa pamit. Sang Hyang Yamadipati dan Dewi Sari Monglang datang di empat Kresna. Mereka minta perlindungan. Dasakumara datang, Bambang Madusekti menyongsongnya. Terjdilah perkelahian. Dasakumara musnah oleh panah Bambang Madusekti. Kemudian Kresna, Bambang Madusekti dan panakawan melanjutkan perjalanan ke Slagaima.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Yudhistira duduk di atas singgasana, dihadap oleh Wrekodara, Nakula, Sadewa, Patih Tambak Ganggeng, dan Gathotkaca. Wrekodara dan Gathotkaca diminta mencari Arjuna. Mereka berdua lalu berangkat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Darmamuka dan Jayapuspita menyambut kedatangan Bambang Madusekti. Bambang Madusekti minta ijin akan kembali menjenguk ibu dan saudara. Tiba-tiba datang serangan perajurit Tawanggantungan. Bambang Madusekti minta pamit akan memberantas musuh yang datang. Raja mengijinkannya. Wrekodara dan Gathotkaca datang membantunya. Serangan musuh dapat dipatahkan. Kerajaan Slagaima aman kembali.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kresna, Wrekodara, Gathotkaca dan Bambang Madusekti menghadap raja Darmamuka. Kresna minta agar Bambang Madusekti, yang sebenarnya Arjuna, diijinkan kembali ke Ngamarta. Raja Darmamuka mengijinkan setelah pesta di kerajaan Slagaima selesai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah pesta selesai Arjuna kembali ke Ngamarta bersama Wrekodara dan Gathotkaca. Sedangkan Kresna kembali ke Dwarawati.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kresna Sungging (Jati Diri Kepemimpinan Kresna)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/kresna-sungging-jati-diri-kepemimpinan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-1262515466417465339</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Kresna duduk di atas singgasana, dihadap oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Setyaki. Datanglah Patih Sengkuni utusan Suyudana, raja Ngastina. Kresna diminta menghadiri dan menjadi saksi penobatan Bagawan Sabdajati yang diangkat sebagai pujangga istana, menggantikan Pendeta Drona. Pendeta Drona telah lama pergi meninggalkan kerajaan Ngastina. Kresna sanggup menghadiri upacara itu. Kemudian ia masuk istana untuk berpamitan kepada para isteri. Wisnubrata dan Satyaki diserahi menjaga istana Dwarawati. Kresna dan Sengkuni berangkat menuju Ngastina. Raja Baladewa datang di Dwarawati, disambut oleh Wisnubrata, Patih Udawa dan Satyaki. Setelah diberi tahu bahwa raja Kresna ke kerajaan Ngastina, Baladewa berpamitan akan menyusul ke Ngastina.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Suyudana dihadap oleh warga Korawa, Adipati Karna, Indraswara dan Bagawan Sabdajati. Datanglah Patih Sengkuni bersama Kresna. Raja memberi tahu tentang rencana pengangkatan pujangga istana. Kresna mengusulkan agar jabatan pujangga diberikan kepada orang lain. Ia tidak setuju bila Sabdajati diangkat menjadi pujangga Ngastina. Terjadilah perdebatan antara Kresna dengan Bagawan Sabdajati. Mereka bertentangan pendapat. Kresna pergi meninggalkan pertemuan. Bagawan Sabdajati marah, Kresna pun dikejarnya. Di tengah jalan bagawan tersebut berjumpa raja Baladewa dan pengawalnya. Terjadilah perdebatan antara Baladewa dengan Bagawan Sabdajati. Mereka berkelahi. Baladewa terkena sabda sang Bagawan, dan berubah wujud menjadi patung. Satyaki yang membelanya juga terkena sabda, dan berubah menjadi pohon tal putih, berdiri di tengah jalan. Arjuna dan panakawan mengembara di hutan, mencari Yudhisthira dan Wrekodara yang telah lama meninggalkan kerajaan Ngamarta. Di tengah hutan, Arjuna dikeroyok raksasa, tetapi raksasa dapat dikalahkan. Dhang Hyang Drona tengah berdiri di tepi samodera, merenungkan perselisihannya dengan raja Suyudana. Ia ingin menjabat pujangga istana, tetapi raja berkehendak Drona menjadi brahmana kerajaan. Datanglah Bathari Pramoni. Ia memberi nasihat agar Drona hidup menyamar, sehingga cita-cita Drona bisa tercapai. Bathari Pramoni mengubah Dhang Hyang Drona menjadi Garuda, diberi nama Mintasih. Bathari Pramoni minta agar Garuda selalu memberi pertolongan kepada orang-orang yang sedang kesusahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam perjalanan Arjuna bertemu dengan Kresna. Kresna bercerita tentang hal ihwal yang terjadi di Ngastina. Mereka setuju menuju ke Ngastina. Di tengah perjalanan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka melihat patung dan pohon tal putih. Mereka heran. Kresna mengamat-amati dengan seksama. Ia mengira patung dan pohon itu semula manusia. Patung dan pohon tal lalu disayembarakan, siapa yang dapat mengembalikan ke wujud semula akan dipenuhi segala permintaannya. Garuda Mintasih mendengar, lalu menghadap Kresna. Garuda minta ijin akan mengembalikan wujud patung dan pohon tal. Berhasillah usaha Garuda, patung dan pohon kembali menjadi raja Baladewa dan Satyaki. Karena kesaktian Kembang Wijayakusuma, Garuda berubah menjadi Dhang Hyang Drona. Namun Dhang Hyang Drona minta mati. Kresna membuat lukisan yang menggambarkan Aswatama mati diinjak Gajah Putih. Dikatakan oleh Kresna, di situlah Dhang Hyang Drona akan mati. Kemudian Kresna, Baladewa, Arjuna dan Panakawan pergi menuju kerajaan Ngastina.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yudhisthira dan Wrekodara menghadap Sang Hyang Wenang di Kahyangan Mereka bertanya masalah perang Bharatayudha. Pertanyaan mereka dijawab, bahwa perang mesti terjadi, karena harus diakuinya adanya kebenaran dan keadilan. Setelah banyak bicara, Sang Hyang Wenang menyuruh agar mereka pergi ke Ngastina. Di Ngastina akan ada upacara penobatan pujangga baru. Mereka diminta dengan menyamar dalam wujud resi. Mereka menjunjung perintah Sang Hyang Wenang. Yudhisthira menyamar dan berujud resi bernama Resi Wasesa, dan Wrekodara bernama Bratawasesa. Mereka berdua turun ke Marcapada, menuju Ngastina.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Suyudana dihadap oleh Bagawan Sabdajati dan tokoh-tokoh Korawa. Datanglah warga Korawa, memberi tahu, bahwa di alun-alun terjadi perkelahian hebat. Seorang pendeta melawan Kresna, dan Dhang Hyang Drona melawan Arjuna. Raja Suyudana bersama Bagawan Sabdajati menuju ke alun-alun. Mereka melerai yang sedang berkelahi. Resi Wasesa kembali menjadi raja Yudhisthira dan Bratawasesa menjadi Wrekodara. Bagawan Sabdajati melerai pertengkaran mereka dan berkata, bahwa sekarang belum waktunya terjadi perang besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Suyudana memanggil Dhang Hyang Drona dan minta agar tetap tinggal duduk sebagai brahmana di istana Ngastina. Mereka yang hadir diundang pesta di Ngastina.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kresna Gugah (2)</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/06/kresna-gugah-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 10 Jun 2012 20:13:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-3228133111349678065</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Baladewa, Patih Sakuni dan Karna datang menemui Kresna. Baladewa minta kesediaan Kresna untuk diboyong ke Ngastina. Arjuna menolak keinginan Baladewa, Kresna dipertahankannya. Terjadilah pertikaian hebat. Baladewa melemparkan Nanggala, Arjuna menghindarinya. Nanggala tertancap ke bumi. Baladewa berteriak minta tolong, Kresna mau menolong, asal Baladewa mau mendermakan kekayaan kerajaan Mandura. Baladewa menyanggupinya, lalu bebas dari himpitan bumi. Suatu ketika datanglah Cantrik meminta permasuri Baladewa. Baladewa marah, Cantrik dilempar Nanggala. Cantrik menghindar dan berubah menjadi Arjuna. Nanggala masuk ke bumi. Baladewa terhimpit bumi sejak berusaha mencabut Nanggalanya. Kresna datang menolong namun dengan perjanjian bahwa Baladewa diminta bertapa di Grojogan Sewu. Sebelum dijemput, Baladewa tidak boleh meninggalkan tapanya. Baladewa menyanggupinya lalu dilepas dari himpitan bumi.