<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249</atom:id><lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 08:33:05 +0000</lastBuildDate><category>facebook</category><category>islam</category><category>formspring</category><category>pajak</category><category>perpajakan</category><category>lyric</category><category>song</category><category>games</category><category>edge of darkness</category><category>renungan</category><category>myself</category><category>film</category><category>stan</category><category>review</category><category>photos</category><category>game</category><category>blog</category><category>DJP</category><category>mel gibson</category><category>IRS</category><category>buku tamu</category><title>I am happy being me....</title><description>What a colourful world You have given to me..
I've learn so many things from these all..</description><link>http://iamhappybeingme.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (elti)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/iamhappybeingme" /><feedburner:info uri="iamhappybeingme" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2162570958981327333</guid><pubDate>Sun, 23 Jan 2011 02:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-22T18:23:00.100-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">stan</category><title>Konsistensi Amien Sunaryadi</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; font-family: inherit; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TTuJrEMxYVI/AAAAAAAAAJ8/KeJswf4R5_s/s1600/57141_amien_sunaryadi_300_225.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TTuJrEMxYVI/AAAAAAAAAJ8/KeJswf4R5_s/s1600/57141_amien_sunaryadi_300_225.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Alumni STAN bukan hanya Gayus Tambunan. Layaknya barang produksi, ada produk gagal, dan ada produk yang berhasil. Satu diantaranya alumni STAN yang tetap konsisten dengan idealismenya. Amien Sunaryadi, mantan Wakil Ketua KPK periode 2003-2007&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;b&gt;Gandrung membongkar pelbagai skandal, ia terlibat pengungkapan kasus 
korupsi kelas kakap. Di puncak prestasinya, Amien Sunaryadi malah 
terpental dari Komisi Pemberantasan Korupsi.

CERITA ini terjadi pada Ramadan, tahun Masehi 1983.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Ketika itu pemimpin 
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sedang gundah: soal ujian bocor 
ke sejumlah mahasiswa. Tak jelas siapa pelaku pembocoran itu. Lalu, 
diutuslah seorang asisten dosen melakukan investigasi.

Sang asisten lalu merancang investigasi berjenjang. Ditelusurinya 
lapisan terbawah sekolah itu: dari mulai pesuruh sekolah sampai dosen 
senior. Dari tukang sapu sampai mahasiswa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Teknik investigasinya tak istimewa: saban sahur hingga menjelang imsak, 
asisten dosen itu mewawancarai pelbagai orang di warung makan. 
Berhari-hari, informasi sedikit demi sedikit dikumpulkan.

Dari berbagai cerita, akhirnya diketahui bahwa jual-beli soal dilakukan 
sebuah jaringan yang rapi. Motornya sejumlah mahasiswa senior.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Berbekal 
sejumlah fakta dan kesaksian, si asisten itu menemui mahasiswa senior 
itu.

Dari mereka diperoleh kabar bahwa kejahatan itu diotaki oleh tiga 
mahasiswa senior. Sejumlah pegawai kampus juga terlibat karena menjual 
soal kepada mahasiswa. Terhadap mereka yang bersalah, petinggi kampus 
menjatuhkan sanksi. Sang asisten jadi pahlawan.

Dosen muda itu adalah Amien Sunaryadi—pria berambut tipis, sedikit 
pemalu, yang 24 tahun kemudian menyala namanya di dunia pemberantasan 
korupsi.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (2003–2007) itu adalah salah 
satu juru kunci di balik terungkapnya sejumlah kasus korupsi raksasa di 
Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Ia, misalnya, adalah otak penyergapan anggota Komisi 
Pemilihan Umum, Mulyana W. Kusumah, saat berusaha menyuap auditor Badan 
Pemeriksa Keuangan. Ia pula aktor di balik pengungkapan korupsi Direktur
 Badan Urusan Logistik, Widjanarko Puspoyo (lihat ”Intel di Kamar 607”).

l l l

LAHIR di Malang 47 tahun silam, Amien semula ingin bekerja di kantor 
audit Pemerintah Daerah Papua.

Persiapan sudah dilakukan: dari cek kesehatan sampai membeli celana jins
 di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Tapi petinggi kampus merayunya duduk di kursi asisten dosen. Ia manut: 
cita-cita berkarier di ujung timur Indonesia itu ia lepas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Tapi di STAN Amien tak betah. Ia orang lapangan yang tak bisa diam di 
ruang kuliah. Pada penghujung 1982, dia memilih pindah ke Badan 
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Di sana ia bekerja di bagian
 pengawasan.

Untuk mengasah kemampuan auditingnya, pada 1993 dia terbang ke Atlanta, 
Amerika Serikat, mengambil program master bidang akuntansi di Georgia 
State University. Di sana ia juga ikut sejumlah kursus audit. Setelah 
itu dia mengikuti pelatihan antikorupsi di Australia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Dari sekolahnya 
itu, Amien paham bahwa korupsi kerap kali bisa dibongkar lewat utak-atik
 angka akuntansi.

Di BPKP Amien pernah naik pitam ketika kantornya menggelar pelatihan 
antikorupsi. Silabus dan pembicara dipasok dari Lembaga Administrasi 
Negara (LAN). Amien dan kawan-kawan cuma dipercaya jadi panitia 
ecek-ecek. Amien merasa diremehkan. Ia mengajukan pengunduran diri dari 
kursi eselon IV. Meja dan komputer diserahkan ke orang lain. Kepada 
atasannya ia mendamprat. Di sini, katanya, ”Aku cuma jadi pegawai 
tengik.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Ia dibujuk membatalkan pengunduran diri itu. Ia, lagi-lagi, menurut. 
Setelah itu kariernya justru menanjak. Jabatan terakhir yang 
disandangnya adalah Kepala Sub Kelancaran Pembangunan, Direktorat 
Pengawasan Khusus.

Delapan belas tahun bekerja di kantor pemerintah itu, Amien kemudian 
menjajal kemampuan di perusahaan internasional. Oktober 2000, dia 
menerima tawaran PricewaterhouseCoopers (PWC), sebuah perusahaan audit 
internasional. Alasan kepindahan itu sederhana. ”Gaji di sana sepuluh 
kali lipat dari BPKP,” kata Amien.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Di PWC Amien belajar teknik penggeledahan dan komputer forensik. Dua 
metode ini, kata Amien, sangat efektif bagi pengungkapan kasus korupsi.

Suatu ketika Amien dipercaya mengaudit sebuah perusahaan asing. Petinggi
 perusahaan itu curiga ada orang dalam yang menjual informasi kepada 
perusahaan pesaing.

Tengah malam, bersama si petinggi perusahaan, dia menjelajah komputer 
karyawan yang dicurigai. Hasilnya mengejutkan. Seorang kepala unit 
ternyata mengirim sejumlah berkas ke perusahaan pesaing. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Yang menarik, 
dari pelacakan komputer itu, diketahui si karyawan punya pacar gelap.

Amien ”menyedot” semua isi komputer si tersangka. Setelah selesai, semua
 dirapikan seperti sedia kala. Esok paginya, oknum itu datang ke kantor 
tanpa curiga.

Jelang siang, Amien langsung mewawancarai karyawan itu. Tentu, ia keras 
membantah. Amien meminta membuka semua berkas surat elektronik di 
komputer. ”Nah, itu apa?” kata Amien sembari menunjuk layar komputer.

Gelagapan, karyawan itu membantah. Dia bahkan mengancam akan melaporkan 
kasus ini ke Departemen Tenaga Kerja. Amien cuma senyum-senyum. ”Kalau 
Anda meneruskan perang ini, musuh Anda akan bertambah dua,” kata Amien.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Karyawan tak mengerti. Amien lalu membeberkan e-mail si karyawan dengan 
pacar gelapnya. Kepada simpanannya itu ia mengaku masih bujang. ”Jadi, 
musuh Anda bertambah dua sekarang: istrimu di rumah dan selingkuhanmu 
karena kamu mengaku masih jomblo.” Kepala unit itu pun menyerah.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
l l l

AMIEN SUNARYADI sedang berlibur di Malang, Jawa Timur, ketika bos 
besarnya di PWC meneleponnya pada penghujung 2003. Ia terkejut karena 
selama bekerja di perusahaan itu, baru kali ini si bos menelepon.

Pimpinannya itu menyuruh Amien mendaftar ke Komisi Pemberantasan Korupsi
 (KPK), tapi Amien enggan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
”Kalau mendaftar di KPK, aku bisa melarat 
lagi,” pikirannya sambil menggaruk kening. Tapi keluarganya mendukung. 
Amien lalu mendaftar ke komisi itu.

Sebetulnya, meski bekerja di perusahaan raksasa internasional, hidup 
Amien jauh dari mewah. Bertahun-tahun ia tinggal di Rawalumbu Utara, di 
sebuah perumahan kecil di pinggiran Bekasi, Jawa Barat. Rumah itu dibeli
 tahun 1989 seharga Rp 8 juta. Dari hasil tabungan selama 12 tahun, dia 
membeli rumah di sebelahnya seharga Rp 75 juta tahun 2001.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Dua rumah itu 
kini bersambung.

Kegiatan olahraganya juga sederhana. Di lantai dua rumah, dia menyiapkan
 sansak. Bak petinju, Amien kuat memukul sansak itu selama satu jam. 
Olahraga lainnya adalah naik turun tangga. Satu jam naik turun, Amien 
sudah mandi keringat.

Apabila hujan lebat, ruang tamu rumah itu kebanjiran. Itu sebabnya, saat
 bekerja di PWC dia menabung untuk merenovasi rumah.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Tinggal di rumah di pelosok Bekasi itu membuat sejumlah anggota DPR 
termehek-mehek mencari rumah Amien. Ketika itu DPR tengah mengecek 
kediaman Amien saat ia diseleksi untuk menjadi anggota KPK 2003–2007.

Di KPK, Amien dikenal kerap membawa terobosan baru dalam pemberantasan 
korupsi. Dialah yang, misalnya, menerapkan praktek penggeledahan dan uji
 forensik komputer. Gagasan Amien kadang ditolak koleganya di komisi 
itu.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Saat menyelidiki kasus korupsi di KPU, misalnya, Amien mengusulkan agar 
semua rumah petinggi komisi itu digeledah. Tapi, kata Amien, ” Para 
petinggi KPK lain menolak dengan alasan mereka bukan tersangka.” Amien 
sempat marah, Pengledahan, kata Amien,”Diharuskan dalam KUHP.”

Meski punya banyak ide dan integritasnya terjaga, Amien terjegal dalam 
seleksi pimpinan KPK 2007–2011. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Komentar

Lukman Hakim Saifuddin
Anggota Komisi Hukum DPR dari Partai Persatuan Pembangunan

”Amien tidak gampang dipengaruhi. Penanganan perkara KPK banyak 
dipengaruhi ’kreativitasnya’, misalnya dalam penggunaan metode 
penjebakan. (Tentang kegagalannya menjadi anggota KPK periode kedua) ia 
berada pada momentum yang tidak tepat. Ia muncul pada saat anggota DPR 
sangat khawatir dengan kewenangan KPK yang kelewat besar.”

&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
M. Fajrul Faalakh
Anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK

”Panitia seleksi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi tidak menerima 
banyak berita miring tentang Amien. Kalaupun ada, itu soal pengadaan 
alat penyadap KPK yang diduga menabrak prosedur administratif. Tapi soal
 itu sudah dia klarifikasi. Alasan Amien, itu terjadi karena kondisi 
darurat dan demi menyelamatkan uang KPK yang sudah telanjur mengucur.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Kasus KPU (2005)

Mengungkap kasus korupsi pengadaan kotak suara di Komisi Pemilihan Umum.
 Mereka yang masuk bui karena kasus ini adalah anggota KPU Mulyana W. 
Kusumah (divonis 2 tahun 7 bulan), Kepala Biro Logistik KPU Richard 
Manusun Purba, dan Direktur Utama PT Survindo Indah Prestasi, Sihol P. 
Manulang (divonis 4 tahun). Kasus korupsi ini mengakibatkan kerugian 
negara Rp 15,7 miliar. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Amien Sunaryadilah yang merancang penggerebekan 
­ketika Mulyana mencoba menyuap auditor Badan Pemeriksa Keuangan, 
Khairiansyah Salman.

Kasus Bulog (2007)

Menelusuri dan mengumpulkan bukti-bukti kasus korupsi dalam impor sapi 
dan beras Bulog. Total kerugian negara akibat kasus tersebut Rp 88,4 
miliar, dengan tersangka utama Direktur Utama Bulog Widjanarko Puspoyo. 
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Widjanarko juga dikenai dakwaan menerima gratifikasi US$ 1,5 juta. 
Perbedaan paham di Komisi Pemberantasan Korupsi membuat Amien ”melempar”
 kasus ini ke kejaksaan. Meski demikian, orang-orang KPK-lah yang 
”bergerak”, termasuk dengan menggerebek kediaman Widjanarko, dan di 
kamar mandi menemukan uang tunai dalam ember. 

----------------
&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Intel di Kamar 607

&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Siang itu matahari menikam kepala. Jumat 8 April 2005. Sejumlah penyidik
 Komisi Pemberantasan Korupsi yang dipimpin Amien Sunaryadi check-in di 
Hotel Ibis, Jakarta Barat. Mereka memesan dua kamar besar. Sesudah 
menyodorkan uang sewa, mereka meluncur ke lantai enam. Dua kamar yang 
dipesan saling berhubungan.

Tiba di kamar 609 mereka langsung beraksi. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Seperti kisah para telik 
sandi dalam film spionase: alat sadap dipantek di plafon, juga di sudut 
kamar. Jejak penyadapan ditutup rapi. Setelah beres, mereka bergegas ke 
kamar 607. Amien mengendalikan operasi dari kamar itu.

Dari kamar berkamera tersembunyi mereka bisa memantau seluruh 
gerak-gerik di kamar pertama. Setelah dicek berkali-kali, aksi pasang 
alat perekam itu rampung menjelang magrib.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Sesudah itu mereka menunggu. Sekitar pukul sembilan malam, Mulyana Wira 
Kusumah masuk kamar 609. Petinggi Komisi Pemilihan Umum (KPU) datang 
sendirian. Dia menenteng sebuah tas berukuran sedang.

Di situ Khairiansyah, seorang auditor Badan Pemeriksaan Keuangan(BPK), 
sudah menunggu. Keduanya bercakap sebentar. Lalu Mulyana menyerahkan 
uang dan cek. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Empat lembar cek dijejerkan di atas tempat tidur. Di 
tengah transaksi itu, delapan penyidik KPK dari ruang 607 meluncur 
masuk. Mulyana dibekuk. Ia digelandang ke kantor KPK.

Mantan aktivis itu kemudian diseret ke pengadilan dan divonis penjara 2 
tahun 7 bulan. Mulyana terbukti menyuap auditor BPK. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Belakangan, ia juga
 dihukum karena melakukan korupsi pengadaan kotak suara pada Pemilihan 
Umum 2004. Pada Agustus 2007 dia dibebaskan.

Dari kasus Mulyana itu, penyidik membongkar kasus korupsi lain di komisi
 pemilu itu. Sejumlah petinggi KPU lalu masuk bui.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Amien juga berperan dalam pembongkaran korupsi Badan Urusan Logistik 
yang melibatkan direktur utamanya, Widjanarko Puspoyo.

Sebetulnya, sudah lama Amien mendapatkan dokumen kasus ini. Dokumen juga
 sudah diserahkannya kepada pimpinan KPK. Namun, kata Amien, selama 
tujuh bulan dokumen itu cuma terpendam.

Kesal karena laporannya tidak ditindaklanjuti, ”Saya serahkan saja 
dokumen itu kepada Pak Hendarman,” kata Amien. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Jaksa Agung Hendarman 
Supanji sepakat untuk membongkar kasus itu asal Amien membantu. Anak 
muda itu mengangguk. Ia lalu mengirim sejumlah penyidik untuk membantu 
kejaksaan.

Di hari penggerebekan, para penyidik KPK anak buah Amien diberi rompi 
cokelat agar gayanya mirip penyidikan Kejaksaan Agung. Badge Kejaksaan 
baru ditempel dengan lem Aica Aibon menjelang penggerebekan. ”Mereka 
nyaris teler karena bau lem itu,” kata Amien sambil tertawa. Penyidikan 
itu kemudian sukses. Widjanarko masuk bui.

