<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249</atom:id><lastBuildDate>Tue, 26 Feb 2019 03:02:37 +0000</lastBuildDate><category>pajak</category><category>DJP</category><category>blog</category><category>perpajakan</category><category>IRS</category><category>buku tamu</category><category>games</category><category>stan</category><title>I am happy being me....</title><description>What a colourful world You have given to me..&#xa;I&#39;ve learn so many things from these all..</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (elti)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-5495315843151682114</guid><pubDate>Mon, 27 Aug 2012 07:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-27T00:58:15.677-07:00</atom:updated><title>B. J. Habibie, Pemegang 46 Hak Paten di Bidang Aeronautika</title><description>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Kulit luarnya bisa saja terlihat halus mulus tanpa cacat.  Tapi siapa tahu, sisi dalamnya keropos. Ketidakpastian inilah yang  dihadapi industri pesawat terbang sampai 40 tahun lalu. Pemakai dan  produsen sama-sama tidak tahu persis, sejauh mana bodi pesawat terbang  masih andal dioperasikan. Akibatnya memang bisa fatal. Pada awal  1960-an, musibah pesawat terbang masih sering terjadi karena kerusakan  konstruksi yang tak terdeteksi. Kelelahan (fatique) pada bodi masih  sulit dideteksi dengan keterbatasan perkakas. Belum ada pemindai dengan  sensor laser yang didukung unit pengolah data komputer, untuk mengatasi  persoalan rawan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik rawan kelelahan ini biasanya pada  sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan  dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan  terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat. Ketika  lepas landas, sambungannya menerima tekanan udara (uplift) yang besar.  Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung empasan tubuh  pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan  (crack).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik rambat, yang kadang mulai dari ukuran 0,005  milimeter itu terus merambat. Semakin hari kian memanjang dan  bercabang-cabang. Kalau tidak terdeteksi, taruhannya mahal, karena sayap  bisa sontak patah saat pesawat tinggal landas. Dunia penerbangan tentu  amat peduli, apalagi saat itu pula mesin-mesin pesawat mulai berganti  dari propeller ke jet. Potensi fatique makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat  itulah muncul anak muda jenius yang mencoba menawarkan solusi. Usianya  baru 32 tahun. Postur tubuhnya kecil namun pembawaannya sangat enerjik.  Dialah Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, laki-laki kelahiran  Pare-pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habibie-lah yang  kemudian menemukan bagaimana rambatan titik crack itu bekerja.  Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atomnya. Oleh dunia  penerbangan, teori Habibie ini lantas dinamakan crack progression. Dari  sinilah Habibie mendapat julukan sebagai Mr. Crack. Tentunya teori ini  membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat  jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum  titik crack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantispasi  kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor  keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi  jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya. Akibatnya, material yang  diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium  dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik crack bisa dihitung maka  derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material  sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi,  aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia  penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor  Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa  berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10% dari bobot sebelumnya.  Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25% setelah Habibie menyusupkan  material komposit ke dalam tubuh pesawat. Namun pengurangan berat ini  tak membuat maksimum take off weight-nya (total bobot pesawat ditambah  penumpang dan bahan bakar) ikut merosot. Dengan begitu, secara umum daya  angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Sehingga  secara ekonomi, kinerja pesawat bisa ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor Habibie  ternyata juga berperan dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian  per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawa&lt;span id=&quot;goog_694683000&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id=&quot;goog_694683001&quot;&gt;&lt;/span&gt;t yang  silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara saat  tubuh pesawat lepas landas. Begitu juga pada sambungan badan pesawat  dengan landing gear jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat  pesawat mendarat. Faktor mesin jet yang menjadi penambah potensi fatique  menjadi turun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;blockquote style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Sebuah majalah Teknologi terbitan Jakarta pernah menyebut Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai “Manusia Multidimensional”. Sebutan  ini ternyata sangat disukai Habibie. Terlebih, julukan itu muncul tidak  berselang lama setelah meraih medali penghargaan “Theodore van Karman”.  Ya, anugrah bergengsi di tingkat internasional tempat berkumpulnya  pakar-pakar terkemuka konstruksi pesawat terbang. Habibie juga  dikenal sebagai “Mr Crack” karena keahliannya menghitung crack  propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Di dunia ilmu  pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara mengenal apa yang  disebut Teori Habibie, Faktor Habibie, Fungsi Habibie.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;h5 style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-weight: normal;&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;&quot;&gt;- Okezone.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;Mantan Presiden RI Ketiga, Si Jenius ilmuwan konstruksi pesawat terbang,    ini selalu menjadi berita hangat . Pada masa emas kejayaan dengan    segudang jabatan diemban, dialah manusia paling multidimensional di    Indonesia. Ia manusia cerdas ajaib yang sempat menghadirkan selaksa    harapan kemajuan teknologi demi kejayaan negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak aneh, memang, anak bangsa yang satu ini. Dia hanya setahun kuliah    di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi    pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja    di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi    panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia dia 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT,    memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi    Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi    Presiden RI menggantikan Presiden RI ke-2 Soeharto.&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sosok dan kilas balik singkat perjalanan hidup B.J. Habibie,    lelaki kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 ini. Dia penuh kontroversi dan    merupakan sosok manusia paling multidimensional di Indonesia. Begitu    banyak kawan-kawannya dan nyaris segitu banyak pula orang yang tak    setuju dengan sepakterjang tokoh industri pesawat terbang kelas dunia    yang memperoleh berbagai penghargaan, salah satunya paling berkelas    adalah Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International    Council for Aeronautical Sciences) pada pertemuan tahunan dan konggres    ke-18 ICAs yang diselenggarakan di Beijing, China tahun 1992 dari    Pemerintah China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan    didaulat menjadi Ketua Umum, misalnya, sebagai antitesa berdiri pula    Forum Demokrasi (Fordem) pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang    populis dan egaliter serta inklusif. ICMI, yang dalam perjalanan    selanjutnya praktis menjadi kekuatan politik Habibie, oleh Gus Dur    dituding sebagai sektarian karena itu kurang bagus untuk masa depan    sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pada 10 Agustus 1995 dia berhasil menerbangkan pesawat terbang    N-250 “Gatotkoco” kelas commuter asli buatan dan desain putra-putra    terbaik bangsa yang bergabung dalam PT Industri Pesawat Terbang    Nusantara (IPTN, kini menjadi PT Dirgantara Indonesia), dia diserang    pelaku ekonomi lain bahwa yang dibutuhkan rakyat Indonesia adalah beras    bukan “mainan” pesawat terbang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran ekonomi makro Habibie yang terkenal dengan Habibienomics,    dihadirkan oleh lingkarannya sebagai counter pemikiran lain seperti    Widjojonomics (yang sesungguhnya merupakan Soehartonomic). Ketika    Habibie berhasil melakukan imbal-beli pesawat terbang “Tetuko” CN-235    dengan beras ketan itam Thailand, dia diledekin, pesawat terbangnya    hanya sekelas ketan itam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi    luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor Timur, satu    propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah    payah oleh rezim Soeharto. Siapapun dia orangnya tentu ingin bebas    merdeka termasuk rakyat Timor Timur, sehingga ketika jajak pendapat    dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka)    unggul mutlak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi    luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor-Timur    (Tim-Tim), asatu propinsi termuda Indonesia yang direbut dan    dipertahankan dengan susah-payah oleh Rezim Soeharto. Siapaun dia    orangnya tentu ingin bebas merdeka termasuk rakyat Tim-Tim. Sehingga    ketika jajak pendapat dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib    sendiri (merdeka) unggulk merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Tim-Tim, salah-satu yang dianggap menjadi penyebab penolakan    pidato pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Umum MPR RI hasil Pemilu    1999. Pemilu terbaik paling demokratis setelah Pemilu tahun 1955.    penolakan ini membuat BJ, Habibie tidak bersedia maju sebagai kandidat    calon presiden (Capres).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kjetika Habibie menjabat presiden hampir tidak ada hari tanpa demontrasi.    Demontrasi itu mendesak Habibie merepon tuntutan reformasi dalam    berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti kebebasan    pers, kebebasan berpolitik, kebebasan rekrutmen politik, kebebasan    berserikat dan mendirikan partai politik, mebebasan berusaha, dan    berbagai kebebasan lainnya. Namun kendati Habibie merespon tuntutan    reformasi itu, tetap saja pemerintahannya dianggap merupakan kelanjutan    Orde Baru . Pemerintahannya yang berusia 518 hari hanya dianggap sebagai    pemerintahan transisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan Habibi mengakselerasi pembangunan sesungguhnya sudah    dimulainya di Industri pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dengan    menjalankan program evolusi empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat    “berawal dari akhir dan berakhir diawal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahapan alih tehnologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang    berdasarkan lisensi ituh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya    adalah NC 212 lisensi dari CASA Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat    terbang secara bersama- sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235    berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama antara    aqual antara IPTN dengan Casa Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengintegrasikan seluruh tehnologi dan sistem konstruksi pesawat    terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama    sekali didesain baru, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas    50-60 pemumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali    dari awal, yang diproyeksikan bernama N 2130 berkapasitas 130 penumpang    dengan biaya pengembangan diperkirakan sekitar 2 milyar dolar AS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahapan alih tehnologi yang dipercepat didefinisikan “bermula dari    akhir dan berakhir di awal,” memang sukar dipahami pikiran awam. Habibie    dianggap hanyut dengan angan-angan teknologinya yang tidak memenuhi    kebutuhan dasar tehnologi Indonesia, yang ternyata nenbuat sepeda saja    secara utuh belum sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah orde baru sangat memanjakan program empat tahapan alih    tehnologi Habibie dengan menempatkan berbagai proyeknya sebagai industri    strategis yang menyedot banyak dana. Satu diantaranya, yang paling    spetakuler, adalah IPTN, yang memerlukan subsidi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masa reformasi, IMF mencantumkan dalam LOI (Letter Of Intent),    bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh lagi memberikan subsidi kepada    IPTN, (Perusahaan ini kemudian menjadi IPTD). Otomatis perusahaan yang    sudah menyusun program produksi baru, terpaksa merumahkan dan mem-PHK-    6000 karyawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dalam kesempatan deklarasi pendirian Masyarakat Ilmuwan dan    Tehnologi Indonesia (MITI), Habibie menyebut hancurnya IPTN adalah ulah    IMF yang menghambat Pemerintah RI membantu pengembangan pesawat terbang    dengan mencantumkan klausal pencabutan subsidi dalam Letter Of Intent (LOI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nasionalisme&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Istri adalah alasan utama Habibie untuk bolak-balik tinggal di Jerman.    Pendamping hidup sekaligus teman suka dan duka yang sudah dikenal    anak-anak umur 14 tahun, dr Hasri Ainun Habibie. Putri keempat H.    Mohammad Besari itu disebut terbaring menjalani perawatan di sebuah    rumahsakit di Jerman. Habibie ingin untuk selalu harus bisa mendampingi    istri, dan harapnya istri juga akan sealu bisa mendampinginya. Menurut    tim dokter yang menanganinya, Hasri Ainun belum dibenarkan tinggal atau    berkunjung kedaerah tropis karena kelembabannya tinggi. Karena itu, tim    dokter merekomendasikan untuk tinggal di Jerman sampai sehat secara    tuntas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, kepulangan ke tanah air Habibie agaknya hanya karena    dia ingin dikenang sebagai manusia yang baik. “Mungkin saat ini tak    disadari. Tapi bisa jadi, berguna satu saat kelak, bila saya sudah tiada    nanti,&quot; tutur lelaki itu, lirih,’ demikian tulis Liputan6.com. Adalah    stasiun TV SCTV ini, dikenal sangat dekat dengan Habibie, yang pada 2    Juli 2002 menyiarkan langsung dari Jerman kesaksian Habibie dalam kasus    pelanggaran HAM berat Timtim untuk kebutuhan persidangan di Pengadilan    Ad Hoc HAM Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habibie menyebutkan presiden itu bukan segala-galanya. Walau jenius    dengan memperoleh royalti atas delapan hak paten hasil temuannya sebagai    ilmuwan konstruksi pesawat terbang seperti dari Airbus dan F-16, dia    mengaku masih banyak yang jauh lebih baik dari dirinya. Lama bermukim di    lingkungan yang sangat menghargai ketokohan dan personality setiap orang,    Habibie mendefinisikan jika ingin dihargai maka yang diperhatikan orang    lain adalah sikap yang tak berubah terhadap lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya status, jabatan, dan prestasi bukan alasan untuk berubah    terhadap lingkungan. Itulah sebabnya, ketika sudah menjadi RI-1 sikap    Habibie terhadap lingkungan tetap tidak berubah. Malah semakin    menampakkan watak aslinya, misalnya tidak mau diam dan bergerak sesuka    hati padahal sudah ada aturan protokoler yang harus dipatuhi.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2012/08/b-j-habibie-pemegang-46-hak-paten-di.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>13</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2162570958981327333</guid><pubDate>Sun, 23 Jan 2011 02:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-22T18:23:00.100-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">stan</category><title>Konsistensi Amien Sunaryadi</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; font-family: inherit; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TTuJrEMxYVI/AAAAAAAAAJ8/KeJswf4R5_s/s1600/57141_amien_sunaryadi_300_225.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TTuJrEMxYVI/AAAAAAAAAJ8/KeJswf4R5_s/s1600/57141_amien_sunaryadi_300_225.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Alumni STAN bukan hanya Gayus Tambunan. Layaknya barang produksi, ada produk gagal, dan ada produk yang berhasil. Satu diantaranya alumni STAN yang tetap konsisten dengan idealismenya. Amien Sunaryadi, mantan Wakil Ketua KPK periode 2003-2007&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;b&gt;Gandrung membongkar pelbagai skandal, ia terlibat pengungkapan kasus  korupsi kelas kakap. Di puncak prestasinya, Amien Sunaryadi malah  terpental dari Komisi Pemberantasan Korupsi.  CERITA ini terjadi pada Ramadan, tahun Masehi 1983.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ketika itu pemimpin  Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sedang gundah: soal ujian bocor  ke sejumlah mahasiswa. Tak jelas siapa pelaku pembocoran itu. Lalu,  diutuslah seorang asisten dosen melakukan investigasi.  Sang asisten lalu merancang investigasi berjenjang. Ditelusurinya  lapisan terbawah sekolah itu: dari mulai pesuruh sekolah sampai dosen  senior. Dari tukang sapu sampai mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Teknik investigasinya tak istimewa: saban sahur hingga menjelang imsak,  asisten dosen itu mewawancarai pelbagai orang di warung makan.  Berhari-hari, informasi sedikit demi sedikit dikumpulkan.  Dari berbagai cerita, akhirnya diketahui bahwa jual-beli soal dilakukan  sebuah jaringan yang rapi. Motornya sejumlah mahasiswa senior.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Berbekal  sejumlah fakta dan kesaksian, si asisten itu menemui mahasiswa senior  itu.  Dari mereka diperoleh kabar bahwa kejahatan itu diotaki oleh tiga  mahasiswa senior. Sejumlah pegawai kampus juga terlibat karena menjual  soal kepada mahasiswa. Terhadap mereka yang bersalah, petinggi kampus  menjatuhkan sanksi. Sang asisten jadi pahlawan.  Dosen muda itu adalah Amien Sunaryadi—pria berambut tipis, sedikit  pemalu, yang 24 tahun kemudian menyala namanya di dunia pemberantasan  korupsi.  Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (2003–2007) itu adalah salah  satu juru kunci di balik terungkapnya sejumlah kasus korupsi raksasa di  Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ia, misalnya, adalah otak penyergapan anggota Komisi  Pemilihan Umum, Mulyana W. Kusumah, saat berusaha menyuap auditor Badan  Pemeriksa Keuangan. Ia pula aktor di balik pengungkapan korupsi Direktur  Badan Urusan Logistik, Widjanarko Puspoyo (lihat ”Intel di Kamar 607”).  l l l  LAHIR di Malang 47 tahun silam, Amien semula ingin bekerja di kantor  audit Pemerintah Daerah Papua.  Persiapan sudah dilakukan: dari cek kesehatan sampai membeli celana jins  di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.  Tapi petinggi kampus merayunya duduk di kursi asisten dosen. Ia manut:  cita-cita berkarier di ujung timur Indonesia itu ia lepas.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tapi di STAN Amien tak betah. Ia orang lapangan yang tak bisa diam di  ruang kuliah. Pada penghujung 1982, dia memilih pindah ke Badan  Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Di sana ia bekerja di bagian  pengawasan.  Untuk mengasah kemampuan auditingnya, pada 1993 dia terbang ke Atlanta,  Amerika Serikat, mengambil program master bidang akuntansi di Georgia  State University. Di sana ia juga ikut sejumlah kursus audit. Setelah  itu dia mengikuti pelatihan antikorupsi di Australia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dari sekolahnya  itu, Amien paham bahwa korupsi kerap kali bisa dibongkar lewat utak-atik  angka akuntansi.  Di BPKP Amien pernah naik pitam ketika kantornya menggelar pelatihan  antikorupsi. Silabus dan pembicara dipasok dari Lembaga Administrasi  Negara (LAN). Amien dan kawan-kawan cuma dipercaya jadi panitia  ecek-ecek. Amien merasa diremehkan. Ia mengajukan pengunduran diri dari  kursi eselon IV. Meja dan komputer diserahkan ke orang lain. Kepada  atasannya ia mendamprat. Di sini, katanya, ”Aku cuma jadi pegawai  tengik.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ia dibujuk membatalkan pengunduran diri itu. Ia, lagi-lagi, menurut.  Setelah itu kariernya justru menanjak. Jabatan terakhir yang  disandangnya adalah Kepala Sub Kelancaran Pembangunan, Direktorat  Pengawasan Khusus.  Delapan belas tahun bekerja di kantor pemerintah itu, Amien kemudian  menjajal kemampuan di perusahaan internasional. Oktober 2000, dia  menerima tawaran PricewaterhouseCoopers (PWC), sebuah perusahaan audit  internasional. Alasan kepindahan itu sederhana. ”Gaji di sana sepuluh  kali lipat dari BPKP,” kata Amien.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Di PWC Amien belajar teknik penggeledahan dan komputer forensik. Dua  metode ini, kata Amien, sangat efektif bagi pengungkapan kasus korupsi.  Suatu ketika Amien dipercaya mengaudit sebuah perusahaan asing. Petinggi  perusahaan itu curiga ada orang dalam yang menjual informasi kepada  perusahaan pesaing.  Tengah malam, bersama si petinggi perusahaan, dia menjelajah komputer  karyawan yang dicurigai. Hasilnya mengejutkan. Seorang kepala unit  ternyata mengirim sejumlah berkas ke perusahaan pesaing. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Yang menarik,  dari pelacakan komputer itu, diketahui si karyawan punya pacar gelap.  Amien ”menyedot” semua isi komputer si tersangka. Setelah selesai, semua  dirapikan seperti sedia kala. Esok paginya, oknum itu datang ke kantor  tanpa curiga.  Jelang siang, Amien langsung mewawancarai karyawan itu. Tentu, ia keras  membantah. Amien meminta membuka semua berkas surat elektronik di  komputer. ”Nah, itu apa?” kata Amien sembari menunjuk layar komputer.  Gelagapan, karyawan itu membantah. Dia bahkan mengancam akan melaporkan  kasus ini ke Departemen Tenaga Kerja. Amien cuma senyum-senyum. ”Kalau  Anda meneruskan perang ini, musuh Anda akan bertambah dua,” kata Amien.  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Karyawan tak mengerti. Amien lalu membeberkan e-mail si karyawan dengan  pacar gelapnya. Kepada simpanannya itu ia mengaku masih bujang. ”Jadi,  musuh Anda bertambah dua sekarang: istrimu di rumah dan selingkuhanmu  karena kamu mengaku masih jomblo.” Kepala unit itu pun menyerah.  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;l l l  AMIEN SUNARYADI sedang berlibur di Malang, Jawa Timur, ketika bos  besarnya di PWC meneleponnya pada penghujung 2003. Ia terkejut karena  selama bekerja di perusahaan itu, baru kali ini si bos menelepon.  Pimpinannya itu menyuruh Amien mendaftar ke Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK), tapi Amien enggan. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;”Kalau mendaftar di KPK, aku bisa melarat  lagi,” pikirannya sambil menggaruk kening. Tapi keluarganya mendukung.  Amien lalu mendaftar ke komisi itu.  