<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565</atom:id><lastBuildDate>Thu, 15 May 2025 13:44:33 +0000</lastBuildDate><category>Kumpulan Cerita Silat</category><category>Kumpulan Cerpen</category><category>Kumpulan Novel</category><title>Kumpulan cerita</title><description></description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Free Download)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>118</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:keywords>Cerita,Novel,Buku,Hobby,Baca,Perpustakaan,Ilmu,Pengarang,Sejarah,Umum,Cerita,Silat,Kisah,Legenda,Kho,Ping,Ho,Bu,Kek,Sian,Su,serial,asmaraman,kho,ping,ho,Kun,Lung,cerpen,dewasa,cerpen,anak,anak,cerita,lucu,cerita,anak,dongeng,karya</itunes:keywords><itunes:summary>Kumpulan Cerita,silat,anak-anak,dewasa,dongeng</itunes:summary><itunes:subtitle>Kumpulan cerita</itunes:subtitle><itunes:category text="Games &amp; Hobbies"><itunes:category text="Hobbies"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-2517279825946853141</guid><pubDate>Sat, 19 Feb 2011 13:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-19T20:18:57.142+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>MULAN Bab 3</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Liong adalah utusan&lt;br /&gt;Ia temurun Dewata dari langit&lt;br /&gt;Turun ke bumi atas nama cinta&lt;br /&gt;ketika wangi darah&lt;br /&gt;telah memekarkan kebatilan di tanah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bao Ling&lt;br /&gt;Liong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu musim gugur di Tionggoan.&lt;br /&gt;Rerumpun bambu tampak merontokkan dedaunan, memetafora tetanah selaksana hamparan karpet beledu raksasa berwarna marun dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada derap-derap langkah kaki kuda memecah kesunyian hutan bambu. Bangkai dedaunan beterbangan di belakang penunggang kuda dengan sampiran pedang di belakang punggungnya. Shan-Yu masih berusaha mengejar Kaisar Yuan Ren Zhan. Inilah upaya terakhirnya untuk menunaikan dendam yang telah berkecamuk sekian tahun di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lima tahun lalu, ia merasa dikhianati oleh Kaisar Yuan Ren Zhan. Jenderal perang yang sudah mengabdi selama puluhan tahun itu, bahkan pada saat kekuasaan masih dipegang oleh ayahanda Sang Kaisar, Yuan Ren Xing - penerus kekaisaran Dinasti Yuan dari generasi kedua. Ia merasa Kaisar Yuan Ren Zhan telah berlaku tidak adil terhadapnya. Pembagian wilayah kekuasaan per provinsi yang dipimpin oleh seorang puak Istana - yang biasa disebut Kaisar Kecil di Tionggoan - itu ternyata tidak menyenangkan hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shan-Yu merasa telah disepelekan dengan pemberian wilayah kekuasaan daerah-daerah tandus di sebelah utara. Sementara Pangeran Yuan Ren Qing, adik Sang Kaisar mendapat tempat daerah-daerah subur sebagai wilayah kekuasaannya di sebelah selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dianggapnya hal itu merupakan ketidakadilan yang menimbulkan kecemburuan status. Padahal menurutnya, selain berfoya-foya dan berhura-hura, Pangeran Yuan Ren Qing tidak memiliki kapabilitas apa-apa sebagai abdi negara yang baik. Ia mengajukan protes kepada Sang Kaisar, yang ditingkahi dengan pembangkangannya melalaikan tugas menjaga binara-binara di pos pengawasan Tembok Besar dari gangguan militan nomad Mongol. Saat itu Dinasti Yuan memang tengah menghadapi pemberontakan kecil dari musuh gurun pimpinan Temujin dan anak angkatnya, Kao Ching, yang masih mengembara dengan kekuatan kecil. Juga suku-suku Han yang mengklaim Tionggoan sebagai negara moyang dan leluhur mereka, yang terpampas oleh bangsa Yuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kaisar Yuan Ren Zhan murka luar biasa. Tembok Besar yang berhasil dilintasi oleh beberapa pemberontak karena kurangnya pengawasan para prajurit pimpinan Shan-Yu telah mencoreng nama baik Dinasti Yuan. Selama ini Tembok Besar dianggap merupakan benteng terkuat di dunia. Tidak ada kerajaan manapun yang pernah berhasil melewati bangunan mahapanjang yang menutupi perbatasan Tionggoan dengan Mongolia itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun kejadian memalukan itu telah meruntuhkan martabat Sang Kaisar. Terlebih-lebih ketika pejabat dan petinggi di negara-negara putih Barat telah mendengar kejadian miris itu. Pasti akan menjadi bahan gunjingan dan tertawaan di seluruh dunia. Maka dengan legitiminasinya sebagai panglima tertinggi angkatan perang Yuan, juga sebagai kaisar dari generasi ketiga Dinasti Yuan, maka Shan-Yu diberhentikan dari tugasnya sebagai jenderal dan pemimpin Angkatan Perang Tionggoan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi mengingat jasa-jasa pengabdiannya selama ini, Shan-Yu masih diberi muka dengan ditugaskan sebagai wedana di pusat logistik militer Yuan di Yunan. Dengan begitu, praktis ia tidak punya kendali apa-apa atas militer Yuan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shan Yu mendendam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan ia menyusun siasat makar untuk melumpuhkan militer Yuan dengan bergabung diam-diam ke pihak pemberontak pimpinan Han Chen Tjing. Selama beberapa tahun, ia tetap sabar menjalankan tugasnya sebagai wedana di Yunan. Karena dari tugasnya tersebut, ia dapat dengan leluasa mengatur dan memainkan pasokan logistik bagi prajurit-prajurit Yuan di Ibukota Da-du dan daerah-daerah perbatasan Tionggoan-Mongolia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukan itu saja. Ia pun telah bersekongkol dengan kalangan pemberontak Han untuk mencuri beras-beras berkualitas unggul, dan hanya menyisakan beras-beras bermutu rendah untuk prajurit-prajurit Yuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pangkal pembelotannya telah menyebabkan melemahnya fisik prajurit-prajurit Yuan secara tidak langsung. Dan justru sebaliknya, merupakan kekuatan untuk kaum pemberontak Han yang mulai mengatur strategi penyerangan tak terduga suatu saat. Dalam masa-masa transisinya itulah Shan-Yu banyak memaparkan kelemahan militer Yuan. Juga titik-titik kekuatan dari prajurit-prajurit Kaisar Yuan Ren Zhan kepada Han Chen Tjing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shan-Yu juga menyerahkan peta-peta yang merupakan titik sentrum kekuatan militer Yuan. Kekuatan militer Yuan berasal dari atas bukit-bukit di sepanjang perbatasan Tembok Besar. Dari arah atas bukit, mereka memiliki dua ratus ribu prajurit Divisi Kavaleri Danuh yang bersenjatakan busur-busur dengan anak-anak panah beracun. Racun mahamematikan tersebut berasal dari Lembah Dewi Racun, daerah ngarai terpencil yang sudah lebih dari seabad ditempati oleh rahib-rahib perempuan beraliran Taoisme bernama Go Mei. Daerah lembah itu banyak ditumbuhi persik dari berbagai jenis, juga aneka tanaman berbisa seperti Mawar Berbisa dan Yang-liu Berbisa yang memiliki unsur racun mematikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penyerangan dari lembah menuju bukit perbatasan Tembok Besar sama juga bunuh diri. Karenanya, ia menyarankan untuk tidak menyerang dari sana. Tetapi memutar arah ke utara, menyeberangi Danau Baikal di perbatasan Mongolia, dan menyerang dari arah belakang setelah melewati Sungai Onon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Daerah titik penyerangan yang dimaksud memang tidak terlalu terkawal. Selain dianggap tidak strategis, gigir Sungai Onon juga diabaikan karena terlalu deras untuk dilalui. Pos-pos penjagaan di daerah itu hanya diawasi tidak lebih dari seribu prajurit Divisi Infanteri. Melumpuhkan prajurit jaga itu sama mudahnya dengan memitis mati seekor kutu. Strategi itulah yang akan digunakan untuk menyerang Dinasti Yuan tidak lama lagi setelah mereka berhasil menggalang dan menghimpun kekuatan besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meski memiliki banyak sumber daya manusia, tetapi pasukan pemberontak Han tidak didukung oleh fasilitas persenjataan yang memadai. Untuk menghadapi prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh, mereka memang harus menerapkan strategi jitu. Bertarung secara frontal dan terbuka dengan pasukan berpanah tersebut sama halnya dengan mengirim nyawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah yang dipikirkan Shan-Yu sebagai antisipasi sebelum menyerang Ibukota Da-du, di mana Kaisar Yuan Ren Zhan berdiam. Maka setelah merenung, ia mengusulkan kepada Han Chen Tjing sang Pemimpin Han untuk menyiapkan dan membuat zirah tameng buat pasukan Han nantinya. Zirah yang dimaksud adalah baju-baju seragam yang terbuat dari lempengan-lempengan kulit kayu pohon mahoni, yang menutup nyaris seluruh tubuh kecuali wajah para serdadu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cara itu dianggap efektif dan efisien untuk melawan prajurit Yuan, khususnya dari Divisi Kavaleri Danuh yang berdeterminasi tinggi. Selain itu, zirah tersebut bisa dibuat secepat mungkin dengan biaya sedikit. Semua serdadu Han dipersenjatai dengan tombak sepanjang dua meter, dan dilengkapi dengan sebuah tameng kayu elips yang terikat di lengan kiri sebagai penahan gempuran anak-anak panah beracun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tentu saja piranti persenjataan sederhana itu dianggap terbaik untuk dapat menandingi kehebatan prajurit Yuan dari Divisi Kavaleri Danuh. Pasalnya, lesatan anak-anak panah beracun tersebut tidak akan langsung menembusi tubuh pasukan Han.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain diharapkan meleset, anak-anak panah yang ditembakkan itu akan menancap pada zirah pasukan Han. Memang itulah sebagian dari strategi yang telah dipikirkan Shan-Yu jauh-jauh hari. Setelah itu, perlahan tetapi pasti mereka akan bergerak maju sembari menghabiskan semua persediaan anak-anak panah prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shan-Yu tersenyum dengan rupa menang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tepat pada saatnya nanti, pasukan Han akan menyerang frontal dan besar-besaran seperti sekawanan semut merah yang merayapi Tembok Besar dan mengarungi Sungai Onon - kemudian mendaki bukit-bukit Tung Shao untuk memangsa dengan ganas prajurit-prajurit Yuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia terbahak dengan suaranya yang khas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melengking menembusi dinding-dinding angkasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Diangkatnya pedang ular peraknya tinggi-tinggi. Diacung-acungkan dan diputar-putarkannya seperti propeler sampai dedaunan yang mengerontang di tanah beterbangan membentuk pusaran selebar kubah Istana Da-du.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kaisar Yuan Ren Zhan pasti tamat!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bersama Shang Weng, Fa Mulan baru saja berhasil memukul mundur pasukan Han yang menyemut di sebelah utara perbatasan Mongolia, di daerah gigir Sungai Onon. Mulanya, prajurit-prajurit Yuan dari Divisi Infanteri sudah tidak sanggup membendung kekuatan musuh yang terus membengkak. Untung bala bantuan dari Ibukota Da-du datang meskipun telat seminggu. Berkat kecerdikannya pula, Fa Mulan berhasil mengelabui musuh dengan taktik kamuflasenya. Kuda-kuda tanpa penunggang berjumlah ribuan ribu dengan prajurit-prajurit Divisi Kavaleri Danuh di depan membentuk pagar betis, telah menakuti pihak musuh. Taktik okhlosofobia yang jitu. Pasukan pemberontak Han mundur, menyangka Fa Mulan telah membentengi Tung Shao dengan ratusan ribu prajurit Yuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebelumnya, kurang lebih lima bulan lalu, di sebelah selatan dekat perbatasan Tembok Besar, prajurit-prajurit Divisi Kavaleri Danuh sudah dilumpuhkan oleh pemberontak Han pimpinan Han Chen Tjing. Mendengar kabar tersebut dari seorang prajurit intelijen, Fa Mulan nyaris berputus asa kala itu. Sama sekali tidak menyangka kekuatan raksasa prajurit Divisi Kavaleri Danuh dapat takluk dengan mudah. Tentu ada kekuatan tersembunyi pasukan pemberontak Han yang tidak diketahui para jenderal pakar stategi perang Yuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka kecolongan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia menggeram. Ia sendiri sebetulnya sudah kewalahan menghadapi pasukan Han yang dipimpin Shan-Yu di kaki bukit Tung Shao, sebuah daerah perbukitan yang ditimbuni salju setiap menjelang musim gugur. Selain karena hanya memiliki jumlah prajurit yang sedikit, daerah di sebelah utara perbatasan Mongolia itu sama sekali tidak terkawal oleh prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh - yang termasuk dalam jajaran pasukan elit Yuan. Di bukit-bukit Tung Shao hanya terlihat barak-barak prajurit Divisi Infanteri yang tidak terlalu tangguh. Menyadari hal itu, ia segera mengambil inisiatif melalui Shang Weng untuk meminta pusat militer di Ibukota Da-du mengirimkan prajurit elit guna melapisi zona tempur Tung Shao.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jenderal Gau Ming di Ibukota Da-du mulanya menolak permintaan pimpinan Kamp Utara itu. Alasannya, daerah selatan perbatasan Tembok Besar lebih memerlukan kehadiran prajurit-prajurit elit tersebut. Dengan dimutasikannya beberapa ribu prajurit dari daerah perbatasan itu, maka kekuatan yang diprakirakan dapat membendung gempuran pasukan pemberontak Han akan kewalahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Satu bulan kawat yang dikirimkannya melalui Bao Ling, Prajurit Kurir gesit berwushu tinggi mengambang tanpa balas. Rupanya jenderal pakar strategi perang itu tidak menyetujui permintaannya. Namun pada bulan kedua, setelah prajurit-prajurit Yuan mulai kewalahan, maka dikirimlah bala bantuan para prajurit elit tersebut. Bukan mutasi dari medan pertempuran di perbatasan Tembok Besar. Tetapi langsung dari Ibukota Da-du dengan risiko kekuatan tempur di Ibukota Da-du berkurang!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jenderal Gau Ming sama sekali tidak menyangka pasukan pemberontak Han akan menyerang dari arah belakang melalui gigir Sungai Onon. Pasukan pemberontak Han pasti memiliki penasehat militer yang berotak cemerlang, pikirnya. Berlapis-lapis prajurit dari Divisi Kavaleri Danuh dapat tumbang hanya dalam tempo enam bulan. Sesuatu hal yang rasanya muskil bagi pemberontakan rakyat jelata pimpinan Han Chen Tjing yang, tidak memiliki fasilitas memadai untuk membentuk militer handal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para pakar strategi perang Yuan memang tidak menyadari hal sepele tersebut. Fa Mulan sejak jauh-jauh hari telah menyadari kalau hal sepele itu dapat mendatangkan masalah besar. Hal itu terbukti ketika pasukan pemberontak Han perlahan-lahan telah menapak masuk ke wilayah kekuasaan Yuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: courier new; color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keterangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Liong = Naga.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Temujin = Nama kecil Genghis Khan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Kao Ching = Pendekar Danuh, anak angkat Genghis Khan yang akhirnya membelot setelah Mongolia berhasil mengusai Tionggoan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Persik = Prunus persica.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Sam Kok = Epos Tiga Kerajaan yang mashyur di Tiongkok, mengisahkan kepahlawanan Guan Yu yang sangat dihormati dan dipuja para Konfusiunisme - beberapa ribu tahun yang lalu, Guan Yu Sang Jenderal Besar Konfusius ini pernah terkena panah musuh dengan racun serupa. Namun akhirnya ia dapat selamat karena memiliki semangat hidup dan jiwa yang satria.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Next to Page 4 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/mulan-bab-3.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-6366999243655253304</guid><pubDate>Sat, 19 Feb 2011 12:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-19T20:19:41.818+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>MULAN Bab 2</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manakala waktu tak lagi berakal&lt;br /&gt;dan sang sunyi datang mengendap&lt;br /&gt;sebesar hitungan pada guguran yang-liu&lt;br /&gt;aku tak dapat lagi meraba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Tionggoan yang terluka&lt;br /&gt;tetapi para penyeru tak surut berseteru&lt;br /&gt;mungkin lain waktu&lt;br /&gt;taburan benih kebajikan&lt;br /&gt;akan menumbuhkan kinasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bao Ling&lt;br /&gt;Nyanyian Sunyi pada Pertempuran Suatu Fajar&lt;br /&gt;Setiap melintas di ruang tengah rumahnya, Fa Mulan selalu tersenyum sendiri. Di atas meja hyang para leluhur Fa, ia dapat melihat dengan jelas pedang ular perak Shan-Yu yang berhasil ditaklukkannya dengan susah payah, tersampir di dudukan pedang kayu mahoni dekat deretan nisan alwah para leluhur Fa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pedang itu bukan pedang biasa. Nyaris seberat seperempat berat tubuhnya. Pedang itu terbuat dari baja khusus dengan dua sisi mata pedang yang sangat tajam. Memanjang dengan tiga kelokan serupa tubuh ular. Dalam beberapa pertempuran, konon pedang milik jenderal batil itu dapat melumpuhkan tiga orang prajurit lawan sekaligus dengan sekali tebas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah sebabnya pedang ular perak sangat ditakuti banyak pendekar dari Dinasti Yuan. Termasuk beberapa pengawal khusus kaisar, jawara-jawara wushu yang berasal dari Yin-tin. Dua pengawal kembar kampiun kaisar, Lu Shan dan Lu Shen mati mengenaskan dalam sebuah pertarungan hebat di depan gerbang Istana Da-du.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Si Tombak Maut, Lu Shan tidak berdaya melawan kepiawaian sabetan pedang ular perak Shan-Yu. Nasib serupa pun dialami oleh Si Golok Setan, Lu Shen. Hanya dengan delapan jurus, sepasang pengawal kembar itu takluk dan bersimbah darah di tanah. Delapan jurus sebenarnya bukan waktu yang singkat untuk dapat melumpuhkan pendekar hebat sekelas mereka. Shan-Yu sebetulnya mendapat perlawanan sengit meski pada akhirnya ia dapat memenangi pertarungan satu lawan dua itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Posisi pasukan pemberontak Han sebetulnya sudah terdesak sejak Kaisar Yuan Ren Zhan meminta bantuan sahabatnya dari negeri putih Inggris, Sir Arthur Jonathan di London - melalui delegasi Perdana Menteri Shu Yong, untuk mengirimkan beberapa ribu pucuk Fo Liong dengan imbal barter emas batangan dan batu-batu delima asal Mongolia. Fo Liong yang merupakan ekuivalentik meriam, harafiah dari Naga Api itu memang sengaja didatangkan untuk memukul lawan dari arah utara dan selatan, yang berusaha melintasi Tembok Besar, dan bahkan beberapa di antaranya telah perlahan mendekati pusat Kekaisaran Yuan di Ibukota Da-du.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keampuhan teknologi perangkat perang modern dari Negeri Barat itu memang efektif melumpuhkan musuh-musuh. Pasukan pemberontak Han terdesak mundur. Namun sebagian perwira dan jasus handal dengan tingkat determinasi tinggi berhasil menerobos masuk ke dalam Ibukota Da-du.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu di antaranya adalah Jenderal Shan-Yu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasukan Han Chen Tjing yang kembali berusaha melewati Tembok Besar memang banyak gugur sebelum mencapai Ibukota Da-du. Pasca penghancuran prajurit Yuan dari Divisi Infanteri, pasukan Han sama sekali tidak menyangka akan mendapat perlawanan sengit dari prajurit-prajurit wamil dan ribuan prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong yang tangguh. Pasukan Han pun menipis. Dan ketika sampai di Ibukota Da-du, yang tersisa hanyalah beberapa perwira tinggi pemimpin pasukan Han.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berkat strateginya yang jitu, juga didukung oleh ilmu silatnya yang tinggi, Shan-Yu berhasil memasuki Istana Da-du. Di dalam Istana Da-du, sebelum bertarung dengan sepasang pengawal kembar - Lu Shan dan Lu Shen, ia dihadang oleh tujuh pendekar Butong. Mereka adalah garda terkuat setelah sepasang pengawal kembar tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jurus Formasi Tujuh Bintang pun digelar untuk menghadang laju Shan-Yu kala itu. Tujuh pendekar itu bergerak dinamis mengentak-entak lantai Istana Da-du, berputar-putar dan sesekali beterbangan gingkang membentuk jurus Menara Tujuh Pagoda - bersusun bahu per bahu. Pertarungan pun dimulai ketika tujuh pendekar itu menghunuskan pedang mereka masing-masing, melompat seperti katak ke arah Shan-Yu yang sudah menanti mawas dengan sepasang mata elangnya. Desingan-desingan dan denting pedang yang beradu di sekitar ruangan Kaisar Yuan Ren Zhan terdengar riuh. Shan-Yu menangkis setiap serangan dengan kibasan pedang ular peraknya. Kakinya membentuk kuda-kuda, menahan gempuran pedang pendekar Butong yang bertenaga dari segala arah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sementara pertarungan masih berlangsung, Kaisar Yuan Ren Zhan dengan dikawal oleh sepasang pengawal kembar dari Yin-tin segera melarikan diri lewat pintu rahasia belakang. Kaisar Yuan Ren Zhan mesti diselamatkan dari ancaman pembunuhan. Sepasang pengawal kembar itu bertugas menyelamatkan nyawa Sang Kaisar yang sudah di ambang kritis. Mereka melewati jajaran mayat dari kedua belah pihak yang bergelimpangan di tanah sebelum tiba di gerbang utama Istana Da-du. Di sana mereka disambut beberapa prajurit berkuda yang akan melarikan kaisar ke tempat aman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Istana Da-du yang megah itu masih terjadi pertarungan sengit. Shan-Yu tidak ingin membuang-buang waktu. Ia harus segera mencecar Kaisar Yuan Ren Zhan sebelum dilarikan oleh beberapa orang pengawal pribadinya. Kalau tidak, ia akan kehilangan segala-galanya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka dengan menggunakan ilmu pamungkasnya, Bisa Pedang Ular Sakti, dilumpuhkannya tujuh rahib pendekar dari Kuil Butong di Bukit Wudan, Tionggoan Tenggara. Pedang ular peraknya mematuk tanpa ampun, tepat di dahi ke tujuh pendekar rahib berseragam jubah kelabu tersebut hanya dengan gerakan Tiga belas Titik Simpul Mati, totok pedang andalannya. Ketujuh pendekar rahib beraliran Taoisme itu terkulai, lalu tersungkur tak berdaya mencium tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shan-Yu terbang segesit walet. Hinggap di atas tektum Istana Da-du setelah melewati tembok-tembok tinggi istana, berjalan dengan tubuh seringan repih rambun di atas genteng, lalu menukik cepat serupa lintang kemukus ke arah dua pengawal kembar Sang Kaisar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua silangan tombak dan golok dari Lu Shan dan Lu Shen menghadang gerakan Shan-Yu. Ia berhenti seperti capung dengan kedua belah tangan terpentang di udara. Menghindari tohokan tajamnya tombak berbisa Lu Shan dan sabetan golok besar Lu Shen yang, pada akhirnya hanya menerpa udara tanpa sasar. Sebuah jurus andalannya yang lain, Pedang Ular Terbang, menghindarinya dari maut!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan tanpa disangka-sangka kakinya menyepak udara, salto dan melesat lebih tinggi. Dikibaskannya pedang ular perak itu dengan gerakan konstan serupa propeler. Menukik ke bawah. Mengarah ke kereta tandu yang membawa Kaisar Yuan Ren Zhan kabur dari Istana Da-du, tepat simetris pada kepala Sang Kaisar di balik atap kereta tandu. Kedua pengawal kembar itu ternganga. Terlambat menyadari bahaya yang sudah di ambang mata!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nyawa Kaisar Yuan Ren Zhan sudah tinggal hitungan detak jantung!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sang Kusir berbalik dengan muka pucat. Mengayunkan pedangnya secepat kilat dengan sikap gugup, sampai sarung pedangnya terpental ke tanah. Ditahannya pedang ular perak Shan-Yu yang nyaris merobek tenda kereta tandu. Terdengar suara dentingan keras seperti dentangan martil mpu pedang yang sedang menempa baja di tungku bara. Pedang Sang Kusir mengerak sebelum patah menjadi dua. Sepasang pengawal kembar jawara wushu dari Yin-tin itu pun langsung melompat setelah menyadari pertarungan Sang Kusir sudah usai di sana. Dan ketika mereka tiba di atas samping kereta tandu, Sang Kusir yang juga merupakan pewushu handal itu telah tergeletak jatuh dengan dahi meretak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kusir pengawal lainnya segera menghela kekangan sepasang kuda unggul asal Mongol itu kuat-kuat diulahi dengan beberapa cambukan keras cemeti pada punggung kuda. Kuda-kuda itu melompat seperti terbang. Meninggalkan arena pertempuran yang berdarah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shan-Yu melompat dengan gerakan salto, hendak menyabetkan kembali pedang ular peraknya ke arah tenda kereta tandu. Tetapi ia sudah digebah oleh tohokan-tohokan tombak serupa angin puyuh Lu Shan. Dari arah belakang, kibasan-kibasan golok lebar Lu Shen juga mengobrak-abrik konsentrasi jenderal bermata tajam dengan sepasang alis bulan sabit itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jenderal pemberontak Han tersebut geram luar biasa. Kereta kuda Sang Kaisar sudah cukup jauh meninggalkan Istana Da-du. Ia mengamuk. Menebas-nebas pedang ular peraknya dengan gerakan selicin ular. Mematuk-matuk cepat seperti kobra. Dan sesekali terbang rendah mengitari kedua lawannya yang mulai kelelahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Partikel debu beterbangan seperti gemawan dalam radius pertarungan. Gemurat leher Shan-Yu menegang, mengembangkan otot-ototnya yang sekuat baja. Pedang ular peraknya bergetar. Lalu kembali terkibas-kibas seperti propeler. Ia ingin menyudahi pertarungan dengan target delapan jurus agar dapat mengejar Sang Kaisar yang mumpung belum keluar dari perbatasan Ibukota Da-du.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari jarak tak seberapa, Shan-Yu berdiri menumpu pada satu kaki serupa bangau dengan paruh yang siap mematuk mangsa. Pedang ular perak di tangan kanannya terjulur ke depan. Sementara itu tangan kirinya membentuk lengkungan busur di belakang kepalanya seperti hendak memanah. Sesaat kemudian tubuhnya terlontar disertai satu teriakannya yang melengking keras membelah keheningan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jurus Pedang Danuh yang diperagakannya mendorong tubuh Lu Shen sampai terseret tiga tindak ke belakang. Golok besar yang menahan tusukan pedang ular perak Shan-Yu itu membilur, memancarkan percikan lelatu setiap bersentuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lu Shan mencoba membantu saudara kembarnya dengan mengarahkan mata tombak ke bawah, ke arah kaki Shan-Yu. Namun Sang Jenderal Han itu rupanya sudah mengantisipasi serangan tersebut. Sepasang kakinya yang bersepatu alas baja menyepak-nyepak ujung mata tombak sehingga bergetar keras, menyebabkan badan Lu Shan terpelanting tanpa arah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Peluh membanjiri tubuh sepasang pengawal kembar adikong terbaik Sang Kaisar. Terik matahari siang yang memancar dari langit seperti mengembuskan udara permusuhan bagi pendekar wushu dari Yin-tin tersebut. Empat jurus terlewati. Peluh-peluh yang menitik di dahi kedua pengawal kembar itu perlahan menjadi musuh dalam selimut. Tetesannya yang merembes ke mata memang menjadi salah satu kendala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Shan-Yu memang sangat terkenal sebagai pendekar yang cerdik memanfaatkan situasi. Salah satu di antara pukulan taktisnya adalah gebukan pedang ular peraknya yang berat dan bertenaga, yang kerap menghabiskan tenaga-tenaga lawan yang menangkis gempuran membabi-buta darinya. Atau, semburan-semburan pasir ke mata lawan hasil kaisan-kaisan kakinya yang lincah di tanah. Juga kelengahan-kelengahan lawan yang sekecil apa pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memasuki jurus kelima, Shan-Yu berhasil mematahkan tombak Lu Shan dengan kepitan kakinya di tanah. Si Golok Setan Lu Shen tampak kalap, berusaha menebas kepala Shan-Yu saat Sang Jenderal Han itu mendesak kakak kembarnya. Shan-Yu merunduk sekaligus memasuki fase jurus keenam. Pedang ular peraknya terulur ke depan bersamaan dengan kelitan tubuhnya yang serupa elang, mengepak ke belakang dengan paruh tetap di muka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa helai rambut dari kucirnya tampak beterbangan kena tebas. Namun ia berhasil merobek paha Lu Shen sebagai balasan sehingga pengawal itu terundur, dan jatuh di tanah dengan lutut menopang badan. Lu Shan masih berusaha melawan meskipun tombaknya telah patah. Sejengkal mata tombak yang masih dipegangnya dihunus ke wajah tirus Shan-Yu. Tetapi kepala Sang Jenderal Han itu terlalu sulit dijangkau hanya dengan mengandalkan patahan tombak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia licin serupa kobra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lu Shen bangkit berdiri dengan ringisan kesakitan. Ia tertatih-tatih, mengacung-acungkan goloknya dengan jurus terakhirnya, Golok Pembunuh Naga - temurun silat Selatan ciptaan pendekar golok kesohor, Tio Sam Hong. Amukannya disertai sebuah teriakan yang membahana. Auman Singa Siluman, sebentuk paduan tenaga dalam yang sangat kuat dan bertenaga. Golok yang dihunuskan ke tanah tampak membelah disertai beberapa ledakan kecil serupa lelatu. Shan-Yu melompat dan terbang dengan jurus Pedang Ular Terbang-nya, menghindari belahan tanah seluas setengah depa yang siap menelan tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jurus ketujuh segera mengakhiri pertarungan. Masih beterbangan di udara, dihunuskannya pedang ular peraknya dengan sebuah dorongan chi gaib hasil persekutuannya selama ini dengan kekuatan hitam para arwah. Ada bolide sebesar biji kenari berderet keluar dari ujung mata pedang ular peraknya, menghunjam berkali-kali dada Lu Shen. Pendekar Golok Setan itu terhuyung dengan mulut memuntahkan darah. Dan Shan-Yu menyudahi pertarungan dengan totokan pedang ular peraknya di dahi pendekar jago golok dari Yin-tin tersebut setibanya ia di tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lu Shen menghambur ke arah Shan-Yu dengan hanya mengandalkan patahan tombaknya. Shan Yu yang sudah menginjak tanah kembali mengambang tiba-tiba. Pendekar jago tombak itu terperangah. Patahan tombaknya hanya menikam udara. Shan-Yu sudah berada simetris di atasnya, menatapnya dengan secuil senyum ganjil. Lalu dengan sebuah gerakan refleks, ia menukik seperti anak panah yang terlepas dari tembakan busur. Menikam tepat di batok kepala Lu Shan. Dan pendekar itu terkulai tak bernapas ke tanah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sertamerta Sang Jenderal bengis itu melompat ke atas kudanya tanpa menapak sanggurdi. Dikebutnya lari kuda dengan gebahan sepasang tumitnya ke perut kuda. Ia harus mengejar Kaisar Yuan Ren Zhan, membunuh lalu memenggal kepalanya untuk diserahkan sebagai upeti keberhasilan pemberontakan kepada pemimpin pemberontak Han, Han Chen Tjing. Salah satu generasi puak terpandang Han yang ambisius ingin merebut takhta kekaisaran menjadi kaisar dengan imbalan kursi perdana menteri bagi Shan-Yu - seorang jenderal pembangkang yang terbuang oleh kaisar generasi ketiga Dinasti Yuan, Yuan Ren Zhan. Kaisar yang kini menjadi incarannya, yang melarikan diri ke Kamp Utara pimpinan prajurit handal dan loyal, Kapten Shang Weng dan asistennya yang cerdik, Fa Mulan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keterangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Yang-liu = Sejenis bunga sakura (blossom flower) yang banyak tumbuh di daerah Tionggoan Selatan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Ying-tin = Sekarang Nangjin.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Fo Liong = Meriam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Da-du = Sekarang Beijing.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Han Chen Tjing = Pemimpin tertinggi Han, mengepalai secara rahasia sebuah organisasi bawah tanah bernama Kelompok Topeng Hitam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/mulan-bab-3.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" class="fullpost" &gt;Next to Page 3 &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/mulan-bab-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-274008068103174861</guid><pubDate>Sat, 19 Feb 2011 12:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-19T20:11:21.749+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>MULAN Bab 1</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya aku melakukannya&lt;br /&gt;bukan semata untuk Ayah&lt;br /&gt;tetapi untukku sendiri!&lt;br /&gt;sehingga sewaktu bercermin dulu&lt;br /&gt;aku melihat seseorang yang berguna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fa Mulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Pedang Naga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROLOG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dapat dilakukan seorang gadis belia seperti aku saat mengetahui bangsa ini di ambang maharana? Ketika menyadari kenyataan bahwa ayahku yang sudah tua masih saja harus mengangkat pedang menyongsong perang dan menghadapi musuh-musuh Dinasti Yuan? Sungguh, kenyataan itu demikian menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Fa Mulan. Lahir sebagai putri tunggal dalam Keluarga Fa. Mungkin aku akan menyesali diri, mengapa harus terlahir sebagai perempuan dan bukannya laki-laki. Ya, laki-laki. Laki-laki yang dapat melakukan segalanya, termasuk mewakili Keluarga Fa mengikuti wajib militer yang telah diamanatkan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan kepada seluruh rakyat Tionggoan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi kenyataannya aku memang perempuan. Dan aku tidak dapat mengubah takdir langit itu kepada saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hei, sekarang giliran kamu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sa-saya, Inspektur Tang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Iya, kamu! Memangnya siapa yang saya panggil?! Dari tadi saya lihat kamu melamun terus!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf, Inspektur Tang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nama kamu siapa?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mulan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hah, Mulan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa memangnya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jangan kurang ajar! Kamu ini calon wamil. Ditanya malah balik bertanya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Memangnya ada yang salah pada nama saya, Inspektur Tang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Cukup! Jangan membantah lagi! Benar nama kamu Mulan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Benar, Inspektur Tang. Anda bisa baca manuskrip yang saya bawa. Di situ jelas-jelas tertulis nama saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa nama kamu mirip nama perempuan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh, kalau hal itu saya kurang paham, Inspektur Tang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kurang paham bagaimana?! Jangan main-main, ya?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf. Sedari kecil saya memang diberikan nama perempuan, Inspektur Tang. Konon, waktu masih bayi saya sering sakit-sakitan. Untuk menghindari malapetaka, maka orangtua saya berinisiatif memberikan nama perempuan kepada saya untuk mengelabui setan-setan jahat yang suka memangsa orok laki-laki. Hihihi, lucu ya, Inspektur Tang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Cukup, cukup! Jangan ketawa! Tidak ada yang lucu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf, Inspektur Tang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Di sini tertulis marga kamu Fa. Apa betul?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Betul, Inspektur Tang. Nama lengkap saya Fa Mulan. Fa yang berarti bunga, dan Mulan yang berarti Magnolia. Bunga Magnolia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jangan cerewet! Saya tidak menanyai kamu soal itu. Bukan hanya kamu yang perlu saya daftar sebagai prajurit wamil. Lihat antrian di belakang kamu sudah sepanjang Tembok Besar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh, maaf, Inspektur Tang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Terlahir dari ayah bernama Fa Zhou dan ibu bernama Fa Li. Apa betul?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Betul, Inspektur Tang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hei, Fa Zhou adalah ayah kamu?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Betul, Inspektur Tang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, ampun! Ternyata, kamu adalah anak Fa Zhou."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh, jadi Inspektur Tang mengenal ayah saya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya. Ayah kamu adalah sahabat saya semasa perang dulu. Dia purnawirawan prajurit Yuan yang sangat loyal. Dalam sebuah pertempuran bersama saya, kaki ayah kamu terluka oleh sabetan pedang musuh. Sebelah kakinya pincang selama-lamanya. Oleh karena itulah ayah kamu pensiun dari militer. Yah, mungkin juga karena usianya yang memang sudah tua."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Wah, rupanya Inspektur Tang bukan orang lain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, ya. Saya dan ayahmu sudah seperti saudara sekandung."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau begitu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hei, tapi setahu saya Fa Zhou tidak memiliki anak laki-laki!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"O-oh, mung-mungkin...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mungkin karena Inspektur Tang khilaf. Menyangka saya yang laki-laki ini perempuan karena bernama perempuan. Bukankah begitu, Inspektur Tang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hm, mungkin. Mungkin."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nah, benar bukan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mungkin. Mungkin saya memang lupa. Hm, rupanya saya memang sudah tua."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Betul, betul! Anda memang sudah tua, Inspektur Tang!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Fa Mulaaaaan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Siapa lagi nama pemuda itu, A Lang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Namanya Tong Hui Kong, Nyonya Fa!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh, ya, ya. Ah, saya selalu lupa nama calon suami untuk Mulan, A Lang. Yah, semoga dia pemuda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;yang baik."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jangan khawatir, Nyonya Fa. Pemuda itu berasal dari keluarga terpandang. Orangtuanya sangat kaya. Saya yakin dia merupakan suami yang paling tepat untuk Nona Fa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, ya. Semoga mereka cocok. Supaya saya dapat lekas menimang cucu laki-laki."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Fa Li Calon Suami untuk Putriku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;TIONGGOAN (1208-1244 M)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Satu kalpa setelah pembebasan Tsun Gokong dari kurungan goa Dewata di langit, maka layaknya fenomena alam yang sering terjadi, meledaklah sebuah bintang mahabesar ke segala penjuru jagad raya nan pekat gulita. Partikel debu berpencaran, mengelana membentuk sebuah kehidupan baru. Maka terbentuklah semesta hasil nova. Bimasakti, sebuah galaksi raksasa dengan paradigma kehidupannya yang baur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gadis itu embusan dari langit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia diberi kekuatan terpendam chi Dewata. Setangkai kembang Magnolia Dewata yang diturunkan dari nirwana untuk meluruskan sebagian dari sejarah manusia yang babur. Para pembatil yang mengisi bumi dengan pertumpahan darah. Dan ketika kekuasaan memporak-porandakan peradaban, maka ia hadir sebagai pahlawan. Sebuah predestinasi yang telah digariskan oleh Sang Khalik. "Mulan...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Putri tunggal Keluarga Fa itu berlari seperti biasa. Ditinggalkannya teko berisi teh hijau yang baru saja hendak diseduhkan untuk ayahnya. Teriakan yang lebih menyerupai lengkingan itu mesti digubris, melalaikan rutinitas pagi atas inisiatif pengabdian terhadap ayahnya. Kalau tidak, pasti ada teriakan lain yang datang susul menyusul seolah tanpa henti. Teriakan berarogansi yang lebih berisik dari sangkakala sepanjang lima depa milik para Lama Tantrayana di Kuil Potala, Tibet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia masih berlari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dilewatinya selasar halaman tengah rumah sampai berhenti di ruang dalam rumah. Perempuan gemuk itu sudah menanti dengan wajah berkerut seperti kulit jeruk yang meringsing. Berkacak pinggang sembari menatap nanar ke kedalaman sepasang matanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dilihatnya perempuan bernama Fa Li itu menggeleng-geleng kepala. Cetusan tingkah antipati tersebut sudah terbaca dalam benaknya bahwa, ibunya itu tidak senang melihat sikap seorang Fa Mulan, putri tunggalnya. Namun, sedari dulu juga perempuan itu memang begitu. Sebab, ia sadar, ia memang keras kepala lantaran tidak mau manut barang sebentar pun menjadi perempuan sesuai keinginan ibunya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nyaris sepanjang hidup, perempuan itu berharap sangat agar anak gadisnya dapat menjadi perempuan. Tetapi rupanya Dewata bergeming, mungkin begitu pikirnya. Anak gadis satu-satunya tumpuan harap jauh panggang dari api. Asanya lantak berderai. Apa yang salah pada dirinya? Mungkinkah ada benang merah kesalahan dan dosa masa lalu yang pernah dilakukannya sehingga membuahkan karma buruk pada kehidupannya sekarang?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mulaaaaan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sabar sedikit, Ibu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dilihatnya perempuan itu mengentakkan kakinya ke lantai. Ya, Dewata! keluhnya. Ia benci melihat hal itu. Suatu kebiasaan yang tidak terpuji. Ya, tidak terpuji. Sebab ia tahu benar, kalau sudah begitu, maka serentetan kalimat bernada sinis akan keluar dari mulut lebar ibunya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan apa yang telah terbayangkan sebelumnya memang telah menjadi kenyataan. Sekedip mata kemudian perempuan bertubuh besar itu pun telah misuh-misuh serupa bunyi tutup teko tembikar akibat ruapan air mendidih di atas tungku api.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada apa, Ibu?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak lahir, ia memang tidak pernah dianggap. Pasalnya, ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan mengharapkan sang Janin akan terlahir laki-laki. Perempuan itu mengidam-idamkan anak laki-laki. Karena, hanya laki-lakilah yang dapat meneruskan kelangsungan marga Fa. Namun semua angan perempuan itu melayang ke langit kala mendapati kenyataan bahwa sang Janin yang dilahirkannya ternyata berkelamin perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, Dewata!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alangkah kecewanya perempuan itu sampai-sampai pernah mengutuk dan mengatakan kalau sang Bayi mungil tersebut merupakan jelmaan iblis yang memangsa janin laki-laki yang dikandungnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudah dua hari Shang Weng tidak mengunjungimu. Ke mana dia?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia mengembuskan napas keras. Sejenak mematung serupa sano. Pandangannya mendadak verba seiring sontak umpat yang berloncatan di benaknya. Ya, Dewata! Sungguh, sungguh keliru ia menafsir apa yang menjadi sumber kegusaran ibunya yang tidak beraasan hari ini. Sumpah, disangkanya ada serbuan asing dari pasukan pemberontak Han yang sudah takluk, kembali lagi ke barak-barak mereka di Utara, atau invasi Mongolia ke Da-du yang untuk sementara berhasil digagalkan. Namun, ternyata hanyalah pertanyaan kiasan selitani prosa Lao Tzu, yang sudah dihapalnya dalam benak sampai terbawa mimpi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk itu, ia menggerutu dalam hati. Terus-terang, ia tidak mau bersitegang dan beradu mulut dengan ibunya lagi. Sekian belas tahun, setiap hari dan setiap waktu, pertengkaran merupakan warna dalam hidupnya. Pertengkaran sudah menjadi ritualitas yang mesti dimafhumi. Sungguh, ia sudah lelah. Sangat lelah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shang Weng yang dimaksud ibunya itu tidak lain adalah pemimpin para prajurit di Kamp Utara, Tung Shao. Bersamanya, mereka bahu membahu melawan pasukan pemberontak Han pimpinan Han Chen Tjing yang berkonspirasi dengan Jenderal Shan-Yu untuk menggulingkan kekuasaan Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia tahu, setelah ibunya mengetahui Shang Weng jatuh hati kepadanya, maka sontak perempuan nyinyir itu menganggap hal tersebut merupakan anugerah yang terindah dalam hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tentu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama ini, ibunya pasti sudah bosan mendengar rumor tetangga tentang statusnya yang masih melajang. Dan sudah barang tentu pula sebagai 'ibu yang baik', perempuan itu tidak ingin putrinya dijuluki perawan tua. Saban hari ibunya diresahkan dengan masalah calon pendamping dan calon pendamping yang belum kunjung tiba untuk putri tunggalnya. Padahal, gadis-gadis sebaya seorang Fa Mulan sudah banyak yang dipinang orang. Berstatus istri, menjadi ibu rumah tangga, dan melahirkan anak laki-laki yang lucu-lucu serta montok-montok. Sudah sekian tahun pula perempuan itu pasti merindukan dapat menimang seorang cucu. Cucu laki-laki!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun, ia sadar, renjana indah ibunya itu ambyar setelah mengetahui seorang Fa Mulan malah berkorban mendaftarkan diri sebagai prajurit wamil, menggantikan ayahnya yang sudah tua. Ya, Dewata! Meski tidak melihat sendiri, ia tahu perempuan itu pasti menangis tiga hari tiga malam sampai-sampai airmatanya mengering.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukan karena sedih takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap seorang Fa Mulan, tetapi lebih karena semua harapannya, menimang cucu laki-laki, telah hancur berantakan. Bukan itu saja. Ia menangis sejadi-jadinya karena sadar kalau anak gadisnya yang baru jalan tujuh belas itu bahkan, akan semakin menjadi laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia sibuk mengurus negara!" jawabnya enteng menanggapi pertanyaan ibunya yang kesusu. "Mana bisa hanya mengurusi Fa Mulan seorang saja?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sibuk?!" Perempuan bernama Fa Li itu balik bertanya, mengerutkan kening, membentuk empat garis tipis pada dahinya. Ya, Dewata! Di matanya, perempuan itu tampak lebih tua dari usia Tembok Besar. "Tapi, sudah dua hari dia tidak ke rumah kita!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dua tahun juga tidak apa-apa!" timpalnya dengan kalimat seringan gingkang. "Baru juga dua hari tapi Ibu seperti kebakaran kucir saja!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Eh, anak ini!" Dilihatnya kembali perempuan itu berkacak pinggang. Matanya semelotot ikan maskoki. "Ditanya...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Habis...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau Ibu menanyai kamu, itu berarti Ibu peduli sama kamu! Itu berarti Ibu sayang sama kamu! Bukannya sok mengatur hidup kamu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Iya, tahu!" Ia mendengus, melengos dengan rupa tidak senang. "Kapan Ibu tidak mengatur hidup saya?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Eh, tega-teganya kamu bilang begitu kepada Ibu, ya?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Memang dia lagi sibuk!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mulan!" Perempuan separo baya itu menghela napas, matanya mendelik dan memejam hampir bersamaan. "Kalau ditanya, jangan membangkang begitu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia mengusap wajah. "Habis, saya harus bilang apa, Ibu?! Semua perkataan saya selalu salah. Apa-apa pasti salah!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ingat, Ibu marah demi kebaikan kamu juga."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kebaikan apa kalau selama ini saya selalu merasa tersisih, disudutkan sejak dulu. Ibu memang tidak pernah bersikap adil terhadap saya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, Mulan?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh, jadi apa yang selama ini Ibu lakukan untuk saya semata-mata demi membahagiakan saya?!" Ia membeliak, sedikit merasa gusar saat kenangan lama masa kanak-kanaknya yang terkekang oleh kelakuan seorang Fa Li mengiang kembali di benaknya. "Apakah kelakuan Ibu yang otoriter itu dapat dianggap membahagiakan hidup saya?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu terlalu naif menanggapi didikan keras Ibu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ibu bukan mendidik keras supaya saya disiplin, bukan itu! Tapi apa yang Ibu lakukan terhadap saya selama ini merupakan ketidakadilan. Ya, ketidakadilan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Cukup, Mulan!" bentak perempuan itu. "Jangan mentang-mentang kamu sudah jadi orang dan pahlawan Yuan sehingga berani melawan Ibu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Saya tidak melawan Ibu. Saya bukan membantah Ibu. Tapi saya hanya ingin Ibu membuka mata atas apa yang telah Ibu lakukan terhadap saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh, Dewata nan Agung!" Dilihatnya dengan ekor matanya ibunya mendongakkan kepala, seperti menerawangi atap rumah untuk berbicara dengan Sang Penguasa Langit nun jauh di atas sana. "Beginikah hasil yang saya peroleh setelah bersusah-payah membesarkan anak ini?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudahlah, Ibu. Jangan meratap-ratap seperti anak kecil begitu lagi. Percuma. Dewata tidak akan menggubris tangisan Ibu. Dewata pasti tahu kelakuan Ibu yang tiran sejak dahulu kala terhadap saya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, Dewata!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setiap hari perempuan bertubuh besar serupa guci air itu marah-marah. Seolah-olah seorang Fa Li sedang melakoni satu peran sebagai ibu tiri dalam sebuah opera. Dan seorang Fa Mulan adalah anak tirinya yang mesti ditimpali dengan amarah. Entah karma apa yang telah ditanamnya pada masa lampau sehingga menuai ironi di masa sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mulan! Tega-teganya kamu bersikap begitu terhadap Ibu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dilihatnya perempuan separo baya itu berlari ke sudut ruang. Mengempaskan pinggulnya yang besar ke bangku, serta menelungkupkan kepalanya yang sebesar lampion ke atas meja kayu. Ia tersedu. Menangis sesenggukan tanpa airmata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia mencibir dari belakang. Ibunya selalu begitu. Kalau sudah terdesak, maka ia pasti mengeluarkan airmata, meraung-raung seperti bayi. Lalu skenario berikutnya, ia akan menjerit-jerit dan memukul-mukul dadanya sembari menyebut sederet nama leluhur Keluarga Fa. Leluhur Keluarga Fa yang sudah mengembara ke alam baka. Leluhur Keluarga Fa dari generasi pertama sampai mutakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Herannya, perempuan itu dapat menghapal ratusan bahkan ribuan nama berantropologi Fa! Jadi kalau sudah begitu pula, ia pasti mendengar seorang Fa Li merunut nama sesepuh Fa satu per satu, seperti malaikat penjaga kubur sedang membaca daftar nama orang yang sudah meninggal, yang antri hendak ke nirwana!