Amien sempat dimarahi koleganya di KPK lantaran berjalan sendiri, tapi 
Amien tenang saja. Katanya, ”Saya maklum mereka marah. Bagaimanapun, 
kasus ini terpendam terlalu lama.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;i&gt;Majalah Tempo, Edisi. 44/XXXVI/24 - 30 Desember 2007&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;b&gt;Amien Sunaryadi&lt;/b&gt;, mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 
periode 2003-2007 ini dikenal sebagai sosok rendah hati dan tidak suka 
menonjolkan diri. Amien juga dikenal sebagai sosok yang memiliki 
progresivitas dalam pemberantasan korupsi. Strategi penyadapan yang 
digunakan KPK pun berasal dari dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Konsistensi pria 
kelahiran Malang, 23 Januari 1960 di dunia korupsi tak bias diragukan 
lagi. Amien memulai karirnya pada 1982 sebagai PNS dan menjabat Kepala 
Sub Direktorat Pengawasan Khusus Kelancaran Pembangunan pada Deputi 
Bidang Pengawasan Khusus Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Ayah
 dari 3 putera dan suami dari Sri Luthfia Suryandari ini pernah terlibat
 dalam PT PricewaterhouseCoopers FAS dan Masyarakat Transparansi 
Indonesia (MTI), sebelum akhirnya memutuskan ikut seleksi dalam 
pemilihan piminan KPK periode 2003-2007. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Saat pemilihan pimpinan
 KPK, perolehan suara Amien (42 suara) hanya kalah dari Taufiequrrachman
 Ruki (43 suara). Amien juga memperoleh suara terbanyak kedua (6 suara) 
saat pemilihan ketua KPK setelah Ruki (37 suara). Amien pun akhirnya 
membidangi bidang Teknologi Informasi, Reformasi birokrasi, jaringan 
kerjasama internasional dan internasional, serta pengembangan KPK. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Selama
 menjabat di KPK, Amien merupakan sosok penting di balik aksi penjebakan
 dan penggeledahan yang dilakukan KPK dalam mengungkap kasus korupsi. 
Salah satu kasus yang paling mencuat adalah saat pengungkapan kasus suap
 kepada hakim agung, termasuk Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan, yang 
menangani perkara Probosutedjo. Berdasarkan informasi yang diperoleh, 
saat itu, Amien bahkan sempat terlibat dalam perdebatan sengit dengan 
Ketua KPK Ruki dan Wakil Ketua KPK Tumpak H Panggabean.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Sejumlah 
narasumber menyatakan, Amien juga sangat berperan dalam strategi yang 
dilakukan KPK untuk mengusut sejumlah kasus korupsi yang ditangani KPK 
seperti KPU, Bulog, dan Badan Pertanahan Nasional di Surabaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Kegigihan
 Amien dalam memberantas korupsi ini juga didukung dengan pengalamannya 
dalam investigasi keuangan. Amien merupakan lulusan Sekolah Akuntansi 
Negara dan pernah mengikuti The Corruption and Anti-Corruption Training 
pada 1998. Kegigihan Amien dalam memberantas korupsi ini terbukti, 
karena saat ini Amien dinominasikan untuk merebut Bung Hatta 
Anti-Corruption Award 2008.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Meski memiliki banyak pengalaman 
kerja, berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) 
per 27 Agustus 2007, Amien hanya mengumpulkan pundi kekayaan sebesar Rp 
294,9 juta. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Kekayaan ini berupa tanah dan bangunan yang berada 
di Rawa Lumbu, Bekasi, Jawa Barat. Kendaraan berupa Mobil Innova yang 
baru dibeli pada 2006 untuk menggantikan mobil Kijang tahun 1994 yang 
selalu dibawa saat berada di KPK. Motor dan mobil atas nama isterinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Kiprah 
bapak tiga anak saat menjadi Anggota KPK ini bukanlah tanpa tantangan. 
Seringkali ia berbeda pendapat dengan Pimpinan KPK yang lain sehingga 
harus menerima untuk selalu dipersalahkan oleh pimpinan yang lain. 
Integritasnya juga dibuktikan dengan menolak jabatan empuk di perusahan 
negara/BUMN setelah masa jabatannya di KPK berakhir tahun 2007 lalu. 
Pertimbangannya adalah, merujuk ke UNCAC&amp;nbsp; (United Convention Against Corruption) dan &lt;i&gt;international best practices&lt;/i&gt;, maka perlu adanya &lt;i&gt;cooling time&lt;/i&gt;
 yaitu masa tenggang sebelum seorang pejabat publik boleh memegang 
jabatan pada suatu lembaga yang sebelumnya merupakan obyek di bawah 
supervisi jabatan publiknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
Tidak seperti 2 mantan pimpinan KPK lainnya, Ruki dan Erry Riyana 
Hardjapamekas yang menerima tawaran sebagai pejabat penting di BUMN, 
Amien lebih memilih untuk menolak segala tawaran jabatan yang 
dialamatkan kepadanya.&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.vivanews.com/"&gt;Vivanews.com &lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-2162570958981327333?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/odcR3nPud9c" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/odcR3nPud9c/konsistensi-amien-sunaryadi.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TTuJrEMxYVI/AAAAAAAAAJ8/KeJswf4R5_s/s72-c/57141_amien_sunaryadi_300_225.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2011/01/konsistensi-amien-sunaryadi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2253802586812088299</guid><pubDate>Sun, 05 Sep 2010 06:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-04T23:12:31.904-07:00</atom:updated><title>Efektifitas Peningkatan Renumerasi di Kementrian Keuangan</title><description>&lt;div class="snap_preview"&gt;
Berikut kami sunting dari rubrik Suara Pembaca di www.detik.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TIM0wTiCtnI/AAAAAAAAAJw/FwF1SHSI6qc/s1600/1630067p.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TIM0wTiCtnI/AAAAAAAAAJw/FwF1SHSI6qc/s320/1630067p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; – September 2000, seorang pegawai Ditjen 
Pajak di Jakarta dimutasikan dari Bagian Pemeriksaan ke Bagian Tata 
Usaha. Alasan utamanya karena dia sering kali tidak mau “berkompromi” 
atas hasil pemeriksaannya.Pegawai tersebut adalah seorang Akuntan lulusan DIII STAN dan S1 
Universitas Indonesia dengan predikat Cum Laude. Satu bulan kemudian dia
 mundur dari pegawai negeri sipil (PNS) untuk selanjutnya bekerja di 
salah satu perusahaan multinasional terkemuka.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Merebaknya Kasus Gayus Tambunan ditanggapi oleh sebagian politisi DPR
 dan pengamat dengan usulan pencabutan renumerasi Kementerian Keuangan 
(Kemenkeu). Khususnya Ditjen Pajak. Hal ini karena renumerasi dinilai 
tidak efektif mencegah korupsi. Kegeraman masyarakat terhadap markus pajak yang disuarakan oleh 
politisi DPR tersebut adalah hal yang dapat dipahami. Namun demikian 
apakah pencabutan renumerasi Kemenkeu yang merupakan salah satu elemen 
dalam reformasi birokrasi merupakan solusi yang tepat atau sekedar 
usulan emosional belaka?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada dua aspek yang perlu 
diperhatikan yaitu efektivitas Program Reformasi Birokrasi dilihat dari 
sisi peningkatan pelayanan kepada publik, serta dari sisi peningkatan 
penerimaan Negara.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;Peningkatan Pelayanan Publik &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengutip pernyataan
 Menteri Keuangan upaya reformasi yang dilakukan oleh Kemenkeu seolah 
dikerdilkan apabila hanya dikaitkan dengan pemberian remunerasi. Padahal
 inti dari program reformasi birokrasi adalah memberikan pelayanan 
publik yang lebih baik,&amp;nbsp; dan meningkatkannya secara terus menerus. 
Reformasi yang dirintis sejak akhir tahun 2002, melalui penataan 
organisasi, perbaikan proses bisnis, dan peningkatan manajemen sumber 
daya manusia, secara obyektif sudah menunjukkan hasil.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penelitian Universitas Indonesia pada akhir 2007 menunjukkan bahwa 
mayoritas responden (63,6%) menyatakan puas atas pelayanan Kemenkeu 
setelah dilaksanakannya program Reformasi Birokrasi. Survey AC Nielsen 
(2005), menunjukkan bahwa indeks kepuasan konsumen (IQ Index) di Kantor 
Pelayanan Pajak (KPP) Wajib Pajak Besar yang&amp;nbsp; sangat tinggi, yaitu 
sebesar 81, lebih besar dari rata-rata tingkat kepuasan pelayanan publik
 secara nasional sebesar 75.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konsultan Hay Group yang juga meneliti tingkat kepuasan publik 
terhadap kinerja pelayanan Kemenkeu, dengan fokus pada Kantor Pelayanan 
Utama Bea Cukai di Tanjung Priok dan Batam, ternyata memperoleh hasil 
senada dengan penelitian UI dan AC Nielsen. &lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan Penerimaan Negara &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan
 Keppres No 15 Tahun 1971, tujuan pemberian Tunjangan Khusus Pembinaan 
Keuangan Negara (TKPKN) kepada Pegawai Departemen Keuangan antara lain 
untuk peningkatan dan pengamanan penerimaan dan pengeluaran negara, 
serta usaha preventif&amp;nbsp; untuk menekan terjadinya penyimpangan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dilihat dari sisi penerimaan pajak, dari tahun 2004 hingga 2008, 
realisasi penerimaan pajak melonjak lebih dua kali lipatnya, yaitu dari 
Rp 238,98 triliun menjadi sebesar Rp 571,2 triliun. Dibandingkan dengan 
total anggaran renumerasi Kementerian Keuangan sekitar Rp 5 triliun per 
tahun, hasil tersebut cukup sepadan.Data ini juga menunjukkan bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi 
berhasil meningkatkan penerimaan negara. Saat ini, sekitar 70% 
pendapatan negara dalam APBN berasal dari penerimaan pajak.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain itu, reformasi birokrasi telah memberikan kontribusi positif 
pada upaya pemberantasan korupsi di Indoneisa. Survei Transparency 
International (2009) mengenai Indeks Persepsi Korupsi (IPK), Indonesia 
memperoleh skor 2.8 berada di urutan 111 diantara 180 negara. Nilai IPK Indonesia meningkat dibanding nilai 3 tahun terakhir. Dari 
1,9 pada 2003, menjadi 2,0 pada tahun 2004 dan naik menjadi 2,2 pada 
tahun 2005. Teten Masduki dari Indonesian Corruption Watch (ICW) 
menyatakan bahwa kontributor utama peningkatan skor Indonesia adalah 
reformasi di Departemen Keuangan serta pendirian Komisi Pemberantasan 
Korupsi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wakil Ketua KPK Haryono Umar berpendapat bahwa upaya pemberantasan 
korupsi akan lebih cepat apabila semua lembaga pemerintahan menerapkan 
reformasi seperti yang dilakukan Sri Mulyani di Kemenkeu. Sejak 
menduduki jabatan Menteri Keuangan, Sri Mulyani sudah memberikan sanksi 
kepada sekitar 1,961 pegawai (sampai dengan Agustus 2009), di mana 
hampir setengahnya terkait dengan tindakan korupsi.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mencegah Munculnya “Gayus” yang Lain Di tengah appresiasi pihak dalam
 dan luar negeri atas upaya reformasi birokrasi di Kemenkeu, kasus Gayus
 menunjukkan bahwa masih ada celah-celah yang dapat dimanfaatkan&amp;nbsp; untuk 
melakukan tindakan korupsi. Celah-celah ini tentunya tidak dapat 
ditutupi hanya dengan cara pencabutan renumerasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencabutan renumerasi ini justru dapat menimbulkan dampak yang 
kontraproduktif. Antara lain menyediakan justifikasi bagi aparat yang 
“nakal” untuk korupsi serta membuka jalan kepada aparat yang “jujur” 
untuk keluar dari PNS.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengacu pada riset Donald Cressey (1950) tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
 fraud terdapat tiga faktor utama yang harus ditangkal untuk memitigasi 
risiko fraud. Yaitu adanya motif/ tekanan (pressure), peluang 
(opportunity), dan pembenaran (rationalization). Pencabutan renumerasi 
atau menggaji aparat dengan murah sama saja dengan menyediakan motif 
sekaligus pembenaran untuk melakukan korupsi. Kembali kepada kisah aparat pajak yang disinggung di awal tulisan, walaupun tidak &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
ada
 data empirisnya, sebelum reformasi birokrasi dijalankan, sangat mudah 
ditemui pegawai Kemenkeu, terutama “Anak STAN”, yang mengundurkan diri 
sebagai PNS. Alasan utama meraka adalah lingkungan kerja yang tidak 
“kondusif”. Pada umumnya mereka ini adalah orang-orang yang punya 
integritas yang tinggi dan kemampuan yang mumpuni.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan modal seperti itu, orang-orang relatif mudah mendapatkan 
pekerjaan di tempat lain dengan gaji yang lebih memadai. Eksodus PNS ini
 sempat menimbulkan kekhawatiran apabila para aparat “jujur” ini keluar 
semua, maka yang tinggal kemungkinan adalah aparat yang “nakal” atau 
“tidak laku” di tempat lain. Apa kata dunia?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pencabutan 
renumerasi bukanlah jawaban yang tepat untuk mencegah munculnya “Gayus” 
yang lain. Pembenahan proses bisnis, sistem pengawasan, peningkatan mutu
 SDM, serta penerapan reward and punishment yang lebih tegas adalah 
langkah yang jauh lebih efektif. Kasus Gayus harus dijadikan cambuk bagi jajaran Kementerian Keuangan 
untuk memperbaiki implementasi reformasi birokrasi. Serta merangkul 
kembali kepercayaan masyarakat.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Deni Ridwan &lt;br /&gt;2/12 Empire Street Footscray Melbourne &lt;br /&gt;kangdeni@yahoo.com &lt;br /&gt;0433315374&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah PhD student di Victoria 
University-Australia, pegawai Kementerian Keuangan, dan suami dari 
mantan pegawai DJP yang disinggung di awal tulisan ini.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;a href="http://suarapembaca.detik.com/read/2010/04/14/181602/1338392/471/efektivitas-peningkatan-renumerasi-di-kementerian-keuangan"&gt;Sumber Berita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-2253802586812088299?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/SVP9rBswEDU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/SVP9rBswEDU/efektifitas-peningkatan-renumerasi-di.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TIM0wTiCtnI/AAAAAAAAAJw/FwF1SHSI6qc/s72-c/1630067p.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/09/efektifitas-peningkatan-renumerasi-di.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-4507179329427314097</guid><pubDate>Thu, 26 Aug 2010 02:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-25T19:07:50.882-07:00</atom:updated><title>Gairah USD 3.000 per Kapita</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXMXm2ZwUI/AAAAAAAAAJY/1-lMSb1OKf8/s1600/Rhenald5-dalam.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXMXm2ZwUI/AAAAAAAAAJY/1-lMSb1OKf8/s200/Rhenald5-dalam.jpg" width="180" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sebuah Tulisan dari Rhenald Kasali (lagi) dari Koran Sindo, menarik untuk disimak. Selamat membaca! :)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DENGAN produk domestik bruto (PDB) USD 700 miliar akhir tahun ini, ekonom senior Cyrillus Harinowo memberi tahu kita, income bangsa Indonesia akan menjadi USD 3.000 per kapita. Dengan pendapatan seperti itu,menurutnya, akan terjadi gelombang perubahan gaya hidup. Seperti apakah perubahan gaya hidup tersebut? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Gaya Hidup &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cut off USD3.000 adalah sebuah batas angka. Tentu saja tidak berarti semua orang akan berada di atas USD3.000. Sebagian orang sudah lebih dulu menembus angka itu dan sebagian lain masih banyak yang berada di bawahnya. Tetapi, begitu angka per kapita tertembus, biasanya perilaku konsumsi suatu bangsa akan tertarik menuju perilaku rata-rata per kapita itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti apa gaya hidup dengan pendapatan per kapita sebesar itu? Kalau setiap orang dalam suatu keluarga memperoleh income USD3.000, dengan asumsi satu rumah tangga terdiri atas empat orang, maka family income-nya menjadi USD12.000. Family income seperti ini biasanya didapat dari double income (suami-istri), ditambah penghasilan lain-lain seperti usaha rumahan, bunga bank, uang hasil kontrakan rumah, atau penghasilan tambahan lain. Di daerah perkotaan, para pekerja tentu sulit mendapatkan income sebesar itu dari gaji saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka umumnya harus bekerja keras dengan berbagai aktivitas tambahan, mulai dari memberi kuliah di perguruan tinggi atau tempat kursus, menarik ojek/taksi, memberi les tambahan pada murid-murid sekolah, terlibat dalam bisnis MLM, dan lain sebagainya. Dengan beragam aktivitas dan pendapatan sebesar itu, biasanya orang mulai berani mengambil kredit. Dalam perekonomian, konsumsi yang dibiayai dari kredit sama dengan membiayai konsumsi hari ini dengan penghasilan hari esok. Maka persepsi mengenai ekonomi hari esok menjadi penting. Bila masyarakat percaya kehidupan akan membaik di hari esok, maka dia akan lebih optimistis dan lebih berani berutang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada menghabiskan Rp3 juta untuk biaya transportasi setiap bulan, lebih baik membeli apartemen di pusat kota yang uang cicilannya Rp6 juta dan dapat digunakan hari ini. Demikian pula dengan kepemilikan mobil dan motor. Masyarakat yang optimistis akan mengonsumsikan uangnya lebih cepat, baik dengan tunai maupun kredit. Mereka juga akan mulai kebiasaan-kebiasaan baru sebagai cerminan dari upaya kompensasi terhadap kerja keras yang dilakukan. Makan bersama keluarga atau kerabat di luar rumah seminggu sekali atau dua kali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengajak anak menikmati hiburan yang lebih berkualitas, membeli bacaan-bacaan atau sekolah yang berkualitas, berlibur yang lebih jauh dengan transportasi yang lebih baik dan lebih sejuk, dan lain sebagainya. Ditambah lagi dengan habit atau budaya berkomunitas yang sangat kental dalam masyarakat Indonesia, maka tidak mengherankan bila bagian terbesar konsumen kita melahap gadget-gadget telekomunikasi yang dilengkapi kamera dan akses pada situs-situs jejaring sosial. Dewasa ini diperkirakan sudah ada 180 juta alat komunikasi yang tersebar di masyarakat dan 70% di antaranya adalah mobile digital phone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mengherankan bila 50% usaha warnet dewasa ini gulung tikar karena konsumen Indonesia sudah bisa membuka Facebook atau mengakses jejaring sosial langsung dari ponsel masing-masing. Tidak mengherankan pula bila pengguna situs Facebook ketiga terbesar dari total 500 juta dunia, ada di Indonesia. Tidak mengherankan pula bila tingkat penetrasi tertinggi pada twitter di dunia berasal dari Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Under Progress &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus diakui, masih banyak golongan masyarakat yang berada jauh di bawah penghasilan sebesar itu. Lebih dari 80% komunitas yang ditangani Rumah Perubahan di kawasan Jati Murni, Bekasi, terdiri atas kalangan under progress. Inilah kalangan yang hidup ekonominya sulit untuk naik kelas. Mereka terdiri atas keluarga-keluarga dengan penghasilan tunggal berkisar antara Rp20.000–50.000 per hari. Profesi orang tua biasanya tukang ojek, buruh bangunan, tukang sate, atau usaha informal lain. Mereka tidak memasukkan anak-anaknya ke taman kanakkanak (TK), kecuali bila ada yang memberi kesempatan. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Rata-rata sekolah TK memungut uang sekolah Rp100.000–150.000. Itu sebabnya, Rumah Perubahan mengurus TK karena pemerintah tidak memberi bantuan pada level ini selain SD-SMA. Dengan income sebesar itu mereka tentu sulit untuk bergaya hidup. Namun menarik disimak, kaum remaja dari anak-anak kalangan ekonomi bawah ini ternyata terkena imbasnya juga. Bergabung dengan anak-anak urban yang berperilaku tertentu, mereka kemudian masuk dalam kelompok yang dikenal dengan istilah alay. Anda mungkin sudah sering mendengar ada beberapa versi mengenai alay.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang mengatakan kata alay berasal dari singkatan anak layangan yang berarti anak kampung yang norak, sok ikut-ikutan bergaya kota namun kurang modal dan penampilan sulit dipoles (karena modal tampang, suara, potongan rambut, kebiasaan, dan berkata-kata sudah menjadi kebiasaan yang dibentuk lingkungan). Ada juga yang mengatakan itu singkatan dari ah lebay (berlebihan), baik anak kampung yang mau ke kota-kotaan atau anak kota yang menjadi ke kampung-kampungan. Namun, terlepas dari bagaimana pun tampang dan manuver mereka, konsumsi yang bisa mereka lakukan hanya bisa didapat dari kerja keras. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekeras upaya seorang pemuda tukang cendol atau kuli bangunan yang tekun mencari income tambahan dengan bekerja di studio-studio musik, sampai akhirnya mereka menjadi penyanyi terkenal seperti yang dialami para personel Kangen Band. Perhatikanlah tampang, suara, dan manner mereka yang tetap sulit dipoles. Namun,seperti Tukul Arwana, Komeng, Sule, para personel Radja, dan ST-12, mereka semua jadi dan berhasil naik kelas karena kerja keras dan akses pada media digital, bukan bermodalkan tampang, ijazah, ataupun siapa orang tua mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di luar mereka kini ada ribuan anak muda yang bermimpi mengikuti jejak itu. Memang sebagian besar masih sekadar ikut-ikutan berkomunikasi yang tampak pada potongan-potongan rambut, gel, celana jeans hipster yang kedodoran, atau celana pensil yang ketat di paha seperti yang dipakai personel band Cangcuters, ponsel dengan casing berwarna-warni. Semua itu dilengkapi dengan gaya hidup yang lepas,agak pamer, pede abis, bahkan sering kali maaf, narsis dan berlebihan. Berfoto tampak dari atas, dengan gaya di tangan yang jari-jarinya diarahkan ke bibir yang dimonyong-monyongkan dan seterusnya. Tetapi, sebagian dari mereka beranggapan semua itu adalah modal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Modal untuk mengakses informasi, untuk menarik minat produsen film dan televisi, untuk menjadi penyanyi atau penggaya lip-sync seperti Sinta dan Jojo yang menirukan lagu Keong Racun, atau untuk menjadi penulis terkenal (melalui microblogger). Di bawah mereka masih ada lagi anak-anak pinggiran yang memilih keluar rumah bergabung dengan kelompok anak-anak punk yang modalnya sungguh pas-pasan. Berbeda dengan anak para elite yang hidup senang, belajar di sekolah internasional, dengan kamera digital dan ponsel terbaru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Progress Paradox &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemajuan yang dicapai ini tentu tidak lepas dari sejuknya angin yang bertiup di Asia-Pasifik. Jumlah orang kaya di tiga negara ini: China, India, dan Indonesia seperti diberitakan SINDO memang sedang tumbuh pesat. Namun, meski demikian harap dicatat, perubahan di abad 21 ini juga dilengkapi dengan suasana paradox, atau lebih tepatnya progress paradox. Ini berarti, kendati kemakmuran manusia meningkat, tidak otomatis kepuasan dan kebahagiaan manusia meningkat. Tak punya mobil terasa miskin, punya mobil terasa beban. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesehatan membaik namun biaya pengobatan naik lebih cepat. Hak bersuara lebih didapat, bersuara bebas terasa nikmat, namun tak didengarkan penguasa terasa lebih menyakitkan. Punya ponsel senang tetapi manakala tetangga punya laptop dan iPad, manusia terasa tertinggal. Demikianlah progress. Kala seseorang sedang bergerak ke atas, selalu mengeluh karena meletihkan, terasa berat. Sebaliknya, saat jalan menurun, kita merasa nyaman. Padahal sedang menuju ke bawah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Susah kok disyukuri. Capek (bergerak naik) kok dipermasalahkan. Itulah hidup dan kehidupan. Uang memang bukan segala-galanya tapi segalanya perlu uang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Rhenald Kasali&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sindo&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-4507179329427314097?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/ZuPZXy6oP3Y" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/ZuPZXy6oP3Y/gairah-usd-3000-per-kapita.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXMXm2ZwUI/AAAAAAAAAJY/1-lMSb1OKf8/s72-c/Rhenald5-dalam.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/08/gairah-usd-3000-per-kapita.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-3011947944740213859</guid><pubDate>Wed, 28 Jul 2010 17:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-28T10:37:22.899-07:00</atom:updated><title>We are human</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TFBqfPzPbHI/AAAAAAAAAJI/txN9nNKukBI/s1600/SangPetualang1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TFBqfPzPbHI/AAAAAAAAAJI/txN9nNKukBI/s320/SangPetualang1.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;bangunlah..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;Sudah bukan waktunya lagi meringkuk manja &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: xx-large;"&gt;dibawah ketiak orangtua&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;... sudah terlalu lama kamu seperti itu, dan sekarang waktunya kamu bangkit dengan kaki sendiri.. lelah sudah mata ini melihat&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: xx-large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: xx-large;"&gt;anak manja&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt; dengan semua ketakutannya akan dunia... ataukah aku tinggalkan saja??&amp;nbsp;dunia ini luas.. jelajahi, dan ambil pelajaran dari sana..&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-3011947944740213859?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/HM0ILlHjqYg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/HM0ILlHjqYg/we-are-human.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TFBqfPzPbHI/AAAAAAAAAJI/txN9nNKukBI/s72-c/SangPetualang1.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/07/we-are-human.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-7712009126731648450</guid><pubDate>Tue, 13 Jul 2010 06:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-13T01:56:47.047-07:00</atom:updated><title>Pak Baharuddin Lopa dan Kita sama2 PNS, tapi...</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TDwN0FAmuZI/AAAAAAAAAJA/ADuJY42eKhc/s1600/Baharudin_lopa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TDwN0FAmuZI/AAAAAAAAAJA/ADuJY42eKhc/s320/Baharudin_lopa.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Baharuddin Lopa, alias Barlop, demikian pendekar hukum itu biasa dipanggil, lahir di rumah 
      panggung berukuran kurang lebih 9 x 11 meter, di Dusun Pambusuang, 
      Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935. Rumah itu sampai sekarang masih 
      kelihatan sederhana untuk ukuran keluarga seorang mantan Menteri Kehakiman 
      dan HAM dan Jaksa Agung. Ibunda pria perokok berat ini bernama Samarinah. 
      Di rumah yang sama juga lahir seorang bekas menteri, Basri Hasanuddin. 
      Lopa dan Basri punya hubungan darah sepupu satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam usia 25, Baharuddin Lopa, sudah menjadi bupati di Majene, Sulawesi 
      Selatan. Ia, ketika itu, gigih menentang Andi Selle, Komandan Batalyon 710 
      yang terkenal kaya karena melakukan penyelundupan. Ketika menjabat Jaksa Tinggi Makassar, ia memburu seorang koruptor kakap, 
      akibatnya ia masuk kotak, hanya menjadi penasihat menteri. Ia pernah 
      memburu kasus mantan Presiden Soeharto dengan mendatangi teman-temannya di 
      Kejaksaan Agung, di saat ia menjabat Sekretaris Jenderal Komnas HAM. Lopa 
      menanyakan kemajuan proses perkara Pak Harto. Memang akhirnya kasus Pak 
      Harto diajukan ke pengadilan, meskipun hakim gagal mengadilinya karena 
      kendala kesehatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut Kisah Inspiratif Baharuddin Lopa, seperti yang saya sadur dari forum Shalahuddin..&lt;br /&gt;
Selamat Membaca!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
----oo0oo----&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;b&gt;09 Juli 2001&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Cermin Lopa buat 
Pejabat Republik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SUNGGUH mulia Tuhan memperlakukan Prof. Dr. 
Haji Baharuddin Lopa. Ia dipanggil sang Pencipta pada Rabu dini hari pekan lalu, 
tak berapa lama setelah menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci Mekah. Kepercayaan 
Islam meyakini, begitu seseorang selesai menjalankan ibadah itu, ia putih bersih 
dari dosa, sebersih bayi yang baru lahir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumat pekan lalu, ketika 
prosesi pemakaman berlangsung di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, 
kemuliaan yang lain didapatnya: ia diberi Bintang Mahaputra oleh Presiden 
Abdurrahman Wahid-penghargaan tertinggi untuk jasanya kepada Republik. Orang 
akan mengenang makamnya sebagai sebuah monumen tentang pergulatan negeri ini 
membebaskan dirinya dari belitan korupsi. Penegak hukum tanpa kompromi yang luar 
biasa bersih itu terbaring di liang nomor 100. Di sebelahnya ada Ibnu Sutowo, 
bekas Direktur Utama Pertamina, tokoh yang mengingatkan rakyat akan megakorupsi 
di perusahaan minyak negara yang nyaris menenggelamkan RI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematiannya 
diratapi banyak orang. Bendera-bendera diturunkan setengah tiang. Skala liputan 
media tentangnya hanya bisa ditandingi peristiwa meninggalnya Sri Sultan 
Hamengku Buwono IX dan Tien Soeharto. Rabu dini hari pekan lalu-sehari setelah 
penyumbatan jantung merenggut jiwanya di Rumah Sakit Al-Hamadi, Riyadh, Arab 
Saudi. Riuh lelang ikan di Paotere, Makassar, digantikan cerita duka para 
nelayan tentang kepergiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru dilantik 1 Juni kemarin sebagai Jaksa 
Agung, putra Mandar kelahiran Pambusuang, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935 ini 
menjadi tumpuan harapan banyak kalangan untuk menegakkan hukum yang lama 
terkulai. Keraguan sementara orang bahwa pengangkatannya cuma didasari 
kepentingan politik Presiden Abdurrahman dijawabnya dengan kerja keras. Langsung 
tancap gas, ia memacu dirinya kelewat keras di usianya yang sudah 66 tahun. Tiap 
hari, ia masuk kantor pukul 08.00 dan pulang ke rumah pukul 16.00. Tapi ini cuma 
untuk tidur sore. Katanya, supaya malam hari ia bisa melek bekerja lagi. Pukul 
19.30, ia kembali ke kantornya sampai larut malam. Kadang sampai pukul dua dini 
hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pribadinya yang sederhana mewakili kerinduan banyak orang akan 
kehadiran pejabat bersih, yang makin langka di negeri keempat paling korup di 
dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti para petinggi Republik yang tiba-tiba saja 
kebanjiran "hibah" semasa menjabat, Lopa mesti menabung sen demi sen gajinya 
untuk merenovasi rumah sederhananya di pinggiran Kota Makassar, di Jalan Merdeka 
4. Salah satu tabungannya adalah sebuah celengan berisi uang receh. Abraham 
Samad, pengacara Ketua Komite Antikorupsi Sulawesi Selatan, bercerita pernah 
melihat Lopa membuka sejumlah celengannya. Ternyata uang itu belum cukup untuk 
membeli balok kayu dan batu. "Terpaksa pembangunan rumahnya ditunda dulu," 
tuturnya mengenang. Padahal, ketika itu Lopa telah menjabat sebagai Direktur 
Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Dirjen Lapas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain dari gaji, ia 
punya mata pencaharian lain. Bukan menjadi konsultan atau komisaris perusahaan 
konglomerat, melainkan membuka wartel dengan lima bilik telepon dan penyewaan 
playstation di samping rumahnya di Pondokbambu, Jakarta. Ia juga rajin menulis 
kolom di berbagai majalah dan harian. Ia terang-terangan mengakui, itu caranya 
menambah penghasilan dari keringat sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga minggu lalu, ia 
menelepon redaksi majalah ini, menanyakan kolom yang ia kirim tapi belum dimuat 
TEMPO. Redaksi memang nyaris menolak kolom itu. Alasan kami, kolom itu aneh, 
Lopa tiba-tiba menulis soal narkoba. Isinya juga biasa saja. Kami bisa saja 
menolaknya, tapi kami tahu persis Lopa sering perlu uang untuk bertahan dengan 
kejujurannya. Akhirnya, redaksi sepakat menugasi redaktur kolom mewawancarai 
Lopa dan menambah "kedalaman" kolom itu. Jumat siang, 15 Juni, justru ia yang 
menelepon kami. "Apa yang mau kau tanyakan?" katanya. Lalu, wawancara 
berlangsung setengah jam dengan redaktur kolom Diah Purnomowati. "Nah, kau 
tambah-tambah sendirilah," katanya waktu itu. Kolom narkoba itu kami muat di 
edisi 17, akhir Juni lalu. Ketika reporter TEMPO Setiyardi mendatanginya untuk 
wawancara setelah kejadian itu, Lopa punya penjelasan menarik mengapa ia 
mendadak menulis narkoba: "Biar orang tahu Jaksa Agung juga paham soal-soal anak 
muda." Ternyata, itulah kolom terakhirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Honor ratusan ribu dari 
menulis kolom inilah yang sering diandalkannya untuk memperbaiki ini dan itu di 
rumahnya. Di tempat tinggalnya itu, listrik sering anjlok dan padam kalau 
setrika, TV, dan kulkas dinyalakan bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reporter Setiyardi punya 
pengalaman unik. Tepat sehari setelah Lopa dilantik sebagai Menteri Kehakiman, 
Koran Tempo membuat karikatur dirinya di rubrik Portal-karikatur di pojok kiri 
bawah Koran Tempo. Dalam karikatur itu digambarkan Lopa bagai gladiator yang 
siap menusuk lawannya, cuma pedangnya bengkok dan mengerut. Sebuah sindiran yang 
"kena" untuk melukiskan kekhawatiran orang bahwa ia "dipasang" Presiden 
Abdurrahman sebagai alat politik kekuasaan. Karikatur itu mengadopsi gaya (dan 
busana Romawi) aktor Russel Crowe dalam film Gladiator. Nah, begitu Setiyardi 
datang ke rumah Lopa, sang tuan rumah bertanya dengan wajah kencang, "Siapa yang 
gambar saya begini?" Setiyardi agak gugup, ia khawatir Lopa marah dan wawancara 
gagal. Maka, ia menjawab, "Wah, itu teman-teman di koran, Pak." Ternyata, Lopa 
malah bilang, "Ini bagus sekali. Tolong kau bikin besar buat saya, baru kau 
boleh wawancara." Desainer Koran Tempo akhirnya mencetak karikatur itu dalam 
ukuran besar dan membingkainya. Sampai sekarang, karikatur Koran Tempo Edisi 4 
April 2001 itu terpajang di ruang tengah rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kisah pengusaha Jusuf 
Kalla memperlihatkan Lopa bukan tipe pejabat yang doyan meminta upeti, apalagi 
"memeras" kiri-kanan. Suatu hari, pengusaha pemegang agen tunggal Toyota di 
kawasan timur Indonesia ini di- telepon Lopa. Ia mau membeli mobil. Di benak 
Jusuf, sebagai Dirjen Lapas, Lopa pasti mau sedan kelas satu. Toyota Crown ia 
tawarkan. Tapi Lopa malah setengah menjerit mendengar harganya, yang sekitar Rp 
100 juta itu. "Mahal sekali. Ada yang murah?" kata Lopa. Cressida seharga Rp 60 
juta pun masih dianggap mahal. Akhirnya, Jusuf menyodorkan Corona senilai Rp 30 
juta. Harganya tak ia sebutkan, karena ia berniat memberikannya untuk Lopa. 
"Begini saja. Tidak usah bicara harga. Bapak kan perlu mobil. Dan jangan 
khawatir, saya tidak ada hubungan bisnis dengan lembaga pemasyarakatan. Saya 
kirim mobil itu besok ke Jakarta," kata Jusuf. Lopa kontan menolak. Yang lucu, 
malah Jusuf si penjual yang sampai menawar harga. "Begini saja. Saya kan pemilik 
mobil, jadi terserah saya mau jual berapa. Saya mau jual mobil itu Rp 5 juta 
saja." Lopa masih menolak, "Jangan begitu. Kau harus jual dengan harga sama 
seperti ke orang lain. Tapi kasih diskon, nanti saya cicil. Tapi jangan kau 
tagih." Akhirnya, tawar-menawar aneh itu mencapai kata sepakat juga. Lopa akan 
membelinya Rp 25 juta. Uang muka sebesar Rp 5 juta langsung dibayar Lopa, 
diantar dalam bungkusan koran bekas. Selebihnya, betul-betul dicicil sampai 
lunas selama tiga tahun empat bulan. "Kadang-kadang dibayar Rp 500 ribu, 
kadang-kadang sejuta," tutur Jusuf Kalla, mengenang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
Lopa juga seorang yang selalu ingat teman di kala susah. Ada cerita tatkala Lopa 
menjabat Dirjen Lembaga Pemasyarakatan (1988-1995). Ketika wartawan Kompas di 
Jakarta, Abun Sanda, diberitakan kecurian di rumahnya, Lopa segera meneleponnya. 
"Wah, saya baca kau kecurian. Saya sedih dan susah juga dengar itu." Beberapa 
hari kemudian, Abun bertemu lagi dengan Dirjen Lembaga Pemasyarakatan itu untuk 
sebuah wawancara. "Abun, sudah tiga hari saya siapkan ini. Saya pikir ini bisa 
meringankan sedikit kesusahanmu. Ini pemberian dari orang tua kepada anaknya. 
Tak ada hubungannya dengan dunia kewartawananmu. Kau sedang di rantau, saya juga 
orang rantau." Abun Sanda berpikir keras, apa yang mau diberikan Lopa kepadanya. 
Ternyata, "Ini ada enam gelas untuk minum. Saya beli sendiri di supermarket," 
kata Lopa. Abun akhirnya menerima bingkisan itu karena tak mungkin menolak 
pemberian setulus itu. Ia amat meyakini, pemberian Lopa itu tentu tanpa pamrih 
dan benar-benar bagian dari kesederhanaan hidupnya yang terlalu sulit dijalankan 
oleh siapa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memang figur yang apa adanya. Ia pun selalu 
berpenampilan seadanya. Selepas magrib, di kantornya ia cuma bersandal jepit, 
mengenakan kain sarung, baju koko, dan songkok hitam yang selalu miring ke 
kanan-ala imam masjid di kampung-kampung suku Mandar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah 
wawancara khusus dengan mingguan ini, ia bahkan cuma mengenakan singlet putih. 
Menu makannya juga bukan buffet di hotel berbintang lima seperti pejabat 
kebanyakan. Suatu waktu, majalah ini tengah menunggunya untuk sebuah wawancara. 
Lopa masih ikut rapat di dalam. Hari sudah larut malam, TEMPO pun pamit sebentar 
untuk makan malam dulu. Lopa langsung menukas, "Oh, kau belum makan? Bagaimana 
kalau makan malamku kita bagi dua," katanya serius, sambil menunjuk piring 
berisi nasi bungkus dengan lauk ikan laut goreng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah sekali waktu, 
ketika menjadi Dirjen Lapas, Lopa berkunjung ke Makassar. Sebelum salat Jumat, 
ia menitipkan tasnya. Tak banyak isinya, tapi ada sebuah tonjolan. "Ini pasti 
pistol," pikir yang dititipi tas. Usai sembahyang, Lopa membuka tasnya. Ternyata 
itu cuma bekal kesukaannya: pisang rebus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang juga melegenda adalah 
sikapnya yang sangat keras dalam urusan penggunaan fasilitas dinas. Jangankan 
tiba-tiba jadi pengusaha dengan segala fasilitas dan katebelece sang ayah, tujuh 
anak Lopa, bahkan juga istrinya, Indrawulan, ia larang menggunakan mobil 
dinasnya. Di Makassar, semasa menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel, warga 
terbiasa melihat mereka berangkat ke pasar dan kampus dengan pete-pete (angkutan 
kota).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap keras itu juga yang ia berlakukan untuk dirinya sendiri. 
Pada suatu Minggu di tahun 1983, Lopa sang Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel 
diundang menjadi saksi pernikahan. Tuan rumah, Riri Amin Daud, yang juga 
kerabatnya, dan pagar ayu telah menunggu kedatangan tamu amat terhormat ini. 
Lama ditunggu, mobil dinas berpelat DD-3 tak kunjung muncul. Tahu-tahu suara 
Lopa sudah terdengar dari dalam rumah. Rupanya, ia bersama istrinya datang 
dengan pete-pete. "Ini hari Minggu, ini juga bukan acara dinas. Jadi, saya tak 
boleh datang dengan mobil kantor," ia menjelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan telepon dinas 
di rumahnya selalu ia kunci. Lopa melarang istri ataupun anak-anaknya 
menggunakannya. Semasa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel, ia sampai 
memasang telepon koin di rumah jabatannya untuk memilah tagihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aisyah, 
salah satu putrinya, juga punya pengalaman unik. Pada 1984, ia menjadi panitia 
sebuah seminar di kampusnya, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Kekurangan 
kursi, Aisyah datang ke kantor ayahnya untuk meminjam kursi di aula Kejaksaan 
Tinggi Sul-Sel. Sebagai jawabannya, Lopa menarik salah satu kursi lipat dan 
memperlihatkan tulisan di baliknya. "Ini, baca. Barang inventaris Kejaksaan 
Tinggi Sul-Sel, bukan inventaris Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Jelas 
toh, ini milik kejaksaan dan tidak bisa dipinjamkan," kata Lopa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala 
kesederhanaan itu jelas bukan karena Lopa hidup melarat. Ia mencatatkan kekayaan 
pribadinya senilai Rp 1,9 miliar dan simpanan US$ 20 ribu. Ia juga terlahir dari 
keluarga terpandang. Di tubuhnya mengalir darah Mara'dia (bangsawan Mandar). 
Kakeknya, Mandawari, adalah Raja Balangnipa-kerajaan besar di Mandar-yang sangat 
dicintai rakyatnya dan juga hidup sederhana. Sudah sejak usia 25 tahun ia 
menjadi pejabat. Ketika itu, ia diminta Panglima Komando Distrik Militer XIV 
Hasanuddin, Kolonel M. Jusuf, menjadi Bupati Majene. Ia dipilih karena dianggap 
sanggup melawan pemberontakan Andi Selle pada tahun 1960. Selain menjadi Kepala 
Kejaksaan Tinggi di empat provinsi-Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Aceh, 
Kalimantan Barat, dan Ternate-doktor lulusan Universitas Diponegoro ini juga 
tercatat sebagai guru besar hukum di Universitas Ha- 
sanuddin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendiriannya itu, kata Lopa kepada TEMPO ketika itu, karena ia 
berpegang pada ajaran agama. Salah satunya dari sebuah hadis Nabi yang berbunyi, 
"Sekalipun anakku Fatimah, kalau ia mencuri, kupotong tangannya." Juga dari 
sebuah peristiwa tragis di Mandar ketika ia masih kanak-kanak. Di pengujung 
tahun 1930, di Balangnipa terjadi sebuah pembunuhan oleh seorang pemuda. Menurut 
hukum adat, ia harus diganjar hukuman mati. Nyawanya cuma bisa diselamatkan jika 
semua pabbicara (pemuka adat) setuju memberi keringanan. Enam dari tujuh 
pabbicara setuju meringankan hukuman. Cuma ada seorang yang bersikukuh 
menjatuhkan hukuman mati. Dia adalah Ketua Dewan Adat. Maka, hukuman mati pun 
dijatuhkan. Sang pemuda meregang nyawa di atas pangkuan sang Ketua Dewan Adat. 
Tak lain, ia adalah ibu kandung si pemuda sendiri. Kisah ini begitu tertanam di 
benak Lopa. ''Saya amat terkesan dengan kisah itu, bahwa penegakan hukum tak 
boleh terhalangi sekalipun karena alasan hubungan darah,'' kata Lopa di banyak 
kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bob Hasan adalah salah satu pesakitan yang merasakan tangan 
keras Lopa. Si Raja Hutan ini tanpa ampun langsung di-Nusakambangan-kan tak lama 
setelah Lopa dilantik menjadi Menteri Kehakiman pada 8 Februari 
lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semasa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sul-Sel (1982-1986), 
"korbannya" adalah Tony Gozal, seorang pengusaha kaya dan salah satu "orang kuat 
Sul-Sel". Tekanan dari segala penjuru tak digubrisnya. Tony ia jebloskan ke 
penjara dalam kasus penyelewengan tanah milik pemerintah daerah. Tengah 
gencar-gencarnya memeriksa Tony, Presiden Soeharto bersama Perdana Menteri 
Singapura Lee Kuan Yew bertemu di Makassar. Tempatnya tak lain di Hotel Makassar 
Golden, hotel termewah di Sul-Sel milik Tony. Lopa ikut menjemput Soeharto dan 
Lee di Bandara Hasanuddin. Tapi ia menolak mengantar sampai ke hotel dan tak mau 
datang ke jamuan makan malam yang dihadiri semua pejabat Sulawesi. "Tidak baik 
saya ke situ. Apa kata orang kalau saya datang ke hotel yang sedang saya sidik," 
kata Lopa. Tony divonis bersalah dan meringkuk di Penjara Gunungsari. Buntutnya, 
Lopa terpental. Pada 1986, ia dimutasi menjadi staf ahli Menteri 
Kehakiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lopa adalah seorang muslim taat. Ia adalah Ketua Yayasan 
Masjid Al-Hidayah, masjid dekat rumahnya di Jakarta. Daniel Dawam, seorang 
pengurus masjid, berkisah suatu saat masjid ini akan direnovasi. Panitia 
kebingungan mencari dana. Mendengar itu, Lopa, ketika itu telah menjabat Dirjen 
Lapas, langsung turun tangan. Selepas salat isya, map formulir sumbangan 
langsung ia edarkan sendiri dari pintu ke pintu. "Dalam tiga bulan, Pak Lopa 
mengumpulkan Rp 250 juta untuk pembangunan masjid," Dawam mengenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi 
ada dua hal yang merisaukannya: terlihat tua dan merengut. Karena itulah, usai 
diwawancarai mingguan ini, ia ngotot mengajak wartawan TEMPO mampir dulu ke 
rumahnya untuk mengambil foto favoritnya. Ini foto saat ia dilantik sebagai 
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Di situ Lopa memang terlihat lebih muda 
dengan senyum yang mengembang. "Saya ingin orang melihat saya sedang tersenyum," 
kata Lopa. Ia tak begitu peduli soal kesehatannya. Rokok kesayangannya, Dunhill 
filter, tak lepas dari jarinya. Ketika ditanya TEMPO soal kesehatannya, ia cuma 
menyeringai sambil berkata, "Sudahlah, tak usah bicara soal kesehatan. Nyawa 
manusia sudah ada yang mengatur." Dan Tuhan telah mengaturkan sebuah kematian 
yang amat mulia buatnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Karaniya Dharmasaputra, Tomi Lebang, Setiyardi (Jakarta),&lt;br /&gt;Syarif Amir 
(Makassar)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
----oo0oo----&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;“ … Saya teringat suara masa ketika saya masih menjabat Pembantu Dekan III 
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas), saat itu Baharuddin Lopa menjabat 
Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, dan salah seorang putrinya adalah 
mahasiswa saya. Suatu ketika mahasiswa Fakultas Hukum Unhas akan 
menyelenggarakan suatu acara, dan kesulitan biaya. Tiba-tiba saya teringat 
dengan sejumlah kursi lipat inventaris yang pernah saya lihat di halaman 
belakang rumah jabatan Kepala Kejaksaan Tinggi, dan saya minta putrinya meminjam 
kursi-kursi itu, agar biaya yang sedianya untuk menyewa kursi dapat 
dihemat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi? Si putri datang menyampaikan kepada saya bahwa 
ayahnya, Baharuddin Lopa, menyatakan, kursi itu inventaris Kejaksaan dan hanya 
dapat digunakan untuk kepentingan Kejaksaan. Beberapa hari setelah itu, saya 
bertemu Baharuddin Lopa, dan beliau langsung mengajak saya duduk berdua. 
Baharuddin Lopa menyampaikan kepada saya bahwa kita harus dapat memisahkan 
urusan kantor dengan urusan pribadi. Bagi beliau, barang inventaris kantor tidak 
bisa dipinjamkan di luar kantor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baharuddin Lopa juga menasihati para 
mahasiswa panitia acara tersebut, untuk membiasakan membuat acara sesederhana 
mungkin, karena jika sudah terbiasa sejak mahasiswa, ketika menjadi pejabat 
tinggi akan semakin menjadi-jadi "nafsu mau dikata".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan kepada 
saya dan para mahasiswa itu, jika suatu saat kalian menjadi pejabat tinggi, 
jangan memaksakan keadaan dan juga jangan menggunakan ajimumpung, yaitu mumpung 
banyak sosok yang berkepentingan yang ramai-ramai mau menyumbang. Jangan pula 
meminta sumbangan atau menerima sumbangan dari orang-orang yang secara tersirat 
maupun tersurat punya kepentingan dengan jabatan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tidak dapat 
saya lupakan ketika Baharuddin Lopa memberi contoh: "Jika Saudara kebetulan 
pejabat tinggi, dan membuat pesta perkawinan anak Saudara, lihatlah, niscaya tak 
terhingga orang-orang yang berkepentingan datang tanpa diminta mengulurkan 
bantuan atau sumbangannya. Sekali Saudara menerima sumbangannya itu, berarti 
Saudara telah menggadaikan integritas jabatan dan pribadi Saudara."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu 
yang dimaksud Baharudddin Lopa adalah jika seorang petinggi Kejaksaan atau 
petinggi pengadilan mengawinkan anaknya, pasti para "pengacara hitam" berebut 
untuk memberikan sumbangan demi semaraknya pesta sang petinggi itu. Yang bagi 
Baharuddin Lopa harus secara tegas ditolaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih ketika Baharuddin 
Lopa menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, mobilnya yang dibawa 
oleh sopirnya ke pompa bensin, diisikan bensin penuh oleh seseorang yang mengaku 
mengenal bahwa mobil itu adalah mobil Kepala Kejaksaan Tinggi. Ketika si sopir 
melaporkan hal itu kepada Baharuddin Lopa, spontan Baharuddin Lopa memerintahkan 
menyedot keluar bensin pemberian tadi dan mengembalikan kepada orangnya dengan 
ucapan terima kasih dan maaf. … “&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Jaksa Agung dan 
Kemewahan”, Achmad Ali Guru Besar Hukum Universitas Hasanuddin Makassar,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
----oo0oo----&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
HARI Selasa tiga pekan lalu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.50. Ajudan 
Jaksa Agung Prof Baharuddin Lopa, Enang Supriyadi Syamsi, tampak gelisah. Ia 
melihat Prof Lopa belum menunjukkan tanda-tanda akan menyudahi pekerjaannya. 
Jaksa Agung masih menekuni sejumlah berkas, ditemani beberapa penasihat ahli dan 
jaksa senior.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan apa-apa, besok pagi Pak Lopa sudah mesti menerima 
sejumlah tamu dan membahas beberapa perkara dengan beberapa jaksa. Siangnya ke 
istana, sore balik ke sini untuk membahas sejumlah berkas perkara. Malam hari 
rapat. Ada rapat penting lagi. Kalau pulang telat begini, kapan beliau 
istirahat?" ujar Enang kepada Kompas dengan nada masygul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseharian 
Lopa, sejak dilantik menjadi Jaksa Agung awal Juni lalu, memang seperti itu, 
pulang pukul 23.00. Ibarat atlet atletik, ia adalah sprinter, pelari cepat. Para 
stafnya di Kejaksaan Agung (Kejagung) tentu saja dibuat terengah-engah oleh 
tempo tinggi yang ia kembangkan. Ritme yang sama ia terapkan ketika menjabat 
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Februari-Juni 2001.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam 
percakapan dengan Kompas pada beberapa kesempatan, Lopa mengakui terus terang 
bahwa ia sempat mengidamkan jabatan Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman, 17 tahun 
silam, tatkala masih menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. 
Tujuannya semata-mata adalah untuk membereskan dunia hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, 
pemerintahan Soeharto (1967-1998) agaknya "takut" memanfaatkan Lopa. Begitu pula 
dengan BJ Babibie (1998-1999), enggan memilih Lopa. Habibie merasa lebih baik 
menggunakan tenaga Lopa sebagai Duta Besar di Arab Saudi. Baru pada era Presiden 
Abdurrahman Wahid, tenaganya dimanfaatkan. Namun, penggunaan tenaga Lopa baru 
dilakukan ketika pemerintahan Abdurrahman Wahid terjepit oleh krisis integritas 
dan kepercayaan publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, ketika jadi Jaksa Agung, Lopa mengatakan, 
ia langsung tancap gas guna memberikan segala kemampuannya untuk menegakkan 
hukum. "Saya sempat enam kali masuk nominasi Jaksa Agung, tetapi tidak pernah 
jadi. Sekarang saya jadi Jaksa Agung. Meski mungkin waktunya sangat pendek, saya 
hendak berikan yang terbaik," kata Lopa, suatu waktu di ruang 
kerjanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lopa menuturkan, ia tidak mempunyai alternatif lain kecuali 
menggunakan kecepatan tinggi. Kejahatan pidana korupsi dan kejahatan pidana 
lainnya sudah demikian menumpuk sehingga harus diantisipasi dengan kecepatan dan 
kecermatan. Rakyat sudah demikian lama merindukan keadilan, mendambakan 
penegakan hukum. Oleh karena itu, segenap kekuatan jaksa harus dikerahkan untuk 
memenuhi asa itu. Ia tidak terlampau menghiraukan, apakah stamina para jaksa 
cukup kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingginya tempo yang dimainkan Lopa boleh jadi menjadi salah 
satu faktor turunnya kondisi kesehatannya. Ia mati-matian bekerja. Ia 
mengabaikan olahraga. Ia sempat tak hirau pada kesehatan, dan acap kali telat 
makan. Penyakit gula dan gangguan jantung yang belum lama ini ia idap, rupanya 
mulai mengganggunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat yang berbarengan, ia berada dalam pressure 
yang amat kuat. Ia hendak menegakkan hukum, dan jalan tanpa kompromi. Siapa pun 
yang bersalah ia sikat. Akibatnya, orang-orang yang merasa terancam oleh gerakan 
Lopa melobi kalangan tertentu yang bisa menekan Lopa dengan jalan 
kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa kesempatan berada di ruang kerjanya, Kompas 
mendengar ia menerima telepon dari beberapa pejabat teras negeri ini. Lopa 
tampak berdebat dan kukuh pada pendiriannya. Ia memang tidak bisa digoyang, 
tetapi pressure keras yang datang terus-menerus, termasuk sinisme media massa 
yang mempertanyakan apakah ia bisa berbuat banyak dalam tempo singkat, membuat 
Lopa lelah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TEMA besar lain yang ia ketengahkan adalah soal 
integritas dan pengabdian jaksa. Ia memperingatkan para jaksa agar tidak 
menerima apa pun dari tersangka, terdakwa, atau para broker. Tidak hanya sampai 
di sini, ia memerlukan memasang iklan di media massa yang intinya menegaskan tak 
seorang jaksa pun dibolehkan menerima apalagi meminta apa pun dari tersangka, 
terdakwa, atau broker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada seorang jaksa pun yang merasa berhak 
mencibir sikap tersebut. Sebab, Lopa adalah teladan yang paling pas untuk urusan 
integritas. Para bawahannya sangat tahu, betapa jujur dan sederhana pria 
kelahiran Mandar, Sulawesi Selatan, 27 Agustus 1935, itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lopa sudah dua 
kali duduk di kabinet, tetapi ia tidak menempati rumah dinas menteri. Ia memilih 
tetap tinggal di Pondok Bambu (Jakarta Timur), rumah sangat sederhana yang ia 
cicil bertahun-tahun. Tidak ada perabotan mewah di rumah yang berbatasan 
langsung dengan Rumah Tahanan Pondok Bambu itu. Satu-satunya yang menonjol ialah 
adanya sebuah warung telepon yang dibuka keluarga Lopa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masuk 
kabinet pun, ia tidak berubah. Beli rokok, misalnya, kerap ia lakukan sendiri, 
dengan bersandal dan mengenakan sarung Bugis. Ia pun tetap menyantap makanan 
kesukaannya, misalnya nasi Padang, coto Makassar, sop konro dan sebagainya. 
Makanan mewah dari restoran atau hotel bintang lima hampir tidak pernah singgah 
di meja makannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengusaha, yang juga mantan Menteri Perindustrian dan 
Perdagangan HM Jusuf Kalla, punya banyak cerita ihwal kejujuran Lopa. Tahun 
1980-an di Makassar, misalnya, tatkala masih menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi 
Sulawesi Selatan, Lopa datang ke kantornya untuk membeli mobil 
Toyota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pak Lopa bertanya berapa harganya, saya sebut sekian juta. Saya 
polos-polos saja berkata, setiap pembelian mobil bisa didiskon. Ia bertanya 
berapa diskon yang wajar. Saya katakan tiga persen. Namun, atas nama pertemanan, 
saya beri diskon 70 persen. Ia kontan menolak. Lho, saya katakan, saya penjual 
mobil dan mobil itu milik saya. Mau saya kasih diskon 70 persen, 80 persen, atau 
bahkan 90 persen, itu urusan saya. Almarhum menolak dan tetap ngotot minta 
diskon wajar, tiga persen. Saya tidak bisa apa-apa kecuali mengatakan iya," 
katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DALAM urusan dinas atau penegakan hukum, almarhum 
memang dikenal amat keras, dan konsisten. Ia tidak mau menerima tamu-meski tamu 
itu sahabat baiknya-kalau ia tahu tamu itu datang bicara perkara yang tengah 
berjalan. Kepada aparatnya, ia juga berlaku ekstra keras. Ia bahkan sampai 
"menginterogasi" pejabat eselon satu yang diduganya "bermain" dalam suatu 
perkara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikapnya ini yang mungkin membuat ia kadang kala tampak 
kesepian. Teman-teman dekatnya acap kikuk berdekatan dengannya. Akan tetapi, 
apakah ia benar-benar kesepian? Jawabannya segera ditemukan tatkala berita bahwa 
ia meninggal dunia disiarkan media massa. Masyarakat dari semua golongan dan 
etnis merasa kehilangan. Sejumlah orang yang selama ini menunjukkan sikap 
berseberangan ikut meratapi kepergiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mestinya, kata advokat OC 
Kaligis, Kejaksaan Agung merasa sangat kehilangan luar biasa atas kepergian 
orang besarnya. "Saya usulkan, Kejaksaan Agung memasang patung Pak Lopa di 
halaman Kejagung. Ini agar semua orang tahu bahwa Kejaksaan Agung pernah 
mempunyai orang sehebat dan sebersih Lopa," kata Kaligis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Seorang 
mahasiswi UI sampai menangis ketika menyampaikan duka citanya atas kepergian 
Lopa," tutur penasihat ahli Jaksa Agung, Prof Achmad Ali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Titin Dewi, 
seorang pegawai public relations di Jakarta, dengan emosional menyatakan, ketika 
Lopa diangkat menjadi Jaksa Agung, ia seperti merasa bahwa bangsa Indonesia yang 
tengah dipeluk kegelapan seperti mendapat penerangan. "Akan tetapi, penerangan 
itu kini padam lagi, sungguh menyedihkan," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsa ini memang 
kehilangan penerangan ketika Lopa berpulang. Pak Lopa, selamat jalan. (Abun 
Sanda)&lt;br /&gt;
---&lt;b&gt;Obituari&lt;br /&gt;Dan, Lampu Itu Pun Redup...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;HOMEPAGE: Mailing List &amp;amp; Database Center - 
&lt;http: www.indopubs.com=""&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/http:&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
----oo0oo----&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;http: www.indopubs.com=""&gt; &lt;/http:&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;“ … &lt;b&gt;Rumah Sederhana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suasana duka mendalam tak hanya terjadi di 
Jakarta. Tapi juga di rumah miliknya di jalan Kumala Merdeka 4 Makassar. Puluhan 
sanak keluarga dan warga setempat mendatangi rumah sederhana yang berada di 
lorong sempit. Mereka yang datang sebagian hanya kebagian berdiri di halaman dan 
jalan setapak karena tidak muat di rumah yang dicicilnya pada 1964 
tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ruang tamu berbentuk "L" terdapat dua sofa yang sudah 
termakan usia. Keduanya dibeli almarhum pada tahun 1985 ketika menjabat Kepala 
kejaksaan Negeri di Ternate, Maluku Utara. Pada dinding terdapat foto-foto 
keluarga dan satu buah lukisan dan bufet yang berisikan beberapa buah keramik 
dan kipas angin kecil yang sudah rusak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapapun yang melihat rumah 
tersebut, tidak akan menyangka bahwa itu milik seorang pejabat tinggi negara. 
Tidak seperti rumah mewah bernilai miliaran rupiah yang dimiliki kebanyakan 
pejabat tinggi di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumah tersebut dijaga saudara kandung 
Baharuddin, Nurlia Lopa yang bekerja di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Setiap 
ke Makassar, Lopa tinggal di rumah ini berkumpul bersama saudara-saudaranya, 
sebelum mereka mudik ke dusun Pambusuang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Dusun itu kedua orang tua 
Lopa, Haji Lopa dan Hajjah Samarinna, dimakamkan. Di sana juga masih tertinggal 
rumah panggung tempat Lopa dilahirkan. Rumah sederhana itu sejak puluhan tahun 
silam, belum pernah direnovasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dalam hidup penuh kesederhanaan 
tersebut, Baharuddin Lopa berhasil membangun tiga buah Masjid di dusun tersebut. 
Lopa sebenarnya punya rencana mendirikan Pesantren. Namun niatnya itu belum 
terwujud hingga ia menghembuskan nafas terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Buah Bibir di 
Makassar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita meninggalnya Prof Dr H Baharuddin Lopa begitu 
mengagetkan warga Makassar. Calon Gubernur di provinsi tersebut kembali menjadi 
buah bibir semua kalangan di Makassar. Mulai pejabat hingga pekerja bangunan dan 
tukang becak, buruh pelabuhan, mandor, tukang batu sampai pengangguran 
menyatakan duka yang mendalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbincangan itu berlangsung di 
warung-warung kopi, di pojok-pojok jalan atau dibawah pohon dan tempat-tempat 
lainnya. Masyarakat Makassar sangat mengenal Lopa tidak saja saat menduduki 
jabatan Jaksa Agung, tapi sejak menjadi Jaksa Tinggi di Sulawesi Selatan. 
Terlebih saat berhasil menjebloskan seorang pengusaha kondang di Sulawesi 
Selatan yang waktu itu dikenal sebagai orang kebal hukum, Tony 
Gozal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba kita ikuti perbincangan di warung kopi di Jalan Veteran Utara 
Makassar. "Kita semua jujur mengakui bahwa kepergian Pak Lopa merupakan 
kehilangan besar bagi kita semua, sebab sukar menemukan penegak hukum seperti 
almarhum," kata Zainullah (35) seorang mandor bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang 
pengunjung warung kopi lainnya, Borahima (35) mengakui bahwa dirinya sangat 
mengagumi Baharuddin Lopa, karena berani menegakan hukum tanpa pantang 
bulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau yang lainnya hanya berani menghukum orang-orang kecil yang 
tidak punya becking, sedangkan Pak Lopa berani menghukum siapa saja yang 
bersalah, biar itu orang besar punya pangkat tinggi," kata 
Borahima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang lainnya yang sehari-harinya menjadi tukang becak 
menimpali. "Meskipun berani menindak para koruptor kakap, namun sulit baginya 
untuk berhasil karena hanya berjuang sendiri," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warung kopi 
diberbagai sudut jalan di kota Makassar yang buka sejak dini hari merupakan 
tempat mengaso warga kota Makassar. Sekaligus dijadikan tempat melakukan 
perbincangan dari segala macam persoalan termasuk masalah politik. Kemarin pojok 
gosip itu menjadikan Lopa "Sang Pendekar Hukum" sebagai topik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ajudan 
Lopa Tahun 70&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lopa adalah figur jaksa Penuntut Umum yang konsisten. 
Bukan baru-baru ini, semasa menjabat Jaksa Agung yang hanya diembannya satu 
bulan tiga hari, tapi sejak awal menjejakan kakinya di kursi penuntut 
umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba kita dengarkan penuturan Drs Pariama Mbyo SH. Ia adalah ajudan 
Lopa saat menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara tahun 
1968-1970.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Begitu mendengar Pak Lopa meninggal di Arab Saudi tadi malam, 
saya langsung menitikan air mata. Semua yang saya alami saat menjadi ajudan 
beliau teringat kembali," kata Pariama kepada ANTARA di Kendari, kemarin 
siang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai ajudan, Pariama yang kini menjabat Kepala Bagian Keuangan 
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, banyak mengetahui kepribadian dan apa saja 
yang dilakukan almarhun saat itu, baik saat berada di kantor maupun di 
luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam urusan dinas, menurut Pariama, Lopa adalah sosok jaksa yang 
sulit dicari tandingannya. "Ia sangat jujur, konsisten dan tegas, terutama yang 
terkait dengan penegakkan hukum," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menegakkan hukum, ia tak 
mengenal saudara, teman atau pangkat/kekayaan seseorang. Sikap itu terlihat saat 
mengusut kasus pengadaan fiktif kitab suci Alqur'an senilai Rp 2 juta yang 
melibatkan Kepala Kanwil Agama Sulawesi Tenggara KH Badawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pak Lopa 
dengan Pak KH Badawi saat itu berteman akrab. Hampir setiap malam Jumat saya 
disuruh menjemput Pak KH Badawi untuk baca doa selamat di rumah Pak Lopa," 
katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ketika KH Badawi diduga terlibat kasus pengadaan fiktif 
kitab suci tersebut, Lopa tidak mau kompromi. Ia langsung memprosesnya. Meskipun 
KH Badawi berkali-kali memohon kepadanya agar tidak memproses kasus 
tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Pariama, Kajati pertama di provinsi itu juga sangat 
alergi terhadap hadiah dalam bentuk apapun. Baik yang diberikan oleh pejabat 
bawahannya maupun pejabat pemerintah lain juga kalangan pengusaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap 
diberi hadiah, selalu ditolaknya dengan halus. "Ia selalu mengatakan kepada 
si-pemberi hadiah bahwa dirinya tidak perlu diberi hadiah karena ia memiliki 
gaji. Yang perlu diberi hadiah adalah rakyat yang susah," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah 
Gubernur Sulawesi Tenggara, waktu itu H Edi Sabara, memberikan hadiah Rp 100.000 
(seratus ribu rupiah pada awal tahun 70-an tentu sangat besar). "Uang tersebut 
tidak diambil, tapi menyuruh saya untuk menyerahkannya kepada panti Jompo di 
Lepo-Lepo Kendari," ujar Pariama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan sehari-hari, Lopa juga 
sangat sederhana. Waktu itu ia hanya memakai pakaian dinas dan kemeja batik yang 
itu-itu saja. Makanan sehari-hari yang menjadi hobinya adalah nasi, ikan lure 
(teri) dan sayur daun singkong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau istrinya ke pasar, tidak boleh 
menggunakan kendaraan dinas dengan alasan ke pasar itu bukan untuk urusan dinas 
tapi untuk urusan pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terhadap karyawannya Lopa juga penuh 
perhatian. "Setiap keluar dari ruang kerjanya langsung ke ruangan kepegawaian 
dan menanyakan kepada kepala kepegawaian, siapa yang mau naik pangkat atau gaji 
dan kalau ada segera ia menandatangani berkasnya," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kalau 
ada karyawan yang bersalah pasti dimemarahi habis. "Tapi segera dimaafkannya 
kalau yang bersangkutan minta maaf," katanya. "Sebagai ajudan waktu itu, saya 
sering mengalaminya," ujar Pariama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lopa juga seorang pengarang. Di kala 
santai dan tiba-tiba muncul ide di pikirannya, ia langsung menyuruh ajudannya 
untuk menulis semua yang diucapkannya hingga kemudian menjadi sebuah 
buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bertugas di Kendari, Lopa sempat menulis beberapa buku 
diantaranya, "Cara-Cara Memberantas Komunis di Sulawesi Tenggara" . Sedangkan 
saat menjadi Kajati Sulawesi Selatan, diantaranya, ia menulis buku tentang 
"Bahaya Komunis dan Demokrasi Kita."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lopa juga banyak menciptakan 
kata-kata mutiara yang kemudian diajarkan kepada bawahannya. Misalnya, yang 
masih diingat Pariama, "Janganlah takut menegakkan hukum dan jangan takut mati 
demi menegakkan hukum."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata mutiara ciptannya itu masih diingat 
oleh anak buahnya selama lebih 30 tahun. Dan kini Lopa "Mati saat meneggakan 
hukum" yang saat ini masih seperti benang basah itu. Kata-kata mutiaranya masih 
sangat relevan. Dan menjadi tugas bagi aparat kejaksaan yang 
ditinggalkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsa Indonesia kehilangan salah seorang putera 
terbaiknya. "Segala kehormatan akan diberikan kepada Pak Lopa, karena beliau 
meninggal dalam menunaikan tugas," kata Alwi Shihab. [Dh, Ant] 
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;[ "Selamat Jalan Pendekar", GATRA&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
----oo0oo----&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Baharudin Lopa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Kinasih's Room | 
2004/12/17 06:11&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baharudin Lopa, sosok jujur yang langka dinegeri 
ini telah meninggalkan negara tercinta dan kita semua, sebelum Beliau dapat 
lebih banyak lagi mengajarkan kepada kita tentang kesederhanaan dan kejujuran. 
LOPA bahkan ketika menjabat Jaksa Agung pun masih KREDIT MOBIL KIJANG untuk 
kendaraan pribadinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingin aku ceritakan kepada Anda sebuah kisah 
kejujuran dari seorang LOPA. Ketika itu sehabis memberikan ceramah dan pidatonya 
di hadapan Mahasiswa Makassar, LOPA diantar ke bandara untuk kembali ke Jakarta. 
Didalam perjalanan, mereka asyik mengobrol dan tentu saja tidak lupa sambil 
menikmati kebiasaan Beliau yang susah dihilangkan, MEROKOK!. Karena keasyikan 
mengobrol, LOPA dengan tidak sadar memasukan ke kantong bajunya KOREK API yang 
dia pinjam dari salah satu mahasiswa pengantarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Baharudin Lopa 
baru menyadari ketika sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. 
Dengan tergesa-gesa Beliau mencari wartel itu dan interlokal ke Makasar untuk 
melacak KOREK API siapa tadi yang tanpa sengaja Beliau masukkan ke kantong 
bajunya. Setelah lama melacak akhirnya dapat ditemukan Mahasiswa yang mempunyai 
korek tersebut. Dan setelah si mahasiswa mengikhaskan korek api tersebut, 
barulah Baharudi Lopa berkenan meninggalkan wartel dan bandara itu untuk pulang 
ke rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa harga yang BELIAU keluarkan untuk interlokal ke 
Makasar tentu tidak sebanding dengan harga KOREK API yang tanpa sengaja terbawa 
itu. Subhanallah.Wallohu'alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Diceritakan oleh Emha Ainun Najib (Kenduri 
Cinta, 15 Desember 2004)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div id="post_message_385732"&gt;
&lt;div id="post_message_386192"&gt;
&lt;b&gt;"&lt;/b&gt; ... Sejak menjabat Jaksa Agung, Lopa 
menggebrak dengan memburu tersangka kasus korupsi. Dia meminta tersangka kasus 
korupsi Sjamsul Nursalim yang sedang dirawat di Jepang dan Prajogo Pangestu yang 
dirawat di Singapura untuk segera pulang ke Jakarta. Lopa juga memutuskan untuk 
melarang keluar negeri Marimutu Sinivasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain memburu konglomerat, 
Lopa juga sedang menyelidiki keterlibatan Arifin Panigoro, Akbar Tandjung, dan 
Nurdin Halid dalam berbagai kasus korupsi. Gebrakan Lopa itu sempat dinilai 
bernuansa politik oleh berbagai kalangan, namun Lopa tidak mundur. Bahkan, Lopa 
menjanjikan pemeriksaan akan terus dilanjutkan, kecuali kalau dia sudah tidak 
menjadi Jaksa Agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak menjabat Jaksa Agung, 6 Juni 2001, 
menggantikan Marzuki Darusman, Lopa bekerja keras untuk memberantas korupsi. Dia 
bersama staf ahli Dr Andi Hamzah dan Prof Dr Achmad Ali dan staf lainnya, masih 
tampak di kantornya hingga pukul 23.00. ... &lt;b&gt;"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
----oo0oo----&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“&lt;/b&gt; 
… &lt;b&gt;Perginya Sang Pendekar Hukum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KALAUPUN esok langit akan runtuh, 
maka saya akan berusaha untuk menegakkan hukum. Negeri ini tidak akan pernah 
bisa sampai kepada cita-citanya untuk mencapai masyarakat adil dan makmur tanpa 
ada penegakan hukum. Itulah kata-kata yang diutarakan Prof Baharuddin Lopa 
ketika ditanya mengapa ia mau menerima jabatan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi 
Manusia pada sebuah pemerintahan yang sedang berada di ujung tanduk. Banyak 
orang yang mempertanyakan untuk apa Baharuddin Lopa mau mempertaruhkan nama 
baiknya pada sesuatu yang tidak pasti. Bahkan, ketika kemudian ia dipindahkan 
lagi untuk menempati jabatan sebagai Jaksa Agung, padahal Sidang Istimewa MPR 
untuk meminta pertanggungjawaban Presiden tinggal di depan mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, 
itulah Baharuddin Lopa. Ia dilahirkan sebagai seorang pendekar hukum. Ia merasa 
berdosa apabila tidak memberikan sumbangsihnya untuk menegakkan hukum di negeri 
ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menyangsikan kejujuran dan komitmen seorang Lopa. 
Bahkan, di zaman Soeharto, ia berani melawan arus untuk menghantam segala 
sesuatu yang berbau KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Sayang Lopa hadir di 
waktu yang tidak tepat, di saat kondisi politik sama sekali tidak mendukung bagi 
dirinya untuk menegakkan hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketulusan dan bahkan kenaifannya kadang 
dimanfaatkan oleh para politisi. Dalam suatu pertemuan dengan pemimpin redaksi 
surat kabar, Lopa baru sadar bahwa dirinya dimanfaatkan oleh pihak tertentu 
ketika ia diminta menemui pimpinan DPR untuk meminta agar DPR tidak mengeluarkan 
memorandum kepada Presiden.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia baru sadar kemudian ketika diingatkan 
bahwa tindakannya itu bisa dikategorikan sebagai contempt of parliament. Ia pun 
merasa ngeri ketika diingatkan peristiwa Magna Charta di mana eksekutif yang 
mencoba melampaui kewenangan parlemen kemudian dipancung 
kepalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Lopa tidak merasa menyesal. Paling tidak ia merasa 
telah melakukan upaya terbaik untuk menghindarkan hal-hal yang tidak baik bagi 
negeri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mungkin baik juga bahwa sayalah yang datang, karena menurut 
teman-teman di DPR, karena sayalah maka mereka mau menerima. Kalau bukan saya, 
mereka mengatakan, tidak mau menerima. Dan kalau sampai seorang menteri lain 
datang dan tidak diterima oleh DPR, bagaimana citra pemerintahan dan kabinet 
jadinya," kata Lopa ketika itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
SEBAGAI seorang pendekar 
hukum, Lopa seorang yang apolitik. Ia mengakui bahwa dirinya tidak paham 
lika-liku politik dan ia tidak menutup diri bahwa dirinya kadang dimanfaatkan 
orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia merasa kecewa ketika muncul isu bahwa dirinyalah yang 
mengusulkan dikeluarkannya dekrit kepada Presiden. Menurut Lopa, tidaklah 
mungkin dirinya memberi usulan yang bertentangan dengan aturan 
hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Beberapa kali saya menulis di Kompas mengenai pentingnya 
penegakan hukum. Silakan periksa tulisan-tulisan saya. Bagi saya penegakan hukum 
tidak bisa ditawar-tawar lagi. Masa kemudian saya mengusulkan sebuah tindakan 
yang jelas-jelas bertentangan dengan hokum," kata Lopa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia kemudian 
menjelaskan duduk perkara dari semua isu tersebut. Menurut Lopa, dirinya diminta 
pandangan hukum tentang kemungkinan Presiden mengeluarkan dekrit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Karena 
saya diminta, saya menyiapkan sebuah paper. Dalam paper itu saya jelaskan bahwa 
ada beberapa sistem pemerintahan di dunia ini. Saya jelaskan bahwa kepala 
pemerintahan dan parlemen bisa saling membubarkan apabila ada perbedaan 
pandangan. Namun itu berlaku pada negara-negara yang menerapkan sistem 
parlementer. Dalam sistem presidensial hal itu tidak dimungkinkan, karena 
kedudukan kepala pemerintahan dan parlemen sejajar," kata Lopa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oleh 
karena kita menganut sistem presidensial, maka seyogianya tidak dilakukan 
pembubaran parlemen. Kalau itu dilakukan maka itu bertentangan dengan 
konstitusi," tambah Lopa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski merasa kecewa dengan pandangan yang 
keliru, apalagi kemudian diblow-up oleh media massa, Lopa merasa tidak harus 
marah. "Mereka melakukan hal itu karena mereka tidak mengerti. Saya mengikuti 
jejak Nabi Muhammad SAW yang selalu sabar menghadapi segala cobaan, meski itu 
menyakitkan," kata Lopa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah nada bicara yang tegas, Lopa memang 
menyimpan kelembutan. Setiap ucapannya selalu mengacu kepada contoh-contoh yang 
selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prof Baharuddin Lopa tampak berusaha 
semakin dekat dengan Tuhan dan Nabinya. Itu pulalah yang terlihat dari 
keinginannya untuk menjalankan ibadah umrah di sela-sela penyerahan jabatannya 
sebagai Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi. Ternyata itu merupakan 
ibadahnya yang terakhir dan sekaligus perjalanannya yang 
terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Jalan Prof Baharuddin Lopa. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi 
Rajiun.&lt;br /&gt;
(tom) … &lt;b&gt;“&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: black;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/relasimania/message/7039" target="_blank"&gt;http://groups.yahoo.com/group/relasimania/message/7039&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
----oo0oo----&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-7712009126731648450?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/H3vdPNUevyc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/H3vdPNUevyc/pak-baharuddin-lopa-dan-kita-sama2-pns.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TDwN0FAmuZI/AAAAAAAAAJA/ADuJY42eKhc/s72-c/Baharudin_lopa.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>6</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/07/pak-baharuddin-lopa-dan-kita-sama2-pns.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-5558563676543793766</guid><pubDate>Sat, 10 Jul 2010 10:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-10T03:07:27.983-07:00</atom:updated><title>Mencegah tekanan darah rendah</title><description>Sudah beberapa hari ini sepertinya badan agak kurang fit, gampang capek, kalau mau berubah posisi duduk mulai pusing-pusing, ditambah bikin laporan... makin pusing deh.. (padahal kerjaan ga banyak..)&lt;br /&gt;
Sesegera mungkin saya periksa ke dokter umum, dan seperti yang saya duga, hipotensi alias tekanan darah rendah.. 90/60 mmHg.. setelah googling kesana kemari, baru saya tahu, katanya tensi darah 90/60 itu ambang rendah.&lt;br /&gt;
Okelah, saat itu juga saya putuskan untuk hidup sehat dan mulai introspeksi asupan gizi sebelumnya. Menurut mbah google.com, penderita hipotensi ada kemungkian besar sering kambuh. Nah, untuk pencegahannya ada banyak cara, dan sebagian besar ini berkaitan dengan asupan makanan dan minuman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Minum air putih yang banyak 8 gelas sampai 10 gelas sehari. sesekali mimun kopi agar memicu degup jantung sehingga tekanan darah akan meningkat -- &lt;i&gt;minum kopi hampir tiap hari, harusnya malah jadi tekanan darah tinggi yak?? tapi kok malah darah rendah... oooh iya, minum air putihnya yang kurang... ^___^&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung kadar garam -- &lt;i&gt;mmm.. ini maksudnya yang asin-asin apa ya?? waduuu.. tak suka saya.. gimana nih.. mm diskip aja ya yg ini..&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berolah raga secara teratur minimal 30 menit setiap pagi, minimal 3 kali seminggu.. -- &lt;i&gt;mm.. gimana ya.. senam jumat aja jarang.. paling sering jalan2 sore abis kerja.. jalan2 ke mall.. heehe.. ini juga kali penyebabnya ya.. yupp mulai sekarang harus mulai olahragaaaaa jumaat...&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sarapan pagi,&lt;i&gt; &amp;nbsp;-- mm.. udah mulai rajin sekarang..&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidur yang cukup &lt;i&gt;-- paling malem jam 11 lah sekarang ini.. lumayan ada waktu 6 jam buat tidur.. udah cukup kan?&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Makan daging kambing (sate kambing, gulai kambing) &lt;i&gt;-- hueks, kambing itu bau terkadang walopun udah dimasak.. apalagi sate kambing, kebanyakan kayak bukan dagingnya.. yah tapi demi hidup sehat, aye jabanin daah&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Semoga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-5558563676543793766?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/HU2xkiwiDiQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/HU2xkiwiDiQ/mencegah-tekanan-darah-rendah.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/07/mencegah-tekanan-darah-rendah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1469328152429411376</guid><pubDate>Tue, 29 Jun 2010 08:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T02:11:28.546-07:00</atom:updated><title>Pidato Sri Mulyani Indrawati di Ritz Carlton PP, Selasa malam, 18 Mei 2010</title><description>&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCm29XMGF_I/AAAAAAAAAIk/_Z2qwzd4Sn4/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCm29XMGF_I/AAAAAAAAAIk/_Z2qwzd4Sn4/s200/images.jpg" width="143" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;"&lt;b&gt;Saya&lt;/b&gt; rasanya lebih 
berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa 
merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu 
yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya 
diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap 
itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil 'Marsilam', selalu pakai 
'pak', dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky 
Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas...... (tepuk 
tangan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Tapi saya jelas nggak 
berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas 
introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam 
hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan 
biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang 
harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana 
menjelaskan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan malam ini tidak 
ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas 
internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya 
mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi 
mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan 
publik dan etika publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Yang kedua, meskipun 
tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada 
dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya 
adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus 
menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih 
pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada 
siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan 
aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Tapi saya diminta 
untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu 
topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari 
pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di 
Republik Indonesia itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Suatu penerimaan 
jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk 
memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya, 
setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, 
yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Disitu letak pertama 
dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda 
semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik 
oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. 
Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis 
antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi 
saya dan keluarga, atau kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan sebetulnya tidak 
harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu. 
Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana 
begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan 
kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami 
konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan 
publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau 
kepentingan pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Di dalam ranah itulah 
kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk 
pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita 
harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi 
sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, 
yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu 
mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Jadi kebijakan pubik 
dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat 
melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis 
karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan 
untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai 
ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu 
sangat mudah menggelincirkan kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Kekuasaan selalu 
cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya 
yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada 
saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu 
sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan 'kalau saya mau 
menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya 
lakukan?'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Oleh karena itu, di 
dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita 
daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada 
saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya 
tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk 
kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda. 
Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar 
sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri 
Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun 
orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Bayangkan, seseorang 
harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari 
saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset. 
Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak 
sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung....(ada air putih langsung 
datang diiringi ketawa hadirin).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Saya sudah melihat 
banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang 
memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah 
mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa 
yang dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya 
sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan disitulah hal-hal 
yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang 
sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita 
dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan 
penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, 
bahkan berpikir untuk meng-abusenya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Barangkali itu 
istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang 
katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata 'bau'nya 
tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak 
mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia 
hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Nah, di dalam 
hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan 
bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang 
begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun 
eksternal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Mungkin contoh untuk 
internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. "Tolong 
beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri." Biasanya 
mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya 
menetri boleh semuanya termasuk mecat saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Kalau seorang menteri 
kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu 
pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit 
dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah 
dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata 
kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check 
and balance.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Karena kebijakan 
publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan 
konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh 
dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri 
Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari 
korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan 
hulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan bahkan dengan 
kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan 
kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa 
menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa 
menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Godaan itulah yang 
sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu 
hal, maka tidak akan pernah berhenti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Namun, meskipun kita 
mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan 
pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa 
dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika 
menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu 
pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati 
kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa 
kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri 
kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan kemudian kalau 
kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya 
agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat 
atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika 
pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, 
yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada 
kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Saya termasuk yang 
sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak 
terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk 
berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada 
pura-pura sungguh-sungguh. Merek emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka 
dengan tenangnya mengatakan 'Ini adalah panggung politik bu.'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Waktu saya dulu masuk 
menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, 
Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena 
pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota 
dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari...? Segala macem. 
Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat 
keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, "Oh ini ongkos demokrasi yang harus 
dibayar." Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan 
mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Waktu sudah ditulis 
mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya 
dinasehati oleh Dirjen saya itu, "Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal 
seperti itu hanya satu episod drama saja. " Tapi kemudian itu menimbulkan satu 
pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi 
dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus 
berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa 
itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi 
guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan 
itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat 
publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, 
jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya 
akan split personality.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Waktu di dewan saya 
menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, 
waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah 
bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk 
seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan 
sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu 
sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi 
seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara 
konsisten.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Nah, oleh karena itu, 
didalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik 
yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu 
tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan 
rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik 
di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan 
dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa 
tidak hanya double standrart, triple standart.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan bahkan kalau kita 
bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul 
terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya 
mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. HAri pertama saya diminta 
untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, 
do dan don'ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. 
Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level 
internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses 
politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan 
kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat 
yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan 
counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Sehingga bekerja di 
institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya 
kebangetan aja anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman 
pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat 
suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah 
belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu 
adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. 
Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi 
ke siapa itu adalah urusan sekunder.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Anda bisa melihat 
bahwa kalau pejabat itu adalah background nya pengusaha, meskipun yang 
bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang 
tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa' semuanya masih run. 
Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, 
kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya?i 
drop my job atau apa..bengong itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Kita bingung bahwa 
ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. 
Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport 
adalah perusahaannya dia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Nah ini merupakan 
sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky 
tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah 
penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, 
tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia 
mengkooptasi decision making process juga. Kelihatannya demokrasi, kelihatannya 
melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik 
kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut 
pak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Ada suatu saat saya 
membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. 
Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa 
perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya 
aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang 
itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan 
mereka adlaah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter 
mengatakan, "Mba ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita 
disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Saya ingin 
menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai 
etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. 
Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi 
barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin 
menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di 
dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau 
di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti 'Lihat saja 
Sri Mulyani, neolib.'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Jadi saya mungkin 
akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu 
keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di 
dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate 
shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan 
dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check 
terhadap CEO nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan proses ini 
ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk 
menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi, 
membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya 
sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri 
keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak 
kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban 
personal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Seseorang akan 
menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of 
investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan 
sya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita 
pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau 
mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali 
yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya 
ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal 
sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak 
bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Sehingga memunculkan 
suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah 
kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar 
melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN 
nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang 
bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah 
adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;pertanyaan untuk kita 
semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari 
kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti 
akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. KArena kebijakan publik 
adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi 
adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan itu akan menjadi 
pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita 
dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadibagian dari pemerintah, 
Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari 
kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu 
kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu 
perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Kalau pada hari ini 
tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada 
yang gelo (jawa:menyesal.red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur 
dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap 
bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik 
tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan 
itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, 
saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan 
tepuktangan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Karena politik itu 
lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua 
ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik 
tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu 
bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin 
untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat 
publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi 
orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu 
gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa 
saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip 
itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu 
besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng 
abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman 
dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di 
apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat 
mengusapkan saputangan ke matanya).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Jadi ya terlambat 
tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini 
lah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Jadi saya tidak tahu 
tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas 
jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya 
nyanyi aja balik terus nanti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Mungkin saya akan 
mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya 
ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai 
politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama 
lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya 
perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada 
saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik 
merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang 
harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan 
kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu 
bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak 
Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay 
saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu 
kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk 
berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. 
Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, 
you suddenly feel that everybody is your enemy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Karena no one yang 
sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap 
berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita 
tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam 
di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga 
kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak 
sehingga kita bisa menemukan kesamaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Nah kalau kita ingin 
kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini 
atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah 
kelompok kelas menengah. Yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu 
tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak 
sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu 
kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda 
yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada 
negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka 
sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. 
Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, 
kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah 
ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting 
dibandingkan bank dunia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Seolah-olah 
sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan 
saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau 
bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. 
Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus 
menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, 
"Jangan pernah putus asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit 
mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Kecintaan itu paling 
tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di 
dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi 
kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah 
ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah 
direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Saya ingin memberikan 
testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah 
orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka 
juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada 
masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian 
dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Sebagian kecil adalah 
kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya 
katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong 
dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan 
oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh 
cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa 
seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus 
melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian 
keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka 
untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap 
menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa 
diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak 
juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Suasana yang kita 
rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah 
persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian 
pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya 
menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat 
keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, 
kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. 
Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya 
sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia 
diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang 
lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan 
orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka 
tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa 
yang bisa bilang atau marahin pak marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan 
sama dia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Mereka ada disana 
hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan 
sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan 
secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu 
kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri 
Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu 
memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan 
publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize 
oleh sebuah proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim 
orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain 
pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century. 
Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan 
mengenai suatu penghakiman telah terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Sebetulnya disitulah 
letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang 
dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk 
dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali 
adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami 
konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan 
berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita 
dibenturkan dengan realita-realita politik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Dan untuk itu, saya 
hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri 
mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan 
keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. 
Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. 
Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena 
tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. 
(applause)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0in 0in 10pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;Saya merasa berhasil 
dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak 
menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama 
saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. 
Terimakasih"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;(standing 
applause)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: 'Arial','sans-serif'; font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Dikutip 
dari notes facebook Aditya Suharmoko (jurnalis The Jakarta Post), pidato 
ditranskrip oleh Ririn Radiawati Kusuma (jurnalis Media 
Indonesia).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-1469328152429411376?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/-CZWAsq1II0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/-CZWAsq1II0/pidato-sri-mulyani-indrawati-di-ritz.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCm29XMGF_I/AAAAAAAAAIk/_Z2qwzd4Sn4/s72-c/images.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/pidato-sri-mulyani-indrawati-di-ritz.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2853587517946823054</guid><pubDate>Sat, 26 Jun 2010 16:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T04:17:10.859-07:00</atom:updated><title>Tony Sly</title><description>&amp;nbsp;Download Link : &lt;a href="http://www59.indowebster.com/52d7543fbeecc58b941dd8f912b953e0.rar"&gt;Tony
 Sly and Joey Cape - Accoustic&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Download Link : &lt;a href="http://www.indowebster.com/Tony_Sly_Via_munich.html"&gt;Tony Sly - 
Via Munich&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCnWBEfDkTI/AAAAAAAAAIs/cpSjAO9TY7k/s1600/300px-Zepper-Tony_Sly_%28NUFAN%29.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCnWBEfDkTI/AAAAAAAAAIs/cpSjAO9TY7k/s200/300px-Zepper-Tony_Sly_%28NUFAN%29.jpeg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Tony Sly was a frontman of a punk rock-band, NUFAN (No Use For A Name). It come from California, USA with Chris Dodge (guitar), Steve Papoutsis (bass),
 Rory Koff (drums), and Tony Sly (vocals), was formed in 1987.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
On 2004, Tony Sly together with Joey Cape, two of the best songwriter in punk, released a debut album "Accoustic". Once you hear one of their song, you will eager to hear the rest of their album. Pick this album, and I promise you will not be dissapointed. This album is a masterpiece.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tony Sly, proves that he is comfortable working in the mellow indie rock genre on 
his solo CD “12 Song Program.”  He is not just comfortable working with 
this softer music, he is comfortable working with all of it’s sounds and
 tones and moves between these with ease. With solid vocal and strong instrumental, Sly serves a simple and pretty album. It has almost sounds like a country song. It is a quiet romantic, meaningful, and provoke thought that it's more than just being beautiful.&lt;br /&gt;
Listen this song "Via Munich", you'll get what I tell you about beautiful and meaningful..&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp;Via Munich&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Every time I see it clearly&lt;br /&gt;
It's a time that you are near me&lt;br /&gt;
I just don't see the world without you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Walkin' down the streets of munich&lt;br /&gt;
Where I tried to drink my self sick&lt;br /&gt;
Try to forget and soon it will be through&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
But I sing your song&lt;br /&gt;
Where ever I go&lt;br /&gt;
You're along&lt;br /&gt;
Not actually, but in my mind&lt;br /&gt;
We cheers another day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2 weeks left, the world is wasted&lt;br /&gt;
There's nothing poetic about it&lt;br /&gt;
The fact is that I'm looking for a friend&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
One that doesn't talk to me&lt;br /&gt;
And kindly serves me until three&lt;br /&gt;
Not someone that will be there in the end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
But I sing your song&lt;br /&gt;
Where ever I go&lt;br /&gt;
You're along&lt;br /&gt;
Not actually, but in my mind&lt;br /&gt;
We cheers another day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Nothing new to us&lt;br /&gt;
But every time it does get worse&lt;br /&gt;
But nevermind, that's life&lt;br /&gt;
And all we have is time&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;





