<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>IAIC Learning Center</title>
	
	<link>http://www.ilc.insancendekia.org</link>
	<description>Education Studie, Technology Studie, Sosio Medicine Studie, Economic Studie, Sosio Studie, Energy Studie, Nature Studie, ILC Tech: ILC Technology, MEDIC: Medical Doctor of Insan Cendekia, Filosofi, Pelayanan Publik, Politik, Refleksi, Tausiah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 10:03:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/iaic/ilc/energy" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="iaic/ilc/energy" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Dragonfly</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/780/dragonfly/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/780/dragonfly/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 10:03:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza Avriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotogravity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=780</guid>
		<description><![CDATA[Dragonfly]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dragonfly</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/780/dragonfly/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In The Morning</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/785/in-the-morning/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/785/in-the-morning/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 09:58:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza Avriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotogravity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=785</guid>
		<description><![CDATA[In The Morning]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In The Morning</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/785/in-the-morning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Borobudur temple</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/776/borobudur-temple/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/776/borobudur-temple/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 09:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riza Avriansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotogravity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[Sit and Pray]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sit and Pray</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2011/776/borobudur-temple/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>960 Grid System – Solusi PSD to HTML</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/05-2011/766/960-grid-system-solusi-psd-to-html/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/05-2011/766/960-grid-system-solusi-psd-to-html/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 04:08:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Galih Permadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=766</guid>
		<description><![CDATA[Bagi para web developer, mungkin 960 gs bukan menjadi barang asing lagi. Permintaan terhadap web site interface dengan tampilan yang memukau kian tinggi, terlebih setelah tren web 2.0 dan HTML5. Proses design awal tampilan pun diinginkan sebagus mungkin. Hal tersebut pun masih sulit diwujudkan dengan WYSIWYG software yang biasa digunakan. Di sisi lain, para pengembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi para web developer, mungkin 960 gs bukan menjadi barang asing lagi.<br />
Permintaan terhadap web site interface dengan tampilan yang memukau kian tinggi, terlebih setelah tren web 2.0 dan HTML5. Proses design awal tampilan pun diinginkan sebagus mungkin. Hal tersebut pun masih sulit diwujudkan dengan WYSIWYG software yang biasa digunakan. Di sisi lain, para pengembang grafis yang sudah akrab luar biasa dengan software-software pengolah grafis seperti Photoshop atau Gimp, menginginkan design web nantinya sesuai dengan apa yang telah mereka design dengan detil di media tersebut (Photoshop, Gimp, dll).</p>
