<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DkAAQ3c9eSp7ImA9WxFaEUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424</id><updated>2010-07-15T14:19:02.961+08:00</updated><title>Finding God in All Things | www.ignatiusloyola.net</title><subtitle type="html">A Bridge to Ignatian Spirituality</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.ignatiusloyola.net/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>120</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ignatiusloyola/blog" /><feedburner:info uri="ignatiusloyola/blog" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>ignatiusloyola/blog</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;CUUAQnc8cCp7ImA9WxFWE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-9142326147047454290</id><published>2010-06-01T11:29:00.003+08:00</published><updated>2010-06-01T11:34:03.978+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-01T11:34:03.978+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Youth" /><title>Pendaftaran World Youth Day 2011, Madrid</title><content type="html">&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/TAR_HmE_kEI/AAAAAAAAA34/3LdIpbnJPIY/s1600/Catedral-de-la-Almudena.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477642815246667842" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 266px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/TAR_HmE_kEI/AAAAAAAAA34/3LdIpbnJPIY/s400/Catedral-de-la-Almudena.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Persyaratan :&lt;br /&gt;1. Katolik usia 16 tahun ke atas&lt;br /&gt;2. Sehat jasmani dan rohani&lt;br /&gt;3. Mampu berkomunikasi minimal dalam Bahasa Inggris, atau bahasa internasional lainnya.&lt;br /&gt;4. Mengikuti prosedur pendaftaran yang ditetapkan Tim Kerja Indonesia untuk WYD 2011 yang selalu berkontak dengan Panitia WYD Madrid&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Komponen Harga di tahun 2011(sudah termasuk prediksi kenaikan 20% di tahun 2011) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Untuk WYD Only (14 - 22 Agustus 2011)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;TOTAL = 1290 Euro&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rincian :&lt;br /&gt;Biaya tiket PP (Jkt -Mad -Jkt) + airport tax (estimasi)&lt;br /&gt;Pengurusan Visa (fix, ttp diusahakan untuk pembebasan Visa)&lt;br /&gt;Biaya Registrasi WYD : Biaya Makan selama acara WYD, Akomodasi selama acara WYD, Transportasi selama acara WYD.&lt;br /&gt;Asuransi Perjalanan (fix)&lt;br /&gt;Biaya Lain-lain (Souvenir + Retret + Transportasi) (fix)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Untuk WYD + Days in the Dioceses (DITD)(9 - 22 Agustus 2011)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;TOTAL = 1410 Euro&lt;br /&gt;Rincian :&lt;br /&gt;Biaya tiket PP (Jkt - Bcn - Mad -Jkt) + airport tax (estimasi)&lt;br /&gt;Pengurusan Visa (fix, tetap diusahakan untuk pembebasan Visa)&lt;br /&gt;Biaya Registrasi WYD: Biaya Makan selama acara WYD, Akomodasi selama acara WYD, Transportasi selama acara WYD&lt;br /&gt;Asuransi Perjalanan (fix)&lt;br /&gt;Biaya Lain-lain (Souvenir + Retret + Transportasi) (fix)&lt;br /&gt;Eurail Barcelona - Madrid *)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Note: Jika ada kelebihan dana akan dikembalikan kepada peserta. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harga sewaktu-waktu dapat berubah tergantung kurs mata uang euro dan dollar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadwal Registrasi:&lt;br /&gt;1. 1 Juni 2010 dibuka pendaftaran resmi melalui Web, peserta mengisi form registrasi lalu membayar cicilan I (Down Payment) sebesar 200 euro untuk booking tempat duduk pesawat&lt;br /&gt;2. 31 Des 2010, membayar cicilan II sebesar 600 euro&lt;br /&gt;3. Maret 2011 membayar cicilan III, artinya semua peserta sudah melunasi total biaya perjalanan.**)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;note: nomor rekening akan diberitahukan setelah peserta melakukan pendaftaran dengan mengirim via email / pos ke Tim Kerja Indonesia untuk WYD 2011.&lt;br /&gt;Peserta dapat melakukan pembayaran tunai tanpa cicilan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Acara WYD merupakan acara Ziarah, tidak dijanjikan kondisi yang nyaman seperti tour. Panitia penyelenggara dan Panitia Indonesia berusaha sebaik mungkin untuk melayani peserta. Kami mengharapkan para peserta bisa mengikuti prosedur yang telah ditetapkan untuk acara ini. Pendaftaran dan informasi lebih lengkap, serta usulan dan pertanyaan, di website: http://www.wyd-indonesia.org/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-9142326147047454290?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/9142326147047454290/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=9142326147047454290" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/9142326147047454290?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/9142326147047454290?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/GmDiRuXB7aw/pendaftaran-world-youth-day-2011-madrid.html" title="Pendaftaran World Youth Day 2011, Madrid" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/TAR_HmE_kEI/AAAAAAAAA34/3LdIpbnJPIY/s72-c/Catedral-de-la-Almudena.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2010/06/pendaftaran-world-youth-day-2011-madrid.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEYGRng_eip7ImA9WxFRGUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-4893827834590636527</id><published>2010-05-04T17:07:00.006+08:00</published><updated>2010-05-04T20:28:47.642+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-04T20:28:47.642+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Church" /><title>Skandal Kejujuran Gereja</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Munculnya kembali pemberitaan kasus-kasus pelecehan seksual oleh beberapa imam Gereja Katolik yang dimuat oleh media massa internasional beberapa minggu terakhir ini semakin memberi indikasi bahwa ada masalah yang sungguh serius dan perlu segera dibenahi oleh Gereja Katolik dalam hal  penanganan kasus pelecehan seksual. Mulai menyeruaknya beberapa kasus besar di daratan eropa seperti di Irlandia, Jerman dan Denmark rupanya semakin menguatkan dugaan bahwa tidak sedikit kasus pelecehan seksual yang tidak diselesaikan dengan penuh keadilan, dan rupanya kasus semacam ini bukanlah melulu monopoli Gereja Katolik di Amerika Serikat. Ada kemungkinan bahwa masalah ini merupakan masalah yang lebih umum di dalam Gereja Katolik universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul Moses, seorang professor jurnalistik dan penulis senior dalam bidang keagamaan mengamati bahwa antuasiasme media massa dalam mengungkapkan berbagai kasus pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik terletak pada keingintahuan media tentang sejauh mana bisa ditemukan adanya konspirasi untuk menutupi kasus tersebut secara institusional, dan sejauh mana Gereja telah menindak pelaku kejahatan seksual yang dilakukan beberapa imamnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dotCommonweal&lt;/span&gt;, 29 Maret 2010). Sejak merebaknya berbagai kasus skandal pelecehan seksual dalam Gereja Katolik tahun 2002 di Amerika Serikat, kalangan media selalu menemukan adanya pola-pola kecenderungan dari petinggi Gereja di berbagai keuskupan untuk tidak melakukan pengawasan dan tindakan tegas dan tepat bagi imamnya yang melakukan kejahatan ini. Ini terlihat dari fakta bahwa pelaku pelecehan seksual ternyata masih bebas “memangsa” korban-korbannya di tempat lain setelah mereka dipindahkan. Di sisi lain media menduga adanya kesengajaan dari pihak petinggi Gereja untuk menutupi kasus-kasus ini dengan motif untuk melindungi nama baik Gereja dan asset finansialnya. Bagi media, berita konspirasi dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“cover-up”&lt;/span&gt; yang dilakukan institusi sebesar Gereja Katolik inilah yang menjadi sebab mengapa kasus-kasus pelecehan seksual di dalam Gereja Katolik selalu menjadi “makanan empuk” liputan pemberitaan media-media sekuler.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, sebagian kalangan Gereja Katolik seringkali menuduh bahwa berita-berita pelecehan seksual yang dimuat di banyak media sekuler lebih merupakan rekayasa pemberitaan yang berlebihan dan memiliki motif kampanye hitam untuk mendiskreditkan Gereja Katolik. Media menjadi kambing hitam yang dituduh tidak profesional dan diperalat oleh para pengacara atas motif finansial, dan dimanipulasi oleh organisasi yang berseberangan dengan Gereja atas motif politik, untuk tujuan mendelegitimasi otoritas Gereja Katolik di dalam perdebatan isu-isu moral di tengah publik. Uskup Nicholas DiMarzio, dari Keuskupan Brooklyn, New York misalnya bahkan sampai menyerukan kepada para imam dan umatnya untuk tidak lagi berlangganan harian New York Times. Himbauan ini disampaikan di dalam homili pada misa pembaharuan janji imamat para pastor, sebagai sebuah bentuk protes keras kepada harian tersebut yang dinilai telah melakukan kampanye terorganisir untuk mendiskreditkan Gereja Katolik dan para imamnya. New York Times selama dua minggu berkesinambungan telah menurunkan artikel-artikel yang mengungkap adanya skandal pelecehan seksual yang serius di dalam Gereja Katolik di Amerika dan Eropa. Lebih jauh bahkan DiMarzio secara eksplisit menyebutkan New York Times sebagai musuh Gereja. Masih menanggapi hal yang sama, George Weigel menyebutkan bahwa tudingan-tudingan dari New York Times adalah produk dari jurnalisme murahan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;First Things&lt;/span&gt;, 29 Maret 2010). Weigel dengan tegas serta defensif menyatakan bahwa tidak ada institusi manapun di dunia ini, berkaitan dengan kasus pelecehan seksual, yang secara transparan mengakui kesalahannya di masa lalu dan memperbaikinya selain institusi Gereja Katolik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/S-ALm1XvwkI/AAAAAAAAA3o/KqcxfmH_0XA/s1600/priest.jpeg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 237px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/S-ALm1XvwkI/AAAAAAAAA3o/KqcxfmH_0XA/s320/priest.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5467382709417394754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun di balik segala ketidakakuratan ataupun subyektivitas yang dituduhkan kepada media, dari waktu ke waktu media telah berperan di dalam menunjukkan sesuatu yang esensial dan penting untuk disoroti dalam penanganan kasus pelecehan seksual oleh para imam Gereja Katolik, yaitu adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kultur klerikalisme&lt;/span&gt;. Kultur klerikalisme ini selalu cenderung untuk mempertahankan nama baik dan kuasa institusi atau kelompok klerus dalam Gereja Katolik. Kultur klerikalisme inilah yang dinilai menjadi penyebab munculnya konspirasi untuk menutupi banyak kasus pelecehan seksual dan tidak menyelesaikannya secara adil dan tepat demi para korban. Poin inilah yang harusnya menjadi fokus perhatian setiap kalangan Gereja Katolik, bahwa para korban tidak mendapatkan perlakuan yang baik dan perlindungan serta keadilan. Hak-hak mereka cenderung dikesampingkan oleh petinggi Gereja yang memiliki otoritas dalam menangani kasus pelecehan yang terjadi. Media massa mungkin saja memiliki banyak kepentingan dan sikap bias dalam memberitakan kasus-kasus tersebut, namun terlalu berfokus dan bersikap reaktif kepada media justru menunjukkan sikap Gereja yang sangat defensif, yang pada akhirnya akan dinilai oleh para korban sebagai sikap arogan dan tidak solider kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;National Review Board&lt;/span&gt;, sebuah komisi yang dibentuk oleh Konferensi para Uskup di Amerika Serikat dan yang terdiri dari para awam untuk meneliti dan menyelidiki berbagai hal yang berkaitan dengan kasus-kasus pelecehan seksual menemukan beberapa indikasi yang menguatkan adanya kultur klerikalisme (cf. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;John Jay Report&lt;/span&gt;). Pertama, banyak para uskup di dalam menangani kasus-kasus pelecehan seksual ternyata cenderung untuk berusaha menyembunyikan skandal ini dari perhatian dan sorotan umat dengan motif yang disebut “melindungi” iman umat. Sebagian uskup masih kuatir bahwa skandal yang terjadi akan mempengaruhi iman umat dan pada akhirnya dianggap membahayakan komunitas Gereja dan kredibilitas kaum klerus. Kedua, di dalam menghadapi kasus-kasus skandal pelecehan, sebagian uskup lebih memprioritaskan seberapa besar kerugian finansial yang akan terjadi dan berusaha sekuat tenaga untuk meminimalisir potensi kerugian. Kerugian yang besar akan menjadi pukulan telak buat pelayanan Gereja dalam bidang pewartaan, pendidikan, kesehatan dan pelayanan Gereja lainnya. Ketiga, para uskup cenderung lebih melindungi nama baik keuskupannya dengan melindungi para imam yang menjadi pelaku pelecehan seksual. Tindakan uskup yang demikian sebenarnya melupakan peranannya sebagai gembala umat yang harusnya berdiri melindungi dan mengayomi umat beriman di wilayah keuskupannya, bukan malah mengorbankannya demi sebuah nama baik institusi dan klerus.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam konteks Indonesia, mungkin kasus-kasus pelecehan seksual oleh imam Gereja Katolik belumlah seheboh dan sedahsyat dengan pemberitaan yang terjadi di Amerika dan Eropa. Namun seperti dikatakan David Clohessy, pendiri jejaring para korban pelecehan oleh para imam (SNAP), krisis sebagaimana terjadi di Amerika Serikat dan Eropa, dalam beberapa dekade mendatang diprediksi akan menjadi masalah global Gereja Katolik secara sporadis (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;National Catholic Reporter&lt;/span&gt;, 11 Maret 2010). Clohessy berpendapat bahwa konspirasi dan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cover-up” &lt;/span&gt;justru sangat rentan terjadi di negara-negara berkembang, di tempat dimana kesenjangan peran dan kuasa antara kaum klerus dan umat di dalam penyelenggaraan reksa pastoral Gereja masih sangat terbentang lebar, dan masih tingginya ketergantungan ekonomi umat kepada pejabat Gereja Katolik. Seiring dengan semakin kuatnya kesadaran hukum, dan juga peran media yang agresif, diprediksi kasus-kasus skandal ini akan muncul ke permukaan bagai bom waktu untuk masa depan bagi Gereja Katolik di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri bukan tidak mungkin bahwa kasus pelecehan seksual yang sedang masuk dalam pemeriksaan proses hukum yang menimpa Anand Khrisna baru-baru ini bisa menjadi sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“trigger”&lt;/span&gt; untuk kasus-kasus serupa yang dilakukan tokoh-tokoh spiritual ataupun pemuka agama tak terkecuali kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan imam Gereja Katolik, lengkap dengan semua hiruk pikuk media baik cetak maupun televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa dipetik dari kasus skandal pelecehan seksual di Amerika Serikat dan Eropa adalah pentingnya pihak Gereja, dalam hal ini para uskup dan pembantunya serta pimpinan ordo/tarekat religius untuk mau bersikap jujur dan sungguh mencari kebenaran dalam situasi apapun di atas segala-galanya serta solider dan melindungi para korban di dalam menangani kasus-kasus pelecehan seksual. Mereka hendaknya tidak melupakan perannya sebagai  gembala umat ketimbang sebagai pejabat Gereja. Para uskup dan pimpinan ordo/tarekat religius sepatutnya menjadi teladan bagaimana keutamaan kristiani untuk rendah hati mengakui kesalahan, menyesal dan meminta maaf serta solider terhadap para korban sungguh diekspresikan secara nyata. Mungkin apa yang dibuat oleh para Jesuit di Kolese Kanisius di Berlin dapat menjadi refleksi kita bersama. Ketika tujuh kasus pelecehan seksual yang diduga terjadi selama beberapa tahun di kolese tersebut merebak ke publik, para Jesuit lantas mengangkat seorang pengacara perempuan untuk menangani kasusnya secara teliti dan terbuka. Mereka pun menghubungi para alumni untuk meminta bantuan agar para korban lain yang selama ini diam mau untuk muncul melaporkan kasus pelecehan yang dialami. Apa hasilnya? Paling tidak ada sekitar lebih dari seratusan korban melaporkan kasus pelecehan di sekolah tersebut. Dari sinilah terbongkar adanya sikap pasif dan pembiaran yang dilakukan beberapa superior Jesuit selama beberapa dekade terhadap kasus pelecehan seksual yang sebenarnya sudah dilaporkan. Pater Stefan Dartmann, Provinsial Jesuit Jerman pun meminta maaf kepada para korban atas keteledoran superior-superior terdahulu yang membiarkan kasus ini tidak terselesaikan. Walaupun memalukan dan dinilai oleh sebagian orang sebagai tindakan yang bodoh, namun demikian sikap jujur dan terbuka yang dilakukan Kolese Kanisius di Berlin untuk mencari kebenaran sungguh mencerminkan sikap moral kristiani yang sejati. Kejujuran dan kerendahan hati inilah yang banyak orang ingin melihatnya dari Gereja Katolik di tengah hiruk pikuk skandal seksual yang menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Augustinus Widyaputranto&lt;br /&gt;(artikel ini dimuat di Majalah Hidup edisi 18 April 2010)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-4893827834590636527?