&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-2853587517946823054?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/Sa4QntghTag" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/Sa4QntghTag/tony-sly.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCnWBEfDkTI/AAAAAAAAAIs/cpSjAO9TY7k/s72-c/300px-Zepper-Tony_Sly_%28NUFAN%29.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/tony-sly.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-5364629437590773482</guid><pubDate>Thu, 24 Jun 2010 13:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T21:26:27.968-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perpajakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">DJP</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><title>Membangun Morale Pajak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCrGOVuPi8I/AAAAAAAAAI0/276v7_T6F-0/s1600/rhenald-kasali.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCrGOVuPi8I/AAAAAAAAAI0/276v7_T6F-0/s200/rhenald-kasali.jpg" width="155" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dapet satu lagi tulisan yang bagus. Kali ini dari Bung Rhenald Kasali, seorang akademisi dan praktisi bisnis Indonesia yang sekarang menjabat sebagai ketua Program MM UI. Berikut saya copas dari &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/333402/38/"&gt;Harian Seputar Indonesia&lt;/a&gt;. Mari kita simak sama-sama. Selamat membaca!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KETIKA ribuan orang dan para elite mencaci-maki Direktorat Jenderal
(Ditjen) Pajak gara-gara Gayus Tambunan, lenyaplah morale
(spirit,kegigihan,dan kegairahan) para pegawai.