<p>Latar belakang tersebut memicu timbulnya layanan-layanan berbayar yang mengkonversi design Photoshop menjadi HTML (bisa di-google &#8220;PSD to HTML&#8221;). Dengan menggunakan layanan berbayar ini, para business owner dapat mempekerjakan seorang designer grafis untuk mendesign web interface sesuai keinginan, tentunya melalui proses panjang revisi-improvisasi, lalu menggunakan layanan tersebut untuk mewujudkan design PSD menjadi HTML (dan CSS). Pihak ketiga tersebut kemudian mengkonversi design tersebut menjadi <em>accessible web page</em>, tentunya dengan biaya yang telah disepakati dan cenderung tidak murah.</p>
<p>Tantangan muncul bagi pengembang dengan skala menengah kebawah yang tersandung anggaran sedangkan tuntutan untuk mengembangkan interface yang sesuai dengan detil design yang telah di-draft di Photoshop pun kian tinggi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara, yang biasa dilakukan adalah dengan manipulasi CSS. Sampai di titik ini, kompetensi penguasaan CSS harus cukup untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut.</p>
<p>960 Grid System (960gs) merupakan sebuah framework CSS yang memfasilitasi konversi design web dari PSD menjadi HTML + CSS. Dengan kompetensi dasar dalam CSS, pengembang dapat membuat design web interface yang <em>apple to apple</em> dengan design yang telah dibuat di software pengolah citra ternama (Photoshop, Gimp, dan beberapa perangkat lain sudah didukung oleh framework ini).</p>
<p>Proses penggunaan pun dinilai relatif mudah. pengembang dapat memilih jenis kolom yang diinginkan. Tersedia 12, 16, dan 24 kolom yang dapat disesuaikan dengan detil design photoshop itu sendiri. Setelah menentukan template kolom, pengembang bisa memulai membuat design berdasarkan guide kolom-kolom yang telah disediakan. Setelah selesai, bagian-bagian design tersebut akan disimpan secara terpisah (sliced) yang nantinya akan dipanggil kembali menggunakan metode dasar CSS div tag.</p>
<p>Dengan menggunakan framework ini, pengembang bisa bebas membuat design awal di berbagai perangkat grafis, dan kemudian memindahkannya ke dalam wujud HTML dan CSS dengan mudah. Untuk framework 960gs sendiri dapat diunduh di http://960.gs . Diharapkan pengembangan antarmuka web, khususnya produksi lokal, dapat bersaing dengan pengembang luar.</p>
<p>Framework 960gs ini sudah cukup terkenal dan banyak digunakan para pengembang professional. Beberapa contoh website yang menggunakan framework ini dapat dilihat di website 960.gs. Tutorial-tutorial lengkap langkah demi langkah pun sudah banyak yang menyediakannya di situs-situs UGC (User-Generated Content) seperti youtube.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/05-2011/766/960-grid-system-solusi-psd-to-html/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemana Masa Kecil Anak Indonesia?</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/03-2011/762/kemana-masa-kecil-anak-indonesia/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/03-2011/762/kemana-masa-kecil-anak-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 13:07:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Laksito Hedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Isu Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=762</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ketika saya menginjak masa usia Sekolah Dasar, banyak hal yang saya rasakan. Saya disekolahkan di sebuah SD negeri yang cukup berkualitas, tapi masih merakyat. Artinya anak-anak yang bersekolah disini terdiri dari berbagai macam strata sosial. Saya mempunyai teman (maaf bukan berarti merendahkan) dari yang anak seorang tukang becak, tukang warung gulai, sampai pengusaha dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs553.ash1/32241_124974604183971_122607464420685_330191_4798865_n.jpg" alt="" width="200" height="288" />Dulu ketika saya menginjak masa usia Sekolah Dasar, banyak hal yang saya rasakan. Saya disekolahkan di sebuah SD negeri yang cukup berkualitas, tapi masih merakyat. Artinya anak-anak yang bersekolah disini terdiri dari berbagai macam strata sosial. Saya mempunyai teman (maaf bukan berarti merendahkan) dari yang anak seorang tukang becak, tukang warung gulai, sampai pengusaha dengan 5 mobil di garasinya. Yang saya obrolkan dengan teman-teman saya adalah permainan-permainan sosial (seperti benteng, sepakbola). Pulang sekolah, kami jalan kaki, naik bus seharga 100 rupiah, atau naik sepeda, sambil singgah sebentar di rumah teman sekedar istirahat atau kembali bermain.</p>