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baladewa pergi bertapa di Grojogan Sewu, Sancaka yang menjaganya. Kresna berpesan agar menjaga uwaknya. Bila bangun supaya dadanya diusap dengan telapak tangan. Sebelum berangkat telapak tangan Sancaka diberi rajah Cakra, sewaktu-waktu untuk mengusap dada Baladewa bila akan bangun tidur, dan kembali ke Mandura.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Patih Pragota kebingungan ditinggal oleh Baladewa. Ia meninggalkan kerajaan, berkelana tidak tentu tujuan. Akhirnya Pragota tercebur dalam jurang. Patih Sakuni dan warga Korawa kembali ke Ngastina, menghadap raja Doryudana. Dilaporkannya, bahwa Kresna telah bangun, dan Baladewa meninggalkan istana. Mereka ingin menemui Kresna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Locanadewa berhasil menemukan Arjuna. Arjuna hendak dibunuh, sebab telah membunuh ayah Locanadewa. Arjuna bersiap-siap melawan Locanadewa. Panah sakti dilepaskan, Locanadewa pun musnah bersama prajuritnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raja Duryodana berkeinginan memboyong Kresna ke Ngastina. Duryodana dan warga Korawa datang ke kerajaan Dwarawati. Kresna dengan senang menyambut kedatangan mereka. Duryodana minta agar hari itu Kresna mau diboyong ke Ngastina. Kresna tidak mau dan berkata, bahwa Duryodana nanti harus memilih dirinya atau prajuritnya. Duryodana bersikeras memboyong Kresna. Terjadilah pertikaian, prajurit Korawa mengamuk. Para Pandhawa datang menyelamatkan kerajaan Dwarawati. Wrekodara berhasil menghalau prajurit Korawa. Duryodana dan warga Korawa kembali ke kerajaan Ngastina dengan kecewa.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Batara Brama</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/05/batara-brama.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 2 May 2012 19:25:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-7548734411099233990</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Batara Brama adalah putera kedua Batara Guru.Ia tinggal di Kahyangan Duksinageni.Kahyangan ini disebut juga Hargadahana atau Argadahana.Istrinya ada tiga orang,yakni Dewi Saci atau Dewi Wasi,Dewi Rarasati,dan Dewi Saraswati.Diantara banyak anaknya,yang paling terkenal adalah Dewi Dresanala yang diperistri Arjuna.Perkawinan ini menghasilkan seorang cucu bagi Batara Brama,yakni Bambang Wisanggeni.&lt;br /&gt;
Batara Brama pernah melakukan tindakan yang tidak bijaksana dengan menceraikan Dewi Dresanala dari Arjuna.Dresanala kemudian diberikan kepada Dewasrani,meskipun dia sedang hamil tua.Tindakan Batara Brama ini akibat bujukan dan hasutan Batari Durga.Namun akhirnya Batara Brama menyadari kesalahannya.&lt;br /&gt;
Menjelang Baratayuda,Batara Brama mendapat tugas berat dari Batara Guru.Karena para dewa menilai tidak ada satu makhluk pun di dunia yang sanggup menandingi kesaktian Wisanggeni,Batara ditugasi untuk membunuh Wisanggeni.Brama lalu memanggil Wisanggeni dan menanyakan apakah Wisanggeni bersedia berkorban bagi kemenangan Pandawa di Baratayuda.Wisanggeni menyatakan sanggup.Batara Brama lalu menyuruh cucunya memandang salah satu titik diantara mata Batara Brama.Seketika itu juga tubuh Wisanggeni mengecil sampai menjadi debu.Dalam Mahabarata,tokoh Wisanggeni tidak ada.&lt;br /&gt;
Batara Brama tergolong dewa yang murah hati tapi terkadang bertindak kurang bijaksana.Suatu ketika,Batara Brama melihat kedua kakak beradik,Hiranyakasipu dan Hiranyawreka yang tekun bertapa selama berbulan-bulan.Ketika Batara Brama bertanya apa tujuan mereka bertapa.Mereka menjawab ingin memiliki kesaktian yang terkalahkan oleh makhluk apapun,termasuk para dewa.Dengan murah hati,tanpa berpikir panjang,Batara Brama mengabulkan permintaan itu.&lt;br /&gt;
Bertahun-tahun kemudian,setelah Hiranyakasipu menjadi raja Alengka dan Hiranyawreka menjadi raja Giyantipura,keduanya bersekutu melawan para dewa.Tentu saja para dewa menjadi kewalahan karena kesaktian kedua kakak beradik itu tidak tertandingi oleh makhluk apapun.Untunglah Batara Wisnu menemukan akal yang cerdik,ia mengubah wujudnya menjadi makhluk baru,yakni berbadan dewa tapi berkepala singa dan menamakan dirinya Narasinga.Dengan bentuk seperti itu,Batara Wisnu dapat mengalahkan dan membunuh kedua raksasa sakti&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KITAB ADIPARWA   Oleh Sulthan ardhan</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/04/kitab-adiparwa-oleh-sulthan-ardhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 19 Apr 2012 16:28:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-158279521248424190</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Adiparwa adalah buku pertama atau bagian (parwa) pertama dari kisah Mahabharata. Pada dasarnya bagian ini berisi ringkasan keseluruhan cerita Mahabharata, kisah-kisah mengenai latar belakang ceritera, nenek moyang keluarga Bharata, hingga masa muda Korawa dan Pandawa). Kisahnya dituturkan dalam sebuah cerita bingkai dan alur ceritanya meloncat-loncat sehingga tidak mengalir dengan baik. Penuturan kisah keluarga besar Bharata tersebut dimulai dengan percakapan antara Bagawan Ugrasrawa yang mendatangi Bagawan Sonaka di hutan Nemisa.Adiparwa dituturkan seperti sebuah narasi. Penuturan isi kitab tersebut bermula ketika Sang Ugrasrawa mendatangi Bagawan Sonaka yang sedang melakukan upacara di hutan Nemisa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Ugrasrawa menceritakan kepada Bagawan Sonaka tentang keberadaan sebuah kumpulan kitab yang disebut Astadasaparwa, pokok ceritanya adalah kisah perselisihan Pandawa dan Korawa, keturunan Sang Bharata. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dari penuturan Sang Ugrasrawa, mengalirlah kisah besar keluarga Bharata tersebut (Mahābhārata).Bagian-bagian kitab Adiparwa itu di antaranya: (di anyam dalam cerita bingkai).* Cerita Begawan Ugrasrawa (Ugraçrawā) mengenai terjadinya pemandian Samantapañcaka dan tentang dituturkannya kisah Mahabharata oleh Begawan Waisampayana (Waiçampāyana). Kisah panjang tersebut dituturkan atas permintaan maharaja Janamejaya, raja Hastinapura, anak mendiang prabu Parikesit (Parīkşit) dan cicit Pandawa. Begawan Waisampayana bermaksud menghibur sang maharaja atas kegagalan kurban ular (sarpayajña) yang dilangsungkan untuk menghukum naga Taksaka, yang telah membunuh raja Pariksit.Selain itu sang Ugrasrawa juga menjelaskan ringkasan delapan belas parwa yang menyusun Mahabharata; jumlah bab, seloka (çloka) dan isi dari masing-masing parwa.* Cerita dikutuknya maharaja Janamejaya oleh sang Sarama, yang berakibat kegagalan kurban yang dilangsungkan oleh sang maharaja.* Cerita Begawan Dhomya beserta ketiga orang muridnya; sang Arunika, sang Utamanyu dan sang Weda. Dilanjutkan dengan ceritera Posya, mengenai kisah asal mula sang Uttangka murid sang Weda bermusuhan dengan naga Taksaka. Oleh karenanya sang Uttangka lalu membujuk Maharaja Janamejaya untuk melaksanakan sarpayajña atau upacara pengorbanan ular.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;* Cerita asal mula Hyang Agni (dewa api) memakan segala sesuatu, apa saja dapat dibakarnya, dengan tidak memilah-milah. Serta nasihat dewa kepada sang Ruru untuk mengikuti jejak sang Astika, yang melindungi para ular dan naga dari kurban maharaja Janamejaya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;