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh, para leluhur Keluarga Fa! Karma apa yang saya perbuat hingga putri kandung saya sendiri, Fa Mulan, berani menentang saya?! Oh, dosa dan kesalahan apa yang telah saya perbuat pada kehidupan yang lalu sehingga ditimpakan kesengsaraan ini?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudahlah, Ibu! Tidak usah bermain opera begitu! Toh Ibu tidak bakal terpilih lagi sebagai protagonis. Sekarang, Ibu bukan lagi Dewi Purnama. Ibu sudah tua!" Perempuan itu semakin meraung-raung seperti bayi. Ya, Dewata! Entah apa yang harus ia perbuat kini. Rasa-rasanya, ia sudah tidak sanggup menghadapi tingkah kekanak-kanakan ibunya itu meski ia tahu, semua tingkahnya tersebut hanya pura-pura. Sekian belas tahun diakrabinya kelakuan tengil ibunya sehingga tahu aktualitas dan kebohongan yang hanya setipis sebilah rambut. Apologis dan pembantahan hanya akan merunyamkan masalah. Lalu pada akhirnya, bukannya menyudahi kelakuan tengilnya, perempuan itu malah semakin menjadi-jadi. Ia akan memukul-mukul papan meja dengan kedua belah telapak tangannya dan sesekali membentur-benturkan kepalanya di atas papan meja, pelan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia tahu, akar permasalahannya bermuasal dari sini. Karena ia perempuan. Bukan laki-laki. Ya, Dewata! Sepele memang. Namun efek yang ditimbulkan dari genderisasi tersebut telah menjadikannya orang yang terbuang dari Keluarga Fa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seingatnya, nyaris tidak ada persoalan serius dalam keluarganya. Tetapi bagi ibunya, sebuah persoalan sepele apa pun yang menyangkut seorang Fa Mulan akan mendatangkan kiamat. Terlambat bangunlah. Cucian yang hilang di sungailah. Terlalu dekat dengan teman laki-lakilah. Sampai cara ia tertawa, berbicara, dan berjalan pun selalu mendatangkan kritik serta masalah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Masih terngiang pula, sarat beban yang mesti dipikulnya sebagai seorang gadis yang beranjak akil-balig empat tahun silam sebelum ia menyusup dan menyamar sebagai laki-laki ke dalam kamp militer Yuan. Menikah di usia belia merupakan pilihan dan jalan satu-satunya dalam hidupnya sebagai seorang perempuan. Sebuah beban psikis yang tidak pernah dapat diterimanya dengan legawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia dibentuk untuk menjadi perempuan yang sesungguhnya . Ia ditempa untuk menjadi 'orang lain', yang manut pada aturan baku dan leluri. Namun jujur ia tidak bisa. Ia memberontak. Dan sengaja menggagalkan acara penjodohan dengan laki-laki pilihan ibunya-seorang pemuda dari puak terpandang atas perantara seorang makcomblang bernama Liem Sui Lang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu ketika semuanya lantak berderai, pembantahannya yang tanpa apologi tersebut ditimpali dengan seribu serapah. Ia dipukul dan diusir oleh ibunya dari rumah. Pembelaan untuknya justru selalu datangnya dari Fa Zhou, ayahnya yang lembut dan baik hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Anak tidak tahu diri!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudahlah. Jangan menghukum Mulan sedemikian beratnya. Pernikahan tanpa didasari cinta bukanlah tindakan bijak. Mulan berhak menentukan pilihannya sendiri. Kalau dia belum siap menikah, sebagai orangtua, kita tidak boleh memaksakan kehendak. Biarlah jodoh Mulan diatur oleh Dewata. Bukannya kita!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tahu apa kamu tentang Mulan, Fa Zhou!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, pada dasarnya ia tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain. Ia tidak bisa menjadi perempuan kemayu yang ditingkahi feminitas palsu. Ia tidak bisa bersandiwara. Ia ingin menjadi dirinya sendiri. Ia ingin menjadi seorang Fa Mulan yang ceria dan dinamis, tidak diikat oleh sebuah pranata gender. Ia adalah seorang Fa Mulan yang enerjik, bukan gadis pendiam serupa arca yang hanya tahu mengurusi tetek bengek rumah tangga - melahirkan dan mengasuh anak, serta menjadi budak seks bagi sang Suami di atas ranjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurutnya, seorang gadis tidak mesti melulu berurusan dengan rumah tangga dan dapur. Banyak hal yang dapat dilakukan seorang gadis. Pasungan pranata telah melukai demikian banyak hati perempuan. Mereka mati perlahan-lahan dalam kurungan emas sangkar madu. Semestinya, seorang gadis tidak boleh dijajah lagi oleh adat istiadat yang meleluri. Seorang gadis harus memberontak. Seorang gadis harus merombak kultur gender yang sudah mendarah daging di Tionggoan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Itulah sebabnya ia selalu diam-diam mempelajari ilmu silat keluarga Fa, satu hal yang amat tabu bagi kaum perempuan, Pedang Naga Fa dari kitab kuno karangan leluhur Keluarga Fa. Sebuah mustika terpenting yang disimpan ayahnya di salah satu tumpukan buku sejarah Keluarga Fa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dulu, ketika ayahnya berlatih wushu, ia selalu mengintip dari balik tembok ruangan khusus tempat latihan. Selang berikutnya, ia menghapal kemudian memperagakan ilmu silat yang dilihatnya diam-diam tadi di dalam kamarnya. Dikembangkannya beberapa jurus yang dianggap lebih dinamis. Setelah itu memperdalam lantas memperkaya salah satu jurus keluarga Fa, Telapak Fa yang dahsyat. Bahkan, juga menciptakan sendiri jurus-jurus baru. Di antaranya adalah Tinju Bunga Matahari yang gemulai tetapi bertenaga, dan Tinju Hong Terbang yang gesit dinamik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun lepas dari semua itu, ia memang bukan gadis tipe calon ibu rumah tangga yang baik. Ia tidak memiliki fisik ideal seperti dambaan banyak lelaki. Ia tidak memiliki pinggul besar yang diyakini dapat memberikan banyak keturunan dan anak laki-laki kepada sang suami, seperti kultur orang-orang Tionggoan selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pinggulnya kecil. Dadanya nyaris rata. Tidak ada sepasang bukit daging yang menggumpal menggiurkan, salah satu andil libido dan ereksi pada penis laki-laki selama ini. Tubuhnya terlalu kurus. Bahkan terlalu kerempeng sehingga menyerupai toya. Dan tingkahnya tidak gemulai layaknya gadis-gadis lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia sadar pula kalau ibunya pernah menyesali memiliki putri seperti seorang Fa Mulan. Ibunya tidak pernah bersikap manis kepadanya. Ibunya tidak pernah menunjukkan rasa sayang layaknya ibu sejati kepada anaknya yang tunggal. Tidak ada afeksi dari perempuan gemuk itu seperti dambanya selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hanya ayahnya sajalah yang sangat mencintainya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hanya ayah pulalah yang sering memberinya semangat untuk tetap tegar setelah diantipati oleh ibunya. Juga ayahlah yang menghiburnya setelah gagal pada acara penjodohan beberapa tahun lalu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bunga-bunga bermekaran pada musimnya. Namun, kadang-kadang ada bunga yang terlambat mekar pada saat itu. Tapi kelak bunga yang terlambat mekar tersebut akan menjadi bunga terindah. Ya, bunga terindah. Dan kamulah bunga itu, Mulan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setiap mengingat kalimat subtil itu, Fa Mulan langsung menitikkan airmata haru. Ayahnya merupakan pahlawan dan guru terbaik dalam hidupnya. Karena itulah ia akan berbuat apa saja demi membahagiakan lelaki tua tersebut. Bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun seperti yang telah dilakukannya empat tahun lalu. Saat itu ia menggantikan posisi ayahnya mengikuti wajib militer yang diamanatkan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan dari Dinasti Yuan, agar seluruh keluarga di Tionggoan wajib mewakilkan seorang putra menjadi prajurit untuk menghadapi serbuan pasukan pemberontak Han yang sudah melintasi Tembok Besar. Juga gangguan-gangguan kaum nomad Mongol di perbatasan Tionggoan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan apa yang dikatakan oleh ayahnya itu memang telah menjadi kenyataan. Ia telah menjadi pahlawan perempuan yang menyelamatkan Tionggoan dari kehancuran. Kaisar Yuan Ren Zhan generasi ketiga penerus Kekaisaran Yuan telah menganugerahinya gelar Prajurit Besar Yuan. Mengalunginya dengan sebuah Medali Naga yang terbuat dari emas murni. Itulah simbol dan penghargaan tertinggi yang belum pernah diperoleh siapa pun di Dinasti Yuan. Bunga yang terlambat mekar itu telah mengembang. Menyerbakkan keharuman yang tiada tara ke seluruh penjuru negeri Tionggoan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketangguhan itu telah ditunjukkannya kepada ibunya. Bahwa seorang perempuan yang bernama Fa Mulan adalah bunga keluarga. Ia adalah berkah dari segala yang pernah dikutuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia adalah pahlawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: courier new; font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/mulan-bab-2.html"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Next to Page 2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/mulan-bab-1.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-9167320450424769042</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 04:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T11:25:37.372+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>SEINDAH MATA KRISTALNYA</title><description>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen Karya Mayoko Aiko&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam bergulir perlahan. Detak jarum jam dinding di kamarku terdengar jelas. Kota Jakarta terlelap dalam tidur. Hanya sesekali terdengar raungan kendaraan. Menggerung keras lalu lenyap ditelan kesunyian.&lt;br /&gt;Pukul dua dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyeka sebuah luka memar di sekitar kelopak mataku dengan air hangat. Bekas luka pukulan itu, setelah seminggu perlahan-lahan mulai hilang.&lt;br /&gt;Kini aku menatap wajahku sendiri di dalam cermin. Kenapa itu kamu lakukan, Renaldi? Kenapa kamu mati-matian membela gadis itu? Kenapa kamu tidak pernah berkompromi kepada seseorang yang telah membuat mata bening milik gadis itu mempunyai pesona lain dalam hatimu, Renaldi? Ataukah, kamu mempunyai perasaan khusus pada gadis itu yang sampai saat ini masih kamu sembunyikan? Yang sampai detik ini tidak pernah kamu ungkapkan?!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hei, Janna. Kamu tahu tidak kenapa aku sampai saat ini terus memanggilmu, Kristal?" Suatu hari enam bulan lalu menjelang pelajaran matematika aku membisikkan kalimat itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna menatapku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena aku anak Mama yang ke mana pun pergi selalu diantar dan dijaga?" sahut Jannya yakin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku menggeleng sembari tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena aku merupakan kaum hawa, yang sering diidentikkan oleh kaummu sebagai penghias dunia kan?" Janna melirikku. Membuka tas sekolah dan mengeluarkan diktat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tertawa. Lantas menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dih, memangnya aksesoris?" ledekku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna mengernyitkan keningnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena aku seorang gadis yang hatinya mudah patah berkeping-keping seperti kristal?" pancingnya, bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lagi-lagi aku menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apaan dong, Re?" Janna penasaran. Menatapku beberapa saat, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena kamu mempunyai mata bagus dan sebening kristal," jawabku kemudian sembari menikmati mata indah milik gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna membelalak. Mencubitku gemas sambil menggigit bibirnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jujur, Na. Matamu bagus. Bening bak telaga. Juga teduh. Malah kadang-kadang aku sering berkaca di bola matamu itu," kubiarkan wajah Janna tersipu-sipu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tinggi semampai, wajah terkesan aristokrat, dan bermata bagus, itu kesan pertama ketika aku mengenal Janna. Ia memang favorit di sekolahku. Ramah dan supel. Kesannya yang cuek dan tidak pernah memilih-milih teman, membuat Janna tumbuh menjadi cewek favorit di SMA-ku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu tahu apa yang ada di dalam hatiku saat ini, Kristal?" Mataku menatap lurus ke depan. Memperhatikan Pak Tito yang mulai sibuk memeriksa pe-er yang diberikan hari kemarin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa, Re?" bisik Janna lirih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak ingin seorang pun yang akan melukai mata bagus itu." Aku tersenyum. Melindungi kupingku dari cubitan Janna dengan buku diktat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Trims, Re. Kamu memang sahabatku yang terbaik." Tanpa melirikku, Janna meluncurkan kalimat itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keakrabanku dengan Janna, sudah terjalin sejak kelas satu SMA. Malah sebagaian teman-teman menyangka kalau Janna adalah cewekku. Tetapi aku tidak pernah berpikir untuk itu. Tekadku waktu itu hanya satu. Aku ingin menjadi sahabat Janna yang terbaik. Tanpa menodai rasa persahabatanku itu dengan perasaan cinta yang sering berakhir dengan kebencian. Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku hanya ingin melihat mata kristal Janna itu terus bersinar cerah. Bibir sensualnya terus berceloteh riang. Itu saja keinginanku. Meskipun aku sempat menangkap sinyal kalau sebenarnya Janna sering memberiku lampu hijau untuk mengubah persahabatan itu menjadi hubungan yang lebih khusus. Tetapi ternyata aku ragu. Takut kalau suatu saat aku melukai hati Janna. Takut kalau suat saat aku akan menorehkan sembilu di hati gadis itu dan membuat mata kristal miliknya berubah kelabu. Sampai suatu saat Janna mengatakan padaku kalau Bian, anak II.3.B, yang sejak kelas satu mengejarnya dengan sabar, telah menjadi bagian dari hari-hari Janna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah hal itu terjadi, di hati kecilku, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang hilang. Dan aku yakin sesuatu itu adalah Janna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;JANGAN SAKITI HATINYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu semuanya memang berubah. Hari-hari Janna memang tak pernah tersisa lagi untukku. Aku lebih banyak berdiam diri, dan berusaha keras untuk tidak bertegur sapa. Hanya sesekali aku meliriknya jika kebetulan melewati meja Janna. Janna pun demikian. Tampaknya ia tahu akan sikapku. Ia terus menghindariku. Tak pernah lagi mengajakku ke kantin, ke perpustakaan. Aku pun maklum karena Bian selalu ada di sampingnya. Hampir enam bulan hal itu terjadi. Sampai suatu saat aku melihat mendung menggayut di wajah Janna. Dan hal itu membuat hati kecilku tidak tega melihatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu punya maslah, Kristal?" Usai pelajaran fisika, aku menghampiri meja Janna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mata Janna sejenak berbinar menatapku. Sesaat kemudian mendung kembali menggelayut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Re, kita ke kantin, ya?" Bibir sensual itu tersenyum ragu. Ini adalah senyum pertama yang diberikan Janna setelah sekian bulan kami tak bertegur sapa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu mau traktir aku, Kristal?" tanyaku sembari membantu memasukkan buku-buku pelajaran yang berceceran di meja belajarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada yang ingin kubicarakan," jawab Janna. Jari lentiknya menyalin rumus terakhir Teori Einstein dari papan tulis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Punya problem, Kristal?" tanyaku lagi. Meraih tas sekolahnya dan memasukkan ke dalam laci meja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Problem apa?" Kutatap wajah manis Janna. Ada kerinduan meledak di relung hatiku. Mata itu, Tuhan! Betapa aku sangat merindukan itu! Tapi kenapa mata kristal itu berubah kelabu?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kita bicara di kantin saja ya, Re?" rujuk Janna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Terlalu privacy?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna mengangguk lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kantin pasti ramai. Bagaimana kalau kita ke cafe Pelangi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oke, Re. Kita ke cafe," jawab Janna seraya menggandeng tanganku keluar dari kelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;CINTA MEREKAH DI PENGHUJUNG LARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cafe Pelangi terletak persis di seberang jalan dari sekolahku. Cafe mungil itu merupakan tempat favorit yang kusinggahi bersama Janna. Tempatnya asri. Ada musik lembut dari tiupan saksofon Kenny G., yang kadang-kadang diselingi hentakan cadas kelompok band Linkin Park. Aku sengaja memilih tempat di sudut cafe. Hanya ada seorang pengunjung yang terlihat santai menikmati jus apel dan sebatang rokok. Lelaki separo baya itu terlihat santai dengan dunianya. Sesekali menyedot sigaret di bibirnya lalu asapnya dihembuskan ke langit-langit cafe. Asap rokok itu melayang-layang sejenak lalu melesat dan lenyap lewat jendela cafe.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu mau pesan apa, Kristal?" Aku mulai membuka-buka daftar menu yang tergeletak di atas meja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu masih memanggilku Kristal, Re?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku akan terus memanggilmu, Kristal," sahutku. Menelusuri wajah aristokrat yang telah berbulan-bulan tidak pernah lagi kutatap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oya, mau pesan apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak pesan apa-apa, Re," sahut Janna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Teh botol, ya?" tawarku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Terserah kamu saja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku memesan dua teh botol dan dua bungkus kentang goreng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sekarang kamu ingin membicarakan apa?" Aku memulai pembicaraan serius usai menyerahkan pesanan kepada pelayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna menatapku sejenak. Gadis itu masih terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan masalahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Soal Bian, Re." Akhirnya bibir sensual itu terbuka dengan berat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bian?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teh botol dan kentang goreng pesanan tiba di meja kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada apa dengan Bian?" tanyaku serius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna menatapku dengan wajah murung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia selingkuh, Re." Bibir sensualnya bergetar. Dua butir bening menggelinding dari matanya. Merembes lamat di kedua pipinya yang putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesuatu mengiris ulu hatiku!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mengambil tisyu dan mengeringkan cairan bening itu dari pipinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku sedih mendengarnya. Kamu tahu, Kristal. Aku kadang sering berdoa agar hubungan kamu dengan Bian abadi," kalimatku mengambang. Aku menjangkau teh botol dan membasahi kerongkonganku dengan cairan manis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna menatapku tak berkedip. "Aku sendiri tidak tahu, Re. Kenapa Bian tega melakukan itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada isak tangis di sela-sela kalimat Janna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu yakin Bian mengkhianati kamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku memergoki sendiri, Bian berjalan dengan mesra dengan seorang cewek."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mungkin itu saudaranya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bukan, Re. Saat itu juga aku menghampiri Bian. Dan Bian mengatakan kalau sebenarnya dia tidak mencintai aku!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tersedak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Begitu?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, Re. Menyakitkan. Aku seperti sampah tak berguna di depan cewek Bian yang baru. Aku malu, Re." Kini aliran sungai dari kelopak mata itu mengalir deras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Berarti Bian itu berengsek, Kristal! Dan, aku ingin memberi pelajaran padanya!" Sesuatu meledak di hatiku, memaksaku mengatupkan geraham dan mengepalkan tangan dengan keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ja-jangan, Re!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kristal, aku pernah berjanji, aku tidak ingin siapa pun melukai hatimu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tahu, Re. Tapi bukan itu yang aku inginkan." Janna menghela napas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di luar cafe, angin bergerak gemulai. Menggoyang-goyangkan pucuk flamboyan dengan sesekali menerbangkan bunga-bunga dari rantingnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku hanya ingin meminta maaf, Re. Selama ini aku telah membuat jarak dengan kamu," ucap Janna lembut. Menatapku untuk beberapa saat dengan mimik bersalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lupakanlah, Kristal. Aku maklum."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu masih menganggap aku sahabat, Re?" Janna menatapku dengan sungguh-sungguh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mengangguk. "Kamu masih sahabatku yang terbaik, Kristal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesuatu kembali berkelebat di kelopak mata Janna. Mata bening itu kembali bersinar ceria. Dan aku menikmatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;SESUNGGUHNYA AKU CINTA KAMU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Siang, sepulang sekolah aku sengaja meninggalkan Janna. Bersembunyi di kantin lalu menunggu kelas Bian bubaran. Aku telah berjanji akan memberi pelajaran buat Bian yang sok playboy. Yang telah dengan lancang dan sengaja mencampakkan cinta tulus Janna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tepat pukul satu kelas Bian bubaran. Buru-buru aku berlari dan menjejeri langkah cowok bertubuh gempal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa kamu khianati, Janna?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku cegat langkah Bian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wajah cowok itu tersentak, sejenak, lalu menghentikan langkahnya. Ditatapnya mataku tajam, lantas tersenyum dengan pongah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, Tuhan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rasa-rasanya ingin kulayangkan sebuah tinju ke hidungnya yang bangir!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu ingin menjadi pahlawan?" lontarnya seringan kapas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teman-teman sekelas Bian mengerubuti aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pukul, Bi!" teriak salah seorang teman Bian yang berdiri di sisi Bian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hajar!" Satu lagi kawan sekelas Bian membakar hati Bian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tanpa diselingi teriakan yang ketiga, Bian si Jagoan Sekolah melayangkan pukulan yang sangat keras ke wajahku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku terhuyung sesaat karena tidak menyangka Bian akan bergerak secepat itu. Beruntung sebuah tiang menahan tubuhku. Lalu aku membalas, menghajar Bian dengan tendangan kempo. Bian terhempas oleh cangkungan kakiku tadi, tampak meringis berusaha menahan sakit. Namun secepat kilat tubuhnya yang gempal itu menerkam aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Siswi-siswi yang melihat adegan itu menjerit-jerit ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Napasku tersengal saat tubuh kekar Bian menghimpitku. Berkali-kali bogem mentah miliknya hinggap di wajahku. Sampai suatu saat beberapa guru memisahkan perkelahian satu lawan satu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya, Bian dan aku diskors satu minggu akibat perkelahian memalukan itu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun aku tidak menyesal, meski harus dikeluarkan dari sekolah sekalipun!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Membela dan melindungi Janna adalah harkat tertinggi dalam hidupku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tidak ingin ada orang yang menyakiti hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak siapa pun!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jam di ruang tengah berdentang satu kali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku melirik jam di dinding kamarku. Pukul setengah tiga dinihari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kini mataku tertuju pada sebuah foto yang kupasang di dinding kamarku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Foto Janna yang sengaja aku perbesar dan menjadi hiasan manis di kamarku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kutatap untuk beberapa saat sampai hatiku berbisik:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;'Tuhan, apakah aku mencintainya?!'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);" class="fullpost"&gt;SAMA-SAMA CINTA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mula-mula sinar matahari pagi yang menyentuh mataku. Kepalaku terasa berat karena aku tidur terlambat. Hari Sabtu ini aku memang tidak masuk sekolah. Ini hari terakhir masa skorsku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku bangkit dari ranjangku, dan sudut mataku tertumpu pada makhluk manis dengan seragam putih abu-abu sedang duduk di meja belajarku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kristal?!" Mataku membelalak tak percaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudah bangun, Re?" tanyanya sembari tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu tidak sekolah?" tanyaku heran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Janna menggelengkan kepala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tadi ke sekolah sebentar. Tapi ada acara kerja bakti. Aku telepon ke sini. Kata Mama kamu, kamu belum bangun. Lalu, aku minta izin sama guru piket mengurai dalih sedang ada urusan keluarga, tidak ikut kerja bakti. Lalu, jadilah aku kemari," urai Janna ceria, mengangkat bahunya mengaba 'tidak apa-apa, kan?'. Mata beningnya bergerak indah. Menatap sesuatu yang tertempel di dinding kamarku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mengikuti pandangan mata kristal itu. Dan mukaku merah. Aku telah melakukan kebodohan. Foto besar Janna yang tertempel di dinding itu lupa kusimpan — tentu saja, karena siapa yang menyangka cewek itu akan datang mendadak lantas duduk sekarang di hadapanku!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mungkin kamu tidak akan percaya, Re, kalau aku juga menempel foto kamu di dinding kamarku," ungkap Janna dengan suara tertahan. Pipinya nampak memerah. Tetapi dia cepat mengalihkan paras wajahnya yang 'malu' itu dengan bergerak ke arah jendela, menarik gordin dan mementangkan daun jendela. Angin pagi yang sejuk menerobos masuk ke dalam kamarku yang mungil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku terdiam, terkesima dengan pengungkapannya yang jujur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Selama ini kita sama-sama muna kan, Re?!" Janna mengalihkan pandangannya dari jendela ke wajahku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tertunduk. Tak berani menatap sepasang bola mata kristalnya yang tengah memancarkan kesungguhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku takut melukai hati kamu, Kristal! Untuk itu, aku tidak pernah mengingkan sesuatu hal yang lebih dari sekadar persahabatan. Meskipun sebenarnya aku...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu tidak pernah berterus terang, Re!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sori, Re. Aku...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu mencintai aku kan, Re?!" Janna berjalan mendekatiku, duduk di samping saat tiba di gigir ranjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku terkesiap. Tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memang pengecut. Tidak pernah jujur dengan isi hatiku sendiri sehingga menciptakan tirai maya yang memenjarakan aku dalam siksaan yang luar biasa sakitnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ak-aku...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tak perlu kamu katakan, Re! Dari sikapmu, tatapanmu, aku tahu kalau sebenarnya kamu mencintaiku!" Mata beningnya menatapku tajam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mengangkat wajah. Mencoba membalas tatapannya yang tulus. Dan beberapa saat kemudian kami saling berpandangan. Lama. Lama sekali. Tiba-tiba ada senandung indah menggelepar di ruang hatiku. Senandung cintakah itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tersenyum. Menikmati kerjapan bening mata kristal milik Janna, dan membiarkan senandung cinta itu mengalun indah di hatiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Indah, seindah mata kristalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" class="fullpost" &gt;TAMAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/seindah-mata-kristalnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-3153338685386974857</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 04:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T11:20:08.880+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Pastikan Dia Jangan Menunggu</title><description>&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Cerpen Karya Siauw Phing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;SI PETASAN INJAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Mas Ray!"&lt;br /&gt;Petasan injak itu lagi!&lt;br /&gt;"Lho, kok Mas Ray cuek begitu sih?" Kishi menarik kursi ke dekat Ray. "Aku kan nggak pernah dapat B. Selalu C, itu pun setelah belajar sampai jungkir balik."&lt;br /&gt;"Kalau tidak bisa kimia, kenapa nekat masuk Perminyakan?"&lt;br /&gt;"Kalau tidak masuk Perminyakan, tidak akan ketemu Mas Ray kan?" Kishi tersenyum manis.&lt;br /&gt;Gadis ini! gerutu Ray dalam hati. Selalu saja bisa menangkis semua kata-katanya. Ray menoleh. Menatap ke arah Kishi sekilas. Gadis itu bahkan tidak menyadari kalau kehadirannya benar-benar mengganggu konsentrasi Ray.&lt;br /&gt;"Kemari cuma mau lapor hasil ujianmu?"&lt;br /&gt;"Mas Ray keberatan aku datang kemari, ya?" Kishi menatap profil samping Ray. Cowok itu masih saja menatap lurus ke arah kanvasnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bisa kan menjawab pertanyaan dulu sebelum bertanya balik?" tegur Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi terkekeh. "Habis, Mas Ray nanyanya seperti mau ngusir."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku memang mau mengusirmu! geram Ray dalam hati. Setiap Kishi muncul, lukisannya pasti terbengkalai. Tidak pernah selesai. Ada-ada saja permintaan gadis itu. Minta diajari kimia. Mencari buku. Kaset. Nonton bioskop. Segalanya, bahkan sampai makan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan dengan caranya sendiri, Kishi selalu berhasil membuat Ray menuruti keinginannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray sudah makan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku belum. Temani aku makan keluar, yuk."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku sedang melukis," tolak Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nanti kan bisa diteruskan lagi. Ayo dong, Mas Ray! Tidak kasihan melihatku kelaparan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu kan bisa makan sendiri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ah, mana enak makan tanpa teman."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa tidak makan dulu sebelum kemari?" gerutu Ray tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku mau traktir Mas Ray. Kan ujianku dapat B karena diajari Mas Ray."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak minta bayaran. Simpan saja uangmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray kok menolak niat baik orang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lukisanku belum selesai."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nanti bisa dilanjutkan. Kutemani, deh."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak usah," tolak Ray cepat. "Nanti malah lebih tidak selesai."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;CINTAKAH DIA?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nanti ke rumah Ray?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mungkin. Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tito mengeluarkan amplop coklat dari dalam ranselnya. "Titip ini buatnya. Dan ingatkan dia, Kish. Wisudanya bulan depan. Dia harus datang mengurus administrasi. Jangan lupa bawa foto."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oke."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Trims." Tito melambai sambil menjauh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa harus kamu yang merawat bayi besar itu?" tanya Warnie setelah Tito berlalu. "Mengingatkannya makan. Bahkan sekarang mengingatkan untuk acara wisudanya. Sementara dia sendiri tidak ingat apa-apa selain melukis."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bayi besar yang mana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tentu saja Ray! Siapa lagi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oo." Kishi tersenyum manis. Kalau bukan aku, siapa lagi? Lagipula, Mas Ray banyak membantuku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kimia?" Warnie mencibir. "Sebenarnya tanpa dia pun kamu bisa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Biar saja. Mas Ray toh tidak keberatan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa yang kamu cari darinya, Kish?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak ada."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu tidak sedang jatuh cinta padanya, kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu terlalu cepat menjawab."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jatuh cinta? Kishi bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dia cuma merasa senang berada di dekat Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa dia tidak terlalu tua untukmu, Kish?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu ini bicara apa, sih?!" Kishi mendelik. Mulai sebal dengan Warnie yang nyinyir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku cuma kasihan melihatmu. Selama ini selalu kamu yang menghampirinya. Memperhatikannya. Apa dia pernah bertindak sebaliknya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi terdiam. Memang tidak pernah, jawabnya dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak menuntut apa pun," sanggah Kishi. Tapi dia tahu hatinya tidak yakin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu tidak jujur."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jangan bicara lagi, Nie!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau kamu menghindar terus, semua bisa terlambat. Dia terlalu tua untukmu. Kamu bahkan baru duduk di semester pertama sementara Ray sudah lulus."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kami cuma berbeda lima tahun!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lebih baik mencari yang seumur denganmu. Yang mendekatimu banyak, Kish. Buat apa mengejarnya terus kalau dia tidak mencintaimu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak bilang aku jatuh cinta padanya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Suatu saat pun kamu pasti sampai pada kesimpulan itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kish, aku bisa bicara begini karena aku kenal Ray dengan baik. Aku sudah berteman dengannya sejak dulu. Bahkan saat dia masih bersama Ika. Dia sangat mencintai gadis itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tahu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bahkan mungkin sampai sekarang," lanjut Warnie hati-hati. "Kukatakan ini karena aku tidak mau kamu terperangkap. Kamu teman baikku, Kish. Aku tidak mau melihatmu terluka tanpa ada yang bisa kulakukan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu dia harus apa?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dia bahkan tidak tahu apa benar dia jatuh cinta pada Ray, seperti yang dikatakan Warnie? Namun hati kecilnya membenarkan sebagian besar yang dikatakan Warnie.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa dia harus mencoba menjauh dari Ray, sekadar mencari tahu apa Ray peduli padanya? Lalu bagaimana kalau ternyata Ray memang tidak mencarinya, kalau ternyata bagi cowok itu seorang Kishi memang bukan apa-apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi tidak berani membayangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia bahkan tidak berani memikirkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;SEGALANYA TENTANG RAY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray melangkah ke dalam. Melewati ruang makan dan terhenti di dapur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mam!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hai, Ray. Dari mana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jalan-jalan sebentar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tadi Kishi kemari. Lebih dari sejam menunggumu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada pesan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia tinggalkan memo dan amplop. Mama taruh di atas kulkas."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray menjangkau atas kulkas dan menemukan secarik memo kecil tertindih amplop coklat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Titipan Tito. Katanya bulan depan Mas Ray diwisuda. Bawa foto dan urus administrasinya di sekretariat. Kishi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemajuan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray tersenyum tipis. Biasanya gadis itu tidak pernah cukup menulis memo dengan selembar kertas kecil begini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudah makan, Ray?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tadi sudah makan di jalan. Ray ke paviliun dulu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oo, hampir lupa." Mama meninggalkan blendernya. Menghampiri Ray, menatap putranya lembut. "Ada tamu untukmu. Dia sudah hampir setengah jam menunggu. Katanya mau menunggu di paviliun saja. Jadi Mama biarkan dia di sana."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kishi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ika."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray tertegun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Temuilah, Ray. Ada yang harus diselesaikan antara kalian."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Semua sudah selesai," gumam Ray tak bergeming. "Dia sudah memilih jalan hidupnya. Untuk apa kembali?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia berhak memberi penjelasan." Mama mendorong Ray lembut. "Temuilah. Kalau kamu masih mencintainya, kenapa harus menolak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Saya sudah tidak mencintainya lagi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena Kishi?" Mama tersenyum. "Atau karena menuruti kemarahanmu saja?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kishi cuma anak kecil."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tapi kamu bahkan tidak bisa menolak kehadirannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mam!" Pusing di kepala Ray bertambah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray tidak ingin menemui Ika sebenarnya. Biar saja gadis itu menunggu di paviliun sampai bosan. Ray bisa berbaring di kamarnya di atas. Tapi itu tak akan menyelesaikan segalanya. Biar pun Ray menghindar, tetap saja masih ada yang tersisa antara kami, batinnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;RAY DAN IKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ray!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kapan kembali?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kemarin. Aku meneleponmu tapi kamu keluar. Jadi hari ini aku kemari."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ika masih saja cantik, seperti dulu. Lebih cantik malah. Tapi membuat Ray merasa sangat asing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Masih suka melukis, Ray?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Seperti yang kamu lihat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kudengar kamu sudah lulus. Selamat, ya? Kapan wisudanya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bulan depan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Genggaman tangannya pun sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang sudah terasa lain. Ika yang kembali sekarang bukan seperti Ika yang dilepasnya pergi dulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tempat ini tidak pernah dibereskan, ya?" Ika mengalihkan pembicaraan. Mencoba mencairkan kedinginan Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kadang-kadang." Kalau Kishi datang dan Ray tidak sedang melukis. Ray akan berselonjor di sofa panjang, mendengarkan kicauan petasan injak itu dan membiarkan gadis itu menata paviliunnya sesuka hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana kalau kita keluar, Ray?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf, aku capek."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kutemani di sini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tempat ini kotor."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tak apa. Aku ingin melihatmu melukis lagi seperti dulu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimana bisa, sementara suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa cita-citamu berubah?" tanya Ray dua tahun yang lalu saat Ika memutuskan berangkat ke Amsterdam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kesempatan ini jarang sekali datang, Ray. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu disodorkan padaku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Juga kalau itu berarti kita berpisah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Cuma sementara!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tapi kamu bahkan tidak bisa memastikan kapan akan kembali. Bagiamana kalau kamu tidak kembali?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku pasti kembali."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sampai kapan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak lama!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Atau kamu ingin aku menunggu seumur hidup?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ray!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kuliahmu sudah setengah jalan, Ika."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bisa kulanjutkan kalau aku kembali."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Asal kamu kembali belum jadi nenek-nenek."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu tidak suka aku pergi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya! Aku tidak suka kamu membuang semua yang sudah kamu miliki hanya untuk mengejar sesuatu yang baru. Yang tidak pasti!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak membuangnya, Ray. Aku cuma menunda. Aku tak akan tahu kalau tidak pernah mencoba."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana kalau kamu gagal?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku bisa kembali, dan meneruskan kuliahku yang di sini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Asal kamu tidak terlambat. Asal pintu belum tertutup rapat saat kamu kembali."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray tidak bisa mengerti. Tidak bisa memahami. Ika sudah punya segalanya. Keluarga. Cita-cita yang bakal diraihnya dalam dua tahun mendatang. Ray yang mencintainya, yang didapatnya setelah menyingkirkan tidak sedikit saingan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan sekarang Ika bermaksud meninggalkan semua demi sebuah kesempatan ke Amsterdam. Hanya karena gadis itu menerima tawaran untuk hidup dan belajar musik di Negeri Kincir Angin itu. Tawaran dari salah seorang pamannya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Musik?! Astaga! Ray tahu betul, Ika tidak pernah berminat pada dunia yang satu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak bisa menghalangimu. Aku cuma berharap, kamu sudah kembali sebelum semuanya terlambat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Termasuk dalam hal memperoleh kembali hati Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Siapa Kishi, Ray?" Ika meraih diktat Kishi yang tergeletak di atas lemari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Adik angkatan." Ray mengambil diktat itu dan meletakkannya di atas lemari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia sering kemari? Kok bukunya ada di sini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bukan urusanmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tentu saja urusanku kalau semua belum terlambat." Ika menatap Ray sambil tersenyum. "Belum terlambat kan, Ray?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;AIRMATAKU MENITIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada telepon untuk Kishi, Mam?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak." Mama mendongak, menatap Kishi sambil berkerut. "Kamu nunggu telepon dari siap sih, Kish? Penting ya sampai nanyain tiap hari?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi tersenyum pahit. Menggeleng perlahan. Jadi Warnie benar. Dia memang tidak berarti apa pun untuk Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sudah lebih dari sebulan Kishi tidak lagi menemui Ray. Terakhir adalah saat Kishi mengantarkan amplop titipan Tito. Itu pun Ray tidak ada di rumah. Dia hanya ditemani Mama Ray. Setelah itu Kishi menjauh. Mencoba menahan diri. Dia harus tahu, apa memang ada yang bisa diharapkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi ternyata tidak! Sama sekali tidak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray tidak mencarinya. Tidak menelepon. Tidak datang ke rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin dia memang harus melupakan. Tidak usah mengharapkannya. Tapi bisakah? Sebulan ini saja Kishi sudah merasa kehilangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oya, Kish. Tadi Warnie datang. Katanya, mau pinjam diktat organik buat kuis besok. Mama suruh cari sendiri di kamarmu. Tapi katanya tidak ada."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tertinggal di tempat Ray saat Kishi memaksa cowok itu mengajarkannya sebelum ujian kemarin. Dan dia lupa mengambilnya kembali untuk dipinjam Warnie besok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kishi pergi dulu, Mam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lho, baru pulang kok mau pergi lagi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ambil diktat di rumah teman. Kasihan Warnie, besok dia perlu sekali."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekalian mengambil semua barangnya yang tertinggal di paviliun Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray ada, Mbok?" Rumah besar itu sepi saat Kishi tiba di sana. Cuma Mbok Tinah yang menyambutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada di paviliun, Non. Biasa, sedang melukis. Masuk saja ke dalam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi melangkah masuk. Menyusuri taman belakang yang luas sebelum sampai ke paviliun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi tertegun di ambang pintu. Batal melangkahkan kaki untuk masuk. Merasakan seluruh dunia berputar balik. Dan dia terjebak dalam pusaran tanpa henti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray menoleh. Mendapatkan Kishi tertegun di ambang pintu. Dia bisa membaca seluruhnya. Keterkejutan. Kesakitan. Semua di mata itu. Perlahan dilepaskannya pelukannya pada Ika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kishi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf, aku tidak tahu kalau Mas Ray ada tamu." Kishi mencoba tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tak apa." Ray menghampiri. Tenang seperti biasa. "Oya, kenalkan. Ini Ika. Ka, ini Kishi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi melebarkan senyumnya. "Maaf mengganggu. Aku cuma mau mengambil barang-barangku yang tertinggal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Berserakan di mana-mana."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak penting, kok. Cuma diktat itu yang mendesak. Bisa tolong ambilkan, Mas Ray?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray meraih diktat organik Kishi di atas lemari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Terima kasih. Aku pulang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi berbalik cepat. Melangkah cepat melintasi taman belakang rumah Ray.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kish!" kejar Ray. "Katanya mau mengambil barang-barang yang lain?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak begitu penting. Bisa tolong dikumpulkan dulu, Mas Ray? Nanti kuminta Warnie mampir mengambilkannya. Dia suka lewat sini kalau pulang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa tidak diambil sendiri?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku sibuk. Sudah hampir ujian semester. Harus belajar keras."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak ingin kuajari seperti biasa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nanti mengganggu Mas Ray. Lagipula, aku harus mandiri kan?" Kishi tersenyum lagi. Menyamarkan semua rasa yang sempat terlihat Ray tadi. "Aku pulang, Mas."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kuantar, Kish."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hampir setahun berada di dekat Ray, menghampirinya selalu, Ray tidak pernah menawarinya mengantar pulang. Pun setelah seharian Kishi menemaninya di paviliun. Atau membereskan paviliun yang seperti kapal pecah. Ray bahkan tidak pernah mengantar sampai ke depan rumah, tempat Kishi memarkirkan mobilnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu kenapa baru sekarang, setelah segalanya terlambat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku bawa mobil."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kuantar sampai depan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak usah. Mas Ray kan ada tamu. Tuh sudah ditunggu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hati-hati, Kish."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi mengangguk. Ray bahkan tidak pernah berpesan seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di dalam mobil, airmata Kishi mengalir deras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;HATIKU PATAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mau tolong aku, Nie?