<p>Pada sore harinya, saya keluar rumah, menenteng bola dan menghampiri rumah tetangga-tetangga saya mengajak bermain bola bersama, sekedar di jalan gang. Atau kalau pun tidak bermain bola, bermain yang lainnya, dari main tanah liat, petak umpet sampai yang agak feminin lompat tali (bersama anak perempuan juga tentunya.haha). Saya beruntung dibesarkan di lingkungan kampung, bukan perumahan yang notabene diisi oleh orang-orang dengan kelas yang sama. Di kampung saya (di Semarang), dari yang rumahnya 3 digabung jadi satu sampai yang lantainya masih tanah semua ada. Dan saya berinteraksi dengan anak-anak mereka semua, tanpa kecuali. Disini secara tidak langsung saya diajarkan tentang empati, yang (sayangnya) saya rasakan mulai hilang dari otak bawah sadar anak-anak jaman sekarang.</p>
<p>Dan ketika waktu magrib hampir tiba, kami meninggalkan permainan kami dan buru-buru mandi. Apa sebabnya? kami mau cepat-cepat pergi ke masjid, saling berebut mic untuk sekedar jadi muadzin atau menyanyikan pujian-pujian terhadap Allah dan Rasul-Nya (saya lupa gimana nyanyinya, sholawat-sholawat gitu lah). Lalu selesainya sholat pulang bersama-sama sambil terkadang menyapa bapak-bapak atau ibu-ibu yang juga sholat maghrib di masjid.</p>
<p><strong>Perubahan pola hidup anak kecil jaman sekarang</strong></p>
<p>Pada jaman yang sudah berubah pesat ini, dimana era teknologi berkembang dengan cepatnya, sedemikian cepat juga pola hidup anak-anak sekarang berubah. Sekarang orang tua-orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak nya pada sekolah-sekolah unggulan, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pendidikan anaknya. Tentu saja dari dulu hal ini juga terjadi. Perbedaanya adalah, jaman sekarang untuk mendapat sekolah berkualitas maka kualitas ‘keuangannya’ pun harus mumpuni. Artinya apa? artinya yang mampu membayar besar lah yang akan mendapat kualitasnya. Ini menimbulkan konsekuensi, yang dapat bersekolah di tempat itu adalah orang-orang dengan golongan tertentu saja.</p>
<p>Hal ini beimbas pada pola interaksi anaknya. Lingkungan sosial mereka terbatas. Yang kalangan miskin hanya bergaul dengan yang miskin di sekolah-sekolah pinggiran, dan yang golongan berada berinteraksi dengan sesamanya di sekolah mewah dan berfasilitas. Apalagi apabila lingkungan tempat tinggalnya juga homogen (biasanya terjadi pada yang hidup di lingkungan perumahan besar) dimana mereka tidak dibiasakan untuk berinteraksi dengan berbagai macam kasta sosial, karena tetangga-tetangganya pun setara dengan dia.</p>
<p>Interaksi yang terbatas menyebabkan cakrawala pikiran anak-anak menjadi sempit, dan menganggap bahwa lingkungan pergaulannya hanya yang berkutat di sekelilingnya saja, dan menjadikan mereka sebagai anak yang kaku dan cenderung tidak bisa menerima perbedaan.</p>
<p>Apalagi dengan cara mendidik anak yang sekarang sedang populer di mata orang tua, sekolah dari pagi sampai sore, lalu dilanjutkan les ini dan itu sampai magrib. Malamnya langsung dikurung untuk belajar. Begitu selalu siklus hidup anaknya. Lalu bagaimana dengan waktu bermain mereka? interaksi sosial mereka? bagaimana dengan alokasi waktu yang seharusnya seorang anak belajar memahami karakter orang, fenomena budaya masyakarat, dan belajar untuk mempunyai empati (seperti yang saya tulis di atas) ?</p>