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/4893827834590636527/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=4893827834590636527" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4893827834590636527?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4893827834590636527?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/lN-w2gHhXE4/skandal-kejujuran-gereja_04.html" title="Skandal Kejujuran Gereja" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/S-ALm1XvwkI/AAAAAAAAA3o/KqcxfmH_0XA/s72-c/priest.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2010/05/skandal-kejujuran-gereja_04.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEAERHo4fyp7ImA9WxVVE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-4530352144967777080</id><published>2009-03-06T22:52:00.007+08:00</published><updated>2009-03-06T23:18:25.437+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-06T23:18:25.437+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Lima Karakteristik Pendidikan Jesuit</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SbE-tGvH8pI/AAAAAAAAA3c/rM-mmaBZ0uk/s1600-h/ign-class17.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 307px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SbE-tGvH8pI/AAAAAAAAA3c/rM-mmaBZ0uk/s320/ign-class17.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310094380269826706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Karakteristik pertama dari pendidikan Jesuit adalah hasrat dan kehendak yang besar untuk berkualitas. Keunggulan akademis sangatlah penting. Ini tidak berarti bahwa institusi pendidikan Jesuit tidak memiliki kelemahan dalam program-program pendidikannya tetapi lebih berarti bahwa setiap institusi pendidikan Jesuit selalu memiliki arah untuk mengusahakan pendidikan yang baik, dan disegani oleh pelaku di dunia pendidikan. Keunggulan akademis berarti juga adalah pelayanan yang berorientasi pada kualitas, karena dengan demikian institusi pendidikan kita menerapkan standar yang tinggi baik untuk siswa dan para guru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karakter kedua dari pendidikan Jesuit adalah dikembangkannya ilmu-ilmu humaniora dan ilmu pengetahuan (sains) di dalam setiap bidang dan spesialisasi. Insititusi pendidikan Jesuit ingin agar setiap peserta didiknya bisa berpikir, berbicara dan menulis; memahami sejarah, sastra dan juga seni budaya; membantu agar cakrawala berpikir mereka diperkaya dengan pemahaman yang diinspirasikan dari filsafat dan teologi; dan di satu sisi memahami matematika dan ilmu pengetahuan. Institusi pendidikan Jesuit mau agar para peserta didik dapat dipersiapkan dan siap untuk hidup mandiri dan bekerja. Pendidikan yang demikian semakin penting dewasa ini di tengah-tengah tuntutan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tinggi dalam penguasaan teknologi. Kita membutuhkan sarjana teknik yang bisa mengapresiasi karya sastra dan ahli komputer yang memahami sejarah dan akar-akar peradaban dunia dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karakter ketiga dalam pendidikan Jesuit adalah dorongan terus menerus untuk mencari jawab atas problem-problem etika dan sistem nilai hidup baik dalam level personal maupun dalam konteks dunia kerja para lulusannya. Nilai-nilai keluarga, integritas pribadi, dan etika bisnis selalu menjadi pokok yang penting bagi institusi pendidikan Jesuit. Institusi Jesuit haruslah mengajak peserta didiknya untuk memahami dan mencari jawab atas problem-problem ekonomi, rasisme, perdamaian dan peperangan, kemiskinan dan penindasan serta problem-problem ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karakter keempat dari pendidikan Jesuit adalah pentingnya untuk mengembangkan pengalaman iman dan hidup rohani terlebih bagi peserta didik katolik. Namun demikian di era ekumenisme jaman ini, pengembangan iman dan hidup rohani tentunya terbuka untuk siapa saja. Pengalaman iman dan hidup rohani sangatlah penting dalam pengembangan pribadi yang integral, oleh sebab itu perlu diintegrasikan dalam proses pendidikan agar peserta didik memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baik dalam pengetahuan dan iman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SbE9Yfik8AI/AAAAAAAAA3M/Xpo4xq8hahE/s1600-h/JesuitHistory+Collage.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 293px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SbE9Yfik8AI/AAAAAAAAA3M/Xpo4xq8hahE/s320/JesuitHistory+Collage.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310092926639206402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Karakteristik kelima dari pendidikan Jesuit adalah perhatian kepada pribadi. Bagaimanapun besar dan kompleksnya permasalahan dalam sebuah institusi pendidikan Jesuit, perhatian dan pendampingan pribadi peserta didik adalah hal yang sangat penting. Peserta didik perlu mendapat perhatian dan sapaan yang manusiawi dalam konteks pengembangan dirinya secara integral baik di dalam maupun di luar kelas, secara akademis maupun non-akademis. Pendampingan dan perhatian macam ini, yang dilakukan oleh pendidik, karyawan, maupun pimpinan sekolah merupakan sesuatu yang diyakini lebih dari sekedar tugas, bahkan lebih dari sebuah profesi. Perhatian dan pendampingan terhadap pribadi peserta didik adalah sebuah &lt;i style=""&gt;panggilan&lt;/i&gt;. Panggilan sebagai pendidik dalam institusi pendidikan Jesuit mendapatkan identitasnya secara nyata pada sejauh mana para pendidik memiliki semangat pantang menyerah, &lt;i style=""&gt;passion&lt;/i&gt; atau hasrat untuk menyapa, memperhatikan tumbuhnya pribadi peserta didik secara integral dalam berbagai aspek kegiatan dan juga tantangan-tantangan dinamika anak didik jaman ini, bukan sekedar datang, mengajar, menilai, dapat duit dan pulang. Menjadi pendidik di Kolese Jesuit tidaklah sama seperti menjadi guru les atau karyawan kantor/perusahaan. Panggilan menjadi pendidik tentunya didasari akan adanya kecintaan terhadap peserta didik, kecintaan terhadap kaum muda yang kita dampingi dengan harapan dan optimisme besar supaya mereka bisa tumbuh mengembangkan potensi dirinya menjadi pribadi yang bertanggungjawab, berkomitmen, kompeten, berhati nurani dan berkepedulian sosial. Tanpa adanya kesadaran akan panggilan ini, karakteristik pendidikan Jesuit di sebuah kolese akan kehilangan gregetnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Tulisan ini disadur bebas dari &lt;i style=""&gt;“Five Traits of Jesuit Education”&lt;/i&gt; oleh Robert A. Mitchell, SJ, Boston College Magazine, 1988, dalam Jesuit Education Reader, 2008 oleh Augustinus Widyaputranto, SJ)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-4530352144967777080?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/4530352144967777080/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=4530352144967777080" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4530352144967777080?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4530352144967777080?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/v8LZ3cZ4R6E/lima-karakteristik-pendidikan-jesuit.html" title="Lima Karakteristik Pendidikan Jesuit" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SbE-tGvH8pI/AAAAAAAAA3c/rM-mmaBZ0uk/s72-c/ign-class17.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2009/03/lima-karakteristik-pendidikan-jesuit.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcER3g-eip7ImA9WxdUGU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-7855761594853275588</id><published>2008-08-05T13:59:00.009+08:00</published><updated>2008-08-05T19:50:06.652+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-08-05T19:50:06.652+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jesuit" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Jendral Jesuit Tentang Pastoral Gereja</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut ini saya sajikan satu cuplikan wawancara &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/01/jendral-jesuit-baru-pater-adolfo.html"&gt;Pater Adolfo Nicolas, SJ&lt;/a&gt;, Superior Jendral Serikat Jesus dengan para editor dari jurnal-jurnal yang dikelola Jesuit. Kutipan yang saya sajikan ini berkaitan dengan Gereja dan reksa pastoralnya kepada umat dewasa ini. Saya melihat poin yang disampaikan Pater Jendral sungguh menarik dan penting. Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dewasa ini banyak orang khususnya kaum muda mengambil jarak dengan institusi Gereja. Apakah Pater bisa memahami perilaku ini, dan mengapa banyak orang meninggalkan Gereja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJgFjOxDEmI/AAAAAAAAApM/9kybOqpR_CU/s1600-h/nikolas+interview.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJgFjOxDEmI/AAAAAAAAApM/9kybOqpR_CU/s400/nikolas+interview.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230937070008210018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ya saya pikir saya bisa memahaminya sungguh karena saya pun pernah mengalami hal yang sama terhadap banyak institusi.  Namun demikian saya kira kita perlu memahaminya dengan lebih cermat mengingat ada banyak faktor dalam perubahan sosial budaya yang kita alami dewasa ini yang bisa mempengaruhi hal tersebut. Salah satu yang menyebabkannya adalah hasil dari kelengahan kita sekian lama. Kita tidak memberdayakan kaum awam sebagaimana kita buat di masa lalu dalam reksa pastoral kita kepada umat. Baru-baru ini saya membaca sebuah buku dari Pater Andrew Greeley, seorang sosiolog di Amerika. Buku ini memaparkan sebuah studi tentang imam-imam di Amerika Serikat. Studi ini mengungkapkan banyak hal khususnya tentang  stereotype negatif terhadap para imam dan juga mempromosikan citra imam yang positif: Imam adalah pribadi yang normal dan biasa, tidak lebih buruk dari kebanyakan orang. Namun demikian, satu hal yang sungguh dikritik habis-habisan oleh Greeley adalah "budaya klerikalisme" &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(clerical culture)&lt;/span&gt;. Dia mengatakan bahwa efek dari kultur macam ini adalah memburuknya pelayanan kepada umat (misalnya dalam kotbah/homili dan juga perayaan sakramen atau liturgi). Greeley membuat penelitian sosiologi yang membandingkan antara Imam Katolik dan Pendeta Protestan. Dalam 7 kategori yang digunakan dalam studi ini, Greeley menyimpulkan bahwa Pendeta Protestan memiliki performa yang lebih baik dibandingkan Imam Katolik, dalam hal sebagai berikut: keramahan kepada umat, respek kepada perempuan, dalam hal berkotbah, dalam pelayanan terhadap kaum muda, dalam hal kegembiraan dan humor dsb. Ini sungguh studi yang menarik. Lebih jauh lagi, di negara-negara yang dikatakan "negara katolik" seperti spanyol dan italia, dan beberapa tempat lain juga, anda bisa melihat bahwa pelayanan yang diberikan di paroki-paroki sangatlah minim sekali.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di asia, saya sudah sekian lama dikejutkan oleh realitas ini. Bekerja bertahun-tahun di sebuah institut pastoral membuat saya menyadari bahwa problem yang sama juga terjadi di seluruh asia. Seringkali reksa pastoral seorang imam tidak terjadi sebagaimana seharusnya. Sebagai contoh: sakramen, yang bagi saya sungguh kaya, merupakan sebuah jalan yang sungguh menarik dan indah untuk memperkaya hidup banyak orang, karena sakramen itu sungguh berkaitan dengan hidup dan muncul dari realitas kehidupan manusia. Kita percaya bahwa kita berkomunikasi dengan Tuhan lewat sakramen. Sakramen mengalirkan rahmat untuk kita; Sakramen adalah anugerah Kristus untuk GerejaNya. Tetapi seringkali kita memutus jarak antara sakramen dan kehidupan nyata, dan menjadikan sakramen hanya sebatas ritual belaka, dan tidak berkaitan dengan hidup nyata sehari-hari. Sudah begitu lama kita mendengar keluhan dan tuduhan demikian, dan memang dalam banyak hal ungkapan itu merupakan sesuatu yang sungguh benar. Karl Bath sendiri mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak memiliki "Teologi Perkawinan" tetapi hanya "Teologi Perayaan Perkawinan". Saya pikir ini berlaku juga untuk berbagai sakramen lainnya. Kita tidak memberikan kepada umat arti dan esensi sakramen yang sesungguhnya karena kita sudah melupakan asal-usulnya dan hanya memberikan kepada mereka bentuk rumusan dan ritual yang sudah paten: Rumusan dan ritual bahwa kita memiliki 7 sakramen dan harus dirayakan dengan cara-cara tertentu. Kurangnya keterkaitan antara pengalaman batin dan rohani dengan hidup real secara nyata telah membuat banyak keluarga dan komunitas dalam Gereja sungguh lemah. Dan sekarang ini kaum muda berhadapan dengan budaya baru dengan segala tantangannya. Mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa menjadi inspirasi/pegangan hidup atau yang sama-sama atraktif. Inilah sebabnya mereka lebih tertarik untuk terlibat di dalam sekte-sekte dan gerakan-gerakan lainnya. Sekali lagi, vatikan sebenarnya sudah membuat studi yang hebat sekitar 20 tahun yang lalu berkaitan dengan sekte-sekte dan gerakan spiritual, dan mengapa banyak orang bergabung di dalamnya. Kita tidak pernah memperhatikan studi ini secara serius. Studi sudah dibuat, banyak poin terungkap di dalamnya, namun kita tidak juga pernah mengatakan: "inilah yang harus kita ubah dalam komunitas-komunitas kita". Dalam banyak hal lain, ini seringkali terjadi juga.