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau pulang lewat rumah Mas Ray, kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kadang-kadang. Memangnya kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau lewat, tolong mampir sebentar. Ada beberapa barangku yang tertinggal di tempatnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Warnie menoleh. Menatap Kishi dengan dahi berkerut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada apa denganmu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak ada." Kishi tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa harus aku yang datang? Bukan kamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku sibuk. Mesti belajar untuk ujian semester."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Biasanya minta Ray yang mengajarkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Merepotkan dia saja."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hei, ada apa denganmu?" ulang Warnie heran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi menarik napas panjang, menunduk sedikit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu benar. Aku memang bukan apa-apa untuk Mas Ray."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oo, Kish." Warnie memeluk Kishi. "Dia mengatakan itu padamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku melihatnya sendiri. Ika kembali."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia bilang akan kembali pada Ika?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray tidak menjelaskan apa-apa. Aku melihatnya memeluk Ika. Apa itu tidak menjelaskan segalanya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kish!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi menelan ludahnya dengan susah payah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Seharusnya aku mengerti sejak dulu," ungkapnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau saja kamu mau mendengarkan aku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya. Tapi tidak ada gunanya memang. Sudah selesai. Semua." Kishi tersenyum pahit. "Jangan lupa, ya? Tolong ambilkan barangku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mau titip sesuatu untuk Ray?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tak akan ada gunanya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nah, itu dia pulang!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi tertegun di ambang pintu. Mama berdiri dari duduknya. Menyambutnya. Tapi yang membuat Kishi bingung adalah kehadiran Ray di ruang tamu sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ke mana saja, Kish? Sudah ditunggu lama, tuh."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jalan-jalan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tante tinggal ke dalam ya, Ray."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray mengangguk. "Terima kasih, Tante."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pandangannya dialihkan ke Kishi setelah Mama gadis itu menghilang. Sementara Kishi masih saja berdiri di tempatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa melihatku seperti melihat UFO?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi tertawa kecil. "Tumben Mas Ray kemari? Ada apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mengantarkan barang-barangmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PASTIKAN DIA JANGAN MENUNGGU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Seharusnya Mas Ray tidak perlu repot-repot begini. Sampai mengantarkan segala. Aku sudah minta tolong Warnie."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Warnie datang kemarin. Tapi aku katakan, ingin aku antar sendiri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada yang penting?" Kishi duduk di hadapan Ray. Menatapnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau tidak penting, tidak boleh menemuimu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bukan begitu. Biasanya Mas Ray kan...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak pernah mencarimu, apa lagi sampai ke rumah?" potong Ray tersenyum. "Selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tak apa. Melukis toh bukan hal yang jelek."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bukan itu. Maksudku...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi menunduk. "Aku mengerti."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Seharusnya aku bisa lebih memahamimu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak perlu. Pahami saja keinginan Mas Ray." Kishi menelan ludah pahit. "Sudah terima amplop coklat yang kutitipkan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tito bilang, itu panggilan kerja untuk Mas Ray."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray mengangguk. "Pertambangan minyak di Batam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray terima?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Menurutmu bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak punya pendapat untuk itu." Kishi menggeleng. "Kenapa tidak bertanya pada Mbak Ika?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ika?" Ray memajukan tubuhnya. "Karena kamu melihatku memeluknya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sebenarnya bukan cuma itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa lagi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak ingin membicarakannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu belum tahu secara pasti bagaimana aku dengan Ika. Kenapa langsung memutuskan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Itu masalah pribadi Mas Ray. Kenapa aku harus tahu?" elak Kishi. "Kenapa harus dibicarakan padaku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena kamu tersangkut di dalamnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku?" Kishi tertawa. Pahit. "Aku bukan apa-apa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau kamu bukan apa-apa, dia tak akan cemburu. Ika bukan tipe orang yang bisa menyerah begitu saja sebelum bertanding."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak perlu ada pertandingan. Toh memang sudah ada pemenangnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu!" Ray mengultimatum. "Kamulah pemenangnya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pembicaraan apa ini? Mas Ray ngawur!" Kishi bangkit. Bagaimana dia bisa tahan duduk berhadapan begitu dan membiarkan Ray mempermainkan perasaannya, mengobrak-abriknya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Duduk, Kish. Aku belum selesai."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa lagi?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku diwisuda besok."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lalu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mau mendampingiku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa tidak minta pada Mbak Ika?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ika lagi, Ika lagi!" Ray menggeleng kesal. "Aku minta padamu! Bukan Ika!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa yang Mas Ray inginkan sebenarnya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Waktu Ika meminta kembali, aku tidak tahu kenapa tidak ada lagi yang bisa kuberikan padanya. Di hatiku sudah tidak ada namanya lagi. Di hatiku hanya ada kamu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku bukan apa-apa bagi Mas Ray. Aku bukan apa-apa...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena aku tidak pernah membalas semua yang kamu berikan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Memang tidak harus, kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kishi, waktu kamu ke paviliun saat itu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak ingin mendengar penjelasan Mas Ray tentang alasan memeluk Mbak Ika seperti itu. Itu urusan Mas Ray."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Urusanmu juga." Ray menatap tajam. "Aku perlu menanyakan ini, Kish. Sebelum kuputuskan ke Batam atau tidak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray akan ke Batam?" Kishi menatap Ray tanpa menyadari matanya menyimpan kepanikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tergantung jawabanmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, bukan Ika! Please, jangan bicarakan dia lagi. Kita sedang mendiskualifikasikan dia." Ray menarik napas sejenak. "Kamu ingin aku pergi ke Batam dan terikat kontrak yang memisahkan kita begitu lama?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi tak tahu harus menjawab apa. Kalau menuruti kata hatinya, maka dia ingin menjawab tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mas Ray ingin pergi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagiku, kerja di manapun sama saja kalau tidak ada kamu. Tapi kalau ada kamu, kupilih kerja di sini. Sudah ada perusahaan lagi yang menawariku. Kalau kamu ingin kita tidak berpisah, minta aku jangan pergi!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kishi mendongak. Menatap hitamnya mata Ray yang bagus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak ingin Mas Ray pergi," ucapnya pelan. "Aku...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ray menarik gadis itu ke dalam pelukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tak akan pergi," jawabnya pasti. "Aku tak akan pergi!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);" class="fullpost"&gt;TAMAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/pastikan-dia-jangan-menunggu.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-4307371092596773354</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 04:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T11:27:06.135+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Cahaya Bulan (Moonlight)</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen &lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;u&gt;Karya &lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;u&gt;Guy de Maupassant&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Madame Julie Roubere tengah menanti kedatangan kakak perempuannya, Madame Henriette Letore, yang baru saja kembali dari perjalanan ke &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 102, 0);font-family:courier new;" &gt;Negeri Swiss&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh keluarga Lotere melancong semenjak lima minggu lalu. Madame Henriette mengizinkan suaminya pulang sendirian ke kampung halamannya di Calvados, karena ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan, dan menghabiskan beberapa malam di Paris bersama kakaknya. Malam berlalu. Dalam keheningan yang senyap, Madame Roubere asyik membaca dengan pikiran kosong, sesekali menaikkan alis matanya setiap kali mendengar suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pintu rumahnya diketuk, dan kakaknya muncul dalam balutan jaket tebal. Dan tanpa salam formal, mereka berpelukan penuh kasih dalam waktu yang cukup lama, melepaskan pelukan sebentar lalu saling memeluk lagi. Kemudian, mereka saling menanyakan kabar, keluarga dan ribuan hal lain, menggosip dan saling menyela, sementara Madame Henriette sibuk melepas jaket dan topinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam cukup gelap. Madame Roubere menyalakan lampu kecil, dan tak lama kemudian, dia acungkan lampu itu ke atas untuk menatap wajah kakaknya, lalu memeluknya sekali lagi. Namun, betapa terkejutnya dia saat menatap wajah kakak tercintanya itu. Dia mundur dan tampak ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di kepala Madame Letore tampak dua gepok besar rambut putih. Sisanya, rambut itu tampak hitam pekat berkilauan dan di setiap sisi kepalanya terdapat dua sisiran keperakan yang menyusur ke tengah gumpalan rambut hitam yang mengitarinya. Dia baru berumur 24 tahun, dan tentu saja perubahan ini benar-benar mengejutkan dia semenjak kepergiannya ke Swiss.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tanpa bergerak sedikit pun, Madame Roubere menatap penuh keheranan, titik-titik air mata menetes ke kedua pipinya. Pikirannya berkecamuk, bencana apa yang telah terjadi pada kakaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia bertanya, "Apa yang terjadi padamu, Henriette?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang sedih, senyum seseorang yang patah hati, Henriette menjawab, "Tidak ada apa-apa. Sumpah. Apakah kamu sedang memperhatikan rambut putihku ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi Madame Roubere keburu merampas pundaknya, menatapnya tajam, dan mengulangi pertanyaannya lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa yang terjadi padamu? Ayo katakan, apa yang telah terjadi. Dan jika kamu berbohong, aku pasti akan mengetahuinya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka masih saling pandang, dan Madame Henriette, yang terlihat seolah-olah hendak pingsan, meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adiknya bertanya lagi, "Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi? Ayo jawab aku!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan suara patah-patah sambil tersedu, Henriette menjawab, "Aku … aku punya seorang kekasih."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika sedikit lebih tenang, ketika degup jantungnya yang keras mulai mereda, dia memasrahkan kepalanya ke dada adiknya seolah-olah hendak melepaskan semua beban hatinya, untuk menguras seluruh derita yang telah menyesakkan dadanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan tangan saling bergenggaman, dua kakak beradik ini berjalan menuju sofa di sudut ruangan yang gelap. Mereka tenggelam dalam keharuan, sang adik memeluk kakaknya erat-erat untuk mendekatkan diri, lalu mendengarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh! Aku tahu kalimatku ini tidak masuk akal; aku bahkan tidak dapat memahami diriku sendiri, dan semenjak itu aku merasa telah menjadi orang gila. Berhati-hatilah, adikku, berhati-hatilah dengan dirimu sendiri! Jika saja kamu tahu betapa lemahnya kita, betapa cepatnya kita menyerah dan jatuh. Cukup satu momen kelembutan saja, satu masa melankolis yang menerpamu di antara ribuan kerinduan untuk membuka tanganmu, untuk mencintai, menyukai sesuatu, maka kamu pun akan dengan mudah jatuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu mengenal suamiku, dan kamu tahu betapa aku mencintainya; tetapi dia pria yang matang dan rasional, dan tak mampu memahami getaran lembut hati seorang wanita. Dia selalu sama, selalu baik, selalu tersenyum, selalu ramah, selalu sempurna. Oh! Betapa kadang-kadang aku berharap agar dia memelukku dalam kedua tangannya lalu memberiku ciuman lembut yang manis dan pelan-pelan. Betapa aku berharap agar dia menjadi pria yang bodoh, bahkan lemah, sehingga dia merasa membutuhkanku, membutuhkan belaianku dan air mataku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua ini kelihatannya culun; tetapi kita, para wanita, memang ditakdirkan seperti itu. Apa daya kita? Tapi, tidak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan suamiku. Sekarang terjadi, tanpa cinta, tanpa alasan, tanpa apa pun, hanya karena bulan telah menyinariku suatu malam di pinggir Danau Lucerne itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama satu bulan itu, ketika kami melakukan perjalanan bersama, suamiku, dengan sikapnya yang masih acuh tak acuh, telah melumpuhkan semangatku, memadamkan rasa puitisku. Ketika kami menuruni jalan-jalan di pegunungan saat matahari terbit, ketika dua ekor kuda saling bersenda-gurau, dalam keremangan kabut, kami memandang lembah, hutan, sungai dan pedesaan, aku bertepuk tangan keras-keras dan berkata kepadanya: ’Betapa indahnya, wahai suamiku! Beri aku ciuman! Cium aku!’ Dia hanya menjawab, dengan senyum dinginnya: ’Tidak ada alasan bagi kita untuk saling berciuman hanya karena kamu menyukai pemandangan ini.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan kalimatnya itu telah membekukan hatiku. Menurutku, ketika dua orang saling mencintai, mereka harusnya semakin tersentuh oleh pemandangan-pemandangan yang indah. Aku membeku bersama puisi hatiku. Aku seperti tungku yang tersiram atau botol yang tersegel rapat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suatu malam (kami menginap empat malam di sebuah hotel di Fluelen), karena sakit kepala, Robert langsung tidur setelah makan malam, dan aku berjalan sendirian menyusuri jalan di pinggir danau itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam itu berlalu seperti dongeng-dongeng sebelum tidur. Bulan purnama mendadak muncul di atas langit; pegunungan tinggi, dengan semburat putih salju, seperti mengenakan mahkota warna perak; air danau gemericik dengan riak-riak kecil yang berkilauan. Udara begitu lembut, dengan kehangatan yang merasukiku sampai seperti mau pingsan. Aku begitu kepayang tanpa sebab apa pun. Tetapi, betapa peka, betapa bergolaknya hati saat itu! Jantungku berdegup keras dan emosiku semakin kuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku duduk di atas rumput, menatap danau yang luas, melankolis dan menakjubkan itu, seolah-olah ada perasaan aneh merasukiku; aku terangkum dalam rasa haus akan cinta yang tak terlegakan, sebuah pemberontakan terhadap kebodohanku sepanjang hidupku. Apa! Tidakkah menjadi takdir bagiku untuk dapat berjalan dengan seorang pria yang kucintai, dengan tangan saling berpelukan dan mulut saling berciuman, di pinggir danau seperti ini? Tidak bolehkah bibirku mengecap dalamnya ciuman yang lezat dan memabukkan di malam yang telah diciptakan Tuhan untuk dinikmati? Apakah ini nasibku untuk tidak meresapi indahnya cinta dalam bayang-bayang cahaya bulan di malam musim panas ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu tangisku meledak seperti wanita gila. Kudengar sesuatu bergerak di belakangku. Dan seorang pria berdiri di sana, menatapku tajam. Ketika kupalingkan kepalaku, dia mengenaliku dan berkata, ’Kamu menangis, nyonya?’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dialah pemuda yang tengah melancong bersama ibunya, dan kami sering bertemu. Matanya seringkali menguntitku. Aku begitu bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Kujawab saja bahwa aku sedang sakit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia berjalan di dekatku dengan cara yang santun dan lembut, lalu mulai berbicara kepadaku tentang perjalanan kami. Segala yang kurasakan telah dia terjemahkan ke dalam kata-kata. Segala hal yang membuatku bergairah dapat dia pahami dengan sempurna, lebih baik dari diriku sendiri. Dan tiba-tiba dia mengutip larik-larik puisi Alfred de Musset. Tenggorokanku tersekat, aku terpesona dengan emosi yang meluap-luap. Terlihat di sekelilingku, pegunungan, danau dan cahaya bulan tengah bernyanyi untukku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu terjadilah. Entahlah. Aku tak tahu kenapa, semacam sebuah halusinasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tidak bertemu lagi dengannya, sampai suatu pagi dia harus melanjutkan perjalanannya lagi. Dia memberiku sebuah kartu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu, sambil jatuh ke dalam pelukan adik perempuannya itu, Madame Lotere menangis sesenggukan, nyaris seperti anak kecil. Madame Roubere, dengan wajah serius, berkata dengan lembut, "Dengarlah, kakakku, seringkali bukanlah seorang pria yang sesungguhnya kita cintai, tetapi cinta itu sendiri. Dan cahaya bulanlah yang menjadi kekasih sejatimu malam itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;u style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Catatan&lt;/u&gt; : &lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;Judul asli Moonlight karya Guy de Maupassant. Cerpen ini diterjemahkan oleh Ribut Wahyudi, penulis dan pengelola penerbitan di Jogja. Guy de Maupassant adalah cerpenis kelahiran Chateau de Miromesniel, Dieppe pada 5 Agustus 1850. Selama hidupnya, dia telah menulis lebih dari 300 cerita pendek, enam novel, tiga buku perjalanan, dan sebuah kumpulan puisi. Maupassant sudah menderita sifilis semenjak usia 20 tahun. Pada 2 Januari 1892, dia berusaha bunuh diri dengan menusuk tenggorokannya sendiri. Dia meninggal pada 6 Juli 1893.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/cahaya-bulan-moonlight.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-8265289740949619670</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 04:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T11:08:57.723+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Cinta Bersemi di Salon Rifa'i</title><description>&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255); font-weight: bold;"&gt;Cerpen Karya Monita Gunawan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dara menginjak rem mobilnya untuk belok ke kiri sambil celingak-celinguk mencari alamat yang ditulisnya di kertas 'post it' kuning menyala itu.&lt;br /&gt;"Candi Mendut Barat I...," gumamnya. "Ini sudah Candi Mendut Barat, tapi kok tidak jelas I atau 100, ya?" Dengan agak sebal ia menghubungi sahabatnya sekaligus yellow pages persalonan, Jacklyn.&lt;br /&gt;"Jack, benar nih aku belok kiri setelah rumah bersalin Permata Bunda?" tanyanya begitu Jacklyn menjawab telepon selularnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Yes, Honey. Belok kiri, terus belokan kanan kedua kamu belok kanan, terus lurus saja. Salonnya ada di kiri. Aku sudah daftarkan atas nama kamu. Kalau hari Sabtu begini, ramai sekali, Non."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oke, deh. Trims, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Klik. Percakapan selesai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara agak bersungut saat memarkir mobilnya karena ternyata salon tersebut terletak di daerah perumahan yang jalannya agak sempit. Dan benar kata Jacklyn, hari Sabtu ramai pengunjung. Di depan rumah berpagar coklat itu ada tiang yang atasnya bergantung papan hitam dengan tulisan merah Salon Rifa'i. Di baris pertama dan di baris kedua tertulis, Hari Senin tutup. Hm, Dara agak ragu memasuki salon itu. Kurang meyakinkan, begitulah kesan pertama Dara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Siang, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang gadis dengan rambut jingga menyala standar pegawai salon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hm, saya sudah daftar, Mbak... atas nama Dara. Mau gunting dan highlight," jawab Dara sambil mengintip daftar pengunjung yang sudah booking di buku folio besar macam buku akuntansi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oh iya... tunggu sebentar ya, Mbak. Masih menunggu satu orang lagi dipotong rambutnya. Silakan duduk dulu," ujar si Rambut Jingga sembari menunjuk kursi lipat Chitose hitam di sudut kiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara duduk, melipat kaki dan tangan dengan anggun seperti yang pernah dipelajarinya di John Robert Power sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling salon. Ih, kalau bukan Jacklyn yang merekomendasikan salon ini, tidak bakalan ia mengunjungi dan memasrahkan rambutnya di tempat berukuran ala kadarnya, dengan kursi-kursi standar dengan dua kipas angin propeler sebagai penyejuk macam ini. Bagaikan langit dan bumi dengan salon yang biasa ia kunjungi untuk creambath. Salon elit yang harga potong rambut saja bisa ratusan ribu. Mungkin satu paket dengan aroma terapi yang dibakar terus menerus demi kenyamanan pelanggan salon agar tidak jenuh saat menunggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pokoknya, kamu percaya saja, Ra," kata Jacklyn meyakinkan dua hari lalu. "Yang motong rambut adalah Si Fa'i sendiri. Yang dulu di salon Lusihye itu, lho." Dengan wajah penuh promosi Jacklyn melanjutkan, "Fa'i itu dulu tangan kanannya Si Christo, pelanggannya paling banyak. Terus mereka ada selisih paham, akhirnya Fa'i buka salon sendiri di rumahnya. Banyak langganannya yang pindah nyari Fa'i." Jacklyn jeda sejenak, menelan ludahnya yang sedikit berbusa-busa. "Potongannya keren habis. Dia bisa mengkombinasikan antara jenis rambut, warna kulit dan bentuk wajah kita! Harga terjangkau pula."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara melihat sekelilingnya, dan sekali lagi berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah mengambil keputusan. Secara ia ingin tampil mencengangkan, mempesona, mengundang decak kagum, dan berbagai kosa kata lainnya dari orang-orang yang bakal melihat penampilannya nanti. Terlebih, ia dapat tampil paling mentereng di acara ulangtahun Kezia malam Minggu ini. Dan yang pasti, ia bakal membuat Yoga, mantan pacarnya beserta kekasihnya yang barunya itu, terperanjat oleh pesona dari dirinya yang tampil bak Cinderella.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebenarnya alasan Dara ingin tampil cantik bukan karena ia masih ingin Yoga kembali padanya. Toh memang mereka sudah tidak cocok. Namun seperti biasa, penyakit yang timbul setelah putus pacaran adalah tidak rela kalau mantan pacar lebih cepat dapat pengganti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebenarnya alasan Dara ingin tampil cantik bukan karena ia masih ingin Yoga kembali padanya. Toh memang mereka sudah tidak cocok. Namun seperti biasa, penyakit yang timbul setelah putus pacaran adalah tidak rela kalau mantan pacar lebih cepat dapat pengganti. Jadi, untuk menaikkan harga dan kepercayaan pada diri sendiri, Dara berniat untuk tampil lebih dan beda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Silakan, Mbak. Rambutnya dicuci dulu, ya?" Kali ini pria gemulai berambut ala salah satu penyanyi F4 menyapanya santun. Jemarinya yang lentik sesekali membenarkan mengibaskan rambutnya yang berwarna coklat layaknya besi berkarat. Ia menunjukkan tempat keramas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Wah, rambutnya bagus sekali, Mbak. Sering creambath, ya?" tanya si Rambut coklat serupa besi berkarat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hampir saja Dara menjawab, 'Ah, tidak... cuma pakai shampo, kok,' seperti iklan shampo di stasiun tv. Tidak jadi sebab kepalanya sudah dibenamkan di bak cuci salon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak terlalu lama, rambutnya pun sudah dibilas bersih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudah, Mbak," ujar si Rambut coklat serupa besi berkarat sambil membelitkan handuk putih tipis ke kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang Dara sudah duduk di depan cermin. Ia menatap bayangan dirinya. Wajah oval khas Indonesia, alis tebal rapi dan hidung kecil bangir. Juga sepasang mata yang membuat para perias berdecak kagum, ditambah rambut tebal hitam bak mayang melambai. Terus terang, memang sudah lama sekali ia tidak memotong rambutnya karena Yoga lebih suka cewek berambut panjang, dan Dara memilih mengalah demi menyenangkan cowok yang pernah mengisi hati dan hari-harinya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mau dipotong model apa, Mbak?" tanya seorang pria lain. Kali ini ia lebih maskulin, hitam manis dan bertampang rupawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oh, ini toh Si Fa'i itu, batin Dara. Mau dipotong model apa ya? Aha!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Model bobnya Maia Ahmad ya, Mas. Terus, disemir warna merah dan coklatnya Maia juga," kata Dara bersemangat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Si Fa'i meneliti rambut Dara sambil sesekali memandang wajah Dara melalui cermin. Lalu perlahan tapi pasti ia menggunting rambut panjang legam sehitam gulita malam tak berbintang, tak berbulan dan mati lampu! (Hihihi... Si Dara kadang-kadang puitis, dan menggambarkan fenomena alam ke dalam bentuk puisi yang selalu sukses ditolak oleh majalah yang dikiriminya untuk dimuat!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hasilnya memang di luar dugaannya. Oke banget! Dara kelihatan sesegar buah dan sayur mayur yang baru dipetik dari perkebunan di lereng gunung. Sekarang tinggal proses pewarnaan yang membosankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara merasa ada yang memperhatikan dirinya. Ia melihat ke sebelah kiri. Tampak dua anak muda jebolan fitness center dengan wajah yang bisa membuat kepala menoleh dan menoleh lagi. Cowok dengan t-shirt biru muda dan celana warna natural tersenyum lebih dahulu. Kulitnya putih, rambutnya di-spike, giginya terawat bak model pasta gigi yang ia pakai. Duh, keren!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara membalas senyumnya, kemudian berpura-pura konsentrasi kembali ke buku Harry Potter ketujuh yang sengaja dibawanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi, kok sepertinya ada yang memperhatikan lagi. Ia melirik lagi ke kiri. Kini yang menatapnya tanpa berkedip adalah cowok yang satunya. Si Spiky sudah di tempat cuci rambut. Cowok yang ini berkaos putih, celana jeans belel—kulit agak kecoklatan, mata elang, dan senyum yang tak kalah menawan dengan pemuda yang tadi. Dara tersenyum bahagia lagi sambil berharap detak jantungnya tidak terdengar. Boleh dong, sekali-kali ge-er! batinnya. Ia mencoba membaca halaman yang sejak tadi sudah dibaca berulang-ulang, tanpa konsentrasi dan lebih pada kepura-puraan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemanas rambut berbentuk helm raksasa itu sudah hampir duapuluh menit mengeluarkan uap di atas kepala Dara. Menurut mereka, Dara mesti melewati proses pemanasan yang lebih intensif berhubung rambutnya belum tersentuh pewarna rambut sebelumnya. Juga, agar penyerapan zat warna pada bilah-bilah rambutnya dapat terkontaminasi dengan baik. Akhirnya, meski bosan mengeram seperti induk ayam, akhirnya ia memasrahkan dirinya juga demi tercapainya perwujudan putri cantik ala Cinderella.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun, ia mengernyitkan dahinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lho, kok sepertinya ada yang memperhatikan ia lagi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan kepala yang terperangkap seperti itu agak susah Dara mengedarkan pandangan. Cowok kaos biru muda? Bukan. Cowok kaos putih? Bukan juga. Lho... mata Dara berhenti pada cowok berkacamata dan berkemeja coklat army yang ia lihat lewat cermin di depannya. Cowok itu mengangguk sopan. Dara menyungging senyum kecil. Ada apa sih hari ini? tanyanya dalam hati. Lalu dengan panik ia melihat bayangan dirinya di cermin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;'Jangan-jangan ada sesuatu nempel di muka aku!' pekik Dara dalam hati, lalu menghela napas lega setelah apa yang 'tidak-tidak', yang dibayangkannya tidak terjadi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aduh! Masih belum selesai juga, nih! Dara sudah mulai bosan. Kali ini ia yang mencuri pandang dan mencuri dengar ke arah dua pemuda keren tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Troy, sudah mencicipi ikan bakar Letjen Sutoyo belum?" Cowok bermata elang bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara memutar matanya, kembali ke depan cermin. Hm, Troy...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekonyong-konyong Troy sudah ada di sampingnya, dan mengambil salah satu majalah di meja cermin depan Dara. Mata mereka bersirobok, dan Troy itu mengedipkan sebelah matanya dengan sikap menggoda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara kemekmek. Cepat-cepat meraih air mineral free of charge dari salon. Fiuh! Untung disediakan minum. Kalau tidak, ia bisa mati gaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ih, genit amat sih cowok itu," rutuk Dara, ngedumel dalam bisik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak lama kemudian, salah seorang pegawai salon Si Fa'i datang dan membuka tangkup pemanas rambut pada kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oke, Mbak, sudah selesai," ujar si Pegawai salon, masih si Rambut coklat serupa besi berkarat yang lebih kemayu ketimbang perempuan. "Dibilas dulu ya, Mbak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara agak lega setelah seperti menunggu selama seabat. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat dirinya lebih seksama pada cermin. Hasil semir warna pada rambutnya sungguh di luar dugaan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lho?! Kok...!" Dara seperti kebakaran jenggot. Panik. Gugup luar biasa. "Mbak, eh Mas... Oom, eh... kok jadi warna merah menyala?! Seperti gulali pada poni panjangnya?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya? Kenapa, Mbak?" tanya Mas Fa'i yang ikutan panik melihat ekspresi Dara, segera menghampiri tempat duduk Dara yang tengah berteriak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aduh... Mas! Kenapa warna merah yang zaman Maia Ahmad masih sahabatan sama Mulan Kwok?!" tanya Dara dengan suara tercekat, berusaha menahan tangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maksud, Mbak?" Mas Fa'i mengerutkan keningnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mak-maksud aku, seharusnya merahnya adalah merah kecoklatan pas Maia lagi heboh-hebohnya mau cerai sama Dhani!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Merah yang bagaimana ya, Mbak?" tanya Mas Fa'i bingung. Sementara itu si Rambut coklat serupa besi berkarat hanya terpana dan mematung dengan jari tergigit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya... merah agak coklat agak gelap tapi merah. Begitu, merah jablay begitu!" Dara bingung menjelaskannya, berdiri dan sedikit mengentakkan kakinya ke lantai karena kesal luar biasa. "Ada contoh warna tidak, sih?!" tanyanya lagi dengan ruap marah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara kesal sekali. Kenapa juga ia bodoh tidak memilih warna sejak awal. Begini deh jadinya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tergopoh-gopoh si Ranbut coklat serupa besi karat berlari menuju meja kasir, lalu detik berikutnya ia sudah tiba di hadapan Dara dan mengangsurkan gumpalan sampel rambut sintesis yang tertempel di karton warna hitam dan putih itu pada Dara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Duh, jangan sampai Mbak ini menangis sambil teriak di salon tempat ia baru bekerja dua minggu ini. Bisa-bisa rumor beredar di luaran bahwa Salon Fa'i mengecewakan pelanggan dan kemudian tutup, lantas akhirnya ia menganggur lagi. Uh, ia paham benar bagaimana lips to lips marketing and advertising lebih jitu ketimbang iklan di televisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara membolak balik semua lembaran contoh warna. Gila! Dari sekian banyak sampel, tapi tidak ada yang sesuai dengan selera warna yang diinginkannya. Tidak ada yang persis sama dengan warna rambutnya Maia Ahmad Estianty Ratu! Dengan lunglai diletakkannya buku-buku besar itu ke atas meja. Yah, memang salahnya tidak membawa contoh majalah yang ada Maia dengan rambut breathtaking-nya itu. Apa boleh buat nasi telah menjadi kerak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Berapa, Mbak?" tanya Dara lemas, setelah ia lebih memilih untuk pulang dan menangis sepuas-puasnya. Hancur berantakan semua impian indahnya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun ia membelalak tidak percaya setelah mendengar harga yang disebutkan. Alias murah banget! Ah, biar saja. Mungkin mereka merasa bersalah sehingga membanting harga sampai menyusur tanah alias korting irasional!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitu Dara keluar menuju mobilnya, ada langkah-langkah mengikutinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf, Mbak, mengganggu sebentar. Hm, ini kartu nama saya." Ternyata cowok berkacamata dan berbaju coklat army tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara baru sadar bahwa orang itu sejak tadi hanya duduk tapi tidak melakukan perawatan apapun di Salon Rifa'i. Dara membaca tulisan yang tertera di kartu tersebut: 'Colours Model Inc. Agung Suseno. Director'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Saya sedang mencari talenta baru untuk iklan pewarna rambut, dan sejak tadi saya perhatikan Mbak. Maaf, nama Mbak siapa...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara meneruskan. "Dara. Daraditha Prihantini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Oya, Mbak Dara. Mbak Dara cocok sekali untuk diikutkan audisi untuk iklan produk kami. Warna rambut dan modelnya cocok sekali pada rambut Mbak Dara. Kapan bisa ikut sesi pemotretan?" desaknya dengan ekspresi serius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara melongo. Tidak salah dengarkah ia?! Hatinya mulai membuncah dengan bunga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hm, saya lihat jadwal saya dulu ya Mas," sahut Dara berlagak profesional. "Nanti saya hubungi Mas...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemuda bertampang officer itu cukup puas dengan jawaban Dara. "Oke, oke. Terima kasih ya, Mbak Dara. Saya tunggu telepon dari Anda."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara kembali berjalan ke arah mobilnya ketika selesai menjabat tangan dengan pemuda itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika ada langkah-langkah berikutnya yang terdengar buru-buru diselingi panggilan santun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Permisi, Mbak. Tunggu sebentar!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika Dara menoleh, ia kembali bertanya pada dirinya. "Hari apa sih ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiba-tiba saja, hari ini, ia dikerubuti oleh pemuda-pemudah keren. Kedua cowok yang tadi melirik-liriknya di dalam salon telah tiba di hadapannya. Sementara itu mobil pemuda bernama Agung tadi sudah meninggalkan halaman parkir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sori, boleh kenalan tidak?" tanya si Mata Elang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara membelalak tidak percaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cowok itu melanjutkan, "Aku Glenn, dan ini sepupuku, Troy." Tangannya diulurkan mengajak salaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sembari menyambut uluran tangan itu, Dara menyebutkan namanya. "Daraditha Prihantini. Panggil saja Dara."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu percakapan sambil berdiri di tengah jalan kompleks yang sempit itu berlanjut sampai tukar menukar nomor telepon. Ternyata Glenn lebih simpatik ketimbang Troy, bahkan jauh lebih keren dibandingkan pemuda bernama Agung tadi. Setelah berkenalan, Dara pulang dengan hati bahagia. Tangisnya perlahan berubah menjadi senyuman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kini tiba malam yang ditunggu-tunggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dara tak hentinya menatap dirinya di cermin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Is that really me?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wuih... canggih!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tube dress black maroon dengan tali tipis spaghetti dan rok model A line, plus sepatu senada dipadu make-up natural minimalis sangat memodiskan tubuhnya yang ramping. Ia tampak anggun diandili rambut bob mutakhir dengan warna racikan Salon Rifa'i. Pesta ultah Kezia pasti tertakjubi oleh kehadirannya bak Cinderella. Apalagi, ia digandeng oleh sang Pangeran dari Negeri Rifa'i (ups, salah! Maksudnya, pemuda yang dikenalnya di Salon Rifa'i bernama Glenn!).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ssstt, bukan itu saja!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia juga bakalan menjadi selebritis baru. Tentu saja bukan karbitan secara ia memang sedari dahulu bercita-cita menjadi model papan atas. Dan, lagi-lagi rencana sesi pemotretan minggu depan diantar Glenn, si Pujaan Hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah menganugerahi aku seorang pemuda tampan dan baik hati di Salon Rifa'i. Terima kasih, Jacklyn. Andilmu mengenalkan aku pada Salon Rifa'i tak pernah akan aku lupakan. Dan terima kasih juga untuk Mas Fe'i. Hasil semir rambutmu membuahkan hasil yang indah. Terima kasih, Mas... Mbak, eh Oom berambut coklat serupa besi berkarat. Kamu adalah pegawai salon terhandal...." bisik Dara dalam doa, tersenyum lalu seperti terbang menuju bintang-bintang karena saking bahagianya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/cinta-bersemi-di-salon-rifai.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-1014932274904052696</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 04:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T11:04:39.202+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Sang Primadona</title><description>&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Cerpen Karya A. Mustofa Bisri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.&lt;br /&gt;Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.&lt;br /&gt;Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;primadona&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/sang-primadona.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-6122476787113228116</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:54:21.836+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Ramuan Ajaib</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;u style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Anak Karya Retno Wi&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar gelak tawa kakek dan neneknya. Tapi Yogi tidak ikut tertawa. Ia tetap serius. Dari balik pintu ia merekam semua percakapan kakek dan nenek. Telinganya didekatkan daun pintu, agar suara kakek dan nenek yang mulai tua terdengar jelas. Yogi benar-benar tidak ingin ada sepatah kata pun yang terlewat. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk. Tetapi kadang telinganya dipaksa untuk tegak keika suara kakek dan nenek tidak terdengar jelas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Esok hari sepulang sekolah, teman-teman Yogi berkumpul dan bersiap ke rumah Mia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Gi! Ke mana? Nggak ikut ke rumah Mia?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi mengelus botaknya beberapa kali. Dengan santai ia melangkah dan bersiul-siul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Buat apa ke rumah Mia?” Tangannya berkacak pinggang memandang teman-temannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ya, belajar dong! Besok kan, ujian matematika. Banyakk rumus yang harus dihafal, lo!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kalian saja yang belajar, aku tidak perlu melakukannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kok bisa begitu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Tentu bisa, karena aku telah mendapatkan resep mujarab dari kakekku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Resep, apa sih?” Tanya Mia penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Resep agar sukses ujian.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Alaa…ah, paling juga disuruh belajar.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Wah, kalian salah. Pokoknya ini rahasia!” jawab Yogi sambil mengerling genit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Dasar pelit! “ Mia mengomel sebal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Jangan-jangan kakeknya Yogi dukun.” Komentar Anton.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ha…ha…ha… dipanggil aja Mbah dukun.” Jaka tertawa terbahak-bahak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Jangan sembarangan, ya! Kita lihat saja besok.” Yogi pergi sambil menggerutu sepanjang jalan menuju rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam telah tiba. Yogi segera mempersiapkan keperluannya. Catatan matematika, segelas air putih, sesendok gula dan sedikit garam. Dengan hati-hati tangannya membakar lembar demi lembar catatan matematikanya. Abu bakaran ditampung di piring palstik yang diambilnya dari dapur. Beberapa lembar catatannya terbakar. Dengan hati-hati tangan Yogi memasukkan abu ke dalam gelas sedikit demi sedikit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Yogi.. Sedang apa di kamar, Nak? Kok ada bau benda terbakar dari kamarmu.” Teriak Ibu dari ruang tengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi terperanjat. Dia mendekat ke pintu, mengamati lubang kunci dengan seksama. Ia memastikan pintu kamarnya telah terkunci.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Tidak apa-apa kok, Bu. Yogi hanya mempersiapkan untuk ujian besok.” Yogi pun melanjutkan pekerjaannya. Diaduknya larutan abu yang diberi gula dann garam dengan hati-hati. Ia tidak ingin orang lain mengetahui apa yang sedang dilakukannya di kamar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Huek..kk!” Yogi berlari ke jendela, memuntahkan isi mulutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ternyata rasanya tidak enak. Bagaimana Kakek dulu meminumnya, ya?” di pandanginya air keruh yang mengisi setengah gelas. Yogi membayangkan dirinya akan menjadi bahan olok-olok teman-temannya jika tidak bisa mengerjakan ujian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan mata terpejam dia paksa meminumnya sekali lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Huek…kk!.. Huek..kkk!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Yogi..” Tok..tok…tok.. Suara Ibu di depan pintu. “Ada apa,, Nak?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Uhuk..kk! Uhuk…k! Yogi terbatuk-batuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Yogi hanya kesedak, Bu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Buka pintunya, Ibu buatkan susu hangat untukmu.” Yogi terkesiap. Segera ia sembunyikan gelas yang berisi ramuan ke dalam lemari buku. Dengan wajah dibuat setenang mungkin ia membukakan pintu untuk ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Benar kamu tidak apa-apa?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi menggeleng. Ibu menaruh segelas susu di meja belajarnya. Yogi was-was, takut ibunya menemukan gelas yang disembunyikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kakek, di mana?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ada di kamarnya. Kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Enggak, kok Yogi tidak mendengar suaranya.” Tak lama kemudian Ibu Yogi meninggalkan kamar. Yogi mengambil gelas yang disembunyikan di kolong tempat tidur. Diamatinya gelas itu lama-lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuteruskan, nggak ya? Tanya Yogi dalam hati. Yogi mengelus botaknya berkali-kali. Diambilnya sisa catatan yang belum dibakar. Begitu banyak rumus yang harus dihafalkan. Ah, daripada susah-susah menghafal, mending kuteruskan minum ramuannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kali ini Yogi menyiapkan segelas air putih yang baru diambilnya dari ruang makan. Yogi mencoba meminum lagi ramuan ajaibnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Huekk..k!! Huekk…k!!” Kembali Yogi mual. Dia segera berlari ke jendela dan memuntahkan ramuannya. Dengan cepat tangannya mengambil air putih dan meminumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Aku benar-benar tak dapat meminumnya.” Yogi mulai pasrah. Wajahnya agak pucat. Kepalanya pusing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Aha..! Bukankah kakek dulu juga merasa pusing dan mual? Artinya ramuan ini mulai bekerja.” Yogi sedikit gembira mengingat perkataan kakeknya. Ia pun memilih tidur dengan harapan besok pagi semua rumus yang diminumnya sudah melekat di kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;* * * *&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jam setengah tujuh pagi. Yogi masih tidur di kamarnya. Berkali-kali ibunya mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban. Dengan sedikit khawatir, tangan ibu Yogi mencoba menarik handel pintu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Klek. Pintu terbuka. Rupanya Yogi lupa mengunci pintunya setelah mengambil air putih tadi malam. Ibu Yogi memegang keningnya. Panas. Rupanya Yogi demam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi membuka matanya dengan berat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kamu sakit, Nak?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kepalaku pusing, Bu. Aku juga kedinginan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kalau begitu, jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Tapi hari ini Yogi ujian, Bu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Nanti Ibu telepon ke sekolah, agar boleh mengikuti ujian susulan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi hanya bisa pasrah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ibu telepon ke gurumu, ya.” Yogi mengangguk. Sebelum ibunya keluar Yogi memanggil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Bu, tolong panggilkan Kakek, ya.” Ibu Yogi mengangguk dan pergi meninggalkan kamarnya. Tak lama kemudian Kakek telah muncul di depan pintu kamar Yogi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Aduh Yogi, mau ujian kok sakit.” Kakek mendekat dan duduk di tepi dipan. Kakek Yogi melihat isi kamar. Matanya langsung tertuju pada gelas yang berisi cairan gelap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Yogi minum, kopi?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kepala Yogi menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kakek melangkah mendekat meja dan mengangkat gelas. Diciumnya isi gelas denngan hati-hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kamu membuat rauan ini?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi mengangguk pelan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Siapa yang mengajari?” Tanya Kakek bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan wajah murung Yogi menjawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Dua hari yang lalu aku mendengar Kakek sedang bercerita tentangramuan ajaib kepada nenek. Makanya aku mencobanya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ha..haa..Haa. Ooh.. itu rupanya penyebabnya. Makanya sekarang Yogi sakit.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Tapi Kakek dulu juga sakit kan setelah minum ramuan itu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ya. Kakek langsung sakit.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Dan Kakek jadi pintar matematika, kan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Waduh! Pasti kau tidak mendengarkan dengan lengkap cerita kakek waktu itu. Setelah minum ramuan itu, kakek masih ikut ujian. Dan hasilnya, kakek dapat nilai tiga!.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ha??! Tiga?” Yogi tidak percaya mendengarnya. “Lo, bukankah kakek pandai matematika?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ya, karena setelah itu Kakek rajin belajar agar semua rumus matematika dapat melekat di kepala. Bukan dengan meminum rumus-rumus itu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi semakin lunglai. Karena ia berharap dapat pandai matematika tanpa harus susah-susah belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Yogi ingin menghafal rumus-rumus matematika?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Tentu saja.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Kalau begitu,, salin semua rumus di bukumu. Lalu tempelkan rumus-rumus itu di dinding kamar, di kamar mandi, dan bawalah kemanapun kau pergi. Dan bacalah jika senggang. Kakek yakin kau akan dengan mudah menghafalnya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Baiklah. Aku akan mencobanya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Ingat, Yogi. Tidak ada jalan pintas untuk pintar. Semua harus dimulai dengan usaha dan kerja keras. Sekarang istirahat dulu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yogi pun mengerti, kalau ingin pintar ia harus belajar, bukan dengan minum ramuan ajaib.