<p>Hal ini akan menjadi lebih buruk lagi bila seorang anak telah mendapat segalanya di kamar mereka. Playstation/Wii atau console game lainnya. televisi dengan saluran indovision, dan internet 24 jam. Mereka akan menjadi anti sosial sejati, dan bisa saja menjadi anak yang pertumbuhannya tidak sehat. Apalagi dengan banyaknya media pornografi di internet, tayangan televisi yang makin tidak mendidik serta game-game yang seharusnya ratingnya untuk orang dewasa.</p>
<p>Dan semua hal yang saya paparkan di atas sudah mulai terjadi, terutama di kota besar seperti Jakarta. Ketika saya tinggal di Bintaro- Tangerang misalnya, saya menyempatkan beberapa kali untuk sholat maghrib di masjid, dan saya jarang sekali melihat ada anak-anak kecil disana. Yang ada hanya bapak-bapak sepuh.</p>
<p>Bahkan ketika saya berkeliling kompleks, di sore hari saja taman-taman bermainnya jarang sekali diisi oleh anak-anak yang sedang bermain. Malah banyak diisi oleh babysitter-babysitter yang sedang menjaga bayinya sambil bergosip. Pola bermain anak telah bergeser dari jalanan dan taman menjadi mall ataupun warnet-warnet games, tempat-tempat dimana menurut saya tidak terlalu baik untuk perkembangan karakter seorang anak.</p>
<p>Saya juga pernah mendengar percakapan anak-anak yang sedang menunggu jemputan pulang di sekolah berawalan Al ( haha…). Yang mereka obrolkan adalah tentang merk Handphone apa yang mereka punya dengan tipenya, mau main di mall mana, atau ada film apa di bioskop saat ini. Yang anak perempuan berebutan melihat semacam majalah Go Girls (saya tidak tahu apa namanya) dan ribut bergosip. Haha…dan ini saya dengan sendiri lho…dari mulut anak-anak SD pula. Entah ini hal yang lumrah atau saya yang tidak bisa menerimanya.</p>
<p>Dengan era internet seperti sekarang ini makin membuat anak-anak sekarang kehilangan momen bersosialisasi mereka. Apalagi dengan banyaknya situs jejaring sosial, apabila tanpa bimbingan orang tua pemakaian situs jejaring tersebut akan menjadi candu buat mereka.</p>
<p>Di akhir tulisan ini saya hanya mengharapkan kepada semua yang punya hubungan dengan anak-anak –baik itu anaknya sendiri, keponakan, adik atau siapapun– untuk dapat memberi ruang bagi anak-anak tersebut untuk mengembangkan karakter mereka melalui banyaknya interaksi sosial yang real, karena lingkungan adalah wahana belajar paling mengena untuk seorang anak, dan masa pembentukan karakter yang paling mudah dan bertahan lama adalah pada saat usia anak-anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/03-2011/762/kemana-masa-kecil-anak-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susu Formula, E. sakazakii, dan ASI</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/02-2011/757/susu-formula-e-sakazakii-dan-asi/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/02-2011/757/susu-formula-e-sakazakii-dan-asi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 16:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syarif Al Hadramy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosio Medicine]]></category>
		<category><![CDATA[ASI]]></category>
		<category><![CDATA[Enterobacter sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[sakazaki]]></category>
		<category><![CDATA[sakazakii]]></category>
		<category><![CDATA[susu formula]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=757</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba kata bakteri ini jadi primadona di televisi, E. sakazakii, ibu-ibu menjadi ketakutan kalau anak-anak mereka terinfeksi E. sakazakii dari susu formula yang diminum anak-anak mereka. Hal ini berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Institut Pertanian Bogor yang diketuai oleh Dr. Sri Estuningsih, menemukan bahwa terdapat 22,73% susu dari 22 sampel susu formula dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba-tiba kata bakteri ini jadi primadona di televisi, <em>E. sakazakii</em>, ibu-ibu menjadi ketakutan kalau anak-anak mereka terinfeksi <em>E. sakazakii </em>dari susu formula yang diminum anak-anak mereka. Hal ini berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Institut Pertanian Bogor yang diketuai oleh <em> </em>Dr. Sri Estuningsih, menemukan bahwa terdapat 22,73% susu dari 22 sampel susu formula dan 40% dari 15 sampel makanan bayi produk dalam negeri yang dipasarkan antara April sampai Juni 2006 terkontaminasi <em>Enterobacter sakazakii</em>. Pantas saja ibu-ibu langsung khawatir akan kesehatan anak mereka, dan yang makin menambah rumit adalah pihak peneliti tidak mau menyebutkan merek dari prodak-prodak tersebut, namun hal itu tidak perlu kita bahas di sini, masih ada banyak hal yang lebih penting dan berguna untuk kita ketahui.</p>
