<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>THE OBSERVER</title><description>A Place for Every Assumption </description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Thu, 19 Dec 2024 10:32:49 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://gusriwandi.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>A Place for Every Assumption </itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>KI-Nasionalisme untuk Kurikulum 2013</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2014/10/ki-nasionalisme-untuk-kurikulum-2013.html</link><category>Opinion</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 4 Oct 2014 01:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-8822804200661760732</guid><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;
   &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;
   &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Wacana tentang
perubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013
akhirnya sampai juga pada fase uji publik dan telah berlangsung sejak awal semester ini di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut hemat saya, pemerintah (Kemdiknas) telah melibatkan semua
lapisan masyarakat dalam perbaikan penyusunan draft kurikulum. Karena
sebelumnya dalam pengembangan kurikulum, pemerintah hanya melibatkan para
pemangku kepentingan (&lt;i&gt;stakeholder&lt;/i&gt;) pendidikan saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melalui uji publik, diharapkan mencuat berbagai saran
dan masukan dari berbagai kalangan agar bisa dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam penyusunan draft sebelum mencapai fase akhir. Tujuannya
adalah agar produk kurikulum yang dihasilkan dapat mengakomodasi harapan semua
pihak. Kebijakan pemerintah seperti ini jelas sangat layak diapresiasi. Jadi,
draft kurikulum tersebut tidak hanya dirumuskan dari belakang meja yang
kemudian dipaksakan pelaksanaannya oleh para pelaku dan praktisi pendidikan.
Namun bisa menyentuh harapan orang bawah sehingga implemetasinya bisa lebih
jelas dan terarah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="ES-TRAD" style="mso-ansi-language: ES-TRAD;"&gt;Kurikulum
merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu (UU No.20 th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).&lt;/span&gt;
Perubahan kurikulum mengindikasikan dunia&amp;nbsp;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;&lt;/span&gt;pendidikan
itu dinamis. Konsep &lt;span class="highlight"&gt;kurikulum&lt;/span&gt; berkembang sejalan
dengan perkembangan teori &lt;span class="highlight"&gt;dan&lt;/span&gt; praktik pendidikan,
juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianut oleh
pakarnya. Perubahan dan pengembangan kurikulum dianggap sebagai salah satu titik
krusial di dalam penanganan masalah-masalah pendidikan, khususnya pendidikan
formal. Jika dunia pendidikan tidak ingin terjebak dalam stagnasi, maka
semangat perubahan harus terus dihembuskan. Kita berharap perubahan kurikulum ini
tidak hanya sebagai peramping materi ajar semata, akan tetapi juga harus mampu
menjawab tantangan dari berbagai polemik yang terjadi di dunia pendidikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya pribadi termasuk orang yang setuju dengan adanya
perubahan kurikulum. Sejak diluncurkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) tahun 2006, yang merupakan pengembangan dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) tahun 2004, tetap menitikberatkan isinya pada peningkatan kemampuan
dan kompetensi peserta didik. Namun kenyataannya capaian kompetensi peserta
didik malah semakin tidak jelas dan tidak terarah. Penyebabnya adalah evaluasi
hasil belajar yang dilakukan guru selama ini hanya terfokus pada aspek kognitif
saja, sehingga aspek psikomotorik dan afektif senantiasa terabaikan. Padahal
aspek afektif inilah yang lebih menentukan kualitas peserta didik. Untuk itu
sudah sepatutnya seorang guru harus proporsional dalam menilai ketiga aspek
tersebut, agar tujuan pendidikan terlaksana dengan baik. Penyebab lain yakni beragamnya
kompetensi guru diberbagai daerah dan wilayah yang menafsirkan dan &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;mengimplementasikan kurikulum 2006 sesuai dengan
kompetensi masing-masing. Dampaknya, peningkatan mutu kompetensi peserta didik
semakin sulit terstandarisasi. Dengan diserahkannya penyusunan dan pengembangan
kurikulum kepada satuan pendidikan, budaya kopi-paste kurikulum (Silabus dan
RPP) semakin menggejala di kalangan guru dan kepala sekolah. Walaupun tidak
semua guru dan kepala sekolah melakukan hal serendah itu, akan tetap berimbas
pada matinya potensi-potensi yang ada pada peserta didik, dikarenakan kurikulum
yang diterapkan tidak melalui proses adaptasi dan tidak sesuai dengan
lingkungan peserta didik itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kurikulum 2006 memang sudah saatnya direvisi agar
selaras dengan tantangan zaman dan perkembangan IPTEK. Jika kurikulum 2006
terus dipaksakan pelaksanaannya, maka akan semakin sulit mengetahui bagaimana
mutu pendidikan dan kualitas output dunia pendidikan di Indonesia ini. Dampak
langsungnya tentu pada outcomenya yang semakin diragukan lantaran para lulusan
yang lahir dari dunia pendidikan sangat “miskin” kompetensi. Guru, sebagai
aktor utama dalam implementasi kurikulum memang harus benar-benar disiapkan
sedini mungkin. Semua guru yang tersebar di seluruh penjuru negeri harus
benar-benar diberdayakan jauh sebelum kurikulum 2013 benar-benar
diimplementasikan. Mereka harus diberi pemahaman tentang isi kurikulum dan
bagaimana mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran. Sikap abai pemerintah
terhadap upaya pemberdayaan guru akan berdampak serius terhadap kemajuan dunia pendidikan.
Jika hal ini tidak dilakukan, bukan tidak mungkin Kurikulum 2013 akan mengalami
stagnasi seperti halnya KTSP untuk kemudian terpuruk di tengah dinamika pendidikan
dan peradaban.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari segi konsep, draft Kurikulum 2013 cukup
ideal untuk mampu melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas
otaknya, tetapi juga cerdas emosi, sosial, dan spiritualnya. Pendekatan pembelajaran
yang digunakan dengan mengajak siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru
berdasarkan pengalaman belajar yang mereka dapatkan dari kelas, lingkungan sekolah,
dan masyarakat juga akan mampu mendekatkan peserta didik pada kultur masyarakat
dan bangsanya. Sekali lagi, dari sisi konsep, draft Kurikulum 2013 sangat tepat
diterapkan ketika dunia pendidikan kita tengah mengalami mati suri seperti saat
ini. Meskipun demikian, draft yang bagus hanya akan berada pada tataran konsep
apabila tidak diimbangi dengan pemberdayaan para pemangku kepentingan pendidikan,
khususnya guru.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Idealnya guru harus dijadikan sebagai “aktor
utama” dalam implementasi Kurikulum 2013. Mereka harus benar-benar disiapkan
secara matang, mulai dari penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran, penilaian, analisis, hingga tindak lanjutnya. Hanya dengan
memberdayakan pemangku kepentingan utama inilah implementasi kurikulum dapat
berlangsung seperti yang diharapkan. Sebagai tambahan, para &lt;i&gt;stakeholder&lt;/i&gt; kurikulum 2013 terlalu menitikberatkan pencapaian pada bidang agama dan budi pekerti dalam setiap KI yang diusung, sehingga penekanan tersebut seakan mengeyampingkan sisi nasionalisme dari kompetensi yang hendaknya ada di dalam diri setiap warga negara terutama peserta didik yang sejatinya dibina sejak dini. Harapan saya, pemerintah sudah sepatutnya mengkaji ulang komponen-komponen KI yang ada dan menambahkan "NASIONALISME" kedalam kompetensi inti yang harus dicapai oleh peserta didik nantinya. Karena bangsa yang besar adalah bangsa dimana seluruh rakyatnya memiliki semangat nasionalisme yang besar pula. Jangan sampai satu per satu warga negara kita mengganti kewarganegaraannya hanya karena mereka sudah tidak lagi mencintai Indonesia (apapun alasannya). &lt;/div&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:Arial;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-fareast-language:EN-US;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>STUDI ISLAM INTERDISIPLINER</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2014/09/studi-islam-interdisipliner.html</link><category>islamic education</category><category>paper</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 28 Sep 2014 12:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-7718768856200588217</guid><description>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;
   &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;
   &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;
   &lt;w:UseFELayout/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;
   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;
   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;STUDI
ISLAM INTERDISIPLINER&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l8 level1 lfo1; mso-text-indent-alt: -18.0pt; text-indent: -18.0pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;I.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Islam telah menjadi kajian yang menarik minat banyak kalangan.
Studi keislaman pun semakin berkembang. Islam tidak lagi dipahami hanya dalam
pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks.
Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana
seorang individu harus memaknai kehidupannya. Islam telah menjadi sebuah sistem
budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian sah dari perkembangan
dunia. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Mengkaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek,
karenanya dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kajian agama, termasuk Islam, seperti
disebutkan di atas dilakukan oleh sarjana Barat dengan menggunakan ilmu-ilmu
sosial dan humanities, sehingga muncul sejarah agama, psikologi agama,
sosiologi agama, antropologi agama, dan lain-lain. Dalam perjalanan dan
pengembangannya, sarjana Barat bukan hanya menjadikan masyarakat Barat sebagai
lapangan penelitiannya, namun juga masyarakat di negara-negara berkembang, yang
kemudian memunculkan orientalisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sarjana Barat sebenarnya telah lebih dahulu
dan lebih lama melakukan kajian terhadap fenomena Islam dari pelbagai aspek:
sosiologis, kultural, perilaku politik, doktrin, ekonomi, perkembangan tingkat
pendidikan, jaminan keamanan, perawatan kesehatan, perkembangan minat dan
kajian intelektual, dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sementara itu, agama atau keagamaan sebagai
sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai
sudut pandang. Islam khususnya, sebagai agama yang telah berkembang selama
empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu
menyangkut ajaran dan pemikiran kegamaan maupun realitas sosial, politik,
ekonomi dan budaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l8 level1 lfo1; mso-text-indent-alt: -18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;II.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;A.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode dan Pendekatan dalam Studi Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Studi Islam bertujuan untuk menggali kembali
dasar-dasar dan pokok-pokok ajaran Islam sebagaimana yang ada dalam sumber
dasarnya yang bersifat hakiki, universal dan dinamis serta abadi. Untuk
dihadapkan atau dipertemukan dengan budaya atau dunia modern, agar mampu
memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh umat manusia pada
umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dengan tujuan tersebut maka studi Islam
akan menggunakan cara pendekatan yang sekiranya relevan yaitu pendekatan
kesejarahan, kefilsafatan dan pendekatan ilmiah. Namun demikian, sifat studi
Islam ini adalah memadukan antara studi Islam yang bersifat konvensional dengan
studi Islam yang bersifat ilmiah, sehingga pendekatan doktriner tidaklah dapat
diabaikan.&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l7 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan
Historis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Yang dimaksud dengan pendekatan historis adalah meninjau suatu
permasalahan dari sudut tinjauan sejarah, dan menjawab permasalahan serta
menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau
histori adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian
masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya. Sejarah memang
berhubungan dengan peristiwa-peristiwa masa lalu, namun peristiwa masa lalu
tersebut hanya berarti dapat dipahami dari sudut tinjau masa kini dan ahli
sejarah dapat benar-benar memahami peristiwa atau kejadian masa kini hanya
dengan petunjuk-petunjuk dari peristiwa kejadian masa lalu tersebut. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa dengan mempelajari masa lalu orang dapat
mempelajari masa kininya dan dengan memahami serta menyadari keadaan masa kini
maka orang dapat menggambarkan masa depannya. Itulah yang dimaksud dengan
perspektif sejarah. Di dalam studi Islam, permasalahan atau seluk beluk dari
ajaran agama Islam pelaksanaan serta perkembangannya dapat ditinjau dan
dianalisis dalam kerangka perspektif kesejarahan yang demikian itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l7 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan
Filosofis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan yang melihat suatu permasalahan dari sudut tinjauan
filsafat dan berusaha untuk menjawab dan memecahkan permasalahan itu dengan
menggunakan analisis spekulatif. Pada dasarnya filsafat adalah berfikir untuk
memecahkan masalah atau pertanyaan dan menjawab suatu persoalan. Akan tetapi, tidak
semua berfikir untuk memecahkan dan menjawab permasalah dapat disebut filsafat.
Filsafat adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal. Di samping
itu, filsafat mempunyai bidang (objek yang difikirkan) sendiri yaitu bidang
permasalahan yang bersifat filosofis, yakni bidang yang terletak diantara dunia
ketuhanan yang gaib dengan dunia ilmu pengetahuan yang nyata. Dengan demikian,
filsafat menjembatani kesenjangan antara masalah-masalah yang bersifat
keagamaan (teologis) dengan masalah yang bersifat ilmiah (ilmu pengetahuan).
Filsafat selalu memikirkan kembali atau mempertanyakan segala sesuatu yang
datang secara otoritatif, sehingga mendatangkan pemahaman yang
sebenar-benarnya, yang selanjutnya bisa mendatangkan kebijaksanaan dan
menghilangkan kesenjangan antara ajaran-ajaran agama Islam dengan ilmu
pengetahuan modern, sebagaimana yang sering dipahami dan menggejala di kalangan
umat selama ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l7 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan
Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan ini bertujuan untuk meninjau dan menganalisis suatu
permasalahan atau objek studi dengan menggunakan metode ilmiah secara umum.
Diantara ciri pokok pendekatan ilmiah adalah terjaminnya objektivitas dan
keterbukaan dalam studi. Objektivitas suatu studi akan terjamin jika
kebenarannya bisa dibuktikan dan didukung oleh data empiris, konkret dan
rasional. Sedangkan keterbukaan adalah suatu studi terjadi jika kebenarannya
bisa dilacak oleh siapa saja dan didasarkan atas keyakinan-keyakinan tertentu
yang bias dipertanggung jawabkan. Di samping itu pendekatan ilmiah selalu siap
dan terbuka menerima kritik terhadap kesimpulan studinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l7 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan
Doktriner&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan doktriner atau pendekatan studi Islam secara
konvensional merupakan pendekatan studi di kalangan umat Islam. Agama Islam yang
dijadikan sebagai objek studi diyakini sebagai sesuatu yang suci dan merupakan
doktrin-doktrin yang berasal dari illahi yang mempunyai nilai (kebenaran)
absolut, mutlak dan universal. Pendekatan doktriner tersebut juga berasumsi
bahwa ajaran Islam yang sebenarnya adalah ajaran Islam yang berkembang pada
masa salaf, yang menimbulkan berbagai madzhab keagamaan, baik teologis maupun
hukum-hukum fiqih, yang kemudian dianggap sebagai doktrin-doktrin yang tetap
dan baku. Sesudah masa itu, studi Islam berlangsung secara doktriner sehingga
ajaran Islam menjadi bersifat permanen, yang pada akhirnya menjadi tampak
seperti ketinggalan zaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dari keempat pendekatan di atas timbul suatu metode studi Islam
secara lebih rinci dan dapat dijabarkan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l9 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode
Diakronis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Suatu metode yang mempelajari Islam dengan menonjolkon aspek
sejarah, metode ini memberikan kemungkinan adanya studi komparasi tentang
berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam, sehingga umat
Islam memiliki pengetahuan yang relevan tentang hubungan sebab akibat dan
kesatuan integral. Lebih lanjut umat Islam mampu menelaah kejadian sejarah dan
mengetahui lahirnya tiap komponen, bagian subsistem dan supra sistem ajaran
Islam. Wilayah metode ini lebih terarah pada aspek kognitif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode diakronis disebut juga metode sosiohistoris yakni suatu metode
pemahaman terhadap suatu kepercayaan sejarah atau kejadian, dengan melihatnya
sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan yang mutlak dengan waktu,
tempat, kebudayaan, golongan dan lingkungan dimana kepercayaan sejarah atau
kejadian itu muncul. Metode ini menghendaki adanya pengetahuan, pemahaman dan
penguraian ajaran-ajaran Islam dari sumber dasarnya yakni al-Qur’an dan
as-Sunnah, serta latar belakang masyarakat, sejarah dan budaya di samping sirah
nabi SAW dengan segala alam pikirannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l9 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode
Sinkronis-Analitis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Suatu metode yang mempelajari Islam, yang memberikan kemampuan
analisis teoritis yang sangat berguna bagi perkembangan keimanan dan mental
intelek umat Islam. Metode ini tidak semata-mata mengutamakan segi aplikatif
praktis, tetapi juga mengutamakan telaah teoritis.&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn2" name="_ftnref2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode diakronis dan metode sinkronis analitis menggunakan asumsi
dasar sebagai berikut:&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn3" name="_ftnref3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Islam
adalah agama wahyu Illahi yang berlainan dengan kebudayaan sebagai hasil daya
cipta dan rasa manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Islam
adalah agama yang sempurna dan di atas segala-galanya (QS. Al-Maidah: 3)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Islam
merupakan supra sistem yang mempunyai beberapa sistem dan subsistem serta
komponen dengan bagian-bagiannya dan secara keseluruhan merupakan suatu
struktur yang unik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;d.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Wajib
bagi umat Islam untuk mengajak pada yang ma’ruf dan nahi munkar (QS. Ali Imron:
104)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l1 level1 lfo5; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;e.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Wajib
bagi umat Islam untuk mengajak orang lain ke jalan Allah dengan jalan yang
hikmah dan penuh kebijaksanaan (QS. An-nahl: 125)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l9 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode
Problem Solving (&lt;i&gt;hill al musykilat&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode mempelajari Islam yang mengajak pemeluknya untuk berlatih