Sebetulnya, meski bekerja di perusahaan raksasa internasional, hidup  Amien jauh dari mewah. Bertahun-tahun ia tinggal di Rawalumbu Utara, di  sebuah perumahan kecil di pinggiran Bekasi, Jawa Barat. Rumah itu dibeli  tahun 1989 seharga Rp 8 juta. Dari hasil tabungan selama 12 tahun, dia  membeli rumah di sebelahnya seharga Rp 75 juta tahun 2001.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dua rumah itu  kini bersambung.  Kegiatan olahraganya juga sederhana. Di lantai dua rumah, dia menyiapkan  sansak. Bak petinju, Amien kuat memukul sansak itu selama satu jam.  Olahraga lainnya adalah naik turun tangga. Satu jam naik turun, Amien  sudah mandi keringat.  Apabila hujan lebat, ruang tamu rumah itu kebanjiran. Itu sebabnya, saat  bekerja di PWC dia menabung untuk merenovasi rumah. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tinggal di rumah di pelosok Bekasi itu membuat sejumlah anggota DPR  termehek-mehek mencari rumah Amien. Ketika itu DPR tengah mengecek  kediaman Amien saat ia diseleksi untuk menjadi anggota KPK 2003–2007.  Di KPK, Amien dikenal kerap membawa terobosan baru dalam pemberantasan  korupsi. Dialah yang, misalnya, menerapkan praktek penggeledahan dan uji  forensik komputer. Gagasan Amien kadang ditolak koleganya di komisi  itu.  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Saat menyelidiki kasus korupsi di KPU, misalnya, Amien mengusulkan agar  semua rumah petinggi komisi itu digeledah. Tapi, kata Amien, ” Para  petinggi KPK lain menolak dengan alasan mereka bukan tersangka.” Amien  sempat marah, Pengledahan, kata Amien,”Diharuskan dalam KUHP.”  Meski punya banyak ide dan integritasnya terjaga, Amien terjegal dalam  seleksi pimpinan KPK 2007–2011. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Komentar  Lukman Hakim Saifuddin Anggota Komisi Hukum DPR dari Partai Persatuan Pembangunan  ”Amien tidak gampang dipengaruhi. Penanganan perkara KPK banyak  dipengaruhi ’kreativitasnya’, misalnya dalam penggunaan metode  penjebakan. (Tentang kegagalannya menjadi anggota KPK periode kedua) ia  berada pada momentum yang tidak tepat. Ia muncul pada saat anggota DPR  sangat khawatir dengan kewenangan KPK yang kelewat besar.”  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;M. Fajrul Faalakh Anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK  ”Panitia seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi tidak menerima  banyak berita miring tentang Amien. Kalaupun ada, itu soal pengadaan  alat penyadap KPK yang diduga menabrak prosedur administratif. Tapi soal  itu sudah dia klarifikasi. Alasan Amien, itu terjadi karena kondisi  darurat dan demi menyelamatkan uang KPK yang sudah telanjur mengucur.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kasus KPU (2005)  Mengungkap kasus korupsi pengadaan kotak suara di Komisi Pemilihan Umum.  Mereka yang masuk bui karena kasus ini adalah anggota KPU Mulyana W.  Kusumah (divonis 2 tahun 7 bulan), Kepala Biro Logistik KPU Richard  Manusun Purba, dan Direktur Utama PT Survindo Indah Prestasi, Sihol P.  Manulang (divonis 4 tahun). Kasus korupsi ini mengakibatkan kerugian  negara Rp 15,7 miliar. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Amien Sunaryadilah yang merancang penggerebekan  ­ketika Mulyana mencoba menyuap auditor Badan Pemeriksa Keuangan,  Khairiansyah Salman.  Kasus Bulog (2007)  Menelusuri dan mengumpulkan bukti-bukti kasus korupsi dalam impor sapi  dan beras Bulog. Total kerugian negara akibat kasus tersebut Rp 88,4  miliar, dengan tersangka utama Direktur Utama Bulog Widjanarko Puspoyo.  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Widjanarko juga dikenai dakwaan menerima gratifikasi US$ 1,5 juta.  Perbedaan paham di Komisi Pemberantasan Korupsi membuat Amien ”melempar”  kasus ini ke kejaksaan. Meski demikian, orang-orang KPK-lah yang  ”bergerak”, termasuk dengan menggerebek kediaman Widjanarko, dan di  kamar mandi menemukan uang tunai dalam ember.   ---------------- &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Intel di Kamar 607  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Siang itu matahari menikam kepala. Jumat 8 April 2005. Sejumlah penyidik  Komisi Pemberantasan Korupsi yang dipimpin Amien Sunaryadi check-in di  Hotel Ibis, Jakarta Barat. Mereka memesan dua kamar besar. Sesudah  menyodorkan uang sewa, mereka meluncur ke lantai enam. Dua kamar yang  dipesan saling berhubungan.  Tiba di kamar 609 mereka langsung beraksi. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Seperti kisah para telik  sandi dalam film spionase: alat sadap dipantek di plafon, juga di sudut  kamar. Jejak penyadapan ditutup rapi. Setelah beres, mereka bergegas ke  kamar 607. Amien mengendalikan operasi dari kamar itu.  Dari kamar berkamera tersembunyi mereka bisa memantau seluruh  gerak-gerik di kamar pertama. Setelah dicek berkali-kali, aksi pasang  alat perekam itu rampung menjelang magrib.  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Sesudah itu mereka menunggu. Sekitar pukul sembilan malam, Mulyana Wira  Kusumah masuk kamar 609. Petinggi Komisi Pemilihan Umum (KPU) datang  sendirian. Dia menenteng sebuah tas berukuran sedang.  Di situ Khairiansyah, seorang auditor Badan Pemeriksaan Keuangan(BPK),  sudah menunggu. Keduanya bercakap sebentar. Lalu Mulyana menyerahkan  uang dan cek. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Empat lembar cek dijejerkan di atas tempat tidur. Di  tengah transaksi itu, delapan penyidik KPK dari ruang 607 meluncur  masuk. Mulyana dibekuk. Ia digelandang ke kantor KPK.  Mantan aktivis itu kemudian diseret ke pengadilan dan divonis penjara 2  tahun 7 bulan. Mulyana terbukti menyuap auditor BPK. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Belakangan, ia juga  dihukum karena melakukan korupsi pengadaan kotak suara pada Pemilihan  Umum 2004. Pada Agustus 2007 dia dibebaskan.  Dari kasus Mulyana itu, penyidik membongkar kasus korupsi lain di komisi  pemilu itu. Sejumlah petinggi KPU lalu masuk bui.  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Amien juga berperan dalam pembongkaran korupsi Badan Urusan Logistik  yang melibatkan direktur utamanya, Widjanarko Puspoyo.  Sebetulnya, sudah lama Amien mendapatkan dokumen kasus ini. Dokumen juga  sudah diserahkannya kepada pimpinan KPK. Namun, kata Amien, selama  tujuh bulan dokumen itu cuma terpendam.  Kesal karena laporannya tidak ditindaklanjuti, ”Saya serahkan saja  dokumen itu kepada Pak Hendarman,” kata Amien. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Jaksa Agung Hendarman  Supanji sepakat untuk membongkar kasus itu asal Amien membantu. Anak  muda itu mengangguk. Ia lalu mengirim sejumlah penyidik untuk membantu  kejaksaan.  Di hari penggerebekan, para penyidik KPK anak buah Amien diberi rompi  cokelat agar gayanya mirip penyidikan Kejaksaan Agung. Badge Kejaksaan  baru ditempel dengan lem Aica Aibon menjelang penggerebekan. ”Mereka  nyaris teler karena bau lem itu,” kata Amien sambil tertawa. Penyidikan  itu kemudian sukses. Widjanarko masuk bui.  Amien sempat dimarahi koleganya di KPK lantaran berjalan sendiri, tapi  Amien tenang saja. Katanya, ”Saya maklum mereka marah. Bagaimanapun,  kasus ini terpendam terlalu lama.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;Majalah Tempo, Edisi. 44/XXXVI/24 - 30 Desember 2007&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;b&gt;Amien Sunaryadi&lt;/b&gt;, mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  periode 2003-2007 ini dikenal sebagai sosok rendah hati dan tidak suka  menonjolkan diri. Amien juga dikenal sebagai sosok yang memiliki  progresivitas dalam pemberantasan korupsi. Strategi penyadapan yang  digunakan KPK pun berasal dari dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Konsistensi pria  kelahiran Malang, 23 Januari 1960 di dunia korupsi tak bias diragukan  lagi. Amien memulai karirnya pada 1982 sebagai PNS dan menjabat Kepala  Sub Direktorat Pengawasan Khusus Kelancaran Pembangunan pada Deputi  Bidang Pengawasan Khusus Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ayah  dari 3 putera dan suami dari Sri Luthfia Suryandari ini pernah terlibat  dalam PT PricewaterhouseCoopers FAS dan Masyarakat Transparansi  Indonesia (MTI), sebelum akhirnya memutuskan ikut seleksi dalam  pemilihan piminan KPK periode 2003-2007. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Saat pemilihan pimpinan  KPK, perolehan suara Amien (42 suara) hanya kalah dari Taufiequrrachman  Ruki (43 suara). Amien juga memperoleh suara terbanyak kedua (6 suara)  saat pemilihan ketua KPK setelah Ruki (37 suara). Amien pun akhirnya  membidangi bidang Teknologi Informasi, Reformasi birokrasi, jaringan  kerjasama internasional dan internasional, serta pengembangan KPK. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Selama  menjabat di KPK, Amien merupakan sosok penting di balik aksi penjebakan  dan penggeledahan yang dilakukan KPK dalam mengungkap kasus korupsi.  Salah satu kasus yang paling mencuat adalah saat pengungkapan kasus suap  kepada hakim agung, termasuk Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, yang  menangani perkara Probosutedjo. Berdasarkan informasi yang diperoleh,  saat itu, Amien bahkan sempat terlibat dalam perdebatan sengit dengan  Ketua KPK Ruki dan Wakil Ketua KPK Tumpak H Panggabean.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Sejumlah  narasumber menyatakan, Amien juga sangat berperan dalam strategi yang  dilakukan KPK untuk mengusut sejumlah kasus korupsi yang ditangani KPK  seperti KPU, Bulog, dan Badan Pertanahan Nasional di Surabaya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kegigihan  Amien dalam memberantas korupsi ini juga didukung dengan pengalamannya  dalam investigasi keuangan. Amien merupakan lulusan Sekolah Akuntansi  Negara dan pernah mengikuti The Corruption and Anti-Corruption Training  pada 1998. Kegigihan Amien dalam memberantas korupsi ini terbukti,  karena saat ini Amien dinominasikan untuk merebut Bung Hatta  Anti-Corruption Award 2008.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Meski memiliki banyak pengalaman  kerja, berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN)  per 27 Agustus 2007, Amien hanya mengumpulkan pundi kekayaan sebesar Rp  294,9 juta. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kekayaan ini berupa tanah dan bangunan yang berada  di Rawa Lumbu, Bekasi, Jawa Barat. Kendaraan berupa Mobil Innova yang  baru dibeli pada 2006 untuk menggantikan mobil Kijang tahun 1994 yang  selalu dibawa saat berada di KPK. Motor dan mobil atas nama isterinya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;Kiprah  bapak tiga anak saat menjadi Anggota KPK ini bukanlah tanpa tantangan.  Seringkali ia berbeda pendapat dengan Pimpinan KPK yang lain sehingga  harus menerima untuk selalu dipersalahkan oleh pimpinan yang lain.  Integritasnya juga dibuktikan dengan menolak jabatan empuk di perusahan  negara/BUMN setelah masa jabatannya di KPK berakhir tahun 2007 lalu.  Pertimbangannya adalah, merujuk ke UNCAC&amp;nbsp; (United Convention Against Corruption) dan &lt;i&gt;international best practices&lt;/i&gt;, maka perlu adanya &lt;i&gt;cooling time&lt;/i&gt; yaitu masa tenggang sebelum seorang pejabat publik boleh memegang  jabatan pada suatu lembaga yang sebelumnya merupakan obyek di bawah  supervisi jabatan publiknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tidak seperti 2 mantan pimpinan KPK lainnya, Ruki dan Erry Riyana  Hardjapamekas yang menerima tawaran sebagai pejabat penting di BUMN,  Amien lebih memilih untuk menolak segala tawaran jabatan yang  dialamatkan kepadanya.&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://www.vivanews.com/&quot;&gt;Vivanews.com &lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2011/01/konsistensi-amien-sunaryadi.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TTuJrEMxYVI/AAAAAAAAAJ8/KeJswf4R5_s/s72-c/57141_amien_sunaryadi_300_225.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2253802586812088299</guid><pubDate>Sun, 05 Sep 2010 06:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-04T23:12:31.904-07:00</atom:updated><title>Efektifitas Peningkatan Renumerasi di Kementrian Keuangan</title><description>&lt;div class=&quot;snap_preview&quot;&gt;Berikut kami sunting dari rubrik Suara Pembaca di www.detik.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TIM0wTiCtnI/AAAAAAAAAJw/FwF1SHSI6qc/s1600/1630067p.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TIM0wTiCtnI/AAAAAAAAAJw/FwF1SHSI6qc/s320/1630067p.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; – September 2000, seorang pegawai Ditjen  Pajak di Jakarta dimutasikan dari Bagian Pemeriksaan ke Bagian Tata  Usaha. Alasan utamanya karena dia sering kali tidak mau “berkompromi”  atas hasil pemeriksaannya.Pegawai tersebut adalah seorang Akuntan lulusan DIII STAN dan S1  Universitas Indonesia dengan predikat Cum Laude. Satu bulan kemudian dia  mundur dari pegawai negeri sipil (PNS) untuk selanjutnya bekerja di  salah satu perusahaan multinasional terkemuka.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Merebaknya Kasus Gayus Tambunan ditanggapi oleh sebagian politisi DPR  dan pengamat dengan usulan pencabutan renumerasi Kementerian Keuangan  (Kemenkeu). Khususnya Ditjen Pajak. Hal ini karena renumerasi dinilai  tidak efektif mencegah korupsi. Kegeraman masyarakat terhadap markus pajak yang disuarakan oleh  politisi DPR tersebut adalah hal yang dapat dipahami. Namun demikian  apakah pencabutan renumerasi Kemenkeu yang merupakan salah satu elemen  dalam reformasi birokrasi merupakan solusi yang tepat atau sekedar  usulan emosional belaka?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada dua aspek yang perlu  diperhatikan yaitu efektivitas Program Reformasi Birokrasi dilihat dari  sisi peningkatan pelayanan kepada publik, serta dari sisi peningkatan  penerimaan Negara.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;Peningkatan Pelayanan Publik &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengutip pernyataan  Menteri Keuangan upaya reformasi yang dilakukan oleh Kemenkeu seolah  dikerdilkan apabila hanya dikaitkan dengan pemberian remunerasi. Padahal  inti dari program reformasi birokrasi adalah memberikan pelayanan  publik yang lebih baik,&amp;nbsp; dan meningkatkannya secara terus menerus.  Reformasi yang dirintis sejak akhir tahun 2002, melalui penataan  organisasi, perbaikan proses bisnis, dan peningkatan manajemen sumber  daya manusia, secara obyektif sudah menunjukkan hasil.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penelitian Universitas Indonesia pada akhir 2007 menunjukkan bahwa  mayoritas responden (63,6%) menyatakan puas atas pelayanan Kemenkeu  setelah dilaksanakannya program Reformasi Birokrasi. Survey AC Nielsen  (2005), menunjukkan bahwa indeks kepuasan konsumen (IQ Index) di Kantor  Pelayanan Pajak (KPP) Wajib Pajak Besar yang&amp;nbsp; sangat tinggi, yaitu  sebesar 81, lebih besar dari rata-rata tingkat kepuasan pelayanan publik  secara nasional sebesar 75.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsultan Hay Group yang juga meneliti tingkat kepuasan publik  terhadap kinerja pelayanan Kemenkeu, dengan fokus pada Kantor Pelayanan  Utama Bea Cukai di Tanjung Priok dan Batam, ternyata memperoleh hasil  senada dengan penelitian UI dan AC Nielsen. &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Penerimaan Negara &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berdasarkan  Keppres No 15 Tahun 1971, tujuan pemberian Tunjangan Khusus Pembinaan  Keuangan Negara (TKPKN) kepada Pegawai Departemen Keuangan antara lain  untuk peningkatan dan pengamanan penerimaan dan pengeluaran negara,  serta usaha preventif&amp;nbsp; untuk menekan terjadinya penyimpangan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dilihat dari sisi penerimaan pajak, dari tahun 2004 hingga 2008,  realisasi penerimaan pajak melonjak lebih dua kali lipatnya, yaitu dari  Rp 238,98 triliun menjadi sebesar Rp 571,2 triliun. Dibandingkan dengan  total anggaran renumerasi Kementerian Keuangan sekitar Rp 5 triliun per  tahun, hasil tersebut cukup sepadan.Data ini juga menunjukkan bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi  berhasil meningkatkan penerimaan negara. Saat ini, sekitar 70%  pendapatan negara dalam APBN berasal dari penerimaan pajak.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, reformasi birokrasi telah memberikan kontribusi positif  pada upaya pemberantasan korupsi di Indoneisa. Survei Transparency  International (2009) mengenai Indeks Persepsi Korupsi (IPK), Indonesia  memperoleh skor 2.8 berada di urutan 111 diantara 180 negara. Nilai IPK Indonesia meningkat dibanding nilai 3 tahun terakhir. Dari  1,9 pada 2003, menjadi 2,0 pada tahun 2004 dan naik menjadi 2,2 pada  tahun 2005. Teten Masduki dari Indonesian Corruption Watch (ICW)  menyatakan bahwa kontributor utama peningkatan skor Indonesia adalah  reformasi di Departemen Keuangan serta pendirian Komisi Pemberantasan  Korupsi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wakil Ketua KPK Haryono Umar berpendapat bahwa upaya pemberantasan  korupsi akan lebih cepat apabila semua lembaga pemerintahan menerapkan  reformasi seperti yang dilakukan Sri Mulyani di Kemenkeu. Sejak  menduduki jabatan Menteri Keuangan, Sri Mulyani sudah memberikan sanksi  kepada sekitar 1,961 pegawai (sampai dengan Agustus 2009), di mana  hampir setengahnya terkait dengan tindakan korupsi.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mencegah Munculnya “Gayus” yang Lain Di tengah appresiasi pihak dalam  dan luar negeri atas upaya reformasi birokrasi di Kemenkeu, kasus Gayus  menunjukkan bahwa masih ada celah-celah yang dapat dimanfaatkan&amp;nbsp; untuk  melakukan tindakan korupsi. Celah-celah ini tentunya tidak dapat  ditutupi hanya dengan cara pencabutan renumerasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pencabutan renumerasi ini justru dapat menimbulkan dampak yang  kontraproduktif. Antara lain menyediakan justifikasi bagi aparat yang  “nakal” untuk korupsi serta membuka jalan kepada aparat yang “jujur”  untuk keluar dari PNS.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengacu pada riset Donald Cressey (1950) tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap  fraud terdapat tiga faktor utama yang harus ditangkal untuk memitigasi  risiko fraud. Yaitu adanya motif/ tekanan (pressure), peluang  (opportunity), dan pembenaran (rationalization). Pencabutan renumerasi  atau menggaji aparat dengan murah sama saja dengan menyediakan motif  sekaligus pembenaran untuk melakukan korupsi. Kembali kepada kisah aparat pajak yang disinggung di awal tulisan, walaupun tidak &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;ada  data empirisnya, sebelum reformasi birokrasi dijalankan, sangat mudah  ditemui pegawai Kemenkeu, terutama “Anak STAN”, yang mengundurkan diri  sebagai PNS. Alasan utama meraka adalah lingkungan kerja yang tidak  “kondusif”. Pada umumnya mereka ini adalah orang-orang yang punya  integritas yang tinggi dan kemampuan yang mumpuni.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan modal seperti itu, orang-orang relatif mudah mendapatkan  pekerjaan di tempat lain dengan gaji yang lebih memadai. Eksodus PNS ini  sempat menimbulkan kekhawatiran apabila para aparat “jujur” ini keluar  semua, maka yang tinggal kemungkinan adalah aparat yang “nakal” atau  “tidak laku” di tempat lain. Apa kata dunia?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pencabutan  renumerasi bukanlah jawaban yang tepat untuk mencegah munculnya “Gayus”  yang lain. Pembenahan proses bisnis, sistem pengawasan, peningkatan mutu  SDM, serta penerapan reward and punishment yang lebih tegas adalah  langkah yang jauh lebih efektif. Kasus Gayus harus dijadikan cambuk bagi jajaran Kementerian Keuangan  untuk memperbaiki implementasi reformasi birokrasi. Serta merangkul  kembali kepercayaan masyarakat.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Deni Ridwan &lt;br /&gt;2/12 Empire Street Footscray Melbourne &lt;br /&gt;kangdeni@yahoo.com &lt;br /&gt;0433315374&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah PhD student di Victoria  University-Australia, pegawai Kementerian Keuangan, dan suami dari  mantan pegawai DJP yang disinggung di awal tulisan ini.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;a href=&quot;http://suarapembaca.detik.com/read/2010/04/14/181602/1338392/471/efektivitas-peningkatan-renumerasi-di-kementerian-keuangan&quot;&gt;Sumber Berita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/09/efektifitas-peningkatan-renumerasi-di.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TIM0wTiCtnI/AAAAAAAAAJw/FwF1SHSI6qc/s72-c/1630067p.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-4507179329427314097</guid><pubDate>Thu, 26 Aug 2010 02:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-25T19:07:50.882-07:00</atom:updated><title>Gairah USD 3.000 per Kapita</title><description>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXMXm2ZwUI/AAAAAAAAAJY/1-lMSb1OKf8/s1600/Rhenald5-dalam.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXMXm2ZwUI/AAAAAAAAAJY/1-lMSb1OKf8/s200/Rhenald5-dalam.jpg&quot; width=&quot;180&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sebuah Tulisan dari Rhenald Kasali (lagi) dari Koran Sindo, menarik untuk disimak. Selamat membaca! :)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN produk domestik bruto (PDB) USD 700 miliar akhir tahun ini, ekonom senior Cyrillus Harinowo memberi tahu kita, income bangsa Indonesia akan menjadi USD 3.000 per kapita. Dengan pendapatan seperti itu,menurutnya, akan terjadi gelombang perubahan gaya hidup. Seperti apakah perubahan gaya hidup tersebut? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gaya Hidup &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cut off USD3.000 adalah sebuah batas angka. Tentu saja tidak berarti semua orang akan berada di atas USD3.000. Sebagian orang sudah lebih dulu menembus angka itu dan sebagian lain masih banyak yang berada di bawahnya. Tetapi, begitu angka per kapita tertembus, biasanya perilaku konsumsi suatu bangsa akan tertarik menuju perilaku rata-rata per kapita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa gaya hidup dengan pendapatan per kapita sebesar itu? Kalau setiap orang dalam suatu keluarga memperoleh income USD3.000, dengan asumsi satu rumah tangga terdiri atas empat orang, maka family income-nya menjadi USD12.000. Family income seperti ini biasanya didapat dari double income (suami-istri), ditambah penghasilan lain-lain seperti usaha rumahan, bunga bank, uang hasil kontrakan rumah, atau penghasilan tambahan lain. Di daerah perkotaan, para pekerja tentu sulit mendapatkan income sebesar itu dari gaji saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka umumnya harus bekerja keras dengan berbagai aktivitas tambahan, mulai dari memberi kuliah di perguruan tinggi atau tempat kursus, menarik ojek/taksi, memberi les tambahan pada murid-murid sekolah, terlibat dalam bisnis MLM, dan lain sebagainya. Dengan beragam aktivitas dan pendapatan sebesar itu, biasanya orang mulai berani mengambil kredit. Dalam perekonomian, konsumsi yang dibiayai dari kredit sama dengan membiayai konsumsi hari ini dengan penghasilan hari esok. Maka persepsi mengenai ekonomi hari esok menjadi penting. Bila masyarakat percaya kehidupan akan membaik di hari esok, maka dia akan lebih optimistis dan lebih berani berutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada menghabiskan Rp3 juta untuk biaya transportasi setiap bulan, lebih baik membeli apartemen di pusat kota yang uang cicilannya Rp6 juta dan dapat digunakan hari ini. Demikian pula dengan kepemilikan mobil dan motor. Masyarakat yang optimistis akan mengonsumsikan uangnya lebih cepat, baik dengan tunai maupun kredit. Mereka juga akan mulai kebiasaan-kebiasaan baru sebagai cerminan dari upaya kompensasi terhadap kerja keras yang dilakukan. Makan bersama keluarga atau kerabat di luar rumah seminggu sekali atau dua kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajak anak menikmati hiburan yang lebih berkualitas, membeli bacaan-bacaan atau sekolah yang berkualitas, berlibur yang lebih jauh dengan transportasi yang lebih baik dan lebih sejuk, dan lain sebagainya. Ditambah lagi dengan habit atau budaya berkomunitas yang sangat kental dalam masyarakat Indonesia, maka tidak mengherankan bila bagian terbesar konsumen kita melahap gadget-gadget telekomunikasi yang dilengkapi kamera dan akses pada situs-situs jejaring sosial. Dewasa ini diperkirakan sudah ada 180 juta alat komunikasi yang tersebar di masyarakat dan 70% di antaranya adalah mobile digital phone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan bila 50% usaha warnet dewasa ini gulung tikar karena konsumen Indonesia sudah bisa membuka Facebook atau mengakses jejaring sosial langsung dari ponsel masing-masing. Tidak mengherankan pula bila pengguna situs Facebook ketiga terbesar dari total 500 juta dunia, ada di Indonesia. Tidak mengherankan pula bila tingkat penetrasi tertinggi pada twitter di dunia berasal dari Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Under Progress &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, masih banyak golongan masyarakat yang berada jauh di bawah penghasilan sebesar itu. Lebih dari 80% komunitas yang ditangani Rumah Perubahan di kawasan Jati Murni, Bekasi, terdiri atas kalangan under progress. Inilah kalangan yang hidup ekonominya sulit untuk naik kelas. Mereka terdiri atas keluarga-keluarga dengan penghasilan tunggal berkisar antara Rp20.000–50.000 per hari. Profesi orang tua biasanya tukang ojek, buruh bangunan, tukang sate, atau usaha informal lain. Mereka tidak memasukkan anak-anaknya ke taman kanakkanak (TK), kecuali bila ada yang memberi kesempatan. &lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata sekolah TK memungut uang sekolah Rp100.000–150.000. Itu sebabnya, Rumah Perubahan mengurus TK karena pemerintah tidak memberi bantuan pada level ini selain SD-SMA. Dengan income sebesar itu mereka tentu sulit untuk bergaya hidup. Namun menarik disimak, kaum remaja dari anak-anak kalangan ekonomi bawah ini ternyata terkena imbasnya juga. Bergabung dengan anak-anak urban yang berperilaku tertentu, mereka kemudian masuk dalam kelompok yang dikenal dengan istilah alay. Anda mungkin sudah sering mendengar ada beberapa versi mengenai alay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan kata alay berasal dari singkatan anak layangan yang berarti anak kampung yang norak, sok ikut-ikutan bergaya kota namun kurang modal dan penampilan sulit dipoles (karena modal tampang, suara, potongan rambut, kebiasaan, dan berkata-kata sudah menjadi kebiasaan yang dibentuk lingkungan). Ada juga yang mengatakan itu singkatan dari ah lebay (berlebihan), baik anak kampung yang mau ke kota-kotaan atau anak kota yang menjadi ke kampung-kampungan. Namun, terlepas dari bagaimana pun tampang dan manuver mereka, konsumsi yang bisa mereka lakukan hanya bisa didapat dari kerja keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekeras upaya seorang pemuda tukang cendol atau kuli bangunan yang tekun mencari income tambahan dengan bekerja di studio-studio musik, sampai akhirnya mereka menjadi penyanyi terkenal seperti yang dialami para personel Kangen Band. Perhatikanlah tampang, suara, dan manner mereka yang tetap sulit dipoles. Namun,seperti Tukul Arwana, Komeng, Sule, para personel Radja, dan ST-12, mereka semua jadi dan berhasil naik kelas karena kerja keras dan akses pada media digital, bukan bermodalkan tampang, ijazah, ataupun siapa orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar mereka kini ada ribuan anak muda yang bermimpi mengikuti jejak itu. Memang sebagian besar masih sekadar ikut-ikutan berkomunikasi yang tampak pada potongan-potongan rambut, gel, celana jeans hipster yang kedodoran, atau celana pensil yang ketat di paha seperti yang dipakai personel band Cangcuters, ponsel dengan casing berwarna-warni. Semua itu dilengkapi dengan gaya hidup yang lepas,agak pamer, pede abis, bahkan sering kali maaf, narsis dan berlebihan. Berfoto tampak dari atas, dengan gaya di tangan yang jari-jarinya diarahkan ke bibir yang dimonyong-monyongkan dan seterusnya. Tetapi, sebagian dari mereka beranggapan semua itu adalah modal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal untuk mengakses informasi, untuk menarik minat produsen film dan televisi, untuk menjadi penyanyi atau penggaya lip-sync seperti Sinta dan Jojo yang menirukan lagu Keong Racun, atau untuk menjadi penulis terkenal (melalui microblogger). Di bawah mereka masih ada lagi anak-anak pinggiran yang memilih keluar rumah bergabung dengan kelompok anak-anak punk yang modalnya sungguh pas-pasan. Berbeda dengan anak para elite yang hidup senang, belajar di sekolah internasional, dengan kamera digital dan ponsel terbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Progress Paradox &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan yang dicapai ini tentu tidak lepas dari sejuknya angin yang bertiup di Asia-Pasifik. Jumlah orang kaya di tiga negara ini: China, India, dan Indonesia seperti diberitakan SINDO memang sedang tumbuh pesat. Namun, meski demikian harap dicatat, perubahan di abad 21 ini juga dilengkapi dengan suasana paradox, atau lebih tepatnya progress paradox. Ini berarti, kendati kemakmuran manusia meningkat, tidak otomatis kepuasan dan kebahagiaan manusia meningkat. Tak punya mobil terasa miskin, punya mobil terasa beban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan membaik namun biaya pengobatan naik lebih cepat. Hak bersuara lebih didapat, bersuara bebas terasa nikmat, namun tak didengarkan penguasa terasa lebih menyakitkan. Punya ponsel senang tetapi manakala tetangga punya laptop dan iPad, manusia terasa tertinggal. Demikianlah progress. Kala seseorang sedang bergerak ke atas, selalu mengeluh karena meletihkan, terasa berat. Sebaliknya, saat jalan menurun, kita merasa nyaman. Padahal sedang menuju ke bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah kok disyukuri. Capek (bergerak naik) kok dipermasalahkan. Itulah hidup dan kehidupan. Uang memang bukan segala-galanya tapi segalanya perlu uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rhenald Kasali&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sindo&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/08/gairah-usd-3000-per-kapita.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXMXm2ZwUI/AAAAAAAAAJY/1-lMSb1OKf8/s72-c/Rhenald5-dalam.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-7712009126731648450</guid><pubDate>Tue, 13 Jul 2010 06:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-13T01:56:47.047-07:00</atom:updated><title>Pak Baharuddin Lopa dan Kita sama2 PNS, tapi...</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TDwN0FAmuZI/AAAAAAAAAJA/ADuJY42eKhc/s1600/Baharudin_lopa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TDwN0FAmuZI/AAAAAAAAAJA/ADuJY42eKhc/s320/Baharudin_lopa.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Baharuddin Lopa, alias Barlop, demikian pendekar hukum itu biasa dipanggil, lahir di rumah        panggung berukuran kurang lebih 9 x 11 meter, di Dusun Pambusuang,        Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935. Rumah itu sampai sekarang masih        kelihatan sederhana untuk ukuran keluarga seorang mantan Menteri Kehakiman        dan HAM dan Jaksa Agung. Ibunda pria perokok berat ini bernama Samarinah.        Di rumah yang sama juga lahir seorang bekas menteri, Basri Hasanuddin.        Lopa dan Basri punya hubungan darah sepupu satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia 25, Baharuddin Lopa, sudah menjadi bupati di Majene, Sulawesi        Selatan. Ia, ketika itu, gigih menentang Andi Selle, Komandan Batalyon 710        yang terkenal kaya karena melakukan penyelundupan. Ketika menjabat Jaksa Tinggi Makassar, ia memburu seorang koruptor kakap,        akibatnya ia masuk kotak, hanya menjadi penasihat menteri. Ia pernah        memburu kasus mantan Presiden Soeharto dengan mendatangi teman-temannya di        Kejaksaan Agung, di saat ia menjabat Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa        menanyakan kemajuan proses perkara Pak Harto. Memang akhirnya kasus Pak        Harto diajukan ke pengadilan, meskipun hakim gagal mengadilinya karena        kendala kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut Kisah Inspiratif Baharuddin Lopa, seperti yang saya sadur dari forum Shalahuddin..&lt;br /&gt;Selamat Membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;----oo0oo----&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;b&gt;09 Juli 2001&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;Cermin Lopa buat  Pejabat Republik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUNGGUH mulia Tuhan memperlakukan Prof. Dr.  Haji Baharuddin Lopa. Ia dipanggil sang Pencipta pada Rabu dini hari pekan lalu,  tak berapa lama setelah menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci Mekah. Kepercayaan  Islam meyakini, begitu seseorang selesai menjalankan ibadah itu, ia putih bersih  dari dosa, sebersih bayi yang baru lahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat pekan lalu, ketika  prosesi pemakaman berlangsung di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta,  kemuliaan yang lain didapatnya: ia diberi Bintang Mahaputra oleh Presiden  Abdurrahman Wahid-penghargaan tertinggi untuk jasanya kepada Republik. Orang  akan mengenang makamnya sebagai sebuah monumen tentang pergulatan negeri ini  membebaskan dirinya dari belitan korupsi. Penegak hukum tanpa kompromi yang luar  biasa bersih itu terbaring di liang nomor 100. Di sebelahnya ada Ibnu Sutowo,  bekas Direktur Utama Pertamina, tokoh yang mengingatkan rakyat akan megakorupsi  di perusahaan minyak negara yang nyaris menenggelamkan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematiannya  diratapi banyak orang. Bendera-bendera diturunkan setengah tiang. Skala liputan  media tentangnya hanya bisa ditandingi peristiwa meninggalnya Sri Sultan  Hamengku Buwono IX dan Tien Soeharto. Rabu dini hari pekan lalu-sehari setelah  penyumbatan jantung merenggut jiwanya di Rumah Sakit Al-Hamadi, Riyadh, Arab  Saudi. Riuh lelang ikan di Paotere, Makassar, digantikan cerita duka para  nelayan tentang kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dilantik 1 Juni kemarin sebagai Jaksa  Agung, putra Mandar kelahiran Pambusuang, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935 ini  menjadi tumpuan harapan banyak kalangan untuk menegakkan hukum yang lama  terkulai. Keraguan sementara orang bahwa pengangkatannya cuma didasari  kepentingan politik Presiden Abdurrahman dijawabnya dengan kerja keras. Langsung  tancap gas, ia memacu dirinya kelewat keras di usianya yang sudah 66 tahun. Tiap  hari, ia masuk kantor pukul 08.00 dan pulang ke rumah pukul 16.00. Tapi ini cuma  untuk tidur sore. Katanya, supaya malam hari ia bisa melek bekerja lagi. Pukul  19.30, ia kembali ke kantornya sampai larut malam. Kadang sampai pukul dua dini  hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pribadinya yang sederhana mewakili kerinduan banyak orang akan  kehadiran pejabat bersih, yang makin langka di negeri keempat paling korup di  dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti para petinggi Republik yang tiba-tiba saja  kebanjiran &quot;hibah&quot; semasa menjabat, Lopa mesti menabung sen demi sen gajinya  untuk merenovasi rumah sederhananya di pinggiran Kota Makassar, di Jalan Merdeka  4. Salah satu tabungannya adalah sebuah celengan berisi uang receh. Abraham  Samad, pengacara Ketua Komite Antikorupsi Sulawesi Selatan, bercerita pernah  melihat Lopa membuka sejumlah celengannya. Ternyata uang itu belum cukup untuk  membeli balok kayu dan batu. &quot;Terpaksa pembangunan rumahnya ditunda dulu,&quot;  tuturnya mengenang. Padahal, ketika itu Lopa telah menjabat sebagai Direktur  Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Dirjen Lapas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari gaji, ia  punya mata pencaharian lain. Bukan menjadi konsultan atau komisaris perusahaan  konglomerat, melainkan membuka wartel dengan lima bilik telepon dan penyewaan  playstation di samping rumahnya di Pondokbambu, Jakarta. Ia juga rajin menulis  kolom di berbagai majalah dan harian. Ia terang-terangan mengakui, itu caranya  menambah penghasilan dari keringat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga minggu lalu, ia  menelepon redaksi majalah ini, menanyakan kolom yang ia kirim tapi belum dimuat  TEMPO. Redaksi memang nyaris menolak kolom itu. Alasan kami, kolom itu aneh,  Lopa tiba-tiba menulis soal narkoba. Isinya juga biasa saja. Kami bisa saja  menolaknya, tapi kami tahu persis Lopa sering perlu uang untuk bertahan dengan  kejujurannya. Akhirnya, redaksi sepakat menugasi redaktur kolom mewawancarai  Lopa dan menambah &quot;kedalaman&quot; kolom itu. Jumat siang, 15 Juni, justru ia yang  menelepon kami. &quot;Apa yang mau kau tanyakan?&quot; katanya. Lalu, wawancara  berlangsung setengah jam dengan redaktur kolom Diah Purnomowati. &quot;Nah, kau  tambah-tambah sendirilah,&quot; katanya waktu itu. Kolom narkoba itu kami muat di  edisi 17, akhir Juni lalu. Ketika reporter TEMPO Setiyardi mendatanginya untuk  wawancara setelah kejadian itu, Lopa punya penjelasan menarik mengapa ia  mendadak menulis narkoba: &quot;Biar orang tahu Jaksa Agung juga paham soal-soal anak  muda.&quot; Ternyata, itulah kolom terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Honor ratusan ribu dari  menulis kolom inilah yang sering diandalkannya untuk memperbaiki ini dan itu di  rumahnya. Di tempat tinggalnya itu, listrik sering anjlok dan padam kalau  setrika, TV, dan kulkas dinyalakan bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reporter Setiyardi punya  pengalaman unik. Tepat sehari setelah Lopa dilantik sebagai Menteri Kehakiman,  Koran Tempo membuat karikatur dirinya di rubrik Portal-karikatur di pojok kiri  bawah Koran Tempo. Dalam karikatur itu digambarkan Lopa bagai gladiator yang  siap menusuk lawannya, cuma pedangnya bengkok dan mengerut. Sebuah sindiran yang  &quot;kena&quot; untuk melukiskan kekhawatiran orang bahwa ia &quot;dipasang&quot; Presiden  Abdurrahman sebagai alat politik kekuasaan. Karikatur itu mengadopsi gaya (dan  busana Romawi) aktor Russel Crowe dalam film Gladiator. Nah, begitu Setiyardi  datang ke rumah Lopa, sang tuan rumah bertanya dengan wajah kencang, &quot;Siapa yang  gambar saya begini?&quot; Setiyardi agak gugup, ia khawatir Lopa marah dan wawancara  gagal. Maka, ia menjawab, &quot;Wah, itu teman-teman di koran, Pak.&quot; Ternyata, Lopa  malah bilang, &quot;Ini bagus sekali. Tolong kau bikin besar buat saya, baru kau  boleh wawancara.&quot; Desainer Koran Tempo akhirnya mencetak karikatur itu dalam  ukuran besar dan membingkainya. Sampai sekarang, karikatur Koran Tempo Edisi 4  April 2001 itu terpajang di ruang tengah rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kisah pengusaha Jusuf  Kalla memperlihatkan Lopa bukan tipe pejabat yang doyan meminta upeti, apalagi  &quot;memeras&quot; kiri-kanan. Suatu hari, pengusaha pemegang agen tunggal Toyota di  kawasan timur Indonesia ini di- telepon Lopa. Ia mau membeli mobil. Di benak  Jusuf, sebagai Dirjen Lapas, Lopa pasti mau sedan kelas satu. Toyota Crown ia  tawarkan. Tapi Lopa malah setengah menjerit mendengar harganya, yang sekitar Rp  100 juta itu. &quot;Mahal sekali. Ada yang murah?&quot; kata Lopa. Cressida seharga Rp 60  juta pun masih dianggap mahal. Akhirnya, Jusuf menyodorkan Corona senilai Rp 30  juta. Harganya tak ia sebutkan, karena ia berniat memberikannya untuk Lopa.  &quot;Begini saja. Tidak usah bicara harga. Bapak kan perlu mobil. Dan jangan  khawatir, saya tidak ada hubungan bisnis dengan lembaga pemasyarakatan. Saya  kirim mobil itu besok ke Jakarta,&quot; kata Jusuf. Lopa kontan menolak. Yang lucu,  malah Jusuf si penjual yang sampai menawar harga. &quot;Begini saja. Saya kan pemilik  mobil, jadi terserah saya mau jual berapa. Saya mau jual mobil itu Rp 5 juta  saja.&quot; Lopa masih menolak, &quot;Jangan begitu. Kau harus jual dengan harga sama  seperti ke orang lain. Tapi kasih diskon, nanti saya cicil. Tapi jangan kau  tagih.&quot; Akhirnya, tawar-menawar aneh itu mencapai kata sepakat juga. Lopa akan  membelinya Rp 25 juta. Uang muka sebesar Rp 5 juta langsung dibayar Lopa,  diantar dalam bungkusan koran bekas. Selebihnya, betul-betul dicicil sampai  lunas selama tiga tahun empat bulan. &quot;Kadang-kadang dibayar Rp 500 ribu,  kadang-kadang sejuta,&quot; tutur Jusuf Kalla, mengenang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;Lopa juga seorang yang selalu ingat teman di kala susah. Ada cerita tatkala Lopa  menjabat Dirjen Lembaga Pemasyarakatan (1988-1995). Ketika wartawan Kompas di  Jakarta, Abun Sanda, diberitakan kecurian di rumahnya, Lopa segera meneleponnya.  &quot;Wah, saya baca kau kecurian. Saya sedih dan susah juga dengar itu.&quot; Beberapa  hari kemudian, Abun bertemu lagi dengan Dirjen Lembaga Pemasyarakatan itu untuk  sebuah wawancara. &quot;Abun, sudah tiga hari saya siapkan ini. Saya pikir ini bisa  meringankan sedikit kesusahanmu. Ini pemberian dari orang tua kepada anaknya.  Tak ada hubungannya dengan dunia kewartawananmu. Kau sedang di rantau, saya juga  orang rantau.&quot; Abun Sanda berpikir keras, apa yang mau diberikan Lopa kepadanya.  Ternyata, &quot;Ini ada enam gelas untuk minum. Saya beli sendiri di supermarket,&quot;  kata Lopa. Abun akhirnya menerima bingkisan itu karena tak mungkin menolak  pemberian setulus itu. Ia amat meyakini, pemberian Lopa itu tentu tanpa pamrih  dan benar-benar bagian dari kesederhanaan hidupnya yang terlalu sulit dijalankan  oleh siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang figur yang apa adanya. Ia pun selalu  berpenampilan seadanya. Selepas magrib, di kantornya ia cuma bersandal jepit,  mengenakan kain sarung, baju koko, dan songkok hitam yang selalu miring ke  kanan-ala imam masjid di kampung-kampung suku Mandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah  wawancara khusus dengan mingguan ini, ia bahkan cuma mengenakan singlet putih.  Menu makannya juga bukan buffet di hotel berbintang lima seperti pejabat  kebanyakan. Suatu waktu, majalah ini tengah menunggunya untuk sebuah wawancara.  Lopa masih ikut rapat di dalam. Hari sudah larut malam, TEMPO pun pamit sebentar  untuk makan malam dulu. Lopa langsung menukas, &quot;Oh, kau belum makan? Bagaimana  kalau makan malamku kita bagi dua,&quot; katanya serius, sambil menunjuk piring  berisi nasi bungkus dengan lauk ikan laut goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu,  ketika menjadi Dirjen Lapas, Lopa berkunjung ke Makassar. Sebelum salat Jumat,  ia menitipkan tasnya. Tak banyak isinya, tapi ada sebuah tonjolan. &quot;Ini pasti  pistol,&quot; pikir yang dititipi tas. Usai sembahyang, Lopa membuka tasnya. Ternyata  itu cuma bekal kesukaannya: pisang rebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga melegenda adalah  sikapnya yang sangat keras dalam urusan penggunaan fasilitas dinas. Jangankan  tiba-tiba jadi pengusaha dengan segala fasilitas dan katebelece sang ayah, tujuh  anak Lopa, bahkan juga istrinya, Indrawulan, ia larang menggunakan mobil  dinasnya. Di Makassar, semasa menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel, warga  terbiasa melihat mereka berangkat ke pasar dan kampus dengan pete-pete (angkutan  kota).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap keras itu juga yang ia berlakukan untuk dirinya sendiri.  Pada suatu Minggu di tahun 1983, Lopa sang Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel  diundang menjadi saksi pernikahan. Tuan rumah, Riri Amin Daud, yang juga  kerabatnya, dan pagar ayu telah menunggu kedatangan tamu amat terhormat ini.  Lama ditunggu, mobil dinas berpelat DD-3 tak kunjung muncul. Tahu-tahu suara  Lopa sudah terdengar dari dalam rumah. Rupanya, ia bersama istrinya datang  dengan pete-pete. &quot;Ini hari Minggu, ini juga bukan acara dinas. Jadi, saya tak  boleh datang dengan mobil kantor,&quot; ia menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan telepon dinas  di rumahnya selalu ia kunci. Lopa melarang istri ataupun anak-anaknya  menggunakannya. Semasa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel, ia sampai  memasang telepon koin di rumah jabatannya untuk memilah tagihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah,  salah satu putrinya, juga punya pengalaman unik. Pada 1984, ia menjadi panitia  sebuah seminar di kampusnya, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Kekurangan  kursi, Aisyah datang ke kantor ayahnya untuk meminjam kursi di aula Kejaksaan  Tinggi Sul-Sel. Sebagai jawabannya, Lopa menarik salah satu kursi lipat dan  memperlihatkan tulisan di baliknya. &quot;Ini, baca. Barang inventaris Kejaksaan  Tinggi Sul-Sel, bukan inventaris Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Jelas  toh, ini milik kejaksaan dan tidak bisa dipinjamkan,&quot; kata Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala  kesederhanaan itu jelas bukan karena Lopa hidup melarat. Ia mencatatkan kekayaan  pribadinya senilai Rp 1,9 miliar dan simpanan US$ 20 ribu. Ia juga terlahir dari  keluarga terpandang. Di tubuhnya mengalir darah Mara&#39;dia (bangsawan Mandar).  Kakeknya, Mandawari, adalah Raja Balangnipa-kerajaan besar di Mandar-yang sangat  dicintai rakyatnya dan juga hidup sederhana. Sudah sejak usia 25 tahun ia  menjadi pejabat. Ketika itu, ia diminta Panglima Komando Distrik Militer XIV  Hasanuddin, Kolonel M. Jusuf, menjadi Bupati Majene. Ia dipilih karena dianggap  sanggup melawan pemberontakan Andi Selle pada tahun 1960. Selain menjadi Kepala  Kejaksaan Tinggi di empat provinsi-Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Aceh,  Kalimantan Barat, dan Ternate-doktor lulusan Universitas Diponegoro ini juga  tercatat sebagai guru besar hukum di Universitas Ha-  sanuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiriannya itu, kata Lopa kepada TEMPO ketika itu, karena ia  berpegang pada ajaran agama. Salah satunya dari sebuah hadis Nabi yang berbunyi,  &quot;Sekalipun anakku Fatimah, kalau ia mencuri, kupotong tangannya.&quot; Juga dari  sebuah peristiwa tragis di Mandar ketika ia masih kanak-kanak. Di pengujung  tahun 1930, di Balangnipa terjadi sebuah pembunuhan oleh seorang pemuda. Menurut  hukum adat, ia harus diganjar hukuman mati. Nyawanya cuma bisa diselamatkan jika  semua pabbicara (pemuka adat) setuju memberi keringanan. Enam dari tujuh  pabbicara setuju meringankan hukuman. Cuma ada seorang yang bersikukuh  menjatuhkan hukuman mati. Dia adalah Ketua Dewan Adat. Maka, hukuman mati pun  dijatuhkan. Sang pemuda meregang nyawa di atas pangkuan sang Ketua Dewan Adat.  