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gereja seringkali begitu buruk dalam pelayanan pastoralnya. Konsekuensi dari hal ini sebagaimana kita lihat adalah adanya sebagian orang yang memisahkan diri dari kristianitas maupun dengan Gereja. Di asia, buat saya hal ini selalu menyedihkan, karena yang saya lihat adalah bahwa buddhisme sungguh kuat disana. Buddhisme tidak memiliki doktrin, tidak memiliki perayaan liturgi, sangat minim dengan kewajiban-kewajiban, namun demikian jutaan orang tetap bertahan sebagai buddhist. Mengapa demikian? Karena inti dari "reksa pastoral" buddhisme adalah memberikan pengalaman dan membantu banyak orang lewat meditasi, pencapaian kedamaian dan kebebasan batin. Ya, kita juga seringkali memberikan latihan-latihan dan ritual pula, namun kita sangat kurang dalam memberikan kepada umat tentang semangat dan roh yang menjiwai dan memberi hidup dalam latihan-latihan dan ritual yang kita lakukan. Dalam pandangan saya, ini adalah masalah yang penting, dan ini sungguh berkaitan dengan pernyataan saya sebelumnya. Saya ingin agar kita para Jesuit selalu berbuat secara mendalam pada hal apapun yang kita buat. Misalnya, bila kita di paroki, paroki tersebut harus sungguh-sungguh "dirombak total"dan "revolusioner": Kita harus tanggap terhadap anak-anak, kaum tua, kaum muda dan juga pasangan-pasangan muda serta menemukan kebutuhan mendalam mereka dan bagaimana bisa melibatkan mereka. Paroki kita harus menjadi Paroki Jesuit, bukan hanya paroki yang baik dimana setiap orang merasa baik-baik saja. Kita perlu menghadirkan pengalaman akan Tuhan yang mendalam di dalam paroki Jesuit. Saya tahu ini tidak mudah. Bila kita punya sekolah, sekolah itu harus memiliki kekhasan dari sekolah lain. Di sini saya kira semangat Magis menjadi relevan: Ini soal totalitas, semangat dimana kita memiliki totalitas dalam segala sesuatu yang kita buat. Kita harus tetap memiliki relasi mendalam dengan Tuhan yang harus menjadi pokok dari segala yang kita buat. Dan sekarang masalahnya adalah bila kita tidak sungguh mendalam dan serius dalam pastoral kita, kita akan dapat masalah besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-7855761594853275588?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/7855761594853275588/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=7855761594853275588" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7855761594853275588?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7855761594853275588?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/lwjsfsZAZLE/jendral-jesuit-tentang-pastoral-gereja.html" title="Jendral Jesuit Tentang Pastoral Gereja" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJgFjOxDEmI/AAAAAAAAApM/9kybOqpR_CU/s72-c/nikolas+interview.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/08/jendral-jesuit-tentang-pastoral-gereja.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkEAQ308fCp7ImA9WxdUFEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-5307031516734452961</id><published>2008-07-31T16:52:00.003+08:00</published><updated>2008-07-31T16:57:22.374+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-31T16:57:22.374+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Ignatius of Legola</title><content type="html">Berikut ini adalah video clip kisah hidup Santo Ignatius lewat &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lego"&gt;lego&lt;/a&gt;. Clipnya sederhana tetapi menarik dan sedikit lucu.  Masih  dalam rangka &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/pesta-santo-ignatius-loyola.html"&gt;Pesta Santo Ignatius&lt;/a&gt;. Selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/nxinTECSx5U&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/nxinTECSx5U&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-5307031516734452961?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/5307031516734452961/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=5307031516734452961" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/5307031516734452961?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/5307031516734452961?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/fIr5LHdj1vc/ignatius-of-legola.html" title="Ignatius of Legola" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/ignatius-of-legola.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkMMSX8_fCp7ImA9WxdUFEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-3826337935789534995</id><published>2008-07-31T08:49:00.008+08:00</published><updated>2008-07-31T15:14:48.144+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-31T15:14:48.144+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Blogsite" /><title>Inter Nos (31/07/08)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJFmXLxkZwI/AAAAAAAAAo0/CqJyO9Ejgc4/s1600-h/Loyola+Coat+of+Arms+%28House+of+Loyola%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJFmXLxkZwI/AAAAAAAAAo0/CqJyO9Ejgc4/s200/Loyola+Coat+of+Arms+%28House+of+Loyola%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229073190837577474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak terasa blogsite &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/"&gt;Finding God in All Things&lt;/a&gt; sudah berjalan selama satu tahun. Sungguh merupakan sebuah perjalanan yang singkat, tetapi sekaligus merupakan sebuah pengalaman berharga karena saya sungguh belajar memelihara sebuah blog, berusaha untuk kreatif dan dengan setia mengisinya di tengah-tengah kesibukan lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Blogsite ini adalah sebuah inisiatif pribadi untuk menghadirkan sebuah akses informasi kepada banyak orang yang ingin mengenal spiritualitas Ignasian dan profil Jesuit, khususnya Jesuit Indonesia. Kemudahan akses informasi di internet berkaitan dengan Jesuit dan Spiritualitas Ignasian tentunya menjadi hal yang penting dewasa ini dan lebih-lebih di tahun-tahun ke depan seiring dengan berkembangnya pola komunikasi banyak orang dewasa ini. Lebih-lebih bagi orang muda, sesuatu yang tidak eksis di internet bisa jadi dianggap sebagai sesuatu yang tidak eksis di muka bumi. Ya memang ini ekstrem, tetapi nyatanya tidak sedikit orang yang lebih cenderung memilih Google sebagai alternatif akan berbagai macam pertanyaan dan keingintahuan dalam banyak hal termasuk soal-soal pejiarahan rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diakui bahwa tidak mudah mengelola sebuah blogsite, apalagi karena saya bukan seorang blogger profesional.  Mungkin dari sisi finansial, tidaklah mahal mengelola &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/"&gt;www.ignatiusloyola.ne&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/"&gt;t&lt;/a&gt; ini, karena toh harga sebuah domain masih sangat terjangkau, &lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;blogger.com&lt;/a&gt; pun masih menyediakan blog hosting gratis dan dengan Google Apps, berbagai macam feature untuk sebuah domain bisa diwujudkan dengan cuma-cuma. Namun demikian tidaklah mudah untuk meramu berbagai macam bahan secara orisinil, bukan sekedar copy and paste dari sumber lain, dan apalagi meramu bahan-bahan spiritualitas secara menarik dan singkat padat. Menulis di blogsite memang butuh ketrampilan untuk bisa menulis pendek karena yang dibutuhkan memang artikel yang singkat bukan yang bertipe paper akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun memang masa yang singkat dan belum ada apa-apanya. Saya sendiri merasa setahun yang ada itu lebih merupakan sebuah "trial" untuk mencari pola dan kreativitas. Ada harapan dalam diri saya pribadi untuk mengembangkan blog ini menjadi sebuah "one stop blogsite" untuk spiritualitas Ignasian, dengan berbagai macam features dari renungan, informasi, bahan latihan doa hingga podcast. Mungkin terdengar ambisius, dan tentunya ini bukan sesuatu yang mudah, dan mungkin butuh waktu dan ekstra tenaga  untuk bisa mewujudkannya. Bagi saya, kehadiran "one stop blogsite" untuk spiritualitas Ignasian berbahasa indonesia itu merupakan sesuatu yang penting, mengingat tidak sedikit umat katolik yang ingin membangun hidup rohani tetapi tidak tahu harus memulai darimana, dan mereka tidak bisa menemukan akses informasi online berkaitan dengan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa online? Saya kira realitas online adalah sebuah fenomena yang tidak bisa terhindarkan dan mau tidak mau menjadi penting dalam pola komunikasi kita.  Orang lebih sering mencari bantuan via online tentang banyak hal, dari pesan makanan, membeli barang, transaksi bank, dan bahkan termasuk soal-soal hidup rohani. &lt;span&gt;PEW Internet and America Life Project &lt;/span&gt;sendiri pernah mengungkap bahwa  64 persen pengguna internet di amerika misalnya menggunakan internet untuk &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=zr4XyY-DJgQ"&gt;soal-soal religius dan keagamaan&lt;/a&gt;. Di blogsite ini, paling tidak sudah ada beberapa orang yang akhirnya bisa menjumpai beberapa contact person secara personal dengan beberapa Jesuit  untuk berbicara lebih jauh soal spiritualitas Ignasian dan hidup rohani setelah  mereka menemukan blogsite ini. Sebagian besar mengikuti blog ini setiap hari. Dari tracking dan hit counter yang ada paling tidak perharinya ada 20-an visitor dan juga  ditambah mereka yang berlangganan via email. Sebagian besar berasal dari Indonesia, US, Singapore dan Australia. Tidak terlalu banyak, tetapi saya tetap berharap ini berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai tempat di luar negeri, Serikat Jesus sudah begitu aktif menghadirkan spiritualitas Ignasian lewat media online. Paling tidak banyak tercatat ada &lt;a href="http://www.pray-as-you-go.org/"&gt;pray as you go&lt;/a&gt; dari Jesuit di Inggris, atau juga &lt;a href="http://www.sacredspace.ie/"&gt;Sacred Space&lt;/a&gt; oleh Jesuit Irlandia, Renungan harian &lt;a href="http://www.creighton.edu/CollaborativeMinistry/daily.html"&gt;Creighton University&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.makingthepartswhole.com/"&gt;College of The Holy Cross,&lt;/a&gt; dan bahkan dari Curia SJ di Roma pun sudah membuat &lt;a href="http://www.sjweb.info/"&gt;portal web Jesuit&lt;/a&gt; yang sangat informatif. Belum lagi misalnya kehadiran Jesuit dalam berbagai video clip seperti banyak dibuat oleh  &lt;a href="http://www.thinkjesuit.org/main/index.php"&gt;Provinsi SJ Chicago, Detroit dan Wisconsin&lt;/a&gt;, Jesuit Communications, Philippines. Mungkin di Indonesia, peluang kerasulan di area &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Blogosphere"&gt;blogosphere&lt;/a&gt; dan multimedia di internet ini belum dilirik dan dilihat potensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Blogsite, IgnatiusLoyola.Net juga memiliki email dan fasilitas instant messenger dengan memanfaatkan &lt;a linkindex="59" href="https://www.google.com/a/"&gt;Google Apps&lt;/a&gt; (standard edition). Alamat email ini bisa diintegrasikan dengan program &lt;a linkindex="60" href="http://www.google.com/talk/"&gt;Gtalk&lt;/a&gt;, dan memiliki fitur yang sama dengan &lt;a linkindex="61" href="http://mail.google.com/"&gt;Gmail&lt;/a&gt; (antara lain: fasilitas POP3/IMAP, email forwarding, berkapasitas lebih dari 6GB-and still counting-, akses mobile, dsb.). Tentunya ini mengantisipasi rencana ke depan soal networking dalam konteks pengembangan dan spiritualitas Ignasian dalam sebuah komunitas/kelompok. Mungkin ini mimpi, tetapi untuk sesuatu yang positif tidak ada salahnya bermimpi. Bila anda tertarik menjadi kontributor  dan bersama-sama mau belajar berpartisipasi dan mengelola blog ini, khususnya juga mau mengenal spiritualitas Ignasian silakan kontak &lt;a href="mailto:awidyaputranto@ignatiusloyola.net"&gt;saya&lt;/a&gt;. Keterlibatan anda sekalian tentu akan bermanfaat secara positif disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya saya mengharapkan dukungan, komentar dan saran anda sekalian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-3826337935789534995?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/3826337935789534995/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=3826337935789534995" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/3826337935789534995?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/3826337935789534995?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/M9wVLOvmd9c/inter-nos-310708.html" title="Inter Nos (31/07/08)" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJFmXLxkZwI/AAAAAAAAAo0/CqJyO9Ejgc4/s72-c/Loyola+Coat+of+Arms+%28House+of+Loyola%29.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/inter-nos-310708.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEEHQXc6eSp7ImA9WxdUFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-4454242163090898255</id><published>2008-07-31T00:42:00.000+08:00</published><updated>2008-07-31T08:03:50.911+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-31T08:03:50.911+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Pesta  Santo Ignatius Loyola</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJCjuqDHnFI/AAAAAAAAAoU/nfmQ056eDqc/s1600-h/ignatius.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJCjuqDHnFI/AAAAAAAAAoU/nfmQ056eDqc/s400/ignatius.0.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228859189333826642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini adalah Pesta Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus, seorang mistikus dalam Gereja Katolik, pemimpin rohani yang unggul dalam Serikat Jesus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi sebagian umat katolik, merayakan pesta nama seorang santo bisa jadi sudah kehilangan makna dan relevansinya. Tidak jarang kita menjumpai sebagian orang yang tidak tahu sejarah dan asal usul santo pelindungnya. Maka, kalau kita merayakan Pesta Santo Ignatius, bagi kebanyakan orang, apalagi orang modern jaman ini, adakah hal yang relevan dari Santo berkaki pincang ini untuk kita renungkan bersama?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian orang mungkin bisa melihat dan menganggap Ignatius sebagai seorang santo tipikal abad pertengahan: seorang pendoa, seorang yang bijaksana, asketik/bermati raga, dan seorang beriman. Para Santo/Santa, karena disiplin diri yang kuat, semangat asketisme yang hebat, dan penyangkalan diri, kadang-kadang terkesan tidak menarik dan tidak mengesankan. Kalau Ignatius hanya dipandang semata-mata dari perspektif tentang santo-santa yang demikian ini, saya yakin tidak akan banyak orang muda dari generasi ke generasi selama berabad-abad mau mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teman-teman Ignatius selama kuliah di Paris, tidak hanya melihat Ignatius sebagai orang yang asketik/bermati raga tetapi juga merupakan seseorang yang sungguh antusias dengan jamannya, akrab dengan perkembangan jaman dan sesuatu yang baru di jamannya waktu itu. Singkat kata, walau menjadi seorang yang sangat religius, Ignatius juga bergaul secara dekat dengan hiruk-pikuk dunia dan menikmati kegembiraannya. Ignatius justru tidak menganjurkan teman-temannya untuk ikut latah dalam praktek-praktek kesucian yang tidak relevan seperti misalnya mati raga yang berlebihan. Kalau kita melihat apa yang dianjurkan Ignatius misalnya dalam berbagai suratnya, sangat mungkin mendapati kesan bahwa anjurannya bisa diinterpretasikan melawan arus tentang persepsi "kesucian" jaman itu, dan malah cenderung "duniawi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJCjiyynLxI/AAAAAAAAAoM/yHLMeBIbtMo/s1600-h/ignsend.