* Ceritera Astika; mulai dari kisah sang Jaratkāru mengawini sang Nāgini (naga perempuan) dan beranakkan sang Astika, kisah lahirnya naga dan garuda, dikutuknya para naga oleh ibunya agar dimakan api pada kurban ular, permusuhan naga dengan garuda, hingga upaya para naga menghindarkan diri dari kurban ular.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di dalam ceritera ini terselip pula kisah mengenai upaya para dewa untuk mendapatkan tirta amrta atau air kehidupan, serta asal-usul gerhana matahari dan bulan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;* Cerita asal-usul Raja Parikesit dikutuk Begawan Çrunggī dan karenanya mati digigit naga Taksaka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;* Cerita pelaksanaan kurban ular oleh maharaja Janamejaya, dan bagaimana Begawan Astika mengurungkan kurban ular ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;* Cerita asal-usul dan sejarah nenek moyang Kurawa dan Pandawa. Kisah Sakuntala (Çakuntala) yang melahirkan Bharata, yang kemudian menurunkan keluarga Bharata. Sampai kepada sang Kuru, yang membuat tegal Kuruksetra; sang Hasti, yang mendirikan Hastinapura; maharaja Santanu (Çantanu) yang berputra Bhîsma Dewabrata, lahirnya Begawan Byasa (Byâsa atau Abiyasa) –sang pengarang kisah ini– sampai kepada lahirnya Dhrestarastra (Dhŗţarāstra) –ayah para Kurawa, Pandu (Pãņdu) –ayah para Pandawa, dan sang Widura.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;* Cerita kelahiran dan masa kecil Kurawa dan Pandawa. Permusuhan Kurawa dan Pandawa kecil, kisah dang hyang Drona, hingga sang Karna menjadi adipati di Awangga.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;* Cerita masa muda Pandawa. Terbakarnya rumah damar, kisah sang Bima (Bhîma) mengalahkan raksasa Hidimba dan mengawini adiknya Hidimbî (Arimbi) serta kelahiran Gatutkaca, kemenangan Pandawa dalam sayembara Drupadi, dibaginya negara Hâstina menjadi dua untuk Kurawa dan Pandawa, pengasingan sang Arjuna selama 12 tahun dalam hutan, lahirnya Abimanyu (Abhimanyu) ayah sang Pariksit, hingga terbakarnya hutan Kandhawa tempat naga Taksaka bersembunyi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bahagian yg terpenting :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mangkatnya Raja Parikesit.&lt;br /&gt;
Dikisahkan, ada seorang Raja bernama Parikesit, putera Sang Abimanyu, yang bertahta di Hastinapura. Beliau merupakan keturunan Sang Kuru, maka disebut juga Kuruwangsa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada suatu hari, beliau berburu kijang ke tengah hutan. Kijang diikutinya sampai kehilangan jejak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di hutan beliau berpapasan dengan seorang pendeta bernama Bagawan Samiti. Sang Raja menanyakan kemana kijang buruannya pergi, namun sang pendeta membisu (bertapa dengan bisu). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Hal tersebut membuat Raja Parikesit marah. Beliau mengambil bangkai ular, kemudian mengalungkannya di leher sang pendeta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Putera sang pendeta yang bernama Srenggi, mengetahui hal tersebut dari penjelasan Sang Kresa, kemudian ia menjadi marah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ia mengutuk Sang Raja, agar beliau wafat karena digigit ular, tujuh hari setelah kutukan diucapkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Setelah Sang Raja menerima kutukan tersebut, maka ia berlindung di sebuah menara yang dijaga dan diawasi dengan ketat oleh prajurit dan para patihnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya, seekor naga yang bernama Taksaka menyamar menjadi ulat pada jambu yang dihaturkan kepada Sang Raja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Akhirnya Sang Raja mangkat setelah digigit Naga Taksaka yang menyamar menjadi ulat dalam jambu Raja Janamejaya mengadakan upacara korban ular Setelah Maharaja Parikesit mangkat, puteranya yang bernama Janamejaya menggantikan tahtanya. Pada waktu itu beliau masih kanak-kanak, namun sudah memiliki kesaktian, kepandaian, dan wajah yang tampan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Raja Janamejaya dinikahkan dengan puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Bhamustiman. Raja Janamejaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dunia tenteram, setiap musuh pasti dapat ditaklukkannya. Ketika Sang Raja berhasil menaklukkan desa Taksila, Sang Uttangka datang menghadap Sang Raja dan mengatakan niatnya yang benci terhadap Naga Taksaka, sekaligus menceritakan bahwa penyebab kematian ayahnya adalah karena ulah Naga Taksaka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Raja meneliti kebenaran cerita tersebut dan para patihnya membenarkan cerita Sang Uttangka. Sang Raja dianjurkan untuk mengadakan upacara pengorbanan ular untuk membalas Naga Taksaka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Singkat cerita, beliau menyiapakan segala kebutuhan upacara dan mengundang para pendeta dan ahli mantra untuk membantu proses upacara. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Melihat Sang Raja mengadakan upacara tersebut, Naga Taksaka menjadi gelisah. Kemudian ia mengutus Sang Astika untuk menggagalkan upacara Sang Raja. Sang Astika menerima tugas tersebut lalu pergi ke lokasi upacara. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Astika menyembah-nyembah Sang Raja dan memohon agar Sang Raja membatalkan upacaranya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Raja yang memiliki rasa belas kasihan terhadap Sang Astika, membatalkan upacaranya. Akhirnya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Astika mohon diri untuk kembali ke Nagaloka. Naga Taksaka pun selamat dari upacara tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Wesampayana menuturkan Mahabharata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Maharaja Janamejaya yang sedih karena upacaranya tidak sempurna, meminta Bagawan Byasa untuk menceritakan kisah leluhurnya, sekaligus kisah Pandawa dan Korawa yang bertempur di Kurukshetra. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Karena Bagawan Byasa sibuk dengan urusan lain, maka Bagawan Wesampayana disuruh mewakilinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Beliau adalah murid Bagawan Byasa, penulis kisah besar keluarga Bharata atau Mahābhārata. Sesuai keinginan Raja Janamejaya, Bagawan Wesampayana menuturkan sebuah kisah kepada Sang Raja, yaitu kisah sebelum sang raja lahir, kisah Pandawa dan Korawa, kisah perang di Kurukshetra, dan kisah silsilah leluhur sang raja. Wesampayana mula-mula menuturkan kisah leluhur Maharaja Janamejaya (Sakuntala, Duswanta, Bharata, Yayati, Puru, Kuru), kemudian kisah buyutnya, yaitu Pandawa dan Korawa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kisah Prabu Santanu dan keturunannya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tersebutlah seorang Raja bernama Pratipa, beliau merupakan salah satu keturunan Sang Kuru atau Kuruwangsa, bertahta di Hastinapura. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Raja Pratipa memiliki permaisuri bernama Sunandha dari Kerajaan Siwi, yang melahirkan tiga putera. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di antara ketiga putera tersebut, Santanu dinobatkan menjadi Raja. Raja Santanu menikahi Dewi Gangga, kemudian berputera 8 orang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tujuh puteranya yang lain ditenggelamkan ke sungai oleh istrinya sendiri, sedangkan puteranya yang terakhir berhasil selamat karena perbuatan istrinya dicegah oleh Sang Raja.