Tak lain, ia adalah ibu kandung si pemuda sendiri. Kisah ini begitu tertanam di  benak Lopa. &#39;&#39;Saya amat terkesan dengan kisah itu, bahwa penegakan hukum tak  boleh terhalangi sekalipun karena alasan hubungan darah,&#39;&#39; kata Lopa di banyak  kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Hasan adalah salah satu pesakitan yang merasakan tangan  keras Lopa. Si Raja Hutan ini tanpa ampun langsung di-Nusakambangan-kan tak lama  setelah Lopa dilantik menjadi Menteri Kehakiman pada 8 Februari  lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel (1982-1986),  &quot;korbannya&quot; adalah Tony Gozal, seorang pengusaha kaya dan salah satu &quot;orang kuat  Sul-Sel&quot;. Tekanan dari segala penjuru tak digubrisnya. Tony ia jebloskan ke  penjara dalam kasus penyelewengan tanah milik pemerintah daerah. Tengah  gencar-gencarnya memeriksa Tony, Presiden Soeharto bersama Perdana Menteri  Singapura Lee Kuan Yew bertemu di Makassar. Tempatnya tak lain di Hotel Makassar  Golden, hotel termewah di Sul-Sel milik Tony. Lopa ikut menjemput Soeharto dan  Lee di Bandara Hasanuddin. Tapi ia menolak mengantar sampai ke hotel dan tak mau  datang ke jamuan makan malam yang dihadiri semua pejabat Sulawesi. &quot;Tidak baik  saya ke situ. Apa kata orang kalau saya datang ke hotel yang sedang saya sidik,&quot;  kata Lopa. Tony divonis bersalah dan meringkuk di Penjara Gunungsari. Buntutnya,  Lopa terpental. Pada 1986, ia dimutasi menjadi staf ahli Menteri  Kehakiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lopa adalah seorang muslim taat. Ia adalah Ketua Yayasan  Masjid Al-Hidayah, masjid dekat rumahnya di Jakarta. Daniel Dawam, seorang  pengurus masjid, berkisah suatu saat masjid ini akan direnovasi. Panitia  kebingungan mencari dana. Mendengar itu, Lopa, ketika itu telah menjabat Dirjen  Lapas, langsung turun tangan. Selepas salat isya, map formulir sumbangan  langsung ia edarkan sendiri dari pintu ke pintu. &quot;Dalam tiga bulan, Pak Lopa  mengumpulkan Rp 250 juta untuk pembangunan masjid,&quot; Dawam mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi  ada dua hal yang merisaukannya: terlihat tua dan merengut. Karena itulah, usai  diwawancarai mingguan ini, ia ngotot mengajak wartawan TEMPO mampir dulu ke  rumahnya untuk mengambil foto favoritnya. Ini foto saat ia dilantik sebagai  Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Di situ Lopa memang terlihat lebih muda  dengan senyum yang mengembang. &quot;Saya ingin orang melihat saya sedang tersenyum,&quot;  kata Lopa. Ia tak begitu peduli soal kesehatannya. Rokok kesayangannya, Dunhill  filter, tak lepas dari jarinya. Ketika ditanya TEMPO soal kesehatannya, ia cuma  menyeringai sambil berkata, &quot;Sudahlah, tak usah bicara soal kesehatan. Nyawa  manusia sudah ada yang mengatur.&quot; Dan Tuhan telah mengaturkan sebuah kematian  yang amat mulia buatnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Karaniya Dharmasaputra, Tomi Lebang, Setiyardi (Jakarta),&lt;br /&gt;Syarif Amir  (Makassar)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;----oo0oo----&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“ … Saya teringat suara masa ketika saya masih menjabat Pembantu Dekan III  Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas), saat itu Baharuddin Lopa menjabat  Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, dan salah seorang putrinya adalah  mahasiswa saya. Suatu ketika mahasiswa Fakultas Hukum Unhas akan  menyelenggarakan suatu acara, dan kesulitan biaya. Tiba-tiba saya teringat  dengan sejumlah kursi lipat inventaris yang pernah saya lihat di halaman  belakang rumah jabatan Kepala Kejaksaan Tinggi, dan saya minta putrinya meminjam  kursi-kursi itu, agar biaya yang sedianya untuk menyewa kursi dapat  dihemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Si putri datang menyampaikan kepada saya bahwa  ayahnya, Baharuddin Lopa, menyatakan, kursi itu inventaris Kejaksaan dan hanya  dapat digunakan untuk kepentingan Kejaksaan. Beberapa hari setelah itu, saya  bertemu Baharuddin Lopa, dan beliau langsung mengajak saya duduk berdua.  Baharuddin Lopa menyampaikan kepada saya bahwa kita harus dapat memisahkan  urusan kantor dengan urusan pribadi. Bagi beliau, barang inventaris kantor tidak  bisa dipinjamkan di luar kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baharuddin Lopa juga menasihati para  mahasiswa panitia acara tersebut, untuk membiasakan membuat acara sesederhana  mungkin, karena jika sudah terbiasa sejak mahasiswa, ketika menjadi pejabat  tinggi akan semakin menjadi-jadi &quot;nafsu mau dikata&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan kepada  saya dan para mahasiswa itu, jika suatu saat kalian menjadi pejabat tinggi,  jangan memaksakan keadaan dan juga jangan menggunakan ajimumpung, yaitu mumpung  banyak sosok yang berkepentingan yang ramai-ramai mau menyumbang. Jangan pula  meminta sumbangan atau menerima sumbangan dari orang-orang yang secara tersirat  maupun tersurat punya kepentingan dengan jabatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak dapat  saya lupakan ketika Baharuddin Lopa memberi contoh: &quot;Jika Saudara kebetulan  pejabat tinggi, dan membuat pesta perkawinan anak Saudara, lihatlah, niscaya tak  terhingga orang-orang yang berkepentingan datang tanpa diminta mengulurkan  bantuan atau sumbangannya. Sekali Saudara menerima sumbangannya itu, berarti  Saudara telah menggadaikan integritas jabatan dan pribadi Saudara.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu  yang dimaksud Baharudddin Lopa adalah jika seorang petinggi Kejaksaan atau  petinggi pengadilan mengawinkan anaknya, pasti para &quot;pengacara hitam&quot; berebut  untuk memberikan sumbangan demi semaraknya pesta sang petinggi itu. Yang bagi  Baharuddin Lopa harus secara tegas ditolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ketika Baharuddin  Lopa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, mobilnya yang dibawa  oleh sopirnya ke pompa bensin, diisikan bensin penuh oleh seseorang yang mengaku  mengenal bahwa mobil itu adalah mobil Kepala Kejaksaan Tinggi. Ketika si sopir  melaporkan hal itu kepada Baharuddin Lopa, spontan Baharuddin Lopa memerintahkan  menyedot keluar bensin pemberian tadi dan mengembalikan kepada orangnya dengan  ucapan terima kasih dan maaf. … “&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Jaksa Agung dan  Kemewahan”, Achmad Ali Guru Besar Hukum Universitas Hasanuddin Makassar,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;----oo0oo----&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;HARI Selasa tiga pekan lalu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.50. Ajudan  Jaksa Agung Prof Baharuddin Lopa, Enang Supriyadi Syamsi, tampak gelisah. Ia  melihat Prof Lopa belum menunjukkan tanda-tanda akan menyudahi pekerjaannya.  Jaksa Agung masih menekuni sejumlah berkas, ditemani beberapa penasihat ahli dan  jaksa senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Bukan apa-apa, besok pagi Pak Lopa sudah mesti menerima  sejumlah tamu dan membahas beberapa perkara dengan beberapa jaksa. Siangnya ke  istana, sore balik ke sini untuk membahas sejumlah berkas perkara. Malam hari  rapat. Ada rapat penting lagi. Kalau pulang telat begini, kapan beliau  istirahat?&quot; ujar Enang kepada Kompas dengan nada masygul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseharian  Lopa, sejak dilantik menjadi Jaksa Agung awal Juni lalu, memang seperti itu,  pulang pukul 23.00. Ibarat atlet atletik, ia adalah sprinter, pelari cepat. Para  stafnya di Kejaksaan Agung (Kejagung) tentu saja dibuat terengah-engah oleh  tempo tinggi yang ia kembangkan. Ritme yang sama ia terapkan ketika menjabat  Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Februari-Juni 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  percakapan dengan Kompas pada beberapa kesempatan, Lopa mengakui terus terang  bahwa ia sempat mengidamkan jabatan Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman, 17 tahun  silam, tatkala masih menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.  Tujuannya semata-mata adalah untuk membereskan dunia hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi,  pemerintahan Soeharto (1967-1998) agaknya &quot;takut&quot; memanfaatkan Lopa. Begitu pula  dengan BJ Babibie (1998-1999), enggan memilih Lopa. Habibie merasa lebih baik  menggunakan tenaga Lopa sebagai Duta Besar di Arab Saudi. Baru pada era Presiden  Abdurrahman Wahid, tenaganya dimanfaatkan. Namun, penggunaan tenaga Lopa baru  dilakukan ketika pemerintahan Abdurrahman Wahid terjepit oleh krisis integritas  dan kepercayaan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika jadi Jaksa Agung, Lopa mengatakan,  ia langsung tancap gas guna memberikan segala kemampuannya untuk menegakkan  hukum. &quot;Saya sempat enam kali masuk nominasi Jaksa Agung, tetapi tidak pernah  jadi. Sekarang saya jadi Jaksa Agung. Meski mungkin waktunya sangat pendek, saya  hendak berikan yang terbaik,&quot; kata Lopa, suatu waktu di ruang  kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lopa menuturkan, ia tidak mempunyai alternatif lain kecuali  menggunakan kecepatan tinggi. Kejahatan pidana korupsi dan kejahatan pidana  lainnya sudah demikian menumpuk sehingga harus diantisipasi dengan kecepatan dan  kecermatan. Rakyat sudah demikian lama merindukan keadilan, mendambakan  penegakan hukum. Oleh karena itu, segenap kekuatan jaksa harus dikerahkan untuk  memenuhi asa itu. Ia tidak terlampau menghiraukan, apakah stamina para jaksa  cukup kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya tempo yang dimainkan Lopa boleh jadi menjadi salah  satu faktor turunnya kondisi kesehatannya. Ia mati-matian bekerja. Ia  mengabaikan olahraga. Ia sempat tak hirau pada kesehatan, dan acap kali telat  makan. Penyakit gula dan gangguan jantung yang belum lama ini ia idap, rupanya  mulai mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang berbarengan, ia berada dalam pressure  yang amat kuat. Ia hendak menegakkan hukum, dan jalan tanpa kompromi. Siapa pun  yang bersalah ia sikat. Akibatnya, orang-orang yang merasa terancam oleh gerakan  Lopa melobi kalangan tertentu yang bisa menekan Lopa dengan jalan  kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa kesempatan berada di ruang kerjanya, Kompas  mendengar ia menerima telepon dari beberapa pejabat teras negeri ini. Lopa  tampak berdebat dan kukuh pada pendiriannya. Ia memang tidak bisa digoyang,  tetapi pressure keras yang datang terus-menerus, termasuk sinisme media massa  yang mempertanyakan apakah ia bisa berbuat banyak dalam tempo singkat, membuat  Lopa lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMA besar lain yang ia ketengahkan adalah soal  integritas dan pengabdian jaksa. Ia memperingatkan para jaksa agar tidak  menerima apa pun dari tersangka, terdakwa, atau para broker. Tidak hanya sampai  di sini, ia memerlukan memasang iklan di media massa yang intinya menegaskan tak  seorang jaksa pun dibolehkan menerima apalagi meminta apa pun dari tersangka,  terdakwa, atau broker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang jaksa pun yang merasa berhak  mencibir sikap tersebut. Sebab, Lopa adalah teladan yang paling pas untuk urusan  integritas. Para bawahannya sangat tahu, betapa jujur dan sederhana pria  kelahiran Mandar, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lopa sudah dua  kali duduk di kabinet, tetapi ia tidak menempati rumah dinas menteri. Ia memilih  tetap tinggal di Pondok Bambu (Jakarta Timur), rumah sangat sederhana yang ia  cicil bertahun-tahun. Tidak ada perabotan mewah di rumah yang berbatasan  langsung dengan Rumah Tahanan Pondok Bambu itu. Satu-satunya yang menonjol ialah  adanya sebuah warung telepon yang dibuka keluarga Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk  kabinet pun, ia tidak berubah. Beli rokok, misalnya, kerap ia lakukan sendiri,  dengan bersandal dan mengenakan sarung Bugis. Ia pun tetap menyantap makanan  kesukaannya, misalnya nasi Padang, coto Makassar, sop konro dan sebagainya.  Makanan mewah dari restoran atau hotel bintang lima hampir tidak pernah singgah  di meja makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha, yang juga mantan Menteri Perindustrian dan  Perdagangan HM Jusuf Kalla, punya banyak cerita ihwal kejujuran Lopa. Tahun  1980-an di Makassar, misalnya, tatkala masih menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi  Sulawesi Selatan, Lopa datang ke kantornya untuk membeli mobil  Toyota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pak Lopa bertanya berapa harganya, saya sebut sekian juta. Saya  polos-polos saja berkata, setiap pembelian mobil bisa didiskon. Ia bertanya  berapa diskon yang wajar. Saya katakan tiga persen. Namun, atas nama pertemanan,  saya beri diskon 70 persen. Ia kontan menolak. Lho, saya katakan, saya penjual  mobil dan mobil itu milik saya. Mau saya kasih diskon 70 persen, 80 persen, atau  bahkan 90 persen, itu urusan saya. Almarhum menolak dan tetap ngotot minta  diskon wajar, tiga persen. Saya tidak bisa apa-apa kecuali mengatakan iya,&quot;  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM urusan dinas atau penegakan hukum, almarhum  memang dikenal amat keras, dan konsisten. Ia tidak mau menerima tamu-meski tamu  itu sahabat baiknya-kalau ia tahu tamu itu datang bicara perkara yang tengah  berjalan. Kepada aparatnya, ia juga berlaku ekstra keras. Ia bahkan sampai  &quot;menginterogasi&quot; pejabat eselon satu yang diduganya &quot;bermain&quot; dalam suatu  perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikapnya ini yang mungkin membuat ia kadang kala tampak  kesepian. Teman-teman dekatnya acap kikuk berdekatan dengannya. Akan tetapi,  apakah ia benar-benar kesepian? Jawabannya segera ditemukan tatkala berita bahwa  ia meninggal dunia disiarkan media massa. Masyarakat dari semua golongan dan  etnis merasa kehilangan. Sejumlah orang yang selama ini menunjukkan sikap  berseberangan ikut meratapi kepergiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, kata advokat OC  Kaligis, Kejaksaan Agung merasa sangat kehilangan luar biasa atas kepergian  orang besarnya. &quot;Saya usulkan, Kejaksaan Agung memasang patung Pak Lopa di  halaman Kejagung. Ini agar semua orang tahu bahwa Kejaksaan Agung pernah  mempunyai orang sehebat dan sebersih Lopa,&quot; kata Kaligis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Seorang  mahasiswi UI sampai menangis ketika menyampaikan duka citanya atas kepergian  Lopa,&quot; tutur penasihat ahli Jaksa Agung, Prof Achmad Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titin Dewi,  seorang pegawai public relations di Jakarta, dengan emosional menyatakan, ketika  Lopa diangkat menjadi Jaksa Agung, ia seperti merasa bahwa bangsa Indonesia yang  tengah dipeluk kegelapan seperti mendapat penerangan. &quot;Akan tetapi, penerangan  itu kini padam lagi, sungguh menyedihkan,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini memang  kehilangan penerangan ketika Lopa berpulang. Pak Lopa, selamat jalan. (Abun  Sanda)&lt;br /&gt;---&lt;b&gt;Obituari&lt;br /&gt;Dan, Lampu Itu Pun Redup...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;HOMEPAGE: Mailing List &amp;amp; Database Center -  &lt;http: www.indopubs.com=&quot;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/http:&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;----oo0oo----&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;http: www.indopubs.com=&quot;&quot;&gt; &lt;/http:&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;“ … &lt;b&gt;Rumah Sederhana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana duka mendalam tak hanya terjadi di  Jakarta. Tapi juga di rumah miliknya di jalan Kumala Merdeka 4 Makassar. Puluhan  sanak keluarga dan warga setempat mendatangi rumah sederhana yang berada di  lorong sempit. Mereka yang datang sebagian hanya kebagian berdiri di halaman dan  jalan setapak karena tidak muat di rumah yang dicicilnya pada 1964  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tamu berbentuk &quot;L&quot; terdapat dua sofa yang sudah  termakan usia. Keduanya dibeli almarhum pada tahun 1985 ketika menjabat Kepala  kejaksaan Negeri di Ternate, Maluku Utara. Pada dinding terdapat foto-foto  keluarga dan satu buah lukisan dan bufet yang berisikan beberapa buah keramik  dan kipas angin kecil yang sudah rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang melihat rumah  tersebut, tidak akan menyangka bahwa itu milik seorang pejabat tinggi negara.  Tidak seperti rumah mewah bernilai miliaran rupiah yang dimiliki kebanyakan  pejabat tinggi di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tersebut dijaga saudara kandung  Baharuddin, Nurlia Lopa yang bekerja di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Setiap  ke Makassar, Lopa tinggal di rumah ini berkumpul bersama saudara-saudaranya,  sebelum mereka mudik ke dusun Pambusuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Dusun itu kedua orang tua  Lopa, Haji Lopa dan Hajjah Samarinna, dimakamkan. Di sana juga masih tertinggal  rumah panggung tempat Lopa dilahirkan. Rumah sederhana itu sejak puluhan tahun  silam, belum pernah direnovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam hidup penuh kesederhanaan  tersebut, Baharuddin Lopa berhasil membangun tiga buah Masjid di dusun tersebut.  Lopa sebenarnya punya rencana mendirikan Pesantren. Namun niatnya itu belum  terwujud hingga ia menghembuskan nafas terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Buah Bibir di  Makassar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita meninggalnya Prof Dr H Baharuddin Lopa begitu  mengagetkan warga Makassar. Calon Gubernur di provinsi tersebut kembali menjadi  buah bibir semua kalangan di Makassar. Mulai pejabat hingga pekerja bangunan dan  tukang becak, buruh pelabuhan, mandor, tukang batu sampai pengangguran  menyatakan duka yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan itu berlangsung di  warung-warung kopi, di pojok-pojok jalan atau dibawah pohon dan tempat-tempat  lainnya. Masyarakat Makassar sangat mengenal Lopa tidak saja saat menduduki  jabatan Jaksa Agung, tapi sejak menjadi Jaksa Tinggi di Sulawesi Selatan.  Terlebih saat berhasil menjebloskan seorang pengusaha kondang di Sulawesi  Selatan yang waktu itu dikenal sebagai orang kebal hukum, Tony  Gozal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita ikuti perbincangan di warung kopi di Jalan Veteran Utara  Makassar. &quot;Kita semua jujur mengakui bahwa kepergian Pak Lopa merupakan  kehilangan besar bagi kita semua, sebab sukar menemukan penegak hukum seperti  almarhum,&quot; kata Zainullah (35) seorang mandor bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  pengunjung warung kopi lainnya, Borahima (35) mengakui bahwa dirinya sangat  mengagumi Baharuddin Lopa, karena berani menegakan hukum tanpa pantang  bulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kalau yang lainnya hanya berani menghukum orang-orang kecil yang  tidak punya becking, sedangkan Pak Lopa berani menghukum siapa saja yang  bersalah, biar itu orang besar punya pangkat tinggi,&quot; kata  Borahima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lainnya yang sehari-harinya menjadi tukang becak  menimpali. &quot;Meskipun berani menindak para koruptor kakap, namun sulit baginya  untuk berhasil karena hanya berjuang sendiri,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung kopi  diberbagai sudut jalan di kota Makassar yang buka sejak dini hari merupakan  tempat mengaso warga kota Makassar. Sekaligus dijadikan tempat melakukan  perbincangan dari segala macam persoalan termasuk masalah politik. Kemarin pojok  gosip itu menjadikan Lopa &quot;Sang Pendekar Hukum&quot; sebagai topik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ajudan  Lopa Tahun 70&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lopa adalah figur jaksa Penuntut Umum yang konsisten.  Bukan baru-baru ini, semasa menjabat Jaksa Agung yang hanya diembannya satu  bulan tiga hari, tapi sejak awal menjejakan kakinya di kursi penuntut  umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita dengarkan penuturan Drs Pariama Mbyo SH. Ia adalah ajudan  Lopa saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara tahun  1968-1970.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Begitu mendengar Pak Lopa meninggal di Arab Saudi tadi malam,  saya langsung menitikan air mata. Semua yang saya alami saat menjadi ajudan  beliau teringat kembali,&quot; kata Pariama kepada ANTARA di Kendari, kemarin  siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ajudan, Pariama yang kini menjabat Kepala Bagian Keuangan  Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, banyak mengetahui kepribadian dan apa saja  yang dilakukan almarhun saat itu, baik saat berada di kantor maupun di  luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam urusan dinas, menurut Pariama, Lopa adalah sosok jaksa yang  sulit dicari tandingannya. &quot;Ia sangat jujur, konsisten dan tegas, terutama yang  terkait dengan penegakkan hukum,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menegakkan hukum, ia tak  mengenal saudara, teman atau pangkat/kekayaan seseorang. Sikap itu terlihat saat  mengusut kasus pengadaan fiktif kitab suci Alqur&#39;an senilai Rp 2 juta yang  melibatkan Kepala Kanwil Agama Sulawesi Tenggara KH Badawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pak Lopa  dengan Pak KH Badawi saat itu berteman akrab. Hampir setiap malam Jumat saya  disuruh menjemput Pak KH Badawi untuk baca doa selamat di rumah Pak Lopa,&quot;  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika KH Badawi diduga terlibat kasus pengadaan fiktif  kitab suci tersebut, Lopa tidak mau kompromi. Ia langsung memprosesnya. Meskipun  KH Badawi berkali-kali memohon kepadanya agar tidak memproses kasus  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pariama, Kajati pertama di provinsi itu juga sangat  alergi terhadap hadiah dalam bentuk apapun. Baik yang diberikan oleh pejabat  bawahannya maupun pejabat pemerintah lain juga kalangan pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  diberi hadiah, selalu ditolaknya dengan halus. &quot;Ia selalu mengatakan kepada  si-pemberi hadiah bahwa dirinya tidak perlu diberi hadiah karena ia memiliki  gaji. Yang perlu diberi hadiah adalah rakyat yang susah,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah  Gubernur Sulawesi Tenggara, waktu itu H Edi Sabara, memberikan hadiah Rp 100.000  (seratus ribu rupiah pada awal tahun 70-an tentu sangat besar). &quot;Uang tersebut  tidak diambil, tapi menyuruh saya untuk menyerahkannya kepada panti Jompo di  Lepo-Lepo Kendari,&quot; ujar Pariama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, Lopa juga  sangat sederhana. Waktu itu ia hanya memakai pakaian dinas dan kemeja batik yang  itu-itu saja. Makanan sehari-hari yang menjadi hobinya adalah nasi, ikan lure  (teri) dan sayur daun singkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau istrinya ke pasar, tidak boleh  menggunakan kendaraan dinas dengan alasan ke pasar itu bukan untuk urusan dinas  tapi untuk urusan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap karyawannya Lopa juga penuh  perhatian. &quot;Setiap keluar dari ruang kerjanya langsung ke ruangan kepegawaian  dan menanyakan kepada kepala kepegawaian, siapa yang mau naik pangkat atau gaji  dan kalau ada segera ia menandatangani berkasnya,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau  ada karyawan yang bersalah pasti dimemarahi habis. &quot;Tapi segera dimaafkannya  kalau yang bersangkutan minta maaf,&quot; katanya. &quot;Sebagai ajudan waktu itu, saya  sering mengalaminya,&quot; ujar Pariama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lopa juga seorang pengarang. Di kala  santai dan tiba-tiba muncul ide di pikirannya, ia langsung menyuruh ajudannya  untuk menulis semua yang diucapkannya hingga kemudian menjadi sebuah  buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bertugas di Kendari, Lopa sempat menulis beberapa buku  diantaranya, &quot;Cara-Cara Memberantas Komunis di Sulawesi Tenggara&quot; . Sedangkan  saat menjadi Kajati Sulawesi Selatan, diantaranya, ia menulis buku tentang  &quot;Bahaya Komunis dan Demokrasi Kita.