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJCjiyynLxI/AAAAAAAAAoM/yHLMeBIbtMo/s400/ignsend.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228858985522081554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam konsepnya ketika menulis Konstitusi Serikat Jesus, beliau menggarisbawahi sebuah pandangan bahwa dunia ini adalah baik adanya. Ignatius melihat dunia sebagai sesuatu yang indah, penuh dengan karya dan keagungan Tuhan. Maka tak heran ketika beliau mengirim banyak anggota Serikat Jesus ke berbagai penjuru dunia, dalam korespondensinya beliau selain meminta para Jesuit melaporkan karya apostolik mereka, juga mendapati laporan-laporan menarik lainnya berkaitan dengan situasi tempat para Jesuit tersebut bekerja: budayanya, bahasa, alam dan tumbuhannya, adat istiadat, musim dan cuacanya, bahkan sampai dengan soal-soalnya yang berkaitan dengan ilmu alam, astronomi dan juga budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaannya pada dunia terlihat dari ciri khas sekolah-sekolah yang didirikan oleh Jesuit pada jaman itu. Sekolah-sekolah Jesuit jaman itu mengadopsi pendidikan gaya rennaisance yang selain mengintegrasikan seni dan sastra juga merupakan sebuah apresiasi mendalam terhadap budaya yunani dan romawi. Dari pola pendidikan inilah dari banyak sekolah Jesuit pada waktu itu muncul penulis-penulis dan pemikir yang ulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ignatius adalah seseorang yang mencintai dunia. Mungkin bukan tipikal seorang santo yang "menolak" dunia, sebaliknya Ignatius sangat dekat dengan mentalitas jaman dan berusaha untuk merangkul banyak orang di jamannya merengkuh kekayaan dunia dan mempersembahkannya kepada Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang itu, mungkin kita bisa memahami mengapa misalnya banyak Jesuit dewasa ini melakukan pekerjaan yang bukan tipikal seorang pastor atau religius. Ada Jesuit yang bekerja sebagai dosen, ekonom, ilmuwan, ahli komputer, psikolog, konselor, ahli pendidikan, pekerja sosial, pemusik, seniman, broadcaster dan banyak bidang lainnya. Ignatius sendirilah yang telah memulainya sejak awal. Ignatius ingin mengajak kita semua untuk menyadari sungguh indahnya dunia. Ignatius ingin supaya para Jesuit yang bekerja di berbagai bidang tersebut untuk sungguh bisa memanfaatkan dunia yang kompleks, indah dan penuh pesona ini sebagai sebuah medan untuk pada akhirnya membawa semakin banyak orang mencintai penciptanya. Dunia perlu kita rangkul dan dari situ pula kita mengusahakan kesucian: menjadi semakin manusiawi, menjadi semakin "mendunia" tetapi tetap demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita merasa bahwa kesucian tidak mungkin berawal dari kecintaan kita pada dunia. Kita sering berpikir untuk bisa suci kita perlu menyangkal hal-hal yang berbau "duniawi" dan lebih memfokuskan diri pada perbuatan-perbuatan saleh. Ignatius selalu mengajak kita untuk mengenal sungguh potensi kemanusiaan kita, mengenal lingkungan kita, mengenal kelemahan kita dan pada saat yang sama memahami hidup kita di dalam dunia ini merupakan sebuah pejiarahan bersama Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Pesta Santo Ignatius!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AD MAIOREM DEI GLORIAM!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-4454242163090898255?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/4454242163090898255/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=4454242163090898255" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4454242163090898255?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4454242163090898255?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/DyOLLEqni8c/pesta-santo-ignatius-loyola.html" title="Pesta  Santo Ignatius Loyola" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SJCjuqDHnFI/AAAAAAAAAoU/nfmQ056eDqc/s72-c/ignatius.0.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/pesta-santo-ignatius-loyola.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0AHQHk6fCp7ImA9WxdUE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-44114489260343873</id><published>2008-07-30T02:58:00.003+08:00</published><updated>2008-07-30T04:02:11.714+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-30T04:02:11.714+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Ad Maiorem Dei Gloriam- Novena Hari 9</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;Ambillah ya Tuhan Kebebasanku&lt;br /&gt;Kehendakku, budi ingatanku&lt;br /&gt;Pimpinlah diriku dan Kau kuasai&lt;br /&gt;Perintahlah, akan ku taati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya rahmat dan CintaMu padaku&lt;br /&gt;Yang ku mohon menjadi milikku&lt;br /&gt;Hanya rahmat dan cinta dariMu&lt;br /&gt;Berikanlah menjadi milikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah semua yang ada padaku&lt;br /&gt;Ku haturkan menjadi milikMu&lt;br /&gt;Pimpinlah diriku dan Kau kuasai&lt;br /&gt;Perintahlah akan kutaati&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI92x_2bUeI/AAAAAAAAAoE/HMyUF4bSeEM/s1600-h/ignred.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI92x_2bUeI/AAAAAAAAAoE/HMyUF4bSeEM/s320/ignred.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228528293725819362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Doa yang sering kita dengar ini adalah bagian dari Latihan Rohani St. Ignatius (no.234), yang  bisa menjadi sebuah "ringkasan" perjalanan hidup Ignatius: Mengabdi Sang Pencipta. Keinginannya adalah mengabdi Tuhan, membawa orang kepada Tuhan dan mencintai orang miskin. Kita mungkin bisa bertanya, darimanakah energi yang Santo Ignatius dapatkan sehingga ia berani meninggalkan Puri Loyola yang megah dan status kebangsawanannya, pergi berjiarah, menjadi pengemis, kembali ke bangku sekolah dan belajar hingga mendirikan Serikat Jesus? Sebuah pejiarahan hidup yang sangat panjang dan tentunya melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya jawaban adalah: Perasaan dicintai oleh Tuhan yang begitu besar. Ya, perasaan cinta Tuhan yang begitu besar inilah yang menggerakkan Ignatius. Energi yang dia dapat bersumber dari pengalaman dicintai oleh Tuhan sendiri yang begitu besar. Kisah Ignatius adalah kisah seorang santo yang sangat manusiawi. Dia tidak lepas dari ketakutan, kesepian, godaan atau kelemahan-kelemahan manusiawi lain. Namun alih-alih lari dari realitas itu, Ignatius malah berani menghadapinya, merasakan godaan yang ada dan akhirnya menjadi peka akan kelemahan diri, gerakan roh baik dan jahat serta karakter dirinya. "Menjadi suci adalah menjadi semakin manusiawi, bukan menjadi sempurna", mungkin begitulah kisah Ignatius bisa kita lukiskan. Artinya, dengan merengkuh nyata kemanusiawian kita, lengkap dengan segala kelemahan dan kedosaan, kita semakin juga merasakan cinta Allah yang besar dalam seluruh perjalanan hidup kita. Dalam kelemahan kita, Allah pun bekerja, dan seringkali kita menemukan bahwa pengalaman jatuh kita merupakan sebuah ajakan untuk bertemu Dia dan juga ajakan untuk mengenal diri kita secara lebih mendalam. Disinilah cinta Tuhan sungguh menjadi lebih nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 153);"&gt;"Menjadi suci adalah menjadi semakin manusiawi, bukan menjadi sempurna"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda pernah merasakan cinta Tuhan? Dimanakah dan bagaimanakah cinta Tuhan itu anda terima dan rasakan? Apakah dalam kelemahan  dan pergulatan diri anda, anda pernah menemukan dan berjumpa dengan Tuhan sendiri? Sejauh mana perjumpaan itu membekas dan sungguh mengubah diri anda? Darimanakah energi yang menggerakkan hidup anda sekarang? apakah hidup kita hanya digerakkan semata-mata atas kebutuhan untuk "survive", semata-mata hanya karena kita harus bekerja, mencari uang, menghidupi diri atau keluarga? atau adakah dimensi spiritual dari apa yang kita kerjakan dalam hidup ini? Dimanakah Tuhan dalam hidup anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada baiknya kita menyisihkan waktu untuk merenungkan hal ini....dan akhirnya bisa bertanya sebagaimana Santo Ignatius pun bertanya dalam dirinya kepada Kristus yang tersalib:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Apa yang telah kulakukan untuk Dia"&lt;br /&gt;"Apa yang sedang kulakukan untuk Dia"&lt;br /&gt;"Apa yang akan kulakukan untuk Dia"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ad Maiorem Dei Gloriam- begitu semboyan dari Ignatius, yang artinya Demi Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar. Apakah hidup kita adalah wujud ekspresi "ad Maiorem Dei Gloriam"? Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa anda tutup dengan &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/novena-santo-ignatius-loyola.html"&gt;Novena St. Ignatius&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-44114489260343873?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/44114489260343873/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=44114489260343873" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/44114489260343873?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/44114489260343873?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/ivkJ0eJ7QSw/ad-maiorem-dei-gloriam-novena-hari-9.html" title="Ad Maiorem Dei Gloriam- Novena Hari 9" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI92x_2bUeI/AAAAAAAAAoE/HMyUF4bSeEM/s72-c/ignred.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/ad-maiorem-dei-gloriam-novena-hari-9.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEYERXoyeSp7ImA9WxdUEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-3022534465211338099</id><published>2008-07-29T00:57:00.004+08:00</published><updated>2008-07-29T01:28:24.491+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-29T01:28:24.491+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Ignatius dan Desolasi- Novena Hari 8</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dimanakah Tuhan ketika kita kesepian? Dimanakah Dia ketika kita terpuruk dalam kelemahan kita? Dimanakah Dia ketika penderitaan datang? Rasanya pertanyaan-pertanyaan tersebut sangatlah tidak asing dalam hidup kita. Apakah Tuhan sungguh meninggalkan kita pada saat-saat yang demikian?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Membaca kisah hidup Santo Ignatius dari hari ke-1 hingga hari ke-7, kita bisa melihat bahwa dari pertobatannya, hidup Ignatius selalu diwarnai dengan kesepian jiwa atau kesepian rohani selain kegembiran dan semangat rohani atau batin yang luar biasa pula. Dalam pertobatannya, kesepian pun dirasakan. Dalam perjalanan rohaninya seringkali dia merasa lelah, putus asa, sendirian, pun bila itu semua adalah demi Kemuliaan Tuhan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI4BhGkJf9I/AAAAAAAAAn8/U8moIdP_GY0/s1600-h/ignsilence.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI4BhGkJf9I/AAAAAAAAAn8/U8moIdP_GY0/s320/ignsilence.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228117885633265618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kesetiaan Ignatius dan keteguhan iman Ignatius-lah yang membuat imannya berbuah dan semakin meyakinkan dia bahwa Tuhan hadir. Kesepiannya tidak membuat Ignatius goyah iman, tetapi dengan sabar mencoba "menjiarahi" batinnya, menyelami alam kesepian dan berjumpa dengan Tuhan sendiri disana. Kesepian, ibarat Tuhan yang diam, tetapi tetap hadir menemani kita untuk berani masuk ke dalam "gelap", menyelami relung hati kita, dan terkadang melihat wajah kita yang sesungguhnya.....wajah yang seringkali tidak berani kita tatap sungguh-sungguh, karena penuh dengan kelemahan dan dosa kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang dalam Spiritualitas Ignasian disebut dengan desolasi (kesepian rohani). yang harus dihadapi dengan dengan besar hati dan sikap berserah kepada Tuhan. Ini mengandaikan iman dan harapan yang besar akan cinta Tuhan sendiri. Kita kiranya bisa sungguh belajar dari Ignatius. Latihan Rohani-nya yang dahsyat itu adalah hasil buah iman dan kepercayaan yang sungguh besar akan kasih Tuhan, dan juga menunjukkan sikap kerendahan hati seorang Ignatius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengajak anda merenungkan saat dimana kita berada dalam kesepian rohani dan batin, dan merenungkan sungguh bagaimana kita menghadapinya dengan iman. Video clip lagu berikut kiranya bisa membantu kita semua untuk merenungkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/0v3BUpA3M2M&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/0v3BUpA3M2M&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilanjutkan dengan &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/novena-santo-ignatius-loyola.html"&gt;Novena Santo Ignatius&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-3022534465211338099?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/3022534465211338099/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=3022534465211338099" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/3022534465211338099?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/3022534465211338099?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/4iS-bBx5Cco/ignatius-dan-desolasi-novena-hari-8.html" title="Ignatius dan Desolasi- Novena Hari 8" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI4BhGkJf9I/AAAAAAAAAn8/U8moIdP_GY0/s72-c/ignsilence.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/ignatius-dan-desolasi-novena-hari-8.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0cFSXs4cSp7ImA9WxdUEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-4974031801133578737</id><published>2008-07-28T11:49:00.004+08:00</published><updated>2008-07-28T14:03:38.539+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-28T14:03:38.539+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Ignatius di Roma- Novena Hari 7</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI1El7Nr2HI/AAAAAAAAAn0/8G19d0AkzgI/s1600-h/Ignatius_and_Pope.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI1El7Nr2HI/AAAAAAAAAn0/8G19d0AkzgI/s320/Ignatius_and_Pope.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227910160787953778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ignatius dan para sahabatnya setelah diteguhkan dalam Latihan-Latihan Rohani, bertekad teguh untuk mengabdikan diri mereka kepada Gereja. Itulah sebabnya, Ignatius pada tahun 1537 pergi ke Roma untuk memberikan diri mereka pada Bapa Suci dalam semangat ketaatan kepada Gereja.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ignatius sungguh diterima oleh Paus Paulus III pada waktu itu, dan dalam kesempatan itu Ignatius juga mengungkapkan keinginan mereka untuk pergi ke Yerusalem dan bekerja disana sebagai sebuah impian dan cara untuk melayani Gereja. Agaknya Bapa Suci sendiri tidak terlalu antusias untuk mengirim mereka ke Tanah Suci, dan sebaliknya dalam sebuah kesempatan, secara spontan Bapa Suci pernah mengatakan “Mengapa kamu begitu ingin pergi ke Yerusalem? Itali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bisa menjadi sebuah Yerusalem kalau kalian memang sungguh-sungguh mau bekerja bagi Gereja”. Nampaknya perkataan Bapa Suci ini dalam kesempatan berikutnya sungguh menjadi nyata.