<p><em>E. sakazakii </em>adalah bakteri yang masuk dalam <em>family Enterobacteriaceae</em>, dahulu bakteri ini di sebut sebagai ”yellow-pigmented <em>Enterobacter cloacae</em>&#8221; hingga tahun 1980. Sekarang <em>E. sakazakii</em> dimasukkan dalam genus <em>Cronobacter</em>.<sup> </sup>Media penyebaran utama bakteri ini adalah melalui susu formula bubuk. Kurang sempurnanya pengelolahan susu cair menjadi bubuk, seperti waktu pemanasan yang kurang, dapat menyebabkan kontaminasi <em>E. sakazakii</em> dalam susu formula bubuk.<sup>1</sup> <em>E. sakazakii</em> dapat masuk ke dalam susu formula melalui tiga jalan, a) bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi susu formula, b) melalui kontaminasi saat formula ditambahkaan pada susu setelah proses <em>pasteurization</em>.<sup>2</sup></p>
<p>Dengan adanya resiko kontaminasi <em>E. sakazakii</em> ke dalam susu formula, maka kita tentu akan mencegah anak-anak kita terinfeksi <em>E. sakazakii</em>. Lalu, apa yang perlu kita lakukan? Kita seringkali lupa jika kita adalah manusia dan kita telah diberi banyak nikmat oleh tuhan. Sejak sekolah dasar tentunya kita mengetahui bahwa manusia tergolong mamalia, yang dilengkapi oleh tuhan dengan kelenjar susu, sehingga kita melihat anak sapi disusui oleh induknya, begitu pula dengan kambing, kucing, harimau, kuda, dan lain-lain. Kita sebagai manusia sudah barang tentu yang terbaik bagi kita adalah mengkonsumsi susu manusia, ASI, bukan dengan mengkonsumsi susu hewan (baca: sapi). ASI jelas lebih steril dibandingkan dengan susu formula yang biasa kita berikan pada anak-anak. Berdasarkan informasi dari WHO, 50-80% kasus balita yang terinfeksi <em>E. sakazakii</em>, tercatat mengkonsumsi susu formula. WHO telah merekomdasikan untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama usia bayi, dan dilanjutkan hingga 2 tahun yang disertai makanan pendamping.<sup>2</sup> Jadi selama kita yakin dalam 2 tahun tersebut dapat memberikan ASI yang cukup serta makanan pendamping mencukupi kebutuhan gizi, kita tidak perlu menambahkan susu formula untuk anak-anak kita.</p>
<p>ASI adalah hak yang seharusnya diberikan oleh ibu kepada anaknya, kecuali terdapat alasan medis yang tidak menganjurkan ibu untuk tidak menyusui anaknya (ibu yang menderita HIV). Namun yang kita dapati sekarang angka menyusi di Negara kita masih rendah. Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2007 bayi usia kuarang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif hanya 32%, angka ini menurun 6 poin jika dibandingkan dengan data tahun 2003. Juga didapatkan data sebanyak 65% bayi baru lahir mendapatkan makanan selain ASI dalam 3 hari pertama.<sup>3</sup></p>
<p>Nama bakteri <em>E. sakazakii</em> memang masih asing ditelingan kita, wajar saja karena angka kejadiannya yang jarang, sehingga masyarakat masih minim informasi tentang tanda-tanda dari infeksi <em>E. sakazakii</em>, serta seberapa bahayanya infeksi dari bakteri ini. <em>E. sakazakii </em>adalah bakteri opurtunis yang berbahaya bagi balita, infeksinya pada neonatus, dan balita dapat menyebabkan meningitis (radang selaput otak) dan enterokolitis nekrotik. Bayi berat lahir rendah (BBLR), bayi premature, dan bayi yang dalam kondisi imunosupresi memiliki resiko yang tinggi terhadap infeksi <em>E. sakazakii</em>, sedangkan pada bayi yang sehat memiliki resiko yang lebih rendah. Angka kematian pada infeksi <em>E. sakazakii </em>sangat tingggi yaitu 40-80%, sedangkan pada pasien yang berhasil <em>survive</em> dapat mengalami gejala sisa pada sistem saraf, seperti hidrosefalus, kelumpuhan anggota gerak, atau gangguan perkembangan.<sup>4</sup></p>