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lopa juga banyak menciptakan  kata-kata mutiara yang kemudian diajarkan kepada bawahannya. Misalnya, yang  masih diingat Pariama, &quot;Janganlah takut menegakkan hukum dan jangan takut mati  demi menegakkan hukum.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata mutiara ciptannya itu masih diingat  oleh anak buahnya selama lebih 30 tahun. Dan kini Lopa &quot;Mati saat meneggakan  hukum&quot; yang saat ini masih seperti benang basah itu. Kata-kata mutiaranya masih  sangat relevan. Dan menjadi tugas bagi aparat kejaksaan yang  ditinggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia kehilangan salah seorang putera  terbaiknya. &quot;Segala kehormatan akan diberikan kepada Pak Lopa, karena beliau  meninggal dalam menunaikan tugas,&quot; kata Alwi Shihab. [Dh, Ant]  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;[ &quot;Selamat Jalan Pendekar&quot;, GATRA&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;----oo0oo----&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;b&gt;Baharudin Lopa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: xx-small;&quot;&gt;Kinasih&#39;s Room |  2004/12/17 06:11&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baharudin Lopa, sosok jujur yang langka dinegeri  ini telah meninggalkan negara tercinta dan kita semua, sebelum Beliau dapat  lebih banyak lagi mengajarkan kepada kita tentang kesederhanaan dan kejujuran.  LOPA bahkan ketika menjabat Jaksa Agung pun masih KREDIT MOBIL KIJANG untuk  kendaraan pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin aku ceritakan kepada Anda sebuah kisah  kejujuran dari seorang LOPA. Ketika itu sehabis memberikan ceramah dan pidatonya  di hadapan Mahasiswa Makassar, LOPA diantar ke bandara untuk kembali ke Jakarta.  Didalam perjalanan, mereka asyik mengobrol dan tentu saja tidak lupa sambil  menikmati kebiasaan Beliau yang susah dihilangkan, MEROKOK!. Karena keasyikan  mengobrol, LOPA dengan tidak sadar memasukan ke kantong bajunya KOREK API yang  dia pinjam dari salah satu mahasiswa pengantarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Baharudin Lopa  baru menyadari ketika sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.  Dengan tergesa-gesa Beliau mencari wartel itu dan interlokal ke Makasar untuk  melacak KOREK API siapa tadi yang tanpa sengaja Beliau masukkan ke kantong  bajunya. Setelah lama melacak akhirnya dapat ditemukan Mahasiswa yang mempunyai  korek tersebut. Dan setelah si mahasiswa mengikhaskan korek api tersebut,  barulah Baharudi Lopa berkenan meninggalkan wartel dan bandara itu untuk pulang  ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa harga yang BELIAU keluarkan untuk interlokal ke  Makasar tentu tidak sebanding dengan harga KOREK API yang tanpa sengaja terbawa  itu. Subhanallah.Wallohu&#39;alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Diceritakan oleh Emha Ainun Najib (Kenduri  Cinta, 15 Desember 2004)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id=&quot;post_message_385732&quot;&gt;&lt;div id=&quot;post_message_386192&quot;&gt;&lt;b&gt;&quot;&lt;/b&gt; ... Sejak menjabat Jaksa Agung, Lopa  menggebrak dengan memburu tersangka kasus korupsi. Dia meminta tersangka kasus  korupsi Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang  dirawat di Singapura untuk segera pulang ke Jakarta. Lopa juga memutuskan untuk  melarang keluar negeri Marimutu Sinivasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memburu konglomerat,  Lopa juga sedang menyelidiki keterlibatan Arifin Panigoro, Akbar Tandjung, dan  Nurdin Halid dalam berbagai kasus korupsi. Gebrakan Lopa itu sempat dinilai  bernuansa politik oleh berbagai kalangan, namun Lopa tidak mundur. Bahkan, Lopa  menjanjikan pemeriksaan akan terus dilanjutkan, kecuali kalau dia sudah tidak  menjadi Jaksa Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menjabat Jaksa Agung, 6 Juni 2001,  menggantikan Marzuki Darusman, Lopa bekerja keras untuk memberantas korupsi. Dia  bersama staf ahli Dr Andi Hamzah dan Prof Dr Achmad Ali dan staf lainnya, masih  tampak di kantornya hingga pukul 23.00. ... &lt;b&gt;&quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;----oo0oo----&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;“&lt;/b&gt;  … &lt;b&gt;Perginya Sang Pendekar Hukum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAUPUN esok langit akan runtuh,  maka saya akan berusaha untuk menegakkan hukum. Negeri ini tidak akan pernah  bisa sampai kepada cita-citanya untuk mencapai masyarakat adil dan makmur tanpa  ada penegakan hukum. Itulah kata-kata yang diutarakan Prof Baharuddin Lopa  ketika ditanya mengapa ia mau menerima jabatan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi  Manusia pada sebuah pemerintahan yang sedang berada di ujung tanduk. Banyak  orang yang mempertanyakan untuk apa Baharuddin Lopa mau mempertaruhkan nama  baiknya pada sesuatu yang tidak pasti. Bahkan, ketika kemudian ia dipindahkan  lagi untuk menempati jabatan sebagai Jaksa Agung, padahal Sidang Istimewa MPR  untuk meminta pertanggungjawaban Presiden tinggal di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  itulah Baharuddin Lopa. Ia dilahirkan sebagai seorang pendekar hukum. Ia merasa  berdosa apabila tidak memberikan sumbangsihnya untuk menegakkan hukum di negeri  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang menyangsikan kejujuran dan komitmen seorang Lopa.  Bahkan, di zaman Soeharto, ia berani melawan arus untuk menghantam segala  sesuatu yang berbau KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Sayang Lopa hadir di  waktu yang tidak tepat, di saat kondisi politik sama sekali tidak mendukung bagi  dirinya untuk menegakkan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan dan bahkan kenaifannya kadang  dimanfaatkan oleh para politisi. Dalam suatu pertemuan dengan pemimpin redaksi  surat kabar, Lopa baru sadar bahwa dirinya dimanfaatkan oleh pihak tertentu  ketika ia diminta menemui pimpinan DPR untuk meminta agar DPR tidak mengeluarkan  memorandum kepada Presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia baru sadar kemudian ketika diingatkan  bahwa tindakannya itu bisa dikategorikan sebagai contempt of parliament. Ia pun  merasa ngeri ketika diingatkan peristiwa Magna Charta di mana eksekutif yang  mencoba melampaui kewenangan parlemen kemudian dipancung  kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Lopa tidak merasa menyesal. Paling tidak ia merasa  telah melakukan upaya terbaik untuk menghindarkan hal-hal yang tidak baik bagi  negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mungkin baik juga bahwa sayalah yang datang, karena menurut  teman-teman di DPR, karena sayalah maka mereka mau menerima. Kalau bukan saya,  mereka mengatakan, tidak mau menerima. Dan kalau sampai seorang menteri lain  datang dan tidak diterima oleh DPR, bagaimana citra pemerintahan dan kabinet  jadinya,&quot; kata Lopa ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;SEBAGAI seorang pendekar  hukum, Lopa seorang yang apolitik. Ia mengakui bahwa dirinya tidak paham  lika-liku politik dan ia tidak menutup diri bahwa dirinya kadang dimanfaatkan  orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa kecewa ketika muncul isu bahwa dirinyalah yang  mengusulkan dikeluarkannya dekrit kepada Presiden. Menurut Lopa, tidaklah  mungkin dirinya memberi usulan yang bertentangan dengan aturan  hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Beberapa kali saya menulis di Kompas mengenai pentingnya  penegakan hukum. Silakan periksa tulisan-tulisan saya. Bagi saya penegakan hukum  tidak bisa ditawar-tawar lagi. Masa kemudian saya mengusulkan sebuah tindakan  yang jelas-jelas bertentangan dengan hokum,&quot; kata Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian  menjelaskan duduk perkara dari semua isu tersebut. Menurut Lopa, dirinya diminta  pandangan hukum tentang kemungkinan Presiden mengeluarkan dekrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Karena  saya diminta, saya menyiapkan sebuah paper. Dalam paper itu saya jelaskan bahwa  ada beberapa sistem pemerintahan di dunia ini. Saya jelaskan bahwa kepala  pemerintahan dan parlemen bisa saling membubarkan apabila ada perbedaan  pandangan. Namun itu berlaku pada negara-negara yang menerapkan sistem  parlementer. Dalam sistem presidensial hal itu tidak dimungkinkan, karena  kedudukan kepala pemerintahan dan parlemen sejajar,&quot; kata Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oleh  karena kita menganut sistem presidensial, maka seyogianya tidak dilakukan  pembubaran parlemen. Kalau itu dilakukan maka itu bertentangan dengan  konstitusi,&quot; tambah Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski merasa kecewa dengan pandangan yang  keliru, apalagi kemudian diblow-up oleh media massa, Lopa merasa tidak harus  marah. &quot;Mereka melakukan hal itu karena mereka tidak mengerti. Saya mengikuti  jejak Nabi Muhammad SAW yang selalu sabar menghadapi segala cobaan, meski itu  menyakitkan,&quot; kata Lopa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah nada bicara yang tegas, Lopa memang  menyimpan kelembutan. Setiap ucapannya selalu mengacu kepada contoh-contoh yang  selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Baharuddin Lopa tampak berusaha  semakin dekat dengan Tuhan dan Nabinya. Itu pulalah yang terlihat dari  keinginannya untuk menjalankan ibadah umrah di sela-sela penyerahan jabatannya  sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi. Ternyata itu merupakan  ibadahnya yang terakhir dan sekaligus perjalanannya yang  terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Jalan Prof Baharuddin Lopa. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi  Rajiun.&lt;br /&gt;(tom) … &lt;b&gt;“&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://groups.yahoo.com/group/relasimania/message/7039&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;http://groups.yahoo.com/group/relasimania/message/7039&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;----oo0oo----&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/07/pak-baharuddin-lopa-dan-kita-sama2-pns.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TDwN0FAmuZI/AAAAAAAAAJA/ADuJY42eKhc/s72-c/Baharudin_lopa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-5558563676543793766</guid><pubDate>Sat, 10 Jul 2010 10:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-10T03:07:27.983-07:00</atom:updated><title>Mencegah tekanan darah rendah</title><description>Sudah beberapa hari ini sepertinya badan agak kurang fit, gampang capek, kalau mau berubah posisi duduk mulai pusing-pusing, ditambah bikin laporan... makin pusing deh.. (padahal kerjaan ga banyak..)&lt;br /&gt;Sesegera mungkin saya periksa ke dokter umum, dan seperti yang saya duga, hipotensi alias tekanan darah rendah.. 90/60 mmHg.. setelah googling kesana kemari, baru saya tahu, katanya tensi darah 90/60 itu ambang rendah.&lt;br /&gt;Okelah, saat itu juga saya putuskan untuk hidup sehat dan mulai introspeksi asupan gizi sebelumnya. Menurut mbah google.com, penderita hipotensi ada kemungkian besar sering kambuh. Nah, untuk pencegahannya ada banyak cara, dan sebagian besar ini berkaitan dengan asupan makanan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Minum air putih yang banyak 8 gelas sampai 10 gelas sehari. sesekali mimun kopi agar memicu degup jantung sehingga tekanan darah akan meningkat -- &lt;i&gt;minum kopi hampir tiap hari, harusnya malah jadi tekanan darah tinggi yak?? tapi kok malah darah rendah... oooh iya, minum air putihnya yang kurang... ^___^&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung kadar garam -- &lt;i&gt;mmm.. ini maksudnya yang asin-asin apa ya?? waduuu.. tak suka saya.. gimana nih.. mm diskip aja ya yg ini..&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berolah raga secara teratur minimal 30 menit setiap pagi, minimal 3 kali seminggu.. -- &lt;i&gt;mm.. gimana ya.. senam jumat aja jarang.. paling sering jalan2 sore abis kerja.. jalan2 ke mall.. heehe.. ini juga kali penyebabnya ya.. yupp mulai sekarang harus mulai olahragaaaaa jumaat...&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sarapan pagi,&lt;i&gt; &amp;nbsp;-- mm.. udah mulai rajin sekarang..&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidur yang cukup &lt;i&gt;-- paling malem jam 11 lah sekarang ini.. lumayan ada waktu 6 jam buat tidur.. udah cukup kan?&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Makan daging kambing (sate kambing, gulai kambing) &lt;i&gt;-- hueks, kambing itu bau terkadang walopun udah dimasak.. apalagi sate kambing, kebanyakan kayak bukan dagingnya.. yah tapi demi hidup sehat, aye jabanin daah&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Semoga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/07/mencegah-tekanan-darah-rendah.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1469328152429411376</guid><pubDate>Tue, 29 Jun 2010 08:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T02:11:28.546-07:00</atom:updated><title>Pidato Sri Mulyani Indrawati di Ritz Carlton PP, Selasa malam, 18 Mei 2010</title><description>&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCm29XMGF_I/AAAAAAAAAIk/_Z2qwzd4Sn4/s1600/images.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCm29XMGF_I/AAAAAAAAAIk/_Z2qwzd4Sn4/s200/images.jpg&quot; width=&quot;143&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&quot;&lt;b&gt;Saya&lt;/b&gt; rasanya lebih  berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa  merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu  yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya  diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap  itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil &#39;Marsilam&#39;, selalu pakai  &#39;pak&#39;, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky  Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas...... (tepuk  tangan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Tapi saya jelas nggak  berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas  introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam  hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan  biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang  harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana  menjelaskan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan malam ini tidak  ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas  internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya  mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi  mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan  publik dan etika publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Yang kedua, meskipun  tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada  dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya  adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus  menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih  pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada  siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan  aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Tapi saya diminta  untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu  topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari  pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di  Republik Indonesia itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Suatu penerimaan  jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk  memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya,  setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan,  yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Disitu letak pertama  dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda  semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik  oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui.  Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis  antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi  saya dan keluarga, atau kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan sebetulnya tidak  harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu.  Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana  begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan  kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami  konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan  publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau  kepentingan pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Di dalam ranah itulah  kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk  pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita  harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi  sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut,  yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu  mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Jadi kebijakan pubik  dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat  melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis  karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan  untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai  ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu  sangat mudah menggelincirkan kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Kekuasaan selalu  cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya  yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada  saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu  sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan &#39;kalau saya mau  menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya  lakukan?&#39;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Oleh karena itu, di  dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita  daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada  saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya  tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk  kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda.  Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar  sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri  Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun  orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Bayangkan, seseorang  harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari  saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset.  Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak  sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung....(ada air putih langsung  datang diiringi ketawa hadirin).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Saya sudah melihat  banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang  memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah  mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa  yang dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya  sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan disitulah hal-hal  yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang  sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita  dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan  penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk,  bahkan berpikir untuk meng-abusenya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Barangkali itu  istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang  katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata &#39;bau&#39;nya  tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak  mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia  hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Nah, di dalam  hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan  bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang  begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun  eksternal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Mungkin contoh untuk  internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. &quot;Tolong  beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.&quot; Biasanya  mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya  menetri boleh semuanya termasuk mecat saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Kalau seorang menteri  kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu  pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit  dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah  dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata  kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check  and balance.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Karena kebijakan  publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan  konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh  dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri  Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari  korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan  hulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan bahkan dengan  kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan  kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa  menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa  menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Godaan itulah yang  sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu  hal, maka tidak akan pernah berhenti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Namun, meskipun kita  mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan  pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa  dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika  menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu  pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati  kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa  kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri  kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan kemudian kalau  kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya  agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat  atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika  pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan,  yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada  kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Saya termasuk yang  sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak  terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk  berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada  pura-pura sungguh-sungguh. Merek emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka  dengan tenangnya mengatakan &#39;Ini adalah panggung politik bu.