menghadapi berbagai masalah dari suatu cabang ilmu pengetahuan dengan
solusinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l9 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode
Empiris (&lt;i&gt;tajribiyyah&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Suatu metode mempelajari Islam yang memungkinkan umat Islam mempelajari
ajarannya melalui proses realisasi, aktualisasi, dan internalisasi norma-norma
dan kaidah Islam, dengan suatu proses aplikasi yang menimbulkan suatu interaksi
sosial, kemudian secara deskriptif proses interaktif tersebut dapat dirumuskan
kedalam suatu sistem norma baru.&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn4" name="_ftnref4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode problem solving dan metode empiris menggunakan asumsi dasar
sebagai berikut:&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn5" name="_ftnref5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Norma
(ketentuan) kebajikan dan kemungkaran selalu ada dan diterangkan dalam Islam
(QS. Ali Imron: 104)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ajaran
Islam merupakan jalan untuk menuju ridho Allah (QS. Al-fath: 29)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ajaran
Islam merupakan risalah atau pedoman hidup di dunia dan akhirat (Asy-Syura:
13).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;d.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ajaran
Islam sebagai ilmu pengetahuan (QS. Al-baqoroh: 120, at-Taubah: 122)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo6; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;e.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pemahaman ajaran Islam bersifat empiris-intuitif
(QS. Fushilat: 53)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l9 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode Deduktif&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Suatu metode memahami Islam dengan cara
menyusun kaidah-kaidah secara logis dan filosofis dan selanjutnya kaidah-kaidah
itu diaplikasikan untuk menentukan masalah yang dihadapi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l9 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;6.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Metode Induktif (&lt;i&gt;al-Marhal al-Istiqariyyah&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Suatu metode memahami Islam dengan cara
menyusun kaidah-kaidah hukum untuk diterapkan kepada masalah-masalah furu’ yang
disesuaikan dengan mazhabnya terlebih dahulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Prosedur pelaksanaan metode induktif dapat
dilakukan dengan empat tahap yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l6 level1 lfo7; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Adanya penjelasan dan penguaraian serta
menampilkan topik yang umum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l6 level1 lfo7; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Menampilkan pokok-pokok pikiran dengan cara
menghubungkan hubungan masalah tertentu, sehingga dapat mengikat bahasan untuk
menghindari masuknya bahasan yang tidak relevan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l6 level1 lfo7; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Identifikasi masalah dengan mensistematisasi
unsur-unsurnya dan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l6 level1 lfo7; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;d.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Implikasi formulasi yang baru tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 72.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;B.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Rumpun
Keilmuan Berdasarkan Filsafat Ilmu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Beberapa pakar yang mengemukakan pendapatnya
tentang filsafat ilmu adalah:&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn6" name="_ftnref6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo8; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Musa Asy’ari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Filsafat ilmu merupakan medan pemikiran yang terus berkembang dan
berubah. Dalam kaitan ini diperlukan pendekatan historis terhadap filsafat ilmu
yang tidak hanya dialektik, pemikiran yang berkembang melalui kajian-kajian
tematik atas persoalan-persoalan yang terjadi pada setiap zaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l3 level1 lfo8; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Amin
Abdullah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Beliau berkata “saya tidak setuju untuk mengatakan bahwa filsafat
Islam tidak lain dan tidak bukan adalah rumusan pemikiran muslim yang ditempeli
begitu saja dengan konsep filsafat Yunani”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Berdasarkan pendapat di atas, filsafat dapat diketahui melalui lima
cirri, yaitu: dilihat dari segi sifat dan contohnya, dilihat dari segi ruang
lingkup pembahasannya, dilihat dari segi datangnya, dilihat dari segi yang
mengembangkannya, dan dilihat dari segi kedudukannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; mso-list: l2 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;C.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pendekatan Interdisipliner dalam Studi Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l5 level1 lfo9; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Studi Islam Lewat Pendekatan Filsafat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Studi Islam Interdisipliner merupakan
pengembangan dan penjabaran dari tiga topik yaitu pendekatan filsafat,
sosiologi dan sejarah yang penekanannya lebih diarahkan pada aspek aplikasinya.
Studi Islam lewat pendekatan filsafat menjabarkan tentang Iblis dan kontroversi
penafsiran klasik dan modern sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kontroversi penafsiran tentang iblis dalam
al-Quran berawal dari rencana Tuhan untuk menciptakan dan mempersiapkan seorang
khalifah di bumi. Dalam al-Qur’an surah Al-Baqoroh ayat 30-34, dijelaskan, kisah
iblis pada awalnya menggambarkan narasi penciptaan Adam yang oleh tuhan
dianggap sebagai “&lt;i&gt;the only one caliph on the earth&lt;/i&gt;”. Amanah kekhalifahan
ini rupanya kurang mendapat simpatik di kalangan malaikat karena itu mereka
“memprotes” dan “menolak” kebijakan tersebut. Menurut Syeikh Musthafa
al-Maraghi, perbedaan persepsi di kalangan ulama mengenai ayat ini berkisar
pada dua hal: pertama, iblis adalah sejenis jin yang berada di tengah ribuan
malaikat, berbaur dengan sifat dari sebagian sifat mereka. Kedua, iblis itu
dari malaikat karena perintah sujud di sini tertuju pada malaikat karena zahir
ayat yang serupa bahwa ia tergolong mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dalam wacana tafsir klasik dan modern,
persoalan pertama yang muncul ketika memperbincangkan eksistensi iblis itu
adalah makna sujud, &lt;i&gt;yasjudu&lt;/i&gt;. Terhadap kata ini semua mufasir baik klasik
dan modern sependapat bahwa makna kata sujud yang dimaksud adalah sujud &lt;i&gt;tahiyyat&lt;/i&gt;,
penghormatan, bukan sujud dalam pengertian ibadah atau menghambakan diri pada
Adam. At-tabari dan ar-Razi menafsirkan kata iblis pada ayat &lt;i&gt;yasjudu&lt;/i&gt;
berasal dari jenis malaikat. Mereka berpendapat demikian dengan alasan bahwa
kata “&lt;i&gt;istisna&lt;/i&gt;”, semua malaikat sujud pada Adam kecuali iblis menunjukkan
makna bahwa iblis itu berasal dari jenis mereka (malaikat).&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn7" name="_ftnref7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="FR" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: FR; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 54.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l5 level1 lfo9; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Studi
Islam Lewat Pendekatan Sosiologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Salah satu implikasi teologis terhadap penafsiran ayat-ayat
al-Qur’an dan hadist, sebagai contoh mengenai wanita. Wanita Islam dalam
kontekstual adalah munculnya rasa takut dan berdosa bagi kaum wanita bila ingin
“menggugat” dan menolak penafsiran atas diri mereka yang tidak hanya
disubordinasikan dari kaum laki-laki, tetapi juga dilecehkan hak dan
martabatnya. Akibatnya secara sosiologis mereka terpaksa menerima
kenyataan-kenyataan diskriminatif bahwa lelaki serba lebih dari perempuan,
terutama dalam hal-hal seperti: pertama, wanita adalah makhluk lemah karena
tercipta dari tulang rusuk pria yang bengkok; kedua, wanita separuh harga
laki-laki; ketiga, wanita boleh diperistri hingga empat; keempat: wanita tidak
bisa menjadi pemimpin negara.&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn8" name="_ftnref8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dalam kejadian wanita, kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; pada surat An-nisa: 1,
tidak ditafsirkan Adam, seperti anggapan mufasir tradisional, sebab konteks
awal turunnya ayat ini tidak hanya bermaksud menolak atau mengklaim
tradisi-tradisi jahiliyyah yang masih menganggap wanita sebagai makhluk yang
rendah dan hina, tapi juga sekaligus mengangkat harkat dan martabat mereka,
sebagaimana terlihat pada ayat sesudahnya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan
pemahaman yang sesuai dengan konteks ayat ini, maka kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; harus
ditafsirkan dengan jenis sebagaimana dipahami para mufasir modern, bahwa baik
laki-laki maupun perempuan diciptakan dengan jenis yang sama.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: IN; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dalam hal lain, ketika surat an-Nisa:3 berbicara tentang poligami
dengan persyaratan agar lelaki berlaku adil, peran inti yang dikemukakan
sebenarnya adalah keadilan bukan semata-mata pembatasan jumlah wanita yang
boleh dikawini laki-laki. Oleh karena itu tuntutan keadilan kualitatif beristri
pada saat ini adalah satu saja dan saling melengkapi bukan sebaliknya
melecehkan haknya. Hal yang sama berlaku ketika al-Qur’an surat an-Nisa’:7
berbicara tentang ketentuan waris untuk anak laki-laki dan wanita. Konteks masa
itu tidak memungkinkan adanya kesamaan hak antara laki-laki dan wanita, karena
wanita pada saat itu tidak mendapatkan warisan tapi diwariskan dan al-Qur’an
mengubahnya dengan memberikan separuh jumlah yang diterima laki-laki. Sekarang
konteksnya telah berbeda dimana wanita telah banyak diberikan hak dan kebebasan
oleh al-Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Demikian pula terhadap persoalan tidak bolehnya wanita menjadi
kepala negara. Larangan ini bersumber dari hadist yang diriwayatkan Bukhori
ahmad nasa’I dan At-turmudzi tidak akan bahagia suatu kaum yang mengangkat
sebagai pemimpin mereka seorang wanita “Berdasarkan konteks hadis tersebut maka
selama dalam suatu negara dimana sistem pemerintahan berdasarkan musyawarah,
seorang kepala negara tidak lagi harus bekerja keras sendirian, tetapi dibantu
oleh tenaga ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing yang pada akhirnya dapat
lebih mudah memajukan negaranya dan menyelamatkan dari mala petaka, maka tidak
ada halangan bagi seorang wanita menjadi menteri/kepala negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 54.0pt; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l5 level1 lfo9; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Studi
Islam Lewat Pendekatan Sejarah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 54.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Pada abad XIX terjadi pergeseran kekuasaan. Runtuhnya kekuasaan
Islam telah mengubah hubungan Islam dengan barat. Pandangan umat Islam terhadap
barat dan tanggapan mereka terhadap kekuasaan dan gagasan barat sangat
variatif, mulai dari penolakan-konfrontatif hingga kekaguman dan peniruan.
Eropa tidak hanya datang dengan tentara dan birokratnya, tetapi juga bersama
para misionaris. Ancaman ganda kolonialisme adalah kekuasaan salib. Bantu
membantu antara para pendeta dengan pemerintah dan militer dinyatakan oleh
Marsekal Bugeud dari Perancis, bahwa para pendeta membantu kita mengambil hati
orang-orang Arab yang akan kita serbu dengan kekuatan militer. Kejadian yang
sama terjadi juga di Indonesia. Sikap Belanda terhadap Islam tidak tetap. Di
satu pihak, Islam dilihat sebagai agama dan katanya pemerintah netral dalam hal
ini. Sebaliknya pemerintah Belanda pun mengambil sikap diskriminatif dengan
lebih banyak memberi kelonggaran kepada kalangan Kristen, termasuk bantuan
uang.&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftn9" name="_ftnref9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 18.0pt; mso-add-space: auto; mso-list: l8 level1 lfo1; mso-text-indent-alt: -18.0pt; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;III.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; mso-list: l4 level1 lfo10; text-align: justify; text-indent: -18.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;A.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Islamic Studies&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;
atau Pengkajian Islam adalah sebuah disiplin yang sangat tua, seumur dengan
kemunculan Islam sendiri. Pengkajian Islam dalam sejarah panjangnya mewujud
dalam berbagai tipe dan menyediakan lahan yang sangat kaya bagi kegelisahan
akademik dari kalangan &lt;i&gt;insider &lt;/i&gt;maupun &lt;i&gt;outsider&lt;/i&gt;. Jika Studi &lt;i&gt;outsider&lt;/i&gt;
terwadahi dalam bentuk Orientalisme atau Islamologi, maka kajian &lt;i&gt;insider&lt;/i&gt;
memunculkan model ngaji yang berorientasi pengamalan, apologis yang memberi
counter terhadap orientalisme, Islamisasi ilmu yang berupaya memberikan
landasan paradigma Islam bagi ilmu-ilmu sekuler atau studi Islam klasik yang
bersifat kritis namun masih berorientasi pada pengamalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify; text-indent: 36.0pt; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Sebagai objek studi, Islam harus didekati dari berbagai aspeknya. Studi
Islam Interdisipliner merupakan metode pendekatan yang penekanannya lebih
diarahkan pada aspek aplikasinya, tetapi sekaligus menggambarkan betapa kajian
tentang Islam membuka kemungkinan-kemungkinan baru, bagi aplikasi metodologi
dari disiplin keilmuan lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;
&lt;br clear="all" /&gt;
&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;
&lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Abudin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; Nata&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Metodologi Studi Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, 2010), h. 27-51&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn2" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref2" name="_ftn2" style="mso-footnote-id: ftn2;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Lukman S.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; Thahir&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Studi Islam
Interdisipliner&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Yogyakarta:
CV. Qalam&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, 2004),
h.22&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn3" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref3" name="_ftn3" style="mso-footnote-id: ftn3;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Muhamimin,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kawasan dan Wawasan
Studi Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jakarta:
Kencana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, 2005), h.45&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn4" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref4" name="_ftn4" style="mso-footnote-id: ftn4;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Lukman S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt; Thahir, &lt;i&gt;Op
Cit&lt;/i&gt;, h.25&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn5" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref5" name="_ftn5" style="mso-footnote-id: ftn5;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Muhamimin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, &lt;i&gt;Op Cit&lt;/i&gt;,
h. 47&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn6" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref6" name="_ftn6" style="mso-footnote-id: ftn6;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;Harun
Nasution, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Falsafah
dan Mistisme dalam Islam. Cet.9&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jakarta:
Bulan Bintang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, 1995), h. 20&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn7" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref7" name="_ftn7" style="mso-footnote-id: ftn7;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;Ibid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, h. 25&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn8" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref8" name="_ftn8" style="mso-footnote-id: ftn8;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;M. Yatimin &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Abdullah, &lt;i&gt;Studi
Islam Kontemporer&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jakarta:
Amzah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, 2006), h. 35&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="ftn9" style="mso-element: footnote;"&gt;
&lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36.0pt;"&gt;
&lt;a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=248785943505843167#_ftnref9" name="_ftn9" style="mso-footnote-id: ftn9;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: JA; mso-fareast-theme-font: minor-fareast;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Khuailid&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pendekatan Sejarah
dalam Studi Islam (Makalah Metodologi Studi Islam)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, (&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Program PascaSarjana
STAIN Cirebon&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: IN;"&gt;, 2009), h. 12&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"
  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"
  LatentStyleCount="267"&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"
   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:"Calibri","sans-serif";
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;
 mso-bidi-font-family:Arial;
 mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
 mso-ansi-language:EN-US;
 mso-fareast-language:JA;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA MASA TIGA KERAJAAN BESAR</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2012/12/sejarah-peradaban-islam-pada-masa-tiga.html</link><category>islamic education</category><category>paper</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 3 Dec 2012 02:27:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-8508059955565259223</guid><description>&lt;b&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kita ketahui, sejarah Islam telah melalui tiga periode yaitu periode klasik (650-1250), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode modern (1800-sekarang). Pada periode klasik, Islam mengalami kemajuan dan masa keemasan. Hal ini ditandai dengan sangat luasnya wilayah kekuasaan Islam, adanya integrasi antarwilayah Islam, serta adanya kemajuan di bidang sains. Pada abad pertengahan, Islam mengalami kemunduran yang ditandai dengan terpecahnya kerajaan Islam menjadi beberapa kerajaan antara lain: (a). Kerajaan Usmani di Turki, (b). Kerajaan Safawi di Persia, dan (c). Kerajaan Mughal di India.