<p>Isu tentang <em>E. sakazakii</em> yang makin sering terdengar dan masyarakat semakin tahu bahaya yang diakibatkan dari infeksi ini, membuat masyarakat semakin ingin tahu merek-merek apa saja yang produk susunya didapati terinfeksi <em>E. sakazakii</em>, hal ini wajar karena para orang tua khawatir akan kesehatan anak-anak mereka, namun mengapa mereka tidak khawatir akan bahaya yang dapat terjadi dengan tidak memberikan ASI kepada anak-anak mereka. Semoga momentum ini dapat menjadi titik balik bagi masyarakat kita untuk sadar akan pentingnya memberikan ASI bagi bayi dan balita, terutama memberikan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama kehidupan.</p>
<p>1.       <em>Enterobacter sakazakii</em> (<em>Cronobacter spp.</em>) <a href="http://www.ecolab.com/PublicHealth/Esakazakii.asp">http://www.ecolab.com/PublicHealth/Esakazakii.asp</a></p>
<p>2.      Question and Answer on <em>Enterobacter sakazakii</em> in Powdered Infant formula  <a href="http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/en/qa2.pdf">http://www.who.int/foodsafety/publications/micro/en/qa2.pdf</a></p>
<p>3.     UU Perlindungan Bagi Ibu Menyusui dan Anak Menyusui ASI <a href="http://www.petitiononline.com/aimi/petition.html">http://www.petitiononline.com/aimi/petition.html</a></p>
<p>4.    PRESUMPTIVE DIAGNOSIS OF CRONOBACTER SAKAZAKII INFECTION IN INFANTS <a href="http://www.hpa-standardmethods.org.uk/documents/qsop/pdf/qsop58.pdf">http://www.hpa-standardmethods.org.uk/documents/qsop/pdf/qsop58.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/02-2011/757/susu-formula-e-sakazakii-dan-asi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>anybody miss this scenery?</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/02-2011/751/anybody-miss-this-scenery/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/02-2011/751/anybody-miss-this-scenery/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 04:35:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fariz hamzah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotogravity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Remember this?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Remember this?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/02-2011/751/anybody-miss-this-scenery/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walking on The Cloud</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/01-2011/736/walking-on-the-cloud/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/01-2011/736/walking-on-the-cloud/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 04:22:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ilham Fadhil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotogravity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ilc.insancendekia.org/?p=736</guid>
		<description><![CDATA[Gambar ini diambil di jalan menuju fakultas kedokteran hewan. saya tertarik mengambil gambar ini karena siluet dari bayangan pohon yang ada di jalan seperti awan,jadi anda bayangkan anda sedang berjalan diatas awan,bebas&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp" style="text-align: center">
<dl>
<dt><img class="size-large wp-image-735     " src="http://www.ilc.insancendekia.org/wp-content/uploads/2011/01/bayangan-682x1024.jpg" alt="Walking on The Cloud" width="393" height="590" /></dt>