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Puteranya tersebut bernama Dewabrata, namun di kemudian hari bernama Bhisma. Raja Santanu menikah sekali lagi dengan seorang puteri nelayan bernama Satyawati. Satyawati melahirkan 2 putera, bernama Chitrāngada dan Wicitrawirya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Chitrāngada mewarisi tahta ayahnya. Namun karena ia gugur di usia muda pada suatu pertempuran melawan seorang Raja Gandharva, pemerintahannya digantikan oleh adiknya, Wicitrawirya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Wicitrawirya menikahi Ambika dan Ambalika dari Kerajaan Kasi. Tak lama setelah pernikahannya, Wicitrawirya wafat. Untuk memperoleh keturunan, kedua janda Wicitrawirya melangsungkan upacara yang dipimpin oleh Bagawan Byasa. Ambika melahirkan Drestarastra yang buta sedangkan Ambalika melahirkan Pandu yang pucat. Atas anugerah Bagawan Byasa, seorang pelayan yang turut serta dalam upacara tersebut melahirkan seorang putera, bernama Widura yang sedikit pincang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Drestarastra menikahi Gandari kemudian memiliki seratus putera yang disebut Korawa. Pandu menikahi Kunti dan Madri. Kunti melahirkan Yudistira, Bhima, dan Arjuna. Madri melahirkan Nakula dan Sadewa. Keturunan Pandu tersebut disebut Pandawa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kisah masa kecil Pandawa dan Korawa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pandawa dan Korawa hidup bersama-sama di istana Hastinapura. Bagawan Drona mendidik mereka semasa kanak-kanak, bersama dengan puteranya yang bernama Aswatama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Selain itu mereka diasuh pula oleh Bhisma dan Bagawan Kripa. Setelah Pandu mangkat, kakaknya yang bernama Drestarastra melanjutkan pemerintahan. Drestarastra melihat talenta para Pandawa dan hendak mencalonkan Yudistira sebagai Raja, namun hal tersebut justru menimbulkan sikap iri hati dalam diri Duryodana, salah satu Korawa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tingkah laku Bima yang tanpa sengaja merugikan para Korawa juga sering membuat Duryodana dan adik-adiknya kesal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Terbakarnya rumah damar&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta Dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Mereka semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai Korawa) tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Hastinapura. Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan Pandawa lima beserta ibunya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Drestarastra yang mencintai keponakannya secara berlebihan mengangkat Yudistira sebagai putra mahkota tetapi ia langsung menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak memikirkan perasaan anaknya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Hal ini menyebabkan Duryodana iri hati dengan Yudistira, ia mencoba untuk membunuh pandawa lima beserta ibu mereka yang bernama Kunti dengan cara menyuruh mereka berlibur ke tempat yang bernama Ekacakra. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di sana terdapat bangunan yang megah, yang telah disiapkan Duryodana untuk mereka berlibur dan akan membakar bagunan itu di tengah malam pada saat pandawa lima sedang terlelap tidur. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Segala sesuatunya yang sudah direncanakan Duryodana dibocorkan oleh Widura yang merupakan paman dari Pandawa lima. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sebelum itu juga Yudistira juga telah diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada bencana yang menimpannya oleh karena itu Yudistira pun sudah berwaspada terhadap segala kemungkinan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Untuk pertama kalinya Yudistira lolos dalam perangkap Duryodana dan melarikan diri ke hutan rimba.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pandawa mendapatkan Dropadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada suatu hari, Pandawa mengikuti sayembara yang diselenggarakan Raja Drupada di Kerajaan Panchala. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sayembara tersebut memperebutkan Dewi Dropadi. Banyak ksatria di penjuru Bharatawarsha turut menghadiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para Pandawa menyamar sebagai seorang Brāhmana. Sebuah sasaran diletakkan di tengah-tengah arena, dan siapa yang berhasil memanah sasaran tersebut dengan tepat, maka ialah yang berhasil mendapatkan Dropadi. Satu-persatu ksatria maju, namun tidak ada satu pun yang berhasil memanah dengan tepat. Ketika Karna dari Kerajaan Anga turut serta, ia berhasil memanah sasaran dengan baik. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Namun Dropadi menolak untuk menikahi Karna karena karna anak seorang kusir yang tentu lebih rendah kastanya. Karna kecewa tetapi juga kesal terhadap Dropadi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para Pandawa yang diwakili oleh Arjuna turut serta. Arjuna berpakaian seperti Brāhmana. Ketika ia tampil ke muka, ia berhasil memanah sasaran dengan baik, maka Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun hal tersebut menimbulkan kericuhan karena seorang Brāhmana tidak pantas untuk mengikuti sayembara yang ditujukan kepada golongan ksatria. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Arjuna dan Bima pun berkelahi dengan para ksatria di sana, sementara Yudistira, Nakula dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Pandawa berseru, “Ibu, kami datang membawa hasil meminta-minta”. Kunti, ibu para Pandawa, tidak melihat apa yang dibawa oleh anak-anaknya karena sibuk dan berkata, “Bagi dengan rata apa yang kalian peroleh”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ketika ia menoleh, alangkah terkejutnya ia karena anak-anaknya tidak saja membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Kunti yang tidak mau berdusta, membuat anak-anaknya untuk berbagai istri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Arjuna mengasingkan diri ke hutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para Pandawa sepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Hukuman dari perbuatan yang menggangu adalah pembuangan selama 12 tahun.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para rakshasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 12 tahun. Arjuna menerima hukuman tersebut dengan ikhlas.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Selama masa pengasingannya, Arjuna memiliki tiga istri lagi. Mereka adalah: Subadra (adik Sri Kresna), Ulupi, dan Citrangada. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dari hubungannya dengan Subadra anaknya bernama Abimanyu. Dengan Ulupi anaknya bernama Irawan. Dengan Citrangada anaknya bernama Babruwahana.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kisah lain dalam Kitab Adiparwa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Selain kisah Pandawa dan Korawa, Sang Ugrasrawa juga menuturkan kisah lain kepada Bagawan Sonaka, yang berbentuk cerita bingkai, sehingga alur ceritanya campuran, tidak mengalir ke depan melainkan meloncat-loncat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bagian penting cerita&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kisah Bagawan Dhomya menguji tiga muridnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dikisahkan seorang Brāhmana bernama Bagawan Dhomya, tinggal di Ayodhya. Beliau memiliki 3 murid, bernama: Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ketiganya akan diuji kesetiaannya oleh Sang Guru. Sang Arunika disuruh bersawah. Dengan berhati-hati Sang Arunika merawat biji padi yang ditanamnya. Ketika biji-bijinya sedang tumbuh, datanglah hujan membawa air bah yang kemudian merusak pematang sawahnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ia khawatir kalau air tersebut akan merusak tanamannya, maka ia perbaiki pematangnya untuk menahan air. Berkali-kali usahanya gagal dan pematangnya jebol, maka ia merebahkan dirinya sebagai pengganti pematang yang jebol untuk menahan air. Karena kesetiannya tersebut, Sang Arunika diberikan anugerah kesaktian oleh Bagawan Dhomya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sementara itu, Sang Utamanyu disuruh mengembala sapi. Sang Utamanyu tidak diperbolehkan untuk meminta-minta air kalau ia sedang haus saat mengembala sapi, maka ia menjilat susu sapi yang digembalanya. Hal tersebut juga ditentang oleh Sang Guru, maka Sang Utamanyu menghisap getah daun “waduri” untuk menghilangkan dahaga. Hal tersebut mengakibatkan matanya buta. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ia tidak tahu jalan sehingga terperosok ke dalam sumur kering. Sampai sore, Sang Utamanyu tidak juga kembali pulang, gurunya menjadi cemas. Ketika dicari, didapatinya Sang Utamanyu berada dalam sebuah sumur. Bagawan Dhomya kemudian mendengarkan cerita Sang Utamanyu. Karena kesetiannya terhadap kewajiban, Sang Utamanyu diberikan mantra sakti yang mampu menyembuhkan penyakit oleh Bagawan Dhomya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sementara itu, Sang Weda disuruh tinggal di dapur untuk menyediakan hidangan yang terbaik buat gurunya. Sang Weda selalu menuruti perintah gurunya, meski yang buruk sekalipun. Segala perintah gurunya dikerjakan dengan baik. Maka dari itu, Sang Weda dianugerahi segala macam ilmu pengetahuan, mantra Veda, dan kecerdasan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kisah Sang Winata dan Sang Kadru&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dikisahkan terdapat seorang Maharsi bernama Bagawan Kasyapa, putera bagawan Marici, cucu Dewa Brahma. Ia diberi oleh Bagawan daksa empat belas puteri. Keempat belas puteri tersebut bernama: Aditi, Diti, Danu, Aristi, Anayusa, Kasa, Surabhi, Winata, Kadru, Ira, Parwa, Mregi, Krodhawasa, Tamra. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di antara empat belas puteri tersebut, Sang Winata dan Kadru tidak memiliki anak. Mereka berdua kemudian memohon belas kasihan Bagawan Kasyapa. Sang Kadru memohon seribu anak sedangkan Sang Winata hanya memohon dua anak. Kemudian Bagawan Kasyapa memberikan Sang Kadru seribu butir telur sedangkan Sang Winata diberikan dua butir telur. Kedua puteri tersebut kemudian merawat telur masing-masing dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Singkat cerita, seribu butir telur milik Sang Kadru menetas, dan lahirlah para Naga. Yang terkemuka adalah Sang Anantabhoga, Sang Wasuki, dan Sang Taksaka. Sementara telur Sang Kadru sudah menetas semuanya, telur Sang Winata belum menetas. Karena tidak sabar, maka telurnya dipecahkan. Ketika pecah, terlihatlah seorang anak yang baru setengah jadi, bagian tubuh ke atas lengkap sedangkan dari pinggang ke bawah tidak ada. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang anak marah karena ditetaskan sebelum waktunya. Anak tersebut kemudian mengutuk ibunya supaya diperbudak oleh Sang Kadru berlebih-lebihan. Kelak, saudaranya yang akan menetas akan menyelamatkan ibunya dari perbudakan. Anak tersebut kemudian diberi nama Sang Aruna, karena tidak memiliki kaki dan paha. Sang Aruna menjadi sais (kuir) kereta Dewa Surya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kisah pemutaran Mandaragiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dikisahkan, pada zaman dahulu kala, para Dewa, detya, dan rakshasa mengadakan rapat untuk mencari tirta amerta (air suci). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) mengatakan bahwa tirta tersebut berada di dasar laut Ksira. Cara mendapatkannya adalah dengan mengaduk lautan tersebut. Para Dewa, detya, dan rakshasa kemudian menuju laut Ksira. Untuk mengaduknya, Naga Wasuki mencabut gunung Mandara (Mandaragiri) di pulau Sangka sebagai tongkat pengaduk. Gunung tersebut dibawa ke tengah lautan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Seekor kura-kura (Kurma) besar menjadi penyangga/dasar gunung tersebut. Sang Naga melilit gunung tersebut, kemudian para Dewa memegang ekornya, sedangkan rakshasa dan detya memegang kepalanya. Dewa Indra berdiri di puncaknya agar gunung tidak melambung ke atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Beberapa lama setelah gunung diputar, keluarlah Ardhachandra, Dewi Sri, Dewi Lakshmi, kuda Uccaihsrawa, dan Kastubhamani. Semuanya berada di pihak para Dewa. kemudian, munculah Dhanwantari membawa kendi tempat tirta amerta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para detya ingin agar tirta tersebut menjadi milik mereka sebab sejak awal tidak pernah dapat bagian. Tirta amerta pun menjadi milik mereka. Para Dewa memikirkan cara untuk merebut tirta tersebut. akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik, kemudian mendekati para rakshasa dan detya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para rakshasa-daitya yang melihatnya menjadi terpesona, dan menyerahkan kendi berisi tirta tersebut. Wanita cantik itu kemudian pergi sambil membawa tirta amerta dan berubah kembali menjadi Dewa Wisnu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para detya yang melihatnya menjadi marah. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran antara para Dewa dan rakshasa-detya. Kemudian Dewa Wisnu teringat dengan senjata chakra-nya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Senjata chakra kemudian turun dari langit dan menyambar-nyambar para rakshasa-detya. Banyak dari mereka yang lari terbirit-birit karena luka-luka. Akhirnya ada yang menceburkan diri ke laut dan masuk ke dalam tanah. Para Dewa akhirnya berhasil membawa tirta amerta ke surga.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kisah Sang Garuda dan para Naga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dikisahkan, pada suatu hari Sang Winata dan Sang Kadru, istri Bagawan Kasyapa, mendengar kabar tentang keberadaan seekor kuda bernama Uccaihsrawa, hasil pemutaran Gunung Mandara atau Mandaragiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Winata mengatakan bahwa warna kuda tersebut putih semua, sedangkan Sang Kadru mengatakan bahwa tubuh kuda tersebut berwarna putih sedangkan ekornya saja yang hitam. Karena berbeda pendapat, mereka berdua bertaruh, siapa yang tebakannya salah akan menjadi budak. Mereka berencana untuk menyaksikan warna kuda itu besok sekaligus menentukan siapa yang salah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Kadru menceritakan masalah taruhan tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mengatakan bahwa ibunya sudah tentu akan kalah, karena warna kuda tersebut putih belaka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Kadru pun cemas karena merasa kalah taruhan, maka dari itu ia mengutus anak-anaknya untuk memercikkan bisa ke ekor kuda tersebut supaya warnanya menjadi hitam. Anak-anaknya menolak untuk melaksanakannya karena merasa perbuatan tersebut tidak pantas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Kadru yang marah mengutuk anak-anaknya supaya mati ditelan api pada saat upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamejaya. Mau tak mau, akhirnya anak-anaknya melaksanakan perintah ibunya. Mereka pun memercikkan bisa ular ke ekor kuda Uccaihsrawa sehingga warnanya yang putih kemudian menjadi hitam. Akhirnya Sang Kadru memenangkan taruhan sehingga Sang Winata harus menjadi budaknya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sementara itu, telur yang diasuh Sang Winata menetas lalu munculah burung gagah perkasa yang kemudian diberi nama Garuda. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Garuda mencari-cari kemana ibunya. Pada akhirnya ia mendapati ibunya diperbudak Sang Kadru untuk mengasuh para naga. Sang Garuda membantu ibunya mengasuh para naga, namun para naga sangat lincah berlari kesana-kemari. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Garuda kepayahan, lalu menanyakan para naga, apa yang bisa dilakukan untuk menebus perbudakan ibunya. Para naga menjawab, kalau Sang Garuda mampu membawa tirta amerta ke hadapan para naga, maka ibunya akan dibebaskan. Sang Garuda menyanggupi permohonan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Singkat cerita, Sang Garuda berhasil menghadapi berbagai rintangan dan sampai di tempat tirta amerta. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada saat Sang Garuda ingin mengambil tirta tersebut, Dewa Wisnu datang dan bersabda, “Sang Garuda, jika engkau ingin mendapatkan tirta tersebut, mintalah kepadaku, nanti pasti aku berikan”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Garuda menjawab, “Tidak selayaknya jika saya meminta kepada anda sebab anda lebih sakti daripada saya. Karena tirta amerta anda tidak mengenal tua dan mati, sedangkan saya tidak. Untuk itu, berikanlah kepada saya anugerah yang lain”. Dewa Wisnu berkata, “Jika demikian, aku memintamu untuk menjadi kendaraanku, sekaligus menjadi lambang panji-panjiku”. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sang Garuda setuju dengan permohonan tersebut sehingga akhirnya menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Kemudian Sang Garuda terbang membawa tirta, namun Dewa Indra tidak setuju kalau tirta tersebut diberikan kepada para naga. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut akan diberikan kalau para naga sudah selesai mandi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sampailah Sang Garuda ke tempat tinggal para naga. Para naga girang ingin segera meminum amerta, namun Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut boleh diminum jika para naga mandi terlebih dahulu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para naga pun mandi sesuai dengan syarat yang diberikan, tetapi setelah selesai mandi, tirta amerta sudah tidak ada lagi karena dibawa kabur oleh Dewa Indra. Para naga kecewa dan hanya mendapati beberapa percikan tirta amerta tertinggal pada daun ilalang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Para naga pun menjilati daun tersebut sehingga lidahnya tersayat dan terbelah. Daun ilalang pun menjadi suci karena mendapat tirta amerta. Sementara itu Sang Garuda terbang ke surga karena merasa sudah menebus perbudakan ibunya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bahasa dan sejarah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sebagaimana kisah induknya, Mahabharata, kitab Adiparwa ini semula dituliskan dalam bahasa Sansekerta dan dianggap sebagai cerita suci bagi pemeluk agama Hindu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tidak tercatat kapan persisnya kisah ini masuk ke Indonesia. Akan tetapi, sebagaimana disebutkan dalam bagian pendahuluan Adiparwa versi Jawa Kuna, kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Jawa kuna atau juga dikenal sebagai bahasa Kawi pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh (kerajaan Kediri, tahun 991-1016) (Zoetmulder, 1994).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pengaruh dalam budaya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi, banyak digubah menjadi cerita pewayangan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam kitab Adiparwa yang diterjemahkan dari Bahasa Sansekerta mungkin terdapat perbedaan dengan lakon pewayangannya, yang kadang-kadang besar sekali, sehingga memberi kesan bahwa segala sesuatunya terjadi di Jawa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Hal ini disebabkan oleh kecerdasan para pujangga masa lampau yang mampu memindah alam pikiran para pembaca atau pendengarnya dari suasana India menjadi Jawa Asli.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Jika Hastinapura sebenarnya terdapat di India, maka nama-nama seperti Jonggringsalaka, Pringgandani, Indrakila, Gua Kiskenda, sampai Gunung Mahameru dibawa ke tanah Jawa].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Begitu pula dengan tokoh Pancawala (Pancakumara). Jika dalam versi aslinya mereka terdiri dari lima orang, maka dalam pewayangan mereka dikatakan hanya satu orang saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Menurut Mulyono dalam artikelnya berjudul “Dewi Dropadi:Antara kitab Mahabharata dan Pewayangan Jawa”, ia menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita tentang Pancawala antara kitab Mahabharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh perkembangan agama Islam di tanah Jawa. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Hal serupa juga terjadi pada kisah Dewi Dropadi dalam kitab Adiparwa. Jika dalam Adiparwa ia bersuami lima orang, maka dalam pewayangan Jawa (yang sudah terkena pengaruh Islam) Dropadi hanya bersuami satu orang saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab Mahabharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi hukum Islam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar sesuai dengan ajaran Islam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="mso-line-height-alt: 11.0pt; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: IN; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pancawala yang sebenarnya merupakan lima putera Pandawa pun diubah menjadi seorang tokoh yang merupakan putera Yudistira saja.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sikap Hidup Kresna</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/03/sikap-hidup-kresna.html</link><category>K</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 25 Mar 2012 15:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-8829135001234663987</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Tokoh Kresna dikenal dalam cerita India, kemudian datang ke Indonesia dan dikembangkan melalui sastra Jawa kuna dan sastra Jawa baru. Dalam mitologi India diceritakan Kresna sebagai awatara dewa Wisnu, kehadirannya di dunia sebagai jelmaan dewa Wisnu yang kedelapan. (Dowson, 1957: 160). Y.E.van Lohuizen dalam penelitannya menyimpulkan, Kresna merupakan awatara Wisnu yang ke duapuluh. Wisnu berturut-turut berawatara menjadi Purusa, Wariha, Narada, Nara dan Narayana, Kapila, Dattatreya, Yajna, Rsabha, Prthu, Matsya, Kurma, Dattwantari (dua kali) Narasingha, Wamana, Parasurama, Wedawyasa, Rama, Balarama, Kresna, Buddha dan Kalkin (Lohuizen, 1976 : 31)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Bab II dan III telah diuraikan cerita Kresna yang bersumber kesastraan India dan sastra pewayangan. Berikut ini perbandingan dan pemaparan jatidiri Kresna yang diambil dari berbagai sumber cerita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kresna Sejak Kanak dan Menjelang Dewasa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kresna adalah anak Dewaki dan Wasudewa, termasuk suku Yadawa, keturunan Yadu ia lahir dari kehamilan yang ke delapan, jelmaan dewa Wisnu. Isteri Wasudewa yang lain bernama Rohini, beranak Sankarsana berkulit putih (Wisnupurana, 1961 : 401). Dalam kitab Wisnupurana dan Mahabharata diceritakan, Wisnu mencabut dua helai rambut putih dimasukan di rahim Rohini, sehelai rambut hitam ke rahim Dewaki. Setelah Rohini dan Dewaki hamil dan beranak, masing-masing melahirkan Balarama berkulit putih dan Kresna berkulit hitam. Diceritakan pula, bahwa Ugrasena raja Manthura mempunyai saudara laki-laki bernama Dewaka. Ugrasena beranak Kangsa, Dewaka beranak Dewaki. Dewaki diperisterioleh Wasudewa, yang kemudian beranak Balarama dan Kresna (Dowson, 1957:161). Karena diramal, bahwa Balarama dan Kresna akan menghancurkan kekuasaan Kangsa, Balarama dan Kresna dititipkan kepada Nanda dan Yasoda (Dowson: op.cit,165)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kitab kakawin Krnandhaka diceritakan dewa Wisnu menjelma dalam rahim Dewati atau Raiwati isteri Basudewa. Dewa Basuki turun dalam isteri Basudewa yang bernama Rohini. Rohini melahirkan Kakrasana, Dewati melahirkan Kresna. Sejak bayi Kakrasana dan Kresna dititipkan kepada Antagupta dan Ayaswadha di Gobraja daerah Magadha (Kresnandhaka Zang IV – V)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan cerita Kresna pada masa kecil dalam cerita pewayangan sedikit mengalami perubahan dan mempunyai beberapa versi cerita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Serat Pakem Padhalangan Wayang Purwa, lakon Wisnu Nitis atau Lairipun Kangsa (Naskah Reksapustaka Surakarta Nomor D.79:2349-252), diceritakan demikian: Atas perintah Sang Hyang Guru, Hyang Wisnu menjelma ke marcapada bersama Bathara Laksmanasadu dalam wujud ular naga. Hyang Basuki ingin ikut menjelma, Sang Hyang Brama mendukungnya. Sang Basuki dan Bathara Laksmanasadu bersatu menjelma bersama. Harimau putih dan ular naga datang di hutan tempat Basudewa berburu. Kemudian mereka dibunuh oleh Basudewa. Harimau putih musnah oleh panah Basudewa. Jasmaninya masuk ke Dewi Kunthi isteri Pandhu. Naga musnah oleh panah Basudewa. Jasmani dan roh halusnya merasuk kepada Dewi Rohini isteri Basudewa yang lain. Kemudian Dewi Kunthi beranak Arjuna, jelmaan dari Wisnu. Dewi Rohini beranak Kakrasana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nojowirongko bercerita, penjelmaan Wisnu ke dunia terbelah menjadi dua, yaitu Kresna dan Arjuna. Andaikata bunga, mereka sebagai mahkota dan sari bunganya. Andaikata api, mereka sebagai bara api dan nyala apinya. Andaikata sirih, ibarat bagian muka dan belakang daunnya, berbeda rupa, bila digigit sama rasanya (Nojowirongko, 1954: 66).