&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang sama saya rasakan di 
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat proses “kriminalisasi” pimpinan 
berlangsung, mulai dari kasus Antasari sampai Bibit-Chandra. Sayang, 
pimpinan yang tinggal dua di KPK saat itu terlalu sibuk untuk memikirkan
 masalah morale ini. Informasi yang saya temui menyebutkan, gangguan 
psikologis mulai membuat mereka lamban bertindak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal serupa 
bisa saja terjadi di Ditjen Pajak. Apalagi mantan dirjennya, yang dulu 
mungkin tak berbuat apa-apa, hampir setiap hari muncul di televisi 
mencacimaki Ditjen Pajak. Dia merasa Ditjen Pajak dulu lebih baik 
daripada sekarang. Terhadap ocehan seperti ini, secara kritis saya hanya
 bisa mengatakan,” Apa kata dunia?” Beruntung, pemerintah segera 
merumuskan pengganti mereka yang tak kalah cekatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan 
beruntung pula di Ditjen Pajak sudah ada hasil yang memadai dari 
reformasi birokrasi perpajakan jilid satu yang lalu. Beruntunglah Ditjen
 Pajak segera bertindak, menyatukan morale yang dipelopori para reformer
 yang “gerah” dikait-kaitkan dengan Gayus. Apa yang harus dilakukan 
Ditjen Pajak untuk memperkuat pilar bangsa agar dana pajak dapat terus 
ditingkatkan dan diamankan dari orang-orang rakus? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Halte Bus Gayus &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui siaran
 televisi Anda sudah sering menyaksikan kondektur bus yang melewati 
Kantor Ditjen Pajak di dekat jembatan Semanggi, menyebut kantor itu 
dengan nama Gayus. Begitu kerasnya amarah rakyat terhadap Gayus, sampai 
seluruh insan Ditjen Pajak terkena imbas. Beberapa orang muda pegawai 
pajak yang naik bus kota bahkan memilih untuk turun di halte bus sebelum
 atau setelah halte Gayus lalu berjalan kaki sejauh 1-2 km menuju 
kantor. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Seperti masyarakat umum,mereka juga kecewa pada 
atasannya, terlebih pada yang terlibat kasus Gayus. Mereka marah besar, 
apalagi selama ini sudah bertekad antikorupsi. Bekerja di Ditjen Pajak 
hidup mereka benar-benar berada dalam ujian. Setiap hari orang datang 
merasakan kompromi beserta amplop tebal.Tapi,kalau Anda tanya kepada 
pembayar pajak seperti saya, saya yakin jawabnya akan sama: Banyak 
pembaruan yang telah mereka lakukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang mantan pegawai 
pajak di era lalu mengatakan,“Dulu 8 dari 10 petugas pajak adalah markus
 dan pemburu amplop. Sekarang jumlahnya sudah jauh berkurang, tetapi 
masih ada,mungkin 2 dari 10”. Mendengar ucapan itu, saya jadi 
tersenyum,bagaimana mantan Dirjen Pajak yang sekarang menjadi praktisi 
dan sering muncul di televisi bisa bilang,zaman dia itu jauh lebih baik 
dari sekarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, itulah politik, penuh intrik, balas 
dendam, tapi tidak kritis, cuma sinis. Yang mereka suka tidak berpikir 
panjang adalah apa dampaknya bagi nasib bangsa di kemudian hari? 
Bayangkan kalau orang pajak yang bagusbagus ramai-ramai mengundurkan 
diri. Atau kalau mereka jadi tak bergairah memburu wajib pajakwajib 
pajak kakap? Morale kerja adalah modal utama seorang pegawai.Sejak 
mazhab learning dalam manajemen hidup, aliran Isaac Newton yang kaya 
dengan logika terstruktur sudah lama ditinggalkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia tidak
 bisa lagi dipandang sebagai komponen yang sama dan standar. Dia juga 
bukanlah sebuah objek yang duduk dalam hierarki vertikal pada suatu 
jajaran birokrasi. Manusia adalah makhluk hidup yang dilahirkan dengan 
nalar, kehendak, dan perasaan. Ketika kita gagal memahaminya,gagal 
pulalah kita memartisipasikan mereka. Untuk itulah,kita perlu terus 
menumbuhkan morale birokrasi, terutama jajaran yang ditugaskan untuk 
menghimpun dana dalam jumlah besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri morale dapat 
dilihat secara kasatmata dalam daya juang, semangat hidup, daya kreasi, 
daya tangkal, dan tentu saja besarnya goals yang mereka tetapkan. 
Sedangkan morale yang memburuk dapat dilihat dari kegairahan yang 
memudar, bekerja karena diperintah, ketidaksempurnaan pencapaian target,
 konflik, keinginan untuk berhenti, tak ada inisiatif, dan saling 
menyalahkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lingkaran Baik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pekan
 lalu Rumah Perubahan diminta bantuan untuk membangun kembali morale 
aparat Ditjen Pajak. Ini untuk kesekian kalinya saya membantu temanteman
 Ditjen Pajak sehingga saya agak kenal siapa mereka, apa pergulatan yang
 mereka hadapi, dan bagaimana perubahan menghantam mereka. Sembilan 
tahun lalu saya mulai bergulat dengan mereka menantang asumsi-asumsi 
yang mereka anut selama bertahun-tahun dan mengajak keluar melawan 
belenggu-belenggu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu ketika Darmin Nasution memimpin Ditjen 
Pajak, saya juga diminta memberikan pengarahan tentang Strategic Change 
&amp;amp; Planning dalam mengawal reformasi pajak jilid satu. Semua program 
perubahan di Ditjen Pajak mereka kerjakan sendiri praktis tanpa bantuan 
konsultan.Padahal di luar sudah banyak konsultan asing yang menganga di 
depan mereka. Sebagai guru perubahan, saya selalu mengatakan empat hal 
ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, perubahan selalu datang bersama teman-temannya 
yaitu penyangkalan, perlawanan (resistensi), kecurigaan, dan 
pengkhianatan internal.Kedua, perubahan tidak pernah bergerak lincah 
seperti garis lurus yang mengikuti pola teratur. Perubahan memiliki dua 
pola berbentuk spiral yaitu lingkaran baik dan lingkaran setan. 
Lingkaran spiral itu dapat dijelaskan seperti orang yang menaiki gunung.
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia melewati lekuk liku kontur gunung yang kadang menanjak,lalu
 menurun, dan naik lagi.Meski banyak melewati turunan, arahnya menuju 
puncak dapat dilihat. Sedangkan lingkaran setan tak memberi kepastian 
tujuan. Bila ada masalah setelah lama berhasil, dia segera menukikkan 
balik ke titik nol. Seperti kata Chairil Anwar,” Sekali berarti,lalu 
mati.” Ketiga,tidak semua orang dapat diajak berubah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibarat 
tanah di perbukitan yang tandus ingin diubah menjadi hutan,hendaknya 
kita tak perlu berambisi dengan menanam semua titik. Kita cukup menanam 
benih pada tanah yang subur, dan mendiamkan batu-batu besar berada di 
sana. Lalu pohon-pohon besar itu akan mengeluarkan biji. Biji-biji 
dibawa musang, tikus, bajing, dan seterusnya menambah area persebaran. 
Lama-lama batu tertutup oleh pohon-pohon besar, dan bukit menjadi 
hijau.Namun, batu tetaplah batu,bukan tanah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat,perubahan 
harus dimulai dari kesamaan cara pandang. Dari semua orang yang melihat,
 bahkan hanya 20% yang bergerak.Maka ketika Ditjen Pajak mendapat 
serangan,saya kira harus ada orang yang mengambil peran. Bukan untuk 
melakukan pekerjaan sia-sia mengetuk batu, melainkan melindungi 
pohon-pohon yang sudah tumbuh. Itulah tugas mulia kita,menjaga agar 
reformer pajak jangan dijadikan tumbal wajib pajak bermasalah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pesan Menteri Keuangan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus 
diakui sudah ada banyak reformer di Ditjen Pajak. Mereka menulis 
perasaan mereka pada buku berjudul Berbagi Kisah dan Harapan. Cara 
menulisnya memang masih amatir,tetapi itulah isi perasaan insan pajak 
yang secara garis besar selalu mengatakan, “Ingat pesan itu dari 
kampung. Hidup bermartabat bukan dengan uang korupsi.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di 
penghujung acara selama tiga hari pekan lalu itu, Menteri Keuangan 
(Menkeu) berpesan: Musuh terbesar birokrasi adalah rasa sungkan bawahan 
terhadap atasannya dan sungkan sesama pejabat. “Beranilah menyampaikan 
yang benar. Bila perlu, berdebatlah,” ujar mantan CEO Bank Mandiri itu. 
Saya kira Menkeu Agus Martowardojo sangat tepat. Ini musuh bersama 
reformasi birokrasi yang harus dihadapi bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau birokrasi
 kita lebih profesional, mereka akan mendahulukan halhal yang utama 
ketimbang mementingkan kehendak orang lain yang belum tentu penting. 
Saya mengerti rasa berang kita terhadap aparat perpajakan belumlah 
pupus. Namun, mereka yang mau berubah dan menjadi reformer harus diberi 
apresiasi. Bersama merekalah kita melawan para koruptor dan pengemplang 
pajak yang berlindung di balik kekuatan atau motif-motif balas dendam 
politisi kotor.(*) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RHENALD 
KASALI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketua Program MM UI&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-5364629437590773482?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/hxk17HLge2U" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/hxk17HLge2U/membangun-morale-pajak.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCrGOVuPi8I/AAAAAAAAAI0/276v7_T6F-0/s72-c/rhenald-kasali.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/membangun-morale-pajak.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1603201434604792108</guid><pubDate>Wed, 23 Jun 2010 14:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-25T19:10:35.835-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perpajakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">DJP</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><title>Mencari Logika Reformasi Birokrasi</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXNDSzIh-I/AAAAAAAAAJg/WvKFvJKjUqs/s1600/3409079p.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXNDSzIh-I/AAAAAAAAAJg/WvKFvJKjUqs/s200/3409079p.jpg" width="128" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya membacanya di blog &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/"&gt;Catatan Praktek Perpajakan&lt;/a&gt; dan ternyata artikel ini dibuat oleh Meuthia Ganie-Rochman, dimuat oleh &lt;a href="http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/analisdetail/2010/06/10/24/Mencari-Logika-Reformasi-Birokrasi"&gt;metronews&lt;/a&gt; tanggal 10 Juni 2010. Berikut saya copas kesini, supaya kita memahami logika reformasi birokrasi Direktorat Jenderal Pajak :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa arti organisasi bagi suatu bangsa? Seberapa besar bangsa Indonesia 
memandang penting pengetahuan yang berkaitan dengan organisasi: struktur
 yang berkaitan dengan gagasan tentang tujuan yang ingin dicapai 
organisasi, logika pengorganisasian, model-model yang sesuai dengan 
wilayah sosialnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus diakui bahwa kita tidak terlalu 
memandang nilai strategis “organisasi”. Hal ini agak ironis karena 
setelah reformasi 1998 kita menginginkan banyak perubahan, terutama di 
sektor publik. Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai
 sikap kita ini. Namun, saya hanya menyebut dua. &lt;br /&gt;
Mengapa pengetahuan suatu bangsa tentang organisasi sangat penting? 
Kebanyakan orang Indonesia memahami organisasi sebagai penting dari 
sudut efisiensi pengelolaan sumber daya. Ini pandangan yang dipengaruhi 
pengetahuan generik dari ilmu manajemen konservatif. Padahal, apa yang 
perlu diatur suatu organisasi jauh lebih banyak dimensinya. Apalagi 
dalam konteks keragaman kelompok masyarakat yang ada di Indonesia dan 
menginginkan tata kelola yang tidak koruptif, dan saat standar kinerja, 
profesi, batasan publik dan privat sering kabur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Organisasi 
dalam konteks demikian harus berhadapan dengan pola-pola resistensi, 
jaringan kepentingan internal dengan aktor eksternal, dan mencari jalan 
agar bagaimana pihak-pihak yang berada di luar organisasi dapat 
dimanfaatkan untuk mengelola perubahan internal. Dengan demikian, makna 
transparansi dan akuntabilitas, dua prinsip yang sudah dianggap mantera 
bagi pembaharuan organisasi, akan lebih kontekstual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Bisa 
dibayangkan bahwa organisasi di wilayah yang berbeda akan menghadapi 
situasi yang berbeda. Organisasi birokrasi berbeda dari nilai strategik 
sumber daya yang dimilikinya. Ada yang letaknya pada wewenang 
pengumpulan finansial dari masyarakat, ada yang terletak pada pemberian 
sanksi seperti pada lembaga-lembaga penegak hukum, atau ada yang pada 
weweangnya memberikan perizianan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini saja sudah 
menggambarkan pada titik mana dalam organisasi tersebut serta aktor apa 
yang mempunyai posisi strategis. Nilai strategis di lembaga penegak 
hukum bersifat deliberatif dan lebih tergantung personal pejabat 
publiknya. Jenis nilai semacam ini lebih sukar diberi ukuran-ukuran 
obyektif karena itu paling sukar dilakukan pembaharuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada 
lembaga publik yang berhubungan dengan pajak, pembaharuan organisasi 
dengan menggunakan standar memang lebih mudah. Akan tetapi, karena 
berada dalam wilayah kepentingan individual, faktor keinginan untuk 
melakukan negosiasi dari anggota masyarakat akan lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indikator yang 
paling mudah adalah jika kita pergi ke toko-toko buku besar utama. 
Adakah bisa kita dapatkan satu buku yang membahas suatu organisasi di 
Indonesia dari sudut struktur, fungsi, tujuan, tekanan dan distorsi, 
model penanganan sumber daya organisasi, perkembangan struktur dan 
sebagainya yang menjadi pengetahuan sistematik? Yang kita temukan adalah
 buku tentang berbagai organisasi besar atau fenomenal di Indonesia, 
seperti Muhammadiyah, Nadhatul Ulama, Partai Keadilan Sejahtera, baik 
dari sudut sejarah pendiriannya, misi atau kecenderungan ideologis 
pimpinannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indikator yang kedua adalah dalam begitu banyak 
proyek dan program yang dikelola pemerintah, masyarakat atau donor, 
pengembangan organisasi dari semua yang akan menjalankannya adalah aspek
 yang sering dilupakan. Namun, kita bisa menyebut sedikit pengecualian, 
yaitu pada pembangunan/reformasi organisasi pada Kementerian Keuangan 
dan Komisi Pemberantasan Korupsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan nilai strategis pemberi lisensi lebih kecil karena sangat 
mudah distandardisasikan serta anggota masyarakat masih menemukan cara 
untuk “tetap melakukan” tanpa kelengkapan izin. Ini salah satu alasan 
berkembangnya sektor informal. Kesulitan yang dialami anggota masyarakat
 bagi yang membutuhkan lebih terletak pada banyaknya komponen dan 
kelambanannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reformasi di Kementerian Keuangan, khususnya di 
Direktorat Jenderal Pajak yang dianggap berhasil, menunjukan kombinasi 
yang tepat antara skema pembaharuan dan kepemimpinan. Skema 
memperhitungkan komponen pembaharuan yang dianggap krusial yaitu titik 
transparansi sebagai kontrol eksternal, kontrol internal, dan &lt;i&gt;reward
 system&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teknokrasi sistem (standar, komponen, prosedur dan
 sebagainya) dibuat terbuka, sehingga menyulitkan penyembunyian 
informasi. Kasus pelanggaran melalui jalan peradilan pajak, di satu 
sisi, menujukkan bahwa reformasi harus berlanjut meliputi institusi 
terkait yang makin luas. Namun, disini lain, bisa dikatakan pelanggaran 
itu menujukkan keberhasilan reformasi internal karena pelanggaran 
“ditarik ke luar” ke wilayah tempat ketidakpastian berada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu 
hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam menarik energi luar untuk 
ikut dalam proses pembaharuan internal adalah mengidentifikasikan dengan
 tepat orientasi dan kapasitas kelompok di luar organisasi yang 
potensial. Untuk lembaga peradilan misalnya, keterbukaan dalam 
pertimbangan hakim hanya menarik atau sejalan dengan kepentingan 
sebagian kecil orang. Dengan demikian, tidak dapat diharapkan tekanan 
dari masyarakat sipil dari segi skala. Yang berminat adalah organisasi 
yang mampu memahami, seperti perguruan tinggi dan organisasi masyarakat 
sipil reformasi hukum/bantuan hukum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kapasitas organisasi
 ini terbatas, antara lain, dari sudut sumber daya. Karena itu 
transparansi sektor peradilan tidak akan banyak bisa dilakukan oleh 
kekuatan masyarakat sipil, melainkan harus dilekatkan pada sistem 
kelembagaan negara, antara lain mengaitkan data base para hakim dengan 
sistem promosi.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh lain ada pada lembaga pelayanan publik. Melibatkan kontrol 
masyarakat pengguna tidak boleh bersifat terlalu teknokratis. Sistem 
kartu penilai dengan melibatkan perhitungan dari lembaga independen bisa
 diletakan pada skema promosi jabatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Meuthia Ganie-Rochman&lt;br /&gt;Dosen FISIP Universitas Indonesia&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-1603201434604792108?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/32PHiYaQSb4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/32PHiYaQSb4/mencari-logika-reformasi-birokrasi.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/THXNDSzIh-I/AAAAAAAAAJg/WvKFvJKjUqs/s72-c/3409079p.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/mencari-logika-reformasi-birokrasi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-9062941033157674049</guid><pubDate>Wed, 23 Jun 2010 13:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-23T07:27:40.669-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">islam</category><title>[hikmah] Ariel Peterporn dan 'jamaahnya'</title><description>Heboh negeri ini karena kasus Ariel dan pasangan-pasangan zinanya.&lt;br /&gt;
Ditengah pro dan kontra masyarakat menanggapi hal ini, saya tertarik mempelajari ini dari perspektif Islam, karena menurut hemat saya sehebat apapun wacana hukuman yang pantas yang berkembang di masyarakat, janganlah lupa untuk mengembalikan lagi hal ini pada pandangan Islam. Jika ada yang belum tahu, mari kita sama-sama belajar, semoga sama-sama bisa kita petik hikmah dari pelajaran ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh berkata dari 
Nabi saw,”Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam 
bagian dari zina yang bisa jadi ia mengalaminya dan hal itu tidaklah 
mustahil. Zina mata adalah penglihatan, zina lisan adalah perkataan 
dimana diri ini menginginkan dan menyukai serta kemaluan membenarkan itu
 semua atau mendustainya.” (HR. Bukhori)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Bukhori memasukan hadits ini kedalam Bab Zina Anggota Tubuh Selain 
Kemaluan, artinya bahwa zina tidak hanya terbatas pada masuknya kemaluan
 pria kedalam kemaluan wanita saja. Namun zina bisa dilakukan dengan 
mata melalui pandangan dan penglihatannya kepada sesuatu yang tidak 
dihalalkan, zina bisa dilakukan dengan lisannya dengan membicarakan 
hal-hal yang tidak benar dan zina juga bisa dilakukan dengan tangannya 
berupa menyentuh, memegang sesuatu yang diharamkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah swt melarang dan mengharamkan setiap hamba-Nya melakukan segala
 perbuatan yang bisa mengantarkan pelakunya—muqoddimah—kepada terjadinya
 perzinahan yang sebenarnya sebagaimana disebutkan didalam firman-Nya,Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu 
adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al 
Israa : 36)&lt;br /&gt;
Namun bukan berarti bahwa muqoddimah zina diperbolehkan dengan alasan
 bahwa perzinahan belumlah terjadi. Karena zina termasuk perbuatan yang 
diharamkan oleh Allah swt maka segala perbuatan yang menyebabkan 
terjadinya perzinahan tersebut juga diharamkan, sebagaimana disebutkan 
didalam kaidah ushul “Apa Saja yang Membawa Kepada yang Haram adalah 
Haram”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiknya kita langsung kepada pengertiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;PENGERTIAN &lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;
&lt;br /&gt;
Dalam al-Mu’jamul Wasith hal 403 disebutkan, &lt;i&gt;“&lt;span class="jossearchword"&gt;Zina&lt;/span&gt; ialah seseorang 
bercampur dengan seorang wanita tanpa melalui akad yang sesuai dengan 
syar’i.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt; &lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="jossearchword"&gt;Zina&lt;/span&gt; adalah haram &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;nya, dan ia termasuk dosa besar yang 
paling besar. 
&lt;br /&gt;
Allah swt berfirman:
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan janganlah kamu mendekati &lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;;
 sesungguhnya &lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; itu adalah suatu 
perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”&lt;/i&gt; (QS&amp;nbsp;al-Israa’: 32)
&lt;br /&gt;
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata: Saya pernah bertanya kepada 
Rasulullah saw, “(Ya Rasulullah), dosa apa yang paling besar?” Jawab 
Beliau, 
&lt;i&gt;“Yaitu engkau mengangkat tuhan tandingan bagi Allah, padahal Dialah 
yang 
telah menciptakanmu.”&lt;/i&gt; Lalu saya bertanya (lagi),&amp;nbsp;“Kemudian apa 
lagi?” Jawab 
Beliau, &lt;i&gt;“Engkau membunuh anakmu karena khawatir ia makan denganmu.”&lt;/i&gt;
 