<dd>Gambar ini diambil di jalan menuju fakultas kedokteran hewan. saya tertarik mengambil gambar ini karena siluet dari bayangan pohon yang ada di jalan seperti awan,jadi anda bayangkan anda sedang berjalan diatas awan,bebas&#8230;</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: center">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/01-2011/736/walking-on-the-cloud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunga Anggrek</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2010/726/bunga-anggrek/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2010/726/bunga-anggrek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Dec 2010 04:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ilham Fadhil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotogravity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilc.insancendekia.org/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengambil foto ini di kebun rumah saya. Ayah saya sangat menyukai anggrek hingga menyulap seluruh kebun yang tersisa menjadi kebun anggrek. Foto ini diambil pada siang hari, tetapi hanya sedikit sinar matahari yang dapat tembus. Karena ada beberapa jenis anggrek yang tidak bisa tumbuh pada sinar matahari yang langsung, maka kebun anggek ayah saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengambil foto ini di kebun rumah saya. Ayah saya sangat menyukai anggrek hingga menyulap seluruh kebun yang tersisa menjadi kebun anggrek. Foto ini diambil pada siang hari, tetapi hanya sedikit sinar matahari yang dapat tembus. Karena ada beberapa jenis anggrek yang tidak bisa tumbuh pada sinar matahari yang langsung, maka kebun anggek ayah saya dilengkapi dengan kanopi. Membuat foto tumbuhan menjadi menarik sangatlah sulit karena tumbuhan itu sendiri tidak bisa berekpresi, karena itulah saya bermain dengan suasana dari sekeliling bunga itu sendiri. Konsep foto ini saya ambil dari konsep foto seorang fotografer olahraga yang sedang meliput foto sebuah turnamen tenis, foto tersebut pernah dimuat di kompas. tapi saya lupa turnamen tenis tersebut. Semoga anda menikmati foto ini.</p>
<p>Ilham Fadhil</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/12-2010/726/bunga-anggrek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempurnaan Islam Dalam Politik</title>
		<link>http://www.ilc.insancendekia.org/11-2010/721/kesempurnaan-islam-dalam-politik/</link>
		<comments>http://www.ilc.insancendekia.org/11-2010/721/kesempurnaan-islam-dalam-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 12:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rifky Wildan Yoantino</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[konsep negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilc.insancendekia.org/?p=721</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya sangat komprehensif, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Namun, hal yang menjadi pertanyaan selama ini adalah, bagaimana konsep Islam tentang negara ? Jika memang Islam merupakan agama yang sempurna dan komprehensif, seharusnya Islam memiliki konsep tentang negara, karena negara merupakan hal yang pasti tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya sangat komprehensif, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Namun, hal yang menjadi pertanyaan selama ini adalah, bagaimana konsep Islam tentang negara ? Jika memang Islam merupakan agama yang sempurna dan komprehensif, seharusnya Islam memiliki konsep tentang negara, karena negara merupakan hal yang pasti tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Begitu pentingnya sebuah negara bagi manusia sampai-sampai seorang Aristoteles dalam bukunya “<em>The Politics”</em> menyebut manusia sebagai <em>zoon politicon</em>, atau makhluk politik. Artinya, fitrah kehidupan manusia adalah bernegara, dan setiap manusia pasti memiliki naluri untuk bernegara. Atas dasar ini, bagaimana sebenarnya konsep negara dalam Islam ?</p>
<p>Berdasarkan beberapa literatur, dapat dikatakan bahwa Islam tidak memiliki konsep negara. Semua konsep-konsep negara Islam yang kita kenal sekarang ini hanyalah tafsiran dari beberapa tokoh pemikir Islam. Lalu bagaimana dengan Madinah ketika zaman Rasulullah ? Bukankah itu merupakan sebuah negara ? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sampai sekarang pun masih terdapat perdebatan sengit mengenai Madinah pada masa Rasulullah adalah negara atau bukan. Tetapi yang jelas—sejauh yang saya tahu—Rasulullah tidak pernah menyampaikan dalam haditsnya bagaimana bentuk negara yang baik ? Bagaimana sistem pemerintahan yang sesuai dengan Islam ?  Lebih-lebih Al-Qur’an, tidak ada ayat Al-Qur’an yang menyebut tentang bentuk negara, ataupun semacamnya.</p>