&#39;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Waktu saya dulu masuk  menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal,  Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena  pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota  dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari...? Segala macem.  Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat  keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, &quot;Oh ini ongkos demokrasi yang harus  dibayar.&quot; Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan  mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Waktu sudah ditulis  mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya  dinasehati oleh Dirjen saya itu, &quot;Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal  seperti itu hanya satu episod drama saja. &quot; Tapi kemudian itu menimbulkan satu  pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi  dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus  berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa  itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi  guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan  itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat  publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt,  jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya  akan split personality.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Waktu di dewan saya  menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi,  waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah  bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk  seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan  sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu  sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi  seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara  konsisten.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Nah, oleh karena itu,  didalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik  yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu  tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan  rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik  di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan  dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa  tidak hanya double standrart, triple standart.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan bahkan kalau kita  bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul  terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya  mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. HAri pertama saya diminta  untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director,  do dan don&#39;ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan.  Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level  internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses  politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan  kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat  yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan  counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Sehingga bekerja di  institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya  kebangetan aja anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman  pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat  suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah  belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu  adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih.  Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi  ke siapa itu adalah urusan sekunder.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Anda bisa melihat  bahwa kalau pejabat itu adalah background nya pengusaha, meskipun yang  bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang  tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa&#39; semuanya masih run.  Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana,  kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya?i  drop my job atau apa..bengong itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Kita bingung bahwa  ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya.  Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport  adalah perusahaannya dia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Nah ini merupakan  sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky  tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah  penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup,  tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia  mengkooptasi decision making process juga. Kelihatannya demokrasi, kelihatannya  melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik  kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut  pak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Ada suatu saat saya  membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan.  Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa  perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya  aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang  itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan  mereka adlaah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter  mengatakan, &quot;Mba ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita  disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu.&quot;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Saya ingin  menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai  etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini.  Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi  barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin  menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di  dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau  di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti &#39;Lihat saja  Sri Mulyani, neolib.&#39;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Jadi saya mungkin  akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu  keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di  dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate  shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan  dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check  terhadap CEO nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan proses ini  ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk  menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi,  membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya  sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri  keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak  kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban  personal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Seseorang akan  menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of  investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan  sya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita  pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau  mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali  yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya  ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal  sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak  bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Sehingga memunculkan  suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah  kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar  melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN  nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang  bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah  adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;pertanyaan untuk kita  semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari  kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti  akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. KArena kebijakan publik  adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi  adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan itu akan menjadi  pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita  dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadibagian dari pemerintah,  Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari  kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu  kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu  perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Kalau pada hari ini  tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada  yang gelo (jawa:menyesal.red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur  dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap  bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik  tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan  itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel,  saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan  tepuktangan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Karena politik itu  lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua  ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik  tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu  bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin  untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat  publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi  orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu  gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa  saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip  itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu  besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng  abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman  dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di  apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat  mengusapkan saputangan ke matanya).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Jadi ya terlambat  tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini  lah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Jadi saya tidak tahu  tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas  jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya  nyanyi aja balik terus nanti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Mungkin saya akan  mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya  ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai  politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama  lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya  perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada  saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik  merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang  harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan  kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu  bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak  Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay  saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu  kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk  berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less.  Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun,  you suddenly feel that everybody is your enemy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Karena no one yang  sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap  berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita  tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam  di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga  kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak  sehingga kita bisa menemukan kesamaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Nah kalau kita ingin  kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini  atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah  kelompok kelas menengah. Yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu  tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak  sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu  kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda  yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada  negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka  sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga.  Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya,  kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah  ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting  dibandingkan bank dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Seolah-olah  sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan  saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau  bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya.  Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus  menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan,  &quot;Jangan pernah putus asa mencintai republik.&quot; Saya tahu, sungguh sulit  mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Kecintaan itu paling  tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di  dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi  kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah  ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah  direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Saya ingin memberikan  testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah  orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka  juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada  masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian  dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Sebagian kecil adalah  kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya  katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong  dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan  oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh  cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa  seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus  melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian  keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka  untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap  menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa  diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak  juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Suasana yang kita  rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah  persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian  pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya  menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat  keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan,  kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik.  Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya  sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia  diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang  lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan  orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka  tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa  yang bisa bilang atau marahin pak marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan  sama dia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Mereka ada disana  hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan  sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan  secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu  kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri  Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu  memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan  publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize  oleh sebuah proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim  orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain  pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century.  Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan  mengenai suatu penghakiman telah terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Sebetulnya disitulah  letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang  dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk  dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali  adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami  konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan  berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita  dibenturkan dengan realita-realita politik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Dan untuk itu, saya  hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri  mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan  keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan.  Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang.  Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena  tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini.  (applause)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;Saya merasa berhasil  dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak  menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama  saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang.  Terimakasih&quot;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;(standing  applause)&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Arial&#39;,&#39;sans-serif&#39;; font-size: 10pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Dikutip  dari notes facebook Aditya Suharmoko (jurnalis The Jakarta Post), pidato  ditranskrip oleh Ririn Radiawati Kusuma (jurnalis Media  Indonesia).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/pidato-sri-mulyani-indrawati-di-ritz.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCm29XMGF_I/AAAAAAAAAIk/_Z2qwzd4Sn4/s72-c/images.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2853587517946823054</guid><pubDate>Sat, 26 Jun 2010 16:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T04:17:10.859-07:00</atom:updated><title>Tony Sly</title><description>&amp;nbsp;Download Link : &lt;a href=&quot;http://www59.indowebster.com/52d7543fbeecc58b941dd8f912b953e0.rar&quot;&gt;Tony  Sly and Joey Cape - Accoustic&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Download Link : &lt;a href=&quot;http://www.indowebster.com/Tony_Sly_Via_munich.html&quot;&gt;Tony Sly -  Via Munich&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCnWBEfDkTI/AAAAAAAAAIs/cpSjAO9TY7k/s1600/300px-Zepper-Tony_Sly_%28NUFAN%29.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCnWBEfDkTI/AAAAAAAAAIs/cpSjAO9TY7k/s200/300px-Zepper-Tony_Sly_%28NUFAN%29.jpeg&quot; width=&quot;133&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Tony Sly was a frontman of a punk rock-band, NUFAN (No Use For A Name). It come from California, USA with Chris Dodge (guitar), Steve Papoutsis (bass),  Rory Koff (drums), and Tony Sly (vocals), was formed in 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On 2004, Tony Sly together with Joey Cape, two of the best songwriter in punk, released a debut album &quot;Accoustic&quot;. Once you hear one of their song, you will eager to hear the rest of their album. Pick this album, and I promise you will not be dissapointed. This album is a masterpiece.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tony Sly, proves that he is comfortable working in the mellow indie rock genre on  his solo CD “12 Song Program.”  He is not just comfortable working with  this softer music, he is comfortable working with all of it’s sounds and  tones and moves between these with ease. With solid vocal and strong instrumental, Sly serves a simple and pretty album. It has almost sounds like a country song. It is a quiet romantic, meaningful, and provoke thought that it&#39;s more than just being beautiful.&lt;br /&gt;Listen this song &quot;Via Munich&quot;, you&#39;ll get what I tell you about beautiful and meaningful..&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&amp;nbsp;Via Munich&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;Every time I see it clearly&lt;br /&gt;It&#39;s a time that you are near me&lt;br /&gt;I just don&#39;t see the world without you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walkin&#39; down the streets of munich&lt;br /&gt;Where I tried to drink my self sick&lt;br /&gt;Try to forget and soon it will be through&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But I sing your song&lt;br /&gt;Where ever I go&lt;br /&gt;You&#39;re along&lt;br /&gt;Not actually, but in my mind&lt;br /&gt;We cheers another day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 weeks left, the world is wasted&lt;br /&gt;There&#39;s nothing poetic about it&lt;br /&gt;The fact is that I&#39;m looking for a friend&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One that doesn&#39;t talk to me&lt;br /&gt;And kindly serves me until three&lt;br /&gt;Not someone that will be there in the end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But I sing your song&lt;br /&gt;Where ever I go&lt;br /&gt;You&#39;re along&lt;br /&gt;Not actually, but in my mind&lt;br /&gt;We cheers another day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nothing new to us&lt;br /&gt;But every time it does get worse&lt;br /&gt;But nevermind, that&#39;s life&lt;br /&gt;And all we have is time&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/tony-sly.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCnWBEfDkTI/AAAAAAAAAIs/cpSjAO9TY7k/s72-c/300px-Zepper-Tony_Sly_%28NUFAN%29.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-5364629437590773482</guid><pubDate>Thu, 24 Jun 2010 13:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T21:26:27.968-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">DJP</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perpajakan</category><title>Membangun Morale Pajak</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCrGOVuPi8I/AAAAAAAAAI0/276v7_T6F-0/s1600/rhenald-kasali.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCrGOVuPi8I/AAAAAAAAAI0/276v7_T6F-0/s200/rhenald-kasali.jpg&quot; width=&quot;155&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dapet satu lagi tulisan yang bagus. Kali ini dari Bung Rhenald Kasali, seorang akademisi dan praktisi bisnis Indonesia yang sekarang menjabat sebagai ketua Program MM UI. Berikut saya copas dari &lt;a href=&quot;http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/333402/38/&quot;&gt;Harian Seputar Indonesia&lt;/a&gt;. Mari kita simak sama-sama. Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA ribuan orang dan para elite mencaci-maki Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak gara-gara Gayus Tambunan, lenyaplah morale (spirit,kegigihan,dan kegairahan) para pegawai.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama saya rasakan di  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat proses “kriminalisasi” pimpinan  berlangsung, mulai dari kasus Antasari sampai Bibit-Chandra. Sayang,  pimpinan yang tinggal dua di KPK saat itu terlalu sibuk untuk memikirkan  masalah morale ini. Informasi yang saya temui menyebutkan, gangguan  psikologis mulai membuat mereka lamban bertindak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa  bisa saja terjadi di Ditjen Pajak. Apalagi mantan dirjennya, yang dulu  mungkin tak berbuat apa-apa, hampir setiap hari muncul di televisi  mencacimaki Ditjen Pajak. Dia merasa Ditjen Pajak dulu lebih baik  daripada sekarang. Terhadap ocehan seperti ini, secara kritis saya hanya  bisa mengatakan,” Apa kata dunia?” Beruntung, pemerintah segera  merumuskan pengganti mereka yang tak kalah cekatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  beruntung pula di Ditjen Pajak sudah ada hasil yang memadai dari  reformasi birokrasi perpajakan jilid satu yang lalu. Beruntunglah Ditjen  Pajak segera bertindak, menyatukan morale yang dipelopori para reformer  yang “gerah” dikait-kaitkan dengan Gayus. Apa yang harus dilakukan  Ditjen Pajak untuk memperkuat pilar bangsa agar dana pajak dapat terus  ditingkatkan dan diamankan dari orang-orang rakus? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Halte Bus Gayus &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui siaran  televisi Anda sudah sering menyaksikan kondektur bus yang melewati  Kantor Ditjen Pajak di dekat jembatan Semanggi, menyebut kantor itu  dengan nama Gayus. Begitu kerasnya amarah rakyat terhadap Gayus, sampai  seluruh insan Ditjen Pajak terkena imbas. Beberapa orang muda pegawai  pajak yang naik bus kota bahkan memilih untuk turun di halte bus sebelum  atau setelah halte Gayus lalu berjalan kaki sejauh 1-2 km menuju  kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti masyarakat umum,mereka juga kecewa pada  atasannya, terlebih pada yang terlibat kasus Gayus. Mereka marah besar,  apalagi selama ini sudah bertekad antikorupsi. Bekerja di Ditjen Pajak  hidup mereka benar-benar berada dalam ujian. Setiap hari orang datang  merasakan kompromi beserta amplop tebal.Tapi,kalau Anda tanya kepada  pembayar pajak seperti saya, saya yakin jawabnya akan sama: Banyak  pembaruan yang telah mereka lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mantan pegawai  pajak di era lalu mengatakan,“Dulu 8 dari 10 petugas pajak adalah markus  dan pemburu amplop. Sekarang jumlahnya sudah jauh berkurang, tetapi  masih ada,mungkin 2 dari 10”. Mendengar ucapan itu, saya jadi  tersenyum,bagaimana mantan Dirjen Pajak yang sekarang menjadi praktisi  dan sering muncul di televisi bisa bilang,zaman dia itu jauh lebih baik  dari sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, itulah politik, penuh intrik, balas  dendam, tapi tidak kritis, cuma sinis. Yang mereka suka tidak berpikir  panjang adalah apa dampaknya bagi nasib bangsa di kemudian hari?  Bayangkan kalau orang pajak yang bagusbagus ramai-ramai mengundurkan  diri. Atau kalau mereka jadi tak bergairah memburu wajib pajakwajib  pajak kakap? Morale kerja adalah modal utama seorang pegawai.Sejak  mazhab learning dalam manajemen hidup, aliran Isaac Newton yang kaya  dengan logika terstruktur sudah lama ditinggalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak  bisa lagi dipandang sebagai komponen yang sama dan standar. Dia juga  bukanlah sebuah objek yang duduk dalam hierarki vertikal pada suatu  jajaran birokrasi. Manusia adalah makhluk hidup yang dilahirkan dengan  nalar, kehendak, dan perasaan. Ketika kita gagal memahaminya,gagal  pulalah kita memartisipasikan mereka. Untuk itulah,kita perlu terus  menumbuhkan morale birokrasi, terutama jajaran yang ditugaskan untuk  menghimpun dana dalam jumlah besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri morale dapat  dilihat secara kasatmata dalam daya juang, semangat hidup, daya kreasi,  daya tangkal, dan tentu saja besarnya goals yang mereka tetapkan.  Sedangkan morale yang memburuk dapat dilihat dari kegairahan yang  memudar, bekerja karena diperintah, ketidaksempurnaan pencapaian target,  konflik, keinginan untuk berhenti, tak ada inisiatif, dan saling  menyalahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Lingkaran Baik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan  lalu Rumah Perubahan diminta bantuan untuk membangun kembali morale  aparat Ditjen Pajak. Ini untuk kesekian kalinya saya membantu temanteman  Ditjen Pajak sehingga saya agak kenal siapa mereka, apa pergulatan yang  mereka hadapi, dan bagaimana perubahan menghantam mereka. Sembilan  tahun lalu saya mulai bergulat dengan mereka menantang asumsi-asumsi  yang mereka anut selama bertahun-tahun dan mengajak keluar melawan  belenggu-belenggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika Darmin Nasution memimpin Ditjen  Pajak, saya juga diminta memberikan pengarahan tentang Strategic Change  &amp;amp; Planning dalam mengawal reformasi pajak jilid satu. Semua program  perubahan di Ditjen Pajak mereka kerjakan sendiri praktis tanpa bantuan  konsultan.Padahal di luar sudah banyak konsultan asing yang menganga di  depan mereka. Sebagai guru perubahan, saya selalu mengatakan empat hal  ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, perubahan selalu datang bersama teman-temannya  yaitu penyangkalan, perlawanan (resistensi), kecurigaan, dan  pengkhianatan internal.Kedua, perubahan tidak pernah bergerak lincah  seperti garis lurus yang mengikuti pola teratur. Perubahan memiliki dua  pola berbentuk spiral yaitu lingkaran baik dan lingkaran setan.  Lingkaran spiral itu dapat dijelaskan seperti orang yang menaiki gunung.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melewati lekuk liku kontur gunung yang kadang menanjak,lalu  menurun, dan naik lagi.Meski banyak melewati turunan, arahnya menuju  puncak dapat dilihat. Sedangkan lingkaran setan tak memberi kepastian  tujuan. Bila ada masalah setelah lama berhasil, dia segera menukikkan  balik ke titik nol. Seperti kata Chairil Anwar,” Sekali berarti,lalu  mati.” Ketiga,tidak semua orang dapat diajak berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat  tanah di perbukitan yang tandus ingin diubah menjadi hutan,hendaknya  kita tak perlu berambisi dengan menanam semua titik. Kita cukup menanam  benih pada tanah yang subur, dan mendiamkan batu-batu besar berada di  sana. Lalu pohon-pohon besar itu akan mengeluarkan biji. Biji-biji  dibawa musang, tikus, bajing, dan seterusnya menambah area persebaran.  Lama-lama batu tertutup oleh pohon-pohon besar, dan bukit menjadi  hijau.Namun, batu tetaplah batu,bukan tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat,perubahan  harus dimulai dari kesamaan cara pandang. Dari semua orang yang melihat,  bahkan hanya 20% yang bergerak.Maka ketika Ditjen Pajak mendapat  serangan,saya kira harus ada orang yang mengambil peran. Bukan untuk  melakukan pekerjaan sia-sia mengetuk batu, melainkan melindungi  pohon-pohon yang sudah tumbuh. Itulah tugas mulia kita,menjaga agar  reformer pajak jangan dijadikan tumbal wajib pajak bermasalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Pesan Menteri Keuangan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus  diakui sudah ada banyak reformer di Ditjen Pajak. Mereka menulis  perasaan mereka pada buku berjudul Berbagi Kisah dan Harapan. Cara  menulisnya memang masih amatir,tetapi itulah isi perasaan insan pajak  yang secara garis besar selalu mengatakan, “Ingat pesan itu dari  kampung. Hidup bermartabat bukan dengan uang korupsi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di  penghujung acara selama tiga hari pekan lalu itu, Menteri Keuangan  (Menkeu) berpesan: Musuh terbesar birokrasi adalah rasa sungkan bawahan  terhadap atasannya dan sungkan sesama pejabat. “Beranilah menyampaikan  yang benar. Bila perlu, berdebatlah,” ujar mantan CEO Bank Mandiri itu.  Saya kira Menkeu Agus Martowardojo sangat tepat. Ini musuh bersama  reformasi birokrasi yang harus dihadapi bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau birokrasi  kita lebih profesional, mereka akan mendahulukan halhal yang utama  ketimbang mementingkan kehendak orang lain yang belum tentu penting.  Saya mengerti rasa berang kita terhadap aparat perpajakan belumlah  pupus. Namun, mereka yang mau berubah dan menjadi reformer harus diberi  apresiasi. Bersama merekalah kita melawan para koruptor dan pengemplang  pajak yang berlindung di balik kekuatan atau motif-motif balas dendam  politisi kotor.(*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;RHENALD  KASALI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Ketua Program MM UI&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/membangun-morale-pajak.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCrGOVuPi8I/AAAAAAAAAI0/276v7_T6F-0/s72-c/rhenald-kasali.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1603201434604792108</guid><pubDate>Wed, 23 Jun 2010 14:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-25T19:10:35.835-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">DJP</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perpajakan</category><title>Mencari Logika Reformasi Birokrasi</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXNDSzIh-I/AAAAAAAAAJg/WvKFvJKjUqs/s1600/3409079p.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXNDSzIh-I/AAAAAAAAAJg/WvKFvJKjUqs/s200/3409079p.jpg&quot; width=&quot;128&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saya membacanya di blog &lt;a href=&quot;http://pajaktaxes.blogspot.com/&quot;&gt;Catatan Praktek Perpajakan&lt;/a&gt; dan ternyata artikel ini dibuat oleh Meuthia Ganie-Rochman, dimuat oleh &lt;a href=&quot;http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/analisdetail/2010/06/10/24/Mencari-Logika-Reformasi-Birokrasi&quot;&gt;metronews&lt;/a&gt; tanggal 10 Juni 2010. Berikut saya copas kesini, supaya kita memahami logika reformasi birokrasi Direktorat Jenderal Pajak :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa arti organisasi bagi suatu bangsa? Seberapa besar bangsa Indonesia  memandang penting pengetahuan yang berkaitan dengan organisasi: struktur  yang berkaitan dengan gagasan tentang tujuan yang ingin dicapai  organisasi, logika pengorganisasian, model-model yang sesuai dengan  wilayah sosialnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa kita tidak terlalu  memandang nilai strategis “organisasi”. Hal ini agak ironis karena  setelah reformasi 1998 kita menginginkan banyak perubahan, terutama di  sektor publik. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai  sikap kita ini. Namun, saya hanya menyebut dua. &lt;br /&gt;Mengapa pengetahuan suatu bangsa tentang organisasi sangat penting?  Kebanyakan orang Indonesia memahami organisasi sebagai penting dari  sudut efisiensi pengelolaan sumber daya. Ini pandangan yang dipengaruhi  pengetahuan generik dari ilmu manajemen konservatif. Padahal, apa yang  perlu diatur suatu organisasi jauh lebih banyak dimensinya. Apalagi  dalam konteks keragaman kelompok masyarakat yang ada di Indonesia dan  menginginkan tata kelola yang tidak koruptif, dan saat standar kinerja,  profesi, batasan publik dan privat sering kabur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi  dalam konteks demikian harus berhadapan dengan pola-pola resistensi,  jaringan kepentingan internal dengan aktor eksternal, dan mencari jalan  agar bagaimana pihak-pihak yang berada di luar organisasi dapat  dimanfaatkan untuk mengelola perubahan internal. Dengan demikian, makna  transparansi dan akuntabilitas, dua prinsip yang sudah dianggap mantera  bagi pembaharuan organisasi, akan lebih kontekstual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bisa  dibayangkan bahwa organisasi di wilayah yang berbeda akan menghadapi  situasi yang berbeda. Organisasi birokrasi berbeda dari nilai strategik  sumber daya yang dimilikinya. Ada yang letaknya pada wewenang  pengumpulan finansial dari masyarakat, ada yang terletak pada pemberian  sanksi seperti pada lembaga-lembaga penegak hukum, atau ada yang pada  weweangnya memberikan perizianan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini saja sudah  menggambarkan pada titik mana dalam organisasi tersebut serta aktor apa  yang mempunyai posisi strategis. Nilai strategis di lembaga penegak  hukum bersifat deliberatif dan lebih tergantung personal pejabat  publiknya. Jenis nilai semacam ini lebih sukar diberi ukuran-ukuran  obyektif karena itu paling sukar dilakukan pembaharuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  lembaga publik yang berhubungan dengan pajak, pembaharuan organisasi  dengan menggunakan standar memang lebih mudah. Akan tetapi, karena  berada dalam wilayah kepentingan individual, faktor keinginan untuk  melakukan negosiasi dari anggota masyarakat akan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator yang  paling mudah adalah jika kita pergi ke toko-toko buku besar utama.  Adakah bisa kita dapatkan satu buku yang membahas suatu organisasi di  Indonesia dari sudut struktur, fungsi, tujuan, tekanan dan distorsi,  model penanganan sumber daya organisasi, perkembangan struktur dan  sebagainya yang menjadi pengetahuan sistematik? Yang kita temukan adalah  buku tentang berbagai organisasi besar atau fenomenal di Indonesia,  seperti Muhammadiyah, Nadhatul Ulama, Partai Keadilan Sejahtera, baik  dari sudut sejarah pendiriannya, misi atau kecenderungan ideologis  pimpinannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator yang kedua adalah dalam begitu banyak  proyek dan program yang dikelola pemerintah, masyarakat atau donor,  pengembangan organisasi dari semua yang akan menjalankannya adalah aspek  yang sering dilupakan. Namun, kita bisa menyebut sedikit pengecualian,  yaitu pada pembangunan/reformasi organisasi pada Kementerian Keuangan  dan Komisi Pemberantasan Korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan nilai strategis pemberi lisensi lebih kecil karena sangat  mudah distandardisasikan serta anggota masyarakat masih menemukan cara  untuk “tetap melakukan” tanpa kelengkapan izin. Ini salah satu alasan  berkembangnya sektor informal. Kesulitan yang dialami anggota masyarakat  bagi yang membutuhkan lebih terletak pada banyaknya komponen dan  kelambanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi di Kementerian Keuangan, khususnya di  Direktorat Jenderal Pajak yang dianggap berhasil, menunjukan kombinasi  yang tepat antara skema pembaharuan dan kepemimpinan. Skema  memperhitungkan komponen pembaharuan yang dianggap krusial yaitu titik  transparansi sebagai kontrol eksternal, kontrol internal, dan &lt;i&gt;reward  system&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknokrasi sistem (standar, komponen, prosedur dan  sebagainya) dibuat terbuka, sehingga menyulitkan penyembunyian  informasi. Kasus pelanggaran melalui jalan peradilan pajak, di satu  sisi, menujukkan bahwa reformasi harus berlanjut meliputi institusi  terkait yang makin luas. Namun, disini lain, bisa dikatakan pelanggaran  itu menujukkan keberhasilan reformasi internal karena pelanggaran  “ditarik ke luar” ke wilayah tempat ketidakpastian berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu  hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam menarik energi luar untuk  ikut dalam proses pembaharuan internal adalah mengidentifikasikan dengan  tepat orientasi dan kapasitas kelompok di luar organisasi yang  potensial. Untuk lembaga peradilan misalnya, keterbukaan dalam  pertimbangan hakim hanya menarik atau sejalan dengan kepentingan  sebagian kecil orang. Dengan demikian, tidak dapat diharapkan tekanan  dari masyarakat sipil dari segi skala. Yang berminat adalah organisasi  yang mampu memahami, seperti perguruan tinggi dan organisasi masyarakat  sipil reformasi hukum/bantuan hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kapasitas organisasi  ini terbatas, antara lain, dari sudut sumber daya. Karena itu  transparansi sektor peradilan tidak akan banyak bisa dilakukan oleh  kekuatan masyarakat sipil, melainkan harus dilekatkan pada sistem  kelembagaan negara, antara lain mengaitkan data base para hakim dengan  sistem promosi.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain ada pada lembaga pelayanan publik. Melibatkan kontrol  masyarakat pengguna tidak boleh bersifat terlalu teknokratis. Sistem  kartu penilai dengan melibatkan perhitungan dari lembaga independen bisa  diletakan pada skema promosi jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Meuthia Ganie-Rochman&lt;br /&gt;Dosen FISIP Universitas Indonesia&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/mencari-logika-reformasi-birokrasi.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXNDSzIh-I/AAAAAAAAAJg/WvKFvJKjUqs/s72-c/3409079p.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-9145392979365211513</guid><pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-17T07:28:00.090-07:00</atom:updated><title>[Facebook Fail]</title><description>Beberapa cerita dan fakta mengenai pengguna facebook yang membuat kita geleng-geleng kepala, mengelus dada ataupun tersenyum kecil karenanya... :)&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Search Box itu letaknya di kotak paling atas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu salah satu dari sekian orang yang masih membutuhkan update berita tentang mantan pacar, hati-hati. Bedakan antara &quot;search box&quot; dan &quot;update status box&quot;. Pastikan kamu mengetiknya di search box, bukan update status. Berikut adalah pengakuan dari salah satu facebooker : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;So every now and then I’ll type his name into the search box at the top of the Facebook home screen. Such was the case earlier this week when I typed his name, hit return, and waited for search results. (…) I was waiting for search results, except there were no search results because I typed his name into the “update” field, not the search bar.&lt;br /&gt;I deleted it as quickly as possible, but was already busted by a friend. Now I’m praying that none of our mutual friends were logged into Facebook during my 10-second gaffe. Stalkers take note: make sure you’re typing into the search bar! &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoh19djjmI/AAAAAAAAAHk/XX1VNfZt154/s1600/31976_410618083969_741518969_4451303_7038171_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoh19djjmI/AAAAAAAAAHk/XX1VNfZt154/s320/31976_410618083969_741518969_4451303_7038171_n.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Hati-hati menggunakan fasilitas Poke&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti tahu bahwa facebook bisa membuat orang cemburu, update status bisa membuahkan persaingan, dan bahkan bisa menghancurkan image. tapi tahukah kamu bahwa kesalahan di facebook bisa mengantar ke penjara?? Berdasarkan Undang-undang di Tennessee, Amerika Serikat, ini bisa terjadi. Seperti diberitakan oleh &lt;a href=&quot;http://www.escapistmagazine.com/news/view/95417-Police-Arrest-Woman-for-Facebook-Poke&quot;&gt;The Escapist Magazine&lt;/a&gt;, ada seorang wanita yg ditahan karena menggunakan fitur &lt;i&gt;&quot;poke&quot;&lt;/i&gt; di facebook. Adalah &lt;b&gt;Shannon D. Jackson&lt;/b&gt;, seorang warga Hendersonville, Tennessee, AS, pada tanggal 10 Juni 2009 mendapat larangan pengadilan untuk &lt;i&gt;&quot;telephoning, contacting, or otherwise communicating with&quot;&lt;/i&gt; terhadap seorang wanita warga Hendersonville juga, &lt;i&gt;&quot;directly or indirectly&quot;&lt;/i&gt;. Jumat, 25 Oktober 2009, Shannon sungguh terkejut ketika tiba-tiba ia ditahan polisi karena dugaan melawan hukum. Pihak berwenang sepakat Jackson ditahan &quot;for poking the other woman on facebook&quot; karena poke termasuk bentuk komunikasi yang disengaja.&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Ketika para orang tua juga aktif di facebook..&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kadang muncul sesuatu yang lucu dan memalukan... seperti yang dikumpulkan oleh Jeanne dan Erika di blog mereka &lt;a href=&quot;http://myparentsjoinedfacebook.com/&quot;&gt;Oh Crap. My parents Joined Facebook&lt;/a&gt; :&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoln8IOQzI/AAAAAAAAAHs/ciLe5ZJXIr0/s1600/31976_410648178969_741518969_4451909_5356445_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;195&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoln8IOQzI/AAAAAAAAAHs/ciLe5ZJXIr0/s640/31976_410648178969_741518969_4451909_5356445_n.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBomYDMXxLI/AAAAAAAAAH0/0M1ioHRXORU/s1600/31976_410651638969_741518969_4451963_2477236_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBomYDMXxLI/AAAAAAAAAH0/0M1ioHRXORU/s400/31976_410651638969_741518969_4451963_2477236_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBommDr0eSI/AAAAAAAAAH8/5fVoRHAPQzM/s1600/31976_410652473969_741518969_4451975_8321542_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;148&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBommDr0eSI/AAAAAAAAAH8/5fVoRHAPQzM/s400/31976_410652473969_741518969_4451975_8321542_n.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Facebook tidak menerima nama yang dicurigai palsu (tidak resmi).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Akan muncul :&quot;Our automated system will not approve this name. If you believe this is an error, please contact us.&quot; Nama-nama yang terlihat aneh, seperti : Illegitimate Name, Legitimate Name, John Doe (doe=kijang/kelinci betina, kalau tidak salah), Jane Doe, Osama Bin Laden, telah di-block. Tetapi ketika salah satu pendiri Flickr dan Hunch, yaitu seorang bussinesswoman terkenal dan memperoleh penghargaan Forbes, Fastcompany, dan BusinessWeek bernama &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Caterina_Fake&quot;&gt;Caterina Fake&lt;/a&gt; ingin membuat akun facebook muncul peringatan : &lt;b&gt;&quot;Please enter Legitimate Name&quot;&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBonEeLF6jI/AAAAAAAAAIM/iXbIV4hrPtc/s1600/31976_410654938969_741518969_4451997_1949188_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBonEeLF6jI/AAAAAAAAAIM/iXbIV4hrPtc/s320/31976_410654938969_741518969_4451997_1949188_n.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Walaupun pada akhirnya Caterina bisa membuat akun facebook (mungkin setelah mengontak Mr. Zuckerberg) tapi sungguh menyedihkan, bagaimana bisa Facebook memblok salah satu dari 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time? :D&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Curhat di status bisa berujung dipecat!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wanita ini mungkin lupa bahwa ia telah menambahkan atasannya dalam daftar teman, dan akhirnya dipecat setelah membuat status yang menyinggung atasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBooLXFw-0I/AAAAAAAAAIU/2clPlU8hrG0/s1600/Facebook-Boss.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBooLXFw-0I/AAAAAAAAAIU/2clPlU8hrG0/s320/Facebook-Boss.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Karena facebook, orang bisa tiba-tiba terkenal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kita kenal gerakan 1 juta facebookers dukung Bibit dan Chandra yang menyita perhatian publik. Bahkan, ada Gerakan dukung Hendri Mulyadi jadi ketua PSSI. Baru-baru ini di Amerika, seorang pelajar anggota paduan suara Kalamazoo Central High School yang duduk persis di belakang Barrack Obama, tertidur ketika presidennya memberikan pidato pada acara perpisahan. Ia tertangkap kamera menguap beberapa kali hingga akhirnya tertidur. Karena kejadian itu, ia memiliki&lt;a href=&quot;http://www.facebook.com/pages/the-guy-sleeping-behind-obama-at-kalamazoo-graduation/132765316736749&quot;&gt; fans page di facebook&lt;/a&gt; dengan jumlah penggemar 11,000 orang. Walaupun bukan jumlah yang fantastis, tapi ternyata cukup menyita perhatian sebagian warga Amerika. Dan videonya pun terkenal.... :D &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object height=&quot;405&quot; width=&quot;500&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://www.youtube.com/v/dznQZCv884w&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;border=1&quot;&gt;      &lt;/param&gt;&lt;param name=&quot;allowFullScreen&quot; value=&quot;true&quot;&gt;      &lt;/param&gt;&lt;param name=&quot;allowscriptaccess&quot; value=&quot;always&quot;&gt;      &lt;/param&gt;&lt;embed src=&quot;http://www.youtube.com/v/dznQZCv884w&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;border=1&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; allowscriptaccess=&quot;always&quot; allowfullscreen=&quot;true&quot; width=&quot;500&quot; height=&quot;405&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/facebook-fail.