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/ramuan-ajaib.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-141291162791725231</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:49:07.968+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Nyonya Alvi dan Mawar Hitam</title><description>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen Karya Iwan RS&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nyonya Alvi tentulah ia seorang yang baik, ramah, dan boleh jadi sangat perhatian. Suatu kali ia pernah mengingatkan kerah bajuku yang kurang pas. Hal kecil sebenarnya tapi amatlah berarti semestinya ditaruh dalam hati. Itulah barangkali yang membuatku kerasan ngobrol dengannya. Obrolan kami tidaklah lebih dari soal bunga, lain dari itu secuil saja. Sesekali pernahlah kami ngobrol selain bunga, tapi bicara selain bunga hanyalah bumbu untuk ngobrol soal bunga. Hmm, Nyonya Alvi ia begitu tergila-gila akan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, setiap Minggu pagi jam delapanan, aku musti mampir ke rumah Nyonya Alvi. Ia membeli bunga-bunga yang kubawa untuk dipeliharanya di pekarangan atau di belakang rumahnya yang karuan luas. Entah berapa banyak koleksi bunga hias yang dimiliki dengan beragam jenisnya. Sudah hampir tiga tahun setiap Minggu ia membeli bunga. Sepertinya membeli bunga merupakan suatu kemutlakan baginya. Itu yang Nyonya Alvi beli padaku. Sebelum aku, ia pernah punya penjual bunga, tapi penjual bunga itu telah pindah ke kota lain. Dicarilah penjual bunga baru. Dan akulah penjual bunga itu hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sorot mata Nyonya Alvi menunjukkan ia perempuan cerdas. Dan, pastilah ia akan teliti sekali kalau sudah memperhatikan bunga, berbinar. Bukan hanya itu, ia sentuh bunga-bunga tidaklah dengan alakadarnya, melainkan juga melibatkan perasaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alih-alih soal Nyonya Alvi yang begitu sangat mencintai bunga: sekiranya kuranglah pas untuk seorang Nyonya Alvi jika harus selalu kelihatan sendiri dan hanya berkutat dengan bunga-bunga saja. Setiap aku mampir, jarang terlihat suaminya, padahal menurut Nyonya Alvi suaminya sedang ada di rumah. Tapi kenapa jarang kelihatan berdua-duaan layaknya suami-istri. Ya, duduk bersama sambil minum teh sekadar mengisi waktu senggang, misalnya. Atau jalan-jalan pagi menikmati Minggu yang cerah, seperti keluarga pada umumnya. Setidaknyalah rumah besar itu tak berkesan hanya dihuni oleh bunga, pembantu, dan nyonya saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa kali saja kulihat, itupun dua tahun yang lalu. Dua kali tepatnya. Ya, aku ingat betul. Pertama, ketika lelaki itu menutup garasi setelah memasukkan mobil saat pembantunya lagi mudik. Kedua, waktu aku dan Nyonya Alvi asyik ngobrol di beranda seorang tamu menyatroni lalu menanyakan keberadaannya, masuklah Nyonya Alvi ke dalam: memanggil suaminya itu. Tak lama, keluarlah lelaki itu --suami Nyonya Alvi- pun hanya sebatas di ambang pintu saja guna mempersilahkan tamunya masuk. Setelahnya tak lagi aku melihatnya. Aku tak tahu persis, selain hari Minggu apakah mereka --Nyonya Alvi dan suami-- begitu akrab, suka jalan-jalan, ya setidaknya bertegur sapalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Minggu ini aku datang lebih pagi. Jam tujuh. Konon Nyonya Alvi punya acara --dikabarinya aku lewat telepon kemarin lusa. Maka dari itu kedatanganku diajukan. Ah, Nyonya Alvi, ia selalu terlihat cantik seperti Minggu biasanya. Ini kali rambut sebahunya berbasah-basah, usai keramas tentulah, diurainya berkali-kali dengan jari-jari lentiknya yang kukunya dicat merah, merah jambu jelasnya. Ah, tapi kenapa Nyonya Alvi kali ini sendu begitu? Hmm, sendu tapi masih nampak cantik. Justru perempuan akan nampak sempurna jika berona sendu-merayu seperti itu. Ah, Nyonya Alvi, pastilah lelaki beruntung yang dapat menyangkarkannya. Ya semacam anugerahlah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pesanan Anggrek yang seperti Minggu kemarin tapi agak kecil, dibawa?" Ya, gaya bicaranya. Aku suka gaya bicara Nyonya Alvi yang khas itu. Intonasinya enak disimak. Bibirnya berkecumik sedemikian rupa jika sedang bicara, tapi tidaklah terkesan direka. Wajar, indah dan tepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pesanan Anggrek yang seperti Minggu kemarin, agak kecil, dibawa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, ya, aku bawa. Tulip yang indah, Nyonya Alvi pasti suka."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Anggrek yang seperti Minggu kemarin, agak kecil. Bukan Tulip. Kalau Tulip kemarin juga sudah ambil."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"O, maaf," aku gugup. "Ya, anggrek. Ah, anggrek yang Nyonya pesan itu, kan? Saya bawa tiga dengan jenis yang berbeda. Silahkan Nyonya ?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hmm, merah, jingga, kuning?Yang ini saja, jingga."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Baik, Nyonya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Letakkan di selasar sebelah sana. Saya ambil uang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Iya, Nyonya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nyonya Alvi masuk ke dalam. Memalukan! Pastilah tadi ia kentarai kekikukanku yang aku sendiri tak memahami. Langkah sepatunya mendekat. Ah, sebaiknya aku menguasai diri dari ketololan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ini uangnya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Terima kasih, Nyonya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Untuk Minggu besok, bawakan saya Mawar Hitam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mawar Hitam?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya. Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Eem, tidak apa. Berapa Nyonya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sebanyaknya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sebanyaknya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak. Baiklah. Minggu besok saya bawakan Mawar Hitam. Sebanyaknya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nyonya Alvi masuk, sedikit terburu, mungkin karena segera bersiap untuk pergi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesuai pesanan, aku bawa Mawar Hitam sebanyaknya. Pesanan aneh sebenarnya. Soalnya setiap ngobrol soal bunga, luputlah Nyonya Alvi menyinggung Mawar Hitam, apalagi memesan. Ah, tapi itu bukan urusanku. Aku sekadar penjual bunga. Jadi mengekor sajalah soal selera. Tapi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nyonya Alvi menyuruhku menunggu di ruang tamu, sebelum ia ngeluyur ke dalam tadi. Megambil sesuatu mungkin, entah apa. Baru kali ini aku singgah di ruang tamu. Bersih juga nyaman. Dari sini, leluasalah ke mana pandangan hendak diedarkan. Sesuka hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keluar sana? O, tentulah akan menerobos bentangan kaca yang menyungkup ruang tamu ini, kemudian dapatlah kita mengintai pekarangan dengan gamblangnya. Pekarangan yang dicokoli warna-warni bunga yang bergerombol indah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Berapa banyak Mawar Hitam yang dibawa?" Nyonya Alvi mengujar setelah duduk di sofa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Semua Mawar Hitam yang saya punya," jawabku segera.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Terima kasih. Letakkan semuanya di ruang tengah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Semua, Nyonya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku keluar untuk menjemput seabrek Mawar Hitam di mobil pengangkut bunga yang kuparkir di luar pagar. Nyonya Alvi masuk ke ruang tengah, pastilah hendak menata ruang di mana ratusan Mawar Hitam akan diposisikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Di mana, Nyonya?" tanyaku dengan beberapa Mawar Hitam di tangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Di sini. Letakkan semua di sekitar sini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ah! Aku terhenyak lantas tertegun. Tentulah melihat peti itu. Peti di tengah ruang tengah ini. Peti yang dikelintari banyak lilin. Ya, peti mati yang telah disemayami seorang lelaki membujur dangan wajah pucat pasi serta mata mengatup rapat. O, lelaki itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Minggu kemarin ia pulang. Livernya tak tertolong," ujar Nyonya Alvi dengan mata yang tiba-tiba sedikit berkaca.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku masih tertegun. Kulihat mata Nyonya Alvi berlinang. Ah, ia seperti mengharap kesudianku mendengar kalimat-kalimatnya yang sesekali terpatah oleh seniknya. Sekadar mendengar, tak apalah. Sedikitnya dapatlah melegakan hatinya yang mungkin tengah berjelaga, seperti mawar: Mawar Hitam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Saya membenci lelaki ini," lanjut Nyonya Alvi sambil memandang isi peti. "Ia kasar. Tapi entah kenapa saya begitu mencintainya. Jika ia tak pulang berhari-hari, berbulan-bulan lamanya keliling kota, saya tahu yang dilakukannya hanyalah menuntaskan bergelas-gelas alkohol dan berburu perempuan. Keraplah ia pulang dengan sempoyongan. Ya, duapuluh tahun pernikahan kami, tanpa anak, hambar, tanpa tegur-sapa yang berarti kecuali di atas ranjang usai mereguk seks. Seks kadang membuat segalanya menjadi mudah. Tapi, entahlah saya sendiri tidak tahu, apa sebenarnya yang saya lakukan ini. Ketololankah? Sungguh saya tak tahu. Saya hanya tahu bahwa saya selalu merasa ingin terus bersamanya. Itu sebabnya kenapa saya terus bekutat bersama bunga-bunga. Semata, agar saya selalu terus berada di rumah. Bersamanya, meski tak bersapa. Menunggunya, meski tak pulang. Tak apa, saya setia. Setia macam apa? Ah, saya juga tak tahu. Orang pasti akan mencibir nyinyir: ah! Nyonya Alvi tak lebih dari seorang perempuan tolol! Tak apa. Saya mencintainya. Ia telah pergi sekarang. Dan entah kenapa pula saya ingin meletakkan Mawar Hitam di sekeliling petinya, sebelum ia diusung ke pusara guna tetirah di kedamaian surga."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Minggu pagi yang cerah. Seperti biasa aku berkelintar ke setiap rumah membawa aneka bunga merekah. Ah, kali ini, aku tak mampir ke rumah Nyonya Alvi. Ia memang tak lagi memesan bunga. Ia tak lagi mencintai bunga setelah suaminya tetirah di kedamaian surga? Mencintai siapakah Nyonya Alvi kini ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/nyonya-alvi-dan-mawar-hitam.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-7275285784356990921</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:41:10.614+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Di Dusun Lembah Krakatau</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;u style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Karya St. Fatimah&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banjo berjalan gontai pelan-pelan di belakang emaknya. Burung-burung gagak hitam terbang rendah, berkoak-koak memekak. Di atas, langit yang damai tak menjanjikan sama sekali rasa aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat baris-baris pohon jati di sepanjang jalan, si emak dan anak laki-lakinya itu dapat melihat lembah Krakatau yang melandai berombak-ombak. Tak mereka jumpai lagi sosok-sosok manusia yang berarak tak henti-henti mendaki seperti semut, tak peduli disambut oleh lingkaran awan tebal dan gumpalan langit tak berawan. Sebuah kabar burung tentang anak siluman telah memutus urat keberanian mereka.&lt;br /&gt;"Banjo!"&lt;br /&gt;Emaknya tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mendengar namanya dipanggil, anak itu terkejut. Bukan karena takut, melainkan karena firasat yang semakin dekat. Kenyataan yang akan datang tentang firasat itu bisa terasa sangat sakit, bahkan bisa juga mematikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau lelah, Jo? Sepertinya Emak terlalu memaksamu berjalan hingga sejauh ini. Maafkan Emak, Jo."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesudah mengusap liur yang meleleh di sudut bibirnya, si emak menggandeng tangan Banjo, dan ucapnya lagi, "Ayo kita pergi ke pohon besar di sana itu. Kita buka bekal makanan kita. Kau lapar kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banjo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangguk saja, lalu mengekor patuh di belakang emaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak jauh dari situ tampak pohon besar yang rimbun daunnya. Di situ emak membuka buntalan kain sarung, sementara anak laki-lakinya selonjor, melenturkan otot-otot kakinya, dengan bersandar pada batang pohon besar itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Banjo, duduklah dekat Emak sini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banjo merangkak menuju emaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Emak mengeluarkan dua lembar daun jati tua. Ia melipat satu lembar daun jati itu sedemikian rupa di atas telapak tangannya, hingga membentuk semacam mangkok makan. Diisinya mangkok daun jati itu dengan nasi, gorengan ikan asin, dan sayuran rebus. "Kau ingin Emak menyuapimu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banjo mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Emak menyeringai senang, memperlihatkan sederetan gigi yang warna putihnya tak sempurna. Ia senang melihat anak laki-lakinya makan dengan lahap. Ia seketika lupa bagaimana anak-anak penduduk dusun sini melempari Banjo dengan tomat busuk dan batu kerikil. Sementara orang-orang dewasa melihat kejadian itu tanpa bereaksi apa pun selain tertawa. Apa yang lucu dari melihat seorang bocah laki-laki yang pasrah begitu saja ditawur bocah-bocah sebayanya, dilempari batu hingga mengakibatkan luka memar dan berdarah di sekujur tubuhnya? Apa semua lelucon tak pernah berperasaan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Barangkali penduduk dusun sini meyakininya demikian. Mereka terpingkal tanpa rasa kasihan. Beberapa di antara mereka mencorongkan tangan di mulut dan meneriaki anak lelaki malangnya dengan kata-kata kasar. Mereka mengerumuninya dan menggiring ke luar dusun. Emak sudah hapal dengan perlakuan penduduk dusun ini; tanpa perasaan mendendam ia berbisik pada diri sendiri, "Barangkali mereka capek kerja ladang seharian, lalu mereka mencoba mencari hiburan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Emak dengan sabar dan telaten membesarkan hati putra semata wayangnya itu. Tak ada yang benar-benar membuat hatinya meluap kegembiraannya, selain ketika bisa melihat wajah Banjo tampak tersenyum sewaktu tidur. Dalam pikirannya, senyum Banjo sewaktu tidur itu berarti segala-galanya. Leluhurnya pernah bilang, jika di pertengahan tidurnya seorang anak mengigau atau menjerit-jerit, itu artinya ada bayangan hitam yang menempel pada si anak. Dan emak tak mau bayangan hitam itu satu kali saja menempeli putra tunggalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banjo sudah lelap di pangkuan emaknya. Sementara emak mulai tak kuasa menghardik rasa kantuknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dusun yang bermandikan cahaya kekuningan matahari menghilang di kejauhan, berangsur-angsur digelapkan oleh kabut petang musim penghujan. Tapi musim penghujan bukan halangan besar bagi penduduk dusun untuk mencari nafkah. Karena mereka percaya Hyang Air dan Hyang Angin telah mereka buat kenyang dan senang hati dengan upacara, tumbal, dan sesaji. Kepercayaan itu juga yang membuat emak dan Banjo terusir dari dusun itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semuanya seperti berputar kembali. Kaki langit menggenang dalam kubangan kuning kemerahan. Jangkrik-jangkrik mulai menghela komposisi kerikannya. Satu-dua burung hantu menyembulkan kepalanya dari lubang sarangnya, membawa badannya yang buntal ke tengger pohon yang paling tinggi --hampir menyundul dagu bulan. Dan hewan-hewan malam lainnya pun serentak bergerilya ke sebalik lubang-lubang amat gelap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Emak pulang larut malam dari rumah Wak Nardi dengan berbekal obor bambu di genggaman tangannya. Malam itu tak seperti malam-malam lalu. Amat gelap, amat dingin, amat mencekam. Kesiur angin membuat nyala obornya bergetar bergoyang-goyang selalu. Kedua belah matanya beberapa kali merem-melek, menyiasati lesatan uap kabut yang menggores jarak pandangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi, tiba-tiba kabut itu dikejapkan cahaya kilat --dan sungguh mengejutkan. Begitu ganjil kedatangan kilat itu. Kini yang dilihatnya bukan lagi kepulan kabut yang mengendap-endap lambat menyergap, tapi semacam gumpalan asap tebal yang mirip kepala raksasa yang bertonjol-tonjol menyeramkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekejap, kilat menyabet terang membelah langit. Di ujung jalan berbatu di sebelah barat, dari tengah-tengah sepasang pohon asem yang tegak kekar di kanan-kiri badan jalan muncullah bayangan sosok tubuh yang setindak demi setindak menuju ke arahnya, tapi hilang-hilang nyata dalam sabetan-sabetan cahaya kilat. Betapapun emak berusaha dengan menajamkan sorot mata kuyunya yang bernaung dalam kecekungan lubang matanya, sia-sia saja ia mengenali wajah tubuh itu. Tapi jelas, dari gerak-gerik sosok tubuh asing yang sedang menuju ke arahnya itu adalah sosok perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hatinya bergetar, berdegup-degup tak karuan. Terus terang emak sedang ketakutan. Dinantikannya sampai sosok itu melontarkan setidaknya satu patah kata lebih dulu. Sungguh pun diketahuinya kecil kemungkinannya sosok itu adalah orang dusun yang dikenalnya, tapi entah mengapa ia masih mau berdiri memaku menunggu sosok tanpa wajah itu menegurnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hingga….akhirnya sosok berwajah lembut nan cerlang itu tersenyum padanya, bersamaan muncul lingkaran cahaya terang memusar lalu memancar --begitu seterusnya-- di belakangnya. Cantik, sungguh cantik. Dua belah mata yang berbinar tegas, meninggalkan sorot yang menggores tajam setiap memandang. Bibirnya menggumpal padat berisi dan basah mengkilap. Kulit wajahnya halus sempurna dan seputih kapas. Wajah itu sungguh bercahaya menggetarkan dada dan menyejukkan hatinya, sampai-sampai mulut emak menganga. Beberapa kali ia pun menghela napas, menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara balas tersenyum balik. Ia berubah seperti anak kecil yang tengah mendapati sebatang kembang gula yang tiba-tiba tergenggam di kedua tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bau harum menusuk hidung emak. Bau harum yang mengepul dari kibasan jubah panjang sosok makhluk cantik itu. Ya, makhluk cantik, hanya sebutan itu yang terlintas di hatinya. Ia yakin sosok di hadapannya itu bukan satu dari bangsa manusia seperti dirinya. Malaikatkah? Atau bangsa jin? Ia belum pernah berjumpa dua bangsa ciptaan Hyang itu sepanjang sisa-sisa rambut ubannya yang memutih kapas. Jadi ia tak bisa mengatakan dengan pasti, apalagi teka-teki, dari bangsa yang mana sosok makhluk di hadapannya itu. Ia hanya bisa mengatakan makhluk itu cantik, maka itu makhluk cantik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lama. Malam tambah hening, tambah senyap, tambah penuh tanya. Tak kelihatan lagi kejapan-kejapan kilat yang berseliweran membelah langit di atas. Sekonyong-konyong meluncur dari sela bibir makhluk cantik itu, tapi bibir padat berisi itu tiada bergerak, terdengar begitu saja, kata-katanya sangat jelas dan berbunyi, "Susui jabang bayiku hingga datang malam purnama kedua puluh tujuh…."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Serasa emak dikepung anak buah malaikat maut, linglung tak tahu apa yang mesti diperbuat. Jantungnya bunyi berdegup-degup, kedua belah matanya terus berkedip-kedip. Jari-jarinya gemetar ketika menepuk-nepuk kulit pipinya yang kisut-kendur. Suara bicara sosok itu yang menggema per kata-kata, di telinganya persis wangsit Hyang, memekakkannya hingga kemerotak persendian di sekujur tubuhnya kalah beradu dengan kemerosak gesekan dedaun yang diterjang angin amat kencang, amat mencekam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Belum genap emak menghilangkan kekalutannya, tiba-tiba sosok mahacantik itu melesat dekat ke arahnya. Hingga ia harus memejamkan matanya rapat-rapat, dan hanya dua cuping telinganya yang waspada. "Akan kuambil kembali ia bilamana purnama telah sempurna….!" Hanya beberapa detik setelah gaungnya suara kakupak dari arah sawah penduduk di kanan-kirinya menghampiri gendang telinganya. Hanya beberapa detik setelah angin kencang tiba-tiba tenang, jalanan berbatu itu kembali gelap gulita. Nyala obor di tangan emak gemetar lamban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah peristiwa itu, esok paginya emak mengalami kesakitan dari ubun-ubun hingga kuku-kuku jemari kakinya. Kepalanya lebih pening dari sakit pusing biasa. Tubuhnya gemetar menggigil lebih hebat dari akibat kedinginan biasanya. Perutnya lebih tertusuk-tusuk ketimbang rasa lapar biasa. Tulang-tulangnya lebih rapuh daripada pengemis tua renta yang terlantar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang-orang dusun dan sekitarnya memutuskan agar emak dan suaminya dipencilkan ke hutan di perbatasan dusun. Mereka percaya bahwa suami-istri "aneh" itu telah dikutuk. Makhluk cantik yang konon mencegat emak pada malam ganjil itu adalah jin yang menjelma dalam wujud malaikat samarannya. Bahkan kepala sesepuh dusun angkat tangan mengamini mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perut emak seperti perempuan hamil. Ia pun merasakan kesakitan-kesakitan yang lazim dialami oleh kebanyakan perempuan hamil. Emak memang hamil. Sementara minggu bergulir menjadi bulan. Dan ketika bulan menginjak putarannya yang kesembilan, emak melahirkan seorang bayi laki-laki. Tanpa bantuan dukun, tabib, atau orang pintar mana pun. Bayi laki-laki itu diberinya nama Banjo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banjo tumbuh sehat, itu pasti. Emak dan suaminya bahagia. Pun orang-orang dusun terimbas bunga rasa itu, meski dengan air muka yang berbeda. Melihat Banjo sama saja berdiri menonton satu atraksi "makhluk aneh" di sirkus pasar malam. Mereka membiarkan Banjo bertingkah. Bocah itu tak sadar, kegirangan penduduk dusun jauh lebih menyakitkan daripada tersengat ribuan lebah pekerja. Setiap kali orang-orang dusun terbahak, setiap kali itu pula kerongkongan emak semakin tercekat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hingga usia Banjo dua tahun lebih, hingga hari yang dijanjikan itu tiba, emak mendapat mimpi aneh. Dalam mimpi itu, ia melihat Banjo menjadi santapan makhluk serba nyala merah dan meruapkan hawa sangat panas. Tak ada yang sempat diingatnya, kecuali dengung suara menggelegar dari arah makhluk ganjil itu. "Aku minta anakku dari rahimmu….!" Emak tersimpuh lemas di samping bujur kaku suaminya yang meradang seperti orang sekarat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepeninggal suaminya, masih ia ingat ia tak kuasa menolong Banjo yang meronta-ronta waktu itu. Matanya merah. Kedua tangannya mencengkeram jeruji-jeruji kayu, membuat kurungan kayu itu terguncang cukup keras. Saat itulah seorang anak kecil ingusan berlari menghambur ke halaman rumahnya ketika mendengar genderang dipalu di jalanan dusun. Peristiwa yang jarang terjadi. Anak kecil itu berlari membawa badannya yang tambur tanpa baju. Matanya bersinar-sinar memandangi arak-arakan para lelaki dusun sambil memalu bekhudah2 yang bertabuh hingar. Biji mata anak kecil itu mengikuti arakan. Serombongan laki-laki tanpa baju yang wajah dan tubuhnya dicoreng-corengi arang hitam mengarak seorang anak manusia dalam kurungan kayu yang ditandu. Mereka menuju ke puncak bukit di mana bertahta sebuah pohon kekar, mahabesar, dan menjulang tinggi. Di pelataran bawah pohon itulah Banjo dibaringkan di atas meja batu berlumut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banjo harus menjalani prosesi kurban kepada Hyang. Tubuh bocah laki-laki itu ditelanjangi. Kedua tangan dan kakinya diikat di masing-masing sisi meja batu. Setelah itu, seorang tetua ritual memercikkan air yang diyakini bertuah menghilangkan kekuatan jahat yang menghuni jasad seseorang, sambil merapal mantra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ingatan emak menjadi gelap. Tapi tak segelap malam ini. Tapak tangan kasar emak tak lepas mengusap kepala Banjo. Hampir empat belas malam berlalu, terhitung sejak malam ia "mencuri" tubuh kapar Banjo, mereka berpindah-pindah tempat perlindungan. Keduanya sebenarnya tidak ingin sembunyi dari kejaran orang-orang dusun. Emak sungguh berhasrat untuk meyakinkan mereka bahwa Banjo benar-benar anak yang lahir dari mulut rahimnya, bukan anak tumbal Hyang yang dipinjamkan di rahimnya. Tapi mereka tidak pernah bisa menerima keyakinannya itu. Karenanya ia dan Banjo harus berlindung dari piciknya kepercayaan mereka pada sesuatu yang menggariskan durhaka tidaknya manusia di hadirat Hyang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hampir sepertiga malam. Makhluk-makhluk yang dinapasi misteriusnya malam, makin menggeliat dalam kehitaman rimba bumi. Tak peduli sebuah tugas mahamulia telah memampatkan kerongkongan orang-orang dusun yang, kebanyakan para lelakinya, bermalam-malam membidik dua manusia paling dikutuk: Banjo dan emaknya. Meski membuat ladang-ladang garapan mereka terbengkalai, itu tak apa! Yang penting bagi mereka, dusun mereka bersih dari manusia-manusia durhaka, yang mengingkari wasiat Hyang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Waktu bergerak lambat bagai geliatan pesolek di mata ratusan laki-laki dusun yang tersebar di tiap-tiap sudut batas dusun, juga di tempat-tempat gelap terpencil. Dan, dua buronan mereka telah menjadi begitu terkutuk di mata mereka, karena membuat tubuh mereka memagut dinginnya malam demi malam tanpa kehangatan dari napas sengal perempuan-perempuan mereka. Membuat biji mata mereka nyaris melesat dari liangnya. Membuat darah mereka mendidih, mengerjat-ngerjat sesekali, seperti dibakar ubun-ubun mereka. Lagi-lagi salah satu dari mereka geram.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Haram jadah! Aku sudah muak! Terserah laknat Hyang kalau dusun ini masih membiarkan dua manusia terkutuk-Nya itu hidup, bahkan mungkin bisa lebih lama dari hidup kita semua. Aku tak peduli. Persetan! Bukankah Dia juga yang menghidup-matikan mereka?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Persis, belum habis satu kali kedipan mata, setelah laki-laki dusun yang geram itu memberondongkan kalimat umpatannya, libasan petir sekonyong merobek angkasa yang gelap tak berbintang. Menghamburkan ratusan laki-laki dusun dari pos-pos penjagaan mereka, semburat tunggang-langgang, seperti sekawanan semut yang baru saja diobrak-abrik sarangnya oleh moncong trenggiling. Cambuk-cambuk petir itu mengoyak-moyak kesadaran mereka. Semua terjadi seperti dalam murka yang dahsyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah yakin melelapkan Banjo di atas tumpukan daun-daun lebar dan reranting kering di sisinya, emak bangkit. Melangkah terbungkuk-bungkuk menuju mulut gua kecil yang tak sengaja diketemukannya persis ketika libasan petir pertama, libasan paling kilat. Emak memandang saja ke kejauhan. Petir mencekam. Kesiur angin menegakkan bulu kuduk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hingga…hingga sepertinya emak melihat kelebat sinar putih. Tinggi dan besar. Mendekat…Mendekat…Lalu melampaui diri tegaknya di tepi mulut gua. Melingkari tubuh Banjo yang meringkuk lelap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak ada perlawanan. Tatapan emak telah menjadi begitu hampa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*) &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Cerpen ini merupakan pemenang kedua (tak ada pemenang pertama) lomba cerpen Krakatau Award 2005 yang diadakan Dewan Kesenian Lampung, yang diumumkan Agustus lalu. St. Fatimah adalah cerpenis Surabaya. Selain cerpen, lulusan Sastra Inggris Unair itu juga menulis puisi, dan esai sastra-budaya. Dia juga menjadi editor dan penerjemah freelance.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/di-dusun-lembah-krakatau.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-3413383912105872409</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:33:42.197+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Lelaki Muda dan Gadis Kecil</title><description>&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:courier new;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Karya Susialine Adelia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tamu Bu," Bibi membungkuk santun, mengarahkan ibu jarinya ke ruang depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa?" tanyaku sambil melipat koran, melepas kaca mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tahu Bu, belum pernah ke mari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Bangkit dengan benak penuh tanya, aku yakin tamu itu bukan teman bisnisku, karena ini hari Minggu. Bukan pula saudara, karena biasanya mereka menelepon lebih dulu memastikan aku ada di rumah. Mungkin saudara jauh atau teman lama yang tidak tahu adat kebiasaanku? Bisa jadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitu membuka pintu kudapati seorang lelaki muda dan gadis kecil yang tengah bercanda di teras. Lelaki itu berkulit coklat terbakar matahari, berpakaian agak lusuh. Si gadis kecil berkulit lebih terang, berbaju baru dengan bahan kualitas rendah. Ketika gadis itu menoleh padaku, segera kutangkap sinar di wajahnya yang membuatku terkesiap beberapa saat. Sinar wajah itu tak asing bagiku. Meski bentuk hidung dan mata kedua tamu itu sama --yang membuatku bisa segera menyimpulkan bahwa mereka adalah bapak dan anak-- namun kutemui sinar lain di wajah anak itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lelaki muda itu menoleh ke pintu, ke arahku. Seketika dia berdiri, mengangguk sedikit dan mengucap selamat siang. Aku menjawab dengan sedikit goyangan kepala. Sedikit saja. Tawa kecil si gadis kecil pun terhenti. Kupersilakan keduanya masuk, masih dengan jantung yang sedikit berdebar. Siapa mereka? Lelaki lusuh dengan sorot mata tajam. Jelas kemari bukan untuk minta sumbangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah kami duduk, dia mulai memperkenalkan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Saya Jaya, Tante. Dan ini Neyla," katanya sambil meletakkan tangannya di bahu gadis kecil itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Neyla. Nama yang begitu mirip dengan nama anak gadisku dulu, Neyna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf, mengganggu hari libur Tante," katanya. Suaranya mantap dengan intonasi jelas dan tatap mata yang begitu percaya dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku yakin dia bukan orang sembarangan. Cara dia berbicara dan tatap mata itu, tidak dimiliki oleh sembarang orang. Untung aku memperlakukannya dengan baik, batinku. Kutatap dia lebih lekat, mencoba menjajaki lebih dalam siapa sebenarnya laki-laki di depanku itu. Dia cukup tampan. Mungkin kemelaratan membuatnya kurang terawat dan tampak lebih tua dari usia sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Saya ada titipan dari Neyna."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Neyna. Dia menyebut nama itu! Seketika menegang otot-ototku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf baru bisa menyampaikan sekarang," lanjutnya. "Sangat terlambat, tetapi memang baru sekarang kami sempat ke kota ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia keluarkan dari tasnya yang kumal sebuah bungkusan pipih dan diulurkannya padaku. Kuterima bungkusan itu dan kubuka salah satu sisinya. Foto kami. Aku, suamiku, Andreas, dan Neyna. Foto yang dibuat ketika dua anak kami masih kecil. Mungkin Neyna baru seusia gadis di depanku itu. Jadi Neyna yang telah mengambil foto ini dari ruang tengah, batinku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Neyna minta maaf tidak minta izin mengambilnya dan minta tolong saya mengembalikannya kemari."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa bukan dia sendiri yang mengembalikannya pada kami?" keramahan yang baru mulai muncul seketika sirna. Sikapku berubah dingin dan kaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ingatan pada Neyna, anak perempuanku itu telah membuka kembali luka masa lalu. Masih jelas dalam ingatan betapa anak yang kukandung, kulahirkan dan kubesarkan itu tega menampar-nampar wajahku. Aku tak tahu, apa yang telah merasukinya. Neyna yang begitu manis dan menyegarkan hari-hari kami sekeluarga, sedikit demi sedikit mulai berubah begitu masuk kuliah dulu. Awalnya, hanya ikut kegiatan kemahasiswaan saja. Selanjutnya dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman di organisasi mahasiswa. Waktu itu aku mulai menegurnya. Kami sempat berdebat sebelum akhirnya tercapai kesepakatan bahwa aku tidak akan melarangnya berkegiatan selama dia mampu mempertahankan prestasi akademiknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lama-lama dia mulai malas pulang. Rumah hanya dijadikan tempat singgah, tempat menyimpan barang yang diperlukannya kadang-kadang. Komunikasinya denganku menurun drastis. Aku yang dulu berfungsi sebagai teman ngobrol berubah menjadi kasir yang hanya ditemui pada saat butuh duit. Begitu jarangnya dia pulang hingga kadang aku terkaget-kaget ketika bertemu. Anak gadisku yang cantik, bersih, dan wangi tiba-tiba kutemui telah jadi malas merawat diri. Dia datang menemuiku dengan wajah tirus, mata lelah, dan baju yang apek. Bahkan pertemuan selanjutnya tidak kutemui lagi rambut hitamnya yang dulu lebat dan indah dengan poni yang membuatnya seperti boneka Barbee. Rambut itu telah dipangkas pendek karena dia merasa terlalu ribet mengurusnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mulai punya alasan untuk marah dan melarangnya berkegiatan, tetapi dia membantah. Bahkan terang-terangan menyatakan sikapnya terhadapku. Mengkritik aku yang katanya otoriter, menjalankan kepemimpinan rumah tangga dan perusahaan sekehendakku, tanpa mau mendengar usulan dan suara ketertindasan orang lain. Siapa tak akan terbakar? Tahu apa dia tentang kehidupan rumah tangga? Apalagi tentang perusahaan. Tak sadarkah dia bahwa perusahaanlah yang membuatnya bisa hidup seperti sekarang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Perusahaan itu tumpuan hidup kita. Kamu tidak perlu mencampuri urusanku di sana karena kehancuran perusahaan berarti kehancuran hidup kita," kataku pelan namun tajam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, memang perusahaan itu yang membuat kita jaya dan kaya-raya. Tetapi ingat Ma, itu bukan hasil kerja Mama. Para buruh itulah tulang punggungnya. Dan selama ini Mama dengan atas nama perusahaan telah memeras tenaga mereka tanpa imbalan yang sepadan," teriak Neyna lantang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku meradang. "Kalau tak suka dengan cara kerjaku, jangan makan dari hasil kerjaku. Pergi, carilah makan sendiri atau tetap tinggal di sini dan kunci mulutmu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di luar dugaan, benar-benar di luar dugaan, Neyna menerima tantanganku. Dia memilih keluar dari rumah. Meninggalkan kehidupan yang tak ada kurangnya ini dan menggantinya dengan kehidupan liar. Kehidupan yang serba tak tentu. Tidur di mana pun dan makan dari siapa pun. Entah seperti apa tepatnya, aku tak bisa membayangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pernah aku berniat menyusulnya karena tak tega, tetapi sebelum niat itu kesampian dia justru memimpin demo karyawan menuntut perbaikan kesejahteraan. Maka tidak sekadar gagal keinginanku menjemputnya, tetapi lebur juga maafku untuknya. Sejak itu aku tak mau berpikir tentang anak itu lagi. Dia kuanggap sudah hilang atau mati. Dia sudah bukan anakku lagi! Rupanya kepergiannya waktu itu sambil membawa foto yang sekarang ada di tanganku ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa tak dia kembalikan sendiri foto ini?" tanyaku dengan sisa kemarahan masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia tak bisa," jawab Jaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa?" tanyaku. "Takut bertemu denganku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bukan," Jaya menggeleng lemah. Berkedip-kedip sebentar. "Dia tak bisa menemui siapa pun lagi," lanjutnya pelan sambil menahan napas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sakit?" tanyaku masih dengan keangkuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jaya menggeleng. Tanpa menatapku dia berkata-kata, "Neyna sudah…. pergi. Setengah tahun lalu." Dan laki-laki di hadapanku itu pun mengusap air matanya yang mengambang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku menghempaskan diri. Tak sengaja. Memang aku begitu terluka oleh ulahnya dan meniatkan tak menganggapnya lagi sebagai putriku, tetapi kabar ini begitu mencabik perasaanku. Neyna, putri cantikku itu telah pergi selamanya…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maafkan, saya tak bisa menjaganya," laki-laki itu telah mampu menguasai perasaannya. Sikapnya kembali tenang. "Semuanya berjalan begitu cepat. Suatu hari tiba-tiba saya jumpai Neyna muntah darah. Saat itu juga saya bawa dia ke rumah sakit. Beberapa hari di sana, dokter menganjurkan agar dibawa pulang saja. Kanker ganas di paru-parunya telah menjalar ke organ-organ lain dan tim medis sudah tidak bisa berbuat apa-apa," dia berhenti sebentar, menghela napas. " Salah saya, selama ini tak pernah memperhatikan kesehatannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kami saling diam beberapa saat lamanya. Masing-masing larut dengan kenangan dan penyesalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau suaminya?" tanyaku kemudian dengan nada yang lebih lunak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia menatapku sebentar sebelum mengangguk ragu. "Maaf, saya tak minta izin Tante lebih dulu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jadi ini anak Neyna," kataku lirih, hampir pada diri sendiri. "Kalau boleh, biar aku yang mengasuhnya," kataku tiba-tiba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jaya tersenyum. "Makasih Tante, dia adalah napas saya. Jadi tak mungkin saya berpisah dengannya. Meskipun saya tak mungkin memberi kemewahan padanya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku cukup tertampar dengan jawabannya. Tapi kutahan tak memberi reaksi apa pun pada jawaban itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak lama kemudian laki-laki itu minta diri. Kuantar sampai pagar. Sambil kubuka pintu, sempat kutanya, di mana mereka tinggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kami di lereng Gunung Geni. Saya bekerja bersama penduduk yang terancam kehilangan kehidupan mereka, karena rencana pembangunan taman nasional," jawab Jaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu mereka pun berlalu. Sebelum angkot yang mereka tumpangi benar-benar berlalu, masih sempat kulihat lambaian tangan mungil anak Jaya padaku yang kubalas dengan lambaian pula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku masih berdiri di pagar sekalipun kedua tamuku telah lenyap bersama angkot yang membawa mereka. Tiba-tiba aku teringat, sebentar lagi suamiku pulang. Dan dia tak boleh tahu apa yang terjadi. Jadi segera kututup pagar dan melangkah masuk. Membasuh muka lalu kembali duduk di depan TV, sambil membuka-buka halaman koran Minggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/lelaki-muda-dan-gadis-kecil.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-5109958858497612278</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:29:33.103+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Surat untuk Sakai</title><description>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen Karya Lan Fang&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bulan dan matahari adalah pasangan abadi yang selalu hadir pada saat yang berbeda.&lt;br /&gt;Mereka tidak pernah sepaham, datang dan pergi pada saat yang berbeda pula.&lt;br /&gt;Namun serupa cinta yang tulus, mereka selalu hadir untuk menerangi gulita dengan sinarnya yang benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Effendy Wongso&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin sangat jadul. Kuno. Pada zaman yang segalanya serba mudah dan cepat ini, aku masih ngebela-belain menulis surat untukmu. Padahal komputer ada di mana-mana. Kabel telepon tinggal dihubungkan ke laptop. Warnet pun bertebaran dari tengah kota sampai pojok kampung. Tinggal ketik e-mail dan send, maka hanya sepersekian detik kau pasti sudah menerima suratku ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Atau aku memencet tombol-tombol di telepon selularku saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ak sdg kgen pdmu 1 jt x!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sent to: sakai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;081535818xx&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;02.11.2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;15.48.52&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan aku tidak perlu menunggu sekian menit, sekian jam, sekian hari, sekian bulan, seperti selayaknya menunggu sepucuk suratmu seperti saat kita remaja dulu. Tidak perlu menunggu Pak Pos yang berkata, "Surat dari pacar ya? Sudah ditunggu-tunggu, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sudah jelas dengan ia menebar senyum menggoda sambil menahan amplop yang sudah tidak sabar hendak kubuka. Lalu dengan tergesa, aku harus menyobek pinggir amplop dengan hati-hati agar lembar kertas suratmu tidak ikut sobek, barulah aku bisa membaca kabar darimu. Ah, tepatnya membaca cerita darimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukankah kau seorang tukang cerita, Sakai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan tahukah kau, setelah itu, lembar-lembar ceritamu selalu kukumpulkan. Kusisipkan di halaman-halaman buku harianku. Juga kuselipkan di helai-helai ingatanku. Karena aku selalu suka dengan cerita-ceritamu. Ceritamu selalu membuatku merasa jadi gadis paling cantik di dunia. Gadis yang paling kau rindukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal bukankah kita belum pernah bertemu, Sakai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kita sudah pernah bertemu. Aku sudah mengenalmu di kehidupan sebelum ini," begitu tulismu di suratmu yang berikutnya waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Surat yang kuyakini bahwa aku juga mempunyai rindu yang sama. Rindu yang sudah kita punyai sejak kehidupan sebelum ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ini hanya masalah waktu, mana yang datang lebih dahulu. Cuma itu," sergahmu menegaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadi sekarang aku pun tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunggu balasanmu. Hanya dalam sekian detik, telepon selularku menerima pesan darimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sms tadi kau kirimkan kepada berapa orang? Aku yang ke berapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sent by: sakai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;081535818xx&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;13.11.2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;15.49.03&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku langsung membalasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hya utkmu. Cma km. Km saja. Km. Titik!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sent to: sakai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;081535818xx&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;13.11.2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;15.49.05&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi kau tak percaya. Kau memberikan jawaban yang mengecewakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, sms yang ini sudah kau kirimkan ke berapa orang? Aku yang ke berapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sent by: sakai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;081535818xx&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;13.11.2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;15.49.07&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu bagaimana aku bisa membuatmu percaya, Sakai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya kuputuskan untuk menulis surat ini untukmu. Surat yang kutulis dengan tulisan tanganku sendiri. Jadi tidak mungkin aku mengirim surat yang sama dengan tulisan tanganku kepada beberapa orang, bukan? Surat ini juga akan kukirimkan padamu melalui kantor pos. Biar suara Pak Pos saja yang mengabarkan ada rindu yang datang dari masa lalu. Kita akan jadi remaja lagi seperti dulu yang cuma tahu cinta bewarna merah jambu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadi surat ini hanya untukmu. Cuma kamu. Kamu saja. Kamu. Titik!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang percayakah kau padaku, Sakai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata waktu sangat ajaib. Mendadak saja Ia mempertemukan kita di sebuah kongres cerpen di Banjarmasin. Kau datang dari Sumatera. Aku berangkat dari Jawa. Dan di Kalimantan, rindu masa lalu itu bertemu. Apakah ada yang lebih menakjubkan dari itu? Bukankah benar-benar seperti sebuah cerita pendek yang sering kau tulis dahulu? Cerita yang tidak pernah kulupa. Tetapi ketika kita bertatap mata, sudah jelas bukan sekadar cerita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu benar-benar jadul! Kuno! Sok kembali ke masa lalu!" serumu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Masa lalu adalah waktu yang paling jujur," sahutku tak perduli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemudian kita terjebak pada masa lalu yang kembali datang. Kau kembali jadi tukang cerita. Kau bongkar simpul-simpul kenangan yang sudah kutidurkan. Seperti dahulu. Aku selalu suka ceritamu. Kau membuatku merasa menjadi perempuan paling cantik yang kau panggil dari masa lalu. Perempuan yang paling kamu rindu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi bagiku, sekarang ada sedikit yang berbeda. Aku memang masih pendengar cerita setiamu. Tetapi sekarang kau bukan lagi pencerita mimpi dan cinta. Kau sudah jadi pencerita luar biasa, sedang aku masih suka dongeng basi tentang hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kenangan membuat kita terombang ambing di atas gelombang masa lalu. Kita habiskan malam dan siang seperti kisah yang tak ingin berpisah. Dan tidak kusangka sama sekali ternyata kau adalah laki-laki yang sangat lembut. Suaramu seperti bisik rumput. Senyummu seempuk lumut. Ditambah cengkok Melayumu yang terdengar sangat seksi, rasanya rugi jika aku tidak menyimakmu baik-baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Riak Sungai Barito yang kita kunjungi subuh itu pun seperti menyiratkan kelembutanmu. Alunannya tidak seheboh gelombang yang menampar tepian pantai. Tetapi cuma seperti ciuman curi-curi. Riak-riak kecil yang sekadar menempel untuk lalu sejenak kemudian datang lagi... ke tubuh dermaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat itu aku terdiam, terpana, terpaku di bibir dermaga. Padahal kau sudah di dek klotok yang akan membawa kita mengarung sungai panjang ini. Kamu mengulurkan tangan untuk membantuku meniti sebilah papan untuk turun ke dek klotok karena badan klotok bergoyang-goyang. Memang bukan digoyang gelombang besar, tetapi bukankah alunan riak kecil walaupun sejenak juga bisa membuat kita tergelincir? Apalagi riak datang silih berganti. Seperti itu riak yang mampir ke hatiku. Riak kecil seperti kecupan bertubi telah melemparkan sebutir rindu jauh yang datang tiba-tiba. Tapi bukan rindu masa lalu. Ini rindu yang akan datang sedang aku berdiri pada masa sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dermaga yang kita hampiri cuma dermaga sederhana. Sebuah dermaga kecil dari susunan kayu-kayu. Tapi cukup bersih dan lapang walaupun warna air di Sungai Barito secokelat kakao. Di tepinya berjajar tiang lampu hias dan beberapa pohon palem yang langsing. Di bibirnya, merapat ujung klotok yang akan membawa penumpang mengelilingi Sungai Barito. Setelah klotok mengarungi ujung ke ujung, maka akan membawa penumpangnya kembali ke dermaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yah, kembali untuk kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sakai, ini membuatku teringat kepada seseorang. Sebelum kita bertemu di Banjarmasin, ada seseorang mengirim e-mail kepadaku. E-mail itu gambar sebuah dermaga yang dipotret dari alam mimpi. Dermaga itu kelihatan luas, rapi, bersih, dan modern. Warna lautnya serupa warna langit. Sampai tidak bisa dibedakan di mana batas bumi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku bisa membayangkan iringan lumba-lumba menari di sana . Katanya, suatu saat, ia akan mengajakku untuk mengunjungi dermaga mimpi itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia berkata, "Aku suka sekali dengan dermaga. Karena selalu memberi rasa yang meneduhkan. Sesederhana apa pun dermaga tetap sebuah dermaga. Di dermaga, semua yang pergi pasti rindu untuk kembali."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kembali untuk kembali, Sakai!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang pertanyaan yang kerap kau tanyakan padaku mendadak mampir di hatiku. Kepada siapa sajakah ia mengirimkan gambar dermaga itu? Bukankah tidak sulit hanya mengklik tuts forward? Dan aku perempuan ke berapa yang dikirimi gambar itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka setelah kita duduk di buritan klotok, aku tidak mampu menahan jemariku untuk segera memencet tombol-tombol ponselku. Kupikir, aku harus segera menanyakan hal itu kepadanya. Kali ini, aku tidak perlu menggunakan cara jadul dan kuno, seperti yang kupergunakan denganmu. Karena ia laki-laki praktis pada masa datang. Dan pada masa datang, siapa yang cepat maka dialah yang dapat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gbar dermaga itu sdh km kirim ke brp org? Ak yg ke brp?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sent to: dermaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;031.709829xx&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;27.10.2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;04.57.12&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Belum ada jawaban. Memang langit masih berwarna abu-abu. Terang belum sempurna. Jadi mungkin ia masih bermimpi tentang dermaga. Apakah aku ada hadir di sana? Tidak bisa kucegah hatiku jadi seperti badan klotok yang terayun-ayun di tengah sungai. Kuharap nanti jawabannya melegakanku. Bukan lega yang pura-pura.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kulihat warna subuh sangat teduh. Di langit kita bisa memandang dua bola raksasa berada di posisi berseberangan. Matahari yang akan terbit di sebelah kiri. Bulan yang hampir hilang di sebelah kanan. Dan kita duduk berdampingan. Bersisian menyeruput teh hangat berasa sepat yang sedap. Diam tersihir harum sungai yang asin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sepanjang sungai, banyak gethek lalu lalang. Mengangkut kelapa, labu, dan semangka. Juga ada yang berjualan kopi, teh, wadai dan nasi. Ada beberapa kapal tanker dengan cerobong mengeluarkan asap bersisipan dengan klotok yang kita tumpangi. Asapnya membuat mataku kelilipan. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu, wajahmu sudah begitu dekat dengan wajahku. Meniupkan embusan untuk mataku yang berkedip-kedip keperihan. Kemudian jemarimu memetik sebuah debu yang mampir di rambutku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aih, hatiku rasanya nyut-nyut, Sakai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Belum pernah ada yang semesra itu padaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena kamu bukan perempuan yang mesra," sahutmu ketika kuungkap hal itu dengan terus terang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kurasa kali ini kau keliru. Tidak tahukah kau bahwa aku pecinta yang sempurna?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau perempuan pencemburu tetapi tidak mau dicemburui. Kau ingin memiliki tetapi tidak mau dimiliki. Rupanya terlalu sulit untuk mencintaimu. Sesulit untuk berbicara dalam arti sesungguhnya denganmu," sambungmu panjang lebar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak sulit," sahutku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana tidak sulit? Saat ini kau bersamaku tetapi kau sedang memikirkan laki-laki lain, kan?" sahutmu dengan nada datar sekali sampai aku berusaha keras untuk menebak apa artinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Baiklah, mari kita bicara dalam arti sesungguhnya," kurasa aku tidak sedang berusaha mencari dalih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu ka bercerita tentang dirimu, istri, dan anak-anakmu. Kau mempunyai tiga buah cinta dan istri yang sangat memahami betapa kau mencintai dunia buku. Kukatakan bahwa memiliki jantung jiwa seperti itu sudah seperti menggenggam surga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana dengan suamimu? Baikkah ia kepadamu? Dan bagaimana anak-anakmu? Sehat-sehatkah mereka?" tanyamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kujawab, bahwa suamiku adalah suami paling baik di dunia. Dan anak-anakku adalah anak-anak paling lucu di dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Puaskah kau dengan jawabanku, Sakai?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dan bagaimana dengan kau sendiri? Baikkah? Gembirakah? Sempurnakah kebahagiaanmu?" Kau menyambung dengan pertanyaan lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Baik. Gembira. Bahagia. Sempurna," jawabku sambil melarikan pandangan ke arah matahari yang mengintip dari balik sirap rumah yang berdiri di tepi sungai. Kulihat perempuan-perempuan mulai keluar dari rumah. Kita bisa melihat mereka dengan jelas di sepanjang sungai. Mereka hanya mengenakan tapih saja. Air Sungai Barito mengguyur tubuh mereka. Kepala sampai kaki mereka pun basah. Maka tapih mencetak lekat garis tubuh. Wajah mereka memancarkan kecantikan alam semesta. Kecantikan yang tidak akan kau lihat pada wajah perempuan-perempuan di kota besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan mereka tertawa. Bukankah itu artinya gembira? Tetapi apakah gembira sama dengan bahagia? Apakah tertawa sudah bisa diartikan sebagai gembira dan bahagia yang sempurna?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perlahan terang mulai menampakkan diri. Terang selalu membuat semua menjadi telanjang. Aku tidak mau matahari menelanjangi hatiku karena jawaban di hatiku berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tahukah kau apa yang dikatakan hatiku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lebih baik kutuliskan saja. Agar matahari tidak bisa mencuri dengarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sakai, aku bukan ibu yang baik. Aku bukan istri yang gembira. Tetapi aku sedang bahagia karena aku punya cinta yang purnama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi kau masih saja belum puas. Kau masih mengejarku dengan pertanyaan lain. Sepertinya kau sudah serupa matahari yang bisa menelisik sampai ke sudut tergelap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Siapa yang barusan kau sms? Kenapa meng-sms-nya? Apa yang kau sms untuknya?" Pertanyaanmu tetap dengan nada datar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ah, apakah harus kukatakan yang sesungguhnya, Sakai, bahwa dia laki-laki di dermaga mimpi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia menungguku segera kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadi aku ingin segera kembali! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: courier new; color: rgb(255, 102, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kamus :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;Klotok : kapal kecil dengan mesin dinamo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;Gethek : perahu kecil yang dikayuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;Wadai : kue.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;Tapih : kain sebatas dada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;" class="fullpost"&gt;Sirap : atap rumah masyarakat Banjarmasin yang terbuat dari kayu ulin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/surat-untuk-sakai.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-7080356269826082000</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:21:39.729+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Dermaga</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen Karya Lan fang&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sedang berada di dermaga. Aku sangat suka dermaga. Dari pinggir dermaga, aku bisa melihat laut lepas dan langit luas. Menurutku, dermaga adalah sebuah tempat yang nyaman. Dermaga juga sebuah sandaran. Setelah jauh melaut, bukankah harus kembali? Dan dermaga adalah tempat melabuhkan semua penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dermaga di ujung laut Gresik. Hanya sebuah dermaga sederhana yang ditata dari kayu. Laut sedang surut sehingga tepinya tampak seperti lumpur. Ada beberapa ketam kecil berlarian di atasnya. Perahu-perahu kayu sedang tertambat. Ada nelayan yang sedang menjahit jaring. Juga ada yang sekadar cangkruk menunggu waktu melaut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dermaga ini jauh berbeda dengan &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Dermaga Docklands&lt;/span&gt; di &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Melbourne&lt;/span&gt; yang pernah kukunjungi. Itu dermaga tempat merapat kapal-kapal motor. Laut dan langitnya tampak sangat biru. Di tepinya ada sebuah bar. Di sana kami pertama kali bertemu sekaligus berpisah tanpa kata-kata perpisahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebetulnya sebuah dermaga tidak terlalu perlu untuk diingat-ingat. Tepatnya, aku tidak perlu mengingat-ingat dia lagi. Bukankah kami sudah berpisah? Dan tidak ada yang perlu diingat dari perpisahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi dermaga selalu membuatku teringat kepadanya. Ia memiliki sepasang mata yang sangat kukagumi. Juga tak mungkin kulupakan. Sepasang mata indah yang teduh. Bening seperti pantulan cermin. Bagai langit yang becermin pada laut. Atau laut yang mengaca kepada langit. Entahlah. Itu tidak terlalu perlu bagiku. Karena aku melihat pantulan diriku di matanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi aku bukan sekadar menyukai matanya. Aku juga menyukai rambutnya yang berwarna seperti helai-helai jagung. Terlebih lagi bibirnya yang terlihat segar. Kupikir, itu bibir yang enak untuk dicium.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak merokok," jawabnya ketika hampir setengah hari kami bersama. Ia sama sekali tidak mengeluarkan sebatang rokok pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pantas saja! Aku suprise sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tapi aku suka nge-bir," sambungnya sambil tertawa. Tampak menarik sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak hari itu ia selalu mentraktirku minum sambil duduk-duduk di pelataran Dermaga Docklands. Ia pemilik Fish Bar. Sebuah bar yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil di tepian Dermaga Docklands. Ia meletakkan banyak kursi dan meja bulat di pelatarannya. Sehingga dari pelataran bisa mencium udara laut. Udara yang membuat dadaku terasa lapang ketika mengirupnya dalam-dalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku sudah seminggu di Melbourne. Kantorku sebuah perusahaan yang bergerak di bidang periklanan sedang membuat iklan untuk promosi sebuah biro perjalanan. Aku diberi waktu sebulan untuk memotret Australia. Dan kupilih Melbourne sebagai tempat tinggalku untuk sementara. Karena bagiku Melbourne tidak sesibuk Sydney.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku kerasan di sini. Aku sangat menikmati trotoar Melbourne yang lebar, rapi, dan bersih. Tidak banyak kendaraan lalu lalang dengan berisik, berdebu, dan semrawut. Mataharinya juga tidak seterik Surabaya. Sehingga aku lebih sering berjalan kaki bila hendak menjemput senja di Dermaga Docklands.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Awal perkenalanku dengannya sangat klise. Seperti adegan roman remaja saja. Sebagai pemilik Fish Bar sudah tentu ia harus ramah kepada pengunjung barnya. Memberikan senyum, menyapa, "Hallo, how are you?" dan "thank you" untuk segelas minuman yang kubayar. Tidak ada yang istimewa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu aku menempati tempat duduk kesukaanku. Kursi di pelataran yang agak di sudut dan menghadap laut. Aku lebih suka duduk di luar daripada di dalam bar. Karena di luar aku bisa mendengar nyanyian angin. Pekik burung yang berbaur dengan deburan gelombang yang pecah terantuk dermaga. Melihat kapal-kapal motor yang merapat dan terayun-ayun. Dan mencium wangi laut. Sedang di dalam hanya ada orang-orang yang berbicara dan musik yang kadang ingar-bingar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kadang aku membaca. Kadang aku menulis. Kadang memotret. Kadang cuma membuang pandang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemudian ia datang ke kursiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Besoknya ia datang duduk lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lusanya kembali datang, duduk dan bercerita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari-hari berikutnya, ia selalu menanyakan bila aku tidak datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu aku jatuh cinta. Aku merasa pasti kalau aku jatuh cinta kepadanya. Karena aku sudah terlalu sering jatuh cinta. Jadi aku tahu persis gejala orang jatuh cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi orang jatuh cinta, waktu bersama akan terasa pendek dan waktu berpisah terasa sangat panjang. Saat bersama, tidak ada yang dilakukan kecuali hendak menyimpan matahari. Agar matahari tidak cepat-cepat tergelincir di pengujung waktu. Sedang ketika berpisah, serasa tidur di atas bara. Gelisah ingin rembulan segera menyingkir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan gejala itu terjadi padaku!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apalagi saat itu ia berkata, "Aku punya dua tiket pub untuk malam ini. Aku mau kamu menemaniku. Bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sudah tentu aku mau!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukan hanya karena aku memang ingin berkencan dengannya. Tetapi caranya mengajakku adalah cara yang tidak pernah dilakukan oleh para laki-laki di Indonesia yang kukenal. Semua selalu berkata, "Apakah kau mau pergi denganku? Atau, "Kalau kau mau pergi denganku, aku juga mau pergi denganmu." Atau, "Terserah kamu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurutku, itu semua kalimat yang sangat tidak nyaman untuk perempuan. Kalimat ajakan yang hanya untung-untungan. Niat berkencan yang diibaratkan permainan iseng-iseng berhadiah. Syukurlah bila mendapat hadiah. Tetapi juga tidak masalah bila tidak mendapat hadiah. Toh hanya sekadar iseng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tidak suka laki-laki iseng. Karena aku bisa lebih iseng dari laki-laki. Tapi aku juga tidak suka dengan laki-laki serius. Karena aku juga punya keseriusan yang melebihi laki-laki. Aku suka laki-laki cerdas. Laki-laki yang bisa mengisengi keseriusan dan menyeriusi keisengan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kurasa ia cukup cerdas untuk menangkap seleraku. Kalimat ajakannya itu, "...aku mau kamu menemaniku," terus terang tetapi tidak murahan. Tidak malu-malu kucing tetapi juga tidak sok jaim. Kalimat yang membuatku tidak bisa menolak karena merasa terhormat. Kalimat yang membuatku jatuh cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sempat aku berpikir, apakah tidak terlalu cepat bagiku untuk jatuh cinta kepadanya? Bukankah yang datang cepat juga akan segera pergi? Tetapi mungkin tidak. Bukankah cinta bisa datang tiba-tiba seperti pencuri yang masuk lewat jendela? Tidak pernah permisi mengetuk pintu terlebih dahulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Terpikirkan pula olehku, bukankah yang terlalu terus terang akan segera membosankan? Tidak sempat dimainkan oleh perasaan gelisah karena kerinduan. Apakah tidak lebih mengasyikkan memetakan perasaan yang dikejar tanda tanya? Terusik perasaan untuk mencari jawaban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi, baiklah, aku bukan gadis remaja yang jatuh cinta pertama kali. Bukan seperti gadis belasan tahun yang dilanda cinta monyet. Lalu cuma bisa mesem-mesem cengengesan seperti monyet. Itu kuno. Terlalu membuang-buang waktu. Aku perempuan dewasa yang sudah bosan dengan cinta yang lalu lalang. Aku wanita matang yang butuh sandaran. Aku perahu yang mencari dermaganya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hei, ingat! Dia bukan laki-laki sebangsa. Sudah bukan rahasia lagi, akan banyak kesulitan mempunyai pasangan dari budaya yang berbeda. Debat itu masih berseliweran di kepalaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi, logikaku selalu saja kalah dengan perasaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan, pergilah kami malam itu ke sebuah ruang yang memekakkan dengan dentum irama yang menghentak. Tubuh-tubuh meliuk, berpelukan dan berciuman, seperti kesurupan. Lampu spootlight seperti kilat menyambar-nyambar. Musik yang berdentam keras seakan menghantam dada. Jantungku seperti meloncat. Telingaku jadi tuli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam kilatan lampu dan ingar-bingar, maka orang-orang harus merapatkan tubuh bila hendak berbicara. Juga merapatkan wajah. Merapatkan mulut ke telinga. Mungkin untuk berbicara dan berteriak. Mungkin juga untuk mencium dan mengunyah telinga. Semua tidak jelas terlihat. Tetapi jelas bisa dirasakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Makin malam semakin penuh. Bukan cuma dipenuhi orang-orang berambut pirang dan bermata pantulan cermin. Tetapi juga orang-orang dengan rambut hitam dan berwajah Asia sepertiku. Mereka menggerakkan seluruh anggota tubuh dari kepala sampai kaki dengan merdeka. Aku canggung. Jadi kami cuma duduk di kursi bundar bar saja. Tetapi cukup bisa kunikmati. Toh, tubuhku tanpa bisa dicegah juga bergoyang-goyang mengikuti beat-beat lagu. Kurasakan ada kebebasan yang berbeda dengan yang kurasakan saat memandang laut dan langit dari dermaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bila dari tepi dermaga, aku merasa ada kebebasan yang menyatukan diriku dengan alam. Aku merasa begitu kecil dan tak berdaya. Sehingga aku selalu membutuhkan dermaga, merindukan sandaran, ingin tempat untuk bertambat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi, di sini, aku merasa bebas dan berkuasa dengan diriku sendiri. Diriku adalah milikku. Diriku ada di dalam tubuhku. Semakin lama aku membesar. Karena tanpa membesar aku tidak bisa mengatasi diriku yang harus bersaing dengan tubuh-tubuh yang lain. Maka, kugerakkan tanganku ke atas, kepalaku ke kanan atau ke kiri atau kakiku melompat. Di sini aku tidak membutuhkan dermaga. Walaupun tubuhku seperti sekoci oleng tak ada nakhoda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Are you okey? Kamu tidak mabuk?" Ia bertanya kepadaku dengan menegaskan kata 'tidak'. Ia kelihatan khawatir karena aku sudah menghabiskan gelas bir yang ketiga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"I am okey. Aku belum mabuk," jawabku juga menegaskan kata 'belum'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu sambil setengah berteriak aku merapatkan mulut ke telinganya. Tetapi tidak punya keberanian untuk mencium atau mengunyah telinganya — padahal aku ingin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuceritakan bahwa aku tidak pernah mabuk, berteriak-teriak lalu muntah di tempat umum. Itu memalukan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"I am a drinker. Not a drunker!" seruku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku mulai mabuk. Kamu bisa menjagaku, please?" ujarnya ganti setengah berteriak ketika merapatkan mulutnya ke telingaku. Tetapi ia tidak mencium atau mengunyah telingaku — padahal aku ingin. Sehingga aku meragukan kadar mabuk yang dikatakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimana mungkin laki-laki yang mengaku mulai mabuk tetapi tidak segera menyaplok dan mengunyah telinga perempuan yang sudah menempel ke mulutnya? Bukankah laki-laki yang tidak mabuk saja pasti melahap rakus telinga perempuan yang ada di depan mulutnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banyak perempuan keliru besar. Para perempuan sibuk menggantungkan bermacam aksesoris di telinga. Baik yang imitasi sampai kilauan permata. Itu lambang kecantikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Padahal banyak laki-laki mengatakan bahwa telinga perempuan justru lebih seksi ketika tanpa mengenakan apa-apa. Karena lelaki bisa bebas mengunyahnya seperti kerupuk. Atau menjilatinya seperti es krim. Kenikmatan pasti akan terganggu bila lidah yang menyelip di belakang cuping telinga mendadak tertusuk ujung giwang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, aku tidak memakai apa-apa di telingaku. Dan, aku sudah menyerahkan telingaku bulat-bulat di depan mulutnya. Tetapi tidak juga telingaku berada di dalam mulutnya. Sampai malam habis seperti kami menghabiskan bergelas-gelas bir tanpa mabuk. Kami tetap saja tidak saling mengunyah telinga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasti ada sesuatu yang salah di sini, pikirku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin memang ada sesuatu yang salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti biasa sore itu kuhabiskan di tepian Dermaga Docklands. Tetapi di Fish Bar ada sesuatu yang tidak biasa. Kuhitung-hitung sudah hampir seminggu ini ia tidak tampak. Aku rindu matanya yang biru. Sebagai gantinya, ada lelaki lain di belakang meja bar. Lelaki cokelat bermata seperti buah kenari dengan wajah yang sangat Asia. Ia tampak maskulin dengan wangi tembakau. Tetapi ia sangat mahal senyum dan sangat irit kata-kata. Mata buah kenarinya menghujamkan pandangan yang membuatku salah tingkah. Tepatnya aku merasa jadi bersalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah membayar minuman, aku cepat berlalu dari hadapannya. Padahal ada keinginan untuk menanyakan ke mana laki-laki bermata biru itu? Tetapi kubatalkan niatku ketika bertubrukan dengan pandangannya. Matanya seperti ingin menelanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata aroma tembakau itu mengikutiku. Mata buah kenari itu sekarang duduk di depanku. Bibirnya mencoba membuat lengkung sebuah busur. Tetapi tetap saja tidak bisa menipu wajahnya yang keruh. Padahal langit dan laut di belakangnya masih tetap biru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu cantik dan menarik. Pantas ia tertarik padamu. Tetapi kurasa tidak sulit bagimu membuat laki-laki lain tertarik padamu," kata-katanya menimpa debur kapal motor yang merapat ke dermaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku masih belum bisa meraba ke arah mana bicaranya. Kupikir lebih baik menunggu kelanjutan kata-katanya. Kelihatannya ada hal yang ingin disampaikan kepadaku. Maka, pertanyaan jadi bergelantungan seperti pelampung-pelampung yang diikat di tepi dermaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu kenapa kalau aku cantik dan menarik? Kali ini aku merasa takut untuk mendengarkan kelanjutan kata-katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kularikan gelepar ketakutanku dengan membuang pandang ke ujung dermaga. Tapi di sana sepi. Tidak ada seorang pun. Tidak ada dia. Bahkan juga tidak tampak seekor burung terbang. Yang kelihatan hanya kapal-kapal motor yang membisu. Jauh di belakangnya, kelihatan gedung-gedung tinggi seakan tak terjangkau. Kelihatan begitu dingin walau matahari sore memantulkan kilau dari jendela kacanya. Memantul kembali ke permukaan laut. Untuk dipantulkan lagi ke permukaan mataku yang bekerjap-kerjap membuang silau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi gelisahku tak kunjung hilang. Aku tahu ada sesuatu di ujung lidah lelaki yang duduk di depanku itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kapan tugasmu selesai? Kapan kau pulang ke &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Indonesi&lt;/span&gt;a?" Ia bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Minggu depan," suaraku seperti mengambang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kali ini ia tersenyum. Sebuah senyum kelegaan. "Kau pasti bisa menemukan dermaga lain yang lebih nyaman." Kali ini suaranya jauh lebih ramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Because I love him very much. Jangan membuatnya jatuh cinta kepadamu, please."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oh! Pantas saja langit dan laut di &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Dermaga Docklands&lt;/span&gt; luas tak bertepi. Seperti hatinya. Ternyata aku telah salah membacanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/dermaga.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-3296980602699130575</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 03:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:11:37.069+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Pasar Burung</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen Karya Lan Fang&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bunga bekerja di sebuah pasar burung. Sebagaimana umumnya pasar, maka pasar burung itu dipenuhi berbagai macam burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga suka dengan burung-burung emprit yang memiliki sayap-sayap lemah. Mereka diletakkan di dalam sebuah sangkar besar terbuat dari kawat berbentuk persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulunya berwarna hitam kusam. Mereka berdesakan sehingga ada beberapa bulu mudanya rontok memenuhi lantai seperti seonggok debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik pasar burung ini suka dengan burung beo unik berbulu pirang. Beo ini sudah dipeliharanya delapan tahun. Beo sudah terlatih mengucapkan, "Selamat pagi, Bos!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beo pandai mencela burung-burung lain, "Hei, emprit, hush! Di sini tidak boleh ramai! Apa sih yang bisa dilakukan perkutut tengik itu di sini kecuali hanya berbunyi tekukur? Dan coba dengarkan cucakrawa itu bisanya cuma celometan."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pasar burung itu kecil saja. Dan semakin terasa sesak karena dipenuhi oleh burung-burung yang kian hari kian berbiak. Selain dihuni oleh para burung, pasar itu dipimpin oleh Mister Omzet dan dijaga oleh Parnoranger. Pak Boss punya cita-cita, walaupun pasar itu cuma sebuah pasar burung kecil tetapi bisa berkembang menjadi pasar burung besar dan modern. Mungkin kelak akan menjadi departement store burung. "Untuk itu harus dikelola secara baik dan profesional," begitu kata Pak Boss.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tugas Mister Omzet adalah memerhatikan penjualan burung, persediaan burung, perawatan burung, dan semua yang berhubungan dengan kelangsungan hidup para burung. Ia seperti lelaki dari benua lain yang berkulit putih. Sekujur kulit tubuh dan wajahnya putih. Bahkan bibir dan rambutnya juga berwarna kepucatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sedangkan Parnoranger bertugas sebagai pengaman, ia seperti orang-orangan di sawah yang dipakai untuk menakut-nakuti burung. Tangan dan kakinya terbuat dari jerami yang diikat menjadi satu. Wajahnya rata, juga terbuat dari susunan jerami. Tidak ada mata dan hidung. Pak Boss membuat sebuah lekukan yang dinamakan mulut. Tetapi karena Parnoranger terbuat dari jerami, maka ia tidak bisa tersenyum dengan sempurna. Ia tidak bisa menggerakkan kedua ujung mulutnya menjadi senyuman. Ia hanya bisa menarik sebelah ujung mulutnya sehingga lebih menyerupai seringai daripada senyuman. Ia menjalankan tugasnya dengan baik sehingga tidak ada sebutir padi pun yang dicuri burung dari tangkainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bunga sedih. Di pasar itu tidak ada yang bisa diajaknya bicara tentang matahari yang terlihat bulat seperti kemontokan pipi seorang bocah. Atau yang mendengarkan ceritanya tentang ganggang laut yang rindu panggangan matahari karena di bawah sana yang ada hanyalah kelembaban. Di pasar itu yang ada dari hari ke hari hanyalah burung-burung bersayap gelisah, Parnoranger dengan kepala ampas jerami yang kosong atau celotehan beo yang kadang melengking-lengking seperti kiamat akan tiba lima menit lagi. Sebetulnya yang bisa diajak bicara adalah Mister Omzet yang pucat. Tetapi yang keluar dari mulut piasnya hanya kata-kata dari tape recorder yang diulang-ulang: "Bunga, bagaimana pasar burung kita menjadi ramai?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bukankah burung-burung itu sudah cukup ramai?" Bagi Bunga, pasar burung itu sudah berisik oleh gemerisik sayap burung, beo yang tidak pernah berbisik atau orang-orangan sawah yang bersisik. Masih ditambah jalanan yang bergetar karena begitu banyak kendaraan mengibarkan bunyinya. Bunga sering merasa senar jantungnya gemetar tergeletak di tanah datar, menggelepar, untuk denting waktu yang menampar. Waktu yang terkapar, lapar, terlempar, keluar dari sauh sepasang jarum panjang dan jarum pendek dalam arus yang melingkar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ramai pembeli burung, maksudku," Mister Omzet menjawabnya dengan gerakan kepala seanggun merak memekarkan ekornya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ramai orang, maksudmu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ramai orang yang membeli burung, maksudku," Mister Omzet mempertegas penjelasannya. "Pasar burung ini harus meningkat pembeliannya. Karena setiap hari kita harus memberi biji-bijian untuk makanan burung-burung itu. Itu berarti ongkos. Belum lagi kalau ada burung yang sakit atau mati. Itu berarti risiko."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bunga mengatakan, mungkin burung itu sakit merana. Burung juga rindu kekasihnya. Mungkin kekasihnya hanya sebatang pohon yang berlumut atau sebongkah batu abu-abu. Biarlah menjadi kekasih pohon atau kekasih batu. Tetapi tetap punya kekasih untuk dicumbu. Bukan sekadar mengepakkan sayap lemahnya dengan gelisah menunggu pembeli burung yang akan memasukkannya ke dalam kurungan yang baru. Sangkar yang itu-itu juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Atau mungkin burung itu mati ketakutan oleh orang-orangan sawah yang hanya punya sebuah lubang di wajahnya, yang cuma bisa menyeringai menyajikan kebodohan. Orang-orangan sawah yang bisanya cuma membentak "Hush! Hush! Jangan bawa biji padiku! Hush! Hush! Awas! Kuperingatkan kau, jangan bawa biji padiku!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bertahun-tahun yang lalu, Bunga rajin melepaskan burung-burung. Setiap bulan ia menyisihkan uang sakunya untuk membeli beberapa ekor burung dan melepaskannya. Ia gembira melihat burung-burung kecil itu berlomba keluar dari kurungan. Mereka berputar-putar sebentar dengan kebingungan seakan mencari ke arah mana angin bernapas. Sekian jenak barulah mereka menyadari bahwa mereka sudah menjadi bagian dari angin. Kemudian mereka mencericit menggenapi bahasa angin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika itu ia berkenalan dengan Mister Omzet. "Suka sekali kau membeli burung-burung. Untuk apa?" Pertanyaan yang aneh untuk Bunga. Bukankah semakin banyak Bunga membeli burung, seharusnya Mister Omzet semakin gembira?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kata orang, bila kau sering mendengar ricik air, desir angin, dan kicau burung, maka umurmu akan bertambah sepuluh tahun," sahut Bunga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Di sini kau akan selalu mendengar suara burung," sahut Mister Omzet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka bekerjalah Bunga di pasar burung itu. Tugasnya sederhana, hanyalah membuat pasar burung itu ramai didatangi orang. Agar orang-orang terpesona dengan burung-burung dan membelinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan seperti kata orang agar umur bertambah panjang sepuluh tahun lagi, maka di pasar burung itu sekarang ada air yang mengalir menerabas himpitan bebatuan, angin yang menyelinap di ketiak dedaunan, semak anggrek yang menempel di batang pohon, buah plum merah liar yang bergerombol menyembul seperti perawan malu-malu, dan sebatang dahan adenium merah jambu berjuntai mengintip dari tingkap atap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ini bukan pasar burung lagi. Tetapi ini Eden! Ini Firdaus!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang Bunga bahagia di Eden, di Firdaus. Setiap hari hatinya terasa seringan kapas dan ia terus tertawa. Matanya berkedip-kedip membalas kedipan genit burung-burung yang mencuri lirik. Burung-burung kecil tidak lagi menceracau tetapi berkicau. Kepaknya tidak resah melainkan gemulai. Mereka mematuki biji-biji padi yang bernas dengan bebas. Kupu-kupu lalu lalang, lebah datang, kumbang berciuman dengan kembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi Mister Omzet berkata, "Bunga, ini pasar burung. Bukan taman bunga. Kita menjual burung. Bukan menjual madu. Kita perlu orang. Kita tidak perlu tawon. Jadi, carilah orang untuk membeli burung."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bunga pikir, makhluk mana yang tidak menikmati Eden, tidak menyukai Firdaus? Bila kupu-kupu, lebah, kumbang, begitu mencintai keindahan, sudah pasti manusia tidak akan meninggalkannya, bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Siapa tak suka madu, siapa tak suka manis, siapa tak suka indah, siapa tak suka? Tak sukakah? Tak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi mungkin Mister Omzet tak suka, beo tak suka, Parnoranger tak suka. Mereka tak suka. Tak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kita harus mengeluarkan ongkos lebih besar lagi untuk memelihara Eden ini. Firdaus ini terlalu banyak bunga. Kita kerepotan merawatnya. Serangga-serangga kecil itu juga begitu ribet tetapi tidak memberikan keuntungan. Bunga, sebentar lagi ada festival burung, kupikir lebih baik berkeliling dengan gerobak menawarkan perkutut kita, cucakrowo itu, dan burung-burung lain itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Si beo membeo, "Gerobak! Gerobak! Gerobak!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pak Boss juga berkata, "Gerobak tidak jelek. Tidak perlu kereta ditarik kuda. Dan tidak ada salahnya beranjak dengan pedati ditarik sapi, bukan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Si beo membeo lagi, "Sapi! Sapi! Sapi!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut mereka, festival burung ini sangat penting. Semua orang dari penjuru kota akan berbondong-bondong mengikuti festival burung. Maka pasar burung harus mengeluarkan burung-burung terbaiknya. Mereka pasti membeli dan melatih burung-burung untuk mengeluarkan suara paling merdu. Kupu-kupu, lebah dan kumbang itu hanya bikin sesak tempat karena mereka adalah serangga yang tidak penting. Mereka cuma serangga kecil yang hanya diperlukan untuk menyemai serbuk bunga, untuk perkawinan putik bunga, untuk melahirkan kuntum-kuntum bunga baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bunga sedih lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bunga ingin burung-burung bukan cuma berkicau bila ada festival burung. Tetapi senantiasa menyanyi riang seperti musim semi yang tidak pernah berhenti dan tetap berkicau ketika musim gugur membuat daun-daun berwarna kuning tembaga. Burung yang berkicau menyambut matahari musim panas dan tetap berkicau menghibur musim salju yang terasa murung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi Bunga bisa apa? Ia cuma sekuntum bunga dengan kelopak rapuh yang gembira ketika tumbuh di Eden, di Firdaus. Ia kembang yang mekarnya tak sempurna karena sekadar menjadi penikmat surga dengan mata terjaga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Surga yang tak pernah ada ketika orang-orangan sawah bernama Parnoranger bergerak dengan kaku. Rumput berserakan dengan jerami yang berjatuhan. "Hush! Hush! Kau mengambil biji padiku! Kembalikan biji padiku! Kau seperti burung tak bertelinga!" serunya ketika siang bersanding dengan petang dan terang mulai bersetubuh dengan gelap. Bayangan orang-orangan sawah itu berjalan dengan langkah terseret-seret meninggalkan baret panjang di kelopak Bunga. Seperti badan mobil yang disilet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu tidak berdarah karenanya. Seharusnya juga tidak perlu ada perih. Belajarlah bahasa jerami, maka kau akan mengerti, bahwa ia cuma menjaga padi," begitu kata &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pak Boss seakan silet tidak menyebabkan gurat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku bukan penjaga padi. Aku bunga tanpa duri. Aku cuma paham bahasa wangi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bukankah padi juga selajur tangkai?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau begitu ajari aku bahasa jerami."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pak Boss kelihatan jengkel padanya. "Kemarin masalah pedati ditarik sapi, sekarang masalah sebiji padi! Kau memang lebih baik jadi burung daripada menjadi bunga! Sana, patuklah duri!" Pak Boss melempar Bunga ke udara. Kelopaknya terbang membentang, lebar melayang. Maka ia menjadi burung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi bukan burung beo membeo, bukan burung emprit yang resah, bukan merak yang angkuh, tapi ia Merlin — elang kecil dengan sepasang kepak sekuat kapak yang bisa menebas angin menyambar petir. Cakarnya seperti cakram bergerigi, tak pernah luput mencengkram gagak hitam yang rajin berkaok-kaok. Ia meluncur dengan kecepatan penuh dengan paruh untuk mematuk. Ia Merlin yang tidak takut dengan orang-orangan sawah. Kukunya menyambar udara dan menyobek mulut orang-orangan sawah itu. Kepala Parnoranger terpelanting lepas dari tubuhnya. Terlempar. Mengelinding dengan sedih. Burung-burung kecil berebut mematukinya. Memburai tangannya, kakinya, kepalanya dari bebatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suara lengkingan si beo seperti kiamat sudah tiba, "Parnoranger! Parnoranger! Parnoranger!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak ada yang peduli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak ada darah juga tidak ada perih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia cuma sebuah boneka jerami!&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/pasar-burung.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-1812878694954581386</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 02:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T10:03:41.727+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Malam - Malam Nina</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen Karya Lan Fang&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang perempuan&lt;br /&gt;yang lahir atas nama cinta,&lt;br /&gt;berkerudung jelaga lara&lt;br /&gt;yang dilentuk laki-laki&lt;br /&gt;dari kristal talang hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelacur di Stasiun Solo Balapan,&lt;br /&gt;mengais sisa nasib yang direpih oleh laki-laki&lt;br /&gt;ini cinta yang purna&lt;br /&gt;atas nama racun jingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan,&lt;br /&gt;seorang pelacur dan anjing kampung&lt;br /&gt;stasiun meriuh oleh derap kereta&lt;br /&gt;hatiku patah,&lt;br /&gt;cintamu sesempurna gemintang&lt;br /&gt;aku bersujud di bawah kakimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf atas semua dosa ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Perempuan, Pelacur, dan Anjing Kampung - Effendy Wongso)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ini sudah hari ke empat Nina kelihatan murung. Kian hari wajahnya semakin mendung dengan mata nanar dan bisu. Kerjanya setiap hari bangun dengan masai lalu duduk termenung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebetulnya itu bukan urusanku. Karena Nina bukan siapa-siapaku. Ia hanya menyewa sebuah kamar di rumahku. Ia tinggal bersamaku baru dua bulan ini. Tetapi entah kenapa aku langsung menyukainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rumahku tidak terlalu besar. Juga tidak terlalu bagus. Sederhana saja. Rumahku berada di kampung yang dindingnya rapat dengan tembok rumah sebelah. Ada tiga kamar kosong. Tetapi aku tinggal sendirian. Karenanya, aku menyewakan kamar-kamar kosong itu untuk menunjang hidupku di samping aku membuka sebuah warung kelontongan kecil di depan rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penghuni kamar pertama adalah Anita. Ia cantik dan selalu wangi karena ia bekerja sebagai seorang beauty advisor kosmetik terkenal di counter kosmetik sebuah plaza megah. Anita supel, periang dan pandai berdandan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamar kedua dipakai oleh Tina. Ia juga cantik. Katanya ia bekerja di sebuah restoran. Tetapi yang mengantarnya pulang selalu bukan laki-laki yang sama. Kepulan rokok mild juga tidak pernah lepas dari bibirnya yang seksi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi aku bukan tipe pemilik kost yang reseh. Mereka kuberi kunci pintu supaya bila pulang larut malam tidak perlu mengetuk-ngetuk pintu dan membuatku terganggu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tidak terlalu pusing dengan apa pun yang mereka kerjakan. Toh mereka selalu membayar uang kost tepat waktu. Bukan itu saja, menurutku, mereka cukup baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka hormat dan sopan kepadaku. Apa pun yang mereka lakoni, tidak bisa membuatku memberikan stempel bahwa mereka bukan perempuan baik-baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nina datang dua bulan yang lalu dan menempati kamar ketiga. Kutaksir usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Paling-paling hanya terpaut dua tiga tahun di bawahku. Ia tidak secantik Anita dan Tina, tetapi ia manis dan menarik dengan matanya yang selalu beriak dan senyumnya yang tulus. Ia rapi. Bukan saja kamarnya yang selalu tertata, tetapi kata-katanya pun halus dan terjaga. Ia membuatku teringat kepada seorang perempuan yang nyaris sempurna. Perempuan di masa lampau yang...ah, aku luka bila mengingatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oh ya, Nina juga tidak pernah keluar malam. Ia lebih banyak berada di rumah, bahkan ia tidak segan-segan membantuku menjaga warung. Kalaupun ia keluar rumah, ia akan keluar untuk tiga sampai empat hari setelah menerima telepon dari seseorang laki-laki. Laki-laki yang sama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukan masalah kemurungannya saja yang aneh bagiku. Tetapi sudah dua minggu terakhir Nina tidak pernah keluar rumah. Bahkan tidak menerima atau menelepon sama sekali. Yang tampak olehku hanyalah kegelisahan yang menyobek pandangannya. Dan puncaknya adalah empat hari terakhir ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nina, ada apa? Beberapa hari ini kamu kelihatan murung...," aku tidak bisa mengerem lidahku untuk bertanya, ketika kami hanya berdua saja di rumah. Warung sudah tutup pukul sepuluh malam. Anita dan Tina belum pulang. Tetapi Nina kulihat masih termangu dengan mata kosong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia menoleh dengan lesu setelah sepersekian menit diam seakan-akan tidak mendengarkan apa yang aku tanyakan. Kemurungan tampak menggunung di matanya yang selalu beriak. Tetapi ia cuma menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa yang sekiranya bisa Mbak bantu?" Aku tidak peduli andai ia menganggapku reseh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lagi-lagi hanya gelengan. Ia masih duduk seperti arca membatu. Tetapi mampu kubaca pikirannya gentayangan. Rohnya tidak berada di tubuhnya. Entah ke mana mengejewantah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nina memang tidak pernah bercerita tentang dirinya, tentang orang tuanya, asalnya, sekolahnya, perasaannya, atau tentang laki-laki yang kerap meneleponnya. Aku sendiri juga tidak pernah menanyakannya. Mungkin ada hal-hal yang tidak ingin dia bagi kepada orang lain. Maka biarlah ia menyimpannya sendiri. Bukankah aku juga seperti itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepi terasa lindap, seakan menancapkan kuku-kukunya mengoyak angin yang terluka. Hening itu benar-benar ada di antara aku dan Nina. Aku merasa tersayat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepi terasa lindap, seakan menancapkan kuku-kukunya mengoyak angin yang terluka. Hening itu benar-benar ada di antara aku dan Nina. Aku merasa tersayat. Karena sunyi seperti ini sudah kusimpan lima tahun lamanya. Kenapa sekarang mendadak hadir kembali?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu aku bangkit dari dudukku, mengambil satu seri kartu sebesar kartu domino. Tetapi yang tergambar bukan bulatan-bulatan merah. Tetapi berbagai macam bentuk berwarna hitam. Aku menyimpannya sudah lama. Sejak mataku selalu berembun, lalu embun itu menitik di ujung hati. Sejak sepi yang tanpa warna mulai mengakrabi aku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak itulah aku mulai berbagi resah dengan kartu-kartu ini. Mereka banyak memberiku tahu tentang apa saja yang aku ingin tahu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anita dan Tina sering melihatku bermain dengan kartu-kartuku di tengah malam ketika mereka pulang. Sejak melihatku bermain dengan kartu-kartu ini, mereka juga sering ikut bermain. Ada saja yang mereka ceritakan padaku melalui kartu-kartu ini. Jualan yang sepi, para langganan yang pelit memberikan tips sampai kepada pacar-pacar mereka yang datang dan pergi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku menyulut sebatang dupa India. Aromanya semerbak langsung memenuhi ruangan. Aku suka. Setidaknya mengusir hampa yang sejak tadi mengambang di udara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kukocok setumpuk kartu itu di tanganku. Kuletakkan di atas meja di depan Nina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mari, temani Mbak bermain kartu. Ambillah satu...," ujarku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mata Nina memandangku. Bibirnya tetap rapat. Tetapi matanya mulai berembun. Dengan sebuah gerakan lamban tanpa semangat ia mengambil sebuah kartu. Lalu membukanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ah! Hatimu sedang kacau, sedih, kecewa, tidak menentu. Kau terluka," gumamku ketika melihat kartu yang dibukanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti aku dulu... aku melindas gelinjang rasa yang sudah lama kupendam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mulai membuka kartu-kartu berikutnya."Kau sedang memikirkan seseorang, ah... bukan. Kau merindukannya... penantian... jalan panjang... menunggu... kau menunggu seorang laki-laki?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya," suaranya gamang terdengar seperti datang dari dunia lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuteruskan membuka kartu-kartu itu."Menunggu... halangan... perempuan...dia beristri?" kutanya ketika tampak olehku gambaran seorang perempuan di atas kartu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya," kali ini suaranya seperti cermin retak berderak. Ia luka sampai seperti sekarat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kurasakan derak-derak itu sampai menembus batinku. Kenapa seperti yang pernah kurasakan lima tahun lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu mencintainya, Nina?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Amat sangat!" kali ini ia menjawab cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuhela napas panjang. Kubiarkan kartu-kartu berserakan di antara aku dan Nina. Kulihat jantungnya seperti bulan tertusuk ilalang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tetapi ia mengecewakanku, Mbak. Ia mengkhianati aku." Ia tidak mampu lagi menyembunyikan suara gemeretak hatinya yang bagaikan bunyi tembikar terbakar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ia mengkhianati kamu? Bukannya ia yang mengkhianati istrinya? Bukankah ia sudah beristri?" Aku bertanya, berpura-pura bodoh karena berusaha menyingkirkan masa lalu yang mulai menggigiti sanubariku. Perih itu masih terasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya. Dia beristri. Tetapi istrinya jahat sekali. Ia ingin meninggalkannya. Ia mencintaiku. Kami punya rencana masa depan," jawabnya naïf dan lugu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Astaga! Seperti itukah diriku lima tahun silam? Aku benar-benar seperti melihat cermin diriku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kepulan asap dupa melemparku ke kepulan asap lain yang sama pekatnya lima tahun yang lalu. Aku berada di dalam kepulan-kepulan asap rokok tebal dari mulut para lelaki berduit yang kutemani duduk-duduk, minum, sampai ke kamar tidur. Para lelaki yang mabuk kepayang karena kecantikanku sebagai primadona di sebuah wisma di kompleks hiburan malam. Para lelaki kedinginan yang butuh kehangatan. Para lelaki kesepian yang butuh pelukan. Para lelaki yang tidak tahu lagi ke mana bisa menghamburkan uang mereka yang berlebihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Istrinya jahat bagaimana? Namanya istri, ya wajar saja dia tidak suka kalau suaminya berhubungan dengan perempuan lain," sahutku enteng, atau tepatnya aku sudah terbiasa untuk 'mengenteng-entengkan' jawaban yang ujung-ujungnya akan membuatku terluka."Yang salah, ya suaminya. Sudah beristri kok masih bermain api. Tetapi namanya laki-laki ya begitu...," sambungku pelan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Laki-laki memang begitu, desahku. Laki-laki memang suka bermain api. Laki-laki memang suka mendua. Seperti para lelaki yang datang dan pergi di atas ranjangku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka terbakar hangus gairah memberangus, haus sampai dengus-dengus napas terakhir. Lalu mereka pergi setelah sumpalkan segepok uang di belahan dadaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tetapi Bayu tidak seperti itu!" sergah Nina cepat."Bayu mencintaiku, Mbak! Ia tidak akan meninggalkanku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya! Prihadi juga tidak seperti laki-laki lain. Ia juga mencintaiku. Prihadi tidak seperti laki-laki lain yang meniduriku dengan kasar. Ia bahkan sangat lemah lembut untuk ukuran 'membeli' kehangatan dari seorang perempuan seperti aku. Karena Prihadi, maka aku tidak mau menerima tamu yang lain. Ia menginginkan aku hanya untuknya, maka ia membeli dan menebusku dari induk semangku. Lalu ia membawaku keluar dari wisma itu dan membelikan aku sebuah rumah kecil. Ia pahlawan bagiku. Ia tidak meninggalkanku. Bahkan memberikan benih kehidupan baru yang tumbuh di dalam tubuhku. Aku bahagia sekali. Tetapi kemudian aku memutuskan untuk meninggalkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuputuskan untuk meninggalkan Prihadi ketika istrinya datang menemuiku dengan begitu anggun dan berwibawa. Berhadapan dengan perempuan yang begitu berkilau, tinggi, langsing dengan kulit kuning, ayu dengan wajah priyayi, tutur katanya lemah lembut, membuatku benar-benar merasa rendah dan tidak ada artinya. Ia sama sekali tidak menghardik atau mencaci-makiku. Ia sungguh nyaris sempurna untuk ukuran seorang perempuan, kecuali... belum bisa memberikan anak untuk Prihadi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu Ningsih? Aku istri Prihadi. Namaku Indah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oh, ia sungguh-sungguh seindah namanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tahu hubunganmu dengan suamiku," ujarnya dengan menekankan benar-benar kata 'suamiku' itu."Dan aku tahu kamu pasti perempuan baik-baik," lagi-lagi ia memberikan tekanan dalam kepada kata-kata 'perempuan baik-baik' yang jelas-jelas ditujukannya kepadaku."Sebagai perempuan baik-baik, kamu seharusnya tidak menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah beristri... dengan alasan apa pun," kali ini ia menekankan setiap kata-katanya sehingga membakat wajahku terasa panas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nina, sebagai perempuan baik-baik, seharusnya kamu tidak berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri... dengan alasan apa pun...," aku mengulangi kalimat yang kusimpan lima tahun yang lalu untuk Nina. Sebetulnya itu klise, bukan? Hanya sekadar untuk menutupi gundah gulanaku yang entah kenapa merayapi seluruh permukaan batinku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tetapi, Mbak, Bayu mencintaiku...," Nina menjawab. Jawaban itu juga yang kuberikan lima tahun yang lalu kepada perempuan yang nyaris sempurna itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi ketika itu, ia justru memberikan senyum manisnya. Ia benar-benar tanpa ekspresi marah."Laki-laki biasa seperti itu. Tetapi kamu kan perempuan baik-baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Walaupun Prihadi menggoda, mengejar dan mencintaimu, tetapi bukankah sudah sepantasnya kamu menolaknya? Kamu kan tahu kalau dia sudah beristri?" lagi-lagi ia membuatku pias.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku berusaha mem-photocopy kata-kata usang itu untuk Nina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tetapi aku juga mencintai Bayu," ia melenguh getir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kurasakan getir yang sama ketika aku memberikan jawaban itu pula kepada istri Prihadi. Bahkan waktu itu aku masih memberikan tambahan jawaban."Aku mengandung anak Prihadi...." Kuharap dengan jawabanku itu ia tidak akan mengusik perasaanku dengan kata-katanya yang lemah lembut tetapi terasa menampar-nampar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Baiklah, aku mengerti kalau kamu mencintai Prihadi," ia tertawa pelan tetapi sungguh terasa kian menusuk-nusuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Astaga! Ia tertawa! Terbuat dari apakah perempuan ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau kau mencintai seseorang, maka kau akan melakukan apa saja yang akan membuatnya bahagia, kan?" Ia pandai sekali bermain kalimat. Sebentar kalimat pernyataan, sebentar kalimat tanya. Tetapi tidak ada satu pun dari kalimatnya yang membuatku merasa nyaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hei! Konyol benar! Sudah syukur-syukur ia tidak memaki-makimu! cetus batinku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, aku akan melakukan apa saja untuk membuat Prihadi berbahagia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nah, kau tahu kalau Prihadi adalah tokoh masyarakat yang cukup terkenal dan disegani di kota ini, kan? Ia memiliki kedudukan, kekayaan, karisma, dan nama baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apakah bisa kau bayangkan bagaimana reputasi Prihadi kalau sampai terbongkar mempunyai hubungan dengan perempuan lain... dan bahkan mempunyai anak di luar nikah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oh... ia mempunyai tata bahasa yang sempurna! Ia sama sekali tidak menggunakan kata-kata kasar. Ia memakai istilah 'mempunyai hubungan dengan perempuan lain', ia tidak mengatakan 'mempunyai simpanan bekas pelacur', ia mengatakan 'anak di luar nikah', ia tidak mengucapkan 'anak haram'. Apakah itu berarti ia menghargaiku? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi kenapa aku justru tidak merasa dihargai? Aku justru merasa dipermalukan. Ataukah memang pantas aku dipermalukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bagaimana? Apakah situasi itu akan baik untuk Prihadi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak," aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali kata-kata itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia tertawa pelan tetapi kali ini benar-benar seperti tawa seorang algojo yang berhasil memengal kepala seorang tawanan yang sama sekali tidak melawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lalu bagaimana caramu untuk membuat Prihadi bahagia? Kamu tidak mau merusak semua yang sudah dimiliki Prihadi, kan?" Ia benar-benar algojo yang sempurna. Ia memenggal kepalaku tanpa rasa sakit sedikit pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tinggal aku yang menggelepar, terkapar, tanpa pernah merasa sekarat meregang nyawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau kamu mencintai Prihadi, tinggalkan dia, gugurkan kandunganmu. Kamu pergi jauh dan memulai kehidupan baru. Aku akan membantumu. Kamu cantik sekali, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ningsih. Aku yakin, tidak akan sulit bagimu untuk mencari laki-laki baik yang belum beristri," ia menutup eksekusinya dengan kata-kata pelan tetapi penuh tekanan."Jelas? Kuharap kamu cukup pandai untuk bisa mengerti semuanya," tandasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu tidak banyak yang bisa kubantah ketika ia 'membantuku' menyelesaikan semuanya. Ia melakukan transaksi jual beli atas rumah yang kutempati. Ia menggantinya dengan sejumlah uang yang lebih dari cukup. Ia mengantarku ke dokter dan membayar semua ongkos 'mengeluarkan' calon kehidupan yang bersemayam di tubuhku. Ia membelikan aku tiket pesawat. Ia mengantarku sampai ke bandara. Ia memeluk dan mencium pipiku, lalu berbisik,"Selamat menempuh hidup baru, Ningsih. Tolong, jangan ganggu kehidupan Prihadi. Terima kasih atas pengertianmu. Kamu memang perempuan yang baik..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oh! Ia benar-benar perempuan yang sempurna!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampai pesawatku tinggal landas, aku tidak bisa menitikkan airmata sama sekali. Apa yang perlu kutangisi? Perempuan itu tidak memaki atau menghinaku. Bahkan ia 'membantuku' dan memberiku banyak uang untuk memulai kehidupan baru di kota yang jauh dari mereka. Terasa jutaan sembilu menikam-nikam. Hatiku terasa sakit tetapi mataku hanya bisa mengembun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak itu, aku berteman dengan kartu-kartu ini. Kartu-kartu ini pemberian induk semangku. Aku belajar dari dia membaca kartu-kartu ini. Dahulu, dari kartu-kartu ini, aku tahu apakah aku akan mendapat banyak tamu atau tidak? Apakah Prihadi akan datang atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ah, kutepis nama itu cepat-cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku melanjutkan jalannya kartu-kartu yang masih berserakan di atas meja. Aku tidak mau mengingat masa lalu yang sudah sekian lama kukubur. Aku tidak mau menoleh ke belakang karena sangat menyakitkan. Toh, dengan uang yang kubawa, aku bisa membangun kehidupan baru, membeli rumah ini, membuka warung kecil, menerima &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kos-kosan, bertemu Nina....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Halangan... rintangan... rindu ... ah... ia tidak mempunyai uang!" Aku berusaha mengalihkan rasa lukaku dengan membaca kartu-kartu Nina. Lagi-lagi ramalan itu yang kubaca dari kartu-kartu yang bertebaran."Bingung... perempuan... halangan... ia merindukanmu juga. Tetapi ia bingung bagaimana harus menghadapi istrinya," cetusku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nina tertawa sumbang."Bayu memang tidak punya uang. Istrinya yang kaya. Istrinya yang memegang kendali perusahaan. Istrinya sudah mengetahui hubungan kami. Dia lalu mengusirnya keluar dari perusahaan. Sekarang ia menghindar dariku, Mbak! Ia lebih mencintai kekayaan istrinya daripada perasaanku!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bayu mengecewakanku, Mbak," sentaknya. Kali ini embun-embun di matanya berguguran menjadi rintik hujan. Mengalir deras menganak di lekuk-lekuk pipinya."Bayu menipu hatiku, Mbak! Ia takut tidak bisa hidup kaya bila pergi bersamaku. Aku benci padanya!" Hujan itu sudah menjadi badai. Riuh rendah bergemuruh seakan puting beliung yang akan merubuhkan apa saja. Lara berkubang seperti seonggok daun-daun gugur di matanya yang tersayat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa yang kau inginkan darinya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku ingin dia sakit... sesakit yang kurasakan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tercenung. Sesakit itu pula yang pernah kurasakan. Betapa rasa benci itu melebihi rasa sakit. Aku juga benci setengah mati kepada Prihadi. Kenapa ia tidak mencariku kalau ia mencintaiku? Kenapa sejak istrinya yang begitu sempurna itu menemuiku, ia juga tidak pernah muncul? Lalu ketika istrinya 'membantuku' untuk menyelesaikan semuanya, ia juga tidak ada kabar berita? Padahal sudah kucari seakan sampai ke ujung dunia. Apakah itu sudah merupakan kesepakatan mereka berdua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhirnya, aku merasa pencarianku sia-sia. Ia kucari sampai ke ujung mimpi. Kubatin, kupanggil, kunanti, dengan seluruh pengharapan dan kerinduan. Tetapi ruang hampa yang kudapati. Sehingga, kuputuskan untuk bersahabat saja dengan rasa benci dan rasa sakit. Mungkin akan menjadi lebih ramah dan menyenangkan. Ternyata benar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Membenci lebih mudah daripada memaafkan. Sakit lebih nikmat daripada pengharapan. Jadilah rasa benci dan sakit yang kusimpan untuk Prihadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam demi malam, kusumpahi kandungan perempuan yang nyaris sempurna itu. Aku tidak rela menggenapi kesempurnaannya sebagai seorang perempuan dengan seorang anak, sementara ia menyuruh dokter untuk menyendok dengan mudah sebiji kacang hijau kecil di dalam rahimku. Biarkan ia juga menikmati sepi yang sama seperti sepi yang dibelikannya untukku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak malam itu, &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;malam-malam Nina&lt;/span&gt; juga menjadi sibuk. Nina menjadi sangat menyukai malam seperti aku. Setiap malam, ia mengirimkan rasa sakit yang dirasakannya kepada Bayu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/malam-malam-nina.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-1270602517818914476</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 02:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T09:49:29.542+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Tentang Musim</title><description>&lt;span style="font-family: verdana; color: rgb(51, 102, 255);font-size:100%;" &gt;&lt;u style="font-weight: bold;"&gt;Cerpen Karya Lan Fang&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia; font-style: italic;"&gt;Cahaya adalah lindap indah&lt;br /&gt;ia gemintang di tingkap malam&lt;br /&gt;dan benih-benih subur pada lalang&lt;br /&gt;: gulita, adalah gergasi bermata pejam&lt;br /&gt;"Jangan usir ia, pergi darimu —&lt;br /&gt;sebab malam kuperlukan untuk bercumbu&lt;br /&gt;dengan safa cintaku!"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Effendy Wongso - Jangan Takut Gelap!&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu berkenalan dengannya ketika sebuah huruf jatuh dari lembaran buku yang kamu baca. Mungkin huruf itu tergelincir. Belum sempurna rasa terkejutmu, tangkai yang menopang huruf menjadi tungkai, badannya menjadi dada, dan ada tumpuan yang menyangga sebuah bulat telur yang kau sebut kepala. Ia sempurna menjadi tubuh sebelum menyentuh lantai, rubuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku Jo," Ia menyapamu begitu ramah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu siapa?" Kamu bertanya dalam kuasa keterpesonaan. Dia tinggi besar seperti benteng dan sekuat banteng. Suaranya seperti daun kering yang diremukkan oleh angin. Tetapi yang membuatmu tidak bisa melepaskan pandang darinya adalah sepasang matanya yang indah. Seluruh matanya berwarna hitam dengan lingkaran putih di tengahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keterpesonaan atau keterkejutan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku malaikat," jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kali ini kamu terkejut. Bukan terpesona.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu tertawa. "Kamu bohong. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Kamu tidak punya sayap. Kamu tidak berjubah. Kakimu menyentuh tanah, kamu tidak terbang. Dan, namamu Jo, bukan Jibril atau Gabriel."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Senyumnya melebar, "Yang bersayap itu bukan malaikat, tetapi burung. Yang berjubah itu bukan malaikat, tetapi orang kehujanan. Yang terbang itu bukan malaikat, tetapi pilot. Dan malaikat itu banyak, bukan cuma Jibril atau Gabriel."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia membentangkan tangannya, merengkuhmu sampai kamu masuk ke dalam pendaran cahaya. Kamu melihat cahaya itu menerobos jendela-jendela besar yang terbuka lebar. Sebagian memantul pada permukaan air kolam dihalaman belakang. Kamu menggerutu dalam hati karena mendadak migren menyerangmu (kamu selalu begitu bila bertabrakan dengan cahaya). Padahal pemilik toko buku ini menyiapkan kelambu bambu untuk menghalau kemilau matahari sore.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tercipta dari cahaya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu berkerjap-kerjap berusaha menyesuaikan matamu dengan silau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kulihat sejak pagi sampai sore kamu cuma duduk membaca. Apakah tidak membosankan?" Ia menjadi cahaya yang sedikit meredup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu menjawabnya, "Biar saja. Aku lebih bosan menunggu empat musim yang tidak kunjung datang. Bahkan mereka tidak seperti yang seharusnya. Dedaunan gugur padahal matahari sedang layu, angin terlihat pucat tetapi bunga mekar di atas salju. Mereka kacau. Aku jadi tidak bisa mempercayai mereka. Mungkin mereka sudah lupa padaku, akan lupa, atau melupakanku sama sekali itu lebih baik bagi mereka. Lalu, menurutmu, apakah aku masih harus menunggu? Padahal aku sudah merasa begitu tumpul," entah dari mana kamu mempercayainya begitu saja. Apakah karena dia mengaku malaikat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kamu masih saja gerimis. Belum menjadi bunga. Tidak pernah menjadi belati. Masih saja merindukan empat musim yang tidak pernah ada. Percayalah, mereka tidak akan pernah datang. Karena kalau mereka datang padamu, maka waktu akan berhenti, mati! Seperti belati yang menusuki pusat bunga, menikam jantung cinta."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu menggeleng bersikeras bahwa akan ada sebuah musim yang akan datang padamu. Dia bertanya kenapa kamu begitu keras kepala menunggu musim-musim pendusta, mereka tidak pernah ada, tandasnya. Jo mengatakan bahwa memeriksa rak-rak buku, menata buku, mengatur anak buah di tiap ruangan, pasti lebih menyenangkan karena detik akan berdetak dalam waktu yang bergerak. Kamu tidak dijemukan oleh empat musim abadi yang berhenti pada dingin yang leleh, ricik yang berisik, atau beku yang rontok. Itu tidak ada! Nonsens!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Buatlah menjadi ada. Bukankah kamu malaikat? Jo, apakah kamu bahagia menjadi malaikat?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jo mengatakan bahwa malaikat tidak pernah tahu bahagia, sedih, marah, cinta atau cemburu. Semua itu adalah musim yang tercuri dari kehidupan malaikat. Yang ada pada malaikat adalah kepatuhan. Malaikat patuh kepada Allah termasuk ketika Ia menyuruh para malaikat bersujud pada manusia. Lalu malaikat pun patuh untuk menjaga manusia. Karena itu yang ada pada malaikat hanyalah kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Menurutmu itu kebaikan?! Menurutku itu kebodohan, tahu! Cuma patuh-patuh-patuh! Menurut-menurut-menurut! Patuh kepada musim semi yang pasti memekarkan semua kelopak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu termenung seperti kena tenung. Kau pikir ternyata Jo juga seperti musim-musim pendusta yang tidak pernah datang itu. Padahal bukankah malaikat seharusnya setia? Tetapi sekarang ia ke mana? Lukamu serasa dicucur cuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepi sesaat. Tak ada suara. Sampai suara itu meledak-ledak kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Menurut kepada musim salju yang membekukan semua kuntum? Patuh dan menurut pada semua yang sudah diatur-Nya. Aku tidak mau jadi malaikat! Itu bego!" semburmu melahar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia mengelilingimu dengan cahayanya yang berpendar seperti kabut selembut lumut. Kamu dilingkupi hening padahal di sekelilingmu bising. Rak-rak buku menjadi ngarai dan buku-buku menjadi sungai. Angin yang kusut masai leluasa lalu lalang di kisi-kisi. Ada gemerisik ricik di sisik genteng. Sedang daun jendela begitu tabah menadah basah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu mendengarkan semua percakapan alam lalu menceritakannya kembali kepada Jo. Begitu banyak yang kamu ceritakan. Tentang jantung yang terbelah dan ada paku di dalamnya, juga tentang mata yang pecah tetapi tidak kamu temukan sedu sedan di sana. Termasuk cerita bahwa kamu seperti mawar yang terserabut bersama akarnya. Tidak secantik mawar dalam rangkaian. Kamu seperti halaman buku terbuka. Huruf-hurufnya terburai berhamburan keluar berlomba dengan gerimis yang menepis. Dan kamu menari di tengahnya. Kakimu berjingkat dan tanganmu terangkat seperti pebalet. Sepatumu bergerak dalam ketukan irama riang. Kamu merasa ringan dan meluncur dari ruang ke ruang. Cahaya itu melebar ke seluruh ruangan. Dari ujung ke ujung, atas ke bawah, depan sampai belakang. Toko buku itu jadi benderang oleh kilau. Kamu berputar di dalam cahaya. Kamu tahu bahwa Jo sedang mendengar ceritamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jo, berikan musim yang tercuri itu. Carikan. Kembalikan. Mungkin ia terselip entah di rak yang mana?" pintamu sambil terus menyusur dinding.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jo berjanji akan memberikan sebuah musim yang diambilnya dari tingkap jendela toko buku ini. Sebuah musim tanpa debu sehingga kamu tidak perlu bersin. Musim itu akan membuatmu mekar tanpa perlu menjadi mawar. "Karena kamu belukar liar yang tumbuh di padang terbakar. Tidak perlu menunggu fajar untuk mekar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia meniup dan kamu menghirup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebuah musim yang ia katakan tiba-tiba tercipta di antara kalian. Seperti kuas yang memulas lukisan di atas kanvas. Ada matahari dan bintang yang bersinar bersama-sama, ada daun kecoklatan dalam kepingan es yang memucat, lalu menggambar ujung, tubuh dan akar ilalang di tubuhmu yang menghilang. Kamu menjadi begitu langsing dan tipis sehingga capung pun bisa hinggap di atasmu walau hanya dengan sebelah kaki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ini Awe," ia terus menggambarimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Yahwe&lt;/span&gt;?" tanyamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak. &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Yahwe&lt;/span&gt; menciptakan Awe. Awe menghadirkan semua musim yang kamu inginkan. Awe tidak perlu patuh dan menurut seperti malaikat. Ia bisa membuat matahari berwarna ungu, daun berwarna putih, salju yang menghitam, serta kuntum tanpa kelopak. Dan... Awe bisa mencabut paku di jantungmu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kemudian kau serahkan jantungmu. Awe adalah helai-helai yang memanjang dari tingkap-tingkap. Ia menjulur seperti rambut perawan sampai ke pinggang. Ia membujur seperti sulur-sulur di kebun anggur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata Awe tidak mencabut paku dari jantungmu. Ia menggambar &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dajjal&lt;/span&gt; sedang menanam paku di sana. Paku-paku yang tumbuh subur tanpa perlu disiram hujan dan dimandikan matahari. Paku-paku yang membiak tanpa perlu dikunjungi para musim yang selalu dusta padamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jo, akhirnya aku punya sebuah musim yang tidak pembohong!" Kamu melonjak gembira. Kamu lari dari rak ke rak membuka semua buku, membuka sampulnya dan menelan isinya yang menjadi pupuk untuk ladang pakumu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekonyong ada deru dari pintu depan menerobos. Ia lelaki setengah malaikat. Kamu tahu karena ia memiliki sebelah sayap saja dan ia berjalan setengah terbang dengan sebelah kelepak yang berkepak. Tetapi ia terbuat dari debu tanah yang dibentuk serupa Allah. Ia makan semua biji dan tumbuhan yang tumbuh di tanah. Ia menabrak cahaya. Ia pemilik toko buku ini, Han, namanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hei ! Apa yang kamu lakukan ?" Ia bertanya kepadamu tetapi tidak marah. Bukankah ia setengah malaikat? Maka malaikat tidak pernah marah. Tetapi ia juga setengah manusia. Dan manusia suka berbicara. Maka ia berbicara kepadamu. "Membaca itu perlu dan harus. Allah pun menyuruh kita membaca bulan, bintang, dan matahari. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi kalau kamu membaca sambil menari seperti ini, maka huruf-huruf tidak bisa terletak pada kata-kata yang tepat. Kata-kata tidak bisa membentuk kalimat yang indah. Dan kalimat tidak bisa menjadi buku yang bagus."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak membaca. Aku sedang berbicara. Aku tidak menari. Aku sedang mencari." Seperti biasa kamu selalu menangkis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu bercerita bahwa kamu sedang berbicara dengan malaikat bernama Jo. Malaikat tanpa sayap yang mencari musim yang tercuri. Lalu kalian sedang berkeliling di rak buku sebelah mana musim itu disembunyikan? Karena toko ini dipenuhi rak yang padat dengan buku. Ada yang menampakkan judulnya, ada juga yang kelihatan sisinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka rapat dan menumpuk seperti berpelukan. Jo membantumu menelisik buku demi buku, lembar demi lembar, untuk menemukan sebuah huruf kunci yang terselip, agar musim yang kamu nanti bisa kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Han memandangmu dengan ganjil ketika kamu bercerita tentang mata Jo yang hitam dengan lingkaran putih di tengahnya. Apalagi ketika kamu katakan bahwa Jo telah membawakan sebuah musim abadi yang tidak pernah berhenti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau membual! Tidak ada malaikat tanpa sayap dan tak berjubah. Dan semua musim saling mencuri. Musim semi mencuri ranggas musim panas. Musim gugur mencuri gigil musim salju," Han menertawakan kisahmu tentang Jo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu tidak peduli. Kau bercerita bahwa Jo sudah memberi Awe, sebuah musim panen di ladang paku yang tak pernah layu. Ada &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dajjal&lt;/span&gt; yang menanam, memupuk, menyiram, dan menyianginya. Dan kamu adalah ilalang yang selalu tumbuh tanpa peduli tangan-tangan yang rajin mencabut dan menyerabutmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebelah sayap Han berkepak membuyarkan cahaya yang mengelilingimu. Sebagai gantinya bulu-bulu halus rontok dari sayapnya lalu menempel di sela rambutmu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kepalamu memutih seperti disiram hujan salju. Kamu berbangkis begitu keras sampai menyebabkan buku-buku terpental kembali kepada raknya. Halaman buku menjadi rapi. Huruf-huruf tertata sesuai aturannya. Han masih terus mengepakkan sebelah sayapnya. Embusannya dingin membuat Jo yang berpendar memudar. Cahayanya membeku seperti warna luntur di sayap kupu-kupu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ngarai hilang. Sungai hilang. Kabut hilang. Lumut hilang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Awe tersedot baling-baling kipas angin yang ada di sepanjang lorong seperti anak gendewa yang ditarik mundur oleh busur. Ia surai waktu yang rapuh dan tak utuh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tanganmu tak mampu melerai, musim itu terburai menjadi patahan pelangi di atas karpet abu-abu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Semua musim harus datang dan pergi. Tidak boleh berhenti," Han berjalan setengah terbang dengan sebelah sayap di antara semua ruang. Ia hidupkan kembali detik detak yang ada di setiap halaman buku yang mempunyai waktunya sendiri-sendiri. Ia meletakkan kembali matahari di langit-langit, angin di jendela, dan gerimis di atap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua telah kembali seperti awalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu juga kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kembali menunggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi kamu bukan sekadar menunggu empat musim yang tak kunjung tiba seperti dulu. Sekarang kamu juga menunggu Jo, malaikat bermata hitam dengan lingkaran putih di tengahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu ingin ia melukiskan ceritamu pada Awe. Cerita tentang api yang membakar api, hujan yang membasahi air, juga sekelompok awan yang cuma mampir sebentar memayungi kolam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu ingin ia menjawab pertanyaanmu kenapa api tidak hangus terbakar api ?  Kenapa air tidak menjadi basah ketika tersiram hujan ? Kenapa awan pergi ketika angin bernapas ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu ingin Awe datang membawa musim panen di ladang paku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi Jo sudah tidak pernah datang lagi. Tidak pernah mendengarkan dan menjawab ceritamu. Juga tidak datang membawa musim lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu termenung seperti kena tenung. Kau pikir ternyata Jo juga seperti musim-musim pendusta yang tidak pernah datang itu. Padahal bukankah malaikat seharusnya setia ?  Tetapi sekarang ia ke mana  ? Lukamu serasa dicucur cuka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesaat ponselmu bergetar. Ada pesan singkat dari nomor yang belum kamu ketahui.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekarang aku tidak suka mendengar cerita sedih. Ga asik. Krn aku sdh jd manusia. Jo bkn &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;malaikat&lt;/span&gt; lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu menangis sepuas-puasnya karena ternyata hidup begitu indah *). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:130%;" class="fullpost"  &gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kamus :&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Yahwe&lt;/span&gt; : Yehuva (bahasa Ibrani), Yang Menyelamatkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dajjal&lt;/span&gt; : Setan akhir zaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/tentang-musim.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-4618763332295023479</guid><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 02:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-18T09:52:46.313+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Jangan Main-Main dengan Perempuan!</title><description>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:lucida grande;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;u&gt;Cerpen Karya Lan Fang&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada tabir yang menghalang serupa halimun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lindap cahaya bersembunyi malu-malu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dalam jubah perempuan beraura putih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;: kilau cahya sepasang matanya menjelma bintang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gulita tersingkap bagai gergasi nan kapar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Biarkan ia terbang seperti merpati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;singkap pintu dari kerangkeng emas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan sangkar madu yang terbuat dari kristal berlian!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perempuan yang dilentuk dari cahaya surga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;biarkan aku terkurung dalam empat tembok gawir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;merenungi tindakku yang keliru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dalam penjara hati yang telah kucipta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;setinggi binara menjulang langit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perempuan, oh perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;: bunuh aku dengan kilau matamu yang setajam pedang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;untuk menebus dosa-dosa kaumku,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;terhadapmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;cahaya yang dilentuk sesempurna surga!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Effendy Wongso —&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bunuhlah Aku, Perempuan!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam ini aku sungguh terkejut ketika melihat perempuanku berdiri di depanku. Ia bebas!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa yang kau tulis? Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" Mendadak saja ia sudah mendelik di depanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa?" tanyaku acuh tak acuh dengan rasa tidak senang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurutku apa yang akan aku tulis adalah urusanku sendiri. Karena apa yang akan aku tuangkan dalam kata-kata adalah apa yang ada di dalam otak dan kepalaku! Jadi bukan wewenang perempuanku untuk melakukan intervensi terhadap apa yang akan aku tulis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jujur saja, aku tidak suka dengan kehadirannya di saat aku menulis. Ia selalu mengusikku dengan segala kenyinyirannya sehingga apa yang aku tulis tidak murni dari jari-jemariku sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena ketidaksukaanku itulah, maka ia kupasung selama lima tahun!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lima tahun yang lalu, bibirnya yang indah kujahit, gigi geliginya kucabut, dan lidahnya kupotong. Lalu bibirnya yang indah itu, gigi geliginya, dan lidahnya, kusimpan di dalam toples yang berisi air keras. Kuawetkan di dalam toples itu! Tidak hanya itu! Kalau boleh aku meminjam istilah Agatha Christie ketika menggambarkan otak Hercule.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Poirot adalah"sel-sel kelabu"-nya dan semangatnya kukunci di dalam gudang gelap. Dan rongga matanya yang kerap kali mengeluarkan butir-butir ai mata, aku cungkili lalu kubekukan di dalam frezer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sehingga dalam lima tahun terakhir ini, perempuanku tidak bisa berkata-kata, tidak mempunyai semangat karena sel-sel kelabu di kepalanya tidak berjalan normal, dan tidak bisa mengeluarkan airmata sama sekali! Ia benar-benar seperti robot. Ia tertawa tetapi tidak bisa menyeringai. Ia menangis tetapi tanpa airmata. Ia tubuh tanpa jiwa. Ia bergerak hanya berdasarkan perintahku ketika aku membutuhkannya untuk menyiapkan segelas kopi untukku. Seluruh roda hidupnya kubuat jalan di tempat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setiap hari perempuanku sibuk dengan dirinya sendiri. Ia sibuk mencari mulut yang memuat lidah, bibir, dan giginya, juga memunguti kristal-kristal airmatanya di dalam frezer, atau merenda sel-sel kelabu di dalam kepalanya dan menyulam semangatnya yang hilang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa kau menulis tentang perempuan lagi?" Suara perempuanku mengelegar kali ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tengadah karena terkejut. Jari-jemariku berhenti menari di atas keyboard tuts-tuts laptopku. Dan aku terperanjat tidak kepalang tanggung ketika aku menyadari perempuanku berdiri di depanku dengan begitu perkasa! Jahitan di bibirnya sudah rentas. Gigi geliginya sudah menjadi taring semua. Dan... lidahnya berapi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena ia adalah makhluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Astaga!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku larikan pandanganku ke toples berisi air keras di mana aku mengawetkan organ-organ mulut perempuanku. Semua masih lengkap di dalam toples itu....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bah! Kau kira kau bisa memasung mulutku untuk selamanya?" Ia bertanya dengan ketus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku berlari ke gudang gelap di mana aku menyekap sel-sel kelabu otak dan semangatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semua masih ada di tempatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau pikir aku tidak bisa mendapatkan sel-sel kelabu dan semangat baru?" Ia bertanya dengan nada mencemooh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku berlari lagi membuka frezer. Kulihat butir-butir airmatanya yang membeku masih menjadi stalagnit dan stalagtit di sana. Tidak ada yang berubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau mau aku tidak bisa tertawa dan menangis untuk selamanya, kan? Kau kira semudah itu?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suaranya terdengar sampai di tempat aku berdiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lalu apa maumu?" Kudengar nada suaraku setengah putus asa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku berjalan gontai dengan bahu lesu kembali ke tempat dudukku. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang mengancamku. Naluriku mengatakan bahwa perempuanku sekarang lebih berbahaya dibanding lima tahun lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jangan main-main dengan perempuan!" jawabnya cepat dan tegas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Jangan main-main dengan perempuan!" Ia mengulangi kalimatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak mengerti apa maksudmu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Baik. Sekarang giliranmu untuk duduk dan mendengarkan kata-kataku. Tutup laptopmu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena aku muak dengan semua tulisanmu yang gentayangan di dunia perempuan. Sekarang aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" perintahnya seperti seorang juragan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, nah, nah... inilah salah satu alasan kenapa aku memasungnya lima tahun lalu. Ia benar-benar seperti seorang juragan, seorang bos, seorang atasan, seorang direktur, kalau sudah mengeluarkan kata-kata. Ia perempuan yang bisa membuat kebanyakan orang mengiyakan semua kata-katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi, tidak aku!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Justru aku adalah orang yang membuatnya mati dari kata-kata. Memasungnya mati dari emosi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Membuatnya tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Kusibukkan ia dengan mencari mulut, sel-sel kelabu, semangat, dan airmatanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perempuanku mengambil posisi duduk di depanku. Ia pandangi aku dengan matanya yang berapi. Lalu mulai bicara lagi dengan lidahnya yang berapi pula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku ingin kamu menulis tentang laki-laki!" Ia mengulangi kata-katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku tidak bisa...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Harus bisa!" potongnya cepat."Sudah terlalu banyak dan sudah terlalu lama perempuan dipermainkan dari segala segi. Coba kamu lihat semua iklan di televisi, mulai makanan, sabun, elektronik, pakaian dalam, obat datang bulan sampai obat panu kadas dan kurap, semua memakai perempuan," ia mulai nyerocos dengan intonasi suara yang semakin lama semakin tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Itu namanya perempuan mempunyai nilai jual karena indah dan menarik."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bah! Perempuan mempunyai nilai jual? Apa maksudnya perempuan itu menarik? Lalu dengan alasan menarik itu kalian, kaum laki-laki, dengan seenaknya saja mempelajari dan membedah perempuan bukan saja secara visual tetapi juga secara riil. Dokter-dokter kandungan mengobok-obok perempuan mulai dari labia mayora, labia minora, saluran falopii, uterus, bahkan menjadikannya kelinci percobaan untuk proses inseminasi, bayi tabung, bahkan mungkin program cloning di kemudian hari, dengan alasan kemajuan ilmu kedokteran."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Itu namanya kodrat. Karena itu perempuan berharga...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa katamu?" Ia seperti harimau meradang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Matanya semakin berapi. Lidahnya semakin membara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Perempuan berharga?! Kalau perempuan berharga kenapa undang-undang perkawinan hanya mengatur tentang poligami? Kenapa tidak mengatur tentang poliandri? Kenapa kalau perempuan tidak bisa memberikan keturunan bisa menjadikan alasan bagi laki-laki untuk kawin lagi? Bagaimana dengan laki-laki yang impoten, azospermia, ejakulasi dini, atau apa saja namanya... bisakah dijadikan alasan buat perempuan kawin lagi? Di mana hukum perkawinan kita menempatkan bahwa perempuan itu berharga?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ah... kau lebih baik menjadi aktivis perempuan dan ikut demo di bundaran Hotel Indonesia saja sambil membawa spanduk besar-besar membela hak asasi perempuan," aku mulai kalah omong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, nah, nah... wajar kan kalau perempuanku kupasung lima tahun lalu? Memang semua yang dikatakannya benar dan masuk akal. Tetapi juga benar-benar membuat posisi laki-laki berbahaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalian, kaum laki-laki, masih belum cukup puas dengan itu. Semua wartawan koran masih saja menulis tentang perempuan yang diperkosa dengan visum et repertum vagina sobek dan selaput dara rusak, lalu dibunuh, dipotong-potong dan dibuang. Kenapa tidak pernah ada berita seperti ini... .hm...." Ia kelihatan berpikir sejenak."Begini:: Telah ditemukan mayat seorang laki-laki di atas tempat tidur dalam keadaan telanjang dengan bagian-bagian tubuh terpotong-potong, kepala lepas dari tubuhnya, dan menggigit penis yang dijahitkan ke mulutnya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Huek!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi perempuanku justru tertawa terkekeh-kekeh sampai airmatanya meleleh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah lima tahun, baru kali ini aku melihat matanya mengeluarkan airmata lagi, bibirnya menyeringai tertawa, dan ada nada suara yang keluar dari labirin tenggorokannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tidak tahu apa makna tertawanya. Ia sukakah? Gelikah? Getirkah? Atau mungkin aku terlalu lama memasung perempuanku sehingga aku sendiri tidak mengenal makna tertawanya dan tidak bisa membaca arti airmatanya? Aku tidak kenal dengan perempuanku sendirikah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sehabis tertawanya yang cukup lama, ia menarik nafas panjang. Mengambil sebatang rokokku di atas meja, menyulutnya dengan lidahnya yang berapi. Ia memang tidak memerlukan korek api lagi karena lidahnya sudah berapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sekarang, kalian yang mengaku penulis, juga beramai-ramai menulis tentang perempuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalian telanjangi perempuan di atas kertas sampai tidak ada ruang untuk sembunyi lagi untuk perempuan. Kalian geluti dan perkosa perempuan beramai-ramai dari visualnya, haknya, organnya, emosinya, airmatanya, juga kelaminnya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ng... karena perempuan menarik. Ia marah menarik, ia tertawa menarik, ia menangis juga menarik, ia telanjang... apalagi. Menarik sekali!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya, kalian telanjangi perempuan habis-habisan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena menelanjangi perempuan itu nikmat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa tidak menelanjangi pemikirannya, ide-idenya, semangatnya, kekuatannya, atau telanjangi penderitaan dan rasa sakitnya?" kata-katanya seperti peluru keluar dari moncong senapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara itu asap rokoknya mengepul sambung-menyambung seperti asap lokomotif kereta api.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku terdiam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Atau... karena kalian cuma main-main dengan perempuan...." Ia menutup kata-kata dengan nada sumbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin, ya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mungkin?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya. Mungkin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perempuan memang obyek yang menarik untuk dijadikan mainan kata-kata, mainan imajinasi, mainan emosi, juga mainan inspirasi. Tetapi jika ternyata"permainan" dengan perempuan itu akhirnya menimbulkan ketimpangan dan ketidakadilan seperti yang dirasakan oleh perempuanku, aku masih tidak tahu harus meletakkan masalahnya di mana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apakah memang perempuan adalah obyek lemah yang mudah dipakai sebagai mainan? Atau memang perempuan justru obyek kuat yang menikmati dirinya ketika dipergunakan sebagai mainan? Apakah perempuan memang begitu menarik dan berharga dari segala segi sehingga menjadi komsumsi pasar, teknologi, sampai kepada para pujangga dan seniman? Atau sebaliknya, perempuan justru sangat rendah sehingga tidak mempunyai persamaan hak di dalam hukum dan seks?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tetapi bagaimanapun perempuan, apakah ia kuat atau lemah, apakah ia berharga atau rendah, ternyata ia tetap menjadi"obyek". Karena begitu ia ingin mengganti posisinya menjadi"subyek", maka seperti aku, kaum laki-laki akan memasungnya. Karena sebagaimana yang kupikirkan, jika perempuan menjadi"subyek" maka ia akan membahayakan posisi laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena ia adalah makhluk lemah sekaligus kuat, ia direndahkan tetapi dibutuhkan, ia tidak berarti apa-apa tetapi sangat berharga!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tengah aku masih sibuk dengan debat kusirku sendiri, perempuanku mendekat dan berkata,"aku ingin bercinta denganmu malam ini...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia hembuskan sebuah udara dari mulutnya yang merupakan campuran dari nafasnya yang wangi dan kepulan asap rokok. Begitu seksi dan menggoda. Tetapi aku lebih merasakan itu sebagai sebuah perintah daripada sebuah permintaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku gemetar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak, aku tidak berani main-main dengan perempuan...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/jangan-main-main-dengan-perempuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-6225331436542465957</guid><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-17T20:03:29.534+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerpen</category><title>Cinta Telah Berdebu</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Kurnia Effendi, Ryana Mustamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kali aku menyusuri pantai dengan hati belah. Jajaran perahu nelayan kehilangan pesona. Panorama senja dan anak-anak pesisir pun menyingkir dari perhatian. Betapa pun mereka pernah kau himpun dalam rencana idealmu, meski kau tahu: alangkah susah mengubah nasib yang telah menjadi garis hidup mereka di perkampungan tepi laut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira di sini, lima tahun silam, mataku memandang punggungmu tanpa sengaja. Aku mengawasi tanganmu menari di depan kanvas, hanyut oleh ekspresi goresanmu. Sampai kau menoleh dan terkejut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau sungguh berbakat melukis," ujarku tulus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alismu terangkat, tak percaya. "Aku... aku hanya belajar," kudengar suaramu gugup.&lt;/span&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku hanya memindahkan apa yang kulihat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tapi gambarmu hidup," pujiku sungguh-sungguh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dengan warna-warna mentah begini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tentu karena belum jadi. Nampaknya kau berlatih sendiri, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya. Kusadari betul, dalam darahku tak mengalir bakat seni...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau berbakat!" sanggahku. "Kau paham tentang lukisan, sayang kalau tak dikembangkan. Ingin aku memperkenalkanmu pada Kak Yudhis."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kak Yudhis? Siapa dia?" Alismu nyaris bertaut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Dia pelatihku di Teater Merah Putih. Juga seorang pelukis yang memiliki sanggar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau bisa belajar melukis di sana."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sanggar?" Matamu membulat seketika. "Tidak!" gelengmu tegas, membuatku tercengang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Melukis dalam sanggar akan menjadikanku mati rasa. Aku tak bisa menyaksikan matahari tenggelam, ombak yang pecah, dan burung-burung laut. Aku tak bisa bermain dengan anak-anak di sini, tidak bertemu belibis. Tidak! Jangan pisahkan aku dengan semua itu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku melihat biasan kaca di matamu. Dalam beberapa detik aku terpana. "Kau... kau begitu mencintai tempat ini rupanya," kataku berhati-hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kepalamu mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mengapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tempat ini menenteramkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Hanya tempat ini?" Tiba-tiba rasa ingin tahuku membuncah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Setidaknya bila dibandingkan dengan rumahku," suaramu tak acuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Agaknya kau tidak bahagia di rumah." Aku sungguh tak pandai memelihara kesabaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau menoleh terkejut. Tapi pijar matamu kelam. Lantas kau buang pandangmu ke kaki langit yang jauh, dan bergumam tak jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku ingin mendengar ceritamu," aku penasaran. "Kalau boleh."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tentang mengapa tempat ini menenteramkan bagiku?" tanyamu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuanggukkan kepala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Karena laut selalu membuatku tenang. Menerbangkan angan-angan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau pasti suka melamun."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya," sahutmu tak mengelak. "Kalau punya masalah, aku membaginya pada ombak dan burung-burung, pada kanvas ini..." Ada kegetiran yang mengalir lewat pengakuanmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Meskipun masalah itu akan menyongsongku kembali begitu tiba di rumah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau...." Aku menatapmu lurus-lurus. "Kau menyimpan persoalan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Banyak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku terkejut sekaligus gembira. Tidak setiap orang bisa secepat itu mempercayai orang lain. Apalagi belum saling menyebutkan nama. Tapi kau percaya padaku!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apakah persoalan itu menyangkut keluargamu?" tanyaku lebih jauh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau menoleh, tersenyum pahit, lantas menggeleng tak yakin. Kuhela napasku hati-hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Merasa sedang menghadapi sebuah 'puisi'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau lihat tembok rumah yang tinggi di sana?" Jarimu menunjuk ke dinding yang menjulang di belakang perkampungan nelayan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mengangguk penuh perhatian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Itu rumahku! Rumah yang megah!" Suaramu sinis. "Aku tidak suka tinggal di situ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alangkah kontras pemandangan yang dihadirkannya. Beberapa langkah saja dari sana, kita menemukan gubuk-gubuk kumuh di sini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mengangguk lagi, membenarkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pernahkah penghuni rumah-rumah megah itu tahu apa yang terjadi tiap hari di sepanjang pantai di belakang istana mereka ini?" tanyamu dengan suara emosional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Papa atau Mama tidak ingin tahu. Mereka hanya mementingkan diri sendiri. Mereka cuma tahu kehidupan di tepi pantai lain. Di Akai, Barata, Makassar Golden Hotel,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Safari Park, dan sekitarnya. Mereka menutup mata, bahwa di belakang rumah mereka ada kampung nelayan yang miskin...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuperhatikan matamu sungguh-sungguh. "Kau musuhi orangtuamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Sesaat matamu melamun, sebelum akhirnya berkata dengan suara serak. "Aku tak bisa membayangkan daerah ini di masa depan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Agaknya kau mengkhawatirkan sesuatu." Aku menatapmu lunak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tanah tempat mereka mendirikan perkampungan itu, dulunya adalah laut. Mereka bersusah payah-payah menimbunnya dengan mengeruk pasir laut. Tahukah kau, ketika mereka melakukan pekarjaan berat itu seluruh tenaga dikerahkan, termasuk anak-anak kecil. Tapi, hasilnya bukan tidak mungkin sia-sia. Tanah yang seharusnya milik mereka tidak dilindungi Undang-undang, akan direnggut oleh orang-orang di rumah megah itu. Dan bila kelak tergusur, kita hanya akan menyaksikan lagi drama kemanusiaan yang mengharu-biru."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat itu, entah berapa banyak kalimat yang hendak kutuangkan tapi tertelan kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku hanya mampu memandang wajah ayumu dalam remang petang dengan perasaan ganjil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku ingin memperpanjang perbincanganku denganmu di waktu-waktu berikutnya. Aku tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kamu memandang kecewa menghadapi kenyataan. Mungkin kau 'sakit'. Kau memandang duniamu hanya hitam dan putih, tentu oleh suatu sebab yang tidak sederhana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di senja yang lain, kutemui kamu sedang melukis di tempat yang sama. Lukisanmu senada, dan membuatku bertanya-tanya. "Kau begitu menyukai langit senja," usikku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tanpa merasa terganggu, kau menoleh padaku. Dalam kanvasmu kulihat ada sapuan nuansa hitam di bagian langit. Seolah-olah kau tidak jujur merekam obyek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Lukisan senjamu...." Kembali aku tak berhasil mengendalikan kesabaran. "Alangkah kelam."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau agak terperanjat, namun kemudian tersenyum. "Ini bukan lukisan senja. Ini lukisan kehidupan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ada dua kalimat yang ingin kulontarkan. Pertama: kamu sudah mampu melukis di sanggar, jauh dari obyek. Tapi aku memilih yang kedua: "Kamu memiliki masa lalu yang muram?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku...." Matamu sedikit panik. "Aku tidak berkata begitu!" Tertangkap nada penyesalan. "Aku hanya mengibaratkan kanvas sebagai sebuah kehidupan. Kenyataan yang mengikuti ke mana aku melangkah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Itu yang membawamu ke pantai ini, bukan?" Aku memojokkanmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau...." Suara dan matamu basah. Kau berbalik begitu cepat dengan bahu yang terguncang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tunggu!" Aku melompat menggapai lenganmu. "Maafkan kelancanganku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bibirmu bergerak-gerak, namun tak sepatah kata pun terucap. Aku menyaksikannya dengan lara, turut merasa tersiksa. Sejenak kau menyapu wajahku dengan tatapan yang sulit kupahami. "Terima kasih. Kau telah sudi mendengar cerita tentang kampung nelayan ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau membereskan kanvas dan cat-cat minyakmu. Memasukkannya ke dalam kotak, lantas pergi meninggalkanku. Aku tergugu, justru karena telah mendengar sedikit perihal dirimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tersisa sesal di dada lantaran pada hari-hari kemudian tak lagi kudapatkan kamu melukis di pesisir ini. Terus terang aku menemukan inti teater dari pertemuan kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bukan di sanggar Kak Yudhis. Rasanya aku kepergok sebuah puisi yang sukar, dan apresiasiku jadi buntu. Selanjutnya aku bahkan kehilangan puisi kesayangan itu. Dirimu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menantimu di tempat ini, dalam musik laut tak henti-henti, hatiku bagai digasak badai. Nyeri sekali. Makin hari rasa kehilanganku bertambah. Harapanku menjumpai seorang gadis duduk menggambar langit senja, tak kunjung nyata. Barangkali kau sakit. Atau marah? Sedang aku tak berani mencarimu ke deretan rumah megah itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari-hari menunggu itu akhirnya mencapai batas sabarku. Kenangan pertemuan denganmu mulai kulupakan. Hingga suatu hari, ketika kusampaikan surat ke rumah Tante Mei, tiga tahun sejak kukenal wajahmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau...?" Bulat matamu bagai hendak terlompat. Tapi aku lupa padamu. Kudengar suaramu kecewa. "Kau tidak ingat padaku?" Bagaimana aku bisa mengingatmu jika hanya dua kali bertemu, juga tidak pernah kutahu namamu? Tapi kau mengingatku dengan baik!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Rasanya aku pernah melihatmu. Tapi di mana?" tanyaku jujur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau tersenyum. Begitu anggun, dan mau mengerti. "Pernah melihat lukisan kehidupan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, Tuhan! Tak sengaja aku terpekik oleh ingatan yang lengkap. Garis-garis wajah serta jemari yang dulu selalu kulihat menggenggam batang kuas, membangkitkan kenangan dengan utuh. Ah, dulu kamu lebih temperamental.