<p><strong>Mengapa Islam Tidak Memiliki Konsep Negara ?</strong></p>
<p>Sebagaimana telah dijelaskan tadi, Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Namun, pertanyaan mendasarnya, mengapa Islam tidak memiliki konsep tentang negara ? Kalau begitu, dimana letak kesempurnaan Islam ? Menurut saya, kesempurnaan Islam justru terletak pada tidak adanya konsep negara yang diaturnya. Mengapa demikian ? Karena tidak ada konsep negara terbaik dan berlaku universal. Bayangkan jika Al-Qur’an misalnya menyebut bahwa konsep negara yang baik adalah ketika sebuah negara dipimpin oleh satu orang yang bersifat absolut. Ajaran Al-Qur’an ini akan mudah dipatahkan dengan suatu—meminjam istilah Amien Rais—“aksioma politik” dari Lord Acton, “<em>power tends to corrupt, and absolute power corrupt absolutely</em>”.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan demokrasi ? Bukankah itu yang terbaik ? Agaknya, kita harus mulai sadar, membuka mata, telinga, dan hati kita. Demokrasi bukanlah konsep negara terbaik. Demokrasi mengundang banyak sekali ekses dan kelemahan yang  bisa mengancam suatu negara. Pada dasarnya, sebuah konsep negara yang baik haruslah didasarkan atas kebudayaan dan tradisi negara yang bersangkutan, bukan konsep “impor” dari negara lain. Memang ada beberapa nilai demokrasi yang juga diajarkan dalam Islam dan tertera di Al-Qur’an maupun Al-Hadits, namun itu tidak berarti bahwa konsep negara terbaik adalah demokrasi.</p>
<p>Tidak ada konsep negara terbaik dan bisa berlaku di seluruh wilayah. Demokrasi memang cocok untuk negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, karena tradisi kebudayaan mereka adalah liberalisme, namun belum tentu bisa berhasil di negara-negara Asia, khususnya Indonesia. Konsep monarki mungkin cocok untuk Arab Saudi, namun belum tentu bisa berjalan baik jika diterapkan di Australia. Sistem otoriter mungkin baik untuk Malaysia, namun belum tentu cocok untuk Amerika Serikat. Begitu seterusnya, sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa konsep negara yang terbaik adalah yang sesuai dengan konteks negaranya masing masing. Belum tentu sebuah sistem yang berhasil di suatu negara juga bisa berhasil di negara lainnya.</p>
<p>Allah memang Maha Tahu. Bisa dibayangkan jika misalnya Al-Qur’an mengatur tentang sebuah konsep negara—yang implikasinya adalah semua umat muslim di penjuru dunia harus menjalankan konsep tersebut—maka akan terjadi sebuah <em>distrust</em> terhadap ajaran Islam. Berangkat dari premis awal bahwa konsep negara tidak universal, maka tentunya konsep negara yang diatur dalam Islam tadi mungkin bisa berhasil di beberapa negara, namun tidak di negara lainnya. Bagi umat muslim yang negaranya tidak berhasil tersebut tentu akan bertanya-tanya, mengapa konsep Islam seperti ini ? mengapa perintah Allah dalam Al-Qur’an bukannya mendatangkan kesejahteraan, namun justru mendatangkan kesulitan ?</p>
<p>Begitulah, Islam memang tidak mengatur secara jelas bagaimana konsep negara yang baik, bukan karena Islam tidak sempurna, tetapi karena memang itulah kesempurnaan Islam. Islam hanya mengajarkan nilai-nilai yang harus ada dalam sebuah negara, seperti musyawarah, persaudaraan, persamaan derajat manusia, dll. Tujuannya adalah agar kita mau berfikir, berfikir, dan berfikir, bukan semata-mata hanya menerima mentah-mentah, lalu dilaksanakan apa adanya. Allah menginginkan kita menjadi manusia yang cerdas, kritis, dan kreatif, bukan menjadi manusia yang selalu “menjadi buntut”, yang hanya bisa ikut-ikutan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ilc.insancendekia.org/11-2010/721/kesempurnaan-islam-dalam-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