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Roma pada waktu itu terancam bahaya kelaparan, banyak gelandangan, pengungsi dan juga tingkat pertumbuhan ekonomi yang buruk akibat adanya perang Turki yang mempengaruhi stok pangan dan kebutuhan hidup lainnya. Setting kota yang seperti ini menjadi kesempatan buat Ignatius dan kawan-kawannya untuk berbuat sesuatu membantu banyak orang yang menderita dalam kegiatan social. Kegiatan Ignatius ini menjadi sungguh signifikan dan besar sampai-sampai ribuan orang sudah dilayani oleh mereka. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lambat laun mereka mulai sadar bahwa impian pergi ke Yerusalem bukanlah sesuatu yang realistis, mengingat situasi politik dan ekonomi, dan apalagi kalau melihat apa yang ternyata bisa mereka buat di Roma pada waktu itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Renungan:&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dalam spiritualitas Ignasian, impian atau keinginan seringkali merupakan pintu masuk untuk menemukan hidup anda dan juga bahkan menemukan kehendak Tuhan sejauh anda mau membawa dan menimbang-nimbangnya di dalam doa dan percakapan hidup anda.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setiap kali kita melakukan Latihan Rohani, ataupun berdoa secara Ignasian, kita selalu diajak &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2007/08/beberapa-pokok-penting-dalam-berdoa-2.html"&gt;meminta rahmat&lt;/a&gt; secara spesifik, yang kita dambakan di awal doa kita. Mengapa demikian? Karena doa dan hidup kita adalah 2 hal yang integral dan terkait satu sama lain. Rahmat Tuhan bekerja lewat kodrat kita sebagai manusia dengan segala dimensinya. Dalam impian-impian kita, energi untuk hidup dan berkembang itu sungguh nyata dan tumbuh. Integrasi keduanya dalam doa dan lewat pembedaan roh sebenarnya merupakan inti pokok dalam spiritualitas Ignasian.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sekarang soalnya adalah: apakah anda masih berdoa dan memiliki impian hidup? Ataukah 2 hal ini seringkali merupakan 2 hal yang terpisah? Sejauh mana hidup anda merupakan hidup yang terinspirasi dari doa-doa anda? atau hidup anda hanya terinspirasi dari impian anda saja?  Ataukah anda hanya hidup dari harapan-harapan kosong doa anda yang lepas dari realitas sehari-hari?  Masihkah menemukan ruang dimana energi dalam impian anda itu anda "timbang-timbang" dalam doa dan percakapan anda dengan Tuhan?&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;Bisa ditutup dengan &lt;a set="yes" linkindex="124" href="http://www.fileden.com/files/2007/10/11/1503275/Novena%20Santo%20Ignatius%20Loyola.pdf"&gt;Doa Novena St. Ignatius Loyola&lt;/a&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-4974031801133578737?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/4974031801133578737/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=4974031801133578737" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4974031801133578737?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4974031801133578737?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/BaTdTb-nAhI/ignatius-di-roma-novena-hari-7.html" title="Ignatius di Roma- Novena Hari 7" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SI1El7Nr2HI/AAAAAAAAAn0/8G19d0AkzgI/s72-c/Ignatius_and_Pope.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/ignatius-di-roma-novena-hari-7.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEcMRH4-cCp7ImA9WxdUEU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-5853481164685423816</id><published>2008-07-27T11:27:00.004+08:00</published><updated>2008-07-27T12:14:45.058+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-27T12:14:45.058+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>La Storta- Novena Hari 6</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIv0JQp45MI/AAAAAAAAAns/tARKCYxRAIM/s1600-h/ign5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIv0JQp45MI/AAAAAAAAAns/tARKCYxRAIM/s320/ign5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227540232420254914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tahun 1536, pada waktu itu Inigo sudah ditahbiskan menjadi imam, dan mengubah namanya menjadi Ignatius. Dalam perjalanannya menuju Roma, Ignatius berdoa di sebuah kapel di La Storta, dan rupanya pengalaman di La Storta ini merupakan salah satu pengalaman penting dalam konteks pejiarahan rohani Ignatius. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam doanya di Kapel La Storta, Ignatius mengalami sebuah pengalaman rohani mendalam dimana dia melihat Allah Bapa menempatkan dirinya di samping PutraNya Yesus. Pengalaman rohani ini merupakan sebuah pengalaman rohani yang transformatif bagi Ignatius karena meyakinkannya bahwa doanya sungguh terkabul. Dia selalu meminta kepada Tuhan, dalam doa-doanya,supaya ditempatkan bersama dengan Kristus sendiri, dan sekarang entah bagaimana, dia mengalami sebuah pengalaman rohani yang begitu "agung" tetapi sekaligus "misteri". Pengalaman La Storta ini bagi Ignatius semakin meneguhkan keinginannya mengabdi Allah  dan Gereja, dan juga hidupnya dalam Serikat Jesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 255, 153);"&gt;Berefleksi dari pengalaman Ignatius di La Storta, apakah anda pernah mengalami pengalaman personal "berjumpa dengan Allah" dalam doa-doa anda? Apakah anda pengalaman perjumpaan itu menyentuh realitas hidup anda? Sejauh mana perjumpaan itu memberikan pencerahan dalam diri anda tentang makna dan arah hidup anda? Apakah itu memberi energi dan inspirasi baru untuk anda? Ataukah anda hanya memahaminya sebagai sebuah moment "sentimental" dalam doa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah doa-doa anda sungguh menggerakkan anda secara integral? atau hanyakah itu menjadi sebuah rutinitas harian yang lama-kelamaan menjadi kosong dan membosankan?&lt;/blockquote&gt;Dilanjutkan dengan &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/novena-santo-ignatius-loyola.html"&gt;Novena St. Ignatius&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-5853481164685423816?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/5853481164685423816/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=5853481164685423816" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/5853481164685423816?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/5853481164685423816?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/DaBW7y0HH_U/la-storta-novena-hari-6.html" title="La Storta- Novena Hari 6" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIv0JQp45MI/AAAAAAAAAns/tARKCYxRAIM/s72-c/ign5.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/la-storta-novena-hari-6.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEENR3Y4fip7ImA9WxdUEE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-1956795921353294460</id><published>2008-07-26T09:22:00.004+08:00</published><updated>2008-07-26T09:44:56.836+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-26T09:44:56.836+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Para Jesuit Pertama-Novena Hari 5</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIqBe00CU_I/AAAAAAAAAnk/NNdWHjl6_ls/s1600-h/JesuitIDLarge.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIqBe00CU_I/AAAAAAAAAnk/NNdWHjl6_ls/s400/JesuitIDLarge.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227132684089840626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perjuangan Inigo belajar bahasa latin dengan penuh kerendahan hati, demi cita-citanya melayani Gereja mulai membuahkan hasil. Dia berhasil menyelesaikannya dan sekarang Inigo mulai memasuki kehidupan universitas: Studi di Paris.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Paris, karisma Inigo rupanya menarik hati teman-temannya yang tinggal bersamanya. Kedekatan Inigo dengan beberapa orang seperti Fransiskus Xaverius, dan Petrus Faber ternyata menggerakkan Inigo untuk mau berbagi pengalaman rohaninya di Manresa. Pengalaman rohani tentang doa dan pembedaan roh, ternyata sungguh mengubah hidup kedua orang sahabatnya ini. Pengalaman dan catatan-catatan rohani Inigo tentang doa dan pembedaan roh inilah yang sekarang kita kenal dengan Latihan Rohani Santo Ignatius. Rupanya, efek dari Latihan Rohani ini sungguh bergema, sehingga dalam beberapa tahun, persahabatan orang-orang ini berkembang sampai 7 orang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tanggal 15 agustus 1534, dalam sebuah rekreasi bersama mereka semua akhirnya berjanji untuk melayani Tuhan  dan berikrar bersama sebagai Sahabat-sahabat Yesus, alias Serikat Jesus. Menarik, bahwa mungkin SJ adalah satu-satunya ordo religius dalam Gereja Katolik yang cikal bakalnya muncul dalam rekreasi  bersama di sebuah taman di kota Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;Pernahkah anda merasakan bahwa pengalaman rohani anda mengubah hidup anda secara fundamental? Apakah hidup rohani anda sungguh merupakan sebuah pengalaman hidup yang integral ataukah hanya semata-mata ritual belaka?&lt;/span&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;Apakah anda memiliki "teman rohani" dimana bisa saling berbagi satu sama lain tentang insight ataupun inspirasi hidup? Sejauh mana pertemanan itu bisa saling memperkaya satu sama lain?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Bisa dilanjutkan dengan &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/novena-santo-ignatius-loyola.html"&gt;Doa Novena St. Ignatius&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-1956795921353294460?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/1956795921353294460/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=1956795921353294460" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/1956795921353294460?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/1956795921353294460?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/ZGjyoZa6QH4/para-jesuit-pertama-novena-hari-5.html" title="Para Jesuit Pertama-Novena Hari 5" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIqBe00CU_I/AAAAAAAAAnk/NNdWHjl6_ls/s72-c/JesuitIDLarge.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/para-jesuit-pertama-novena-hari-5.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0MDSXs6cCp7ImA9WxdUEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-883033725182267976</id><published>2008-07-26T02:42:00.001+08:00</published><updated>2008-07-26T02:44:38.518+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-26T02:44:38.518+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Church" /><title>A Day In The Life of Pope Benedict XVI</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah membayangkan bagaimanakah kegiatan Bapa Suci sehari-hari, atau membayangkan seperti apa ruangan di apartemen Kepausan di Vatikan? Silakan simak video clip yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/_6s2gjtnL68&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/_6s2gjtnL68&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-883033725182267976?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/883033725182267976/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=883033725182267976" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/883033725182267976?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/883033725182267976?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/bMqcknPRVbY/day-in-life-of-pope-benedict-xvi.html" title="A Day In The Life of Pope Benedict XVI" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/day-in-life-of-pope-benedict-xvi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkMDQX8yeyp7ImA9WxdVGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-9023835881915204935</id><published>2008-07-25T08:43:00.004+08:00</published><updated>2008-07-25T09:14:30.193+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-25T09:14:30.193+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Inigo dan Kerendahan Hati- Novena Hari 4</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIko13WoLRI/AAAAAAAAAnc/XZaUrGMUlJs/s1600-h/ignatius2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIko13WoLRI/AAAAAAAAAnc/XZaUrGMUlJs/s320/ignatius2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226753748397206802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perjalanan hidup Inigo setelah Manresa dipenuhi dengan kekecewaan, tantangan dan frustrasi. Keinginannya untuk mengajarkan injil dan berkotbah pun membawanya berurusan dengan lembagai Inkuisisi Gereja. Bagaimana mungkin seorang awam, pada waktu itu, yang tidak pernah mengenyam pendidikan seminari mau berkotbah? Otoritas Gereja dan bahkan sekuler rupanya menentang niat mulia Inigo ini, karena dikuatirkan hanya akan menyesatkan orang. Inigo tidak patah semangat. Dia tetap berusaha dan gigih untuk bisa melayani banyak orang walaupun harus menghadapi tantangan dari banyak sisi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia sadar bahwa cara satu-satunya untuk dapat diterima secara kredibel di mata Gereja adalah dengan ditahbiskan. Untuk itu dia rela kembali untuk mengenyam pendidikan, belajar bahasa latin dan juga teologi. Di usianya yang menjelang 40 tahun, dia rela untuk bersama belajar bahasa latin dengan anak-anak usia 20 tahunan. Sikap rendah hatinya ini berbuah besar di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;Ingatkah anda akan masa-masa dimana anda merasa banyak memiliki tantangan dan halangan dalam mewujudkan cita-cita dan harapan yang baik dalam hidup anda? apakah anda dengan rendah hati tetap teguh memegang cita-cita itu, dan berusaha dari langkah ke langkah untuk mewujudkannya? Apakah anda pernah merasa malu, rendah diri karena dianggap tidak kompeten dalam usaha anda ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihatlah kembali pengalaman anda itu, dan bagaimana anda menyikapinya. Bagaimanakah pengalaman Inigo bisa menjadi inspirasi buat anda?&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dilanjutkan dengan &lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/novena-santo-ignatius-loyola.html"&gt;Novena St. Ignatius&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-9023835881915204935?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/9023835881915204935/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=9023835881915204935" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/9023835881915204935?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/9023835881915204935?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/7l6gQDa6Oao/inigo-dan-kerendahan-hati.html" title="Inigo dan Kerendahan Hati- Novena Hari 4" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIko13WoLRI/AAAAAAAAAnc/XZaUrGMUlJs/s72-c/ignatius2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/inigo-dan-kerendahan-hati.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUECR3k9cCp7ImA9WxdVGE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-49299871422288154</id><published>2008-07-24T01:55:00.004+08:00</published><updated>2008-07-24T02:27:46.768+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-24T02:27:46.768+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Inigo dan Pembedaan Roh-Novena Hari 3</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SId3eJfDfqI/AAAAAAAAAnU/m8vJ0D_666M/s1600-h/ignprayer.