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kenapa tidak melukis lagi?" tanyaku kecewa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sebab aku merasa tidak berbakat. Tiga tahun yang lalu kita masih sama-sama kanak-kanak. Penilaianmu hanya untuk menghiburku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku hendak membantah, tapi matamu yang tajam menahanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku punya bukti!" katamu seraya beranjak ke dalam. Kau bawa setumpuk lukisan dari kamarmu dan kau pamerkan padaku. Senja Satu sampai Senja Delapan. Katamu itu lukisan kehidupan! "Aku tak bisa menggambar obyek lain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kau tidak mencobanya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sudah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mana hasilnya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kalau berhasil, tentu aku tak menolak kau sebut berbakat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Apa yang kau gambar?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Manusia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"O," aku mengangguk. "Bocah-bocah nelayan maksudmu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kamu menggeleng dan berpaling. "Kamu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku?!" Seluruh isi dadaku rasanya ikut terhampar keluar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kau tersenyum, tenang luar biasa. Sementara aku kalang kabut tapi tak bisa mengatakan apa-apa. Tiga tahun tak melihatmu, membuatku kehilangan banyak. Kau jadi lebih dewasa dan pintar menyimpan gejolak. Tidak gegabah, tidak meledak-ledak. Kau semakin matang, terutama dalam mengungkapkan cinta. Siapa yang telah mengajarmu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Barangkali pengalaman, Raga." Tante Mei, adik ibumu, mengatakan padaku ketika aku gagal mengorek cerita dari mulutmu. Kamu terlampau tegar untuk membagi masa lalumu kepada orang lain. Bahkan tidak kepadaku: kekasihmu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sasha adalah anak hempasan badai," ujar Tante Mei. "Pada usia dua belas tahun, orangtuanya bercerai. Enam tahun setelah itu pacarnya meninggal karena kecelakaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dia pindah kemari ketika sudah benar-benar benci terhadap suasana rumahnya. Ia anak tunggal yang malang...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Daun-daun kering luruh dari ranting di depan jendela. Aku mengawasinya diam-diam. Kalau saja tidak memiliki kekuatan hati, nasibmu mirip daun yang gugur. Melayang tak tentu arah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sasha berusaha melupakan peristiwa pahit itu dengan menyibukkan diri di kampus. Menjenguk kampung nelayan, bermain dengan anak-anak gelandangan. Mengunjungi panti wredha atau melukis di kamarnya. Tapi Raga, tak semua orang pintar menghapua jejak traumatiknya, bukan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pendapat sahabat ibuku itu benar. Kewajibanku, tentu saja, menyediakan sekeranjang pengertian. Dan merebutmu dari hari-hari bersama kawan-kawan kecilmu. Karena aku mencintaimu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku ingin berbuat apa saja demi kau. Tapi cinta bukan hanya dirasakan, melainkan juga dimanifestasikan. Aku ingin kita bisa saling mengerti. Aku ingin kamu membutuhkanku, seperti aku membutuhkanmu. Tapi, bagaimana mungkin bila kau mampu mengatasi segalanya? Kau hindari bantuan orang lain hanya untuk mendapat pengakuan bahwa prahara tak membuatmu terbanting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berada di dekatmu, aku tak ubahnya anak kecil. Kau terlalu kukuh dan karib dengan kesendirian. Sehingga seorang Raga tak lebih dari boneka, hanya teman bercakap sewaktu kau lepas dari kepungan bocah-bocah pesisir. Dua tahun percintaan kita berlangsung dengan aneh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salahkah jika aku mengungsikan kecewaku pada makhluk mungil yang tidak menganggapku patung? Di depan gadis manja yang mudah merengek, aku menjadi laki-laki sejati. Ternyata aku membutuhkan seekor burung yang lincah, genit, dan cengeng....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maaf, Sasha, semalam aku absen. Aku menemani Aline mencari perlengkapan busana untuk pementasan kami minggu depan." Aku meneleponmu Minggu pagi. "Kamu marah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tawamu yang lunak terdengar di seberang. "Raga, sebaiknya jangan ganggu konsentrasimu dengan berpikir macam-macam. Pementasanmu sudah dekat...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk kesekian kalinya aku tidak berakhir-pekan di beranda rumahmu. Dan aku tetap gagal membuatmu marah, cemburu, atau merajuk. Hatimu terbuat dari pualam!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesabaran habis. Semula aku ragu akan kesungguhanmu ingin menata langkah yang sama bersamaku. Lambat laun aku merasa pasti: tak ada rongga hatimu yang patut kuhuni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apalagi tatkala tangan yang menyalamiku pertama kali seusai pagelaran: bukan tanganmu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Selamat, Raga! Gelar The Best Actor Festival Teater tahun ini ada di tanganmu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aline menatapku dengan sepasang mata berbinar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;O, burung prenjak ini sangat memperhatikan aku. Ia laksana oase manakala sedang kulintasi gurun. Kuraih kepalanya, kucium keningnya di balik panggung. Dan aku mendengar suaramu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Raga."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku dan Aline menoleh bersamaan dengan sejumlah kaget. Ternyata hanya persoalan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau mencari ke belakang layar tentu hendak memberiku selamat. Dengan ketenangan menakjubkan kau tersenyum, mengulurkan tangan. "Proficiat!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suaramu tidak menyiratkan kemarahan, sementara aku hampir gila mendengarnya. Kau memandang Aline dengan hangat. "Ini gadismu, Raga?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aline," Aline menyambut jabatan tanganmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Aku Sasha, sahabat Raga." Kamu tersenyum manis sekali. Aku merasa pita suaraku tiba-tiba tak berfungsi. "Raga sering cerita tentang kamu." Kau sentuh pipi Aline seperti seorang kakak terhadap adiknya. "Jaga Raga baik-baik. Ia nakal, tapi hatinya baik." Kau tertawa lembut. "Nah, aku pergi dulu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bah! Sandiwara macam apa ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sasha!" Aku memekik memanggilmu tanpa peduli perasaan Aline. Aku melompat, mengejarmu dengan hati luluh-lantak. Sungguh mati, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Sasha. "Sasha!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di pintu gerbang pertunjukan, hanya dingin yang menyambutku. Kulihat sisa penonton yang menunggu kendaraan pulang, dan sebuah taksi yang tiba-tiba menjauh dari halaman parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku sulit dibawa melangkah, meskipun tahu persis bayangmu ada di balik kaca sedan yang sedang pergi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya aku mengambil sikap yang amat buruk: meninggalkan dunia teater justru ketika kuraih gelar terhormat sebagai pemain terpuji. Aku berpisah dengan Kak Yudhis, yang tentu sangat kehilangan. Aku hanya merasa gagal memelihara sebuah hati. Hatimu, Sasha! Yang kini menjadi 'Sri Panggung' dalam dimensi yang tak mengenalku lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Engkau memainkan teater yang sesungguhnya. Pelupuk matamu menyipit, kadang membara, atau bahkan menatap kosong tanpa makna. Mulutmu meracau, sesekali tertawa sedih. Ucapan-ucapanmu semakin jauh, dan tak lagi tergapai oleh akal sehatku. Tungkai kakiku gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku remuk dan membanjirkan darah. Aku ternyata bukan aktor yang baik. Perasaanku tak dapat dimanipulasi. Laki-laki akan tertawa dan menangis untuk satu kejadian saja. Sebab rasa yang dimiliki laki-laki: bugil bagai bayi. Maka aku menangis untukmu, Sasha. Betul-betul mengeluarkan airmata, yang berjatuhan membasahi catatan harianmu selama mencintaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kelak aku mampu jatuh cinta lagi, barangkali tak sedalam ini perasaanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Kepundan itu meletus, Raga." Suara Tante Mei terdengar kering waktu itu. "Dia sudah tak sanggup lagi memendam lahar!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kupandangi wajah berduka itu dengan putus asa. Aku tidak membutuhkan kalimat penjelasan serupa itu. Aku justru memerlukan pernyataan dari orang-orang di sekeliling. Aku butuh keyakinan bahwa kamu, gadisku, bukanlah orang gila!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Astaga, aku mulai menggigil oleh angin laut yang basah. Matahari sudah lama menghilang. Suara ombak terus terdengar, seriuh lima tahun lalu. Tapi kini cinta telah berdebu dan segalanya kurasakan jauh berbeda. Tak kumiliki apa-apa lagi di pantai ini, kecuali sebuah kenangan yang menambah jumlah bersalahku dari tahun ke tahun. Tanpa engkau, Sasha, pengembaraan ini jadi semakin sunyi. Seperti debu yang sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/cinta-telah-berdebu.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-4182421395217874305</guid><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-17T19:51:45.655+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>Suling Emas Jilid 91</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pat-jiu Sin-ong mengerutkan alisnya yang tebal dan sudah bercampur warna putih. "Hemm, selama hidup Kwee Seng tak pernah mau kalah terhadap aku. Apakah setelah ia mati ia menyuruh muridnya melanjutkan wataknya yang keras kepala itu? Heh, orang muda, kau terima ini!" Tangan kanan Pat-jiu Sin-ong meraih cangkir arak di atas meja lalu ia melontarkan cawan itu ke atas. Cawan arak itu berputaran di atas, lalu meluncur turun ke arah Suling Emas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suling Emas cukup waspada dan ia maklum bahwa penyerang yang seluruhnya mengandalkan sin-kang ini amatlah hebat. Biarpun kakek ini adalah ayah dari ibunya, namun ia pun harus menjaga nama besar gurunya. Dibandingkan dengan kakeknya ini, agaknya gurunya jauh lebih berjasa dan lebih baik terhadapnya. Ia pun cepat memasang kuda-kuda, mengerahkan sin-kang dan mendorongkan kedua tangannya ke depan,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;menyambut cawan itu. Cawan yang meluncur dan berada dalam jarak tengah-tengah antara kedua orang itu, kini terhenti di udara, tertahan oleh hawa pukulan tangan Suling Emas. Mereka masing-masing mengerahkan tenaga, Pat-jiu Sin-ong dengan lengan kanan lurus ke depan, sedangkan Suling Emas dengan kedua tangan lurus ke depan pula, mempertahankan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Liu Mo, Kauw Bian Cinjin, dan Liu Hwee memandang penuh perhatian dan kekhawatiran. Mereka sudah maklum akan kehebatan tenaga Ketua Beng-kauw itu, dan setelah tahu bahwa orang muda ini bukan musuh, mengapa harus dicelakakan? Akan tetapi alangkah heran dan kagum hati mereka ketika cawan itu sama sekali tidak dapat maju lagi sejengkalpun juga, tetap tergantung di udara, tidak maju tidak mundur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Prakkk!" Tiba-tiba cawan itu hancur berkeping-keping dan Suling Emas melangkah mundur tiga langkah dengan napas agak terengah. Adapun Pat-jiu Sin-ong dengan muka penuh keringat tertawa bergelak, lalu menampar meja sehingga terdengar suara keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kwee Seng! Sungguh engkau keras kepala! Engkau telah menurunkan semua ilmumu kepada bocah ini, agaknya untuk membuktikan bahwa kau masih belum juga mau kalah terhadap aku! Ah, setan keras kepala. Kalau saja kau dahulu mau menjadi mantuku, tentu kau belum mampus sekarang dan aku tidak akan begini kesepian! Kwee Seng….Lu Sian…kalian mengecewakan hatiku!" Kakek itu menutup muka dengan kedua tangannya dan dengan muka pucat Suling Emas melihat betapa dari celah-celah jari tangan itu mengalir air mata! Pat-jiu Sin-ong menangis! Pat-jiu Sin-ong menyesal mengapa ibunya, Liu Lu Sian dahulu tidak menjadi istreri suhunya! Suling Emas tak dapat menahan keharuan hatinya dan ia maju berlutut di depan kedua kaki Pat-Jiu Sin-ong lalu berkata,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kong-kong, aku adalah cucumu…, aku adalah Kam Bu Song…putera tunggal ibu Liu Lu Sian…"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pat-jiu Sin-ong perlahan-lahan menurunkan kedua tangannya. Matanya terbelalak memandang wajah Suling Emas yang menengadah, lalu perlahan-lahan kedua tangannya bergerak ke depan, menangkap wajah itu di antara kedua tangannya, bibirnya bergerak-gerak dan berbisik, "Kau …kau puteranya..? Benar! Ini…ini matanya, mulutnya…! Kau…cucuku….!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kong-kong…!" Bu Song menahan air matanya dan dengan singkat ia menceritakan kedaan orang tuanya dan betapa semnejak kecil ia telah hidup seorang diri sehingga akhirnya menjadi murid Kim-mo Taisu. Mendengar penuturan itu, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan lalu merangkulnya, kemudian menarik bangun Suling Emas, menepuk-nepuk pundaknya dengan penuh kebanggaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Wah, kau benar hebat! Kau cucuku! Ha-ha-ha, tidak kecewa aku mempunyai cucu seperti ini! Terima kasih, Kwee Seng! Ha-ha-ha!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas sebagai orang muda yang tahu sopan santun dan aturan, segera menghadap Liu Mo dan berlutut pula. "Mohon semua kelakuan saya yang lancang tadi diampuni."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Liu Mo mengangkatnya, juga Kauw Bian Cinjin. Kedua orang tua ini tertawa pula bergelak saking gembira hati mereka. Kemudian kwee seng menjura ke arah Liu Hwee dan berkata,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mohon Bibi juga sudi memberi ampun kepadaku."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Muka yang cantik itu seketika menjadi merah sekali. Akan tetapi dasar Liu Hwee berwatak riang, ia tertawa dan pura-pura marah, "Wah, mana bisa aku mendadak mempunyai seorang keponakan yang begini besar? Hayo, kau keponakan yang nakal, kau harus berlutut tujuh kalu di depan bibimu, baru aku suka memberi ampun!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas bingung, akhirnya ia benar-benar hendak berlutut tujuh kali di depan bibinya yang galak, akan tetapi Liu Mo mencegah dan kakek ini membentak anaknya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Hwee-ji (anah Hwee), jangan main gila!" Semua orang lalu tertawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Satu hal saya mohon kepada Kong-kong, kedua Paman Kakek dan Bibi, yaitu saya ingin tinggal menjadi Suling Emas. Saya sudah menghapus nama Bu Song dari dalam hati dan ingatan. Biarlah saya tinggal disebut Suling Emas dan jangan ada yang mengetahui asal-usul saya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pat-jiu Sin-ong Liu Gan mengerutkan kening dan menatap tajam wajah cucunya, kemudian ia menarik napas panjang. "Semuda ini sudah sepahit itu. Agaknya dosa-dosa orang tua menimpa kepadamu. Baiklah, Suling Emas."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Semenjak hari itu, Suling Emas hidup berkumpul dengan keluarga ibunya. Kakeknya amat sayang kepadanya, juga Liu Mo, Kauw Bian Cinjin, dan Liu Hwee. Kakeknya yang amat sayang kepadanya, menurunkan pula ilmu-ilmu kesaktian yang tinggi kepadanya sehingga selama tinggal di Nan-cao, Suling Emas menjadi makin matang dan makin sakti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Akan tetapi ia tidak pula melupakan Kerajaan Sung. Seringkali dalam perantauannya, ia singgah di kerajaan ini, memasuki istana dan langsung memasuki perpustakaan untuk memuaskan nafsunya membaca kitab-kitab kuno. Ia menjaga sedemikian rupa agar ia jangan sampai bertemu dengan bekas kekasihnya, yaitu Suma Ceng. Kalau tidak tekun membaca kitab sampai berbulan-bulan di dalam gedung perpustakaan Kerajaan Sung, tentu Suling Emas mengembara dan selalu menurunkan perbuatan gagah perkasa, membela mereka yang tertindas, menghajar mereka yang sewenang-wenang, berdasarkan kebenaran dan keadilan. NamaSuling Emas menjadi makin terkenal di segenap penjuru. Hanya satu hal yang masih mengecewakan hati yang mulai terhibur oleh pelaksanaan tugas sebagai pendekar budiman itu, yakni bahwa selama itu belum juga ia tahu akan keadaan ibu kandungnya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Bersama berkembangnya nama Suling Emas sebagai pendekar budiman yang sakti, di dunia kang-ouw muncul nama enam orang manusia iblis yang sakti dan buas, sehingga mereka itu diberi julukan Thian-te Liok-koai (Enam Iblis Dunia). Mereka itu adalah It-gan Kai-ong seorang jembel tua bermata satu yang bukan lain adalah Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong, ke dua adalah Siang-mou Sin-ni, seorang wanita cantik jelita berambut panjang yang bukan lain adalah Coa Kim Bwee selir Kaisar Hou-han, ke tiga adalah Hek-giam-lo si tokoh Khitan yang bukan lain adalah Bayisan. Ke empat adalah Cui-beng-kui Si Setan Pengejar Roh yang dahulunya adalah Ma Thai Kun, sute dari Pat-jiu Sin-ong. Ke lima dan ke enam adalah Toat-beng Koai-jin yang dahulunya bernama Bhe Kiu dan Tok-sim Lo-tong yang dahulunya bernama Bhe Ciu, dua orang murid Kong Lo Sengjin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sampai di sini selesailah cerita Suling Emas ini dan bagi pembaca yang sudah membaca ceritaCinta Bernoda Darah tentu teleh berjumpa pula dengan Suling Emas yang menjadi lawan ke enam manusia iblis itu. Pengarang menutup cerita ini dengan harapan semoga pembaca puas dengan cerita Suling Emas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);font-family:courier new;font-size:130%;" class="fullpost"  &gt;Tamat&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-91.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-5912210477991263912</guid><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-17T19:53:23.724+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>Suling Emas Jilid 90</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suling Emas merasa puas. Agaknya pemerintah Nan-cao sudah hampir berhasil menghilangkan kejahatan di negaranya. Akan tetapi, belum jauh ia memasuki kota raja, dari sebelah depan datang serombongan pasukan terdiri dari dua belas orang berpakaian seragam, dikepalai oleh seorang gadis muda yang cantik sekali! Seorang gadis yang selain cantik jelita, juga berpakaian aneh. Pakaiannya dari sutera yang indah, hampir hitam seluruhnya kecuali lengan kanan dan kaki kiri! Lengan baju dan kaki celana ini berwarna putih. Benar-benar lucu. Lengan kiri hitam lengan kanan putih, dan sebaliknya kaki kiri putih kaki kanan hitam. Selama hidupnya belum pernah ia melihat pakaian begini aneh, maka ia memandang dengan mata terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Baru ia sadar ketika melihat pasukan ini berhenti tepat di depannya, dan mata gadis yang bening tajam itu memandangnya dengan pandangan mata menyelidik. Demikian pula pandangan mata dua belas orang anak buahnya! Karena kagum melihat sikap gadis berpakaian hitam putih yang jelas membayangkan kegagahan itu, Suling Emas berhenti berjalan dan memandang penuh perhatian. Setelah beradu pandang sesaat, gadis itu segera menegur dengan suara nyaring, kata-katanya penuh kewibawaan seperti suara orang yang biasa memerintah, "Bukankah engkau yang bernama Suling Emas?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suling Emas tersenyum. Dalam pandangan matanya, lucu juga gadis yang amat muda ini bersikap seperti orang tua. Ia dapat menduga bahwa gadis seperti ini tentulah mempunyai kedudukan yang penting di kota raja itu, maka ia tidak berani bersikap sembrono dan ia menjura dengan hormat, mengangkat kedua tangannya ke depan dada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Memang benar dugaan Nona. Orang-orang menyebutku Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas)."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Dari kerajaan Sung?" potong nona itu dengan suara galak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Memang benar aku datang dari kota raja Kerajaan Sung," jawab Suling Emas sejujurnya. Para anak buah gadis itu mengeluarkan suara mendengus tak puas, dan pandang mata mereka semua penuh curiga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mau apa kau memasuki negara kami? Apakah kau hendak memata-matai kerajaan kami?" Gadis itu kini melangkah maju, sikapnya mengancam. Suling Emas melihat betapa tangan gadis itu meraba ke pinggang dan ia tahu bahwa ikat pinggang gadis itu kiranya adalah senjata yang aneh dan bagus. Yaitu sepasang tali yang ujungnya terdapat bola yang mengkilap sebesar kepalan tangan, seperti cambuk namun ujungnya pakai bandulan. Ia tahu bahwa senjata macam ini amatlah sukar dimainkan, maka jarang dipergunakan ahli silat di dunia kang-ouw.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kalau gadis ini mampu memainkannya, hal ini sudah membayangkan betapa lihainya gadis muda ini. Kalau saja Suling Emas terus terang mengaku bahwa dia adalah cucu Beng-kauwcu (Ketua Beng-kauw), tentu semuanya akan beres. Namun Suling Emas terlalu gembira dan tegang hatinya untuk muncul begitu mudah, apalagi melihat gadis muda ini, ia merasa kagum dan ingin sekali mencoba sampai di mana kelihaiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Karena itulah, ia tidak segera memperkenalkan dirinya sebagai cucu Beng-kauwcu, melainkan menjawab sembarangan. "Apakah ada larangan untuk memasuki Negara Nan-cao? Aku hanya ingin melihat-lihat, tidak memata-matai siapa-siapa. Harap Nona dan anak buah Nona tidak menggangguku sehingga setelah keluar dari Nan-cao akan kukabarkan betapa baiknya orang-orang Nan-cao terhadap orang asing."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Terhadap tamu biasa, kami tidak akan peduli. Akan tetapi Suling EMas adalah nama yang cukup terkenal, tokoh dari Kerajaan Sung. Oleh karena itu, kau harus ikut kami menghadap wakil ketua Beng-kauw, karena hanya beliau yang akan memutuskan apakah kau boleh memasuki kota raja kami apakah tidak."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas pura-pura marah dan mengerutkan alisnya. "Mana ada aturan begitu? Aku memang benar Suling Emas, akan tetapi bukan penjahat!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Jahat atau baik sama sekali tidak dapat diukur dari nama julukan!" Bantah gadis itu. "Karena kau memasuki wilayah kekuasaan kami, sudah sepatutnya kau tunduk kepada peraturan kami. Sekarang berikan senjatamu dan kau ikut menghadap wakil ketua Beng-kauw!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ucapan gadis itu tegas dan ketus. Suling Emas pura-pura tidak mengerti dan mengangkat kedua pundaknya uang bidanh sambil berkata, "Selama hidupku tak pernah aku membawa senjata."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Gadis muda itu tertawa mengejek. Maksudnya hendak mengejek, akan tetapi ketawanya sungguh manis dan orang tak kan bisa sakit hati karena ketawa ini. "Siapa tidak tahu bahwa suling di pinggangmu itu merupakan senjatamu yang ampuh?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Suling bukanlah senjata, melainkan alat musik yang menciptakan suara merdu menggibur hati duka lara. Kalau hatimu risau, Nona cilik, biarlah aku meniupnya untuk menghiburmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sepasang alis yang hitam melengkung itu bergerak ke atas, sepasang mata bening itu mengeluarkan cahaya. "Jangan banyak cerewet. Pendeknya, kau mau menyerah secara baik-baik ataukah menghendaki digunakan kekerasan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Hem, hem, tak kusangka Nan-cao suka menggunakan kekerasan. Ingin kutahu kekerasan macam apakah itu?" Suling Emas sengaja mempermainkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Gadis itu marah sekali. Dengan isyarat tangan ia memerintahkan anak buahnya sambil berteriak, "Tangkap dia! Rampas sulingnya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Dua belas orang berpakaian seragam itu begitu menerima perintah cepat serentak bergerak dan menubruk suling emas. Gerakan mereka gesit dan kuat karena mereka ini adalah orang-orang yang terlatih baik, dan merupakan murud-murid tingkat terendah dari Beng-kauw. Sesuai dengan perintah gadis itu, mereka tidak mempergunakan senjata, melainkan menubruk dan berusaha menangkap Suling Emas serta merampas suling yang terselip di ikat pinggangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Gadis itu melihat betapa Suling Emas sama sekali tidak bergerak atau pindah dari tempatnya, juga tidak mengelak, hanya menggerakkan kedua lengannya, akan tetapi akibatnya…anak buahnya terpelanting dan terlempar ke kanan kiri! Setiap kali ada seorang anak buahnya yang menubruk, tentu orang ini terlempar dan jatuh terbanting keras sehingga sejenak tak dapat bangun. Dalam waktu beberapa menit saja, dua belas orang orang anakbuahnya sudah roboh semua, mengaduh-aduh dan menggosok-gosok kepala benjol dan kaki tangan mereka lecet kulitnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Bukan main marahnya gadis itu. "Mundur kalian semua!" Bentaknya dan di lain saat ia sudah meloloskan sepasang cambuknya. "Wuuut….tar-tar….!" Sepasang cambuk itu diayun dan berputaran di atas kepala membentuk lingkaran-lingkaran aneh dan mengeluarkan bunyi angin menyambar-nyambar diseling ledakan-ledakan ketika gerakan tali itu direnggut dan disentakkan. Bagaikan dua ekor naga mengamuk, sepasang cambuk itu sudah melayang dan menyerang Suling Emas, sekaligus bola-bola di ujungnya menyambar ke arah jalan darah di leher dan lutut!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bagus…!" Suling Emas berseru kagum dan dengan gembira ia lalu menggerakkan tubunya, melayani amukan sepasang cambuk ini dengan tangan kosong. Karena maklum bahwa sepasang bola diujung cambuk itu tak boleh dipandang ringan, maka suling emas lalu bersilat dengan pukulan Bian-sin-kun (tangan Kapas Sakti) sambil mengerahlan ilmu meringankan tubuh sehingga ia dapat mengelak ke sana ke mari dengan cepat dan ringan, serta kadang-kadang ia menangkis dan mendorong bola-bola itu dengan telapak tangannya yang berubah lunak seperti kapas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Diam-diam Suling Emas mengagumi gerakan gadis muda itu. Ilmu silat yang dimainkan gadis muda itu benar-benar adalah ilmu silat tingkat tinggi. Hanya harus diakui bahwa tenaga dalam gadis itu belumlah begitu sempurna sehingga baginya, gadis muda itu merupakan lawan yang tidak berat. Sementara itu , melihat kelihaian suling emas, seorang diantara dua belas anak buah itu sudah lari melaporkan ke atasannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas yang hanya ingin main-main dan mencoba kelihaian lawan, tentu saja tidak mau merobohkan Si Nona Muda. Kalau dia mau, dengan mudah ia bisa mengalahkan gadis itu, akan tetapi ia merasa enggan menyakiti hati orang yang sama sekali tidak ia anggap sebagai musuh. Beberapa kali ia melompat ke belakang sambil berkata, "Cukuplah, Nona. Mari kita menghadap Beng-kauwcu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Akan tetapi nona muda itu sudah menjadi marah dan penasaran sekali. Ia terkenal sebagai orang muda terpandai di Nan-cao dan sepasang cambuknya jarang ada yang sanggup melawannya. Mengapa hari ini ia bertemu dengan lawan yang menghadapinya dengan tangan kosong namun begitu jauh ia sama sekali belum mampu menyentuh tubuh lawan dengan sepasang bola di ujung cambuknya? Rasa penasaran dan malu membuat ia marah tanpa pedulikan ajakan Suling Emas yang penuh damai itu, ia menerjang terus!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Akan tetapi dengan gerakan aneh. Suling Emas menyambut terjangannya dan tahu-tahu sepasang bola di ujung cambuk itu telah tertangkap oleh sepasang tangan Suling Emas. Gadis itu berseru keras, menarik-narik cambuknya, namun sia-sia, sepasang bola itu tetap berada di tangan Suling Emas sehingga kedua cambuknya tak dapat digerakkan lagi! Gadis itu membanting-banting kakinya, berteriak, mengerahkan tenaga tanpa hasil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tar-tar-tar!!" Hebat sekali suara ledakan ini, disusul berkelebatnya gulungan sinar hitam yang menyilaukan mata, berkelebatan di atas kepala Suling Emas. Terkejut sekali suling emas, cepat ia melepaskan sepasang bola lalu meloncat ke belakang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Susiok (Paman Guru), harap Susiok suka beri hajaran kepada manusia sombong ini!" gadis itu berseru sambil meloncat mundur dan menyimpang sepasang cambuknya yang tadi dibuat tidak berdaya oleh Suling Emas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ketika Suling Emas memandang, ternyata yang membunyikan cambuk hitam dengan suara sedemikian hebatnya itu adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, pakaiannya sederhana seperti pakaian petani, kepalanya tertutup caping lebar, wajahnya angker dan sepasang matanya tajam. Tangan kanannya memegang gagang sebatang pecut yang bentuknya sederhana seperti pecut seorang penggembala, namun pecut itu warnanya hitam berkilauan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Susiok, dia ini Suling Emas dari Kerajaan Sung. Orangnya sombong sekali, kuajak baik-baik menghadap Susiok dia tidak mau dan melawan dengan kekerasan!" kata pula gadis itu, mengadu dan bibirnya setengah mewek hampir menangis karena hatinya benar-benar gemas, marah dan penasaran mengapa hari ini semua kepandaiannya sama sekali tidak dihargai orang dan tidak ada gunanya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "hemm…hemm…!" Kakek itu menggumam sambil memandang tajam kepada Suling Emas. Di lain pihak, Suling Emas juga memandang penuh perhatian. Diam-diam ia menduga-duga, siapa gerangan kakek ini. Sudah terang bukan Pat-jiu Sin-ong, kakeknya. Biarpun belasan tahun tak pernah jumpa lagi, namun ia takkan melupakan Pat-jiu Sin-ong yang pernah dilihatnya dahulu. Kakek ini susiok dari gadis itu, sudah tentu memiliki kepandaian yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Harap Lo-enghiong sudi memafkan. Sesungguhnya bukan sekali-kali maksud kedatangan saya untuk memancing perkelahian. Hanya Nona itu terlalu….terlalu galak…"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Nama Suling Emas sudah terkenal sampai disini. Kini orangnya datang dan tidak mengindahkan peraturan, bahkan merobohkan pasukan peronda keamanan dan mempermainkan puteri Ji-kauwcu (ketua Kedua)! Akan tetapi jangan berbangga dahulu dengan kemenanganmu, Suling Emas, karena di atasnya masih ada aku , wakil ketua dan di atasku masih ada Ji-kauwcu dan Twa-kauwcu (Ketua Pertama)! Kausambutlah pecutku ini!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ucapan itu ditutup dengan berkelebatnya sinar hitam yang diikuti suara ledakan seperti guntur di atas kepala Suling Emas. Suling Emas terkejut dan cepat mencabut sulingnya dan menangkis. Ia maklum bahwa menghadapi kakek ini jauh bedanya dengan menghadapi gadis tadi, maka terpaksa ia menggunakan sulingnya. Ketika sinar hitam itu menyambar turun, ia pun menggerakkan sulingnya menangkis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Plak…!!!" ujung pecut itu mental kembali ketika bertemu suling dan kakek bercaping mengeluarkan seruan kaget. Telapak tangannya yang memegang pecut terasa panas dan pecutnya membalik keras, tanda bahwa lawan muda ini benar-benar hebat tenaga dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bagus! Kiranya kau benar-benar lihai!" Serunya dan kini pecutnya menyambar-nyambar dengan kecepatan kilat sehingga lenyaplah tubuhnya, terbungkus sinar cambuk yang hitam bergulung-gulung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Dua macam perasaan teraduk di hati Suling Emas. Ia merasa menyesal dan khawatir mengapa kedatangannya malah menimbulkan perkelahian dengan orang-orang Beng-kauw yang dipimpin kakeknya, akan tetapi di samping ini ia pun merasa girang dan kagum bahwa orang-orang Beng-kauw ternyata memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Ia ikut merasa girang dan bangga. Maka timbullah niat di hatinya untuk mencoba terus tanpa niat mencelakai lawan. Dengan pikiran ini, ia lalu mainkan ilmu Pat-sian Kiam-hoat yang ampuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Begitu Suling Emas mainkan ilmu yang sakti ini, lawannya segera terdesak hebat. Lingkaran-lingkaran yang dibentuk oleh sinar hitam itu makin mengecil dan menyempit, terkurung oleh sinar kuning emas yang makin membesar. Suling Emas hanya membuat lawannya tidak berdaya menyerangnya lagi, kemudian dengan sendirinya ia pun akan mundur, maka sinar sulingnya tidak menyerang melainkan menekan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tiba-tiba gerakan kakek itu berubah dan kini dari lingkaran-lingkaran sinar hitam itu keluar suara meledak-ledak, Suling Emas kaget dan dia menjadi makin kagum, tak disangkanya bahwa dalam kedaan terdesak itu, Si Kakek ini masih mampu mengeluarkan ilmu yang disertai khi-kang sedemikian hebatnya sehingga kalau lawan kurang kuat sin-kangnya, tentu akan terpengaruh suara ledakan ini dan akan menjadi kacau permainan silatnya. Maka Suling Emas segera menggerakkan sulingnya sedemikian rupa sehingga di antara suara ledakan itu terdengarlah lengking tinggi menusuk telinga, suara dari suling itu sendiri yang berbunyi seperti ditiup mulut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tiba-tiba suara ledakan dan suara lengking suling terhenti. Kedua senjata itu telah bertemu di udara dan ujung pecut melibat suling, tidak dapat dilepaskan lagi! Kakek itu berusaha sekuat tenaga melepas pecutnya, namun sia-sia dan ketika Suling Emas menggerakkan tangannya, pecut itu terlepas dari pegangan Si Kakek! Di lain saat, Suling Emas sudah mengambil pecut dan menyerahkan senjata itu kepada pemiliknya sambil menjura.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Wajah kakek itu sebentar pucat sebentar merah dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara menggereng keras, tubuhnya menerjang maju mengirim pukulan maut ke arah dada Suling Emas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Sute (Adik Seperguruan)! Mundur dan tahan amarahmu!" Suara ini terdengar berpengaruh sekali sehingga tubuh kakek itu seakan-akan tertahan dan otomatis ia membatalkan niatnya menyerang, melainkan balas menjura dan menerima pecutnya dari tangan Suling Emas. Ia lalu melangkah mundur dengan muka tunduk, namun sepasang mata yang memandang dari bawah caping itu berapi-api.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas menengok ke kanan dan terkejutlah ia melihat seorang kakek lain yang sikapnya amat berwibawa. Kakek inipun bukan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, akan tetapi mempunyai wajah yang ada persamaan dengan ketua Beng-kauw itu. Seorang kakek tua yang mukanya keren, sinar mata tajam, tubuhnya tegap dan tegak berdirinya, memegang sebatang tongkat. Sekali pandang saja timbullah segan dan hormat dalam hati Suling Emas. Cepat ia melangkah maju dan menjura dengan hormat sambil berkata, "Saya yang muda mohon maaf sebesar-besarnya telah menimbulkan keributan yang sesungguhnya tidak saya kehendaki di sini. Mohon Locianpwe suka memberi maaf."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kakek itu mengangguk, lalu menggerak-gerakkan tongkatnya. "Orang muda, kau tentu yang bernama Suling Emas. Apa hubunganmu dengan Kim-mo Taisu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas kaget dan ia merasa lega bahwa ia tadi tidak bersikap sembrono. Ternyata kakek ini benar-benar hebat, sekali pandang dapat mengenal gerakannya yang ia warisi dari gurunya. Sambil bersikap hormat ia menjawab, "Mendiang Kim-mo Taisu adalah guru saya, Locianpwe."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aaahh…? Mendiang, katamu..?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Suhu telah meninggal dunia beberapa Tahun lalu, kurang lebih lima tahun."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Pantas kau lihai, kiranya murid Kim-mo Taisu. Orang muda, Kim-mo Taisu adalah sahabat Beng-kauw. Engkau sebagai muridnya, mengapa datang hendak menimbulkan keributan dengan Beng-kauw? Apa kehendakmu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Merah wajah Suling Emas dan cepat ia menjawab, "Tidak sekali-kali, Locianpwe. Tidak sekali-kali saya berani mencari keributan dengan Beng-kauw. Sesungguhnya, baru saja saya memasuki kota raja ini, kemudian dihadang dan hendak ditangkap. Saya tidak mempunyai niat buruk…."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kalau begitu, apa yang kau kehendaki dengan kedatanganmu di sini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Saya….saya mohon berjumpa dengan …Pat-jiu Sin-ong, ketua Beng-kauw yang terhormat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kakek itu megelus-elus jenggotnya dan tersenyum. "Orang muda, tidak mudah orang luar hendak menghadap Beng-kauwcu. Semua urusan dapat kau sampaikan kepada aku. Aku adalah Ji-kauwcu Liu Mo…"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aaahh, jadi Locianpwe ini masih saudara kandung Beng-kauwcu…?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Aku adik kandungnya," jawab kakek itu tersenyum. "Atau dapat kausampaikan kepada puteriku Liu Hwee yang bertugas sebagai pimpinan penjaga keamanan." Ia menuding ke arah gadis muda tadi sehingga kembali Suling Emas kaget. Dengan mata terbelalak ia memandang gadis muda yang cantik tadi, yang ternyata adalah…bibinya! Kalau Ji-kauwcu Liu Mo ini adik Beng-kauwcu kakeknya, berarti anak kakek bertongkat ini, yaitu si gadis muda yang menyerangnya tadi adalah bibinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Juga dapat kau sampaikan urusanmu kepada suteku itu, yang bernama Kauw Bian Cinjin. Nah, sekarang telah kuperkenalkan semua pihak yang tadi saling bentrok, yang mudah-mudahan tidak dilanjutkan lagi. Suling Emas, katakanlah apa yang hendak kausampaikan kepada Twa-kauwcu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tiba-tiba Suling Emas menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek yang bernama Liu Mo itu. Tanpa ragu-ragu ia berlutut. Bukankah kakek ini juga kakek mudanya, paman dari ibunya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mohon beribu ampun, Locianpwe, akan tetapi…saya hanya dapat bicara di depan…Beng-kauwcu sendiri…"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Diam-diam Liu Mo terheran, dan memandang dengan mata penuh selidik. Ia tahu bahwa orang muda ini amat sakti. Dari pertempuran melawan sutenya tadi ia mengerti bahwa ia sendiri pun belum tentu akan dapat mengalahkan Suling Emas. Akan tetapi mengapa pendekar muda ini begitu merendahkan diri, berlutut di depannya? Dan semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, sedikitpun tidak membayangkan kepura-puraan atau kepalsuan. Setelah saling bertukar pandang dengan Kauw Bian Cinjin, ia menjawab singkat,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Suling Emas, tentu ada sebab yang amat penting maka kau memaksa hendak menghadap Beng-kauwcu. Marilah, kau ikut dengan kami."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Dengan hati berdebar Suling Emas mengikuti kakek itu. Di belakangnya berjalan Kauw Bian Cinjin bersama Liu Hwee, kemudian diikuti pula oleh para anak buah. Akan tetapi setelah tiba di depan sebuah gedung besar yang angker dan megah, pasukan itu berhenti dan bersatu dengan para penjaga yang berdiri berbaris di kanan kiri pintu gerbang terus sampai ke pendopo dengan sikap angker dan dalam barisan yang rapi. Barisan yang terdepan segera berlutut dengan sebelah kaki. Namun sikap mereka masih tegak dan dalam keadaan siap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Barisan penjaga berganti-ganti dan bertingkat-tingkat dari depan sampai ke dalam, kemudian paling dalam terdapat barisan pasukan wanita yang berpedang dan sikap mereka keren dan gagah. Di sepanjang dinding ruangan yang mereka lalui terdapat lukisan-lukisan dan huruf-huruf hias yang amat indah, tidak kalah indah oleh ruangan-ruangan di dalam istana Raja Sung! Dan akhirnya mereka memasuki sebuah kamar besar yang daun pintunya bercat merah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ketika memasuki kamar ini, Liu Mo dan Kauw Bian Cinjin segera berdiri di pinggir dengan sikap menghormat setelah membongkokkkan tubuh. Adapun Liu Hwee segera menjatuhkan diri berlutut. Suling Emas memandang ke depan, ke arah seorang kakek tua yang duduk sendirian di atas kursi besar, kakek yang dikenalnya sebagai Pat-jiu Sin-ong yang bertemu dengan suhunya belasan tahun lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pat-jiu Sin-ong Liu Gan Sudah tua sekali, mukanya penuh keriput dan sinar matanya yang acuh tak acuh itu tampak diliputi awan dan murung. Ia menyapu yang datang dengan sinar matanya, kemudian dengan kening berkerut ia mendengarkan laporan Liu Mo tentang Suling Emas yang dengan sikap penuh hormat minta menghadap Beng-kauwcu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kau Suling Emas?" Suara ketua ini mengguntur dan menggema dalam ruangan besar itu. Suling Emas merasa amat terharu setelah bertemu muka dengan ayah dari ibunya. Keharuan ini mencekik lehernya dan atas pertanyaan itu ia hanya mampu mengangguk tanpa mengeluarkan suara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kamu murid Kim-mo Taisu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kembali Suling Emas hanya mengangguk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Suheng, Kim-mo Taisu telah tewas lima tahun lalu menurut penuturan orang muda ini," kata Liu Mo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-91.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;font-size:130%;" class="fullpost" &gt;Bersambung Jilid ke-91 (Tamat)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-90.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-408597287778693565</guid><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-17T19:47:53.206+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>Suling Emas Jilid 89</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika mereka tiba di tepi laut, di pantai sebelah selatan Pulau Pek-coa-to, mereka terkejut bukan main melihat mayat tergeletak malang melintang di sekitar pantai dan mereka semua mati dalam keadaan terluka oleh pukulan-pukulan dahsyat. Kuda Liong-ma milik Kong Lo Sengjin, yaitu kuda bekas tunggangan Sang Pangeran, seekor kuda yang mahal, juga telah menjadi bangkai, tubuhnya penuh luka bacokan senjata tajam. Tiga orang tua otu saling memandang, terheran-heran menyaksikan keadaan yang mengerikan itu. Akhirnya, mereka tidak dapat berbuat lain kecuali mengubur semua mayat yang sudah hampir busuk itu. Apakah yang sesunggunya terjadi dan ke mana perginya Bhe Kiu dan Bhe Ciu dua orang manusia aneh murid dan pelayan Kong Lo Sengjin?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa hari yang lalu, seorang diri Kong Lo Sengjin mendarat di pulau Pek-coa-to dalam keadaan terluka hebat. Ia terluka di sebelah dalam tubuhnya akibat adu tenaga dengan Kim-mo Taisu. Sebagai seorang ahli silat tinggi yang sakti, kakek ini maklum bahwa lukanya amat parah, tak mungkin lagi dapat disembuhkan lagi. Akan tetapi dia tidak peduli. Ia sudah terlalu tua, pula ia selalu gagal dalam perjuangannya. Ia malah ingin cepat-cepat menemui maut. Begitu memasuki pulau, serta merta ia mencari Ciu Bun, bekas sahabatnya yang ia jadikan tawanan di pulau itu. Ingin ia tahu apa yang telah terjadi sehingga suling emas dapat berada di tangan murid Kim-mo Taisu. Ketika ia menemui Ciu Bun, ternyata kakek sastrawan itu tengah duduk bersila bersandar batu dan membaca kitab kuno dengan asyiknya. Melihat kitab itu Kong Lo Sengjin berteriak girang. "Ah, kau telah mendapatkan kitabnya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia segera duduk pula di depan Ciu Bun. Ciu Bun bergerak lemah dan wajahnya pucat seperti mayat, namun membayangkan kepuasan dan kebahagiaan. "Ya, kutukar dengan sulingnya. Kau sudah bosan akan suara suling itu, sekarang dengarlah sajak-sajak dalam kitab ini, Sengjin."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bacakanlah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ci Bun lalu mulai membaca sajak. Suaranya masih keras dan di antara angin yang bertiup dari laut menyapu permukaan pulau itu, terdengarlah nyanyian sajak yang aneh dan menggetarkan kalbu. Kong Lo Sengjin duduk bersila, tak bergerak gerak. Ketika matahari condong ke barat, suara Ciu Bun masih terdengar membacakan sajak terakhir. Begitu habis sajak terakhir itu ia menyanyikan, terdengar keluhan panjang dan tubuh Kong Lo Sengjin menjadi lemas, bersandar pada batang pohon dan nyawanya melayang diantara gema suara nyanyian sajak terakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "....akhirnya semua itu kosong hampa, sesungguhnya tidak ada apa-apa!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pada keesokan harinya, terdengar suara ribut-ribut di tempat itu. Kiranya dua orang kakek yang seperti kanak-kanak, juga seperti iblis, Bhe Kiu dan Bhe Ciu, telah berada di situ. Melihat betapa majikan dan guru mereka telah tak bernapas lagi, juga kakek tukang suling seperti yang mereka sebut kepada Ciu Bun, sudah mati, mereka berteriak-teriak menantang orang yang tak tampak yang dianggapnya membunuh Kong Lo Sengjin, lalu menangis menggerung-gerung bergulingan di atas tanah, merobohkan pohon-pohon dan batu-batu besar, memaki-maki kemudian tertawa-tawa karena geli menyaksikan tingkah laku masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Memang Ciu Bun juga menghembuskan napas terakhir setelah ia mendekati dan menemukan kenyataan bahwa sahabatnya itu telah meninggal dunia. Sambil menarik nafas panjang Ciu Bun mengerahkan tenaganya merangkak dan menaruh kitab kecil di dalam kedua tangan mayat sahabatnya, kemudian ia kembali duduk bersandar batu. Sudah berhari-hari dia duduk di situ, tanpa makan dan minum menanti datangnya maut karena ia merasa bahwa tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Akhirnya ia menghembuskan napas terakhir lewat tengah malam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kakek gila Bhe Kiu dan Bhe Ciu lalu lari ketakutan dari tempat itu ketika mereka teringat bahwa orang mati bisa menjadi setan. Mereka lari ketakutan mencari kuda tunggangan Kong Lo Sengjin. Seperti biasa, mereka berebut menunggang kuda dan membalapkan kuda itu mengelilingi pulau dengan maksud menjauhkan diri dari dua mayat manusia itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Akan tetapi karena pulau itu tidak begitu besar dan kuda itu dapat berlari cepat sekali, setelah lari seputaran kembali mereka melihat dua mayat yang duduk bersandar pohon dan batu. Mereka makin ketakutan dan kembali membalapkan kuda. Pada saat itu, secara kebetulan sekali sebuah perahu dagang yang berlayar dari selatan, terdampar di pantai Pulau Pek-coa-to setelah sehari semalam perahu itu jadi permainan badai dan ombak. Tigapuluh dua orang penumpang lalu melompat turun mendarat untuk mencari makan dan minum karena semua ransum habis disapu air laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tiba-tiba mereka mendengar suara derap kaki kuda dan....dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati mereka ketika melihat dua orang kakek setengah telanjang menunggang kuda itu dengan cara yang luar biasa. Si Kakek Gendut berpunuk duduk di leher kuda sambil memegangi kedua telinga kuda, sedangkan Si Kakek Kurus menggantung pada ekor kuda di sebelah belakang! Akan tetapi perasaan kaget dan heran ini segera berubah menjadi kacau ketika kuda itu menerjang ke arah mereka dan kedua kakek itu berteriak-teriak tidak karuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka cepat mencabut senjata masing, ada yang mencabut pedang, ada yang menghunus golok, namun tidak ada gunanya karena Bhe Kiu dan Bhe Ciu sudah mengamuk hebat. Dari atas kuda, kedua orang manusia iblis ini melayangkan pukulan, tendangan, dan setiap kali kaki atau tangan mereka bergerak, tentu ada seorang yang ditendang, dipukul atau dilempar ke atas seperti orang melempar-lemparkan tikus saja! Hebatnya, mereka yang terkena tendangan atau pukulan, roboh untuk selamanya karena napasnya putus seketika! Dua orang manusia iblis itu memang wataknya aneh dan tidak normal. Pernah ketika mereka sembuh dari gigitan seekor kelabang berbisa, mereka mengamuk dan membunuh semua kelabang yang ada di pulau itu, baik kelabang kecil maupun besar, ataupun binatang merayap yang mirip kelabang!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sekali membunuh, mereka seperti mabok dan tidak akan berhenti kalau belum terbunuh semua. Pada saat itu, mereka pun seperti mabok. Sambil berteriak-teriak, tertawa-tawa dan kadang-kadang bertepuk-tepuk tangan, Bhe Kiu dan Bhe Ciu menyerbu, kadang-kadang dari atas kuda, kadang-kadang turun dan meninggalkan kuda. Mereka menghantam, menendang, membanting, mencekik. Belum setengah jam lamanya, tiga puluh dua orang itu sudah menggeletak malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi! Bhe Kiu si kakek yang berpunuk gendut, sudah merobek paha seorang lawan dan menjilati darahnya, hendak makan daging paha itu. Agaknya bagi manusia tidak normal ini, daging paha manusia tiada bedanya dengan daging paha seekor kijang atau kelinci!