Kemunculan tiga kerajaan Islam ini banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban Islam. Kerajaan Usmani meraih puncak kejayaannya dibawah kepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M). Kerajaan Safawi, Syah Abbas I membawa kerajaan tersebut meraih kemajuan dalam 40 tahun periode kepemerintahannya (1588-1628 M). Dan Kerajaan Mughal meraih masa keemasan di bawah Sultan Akbar (1542-1605 M). Seperti takdir yang telah Allah tentukan disetiap kejayaan tentu akan berganti dengan kemunduran bahkan sebuah kehancuran. Demikian pula yang terjadi pada ketiga kerajaan tersebut. Setelah pemerintahan yang gilang gemilang dibawah kepemimpinan tiga raja itu, masing-masing kerajaan mengalami fase kemunduran. Akan tetapi penyebab kemunduran tersebut berlangsung dengan cepat. Kemunduran-kemunduran ini tentu sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan peradaban Islam secara keseluruhan. Untuk lebih jelasnya tentang bagaimana sejarah berdiri, perkembangan, kemajuan, kemunduran, serta kehancuran dari tiga kerajaan ini, akan dikupas secara lebih mendalam pada pembahasan selanjutnya.

&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;b&gt;
B. KERAJAAN TURKI USMANI DI TURKI&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;1. Sejarah Berdirinya Kerajaan Turki Usmani&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kerajaan Usmani (680-1341 H/1281-1924 M) didirikan oleh Usman Putera Ertugrul, bangsa Turki dari kabilah Ughuz yang berasal dari Mongol, China utara. Pembentukan bangsa Turki yang berasal dari kabilah ughuz ini berawal dari peran mereka dalam beberapa penaklukan ke negeri yang sebelumnya bukan dari negeri muslim. Dari migrasi inilah kemudian lahir negara Seljuk dan Anatolia yang akhirnya di susul dengan pembentukan kerajaan Usmani di Anatolia dan Balkan .

Warga Ughuz tersebut pada perang manzikert (1071) berhasil memperdaya kaisar Bizantium. Dimana pada abad berikutnya, mereka menyebar di seluruh asia kecil. Migrasi besar-besaran ini di organisir menjadi kelompok-kelompok pasukan kecil yang di sebut ghazis dibawah pimpinan kepala suku (beys) atau tokoh suci (babas). Migrasi ini di lakukan karena keinginan untuk mendapatkan padang rumput yang subur, mendapatkan harta rampasan dan mengalahkan orang kafir demi perjuangan Islam. Pada abad XIII, ketika kesultanan seljuk di Baghdad melemah akibat dari serbuan tentara Mongol (1243) dan cengkeraman kekuasaan Bizantium di belahan asia juga mulai melemah, segera beberapa kerajaan kecil termasuk kerajaan kecil di Kenya memerdekakan diri dari kekuasaan Seljuk. Daerah-daerah pegunungan sebelah barat dan bagian utara Anatolia menjadi rebutan antara kelompok yang saling berusaha menguasai Ertughrul salah satu pimpinan di wilayah negara tentara perbatasan Bizantium. Di sana, di bawah pimpinan Erthugrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak saat itu, mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai itu kota .

&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Turki Usmani&lt;/b&gt;

&lt;br /&gt;
Kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki oleh para pemimpin Turki Usmani membawa dampak yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani dapat diraih dengan cepat. Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan dalam bidang kehidupan lain, diantaranya :
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun begitu kemajuan kerajaan Usmani mencapai masa keemasannya bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya, namun banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu diantaranya: keberanian, keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan dan dimana saja. Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya pusat pendidikan dan militer, sehingga terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah.

&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya&lt;/b&gt;
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan diantaranya yaitu: kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dari kebudayaan Persia mereka banyak mengambil ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Dari kebudayaan Bizantium mereka mengambil ajaran tentang organisasi pemerintahan dan kemiliteran. Sedangkan ajaran tentang prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan, keilmuan mereka terima dari bangsa Arab. Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tidak begitu menonjol sehingga dalam khasanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuan terkemuka dari Turki Usmani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c. Bidang Keagamaan&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik, masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Pada masa Turki Usmani tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang adalah Bektasyi dan Maulawi yang banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Namun disisi lain, Kajian ilmu keagamaan seperti Fiqh, Ilmu kalam, Tafsir, dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan karena para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu faham (madzhab) keagamaan dan menekan madzhab lainnya.

&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Turki Usmani&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang mendorong kemunduran dan kehancuran kerajaan Turki Usmani antara lain :&lt;br /&gt;
a. Wilayah kekuasaan yang sangat luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa.&lt;br /&gt;
b. Heterogenitas penduduk
Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang sangat luas, wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam dan untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, kerajaan Usmani hanya akan menanggung beban berat akibat heterogenitas tersebut.

c. Kelemahan para penguasa
Pemeritahan menjadi kacau sepeninggal Sulaiman Al-Qanuni, serta ketika diperintah oleh sultan-sultan yang lemah yang pada akhirnya kekacauan tersebut tidak pernah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin parah.

&lt;br /&gt;
d. Budaya pungli
Budaya pungli merupakan perbuatan yang sudah umum dalam Kerajaan Usmani, yaitu setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut.&lt;br /&gt;
e. Pemberontakan tentara Jenissari
Pemberontakan tentara Jenissari terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826 M.
&lt;br /&gt;
f. Merosotnya ekonomi
Akibat perang yang tak pernah berhenti, perekonomian negara merosot, sementara belanja negara sangat besar termasuk untuk biaya perang.&lt;br /&gt;
g. Terjadinya stagnasi dalam lapangan Ilmu dan teknologi
Kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi mengakibatkan kerajaan ini tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;
C. KERAJAAN SHAFAWI DI PERSIA
&lt;br /&gt;1. Sejarah Berdirinya Kerajaan Shafawi&lt;/b&gt;

&lt;br /&gt;
Kerajaan Shafawi (907-1148 H/1501-1736 M) didirikan oleh Ismail ibn Haider di wilayah Persia. Penamaan kerajaan ini dengan kerajaan Shafawi karena kelahirannya berawal dari gerakan tarekat syafawiyah. Gerakan tarekat syafawiyah didirikan oleh Safi al-Din Ishak al-Ardabily (1252-1334 M) yang berpusat di Ardabil Azerbaijan. Ia merupakan murid dari seorang mursyid tarekat di kota Jilan dekat Kaspia, Syeikh Taj al-Din Ibrahim Zahidi (1218-1301 M) yang kemudian di ambil menantu menggantikan kedudukannya. Mengenai asal usul Safi al-Din, ada dua riwayat yakni ia keturunan Musa al-Kazim, imam ketujuh syiah imamiah dan ia keturunan penduduk asli iran dari Kurdistan dan seorang sunni bermadzhab syafi’i.