Kemudian saya bertanya (lagi). “Lalu apa lagi?” Jawab Beliau, &lt;i&gt;“Engkau
 ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; 
dengan isteri tetanggamu.”&lt;/i&gt; (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 114
 No. 
6811, Muslim I: 90 No. 86, ‘Aunul Ma’bud VI: 422 No. 2293 No. Tirmidzi 
V: 17 No. 
3232). 
&lt;br /&gt;
Allah swt berfirman:
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah 
dan 
tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan 
(alasan) 
yang benar, dan tidak ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;, barang
 siapa yang melakukan yang demikian itu, 
niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat 
gandakan azab 
untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam 
keadaan 
terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan 
amal saleh; 
Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah 
Allah Maha 
Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/i&gt; (QS Al-Furqaan: 68-70). 
&lt;br /&gt;
Dalam hadist Sumarah bin Jundab yang panjang tentang mimpi Nabi saw, 
Beliau 
saw bersabda: 
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Kemudian kami berjalan dan sampai kepada suatu bangunan serupa 
tungku api 
dan di situ kedengaran suara hiruk-pikuk. Lalu kami tengok ke dalam, 
ternyata di 
situ ada beberapa laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat. Dari 
bawah 
mereka datang&amp;nbsp;kobaran api dan apabila kena nyala api itu, mereka 
memekik. Aku 
bertanya, “Siapakah orang itu” Jawabnya, “Adapun sejumlah laki-laki dan 
perempuan yang telanjang&amp;nbsp;bulat yang berada di dalam bangunan serupa 
tungku 
api&amp;nbsp;itu adalah para pe&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; laki-laki 
dan perempuan.”&lt;/i&gt; (Shahih: Shahihul 
Jami’us Shaghir no: 3462 dan Fathul Bari XII: 438 no: 7047).
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, &lt;i&gt;“Tidaklah 
seorang 
hamba ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; tatkala ia sebagai 
seorang mu’min; dan tidaklah ia mencuri, 
manakala tatkala ia mencuri sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia 
meneguk 
arak ketikaia meneguknya sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia 
membunuh 
(orang tak berdosa), manakala ia membunuh sebagai seorang beriman.” &lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lanjutan riwayat di atas disebutkan:
&lt;br /&gt;
Ikrimah berkata, “Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Bagaimana cara 
tercabutnya iman darinya?’ Jawab Ibnu Abbas: ‘Begini –ia mencengkeram 
tangan 
kanan pada tangan kirinya dan sebaliknya, kemudian ia melepas lagi–, 
lalu 
manakala dia bertaubat, maka iman kembali (lagi) kepadanya begini&amp;nbsp;–ia 
mencengkeramkan tangan kanan pada tangan kirinya (lagi) dan 
sebaliknya-.’” 
(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 7708, Fathul Bari XII: 114 no: 
6809 dan 
Nasa’i VIII: 63).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. &amp;nbsp;KLASIFIKASI ORANG BER&lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
 