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Serat Pakem Purwa, lakon Kangsa Lair (Naskah Reksapustaka Surakarta Nomor D.70:65) diceritakan, bahwa isteri Basudewa bernama Mahera, Dewi Rohini dan Dewi Mahendra. Kangsa lahir dari Mahera, hasil hubungan gelap dengan Gorawangsa. Kakarsana atau Kakrasana lahir dari Dewi Rohini, jelmaan dewa Bathara Basuki.dan Bathara Laksmanasadu. Kresna atau Narayana lahir dari Dewi Mahendra jelmaan dewa Wisnu. Kakrasana dan Kresna diasuh oleh Buyut Antagopa atau Buyut Nandagopa di Widarakandhang&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;Kasidho Gitasewoyo dalam cerita Basudewa Grogol, menceritakan Basudewa mempunyai isteri Amerta, Dewi Badraini dan Dewi Maherah. Dewi Amerta melahirkan dua anak kembar, diberi nama Kakrasana dan Narayana. Masing-masing berkulit hitam dan putih. Dewi Badraini beranak perempuan, diberi nama&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Bratajaya. Hasil hubungan gelap dengan Gorawangsa, Dewi Maherah melahirkan Kangsa (Kasidho Gitosewoyo, 1978: 29-33)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Serat Kandhaning Ringgit Purwa diceritakan, Basudewa mempunyai isteri Dewi Angsawati, Dewi Ugraini dan Dewi Badraini. Hubungan gelap antara Dewi Angsawati dengan Prabu Gorawangsa raja Jadingklik melahirkan Kangsa. Dewi Ugraini (Ugrawala) beranak Kakrasana, jelmaan Dewa Basuki. Badraini melahirkan dua anak kembar, bernama Narayana dan Endang Panangling (Kandhaning Ringgit Purwa: P CXXVII – CXXVIII).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Serat Babad Purwa diceritakan, Basudewa mempunyai isteri Dewi Angsawati, Ugraini dan Ugrayani. Angsawati berhubungan gelap dengan Mayangkara, beranak Kangsa. Ugraini beranak Kakrasana, Ugrayani beranak Narayana. Setelah beranak Kakrasana dan Narayana, Basudewa mengambil isteri ke empat bernama Badraini (Babad Purwa: P LXXXIII 1-38) Hadikartoso dalam cerita lakon Laire Kakrasana Sakadang menceritakan, bahwa Bathara Wisnu bersama Bathara Leksmanasadu dan Bathara Basuki menjelma ke dunia. Mereka menjelma dengan perantara isteri Basudewa raja Mandura. Mereka bertiga turun ke dunia dalam wujud harimau putih dan ular naga. Harimau dan ular naga itu dibunuh oleh raja Basudewa, ketiga sang raja itu berburu di hutan. Roh mereka merasuk ke tubuh isteri Basudewa yang bernama Rohini, Dewaki dan Badraini. Rohini melahirkan bayi yang berkulit putih, diberi nama Kakrasana. Kemudian Dewaki mempunyai anak berkulit hitam, diberi nama Narayana atau Kresna.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kresna Duta</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/02/kresna-duta.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Wed, 8 Feb 2012 19:19:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-909924647744717499</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;&lt;span style="font-size: small; font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;Kunthi dihadap Karna di Ngawangga. Kresna datang bercerita tentang kepergiannya ke Ngastina sebagai utusan Pandhawa. Dikatakannya bahwa perang Baratayuda sudah diambang pintu, sebab Duryodana tidak mau melepas kekuasaannya atas Negara Ngastina. Kunthi diajak ke Negara Wiratha, sebab semua warga Pandhawa telah berkumpul di negara itu. Kunthi bersiap-siap pergi ke Wiratha. Melihat ibunya Karna menjadi bimbang. Ia berkata kepada Kresna, bahwa ia akan berpihak kepada Pandhawa. Kresna tersenyum, lalu menegur, memperingatkan bahwa Karna telah berjanji akan berpihak kepada Duryodana. Sebagai ksatria Karna harus berpegang kepada janjinya. Karna terpaksa mendengarkan kata-kata Kresna. Kemudian dengan rasa bimbang ia mengantar kepergian ibunya dan Kresna ke Wiratha.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atas meninggalnya Drestharastra dan Gendari, Pendeta Drona dan Sakuni meminta agar Dursasana mencari korban. Dursasana pergi, kemudian menemukan tukang perahu bernama Sarka dan Tarka. Mereka berdua diminta kesediaannya menjadi korban. Sarka dan Tarka tidak bersedia, tapi mereka berdua dibunuh oleh Dursasana. Terdengar suara, bahwa mereka akan membalas dendam dalam perang Baratayuda. Dursasana tidak gentar, dua mayat tersebut dibawanya ke Ngastina.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dursasana menghadap raja Duryodana dan memberi tahu bahwa korban telah tersedia. Bathari Durga dan Bathara Kala datang. Raja Duryodana meminta kesediaan mereka berdua untuk membantu perang Baratayuda. Mereka berdua akan mengusahakan dan meminta kurban. Dursasana menyerahkan dua kurban, Sarka dan Tarka. Kemudian Bathari Durga dan Bathara Kala pergi ke Wiratha setelah menerima jenasah Sarka dan Tarka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Matswapati dihadap oleh Puntadewa, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa serta Resi Janadi, Resi Sagotra dan Bambang Irawan. Kemudian Kunthi datang bersama Kresna. Mereka membicarakan rencana perang Baratayuda. Janadi berkata kepada Matswapati bahwa ia pernah berjanji ingin menjadi kurban menjelang perang Baratayuda. Permintaan Janadi dan dua kawan lainnya untuk menjadi kurban diserahkan kepada Kresna dan Arjuna. Kurban manusia dilaksanakan, dengan permohonan agar Pandhawa menang dalam perang Baratayuda serta warga Pandhawa utuh dan selamat. Tetapi Arjuna lupa mengajukan permohonan untuk keutuhan dan keselamatan putra-putri Pandhawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bathari Durga dan Bathara Kala tiba di Wiratha. Bathara Kala minta kepada raja Matswapati supaya membujuk Padhawa untuk menyerah kepada Korawa. Bila tidak mau menyerah, Pandhawa yang berjumlah lima ditakdirkan menjadi catu makan bagi Bathara Kala. Para Pandhawa tidak mau menyerah. Mereka pun menyerang Bathara Kala. Tetapi tidak seorang pun mampu melawan Bathara Kala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kresna naik ke Kahyangan. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Wisanggeni, anak Arjuna. Kresna bercerita tentang Bathara Kala dan nasib keluarga Pandhawa. Wisanggeni tidak jadi ke Wiratha. Ia pergi ke Ngondarandir Bawana untuk menghadap Sang Hyang Wenang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wisanggeni menghadap Sang Hyang Wenang, dan meminta keterangan jadi atau tidaknya perang Baratayuda. Sang Hyang Wenang menjawab, perang harus terjadi, dan bila ada penghalang harus dilenyapkan. Wisanggeni memberi tahu bahwa Bathara Kala berusaha mengurungkan perang Baratayuda dengan membujuk agar Pandhawa menyerah pada Korawa. Sang Hyang Wenang berjanji akan menolong Pandhawa, tetapi kelak Wisanggeni tidak diperkenankan ikut menyaksikan perang Baratayuda. Wisanggeni menyanggupinya. Sang Hyang Wenang meminjaminya Gada Intan untuk membunuh Bathara Kala. Setelah menerima Gada Intan, Wisanggeni pergi ke Wiratha. Gada Intan diserahkannya kepada Wrekodara untuk membunuh Bathara Kala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wrekodara menemui Bathara Kala. Bathara Kala hendak menerkam Wrekodara, tetapi tubuhnya digores dengan GadaIntan oleh Wrekodara. Ia mati seketika. Gada Intan diserahkan kembali kepada Kresna. Kresna menyamar berujud Bathara Kala, menemui Bathari Durga. Bathari Durga diminta membunuh Pandhawa dengan Gada Intan. Gada Intan supaya disisipkan dalam kain penutup dada. Bathari Durga menerima Gada Intan, lalu disisipkan dalam kain penutup dada. Sewaktu melangkah Bathari Durga jatuh tertelungkup. Dadanya hancur karena Gada Intan. Bathari Durga mati seketika itu juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandhawa selamat dari ancaman Bathara Kala. Gada Intan dibawa Kresna, kemudian Wisanggeni ditugaskan mengembalikannya kepada Sang Hyang Wenang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wisanggeni menghadap Sang Hyang Wenang, mengembalikan Gada Intan dan ingin menepati janjinya. Atas kuasa Sang Hyang Wenang, Wisanggeni kembali ke alam baka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Duryodana dan warga Korawa tahu bahwa usaha Bathara Kala dan Bathari Durga tidak berhasil menumpas Pandhawa. Para Korawa serentak menyerang Negara Wiratha. Para Pandhawa melawan serangan Korawa. Korawa mundur, kembali ke Ngastina, dan bersiap-siap untuk menghadapi perang besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para Pandhawa dan keluarga Wiratha berpesta keselamatan, bebas dari ancaman Bathara Kala.