Perjalanan tarekat safawiah menuju terbentuknya kerajaan Shafawi dapat di bedakan menjadi dua fase. (1). Sebagai gerakan tarekat murni. Pada fase ini ada dua kecenderungan yang berkembang dalam tarekat tersebut yakni; Sunni, saat di pimpin oleh Safi al-Din, dan Sadr al-Din. Serta Syiah, terjadi setelah wafatnya Sadr al-Din pada masa Khawaja Ali, sikap syiahnya sangat toleran, tapi pada masa Ibrahim ia bersikap ekstrim. (2). Sebagai gerakan politik, terjadi pada masa Junaid ibn Ibrahim (1447-1460). Beralihnya sikap gerakan ini kepada gerakan politik karena gerakan ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Persia yang sudah terpengaruh oleh ajaran tarekat syafawiah. Terpengaruhnya masyarakat Persia pada terikat ini antara lain Karena, banyaknya orang Persia yang mencari ketenangan hidup dengan memilih jalan hidup tasawuf, sebab bosan dengan suasana hidup yang penuh dengan peperanngan dan perebutan kekuasaan .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Shafawi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kemajuan peradaban kerajaan Shafawi antara lain karena beberapa langkah yang ditempuh oleh Abbas I yang merupakan pelopor puncak kejayaan setelah Shafawi mengalami saat-saat yang memprihatinkan. Abbas I menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dan mengadakan perjanjian damai dengan Turki sehingga ia berhasil mengatasi berbagai gejolak dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara sampai akhirnya kajayaan dapat diraih pada masa itu . Kemajuan-kemajuan tersebut antara lain terlihat dalam beberapa bidang yakni :&lt;br /&gt;
a. Bidang ekonomi
Stabilitas politik kerajaan Shafawi pada masa Abbas memacu perkembangan ekonomi Shafawi, terutama setelah kepulangan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian Safawiyah menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur.&lt;br /&gt;
b. Bidang ilmu pengatahuan
Persia di kenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga tradisi keilmuannya terus berlanjut.

&lt;br /&gt;
c. Bidang pembangunan fisik dan seni
Kemajuan ini ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibu kota kerajaan. Sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan raksasa di atas Zende Rud dan Istana Chihil Sutun.Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik.

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Shafawi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang mendorong kemunduran dan kehancuran kerajaan Turki Usmani antara lain :&lt;br /&gt;
(a). Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Dimana, menurut kerajaan Usmani, kerajaan Shafawi yang beraliran Syi’ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya. &lt;br /&gt;
(b). Dekadensi Moral yang melanda para pemimpin kerajaan Shafawi. Pemimpin kerajaan Shafawi yang bernama Sulaiman dan Husein adalah pecandu berat narkotik, dan menyenangi kehidupan malam sehingga selama tujuh tahun, tak sekalipun mereka menyempatkan diri menangani pemerintahan. &lt;br /&gt;
(c). Adanya pasukan Ghulam (budak-budak) yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash. &lt;br /&gt;
(d). Terjadinya konflik Intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;D. KERAJAAN MUGHAL DI INDIA
&lt;br /&gt;1. Sejarah Berdirinya Kerajaan Mughal&lt;/b&gt;

&lt;br /&gt;
Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah al-walid, dari dinasti Bani Umayyah. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani umayyah di bawah pimpinan Muhammad ibn Qosim. Pada fase desintegrasi dinasti Ghaznawi mengembangkan kekuasaannya di India di bawah pimpinan Sultan Mahmud dan pada tahun 1020 M, ia berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan Hindu di wilayah ini, sekaligus mengislamkan sebagian masyarakatnya. Setelah dinasti Ghaznawi hancur, muncul dinasti-dinasti kecil seperti Mamluk (1206-1290 M), Khalji (1296-1316 M), Tuglug (1320-1412 M) dan dinasti-dinasti lain. Kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibu kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530 M), salah satu dari cucu Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya ia mengalami kekalahan tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Shafawi, Ismail I, akhirnay ia berhasil manaklukkan Samarkand tahun 1494 M. Pada tahun 1504 M ia menduduki Kabul, ibukota Afghanistan .

&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Perkembangan dan Kemajuan Kerajaan Mughal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Puncak kejayaan kerajaan Mughal terjadi pada masa pemerintahan Putra Humayun, Akbar Khan (1556-1605 M). Sistem Pemerintahan Akbar adalah militeristik. Akbar berhasil memperluas wilayah sampai Kashmir dan Gujarat. Faktor pendukung kemajuan peradaban kerajaan Mughal antara lain karena penerapan politik sulakhul (toleransi universal) yang diterapkan oleh Akbar, dimana tidak ada perbedaan antara rakyat India, semua dipandang sama. Faktor lain yang terpenting adalah karena kemantapan stabilitas poltik akibat sistem pemerintahan yang diterpkan oleh Akbar. Diantara kemajuan tersebut antara lain :&lt;br /&gt;
a. Bidang militer
Pasukan Mughal dikenal dengan pasukan yang kuat. Terdiri dari pasukan gajah, berkuda, dan meriam. Wilayahnya dibagi menjadi distrik-distrik yang dikepalai oleh Sipah Salar.
&lt;br /&gt;
b. Bidang ekonomi
Kerajaan Mughal dapat Mengembangkan program pertanian, diantaranya padi, kacang, tebu, kapas, tembakau, dan rempah-rempah. Pemerintah membentuk sebuah lembaga yang mengurusi hasil pertanian serta hubungan dengan para petani. Industri tenun juga banyak diekspor ke Eropa, Asia Tenggara dll. Masa Jahangir, investor diizinkan menanamkan investasinya, seperti mendirikan pabrik.&lt;br /&gt;
c. Bidang seni
Jahangir merupakan salah satu pelukis terhebat. Kemaharajaan Mughal juga terkenal dengan ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Sisa-sisa kejayaan kerajaan Mughal dapat dilihat dari bangunan-bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga sekarang, salah satunya adalah Taj Mahal.&lt;br /&gt;
d. Bidang sastra
Banyak sastra dari bahasa Persia diubah ke bahasa India. Bahasa Urdu yang berkembang di masa Akbar, menjadi bahasa yang banyak dipakai oleh rakyat India dan Pakistan sampai sekarang.&lt;br /&gt;
e. Bidang ilmu pengetahuan
Syah Jahan mendirikan perguruan tinggi di Delhi. Aurangzeb mendirikan pusat pendidikan di Lucknow. Tiap masjid mempunyai lembaga tingkat dasar yang dipimpin oleh seorang guru. Sejak berdiri lembaga-lembaga pendidikan tersebut, banyak ilmuan yang belajar di India.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur dan membawa kehancurannya tahun 1858 M yaitu :&lt;br /&gt;
a. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.&lt;br /&gt;
b. Kemorosotan moral dan hidup mewah dikalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaann uang negara.&lt;br /&gt;
c. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
&lt;br /&gt;
d. Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;E. KESIMPULAN
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa, tiga kerajaan Islam penting diciptakan pada akhir abad 15 dan awal abad 16: kerajaan Usmani di Turki, kerajaan Shafawi di Persia, dan kerajaan Mughal di India. Tiga Kerajaan penting tersebut tampak lebih memusatkan pandangan mereka pada tradisi demokratis Islam, dan membangun imperium absolute. Hampir setiap segi kehidupan umum dijalankan dengan ketepatan sistematis dan birokratis.

Ketiga kerajaan besar ini seperti membangkitkan kembali kejayaan Islam setelah runtuhnya Bani Abbasiyah. Namun, kemajuan yang dicapai pada masa tiga kerajaan besar ini berbeda dengan kemajuan yang dicapai pada masa Islam klasik, kemajuan pada masa klasik jauh lebih kompleks. Dalam bidang ilmu keagamaan, umat Islam sudah mulai bertaklid kepada imam-imam besar yang lahir pada masa klasik Islam. Kalau pun ada mujtahid, maka ijtihad yang dilakukan adalah ijtihad fi al-mazhab yaitu ijtihad yang masih berada dalam batas-batas mazhab tertentu, tidak lagi ijtihad mutlak, hasil pemikiran bebas yang mandiri. Filsafat dianggap bid’ah. Kalau pada masa klasik, umat Islam maju dalam bidang politik, peradaban, dan kebudayaan, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat, pada masa tiga kerajaan besar kemajuan dalam bidang filsafat hanya sedikit berkembang di kerajaan Shafawi Persia. Ilmu pengetahuan umum tidak didapatkan lagi. Kemajuan yang dapat dibanggakan pada masa ini hanya dalam bidang politik, kemiliteran, dan kesenian terutama arsitektur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Ahmad Syalabi, 1988, Sejarah dan Kebudayan Islam: Imperium Turki Usmani, Jakarta: Kalam Mulia&lt;br /&gt;
Badri Yatim, 2004, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

&lt;br /&gt;
Hasjmy, 1993, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang

Taufiqurrahman, 2003, Sejarah Politik Masyarakat Islam. Surabaya: Pustaka Islamika


&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Renovasi Gedung SC IAIN IB Padang tak Kunjung Rampung</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2012/12/renovasi-gedung-sc-iain-ib-padang-tak.html</link><category>Opinion</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 3 Dec 2012 02:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-8487021098112297847</guid><description>Karang Gantiang, Gedung Student Center atau yang lebih dikenal dengan nama SC, gedung pink, gedung gempa bak celotehan para guru-guru yang mengikuti PLPG, adalah satu dari sekian gedung milik Fakultas Tarbiyah yang rusak berat akibat gempa yang melanda Sumatera Barat tiga tahun silam. Selain berfungsi sebagai tempat perkuliahan, gedung ini juga difungsikan sebagai pusat penelitian IAIN IB Padang. Namun, kondisi fisik gedung yang rusak tersebut sudah tidak layak lagi dijadikan sebagai student center, karena sangat mengganggu kenyaman mahasiswa yang sedang melakukan berbagai aktivitas di lokasi ini. Mereka, para mahasiswa selalu dihantui rasa takut akan robohnya gedung ini sewaktu-waktu.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Renovasi gedung SC telah dimulai pada pertengahan semester dua, tahun akademik 2011/2012 lalu dan direncanakan akan selesai sebelum tahun ajaran baru 2012/2013 ini. Namun pada kenyataannya, harapan mahasiswa Fakultas Tarbiyah untuk bisa belajar lagi di gedung ini belum terealisasi, karena renovasi gedung belum juga rampung sampai detik ini. Entah apa kendalanya sehingga proses renovasi tersebut terkesan lamban dan bahkan terkesan di ulur-ulur. Menurut hemat penulis, para pekerja yang melakukan renovasi tersebut lebih banyak santainya dari pada bekerja, mereka terkesan mengulur waktu, penyebabnya belum penulis ketahui secara pasti, mungkin karena sistem upahlah yang menyebabkan mereka terkesan seperti itu.
Lambannya proses renovasi ini berdampak langsung kepada seluruh sivitas akademika Fakultas Tarbiyah. Mulai dari karyawan bagian akademik yang kewalahan menyusun jadwal perkuliahan karena harus menunggu sisa kelas dari Fakultas lain (F.Adab dan F.Ushuluddin), yang mengakibatkan jadwal perkuliahan terbit lebih lama dibanding fakultas lain. Adanya sebagian dosen yang belum tahu persis dimana kelas tempat mereka memberi perkuliahan, sehingga mereka telat masuk kekelas. Dan yang paling dirugikan disini adalah mahasiswa, mereka harus mondar mandir antara satu fakultas ke fakultas lain karena adanya pergantian ruangan kelas, belum lagi ada dosen yang meminta perubahan jadwal dengan alasan mereka ada kegiatan lain pada jadwal yang telah ditetapkan pihak fakultas, sehingga mahasiswa harus peras otak mencari kelas yang kosong, agar perkuliahan tetap berjalan, namun mahasiswa harus tetap menyikapinya dengan positif.
Sejatinya, hal ini harus mendapat perhatian lebih dari para petinggi IAIN IB dan pihak-pihak berwenang lainnya. Mereka harus berusaha memotivasi pekerja agar sedini mungkin merampungkan renovasi ini. Masalah seperti ini seharusnya tak pernah terjadi andai saja kedua belah pihak menentukan batas waktu maksimal penyelesaian proyek renovasi gedung SC tersebut di awal. Hal ini tentu saja demi kemajuan pendidikan di kampus ini pada khususnya dan bangsa ini pada umumnya, bagaimana bisa outputnya akan bermutu sementara prosesnya bisa dibilang sembraut, bukankah sebuah bangsa itu besar karena orang-orangnya yang terdidik?. 