&lt;br /&gt;
Orang yang ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; adakalanya &lt;i&gt;&lt;b&gt;bikr&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;
 atau &lt;i&gt;&lt;b&gt;ghairu 
muhshan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (Perawan atau lajang (untuk perempuan) dan perjaka
 atau bujang 
(untuk laki-laki)), atau adakalanya &lt;i&gt;&lt;b&gt;muhshan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; 
(orang yang sudah 
beristeri atau bersuami).
&lt;br /&gt;
Jika yang ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; adalah orang 
merdeka, &lt;i&gt;muhshan&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;mukallaf&lt;/i&gt; dan 
tanpa paksaan dari siapa pun, maka &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;annya
 adalah harus dirajam hingga 
mati.
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Muhshan&lt;/i&gt; ialah orang yang pernah melakukan jima’ melalui akad 
nikah 
yang shahih. Sedangkan &lt;i&gt;mukallaf&lt;/i&gt; ialah orang yang sudah mencapai
 usia akil 
baligh. Oleh sebab itu, anak dan orang gila tidak usah dijatuhi &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an. 
Berdasarkan hadist&amp;nbsp;“RUFI’AL QALAM ’AN TSALATSATIN (=diangkat pena dari 
tiga 
golongan)”. 
&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari ra bahwa ada seorang laki-laki dari 
daerah 
Aslam datang kepada Nabi saw lalu mengatakan kepada Beliau bahwa dirinya
 
benar-benar telah ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;, lantas ia 
mepersaksikan atas dirinya (dengan 
mengucapkan) empat kali sumpah. Maka kemudian Rasulullah saw menyuruh 
(para 
sahabat agar mempersiapkannya untuk dirajam), lalu setelah siap, 
dirajam. Dan ia 
adalah orang yang sudah pernah nikah. (Shahih: Shahih Abu Daud no: 3725,
 
Tirmidzi II: 441 no: 1454 dan A’unul Ma’bud XII: 112 no: 4407). 
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa&amp;nbsp;Umar bin Khattab ra pernah berkhutbah di 
hadapan 
rakyatnya, yaitu dia berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengutus 
Muhammad saw 
dengan cara yang haq dan Dia telah menurunkan kepadanya kitab al-Qur’an.
 Di 
antara ayat Qur’an yang diturunkan Allah ialah ayat rajam, kami telah 
membacanya, merenungkannya dan menghafalkannya. Rasulullah saw pernah 
merajam 
dan kami pun sepeninggal Beliau merajam (juga). Saya khawatir jika zaman
 yang 
dilalui orang-orang sudah berjalan lama, ada seseorang mengatakan, 
“Wallahi, 
kami tidak menjumpai ayat rajam dalam Kitabullah.” Sehingga mereka 
tersesat 
disebabkan meninggalkan kewajiban yang diturunkan Allah itu, padahal 
ayat rajam 
termaktub dalam Kitabullah yang mesti dikenakan kepada orang yang ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; yang 
sudah pernah menikah, baik laki-laki maupun perempuan, jika bukti sudah 
jelas, 
atau hamil atau ada pengakuan.” (Mutafaqun ’alaih: Fathul Bari XII: 144 
no: 
6830, Muslim III: 1317 no 1691, ‘Aunul Ma’bud XII: 97 no: 4395, Tirmidzi
 II: 442 
no: 1456).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt;AN BUDAK YANG BER&lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
Apabila yang ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; adalah budak 
laki-laki ataupun perempuan, maka tidak 
perlu dirajam. Tetapi cukup didera sebanyak lima puluh kali deraan, 
sebagaimana 
yang ditegaskan firman Allah swt: 
&lt;br /&gt;
“Dan apabila mereka Telah menjaga diri dengan kawin, Kemudian mereka 
melakukan perbuatan yang keji (&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;),
 Maka atas mereka separo &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an dari
 
&lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an wanita-wanita merdeka yang 
bersuami.” (QS An-Nisaa: 25)
&lt;br /&gt;
Dari Abdullah bin Ayyasy al-Makhzumi, ia berkata, “Saya pernah 
diperintah 
Umar bin Khattab ra (melaksanakan &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;
 cambuk) pada sejumlah budak perempuan 
karena ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;, lima puluh kali, lima
 puluh kali cambukan.” (Hasan: Irwa-ul 
Ghalil no: 2345, Muwaththa‘ Malik hal 594 no: 1058 dan Baihaqi VIII: 
242)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. &amp;nbsp;ORANG YANG DIPAKSA BER&lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&lt;/span&gt;
 TIDAK BOLEH DIDERA&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
Dari Abu Abdurahhman as-Silmi ia berkata: “Umar bin Khatab ra pernah 
dibawakan seorang perempuan yang pernah ditimpa haus dahaga luar biasa, 
lalu ia 
melewati seorang penggembala, lantas ia minta air minum kepadanya. Sang 
penggembala enggan memberikan air minum, kecuali ia menyerahkan 
kehormatannya 
kepada seorang penggembala. Kemudian terpaksa ia melaksanakannya. Maka 
(Umar) 
pun bermusyawarah dengan para sahabat untuk merajam perempuan itu, 
kemudian Ali 
ra menyatakan, ‘Ini dalam kondisi darurat, maka saya berpendapat 
hendaklah 
engkau melepaskannya.’ Kemudian Umar melaksanakannya.” (Shahih: Irwa-ul 
Ghalil 
no: 2313 dan Baihaqi VIII: 236).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt;AN BIKR (PERAWAN 
ATAU PERJAKA) YANG BER&lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Allah swt berfirman:
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Perempuan yang ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; dan 
laki-laki yang 
ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;, maka deralah tiap-tiap 
seorang dari keduanya seratus dali dera, dan 
janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk 
(menjalankan) agama 
Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah 
(pelaksanaan) &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an mereka 
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang 
beriman.&lt;/i&gt;” (QS An-Nuur: 2). 