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SId3eJfDfqI/AAAAAAAAAnU/m8vJ0D_666M/s400/ignprayer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226277252412702370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pengalaman Inigo di perbukitan dekat Biara Montserrat membuahkan pengalaman rohani yang begitu mendalam dan memantapkan tekadnya untuk membaktikan diri pada Tuhan. Penyerahan pedang di atas altar, dan juga memberikan pakaian kebangsawanannya kepada pengemis sungguh menggambarkan sikap batin Inigo yang total. Rupanya pengalaman rohaninya begitu dahsyat dan transformatif sampai-sampai menggerakannya untuk berbuat secara total pula.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inigo, memutuskan untuk berjiarah ke Yerusalem dengan kapal dari Barcelona. Namun sebelum berangkat ke Barcelona, dia memutuskan untuk "turun gunung" dan tinggal beberapa hari di Manresa. Semangatnya masih meluap-luap. Pengalaman rohaninya masih "hangat" sehingga dengan tekad bulat dia pun menghidupi dirinya sebagai pengemis di Manresa, dan tinggal di tepi sungai. Ya, inilah cara hidup seorang pejiarah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Turun gunung" rupanya tidak selalu menyenangkan. Inigo harus menghadapi realitas. Panas dan berdebunya dunia harus dirasakan ketika dia mau menghidupi "impian-impian" salehnya. Berjuang hidup sebagai pejiarah dan pengemis membuat dia bertemu dengan "setan" dalam dirinya. Kerinduan akan nostalgia di Puri Loyola, kesepian batin, sampai akhirnya keinginan untuk bunuh diri mewarnai hari-hari inigo di Manresa. Ternyata keinginan untuk hidup baik, mewujudkan impian, mewujudkan harapan dan tekad dalam doa-doa bukanlah sesuatu yang mudah dalam realitas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Naik turunnya dorongan batin dan suasana hati Inigo rupanya menjadi guru yang baik baginya untuk memahami gerak batin dan gerak roh; untuk semakin memahami bagaimana Tuhan menyentuhnya dan berkarya dalam hidup. Dia menjadi peka dan belajar menghadapi dorongan batin, melihat kelemahan diri dan juga memahami cinta Tuhan secara realistis. Godaan dan dorongan batin yang ada sungguh mengajarkan kepada Inigo bagaimana menggunakan perasaan, reaksi dan ingatan serta kehendak, mencari kehendak Tuhan dan menemukan jalan yang membawanya kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Renungan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 153);"&gt;Ingatlah saat-saat pengalaman "puncak" ketika anda begitu merasa dekat dengan Tuhan dalam doa-doa anda, dimana anda penuh dengan inspirasi dan semangat. Ingatlah juga ketika anda harus membawa buah-buah doa itu ke dalam realitas harian. Apakah kegembiraan dan semangat itu tetap bertahan ketika anda menghadapi problem dan realitas hidup sehari-hari? Apakah hanya lalu lenyap ditelan oleh rutinitas, arus jaman, pengaruh buruk, atau karena kita tidak berpendirian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 153);"&gt;Ketika anda mengalami dinamika "manresa" yaitu ketika mencari atau mewujudkan kehendak Tuhan dalam hidup anda, yang anda dapatkan dari pengalaman doa-doa, apakah anda sungguh peka terhadap gerakan-gerakan batin yang ada dalam diri anda? Sejauh manakah gerakan batin, godaan-godaan dan keinginan-keinginan sesaat yang anda alami dimengerti sebagai sebuah jalan untuk semakin berkembang dan matang dalam hidup rohani dan juga hidup pribadi?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sejenak merenungkan, silakan anda lanjutan dengan &lt;a href="http://www.fileden.com/files/2007/10/11/1503275/Novena%20Santo%20Ignatius%20Loyola.pdf"&gt;Novena St. Ignatius&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-49299871422288154?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/49299871422288154/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=49299871422288154" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/49299871422288154?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/49299871422288154?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/ec4haN8K8E8/inigo-dan-pembedaan-roh-novena-hari-3.html" title="Inigo dan Pembedaan Roh-Novena Hari 3" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SId3eJfDfqI/AAAAAAAAAnU/m8vJ0D_666M/s72-c/ignprayer.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/inigo-dan-pembedaan-roh-novena-hari-3.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIGQXw-cSp7ImA9WxdVF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-7939250811345351280</id><published>2008-07-23T08:16:00.004+08:00</published><updated>2008-07-23T09:28:40.259+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-23T09:28:40.259+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Inigo, Mimpi dan Pengorbanannya-Novena Hari 2</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIaHBCfuN2I/AAAAAAAAAnE/VFqGwGExQpQ/s1600-h/ign2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIaHBCfuN2I/AAAAAAAAAnE/VFqGwGExQpQ/s400/ign2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226012869529581410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Inigo mengalami pertobatan yang radikal ketika berada dalam masa pemulihan dari cedera kakinya yang didapat dalam pertempuran di Pamplona (&lt;a href="http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/inigo-dan-masa-mudanya-novena-hari-1.html"&gt;baca Novena Hari 1&lt;/a&gt;). Selama berbaring di Puri Loyola, dia banyak membaca kisah para Santo, dan juga buku-buku spiritualitas yang  akhirnya mengubah perspektif hidupnya, yang semula dipenuhi dengan ambisi kebangsawan menjadi ambisi untuk membaktikan diri pada semangat-semangat religius, dan persembahan diri pada Tuhan. Pertobatan ini membuat dirinya berani untuk pergi meninggalkan Puri Loyola dan memulai pejiarahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pejiarahannya, Inigo sampai di Manresa tepatnya di dekat Biara Montserrat, di atas pegunungan yang indah. Di situ dia melakukan pengakuan dosa, yang menurut tradisi biasanya dilakukan selama 3 hari. Dalam proses pejiarahan batinnya di Manresa inilah Inigo pertama kali menuliskan pengalamannya dan juga insight rohaninya yang mendalam tentang doa, yang menjadi salah satu bagian pokok dalam Latihan Rohani Santo Ignatius yang terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman rohani yang mendalam di Manresa ini mengantar Inigo untuk masuk ke dalam keputusan lain yang lebih radikal, untuk mengikuti Tuhan: Dia memberikan pakaian kebangsawanannya kepada seorang pengemis, dan menukarnya dengan pakaian sederhana khas pejiarah. Dia juga menyerahkan pedangnya di atas altar sebagai simbol penyerahan atas masa lalu dan juga nilai-nilai yang dia pegang dalam hidupnya terdahulu, serta juga sebagai simbol atas komitmentnya dalam membaktikan diri pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIaH1xmSJ-I/AAAAAAAAAnM/NXUe7zv7Qp0/s1600-h/Ignadmu1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIaH1xmSJ-I/AAAAAAAAAnM/NXUe7zv7Qp0/s320/Ignadmu1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226013775526766562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Renungan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 255, 153);"&gt;Dapatkah anda melihat saat-saat dalam hidup anda ketika anda dipenuhi oleh idealisme dan impian yang membuat anda berani untuk menyerahkan segala sesuatu demi impian dan idealisme yang dirasakan dalam diri anda dan menguasai hati anda? Pernahkah hidup anda dipenuhi oleh semangat dan idealisme, ataukah hanya biasa-biasa saja, membiarkan hidup mengalir saja? Dapatkah anda "seperasaan" dengan Inigo yang mengejar impian dan cita-citanya secara total?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inigo meninggalkan pedang dan pakaian kebangsawanan untuk mengejar impian dan hasrat mendalamnya untuk mengikuti panggilan Tuhan. Dalam semangat yang sama, apakah yang pernah atau bahkan sekarang ini membuat anda berani untuk meninggalkan dan mengorbankan apa yang dianggap berharga demi sebuah impian dan cita-cita yang lebih luhur? Apakah anda adalah orang yang berani dan mau berkorban buat orang yang anda cintai, buat keluarga anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda merasa tidak memiliki mimpi dan impian hidup, apakah ada kemungkinan bahwa anda kurang melihat diri lebih mendalam tentang apa yang sesungguhnya anda mau dalam hidup ini? Bila anda sulit untuk berkorban atau meninggalkan masa lalu anda, apakah yang membuat anda tidak memiliki keberanian untuk melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu menghakimi diri anda....tetapi tetaplah tulus dan sadar apa yang terjadi dalam diri anda. Bila anda merefleksikan hal-hal di atas....telitilah apa yang anda rasakan dan inginkan saat ini....&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Bisa ditutup dengan &lt;a href="http://www.fileden.com/files/2007/10/11/1503275/Novena%20Santo%20Ignatius%20Loyola.pdf"&gt;Doa Novena St. Ignatius Loyola&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-7939250811345351280?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/7939250811345351280/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=7939250811345351280" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7939250811345351280?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7939250811345351280?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/EuzCdu9bCvY/inigo-mimpi-dan-pengorbanannya-novena.html" title="Inigo, Mimpi dan Pengorbanannya-Novena Hari 2" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIaHBCfuN2I/AAAAAAAAAnE/VFqGwGExQpQ/s72-c/ign2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/inigo-mimpi-dan-pengorbanannya-novena.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0IARHk9fCp7ImA9WxdVF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-363299321501908138</id><published>2008-07-22T14:40:00.004+08:00</published><updated>2008-07-22T14:52:25.764+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-22T14:52:25.764+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jesuit" /><title>Trivia: Serikat Jesus Bubar!!</title><content type="html">Tepat tanggal 21 Juli kemarin, Serikat Jesus dibubarkan oleh Bapa Suci.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benar, dibubarkan, tetapi kejadiannya terjadi 235 tahun yang lalu. Oleh Paus Clement XIV, Serikat Jesus dibubarkan, dan dekritnya diumumkan ke seluruh Eropa kecuali di Rusia, tempat dimana beberapa Jesuit "mengungsi" dan rupanya tetap menjaga "eksistensi" Serikat secara faktual.  Czarina Katerina menolak untuk mengumumkan dekrit Paus tersebut di Rusia, sehingga memungkinkan para Jesuit untuk tetap bekerja di sana. Paus Clement membubarkan Serikat Jesus dengan alasan demi suasana damai di dalam Gereja lebih-lebih berkaitan dengan hubungan politik dengan negara-negara eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 41 tahun resmi bubar, pada tahun 1814, Serikat Jesus direstorasi kembali oleh Paus Pius VII.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-363299321501908138?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/363299321501908138/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=363299321501908138" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/363299321501908138?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/363299321501908138?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/Dw2yzM77mSs/trivia-serikat-jesus-bubar.html" title="Trivia: Serikat Jesus Bubar!!" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/trivia-serikat-jesus-bubar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUAERXYzeyp7ImA9WxdVFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-1187173082785708313</id><published>2008-07-22T10:54:00.005+08:00</published><updated>2008-07-22T11:35:04.883+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-22T11:35:04.883+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Inigo dan Masa Mudanya-Novena Hari 1</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini adalah Hari Pertama dari Novena Santo Ignatius Loyola. Dalam hari-hari ini kita bisa merenungkan kisah hidup Santo Ignatius dan juga bercermin dari kisah itu, perlahan-lahan melihat hidup kita sendiri, dan akhirnya berefleksi serta bisa mendoakan novena Santo Ignatius berturut-turut sampai tanggal 30 Juli. Berikut ini kisah Santo Ignatius, untuk hari pertama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIVTkoYa6PI/AAAAAAAAAm0/HHmdiQdjq_g/s1600-h/ign1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 252px; height: 285px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIVTkoYa6PI/AAAAAAAAAm0/HHmdiQdjq_g/s400/ign1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225674831413569778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Inigo, begitulah nama Ignatius Loyola, adalah seorang anak bungsu dari 12 bersaudara. Lahir di Basque, daerah utara spanyol dari keluarga bangsawan di Puri Loyola. Di tempat inilah Inigo dibesarkan dan memulai takdirnya dalam hidup  kebangsawanan dan juga ksatria. Pada umur 14 tahun dia mulai dididik untuk menjadi bagian dari kebangsawanan Raja Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa mudanya penuh dengan semangat dan gaya hidup bangsawan serta didikan untuk menjadi seorang ksatria, yang tentunya menarik hati banyak wanita dalam romantisme kebangsawanan atau juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;machoisme&lt;/span&gt; sebagai seorang ksatria. Sulit untuk menduga bahwa garis hidup yang demikian adalah cara Tuhan "menggodok" seorang Santo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;Sebagaimana kita merenungkan kisah hidup Inigo, apa yang anda pikirkan tentang hidup anda sendiri? Mungkin kita sering merasakan dimanakah Tuhan dalam hidup saya ketika saya berjuang jatuh bangun untuk membangun diri dan hidup yang saya impikan? Seringkali cara terbaik untuk menemukan Dia, adalah dengan tetap setia dan sabar melihat kedalaman diri dan hati tanpa judgement, tanpa prasangka, berpikir positif dan tetap percaya bahwa Tuhan hadir dan menyertai. Melihat secara realistis apa yang terjadi dalam hidup, merefleksikannya di dalam kedalaman hati kita, jujur dan tulus dengan hidup ini bisa jadi merupakan "jalur" yang baik untuk menemukan kehendakNya.&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah hidup berikut adalah Kisah pertempuran di Pamplona. Dalam pertempuran dahsyat antara Spanyol dan Perancis, Inigo dengan semangat gagah berani ikut mempertahankan mati-matian benteng Pamplona dari serbuah massal pasukan Perancis. Semangatnya yang pantang mundur membuatnya tetap bertahan dan mengambil alih kendali pasukan ketika pasukan Spanyol sendiri sudah banyak yang putus asa dan lari menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertempuran yang hebat itu, sebuah peluru meriam menerjang kakinya, meninggalkan Inigo dengan luka dan cedera yang serius. Dia pun harus dipapah pasukan Perancis sebelum akhirnya dibawa kembali ke Loyola. Cedera kakinya, yang membuatnya pincang sungguh meruntuhkan kebanggaan dirinya, ambisi pribadi, kepercayaan diri, dan juga mimpi-mimpinya. Dia menjadi frustrasi karena cedera ini seperti menyingkirkan dia dari aksi-aksi kebangsawanan yang gagah berani dan tentu saja kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kegagalan di Pamplona rupanya menjadi saat dimana Tuhan berkarya. Kekalahan Spanyol adalah berkat buat Inigo. Saat-saat sakitnya adalah moment penting bagi Inigo untuk merasakan sentuhan Tuhan dan membuat dirinya sungguh bisa bekerja sama dengan rahmat Tuhan sendiri. Bukankah memang seringkali moment-moment yang penting dalam perubahan hidup kita terjadi ketika kita dalam kekecewaan, tak berdaya, dan pada saat kita gagal? Saat-saat itu bisa sungguh menjadi saat dimana kita mulai memahami cinta dan hidup yang mendalam; menjadi sebuah moment dan tempat dimana kita menemukan benih-benih untuk berkembang dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(255, 204, 153);"&gt;Apakah ada dalam moment hidup anda yang mengingatkan anda akan peristiwa Pamplona sebagaimana Inigo alami- saat dimana anda bertindak tanpa hati-hati, dengan kenekatan dan keberanian? atau ketika anda sungguh merasa tak berdaya dan dalam kegagalan? Kalau melihat ke belakang, melihat peristiwa-peristiwa itu, apa yang bisa anda rasakan dan pikirkan sekarang ini?