&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ALIRAN DALAM ILMU KALAM ( QADARIYAH dan JABARIYAH )</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2012/03/aliran-dalam-ilmu-kalam-qadariyah-dan.html</link><category>islamic education</category><category>paper</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 31 Mar 2012 17:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-7084997891014083458</guid><description>BAB I&lt;br /&gt;
PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit yang dipahami pada umumnya. Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat lebih dari satu aliran yang berkembang. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama-ulama kalam dalam memahami ayat-ayat al-Quran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan ada pula ayat yang menunjukkan bahwa segala yang terjadi itu ditentukan oleh Allah, bukan kewenangan manusia . Dari perbedaan pendapat inilah lahir aliran Qadaryiah dan Jabariyah. Aliran Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan kata lain manusia mempunya qudrah (kekuatan atas perbuatannya). Sedangkan Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan kehendak dalam menentukan perbuatannya. Kalaupun ada kehendak dan kebebasan yang dimiliki manusia, kehendak dan kebebasan tersebut tidak memiliki pengaruh apapun, karena yang menentukannya adalah kehendak Allah semata . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua aliran ini masing-masing bersandar kepada ayat-ayat al-Quran. Qadariyah antara lain bersandar pada surat al-Mudatsir ayat 38 yang artinya: tiap-tiap diri bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya. Sedangkan Jabariyah bersandar pada surat al-Hadid ayat 22 yang artinya: tidak ada bencana yang menimpa bumi dan diri kamu, kecuali telah ditentukan didalam buku sebelum kami wujudkan .&lt;br /&gt;
Dalam sejarah teologi Islam, paham Qadariyah selanjutnya dianut oleh kaum Mu’tazilah, sedangkan paham Jabariyah terdapat dalam aliran Asy’ariah.&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BAB II&lt;br /&gt;
PEMBAHASAN&lt;br /&gt;
A. QADARIYAH&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Qadariyah&lt;br /&gt;
Qadariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata قَدَرَ yang artinya kemampuan dan  kekuatan. Secara terminologi, qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan . Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Berdasarkan pengertian diatas, dapat dipahami bahwa qadariyah dipakai untuk nama suatu aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Harun Nasution menegaskan bahwa kaum qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya, sebutan Qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah laku manusia, baik yang bagus maupun yang jahat. Namun sebutan tersebut telah melekat pada kaum sunni, yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak . Menurut Ahmad Amin dalam Rosihon Anwar, sebutan ini diberikan kepada para pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadits yang menimbulkan kesan negatif bagi nama Qadariyah . Hadits tersebut berbunyi:  الاْءُمَّةِ هَذِهِ مَجُوْسُ آلْقَدَرِيّةُ artinya: “Kaum Qadariyah adalah majusinya umat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang kapan munculnya faham Qadariyah dalam Islam, tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa ahli teologi Islam yang menghubungkan faham qadariyah ini dengan kaum Khawarij. Pemahaman mereka (kaum khawarij) tentang konsep iman, pengakuan hati dan amal dapat menimbulkan kesadaran bahwa manusia mampu sepenuhnya memilih dan menentukan tindakannya sendiri. Menurut Ahmad Amin seperti dikutip Abuddin Nata, berpendapat bahwa faham qadariyah pertama sekali dimunculkan oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy . Sementara itu Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyun, memberi informasi lain bahwa yang pertama sekali memunculkan faham qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan balik lagi ke agama Kristen. Dari orang inilah Ma’bad dan Ghailan mengambil faham ini . Orang Irak yang dimaksud, sebagaimana dikatan Muhammad Ibnu Syu’ib yang memperoleh informasi dari Al-Auzai, adalah Susan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya qadariyah muncul, ada banyak kesulitan untuk menentukannya. Para peneliti sebelumnya pun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut qadariyah ketika itu banyak sekali. Sebagian terdapat di Irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Basri. Sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus, diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang banyak dipekerjakan di istana-istana khalifah.&lt;br /&gt;
Faham ini mendapat tantangan keras dari umat Islam ketika itu. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya reaksi keras ini, pertama, seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa Arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, mereka merasa diri mereka lemah dan tidak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya. Sehingga ketika faham qadariyah dikembangkan, mereka tidak dapat menerimanya karena dianggap bertentangan dengan Islam. Kedua, tantangan dari pemerintah, karena para pejabat pemerintahan menganut faham jabariyah. Pemerintah menganggap faham qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Qadariyah&lt;br /&gt;
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa tokoh yang pertama kali memunculkan faham qadariyah dalam Islam adalah Ma’bad Al-Jauhani dan temannya Ghailan Al-Dimasyqy.&lt;br /&gt;
1. Ma’bad Al-Jauhani&lt;br /&gt;
Menurut Al-Zahabi dalam kitabnya Mizan al-I’tidal, yang dikutip Ahmad Amin dalam Sirajuddin Zar, menerangkan bahwa ia adalah tabi’in yang dapat dipercaya, tetapi ia memberikan contoh yang tidak baik dan mengatakan tentang qadar. Lalu ia dibunuh oleh al-Hajjaj karena ia memberontak bersama Ibnu al-Asy’as. Tampaknya disini ia dibunuh karena soal politik, meskipun kebanyakan mengatakan bahwa terbunuhnya karena soal zindik. Ma’bad Al-Jauhani pernah belajar kepada Hasan Al-Bashri, dan banyak penduduk Basrah yang mengikuti alirannya .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ghailan Ibnu Muslim Al-Damasyqy&lt;br /&gt;
Sepeninggal Ma’bad, Ghailan Ibnu Muslim al-dimasyqy yang dikenal juga dengan Abu Marwan. Menurut Khairuddin al-Zarkali dalam Sirajuddin Zar menjelaskan bahwa Ghailan adalah seorang penulis yang pada masa mudanya pernah menjadi pengikut Al-Haris Ibnu Sa’id yang dikenal sebagai pendusta. Ia pernah taubat terhadap pengertian faham qadariyahnya dihadapan Umar Ibnu Abdul Aziz, namun setelah Umar wafat ia kembali lagi dengan mazhabnya . Ia akhirnya mati dihukum bunuh oleh Hisyam ‘Abd al-Malik (724-743). Sebelum dijatuhi hukuman bunuh diadakan perdebatan antara Ghailan dan al-Awza’i yang dihadiri oleh Hisyam sendiri .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, menurut Harun Nasution, nama qadariyah adalah sebutan bagi kaum yang mengingkari qadar, yang mendustakan bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah. Nama qadariyah bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ajarannya, aliran qadariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dalam gerak laku dan perbuatannya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya sendiri atau untuk tidak melaksanakan kehendaknya itu. Dalam menentukan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri, manusialah yang menentukan, tanpa ada campur tangan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan yang menyatakan bahwa manusia mempunyai qudrah lebih lanjut dijelaskan oleh ‘Ali Musthafha al-Ghurabi antara lain menyatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dan menjadikan baginya kekuatan agar dapat melaksanakan apa yang dibebankan oleh Tuhan kepadanya, karena jika Allah memberi beban kepada manusia, namun Ia tidak memberikan kekuatan, maka beban itu adalah sia-sia, sedangkan kesia-siaan itu bagi Allah adalah suatu hal yang tidak boleh terjadi . Dengan demikin dapat disimpulkan bahwa faham qadariyah telah meletakkan manusia pada posisi merdeka dalam menentukan tingkah laku dan kehendaknya. Jika manusia berbuat baik maka hal itu adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri serta berdasarkan kemerdekaan dan kebebasan memilih yang ia miliki. Oleh karena itu jika seseorang diberi ganjaran yang baik berupa surga di akhirat, atau diberi siksaan di neraka, maka semua itu adalah atas pilihannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, terlepas apakah faham qadariyah itu dipengaruhi oleh faham dari luar atau tidak, yang jelas di dalam Al-Quran dapat dijumpai ayat-ayat yang dapat menimbulkan faham qadariyah sebagaimana disebutkan diatas , diantaranya adalah:&lt;br /&gt;
Dalam surat al-Ra’d ayat 11, Allah berfirman:&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat Fushshilat ayat 40, Allah berfirman:&lt;br /&gt;
“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat al-Kahfi ayat 29, Allah berfirman:  &lt;br /&gt;
“Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian faham qadariyah memiliki dasar yang kuat dalam Islam, dan tidaklah beralasan jika ada sebagian orang menilai faham ini sesat atau keluar dari Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. JABARIYAH&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang dan Sejarah Perkembangan Aliran Jabariyah&lt;br /&gt;
Secara bahasa jabariyah berasal dari kata جَبَرَ yang mengandung pengertian memaksa. Di dalam kamus Al-Munjid dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Sedangkan secara istilah, jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur) . Menurut Harun Nasution jabariyah adalah faham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan manusia telah ditentukan oleh qadha dan qadar Allah. Maksudnya adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, namun diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya. Di sini manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang mengistilahkan bahwa jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran jabariyah tidak ada penjelasan yang jelas. Abu Zahra menuturkan bahwa faham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata tidak dapat memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan di sekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Artinya mereka banyak bergantung pada alam, sehingga menyebabkan mereka menganut faham fanatisme . Faham ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja’d bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan. Dalam sejarah teologi Islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran jahmiyah dalam kalangan Murji’ah. Ia adalah sekretaris Suraih bin Al-Haris dan selalu menemaninya dalam gerakan melawan Bani Umayah. Sebenarnya benih-benih faham jabariyah juga dapat dilihat dalam beberapa peristiwa sejarah  diantaranya:&lt;br /&gt;
1. Suatu ketika Nabi menjumpai sahabatnya yang sedang bertengkar dalam masalah takdir Tuhan, Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Khalifah Umar bin al-Khattab pernah menangkap seorang pencuri. Ketika diinterogasi pencuri itu berkata “Tuhan telah menentukan aku mencuri” mendengar itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu yaitu hukuman potong tangan dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ketika Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Orang itu bertanya apabila (perjalanan menuju perang Siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tidak ada pahala sebagai balasannya. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa qadha dan qadar Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Sekiranya qadha dan qadar itu merupakan paksaan, maka tidak ada pahala dengan siksa, gugur pula janji dan dan ancaman Allah, dan tidak ada pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Adanya bibit pengaruh faham jabariyah yang telah muncul dari pemahaman terhadap ajaran Islam itu sendiri. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran jabariyah muncul karena ada pengaruh dari pemikiran asing yaitu pengaruh agama Yahudi bermazhab qurra dan dar agama Kristen bermazhab yacobit.&lt;br /&gt;
Paparan diatas menjelaskan bahwa, bibit faham jabariyah telah muncul sejak awal periode Islam. Namun, jabariyah sebagai suatu pola pikir atau aliran yang dianut, dipelajari dan dikembangkan, baru terjadi pada masa pemerintahan Daulah Bani Umayah, yakni oleh kedua tokoh yang telah disebutkan diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tokoh dan Ajaran dalam Aliran Jabariyah&lt;br /&gt;
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa yang pertama kali memperkenalkan faham jabariyah adalah Ja’d bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.&lt;br /&gt;
1. Al-Ja’d bin Dirham &lt;br /&gt;
Ja’d adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya untuk mengajar di lingkungan Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-pikirannya yang kontroversial, Bani Umayah menolaknya. Kemudia Al-Ja’d lari ke Kufah dan disana ia bertemu dengan Jahm untuk dikembangkan dan disebarluaskan . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jahm Ibnu Shafwan&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan. Ia termasuk Maulana Bani Rasib, juga seorang tabi’in berasal dari Khurasan, dan bertempat tinggal di Khuffah, ia seorang da’i yang fasih dan lincah (orator). Ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais seorang mawali yang menentang pemerintahan Bani Umayah di Khurasan. Ia ditawan dalam pemberontakan dan dibunuh pada tahun 128H. Ia dibunuh karena masalah politik dan tidak ada kaiatannya dengan agama .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jabariyah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu ekstrim dan moderat. Di antara ajaran jabariyah ekstrim adalah pendapatnya bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatannya yang dipaksakan atas dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai penganut dan penyebar faham jabariyah, banyak usaha yang dilakukan Jahm yang tersebar keberbagai tempat, seperti ke Tirmidz dan Balk . Pendapatnya mengenai persoalan teologi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan.&lt;br /&gt;
b. Surge dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain Tuhan.&lt;br /&gt;
c. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, pendapatnya dengan konsep Iman yang dimajukan kaum Murji’ah.&lt;br /&gt;
d. Kalam Tuhan adalah makhluk Allah mahasuci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar dan melihat. Begitu pula Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaran pokok Ja’d bin Dirham secara umum sama dengan pikiran Jahm. Al-Ghuraby menjelaskannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;