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoh19djjmI/AAAAAAAAAHk/XX1VNfZt154/s72-c/31976_410618083969_741518969_4451303_7038171_n.jpg" height="72" width="72"/></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-5242357401410096049</guid><pubDate>Fri, 12 Mar 2010 01:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T04:18:09.636-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><title>Pajak Artis minta di-Diskon?? Apa kata dunia??</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5mQhqY9ewI/AAAAAAAAAFA/8hVWYj9HRws/s1600-h/spt-tahunan-pph-orang-pribadi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5mQhqY9ewI/AAAAAAAAAFA/8hVWYj9HRws/s320/spt-tahunan-pph-orang-pribadi.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class=&quot;judul&quot;&gt;Ketua DPR Tolak Usulkan Penurunan Pajak Artis&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;reporter&quot;&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class=&quot;reporter&quot;&gt;&lt;b&gt;Elvan Dany Sutrisno&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class=&quot;reporter&quot;&gt;- detikNews&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Jakarta&lt;/b&gt;- Para artis yang tergabung dalam Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PARSI) meminta agar DPR membantu memperjuangkan penurunan pajak mereka. Alih-alih didukung, para artis malah dikuliahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pajak ini darahnya negara. Kalau tidak mau membayar pajak ya bagaimana menjalankan pemerintahan,&quot; kata Marzuki mengingatkan para artis agar membayar pajak tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disampaikan Marzuki saat memberikan jawaban permintaan penurunan pajak Artis, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/3/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marzuki, pendapatan artis luar biasa besarnya. Marzuki menjelaskan pajak untuk artis sesuai dengan pendapatan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Artis ini kalau pendapatannya diatas 500 juta pertahun ya tarifnya 30 persen, pendapatannya 250 juta kena pajak 25, pendapatan 50 juta kena pajak 15 persen, dibawah itu 5 persen saja,&quot; papar Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Itu tarif ditetapkan dan setiap tahun bisa berubah, dikurangi pendapatan tidak kena pajak,&quot; imbuh Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marzuki malah balik mengkritik, menurutnya banyak artis yang tidak membayar pajak. &quot;Masalahnya banyak artis tidak punya NPWP,&quot; kritik Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi yang ditawarkan Marzuki sangat mengambang. &quot;Bisa disampaikan ke Komisi XI karena soal anggaran,&quot; jelas Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marzuki kemudian meminta agar para artis membuat NPWP dan rajin membayar pajak. &quot;Kalau mau shoting jalannya jelek karena tidak bayar pajak bagaimana. Kalau artis bayar pajak jalannya jadi halus,&quot; tutupnya.&lt;/i&gt;&lt;script src=&quot;http://openx.detik.com/delivery/ag.php&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;/script&gt;   &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; (van/yid)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Geli deh dengernya. Mungkin ini juga catatan bagi direktorat, sepertinya sosialisasi pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak belum menyentuh kalangan artis (atau mungkin kalangan profesional juga? dengan asumsi penghasilan besar hanya dimiliki oleh kalangan profesional). Informasi yang diterima hanya sepotong-sepotong, langsung demo minta belas kasihan negara. Padahal kalau saja mereka mau cari tahu sedikit tentang pajak (hehe), pajak yang dipotong tidak akan&amp;nbsp; mencapai 30% dari jumlah penghasilan mereka.. kecuali jika penghasilan dalam 1 tahun ini lebih dari 20M setahun.. sangat mungkin pajak yang dipotong hingga 30% dari penghasilan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lagian, tarif pajak di Indonesia itu ngga flat 30% loh, tapi tarifnya bertingkat.. jadi penghasilan dan pajak berbanding lurus... semakin besar penghasilan, semakin besar pajaknya.. semuanya untuk bangsa, masak minta diskon sih?? :)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tarif pajak yang berlaku semenjak 1 Januari 2009 adalah sebagai berikut :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;0 - 50 juta = 5%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;50 juta - 250 juta = 15%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;250 juta - 500 juta = 25%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;diatas 500 juta = 30%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jika penghasilan Eko Patrio, misalnya dengan status Kawin anak 3 (K/3), sebesar 700 juta setahun, maka pajak yang dibayar ke negara adalah :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Penghasilan bruto 1 tahun&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;700.000.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Penghasilan tidak kena pajak K/3&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(wp)=15.840.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(kawin)=1.320.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(1.320.000 x 3 anak)= 3.960.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(21.120.000)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Penghasilan Kena Pajak&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;678.880.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Baru deh dihitung pajaknya pake tarif diatas :&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;5% x 50.000.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=2.500.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;15% x 200.000.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=30.000.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;25% x 250.000.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=62.500.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;30% x 178.880.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=53.664.000  +&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jumlah pajak yang harus dibayar &lt;/td&gt;&lt;td&gt;=148.664.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadi persentase jumlah pajak yang dibayar dengan jumlah penghasilan brutonya selama 1 tahun lebih kurang 21%. Nah loo.. darimana 30% nya coba...&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Wajar dong ya, kalau penghasilannya dalam 1 tahun saja mencapai 700 juta, harus bayar pajak sekitar 148 juta... Buat negara dan bangsa, tanah air Indonesia tercinta :)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jangan-jangan dikibulin managernya atau konsultan pajaknya kali mbak , hehhe damai deh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sebelum demo, belajar pajak dulu yaaaa mbak, mas... ^_^&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/03/pajak-artis-minta-dikurangi-apa-kata.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5mQhqY9ewI/AAAAAAAAAFA/8hVWYj9HRws/s72-c/spt-tahunan-pph-orang-pribadi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-7256523439056583072</guid><pubDate>Wed, 10 Mar 2010 12:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-10T06:00:43.512-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">blog</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><title>Kenapa ya takut punya NPWP??</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eI5tbzc6I/AAAAAAAAAEY/Z7ea8c4VI_k/s1600-h/DSC00258.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eI5tbzc6I/AAAAAAAAAEY/Z7ea8c4VI_k/s320/DSC00258.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tahun kemarin bapak pergi umroh. Ibu juga ikut. Jadi bapak bikin NPWP. Sekarang, kata orang-orang setiap tahun harus bayar pajak. Bapak ini cuma pensiunan Pertamina. Berapa sih gajinya.......&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kalau penghasilan Bapak cuma dari pensiunan, ngga usah bayar pajak pak, cukup lapor saja. Karena pajaknya kan udah dibayar Dana Pensiun pak, jadi yaa cukup lapor saja... Nanti bapak minta bukti potong pajak dari dana pensiunnya, bilang buat lapor pajak tahunan....&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Waduu.. berapa sih nak gaji pensiunan.. cuma lima ratus ribu. Tidak wajib bayar pajak toh... Lagian bapak ini sudah tua.. NPWP itu buat apa... &quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Cukup dilaporin saja pak ke kantor pajak, nanti biar saya saja yang bawa ke kantor, yang penting kan lapor. Kalo Bapak ngga lapor, nanti denda nya gede loh pak, seratus ribuu. Wah bisa buat kita makan berapa hari pak...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Waaduuh.. apalagi itu. Dendanya seratus ribu. Besar sekali.. kalau bisa yaa NPWP bapak itu dihapus saja...&quot;&lt;br /&gt;&quot;.......&quot;&lt;br /&gt;&quot;.......&quot;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&quot;................ nanti saya tanya dulu ke AR nya ya pak......&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ya punya NPWP aja takut? &lt;br /&gt;Pernah dapat cerita dari seorang teman bahwa seorang pemeriksa pajak di kantornya pernah bilang, &quot;Saya tidak akan menghapus NPWP kalo orangnya tidak meninggal!!&quot;&lt;br /&gt;sungguh sikap seorang militan.&lt;br /&gt;kalo semua petugas punya prinsip seperti ini, lalu gimana nasib bapak  ini ya.... :)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya bukannya ngga mau bantu pak, tapi saya kasihan kalo bapak ini sampai diperiksa.&lt;br /&gt;Rumahnya besar, bagus. Halaman luas. Di Lingkungan yang bagus.&lt;br /&gt;Takutnya petugas pajak nanti malah dapat novum baru pak, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/03/kenapa-ya-takut-punya-npwp.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eI5tbzc6I/AAAAAAAAAEY/Z7ea8c4VI_k/s72-c/DSC00258.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-627024341798134876</guid><pubDate>Sun, 07 Feb 2010 04:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-10T04:57:21.233-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">blog</category><title>How to add &quot;Share on Facebook&quot; button on your blog</title><description>Hehe.. I am a newbie, but I&#39;d like to share how to add the button &quot;share on facebook&quot; automatically at the end of every post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;style type=&quot;text/css&quot;&gt;  .codebox{   border: 2px solid #ffcc00;   -moz-border-radius-topleft:12px;   -moz-border-radius-topright:12px;   -moz-border-radius-bottomleft:12px;   -moz-border-radius-bottomright:12px;   background:#ffffcc;   padding:2px } .codebox2 {   background:#ffffcc;   padding:2px   } &lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;codebox&quot;&gt;&lt;div class=&quot;codebox2&quot;&gt;Silahkan &lt;b&gt;Copy - Paste&lt;/b&gt; kode dibawah. Supaya lebih mudah: klik tombol &lt;b&gt;Select All&lt;/b&gt; lalu tekan &lt;b&gt;CTRL + C &lt;/b&gt; &lt;i&gt;atau&lt;/i&gt; boleh juga klik kanan lalu pilih copy&lt;/div&gt;&lt;form name=&quot;copy&quot; style=&quot;font-family: monospace; font-size: 8pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;input onclick=&quot;javascript:this.form.txt.focus();this.form.txt.select();&quot; type=&quot;button&quot; value=&quot;Select All&quot; /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;textarea cols=&quot;50&quot; dir=&quot;ltr&quot; name=&quot;txt&quot; rows=&quot;3&quot; style=&quot;width: 100%;&quot;&gt;&amp;lt;a name=&quot;fb_share&quot; type=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.facebook.com/sharer.php&quot;&amp;gt;Share&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;script src=&quot;http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt; &amp;lt;br /&amp;gt; &lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src=&quot;http://sites.google.com/site/hitsukeproject/TextboxArea.js&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;/script&gt;&lt;/form&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tambahkan kode di atas , Click Dashboard &amp;gt; Tata Letak &amp;gt; Edit HTML and check a box Expand Widget&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Find the code :&lt;i style=&quot;color: red;&quot;&gt;&amp;lt;b:if cond=&quot;data:top.showAuthor&quot;&amp;gt;&lt;/i&gt; and paste above it. Save and see. Good Luck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(Bahasa campur-campur,,, etdaaaaahh.... haha yang penting belajar) &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/02/how-to-add-share-on-facebook-button-on.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-7603804168942665185</guid><pubDate>Wed, 03 Feb 2010 04:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-02T20:01:23.676-08:00</atom:updated><title>Freedom of Speech and Logic Usage</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2j0P2QAWWI/AAAAAAAAAEA/zNBROxYKjO8/s1600-h/caps.bmp&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;355&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2j0P2QAWWI/AAAAAAAAAEA/zNBROxYKjO8/s400/caps.bmp&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan berbicara dan penggunaan logika hendaknya sejalan... bukannya berjalan sendiri-sendiri... fatwa haram toh hanya berlaku buat Muslim, ya toh?&amp;nbsp; haduh-haduh anak jaman sekarang.... mentang-mentang bebas berbicara, tapi logika nya ngga dipake...&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/02/freedom-of-speech-and-logic-usage.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2j0P2QAWWI/AAAAAAAAAEA/zNBROxYKjO8/s72-c/caps.bmp" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2320317180241389368</guid><pubDate>Sun, 10 Jan 2010 10:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-10T02:13:55.209-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">DJP</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">IRS</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perpajakan</category><title>Amerika punya IRS, Indonesia punya DJP</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0mg_5fpcLI/AAAAAAAAAD4/AQA67iiksuk/s1600-h/tax_medium.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0mg_5fpcLI/AAAAAAAAAD4/AQA67iiksuk/s320/tax_medium.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;IRS&lt;/span&gt; (Internal Revenue Service) adalah suatu badan milik pemerintah Amerika yang berfungsi mengumpulkan pajak dan menegakkan hukum perpajakan, yg memiliki kesamaan fungsi dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Di Amerika, IRS merupakan cabang dari Department of Treasury, yg kalau di Indonesia sama dengan DJP, yang berada di bawah Departemen Keuangan. Menteri Keuangan di Amerika juga disebut dengan Secretary of The Treasury. Yang membedakannya adalah Komisionaris dan Chief Counsel IRS dipilih langsung oleh presiden atas persetujuan parlemen, yang berarti pertanggungjawabannya langsung kepada Presiden, bukan kepada Menteri Keuangan. Sedangkan di Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal yang dipilih oleh Menteri Keuangan, sehingga Dirjen Pajak tidak bertanggung jawab langsung kepada presiden. Bisa dipastikan, kekuatan IRS lebih besar dibandingkan DJP. Sebagai contoh, IRS seringkali membuat orang-orang terkenal Amerika menjadi target operasi. Bahkan IRS terkenal sebagai satu-satunya organisasi yang mampu membawa mafia ternama &lt;i&gt;&lt;b&gt;Al Capone&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; ke penjara ketika semua kaki tangan pemerintah telah disogok olehnya. Bukan karena pembunuhan yg sering ia dan anak buahnya lakukan, tapi karena tidak membayar pajak. Begitu hebatnya bukan? (Sekedar informasi, Al Capone adalah mafia amerika yg sering terlibat dalam penyelundupan minuman keras dan aktifitas ilegal lainnya selama tahun 1920-1930 an)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/amerika-punya-irs-indonesia-punya-djp.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0mg_5fpcLI/AAAAAAAAAD4/AQA67iiksuk/s72-c/tax_medium.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1753871324409207556</guid><pubDate>Sat, 09 Jan 2010 16:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-20T18:48:13.166-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">games</category><title>How to cheat on rubik&#39;s cube</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0ip1gTim7I/AAAAAAAAADQ/7_IPBilil6A/s1600-h/rubik_s_cube.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0ip1gTim7I/AAAAAAAAADQ/7_IPBilil6A/s200/rubik_s_cube.png&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irPekOKPI/AAAAAAAAADY/AFOUWtaP9bI/s1600-h/rubik12.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irPekOKPI/AAAAAAAAADY/AFOUWtaP9bI/s200/rubik12.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irjQ_s68I/AAAAAAAAADg/U9t7BL5qZwo/s1600-h/Rubik%27s+Triamid.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irjQ_s68I/AAAAAAAAADg/U9t7BL5qZwo/s200/Rubik%27s+Triamid.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;That things are called rubik&#39;s cube, guys.The first picture show the usual rubik&#39;s cube I&#39;ve ever seen. The second picture is called rubik&#39;s cube dodekahedron. The third picture is called rubik&#39;s triamid.&lt;br /&gt;okey.. they seems like difficult to solve, but you know, what is the aim that God had given us brain if we cannot maximize brain usage?It only need a little time, No fear. thinking out, use your brain, and a little phisyc. :D&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Just put the top side&amp;nbsp; 45 degrees, put your fingers on the pieces, pile that pieces, and all the pieces, and then re-arrange it, like this pictures.&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0iuGlj1bJI/AAAAAAAAADo/lTp2mMNRx5E/s1600-h/Rubik-open.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0iuGlj1bJI/AAAAAAAAADo/lTp2mMNRx5E/s320/Rubik-open.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;That&#39;s all.. A little power is needed here. Finished, guys. ahahhaha... Lol&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/how-to-cheat-on-rubiks-cube.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0ip1gTim7I/AAAAAAAAADQ/7_IPBilil6A/s72-c/rubik_s_cube.png" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-7551879226729082435</guid><pubDate>Sun, 03 Jan 2010 06:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-04T05:27:37.757-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">blog</category><title>Ekspor  Wordpress ke Blogspot</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0BPvE7I6PI/AAAAAAAAAAc/3W9c1vyUWUw/s1600-h/binggg.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0BPvE7I6PI/AAAAAAAAAAc/3W9c1vyUWUw/s320/binggg.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ceritanya saya ini pusing pake wordpress. Ngga ngerti2.. Akhirnya, saya putuskan untuk pindah rumah, ke blogspot aja. Lebih simpel (kelihatannya sihh..). Nah, dari tutorial yang ada, cara yang bener adalah seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Login ke akun wordpress kita, letaknya di Perkakas&amp;gt; Ekspor&amp;gt; klik Download file yang akan di ekspor, simpan di komputer kita, file wordpress-nya akan ber-ekstensi .xml&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Convert terlebih dahulu file wordpress yg sudah di download di situs berikut : &lt;a href=&quot;http://www.wordpress2blogger.appspot.com/&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: teal;&quot;&gt;www.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: teal;&quot;&gt;wordpress2blogger.appspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;color: teal;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Browse file nya dak klik convert. Nanti akan otomatis di download file yg sudah diconvert&amp;nbsp; ke komputer kita.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lalu login ke akun blogspot kita,&amp;nbsp; masuk ke pengaturan&amp;gt; Impor&amp;gt; Browse file hasil convert tadi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tandai &quot;publikasikan..&quot; dan klik impor.. selesai.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Naaaah, secara teori, udah bener tuhh. tapi ternyata &lt;i&gt;prakteknya tak seiring jalaaan... kucari dan selalu kucari jalan terbaaaikk.. agar tiada penyesalan dan airmata....&lt;/i&gt;T_T&lt;i&gt;... &lt;/i&gt;Kata-kata yang muncul berikutnya adalah &quot;&lt;b&gt;Maaf, impor gagal karena ada galat server. Kode galat adalah bX-qm5h6h&lt;/b&gt;&quot; browsing lagi nyari troubleshooting nya, tapi tak ada (sigh) apa yang salah yaaa?&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;Kucoba&amp;nbsp;bertahan&amp;nbsp;mendampingi&amp;nbsp;dirimu.. (uuh blogspot...)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;Walau&amp;nbsp;kadangkala&amp;nbsp;tak&amp;nbsp;seiring&amp;nbsp;jalan...&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;Kucari&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;selalu&amp;nbsp;kucari&amp;nbsp;jalan&amp;nbsp;terbaik....&lt;br /&gt;Agar&amp;nbsp;tiada&amp;nbsp;penyesalan&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;air&amp;nbsp;mataaaa...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Senyum&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;tawa&amp;nbsp;hanya&amp;nbsp;sekedar&amp;nbsp;saja... &lt;br /&gt;Sbagai&amp;nbsp;tanda&amp;nbsp;sempurnanya&amp;nbsp;sandiwara...&lt;br /&gt;Berawal&amp;nbsp;dari&amp;nbsp;manisnya&amp;nbsp;kasih&amp;nbsp;sayang....&lt;br /&gt;Terlanjur&amp;nbsp;kita&amp;nbsp;hanyut&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;terbuang........&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;help me hiks...&amp;nbsp;&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0BLiN1rq8I/AAAAAAAAAAU/6oZjUxY6xWM/s1600-h/lelah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0BLiN1rq8I/AAAAAAAAAAU/6oZjUxY6xWM/s200/lelah.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/ekspor-wordpress-ke-blogspot.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0BPvE7I6PI/AAAAAAAAAAc/3W9c1vyUWUw/s72-c/binggg.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2220745607979385662</guid><pubDate>Wed, 02 Jan 2008 04:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-09T19:54:51.354-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">buku tamu</category><title>Buku Tamu</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0Fp9p8M5vI/AAAAAAAAABg/n_Tu8tsEUQw/s1600-h/welcome-in-my-blog.gif.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0Fp9p8M5vI/AAAAAAAAABg/n_Tu8tsEUQw/s200/welcome-in-my-blog.gif.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;i&gt;Salam Kenal. Terima kasih telah mengunjungi blog ini, silakan tinggalkan link anda disini, supaya saya bisa link balik... makasih yaaa...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;thank you for listening me... :)&lt;/div&gt;</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2008/01/buku-tamu.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0Fp9p8M5vI/AAAAAAAAABg/n_Tu8tsEUQw/s72-c/welcome-in-my-blog.gif.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>