&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/xYx5cv6Z9S0&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/xYx5cv6Z9S0&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anda bisa berdoa Novena Santo Ignatius Loyola yang bisa anda download &lt;a href="http://www.fileden.com/files/2007/10/11/1503275/Novena%20Santo%20Ignatius%20Loyola.pdf"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-1187173082785708313?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/1187173082785708313/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=1187173082785708313" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/1187173082785708313?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/1187173082785708313?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/-qD2zfDSm2k/inigo-dan-masa-mudanya-novena-hari-1.html" title="Inigo dan Masa Mudanya-Novena Hari 1" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIVTkoYa6PI/AAAAAAAAAm0/HHmdiQdjq_g/s72-c/ign1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/inigo-dan-masa-mudanya-novena-hari-1.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcBR3Y-eCp7ImA9WxdVFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-7120867372074015939</id><published>2008-07-21T23:05:00.002+08:00</published><updated>2008-07-22T11:40:56.850+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-22T11:40:56.850+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Youth" /><title>Sopir Bus dan WYD 2008</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih dari WYD 2008. Kehadiran para kaum muda pejiarah di kota Sydney rupanya sungguh memberikan nuansa kegembiraan, keramahan dan juga cinta dan perhatian kepada banyak orang Sydney juga. Berikut ini cerita dan kesan dari seorang sopir bus di Sydney yang memiliki pengalaman berkesan selama mengantar para pejiarah. Kebaikannya mengantarkan para pejiarah yang dia lihat kedinginan walaupun dia sendiri sudah boleh pulang karena sudah selesai menjalankan tugas, membuat dia mengalami dan menyaksikan sebuah sapaan kecil tetapi mendalam yang membawa dirinya untuk sekaligus merasakan dan memahami cinta dalam sapaan yang sungguh sederhana tetapi mendalam. Semoga kita bisa belajar banyak juga dari kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(terima kasih kepada Pak Philipus A. Basuki di Sydney yang menyampaikan cerita ini kepada saya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pilgrims'&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; heartfelt generosity bathes the city in sunshine        &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- // .article-tools --&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="article-publish"&gt;        &lt;p class="author"&gt;By Andrew Soulis&lt;/p&gt;            &lt;p class="published-date"&gt;July 21, 2008&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="published-date"&gt;The Daily Telegraph&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                         &lt;!-- Split page --&gt;               &lt;!-- Lead Content Panel --&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="standfirst"&gt;&lt;strong style="display: block;"&gt;I AM a bus driver with the State Transit Authority of NSW and want to commend all the pilgrims who are in our state for World Youth Day celebrations.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIVWe8fcFsI/AAAAAAAAAm8/n3TI6DQakIU/s1600-h/sopirbusWYD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIVWe8fcFsI/AAAAAAAAAm8/n3TI6DQakIU/s320/sopirbusWYD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225678032267384514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;On Friday night I, together with other drivers, were called to attend Moore Park to assist in the conveyance of pilgrims back to Central railway station. Upon completing this task, we were directed by Radio Control to return back to our respective bus depots.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;But near Central, I observed a large number of pilgrims _ nuns - literally shivering in the cold waiting for their designated bus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;I motioned for the sisters to jump on as I was willing to take them - much to their relief. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;They all thought they had won the lottery and jumped up and down with delight when I told them that I would take them home.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;During my travel along Elizabeth St in Surry Hills, I picked up more pilgrims waiting for buses. Then all along Cleveland St I stopped and picked up more pilgrims.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;On reaching Anzac Parade at Moore Park, there was an extremely large number of pilgrims waiting in the cold for a bus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Given the sheer number of pilgrims I had on my bus (it was completely full), I asked who was getting off where so I could form a travel plan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;There were the original sisters getting off at Kensington, then some for Kingsford, Maroubra, The Spot, Randwick Junction and Clovelly.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;During the trip, one young lady approached me and said: "For your kind generosity of getting us out of the cold and making sure we get home, all of us would like to present you with a little gift to show our appreciation - we have all chipped in."&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;At this point, I almost broke down in tears.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;After returning to my depot, I had a look inside and what I saw is indicative of what these pilgrims are really about. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inside were chocolate bars, a bottle of water, scarfs and bandannas from Texas, WYDO8 scarfs, an apple, an orange, a banana, Australian souvenirs, a packet of chips, a souvenir key ring from Texas and various other nice things.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;But the one thing that really struck me was that I found a McDonald's food voucher.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Here we have pilgrims who have worked two and three jobs to muster the money to come here to see the Holy Father.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;They give the shirt off their back by giving their food voucher away as a gift to a bus driver who was concerned for them.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;What a wonderful group of people these pilgrims are. These sentiments are shared with every other driver I have spoken to over the past couple of days. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Each and every one of us have said consistently, what a ray of sunshine, love and warmth descended into Sydney.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;I wish they could all return soon. We would love to accommodate them again. We really love them. God bless the pilgrims in Sydney.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-7120867372074015939?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/7120867372074015939/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=7120867372074015939" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7120867372074015939?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7120867372074015939?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/r53oUtL1P2M/sopir-bus-dan-wyd-2008.html" title="Sopir Bus dan WYD 2008" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIVWe8fcFsI/AAAAAAAAAm8/n3TI6DQakIU/s72-c/sopirbusWYD.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/sopir-bus-dan-wyd-2008.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcMSXw8cCp7ImA9WxdVFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-7986009419740916205</id><published>2008-07-21T13:24:00.002+08:00</published><updated>2008-07-21T13:28:08.278+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-21T13:28:08.278+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ignatian" /><title>Novena Santo Ignatius Loyola</title><content type="html">------------------&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tanggal 31 Juli 2008 adalah Pesta Santo Ignatius Loyola. Berikut ini disajikan format doa novena kepada St. Ignatius Loyola yang bisa didoakan antara tanggal 22 Juli hingga 30 Juli.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Teks novena bisa didownload &lt;a href="http://www.fileden.com/files/2007/10/11/1503275/Novena%20Santo%20Ignatius%20Loyola.pdf"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bapa Ignatius,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dari abad ke abad, banyak orang telah menimba inspirasi hidup darimu, untuk menemukan Tuhan dalam hidup mereka sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dunia kami dewasa ini semakin membutuhkan kemampuan dan kemauan untuk menemukan Tuhan di dalam segala sesuatu; Menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam setiap niat dan usaha kami; Selalu mencari apa yang menjadi kehendakNya, dan selalu mendambakan Cinta dan RahmatNya dalam hidup kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ajarilah kami kebebasan yang hanya datang dan tumbuh karena kesetiaan kami pada karya dan kehendak Tuhan sendiri di dalam dunia ini dan di dalam hidup kami yang indah, tetapi yang sekaligus juga diwarnai dengan kedosaan, dan kekerasan yang kami lakukan kepada sesama kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(dilanjutkan percakapan pribadi berkaitan dengan intensi/permohonan pribadi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bapa Ignatius,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam perjalanan hidupmu, engkau mengalami bahwa Tuhan sendirilah sahabat setia di setiap langkah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Engkau mengabdikan hidupmu kepada Tuhan untuk berperan serta di dalam karya keselamatanNya bagi umat manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ajarilah kami untuk semakin merasakan kehadiran Tuhan. Bimbinglah kami supaya kami dapat semakin menimba kekuatan dari Tuhan yang hadir dan bekerja bersama kami dan di dalam hidup kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Semoga dengan perantaraan doa Bapa Ignatius sendiri, Tuhan memberikan kekuatan, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;rahmat kegembiraan dan kedamaian di dalam diri kami, serta juga mengabulkan permohonan kami yang tulus di dalam novena ini, apabila semuanya itu memang demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Bapa Kami……&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Salam Maria…..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Santo Ignatius, Doakanlah kami….. AMIN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-7986009419740916205?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/7986009419740916205/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=7986009419740916205" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7986009419740916205?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7986009419740916205?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/3_z7czfdoag/novena-santo-ignatius-loyola.html" title="Novena Santo Ignatius Loyola" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/novena-santo-ignatius-loyola.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0QGQHc4eyp7ImA9WxdVFUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-5174121598915833200</id><published>2008-07-21T02:19:00.006+08:00</published><updated>2008-07-21T02:42:01.933+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-21T02:42:01.933+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Youth" /><title>Blessed Babies</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIOFXJd17JI/AAAAAAAAAmk/K7i7WmKAnag/s1600-h/babywyd2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIOFXJd17JI/AAAAAAAAAmk/K7i7WmKAnag/s400/babywyd2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225166625404480658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bayi manis dan lucu yang anda lihat dalam foto di sebelah ini adalah satu dari 3 bayi yang dicium oleh Bapa Suci dalam Ekaristi WYD 2008 kemarin di pacuan kuda Randwick. Tumi Le, nama bayi tersebut adalah warganegara Australia keturunan Vietnam yang masih memiliki ikatan darah dengan Santo Joseph Luu, seorang santo dari Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bichly Le, sang ibu, tidak pernah menduga bahwa momen yang begitu indah akan terjadi hari itu, bahwa Tumi akan dicium oleh Bapa Suci.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Saya mengangkat dia tinggi-tinggi dengan harapan agar Bapa Suci melihat, melambaikan tangan sembari memberi berkat padanya."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tiba-tiba seorang petugas keamanan datang dan mengangkat Tumi. Saya kira dia akan menyuruh saya mundur, namun dia mengatakan 'it's OK. Saya membiarkan dia mengangkatnya dan Bapa Suci menciumnya. Saya spontan menangis dan itu adalah moment yang tidak pernah saya lupakan"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/My3alKR9h8I&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/My3alKR9h8I&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;Moment pada saat Tumi dicium oleh Bapa Suci (menit ke 06:14-20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Clare Hill adalah bayi lain yang dicium oleh Bapa Suci. Clare yang baru saja berulangtahun yang pertama minggu lalu rupanya mendapat "kado" istimewa dari Bapa Suci. Tak heran bahwa Peter Hill, sang ayah, turut bergembira karenanya.&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Itu adalah moment yang sangat emosional dan sungguh menjadi berkat bagi keluarga. Petugas keamanan mengangkat Clare, lalu kaca jendela Popemobile turun secara otomatis, dan Bapa Suci mencium dan memberkatinya. Banyak orang minta berfoto bersama Clare sesudah itu"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIOFr5-YLHI/AAAAAAAAAms/tDPH5--ZXU0/s1600-h/babyWYD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIOFr5-YLHI/AAAAAAAAAms/tDPH5--ZXU0/s400/babyWYD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225166982023228530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-5174121598915833200?