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Akan tetapi ia melepas korbannya ketika mendengar Bhe Ciu berteriak-teriak. Ia melompat dan lari ke pantai di mana Bhe Ciu sedang mendorong-dorong perahu besar milik para korban tadi. Keduanya menjadi girang, seperti dua orang anak kecil mereka mendorong perahu besar itu ke tengah, kemudian mereka menari-nari di atas perahu ketika angin meniup layar perahu dan membuat perahu melaju ke tengah. Akan tetapi kegirangan mereka hanya sebentar saja. Karena perahu itu tidak dikemudikan, maka menjadi berputar-putar dan sebentar saja kedua orang aneh itu menjadi mabok laut. Mereka muntah-muntah, terhuyung-huyung dan merusak semua yang terdapat di atas perahu. Bahkan tiang layar pun mereka robohkan, layarnya dirobek-robek dan akhirnya keduanya begitu mabok sehingga jatuh terlentang di atas dek perahu dalam keadaan pingsan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Namun agaknya setan hendak mempergunakan dua manusia buas ini untuk mengacau dunia. Dua hari kemudian perahu mereka terdampar di darat. Bhe Kiu dan Bhe Ciu telah sembuh dari keadaan mabok. mereka melompat ke darat lalu berlari-lari memasuki sebuah kampung kecil. Geger di kampung itu dan kembali belasan orang menjadi korban keganasan Bhe Kiu dan Bhe Ciu. Demikianlah, mulai saat itu, di dunia kang-ow muncul dua orang manusia aneh yang amat sakti, buas dan menyeramkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lambat-laun mereka dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia ramai, namun watak liar mereka masih saja menempel sehingga mereka kemudian terkenal sebagai dua orang di antara Si Enam Jahat di duni akang-ouw. Bhe Kiu yang gemuk pendek berpunuk mendapat julukan Toat-beng Koai-jin (Manusia Aneh Pencabut Nyawa). Adapun Bhe Ciu yang tinggi kurus dan seperti kanak-kanak itu dijuluki orang Tok-sim Lo-tong (Bocah Tua Berhati Racun)! Agaknya pengalaman mencicipi daging dan darah manusia sebelum meninggalkan Pulau Pek-coa-to, membuat Toat-beng Koai-jin Bhe Kiu suka akan daging manusia. Kadang-kadang ia menangkap anak-anak yang gemuk dan berkulit bersih untuk dimakan dagingnya dan diminum darahnya. Kebiasaan ini membuat tubuhnya mengeluarkan hawa beracun, menambah racun yang telah dimilikinya ketika ia menjadi korban gigitan-gigitan serangga dan ular berbisa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ia menjadi makin ganas dan makin lihai. Adapun Tok-sim Lo-tong Bhe Ciu setelah terkenal sebagai manusia iblis di dunia kang-ow, agaknya tidak melupakan kebiasaannya bermain-main dengan segala macam ular berbisa ketika berada di Pek-coa-to sehingga ia mempergunakan ular berbisa pula sebagai senjata. Kalau saja Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong tahu betapa ia telah mendidik dua orang murid yang berubah menjadi iblis mengerikan, kiranya ia akan merasa malu dan kecewa sekali. Biar pun Kong Lo Sengjin sendiri di waktu hidupnya tidak segan-segan berlaku ganas dan licik, namun semua itu ia lakukan dengan tujuan yang dianggapnya baik dan murni, yaitu mendirikan kembali Kerajaan Tang yang sudah runtuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Demikianlah keadaan di Pulau Pek-coa-to yang ditemukan dalam keadaan mengerikan oleh tiga orang bekas pembantu Kong Lo Seng-jin. Sam Wha, A-liong dan A-kwi bukanlah orang biasa, melainkan bekas orang-orang besar di jaman jayanya Kong Lo Sengjin. Mereka bukanlah orang jahat. Melihat keadaan di pulau itu, mereka menjadi menyesal dan semua semangat dan cita-cita mereka ikut mati bersama matinya majikan mereka. Insyaflah mereka betapa selama puluhan tahun mereka itu diperalat oleh Kong Lo Sengjin dan mulailah mereka menyesal. Mereka sudah amat tua dan mereka bertiga mengambil keputusan untuk tinggal di Pulau Pek-coa-to sampai mati, bertapa dan bersembunyi diri, hitung-hitung menebus dosa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suling Emas meninggalkan istana Kerajaan Sung dan mulailah ia berkelana seorang diri. Dengan pakaian yang berlukiskan suling, pemberian Kaisar, ditambah perbuatannya yang gagah berani, selalu mengulurkan tangan menolong mereka yang patut ditolong, memberantas perbuatan orang-orang jahat, menegakkan kebenaran dan keadilan, sebentar saja nama Suling Emas dikenal dan dunia kang-ouw gempar dengan munculnya pendekar muda yang sakti ini. Namun karena Suling Emas membatasi diri, hanya muncul untuk mencegah penindasan dan kejahatan, sama sekali tidak mengganggu orang-orang kang-ouw dan liok-lim, tidak memusuhi dunia hitam, maka ia pun tidak dimusuhi secara langsung oleh dunia penjahat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Bertahun-tahun ia berkelana seorang diri, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dengan niat hati hendak melupakan segala kepahitan hidup yang telah dialaminya. Namun tak pernah ia berhasil. Hatinya tetap kosong dan perih, wajahnya tetap suram dan pandang matanya sayu. Ia selalu merasa sunyi dan apabila kesunyian sudah tak terkendali lagi, ia hanya menghibur diri dengan sulingnya. Hanya kalau ia meniup suling melagukan nyanyian sajak kitab kecil yang sudah dihafalkan, barulah hatinya yang merana agak terhibur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Lima tahun berlalu amat cepatnya. Suling Emas telah berusia dua puluh delapan tahun. Pengalamannya sudah cukup banyak. Entah berapa ratus orang jahat ia robohkan dan ia insyafkan. Suling Emas tidak Suka membunuh orang, selalu berusaha menginsyafkan penjahat-penjahat yang telah ia kalahkan. Banyak pula orang-orang yang telah ditolongnya dari pada marabahaya, ingin menariknya sebagai mantu. Banyak pula gadis-gadis jelita yang telah ditolongnya, ingin membalas budi dengan penyerahan jiwa raganya. Namun semua itu ditolak Suling Emas dengan sikap halus dan tidak menyakitkan perasaan. Suling Emas yang telah dua kali hancur hatinya oleh kegagalan asmara, berjanji di dalam hatinya takkan bermain cinta lagi. Ia telah menjadi penakut, seakan-akan bertobat untuk melibatkan diri dalam asmara, setelah mengalami betapa hebatnya penderitaan batin karena kegagalan asmara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Perjalananya menuju ke Nan-cao untuk menemui kakeknya, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan Ketua Beng-kauw, dilakukan dengan jalan memutar karena memang ia ingin menjelajah seluruh propinsi. Kadang-kadang ia tinggal di tempat-tempat indah, seperti telaga-telaga, atau puncak-puncak gunung sampai sebulan dua bulan. Oleh karena inilah, selama lima tahun, baru kakinya menginjak perbatasan Negara Nan-cao. Kerajaan Nan-cao, adalah kerajaan yang kecil saja di selatan. Namun melihat keadaan dusun dan kotanya yang ramai, rakyatnya yang hidup makmur, tidak tampaknya orang-orang berpakaian jembel dan pengemis, menunjukkan bahwa penguasa Nan-cao adalah orang-orang pandai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Apalagi setelah Suling Emas bermalam di sebuah dusun, ia mendapat kenyataan bahwa rumah-rumah di seluruh Nan-cao di waktu malam atau kalau sedang ditinggal pergi penghuninya, pintu dan jendelanya tak pernah dikunci. Hal ini hanya membuktikan bahwa penduduk hidup dalam suasana aman tenteram, tidak takut barang-barangnya dicuri karena mememang tidak pernah ada pencuri!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Penuh kekaguman hati Suling Emas menyaksikan ini semua. Rakyat hidup tidak mewah, namun cukup dan pada wajah mereka terbayang kepuasan. Ia kagum dan juga girang karena bukankah kakeknya yang menjadi guru negara dan orang terpenting di situ? Sama sekali Suling Emas tidak tahu bahwa selain merupakan negara kecil yang makmur, juga Nan-cao penuh dengan petugas-petugas yang setia, rajin dan pandai. Begitu ia menginjakkan kaki di perbatasan Nan-cao, dirinya selalu menjadi incaran dan diam-diam gerak-geriknya selalu ada yang mengawasi! Bahkan kedatangan Suling Emas di Nan-cao sudah diketahui oleh pusat Beng-kauw di kota raja karena mata-mata yang berjaga di sekitar perbatasan sudah memberi laporan lebih dulu. Nama Suling Emas sudah terdengar sampai di negara kecil ini, dan sekali melihat baju bersulamkan suling itu, para petugas segera dapat mengenalinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pagi hari itu Suling Emas memasuki pintu gerbang kota raja Nan-cao yang daun pintunya berwarna merah. Ia berjalan perlahan, melirik ke arah para penjaga yang berdiri tegak di kanan kiri pintu! Namun para penjaga ini tidak menghiraukannya. Dari kedaan para penjaga ini saja Suling Emas sudah dapat melihat perbedaan. Di kerajaan-kerajaan lain di utara dan tengah, para penjaga pintu gerbang kota raja selalu melewatkan waktu dengan main kartu, main catur, bergurau atau menggoda wanita-wanita yang lewat. Akan tetapi para penjaga disini berdiri tegak, mata menyapu setiap orang yang lewat. Pendeknya sikapnya berdisiplin. Di tengah pintu gerbang terdapat tulisan digantung, berbunyiilarang membawa senjata tajam ke dalam kota raja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;font-size:130%;" class="fullpost" &gt;&lt;a href="http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-90.html"&gt;Bersambung Jilid ke-90&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-89.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-5026131313723694516</guid><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-17T19:44:29.119+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>Suling Emas Jilid 88</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja ia diterima oleh Kaisar sendiri dengan pengawalan ketat. Orang masih belum tahu macam apa orang muda yang membawa pulang Sang Pangeran yang hilang, maka penjagaan diperkuat dan keselamatan Kaisar dilindungi oleh para panglima. Namun, Suling Emas bukanlah merupakan pribadi yang menimbulkan kecurigaan atau kekhawatiran. Ia hanya seorang muda dua puluhan tahun usianya, berwajah tampan bersikap tenang dengan mata sayu dan muka muram. Sebagai seorang terpelajar, Suling Emas tahu akan kesopanan. Di depan Kaisar dia menjatuhkan diri berlutut, kemudian tanpa mengangkat muka dia menuturkan pertemuannya dengan tiga orang tua yang membawa Sang Pangeran, kemudian ia menceritakan betapa ia berhasil merampas kembali Sang Pangeran dan membawanya langsung ke istana. Setelah berkata demikian, ia mengulurkan kedua tangan yang memondong anak kecil itu. Kaisar memberi isyarat kepada seorang dayang yang segera menerima anak itu dari tangan Suling Emas. Akan tetapi anak kecil itu menjerit dan menangis, tidak mau terlepas dari tangan Suling Emas! Timbul sedikit kegaduhan dan Kaisar sendiri sampai tertawa saking gembiranya melihat puteranya pulang dengan selamat. Akhirnya, permaisuri sendiri, ibu anak itu yang ikut hadir menjemput puteranya, yang maju dan barulah anak itu mau dipondong ibunya. Akan tetapi mulutnya masih mewek-mewek dan telunjuknya masih menuding-nuding ke arah Suling Emas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ha-ha-ha!" Sri Baginda tertawa bergelak setelah permaisuri membawa puteranya masuk, diikuti para dayang cantik-cantik yang melempar kerling dan senyum manis kepada Suling Emas yang tampan dan yang dianggap seorang gagah yang berjasa besar. "Kau seorang pemuda yang luar biasa! Kami sudah mendengar betapa engkau membawa kembali putera kami sambil bermain suling, diikuti ratusan orang pengawal dan penduduk. Kemudian putera kami juga sukar mau melepaskan engkau. Sungguh menggembirakan. Eh, orang muda yang gagah perkasa, engkau siapakah?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas berlutut memberi hormat lalu menjawab, "Mohon beribu ampun, Tuanku Kaisar. Hamba sendiri sudah lupa akan nama hamba, akan tetapi karena hamba memiliki benda ini dan suka sekali meniupnya, maka hamba disebut orang dengan nama Suling Emas. Hamba tidak mempergunakan nama lain."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suasana hening ketika semua panglima dan pembesar bersama Kaisar mendengarkan jawaban orang muda itu. Tempat itu segera penuh dengan suara berbisik-bisik karena semua orang merasa heran mendengar jawaban sepeti ini. Namun, Kaisar pertama dari Kerajaan Sung adalah bekas seorang panglima besar, seorang yang sudah banyak bertemu dengan petualang-petualang dan pengelana-pengelana di dunia kang-ouw yang aneh. Kaisar tidak menjadi heran, lalu berkata penuh wibawa, "Suling Emas, angkatlah mukamu dan dan biarkan kami melihat wajahmu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas tidak berani membantah. Dalam keadaan berlutut, ia menengadah. Sejenak Kaisar menatap wajah yang tampan itu, kemudian menarik napas panjang dan bersabda, "Semuda ini sudah mengalami hal sehingga benci akan kenangan-kenangan lalu dan membuang nama. Cukup, Suling Emas, sekarang berdirilah agar enak kami bicara."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Dengan gerakan amat hormat Suling Emas bangkit berdiri. Kembali Kaisar memandang tajam dan mengagumi bentuk tubuh tinggi tegap itu. Timbul rasa suka kepada orang muda ini dan ia berkata, "Suling Emas, kami telah berhutang budi kepadamu. Setelah kau berhasil menyelamatkan putera kami, jasamu besar sekali dan hadiah apakah yang dapat kami berikan kepadamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Ampun, Tuanku. Hamba hanya melakukan apa yang wajib dilakukan oleh setiap orang. Hamba tidak mengaharapkan hadiah apa-apa." Makin suka hati Kaisar mendengarkan jawaban ini. Ia tertawa, "Kau seorang muda yang gagah perkasa dan berati bersih. Kami percaya bahwa engkau tidak mengaharapkan hadiah, Suling Emas. Akan tetapi saking gembira dan berterima kasih hati kami, kami ingin memberikan hadiah yang patut bagimu. Bagaimanaah kalau engkau kami angkat menjadi kepala pengawal dalam istana? kami sekeluarga akan merasa tentram dan aman apabila engakau menjadi kepala pengawal disini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Mohon Paduka sudi memberi ampun. Hamba seorang perantau yang lebih senang hidup bebas di alam terbuka, tidak berani hamba menerima kurnia yang amat besar ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Kaisar diam sejenak, berpikir-pikir. Kemudian berkata lagi, "Memang manusia segolonganmu amat aneh. Pernah kami bertemu dengan Kim-mo Taisu yang juga amat aneh wataknya." Kaisar tidak tahu betapa di dalam hatinya, Suling Emas berdebar-debar mendengar nama mendiang suhunya disebut-sebut. "Maka kami serahkan kepadamu sendiri Suling Emas, jangan bikin kecewa hati kami. Pilihlah, apa yang dapat kami lakukan untukmu sekedar untuk membuktikan bahwa kami amat berterima kasih kepadamu. Kalau kau selalu menolak, hati kami akan merasa tidak enak dan tidak senang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas sudah banyak mempelajari filsafat, sudah tahu pula akan sifat manusia. Seorang Kaisar pun hanya seorang manusia biasa, tidak akan jauh bedanya dengan manusia umum. Tentu ingin membalas rasa syukur dan hutang budi, baru lega hatinya. "Baiklah, Tuanku Kaisar. Hamba akan merasa berterimakasih dan girang sekali apabila Paduka sudi mengijinkan hamba untuk dapat masuk keluar dengan bebas, terutama sekali di perpustakaan istana. Hamba... adalah seorang kutu buku, dan... hamba mendengar betapa perpustakaan istana amatlah lengkap. Hamba ingin membaca kitab sebanyak-banyaknya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Ha-ha-ha!" Kaisar tertawa bergelak, dan semua pembesar yang hadir ikut pula tetawa. Tidak hanya karena latah, melainkan juga karena memang geli mendengar orang muda itu memilih hadiah seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Boleh! Boleh! He, pengawal, sampaikan kepada semua petugas dalam istana dan kepada penjaga perpustakaan, mulai saat ini Suling Emas boleh masuk keluar dan membaca kitab mana saja ia sukai. Ha-ha-ha! Selain itu, Suling Emas. APa lagi? Kami memberi kesempatan satu lagi. Pilihlah!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suling Emas merasa bingung. Tadinya ia terpaksa minta ijin itu karena tidak mau mengecewakan hati Kaisar dan memang ia paling suka membaca kitab. Akan tetapi kini harus memilih satu lagi! Apakah yang menarik hatinya dan ingin ia dapatkan dari dalam istana ini? Ia tidak menginginkan apa-apa. Tiba-tiba ia teringat kepada Suma Ceng! Suma Ceng sudah menjadi istri seorang pangeran dan tinggal di lingkungan istana pula! kalau saja Suma Ceng masih gadis , belum menjadi istri orang lain, sudah dapat ia pastikan ia akan "berani mati" minta dijodohkan dengan Suma Ceng! Akan tetapi, bagaimana ia bisa berpikir seperti itu? Melihat wajah pemuda itu termenung dan agak pucat, Kaisar bertanya lagi, "Jangan ragu-ragu dan takut-takut, Suling Emas. Katakanlah apa yang kau kehendaki, yang kau pilih. Kami akan mengabulkannya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Dalam gugupnya dan dalam kemarahan pada diri sendiri yang berpikir bukan-bukan mengenai Suma Ceng, Suling Emas menjawab sedapatnya, "Hamba... hamba mohon supaya diberi kebebasan pergi ke... dapur istana dan minta masakan apa saja dari petugas dapur!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kini para hadirin yang tertawa bukanlah latah, bahkan mendahului Kaisar. Ramailah ruangan itu. Suara ketawa baru berhenti ketika Kaisar mengangkat kedua lengannya ke atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ha-ha-ha, jangan berkecil hati, Suling Emas. Kami dan semua yang hadir tertawa karena lucu dan terharu akan kesederhanaan hatimu. Baiklah, setiap saat kau boleh masuk dapur dan makan sekenyangmu. Juga kalau engkau memerlukan pakaian atau apa saja, tidak usah ragu-ragu, beritahukan kepada kepala pengawal, pasti akan kami beri. Selain dua hadiah itu, kamipun hendak memberi beberapa pasang pakaian yang sekiranya pantas dan cocok dipakai Suling Emas, pendekar perkasa yang menjadi sahabat seisi istana kerajaan Sung yang jaya!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas tidak berani menolak, juga ia menerima undangan Kaisar untuk tinggal di istana selama ia suka, menikmati isi perpustakaan yang amat lengkap. Beberapa hari kemudian ia menerima lima pasang pakaian dari sutra hitam yang amat halus dan indah. Bajunya dari sutra hitam, celananya ada yang putih ada yang kuning dan pada setiap baju, di bagian dada, tersulam benang emas sebentuk bulan dengan sebatang suling menyilang. Kaisar memegang teguh janjinya. Suling Emas dapat bergerak leluasa di dalam istana, dan setiap saat, biar malam sekalipun, ia berani masuk perpustakaan istana. Apabila pintunya sudah tertutup rapat di waktu malam dan penjaganya duduk mengantuk di depan pintu, Suling Emas memasuki gedung perpustakaan dari atas genteng. Semua petugas istana tidak pernah mengganggunya dan semenjak itu, nama Suling Emas amatlah dikenal. Apalagi setelah ia mengenakan pakaian anugerah Kaisar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Tidak seorang pun tahu bahwa pendekar besar ini hanya beberapa tahun yang lalu adalah seorang juru tulis Pangeran Suma Kong dan menderita hukum siksa oleh Suma-Kongcu karena berani bermain cinta dengan puteri Pangeran Suma Kong yang kini menjadi isteri Pangeran Kiang. Hanya beberapa pekan lamanya Suling Emas menikmati kemewahan istana. Pada suatu hari, orang tidak melihat bayangannya lagi karena Suling Emas telah pergi meninggalkan istana tanpa pamit. Kamarnya kosong dan di situ hanya terdapat tulisan huruf indah di atas tembok kamar: Di bawah bimbingan Kaisar bijaksana rakyat makmur negara aman sentausa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kaisar diberi laporan akan kepergian Suling Emas, hanya mengangguk dan selanjutnya memberi perintah agar kamar itu selalu dipersiapkan untuk Suling Emas. Tulisan dalam kamar itu amat menyenangkan hati Kaisar yang diam-diam merasa kecewa bahwa Suling Emas tidak mau menjadi pengawal pribadinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesungguhnya bukan hanya karena gagal menculik putera Kaisar saja yang memaksa A-liong, A-kwi dan Sam Hwa tergesa-gesa kembali ke Pek-coa-to, tidak mau berusaha lagi menculik pangeran kecil seperti yang ditugaskan kepada mereka oleh Kong Lo Sengjin. Terutama sekali karena melihat Suling Emas di tangan orang muda itulah yang membuat mereka khawatir sekali akan keadaan majikan mereka. Mereka tahu benar bahwa suling emas pusaka keramat itu tadinya berada di tangan sastrawan Ciu Bun yang berada di Pulau Pek-coa-to. Pulau yang sukar didatangi orang, dan pula, selain Kong Lo Sengjin sendiri yang sering kali berada di pulau, juga disana terdapat dua orang murid majikan mereka yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa, yaitu Bhe Ciu dan Bhe Kiu. Bagaimana sekarang tahu-tahu suling emas itu terjatuh di tangan murid Kim-mo Taisu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ketika tiga orang tua ini mendarat di Pulau Pek-coa-to, mereka menjadi kaget sekali. Majikan mereka, Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Cow Pa Ong, bekas pangeran Tang yang dengan gigih selama hidupnya berjuang untuk menegakkan kembali kerajaan yang sudah roboh itu, telah menjadi mayat! Kakek lumpuh itu telah mati dalam keadaan duduk bersila bersandar pohon dan sebuah kitab kecil berada di kedua tangannya. Berhadapan dengan Kong Lo Sengjin, juga duduk bersila bersandar batu besar dan sudah menjadi mayat, adalah sastrawan Ciu Bun! Sam Hwa, A-liong dan A-kwi cepat memeriksa. Ternyata kedua orang itu sama sekali tidak terluka. Agaknya mereka mati wajar, dan sebelum mati mereka itu agaknya bercakap-cakap membicarakan kitab kecil yang berada di kedua tangan Kong Lo Sengjin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Dengan hati-hati mereka mangambil kitab kecil dari tangan Kong Lo Sengjin, lalu mengurus penguburan kedua orang itu. Penguburan yang sederhana dan sunyi tanpa upacara apa-apa karena di dalam pulau kosong itu memang tidak ada apa-apa. Mereka bertiga merasa heran mengapa tidak tampak bayangan Bhe Kiu dan Bhe Ciu. mereka mancari-cari di dalam pulau dan memanggil-manggil, namun tidak terdengar jawaban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-89.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: courier new;font-size:130%;" class="fullpost" &gt;Bersambung Jilid ke-89&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-88.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-8167654611448736810</guid><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-17T19:41:25.210+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>Suling Emas Jilid 87</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan gerakan ringan sekali Suling Emas melompat dan melayang keluar dari tempat sembunyinya, tangan kirinya langsung menerjang dengan serangan maut ke arah kepala Sam Hwa. Serangan ini sengaja ia lakukan dengan pengerahan tenagan sehingga terdengar suara angin bersiut menyambar. Sam Hwa terkejut sekali. Sebagai seorang ahli silat pandai, maklum ia bahwa bayangan yang menyambar dan menyerangnya ini melakukan serangan maut yang berbahaya. Maka cepat ia membuang diri ke belakang sambil mengangkat tangan kanan melindungi kepala. Akan tetapi pada saat itu, bocah yang dipondongnya telah diserobot penyerang itu yang menggunakan tangan kanan menotok pundaknya lalu merampas bungkusan sutera kuning. Tak dapat Sam Hwa mencegah perampasan ini karena totokan pada pundak itu melumpuhkan lengan kirinya yang memondong. Di lain saat, Suling Emas sudah melompat ke belakang, bocah dalam selimut kuning itu dalam pondongannya. Bocah itu menangis lagi, lebih nyaring daripada tadi!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kembalikan anakku...!" Sam Hwa berteriak marah. Setelah melihat bahwa yang merampas bocah itu bukan seorang pengawal istana, melainkan seorang bocah laki-laki muda berpakaian seperti sastrawan, Sam Hwa tidak ragu-ragu untuk mengakui pangeran cilik itu sebagai anaknya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   A-liong dan A-kwi juga melangkah maju dengan sikap mengancam. "Kurang ajar, berani sekali kau merampok anak orang di tengah jalan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas tersenyum mengejek. "Bibi Sam Hwa, kau yang sudah nenek-nenek mana mungkin mempunyai anak yang masih begini kecil? Paman A-liong dan Paman A-kwi, susungguhnya siapa yang merampok anak orang? Kalian bertiga ataukah aku? Aku tidak merampok Pangeran Kecil ini, melainkan hendak mengembalikannya di tempat yang semestinya, yaitu di dalam istana."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Tentu saja tiga orang tua itu kaget sekali. Tiga buah nama tadi adalah nama kecil mereka, yang hanya mereka ketahui, tak pernah diperkenalkan keluar. Bagaimana orang muda ini bisa mengenal mereka? Biarpun mereka bertiga itu kini bekerja sebagai pelayan, namun sesungguhnya mereka bukan orang biasa. A-liong dan A-kwi adalah bekas perwira-perwira tinggi di bawah Kong Lo Sengjin, sedangkan Sam Hwa juga seorang ahli silat tinggi, janda seorang panglima seangkatan dengan dua orang temannya itu. Mereka ini tetap setia kepada Kong Lo Sengjin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Karena maklum bahwa orang muda itu sudah mengetahui rahasia mereka, maka Sam Hwa yang lebih pandai bicara segera bertanya, "Orang muda, siapakah kau yang berani mencampuri urusan pribadi kami? Andaikata benar kami menculik seorang Pangeran Kecil, apa sangkut-pautnya hal itu denganmu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Bibi Sam Hwa dan kedua Paman A-liong dan A-kwi. kukira tidak perlu lagi berpura-pura. Kalian bertiga sudah pernah bertemu denganku, hanya agaknya kalin sudah lupa lagi. Akan tetapi aku tahu bahwa kalian adalah anak buah Kong Lo Sengjin, dan bahwa anak itu adalah seorang pangeran yang kalian culik dari istana atas perintah Kong Lo Sengjin. Secara pribadi memang urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi setelah mempelajari ilmu, apa gunanya kalau tidak untuk menumpas perbuatan buruk? Aku tidak ingin bermusuh dengan kalian yang pernah bersikap baik kepadaku, akan tetapi aku pun tidak bisa membiarkan kalian menculik anak orang semaunya. Apalagi untuk dibawa ke depan Kong Lo Sengjin yang kejam. Aku harus mengembalikan anak ini kepada orang tuanya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Sejenak tiga orang tua itu tertegun, terbelalak dan tidak dapat bicara saking kaget dan herannya. Akhirnya Sam Hwa bertanya, suaranya agak gemetar, "Siapakah kau? Pengawal istana? Siapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas menggeleng kepala dan tersenyum. "Kalian sudah terlalu tua sehingga pikun. Mengapa masih mau saja diperalat Kong Lo Sengjin untuk melakukan hal-hal yang tidak baik? Seyogianya orang-orang setua kalian ini menenteramkan pikiran membersihkan hati menanti kematian."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Eh, bocah gila! Lancang mulutmu!" bentak A-liong sambil melangkah maju. "Tak peduli ia pengawal atau bukan, anak itu hars kita rampas kembali. Serbu!" bentak pula A-kwi sambil menggerakkan tongkatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Karena merasa bahwa rahasia mereka telah terbuka dan jelas bahwa orang muda itu tidak mau mengembalikan pangeran kecil yang mereka cuik, tiga orang ini serentak menyerang Suling Emas dengan gerakan yang dahsyat. Sambil menyerang, mereka berusaha merampas anak kecil dalam pondongan Suling Emas yang masih terus menangis keras. Kalau A-kwi mempergunakan senjata tongkat, A-liong dan Sam Hwa masing-masing menggerakkan sebatang pedang tipis. Serangan mereka cepat dan mengandung tenaga yang hebat. Namun tiba-tiba mereka terkejut dan menjadi silau pandang matanya oleh sinar kuning emas yang bergulung-gulung dan melingkar-lingkar. Dalam saat berikutnya, serbuan tongkat dan dua batang pedang sudah terlempar jauh dan ketiga orang anak buah Kong lo Sengjin itu terpekik kesakitan, melompat mundur dan memegangi tangan kanan yang terasa kaku nyeri dengan tangan kiri. Terbalalak kagum mereka berdiri memandang Suling Emas yang kini berdiri dengan tangan kiri memondong anak kecil, tangan kanan memegang sebatang suling yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Suling Emas...!!" Hampir berbareng mereka berseru ketika melihat suling itu. sebagai pembantu-pembantu kepercayaan Kong Lo Sengjin, tentu saja mereka mengenal benda ini yang selalu berada bersama sastrawan Ciu Bun di Pulau Pek-coa-to, biarpun mereka jarang datang ke pulau itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas menjura sambil tersenyum. "Memang itulah namaku, dan mengingat akan kebaikan mendiang Adik Kwee Eng dan mendiang ibunya, biarlah kuhabiskan sampai di sini saja kesalah fahaman ini. Selamat tinggal!!" Setelah berkata demikian, Suling Emas berkelebat cepat, lari ke jurusan kota raja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Tiga orang tua itu bengong terlongong. Barulah kini mereka teringat bahwa orang muda yang sakti itu bukan lain adalah anak laki-laki yang pernah minta pekerjaan kepada mereka sekedar untuk makan. Anak laki-laki yang kemudian menjadi murid Kim-mo Taisu yang kabarnya mampu mengimbangi kesaktian Kong Lo Sengjin sendiri. Akan tetapi muridnya itu? Benar-benar tak pernah mereka menyangkanya. Karena maklum bahwa mereka bukanlah tandingan orang muda itu, mereka menganggap bahwa tugas mereka telah gagal dan kembalilah mereka ke Pek-coa-to.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Hati Suling Emas merasa lega ketika mendapat kenyataan bahwa tiga orang tua itu tidak dapat mengejarnya. Akan tetapi ia risau melihat anak kecil yang terus menangis dalam pondongannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Sssstttt, diam...! Diamlah, anak manis...!" Ia membuka selimut kuning itu sehingga terbuka dan tampak muka anak yang amat molek dan manis, yang kini mukanya merah karena banyak menangis. Mata yang bening itu memandang penuh selidik ke arah wajah Suling Emas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Nah, begitu anak baik, anak manis! Jangan menangis, ya? Kubawa engkau kembali kepada ayah bundamu...!" Suling Emas menarik muka manis dan ucapannya halus. Anak itu mengedip-ngedip, terheran, akan tetapi tidak menangis lagi. Anak berusia kurang lebih dua tahun itu agaknya dapat merasa bahwa ia berada dalam tangan yang aman. Belum juga sampai di pintu gerbang kota raja, serombongan penunggang kuda terdiri dari tujuh orang, berpakaian bagai pengawal-pengawal istana, membalapkan kuda keluar dari pintu gerbang danketika bersimpang jalan dengan Suling Emas, rombongan ini segera menahan kuda, lalu melompat turun dan berteriak kepada Suling Emas, "Hee, berhenti dulu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas berhenti, maklum bahwa pengawal-pengawal itu tentulah pasukan dari kota raja yang bertugas mengejar penculik pangeran. Ia bersikap tenang saja dan memondong anak itu ditangan kirinya, ia membalikkan tubuh menghadapi mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Kalian mau apa menahan orang berjalan?" tanyanya tenang. Tujuh orang pengawal itu memandang ke arah anak kecil dalam pondongannya dan serentak mereka berseru girang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Itu dia...! Itu dia Sang Pangeran...! Lihat pakaiannya, selimutnya....!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Pemimpin rombongan yang berkumis lebat segera melangkah maju, mukanya membayangkan kemarahan, keningnya berkerut-kerut, lalu membentak,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Heh, orang muda! Engkau benar-benar berani mati menculik putera Sri Baginda! Tak tahukah kau bahwa saat ini ratusan orang pengawal dan pasukan keamanan berpencar di seluruh tempat untuk mencarimu? Hayo kau lekas..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   "Ssstttt....!!" Suling Emas menggerakkan bibirnya meruncing sambil menimang-nimang anak yang mulai menangis lagi itu. "Ah, dasar engkau manusia kasar! Lihat, kalian membuat dia menangis lagi! Tidak tahukah kalian bahwa dia tidak suka akan suara berisik? Bersikaplah tenang agar jangan membuat dia takut!!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Seketika berubah sikap komandan pasukan kecil itu. ia memberi isyarat dengan tangan kepada anak buahnya agar tidak membuat gaduh dan dia sendiri pun melakukan perintah dengan suara bisik-bisik! Hal ini terjadi karena mereka itu mengingat bahwa anak dalam gendongan orang muda itu adalah seorang pangeran, putera Sri Baginda sendiri! Kalau anak itu menangis karena mereka dan hal itu terdengar oleh Sri Baginda, tentu mereka celaka! Lucu sekali gerak gerik mereka itu. Lebih-lebih ketika mereka melihat anak itu terus menangis keras, mereka menjadi bingung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Suling Emas sendiri yang menimang-nimang dan menghibur-hibur, sampai penuh keringat mukanya. Bingung ia menghadapi seorang anak kecil yang rewel ini. Akhirnya, saking bingungnya, ia mengambil sulingnya dan meniup suling itu dengan tangan kanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   Seketika anak itu berhenti menangis. Dengan mata bening dan pipi basah air mata, anak itu memandang Suling Emas. Ketika Suling Emas meniup sulingnya dengan nada naik turun, anak itu tertawa! Suling Emas gembira dan tujuh orang pengawal juga ikut tertawa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian jangan banyak ribut. Aku justeru hendak membawa pulang anak ini ke kota raja. Bukan aku penculiknya, melainkan tiga orang jahat. Aku berhasil merampas anak ini dari tangan mereka. Awas, jangan banyak ribut, kalau kalian ribut-ribut lagi dan anak ini menangis, jangan tanya dosa!" Suling Emas dengan Gerakan sembarang memukulkan sulingnya pada sebatang pohon sebesar paha orang dan... pohon itu tumbang! Pucatlah wajah tujuh orang itu. mereka mengangguk-angguk dan ketika Suling Emas melanjutkan perjalanannya ke arah kota raja, tujuh orang itu mengikuti dari belakang sambil menuntun kuda. Melihat betapa orang muda itu membawa Sang Pangeran benar-benar menuju ke kota raja, hati mereka lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Suling emas terpaksa berjalan sambil meniup sulingnya, karena anak itu menangis saja kalau tidak ditiupkan suling. Memang Suling Emas pandai sekali bersuling, maka suara sulingnya merdu dan sedap didengar. Ketika rombongan pengawal kedua yang terdiri belasan orang banyaknya lewat, mereka pun terheran-heran dan turun dari kuda. Komandan pasukan pertama segera berbisik-bisik memberi tahu dan... rombongan kedua ini pun segera mengikuti dari belakang sambil menuntun kuda masing-masing. Makin lama, makin banyaklah terdapat pasukan berkuda dan berjalan kaki mengikuti arak-arakan ini, bahkan setelah memasuki pintu gerbang kota raja, penduduk besar kecil ikut pula mengikuti arak-arakan menuju ke istana! Suling Emas yang berjalan didepan, enak-enak dan tenang-tenang saja memondong Sang Pangeran sambil membunyikan suling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-88.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;font-size:130%;" class="fullpost"  &gt;Bersambung Jilid ke-88&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-87.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2997438496320834565.post-2043423495560728560</guid><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 12:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-17T19:37:17.106+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kumpulan Cerita Silat</category><title>Suling Emas Jilid 86</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuh kedua orang sakti itu sudah tak dapat dilihat lagi, lenyap terbungkus gulungan sinar senjata mereka! Biarpun pertandingan itu mengerikan dan merupakan pertandingan mati-matian, namun kelihatannya amat indah di malam bulan purnama itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan terhadap mereka yang terluka sudah selesai dan kini Liong-lokai dan Yu Kang berdiri dengan mata terbelalak kagum. "Bukan main... sungguh hebat...!" Bisik kakek jembel itu penuh keheranan dan kekaguman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Suling Emas benar," kata Yu Kang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kepandaian iblis itu benar-benar hebat sekali. Pantas saja ayah sekeluarga terbasmi habis...!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mengapa kita tidak menyerbu sekarang? Kesempatan baik terbuka..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Tidak, Liong-lokai. Tidak boleh kita menggunakan keadaan ini mencari kemenangan. Hal itu akan merupakan penghinaan bagi Suling Emas. Dia berwatak aneh, akan tetapi patut dihormati. Mari kita kurung Si Iblis agar dia jangan sampai dapat melarikan diri!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tujuh orang sisa rombongan pengemis itu segera mengurung, siap dengan senjata masing-masing. Yu Kang bersenjatakan sebatang pedang, Liong-lokai bersenjatakan toya kuningan, tiga orang muridnya juga bersenjatakan toya, sedangkan dua orang saudara Bhong yang kehilangan tiga saudaranya itu bersenjatakan golok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk mengalahkan Pouw-kai-ong dengan ilmu silatnya, Suling Emas kurang matang latihannya. Akan tetapi berkat tenaga sin-kang yang hebat di dalam tubuhnya, ia berhasil mendesak lawannya itu yang mulai terengah-engah dan bermandi peluh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bocah setan, mampuslah!" Saking marahnya, Pouw-kai-ong lalu mengerahkan tenaganya dan menghantam dengan tongkatnya ke arah kepala Suling Emas dengan gerakan memutar. Sebuah serangan yang luar biasa hebatnya merupakan jurus maut tanpa memperhatikan pertahanan diri lagi. Agaknya Pouw-kai-ong sudah nekat, apalagi melihat betapa sisa rombongan pengemis tadi sudah mengurungnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Suling Emas mengangkat sulingnya menangkis. "Plakk...!!" Sepasang senjata ampuh bertemu dan... tubuh Pouw-kai-ong terhuyung ke belakang, tongkatnya patah-patah! Suling Emas juga tidak mengejar, hanya berdiri sambil meramkan kedua mata mengumpulkan tenaga. Pertemuan tenaga lewat senjata tadi benar-benar hebat, membuat dadanya sesak dan agak sakit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Mendadak terdengar suara hiruk-pikuk dan ketika Suling Emas membuka matanya, ia melihat tujuh orang itu sudah menyerbu sambil berteriak-teriak. Suling Emas menarik napas panjang dan melompat mundur, menonton dari tempat persembunyiannya yang tadi. Setelah ia tidak bertanding dengan Raja Pengemis itu, tentu saja ia tidak dapat menghalangi mereka mengeroyok Pouw-kai-ong. Aganya rombongan pengemis yang dipimpin Yu Kang dan Lionglokai itu ketika melihat Pouw-kai-ong terhuyung mundur dan tongkatnya sudah patah-patah, segera menyerang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Namun Si Raja pengemis adalah seorang yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Memang kini senjatanya sudah rusak dan dadanya terasa sesak sekali, akan tetapi, menghadapi pengeroyokan tujuh orang itu, ia sama sekali tidak gentar. Bahkan di antara hujan senjata itu ia bergerak sambil berteriak, kedua kaki tangannya bergerak dan... kembali dua orang murid Liong-lokai roboh terguling!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pada saat itu terdengar sorak-sorai gemuruh dan bermunculanlah puluhan, bahkan ratusan orang pengemis yang serta merta mengeroyok Poouw-kai-ong! Mereka ini adalah rombongan-rombongan pengemis yang tadi sudah diberi kabar melalui teman-teman oleh Liong-lokai sehingga dari pelbagai penjuru datanglah mereka yang ingin sekali melihat Si Raja Pengemis yang dibenci menemui kematiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Pouw-kai-ong terkejut sekali. Matanya jelilatan hendak mencari jalan keluar, namun ia sudah terkurung rapat. Birpun ia lihai, namun menghadapi ratusan orang pengemis yang mengurungnya rapat dengan senjata di tangan, benar-benar merupakan ancaman maut yang mengerikan. Ia mengamuk dan lagi-lagi ia merobohkan beberapa orang. Bahkan Yu Kang yang maju paling dekat, telah kena pukulan tangannya sehingga tulang pundak kiri Yu Kang patah! Juga Liong-lokai kena hantaman lambungnya, membuat kakek ini terlempar dan roboh tak bernyawa lagi di saat itu juga. Masih banyak lagi korbannya, ada belasan orang. Namun ia sendiri mulai terkena pukulan, dari kanan kiri, dari depan belakang. Pouw-kai-ong terhuyung-huyung, mandi darah tapi masih terus mengamuk. Bacokan-bacokan dan hantaman-hantaman ruyung datang bagaikan hujan, bajunya sudah compang-camping, tubuhnya penuh darah. Akhirnya ia roboh! Masih saja mereka menghujani senjata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Berhenti...!!" Tiba-tiba Suling Emas melayang dan tiba di dekat Pouw-kai-ong. Sekali sulingnya bergerak, tampak sinar kuning emas dan semua senjata yang ditujukan kepada tubuh yang mandi darah itu terpental.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Wah, ini konconya! Keroyok...!!" teriak seorang pengemis. "Jangan! mundur semua!!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Yu Kang berseru sambil menggunakan tangan kananya yang tidak terluka untuk mendorong minggir beberapa orang pengemis yang menghalang jalan. "Dia bukan konco iblis Pouw, bahkan dialah yang memungkinkan kita merobohkan iblis itu!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suara Yu Kang nyaring dan penuh wibawa. Apalagi ketika para pimpinan pengemis mengenal bahwa pengemis kosen ini adalah putera mendiang Yu Jin Tianglo seperti yang diperkenalkan oleh Liong-lokai, mereka lalu mundur. Yu Kang mendekati Suling Emas dan bertanya, suaranya nyaring. "Suling Emas! Apa maksudmu menghalangi kami membunuh iblis ini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas menggeleng kepala, memandang kepada tubuh yang mandi darah di depannya. Muka itu hancur, bahkan sebuah daripada matanya remuk! Bibirnya robek hidungnya bengkok. Muka yang mengerikan! Andaikata dapat hidup terus tentu menjadi seorang yang cacad mukanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak suka akan pengeroyokan. Biarpun dia roboh oleh kalian, akan tetapi lebih dulu aku telah membikin dia tidak berdaya dengan merusak tongkatnya. Kalau ia masih bersenjata, apakah kalian kira akan dapat dengan mudah merobohkannya? Tentu dia akan dapat melarikan diri. Karena itu aku merasa seakan-akan ikut mengeroyoknya! Dia sudah mendapat hajaran keras, lebih mati daripada hidup. Lihat mukanya! Lihat mukanya! Lihat badannya! Urusannya dengan kalian adalah urusan pribadi, aku tidak mau terseret dalam pengeroyokan dan pembunuhan begini curang."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sejenak Suling Emas beradu pandang dengan Yu Kang. Kemudian Yu Kang menunduk dan melihat keadaan Pouw-kai-ong. Ia agaknya merasa puas, berdongak ke udara, mulutnya berkemak-kemik seperti membaca doa. Kemudian ia meloncat ke atas batu besar tak jauh dari situ. Tangan kirinya sengkleh, tergantung lepas karena tulang pundak kirinya patah. Akan tetapi sikapnya gagah dan suaranya nyaring.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Kawan-kawan! Dengarkan aku bicara. Aku adalah Yu Kang, putera mendiang Yu Jin Tianglo ketua Khong-sim Kai-pang. Bicara tentang dendam kepada Si Jahat Pouw agaknya di antara kita akulah yang paling parah. Akan tetapi aku puas melihat dia kini dirobohkan, dan... harus kita akui bahwa tanpa bantuan Pendekar Suling Emas belum tentu kita akan berhasil. Oleh karena itu, biarlah kita jangan membunuhnya sesuai dengan permintaan Pendekar Suling Emas. Tanpa kita turun tangan lagi, kurasa dia pun akan mampus! Bergembira dan bersoraklah bahwa mulai detik ini kita terbebas daripada cengkeraman seorang jahat seperti Pouw-kai-ong!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Ratusan orang pengemis baju kotor itu bersorak gegap-gempita. Ada pula yang berseru, "Hancurkan pengemis baju bersih!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Angkat Saudara Yu Kang menjadi ketua seluruh kai-pang!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Mari saudara-saudara, kita iringkan Saudara Yu Kang mengumpulkan semua pengemis baju kotor untuk membasmi pengemis baju bersih!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Sorak-sorai makin menjadi-jadi dan ratusan pasang tangan diulur ke depan sehingga Yu Kang tak kuasa lagi mencegah para pengemis itu mendukungnya dan mengaraknya pergi dari situ sambil bersorak-sorak! Hanya beberapa orang pengemis tua yang tinggal untuk mengurus penguburan para korban dan merawat mereka yang terluka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas berdiri memandang semua ini dengan hati terharu. Ia kagum akan kegagahan Yu Kang yang biarpun kasar dan jujur, namun memiliki jiwa pendekar. Ia terharu menyaksikan jembel-jembel itu bersatu padu untuk membasmi penindas dan memperbaiki nasib, menggantungkan harapan mereka kepada Yu kang, satu-satunya pengemis yang boleh diharapkan akan dapat memimpin mereka, melepaskan diri daripada penindasan orang-orang jahat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Setelah semua mayat dikubur dan para pengemis tua pergi membawa teman-teman yang terluka sehingga di situ sunyi sepi, Suling Emas kembali memandang tubuh Pouw Kee Lui yang masih menggeletak mandi darah. Suling Emas menarik napas panjang, lalu menyambar tubuh itu, membawanya ke dalam pondok. Ia merebahkan tubuh yang masih pingsan itu ke atas pembaringan, kemudian pergilah ia dari tempat itu. Belum jauh ia pergi, ia mendengar suara orang dan cepat ia menyelinap lalu mengintai. Kiranya beberapa orang wanita cantik dan beberapa orang laki-laki, semua berpakaian seperti pelayan-pelayan, berindap-indap memasuki pondok dari belakang. Ia kembali menghela napas. Kiranya orang she Pouw itu menjadikan pondok itu sebagai tempat istirahat dan bersenang-senang, ditemani beberapa orang wanita cantik dan mempunyai pelayan-pelayan secukupnya. Biarlah, biar mereka itu merawatnya. Suling Emas tidak jadi mencari daun obat di dalam hutan, menyerahkan nasib bekas Raja Pengemis itu kepada para selir dan pelayannya. Ia hanya mengharap mudah-mudahan pelajaran pahit itu tadi akan membuat Pouw-kai-ong menjadi bertobat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas melanjutkan perjalanannya menuju ke kota raja. Ia merasa girang mendengar percakapan rakyat yang merasa puas dengan adanya raja baru yang adil dan tidak suka menjalankan kekerasan terhadap rakyatnya. Ia tidak melihat perubahan apa-apa ketika pada keesokan harinya ia memasuki pintu gerbang kota raja, sehingga ia makin gembira. Ketika pertama kali ia masuk kota raja ketika ia menyusul suhunya, ia tidak mendapat kesempatan unutk melihat-lihat kota raja. Kini ia menggunakan kesempatan untuk keliling kota sehingga bertambah kegembiraannya menyaksikan keadaan yang makmur dan ramai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Akan tetapi kegembiraan ini musnah seketika setelah ia mendengar berita tentang keluarga Suma. Ia mendengar berita bahwa Pangeran Suma Kong sudah pindah ke An-sui, kota yang menusuk perasaannya. Berita bahwa Suma Ceng telah menikah dengan seorang pangeran she Kiang yang menghancurkan hatinya. Bahkan ia mendengar bahwa Suma Ceng, bekas kekasihnya, kini hidup di lingkungan istana raja, bersama suaminya dan dua orang anaknya! Suma Ceng sudah menjadi isteri seorang pangeran dan malah sudah menjadi ibu dari dua orang anak!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Hancur hatinya, perih seperti tertusuk seribu batang jarum. Setelah mendapatkan keterangan ini, Suling Emas meninggalkan kota raja, berjalan di tengah malam buta sambil meramkan mata, menahan air mata yang hendak jatuh berderai. Akhirnya ia berhenti di jalan yang sunyi, duduk di pinggir jalan, menyembunyikan mukanya di antara kedua lutut, jari-jari tangan mencengkeram rambutnya. Habislah sudah harapannya. Padamlah semua cahaya hidupnya. Apa lagi yang boleh dipandang? Kekasih pertama direnggut maut. Kekasih berikutnya direnggut laki-laki lain! Ayah kandung menikah lagi. Ibu kandung tak tentu rimbanya, mungkin sudah mati karena tidak pernah ia mendengar beritanya. Siapa lagi yang dapat dijadikan teman dalam hidupnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Kakeknya! Ya benar. Kakeknya masih ada. Kakeknya bukanlah sembarang orang. Kakeknya adalah Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, Ketua Beng-kauw, bahkan menduduki tempat tinggi di Kerajaan Nan-cao! Mengapa ia tidak pergi ke negara kakeknya? Siapa tahu kalau-kalau ibunya juga pulang ke sana? Selain menghubungi keluarga yang terdekat dan masih ada, juga ia maklum bahwa di sana ia akan dapat banyak belajar untuk memperdalam ilmunya. Gurunya sendiri seringkali bicara tentang Pat-jiu Sin-ong dengan penuh kagum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Setelah duduk termenung dalam keadaan duka cita seperti itu sampai sinar matahari memerah menjelang fajar, Suling Emas mengangkat mukanya. Orang lain akan kaget kalau menyaksikan perubahan wajah pendekar ini. Tampak tua dan tidak ada lagi sinar pada mukanya. Hanya kemuraman yang tampak. Pandang matanya sayu. Tiba-tiba ia meloncat bangun dan menyelinap cepat, bersembunyi di balik sebatang pohon besar di pinggir jalan. Biarpun keadaan hati Suling Emas sedang mengalami kehancuran dan dirinya tenggelam dalam duka nestapa, namun naluri kependekarannya tak pernah menjadi tumpul. Panca inderanya peka sekali dan gerakan tiga sosok bayangan yang berlari-lari keluar dari kota raja, menimbulkan kecurigaannya sehingga ia cepat-cepat bersembunyi untuk mengintai. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiga orang yang berlari amat cepat itu tidak berlari lagi, kini tampak berjalan sambil bercakap-cakap. Suling Emas cepat menyelinap dan mendekati mereka untuk mendengarkan. Setelah dekat, dari balik pohon melihat seorang nenek dan dua orang kakek. Nenek itu berwajah galak penuh keriput, memondong sebuah bungkusan kain kuningan dari sutera halus. Kakek pertama sudah tua, akan tetapi tubuhnya tinggi besar dan nampak kuat, tubuh atasnya tidak berbaju. Serasa ia mengenal tiga orang tua ini, akan tetapi di mana ia pernah bertemu. Akan tetapi begitu mereka bertiga bercakap-cakap segera ia ingat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "A-liong, kau yang paling kuat dan dapat menempuh perjalanan jauh, kau sajalah yang mengantarkan pangeran cilik ini kepada Ong-ya. Biar aku dan A-kwi menyambut para pengejar sehingga kau dapat pergi jauh takkan terkejar lagi," kata Si Nenek Tua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Betul ucapan Sam Hwa," kata kakek pertama yang bertongkat. "Langkahmu lebar daripada kami berdua, dan aku pun malas kalau harus berlari-lari dikejar-kejar seperti maling."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ihh..., aksinya! Memang kita bertiga maling, siapa tidak tahu?" bentak nenek itu sambil menyerahkan bungkusan sutera kuning kepada kakek tinggi besar yang disebut A-liong. Kakek A-liong agaknya tidak senang dengan tugas ini, akan tetapi karena "kalah suara" ia menerima juga bungkusan itu. akan tetapi begitu bungkusan itu dipondongnya, tiba-tiba terdengar tangis anak kecil yang nyaring sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    “Eh-eh, kauapakan dia? Sejak tadi diam saja, begitu kausentuh lalu menangis!" kata Si Nenek Tua mengomel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Wah, celaka. Kalau menangis seperti itu tentu kau akan menjadi tontonan di sepanjang jalan," kata A-kwi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Bagaimana kau akan menjawab pertanyaan orang-orang di jalan? Bahwa anak ini anak selirmu? Ataukah cucumu yang kematian ayah bundanya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Namun A-liong sudah menggigil ngeri, agaknya semua bulu di badannya berdiri semua ketika ia merasa betapa anak kecil meronta-ronta dan menjerit-jerit keras. Cepat ia mengulurkan tangan ke depan, memberikan bungkusan itu kembali kepada Sam Hwa sambil berkata,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Tidak baik..., tidak baik...! Dalam pondongan tangan halus dia diam saja. Tanganku kasar, tidak sehalus tanganmu, Sam Hwa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Cihh! Omongan tua bangka tak bermalu!" kata Sam Hwa dengan muka agak merah sambil menerima kembali bungkusan sutera kuning yang ternyata berisi seorang anak kecil itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    "Ha-ha-ha! Bukan karena tanganmu kasar, A-liong, melainkan bau keringatmu yang terlalu keras sehingga anak itu tidak tahan!" A-kwi menggoda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    Suling Emas mengenal tiga orang ini sebagai pelayan-pelayan Kong Lo Sengjin! Setelah ia mendengar percakapan mereka, ia menjadi kaget sekali. Sam Hwa si nenek tua tadi menyebut "pangeran cilik" yang harus diantarkan kepada Ong-ya! Keonaran palagi yang akan dilakukan Kong Lo Sengjin dan anak buahnya? Mereka itu bicara tentang pengejaran. Tak salah lagi, tentulah mereka bertiga menculik pangeran kecil itu dari dalam istana raja atas perintah Kong Lo Sengjin yang berwatak aneh. Teringat akan percakapan rakyat yang memuji-muji kaisar baru dari Kerajaan Sung, Suling Emas segera mengambil keputusan untuk menolong anak kecil itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-87.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;font-size:130%;" class="fullpost"  &gt;Bersambung Jilid ke-87&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://hobby-baca.blogspot.com/2011/02/suling-emas-jilid-86.html</link><author>noreply@blogger.com (Free Download)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>