a. Al-Qur’an itu adalah makhluk. Oleh karena itu, dia baru. Sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan Allah&lt;br /&gt;
b. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk seperti berbicara, melihat, mendengar&lt;br /&gt;
c. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya .&lt;br /&gt;
Berbeda dengan jabariyah ekstrim, jabariyah moderat mengatakan bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik. Tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang dimaksud dengan kasab . Menurut faham kasab, manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh Tuhan), tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan . Yang termasuk tokoh jabariyah moderat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1) An-Najjar&lt;br /&gt;
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar. Di antara pendapat-pendapatnya adalah:&lt;br /&gt;
1. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Itulah yang disebut kasab.&lt;br /&gt;
2. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi an-Najjar mengatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata, sehingga manusia dapat melihat Tuhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Adh-Dhirar&lt;br /&gt;
Dhirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera ke enam. Ia juga berpendapat bahwa hujjah yang dapat diterima setelah Nabi adalah Ijtihad. Hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum.&lt;br /&gt;
Adapun golongan jabariyah mengatakan bahwa tidak ada ikhtiar bagi manusia, sebab Tuhan telah lebih dahulu menentukan segala-galanya. Sementara Ahlussunnah menetapkan usaha dan ikhtiar bagi manusia dan Allah yang menentukan. Jadi, orang akan mendapat pahala dengan usaha dan ikhtiarnya, juga sebaliknya ia akan mendapat dosa oleh sebab usaha dan ikhtiarnya.&lt;br /&gt;
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini, dalam al-Qur’an sendiri banyak terdapat ayat-ayat yang melatar belakangi lahirnya faham jabariyah  di antaranya:&lt;br /&gt;
Dalam surat Ash-Shaffat ayat 96, Allah berfirman:  &lt;br /&gt;
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat Al-An’am ayat 111, Allah berfirman: &lt;br /&gt;
“Mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat Al-Anfal ayat 17, Allah berfirman:  &lt;br /&gt;
“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat diatas terkesan membawa seseorang pada alam pikiran jabariyah. Mungkin inilah yang menyebabkan pola pikir jabariyah masih tetap ada di kalangan umat Islam hingga kini walaupun anjurannya telah tiada. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, manusia dalam paham jabariyah adalah sangat lemah, tak berdaya, terikat dengan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari aturan dan skenario serta kehendak Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BAB III&lt;br /&gt;
PENUTUP&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. KESIMPULAN&lt;br /&gt;
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa, baik aliran qadariyah maupun jabariyah nampaknya memperlihatkan faham yang saling bertentangan sekalipun mereka sama-sama berpegang pada al-Quran. Hal ini memperlihatkan betapa terbukanya kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat dalam Islam. Namun pendapat mana yang lebih baik tidaklah bisa dinilai sekarang. Penilaian yang sesungguhnya akan diberikan oleh Tuhan di akhirat nanti. Penilaian baik atau tidaknya suatu pendapat dalam pandangan manusia mungkin bisa dilakukan dengan mencoba menghubungkan pendapat tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang berkembang dalam sejarah. Pendapat yang baik adalah apabila ia berlaku di masyarakat dan dapat bertahan dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abuddin Nata, 1995, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;
Harun Nasution, 1986, Teologi Islam: aliran-aliran, sejarah, analisa dan perbandingan, Jakarta: UI Press.&lt;br /&gt;
Rosihon Anwar, dkk, 2006, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia.&lt;br /&gt;
Sirajuddin Zar, 2003, Teologi Islam: aliran dan ajarannya, Padang: IAIN Press.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">19</thr:total></item><item><title>BURUKNYA SISTEM BIROKRASI DI IAIN IB PADANG</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2012/03/buruknya-sistem-birokrasi-di-iain-ib.html</link><category>education</category><category>Opinion</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sat, 31 Mar 2012 15:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-8673462850172955053</guid><description>Pegawai pemerintahan, dewasa ini selalu bekerja tanpa memikirkan kaidah-kaidah, tuntutan serta kewajiban mereka terhadap pekerjaan yang di embankan pada mereka. Pun demikian hanya sebagian kecil dari mereka yang masih peduli serta memperhatikan kaidah tersebut. Mungkin mereka masih berfikiran kuno, yakni mereka menganggap tanpa giat bekerjapun mereka masih akan menerima gaji tetap setiap bulannya, toh yang menggaji mereka adalah pemerintah, bukan mahasiswa. Tidak terlintaskah dibenak mereka tanpa adanya mahasiswa secara otomatis institusi ini akan ditutup dan dengan demikian secara tidak langsung juga akan berdampak pada pekerjaan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Lambannya setiap urusan surat menyurat yang ada di IAIN IB Padang, mulai dari berbelit-belitnya proses pengurusan surat, lambatnya keluar KHS, dosen yang sering tidak masuk, mereka (para dosen) lebih mementingkan pekerjaan sampingan diluar institusi yang yang telah menjadikan mereka seseorang. Dengan kata lain mereka selalu mengabaikan hak-hak mahasiswa, bagaimana bisa outputnya akan bermutu sementara prosesnya bisa dibilang tidak berjalan, jadwal yang bentrok antara satu jurusan dengan jurusan lain dengan mata kuliah yang sama membuat proses belajar mengajar menjadi tidak efektif dan efisien. Contoh-contoh diatas membuat semua mahasiswa kesal, jengkel, marah dan sebagainya. Namun apa yang bisa diperbuat mahasiswa? Demo? Tidak, demo bukanlah solusi untuk pemecahan masalah-masalah seperti ini, karena suara mereka (para pendemo) hanya dianggap sebagai celoteh di siang bolong. Tidak ada satupun yang bisa dilakukan karena para petinggi IAIN IB pun seakan buang muka dan menutup diri dengan permasalahan tersebut. &lt;br /&gt;
Cara-cara yang demikian hanya akan menghasilkan individu yang nantinya akan berbuat hal yang sama di kemudian hari (walaupun semua itu tergantung pada pribadi masing-masing). Sudah selayaknyalah system birokrasi di IAIN IB ini dibenahi sedini mungkin demi kemajuan pendidikan di bangsa ini, bukankah sebuah bangsa itu besar karena orang-orangnya yang terdidik. Karena dengan pendidikan tidak akan ada lagi rakyat Indonesia yang dengan gampangnya diperbodoh maupun diperalat oleh bangsa lain.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>KONSEP DASAR PENDIDIKAN ISLAM</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2011/10/konsep-dasar-pendidikan-islam.html</link><category>islamic education</category><category>paper</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 31 Oct 2011 10:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-5279081795455066838</guid><description>&lt;i&gt;Concepts are mental images we use as summary devices for bringing together observations and experiences that seem to have something in common&lt;/i&gt;. (konsep adalah citra mental yang kita gunakan sebagai alat untuk memadukan pengamatan dan pengalaman yang memiliki kesamaan). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep dasar pendidikan yang ideal dapat dibagi kedalam enam macam:&lt;br /&gt;
1.Dasar Historis&lt;br /&gt;
Dasar yang memberikan persiapan kepada pendidik dengan hasil-hasil pengalaman masa lalu, berupa undang-undang dan peraturan-peraturannya maupun berupa tradisi dan ketetapannya.&lt;br /&gt;
2.Dasar Sosiologis&lt;br /&gt;
Dasar berupa kerangka budaya dimana pendidikannya itu bertolak dan bergerak, seperti memindahkan budaya, memilih dan mengembangkannya&lt;br /&gt;
3.Dasar Ekonomis&lt;br /&gt;
Dasar yang member perspektif tentang potensi-potensi manusia, keuangan, materi, persiapan yang mengatur sumber keuangan dan bertanggung jawab terhadap anggaran pembelanjaan.&lt;br /&gt;
4.Dasar Politik dan Administrasi&lt;br /&gt;
Dasar yang memberi bingkai ideologi (akidah) dasar yang digunakan sebagai tempat bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang telah dibuat&lt;br /&gt;
5.Dasar Psikologis&lt;br /&gt;
Dasar yang member informasi tentang watak peserta didik, pendidik, metode yang terbaik dalam praktek, pengukuran dan penilaian bimbingan dan penyuluhan&lt;br /&gt;
6.Dasar Filsafat&lt;br /&gt;
Dasar yang member kemampuan memilih yang terbaik, member arah suatu system yang mengontrol dan member arah kepada semua dasar-dasar yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
Pendidikan Islam haruslah menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai konsep dasar tentang pendidikan islam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunnah merupakan pedoman hidup umat islam setelah Al-Qur’an. Semua amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW, baik itu perkataan maupun perbuatan beliau, dapat dijadikan sumber untuk pendidikan islam, karena Allah SWT telah menjadikan beliau sebagai teladan bagi umatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pandangan hidup (teologi) seorang muslim berdasarkan pada al-qur’an dan al-sunnah, maka yang menjadi dasar pendidikan islam adalah al-qur’an dan al-sunnah tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelaslah bagi kita semua bahwa Al-Qur’an dan Sunnah tidak bisa dinafikan sebagai dasar pendidikan islam, yang berfungsi untuk mendesain teori-teori tentang ilmu pendidikan islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu pendidikan islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dengan redaksi yang agak singkat Ilmu Pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.1. Pengertian Secara Etimologi&lt;br /&gt;
Etimologi adalah ilmu yang menyelidiki asal usul kata serta perubahannya dalam bentuk dan makna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan dalam bahasa indonesia berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandung arti “perbuatan”. Istilah pendidikan semula berasal dari kata Yunani yaitu “paedogogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata al-tarbiyat, namun terdapat istilah lain yang seakar dengannya, yaitu al-rabb , rabbayani, murabbiy, yurbiy dan rabbaniy dengan kata kerja “rabba”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah “tarbiyah wa ta’lim” sedangkan “Pendidikan Islam” dalam bahasa Arabnya adalah “tarbiyah islamiyah”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata tarbiyah, mencakup semua kegiatan pendidikan dan pengajaran dalam rangka menyiapkan individu (peserta didik), untuk kehidupan yang lebih sempurna dalam berbagai hal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.2. Pengertian Secara Terminologi&lt;br /&gt;
Terminologi adalah ilmu mengenai batasan atau defenisi istilah. &lt;br /&gt;
1.Tarbiyah &lt;br /&gt;
Musthafa al-Maraghiy, membagi aktifitas al-tarbiyah dalam dua macam:&lt;br /&gt;
a.Tarbiyah Khalqiyah&lt;br /&gt;
Pendidikan yang terkait dengan pertumbuhan jasmani manusia  yang dapat dijadikan sebagai sarana dalam pengembangan rohaninya.&lt;br /&gt;
b.Tarbiyah diniyah tah-zibiyyah&lt;br /&gt;
Pendidikan yang terkait dengan pembinaan,pengembangan akhlak dan agama manusia, untuk kelestarian diri sesama, alam lingkungan dan relasinya dengan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan pembagian diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa ruang lingkup tarbiyah sangatlah luas. Ia mencakup semua kebutuhan manusia baik itu kebutuhan jasmani, rohani, duniawi, akhirat, kebutuhan antar sesama manusia serta terhadap lingkungan dimana mereka berada yang harus dipertanggung jawabkan nantinya dihadapan Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.Ta’lim&lt;br /&gt;
Menurut Muhammad Rasyid Ridha, ta’lim adalah proses transmisi sebagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.&lt;br /&gt;
Kemudian menurut al-Maraghi pengajaran dilaksanakan bertahap, sebagaimana tahapan Adam As. Mempelajari, menyaksikan dan menganalisa asma-asma yang diajarkan oleh Allah kepadanya. &lt;br /&gt;
Artinya ta’lim hany&lt;br /&gt;
alah sebuah penyampaian atau pengiriman ilmu pada jiwa manusia dan belum mencakup aspek lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.Ta’dib &lt;br /&gt;
Menurut al-Naquib al-Attas, ta’dib ialah pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu yang didalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan tuhan didalam tatanan wujud dan keberadaan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian ta’dib disini lebih kearah ketauhidan manusia terhadap pencipta-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.Al-Riadhah &lt;br /&gt;
Al-ghazali berpendapat al-Riyadhah ialah pelatihan individu pada masa kanak-kanak. Beliau mengkhususkan penggunaan al-riyadhah untuk fase anak-anak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.BATASAN DEFINISI PENDIDIKAN ISLAM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika kita mempersoalkan batas-batas pendidikan, maka secara tidak langsung kita membahas tentang batasan nyata dari proses pendidikan dalam jangka waktu tertentu. Apa sajakah batasan pendidikan itu? Berikut akan dibahas secara mendalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.1. Batasan Luas&lt;br /&gt;
Pendidikan dalam arti luas adalah segala pengalaman belajar yang dilalui peserta didik dengan segala lingkungan dan sepanjang hayat. Hakikatnya kehidupan mengandung unsur pendidikan karena adanya interaksi dengan lingkungan, sebagaimana peribahasa minangkabau “alam takambang jadi guru” (alam terkembang jadi guru). &lt;br /&gt;
Pendidikan dalam arti luas tidak memiliki batasan-batasan khusus, bisa diperoleh dimana saja seperti pengalaman hidup masing-masing individu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.2. Batasan Sempit&lt;br /&gt;
Pendidikan dalam arti sempit adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan di lembaga pendidikan formal. Karakteristiknya adalah masa pendidikan terbatas, lingkungan pendidikan berlangsung disekolah/madrasah, bentuk kegiatannya sudah terprogram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan dalam arti sempit merupakan pendidikan yang dilakukan di sekolah, madrasah, pesantren maupun perguruan tinggi. Karna tujuan dari pendidikannya ditentukan oleh lembaga, bukan individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.3. Luas dan Terbatas&lt;br /&gt;