Dari Zaid bin Khalid-al-Juhanni ra, ia berkata, “Saya pernah mendengar 
Nabi 
saw mnyuruh orang yang ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; yang 
belum pernah kawin didera seratus kali dan 
diasingkan selama setahun.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 2347 dan Fathul 
Bari 
XII: 156 no: 6831)
&lt;br /&gt;
Dari Ubadah bin Shamit ra bahwa Rasulullah saw bersabda, &lt;i&gt;“Ambillah 
dariku, 
ambillah dariku; sungguh Allah telah menjadikan jalan (keluar) untuk 
mereka; 
gadis (ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;) dengan jejaka 
dicambuk seratus kali cambukan dan diasingkan 
setahun, dan duda ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; dengan 
janda didera seratus kali didera dan 
dirajam.”&lt;/i&gt; (Shahih: Mukthashar Muslim no: 1036, Muslim III: 1316 no:
 1690, 
’Aunul Ma’bud XII: 93 no: 4392, Tirmidzi II: 445 no: 1461 dan Ibnu Majah
 II: 852 
no: 2550).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. &amp;nbsp;DENGAN APA &lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt; HAD SAH 
DILAKSANAKAN?&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="jossearchword"&gt;Hukum&lt;/span&gt; had dianggap sah dilaksanakan 
dengan dua hal: pertama, pengakuan dan 
kedua, disaksikan oleh para saksi. (Fiqhus Sunnah III: 352). 
&lt;br /&gt;
Adapun pengakuan, didasarkan pada waktu Rasulullah saw yang pernah 
merajam 
Ma’iz dan perempuan al-Ghamidiyah yang keduanya mengaku telah ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;: 
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Abbas ra. berkata, “Tatkala Ma’iz bin Malik dibawa kepada Nabi
 saw, 
maka Beliau bertanya kepadanya,&amp;nbsp;“Barangkali engkau hanya mencium(nya) 
atau 
meraba(nya) dengan tanganmu atau sekedar melihat(nya)?” Jawabnya, 
“Tidak, ya 
Rasulullah.” Tanya Beliau (lagi),&amp;nbsp;“Apakah engkau telah melakukan sesuatu
 yang 
tidak layak diutarakan dengan terus terang?” Maka ketika itu, Beliau 
menyuruh 
merajamnya.” (Shahih: Shahih Abu Daud no: 3724, Fathul Bari XII: 135 no:
 6824 
dan ‘Aunul Ma’bud XII: 109 no: 4404)
&lt;br /&gt;
Dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya ra bahwa seorang perempuan dari
 
daerah Ghamid dari suku al-Azd datang kepada Nabi saw lalu mengatakan, 
“Ya 
Rasulullah, sucikanlah diriku!” Maka sabda Beliau, &lt;i&gt;“Celaka kamu. 
Kembalilah, 
lalu beristighfarlah dan bertaubatlah kepada-Nya!”&lt;/i&gt; Kemudian ia 
berkata 
(lagi), “Saya melihat engkau hendak menolakku, sebagaimana engkau telah 
menolak 
Ma’iz bin Malik.” Beliau bertanya kepadanya, &lt;i&gt;“Apa itu?”&lt;/i&gt; 
Jawabnya, 
“Sesungguhnya&amp;nbsp; saya telah hamil karena ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;.”
 Tanya Beliau. “Kamu?” Jawabnya, 
“Ya.” Maka sabda Beliau kepadanya, &lt;i&gt;“(Pulanglah) hingga engkau 
melahirkan 
(bayi) yang di perutmu.”&lt;/i&gt; Kemudian ada seseorang sahabat dari kawan 
Anshar 
yang mengurusnya hingga ia melahirkan bayinya, lalu ia data kepda Nabi 
saw dan 
menginformasikan kepada Beliau bahwa perempuan al-Ghamidiyah itu telah 
melahirkan. Maka beliau bersabda,&amp;nbsp;“Kalau begitu, kami tidak akan segera 
merajamnya dan kami tidak akan biarkan anaknya yang masih kecil, tidak 
ada yang 
menyusuinya.” Kemudian ada seorang sahabat Anshar bangun lantas berkata,
 “Ya 
Nabiyullah, saya akan menanggung penyusuannya.” Kemudian Beliau pun 
merajamnya. 
(Shahih: Mukhtashar Muslim no: 1039, Muslim III: 1321 no: 1695).
&lt;br /&gt;
Jika yang bersangkutan ternyata meralat pengakuannya, maka tidak boleh 
dijatuhi &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an. Hal ini merujuk 
pada hadist Nu’aim bin Huzzal:
&lt;br /&gt;
Adalah Ma’iz bin Balik seorang anak yatim yang dulu berada di bawah 
asuhan 
ayahku (yaitu Huzzal), kemudian ia pernah ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;
 dengan seorang budak perempuan 
dari suatu kampung … sampai pada perkataannya “Kemudian Nabi Saw 
menyuruh agar 
Ma’iz dirajam. Lalu dikeluarkanlah Ma'iz ke Padang Pasir. Tatkala 
dirajam, ia 
merasakan sakitnya lemparan batu yang menimpa dirinya, kemudian bersedih
 hati, 
lalu ia melarikan diri dengan cepat, lantas bertemu dengan Abdullah bin 
Unais. 
Para sahabatnya tidak mampu (menahannya). Kemudian Abdullah bin Unais 
mencabut 
tulang betis unta, lalu dilemparkan kepadanya hingga ia meninggal dunia.
 
Kemudian Abdullah bin Unais datang menemui Nabi saw lalu melaporkan 
kasus 
tersebut kepadanya, maka Rasulullah berkata kepadanya, &lt;i&gt;“Mengapa kamu
 tidak 
biarkan ia, barangkali ia bertaubat lalu Allah menerima taubatnya.”&lt;/i&gt;
 (Shahih: 
Shahih Abu Daud no. 3716, ‘Aunul Ma’bud XII: 99 no: 4396)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;8. &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt; ORANG YANG MENGAKU 
PERNAH BER&lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&lt;/span&gt; DENGAN SI FULANAH&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila seseorang mengaku bahwa dirinya telah ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; dengan fulanah, maka 
laki-laki yang mengaku tersebut harus dijatuhi &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an. Kemudian jika si 
perempuan, rekan kencannya, mengaku juga, maka ia harus dijatuhi &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an juga. 
Jika ternyata si perempuan tidak mau mengakui, maka ia (si perempuan) 
tidak 
boleh dijatuhi &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an. 
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid ra bahwa ada dua orang laki-laki 
yang 
saling bermusuhan datang kepada nabi saw lalu seorang di antara keduanya
 
menyatakan, “Ya Rasulullah, putuskanlah di antara kami dengan 
Kitabullah!” Yang 
satunya lagi --yang paling mengerti di antara mereka berdua-- berkata, 
“Betul, 
ya Rasulullah, putuskanlah di antara kami dengan Kitabullah, dan 
izinkanlah saya 
untuk mengutarakan sesuatu kepadamu.” Jawab Beliau, "Silakan utarakan!" 
Ia 
melanjutkan pengutaraannya, “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang 
pekerja yang 
diberi upah oleh orang ini, lalu ia pun ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;
 dengan isterinya. Lalu 
orang-orang menjelaskan kepadaku bahwa anaku harus dirajam. Oleh sebab 
itu, saya 
telah menebusnya dengan memberikan seratus ekor kambing dan seorang 
budak 
wanitaku. Kemudian saya pernah bertanya kepada orang-orang alim, lalu 
mereka 
menjelaskan kepadaku bahwa anakku harus didera seratus kali dan 
diasingkan 
selama setahun lamanya. Sedangkan rajam hanya ditimpahkan kepada isteri 
ini.” 
Maka Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam 
genggamannya, 
saya akan benar-benar memutuskan di antara kalian berdua dengan 
Kitabullah; 
adapun kambing dan budak perempuanmu itu maka dikembalikan (lagi) 
kepadamu.” 
Beliau pun mendera anaknya seratus kali dan mengasingkannya selama 
setahun. Dan 
Beliau juga menyuruh Unais al-Aslam agar menemui isteri orang pertama 
itu; jika 
ia mengaku telah ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; dengananak 
itu, maka harus dirajam. Ternyata ia 
mengaku, lalu dirajam oleh Beliau. (Muttafaqun&amp;nbsp;’alaih: Fathul Bari XII: 
136 no: 
6827-6828, Muslim III: 1324 no: 1697-1698, ‘Aunul Ma’bud XII: 128 no: 
4421, 
Tirmidzi II: 443 no: 145, Ibnu Majah II: 852 no: 2549 dan Nasa’i VIII: 
240).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;9. &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt; HAD HARUS 
DILAKSANAKAN BILA SAKSINYA KUAT&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
Allah swt berfirman:
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang 
baik-baik (berbuat &lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;) dan mereka 
tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka 
deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah
 kamu 
terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah 
orang-orang yang 
fasik.”&lt;/i&gt; (QS An-Nuur: 4) 

Apabila ada empat laki-laki muslim yang merdeka lagi adil menyaksikan 
&lt;i&gt;dzakar&lt;/i&gt; (penis) si fulan masuk ke dalam &lt;i&gt;farji&lt;/i&gt; (vagina) 
si fulanah 
seperti pengoles celak mata masuk ke dalam botol tempat celak, dan 
seperti timba 
masuk ke dalam sumur, maka kedua-duanya harus dijatuhi &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;an. 
&lt;br /&gt;
Manakalah tiga saja yang mengaku menyaksikan, sedang yang keempat justru
 
mengundurkan diri dari kesaksian mereka, maka yang tiga orang itu harus 
didera 
dengan dera tuduhan sebagimana yang telah dipaparkan ayat empat An-Nuur 
itu, dan 
berdasarkan riwayat berikut: 
&lt;br /&gt;
Dari Qasamah bin Zuhair, ia bercerita: Tatkala antara Abu Bakrah dengan 
al-Mughirah ada permasalahan tuduhan &lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;
 yang dilaporkan kepada Umar ra maka 
kemudian Umar minta didatangkan saksi-saksinya, lalu Abu Bakrah, Syibl 
bin 
Ma’bad, dan Abu Abdillah Nafi’ memberikan kesaksiannya. Maka Umar ra 
pada waktu 
mereka bertiga usai memberikan kesaksiannya, berkata, "Permasalah Abu 
Bakrah ini 
membuat Umar berada dalam posisi yang sulit." Tatkala Ziyad datang, dia 
berkata, 
"(Hai Ziyad), jika engkau berani memberikan kesaksian, maka insya Allah 
tuduhan 
&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; itu benar." Maka kata Ziyad, 
"Adapun&amp;nbsp;perbuatan &lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;, maka aku 
tidak 
menyaksikan dia ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;. Namun aku 
melihat sesuatu yang buruk." Makakata Umar, 
“Allahu Akbar, &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;lah mereka.” 
Kemudian sejumlah sahabat mendera mereka 
bertiga. Kemudian Abu Bakrah seusai dicambuk oleh Umar menyatakan, “(Hai
 Umar), 
saya bersaksi bahwa sesungguhnya dia (al-Mughirah) ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt;.” Kemudian, segera 
Umar ra hendak menderanya lagi, namun dicegah oleh Ali ra seraya berkata
 kepada 
Umar, “Jika engkau menderanya lagi, maka rajamlah rekanmu itu.” Maka 
Umar pun 
membatalkan niatnya dan tidak menderanya lagi.” (Sanadnya Shahih: 
Irwa-ul Ghalil 
VIII: 29 dan Baihaqi VIII: 334). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;10. &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt; ORANG BER&lt;span class="jossearchword"&gt;ZINA&lt;/span&gt; DENGAN MAHRAMNYA&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
Barangsiapa yang ber&lt;span class="jossearchword"&gt;zina&lt;/span&gt; dengan 
mahramnya, maka &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;nya adalah 
dibunuh, baik 
ia sudah pernah nikah ataupun belum. Dan apabila ia telah mengawini 
mahramnya, 
maka &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;annya ia harus dibunuh dan 
hartanya harus diserahkan kepada 
pemerintah. 
&lt;br /&gt;
Dari al-Bara’ ra, ia bertutur, “Saya pernah berjumpa dengan pamanku yang
 
sedang membawa pedang, lalu saya tanya, ‘(Wahai Pamanda), Paman hendak 
kemana?’ 
jawabnya, ‘Saya diutus oleh Rasulullah saw menemui seorang laki-laki 
yang telah 
mengawini isteri bapaknya sesudah ia meninggal dunia, agar saya menebas 
batang 
lehernya dan menyita harta bendanya.’” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 2351,
 Shahih 
Ibnu Majah no: 2111, 'Aunul Ma'bud XII: 147 no: 4433, Nasa’i VI: 110, 
namun 
dalam Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah tanpa lafazh "menyita harta 
bendanya." 
Tirmidzi II: 407 no: 1373 dan Ibnu Majah II: 869 no: 2607).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;11. &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt; ORANG YANG 
MENYETUBUHI BINATANG&lt;/b&gt; 
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda, &lt;i&gt;“Barangsiapa yang 
menyetubui binatang ternak, maka hendaklah kamu&amp;nbsp;bunuh dia dan bunuh 
(pula) 
binantang itu.”&lt;/i&gt; (Hasan Shahih: Shahih Tirmidzi no: 1176, Tirmidzi 
III: 1479, 
'Aunul Ma'bud XII: 157&amp;nbsp;no: 4440, Ibnu Majah II: 856 no: 2564)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;12. &amp;nbsp;&lt;span class="jossearchword"&gt;HUKUM&lt;/span&gt;AN ORANG YANG 
MELAKUKAN LIWATH, HOMOSEKSUAL&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila seorang laki-laki memasukkan penisnya ke dalam dubur laki-laki 
yang 
lain, maka &lt;span class="jossearchword"&gt;hukum&lt;/span&gt;annya adalah dibunuh,
 baik keduanya sudah pernah menikah taupun 
belum.
&lt;br /&gt;
Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: &lt;i&gt;“Siapa saja yang 
kalian 
jumpai melakukan perbuatan kaum (Nabi) Luth, maka bunuhlah fa’il 
(pelakunya) dan 
maf’ulbih (korbannya).”&lt;/i&gt; (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2075, 
Tirmidzi III: 8 
no: 1481, ‘Aunul Ma’bud XII: 153 no: 4438, Ibnu Majah II: 856 no: 2561).
 
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, &lt;i&gt;Al-Wajiz
 Fi 
Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;Al-Wajiz Ensiklopedi 
Fikih Islam 
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah&lt;/i&gt;, terj. Ma'ruf Abdul 
Jalil 
(Pustaka As-Sunnah), hlm 820 - 834.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh mengerikan kawan. Ariel baru menerima hukuman moral dari masyarakat berupa pemboikotan,&amp;nbsp; unjuk rasa, dan juga hukuman kurungan.. bagaimana jika syariat Islam ini benar-benar telah dijalankan??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-9062941033157674049?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/PwsZuUFMNDc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/PwsZuUFMNDc/ariel-peterporn-dan-jamaahnya.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/ariel-peterporn-dan-jamaahnya.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-8108129475951925196</guid><pubDate>Tue, 22 Jun 2010 12:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-23T07:28:27.332-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>Aku malu padaMu Tuhan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCCrzJLkHYI/AAAAAAAAAIc/bWVNN40SwqA/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCCrzJLkHYI/AAAAAAAAAIc/bWVNN40SwqA/s320/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Aku malu dengan semua perbuatanku Tuhan, aku malu dengan semua dosaku.. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Aku malu padaMu yang selalu memberiku peringatan, namun sering kuabaikan..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Bahkan untuk mengaku dosa dalam diam doaku pun aku malu padaMu Tuhan..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
aku malu jika sampai waktuku untuk menghadapMu,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Aku malu, terlebih aku takut... &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Aku takut jika nanti sampailah waktu orangtuaku menghadapMu,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
mereka harus menanggung dosa-dosa akibat perbuatanku,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
hanya karena aku menggunakan akalku hanya untuk kebahagiaan duniawiku saja &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
apa yang lebih durhaka daripada perbuatanku ini kepada kedua orangtuaku ya Tuhan..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp;Inginku semua kulakukan karena Allah ta'ala..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
aku bekerja karena Allah, bukan karena aku rakus harta&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
aku mencintai sesamaku karena Allah, bukan karena aku ingin dihormati dunia&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
aku mencintai pasanganku karena Allah, bukan karena nafsu sahaja&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
aku menikah karena Allah, bukan karena malu atau gengsi semata&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
hingga matikupun aku ingin karena Engkau yang menghendaki..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
bisakah aku ya Tuhanku?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-8108129475951925196?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/JRAuEb-ztlI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/JRAuEb-ztlI/aku-malu-padamu-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TCCrzJLkHYI/AAAAAAAAAIc/bWVNN40SwqA/s72-c/images.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/aku-malu-padamu-tuhan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-9145392979365211513</guid><pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-17T07:28:00.090-07:00</atom:updated><title>[Facebook Fail]</title><description>Beberapa cerita dan fakta mengenai pengguna facebook yang membuat kita
geleng-geleng kepala, mengelus dada ataupun tersenyum kecil
karenanya... :)&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Search Box itu letaknya di kotak paling atas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika kamu salah satu dari sekian orang yang masih membutuhkan update
berita tentang mantan pacar, hati-hati. Bedakan antara "search box" dan
"update status box". Pastikan kamu mengetiknya di search box, bukan
update status. Berikut adalah pengakuan dari salah satu facebooker :
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;
So every now and then I’ll type his name into the search box at the
top of the Facebook home screen. Such was the case earlier this week
when I typed his name, hit return, and waited for search results. (…) I
was waiting for search results, except there were no search results
because I typed his name into the “update” field, not the search bar.&lt;br /&gt;
I deleted it as quickly as possible, but was already busted by a friend. Now I’m praying that none of our mutual friends were logged into Facebook during my 10-second gaffe. Stalkers take note: make sure you’re typing into the search bar!
&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoh19djjmI/AAAAAAAAAHk/XX1VNfZt154/s1600/31976_410618083969_741518969_4451303_7038171_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoh19djjmI/AAAAAAAAAHk/XX1VNfZt154/s320/31976_410618083969_741518969_4451303_7038171_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Hati-hati menggunakan fasilitas Poke&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kita pasti tahu bahwa facebook bisa membuat orang cemburu, update status bisa membuahkan persaingan, dan bahkan bisa menghancurkan image. tapi tahukah kamu bahwa kesalahan di facebook bisa mengantar ke penjara?? Berdasarkan Undang-undang di Tennessee, Amerika Serikat, ini bisa terjadi. Seperti diberitakan oleh &lt;a href="http://www.escapistmagazine.com/news/view/95417-Police-Arrest-Woman-for-Facebook-Poke"&gt;The Escapist Magazine&lt;/a&gt;, ada seorang wanita yg ditahan karena menggunakan fitur &lt;i&gt;"poke"&lt;/i&gt; di facebook. Adalah &lt;b&gt;Shannon D. Jackson&lt;/b&gt;, seorang warga Hendersonville, Tennessee, AS, pada tanggal 10 Juni 2009 mendapat larangan pengadilan untuk &lt;i&gt;"telephoning, contacting, or otherwise communicating with"&lt;/i&gt; terhadap seorang wanita warga Hendersonville juga, &lt;i&gt;"directly or indirectly"&lt;/i&gt;. Jumat, 25 Oktober 2009, Shannon sungguh terkejut ketika tiba-tiba ia ditahan polisi karena dugaan melawan hukum. Pihak berwenang sepakat Jackson ditahan "for poking the other woman on facebook" karena poke termasuk bentuk komunikasi yang disengaja.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Ketika para orang tua juga aktif di facebook..&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;Kadang muncul sesuatu yang lucu dan memalukan... seperti yang dikumpulkan oleh Jeanne dan Erika di blog mereka &lt;a href="http://myparentsjoinedfacebook.com/"&gt;Oh Crap. My parents Joined Facebook&lt;/a&gt; :&amp;nbsp; &lt;/li&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoln8IOQzI/AAAAAAAAAHs/ciLe5ZJXIr0/s1600/31976_410648178969_741518969_4451909_5356445_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoln8IOQzI/AAAAAAAAAHs/ciLe5ZJXIr0/s640/31976_410648178969_741518969_4451909_5356445_n.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBomYDMXxLI/AAAAAAAAAH0/0M1ioHRXORU/s1600/31976_410651638969_741518969_4451963_2477236_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="180" src="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBomYDMXxLI/AAAAAAAAAH0/0M1ioHRXORU/s400/31976_410651638969_741518969_4451963_2477236_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBommDr0eSI/AAAAAAAAAH8/5fVoRHAPQzM/s1600/31976_410652473969_741518969_4451975_8321542_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBommDr0eSI/AAAAAAAAAH8/5fVoRHAPQzM/s400/31976_410652473969_741518969_4451975_8321542_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Facebook tidak menerima nama yang dicurigai palsu (tidak resmi).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Akan muncul :"Our automated system will not approve this name. If you believe this is an error, please contact us." Nama-nama yang terlihat aneh, seperti : Illegitimate Name, Legitimate Name, John Doe (doe=kijang/kelinci betina, kalau tidak salah), Jane Doe, Osama Bin Laden, telah di-block. Tetapi ketika salah satu pendiri Flickr dan Hunch, yaitu seorang bussinesswoman terkenal dan memperoleh penghargaan Forbes, Fastcompany, dan BusinessWeek bernama &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Caterina_Fake"&gt;Caterina Fake&lt;/a&gt; ingin membuat akun facebook muncul peringatan : &lt;b&gt;"Please enter Legitimate Name"&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBonEeLF6jI/AAAAAAAAAIM/iXbIV4hrPtc/s1600/31976_410654938969_741518969_4451997_1949188_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBonEeLF6jI/AAAAAAAAAIM/iXbIV4hrPtc/s320/31976_410654938969_741518969_4451997_1949188_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;Walaupun pada akhirnya Caterina bisa membuat akun facebook (mungkin setelah mengontak Mr. Zuckerberg) tapi sungguh menyedihkan, bagaimana bisa Facebook memblok salah satu dari 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time? :D&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;








&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Curhat di status bisa berujung dipecat!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wanita ini mungkin lupa bahwa ia telah menambahkan atasannya dalam daftar teman, dan akhirnya dipecat setelah membuat status yang menyinggung atasannya.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBooLXFw-0I/AAAAAAAAAIU/2clPlU8hrG0/s1600/Facebook-Boss.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBooLXFw-0I/AAAAAAAAAIU/2clPlU8hrG0/s320/Facebook-Boss.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;







&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Karena facebook, orang bisa tiba-tiba terkenal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Di Indonesia, kita kenal gerakan 1 juta facebookers dukung Bibit dan Chandra yang menyita perhatian publik. Bahkan, ada Gerakan dukung Hendri Mulyadi jadi ketua PSSI. Baru-baru ini di Amerika, seorang pelajar anggota paduan suara Kalamazoo Central High School yang duduk persis di belakang Barrack Obama, tertidur ketika presidennya memberikan pidato pada acara perpisahan. Ia tertangkap kamera menguap beberapa kali hingga akhirnya tertidur. Karena kejadian itu, ia memiliki&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/the-guy-sleeping-behind-obama-at-kalamazoo-graduation/132765316736749"&gt; fans page di facebook&lt;/a&gt; dengan jumlah penggemar 11,000 orang. Walaupun bukan jumlah yang fantastis, tapi ternyata cukup menyita perhatian sebagian warga Amerika. Dan videonya
pun terkenal.... :D &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;object height="405" width="500"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/dznQZCv884w&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;border=1"&gt;






&lt;/param&gt;
&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;






&lt;/param&gt;
&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;