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kresna Gugah</title><link>http://sampriste14.blogspot.com/2012/01/kresna-gugah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Fri, 20 Jan 2012 19:12:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4946947181222961705.post-5233327820711233244</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Duryodana dihadap oleh Patih Sakuni, Pendeta Drona, raja Baladewa, raja Salya, Karna, dan beberapa warga Korawa. Raja menyampaikan masalah ilham yang diperolehnya. Ilham itu menyatakan bahwa yang berhasil membangunkan Kresna dari tidur akan menang dalam perang Baratayuda. Raja minta kesediaan raja Baladewa untuk membangunkannya. Raja Baladewa menyanggupinya, lalu mohon diri, berangkat ke Dwarawati. Karna dan warga Korawa mengikutinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Negara Dwarawati, Satyaki, Satyaka, Emban Druwaja dan Patih Udawa menjaga Balai Kambang, tempat raja Kresna tidur. Raja Baladewa, Karna dan beberapa warga Korawa datang. Mereka ingin membangunkan Kresna. Para petugas penjaga tidak mengijinkannya. Terjadilah perkelahian. Satyaki mengamuk, warga Korawa dan Karna tidak mampu melawannya. Namun Baladewa mengamuk dengan membawa Nenggala sehingga Satyaki dan kawan-kawan menyingkir. Baladewa berhasil mendekati tempat tidur. Tetapi sewaktu akan membangunkan Kresna, senjata Cakra menyerang Baladewa. Baladewa lari dan bertahan di luar Negara Dwarawati. Prajurit Ngastina disuruh bersiap-siap di sekitar Negara Dwarawati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tersebutlah di Negara Jurang Parangsuh, Raja Locanadewa dihadap Dewamurti dan Patih Subagendra, tengah membicarakan kematian Raja Kalamungsa, ayah raja Locanadewa. Togog bercerita bahwa kematian ayah raja karena dibunuh oleh Arjuna, ksatria Madukara. Maka Raja Locanadewa ingin membunuh Arjuna, membalas kematian ayahnya. Para prajurit Jurang Parangsuh disiapkan, lalu berangkat ke Ngamarta. Raja berangkat lewat angkasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Locanadewa bertemu Gathotkaca yang akan pergi ke Ngamarta. Mereka saling bertanya, namun kemudian Gathotkaca menghantam karena raja Raksasa itu ingin membunuh Arjuna. Locanadewa tidak mampu melawan Gathotkaca, lalu menyimpang jalan. Gathotkaca meneruskan perjalanan menuju Ngamarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Arjuna bersama panakawan berangkat ke Ngamarta. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan prajurit raksasa dari Jurang Parangsuh. Setelah mengerti maksud dan tujuan prajurit raksasa itu, Arjuna mengusirnya. Raksasa berhasil dimusnahkan, dan Arjuna meneruskan perjalanan ke Ngamarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu di Negara Ngamarta, Puntadewa dihadap oleh Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, Patih Udakawana, Gathotkaca dan Antareja. Puntadewa bercerita tentang Kresna yang sedang bertapa, tidur di Balai Kambang, dan memberi tahu ilham yang diperolehnya. Setelah mereka merundingkan masak-masak, mereka berangkat ke Dwarawati hendak berusaha membangunkan Kresna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satyaki dan Satyaka sedang membicarakan Baladewa yang berusaha membangunkan Kresna. Kemudian Puntadewa datang bersama warga Pandhawa. Puntadewa menceritakan maksud kedatangannya. Satyaki mempersilakan warga Pandhawa untuk membangunkan Kresna tetapi tidak berhasil. Arjuna menghadap Semar, lalu menyatakan kesedihannya. Semar mengingatkan kedudukan Arjuna terhadap Kresna. Ibarat cincin, mereka sebagai bingkai dan permatanya. Maka sungguh mengherankan jika Arjuna tidak tahu tujuan tapa Kresna. Mendengar peringatan Semar itu Arjuna menjadi sadar, lalu berjalan mendekati Kresna. Ketika meraba badan Kresna terasa dingin, berarti tanpa sukma. Arjuna lalu mengheningkan cipta, berbadan halus, mengaku bernama Sukma Langgeng. Lalu Sukma Langgeng pun berangkat ke Suralaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Suralaya, Batara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Bathara Indra, Bathara Brahma dan beberapa dewa lain. Bathara Guru menanyakan gara-gara yang terjadi di Marcapada. Bathara Narada bercerita tentang Kresna yang tidur di Balai Kambang. Dikatakannya Kresna ingin memiliki kitab Jitabsara, Pakem Baratayuda. Batara Guru tergerak hatinya untuk mengarang kitab Jitabsara. Panyarikan diminta untuk menulis hasil pembicaraan mereka. Bathara Guru dan Bathara Narada merencanakan isi surat Pakem itu. Antara lain menulis tokoh yang gugur dalam perang Baratayuda yang akan terjadi nanti. Dhrestharastra dan Gendari harus mati. Seta gugur melawan Bisma, Bisma gugur melawan Srikandhi, dan seterusnya. Namun sewaktu hendak mencatat Baladewa dan Antareja, tempat tinta tumpah karena ditabrak lebah Lanceng Putih. Lebah hilang, datanglah sukma Kresna yang bernama Sukma Wicara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bathara Guru dan Bathara Narada menemui Sukma Wicara. Sukma Wicara ditanya alasannya menumpahkan tinta. Ia menjawab, tidak setuju Baladewa dimusuhkan Antareja. Antareja tidak akan terlawan oleh Baladewa. Bathara Guru menanyakan kesaktian Antareja dan cara menyingkirkannya. Dijawab bahwa Sukma Wicara telah mempunyai akal dan sanggup melaksanakannya, tetapi ia harus diberi Jitabsara. Bathara Guru menyanggupi permintaan Sukma Wicara, tetapi harus ditukar dengan Sekar Wijayakusuma. Setelah sepakat dengan perjanjian mereka, Sukma Wicara minta pamit. Sepeninggal Sukma Wicara, Sukma Langgeng datang, menanyakan perihal Sukma Wicara. Bathara Guru bercerita tentang pembicaraannya dengan Sukma Wicara. Sukma Wicara telah pergi. Mendengar keterangan Bathara Guru itu, Sukma Langgeng cepat-cepat minta diri, lalu pergi mencari Sukma Wicara. Sukma Langgeng berhasil menemukan Sukma Wicara. Ia minta kitab Jitabsara. Sukma Wicara tidak memberikannya, maka terjadilah pertikaian. Sukma Wicara lari, lalu masuk ke raganya. Sukma Langgeng mengejarnya. Sukma Langgeng juga masuk ke raganya. Kresna terbangun dari tapa, dan Arjuna menemuinya. Mereka berunding tentang rencana menyingkirkan Antareja. Selanjutnya.Puntadewa dan saudara-saudara Pandhawa datang. Kresna bercerita kepada Puntadewa sesaudara tentang riwayat memperoleh Pakem Baratayuda. Ia akan berpihak pada Pandhawa. Kresna berbicara tentang Antareja, bahwa telah tersedia surga baginya. Pandhawa diminta keikhlasan hati mereka. Setelah mendengarkan keterangan Kresna, para Pandhawa menyerahkan nasib Antareja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kresna menemui Antareja di luar Bale Kambang. Antareja ditanya kesiapan perang Baratayuda. Antareja menyatakan siap, dan bercerita tentang kesaktian yang diperoleh dari Sang Hyang Antaboga. Ia memperoleh Taring Kencana. Manusia yang dijilat akan hancur. Bahkan jika dijilat bekas telapak kakinya, orang tersebut akan meninggal. Maka Korawa pasti hancur olehnya. Untuk membuktikan kesaktian itu, Antareja disuruh Kresna menjilat bekas telapak kaki yang ada didekatnya. Antareja pun menjilat bekas telapak kaki yang ternyata miliknya sendiri. Antareja mukswa, naik ke surga&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>