Pendidikan dalam arti luas terbatas adalah segala usaha sadar yang dil;akukan oleh keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan latihan yang diselenggerakan di lembaga pendidikan non-formal dan in-formal dan dilaksanakan sepanjang hayat, dalam rangka mempersiapkan peserta didik agar berperan dalam berbagai kehidupan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan in-formal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.  Lingkungan disini adalah lingkungan dimana individu tumbuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan dalam arti luas terbatas adalah gabungan dari pendidikan dalam batasan luasa dan batasan sempit, pendidikan disini tidak terikat secara ketat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;C.PENUTUP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
I. Kesimpulan&lt;br /&gt;
Ajaran islam tidak memisahkan antara iman dan amal saleh, oleh karena itu pendidikan islam juga berperan sebagai pendidikan iman dan pendidikan amal. Ajaran islam juga berisi tentang kehidupan perorangan dan bermasyarakat, maka Pendidikan Islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat yang berdasarkan pada al-qur’an dan al-sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Al-Marghi, M., 2001, Tafsir al-Maraghi,  Bairut: Dan Fikr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Babbie dalam Sudjana, 2007. D., Pendidikan Nonformal. Dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata, N.S., Sudjana, D., dan Rasjidin, W (penyunting), Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press.&lt;br /&gt;
Daradjat. Z., dkk, 2009, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;
Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;
Langgulung, H., 2003, Asas-Asas Pendidikan Islam,  Jakarta: Pustaka Al Husna Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nata, A. 2005, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, Jakarta: UIN Jakarta Press.&lt;br /&gt;
Ramayulis, 2008,  Ilmu Pendidikan Islam,  Jakarta: Kalam Mulia.&lt;br /&gt;
Ramayulis, 2004, Pengantar Ilmu Pendidikan, Padang: the minangkabau foundation press.&lt;br /&gt;
UU No.20 Tahun 2003, 2008, Sistem Pendidikan Nasional, http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>Administrasi Kurikulum</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2011/10/administrasi-kurikulum.html</link><category>education</category><category>paper</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Mon, 31 Oct 2011 10:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-5309195407780392992</guid><description>&lt;b&gt;I. Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia, pendidikannya berjalan secara pesat pada abad ke 20. Tidak dapat dipungkiri, bahwa sepanjang sejarah perjalanan bangsa Indonesia sering kali dilakukan perubahan/penggantian kurikulum. Permasalahan pendidikan yang sering menjadi perhatian adalah masalah kurikulum dan administrasi kurikulum. &lt;br /&gt;
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan yang bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Perubahan dan pengembangan kurikulum dianggap sebagai salah satu titik krusial di dalam penanganan masalah-masalah pendidikan khususnya pendidikan formal. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), dinyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Hubungan antara administrasi kurikulum dengan kurikulum itu sendiri mencakup pelaksanaan kurikulum, pembinaaan kurikulum, penyusunan silabus, persiapan harian dan sebagainya. Dalam penyelenggaraannya, administrasi kurikulum berperan penting dalam pengembangan pendidikan pada umumnya serta mekankan bagaimana mengarahkan kurikulum sehingga kurikulum dapat dilaksanakan secara tepat dalam berbagai kegiatan pendidikan. Administrasi kurikulum merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu terhadap situasi belajar mengajar secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;b&gt;II. Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. Pengertian Administrasi Kurikulum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A.1. Pengertian Administrasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara harfiah administrasi berasal dari bahasa latin, yang terdiri dari kata ad dan ministrare yang berarti membantu, melayani atau mengarahkan. Dalam bahasa Inggris disebut administration (Nawawi dalam Ahmad Sabri, 2000). Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2008:13) dijelaskan bahwa, administrasi adalah 1. Segala usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber secara efektif dan efisien., 2. Kegiatan-kegiatan yang berupa kerangka kerja dari kebijakan yang dikeluarkan oleh manajer; tata usaha. &lt;br /&gt;
Jadi kata administrasi dapat diartikan sebagai segala usaha bersama untuk membantu, melayani dan mengarahkan semua kegiatan, dalam mencapai suatu tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A.2. Pengertian Kurikulum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan  kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (UU No.20 th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Unruh dan Unruh (1984) curriculum is defined as a plan for achieving intended learning outcomes: a plan concerned with purposes, with what is to be learned, and with the result of instruction.  Dapat ditambahkan bahwa curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not (Romine dalam Sanjaya, 2005). Mark K. Smith (2000) menganalisis empat pendekatan kurikulum yaitu; (1) Curriculum as a body of knowledge to be transmitted, (2). Curriculum as an attempt to achieve certain ends in students – product, (3) Curriculum as process, (4) Curriculum as praxis. Nasution (2008:5) menekankan bahwa kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Sudjana (2005:3) menambahkan kurikulum merupakan niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah. Sukmadinata (2005) menegaskan bahwa Kurikulum (curriculum) merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan “segala rancangan dan kegiatan pendidikan yang secara maksimal dikembangkan oleh pendidik, untuk meningkatkan potensi kemanusiaan yang ada pada diri seseorang (peserta didik) baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa administrasi kurikulum merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh untuk membantu, melayani, dan mengarahkan serta membina secara kontinyu situasi belajar mengajar, agar berjalan efektif dan efesien demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. Kegiatan Administrasi Kurikulum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Gunawan (1996:80) menjelaskan bahwa, secara operasional kegiatan administrasi kurikulum dapat di identifikasikan menjadi tiga kegiatan pokok yakni; 1. Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru atau pendidik, 2. Kegiatan yang berhubungan dengan peserta didik, dan 3. Kegiatan yang berhubungan dengan seluruh sivitas akademika atau warga sekolah. Disamping itu Sabri (2000) menambahkan kegiatan lain yang menyangkut administrasi kurikulum yakni; kegiatan yang menyangkut proses belajar mengajar (PBM), karena kegiatan ini erat kaitannya dengan ketiga kegiatan pokok di atas. Untuk lebih memahami apa dan bagaimana sebenarnya kegiatan administrasi itu, dapat dilihat dari uraian dibawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;1. Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru atau pendidik&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
A. Pembagian tugas guru yang dijabarkan dari struktur program pengajaran, dan  &lt;br /&gt;
ketentuan tentang beban mengajar wajib guru.&lt;br /&gt;
B. Tugas guru dalam mengikuti jadwal pelajaran.&lt;br /&gt;
Ada tiga jenis jadwal pelajaran untuk guru, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Jadwal pelajaran kurikuler&lt;br /&gt;
Disusun secara edukatif oleh guru atau tim guru dengan memperhatikan  &lt;br /&gt;
ketentuan-ketentuan akademik seperti:&lt;br /&gt;
a. Keseimbangan berat atau ringannya bobot pelajaran setiap hari.&lt;br /&gt;
b. Pengaturan mata pelajaran mana yang perlu didahulukan, ditengah atau &lt;br /&gt;
diakhir pelajaran, seperti olahraga, matematika, kesenian dan seterusnya.&lt;br /&gt;
c. Mana pelajaran yang bersifat pratikum, PKL, PPL dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jadwal pelajaran ko-kurikuler&lt;br /&gt;
Disusun secara strategik sesuai situasi dan kondisi individual atau&lt;br /&gt;
kelompok peserta didik sehingga dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan &lt;br /&gt;
serta mencerna materi pelajaran secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jadwal pelajaran ekstra-kurikuler&lt;br /&gt;
Disusun diluar jam pelajaran kurikuler dan progran ko-kurikuler, &lt;br /&gt;
biasanya bersifat pengembangan ekspresi, hobi, bakat serta kegiatan-kegiatan &lt;br /&gt;
lainnya yang dapat menunjang PBM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Tugas guru dalam kegiatan PBM&lt;br /&gt;
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru memegang peran yang sangat penting.&lt;br /&gt;
Guru menentukan segalanya, mau diapakan siswa, apa yang harus dikuasai siswa &lt;br /&gt;
dan sejauh mana keberhasilan siswa dalam memahami pelajaran, semuanya &lt;br /&gt;
tergantung guru. Maka Gunawan (1996:83) meminta para guru memperhatikan &lt;br /&gt;
hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Membuat desain instruksional&lt;br /&gt;
Desain instruksional adalah suatu perencanaan pengajaran yang &lt;br /&gt;
menggunakan pendekatan sistem, atau pengajaran dianggap sebagai sistem &lt;br /&gt;
yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berinteraksi dan saling &lt;br /&gt;
berhubungan satu sama lain, untuk mencapai suatu tujuan.&lt;br /&gt;
2. Melaksanakan pengajaran, termasuk strategi pengelolaan kelas&lt;br /&gt;
Strategi merupakan pola umum rentetan kegiatan yang harus dilakukan &lt;br /&gt;
untuk mencapai tujuan tertentu. Sanjaya (2007:164) menjelaskan pengelolaan &lt;br /&gt;
kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar &lt;br /&gt;
yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat &lt;br /&gt;
mengganggu suasana belajar mengajar. Pengelolaan kelas disini menurut &lt;br /&gt;
Gunawan (1996) bisa berupa strategi fisikal dan nonfisikal.&lt;br /&gt;
a) Strategi fisikal, pengelolaan kelas yang lebih memperhatikan kesuksesan&lt;br /&gt;
PBM yang ditunjang dengan kondisioning lainnya.&lt;br /&gt;
b) Strategi nonfisikal, pengelolaan kelas yang lebih mengarah pada &lt;br /&gt;
kesuksesan PBM yang ditunjang dengan kondisioning jiwani atau emosional.&lt;br /&gt;
3. Mengevaluasi hasil belajar&lt;br /&gt;
Salah satu aspek pokok dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar &lt;br /&gt;
adalah mengevaluasi sejauh mana terjadinya prestasi belajar siswa melalui &lt;br /&gt;
latar belakang serta faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhinya. Wand &lt;br /&gt;
and Brown dalam Wayan Nurkancana (1986:1) mengatakan evaluation refer to &lt;br /&gt;
the act or process to determining the value of something. Evaluasi adalah &lt;br /&gt;
suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;2. Kegiatan yang berhubungan dengan tugas peserta didik atau siswa&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Demi suksesnya proses belajar mengajar, seorang siswa atau peserta &lt;br /&gt;
didik harus kreatif dalam menyusun jadwal, kapan waktu belajar dan kapan &lt;br /&gt;
waktu untuk bermain atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;3. Kegiatan yang berhubungan dengan seluruh sivitas akademis&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Merupakan kegiatan untuk mensinkronisasi segala kegiatan sekolah, yang &lt;br /&gt;
kurikuler, ekstra- kurikuler, akademik atau non-akademik, hari libur dan &lt;br /&gt;
sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;4. Kegiatan yang menyangkut proses belajar mengajar (PBM)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
a. Penyusunan rencana kerja tahunan, semesteran, bulanan dan mingguan.&lt;br /&gt;
b. Penyusunan jadwal pelajaran.&lt;br /&gt;
c. Penyusunan jadwal ulangan dan ujian.&lt;br /&gt;
d. Penyusunan daftar buku dan alat pelajaran yang akan digunakan dalam &lt;br /&gt;
berbagai kegiatan belajar.&lt;br /&gt;
e. Penyusunan norma penilaian.&lt;br /&gt;
f. Pencatatan dan pelaporan hasil-hasil kegiatan dan prestasi belajar siswa.&lt;br /&gt;
g. Penyusunan rencana dan kegiatan “belajar di dalam sekolah” dan “belajar di&lt;br /&gt;
luar sekolah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;C. PELAKSANAAN KURIKULUM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebagus apapun desain atau rancangan kurikulum yang dimiliki, &lt;br /&gt;
keberhasilannya sangat tergantung pada guru. Kurikulum yang sederhanapun &lt;br /&gt;
apabila gurunya memiliki kemampuan, semangat dan dedikasi yang tinggi, &lt;br /&gt;
hasilnya akan lebih baik dari desain kurikulum yang hebat tetapi kemampuan,&lt;br /&gt;
semangat dan dedikasi gurunya rendah. Sukmadinata (2007:119) menegaskan &lt;br /&gt;
beberapa hal yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam pelaksanaan &lt;br /&gt;
kurikulum, antara lain :&lt;br /&gt;
1. Pemahaman esensi dari tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam kurikulum, &lt;br /&gt;
2. Kemampuan untuk menjabarkan tujuan-tujuan kurikulum tersebut menjadi &lt;br /&gt;
tujuan-tujuan yang lebih spesifik, dan &lt;br /&gt;
3. Kemampuan untuk menerjemahkan tujuan-tujuan khusus kepada kegiatan &lt;br /&gt;
pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu, menurut Asnawir (2004:224) seorang guru juga harus &lt;br /&gt;
memiliki sepuluh kompetensi dalam mengajar, yaitu :&lt;br /&gt;
1. Menguasai bahan,&lt;br /&gt;
2. Mengelola program belajar – mengajar,&lt;br /&gt;
3. Mengelola kelas,&lt;br /&gt;
4. Menggunakan media atau sumber belajar,&lt;br /&gt;
5. Menguasai landasan kependidikan,&lt;br /&gt;
6. Mengelola interaksi belajar – mengajar,&lt;br /&gt;
7. Menilai prestasi belajar – mengajar,&lt;br /&gt;
8. Mengenal fungsi dan layanan bimbingan dan konseling,&lt;br /&gt;
9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, dan&lt;br /&gt;
10. Memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian para guru harus mampu menguasai materi pelajaran,  &lt;br /&gt;
pengetahuan cara mengajar dan pengetahuan tentang tingkah laku individu.  &lt;br /&gt;
Selain itu guru juga harus mampu menghargai profesinya serta harus terampil &lt;br /&gt;
dalam berperilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengutip pernyataan Asnawir (2004:227) bahwa, dalam pelaksanaan &lt;br /&gt;
kurikulum ada tiga tahap kegiatan yang harus dilakukan, yaitu; 1. Persiapan,&lt;br /&gt;
2. Pelaksanaan pengajaran, dan 3. Penutupan. Ketiga kegiatan tersebut adalah &lt;br /&gt;
sebagai uraian berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Persiapan &lt;br /&gt;
Tahap ini dilakukan oleh guru sebelum kegiatan mengajar dimulai yakni&lt;br /&gt;
pada saat membuka pelajaran. Sanjaya (2007:162) berpendapat bahwa membuka&lt;br /&gt;