&lt;/param&gt;
&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/dznQZCv884w&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="500" height="405"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-9145392979365211513?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/k94iA0XM7xI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/k94iA0XM7xI/facebook-fail.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/TBoh19djjmI/AAAAAAAAAHk/XX1VNfZt154/s72-c/31976_410618083969_741518969_4451303_7038171_n.jpg" height="72" width="72" /><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/facebook-fail.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1536222297570759451</guid><pubDate>Mon, 14 Jun 2010 14:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-23T07:30:34.305-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>[renungan malam] tak disadari</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;
This year, 2010&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
He is 61 years old..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
She is 57 years old..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
They were getting older.. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
that gray hair.. ya Allah.. unwittingly..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
that wrinkled skin.. ow God.. how come I cant see the differences everytime I was home..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
According to Muhammad's life, there was 2 years left for me,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
their happiness was my destiny..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
(Ya Allah.. may they live long life in your guidance.. Amin. I was just extremely scared.. )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
At this age, I just wanna see the day while they were enjoying their life.. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
no bad feeling, no negative thinking..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
we are better enough for a family...&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
I just wanna hear a happiness.. blessing word.. million words of love from both of you..&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
because I love you both... mom and dad...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-1536222297570759451?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/49D-qa6Qz_w" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/49D-qa6Qz_w/benerbenercoretan.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/06/benerbenercoretan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-5242357401410096049</guid><pubDate>Fri, 12 Mar 2010 01:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-29T04:18:09.636-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><title>Pajak Artis minta di-Diskon?? Apa kata dunia??</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5mQhqY9ewI/AAAAAAAAAFA/8hVWYj9HRws/s1600-h/spt-tahunan-pph-orang-pribadi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5mQhqY9ewI/AAAAAAAAAFA/8hVWYj9HRws/s320/spt-tahunan-pph-orang-pribadi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span class="judul"&gt;Ketua DPR Tolak Usulkan Penurunan Pajak Artis&lt;/span&gt;&lt;span class="reporter"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span class="reporter"&gt;&lt;b&gt;Elvan Dany Sutrisno&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span class="reporter"&gt;- detikNews&lt;/span&gt;
&lt;b&gt;Jakarta&lt;/b&gt;
- Para artis yang tergabung dalam Persatuan Artis Sinetron Indonesia
(PARSI) meminta agar DPR membantu memperjuangkan penurunan pajak
mereka. Alih-alih didukung, para artis malah dikuliahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pajak
ini darahnya negara. Kalau tidak mau membayar pajak ya bagaimana
menjalankan pemerintahan," kata Marzuki mengingatkan para artis agar
membayar pajak tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disampaikan Marzuki saat
memberikan jawaban permintaan penurunan pajak Artis, di Gedung DPR,
Senayan, Jakarta, Selasa (9/3/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marzuki, pendapatan
artis luar biasa besarnya. Marzuki menjelaskan pajak untuk artis sesuai
dengan pendapatan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artis ini kalau pendapatannya
diatas 500 juta pertahun ya tarifnya 30 persen, pendapatannya 250 juta
kena pajak 25, pendapatan 50 juta kena pajak 15 persen, dibawah itu 5
persen saja," papar Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu tarif ditetapkan dan setiap tahun bisa berubah, dikurangi pendapatan tidak kena pajak," imbuh Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marzuki
malah balik mengkritik, menurutnya banyak artis yang tidak membayar
pajak. "Masalahnya banyak artis tidak punya NPWP," kritik Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi yang ditawarkan Marzuki sangat mengambang. "Bisa disampaikan ke Komisi XI karena soal anggaran," jelas Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marzuki
kemudian meminta agar para artis membuat NPWP dan rajin membayar pajak.
"Kalau mau shoting jalannya jelek karena tidak bayar pajak bagaimana.
Kalau artis bayar pajak jalannya jadi halus," tutupnya.&lt;/i&gt;&lt;script src="http://openx.detik.com/delivery/ag.php" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;
   &lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt; (van/yid)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;b&gt;Geli deh dengernya. Mungkin ini juga catatan bagi direktorat, sepertinya sosialisasi pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak belum menyentuh kalangan artis (atau mungkin kalangan profesional juga? dengan asumsi penghasilan besar hanya dimiliki oleh kalangan profesional). Informasi yang diterima hanya sepotong-sepotong, langsung demo minta belas kasihan negara. Padahal kalau saja mereka mau cari tahu sedikit tentang pajak (hehe), pajak yang dipotong tidak akan&amp;nbsp; mencapai 30% dari jumlah penghasilan mereka.. kecuali jika penghasilan dalam 1 tahun ini lebih dari 20M setahun.. sangat mungkin pajak yang dipotong hingga 30% dari penghasilan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lagian, tarif pajak di Indonesia itu ngga flat 30% loh, tapi tarifnya bertingkat.. jadi penghasilan dan pajak berbanding lurus... semakin besar penghasilan, semakin besar pajaknya.. semuanya untuk bangsa, masak minta diskon sih?? :)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tarif pajak yang berlaku semenjak 1 Januari 2009 adalah sebagai berikut :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;0 - 50 juta = 5%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;50 juta - 250 juta = 15%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;250 juta - 500 juta = 25%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;diatas 500 juta = 30%&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jika penghasilan Eko Patrio, misalnya dengan status Kawin anak 3 (K/3), sebesar 700 juta setahun, maka pajak yang dibayar ke negara adalah :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Penghasilan bruto 1 tahun&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;700.000.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Penghasilan tidak kena pajak K/3&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(wp)=15.840.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(kawin)=1.320.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(1.320.000 x 3 anak)= 3.960.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;(21.120.000)&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Penghasilan Kena Pajak&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;678.880.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Baru deh dihitung pajaknya pake tarif diatas :&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;5% x 50.000.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=2.500.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;15% x 200.000.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=30.000.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;25% x 250.000.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=62.500.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;30% x 178.880.000&lt;/td&gt;&lt;td&gt;=53.664.000  +&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td&gt;Jumlah pajak yang harus dibayar &lt;/td&gt;&lt;td&gt;=148.664.000&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jadi persentase jumlah pajak yang dibayar dengan jumlah penghasilan brutonya selama 1 tahun lebih kurang 21%. Nah loo.. darimana 30% nya coba...&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt; Wajar dong ya, kalau penghasilannya dalam 1 tahun saja mencapai 700 juta, harus bayar pajak sekitar 148 juta... Buat negara dan bangsa, tanah air Indonesia tercinta :)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jangan-jangan dikibulin managernya atau konsultan pajaknya kali mbak , hehhe damai deh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sebelum demo, belajar pajak dulu yaaaa mbak, mas... ^_^&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-5242357401410096049?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/9X6pAj-zqAk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/9X6pAj-zqAk/pajak-artis-minta-dikurangi-apa-kata.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5mQhqY9ewI/AAAAAAAAAFA/8hVWYj9HRws/s72-c/spt-tahunan-pph-orang-pribadi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/03/pajak-artis-minta-dikurangi-apa-kata.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-4381981981540456706</guid><pubDate>Wed, 10 Mar 2010 13:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-12T01:08:43.727-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">blog</category><title>Drink This Milk, and you gonna be soleha..</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eZdXyKFFI/AAAAAAAAAEw/bVbilxc66cc/s1600-h/DSC00252.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eZdXyKFFI/AAAAAAAAAEw/bVbilxc66cc/s320/DSC00252.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
I dont get the point of,&lt;br /&gt;
What is the aim of putting "soleha" brand on that milk box?&lt;br /&gt;
There is HiLo Teen, for teenagers ofcourse..&lt;br /&gt;
HiLo Gold, for older..&lt;br /&gt;
Hilo Kacang hijau, maybe its taste or made of..&lt;br /&gt;
Hilo Javacinno Latte, its taste I'm sure...&lt;br /&gt;
and HiLo soleha? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-4381981981540456706?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/UUwjYTryaP0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/UUwjYTryaP0/drink-this-milk-and-feels-like-heaven.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eZdXyKFFI/AAAAAAAAAEw/bVbilxc66cc/s72-c/DSC00252.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/03/drink-this-milk-and-feels-like-heaven.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-7256523439056583072</guid><pubDate>Wed, 10 Mar 2010 12:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-10T06:00:43.512-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">blog</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><title>Kenapa ya takut punya NPWP??</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eI5tbzc6I/AAAAAAAAAEY/Z7ea8c4VI_k/s1600-h/DSC00258.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eI5tbzc6I/AAAAAAAAAEY/Z7ea8c4VI_k/s320/DSC00258.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tahun kemarin bapak pergi umroh. Ibu juga ikut. Jadi bapak bikin NPWP. Sekarang, kata orang-orang setiap tahun harus bayar pajak. Bapak ini cuma pensiunan Pertamina. Berapa sih gajinya......."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kalau penghasilan Bapak cuma dari pensiunan, ngga usah bayar pajak pak, cukup lapor saja. Karena pajaknya kan udah dibayar Dana Pensiun pak, jadi yaa cukup lapor saja... Nanti bapak minta bukti potong pajak dari dana pensiunnya, bilang buat lapor pajak tahunan...."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Waduu.. berapa sih nak gaji pensiunan.. cuma lima ratus ribu. Tidak wajib bayar pajak toh... Lagian bapak ini sudah tua.. NPWP itu buat apa... "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cukup dilaporin saja pak ke kantor pajak, nanti biar saya saja yang bawa ke kantor, yang penting kan lapor. Kalo Bapak ngga lapor, nanti denda nya gede loh pak, seratus ribuu. Wah bisa buat kita makan berapa hari pak..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Waaduuh.. apalagi itu. Dendanya seratus ribu. Besar sekali.. kalau bisa yaa NPWP bapak itu dihapus saja..."&lt;br /&gt;
"......."&lt;br /&gt;
"......."&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;"................ nanti saya tanya dulu ke AR nya ya pak......"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa ya punya NPWP aja takut? &lt;br /&gt;
Pernah dapat cerita dari seorang teman bahwa seorang pemeriksa pajak di kantornya pernah bilang, "Saya tidak akan menghapus NPWP kalo orangnya tidak meninggal!!"&lt;br /&gt;
sungguh sikap seorang militan.&lt;br /&gt;
kalo semua petugas punya prinsip seperti ini, lalu gimana nasib bapak 
ini ya.... :)&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Saya bukannya ngga mau bantu pak, tapi saya kasihan kalo bapak ini sampai diperiksa.&lt;br /&gt;
Rumahnya besar, bagus. Halaman luas. Di Lingkungan yang bagus.&lt;br /&gt;
Takutnya petugas pajak nanti malah dapat novum baru pak, hehe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-7256523439056583072?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/4dX68FNepqc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/4dX68FNepqc/kenapa-ya-takut-punya-npwp.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S5eI5tbzc6I/AAAAAAAAAEY/Z7ea8c4VI_k/s72-c/DSC00258.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/03/kenapa-ya-takut-punya-npwp.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-627024341798134876</guid><pubDate>Sun, 07 Feb 2010 04:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-10T04:57:21.233-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">blog</category><title>How to add "Share on Facebook" button on your blog</title><description>Hehe.. I am a newbie, but I'd like to share how to add the button "share on facebook" automatically at the end of every post.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;style type="text/css"&gt;
  .codebox{
  border: 2px solid #ffcc00;
  -moz-border-radius-topleft:12px;
  -moz-border-radius-topright:12px;
  -moz-border-radius-bottomleft:12px;
  -moz-border-radius-bottomright:12px;
  background:#ffffcc;
  padding:2px
}
.codebox2 {
  background:#ffffcc;
  padding:2px
  }
&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="codebox"&gt;
&lt;div class="codebox2"&gt;
Silahkan &lt;b&gt;Copy - Paste&lt;/b&gt; kode dibawah. Supaya lebih mudah: klik tombol &lt;b&gt;Select All&lt;/b&gt; lalu tekan &lt;b&gt;CTRL + C &lt;/b&gt; &lt;i&gt;atau&lt;/i&gt; boleh juga klik kanan lalu pilih copy&lt;/div&gt;
&lt;form name="copy" style="font-family: monospace; font-size: 8pt;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;input onclick="javascript:this.form.txt.focus();this.form.txt.select();" type="button" value="Select All" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;textarea cols="50" dir="ltr" name="txt" rows="3" style="width: 100%;"&gt;&amp;lt;a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php"&amp;gt;Share&amp;lt;/a&amp;gt;&amp;lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt; &amp;lt;br /&amp;gt; &lt;/textarea&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script src="http://sites.google.com/site/hitsukeproject/TextboxArea.js" type="text/javascript"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/form&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahkan kode di atas , Click Dashboard &amp;gt; Tata Letak &amp;gt; Edit HTML and check a box Expand Widget&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Find the code :&lt;i style="color: red;"&gt;&amp;lt;b:if cond="data:top.showAuthor"&amp;gt;&lt;/i&gt; and paste above it. Save and see. Good Luck.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;(Bahasa campur-campur,,, etdaaaaahh.... haha yang penting belajar) &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-627024341798134876?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/m62EDOewE1c" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/m62EDOewE1c/how-to-add-share-on-facebook-button-on.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/02/how-to-add-share-on-facebook-button-on.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-756694173135483339</guid><pubDate>Sat, 06 Feb 2010 05:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-10T06:07:19.993-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">film</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">mel gibson</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">review</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">edge of darkness</category><title>Edge of Darkness (2010)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2zuq056rWI/AAAAAAAAAEI/b-uFg3UIMcU/s1600-h/Edge_of_Darkness_the_Movie_poster.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2zuq056rWI/AAAAAAAAAEI/b-uFg3UIMcU/s320/Edge_of_Darkness_the_Movie_poster.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; I haven't heard about this film before. I haven't seen the trailer. I didnt know Mel Gibson since I watch this. I thought it was a ghost movie, because the beginning's shown us a murder of a girl. Huaaaa, I hate it, hate it, hate it. damn it. I'd rather losing my money than I have to frighten all night long. But as the time goes by, I was really enjoying this. The story is so interesting. Actually, it was an action film, opened with a murder of Thomas Craven's daughter. He was a detective in Boston. His daughter shot at the front door of his house, made everybody assumes that Thomas is the real target. But, Thomas start to investigates this murder himself, which is lead him to uncover the conspiracy behind this. This film is heavy on violence, and I was screaming all the time ("anjrit, damn it, aaaaaaaaaa") hahaha.... freak out.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; But I still dont get the point of Jedburgh's character. Sometimes I thought he support Thomas Craven, but he work for northmoor. :bingung:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This is a film adaptation of BBC television series in 1985 with the same name.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-756694173135483339?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/C8UPa9Rd-rk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/C8UPa9Rd-rk/edge-of-darkness-2010.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2zuq056rWI/AAAAAAAAAEI/b-uFg3UIMcU/s72-c/Edge_of_Darkness_the_Movie_poster.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/02/edge-of-darkness-2010.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-7603804168942665185</guid><pubDate>Wed, 03 Feb 2010 04:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-02T20:01:23.676-08:00</atom:updated><title>Freedom of Speech and Logic Usage</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2j0P2QAWWI/AAAAAAAAAEA/zNBROxYKjO8/s1600-h/caps.bmp" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="355" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2j0P2QAWWI/AAAAAAAAAEA/zNBROxYKjO8/s400/caps.bmp" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebebasan berbicara dan penggunaan logika hendaknya sejalan... bukannya berjalan sendiri-sendiri... fatwa haram toh hanya berlaku buat Muslim, ya toh?&amp;nbsp; haduh-haduh anak jaman sekarang.... mentang-mentang bebas berbicara, tapi logika nya ngga dipake...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-7603804168942665185?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/igxy2WEuZh8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/igxy2WEuZh8/freedom-of-speech-and-logic-usage.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S2j0P2QAWWI/AAAAAAAAAEA/zNBROxYKjO8/s72-c/caps.bmp" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/02/freedom-of-speech-and-logic-usage.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1017170756396239692</guid><pubDate>Wed, 20 Jan 2010 09:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-20T18:58:20.727-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">blog</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">formspring</category><title>punyaku di formspring.me</title><description>Tanya deh semuanya... :) &lt;a href="http://formspring.me/eltiasrina" target="_blank"&gt;http://formspring.me/eltiasrina&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-1017170756396239692?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/4qEI8gkgkwQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/4qEI8gkgkwQ/formspringme.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/formspringme.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-2320317180241389368</guid><pubDate>Sun, 10 Jan 2010 10:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-10T02:13:55.209-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">perpajakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">DJP</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pajak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">IRS</category><title>Amerika punya IRS, Indonesia punya DJP</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0mg_5fpcLI/AAAAAAAAAD4/AQA67iiksuk/s1600-h/tax_medium.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0mg_5fpcLI/AAAAAAAAAD4/AQA67iiksuk/s320/tax_medium.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size: x-large;"&gt;IRS&lt;/span&gt; (Internal Revenue Service) adalah suatu badan milik pemerintah Amerika yang berfungsi mengumpulkan pajak dan menegakkan hukum perpajakan, yg memiliki kesamaan fungsi dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Di Amerika, IRS merupakan cabang dari Department of Treasury, yg kalau di Indonesia sama dengan DJP, yang berada di bawah Departemen Keuangan. Menteri Keuangan di Amerika juga disebut dengan Secretary of The Treasury. Yang membedakannya adalah Komisionaris dan Chief Counsel IRS dipilih langsung oleh presiden atas persetujuan parlemen, yang berarti pertanggungjawabannya langsung kepada Presiden, bukan kepada Menteri Keuangan. Sedangkan di Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal yang dipilih oleh Menteri Keuangan, sehingga Dirjen Pajak tidak bertanggung jawab langsung kepada presiden. Bisa dipastikan, kekuatan IRS lebih besar dibandingkan DJP. Sebagai contoh, IRS seringkali membuat orang-orang terkenal Amerika menjadi target operasi. Bahkan IRS terkenal sebagai satu-satunya organisasi yang mampu membawa mafia ternama &lt;i&gt;&lt;b&gt;Al Capone&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; ke penjara ketika semua kaki tangan pemerintah telah disogok olehnya. Bukan karena pembunuhan yg sering ia dan anak buahnya lakukan, tapi karena tidak membayar pajak. Begitu hebatnya bukan? (Sekedar informasi, Al Capone adalah mafia amerika yg sering terlibat dalam penyelundupan minuman keras dan aktifitas ilegal lainnya selama tahun 1920-1930 an)&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-2320317180241389368?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/TESsnzVvAn4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/TESsnzVvAn4/amerika-punya-irs-indonesia-punya-djp.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0mg_5fpcLI/AAAAAAAAAD4/AQA67iiksuk/s72-c/tax_medium.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/amerika-punya-irs-indonesia-punya-djp.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1753871324409207556</guid><pubDate>Sat, 09 Jan 2010 16:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-20T18:48:13.166-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">games</category><title>How to cheat on rubik's cube</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0ip1gTim7I/AAAAAAAAADQ/7_IPBilil6A/s1600-h/rubik_s_cube.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0ip1gTim7I/AAAAAAAAADQ/7_IPBilil6A/s200/rubik_s_cube.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irPekOKPI/AAAAAAAAADY/AFOUWtaP9bI/s1600-h/rubik12.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irPekOKPI/AAAAAAAAADY/AFOUWtaP9bI/s200/rubik12.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irjQ_s68I/AAAAAAAAADg/U9t7BL5qZwo/s1600-h/Rubik%27s+Triamid.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0irjQ_s68I/AAAAAAAAADg/U9t7BL5qZwo/s200/Rubik%27s+Triamid.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;That things are called rubik's cube, guys.The first picture show the usual rubik's cube I've ever seen. The second picture is called rubik's cube dodekahedron. The third picture is called rubik's triamid.&lt;br /&gt;
okey.. they seems like difficult to solve, but you know, what is the aim that God had given us brain if we cannot maximize brain usage?It only need a little time, No fear. thinking out, use your brain, and a little phisyc. :D&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Just put the top side&amp;nbsp; 45 degrees, put your fingers on the pieces, pile that pieces, and all the pieces, and then re-arrange it, like this pictures.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0iuGlj1bJI/AAAAAAAAADo/lTp2mMNRx5E/s1600-h/Rubik-open.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0iuGlj1bJI/AAAAAAAAADo/lTp2mMNRx5E/s320/Rubik-open.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;That's all.. A little power is needed here. Finished, guys. ahahhaha... Lol&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-1753871324409207556?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/9Y5pO5SYAZc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/9Y5pO5SYAZc/how-to-cheat-on-rubiks-cube.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0ip1gTim7I/AAAAAAAAADQ/7_IPBilil6A/s72-c/rubik_s_cube.png" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/how-to-cheat-on-rubiks-cube.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-8987198985154356085</guid><pubDate>Sat, 09 Jan 2010 15:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-17T17:40:41.250-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">games</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">facebook</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">game</category><title>Come on, playing barn buddy with me! ^^</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0iViae74jI/AAAAAAAAACg/87jdSmCQyoE/s1600-h/barn+buddy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0iViae74jI/AAAAAAAAACg/87jdSmCQyoE/s400/barn+buddy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Barn Buddy, is an application on facebook, some kind like a farming games, which is allowed other player steal from your farm, adding bugs and weeds to our neighbour, and you can do it also. Actually, I had left that game since my moving to a new office. But once in a time I look over the Barn Buddy's forum, wow.. amazing... people from around the world are still concern about this game. ahahha... New features have been added and improved, so I had left behind. But, I disappointed with the rules, in how to add the credit poin. The developers use real money, using credit card so we really have to pay in real money for playing this game. Fyi, credit point can be add by free a few months later.. ooow, you such really enjoying our addicted, The Broth. Inc. So I have to re-open barn buddy's forum to find out how to cheat. ahahhaa... &lt;i&gt;Okelah kalau begitu, kita maen gratisan ajaaa,,, &lt;/i&gt;Come on guys, let's play barn buddy with me.. "D &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;but, mm.... how to cheat? :D&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;I've used cheat engine, but it doesn't work anymore... or maybe I've made mistake in using that application? I dont know... I've tried, first it work, the coins is growing a lot, but I can't use to pay anything... anyone could help me??&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-8987198985154356085?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/jDpsiXM4Etc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/jDpsiXM4Etc/come-on-playing-barn-buddy-with-me.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_JYg1-4mEos0/S0iViae74jI/AAAAAAAAACg/87jdSmCQyoE/s72-c/barn+buddy.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/come-on-playing-barn-buddy-with-me.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5650298982971406249.post-1497302610023463730</guid><pubDate>Wed, 06 Jan 2010 13:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-09T19:51:37.795-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">lyric</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">song</category><title>Asher Monroe Book</title><description>Download Link&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www55.indowebster.com/6959f14872cd55d9671efb6862d82832.mp3" title="bisa donlot langsung, monggo gan"&gt;Asher Book - Try&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; This is a song from, Asher Monroe Book, well-known as &lt;b&gt;Asher Book&lt;/b&gt;, a 21-years old talented actor, singer and accomplished guitar. His big break start t the age of 7, in theatrical production "Beauty and the Beast". And recently, he played lead role as Marco at &lt;b&gt;FAME,&lt;/b&gt; a musical film in 2009, which is a remake of a film with the same title in 1980. I love to hear his song, Try... try loving it guys :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;If i walk, would you run?&lt;br /&gt;
If i stop, would you come?&lt;br /&gt;
If i say you're the one, would you believe me?&lt;br /&gt;
If i ask you to stay, would you show me the way?&lt;br /&gt;
Tell me what to say so you don't leave me.&lt;br /&gt;
The world is catching up to you&lt;br /&gt;
While you're running away to chase your dream&lt;br /&gt;
It's time for us to make a move cause we are asking one another to change&lt;br /&gt;
And maybe i'm not ready&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chorus&lt;br /&gt;
But I'll try for your love&lt;br /&gt;
I can hide up above&lt;br /&gt;
I will try for your love&lt;br /&gt;
We've been hiding enough&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
If i sing you a song, would you sing along?&lt;br /&gt;
Or wait till i'm gone, oh how we push and pull&lt;br /&gt;
If i give you my heart would you just play the part&lt;br /&gt;
Or tell me it's the start of something beautiful.&lt;br /&gt;
Am i catching up to you?&lt;br /&gt;
While your running away to chase your dreams&lt;br /&gt;
It's time for us to face the truth cause we are coming to each other to change&lt;br /&gt;
And maybe i'm not ready&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chorus&lt;br /&gt;
But I'll try for your love&lt;br /&gt;
I can hide up above&lt;br /&gt;
I will try for your love&lt;br /&gt;
We've been hiding enough&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I will try for your love&lt;br /&gt;
I can hide up above&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2x huh huhhhhhhhhhhhhhhhhh huh huhhh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
If i walk would you run&lt;br /&gt;
If i stop would you come&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt; If i say you're the one would you believe me&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;^_^ &lt;a href="http://www.asherbook.net/" target="_blank" title="langsung meluncur TKP aja gan kalo mau tau lebih banyak"&gt;Asher Book's Official website&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;thank you for listening me... :)&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5650298982971406249-1497302610023463730?l=iamhappybeingme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/iamhappybeingme/~4/Br9Ek3B09Fg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/iamhappybeingme/~3/Br9Ek3B09Fg/asher-monroe-book.html</link><author>noreply@blogger.com (elti)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://iamhappybeingme.blogspot.com/2010/01/asher-monroe-book.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