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/5174121598915833200/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=5174121598915833200" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/5174121598915833200?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/5174121598915833200?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/P2MOBPX5tWo/blessed-babies.html" title="Blessed Babies" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIOFXJd17JI/AAAAAAAAAmk/K7i7WmKAnag/s72-c/babywyd2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/blessed-babies.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEUBRns8eyp7ImA9WxdVFUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-9187526152583186832</id><published>2008-07-20T21:42:00.006+08:00</published><updated>2008-07-20T21:57:37.573+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-20T21:57:37.573+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Youth" /><title>Kesan dari Sydney</title><content type="html">----------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berikut ini saya sampaikan kesan dari Pater Markus Yumartana, SJ, Pastor Mahasiswa Wisma SJ Depok yang ikut dalam WYD 2008 Sydney&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi-pagi kesibukan luar biasa di St. Ignatius College, Riverview. Para peziarah buru2 menuju ke St. Mary's Church untuk mengikuti misa yang diikuti oleh para peserta Magis08 dan Ignatian Gathering. Para Jesuit berkumpul mengikuti misa bersama peziarah yang memenuhi gereja yang indah. Tak ada musik. Hanya nyanyian acapella, tetapi cukup meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah misa, dilanjutkan makan siang dan ziarah jalan kaki menyusuri Harbour Bridge yang megah menuju ke Randwick, tempat misa penutupan akan dilaksanakan. Jauhnya 10 km. Sangat melelahkan tetapi tak terasa karena peziarah membanjir seperti semut, dengan diiringi musik yang penuh kegembiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SINDpsL5ktI/AAAAAAAAAmU/udTm1cW07eA/s1600-h/wydmum.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SINDpsL5ktI/AAAAAAAAAmU/udTm1cW07eA/s320/wydmum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225094376194675410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sampai di Randwick, tempat pacuan kuda, peziarah sudah memenuhi hampir setiap ruang yang diberikan. Hanya yang membawa kartu pass bisa masuk. Udara sangat dingin untuk ukuran orang Indonesia. Maka setelah mendapat tempat, sleeping-bag pun segera digelar, dan menikmati kehangatannya. Doa pujian dan vigil sore hari memberi warna peziarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengesan, setiap kali peserta dari Jakarta mengeluh, mereka lalu mengoreksi diri: Ah, bukan saatnya untuk mengeluh. Karena inilah peziarahan. Suasana solider amat terasa. Meskipun sebegitu banyak orang membanjiri kota Sydney, kemurah-hatian para peziarah sangat terasa. Makanan selalu berlimpah. Setiap orang mendapat satu tas hijau muda berisi makanan untuk satu hari. Lengkap dengan minuman. Bila toh ada kekurangan, dengan mudah peziarah lain memberikan bantuan. Ada suasana sharing, entah makanan, souvenir, bendera, bahkan "free hug" yang mewarnai suasana kegembiraan. Mungkin inilah semangat solidaritas yang mudah tumbuh di antara orang muda sekarang. Gampang berbagi dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu masih terasa sampai malam ini di tempat boarding. Peserta masih saling berbagi kegembiraan, kerinduan, dan kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga peziarahan orang muda sedunia di Sydney, sungguh menjadi pengalaman akan semangat Roh Kudus yang menyemangati solidaritas nyata di tempat lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-9187526152583186832?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/9187526152583186832/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=9187526152583186832" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/9187526152583186832?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/9187526152583186832?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/jJxCKJasbW8/kesan-dari-sydney.html" title="Kesan dari Sydney" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SINDpsL5ktI/AAAAAAAAAmU/udTm1cW07eA/s72-c/wydmum.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/kesan-dari-sydney.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UARX04fSp7ImA9WxdVFUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-4109387024999181583</id><published>2008-07-20T17:01:00.006+08:00</published><updated>2008-07-21T02:40:44.335+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-21T02:40:44.335+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Youth" /><title>Ekaristi Puncak WYD 2008</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIMAXD3nysI/AAAAAAAAAmE/VaqVCgrlbG0/s1600-h/aerialWYD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIMAXD3nysI/AAAAAAAAAmE/VaqVCgrlbG0/s320/aerialWYD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225020388855499458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bapa Suci mengajak kaum muda untuk ikut memperbaharui Gereja terutama pada dewasa ini ketika Gereja sungguh-sungguh diajak untuk memperbaharui diri, serta juga mengingatkan kaum muda akan pengaruh mentalitas gaya hidup yang membawa pada kekosongan. Demikianlah salah satu pesan Bapa Suci dalam Ekaristi Puncak WYD 2008 di pacuan kuda Randwick yang dihadiri ratusan ribu orang, para pejiarah, umat katolik dan umat non-katolik yang juga ikut menyaksikannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIMAts6ng-I/AAAAAAAAAmM/qgWYDf6yCzQ/s1600-h/babyWYD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIMAts6ng-I/AAAAAAAAAmM/qgWYDf6yCzQ/s320/babyWYD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225020777831039970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kedatangan Bapa Suci dalam ekaristi ini cukup menarik dan sensasional. Bapa Suci sempat berputar-putar dengan "Holycopter" di atas area pacuan kuda, sebelum berpindah ke Popemobile, dan berangkat menuju ke Randwick. Bapa Suci sempat mencium 3 bayi kecil yang oleh anggota keamanan Bapa Suci digendong mendekat ke Popemobile. Pers Australia menyebutkan bahwa ini adalah mobilisasi massa dan juga ekaristi terbesar dalam sejarah Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa Suci mengajak kaum muda untuk tetap ingat bahwa dunia dewasa ini sangat dipengaruhi oleh mentalitas dan sistem nilai yang didominasi kesejahteraan material, yang bisa berujung pada kekeringan hidup rohani dan juga kedangkalan makna hidup sebagai manusia. Maka Bapa Suci menantang kaum muda untuk menjadi agen perubahan dan berani menentang segala bentuk cara hidup dan mentalitas yang mengarah pada kedangkalan hidup, sikap apatis dan kedangkalan hidup yang bisa meracuni relasi dengan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kutipan homili Bapa Suci yang bisa menjadi inspirasi kita semua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;• “Love is not greedy or self-seeking, but pure, faithful and genuinely free, open to others, respectful of their dignity, seeking their good, radiating joy and beauty”&lt;br /&gt;• “Hope liberates us from the shallowness, apathy and self-absorption which deaden our souls and poison our relationships”&lt;br /&gt;• “God’s gift of life is welcomed, respected and cherished – not rejected, feared as a threat and destroyed.”&lt;/blockquote&gt;Bapa Suci sungguh merasakan bahwa perjumpaan dengan kaum muda dalam WYD 2008 ini sungguh memberi kesan tersendiri bagi beliau dimana sungguh dirasakan adanya vitalitas, semangat dan hidup dalam Gereja. Dalam kesempatan di akhir ekaristi Bapa Suci juga mengumumkan bahwa World Youth Day berikutnya akan diadakan di Madrid Spanyol pada tahun 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/CNkgSbeuF_I&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/CNkgSbeuF_I&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-4109387024999181583?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/4109387024999181583/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=4109387024999181583" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4109387024999181583?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/4109387024999181583?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/SxLH5ZevsGo/ekaristi-puncak-wyd-2008.html" title="Ekaristi Puncak WYD 2008" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIMAXD3nysI/AAAAAAAAAmE/VaqVCgrlbG0/s72-c/aerialWYD.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/ekaristi-puncak-wyd-2008.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUMEQX8ycCp7ImA9WxdVFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-7873250902056910645</id><published>2008-07-20T07:57:00.007+08:00</published><updated>2008-07-20T17:50:00.198+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-20T17:50:00.198+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Youth" /><title>Vigil World Youth Day 2008</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;World Youth Day 2008 sungguh merupakan moment penting bagi kaum muda katolik untuk merasakan pengalaman sebagai Gereja Universal, sekaligus pengalaman nyata sebagai satu komunitas beriman katolik. Kegembiraan yang terpancar, saling mengenal antar budaya, antar negara dalam satu iman sungguh memberi makna akan kesatuan dalam iman dan juga gereja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIKJq4fdTRI/AAAAAAAAAl8/4kdyZRYgeiU/s1600-h/wydpilgrim"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIKJq4fdTRI/AAAAAAAAAl8/4kdyZRYgeiU/s320/wydpilgrim" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224889887515036946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari sabtu kemarin, para pejiarah berjalan kaki menuju Randwick Racecourse, tempat dimana Misa Kudus puncak peringatan WYD 2008 akan berlangsung. Sungguh merupakan arus massa yang besar, ratusan ribu orang muda berjalan kaki menyusuri kota Sydney dalam suasana yang gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya mereka mengadakann vigil bersama Bapa Suci. Dalam liturgi vigil yang indah itu, yang kaya akan banyak sharing refleksi dari berbagai kaum muda berbagai bangsa, doa-doa yang beraneka ragam, sambutan dari Bapa Suci, dan juga Adorasi sakramen Mahakudus. Lagi-lagi, kaum muda bersama-sama mengalami peristiwa dimana mereka berdoa bersama, mendengarkan kisah dan refleksi, serta bernyanyi dan tentunya memuji Tuhan. Sungguh merupakan pertemuan kaum muda yang penuh makna dan inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutannya yang cukup panjang dan khas "Ratzingerian", Bapa Suci berbicara kepada kaum muda tentang Roh Kudus. Bapa Suci mengatakan bahwa untuk memahami roh kudus hendaknya kita memahaminya lewat 3 hal pokok yang merupakan ciri roh kudus: communion, abiding love dan juga giving dan gift. Ini berarti dalam roh kudus, lewat communion, kita mengusahakan persatuan dan bukan menyebar perpecahan. Dengan cinta kita diajak untuk menebar cinta yang mempersatukan, cinta yang memberi hidup bukan cinta yang egois. Dengan giving dan gift, berarti kita dipanggil untuk menjadi sumber inspirasi akan hidup yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="350"&gt; &lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/O9bfbe-fZqs"&gt; &lt;/param&gt; &lt;embed src="http://www.youtube.com/v/O9bfbe-fZqs" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;  &lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, melihat antusiasme kaum muda dan begitu banyaknya kaum muda yang bersemangat berkumpul disana, apalagi sabtu  malam kemarin ketika kilau ratusan ribu lilin sungguh menerangi suasanca randwick racecourse, kita boleh berharap bahwa Gereja itu sungguh hidup dan penuh vitalitas dan semangat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-7873250902056910645?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/7873250902056910645/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=7873250902056910645" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7873250902056910645?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/7873250902056910645?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/R4JFahhfK9M/vigil-world-youth-day-2008.html" title="Vigil World Youth Day 2008" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_rKZyYjKtOFU/SIKJq4fdTRI/AAAAAAAAAl8/4kdyZRYgeiU/s72-c/wydpilgrim" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/vigil-world-youth-day-2008.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEEBRH88fSp7ImA9WxdVFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-980230743745587424.post-8914754211211580667</id><published>2008-07-19T11:31:00.007+08:00</published><updated>2008-07-20T17:37:35.175+08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-07-20T17:37:35.175+08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Youth" /><title>Bapa Suci Meminta Maaf</title><content type="html">Dalam homilinya pada pemberkatan Altar di St. Mary's Cathedral, Bapa Suci meminta maaf atas terjadinya kasus sexual abuse yang melibatkan imam dan religius di Australia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Here I would like to pause to acknowledge the shame which we have all felt as a result of the sexual abuse of minors by some clergy and religious in this country"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indeed I am deeply sorry for the pain and suffering the victims have endured and I assure them that, as their pastor, I too share in their suffering"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“These misdeeds, which constitute so grave a betrayal of trust, deserve unequivocal condemnation. They have caused great pain and have damaged the church’s witness”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“I ask all of you to support and assist your bishops, and to work together with them in combating this evil. Victims should receive compassion and care, and those responsible for these evils must be brought to justice. It is an urgent priority to promote a safer and more wholesome environment, especially for young people”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/kUWvm1FlsJY&amp;hl=en&amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/kUWvm1FlsJY&amp;hl=en&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/980230743745587424-8914754211211580667?l=www.ignatiusloyola.net' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.ignatiusloyola.net/feeds/8914754211211580667/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=980230743745587424&amp;postID=8914754211211580667" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/8914754211211580667?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/980230743745587424/posts/default/8914754211211580667?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ignatiusloyola/blog/~3/nPTxTHBuXNs/bapa-suci-meminta-maaf.html" title="Bapa Suci Meminta Maaf" /><author><name>-Finding God in All Things-</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="12880628555503529488" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.ignatiusloyola.net/2008/07/bapa-suci-meminta-maaf.html</feedburner:origLink></entry></feed>