pelajaran atau set induction adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam &lt;br /&gt;
kegiatan pengajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa, agar mental &lt;br /&gt;
maupun perhatian terpusat pada pengalaman yang disajikan sehingga materi &lt;br /&gt;
dan bahan pelajaran mudah dikuasai. Hal tersebut bisa berupa pengucapan &lt;br /&gt;
salam, membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat, melakukan &lt;br /&gt;
interaksi yang menyenangkan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Pelaksanaan&lt;br /&gt;
Keberhasilan suatu kurikulum dapat diukur dari sejauh mana siswa&lt;br /&gt;
dapat menguasai materi pelajaran yang tertuang di dalam kurikulum. Untuk &lt;br /&gt;
itu, Asnawir (2004:228) mengelompokkan kegiatan pelaksanaan pengajaran &lt;br /&gt;
kepada tiga bagian, yaitu :&lt;br /&gt;
a. Pendahuluan, dimana guru berusaha untuk mengarahkan perhatian siswa &lt;br /&gt;
untuk masuk ke pokok bahasan,&lt;br /&gt;
b. Pelajaran inti, merupakan interaksi belajar mengajar yang terjadi &lt;br /&gt;
antara guru dengan siswa dalam membahas pokok bahasan, dan&lt;br /&gt;
c. Evaluasi, kegiatan ini dilakukan oleh guru setelah selesai pelajaran &lt;br /&gt;
inti. Seperti mengajukan pertanyaan atau meminta siswa untuk membuat &lt;br /&gt;
ringkasan tentang pokok bahasan yang telah di pelajari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Penutup&lt;br /&gt;
Menutup pelajaran perlu dilakukan agar pengalaman belajar serta &lt;br /&gt;
materi pelajaran yang telah diterima akan menjadi bagian dari keseluruhan&lt;br /&gt;
pengalaman siswa. Sanjaya (2007:163) mengartikannya sebagai kegiatan yang &lt;br /&gt;
dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan &lt;br /&gt;
gambaran yang menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta &lt;br /&gt;
keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya. Hal ini dapat dilakukan &lt;br /&gt;
dengan berbagai cara, salah satunya adalah mengucapkan salam serta &lt;br /&gt;
memberikan saran-saran untuk memperluas wawasan siswa yang berhubungan &lt;br /&gt;
dengan materi pelajaran yang telah dibahas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;III. Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika merujuk pada pengertian administrasi secara sederhana sebagai kegiatan &lt;br /&gt;
mengarahkan, maka istilah administrasi kurikulum menekankan pada upaya bagaimana &lt;br /&gt;
mengarahkan kurikulum sehingga kurikulum dapat dilaksanakan secara tepat dalam &lt;br /&gt;
berbagai kegiatan pendidikan.&lt;br /&gt;
Seperti diketahui, kurikulum mengandung rencana kegiatan yang akan dilakukan&lt;br /&gt;
selama proses belajar mengajar. Dalam hal ini, kurikulum merupakan panduan dalam &lt;br /&gt;
pengajaran. Kurikulum seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai panduan, tetapi &lt;br /&gt;
kurikulum juga sebagai instrumen dalam meramalkan keadaan masa datang. Dengan&lt;br /&gt;
demikian, kurikulum memiliki peran sentral dalam mengarahkan capaian tujuan dan &lt;br /&gt;
sasaran pendidikan. Ada tiga konsep yang terkait dengan kurikulum:&lt;br /&gt;
1. Kurikulum merupakan inti pokok dalam proses belajar mengajar di lembaga &lt;br /&gt;
pendidikan formal.&lt;br /&gt;
2. Kurikulum merupakan suatu sistem yang harus dikembangkan.&lt;br /&gt;
3. Kurikulum merupakan suatu kajian, yang terus dipelajari oleh para ahli agar &lt;br /&gt;
pendidikan di Indonesia dapat terus berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, kegiatan dalam administrasi kurikulum adalah berbagai &lt;br /&gt;
kegiatan yang bertujuan untuk melaksanakan dan mengembangkan kurikulum sehingga &lt;br /&gt;
kurikulum dapat dijadikan sebagai instrumen dalam mencapai tujuan dan sasaran &lt;br /&gt;
pendidikan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip administrasi, kurikulum kemudian &lt;br /&gt;
dikembangkan, sehingga dalam pelaksanaannya kurikulum dapat mencapai sasaran &lt;br /&gt;
pendidikan yang diharapkan. Setidaknya, kegiatan administrasi kurikulum &lt;br /&gt;
menghendaki agar rumusan kurikulum benar-benar terencana dengan baik, sehingga &lt;br /&gt;
dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik pula. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;daftar pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Asnawir, 2004, Administrasi Pendidikan, Padang: IAIN-IB Press.&lt;br /&gt;
Depdiknas, 2008, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;
Gunawan, A.H., 1996, Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro), Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;
Nasution, 2008, Kurikulum dan Pengajaran, Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;
Nurkancana, W dan Sunartana, 1986, Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.&lt;br /&gt;
Sabri, A., 2000, Administrasi Pendidikan, Padang: IAIN-IB Press.&lt;br /&gt;
Sanjaya, W., 2005, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, ______.&lt;br /&gt;
Sanjaya, W., 2007, Pengajaran., Dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata, N.S., Sudjana, D., dan Rasjidin, W (penyunting)., Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian II, Bandung: Pedogogiana Press.&lt;br /&gt;
Smith, M. K., 2000, 'Curriculum theory and practice' the encyclopaedia of informal education, www.infed.org/biblio/b-curric.htm. dilihat pada: 23 Oktober 2011.&lt;br /&gt;
Sudjana, N., 2005, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Jakarta: Sinar Baru Algesindo.&lt;br /&gt;
Sukmadinata, N.S., 2005, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Remaja RosdaKarya.&lt;br /&gt;
Sukmadinata, N.S., 2007, Kurikulum dan Pembelajaran, Dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata, N.S., Sudjana, D., dan Rasjidin, W (penyunting)., Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian II, Bandung: Pedogogiana Press.&lt;br /&gt;
UU No.20 Tahun 2003, 2008, Sistem Pendidikan Nasional, http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf, dilihat pada: 23 September 2011.&lt;br /&gt;
Unruh dan Unruh, 1984, http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1518, dilihat pada: 23 Oktober 2011.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>puisi rindu</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2011/07/puisi-rindu.html</link><category>poetry</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 14 Jul 2011 15:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-4379800875096087907</guid><description>disini ku berdiri&lt;br /&gt;
menyepi di antara keindahan sang rembulan&lt;br /&gt;
dan pekatnya malam.&lt;br /&gt;
ku sebar benih-benih rindu&lt;br /&gt;
di luasnya hamparan nan tak bertepi.&lt;br /&gt;
berharap kau menemukan secuil rasa rinduku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku merasa kau begitu jauh&lt;br /&gt;
meski kita berteduh&lt;br /&gt;
di langit yang sama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kekasihku HN...&lt;br /&gt;
jika kau percaya samudra itu biru&lt;br /&gt;
maka dengarkanlah&lt;br /&gt;
nyayian rinduku&lt;br /&gt;
kan ku dentingkan&lt;br /&gt;
di sunyinya malam&lt;br /&gt;
BAHWA AKU BEGITU MERINDUKANMU&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>To Be (Ada, adalah)</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2011/03/to-be-ada-adalah.html</link><category>education</category><category>english education</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Thu, 31 Mar 2011 16:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-6870614655486585253</guid><description>&lt;b&gt;To Be (am, are, is)&lt;/b&gt; berarti ada atau adalah, tetapi dalam bahasa Indonesia, pada umumnya to be tidak diterjemahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;To Be&lt;/b&gt; digunakan sebagai penghubung antara subjek dan predikat.&lt;br /&gt;
Predikat suatu kalimat terdiri atas :&lt;br /&gt;
a. kata sifat (&lt;b&gt;adjective&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;
b. kata benda (&lt;b&gt;noun&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;
c. kata keterangan atau tambahan (&lt;b&gt;adverb&lt;/b&gt;)&lt;br /&gt;
d. kata kerja (&lt;b&gt;verb&lt;/b&gt;) yang menyatakan sedang melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;b&gt;To Be&lt;/b&gt; menghubungkan subjek dan predikat, &lt;b&gt;to be&lt;/b&gt; dapat berubah-ubah sesuai dengan subjek (pelaku). Lihat contoh dibawah ini:&lt;br /&gt;
a). predikat kalimat berupa &lt;i&gt;kata sifat&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;
1. I am happy&lt;br /&gt;
2. You are right&lt;br /&gt;
3. He is handsome&lt;br /&gt;
4. dan sebagainya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b). predikat kalimat berupa &lt;i&gt;kata benda&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;
1. I am a teacher&lt;br /&gt;
2. You are a physician&lt;br /&gt;
3. He is a student&lt;br /&gt;
4. It is a bag&lt;br /&gt;
5. dan sebagainya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c). predikat kalimat berupa &lt;i&gt;kata keterangan&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;
1. I am in the room&lt;br /&gt;
2. You are in the class&lt;br /&gt;
3. He is in the bathroom&lt;br /&gt;
4. It is there on the table&lt;br /&gt;
5. dan sebagainya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d). predikatnya &lt;i&gt;kata kerja&lt;/i&gt; yang menyatakan &lt;i&gt;sedang melakukan sesuatu&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;
1. I am reading a book&lt;br /&gt;
2. You are studying English&lt;br /&gt;
3. He is sitting&lt;br /&gt;
4. It is eating grass&lt;br /&gt;
5. dan sebagainya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kita pahami contoh-contoh di atas, sekarang kita coba menggunakannya dalam bentuk-bentuk kalimat yang lain. Akan tetapi sebelum itu harus kita ketahui dulu macam-macam bentuk kalimat:&lt;br /&gt;
1. &lt;b&gt;Affirmative Sentence&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
* Kalimat berita, dengan tanda (+)&lt;br /&gt;
2. &lt;b&gt;Negative Sentence&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
* Kalimat menyangkal, dengan tanda (-)&lt;br /&gt;
3. &lt;b&gt;Interrogative Sentence&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
* Kalimat tanya, dengan tanda (?)&lt;br /&gt;
4. &lt;b&gt;Negative Interrogative Sentence&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
* Kalimat tanya menyangkal, dengan tanda (-?)&lt;br /&gt;
5. &lt;b&gt;Imperative Sentence&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
* Kalimat perintah, dengan tanda (!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kita perhatikan pemakaian &lt;b&gt;to be&lt;/b&gt; ini dalam lima bentuk kalimat di atas.&lt;br /&gt;
Akan tetapi harus diperhatikan:&lt;br /&gt;
1). Kalimat berita contoh-contohnya telah disebutkan di butir a, b, c dan d&lt;br /&gt;
2). Dalam kalimat negative, kita tambahkan &lt;b&gt;not&lt;/b&gt; sesudah to be&lt;br /&gt;
contoh : He is not handsome&lt;br /&gt;
3). Dalam kalimat interrogative, &lt;b&gt;to be&lt;/b&gt; kita letakkan di depan subject&lt;br /&gt;
contoh : Is he handsome&lt;br /&gt;
4). Dalam kalimat negative interrogative, &lt;b&gt;to be&lt;/b&gt; yang di tambahkan dengan not itu diletakkan di awal kalimat&lt;br /&gt;
contoh : Isn't he handsome&lt;br /&gt;
5). Dalam kalimat imperative, &lt;b&gt;to be&lt;/b&gt; tidak berubah dan &lt;b&gt;be&lt;/b&gt; diletakkan di awal kalimat.&lt;br /&gt;
contoh : Be careful, please&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Kalau kata &lt;i&gt;please&lt;/i&gt; diletakkan di awal kalimat, tanda koma tidak dipakai setelah &lt;i&gt;please&lt;/i&gt; : &lt;b&gt;please be careful&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Akan tetapi jika &lt;i&gt;please&lt;/i&gt; berada di posisi akhir kalimat, tanda koma dipakai sebelum &lt;i&gt;please&lt;/i&gt; : &lt;b&gt;Be careful, please&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keterangan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1). &lt;b&gt;Am&lt;/b&gt; dipakai untuk kata ganti orang pertama tunggal, atau dengan kata lain, &lt;b&gt;am&lt;/b&gt; berpasangan dengan &lt;b&gt;I&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
2). &lt;b&gt;Are&lt;/b&gt; dipakai untuk kata ganti orang (&lt;i&gt;personal pronoun&lt;/i&gt;) yang berbentuk jamak dan kata ganti orang kedua tunggal. Atau dengan kata lain, &lt;b&gt;are &lt;/b&gt;berpasangan dengan&lt;b&gt; we, you&lt;/b&gt; (tunggal dan jamak) dan &lt;b&gt;they&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
3). &lt;b&gt;Is&lt;/b&gt; dipakai untuk kata ganti orang ketiga tunggal, Atau dengan kata lain, &lt;b&gt;is&lt;/b&gt; berpasangan dengan &lt;b&gt;he, she&lt;/b&gt; dan&lt;b&gt; it&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
4). Untuk kata benda yang tak dapat dihitung, pasangannya juga&lt;b&gt; is&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
contoh : This ink is black&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>The Eight Part Of Speech</title><link>http://gusriwandi.blogspot.com/2011/03/eight-part-of-speech.html</link><category>english education</category><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><pubDate>Sun, 20 Mar 2011 22:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-248785943505843167.post-1144466018957117169</guid><description>&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Noun &lt;/b&gt;( Kata benda atau Nomina ), Semua kata yang menunjukkan benda, baik itu yang berwujud maupun tak berwujud. Noun dalam kalimat bisa berupa Subject ataupun Object.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Pronoun &lt;/b&gt;( Kata ganti atau pronomina ),&amp;nbsp; contoh : I, You, He, She, It, We, They, Me&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Adjective &lt;/b&gt;( Kata sifat atau Adjektiva ), Berfungsi untuk menerangkan kata benda dalam sebuah kalimat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Verb &lt;/b&gt;( Kata kerja ), semua kata yang menyatakan suatu kegiatan atau aktifitas atau aksi (tindakan)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Adverb &lt;/b&gt;( Kata keterangan ), berfungsi untuk menerangkan kata kerja dalam sebuah kalimat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Preposition &lt;/b&gt;( Kata depan ), contoh : in, on, at, under, after, etc&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Conjunction &lt;/b&gt;( Kata sambung ), contoh : and, or, as, but, also, while&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Interjection&amp;nbsp; &lt;/b&gt;( Kata seru ), contoh : ah, eh, dear, hello, hey, etc&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class="fullpost"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6323724943075168";
/* 468x60, created 5/3/08 */
google_ad_slot = "1580720550";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>